Skip to content
Back to announcement

20260922_PART_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32150297_lamp1.pdf

Other Text extracted PART

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 19

Page 1

          
Page 2
         TANGGAPAN / JAWABAN ATAS PERMINTAAN PENJELASAN BURSA

           Terkait Laporan Keuangan per 30 Juni 2026 dan Realisasi Proyeksi
                             PT Cipta Perdana Lancar Tbk

1. Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 5 tentang Piutang Usaha, saldo
   Piutang Usaha Pihak Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp44,97 miliar atau meningkat
   sebesar Rp9,36 miliar (26,30%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar
   Rp35,61 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Faktor utama yang menyebabkan peningkatan saldo piutang usaha selama semester I
     2026.
       Jawab:
       Peningkatan saldo piutang usaha terutama sejalan dengan meningkatnya aktivitas
       penjualan Perseroan selama semester I 2026. Penjualan Perseroan pada periode
       tersebut tercatat sebesar Rp177,64 miliar, meningkat sebesar Rp35,45 miliar atau
       24,93% dibandingkan sebesar Rp142,19 miliar pada periode yang sama tahun
       sebelumnya. Seiring dengan peningkatan aktivitas penjualan tersebut, saldo tagihan
       kepada pelanggan pada tanggal 30 Juni 2026 turut mengalami peningkatan, dimana
       sebagian tagihan masih dalam proses pembayaran sesuai dengan termin pembayaran
       yang berlaku. Kondisi tersebut menyebabkan saldo piutang usaha per 30 Juni 2026
       meningkat dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025.
   b. Rincian pelanggan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan saldo
     piutang usaha.
       Jawab:
      Berdasarkan perbandingan saldo piutang usaha per 30 Juni 2026 dengan posisi per 31
      Desember 2025, peningkatan saldo piutang terutama dikontribusikan oleh beberapa
      pelanggan Perseroan sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
           Pelanggan                   31 Desember 2025      30 Juni 2026         Peningkatan

           PT Chandra Nugerahcipta     Rp3.755.327.642       Rp7.037.600.939      Rp3.282.273.297

           PT Kharisma Zahra Mandiri   -                     Rp3.019.200.000      Rp3.019.200.000

           PT Anugerah Steel Mandiri   Rp877.265.526         Rp2.288.387.990      Rp1.411.122.464

           PT Yasufuku Indonesia       Rp1.523.840.656       Rp2.173.763.128      Rp649.922.472

           PT Chemco Harapan
                                       Rp3.269.885.619       Rp3.567.045.539      Rp297.159.920
           Nusantara




    c. Kebijakan kredit yang diberikan kepada pelanggan utama Perseroan.
      Jawab:
      Perseroan memberikan fasilitas pembayaran secara kredit kepada pelanggan dengan
      mempertimbangkan profil pelanggan, riwayat transaksi dan pembayaran, serta
Page 3
   hubungan usaha yang telah berjalan. Untuk pelanggan utama, Perseroan pada
   umumnya menerapkan Term of Payment (TOP) berkisar antara 30 - 60 hari, sesuai
   dengan kesepakatan dan ketentuan pembayaran masing-masing pelanggan. Perseroan
   juga melakukan pemantauan secara berkala atas saldo dan umur piutang serta
   melakukan penagihan sesuai dengan jatuh tempo sebagai bagian dari pengelolaan
   risiko kredit.
d. Realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta nilainya.
    Jawab:
   Setelah tanggal 30 Juni 2026, Perseroan telah merealisasikan penerimaan atas piutang
   usaha dari sejumlah pelanggan secara bertahap sesuai dengan termin dan jatuh tempo
   pembayaran yang telah disepakati. Sampai dengan 31 Agustus 2026, realisasi
   penerimaan piutang usaha tercatat sebesar Rp72.696.569.820, yang terdiri atas
   penerimaan pada Juli 2026 sebesar Rp33.620.572.276 dan Agustus 2026 sebesar
   Rp39.075.997.544. Realisasi tersebut mencerminkan bahwa proses penagihan dan
   penyelesaian piutang Perseroan tetap berjalan dengan baik, sementara atas saldo
   piutang yang masih outstanding, Perseroan secara konsisten melakukan pemantauan
   dan penagihan sesuai dengan ketentuan pembayaran masing-masing pelanggan.


e. Latar belakang peningkatan piutang yang telah jatuh tempo 1-60 hari menjadi Rp29,68
  miliar per 30 Juni 2026.
    Jawab:
   Peningkatan piutang yang telah jatuh tempo 1–60 hari terutama disebabkan oleh
   adanya perbedaan antara tanggal jatuh tempo tagihan dengan realisasi pembayaran
   dari pelanggan, sehingga pada tanggal 30 Juni 2026 sebagian tagihan masih tercatat
   dalam kelompok umur tersebut. Sampai dengan tanggal tanggapan ini, seluruh saldo
   piutang dalam kelompok umur 1–60 hari tersebut telah diterima pembayarannya oleh
   Perseroan.
f. Dasar keyakinan manajemen bahwa saldo piutang usaha dapat tertagih seluruhnya selain
   yang telah dicadangkan.
    Jawab:
   Keyakinan manajemen atas kolektibilitas piutang usaha didasarkan pada hasil evaluasi
   terhadap umur piutang, riwayat pembayaran pelanggan, serta realisasi penerimaan
   piutang setelah tanggal pelaporan. Selain itu, Perseroan melakukan pemantauan dan
   penagihan secara berkala atas saldo piutang yang masih terutang. Berdasarkan hasil
   evaluasi tersebut dan perkembangan pembayaran pelanggan sampai dengan tanggal
   tanggapan ini, manajemen berkeyakinan bahwa saldo piutang usaha selain yang telah
   dicadangkan dapat tertagih.
g. Atas saldo piutang lebih dari 90 hari yang telah dicadangkan sebesar Rp2,76 miliar, agar
  dijelaskan latar belakang dan pihak yang menunggak.
Page 4
      Jawab:
      Saldo piutang dengan umur lebih dari 90 hari sebesar Rp2.769.757.935 seluruhnya
      merupakan piutang kepada PT Kurnia Karya Perdana Lancar yang berasal dari
      transaksi penjualan pada periode sebelumnya dan belum diselesaikan pembayarannya
      sampai dengan tanggal 30 Juni 2026. Dengan mempertimbangkan umur piutang serta
      hasil evaluasi manajemen atas kolektibilitasnya, Perseroan telah membentuk cadangan
      atas seluruh saldo piutang tersebut dan tetap melakukan upaya penyelesaian sesuai
      dengan kebijakan Perseroan.


2. Berdasarkan CALK nomor 6 tentang Persediaan, saldo Persediaan per 30 Juni 2026 sebesar
   Rp49,98 miliar atau menurun sebesar Rp12,24 miliar (19,68%) dibandingkan posisi per 31
   Desember 2025 sebesar Rp62,22 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Faktor utama yang menyebabkan penurunan saldo persediaan selama semester I 2026.
       Jawab:
      Penurunan saldo persediaan Perseroan selama semester I 2026 terutama dipengaruhi
      oleh penurunan pada kelompok persediaan barang jadi. Saldo persediaan barang jadi
      tercatat menurun dari sebesar Rp42,16 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp25,38
      miliar per 30 Juni 2026 atau turun sebesar Rp16,79 miliar. Pada periode yang sama,
      persediaan bahan baku meningkat dari Rp12,04 miliar menjadi Rp14,74 miliar dan
      barang dalam proses meningkat dari Rp8,01 miliar menjadi Rp9,87 miliar. Dengan
      demikian, peningkatan pada bahan baku dan barang dalam proses belum mengimbangi
      penurunan pada persediaan barang jadi, sehingga secara keseluruhan saldo persediaan
      Perseroan menurun sebesar Rp12,24 miliar atau 19,68% menjadi Rp49,98 miliar per 30
      Juni 2026.
   b. Latar belakang penurunan persediaan barang jadi dari Rp42,16 miliar menjadi Rp25,38
     miliar.
       Jawab:
      Penurunan saldo persediaan barang jadi selama semester I 2026 terutama disebabkan
      oleh terealisasinya penjualan Gas Oil Water Fryer, yang pada periode sebelumnya
      tercatat sebagai bagian dari persediaan barang jadi Perseroan. Seiring dengan
      terealisasinya penjualan tersebut, nilai Gas Oil Water Fryer yang sebelumnya masih
      tercatat sebagai persediaan telah berkurang dari saldo persediaan barang jadi
      Perseroan. Hal tersebut menjadi faktor utama yang menyebabkan saldo persediaan
      barang jadi menurun sebesar Rp16,79 miliar, dari Rp42,16 miliar per 31 Desember 2025
      menjadi Rp25,38 miliar per 30 Juni 2026.
   c. Hubungan antara penurunan persediaan dengan peningkatan penjualan Perseroan
      selama semester I 2026.
      Jawab:
      Penurunan persediaan selama semester I 2026 memiliki hubungan dengan peningkatan
      penjualan Perseroan, terutama karena sebagian persediaan barang jadi yang tersedia
Page 5
   pada awal periode telah terealisasi melalui penjualan kepada pelanggan selama
   semester I 2026. Dengan meningkatnya realisasi penjualan tersebut, saldo barang jadi
   yang masih tersedia sebagai persediaan pada akhir periode menjadi lebih rendah.
   Dengan demikian, penurunan persediaan barang jadi merupakan bagian dari perputaran
   persediaan dalam mendukung aktivitas penjualan Perseroan selama semester I 2026.
d. Kebijakan manajemen dalam menjaga kecukupan persediaan untuk memenuhi
   permintaan pelanggan.
   Jawab:
   Perseroan menjaga kecukupan persediaan dengan melakukan pemantauan secara
   berkala terhadap tingkat persediaan serta menyesuaikan kebutuhan pengadaan bahan
   baku dan proses produksi dengan kebutuhan operasional dan permintaan pelanggan.
   Pengelolaan persediaan dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan
   baku, kebutuhan produksi, serta rencana pemenuhan pesanan pelanggan, sehingga
   Perseroan dapat menjaga kesinambungan proses produksi dan ketersediaan barang
   jadi. Dengan kebijakan tersebut, Perseroan berupaya menjaga tingkat persediaan pada
   jumlah yang memadai untuk mendukung kebutuhan penjualan, tanpa melakukan
   penumpukan persediaan secara berlebihan.
e. Rincian persediaan slow moving, usang, atau yang mengalami penurunan nilai apabila
   ada.
   Jawab:
   Berdasarkan hasil penelaahan manajemen atas kondisi persediaan per 30 Juni 2026,
   tidak terdapat persediaan yang teridentifikasi rusak atau usang maupun yang
   memerlukan pembentukan cadangan penurunan nilai. Perseroan melakukan
   penelaahan terhadap kondisi persediaan untuk memastikan bahwa persediaan yang
   tercatat masih dalam kondisi yang dapat digunakan dalam kegiatan operasional maupun
   direalisasikan melalui penjualan. Oleh karena itu, per 30 Juni 2026 Perseroan tidak
   memiliki rincian persediaan rusak atau usang yang memerlukan pencadangan
   penurunan nilai.
f. Tingkat perputaran persediaan (inventory turnover) dibandingkan periode sebelumnya.
     Jawab:
   Tingkat perputaran persediaan Perseroan selama semester I 2026 tercatat sebesar 2,63
   kali, dibandingkan sebesar 3,84 kali pada semester I 2025. Penurunan tingkat
   perputaran tersebut terutama dipengaruhi oleh rata-rata saldo persediaan semester I
   2026 yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
g. Dasar pertimbangan manajemen tidak membentuk cadangan penurunan nilai persediaan.
    Jawab:
   Manajemen tidak membentuk cadangan penurunan nilai persediaan karena
   berdasarkan evaluasi atas kondisi persediaan per 30 Juni 2026, tidak terdapat
   persediaan yang rusak atau usang yang memerlukan pembentukan cadangan
   penurunan nilai.
Page 6
3. Berdasarkan CALK nomor 7 tentang Uang Muka, saldo Uang Muka per 30 Juni 2026 sebesar
   Rp36,86 miliar atau meningkat sebesar Rp34,02 miliar (1.198,07%) dibandingkan posisi per
   31 Desember 2025 sebesar Rp2,84 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Latar belakang peningkatan signifikan saldo uang muka selama semester I 2026.
       Jawab:
       Peningkatan saldo uang muka selama semester I 2026 terutama disebabkan oleh
       pembayaran uang muka atas pengadaan mesin sebesar Rp18,57 miliar dan pembelian
       material sebesar Rp18,29 miliar yang sampai dengan 30 Juni 2026 masih dalam proses
       pengadaan, sehingga masih tercatat sebagai uang muka Perseroan.
   b. Rincian pihak penerima uang muka pembelian mesin sebesar Rp18,57 miliar dan uang
     muka pembelian material sebesar Rp18,29 miliar.
       Jawab:
       Uang muka pembelian mesin sebesar Rp18,57 miliar merupakan pembayaran yang
       dilakukan Perseroan kepada PT Gemilang Karya Metal Abadi dan ACL Sheet Indonesia
       dalam rangka pengadaan mesin dan peralatan produksi. Pengadaan tersebut dilakukan
       sehubungan dengan adanya Purchase Order (PO) penjualan yang diterima Perseroan
       untuk pekerjaan pembuatan mesin pengolahan limbah dan peralatan pertanian,
       sehingga diperlukan kesiapan mesin dan peralatan pendukung untuk memenuhi
       kebutuhan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan jadwal yang telah disepakati
       dengan pelanggan. Sementara itu, uang muka pembelian material sebesar Rp18,29
       miliar merupakan pembayaran kepada pemasok luar negeri yang berlokasi di Jepang
       dan Tiongkok (China) untuk pengadaan material impor yang diperlukan dalam
       mendukung pelaksanaan PO dan kebutuhan produksi Perseroan. Pembayaran uang
       muka tersebut merupakan bagian dari proses pengadaan yang dilakukan secara
       terencana dengan mempertimbangkan kebutuhan produksi, spesifikasi teknis, serta
       jadwal penyelesaian pesanan pelanggan.
   c. Nature transaksi yang mendasari pembayaran uang muka tersebut.
       Jawab:
       Pembayaran uang muka tersebut berkaitan dengan transaksi pengadaan mesin yang
       akan digunakan untuk mendukung kegiatan produksi Perseroan serta pembelian
       material yang akan digunakan dalam kegiatan operasional dan proses produksi
       Perseroan.
   d. Jadwal realisasi uang muka menjadi aset tetap dan/atau persediaan.
       Jawab:
       Uang muka atas pembelian mesin dan material akan direalisasikan menjadi aset tetap
       dan persediaan setelah proses pengadaan selesai dan barang diterima oleh Perseroan.
       Perseroan menargetkan seluruh proses pengadaan tersebut dapat diselesaikan paling
       lambat sampai dengan akhir tahun 2026.
Page 7
   e. Status penyelesaian pengadaan mesin dan material sampai dengan tanggal
      penyampaian penjelasan ini.
      Jawab:
       Sampai dengan tanggal penyampaian penjelasan ini, proses pengadaan mesin dan
       material Perseroan masih berjalan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan
       operasional dan rencana pengadaan yang telah ditetapkan. Perseroan senantiasa
       melakukan pemantauan terhadap proses pemesanan, penerimaan, serta penyelesaian
       pengadaan guna memastikan ketersediaan mesin dan material dapat mendukung
       kebutuhan produksi dan kegiatan operasional Perseroan secara berkesinambungan.
   f. Alasan manajemen melakukan pembayaran uang muka dalam jumlah signifikan pada
      semester I 2026.
       Jawab:
       Pembayaran uang muka dalam jumlah signifikan pada semester I 2026 dilakukan
       sehubungan dengan adanya PO dari pelanggan, yang memerlukan pengadaan mesin
       dan material untuk mendukung proses produksi dan pemenuhan pesanan tersebut.
       Pembayaran uang muka dilakukan sesuai dengan kebutuhan pengadaan serta
       ketentuan pembayaran yang disepakati dengan masing-masing pemasok.


4. Berdasarkan CALK nomor 8 tentang Aset Tetap, saldo Aset Tetap Bersih per 30 Juni 2026
   sebesar Rp257,12 miliar atau meningkat sebesar Rp38,13 miliar (17,42%) dibandingkan
   posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp218,98 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Latar belakang penambahan aset tetap selama semester I 2026 sebesar Rp51,59 miliar.
       Jawab:
       Penambahan aset tetap selama semester I 2026 terutama berasal dari pengadaan
       mesin untuk mendukung peningkatan fasilitas produksi Perseroan. Pengadaan tersebut
       didukung oleh penambahan fasilitas pembiayaan dari perbankan yang digunakan
       Perseroan untuk membiayai investasi mesin sesuai dengan kebutuhan pengembangan
       kegiatan operasional dan produksi.
   b. Rincian penambahan mesin sebesar Rp51,31 miliar beserta tujuan penggunaannya.
       Jawab:
       Penambahan mesin sebesar Rp51,31 miliar terdiri dari pengadaan dies GKMA sebesar
       Rp28,16 miliar, Yushida Straight Side Double Crank Press Machine 630T sebesar
       Rp21,50 miliar, serta berbagai mesin dan peralatan produksi lainnya sebesar Rp1,65
       miliar, antara lain Uncoiler Straightener, NC Roll Feeder, C-Frame Precision Power
       Press Machine, mesin high speed, dan mesin pendukung lainnya. Pengadaan dies
       digunakan sebagai tooling dalam proses pembentukan komponen sesuai spesifikasi
       produk pelanggan, sedangkan mesin press dan mesin pendukung digunakan untuk
       proses stamping serta penyiapan material sebelum proses produksi. Secara
       keseluruhan, penambahan mesin tersebut bertujuan untuk menambah fasilitas produksi
Page 8
      Perseroan dalam mendukung produksi komponen otomotif serta memenuhi kebutuhan
      dan pesanan pelanggan.
   c. Dampak investasi mesin tersebut terhadap kapasitas dan target produksi Perseroan.
       Jawab:
      Investasi mesin tersebut berdampak pada peningkatan kapasitas dan kemampuan
      produksi Perseroan, terutama untuk mengakomodasi tambahan volume produksi dari
      pesanan pelanggan baru maupun kebutuhan pelanggan eksisting. Dengan
      bertambahnya fasilitas produksi, Perseroan memiliki kapasitas yang lebih memadai
      untuk memenuhi peningkatan kebutuhan produksi dan mendukung pencapaian target
      produksi sesuai dengan pesanan yang diterima.
   d. Tingkat utilisasi mesin yang telah diperoleh sampai dengan tanggal penyampaian
      penjelasan ini.
      Jawab:
      Sampai dengan tanggal penyampaian penjelasan ini, mesin yang telah diperoleh telah
      digunakan dalam kegiatan produksi Perseroan dan pemanfaatannya disesuaikan
      dengan kebutuhan serta jadwal produksi untuk memenuhi pesanan pelanggan. Dengan
      demikian, penambahan mesin tersebut telah mendukung kegiatan produksi Perseroan
      sesuai dengan kebutuhan operasional yang direncanakan.
   e. Proyeksi kontribusi investasi aset tetap terhadap pendapatan dan laba Perseroan ke
     depan.
       Jawab:
      Investasi aset tetap tersebut diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap
      pendapatan dan laba Perseroan melalui peningkatan kapasitas produksi untuk
      mendukung pemenuhan pesanan pelanggan baru maupun pelanggan eksisting. Seiring
      dengan optimalisasi penggunaan mesin dan peningkatan volume produksi, investasi
      tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan penjualan serta kinerja Perseroan
      secara berkelanjutan.


5. Berdasarkan CALK nomor 11 tentang Utang Usaha Pihak Ketiga, saldo Utang Usaha Pihak
   Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp12,25 miliar atau menurun sebesar Rp2,39 miliar
   (16,35%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp14,65 miliar. Atas hal
   tersebut, agar dijelaskan:
   a. Faktor utama yang menyebabkan penurunan saldo utang usaha selama semester I 2026.
       Jawab:
      Penurunan saldo utang usaha selama semester I 2026 terutama dipengaruhi oleh
      pembayaran kewajiban kepada pemasok, yang antara lain didukung oleh dana yang
      diperoleh Perseroan dari hasil pelaksanaan Waran Seri I. Dana tersebut digunakan
      untuk pembayaran kepada pemasok sesuai dengan kebutuhan operasional Perseroan,
      sehingga saldo utang usaha per 30 Juni 2026 menurun dibandingkan dengan posisi per
      31 Desember 2025.
Page 9
   b. Kebijakan pembayaran kepada pemasok yang diterapkan Perseroan.
       Jawab:
      Perseroan melakukan pembayaran kepada pemasok sesuai dengan termin dan jatuh
      tempo pembayaran yang telah disepakati dengan masing-masing pemasok.
      Pelaksanaan pembayaran dilakukan dengan mempertimbangkan jadwal pembayaran
      serta kebutuhan operasional Perseroan untuk menjaga kelancaran dan kesinambungan
      pasokan bahan baku.
   c. Alasan penurunan utang usaha di tengah peningkatan aktivitas pembelian bahan baku
      dan kenaikan penjualan.
       Jawab:
      Penurunan utang usaha di tengah peningkatan aktivitas pembelian bahan baku dan
      penjualan terutama disebabkan oleh pembayaran kepada pemasok selama semester I
      2026 yang lebih besar dibandingkan dengan saldo kewajiban yang masih terutang pada
      akhir periode. Pembayaran tersebut antara lain didukung oleh dana hasil pelaksanaan
      Waran Seri I, sehingga peningkatan aktivitas pembelian tidak menyebabkan
      peningkatan saldo utang usaha per 30 Juni 2026.
   d. Apakah terdapat perubahan syarat pembayaran dari pemasok utama selama periode
     berjalan? Jelaskan!
       Jawab:
      Selama semester I 2026 tidak terdapat perubahan signifikan atas syarat pembayaran
      dari pemasok utama. Perseroan tetap melakukan pembayaran sesuai dengan termin
      dan ketentuan pembayaran yang telah disepakati dengan masing-masing pemasok.


6. Berdasarkan CALK nomor 12 tentang Pinjaman Bank, saldo Pinjaman Bank Jangka Pendek
   per 30 Juni 2026 sebesar Rp6,91 miliar atau meningkat sebesar Rp4,59 miliar (197,19%)
   dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp2,33 miliar. Atas hal tersebut, agar
   dijelaskan:
   a. Latar belakang peningkatan penggunaan fasilitas kredit lokal BCA selama semester I
     2026.
       Jawab:
      Peningkatan penggunaan fasilitas Kredit Lokal BCA selama semester I 2026 terutama
      dilakukan untuk mendukung kebutuhan modal kerja Perseroan seiring dengan
      meningkatnya aktivitas operasional dan kebutuhan produksi. Fasilitas tersebut
      digunakan sebagai sumber pendanaan modal kerja untuk menjaga kelancaran kegiatan
      operasional Perseroan.
   b. Penggunaan dana hasil penarikan fasilitas pinjaman tersebut.
Page 10
      Jawab:
      Dana hasil penarikan fasilitas Kredit Lokal BCA digunakan untuk memenuhi kebutuhan
      modal kerja Perseroan, terutama untuk mendukung pembelian bahan baku serta
      kebutuhan operasional yang berkaitan dengan kegiatan produksi Perseroan.
   c. Rencana pelunasan fasilitas kredit lokal dimaksud.
       Jawab:
      Perseroan merencanakan pelunasan fasilitas Kredit Lokal BCA sesuai dengan
      ketentuan dan jadwal pembayaran sebagaimana diatur dalam perjanjian kredit dengan
      pihak bank. Pemenuhan kewajiban atas fasilitas tersebut akan didukung oleh arus kas
      yang berasal dari kegiatan operasional Perseroan, termasuk penerimaan dari pelanggan
      atas penjualan yang telah terealisasi. Dengan pengelolaan arus kas yang dilakukan
      secara terencana, Perseroan senantiasa menjaga kemampuan pemenuhan kewajiban
      kepada kreditur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
   d. Kepatuhan Perseroan terhadap covenant yang dipersyaratkan oleh kreditur per 30 Juni
     2026.
       Jawab:
      Per 30 Juni 2026, Perseroan senantiasa melakukan pemantauan atas pemenuhan
      covenant sebagaimana dipersyaratkan dalam perjanjian kredit dengan BCA. Covenant
      keuangan yang dipersyaratkan meliputi current ratio minimal 1 kali, debt service
      coverage ratio (DSCR) minimal 1 kali, serta debt-to-equity ratio maksimal 2,5 kali.
      Perseroan juga memperhatikan ketentuan dan pembatasan lainnya sebagaimana diatur
      dalam perjanjian kredit serta memperoleh persetujuan tertulis dari BCA apabila
      diperlukan sesuai dengan ketentuan perjanjian.


7. Berdasarkan CALK nomor 12 tentang Pinjaman Bank, saldo Pinjaman Bank Jangka Panjang
   setelah dikurangi bagian lancar per 30 Juni 2026 sebesar Rp131,06 miliar atau meningkat
   sebesar Rp31,91 miliar (32,18%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar
   Rp99,15 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Latar belakang peningkatan signifikan pinjaman bank jangka panjang selama semester I
     2026.
       Jawab:
      Peningkatan pinjaman bank jangka panjang selama semester I 2026 terutama berasal
      dari penambahan fasilitas pembiayaan dari BCA untuk mendukung kebutuhan investasi
      dan pengembangan kegiatan operasional Perseroan. Fasilitas tersebut antara lain
      digunakan untuk pembiayaan dan refinancing pengadaan dies, mesin dan peralatan
      produksi, serta kebutuhan modal kerja. Selama semester I 2026, Perseroan
      memperoleh penerimaan dari pinjaman bank jangka panjang sebesar Rp78,44 miliar.
      Penambahan pembiayaan tersebut merupakan bagian dari strategi pendanaan
      Perseroan dalam mendukung kebutuhan investasi dan aktivitas usaha dengan tetap
      memperhatikan kemampuan pembayaran kewajiban Perseroan.
Page 11
b. Rincian fasilitas pinjaman yang mengalami penambahan selama periode berjalan.
    Jawab:
   Penambahan fasilitas pinjaman bank jangka panjang selama semester I 2026 terutama
   berasal dari fasilitas Installment Loan 5, Installment Loan 6, Installment Loan 7, dan
   Installment Loan 8 dari BCA. Masing-masing fasilitas memiliki plafon sebesar Rp9,00
   miliar, Rp25,00 miliar, Rp16,80 miliar, dan Rp25,00 miliar. Fasilitas tersebut
   diperuntukkan bagi refinancing pengadaan die casting/spare part otomotif, mesin dan
   dies, serta kebutuhan modal kerja Perseroan, dengan jangka waktu fasilitas sampai
   dengan tahun 2031.
c. Penggunaan dana pinjaman yang diperoleh selama semester I 2026.
    Jawab:
   Dana pinjaman yang diperoleh selama semester I 2026 digunakan untuk mendukung
   kebutuhan investasi dan modal kerja Perseroan, terutama berkaitan dengan pengadaan
   dies, mesin dan peralatan produksi, serta kebutuhan modal kerja. Penggunaan dana
   tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan fasilitas produksi dan memenuhi
   kebutuhan operasional Perseroan sejalan dengan perkembangan aktivitas usaha dan
   kebutuhan produksi.
d. Proyeksi pembayaran pokok dan bunga pinjaman sampai dengan jatuh tempo.
    Jawab:
   Pembayaran pokok dan bunga pinjaman akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan
   jadwal angsuran dan jangka waktu masing-masing fasilitas sebagaimana diatur dalam
   perjanjian kredit dengan BCA. Perseroan merencanakan pemenuhan kewajiban tersebut
   terutama dari arus kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional, dengan tetap
   melakukan pengelolaan arus kas dan likuiditas secara terukur agar pembayaran pokok
   dan bunga dapat dipenuhi sesuai dengan jadwal jatuh tempo masing-masing fasilitas.
   Berdasarkan perjanjian kredit, fasilitas pinjaman jangka panjang Perseroan memiliki
   jangka waktu yang berbeda sesuai dengan masing-masing fasilitas.
e. Dampak peningkatan pinjaman terhadap struktur permodalan dan kemampuan
  pembayaran kewajiban Perseroan.
    Jawab:
   Peningkatan pinjaman bank jangka panjang menyebabkan meningkatnya porsi liabilitas
   dalam struktur permodalan Perseroan. Namun demikian, penambahan pinjaman
   tersebut digunakan untuk mendukung investasi dan kebutuhan operasional yang
   diharapkan dapat menunjang peningkatan kapasitas serta kegiatan usaha Perseroan.
   Dalam menjaga kemampuan pembayaran kewajiban, Perseroan senantiasa melakukan
   pengelolaan arus kas dan likuiditas secara terukur serta menyesuaikan kewajiban
   pembayaran pokok dan bunga dengan arus kas yang dihasilkan dari kegiatan
   operasional. Per 30 Juni 2026, Perseroan juga tetap memperhatikan batasan rasio
   keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian kredit dengan BCA.
Page 12
8. Berdasarkan CALK nomor 19 tentang Tambahan Modal Disetor, saldo Tambahan Modal
   Disetor per 30 Juni 2026 sebesar Rp58,76 miliar atau meningkat sebesar Rp6,50 miliar
   (12,44%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp52,26 miliar. Atas hal
   tersebut, agar dijelaskan:
   a. Rincian pelaksanaan Waran Seri I selama semester I 2026.
       Jawab:
      Selama semester I 2026, terdapat pelaksanaan Waran Seri I yang meningkatkan jumlah
      Waran Seri I yang telah dikonversi menjadi saham dari 22.123.779 waran per 31
      Desember 2025 menjadi 98.606.211 waran per 30 Juni 2026. Dengan demikian, selama
      semester I 2026 terdapat tambahan pelaksanaan sebanyak 76.482.432 Waran Seri I.
      Pelaksanaan tersebut menghasilkan tambahan setoran modal sebesar Rp8,41 miliar,
      yang dicatat sebagai peningkatan modal saham sebesar Rp1,91 miliar dan tambahan
      modal disetor sebesar Rp6,50 miliar.
   b. Jumlah waran yang dieksekusi dan jumlah saham baru yang diterbitkan.
       Jawab:
      Selama semester I 2026, jumlah Waran Seri I yang dieksekusi adalah sebanyak
      76.482.432 waran. Sesuai dengan ketentuan bahwa setiap 1 Waran Seri I memberikan
      hak untuk memperoleh 1 saham baru Perseroan, maka pelaksanaan waran tersebut
      menghasilkan penerbitan sebanyak 76.482.432 saham baru dengan nilai nominal Rp25
      per saham. Dengan demikian, modal saham Perseroan meningkat sebesar Rp1,91
      miliar, dari Rp68,55 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp70,47 miliar per 30 Juni
      2026.
   c. Penggunaan dana yang diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I.
       Jawab:
      Dana yang diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I selama semester I 2026 sebesar
      Rp8,41 miliar digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja Perseroan, terutama
      untuk pembayaran kepada pemasok dalam rangka menunjang kebutuhan bahan baku
      dan kelancaran kegiatan produksi Perseroan.
   d. Dampak pelaksanaan waran terhadap struktur permodalan dan kepemilikan saham
     Perseroan.
       Jawab:
      Pelaksanaan Waran Seri I selama semester I 2026 memberikan dampak positif
      terhadap struktur permodalan Perseroan melalui tambahan setoran modal sebesar
      Rp8,41 miliar, yang terdiri atas peningkatan modal saham sebesar Rp1,91 miliar dan
      tambahan modal disetor sebesar Rp6,50 miliar. Penambahan modal tersebut
      meningkatkan basis ekuitas Perseroan serta memberikan tambahan sumber pendanaan
      untuk mendukung kegiatan usaha. Dari sisi kepemilikan saham, pelaksanaan waran
      mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar sebanyak 76.482.432
      saham, sehingga jumlah saham Perseroan meningkat dari 2.742.123.779 saham
      menjadi 2.818.606.211 saham. Bertambahnya jumlah saham tersebut menyebabkan
Page 13
      penyesuaian persentase kepemilikan masing-masing pemegang saham sesuai dengan
      jumlah Waran Seri I yang dilaksanakan selama periode berjalan.


9. Berdasarkan CALK nomor 21 tentang Penjualan, Perseroan membukukan pendapatan
   sebesar Rp177,64 miliar atau meningkat sebesar Rp35,45 miliar (24,93%) dibandingkan
   periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp142,19 miliar. Atas hal tersebut, agar
   dijelaskan:
   a. Faktor utama yang mendorong peningkatan penjualan selama semester I 2026.
       Jawab:
      Peningkatan penjualan selama semester I 2026 terutama didorong oleh pertumbuhan
      penjualan dari bisnis utama Perseroan di sektor komponen otomotif, sejalan dengan
      peningkatan realisasi pesanan dari pelanggan. Selain itu, peningkatan penjualan juga
      didukung oleh terealisasinya penjualan Gas Oil Water Fryer sebagai bagian dari
      diversifikasi bisnis Perseroan, sehingga memberikan tambahan kontribusi terhadap
      pendapatan pada periode berjalan. Secara keseluruhan, kondisi tersebut mendorong
      penjualan Perseroan mencapai Rp177,64 miliar, meningkat sebesar Rp35,45 miliar atau
      24,93% dibandingkan Rp142,19 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
   b. Kontribusi pelanggan utama terhadap pertumbuhan penjualan Perseroan.
       Jawab:
      Pelanggan utama memberikan kontribusi terhadap penjualan Perseroan baik dari bisnis
      utama di sektor komponen otomotif maupun dari diversifikasi bisnis. Pada semester I
      2026, penjualan kepada PT Chemco Harapan Nusantara dan PT Roki Indonesia
      masing-masing sebesar Rp20,88 miliar dan Rp13,80 miliar merupakan bagian dari
      penjualan bisnis utama Perseroan di sektor komponen otomotif. Sementara itu,
      penjualan kepada PT Kharisma Zahra Mandiri sebesar Rp17,13 miliar berasal dari
      penjualan Gas Oil Water Fryer sebagai bagian dari diversifikasi bisnis Perseroan.
      Secara keseluruhan, ketiga pelanggan tersebut memberikan kontribusi sebesar Rp51,81
      miliar atau sekitar 29,17% dari total penjualan Perseroan selama semester I 2026.
   c. Penjelasan atas peningkatan penjualan kepada PT Kharisma Zahra Mandiri yang
      mencapai Rp17,13 miliar pada semester I 2026.
       Jawab:
      Penjualan kepada PT Kharisma Zahra Mandiri sebesar Rp17,13 miliar pada semester I
      2026 terutama berasal dari realisasi penjualan Gas Oil Water Fryer, yang merupakan
      bagian dari diversifikasi bisnis Perseroan di luar bisnis utama komponen otomotif. Pada
      periode yang sama tahun sebelumnya belum terdapat penjualan kepada PT Kharisma
      Zahra Mandiri, sehingga realisasi transaksi tersebut memberikan tambahan kontribusi
      terhadap peningkatan penjualan Perseroan selama semester I 2026.
   d. Strategi Perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan pada semester
     berikutnya.
Page 14
       Jawab:
       Perseroan akan mempertahankan pertumbuhan pendapatan dengan tetap berfokus
       pada pengembangan bisnis utama di sektor komponen otomotif, antara lain melalui
       peningkatan pemenuhan pesanan pelanggan eksisting, pengembangan peluang usaha
       dengan pelanggan baru, serta optimalisasi kapasitas produksi sejalan dengan
       penambahan mesin dan fasilitas produksi yang telah dilakukan. Selain itu, Perseroan
       akan terus mengembangkan diversifikasi bisnis secara selektif sebagai sumber
       pendapatan tambahan, dengan tetap menjadikan bisnis komponen otomotif sebagai
       kegiatan usaha utama Perseroan.


10. Berdasarkan CALK nomor 22 tentang Beban Pokok Penjualan, beban pokok penjualan
    Perseroan per 30 Juni 2026 sebesar Rp147,37 miliar atau meningkat sebesar Rp31,51
    miliar (27,20%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp115,86
    miliar. Peningkatan beban pokok penjualan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan
    penjualan yang meningkat sebesar 24,93%. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Faktor utama yang menyebabkan peningkatan beban pokok penjualan selama semester I
     2026.
       Jawab:
       Peningkatan beban pokok penjualan selama semester I 2026 terutama dipengaruhi oleh
       kenaikan biaya produksi serta realisasi penjualan atas persediaan barang jadi yang
       telah tersedia pada awal periode. Dari sisi produksi, pemakaian bahan baku meningkat
       dari Rp77,10 miliar menjadi Rp80,38 miliar sejalan dengan kebutuhan material untuk
       proses produksi; biaya overhead pabrik meningkat dari Rp14,40 miliar menjadi Rp20,35
       miliar seiring dengan meningkatnya aktivitas dan penggunaan fasilitas produksi; serta
       upah tenaga kerja langsung meningkat dari Rp17,58 miliar menjadi Rp19,94 miliar
       sejalan dengan kebutuhan tenaga kerja dalam mendukung proses produksi. Selain itu,
       beban penyusutan yang dialokasikan ke beban pokok penjualan meningkat dari Rp5,86
       miliar menjadi Rp11,50 miliar, terutama seiring dengan bertambahnya mesin dan aset
       produksi yang digunakan dalam kegiatan operasional Perseroan. Di luar biaya produksi
       periode berjalan, beban pokok penjualan juga dipengaruhi oleh realisasi penjualan atas
       barang jadi yang telah diproduksi pada periode sebelumnya, dimana saldo persediaan
       barang jadi menurun dari Rp42,16 miliar pada awal periode menjadi Rp25,38 miliar per
       30 Juni 2026. Secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut menyebabkan beban pokok
       penjualan meningkat sebesar Rp31,51 miliar atau 27,20%, dari Rp115,86 miliar menjadi
       Rp147,37 miliar.
   b. Penjelasan atas kenaikan biaya produksi dari Rp115,61 miliar menjadi Rp132,43 miliar.
       Jawab:
       Kenaikan biaya produksi dari Rp115,61 miliar menjadi Rp132,43 miliar pada semester I
       2026 terutama sejalan dengan peningkatan aktivitas produksi Perseroan untuk
       memenuhi permintaan pelanggan dan mendukung pertumbuhan penjualan pada periode
       berjalan. Selain itu, Perseroan juga telah melakukan penambahan mesin dan fasilitas
Page 15
   produksi guna meningkatkan kapasitas produksi, yang berdampak pada meningkatnya
   biaya produksi selama periode berjalan. Dengan meningkatnya volume produksi serta
   pemanfaatan fasilitas produksi yang lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun
   sebelumnya, biaya produksi Perseroan meningkat sebesar Rp16,83 miliar atau 14,55%
   pada semester I 2026.
c. Penyebab kenaikan biaya overhead pabrik sebesar Rp5,95 miliar (41,31%) dibandingkan
   periode yang sama tahun sebelumnya.
    Jawab:
   Biaya overhead pabrik pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp20,35 miliar, meningkat
   sebesar Rp5,95 miliar atau 41,31% dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp14,40
   miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan biaya pendukung
   dalam pelaksanaan proses produksi Perseroan. Pada semester I 2026, biaya overhead
   pabrik terutama terdiri atas beban subkontrak sebesar Rp11,52 miliar, beban peralatan
   dan perlengkapan produksi sebesar Rp3,22 miliar, beban listrik pabrik sebesar Rp1,59
   miliar, beban perawatan suku cadang mesin pabrik sebesar Rp1,47 miliar, serta beban
   sparepart dies sebesar Rp1,42 miliar. Selain itu, terdapat biaya pendukung produksi
   lainnya antara lain gas produksi, plating, material impor dan bea masuk, serta
   kebutuhan pendukung produksi lainnya. Biaya-biaya tersebut timbul dalam rangka
   menunjang proses produksi, pemeliharaan mesin dan dies, serta menjaga kelancaran
   operasional pabrik selama periode berjalan. Secara keseluruhan, peningkatan
   kebutuhan biaya pendukung produksi tersebut menyebabkan biaya overhead pabrik
   pada semester I 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
d. Penyebab kenaikan beban penyusutan yang dibebankan ke beban pokok penjualan dari
   Rp5,86 miliar menjadi Rp11,50 miliar, termasuk kaitannya dengan penambahan mesin
   produksi selama semester I 2026.
   Jawab:
   Peningkatan beban penyusutan yang dibebankan ke beban pokok penjualan terutama
   merupakan konsekuensi dari penambahan investasi pada aset tetap produksi yang
   dilakukan Perseroan dalam rangka memperkuat fasilitas dan kapasitas produksi.
   Selama semester I 2026, Perseroan mencatat penambahan aset tetap sebesar Rp51,59
   miliar, yang sebagian besar berasal dari pengadaan mesin dan peralatan produksi.
   Sejalan dengan penyelesaian pengadaan dan mulai digunakannya aset tersebut dalam
   kegiatan produksi, beban penyusutan mulai diakui sesuai dengan masa manfaat
   masing-masing aset dan dialokasikan sebagai bagian dari biaya produksi.
   Bertambahnya nilai aset produktif yang telah digunakan tersebut menyebabkan beban
   penyusutan yang dialokasikan ke beban pokok penjualan meningkat sebesar Rp5,65
   miliar atau 96,34%, dari Rp5,86 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp11,50 miliar
   pada semester I 2026. Dengan demikian, peningkatan beban penyusutan tersebut
   terutama mencerminkan dampak akuntansi dari bertambahnya basis aset produksi
   Perseroan yang telah digunakan untuk menunjang kegiatan operasional dan
   pemenuhan kebutuhan produksi selama periode berjalan.
Page 16
e. Penjelasan atas kenaikan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp2,37 miliar
  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
    Jawab:
   Biaya tenaga kerja langsung meningkat sebesar Rp2,37 miliar, dari Rp17,58 miliar pada
   semester I 2025 menjadi Rp19,94 miliar pada semester I 2026. Peningkatan tersebut
   terutama berasal dari biaya tenaga kerja yang secara langsung terkait dengan kegiatan
   produksi Perseroan, yang pada semester I 2026 terdiri atas beban gaji tenaga kerja
   produksi sebesar Rp14,60 miliar, beban outsourcing karyawan produksi sebesar Rp2,51
   miliar, beban THR tenaga kerja produksi sebesar Rp2,82 miliar, serta beban lembur
   sebesar Rp8,20 juta. Secara keseluruhan, kenaikan biaya tenaga kerja langsung sejalan
   dengan kebutuhan tenaga kerja dalam mendukung pelaksanaan kegiatan produksi
   Perseroan selama semester I 2026.
f. Faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan beban pokok penjualan lebih tinggi
   dibandingkan pertumbuhan penjualan sehingga Gross Profit Margin (GPM) menurun dari
   18,52% menjadi 17,04%.
     Jawab:
   Penurunan Gross Profit Margin (GPM) dari 18,52% menjadi 17,04% terutama
   disebabkan oleh kenaikan biaya yang membentuk beban pokok penjualan yang lebih
   tinggi dibandingkan dengan peningkatan nilai penjualan selama semester I 2026.
   Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya overhead pabrik sebesar
   41,31%, kenaikan beban penyusutan aset tetap produksi dari Rp5,86 miliar menjadi
   Rp11,50 miliar, serta kenaikan biaya tenaga kerja langsung dari Rp17,58 miliar menjadi
   Rp19,94 miliar. Peningkatan biaya tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan
   nilai penjualan pada tingkat yang sama, sehingga beban pokok penjualan meningkat
   sebesar 27,20%, sedangkan penjualan meningkat sebesar 24,93%. Perbedaan tingkat
   pertumbuhan tersebut menyebabkan persentase beban pokok penjualan terhadap
   penjualan meningkat dan berdampak pada penurunan GPM Perseroan menjadi 17,04%
   pada semester I 2026.
g. Langkah yang dilakukan manajemen untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga
  margin laba kotor pada periode mendatang.
    Jawab:
   Ke depan, Perseroan akan memfokuskan upaya peningkatan efisiensi produksi melalui
   optimalisasi mesin dan fasilitas produksi yang telah dimiliki, peningkatan produktivitas
   proses produksi, pengendalian penggunaan bahan baku, serta evaluasi terhadap biaya
   overhead dan penggunaan jasa subkontrak. Perseroan juga akan meningkatkan
   perencanaan produksi dengan menyesuaikan kapasitas dan kebutuhan produksi
   terhadap pesanan pelanggan, sehingga penggunaan sumber daya dapat dilakukan
   secara lebih efisien. Di sisi lain, Perseroan akan terus mengembangkan penjualan dan
   memperoleh pesanan baru untuk meningkatkan utilisasi kapasitas produksi yang
   tersedia. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menjaga pertumbuhan biaya
   produksi tetap terkendali dan mendukung perbaikan margin laba kotor Perseroan pada
   periode mendatang.
Page 17
11. Berdasarkan laporan laba rugi, beban keuangan per 30 Juni 2026 sebesar Rp8,19 miliar
    atau meningkat sebesar Rp2,98 miliar (57,25%) dibandingkan periode yang sama tahun
    sebelumnya sebesar Rp5,21 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
   a. Faktor utama yang menyebabkan peningkatan beban keuangan selama semester I 2026.
       Jawab:
      Peningkatan beban keuangan selama semester I 2026 terutama disebabkan oleh
      meningkatnya saldo pinjaman bank Perseroan seiring dengan penambahan fasilitas
      pembiayaan yang digunakan untuk mendukung kebutuhan investasi dan modal kerja.
      Selama semester I 2026, Perseroan memperoleh tambahan pencairan pinjaman bank
      jangka panjang sebesar Rp78,44 miliar, sehingga jumlah pinjaman yang dikenakan
      bunga meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan
      beban bunga yang ditanggung Perseroan selama periode berjalan turut meningkat dan
      berdampak pada kenaikan beban keuangan dari Rp5,21 miliar menjadi Rp8,19 miliar.
   b. Hubungan kenaikan beban keuangan dengan peningkatan saldo pinjaman bank
     Perseroan.
       Jawab:
      Kenaikan beban keuangan memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya saldo
      pinjaman bank Perseroan. Per 30 Juni 2026, saldo pinjaman bank jangka pendek
      meningkat dari Rp2,33 miliar menjadi Rp6,91 miliar, sementara total pinjaman bank
      jangka panjang meningkat dari Rp120,97 miliar menjadi sekitar Rp168,22 miliar.
      Bertambahnya saldo pinjaman tersebut meningkatkan jumlah kewajiban yang menjadi
      dasar pengenaan bunga, sehingga beban keuangan Perseroan pada semester I 2026
      lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
   c. Upaya manajemen dalam mengendalikan risiko kenaikan beban bunga pada periode
      mendatang.
       Jawab:
      Ke depan, Perseroan akan mengendalikan risiko kenaikan beban bunga melalui
      pengelolaan kebutuhan pendanaan dan arus kas secara terukur, pengendalian
      penggunaan fasilitas pinjaman sesuai dengan kebutuhan operasional dan investasi,
      serta pemenuhan kewajiban pokok pinjaman sesuai dengan jadwal yang telah
      ditetapkan. Perseroan juga akan melakukan pemantauan terhadap perkembangan
      tingkat suku bunga dan struktur pendanaan secara berkala, mengingat sebagian
      pinjaman bank Perseroan memiliki tingkat bunga mengambang. Langkah tersebut
      dilakukan untuk menjaga beban pendanaan tetap terkendali dengan tetap
      memperhatikan kebutuhan pendanaan kegiatan usaha Perseroan.
   d. Proyeksi beban keuangan untuk sisa tahun buku 2026.
       Jawab:
      Untuk sisa tahun buku 2026, beban keuangan Perseroan diperkirakan masih akan
      dipengaruhi oleh saldo pinjaman bank yang berjalan, jadwal pembayaran pokok
      pinjaman, serta tingkat suku bunga yang berlaku pada masing-masing fasilitas. Seiring
Page 18
       dengan pembayaran angsuran pokok sesuai jadwal, saldo pinjaman secara bertahap
       akan berkurang sehingga akan memengaruhi besarnya beban bunga pada periode
       berikutnya. Perseroan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan
       beban keuangan dan menyesuaikan pengelolaan pendanaan dengan arus kas serta
       kebutuhan operasional Perseroan.


12. Berdasarkan laporan arus kas, arus kas neto aktivitas investasi tercatat negatif Rp69,63
miliar atau meningkat pengeluarannya sebesar Rp10,61 miliar (17,99%) dibandingkan periode
yang sama tahun sebelumnya sebesar negatif Rp59,01 miliar. Atas hal tersebut, agar
dijelaskan:
   a. Alasan Perseroan melakukan pengeluaran investasi yang signifikan selama semester I
   2026.
       Jawab:
       Pengeluaran investasi yang signifikan selama semester I 2026 terutama merupakan
       bagian dari penguatan fasilitas produksi Perseroan untuk mendukung peningkatan
       kebutuhan produksi dan pemenuhan pesanan pelanggan. Selama periode tersebut,
       Perseroan melakukan pembayaran perolehan aset tetap sebesar Rp51,06 miliar, yang
       sebagian besar berkaitan dengan penambahan mesin dan peralatan produksi, serta
       melakukan pembayaran uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp18,57 miliar atas
       pengadaan yang masih dalam proses penyelesaian. Penambahan fasilitas produksi
       tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesiapan kapasitas produksi Perseroan,
       termasuk dalam mendukung kebutuhan produksi dari pelanggan baru maupun
       pelanggan eksisting. Oleh karena itu, peningkatan arus kas investasi pada semester I
       2026 terutama mencerminkan pelaksanaan investasi produktif Perseroan dalam rangka
       mendukung pengembangan kegiatan usaha dan kebutuhan produksi ke depan.
   b. Hubungan antara pembayaran uang muka aset tetap sebesar Rp18,57 miliar dan
     penambahan aset tetap sebesar Rp51,06 miliar dengan rencana ekspansi Perseroan.
       Jawab:
       Pengeluaran sebesar Rp51,06 miliar untuk perolehan aset tetap dan Rp18,57 miliar
       untuk uang muka pembelian aset tetap merupakan bagian dari tahapan investasi
       Perseroan dalam memperkuat fasilitas produksi. Perolehan aset tetap sebesar Rp51,06
       miliar mencerminkan pembayaran atas aset yang direalisasikan selama semester I
       2026, terutama mesin dan peralatan produksi, sedangkan pembayaran uang muka
       sebesar Rp18,57 miliar berkaitan dengan pengadaan aset tetap yang pada tanggal 30
       Juni 2026 masih dalam proses penyelesaian. Investasi tersebut diarahkan untuk
       menambah dan memperkuat kemampuan produksi Perseroan, sehingga kapasitas yang
       tersedia dapat mengakomodasi kebutuhan produksi yang berkembang, termasuk
       pemenuhan pesanan dari pelanggan baru. Dengan demikian, pengeluaran investasi
       tersebut merupakan bagian dari langkah Perseroan dalam mempersiapkan kapasitas
       dan fasilitas produksi untuk mendukung pengembangan usaha secara bertahap.
   c. Target penyelesaian investasi yang sedang dilakukan.
Page 19
       Jawab:
       Perseroan menargetkan investasi yang masih dalam proses, khususnya pengadaan
       aset tetap yang telah dibayarkan dalam bentuk uang muka sebesar Rp18,57 miliar,
       dapat diselesaikan secara bertahap paling lambat sampai dengan akhir tahun 2026.
       Penyelesaian investasi dilakukan sesuai dengan tahapan pengadaan masing-masing
       aset, yang mencakup penyelesaian oleh pemasok, penerimaan aset, serta persiapan
       aset agar dapat digunakan dalam kegiatan produksi Perseroan. Setelah seluruh tahapan
       tersebut selesai, aset yang sebelumnya masih tercatat sebagai uang muka akan
       direalisasikan menjadi aset tetap dan selanjutnya digunakan untuk mendukung kegiatan
       produksi sesuai dengan kebutuhan operasional Perseroan.
   d. Proyeksi manfaat ekonomi yang akan diperoleh Perseroan dari investasi tersebut.
       Jawab:
       Manfaat ekonomi dari investasi tersebut diharapkan diperoleh secara bertahap seiring
       dengan optimalisasi penggunaan mesin dan fasilitas produksi yang telah diperoleh
       maupun yang masih dalam proses pengadaan. Penambahan fasilitas produksi
       diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi volume dan
       kebutuhan produksi pelanggan, memberikan ruang bagi penerimaan pesanan baru,
       serta mengurangi keterbatasan kapasitas pada proses produksi tertentu. Dalam jangka
       menengah, peningkatan utilisasi atas aset yang telah diinvestasikan diharapkan dapat
       meningkatkan volume produksi dan penjualan serta memberikan penyerapan yang lebih
       baik terhadap biaya produksi. Dengan demikian, investasi tersebut diharapkan tidak
       hanya mendukung pertumbuhan pendapatan, tetapi juga meningkatkan efisiensi
       pemanfaatan fasilitas produksi dan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja
       operasional Perseroan pada periode mendatang.


13. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek
     Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.
   Jawab:
   Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, tidak terdapat informasi, fakta, atau
   kejadian penting lainnya yang bersifat material dan dapat mempengaruhi harga efek
   Perseroan maupun kelangsungan usaha Perseroan yang belum diungkapkan kepada
   publik, selain informasi yang telah disampaikan oleh Perseroan melalui keterbukaan
   informasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

File

File Open PDF
Source IDX
Size1.03 MB
Published24 Sep 2026
Pages19
Characters49,931
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 0 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

The name pass has not read this document yet.

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result