Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 4
Page 1
Laporan Public Expose
PT Gudang Garam Tbk
Kamis, 11 September 2025
1. PT Gudang Garam Tbk (Perseroan) diwakili oleh Bp. Heru Budiman, Direktur & Corporate Secretary,
dan Bp. Istata Siddharta, Direktur.
2. Presentasi
3. Sesi Tanya Jawab
1. Lia Chaterina
Pertanyaan:
a. Apa langkah konkret yang sudah disiapkan manajemen untuk memulihkan profitabilitas tanpa
mengorbankan pangsa pasar? Jika cukai tidak naik di 2025, apakah ada target kuantitatif
pemulihan marjin dan volume?
b. Apakah ada hurdle rate yang jelas untuk proyek besar seperti Dhoho Airport dan tol Kediri–
Tulungagung, serta berapa IRR yang diharapkan?
Jawaban:
a. Dapat kami sampaikan bahwa pemulihan profitabilitas perusahaan dapat dilakukan dengan
menaikkan harga. Namun, dalam situasi di mana daya beli masih tertekan dan belum
menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang meyakinkan, Indonesia juga tidak terisolasi dari
gonjang-ganjing geopolitik. Menaikkan harga dimana perokok masih memiliki alternatif produk
yang lebih murah berisiko semakin menurunkan volume penjualan.
Dengan demikian, perbaikan profitabilitas lebih bisa tercapai apabila terdapat:
1. Perbaikan daya beli.
2. Perkembangan kebijakan cukai ke depan.
3. Membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia dan dunia, yang lebih memungkinkan
terjadinya penciptaan lapangan kerja baru atau pekerjaan yang lebih menghasilkan bagi
pekerja.
Kami menyambut baik kebijakan Pemerintah yang menetapkan tidak ada kenaikan cukai pada
tahun 2025. Namun demikian, tidak naiknya cukai ini tidak berarti dapat secara langsung
memperbaiki profitabilitas, mengingat profitabilitas perusahaan saat ini sangat rendah karena
kenaikan cukai sebelumnya belum dapat sepenuhnya dikompensasi oleh kenaikan harga
secara proporsional.
b. Mohon penjelasan apakah yang dimaksud dengan hurdle rate?
Akan disampaikan menyusul oleh penanya.
1
Page 2
2. Sarkia Adelia
Pertanyaan:
a. Melihat tren industri yang terus menantang dengan pelemahan volume di industri rokok dan
dinamika regulasi, kami ingin memahami lebih jauh, apakah Perseroan masih melihat adanya
ruang untuk mengembangkan diversifikasi bisnis baru yang prospektif? Atau ke depan, strategi
utama akan tetap fokus pada core business tanpa ekspansi berarti ke sektor lain?
b. Bagaimana manajemen melihat prospek pertumbuhan industri rokok dan kinerja GGRM di
tahun depan, mengingat tekanan regulasi dan tren konsumsi yang masih melemah? Adapun
kinerja yang terus melambat dan jika tren penurunan ini berlanjut, bagaimana prioritas
manajemen dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham, tenaga
kerja, dan keberlanjutan perusahaan?
c. Bagaimana perkembangan bisnis infrastrukur perseroan saat ini (bandara dan jalan tol)?
Jawaban:
a. Sementara ini, tidak ada rencana konkrit untuk mencari alternatif perkembangan bisnis lain,
mengingat bisnis pada umumnya juga mengalami hal yang mirip.
b. Kami tidak pesimis bahwa daya beli akan terpuruk terus, dan kami juga belum memiliki
gambaran yang jelas mengenai perkembangan cukai ke depan. Yang kami lakukan sekarang
adalah berusaha optimum, sementara penurunan volume berakibat pada penurunan
keuntungan, kami tetap menjaga agar perusahaan tidak kehilangan market share percuma,
karena untuk memperoleh kembali market share, tidak hanya sekedar harga kembali normal
lalu berharap pangsa pasar akan otomatis kembali. Apabila semua produk rokok memenuhi
ketentuan pita cukai maka pasar akan lebih level playing field (setara).
Perlu kami tambahkan juga bahwa yang mengalami penurunan laba atau krisis seperti ini bukan
hanya Gudang Garam, industri tembakau di Indonesia saat ini sedang tidak dalam kondisi yang
sehat. Kami cukup optimis bahwa Pemerintah akan memperhatikan kondisi ini dan melakukan
perubahan-perubahan yang diperlukan untuk memperbaiki struktur cukai yang ada, sekaligus
melakukan penindakan terhadap rokok-rokok tanpa cukai tersebut. Dengan adanya
penindakan tersebut, kami berharap industri tembakau akan menjadi lebih sehat dalam
beberapa tahun ke depan.
c. Pembangunan jalan tol masih berproses, sebenarnya jalan tol merupakan suatu bagian yang
tidak terpisahkan dari bandara dan nantinya akan terinterkoneksi dengan segmen-segmen
jalan tol yang lain. Untuk jalan tol yang di luar kendali kami, terdapat keterlambatan dalam
pelaksanaan konstruksi dan penyelesaiannya sehingga target penyelesaiannya bisa mundur
beberapa tahun.
Sementara itu, untuk bandara sendiri, sebagaimana kita ketahui, proyek ini merupakan
infrastruktur yang cukup besar yang membutuhkan waktu untuk mendapatkan traction dan
berkembang. Saat ini, kami sedang berproses agar bandara dapat memenuhi kualifikasi
internasional sesuai perijinan. Dari situ, kami akan mencoba menghidupkan bandara ini dalam
beberapa tahun kedepan agar bisa tetap hidup dan bisa berkembang.
2
Page 3
Sesi Press Conference
1. Zefanya Aprilia - CNBC Indonesia
Pertanyaan:
a. Bagaimana strategi GGRM bersaing dengan rokok elektrik yang semakin marak? Apakah akan
menjajaki bisnis rokok elektrik?
b. Dengan menurunnya bottom line GGRM, bagaimana rasio pembagian dividen GGRM dari laba
2025?
Jawaban:
a. Sebagaimana yang selama ini telah kami sampaikan, kami tetap memperhatikan segmen
rokok elektrik. Kami juga melakukan percobaan, namun tidak terlalu banyak yang diharapkan
mengingat rokok elektrik lebih banyak menyasar konsumen di level menengah ke atas.
b. Rasio untuk tahun 2025 belum ada.
Pembagian dividen terakhir (untuk tahun buku 2024) adalah sebesar Rp 500 per lembar
saham, dengan total dividen Rp 962 miliar dan rasio pembagian dividen 98%.
2. Akbar Maulana Al Ishaqi - Bisnis.com
Pertanyaan:
a. Bagaimana strategi marketing sales perseroan di tengah tantangan cukai dan daya beli?
Apakah akan memperbesar penjualan di segmen SKT?
b. Bagaimana rencana bisnis untuk proyek jalan tol dan bandara tahun depan?
Jawaban:
a. Di tahun 2024 hingga sekarang, kami masih dalam proses meluncurkan dan memperbesar
varian produk dalam segmen SKT, yang memungkinkan kami untuk dapat berpartisipasi dalam
demand yang timbul dari konsumen yang mencari rokok lebih murah. Varian rokok lebih
murah tersebut adalah SKT yang pada umumnya jauh lebih murah karena kenaikan cukai sejak
2020 lebih banyak dibebankan pada SKM. Hingga tahun 2019 ke belakang, cukai SKT hanya
sedikit lebih besar dari 1/2 cukai SKM untuk jumlah batang yang sama (contoh jika cukai SKM
= 10, maka cukai SKT = 5,5). Namun, karena cukai SKM terus meningkat, maka cukai SKT
menjadi hampir 1/3 dari cukai SKM di tahun 2024. Sebagai ilustrasi: kelas GGRM 12 batang,
cukai SKM Rp 19.000, sedangkan cukai SKT Rp 6.600. Dengan cukai yang lebih rendah maka
harga jual produk SKT juga tidak perlu terlalu tinggi.
Perlu kami tambahkan juga bahwa masalah industri rokok saat ini adalah banyaknya SKM
tanpa pita cukai atau dengan pita cukai salah pelekatan, sehingga biaya cukainya praktis
menjadi 0. Dalam kondisi seperti ini, konsumen cenderung akan memilih produk SKM dengan
cukai 0, daripada membeli produk SKT dengan cukai Rp 6.600, apalagi SKM dengan cukai Rp
19.000. Ini merupakan masalah terbesar yang kami hadapi.
b. Kami akan tetap konsisten melanjutkan proyek tersebut.
3
Page 4
3. Viktor
Pertanyaan:
a. Apakah ada usaha dari GGRM untuk membantu Pemerintah memberantas rokok ilegal?
Jawaban:
a. GGRM merupakan korporasi swasta, kami juga tidak memiliki aparat atau kemampuan untuk
melakukan penindakan atau penegakan hukum yang sebenarnya merupakan porsi
Pemerintah. Menurut kami, penindakan rokok ilegal yang ideal adalah bukan secara hukum
atau kekerasan, namun dengan menciptakan peraturan cukai yang memungkinkan industri ini
untuk pulih kembali dan dapat bersaing dengan rokok ilegal. Tanpa perubahan peraturan cukai
yang memungkinkan industri rokok bersaing dengan rokok ilegal setidaknya untuk beberapa
tahun, akan sangat sulit untuk menurunkan rokok ilegal ini.
4. Rahmat Fiansyah
Pertanyaan:
a. Dengan lonjakan cukai SKM sejak 2020, bagaimana pandangan Gudang Garam dengan
penggantian menteri keuangan yang baru? Apakah ada harapan/pesan khusus?
Jawaban:
a. Menurut kami, Menteri Keuangan yang sebelumnya telah berprestasi sangat baik, dan Menteri
yang baru juga tampaknya secara teknis sangat capable. Secara makro dapat dilihat bagaimana
kondisi Indonesia, serta bagaimana kebijakan lanjutan dapat dilakukan untuk mendukung
perkembangan ekonomi Indonesia.
5. Nitya - KONTAN
Pertanyaan:
a. Bagaimana upaya perusahaan meningkatkan kinerja setelah turun di periode semester I-2025?
Adakah peluncuran produk baru atau strategi diversifikasi (selain infrastruktur) untuk
mendorong kinerja?
b. Apakah bisnis rokok masih akan menjadi backbone kinerja GGRM ke depan? Lalu, apakah bisnis
non-rokok sudah mulai berkontribusi positif ke kinerja? Seperti apa perbandingannya?
Jawaban:
a. Kami selalu berusaha untuk berinovasi menciptakan produk-produk baru. Namun, apakah
produk baru tersebut dapat terserap oleh konsumen dengan harga yang cocok, sekaligus tetap
memberikan keuntungan bagi perusahaan dari harga jual yang masuk akal, merupakan
tantangan besar.
Diversifikasi di industri manapun akan memerlukan waktu beberapa tahun atau bahkan lebih
lama. Apabila perusahaan mengharapkan perbaikan bottom line dari diversifikasi, hal tersebut
merupakan tujuan jangka menengah atau jangka panjang.
b. Bisnis GGRM hingga hari ini adalah rokok.
4
Names mentioned 4 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Gudang Garam Tbk
p.1 ×4
unresolved
person
Heru Budiman
p.1
unresolved
person
Istata Siddharta
p.1
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.4
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.