Back to announcement
20260113_ASLI_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32019834_lamp1.pdf
Other Text extracted ASLISource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 16
Page 1
Nomor : 011/CORSEC/AKL/I/2026 Bekasi, 14 Januari 2025
Lampiran :1
Kepada Yth
PT Bursa Efek Indonesia
Gedung BEI Tower I, lantai 6
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53, Jakarta
Perihal : Tanggapan atas Permintaan Penjelasan
Dengan Hormat,
Merujuk kepada Surat Bursa Efek Indonesia dengan nomor S-00044/BEI.PP1/01-2026 tertanggal 02 Januari 2026
yang kami terima pada tanggal 05 Januari 2026 perihal Permintaan Penjelasan, melalui surat ini kami bermaksud
untuk menyampaikan penjelasan/tanggapan kami sebagaimana terlampir dalam surat ini.
Demikian hal ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami
PT Asri Karya Lestari Tbk
Yudra Saputra
Direktur
1
Page 2
Lampiran 1
1 Pada Laporan Keuangan per 30 September 2025, Perseroan membukukan penurunan pendapatan sebesar -
24,58% menjadi Rp136,5 miliar. Adapun kami menyoroti penurunan jasa konstruksi sebesar -15,41% dan
pendapatan sewa sebesar -77,75%. Pada tahun 2024, Perseroan memiliki dua pelanggan dengan kontribusi
signifikan yaitu PT Pembangunan Deltamas dengan pendapatan sebesar Rp52,8 miliar dan Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang (Dinas PUPR) Kalimantan Selatan dengan nilai Rp51,2 miliar. Pada tahun 2025,
pelanggan dengan kontribusi signifikan hanya Dinas PUPR Kalimantan Selatan dengan nilai Rp61,1 miliar.
Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan:
a. Penyebab penurunan pendapatan Perseroan pada tahun 2025.
b. Latar belakang pelanggan dengan kontribusi pendapatan signifikan pada tahun 2025 hanya Dinas PUPR
Kalimantan Selatan.
c. Rincian proyek-proyek Perseroan yang masih berjalan dan status penyelesaiannya.
d. Metode pengakuan pendapatan atas proyek Perseroan dan kesesuaiannya dengan PSAK terkait.
e. Dengan mempertimbangkan Perseroan mencatatkan rugi usaha dan rugi tahun berjalan per 30
September 2025, jelaskan strategi manajemen dalam memperbaiki kinerja operasional dan profitabilitas
Perseroan hingga akhir tahun buku 2025.
Penjelasan:
a. Penurunan pendapatan Perseroan pada periode yang berakhir 30 September 2025 terutama disebabkan
oleh perbedaan portofolio dan tahapan proyek yang dikerjakan dibandingkan periode sebelumnya, serta
pergeseran waktu pengakuan pendapatan. Penurunan pendapatan jasa konstruksi terjadi karena pada
tahun 2024 Perseroan berada pada fase penyelesaian beberapa proyek besar yang memberikan
kontribusi pendapatan signifikan, sementara pada tahun 2025 sebagian proyek tersebut telah selesai dan
proyek-proyek baru masih berada pada tahap awal pelaksanaan, sehingga pendapatan yang dapat diakui
hingga periode pelaporan menjadi lebih terbatas. Adapun penurunan pendapatan sewa terutama
disebabkan oleh berakhirnya atau berkurangnya kontrak sewa tertentu.
b. Pada tahun 2025, pelanggan dengan kontribusi pendapatan signifikan Perseroan adalah Dinas PUPR
Provinsi Kalimantan Selatan, sehubungan dengan pelaksanaan proyek infrastruktur strategis berupa
pembangunan jalan dan jembatan dengan skala besar dan durasi kontrak berdurasi jamak (multi-years).
Sementara itu, kontribusi pendapatan dari PT Pembangunan Deltamas menurun dibandingkan tahun
2024 karena proyek utama Perseroan di kawasan tersebut telah memasuki tahap akhir penyelesaian dan
sebagian besar pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya.
2
Page 3
c. Rincian Proyek Perseroan yang masih berjalan adalah sebagai berikut:
Proyek Pemberi Kerja Nilai Kontrak Status
(Rp)
Pekerjaan Peningkatan Kapasitas Lajur Tahap 2 PT Jasamarga 28.272.969.000 On-
(Rest Area KM. 207 A) pada Ruas Jalan Tol Palikanci Tollroad going
Tahun 2025 Maintenance
Pekerjaan Pemeliharaan Periodik Scrapping Filling PT Jasamarga 32.558.709.000 On-
Overlay (SFO) dan Rekonstruksi pada Ruas Jalan Tollroad going
Tol Palikanci Tahun 2025 Maintenance
Pekerjaan Struktur Abutment Proyek Pembangunan HUTAMA- 868.357.379 On-
Jalan Tol Serang - Panimbang Seksi III (Cileles - ABIPRAYA-JAKON- going
Panimbang) Fase 2 Paket 2 YASA (KSO)
Pekerjaan Struktur Pembangunan Jalan Tol Serang HUTAMA- 2.311.741.560 On-
- Panimbang Seksi III (Cileles - Panimbang) Pase 2 ABIPRAYA-JAKON- going
Paket 2 YASA (KSO)
Pekerjaan Rehabilitasi Irigasi Proyek Rehabilitasi PT Hutama Karya 2.354.800.470 On-
Jaringan Irigasi D.I. Kewenangan Pemerintah (Persero) going
Daerah Di BBWS Bengawan Solo Paket II
Pekerjaan Borepile D150 Proyek Pembangunan HUTAMA- 5.806.972.125 On-
Tanjung Priok Timur Baru / New Priok Eastern ABIPRAYA KSO going
Access (NPEA) Seksi I STA 0+000 (IC NPEA) - STA
2+777 (P38) DKI Jakarta
d. Perseroan mengakui pendapatan atas proyek konstruksi berdasarkan metode persentase penyelesaian,
yang mencerminkan tingkat penyelesaian pekerjaan pada tanggal pelaporan. Metode tersebut diterapkan
secara konsisten dan telah disesuaikan dengan ketentuan PSAK yang berlaku, di mana pendapatan diakui
sepanjang kriteria pengakuan terpenuhi dan progres pekerjaan dapat diukur secara andal.
e. Sehubungan dengan rugi usaha dan rugi tahun berjalan yang tercatat per 30 September 2025,
manajemen telah dan akan terus melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain:
- Optimalisasi struktur biaya proyek, termasuk pengendalian biaya mobilisasi, tenaga kerja, dan biaya
operasional lainnya.
- Fokus pada percepatan progres proyek yang telah berjalan, guna meningkatkan volume pendapatan
yang dapat diakui.
- Penyesuaian strategi tender dan seleksi proyek, dengan mempertimbangkan profil risiko dan margin
yang lebih seimbang.
- Penguatan manajemen arus kas dan likuiditas, seiring dengan percepatan penagihan dan
pengendalian liabilitas jangka pendek.
3
Page 4
2 Berdasarkan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Perdana Saham PT Asri Karya
Lestari Tbk (Perseroan) tanggal 17 Februari 2025, penggunaan dana IPO Perseroan terbagi menjadi 3 (tiga)
hal. 2 dari 3 hal tersebut adalah untuk penyertaan modal entitas anak PT Bumi Prima Konstruksi (BPK) sebesar
Rp44,98 miliar atau sekitar 37,32% dari total perolehan dana dan Perseroan menggunakan dana tersebut untuk
penyertaan modal entitas anak PT Manyar Perkasa Mandiri (PMP) sebesar Rp34,98 miliar atau sekitar 29,03%.
Perseroan memberikan informasi mengenai total aset yang dimiliki oleh kedua anak perusahaan Perseroan,
yaitu BPK dan PMP melalui Laporan Keuangan 31 Desember 2024. Untuk BPK sendiri terdapat penambahan
total aset sebelum eliminasi dengan nilai Rp106,50 miliar menjadi Rp156,67 miliar. Begitu juga dengan PMP,
terdapat penambahan pada total aset sebelum eliminasi antara periode 31 Desember 2023 dengan nilai
Rp84,63 miliar menjadi Rp125,03 miliar. Bursa meminta penjelasan sebagai berikut:
a. Sehubungan dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum untuk penyertaan modal kepada BPK
dan PMP, jelaskan secara rinci komponen akun aset apa saja yang mengalami peningkatan signifikan
pada masing-masing entitas anak tersebut periode 31 Desember 2024, serta sejauh mana peningkatan
tersebut secara langsung berasal dari dana penyertaan modal Perseroan?
b. Jelaskan waktu realisasi penyertaan modal kepada BPK dan PMP serta korelasinya dengan periode
terjadinya peningkatan total aset pada masing-masing entitas anak, dan jelaskan secara detail terkait
dengan penggunaan dari penyertaan modal ini untuk entitas anak Perseroan?
c. Sehubungan dengan peningkatan total aset yang signifikan pada BPK dan PMP setelah Penawaran
Umum, jelaskan dampak peningkatan aset tersebut terhadap kapasitas operasional, proyek berjalan, atau
ekspansi usaha yang dilakukan oleh masing-masing entitas anak.
d. Jelaskan apakah peningkatan total aset pada BPK dan PMP telah sepenuhnya sejalan dengan tujuan
penggunaan dana Penawaran Umum sebagaimana diungkapkan dalam prospektus, termasuk apabila
terdapat perbedaan realisasi penggunaan dana terhadap rencana awal.
Penjelasan:
a. Sehubungan dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum untuk penyertaan modal kepada entitas
anak, peningkatan total aset pada PT Manyar Perkasa Mandiri (MPM) dan PT Bumi Prima Konstruksi
(BPK) pada periode 31 Desember 2024 terutama berasal dari akun uang muka pembelian aset tetap.
Pada MPM, dana penyertaan modal digunakan terutama untuk pembangunan fasilitas batching plant,
termasuk pembayaran uang muka atas:
- pembangunan infrastruktur batching plant, dan
- pengadaan mesin dan peralatan batching plant.
4
Page 5
Dengan demikian, akun yang mengalami peningkatan signifikan adalah uang muka pembelian aset tetap,
yang mencerminkan investasi yang masih dalam tahap realisasi.
Sementara itu, pada BPK, dana penyertaan modal digunakan terutama untuk pengadaan alat berat, yang
pada tahap awal juga dicatat sebagai uang muka pembelian aset tetap sebelum dilakukan penyerahan
dan kapitalisasi aset.
Perseroan menegaskan bahwa sebagian besar peningkatan aset tersebut berkorelasi langsung dengan
dana penyertaan modal yang bersumber dari hasil Penawaran Umum, sementara selebihnya berasal dari
aktivitas operasional normal masing-masing entitas anak.
b. Penyertaan modal kepada MPM dan BPK dilakukan setelah Perseroan menerima dana hasil Penawaran
Umum, dan telah direalisasikan dalam periode tahun 2024 sesuai dengan rencana penggunaan dana.
Peningkatan total aset pada masing-masing entitas anak terjadi seiring dengan realisasi penyertaan modal
tersebut, khususnya pada saat dilakukan pembayaran uang muka kepada kontraktor, pemasok mesin,
dan penyedia alat berat. Dana penyertaan modal digunakan secara spesifik untuk pembiayaan belanja
modal (capital expenditure) dan tidak digunakan untuk kebutuhan operasional rutin di luar rencana yang
telah ditetapkan
c. Peningkatan aset pada MPM dan BPK memberikan dampak positif terhadap kapasitas operasional dan
kemampuan menghasilkan pendapatan masing-masing entitas anak.
Pada MPM, pembangunan batching plant yang saat ini telah berprogres ditujukan untuk mendukung
kegiatan penyediaan beton siap pakai. Seiring dengan progres pembangunan tersebut, MPM telah
memperoleh kontrak penyewaan batching plant untuk mendukung proyek infrastruktur, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pendapatan pada periode mendatang.
Sementara itu, pada BPK, sebagian alat berat yang telah direalisasikan telah digunakan dalam kegiatan
usaha penyewaan alat berat, sehingga peningkatan aset tersebut secara langsung mendukung kegiatan
operasional dan pendapatan BPK.
Dengan demikian, peningkatan aset pada kedua entitas anak bersifat produktif dan selaras dengan
strategi pengembangan usaha Grup.
5
Page 6
d. Perseroan menegaskan bahwa peningkatan total aset pada BPK dan MPM telah sejalan dengan tujuan
penggunaan dana hasil Penawaran Umum sebagaimana diungkapkan dalam prospektus, yaitu untuk
memperkuat struktur permodalan entitas anak dan mendukung pengembangan aset produktif.
Hingga tanggal pelaporan, tidak terdapat perubahan material antara rencana penggunaan dana
Penawaran Umum dengan realisasi penggunaannya. Apabila terdapat perbedaan waktu realisasi, hal
tersebut semata-mata disebabkan oleh tahapan pelaksanaan proyek dan proses pengadaan aset, dan
tidak mengubah tujuan akhir penggunaan dana.
3 Pada nilai kas dan setara kas, persentase terealisasinya antara Laporan Keuangan per 30 September 2025
dengan proyeksi hanya sebesar 2,67%. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan dari arus kas antara aktual
dan proyeksi yang berbeda cukup jauh. Secara aktual, arus kas operasi dari Perseroan menunjukkan angka
negatif yaitu sebesar -Rp40,68 miliar. Arus kas Investasi dari Perseroan juga menunjukkan angka negatif yaitu
sebesar -Rp279,36 juta. Sedangkan untuk arus kas pendanaan juga menunjukkan angka negatif yaitu sebesar
-Rp2,52 miliar. Bursa ingin meminta penjelasan sebagai berikut:
a. Sehubungan dengan realisasi kas dan setara kas per 30 September 2025 yang hanya mencapai 2,67%
dari proyeksi, jelaskan faktor utama yang menyebabkan deviasi signifikan tersebut, termasuk pos arus
kas operasional apa saja yang memberikan tekanan terbesar terhadap posisi kas Perseroan?
b. Jelaskan perbedaan asumsi utama dalam penyusunan Proyeksi Keuangan 31 Desember 2024 dengan
realisasi Laporan Keuangan per 30 September 2025, khususnya asumsi terkait penerimaan kas dari
pelanggan dan pengeluaran kas operasional?
c. Terkait dengan arus kas investasi, Perseroan hanya mencatatkan nilai sebesar Rp279,37 juta, sementara
nilai arus kas investasi yang diproyeksikan Rp50 miliar. Angka yang diperhitungkan pada proyeksi muncul
dikarenakan akan ada pembelian aset tetap berupa alat berat dan tanah warehouse serta pool alat berat.
Terkait pembelian aset tetap tersebut, kapan Perseroan akan merealisasikan pembelian tersebut dan
apakah kegunaan alat-alat tersebut untuk kegiatan operasional Perseroan?
Penjelasan:
a. Realisasi kas dan setara kas Perseroan per 30 September 2025 yang hanya mencapai 2,67% dari
proyeksi terutama disebabkan oleh perbedaan signifikan pada arus kas operasional dibandingkan dengan
asumsi dalam Proyeksi Keuangan.
Arus kas operasional Perseroan tercatat negatif sebesar Rp40,68 miliar, yang terutama dipengaruhi oleh:
- belum tercapainya target pendapatan, sehingga penerimaan kas dari pelanggan lebih rendah dari
proyeksi;
- peningkatan saldo tagihan bruto kepada pemberi kerja, di mana pendapatan telah diakui namun
belum dapat ditagihkan dan diterima sebagai kas;
- realisasi biaya operasional dan biaya proyek yang terjadi lebih awal dibandingkan penerimaan kas.
6
Page 7
Faktor-faktor tersebut menyebabkan tekanan likuiditas jangka pendek dan berdampak langsung terhadap
posisi kas Perseroan pada tanggal pelaporan.
b. Perbedaan utama antara Proyeksi Keuangan per 31 Desember 2024 dan realisasi Laporan Keuangan per
30 September 2025 terletak pada asumsi portofolio proyek, serta faktor asumsi pola penerimaan kas dari
pelanggan. Dalam Proyeksi Keuangan, Perseroan mengasumsikan perolehan proyek tertentu melalui
tender dengan jadwal penyelesaian dan penerimaan kas yang lebih cepat dan merata. Namun dalam
realisasinya, proyek-proyek yang dikerjakan memiliki jadwal pelaksanaan dan mekanisme pembayaran
yang berbeda, sehingga penerimaan kas mengalami pergeseran waktu. Dari sisi pengeluaran kas,
Perseroan tetap harus menanggung biaya operasional dan biaya proyek sesuai dengan progres
pekerjaan, termasuk biaya tenaga kerja, mobilisasi, dan operasional proyek, meskipun penerimaan kas
belum terealisasi sesuai dengan proyeksi. Hal ini menyebabkan terjadinya mismatch sementara antara
arus kas masuk dan keluar.
c. Arus kas investasi Perseroan per 30 September 2025 tercatat sebesar Rp279,37 juta, jauh lebih rendah
dibandingkan proyeksi sebesar Rp50 miliar, terutama disebabkan oleh penundaan realisasi pembelian
aset tetap yang direncanakan dalam Proyeksi Keuangan.
Pembelian aset tetap berupa lahan untuk warehouse dan pool alat berat belum direalisasikan hingga
tanggal pelaporan karena pertimbangan manajemen dalam menjaga likuiditas, serta fakta bahwa aset alat
berat yang ada saat ini masih dimanfaatkan secara optimal dan telah termobilisasi pada proyek-proyek
yang sedang berjalan.
Manajemen merencanakan realisasi pembelian aset tetap tersebut secara bertahap pada periode
berikutnya, dengan mempertimbangkan kondisi arus kas dan kebutuhan operasional. Aset yang
direncanakan untuk dibeli tersebut ditujukan untuk mendukung kegiatan operasional Perseroan,
khususnya peningkatan kapasitas dan efisiensi proyek, dan bukan untuk tujuan investasi non-operasional.
4 Pada akun tagihan bruto pemberi kerja – pihak ketiga, realisasi aktual per 30 September 2025 sangat melebihi
dari nilai yang sudah diproyeksikan, yaitu sebesar 967,55%. Terdapat nilai yang cukup signifikan pada transaksi
akun tersebut dengan Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Selatan yaitu sebesar Rp68,82 miliar. Bursa ingin
meminta penjelasan:
a. Sehubungan dengan realisasi akun tagihan bruto pemberi kerja – pihak ketiga per 30 September
2025 yang mencapai 967,55% dari nilai proyeksi, jelaskan faktor utama yang menyebabkan terjadinya
deviasi signifikan tersebut, termasuk perubahan asumsi proyek yang tidak tercermin dalam proyeksi awal.
b. Sehubungan dengan tingginya saldo tagihan bruto pemberi kerja per 30 September 2025, jelaskan
dampak kondisi tersebut terhadap arus kas operasional Perseroan serta estimasi waktu konversi tagihan
bruto tersebut menjadi kas.
c. Jelaskan alasan tidak terantisipasinya peningkatan signifikan pada akun tagihan bruto pemberi kerja dalam
Proyeksi Keuangan, serta langkah perbaikan yang akan dilakukan agar proyeksi keuangan ke depan lebih
7
Page 8
mencerminkan kondisi operasional aktual.
Penjelasan:
a. Dalam penyusunan Proyeksi Keuangan, Perseroan mengasumsikan bahwa pada akhir periode pelaporan
sebagian besar pendapatan yang telah diakui berdasarkan progres pekerjaan akan secara proporsional
telah ditagihkan dan sebagian telah terealisasi menjadi kas. Namun demikian, dalam realisasinya terjadi
perbedaan signifikan antara asumsi tersebut dengan kondisi aktual, terutama terkait pergeseran timeline
proyek, administrasi penagihan dan karakteristik proyek-proyek tertentu, khususnya proyek dengan
pemberi kerja instansi pemerintah.
Deviasi yang signifikan pada akun tagihan bruto kepada pemberi kerja per 30 September 2025, yang
mencapai 967,55% dari proyeksi, terutama disebabkan oleh tertundanya proses penagihan atas progres
pekerjaan yang secara substansial telah diselesaikan, namun belum dapat dikonversi menjadi piutang
usaha karena masih menunggu kelengkapan dokumen administrasi, berita acara kemajuan pekerjaan,
dan/atau persetujuan pemberi kerja. Kontribusi nilai proyek yang material juga berdampak pada tingginya
saldo, khususnya transaksi dengan Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai sekitar
Rp68,82 miliar, yang progres pekerjaannya telah diakui sebagai pendapatan namun proses penagihannya
belum selesai pada akhir periode pelaporan. Perbedaan asumsi waktu penyelesaian administratif
dibandingkan proyeksi awal juga merupakan salah satu faktor penyebab deviasi tersebut, yang pada saat
penyusunan proyeksi belum sepenuhnya memperhitungkan potensi keterlambatan administratif pada
proyek-proyek dengan nilai besar dan kompleksitas tinggi.
b. Tingginya saldo tagihan bruto kepada pemberi kerja per 30 September 2025 berdampak langsung
terhadap arus kas operasional Perseroan, khususnya terkait dengan kebutuhan pendanaan modal kerja
untuk mendukung kelangsungan pengerjaan proyek-proyek berjalan. Kondisi tersebut menyebabkan
adanya mismatch sementara antara pengakuan pendapatan dan penerimaan kas, sehingga Perseroan
perlu mengoptimalkan sumber pendanaan jangka pendek, termasuk pemanfaatan fasilitas perbankan,
guna menjaga kecukupan likuiditas operasional. Namun demikian, Perseroan menilai bahwa saldo tagihan
bruto tersebut bersifat sementara dan memiliki tingkat keterpulihan yang tinggi, mengingat tagihan berasal
dari pekerjaan yang telah dilaksanakan dan dikonfirmasi progresnya.
Berdasarkan evaluasi internal dan status penyelesaian administrasi penagihan, Perseroan
memperkirakan bahwa sebagian besar saldo tagihan bruto kepada pemberi kerja tersebut akan dapat
dikonversi menjadi piutang usaha dan selanjutnya menjadi kas dalam jangka waktu [±3–6] bulan setelah
tanggal pelaporan, seiring dengan selesainya proses verifikasi dan penagihan kepada pemberi kerja
terkait.
8
Page 9
c. Peningkatan signifikan pada akun tagihan bruto kepada pemberi kerja belum sepenuhnya terantisipasi
dalam Proyeksi Keuangan karena pada saat penyusunan proyeksi, Perseroan masih menggunakan
asumsi historis terkait pola penagihan dan penyelesaian administratif proyek, yang pada praktiknya
mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya nilai dan kompleksitas proyek yang dikerjakan.
Selain itu, Proyeksi Keuangan belum sepenuhnya memasukkan skenario konservatif terkait potensi
keterlambatan administratif pada proyek-proyek dengan nilai besar, khususnya proyek dengan pemberi
kerja instansi pemerintah.
5 Total liabilitas Perseroan pada 30 September 2025 adalah sebesar Rp75,69 miliar sedangkan saldo liabilitas
yang diproyeksikan untuk tahun 2024 adalah sebesar Rp28,97 miliar dengan persentase realisasi sebesar
261,27%. Hal ini dipengaruhi oleh adanya utang bank dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan
PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. Agar dijelaskan sebagai berikut:
a. Jelaskan alasan diambilnya fasilitas utang bank tersebut serta alasan tidak direncanakannya utang bank
tersebut dalam proyeksi liabilitas tahun 2024. Apakah terdapat kebutuhan mendesak bagi Perseroan yang
tidak bisa di-cover oleh kas internal sehingga membutuhkan dana melalui utang bank?
b. Jelaskan penggunaan dana dari utang bank tersebut serta dampaknya terhadap kegiatan operasional,
penyelesaian proyek, dan arus kas Perseroan?
c. Dengan mempertimbangkan peningkatan liabilitas yang signifikan dibandingkan proyeksi, Jelaskan
strategi manajemen dalam menjaga struktur permodalan dan kemampuan pembayaran kewajiban ke
depan.
Penjelasan:
a. Fasilitas utang bank yang diperoleh Perseroan dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT
Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan diambil sebagai langkah manajemen likuiditas jangka
pendek untuk mendukung kebutuhan modal kerja seiring dengan meningkatnya aktivitas operasional dan
volume proyek yang sedang berjalan. Pada saat penyusunan Proyeksi Liabilitas tahun 2024, Perseroan
belum memasukkan rencana penggunaan utang bank karena proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi
bahwa kebutuhan pendanaan operasional dapat dipenuhi dari arus kas internal, termasuk konversi
pendapatan menjadi kas sesuai pola historis. Namun demikian, dalam realisasinya terjadi pergeseran
timing penerimaan kas, khususnya akibat tertundanya proses penagihan dan pencairan atas pekerjaan
yang telah diselesaikan, sebagaimana tercermin pada peningkatan saldo tagihan bruto kepada pemberi
kerja. Kondisi tersebut menyebabkan adanya kebutuhan pendanaan sementara yang tidak sepenuhnya
dapat ditutup oleh kas internal pada periode berjalan. Dengan demikian, pengambilan fasilitas utang bank
dilakukan untuk menjaga kesinambungan operasional dan penyelesaian proyek, dan bukan disebabkan
oleh tekanan struktural terhadap keuangan Perseroan, melainkan karena kebutuhan likuiditas jangka
pendek yang bersifat situasional.
b. Dana yang diperoleh dari fasilitas utang bank tersebut digunakan terutama untuk pendanaan modal kerja
proyek, antara lain untuk:
9
Page 10
- pembiayaan aktivitas konstruksi dan operasional proyek yang sedang berjalan
- pembayaran kepada pemasok dan subkontraktor
- pembayaran biaya tenaga kerja dan biaya operasional proyek lainnya.
Penggunaan dana tersebut memberikan dampak positif terhadap kelancaran kegiatan operasional dan
keberlanjutan penyelesaian proyek, sehingga Perseroan tetap dapat memenuhi komitmen pelaksanaan
proyek sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan pemberi kerja.
Dari sisi arus kas, fasilitas utang bank membantu Perseroan dalam menjembatani perbedaan waktu antara
pengakuan pendapatan dan penerimaan kas, sehingga tekanan likuiditas jangka pendek dapat dikelola
secara lebih terkontrol. Perseroan memandang penggunaan utang bank ini sebagai instrumen pendanaan
sementara, yang akan dilunasi secara bertahap seiring dengan diterimanya pembayaran dari pemberi
kerja atas tagihan yang telah jatuh tempo.
c. Perseroan menyadari adanya peningkatan liabilitas yang signifikan dibandingkan dengan proyeksi awal,
dan oleh karenanya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga struktur permodalan dan
kemampuan pembayaran kewajiban ke depan, antara lain:
- Pengelolaan utang secara selektif dan terukur, dengan memprioritaskan fasilitas jangka pendek yang
selaras dengan siklus kas proyek dan memiliki biaya pendanaan yang kompetitif.
- Percepatan proses penagihan dan konversi tagihan bruto menjadi piutang dan kas, melalui
peningkatan koordinasi antara fungsi proyek, keuangan, dan administrasi penagihan.
- Penyesuaian asumsi arus kas dan liabilitas dalam proyeksi keuangan ke depan, agar lebih
mencerminkan pola realisasi operasional aktual dan risiko timing penerimaan kas.
- Pemantauan rasio keuangan utama, termasuk rasio likuiditas dan solvabilitas, guna memastikan
Perseroan tetap berada pada tingkat leverage yang sehat dan mampu memenuhi kewajiban
keuangannya tepat waktu.
Dengan strategi tersebut, manajemen meyakini bahwa peningkatan liabilitas yang terjadi saat ini masih
berada dalam batas yang dapat dikelola, bersifat sementara, dan tidak mengganggu keberlanjutan usaha
maupun kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban keuangannya di masa mendatang.
6 Utang usaha pada Perseroan per 30 September 2025, menunjukkan nilai realisasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang diproyeksikan sebesar 190,75%. Pemasok-pemasok utang tersebut yang nilainya
melebihi Rp1 miliar antara lain PT Bina Cipta Utama, PT Jaya Trade Indonesia, PT Mitra Bangun Konstruksi
Megah. Bursa ingin meminta penjelasan:
a. Mengingat terdapat saldo utang usaha kepada pemasok dengan nilai masing-masing melebihi Rp1 miliar,
yaitu PT Bina Cipta Utama, PT Jaya Trade Indonesia, dan PT Mitra Bangun Konstruksi Megah, jelaskan
rincian transaksi yang mendasari utang tersebut, termasuk jenis material/jasa yang diperoleh dan periode
terjadinya transaksi?
b. Jelaskan keterkaitan antara peningkatan utang usaha per 30 September 2025 dengan kondisi arus kas
operasional Perseroan, termasuk apakah peningkatan utang usaha tersebut dimaksudkan sebagai
10
Page 11
strategi pendanaan modal kerja.
c. Jelaskan alasan tidak terantisipasinya peningkatan utang usaha dalam proyeksi keuangan, serta langkah
perbaikan yang akan dilakukan agar proyeksi ke depan lebih mencerminkan kebutuhan modal kerja yang
aktual.
Penjelasan:
a. Saldo utang usaha Perseroan per 30 September 2025 yang berasal dari pemasok dengan nilai masing-
masing melebihi Rp1 miliar, antara lain kepada PT Bina Cipta Utama, PT Jaya Trade Indonesia, dan PT
Mitra Bangun Konstruksi Megah, terutama berkaitan dengan pengadaan material konstruksi dan/atau jasa
pendukung proyek.
Transaksi yang mendasari utang usaha tersebut antara lain meliputi:
- pengadaan material konstruksi utama (seperti material struktur dan pekerjaan pendukung),
- penyediaan jasa subkontraktor dan pekerjaan pendukung proyek,
- pengadaan material dan jasa yang digunakan secara langsung pada proyek-proyek yang sedang
berjalan.
Utang usaha tersebut timbul terutama dari transaksi yang terjadi pada periode tahun 2025, seiring dengan
meningkatnya aktivitas proyek dan kebutuhan material/jasa pada tahap pelaksanaan proyek. Seluruh
transaksi dilakukan dalam kegiatan usaha normal Perseroan dan sesuai dengan ketentuan kontraktual
yang telah disepakati dengan masing-masing pemasok.
b. Peningkatan utang usaha per 30 September 2025 memiliki keterkaitan erat dengan kondisi arus kas
operasional Perseroan, khususnya adanya perbedaan waktu antara realisasi biaya proyek dan
penerimaan kas dari pemberi kerja.
Dalam kondisi di mana penerimaan kas dari pelanggan mengalami pergeseran waktu, Perseroan
mengelola kebutuhan modal kerja dengan memanfaatkan termin pembayaran kepada pemasok sesuai
dengan perjanjian yang berlaku. Dengan demikian, peningkatan utang usaha tersebut merupakan bagian
dari pengelolaan modal kerja jangka pendek dan tidak mencerminkan ketidakmampuan Perseroan dalam
memenuhi kewajiban kepada pemasok.
Manajemen menegaskan bahwa peningkatan utang usaha tersebut bersifat temporer dan sejalan dengan
siklus operasional proyek, serta akan menurun secara bertahap seiring dengan diterimanya pembayaran
dari pemberi kerja.
c. Peningkatan utang usaha belum sepenuhnya terantisipasi dalam Proyeksi Keuangan karena pada saat
penyusunan proyeksi, Perseroan mengasumsikan pola penerimaan kas dan penyelesaian kewajiban
usaha yang lebih seimbang, berdasarkan portofolio proyek dan pengalaman historis. Dalam realisasinya,
terjadi perbedaan asumsi proyek yang dikerjakan dan pergeseran timing penerimaan kas, sehingga
11
Page 12
kebutuhan modal kerja menjadi lebih tinggi dari yang diproyeksikan, termasuk pemanfaatan termin
pembayaran kepada pemasok.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, Perseroan akan:
- Menyempurnakan proyeksi modal kerja, dengan memasukkan asumsi yang lebih konservatif terkait
siklus pembayaran kepada pemasok dan penerimaan kas dari pelanggan.
- Meningkatkan koordinasi antara fungsi proyek, pengadaan, dan keuangan, agar kebutuhan
material/jasa dan implikasinya terhadap utang usaha dapat diproyeksikan secara lebih akurat.
- Melakukan pemantauan berkala atas utang usaha dan rasio modal kerja, guna memastikan
kewajiban usaha tetap terkelola dengan baik dan sesuai dengan kapasitas arus kas Perseroan.
Dengan langkah-langkah tersebut, manajemen meyakini bahwa proyeksi keuangan ke depan akan lebih
mencerminkan kebutuhan modal kerja aktual serta mendukung kelangsungan operasional Perseroan
secara berkelanjutan.
7 Terkait dengan akun utang pembiayaan konsumen, yang terdiri dari sewa terhadap bangunan, kendaraan
proyek dan juga kendaraan operasional, Perseroan tidak melakukan proyeksi terhadap akun ini dikarenakan
mulai menggunakan fasilitas sewa pembiayaan setelah melakukan IPO. Utang terbesar Perseroan pada akun
ini adalah dengan PT BFI Finance dan PT Radana Bhaskara Finance. Selain itu Perseroan juga tidak
melakukan perhitungan proyeksi pada nilai utang pajak. Bursa ingin meminta penjelasan:
a. Jelaskan alasan tidak disusunnya proyeksi atas akun utang pembiayaan konsumen dalam Proyeksi
Keuangan, meskipun fasilitas sewa pembiayaan tersebut telah digunakan secara material setelah IPO.?
b. Mengingat utang pembiayaan konsumen terbesar berasal dari PT BFI Finance dan PT Radana Bhaskara
Finance, Jelaskan rincian perjanjian pembiayaan yang masih berjalan per 30 September 2025,
termasuk jenis aset yang dibiayai, nilai pembiayaan, jangka waktu, dan kewajiban pembayaran
periodiknya.
c. Jelaskan alasan tidak dilakukannya proyeksi atas akun utang pajak dalam Proyeksi Keuangan, serta
implikasinya terhadap perencanaan arus kas dan kewajiban fiskal Perseroan.
Penjelasan:
a. Perseroan tidak menyusun proyeksi atas akun utang pembiayaan konsumen dalam Proyeksi Keuangan
karena pada saat penyusunan proyeksi tersebut, Perseroan belum merencanakan penggunaan fasilitas
sewa pembiayaan sebagai bagian dari strategi pendanaan utama dan masih mengandalkan kepemilikan
aset secara langsung atau pendanaan internal.
Selain hal tersebut, fasilitas sewa pembiayaan yang digunakan Perseroan setelah IPO bukan ditujukan
untuk perolehan atau kepemilikan aset baru, melainkan merupakan skema leaseback atas aset yang telah
dimiliki sebelumnya, yang dilakukan sebagai langkah optimalisasi struktur pendanaan dan penguatan
likuiditas jangka pendek.
12
Page 13
Keputusan untuk menggunakan skema sale and leaseback dilakukan secara taktis seiring dengan
meningkatnya kebutuhan likuiditas operasional dan modal kerja proyek, khususnya dalam kondisi adanya
pergeseran timing penerimaan kas dari pemberi kerja. Oleh karena itu, skema tersebut belum tercermin
dalam Proyeksi Keuangan yang disusun sebelumnya.
b. Rincian perjanjian pembiayaan yang masih berjalan adalah sebagai berikut:
Jenis Jangka
Pembiayaan Aset Nilai
Pembiayaan Waktu
PT BFI FINANCE INDONESIA Crawler Crane
Lease Back 36 Bulan
Tbk Sumitomo 3,843,943,000
PT BFI FINANCE INDONESIA Crawler Crane
Lease Back 36 Bulan
Tbk Sumitomo 3,982,100,000
PT BFI FINANCE INDONESIA
Leasing Ruko di Bekasi 60 Bulan
Tbk 1,600,000,000
PT BCA FINANCE Leasing Innova Reborn 36 Bulan
341,520,000
PT MANDIRI TUNAS FINANCE Leasing Toyota Alphard 36 Bulan
1,114,260,000
PT MAYBANK INDONESIA
Leasing Honda HRV 36 Bulan
FINANCE 385,740,000
PT RADANA BHASKARA Tugboat dan
Lease Back 24 Bulan
FINANCE Tbk Barge 4,000,000,000
PT SURYA ARTHA
Leasing Truck Hino 48 ulan
NUSANTARA FINANCE 3,010,872,000
c. Perseroan tidak melakukan proyeksi secara terpisah atas akun utang pajak dalam Proyeksi Keuangan
karena kewajiban pajak atas pendapatan Perseroan bersifat pajak final, sehingga perhitungan dan
pembayarannya langsung melekat pada nilai transaksi dan realisasi pendapatan, serta tidak bergantung
pada perhitungan laba kena pajak di akhir periode.
8. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2025, Perseroan belum mampu mencapai pendapatan yang
disetahunkan dan diproyeksikan untuk tahun 2025, dengan realisasi pendapatan sebesar Rp181,99 miliar atau
42,87% dari proyeksi sebesar Rp424,47 miliar. Di sisi lain, secara nominal beban pokok pendapatan tercatat
lebih rendah dibandingkan proyeksi, namun persentase beban pokok terhadap pendapatan yang lebih tinggi
menyebabkan laba kotor yang terealisasi hanya sebesar 7,08% atau Rp9,34 miliar, jauh di bawah proyeksi
sebesar Rp131,83 miliar. Selain itu, beban keuangan tercatat meningkat signifikan dibandingkan proyeksi
seiring dengan meningkatnya liabilitas Perseroan, yang pada akhirnya menyebabkan Perseroan mencatatkan
13
Page 14
rugi usaha sebesar Rp32,41 miliar dan rugi tahun berjalan sebesar Rp36,04 miliar. Bursa ingin meminta
penjelasan:
a. Sehubungan dengan realisasi pendapatan Perseroan per 30 September 2025 yang hanya mencapai
42,87% dari proyeksi tahunan, jelaskan proyek-proyek utama yang telah selesai pada periode berjalan
serta estimasi kontribusi pendapatan dari proyek baru yang disebutkan terhadap pendapatan Perseroan
hingga akhir tahun 2025?
b. Mengingat laba kotor Perseroan per 30 September 2025 yang terealisasi hanya sebesar 7,08%
dibandingkan proyeksi, jelaskan faktor utama yang menyebabkan margin laba kotor tersebut, termasuk
perubahan struktur biaya proyek dan efisiensi pelaksanaan pekerjaan.
c. Sehubungan dengan realisasi beban pokok pendapatan yang hanya mencapai 59% dari proyeksi secara
nominal, namun memiliki rasio yang lebih tinggi terhadap pendapatan, jelaskan perbedaan asumsi beban
pokok dalam proyeksi dengan kondisi aktual yang terjadi.
d. Mengingat beban keuangan Perseroan per 30 September 2025 terealisasi sebesar 261,89% dari nilai
yang diproyeksikan, jelaskan sumber utama beban bunga tersebut serta keterkaitannya dengan
peningkatan liabilitas Perseroan.
Penjelasan:
a. Dalam Proyeksi Keuangan, Perseroan mengasumsikan perolehan sejumlah proyek melalui proses tender
dengan nilai kontrak dan jadwal penyelesaian tertentu, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi
pendapatan signifikan dalam tahun 2025. Namun dalam realisasinya, sebagian proyek yang diasumsikan
akan diperoleh melalui tender tersebut belum terealisasi atau mengalami pergeseran waktu ataupun
mengalami perubahan, sehingga belum memberikan kontribusi pendapatan sesuai dengan proyeksi awal.
Proyek-proyek utama yang telah selesai pada periode berjalan serta estimasi kontribusi pendapatan dari
proyek baru terhadap pendapatan Perseroan hingga akhir tahun 2025 adalah sebagai berikut:
Estimasi
Proyek Pemberi Kerja Status Kontribusi
Pendapatan
Pekerjaan Struktur Proyek
Pembangunan Jalan Tol Harbour PT Girder Indonesia Selesai 2%
Road II
Pekerjaan Pembangunan Jembatan
PT Indotaisei Indah Development
Penghubung di Jalan Tol Cipularang Selesai 6%
dan PT Bestland Pertiwi
KM 71+100
Pekerjaan Peningkatan Kapasitas PT Jasamarga Tollroad
Berjalan 19%
Lajur Tahap 2 (Rest Area KM. 207 A) Maintenance
14
Page 15
pada Ruas Jalan Tol Palikanci Tahun
2025
Pekerjaan Pemeliharaan Periodik
Scrapping Filling Overlay (SFO) dan PT Jasamarga Tollroad
Berjalan 4%
Rekonstruksi pada Ruas Jalan Tol Maintenance
Palikanci Tahun 2025
b. Margin laba kotor Perseroan per 30 September 2025 yang terealisasi sebesar 7,08% terutama
dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik proyek aktual yang dikerjakan dibandingkan dengan proyek
yang diasumsikan dalam Proyeksi Keuangan. Proyek-proyek yang diasumsikan dalam proyeksi memiliki
profil margin yang lebih tinggi berdasarkan estimasi awal hasil tender. Namun dalam realisasinya, proyek-
proyek yang sedang dan telah dikerjakan Perseroan pada periode pelaporan memiliki struktur biaya dan
tingkat margin yang relatif lebih rendah, baik karena tingkat persaingan harga, kompleksitas teknis,
maupun kondisi lapangan. Selain itu, pada fase awal pelaksanaan proyek, terjadi realisasi biaya awal
(front-loaded costs) yang relatif lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dapat diakui pada periode
yang sama, sehingga menekan margin laba kotor pada periode berjalan.
c. Dalam Proyeksi Keuangan, beban pokok pendapatan disusun berdasarkan asumsi struktur biaya dari
proyek-proyek yang diharapkan diperoleh melalui tender, dengan tingkat efisiensi dan margin tertentu.
Namun dalam realisasi, beban pokok pendapatan yang tercatat hingga 30 September 2025
mencerminkan struktur biaya aktual dari proyek yang sedang dan telah dikerjakan, yang berbeda dari
asumsi proyek dalam proyeksi, baik dari sisi komposisi biaya, waktu realisasi, maupun efisiensi
pelaksanaan. Akibatnya, meskipun secara nominal beban pokok pendapatan hanya mencapai sekitar
59% dari proyeksi, rasio beban pokok terhadap pendapatan menjadi lebih tinggi karena pendapatan yang
diakui berasal dari proyek dengan margin yang lebih rendah serta adanya pergeseran timing antara
pengakuan biaya dan pendapatan.
d. Beban keuangan Perseroan per 30 September 2025 yang terealisasi sebesar 261,89% dari proyeksi
berkaitan erat dengan peningkatan kebutuhan pendanaan untuk mendukung pelaksanaan proyek aktual
yang berbeda dari asumsi dalam Proyeksi Keuangan. Perbedaan portofolio proyek tersebut berdampak
pada pola arus kas yang berbeda dari proyeksi, khususnya terkait dengan kebutuhan modal kerja dan
pergeseran timing penerimaan kas, sehingga Perseroan memanfaatkan fasilitas pendanaan, termasuk
utang bank dan kewajiban sewa pembiayaan, untuk menjaga kelangsungan operasional. Peningkatan
beban keuangan tersebut bersifat situasional dan terkait dengan penyesuaian strategi pendanaan, dan
15
Page 16
diharapkan akan menurun seiring dengan perbaikan arus kas dari proyek-proyek yang sedang berjalan
dan konversi tagihan bruto menjadi kas.
16
Names mentioned 29 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Pembangunan Deltamas
p.2 ×2
unresolved
org
PT Bumi Prima Konstruksi
p.4 ×2
unresolved
org
PT Manyar Perkasa Mandiri
p.4 ×2
unresolved
org
PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan. Agar
p.9
unresolved
org
PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan
p.9
unresolved
org
PT Bina Cipta Utama
p.10 ×3
unresolved
org
PT Jaya Trade Indonesia
p.10 ×3
unresolved
org
PT Mitra Bangun Konstruksi Megah. Bursa
p.10
unresolved
org
PT Mitra Bangun Konstruksi Megah
p.10 ×2
unresolved
org
PT BFI Finance
p.12 ×2
unresolved
org
PT Radana Bhaskara Finance. Selain
p.12
unresolved
org
Bulan Tbk
p.13 ×3
unresolved
org
PT BFI FINANCE INDONESIA Leasing
p.13
unresolved
org
PT BCA FINANCE
p.13
unresolved
org
PT MAYBANK INDONESIA Leasing
p.13
unresolved
org
Bulan FINANCE Tbk
p.13
unresolved
org
PT Girder Indonesia
p.14
unresolved
org
PT Indotaisei Indah Development Penghubung
p.14
unresolved
org
PT Bestland Pertiwi KM
p.14
unresolved
org
PT Jasamarga
p.15
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.