Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 22
Page 1
NOTULENSI PUBLIC EXPOSE
PT INDONESIA KENDARAAN TERMINAL Tbk
HARI RABU, 29 OKTOBER 2025
I. PENDAHULUAN
A. Dasar:
1) Surat Penyampaian Materi Presentasi Public Expose Tahun 2025 PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk
Nomor: KU.01.08/24/10/1/SKPR/SKPR/IKT-25 Tanggal 24 Oktober 2025;
2) Surat Pemberitahuan Rencana Penyelenggaraan Public Expose Tahun 2025 PT Indonesia Kendaraan
Terminal Tbk Nomor: HM.01.02/15/10/1/SKPR/IKT-25 Tanggal 15 Oktober 2025;
3) Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00066/BEI/09-2022 tertanggal 1 Oktober
2022 perihal Perubahan Peraturan Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi;
4) Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00015/BEI/01-2021 tertanggal 1 Februari
2021 perihal Perubahan Peraturan Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi sebagaimana
telah dicabut dan diubah dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-
00066/BEI/09-2022 tertanggal 1 Oktober 2022 perihal Perubahan Peraturan Nomor I-E tentang
Kewajiban Penyampaian Informasi;
5) Surat Edaran Nomor SE-00003/BEI/05-2020 perihal Tata Cara Pelaksanaan Public Expose Secara
Elektronik;
6) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.04/2015 tertanggal 16 Desember 2015 tentang
Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.
B. Pelaksanaan Rapat:
Hari/Tanggal : Rabu, 29 Oktober 2025
Tempat : Ruang Serba Guna, Museum Maritim Indonesia Jl. Raya Pelabuhan No. 9. Tanjung
Priok, Jakarta Utara
Waktu : Pukul 10.00 s/d selesai
C. Pimpinan Acara : Direksi PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk
D. Peserta Rapat : 44 Peserta Offline (Investor dan Sekuritas)
23 Peserta Offline (Media)
55 Peserta Online (Investor, Sekuritas, & Media)
E. Agenda
1. Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya;
2. Menyaksikan Video Company Profile PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk;
3. Pemaparan materi yang disampaikan langsung jajaran Direksi dan dipandu oleh moderator;
4. Sesi Tanya Jawab;
5. Closing Statement Oleh Direktur Utama dan Direktur Keuangan, SDM, & Manajemen Risiko;
6. Penutupan;
7. Ramah Tamah.
F. Notulis: Sekretaris Perusahaan
II. JALANNYA ACARA
Public Expose dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan dibuka oleh Endah Wijayanti sebagai MC dengan
mempersilahkan kepada Cynthia Yasmine sebagai moderator dan kemudian dibuka oleh Bapak Sugeng Mulyadi
selaku Direktur Utama PT Indonesia kendaraan Terminal Tbk. Direksi kemudian menyampaikan presentasi Public
Expose dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan Peserta yang hadir pada acara Public Expose.
1
Page 2
III. PEMBAHASAN PUBLIC EXPOSE
A. Acara Utama dan Pemaparan Materi
1. Profil Company
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk, yang dikenal dengan nama IPCC, adalah perusahaan yang
beroperasi sebagai operator terminal kendaraan terbesar di Indonesia dengan mengusung tagline
"Integrated Auto Solutions". Jejak langkah perusahaan ini dimulai pada tahun 2007 di mana awalnya
merupakan Divisi/Strategic Business Unit (SBU) Terminal Mobil di bawah Pelindo II (IPC), setelah
Pemerintah menginstruksikan pengembangan terminal khusus untuk menangani berbagai jenis
kendaraan seperti mobil, alat berat, truk, bus, dan suku cadang di Tanjung Priok. Divisi ini kemudian
bertransformasi menjadi anak perusahaan pada tahun 2012, dan puncaknya pada tahun 2018, IPCC
resmi mencatatkan sahamnya dan menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (IDX). Saat ini,
setelah proses merger Pelindo, mayoritas saham IPCC (71,3%) dimiliki oleh Subholding PT Pelindo Multi
Terminal, 0,7% oleh PT Multi Terminal Indonesia dan 28% saham dimiliki oleh publik.
Sebagai pemain utama di industri logistik, IPCC memiliki visi untuk "Menjadi Pemimpin Ekosistem
Logistik Kendaraan" dengan misi memberikan layanan terintegrasi dalam ekosistem logistik kendaraan
yang menciptakan nilai tambah bagi pelanggan dan pemangku kepentingan. Untuk mencapai hal
tersebut, IPCC menyediakan lini bisnis yang komprehensif, mencakup Car Terminal Operation (seperti
Stevedoring dan Cargo Handling Services), Car Terminal Supporting (Vehicle Processing Service/VPC dan
Value Added Services/VAS), serta Car Distribution Management (Vehicle Distribution Center/VDC dan
Land Transportation menggunakan Car Carrier). Jaringan operasional IPCC tersebar luas di Indonesia,
tidak hanya di Terminal Kendaraan Tanjung Priok sebagai pusatnya, tetapi juga didukung oleh 5 terminal
satelit yang strategis di wilayah Belawan, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.
2. Kondisi Ekonomi dan Industri Otomotif
Berdasarkan materi presentasi Public Expose PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Tahun 2025,
berikut adalah ringkasan mengenai kondisi ekonomi dan industri otomotif:
Berdasarkan data OICA, produksi kendaraan secara global menunjukkan peningkatan setelah masa
pandemi dan mencapai puncak tertingginya pada tahun 2023, meski kemudian mengalami sedikit
penurunan pada tahun 2024. Secara komposisi, mobil penumpang mendominasi total produksi dengan
porsi 72%, sementara kendaraan komersial menyumbang 28%. Kawasan Asia-Oseania terus menjadi
wilayah produksi kendaraan terbesar di dunia, dengan Tiongkok mendominasi sebagai produsen utama.
Di antara negara-negara Asia, Indonesia mempertahankan posisinya sebagai pemain kunci, menempati
peringkat ke-6 secara global dan peringkat ke-2 di kawasan Asean, tepat di bawah Thailand.
2
Page 3
Meskipun memegang posisi penting, tren industri otomotif di Indonesia dan Thailand pada tahun 2024
justru mengalami kecenderungan penurunan volume produksi, berbeda dengan tren global. Pelemahan
ekonomi domestik Indonesia juga terlihat dari kinerja operasional terminal kendaraan hingga Triwulan
III 2025, di mana terminal domestik mencatat penurunan trafik kargo secara keseluruhan. Namun, di sisi
lain, terminal internasional mengalami peningkatan arus impor kargo kendaraan, terutama didorong
oleh kenaikan signifikan dalam impor mobil listrik (EV).
Berdasarkan data GAIKINDO, hingga September 2025 IPCC mencatat pangsa pasar (market share)
sebesar 74,40% untuk kegiatan ekspor dan 84,63% untuk kegiatan impor, menunjukkan dominasi IPCC
sebagai pemain utama dalam layanan logistik kendaraan di Indonesia.
3. Kinerja Operasional s.d Triwulan III 2025.
Hingga triwulan III tahun 2025, IPCC mencatatkan kinerja operasional yang sangat positif meskipun
menghadapi tantangan di pasar domestik. Pada Branch Jakarta – Terminal Internasional, secara
keseluruhan seluruh jenis kargo menunjukkan peningkatan, kecuali pada segmen truck and bus yang
mengalami penurunan bersifat musiman.
Sementara itu, Terminal Domestik mengalami penurunan kinerja sejalan dengan kondisi ekonomi
Indonesia yang melambat. Adapun Terminal Satelit mencatatkan kenaikan kinerja dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, seiring dengan mulai beroperasinya Terminal Satelit Banjarmasin pada
Oktober 2024
4. Kinerja Keuangan s.d Triwulan III 2025
Hingga triwulan III tahun 2025, kinerja keuangan IPCC menunjukkan pertumbuhan yang solid,
mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam mengelola operasional dan menghadapi tantangan
pasar. Pendapatan perusahaan tercatat meningkat 12,67%, dari Rp585,98 miliar pada 2024 menjadi
Rp660,24 miliar pada 2025. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan volume ekspor dan impor, serta
optimalisasi operasional yang berkelanjutan.
Sebagai hasilnya, laba usaha IPCC meningkat sebesar 18,36%, sementara laba bersih mengalami
kenaikan signifikan sebesar 28,42%, mencapai Rp190,30 miliar pada triwulan III 2025. Selain itu, EBITDA
juga tumbuh 8,75% menjadi Rp297,73 miliar. EBITDA margin tercatat sebesar 45,1%, sedangkan net
profit margin mencapai 28,42%, menunjukkan kemampuan IPCC dalam menjaga profitabilitas yang
kuat.
Lebih penting lagi, IPCC merupakan perusahaan tanpa utang (debt-free company). Adapun liabilitas
yang tercatat dalam neraca merupakan hasil penerapan PSAK 73, terkait pencatatan sewa lahan jangka
panjang dengan Pelindo.
3
Page 4
5. Investasi Tahun 2025
IPCC merencanakan total anggaran CAPEX sebesar Rp 7,4 miliar untuk tahun 2025. Dana ini akan
dialokasikan untuk mendukung peningkatan kapasitas operasional dan memastikan bahwa fasilitas
serta infrastruktur perusahaan dapat mendukung kegiatan operasional yang lebih optimal di masa
mendatang. Investasi ini terdiri dari tiga objek utama, yang akan memberikan dampak positif terhadap
efisiensi dan pengembangan kapasitas perusahaan:
a. Pembangunan Gedung Parkir:
b. Pekerjaan Jaringan Overspray:
c. Revitalisasi Infrastruktur dan Perangkat Teknologi:
6. Kaleidoskop IPCC
Pak Wing Megantoro, selaku Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko, turut memaparkan
capaian serta perkembangan kinerja Perseroan hingga 9M 2025. Sepanjang tahun 2025, IPCC telah
menorehkan berbagai pencapaian signifikan yang mencerminkan kemajuan operasional dan
keberhasilan strategi bisnis perusahaan. Di awal tahun, IPCC menerima Sertifikat 460 Hari Tanpa
Kecelakaan/Insiden dari PT Astra Daihatsu Motor, sebagai bentuk pengakuan atas komitmen tinggi
perusahaan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Selanjutnya, pada Februari 2025, IPCC
menerima kunjungan dari Toyota Motor Asia dan Toyota Motor Thailand, yang semakin memperkuat
hubungan bisnis dengan mitra strategis di sektor otomotif.
Pada Maret 2025, IPCC meraih penghargaan 1st Winner Best Suggestion System dalam ajang Vendor
Alignment PT TMMIN, sebagai bentuk apresiasi atas penerapan ide-ide inovatif yang berkontribusi
terhadap peningkatan efisiensi operasional. Kemudian, pada April 2025, IPCC memperkuat kerja sama
dengan IICS dalam penggunaan PTOS C, yang menunjukkan fokus perusahaan terhadap keandalan
fasilitas dan optimalisasi operasional.
Di bulan Mei 2025, manajemen PT TMMIN melakukan kunjungan ke IPCC, sebagai bentuk dukungan
terhadap pengelolaan dan pertumbuhan berkelanjutan perusahaan. Sementara itu, RUPS Tahun Buku
2024 yang sukses dilaksanakan pada Juni 2025 menjadi wujud komitmen IPCC terhadap transparansi
dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Pencapaian penting lainnya terjadi pada Agustus 2025, dengan kedatangan kapal BYD pertama kali ke
IKT, yang menandai peningkatan kapasitas IPCC dalam pengelolaan dan distribusi kendaraan. Terakhir,
pada Oktober 2025, IPCC mencatat tonggak baru pengangkutan perdana distribusi darat kargo mobil
EV dengan car carrier yang ditangani langsung oleh IPCC.
4
Page 5
7. Strategi & Tantangan
a. Stategi:
Bapak Sugeng Mulyadi, selaku Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC),
memaparkan strategi jangka panjang perusahaan untuk lima tahun ke depan. IPCC menargetkan
untuk menjadi pemimpin dalam ekosistem terminal kendaraan yang terintegrasi, dengan tiga
langkah utama yang menjadi road map perusahaan, yaitu:
1. Business Alignment & Konsolidasi,
2. Business Enhancement, dan
3. Pencapaian ekosistem terintegrasi pada tahun 2029.
Untuk mewujudkan visi tersebut, IPCC menyusun strategi ekspansi vertikal dan horizontal pada mata
rantai distribusi otomotif dan alat berat dan mengintegrasikan seluruh layanan menjadi satu layanan
bundling.
Dari sisi arah pengembangan bisnis, strategi IPCC terbagi dalam dua pendekatan: horizontal dan
vertikal.
● Secara horizontal, IPCC telah memperluas kehadirannya di lima area, dengan Tanjung
Priok sebagai pusat utama. Saat ini, IPCC sedang merencanakan untuk memperluas
terminal satelit di daerah Surabaya, Lembar, & Semarang.
● Secara vertikal, ekspansi pada bisnis lain di dalam ekosistem terminal kendaraan (car
carrier, shipping, dan PDC) serta kolaborasi dengan pelaku bisnis di dalam ekosistem
terminal kendaraan untuk layanan bisnis baru.
b. Risiko & Mitigasi
Bapak Sugeng Mulyadi, selaku Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC),
menjelaskan bahwa sebagai perusahaan terbuka, IPCC memiliki tanggung jawab untuk memberikan
informasi yang transparan kepada investor mengenai berbagai risiko yang dihadapi perusahaan.
Adapun risiko utama yang diidentifikasi IPCC antara lain:
1. Risiko Kondisi Ekonomi Global dan Domestik, yang dapat mempengaruhi arus
perdagangan kendaraan dan aktivitas ekspor-impor;
2. Risiko Pengembangan Bisnis dan Strategic Partnership, terkait dengan proses ekspansi
dan kolaborasi yang memerlukan penyesuaian strategi bisnis;
3. Risiko Persaingan di Pelabuhan Otomotif Nasional;
4. Risiko Kapasitas Lapangan.
5
Page 6
Untuk menghadapi dan memitigasi risiko-risiko tersebut, IPCC mengusung tagline baru: “Integrated
Auto Solutions”, yang mencerminkan arah strategis perusahaan dalam menciptakan ekosistem
logistik kendaraan yang kuat dan terintegrasi. Strategi mitigasi ini berfokus pada tiga pilar utama,
yaitu:
● Fokus pada Konektivitas dan Jaringan, melalui penguatan sinergi antar terminal dan
peningkatan integrasi dengan transportasi darat maupun laut;
● Fokus pada Efisiensi dan Keunggulan, dengan menerapkan digitalisasi, automasi, dan
optimalisasi proses operasional; serta
● Fokus pada Pertumbuhan dan Masa Depan, dengan memperluas bisnis, memperkuat
kemitraan strategis, dan berinovasi untuk mendukung perkembangan industri otomotif
Indonesia.
Dengan strategi tersebut, IPCC berkomitmen untuk terus menjaga kinerja berkelanjutan,
meningkatkan daya saing, dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan
pemangku kepentingan.
8. Envinromental, Sustainability & Governance
Bapak Sugeng Mulyadi, selaku Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), menjelaskan
bahwa ESG (Environmental, Social, and Governance) merupakan prioritas utama dalam strategi
keberlanjutan perusahaan. Penerapan prinsip ESG menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya
minat investor asing terhadap IPCC, terutama setelah berbagai inisiatif dan informasi perusahaan
disampaikan melalui beragam platform komunikasi publik, termasuk podcast. Saat ini, IPCC telah memiliki
sekitar 11.000 investor, dan perusahaan menargetkan peningkatan jumlah tersebut hingga mencapai 20.000
investor, dengan tujuan meningkatkan likuiditas saham hingga 3–5 miliar transaksi per hari.
Dalam aspek tata kelola (governance), IPCC telah menerapkan ACGS (Asian Corporate Governance
Scorecard) dengan standar OECD, dan berhasil meraih skor 110 poin, menunjukkan komitmen terhadap
transparansi dan praktik tata kelola yang baik. Selain itu, pada tahun 2024, IPCC juga memperoleh
penghargaan dari Singapura dan Bangkok atas implementasi manajemen risiko yang unggul.
Dari sisi ESG, IPCC telah menerima berbagai penghargaan dari lembaga independen di Indonesia, sebagai
pengakuan atas upaya nyata perusahaan dalam menciptakan dampak positif terhadap lingkungan dan
masyarakat. Bapak Sugeng menegaskan bahwa bagi IPCC, ESG bukan sekadar dokumentasi administratif,
melainkan aksi nyata yang membawa manfaat jangka panjang bagi bumi, masyarakat, dan pemangku
kepentingan.
6
Page 7
Lebih lanjut, IPCC memfokuskan program ESG pada tiga pilar utama:
1. Lingkungan (Environmental) – melalui efisiensi energi, pengurangan emisi, dan inisiatif ramah
lingkungan di area terminal;
2. Sosial (Social) – dengan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar, peningkatan keselamatan
kerja, dan program tanggung jawab sosial berkelanjutan;
3. Tata Kelola (Governance) – dengan memperkuat sistem pengawasan, transparansi, dan penerapan
manajemen risiko yang efektif.
9. Dividen IPCC
Terkait dengan kebijakan dividen, Bapak Sugeng Mulyadi, selaku Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan
Terminal Tbk (IPCC), menjelaskan bahwa IPCC berada dalam kondisi keuangan yang sangat sehat, di mana
perusahaan tidak memiliki utang jangka panjang. Adapun liabilitas jangka panjang yang tercatat hanyalah
hasil penerapan PSAK 73, sementara sebagian besar kewajiban perusahaan berkaitan dengan operasional
harian.
Dengan kemampuan IPCC dalam menghasilkan EBITDA sekitar Rp400 miliar setiap tahunnya, perusahaan
berencana untuk mendeklarasikan dividen dua kali dalam setahun. Kebijakan ini bertujuan untuk
memberikan nilai optimal bagi para pemegang saham, sekaligus memastikan adanya keseimbangan antara
pemberian return kepada investor dan dukungan terhadap pertumbuhan perusahaan melalui strategi
anorganik growth dan peningkatan kinerja berkelanjutan.
Bapak Sugeng juga menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan komitmen IPCC terhadap transparansi,
tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), dan pertumbuhan yang berkelanjutan,
sehingga IPCC dapat terus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
IV. Tanya Jawab Bersama Direksi
I. Tanya Jawab Bersama Direksi
Pertanyaan Offline
1. Pertanyaan: (Giovanni, Investor)
“Di akhir tahun ini, saya mendengar bahwa ada insentif untuk impor CBU dari pemerintah. Apakah
pemerintah akan melanjutkan insentif tersebut di tahun depan? Dan bagaimana IPCC mengantisipasi jika
insentif tersebut tidak dilanjutkan di 2026?”
Jawaban: “Bapak Sugeng menjelaskan bahwa insentif untuk mobil listrik (EV) akan berakhir, dan
pemerintah kemungkinan tidak akan melanjutkannya. Namun, kebijakan pemerintah untuk mencapai net
zero karbon pada 2060 tetap berlaku, dan insentif diberikan untuk mendorong automaker agar
7
Page 8
memproduksi kendaraan di Indonesia. Setelah insentif berakhir, diharapkan automaker tetap memproduksi
di Indonesia, karena mereka juga akan mengekspor kendaraan tersebut. Meskipun impor mungkin
berkurang, IPCC tetap dapat memperoleh manfaat dari ekspor yang semakin meningkat, terutama dari
model yang diproduksi di Indonesia dan diekspor ke negara-negara tujuan.
Pak Sugeng menambahkan bahwa setelah insentif dihentikan, tantangan selanjutnya adalah bagaimana
mempersiapkan kapasitas ekspor untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri. Automaker seperti
Toyota Manufacturing Indonesia (TMIN) dan BYD akan terus memproduksi kendaraan di Indonesia. TMIN,
yang memproduksi mobil seperti Zenix dan Avanza, akan tetap menjual kendaraan tersebut di luar negeri
setelah memenuhi kebutuhan pasar domestik. BYD juga berencana untuk memproduksi kendaraan secara
massal di Indonesia, seperti model M6, yang akan diekspor setelah diproduksi di Indonesia.Pak Sugeng
menegaskan bahwa meskipun pabrik-pabrik seperti BYD beroperasi di Indonesia, ekspor tetap menjadi
bagian penting dari strategi industri otomotif Indonesia, yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai basis
industri otomotif global.”
2. Pertanyaan: (Sunyoto, Investor)
“Sunyoto mengajukan dua pertanyaan terkait insentif pemerintah dan ekspor. Pertama, ia bertanya
mengenai potensi adanya gap antara penghentian insentif impor EV dengan kapasitas produksi mobil listrik
dari China yang belum sepenuhnya berjalan. Ia ingin mengetahui bagaimana IPCC mengantisipasi situasi
ini, apakah impor tetap akan berjalan meski insentif tidak ada, namun harga jual mobil EV menjadi lebih
mahal. Kedua, ia bertanya tentang dampak tarif baru yang diterapkan oleh Meksiko terhadap ekspor mobil
dari Indonesia, yang mempengaruhi ekspor mobil ke negara tersebut.”
Jawaban: “Pak Sugeng menjelaskan bahwa setelah insentif dihentikan, impor kendaraan listrik
kemungkinan akan menurun, namun automaker seperti BYD berencana untuk mengejar target impor
sebanyak mungkin pada akhir tahun ini. Meskipun insentif PPM BM tidak diperpanjang, pemerintah
mendorong produsen untuk beralih ke produksi domestik, yang akan diekspor ke luar negeri. Namun, jika
harga jual mobil EV meningkat akibat penghapusan insentif, daya beli domestik mungkin terpengaruh,
sehingga beberapa produsen berencana mengimpor dalam bentuk CKD (Completely Knocked Down), yang
lebih murah.
Mengenai ekspor ke Meksiko, Pak Sugeng menjelaskan bahwa pemerintah Meksiko baru-baru ini
memperluas kuota ekspor, yang memicu automaker berlomba-lomba untuk mengirimkan produk mereka
ke negara tersebut. Pada tahun 2024, Meksiko menjadi tujuan ekspor terbesar dari Indonesia, bahkan
mengalahkan Filipina dan Vietnam. Di sisi lain, peluang ekspor ke Eropa dan Australia juga terbuka, dengan
perjanjian zero tarif antara Indonesia dan Eropa, serta potensi untuk ekspor lebih tinggi ke Australia.
Produk mobil Indonesia, dengan kapasitas mesin kecil dan efisiensi bahan bakar, menjadi daya tarik di pasar
internasional, terutama karena harga per unit yang lebih terjangkau.
Secara keseluruhan, meskipun tantangan dengan insentif dan ekspor tetap ada, Pak Sugeng optimis bahwa
potensi pasar global bagi mobil Indonesia tetap besar, dengan strategi untuk mengatasi gap produksi
melalui CKD dan ekspansi ke pasar-pasar baru.”
8
Page 9
3. Pertanyaan: (Ferry, Investor)
“Saya mau nanya di roadmapnya kan disitu ada tertulis buyback saham, maksudnya udah ada jadwalnya
apa belum? Tertulis di tahun dua ribu dua lima dua ribu enam dan kalau ada perkiraannya kapan dan
sekarang harganya udah agak naik, apakah ada target buybacknya di harga berapa gitu?”
Jawaban: “Bapa Sugeng menjelaskan bahwa buyback saham telah dilakukan pada tahun 2025, dengan
harga sekitar 700-600 per saham. Namun, setelah ada investor besar yang masuk dan harga saham
meningkat signifikan hingga mencapai 1.100-1.200, pihak perusahaan memutuskan untuk menunggu
terlebih dahulu. Menurut Pak Sugeng, jika harga saham berada di bawah 1.000, mereka akan melanjutkan
buyback. Namun, jika harga saham berada di atas 1.000, perusahaan akan menunggu dan mengkaji lebih
lanjut. Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan memiliki kas yang cukup besar, namun lebih memilih untuk
melakukan buyback daripada membayar dividen, karena buyback akan meningkatkan nilai saham tanpa
mengeluarkan dividen yang dikenakan pajak. Untuk menjaga likuiditas, buyback hanya akan dilakukan pada
harga yang dianggap optimal, yang dapat memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi pemegang saham.”
4. Pertanyaan: (Benny, Investor)
"Apakah ada kemungkina kita dapat terminal kendaraan di Surabaya? Karena kan itu flow traffic-nya juga
besar setahu saya bisa sampai seratus lima puluh ribu ya sekitar itu, jadi pengalinya sekitar sepuluh dolar per
perkendaraan, jika memungkinkan kapan kira kira?Boleh nggak dividennya diganti dengan saham buy back?
Apakah ada kemungkinan IPCC diundang buat mengelola terminal kendaraan di India?."
Jawaban:
Pertama-tama, terkait dengan pemulihan bisnis Pelindo, salah satunya adalah di Surabaya. Saat ini,
perusahaan masih melakukan fine-tuning pada proposal bisnisnya, dengan harapan dapat melanjutkan
rencana ekspansi tahun depan. Target pencapaian untuk proyek di Surabaya ini sekitar 80 hingga 90 persen.
Yang ditawarkan bukan hanya pengambilalihan, tetapi juga penawaran nilai tambah berupa solusi otomotif
terintegrasi. Selanjutnya, terkait dengan ide saham buyback dan dividen, perusahaan akan melakukan kajian
lebih lanjut mengenai strategi yang paling optimal untuk memberikan nilai terbaik kepada pemegang saham.
Sejalan dengan prinsip yang dikemukakan oleh Warren Buffet, tugas pengurus perusahaan adalah
memberikan nilai optimal kepada pemegang saham. Terakhir, mengenai ekspansi internasional, seperti
mengoperasikan terminal di India, perusahaan telah melakukan pembicaraan dengan Suzuki India. Meski
fasilitas di India masih konvensional, perusahaan melihat adanya peluang untuk memberikan nilai lebih di
pasar tersebut, baik dalam hal pengoperasian maupun kepemilikan. Saat ini, perusahaan tengah berdiskusi
dengan mitra mengenai kemungkinan ini dan sedang menyusun studi kelayakan untuk mengoptimalkan
peluang yang ada.
5. Pertanyaan: (Gilbert, Tuntun Sekuritas)
“mengajukan beberapa pertanyaan terkait keunggulan kompetitif IPCC, tarif, dan ekspansi internasional?
Jawaban:
9
Page 10
Menjawab pertanyaan pertama, keunggulan kompetitif IPCC terletak pada pelayanan terbaik yang
ditawarkan, seperti kemudahan layanan NPE ekspor dan sistem yang terintegrasi. Selain itu, SDM yang handal
dan ekosistem yang efisien memungkinkan IPCC untuk menawarkan layanan dengan biaya lebih rendah.
Contohnya, pengiriman dari Cikarang ke Pak Timban atau Tanjung Priok lebih efisien dibandingkan dengan
alternatif transportasi lainnya, dengan pengelolaan kualitas kargo yang dijaga ketat melalui tagline Zero
Defect, Zero Accident, yang memastikan kepercayaan dan kenyamanan cargo owner."
Jawaban:”Terkait Tarif”
Tarif layanan IPCC berhubungan langsung dengan kualitas layanan dan investasi yang telah dilakukan. Sesuai
dengan ketentuan yang ada, tarif akan naik setiap dua tahun, sejalan dengan inflasi. Jika dilihat, inflasi selama
lima tahun antara 2021 dan 2025 diperkirakan sekitar 15%. Namun, keputusan kenaikan tarif ini akan
dibicarakan dengan asosiasi untuk menjaga keseimbangan antara harga dan volume ekspor. Jika tarif terlalu
tinggi dan ekspor menurun, hal itu akan merugikan Indonesia. Oleh karena itu, IPCC berusaha untuk
mendorong ekspor sebanyak mungkin, karena ini akan memberikan value lebih besar dan meningkatkan
pendapatan perusahaan.
Jawaban: “Ekspansi Internasional”
IPCC juga memiliki rencana untuk ekspansi internasional. Beberapa diskusi telah dilakukan, terutama dengan
investor dari Timur Tengah. Meskipun saat ini rencana tersebut belum bisa dipublikasikan, potensi untuk
memperluas pasar tetap ada, dan IPCC akan terus melakukan eksplorasi peluang internasional lebih lanjut.”
6. Pertanyaan: (Damas, investor)
“salah satu rencana ke depan tadi itu kan, implementasi Dedicated card terminal ya? Isu ini kan kita udah
dengar dari berapa tahun lalu, kalau maksudnya Dedicated Car Terminal itu masih yang priuk, itu saya kira
udah dari lima tahun lalu dan ternyata belum terwujud ya Pak, dalam rencana tadi kan targetnya 2026. Tentu
kita tahu dengan segala resistensi sebelumnya, menjadi kendala dalam implementasi rencana tersebut.
Apakah resistensi-resistensi ini sudah diatasi, sehingga itu bisa terwujud pada tahun 2026?”
Jawaban: “Berdasarkan ketentuan regulasi pelayaran dan keputusan KSOP tahun 2024, IKT Jakarta dan
Belawan telah ditetapkan sebagai Dedicated Car Terminal. Beberapa pelabuhan lain seperti Makassar dan
area lain masih bersifat konvensional, dan akan segera diupayakan menjadi dedicated terminal untuk
menjamin kualitas layanan. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk bekerja sama dengan dua PBM besar (BKJ
dan APS) yang ditunjuk langsung oleh shipping line untuk layanan internasional. Untuk shipping line baru
(Korea, Cina, Vietnam), IKT berperan langsung sebagai PBM. Kolaborasi dengan PBM dilakukan dengan
menetapkan level of service (standar layanan) agar kualitas tetap terjaga. Ke depan sesuai dengan ketentuan
pemerintah, kita akan berkolaborasi, namun IPCC juga akan melihat dari efisiensi, kecepatan, dan kualitas
pengelolaan terminal melalui kerja sama yang terukur dengan mitra.”
10
Page 11
Pertanyaan Online:
1. Pertanyaan: Franklin Waluyo (Investor)
“Terkait dengan kontribusi terminal Banjarmasin terhadap pendapatan IPCC/
IPCC kan sudah ambil alih operasional Terminal Banjarmasin taun lalu kalo gak salah. Bisa kasih gambaran
kah, kira2 berapa besar sumbangan pendapatan Banjarmasin ini ke total omzet perusahaan di tahun ini dan
2026 nanti? Terus, dari sisi operasional dan sistem, apa ada kendala yang harus diselesaikan untuk
menyatukan terimanal banjarmsn ini ke dalam jaringan IPCC?"
Jawaban:
Bapak Sugeng menjelaskan bahwa IPCC telah mengambil alih operasional Terminal Banjarmasin pada tahun
lalu. Untuk menggambarkan kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan, saat ini kontribusi pendapatan
dari Terminal Banjarmasin masih sekitar 10% dari total omzet perusahaan. Seiring dengan upaya standarisasi
dan transformasi yang sedang dilakukan, diharapkan angka ini akan meningkat secara signifikan pada tahun
2026.
Proses standarisasi yang sedang dijalankan melibatkan penyamaan level pelayanan antara Jakarta dan daerah
lainnya. Selain itu, transformasi terminal di Banjarmasin juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas
layanan dan produktivitas. Salah satu langkah penting yang telah dilakukan adalah penyesuaian tarif.
Sebelumnya, tarif yang dikenakan di terminal Banjarmasin masih menggunakan tarif konvensional, yang lebih
rendah dan tidak berdampak signifikan secara komersial. Namun, setelah dilakukan pembenahan, tarif telah
dinaikkan menjadi lebih tinggi dengan harapan dapat lebih mencerminkan nilai dan kualitas layanan yang
diberikan. Kedepannya, tarif di terminal Banjarmasin akan disesuaikan dengan standar terminal kendaraan.
Sebagai contoh, tarif di Makassar telah mengalami kenaikan signifikan setelah dilakukan pembenahan, yang
akan menjadi model bagi terminal-terminal lainnya, termasuk Banjarmasin. Dengan adanya pembenahan
fasilitas dan infrastruktur, serta penyesuaian tarif, diharapkan Terminal Banjarmasin dapat memberikan
kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan perusahaan, terutama setelah transformasi ini sepenuhnya
tercapai pada 2026.”
2. Pertanyaan: Maya (Investor)
Terkait dengan Danantara dan IPCC
"Menurut berita, Danantara akan suntik ke pasar modal sebesar 16 triliun. Apakah IPCC menjadi salah satu
perusahaannya?"
Jawaban: “ Bapak Sugeng menjelaskan berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Pak Pandu yang
menjelaskan bahwa Danantara memiliki dua entitas utama, yaitu Danantara Asset Management yang
mengelola semua BUMN, dan Danantara Investment Management. Di bagian Investment Management,
mereka fokus pada penciptaan nilai terhadap dana yang mereka kelola, baik itu melalui peningkatan
ekosistem pasar modal atau akuisisi perusahaan-perusahaan baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi
Danantara sebagai grup. Danantara tidak hanya bertindak sebagai korporasi yang memberikan layanan
kepada publik, tetapi juga berusaha meningkatkan nilai melalui optimalisasi korporatisasi. Dalam upaya ini,
11
Page 12
Danantara berusaha meningkatkan dana kelolaannya. Sementara itu, beberapa bank besar juga menjadi
perhatian dalam pengelolaan tersebut, meskipun detail lebih lanjut mengenai hal ini masih belum diketahui.
Danantara memang sedang merencanakan untuk meningkatkan dana kelolaannya, yang terbagi dalam dua
bagian: Danantara Asset Management dan Danantara Investment Management. Untuk IPCC, meskipun ada
perhatian dari Danantara karena IPCC merupakan bagian dari grup BUMN atau grup Danantara, hingga saat
ini masih belum ada keputusan resmi terkait dengan keterlibatan IPCC dalam suntikan dana pasar modal
tersebut. Pak Sugeng menambahkan bahwa jika ada kebijakan yang melibatkan Danantara Investment
Management dan IPCC, maka itu akan dipublikasikan pada saat yang tepat, dan IPCC berharap pasar modal
Indonesia akan terus berkembang dan memberikan nilai pasar yang lebih tinggi.”
3. Pertanyaan: Yovan (Investor)
"Di tengah penurunan penjualan mobil domestik, apa penyebab kinerja IPCC tetap meningkat? . Berapa total
kapasitas yang dimiliki IPCC saat ini dan berapa tingkat utilisasinya? Apakah ada rencana ekspansi
internasional misalnya akuisisi car terminal di luar negeri?"
Jawaban: “Bapak Sugeng menjelaskan bahwa Meskipun penjualan mobil domestik mengalami penurunan
pada tahun 2024 dan diperkirakan akan menurun sekitar 10% pada tahun 2025, kinerja IPCC tetap meningkat
berkat beberapa faktor utama. IPCC berfokus pada ekspor, yang mengalami peningkatan sebesar 10%,
sementara impor meningkat 80%. Selain itu, IPCC berhasil menghasilkan tambahan pendapatan sekitar 105
miliar melalui value curation yang dilakukan dengan mitra. Penerapan digitalisasi dan automasi juga berperan
penting dalam meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional yang tinggi. Dengan struktur biaya
yang lebih efisien, IPCC dapat mempertahankan kinerja meskipun ada tantangan di pasar domestik.
Saat ini, kapasitas IPCC untuk operasional internasional berfluktuasi. Pada tingkat harian, kapasitas dapat
mencapai sekitar 80-90%, sementara pada tingkat tahunan, utilisasi berada pada kisaran 55-58%. IPCC
memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas lebih lanjut dengan menambah lahan yang ada di IPCC atau
bekerja sama dengan pihak-pihak seperti Regulir Tangingbril atau Pelindo. Ini bertujuan untuk mengantisipasi
lonjakan kapasitas ketika kapal datang bersamaan atau ekspor meningkat pesat. IPCC memang memiliki
rencana untuk memperluas jangkauan, dengan beberapa diskusi yang telah dilakukan, terutama dengan
investor dari Timur Tengah. Namun, informasi lebih lanjut mengenai ekspansi ini belum bisa dipublikasikan
secara terbuka. Rencana ini masih dalam tahap diskusi dan akan diumumkan lebih lanjut ketika sudah
mencapai tahap yang lebih matang.”
4. Pertanyaan: Adil (Investor)
“Kapan IPCC bagi Deviden Interim dan berapa besarnya?”
Jawaban: “Bapak Sugeng menjelaskan bahwa Secara historis, pembagian dividen IPCC dilakukan dua kali
setahun, IPCC memahami kebutuhan investor institusi yang perlu melakukan accrue di laporan keuangan
akhir tahun. Dividen interim 2025 diupayakan dibayarkan pada Desember 2025 atau awal 2026, tergantung
pada kondisi kas. Pembagian dividen akan berdasarkan kinerja triwulan III dan mempertimbangkan posisi kas
12
Page 13
perusahaan. IPCC berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembagian dividen dan optimalisasi kas untuk
pengembangan bisnis berkelanjutan.”
I. PENUTUP
Acara Public Expose berakhir pada pukul 12.00 WIB. Direktur Utama menyampaikan penutupan resmi sembari
mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua PIHAK.
Jakarta, 29 Oktober 2025
13
Page 14
DOKUMENTASI
ONLINE
OFFLINE
14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
No. Nama Peserta 1 Jhon Polman Purba 2 Merlyn Situmorang 3 Dion 4 Rmdtr 5 Marlina 6 Irwan 7 Meim 8 William 9 Ari Cahya 10 958632141 11 Vhie 12 Ryan 13 Fuji 14 Adil 15 Yonatan 16 A Muttaqin 17 Marjudin 18 Rudi Wijaya 19 Lukman 20 Mulyana Ridwan 21 Yovan 22 Restu 23 Willy 24 Franklyn Waluyo 25 Rendy Robert 26 Andang H S 27 Lita Razaqna 28 Maya 29 R Fiansyah 30 Gallen 31 Muawwan Daelami 32 Tandiono / Stefanie 33 Zul Fahmi 34 Sidik Permana 35 Ainur Aeni 36 Novanda 37 Xiaomi 22081283G 38 / 39 Haris Cahya Mahardika 40 Irfan Cahyono 41 Zulfan 42 Zulfikar 43 Baihakireza 44 Fatih Salman
Page 22
45 Lional 46 M Nurman Yulianto 47 Thoriq 48 Edo Ardiansyah 49 Rey Prayudha 50 Steven Rinaldi 51 Kalam 52 Moh. Waris Sabar 53 Irawan Kertapati 54 Teddy Aristan 55 Dwi
Names mentioned 16 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Terminal Tbk.
p.1
unresolved
org
PT Pelindo Multi Terminal
p.2
unresolved
—
Kaleidoskop IPCC Pak Wing Megantoro
· Direktur Keuangan
p.4 ×2
unresolved
org
PT Astra Daihatsu Motor
p.4
unresolved
org
PT TMMIN
p.4 ×2
unresolved
—
Mitigasi Bapak Sugeng Mulyadi
· Direktur Utama
p.5 ×12
unresolved
—
Governance Bapak Sugeng Mulyadi
· Direktur Utama
p.6
unresolved
person
Sugeng
p.6 ×14
unresolved
person
Timban
p.10
unresolved
person
Pandu
p.11
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.