Skip to content
Back to announcement

20260701_NSSS_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32107175_lamp2.pdf

Other Text extracted NSSS

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 8

Page 1 OCR 0.938
PKJ PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

Lampiran Permintaan Penjelasan
Laporan Keuangan per 31 Maret 2026
PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA TBK.

A. Terkait Laporan Keuangan

1. Pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian untuk periode tiga
bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 dibandingkan dengan periode tiga bulan
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2025, Perseroan membukukan kenaikan penjualan
sebesar 8,5596 (dari Rp476.415 juta menjadi Rp517.129 juta), namun laba tahun berjalan
justru turun 12,5796 (laba usaha turun 15,0796) dan marjin laba bruto terkompresi dari 51,7896
menjadi 44,139 akibat kenaikan Beban Pokok Penjualan sebesar 25,7896. Agar dapat
dijelaskan:

a.

Latar belakang penurunan laba di tengah kenaikan penjualan tersebut.

Jawab :

Laba Perseroan mengalami penurunan disebabkan oleh kenaikan beban pokok
penjualan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan, kenaikan biaya
tersebut dipengaruhi oleh kenaikan biaya produksi langsung, termasuk biaya
pemeliharaan tanaman, biaya pemupukan dan biaya pembelian bahan baku ( ATY
Pembelian TBS Maret 2026 : 11.627 ton, ATY Pembelian TBS Maret 2025 : 3.867 ton).
Kenaikan volume pembelian bahan baku per maret 2026 juga menunjang kenaikan
biaya pengolahan di tahun 2026.

Upaya dan strategi Perseroan untuk menjaga dan memperbaiki marjin profitabilitas
ke depan, termasuk pandangan Perseroan atas outlook harga CPO dan PK.

Jawab :

Upaya dan strategi Perseroan untuk menjaga dan memperbaiki marjin profitabilitas
ke depan, antara lain dengan :

es Meningkatkan produktivitas kebun dengan cara mempertahankan efektivitas
dan efisiensi biaya pemupukan dan biaya perawatan untuk menghasilkan
produksi TBS yang tinggi, serta adanya penambahan area panen TBS sesuai
umur tanaman

# Mengoptimalkan utilisasi pabrik sehingga mampu meningkatkan kapasitas
produksi CPO dan PK dan juga mempertahankan kualitas FFA

e Kelompok usaha akan lebih selektif dalam melakukan pembelian aset baru
dan mengoptimalkan pemakaian aset yang sudah ada, dan

s Meneruskan progres penanaman sesuai ketersediaan dana dan
mengoptimalkan kinerja keuangan melalui pengelolaan arus kas yang bijak.

Terkait prospek harga, Perseroan tetap optimistis bahwa permintaan terhadap
produk kelapa sawit akan tetap terjaga dalam jangka menengah hingga panjang. Dari
sisi industri, Perseroan menilai bahwa prospek masih cukup potensial, sejalan dengan
kebijakan pemerintah terkait implementasi Program B40 dan rencana untuk B50.

2. Berdasarkan CALK nomor 3 (Pertimbangan, Estimasi dan Asumsi Akuntansi yang Signifikan),
sebagaimana juga diungkapkan pada CALK nomor 11, 17, dan 36, terkait SK 36 Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PP 45 Tahun 2025: entitas anak NSP dan BSP
teridentifikasi sebagai beroperasi dalam kawasan hutan tanpa perizinan kehutanan, dan
Perseroan telah mencatat total provisi sebesar Rp108 miliar (penurunan nilai aset tetap Rp51
miliar dan denda administratif Rp57 miliar) pada laporan keuangan untuk tahun yang
berakhir 31 Desember 2025. Agar dapat dijelaskan:

jas

(S&
Page 2 OCR 0.955
a.

Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

Perkembangan terkini atas proses klarifikasi dengan KLHK dan otoritas berwenang
sampai dengan tanggal jawaban surat ini.

Jawab :

Perkembangan terkini atas proses klarifikasi dengan KLHK dan otoritas berwenang
sampai dengan tanggal surat ini adalah masih melalui proses klarifikasi data areal
tersebut berdasarkan semua dokumen perijinan yang telah diperoleh oleh anak usaha
Perseroan.

Luas area perkebunan yang terdampak (dalam hektar) dari total 28.130 hektar lahan
tertanam (posisi 31 Maret 2026), dan entitas anak mana saja yang terdampak.

Jawab :

Luas areal yang berpotensi terdampak adalah berjumlah 1.762 ha untuk entitas anak
PT Nusantara Sawit Persada dan 261 ha untuk entitas anak PT Borneo Sawit Perdana.

Dasar perhitungan provisi sebesar Rp108 miliar tersebut, parameter perhitungan
denda administratif berdasarkan PP 45, serta apakah jumlah tersebut telah bersifat
final/mencukupi atau berpotensi meningkat secara material.

Jawab :

Provisi sebesar Rp108 miliar telah meperhitungkan penilaian dari manajemen,
(management assessment), dimana perhitungan provisi tersebut mencakup dua
komponen yaitu, Estimasi penurunan nilai (towards asset) dan Estimasi denda
(potential fine).

1. Estimasi penurunan nilai (towards asset), yang dihitung secara proporsional
berdasarkan luas areal terdampak sebesar 1.762 ha untuk PT NSP dan 261 ha
untuk PT BSP dibandingkan dengan total luas areal perkebunan Perseroan,
kemudian dikalikan terhadap total nilai buku tercatat aset terkait (meliputi
tanaman menghasilkan, tanaman belum menghasilkan, hak atas tanah,
prasarana, dan bangunan)

2. Estimasi denda (potential fine), yang dihitung berdasarkan luas areal yang
potensial terdampak sebesar 1.762 ha untuk PT NSP dan 261 ha untuk PT BSP
yang menjadi objek SK 36 pertahun tanam diperhitungkan berdasarkan PP45.

Berdasarkan penilaian Manajemen, Perhitungan provisi tersebut sudah
mencukupi.

Hubungan antara "Keputusan Menteri Kehutanan tentang Pelepasan Kawasan Hutan
Produksi yang Dapat Dikonversi untuk Usaha Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit"
yang telah diperoleh Perseroan dengan area yang teridentifikasi dalam SK 36.

Jawab:

Perseroan telah mendapatkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Pelepasan
Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi untuk Usaha Budidaya Perkebunan
Kelapa Sawit dan saat ini sedang dilakukan proses klarifikasi atas areal mana yang
terdampak berdasarkan SK 36 tersebut, mengingat Perseroan telah mendapatkan
pelepasan areal sebelumnya dari Kementerian Kehutanan.

Dampak terhadap operasional perkebunan (apakah area terdampak masih dapat
dioperasikan secara normal) serta dampaknya terhadap asumsi kelangsungan usaha
(going concern) Perseroan.

Jawab :

Saat ini semua kegiatan Perkebunan tetap berjalan, dan tidak ada dampak terhadap
asumsi kelangsungan usaha.

mp lk
Page 3 OCR 0.951
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

Langkah hukum dan mitigasi yang telah/akan ditempuh Perseroan dalam menyikapi
SK 36 dan PP 45.

Jawab:

Perseroan masih belum melakukan langkah hukum apapun, mengingat saat ini
klarifikasi atas areal tersebut masih berjalan.

Berdasarkan materi Public Expose Tahunan 2025, Perseroan menyatakan NSP, BSP,
dan PMM telah tersertifikasi ISPO dan Grup memiliki Hak Guna Usaha (HGU). Agar
dijelaskan rekonsiliasi antara kepemilikan HGU dan sertifikasi ISPO tersebut dengan
temuan SK 36, termasuk: (i) luas area tertanam/HGU yang beririsan dengan kawasan
hutan yang dimaksud dalam SK 36: dan (ii) dampak SK 36 terhadap status sertifikasi
ISPO entitas anak.

Jawab :

() Saat ini Perseroan masih menunggu proses klarifikasi atas areal mana yang
terdampak berdasarkan SK 36 tersebut.

di) Saat ini tidak terdapat Dampak SK36 terhadap status sertifikat ISPO
Perseroan.

3. Berdasarkan CALK nomor 8 (Aset Biologis), untuk periode tiga bulan yang berakhir pada
tanggal 31 Maret 2026 dibandingkan dengan periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal
31 Maret 2025, Perseroan membukukan kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis
sebesar Rp15.461 juta, meningkat signifikan dibandingkan kerugian sebesar Rp2.368 juta
pada periode tiga bulan tahun 2025. Agar dapat dijelaskan:

a

Latar belakang kenaikan kerugian nilai wajar aset biologis tersebut, apakah didorong
penurunan harga jual TBS, penurunan taksiran volume produksi, atau keduanya.

Jawab :

Peningkatan kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis terutama disebabkan
oleh lebih rendahnya nilai aset biologis per 31 Maret 2026 dibandingkan dengan
posisi 31 Desember 2025. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan asumsi volume panen
yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar, di mana estimasi volume panen pada
31 Maret 2026 lebih rendah dibandingkan posisi 31 Desember 2025, yaitu menurun
sebesar 1996 sesuai tabel di bawah ini, sedangkan pada periode yang sama tahun
sebelumnya, estimasi volume panen per 31 Maret 2025 hanya menurun sebesar 36
dibandingkan posisi 31 Desember 2024. Penurunan asumsi volume panen yang lebih
besar pada tahun 2026 tersebut menyebabkan penurunan nilai aset biologis yang
lebih signifikan, sehingga kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis yang
diakui pada 31 Maret 2026 menjadi lebih besar dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya.

Asumsi Volume Maret Desember Perubahan 1
Panen TBS (ton) Asumsi
Volume
Panen
Maret 2026 39.668 49.068 (9.400) “1946
Maret 2025 40.507 41.558 (1.051) 316

Asumsi utama (harga jual TBS dan estimasi volume) yang digunakan dalam
pengukuran nilai wajar per 31 Maret 2026 dibandingkan periode sebelumnya.

Jawab :

Asumsi utama yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar aset biologis per 31
Maret 2026 adalah harga estimasi harga jual TBS dan estimasi volume panen.

R
Page 4 OCR 0.918
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

Asumsi harga jual TBS 31 Maret 31 Maret
2026 2025

NSP 3.252 3.156 J

BSsP 3.392 3.091

PMM 2.888 2.998

Asumsi Volume Panen

(ton)

NSP 19.576 21.884

BsP 13.215 12.775
Lemm 6.876 5.848

4. Berdasarkan CALK nomor 12 (Piutang Plasma), per 31 Maret 2026 Perseroan memiliki piutang

plasma

bruto sebesar Rp157.599 juta dengan penyisihan atas KKE dan amortisasi SBE sebesar

Rp24.688 juta. Selama periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 terdapat
penambahan penyisihan sebesar Rp24.688 juta sekaligus pembalikan sebesar Rp27.095 juta.
Agar dapat dijelaskan:

a.

Tingkat keterpulihan (recoverability) piutang plasma dan analisis umur piutang
plasma.

Jawab :

Perseroan yakin bahwa piutang plasma dapat dipulihkan seiring dengan
perkembangan produktivitas perkebunan plasma dan dengan mekanisme pelunasan
piutang plasma melalui penjualan TBS kebun plasma.

Latar belakang terjadinya penambahan sekaligus pembalikan penyisihan pada
periode yang sama.

Jawab :

Pembalikan penyisihan merupakan pembalikan atas saldo penyisihan yang telah
dibentuk Perseroan pada tahun sebelumnya (saldo akhir per 31 Desember 2025),
sedangkan penambahan mutasi saldo penyisihan atas KKE dan amortisasi SBE piutang
plasma pada 31 Maret 2026 pada dasarnya mengacu pada nilai penyisihan yang telah
dihitung pada 31 Desember 2025, namun telah disesuaikan dengan amortisasi
penyisihan yang telah diakui selama periode Januari sampai dengan Maret 2026.

5. Berdasarkan CALK nomor 19 (Utang Bank), per 31 Maret 2026 seluruh fasilitas pinjaman
Perseroan sebesar Rp1.672.428 juta (jangka pendek Rp151.703 juta dan jangka panjang
Rp1.520.725 juta) diperoleh dari satu kreditur, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, di mana
entitas anak diwajibkan mempertahankan rasio keuangan tertentu. Agar Perseroan:

a. Melengkapi tabel kepatuhan kovenan keuangan per 31 Maret 2026 berikut ini:
Nama Bank | Jenis Kovenan Rasio yang Rasio Entitas Anak Informasi Waiver (Jika
Keuanganyang Disyaratkan Memenuhi? Tidak Memenuhi)
Disyaratkan
PT Bank INSP - Debt IDSC » 100Y6 226,71Yo Ya
Mandiri Service Coverage
(Persero) (DSC)
Tbk  INSP - Ekuitas Ekuitas Positif | Rp 1.212.788.639.037 Ya &
SP - Debtto DER « 30076 57,45Y9 Ya 5
Eguity Ratio
(DER)
L

Page 5 OCR 0.934
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

IBSP - Debt DSC » 1006 156,27Y6 Ya 5
Service Coverage

DSC)
IBSP - Ekuitas Ekuitas Positif | Rp514.959.073.065 Ya 2
IBSP - Debtto IDER « 30046 108,486 Ya 8
Eguity Ratio

(DER)

IPMM - Debt IDSC » 10046 149,10Yo Ya 2
Service Coverage

DSC) |
IPMM- Ekuitas (Ekuitas Positif | Rp 297.141.489.980 Ya 2

b. Menjelaskan pertimbangan dan mitigasi atas konsentrasi seluruh fasilitas pinjaman
pada satu bank.

Jawab :

Pertimbangan Perseroan atas konsentrasi seluruh fasilitas pinjaman pada satu bank
agar lebih mudah melakukan negosiasi suku bunga pinjaman, dan Perseroan lebih
mudah untuk membangun hubungan kerja sama yang lebih baik.

Sebagai mitigasi atas resiko tersebut, Perseroan secara berkala memantau arus kas
Perseroan untuk memastikan ketersediaan dana yang memadai guna mendukung
aktivitas operasional Perseroan.

6. Berdasarkan CALK nomor 23 (Penjualan), untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal
31 Maret 2026, penjualan Perseroan terkonsentrasi pada 3 (tiga) pelanggan yang secara
kumulatif menyumbang 8396 dari total penjualan (PT Sinar Mas Agro Resources and
Technology Tbk 4496, PT Karyaindah Alam Sejahtera 236, dan PT Bina Karya Prima 1696). Agar
dapat dijelaskan:

a. Mitigasi risiko atas konsentrasi pelanggan tersebut dan konfirmasi bahwa transaksi
penjualan dilakukan secara wajar (arm's length).

Jawab :

Transaksi penjualan dilakukan secara wajar (arm's length) karena harga ditentukan
berdasarkan harga pasar rata-rata mingguan sebelum transaksi. Seluruh transaksi
penjualan yang dilakukan Perseroan berdasarkan mekanisme pasar yang berlaku dan
mengacu pada harga jual sesuai perjanjian kontrak penjualan yang telah disepakati
kedua belah pihak.

Dalam memitigasi risiko, Perseroan menjalin kontrak penjualan jangka panjang
dengan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk dan PT Bina Karya Prima
untuk menjaga keberlangsungan penjualan, selain itu produk Perseroan juga
memenuhi standar industri sehingga Perseroan memiliki daya saing yang baik untuk
memperoleh dan mempertahankan pelanggan.

b. Latar belakang masuknya pelanggan baru PT Bina Karya Prima (1696) pada periode
tiga bulan 2026, sementara porsi PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk
menurun dari 532 pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025 menjadi 44X
pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026.

Jawab :

PT Bina Karya Prima bukan merupakan pelanggan baru Perseroan, hanya saja volume
penjualan ke PT BKP per Maret 2026 memang meningkat dibandingkan periode
sebelumnya, karena pada tahun 2026 Perseroan dan PT BKP sudah memiliki kontrak
penjualan jangka panjang.

7. Berdasarkan CALK nomor 24 (Beban Pokok Penjualan), kenaikan Beban Pokok Penjualan pada
periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026 dibandingkan periode tiga bulan yang
berakhir 31 Maret 2025 terutama berasal dari bahan baku yang digunakan yang melonjak
233,7196 (dari Rp12.061 juta menjadi Rp40.249 juta) dan upah langsung & bahan pembantu
Page 6 OCR 0.951
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

yang naik 68,226 (dari Rp76.869 juta menjadi Rp129.311 juta). Agar dapat dijelaskan:

a.

Latar belakang lonjakan bahan baku yang digunakan tersebut. Berdasarkan materi
Public Expose Tahunan 2025, kapasitas pabrik Perseroan telah meningkat menjadi
720 ribu ton/tahun dengan tingkat utilisasi FY2025 sebesar 7896, dan jumlah TBS yang
diolah (561,6 ribu ton) melampaui produksi TBS kebun inti (541,1 ribu ton). Agar
dikonfirmasikan apakah lonjakan bahan baku tersebut mencerminkan peningkatan
pembelian TBS dari pihak ketiga untuk meningkatkan utilisasi pabrik, beserta
dampaknya terhadap marjin Perseroan.

Jawab :

Meningkatnya pembelian TBS dari pihak ketiga dan Kelompok Tani guna
mengoptimalkan utilisasi kapasitas pabrik Perseroan. Seiring dengan kapasitas pabrik
yang telah meningkat menjadi 720 ribu ton/tahun, Perseroan berupaya
memaksimalkan tingkat utilisasi Pabrik dengan cara mengolah TBS dari produksi
kebun sendiri, Kelompok Tani dan Pembelian TBS dari pihak ketiga.

Peningkatan pembelian TBS dari pihak ketiga mengakibatkan kenaikan biaya bahan
baku karena selain peningkatan volume pembelian harga pembelian TBS juga
meningkat dari Rp 3.119 pada Maret 2025 menjadi Rp 3.462 per Maret 2026.

Peningkatan pembelian TBS selain membantu Perseroan untuk meningkatkan
Ultilisasi pabrik juga mendorong peningkatan volume produksi CPO dan PK sehingga
volume penjualan Perseroan juga meningkat.

Strategi Perseroan dalam menjaga kecukupan pasokan TBS dari kebun inti.
Jawab :

Strategi Perseroan untuk menjaga kecukupan pasokan TBS dari kebun inti dengan
cara meningkatkan produktivitas TBS kebun, dengan melakukan pemeliharaan
tanaman secara berkelanjutan, pengendalian hama, melakukan pemupukan yang
tepat sasaran dengan mempertimbangkan jadwal pemupukan yang efisien dan
adanya penambahan area panen TBS sesuai umur tanaman

8. Berdasarkan CALK nomor 27 (Pendapatan dan Beban Keuangan), untuk periode tiga bulan
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026, komponen terbesar pendapatan keuangan
Perseroan adalah "Keuntungan dari investasi ekuitas" sebesar Rp9.508 juta (periode tiga
bulan yang berakhir 31 Maret 2025: Rp5.225 juta), namun pada laporan posisi keuangan
konsolidasian tidak terdapat pos investasi ekuitas tersendiri. Agar dapat dijelaskan:

a.

Nature dari keuntungan investasi ekuitas tersebut dan instrumen yang mendasarinya.
Jawab :

keuntungan investasi ekuitas merupakan pendapatan yang berasal dari hasil investasi
jangka pendek Perseroan pada instrumen pasar modal.

Klasifikasi dan penyajian investasi ekuitas tersebut pada laporan posisi keuangan (pos
terkait beserta nilai tercatatnya per 31 Maret 2026).

Jawab :

Investasi tersebut disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian sebagai
bagian dari aset lancar, yaitu pada pos investasi jangka pendek, Namun per 31 Maret
2026 investasi tersebut telah direalisasikan oleh Perseroan sehingga keuntungan atas
hasil investasi tersebut dicatat oleh Perseroan sebagai pendapatan keuangan.

9. Berdasarkan CALK nomor 28 (Perpajakan), per 31 Maret 2026 Perseroan memiliki utang pajak
sebesar Rp131.586 juta, di mana utang PPh Pasal 29 sebesar Rp120.118 juta (meningkat dari
Rp93.700 juta per 31 Desember 2025). Agar dijelaskan latar belakang kenaikan dan status
realisasi pembayaran utang PPh Pasal 29 tersebut.

Jawab :
Page 7 OCR 0.944
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

Kenaikan PPh Pasal 29 per 31 Maret 2026 merupakan nominal kurang bayar atas perhitungan
pajak berjalan (Current Income Tax) posisi 31 maret 2026 sebesar Rp 26.418 juta.

Utang pajak PPh Pasal 29 per 31 Desember 2025 sebesar Rp 93.700 juta sudah disetorkan
Perseroan ke Kas Negara pada akhir April 2026.

B. Terkait Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum per 31 Desember 2025

10. Dari hasil bersih IPO sebesar Rp430.513.772.636, telah direalisasikan sebesar
Rp289.299.572.036 (67,206) sehingga masih tersisa Rp141.214.200.600 (32,8096) yang
belum direalisasikan di mana Perseroan mencatatkan saham pada 10 Maret 2023 (#3 tahun).
Agar dapat dijelaskan:

a. Latar belakang belum terealisasinya sisa dana sebesar Rp141.214.200.600, mengingat
telah berlalu 3 tahun sejak pelaksanaan IPO.

Jawab :
Sisa dana sebesar Rp141.214.200.600 sudah terealisasi sepenuhnya per 30 Juni 2026.

b. Rencana dan jadwal (timeline) penggunaan sisa dana sampai dengan seluruhnya
terealisasi.

Jawab :
Sisa dana tersebut sudah sepenuhnya terealisasi per 30 Juni 2026.

Cc. Apakah terdapat rencana perubahan rencana penggunaan dana hasil Penawaran
Umum? Apabila ya, apakah telah/akan dimintakan persetujuan RUPS sesuai POJK
No. 30/POJK.04/2015 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran
Umum.

Jawab :

Ya, dan terkait rencana perubahan rencana penggunaan dana hasil Penawaran Umum
tersebut sudah mendapatkan persetujuan RUPSLB yang diselenggarakan pada
tanggal 10 September 2025 dan hasil RUPSLB telah disampaikan Perseroan melalui
surat no O15/NSSS/RUPSLB/IX/2025 secara elektronik melalui situs Bursa Efek
Indonesia.

11. Sehubungan dengan Dana Hasil Pelaksanaan Waran Seri I, menghasilkan dana sebesar
Rp2.533.335.550 dengan realisasi penggunaan Rp0 (seluruhnya belum digunakan). Agar
dapat dijelaskan:

a. Rencana penggunaan dana hasil pelaksanaan Waran Seri | sebesar Rp2.533.335.550
yang belum direalisasikan, beserta jadwalnya.

Jawab :

Sisa dana dari hasil pelaksanaan Waran Seri I sebesar Rp2.533.335.550 digunakan
untuk modal kerja entitas anak Perseroan, PT Prasetya Mitra Muda. per 30 Juni 2026,
sisa dana tersebut telah terealisasi seluruhnya.

b. Status periode pelaksanaan Waran Seri | per saat ini dan latar belakang rendahnya
tingkat konversi waran (0,7596 dari total waran diterbitkan).

Jawab :

periode pelaksanaan Waran Seri I sudah berakhir pada tanggal 11 September 2024,
dan rendahnya tingkat konversi waran disebabkan oleh kurangnya minat untuk
melakukan konversi waran tersebut.

C. Terkait Public Expose Tahunan 2025
12. Berdasarkan Public Expose Tahunan 2025:

a. Tingkat utilisasi pabrik Perseroan menurun dari 105,796 (2022) menjadi 75X (1H2025)
seiring penambahan kapasitas menjadi 720 ribu ton/tahun, namun Perseroan
berencana membangun pabrik ke-3. Agar dijelaskan dasar pertimbangan
Page 8 OCR 0.954
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk

pembangunan pabrik ke-3 di tengah tingkat utilisasi saat ini.

Jawab:

Rencana pembangunan pabrik ke-3 didasarkan pada proyeksi pertumbuhan produksi
TBS Perseroan dalam beberapa tahun ke depan. Seiring dengan bertambahnya
produksi dari kebun inti yang memasuki usia produktif serta meningkatnya produksi
dari kebun plasma, Perseroan memperkirakan kapasitas dua pabrik yang ada saat ini
dimiliki tidak lagi memadai untuk mengolah seluruh produksi TBS Perseroan.

Selain untuk mengantisipasi peningkatan volume produksi, pembangunan pabrik ke-
3 juga bertujuan untuk memastikan seluruh TBS yang dihasilkan, termasuk dari PT
PMM, dapat diolah di masing-masing anak Perusahaan untuk meminimalisir biaya
logistik.

Mengingat PMM belum memiliki pabrik (mill) sendiri, agar dijelaskan bagaimana TBS
yang dihasilkan PMM saat ini diproses/dijual serta implikasi biaya logistiknya sampai
dengan pabrik ke-3 selesai dibangun.

Jawab :

Saat ini TBS yang dihasilkan PT PMM dikirimkan dan diproses di pabrik PT Borneo
Sawit Perdana. Implikasi dari kondisi tersebut adalah timbulnya biaya logistik berupa
biaya transportasi pengiriman TBS dari kebun ke PKS serta biaya titip olah.

File

File Open PDF
Source IDX
Size3.57 MB
Published1 Jul 2026
Pages8
Characters21,424
Text sourceOCR
OCR confidence0.943

Names mentioned 20 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk p.1 ×26
linked org Bank Mandiri (Persero) Tbk p.4 ×2
possible org Bursa Efek Indonesia p.7
unresolved org Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PP p.1
unresolved org PT Nusantara Sawit Persada p.2
unresolved org PT Borneo Sawit Perdana. Dasar p.2
unresolved org PT NSP p.2 ×2
unresolved org PT BSP p.2 ×2
unresolved org Menteri Kehutanan p.2 ×2
unresolved org Kementerian Kehutanan. p.2
unresolved org PT Bank INSP p.4
unresolved org PT Sinar Mas Agro Resources p.5 ×3
unresolved org Technology Tbk p.5 ×3
unresolved org PT Bina Karya Prima p.5 ×4
unresolved org PT BKP p.5 ×2
unresolved org PT Prasetya Mitra Muda. p.7
unresolved org PT PMM p.8 ×2
unresolved org PT Borneo Sawit Perdana. Implikasi p.8

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result