Skip to content
Back to announcement

20260409_TCID_Laporan Informasi dan Fakta Material_32069215_lamp2.pdf

Other Text extracted TCID

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 103

Page 1
Kepada Yth.
PT. Mandom Indonesia, Tbk
Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.1
Jakarta 10220


                          Laporan Study Kelayakan
                      atas penambahan KBLI 68126




          Laporan Penilaian Aset PT. Pandawa Bali Heritage
Page 2
  Jakarta, 6 April 2026
  No. Lap                 : 0067/2.0129-00/FS/10/0062/1/IV/2026
  No. Proyek              : 012/NP-FS/MDI/II/2026

  Kepada Yth,

  Direksi
  PT Mandom Indonesia, Tbk
  Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor
  Jl. Jend. Sudirman Kav. 1
  Jakarta 10220

  Perihal : Laporan Study Kelayakan atas penambahan KBLI 68126.

  Dengan hormat,

  Memenuhi permintaan penugasan dari PT. Mandom Indonesia Tbk sebagaimana tercantum
  dalam proposal kami No. 012/PP-FS/MWH-0/HM/I/2026 tertanggal 19 Januari 2026 yang
  telah disetujui kedua belah pihak tentang Pekerjaan Penyusunan Study Kelayakan atas
  Rencana Penambahan bidang usaha sesuai KBLI 68126.

  Berdasarkan hasil analisis pasar, teknis, pola bisnis, model manajement dan keuangan, maka
  kami dapat meringkas hasilnya sebagi berikut:

  RINGKASAN EKSEKUTIF

        1. Latar Belakang

  Perseroan (PT Mandom Indonesia Tbk) adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan
  dan perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor. Perseroan dapat melaksanakan
  kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
  keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan
  besar kosmetik untuk manusia. Kode KBLI atas bidang usaha yang dijalankan saat ini adalah
  seperti tabel berikut.

                                                         Tabel 1
                                      Kode KBLI Eksisting PT Mandom Indonesia Tbk

           No       Kode KBLI                                         Judul KBLI
            1         22220               Industri barang dari plastik untuk pengemasan
            2         20232               Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi
            3         46443               Perdagangan besar kosmetik untuk manusia
            4         20231               Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga
                                                        Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk




Kantor Pusat : Gedung Lina Lt.03 R.307 Jl.HR. Rasuna Said Kav.B-7 Kuningan Jakarta Selatan 12920, T : +62 21 5204352, +62 21 5204353, F : +62 21 5204353,
E : kantor_mwh@kjppmwh.com, kjpp_mwh@yahoo.com, W : wwwkjppmwh.com
Kantor Cabang Semarang : Jl. Pamularsih Barat VII No. 4 Semarang Provinsi Jawa Tengah, Telp Hotline. 0812-2551-6633, E : mwh.semarang@gmail.com
Kantor Cabang Surabaya : Jl. Taman Jambangan Indah No. 28, Surabaya 60232, Telp. (031) 82517157, E : kjppmwhsby@gmail.com
Page 3
Perseroan memiliki Factory 2 yang berlokasi di Jl Jawa, Kawasan Industri MM2100 yang
berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat logistic. Bangunan
factory 2 tersebut dilengkapi dengan fasilitas pergudangan, yang mana saat ini digunakan
sendiri oleh Perseroan, namun masih terdapat sebahagian space gudang yang masih kosong
seluas 414 m2. Rencananya space gudang yang kosong tersebut akan disewakan secara
komersial untuk itu Perseroan membutuhkan penambahan kegiatan usaha yaitu penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri.

2.   Identitas Konsultan

KJPP Munir, Wisnu, Heru & Rekan sebagai konsultan penilai berdasarkan Izin Usaha Kantor
Jasa Penilai Publik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 2.15.0129 berdasarkan
KMK 479/KM.1/2015 tanggal 3 Juni 2015, memiliki NPWP No. 72.848.905.5-011.000 yang
berdomisili di Jakarta Selatan, Gedung Lina Lantai 3. R.307 Jl. HR. Rasuna Said Kav B.7
Kuningan, Telepon 021-5204352, Fax 021-5204353, dalam hal ini diwakili oleh:
Nama                      : Hasan Munir H, MBA., MAPPI (Cert)
Izin Penilai              : PB-1.008.00062
STTD OJK                  : STTD.PPB-03/PJ-1/PM.2/2023
Kualifikasi               : Properti dan Bisnis
Jabatan                   : Pemimpin Rekan
Alamat                    : Gedung Lina, Lt 3 R 307
                            Jl. HR. Rasuna Said Kav B-7, Kuningan
                            Jakarta Selatan 12920
Email                     : kantor_mwh@kjppmwh.com, Kjpp_mwh@yahoo.com

3.   Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

Adapun identitas pemberi tugas adalah sebagai berikut :
     Nama                  : PT. Mandom Indonesia Tbk
     Alamat                : Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor
                             Jl. Jend. Sudirman Kav. 1
                             Jakarta 10220
     No Telepon            : (62-21) 29809500
     Faksmili              : (62-21) 29809501
     Email                 : corporatesecretary@mandom.co.id
     Website               : www.mandom.co.id

     Bidang Usaha          : bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil
                             dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
                             Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti industri
                             kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
                             keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk
                             pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - ii -
Page 4
Adapun Identias Pengguna Laporan

3.1 PT. Mandom Indonesia Tbk

     Bidang Usaha    :   bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil dan
                         sepeda motor. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
                         Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti industri
                         kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
                         keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk
                         pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
     Alamat          :   Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,
                         Jakarta 10220
     No Telepon      :   (62-21) 29809500
     Faksmili        :   (62-21) 29809501
     Email           :   corporatesecretary@mandom.co.id
     Website         :   www.mandom.co.id

3.2 Otoritas Jasa Keuangan

     Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga negara yang dibentuk berdasarkan
     Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem
     pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam
     sektor jasa keuangan. Sektor ini melingkupi perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan
     non-bank seperti asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa
     keuangan lainnya

4.   Obyek Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Obyek studi kelayakan yang diberikan oleh Pemberi Tugas adalah melakukan jasa pekerjaan
studi kelayakan terkait rencana penambahan kegiatan usaha berupa bidang usaha KBLI
68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri. Penyewaan gudang
seluas + 414 m2 yang dimaksud adalah merupakan bagian dari Factory 2 milik PT Mandom
Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat yang berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat
logistik.

5.   Tanggal Studi Kelayakan

Penyusunan studi kelayakan ini ditetapkan per tanggal 31 Desember 2025 dimana batas
tanggal tersebut berdasarkan pertimbangan kepentingan, maksud dan tujuan penyusunan
studi ini serta data – data khususnya keuangan Perseroan yang diberikan dan kami terima.
Selain itu, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020,
penggunaan laporan studi kelayakan ini paling lama adalah 6 (enam) bulan sejak diterbitkan
atau paling lama maksimal sampai dengan tanggal 30 Juni 2026.


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - iii -
Page 5
6.   Metodologi Penyusunan Laporan

Metodologi yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini yaitu:

        Pengumpulan Data
        Analisis
        Penyusunan Laporan

7.   Standar Penugasan

Penugasan penyusunan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini didasarkan atas
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No
35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat
edaran Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta
Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII Tahun
2018.

8.   Independensi Penilai

Dalam mempersiapkan dan menyusun laporan studi kelayakan ini, Penilai bertindak secara
independent tanpa adanya benturan kepentingan, keuntungan pribadi dan tidak terafiliasi
dengan Pemberi Tugas. Laporan studi kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan jasa yang kami terima adalah sama
sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang dihasilkan dalam proses analisa studi
kelayakan ini. Penilai hanya menerima imbalan jasa sesuai dengan proposal yang telah
disetujui oleh Pemberi Tugas.

9.   Sifat dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan

Pada pelaksanaan penugasan studi kelayakan ini, Kami menggunakan beberapa sumber
data dan informasi dari pemberi tugas adalah sebagai berikut :
     -   Laporan keuangan audited per 31 Desember 2021 sampai dengan per 31 Desember
         2025.
     -   Proyeksi keuangan (business plan) Perseroan tanpa penambahan Kegiatan Usaha
         dan dengan Penambahan Kegiatan Usaha selama tahun 2025 sampai dengan 2030.
     -   Profil Perseroan.
     -   Data tentang legalitas Perseroan seperti akta pendirian dan perubahan serta
         pengesahannya.
     -   Informasi lain dari pihak manajemen serta pihak – pihak yang relevan untuk
         penugasan ini.
     -   Data dan informasi industri, pasar dan ekonomi berdasarkan media cetak maupun
         elektronik antara lain Website Aswath Damodaran, website Bank Indonesia, Website



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - iv -
Page 6
       Bursa Efek Indonesia, Website Badan Pusat Statistik, Website IDX dan Website
       lainnya yang relevan.
10. Tingkat Kedalaman Investigasi

Dalam proses penyusunan laporan studi kelayakan, kami telah melakukan inspeksi lapangan,
wawancara dan diskusi dengan perwakilan manajemen dari Pemberi Tugas. Hal ini dilakukan
guna memperoleh informasi dan dokumen – dokumen pendukung lainnya sehubungan
dengan penugasan ini atau sehubungan dengan penyusunan studi kelayakan pembambahan
kegiatan usaha.

11. Kejadian – Kejadian Penting Setelah Tanggal Efektif (Subsequent Events)

Berdasarkan data dan informasi yang kami terima dari Pemberi Tugas, tidak terdapat kejadian
– kejadian penting setelah tanggal efektif hingga tanggal laporan studi ini diterbitkan.

12. Pernyataan Atas Persetujuan Untuk Publikasi

Laporan studi kelayakan ini disusun bersifat terbuka untuk publik. Oleh karena itu, jika laporan
studi ini dipublikasikan oleh Pemberi Tugas baik keseluruhan atau sebagian, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perseroan, dan/atau
laporan direksi/pimpinan perseroan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Penilai.

13. Asumsi dan Kondisi Pembatas

   -   Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer opinion.
   -   Penilai telah melakukan penalaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
       studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
   -   Dalam penyusunan studi kelayakann ini, Penilai mengandalkan kelengkapan informasi
       yang disediakan oleh Perseroan dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
       tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang dapat dipercaya.
   -   Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan dengan
       mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh Perseroan
       dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
   -   Perseroan menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
       penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
       seluruhnya kepada Penilai dan tidak ada pengurangan atas fakta – fakta yang penting.
   -   Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
       informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.
   -   Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan pasar modal dan
       pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.
   -   Laporan studi kelayakan ini disusun sesuai dengan kondisi pasar dan perekonomian,
       kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan – peraturan pemerintah terkait
       yang berlaku pada tanggal penilaian ini diterbitkan.

                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - v -
Page 7
   -   Kami juga mengasumsikan bahwa sampai dengan tanggal laporan studi kelyakan ini
       diterbitkan sampai dengan tanggal terjadinya rencana aksi korporasi, tidak terjadi
       perubahan apapun terhadap asumsi - asumsi, kondisi serta peristiwa – peristiwa yang
       terjadi, selain daripada yang telah disampaikan kepada kami dalam periode sebelum
       tanggal laporan, yang berpengaruh secara material dalam penyusunan studi
       kelayakan ini. Kami tidak bertanggung jawab untuk menegaskan kembali, melengkapi,
       serta memutakhirkan (update) pendapat kami karena adanya perubahan asumsi,
       kondisi, serta peristiwa – peristiwa yang terjadi ataupun disampaikan setelah tanggal
       laporan.
   -   Penyusunan studi kelayakan ini mengasumsikan bahwa penugasan yang dilakukan
       telah didasarkan atas Peraturan Orotiriats Jasa Keuangan (POJK) Nomor
       17/POJK.o4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha,
       Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020 tentang penilaian dan
       Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Pedoman Penilaian
       dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Standar Penilaian
       Indonesia (SPI) Edisi VII Tahun 2018, sehingga tidak dimaksudkan untuk
       diaplikasikan, dianalisis atau diinterprestasikan menurut peraturan perundang –
       undangan di negara lain.
   -   Hasil laporan studi kelayakan ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data dan
       kebenaran data serta informasi pendukung yang diperoleh dari pihak Pemberi Tugas.
   -   Laporan studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan
       sebagian dari analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis
       lainnya secara utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan
       kesimpulan yang menyesatkan atas proses yang mendasari studi ini.
   -   Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Perseroan, selama
       tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.

14. Hasil Analisa Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha

Berdasarkan hasil analisa kelayakan usaha penambahan kegiatan usaha atau penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri oleh Perseroan
adalah sebagai berikut :

14.1 Kelayakan Pasar

Kondisi perekonomian nasional saat telah pulih dan bangkit dari dampak covid-19 yang terjadi
selama tahun 2020 – 2021. Dewasa ini kondisi perekonomian nasional telah tumbuh pada
angka sekitar + 5% per tahun. Kondisi ini akan menjadi pendorong bagi seKtor atau lapangan
usaha lainnya.

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan selama ini memiliki peran yang sangat
penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Selama tahun 2013 – 2025, lapangan
usaha transportasi dan pergudangan rata – rata mengalami pertumbuhan sebesar 6,6% per

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - vi -
Page 8
tahun. Sedangkan kontribusinya terhadap PDB cenderung mengalami pertumbuhan setiap
tahun yaitu dari 3,3% di tahun 2013 meningkat menjadi 4,83% di tahun 2025. Dalam lapangan
usaha tersebut terdapat 7 (tujuh) sub lapangan usaha dan salah satunya adalah sub lapangan
usaha pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos dan kurir. Berdasarkan hasil analisa,
rata – rata pertumbuhan sub lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang angkutan,
pos dan kurir selama tahun 2013 – 2025 adalah mencapai 8,7% per tahun dan merupakan
sub lapangan usaha yang pertumbuhannya tertinggi dari lapangan usaha transportasi dan
pergudangan. Laju pertumbuhan tersebut memberikan gambaran bahwa sub lapangan usaha
pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos dan kurir memiliki potensi pasar yang baik
pada masa mendatang.

Rencana gudang yang disewakan oleh Perseroan seluas + 414 m2, secara komersial
termasuk kepada afiliasi maupun non-afiliasi yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl.
Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat. Oleh karena itu, ditinjau dari analisa pasar
bahwa penambahan kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan
gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan marketable.

14.2 Kelayakan Teknis

Gudang yang disewakan oleh Perseroan dalam studi ini merupakan bagian dari Factory 2
yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat.
Berdasarkan IMB, luas bangunan Factory 2 tersebut adalah + 39.683 m2 termasuk bangunan
pergudangan. Luas bangunan gudang yang disewakan adalah hanya + 414 m2 dan saat ini
dalam keadaan kosong dengan kondisi sangat terawat dan layak digunakan. Sehubungan
dengan rencana disewakan kepada tenant, space gudang seluas + 414 m2 didalamnya akan
dibangun ruang AC seluas + 60 m2. Factory 2 Perseroan dilengkapi dengan fasilitas lift barang
yang berguna untuk proses kelancaran bongkar muat barang dari lantai 1 ke lantai 2 atau
sebaliknya.

Lokasi Factory 2 Perseroan memiliki aksesibilitas yang sangat baik dan mudah dijangkau dari
berbagai arah. Hal ini disebabkan karena lokasinya didukung oleh akses Jl Tol Jakarta
Cikampek yang memudahkan konektivitas dengan wilayah lainnnya. Selain itu pula, lokasi
Factory 2 tersebut berada dalam kawasan Industri terpadu dan memiliki fasilitas yang sangat
lengkap.

Oleh karena itu, ditinjau dari sisi teknis bahwa penambahan kegiatan usaha atau penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan
layak secara teknis.

14.3   Kelayakan Pola Bisnis

Perseroan memiliki keungguan kompetitif dalam bidang usahanya, kemudian juga memiliki
kemampuan menciptakan nilai tambah serta memiliki kemampuan melakukan mitigasi risiko
persaingan usaha. Artinya perseroan memiliki keyakinan bahwa kegiatan usaha ini akan
berkelanjutan.



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - vii -
Page 9
Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek pola bisnis terkait dengan rencana penambahan
kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas
penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah layak.
14.4 Kelayakan Model Manajemen

Berdasarkan hasil analisa model manajemen bahwa Perseroan telah mempersiapkan struktur
organisasi, tenaga kerja, tenaga ahli terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha
atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri.

Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek model manajamen terkait dengan rencana
penambahan kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan
fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah layak.
14.5 Kelayakan Keuangan

Analisa kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih perseroan
(free cash flow to firm/FCFF) yang mencerminkan arus kas bersih masa mendatang. Arus kas
inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih dengan penambahan kegiatan usaha
dengan arus kas bersih tanpa penambangan kegiatan usaha. Hasil perhitungan arus kas
inkremental ini menjadi dasar dalam menentukan kelayakan usaha.

                                        Tabel 2
                        Analisa Arus Kas Bersih Perusahaan (Rp)




                              Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - viii -
Page 10
Berdasarkan hasil analisis, hasil indikator kelayakan usaha atas rencana penambahan
kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas
penyimpanan mandiri adalah sebagai berikut.


                              Indikator Kelayakan Usaha           Hasil
                              IRR                                     84,12%
                              NPV                             Rp 234.722.851
                              B/C Ratio                                 2,58
                              Payback Period (tahun)                    2,58


Berdasarkan hasil analisa keuangan, rencana penambahan kegiatan usaha atau
penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri
adalah layak direalisasikan dimana hal ini didasarkan atas :

  -       IRR yang diperoleh lebih besar dari asumsi diskon rate (8,60%).
  -       NPV yang diperoleh lebih besar dari 0 (nol).
  -       B/C Ratio yang diperoleh lebih besar dari 1 (satu).
  -       Payback period hanya 2,58 tahun.

15.       Analisa Sensitivitas

Analisa ini bertujuan untuk mengetahui variabel yang paling sensitive mempengaruhi tingkat
kelayakan proyek. Variabel yang dimaksud terdiri dari 2 (dua) yaitu tarif dan biaya investasi.
Berdasarkan hasil analisa, variabel yang paling sensitive adalah tarif, karena dengan
perubahan presentasi yang sama dengan variabel biaya investasi menyebabkan IRR dan
NPV yang diperoleh mengalami penurunan yang lebih besar.

                                                Tabel 3
                                          Analisa Sensitivitas

                  Uraian                        Kenaikan         IRR              NPV
                                              (Penurunan)         (%)             (Rp)
                  Normal                                                84,12%   234.722.851
                                                      -5,0%             45,42%   102.341.046
                  Tarif                               -7,5%             23,39%    36.150.145
                                                     -10,0%             -7,53%   (30.040.754)
                                                       5,0%             76,75%   219.903.332
                  Investasi                            7,5%             73,35%   212.493.572
                                                      10,0%             70,10%   205.083.812



16.        Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian di atas dan hasil analisa, rencana penambahan kegiatan usaha atau
rencana penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri oleh Perseroan dapat disimpulkan layak direalisasikan. Hal ini didasarkan atas :
      -    Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek pasar terkait dengan rencana penambahan
           kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan
           fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah marketable.

                                     Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - ix -
Page 11

          
Page 12

          
Page 13

          
Page 14
                                                                             DAFTAR ISI
Surat Pengantar                                                                                 i
Ringkasan Eksekutif                                                                             i
Pernyataan Penilai                                                                              xiv
Daftar Isi                                                                                      xv

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latar Belakang                                                                             1–1
1.2. Identitas Konsultan                                                                        1–2
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan                                               1–3
1.4. Obyek Studi Kelayakan                                                                      1–4
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan                                                          1–4
1.6. Standar Penugasan                                                                          1–4
1.7. Tanggal Penyusunan Studi Kelayakan                                                         1–4
1.8. Metodologi                                                                                 1–5
1.9. Independensi Penilai                                                                       1–5
1.10. Sifat dan Informasi Yang Dapat Diandalkan                                                 1–5
1.11. Tingkat Kedalaman Investigasi                                                             1–6
1.12. Kejadian – Kejadian Penting Setelah Tanggal Efektif (Subsequent Events)                   1–6
1.13. Pernyataan Atas Persetujuan Untuk Publikasi                                               1–6
1.14. Asumsi Dan Kondisi Pembatas                                                               1–6

Bab 2 Gambaran Umum Perseroan
2.1. Pendirian Perseroan                                                                        2–1
2.2. Domisili                                                                                   2–1
2.3. Maksud Dan Tujuan                                                                          2–2
2.4. Struktur Permodalan                                                                        2–2
2.5. Susunan Pengurus                                                                           2–3
2.6. Susunan Organisasi                                                                         2–4
2.7. Perizinan dan Legalitas                                                                    2–5
2.8. Perizinan dan Legalitas Lainnya                                                            2–6
2.9. Kinerja Keuangan Historis                                                                  2–6
2.9.1. Kinerja Laba Rugi                                                                        2–7
2.9.2. Kinerja Posisi Keuangan                                                                  2–8
2.9.3. Analisis Arus Kas                                                                        2–9
2.9.4. Analisis Rasio Keuangan                                                                  2 – 11

                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xvi -
Page 15
Bab 3 Tinjauan Ekonomi
3.1. Gambaran Umum Perekonomian Global                                                       3–1
3.2. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia                                                    3–3
3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi                                                                   3–3
3.2.2. Struktur Ekonomi                                                                      3–5
3.3. Inflasi                                                                                 3–5
3.4. Nilai Tukar Mata Uang Rupiah                                                            3–6
3.5. Suku Bunga Perbankan                                                                    3–7
3.6. Investasi                                                                               3–9

Bab 4 Tinjauan Pasar
4.1. Penduduk                                                                                4–1
4.1.1. Perkembangan Jumlah Penduduk                                                          4–1
4.1.2. Komposisi Penduduk Menurut Generasi                                                   4–1
4.1.3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur                                              4–2
4.1.4. Sebaran Penduduk Menurut Wilayah                                                      4–2
4.2. Pengertian Logistik, Fungsi Dan Komponen                                                4–3
4.3. Sejarah Perkembangan Logistik Di Indonesia                                              4–5
4.4. Daya Saing Logistik Nasional                                                            4–7
4.5. Perkembangan Industri Logistik Nasional                                                 4 – 11
4.5.1. Perkembangan Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan                              4 – 11
4.5.2. Distribusi Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan
       Menurut Sub Lapangan Usaha                                                            4 – 13
4.5.3. Kontribusi Terhadap PDB                                                               4 – 14
4.5.4. Struktur Pasar Utama Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan                      4 – 15
4.6. Strategi Pengembangan Sektor Logistik Guna Mendukung
     Perekonomian Indonesia                                                                  4 – 16
4.7. Rencana Penambahan Kegiatan Usaha                                                       4 – 18
4.7.1. Bidang Penambahan Usaha                                                               4 – 18
4.7.2. Target Market                                                                         4 – 19
4.7.3. Analisa Pesaing                                                                       4 – 19
4.7.4. Strategi Pemasaran                                                                    4 – 20

Bab 5 Analisis Aspek Pola Bisnis
5.1. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai                                                       5–1
5.2. Keunggulan Kompetitif                                                                   5–1


                              Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xvii -
Page 16
5.3. Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk                                                     5–2
5.4. Analisa SWOT                                                                              5–3

Bab 6 Analisis Aspek Model Manajemen
6.1. Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen Sebelum Adanya Penambahan KBLI 6 – 1
6.2. Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen Setelah Adanya Penambahan KBLI                          6–6
6.3. Manajemen Risiko                                                                          6–7


Bab 7 Aspek Teknis
7.1. Rencana Perusahaan                                                                        7–1
7.2. Lokasi                                                                                    7–1
7.3. Luas Dan Bentuk Tapak                                                                     7–2
7.4. Batasan-batasan Tapak                                                                     7–2
7.5. Aksesibilitas                                                                             7–3
7.6. Lingkungan Sekitar                                                                        7–3
7.7. Luas Gudang                                                                               7–4


Bab 8 Aspek Teknis
8.1.   Rencana Perusahaan                                                                      8–1
8.2.   Proyeksi Keuangan                                                                       8–1
8.2.1. Proyeksi Laba Rugi                                                                      8–1
8.2.2. Proyeksi Arus Kas                                                                       8–2
8.2.3. Proyeksi Posisi Keuangan                                                                8–3
8.3.   Inkremental Proyeksi Keuangan                                                           8–5
8.3.1. Inkremental Proyeksi Laba Rugi                                                          8–5
8.3.2. Inkremental Proyeksi Arus Kas                                                           8–5
8.3.3. Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan                                                    8–5
8.4.   Analisis Modal Kerja                                                                    8–6
8.5.   Tingkat Diskonto                                                                        8–7
8.5.1. Tingkat Diskonto Ekuitas (Cost of Equity)                                               8–7
8.5.2. Tingkat Suku Bunga Kredit (Cost of Debt)                                                8–8
8.5.3. Tingkat Diskonto Untuk Para Pemodal (Weighted Average Cost of Capital)                  8–9
8.6.   Analisis Kelayakan Usaha                                                                8 – 10
8.7.   Analisis Sensitivitas                                                                   8 – 12




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk- xviii -
Page 17
                                                                                            BAB 1
                                                                    PENDAHULUAN
1.1.    LATAR BELAKANG


PT Mandom Indonesia Tbk berdiri sebagai perusahaan joint venture antara Mandom
Corporation, Jepang dan PT The City Factory. Perseroan berdiri dengan nama PT Tancho
Indonesia dan pada tahun 2001 berganti menjadi PT Mandom Indonesia Tbk. Akta Pendirian
No. 14 tanggal 5 Nopember 1969 yang diubah dengan Akta Perubahan No. 84 tanggal 28
Oktober 1970 yang mendapat pengesahan melalui Keputusan Menteri Kehakiman Republik
Indonesia No. J.A.5/150/18 tanggal 28 Nopember 1970.

Kegiatan produksi komersial Perseroan dimulai pada tahun 1971 dimana pada awalnya
Perseroan menghasilkan produk perawatan rambut, kemudian berkembang dengan
memproduksi produk wangi-wangian dan kosmetik. Saat ini Perseroan berkantor pusat
di Wisma 46 Kota BNI, Lt.7, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta. Perseroan mempunyai dua
lokasi pabrik di Kawasan Industri MM2100, Bekasi ; Factory 1 yang berada di Jl. Irian khusus
memproduksi seluruh produk kosmetik Perseroan sementara Factory 2 yang berada di Jl.
Jawa berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat logistik

Sesuai Anggaran Dasar terakhir, maksud dan tujuan Perseroan adalah berusaha dalam
bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor. Untuk
mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha
seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih keperluan
rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan besar
kosmetik untuk manusia. Kode KBLI atas bidang usaha yang dijalankan adalah seperti tabel
berikut.

                                           Tabel 1.1
                        Kode KBLI Eksisting PT Mandom Indonesia Tbk
       No   Kode KBLI                                Judul KBLI
        1     22220      Industri barang dari plastik untuk pengemasan
       2     20232       Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi
       3     46443       Perdagangan besar kosmetik untuk manusia
       4     20231       Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


Pada saat ini Perseroan memiliki aset berupa gudang yang berlokasi di Kawasan Industri
MM2100, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Eksisting gudang tersebut digunakan sendiri oleh
Perseroan sesuai dengan rencana bisnis awal. Namun pada perkembangannya, pihak
manajemen melakukan perubahan strategis bisnis atas gudang tersebut dimana akan


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 1
Page 18
disewakan secara komersial termasuk kepada pihak pihak lain dan terafiliasi dengan tujuan
optimalisasi aset.

Rencana penyewaan aset gudang tersebut, tidak termasuk dalam izin kegiatan usaha
perseroan yang ada saat ini. Oleh karena itu manajemen perlu menambah kegiatan usahanya
serta manajemen perlu melakukan penyesuaian terhadap kode klasifikasi untuk
mengklasifikasikan jenis bidang usaha perusahaan di Indonesia atau yang dikenal dengan
nama Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) agar dapat menjalankan rencana
usaha yang baru terkait dengan penyewaan gudang. Adapun rencana penambahan KBLI atas
usaha baru tersebut seperti tabel berikut :

                                           Tabel 1.2
                                Rencana Penambahan KBLI
       No   Kode KBLI                         Judul KBLI
        1     68126     Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


Berdasarkan penjelasan dari manajemen PT Mandom Indonesia Tbk dimana berencana
menambah kegiatan usaha, dimana sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
Kegiatan Usaha Utama, mengingat rencana Perseroan tersebut akan menambah kegiatan
usaha (penambahan KBLI 68126 penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri).

Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha dan juga peraturan POJK
tersebut di atas, Perseroan membutuhkan jasa independent untuk melakukan analisa studi
kelayakan usaha atas atas rencana penambahan kegiatan usaha tersebut. Manajemen
Perseroan menunjukan KJPP Munir Wisnu Heru & Rekan selaku pihak independen untuk
menyusun laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha (atau penambahan KBLI)
sesuai dengan persetujuan penawaran No.012/PP-FS/MWH-00/HM/I/2026 Tanggal 19
Januari 2026.

1.2.    IDENTITAS KONSULTAN

KJPP Munir, Wisnu, Heru & Rekan sebagai konsultan penilai berdasarkan Izin Usaha Kantor
Jasa Penilai Publik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 2.15.0129 berdasarkan
KMK 479/KM.1/2015 tanggal 3 Juni 2015, memiliki NPWP No. 72.848.905.5-011.000 yang
berdomisili di Jakarta Selatan, Gedung Lina Lantai 3. R.307 JI. HR. Rasuna Said Kav B.7
Kuningan, Telepon 021-5204352, Fax 021-5204353, dalam hal ini diwakili oleh:

        Nama                :   Hasan Munir H, MBA., MAPPI (Cert)
        Izin Penilai        :   PB-1.008.00062
        STTD OJK            :   STTD.PPB-03/PJ-1/PM.2/2023
        Kualifikasi         :   Properti dan Bisnis
        Jabatan             :   Pemimpin Rekan

                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 2
Page 19
       Alamat               :   Gedung Lina, Lt 3 R 307 JI. HR. Rasuna Said Kav B-7,
                                Kuningan Jakarta Selatan 12920
       Email                :   kantor mwh@kjppmwh.com, Kjpp mwh@yahoo.com

1.3.   IDENTITAS PEMBERI TUGAS DAN PENGGUNA LAPORAN

Adapun identitas pemberi tugas adalah sebagai berikut :
       Nama                 :   PT Mandom Indonesia Tbk
       Bidang Usaha         :   bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
                                bukan mobil dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud
                                dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
                                kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia,
                                industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
                                tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan,
                                dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
       Alamat               :   Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend.
                                Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220
       No Telepon           :   (62-21) 29809500
       Faksmili             :   (62-21) 29809501
       Email                :   corporatesecretary@mandom.co.id
       Website              :   www.mandom.co.id

Adapun identitas pengguna laporan adalah sebagai berikut :

       1. PT. Mandom Indonesia Tbk
          Bidang Usaha          :    bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
                                     bukan mobil dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud
                                     dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
                                     kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia,
                                     industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
                                     tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan,
                                     dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
          Alamat                :    Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend.
                                     Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220
          No Telepon            :    (62-21) 29809500
          Faksmili              :    (62-21) 29809501
          Email                 :    corporatesecretary@mandom.co.id
          Website               :    www.mandom.co.id



                                    Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 3
Page 20
       2. Otoritas Jasa Keuangan

         Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga negara yang dibentuk
         berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi
         menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap
         keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Sektor ini melingkupi
         perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan non-bank seperti asuransi, dana
         pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya

1.4.   OBYEK STUDI KELAYAKAN

Obyek studi kelayakan yang diberikan dari Pemberi Tugas adalah melakukan jasa pekerjaan
studi kelayakan terkait rencana penambahan kegiatan usaha berupa bidang usaha KBLI
68126 Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri

1.5.   MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN

Berdasarkan uraian di atas, studi kelayakan ini disusun dengan maksud untuk memberikan
pendapat atas kelayakan penambahan kegiatan usaha perseroan terkait dengan rencana
penambahan KBLI 68126 penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri

Tujuan atas penyusunan laporan ini adalah studi kelayakan atas rencana penambahan KBLI
68126 Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri adalah untuk keperluan atau
pertimbangan bagi manajemen PT Mandom Indonesia Tbk serta untuk keperluan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK).

1.6.   STANDAR PENUGASAN

Penugasan penyusunan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini didasarkan atas
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No
35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat
edaran Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta
Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII Tahun
2018.

1.7.   TANGGAL PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN

Penyusunan studi kelayakan ini ditetapkan per tanggal 31 Desember 2025 dimana batas
tanggal tersebut berdasarkan pertimbangan kepentingan, maksud dan tujuan penyusunan
studi ini serta data – data khususnya keuangan Perseroan yang diberikan dan kami terima.
Selain itu, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020,
penggunaan laporan studi kelayakan ini paling lama adalah 6 (enam) bulan sejak diterbitkan
atau paling lama maksimal sampai dengan 30 Juni 2026.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 4
Page 21
1.8.    METODOLOGI

Metodologi yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini yaitu:

       Pengumpulan Data

        Pengumpulan data terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data
        primer merupakan data - data yang diperoleh langsung dari Perseroan mulai dari hasil
        wawancara, data legalitas, bisnis plan, data laporan keuangan hingga data – data
        terkait dengan rencana penambahan KBLI. Sedangkan data sekunder yang dimaksud
        dari data – data publikasi seperti data dari BPS, Damodara, OJK, IDX, Bank Indonesia
        serta data-data informasi dari sumber lainnya yang relevan.

       Analisa

        Data primer dan data sekunder yang telah dikumpulkan, kemudian dilakukan analisa
        sesuai dengan tujuan. Tahapan analisa meliputi legalitas, pasar, teknis, pola bisnis,
        model manajemen hingga analisa keuangan. Pada analisa keuangan, untuk indikator
        yang digunakan atas kelayakan usaha pembahan KBLI adalah indikator Net Present
        Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR).

       Penyusunan Laporan

        Hasil proses analisa tersebut di atas masing – masing analisis, akan disusun dalam
        satu laporan lengkap dan komprehensif.

1.9.    INDEPENDENSI PENILAI

Dalam mempersiapkan dan menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, keuntunngan pribadi dan tidak terafiliasi
dengan Pemberi Tugas. Laporan studi kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan jasa yang kami terima adalah sama
sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang dihasilkan dalam proses analisa studi
kelayakan ini. Penilai hanya menerima imbalan jasa sesuai dengan proposal yang telah
disesutjui oleh Pemberi Tugas.

1.10.   SIFAT DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIANDALKAN

Pada pelaksanaan penugasan studi kelayakan ini, Kami menggunakan beberapa sumber
data dan informasi dari pemberi tugas adalah sebagai berikut :

   -    Laporan keuangan audited 2017 – September 2025

   -    Proyeksi keuangan (business plan) Perseroan tanpa penambahan Kegiatan Usaha
        dan dengan Penambahan Kegiatan Usaha tahun 2026 sampai dengan 2029.

   -    Profil Perseroan
   -    Data tentang legalitas Perseroan seperti akta pendirian dan perubahan serta
        pengesahannya.
                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 5
Page 22
   -    Informasi lain dari pihak manajemen serta pihak – pihak yang relevan untuk
        penugasan ini.

   -    Data dan informasi industri, pasar dan ekonomi berdasarkan media cetak maupun
        elektronik antara lain Website Aswath Damodaran, website Bank Indonesia, Website
        Bursa Efek Indonesia, Website Biro Pusat Statistik, Website Bursa Efek Indonesia dan
        Website lainnya yang relevan.

1.11.   TINGKAT KEDALAMAN INVESTASI

Dalam proses penyusunan laporan studi kelayakan, kami telah melakukan inspeksi lapangan,
wawancara dan diskusi dengan perwakilan manajemen dari Pemberi Tugas. Hal ini dilakukan
guna memperoleh informasi dan dokumen – dokumen pendukung lainnya sehubungan
dengan penugasan ini atau sehubungan dengan penyusunan studi kelayakan pembambahan
kegiatan usaha.

1.12.   KEJADIAN – KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL EFEKTIF (SUBSEQUENT
        EVENTS)

Berdasarkan data dan informasi yang kami terima dari Pemberi Tugas, tidak terdapat kejadian
– kejadian penting setelah tanggal efektif hingga tanggal laporan studi ini diterbitkan.

1.13.   PENYATAAN ATAS PERSETUJUAN UNTUK PUBLIKASI

Laporan studi kelayakan ini disusun bersifat terbuka untuk publik. Oleh karena itu, jika laporan
studi ini dipublikasikan oleh Pemberi Tugas baik keseluruhan atau sebagian, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan Perseroan, dan/atau
laporan direksi/pimpinan Perseroan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Penilai.

1.14.   ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS

   -    Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer opinion.

   -    Penilai telah melakukan penalaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
        studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.

   -    Dalam penyusunan studi kelayakan ini, Penilai mengandalkan kelengkapan informasi
        yang disediakan oleh Perseroan dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
        tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang dapat dipercaya.

   -    Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan dengan
        mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh Perseroan
        dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).

   -    Perseroan menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
        penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
        seluruhnya kepada Penilai dan tidak ada pengurangan atas fakta – fakta yang penting.



                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 6
Page 23
-   Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
    informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.

-   Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan pasar modal dan
    pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.

-   Laporan studi kelayakan ini disusun sesuai dengan kondisi pasar dan perekonomian,
    kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan – peraturan pemerintah terkait
    yang berlaku pada tanggal penilaian ini diterbitkan.

-   Kami juga mengasumsikan bahwa sampai dengan tanggal laporan studi kelayakan ini
    diterbitkan sampai dengan tanggal terjadinya rencana aksi korporasi, tidak terjadi
    perubahan apapun terhadap asumsi - asumsi, kondisi serta peristiwa – peristiwa yang
    terjadi, selain daripada yang telah disampaikan kepada kami dalam periode sebelum
    tanggal laporan, yang berpengaruh secara material dalam penyusunan studi
    kelayakan ini. Kami tidak bertanggung jawab untuk menegaskan kembali, melengkapi,
    serta memutakhirkan (update) pendapat kami karena adanya perubahan asumsi,
    kondisi, serta peristiwa – peristiwa yang terjadi ataupun disampaikan setelah tanggal
    laporan.

-   Penyusunan studi kelayakan ini mengasumsikan bahwa penugasan yang dilakukan
    telah didasarkan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor
    17/POJK.o4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha,
    Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020 tentang penilaian dan
    Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat edaran Pedoman Penilaian
    dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Standar Penilaian
    Indonesia (SPI) Edisi VII Tahun 2018, sehingga tidak dimaksudkan untuk
    diaplikasikan, dianalisis atau diinterpretasikan menurut peraturan perundang –
    undangan di negara lain.

-   Hasil laporan studi kelayakan ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data dan
    kebenaran data serta informasi pendukung yang diperoleh dari pihak pemberi tugas.

-   Laporan studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan
    sebagian dari analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis
    lainnya secara utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan
    kesimpulan yang menyesatkan atas proses yang mendasari studi ini.

-   Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Perseroan, selama
    tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.




                              Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 7
Page 24
                                                                                            BAB 2
                            GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1.   PENDIRIAN PERSEROAN


PT Mandom Indonesia Tbk (“perusahaan”) didirikan dalam rangka Undang – Undang
Penanaman Modal Asing No. 1 tahun 1967 sebagaimana telah diamandemen dengan
Undang – Undang No. 11 Tahun 1970 berdasarkan Aka Notaris No.14 Tanggal 5 Nopember
1969 dari Abdul Latief, S.H, Notaris di Jakarta. Akta Notaris pendirian ini disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No.J.A.5/150/18 tanggal 28
Nopember 1970 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.24 tanggal 23
Maret 1971, Tambahan No. 141. Perubahan Anggaran Dasar terkait dengan Akta Notaris No.
117 tanggal 27 Mei 2025 dari Notaris Ambiati, SH, Notaris di Bekasi sehubungan dengan
perubahan Pasal 48 Ayat (1) mengenai jumlah anggota direksi. Akta perubahan ini telah
memperoleh penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dengan No. AHU-AH.01.03-0157633 tanggal 13 Juni 2025.

Berdasarkan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha utama
meliputi produksi dan perdagangan kosmetik, wangi – wangian, bahan pembersih dan
kemasan plastik termasuk bahan baku, mesin dan alat produksi untuk produksi dan kegiatan
usaha penunjang adalah perdagangan produk kosmetika, wangi-wangian, bahan pembersih.

Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada bulan April 1971. Pabrik yang berlokasi
di Kawasan MM2100 Jl Jawa Blok J9, Bekasi Jawa Barat, mulai beroperasi secara komersial
pada tanggal 4 Januari 2001. Relokasi pabrik dan kantor dari Jl Yos Sudarso By Pass, Jakarta
ke Kawasan Industri MM2100 Jl Irian Blok PP, Bekasi Jawa Barat pada tanggal 12 Juni 2015.
Sejak bulan Agustus 2018, Kantor Pusat Perusahaan terletak di Wisma BNI 46 Kota BNI,
Suite 7,01, LT 7, Jl Jend Sudirman Kav 1 Jakarta Pusat. Hasil produksi grup dipasarkan di
dalam negeri dan ke luar negeri, termasuk ke Uni Emirat Arab, Malaysia, Jepang, Thailand,
Filipina, Singapura, Korea, Vietnam, Hong Kong dan Taiwan.

2.2.   DOMISILI

Adapun Domosili perusahaan dan lokasi pabrik adalah sebagai berikut :

   -   Domisili Perusahaan
       Kantor pusat perusahaan berkedudukan di Jakarta Pusat dan berdomisili di Wisma
       46 Kota BNI, Suite 7.01, Lt.7, Jl Jend Sudirman Kav 1 Jakarta Pusat.

   -   Lokasi Pabrik
       Pabrik 1 : Kawasan Industri MM 2100, Jl Irian Blok PP, Cibitung – Bekasi Jawa Barat.
       Pabrik 2 : Kawasan Industri MM 2100, Jl Irian Blok J-9, Cibitung – Bekasi Jawa Barat.




                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 1
Page 25
2.3.    MAKSUD DAN TUJUAN

Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat PT Mandom Indonesia Tbk No 39, Hari Rabu,
Tanggal 10 Mei 2023 yang dikeluarkan oleh Ambiati, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Bekasi,
Pasal 3 bahwa maksud dan tujuan Perseroan adalah berusaha dalam bidang :

     1. Industri pengolahan yaitu :
          Industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia.
          Industri karet, barang dari karet dan plastik.
     2. Perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan
kegiatan usaha sebagai berikut :

     a. Menjalankan usaha dalam bidang industri – bahan kimia dan barang dari bahan kimia
        yaitu :
         - Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi (KBLI No. 20232).
         - Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga (KBLI No. 20231).
     b. Menjalankan kegiatan usaha dalam bidang industri karet, barang dari karet dan plastik
        yaitu :
         - Industri barang dari plastik untuk pengemasan (KBLI No. 22220).
     c. Menjalankan usaha dalam bidang perdagangan besar kosmetik yaitu :
         - Perdagangan besar kosmetik untuk manusia (KBLI No. 46443).

2.4.    STRUKTUR PERMODALAN

Berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham tahunan tanggal 10 Mei 2023, para
pemegang saham menyetujui untuk melakukan pemecahan saham dengan mengubah nilai
nominal saham dari Rp 500 (nilai penuh) per saham menjadi Rp 250 (nilai penuh) per saham
yang berlaku mulai 6 Juni 2023 sesuai dengan persetujuan dari Bursa Efek Indonesia.
Perubahan ini diaktakan dengan Akta Notaris Ambiati, S.H., No. 39 tanggal 10 Mei 2023 dan
disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. AHU-027738.AH.01.02.TAHUN 2023. Berdasarkan surat Bursa Efek
Indonesia (“Bursa”) No. S-02346/BEI.PP3/03-2023 tanggal 15 Maret 2023, Bursa menyetujui
pelaksanaan pemecahan nilai saham atas saham perseroan, sehingga saham perseroan
yang dicatatkan di Bursa efektif tanggal 6 Juni 2023, dengan nilai nominal menjadi Rp 250
(nilai penuh). Sehingga komposisi saham perusahaan adalah sebagai berikut.
                                           Tabel 2.1
                   Susunan Pemegang Saham PT Mandom Indonesia Tbk
                                        Jumlah Saham         Presentase         Jumlah Modal
 No       Nama Pemegang Saham
                                            (Lembar)         Kepemilikan         Disetor (Rp)
 1      Mandom Corporation, Jepang         262.317.382          65,231%         65.579.345.500
 2      PT. Asia Jaya Paramita               45.716.520          11,368%        11.429.130.000
 3      PT. Asia Paramita Indah               6.520.768           1,622%          1.630.192.000


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 2
Page 26
 4     Lie Harjono (Komisaris)                   506.008             0,126%         126.502.000
 5     Hirokazu Kagami
                                                   40.000            0,010%          10.000.000
       (Wakil Direktur/SEO)
 6     Masyarakat (masing – masing
                                              87.032.656             21,643%    21.758.164.000
       kurang dari 5%)
               Jumlah                       402.133.334                100%    100.533.333.500
                                  Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.5.   SUSUNAN PENGURUS

Berdasarkan Pernyataan Keputusan PT Mandom Indonesia Tbk Nomor 117, hari Selasa,
Tanggal 27 Mei 2025, yang dikeluarkan oleh Ambiati, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Bekasi
bahwa susunan Dewan Komisaris dan Direksi perseroan adalah seperti terdapat pada tabel
berikut.

                                            Tabel 2.2
                         Susunan Dewan Komisaris Direksi Perseroan
                            Jabatan                             Nama
               Dewan Komisaris
                 Presiden Komisaris              Tuan Shinichiro Koshiba
                 Komisaris                       Tuan Masanori Sawada
                 Komisaris                       Tuan Lie Harjono
                 Komisaris Independen            Tuan Heri Martono
                 Komisaris Independen            Tuan Bowo Priyatno
                 Komisaris Independen            Nyonya Tiurma Rondang Sari
               Direksi
                 Presiden Direktur / CEO         Tuan Koichi Watanabe
                 Direktur / SEO                  Tuan Teiji Izawa
                 Direktur / SEO                  Tuan Toru Onishi
                 Direktur                        Tuan Sanyata Adi Saputra
                 Wakil Direktur / SEO            Tuan Budi Sudarta
                 Wakil Direktur / SEO            Tuan Hirokazu Kagami
                 Wakil Direktur / SEO            Tuan Hideki Nakamura
                                  Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk




                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 3
Page 27

          
Page 28
2.7.   PERIZINAN DAN LEGALITAS

Adapun beberapa perizinan dan legalitas perusahaan seperti terdapat pada tabel berikut.
                                          Tabel 2.3
                         Daftar Perizinan dan Legalitas Perusahaan
 No                 Uraian                     Nomor & Tanggal                 Yang Mengeluarkan
 1     Akta    pendirian    perseroan   No 14                               Abdul Latief
       terbatas P.T. Tancho Indonesia   Tanggal 5 Nopember 1969             Notaris di Djakarta
       CO.LTD
 2     Akta perubahan anggaran          No. 53                              Lukman Kirana, SH
       dasar PT Tancho Indonesia        Tgl 6 Maret 1990                    Notaris di Jakarta
       CO.LTD
 3     Persetujuan         perubahan    No. C2-2132.HT.01.04.th.90          Direktur Jenderal Hukum
       anggaran dasar perseroan         Tgl 11 April 1990                   dan Perundang-Undangan
       terbatas PT Tancho Indonesia
       CO.LTD
 4     Akta pernyataan keputusan        No. 77                              Amrul Partomuan, SH
       rapat umum luar biasa para       Tgl 18 Februari 1993                Notaris di Jakarta
       pemegang saham tentang
       perubahan anggaran dasar P.T.
       Tancho Indonesia
 5     Persetujuan atas perubahan       No. C2-4511.HT.01.04.TH”93          a/n Menteri Kehakiman dan
       seluruh      angaran     dasar   Tgl 11 Juni 1993                    hak Asasi Manusia RI,
       perseroan terbatas PT Tancho                                         Direktur           Jenderal
       Indonesia                                                            Administrasi Hukum dan
                                                                            Perundang - undangan
 6     Akta perubahan nama menjadi      No 6                                Amrul Partomuan Pohan,
       PT Mandom Indonesia Tbk          Tanggal 2 Nopember 2000             SH
                                                                            Notaris di Jakarta
 8     Persetujuan     atas    dasar    No C-24619 HT.01.04-TH.2000         a/n Menteri Kehakiman dan
       perubahan pasal 1 ayat 1         Tgl 27 Nopember 2000                hak Asasi Manusia RI,
       anggaran dasar perseroan                                             Direktur           Jenderal
       terbatas    :  PT    Mandom                                          Administrasi Hukum Umum
       Indonesia Tbk
 9     Akta berita acara rapat umum     No. 09                              Pahala Sutrisno Amijppjo
       pemegang saham luar biasa        Tgl 10 Juni 2008                    Tampubolon, Notaris di
       PT. Mandom Indonesia Tbk                                             Jakarta Pusat
       tentang perubahan anggaran
       dasar
 10    Persetujuan akta perubahan       No. AHU-43773.AH.01.02.Tahun        a/n Menteri Kehakiman dan
       anggaran dasar perseroan         2008                                Hak Asasi Manusia RI,
                                        Tgl 22 Juli 2008                    Direktur          Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 11    Akta berita acara rapat umum     No. 15                              Pahala Sutrisno Amijppjo
       pemegang saham luar biasa        Tgl 24 April 2014                   Tampubolon, Notaris di
       tentang perubahan badan                                              Jakarta Pusat
       hukum PT Mandom Indonesia
 12    Persetujuan perubahan badan      No. AHU-02144.40.20.2014            a/n Menteri Kehakiman dan
       hukum PT Mandom Indonesia        Tgl 30 April 2014                   Hak Asasi Manusia RI,
                                                                            Direktur           Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 13    Akta pernyataan keputusan        No 14                               P Sutrisno A Tampubolom,
       rapat PT Mandom Indonesia        Tgl 19 April 2018                   SH,
       Tbk    tentang  perubahan                                            Notaris di Jakarta Pusat
       anggaran dasar


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 5
Page 29
 No                Uraian                     Nomor & Tanggal                   Yang Mengeluarkan
 14    Persetujuan        perubahan   No. AHU-                              a/n Menteri Kehakiman dan
       Anggaran dasar PT Mandom       0009022.AH.01.02.TAHUN 2018           hak Asasi Manusia RI,
       Indonesia Tbk                  Tgl 23 April 2018                     Direktur           Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 15    Akta pernyataan Keputusan      No. 39                                Ambiati, SH
       rapat PT Mandom Indonesia      Tgl 10 Mei 2023                       Notaris di Kota Bekasi
       Tbk tentang perubahan data
       perseroan
 16    Penerimaan    pemberitahuan    No. AHU-AH.01.09-0118891              a/n Menteri Kehakiman dan
       perubahan data Perseroan PT    Tgl 19 Mei 2023                       Hak Asasi Manusia RI,
       Mandom Indonesia Tbk                                                 Direktur           Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 17    Akta pernyataan keputusan      No. 117                               Ambiati, SH
       rapat Perseroan PT Mandom      Tgl 27 Mei 2025                       Notaris di Kota Bekasi
       Indonesia    Tbk     tentang
       perubahan anggaran dasar
 18    Penerimaan    pemberitahuan    No. AHU-Ah.01.03-0157633              a/n Menteri Kehakiman dan
       perubahan anggaran dasar PT    Tgl 13 Juni 2025                      Hak Asasi Manusia RI,
       Mandom Indonesia Tbk                                                 Direktur          Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk

2.8    Perijinan dan Legalitas Lainnya


Adapun perizinan dan legalitas lainnya adalah sebagai berikut :

  -   Sertifikat tanah
      Jenis Kepemilikan       : Hak guna bangunan
      No.                     ; 247
      Nama Pemegang Hak : PT Mandom Indonesia Tbk
      Alamat                  : Desa Gandamekar
      Berakhirnya Hak         : 24/09/2041
      Surat Ukur              : 00015/1998 Tgl 03-04-1998
      Luas                    : 54.440 m2
      Dikeluarkan oleh        : an Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi
  -   Perizinan berusaha berbasis risiko, nomor Induk Berusaha : 81202103712147, tanggal
      14 Juli 2018, dikeluarkan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi / Kepala Badan Koordinasi
      Penanaman Modal.
  -   NPWP No. 01.000.614.6-092.000, Perseroan terbatas – Badan Mandom Indonesia Tbk,
      tanggal 14/11/1982, dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

2.9   KINERJA KEUANGAN HISTORIS

Analisa atas kinerja keuangan Perusahaan dalam studi ini dilakukan berdasarkan pada
laporan keuangan audit periode yang berakhir 31 Desember 2021, 2022, 2023, 2024 dan
2025.




                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 6
Page 30
2.9.1 Kinerja Laba Rugi

Pendapatan (Penjualan Bersih)

Penjualan bersih perusahaan meningkat dari Rp1.850.311.080 ribu di tahun 2020 menjadi Rp
2.050.460.062 ribu pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024 penjualan yang dicapai oleh
Perusahaan mengalami penurunan menjadi hanya Rp1.859.360.093 ribu dimana pendapatan
tersebut hanya sedikit di atas penjualan yang dicapai di tahun 2021. Pada tahun 2025,
penjualan perusahaan kembali meningkat menjadi Rp2.146.553.444 ribu dan merupakan
penjualan tertinggi yang dicapai sejak tahun 2021. Berdasarkan kinerja pendapatan selama
tahun 2021 – 2025, secara umum penjualan perusahaan mengalami pertumbuhan positif
kecuali di tahun 2024 dan penurunan tersebut perlu diwaspadai, perlu menjadi perhatian agar
kedepan dapat diantisipasi ditengah persaingan global yang semakin ketat.

Laba Kotor

Laba kotor perusahaan mengalami peningkatan dari Rp305.655.841 ribu di tahun 2021
menjadi Rp411.435.312 ribu di tahun 2022. Pada tahun 2023 laba kotor yang dicapai menurun
menjadi Rp406.611.104 akibat adanya peningkatan beban pokok penjualan. Kemudian pada
tahun 2024 laba kotor yang dicapai kembali mengalami penurunan menjadi hanya
Rp241.799.044 ribu akibat penurunan penjualan meskipun dilain sisi beban pokok penjualan
mengalami penurunan. Pada tahun 2025, laba kotor perusahaan meningkat pesat menjadi
Rp552.298.488 ribu akibat peningkatan penjualan dan penurunan beban pokok penjualan.
Selama tahun 2021 – 2025, laba kotor yang dicapai masih cukup tinggi, namun demikian
marginnya mulai mengalami tekanan akibat pertumbuhan beban pokok penjualan seperti
yang terjadi pada tahun 2023 – 2024.

Laba Operasional (Laba Usaha)

Laba operasional yang dicapai perusahaan mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Laba
operasional pada tahun 2021 mengalami kerugian sebesar -Rp99.524,954 ribu dan
meningkat pesat menjadi Rp5.847.390 ribu di tahun 2022. Pada tahun 2023 laba operasional
mengalami penurunan drastis menjadi hanya Rp813.473 ribu dan penurunan tajam terus
berlanjut di tahun 2024 dimana justru mengalami kerugian sebesar -Rp198.395.096 ribu dan
pada tahun 2025 -Rp7.656.611 ribu. Penurunan laba operasional selama tahun 2023 – 2025
akibat meningkatnya beban usaha khususnya beban penjualan.

Laba Sebelum Pajak

Laba sebelum pajak yang dicapai oleh perusahaan mengalami fluktuasi selama tahun 2021 –
2025. Pada tahun 2021, laba perusahaan sebelum pajak mengalami kerugian sebesar -
Rp93.661.666 ribu, kemudian meningkat pesat menjadi Rp27.802.698 ribu tahun 2022 dan
mencapai puncaknya pada tahun 2023 sebesar Rp44.072.635 ribu. Namun pada tahun 2024
laba sebelum pajak mengalami penurunan atau kerugian yang sangat drastis menjadi
Rp160.955.099 ribu. Pada tahun 2025, laba sebelum pajak tumbuh pesat dimana meningkat
menjadi Rp22.516.937 ribu. Perkembangan laba (rugi) sebelum pajak perusahaan sangat


                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 7
Page 31
dipengaruhi oleh komponen penghasilan bunga dan keuntungan lain – lain karena kedua
komponen tersebut sangat besar nominalnya dibandingkan komponen lainnya.

Laba Tahun Berjalan

Laba tahun berjalan pada tahun 2021 mengalami kerugian sebesar -Rp76.507.619 ribu. Pada
tahun 2022 meningkat pesat menjadi Rp18.109.470 ribu dan mencapai puncaknya pada
tahun 2023 yaitu sebesar Rp38.116.003 ribu. Kemudian menurun tajam dan bahkan
mengalami kerugian sebesar -Rp124.747.277 ribu tahun 2024 dan di tahun 2025 kembali
meningkat pesat menjadi laba Rp14.816.262.
                                               Tabel 2.4
                          Laporan Laba Rugi Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                      2021            2022            2023            2024            2025
                                                     Audit           Audit           Audit           Audit           Audit
 PENJUALAN BERSIH                                 1.850.311.080   2.044.821.803   2.050.460.062   1.859.368.093   2.146.553.444
 BEBAN POKOK PENJUALAN                           (1.544.655.239) (1.633.386.491) (1.643.848.958) (1.617.569.050) (1.594.747.473)
 LABA BRUTO                                         305.655.841     411.435.312     406.611.104     241.799.044     551.805.970
 BEBAN USAHA
 Beban penjualan                                    (212.450.600)   (211.597.243)   (205.539.621)   (230.500.802)   (282.907.312)
 Beban umum dan administrasi                        (192.730.194)   (193.990.678)   (200.258.010)   (209.693.338)   (277.820.249)
 Jumlah Beban Usaha                                 (405.180.795)   (405.587.921)   (405.797.631)   (440.194.139)   (560.727.561)
 LABA (RUGI) USAHA                                   (99.524.954)      5.847.390         813.473    (198.395.096)     (8.921.591)
 PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
 Penghasilan bunga                                    12.234.937      13.024.971     22.082.914       29.376.922     21.685.975
 Keuntungan (kerugian) atas penjualan aset tetap        (151.655)         39.459     23.490.924        3.034.837      1.377.297
 Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing           (1.239.064)      7.704.756     (4.148.219)       4.563.194      4.759.990
 Keuntungan (kerugian) lain-lain - bersih             (4.980.930)      1.186.120      1.833.543          465.045      4.229.470
 Keuntungan Lain-lain - Bersih                         5.863.288      21.955.307     43.259.162       37.439.997     32.052.731
 LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK                           (93.661.666)     27.802.698     44.072.635     (160.955.099)    23.131.141
   Pajak kini                                                        (15.554.825)    (1.157.788)                     (1.135.979)
   Pajak tangguhan                                    17.154.047       5.861.597     (4.798.844)      36.207.821     (6.696.094)
 Manfaat (Beban) Pajak - Bersih                       17.154.047      (9.693.227)    (5.956.632)      36.207.821     (7.832.073)
 LABA (RUGI) BERSIH TAHUN BERJALAN                   (76.507.619)     18.109.470     38.116.003     (124.747.277)    15.299.067
 PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN
   Keuntungan aktuarial                               22.197.484     17.355.560      11.041.635      60.742.387       (9.127.316)
   Laba (rugi) nilai wajar bersih atas efek ekuitas       39.360        (24.112)        (62.217)        (48.104)         (19.576)
 JUMLAH PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN                 22.236.844     17.331.449      10.979.418      60.694.283       (9.146.892)
JUMLAH PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF
TAHUN BERJALAN                                       (54.270.775)    35.440.919      49.095.421      (64.052.994)      6.152.175



                                                Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.9.2     Kinerja Posisi Keuangan


Aset

Total aset perusahaan menunjukkan angka yang relatif stabil atau pertumbuhan yang tidak
signifikan dimana pada tahun 2021 sebesar Rp2.300.804.865 ribu dan meningkat menjadi
Rp2.322.150.636 ribu di tahun 2025. Aset lancar mendominasi proporsi aset secara
keseluruhan dan nilainya cenderung meningkat yaitu Rp1.437.357.375 ribu di tahun 2021 dan
menjadi Rp1.618.629.138 ribu di tahun 2025.


                                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 8
Page 32
                                                Tabel 2.5
                             Laporan Neraca Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                   2021             2022             2023             2024              2025
                                                   Audit            Audit            Audit            Audit             Audit
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                554.614.346      573.375.511      727.237.003      655.446.668      540.111.590
Aset keuangan lainnya - lancar                      3.327.633          306.523        3.486.152          196.202       33.949.708
Piutang usaha
  Pihak berelasi                                  354.585.580      335.683.800      400.794.424      334.081.927      398.017.747
  Pihak ketiga                                     13.629.019       22.948.333       12.534.003       10.866.629       16.700.792
Piutang lain-lain                                   1.855.727       21.979.439        2.098.025        2.945.451        4.364.441
Persediaan - bersih                               497.854.833      624.271.016      480.994.619      557.458.736      602.138.620
Uang muka                                             544.274          353.588        1.343.696        2.558.609        6.962.502
Biaya dibayar dimuka                                5.935.955        8.132.142       10.109.050        9.770.908        7.561.855
Pajak dibayar dimuka                                5.010.008        7.515.217          744.221       20.743.476       10.784.328
Aset Tidak lancar yang dimiliki untuk dijual                                                                              384.865
Jumlah Aset Lancar                               1.437.357.375   1.594.565.568    1.639.341.193    1.594.068.605     1.620.976.448

ASET TIDAK LANCAR
Piutang lain-lain                                    108.362           361.520        1.205.976        1.895.100         2.090.939
Biaya dibayar dimuka                                                    16.296                            16.296               -
Aset keuangan lainnya - tidak lancar                                 3.308.088                         3.398.724               -
Estimasi tagihan pengembalian pajak                 7.411.698        4.698.761        6.517.420       13.128.876        13.475.247
Aset pajak tangguhan - bersih                      62.804.904       63.771.019       55.854.729       74.936.509        70.814.786
Aset tetap - bersih                               751.551.526      692.349.461      660.520.874      627.414.173       590.431.459
Perangkat lunak komputer - bersih                  25.485.393       10.902.581        4.253.261        4.175.600         7.267.630
Aset hak-guna - bersih                              8.102.298        3.503.042       16.289.148       12.487.134         9.259.833
Aset tidak lancar lainnya                           7.983.310        7.181.582        7.583.907        6.367.850         6.473.264
Jumlah Aset Tidak Lancar                          863.447.490      786.092.350      752.225.316      743.820.261       699.813.157
JUMLAH ASET                                     2.300.804.865    2.380.657.918    2.391.566.509    2.337.888.866     2.320.789.605

LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank                                          3.000.000                         7.478.881       30.942.278        16.794.605
Utang usaha
  Pihak berelasi                                    9.335.747        5.883.648       54.352.154      114.950.083        83.932.925
  Pihak ketiga                                     73.505.155       85.748.468       26.397.213       35.562.842        33.521.996
Utang lain-lain pada pihak ketiga                  18.897.890       26.919.667       13.813.448        4.289.783         5.903.279
Utang pajak                                         5.019.844       16.507.543       14.336.551       23.099.982        33.793.819
Biaya yang masih harus dibayar
  Pihak berelasi                                   13.132.636       14.650.470       55.700.993       77.993.095      118.776.750
  Pihak ketiga                                     49.264.970       67.908.557       20.606.273       68.599.299        4.526.675
  Uang Muka yang diterima                                                                                               4.463.895
Liabilitas sewa jatuh tempo 1 thn                   4.681.228        3.393.149        3.212.856        3.317.838        3.564.852
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                   176.837.470      221.011.501      195.898.370      358.755.200       305.278.795

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas imbalan kerja                          297.777.342     301.436.802      293.392.961      181.638.010       217.132.254
Liabilitas sewa setelah dikurangi 1thn              3.344.358         113.612       13.245.997        9.928.159         4.519.491
Jaminan pelanggan                                   2.996.999       3.308.088        3.241.847        3.633.689         3.773.083
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                  304.118.699     304.858.502      309.880.804      195.199.858       225.424.828
JUMLAH LIABILITAS                                 480.956.169     525.870.003      505.779.174      553.955.058       530.703.622

EKUITAS
Modal Saham                                       100.533.334      100.533.334      100.533.334      100.533.334       100.533.334
Tambahan modal disetor                            188.827.691      188.300.826      188.300.826      188.300.826       188.300.826
Revaluasi efek ekuitas                                199.699          175.587          113.370           65.266           45.690
Saldo laba
  Ditentukan penggunaannya                          20.106.667       20.106.667       20.106.667       20.106.667        20.106.667
  Tidak ditentukan penggunaannya                 1.509.848.409    1.545.671.693    1.576.733.761    1.474.928.936    1.481.101.504
Jumlah ekuitas yang diatribusikan                1.819.515.799    1.854.788.106    1.885.787.957    1.783.935.028     1.790.088.020
Kepentingan non-pengendali                            332.897             (191)            (622)           (1.220)           (2.037)
JUMLAH EKUITAS                                   1.819.848.696    1.854.787.915    1.885.787.335    1.783.933.808     1.790.085.983
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                   2.300.804.865    2.380.657.918    2.391.566.509    2.337.888.866     2.320.789.605

                                               Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


                                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 9
Page 33
Liabilitas

Total liabilitas perusahaan meningkat dari Rp480.956.169 ribu di tahun 2021 menjadi
Rp532.547.438 ribu di tahun 2025. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan liabilitas jangka
pendek yang naik dari Rp176.837.470 ribu di tahun 2021 menjadi Rp305.138.864 ribu di tahun
2025. Sedangkan liabilitas jangka panjang menurun dari Rp304.118.699 ribu di tahun 2021
menjadi Rp227.408.574 ribu. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada liabilitas jangka
pendek.

Ekuitas

Ekutas perusahaan stabil dari Rp1.819.848.696 ribu pada tahun 2021 dan menjadi
Rp1.789.603.198 ribu di tahun 2025. Komponen utama yang mempengaruhi ekuitas
Perusahaan adalah dari saldo laba jenis tidak ditentukan penggunaannya.

2.9.3   Analisis Arus Kas

Arus kas bersih diperoleh dari kegiatan operasi menunjukkan tren fluktuasi selama periode
tahun 2021 – 2025. Perusahaan menghasilkan kas bersih sebesar Rp150.138.898 ribu di
tahun 2021, menurun menjadi Rp90.067.737 ribu di tahun 2022, kemudian mencapai puncak
pada tahun 2023 sebesar Rp223.917.048 ribu dan kembali menurun tajam pada tahun 2024
yaitu menurun menjadi hanya Rp52.002.346 ribu. Namun pada tahun 2025 mengalami
penurunan yang sangat tajam dan bahkan negatif nominalnya yaitu menurun menjadi -
Rp49.601.406 ribu. Kondisi yang dialami pada tahun 2025 disebabkan oleh pembayaran
beban pabrikasi, umum dan lainnya yang mengalami lonjakan yang cukup signifikan.
Komponen lainnya yang sangat besar dan sangat berpengaruh adalah pembayaran ke
pemasok serta pembayaran kepada direksi dan karyawan. Penurunan kemampuan
menghasilkan kas dari aktivitas inti ini mencerminkan potensi tekanan dari sisi operasional.

Arus kas dari aktivitas investasi selama lima tahun terakhir selalu mencatat arus keluar
(negatif), yang menunjukkan bahwa perusahaan secara konsisten melakukan investasi
terutama aset tetap dan perangkat lunak komputer. Pada tahun 2021, arus kas keluar sebesar
Rp61.109.516 ribu, tahun 2022 menurun menjadi Rp59.966.704 ribu dan berlanjut di tahun
2023 Rp50.357.595 ribu. Arus kas dari aktivitas investasi mencapai puncaknya pada tahun
2024 yang meningkat menjadi Rp81.384.240 ribu dan pada tahun 2025 menurun menjadi
hanya Rp65.942.650 ribu.

Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan
kebutuhan likuiditasnya. Selama 5 (lima) tahun terakhir atau selama tahun 2021 – 2025,
perusahaan mengalami arus kas keluar dari aktivitas pendanaan. Aktivitas pendanaan selama
ini mengandalkan hasil penjualan aset tetap dan pencairan deposito berjangka.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 10
Page 34
                                               Tabel 2.6
                          Laporan Arus Kas Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                     2021              2022              2023              2024              2025
                                                     Audit             Audit             Audit             Audit             Audit
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan                     2.042.695.268    2.348.369.678     2.161.838.406     2.080.638.910     2.263.746.944
Penerimaan (pengeluaran) kas dari/untuk:
  Penghasilan bunga                                  12.195.062        12.465.527        22.066.761        29.299.909        21.578.150
  Pemasok                                          (973.536.676)   (1.249.696.649)   (1.047.650.492)   (1.166.310.709)   (1.262.023.179)
  Direksi dan karyawan                             (500.906.027)     (517.368.662)     (534.347.648)     (513.117.549)     (500.658.036)
  Royalti                                           (87.176.213)      (96.009.030)      (93.497.291)      (96.026.417)     (102.432.525)
  Beban penjualan                                  (171.064.798)     (191.327.035)      (83.424.835)      (72.266.363)     (121.793.574)
  Penerimaan restitusi pajak penghasilan                                                                                      5.381.441
  Pajak penghasilan                                  (3.188.129)      (6.909.314)      (16.611.216)       (6.611.456)        (6.863.791)
  Beban pabrikasi, umum dan lainnya                (168.879.589)    (209.456.778)     (184.456.638)     (203.603.981)      (322.047.180)
Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Operasi         150.138.898       90.067.737       223.917.048        52.002.346        (25.111.750)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Hasil penjualan aset tetap                              32.060            91.081        23.495.991         3.096.764         1.377.297
Penerimaan Deviden                                                                                                              12.924
Penempatan deposito berjangka                        (2.996.999)      (3.308.088)       (3.241.847)       (3.398.724)      (30.000.000)
Perolehan aset tetap                                (53.051.857)     (57.702.083)      (73.129.435)      (82.878.568)      (62.959.109)
Akuisi entitas anak dari non-pengendali              (7.679.896)        (501.700)
Pencairan deposito berjangka                          2.960.626        2.996.999         3.308.088         3.241.847               -
Uang muka penjualan tanah dan bangunan                                                                                       5.100.000
Perolehan perangkat lunak komputer                     (373.450)      (1.542.913)         (790.392)       (1.445.559)       (3.963.420)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi      (61.109.516)     (59.966.704)      (50.357.595)      (81.384.240)      (90.432.308)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan utang bank                            3.000.000             3.000.000        (5.081.641)       (4.467.982)        (4.302.762)
Pembayaran liabilitas sewa                      (5.424.882)           (4.924.476)      (18.064.567)      (37.769.494)               -
Pembayaran utang bank                                                 (6.000.000)
Pembayaran dividen kas                                                    (3.958)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan  (2.424.882)           (7.928.434)      (23.146.208)      (42.237.476)       (4.302.762)
KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS              86.604.500            22.172.598       150.413.245       (71.619.370)     (119.846.820)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                  467.465.488           554.614.346       573.375.511       727.237.003       655.446.668
Dampak perubahan kurs mata uang asing              544.357            (3.411.433)        3.448.246          (170.964)        4.511.742
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN                 554.614.346           573.375.511       727.237.003       655.446.668       540.111.590



                                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.9.4 Analisis Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar perusahaan cenderung mengalami penurunan
dari 8,1 pada tahun 2021 menjadi 5,3 pada tahun 2025. Meskipun rasio ini masih berada di
atas angka 1 dimana secara umum posisi likuid masih aman, namun adanya tren penurunan
mencerminkan pelemahan dalam kapasitas likuiditas perusahaan. Demikian juga halnya
terkait dengan rasio cepat dimana cenderung mengalami penurunan dari 5,3 pada tahun 2021
menurun menjadi 3,3 pada tahun 2025. Namun demikian rasio cepat tetap berada di atas 1,
dimana menggambarkan perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya. Total
asset turnover selama ini berkisar antara angka 0,8 – 0,9. Artinya angka tersebut berada di

                                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 11
Page 35
bawah angka 1 yang menggambarkan bahwa perusahaan tidak menggunakan asetnya
secara efisien, atau terjadi penumpukan aset yang tidak produktif. Sementara receivable
turnover berada pada kisaran 5,0 – 5,7 yang menggambarkan bahwa perusahaan memiliki
aliran kas masuk yang lancar karena piutang tidak tertahan lama, sehingga modal kerja
optimal. Perputaran piutang pada tahun 2021 sekitar 72,6 hari dan pada tahun 2025 menurun
menjadi hanya 70,5 hari, artinya ada perbaikan. Perputaran payable turnover dari 18,6
menurun menjadi 13,7, perusahaan membayar tagihannya dalam waktu yang lebih lama.
Demikian juga dengan inventory turnover dari angka 3,1 menjadi 2,6.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah metrik keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi seluruh kewajiban jangka panjang dan jangka pendeknya, terutama jika
perusahaan dilikuidasi. Total debt to total equity relatif stabil pada angka 0,3, total debt to total
assets stabil pada angka 0,2 serta total equity to total assets stabil pda angka 0,8. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar aset perusahaan didanai oleh ekuitas (modal sendiri),
bukan utang.
                                             Tabel 2.7
                               Analisa Rasio Keuangan Perusahaan
          Uraian                         Marks     2021      2022      2023      2024       2025
          Likuiditas rasio
          Current ratio                     x         8,1       7,2       8,4        4,4       5,3
          Quick ratio                       x         5,3       4,4       5,9        2,9       3,3

          Solvability
          Total debt to total equity        x         0,3       0,3       0,3        0,3       0,3
          Total debt to total asset         x         0,2       0,2       0,2        0,2       0,2
          Total equity to total asset       x         0,8       0,8       0,8        0,8       0,8

          Activity ratio
          Total assets turnover            x          0,8       0,9       0,9       0,8       0,9
          Receivable turnover              x          5,0       5,7       5,0       5,4       5,2
          Collection period               hari       72,6      64,0      73,6      67,7      70,5
          Payable turnover                 x         18,6      17,8      20,4      10,7      13,6
          Inventory turnover               x          3,1       2,6       3,4       2,9       2,6

          Profitability ratio
          Gross profit margin              %         16,5      20,1      19,8       13,0     25,7
          Operating profit margin          %         (5,4)      0,3       0,0      (10,7)    (0,4)
          Net profit margin                %         (2,9)      1,7       2,4       (3,4)     0,3
          ROE                              %         (3,0)      1,9       2,6       (3,6)     0,3
          ROA                              %         (2,4)      1,5       2,1       (2,7)     0,3



Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas memberikan gambaran mengenai seberapa efisien perusahaan
menghasilkan laba dari penjualannya, aset dan modal sendiri. Margin laba kotor perusahaan
cenderung mengalami pertumbuhan dari 16,5% di tahun 2021 menjadi 25,7% di tahun 2025,

                                        Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 12
Page 36
sedangkan margin laba operasi pada tahun 2021 menunjukkan angka negatif yaitu -5,4%,
kemudian tahun 2022 0,3%, 2023 0,0%, 2024 10,7% dan tahun 2024 -0,4% yang
menggambarkan bahwa beban usaha cenderung mengalami pertumbuhan yang tinggi.
Demikian juga halnya dengan laba bersih dimana tahun 2021 -2,9%, tahun 2022 1,7%, 2023
2,4%, 2024 -3,4% dan tahun 2025 0,3%. Akibatnya berdampak pada return on equity di tahun
2021 3,0% dan tahun 2025 0,3% serta return on asset di tahun 2021 -2,4% dan akhir tahun
2025 0,2%.
Common Size Laporan Keuangan Periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025
Berikut common size / analisis vertical laporan keuangan periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025
                                              Tabel 2.8
                                Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi
                                                           2021      2022      2023      2024      2025
                                                             %         %         %        %          %
      PENJUALAN BERSIH                                     100,0     100,0      100,0     100,0    100,0
      BEBAN POKOK PENJUALAN                                 (83,5)    (79,9)    (80,2)    (87,0)    (74,3)
      LABA BRUTO                                             16,5      20,1      19,8      13,0      25,7
      BEBAN USAHA                                             -
      Beban penjualan                                       (11,5)    (10,3)    (10,0)    (12,4)    (13,2)
      Beban umum dan administrasi                           (10,4)     (9,5)     (9,8)    (11,3)    (12,9)
      Jumlah Beban Usaha                                    (21,9)    (19,8)    (19,8)    (23,7)    (26,1)
      LABA (RUGI) USAHA                                      (5,4)      0,3       0,0     (10,7)     (0,4)
      PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
      Penghasilan bunga                                       0,7       0,6       1,1       1,6       1,0
      Keuntungan (kerugian) atas penjualan aset tetap        (0,0)      0,0       1,1       0,2       0,1
      Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing             (0,1)      0,4      (0,2)      0,2       0,2
      Keuntungan (kerugian) lain-lain - bersih               (0,3)      0,1       0,1       0,0       0,2
      Keuntungan Lain-lain - Bersih                           0,3       1,1       2,1       2,0       1,5
      LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK                              (5,1)      1,4       2,1      (8,7)      1,1
        Pajak kini                                            -        (0,8)     (0,1)               (0,1)
        Pajak tangguhan                                       0,9       0,3      (0,2)      1,9      (0,3)
      Manfaat (Beban) Pajak - Bersih                          0,9      (0,5)     (0,3)      1,9      (0,4)
      LABA (RUGI) BERSIH TAHUN BERJALAN                      (4,1)      0,9       1,9      (6,7)      0,7
      PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN
        Keuntungan aktuarial                                  1,2       0,8       0,5       3,3      (0,4)
        Laba (rugi) nilai wajar bersih atas efek ekuitas      0,0      (0,0)     (0,0)     (0,0)     (0,0)
      JUMLAH PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN                    1,2       0,8       0,5       3,3      (0,4)
     JUMLAH PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF
     TAHUN BERJALAN                                          (2,9)      1,7       2,4      (3,4)      0,3




Analisis Vertikal
Analisis vertikal pada dasarnya adalah bagian dari analisis laporan keuangan dengan cara
menyajikan kembali laporan keuangan dalam bentuk persentase, dimana laporan laba rugi


                                      Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 13
Page 37
dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap pendapatan, sedangkan laporan posisi
keuangan dinyatakan dalam persentase terhadap total aset maupun libilitas dan ekuitas.
                                               Tabel 2.9
                                  Analisis Vertikal Posisi Keuangan
                                                           2021    2022     2023     2024     2025
                                                            %       %        %        %        %
            ASET
            ASET LANCAR
            Kas dan setara kas                              24,1    24,1     30,4     28,0     23,3
            Aset keuangan lainnya - lancar                   0,1     0,0      0,1      0,0      1,5
            Piutang usaha
              Pihak berelasi                                15,4    14,1     16,8     14,3     17,2
              Pihak ketiga                                   0,6     1,0      0,5      0,5      0,7
            Piutang lain-lain                                0,1     0,9      0,1      0,1      0,2
            Persediaan - bersih                             21,6    26,2     20,1     23,8     25,9
            Uang muka                                        0,0     0,0      0,1      0,1      0,3
            Biaya dibayar dimuka                             0,3     0,3      0,4      0,4      0,3
            Pajak dibayar dimuka                             0,2     0,3      0,0      0,9      0,5
            Aset Tidak lancar yang dimiliki untuk dijual                                        0,0
            Jumlah Aset Lancar                              62,5    67,0     68,5     68,2     69,8

            ASET TIDAK LANCAR
            Piutang lain-lain                                0,0     0,0      0,1      0,1      0,1
            Biaya dibayar dimuka                                     0,0               0,0      -
            Aset keuangan lainnya - tidak lancar                     0,1               0,1      -
            Estimasi tagihan pengembalian pajak              0,3     0,2      0,3      0,6      0,6
            Aset pajak tangguhan - bersih                    2,7     2,7      2,3      3,2      3,1
            Aset tetap - bersih                             32,7    29,1     27,6     26,8     25,4
            Perangkat lunak komputer - bersih                1,1     0,5      0,2      0,2      0,3
            Aset hak-guna - bersih                           0,4     0,1      0,7      0,5      0,4
            Aset tidak lancar lainnya                        0,3     0,3      0,3      0,3      0,3
            Jumlah Aset Tidak Lancar                        37,5    33,0     31,5     31,8     30,2
            JUMLAH ASET                                    100,0   100,0    100,0    100,0    100,0

            LIABILITAS DAN EKUITAS
            LIABILITAS JANGKA PENDEK
            Utang bank                                       0,1              0,3      1,3       0,7
            Utang usaha
              Pihak berelasi                                 0,4     0,2      2,3      4,9      3,6
              Pihak ketiga                                   3,2     3,6      1,1      1,5      1,4
            Utang lain-lain pada pihak ketiga                0,8     1,1      0,6      0,2      0,3
            Utang pajak                                      0,2     0,7      0,6      1,0      1,5
            Biaya yang masih harus dibayar                                                      0,0
              Pihak berelasi                                 0,6     0,6      2,3      3,3      5,1
              Pihak ketiga                                   2,1     2,9      0,9      2,9      0,2
              Uang Muka yang diterima                                                           0,2
            Liabilitas sewa jatuh tempo 1 thn                0,2     0,1      0,1      0,1      0,2
            Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                  7,7     9,3      8,2     15,3     13,2

            LIABILITAS JANGKA PANJANG
            Liabilitas imbalan kerja                        12,9    12,7     12,3      7,8      9,4
            Liabilitas sewa setelah dikurangi 1thn           0,1     0,0      0,6      0,4      0,2
            Jaminan pelanggan                                0,1     0,1      0,1      0,2      0,2
            Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                13,2    12,8     13,0      8,3      9,7
            JUMLAH LIABILITAS                               20,9    22,1     21,1     23,7     22,9

            EKUITAS
            Modal Saham                                      4,4     4,2      4,2      4,3       4,3
            Tambahan modal disetor                           8,2     7,9      7,9      8,1       8,1
            Revaluasi efek ekuitas                           0,0     0,0      0,0      0,0       0,0
            Saldo laba                                                                           0,0
              Ditentukan penggunaannya                       0,9     0,8      0,8      0,9       0,9
              Tidak ditentukan penggunaannya                65,6    64,9     65,9     63,1      63,8
            Jumlah ekuitas yang diatribusikan               79,1    77,9     78,9     76,3      77,1
            Kepentingan non-pengendali                       0,0    (0,0)    (0,0)    (0,0)      0,0
            JUMLAH EKUITAS                                  79,1    77,9     78,9     76,3      77,1
            JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                  100,0   100,0    100,0    100,0    100,0




                                       Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 14
Page 38
                                                                                          BAB 3
                                                     TINJAUAN EKONOMI

3.1.   GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN GLOBAL

Dunia terus bergejolak dengan ketidakpastian yang tinggi. Ketegangan geopolitik dunia
berlanjut dengan perang Rusia dan Ukraina di Eropa yang belum selesai dan ketegangan
geopolitik di Timur Tengah yang makin memanas sejalan meningkatnya serangan Israel ke
Palestina. Di bidang ekonomi, perang dagang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS)
Donald Trump pada 2 April 2025 dengan pengenaan tarif impor universal sebesar 10% atas
semua barang yang masuk ke AS, ditambah dengan tarif resiprokal yang sangat tinggi kepada
57 negara mitra dagang termasuk Tiongkok, Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa.

                                        Gambar 3.1
               Kebijakan Tarif Efektif AS : Tiongkok, Meksiko, Jepang, Total




Pengenaan tarif impor sepihak oleh Trump ini dikenal dengan “Liberation Day” untuk
perlindungan industri dan mengatasi defisit neraca perdagangan AS karena kurang berdaya
saing dalam perdagangan multilateral. Kepada Tiongkok dikenakan tarif impor hingga efektif
sebesar 54%, sementara kepada Kanada dan Meksiko tarif efektif hingga 25%. Bahkan
negara-negara yang kecil pun dikenakan tarif tinggi, seperti Kamboja (49%), Vietnam (46%),
dan Myanmar (44%) di Asia serta Lesotho (50%) dan Madagaskar (47%) di Afrika. Atas
pengenaan tarif impor sepihak oleh AS tersebut, sejumlah negara besar seperti Kanada,
Tiongkok, dan Uni Eropa mengumumkan tarif balasan dan karenanya perang dagang antar
negara makin memanas. Sementara itu, negara-negara lain bernegosiasi untuk mendapatkan
tarif yang lebih rendah antara lain dengan komitmen untuk mengimpor barang yang lebih
besar dari AS. Hasilnya tetap saja kebijakan tarif AS yang tinggi, khususnya terhadap
Tiongkok, meski tidak setinggi ancaman Trump semula. Lebih dari itu, perang dagang dan
ketegangan geopolitik tersebut menyebabkan meningkat tingginya ketidakpastian pasar
keuangan global, yang berdampak negatif pada keyakinan para pelaku bisnis dan investor di
berbagai negara.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 1
Page 39
                                     Gambar 3.2
                     Indeks Ketidakpastian Pasar Keuangan Gloibal




Kebijakan tarif sepihak AS dan ketegangan geopolitik berdampak pada perlambatan
pertumbuhan ekonomi global dengan fragmentasi antarnegara yang makin melebar.
Kebijakan tarif menurunkan volume dan nilai perdagangan global dan makin memperparah
dampak gangguan rantai pasok dunia dari ketegangan geopolitik yang telah terjadi sejak
tahun 2024. Pertumbuhan impor wilayah Amerika Utara, misalnya, merosot dari 22,1% pada
triwulan I 2025 menjadi hanya 0,7% dan 1,7% pada triwulan II dan III 2025. Pertumbuhan
ekspor Asia dan Eropa yang meningkat pada triwulan II 2025 sebagai antisipasi dari
pengenaan tarif AS, mulai menurun di triwulan III 2025. Dampak terhadap aktivitas ekonomi
lebih terlihat pada memburuknya sentimen, baik konsumen maupun produsen akibat
ketidakpastian pendapatan dan usaha di berbagai belahan dunia. Secara keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi global diprakirakan dalam tren melambat menjadi 3,3% pada 2025
serta 3,2% pada 2026 dan 2027.

                                       Tabel 3.1
                     Indeks Ketidakpastian Pasar Keuangan Gloibal
                     Negara            2023 2024 2025* 2026* 2027*
                     Dunia              3,5 3,3    3,3   3,2   3,2
                     Negara Maju        1,7 1,8    1,7   1,8   1,8
                      Amerika Serikat   2,9 2,8    2,1   2,3   2,1
                      Kawasan Eropa     0,4 0,9    1,3   1,3   1,4
                      Jepang            1,2 0,1    1,1   0,8   0,7
                     Negara Berkembang 4,7 4,3     4,3   4,1   4,0
                      Tiongkok          5,4 5,0    5,0   4,4   4,0
                      India             8,7 6,5    7,4   6,6   6,7
                      ASEN-5            4,1 4,6    4,4   4,3   4,5
                      Amerika Latin     2,4 2,4    2,2   2,2   2,6
                              Keterangan : *Proyeksi Bank Indonesia
                               Sumber : WEO-IMF, Bank Indonesia




Divergensi pola pertumbuhan antar negara berlanjut, dengan ekonomi negara maju tumbuh
melambat dari 1,8% pada 2024 menjadi 1,7% pada 2025 dan membaik menjadi 1,8% pada
2026-2027. Sementara pertumbuhan emerging economies yang tumbuh 4,3% pada 2025,
menurun menjadi 4,1% pada 2026 dan 4,0% pada 2027. Kebijakan tarif juga mendorong

                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 2
Page 40
kenaikan harga emas yang tinggi, di samping kenaikan harga sejumlah komoditas pangan
dan jasa-jasa yang memperburuk dampak dari kenaikan upah karena kebijakan imigrasi yang
diterapkan di AS. Akibatnya, penurunan inflasi dunia berjalan lebih lambat dari prakiraan
sebelumnya, dengan prakiraan inflasi mencapai 3,9% dan 3,8% pada 2025 dan 2026. Pada
periode yang sama, inflasi negara maju diprakirakan sekitar 2,4% pada 2025 dan 2026,
sementara inflasi emerging economies sekitar 4,8% dan 4,7%.

                                        Grafik 3.3
                  Inflasi Dunia : Negara Maju dan Emerging Economies




3.2.   GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA


3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Indonesia tetap berkinerja baik dan berdaya tahan di tengah tingginya gejolak dan
ketidakpastian global. Pertama, ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dengan stabilitas
makroekonomi Indonesia yang tetap terjaga dan pertumbuhan yang tetap tinggi. Pemulihan
ekonomi dari pandemi COVID-19 terus berlangsung dan semakin kuat. Kedua, koordinasi
kebijakan yang kuat dan dengan berhati-hati, khususnya antara kebijakan fiskal Pemerintah
dan kebijakan moneter Bank Indonesia mampu mendorong permintaan domestik dengan
keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Ketiga, Indonesia juga terus memperkuat
komitmen dalam melakukan transformasi ekonomi, melalui perbaikan iklim investasi,
percepatan pembangunan infrastruktur, serta hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan
nilai tambah domestik. Perbaikan sektor-sektor ekonomi terus berlangsung dan memperkuat
sisi penawaran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan keempat,
Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang kuat di berbagai forum internasional, termasuk
dalam sejumlah kerja sama dan lembaga internasional. Keberhasilan Keketuaan Indonesia
pada G20 tahun 2022 diakui dunia dengan mendorong sejumlah agenda penting, termasuk
penguatan koordinasi kebijakan fiskal-moneter global, kerja sama kesehatan, penyelesaian
utang negara miskin, dan kerja sama sistem pembayaran digital lintas negara. Di kawasan
ASEAN, Keketuaan Indonesia tahun 2023 menegaskan peran aktif Indonesia dalam
memperkuat stabilitas dan integrasi kawasan.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 3
Page 41
                                       Grafik 3.4
                         Produk Domestik Bruto ADHK (Rp Triliun)




                                       Sumber : BPS (diolah)


Selama enam tahun terakhir, perekonomian Indonesia mencatat kinerja yang kuat, termasuk
salah satu yang terbaik di antara negara EMEs. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2019
secara konsisten bertahan di atas 5%, kecuali pada masa pandemi Covid-19. Bahkan,
kontraksi ekonomi akibat pandemi termasuk yang paling ringan dibandingkan dengan negara-
negara lain. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan pun tetap terjaga dengan baik.
Inflasi tetap terkendali rendah, dengan rata rata di bawah 3% selama periode 2019-2024, dan
nilai tukar Rupiah terjaga stabil, dengan komitmen yang tinggi kebijakan moneter Bank
Indonesia. Defisit fiskal terjaga rendah di bawah 3% dari PDB, kecuali pada periode puncak
COVID-19 tahun 2020 dan 2021 yang kemudian kembali melakukan konsolidasi fiskal secara
cepat. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada angka
5,11%.

                                       Gambar
                             Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
                                       Grafik 3.5
                             Pertumbuhan Ekonomi Indonesia




                                       Sumber : BPS (diolah)


Pada tahun 2025, Pulau Jawa masih menunjukkan peranan yang kuat dalam perekonomian
Indonesia, dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau
Sumatera (22,22 persen), Kalimantan (8,12 persen), Sulawesi (7,22 persen), Bali dan Nusa
Tenggara (2,82 persen), serta Maluku dan Papua (2,69 persen). Ekonomi Indonesia secara
spasial selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh kelompok provinsi.
Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c) tertinggi sebesar 6,23
persen, diikuti oleh Pulau Jawa (5,30 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (4,87 persen),

                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 4
Page 42
Pulau Sumatera (4,81 persen), dan Pulau Kalimantan (4,79 persen). Sementara itu, kelompok
provinsi di Pulau Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah, yakni sebesar 1,44
persen.

                                           Grafik 3.6
                              Kontribusi dan Pertumbuhan PDRB
                                   Menurut Pulau (%), 2025




                                         Sumber : BPS (diolah)


3.2.2. Struktur Ekonomi

Struktur ekonomi Indonesia 2025 ditopang kuat oleh lima sektor utama yaitu industri
pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Industri Pengolahan
kontribusinya mencapa 20,3% atas PDB dan merupakan satu – satunya lapangan usaha yang
kontribusinya menyentuh angka 20%. Setelah itu, kemudian lapangan usaha perdagangan
sekitar 13,1%, dan secara berturut – turut disusul lapangan usaha pertanian 11,4%, kontruksi
9,7% serta lapangan usaha pertambangan 7,0%. Total kontribusi atas kelima lapangan usaha
yang disebutkan tersebut mencapai 61,4% terhadap PDB.

                                           Grafik 3.7
                               Struktur Ekonomi Indonesia, 2025




                                         Sumber : BPS (diolah)




3.3.   INFLASI

Stabilitas harga terjaga dengan inflasi yang rendah dalam sasaran 2,5±1% dan mendukung
stabilitas perekonomian. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 tercatat sebesar 2,92%
(yoy) didukung oleh tetap terjaganya berbagai komponen inflasi (Grafik 2.5.). Inflasi inti terjaga
rendah sebesar 2,38% (yoy), seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar

                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 5
Page 43
ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation
yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia, serta
dampak positif dari digitalisasi. Inflasi volatile food (VF) relatif terkendali sebesar 6,21% (yoy),
ditopang oleh upaya untuk terus menjaga ketersediaan pasokan pangan serta didukung
eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan
Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan penguatan
implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai daerah. Sementara itu, inflasi
kelompok administered prices (AP) tercatat sebesar 1,93% (yoy), sejalan dengan terbatasnya
kebijakan penyesuaian harga yang diatur oleh Pemerintah. Melalui Kantor Pusat dan 46
kantor-kantor perwakilan di berbagai daerah, Bank Indonesia mendukung kesuksesan
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui program-program unggulan
untuk peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan, Kerja sama Antar Daerah
(KAD), fasilitasi distribusi pangan, pasar murah, digitalisasi data, serta koordinasi dan
komunikasi bersama Pemerintah Pusat dan Daerah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini
inflasi tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027 dengan konsistensi
kebijakan moneter Bank Indonesia dan eratnya koordinasi dengan Pemerintah dalam
pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah.

                                             Grafik 3.8
                                   Inflasi IHK, Inti, VF dan AP




3.4.   NILAI TUKAR MATA UANG RUPIAH

Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia juga terlihat pada terjaganya stabilitas nilai tukar
Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global dengan komitmen tinggi Bank Indonesia.
Seperti dijelaskan sebelumnya, kebijakan tarif sepihak yang tinggi oleh Presiden Trump telah
menyebabkan aliran keluar portofolio asing dan depresiasi nilai tukar negara-negara EMEs,
termasuk Indonesia. Rupiah sempat mengalami tekanan tinggi di pasar forward luar negeri
(offshore Non-Deliverable Forward, NDF) setelah pengumuman tarif AS pada awal April 2025.
Untuk memperkuat stabilisasi Rupiah, Bank Indonesia mulai melakukan intervensi di pasar
off-shore NDF secara intensif dan tanpa henti baik di pasar Asia, Eropa, dan AS3 . Intervensi
off-shore NDF dimaksud memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah di pasar
domestik yang terus dilakukan dengan strategi triple intervention pada transaksi spot, DNDF,
dan SBN di pasar sekunder. Seluruh instrumen moneter juga dioptimalkan, termasuk


                                   Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 6
Page 44
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk
Valas Bank Indonesia (SUVBI), untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan
komitmen kuat Bank Indonesia tersebut, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hingga Agustus
2025 tercatat sekitar Rp16.300 per dolar AS, menguat dibandingkan dengan awal April 2025
sebesar Rp16.865 per dolar AS (tanggal 8 April 2025) setelah pengumuman tarif resiprokal
AS. Namun tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kembali besar sejak akhir Agustus 2025, baik
karena faktor global seperti penurunan FFR yang dinilai kurang besar (less dovish) dan
government shutdown di AS, maupun faktor domestik seperti kerusuhan sosial dan
kekhawatiran pasar atas melebarnya defisit fiskal. Nilai tukar Rupiah hingga akhir Desember
2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, atau melemah 3,48% dari posisi akhir Desember 2024,
dengan rerata Rp16.466 per dolar AS selama tahun 2025. Secara umum, perkembangan
Rupiah relatif stabil jika dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang dan
lebih kuat dibandingkan negara maju selain dolar AS. Selain ditopang oleh konsistensi
kebijakan stabilisasi, stabilitas nilai tukar Rupiah juga didukung oleh peningkatan konversi
valas ke Rupiah oleh eksportir seiring penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor
Sumber Daya Alam (DHE SDA). Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap stabil
didukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, imbal hasil
yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi
Indonesia.

                                        Grafik 3.9
                       Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Dolar AS :
                                    Spot, NDF, DNDF




                       Sumber: Bank Indonesia




3.5.   SUKU BUNGA PERBANKAN

Secara spasial, inflasi tahunan IHK Januari 2026 meningkat di mayoritas wilayah.
Berdasarkan provinsi, tercatat 16 provinsi berada dalam rentang sasaran inflasi nasional
2,5±1%, sementara itu 22 provinsi berada di atas sasaran inflasi nasional. Inflasi tahunan
tertinggi tercatat di Aceh sebesar 6,69% (yoy), Sulawesi Tenggara 5,10% (yoy), dan Papua
Barat sebesar 5,02%(yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi di ketiga provinsi tersebut
adalah tarif listrik, beras, dan emas perhiasan. Inflasi tarif listrik terutama dipengaruhi oleh low
base effect seiring diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025. BI-Rate sebanyak lima kali
yakni pada Januari 2025, Mei 2025, Juli 2025, Agustus 2025, dan September 2025 masing-

                                         Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 7
Page 45
masing sebesar 25 bps. Dengan demikian, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate
sebesar 150 bps menjadi 4,75%, atau level terendah sejak tahun 2022, dan mempertahankan
BI-Rate pada Oktober hingga Desember 2025. Seiring dengan penurunan BI-Rate dan
ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia, suku bunga pasar uang, Indonesia Overnight
Index Average (INDONIA), turun sebesar 190 bps dari 6,03% pada awal 2025 menjadi 4,13%
pada 31 Desember 2025.

                                     Grafik 3.10
                           Suku Bunga BI-Rate dan INDONIA




Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 231
bps, 230 bps, dan 234 bps sejak awal 2025 menjadi 4,85%; 4,90%; dan 4,92% pada 19
Desember 2025, sehingga mendukung kebijakan moneter yang ekspansif. Imbal hasil SBN
untuk tenor 2 tahun menurun sebesar 197 bps dari 6,96% pada awal 2025 menjadi 4,99%
pada 31 Desember 2025, sementara untuk tenor 10 tahun menurun sebesar 119 bps dari
tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025 menjadi 6,07% pada 31 Desember
2025. Namun demikian, penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat dan
karenanya perlu dipercepat. Dibandingkan dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps
selama tahun 2025, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 56 bps dari 4,81%
pada awal 2025 menjadi 4,25% pada Desember 2025, terutama dipengaruhi oleh pemberian
special rate kepada deposan besar yang mencapai 26,67% dari total Dana Pihak Ketiga
(DPK) bank.

                                     Grafik 3.11
                                Suku Bunga Perbankan




                              Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 8
Page 46
Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat, yaitu sebesar 39 bps
dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,81% pada Desember 2025. Bank Indonesia
berkoordinasi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mempercepat
penurunan suku bunga perbankan tersebut, baik suku bunga deposito maupun suku bunga
kredit, untuk mendorong kredit/pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

3.6.   INVESTASI

Data realisasi investasi Indonesia periode 2018-2025 sebagai cerminan keberhasilan
transformasi struktural ekonomi yang didorong oleh kebijakan berkelanjutan dan responsif
terhadap dinamika global. Data ini menunjukkan evolusi dari pertumbuhan moderat menuju
akselerasi berkualitas dengan komposisi yang semakin seimbang antara PMA dan PMDN.

Tahun 2019 hingga 2021 mencatat pertumbuhan investasi yang masih terbatas dengan PMA
tumbuh rata-rata 2,1% per tahun, sementara PMDN lebih kuat dengan pertumbuhan rata-rata
10,9%. Periode ini diwarnai ketidakpastian global akibat perang dagang AS-China dan
dampak pandemi COVID-19. Namun, respons kebijakan melalui PP No. 5/2020 tentang
Percepatan Proyek Strategis Nasional berhasil mencegah kontraksi lebih dalam dan menjadi
pondasi pemulihan pasca-pandemi.

Selanjutnya, pada periode 2022 sampai 2024 menjadi titik balik dengan pertumbuhan
eksponensial PMA rata-rata 25% per tahun dan PMDN 22%. Ledakan investasi ini dipicu oleh
konvergensi tiga faktor kunci: pertama, implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang
menciptakan kepastian regulasi; kedua, strategi hilirisasi yang diimplementasikan melalui
Perpres No. 8/2024 tentang Kendaraan Listrik dan PP No. 25/2024 tentang Energi
Terbarukan; ketiga, realokasi rantai pasok global pasca-pandemi yang dimanfaatkan
Indonesia melalui kebijakan industri yang tepat sasaran.

                                        Grafik 3.12
                       Realisasi Investasi Penanaman Modal Asing
                       (Rp Juta US$ dan Penanaman Modal Dalam
                                   Negeri (MIliar Rupiah)




Pencapaian puncak terjadi pada 2024 dengan rekor historis PMA US$60.014 juta dan PMDN
Rp814.018 miliar. Prestasi ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan dan positioning

                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 9
Page 47
Indonesia yang strategis dalam peta investasi global, terutama di sektor kendaraan listrik dan
energi hijau.


Berdasarkan data realisasi PMDN menurut sektor periode 2021- 2025, terdapat perubahan
yang signifikan dalam pola investasi domestik Indonesia. Realisasi PMDN semester pertama
2025 telah mencapai Rp510,3 triliun atau 62,7% dari total realisasi 2024, mengindikasikan
proyeksi pertumbuhan positif dengan perkiraan akhir tahun mencapai Rp1.050-1.100 triliun.
Tiga sektor utama konsisten menjadi penggerak investasi domestik. Sektor industri memimpin
dengan realisasi Rp164,6 triliun pada semester pertama 2025, telah mencapai 84,7% dari
realisasi sepanjang 2024. Sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi menunjukkan
performa solid dengan realisasi Rp62,6 triliun (52,1% dari realisasi 2024), sementara sektor
pertambangan mencatat realisasi Rp50,7 triliun. Sektor jasa lainnya dan perumahan-kawasan
industri menunjukkan tren positif dengan realisasi semester pertama 2025 masing-masing
mencapai 77,3% dan 47,9% dari realisasi 2024. Sektor listrik, gas, dan air serta konstruksi
mengalami perlambatan dengan realisasi semester pertama hanya mencapai 46,5% dan
26,7% dari realisasi 2024.

                                    Grafik 3.13
                         Perkembangan Realisasi Nilai Investasi
                     Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut Sektor
                                 (Rp Miliar Rupiah)




                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 10
Page 48
                                                                                          BAB 4
                                                                   ASPEK PASAR
4.1 PENDUDUK
4.1.1   Perkembangan Jumlah Penduduk

SP2020 mencatat penduduk Indonesia pada September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa.
Sejak Indonesia menyelenggarakan Sensus Penduduk yang pertama pada tahun 1961,
jumlah penduduk terus mengalami peningkatan. Hasil SP2020 dibandingkan dengan SP2010
memperlihatkan penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata
sebanyak 3,26 juta setiap tahun. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2010–2020), laju
pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen per tahun. Terdapat perlambatan laju
pertumbuhan penduduk sebesar 0,24 persen poin jika dibandingkan dengan laju
pertumbuhan penduduk pada periode 2000–2010 yang sebesar 1,49 persen.
                                       Gambar 4.1
                                  Suku Bunga Perbankan




                                         Sumber : BPS


4.1.2   Komposisi Penduduk Menurut Generasi

Struktur penduduk dapat menjadi salah satu modal pembangunan ketika jumlah penduduk
usia produktif sangat besar. Hasil SP2020 mencatat mayoritas penduduk Indonesia
didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Milenial. Proporsi Generasi Z sebanyak 27,94
persen dari total populasi dan Generasi Milenial sebanyak 25,87 persen dari total populasi
Indonesia. Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang
untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi demografi, seluruh Generasi X dan Generasi Milenial merupakan penduduk yang
berada pada kelompok usia produktif pada 2020. Sedangkan Generasi Z terdiri dari penduduk
usia belum produktif dan produktif. Sekitar tujuh tahun lagi, seluruh Generasi Z akan berada
pada kelompok penduduk usia produktif. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi
Indonesia, baik di masa sekarang maupun masa depan, karena generasi inilah yang
berpotensi menjadi aktor dalam pembangunan yang akan menentukan masa depan
Indonesia.


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 1
Page 49
                                     Gambar 4.2
                      Komposisi Penduduk Menurut Generasi, 2020




4.1.3   Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Persentase penduduk usia produktif (15–64 tahun) terus meningkat sejak 1971. Pada 1971
proporsi penduduk usia produktif adalah sebesar 53,39 persen dari total populasi dan
meningkat menjadi 70,72 persen di 2020. Perbedaan antara persentase penduduk usia
produktif dan nonproduktif (0–14 tahun dan 65 tahun ke atas) terlihat lebih tajam di 2020.
Persentase penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan penduduk usia
nonproduktif tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada era bonus
demografi.

                                    Gambar 4.3
                     Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur,
                                    1971–2020




4.1.4   Sebaran Penduduk Menurut Wilayah

Dengan luas daratan Indonesia sebesar 1,92 juta kilometer persegi, maka kepadatan
penduduk Indonesia sebanyak 141 jiwa per kilometer persegi. Angka ini meningkat dari hasil
SP2010 yang mencatat kepadatan penduduk Indonesia sebanyak 124 jiwa per kilometer
persegi dan hasil SP2000 yang mencapai 107 jiwa per kilometer persegi. Sebaran penduduk
Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Meskipun luas geografisnya hanya sekitar


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 2
Page 50
tujuh persen dari seluruh wilayah Indonesia, Pulau Jawa dihuni oleh 151,59 juta penduduk
atau 56,10 persen penduduk Indonesia. Sebaran penduduk terbesar kedua terdapat di Pulau
Sumatera dengan jumlah penduduk sebanyak 58,56 juta orang, yaitu sebesar 21,68 persen.
Pulau Sulawesi mempunyai sebaran sebesar 7,36 persen dan Pulau Kalimantan mempunyai
sebaran sebesar 6,15 persen, sedangkan wilayah Bali-Nusa Tenggara dan Maluku-Papua
masing masing sebesar 5,54 dan 3,17 persen.

                                     Gambar 4.4
                   Sebaran Penduduk Indonesia Menurut Wilayah 2020




                                          Sumber : BPS




4.2   PENGERTIAN LOGISTIK, FUNGSI DAN KOMPONEN

Dalam dunia bisnis modern, logistik adalah bagian tak terpisahkan yang mendukung
kelancaran operasional dan meningkatkan kepuasan
pelanggan. Sebagai tulang punggung dalam rantai
pasok (Supply Chain), logistik mengatur setiap tahap
aliran barang, mulai dari pengadaan bahan baku hingga
pengiriman produk akhir kepada konsumen. Sistem
logistik yang baik membantu perusahaan mencapai
efisiensi,  mengurangi      biaya   operasional,  dan
menghadirkan keunggulan kompetitif dalam pasar yang
semakin dinamis.

Selain itu, logistik juga berperan besar dalam menentukan respons perusahaan terhadap
perubahan permintaan pasar. Dengan pengelolaan logistik yang tepat, perusahaan dapat
memastikan persediaan yang memadai, pengiriman tepat waktu, dan pengelolaan gudang
yang optimal.
Secara umum, logistik adalah proses yang mencakup perencanaan, implementasi, dan
pengendalian aliran barang dan informasi dari titik asal ke titik tujuan. Menurut para ahli,
logistik melibatkan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan produk secara
efisien, tepat waktu, dan dalam kondisi yang baik. Logistik juga mencakup distribusi,
manajemen persediaan, pergudangan, dan pengendalian informasi.



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 3
Page 51
Logistik berbeda dari sekadar transportasi karena meliputi lebih banyak aktivitas yang
berhubungan dengan pengelolaan arus barang dan informasi. Dalam perusahaan, logistik
merupakan bagian dari rantai pasok yang bekerja untuk memaksimalkan penggunaan sumber
daya dan memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang paling efektif. Secara garis
besar, logistik adalah proses mendapatkan barang yang tepat, di waktu yang tepat, dengan
jumlah yang tepat, kondisi yang tepat, dengan biaya yang terjangkau untuk memberikan
kontribusi profit bagi penyedia jasa logistik.

Logistik memiliki beberapa fungsi penting yang bekerja secara sinergis untuk mendukung
tujuan perusahaan. Berikut adalah fungsi utama logistik yang berperan dalam operasional
bisnis:

      Pengadaan (Procurement)

       Pengadaan berfokus pada proses mendapatkan bahan baku atau komponen yang
       diperlukan untuk produksi. Melalui pengadaan yang baik, perusahaan dapat menjamin
       kualitas bahan dengan harga yang kompetitif.

      Pergudangan (Warehousing)

       Pergudangan adalah penyimpanan produk atau bahan mentah dalam gudang.
       Dengan manajemen pergudangan yang baik, perusahaan dapat menyimpan stok
       dengan efisien dan mengurangi risiko kerusakan barang.

      Transportasi (Transportation)

       Transportasi adalah proses pemindahan barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Dalam
       logistik, transportasi melibatkan berbagai moda seperti darat, laut, dan udara untuk
       memastikan produk sampai di tempat tujuan dengan biaya terjangkau dan waktu yang
       tepat.

      Pengendalian Persediaan (Inventory Control)

       Pengendalian persediaan bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan
       dan permintaan, sehingga mencegah kelebihan atau kekurangan stok yang dapat
       mengganggu proses produksi atau penjualan.

      Distribusi (Distribution)
       Distribusi adalah proses mengirimkan produk akhir dari gudang ke konsumen atau titik
       penjualan. Manajemen distribusi yang efektif menjamin bahwa barang tersedia di
       tempat yang tepat dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Agar manajemen logistik dapat berjalan dengan optimal, diperlukan komponen-komponen
berikut yang saling mendukung satu sama lain:

   1. Transportasi

       Transportasi adalah bagian utama dalam logistik yang berfungsi memindahkan
       barang. Pemilihan moda transportasi yang tepat sangat penting untuk memastikan
       efisiensi biaya dan kecepatan pengiriman.

                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 4
Page 52
      2. Pergudangan

         Pergudangan atau warehousing adalah tempat penyimpanan barang sementara
         sebelum didistribusikan. Sistem manajemen gudang (Warehouse Management
         System/WMS) membantu memantau persediaan dan mengelola alur keluar-masuk
         barang.

      3. Manajemen Inventaris

         Manajemen inventaris memastikan stok barang tetap sesuai dengan kebutuhan,
         menghindari kelebihan atau kekurangan yang dapat mempengaruhi proses produksi
         dan distribusi.

      4. Pengelolaan Informasi

         Teknologi dalam pengelolaan informasi memainkan peran penting dalam logistik
         modern. Sistem digital memungkinkan pelacakan, pemantauan, dan pengelolaan data
         secara real-time untuk meningkatkan efisiensi logistik.

      5. Manajemen Pesanan (Order Processing)

         Manajemen pesanan adalah proses menerima dan memproses pesanan pelanggan
         hingga tahap pengiriman. Proses ini melibatkan pemenuhan pesanan yang tepat
         waktu dan akurat, menjaga kepuasan pelanggan.

      6. Pengemasan dan Labeling (Packaging and Labeling)

         Pengemasan memiliki guna untuk melindungi barang selama pengiriman agar barang
         terlindungi dengan baik dan memudahkan proses penanganannya. Selain itu,
         pengemasan juga bisa dibilang sebagai branding dari produk, karena pengemasan
         biasanya dibuat semenarik mungkin agar konsumen tertarik dan mengingat produk
         dengan bentuk kemasan yang lebih menarik perhatiannya.

      7. Pengembalian barang

         Tidak semua barang memiliki hasil yang sempurna. Jika barang yang sampai pada
         konsumen tidak sesuai dengan permintaan, barang dapat dikembalikan melewati
         proses pengelolaan pengembarian atau reverse logistics. Dalam manajemen gudang,
         kegiatan ini dinamakan warehouse return. Logistik berperan untuk sigap dalam
         menangani pengembalian barang agar kepuasan pelanggan tetap terpenuhi walau
         barangnya kurang sesuai.

4.3    SEJARAH PERKEMBANGAN LOGISTIK DI INDONESIA

Sejarah dan perkembangan logistik di Indonesia merupakan sebuah topik yang menarik untuk
dibahas. Istilah logistik pertama kali digunakan pada ilmu kemiliteran. Dalam ilmu militer,
logistik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai pengadaan, perawatan,
dan transportasi peralatan, pembekalan, dan pasukan. Namun seiring berjalannya waktu,



                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 5
Page 53
logistik dikenal oleh masyarakat luas sebagai kegiatan pendistribusian barang dari satu
tempat ke tempat lainnya.

Perkembangan awal

Perkembangan aktivitas logistik di Indonesia sudah dimulai dari masa kerajaan. Pedagang-
pedagang dari berbagai kerajaan saat itu melakukan aktivitas dagang untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Barang yang diperdagangkan lazimnya diangkut melalui jalur laut dan
darat. Mayoritas pusat perdagangan saat itu berlokasi di berbagai pelabuhan. Beberapa
contoh pusat perdagangan internasional di Nusantara pada masa itu antara lain: Pelabuhan
Canggu (Mojokerto), Beberapa Pelabuhan di sekitar Selat Malaka (Sumatera), Pelabuhan
Sunda Kelapa (Jakarta), Pelabuhan Sedayu Lawas (Lamongan), Pelabuhan Hujung Galuh
(Gresik), Pelabuhan Ternate dan Hitu (Maluku), Pelabuhan Makassar, dan lain sebagainya.

Masa Kolonial

Aktivitas logistik ini kemudian berkembang lagi pada masa penjajahan. Pemerintah kolonial
memanfaatkan berbagai transportasi untuk menunjang kegiatan eksploitasi hasil bumi di
berbagai daerah di Nusantara. Dampaknya banyak infrastruktur penunjang aktivitas logistik
yang dibangun. Infrastruktur seperti rel kereta api beserta stasiunnya, pelabuhan, dan jalan;
berhasil dibangun pemerintah kolonial. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan rantai
distribusi sumber daya alam yang nantinya diekspor ke banyak negara. Beberapa contohnya
adalah pelabuhan-pelabuhan terkenal seperti: Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang),
Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta). Infrastruktur
yang sudah dibangun tersebut sangat berperan penting dalam rantai distribusi di Hindia-
Belanda pada masa itu.

Periode 1950 – 1969

Pada masa ini, perkembangan logistik sudah tidak dijalankan oleh pemerintah kolonial.
Pemerintah Indonesia sebagai negara yang baru merdeka masih mencari pondasi dalam
menjalankan pemerintahannya. Selain dalam bidang politik yang masih awal merintis, sektor
ekonomi juga masih dalam tahap awal, termasuk di bidang industri logistik. Pada saat itu
belum ada perusahaan swasta yang bergerak di bidang logistik. Hanya Pos Indonesia saja
yang praktis sebagai satu-satunya perusahaan di bidang logistik dan distribusi di Indonesia.
Pos Indonesia juga awalnya didirikan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dengan nama
Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon. Kemudian perusahaan tersebut dikelola
oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi PT Pos Indonesia.

Periode 1970 – 1989

Pada periode ini, industri logistik mulai berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.
Sarana penting yang menunjang industri logistik juga mulai dibangun. Infrastruktur seperti
jalan, terminal, dan pelabuhan, perusahaan-perusahaan teknologi dan manufaktur yang perlu
jasa logistik untuk mengirim barang dengan jumlah besar. Maka dari itu, didirikan perusahaan
logistik swasta pertama di Indonesia, yaitu TiKi. TiKi (Titipan Kilat) didirikan pada tahun 1970,

                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 6
Page 54
berfokus pada pengiriman barang baik secara nasional maupun internasional. Pada tahun
1981, terbentuk lagi perusahaan baru bernama Republic Express (RPX). Perusahaan ini
merupakan partner resmi FedEx di Indonesia.

Periode 1990 – 2009

Pada masa ini, teknologi mulai berkembang sangat pesat diikuti dengan pertumbuhan
perusahaan teknologi yang membutuhkan jasa logistik untuk kebutuhan perpindahan barang.
Selaras dengan permintaan pasar yang makin meninggi, perusahaan logistik pun mulai
berkembang dan bertambah jumlahnya. Beberapa contohnya adalah JNE dan Pandu
Logistics merupakan salah satu contohnya. JNE (Jalur Nugraha Ekakurir) didirikan pada
tahun 1990. Perusahaan ini awalnya merupakan anak perusahaan dari TiKi, namun
memutuskan untuk menjadi perusahaan tersendiri pada tahun 1990. Kemudian Pandu
Logistics merupakan jasa ekspedisi yang mempunyai fokus kepada pengiriman skala
besar/kargo.

Periode 2010 – sekarang

Periode ini merupakan masa yang sangat bagus dalam perkembangan industri logistik di
Indonesia. Hal ini karena menjamurnya perusahaan-perusahaan lain yang membutuhkan jasa
logistik. Selain itu, perkembangan teknologi dengan hadirnya e-commerce dan maraknya
penjualan online merupakan alasan lain mengapa perkembangan industri logistik bergerak ke
arah positif. Dengan adanya digitalisasi dan habit belanja online di berbagai e-
commerce, maka kebutuhan akan jasa ekspedisi sangat dibutuhkan. Perkembangan ini juga
menghadirkan beberapa layanan baru seperti pengiriman instan, sameday, atau next day.
Layanan baru tersebut diterapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan sirkulasi
pergerakan barang yang sangat cepat.

4.4     DAYA SAING LOGISTIK NASIONAL

Logistics Performances Index (LPI) merupakan alat perbandingan interaktif yang
menunjukkan nilai kinerja logistik suatu negara secara umum, serta bertujuan untuk
memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi dalam
kinerja logistik perdagangan negara. LPI yang dikeluarkan oleh Bank Dunia itu dapat
membantu suatu negara untuk mengidentifikasi kebijakan yang tepat dalam rangka
peningkatan kinerja logistik nasionalnya.

LPI Report dikeluarkan oleh Bank Dunia berdasarkan umpan balik dari para pemangku
kepentingan yang melaksanakan kegiatan logistik di suatu negara tertentu. Penentuan LPI
oleh Bank Dunia, dilakukan dengan melakukan analisis terhadap enam komponen penting
dalam suatu kegiatan logistik nasional yaitu:

      1. Customs – Efisiensi pengurusan kepabeanan dan pembatasan.
      2. Infrastructures – Kualitas infrastruktur terkait perdagangan dan transportasi.



                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 7
Page 55
   3. International Shipments – Kemudahan pengaturan harga bersaing internasional
      pengiriman

   4. Service Quality – Kompetensi dan kualitas layanan logistik.

   5. Tracking and Tracing – Kemampuan untuk melacak kiriman.

   6. Timeliness – Frekuensi pengiriman mencapai penerima barang dalam waktu
      pengiriman yang dijadwalkan atau diharapkan.

Pemilihan indikator diatas dilakukan melalui penelitian teoritis dan empiris, juga melalui jejak
pendapat dengan praktisi profesional yang berpengalaman di bidang logistik serta terlibat
dalam pengiriman barang internasional. Indikator-indikator tersebut dibagi menjadi dua
kategori utama yaitu:

   1. Kategori kebijakan dan regulasi didefinisikan sebagai indikator yang menunjukkan
      input    utama     untuk    mendukung       rantai  pasok.  Kategori  ini  terdiri
      dari customs, infrastructures, dan service quality.

   2. Kategori output kinerja rantai pasok didefinisikan sebagai indikator yang menunjukkan
      hasil dari kinerja rantai pasokan yang meliputi biaya, waktu dan keandalan rantai
      pasokan. Kategori ini terdiri dari international shipments, tracking and tracing.

Pengukuran LPI menggunakan metode kuantatif dengan menggunakan teknik statistik
standar untuk mengumpulkan data menjadi satu indikator dan mengubah informasi kualitatif
menjadi informasi kuantitatif. Pada pengukuran LPI 2023, dua kategori data tambahan
digunakan untuk pengukuran LPI yaitu:

      Indeks kinerja logistik (LPI) berbasis survei, yang dihasilkan dari survei LPI tradisional
       terhadap profesional logistik

      Indikator kinerja utama (KPI) baru yang mengukur kecepatan perdagangan aktual
       lintas negara dan benua.

KPI baru berasal dari dataset pelacakan arus pengiriman global, memanfaatkan big data,
yang mencakup pengiriman kontainer, kargo udara, dan parsel. KPI yang baru belum
termasuk dalam penyusunan indikator utama LPI untuk penentuan skor dan peringkat negara.
Indikator utama dan tetap hanya berdasarkan LPI berbasis survei.

Kedua kategori indikator ini memberikan pemahaman kinerja logistik yang saling melengkapi
namun konsisten. KPI mengukur waktu atau menghitung kinerja tautan tertentu (misalnya
keterlambatan di pelabuhan atau bandara), sedangkan LPI berbasis survei memberikan
penilaian di seluruh negara terhadap enam aspek kinerja logistik: infrastruktur terkait
perdagangan dan transportasi (infrastructures), bea cukai dan manajemen
perbatasan (customs), kualitas layanan logistik (service quality), ketepatan waktu
pengiriman (timeliness), kemampuan untuk melacak pengiriman (tracking and tracing), dan
kemampuan        untuk     menciptakan   harga yang      bersaing     pada     pengiriman
internasional (international shipment).


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 8
Page 56
Indeks Kinerja Logistik (LPI) berbasis survei, dilakukan melalui survei online kepada para
profesional logistik dari perusahaan ekspedisi multinasional dan operator ekspres utama.
Pandangan mereka dianggap penting karena secara langsung memengaruhi pilihan rute dan
gerbang pengiriman, yang secara tidak langsung memengaruhi keputusan perusahaan
tentang lokasi produksi, pilihan pemasok, dan target pasar.
Skor LPI dikategorisasi menjadi empat kelompok kinerja, berdasarkan kuartil skor yang dapat
dilihat pada grafik kategorisasi skor LPI:

   1. Poor logistics performers. Negara dengan kendala logistik yang parah, seperti negara
      kurang berkembang (43 negara di kuartil terbawah).

   2. Partial performers. Negara dengan tingkat kendala logistik paling banyak terlihat di
      negara berpenghasilan rendah dan menengah (46 negara di kuartil menengah dan
      kuartil kedua dari bawah).

   3. Consistent performers. Negara-negara menilai kinerja logistik lebih baik daripada
      kebanyakan negara lain dalam kelompok pendapatan mereka (25 negara di kuartil
      kedua dari atas).

   4. Logistics-friendly. Negara dengan kinerja terbaik, sebagian besar berada di kelompok
      berpenghasilan tinggi (25 negara di kuartil teratas).
                                       Gambar 4.5
                         Kategorisasi Skor LPI, Word Bank 2023




                               Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Perkembangan Logistics Performances Index (LPI) Indonesia (2007-2023)

Sektor logistik dan transportasi Indonesia merupakan sektor bisnis yang kompleks namun
memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Menurut laporan Ken Research, pasar logistik
Indonesia diperkirakan akan menghasilkan pendapatan CAGR sebesar 7,9% mencapai US$
300,3 miliar pada 2024. Ini termasuk angkutan barang, pengiriman barang, pergudangan,
kurir, ekspres dan paket pada segmen layanan pemberian nilai tambah dan logistik rantai
dingin (Ken Research, 2019).

Namun sayangnya, skor LPI Indonesia masih berada dalam skala 2,50-3,20 sepanjang tahun
2007 sampai 2023. Berdasarkan skor tersebut, Indonesia masih dikategorikan sebagai partial
performers, dengan kendala logistik paling banyak terlihat di negara berpenghasilan rendah
dan menengah. Kendala logistik tersebut dapat berupa insfrastruktur yang kurang memadai,


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 9
Page 57
kurangnya pengembangan teknologi, kondisi geografis dan demografi serta konektivitas
jaringan logistik.
                                              Gambar 4.6
                                       LPI Indonesia 2007 - 2023




                       Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Berdasarkan grafik LPI Indonesia 2007-2023 terlihat bahwa LPI Indonesia tahun 2023
mengalami penurunan sebesar 0.15 dari LPI sebelumnya yaitu LPI tahun 2018. Penurunan
ini juga terlihat dari menurunnya skor dari beberapa indikator, jika dibandingkan dari periode
sebelumnya, yaitu timelines, tracking & tracing, international shipments dan logistics
competence & quality.

                                      Gambar 4.7
                     Komparasi Skor dari Enam Indikator LPI Indonesia
                                     (2014 – 2023)




                   Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Namun, indikator lainnya seperti customs dan infrastructure cenderung stagnan dan tidak
mengalami pertumbuhan yang signifikan. Mengingat sifat geografis Indonesia, transportasi
multimoda (darat, kereta api, laut, dan udara) diperlukan untuk mengangkut barang. Oleh
karena itu, pemerataan pembangunan insfrastruktur perlu dilakukan untuk meminimalisir
biaya pengiriman, terutama untuk daerah di luar Jawa karena mengisolasi mereka dari
pemerataan barang, sehingga harga barang tinggi karena kurangnya ketersediaan.

LPI memang tidak dapat menggambarkan kinerja logistik suatu negara secara utuh, namun
dapat dijadikan benchmarking ataupun tolok ukur oleh pemangku kebijakan untuk melihat



                                       Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 10
Page 58
peluang perbaikan yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas layanan logistik
nasional.

4.5     PERKEMBANGAN INDUSTRI LOGISTIK NASIONAL

4.5.1    Perkembangan Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Perusahaan logistik merupakan perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan juga
pergudangan. Perlu diingat bahwa gudang hanya untuk menyimpan barang sementara.
Sedangkan barang berasal dari produsen, yang menggunakan jasa perusahaan logistik untuk
mengirimkan barang tersebut ke pelanggan.

Perbedaan utama antara perusahaan warehouse dan perusahaan logistik adalah fokus dan
kegiatan utama yang dilakukan. Perusahaan warehouse fokus pada penyimpanan dan
pengelolaan persediaan atau barang, sementara perusahaan logistik fokus pada pengelolaan
rantai pasok secara keseluruhan, termasuk transportasi, pergudangan, dan pengiriman.
Namun, keduanya berperan penting dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran pasokan
barang.

Perkembangan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, dapat dikatakan bahwa
merupakan gambaran perkembangan industri logistik di Indonesia. Sektor transportasi dan
pergudangan merupakan dua sektor yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat,
khususnya dalam bidang ekonomi. Peran keduanya tak ubahnya urat nadi dan darah dalam
tubuh manusia. Sektor transportasi dan logistik atau pergudangan memiliki peran vital bagi
terjaminnya kegiatan konsumsi masyarakat dan sektor bisnis (baik jasa perdagangan,
manufaktur, hingga konstruksi). Keduanya merupakan sektor yang selama ini terbukti menjadi
jantung pemicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk mengetahui perkembangan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, maka tidak
terlepas dari perkembangan nominal lapangan usaha tersebut yang tergabung dalam struktur
produk domestik bruto (PDB). Pada tahun 2019 nominal lapangan usaha tersebut meningkat
mencapai Rp463,1 triliun dari yang sebelumnya hanya sekitar Rp304,5 triliun pada tahun
2013, pertumbuhannya rata - rata sebesar 7,24% per tahun. Akibat covid-19, menyebabkan
nominal lapangan usaha ini mengalami penurunan yang sangat signifikan yang mencapai -
15,1% atau menurun menjadi hanya Rp393,4 triliun, dimana nominal tersebut lebih rendah
dari yang dicapai pada tahun 2017. Namun demikian penurunan tersebut tidak berlanjut atau
sejak tahun 2021 kembali mengalami pertumbuhan meskipun hanya 3,2%. Setahun
kemudian, lapangan usaha ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dimana
pertumbahannya mencapai 19,9% atau nominalnya meningkat menjadi Rp486,9 triliun dan
melampaui nominal yang dicapai pada tahun 2019 atau tahun sebelum covid-19. Nominal
lapangan usaha ini terus meningkat dan mencapai Rp656,0 triliun pada tahun 2025 atau
tumbuh 8,8% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang dicapai selama 2 (dua) tahun



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 11
Page 59
terakhir yakni 8,7% - 8,8% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan yang dicapai
sebelum periode tahun 2019 atau sebelum covid-19.

Berdasarkan perkembangan nominal, lapangan usaha transportasi dan pergudangan rata –
rata mengalami pertumbuhan sebesar 6,6% per tahun. Angka pertumbuhan tersebut dapat
dikatakan sangat besar, pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi dan merupakan salah
satu lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan terbesar. Angka pertumbuhan tersebut
juga mencerminkan pentingnya peranan lapangan usaha transportasi dan pergudangan bagi
perekonomian nasional.

                                       Grafik 4.8
                               Perkembangan Nominal
                      LU Transportasi dan Pergudangan (Rp Triliun)
                      Uraian                             2013    2014    2015    2016    2017    2018    2019    2020    2021    2022    2023    2024    2025
                      Transportasi dan Pergudangan      304,5   326,9   348,9   374,8   406,7   435,3   463,1   393,4   406,2   486,9   554,9   603,1   656,0
                        Angkutan Rel                      2,3     2,8     2,9     3,1     3,6     4,0     4,2     2,4     2,3     4,0     4,9     5,8     6,4
                        Angkutan Darat                  167,6   180,4   192,6   206,2   222,6   238,5   262,2   248,2   259,5   282,1   309,4   340,0   373,1
                        Angkutan Laut                    27,4    29,5    30,2    30,6    32,0    34,3    37,9    36,1    37,2    39,1    45,1    46,2    51,0
                       Angkutan Sungai Danau dan
                                                          9,5    10,1    10,2    10,4    11,0    11,6    12,2    10,6    10,6    18,0    20,4    21,3    22,8
                       Penyeberangan
                        Angkutan Udara                   49,3    52,3    57,7    65,3    73,1    77,5    69,9    32,8    30,2    50,4    65,0    69,4    70,8
                       Pergudangan dan Jasa Penunjang
                                                         48,5    51,9    55,2    59,4    64,4    69,5    76,7    63,2    66,4    93,3   110,0   120,3   131,9
                       Angkutan; Pos dan Kurir




                                                                    Sumber : BPS (diolah)



Laju pertumbuhan atas masing – masing sub lapangan usaha berbeda satu sama lain, baik
sebelum maupun pasca covid-19. Selama tahun 2013 – 2019, rata – rata pertumbuhan
tertinggi adalah sub lapangan usaha angkutan rel yang mencapai 10,27% per tahun dan
kemudian disusul oleh pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir sekitar
7,94%, saat covid dan pasca covid-19 (periode tahun 2019 – 2025) rata – rata pertumbuhan
tertinggi dicapai oleh angkutan sungai danau dan penyeberangan sebesar 10,99% dan
disusul oleh pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir sekitar 9,46%. Bila
periodenya sejak 2013 – 2025, yang mencapai rata – rata pertumbuhan tertinggi adalah
angkutan rel 8,71% dan pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir 8,70%.
Rata – rata pertumbuhan kedua sub lapangan usaha tersebut serta sub lapangan usaha
angkutan darat dan angkutan sungai danau dan penyeberangan, berada di atas rata – rata
pertumbuhan lapangan transportasi dan pergudangan.




                                                     Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 12
Page 60
                                        Grafik 4.9
                                Rata – Rata Pertumbuhan
                       LU Transportasi dan Pergudangan (Rp Triliun)




                                        Sumber : BPS (diolah)



4.5.2   Distribusi Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan Menurut Sub
        Lapangan Usaha

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan didalamnya terdapat 6 (enam) sub sektor
lapangan usaha yaitu sebagai berikut :
    1. Angkutan rel

   2. Angkutan darat

   3. Angkutan laut

   4. Angkutan sungai, danau dan penyeberangan

   5. Angkutan udara

   6. Pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir.

Nominal yang dihasilkan dari lapangan usaha transportasi dan pergudangan berasal dari ke-
6 sub sektor lapangan usaha yang disebutkan di atas. Perkembangan dan pertumbuhan sub
lapangan usaha yang dimaksud tersebut, akan diikuti pula dengan perkembangan dan
partumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan.

Dari ke-6 sub lapangan usaha tersebut, angkutan darat merupakan yang paling besar
konstribusinya terhadap lapangan usaha transportasi dan pergudangan yaitu mencapai
56,88% pada tahun 2025. Kemudian disusul sub lapangan usaha pergudangan 20,11% serta
angkutan udara 10,79%. Total kontribusi ketiga sub lapangan usaha tersebut terhadap
lapangan usaha transportasi dan pergudangan adalah mencapai 87,78%. Meskipun masuk
tiga besar, namun kontribusi sub lapangan usaha angkutan udara cenderung mengalami
penurunan karena pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sub lapangan
usaha lainnya. Khusus sub lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang pos dan kurir,
merupakan lapangan usaha yang kontribusinya mengalami peningkatan terbesar. Pada tahun

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 13
Page 61
2013, kontribusinya hanya 15,97% dan meningkat menjadi 20,11% pada tahun 2025. Artinya,
kontribusinya mengalami peningkatan atau bertambah 4,14%, sedangkan sub lapangan
usaha angkutan darat hanya bertambah 2,1%. Hal ini memberikan gambaran bahwa sub
lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang pos dan kurir memiliki peranan yang
semakin penting dan kontribusinya diperkirakan akan terus tumbuh pada masa mendatang
seperti yang terjadi selama ini.

                                        Grafik 4.10
                       Distribusi LU Transportasi dan Pergudangan
                                     Menurut Sub LU




                                        Sumber : BPS (diolah)



4.5.3   Kontribusi Terhadap PDB

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang menjadi indikator pasar logistik di
Indonesia, memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan perekonomian nasional.
Perkembangan angka nominal lapangan usaha dan pergudangan selama ini memberikan
gambaran bahwa lapangan usaha ini memberikan kontribusi yang signifikan.

Sebelum terjadinya Covid-19 atau hingga tahun 2019, kontribusi lapangan usaha transportasi
dan pergudangan menunjukkan pertumbuhan setiap tahunnya. Pada tahun 2013,
kontribusinya terhadap total PDB hanya 3,73%, kemudian kontribusinya terus meningkat
hingga mencapai 4,23% pada tahun 2019. Covid-19 yang terjadi menyebabkan kontribusinya
turun menjadi 3,67% tahun 2020 dan 3,65% tahun 2021. Kontribusi tahun 2020 – 2021
tersebut bahkan lebih rendah dari yang dicapai pada tahun 2013.

Kondisi ekonomi nasional yang mulai membaik pada tahun 2022, memberikan dampak positif
bagi pasar logistik nasional. Peningkatan nominalnya diikuti pula dengan peningkatan
kontribusi yang mencapai 4,16% pada tahun 2022. Peningkatan kontribusi tersebut terus
mengalami kenaikan secara signifikan setiap tahunnya dan bahkan kontribusinya mencapai
4,83% pada tahun 2025, angka tersebut merupakan yang terbesar selama ini.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 14
Page 62
Berdasarkan hasil analisa, kontribusi usaha logistik nasional sesuai dengan perkembangan
lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebelum covid-19 secara umum masih
dibawah 3,0% per tahun. Namun kontribusi tersebut meningkat pesat pasca covid-19 atau
sejak tahun 2022 dimana kontribusinya berkisar antara 4,51% - 4,83% per tahun.
Perkembangan kontribusi ini memberikan gambaran bahwa pasar logistik nasional
memegang peranan yang penting bagi perekonomian nasional. Sektor ini akan menjadi salah
satu andalan bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

                                     Grafik 4.11
               Perkembangan Kontribusi LU Transportasi dan Pergudangan
               5,00%                                                                    4,83%
                       Sebelum 2019 : < 4,3%
                       Setelah 2019 : 4,51% - 4,83%                                 4,67%
               4,75%
                                                                                4,51%
               4,50%
                                                   4,23%
                                              4,18%                      4,16%
               4,25%                     4,10%
                                    3,97%
               4,00%           3,88%
                          3,82%
                     3,73%
               3,75%
                                                            3,67%       3,65%
               3,50%

               3,25%

               3,00%
                       2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025



                                                Sumber : BPS (diolah)



4.5.4   Struktur Pasar Utama Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Pasar utama lapangan usaha transportasi dan pergudangangan di Indonesia, selama ini
didominasi oleh 4 (empat) propinsi. Kontribusi lapangan usaha transportasi dan pergudangan
yang dihasilkan dari ke-4 propinsi tersebut, sangat dominan jumlahnya dimana total
kontribusinya pada tahun 2019 hanya 48,6% dan meningkat menjadi 53,6% pada tahun 2025.
Propinsi yang terbesar kontribusinya pada tahun 2025 adalah Jawa Barat yang mencapai
sebesar 17,3%, posisi kedua Provinsi DKI Jakarta sekitar 16,2%, kemudian Jawa Timur 11,7%
serta Jawa Tengah 8,4%.

Berdasarkan uraian di atas, keempat provinsi yang disebutkan tersebut seluruhnya berasal
dari Pulau Jawa. Pangsa pasar utama usaha transportasi dan pergudangan berasal dari Pulau
Jawa khususnya dari keempat provinsi yang disebutkan tersebut. Hal ini disebabkan karena
keempat propinsi yang disebutkan tersebut dan bahkan Pulau Jawa, merupakan pusat
ekonomi nasional dimana produk domestik regional bruto yang dihasilkan juga adalah yang
terbesar dan bahkan DKI Jakarta sebagai ibu kota negara. Keempat propinsi tersebut juga
dikenal sebagai pusat industri pengolahan dan pusat bisnis dan perdagangan serta gerbang
utama ekspor impor di Indonesia. Kemudian pula, memiliki jumlah penduduknya juga yang

                                      Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 15
Page 63
terbesar dibandingkan propinsi lainnya. Hal ini memberikan gambaran bahwa Pulau Jawa dan
khususnya keempat provinsi tersebut memiliki potensi pasar yang sangat baik dan besar,
termasuk usaha transportasi dan pergudangan.

                                       Grafik 4.12
                   Pangsa Pasar Utama LU Transportasi dan Pergudangan
                                                                        Uraian              2019   2025
                                                                        4 Propinsi Utama   48,6% 53,6%
                                                                        Propinsi Lainnya   51,4% 46,4%




                                          Sumber : BPS (diolah)



4.6    STRATEGI PENGEMBANGAN                 SEKTOR               LOGISTIK          GUNA                  MENDUKUNG
       PEREKONOMIAN INDONESIA

Sektor logistik memainkan peran yang sangat krusial dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia. Baru-baru ini pemerintah Indonesia menargetkan
pertumbuhan ekonomi yang ambisius, dengan harapan mencapai angka 8% dalam waktu
dekat. Untuk mencapai target ini, sektor logistik menjadi salah satu fokus utama, mengingat
perannya yang vital dalam memperlancar arus barang dan jasa, serta menghubungkan
berbagai sektor ekonomi. Perusahaan logistik di Indonesia juga diharapkan dapat lebih
berperan dalam mendorong kemajuan ekonomi, termasuk peningkatan daya saing produk
Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, pelaku
industri, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa sektor ini dapat
berkembang dengan baik dan memberikan dampak maksimal bagi perekonomian Indonesia.
Dalam hal ini Supply Chain Indonesia (SCI) menyampaikan rekomendasi komprehensif untuk
strategi pengembangan sektor logistik Indonesia dalam upaya mendukung pertumbuhan
ekonomi, berikut adalah strategi-strategi utama yang dapat diterapkan:

      1) Penguatan Rantai Pasok Komoditas
         Langkah pertama dalam pengembangan sektor logistik adalah memperkuat rantai
         pasok komoditas. Ini mencakup beberapa fokus penting:

         1. Fokus Komoditas dan Hilirisasi: Identifikasi komoditas-komoditas strategis yang
            memiliki potensi besar untuk dikembangkan, diikuti dengan upaya hilirisasi untuk
            meningkatkan nilai tambah produk tersebut. Hal ini akan membantu meningkatkan
            daya saing produk Indonesia di pasar global.


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 16
Page 64
   2. Pemetaan Rantai Pasok: Melakukan pemetaan menyeluruh terhadap rantai pasok
      setiap komoditas. Ini penting untuk mengidentifikasi potensi hambatan dan mencari
      solusi yang efektif.

   3. Pengembangan Rantai Pasok Terintegrasi: Mengintegrasikan berbagai komponen
      dalam rantai pasok, mulai dari produksi hingga distribusi, untuk menciptakan
      efisiensi yang lebih tinggi dan mengurangi biaya logistik.

2) Pembangunan Wilayah
   Pengembangan wilayah menjadi elemen kunci dalam memperkuat sektor logistik di
   Indonesia. Strategi ini mencakup:

   1. Pengembangan     Komoditas      Potensial  Wilayah:    Mengidentifikasi   dan
      mengembangkan komoditas-komoditas potensial di berbagai wilayah Indonesia,
      disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan lokal masing-masing. Ini juga
      mencakup upaya peningkatan nilai tambah komoditas tersebut untuk mendorong
      pertumbuhan ekonomi lokal.

   2. Integrasi Pengembangan dan Pengubahan Paradigma Logistik: Mengubah
      paradigma logistik dari yang sebelumnya hanya sebagai pengangkut barang
      menjadi komponen strategis yang terintegrasi dengan pembangunan ekonomi
      wilayah.

3) Pengembangan Konektivitas
   Konektivitas merupakan pondasi bagi sistem logistik yang efisien. Strategi ini
   melibatkan:

   1. Pengembangan Infrastruktur: Pembangunan dan peningkatan infrastruktur
      transportasi, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara, untuk mendukung arus
      logistik yang lebih cepat dan efisien.

   2. Penataan Hub & Spoke: Membangun dan menata hub logistik strategis yang
      berfungsi sebagai pusat distribusi utama, didukung oleh jaringan spoke yang
      menghubungkan ke berbagai wilayah.

   3. Pengembangan Transportasi Multimoda: Implementasi transportasi multimoda
      yang terintegrasi dari end-to-end, menghubungkan berbagai moda transportasi
      seperti darat, laut, dan udara untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien.

   4. Pemanfaatan Teknologi Informasi: Mengintegrasikan teknologi informasi dalam
      pengelolaan logistik, termasuk penggunaan big data, IoT, dan kecerdasan buatan
      untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan

4) Pengembangan Kompetensi dan Kapabilitas
   Sumber daya manusia dan teknologi menjadi elemen penting dalam pengembangan
   sektor logistik. Strategi ini mencakup:



                             Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 17
Page 65
        1. Pengembangan Kompetensi SDM: Meningkatkan kompetensi sumber daya
           manusia di sektor logistik melalui pelatihan, sertifikasi, dan pendidikan yang
           berfokus pada teknologi dan manajemen logistik.

        2. Peningkatan Proses dan Teknologi: Memanfaatkan teknologi terkini untuk
           meningkatkan produktivitas dan daya saing.

        3. Pengembangan Jaringan Global: Menguatkan jaringan global Indonesia dengan
           membangun kemitraan strategis dengan negara-negara lain.

      5) Regulasi & Kelembagaan
         Aspek regulasi dan kelembagaan menjadi pondasi penting dalam mendukung
         keberhasilan pengembangan sektor logistik. Strategi ini mencakup:

        1. Pembentukan UU Logistik: Pembentukan undang-undang khusus logistik sebagai
           target jangka menengah untuk memberikan kerangka hukum yang jelas dan
           mendukung pengembangan sektor ini.

        2. Revisi Perpres 26/2012: Melakukan revisi terhadap Perpres 26/2012 tentang Cetak
           Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional agar lebih relevan dengan kondisi
           dan kebutuhan saat ini.

        3. Pembentukan Badan Logistik Nasional: Mendirikan badan logistik nasional yang
           bertugas mengkoordinasikan dan mengawasi pengembangan sektor logistik secara
           terintegrasi.

        4. Harmonisasi Regulasi: Melakukan harmonisasi regulasi antar sektor terkait logistik,
           baik di tingkat nasional maupun daerah, untuk menciptakan lingkungan bisnis yang
           lebih kondusif.

Dengan penerapan strategi-strategi di atas, sektor logistik di Indonesia dapat berkembang
lebih optimal, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan daya saing Indonesia
di tingkat global.

4.7     RENCANA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA

4.7.1    Bidang Penambahan Usaha

Perseroan adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
bukan mobil dan sepeda motor. Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti
industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik
untuk manusia. Saat ini Perseroan berencana melakukan penambahan kegiatan usahanya di
bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri (KBLI 68126). Rencana
penambahan kegiatan usaha tersebut dengan memanfaatkan gudang eksisting yang selama
ini kurang optimal pemanfaatannya.



                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 18
Page 66
4.7.2   Target Market

Gudang yang disewakan adalah merupakan bagian dari pabrik dan gudang millik PT Mandom
Indonesia Tbk yang berlokasi Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat. Luas gudang yang disewakan adalah hanya 414 m2 yang berada di lantai 2.

Rincian target market rencana kegiatas usaha Gudang sebagai berikut:

Pelaku E-commerce & Toko Online:
Penjual di marketplace yang memerlukan gudang penyimpanan stok barang (fulfillment) untuk
menjaga kualitas produk dan mempercepat pengiriman.
UMKM & Bisnis Ritel:
Pelaku bisnis yang berkembang pesat namun belum memiliki modal untuk membangun
gudang sendiri dan memerlukan fleksibilitas dalam kapasitas penyimpanan.
Perusahaan Logistik & Jasa Pengiriman:
Perusahaan yang membutuhkan pusat distribusi (distributor center) di lokasi strategis yang
dekat dengan akses tol, pelabuhan, atau bandara.
Produsen/Manufaktur:
Pabrik yang membutuhkan ruang penyimpanan tambahan untuk bahan baku atau barang
jadi.
Bisnis Impor-Ekspor:
Perusahaan yang membutuhkan bonded warehouse (gudang berikat) atau gudang
sementara untuk mengelola barang sebelum didistribusikan.

4.7.3   Analisa Pesaing

Analisa ini dimaksudkan untuk mengetahui dan mengidentifikasi kemungkinan yang menjadi
pesaing bagi Perseroan terkait dengan penambahan kegiatan usaha. Studi ini
dilatarbelakangi oleh rencana penyewaan gudang milik Perseroan kepada pihak lain maupun
kepada perusahaan afiliasi. Namun akibat izin usaha yang dijalankan selama ini belum
termasuk izin penyewaan gudang, sehingga Perseroan melakukan analisa kelayakan terkait
dengan penambahan kegiatan usaha yaitu penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan
gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri. Penyewaaan space gudang tersebut dengan
memanfaatkan space gudang yang ada di Factory 2 yang berlokasi di Kawasan Industri
MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat, sehingga bangunan eksisting
menjadi lebih optimal. Berdasarkan uraian di tersebut, rencana penyewaan gudang telah
memiliki captive market dan tidak bersaing dengan perusahaan pergudangan lainnya yang
ada di sekitar lokasi.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 19
Page 67
4.7.4   Strategi Pemasaran

Adapun strategi pemasaran terkait dengan penamahan kegiatan usaha ini adalah sebagai
berikut.

   -    Menyewakan gudang kepada perusahaan afiliasi maupun non-afiliasi

   -    Memberlakukan tarif sewa gudang yang kompetitif.

   -    Melakukan promosi atau iklan melalui billboard ataupun banner.

   -    Kualitas bangunan gudang dan fasilitas yang tetap terjaga sehingga namun bersaing
        di pasaran.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 20
Page 68
                                                                                         BAB 5
                              ANALISIS ASPEK POLA BISNIS

5.1.   KEMAMPUAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI

Penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) merupakan langkah
strategis yang memiliki kemampuan tinggi dalam menciptakan nilai tambah (added value) dan
memperluas area kerja perusahaan. Dengan memperbarui atau menambah KBLI,
perusahaan dapat memperluas peluang usaha, melakukan diversifikasi bisnis, dan
meningkatkan efisiensi operasional. Berikut adalah rincian kemampuan menciptakan nilai dari
penambahan KBLI bagi perusahaan:

      Diversifikasi Bisnis
       Penambahan KBLI memungkinkan perusahaan dapat mengembangkan lini usaha
       baru yang melengkapi atau berbeda dari kegiatan utama saat ini, sehingga
       meningkatkan potensi pendapatan. Penambahan tersebut juga memungkinkan
       perusahaan untuk merambah area usaha baru yang sebelumnya tidak dapat
       dijangkau.

      Peningkatan Kredibilitas
       Memiliki KBLI yang sesuai dengan kegiatan nyata di lapangan meningkatkan
       profesionalisme perusahaan di mata klien, investor, dan pemerintah.

      Pemanfaatan Kapasitas Manajemen
       Perusahaan dapat mengoptimalkan tenaga ahli dan infrastruktur yang sudah ada
       untuk mendukung kegiatan di KBLI baru.

      Optimalisasi aset
       Penambahan KBLI baru dapat meningkatkan optimalisasi aset yang dimiliki oleh
       perusahaan. Adanya penambahan KBLI memungkinkan aset perusahaan
       memberikan kontribusi pendapatan yang sebelumnya belum memberikan kontribusi.
       Pada akhirnya terjadi peningkatan pendapatan dengan adanya penambahan KBLI
       baru.

5.2.   KEUNGGULAN KOMPETITIF

Penambahan KBLI menyebabkan perusahaan memperluas cakupan pelayanan dan
menciptakan integrasi rantai bisnis yang lengkap. Rencana perusahaan menambah KBLI
68126 atau menambah usaha di bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri, maka memberikan solusi dan penawaran yang lengkap kepada konsumen. Loyalitas
konsumen dapat ditingkatkan sehingga menciptakan keunggulan kompetitif.




                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-1
Page 69
Diversifikasi usaha melalui penambahan KBLI seperti yang disebutkan di atas, juga dapat
menjadi keunggulan kompetitif. Optimalisasi sumber daya yang ada baik sumber daya
manusia, aset yang dimiliki hingga jaringan usaha menjadi keunggulan kompetitif bagi
perusahaan dalam menghadapi tingkat persaingan yang semakin ketat.

Perusahaan memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang menjadikannya salah satu pemain
utama di industri kosmetik dan perawatan tubuh di Indonesia. Adapun keunggulan kompetitif
yang dimiliki saat ini adalah sebagai berikut :

      Portofolio Merek yang Kuat & Beragam
       Perusahaan mengelola berbagai merek populer yang mencakup berbagai segmen
       pasar, mulai dari men’s grooming, kosmetik wanita, hingga wangi-wangian.

      Standar Mutu dan Teknologi Jepang
       Sebagai perusahaan patungan dengan Mandom Corporation Jepang, seluruh produk
       diproduksi dengan teknologi modern dan standar kualitas tinggi dari Jepang.

      Jangkauan Pasar Ekspor yang Luas
       Perusahaan tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga aktif
       memperkuat penetrasi pasar ekspor ke berbagai negara, yang memberikan kontribusi
       signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan.

      Inovasi dan Adaptasi Digital
       Perusahaan secara konsisten melakukan inovasi produk sesuai tren konsumen serta
       memperkuat saluran penjualan melalui e-commerce dan social commerce.

      Kesesuaian dengan Nilai Lokal
       Produk-produk telah mengantongi sertifikasi halal dari LPPOM MUI, yang menjadi
       faktor penentu penting bagi konsumen di Indonesia.

5.3.   KEMAMPUAN PESAING UNTUK MENIRU PRODUK

Rencana perusahaan menambah KBLI 68126 atau menambah usaha di bidang penyewaan
gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri, dalam bidang usaha tentunya perusahaan lainnya
dapat memasuki bidang yang sama. Artinya sangat terbuka bagi perusahaan lain dalam bisnis
atau usaha yang sama. Namun demikian kemampuan dan kapasitas masing – masing
berbeda satu sama lain.

Keunggulan menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif menjadi hal yang sulit untuk ditiru
oleh perusahaan lainnya. Hal yang dimaksud misalnya reputasi perusahaan, jaringan
distribusi, jaringan pasar, kemampuan sumber daya manusia, kapasitas dan kemampuan
dalam mengelola perusahaan hingga teknologi.




                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-2
Page 70
5.4.    ANALISA SWOT

SWOT adalah akronim dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities
(peluang), dan threats (ancaman), dimana SWOT dijadikan sebagai suatu model dalam
menganalisis suatu organisasi yang berorientasi pada profit dan non-profit dengan tujuan
utama untuk mengetahui keadaan organisasi tersebut secara lebih komprehensif. Dalam
proses perumusan strategi yang baik, SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor
secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada
hubungan atau interaksi antara unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap
unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman.

Untuk menganalisis secara lebih dalam tentang SWOT, maka perlu dilihat faktor eksternal dan
internal sebagai bagian penting dalam analisis SWOT yaitu:

       1. Faktor Eksternal

            Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya opportunities and threats (O and
            T), dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi - kondisi yang terjadi di luar
            perusahaan yang mempengaruhi dalam pembuatan keputusan perusahaan.
            Faktor ini mencakup lingkungan industri (industry environment), ekonomi, politik,
            hukum, teknologi, kependudukan, dan sosial budaya.

       2. Faktor internal

            Faktor ini akan mempengaruhi terbentuknya strengths and weaknesses (S dan
            W) dimana faktor ini menyangkut kondisi yang terjadi dalam perusahaan, dimana
            hal ini turut mempengaruhi terbentuknya pembuatan keputusan (decision making)
            perusahaan. Faktor internal ini meliputi semua manajemen fungsional:
            pemasaran, keuangan, operasi, sumber daya manusia, penelitian dan
            pengembangan, sistem informasi manajemen, dan budaya perusahaan
            (corporate culture).

Adapun hasil analisa SWOT bagi perusahaan dengan adanya aktivitas usaha baru adalah
sebagai berikut :

       Kekuatan (Strengths)

        -    Terpenuhinya perizinan dan persyaratan atas rencana penambahan KBLI,
             memungkinkan perusahaan dapat menjalankan usaha yang sesuai dengan
             ketentuan yang berlaku.

        -    Penambahan aktivitas usaha baru atau rencana penambahan KBLI baru
             membuat usaha perusahaan menjadi lebih terintegrasi dan membuat daya saing
             perusahaan menjadi lebih kompetitif.




                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-3
Page 71
    -   Perusahaan telah memiliki reputasi yang baik terhadap stakeholder, kemudian
        memiliki jaringan bisnis yang baik dan luas sehingga memudahkan memasuki
        pasar baru dan mendapatkan mitra bisnis yang strategis.

    -   Perusahaan didukung oleh sumber daya yang profesional sehingga memberikan
        fondasi yang kokoh bagi perusahaan untuk tumbuh, berkembang dan bersaing di
        pasar global termasuk aktivitas usaha yang baru.

    -   Perusahaan memiliki anak perusahaan yang usaha di berbagai bidang dan dapat
        terintegrasi dengan aktivitas bisnis baru.

    -   Perusahaan telah menyusun struktur organisasi gudang terkait penambahan KBLI
        agar ke depan usaha yang direncanakan dapat berjalan dengan baik.

   Kelemahan (Weaknesses)

    -   Perusahaan tetap membutuhan tambahan sumber daya manusia terkait dengan
        aktivitas usaha yang baru.

    -   Belum memiliki pengalaman terkait dengan usaha pergudangan sehingga
        membutuhkan waktu untuk membangun kompetensi dalam bidang usaha yang
        baru.

    -   Perusahaan memiliki      fasilitas   gudang     eksisting    yang     belum     optimal
        pemanfaatannya.

    -   Pasokan gudang yang dimiliki saat ini untuk disewakan masih sangat terbatas.

   Peluang (Opportunity)

    -   Pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8% per tahun pada
        masa mendatang.

    -   Populasi penduduk Indonesia yang besar memiliki potensi permintaan berbagai
        barang/jasa dalam jumlah yang besar.

    -   Sektor logistik selama ini menjadi satu sektor yang memiliki peran yang sangat
        penting bagi perekonomian nasional

    -   Lapangan usaha transportasi dan pergudangan selama ini menunjukkan
        pertumbuhan positif setiap tahunnya dan bahkan pertumbuhannya berada di atas
        pertumbuhan ekonomi.
    -   Struktur pasar logistik nasional dominan di Pulau Jawa dan salah satunya adalah
        Propinsi Jawa Barat dimana sebagai lokasi pergudangan yang dimiliki oleh
        perusahaan. Artinya permintaan pergudangan di lokasi perusahaan cukup baik.
    -   Perusahaan memiliki anak perusahaan dan dapat menjadi pangsa pasar bagi
        aktivitas usaha yang baru.




                            Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-4
Page 72
   Ancaman (Threats)

    -   Persaingan yang sangat ketat di bidang industri maupun bidang logistik. Pemain
        besar di bidang terutama di bidang logistik masih tetap akan menguasai pasar.

    -   Adanya tekanan ketidakpastian politik dan keamanan global yang berpotensi juga
        menimbulkan ketidakpastian di bidang ekonomi global maupun nasional yang
        pada akhirnya mempengaruhi permintaan pasar termasuk usaha perusahaan
        eksisting dan juga rencana aktivitas usaha yang baru.




                            Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-5
Page 73
                                                                                         BAB 6
                 ANALISIS ASPEK MODEL MANJEMEN

6.1   KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN SEBELUM ADANYA
      PENAMBAHAN KBLI

Manajemen yang efektif sangat penting untuk keberhasilan suatu organisasi, di mana faktor
penting yang berkontribusi adalah pemilihan model manajemen. Model tersebut harus paling
sesuai dengan kebutuhan bisnis organisasi. Pemilihan model yang tepat membantu
mengatasi tantangan, mendorong pertumbuhan, dan mengoptimalkan kinerja bisnis. Model
Manajemen adalah kerangka kerja yang memandu pengambilan keputusan, perencanaan,
dan alokasi sumber daya bagi bisnis untuk membantu mereka mencapai tujuan secara efisien.
Model manajemen adalah kerangka kerja terstruktur dan komprehensif yang memandu
organisasi dalam mengelola sumber daya, operasi, dan SDM secara efektif. Model
manajemen berfungsi sebagai cetak biru strategis, memberikan arahan yang jelas untuk
pengambilan keputusan dan penetapan tujuan. Alat penting ini memungkinkan bisnis untuk
menavigasi kompleksitas lanskap bisnis modern dengan efisien dan percaya diri.

Manajemen Perusahaan sebelum melakukan rencana penambahaan KBLI baru telah
menunjukkan kapasitas dan kompetensi yang baik dalam mengelola kegiatan operasional
perusahaan. Pengalaman perusahaan yang didukung oleh sumber daya manusia yang
berpengalaman dan profesional di bidangnya, jaringan uang luas, kepercayaan dari
stakeholder, mampu menjaga dinamika dan stabilitas operasional perusahaan di tengah
tantangan dan persaingan global yang kian ketat.

Struktur organisasi yang saat ini berjalan dengan sangat baik sesuai dengan fungsi dan
tanggung jawab masing – masing. Kemampuan perusahaan dalam menghadapi
perkembangan dan perubahan dinamika pasar menjadi modal yang kuat pada masa
mendatang.




                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 1
Page 74
Berikut Jajaran Direksi Perseroan :
     Koichi Watanabe                           Presiden Direktur / CEO
                              Warga Negara Jepang
                              Bertugas: Bertanggung jawab atas keseluruhan operasional
                              Perusahaan dan secara Langsung membawahi Internal Audit.
                              Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Osaka Institute of
                              Technology. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                              Presiden Direktur/CEO adalah keputusan RUPS Tahunan
                              tahun 2024. Bergabung dengan Mandom Corporation pada
                              tahun 1988. Beliau memiliki hubungan afiliasi dengan
                              Pemegang Saham Pengendali dan Utama Perseroan yaitu
                              Mandom Corporation.




          Teiji Izawa                    Direktur / Senior Executive Officer
                               Warga Negara Jepang.
                               Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Tokyo University of
                               Science. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                               Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan RUPS
                               Tahunan      tahun     2024.     Bergabung       dengan      Mandom
                               Corporation pada tahun 2007. Beliau memiliki hubungan
                               afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan Utama
                               Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini menjabat
                               sebagai Direktur Teknologi




         Toru Onishi                      Direktur/ Senior Executive Officer
                               Warga Negara Jepang.
                               Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Ichikawa High
                               School. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                               Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan RUPS
                               Tahunan tahun 2024. Bergabung dengan Mandom Corporation
                               pada tahun 1990. Beliau memiliki hubungan afiliasi dengan
                               Pemegang Saham Pengendali dan Utama Perseroan yaitu
                               Mandom Corporation. Saat ini menjabat sebagai Direktur
                               Penjualan Domestik




                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 2
Page 75
Sanyata Adi Saputra                                 Direktu
                      Warga Negara Indonesia.
                      Menempuh pendidikan terakhirnya di Pascasarjana Universitas
                      Satyagama. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                      Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2011 dan
                      terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                      2022.     Beliau   kemudian       diangkat     sebagai      Komisaris
                      Independen berdasarkan keputusan RUPS Tahunan tahun
                      2023. Bergabung dengan Perseroan pada tahun 1990. Beliau
                      tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota Dewan
                      Komisaris maupun Direksi lainnya dan Pemegang Saham
                      Perseroan. Saat ini menjabat sebagai Direktur Sumber Daya
                      Manusia



   Budi Sudarta               Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                      Warga Negara Indonesia.
                      Menyelesaikan       pendidikan      terakhirnya     di    Universitas
                      Indonesia. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                      Wakil Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan
                      RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung dengan Perseroan
                      pada tahun 2015. Beliau tidak memiliki hubungan afiliasi
                      dengan anggota Dewan Komisaris maupun Direksi lainnya dan
                      Pemegang Saham Perseroan.


 Hirokazu Kagami                Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                      Warga Negara Jepang.
                      Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Ryutsu Kagaku
                      University di Jepang. Dasar hukum penunjukan pertama kali
                      sebagai Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2020
                      dan terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                      2024. Beliau kemudian diangkat sebagai Wakil Direktur/Senior
                      Executive Officer pada RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung
                      dengan Mandom Corporation pada tahun 1992. Beliau memiliki
                      hubungan afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan
                      Utama Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini
                      menjabat sebagai Wakil Direktur Product Development &
                      Marketing



                        Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 3
Page 76
Hideki Nakamura           Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                  Warga Negara Jepang.
                  Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Osaka University di
                  Jepang. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                  Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2022 dan
                  terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                  2024. Beliau kemudian diangkat sebagai Wakil Direktur/Senior
                  Executive Officer pada RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung
                  dengan Mandom Corporation pada tahun 2019. Beliau memiliki
                  hubungan afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan
                  Utama Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini
                  menjabat sebagai Wakil Direktur Finance, Accounting & Tax,
                  Corporate Secretary, Legal & Compliance dan IT




                    Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 4
Page 77

          
Page 78
6.2 KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN SETELAH ADANYA PENAMBAHAN
    KBLI

Rencana penambahan KBLI 68126 (penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri),
perusahaan membentuk struktur oganisasi terkait. Hal ini dimaksudkan agar usaha baru yang
dijalankan tersebut dapat berjalan dengan baik, terarah dan efektif serta sesuai dengan yang
direncanakan. Terkait penambahan KBLI, usaha baru tersebut akan dipimpin oleh Senior
Executive Officer dan dibantu oleh Executive Officer sesuai dengan struktur organisasi yang
ada saat ini. Dalam menjalankan tugasnya akan dibantu oleh level di bawahnya yaitu mulai
dari manajer, asisten manajer, chief/leader hingga level staff.

Berikut ini adalah salah satu sumber daya manusia yang dipercaya dan memiliki kompetensi
terkait dengan penambahan KBLI tersebut, yaitu sebagai berikut :

 Nama                    :   Budi Sudarta
 Jabatan                 :   Wakil Direktur / Senior Executive Officer
 Pendidikan Terakhir     :   Universitas Indonesia
 Pengalaman Kerja        :   Bergabung dengan Perseroan pada tahun 2015 sebagai
                             Manager Departemen Produksi Factory 2. Sebelumnya beliau
                             pernah berkarir di PT Indonesia Epson Industry dengan
                             jabatan terakhir sebagai Manager, Head Production
                             Engineering. Kemudian di tahun 2013 beliau menjabat sebagai
                             Manager New Product Development & Production di PT Nipro
                             Indonesia Jaya. Setelah bergabung dengan Perseroan, beliau
                             memegang beberapa jabatan penting hingga saat ini sebagai
                             Senior Executive Officer Departemen Produksi Factory 1 dan
                             Factory 2.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 6
Page 79
                                         Gambar
                              Struktur Organisasi Gudang
                          Wakil Direktur /Senior Executive Officer
                                      Budi Sudharta

                                     Executive Officer
                                     M. Agus Muttaqin

                                        Manager
                                      Nomi Hermanto

                                    Assistant. Manager
                                   Pranoto Budi Utomo

                                       Chief/Leader
                                          Husein

                                         Staff Adm


                                         Operator

                              Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


6.3 MANAJEMEN RISIKO

Manajemen risiko adalah proses organisasi dalam mengidentifikasi, menilai, dan
mengendalikan berbagai ancaman dan tantangan terhadap pencapaian tujuan. Manajemen
risiko dilakukan untuk mengidentifikasi, menilai, dan memperkenalkan tanggapan terhadap
risiko untuk mencegah krisis. Manajemen risiko memungkinkan bagi organisasi untuk
mengidentifikasi, merencanakan dan mempersiapkan berbagai skenario dalam menghadapi
berbagai situasi yang kurang baik dan mampu melindunginya dalam jangka panjang.
Manajemen risiko berperan penting dengan cara memberikan informasi terkait ancaman
bisnis dan memungkinkannya untuk mengurangi tingkat risiko yang terjadi. Tanpa adanya
manajemen risiko maka bisnis akan menghadapi permasalahan yang lebih besar karena tidak
akan pernah mempertimbangkan tingkat risiko yang akan dihadapi.

Penambahan KBLI yag direncanakan oleh PT Mandom Indonesia Tbk, dibutuhkan
manajemen risiko guna memastikan aktivitas usaha yang baru dapat berjalan dengan baik,
lancar dan sesuai dengan yang direncanakan termasuk meminimalkan berbagai dampak
negatif yang kemungkinan dapat terjadi pada masa mendatang. Adapun jenis risiko utama
yang perlu diperhatikan terkait dengan rencana penambahan KBLI adalah sebagai berikut :


                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 7
Page 80
1. Risiko Operasional

   Risiko ini timbul dari kesalahan operasional atau pengelolaan gudang, human error,
   risiko proses barang hingga risiko teknologi dan sistem.

2. Risiko Kepatuhan (Compliance Risk)

   Risiko ini terkait dengan ketidakpatuhan pada regulasi yang ditetapkan oleh
   pemerintah mulai dari pusat, pememerintah provinsi hingga kabupaten/kotamadya
   hingga perijinan usaha terkait aktivitas baru.

3. Risiko Keuangan

   Risiko ini mulai dari pendanaan aktivitas usaha baru, kenaikan biaya pengelolaan
   serta pengelolaan kebutuhan modal kerja.

4. Risiko Reputasi

   Kegagalan dalam pengelolaan aktivitas usaha yang baru dapat merusak reputasi, citra
   hingga kepercayaan stakeholder yang telah dibentuk selama ini.

5. Risiko Lingkungan

   Risiko ini terkait dengan pengelolaan limbah berbahaya, risiko pencemaran
   lingkungan yang harus mendapatkan perhatian dan harus dapat dikendalikan dengan
   baik.




                           Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 8
Page 81
                                                                                              BAB 7
                                                                     ASPEK TEKNIS
7.1.   RENCANA PERUSAHAAN


Perseroan memiliki beberapa lokasi pabrik yang Kawasan industri MM2100. Salah satu pabrik
yang dimaksud adalah Factory 2 yang berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan
juga sebagai pusat logistik, berlokasi di Jalan Jawa, Kawasan Industri MM2100. Bangunan
Factory 2 tersebut terdiri dari 2 (dua) lantai termasuk fasilitas pergudangan. Pada lantai 2,
terdapat gudang yang belum optimal pemanfaatannya atau terdapat space atau ruang yang
masih kosong. Oleh karena itu, space gudang yang masih kosong tersebut akan disewakan
kepada Perusahaan terafiliasi maupun Perusahaan lain sehingga pemanfaatan aset menjadi
lebih optimal dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang lebih maksimal dari sisi
keuangan.

7.2.   LOKASI

Aset Perseroan yang akan dioptimalkan dalam kajian studi ini yang terkait dengan
penambahan kegiatan usaha adalah Factory 2 yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100
Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat.

                                            Gambar 7.1
                             Lokasi Factory 2 atau Lokasi Obyek Studi




                        Lokasi




                                    Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 1
Page 82
7.3.   LUAS DAN BENTUK TAPAK


Factory 2 yang dimiliki oleh PT Mandom Indonesia Tbk yang berlokasi di Kawasan Industri
MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat berdiri di atas lahan seluas + 54.440
m2. Jenis kepemilikan lahan tersebut adalah HGB yang masa berlakunya hingga tanggal
24/09/2041. Bentuk tapak berbentuk segi empat Panjang dengan sisi barat dan timur
merupakan sisi yang terpanjang.

                                         Gambar 7.2
                               Luas Tapak dan Jenis Kepemilikan
                                   Kepemlikan                          :    HGB
                                   No                                  :    247
                                   Desa                                :    Gandamekar
                                   Pemegang Hak                        :    PT Mandom Indonesia Tbk
                                   Berakhirnya Hak                     :    24/09/2041
                                   Surat Ukur
                                    Tanggal                            : 03-04-1998
                                    No                                 : 00015/1998
                                   Luas                                :    54.440 m2



7.4.   BATASAN - BATASAN TAPAK

Adapun Batasan – Batasan tapak adalah sebagai berikut :
   -   Bagian utara            : Jl Jawa
   -   Bagian selatan          : Bangunan Pabrik PT Sugity Creatives
   -   Bagian Barat            : Bangunan Pabrik
   -   Bagian Timur            : Bangunan Pabrik PT Sankei Gohsyu Industries
                                         Gambar 7.3
                                   Batasan – Batasan Tapak



                                                         Jl Jawa




             Bangunan Pabrik                                                             Bangunan Pabrik PT Sankei Gohsyu Industries




                                           Bangunan Pabrik PT Sugity Creatives




                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 2
Page 83
7.5.   AKSESIBILITAS


Factory 2 yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat sangat mudah dijangkau dari berbagai arah. Hal ini disebabkan karena lokasi
didukung oleh akses jalan tol yaitu Jl Tol Jakarta Cikampek melalui gerbang Tol Cibitung.
Selain itu, akses Jalan Tol Jakarta Cikampek juga telah terkoneksi dengan akses jalan tol
lainnya seperti Jl Tol Cimanggis Cibitung, Jl Tol Cibitung Cilincing serta akses jalan Tol Lingkar
Luar sehingga memudahkan konektivitas ke berbagai wilayah. Akses utama lokasi studi
adalah Jl Jawa yang memiliki 2 (dua) jalur.

                                          Gambar 7.4
                                          Aksesibilitas




7.6.   LINGKUNGAN SEKITAR


Lokasi Factory 2 adalah berada di dalam Kawasan Industri MM2100 yang merupakan
Kawasan Industri terpadu yang pertama kali dikembangkan oleh PT. Megalopolis Manunggal
Industrial Development (PT. MMID), didirikan pada tahun 1990 oleh Marubeni Corporation dari
Jepang dan Bekasi Fajar Industrial Estate (saat ini Argo Manunggal Group of Indonesia).

Kawasan industri ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri yang unggul di Indonesia,
terletak di area primer di Kabupaten Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.
Kabupaten Bekasi terletak di sebelah Ibukota Jakarta dan salah satu kota urban yang
berkembang pesat di sebelah timur Jakarta serta merupakan area yang padat penduduknya.

Kawasan Industri MM2100 (MM2100 Industrial Town) adalah kawasan industri terpadu seluas
1.700 hektar di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, yang dibangun sejak 1990 oleh Marubeni
Corporation (Jepang) dan Manunggal Group. Fokus pada manufaktur dan logistik, kawasan


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 3
Page 84
ini menampung lebih dari 350 tenant internasional (terutama Jepang) dengan infrastruktur
berstandar global.

Berikut adalah profil lengkap Kawasan Industri MM2100:
    Lokasi & Akses Strategis: Terletak strategis di Cikarang Barat dengan akses langsung
        ke dua jalan tol utama (Tol Jakarta-Cikampek dan akses terhubung ke JORR),
        memudahkan logistik menuju pelabuhan dan bandara.
    Pengelola: Dikembangkan dan dikelola oleh PT. Megalopolis Manunggal Industrial
        Development (MMID) dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa).
    Tenant Utama: Berfokus pada industri otomotif, elektronik, logistik, serta makanan dan
        minuman, termasuk perusahaan besar seperti Honda, Toyota, Mitsubishi, dan
        Kawasaki.
    Fasilitas Kawasan:
         Infrastruktur Utama: Listrik, air bersih, pengolahan air limbah, jaringan komunikasi,
           dan pasokan gas.
         Produk Lahan: Lahan industri siap bangun dan Bangunan Pabrik Standar
           (Standard Factory Building).
          Fasilitas Pendukung: Hotel, pusat bisnis, BeFa Square (kantor siap pakai), SPBU,
           pos polisi, pemadam kebakaran, dan tempat ibadah.

7.7.   LUAS GUDANG

Gudang yang disewakan dalam kajian ini atau terkait dengan rencana penambahan kegiatan
usaha ini adalah merupakan bagian dari bangunan Factory 2 milik Perseroan yang berlokasi
di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan
IMB, total luas bangunan Factory 2 tersebut sebesar + 39.683 m2 termasuk fasilitas
pergudangan.

Untuk gudang yang disewakan adalah hanya sebagian yang berada di lantai 2. Luas yang
disewakan tersebut + 414 m2 dengan dimensi 23 m (panjang) x 18 m (lebar). Kondisi lantai
dan plafon dalam kondisi yang baik dan layak digunakan. Rencananya gudang yang
disewakan tersebut akan dilengkapi dengan ruangan ac yang luasnya + 60 m2 dan merupakan
bagian dari luas 414 m2.

Factory 2 milik PT Mandom Indonesia Tbk, telah dilengkapi dengan fasilitas lift barang sebagai
fasilitas bongkar muat barang dari lantai 1 ke lantai 2 atau sebaliknya. Hal ini memberikan
kemudahan bagi penyewa gudang yang berada di lantai 2.




                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 4
Page 85
               Gambar 7.5
Lay Out Bangunan (Gudang) Yang Disewakan




        Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 5
Page 86
                                                                                                                        BAB 8
                                                                             ASPEK KEUANGAN
8.1.      RENCANA PERUSAHAAN


Perseroan adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
bukan mobil dan sepeda motor. Untuk bidang usaha tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan
besar kosmetik untuk manusia. Saat ini Perseroan berencana melakukan penambahan
kegiatan usahanya di bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri (KBLI
68126). Rencana penambahan kegiatan usaha tersebut dengan memanfaatkan gudang
eksisting yang selama ini kurang optimal pemanfaatannya.

Dengan rencana penambahan kegiatan usaha tersebut maka diharapkan produktivitas dan
dan profitabilitas yang dicapai di masa mendatang dapat meningkat. Berdasarkan rencana
tersebut, Perseroan membutuhkan kajian kelayakan untuk mengetahui kelayakan usaha.

8.2.      PROYEKSI KEUANGAN

8.2.1. Proyeksi Laba Rugi

Adapun proyeksi proyeksi laba rugi sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi adalah sebagai berikut.

                                                           Tabel 8.1
                    Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 Uraian                                                                              Proyeksi
                                            2026              2027              2028              2029              2030
 Net Sales                                  2.343.000.000.000 2.577.300.000.000 2.835.030.000.000 3.118.533.000.000 3.430.386.300.000
 Cost of Goods Sold                         1.725.340.000.000 1.901.774.600.000 2.091.952.060.000 2.301.147.266.000 2.531.261.992.600
 Gross Profit                                 617.660.000.000   675.525.400.000   743.077.940.000   817.385.734.000   899.124.307.400
 Selling,General and Administrative Expenses 594.000.000.000    614.983.320.900   633.655.311.948   652.955.635.802   672.907.054.838
   Selling & Marketing Expenses               303.444.030.000   318.616.231.500   331.360.880.760   344.615.315.990   358.399.928.630
   General Administrative Expenses            290.555.970.000   296.367.089.400   302.294.431.188   308.340.319.812   314.507.126.208
 Operating Income                              23.660.000.000    60.542.079.100   109.422.628.052   164.430.098.198   226.217.252.562
 Non-Operating Income/Expenses                 59.351.001.200    20.000.001.200    27.250.001.200    24.250.001.200    24.250.001.200
   Non-Operating Income                       387.250.001.200   387.250.001.200   387.250.001.200   387.250.001.200   387.250.001.200
   Non-Operating Expenses                     327.899.000.000   367.250.000.000   360.000.000.000   363.000.000.000   363.000.000.000
 Ordinary Income                               83.011.001.200    80.542.080.300   136.672.629.252   188.680.099.398   250.467.253.762
 Income before taxes                           83.011.001.200    80.542.080.300   136.672.629.252   188.680.099.398   250.467.253.762
 Income Taxes Current Year                     18.000.000.000    17.719.257.666    30.067.978.435    41.509.621.868    55.102.795.828
 Net Income                                    65.011.001.200    62.822.822.634   106.604.650.817   147.170.477.530   195.364.457.934




                                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 1
Page 87
                                                 Tabel 8.2
                         Proyeksi Laba Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
                                                                                         P r o y e k s i
                                                   2026                2027                      2028                     2029                  2030
Net Sales                                     2.342.800.000.000   2.577.000.000.000         2.834.730.000.000        3.118.233.000.000     3.430.086.300.000
Cost of Goods Sold                            1.725.180.825.664   1.901.535.838.496          2.091.713.298.496       2.300.908.504.496     2.531.023.231.096
Gross Profit                                    617.619.174.336     675.464.161.504            743.016.701.504         817.324.495.504       899.063.068.904
Selling,General and Administrative Expenses     594.000.000.000     614.983.320.900            633.655.311.948         652.955.635.802       672.907.054.838
     Selling & Marketing Expenses               303.444.030.000     318.616.231.500            331.360.880.760         344.615.315.990       358.399.928.630
     General Administrative Expenses            290.555.970.000     296.367.089.400            302.294.431.188         308.340.319.812       314.507.126.208
Operating Income                                 23.619.174.336      60.480.840.604            109.361.389.556         164.368.859.702       226.156.014.066
Non-Operating Income/Expenses                    59.351.001.200      20.000.001.200             27.250.001.200          24.250.001.200        24.250.001.200
     Non-Operating Income                       387.250.001.200     387.250.001.200            387.250.001.200         387.250.001.200       387.250.001.200
     Non-Operating Expenses                     327.899.000.000     367.250.000.000            360.000.000.000         363.000.000.000       363.000.000.000
Ordinary Income                                  82.970.175.536      80.480.841.804            136.611.390.756         188.618.860.902       250.406.015.266
Income before taxes                              82.970.175.536      80.480.841.804            136.611.390.756         188.618.860.902       250.406.015.266
Income Taxes Current Year                        18.000.000.000      17.705.785.197             30.054.505.966          41.496.149.398        55.089.323.359
Net Income                                      64.970.175.536          62.775.056.607          106.556.884.790       147.122.711.503        195.316.691.907




8.2.2. Proyeksi Arus Kas

Adapun proyeksi proyeksi arus kas sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi adalah sebagai berikut.

                                                Tabel 8.3
                        Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
                                                                                            P    r o    y e k        s i
                                                          2026                 2027                    2028                  2029                2030
Net Cash Provided by Operating Activities            158.410.468.644      207.637.138.730        246.983.851.879      316.080.158.056       403.546.533.774
Net Cash Used in
 Investing Activities                                (16.308.443.652) (100.145.845.235) (100.252.417.315) (110.692.437.252)                 (119.736.308.821)
Net Cash Used in
 Financing Activities                                (36.808.262.600)     (35.714.173.317)        (57.605.087.408)     (77.888.000.765)     (101.984.990.967)
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
 BEGINNING OF YEAR                                   540.111.589.863      650.343.904.185        727.259.756.387      821.849.310.375       955.089.648.953
Effect of foreign exchange rate changes
 on cash and cash equivalents                          4.938.551.930        5.138.732.023           5.463.206.832          5.740.618.539       6.273.626.213
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
 OF YEAR                                             650.343.904.185      727.259.756.387        821.849.310.375      955.089.648.953      1.143.188.509.151




                                                  Tabel 8.4
                          Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
                                                                                       P        r o   y e k s i
                                                       2026                  2027                    2028            2029                       2030
Net Cash Provided by Operating Activities          158.349.230.148       207.572.225.925         246.918.939.074 316.015.245.250            403.481.620.968
Net Cash Used in
 Investing Activities                               (16.308.175.320)     (100.145.278.152)      (100.251.562.878)     (110.691.301.460)     (119.734.891.170)
Net Cash Used in
 Financing Activities                               (36.787.849.768)      (35.690.290.304)        (57.581.204.395)     (77.864.117.752)     (101.961.107.954)
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
 BEGINNING OF YEAR                                 540.111.589.863       650.303.078.520         727.171.164.696       821.712.952.658      954.905.525.208
Effect of foreign exchange rate changes
 on cash and cash equivalents                         4.938.283.598         5.131.428.706          5.455.616.161           5.732.746.512       6.265.472.328
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
 OF YEAR                                           650.303.078.520       727.171.164.696         821.712.952.658       954.905.525.208     1.142.956.619.380




                                                      Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 2
Page 88
8.2.3. Proyeksi Posisi Keuangan


Adapun proyeksi proyeksi posisi keuangan sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi adalah sebagai berikut.

                                              Tabel 8.5
                  Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
                                                         2026                   2027                 2028                 2029                 2030
  ASSETS

  CURRENT ASSETS
  Cash and cash equivalents                          650.243.904.185       727.158.756.387      821.747.300.376      954.985.598.753     1.143.081.337.446
  Other financial assets - current                    35.000.000.000        35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000        35.000.000.000
  Trade accounts receivable                          387.964.612.401       381.179.598.794      394.620.916.771      387.921.709.322       387.907.408.296
  Other accounts receivable                            5.000.000.000         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
  Inventories - net                                  543.574.861.947       565.710.810.325      570.474.763.970      559.920.145.414       565.368.573.236
  Advances                                             5.000.000.000         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
  Prepaid expenses                                     7.500.000.000         7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000         7.500.000.000
  Prepaid taxes                                       10.000.000.000        10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000        10.000.000.000
  Non-current assets held-for-sale                               -                     -                    -                    -                     -

  Total Current Assets                              1.644.283.378.533     1.736.549.165.506    1.849.342.981.116    1.965.327.453.489    2.158.857.318.978

  NON-CURRENT ASSETS
  Other accounts receivable                            2.000.000.000         2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000
  Prepaid expenses                                               -                     -                    -                    -                    -
  Other financial assets - non current                           -                     -                    -                    -                    -
  Estimated claim for tax refund                                 -                     -                    -                    -                    -
  Deferred tax assets - net                           70.814.786.429        70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429
  Property, plant and equipment - net                596.040.446.728       602.000.851.195      608.020.859.707      620.181.276.901      638.786.715.208
  Computer software - net                              7.000.000.000         7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000
  Right-of-use assets                                  6.032.532.190         2.805.231.533                  -         16.000.000.000       12.500.000.000
  Other non-current assets                             7.000.000.000         7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000

  Total Non-Current Assets                           688.887.765.347       691.620.869.157      694.835.646.136      722.996.063.330      738.101.501.637

  TOTAL ASSETS                                      2.333.171.143.880     2.428.170.034.663    2.544.178.627.252    2.688.323.516.819    2.896.958.820.615


  LIABILITIES AND EQUITY

  CURRENT LIABILITIES
  Trade accounts payable                             101.032.611.418       114.754.647.141      105.504.929.362      107.097.395.974      109.118.990.826
  Other accounts payable to third parties             45.606.347.627        44.187.050.295       41.105.131.184       43.632.843.036       42.975.008.172
  Advance received                                     5.000.000.000         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
  Taxes payable                                        5.000.000.000         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
  Accrued expenses                                    81.785.781.009        94.946.301.944      109.767.550.631       95.499.877.861      100.071.243.479
  Employee benefits obligation - current               4.500.000.000         4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
  Current maturity of lease liabilities                3.500.000.000         3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

  Total Current Liabilities                          246.424.740.054       271.887.999.380      274.377.611.178      264.230.116.870      270.165.242.476

  NON-CURRENT LIABILITIES
  Employee benefits obligation                       223.646.221.403       230.355.608.045      237.266.276.286      244.384.264.575      251.715.792.512
  Lease liabilities - net of current maturity          4.500.000.000         4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
  Customer deposits                                    3.500.000.000         3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

  Total Non-current Liabilities                      231.646.221.403       238.355.608.045      245.266.276.286      252.384.264.575      259.715.792.512

  TOTAL LIABILITIES                                  478.070.961.457       510.243.607.424      519.643.887.464      516.614.381.445      529.881.034.988

  EQUITY
  Capital stock - Rp 250 par value                   100.533.333.500       100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500
  Additional paid-in capital                         188.300.825.786       188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786
  Listed equity securities revaluation                    48.888.300            52.310.481           55.972.215           59.890.270           64.082.589
  Retained earning
    Appropriated                                       20.106.666.700        20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700
    Unappropriated                                  1.546.112.505.249     1.608.935.327.883    1.715.539.978.699    1.862.710.456.230    2.058.074.914.164

  Total equity attributable to owners of the Company 1.855.102.219.535    1.917.928.464.350    2.024.536.776.900    2.171.711.172.485    2.367.079.822.739

  Non-controlling interests                     -           2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112

  Total Equity                                      1.855.100.182.423     1.917.926.427.238    2.024.534.739.788    2.171.709.135.373    2.367.077.785.627

  TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                      2.333.171.143.879     2.428.170.034.662    2.544.178.627.252    2.688.323.516.818    2.896.958.820.614




                                                       Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 3
Page 89
                                                 Tabel 8.6
                      Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
                                                         2026                 2027                 2028                 2029                 2030
ASSETS

CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                           650.303.078.521      727.171.164.696      821.712.952.658      954.905.525.208     1.142.956.619.380
Other financial assets - current                     35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000        35.000.000.000
Trade accounts receivable                           387.964.612.401      381.179.598.794      394.620.916.771      387.921.709.322       387.907.408.296
Other accounts receivable                             5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Inventories - net                                   543.574.861.947      565.710.810.325      570.474.763.970      559.920.145.414       565.368.573.236
Advances                                              5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Prepaid expenses                                      7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000         7.500.000.000
Prepaid taxes                                        10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000        10.000.000.000
Non-current assets held-for-sale                                -                    -                    -                    -                     -

Total Current Assets                               1.644.342.552.869    1.736.561.573.815    1.849.308.633.398    1.965.247.379.944    2.158.732.600.912

NON-CURRENT ASSETS
Other accounts receivable                             2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000
Prepaid expenses                                                -                    -                    -                    -                    -
Other financial assets - non current                            -                    -                    -                    -                    -
Estimated claim for tax refund                                  -                    -                    -                    -                    -
Deferred tax assets - net                            70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429
Property, plant and equipment - net                 595.940.446.728      601.899.851.195      607.918.849.707      620.077.226.701      638.679.543.502
Computer software - net                               7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000
Right-of-use assets                                   6.032.532.190        2.805.231.533                  -         16.000.000.000       12.500.000.000
Other non-current assets                              7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000

Total Non-Current Assets                            688.787.765.347      691.519.869.157      694.733.636.136      722.892.013.130      737.994.329.931

TOTAL ASSETS                                       2.333.130.318.216    2.428.081.442.971    2.544.042.269.534    2.688.139.393.074    2.896.726.930.843


LIABILITIES AND EQUITY

CURRENT LIABILITIES
Trade accounts payable                              101.032.611.418      114.754.647.141      105.504.929.362      107.097.395.974      109.118.990.826
Other accounts payable to third parties              45.606.347.627       44.187.050.295       41.105.131.184       43.632.843.036       42.975.008.172
Advance received                                      5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
Taxes payable                                         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
Accrued expenses                                     81.785.781.009       94.946.301.944      109.767.550.631       95.499.877.861      100.071.243.479
Employee benefits obligation - current                4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
Current maturity of lease liabilities                 3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

Total Current Liabilities                           246.424.740.054      271.887.999.380      274.377.611.178      264.230.116.870      270.165.242.476

NON-CURRENT LIABILITIES
Employee benefits obligation                        223.646.221.403      230.355.608.045      237.266.276.286      244.384.264.575      251.715.792.512
Lease liabilities - net of current maturity           4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
Customer deposits                                     3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

Total Non-current Liabilities                       231.646.221.403      238.355.608.045      245.266.276.286      252.384.264.575      259.715.792.512

TOTAL LIABILITIES                                   478.070.961.457      510.243.607.424      519.643.887.464      516.614.381.445      529.881.034.988

EQUITY
Capital stock - Rp 250 par value                    100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500
Additional paid-in capital                          188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786
Listed equity securities revaluation                     48.888.300           52.310.481           55.972.215           59.890.270           64.082.589
Retained earning
  Appropriated                                        20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700
  Unappropriated                                   1.546.071.679.585    1.608.846.736.192    1.715.403.620.982    1.862.526.332.485    2.057.843.024.392

Total equity attributable to owners of the Company1.855.061.393.871     1.917.839.872.659    2.024.400.419.182    2.171.527.048.741    2.366.847.932.967

Non-controlling interests                      -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112

Total Equity                                       1.855.059.356.759    1.917.837.835.547    2.024.398.382.070    2.171.525.011.629    2.366.845.895.855

TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                       2.333.130.318.215    2.428.081.442.971    2.544.042.269.534    2.688.139.393.074    2.896.726.930.843




                                                        Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 4
Page 90
8.3.      INKREMENTAL PROYEKSI KEUANGAN

8.3.1. Inkremental Proyeksi Laba Rugi


Berdasarkan proyeksi laba rugi di atas, yang terdiri dari proyeksi laba rugi dengan
penambahan kegiatan usaha serta proyeksi laba rugi tanpa penambahan kegiatan usaha,
maka diperoleh inkremental proyeksi laba rugi dimana seperti terdapat pada tabel berikut.

                                                         Tabel 8.7
                                               Inkremental Proyeksi Laba Rugi

 Uraian                                                                                    Proyeksi
                                                        2026               2027            2028             2029             2030
 Net Sales                                               200.000.000       300.000.000     300.000.000       300.000.000      300.000.000
 Cost of Goods Sold                                      159.174.336       238.761.504     238.761.504       238.761.504      238.761.504
 Gross Profit                                             40.825.664        61.238.496      61.238.496        61.238.496       61.238.496
 Selling,General and Administrative Expenses                     -                 -                -                -                -
   Selling & Marketing Expenses                                  -                 -                -                -                -
   General Administrative Expenses                               -                 -                -                -                -
 Operating Income                                         40.825.664        61.238.496      61.238.496        61.238.496       61.238.496
 Non-Operating Income/Expenses                                   -                 -                -                -                -
   Non-Operating Income                                          -                 -                -                -                -
   Non-Operating Expenses                                        -                 -                -                -                -
 Ordinary Income                                          40.825.664        61.238.496      61.238.496        61.238.496       61.238.496
 Income before taxes                                      40.825.664        61.238.496      61.238.496        61.238.496       61.238.496
 Income Taxes Current Year                                       -          13.472.469      13.472.469        13.472.469       13.472.469
 Net Income                                               40.825.664        47.766.027      47.766.027        47.766.027       47.766.027




8.3.2. Inkremental Proyeksi Arus Kas


Berdasarkan proyeksi arus kas di atas, yang terdiri dari proyeksi arus kas dengan
penambahan kegiatan usaha serta proyeksi arus kas tanpa penambahan kegiatan usaha,
maka diperoleh inkremental proyeksi arus kas dimana seperti terdapat pada tabel berikut.

                                                        Tabel 8.9
                                           Inkremental Proyeksi Arus Kas (Rp)
 Uraian                                                                                Proyeksi
                                                                        2026           2027          2028           2029         2030
 Net Cash Provided by Operating Activities                                 61.238.496    80.912.806     82.082.806   82.254.506    82.601.340
 Net Cash Used in Investing Activities                                    (99.611.070) (16.901.532)    (18.357.829) (19.818.618) (21.491.914)
 Net Cash Used in Financing Activities                                    (20.412.832) (23.883.013)    (23.883.013) (23.883.013) (23.883.013)
 Cash and Cash Equivalents at Beginning of Year                                     -   (59.174.335)   (12.408.309) 34.347.718     80.073.545
 Effect of Foreign Exchange Rate Changes on Cash and Cash Equivalents        (388.930)    6.637.766      6.914.063    7.172.952     7.418.108
 Cash and Cash Equivalents at End Year                                    (59.174.335) (12.408.309)     34.347.718   80.073.545 124.718.066



8.3.3. Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan

Berdasarkan proyeksi posisi keuangan di atas, yang terdiri dari proyeksi posisi keuangan
dengan penambahan kegiatan usaha serta proyeksi posisi keuangan tanpa penambahan
kegiatan usaha, maka diperoleh inkremental proyeksi posisi keuangan dimana seperti
terdapat pada tabel berikut.


                                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 5
Page 91
                                                 Tabel 8.10
                                 Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan (Rp)
                                                                           P     r o   y e k     s i
                                                    2026            2027               2028            2029       2030
ASSETS
CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                          (59.174.336)   (12.408.309)      34.347.718      80.073.545   124.718.066
Other financial assets - current                             -              -                -               -             -
Trade accounts receivable                                    -              -                -               -             -
Other accounts receivable                                    -              -                -               -             -
Inventories - net                                            -              -                -               -             -
Advances                                                     -              -                -               -             -
Prepaid expenses                                             -              -                -               -             -
Prepaid taxes                                                -              -                -               -             -
Non-current assets held-for-sale                             -              -                -               -             -
Total Current Assets                               (59.174.336)   (12.408.309)      34.347.718      80.073.545   124.718.066
NON-CURRENT ASSETS                                           -              -                -               -             -
Other accounts receivable                                    -              -                -               -             -
Prepaid expenses                                             -              -                -               -             -
Other financial assets - non current                         -              -                -               -             -
Estimated claim for tax refund                               -              -                -               -             -
Deferred tax assets - net                                    -              -                -               -             -
Property, plant and equipment - net               100.000.000     101.000.000      102.010.000     104.050.200   107.171.706
Computer software - net                                      -              -                -               -             -
Right-of-use assets                                          -              -                -               -             -
Other non-current assets                                     -              -                -               -             -
Total Non-Current Assets                          100.000.000     101.000.000      102.010.000     104.050.200   107.171.706
TOTAL ASSETS                                        40.825.664     88.591.691      136.357.718     184.123.745   231.889.772
LIABILITIES AND EQUITY                                       -              -                -               -             -
CURRENT LIABILITIES                                          -              -                -               -             -
Trade accounts payable                                       -              -                -               -             -
Other accounts payable to third parties                      -              -                -               -             -
Advance received                                             -              -                -               -             -
Taxes payable                                                -              -                -               -             -
Accrued expenses                                             -              -                -               -             -
Employee benefits obligation - current                       -              -                -               -             -
Current maturity of lease liabilities                        -              -                -               -             -
Total Current Liabilities                                    -              -                -               -             -
NON-CURRENT LIABILITIES                                      -              -                -               -             -
Employee benefits obligation                                 -              -                -               -             -
Lease liabilities - net of current maturity                  -              -                -               -             -
Customer deposits                                            -              -                -               -             -
Total Non-current Liabilities                                -              -                -               -             -
TOTAL LIABILITIES                                            -              -                -               -             -
EQUITY                                                       -              -                -               -             -
Capital stock - Rp 250 par value                             -              -                -               -             -
Additional paid-in capital                                   -              -                -               -             -
Listed equity securities revaluation                         -              -                -               -             -
Retained earning                                             -              -                -               -             -
  Appropriated                                               -              -                -               -             -
  Unappropriated                                    40.825.664     88.591.691      136.357.718     184.123.745   231.889.772
Total equity attributable to owners of the Company 40.825.664      88.591.691      136.357.718     184.123.745   231.889.772
Non-controlling interests                                    -              -                -               -             -
Total Equity                                        40.825.664     88.591.691      136.357.718     184.123.745   231.889.772
TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                        40.825.664     88.591.691      136.357.718     184.123.745   231.889.772




                                              Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 6
Page 92
8.4.       ANALISIS MODAL KERJA


Kebutuhan modal kerja kegiatan usaha Perseroan dihitung dari piutang usaha, persediaan
dan utang usaha. Berdasarkan hasil analisa, proyeksi kebutuhan modal kerja adalah seperti
terdapat pada tabel berikut.



                                             Tabel 8.11
                  Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 Uraian                                                                         Proyeksi
                                           2025              2026               2027              2028                2029                 2030
 Trade accounts receivable                 414.718.539.117    387.964.612.401   381.179.598.794     394.620.916.771    387.921.709.322     387.907.408.296
 Other accounts receivable                   4.364.440.687      5.000.000.000      5.000.000.000       5.000.000.000     5.000.000.000       5.000.000.000
 Inventories - net                         602.138.619.638    543.574.861.947   565.710.810.325     570.474.763.970    559.920.145.414     565.368.573.236
 Trade accounts payable                    100.727.529.528    101.032.611.418   114.754.647.141     105.504.929.362    107.097.395.974     109.118.990.826
 Other accounts payable to third parties    33.521.995.630     45.606.347.627    44.187.050.295      41.105.131.184     43.632.843.036      42.975.008.172
 Working Capital                           886.972.074.284    789.900.515.303   792.948.711.683     823.485.620.194    802.111.615.726     806.181.982.534
 Net Working Capital                                           97.071.558.981     (3.048.196.380)    (30.536.908.512)   21.374.004.468       (4.070.366.808)




                                              Tabel 8.12
                   Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 Uraian                                                                 Proyeksi
                             2025                   2026                2027                 2028                2029                    2030
 Trade accounts receivable 414.718.539.117          387.964.612.401     381.179.598.794      394.620.916.771     387.921.709.322         387.907.408.296
 Other accounts receivable       4.364.440.687        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000      5.000.000.000            5.000.000.000
 Inventories - net            602.138.619.638       543.574.861.947     565.710.810.325      570.474.763.970     559.920.145.414         565.368.573.236
 Trade accounts payable       100.727.529.528       101.032.611.418     114.754.647.141      105.504.929.362     107.097.395.974         109.118.990.826
 Other accounts payable to third33.521.995.630
                                 parties             45.606.347.627      44.187.050.295        41.105.131.184     43.632.843.036          42.975.008.172
 Working Capital              886.972.074.284       789.900.515.303     792.948.711.683      823.485.620.194     802.111.615.726         806.181.982.534
 Net Working Capital                                 97.071.558.981       (3.048.196.380)     (30.536.908.512)    21.374.004.468           (4.070.366.808)




8.5.       TINGKAT DISKONTO

8.5.1. Tingkat Diskonto Ekuitas (Cost of Equity)


Untuk menentukan tingkat diskonto ekuitas terdapat 2 (dua) metode yang umum dilakukan
yaitu: Capital Assets Pricing Model (CAPM) dan Build-up Method (BUM). CAPM adalah
metode yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan tingkat diskonto ekuitas.
Misalnya, satu survei menemukan 75% perusahaan menggunakan CAPM untuk
memperkirakan biaya ekuitas, 34% perusahaan menggunakan CAPM dengan faktor
penyesuaian tambahan (dengan penyesuaian umum adalah menambahkan premi tambahan
untuk risiko tambahan seperti risiko operasi di negara berkembang).* Shannon P. Pratt dan
Roger J. Grabowski, “Cost of capital” .

Namun ada kalanya dengan metode CAPM tidak tersedia data yang diperlukan karena
perusahaan yang dinilai spesific atau relatif kecil sehingga beta yang diperoleh dari pasar
tidak dapat mewakili objek penilaian.



                                                      Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 7
Page 93
Karena selain daripada tidak ditemukan beta untuk perusahaan yang sejenis dengan objek
penilaian juga perusahaan masih tergolong kecil dan menengah maka untuk menentukan
tingkat diskonto ekuitas menggunakan Buid-up Method.

Capital Assets Pricing Model (CAPM)

Menentukan pada tingkat diskonto berapa arus kas tersebut di-diskonto. Umumnya tingkat
diskonto untuk saham mengandung risiko yang terdiri dari: Bunga bebas risiko (risk free rate)
dan premi risiko (risk premium).

         o   Bunga bebas risiko (risk free rate) adalah tingkat pengembalian yang paling
             aman untuk berinvestasi hampir tidak mungkin gagal bayar (default).

         o   Premi risiko (risk premium) adalah tambahan tingkat pengembalian untuk
             meliputi risiko sistematis (systematic risk) dan risiko tidak sistematis
             (unsystematic risk).

Untuk dapat mengestimasi return (tingkat diskonto) suatu ekuitas dengan baik dan mudah
diperlukan suatu model estimasi yaitu Capital Assets Pricing Model (CAPM). Model ini
menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas risiko ditambah premium untuk meliputi
risiko sistematis dari saham. Formula biaya ekuitas dinyatakan sebagai berikut:




Karena Model arus kas yang digunakan dalam penilaian ini adalah Model Arus Kas Bersih
untuk para penyedia modal (Invested capital), maka selanjutnya menentukan tingkat suku
bunga kredit (Cost of debt).

8.5.2. Tingkat Suku Bunga Kredit (Cost of Debt)

Tingkat suku bunga kredit diperoleh dari tingkat suku bunga bank persero, baik untuk modal
kerja maupun untuk kredit investasi dikurang pajak yang berlaku dengan formula:

                    Tingkat suku bunga bersih (Net cost of debt) = i (1-t)

8.5.3. Tingkat Diskonto Untuk Para Pemodal (Weighted Average Cost of Capital,
       WACC)




                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 8
Page 94
Untuk menentukan tingkat diskonto para pemodal (Invested to Capital) yang terdiri dari biaya
ekuitas dan biaya kredit atau rata-rata tertimbang antara diskonto untuk ekuitas dengan
tingkat suku bunga kredit, Weighted Average Cost of Capital (WACC), yaitu:

                              WACC = [(E/C x R) + (D/C x i (1-t))]

       Dimana;
       R = Return (tingkat diskonto ekuitas)
       E = Ekuitas
       C = Capital ( E + D )
       D = Debt
       i = interest
       t = Tax

Sesuai dengan model arus kas yang akan digunakan dalam penilaian ini adalah arus kas bagi
perusahaan atau para pemodal (Free Cash Flow to Firm or Invested Capital), maka tingkat
diskonto yang akan diaplikasikan adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC).

Risk Free Rate (Rf)
Investasi yang digunakan sebagai patokan yang bebas risiko adalah Surat Utang Negara
(Goverment Bond) untuk jangka panjang. Mengingat rencana penambahan kegiatan usaha
Perseroan adalah merupakan investasi jangka panjang dan rencana bisnis selama 5 (lima)
tahun maka dalam hal ini patokan bebas risiko diambil dari yield Obligasi Pemerintah yang
tenornya 5 tahun sesuai periode proyeksi yaitu sebesar 5,84% per 2 Maret 2026 Premi risiko
yang digunakan dalam studi ini adalah berdasarkan data Aswath Januari 2024 sebesar 6,69%
dan RBDS 1,62%. Unlevered Beta Real Estate (Operations & Services) sebesar 0,54 dengan
target D/E : 61,32% (38,01% : 61,99%) dan tarif pajak 22%, maka beta perusahaan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :

                                   Β = Unlevered β x (1+ (1-t) x D/E)

Dari perhitungan ini diperoleh Relevered Beta sebesar 0,80 maka discount rate ekuitas
perusahaan adalah 9,59% setelah dikurang RBDS 1,62% berdasarkan data Aswath
Damodaran. Selanjutnya sesuai asumsi pembiayaan D:E (38,01% : 61,99%) pada tingkat
suku bunga 8,96% berdasarkan tingkat suku bunga pinjaman maka dengan menggunakan
formula:

                           WACC = Ke x (E/(E+D)) + (De x (1-t) x D/(D+E))

diperoleh discount rate untuk para pemodal (Invested Capital) adalah 8,60%




                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 9
Page 95
                                                           Tabel 8.13
                                                       Perhitungan WACC
                                                                        Biaya
            Jenis Modal                                                             D E R*                Tertimbang
                                                                        Modal
             a. Cost of Debt                                            6,99%       38,01%                               2,66%
             b. Cost of Equity                                          9,59%       61,99%                               5,94%
            WACC                                                                                                         8,60%
            *Damodaran, 1 Jan 2026
            Perhitungan Cost of Equity
             a. Risk Free Rate (Rf)                                       5,84% PHEI- 2 Maret 2026 (tenor 5 tahun)
             b. Risk Premium Ekuitas/ERP ( R m - Rf)                      6,69% Damodaran (1 Jan 2026)
             c. β (Beta)                                                  0,801
             d. Rating-Based Default Spread (RBDS)                        1,62% Damodaran (1 Jan 2026)
             e. Specific Risk Company (R s)                               0,00%
            Cost of Equity                                                9,59%

            Unleverage Beta                                                 0,54 Damodaran (1 Jan 2026)

            Levered Beta                                                    0,80
            Perhitungan Cost of Debt
            a. Bunga Bank                                                  8,96% (Bank Indonesia, rata-rata 2023 sd Jan 2026)
            b. Pajak                                                         22%
            Cost of Debt                                                  6,99%

            Keterangan :
               Rf                                         = Tingkat Balikan Bebas Risiko
               Rm                                         = Tingkat Balikan Yang Diharapkan Oleh Pasar Ekuitas
               β (Beta)                                   = Ukuran Risiko Sistimatis
               Rs                                         = Premi Untuk Risiko Spesifik Perusahaan



8.6.   ANALISIS KELAYAKAN USAHA

Analisa kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih perusahaan
(free cash flow to firm/FCFF) yang mencerminkan arus kas bersih masa mendatang. Arus kas
bersih perusahaan (FCFF) tersebut adalah sebagai berkut.

           FCFF = EAT +(1-Tax)*I+DA+(+/-) perubahan WC – perubahan Capex
       Dimana ;
       FCFF                   : Arus kas bersih untuk perusahaan
       EAT                    : Laba bersih setelah pajak
       I                      : Bean utang berbunga
       T                      : Tingkat pajak
       DA                     : Depresiasi dan amortisasi

Arus kas inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih dengan penambahan kegiatan
usaha dengan arus kas bersih tanpa penambangan kegiatan usaha. Hasil perhitungan arus
kas inkremental ini menjadi dasar dalam menentukan kelayakan usaha. Selain itu, untuk
mendapatkan nilai kekal, kami mengkapitalisasikan nilai arus kas bersih akhir tahun proyeksi
eksplisit dengan tingkat diskonto yang digunakan. Perhitungan terminal value dalam laporan
studi kelayakan ini adalah menggunakan basis nilai tahun 2030. Hasil analisa arus kas
inkremental adalah sebagai berikut.




                                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 10
Page 96
                                           Tabel 8.14
                            Analisa Arus Kas Bersih Perusahaan (Rp)
                                                               P    r o    y e k        s i
                                  2026               2027                 2028                   2029                 2030
After
Laba Bersih                    65.011.001.200    62.822.822.634      106.604.650.817      147.170.477.530        195.364.457.934
Penyusutan & Amortisasi        13.170.000.000    13.433.400.000       13.702.068.000       13.976.109.360         14.255.631.547
(1-tax)*Bunga                               -                 -                    -                    -                      -
Net Working Capital            97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)      21.374.004.468         (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional        175.252.560.181    73.208.026.254       89.769.810.305      182.520.591.358        205.549.722.674

Kegiatan Investasi            (16.407.786.390) (100.162.179.683) (100.269.920.707) (110.711.120.077)             (119.756.383.084)

Terminal Value                              -                  -                    -                      -     997.568.951.957

Free Cash Flow                158.844.773.791    (26.954.153.429)    (10.500.110.402)         71.809.471.281    1.083.362.291.546

Before
Laba Bersih                    64.970.175.536    62.775.056.607      106.556.884.790      147.122.711.503        195.316.691.907
Penyusutan & Amortisasi        13.170.000.000    13.433.400.000       13.702.068.000       13.976.109.360         14.255.631.547
(1-tax)*Bunga                               -                 -                    -                    -                      -
Net Working Capital            97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)      21.374.004.468         (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional        175.211.734.517    73.160.260.227       89.722.044.278      182.472.825.331        205.501.956.647

Kegiatan Investasi            (16.308.175.320) (100.145.278.152) (100.251.562.878) (110.691.301.460)             (119.734.891.170)

Terminal Value                              -                  -                    -                      -     997.263.447.595

Free Cash Flow                158.903.559.197    (26.985.017.925)    (10.529.518.600)         71.781.523.872    1.083.030.513.071

Incremental

Penerimaan Operasional            40.825.664         47.766.027           47.766.027             47.766.027           47.766.027

Kegiatan Investasi                (99.611.070)       (16.901.532)         (18.357.829)           (19.818.618)         (21.491.914)

Terminal Value                                                                                                       305.504.362

Free Cash Flow                    (58.785.406)       30.864.495           29.408.198             27.947.409          331.778.475




Berdasarkan analisa kelayakan penambahan kegiatan usaha sesuai dengan arus kas bersih
Perseroan (FCFF) selama tahun 2026 – 2030 dengan mempertimbangkan asumsi – asumsi
yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

                                            Tabel 8.15
                                Hasil Indikator Kelayakan Usaha

                          Indikator Kelayakan Usaha                     Hasil
                          IRR                                               84,12%
                          NPV                                       Rp 234.722.851
                          B/C Ratio                                           2,58
                          Payback Period (tahun)                              2,58


Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk
dan nilai sekarang dari arus kas keluar pada sebuah waktu periode. NPV biasanya digunakan
untuk alokasi modal untuk menganalisis keutungan dalam sebuah proyek yang akan


                                    Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 11
Page 97
dilaksanakan. NPV positif menggambarkan bahwa proyeksi pendapatan yang dihasilkan oleh
sebuah proyeksi atau investasi melebihi dari proyek biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan
hasil analisa menunjukkan bahwa NPV sebesar Rp23.722.851. Nilai NPV yang dihasilkan >
0 (nol) yang mana menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan.

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat suatu investasi dimana pada saat itu NPV adalah
0 (nol). Suatu investasi dapat dikayakan layak dan menguntungkan untuk dijalankan apabila
nilai NPV lebih besar dari cost of capitalnya. Berdasarkan hasil analisa menunjukkan bahwa
IRR sebear 84,12%. Nilai IRR yang dihasilkan > cost of capital / WACC (8,60%) yang mana
menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan.
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) adalah metode perhitungan kelayakan proyek dengan
membandingkan antara jumlah present vaue nilai arus kas dengan nilai investasi dari proyek.
Berdasarkan hasil analisa menunjukkan bahwa B/C Ratio sebear 2,58. Nilai B/C Ratio yang
dihasilkan > 1 (satu) yang mana menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk
direalisasikan atau dapat diterima.
Payback Period (PP) merupakan penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup
initial investment dari suatu proyek dengan menggunakan cash flow yang dihasilkan dari
proyek tersebut. Berdasarkan hasil analisa menunjukkan payback period hanya 2,58 tahun.
Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI 68126, penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri) oleh Perseroan
adalah layak direalisasikan.

8.7.   ANALISIS SENSITIVITAS
Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari sutau keputusan atau proyek. Teknis ini
membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan atau
risiko investasi. Berdasarkan analisa sensitivitas, dapat diketahui variabel yang paling
berpengaruh atas kelayakan proyek atau dapat diketahui variabel yang paling sensitive atas
kelayakan proyek.
Variabel yang digunakan dalam analisa sensitivitas ini adalah tarif dan biaya investasi. Tarif
yang dimaksud adalah tarif sewa gudang sebesar Rp 300 juta per tahun sedangkan investasi
yang dimaksud adalah investasi atas terkait dengan gudang yang akan disewakan.
Berdasarkan hasil analisa, variabel tarif adalah variabel yang paling sensitive mempengaruhi
kelayakan proyek. Penurunan atau kenaikan dengan presentasi yang sama dengan variabel
investasi, menyebabkan penurunan IRR dan NPV yang jauh lebih besar.
                                         Tabel 8.16
                                     Analisa Sensitivitas

                Uraian                      Kenaikan         IRR              NPV
                                          (Penurunan)         (%)             (Rp)
                Normal                                              84,12%   234.722.851
                                                  -5,0%             45,42%   102.341.046
                Tarif                             -7,5%             23,39%    36.150.145
                                                 -10,0%             -7,53%   (30.040.754)
                                                   5,0%             76,75%   219.903.332
                Investasi                          7,5%             73,35%   212.493.572
                                                  10,0%             70,10%   205.083.812



                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 12
Page 98
       PROYEKSI KEUANGAN
DENGAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
     PT MANDOM INDONESIA Tbk
Page 99
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran : 1
Subyek   : Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

                                                                                                                                         (Rp)

                 DESCRIPTION                            2026                 2027                2028                2029                2030

Net Sales                                           2.343.000.000.000   2.577.300.000.000   2.835.030.000.000   3.118.533.000.000   3.430.386.300.000
     Net Domestic Sales                             1.549.000.000.000   1.703.900.000.000   1.874.290.000.000   2.061.719.000.000   2.267.890.900.000
     Net Export Sales                                 794.000.000.000     873.400.000.000     960.740.000.000   1.056.814.000.000   1.162.495.400.000
Cost of Goods Sold                                  1.725.340.000.000   1.901.774.600.000   2.091.952.060.000   2.301.147.266.000   2.531.261.992.600
     Domestic Cost of Goods Sold                    1.033.300.000.000   1.141.613.000.000   1.255.774.300.000   1.381.351.730.000   1.519.486.903.000
     Domestic Royalty                                  83.500.000.000      92.010.600.000     101.211.660.000     111.332.826.000     122.466.108.600
     Export Cost of Goods Sold                        576.040.000.000     633.215.000.000     696.536.500.000     766.190.150.000     842.809.165.000
     Export Royalty                                    32.500.000.000      34.936.000.000      38.429.600.000      42.272.560.000      46.499.816.000
Gross Profit                                          617.660.000.000     675.525.400.000     743.077.940.000     817.385.734.000     899.124.307.400
Selling,General and Administrative Expenses           594.000.000.000     614.983.320.900     633.655.311.948     652.955.635.802     672.907.054.838
     Selling & Marketing Expenses                     303.444.030.000     318.616.231.500     331.360.880.760     344.615.315.990     358.399.928.630
          Domestic Marketing Expenses                 287.364.030.000     301.732.231.500     313.801.520.760     326.353.581.590     339.407.724.854
              Selling Activity Expenses               131.892.900.000     138.487.545.000     144.027.046.800     149.788.128.672     155.779.653.819
                  Sales Promotion Activity             13.065.000.000      13.718.250.000      14.266.980.000      14.837.659.200      15.431.165.568
                  Sales Incentive                       8.465.000.000       8.888.250.000       9.243.780.000       9.613.531.200       9.998.072.448
                  Domestic Sales Support                3.298.000.000       3.462.900.000       3.601.416.000       3.745.472.640       3.895.291.546
                  BA Personnel                         70.853.300.000      74.395.965.000      77.371.803.600      80.466.675.744      83.685.342.774
                  SPG Personnel                        36.211.600.000      38.022.180.000      39.543.067.200      41.124.789.888      42.769.781.484
              Advertising Activity                     85.800.000.000      90.090.000.000      93.693.600.000      97.441.344.000     101.338.997.760
                  Media and Display                    85.800.000.000      90.090.000.000      93.693.600.000      97.441.344.000     101.338.997.760
              Research & Analysis Expenses             15.439.130.000      16.211.086.500      16.859.529.960      17.533.911.158      18.235.267.605
                  Market Analysis                       8.424.000.000       8.845.200.000       9.199.008.000       9.566.968.320       9.949.647.053
                  Consumer Analysis                     3.682.000.000       3.866.100.000       4.020.744.000       4.181.573.760       4.348.836.710
                  Registration & Development            3.333.130.000       3.499.786.500       3.639.777.960       3.785.369.078       3.936.783.842
              Selling Personnel Expenses               45.444.000.000      47.716.200.000      49.624.848.000      51.609.841.920      53.674.235.597
              Travelling Expenses                       6.956.000.000       7.303.800.000       7.595.952.000       7.899.790.080       8.215.781.683
                  BA Travelling                         1.020.000.000       1.071.000.000       1.113.840.000       1.158.393.600       1.204.729.344
                  SPG Travelling                        1.940.000.000       2.037.000.000       2.118.480.000       2.203.219.200       2.291.347.968
                  Sellling Travelling                   3.996.000.000       4.195.800.000       4.363.632.000       4.538.177.280       4.719.704.371
              Others Expenses                           1.832.000.000       1.923.600.000       2.000.544.000       2.080.565.760       2.163.788.390
                  Education - S                           720.000.000         756.000.000         786.240.000         817.689.600         850.397.184
                  Entertainment - S                       224.000.000         235.200.000         244.608.000         254.392.320         264.568.013
                  Sundry Expenses - S                     888.000.000         932.400.000         969.696.000       1.008.483.840       1.048.823.194
          Export Marketing Expenses                    16.080.000.000      16.884.000.000      17.559.360.000      18.261.734.400      18.992.203.776
              Export Selling Activity                               0                   0                   0                   0                   0
              Export Marketing Support                  1.089.000.000       1.143.450.000       1.189.188.000       1.236.755.520       1.286.225.741
              Export Transportation                    12.113.000.000      12.718.650.000      13.227.396.000      13.756.491.840      14.306.751.514
              Export Selling Personnel Expenses         2.535.000.000       2.661.750.000       2.768.220.000       2.878.948.800       2.994.106.752
              Export Travelling Expenses                  260.000.000         273.000.000         283.920.000         295.276.800         307.087.872
              Export Others Expenses                       83.000.000          87.150.000          90.636.000          94.261.440          98.031.898
     General Administrative Expenses                  290.555.970.000     296.367.089.400     302.294.431.188     308.340.319.812     314.507.126.208
          General Expenses                             46.360.500.000      47.287.710.000      48.233.464.200      49.198.133.484      50.182.096.154
              General Affair Expenses                  22.725.500.000      23.180.010.000      23.643.610.200      24.116.482.404      24.598.812.052
              Finance Expenses                            531.000.000         541.620.000         552.452.400         563.501.448         574.771.477
              Depreciation/Amortisation                13.170.000.000      13.433.400.000      13.702.068.000      13.976.109.360      14.255.631.547
              Computer Expenses                         9.934.000.000      10.132.680.000      10.335.333.600      10.542.040.272      10.752.881.077
          General Personnel Expenses                  125.656.100.000     128.169.222.000     130.732.606.440     133.347.258.569     136.014.203.740
          Travelling Expenses - R                       5.752.000.000       5.867.040.000       5.984.380.800       6.104.068.416       6.226.149.784
          Others Expenses - R                         112.787.370.000     115.043.117.400     117.343.979.748     119.690.859.343     122.084.676.530
              Education - R                               776.000.000         791.520.000         807.350.400         823.497.408         839.967.356
              Entertainment - R                           146.000.000         148.920.000         151.898.400         154.936.368         158.035.095
              Sundry Expenses - R                     111.865.370.000     114.102.677.400     116.384.730.948     118.712.425.567     121.086.674.078
Operating Income                                       23.660.000.000      60.542.079.100     109.422.628.052     164.430.098.198     226.217.252.562
Non-Operating Income/Expenses                          59.351.001.200      20.000.001.200      27.250.001.200      24.250.001.200      24.250.001.200
     Non-Operating Income                             387.250.001.200     387.250.001.200     387.250.001.200     387.250.001.200     387.250.001.200
          Interest income                              18.000.000.000      18.000.000.000      18.000.000.000      18.000.000.000      18.000.000.000
          Gain on foreign exchange - net              320.649.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000
          Gain on sale of property and equipment - net 39.351.000.000                   0                   0                   0                   0
          Other gains                                   9.250.001.200       9.250.001.200       9.250.001.200       9.250.001.200       9.250.001.200
     Non-Operating Expenses                           327.899.000.000     367.250.000.000     360.000.000.000     363.000.000.000     363.000.000.000
          Interest Expenses                                         0                   0                   0                   0                   0
          Loss on foreign exchange - net              320.649.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000     360.000.000.000
          Other loss                                    7.250.000.000       7.250.000.000                   0       3.000.000.000       3.000.000.000
Ordinary Income                                        83.011.001.200      80.542.080.300     136.672.629.252     188.680.099.398     250.467.253.762
Extraordinary Profit                                                0                   0                   0                   0                   0
Extraordinary Loss                                                  0                   0                   0                   0                   0
Income before taxes                                    83.011.001.200      80.542.080.300     136.672.629.252     188.680.099.398     250.467.253.762
Income Taxes Current Year                              18.000.000.000      17.719.257.666      30.067.978.435      41.509.621.868      55.102.795.828
Deferred Taxes Expenses                                             0                   0                   0                   0                   0

Net Income                                            65.011.001.200      62.822.822.634     106.604.650.817     147.170.477.530     195.364.457.934
Page 100
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                                        :2
Subyek                                          : Proyeksi Modal Kerja Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

                                                                                                                                                                      (Rp)
Uraian                                                                                       Proyeksi
                                                      2025                     2026                 2027                     2028                   2029                    2030
Trade accounts receivable                         414.718.539.117          387.964.612.401      381.179.598.794          394.620.916.771        387.921.709.322         387.907.408.296
Other accounts receivable                           4.364.440.687            5.000.000.000        5.000.000.000            5.000.000.000          5.000.000.000           5.000.000.000
Inventories - net                                 602.138.619.638          543.574.861.947      565.710.810.325          570.474.763.970        559.920.145.414         565.368.573.236
Trade accounts payable                            100.727.529.528          101.032.611.418      114.754.647.141          105.504.929.362        107.097.395.974         109.118.990.826
Other accounts payable to third parties            33.521.995.630           45.606.347.627       44.187.050.295           41.105.131.184         43.632.843.036          42.975.008.172
Working Capital                                   886.972.074.284          789.900.515.303      792.948.711.683          823.485.620.194        802.111.615.726         806.181.982.534
Net Working Capital                                                         97.071.558.981       (3.048.196.380)         (30.536.908.512)        21.374.004.468          (4.070.366.808)




PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                                            :3
Subyek                                              : Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

                                                                                                                                                                      (Rp)
                        DESCRIPTION                         2025                   2026                  2027                   2028                  2029                      2030

CASH FLOWS FROM OPERATING ACTIVITIES
Cash receipts from customers                           2.268.944.407.882      2.369.753.926.716    2.584.085.013.607      2.821.588.682.023     3.125.232.207.449       3.430.400.601.026
Cash received from (payments for):
  Interest income                                         21.583.549.353         18.000.000.000       18.000.000.000         18.000.000.000        18.000.000.000             18.000.000.000
  Claim for tax and its interest
  Suppliers                                           (1.262.907.583.637)    (1.201.065.981.452)   (1.292.039.220.277)    (1.427.022.682.079)   (1.535.992.297.489)     (1.689.321.645.658)
  Directors and employees                               (496.153.678.578)      (466.908.236.036)     (501.290.936.557)      (524.779.492.159)     (577.528.307.220)       (600.996.318.125)
  Royalty                                               (102.648.126.083)       (96.597.601.814)     (103.710.961.909)      (108.570.456.701)     (119.483.541.200)       (124.338.785.545)
  Selling expenses                                      (130.770.207.670)      (123.062.046.349)     (132.124.224.221)      (138.315.054.657)     (152.217.951.678)       (158.403.367.189)
  Income tax                                              (3.664.179.133)       (18.000.000.000)      (17.719.257.666)       (30.067.978.435)      (41.509.621.868)        (55.102.795.828)
  Manufacturing overhead, general
    and other expenses                                  (343.985.590.048)      (323.709.592.422)    (347.547.274.247)      (363.831.996.112)     (400.402.988.239)       (416.673.466.373)

Net Cash Provided by Operating Activities                (49.601.407.914)       158.410.468.644      207.653.138.731        247.001.021.880       316.097.499.755            403.564.222.308

CASH FLOWS FROM INVESTING ACTIVITIES
Proceeds from sale of property and equipment               1.377.297.293         39.351.000.000                  -                      -                     -                       -
Placement of time deposits                                (3.773.082.795)        (4.273.801.588)      (4.535.220.567)        (4.889.801.798)       (5.450.487.321)         (6.293.374.716)
Acquisitions of property, plant and equipment            (62.982.168.023)       (87.073.362.617)     (97.326.875.944)      (104.360.153.215)     (111.523.963.344)       (120.036.255.380)
Withdrawal of time deposits                                3.398.723.627         39.588.377.814        5.699.916.827         12.980.034.306        10.263.330.588          10.573.247.012
Acquisitions of computer software                         (3.963.420.420)        (4.000.000.000)      (4.000.000.000)        (4.000.000.000)       (4.000.000.000)         (4.000.000.000)

Net Cash Used in
 Investing Activities                                    (65.942.650.318)       (16.407.786.390)    (100.162.179.683)      (100.269.920.707)     (110.711.120.077)       (119.756.383.084)

CASH FLOWS FROM FINANCING ACTIVITIES
Issuance of share
Payment of lease liabilities                              (4.302.762.000)        (4.302.762.000)      (4.302.762.000)        (4.302.762.000)       (4.302.762.000)            (4.302.762.000)
Payment of cash dividends                                            -          (32.505.500.600)     (31.411.411.317)       (53.302.325.408)      (73.585.238.765)           (97.682.228.967)

Net Cash Used in
 Financing Activities                                     (4.302.762.000)       (36.808.262.600)     (35.714.173.317)       (57.605.087.408)      (77.888.000.765)       (101.984.990.967)

NET INCREASE IN CASH AND
 CASH EQUIVALENTS                                       (119.846.820.232)       105.194.419.654       71.776.785.730         89.126.013.764       127.498.378.913            181.822.848.257

CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
 BEGINNING OF YEAR                                       655.446.668.429        540.111.589.863      650.243.904.185        727.158.756.387       821.747.300.376            954.985.598.753

Effect of foreign exchange rate changes
  on cash and cash equivalents                             4.511.741.666          4.937.894.668        5.138.066.472          5.462.530.224         5.739.919.464              6.272.890.436
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
 OF YEAR                                                 540.111.589.863        650.243.904.185      727.158.756.387        821.747.300.376       954.985.598.753       1.143.081.337.446
Page 101
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                                          :4
Subyek                                            : Proyeksi Neraca Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

                                                                                                                                      (Rp)

                 DESCRIPTION                            2026                 2027                 2028                 2029                      2030
ASSETS

CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                           650.243.904.185      727.158.756.387      821.747.300.376      954.985.598.753     1.143.081.337.446
Other financial assets - current                     35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000        35.000.000.000
Trade accounts receivable                           387.964.612.401      381.179.598.794      394.620.916.771      387.921.709.322       387.907.408.296
Other accounts receivable                             5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Inventories - net                                   543.574.861.947      565.710.810.325      570.474.763.970      559.920.145.414       565.368.573.236
Advances                                              5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Prepaid expenses                                      7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000         7.500.000.000
Prepaid taxes                                        10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000        10.000.000.000
Non-current assets held-for-sale                                -                    -                    -                    -                     -

Total Current Assets                              1.644.283.378.533     1.736.549.165.506    1.849.342.981.116    1.965.327.453.489    2.158.857.318.978

NON-CURRENT ASSETS
Other accounts receivable                             2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000             2.000.000.000
Prepaid expenses                                                -                    -                    -                    -                         -
Other financial assets - non current                            -                    -                    -                    -                         -
Estimated claim for tax refund                                  -                    -                    -                    -                         -
Deferred tax assets - net                            70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429            70.814.786.429
Property, plant and equipment - net                 596.040.446.728      602.000.851.195      608.020.859.707      620.181.276.901           638.786.715.208
Computer software - net                               7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000             7.000.000.000
Right-of-use assets                                   6.032.532.190        2.805.231.533                  -         16.000.000.000            12.500.000.000
Other non-current assets                              7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000             7.000.000.000

Total Non-Current Assets                            688.887.765.347      691.620.869.157      694.835.646.136      722.996.063.330           738.101.501.637

TOTAL ASSETS                                      2.333.171.143.880     2.428.170.034.663    2.544.178.627.252    2.688.323.516.819    2.896.958.820.615


LIABILITIES AND EQUITY

CURRENT LIABILITIES
Trade accounts payable                              101.032.611.418      114.754.647.141      105.504.929.362      107.097.395.974           109.118.990.826
Other accounts payable to third parties              45.606.347.627       44.187.050.295       41.105.131.184       43.632.843.036            42.975.008.172
Advance received                                      5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000             5.000.000.000
Taxes payable                                         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000             5.000.000.000
Accrued expenses                                     81.785.781.009       94.946.301.944      109.767.550.631       95.499.877.861           100.071.243.479
Employee benefits obligation - current                4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000             4.500.000.000
Current maturity of lease liabilities                 3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000             3.500.000.000

Total Current Liabilities                           246.424.740.054      271.887.999.380      274.377.611.178      264.230.116.870           270.165.242.476

NON-CURRENT LIABILITIES
Employee benefits obligation                        223.646.221.403      230.355.608.045      237.266.276.286      244.384.264.575           251.715.792.512
Lease liabilities - net of current maturity           4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000             4.500.000.000
Customer deposits                                     3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000             3.500.000.000

Total Non-current Liabilities                       231.646.221.403      238.355.608.045      245.266.276.286      252.384.264.575           259.715.792.512

TOTAL LIABILITIES                                   478.070.961.457      510.243.607.424      519.643.887.464      516.614.381.445           529.881.034.988

EQUITY
Capital stock - Rp 250 par value                    100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500           100.533.333.500
Additional paid-in capital                          188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786           188.300.825.786
Listed equity securities revaluation                     48.888.300           52.310.481           55.972.215           59.890.270                64.082.589
Retained earning
  Appropriated                                       20.106.666.700        20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700
  Unappropriated                                  1.546.112.505.249     1.608.935.327.883    1.715.539.978.699    1.862.710.456.230    2.058.074.914.164

Total equity attributable to owners of the Company
                                               1.855.102.219.535        1.917.928.464.350    2.024.536.776.900    2.171.711.172.485    2.367.079.822.739

Non-controlling interests                     -           2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -          2.037.112 -               2.037.112

Total Equity                                      1.855.100.182.423     1.917.926.427.238    2.024.534.739.788    2.171.709.135.373    2.367.077.785.627

TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                      2.333.171.143.879     2.428.170.034.662    2.544.178.627.252    2.688.323.516.818    2.896.958.820.614
Page 102
            PROYEKSI KEUANGAN
KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
         PT MANDOM INDONESIA Tbk
Page 103
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                  :1
Subyek                    : Analisa Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                               (Rp)
                                                              P    r o    y e k        s i
                               2026                2027                  2028                   2029                  2030
After
Laba Bersih                65.011.001.200      62.822.822.634      106.604.650.817       147.170.477.530         195.364.457.934
Penyusutan & Amortisasi    13.170.000.000      13.433.400.000       13.702.068.000        13.976.109.360          14.255.631.547
(1-tax)*Bunga                           -                   -                    -                     -                       -
Net Working Capital        97.071.558.981      (3.048.196.380)     (30.536.908.512)       21.374.004.468          (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional    175.252.560.181      73.208.026.254       89.769.810.305       182.520.591.358         205.549.722.674

Kegiatan Investasi         (16.407.786.390) (100.162.179.683) (100.269.920.707) (110.711.120.077)               (119.756.383.084)

Terminal Value                            -                   -                    -                      -      997.568.951.957

Free Cash Flow            158.844.773.791      (26.954.153.429)    (10.500.110.402)          71.809.471.281    1.083.362.291.546

Before
Laba Bersih                64.970.175.536      62.775.056.607      106.556.884.790       147.122.711.503         195.316.691.907
Penyusutan & Amortisasi    13.170.000.000      13.433.400.000       13.702.068.000        13.976.109.360          14.255.631.547
(1-tax)*Bunga                           -                   -                    -                     -                       -
Net Working Capital        97.071.558.981      (3.048.196.380)     (30.536.908.512)       21.374.004.468          (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional    175.211.734.517      73.160.260.227       89.722.044.278       182.472.825.331         205.501.956.647

Kegiatan Investasi         (16.308.175.320) (100.145.278.152) (100.251.562.878) (110.691.301.460)               (119.734.891.170)

Terminal Value                            -                   -                    -                      -      997.263.447.595

Free Cash Flow            158.903.559.197      (26.985.017.925)    (10.529.518.600)          71.781.523.872    1.083.030.513.071

Incremental

Penerimaan Operasional         40.825.664          47.766.027             47.766.027            47.766.027             47.766.027

Kegiatan Investasi             (99.611.070)        (16.901.532)          (18.357.829)           (19.818.618)          (21.491.914)

Terminal Value                                                                                                        305.504.362

Free Cash Flow                 (58.785.406)        30.864.495             29.408.198            27.947.409            331.778.475

Diskon Rate                         8,60%
IRR                                84,12%
NPV                           234.722.851
B/C Ratio                            2,58
Payback Period (tahun)               2,58

Analisa Sensitivitas
Uraian                        Kenaikan              IRR                   NPV
                            (Penurunan)             (%)                   (Rp)
Normal                                                    84,12%         234.722.851
                                       -5,0%              84,12%         234.722.851
Tarif                                  -7,5%              84,12%         234.722.851
                                      -10,0%              84,12%         234.722.851
                                        5,0%              76,75%         219.903.332
Investasi                               7,5%              73,35%         212.493.572
                                       10,0%              70,10%         205.083.812

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.98 MB
Published10 Apr 2026
Pages103
Characters285,868
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 70 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org PT. Mandom Indonesia · Direktur p.1 ×413
linked org Mandom Corporation p.17 ×25
linked org PT. Asia Jaya Paramita p.25
linked person Shinichiro Koshiba · Presiden Komisaris p.26 ×2
linked person Lie Harjono · Komisaris p.26 ×2
linked person Heri Martono · Komisaris Independen p.26
linked person Bowo Priyatno · Komisaris Independen p.26
linked person Tiurma Rondang Sari · Komisaris Independen p.26
linked person Koichi Watanabe · Presiden Direktur / CEO p.26 ×2
linked person Teiji Izawa · Direktur / SEO p.26 ×2
linked person Toru Onishi · Direktur / SEO p.26 ×2
linked person Sanyata Adi Saputra · Direktur p.26 ×2
linked person Hirokazu Kagami · Wakil Direktur / SEO p.26 ×3
linked org Negara Maju p.39 ×2
linked org Bekasi Fajar Industrial Estate p.83 ×3
linked org Argo Manunggal p.83
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.4 ×15
possible org Bursa Efek Indonesia p.6 ×5
possible org Negara Republik Indonesia p.24
unresolved org PT. Pandawa Bali Heritage p.1
unresolved org KJPP Munir p.3 ×2
unresolved org Heru & Rekan p.3 ×2
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.3 ×2
unresolved person Hasan Munir H p.3 ×2
unresolved person MBA. p.3 ×2
unresolved — STTD p.3 ×2
unresolved — Kualifikasi p.3 ×2
unresolved — Faksmili p.3 ×3
unresolved org Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk p.3
unresolved org Bank Indonesia p.5 ×24
unresolved org Pusat Statistik p.6
unresolved org PT The City Factory. p.17
unresolved org PT Tancho Indonesia p.17 ×3
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. J.A. p.17
unresolved org KJPP Munir Wisnu Heru & Rekan p.18
unresolved org KJPP Munir Wisnu Heru p.18
unresolved person Abdul Latief p.24
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.24
unresolved person Ambiati p.24 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.24
unresolved person Akta Notaris Ambiati p.25
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.25
unresolved org PT. Asia Paramita Indah p.25
unresolved person Masanori Sawada · Komisaris p.26
unresolved person Budi Sudarta · Wakil Direktur / SEO p.26
unresolved person Hideki Nakamura Sumber · Wakil Direktur / SEO p.26 ×2
unresolved person Lukman Kirana p.28
unresolved person Amrul Partomuan p.28
unresolved org Menteri Kehakiman p.28 ×7
unresolved org PT Tancho p.28
unresolved org Administrasi Hukum Umum Indonesia Tbk p.28
unresolved org PT Mandom p.29 ×2
unresolved org Indonesia Tbk p.29
unresolved org Kota Bekasi Tbk p.29
unresolved org Menteri Investasi dan Hilirisasi p.29
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal. p.29
unresolved org Direktorat Jenderal Pajak. p.29
unresolved org Bank Indonesia Divergensi p.39
unresolved org Bank Indonesia. Defisit p.41
unresolved org Logistik Nasional p.65
unresolved org Departemen Produksi Factory p.78 ×2
unresolved org PT Indonesia Epson Industry p.78
unresolved org PT Nipro Indonesia Jaya. Setelah p.78
unresolved org PT Sugity Creatives p.82
unresolved org PT Sankei Gohsyu Industries Gambar p.82
unresolved org PT Sankei Gohsyu Industries Bangunan Pabrik p.82
unresolved org PT Sugity Creatives Studi Kelayakan Penambahan KLBI p.82
unresolved org PT. Megalopolis Manunggal Industrial Development p.83 ×2
unresolved org PT. MMID p.83
unresolved org Marubeni Corporation p.83 ×2

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result