Back to announcement
20260701_NSSS_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32107175_lamp2.pdf
Other Text extracted NSSSSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 8
Page 1 OCR 0.938
PKJ PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk Lampiran Permintaan Penjelasan Laporan Keuangan per 31 Maret 2026 PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA TBK. A. Terkait Laporan Keuangan 1. Pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 dibandingkan dengan periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2025, Perseroan membukukan kenaikan penjualan sebesar 8,5596 (dari Rp476.415 juta menjadi Rp517.129 juta), namun laba tahun berjalan justru turun 12,5796 (laba usaha turun 15,0796) dan marjin laba bruto terkompresi dari 51,7896 menjadi 44,139 akibat kenaikan Beban Pokok Penjualan sebesar 25,7896. Agar dapat dijelaskan: a. Latar belakang penurunan laba di tengah kenaikan penjualan tersebut. Jawab : Laba Perseroan mengalami penurunan disebabkan oleh kenaikan beban pokok penjualan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan, kenaikan biaya tersebut dipengaruhi oleh kenaikan biaya produksi langsung, termasuk biaya pemeliharaan tanaman, biaya pemupukan dan biaya pembelian bahan baku ( ATY Pembelian TBS Maret 2026 : 11.627 ton, ATY Pembelian TBS Maret 2025 : 3.867 ton). Kenaikan volume pembelian bahan baku per maret 2026 juga menunjang kenaikan biaya pengolahan di tahun 2026. Upaya dan strategi Perseroan untuk menjaga dan memperbaiki marjin profitabilitas ke depan, termasuk pandangan Perseroan atas outlook harga CPO dan PK. Jawab : Upaya dan strategi Perseroan untuk menjaga dan memperbaiki marjin profitabilitas ke depan, antara lain dengan : es Meningkatkan produktivitas kebun dengan cara mempertahankan efektivitas dan efisiensi biaya pemupukan dan biaya perawatan untuk menghasilkan produksi TBS yang tinggi, serta adanya penambahan area panen TBS sesuai umur tanaman # Mengoptimalkan utilisasi pabrik sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi CPO dan PK dan juga mempertahankan kualitas FFA e Kelompok usaha akan lebih selektif dalam melakukan pembelian aset baru dan mengoptimalkan pemakaian aset yang sudah ada, dan s Meneruskan progres penanaman sesuai ketersediaan dana dan mengoptimalkan kinerja keuangan melalui pengelolaan arus kas yang bijak. Terkait prospek harga, Perseroan tetap optimistis bahwa permintaan terhadap produk kelapa sawit akan tetap terjaga dalam jangka menengah hingga panjang. Dari sisi industri, Perseroan menilai bahwa prospek masih cukup potensial, sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait implementasi Program B40 dan rencana untuk B50. 2. Berdasarkan CALK nomor 3 (Pertimbangan, Estimasi dan Asumsi Akuntansi yang Signifikan), sebagaimana juga diungkapkan pada CALK nomor 11, 17, dan 36, terkait SK 36 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PP 45 Tahun 2025: entitas anak NSP dan BSP teridentifikasi sebagai beroperasi dalam kawasan hutan tanpa perizinan kehutanan, dan Perseroan telah mencatat total provisi sebesar Rp108 miliar (penurunan nilai aset tetap Rp51 miliar dan denda administratif Rp57 miliar) pada laporan keuangan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2025. Agar dapat dijelaskan: jas (S&
Page 2 OCR 0.955
a. Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk Perkembangan terkini atas proses klarifikasi dengan KLHK dan otoritas berwenang sampai dengan tanggal jawaban surat ini. Jawab : Perkembangan terkini atas proses klarifikasi dengan KLHK dan otoritas berwenang sampai dengan tanggal surat ini adalah masih melalui proses klarifikasi data areal tersebut berdasarkan semua dokumen perijinan yang telah diperoleh oleh anak usaha Perseroan. Luas area perkebunan yang terdampak (dalam hektar) dari total 28.130 hektar lahan tertanam (posisi 31 Maret 2026), dan entitas anak mana saja yang terdampak. Jawab : Luas areal yang berpotensi terdampak adalah berjumlah 1.762 ha untuk entitas anak PT Nusantara Sawit Persada dan 261 ha untuk entitas anak PT Borneo Sawit Perdana. Dasar perhitungan provisi sebesar Rp108 miliar tersebut, parameter perhitungan denda administratif berdasarkan PP 45, serta apakah jumlah tersebut telah bersifat final/mencukupi atau berpotensi meningkat secara material. Jawab : Provisi sebesar Rp108 miliar telah meperhitungkan penilaian dari manajemen, (management assessment), dimana perhitungan provisi tersebut mencakup dua komponen yaitu, Estimasi penurunan nilai (towards asset) dan Estimasi denda (potential fine). 1. Estimasi penurunan nilai (towards asset), yang dihitung secara proporsional berdasarkan luas areal terdampak sebesar 1.762 ha untuk PT NSP dan 261 ha untuk PT BSP dibandingkan dengan total luas areal perkebunan Perseroan, kemudian dikalikan terhadap total nilai buku tercatat aset terkait (meliputi tanaman menghasilkan, tanaman belum menghasilkan, hak atas tanah, prasarana, dan bangunan) 2. Estimasi denda (potential fine), yang dihitung berdasarkan luas areal yang potensial terdampak sebesar 1.762 ha untuk PT NSP dan 261 ha untuk PT BSP yang menjadi objek SK 36 pertahun tanam diperhitungkan berdasarkan PP45. Berdasarkan penilaian Manajemen, Perhitungan provisi tersebut sudah mencukupi. Hubungan antara "Keputusan Menteri Kehutanan tentang Pelepasan Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi untuk Usaha Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit" yang telah diperoleh Perseroan dengan area yang teridentifikasi dalam SK 36. Jawab: Perseroan telah mendapatkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Pelepasan Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi untuk Usaha Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit dan saat ini sedang dilakukan proses klarifikasi atas areal mana yang terdampak berdasarkan SK 36 tersebut, mengingat Perseroan telah mendapatkan pelepasan areal sebelumnya dari Kementerian Kehutanan. Dampak terhadap operasional perkebunan (apakah area terdampak masih dapat dioperasikan secara normal) serta dampaknya terhadap asumsi kelangsungan usaha (going concern) Perseroan. Jawab : Saat ini semua kegiatan Perkebunan tetap berjalan, dan tidak ada dampak terhadap asumsi kelangsungan usaha. mp lk
Page 3 OCR 0.951
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk Langkah hukum dan mitigasi yang telah/akan ditempuh Perseroan dalam menyikapi SK 36 dan PP 45. Jawab: Perseroan masih belum melakukan langkah hukum apapun, mengingat saat ini klarifikasi atas areal tersebut masih berjalan. Berdasarkan materi Public Expose Tahunan 2025, Perseroan menyatakan NSP, BSP, dan PMM telah tersertifikasi ISPO dan Grup memiliki Hak Guna Usaha (HGU). Agar dijelaskan rekonsiliasi antara kepemilikan HGU dan sertifikasi ISPO tersebut dengan temuan SK 36, termasuk: (i) luas area tertanam/HGU yang beririsan dengan kawasan hutan yang dimaksud dalam SK 36: dan (ii) dampak SK 36 terhadap status sertifikasi ISPO entitas anak. Jawab : () Saat ini Perseroan masih menunggu proses klarifikasi atas areal mana yang terdampak berdasarkan SK 36 tersebut. di) Saat ini tidak terdapat Dampak SK36 terhadap status sertifikat ISPO Perseroan. 3. Berdasarkan CALK nomor 8 (Aset Biologis), untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 dibandingkan dengan periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2025, Perseroan membukukan kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp15.461 juta, meningkat signifikan dibandingkan kerugian sebesar Rp2.368 juta pada periode tiga bulan tahun 2025. Agar dapat dijelaskan: a Latar belakang kenaikan kerugian nilai wajar aset biologis tersebut, apakah didorong penurunan harga jual TBS, penurunan taksiran volume produksi, atau keduanya. Jawab : Peningkatan kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis terutama disebabkan oleh lebih rendahnya nilai aset biologis per 31 Maret 2026 dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2025. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan asumsi volume panen yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar, di mana estimasi volume panen pada 31 Maret 2026 lebih rendah dibandingkan posisi 31 Desember 2025, yaitu menurun sebesar 1996 sesuai tabel di bawah ini, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, estimasi volume panen per 31 Maret 2025 hanya menurun sebesar 36 dibandingkan posisi 31 Desember 2024. Penurunan asumsi volume panen yang lebih besar pada tahun 2026 tersebut menyebabkan penurunan nilai aset biologis yang lebih signifikan, sehingga kerugian atas perubahan nilai wajar aset biologis yang diakui pada 31 Maret 2026 menjadi lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Asumsi Volume Maret Desember Perubahan 1 Panen TBS (ton) Asumsi Volume Panen Maret 2026 39.668 49.068 (9.400) “1946 Maret 2025 40.507 41.558 (1.051) 316 Asumsi utama (harga jual TBS dan estimasi volume) yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar per 31 Maret 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Jawab : Asumsi utama yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar aset biologis per 31 Maret 2026 adalah harga estimasi harga jual TBS dan estimasi volume panen. R
Page 4 OCR 0.918
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk Asumsi harga jual TBS 31 Maret 31 Maret 2026 2025 NSP 3.252 3.156 J BSsP 3.392 3.091 PMM 2.888 2.998 Asumsi Volume Panen (ton) NSP 19.576 21.884 BsP 13.215 12.775 Lemm 6.876 5.848 4. Berdasarkan CALK nomor 12 (Piutang Plasma), per 31 Maret 2026 Perseroan memiliki piutang plasma bruto sebesar Rp157.599 juta dengan penyisihan atas KKE dan amortisasi SBE sebesar Rp24.688 juta. Selama periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 terdapat penambahan penyisihan sebesar Rp24.688 juta sekaligus pembalikan sebesar Rp27.095 juta. Agar dapat dijelaskan: a. Tingkat keterpulihan (recoverability) piutang plasma dan analisis umur piutang plasma. Jawab : Perseroan yakin bahwa piutang plasma dapat dipulihkan seiring dengan perkembangan produktivitas perkebunan plasma dan dengan mekanisme pelunasan piutang plasma melalui penjualan TBS kebun plasma. Latar belakang terjadinya penambahan sekaligus pembalikan penyisihan pada periode yang sama. Jawab : Pembalikan penyisihan merupakan pembalikan atas saldo penyisihan yang telah dibentuk Perseroan pada tahun sebelumnya (saldo akhir per 31 Desember 2025), sedangkan penambahan mutasi saldo penyisihan atas KKE dan amortisasi SBE piutang plasma pada 31 Maret 2026 pada dasarnya mengacu pada nilai penyisihan yang telah dihitung pada 31 Desember 2025, namun telah disesuaikan dengan amortisasi penyisihan yang telah diakui selama periode Januari sampai dengan Maret 2026. 5. Berdasarkan CALK nomor 19 (Utang Bank), per 31 Maret 2026 seluruh fasilitas pinjaman Perseroan sebesar Rp1.672.428 juta (jangka pendek Rp151.703 juta dan jangka panjang Rp1.520.725 juta) diperoleh dari satu kreditur, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, di mana entitas anak diwajibkan mempertahankan rasio keuangan tertentu. Agar Perseroan: a. Melengkapi tabel kepatuhan kovenan keuangan per 31 Maret 2026 berikut ini: Nama Bank | Jenis Kovenan Rasio yang Rasio Entitas Anak Informasi Waiver (Jika Keuanganyang Disyaratkan Memenuhi? Tidak Memenuhi) Disyaratkan PT Bank INSP - Debt IDSC » 100Y6 226,71Yo Ya Mandiri Service Coverage (Persero) (DSC) Tbk INSP - Ekuitas Ekuitas Positif | Rp 1.212.788.639.037 Ya & SP - Debtto DER « 30076 57,45Y9 Ya 5 Eguity Ratio (DER) L
Page 5 OCR 0.934
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk IBSP - Debt DSC » 1006 156,27Y6 Ya 5 Service Coverage DSC) IBSP - Ekuitas Ekuitas Positif | Rp514.959.073.065 Ya 2 IBSP - Debtto IDER « 30046 108,486 Ya 8 Eguity Ratio (DER) IPMM - Debt IDSC » 10046 149,10Yo Ya 2 Service Coverage DSC) | IPMM- Ekuitas (Ekuitas Positif | Rp 297.141.489.980 Ya 2 b. Menjelaskan pertimbangan dan mitigasi atas konsentrasi seluruh fasilitas pinjaman pada satu bank. Jawab : Pertimbangan Perseroan atas konsentrasi seluruh fasilitas pinjaman pada satu bank agar lebih mudah melakukan negosiasi suku bunga pinjaman, dan Perseroan lebih mudah untuk membangun hubungan kerja sama yang lebih baik. Sebagai mitigasi atas resiko tersebut, Perseroan secara berkala memantau arus kas Perseroan untuk memastikan ketersediaan dana yang memadai guna mendukung aktivitas operasional Perseroan. 6. Berdasarkan CALK nomor 23 (Penjualan), untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026, penjualan Perseroan terkonsentrasi pada 3 (tiga) pelanggan yang secara kumulatif menyumbang 8396 dari total penjualan (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk 4496, PT Karyaindah Alam Sejahtera 236, dan PT Bina Karya Prima 1696). Agar dapat dijelaskan: a. Mitigasi risiko atas konsentrasi pelanggan tersebut dan konfirmasi bahwa transaksi penjualan dilakukan secara wajar (arm's length). Jawab : Transaksi penjualan dilakukan secara wajar (arm's length) karena harga ditentukan berdasarkan harga pasar rata-rata mingguan sebelum transaksi. Seluruh transaksi penjualan yang dilakukan Perseroan berdasarkan mekanisme pasar yang berlaku dan mengacu pada harga jual sesuai perjanjian kontrak penjualan yang telah disepakati kedua belah pihak. Dalam memitigasi risiko, Perseroan menjalin kontrak penjualan jangka panjang dengan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk dan PT Bina Karya Prima untuk menjaga keberlangsungan penjualan, selain itu produk Perseroan juga memenuhi standar industri sehingga Perseroan memiliki daya saing yang baik untuk memperoleh dan mempertahankan pelanggan. b. Latar belakang masuknya pelanggan baru PT Bina Karya Prima (1696) pada periode tiga bulan 2026, sementara porsi PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk menurun dari 532 pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025 menjadi 44X pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026. Jawab : PT Bina Karya Prima bukan merupakan pelanggan baru Perseroan, hanya saja volume penjualan ke PT BKP per Maret 2026 memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, karena pada tahun 2026 Perseroan dan PT BKP sudah memiliki kontrak penjualan jangka panjang. 7. Berdasarkan CALK nomor 24 (Beban Pokok Penjualan), kenaikan Beban Pokok Penjualan pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026 dibandingkan periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025 terutama berasal dari bahan baku yang digunakan yang melonjak 233,7196 (dari Rp12.061 juta menjadi Rp40.249 juta) dan upah langsung & bahan pembantu
Page 6 OCR 0.951
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk yang naik 68,226 (dari Rp76.869 juta menjadi Rp129.311 juta). Agar dapat dijelaskan: a. Latar belakang lonjakan bahan baku yang digunakan tersebut. Berdasarkan materi Public Expose Tahunan 2025, kapasitas pabrik Perseroan telah meningkat menjadi 720 ribu ton/tahun dengan tingkat utilisasi FY2025 sebesar 7896, dan jumlah TBS yang diolah (561,6 ribu ton) melampaui produksi TBS kebun inti (541,1 ribu ton). Agar dikonfirmasikan apakah lonjakan bahan baku tersebut mencerminkan peningkatan pembelian TBS dari pihak ketiga untuk meningkatkan utilisasi pabrik, beserta dampaknya terhadap marjin Perseroan. Jawab : Meningkatnya pembelian TBS dari pihak ketiga dan Kelompok Tani guna mengoptimalkan utilisasi kapasitas pabrik Perseroan. Seiring dengan kapasitas pabrik yang telah meningkat menjadi 720 ribu ton/tahun, Perseroan berupaya memaksimalkan tingkat utilisasi Pabrik dengan cara mengolah TBS dari produksi kebun sendiri, Kelompok Tani dan Pembelian TBS dari pihak ketiga. Peningkatan pembelian TBS dari pihak ketiga mengakibatkan kenaikan biaya bahan baku karena selain peningkatan volume pembelian harga pembelian TBS juga meningkat dari Rp 3.119 pada Maret 2025 menjadi Rp 3.462 per Maret 2026. Peningkatan pembelian TBS selain membantu Perseroan untuk meningkatkan Ultilisasi pabrik juga mendorong peningkatan volume produksi CPO dan PK sehingga volume penjualan Perseroan juga meningkat. Strategi Perseroan dalam menjaga kecukupan pasokan TBS dari kebun inti. Jawab : Strategi Perseroan untuk menjaga kecukupan pasokan TBS dari kebun inti dengan cara meningkatkan produktivitas TBS kebun, dengan melakukan pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan, pengendalian hama, melakukan pemupukan yang tepat sasaran dengan mempertimbangkan jadwal pemupukan yang efisien dan adanya penambahan area panen TBS sesuai umur tanaman 8. Berdasarkan CALK nomor 27 (Pendapatan dan Beban Keuangan), untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026, komponen terbesar pendapatan keuangan Perseroan adalah "Keuntungan dari investasi ekuitas" sebesar Rp9.508 juta (periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025: Rp5.225 juta), namun pada laporan posisi keuangan konsolidasian tidak terdapat pos investasi ekuitas tersendiri. Agar dapat dijelaskan: a. Nature dari keuntungan investasi ekuitas tersebut dan instrumen yang mendasarinya. Jawab : keuntungan investasi ekuitas merupakan pendapatan yang berasal dari hasil investasi jangka pendek Perseroan pada instrumen pasar modal. Klasifikasi dan penyajian investasi ekuitas tersebut pada laporan posisi keuangan (pos terkait beserta nilai tercatatnya per 31 Maret 2026). Jawab : Investasi tersebut disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian sebagai bagian dari aset lancar, yaitu pada pos investasi jangka pendek, Namun per 31 Maret 2026 investasi tersebut telah direalisasikan oleh Perseroan sehingga keuntungan atas hasil investasi tersebut dicatat oleh Perseroan sebagai pendapatan keuangan. 9. Berdasarkan CALK nomor 28 (Perpajakan), per 31 Maret 2026 Perseroan memiliki utang pajak sebesar Rp131.586 juta, di mana utang PPh Pasal 29 sebesar Rp120.118 juta (meningkat dari Rp93.700 juta per 31 Desember 2025). Agar dijelaskan latar belakang kenaikan dan status realisasi pembayaran utang PPh Pasal 29 tersebut. Jawab :
Page 7 OCR 0.944
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk Kenaikan PPh Pasal 29 per 31 Maret 2026 merupakan nominal kurang bayar atas perhitungan pajak berjalan (Current Income Tax) posisi 31 maret 2026 sebesar Rp 26.418 juta. Utang pajak PPh Pasal 29 per 31 Desember 2025 sebesar Rp 93.700 juta sudah disetorkan Perseroan ke Kas Negara pada akhir April 2026. B. Terkait Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum per 31 Desember 2025 10. Dari hasil bersih IPO sebesar Rp430.513.772.636, telah direalisasikan sebesar Rp289.299.572.036 (67,206) sehingga masih tersisa Rp141.214.200.600 (32,8096) yang belum direalisasikan di mana Perseroan mencatatkan saham pada 10 Maret 2023 (#3 tahun). Agar dapat dijelaskan: a. Latar belakang belum terealisasinya sisa dana sebesar Rp141.214.200.600, mengingat telah berlalu 3 tahun sejak pelaksanaan IPO. Jawab : Sisa dana sebesar Rp141.214.200.600 sudah terealisasi sepenuhnya per 30 Juni 2026. b. Rencana dan jadwal (timeline) penggunaan sisa dana sampai dengan seluruhnya terealisasi. Jawab : Sisa dana tersebut sudah sepenuhnya terealisasi per 30 Juni 2026. Cc. Apakah terdapat rencana perubahan rencana penggunaan dana hasil Penawaran Umum? Apabila ya, apakah telah/akan dimintakan persetujuan RUPS sesuai POJK No. 30/POJK.04/2015 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Jawab : Ya, dan terkait rencana perubahan rencana penggunaan dana hasil Penawaran Umum tersebut sudah mendapatkan persetujuan RUPSLB yang diselenggarakan pada tanggal 10 September 2025 dan hasil RUPSLB telah disampaikan Perseroan melalui surat no O15/NSSS/RUPSLB/IX/2025 secara elektronik melalui situs Bursa Efek Indonesia. 11. Sehubungan dengan Dana Hasil Pelaksanaan Waran Seri I, menghasilkan dana sebesar Rp2.533.335.550 dengan realisasi penggunaan Rp0 (seluruhnya belum digunakan). Agar dapat dijelaskan: a. Rencana penggunaan dana hasil pelaksanaan Waran Seri | sebesar Rp2.533.335.550 yang belum direalisasikan, beserta jadwalnya. Jawab : Sisa dana dari hasil pelaksanaan Waran Seri I sebesar Rp2.533.335.550 digunakan untuk modal kerja entitas anak Perseroan, PT Prasetya Mitra Muda. per 30 Juni 2026, sisa dana tersebut telah terealisasi seluruhnya. b. Status periode pelaksanaan Waran Seri | per saat ini dan latar belakang rendahnya tingkat konversi waran (0,7596 dari total waran diterbitkan). Jawab : periode pelaksanaan Waran Seri I sudah berakhir pada tanggal 11 September 2024, dan rendahnya tingkat konversi waran disebabkan oleh kurangnya minat untuk melakukan konversi waran tersebut. C. Terkait Public Expose Tahunan 2025 12. Berdasarkan Public Expose Tahunan 2025: a. Tingkat utilisasi pabrik Perseroan menurun dari 105,796 (2022) menjadi 75X (1H2025) seiring penambahan kapasitas menjadi 720 ribu ton/tahun, namun Perseroan berencana membangun pabrik ke-3. Agar dijelaskan dasar pertimbangan
Page 8 OCR 0.954
Nss PT NUSANTARA SAWIT SEJAHTERA Tbk pembangunan pabrik ke-3 di tengah tingkat utilisasi saat ini. Jawab: Rencana pembangunan pabrik ke-3 didasarkan pada proyeksi pertumbuhan produksi TBS Perseroan dalam beberapa tahun ke depan. Seiring dengan bertambahnya produksi dari kebun inti yang memasuki usia produktif serta meningkatnya produksi dari kebun plasma, Perseroan memperkirakan kapasitas dua pabrik yang ada saat ini dimiliki tidak lagi memadai untuk mengolah seluruh produksi TBS Perseroan. Selain untuk mengantisipasi peningkatan volume produksi, pembangunan pabrik ke- 3 juga bertujuan untuk memastikan seluruh TBS yang dihasilkan, termasuk dari PT PMM, dapat diolah di masing-masing anak Perusahaan untuk meminimalisir biaya logistik. Mengingat PMM belum memiliki pabrik (mill) sendiri, agar dijelaskan bagaimana TBS yang dihasilkan PMM saat ini diproses/dijual serta implikasi biaya logistiknya sampai dengan pabrik ke-3 selesai dibangun. Jawab : Saat ini TBS yang dihasilkan PT PMM dikirimkan dan diproses di pabrik PT Borneo Sawit Perdana. Implikasi dari kondisi tersebut adalah timbulnya biaya logistik berupa biaya transportasi pengiriman TBS dari kebun ke PKS serta biaya titip olah.
Names mentioned 20 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PP
p.1
unresolved
org
PT Nusantara Sawit Persada
p.2
unresolved
org
PT Borneo Sawit Perdana. Dasar
p.2
unresolved
org
PT NSP
p.2 ×2
unresolved
org
PT BSP
p.2 ×2
unresolved
org
Menteri Kehutanan
p.2 ×2
unresolved
org
Kementerian Kehutanan.
p.2
unresolved
org
PT Bank INSP
p.4
unresolved
org
PT Sinar Mas Agro Resources
p.5 ×3
unresolved
org
Technology Tbk
p.5 ×3
unresolved
org
PT Bina Karya Prima
p.5 ×4
unresolved
org
PT BKP
p.5 ×2
unresolved
org
PT Prasetya Mitra Muda.
p.7
unresolved
org
PT PMM
p.8 ×2
unresolved
org
PT Borneo Sawit Perdana. Implikasi
p.8
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.