Skip to content
Back to announcement

20260728_BINA_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32115433_lamp2.pdf

Other Text extracted BINA

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 30

Page 1 OCR 0.929
GBANK INA

Member of Salim Group

2. Berdasarkan CALK 5 Giro pada Bank Indonesia, diketahui terdapat kenaikan Giro
Wajib Minimum (GWM) Primer dari 14,78Y6 pada 31 Desember 2025 menjadi
18,65Y6 pada 31 Maret 2026. Walaupun begitu, terdapat penurunan pada GWM
Sekunder atau Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) dan Rasio
Intermediasi Makroprudensial (RIM) menjadi 23,97Y4 dan 55,83Yo pada 31 Maret
2026. Atas hal tersebut, jelaskan penyebab penurunan rasio dan dampaknya
terhadap likuiditas Perseroan.

Jawaban :
a. Penjelasan Mengenai Penyebab Penurunan Rasio PLM dan Giro RIM
1 Penurunan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) dari
29,6546 pada 31 Desember 2025 menjadi 23,9746 pada 31 Maret 2026
terutama disebabkan oleh pergerakan valuasi nilai wajar portofolio Surat
Berharga. Penurunan valuasi ini secara langsung mengakibatkan posisi
rasio PLM Perseroan mengalami penurunan.
ii. Penyesuaian persentase Giro RIM menjadi 55,8346 terjadi karena
penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Perseroan, dari Rp27,25 triliun
pada akhir tahun 2025 menjadi Rp25,03 triliun per 31 Maret 2026.
Penurunan DPK tersebut juga diikuti dengan dengan penurunan
portofolio kredit sehingga berdampak pada menurunnya beban
pemenuhan kewajiban Giro RIM.

b. Penjelasan Dampak Penurunan Rasio terhadap Kondisi Likuiditas
Perseroan
Walaupun rasio GWM PLM dan RIM mengalami penurunan, namun dengan
rasio LDR (Loan to Deposit) Perseroan pada 31 Maret 2026 yang sebesar
59,0346, kondisi likuiditas Perseroan tetap terjaga dengan baik. Hal ini juga
dapat dilihat dari rasio NSFR (Net Stable Funding Ratio) dan LCR (Liguidity
Coverage Ratio) yang berada di atas ketentuan minimum regulator, yaitu
masing-masing sebesar 122,4846 dan 185,216.

3. Berdasarkan CALK 7 Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain, diketahui
terdapat penurunan penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain dari Rp2,10
triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp1,16 triliun pada 31 Maret 2026. Atas
hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai:
a. Penurunan saldo signifikan dan penggunaan dana yang sebelumnya
ditempatkan pada FASBI dan call money.
Jawaban:
Penurunan saldo Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain yang cukup
signifikan, dari Rp2,10 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp1,16 triliun
pada 31 Maret 2026, karena :
1. Pemenuhan Likuiditas Jangka Pendek
Penempatan pada Fasbi dan Call Money adalah penempatan jangka pendek
untuk optimalisasi likuiditas. Penempatan pada pos ini mengalami
penurunan seiring dengan penurunan total DPK Perseroan sebesar Rp2,22

1/30

9 Head Office :
'Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

«
KL 021-2525678

@ www.bankina.co.id

Page 2 OCR 0.922
@GBANK INA

Member of Salim Group

triliun dari Rp27,26 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp25,03 triliun
per31 Maret 2026.
ii. Optimalisasi Imbal Hasil Penempatan Portofolio Efek Efek

Untuk mengoptimalkan profitabilitas, Perseroan juga memindahkan
sebagian dana dari instrumen Call Money ke instrumen Surat Berharga
Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang
memberikan imbal hasil (yield) lebih tinggi. Hal ini terlihat dari peningkatan
total portofolio efek-efek dari Rp10,49 triliun pada Desember 2025 menjadi
Rp11,76 triliun pada Maret 2026.

b. Strategi pengelolaan penempatan antar bank di tengah penurunan dana
pihak ketiga dan peningkatan liabilitas repo
Jawaban :
Di tengah penurunan dana pihak ketiga dan peningkatan liabilitas repo, strategi
pengelolaan penempatan antar bank akan disesuaikan dengan
mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan imbal hasil yang optimal.

. Berdasarkan CALK 8 Efek-efek, terdapat peningkatan sebesar 12,0946 dari

Rp10,49 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp11,76 triliun pada 31 Maret

2026. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai:

a. Peningkatan pada efek-efek, beserta penjelasan mengenai profil risiko
investasi dan strategi investasi Perseroan.

Jawaban :

Peningkatan nilai portofolio pada efek-efek sebesar 12,0996 dari Rp10,49

Iriliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp11,76 triliun per 31 Maret 2026

merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas Perseroan untuk

mendapatkan imbal hasil yang optimal. Hal ini dilakukan mengingat
penyaluran kredit Perseroan yang masih cukup rendah, tercermin dari rasio

Loan-to-Deposit Ratio (LDR) per 31 Maret 2026 sebesar 59,0346 dan 56,014

per 31 Desember 2025. Sebagian Dana Pihak Ketiga yang belum tersalurkan

untuk pemberian kredit dialokasikan ke penempatan instrumen surat berharga
guna meningkatkan pendapatan bunga bersih Perseroan.

Dalam melakukan penempatan pada efek-efek, Perseroan senantiasa

memperhatikan profil risikonya, yang tercermin pada :

e Mayoritas eksposur dialokasikan pada instrumen yang diterbitkan oleh
Pemerintah RI dan Bank Indonesia. Penempatan ini meliputi Obligasi
Pemerintah, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Sekuritas Valuta
Asing Bank Indonesia (SVBI).

e Rating dari efek-efek yang dibeli Perseroan berasal dari penyedia peringkat
bereputasi seperti PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan Fitch
Ratings.

2/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

MK 021-2525678 |

@ wwwbankina.co.id
Page 3 OCR 0.933
@GBANK INA

Member of Salim Group

b. Diketahui bahwa, Perseroan mencatat rugi komprehensif lain atas perubahan
nilai wajar efek pada FVOCI sebesar Rp266,33 miliar. Jelaskan mengenai
penyebab kerugian tersebut, dampaknya terhadap posisi keuangan Perseroan,
serta langkah mitigasi risiko yang dilakukan.

Jawaban:
1. Penyebab Kerugian Komprehensif

Pencatatan rugi komprehensif lain atas perubahan nilai wajar efek-efek

yang diklasifikasikan sebagai FVOCI sebesar Rp266,32 miliar merupakan

kerugian yang belum direalisasi (mark to market) yang disebabkan dari
penurunan harga efek-efek, terutama harga Surat Utang Negara.

Penurunan harga dari efek-efek merupakan dinamika dari kondisi makro

ekonomi eksternal dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur

Tengah, sampai pada aliran modal keluar (net outflows) dari portofolio

SBN. Penjualan masif obligasi pemerintah ini secara langsung menekan

harga SBN.

2. Dampak Terhadap Posisi Keuangan Perseroaan

Karena masih termasuk unrealized loss dari efek-efek yang dicatat di

FVOCI, kerugian ini tidak berdampak langsung pada laba bersih tahun

berjalan, namun memberikan dampak pada ekuitas di neraca dan rasio

permodalan Perseroan :

e Kerugian komprehensif lain tersebut disajikan sebagai pengurang pada
pos ekuitas. Hal ini menyebabkan total ekuitas Perseroan turun dari
Rp3,31 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp3,09 triliun pada 31
Maret 2026.

e Pada perhitungan KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum),
kerugian yang belum direalisasi atas instrumen FVOCI ini menjadi
pengurang pada Modal Inti Utama. Modal Inti Perseroan tercatat turun
dari Rp3,07 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp2,81 trilium pada 31
Maret 2026. Akibatnya, Rasio Kecukupan Modal Perseroan (CAR)
terkoreksi dari 19,3046 menjadi 18,3946. Rasio ini masih terjaga di atas
ketentuan minimum regulator.

3. Langkah Mitigasi Risiko yang Dilakukan Perseroan

Untuk mengatasi tekanan terhadap permodalan akibat fluktuasi pasar

tersebut, Manajemen Perseroan telah mengambil langkah-langkah mitigasi

strategis sebagai berikut :

e Pemantauan harian terhadap posisi surat berharga kategori FVOCI
oleh unit kerja Treasuri dan Risk Management.

6 Penyampaian rencana penambahan modal melalui private placement
(PMTHMETD), sebagai langkah strategis untuk memperkuat
permodalan Perseroan.

e Mempertimbangkan bahwa penurunan nilai murni merupakan dampak
pergerakan harga pasar dan bukan merupakan risiko gagal bayar,
Perseroan terus menjaga agar portofolio efek tetap didominasi oleh
Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dan Obligasi Korporasi

3/30

9 Head Office :
'Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525678

@ wwbankina.co.id
Page 4 OCR 0.919
@GBANK INA

Member of Salim Group

Ou

dengan peringkat tingkat tinggi dalam rentang idAAA hingga idA-.
Langkah ini untuk memastikan instrumen tetap memiliki tingkat
probabilitas pemulihan nilai yang tinggi saat kondisi yield pasar
kembali stabil.

c. Diketahui bahwa Perseroan memiliki investasi pada portofolio obligasi
korporasi dengan rating idD sebesar Rp147,43 miliar. Jelaskan alasan
penempatan investasi tersebut.

Jawaban :

Dapat dijelaskan bahwa pada awal investasi, portofolio obligasi korporasi
tersebut adalah obligasi yang diterbitkan oleh Badan Usaha Milik Negara
dengan rating IDA. Investasi ini awalnya adalah untuk mengoptimalkan
likuiditas dan meningkatkan pemenuhan rasio RPIM (Rasio Pembiayaan
Inklusif Makroprudensial). Namun karena mismatch arus kas dan penundaan
pembayaran pokok pinjaman, maka obligasi tersebut turun menajdi peringkat
idD per3iI Maret 2026.

d. Rincian efek-efek yang diklasifikasikan dalam Stage 3, termasuk penerbit,
nilai tercatat, peringkat, status pembayaran, dan CKPN yang dibentuk.

Jawaban:
Keterangan Detail
Penerbit Efek aan Karya (Persero) Tbk
Jenis Instrumen Obligasi Korporasi

Nilai Wajar melalui Penghasilan
Komprehensif Lain (FVOCI)
Rp147,43 miliar (Tercatat di laporan
keuangan sebesar Rp147.429 juta)

Klasifikasi Kategori Akuntansi

Nilai Tercatat per 31 Maret 2026

Peringkat Efek (Rating) idD (Default)
Klasifikasi Risiko Kredit Stage 3 (Credit-Impaired)
Status Pembayaran Dalam proses restrukturisasi

kewajiban pembayaran (default)

Telah dibentuk pencadangan secara
memadai sesuai ketentuan PSAK 109
menggunakan pendekatan kerugian
kredit ekspektasian seumur hidup
Status Pencadangan (CKPN) (Lifetime Expected Credit Loss). Saat
ini, Perseroan menggunakan
perhitungan dengan asumsi adanya
restrukturisasi — obligasi, — dimana
credit spread diperhitungkan sesuai

4/30

9 Head Office :
'Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525678

@ www.bankina.co.id

Page 5 OCR 0.926
@GBANK INA

Member of Salim Group

dengan kondisi rating surat berharga
tersebut.

5. Berdasarkan CALK 10 Kredit yang Diberikan, secara bruto saldo turun 3,1796 dari
Rp15,26 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp14,78 triliun pada 31 Maret
2026. Dari sisi kolektabilitas, terdapat peningkatan komposisi kredit tidak lancar
dari 10,99Y6 pada 31 Desember 2025 menjadi 13,24Yo pada 31 Maret 2026. Kredit
dalam perhatian khusus meningkat 22,20y9 menjadi Rp1,49 triliun dan kredit macet
meningkat 12,146 menjadi Rp363,21 miliar. Atas hal tersebut, Bursa meminta
penjelasan mengenai hal-hal berikut :

a. Penyebab penurunan kredit bruto sebesar 3,1796, terutama penurunan kredit
modal kerja pihak ketiga, serta strategi Bank untuk mencapai target
pertumbuhan kredit pada 2026.

Jawaban :

1. Penyebab Penurunan Kredit Bruto dan Kredit Modal Kerja Pihak Ketiga
Penurunan total kredit bruto sebesar 3,1726 dari Rp15,26 triliun pada 31
Desember 2025 menjadi Rp14,78 triliun pada 31 Maret 2026, yang
utamanya didorong oleh penurunan Kredit Modal Kerja Pihak Ketiga dari
Rp9,34 triliun menjadi Rp8,37 triliun, disebabkan oleh beberapa faktor
utama
a. Terdapat pelunasan kewajiban baik reguler (sesuai jatuh tempo)

maupun pelunasan dipercepat atas fosilitas kredit modal kerja oleh
beberapa debitur, sejalan dengan siklus bisnis mereka dan jatuh tempo
Jasilitas di kuartal pertama tahun 2026.

b. Menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global dan domestik,
Perseroan mengambil langkah konservatif untuk lebih selektif dalam
menyalurkan kredit baru pada kuartal pertama 2026. Perseroan lebih
memfokuskan pada upaya konsolidasi portofolio kredit, restrukturisasi,
dan perbaikan kualitas aset guna menjaga profil risiko kredit tetap
terkendali.

2. Strategi Bank untuk Mencapai Target Pertumbuhan Kredit pada 2026

a. Perseroan mengoptimalkan sinergi dengan ekosistem pemegang saham,
seperti memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja (supply chain
financing) kepada mitra binaan, pemasok, dan distributor. Pendekatan
ini memungkinkan penyaluran kredit dengan profil risiko yang lebih
terukur.

b. Ekspansi kredit akan diarahkan pada sektor-sektor yang terbukti
tangguh dan memiliki tum around cepat, seperti sektor Perdagangan,
Restoran, dan Hotel (yang memegang porsi terbesar yakni Rp3,59 triliun
per 31 Maret 2026), serta sektor Industri Pengolahan dan Manufaktur.

5/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

RK 021-2525678

@ wwwbankina.co.id

Page 6 OCR 0.906
GBANK INA

Member of Salim Group

c. Perseroan memperkuat strategi penyaluran kredit melalui skema
channeling maupun pemanfaatan platform digital, serta modal kerja
produktif berskala mikro dengan limit terukur dan penyebaran risiko
yang baik.

d. Sejalan dengan target pertumbuhan, Bank memperketat proses
underwriting sejak inisiasi melalui penerapan four-eyes principle secara
konsisten. Selain itu, Perseroan memperkuat Early Warning System
(EWS) untuk mendeteksi potensi pemburukan kualitas kredit secara dini,
sehingga ekspansi kredit yang dilakukan tidak menambah beban CKPN
di masa mendatang.

b. Kenaikan kredit kepada pihak berelasi, terutama kenaikan kredit investasi
dari Rp638 juta menjadi Rp60,17 miliar, termasuk informasi mengenai
nama debitur, tujuan penggunaan, tenor, agunan, dan suku bunga.
Jawaban:

Berikut adalah data kenaikan Kredit kepada Pihak Berelasi khususnya pada
segmen kredit investasi yang meningkat menjadi Rp60,17 miliar sebagai berikut

& Suku
: Tujuan Tenor O/S
Nama Debitur Bunga Agunan
Penggunaan (spa) (tahun) (Rp Juta)

5 $ Pembelian Kendaraan
Ainul Hayat Sejahtera Kendaraan 10,00 5 200 Bermotor
Bukit Indah Mandiri .
Abadi Pembelian Mesin 1700 3 SA ketan
Sebuku Baja Perkasa Refinancing 9,50 6 59.421 Tanah
Total 60.171

c. Kenaikan kredit konsumsi serta kenaikan rata-rata suku bunga kredit
konsumsi dari 7,53Yo menjadi 13,366.
Jawaban :

JI. Kenaikan rata-rata suku bunga kredit konsumsi dari 7,5346 menjadi
13,3646 merupakan bagian dari kebijakan penyesuaian suku bunga
(repricing) secara selektif guna merespons peningkatan biaya dana (cost
of funds) serta menjaga margin bunga bersih Perseroan.

2. Berdasarkan data per 31 Maret 2026, Total portofolio kredit konsumsi
tercatat sebesar Rp1,59 triliun, dengan sebaran suku bunga efektif mulai
dari 2,1846 pa hingga 18,0046 p.a.

3. Dalam melakukan ekspansi kredit konsumsi, Perseroan tetap menerapkan
prinsip kehati-hatian (prudence principle).

6/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021- 2525 678 $

er

www.bankina.co.id

Page 7 OCR 0.870
GBANK INA

Member of Salim Group

d. Peningkatan kredit Dalam Perhatian Khusus menjadi Rp1.49 triliun dan
kredit macet menjadi Rp363,21 miliar pada 31 Maret 2026, termasuk
informasi debitur dan sektor yang memberikan kontribusi terbesar.
Jawaban :

1. Kredit Dalam Perhatian Khusus (DPK) mayoritas dikontribusi oleh 3 (tiga)
sektor utama, yaitu Industri Pengolahan sebesar Rp332,49 miliar
(22,254), Konstruksi sebesar Rp273,12 miliar (18,2896), dan Real Estat
sebesar Rp228,36 miliar (15,2826).

Rincian kredit Dalam Perhatian Khusus berdasarkan sektor ekonomi :

Sektor Ekonomi Baki Debet (Rp Juta) Porsi (20)
Industri Pengolahan 332.487,28 22,25Y6
Konstruksi 273.124,29 18,2846
Real Estat 228.359,23 15,2846
Informasi dan Komunikasi 169.032,57 11,3146
Pendidikan 163.418,36 10,9446
Rumah Tangga 115.327,84 7, 7246
Penyediaan Akomodasi dan Makan 83.691,54 5,606
Minum

Pertanian, Kehutanan, dan 66.636,93 4,4605
Perikanan

Perdagangan Besar dan Eceran,

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 45.941,28 3.0096
Pertambangan dan Penggalian 12.036,68 0,8146
Pengangkutan dan Pergudangan 3.903,18 0,2646
Bukan Lapangan Usaha Lainnya 21,47 0,0026
Total 1.493. 980,65 100,0015

Sektor Perdagangan Besar dan Eceran merupakan kontributor terbesar
terhadap kredit macet, yaitu mencapai Rp289,18 miliar atau 79,6246 dari
total kredit macet. Rincian kredit macet berdasarkan sektor ekonomi :

Sektor Ekonomi Baki Debet (Rp Juta) Porsi (45)

Perdagangan Besar dan Eceran:

9
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor BANNER, DR

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 28.17 7, 7646

Konstruksi 20.652 3,6996

Pengelolaan Air, Limbah, Sampah, dan

Aktivitas Remediasi 33411 36916

Informasi dan Komunikasi 6.187 1,7026
7/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

er

www.bankina.co.id

Page 8 OCR 0.897
G BANK INA

Member of Salim Group

Industri Pengolahan

Rumah Tangga
Total

4.796 13246
810 02246
363.21 100,0076

e. Rincian kredit bermasalah pada berdasarkan sektor, termasuk status
penyelesaian, nilai agunan, estimasi recovery, dan CKPN yang dibukukan.
Selain itu, bagaimana strategi Perseroan untuk memitigasi risiko yang
terjadi pada kredit bermasalah tersebut? Jelaskan,

Jawaban :

Berikut adalah rincian portofolio kredit bermasalah per 31 Maret 2026
berdasarkan sektor ekonomi beserta kecukupan CKPN yang telah dibukukan

oleh Perseroan :

2 Outstanding
Sektor Ekonomi 1 (Rp Juta)
Industri Pengolahan 4796
Informasi dan
Komunikasi oten
Konstruksi 30.046
Pengelolaan Air,
Limbah, Sampah, dan 13.411
Aktivitas Remediasi
Penyediaan
Akomodasi dan 6.094
Makan Minum
Perdagangan Besar
dan Eceran, Reparasi -
Mobil dan Sepeda 361-465
Motor
Pertanian,
Kehutanan, dan 28.17
Perikanan
Real Estat 3.809
Rumah Tangga 8.92
Total 462.898

9 Head Office :

CKPN
Dibukukan

(Rp Juta)
5.571
6.475

3.322

8.123

1.168

135.784

25.823

Coverage
Ratio
29

11616146
10465146

11,0646

60,5746

19,1796

37,5646

91,6746

8,4046

59,2546

41,451

Status
Penyelesaian &
Estimasi Recovery

Restrukturisasi /
Eksekusi Agunan
Penagihan intensif
& Penjualan Aset
Penagihan intensif
& Penjualan Aset

Penagihan intensif
& Penjualan Aset

Eksekusi/Pencairan
Agunan Pokok

Restrukturisasi,
AYDA, & Proses
Hukum

Penagihan Intensif
& Eksekusi Agunan

Penjualan Agunan
Mandiri oleh
Debitur

Skema Klaim
Asuransi &
Penagihan Ritel

8/30

Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

er

www.bankina.co.id
Page 9 OCR 0.908
@GBANK INA

Member of Salim Group

1. Nilai Agunan dan Estimasi Recovery

e Seluruh portofolio kredit bermasalah di atas diikat dengan agunan
kebendaan (berupa tanah, bangunan, mesin, serta kendaraan) danfatau
garansi/benjaminan yang diikat secara legalitas sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku.

e Perseroan mengestimasi tingkat pemulihan (recovery rate) berada pada
kisaran 604 hingga 8046 dari total baki debet. Estimasi ini didasarkan pada
nilai pasar dan nilai likuidasi atas agunan kebendaan yang mengover kredit,
yang dinilai kembali secara berkala oleh Penilai Independen .

2. Strategi Perseroan dalam Memitigasi Risiko Kredit Bermasalah adalah :

e Peningkatan Pembentukan CKPN (prudent provisioning)

Perseroan senantiasa membentuk CKPN secara prudent sesuai dengan
ketentuan PSAK 71 guna memastikan risiko penurunan nilai aset keuangan
telah tercover secara memadai, dimana akumulasi pencadangan CKPN pada
laporan keuangan 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp191,872 juta.

e Skema Restrukturisasi Penyelamatan Kredit
Terhadap debitur yang masih memiliki prospek usaha (going concern) dan
itikad baik, Perseroan memberikan skema restrukturisasi yang terukur,
seperti perpanjangan jangka waktu, penyesuaian suku bunga, hingga
penataan ulang jadwal pembayaran pokok/bunga.

e Penyelesaian kewajiban debitur melalui penyerahan jaminan (AYDA), baik
secara sukarela maupun melalui eksekusi hak tanggungan.

f. Kredit restrukturisasi sebesar Rp1,65 triliun, khususnya kredit
restrukturisasi berstatus Dalam Perhatian Khusus dan Macet, beserta
informasi jumlah debitur, skema restrukturisasi, dan kemungkinan
restrukturisasi berulang.

Jawaban :
Rincian Portofolio kredit restrukturisasi Perseroan kategori Dalam Perhatian
Khusus dan Macet per 31 Maret 2026 berdasarkan Sektor Ekonomi adalah :

Sektor Ekonomi Baki Debet/ OS (Rp Juta) Porsi (96)
Konstruksi 257.543 21, 1996
Perdagangan Besar dan Eceran:

Reparasi Mobil dan Sepeda 237.446 19, 5496
Motor

Real Estat 217.647 17,9146
Informasi dan Komunikasi 166.398 13,6946
Industri Pengolahan 151.056 12,436
Pendidikan 150 12,346
Periantan, Kehutanan, dan 27.702 2,2895

erikanan
9/30

9 Head Office :
'Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

O21- 2525 678

ec

www.bankina.co.id

Page 10 OCR 0.918
@BANK INA

Member of Salim Group

Pengelolaan Air, Limbah,
Sampah, dan Aktivitas Remediasi
Grand Total 1.215.322 100,002

7.531 0,6246

Oo Jumlah Debitur & Sektor Utama:

Jumlah debitur yang termasuk dalam portofolio restrukturisasi kategori Dalam

Perhatian Khusus dan Macet sebanyak 582 debitur yang mayoritas berasal dari

sektor konstruksi (21,1996), perdagangan besar dan eceran (19,5446), serta real

estat (17,91946).

Oo Skema Restrukturisasi yang Diberikan

Perseroan menerapkan skema restrukturisasi yang disesuaikan dengan profil

arus kas (cash flow) dan kapasitas pembayaran masing-masing debitur, seperti :

e Perpanjangan jangka waktu (tenor) fasilitas kredit.

e Penundaan atau keringanan pembayaran bunga sementara.

e Penundaan pembayaran pokok, atau penyesuaian syarat-syarat kredit lainnya
sesuai regulasi OJK

Oo Kebjakan Restrukturisasi Berulang

e Perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudence) yang sangat ketat
terhadap pengajuan restrukturisasi ulang.

e Restrukturisasi berulang hanya diberikan kepada debitur yang terbukti
memiliki prospek usaha berkelanjutan (viable going concern), memiliki iktikad
baik, serta menyerahkan agunan tambahan yang memadai.

8 Apabila debitur restrukturisasi menunjukkan pemburukan kapasitas
pembayaran tanpa prospek pemulihan yang jelas, Perseroan tidak
memberikan restrukturisasi lanjutan dan langsung melakukan penggolongan
kolektibilitas secara realistis serta mengoptimalkan jalur eksekusi agunan
atau tindakan hukum (recovery).

6. Berdasarkan CALK 11 Piutang Bunga, terdapat peningkatan saldo dari Rp177,6
miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp203,12 miliar pada 31 Maret 2026. Atas
hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal berikut.

a. Kenaikan piutang bunga menjadi Rp203,12 miliar, terutama piutang

bunga atas efek-efek, di tengah penurunan piutang bunga kredit.
Jawaban :
Kenaikan total piutang bunga menjadi sebesar Rp203,12 miliar pada kuartal
pertama tahun 2026 utamanya dikontribusikan oleh peningkatan piutang bunga
atas instrumen efek-efek (surat berharga). Kenaikan piutang bunga efek-efek
sejalan dengan peningkatan penempatan Perseroan pada portofolio surat
berharga. Karena rasio LDR (Loan to Deposit) yang masih berada di level
59,0346, Perseroan mengoptimalkan pengelolaan likuiditas dengan
mengalihkan penempatan dana ke instrumen surat berharga.

10/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

RK, 021-2525678

@  www.bankina.co.id

Page 11 OCR 0.855
@GBANK INA

Member of Salim Group

bh. Analisis umur piutang bunga, termasuk saldo yang telah jatuh tempo, tidak
tertagih, atau berasal dari aset keuangan Stage 2 dan Stage 3.

Jawaban :
| Satdo Saldo
| | Piutang Tiduk si
Portofolio | Umar Stage Aktif/ Tertagih
| Piutang P - Nor
| erforming .
| . Performing
| (Rp juta) (Rp juta)
la 1-30 Hari | Stage 1 43.429 | -
31-60 Hari | Stage 2 100 | -
i |
61-90 Hari | Stage2 ss -
Stage 3
2 90 Hari (Jatuh & 47,512
Tempo)
Surat Berharga | 1— 30 Hari Stage 1 158,327 -
31-60Hari | Stage 2 - -
61-90 Hari | Stage 2 - -
Stage 3 |
| 2 90 Hari (Jatuh - 1431
| Tempo)
| P MepaaR | 1-30Hari | Stage pool :
Total Saldo Piutang Bunga 201,987

7. Berdasarkan CALK 17 Aset Lain-lain, terdapat peningkatan saldo sebesar 27,334
dari Rp518,6 miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp660,35 miliar pada 31
Maret 2026. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal berikut.
a. Kenaikan aset lain-lain dari Rp518,60 miliar menjadi Rp660,35 miliar,

terutama kenaikan AYDA menjadi Rp519,65 miliar dan pos lain-lain dari

Rp2,94 miliar menjadi Rp88.01 miliar.

Jawaban :

Peningkatan saldo Aset Lain-lain sebesar 27,33Y6 atau menjadi Rp660,35

miliar pada 31 Maret 2026 utamanya didorong oleh pergerakan pada dua pos

utama sebagai berikut :

1. Kenaikan Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) menjadi Rp519,65 miliar
Pengambilan aset jaminan debitur menjadi AYDA merupakan bagian dari
strategi untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh kredit
bermasalah. Peningkatan saldo AYDA ini mencerminkan komitmen kuat
Perseroan dalam mengamankan hak finansial, mengoptimalkan tingkat
pemulihan kredit (recovery rate), serta meminimalisir risiko kerugian

11/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525 678

& wwwbankina.co.id

Page 12 OCR 0.913
G BANK INA

Member of Salim Group

historis. Selanjutnya, Perseroan secara berkesinambungan terus

melakukan upaya pemasaran dan penjualan atas aset-aset AYDA tersebut

agar dapat segera dikonversi kembali menjadi aset likuid yang produktif.
2. Kenaikan Pos Lain-lain dari Rp2,94 miliar menjadi Rp88,01 miliar, terdiri
dari:

e Rekening Perantara/Transitoris sebesar Rp52,45 miliar
Pencatatan pada rekening penampungan sementara (suspense account)
yang berasal dari transaksi transfer dana nasabah (seperti kliring,
RTGS, dan BI-FAST) yang terjadi menjelang penutupan hari kerja di
akhir bulan Maret 2026. Status transaksi ini masih dalam proses
penyelesaian perpindahan dana antar bank dan akan terselesaikan
(sertle) secara penuh pada hari kerja berikutnya.

e Tagihan Penyelesaian Transaksi / Settlement sebesar Rp21,32 miliar
Kenaikan ini berasal dari tagihan antar bank atas transaksi operasional
harian melalui jaringan elektronik (seperti transaksi kartu debit, ATM,
dan switching jaringan pihak ketiga) yang belum jatuh tempo waktu
penyelesaian (H41 atau H-2).

e Uang Muka Biaya Operasional sebesar Rp10,14 miliar
Peningkatan ini disebabkan oleh adanya pembayaran uang muka untuk
kebutuhan pengembangan infrastruktur — teknologi informasi,
perpanjangan sewa jaringan/gedung, serta biaya asuransi operasional
di kuartal pertama tahun 2026 yang manfaatnya akan diamortisasi
sepanjang tahun berjalan.

b. Analisis umur AYDA dan langkah konkret penyelesaian aset yang telah
dikuasai melewati jangka waktu yang ditetapkan regulator.
Jawaban.
I. Analisis Umur Agunan Yang Diambil Alih (AYDA)
Berikut adalah rincian analisis umur AYDA berdasarkan tanggal

perolehannya:
Kategori Umur Fan NeAIDAEE Komposisi (6)
SI Tahun 424.76 81,744
1 —3 Tahun IL 111146
2 3 Tahun 37.13 21546
Total 519.65 100,004

2. Langkah konkret untuk penyelesaian aset yang telah dikuasai :

a. Perseroan secara rutin melakukan kaji ulang nilai wajar aset
menggunakan jasa Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen
secara berkala untuk menyesuaikan harga penawaran agar lebih
realistis dan mencerminkan kondisi pasar market/Net Realizable
Value (NRV) terkini, sehingga mempercepat proses likuidasi.

12/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

www.bankina.co.id

Page 13 OCR 0.929
G BANK INA

Member of Salim Group

AN

b. Perseroan mengintensifkan upaya pemasaran langsung (private sale)
kepada calon investor! buyer potensial yang memiliki minat pada
sektor properti/lahan spesifik. Untuk pemasaran yang lebih optimal,
Perseroan juga bekerja sama dengan property agent untuk
memperluas jangkauan pasar.

c. Sebagai bentuk mitigasi risiko dan kepatuhan penuh terhadap standar
akuntansi serta regulasi OJK, Perseroan telah membentuk CKPN
yang memadai atas seluruh AYDA yang belum terjual dan telah
melewati batas waktu 1 tahun. Langkah ini memastikan bahwa
potensi kerugian penurunan nilai telah terabsorpsi secara konservatif
dalam laporan keuangan Perseroan.

8. Berdasarkan CALK 19 Simpanan dari Nasabah, terdapat penurunan saldo sebesar
8,16Y6 dari Rp27,26 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp25,04 triliun pada
31 Maret 2026. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal
berikut.

a. Rekonsiliasi perbedaan klasifikasi simpanan pihak berelasi dan pihak
ketiga per 31 Desember 2025 antara laporan posisi keuangan dan CALK
19, meskipun jumlah total simpanan sama.

Jawaban :

1. Perseroan mengkonfirmasi bahwa tidak ada perbedaan atau selisih pada
total nilai Simpanan dari Nasabah per 31 Desember 2025. Nilai agregat
Simpanan secara konsisten tercatat sebesar Rp27.259.678 juta.

2. Perbedaan pengelompokan saldo antara Laporan Posisi Keuangan utama
dan rincian CALK 19 sebesar Rp986.460 juta disebabkan oleh adanya
penyempurnaan verifikasi entitas pengendali (Ultimate Beneficial Owner /
UBO) serta penetapan status pihak berelasi yang dilakukan pada saat
penyusunan pengungkapan rincian Catatan atas Laporan Keuangan
(CALK).

e Sejumlah entitas nasabah penyimpan dana yang sebelumnya
teridentifikasi secara sistem sebagai nasabah Pihak Ketiga, setelah
ditelaah sesuai kriteria PSAK 224 (Pengungkapan Pihak-Pihak
Berelasi), teridentifikasi memiliki hubungan kepemilikan/pengendalian
yang sama dengan kelompok usaha Perseroan.

e Oleh karena itu, saldo dana simpanan sebesar Rp986,46 miliar
direklasifikasikan secara lebih tepat dari portofolio Pihak Ketiga
menjadi Pihak Berelasi pada rincian CALK 19 guna memberikan
pengungkapan (disclosure) yang transparan dan akurat.

3. Komposisi Simpanan Pihak Berelasi per 31 Desember 2025 (Ref. CALK
19): Rincian saldo Simpanan Pihak Berelasi sebesar Rp5.864.103 juta
terdiri dari:

» Giro Rupiah dan Valas : Rp4.005.619 juta

» Deposito Berjangka dan Valas : Rp1.856.232 juta

e Tabungan Rupiah dan Valas : Rp2.252 juta

13/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KM, 021-2525678

N

& wwwbankina.co.id

Page 14 OCR 0.943
@BANK INA

Member of Salim Group

b. Penurunan simpanan nasabah sebesar Rp2,22 triliun, terutama penurunan
deposito pihak ketiga, termasuk jumlah deposan utama yang melakukan
penarikan.

Jawaban:

Penurunan total simpanan nasabah sebesar Rp2,22 triliun, terutama penurunan
saldo deposito pihak ketiga ini sejalan dengan strategi Perseroan untuk
memperbaiki komposisi pendanaan (meningkatkan rasio CASA) dan
mengurangi simpanan deposito yang biaya dananya cukup tinggi (special rate).
Langkah ini krusial untuk menekan biaya dana (Cost of Funds) dan menjaga
tingkat margin bunga bersih (Net Interest Margin) Perseroan yang lebih
optimal.

c. Strategi Perseroan untuk menjaga stabilitas pendanaan mengingat
sebagian besar deposito memiliki jatuh tempo sampai dengan satu bulan.
Jawaban:

e Menjaga engagement dengan nasabah
Untuk mendorong pertumbuhan simpanan nasabah, Perseroan terus
berinovasi mengoptimalkan kemudahan dan kenyamanan transaksi melalui
penguatan infrastruktur layanan. Tersedianya variasi produk perbankan
yang adaptif menjadi katalis utama bagi nasabah dalam mempercayakan
pengelolaan dananya di Perseroan

» Karakteristik deposan dan tingkat perpanjangan (rollover rate) yang tinggi
Meskipun secara pencatatan kontraktual deposito tersebut berjangka waktu
satu bulan, secara fundamental dan historis, profil deposan Perseroan
memiliki loyalitas dan tingkat retensi yang sangat tinggi. Mayoritas
simpanan deposito tersebut secara konsisten terus diperpanjang oleh
nasabah pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu, secara analisis perilaku
(behavioral maturity), dana deposito tersebut merupakan dana yang
mengendap stabil (sticky funds) dan dapat berfungsi sebagai pendanaan
jangka panjang Perseroan.

Perseroan senantiasa mengelola profil jatuh tempo pendanaan secara pruden

dan memastikan bahwa tingginya porsi deposito yang jatuh tempo dalam satu

bulan tidak menimbulkan risiko likuiditas (liguidity mismatch) yang material.

9. Penyebab kenaikan beban bunga giro yang jauh lebih tinggi dibandingkan
perubahan saldo giro.
Jawaban :
Beban bunga giro per 31 Maret 2026 meningkat sebesar 104Y6 yoy menjadi
Rp106,70 juta, sejalan dengan pertumbuhan saldo giro yang meningkat 75946
yoy dari Rp4.959,18 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp8.678,33 miliar
pada 31 Maret 2026.

14/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

O21 - 2525 678

er

www.bankina.co.id

Page 15 OCR 0.944
GBANK INA

Member of Salim Group

e. Jumlah simpanan dengan tingkat bunga di atas tingkat bunga penjaminan
LPS dan dampaknya terhadap status penjaminan simpanan.
Jawaban :
Berdasarkan data per 31 Maret 2026, sekitar 4046 simpanan nasabah menerima
Suku bunga di atas tingkat bunga penjaminan LPS. Hal ini terjadi karena
persaingan di antara perbankan untuk mendapatkan dana masyarakat membuat
tingkat suku bunga deposito di pasaran lebih tinggi dari bunga penjaminan
(LPS). Untuk menjaga likuiditas dan mempertahankan nasabah yang existing,
Perseroan memberikan suku bunga yang menarik sesuai kondisi pasar dan
kebutuhan Bank. Sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan LPS,
pemberian suku bunga diatas bunga penjaminan mengakibatkan simpanan
tersebut tidak dijamin oleh LPS.

9. Berdasarkan Laporan Posisi Keuangan, Liabilitas atas efek-efek yang dijual dengan
janji dibeli kembali meningkat signifikan sebesar 768,42Yo dari Rp301,02 miliar
pada 31 Desember 2025 menjadi Rp2,61 triliun pada 31 Maret 2026. Jelaskan
terkait dengan peningkatan saldo tersebut, serta apakah penggunaan repo
merupakan strategi pendanaan jangka pendek untuk menggantikan penurunan dana
nasabah atau bagian dari manajemen portofolio efek? Jelaskan.

Jawaban :

Peningkatan signifikan pada pos Liabilitas atas efek-efek yang dijual dengan janji
dibeli kembali (Repurchase Agreemenl/Repo) sebesar 768,426 dari Rp301,02
miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp2,61 triliun pada 31 Maret 2026
merupakan strategi pendanaan jangka pendek sekaligus bagian dari manajemen
portofolio efek yang aktif. Pemanfaatan fasilitas Repo memang secara langsung
berfungsi sebagai instrumen pendanaan jangka pendek untuk menjaga tingkat
likuiditas yang optimal, di tengah terjadinya penurunan saldo Dana Pihak Ketiga
Perseroan dari Rp27,25 triliun menjadi Rp25,03 triliun pada kuartal pertama
tahun 2026. Selain itu, transaksi Repo juga menjadi instrumen pilihan yang paling
rasional karena tingkat imbal hasil (yield) kupon dari portofolio surat berharga
tersebut masih berada dalam batas yang memadai untuk mengkompensasi beban
bunga Repo yang timbul. Melalui strategi ini, Perseroan tetap mendapatkan
dukungan likuiditas sekaligus mempertahankan marjin pendapatan yang positif
dari instrument.

10. Berdasarkan CALK 28 Pendapatan Bunga, terdapat peningkatan saldo sebesar
14,54Yo dari Rp435,55 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp498,86 miliar pada
31 Maret 2026. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal
berikut.
a. Penurunan pendapatan bunga kredit meskipun terdapat kenaikan pada beberapa
jenis kredit dan tingkat suku bunga kredit.
Jawaban :
Penurunan pendapatan bunga kredit di triwulan /2026 disebabkan oleh adanya
penurunan suku bunga kredit rata-rata untuk kredit modal kerja dan kredit

15/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525678

@ wwwbankina.co.id

Page 16 OCR 0.887
@GBANK INA

Member of Salim Group

BURSA:

kepemilikan rumah (KPR). Selain itu peningkatan kredit bermasalah seperti
terlihat dari rasio NPL gross 2,9846 (Deember 2025) menjadi 3,1396 (Maret
2026) menyebabkan Perseroan harus menghentikan pengakuan bunga secara
akrual.

b. Peningkatan pendapatan bunga dari kredit kepada efek-efek, termasuk
keberlanjutan strategi tersebut bagi Perseroan.
Jawaban :
Peningkatan pendapatan bunga dari efek-efek sebesar 70,344 sejalan dengan
strategi Perseroan yang mengoptimalkan penempatan dana yang belum
tersalurkan ke kredit di efek-efek, terutama obligasi pemerintah. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan rentabilitas Bank dengan risiko yang tetap
terukur.

c. Rincian pendapatan bunga efek berdasarkan jenis instrumen dan kontribusi
pendapatan dari portofolio yang dibiayai melalui repo.

Jawaban :
31 Maret 31 Desember rerangan
Uraian / Komponen Kenangan 2026 (Rp 2025/31 Maret ang,
Juta) 2025 (Rp Juta)
Saldo
pendanaan
Indikator Transaksi Repo & Surat Berharga 301016 Repodi
8 2,614,090 2 Laporan
Posisi
Kenangan
PENDAPATAN BUNGA
Pendapatan Bunga Efek-Efek:
» Surat Berharga Pemerintah 137,216 59,323
» Surat Berharga Korporasi 39,178 44,232
Total
pendapatan
1 3 : bunga dari
Subtotal Bunga Efek-Efek 176,394 103,555 farah
portofolio
Efek
Pendapatan
» Surat Berharga Reverse Repo 6,334 9,662 Transaksi
Reverse Repo
Total Pendapatan Bunga Efek Efek & Rev. Repo 182,728 113,217
BEBAN BUNGA
18/30

9 Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

er

www.bankina.co.id

Page 17 OCR 0.905
@GBANK INA

Member of Salim Group

CALK 29
« Beban Surat Berharga (Beban Repo) “7,336 L 1 Ginoreo)
TOTAL BEBAN BUNGA -7,336 .
. L pra Subtotal Efek
Pondupatan Bunga Bersih Portofolio Efek (Net 175350 13.217 ' dikurangi
PENA NEPO) Beban Repo

1. Transaksi Repo sebesar Rp2,61 triliun per 31 Maret 2026 memberikan
Jleksibilitas likuiditas tambahan bagi Perseroan dengan biaya bunga
sebesar Rp7,34 miliar.

2. Pendapatan bunga yang dihasilkan dari portofolio Efek-efek sebesar
Rp182,72 miliar jauh melampaui beban bunga pendanaan Repo tersebut,
sehingga secara bersih portofolio efek-efek memberikan kontribusi positif
sebesar Rp175,39 miliar terhadap pendapatan bunga Perseroan per 31
Maret 2026.

11. Berdasarkan CALK 29 Beban Bunga, terdapat peningkatan sebesar 19,38Y4 dari
Rp283,67 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp338,63 miliar pada 31 Maret 2026.
Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal berikut.

a. Kenaikan beban bunga giro dari Rp52,16 miliar menjadi Rp106,44 miliar,

termasuk perubahan volume, tingkat bunga rata-rata, dan pemberian special rate.
Jawaban :
Kenaikan beban bunga Giro dari Rp52,16 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi
Rp106,44 miliar pada 31 Maret 2026 dikarenakan saldo Giro yang meningkat
dari Rp4.959,18 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp8.678,33 miliar pada 31
Maret 2026, dengan tingkat bunga rata-rata sebesar 4,2946 p.a. Pemberian
special rate dilakukan secara selektif dan hanya untuk nasabah besar dengan
jumlah pendanaan tertentu.

b. Kenaikan premi LPS dari Rp8,06 miliar menjadi Rp13,31 miliar serta komponen
premi penjaminan dan premi Program Restrukturisasi Perbankan.
Jawaban :
Berdasarkan CALK 29 (Beban Bunga), beban Premi Lembaga Penjamin
Simpanan Perseroan mengalami peningkatan sebesar 65,2046, yaitu dari
Rp8,06 miliar (Rp8.058 juta) per 31 Maret 2025 menjadi Rp13,31 miliar
(Rp13.312 juta) per 31 Maret 2026, akibat dari tingginya rata-rata saldo Dana
Pihak Ketiga Perseroan dan penambahan komponen jenis premi baru (Premi
PRP) yang mulai diberlakukan secara penuh.

Cc. Strategi pengendalian biaya pendanaan karena beban bunga tumbuh lebih tinggi
dibandingkan pendapatan bunga.
Jawaban :
e Perseroan menetapkan kebijakan pemberian suku bunga untuk pendanaan
yang disesuaikan dengan strategi pertumbuhan bisnis dan kondisi
persaingan suku bunga dari Bank lain. Pendapatan bunga pada 31 Maret

17/30

ke) Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525678

@& wwwbankina.co.id

Page 18 OCR 0.928
GBANK INA

Member of Salim Group

2026 naik yoy sebesar Rp63.312 juta dengan biaya bunga yang meningkat
yoy sebesar Rp54.962 juta. Perseroan akan senantiasa memastikan
penempatan dana untuk mendapatkan return yang optimal.

e Perseroan juga fokus pada penghimpunan dana murah, yakni Giro dan
Tabungan (CASA), melalui penguatan layanan transactional banking dan
Cash Management System (CMS) bagi nasabah korporasi dan komersial
(terutama rantai pasok/supply chain), guna secara bertahap mengurangi
ketergantungan Bank terhadap Deposito Berjangka yang membebani
Struktur biaya dana.

12. Pendapatan operasional lainnya meningkat signifikan dari Rp12,54 miliar pada 31
Maret 2025 menjadi Rp102,30 miliar pada 31 Maret 2026. Atas hal tersebut, Bursa
meminta penjelasan mengenai hal-hal berikut.

a. Informasi penerimaan kembali kredit yang telah dihapusbukukan sebesar
Rp91,39 miliar, termasuk sektor usaha, tahun penghapusbukuan, nilai pokok,
bunga/denda, serta bentuk penerimaan kembali yang diperoleh Perseroan.
Jawaban :

Tahun Nilai Tunggakan
Hapus Pokok Bunga/Denda
Buku (Rp juta) (Rp Juta)

Bentuk

Sektor Ekonomi .
Penerimaan

Aktivitas Penyewaan

dan Penunjang Cash 2025 400 0,00
Usaha

Jasa Pertambangan

Minyak dan Gas Cash /AYDA 2025 38,704 0,00
Bumi

Konstruksi Gedung
Perkantoran

Perdag. Besar Bahan
Bakar Gas, Cair, & Cash 2025 5,695 0,00
Padat

Perdag. Besar

Barang Keperluan Cash /AYDA 2025 22,508 0,00
Rumah Tangga

Perdag. Besar &

Eceran, Reparasi AYDA 2024 4,600 331.70
Mobil & Motor

Perdag. Besar &

Eceran, Reparasi Cash 2023 1,201 0,00
Mobil & Motor

Perdag. Besar &

Eceran: Reparasi Cash 2024 562 0,00
Mobil & Motor

AYDA 2025 11,915 0,00

18/30

9 Head Office :
'Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

Ko 021-2525678 :

HB wwwbankina.co.id

Page 19 OCR 0.942
GBANK INA

Member of Salim Group

Perdag. Besar &
Eceran, Reparasi Cash 2026 109 0,00
Mobil & Motor

Pertanian,

Kehutanan, & Cash 2025 50 0,00
Perikanan

Real Estate

Perumahan Cash 2025 5,644 0,00
Sederhana

Grand Total 91,389 331.70

b. Apakah penerimaan kembali kredit yang telah dihapusbukukan tersebut bersifat
one-off atau berpotensi berulang pada periode berikutnya? Jelaskan.
Jawaban :
Secara prinsip, aktivitas penerimaan kembali atas kredit yang telah
dihapusbukukan merupakan komponen pendapatan yang berpotensi berulang
(recurring) selama masih terdapat kredit yang akan dihapus buku. Perseroan
secara berkesinambungan menjalankan proses penagihan dan penyelesaian
terhadap portofolio hapus buku sebagai bagian dari upaya pemulihan aset.
Namun demikian, lonjakan nilai yang signifikan sebesar Rp91,39 miliar pada
31 Maret 2026 tersebut bersifat insidentil (one-off). Untuk periode-periode
berikutnya, arus penerimaan dari pemulihan kredit hapus buku diestimasikan
akan tetap berlanjut. Akan tetapi, nilai proyeksi pendapatan tersebut akan
kembali pada tingkat yang dinormalisasi sesuai dengan sisa potensi tagihan
berjalan, dan tidak diasumsikan akan mencatatkan lonjakan nilai serupa secara
beruntun.

Cc. Strategi Perseroan dalam menjaga keberlanjutan laba bersih, mengingat
peningkatan laba pada periode berjalan banyak didukung oleh penerimaan
kembali kredit yang telah dihapusbukukan.

Jawaban :
Untuk menjaga keberlanjutan profitabilitas pasca-normalisasi pendapatan
tersebut, strategi Perseroan ke depan secara penuh difokuskan pada penguatan
fundamental bisnis inti, yang meliputi:
o Akselerasi Ekspansi Kredit Berkelanjutan
Mendorong pertumbuhan kredit yang sehat pada sektor-sektor produktif.
Perseroan akan memacu penyaluran kredit pada segmen komersial, supply
chain financing, serta ekosistem digital melalui payroll loan. Segmen ini
diproyeksikan memberikan imbal hasil (yield) yang optimal bagi Perseroan.
@ Optimalisasi Pendapatan Bunga Bersih (NII) & CASA
Meningkatkan Pendapatan Bunga Bersih melalui perbaikan struktur
pendanaan. Perseroan akan memaksimalkan penetrasi infrastruktur
perbankan digital untuk mengakuisisi dana murah (CASA) secara masif.

18/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

er

www.bankina.co.id

Page 20 OCR 0.925
G BANK INA

Member of Salim Group

RS

Penurunan beban biaya dana (cost of funds) ini akan secara langsung
memperlebar ruang net interest margin (NIM).

e Pengendalian Efisiensi Biaya Operasional.
Menerapkan pengelolaan biaya secara ketat untuk menekan rasio Beban
Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) serta Cost to
Income Ratio (CIR), sehingga setiap pertumbuhan pendapatan kotor dapat
terkonversi menjadi laba bersih secara maksimal.

13. Total beban operasional lainnya meningkat 33,01Y6 dari Rp146,59 miliar pada 31
Maret 2025 menjadi Rp194,99 miliar pada 31 Maret 2026. Kenaikan terutama
berasal dari penyisihan kerugian penurunan nilai yang naik 137,18Y6 menjadi
Rp31,19 miliar, beban umum dan administrasi naik 47,77Y6 menjadi Rp67.46
miliar, serta beban tenaga kerja naik 10,68Y9 menjadi Rp93,17 miliar. Atas hal
tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal berikut.

a. Penyebab peningkatan penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 137,18Y6
menjadi Rp31,19 miliar.

Jawaban :

e Peningkatan pada rasio Kredit Bermasalah (Non-Performing Loan) gross
Perseroan menjadi 3,13Y6 per 31 Maret 2026 dibandingkan dengan 2,984
pada akhir tahun 2025. Peningkatan volume kredit pada kategori Kurang
Lancar, Diragukan, dan Macet mengharuskan Perseroan untuk membentuk
pencadangan expected credit loss (ECL) yang lebih besar guna menutupi
potensi risiko gagal bayar (lifetime ECL).

e Pembentukan beban CKPN yang agresif ini merupakan strategi agar
Coverage Ratio Perseroan tetap terjaga. Dengan beban pencadangan yang
tinggi, Perseroan berhasil menjaga rasio NPL Net yang berada di level yang
lebih rendah, yaitu 1,83 4oper 31 Maret 2026, membaik dibandingkan 2,0046
pada akhir tahun 2025.

b. Penyebab kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 47,77”6 menjadi
Rp67,46 miliar, termasuk rincian komponen biaya yang mengalami kenaikan
paling signifikan.

Jawaban :

Peningkatan beban umum dan administrasi sebesar 47,7746 dari Rp45,65 miliar

pada 31 Maret 2025 menjadi Rp67,46 miliar pada 31 Maret 2026 merupakan

dampak langsung dari realisasi strategi ekspansi infrastruktur teknologi

informasi (TI) dan operasional Perseroan guna mendukung inisiatif layanan

perbankan digital.

Berdasarkan rincian laporan keuangan, lonjakan pada beban umum dan

administrasi secara dominan disumbangkan oleh komponen Beban Barang dan

Jasa. Berikut adalah rincian komponen biaya yang mengalami perubahan

paling signifikan :

1. Beban Barang dan Jasa mengalami kenaikan sangat signifikan sebesar
111,3596, dari Rp18,94 miliar pada kuartal pertama tahun 2025 menjadi

20/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 021-2525 678

(3) www.bankina.co.id

Page 21 OCR 0.943
GBANK INA

Member of Salim Group

Rp40,04 miliar pada periode yang sama tahun 2026. Peningkatan ini selaras
dengan peningkatan biaya operasional untuk lisensi dan pemeliharaan
(maintenance) atas sistem perbankan serta pengembangan produk
perbankan.

2. Beban Promosi mengalami peningkatan dari Rp2,56 miliar menjadi Rp3,12
miliar. Kenaikan ini sejalan dengan peluncuran berbagai produk bank dan
promosi pemasaran untuk program akuisisi nasabah secara lebih agresif.

3. Beban Sewa mengalami kenaikan dari Rp1,67 miliar menjadi Rp1,99 miliar,
yang utamanya berkaitan dengan biaya sewa pendukung infrastruktur
operasional tambahan.

c. Penyebab kenaikan beban tenaga kerja sebesar 10,68Y6 menjadi Rp93,17 miliar,
termasuk dampak penambahan jumlah karyawan, kenaikan remunerasi, bonus,
insentif, dan lain-lain.

Jawaban :
Peningkatan beban ini sejalan dengan penambahan jumlah karyawan tetap dan
outsourcing guna mendukung ekspansi operasional, serta penyesuaian hak-hak
ketenagakerjaan rutin. Kenaikan renumerasi dilakukan untuk menyesuaikan
dengan kenaikan cost of living, dengan tetap memperhatikan kemampuan
Perseroan.

d. Strategi efisiensi yang dilakukan Perseroan untuk mengendalikan kenaikan
beban operasional agar tidak menekan profitabilitas pada periode berikutnya.
Jawaban :

Untuk memastikan pertumbuhan profitabilitas yang berkesinambungan di

tengah tekanan biaya, Perseroan telah merumuskan dan mengimplementasikan

langkah-langkah efisiensi strategis secara komprehensif, meliputi:

1. Optimalisasi Investasi Teknologi (Otomatisasi Digital):

Peeningkatnya beban investasi pada sistem dan keamanan TI investasi ini
diproyeksikan akan menciptakan economies of scale. Otomatisasi proses
kerja dan pengalihan transaksi nasabah dari cabang fisik ke kanal digital
akan secara signifikan menekan cosi per transaction dan biaya operasional
rutin di periode mendatang.

2. Peningkatan Produktivitas SDM
Perseroan akan fokus pada peningkatan produktivitas SDM yang ada
melalui pelatihan dan sentralisasi operasional tanpa penambahan jumlah
pegawai yang tidak esensial.

3. Pengendalian Kualitas Aset untuk Menekan Beban Pencadangan (CKPN)
Mengingat beban penyisihan (CKPN) menjadi penyumbang terbesar
kenaikan beban operasional, Perseroan akan memperketat proses
persetujuan kredit melalui sistem penilaian risiko yang lebih terkini. Secara
paralel, Perseroan mempercepat penyelesaian kredit bermasalah (NPL) dan
likuidasi Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) agar ke depannya kebutuhan

21/30

Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

O

K4 021-2525678 5

@ wwwbankina.co.id

Page 22 OCR 0.943
@BANK INA

Member of Salim Group
gi .

SA

pembentukan CKPN dapat ditekan dan berpotensi memberikan pendapatan
pemulihan (recovery income).

14. Berdasarkan laporan arus kas, terdapat penurunan saldo kas dan setara kas dari
Rp4,75 triliun pada 31 Maret 2025 menjadi Rp3,6 triliun pada 31 Maret 2025
dengan arus kas neto bernilai negatif sebesar Rp635,66 miliar pada 31 Maret 2026.
Arus kas neto dari aktivitas operasi meningkat menjadi Rp935,47 miliar dari
Rp43,12 miliar. Selain itu Kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi
meningkat menjadi Rp1,59 triliun. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan
mengenai hal-hal berikut.

a. Arus kas neto negatif sebesar Rp635,66 miliar pada 31 Maret 2026, termasuk
strategi Perseroan untuk menjaga kecukupan kas dan likuiditas ke depan.
Jawaban :

Penurunan bersih kas dan setara kas sebesar Rp635,66 miliar pada kuartal
pertama tahun 2026 merupakan strategi optimalisasi aset Perseroan.
Berdasarkan Laporan Arus Kas, arus kas dari aktivitas operasi justru
mencatatkan surplus yang kuat sebesar Rp935,47 miliar, meningkat signifikan
dibandingkan posisi Rp43, 12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai total arus kas neto menjadi negatif semata-mata karena Perseroan secara
proaktif menempatkan likuiditasnya ke dalam instrumen surat berharga, yang
tercermin dari arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar
Rp1,59 triliun. Penempatan strategis ini (perolehan efek-efek FVOCI dan biaya
diamortisasi) ditujukan untuk memaksimalkan imbal hasil (yield) aset produktif
di tengah posisi Loan to Funding Ratio (LER) yang masih tertekan.

b. Apakah penurunan kredit sebesar Rp484,51 miliar dalam arus kas operasi
disebabkan oleh pelunasan kredit, penurunan penyaluran kredit baru, pengalihan
ke AYDA, atau faktor lainnya.

Jawaban :

Pencatatan angka positif sebesar Rp484,51 miliar pada pos "Kredit yang
diberikan" di dalam Arus Kas dari Aktivitas Operasi terutama karena jumlah
pelunasan kredit yang lebih besar daripada penyaluran kredit baru selama
periode berjalan.

c. Klarifikasi atas kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar
Rp1,59 triliun, terutama terkait penyajian transaksi penjualan efek-efek yang
diklasifikasikan sebagai FVOCI sebesar Rp1,25 triliun, termasuk apakah nilai
tersebut merupakan arus kas keluar, kerugian penjualan, atau terdapat kesalahan
penyajian tanda dalam laporan arus kas. Selain itu, pada pembayaran liabilitas
sewa terdapat saldo positif, apakah nilai tersebut adalah pembayaran atau
penerimaan? Jelaskan.

22/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL, 021-2525678 2

2 www.bankina.co.id
Page 23 OCR 0.882
GBANK INA

Member of Salim Group

31 Marat 31 Maroy
March 31, March 31,
2026 2025
(ARUS KAS DARI AKTIVITAS CASH FLOWS FROM INVESTING

(Net caan used in Invessng acmenes

CASH FLOMS FRON,
ACTVMES
ts253 15258 Payment of Iexse babribes

INet cash usecin Inoneng etutes

Jawaban:

JI. Klarifikasi atas Arus Kas Aktivitas Investasi (Efek-efek FVOCI)
Terkait penyajian akun "Penerimaan dari penjualan efek-ejek yang
diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain"
yang tercatat bernilai negatif (Rp1.247.057 dalam jutaan Rupiah), kami
mengklarifikasi bahwa tidak ada kerugian penjualan
Nilai negatif tersebut merepresentasikan arus kas keluar untuk transaksi
pembelian atau penempatan (bukan penjualan/penerimaan) portofolio efek-
efek FVOCI baru. Oleh karena itu, nilai pengurang tersebut sudah tepat
mencerminkan arus kas keluar yang membentuk total kas neto untuk aktivitas
investasi menjadi Rp1,58 triliun, namun deskripsi akunnya seharusnya
tertulis sebagai "Pembelian efek-efek yang diklasifikasikan sebagai nilai
wajar melalui penghasilan Komprehensip lain".
2. Klarifikasi atas Arus Kas Aktivitas Pendanaan (Pembayaran Liabilitas
Sewa).
Terkait akun "Pembayaran liabilitas sewa" yang disajikan dengan saldo
positif sebesar Rp15,26 miliar (Rp15.268 dalam jutaan Rupiah), kami
mengklarifikasi bahwa nilai tersebut bukanlah kesalahan penyajian tanda,
melainkan merupakan hasil pencatatan bersih (netting) antara komponen
penerimaan dan pembayaran yang berkaitan dengan aktivitas sewa
Perseroan.
Saldo positif tersebut muncul karena pada kuartal pertama tahun 2026,
total arus kas masukipenerimaan yang terkait dengan sewa (seperti
insentif sewa dari lessor, pengembalian deposit/jaminan sewa, atau
penyelesaian kewajiban sewa tertentu) jumlahnya lebih besar
dibandingkan dengan total arus kas keluar untuk pembayaran angsuran
pokok liabilitas sewa. Oleh karena itu, nilai neto yang tersaji pada
Laporan Arus Kas mencatatkan posisi surplus atau arus kas masuk
(positif) sebesar Rp15,26 miliar.

23/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL 0021-2525 678

(1 www.bankina.co.id

Page 24 OCR 0.896
@GBANK INA

Member of Salim Group

15. Dalam CALK 38 Manajemen Modal, Perseroan menyampaikan bahwa Modal Inti
Bank mengalami penurunan yang menyebabkan posisi permodalan berada di
bawah ambang batas ketentuan minimum regulator. Penurunan ini terutama
disebabkan oleh akumulasi kerugian yang belum direalisasi atas instrumen
keuangan dalam portofolio Nilai Wajar melalui Penghasilan Komprehensif Lain
(FVOCI). Mohon klarifikasinya terkait dengan posisi permodalan yang berada di
bawah ambang batas ketentuan beserta penyebab dari penurunan Modal Inti Bank
tersebut.

Jawaban :

Terkait atas Catatan Laporan Keuangan (CALK) 38 mengenai Manajemen
Modal, kami menyampaikan klarifikasi bahwa penurunan Modal Inti (Tier 1
Capital) Perseroan hingga ambang batas minimum regulator per 31 Maret 2026
utamanya dipicu oleh faktor volatilitas kondisi pasar keuangan eksternal, dan
bukan disebabkan oleh kerugian dari kegiatan operasional utama perbankan.
Seiring dengan dinamika makroekonomi dan fluktuasi yield obligasi di pasar, nilai
wajar portofolio surat berharga Perseroan mengalami penurunan, sehingga
mengakibatkan akumulasi kerugian yang belum dirgalisasi (unrealized loss) atas
instrumen surat berharga yang diklasifikasikan sebagai Nilai Wajar melalui
Penghasilan Komprehensif Lain (FVOCI). Nilai unrealized loss ini menjadi
pengurang modal inti Perseroan dalam perhitungan KP MM.

16. Terkait dengan manajemen risiko Perseroan, Bursa meminta penjelasan mengenai
hal-hal berikut.

a. Perkembangan profil risiko kredit Bank, termasuk perubahan konsentrasi
berdasarkan sektor ekonomi, wilayah, kelompok debitur, dan 25 debitur
terbesar.

Jawaban:

» Perkembangan risiko Kredit Bank:
dalam Miliar Rp.

BP Bee as jan Aa 2
Total O/S 13,392.30 14,778.93
Non Performing Loan (NPL) 464.70 462.90
26 NPL/Total OS Kredit 3.471 3.134
LAR 1,746.7 2,326.3
14 LAR/Total OS Kredit 13.0496 15.744
24/30
9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950
KL 021-2525678 4

«
@& wwwbankina.co.id .

Page 25 OCR 0.773
G BANK INA

Member of Salim Group

dalam Miliar Ro.
No Sektor : 5 | Fosrrotiasak |
1 JINDUSTRI PENGOLAHAN 3,148.31 1 213026 |
2 (PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN 269603 | 18226 |
3 (REAL ESTATE, USAHA PERSEWAAN, DAN JASA PERUSAHAAN 1,727.81 1.69K

4 (KREDIT RUMAH TANGGA DAN BUKAN LAPANGAN USAHA 1,592.79 10.781

5 |PERANTARA KEUANGAN 1,097.00 74226

6 (PENYEDIAAN AKOMODASI DAN PENYEDIAAN MAKAN MINUM 1,030.47 6.979

7 (TRANSPORTASI, PERGUDANGAN DAN KOMUNIKASI 956.00 6.549

8 (KONSTRUKSI 754.58 5.119 |
2 (PERTANIAN, PERBURUAN DAN KEHUTANAN 621.32 42085 |
10 | PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 323.51 | 2.19K

11 JASA KESEHATAN DAN KEGIATAN SOSIAL 224.86 1.529

12 Jasa pendidikan 227.86 haru

13 (JASA KEMASYARAKATAN, SOSIAL BUDAYA, HIBURAN DAN PERORANGAN LAINNYA 149.02 10196

14 | PERIKANAN 125.04 0.854

25 |uisreix, cas Dan Air 103.77 0.700

16 | JASA PERORANGAN YANG MELAYANI RUMAH TANGGA 0.43 0.0025

17 |ADMINISTRASI PEMERINTAHAN, PERTAHANAN, DAN JAMINAN SOSIAL WAJIB || 0.00 0.001

18 | BADAN INTERNASIONAL DAN BADAN EKSTRA INTERNASIONAL LAINNYA 0.00 0.005

19 (KEGIATAN YANG BELUM JELAS BATASANNYA 0.00 0.005

Total Kredit Mar-26 14,772.33

e Konsentrasi berdasarkan Wilayah Cabang

dalam Miliar Rp.
1 | Provinsi DKI Jakarta Raya 10,749.96 72.741
2 (Provinsi Jawa Timur 1478.50 10.004
3 |Provinsijawa Tengah 913.82 6.181
4 (Provinsi Jawa Barat 515.58 3.29K
5 Provinsi Banten 275.16 1.864
6 (Provinsi Bali 210.17 1.221
7 | Daerah Istimewa Yogyakarta 202.27 1.3796
8 (Provinsi Sumatera Utara 181.61 1.231
9 (Provinsi Sulawesi Selatan 126.02 0.856
10 (Provinsi Maluku 85.91 0.581
11 |Provinsi Sulawesi Tengah 39.95 0.274
Total Kredit Mar-26 14,778.93

» Konsentrasi 25 debitur inti dengan total O/S kredit sebesar Rp 5,22 Triliun atau
setara 35,3096 dari total Kredit Mar-26.
a. Sumber likuiditas yang tersedia untuk memenuhi deposito jangka pendek,
penurunan DPK, dan jatuh tempo liabilitas repo.

Jawaban:
Sumber likuiditas yang tersedia untuk memenuhi deposito jangka pendek,
penurunan DPK, dan jatuh tempo liabilitas repo bersumber dari Kas,

25/30

ke) Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

www.bankina.co.id

er

Page 26 OCR 0.907
GBANK INA

Member of Salim Group

Penempatan pada Bank Indonesia, Sertifikat Bank Indonesia, Government Bond,
ataupun dari Pinjaman dari Bank Lain.

b. Posisi Liguidity Coverage Ratio (LCR), Net Stable Funding Ratio (NSFR), aset
likuid berkualitas tinggi, core deposit, dan contingency funding plan pada 31
Maret 2026.

Jawaban:

e LCR: 185,214

&  NSFR: 122,48146

e Aset likuid berkualitas tinggi: Rp 13,83 Triliun

e Core deposit: Rp 2,30 Triliun

e Contingeney funding plan: Dikarenakan rasio likuiditas LCR dan NSFR
berada kondisi normal maka contingency funding plan adalah melakukan
business as usual.

c. Konsentrasi pendanaan pihak berelasi dan deposan besar serta limit internal yang
ditetapkan Bank.

Jawaban:

e Pendanaan pihak terkait:
Total O/S Kredit Pihak terkait Mar-26: Rp 165,92 Miliar
Total Modal Mar-26: Rp 2,97 Triliun

e Y Konsentrasi Pendanaan pihak terkait (O/S) terhadap total Modal:
5.591
96 Limit internal BMPK Pihak Terkait: 996

e Konsentrasi 25 Deposan besar dengan penempatan deposito sebesar 8.2
Triliun atau sebesar 32,6246 dari total DPK.
46 Limit internal terkait deposan inti: 5096.

G. Strategi Perseroan dalam mengelola risiko teknologi informasi, termasuk
pengendalian atas keamanan data nasabah, risiko serangan siber, ketergantungan
terhadap vendor teknologi, kesiapan business continuity plan/disaster recovery
plan, serta apakah terdapat insiden atau gangguan sistem material selama periode
berjalan? Jelaskan.

Jawaban:

Bank mengelola risiko Teknologi Informasi melalui penerapan tata kelola TI,
keamanan informasi, dan manajemen risiko sesuai ketentuan regulator.
Pengendalian dilakukan dengan menerapkan kontrol keamanan data nasabah
dengan menerapkan mekanisme pengendalian akses terhadap data nasabah
menggunakan solusi Privileged Access Management (PAM) dan menerapkan
mekanisme pencegahan kebocoran data (Data Loss Prevention). Selain itu Bank

26/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950 g

RK, 021- 2525678

@ www.bankina.co.id

Page 27 OCR 0.891
G BANK INA

Member of Salim Group

melakukan pemantauan ancaman siber melalui solusi keamanan (seperti
Firewall, EDR, dan SIEM), melakukan pelaksanaan vulnerability assessment,
patch management, serta pengelolaan risiko vendor melalui proses due diligence
dan evaluasi berkala. Perseroan juga memiliki Business Continuity Plan (BCP)
dan Disaster Recovery Plan (DRP) yang diuji secara berkala untuk memastikan
keberlangsungan layanan. Selama periode pelaporan, tidak terdapat insiden
keamanan siber maupun gangguan sistem yang bersifat material dan berdampak
signifikan terhadap operasional Perseroan.

17. Terkait dengan rasio keuangan Perseroan, berikut adalah pencapaian sejumlah rasio
keuangan Perseroan pada 31 Maret 2026:

Rasio Likuiditas

(Loan 10 Deposit Rario (LDR) l
(Rasio Permodalan

Gavital Adeouacy Rano "CAR
|Debr :0 Eguirv Rerio DERI
IDebr 10 .4sser Rario DR)
(Rasio Kredit
INon-Performing Loan Ner (NPL Ner) I

Atas realisasi pencapaian rasio tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-

hal berikut :

a. Penyebab penurunan Net Interest Margin (NIM) menjadi 2,38” pada 31 Maret
2026 dibandingkan 2,85 pada 31 Maret 2025, termasuk faktor yang
memengaruhi margin bunga bersih Perseroan dan strategi Perseroan untuk
meningkatkan NIM ke depan.

Jawaban:
1. Penyebab Penurunan Net Interest Margin (NIM) menjadi 2,3846 pada 31
Maret 2026 dibandingkan 2,85Y6 pada 31 Maret 2025.
Penurunan NIM secara tahunan (year-on-year) tersebut dipengaruhi oleh
dinamika pada komposisi aset produktif dan biaya dana, dengan rincian
Jaktor sebagai berikut:
e Pergeseran Komposisi Aset Produktif
Sesuai dengan prinsip kehati-hatian, Perseroan lebih selektif dalam
menyalurkan kredit baru di tengah tingginya pelunasan kredit existing.
Dampaknya, porsi likuiditas lebih banyak ditempatkan pada instrumen
surat berharga. Secara umum, instrumen surat berharga likuid memiliki
tingkat imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan portofolio
kredit, sehingga menekan rata-rata imbal hasil aset produktif secara
keseluruhan

5226.) 5601|

123050)
Ss)
059

e Peningkatan Aset Non-Produktif (AYDA)

27/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

021 - 2525 678

www.bankina.co.id

er

Page 28 OCR 0.938
@BANK INA

Member of Salim Group

Upaya Perseroan dalam membersihkan neraca dari kredit bermasalah
(NPL) melalui eksekusi agunan (menjadi AYDA) berdampak pada
hilangnya potensi pendapatan bunga dari fasilitas kredit tersebut,
mengingat AYDA merupakan aset yang tidak menghasilkan bunga (non-
garning assets).

e Biaya Dana (Cost of Funds)
Biaya bunga yang masih cukup tinggi karena komposisi pendanaan
Perseroan masih didominasi deposito sebesar 6046.

2. Strategi Perseroan untuk Meningkatkan NIM ke Depan

Dalam memperbaiki dan mengoptimalkan NIM pada periode berikutnya,

Perseroan memfokuskan strategi pada dua sisi, yakni optimalisasi imbal

hasil aset dan penekanan biaya dana.

@ Optimalisasi Cost Of Funds (COF) melalui CASA
Fokus pada perbaikan komposisi pendanaan untuk meningkatkan akuisisi
giro dan tabungan, baik melalui infrastruktur digital maupun program
lain yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.

e Menaikkan ekspansi kredit secara terukur.
Terus mendorong pertumbuhan penyaluran kredit pada segmen-segmen
yang memiliki yield lebih optimal (seperti komersial dan UMKM rantai
pasok) dengan tetap mempertahankan standar pemberian persetujuan
kredit yang ketat.

b. Strategi Perseroan dalam meningkatkan fungsi intermediasi, mengingat Loan-
to-Deposit Ratio (LDR) sebesar 59,03Y6 masih relatif rendah dan penyaluran
kredit Perseroan masih lebih konservatif dibandingkan dana pihak ketiga yang
dihimpun.

Jawaban :
Posisi Loan-to-Deposit Ratio (LDR) sebesar 59,0346 per 31 Maret 2026
mencerminkan kebijakan pertumbuhan kredit yang sangat berhati-hati sejalan
dengan fokus Perseroan untuk menjaga kualitas aset dan menekan angka kredit
bermasalah. Strategi Perseroan untuk mendorong fungsi intermediasi secara
optimal dan terukur adalah :
e Penetrasi di segmen ritel komersial dengan suku bunga kompetitif.
Segmen ini dipilih karena dinilai memiliki profil risiko yang terukur dengan
tingkat imbal hasil yang optimal bagi Perseroan. Untuk mendukung
penetrasi pada segmen ini, Perseroan menetapkan asumsi tingkat bunga
kredit ritel komersial yang stabil dan kompetitif.
@ Optimalisasi segmen rantai pasok (supply chain)
Target penyaluran kredit pada segmen ritel komersial tersebut akan
direalisasikan melalui skema pembiayaan rantai pasok (supply chain
financing). Perseroan menargetkan para mitra bisnis, pemasok (supplier),
dan distributor yang terafiliasi di dalam ekosistem grup. Langkah ini diambil
untuk memastikan ekspansi kredit di periode mendatang tetap selaras dengan
prinsip kehati-hatian perbankan melalui ekosistem yang terukur risikonya.

28/30

Head Office :
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

Oo

021 - 2525 678

er

www.bankina.co.id

Page 29 OCR 0.927
G BANK INA

Member of Salim Group

e Pertumbuhan pada segmen konsumsi
Perseroan juga akan mendorong penyaluran kredit pada segmen konsumsi,
khususnya Kredit Pemilikan Rumah yang dilakukan melalui kerja sama
dengan developer top tier.

c. Penyebab penurunan Capital Adeguacy Ratio (CAR) menjadi 18,39Y6 pada 31
Maret 2026 dibandingkan 23,8346 pada 31 Maret 2025 dan 19,30Y6 pada 31
Desember 2025, serta strategi Perseroan dalam menjaga kecukupan permodalan
ke depan.

Jawaban:
1. Penyebab Penurunan CAR
Penurunan rasio permodalan ini secara dominan tidak disebabkan oleh
kerugian operasional perbankan, melainkan akibat tekanan mark-to-market
pada portofolio efek-efek yang diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lain (FVOCI). Pelemahan nilai wajar surat
berharga akibat volatilitas pasar tersebut dicatat sebagai kerugian yang
belum direalisasi (unrealized loss) yang secara — langsung menjadi
pengurang modal inti Perseroan, sehingga rasio permodalan menurun.
2. Strategi menjaga permodalan ke depan.
Rencanan Perseroan dalam memperbaiki rasio CAR dan memastikan
ketahanan permodalan senantiasa di atas ambang batas regulator,
Perseroan mengimplementasikan strategi berikut:
a. Penahanan Aset dan Optimalisasi Repo
Perseroan secara konsisten akan menahan portofolio FVOCI tersebut
hingga kondisi pasar pulih atau jatuh tempo, dan memilih untuk
memanfaatkan instrumen Repurchase Agreement (Repo) untuk kebutuhan
likuiditas. Langkah ini secara tegas memitigasi risiko perubahan
unrealized loss menjadi kerugian nyata (realized loss).
bh. Penguatan Ekuitas dan Dukungan Pemegang Saham.
Untuk tahap awal, Perseroan merencanakan penambahan modal melalui
private placement (P'MTHMETD) yang akan dilakukan paling lambat di
bulan September 2026.
&. Optimalisasi Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
Perseroan lebih selektif dalam melakukan ekspansi aset dengan
memprioritaskan penyaluran kredit pada segmen yang memiliki bobot
risiko yang rendah hingga moderat, seperti pembiayaan rantai pasok
dalam ekosistem korporasi agar pertumbuhan bisnis tidak memberikan
beban berlebih pada ketersediaan modal.

d. Peningkatan Debt-to-Eguity Ratio (DER) menjadi 9,11 dan Debt-to-Asset Ratio
(DAR) menjadi 0,90 pada 31 Maret 2026, termasuk faktor yang menyebabkan
peningkatan leverage serta dampaknya terhadap risiko struktur pendanaan
Perseroan.

29/30

9 Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950

KL Oo21-2525 678

@ wwwbankina.co.id

Page 30 OCR 0.919
G BANK INA

Member of Salim Group

Jawaban :

Peningkatan rasio leverage Perseroan DER menjadi 9,11 dan DAR menjadi
0,90 per 31 Maret 2026, merupakan dampak langsung dari strategi pengelolaan
likuiditas dan dinamika pasar yang memengaruhi postur neraca (liabilitas dan
ekuitas) Perseroan.

Dari sisi ekuitas, terdapat penurunan yang disebabkan oleh pencatatan
kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) dari penurunan nilai wajar
portofolio efek-efek FVOCI. Dari sisi kewajiban, terdapat peningkatan yang
berasal dari transaksi Repurchase Agreement (Repo), yang menambah liabilitas
jangka pendek dan meningkatkan total kewajiban Perseroan secara
keseluruhan.

Dampak Terhadap Risiko Struktur Pendanaan.

Meskipun secara angka rasio leverage mengalami peningkatan, risiko struktur
pendanaan Perseroan tetap terkelola dengan terkendali dan aman. Peningkatan
kewajiban tersebut mayoritas berasal dari transaksi Repo yang dijamin oleh
(underlying) aset-aset berkualitas tinggi dan sangat likuid, seperti Surat
Berharga Negara (SBN). Peningkatan DER dan DAR ini murni merupakan
imbas dari langkah mitigasi risiko pasar, bukan mencerminkan pelemahan
kemampuan bayar maupun pemburukan kinerja operasional inti Perseroan.

e. Apakah perbaikan NPL disebabkan oleh pemulihan kredit, penghapusbukuan,
peningkatan pencadangan, atau perbaikan kualitas portofolio kredit? Jelaskan.
Jawaban :

Perbaikan rasio Non-Performing Loan (NPL) Net Perseroan menjadi 1,8346
pada 31 Maret 2026 (membaik secara signifikan dibandingkan 2,3746 pada 31
Maret 2025 dan 2,0046 pada 31 Desember 2025) karena adanya penyelesaian
kredit bermasalah baik melalui penghapusbukuan, pembayaran maupun
melalui setilement jaminan, serta penambahan pencadangan atas kredit
bermasalah.

£ Strategi Perseroan dalam menjaga keberlanjutan peningkatan ROE, mengingat
kenaikan ROE pada periode berjalan tidak sepenuhnya didorong oleh
peningkatan efisiensi aset, melainkan juga dipengaruhi oleh kenaikan leverage.

Jawaban :

Strategi Perseroan dalam menjaga keberlangsungan peningkatan profitabilitas

adalah sebagai berikut :

e Perseroan akan melakukan rebalancing komposisi aset dengan mengalihkan
porsi likuiditas secara bertahap ke instrumen dengan imbal hasil tinggi,
yakni melalui ekspansi kredit pada segmen ritel komersial dan supply chain
financing.

e Peningkatan pendapatan dari fee based.

e Penurunan biaya dana dan biaya operasional yang lebih efisien.

e Percepatan likuidasi AYDA agar segera dircinvestasikan kembali menjadi
aset produktif yang menghasilkan bunga.

30/30

ke) Head Office:
Ariobimo Sentral, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5, Jakarta Selatan 12950 £

KM, 021-2525678

@ www.bankina.co.id

File

File Open PDF
Source IDX
Size7.84 MB
Published28 Jul 2026
Pages30
Characters69,686
Text sourceOCR
OCR confidence0.911

Names mentioned 7 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Pemerintah RI p.2
unresolved org Bank Indonesia p.1 ×10
unresolved org Bank Indonesia. Penempatan p.2
unresolved org PT Pemeringkat Efek Indonesia p.2
unresolved org Milik Negara p.4
unresolved org Karya (Persero) Tbk p.4

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result