Back to announcement
20260801_KIJA_Laporan Informasi dan Fakta Material_32116916_lamp1.pdf
Other Text extracted KIJASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 9
Page 1
SIARAN PERS Untuk Segera Dirilis PT Kawasan Industri Jababeka Tbk Melaporkan Kinerja Semester Pertama Tahun 2026 Pilar Infrastruktur Tumbuh 15% dan Meningkatkan Kontribusi Pendapatan Berulang Menjadi 57% dari Total Pendapatan; Rugi Bersih Mencerminkan Biaya Refinancing yang Bersifat Satu Kali, Sementara Bisnis Operasional Tetap Mencatatkan Laba Jakarta, 31 Juli 2026 – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (“Jababeka” atau “Perseroan”; IDX: KIJA) hari ini mengumumkan laporan keuangan konsolidasian untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 (“1H26”). Perseroan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2.436,5 miliar pada semester pertama 2026 (1H26), turun 11% dibandingkan Rp2.726,4 miliar pada semester pertama 2025 (1H25), serta mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada 1H25. Rugi bersih tersebut terutama disebabkan oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027. Biaya-biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis Perseroan dalam melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang Rupiah, yang diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan Perseroan periode berjalan. Refinancing dan pelunasan Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027 merupakan langkah strategis Perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan profil keuangannya. Transaksi ini memperpanjang jatuh tempo utang melalui fasilitas pinjaman baru bertenor 15 tahun, menyelesaikan refinancing secara proaktif lebih dari 18 bulan sebelum jatuh tempo, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, mengurangi risiko nilai tukar melalui penyelarasan mata uang pembiayaan dengan mata uang pelaporan Perseroan, serta menurunkan risiko refinancing di tengah volatilitas pasar. Di luar pos-pos yang bersifat non-berulang tersebut, Perseroan tetap membukukan laba operasional, sebesar Rp524,0 miliar pada 1H26, dibandingkan Rp822,8 miliar pada 1H25. Penurunan laba operasi selama semester pertama tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal, sementara fundamental bisnis Perseroan tetap solid. Pilar Infrastruktur terus menunjukkan pertumbuhan dengan kenaikan pendapatan sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan kontribusi pendapatan berulang menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, dibandingkan 45% pada 1H25. Hal ini mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur dan sumber pendapatan berulang Perseroan terhadap struktur pendapatan yang lebih seimbang dan tangguh.
Page 2
IKHTISAR KINERJA 1H26 DIBANDINGKAN 1H25 • Pendapatan konsolidasian: Rp2.436,5 miliar, turun 11% dari Rp2.726,4 miliar. • Laba operasional: Rp524,0 miliar, dibandingkan Rp822,8 miliar; tetap positif meskipun pendapatan lahan industri yang diakui pada periode ini lebih rendah. • Rugi bersih: Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih Rp627,6 miliar; dipengaruhi biaya refinancing yang bersifat satu kali, sementara laba operasional tetap terjaga. • Pendapatan Pilar Infrastruktur: Rp1.398,2 miliar, naik 15% dari Rp1.220,6 miliar; kini berkontribusi 57% terhadap total pendapatan, meningkat dari 45%. • Pendapatan Pilar Pengembangan Lahan & Properti: Rp974,9 miliar, turun 32% dari Rp1.442,6 miliar. • Laba bruto konsolidasian: Rp840,5 miliar dengan marjin bruto 34%, dibandingkan Rp1.116,5 miliar dengan marjin bruto 41% pada 1H25. • EBITDA: Rp747,7 miliar, turun 25% dari Rp995,3 miliar. • Marketing sales: Rp1.187,6 miliar atau 32% dari target marketing sales Perseroan tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun. PENGEMBANGAN LAHAN & PROPERTI Pendapatan dari Pilar Pengembangan Lahan & Properti turun 32% menjadi Rp974,9 miliar dari Rp1.442,6 miliar pada 1H25. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh pendapatan penjualan lahan industri sebesar Rp783,7 miliar, turun 41% dibandingkan tahun sebelumnya, yang terutama disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal. Di sisi lain, penjualan lahan industri dan bangunan pabrik siap pakai meningkat signifikan menjadi Rp94,3 miliar dari Rp18,3 miliar, sementara penjualan lahan dan rumah hunian meningkat menjadi Rp33,7 miliar dari Rp22,7 miliar. Hal ini mencerminkan permintaan yang tetap sehat terhadap properti industri maupun properti residensial. INFRASTRUKTUR Pendapatan dari Pilar Infrastruktur meningkat 15% menjadi Rp1.398,2 miliar pada 1H26 dibandingkan Rp1.220,6 miliar pada 1H25. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh segmen Listrik, yang meningkat menjadi Rp921,6 miliar dari Rp849,1 miliar, seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang. Pendapatan dari segmen Jasa dan Pemeliharaan (penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan kawasan, dan layanan lainnya) meningkat 39% menjadi Rp347,2 miliar dari Rp250,2 miliar, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan dari tenant di Kendal. Pendapatan Cikarang Dry Port (CDP) meningkat menjadi Rp129,4 miliar dari Rp121,3 miliar, terutama didorong oleh kenaikan volume peti kemas yang ditangani sebesar 13% dibandingkan tahun sebelumnya serta pertumbuhan bisnis logistik pendukung. Pendapatan berulang yang dihasilkan Pilar Infrastruktur mencapai 57% dari total pendapatan konsolidasian pada 1H26, meningkat dari 45% pada 1H25. LEISURE & HOSPITALITY Pendapatan dari Pilar Leisure & Hospitality relatif stabil sebesar Rp63,4 miliar, didukung oleh kontribusi yang konsisten dari bisnis golf yang menyumbang sekitar 65% dari total pendapatan pilar
Page 3
ini. Meskipun kontribusinya terhadap total pendapatan Perseroan relatif kecil, stabilitas kinerja pilar ini mencerminkan keberhasilan strategi diversifikasi sumber pendapatan Perseroan. PROFITABILITAS Laba bruto konsolidasian tercatat sebesar Rp840,5 miliar pada 1H26 dibandingkan Rp1.116,5 miliar pada 1H25, dengan marjin bruto sebesar 34% dibandingkan 41% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya kontribusi penjualan lahan industri yang secara umum memiliki marjin lebih tinggi, serta meningkatnya kontribusi Pilar Infrastruktur yang memberikan pendapatan berulang yang lebih stabil namun dengan marjin yang lebih rendah dibandingkan penjualan lahan. Selain itu, segmen Listrik juga mencatatkan marjin yang sementara lebih rendah pada 1H26 akibat faktor operasional yang menurut Perseroan bersifat sementara dan tidak mencerminkan potensi laba jangka panjang segmen tersebut. Perseroan membukukan laba operasional sebesar Rp524,0 miliar pada 1H26 dibandingkan Rp822,8 miliar pada 1H25. Penurunan tersebut terutama mencerminkan lebih rendahnya pendapatan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal. Meskipun demikian, Perseroan tetap membukukan laba operasional yang didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan bisnis Infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang. Manajemen tetap optimistis bahwa portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta meningkatnya pendapatan berulang akan terus menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada semester pertama 2026 (1H26). Meskipun tetap membukukan laba pada tingkat operasional, hasil tersebut dipengaruhi oleh beban non- operasional yang timbul dari refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, termasuk rugi selisih kurs sebesar Rp280,7 miliar, kerugian sebesar Rp154,6 miliar atas penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat atas penebusan (redemption) Senior Notes 2027sebesar Rp24,9 miliar. Sebagai perbandingan, pada semester pertama 2025 (1H25) Perseroan mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp22,5 miliar dan membukukan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar. Adjusted EBITDA Perseroan pada 1H26 mencapai Rp747,7 miliar, turun 25% dibandingkan Rp995,3 miliar pada 1H25, terutama mencerminkan penurunan kinerja operasional sebagaimana dijelaskan di atas. MARKETING SALES DAN TARGET TAHUN 2026 Marketing sales dari Pilar Pengembangan Lahan & Properti mencapai Rp1.187,6 miliar pada 1H26, atau setara 32% dari target marketing sales Perseroan tahun 2026. Marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya (termasuk joint venture) menyumbang 29%, terutama didorong oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia dan 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok. Sementara itu, Kendal menyumbang 71% dari total marketing sales, didukung oleh penjualan lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia. Target marketing sales Perseroan untuk tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun, yang terdiri atas Rp1,25 triliun dari Cikarang dan wilayah lainnya—meliputi Rp800 miliar dari penjualan lahan industri dan bangunan pabrik di Cikarang serta Rp450 miliar dari penjualan properti residensial dan komersial di
Page 4
Cikarang (termasuk joint venture) dan lokasi lainnya—sementara Rp2,5 triliun sisanya diharapkan berasal dari Kendal. KOMENTAR MANAJEMEN “Kinerja kami pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian Perseroan. Meskipun kinerja keuangan pada semester pertama dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat, rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat non- operasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes kami. Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional. Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami,” ujar Budianto Liman, Wakil Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. OUTLOOK Perseroan terus berupaya mencapai target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun, di mana hingga akhir semester pertama telah terealisasi sebesar 32%. Di saat yang sama, Perseroan juga terus memperbesar kontribusi pendapatan berulang melalui Pilar Infrastruktur. Manajemen meyakini bahwa permintaan yang berkelanjutan dari tenant industri di kawasan Cikarang dan Kendal akan terus mendukung pertumbuhan jangka panjang pendapatan berulang dari utilitas, logistik, dan layanan pengelolaan kawasan. PERNYATAAN MENGENAI PROYEKSI KE DEPAN (FORWARD-LOOKING STATEMENTS) Siaran pers ini memuat pernyataan mengenai proyeksi ke depan (forward-looking statements) yang mencerminkan pandangan Perseroan saat ini terhadap peristiwa di masa mendatang, termasuk terkait target marketing sales dan strategi bisnis Perseroan. Pernyataan-pernyataan tersebut mengandung berbagai risiko dan ketidakpastian yang dapat menyebabkan hasil aktual berbeda secara material dari yang diproyeksikan. Perseroan tidak berkewajiban untuk memperbarui pernyataan- pernyataan tersebut, kecuali sebagaimana diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. TENTANG PT KAWASAN INDUSTRI JABABEKA TBK PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (“Jababeka”) merupakan pengembang kawasan industri dan kota mandiri terintegrasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX: KIJA). Didirikan pada tahun 1989, Perseroan menjalankan usahanya melalui tiga pilar bisnis, yaitu Pengembangan Lahan & Properti, Infrastruktur, serta Leisure & Hospitality, dengan kawasan industri di Cikarang, Jawa Barat, dan Kendal, Jawa Tengah sebagai pusat kegiatan usahanya. Melalui Pilar Infrastruktur, Jababeka menyediakan berbagai layanan bagi tenant industrinya, meliputi penyediaan tenaga listrik, air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan kawasan, serta layanan dry port dan logistik. Informasi lebih lanjut mengenai Perseroan dapat diperoleh melalui www.jababeka.com.
Page 5
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: Corporate Secretary Investor Relations Muljadi Suganda Tim Beekelaar E: muljadi@jababeka.com E: tim_beekelaar@jababeka.com P: 572 7337 ext 678 P: 572 7337 ext 565
Page 6
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk Reports First Half 2026 Results Infrastructure pillar grows 15% and lifts recurring revenue to 57% of total revenue; net loss reflects one-off refinancing costs as operating business remains profitable Jakarta, 31 July 2026 – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (“Jababeka” or “the Company”; IDX: KIJA) today announced its consolidated financial results for the six months ended 30 June 2026 (“1H26”). The Company recorded consolidated revenue of Rp2,436.5 billion in the first half of 2026 (“1H26”), down 11% from Rp2,726.4 billion in the first half of 2025 (“1H25”), and reported a net loss of Rp6.4 billion, compared with a net profit of Rp627.6 billion in 1H25. The net loss was primarily attributable to one-off, non-operating expenses related to the refinancing of the Company’s Senior Notes into bank loans, including foreign exchange losses, costs associated with the termination of derivative (hedging) instruments, and accelerated amortization expense related to the Senior Notes due 2027. These expenses were incurred as a consequence of the Company’s strategic refinancing of its U.S. dollar-denominated Senior Notes into Rupiah-denominated bank loans, a transaction that is expected to deliver long-term financial benefits despite its temporary impact on the Company’s financial performance during the reporting period. The refinancing and redemption of the Senior Notes due 2027 represent a strategic initiative to strengthen the Company’s capital structure and long-term financial profile. The transaction extended the Company’s debt maturity profile through new bank facilities with a 15-year tenor, completed the refinancing proactively more than 18 months ahead of the original maturity date, strengthened the Company’s liquidity and financial flexibility, reduced foreign exchange risk by aligning the currency of its financing with the Company’s reporting currency, and lowered refinancing risk amid continued market volatility. Excluding these non-recurring items, the Company remained profitable at the operating level, recording operating profit of Rp524.0 billion in 1H26, compared with Rp822.8 billion in 1H25. The decline in operating profit during the first half was primarily attributable to lower recognition of industrial land sales revenue due to the timing of revenue recognition in Kendal, while the Company’s business fundamentals remained solid. Meanwhile, the Infrastructure pillar continued to deliver strong performance, with revenue increasing by 15% year-on-year, raising the contribution of recurring revenue to 57% of total consolidated revenue, compared with 45% in 1H25. This reflects the growing contribution of the Company’s infrastructure business and recurring income streams, resulting in a more balanced and resilient revenue structure. KEY HIGHLIGHTS — 1H26 VS. 1H25 • Consolidated revenue: Rp2,436.5 billion, down 11% from Rp2,726.4 billion • Operating profit of Rp524.0 billion, versus Rp832.8 billion – remained positive despite lower industrial land revenue recognized in the period • Net loss of Rp6.4 billion, versus net profit of Rp627.6 billion — driven by one-off refinancing costs; operating profit was maintained • Infrastructure pillar revenue: Rp1,398.2 billion, up 15% from Rp1,220.6 billion — now 57% of total revenue, up from 45% • Land Development & Property revenue: Rp974.9 billion, down 32% from Rp1,442.6 billion
Page 7
• Consolidated gross profit: Rp840.5 billion; gross margin of 34%, versus Rp1,116.5 billion and 41% in 1H25 • EBITDA: Rp747.7 billion, down 51% from Rp995.3 billion • Marketing sales: Rp1,187.6 billion, or 32% of the Company’s full-year 2026 target of Rp3.75 trillion LAND DEVELOPMENT & PROPERTY Revenue from the Land Development & Property pillar declined 32% to Rp974.9 billion, from Rp1,442.6 billion in 1H25. The decrease was mainly due to industrial land sales revenue of Rp783.7 billion, down 41% year-on-year, primarily attributable to differences in the timing of revenue recognition in Kendal. Nevertheless, sales of industrial land and standard factory buildings increased significantly to Rp94.3 billion from Rp18.3 billion, while residential land and housing sales rose to Rp33.7 billion from Rp22.7 billion, reflecting continued healthy demand for industrial property and real estate. INFRASTRUCTURE Revenue from the Infrastructure pillar increased 15% to Rp1,398.2 billion in 1H26, compared with Rp1,220.6 billion in 1H25. Growth was partly driven by the Electricity segment, which increased to Rp921.6 billion from Rp849.1 billion, supported by higher electricity consumption from tenants in Kendal and Cikarang. Revenue from the Services and Maintenance segment (water supply, wastewater treatment, estate management, and other services) grew 39% to Rp347.2 billion from Rp250.2 billion, mainly driven by increased demand from tenants in Kendal. Cikarang Dry Port (CDP) revenue increased to Rp129.4 billion from Rp121.3 billion, mainly due to a 13% year-on-year increase in containers handled and growth in supporting logistics businesses. Recurring revenue generated by the Infrastructure pillar accounted for 57% of total consolidated revenue in 1H26, up from 45% in 1H25. LEISURE & HOSPITALITY Revenue from the Leisure & Hospitality pillar remained relatively stable at Rp63.4 billion, supported by the consistent contribution from the golf business, which represented approximately 65% of the pillar’s total revenue. Although this pillar contributes a relatively small share of total revenue, its stable performance reflects the Company’s continued revenue diversification. PROFITABILITY Consolidated gross profit was Rp840.5 billion in 1H26, compared with Rp1,116.5 billion in 1H25; consolidated gross margin was 34%, compared with 41% in 1H25. The decline was mainly attributable to the lower contribution from industrial land sales, which generally carry higher margins, and to the increased contribution from the Infrastructure pillar, which provides more stable recurring revenue but at lower margins than land sales. The Electricity segment also recorded temporarily lower margins in 1H26 due to operational factors, which the Company believes are temporary and not reflective of the segment’s underlying earnings potential. The Company recorded an operating profit of Rp524.0 billion in 1H26, compared with Rp822.8 billion in 1H25. The decrease primarily reflected lower industrial land revenue, mainly attributable to
Page 8
differences in the timing of revenue recognition in Kendal. Nevertheless, the Company remained profitable at the operating level, supported by the continued growth of its recurring Infrastructure businesses. Management remains confident that its diversified business portfolio and increasing recurring income will continue to provide a solid foundation for sustainable long-term growth. The Company recorded a net loss of Rp6.4 billion in 1H26. Despite remaining profitable at the operating level, the result was affected by non-operating expenses arising from the refinancing of the Company’s Senior Notes into bank loans, including a foreign exchange loss of Rp280.7 billion, a loss of Rp154.6 billion on the termination of derivative (hedging) instruments, and accelerated amortization expense of the Senior Notes due 2027 of Rp24.9 billion. By comparison, the Company recorded a foreign exchange loss of Rp22.5 billion in 1H25, when it reported a net profit of Rp627.6 billion. The Company’s Adjusted EBITDA for 1H26 was Rp747.7 billion, down 25% from Rp995.3 billion in 1H25, primarily reflecting the lower operating performance described above. MARKETING SALES AND FULL-YEAR TARGET In Land Development & Property marketing sales, the Company achieved Rp1,187.6 billion in 1H26, representing 32% of its full-year 2026 marketing sales target. Marketing sales from Cikarang and other areas (including joint ventures) contributed 29%, driven mainly by the sale of 3 hectares of industrial land to an Indonesian textile company and 0.7 hectares to a Chinese construction materials importer. Kendal contributed the remaining 71%, supported by the sale of 7 hectares of land to a battery manufacturer and 9.7 hectares to an Indonesian home appliance manufacturer. The Company’s full-year 2026 marketing sales target is Rp3.75 trillion, of which Rp1.25 trillion is expected from Cikarang and other areas — comprising Rp800 billion from industrial land and factory building sales in Cikarang and Rp450 billion from residential and commercial property sales in Cikarang (including joint ventures) and other locations — with the remaining Rp2.5 trillion expected from Kendal. MANAGEMENT COMMENTARY “Our first-half results reflect the increasing contribution of Jababeka’s recurring infrastructure businesses, which now account for more than half of our consolidated revenue. While our financial performance in the first half was affected by softer contributions from land development compared with the exceptionally strong first half of last year, the reported net loss was primarily attributable to one-off, non-operating foreign exchange and derivative-termination costs associated with the refinancing of our Senior Notes. Excluding these non-recurring items, the Group remained profitable at the operating level. We continue to see demand for industrial land in both Cikarang and Kendal, while remaining focused on disciplined execution across our businesses and further strengthening our recurring income base,” said Budianto Liman, Vice President Director of PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. OUTLOOK The Company continues to work toward its full-year 2026 marketing sales target of Rp3.75 trillion, of which 32% had been achieved as of the end of 1H26, while continuing to grow its recurring revenue base through its Infrastructure pillar. Management believes that continued industrial tenant demand
Page 9
across the Company's Cikarang and Kendal estates is expected to support the longer-term growth of recurring utility, logistics, and estate-management revenue. FORWARD-LOOKING STATEMENTS This press release contains forward-looking statements that reflect the Company’s current views on future events, including with respect to marketing sales targets and business strategy. These statements are subject to risks and uncertainties that could cause actual results to differ materially, and the Company undertakes no obligation to update them except as required by applicable law or regulation. ABOUT PT KAWASAN INDUSTRI JABABEKA TBK PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (“Jababeka”) is an integrated township and industrial estate developer listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX: KIJA). Founded in 1989, the Company operates across three business pillars — Land Development & Property, Infrastructure, and Leisure & Hospitality — anchored by its industrial estates in Cikarang, West Java, and Kendal, Central Java. Jababeka’s Infrastructure pillar provides electricity, water supply, wastewater treatment, estate management, and dry port and logistics services to its industrial tenant base. More information is available at www.jababeka.com. For more information, please contact: Corporate Secretary Investor Relations Muljadi Suganda Tim Beekelaar E: muljadi@jababeka.com E: tim_beekelaar@jababeka.com P: 572 7337 ext 678 P: 572 7337 ext 565
Names mentioned 4 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Indonesia Stock Exchange
p.9
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.