Back to announcement
20260105_KKES_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32016821_lamp2.pdf
Other Text extracted KKESSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 9
Page 1
PENJELASAN
Dilaporkan pada form E-023 (published)
1. Harga penutupan saham Perseroan per tanggal 24 Desember 2025 adalah Rp30,00.
Berdasarkan pemantauan Bursa, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Perseroan mencapai
harga penutupan tertinggi Rp43,00 per lembar saham pada 22 September 2025 dan harga
penutupan terendah Rp26,00 per lembar saham pada 6 November 2025 dan 7 November
2025. Harga saham Perseroan pada saat IPO pada tanggal 8 Agustus 2022 adalah sebesar
Rp105,00 per saham. Dengan demikian, harga saham saat ini mencerminkan penurunan 71%
dari harga IPO.
Agar dijelaskan terkait langkah-langkah yang akan diambil oleh Perseroan untuk
memperbaiki kinerja saham Perseroan?
Tanggapan:
Adapun Langkah-langkah Perseroan untuk memperbaiki kinerja saham Perseroan dengan
meningkatkan Laba Kotor, yaitu dengan melakukan negosiasi secara berkala kepada pemosok
untuk mendapatkan harga beli yang serendah-rendahnya sehingga dapat meningkatkan Laba
Kotor yang dapat dilihat pada 4 bulan terakhir di tahun 2025 dimana Persentase Laba Kotor
secara berangsur-angsur mengalamai peningkatan. Perseroan melalui tim penjualan dan tim
pengembangan produk terus berusaha melakukan peningkatan pendapatan Perseroan dari
penjualan. Adapun langkah yang dilakukan dengan melalui pendekatan yang intens kepada
pelanggan tetap untuk selalu bertransaksi terus kepada Perseroan, mencari pelanggan baru
secara berkala dan mencari produk-produk baru yang dibutuhkan industri-industri. Sehingga
peningkatan nilai penjualan sudah mulai terasa di 3 bulan terakhir tahun 2025 ini dan
terakhir Perseroan juga secara konsisten melakukan penghematan Biaya Operasional.
2. Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 5, Perseroan mencatat saldo kas
dan setara kas sebesar Rp951 juta pada tanggal 30 September 2025, turun dari Rp1,66 miliar
pada tanggal 31 Desember 2024.
Agar dijelaskan terkait:
a. Apa penyebab utama penurunan signifikan atas saldo kas tersebut?
Tanggapan: Menurunnya penjualan dan Laba Kotor Perseroan sejak awal tahun 2025 yang
berdampak pada penurunan Penerimaan kas dari pelanggan menjadi penyebab utama
penurunan atas saldo kas.
b. Bagaimana Perseroan mengelola likuiditasnya untuk menghadapi penurunan tersebut?
Tanggapan: Dalam hal mengelola likuiditas, Perseroan terus menerus memantau arus kas,
mengoptimalkan modal kerja, menjalin hubungan baik dengan sumber pendanaan.
c. Apa langkah-langkah yang akan diambil Perseroan dalam memperbaiki posisi kas?
Tanggapan: Meningkatkan penagihan piutang Perseroan sambil terus meningkatkan
penjualan dan Laba Kotor, Penghematan Biaya Operasional terus dilakukan
Page 2
d. Bagaimana penurunan saldo kas dan setara kas ini mempengaruhi operasional Perseroan pada tahun berjalan? Tanggapan: Pengaruhnya terhadap operasional Perseroan adalah Perseroan menarik hutang bank lebih besar. 3. Berdasarkan CALK nomor 5 perihal Piutang Usaha, piutang usaha Perseroan tercatat sebesar Rp54,45 miliar pada 30 September 2025 menurun 14,37% dari sebelumnya sebesar Rp47,61 miliar pada 31 Desember 2024. Berdasarkan analisis umur piutang, sebesar 36,22% diantaranya atau Rp14,47 miliar telah jatuh tempo. Namun demikian, Perseroan memiliki saldo penyisihan kerugian penurunan nilai piutang sebesar Rp7,37 miliar. Agar dijelaskan terkait: a. Penyebab utama penurunan atas saldo piutang usaha tersebut. Tanggapan: Saldo piutang tidak menurun tetapi meningkat karena dari Rp47,61 miliar menjadi Rp54,45 miliar, itu disebabkan karena belum tertagihnya piutang tersebut dikarena beberapa pelanggan yang mengalami kesulitan dalam hal cash flow yang disebabkan mundurnya pembayarnya dari pelanggan mereka dan terhambatnya penjualan produk mereka. Untuk piutang tertentu, Perseroan melakukan pendekatan persuasif dengan memberikan skema pembayaran bertahap sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Namun jika hal itu masih belum teratasi maka Perseroan melakukan Langkah pemberian Surat Somasi dan penarikan aset pelanggan. b. Mengingat 36,22% dari total piutang usaha atau sebesar Rp14,47 miliar telah jatuh tempo, langkah-langkah apa yang telah diambil oleh Perseroan untuk mengatasi piutang yang sudah jatuh tempo ini? Tanggapan: Perseroan melakukan penagihan secara aktif melalui pengingat pembayaran, komunikasi langsung dengan pelanggan, serta kunjungan apabila diperlukan untuk memastikan komitmen pelunasan. c. Apakah jumlah penyisihan piutang sudah cukup untuk mengantisipasi kerugian lebih lanjut akibat piutang yang tidak tertagih? Tanggapan: Sudah cukup. 4. Berdasarkan CALK nomor 7, piutang lain-lain pihak ketiga Perseroan adalah sebesar Rp1,29 miliar per 30 September 2025, meningkat signifikan dari sebelumnya sebesar Rp174 juta per 31 Desember 2024. Peningkatan tersebut terutama berasal dari pos lain-lain sebesar Rp1,25 miliar. Agar dijelaskan terkait:
Page 3
a. Apa penyebab kenaikan signifikan piutang lain-lain tersebut? Tanggapan: Terdapat biaya berupa Surat Peninjauan Kembali Tarif Nilai Pabean (SPKTNP) yang dibayarkan terlebih dahulu oleh Perseroan sebesar Rp 892juta yang masih dalam proses sidang pengadilan, saat ini Perseroan sudah mendapatkan sebagian biaya tersebut. Perseroan berkeyakinan akan memenangkan persidangan sehingga seluruh biaya akan dikembalikan ke Perseroan pada tahun 2026. Selain itu juga ada biaya berupa perbaikan gudang cabang Perseroan yang di amortisasi sebesar Rp 295juta, namun biaya tersebut pada Laporan Keuangan Tahunan 2025 akan dipindahkan ke Pos Aset Sewa berdasarkan saran dan masukan dari pihak Akuntan Publik. b. Nature dari pos lain-lain pada piutang lain-lain. Tanggapan: Umumnya Nature dari pos lain-lain pada piutang lain-lain adalah proses reimburse pada biaya EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut). c. Penyebab pos lain-lain tidak diperincikan dalam CALK meskipun jumlahnya cukup besar. Tanggapan: Karena sebelumnya Perseroan berkeyakinan biaya SPKTNP akan terealiasi pada tahun 2025, namun dikarena proses persidangan yang berjalan sangat lama dan jauh dari harapan Perseroan maka pada Laporan Tahunan 2025 Perseroan akan merinci pos lain-lain pada piutang lain-lain sesuai dengan arahan dari tim Audit Eksternal. 5. Berdasarkan CALK nomor 8, saldo persediaan Perseroan per 30 September 2025 adalah sebesar Rp45,05 miliar, meningkat 24,37% dari sebelumnya sebesar Rp36,22 miliar per 31 Desember 2024. Agar dijelaskan terkait: a. Penyebab kenaikan saldo persediaan sebesar 24,37% pada 30 September 2025. Tanggapan: Tidak tercapainya penjualan Perseroan. b. Bagaimana Perseroan meminimalisir peningkatan ini agar tidak mengakibatkan adanya overstock? Tanggapan: Perseroan meminimalisir peningkatan saldo persediaan melalui perencanaan pembelian yang lebih tepat & monitoring stok secara berkala untuk mencegah overstock. c. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk persediaan hingga dapat terjual. Tanggapan: 77 Hari. d. Bagaimana peningkatan persediaan ini mempengaruhi struktur biaya dan margin keuntungan Perseroan? Tanggapan: Peningkatan persediaan dapat menimbulkan biaya penyimpanan dan modal kerja tambahan, sehingga berpotensi menekan margin keuntungan jika tidak diimbangi dengan penjualan. Namun, Perseroan terus melakukan efisiensi operasional dan manajemen stok yang ketat untuk menjaga struktur biaya tetap optimal dan meminimalkan dampak terhadap margin.
Page 4
e. Langkah-langkah yang akan diambil untuk memastikan bahwa kenaikan ini dapat dikelola dengan efisien. Tanggapan: Perseroan akan melakukan perencanaan pembelian yang lebih akurat, pemantauan stok secara rutin, serta koordinasi dengan tim penjualan untuk memastikan perputaran persediaan tetap optimal. 6. Berdasarkan CALK nomor 9, Perseroan mencatat beban dibayar di muka sebesar Rp608 juta pada 30 September 2025, meningkat signifikan dari Rp301,35 juta pada akhir 2024. Kenaikan tersebut terutama berasal dari pos lain-lain. Agar dijelaskan terkait: a. Apa penyebab kenaikan signifikan beban dibayar di muka dari Rp301,35 juta pada akhir 2024 menjadi Rp608 juta pada 30 September 2025? Tanggapan: Belum habisnya biaya-biaya yang di amortisasi pada 30 September 2025, umumnya biaya-biaya tersebut baru habis ter-amortisasi pada 31 Desember 2025, contohnya seperti biaya THR, Asuransi yang biayanya di amortisasi berdasarkan jangka waktu yang tertera dikontrak, dllnya. b. Nature dari pos lain-lain pada beban dibayar di muka. Tanggapan: Nature dari pos lain-lain adalah biaya yang di amortisasi pembiayanya. c. Apa penyebab pos lain-lain tidak diperincikan dalam CALK meskipun jumlahnya cukup besar? Tanggapan: Karena melalui proses amortisasi tiap bulan pos lain-lain tersebut jumlahnya akan terus berkurang pada saat Laporan Keuangan Tahunan. 7. Berdasarkan CALK nomor 11, aset tetap tercatat sebesar Rp8,05 miliar pada 30 September 2025, meningkat sebesar 4,72% dari Rp7,69 miliar pada akhir 2024. Terdapat pengurangan atas bangunan dan peralatan kantor pada tahun berjalan sebesar Rp1,14 miliar dengan total akumulasi penyusutan sebesar Rp497 juta. Namun demikian, berdasarkan rincian penjualan aset tetap per 30 September 2025 hanya terdapat informasi atas penjualan aset sebesar Rp50,4 juta dengan nilai buku neto sebesar Rp40,8 juta, dengan keuntungan atas penjualan aset tetap sebesar Rp9,5 juta. Hal ini
Page 5
mengindikasikan belum terdapat informasi yang cukup mengenai pengurangan aset tetap bangunan pada tahun berjalan. Agar dijelaskan terkait: a. Apabila pengurangan aset tetap bangunan dan peralatan kantor tersebut bukan berasal dari penjualan, mohon dijelaskan apakah pengurangan atas aset bangunan yang dimaksud disebabkan oleh penghapusan (write-off) atau sebab lainnya? Tanggapan: Bukan berasal dari penjualan tetapi penghapusan aset bangunan yang terbakar. b. Pertimbangan Perseroan melakukan penjualan ataupun penghapusan aset bangunan tersebut. Tanggapan: Karena aset tersebut sudah tidak ada nilai ekonomisnya dan sudah digantikan dengan yang baru. c. Berapa nilai penjualan dan keuntungan/kerugian atas penjualan aset tersebut? Tanggapan: Tidak ada nilai penjualan, melainkan nilai kerugian sekitar Rp. 38.000.000. d. Mengingat rincian penjualan aset tetap per 30 September 2025 hanya mengungkap penjualan sebesar Rp50,4 juta dengan nilai buku neto Rp40,8 juta, agar dijelaskan selisih antara nilai pengurangan aset tetap sebesar Rp1,14 miliar dengan nilai penjualan aset tetap yang diungkapkan dalam CALK. Tanggapan:
Page 6
8. Total liabilitas jangka pendek Perseroan sebesar Rp57,43 miliar pada tanggal 30 September 2025, meningkat sebesar 70,7% dari Rp33,65 miliar pada 31 Desember 2024. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan utang bank jangka pendek sebesar Rp21,57 miliar dari Rp5,63 miliar pada 31 Desember 2024. Peningkatan ini sepenuhnya berasal dari peningkatan kredit modal kerja dari PT Bank Permata Tbk. Agar dijelaskan terkait: a. Penyebab utama peningkatan kebutuhan pendanaan jangka pendek, terutama yang terkait dengan kredit modal kerja. Tanggapan: Peningkatan kebutuhan pendanaan jangka pendek, khususnya terkait kredit modal kerja, terutama disebabkan oleh penjualan Perseroan yang tidak mencapai target sehingga penerimaan dari pelanggan berkurang. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan likuiditas tambahan untuk membiayai operasional dan kewajiban jangka pendek, sehingga Perseroan memanfaatkan kredit modal kerja dari PT Bank Permata Tbk. untuk menutupi selisih tersebut. b. Bagaimana Perseroan mengelola risiko likuiditas dan solvabilitas dengan adanya peningkatan signifikan pada utang jangka pendek? Tanggapan: Perseroan mengelola risiko likuiditas dan solvabilitas terkait peningkatan utang jangka pendek melalui beberapa langkah strategis, antara lain: lini Langkah-langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan kas yang cukup dan menjaga kestabilan posisi keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. c. Tingkat ketergantungan Perseroan terhadap satu kreditur serta langkah mitigasi risiko pendanaan yang disiapkan apabila terjadi perubahan kebijakan kredit dari pihak bank. Tanggapan: Perseroan memiliki dua bank sebagai sumber pendanaan yaitu Bank Permata dan Bank UOB Indonesia. Untuk memitigasi risiko yang timbul akibat kemungkinan perubahan kebijakan kredit dari pihak bank, Perseroan berupaya mengurangi ketergantungan melalui pengelolaan utang bank secara hati-hati, meningkatkan arus kas dari kegiatan operasional dengan meningkatkan penjualan dan margin keuntungan, serta mempercepat penagihan piutang. Langkah-langkah ini telah dijelaskan sebelumnya pada jawaban nomor 2 dan bertujuan menjaga fleksibilitas pendanaan serta stabilitas keuangan Perseroan.
Page 7
d. Keberlanjutan struktur pendanaan jangka pendek Perseroan serta rencana manajemen dalam menyeimbangkan kebutuhan modal kerja dengan penguatan struktur permodalan untuk kedepannya. Tanggapan: Perseroan saat ini tidak melakukan penambahan modal disetor. Kebutuhan modal kerja akan didukung dari laba ditahan dan peningkatan laba tahun berjalan, sambil mengelola utang jangka pendek secara disiplin. Langkah ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan pendanaan dengan penguatan struktur permodalan, sehingga struktur keuangan Perseroan tetap sehat dan berkelanjutan. 9. Perseroan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp4,24 miliar per 30 September 2025, setelah sebelumnya membukukan laba Rp687,83 juta pada periode yang sama tahun 2024. Penurunan kinerja ini dipengaruhi oleh menurunnya penjualan dari Rp171,84 miliar menjadi Rp144,76 miliar. Meningkatnya rasio beban usaha terhadap pendapatan Perseroan, kerugian selisih kurs, dan beban bunga turut mengakibatkan kinerja laba sebelum pajak Perseroan menurun sehingga menghasilkan rugi bersih pada periode berjalan. Agar dijelaskan terkait: a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan Perseroan termasuk kontribusi masing-masing segmen usaha dan/atau pelanggan utama. Tanggapan: Penurunan penjualan Perseroan terjadi hampir di semua segmen usaha dan pelanggan utama, sehingga berdampak signifikan terhadap total pendapatan. Faktor-faktor utama meliputi menurunnya permintaan pasar secara umum, tekanan harga, serta persaingan yang meningkat, yang mempengaruhi volume penjualan di hampir seluruh lini bisnis. b. Sehubungan dengan meningkatnya rasio beban usaha terhadap pendapatan, agar dijelaskan komponen beban usaha yang mengalami kenaikan paling signifikan. Tanggapan: Per September 2025, secara nominal beban usaha Perseroan tidak mengalami kenaikan dibandingkan dengan posisi September 2024. Peningkatan rasio beban usaha terhadap pendapatan terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan Perseroan sebagai dampak dari menurunnya penjualan, sehingga secara proporsional beban usaha terlihat lebih tinggi meskipun tidak terdapat kenaikan signifikan pada komponen beban usaha tertentu. c. Langkah-langkah yang telah dan/atau akan dilakukan Perseroan untuk meningkatkan efisiensi operasional ke depan. Tanggapan: Perseroan telah dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional melalui optimalisasi rantai pasok, pengelolaan persediaan lebih ketat dan pengendalian biaya operasional. d. Sumber utama kerugian selisih kurs yang dibukukan pada periode berjalan, termasuk mata uang yang paling berkontribusi, eksposur valuta asing Perseroan, serta kebijakan manajemen risiko nilai tukar yang diterapkan.
Page 8
Tanggapan: Sumber utama kerugian selisih kurs yang dibukukan pada periode berjalan yang
termasuk mata uang yang paling berkontribusi adalah pembelian impor menggunakan mata
uang USD.
e. Terkait meningkatnya beban bunga, mohon dijelaskan perubahan struktur pendanaan
Perseroan.
Tanggapan: Beban bunga Perseroan meningkat seiring dengan peningkatan utang bank
jangka pendek. Untuk mengelola hal ini, Perseroan berupaya menyesuaikan struktur
pendanaan dengan memperpanjang jangka waktu pembayaran (TOP) kepada pemasok,
sehingga dapat mengurangi kebutuhan pendanaan jangka pendek dari bank dan
menurunkan beban bunga secara keseluruhan.
f. Strategi Perseroan dalam mengelola beban bunga agar tidak terus menekan kinerja laba.
Tanggapan: Perseroan mengelola beban bunga melalui restrukturisasi utang, negosiasi suku
bunga yang lebih kompetitif, serta pengelolaan kas dan arus kas yang lebih efisien untuk
memastikan beban bunga tidak terus menekan kinerja laba.
10. Berdasarkan CALK nomor 17, pada 30 September 2025, perseroan mencatat penurunan
liabilitas imbalan kerja sebesar Rp2,06 miliar atau sebesar 21,96% menjadi Rp7,34 miliar dari
Rp9,41 miliar.
Agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama yang menyebabkan penurunan liabilitas imbalan kerja sebesar 21,96%.
Tanggapan: Dampak dari tidak tercapainya penjualan dan laba kotor Perseroan sehingga
Perseroan harus mengurangi karyawan dan berkewajiban membayar Uang Penggantian Hak.
b. Apakah terdapat perubahan signifikan pada asumsi aktuaria yang digunakan dalam
perhitungan liabilitas imbalan kerja?
Tanggapan: Tidak ada perubahan.
11. Berdasarkan CALK nomor 14, utang usaha Perseroan didominasi oleh transaksi menggunakan
mata uang asing seperti USD, CNY, THB, dan EUR.
Agar dijelaskan terkait:
a. Langkah-langkah mitigasi yang akan dilakukan Perseroan untuk menurunkan eksposur
risiko valuta asing dan menjaga stabilitas kinerja keuangan.
Tanggapan: Perseroan melakukan mitigasi risiko valuta asing dengan mengendalikan waktu
pembayaran utang usaha, negosiasi dengan pemasok terkait skema, mata uang transaksi
dengan mata uang lokal seperti THB dan CNY, menaikan harga jual produk serta pemantauan
pergerakan nilai tukar untuk meminimalkan dampak fluktuasi kurs terhadap kinerja
keuangan Perseroan.
b. Mengingat Perseroan mencatat kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode berjalan,
mohon penjelasan mengenai keterkaitan antara dominasi utang usaha dalam mata uang
asing tersebut dengan peningkatan rugi selisih kurs yang dibukukan.
Page 9
Tanggapan: Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing tersebut menyebabkan
peningkatan nilai tercatat utang usaha pada saat penjabaran laporan keuangan, sehingga
Perseroan mencatat selisih kurs dalam Laporan Keuangan untuk mencerminkan keadaan
yang sebenarnya.
c. Apakah Perseroan menerapkan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko selisih kurs
yang cukup tinggi?
Tanggapan: Perseroan tidak menerapkan lindung nilai (hedging) untuk hutang yang jatuh
temponya lebih dari satu bulan.
d. Pertimbangan penggunaan ataupun tidak digunakannya hedging dalam operasional
Perseroan.
Tanggapan: Perseroan menerapkan lindung nilai (hedging) secara selektif untuk mengelola
risiko selisih kurs. Untuk utang yang jatuh temponya kurang dari satu bulan, Perseroan
melakukan hedging guna meminimalkan fluktuasi kurs yang berdampak signifikan dalam
jangka pendek. Sementara itu, untuk utang dengan jatuh tempo lebih dari satu bulan,
Perseroan tidak melakukan hedging karena biaya yang timbul relatif tinggi. Selain itu,
penetapan harga penjualan berdasarkan purchase order (PO) dalam mata uang USD yang
dikonversi sesuai kurs saat transaksi juga membantu mengurangi eksposur risiko selisih kurs.
12. Mohon penjelasan rencana aksi korporasi yang akan dilakukan oleh Perseroan dalam jangka
waktu 12 bulan ke depan (jika ada). Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material
dan dapat mempengaruhi harga efek serta kelangsungan usaha Perseroan yang belum
diungkapkan kepada publik.
Tanggapan: Perseroan berencana melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain
peningkatan penjualan melalui perluasan jaringan distribusi, diversifikasi produk impor, dan
pengembangan lini produk baru, optimalisasi dan penguatan rantai pasok, Perseroan juga
merencanakan penataan pengelolaan utang usaha dan peningkatan efisiensi operasional
untuk memperkuat kondisi keuangan dan daya saing usaha.
Names mentioned 2 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.