Back to announcement
20260220_BAJA_Pengumuman RUPS_32028182_lamp3.pdf
RUPS notice Text extracted BAJASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 54
Page 1
LAPORAN
00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026
PENDAPAT KEWAJARAN
ATAS RENCANA PENETAPAN
KURS KONVERSI PINJAMAN
OLEH
PT SARANACENTRAL BAJATAMA TBK
Oleh
KJPP Felix Sutandar dan Rekan
Certified Business and Assets Appraisers
Page 2
Ref. No.: 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 Jakarta, 19 Februari 2026
Kepada Yth.
Direksi
PT SARANACENTRAL BAJATAMA TBK
Gedung Baja (Steel Building) Tower B, Lantai 6
Jl. Pangeran Jayakarta No. 55
Jakarta 10730
Perihal : Pendapat Kewajaran atas Rencana Penetapan Kurs Konversi
Pinjaman
Dengan Hormat,
Menunjuk Surat Penugasan No. 0770/FSR/Spn/FS/2711/2025 tanggal 27 November
2025 yang telah disetujui oleh manajemen PT Saranacentral Bajatama Tbk (“BAJA”
atau “Perseroan”) pada tanggal 4 Desember 2025 perihal Pendapat Kewajaran atas
Rencana Transaksi penetapan kurs konversi pinjaman mata uang USD (untuk
selanjutnya disebut “Rencana Transaksi”), bersama ini kami sampaikan laporan
mengenai Pendapat Kewajaran tersebut (“Laporan”).
Status Penilai
Pendapat Kewajaran ini dilakukan oleh Penilai Independen dengan kualifikasi sebagai
berikut:
Kualifikasi : Properti dan Bisnis
Ijin Penilai : PB-1.08.00022
STTD : STTD.PPB-31/PJ-1/PM.02/2023
MAPPI : 81-S-00017
No. Register : RMK-2017.00022
Dalam mempersiapkan Laporan Pendapat Kewajaran ini, Penilai menjunjung tinggi
integritas, bertindak secara objektif dan tidak memihak serta tidak mempunyai potensi
benturan kepentingan dengan pihak-pihak yang terlibat dengan Rencana Transaksi.
Penilai memiliki kompetensi dalam mempersiapkan Laporan Pendapat Kewajaran ini dan
menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh.
Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah:
Nama : PT Saranacentral Bajatama Tbk
Bidang usaha : Industri Logam dan Barang Dari Logam
Alamat : Gedung Baja (Steel Building) Tower B, Lantai 6
Jl. Pangeran Jayakarta No. 55
Jakarta 10730
Email : info@saranacentral.com
Telepon : 021-6288647
Faksimili : 021-6011933
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 i
Page 3
Ruang Lingkup Maksud dan Tujuan Laporan ini dimaksudkan untuk memberikan Pendapat Kewajaran (Fairness Opinion) atas Rencana Transaksi. Sedangkan tujuan Pendapat Kewajaran sesuai dengan penugasan yang diterima adalah untuk dipergunakan sebagai salah satu bahan dalam rangka keterbukaan informasi sebagaimana diatur dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha serta untuk memenuhi POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan. Asumsi dan Kondisi Pembatas Tanpa mengurangi tanggung jawab kami sebagai Penilai, Pendapat Kewajaran ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut: 1. Pendapat Kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion. 2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penilaian. 3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya. 4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya. 5. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan. 6. Laporan Pendapat Kewajaran ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan. 7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas Laporan Pendapat Kewajaran dan Kesimpulan Akhir. 8. Penilai Bisnis telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Pendapat Kewajaran dari Pemberi Tugas. Alasan dan Latar Belakang Rencana Transaksi PT Saranacentral Bajatama Tbk (“BAJA” atau “Perseroan”) adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan terutama barang-barang dari baja. Saat ini, BAJA memiliki kewajiban pinjaman dana kepada pihak afiliasi yaitu PT Sarana Steel (“SS”) sebesar USD 20.600.000 (dua puluh juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat) beserta bunga terutangnya. Oleh karena kurs konversi mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yang berfluktuasi sementara mata uang fungsional yang digunakan oleh Perseroan adalah Rupiah, manajemen BAJA dan SS berencana untuk menetapkan kurs konversi yang tetap atas pinjaman tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi volatilitas besaran pinjaman dan bunga yang harus dibayarkan oleh BAJA dalam mata uang Rupiah. Objek Pendapat Kewajaran Objek Pendapat Kewajaran adalah Rencana Penetapan Kurs Konversi USD1 = Rp15.416 atas Pinjaman Dana dari SS kepada BAJA sebesar USD 20.600.000 (dua puluh juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat) beserta bunga terutangnya. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 ii
Page 4
Tanggal Pendapat Kewajaran
Tanggal (cut-off date) dari Pendapat Kewajaran ini adalah 30 September 2025
(“Tanggal Pendapat Kewajaran”). Tanggal Pendapat Kewajaran dipilih atas dasar
pertimbangan kepentingan dan ketersediaan data dalam rangka analisis kewajaran
Rencana Transaksi dimaksud.
Mata Uang yang Digunakan
Jenis mata uang yang digunakan dalam laporan Pendapat Kewajaran ini adalah Rupiah.
Tingkat Kedalaman Investigasi
Pemberian Pendapat Kewajaran dilakukan dengan investigasi yang meliputi inspeksi dan
pengumpulan data dan informasi dari pihak Manajemen Perseroan yang bertujuan untuk
memperoleh dokumen kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya
diverifikasi melalui wawancara.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
a. Analisis dampak pajak untuk para pihak terkait Rencana Transaksi;
b. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis kewajaran.
Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan
Informasi yang diperoleh berupa:
- Data dan dokumen dari Manajemen Perseroan.
- Data dan keterangan yang diperoleh secara lisan maupun tulisan melalui komunikasi
dengan manajemen.
- Berbagai data dan publikasi yang tersedia secara umum baik berdasarkan media
cetak maupun elektronik, seperti website Damodaran, Kontan, Bank Indonesia,
website Pemerintah maupun Asosiasi yang relevan dengan penugasan penilaian.
Informasi, perkiraan dan pendapat yang kami peroleh dari berbagai sumber, kami
anggap merupakan informasi yang dapat dipercaya kebenarannya dan tidak
mengandung unsur-unsur yang dengan sengaja disembunyikan.
Persetujuan Publikasi
Laporan ini terbuka untuk publik, namun demikian publikasi atas sebagian atau
keseluruhan dari laporan harus mendapatkan persetujuan dari manajemen Perseroan,
mengingat kemungkinan terdapat informasi yang bersifat rahasia dan dapat
mempengaruhi operasional Perseroan.
Pedoman dan Standar Penilaian
Dasar pedoman pelaksanaan dan standar penilaian yang Penilai gunakan adalah:
1. Standar Penilaian Indonesia yang meliputi Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar
Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi VII-2018);
2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 35/POJK.04/2020 Tentang
Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal;
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 iii
Page 5
3. Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal. Pendekatan dan Prosedur Penilaian Dalam menganalisis kewajaran Rencana Transaksi, kami melakukan prosedur analisis sebagai berikut: 1. Analisis transaksi; 2. Analisis kualitatif dan kuantitatif atas Rencana Transaksi; 3. Analisis atas kewajaran nilai transaksi; dan 4. Analisis atas faktor lain yang relevan. Analisis Transaksi a. Analisis Transaksi Rencana Transaksi adalah Rencana Penetapan Kurs Konversi atas Pinjaman Dana dari SS kepada BAJA sebesar USD 20.600.000 (dua puluh juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat) beserta bunga terutangnya. Rencana Transaksi merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Rencana Transaksi juga merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan. Namun sesuai dengan Surat Pernyataan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi dimaksud bukan merupakan transaksi yang mengandung benturan kepentingan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa manfaat dari Rencana Transaksi adalah penurunan pencatatan utang dalam mata uang Rupiah karena kurs yang digunakan lebih rendah dan menghilangkan risiko fluktuasi mata uang asing atas utang. Tidak ada risiko yang ditimbulkan dari Rencana Transaksi penetapan kurs konversi ini. b. Analisis Kualitatif PT Saranacentral Bajatama Tbk didirikan pada tanggal 4 Oktober 1993 sebagai perusahaan yang fokus pada industri pengerjaan logam dan produk-produk berbahan dasar logam. Pada 21 Desember 2011, Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pencatatan ini tidak hanya meningkatkan modal, tetapi juga memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan kepercayaan investor. Berdasarkan Perjanjian Kredit No. 001/SCB-LGL/X/2011 tanggal 3 Oktober 2011 antara BAJA dengan SS, SS setuju untuk memberikan pinjaman dana untuk melunasi pinjaman BAJA di Bank Credit Suisse dan Bank Sarasin Rabo dengan jumlah pokok maksimum sebesar USD 20.600.000 dengan jangka waktu 5 tahun dengan bunga sebesar 0,2% per tahun atas jumlah terhutang. BAJA diperkenankan untuk membayar sebagian maupun seluruh pinjaman sebelum berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan tersebut tanpa dikenakan penalti atau denda. Pinjaman ini dimaksudkan untuk Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 iv
Page 6
mengurangi risiko dan beban operasional Perseroan serta mendukung kelancaran operasional kegiatan usaha BAJA. Pada tanggal 3 November 2011, BAJA dan SS sepakat untuk mengubah tingkat bunga menjadi sebesar 2% per tahun ditambah tingkat suku bunga valas USD per tahun yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan pada saat bunga wajib dibayarkan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 telah disepakati Perjanjian Perpanjangan Terhadap Perjanjian Kredit dengan No. PPPK001/SCB-LGL/X/2016 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2016 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2021. Pada tanggal 1 Oktober 2021 kembali disepakati Perjanjian Perpanjangan Terhadap Perjanjian Kredit dengan No. PPPK002/SCB-LGL/X/2021 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2021 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2026. Rencana Transaksi merupakan kesepakatan untuk melakukan konversi utang dalam Dolar Amerika Serikat menjadi Rupiah dengan nilai tukar Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yaitu kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp15.416, sehingga utang Perseroan kepada SS akan menjadi sebesar Rp317.569.600.000 (tiga ratus tujuh belas miliar lima ratus enam puluh sembilan juta enam ratus ribu Rupiah). Keuntungan dari rencana transaksi adalah kepastian jumlah utang Perseroan sesuai dengan mata uang yang digunakan oleh Perseroan yaitu Rupiah. Sementara itu, tidak ada kerugian yang timbul atas Rencana Transaksi. c. Analisis Kuantitatif Dengan Rencana Transaksi, kerugian mata uang asing lebih rendah 77%-89% karena pinjaman telah dikonversi menjadi Rupiah sehingga tidak ada risiko kerugian mata uang asing. Dengan Rencana Transaksi, utang pihak berelasi jumlahnya tidak berubah selama tahun 2026-2030 karena telah dilakukan konversi, sedangkan Tanpa Transaksi utang pihak berelasi mengalami peningkatan yang disebabkan oleh perubahan kurs USD. Dengan Rencana Transaksi, beban bunga lebih tinggi selama tahun 2026-2030 karena tingkat suku bunga pinjaman dalam Rupiah lebih tinggi dibandingkan Tanpa Transaksi. Dengan Rencana Transaksi, laba bersih Perseroan lebih tinggi dibandingkan Tanpa Rencana Transaksi karena penurunan kerugian mata uang asing lebih besar dibandingkan peningkatan beban bunga. d. Analisis Kewajaran Nilai Tukar Transaksi Kurs tengah Bank Indonesia tanggal 30 September 2025 adalah sebesar USD1 = Rp16.680, sementara nilai tukar yang digunakan dalam Rencana Transaksi adalah Kurs tengah Bank Indonesia tanggal 31 Desember 2023 yaitu sebesar USD1 = Rp15.416, atau 7,58% lebih rendah dibandingkan kurs tengah Bank Indonesia pada Tanggal Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 v
Page 7
Penilaian, yang berarti melewati batas bawah sebesar 7,5% atau melebihi kisaran nilai yang wajar. e. Analisis atas Faktor Lain yang Relevan Rencana Transaksi ini merupakan bagian dari rencana BAJA untuk melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”) untuk melunasi pinjaman dari SS. Jika right issue tersebut dilaksanakan, dapat menimbulkan risiko dilusi yaitu penurunan persentase kepemilikan bagi pemegang saham publik, yaitu saat pinjaman dikonversi menjadi saham. Risiko ini dapat terjadi apabila pemegang saham publik tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang diterbitkan Perseroan apabila Perseroan melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”). Kesimpulan Berdasarkan analisis kewajaran Rencana Transaksi sebagaimana diuraikan dalam laporan ini, kami berpendapat bahwa Rencana Transaksi penetapan kurs konversi pinjaman mata uang USD dari PT Sarana Steel kepada PT Saranacentral Bajatama Tbk adalah tidak wajar. Hormat kami, KJPP Felix Sutandar dan Rekan Felix Sutandar, MSc Pemimpin Rekan Kualifikasi : Properti dan Bisnis Ijin Penilai : PB-1.08.00022 STTD : STTD.PPB-31/PJ-1/PM.02/2023 MAPPI : 81-S-00017 Pendapat Kewajaran ini ditujukan untuk kepentingan Direksi Perseroan dalam kaitannya dengan Rencana Transaksi, tidak untuk digunakan oleh pihak lain. Pendapat Kewajaran ini hanya merupakan salah satu bahan pertimbangan kepada pemegang saham untuk mengetahui kewajaran dari Rencana Transaksi. Pendapat Kewajaran ini harus dipandang sebagai satu kesatuan, penggunaan sebagian dari analisis dan informasi, tanpa mempertimbangkan isi Pendapat Kewajaran ini secara keseluruhan dapat menyebabkan pandangan yang menyesatkan atas proses yang mendasari Pendapat Kewajaran ini. Pendapat Kewajaran ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan yang berwenang dan stempel dari KJPP Felix Sutandar dan Rekan. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 vi
Page 8
DAFTAR ISI
SURAT PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI..................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... x
PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI ................................................................... xi
1. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Identifikasi Status Penilai .......................................................................... 1
1.2 Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ....................................... 1
1.3 Maksud dan Tujuan .................................................................................. 1
1.4 Asumsi dan Kondisi Pembatas ................................................................... 1
1.5 Alasan dan Latar Belakang Rencana Transaksi ............................................. 2
1.6 Objek Pendapat Kewajaran ....................................................................... 2
1.7 Tanggal Pendapat Kewajaran .................................................................... 2
1.8 Mata Uang yang Digunakan....................................................................... 2
1.9 Tingkat Kedalaman Investigasi .................................................................. 3
1.10 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ................................... 3
1.11 Persetujuan Publikasi ............................................................................. 3
1.12 Pedoman dan Standar Penilaian ............................................................... 3
1.13 Keterangan Rencana Transaksi dan Benturan Kepentingan ......................... 3
1.14 Dampak Keuangan ................................................................................. 4
1.15 Sumber Data ......................................................................................... 4
1.16 Pendekatan dan Prosedur Penilaian .......................................................... 5
1.17 Kejadian Setelah Tanggal Penilaian .......................................................... 5
2. PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DENGAN TRANSAKSI ............................................ 6
2.1 BAJA ...................................................................................................... 6
2.1.1 Pendirian dan Informasi Umum.............................................................. 6
2.1.2 Susunan Manajemen ............................................................................ 6
2.1.3 Pemegang Saham ................................................................................ 7
2.1.4 Gambaran Usaha ................................................................................. 7
2.1.5 Perijinan ............................................................................................. 7
2.2 SS ......................................................................................................... 7
2.2.1 Pendirian dan Informasi Umum.............................................................. 7
2.2.2 Susunan Manajemen ............................................................................ 8
2.2.3 Pemegang Saham ................................................................................ 8
2.2.4 Gambaran Usaha ................................................................................. 8
2.2.5 Perijinan ............................................................................................. 8
3. ANALISIS DAN PENDAPAT KEWAJARAN ............................................................ 9
3.1 Analisis Transaksi .................................................................................... 9
3.1.1 Transaksi Material ................................................................................ 9
3.1.2 Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan ........................................... 9
3.1.3 Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati Dalam Transaksi .................. 10
3.1.4 Analisis Likuiditas dari Rencana Transaksi ............................................. 11
3.1.5 Manfaat dan Risiko Rencana Transaksi ................................................. 11
3.2 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi ................................................. 12
3.2.1 Riwayat Perusahaan dan Sifat Kegiatan Usaha ....................................... 12
3.2.2 Analisis Industri dan Bisnis.................................................................. 12
3.2.3 Analisis Operasional dan Prospek Perusahaan ........................................ 15
4. Status Perusahaan Terbuka ........................................................................... 18
4.1.2 Alasan dan Latar Belakang Dilakukannya Rencana Transaksi ................... 19
4.1.3 Keuntungan dan Kerugian atas Rencana Transaksi ................................. 19
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 vii
Page 9
4.2 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi ............................................... 19
4.2.1 Penilaian Kinerja Historis .................................................................... 19
4.2.2 Rasio-rasio Keuangan ......................................................................... 24
4.2.3 Analisis Keuangan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi .................... 25
4.2.4 Proyeksi Keuangan Dengan dan Tanpa Rencana Transaksi ...................... 28
4.2.5 Analisis Inkremental atas Rencana Transaksi ......................................... 35
4.3 Analisis Kewajaran Rencana Transaksi ...................................................... 37
4.4 Kesimpulan ........................................................................................... 39
5. LAMPIRAN ................................................................................................... 40
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 viii
Page 10
DAFTAR TABEL Tabel 1 : Daftar Pemegang Saham BAJA.............................................................. 7 Tabel 2 : Daftar Pemegang Saham SS ................................................................. 8 Tabel 3 : Hubungan Afiliasi BAJA dengan SS Berdasarkan Jabatan ......................... 10 Tabel 4 : Rasio Likuiditas BAJA Sebelum dan Setelah Transaksi ............................. 11 Tabel 5 : Sumber Daya Manusia BAJA ................................................................ 16 Tabel 6 : Laporan Posisi Keuangan BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025 ........... 20 Tabel 7 : Laporan Laba-Rugi BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025 .................... 22 Tabel 8 : Laporan Arus Kas BAJA Tahun 2020 - 30 September 2025 ...................... 24 Tabel 9 : Rasio Keuangan BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025 ........................ 25 Tabel 10 : Posisi Keuangan BAJA Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi ............. 26 Tabel 11 : Laba Rugi BAJA Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi ...................... 27 Tabel 12 : Asumsi Dasar Penyusunan Proyeksi .................................................... 28 Tabel 13 : Proyeksi Posisi Keuangan BAJA Dengan Rencana Transaksi .................... 29 Tabel 14 : Proyeksi Laba Rugi BAJA Dengan Rencana Transaksi ............................ 30 Tabel 15 : Proyeksi Arus Kas BAJA Dengan Rencana Transaksi .............................. 30 Tabel 16 : Proyeksi Rasio BAJA Dengan Rencana Transaksi ................................... 31 Tabel 17 : Proyeksi Posisi Keuangan BAJA Tanpa Rencana Transaksi ...................... 32 Tabel 18 : Proyeksi Laba Rugi BAJA Tanpa Rencana Transaksi ............................... 33 Tabel 19 : Proyeksi Arus Kas BAJA Tanpa Rencana Transaksi ................................ 33 Tabel 20 : Proyeksi Rasio BAJA Tanpa Rencana Transaksi ..................................... 34 Tabel 21 : Perbandingan Kerugian Mata Uang Asing BAJA ..................................... 35 Tabel 22 : Perbandingan Beban Bunga BAJA ....................................................... 36 Tabel 23 : Perbandingan Laba Bersih BAJA ......................................................... 36 Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 ix
Page 11
DAFTAR GAMBAR Gambar 1: Hubungan Afiliasi BAJA dengan SS Berdasarkan Kepemilikan Saham ... 10 Gambar 2: Total Volume Produksi Baja Global (Juta Ton) ................................... 13 Gambar 3: Total Volume Produksi Baja Berdasarkan Negara (Juta Ton) ................ 13 Gambar 4: Top 15 Eksportir Baja Tahun 2024 (Juta Ton) .................................... 14 Gambar 5: Top 15 Importir Baja Tahun 2024 (Juta Ton)..................................... 14 Gambar 6: Proyeksi Permintaan Baja Global (Juta Ton) ...................................... 15 Gambar 7: Proyeksi Konsumsi Industri Baja Nasional (Juta Ton) ......................... 15 Gambar 8: Struktur Organisasi BAJA per 30 September 2025 ............................. 17 Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 x
Page 12
PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI
Dalam batas kemampuan kami dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang
bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa :
1. Dalam melakukan Penilaian Pendapat Kewajaran ini, Penilai telah bertindak secara
independen, tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan
datang terhadap Perseroan.
2. Perhitungan dan analisis dalam rangka pemberian Pendapat Kewajaran telah
dilakukan dengan benar.
3. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Pendapat Kewajaran ini.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 xi
Page 13
Pihak-pihak di bawah ini telah bekerja secara profesional untuk membantu pihak yang
menandatangani Laporan ini:
Keterangan Tanda Tangan
Penilai Berijin
Nama : Felix Sutandar, M.Sc
Kualifikasi : Properti dan Bisnis
Ijin Penilai : PB-1.08.00022
STTD : STTD.PPB-31/PJ-1/PM.02/2023
No. MAPPI : 81-S-00017
No. Register : RMK-2017.00022
Reviewer
Nama : Natalia Goysal, SE
No. MAPPI : 10-S-02509
No. Register : RMK-2017.00307
Penilai
Nama : Grace Martana, SE
No. MAPPI : 16-S-07048
No. Register : RMK-2019.03051
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 xii
Page 14
1. PENDAHULUAN
1.1 Identifikasi Status Penilai
Pendapat Kewajaran ini disusun oleh Tim Penilai independen dari KJPP Felix Sutandar
dan Rekan. Buku Laporan Pendapat Kewajaran ini di tanda tangani oleh:
- Felix Sutandar, MSc (MAPPI No. 81-S-00017; PB-1.08.00022; STTD.PPB-31/PJ-
1/PM.02/2023) sebagai Penilai Berizin.
- Natalia Goysal (MAPPI No. 10-S-02509; Register No. RMK-2017.00307) sebagai
Reviewer.
- Grace Martana (MAPPI No. 16-S-07048; Register No. RMK-2019.03051) sebagai
Penilai.
Dalam mempersiapkan Laporan Pendapat Kewajaran ini, Penilai menjunjung tinggi
integritas, bertindak secara objektif dan tidak memihak serta tidak mempunyai potensi
benturan kepentingan dengan pihak-pihak yang terlibat dengan Rencana Transaksi.
Penilai memiliki kompetensi dalam mempersiapkan Laporan Pendapat Kewajaran ini dan
menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh.
1.2 Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah:
Nama : PT Saranacentral Bajatama Tbk
Bidang usaha : Industri Logam dan Barang Dari Logam
Alamat : Gedung Baja (Steel Building) Tower B, Lantai 6
Jl. Pangeran Jayakarta No. 55
Jakarta 10730
Email : info@saranacentral.com
Telepon : 021-6288647
Faksimili : 021-6011933
1.3 Maksud dan Tujuan
Laporan ini dimaksudkan untuk memberikan Pendapat Kewajaran (Fairness Opinion)
atas Rencana Transaksi. Sedangkan tujuan Pendapat Kewajaran sesuai dengan
penugasan yang diterima adalah untuk dipergunakan sebagai salah satu bahan dalam
rangka keterbukaan informasi sebagaimana diatur dengan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
Kegiatan Usaha serta untuk memenuhi POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi
Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan.
1.4 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Tanpa mengurangi tanggung jawab kami sebagai Penilai, Pendapat Kewajaran ini
dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 1
Page 15
1. Pendapat Kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion. 2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penilaian. 3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya. 4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya. 5. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan. 6. Laporan Pendapat Kewajaran ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan. 7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas Laporan Pendapat Kewajaran dan Kesimpulan Akhir. 8. Penilai Bisnis telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Pendapat Kewajaran dari Pemberi Tugas. 1.5 Alasan dan Latar Belakang Rencana Transaksi PT Saranacentral Bajatama Tbk (“BAJA” atau “Perseroan”) adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan terutama barang-barang dari baja. Saat ini, BAJA memiliki kewajiban pinjaman dana kepada pihak afiliasi yaitu PT Sarana Steel (“SS”) sebesar USD 20.600.000 (dua puluh enam juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat). Oleh karena kurs konversi mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yang berfluktuasi sementara mata uang fungsional yang digunakan oleh Perseroan adalah Rupiah, manajemen BAJA dan SS berencana untuk menetapkan kurs konversi yang tetap atas pinjaman tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi volatilitas besaran pinjaman dan bunga yang harus dibayarkan oleh BAJA dalam mata uang Rupiah. 1.6 Objek Pendapat Kewajaran Objek Pendapat Kewajaran adalah Rencana Penetapan Kurs Konversi USD1 = Rp15.416 atas Pinjaman Dana dari SS kepada BAJA sebesar USD 20.600.000 (dua puluh juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat) beserta bunga terutangnya. 1.7 Tanggal Pendapat Kewajaran Tanggal (cut-off date) Pendapat Kewajaran ini adalah 30 September 2025 (“Tanggal Pendapat Kewajaran”). Tanggal Pendapat Kewajaran dipilih atas dasar pertimbangan kepentingan dan ketersediaan data dalam rangka analisa kewajaran Rencana Transaksi dimaksud. 1.8 Mata Uang yang Digunakan Jenis mata uang yang digunakan dalam laporan Penilaian ini adalah Rupiah. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 2
Page 16
1.9 Tingkat Kedalaman Investigasi
Pemberian Pendapat Kewajaran dilakukan dengan investigasi yang meliputi inspeksi dan
pengumpulan data dan informasi dari pihak Manajemen Perseroan yang bertujuan untuk
memperoleh dokumen kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya
diverifikasi melalui wawancara.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
a. Analisis dampak pajak untuk para pihak terkait Rencana Transaksi;
b. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis kewajaran.
1.10 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan
Informasi yang diperoleh berupa:
- Data dan dokumen dari Manajemen Perseroan.
- Data dan keterangan yang diperoleh secara lisan maupun tulisan melalui komunikasi
dengan manajemen
- Berbagai data dan publikasi yang tersedia secara umum baik berdasarkan media
cetak maupun elektronik, seperti website Damodaran, Kontan, Bank Indonesia,
website Pemerintah maupun Asosiasi yang relevan dengan penugasan penilaian.
Informasi, perkiraan dan pendapat yang kami peroleh dari berbagai sumber, kami
anggap merupakan informasi yang dapat dipercaya kebenarannya dan tidak
mengandung unsur-unsur yang dengan sengaja disembunyikan.
1.11 Persetujuan Publikasi
Laporan ini terbuka untuk publik, namun demikian publikasi atas sebagian atau
keseluruhan dari laporan harus mendapatkan persetujuan dari manajemen Perseroan,
mengingat kemungkinan terdapat informasi yang bersifat rahasia dan dapat
mempengaruhi operasional Perseroan.
1.12 Pedoman dan Standar Penilaian
Dasar pedoman pelaksanaan dan standar penilaian yang Penilai gunakan adalah:
1. Standar Penilaian Indonesia yang meliputi Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar
Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi VII-2018);
2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 35/POJK.04/2020 Tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal;
3. Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang
Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
1.13 Keterangan Rencana Transaksi dan Benturan Kepentingan
Rencana Transaksi merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK
No. 17/POJK.04/2020 karena jumlah pinjaman setelah Rencana Transaksi akan
mencapai Rp 317.569.600.000 atau 1061% dari nilai buku ekuitas Perseroan
berdasarkan Laporan Keuangan per 30 September 2025 yang telah dilakukan reviu oleh
Akuntan Publik Santo dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan
No. 00001/3.0351/AK/04/1063/1/I/2026 tanggal 5 Januari 2026.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 3
Page 17
Rencana Transaksi juga merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan. Namun sesuai dengan Surat Pernyataan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi dimaksud bukan merupakan transaksi yang mengandung benturan kepentingan. 1.14 Dampak Keuangan Dengan dilakukannya Rencana Transaksi, utang dan beban akrual kepada SS yang tercatat pada laporan keuangan BAJA akan berkurang. Selain itu, atas penetapan konversi yang lebih rendah, BAJA akan mencatat keuntungan kurs mata uang asing yang akan berdampak pada pajak dan laba Perseroan. 1.15 Sumber Data Dalam memberikan pendapat kewajaran ini kami telah melaksanakan prosedur yang mencakup pengkategorian, pengkorelasian, pengecekan validitas dan penelaahan data dan informasi berikut: 1. Laporan Keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2025 yang telah direviu oleh Akuntan Publik Santo dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan No. 00001/3.0351/AK/04/1063/1/I/2026 tanggal 5 Januari 2026. 2. Laporan Keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Santo dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan No. 00059/3.0351/AU.1/04/1063-2/1/III/2025 tanggal 26 Maret 2025 dengan opini Wajar Tanpa Modifikasian. 3. Laporan Keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Santo dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan No. 00065/3.0351/AU.1/04/1063-1/1/III/2024 tanggal 28 Maret 2024 dengan opini Wajar Tanpa Modifikasian. 4. Laporan Keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Suharsono dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan No. 00065/3.0351/AU.1/04/0003-3/1/III/2023 tanggal 29 Maret 2023 dengan opini Wajar Tanpa Modifikasian. 5. Laporan Keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Suharsono dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam Laporan No. 00079/3.0351/AU.1/04/0003-2/1/IV/2022 tanggal 11 April 2022 dengan opini Wajar Tanpa Modifikasian. 6. Laporan Tahunan BAJA tahun 2024. 7. Laporan Keuangan BAJA Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi pada tanggal 30 September 2025 yang disiapkan oleh Manajemen Perseroan. 8. Proyeksi keuangan BAJA untuk periode 1 Oktober 2025 hingga 31 Desember 2030 Dengan dan Tanpa dilakukannya Rencana Transaksi yang disiapkan oleh Manajemen Perseroan. 9. Salinan Akta pendirian, perubahan dan perizinan yang terkait BAJA. 10. Salinan surat Penegasan Perjanjian Penyelesaian Utang antara SS dengan BAJA. 11. Salinan Perjanjian Pinjaman antara SS dengan BAJA dan perpanjangannya. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 4
Page 18
12. Hasil wawancara dengan pihak internal manajemen Perseroan yang diwakilkan oleh
Bapak Jonatan Suwandi Jusuf selaku Direktur Perseroan beserta tim terkait
mengenai alasan, latar belakang dan hal-hal lainnya terkait dengan Rencana
Transaksi.
13. Informasi lain dari pihak manajemen Perseroan dan pihak-pihak lain yang relevan
dalam rangka penugasan ini.
1.16 Pendekatan dan Prosedur Penilaian
Dalam menganalisis kewajaran Rencana Transaksi, kami melakukan prosedur analisis
sebagai berikut:
1. Analisis Transaksi;
5. Analisis kualitatif dan kuantitatif atas Rencana Transaksi;
6. Analisis atas kewajaran nilai transaksi; dan
2. Analisis atas faktor lain yang relevan.
1.17 Kejadian Setelah Tanggal Penilaian
Setelah Tanggal Penilaian sampai dengan diterbitkannya buku Laporan ini, tidak ada
kejadian penting yang dapat mempengaruhi kesimpulan Pendapat Kewajaran.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 5
Page 19
2. PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DENGAN TRANSAKSI Para pihak yang terlibat Rencana Transaksi adalah: 1. PT Saranacentral Bajatama Tbk (“BAJA”) adalah perusahaan terbuka yang berkedudukan di Jakarta, beralamat di Gedung Baja, Jl. Pangeran Jayakarta No. 55, yang dalam Rencana Transaksi ini bertindak sebagai Penerima Pinjaman. 2. PT Sarana Steel (“SS”) yang merupakan pihak afiliasi BAJA, berkedudukan di Jakarta, beralamat di Gedung Baja, Jl. Pangeran Jayakarta No. 55, yang dalam Rencana Transaksi ini bertindak sebagai Pemberi Pinjaman. 2.1 BAJA 2.1.1 Pendirian dan Informasi Umum PT Saranacentral Bajatama Tbk didirikan dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 berdasarkan Akta No. 78 tanggal 4 Oktober 1993 dari Richardus Nangkih Sinulingga, S.H., notaris di Jakarta, dengan perbaikan Akta Pendirian No. 180 tanggal 9 Juni 1997 dari H. Muhammad Afdal Gazali, S.H., Notaris di Jakarta. Akta pendirian beserta perubahannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C2-6.286.HT.01.01.TH 97 tanggal 7 Juli 1997. Akta perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta No. 18 tanggal 29 Juni 2025 dari Gatot Widodo, S.E., S.H., M.Kn., notaris di Jakarta Pusat, mengenai perubahan direksi dan komisaris Perusahaan. Akta perubahan ini telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.09-0307124 tanggal 5 Juli 2025. 2.1.2 Susunan Manajemen Per 30 September 2025, susunan manajemen BAJA adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris Komisaris Utama : Soediarto Soerjoprahono Komisaris : Ibnu Susanto Komisaris Independen : Yentoro Direksi Direktur Utama : Handaja Susanto Direktur : Pandji Surya Soerjoprahono Direktur : Entario Widjaja Susanto Direktur : Jonatan Suwandi Jusuf Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 6
Page 20
2.1.3 Pemegang Saham
Pada 30 September 2025, susunan pemegang saham BAJA adalah sebagai berikut:
Tabel 1 : Daftar Pemegang Saham BAJA
Nama Jumlah Jumlah
No %
Pemegang Saham Saham (Rp)
1 Pandji Surya Soerjoprahono 296.400.000 16,47 29.640.000.000
2 Handaja Susanto 296.096.000 16,45 29.609.600.000
3 Ibnu Susanto 296.016.000 16,45 29.601.600.000
4 Entario Widjaja Susanto 296.016.000 16,45 29.601.600.000
5 Soediarto Soerjoprahono 146.000.000 8,11 14.600.000.000
6 Laksmono Tirta Kusumo 43.792.000 2,43 4.379.200.000
7 Anton Sebastian 25.760.000 1,43 2.576.000.000
8 Masyarakat (kurang dari 5%) 399.920.000 22,21 39.992.000.000
Jumlah 1.800.000.000 100,000 180.000.000.000
2.1.4 Gambaran Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perseroan
meliputi bidang industri penggilingan baja dan jasa industri untuk berbagai pengerjaan
khusus logam dan barang dari logam. Perseroan mulai beroperasi komersial sejak tahun
1997 dan berdomisili di Jakarta dengan kantor di Jl. Pangeran Jayakarta No. 55 dan
mempunyai pabrik berlokasi di Desa Mekarjaya, Karawang Timur.
2.1.5 Perijinan
Perijinan yang telah dimiliki Perseroan antara lain adalah sebagai berikut:
a. Nomor Induk Berusaha (NIB) 8120103702776, yang diterbitkan oleh Lembaga
Pengelola dan Penyelenggara OSS Pemerintah Republik Indonesia tanggal 27 Juli
2018 dengan perubahan ke-1 tanggal 19 April 2024.
b. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 01.640.914.6-054.000.
2.2 SS
2.2.1 Pendirian dan Informasi Umum
PT Sarana Steel didirikan dengan nama PT Sarana Steel Corporation pada tanggal 30
Januari 1973 berdasarkan Akta Notaris Hobropoerwanto No. 43 dan diperbaiki dengan
Akta tertanggal 11 April 1973 No. 23 dihadapan Notaris Hobropoerwanto. Akta ini telah
mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman tanggal 21 Maret 1974 No.
Y.A.5/100/17.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 7
Page 21
2.2.2 Susunan Manajemen
Per 30 September 2025, susunan manajemen SS adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Handaja Susanto
Komisaris : Endang Fifi Susanto
Direksi
Direktur Utama : Ibnu Susanto
Direktur : Soediarto Soerjoprahono
Direktur : Entario Widjaja Susanto
Direktur : Sofian Surya
2.2.3 Pemegang Saham
Pada 30 September 2025, susunan pemegang saham SS adalah sebagai berikut:
Tabel 2 : Daftar Pemegang Saham SS
Nama Jumlah Jumlah
No %
Pemegang Saham Saham (Rp)
1 Entario Widjaja Susanto 27.160 67,90 13.580.000.000
2 Soediarto Soerjoprahono 12.640 31,60 6.320.000.000
3 Agus Tjahjono 200 0,50 100.000.000
Jumlah 40.000 100,0 20.000.000.000
2.2.4 Gambaran Usaha
Berdasarkan perizinannya, SS bergerak di bidang aktivitas perusahaan induk, yaitu
perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan
utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut.
2.2.5 Perijinan
Perijinan yang telah dimiliki SS antara lain adalah sebagai berikut:
a. Nomor Induk Berusaha (NIB) 8120006772971 yang dikeluarkan oleh Lembaga OSS
Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 27 Juli 2018.
b. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 01.001.920.6-073.000.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 8
Page 22
3. ANALISIS DAN PENDAPAT KEWAJARAN
3.1 Analisis Transaksi
3.1.1 Transaksi Material
Berdasarkan POJK 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
Kegiatan Usaha, Transaksi Material adalah setiap transaksi yang dilakukan oleh
perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali yang memenuhi batasan nilai:
1. suatu transaksi dikategorikan sebagai Transaksi Material apabila nilai transaksi sama
dengan 20% atau lebih dari ekuitas Perusahaan Terbuka.
2. Transaksi berupa perolehan dan pelepasan atas perusahaan atau segmen operasi
dikategorikan sebagai Transaksi Material dalam hal:
a) Nilai transaksi sama dengan 20% atau lebih dari ekuitas Perusahaan Terbuka;
b) Total aset yang menjadi objek transaksi dibagi total aset Perusahaan Terbuka
nilainya sama dengan atau lebih dari 20%;
c) Laba bersih objek transaksi dibagi dengan laba bersih Perusahaan Terbuka
nilainya sama dengan atau lebih dari 20% (dua puluh persen); atau
d) Pendapatan usaha objek transaksi dibagi dengan pendapatan usaha Perusahaan
Terbuka nilainya sama dengan atau lebih dari 20%.
3. Dalam hal transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan
oleh Perusahaan Terbuka yang mempunyai ekuitas negatif, transaksi dikategorikan
sebagai Transaksi Material apabila nilai transaksi sama dengan 10% atau lebih dari
total aset Perusahaan Terbuka.
Dalam hal Rencana Transaksi lebih dari 50%, maka Perusahaan Terbuka yang akan
melakukan Transaksi Material wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS.
Jumlah ekuitas BAJA berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025 yang telah
direviu oleh Akuntan Publik Santo dari Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris dalam
Laporan No. 00001/3.0351/AK/04/1063/1/I/2026 tanggal 5 Januari 2026 tercatat
sebesar Rp 29.932.378.920 sedangkan Nilai Utang terkait Rencana Transaksi adalah
sebesar Rp 317.569.600.000 atau 1061% dari ekuitas BAJA. Dengan demikian Rencana
Transaksi termasuk Transaksi Material sebagaimana dimaksud dalam POJK
17/POJK.04/2020 dan Perseroan wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS.
3.1.2 Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan
Berdasarkan POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi
Benturan Kepentingan;
- Transaksi Afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan oleh
perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan Afiliasi dari perusahaan
terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan
Afiliasi dari perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan
komisaris, pemegang saham utama, atau Pengendali.
- Transaksi Benturan Kepentingan adalah transaksi yang dilakukan oleh perusahaan
terbuka atau perusahaan terkendali dengan setiap pihak, baik dengan Afiliasi maupun
pihak selain Afiliasi yang mengandung benturan kepentingan.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 9
Page 23
Berdasarkan struktur kepemilikan saham Perseroan dapat dilihat bahwa terdapat
hubungan afiliasi antara BAJA dengan SS, di mana beberapa pemegang saham SS
adalah pemegang saham dari BAJA.
Hubungan afiliasi antara BAJA dengan SS dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 1 : Hubungan Afiliasi BAJA dengan SS Berdasarkan Kepemilikan Saham
Entario Soediarto
Widjaja Soerjoprahono
8,11% 16,45% 31,60% 67,90%
BAJA SS
Tabel 3 : Hubungan Afiliasi BAJA dengan SS Berdasarkan Jabatan
Nama BAJA SS
Handaja Susanto Direktur Utama Komisaris Utama
Ibnu Susanto Komisaris Direktur Utama
Entario Widjaja Susanto Direktur Direktur
Soediarto Soerjoprahono Komisaris Utama Direktur
Berdasarkan gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa Rencana Transaksi antara
BAJA dan SS merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK No.
42/POJK.04/2020, namun berdasarkan Surat Pernyataan Manajemen BAJA, Rencana
Transaksi bukan merupakan Transaksi Benturan Kepentingan.
3.1.3 Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati Dalam Transaksi
3.1.3.1 Kesepakatan Penggunaan Nilai Tukar Mata Uang Dollar Amerika
Serikat terhadap Rupiah
Berdasarkan Surat Penegasan Perjanjian Penyelesaian Utang pada tanggal 19 Februari
2026 antara BAJA dan SS yang telah disepakati, bahwa:
Dalam rangka menentukan jumlah utang BAJA kepada SS berdasarkan Perjanjian Utang
yang akan diselesaikan berdasarkan Perjanjian Penyelesaian, SS dan BAJA sepakat
menggunakan nilai tukar (kurs) mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah
yaitu kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2023 sehingga total jumlah
utang BAJA kepada SS pada tanggal Perjanjian Penyelesaian adalah sebesar
Rp445.337.828.479 (empat ratus empat puluh lima miliar tiga ratus tiga puluh tujuh
juta delapan ratus dua puluh delapan ribu empat ratus tujuh puluh sembilan Rupiah)
yang terdiri dari utang pokok sebesar Rp317.569.600.000 (tiga ratus tujuh belas miliar
lima ratus enam puluh sembilan juta enam ratus ribu Rupiah) dan bunga sebesar
Rp127.768.228.479 (seratus dua puluh tujuh miliar tujuh ratus enam puluh delapan
juta dua ratus dua puluh delapan ribu empat ratus tujuh puluh sembilan Rupiah).
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 10
Page 24
3.1.3.2 Informasi Relevan Lainnya Terkait Rencana Transaksi
Kesepakatan terkait Rencana Transaksi merupakan bagian dari rencana penyelesaian
utang BAJA kepada SS sesuai dengan Perjanjian Penyelesaian Utang pada tanggal 19
Februari 2026 (“Perjanjian Penyelesaian”) dimana utang BAJA kepada SS (tidak
termasuk bunga) direncanakan akan dikonversi menjadi saham yang akan dilakukan
dengan memenuhi peraturan pasar modal yang berlaku khususnya POJK
No.32/POJK.04/2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Dengan
Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“POJK 32/2015”) juncto POJK
No.14/POJK.04/2019 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.32/POJK.04/2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Dengan
Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“POJK 14/2019”).
Jika konversi tersebut dilaksanakan, dapat menimbulkan risiko dilusi yaitu penurunan
persentase kepemilikan bagi pemegang saham publik, yaitu saat pinjaman dikonversi
menjadi saham dengan cara right issue. Risiko ini dapat terjadi apabila pemegang
saham publik tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang diterbitkan
Perseroan apabila Perseroan melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu (“HMETD”).
3.1.4 Analisis Likuiditas dari Rencana Transaksi
Dengan dilaksanakan Rencana Transaksi akan meningkatkan likuiditas Perseroan, yang
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4 : Rasio Likuiditas BAJA Sebelum dan Setelah Transaksi
30-Sep-25
RASIO
Sebelum Transaksi Setelah Transaksi
Current Ratio 175,2% 183,5%
Quick Ratio 60,2% 63,0%
Cash Ratio 6,1% 6,3%
Berdasarkan rasio likuiditas di atas terlihat bahwa Rencana Transaksi meningkatkan
likuiditas Perseroan karena bunga akrual yang harus dibayar oleh BAJA kepada SS
berkurang karena kurs yang ditetapkan lebih rendah daripada kurs pada Tanggal
Penilaian.
3.1.5 Manfaat dan Risiko Rencana Transaksi
Manfaat Rencana Transaksi adalah:
1. Penurunan pencatatan utang dalam mata uang Rupiah karena kurs yang digunakan
lebih rendah.
2. Menghilangkan risiko mata uang asing atas utang.
Risiko yang ditimbulkan dari Rencana Transaksi penetapan kurs konversi ini adalah
meningkatnya suku bunga pinjaman karena tingkat suku bunga Rupiah per tahun yang
diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan lebih tinggi daripada tingkat suku bunga
USD per tahun yang juga diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Namun dengan
fluktuasi kurs USD saat ini yang terus meningkat, kerugian atas kurs mata uang asing
lebih tinggi dibandingkan peningkatan atas bunga pinjaman.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 11
Page 25
3.2 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi 3.2.1 Riwayat Perusahaan dan Sifat Kegiatan Usaha PT Saranacentral Bajatama Tbk didirikan pada tanggal 4 Oktober 1993 sebagai perusahaan yang fokus pada industri pengerjaan logam dan produk-produk berbahan dasar logam. Pada 21 Desember 2011, Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pencatatan ini tidak hanya meningkatkan modal, tetapi juga memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan kepercayaan investor. BAJA memiliki Perjanjian Kredit dengan SS No. 001/SCB-LGL/X/2011 tanggal 3 Oktober 2011, di mana SS setuju memberikan pinjaman dana untuk melunasi pinjaman BAJA di Bank Credit Suisse dan Bank Sarasin Rabo dengan jumlah pokok maksimum sebesar USD 20.600.000 dengan jangka waktu 5 tahun dengan bunga sebesar 0,2% per tahun atas jumlah terhutang. BAJA diperkenankan untuk membayar sebagian maupun seluruh pinjaman sebelum berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan tersebut tanpa dikenakan penalti atau denda. Pada tanggal 3 November 2011, BAJA dan SS setuju untuk mengubah tingkat bunga menjadi sebesar 2% per tahun ditambah tingkat suku bunga valas USD per tahun yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan pada saat bunga wajib dibayarkan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 telah disepakati Perjanjian Perpanjangan No. PPPK001/SCB-LGL/X/2016 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2016 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2021. Pada tanggal 1 Oktober 2021 kembali disepakati Perjanjian Perpanjangan No. PPPK002/SCB-LGL/X/2021 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2021 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2026. 3.2.2 Analisis Industri dan Bisnis Total volume produksi baja global periode 2020 sampai 2024 memberikan gambaran awal bahwa industri baja dunia sedang berada pada perlambatan yang dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi dunia, tekanan struktural pada sektor properti Tiongkok, serta meningkatnya tensi perdagangan antarnegara. Kondisi ini semakin terlihat pada produksi 2023 sampai 2024, di mana Tiongkok masih menguasai lebih dari separuh produksi dunia, namun mulai menunjukkan pelemahan pada sisi permintaan domestik. Sementara itu, India terus memperkuat posisinya sebagai produsen kedua terbesar dengan ekspansi kapasitas yang agresif dan dukungan kebijakan industri yang konsisten. Harga baja juga berada dalam tekanan yang terutama disebabkan oleh kelebihan pasokan dari Tiongkok yang terus menekan. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 12
Page 26
Gambar 2 : Total Volume Produksi Gambar 3 : Total Volume Produksi
Baja Global (Juta Ton) Baja Berdasarkan Negara (Juta Ton)
Sumber: World Steel, 2025
Penggunaan baja berdasarkan sektor untuk tahun 2024 memperlihatkan bahwa
infrastruktur, konstruksi, otomotif, dan permesinan berat tetap menjadi penggerak
utama permintaan global. Namun, tekanan di sektor properti Tiongkok menahan
pertumbuhan permintaan baja konstruksi, membuat pasar global kehilangan salah satu
motor konsumsi terbesar selama dua dekade terakhir. Meski begitu, tanda-tanda
pemulihan mulai terlihat dari sektor publik di negara maju dan negara berkembang yang
meningkatkan investasi infrastruktur sebagai strategi pemulihan pascapandemi.
Perdagangan global baja juga mengalami perubahan besar. Ekspor dan impor baja
memperlihatkan pergeseran arus perdagangan ke kawasan Asia Tenggara. Negara -
negara di kawasan ini menjadi tujuan utama ekspor berbiaya rendah dari Tiongkok,
Korea Selatan, dan Jepang. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya proteksionisme di
Amerika Serikat, Eropa, dan India yang memperketat akses masuk baja asing. Kondisi
ini membuat pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menerima limpahan pasokan
dalam jumlah besar, sehingga menciptakan tekanan harga dan memaksa produsen lokal
menyesuaikan strategi penjualan mereka.
Dalam konteks Indonesia, tingkat utilisasi produksi menggambarkan situasi yang cukup
menantang. Pada 2024, utilisasi kapasitas industri baja nasional hanya sekitar 57%,
angka yang jauh dari ambang ideal industri yaitu 80%. Bahkan sebagian produsen
hanya bekerja pada tingkat utilisasi 40% karena derasnya arus impor berbiaya rendah.
Keterbatasan infrastruktur logistik, tingginya tarif energi, serta masuknya produk non-
SNI ke pasar domestik menambah kompleksitas tantangan. Sementara itu, data neraca
perdagangan baja Indonesia baik dari sisi volume maupun nilai menunjukkan bahwa
pada satu sisi, ekspor meningkat pesat hingga Indonesia berhasil masuk ke peringkat
eksportir ke-11 dunia pada 2024. Namun, di sisi lain pasar domestik masih bergantung
pada impor untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan baja nasional, terutama pada
produk hilir bernilai tambah tinggi yang memiliki standar teknis lebih tinggi.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 13
Page 27
Gambar 4 : Top 15 Eksportir Baja Gambar 5 : Top 15 Importir Baja
Tahun 2024 (Juta Ton) Tahun 2024 (Juta Ton)
Sumber: World Steel, 2025
Memasuki 2026, arah prospek industri baja diproyeksikan bahwa permintaan baja global
akan mencapai titik terendah pada tahun 2025 dan menunjukkan pertumbuhan moderat
pada tahun 2026. Prospek positif ini didukung oleh ketahanan ekonomi global yang telah
terbukti dalam investasi infrastruktur publik di sebagian besar ekonomi utama dunia
serta perkiraan pelonggaran kondisi pembiayaan.
Proyeksi pertumbuhan pada tahun 2026 didorong oleh kombinasi tren regional yang
kuat, meskipun akan terjadi penurunan permintaan baja dari Tiongkok, namun
diperkirakan akan terjadi pertumbuhan yang kuat di negara-negara berkembang seperti
India, Vietnam, Mesir dan Arab Saudi dan juga antisipasi kembalinya pertumbuhan
permintaan baja di Eropa yang telah lama dinantikan.
Namun ke depannya tantangan tetap besar. Pertama, sektor manufaktur global masih
menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi dan tekanan daya beli konsumen
yang berkelanjutan. Kedua, meningkatnya ketegangan perdagangan memberikan
dampak langsung dan negatif terhadap permintaan baja di negara-negara yang sangat
bergantung pada ekspor barang-barang yang intensif menggunakan baja, seperti mesin
dan komponen otomotif. Terakhir, ketidakpastian geopolitik menjadi penghambat
utama karena menekan kepercayaan konsumen dan investor, serta melemahkan
permintaan baja di pasar-pasar utama.
Prospek industri baja di Indonesia didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang
diperkirakan mencapai 5%. Proyeksi Apparent Steel Consumption Indonesia
menunjukkan bahwa konsumsi baja nasional diperkirakan mencapai 19.3 juta ton
(+3.8% YoY) pada 2025. Kenaikan ini didorong oleh percepatan pembangunan
infrastruktur yang menjadi prioritas dalam RPJMN 2025 sampai 2029 yang menekankan
pembangunan transportasi, energi, dan perumahan rakyat. Proyek strategis seperti
jalan tol, kereta cepat, jembatan antarwilayah, dan pembangunan smelter baru semakin
memperbesar kebutuhan baja nasional. Pada sisi manufaktur, sektor otomotif dan
permesinan diperkirakan kembali mencatatkan pertumbuhan, memberikan kontribusi
tambahan pada permintaan baja domestik.
Pada sisi lain, Indonesia masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan baja jadi.
Kebijakan hilirisasi dan dorongan investasi kini diarahkan untuk mengurangi
ketergantungan tersebut dengan memperkuat rantai pasok domestik. Pemerintah
melalui strategi industrialisasi 2025 sampai 2029 memberikan fokus pada lima arah
kebijakan utama yang mencakup perlindungan perdagangan, standardisasi wajib SNI,
insentif investasi, peningkatan TKDN, serta kebijakan harga gas industri yang
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 14
Page 28
ditetapkan maksimal USD 6 per MMBTU. Kebijakan energi ini menjadi salah satu faktor
paling menentukan dalam memperbaiki daya saing produsen baja nasional.
Gambar 6 : Proyeksi Permintaan Baja Gambar 7 : Proyeksi Konsumsi
Global (Juta Ton) Industri Baja Nasional (Juta Ton)
Sumber: World Steel, 2025 dan Indonesian Iron & Steel Association Indsutry, 2025
Sumber:
• World Steel In Figures 2025 – worldsteel.org
• Press Release - Worldsteel Short Range Outlook October 2025
• Proyeksi Kinerja Baja Nasional 2025, Indonesia Iron & Steel Association Industry.
3.2.3 Analisis Operasional dan Prospek Perusahaan
Perseroan menjalankan aktivitas operasional di Indonesia dan belum memiliki wilayah
operasional di luar negeri. Pabrik utama Perseroan terletak di Karawang Timur, Jawa
Barat, yang menjadi pusat produksi dan distribusi berbagai produk baja.
Produk dan Jasa Perseroan memproduksi baja dengan berbagai merek, seperti Sarana,
Saranalume, dan Saranacolor. Semua produk baja yang dihasilkan oleh Perseroan
memiliki kualitas terbaik dan dapat diaplikasikan untuk kebutuhan konstruksi gedung,
kelistrikan, permesinan, otomotif, serta peralatan kantor. Produk-produk ini dirancang
dengan spesifikasi yang tepat untuk menjamin kekuatan dan daya tahan.
Berikut adalah uraian mengenai jenis-jenis produk baja yang dihasilkan oleh Perseroan:
1. Baja Lapis Aluminium Seng Saranalume, adalah CRC yang dilapisi dengan
kombinasi Aluminium (Al) dan Seng (zinc), dengan komposisi yang terdiri dari 55%
Aluminium dan 45% Seng. Produk ini dirancang untuk digunakan dalam berbagai
aplikasi, termasuk konstruksi bangunan, produk elektrik dan permesinan, serta
kendaraan bermotor dan peralatan kantor.
2. Baja Lapis Warna Saranacolor, adalah baja lapis seng atau 55% Al-Zn dilapisi
dengan lapisan luar poliester. Mesin Saranacolor dirancang oleh para ahli terkemuka
Jepang yang berpengalaman dalam penelitian dan pengembangan bertahun-tahun.
Aplikasi produk Perseroan terutama digunakan dalam sektor bangunan dan konstruksi,
industri kendaraan bermotor (otomotif), serta untuk keperluan elektrikal dan mekanikal,
termasuk permesinan. Selain itu, produk-produk ini juga dibutuhkan untuk pembuatan
billboard, kontainer, kemasan, drainase, dan berbagai aplikasi lainnya. Perseroan
menawarkan produk dalam berbagai bentuk dan karakteristik yang disesuaikan dengan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan dapat dengan mudah memilih spesifikasi yang sesuai
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 15
Page 29
dengan kebutuhan mereka. Selain itu, Perseroan juga menyediakan produk baja lapis
warna Saranacolor yang dirancang khusus untuk atap.
3.2.3.1 Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif Perseroan dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Keahlian tim manajemen
• Teknologi Non-Oxidation Furnace (NOF), dimana Perseroan dapat menghasilkan
produk dengan kualitas yang jauh lebih baik dengan tingkat polusi yang jauh lebih
rendah dibandingkan produk yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi
konvensional.
• Perseroan menerapkan total quality management agar dapat terus meningkatkan
kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan.
• Perseroan telah memperoleh Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015
untuk Galvalume Coils dan selalu memperbaharui Sertifikat Standar Nasional
Indonesia (4096:2007) untuk penerapan ISO 9001:2015.
• Keberagaman produk.
3.2.3.2 Pemasaran
Untuk menjaga pangsa pasar, Perseroan menerapkan strategi pemasaran yang efektif
di seluruh wilayah Indonesia. Proses pemasaran dilakukan melalui jaringan distributor,
agen, dan toko yang telah menjadi mitra usaha Perseroan. Selain itu, Perseroan terus
mengoptimalkan kemampuan dan mencari peluang bisnis yang terbaik, terutama dalam
penjualan ke luar negeri. Upaya untuk membuka pasar baru, memperluas jaringan
distribusi, serta mempertahankan pasar yang sudah ada juga dilakukan secara aktif.
Di sisi lain, Perseroan meningkatkan kualitas produk dan layanan dengan melibatkan
Tim Pengendalian Mutu. Perseroan memastikan bahwa kepuasan pelanggan tetap
menjadi prioritas utama yang harus dipertahankan.
3.2.3.3 Sumber Daya Manusia
Per 30 September 2025, tenaga kerja BAJA berjumlah 143 orang dengan rincian sebagai
berikut:
Tabel 5 : Sumber Daya Manusia BAJA
Uraian Jumlah
Direksi 3
Manajer 7
Staff 131
Supir dan Non-Staff 2
Total 143
Sumber: Manajemen Perseroan
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 16
Page 30
3.2.3.4 Struktur Organisasi
Gambar 8 : Struktur Organisasi BAJA per 30 September 2025
Sumber: Manajemen Perseroan
3.2.3.5 Analisis SWOT
Kekuatan (Strength)
1. Kapabilitas Produksi Terintegrasi
• Perusahaan memiliki fasilitas produksi sendiri untuk baja lapis/produk turunan
sehingga pengendalian kualitas dan spesifikasi produk dapat dilakukan secara
langsung.
• Proses produksi yang telah berjalan stabil menjadi dasar kelangsungan usaha
2. Pengalaman Operasional
• Perusahaan telah beroperasi dalam industri baja dalam jangka panjang,
menunjukkan keberlangsungan model bisnis dan pemahaman atas siklus
industri.
3. Basis Pelanggan yang Telah Terbentuk
• Adanya pelanggan eksisting memberikan visibilitas permintaan dan arus kas,
meskipun dengan fluktuasi volume
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 17
Page 31
4. Status Perusahaan Terbuka
• Ketersediaan laporan keuangan auditan dan keterbukaan informasi
meningkatkan reliabilitas data untuk tujuan penilaian.
Kelemahan (Weakness)
1. Ketergantungan terhadap Bahan Baku Impor
• Struktur biaya sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga komoditas
baja global.
2. Tekanan Profitabilitas
• Margin usaha relative tipis akibat intensitas persaingan dan volatilitas biaya
produksi.
• Fluktuasi utilitas kapasitas berdampak langsung pada HPP per unit.
3. Struktur Permodalan
• Tingkat leverage dan beban keuangan historis mempengaruhi fleksibilitas
keuangan dan kemampuan ekspansi.
4. Keterbatasan Skala Usaha
• Dibandingkan pemain besar di industri, skala produksi dan daya tawar terhadap
pemasok relatif lebih terbatas
Peluang (Opportunities)
1. Permintaan Domestik Produk Baja Lapis
• Kebutuhan sektor konstruksi dan manufaktur domestik tetap menjadi sumber
permintaan jangka menengah
• Berlanjutnya program pembangunan infrastruktur pemerintah meningkatkan
kebutuhan material baja
• Kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan komitmen
terhadap TKDN membuka peluang substitusi produk impor
2. Peluang Perbaikan Struktur Keuangan
• Aksi korporasi seperti restrukturisasi berpotensi memperbaiki struktur
permodalan dan menurunkan risiko keuangan.
3. Optimalisasi Kapasitas Produksi
• Peningkatan utilisasi kapasitas dapat menurunkan biaya tetap per unit dan
memperbaiki margin usaha.
4. Pengembangan Produk Spesifik
• Produk dengan spesifikasi khusus berpotensi memberikan margin yang lebih
stabil dibandingkan produk komoditas.
Ancaman (Threats)
1. Persaingan Harga yang Ketat
• Masuknya produk impor dan produsen berskala besar menekan harga jual dan
margin.
2. Volatilitas Makroekonomi
• Perubahan nilai tukar, suku bunga dan kondisi ekonomi makro mempengaruhi
biaya dan permintaan.
3. Risiko Regulasi dan Kebijakan Perdagangan
• Perubahan kebijakan impor, tarif atau proteksi perdagangan dapat
mempengaruhi struktur biaya dan pasokan bahan baku.
4. Risiko Pasar dan Likuiditas
• Fluktuasi permintaan pasar dapat berdampak pada arus kas dan kemampuan
memenuhi kewajiban jangka pendek.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 18
Page 32
4.1.1.1 Prospek Perusahaan Kegiatan usaha di sektor pengolahan, khususnya sub-sektor manufaktur, mengalami pertumbuhan yang cukup baik di tahun 2024. Peningkatan investasi serta penyelesaian proyek infrastruktur, terutama dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), turut mendorong permintaan baja domestik. Namun, industri baja juga menghadapi tantangan dari sisi eksternal, seperti ketidakpastian perdagangan global dan kebijakan proteksionisme di beberapa negara tujuan ekspor. Melemahnya permintaan global dapat berdampak pada kinerja ekspor baja nasional, sehingga diperlukan strategi adaptif, seperti diversifikasi pasar, peningkatan efisiensi operasional, serta inovasi dalam produk baja bernilai tambah tinggi. Pada tahun 2025, prospek usaha Perseroan diproyeksikan tetap positif, didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai 4,7%-5,5% serta tingginya permintaan baja dari sektor konstruksi dan manufaktur. Kelanjutan PSN serta investasi di sektor industri menjadi peluang utama bagi Perseroan. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku, persaingan dengan baja impor, serta ketidakpastian ekonomi global perlu diantisipasi. Untuk menghadapi hal ini, Perseroan perlu menyesuaikan strategi pengembangan produk, efisiensi operasional, serta peningkatan inovasi guna menjaga keberlangsungan usaha di masa depan. 4.1.2 Alasan dan Latar Belakang Dilakukannya Rencana Transaksi Saat ini, BAJA memiliki kewajiban pinjaman dana kepada pihak afiliasi yaitu PT Sarana Steel (“SS”) sebesar USD 20.600.000 (dua puluh enam juta enam ratus ribu Dollar Amerika Serikat). Oleh karena kurs konversi mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yang berfluktuasi sementara mata uang fungsional yang digunakan oleh Perseroan adalah Rupiah, manajemen BAJA dan SS berencana untuk menetapkan kurs konversi yang tetap atas pinjaman tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi volatilitas besaran pinjaman yang harus dibayarkan oleh BAJA dalam mata uang Rupiah. 4.1.3 Keuntungan dan Kerugian atas Rencana Transaksi Keuntungan dari rencana transaksi adalah kepastian jumlah utang Perseroan sesuai dengan mata uang yang digunakan oleh Perseroan yaitu Rupiah. Sementara itu, tidak ada kerugian yang timbul atas Rencana Transaksi. 4.2 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi 4.2.1 Penilaian Kinerja Historis 4.2.1.1 Posisi Keuangan Posisi keuangan BAJA untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 - 30 September 2025 adalah seperti terlihat berikut ini. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 19
Page 33
Tabel 6 : Laporan Posisi Keuangan BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025
Dalam jutaan Rp 2020 2021 2022 2023 2024 30-Sep-25
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 85.991 129.330 23.471 37.958 93.486 17.564
Dana yang dibatasi penggunaannya 31.225 4.940 8.904 4.447 850 1.643
Piutang usaha
Pihak berelasi 2.936 4.814 5.132 494 882 3.621
Pihak ketiga 120.161 59.872 134.246 155.115 145.412 148.982
Piutang lain-lain 0 13 279 1 20 146
Persediaan 299.112 325.439 337.650 316.251 293.981 333.198
Uang muka pembelian 1.441 9.060 768 357 292 1.666
Pajak dibayar dimuka 20.601 9.113 26.489 4.585 - -
Biaya dibayar dimuka 1.121 1.141 689 732 934 735
Jumlah Aset Lancar 562.588 543.722 537.628 519.940 535.858 507.556
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 15.436 6.921 36.208 35.383 35.157 40.516
Aset tetap 182.080 174.541 157.027 139.728 115.192 104.878
Estimasi kelebihan pengembalian pajak - - - 29.994 17.354 15.396
Uang jaminan 322 322 322 322 322 322
Aset lain-lain - - 156 745 704 672
Jumlah Aset Tidak Lancar 197.838 181.784 193.713 206.172 168.729 161.784
JUMLAH ASET 760.426 725.507 731.341 726.111 704.587 669.340
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank 122.164 34.631 104.392 57.324 94.624 79.009
Utang usaha
Pihak berelasi 253 71 1.843 72.687 65.183 35.246
Pihak ketiga 122.479 57.353 78.169 43.373 17.748 27.709
Utang lain-lain
Pihak berelasi 290.719 - 354 108 115 108
Pihak ketiga 1.634 2.253 2.212 1.959 875 1.492
Utang pajak 2.489 11.995 879 860 1.090 2.065
Liabilitas kontrak 1.869 2.081 675 460 9 1.705
Beban akrual
Pihak berelasi 73.465 80.752 95.732 105.146 124.509 135.974
Pihak ketiga 4.581 22.732 5.754 7.522 5.076 5.145
Bagian liabilitas jangka panjang yang akan JT 1 tahun:
Liabilitas sewa 64 70 77 85 38 562
Utang pembiayaan konsumen 638
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 619.717 211.939 290.086 289.523 309.269 289.651
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang pihak berelasi jangka panjang - 287.357 318.247 313.439 330.117 341.910
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 12.599 9.564 12.696 12.100 8.037 7.263
Liabilitas sewa - setelah dikurangi bagian JT 1 tahun 270 200 123 38 - -
Utang pembiayaan konsumen jangka panjang 585
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 12.869 297.120 331.066 325.577 338.155 349.757
JUMLAH LIABILITAS 632.586 509.060 621.152 615.100 647.423 639.408
EKUITAS
Modal saham 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000
Tambahan modal disetor - bersih 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659
Saldo laba (defisit)
Sudah ditentukan penggunaannya 500 500 500 500 500 500
Belum ditentukan penggunaannya (110.320) (21.712) (127.969) (127.148) (180.995) (208.227)
Jumlah Ekuitas 127.839 216.447 110.189 111.011 57.164 29.932
JUMLAH LIABILITAS & EKUITAS 760.426 725.507 731.341 726.111 704.587 669.340
Aset
Secara keseluruhan aset BAJA rata-rata mengalami penurunan sebesar 2,7% per tahun
periode 2020 - 30 September 2025, yaitu dari Rp760,4miliar pada tahun 2020 dan turun
menjadi Rp669,3 miliar pada 30 September 2025.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 20
Page 34
Aset Lancar Pada tahun 2020, aset lancar BAJA sebesar Rp562,6 miliar, kemudian pada tahun 2021, aset lancar BAJA turun menjadi Rp543,7 miliar yang terutama disebabkan penurunan piutang usaha. Pada tahun 2022, aset lancar BAJA kembali turun menjadi Rp537,6 miliar terutama karena penurunan kas dan setara kas untuk keperluan operasional. Pada tahun 2023, aset lancar BAJA kembali turun menjadi Rp519,9 miliar terutama karena penurunan persediaan dan pajak dibayar dimuka. Pada tahun 2024, aset lancar BAJA naik menjadi Rp535,9 miliar terutama karena kenaikan kas dan setara kas. Pada 30 September 2025, aset lancar BAJA kembali turun menjadi Rp507,6 miliar yang disebabkan adanya penurunan kas dan setara kas. Aset Tidak Lancar Pada tahun 2020, aset tidak lancar BAJA tercatat sebesar Rp197,8 miliar, kemudian turun menjadi Rp181,8 miliar karena penurunan aset tetap pada tahun 2021. Pada tahun 2022, aset tidak lancar BAJA meningkat menjadi Rp193,7 miliar yang disebabkan karena peningkatan aset pajak tangguhan. Pada tahun 2023, aset tidak lancar BAJA mengalami peningkatan menjadi Rp206,2 miliar yang disebabkan adanya peningkatan estimasi kelebihan pengembalian pajak. Pada tahun 2024, aset tidak lancar BAJA kembali mengalami penurunan karena adanya penurunan atas aset tetap dan estimasi kelebihan pengembalian pajak. Pada 30 September 2025, aset tidak lancar BAJA kembali menurun menjadi Rp161,8 miliar terutama karena penurunan aset tetap. Liabilitas Secara keseluruhan liabilitas BAJA rata-rata mengalami kenaikan sebesar 0,2% per tahun selama periode 2020 - 30 September 2025, yaitu dari Rp632,6 miliar pada tahun 2020 dan menjadi Rp639,4 miliar pada 30 September 2025. Liabilitas Jangka Pendek Pada tahun 2020, liabilitas jangka pendek BAJA sebesar Rp 619,7 miliar, kemudian turun signifikan menjadi Rp211,9 miliar pada tahun 2021. penurunan ini terutama disebabkan karena penurunan utang bank, utang usaha dan utang lain-lain pihak berelasi. Pada tahun 2022, liabilitas jangka pendek BAJA meningkat menjadi Rp290,1 miliar terutama karena peningkatan utang bank, utang usaha dan beban akrual, lalu mengalami sedikit penurunan menjadi Rp289,5 miliar pada tahun 2023. Pada tahun 2024, liabilitas jangka pendek BAJA kembali meningkat menjadi Rp309,3 miliar terutama karena peningkatan utang bank dan beban akrual. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 21
Page 35
Pada 30 September 2025, liabilitas jangka pendek BAJA turun menjadi Rp289,7 miliar
karena penurunan utang bank.
Liabilitas Jangka Panjang
Pada tahun 2020, liabilitas jangka panjang BAJA sebesar Rp 12,9 miliar, lalu pada tahun
2021 meningkat signifikan menjadi Rp297,1 miliar karena adanya reklasifikasi akun
utang pihak berelasi dari jangka pendek menjadi jangka Panjang yaitu utang kepada
SS.
Pada tahun 2022 hingga 30 September 2025, liabilitas jangka panjang Perseroan
cenderung meningkat hingga menjadi Rp349,8 miliar yang disebabkan karena
peningkatan utang pihak berelasi yang disebabkan peningkatan kurs konversi.
Ekuitas
Ekuitas BAJA pada periode 2020-30 September 2025 secara keseluruhan mengalami
penurunan dengan rata-rata sebesar 26,3% per tahun. Pada tahun 2020 jumlah ekuitas
tercatat sebesar Rp127,8 miliar, lalu meningkat menjadi Rp216,4 miliar pada tahun
2021. Pada tahun 2022 hingga 2024, ekuitas BAJA mengalami penurunan menjadi
masing-masing sebesar Rp110,2 miliar, Rp111,0 miliar, dan Rp57,2 miliar. pada 30
September 2025, ekuitas Perseroan tercatat masih mengalami penurunan menjadi
Rp29,9 miliar. Penurunan ini disebabkan karena BAJA terus mengalami kerugian sejak
tahun 2022.
4.2.1.2 Laba Rugi
Secara ringkas Laba Rugi BAJA untuk tahun yang berakhir pada 2020 hingga 30
September 2025 adalah seperti disajikan di bawah ini.
Tabel 7 : Laporan Laba-Rugi BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025
Dalam jutaan Rp 2020 2021 2022 2023 2024 30-Sep-25
PENJUALAN BERSIH 1.204.955 1.374.487 1.061.799 950.454 788.262 572.408
BEBAN POKOK PENJUALAN 1.103.313 1.189.034 1.095.253 938.511 778.591 555.556
LABA BRUTO 101.642 185.453 (33.453) 11.944 9.671 16.852
BEBAN USAHA
Beban Penjualan 3.557 3.660 4.046 4.635 4.711 5.323
Beban Umum & Administrasi 17.078 10.607 37.093 2.319 17.971 12.563
Jumlah beban usaha 20.635 14.267 41.139 6.954 22.682 17.886
LABA USAHA 81.007 171.186 (74.592) 4.989 (13.011) (1.034)
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
Beban keuangan (22.838) (15.783) (13.707) (19.293) (21.490) (18.179)
Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing (11.545) (4.876) (48.355) 10.762 (27.177) (17.259)
Pendapatan bunga - - 1.698 395 571 930
Dampak pendiskontoan liabilitas keuangan - 6.929 -
Lain-lain bersih 2.203 (26.857) 3.151 2.076 3.856 2.131
Jumlah Penghasilan (Beban) Lain-lain (32.180) (40.587) (57.213) (6.059) (44.240) (32.377)
RUGI SEBELUM PAJAK 48.828 130.599 (131.805) (1.070) (57.251) (33.410)
Manfaat (beban) pajak 6.291 (42.075) 28.464 (227) 573 5.539
RUGI TAHUN BERJALAN 55.119 88.524 (103.341) (1.297) (56.678) (27.872)
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 22
Page 36
a. Penjualan Penjualan BAJA mengalami penurunan rata-rata sebesar 9,2% tiap tahun pada periode 2020-30 September 2025 (disetahunkan). Pada tahun 2020 jumlah penjualan tercatat sebesar Rp1,2 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp1,4 triliun pada tahun 2021, lalu turun berturut-turut pada tahun 2022 hingga 2024. Pada 30 September 2025, BAJA mencatat penjualan sebesar 572,4 miliar. b. Beban Pokok Penjualan Beban pokok penjualan BAJA mengalami penurunan rata-rata sebesar 8,0% tiap tahun pada periode 2020-30 September 2025 (disetahunkan). Pada tahun 2020 jumlah beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp1,1 triliun, pada tahun 2021 naik menjadi Rp1,2 triliun, lalu berturut-turut turun menjadi sebesar Rp1,1 triliun pada tahun 2022, Rp938,5 miliar pada tahun 2023, dan Rp778,6 miliar pada tahun 2024 seiring dengan penurunan penjualan. Pada 30 September 2025, beban pokok BAJA tercatat sebesar Rp555,6 miliar. c. Laba Pada tahun 2020 dan 2021, BAJA masih mencatat keuntungan, yaitu sebesar Rp55,1 miliar pada tahun 2020 dan Rp88,5 miliar pada tahun 2021. Namun sejak tahun 2022, BAJA terus mencatat rugi, dimana pada tahun 2022 kerugian BAJA mencapai Rp103,3 miliar yang disebabkan oleh meningkatnya beban umum dan administrasi untuk cadangan persediaan usang dan kerugian kurs mata uang asing. Pada tahun 2023, kerugian BAJA turun menjadi Rp1,3 miliar, lalu kembali naik menjadi Rp56,7 miliar pada tahun 2024. Pada 30 September 2025, BAJA kembali mencatat rugi sebesar Rp27,9 miliar. Untuk meningkatkan kinerja operasional, Perseroan akan melakukan optimalisasi kapasitas produksi, efisiensi struktur biaya, peningkatan produktivitas dan diversifikasi produk, strategi margin dan produk seperti rebranding dan promosi. 4.2.1.3 Arus Kas Gambaran arus kas BAJA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 hingga 30 September 2025 adalah seperti disajikan berikut ini. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 23
Page 37
Tabel 8 : Laporan Arus Kas BAJA Tahun 2020 - 30 September 2025 Dalam jutaan Rp 2020 2021 2022 2023 2024 30-Sep-25 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Penerimaan dari pelanggan 1.241.768 1.441.505 987.948 937.128 797.803 568.505 Pembayaran kepada pemasok, karyawan dan lainnya (1.032.803) (1.265.793) (1.111.664) (854.284) (778.609) (616.464) Pembayaran beban operasi lainnya (3.081) (38.832) (1.542) (2.143) (1.875) (932) Kas dihasilkan dari (digunakan untuk) operasi 205.885 136.880 (125.259) 80.702 17.318 (48.891) Penerimaan restitusi pajak - bersih 13.739 14.266 6.321 - 20.701 8.677 Pembayaran pajak penghasilan (6.335) (22.051) (32.767) (8.677) (8.677) (6.719) Pembayaran liabilitas imbalan pasca kerja - - - (1.896) (875) Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Operasi 213.288 129.095 (151.705) 72.025 27.445 (47.809) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Perolehan aset tetap (16.936) (20.455) (14.842) (13.316) (4.969) (8.043) Pencairan (penempatan) dana yang dibatasi penggunaannya 5.982 26.315 (3.921) 4.443 3.629 (746) Penerimaan bunga 1.267 3.939 1.698 395 571 930 Hasil penjualan aset tetap - 167 457 - - 400 Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Investasi (9.686) 9.966 (16.608) (8.478) (768) (7.460) Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Pembayaran utang bank (775.337) (587.476) (400.811) (311.683) (278.267) (208.285) Penerimaan utang bank 654.675 499.299 468.629 267.293 313.226 193.685 Pembayaran beban bunga dan keuangan (14.103) (7.466) (5.337) (4.568) (6.045) (6.042) Pembayaran liabilitas sewa (91) (91) (91) (91) (91) (38) Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan (134.856) (95.734) 62.389 (49.049) 28.822 (20.681) Peningkatan (penurunan) neto kas dan setara kas 68.746 43.328 (105.924) 14.498 55.499 (75.949) Kas dan setara kas (awal tahun) 17.242 85.991 129.330 23.471 37.958 93.486 Pengaruh perubahan kurs mata uang asing 3 11 66 (11) 29 27 Kas dan setara kas (akhir tahun) 85.991 129.330 23.471 37.958 93.486 17.564 a. Aktivitas Operasi Selama periode 2020 - 30 September 2025, arus kas Perseroan berfluktuasi, dimana pada tahun 2022 dan 30 September 2025, Perseroan mencatat arus kas negatif yang terutama disebabkan pembayaran kepada pemasok, karyawan dan lainnya lebih tinggi dibandingkan penerimaan yang didapat. b. Aktivitas Investasi Selama periode 2020 - 30 September 2025, Perseroan mencatat adanya kas yang digunakan untuk aktivitas investasi, kecuali untuk tahun 2021 dimana Perseroan mencairkan dana yang dibatasi penggunaannya. Kas terbesar yang digunakan untuk aktivitas investasi terjadi pada tahun 2022 dengan jumlah Rp 16,6 miliar, yang terutama digunakan untuk perolehan aset tetap sebesar Rp14,8 miliar. c. Aktivitas Pendanaan Selama periode 2020 - 30 September 2025, Perseroan mencatat adanya kas tertinggi yang diterima dari aktivitas pendanaan terjadi pada tahun 2022 terutama berasal dari penerimaan utang bank. 4.2.2 Rasio-rasio Keuangan Gambaran rasio keuangan BAJA untuk tahun yang berakhir pada 2020 hingga 30 September 2025 adalah seperti disajikan berikut ini. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 24
Page 38
Tabel 9 : Rasio Keuangan BAJA Tahun 2020 – 30 September 2025
SEBELUM TRANSAKSI
RASIO
2020 2021 2022 2023 2024 30-Sep-25
Profitabilitas
GPM 8,4% 13,5% -3,2% 1,3% 1,2% 2,9%
OPM 6,7% 12,5% -7,0% 0,5% -1,7% -0,2%
NPM 4,6% 6,4% -9,7% -0,1% -7,2% -4,9%
ROA 7,2% 12,2% -14,1% -0,2% -8,0% -5,6%
ROE 43,1% 40,9% -93,8% -1,2% -99,2% -124,2%
Likuiditas
Current Ratio 90,8% 256,5% 185,3% 179,6% 173,3% 175,2%
Quick Ratio 42,5% 103,0% 68,9% 70,4% 78,2% 60,2%
Cash Ratio 13,9% 61,0% 8,1% 13,1% 30,2% 6,1%
Leverage
DER 494,8% 235,2% 563,7% 554,1% 1132,6% 2136,2%
DAR 83,2% 70,2% 84,9% 84,7% 91,9% 95,5%
Interest & Debt Coverage
Interest Coverage Ratio (ICR) 313,8% 927,5% -861,6% 94,5% -166,4% -83,8%
Debt Service Coverage Ratio (DSCR) 18,6% 305,0% -85,2% 46,4% -9,7% -5,1%
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa:
❖ Marjin laba bersih (Net Profit Margin, NPM) berada pada posisi negatif sejak tahun
2022 yang berarti bahwa Perseroan terus mengalami kerugian.
❖ Berdasarkan rasio-rasio likuiditas, kemampuan Perseroan untuk memenuhi
kewajiban yang harus dibayar dengan harta lancarnya cukup baik, yaitu di atas
100% sejak tahun 2021. Namun apabila diukur dari rasio cepat, dimana persediaan
tidak diperhitungkan, maka likuiditas perusahaan cukup rendah karena berada
dibawah 100% sejak tahun 2022.
❖ Komposisi struktur perusahaan yang digambarkan dengan debt equity ratio (DER)
dan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan bahwa sebagian besar pendanaan
Perseroan berasal dari utang.
❖ Berdasarkan rasio kecukupan pembayaran bunga dan rasio kecukupan kas
perusahaan untuk membayar kewajiban utang saat ini, mengindikasikan bahwa
kondisi keuangan BAJA tidak sehat dimana pendapatan Perseroan saat ini tidak
cukup untuk membayar bunga dan hutangnya yang belum lunas.
4.2.3 Analisis Keuangan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
Posisi Keuangan dan Laba Rugi sebelum Rencana Transaksi diperoleh dari laporan
keuangan pada tanggal 30 September 2025 yang telah direview, sedangkan Posisi
Keuangan dan Laba Rugi setelah Rencana Transaksi merupakan perkiraan yang
didasarkan atas kemungkinan perubahan pada akun-akun yang terkait dengan Rencana
Transaksi yang diberikan oleh Manajemen. Untuk memberikan gambaran secara lebih
jelas, berikut ini disajikan tabel Posisi Keuangan dan Laba Rugi sebelum dan setelah
Rencana Transaksi.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 25
Page 39
4.2.3.1 Posisi Keuangan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
Tabel 10 : Posisi Keuangan BAJA Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
30-Sep-25
Dalam jutaan Rp
Sebelum Transaksi Penyesuaian Setelah Transaksi
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 17.564 - 17.564
Dana yang dibatasi penggunaannya 1.643 - 1.643
Piutang usaha
Pihak berelasi 3.621 - 3.621
Pihak ketiga 148.982 - 148.982
Piutang lain-lain 146 - 146
Persediaan 333.198 - 333.198
Uang muka pembelian 1.666 - 1.666
Pajak dibayar dimuka - - -
Biaya dibayar dimuka 735 - 735
Jumlah Aset Lancar 507.556 - 507.556
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 40.516 (7.842) 32.674
Aset tetap 104.878 - 104.878
Estimasi kelebihan pengembalian pajak 15.396 - 15.396
Uang jaminan 322 - 322
Aset lain-lain 672 - 672
Jumlah Aset Tidak Lancar 161.784 (7.842) 153.942
JUMLAH ASET 669.340 (7.842) 661.498
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank 79.009 - 79.009
Utang usaha
Pihak berelasi 35.246 - 35.246
Pihak ketiga 27.709 - 27.709
Utang lain-lain
Pihak berelasi 108 - 108
Pihak ketiga 1.492 - 1.492
Utang pajak 2.065 - 2.065
Liabilitas kontrak 1.705 - 1.705
Beban akrual
Pihak berelasi 135.974 (13.004) 122.970
Pihak ketiga 5.145 - 5.145
Bagian liabilitas jangka panjang yang akan jatuh
tempo dalam waktu satu tahun:
Liabilitas sewa 562 - 562
Utang pembiayaan konsumen 638 - 638
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 289.651 (13.004) 276.646
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang pihak berelasi jangka panjang 341.910 (24.340) 317.570
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 7.263 - 7.263
Utang pembiayaan konsumen jangka panjang 585 - 585
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 349.757 (24.340) 325.417
JUMLAH LIABILITAS 639.408 (37.344) 602.064
EKUITAS
Modal saham 180.000 - 180.000
Tambahan modal disetor - bersih 57.659 - 57.659
Saldo laba (defisit)
Sudah ditentukan penggunaannya 500 - 500
Belum ditentukan penggunaannya (208.227) 29.502 (178.724)
Jumlah Ekuitas 29.932 29.502 59.435
JUMLAH LIABILITAS & EKUITAS 669.340 (7.842) 661.498
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 26
Page 40
Aset Pajak Tangguhan
Aset pajak tangguhan berkurang sebesar Rp7,84 miliar karena terdapat pengenaan
pajak atas pengurangan beban bunga serta keuntungan kurs mata uang asing.
Beban Akrual
Beban akrual Perseroan berkurang sebesar Rp13,0 miliar karena berkurangnya utang
bunga karena selisih kurs sebesar Rp9,31 miliar dan reklasifikasi bunga akrual untuk
periode Oktober – Desember 2024 sebesar Rp3,68 miliar serta penyesuaian selisih kurs
transaksi dengan kurs pajak atas beban bunga Januari-September 2025 sebesar Rp13,9
juta.
Utang Pihak Berelasi
Pada tanggal 30 September 2025, utang pihak berelasi turun menjadi sebesar
Rp317.569.600.000 atau berkurang sebesar Rp24,34 miliar karena selisih kurs.
Saldo Laba
Saldo laba meningkat sebesar Rp29,5 miliar karena terdapat keuntungan kurs mata
uang asing atas perubahan jumlah utang pihak berelasi dan beban bunga akrual.
4.2.3.2 Laba Rugi Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
Tabel 11 : Laba Rugi BAJA Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
30-Sep-25
Dalam jutaan Rp
Sebelum Transaksi Penyesuaian Setelah Transaksi
PENJUALAN BERSIH 572.408 - 572.408
BEBAN POKOK PENJUALAN 555.556 - 555.556
LABA BRUTO 16.852 - 16.852
BEBAN USAHA
Beban Penjualan 5.323 - 5.323
Beban Umum & Administrasi 12.563 - 12.563
Jumlah beban usaha 17.886 - 17.886
LABA (RUGI) USAHA (1.034) - (1.034)
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
Beban keuangan (18.179) 1.868 (16.311)
Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing (17.259) 35.476 18.217
Pendapatan bunga 930 - 930
Dampak pendiskontoan liabilitas keuangan - - -
Lain-lain bersih 2.131 - 2.131
Jumlah Penghasilan (Beban) Lain-lain (32.377) 37.344 4.968
RUGI SEBELUM PAJAK (33.410) 37.344 3.934
Manfaat (beban) pajak 5.539 (7.842) (2.303)
RUGI TAHUN BERJALAN (27.872) 29.502 1.631
Rencana transaksi mempengaruhi Laba Rugi Perseroan Per 30 September 2025 atas:
• Penyesuaian beban bunga dengan nilai yang telah disepakati bersama dengan SS.
• Keuntungan kurs mata uang asing atas konversi pokok pinjaman dan bunga akrual
dalam mata uang USD menjadi Rupiah kepada SS.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 27
Page 41
• Atas pengurangan beban bunga dan keuntungan kurs mata uang asing, maka
manfaat pajak berkurang sebesar Rp 7,84 miliar dan beban pajak Perseroan
menjadi sebesar Rp2,30 miliar.
4.2.4 Proyeksi Keuangan Dengan dan Tanpa Rencana Transaksi
Proyeksi laporan keuangan telah dipersiapkan oleh manajemen BAJA dan disesuaikan
dengan asumsi-asumsi yang menurut Penilai cukup wajar dengan asumsi sebagai
berikut:
Tabel 12 : Asumsi Dasar Penyusunan Proyeksi
No. Dengan Transaksi Tanpa Transaksi
1. Pinjaman dari SS telah dikonversi Pinjaman dari SS dikonversi dengan kurs per
dengan kurs yang telah ditetapkan 30 September 2025 yaitu sebesar Rp16.680.
yaitu sebesar Rp15.416.
2. Pinjaman tidak meningkat karena telah Kurs pinjaman diasumsikan mengalami
dikonversi menjadi Rupiah peningkatan sebesar 2% per tahun selama
proyeksi.
3. Bunga atas pinjaman dalam Rupiah Bunga atas pinjaman dalam USD dengan
dengan asumsi 2% per tahun ditambah asumsi 2% per tahun ditambah tingkat suku
tingkat suku bunga Rupiah per tahun bunga valas USD per tahun yang diterbitkan
yang diterbitkan oleh Lembaga oleh Lembaga Penjamin Simpanan sebesar
Penjamin Simpanan sebesar 3,5%. 2%.
Dari asumsi di atas, diperoleh proyeksi sebagai berikut:
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 28
Page 42
Tabel 13 : Proyeksi Posisi Keuangan BAJA Dengan Rencana Transaksi
DENGAN TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 62.332 21.609 28.773 141.749 111.026 119.214
Dana yang dibatasi penggunaannya 1.643 1.643 1.643 1.643 1.643 1.643
Piutang usaha 147.286 171.058 196.996 186.100 205.109 226.058
Piutang lain-lain 146 146 146 146 146 146
Persediaan 327.718 413.468 481.257 507.620 535.529 570.414
Biaya dibayar dimuka 735 735 735 735 735 735
Total Aset Lancar 539.860 608.659 709.551 837.992 854.187 918.211
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 32.421 36.235 24.912 13.110 13.110 13.110
Aset tetap 76.862 55.675 35.862 16.112 90.498 113.563
Aset lain-lain 16.391 16.391 16.391 16.391 16.391 16.391
Jumlah Aset Tidak Lancar 125.674 108.301 77.164 45.613 119.998 143.064
TOTAL ASET 665.534 716.960 786.715 883.605 974.186 1.061.275
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank 81.635 86.126 91.270 108.058 102.732 73.375
Utang usaha 60.883 67.772 76.275 82.990 90.859 99.117
Utang lain-lain 1.599 1.599 1.599 1.599 1.599 1.599
Utang pajak 2.065 2.065 2.065 2.065 2.065 2.065
Liabilitas kontrak 1.705 1.705 1.705 1.705 1.705 1.705
Beban akrual 5.302 5.302 5.302 5.302 5.302 5.302
Utang bunga - pihak berelasi 126.555 141.401 156.247 171.094 185.940 200.786
Bagian liabilitas jk panjang JT 1 tahun
Utang pembiayaan konsumen 585 - - - - -
Total Liabilitas Jangka Pendek 280.329 305.970 334.462 372.812 390.202 383.949
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang pihak berelasi jangka panjang 317.570 317.570 317.570 317.570 317.570 317.570
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 7.263 7.263 7.263 7.263 7.263 7.263
Total Liabilitas Jangka Panjang 324.832 324.832 324.832 324.832 324.832 324.832
TOTAL LIABILITAS 605.161 630.802 659.295 697.645 715.035 708.781
EKUITAS
Modal saham 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000
Tambahan modal disetor - bersih 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659
Saldo laba (defisit)
Sudah ditentukan penggunaannya 500 500 500 500 500 500
Belum ditentukan penggunaannya (177.786) (152.001) (110.739) (52.199) 20.992 114.335
Total Ekuitas 60.373 86.158 127.420 185.960 259.151 352.494
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 665.534 716.960 786.715 883.605 974.186 1.061.275
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 29
Page 43
Tabel 14 : Proyeksi Laba Rugi BAJA Dengan Rencana Transaksi
DENGAN TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
Okt-Des 25 2026 2027 2028 2029 2030
PENJUALAN NETO 195.586 891.946 1.027.194 1.132.111 1.247.744 1.375.189
BEBAN POKOK PENJUALAN 185.185 824.554 928.007 1.009.710 1.105.457 1.205.919
LABA KOTOR 10.400 67.392 99.187 122.401 142.287 169.270
BEBAN USAHA
Beban Penjualan (1.774) (7.311) (7.530) (7.756) (7.988) (8.228)
Beban Umum dan Administrasi (900) (13.866) (14.282) (14.711) (15.152) (15.607)
Total Beban Usaha (2.674) (21.177) (21.812) (22.466) (23.140) (23.835)
LABA (RUGI) USAHA 7.726 46.215 77.375 99.934 119.147 145.435
PENGHASILAN ( BEBAN ) LAIN-LAIN
Beban Keuangan non afiliasi (2.014) (9.781) (10.759) (11.405) (12.089) (12.814)
Beban bunga afiliasi (4.402) (17.466) (17.466) (17.466) (17.466) (17.466)
Penghasilan Keuangan 44 1.000 1.116 1.182 1.251 1.326
Keuntungan (kerugian) mata uang asing (873) (1.166) (1.216) (1.270) (1.325) (1.382)
Penghasilan ( beban ) lain-lain 710 3.168 3.535 3.743 3.963 4.198
Total Pendapatan/(Beban) Lain-lain (6.535) (24.245) (24.789) (25.216) (25.666) (26.139)
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 1.191 21.971 52.586 74.718 93.481 119.296
MANFAAT ( BEBAN ) PAJAK PENGHASILAN
Pajak Kini - - - (4.376) (20.290) (25.954)
Pajak Tangguhan (252) 3.814 (11.323) (11.802) - -
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan (252) 3.814 (11.323) (16.178) (20.290) (25.954)
LABA (RUGI) NETO 939 25.784 41.263 58.540 73.190 93.343
Tabel 15 : Proyeksi Arus Kas BAJA Dengan Rencana Transaksi
DENGAN TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
Okt-Des 25 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan dari pelanggan 200.903 868.174 1.001.256 1.143.006 1.228.736 1.354.239
Pembayaran kepada pemasok, karyawan dan lainnya (155.429) (906.025) (991.912) (1.034.693) (1.125.643) (1.232.068)
Pembayaran beban operasi lainnya (162) 2.002 2.320 2.473 2.638 2.816
Kas Dihasilkan Dari Operasi 45.311 (35.848) 11.664 110.786 105.731 124.988
Pembayaran pajak penghasilan - - - (4.376) (20.290) (25.954)
Kas Neto Digunakan Untuk Aktivitas Operasi 45.311 (35.848) 11.664 106.410 85.441 99.034
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap - - - - (100.000) (50.000)
Penerimaan bunga 44 1.000 1.116 1.182 1.251 1.326
Kas Neto Digunakan Untuk Aktivitas Investasi 44 1.000 1.116 1.182 (98.749) (48.674)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan utang bank 2.626 4.491 5.143 16.788 (5.326) (29.357)
Pembayaran beban bunga dan keuangan (2.014) (9.781) (10.759) (11.405) (12.089) (12.814)
Pembayaran liabilitas sewa (562) - - - - -
Pembayaran utang pembiayaan konsumen (638) (585) - - - -
Kas Neto Diperoleh Dari Aktivitas Pendanaan (587) (5.875) (5.616) 5.384 (17.415) (42.171)
KENAIKAN ( PENURUNAN ) NETO KAS DAN BANK 44.768 (40.723) 7.164 112.975 (30.723) 8.189
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 17.564 62.332 21.609 28.773 141.749 111.026
Pengaruh perubahan kus mata uang asing
KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 62.332 21.609 28.773 141.749 111.026 119.214
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 30
Page 44
Tabel 16 : Proyeksi Rasio BAJA Dengan Rencana Transaksi
DENGAN TRANSAKSI
RASIO
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Profitabilitas
GPM 3,5% 7,6% 9,7% 10,8% 11,4% 12,3%
OPM 0,9% 5,2% 7,5% 8,8% 9,5% 10,6%
NPM 0,3% 2,9% 4,0% 5,2% 5,9% 6,8%
ROA 4,3% 3,6% 5,2% 6,6% 7,5% 8,8%
ROE 4,3% 29,9% 32,4% 31,5% 28,2% 26,5%
Likuiditas
Current Ratio 193% 199% 212% 225% 219% 239%
Quick Ratio 76% 64% 68% 89% 82% 91%
Cash Ratio 22% 7% 9% 38% 28% 31%
Aktivitas
Perputaran Aset 1,2 1,2 1,3 1,3 1,3 1,3
Perputaran Piutang 5,2 5,2 5,2 6,1 6,1 6,1
Leverage
DER 1002% 732% 517% 375% 276% 201%
DAR 91% 88% 84% 79% 73% 67%
Interest & Debt Coverage
Interest Coverage Ratio (ICR) 159% 325% 589% 755% 873% 1031%
Debt Service Coverage Ratio (DSCR) 37% 55% 82% 89% 27% 127%
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 31
Page 45
Tabel 17 : Proyeksi Posisi Keuangan BAJA Tanpa Rencana Transaksi
TANPA TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 62.470 22.251 29.877 147.647 127.751 138.319
Dana yang dibatasi penggunaannya 1.643 1.643 1.643 1.643 1.643 1.643
Piutang usaha 147.286 171.058 196.996 186.100 205.109 226.058
Piutang lain-lain 146 146 146 146 146 146
Persediaan 327.718 413.468 481.257 507.620 535.529 570.414
Biaya dibayar dimuka 735 735 735 735 735 735
Total Aset Lancar 539.998 609.300 710.654 843.891 870.913 937.316
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 40.707 45.919 36.146 21.682 13.110 13.110
Aset tetap 76.862 55.675 35.862 16.112 90.498 113.563
Aset lain-lain 16.391 16.391 16.391 16.391 16.391 16.391
Jumlah Aset Tidak Lancar 133.959 117.985 88.399 54.185 119.998 143.064
TOTAL ASET 673.957 727.285 799.053 898.076 990.911 1.080.380
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank 81.635 86.126 91.270 108.058 102.732 73.375
Utang usaha 60.883 67.772 76.275 82.990 90.859 99.117
Utang lain-lain 1.599 1.599 1.599 1.599 1.599 1.599
Utang pajak 2.065 2.065 2.065 2.065 2.065 2.065
Liabilitas kontrak 1.705 1.705 1.705 1.705 1.705 1.705
Beban akrual 5.302 5.302 5.302 5.302 5.302 5.302
Utang bunga 139.610 154.395 169.708 185.574 202.006 219.020
Bagian liabilitas jk panjang JT 1 tahun
Utang pembiayaan konsumen 585 - - - - -
Total Liabilitas Jangka Pendek 293.384 318.964 347.924 387.293 406.269 402.183
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang pihak berelasi jangka panjang 345.709 352.631 359.676 366.865 374.199 381.677
Liabilitas imbalan kerja jangka panjang 7.263 7.263 7.263 7.263 7.263 7.263
Total Liabilitas Jangka Panjang 352.972 359.893 366.939 374.128 381.462 388.939
TOTAL LIABILITAS 646.356 678.857 714.862 761.421 787.730 791.122
EKUITAS
Modal saham 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000 180.000
Tambahan modal disetor - bersih 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659 57.659
Saldo laba (defisit)
Sudah ditentukan penggunaannya 500 500 500 500 500 500
Belum ditentukan penggunaannya (210.558) (189.731) (153.968) (101.504) (34.978) 51.098
Total Ekuitas 27.601 48.428 84.191 136.655 203.181 289.257
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 673.957 727.285 799.053 898.076 990.911 1.080.380
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 32
Page 46
Tabel 18 : Proyeksi Laba Rugi BAJA Tanpa Rencana Transaksi
TANPA TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
Okt-Des 25 2026 2027 2028 2029 2030
PENJUALAN NETO 195.586 891.946 1.027.194 1.132.111 1.247.744 1.375.189
BEBAN POKOK PENJUALAN 185.185 824.554 928.007 1.009.710 1.105.457 1.205.919
LABA KOTOR 10.400 67.392 99.187 122.401 142.287 169.270
BEBAN USAHA
Beban Penjualan (1.774) (7.311) (7.530) (7.756) (7.988) (8.228)
Beban Umum dan Administrasi (900) (13.866) (14.282) (14.711) (15.152) (15.607)
Total Beban Usaha (2.674) (21.177) (21.812) (22.466) (23.140) (23.835)
LABA (RUGI) USAHA 7.726 46.215 77.375 99.934 119.147 145.435
PENGHASILAN ( BEBAN ) LAIN-LAIN
Beban Keuangan non afiliasi (2.014) (9.781) (10.759) (11.405) (12.089) (12.814)
Beban bunga afiliasi (5.184) (14.105) (14.387) (14.675) (14.968) (15.267)
Penghasilan Keuangan 44 1.000 1.116 1.182 1.251 1.326
Keuntungan (kerugian) mata uang asing (3.805) (10.883) (11.345) (11.851) (12.368) (12.896)
Penghasilan ( beban ) lain-lain 710 3.168 3.535 3.743 3.963 4.198
Total Pendapatan/(Beban) Lain-lain (10.248) (30.601) (31.840) (33.006) (34.211) (35.454)
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN (2.522) 15.615 45.535 66.928 84.936 109.981
MANFAAT ( BEBAN ) PAJAK PENGHASILAN
Pajak Kini - - - - (9.838) (23.904)
Pajak Tangguhan 191 5.212 (9.772) (14.464) (8.572) -
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan 191 5.212 (9.772) (14.464) (18.411) (23.904)
LABA (RUGI) NETO (2.331) 20.827 35.763 52.464 66.526 86.077
Tabel 19 : Proyeksi Arus Kas BAJA Tanpa Rencana Transaksi
TANPA TRANSAKSI
Dalam jutaan Rupiah
Okt-Des 25 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan dari pelanggan 200.903 868.174 1.001.256 1.143.006 1.228.736 1.354.239
Pembayaran kepada pemasok, karyawan dan lainnya (155.291) (905.521) (991.450) (1.034.274) (1.125.268) (1.231.738)
Pembayaran beban operasi lainnya (162) 2.002 2.320 2.473 2.638 2.816
Kas Dihasilkan Dari Operasi 45.449 (35.344) 12.126 111.205 106.106 125.318
Pembayaran pajak penghasilan - - - (9.838) (23.904)
Kas Neto Digunakan Untuk Aktivitas Operasi 45.449 (35.344) 12.126 111.205 96.268 101.414
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap - - - - (100.000) (50.000)
Penerimaan bunga 44 1.000 1.116 1.182 1.251 1.326
Kas Neto Digunakan Untuk Aktivitas Investasi 44 1.000 1.116 1.182 (98.749) (48.674)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan utang bank 2.626 4.491 5.143 16.788 (5.326) (29.357)
Pembayaran beban bunga dan keuangan (2.014) (9.781) (10.759) (11.405) (12.089) (12.814)
Pembayaran liabilitas sewa (562) - - - - -
(638) (585) - - - -
Kas Neto Diperoleh Dari Aktivitas Pendanaan (587) (5.875) (5.616) 5.384 (17.415) (42.171)
KENAIKAN ( PENURUNAN ) NETO KAS DAN BANK 44.906 (40.219) 7.626 117.770 (19.896) 10.568
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 17.564 62.470 22.251 29.877 147.647 127.751
Pengaruh perubahan kus mata uang asing
KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 62.470 22.251 29.877 147.647 127.751 138.319
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 33
Page 47
Tabel 20 : Proyeksi Rasio BAJA Tanpa Rencana Transaksi
TANPA TRANSAKSI
RASIO
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Profitabilitas
GPM 3,5% 7,6% 9,7% 10,8% 11,4% 12,3%
OPM 0,9% 5,2% 7,5% 8,8% 9,5% 10,6%
NPM -3,9% 2,3% 3,5% 4,6% 5,3% 6,3%
ROA -109,4% 2,9% 4,5% 5,8% 6,7% 8,0%
ROE -109,4% 43,0% 42,5% 38,4% 32,7% 29,8%
Likuiditas
Current Ratio 184,1% 191,0% 204,3% 217,9% 214,4% 233,1%
Quick Ratio 72,4% 61,4% 65,9% 86,8% 82,6% 91,2%
Cash Ratio 21,3% 7,0% 8,6% 38,1% 31,4% 34,4%
Aktivitas
Perputaran Aset 1,1 1,2 1,3 1,3 1,3 1,3
Perputaran Piutang 5,2 5,2 5,2 6,1 6,1 6,1
Leverage
DER 2341,8% 1401,8% 849,1% 557,2% 387,7% 273,5%
DAR 95,9% 93,3% 89,5% 84,8% 79,5% 73,2%
Interest & Debt Coverage
Interest Coverage Ratio (ICR) -25,2% 259,6% 523,2% 686,8% 802,6% 958,3%
Debt Service Coverage Ratio (DSCR) 32,9% 48,6% 74,6% 82,1% 19,7% 115,7%
Dari gambaran di atas terlihat bahwa diproyeksikan terdapat beberapa perbedaan
antara Dengan dilakukannya Rencana Transaksi dan Tanpa dilakukannya Rencana
Transaksi yaitu sebagai berikut:
Posisi Keuangan:
❖ Utang Pihak Berelasi
Dengan Transaksi, utang pihak berelasi berkurang secara Rupiah dibandingkan
Tanpa Transaksi.
❖ Utang Bunga
Dengan Transaksi, utang bunga Pihak Berelasi lebih rendah karena kurs konversi
yang lebih rendah, meskipun tingkat suku bunga utang dengan kurs Rupiah lebih
tinggi dibandingkan dengan kurs USD.
❖ Aset Pajak Tangguhan
Dengan Transaksi, aset pajak tangguhan lebih rendah karena adanya keuntungan
selisih kurs sehingga beban pajak lebih tinggi dan mengurangi aset pajak
tangguhan.
❖ Saldo Laba
Dengan Transaksi, saldo laba meningkat karena kurs yang lebih rendah atas utang
pihak berelasi, meskipun tingkat suku bunga utang dalam Rupiah lebih tinggi
dibandingkan Tanpa Transaksi.
❖ Kas
Sampai dengan tahun 2027 tidak ada perubahan pada kas karena Rencana
Transaksi bersifat non kas dan Perseroan masih memiliki kompensasi atas kerugian
tahun-tahun sebelumnya terkait pajak. Namun mulai tahun 2028, saldo kas Dengan
Transaksi lebih rendah karena keuntungan kurs mata uang asing menyebabkan
peningkatan beban pajak dibandingkan Tanpa Transaksi.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 34
Page 48
Laba Rugi:
Berdasarkan proyeksi laba rugi, Dengan Rencana Transaksi akan meningkatkan laba
Perseroan karena Tanpa Rencana Transaksi, Perseroan mengalami kerugian mata uang
asing akibat peningkatan jumlah pinjaman secara Rupiah, meskipun tingkat suku bunga
utang dalam USD lebih rendah dibandingkan Tanpa Rencana Transaksi.
Arus Kas:
❖ Arus Kas Operasional
Sampai dengan tahun 2027 tidak ada perubahan pada kas karena Rencana Transaksi
bersifat non kas dan Perseroan masih memiliki kompensasi atas kerugian tahun-tahun
sebelumnya terkait pajak. Dengan Rencana Transaksi, pembayaran pajak penghasilan
mulai tahun 2028 lebih besar karena perolehan laba yang lebih tinggi dibandingkan
Tanpa Rencana Transaksi.
Rasio Keuangan
❖ Dengan Rencana Transaksi, marjin laba bersih Perseroan lebih tinggi dibandingkan
Tanpa Rencana Transaksi karena ada perbedaan pada selisih kurs dan beban bunga.
❖ Dengan Rencana Transaksi, rasio likuiditas Perseroan yang dapat dilihat dari rasio
lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio), dan rasio kas (cash ratio) meningkat
dibandingkan Tanpa Rencana Transaksi karena utang bunga yang lebih rendah.
❖ Dengan Rencana Transaksi, rasio leverage yang dapat dilihat dari DER dan DAR
mengalami penurunan dibanding Tanpa Rencana Transaksi, karena Dengan
Rencana Transaksi, saldo laba lebih tinggi serta jumlah utang pokok dan utang
bunga pihak berelasi lebih rendah dibandingkan dengan Tanpa Rencana Transaksi.
❖ Rasio kecukupan pembayaran bunga dan utang pokok Perseroan digambarkan
dengan Interest Coverage Ratio (ICR) atau rasio cakupan pembayaran bunga dan
Debt Service Coverage Ratio (DSCR) atau rasio cakupan pembayaran bunga dan
utang lancar. Dengan Rencana Transaksi, rasio ini lebih tinggi dibandingkan Tanpa
Rencana Transaksi karena laba Perseroan lebih tinggi.
4.2.5 Analisis Inkremental atas Rencana Transaksi
4.2.5.1 Kontribusi Nilai Tambah
Dari kajian terhadap proyeksi Dengan dan Tanpa dilakukannya Rencana Transaksi,
diperoleh kontribusi nilai tambah terhadap Perseroan sebagai berikut:
❖ Kerugian Mata Uang Asing
Tabel 21 : Perbandingan Kerugian Mata Uang Asing BAJA
Dalam Jutaan Rp Okt-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Dengan Rencana Transaksi 873 1.166 1.216 1.270 1.325 1.382
Tanpa Rencana Transaksi 3.805 10.883 11.345 11.851 12.368 12.896
Perbedaan (Rp) (2.932) (9.717) (10.130) (10.582) (11.043) (11.515)
Perbedaan (%) -77% -89% -89% -89% -89% -89%
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 35
Page 49
❖ Beban Bunga
Tabel 22 : Perbandingan Beban Bunga BAJA
Dalam Jutaan Rp Okt-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Dengan Rencana Transaksi 6.417 27.247 28.226 28.871 29.555 30.281
Tanpa Rencana Transaksi 7.198 23.886 25.146 26.079 27.057 28.081
Perbedaan (Rp) (781) 3.361 3.079 2.792 2.498 2.199
Perbedaan (%) -11% 14% 12% 11% 9% 8%
❖ Laba Bersih
Tabel 23 : Perbandingan Laba Bersih BAJA
Dalam Jutaan Rp Okt-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Dengan Rencana Transaksi 939 25.784 41.263 58.540 73.190 93.343
Tanpa Rencana Transaksi (2.331) 20.827 35.763 52.464 66.526 86.077
Perbedaan (Rp) 3.270 4.957 5.499 6.076 6.665 7.266
Perbedaan (%) N/A 24% 15% 12% 10% 8%
Dari hasil analisis inkremental terlihat bahwa dengan dilaksanakan Rencana Transaksi:
• Pendapatan, beban pokok penjualan, beban usaha dan laba usaha Perseroan tidak
berubah, karena diasumsikan kebutuhan kas untuk mengoptimalkan operasional
Perseroan terpenuhi, baik Dengan maupun Tanpa Rencana Transaksi.
• Dengan Recana Transaksi, kerugian mata uang asing lebih rendah 77%-89%
karena pinjaman telah dikonversi menjadi Rupiah sehingga tidak ada risiko kerugian
mata uang asing.
• Dengan Rencana Transaksi, beban bunga lebih tinggi selama tahun 2026-2030
karena tingkat suku bunga pinjaman dalam Rupiah lebih tinggi dibandingkan Tanpa
Rencana Transaksi.
• Dengan Rencana Transaksi, laba bersih Perseroan lebih tinggi dibandingkan Tanpa
Rencana Transaksi karena penurunan kerugian mata uang asing lebih besar
dibandingkan peningkatan beban bunga.
4.2.5.2 Biaya atau Pendapatan yang Relevan
Rencana Transaksi memberikan dampak terhadap beban bunga dan pajak Perseroan.
4.2.5.3 Informasi Non Keuangan yang Relevan
Rencana Transaksi merupakan bagian dari rencana penyelesaian utang yang
direncanakan akan dikonversi menjadi saham yang akan dilakukan dengan memenuhi
peraturan pasar modal yang berlaku khususnya POJK No.32/POJK.04/2015 tentang
Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Dengan Memberikan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu (“POJK 32/2015”) juncto POJK No.14/POJK.04/2019 tentang Perubahan
atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32/POJK.04/2015 tentang Penambahan
Modal Perusahaan Terbuka Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
(“POJK 14/2019”).
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 36
Page 50
Jika right issue tersebut dilaksanakan, dapat menimbulkan risiko dilusi yaitu penurunan
persentase kepemilikan bagi pemegang saham publik, yaitu saat pinjaman dikonversi
menjadi saham. Risiko ini dapat terjadi apabila pemegang saham publik tidak
menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang diterbitkan Perseroan apabila
Perseroan melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
(“HMETD”).
4.2.5.4 Prosedur Pengambilan Keputusan dengan Memperhatikan Alternatif
Lain
Direksi terlebih dahulu melakukan kajian internal atas kebutuhan bisnis dan risiko
keuangan, termasuk eksposur nilai tukar dan dampaknya terhadap arus kas serta
keberlangsungan usaha.
Hasil kajian tersebut dibahas dalam rapat Direksi dan selanjutnya disampaikan kepada
Dewan Komisaris untuk mendapatkan persetujuan pengawasan.
Mengingat adanya hubungan afiliasi antar pihak, Perusahaan memastikan bahwa
keputusan diambil secara objektif, kolektif dan untuk kepentingan Perusahaan serta
mempertimbangkan pemenuhan ketentuan peraturan pasar modal yang berlaku,
termasuk kebutuhan atas persetujuan RUPS apabila dipersyaratkan.
Tidak ada alternatif lain, karena apabila kurs tidak ditetapkan, melihat tren kurs Rupiah
yang terus melemah terhadap mata uang USD, maka utang BAJA akan terus meningkat
secara Rupiah tanpa ada penerimaan dana.
4.3 Analisis Kewajaran Rencana Transaksi
a. Analisis Transaksi
Rencana Transaksi adalah Rencana Penetapan Kurs Konversi atas Pinjaman Dana dari
SS kepada BAJA sebesar USD 20.600.000 (dua puluh juta enam ratus ribu Dollar
Amerika Serikat) beserta bunga terutangnya.
Rencana Transaksi merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK
No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Rencana Transaksi juga merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam
POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan
Kepentingan. Namun sesuai dengan Surat Pernyataan Manajemen Perseroan, Rencana
Transaksi dimaksud bukan merupakan transaksi yang mengandung benturan
kepentingan.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa manfaat dari
Rencana Transaksi adalah penurunan pencatatan utang dalam mata uang Rupiah karena
kurs yang digunakan lebih rendah dan menghilangkan risiko fluktuasi mata uang asing
atas utang.
Tidak ada risiko yang ditimbulkan dari Rencana Transaksi penetapan kurs konversi ini.
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 37
Page 51
b. Analisis Kualitatif PT Saranacentral Bajatama Tbk didirikan pada tanggal 4 Oktober 1993 sebagai perusahaan yang fokus pada industri pengerjaan logam dan produk-produk berbahan dasar logam. Pada 21 Desember 2011, Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pencatatan ini tidak hanya meningkatkan modal, tetapi juga memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan kepercayaan investor. Berdasarkan Perjanjian Kredit No. 001/SCB-LGL/X/2011 tanggal 3 Oktober 2011 antara BAJA dengan SS, SS setuju untuk memberikan pinjaman dana untuk melunasi pinjaman BAJA di Bank Credit Suisse dan Bank Sarasin Rabo dengan jumlah pokok maksimum sebesar USD 20.600.000 dengan jangka waktu 5 tahun dengan bunga sebesar 0,2% per tahun atas jumlah terhutang. BAJA diperkenankan untuk membayar sebagian maupun seluruh pinjaman sebelum berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan tersebut tanpa dikenakan penalti atau denda. Pinjaman ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko dan beban operasional Perseroan serta mendukung kelancaran operasional kegiatan usaha BAJA. Pada tanggal 3 November 2011, BAJA dan SS sepakat untuk mengubah tingkat bunga menjadi sebesar 2% per tahun ditambah tingkat suku bunga valas USD per tahun yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan pada saat bunga wajib dibayarkan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 telah disepakati Perjanjian Perpanjangan Terhadap Perjanjian Kredit dengan No. PPPK001/SCB-LGL/X/2016 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2016 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2021. Pada tanggal 1 Oktober 2021 kembali disepakati Perjanjian Perpanjangan Terhadap Perjanjian Kredit dengan No. PPPK002/SCB-LGL/X/2021 terhadap Perjanjian Kredit ini untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal 3 Oktober 2021 dan akan berakhir pada 3 Oktober 2026. Rencana Transaksi merupakan kesepakatan untuk melakukan konversi utang dalam Dolar Amerika Serikat menjadi Rupiah dengan nilai tukar Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yaitu kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp15.416, sehingga utang Perseroan kepada SS akan menjadi sebesar Rp317.569.600.000 (tiga ratus tujuh belas miliar lima ratus enam puluh sembilan juta enam ratus ribu Rupiah). Keuntungan dari rencana transaksi adalah kepastian jumlah utang Perseroan sesuai dengan mata uang yang digunakan oleh Perseroan yaitu Rupiah. Sementara itu, tidak ada kerugian yang timbul atas Rencana Transaksi. c. Analisis Kuantitatif Dengan Rencana Transaksi, kerugian mata uang asing lebih rendah 77%-89% karena pinjaman telah dikonversi menjadi Rupiah sehingga tidak ada risiko kerugian mata uang asing. Dengan Rencana Transaksi, utang pihak berelasi jumlahnya tidak berubah selama tahun 2026-2030 karena telah dilakukan konversi, sedangkan Tanpa Transaksi utang pihak berelasi mengalami peningkatan yang disebabkan oleh perubahan kurs USD. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 38
Page 52
Dengan Rencana Transaksi, beban bunga lebih tinggi selama tahun 2026-2030 karena tingkat suku bunga pinjaman dalam Rupiah lebih tinggi dibandingkan Tanpa Transaksi. Dengan Rencana Transaksi, laba bersih Perseroan lebih tinggi dibandingkan Tanpa Rencana Transaksi karena penurunan kerugian mata uang asing lebih besar dibandingkan peningkatan beban bunga. d. Analisis Kewajaran Nilai Tukar Transaksi Kurs tengah Bank Indonesia tanggal 30 September 2025 adalah sebesar USD1 = Rp16.680, sementara nilai tukar yang digunakan dalam Rencana Transaksi adalah Kurs tengah Bank Indonesia tanggal 31 Desember 2023 yaitu sebesar USD1 = Rp15.416, atau 7,58% lebih rendah dibandingkan kurs tengah Bank Indonesia pada Tanggal Penilaian, yang berarti melewati batas bawah sebesar 7,5% atau melebihi kisaran nilai yang wajar. e. Analisis atas Faktor Lain yang Relevan Rencana Transaksi ini merupakan bagian dari rencana BAJA untuk melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”) untuk melunasi pinjaman dari SS. Jika right issue tersebut dilaksanakan, dapat menimbulkan risiko dilusi yaitu penurunan persentase kepemilikan bagi pemegang saham publik, yaitu saat pinjaman dikonversi menjadi saham. Risiko ini dapat terjadi apabila pemegang saham publik tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang diterbitkan Perseroan apabila Perseroan melakukan right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“HMETD”). 4.4 Kesimpulan Berdasarkan analisis kewajaran Rencana Transaksi sebagaimana diuraikan dalam laporan ini, kami berpendapat bahwa Rencana Transaksi penetapan kurs konversi pinjaman mata uang USD dari PT Sarana Steel kepada PT Saranacentral Bajatama Tbk adalah tidak wajar. Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 39
Page 53
5. LAMPIRAN Lampiran : 1. Surat Pernyataan Tidak Ada Benturan Kepentingan Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 40
Page 54
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026 41
Names mentioned 34 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
—
Ref. No. 00123/2.0072-00/BS/04/0022/1/II/2026
p.2 ×3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.4 ×11
unresolved
org
Bank Credit Suisse
p.5 ×3
unresolved
org
Bank Sarasin Rabo
p.5 ×3
unresolved
org
KJPP Felix Sutandar dan Rekan
p.7 ×3
unresolved
person
Felix Sutandar, MSc
· Pemimpin Rekan
p.7 ×3
unresolved
—
Kualifikasi
p.13
unresolved
—
Ijin Penilai
p.13
unresolved
—
STTD
p.13
unresolved
—
MAPPI
p.13 ×3
unresolved
person
Natalia Goysal
p.13
unresolved
person
Grace Martana
p.13
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris
p.16 ×7
unresolved
person
Richardus Nangkih Sinulingga
p.19
unresolved
person
H. Muhammad Afdal Gazali
p.19 ×2
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.19
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.19
unresolved
org
PT Sarana Steel Corporation
p.20
unresolved
org
Menteri Kehakiman
p.20
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.