Back to announcement
20250327_SGRO_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31872137_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review SGROSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 105
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
PT SAMPOERNA AGRO Tbk
Tanggal Studi Kelayakan:
31 Desember 2024
Page 2
Nomor: 00002/IDR-FS/III/2025 27 Maret 2025 Kepada Yth. PT SAMPOERNA AGRO TBK Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F Jalan Jendral Sudirman Kav.45 Karet Semanggi, Setiabudi Jakarta Selatan – DKI Jakarta Up : Direksi Perihal : Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Dengan hormat, Memenuhi permintaan PT Sampoerna Agro Tbk (“Pemberi Tugas/SGRO”) perihal Penyusunan Studi Kelayakan atas rencana perubahan kegiatan usaha seperti yang tertuang di dalam Surat Perjanjian Kerja No. 010/IDR- B/BS/SPK/III/2025 pada tanggal 4 Maret 2025, serta dalam batas-batas kemampuan kami sebagai Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang beroperasi dengan Izin Usaha No. 2.09.0047, berdasarkan dari Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 552KM.1/2009. Maka dengan ini, kami menyatakan bahwa telah meneliti dan menganalisis kelayakan dari rencana perubahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh SGRO per tanggal 31 Desember 2024. LATAR BELAKANG PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. PT Sampoerna Agro Tbk bersama entitas anaknya adalah perusahaan perkebunan yang terdiversifikasi dan terintegrasi. Perseroan beroperasi secara komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor 788, Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha utama Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit dan industri minyak mentah kelapa sawit (CPO), industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan besar buah yang mengandung minyak. Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber energi terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya. Berdasarkan informasi Pemberi Tugas, SGRO berencana ingin mengubah kegiatan usaha Perseroan dengan pertimbangan dan alasan yaitu sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang, maka Perseroan memandang perlu melakukan pengembangan usaha dengan mengubah kegiatan usaha utama Perseroan dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.
Page 3
Berdasarkan penjelasan dari manajemen SGRO, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini
mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut.
Dalam pelaksanaannya, sebagai perusahaan Tbk, SGRO harus mengikuti peraturan OJK yaitu Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan ("POJK") Nomor No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Untuk transaksi yang menyebabkan terjadinya Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan POJK No.17/2020
mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan tentang perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh penilai
independen. Dalam rangka pelaksanaan Rencana Transaksi dan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur
dalam Peraturan POJK No.17/2020, maka SGRO perlu menunjuk penilai untuk melaksanakan penyusunan studi
kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (“Studi Kelayakan”).
STATUS PENILAI
Studi Kelayakan Ini dilakukan oleh Bunga Budiarti, M.Ec., Dev. MAPPI (Cert.) merupakan Penilai independen yang
bernaung dalam KJPP Iwan Bachron & Rekan berdasarkan ijin Penilai Publik No. B-1.16.00465, yang terdaftar sebagai
profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) dengan Surat Tanda Terdaftar (“STTD”) Profesi
Penunjang Pasar Modal dari Bagian Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Penilai Properti dan Bisnis)
STTD OJK No. STTD.PPB-27/PM.2/2018. Bertindak independen, objektif, dan memiliki kompetensi untuk melakukan
studi kelayakan sebagaimana yang dimaksud dalam lingkup penugasan ini.
KJPP Iwan Bachron & Rekan dalam memberikan jasa studi kelayakan sesuai dengan kemampuan dan keahlian
dengan menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan tidak memihak. Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau
benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik aset dan pemberi
tugas. Untuk studi kelayakan objek sebagaimana dijelaskan di bawah tidak diperlukan bantuan tenaga ahli luar.
Seluruh Penilai, ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan tim penugasan di bawah
koordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan studi kelayakan.
IDENTITAS PEMBERI TUGAS DAN PENGGUNA LAPORAN
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sebagaimana dimaksud dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah:
Nama : PT Sampoerna Agro Tbk
Domisili : Sampoerna Strategic Square, North Tower 28/F, Jalan Jendral Sudirman Kac.45, Kelurahan Karet
Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Industri : Perkebunan, Perindustrian, dan Perdagangan
Telp : (021) 5771711 ext 3384
Email : imelda.siahaan@sampoernaagro.com
(Pemberi tugas memastikan bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan (dalam kurun waktu 2 bulan), aset atau objek studi
kelayakan tersebut tidak sedang atau telah dilakukan studi kelayakan lain untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal
studi kelayakan yang sama atau berdekatan.)
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II
Page 4
OBJEK STUDI KELAYAKAN
Objek studi kelayakan berupa rencana perubahan kegiatan usaha SGRO menjadi kegiatan usaha perusahaan holding
(KBLI 64200).
JENIS MATA UANG
Dalam penugasan ini mata uang pada studi kelayakan dinyatakan dalam Rupiah.
MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
Maksud dan tujuan dari studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas rencana perubahan
kegiatan usaha, yang ditinjau dari berbagai aspek, meliputi: aspek hukum; aspek pasar; aspek teknis; aspek pola
bisnis; aspek model manajemen; dan aspek keuangan dalam rangka memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur
dalam Peraturan POJK No.17/2020 tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama” (“POJK
No.17/2020”).
TANGGAL STUDI KELAYAKAN
Tanggal studi kelayakan akan ditentukan pada tanggal 31 Desember 2024. Tanggal ini dipilih atas dasar pertimbangan
kepentingan dan tujuan studi kelayakan serta dari data keuangan SGRO yang kami terima.
TINGKAT KEDALAMAN INVESTIGASI
Tidak dilakukan uji tuntas atas laporan keuangan objek studi kelayakan
Tidak dilakukan uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek studi kelayakan.
Pengumpulan data dan informasi dari pihak manajemen SGRO diverifikasi secara tertulis atau wawancara
langsung.
Inspeksi dan/atau wawancara dapat dilakukan tanpa ada pembatasan termasuk akses data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/atau pihak terkait lainya.
Segala sesuatu yang membatasi pekerjaan studi kelayakan ini akan dicatatkan sebagai bagian yang mengikat
atas hasil studi kelayakan yang dilakukan.
SIFAT DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIANDALKAN
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk digunakan sepanjang
sumber data tersebut diyakini kebenarannya. Sumber data tersebut antara lain:
⮚ Informasi primer yang relevan atas objek studi kelayakan diberikan secara langsung oleh Pemberi Tugas
selama proses penyusunan studi kelayakan dengan rincian sebagai berikut:
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh (KAP)
Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00254/2.1032/AU.1/01/1814-1/1/III/2025 tanggal 20 Maret 2025
dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III
Page 5
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh (KAP)
Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00307/2.1032/AU.1/01/1562-3/1/III/2024 tanggal 26 Maret 2024
dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh (KAP)
Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00506/2.1032/AU.1/01/1562-2/1/III/2023 tanggal 30 Maret 2023
dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh (KAP)
Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00327/2.1032/AU.1/01/1562-1/1/III/2022 tanggal 28 Maret 2022
dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh (KAP)
Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00494/2.1032/AU.1/01/0701-3/1/IV/2021 tanggal 15 April 2021
dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Company Profile, legalitas usaha dan laporan manajemen SGRO.
Informasi sekunder atas data lain yang diperlukan untuk penilaian diperoleh dari media cetak, media
elektronik dan papan pengumuman yang layak, diantaranya:
Bank Indonesia (BI)
Badan Pusat Statistik (BPS)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Data riset dari lembaga independen seperti website Aswath Damodaran
Media cetak dan elektronik resmi seperti Yahoo Finance, Bloomberg, Koyfin, S&P Capital IQ, dan website
Bursa Efek Indonesia.
ASUMSI DAN ASUMSI KHUSUS
Objek studi kelayakan yang dinilai tidak mempunyai masalah hukum dan hak kepemilikannya adalah sah,
bebas dari sengketa dan dapat dialihkan haknya.
Objek studi kelayakan yang ditunjukkan kepada kami adalah benar merupakan objek dalam studi kelayakan.
Seluruh data dan informasi yang diberikan pemberi tugas sehubungan dengan studi kelayakan ini adalah
relevan, benar dan dapat dipercaya.
Kami tidak melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen – dokumen legal yang terkait.
Seluruh pernyataan data dan informasi yang diberikan Pemberi Tugas adalah relevan, benar dan dapat
dipercaya sesuai dengan prosedur studi kelayakan yang umum berlaku dan disampaikan dengan itikad baik.
Kondisi-kondisi tidak wajar yang tersembunyi terhadap objek studi kelayakan yang dapat membawa efek
negatif terhadap nilai, tidak menjadi tanggung jawab kami sebab merupakan bagian pekerjaan ahli lain.
Baik Pemimpin Rekan dan atau Rekan, serta para Penilai maupun karyawannya tidak mempunyai
kepentingan finansial apapun terhadap objek studi kelayakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV
Page 6
PERSYARATAN DAN PERSETUJUAN UNTUK PUBLIKASI Laporan ini tidak bertujuan untuk disirkulasikan atau didistribusikan secara umum dan tidak untuk direproduksi serta digunakan untuk tujuan lain, kecuali atas persetujuan kami secara tertulis. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan yang diderita akibat penggunaan laporan ini oleh pihak lain tanpa persetujuan kami secara tertulis. STANDAR STUDI KELAYAKAN Dalam pekerjaan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (POJK 17/POJK.04/2020), Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (POJK 35/POJK.04/2020) serta Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII dan 320, 330, dan 340 – Edisi Revisi (KEPI- SPI Edisi VII.2018). ASUMSI-ASUMSI POKOK Studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku sampai dengan tanggal studi kelayakan. Dalam studi kelayakan, kami mempertimbangkan beberapa asumsi, seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban SGRO. Kami juga mengasumsikan bahwa dari tanggal studi kelayakan sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL STUDI KELAYAKAN Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan studi kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material terhadap hasil analisis studi kelayakan. KONDISI PEMBATAS Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan, keandalan dan kelengkapan dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi lain yang diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas atau yang tersedia secara umum yang pada hakikatnya adalah benar, lengkap dan tidak menyesatkan, dan kami tidak bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap informasi-informasi tersebut. Kami juga bergantung kepada jaminan dari Pemberi Tugas bahwa mereka tidak mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan informasi-informasi yang diberikan kepada kami menjadi tidak lengkap atau menyesatkan. Analisis studi kelayakan SGRO dipersiapkan menggunakan data dan informasi sebagaimana diungkapkan di atas. Segala perubahan atas data dan informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir pendapat kami secara material. Kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas studi kelayakan kami maupun segala kehilangan, kerusakan, biaya ataupun pengeluaran apapun yang disebabkan oleh ketidakterbukaan informasi sehingga data yang kami peroleh menjadi tidak lengkap dan atau dapat disalahartikan. Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V
Page 7
Hasil dari studi kelayakan kami sangat tergantung dari data serta asumsi-asumsi yang mendasarinya, perubahan pada sumber data serta asumsi sesuai data pasar akan merubah hasil dari studi kelayakan kami. Oleh karena itu, kami sampaikan bahwa perubahan terhadap data yang digunakan dapat berpengaruh terhadap hasil studi kelayakan, dan bahwa perbedaan yang terjadi dapat bernilai material. Walaupun penyusunan laporan studi kelayakan ini telah dilaksanakan dengan itikad baik dan dengan cara yang profesional, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas kemungkinan terjadinya perbedaan kesimpulan yang disebabkan oleh adanya analisis tambahan, diaplikasikannya hasil studi kelayakan sebagai dasar untuk melakukan analisis transaksi, ataupun adanya perubahan dalam data yang dijadikan sebagai dasar studi kelayakan. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan SGRO tidak merupakan dan tidak dapat ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran hukum. KETERSEDIAAN TENAGA AHLI Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap mempertahankan management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan pengalaman dan keahlian dari management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada saat ini. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka kedepannya SGRO juga dapat menambah tenaga ahli apabila diperlukan. PERTIMBANGAN ALASAN PERUBAHAN KEGIATAN USAHA Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen, Saat ini Perseroan bergerak dalam bidang usaha perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit. Latar belakang, pertimbangan dan alasan dari rencana perubahan kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang. Maka Perseroan memandang perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha dengan fokus meningkatkan nilai (value) bagi anak dan cucu perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan. Untuk itu Perseroan berencana mengubah kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding. Atas hal tersebut, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies" tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan. Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI
Page 8
INDEPENDENSI PENILAI Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya, Studi Kelayakan tidak disusun untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil yang diperoleh dari proses penyusunan Studi Kelayakan dan IDR hanya menerima imbalan sesuai dengan surat perjanjian kerja yang telah disetujui oleh manajemen SGRO. METODOLOGI STUDI KELAYAKAN Penyusunan Studi Kelayakan mencakup analisis atas aspek hukum, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, dan aspek model manajemen serta aspek keuangan. Untuk dapat melakukan analisis tersebut, maka akan dikumpulkan berbagai data penunjang, baik data primer maupun data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada instansi/individu yang kompeten dan survey/penelitian lapangan. Selanjutnya dalam menganalisa aspek keuangan digunakan metode diskonto arus kas (discounted cash flow method). Sebelum melakukan proses diskonto (discounting), terlebih dahulu harus diproyeksikan pendapatan mendatang berupa arus kas bersih (net cash flow) yang sesuai dengan sifat dan jenis usaha yang dinilai. Setelah proyeksi tersedia, langkah berikutnya adalah menetapkan tingkat diskonto (discount rate) yang tepat. Proses selanjutnya adalah melakukan perhitungan diskonto biasa, yaitu dengan mendiskonto nilai-nilai arus kas bersih yang telah diproyeksikan, termasuk nilai periode kekal (continuing value), dengan faktor diskonto (discount factor) yang diperoleh dari tingkat diskonto sesuai dengan periode proyeksinya, yang kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kini (present value) dari keseluruhan pendapatan di masa mendatang. Analisis kelayakan dilakukan dengan mengacu pada parameter investasi seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan profitability index (PI). Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII
Page 9
KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis atas seluruh data dan informasi yang telah kami terima dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, maka menurut pendapat kami Rencana Perubahan Kegiatan Usaha adalah layak. Hal ini dapat dilihat dari nilai kriteria investasi yang diperhitungkan selama 5 tahun masa proyeksi sebagai berikut: Net Present Value (Nilai Bersih) Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa Net Present Value (NPV) perubahan positif sebesar Rp8.559.017.229.177 pada tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan. Nilai NPV > 0 menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan. Internal Rate of Return (Tingkat Pengembalian) Analisa Internal Rate of Return (IRR) perubahan pada proyek ini menunjukkan bahwa nilai perhitungan adalah 30,80%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan sehingga proyek tersebut layak untuk direalisasikan. Profitability Index (Indeks Profitabilitas) Profitability Index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas. Pada studi ini menunjukkan bahwa PI perubahan sebesar 2,13849. Indeks profitabilitas apa pun yang sama dengan atau lebih besar dari 1 dianggap baik dan layak untuk direalisasikan. Kelayakan tersebut kami tentukan berdasarkan data dan informasi yang kami peroleh dari pihak manajemen SGRO, serta pihak-pihak lain yang relevan dengan penugasan. Kami menganggap bahwa semua informasi tersebut adalah benar, dan bahwa tidak ada keadaan atau hal-hal yang tidak terungkap yang akan mempengaruhi kelayakan tersebut secara material. Kami tidak melakukan penyelidikan dan juga bukan merupakan tanggung jawab kami kemungkinan terjadinya masalah yang berkaitan dengan status hukum kepemilikan, kewajiban utang dan/atau sengketa atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha. Kami tegaskan pula bahwa kami tidak memperoleh manfaat atau keuntungan apapun baik saat ini maupun di masa datang, dan imbalan jasa yang telah disetujui atas penugasan ini tidak tergantung pada hasil yang dilaporkan. Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII
Page 10
Berdasarkan hasil analisa kami atas semua aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa Rencana Perubahan Kegiatan Usaha yang dimaksud, Layak Untuk Direalisasikan. Perlu disampaikan bahwa proyeksi usaha dan keuangan disusun atas dasar asumsi-asumsi tertentu yang validitasnya tergantung dari kondisi yang akan timbul dikemudian hari. Hormat kami, KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN Appraisers and Consultants Bunga Budiarti, S.E., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.) Rekan Penilai Bisnis dan Properti Izin Penilai Publik No. B-1.16.00.465 Izin Penilai Publik No. P-1.17.00500 STTD OJK no. STTD.PPB-27/PM.2/2018 MAPPI No. 11-S-02732 No. Register: RMK-2017.00554 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IX
Page 11
ASUMSI-ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. IDR telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya. Informasi
yang dinyatakan tanpa menyebutkan sumbernya merupakan hasil penelaahan kami terhadap data yang
ada, pemeriksaan atas dokumen ataupun keterangan dari instansi pemerintah yang berwenang. Tanggung
jawab untuk memeriksa kembali kebenaran informasi tersebut sepenuhnya berada dipihak Pemberi Tugas.
4. IDR menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan yang dibuat oleh manajemen SGRO dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. IDR bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi keuangan.
6. Laporan ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat
mempengaruhi operasional SGRO.
7. IDR bertanggung jawab atas laporan dan kesimpulan akhir.
8. IDR telah memperoleh informasi atas status hukum objek Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Penunjang dari SGRO. IDR tidak melakukan penelitian dan penyelidikan yang ada hubungannya dengan
kebenaran legalitas, serta hutang piutang yang mengakibatkan kerugian atas properti yang dinilai, karena
bukan merupakan ruang lingkup pekerjaan penilai, kami berasumsi bahwa objek yang dinilai tersebut telah
bebas dari segala tuntutan hukum.
9. Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) IWAN BACHRON DAN REKAN tidak berkewajiban untuk memberikan
kesaksian atau hadir di depan pengadilan atau pejabat pemerintah, jika hal tersebut tidak terkait dengan
maksud dan tujuan laporan ini, serta di luar ruang lingkup dari penugasan.
10. Jika dikemudian hari Penilai diminta untuk memberikan penjelasan dan pemaparan yang dilakukan diluar
wilayah kerja kantor kami, maupun kepada pihak selain pemberi tugas dan pengguna jasa, maka segala
bentuk biaya yang timbul menjadi beban pemberi tugas.
11. Laporan Studi Kelayakan ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan Pimpinan dan stempel kantor
(office seal) dari KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk X
Page 12
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan serta pemahaman kami sebagai penilai, yang bertanda tangan di bawah
ini menyatakan bahwa:
1. Pernyataan dalam laporan ini, sebatas pengetahuan kami, bahwa perhitungan dan analisis dalam studi
kelayakan usaha telah dilakukan dengan benar dan akurat.
2. Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai konsultan penyusun Laporan Studi Kelayakan ini,
bahwa nilai investasi yang terdapat dalam laporan ini yang menjadi dasar bagi analisa, pendapat dan
kesimpulan yang diuraikan didalamnya adalah sesuai dan benar. Perlu kami tegaskan bahwa kami tidak
mengambil keuntungan atas hasil dari analisa proyek, baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.
3. Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan
kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR juga
tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya, Studi
Kelayakan tidak disusun untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun.
4. Biaya jasa profesional tidak dikaitkan dengan opini yang telah ditentukan sebelumnya atau gambaran opini
yang diinginkan oleh Pemberi Tugas, opini, pencapaian hasil yang dinyatakan, atau adanya kondisi yang terjadi
kemudian (subsequent event) yang berhubungan secara langsung dengan penggunaan yang dimaksud.
5. Penilai telah mengikuti persyaratan pendidikan profesional yang ditetapkan/ dilaksanakan oleh Masyarakat
Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).
6. Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh Penilai, serta laporan telah dibuat dengan memenuhi
ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), Standar Penilaian Indonesia (SPI), serta POJK yang berlaku.
7. Laporan Studi Kelayakan ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan Rekan dan stempel kantor (office
seal) dari KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XI
Page 13
Selanjutnya laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi analisa,
pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam laporan ini.
No. Nama Tanda Tangan
1. Penanggung Jawab
Bunga Budiarti, SE., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
Izin Penilai Publik No. : B-1.16.00.465
No. Register : RMK-2017.00554
MAPPI No. : 11-S-02732 ..................
2. Reviewer
Dean Fajar Ramadhan, S.M.
No. Register : RMK-2023.04532
MAPPI No. : 21-T-10752 ..................
3. Penilai
Afif Mustafid Taftazani, STP., MSi.
No. Register : RMK-2018.02399
MAPPI No. : 12-T-03388 ..................
Dipa Pranaya, S.M.
No. Register : RMK-2023.04533
MAPPI No. : 22-T-11276 ..................
Rafi Fauzan, S.M.
No. Register : RMK-2023.04531
MAPPI No. : 21-T-10885 ..................
4. Asisten Penilai
Irfan Arsyad, S.TP.
MAPPI No. : 23-A-12241 ..................
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XII
Page 14
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR ................................................................................................................................................. I ASUMSI-ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ......................................................................................................... X PERNYATAAN PENILAI .......................................................................................................................................... XI DAFTAR ISI ............................................................................................................................................................ XIII BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG .................................................................................................................................. I-1 I.2. LINGKUP PENUGASAN ............................................................................................................................ I-2 I.2.1. Status Penilai ............................................................................................................................................ I-2 I.2.2. Identitas Pemberi Tugas Dan Pengguna Laporan .................................................................................... I-2 I.2.3. Objek Studi Kelayakan .............................................................................................................................. I-2 I.2.4. Jenis Mata Uang ........................................................................................................................................ I-2 I.2.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ........................................................................................................ I-3 I.2.6. Tanggal Studi Kelayakan .......................................................................................................................... I-3 I.2.7. Tingkat Kedalaman Investigasi ................................................................................................................. I-3 I.2.8. Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan ............................................................................... I-3 I.2.9. Asumsi dan Asumsi Khusus ...................................................................................................................... I-4 I.2.10. Persyaratan dan Persetujuan Untuk Publikasi .......................................................................................... I-4 I.2.11. Standar Studi Kelayakan........................................................................................................................... I-5 I.2.12. Asumsi-Asumsi Pokok ...............................................................................................................................I-5 I.2.13. Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) ................................................ I-5 I.2.14. Kondisi Pembatas ..................................................................................................................................... I-5 I.2.15. Ketersediaan Tenaga Ahli ......................................................................................................................... I-6 I.2.16. Pertimbangan Alasan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................................... I-6 I.2.17. Independensi Penilai ................................................................................................................................. I-7 I.2.18. Metodologi Studi Kelayakan ...................................................................................................................... I-7 I.2.19. Hasil Pelaksanaan Inspeksi ...................................................................................................................... I-7 I.3. ASPEK MANAJEMEN ............................................................................................................................... I-8 I.3.1. Sejarah dan Pendirian Perusahaan .......................................................................................................... I-8 I.3.2. Maksud Dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha .............................................................................................. I-8 I.3.3. Struktur Permodalan Dan Susunan Pemegang Saham ............................................................................ I-9 I.3.4 Susunan Dewan Komisaris Dan Direksi.................................................................................................. I-10 I.3.5 Struktur Grup SGRO ................................................................................................................................ I-11 I.3.6 Struktur Organisasi SGRO ....................................................................................................................... I-12 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XIII
Page 15
BAB II ASPEK HUKUM DAN KINERJA HISTORIS II.1. PROFIL PERUSAHAAN............................................................................................................................ II-1 II.2. AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN .......................................................................................... II-1 II.3. STRUKTUR PERMODALAN..................................................................................................................... II-2 II.4. SUSUNAN PENGURUS ........................................................................................................................... II-2 II.5. KEGIATAN USAHA ................................................................................................................................... II-3 II.6. PERIZINAN YANG PERLU DIPENUHI OLEH SGRO ATAS PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA ..........II-4 II.7. LEGALITAS DAN PERIZINAN .................................................................................................................. II-4 II.9. ANALISIS KEUANGAN HISTORIS ........................................................................................................... II-7 II.9.1. LAPORAN POSISI KEUANGAN ............................................................................................................... II-7 II.9.2. LAPORAN LABA (RUGI)......................................................................................................................... II-12 II.9.3. LAPORAN ARUS KAS ............................................................................................................................ II-14 II.9.4. RASIO KEUANGAN ................................................................................................................................ II-15 BAB III ASPEK PASAR III.1. KONDISI MAKRO EKONOMI .................................................................................................................. III-1 III.1.1. Perkembangan Ekonomi Dunia................................................................................................................ III-1 III.1.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ............................................................................................................ III-1 III.1.3. Nilai Tukar Rupiah.................................................................................................................................... III-2 III.1.4. Inflasi ........................................................................................................................................................ III-3 III.1.5. Perkembangan Moneter........................................................................................................................... III-4 III.2. GAMBARAN INDUSTRI KELAPA SAWIT DI INDONESIA ...................................................................... III-7 III.3. INFORMASI NON KEUANGAN SGRO.................................................................................................. III-14 III.3.1. Strategi Pemasaran Rencana Perubahan Kegiatan Usaha ................................................................... III-15 III.3.2. Keunggulan Kompetitif ........................................................................................................................... III-16 III.4. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN PASAR .................................................................................... III-16 BAB IV ASPEK TEKNIS IV.1. RENCANA PERUBAHAN KEGIATAN USAHA ....................................................................................... IV-1 IV.2. PRODUK ATAU JASA YANG AKAN DIJUAL ......................................................................................... IV-2 IV.3. PELANGGAN DAN PEMASOK............................................................................................................... IV-2 IV.4. ANALISIS KAPASITAS ........................................................................................................................... IV-3 IV.5. ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA, TERMASUK PEKERJA DAN AHLI..... IV-4 IV.6. ANALISIS PROSES PRODUKSI ............................................................................................................ IV-5 IV.7. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN TEKNIS ..................................................................................... IV-5 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XIV
Page 16
BAB V ASPEK POLA BISNIS V.1. KEGIATAN USAHA UTAMA .................................................................................................................. V-1 V.2. PERUBAHAN KEGIATAN USAHA ......................................................................................................... V-1 V.3. KEUNGGULAN KOMPETITIF POLA BISNIS......................................................................................... V-2 V.4. PERTIMBANGAN DAN ALASAN ........................................................................................................... V-3 V.5. KETERSEDIAAN TENAGA AHLI ........................................................................................................... V-4 V.6. ANALISIS KOMPETITOR DAN DAYA SAING ....................................................................................... V-4 V.7. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN POLA BISNIS........................................................................... V-5 BAB VI ASPEK MODEL MANAJEMEN VI.1. KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN .................................................................................. VI-1 VI.2. KETERSEDIAAN TENAGA KERJA ...................................................................................................... VI-1 VI.3. MANAJEMEN SGRO ............................................................................................................................ VI-2 VI.3.1. Dewan Komisaris .................................................................................................................................. VI-2 VI.3.2. Direksi ................................................................................................................................................... VI-2 VI.3.3. Komite Audit .......................................................................................................................................... VI-3 VI.3.4. Sekretaris Perusahaan .......................................................................................................................... VI-4 VI.3.5. Audit Internal ......................................................................................................................................... VI-5 VI.3.6. Komposisi Karyawan ............................................................................................................................. VI-6 VI.4. MANAJEMEN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA IATA .................................................................... VI-6 VI.5. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ............................................................ VI-7 BAB VII ANALISIS RISIKO VII.1. IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN RISIKO ....................................................................................... VII-1 VII.1.1. Risiko Strategik ...................................................................................................................................... VII-1 VII.1.2. Risiko Operasional ................................................................................................................................. VII-1 VII.1.3. Risiko Keuangan .................................................................................................................................... VII-2 VII.1.4. Risiko Kredit ........................................................................................................................................... VII-2 VII.1.5. Risiko Likuiditas...................................................................................................................................... VII-2 VII.1.6. Risiko Industri ......................................................................................................................................... VII-2 VII.1.7. Risiko Hukum ......................................................................................................................................... VII-3 VII.1.8. Risiko Kepatuhan ................................................................................................................................... VII-3 VII.1.9. Risiko Reputasi ...................................................................................................................................... VII-3 VII.2. PENERAPAN PENGELOLAAN MANAJEMENRISIKO .......................................................................... VII-4 VII.3. ANALISIS SWOT ................................................................................................................................. VII-5 VII.3.1. Strength (Kekuatan) ............................................................................................................................. VII-5 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XV
Page 17
VII.3.2. Weakness (Kelemahan) ....................................................................................................................... VII-5 VII.3.3. Opportunity (Peluang) .......................................................................................................................... VII-5 VII.3.4. Threats (Ancaman) ............................................................................................................................... VII-5 BAB VIII ASPEK KEUANGAN VIII.1. PENENTUAN ARUS KAS BERSIH ................................................................................................... VIII-1 VIII.2. PENENTUAN TINGKAT DISKONTO ................................................................................................ VIII-2 VIII.2.1. Penentuan Biaya Modal Untuk Ekuitas ............................................................................................. VIII-2 VIII.2.2. Penentuan Biaya Modal Untuk Hutang ............................................................................................. VIII-4 VIII.2.3. Tingkat Diskonto SGRO .................................................................................................................... VIII-4 VIII.3. PROYEKSI KEUANGAN SGRO ....................................................................................................... VIII-4 VIII.3.1. Proyeksi Keuangan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha ................................................................. VIII-5 VIII.3.1.1 Proyeksi Pendapatan ........................................................................................................................ VIII-5 VIII.3.1.2 Proyeksi Beban ................................................................................................................................. VIII-6 VIII.3.1.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan .......................................................................................................... VIII-6 VIII.3.1.4. Nilai Pelepasan Aset ......................................................................................................................... VIII-7 VIII.3.1.5. Modal Kerja ....................................................................................................................................... VIII-7 VIII.3.1.6. Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure) ..................................................................................... VIII-7 VIII.3.2. Proyeksi Keuangan Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................... VIII-8 VIII.3.2.1. Proyeksi Pendapatan ........................................................................................................................ VIII-8 VIII.3.2.2. Proyeksi Beban ................................................................................................................................. VIII-8 VIII.3.2.3. Proyeksi Laba (Rugi) Tahun Berjalan................................................................................................ VIII-9 VIII.3.2.4. Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure) ..................................................................................... VIII-9 VIII.3.3. Nilai Kekal (Terminal Value) .............................................................................................................. VIII-9 VIII.3.4. Analisis Titik Impas ...........................................................................................................................VIII-10 VIII.3.5. Analisis Profitabilitas ........................................................................................................................VIII-11 VIII.3.6. Analisis Tingkat Imbal Balik Investasi (Return on Investment) .........................................................VIII-12 VIII.3.7. Pengaruh Perubahan Kegiatan Usaha Pada Kondisi Keuangan SGRO ..........................................VIII-12 VIII.4. KRITERIA KELAYAKAN ..................................................................................................................VIII-17 VIII.5. KESIMPULAN HASIL ANALISIS ......................................................................................................VIII-19 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XVI
Page 18
DAFTAR TABEL
Tabel.I.1. Daftar Hadir Wawancara.................................................................................................... I-7
Tabel.I.2. Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham SGRO .......................................... I-9
Tabel.II.1. Susunan Pemegang Saham SGRO.................................................................................. II-2
Tabel.II.2. Rincian Unit Usaha SGRO................................................................................................ II-4
Tabel.II.3. Laporan Posisi Keuangan SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah) .................... II-7
Tabel.II.4. Laporan Laba (Rugi) SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah) .......................... II-12
Tabel.II.5. Laporan Arus Kas SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)............................... II-14
Tabel.II.6. Rasio-Rasio Keuangan SGRO ....................................................................................... II-15
Tabel III.1. Luas Areal Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (hektar) 2019–2023 ............................. III-8
Tabel III.2. Produksi Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (ton), 2019–2023 .................................... III-9
Tabel III.3. Ekspor dan Impor Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit, 2019– 2023 ............................. III-12
Tabel IV.1. Entitas Anak SGRO ......................................................................................................... V-2
Tabel VI.1. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Jabatan............................................................ VI-6
Tabel VI.4. Susunan Struktur Organisasi Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.................................. VI-6
Tabel VIII.1. Biaya Modal untuk Ekuitas SGRO ................................................................................ VIII-3
Tabel VIII.2. WACC SGRO ............................................................................................................... VIII-4
Tabel VIII.3. Initial Outlays ................................................................................................................ VIII-5
Tabel VIII.4. Analisis BEP Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan
Rupiah) ........................................................................................................................VIII-10
Tabel VIII.5. Analisis BEP Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan
Rupiah) ........................................................................................................................VIII-10
Tabel VIII.6. Rasio Keuangan SGRO Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha .....................VIII-11
Tabel VIII.7. Rasio Keuangan SGRO Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha ...................VIII-11
Tabel VIII.8. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
Rupiah) ........................................................................................................................VIII-13
Tabel VIII.9. Proyeksi Laba Rugi SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah ..........VIII-14
Tabel VIII.10. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
Rupiah) ........................................................................................................................VIII-15
Tabel VIII.11. Proyeksi Laba Rugi SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
Rupiah) ........................................................................................................................VIII-16
Tabel VIII.12. Proyeksi Kelayakan Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah) ..................VIII-17
Tabel VIII.13. Proyeksi Kelayakan Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah) ....................VIII-18
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XVII
Page 19
Tabel VIII.14. Kriteria Kelayakan Sebelum dan Setelah Perubahan Kegiatan Utama (Dalam
Ribuan Rupiah) ............................................................................................................VIII-18
DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK
Gambar I.1. Struktur Grup SGRO ....................................................................................................... I-11
Gambar I.2. Struktur Organisasi SGRO.............................................................................................. I-12
Grafik III.1. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah ....................................................................................... III-2
Grafik III.2. Pergerakan Inflasi ........................................................................................................... III-3
Grafik III.3. Suku Bunga Kebijakan BI dan IndONIA.......................................................................... III-4
Grafik III.4. Suku Bunga Perbankan .................................................................................................. III-5
Grafik III.5. Perkembangan Kredit dan DPK ...................................................................................... III-5
Grafik III.6. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan ..................................................................... III-6
Grafik III.7. Rasio Kredit Bermasalah (NPL) ...................................................................................... III-6
Grafik III.8. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Menurut Status
Pengusahaan, 2023 ........................................................................................................ III-8
Grafik III.9. Produksi Minyak Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023 ......................... III-9
Grafik III.10. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, 2019-2023 ........................................................ III-9
Grafik III.11. Volume Ekspor Minyak Sawit Menurut Jenisnya, 2023 .................................................III-10
Grafik III.12. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit, 2019–2023......................................................III-11
Grafik III.13. Volume Ekspor CPO menurut Negara Tujuan, 2023 .....................................................III-11
Grafik III.14. Volume dan Nilai Impor Minyak Sawit, 2019–2023........................................................III-12
Grafik III.15. Rata-rata Harga CPO dan PKO Kalimantan Timur, 2021 - Oktober 2024 .....................III-13
Grafik VIII.1. Pendapatan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan
Rupiah) ......................................................................................................................... VIII-6
Grafik VIII.2. Beban Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah) ............... VIII-6
Grafik VIII.3. Laba tahun berjalan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam
Ribuan Rupiah) ............................................................................................................. VIII-7
Grafik VIII.4. Pendapatan sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan
Rupiah) ......................................................................................................................... VIII-8
Grafik VIII.5. Beban Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah) ............. VIII-9
Grafik VIII.6. Laba Tahun Berjalan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam
Ribuan Rupiah) ............................................................................................................. VIII-9
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk XVIII
Page 20
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama
Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. PT Sampoerna Agro Tbk bersama
entitas anaknya adalah perusahaan perkebunan yang terdiversifikasi dan terintegrasi. Perseroan beroperasi
secara komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat
Nomor 788, Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan
menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha utama
Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit dan industri minyak mentah kelapa sawit (CPO),
industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan besar buah yang mengandung minyak.
Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain pemanfaatan
sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber energi
terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.
Berdasarkan informasi Pemberi Tugas, SGRO berencana ingin mengubah kegiatan usaha Perseroan
dengan pertimbangan dan alasan yaitu sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk
meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk
meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang, maka Perseroan memandang perlu
melakukan pengembangan usaha dengan mengubah kegiatan usaha utama Perseroan dari perusahaan
yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.
Berdasarkan penjelasan dari manajemen SGRO, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi
Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200.
Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang
menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan
kelompok tersebut.
Dalam pelaksanaannya, sebagai perusahaan Tbk, SGRO harus mengikuti peraturan OJK yaitu Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan ("POJK") Nomor No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
Kegiatan Usaha. Untuk transaksi yang menyebabkan terjadinya Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan
POJK No.17/2020 mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan tentang perubahan kegiatan usaha yang
disusun oleh penilai independen. Dalam rangka pelaksanaan Rencana Transaksi dan untuk memenuhi
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan POJK No.17/2020, maka SGRO perlu menunjuk penilai
untuk melaksanakan penyusunan studi kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (“Studi
Kelayakan”).
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-1
Page 21
I.2. LINGKUP PENUGASAN
I.2.1. Status Penilai
Studi Kelayakan Ini dilakukan oleh Bunga Budiarti, M.Ec., Dev. MAPPI (Cert.) merupakan Penilai
independen yang bernaung dalam KJPP Iwan Bachron & Rekan berdasarkan ijin Penilai Publik No. B-
1.16.00465, yang terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”)
dengan Surat Tanda Terdaftar (“STTD”) Profesi Penunjang Pasar Modal dari Bagian Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan (Penilai Properti dan Bisnis) STTD OJK No. STTD.PPB-27/PM.2/2018.
Bertindak independen, objektif, dan memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan sebagaimana
yang dimaksud dalam lingkup penugasan ini.
KJPP Iwan Bachron & Rekan dalam memberikan jasa studi kelayakan sesuai dengan kemampuan dan
keahlian dengan menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan tidak memihak. Penilai tidak memiliki
keterlibatan material atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek studi
kelayakan dan/atau pemilik aset dan pemberi tugas. Untuk studi kelayakan objek sebagaimana dijelaskan
di bawah tidak diperlukan bantuan tenaga ahli luar. Seluruh Penilai, ahli dan staf pelaksana dalam
penugasan ini adalah satu kesatuan tim penugasan di bawah koordinator Penilai berizin atau penanggung
jawab laporan studi kelayakan.
I.2.2. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sebagaimana dimaksud dalam Laporan Studi Kelayakan ini
adalah:
Nama : PT Sampoerna Agro Tbk
Domisili : Sampoerna Strategic Square, North Tower 28/F, Jalan Jendral Sudirman Kac.45,
Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Industri : Perkebunan, perindustrian, dan perdagangan
Telp : (021) 5771711 ext 3384
Email : imelda.siahaan@sampoernaagro.com
(Pemberi tugas memastikan bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan (dalam kurun waktu 2 bulan), aset atau
objek studi kelayakan tersebut tidak sedang atau telah dilakukan studi kelayakan lain untuk maksud, tujuan,
pengguna laporan dan tanggal studi kelayakan yang sama atau berdekatan).
I.2.3. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan berupa rencana perubahan kegiatan usaha SGRO menjadi kegiatan usaha
perusahaan holding (KBLI 64200).
I.2.4 Jenis Mata Uang
Dalam penugasan ini mata uang pada studi kelayakan dinyatakan dalam Rupiah.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-2
Page 22
I.2.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan dari studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas rencana
perubahan kegiatan usaha, yang ditinjau dari berbagai aspek, meliputi: aspek hukum; aspek pasar; aspek
teknis; aspek pola bisnis; aspek model manajemen; dan aspek keuangan dalam rangka memenuhi
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan POJK No.17/2020 tentang “Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha Utama” (“POJK No.17/2020”).
I.2.6. Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan akan ditentukan pada tanggal 31 Desember 2024. Tanggal ini dipilih atas dasar
pertimbangan kepentingan dan tujuan studi kelayakan serta dari data keuangan SGRO yang kami terima.
I.2.7. Tingkat Kedalaman Investigasi
Tidak dilakukan uji tuntas atas laporan keuangan objek studi kelayakan
Tidak dilakukan uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek studi kelayakan.
Pengumpulan data dan informasi dari pihak manajemen SGRO diverifikasi secara tertulis atau
wawancara langsung.
Inspeksi dan/atau wawancara dapat dilakukan tanpa ada pembatasan termasuk akses data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/atau pihak terkait lainya.
Segala sesuatu yang membatasi pekerjaan studi kelayakan ini akan dicatatkan sebagai bagian yang
mengikat atas hasil studi kelayakan yang dilakukan.
I.2.8. Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk digunakan
sepanjang sumber data tersebut diyakini kebenarannya. Sumber data tersebut antara lain:
⮚ Informasi primer yang relevan atas objek studi kelayakan diberikan secara langsung oleh Pemberi
Tugas selama proses penyusunan studi kelayakan dengan rincian sebagai berikut:
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh
(KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00254/2.1032/AU.1/01/1814-1/1/III/2025 tanggal 20
Maret 2025 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh
(KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00307/2.1032/AU.1/01/1562-3/1/III/2024 tanggal 26
Maret 2024 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh
(KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00506/2.1032/AU.1/01/1562-2/1/III/2023 tanggal 30
Maret 2023 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh
(KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00327/2.1032/AU.1/01/1562-1/1/III/2022 tanggal 28
Maret 2022 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-3
Page 23
Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh
(KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00494/2.1032/AU.1/01/0701-3/1/IV/2021 tanggal 15
April 2021 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
Company Profile, legalitas usaha dan laporan manajemen SGRO.
Informasi sekunder atas data lain yang diperlukan untuk penilaian diperoleh dari media cetak, media
elektronik dan papan pengumuman yang layak, diantaranya:
Bank Indonesia (BI)
Badan Pusat Statistik (BPS)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Data riset dari lembaga independen seperti website Aswath Damodaran
Media cetak dan elektronik resmi seperti Yahoo Finance, Bloomberg, Koyfin, S&P Capital IQ,
dan website Bursa Efek Indonesia.
I.2.9. Asumsi dan Asumsi Khusus
Objek studi kelayakan yang dinilai tidak mempunyai masalah hukum dan hak kepemilikannya adalah
sah, bebas dari sengketa dan dapat dialihkan haknya.
Objek studi kelayakan yang ditunjukkan kepada kami adalah benar merupakan objek dalam studi
kelayakan.
Seluruh data dan informasi yang diberikan pemberi tugas sehubungan dengan studi kelayakan ini
adalah relevan, benar dan dapat dipercaya.
Kami tidak melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen – dokumen legal yang terkait.
Seluruh pernyataan data dan informasi yang diberikan Pemberi Tugas adalah relevan, benar dan
dapat dipercaya sesuai dengan prosedur studi kelayakan yang umum berlaku dan disampaikan
dengan itikad baik.
Kondisi-kondisi tidak wajar yang tersembunyi terhadap objek studi kelayakan yang dapat membawa
efek negatif terhadap nilai, tidak menjadi tanggung jawab kami sebab merupakan bagian pekerjaan
ahli lain.
⮚ Baik Pemimpin Rekan dan atau Rekan, serta para Penilai maupun karyawannya tidak mempunyai
kepentingan finansial apapun terhadap objek studi kelayakan.
I.2.10. Persyaratan dan Persetujuan Untuk Publikasi
Laporan ini tidak bertujuan untuk disirkulasikan atau didistribusikan secara umum dan tidak untuk
direproduksi serta digunakan untuk tujuan lain, kecuali atas persetujuan kami secara tertulis. Kami tidak
bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan yang diderita akibat penggunaan laporan ini oleh pihak
lain tanpa persetujuan kami secara tertulis.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-4
Page 24
I.2.11. Standar Studi Kelayakan
Dalam pekerjaan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
No.17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (POJK
17/POJK.04/2020), Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal (POJK 35/POJK.04/2020) serta Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar
Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII dan 320, 330, dan 340 – Edisi Revisi (KEPI-SPI Edisi VII.2018).
I.2.12. Asumsi-Asumsi Pokok
Studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan,
serta peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku sampai dengan tanggal studi kelayakan. Dalam studi
kelayakan, kami mempertimbangkan beberapa asumsi, seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban
SGRO. Kami juga mengasumsikan bahwa dari tanggal studi kelayakan sampai dengan tanggal
diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi perubahan apapun yang berpengaruh secara material
terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.
I.2.13. Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan studi kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material terhadap hasil analisis studi kelayakan.
I.2.14. Kondisi Pembatas
Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan, keandalan dan
kelengkapan dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi lain yang diberikan kepada kami oleh
Pemberi Tugas atau yang tersedia secara umum yang pada hakikatnya adalah benar, lengkap dan tidak
menyesatkan, dan kami tidak bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap
informasi-informasi tersebut. Kami juga bergantung kepada jaminan dari Pemberi Tugas bahwa mereka
tidak mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan informasi-informasi yang diberikan kepada kami menjadi
tidak lengkap atau menyesatkan.
Analisis studi kelayakan SGRO dipersiapkan menggunakan data dan informasi sebagaimana diungkapkan
di atas. Segala perubahan atas data dan informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir pendapat kami
secara material. Kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas studi kelayakan kami
maupun segala kehilangan, kerusakan, biaya ataupun pengeluaran apapun yang disebabkan oleh
ketidakterbukaan informasi sehingga data yang kami peroleh menjadi tidak lengkap dan atau dapat
disalahartikan.
Hasil dari studi kelayakan kami sangat tergantung dari data serta asumsi-asumsi yang mendasarinya,
perubahan pada sumber data serta asumsi sesuai data pasar akan merubah hasil dari studi kelayakan kami.
Oleh karena itu, kami sampaikan bahwa perubahan terhadap data yang digunakan dapat berpengaruh
terhadap hasil studi kelayakan, dan bahwa perbedaan yang terjadi dapat bernilai material. Walaupun
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-5
Page 25
penyusunan laporan studi kelayakan ini telah dilaksanakan dengan itikad baik dan dengan cara yang
profesional, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas kemungkinan terjadinya perbedaan
kesimpulan yang disebabkan oleh adanya analisis tambahan, diaplikasikannya hasil studi kelayakan
sebagai dasar untuk melakukan analisis transaksi, ataupun adanya perubahan dalam data yang dijadikan
sebagai dasar studi kelayakan.
Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan SGRO tidak merupakan dan tidak dapat ditafsirkan
dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas
informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan
dalam pengendalian internal, kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran
hukum.
I.2.15. Ketersediaan Tenaga Ahli
Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap
mempertahankan management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan
pengalaman dan keahlian dari management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha
Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha
perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI
64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM)
yang ada saat ini. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka kedepannya SGRO
juga dapat menambah tenaga ahli apabila diperlukan.
I.2.16. Pertimbangan Alasan Perubahan Kegiatan Usaha
Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen, Saat ini Perseroan bergerak dalam bidang usaha
perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit. Latar belakang, pertimbangan dan alasan dari rencana
perubahan kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan
untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan
untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang. Maka Perseroan memandang
perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha dengan fokus meningkatkan nilai (value) bagi anak dan cucu
perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan. Untuk itu Perseroan berencana mengubah
kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik
kelapa sawit menjadi perusahaan holding.
Atas hal tersebut, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini mencakup kegiatan
dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok
perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies"
tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan
penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-6
Page 26
I.2.17. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan
kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR
juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya,
Studi Kelayakan tidak disusun untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan
yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil yang diperoleh dari proses penyusunan Studi
Kelayakan dan IDR hanya menerima imbalan sesuai dengan surat perjanjian kerja yang telah disetujui oleh
manajemen SGRO.
I.2.18. Metodologi Studi Kelayakan
Penyusunan Studi Kelayakan mencakup analisis atas aspek hukum, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola
bisnis, dan aspek model manajemen serta aspek keuangan. Untuk dapat melakukan analisis tersebut, maka
akan dikumpulkan berbagai data penunjang, baik data primer maupun data sekunder. Pengumpulan data
dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada instansi/individu yang kompeten dan
survey/penelitian lapangan.
Selanjutnya dalam menganalisa aspek keuangan digunakan metode diskonto arus kas (discounted cash
flow method). Sebelum melakukan proses diskonto (discounting), terlebih dahulu harus diproyeksikan
pendapatan mendatang berupa arus kas bersih (net cash flow) yang sesuai dengan sifat dan jenis usaha
yang dinilai. Setelah proyeksi tersedia, langkah berikutnya adalah menetapkan tingkat diskonto (discount
rate) yang tepat. Proses selanjutnya adalah melakukan perhitungan diskonto biasa, yaitu dengan
mendiskonto nilai-nilai arus kas bersih yang telah diproyeksikan, termasuk nilai periode kekal (continuing
value), dengan faktor diskonto (discount factor) yang diperoleh dari tingkat diskonto sesuai dengan periode
proyeksinya, yang kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kini (present value) dari keseluruhan
pendapatan di masa mendatang. Analisis kelayakan dilakukan dengan mengacu pada parameter investasi
seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan profitability index (PI).
I.2.19 Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Pelaksana Inspeksi/Wawancara:
a. Tanggal Wawancara : 26 Maret 2025
b. Pelaksana Wawancara : Afif Mustafid Taftazani
Dalam studi kelayakan ini, kami melakukan wawancara, baik dengan manajemen SGRO ataupun pihak
yang mewakilinya di kantor SGRO. Berikut adalah pihak yang diwawancarai dalam hubungannya dengan
Objek Studi Kelayakan, yaitu:
Tabel I.1. Daftar Hadir Wawancara
Pihak yang diwawancarai Jabatan Perusahaan
Imelda Susanti Siahaan Corporate Finance SGRO
Josephine Chandra Finance & Accounting SGRO
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-7
Page 27
I.3. ASPEK MANAJEMEN
I.3.1. Sejarah dan Pendirian Perusahaan
PT Sampoerna Agro Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya
berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina
Chandra Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang. Akta pendirian tersebut telah mendapatkan
pengesahan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.
C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994. Nama Perseroan di ubah dari PT Selapan Jaya menjadi
PT Sampoerna Agro Tbk berdasarkan Akta Nomor 52 tanggal 16 Feburari 2007 dibuat dihadapan Sutjipto,
Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta. Akta Perubahan Nama Perseroan tersebut telah mendapat Persetujuan
dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : W7-02335 HT.01.04-TH.2007.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan sebagaimana termuat dalam Akta
Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat dihadapan
Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta, mengenai perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk
disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Terbuka dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka secara
Elektronik yang telah disetujui oleh Menkumham dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312
tanggal 14 Juni 2021. Pada tahun 2022, Perseroan telah melakukan perubahan Anggaran Dasar
sebagaimana ternyata dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.22 tanggal
18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., mengenai pengurangan modal ditempatkan
dan disetor. Akta tersebut telah mendapatkan Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dari Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-0020056.AH.01.02.TAHUN 2022 tanggal 22 Maret 2022.
Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta Nomor 38 tanggal 29 Mei
2024 dibuat di hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Nomor AHU-
AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.
I.3.2. Maksud dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha
Berdasarkan Akta Nomor 20 tanggal 27 Agustus 2020, maksud dan tujuan didirikan Perseroan adalah
menjalankan usaha di bidang perkebunan buah kelapa sawit, industri minyak mentah kelapa sawit (crude
palm oil), industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) dan perdagangan besar buah yang
mengandung minyak.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama
sebagai berikut :
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-8
Page 28
a) Menjalankan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari
kegiatan pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan
buah kelapa sawit. Termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit.
b) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil) yang mencakup
usaha pengolahan kelapa sawit menjadi minyak.
c) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) yang
mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti (crude palm kernel
oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut.
d) Menjalankan usaha di bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup
usaha perdagangan besar hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa
dan kelapa sawit. Termasuk perdagangan besar bibit buah yang mengandung minyak.
Selain kegiatan usaha utama tersebut, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu
menjalankan usaha-usaha lain yang berkaitan dan menunjang kegiatan usaha diatas sesuai dengan
peraturan perundang undangan yang berlaku.
I.3.3. Struktur Permodalan Dan Susunan Pemegang Saham
Berdasarkan Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris
di Kota Administrasi Jakarta Selatan, struktur permodalan perseroan adalah Modal Dasar Perseroan
ditetapkan sebesar Rp1.100.000.000.000,- terbagi atas 5.500.000.000 lembar saham, masing-masing
lembar saham bernilai nominal Rp200,-. Dari modal dasar tersebut telah ditempatkan dan disetor sebanyak
33,065% atau sejumlah 1.818.622.000 lembar saham dengan nominal seluruhnya sebesar
Rp363.724.400.000,- telah disetor penuh kepada Perseroan oleh masing-masing pemegang saham yang
telah mengambil bagian saham.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Notaris di Kota
Administrasi Jakarta Selatan, susunan Pemegang Saham Perseroan sebagai berikut:
Tabel I.2 Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham SGRO
Jumlah Lembar Nilai Nominal Persentase
Keterangan
Saham (Rp) (%)
Twinwood Family Holdings SFO Limited 1.268.217.500 253.443.500.000 69,68%
Masyarakat 551.404.500 110.280.900.000 30,32%
Total 25.238.221.508 129.256.163 100%
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I-9
Page 29
I.3.4. Susunan Dewan Komisaris Dan Direksi
Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024
yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan dicatat
dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.09-0207625 Tanggal 29 Mei 2024, maka susunan Dewan Komisaris dan Direksi SGRO adalah
sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Eka Dharmajanto Kasih
Komisaris Independen : RB. Permana Agung Dradjattun
Komisaris Independen : Saud Usman Nasution
Direksi
Direktur Utama : Budi Setiawan Halim
Direktur : Hero Djajakusumah
Direktur : Dwi Asmono
Direktur : Lim King Hui
Direktur : Parluhutan Sitohang
Direktur : Heri Harjanto
Direktur : Eris Ariaman
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I - 10
Page 30
I.3.5. Struktur Grup SGRO
Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, berikut adalah struktur Grup SGRO:
Sumber: Manajemen SGRO
Gambar I.1 Struktur Grup SGRO
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I - 11
Page 31
I.3.6. Struktur Organisasi SGRO
Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, berikut adalah struktur Organisasi SGRO
Sumber: Manajemen SGRO
Gambar I.2 Struktur Organisasi SGRO
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk I - 12
Page 32
BAB II
ASPEK HUKUM DAN KINERJA HISTORIS
II.1. PROFIL PERUSAHAAN
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama
Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. Perseroan beroperasi secara
komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor
788, Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan
menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha
utama Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit dan industri minyak mentah kelapa sawit
(CPO), industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan besar buah yang mengandung
minyak. Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain
pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber
energi terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.
Kantor perwakilan korporasi SGRO terletak Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F, Jalan
Jenderal Sudirman Kav. 45, Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI
Jakarta.
II.2. AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN
SGRO didirikan dengan nama PT Selapan Jaya berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor
8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina Chandra Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang.
Akta pendirian tersebut telah mendapatkan pengesahan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan No. C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994. Nama Perseroan di ubah
dari PT Selapan Jaya menjadi PT Sampoerna Agro Tbk berdasarkan Akta Nomor 52 tanggal 16 Feburari
2007 dibuat dihadapan Sutjipto, Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta. Akta Perubahan Nama Perseroan
tersebut telah mendapat Persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor W7-02335 HT.01.04-TH.2007.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan sebagaimana termuat dalam Akta
Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat dihadapan
Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta, mengenai perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk
disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Terbuka dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka secara
Elektronik yang telah disetujui oleh Menkumham dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312
tanggal 14 Juni 2021. Pada tahun 2022, Perseroan telah melakukan perubahan Anggaran Dasar
sebagaimana ternyata dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.22
tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., mengenai pengurangan modal
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 1
Page 33
ditempatkan dan disetor. Akta tersebut telah mendapatkan Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar
dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-0020056.AH.01.02 Tahun 2022 tanggal 22 Maret
2022.
Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta Nomor 38 tanggal 29 Mei
2024 dibuat di hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Nomor
AHU-AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.
II.3. STRUKTUR PERMODALAN
Berdasarkan Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris
di Kota Administrasi Jakarta Selatan, struktur permodalan perseroan adalah Modal Dasar Perseroan
ditetapkan sebesar Rp1.100.000.000.000,- terbagi atas 5.500.000.000 lembar saham, masing-masing
lembar saham bernilai nominal Rp200,-. Dari modal dasar tersebut telah ditempatkan dan disetor
sebanyak 33,065% atau sejumlah 1.818.622.000 lembar saham dengan nominal seluruhnya sebesar
Rp363.724.400.000,- telah disetor penuh kepada Perseroan oleh masing-masing pemegang saham yang
telah mengambil bagian saham.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Notaris di Kota
Administrasi Jakarta Selatan, susunan Pemegang Saham Perseroan sebagai berikut:
Tabel II.1 Susunan Pemegang Saham SGRO
Jumlah Lembar Nilai Nominal Persentase
Keterangan
Saham (Rp) (%)
Twinwood Family Holdings SFO Limited 1.268.217.500 253.443.500.000 69,68%
Masyarakat 551.404.500 110.280.900.000 30,32%
Total 25.238.221.508 129.256.163 100%
II.4. SUSUNAN PENGURUS
Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta No. 38 Tanggal 29 Mei
2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
AHU-AH.01.09-0207625 Tanggal 29 Mei 2024, maka susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan
adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Eka Dharmajanto Kasih
Komisaris Independen : RB. Permana Agung Dradjattun
Komisaris Independen : Saud Usman Nasution
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 2
Page 34
Direksi
Direktur Utama : Budi Setiawan Halim
Direktur : Hero Djajakusumah
Direktur : Dwi Asmono
Direktur : Lim King Hui
Direktur : Parluhutan Sitohang
Direktur : Heri Harjanto
Direktur : Eris Ariaman
II.5. KEGIATAN USAHA
Berdasarkan Akta Nomor 20 tanggal 27 Agustus 2020, maksud dan tujuan didirikan Perseroan adalah
menjalankan usaha di bidang perkebunan buah kelapa sawit, industri minyak mentah kelapa sawit (crude
palm oil), industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) dan perdagangan besar buah
yang mengandung minyak. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Perseroan dapat
melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut :
a) Menjalankan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari
kegiatan pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan
buah kelapa sawit. Termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit.
b) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil) yang mencakup
usaha pengolahan kelapa sawit menjadi minyak.
c) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) yang
mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti (crude palm kernel
oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut.
d) Menjalankan usaha di bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup
usaha perdagangan besar hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa
dan kelapa sawit. Termasuk perdagangan besar bibit buah yang mengandung minyak.
Selain kegiatan usaha utama tersebut, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu
menjalankan usaha-usaha lain yang berkaitan dan menunjang kegiatan usaha diatas sesuai dengan
peraturan perundang undangan yang berlaku.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 3
Page 35
Berdasarkan Nomor Induk Berusaha (NIB): 9120309730555 tanggal 5 Juli 2019, SGRO memiliki daftar
bidang usaha sebagai berikut:
Tabel II.2. Rincian Unit Usaha SGRO
Judul Kode Klasifikasi Baku Lapangan Perizinan Berusaha
No. Kode KBLI
Usaha Indonesia (KBLI) Jenis Status
Industri Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit
1. 10432 NIB & Izin Terbit
(Crude Palm Kernel Oil)
Perdagangan Besar Buah Yang Mengandung
2. 46202 NIB & Izin Terbit
Minyak
3. Perkebunan Buah Kelapa Sawit 01262 NIB & Izin Terbit
Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (Crude
4. 10431 NIB & Izin Terbit
Palm Oil)
II.6. PERIZINAN YANG PERLU DIPENUHI OLEH SGRO ATAS PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
Terdapat kewajiban perizinan/persetujuan lembaga lain yang perlu dipenuhi oleh SGRO sehubungan
dengan proses penambahan kegiatan usaha perusahaan holding. Perubahan kegiatan usaha menjadi
perusahaan holding membutuhkan persetujuan RUPS yang harus dituangkan dalam dokumen resmi.
SGRO juga perlu menyesuaikan KBLI agar sesuai dengan kegiatan usaha holding. Selain itu, perizinan
berusaha berbasis risiko sesuai UU Cipta Kerja harus diurus untuk memastikan kepatuhan terhadap
hukum.
II.7. LEGALITAS DAN PERIZINAN
Saat ini SGRO telah memperoleh dokumen-dokumen yang diperlukan dari instansi yang berwenang
berkaitan dengan usahanya dengan rincian sebagai berikut:
Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina Chandra
Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang;
Surat pengesahan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.
C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994;
Akta Perubahan Nama Perseroan Nomor 52 tanggal 16 Feburari 2007 dibuat dihadapan Sutjipto,
Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta;
Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W7-02335
HT.01.04-TH.2007;
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat
dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta;
Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W7-02335
HT.01.04-TH.2007 dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312 tanggal 14 Juni 2021;
Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris di Kota
Administrasi Jakarta Selatan., mengenai pengurangan modal ditempatkan dan disetor;
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 4
Page 36
Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor
AHU-0020056.AH.01.02 Tahun 2022 tanggal 22 Maret 2022;
Akta Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Nomor 38 tanggal 29 Mei 2024 dibuat di
hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan;
Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-
AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.
Nomor Induk Berusaha (NIB) 9120309730555 atas nama PT Sampoerna Agro Tbk diterbitkan oleh
Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS pada tanggal 5 Juli
2019;
Izin Usaha Industri (IUI) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) :
9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Industri Minyak Mentah
Kelapa Sawit (Crude Palm Oil) dengan kode KBLI 10431;
Izin Usaha Industri (IUI) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) :
9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Industri Minyak Mentah Inti
Kelapa Sawit (Crude Palm Kernel Oil) dengan kode KBLI 10432;
Izin Usaha Perkebunan (IUP) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha
(NIB) : 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Perkebunan Buah Kelapa
Sawit dengan kode KBLI 01262;
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atas PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha
(NIB) : 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Perdagangan Besar Buah
Yang Mengandung Minyak dengan kode KBLI 46202;
Izin Komersial/Operasional atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB)
: 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019;
Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha (PKKPR) Nomor
23052210211602004 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
Penyelenggara OSS pada tanggal 23 Mei 2022;
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Nomor : 01.598.906.4-054.000 atas nama SAMPOERNA
AGRO,Tbk.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 5
Page 37
II.8. INFORMASI PERPAJAKAN
Dalam menjalankan kegiatan usaha saat ini, informasi perpajakan yang dikenakan kepada SGRO adalah
sebagai berikut:
Pajak Penghasilan 21
Pajak Penghasilan 22
Pajak Penghasilan 23/26
Pajak Penghasilan 25
Pajak Penghasilan 29
Pajak Penghasilan 4 (2)
Pajak Penghasilan 15
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Bumi Bangunan (PBB)
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 6
Page 38
II.9. ANALISIS KEUANGAN HISTORIS
Analisis kinerja keuangan historis SGRO terdiri dari analisis posisi keuangan, laba (rugi), arus kas dan rasio
keuangan didasarkan atas laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwantono,
Sungkoro & Surja untuk periode 31 Desember 2020, 31 Desember 2021, 31 Desember 2022, 31 Desember 2023
dan periode 31 Desember 2024. Dalam penyajian data laporan keuangan SGRO berikut, hanya disajikan laporan
keuangan entitas induk saja (parent only) dan tidak dilakukan penyesuaian apapun terhadap angka-angka yang
disajikan.
II.9.1. LAPORAN POSISI KEUANGAN
Berikut adalah laporan posisi keuangan SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.
Tabel II.3. Laporan Posisi Keuangan SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
FY2020 FY2021 FY2022 FY2023 FY2024
U R A I A N
Audited Audited Audited Audited Audited
ASET LANCAR
Kas 80.124 75.697 47.396 57.985 78.189
Bank
Pihak berelasi 53.313 89.587 157.149 3.431 615.582
Pihak ketiga 14.280.164 13.022.041 52.110.490 41.186.287 188.910.999
Piutang usaha
Pihak berelasi 5.216.747 3.300.000 8.390.531 20.063.693 13.333.009
Pihak ketiga 39.954.395 1.923.947 21.875.761 2.315.296 14.840.608
Piutang lain-lain
Pihak berelasi 51.161.223 49.885.512 54.996.756 53.895.492 56.503.564
Pihak ketiga 2.340.909 39.620.702 107.835.795 82.541.305 1.456.619
Persediaan 38.084.536 24.896.340 45.212.626 21.400.315 36.007.239
Aset biologis 9.526.013 6.258.474 6.965.204 6.247.301 6.597.709
Pajak dibayar dimuka 14.189.219 7.577.311 9.224.658 2.994.135 14.287.740
Biaya dibayar dimuka, uang muka
1.042.483 994.427 641.902 2.751.008 946.326
dan aset lancar lainnya
Jumlah Aset Lancar 175.929.126 147.644.038 307.458.268 233.456.248 333.577.584
ASET TIDAK LANCAR
Penyertaan saham 4.171.287.616 4.510.051.997 4.969.557.854 5.817.857.854 7.212.468.962
Piutang pihak berelasi 2.725.499.491 3.354.856.278 3.527.351.882 2.866.246.647 1.420.881.317
Tanaman produktif
Tanaman menghasilkan 66.546.182 61.836.550 57.347.554 52.858.559 62.669.142
Aset tetap, neto 101.166.930 90.005.074 83.133.010 78.441.252 83.819.890
Aset pajak tangguhan 3.187.769 3.251.340 3.988.682 4.328.295 4.586.125
Aset takberwujud 112.033 26.271 60.253 - -
Aset hak guna, neto 11.204.552 7.833.881 5.429.547 2.714.773 16.327.451
Aset tidak lancar lainnya 1.304.578 1.291.847 1.238.163 908.654 938.858
Jumlah Aset Tidak Lancar 7.080.309.151 8.029.153.238 8.648.106.945 8.823.356.034 8.801.691.745
JUMLAH ASET 7.256.238.277 8.176.797.276 8.955.565.213 9.056.812.282 9.135.269.329
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 7
Page 39
FY2020 FY2021 FY2022 FY2023 FY2024
U R A I A N
Audited Audited Audited Audited Audited
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek 482.100.100 28.538.010 - - -
Utang usaha
Pihak berelasi 23.896.499 151.767 33.316.124 16.560.522 49.252.535
Pihak ketiga 63.226.452 52.925.723 48.522.376 26.501.540 86.563.115
Utang lain-lain
Pihak berelasi 249.500.000 240.000.000 - - -
Pihak ketiga 77.693 40.495 8.103.746 14.978.129 7.013.289
Uang muka penjualan 32.239.609 19.934.394 7.602.897 - -
Liabilitas kontrak - - - 39.518.272 19.113.612
Utang pajak 11.854.979 31.481.283 41.385.861 15.794.896 4.739.785
Beban akrual 10.475.442 8.272.567 19.518.208 24.317.884 101.458.439
Utang jangka panjang jatuh tempo
dalam satu tahun
Utang Obligasi, neto - - 208.381.284 127.376.892 166.405.299
Sukuk Ijarah, neto - - 174.854.162 236.635.000 199.904.416
Utang bank 84.954.912 15.422.949 - - -
Liabilitas sewa 2.525.562 2.597.335 2.105.556 3.231.791 1.274.948
Jumlah Liabilitas Jangka
960.851.248 399.364.523 543.790.214 504.914.926 635.725.438
Pendek
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang - setelah
dikurangi bagian jatuh tempo
dalam satu tahun
Utang Obligasi, neto 297.924.535 469.954.642 784.993.334 659.999.114 495.018.376
Sukuk Ijarah, neto 296.541.556 692.676.596 822.854.422 586.970.365 387.816.892
Utang bank 356.400.494 215.107.617 - - -
Liabilitas sewa 9.182.594 5.986.870 3.231.791 - 14.161.222
Utang pihak berelasi 620.700.000 707.500.000 664.000.000 340.000.000 -
Liabilitas imbalan kerja 25.742.207 20.074.274 25.257.375 25.601.347 27.479.793
Jumlah Liabilitas Jangka
1.606.491.386 2.111.299.999 2.300.336.922 1.612.570.826 924.476.283
Panjang
JUMLAH LIABILITAS 2.567.342.634 2.510.664.522 2.844.127.136 2.117.485.752 1.560.201.721
EKUITAS
Modal saham 378.000.000 378.000.000 363.724.400 363.724.400 363.724.400
Tambahan Modal Disetor 952.757.463 952.757.463 855.301.127 855.301.127 855.301.127
Selisih transaksi dengan
403.752 403.752 403.752 403.752 403.752
kepentingan nonpengendali
Saham treasuri (111.731.936) (111.731.936) - - -
Saldo laba
Ditentukan untuk cadangan umum 83.994.710 83.994.710 83.994.710 83.994.710 83.994.710
Belum ditentukan penggunaannya 3.385.471.654 4.362.708.765 4.808.014.088 5.635.902.541 6.271.643.619
Jumlah Ekuitas 4.688.895.643 5.666.132.754 6.111.438.077 6.939.326.530 7.575.067.608
JUMLAH LIABILITAS DAN
7.256.238.277 8.176.797.276 8.955.565.213 9.056.812.282 9.135.269.329
EKUITAS
Sumber : Laporan Keuangan SGRO
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 8
Page 40
a. Aset
Posisi total aset SGRO pada FY2020 tercatat sebesar Rp7.256.238.277 ribu meningkat menjadi
Rp9.135.269.329 ribu pada FY2024 atau naik dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound
Annual Growth Rate {CAGR}) sebesar 5,93%. Pada bagian aset lancar, kas mengalami fluktuasi. Pada
FY2020, nilai kas tercatat sebesar Rp80.124 ribu dan sedikit menurun menjadi Rp75.697 ribu pada FY2021
(turun 5,5%). Pada FY2022, nilai kas menurun sebesar 37,4% menjadi Rp47.396 ribu, kemudian naik
22,3% menjadi Rp57.985 ribu pada FY2023, dan meningkat lagi sebesar 34,8% menjadi Rp78.189 ribu
pada FY2024. Piutang usaha - pihak berelasi mengalami perubahan dari Rp5.216.747 ribu pada FY2020
menjadi Rp3.300.000 ribu pada FY2021 (turun 36,8%). Pada FY2022, piutang usaha meningkat menjadi
Rp8.390.531 ribu (naik 154,2%) dan meningkat menjadi Rp20.063.693 ribu pada FY2023 (naik 139,2%).
Namun, pada FY2024, terjadi penurunan (turun 33,6%) menjadi Rp13.333.009 ribu. Sementara itu, piutang
usaha - pihak ketiga juga menunjukkan fluktuasi dari Rp39.954.395 ribu pada FY2020 menjadi
Rp1.923.947 ribu pada FY2021 (turun 95,2%). Pada FY2022, nilai piutang pihak ketiga meningkat (naik
1.037,3%) menjadi Rp21.875.761 ribu, kemudian menurun menjadi Rp2.315.296 ribu (turun 89,4%) pada
FY2023, dan meningkat (naik 540,9%) menjadi Rp14.840.608 ribu pada FY2024.
Pada aset tidak lancar, pada FY2020 penyertaan saham tercatat sebesar Rp4.171.287.616 ribu. Pada
FY2021, jumlah ini (naik 8,1%) menjadi Rp4.510.051.997 ribu. Selanjutnya, pada FY2022, terjadi kenaikan
(naik 10,2%) menjadi Rp4.969.557.854 ribu, kemudian melonjak (naik 17,1%) menjadi Rp5.817.857.854
ribu pada FY2023. Pada FY2024, jumlah penyertaan saham kembali meningkat (naik 24%) menjadi
Rp7.212.468.962 ribu. Piutang pihak berelasi juga mengalami perubahan selama periode ini. Dimulai dari
Rp2.725.499.491 ribu pada FY2020, jumlah ini (naik 23,1%) menjadi Rp3.354.856.278 ribu pada FY2021.
Pada FY2022, piutang ini (naik 5,1%) menjadi Rp3.527.351.882 ribu, namun mengalami penurunan (turun
18,8%) menjadi Rp2.866.246.647 ribu pada FY2023. Pada FY2024, terjadi penurunan (turun 50,4%)
menjadi Rp1.420.881.317 ribu. Tanaman menghasilkan menunjukkan tren penurunan selama beberapa
tahun. Pada FY2020, jumlahnya tercatat sebesar Rp66.546.182 ribu, kemudian (turun 7,1%) menjadi
Rp61.836.550 ribu pada FY2021, dan kembali (turun 7,3%) menjadi Rp57.347.554 ribu pada FY2022.
Pada FY2023, nilai ini (turun 7,8%) menjadi Rp52.858.559 ribu, tetapi (naik 18,6%) menjadi Rp62.669.142
ribu pada FY2024.
Aset tetap, neto menunjukkan penurunan dari Rp101.166.930 ribu pada FY2020 menjadi Rp90.005.074
ribu pada FY2021 (turun 11%). Pada FY2022, jumlahnya kembali (turun 7,6%) menjadi Rp83.133.010 ribu,
dan melanjutkan tren penurunan (turun 5,6%) menjadi Rp78.441.252 ribu pada FY2023. Namun, pada
FY2024, terjadi peningkatan (naik 6,9%) menjadi Rp83.819.890 ribu. Aset pajak tangguhan menunjukkan
peningkatan bertahap selama periode ini. Pada FY2020, jumlahnya tercatat sebesar Rp3.187.769 ribu,
kemudian (naik 2%) menjadi Rp3.251.340 ribu pada FY2021. Pada FY2022, nilai aset pajak tangguhan
(naik 22,7%) menjadi Rp3.988.682 ribu, dan terus meningkat (naik 8,5%) menjadi Rp4.328.295 ribu pada
FY2023. Pada FY2024, terjadi kenaikan kecil (naik 6%) menjadi Rp4.586.125 ribu. Aset takberwujud
mengalami penurunan selama periode ini. Pada FY2020, nilainya tercatat sebesar Rp112.033 ribu, lalu
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 9
Page 41
(turun 76,6%) menjadi Rp26.271 ribu pada FY2021. Selanjutnya, pada FY2022, aset takberwujud (naik
129,5%) menjadi Rp60.253 ribu. Aset hak guna, neto juga mencatat tren penurunan awal. Dimulai dari
Rp11.204.552 ribu pada FY2020, aset ini (turun 30,1%) menjadi Rp7.833.881 ribu pada FY2021, lalu (turun
30,7%) menjadi Rp5.429.547 ribu pada FY2022. Pada FY2023, aset ini turun lebih lanjut (turun 50%)
menjadi Rp2.714.773 ribu. Namun, pada FY2024, terjadi kenaikan (naik 501,6%) menjadi Rp16.327.451
ribu. Aset tidak lancar lainnya mengalami fluktuasi kecil. Pada FY2020, nilainya tercatat sebesar
Rp1.304.578 ribu, lalu (turun 1%) menjadi Rp1.291.847 ribu pada FY2021. Pada FY2022, aset ini (turun
4,2%) menjadi Rp1.238.163 ribu, dan (turun 26,6%) menjadi Rp908.654 ribu pada FY2023. Namun, pada
FY2024, aset tidak lancar lainnya kembali (naik 3,3%) menjadi Rp938.858 ribu
b. Liabilitas
Posisi total liabilitas SGRO tercatat mengalami fluktuasi selama periode FY2020 hingga FY2024. Liabilitas
jangka pendek mengalami perubahan. Utang bank jangka pendek dimulai dari Rp482.100.100 ribu pada
FY2020, kemudian (turun 94,1%) menjadi Rp28.538.010 ribu pada FY2021, dan tidak tercatat pada
FY2022, FY2023, dan FY2024. Utang usaha pihak berelasi mencatat fluktuasi besar. Pada FY2020,
nilainya sebesar Rp23.896.499 ribu, kemudian (turun 99,4%) menjadi Rp151.767 ribu pada FY2021, (naik
21.905,8%) menjadi Rp33.316.124 ribu pada FY2022, (turun 50,3%) menjadi Rp16.560.522 ribu pada
FY2023, dan (naik 197,3%) menjadi Rp49.252.535 ribu pada FY2024. Utang usaha pihak ketiga juga
menunjukkan pergerakan dari Rp63.226.452 ribu pada FY2020, (turun 16,3%) menjadi Rp52.925.723 ribu
pada FY2021, (turun 8,3%) menjadi Rp48.522.376 ribu pada FY2022, (turun 45,4%) menjadi
Rp26.501.540 ribu pada FY2023, dan akhirnya (naik 226,6%) menjadi Rp86.563.115 ribu pada FY2024.
Utang lain-lain pihak berelasi dimulai dari Rp249.500.000 ribu pada FY2020, (turun 3,8%) menjadi
Rp240.000.000 ribu pada FY2021, dan tidak tercatat pada FY2022 hingga FY2024. Sementara itu, utang
lain-lain pihak ketiga mencatat nilai Rp77.693 ribu pada FY2020, (turun 47,9%) menjadi Rp40.495 ribu
pada FY2021, (naik 19.922,9%) menjadi Rp8.103.746 ribu pada FY2022, (naik 84,8%) menjadi
Rp14.978.129 ribu pada FY2023, dan (turun 53,2%) menjadi Rp7.013.289 ribu pada FY2024. Uang muka
penjualan mengalami penurunan dari Rp32.239.609 ribu pada FY2020, (turun 38,2%) menjadi
Rp19.934.394 ribu pada FY2021, (turun 61,8%) menjadi Rp7.602.897 ribu pada FY2022, dan tidak tercatat
pada FY2023 dan FY2024. Liabilitas kontrak baru tercatat pada FY2023 sebesar Rp39.518.272 ribu,
kemudian (turun 51,6%) menjadi Rp19.113.612 ribu pada FY2024.
Selanjutnya, utang pajak naik dari Rp11.854.979 ribu pada FY2020, (naik 165,6%) menjadi Rp31.481.283
ribu pada FY2021, (naik 31,4%) menjadi Rp41.385.861 ribu pada FY2022, (turun 61,8%) menjadi
Rp15.794.896 ribu pada FY2023, dan (turun 70%) menjadi Rp4.739.785 ribu pada FY2024. Beban akrual
mulai dari Rp10.475.442 ribu pada FY2020, (turun 21%) menjadi Rp8.272.567 ribu pada FY2021, (naik
135,9%) menjadi Rp19.518.208 ribu pada FY2022, (naik 24,6%) menjadi Rp24.317.884 ribu pada FY2023,
dan melonjak (naik 317,1%) menjadi Rp101.458.439 ribu pada FY2024.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 10
Page 42
Pada liabilitas jangka panjang, utang obligasi setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun
dimulai dari Rp297.924.535 ribu pada FY2020, (naik 57,7%) menjadi Rp469.954.642 ribu pada FY2021,
(naik 67%) menjadi Rp784.993.334 ribu pada FY2022, (turun 15,9%) menjadi Rp659.999.114 ribu pada
FY2023, dan (turun 24,9%) menjadi Rp495.018.376 ribu pada FY2024. Sukuk Ijarah, neto, mengalami
lonjakan (naik 133,7%) dari Rp296.541.556 ribu pada FY2020 menjadi Rp692.676.596 ribu pada FY2021,
(naik 18,8%) menjadi Rp822.854.422 ribu pada FY2022, (turun 28,7%) menjadi Rp586.970.365 ribu pada
FY2023, dan (turun 33,9%) menjadi Rp387.816.892 ribu pada FY2024.
c. Ekuitas
Pada periode FY2020 hingga FY2024, ekuitas mencatat sejumlah perubahan . Modal saham tetap stabil
pada FY2020 dan FY2021 dengan nilai sebesar Rp378.000.000 ribu, sebelum mengalami penurunan
(turun 3,8%) menjadi Rp363.724.400 ribu pada FY2022, dan nilainya tetap tidak berubah pada FY2023
serta FY2024. Tambahan modal disetor menunjukkan stabilitas pada FY2020 dan FY2021 dengan nilai
sebesar Rp952.757.463 ribu, kemudian menurun (turun 10,2%) menjadi Rp855.301.127 ribu pada FY2022,
dan tidak ada perubahan pada FY2023 dan FY2024. Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali
tetap konsisten sepanjang periode ini dengan nilai Rp403.752 ribu. Saham treasuri tercatat sebesar
Rp(111.731.936) ribu pada FY2020 dan FY2021, namun tidak lagi tercatat pada FY2022, FY2023, maupun
FY2024.
Saldo laba yang ditentukan untuk cadangan umum tetap tidak berubah sepanjang periode FY2020 hingga
FY2024 dengan nilai Rp83.994.710 ribu. Sementara itu, saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya
mencatat peningkatan tiap tahunnya. Pada FY2020, nilainya sebesar Rp3.385.471.654 ribu, kemudian
(naik 28,9%) menjadi Rp4.362.708.765 ribu pada FY2021, (naik 10,2%) menjadi Rp4.808.014.088 ribu
pada FY2022, (naik 17,2%) menjadi Rp5.635.902.541 ribu pada FY2023, dan (naik 11,3%) menjadi
Rp6.271.643.619 ribu pada FY2024. Total jumlah ekuitas secara keseluruhan mencatat pertumbuhan dari
Rp4.688.895.643 ribu pada FY2020, (naik 20,9%) menjadi Rp5.666.132.754 ribu pada FY2021, (naik
7,9%) menjadi Rp6.111.438.077 ribu pada FY2022, (naik 13,5%) menjadi Rp6.939.326.530 ribu pada
FY2023, dan (naik 9,2%) menjadi Rp7.575.067.608 ribu pada FY2024.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 11
Page 43
III.9.2 LAPORAN LABA (RUGI)
Berikut adalah Laporan laba (rugi) SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.
Tabel III.4. Laporan Laba (Rugi) SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
FY2020 FY2021 FY2022 FY2023 FY2024
U R A I A N
Audited Audited Audited Audited Audited
Pendapatan Usaha 571.252.903 742.074.397 732.914.504 636.910.014 691.492.010
Beban Pokok Pendapatan (490.062.356) (684.445.590) (629.457.305) (541.343.990) (655.266.011)
Laba Bruto 81.190.547 57.628.807 103.457.199 95.566.024 36.225.999
Perubahan nilai wajar aset biologis 4.441.411 (3.267.539) 706.730 (717.903) 350.408
Beban penjualan dan pemasaran (9.521.409) (9.689.174) (11.907.542) (10.808.251) (10.699.396)
Beban umum dan administrasi (45.418.118) (40.954.314) (51.445.529) (49.030.784) (49.956.384)
Pendapatan lainnya 398.622.148 969.584.302 759.817.308 1.153.859.698 999.638.242
Beban lainnya (5.792.769) (5.014.824) (18.484.657) (22.473.239) (200.367.652)
Laba (Rugi) Usaha 423.521.810 968.287.258 782.143.509 1.166.395.545 775.191.217
Pendapatan keuangan 244.783.135 295.703.375 345.628.566 259.450.611 174.613.728
Biaya keuangan (233.305.079) (278.662.354) (238.940.192) (225.106.678) (93.551.264)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak 434.999.866 985.328.279 888.831.883 1.200.739.478 856.253.681
Beban pajak penghasilan (12.935.304) (9.224.590) (33.785.127) (13.598.921) (970.256)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 422.064.562 976.103.689 855.046.756 1.187.140.557 855.283.425
Sumber : Laporan Keuangan SGRO
a. Pendapatan dan Beban Pokok Pendapatan
Pendapatan Usaha SGRO terdiri dari penjualan tandan buah segar, minyak sawit mentah, inti sawit dan
lain-lain. Pendapatan mengalami fluktuasi dari Rp571.252.903 ribu pada FY2020 menjadi Rp742.074.397
ribu pada FY2021 (naik 29,91%), namun menurun menjadi Rp732.914.504 ribu pada FY2022 (turun
1,23%), lalu menurun lagi ke Rp636.910.014 ribu pada FY2023 (turun 13,10%) sebelum akhirnya naik
menjadi Rp691.492.010 ribu pada FY2024 (naik 8,57%).
Beban Pokok Pendapatan meningkat dari Rp490.062.356 ribu pada FY2020 menjadi Rp684.445.590 ribu
pada FY2021 (naik 39,67%), kemudian turun ke Rp629.457.305 ribu pada FY2022 (turun 8,03%), lalu turun
lagi menjadi Rp541.343.990 ribu pada FY2023 (turun 14%), sebelum naik ke Rp655.266.011 ribu pada
FY2024 (naik 21,03%). Laba Bruto menunjukkan fluktuasi signifikan, dari Rp81.190.547 ribu pada FY2020
menjadi Rp57.628.807 ribu pada FY2021 (turun 29,04%), kemudian meningkat menjadi Rp103.457.199
ribu pada FY2022 (naik 79,54%), sebelum turun ke Rp95.566.024 ribu pada FY2023 (turun 7,64%) dan
turun lagi menjadi Rp36.225.999 ribu pada FY2024 (turun 62,09%).
b. Beban
Beban usaha SGRO terdiri dari beban penjualan dan pemasaran dan beban umum dan administrasi.
Beban Penjualan dan Pemasaran stabil mengalami kenaikan kecil dari Rp9.521.409 ribu pada FY2020
menjadi Rp9.689.174 ribu pada FY2021 (naik 1,76%), kemudian naik lagi menjadi Rp11.907.542 ribu pada
FY2022 (naik 22,89%), namun turun sedikit ke Rp10.808.251 ribu pada FY2023 (turun 9,22%) dan
Rp10.699.396 ribu pada FY2024 (turun 1,01%). Beban Umum dan Administrasi cenderung meningkat, dari
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 12
Page 44
Rp45.418.118 ribu pada FY2020 menjadi Rp40.954.314 ribu pada FY2021 (turun 9,83%), naik lagi ke
Rp51.445.529 ribu pada FY2022 (naik 25,58%), sebelum turun menjadi Rp49.030.784 ribu pada FY2023
(turun 4,69%) dan kembali naik ke Rp49.956.384 ribu pada FY2024 (naik 1,88%).
Sementara itu, pada pos Perubahan Nilai Wajar Aset Biologis mengalami dinamika, dari Rp4.441.411 ribu
pada FY2020 menjadi negatif Rp3.267.539 ribu pada FY2021 (turun 173,54%), lalu sedikit positif ke
Rp706.730 ribu pada FY2022, sebelum kembali negatif di Rp717.903 ribu pada FY2023, dan menjadi
positif Rp350.408 ribu pada FY2024.
Pendapatan Lainnya mengalami peningkatan besar dari Rp398.622.148 ribu pada FY2020 menjadi
Rp969.584.302 ribu pada FY2021 (naik 143,28%), namun turun menjadi Rp759.817.308 ribu pada FY2022
(turun 21,66%), lalu meningkat lagi ke Rp1.153.859.698 ribu pada FY2023 (naik 51,86%) sebelum turun
ke Rp999.638.242 ribu pada FY2024 (turun 13,36%). Beban Lainnya naik dari Rp5.792.769 ribu pada
FY2020 menjadi Rp5.014.824 ribu pada FY2021 (turun 13,40%), lalu meningkat ke Rp18.484.657 ribu
pada FY2022 (naik 268,41%), meningkat lagi ke Rp22.473.239 ribu pada FY2023 (naik 21,61%), sebelum
melonjak menjadi Rp200.367.652 ribu pada FY2024 (naik 791,63%).
c. Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Pendapatan Keuangan bertumbuh dari Rp244.783.135 ribu pada FY2020 menjadi Rp295.703.375 ribu
pada FY2021 (naik 20,82%), meningkat lagi menjadi Rp345.628.566 ribu pada FY2022 (naik 16,88%),
namun turun menjadi Rp259.450.611 ribu pada FY2023 (turun 24,94%) dan Rp174.613.728 ribu pada
FY2024 (turun 32,68%). Biaya Keuangan meningkat dari Rp233.305.079 ribu pada FY2020 menjadi
Rp278.662.354 ribu pada FY2021 (naik 19,46%), lalu turun menjadi Rp238.940.192 ribu pada FY2022
(turun 14,23%), turun lagi ke Rp225.106.678 ribu pada FY2023 (turun 5,80%) dan Rp93.551.264 ribu pada
FY2024 (turun 58,45%).
Beban Pajak Penghasilan turun dari Rp12.935.304 ribu pada FY2020 menjadi Rp9.224.590 ribu pada
FY2021 (turun 28,68%), kemudian naik menjadi Rp33.785.127 ribu pada FY2022 (naik 266,33%), lalu
menurun ke Rp13.598.921 ribu pada FY2023 (turun 59,74%) dan Rp970.256 ribu pada FY2024 (turun
92,87%).
Laba (Rugi) Tahun Berjalan meningkat dari Rp422.064.562 ribu pada FY2020 menjadi Rp976.103.689 ribu
pada FY2021 (naik 131,28%), lalu turun ke Rp855.046.756 ribu pada FY2022 (turun 12,41%), meningkat
lagi ke Rp1.187.140.557 ribu pada FY2023 (naik 38,89%), sebelum sedikit menurun ke Rp855.283.425
ribu pada FY2024 (turun 27,93%).
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 13
Page 45
II.9.3. LAPORAN ARUS KAS
Berikut adalah laporan arus kas SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.
Tabel III.5. Laporan Arus Kas SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
FY2020 FY2021 FY2022 FY2023 FY2024
U R A I A N
Audited Audited Audited Audited Audited
ARUS KAS DARI AKTIVITAS
15.582.275 71.040.978 26.822.450 41.058.888 13.837.023
OPERASIONAL
ARUS KAS DARI AKTIVITAS
295.538.259 716.482.282 520.011.303 458.632.392 (311.673.241)
INVESTASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS
(302.713.676) (788.750.292) (507.710.728) (510.758.036) 446.192.006
PENDANAAN
SURPLUS (DEFISIT) PERIODE
8.406.858 (1.227.032) 39.123.025 (11.066.756) 148.355.788
BERJALAN
DAMPAK NETO PERUBAHAN NILAI
TUKAR ATAS KAS DAN BANK
1.090 757 4.685 (576) 1.275
SALDO KAS AWAL 6.005.653 14.413.601 13.187.326 52.315.036 41.247.704
SALDO KAS AKHIR 14.413.601 13.187.326 52.315.036 41.247.704 189.604.770
Sumber : Laporan Keuangan SGRO
Dari laporan keuangan yang diperoleh, aktivitas arus kas SGRO pada periode yang berakhir per
31 Desember 2024 adalah sebagai berikut:
Arus kas bersih dari aktivitas operasi SGRO menunjukkan arus kas masuk bersih dari aktivitas operasi
sebesar Rp13.837.023 ribu.
Arus kas bersih dari aktivitas investasi SGRO menunjukkan arus kas keluar bersih dari aktivitas
investasi sebesar Rp(311.673.241) ribu.
Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan SGRO menunjukkan arus kas masuk bersih dari aktivitas
pendanaan sebesar Rp446.192.006 ribu.
Surplus periode berjalan SGRO sebesar Rp148.355.788 ribu.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 14
Page 46
II.9.4. RASIO KEUANGAN
Analisa rasio pada dasarnya adalah mencari perbandingan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Oleh karena
itu dalam implementasinya akan banyak sekali rasio yang dapat diukur sesuai dengan tujuan analisis.
Analisa rasio keuangan adalah menyatakan ulang data-data keuangan atau data akuntansi secara relatif
untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan dengan menggunakan berbagai
metode perhitungan serta interpretasi atas hasil perbandingan tersebut untuk menilai kinerja keuangan
selama periode analisis. Berikut adalah perkembangan indikator utama keuangan SGRO dalam kurun
waktu FY2020 sampai dengan FY2024.
Tabel III.6. Rasio-Rasio Keuangan SGRO
FY2020 FY2021 FY2022 FY2023 FY2024
U R A I A N
Audited Audited Audited Audited Audited
LIQUIDITY RATIO
Current Ratio 18,31% 36,97% 56,54% 46,24% 52,47%
Quick Ratio 14,35% 30,74% 48,23% 42,00% 46,81%
Net Working Capital Ratio -10,82% -3,08% -2,64% -3,00% -3,31%
SOLVABILITY RATIO
Total Debt to Equity Ratio 54,75% 44,31% 46,54% 30,51% 20,60%
Total Debt to Asset Ratio 35,38% 30,70% 31,76% 23,38% 17,08%
Long Term Debt to Equity Ratio 34,26% 37,26% 37,64% 23,24% 12,20%
PROFITABILITY RATIO
Gross Profit Ratio 14,21% 7,77% 14,12% 15,00% 5,24%
Operating Profit Ratio 74,14% 130,48% 106,72% 183,13% 112,10%
Net Profit Ratio 73,88% 131,54% 116,66% 186,39% 123,69%
ROA (Return on Asset) 5,82% 11,94% 9,55% 13,11% 9,36%
ROE (Return on Equity) 9,00% 17,23% 13,99% 17,11% 11,29%
Sumber : Laporan Keuangan SGRO (data diolah)
Rasio likuiditas SGRO menunjukkan pola yang fluktuatif. Current Ratio meningkat dari 18,31% pada
FY2020 menjadi 36,97% pada FY2021, kemudian naik lagi menjadi 56,54% pada FY2022, sebelum
menurun menjadi 46,24% pada FY2023 dan kembali naik menjadi 52,47% pada FY2024. Quick Ratio
menunjukkan tren yang sama, meningkat dari 14,35% pada FY2020 menjadi 30,74% pada FY2021, lalu
naik lebih jauh menjadi 48,23% pada FY2022, turun menjadi 42,00% pada FY2023, dan kembali meningkat
menjadi 46,81% pada FY2024. Namun, Net Working Capital Ratio tetap berada di zona negatif sepanjang
periode, meskipun ada perbaikan dari -10,82% pada FY2020 menjadi -3,08% pada FY2021 dan -2,64%
pada FY2022. Kemudian, terjadi penurunan menjadi -3,00% pada FY2023 dan -3,31% pada FY2024.
Rasio solvabilitas SGRO menunjukkan tren positif dalam pengelolaan utang perusahaan. Total Debt to
Equity Ratio menurun dari 54,75% pada FY2020 menjadi 44,31% pada FY2021, naik menjadi 46,54% pada
FY2022, kemudian menurun menjadi 30,51% pada FY2023 dan akhirnya mencapai 20,60% pada FY2024.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 15
Page 47
Total Debt to Asset Ratio mengikuti pola yang sama, menurun dari 35,38% pada FY2020 menjadi 30,70%
pada FY2021, kemudian naik menjadi 31,76% pada FY2022, sebelum menurun lagi menjadi 23,38% pada
FY2023 dan 17,08% pada FY2024. Long Term Debt to Equity Ratio juga menunjukkan penurunan
konsisten, dari 34,26% pada FY2020 ke 37,26% pada FY2021 dan 37,64% pada FY2022, lalu turun
signifikan menjadi 23,24% pada FY2023 dan 12,20% pada FY2024.
Rasio profitabilitas SGRO menunjukkan fluktuasi. Gross Profit Ratio menurun dari 14,21% pada FY2020
menjadi 7,77% pada FY2021, naik menjadi 14,12% pada FY2022 dan 15,00% pada FY2023, sebelum
kembali menurun menjadi 5,24% pada FY2024. Operating Profit Ratio menunjukkan peningkatan dari
74,14% pada FY2020 menjadi 130,48% pada FY2021, kemudian menurun ke 106,72% pada FY2022, naik
kembali menjadi 183,13% pada FY2023, sebelum akhirnya turun menjadi 112,10% pada FY2024. Net
Profit Ratio mengikuti tren sama, meningkat dari 73,88% pada FY2020 menjadi 131,54% pada FY2021,
menurun menjadi 116,66% pada FY2022, lalu naik ke 186,39% pada FY2023, dan menurun menjadi
123,69% pada FY2024. ROA (Return on Asset) menunjukkan tren positif dari 5,82% pada FY2020 menjadi
11,94% pada FY2021, tetapi kemudian menurun menjadi 9,55% pada FY2022, naik menjadi 13,11% pada
FY2023, dan akhirnya menurun menjadi 9,36% pada FY2024. ROE (Return on Equity) juga menunjukkan
pola sama, meningkat dari 9,00% pada FY2020 menjadi 17,23% pada FY2021, menurun menjadi 13,99%
pada FY2022, naik ke 17,11% pada FY2023, dan akhirnya menurun ke 11,29% pada FY2024.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk II - 16
Page 48
BAB III
ASPEK PASAR
III.1 KONDISI MAKRO EKONOMI
III.1.1 Perkembangan Ekonomi Dunia
Divergensi pertumbuhan ekonomi dunia melebar dan ketidakpastian pasar keuangan global
berlanjut. Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih kuat dari prakiraan didukung oleh stimulus
fiskal yang meningkatkan permintaan domestik dan kenaikan investasi di bidang teknologi yang mendorong
peningkatan produktivitas. Sebaliknya, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang masih lemah dipengaruhi
oleh menurunnya keyakinan konsumen dan tertahannya produktivitas, sementara ekonomi India masih
tertahan akibat sektor manufaktur yang terbatas. Sejalan dengan itu, prospek pertumbuhan ekonomi dunia
2025 diprakirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya menjadi 3,2%. Di sisi lain, arah kebijakan
Pemerintah dan bank sentral AS berpengaruh pada ketidakpastian pasar keuangan global. Kuatnya
ekonomi AS serta dampak kebijakan tarif menahan proses disinflasi di AS dan berdampak pada
menguatnya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas. Kebijakan fiskal AS yang
lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi, baik pada tenor jangka pendek maupun jangka
panjang. Bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang meningkat, perkembangan tersebut
menyebabkan makin besarnya preferensi investor global untuk memindahkan portofolionya ke AS. Indeks
mata uang dolar AS naik tinggi makin menambah tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia. Berbagai
perkembangan global ini memerlukan penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan
global untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
III.1.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik dengan kecenderungan lebih rendah dari prakiraan
sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2024 sedikit di bawah prakiraan dipengaruhi oleh lebih
rendahnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi. Secara keseluruhan, pertumbuhan
ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7–5,5%. Pada 2025, pertumbuhan
ekonomi diperkirakan juga cenderung lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Ekspor diprakirakan lebih
rendah sehubungan dengan melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS.
Konsumsi rumah tangga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah sehubungan dengan
belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Pada saat yang sama, dorongan
investasi swasta juga belum kuat karena masih lebih besarnya kapasitas produksi dalam memenuhi
permintaan, baik domestik maupun ekspor. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2025 mencapai kisaran 4,7–5,5%, sedikit lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8–
5,6%. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga
stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui
optimalisasi stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran yang
ditempuh Bank Indonesia dengan kebijakan stimulus fiskal Pemerintah. Lebih dari itu, Bank Indonesia
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 1
Page 49
mendukung penuh implementasi program-program Pemerintah dalam Asta Cita, termasuk untuk ketahanan
pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat sehingga mendukung ketahanan eksternal. Surplus
neraca perdagangan berlanjut pada Desember 2024 yang tercatat 2,2 miliar dolar AS dipengaruhi oleh
kinerja ekspor komoditas utama Indonesia yang kuat, seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak
hewan nabati, serta besi dan baja. Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan 2024 tetap sehat dan
diprakirakan dalam kisaran defisit rendah 0,1% sampai dengan 0,9% dari PDB. Sementara itu, tingginya
ketidakpastian pasar keuangan global menurunkan aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan
domestik dengan SBN dan SRBI masing-masing hanya mencatat inflows 19 juta dolar AS dan 288 juta dolar
AS pada awal tahun 2025 (hingga 13 Januari 2025). Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir
Desember 2024 tercatat tinggi sebesar 155,7 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor
atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar
kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, NPI pada 2025 diprakirakan tetap sehat seiring
dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi berjalan yang terjaga
dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB. Surplus neraca transaksi modal dan finansial
didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek
perekonomian domestik yang lebih baik dan imbal hasil investasi yang menarik.
III.1.3 Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi, didukung oleh kebijakan stabilisasi
Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada Januari 2025 (hingga 14 Januari 2025) hanya
melemah sebesar 1,00% (ptp) dari level nilai tukar akhir 2024. Perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap
dolar AS juga relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India, peso
Filipina, dan baht Thailand yang masing-masing melemah sebesar 1,20%; 1,33%; dan 1,92%.
Grafik III.1 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 2
Page 50
Sebaliknya, nilai tukar Rupiah tercatat menguat terhadap mata uang kelompok negara maju di luar dolar
AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negara berkembang. Perkembangan tersebut sejalan dengan
kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut,
imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai
tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi
moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas
kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar
Rupiah.
III.1.4 Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2024 terjaga dalam kisaran sasarannya 2,5±1%, sejalan inflasi IHK
Desember 2024 yang tercatat 1,57% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali
pada level 2,26% (yoy) sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-Rate) untuk
mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, kelompok volatile food (VF)
mencatat inflasi 0,12% (yoy) didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim
panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi TPIP/TPID melalui GNPIP. Secara spasial, inflasi IHK di
berbagai daerah juga terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Ke depan, Bank Indonesia meyakini
inflasi IHK tetap terkendali dalam sasarannya. Inflasi inti diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang
terjangkar dalam sasaran, kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan
domestik, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank
Indonesia, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi.
Grafik III.2 Pergerakan Inflasi
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 3
Page 51
Inflasi VF diprakirakan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah
Pusat dan Daerah. Bank Indonesia terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter guna
menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%, dengan tetap mendukung upaya
turut mendorong pertumbuhan ekonomi.
III.1.5 Perkembangan Moneter
Transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga berjalan baik dalam upaya turut mendukung
pertumbuhan ekonomi. Suku bunga pasar uang (IndONIA) bergerak di sekitar BI-Rate, yaitu 6,03% pada
14 Januari 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan tanggal 10 Januari 2025 tercatat menarik
untuk mendukung aliran masuk modal asing masing-masing pada level 7,06%; 7,10%; dan 7,23%. Imbal
hasil SBN tenor 2 tahun dan 10 tahun per 14 Januari 2025, masing-masing meningkat menjadi 6,98% dan
7,25% sehingga juga tetap menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik di tengah
berlanjutnya ketidakpastian global. Sementara itu, suku bunga perbankan tetap terjaga ditopang likuiditas
perbankan yang memadai serta efisiensi perbankan dalam pembentukan harga yang makin baik dengan
transparansi SBDK. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Desember 2024 tercatat
masing-masing sebesar 4,87% dan 9,20%, relatif stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya.
Grafik III.3 Suku Bunga Kebijakan BI dan IndONIA
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 4
Page 52
Grafik III.4 Suku Bunga Perbankan
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Peran kredit/pembiayaan pada 2024 tetap kuat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
kredit pada 2024 mencapai 10,39% (yoy), berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia 10–12%. Dari
sisi penawaran, pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh terjaganya minat penyaluran kredit perbankan,
berlanjutnya realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, tersedianya dukungan pendanaan dari
pertumbuhan DPK, serta positifnya dampak KLM Bank Indonesia. Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit
didukung oleh kinerja usaha korporasi yang terjaga, di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi,
masing-masing sebesar 8,35% (yoy), 13,62% (yoy), dan 10,61% (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh
sebesar 9,87% (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh 3,37% (yoy). Kedepan, pertumbuhan kredit
diprakirakan meningkat dalam kisaran sasaran 11–13% pada 2025 sejalan prospek pertumbuhan ekonomi
yang tetap baik dan dukungan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia. Berbagai kebijakan insentif dari
Pemerintah diprakirakan juga dapat mendorong permintaan kredit lebih lanjut.
Grafik III.5 Perkembangan Kredit dan DPK
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 5
Page 53
Ketahanan sistem keuangan terjaga baik. Likuiditas perbankan tetap memadai, tercermin dari rasio Alat
Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Desember 2024 yang tinggi sebesar 25,59%. Rasio
kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2024 tercatat tinggi sebesar
26,89%, tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Risiko kredit tetap
terkendali, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan pada November
2024 yang terjaga rendah, sebesar 2,19% (bruto) dan 0,75% (neto). Hasil stress-test Bank Indonesia
menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, serta ditopang oleh
kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat
sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas
sistem keuangan.
Grafik III.6 Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Grafik III.7 Rasio Kredit Bermasalah (NPL)
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 6
Page 54
III.2 GAMBARAN INDUSTRI KELAPA SAWIT DI INDONESIA
Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal
ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar
12,53% pada tahun 2023 atau merupakan urutan ketiga setelah sektor Industri Pengolahan sebesar 18,67%
dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,94%. Salah satu
subsektor yang cukup besar potensinya adalah subsektor perkebunan. Kontribusi subsektor perkebunan
tahun 2023 yaitu sebesar 3,88% terhadap total PDB dan 30,97% terhadap sektor Pertanian, Kehutanan,
dan Perikanan atau merupakan urutan pertama pada sektor tersebut. Kelapa sawit merupakan salah satu
komoditas hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di
Indonesia karena kemampuannya menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor
industri. Sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia mempunyai potensi yang
besar untuk memasarkan minyak sawit dan inti sawit baik di dalam maupun luar negeri. Pasar potensial
yang akan menyerap pemasaran minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) adalah industri
fraksinasi/ranifasi (terutama industri minyak goreng), lemak khusus (cocoa butter substitute),
margarine/shortening, oleochemical, dan lain-lain.
Luas Areal Kelapa Sawit
Luas perkebunan kelapa sawit berdasarkan land used dan produksi CPO pada tahun 2018 meningkat
signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan cakupan
administratur perusahaan kelapa sawit, sehingga luas areal perkebunan kelapa sawit menjadi 14,33 juta
hektar. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai dengan 2023, luas areal perkebunan kelapa sawit
berdasarkan land used terus mengalami peningkatan yang hampir stagnan. Pada tahun 2023 diperkirakan
luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 15,93 juta hektar.
Areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 26 provinsi yaitu seluruh provinsi di Pulau Sumatera dan
Kalimantan, Provinsi Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Pada tahun 2023, Provinsi Riau
masih menjadi provinsi penghasil kelapa sawit terbesar dengan luas sebesar 3,40 juta hektar atau 21,36
persen dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dari luas areal tersebut, Provinsi Riau
menghasilkan 9,22 juta ton CPO.
Luas areal perkebunan kelapa sawit menurut status pengusahaan pada tahun 2023 tidak menunjukkan
perubahan berarti. Seperti tahun sebelumnya, penguasaan luas areal perkebunan kelapa sawit masih
didominasi oleh perkebunan besar swasta. Sebesar 8,61 juta hektar atau 54,08 persen perkebunan kelapa
sawit dikuasai oleh perkebunan swasta; diikuti perkebunan rakyat yang menguasai 6,74 juta hektar atau
42,29 persen perkebunan kelapa sawit; serta sisanya 0,58 juta hektar atau 3,63 persen dikuasai oleh
perkebunan besar negara.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 7
Page 55
Grafik III.8 Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023
Sumber: BPS
Tabel III.1 Luas Areal Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (hektar) 2019–2023
Status Pengusahaan
Tahun Perkebunan Perkebunan Perkebunan
Total Luas
Besar Negara Besar Sw asta Raky at
2019 617.501 7.942.336 5.896.775 14.456.612
2020 565.241 7.977.298 6.044.058 14.586.597
2021 550.333 8.041.608 6.029.752 14.621.693
2022 548.311 8.576.838 6.213.407 15.338.556
2023 577.937 8.614.259 6.736.516 15.928.712
Sumber: BPS
Produksi Minyak Sawit
Pada tahun 2022 terjadi peningkatan sebesar 3,76 persen dibanding tahun 2021 menjadi 46,82 juta ton.
Pada tahun 2023, produksi CPO kembali mengalami peningkatan menjadi 47,08 juta ton. Produksi minyak
sawit (CPO) terbesar tahun 2023 berasal dari Provinsi Riau dengan produksi sebesar 9,22 juta ton atau
sekitar 19,59 persen dari total produksi Indonesia. Produksi terbesar selanjutnya berasal dari Provinsi
Kalimantan Tengah dengan produksi sebesar 8,47 juta ton atau 17,98 persen.
Berdasarkan status pengusahaannya, pada tahun 2022 sebesar 60,26 persen dari produksi minyak sawit
(CPO) atau 28,21 juta ton minyak sawit (CPO) berasal dari perkebunan besar swasta, sebesar 34,84 persen
atau 16,31 juta ton dari Perkebunan rakyat dan sisanya 4,90 persen atau 2,30 juta ton berasal dari
perkebunan besar negara. Meskipun total produksi pada tahun 2023 mengalami peningkatan, struktur
produksi menurut status pengusahaan tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni didominasi
oleh produksi perkebunan swasta dengan perkiraan sebesar 28,66 juta ton CPO (60,88 persen); diikuti
perkebunan rakyat dengan total produksi 16,22 juta ton (34,46 persen); serta sisanya sebesar 2,20 juta ton
(4,67 persen) diproduksi oleh perkebunan besar negara.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 8
Page 56
Grafik II.9 Produksi Minyak Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023
Sumber: BPS
Tabel III.2 Produksi Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (ton), 2019–2023
Status Pengusahaan
Produksi Miny ak Produksi Inti Saw it
Tahun Perkebunan Perkebunan Perkebunan
Saw it (CPO) (PKO)
Besar Negara Besar Sw asta Raky at
2019 2.134.367 30.060.003 14.925.877 47.120.247 9.424.049
2020 2.310.612 27.935.806 15.495.427 45.741.845 9.148.369
2021 2.256.134 27.361.506 15.503.840 45.121.480 9.024.296
2022 2.295.975 28.213.089 16.310.607 46.819.672 9.363.934
2023 2.197.217 28.663.639 16.223.443 47.084.299 9.416.860
Sumber: BPS
Grafik III.10 Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, 2019-2023
Sumber: BPS
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 9
Page 57
Ekspor dan Impor Minyak Sawit
Ekspor dan impor minyak sawit dirinci berdasarkan kelompok kode Harmonized System (HS) yaitu Crude
Palm Oil (Kode HS 15111000), Other Palm Oil (Kode HS 15119000), Crude Oil of Palm Kernel (Kode H
15132110), dan Other Palm Oil Kernel (Kode HS 15132900). Berdasarkan kelompok HS minyak sawit, pada
tahun 2023 ekspor terbesar adalah Other Palm Oil (HS 15119000) sebesar 81,83 persen terhadap total
ekspor minyak sawit Indonesia. Selanjutnya, kontribusi ekspor minyak sawit terbesar adalah Crude Palm
Oil (HS 15111000), Other Palm Oil Kernel (HS 15132900), dan Crude Oil of Palm Kernel (H 15132110)
dengan kontribusi masing-masing sebesar 13,06 persen, 4,97 persen, dan 0,14 persen terhadap total
ekspor.
Grafik III.11 Volume Ekspor Minyak Sawit Menurut Jenisnya, 2023
Sumber: BPS
Dari sisi volume, ekspor minyak sawit selama tahun 2019 sampai tahun 2022 cenderung mengalami
penurunan. Namun, pada tahun 2023 volume ekspor minyak sawit mengalami peningkatan. Penurunan
ekspor minyak sawit terbesar terjadi pada tahun 2020 dengan volume ekspor sebesar 27,63 juta ton atau
menurun 8,55 persen dibanding tahun 2019. Meskipun volume ekspor cenderung menurun, penurunan
tersebut tidak sejalan dengan nilai ekspor minyak sawit yang cenderung meningkat. Berdasarkan publikasi
World Bank Commodities Price Data (The Pink Sheet), pada tahun 2017 terjadi peningkatan rata-rata harga
minyak sawit di pasar dunia sebesar 751 US$/mt, sehingga menyebabkan peningkatan nilai ekspor hingga
27,32 persen dibanding tahun 2016. Peningkatan harga tersebut tidak berlangsung lama sebab pada tahun
2018 dan 2019, harga minyak sawit Kembali mengalami penurunan menjadi 639 US$/mt pada 2018 dan
601 US$/mt pada 2019. Pada tahun 2020, harga minyak sawit di pasar dunia kembali melambung menjadi
752 US$/mt. Kenaikan harga tersebut menyebabkan peningkatan nilai ekspor sebesar 16,94 persen
dibanding 2019, meskipun dari sisi volume ekspor minyak sawit mengalami penurunan sebesar 8,55
persen. Selanjutnya pada tahun 2021–2022, harga minyak sawit kembali naik, sehingga menyebabkan
peningkatan nilai ekspor secara signifikan menjadi 29,75 miliar US$ pada tahun 2022. Tahun 2023,
meskipun volume mengalami peningkatan dibanding tahun 2022, tetapi nilai ekspor justru mengalami
penurunan sebesar 19,29 persen yaitu sebesar 24,01 miliar US$.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 10
Page 58
Grafik III.12 Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit, 2019–2023
Sumber: BPS
Produksi minyak sawit Indonesia sebagian besar diekspor ke mancanegara dan sisanya dipasarkan di
dalam negeri. Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia menjangkau lima benua yaitu Asia, Afrika, Australia,
Amerika, dan Eropa dengan pangsa utama di Asia. Pada tahun 2023, lima besar negara pengimpor CPO
Indonesia adalah India, Italia, Malaysia, Belanda, dan Kenya. Total ekspor CPO ke lima negara tersebut
mencapai 97,64 persen terhadap total ekspor CPO Indonesia. Negara tujuan ekspor CPO terbesar yaitu
India dengan volume ekspor 3,12 juta ton atau 86,71 persen dari total volume ekspor CPO Indonesia
dengan nilai US$ 2,63 miliar. Selanjutnya CPO paling banyak diekspor menuju Italia dan Malaysia dengan
kontribusi ekspor sebesar 4,02 persen dan 3,00 persen dari total ekspor CPO.
Grafik III.13 Volume Ekspor CPO menurut Negara Tujuan, 2023
Sumber: BPS
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 11
Page 59
Volume impor minyak sawit selama periode tahun 2019 sampai 2023 cenderung cukup fluktuatif. Total
volume impor minyak kelapa sawit pada tahun 2019 tercatat sebesar 93,56 ribu ton dengan nilai sebesar
US$ 45,68 juta. Pada tahun 2020 volume impor minyak sawit mengalami penurunan cukup signifikan
menjadi 1,62 ribu ton. Pada tahun 2021, volume impor kembali turun menjadi 0,36 ribu ton dengan nilai
sebesar US$ 0,70 juta. Selanjutnya, pada tahun 2022 volume impor meningkat menjadi 0,51 ribu ton dengan
nilai sebesar US$ 1,73 juta. Tahun 2023, volume impor juga meningkat menjadi 0,76 ribu ton dengan nilai
sebesar US$1,28 juta. Jika pada tahun 2019, impor minyak sawit didominasi oleh Other Palm Oil
(HS15119000) yang mencapai 94% dari total impor minyak sawit, maka pada tahun 2020 impor didominasi
oleh Other Palm Oil Kernel (HS 15132900) yang volumenya tidak jauh berbeda dengan Other Palm Oil
(HS15119000), masing- masing sebesar 0,664 ribu ton dan 0,657 ribu ton. Selanjutnya, pada tahun 2021-
2023, impor minyak sawit kembali didominasi oleh Other Palm Oil (HS15119000) dengan volume impor
tahun 2023 sebesar 0,756 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 1,274 juta.
Grafik III.14 Volume dan Nilai Impor Minyak Sawit, 2019–2023
Sumber: BPS
Tabel III.3 Ekspor dan Impor Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit, 2019– 2023
Ekspor Impor
Minyak Saw it (CPO) dan CPO Inti Saw it (PKO) dan PKO Minyak Saw it (CPO) dan Inti Saw it (PKO) dan PKO
Lainny a Lainny a CPO Lainnya Lainny a
Tahun
Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai
(ton) (000 US$) (ton) (000 US$) (ton) (000 US$) (ton) (000 US$)
2019 28.279.350 14.716.275 1.937.238 1.268.634 93.285 45.530 273 147
2020 25.935.257 17.363.921 1.698.177 1.328.356 957 939 664 676
2021 25.624.258 26.755.136 1.418.411 1.926.157 363 694 0 1
2022 24.989.929 27.738.517 1.337.464 2.007.582 382 1.401 126 327
2023 26.129.721 22.685.184 1.408.126 1.323.197 757 1.274 7 9
Sumber: BPS
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 12
Page 60
Konsumsi dan Harga Minyak Sawit
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Badan Pengelolaan Dana
Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), konsumsi CPO dalam negeri telah mengalami peningkatan yang
signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, konsumsi CPO untuk biodiesel mencapai 7,3
juta ton dan meningkat menjadi 9,05 juta ton pada tahun 2022. Pada tahun 2023, konsumsi ini diperkirakan
melampaui 10 juta ton, dengan proyeksi mencapai 12 juta ton pada tahun 2024. Selain itu, konsumsi CPO
untuk kebutuhan lokal juga menunjukkan tren yang meningkat, dengan 21,24 juta ton pada tahun 2022 dan
naik sekitar 8,90% menjadi 23,13 juta ton pada tahun 2023. Implementasi kebijakan biodiesel (B35) turut
mendorong peningkatan konsumsi biodiesel dari 9,048 juta ton pada tahun 2022 menjadi 10,65 juta ton
pada tahun 2023.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim), sejak Januari 2021 sampai
dengan Oktober 2024 harga CPO dan PKO mengalami tren fluktuatif. Harga CPO meningkat dari
RP10.837,79 pada tahun 2021 menjadi Rp12.143,52 pada tahun 2022, namun sedikit menurun menjadi
Rp10.978,32 pada tahun 2023 sebelum akhirnya naik lagi menjadi Rp12.215,41 pada periode Januari-
Oktober 2024. Sementara itu, harga PKO juga mengalami peningkatan dari Rp6.618,53 pada tahun 2021
menjadi Rp7.818,95 pada tahun 2022. Namun, pada tahun 2023, harga PKO menurun signifikan menjadi
Rp4.987,46 sebelum naik kembali menjadi Rp6.893,75 pada periode Januari-Oktober 2024.
Grafik III.15 Rata-rata Harga CPO dan PKO Kalimantan Timur, 2021 - Oktober 2024
Rata-rata Harga CPO dan PKO
14.000,00
12.000,00
10.000,00
8.000,00
Rupiah
6.000,00
4.000,00
2.000,00
-
2021 2022 2023 Jan-Okt 2024
CPO PKO
Sumber: Disbun Kaltim (data diolah)
Tantangan Keberlanjutan dalam Industri Kelapa Sawit
Peningkatan efisiensi produksi kelapa sawit di Indonesia telah menjadi fokus utama dalam beberapa tahun
terakhir. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan ini meliputi penerapan teknologi canggih
dalam budidaya dan pemurnian kelapa sawit, yang membantu meningkatkan produktivitas dan mengurangi
pemborosan. Penggunaan bibit unggul yang lebih produktif dan tahan terhadap hama serta penyakit juga
berkontribusi pada peningkatan efisiensi. Selain itu, program pelatihan dan edukasi bagi petani mengenai
teknik budidaya yang lebih efisien dan pengelolaan lahan yang baik membantu meningkatkan hasil
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 13
Page 61
produksi. Penerapan praktik pengelolaan lahan yang lebih baik, seperti rotasi tanaman dan penggunaan
pupuk organik, juga berkontribusi pada peningkatan efisiensi produksi. Data dari penelitian menunjukkan
bahwa efisiensi pabrik kelapa sawit di Indonesia telah meningkat, terutama di perusahaan yang
menggunakan teknologi dan praktik pengelolaan yang lebih baik. Misalnya, beberapa pabrik kelapa sawit
telah mencapai efisiensi yang lebih tinggi dengan mengadopsi teknik baru dan meningkatkan kualitas
manajemen.
Kemitraan dengan petani lokal menjadi fokus utama dalam strategi pengembangan industri kelapa sawit.
Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjamin pasokan bahan baku
yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi. Dengan adanya kemitraan ini, petani lokal dapat memperoleh
pendapatan yang lebih stabil, akses ke teknologi pertanian modern, dan pelatihan untuk meningkatkan
produktivitas serta kualitas hasil panen mereka. Selain itu, perusahaan juga diuntungkan dengan pasokan
bahan baku yang konsisten dan berkualitas tinggi. Hal ini memastikan proses produksi berjalan lancar dan
hasil produk akhir dapat memenuhi standar pasar global. Kemitraan ini juga menunjukkan komitmen
perusahaan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, di mana keseimbangan antara keuntungan
ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan selalu dijaga. Perusahaan dapat menciptakan
dampak positif yang meluas ke seluruh komunitas pertanian. Petani menjadi lebih mandiri dan sejahtera,
sementara perusahaan memperoleh reputasi yang baik sebagai pelaku industri yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kolaborasi ini memperkuat ekosistem industri kelapa sawit secara keseluruhan dan
memastikan keberlanjutan jangka panjang bagi semua pihak yang terlibat.
Industri kelapa sawit Indonesia juga menghadapi tantangan dalam aspek keberlanjutan. Isu deforestasi dan
kerusakan habitat menjadi perhatian utama bagi berbagai pemangku kepentingan. Perusahaan kelapa
sawit dituntut untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, termasuk penerapan kebijakan
no-deforestation, no-peat, no-exploitation (NDPE). Peningkatan transparansi dan sertifikasi keberlanjutan
seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan
ini.
III.3 INFORMASI NON KEUANGAN SGRO
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) saat ini adalah perusahaan yang berfokus pada sektor perkebunan,
perindustrian, dan perdagangan dengan komitmen kuat terhadap pengelolaan sumber daya alam secara
optimal. Bidang usaha utama Perseroan meliputi pengembangan dan pengelolaan perkebunan kelapa
sawit, serta produksi minyak mentah nabati seperti minyak sawit (CPO) dan inti sawit (PK) beserta produk
turunannya. Selain itu, hasil produksi ini dipasarkan melalui aktivitas perdagangan yang terus
dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar dan mendukung pertumbuhan bisnis yang
berkelanjutan. SGRO memiliki pasar geografis di seluruh wilayah di Indonesia pada umumnya dan sejumlah
negara di kawasan Asia.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 14
Page 62
Sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan optimalisasi sumber daya, SGRO juga menjalankan usaha
penunjang dengan memanfaatkan limbah hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan produk turunannya.
Pemanfaatan limbah ini tidak hanya mendukung pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, tetapi
juga menghasilkan inovasi di bidang sumber energi terbarukan. Proses pengolahan limbah dan
pengembangan produk hasil olahan ini dilakukan dengan standar teknologi modern, sehingga memperkuat
peran Perseroan dalam mendukung kebijakan energi hijau sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri
kelapa sawit.
III.3.1. Strategi Pemasaran Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
Saat ini, bidang usaha SGRO mencakup berbagai aktivitas yang berfokus pada sektor kelapa sawit, seperti
Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil
(CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) (KBLI
10432), dan Perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan analisis dan
pandangan dari manajemen, SGRO menyadari bahwa untuk menciptakan efisiensi dan fokus dalam
pengelolaan, kegiatan operasional perkebunan dan pabrik kelapa sawit sebaiknya dikelola oleh entitas anak
tersendiri. Dengan langkah ini, diharapkan entitas anak tersebut dapat lebih optimal dalam menjalankan
operasionalnya dan memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi grup perusahaan secara
keseluruhan.
Sejalan dengan strategi tersebut, SGRO berencana untuk mengubah kegiatan usahanya menjadi aktivitas
perusahaan holding (KBLI 64200). Sebagai perusahaan holding, SGRO akan bertindak sebagai pengelola
utama aset-aset grup yang terdiri dari perusahaan subsidiari dan memiliki kegiatan utama berupa
kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagaimana karakteristik umum perusahaan
holding, SGRO tidak akan terlibat langsung dalam kegiatan operasional sehari-hari dari anak
perusahaannya. Sebaliknya, perusahaan induk akan fokus pada pemberian layanan strategis yang meliputi
konsultasi manajemen, pengelolaan aset, dan dukungan dalam proses merger serta akuisisi perusahaan.
Hal ini mencakup peran sebagai penasihat (counsellors) untuk membantu perumusan strategi bisnis dan
perunding (negotiators) dalam mengelola berbagai perjanjian penting. SGRO akan menerima imbal hasil
dalam bentuk management fee yang diperoleh dari perusahaan subsidiari yang berada di bawah
naungannya. Management fee ini pada fase awalnya akan dibebankan kepada entitas anak yang sudah
beroperasi dan menghasilkan laba, sebagai kompensasi atas layanan strategis yang diberikan.
Dalam perannya sebagai perusahaan holding, SGRO akan memusatkan perhatian pada pengelolaan dan
pengendalian anak perusahaan melalui kepemilikan saham. SGRO tidak akan berinteraksi langsung
dengan pelanggan maupun pemasok, melainkan menjadikan anak perusahaan di bawah naungannya
sebagai "pelanggan" utama. Layanan yang diberikan oleh SGRO kepada anak perusahaan mencakup
berbagai aspek strategis, seperti manajemen aset, perencanaan dan eksekusi strategi bisnis, pengawasan
operasional, serta memastikan bahwa setiap entitas anak bergerak sejalan dengan visi dan misi grup secara
keseluruhan. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan struktur yang lebih efisien dan mendukung
pertumbuhan berkelanjutan bagi SGRO dan seluruh anak perusahaannya.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 15
Page 63
III.3.2 Keunggulan Kompetitif
Berdasarkan dengan informasi yang diterima dari manajemen SGRO, keunggulan kompetitif yang dimiliki
SGRO setelah berubah menjadi perusahaan holding terletak pada berbagai aspek yang meningkatkan
efisiensi, fleksibilitas, dan peluang pertumbuhan strategis. Dengan mengalihkan pengelolaan operasional
perkebunan dan pabrik kelapa sawit kepada entitas anak, SGRO memastikan setiap anak perusahaan lebih
fokus pada aktivitas inti mereka, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan hasil produksi. Sebagai
perusahaan holding, SGRO dapat mengelola aset, strategi bisnis, dan pengawasan secara terpusat,
sehingga menjaga keselarasan visi dan misi di seluruh grup perusahaan. Selain itu, model bisnis holding
membuka peluang diversifikasi portofolio bisnis, memungkinkan SGRO masuk ke sektor lain yang lebih
menjanjikan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor, seperti kelapa sawit. Struktur ini juga
menciptakan peluang sinergi antar anak perusahaan, di mana mereka dapat saling mendukung untuk
menciptakan nilai tambah bagi grup secara keseluruhan. Keunggulan lainnya adalah efisiensi dalam
investasi dan pengelolaan sumber daya, di mana SGRO dapat mengalokasikan dana dan aset berdasarkan
prioritas strategis. Selain itu, peran SGRO sebagai penasihat dan perunding dalam proses merger dan
akuisisi memberikan keunggulan kompetitif dalam memperluas jangkauan bisnis. Dengan pola bisnis ini,
SGRO memiliki kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih strategis, membuka peluang
baru, dan tetap kompetitif di pasar yang dinamis.
III.4 KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN PASAR
Dengan memperhatikan perkembangan usaha, potensi pasar, kondisi industri dan kondisi perekonomian
Indonesia yang sedang tumbuh, maka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pasar layak untuk
dilaksanakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk III - 16
Page 64
BAB IV
ASPEK TEKNIS
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) merupakan perseroan terbatas berstatus perusahaan terbuka yang didirikan
di Indonesia. SGRO bergerak di bidang usaha bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. SGRO
didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna
Agro Tbk pada tahun 2007. Perseroan beroperasi secara komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor
pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor 788, Palembang, Sumatera Selatan. Kantor perwakilan
korporasi SGRO terletak Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 45,
Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
IV.1 RENCANA PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
Saat ini bidang usaha Perseroan adalah Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak
mentah kelapa sawit (CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) (KBLI10432),
dan perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan informasi dari
manajemen, SGRO melihat perkebunan dan pabrik kelapa sawit perlu dikelola oleh entitas anak tersendiri
sehingga diharapkan dapat lebih fokus dan dapat memberikan kontribusi positif.
Perseroan akan merubah kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) yaitu
perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah
kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies" tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan
subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (counsellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Adapun pengalihan unit bisnis Kebun kelapa sawit, PKS dan perdagangan minyak sawit akan dialihkan dan
dikelola oleh entitas anak tidak langsung SGRO yaitu PT Gading Jaya Agro dan PT Palma Timur Sejahtera
yang dimana kedua Perusahaan tersebut kepemilikan sahamnya sama-sama dimiliki oleh entitas anak
langsung SGRO yaitu PT Usaha Agro Indonesia dan PT Sungai Menang. PT Gading Jaya Agro dan PT
Palma Timur Sejahtera memiliki maksud dan tujuan dalam Anggaran Dasar antara lain menjalankan usaha
di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari kegiatan pengolahan
lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan buah kelapa sawit. Termasuk
kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit (KBLI 01262), menjalankan usaha di
bidang industri minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil) yang mencakup usaha pengolahan kelapa
sawit menjadi minyak (KBLI 10431), menjalankan usaha di bidang industri Minyak mentah inti kelapa sawit
(Crude Palm Kernel Oil) yang mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti
(Crude Palm Kernel Oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut (KBLI 10432), Menjalankan usaha di
bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup usaha perdagangan besar
hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa dan kelapa sawit (KBLI 46202).
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV - 1
Page 65
IV.2 PRODUK ATAU JASA YANG AKAN DIJUAL
SGRO melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas
Perusahaan Holding sehingga SGRO tidak menghasilkan produk yang perlu dipasarkan. Sebagai
Perusahaan Holding, SGRO akan lebih berfokus dalam memberikan pengawasan dan pengelolaan kepada
entitas anak dalam bentuk konsultasi manajemen dan investasi atau sebagai penasihat (counsellors) dan
perunding (negotiators) dalam merancang strategi dan prospek bisnis entitas anak. Jasa yang disediakan
antara lain:
1. Corporate Affairs & Legal Services (Jasa Urusan Korporasi & Hukum)
2. Engineering Services (Jasa Teknik)
3. Treasury Services (Jasa Perbendaharaan)
4. Tax & Compliance Services (Jasa Pajak & Kepatuhan)
5. ICT Services (Jasa Teknologi Informasi & Komunikasi)
6. Procurement Services (Jasa Pengadaan)
7. Accounting Services (Jasa Akuntansi)
8. Human Resource Services (Jasa Sumber Daya Manusia)
9. Internal Audit Services (Jasa Audit Internal)
10. Research & Development Services (Jasa Penelitian & Pengembangan)
11. Financial System Services (Jasa Sistem Keuangan)
IV.3 PELANGGAN DAN PEMASOK
Sebagai perusahaan holding atau induk, fokus utama kegiatan usaha SGRO adalah mengelola dan
mengontrol anak perusahaan melalui kepemilikan saham, tidak langsung berinteraksi dengan pelanggan
atau pemasok. Pelanggan utama perusahaan holding dalam hal ini SGRO adalah anak perusahaan yang
berada di bawah kendalinya. Perusahaan induk memberikan layanan seperti manajemen aset, strategi
bisnis, dan pengawasan operasional kepada anak perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Investasi SGRO pada
entitas anak adalah sebagai berikut:
Tabel IV.1 Entitas Anak SGRO
Total Aset
Persentase
Nama Domisili Bidang Usaha (Juta
Kepemilikan
Rupiah)
Entitas Anak Langsung
PT Telaga Hikmah Palembang Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,45% 1.020.769
PT Aek Tarum Palembang Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,00% 663.149
PT Gunung Tua Abadi Palembang Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,86% 429.361
PT Mutiara Bunda Jaya Palembang Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,38% 609.087
Perkebunan dan produksi benih kelapa
PT Binasawit Makmur Palembang 99,00% 170.036
sawit
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV - 2
Page 66
Total Aset
Persentase
Nama Domisili Bidang Usaha (Juta
Kepemilikan
Rupiah)
PT Sawit Selatan Palembang Perkebunan kelapa sawit 99,98% 336.929
PT Sungai Menang Palembang Konsultasi manajemen 99,99% 3.184.104
PT Tania Binatama* Jakarta Perkebunan kelapa sawit - -
PT Selatanjaya Permai Palembang Perkebunan kelapa sawit 99,99% 685.471
PT Usaha Agro Indonesia Jakarta Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,99% 1.831.875
Pangkalan
PT Sungai Rangit Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit 99,99% 1.464.195
Bun
PT Sampoerna Bio Fuels Jakarta Konsultasi manajemen 99,99% 1.476.522
PT Nusantara Sago Prima* Jakarta Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu - -
Sampoerna Palma Pte. Ltd., Singapura Perdagangan umum 100,00% 2.557
Entitas Anak Tidak Langsung
PT Lanang Agro Bersatu1 Jakarta Perkebunan dan pabrik kelapa sawit 100,00% 797.037
PT National Sago Prima2 Jakarta Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu 100,00% 528.491
PT Pertiwi Agro Sejahtera3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 204.874
PT Pangan Agro Nusantara* Jakarta Perkebunan - -
PT Palma Timur Sejahtera1 Jakarta Perkebunan 100,00% 97
PT Gading Jaya Agro1)
Jakarta Perkebunan 100,00% 9
(d.h PT Industri Hutan Lestari)
PT Industri Hutan Unggul* Jakarta Perkebunan - -
PT Usaha Agro Jaya * Jakarta Perkebunan - -
PT Tebar Tandan Tenerah3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 285.919
PT Hutan Ketapang Industri4 Jakarta Kehutanan 80,00% 3.070.364
PT Kusuma Mentari Makmur3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 98.914
PT Nusantara Sarana Alam3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 258.173
PT Agro Planindo Utama3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 84.026
PT Kedurang Prakarsa Nabati3 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 16.117
PT Anugerah Palm Indonesia1 Jakarta Perkebunan kelapa sawit 100,00% 110.469
PT Sugih Amerta Berlabuh1 Jakarta Jasa 100,00% 2.028
*) Telah dilikuidasi
1) Dimiliki oleh PT Usaha Agro Indonesia dan PT Sungai Menang
2) Dimiliki oleh PT Sampoerna Bio Fuels dan PT Sungai Menang
3) Dimiliki oleh PT Sungai Menang, PT Sungai Rangit dan PT Usaha Agro Indonesia
4) Dimiliki 80,00% oleh PT Sungai Menang
IV.4 ANALISIS KAPASITAS
Terkait kapasitas, manajemen memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengelola aktivitas Perusahaan
holding. Kapasitas manajemen perusahaan holding meliputi beberapa aspek berikut:
1. Kemampuan Strategis, yaitu manajemen bertanggung jawab untuk menyusun visi, misi, dan strategi
perusahaan induk serta memastikan bahwa anak perusahaan sejajar dengan tujuan strategis tersebut.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV - 3
Page 67
2. Pengawasan Keuangan, yaitu Perusahaan memiliki tim yang ahli dalam mengelola keuangan,
perencanaan anggaran, alokasi modal, dan pengawasan kinerja keuangan anak perusahaan.
3. Manajemen Risiko, yaitu kapasitas untuk mengenali, menilai, dan mengelola risiko yang menjadi
kemampuan krusial manajemen dalam perusahaan holding untuk melindungi kepentingan seluruh
grup.
4. Kemampuan Kepemimpinan, yaitu manajemen perusahaan holding mampu membangun hubungan
yang baik dengan pemimpin anak perusahaan, memotivasi mereka, dan memastikan keberhasilan
kolaborasi antarunit bisnis.
5. Pendekatan Operasional, yaitu meskipun tidak selalu terlibat dalam operasi sehari-hari, perusahaan
holding memiliki kapasitas untuk memberikan arahan dan dukungan kepada anak perusahaan dalam
bidang seperti teknologi, sumber daya manusia, atau pengembangan produk.
IV.5 ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA, TERMASUK PEKERJA, DAN AHLI
Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap
mempertahankan management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan
pengalaman dan keahlian dari management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha
Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha
perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode
KBLI 64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia
(SDM) yang ada saat ini.
Saat ini SGRO telah memiliki sumber daya manusia dan tenaga ahli yang cukup kompeten untuk
mendukung kegiatan usaha yang baru. Tenaga ahli tersebut meliputi:
1 Orang Direktur Utama
1 Orang Direktur Sustainability, Research and Development
1 Orang Direktur Commercial
1 Orang Direktur Human Resources
1 Orang Direktur Palm Oil Operations
1 Orang Direktur Finance
1 Orang Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma
1 Orang head yang membawahi Divisi Agronomy & Continuous Improvements
1 Orang head yang membawahi Divisi Engineering & Operation
1 Orang head yang membawahi Divisi Internal Audit
1 Orang head yang membawahi Divisi Sustainability & Operations Sago
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka kedepannya SGRO juga dapat
menambah tenaga ahli apabila diperlukan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV - 4
Page 68
IV.6 ANALISIS PROSES PRODUKSI JASA
Dalam kapasitasnya sebagai penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators), SGRO sebagai
perusahaan holding menjalankan proses yang sistematis untuk memberikan dukungan manajerial dan
investasi kepada entitas anak. Berikut adalah analisis prosesnya:
1. Identifikasi Kebutuhan
Perusahaan holding melakukan analisis terhadap kondisi bisnis dan operasional entitas anak untuk
memahami kebutuhan spesifik mereka. Aspek yang dianalisis meliputi kinerja keuangan, pasar yang
sedang dihadapi, potensi risiko, dan peluang pertumbuhan.
2. Perancangan Strategi
Berdasarkan hasil identifikasi, perusahaan holding merancang strategi bisnis yang disesuaikan
dengan kebutuhan entitas anak. Strategi ini mencakup pengembangan produk atau jasa, ekspansi
pasar, diversifikasi bisnis, hingga efisiensi operasional.
3. Konsultasi Manajemen
Perusahaan holding memberikan konsultasi kepada tim manajemen entitas anak terkait
implementasi strategi. Konsultasi ini dapat mencakup [engelolaan sumber daya manusia,
optimalisasi proses kerja, serta perencanaan keuangan dan pengembangan teknologi.
4. Investasi
Perusahaan holding dapat menawarkan dukungan investasi untuk merealisasikan strategi bisnis.
Investasi ini dapat berbentuk modal tambahan, alokasi sumber daya, atau fasilitas pinjaman.
Investasi dilakukan dengan mempertimbangkan potensi keuntungan jangka panjang dan
keselarasan dengan tujuan grup.
5. Negosiasi dan Kolaborasi
Sebagai perunding, perusahaan holding berperan dalam mediasi antar pihak atau mitra strategis
yang relevan dengan entitas anak, seperti pemasok, investor, atau regulator. Holding juga bertindak
sebagai fasilitator untuk memastikan kesepakatan yang mendukung perkembangan entitas anak.
6. Pengawasan Berkelanjutan
Setelah strategi diterapkan, perusahaan holding terus memantau dan mengevaluasi kinerja entitas
anak. Pemantauan dilakukan melalui laporan berkala dan pertemuan koordinasi untuk memastikan
bahwa tujuan bisnis dicapai secara efektif.
IV.7 KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN TEKNIS
Dengan memperhatikan perizinan yang telah dimiliki SGRO, fasilitas yang memadai, rincian produk atau
jasa yang akan dijual, serta beberapa pemasok dan pelanggan SGRO, maka rencana perubahan kegiatan
usaha dalam bidang perdagangan batu bara yang akan dilakukan oleh SGRO secara teknis layak untuk
dilaksanakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk IV - 5
Page 69
BAB V
ASPEK POLA BISNIS
V.1 KEGIATAN USAHA UTAMA
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) menjalankan usaha di bidang perkebunan, perindustrian, dan
perdagangan. Bidang usaha yang Perseroan jalankan adalah Usaha utama di bidang perkebunan kelapa
sawit dan industri minyak mentah (minyak makan) dari nabati, minyak sawit (CPO) dan inti sawit (PK) dan
produk turunannya, serta perdagangan hasil produksi usaha tersebut. Usaha penunjang untuk
mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain: pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa
sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber energi terbarukan menggunakan limbah hasil
pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.
Untuk memelihara pertumbuhan yang berkelanjutan, Perseroan menerapkan strategi diversifikasi yang
berlapis, dengan fokus pada sebaran area geografis dan portofolio produk, yang didukung oleh intensifikasi
untuk semakin meningkatkan kinerja. Sejak menjadi perusahaan publik tahun 2007, luas perkebunan inti
kelapa sawit Perseroan telah berkembang lebih dari dua kali lipat, atau sebesar 82.123 hektare (ha) pada
tahun 2023. Luas ini merupakan 45% dari total luas Perseroan untuk bisnis kelapa sawitnya, yakni 184.052
ha. Perkebunan kelapa sawit Perseroan tersebar di dua pulau di Indonesia, yakni Sumatera dan Kalimantan.
Sebagian besar upaya ekspansi lahan Perseroan dilakukan di Kalimantan. Per akhir 2023, luas lahan
tertanam inti dan plasma di Kalimantan Tengah dan Barat telah mencapai 50.027 ha, lebih dari tiga kali lipat
dari luasan di tahun 2007. Produk-produk kelapa sawit Perseroan dijual di pasar domestik dan diekspor ke
berbagai negara mengikuti harga pasar.
Per akhir 2023, Perseroan memiliki dan mengoperasikan sendiri 8 pabrik kelapa sawit (PKS), yakni 5 di
Sumatera dan 3 di Kalimantan. Seluruhnya memproses TBS yang diperoleh dari perkebunan sendiri (baik
inti maupun plasma) dan dari pihak ketiga. Sampoerna Agro menjalankan penelitian dan pengembangan
bibit unggul untuk inovasi yang revolusioner di masa depan. Perseroan mengelola fasilitas penelitian dan
pengembangan, serta kebun benih kelapa sawit unggulan di daerah Sumatera Selatan, yaitu Kebun Surya
Adi dan Kebun Mesuji, serta laboratorium analisis terintegrasi di Palembang.
Selain bisnis kelapa sawit, Perseroan juga mengelola industri sagu dengan lahan tertanam 12.781 ha per
akhir 2023 di Provinsi Riau, dari total lahan yang dimiliki seluas kurang lebih 21.000 ha. Perseroan
memproduksi tepung sagu berkualitas tinggi yang dijual ke pasar domestik dan internasional dengan merek
Prima Starch.
V.2. PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
Saat ini, bidang usaha SGRO mencakup berbagai aktivitas yang berfokus pada sektor kelapa sawit, seperti
Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil
(CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) (KBLI
10432), dan Perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan analisis dan
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V-1
Page 70
pandangan dari manajemen, SGRO menyadari bahwa untuk menciptakan efisiensi dan fokus dalam
pengelolaan, kegiatan operasional perkebunan dan pabrik kelapa sawit sebaiknya dikelola oleh entitas anak
tersendiri. Dengan langkah ini, diharapkan entitas anak tersebut dapat lebih optimal dalam menjalankan
operasionalnya dan memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi grup perusahaan secara
keseluruhan.
Sejalan dengan strategi tersebut, SGRO berencana untuk mengubah kegiatan usahanya menjadi aktivitas
perusahaan holding (KBLI 64200). Sebagai perusahaan holding, SGRO akan bertindak sebagai pengelola
utama aset-aset grup yang terdiri dari perusahaan subsidiari dan memiliki kegiatan utama berupa
kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagaimana karakteristik umum perusahaan
holding, SGRO tidak akan terlibat langsung dalam kegiatan operasional sehari-hari dari anak
perusahaannya. Sebaliknya, perusahaan induk akan fokus pada pemberian layanan strategis yang meliputi
konsultasi manajemen, pengelolaan aset, dan dukungan dalam proses merger serta akuisisi perusahaan.
Hal ini mencakup peran sebagai penasihat (counsellors) untuk membantu perumusan strategi bisnis dan
perunding (negotiators) dalam mengelola berbagai perjanjian penting. Jasa yang diberikan antara lain Jasa
Urusan Korporasi & Hukum; Jasa Teknik; Jasa Perbendaharaan; Jasa Pajak & Kepatuhan; Jasa Teknologi
Informasi & Komunikasi (TIK); Jasa Pengadaan; Jasa Akuntansi; Jasa Sumber Daya Manusia; Jasa Audit
Internal; Jasa Penelitian & Pengembangan; dan Jasa Sistem Keuangan
Dalam perannya sebagai perusahaan holding, SGRO akan memusatkan perhatian pada pengelolaan dan
pengendalian anak perusahaan melalui kepemilikan saham. SGRO tidak akan berinteraksi langsung
dengan pelanggan maupun pemasok, melainkan menjadikan anak perusahaan di bawah naungannya
sebagai "pelanggan" utama. Layanan yang diberikan oleh SGRO kepada anak perusahaan mencakup
berbagai aspek strategis, seperti manajemen aset, perencanaan dan eksekusi strategi bisnis, pengawasan
operasional, serta memastikan bahwa setiap entitas anak bergerak sejalan dengan visi dan misi grup secara
keseluruhan. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan struktur yang lebih efisien dan mendukung
pertumbuhan berkelanjutan bagi SGRO dan seluruh anak perusahaannya.
V.3. KEUNGGULAN KOMPETITIF POLA BISNIS
Berdasarkan dengan informasi yang diterima dari manajemen SGRO, keunggulan kompetitif yang dimiliki
SGRO setelah berubah menjadi perusahaan holding terletak pada berbagai aspek yang meningkatkan
efisiensi, fleksibilitas, dan peluang pertumbuhan strategis. Dengan mengalihkan pengelolaan operasional
perkebunan dan pabrik kelapa sawit kepada entitas anak, SGRO memastikan setiap anak perusahaan lebih
fokus pada aktivitas inti mereka, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan hasil produksi. Sebagai
perusahaan holding, SGRO dapat mengelola aset, strategi bisnis, dan pengawasan secara terpusat,
sehingga menjaga keselarasan visi dan misi di seluruh grup perusahaan. Selain itu, model bisnis holding
membuka peluang diversifikasi portofolio bisnis, memungkinkan SGRO masuk ke sektor lain yang lebih
menjanjikan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor, seperti kelapa sawit. Struktur ini juga
menciptakan peluang sinergi antar anak perusahaan, di mana mereka dapat saling mendukung untuk
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V-2
Page 71
menciptakan nilai tambah bagi grup secara keseluruhan. Keunggulan lainnya adalah efisiensi dalam
investasi dan pengelolaan sumber daya, di mana SGRO dapat mengalokasikan dana dan aset berdasarkan
prioritas strategis. Selain itu, peran SGRO sebagai penasihat dan perunding dalam proses merger dan
akuisisi memberikan keunggulan kompetitif dalam memperluas jangkauan bisnis. Dengan pola bisnis ini,
SGRO memiliki kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih strategis, membuka peluang
baru, dan tetap kompetitif di pasar yang dinamis.
V.4. PERTIMBANGAN DAN ALASAN
Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen SGRO, latar belakang, pertimbangan dan alasan
dari rencana perubahan kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya
Perseroan untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara
berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang. Maka
Perseroan memandang perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha dengan fokus meningkatkan nilai
(value) bagi anak dan cucu perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan. Untuk itu Perseroan
berencana mengubah kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan
kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.
Salah satu pertimbangan utama adalah efisiensi operasional. Dengan memisahkan pengelolaan
perkebunan dan pabrik kelapa sawit menjadi entitas anak, setiap unit bisnis dapat lebih fokus pada kegiatan
inti mereka, sehingga meningkatkan produktivitas dan kinerja secara keseluruhan. Selain itu, perubahan ini
memberikan SGRO kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih terpusat, dengan fokus
pada strategi bisnis, pengelolaan aset, dan pengawasan operasional anak perusahaan.
Alasan lainnya adalah fleksibilitas dan peluang diversifikasi. Sebagai perusahaan holding, SGRO dapat
mendiversifikasi portofolio bisnisnya dengan memasuki sektor lain yang lebih menjanjikan, yang dapat
membantu mengurangi risiko ketergantungan pada industri kelapa sawit. Pola bisnis holding juga
memungkinkan SGRO untuk memanfaatkan peluang merger dan akuisisi, memperluas jangkauan
bisnisnya, dan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Selain itu, dengan menjadi holding,
SGRO dapat memberikan arahan strategis yang lebih terorganisir kepada anak perusahaan, memastikan
bahwa setiap entitas bergerak sesuai dengan visi dan misi grup.
Transformasi ini juga kemungkinan didorong oleh kebutuhan untuk menghadapi tantangan pasar dan
regulasi yang terus berkembang. Sebagai perusahaan holding, SGRO memiliki fleksibilitas untuk
menyesuaikan strategi bisnis di berbagai sektor dan yurisdiksi, sekaligus meningkatkan kemampuan
mereka untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi dan hukum. Dengan pendekatan ini, SGRO
berupaya menciptakan struktur yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan jangka
panjang.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V-3
Page 72
V.5. KETERSEDIAAN TENAGA AHLI
Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, SGRO telah
mengembangkan strategi untuk mempertahankan jajaran manajemen dan staf operasional yang ada,
dengan pertimbangan bahwa pengalaman dan keahlian mereka sangat relevan untuk mendukung lini usaha
Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Transformasi dari usaha perkebunan dan pabrik kelapa sawit
menjadi aktivitas perusahaan holding dengan kode KBLI 64200 dilakukan dengan keyakinan bahwa
kualifikasi dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang ada saat ini mampu mendukung keberhasilan
model bisnis baru tersebut. SGRO melihat bahwa tenaga ahli yang saat ini berada di dalam struktur
perusahaan memiliki keahlian spesifik dan pengalaman yang tak ternilai, yang dapat terus dimanfaatkan
untuk memperkuat operasional dan mendorong pertumbuhan anak perusahaan.
Saat ini SGRO telah memiliki sumber daya manusia dan tenaga ahli yang cukup kompeten untuk
mendukung kegiatan usaha yang baru. Tenaga ahli tersebut meliputi:
1 Orang Direktur Utama
1 Orang Direktur Sustainability, Research and Development
1 Orang Direktur Commercial
1 Orang Direktur Human Resources
1 Orang Direktur Palm Oil Operations
1 Orang Direktur Finance
1 Orang Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma
1 Orang head yang membawahi Divisi Agronomy & Continuous Improvements
1 Orang head yang membawahi Divisi Engineering & Operation
1 Orang head yang membawahi Divisi Internal Audit
1 Orang head yang membawahi Divisi Sustainability & Operations Sago
Selain itu, SGRO menyadari pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi dinamika pasar dan tuntutan bisnis
yang terus berkembang. Untuk itu, SGRO telah memastikan bahwa tenaga ahli yang ada saat ini cukup
kompeten untuk mendukung kegiatan usaha perusahaan holding. Namun, SGRO juga membuka peluang
untuk menambah tenaga ahli baru yang memiliki kualifikasi dan keahlian sesuai dengan kebutuhan strategis
di masa depan. Langkah ini menunjukkan komitmen SGRO dalam terus beradaptasi dengan perkembangan
bisnis dan menciptakan struktur organisasi yang kuat demi keberhasilan perusahaan holding.
V.6. ANALISIS KOMPETITOR DAN DAYA SAING
SGRO sebagai perusahaan holding akan bersaing dengan grup bisnis lain yang memiliki struktur serupa,
khususnya perusahaan yang juga memiliki portofolio di sektor agribisnis atau sektor terkait. Kompetitor ini
mungkin memiliki keunggulan berupa pengalaman yang lebih panjang dalam pengelolaan holding,
diversifikasi portofolio yang matang, atau skala ekonomi yang lebih besar. Selain itu, jaringan bisnis yang
luas dan akses ke sumber daya keuangan yang kuat membuat kompetitor dalam posisi strategis yang lebih
mapan. SGRO perlu mengamati secara cermat strategi kompetitor, terutama dalam hal inovasi, efisiensi
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V-4
Page 73
operasional, dan pendekatan mereka terhadap merger serta akuisisi.
Namun demikian, SGRO memiliki keunggulan kompetitif yang dapat meningkatkan daya saingnya.
Pengalaman SGRO yang mendalam di sektor kelapa sawit memberikan keunggulan unik dalam memahami
dinamika pasar dan tantangan operasional industri ini. Transformasi SGRO menjadi perusahaan holding
juga memungkinkan fokus strategis pada pengelolaan aset, diversifikasi portofolio, dan pengawasan entitas
anak, sehingga dapat menciptakan peluang baru di sektor yang menjanjikan. Selain itu, SGRO didukung
oleh sumber daya manusia yang kompeten, termasuk tenaga ahli di berbagai bidang seperti keuangan,
hukum, dan operasional, yang menjadi aset penting untuk memastikan keberhasilan model bisnis baru.
Untuk memperkuat daya saingnya, SGRO dapat mengadopsi sejumlah strategi. Diversifikasi portofolio
bisnis menjadi salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan, terutama dengan memasuki sektor yang
memiliki pertumbuhan tinggi. Selain itu, inovasi berbasis teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi
operasional dan menciptakan nilai tambah bagi anak perusahaan. SGRO juga dapat membangun kemitraan
strategis dengan mitra bisnis yang relevan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan sinergi
grup. Penguatan tata kelola menjadi prioritas penting untuk memastikan reputasi perusahaan tetap terjaga,
terutama dalam pengelolaan entitas anak di berbagai sektor.
Penggunaan strategi yang tepat, SGRO dapat memanfaatkan keunggulan kompetitifnya untuk menghadapi
tantangan kompetitor. Kombinasi pengalaman sektor, sumber daya manusia yang berkualitas, dan
pendekatan strategis yang inovatif memberikan SGRO fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan
pasar. Dalam menjalankan transformasi ini, SGRO tidak hanya dapat memperkuat posisinya di pasar
agribisnis tetapi juga berpotensi menjadi perusahaan holding yang kompetitif dan berpengaruh di berbagai
sektor. Dengan demikian, SGRO dapat menciptakan nilai jangka panjang yang signifikan bagi seluruh grup
perusahaan dan pemangku kepentingan.
V.7. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN POLA BISNIS
Dengan memperhatikan pola bisnis yang akan diterapkan oleh SGRO dalam Rencana Perubahan Kegiatan
Usaha, maka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pola bisnis layak untuk dilaksanakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk V-5
Page 74
BAB VI
ASPEK MODEL MANAJEMEN
Sistem organisasi dan manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya suatu perusahaan
yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk
mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi
kerja yang terpadu dan terarah.
Dalam setiap organisasi diperlukan ketegasan dalam pembagian tugas yang disesuaikan dengan bagan organisasi,
pendelegasian wewenang yang jelas dan koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai
dengan pengalaman, keahlian dan keterampilannya merupakan faktor yang penting dalam menerapkan
kebijaksanaan perusahaan. Hal ini juga akan memperlancar pendelegasian tugas kepada unit di bawahnya atau
sebaliknya, yang pada akhirnya akan memperlancar kerja perusahaan.
SGRO akan terus mengembangkan usahanya pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, struktur organisasi
SGRO harus dijadikan pegangan dalam menjalankan kegiatan usahanya.
VI.1 KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN
Pada perkembangan selanjutnya, struktur organisasi SGRO akan terus berkembang sesuai dengan
perkembangan industri dan ekonomi untuk mendukung transformasi perusahaan menjadi aktivitas holding.
Tercermin dari latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dilewati karyawan. Pendidikan dan pelatihan
turut SGRO jalankan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualifikasi, serta kompetensi karyawan yang
memiliki kualifikasi khusus melalui program pengembangan dan pelaksanaan pelatihan, seminar dan
workshop. Dengan kombinasi pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman industri, manajemen SGRO siap
menghadapi tantangan transformasi dan mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan.
VI.2 KETERSEDIAAN TENAGA KERJA
Ketersediaan tenaga kerja akan menentukan tim pelaksana yang terbaik dengan kebijaksanaan dalam
pengangkatan tenaga kerja dan diutamakan yang sudah berpengalaman dalam bidangnya. Usaha
meningkatkan produktivitas dari karyawan yang akan dilakukan antara lain:
1. Peningkatan keahlian karyawan (man power training);
2. Sistem manajemen yang baik untuk dapat melaksanakan tugas semaksimal mungkin;
3. Job description yang jelas dari setiap karyawan secara terarah;
4. Rasa tanggung jawab kepada perusahaan dalam usaha penyempurnaan dan penghematan;
5. Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dengan cara memperhatikan kesejahteraan karyawan,
menjamin ketenangan dan kepastian serta ketenteraman kerja.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 1
Page 75
VI.3 MANAJEMEN SGRO
VI.3.1 Dewan Komisaris
Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Setiap anggota Dewan Komisaris memiliki
keahlian dalam bisnis dan keuangan yang sesuai dengan operasional SGRO. Dewan Komisaris
melaksanakan fungsi pengawasan, dan memberikan nasihat kepada Direksi terkait perencanaan,
pengelolaan, serta pelaksanaan bisnis dan isu-isu SGRO.
Dewan Komisaris memiliki kewenangan dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Dewan Komisaris melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas pengawasan terhadap
kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, dan memberi nasihat kepada Direksi;
2. Dalam kondisi tertentu, Dewan Komisaris wajib menyelenggarakan RUPS Tahunan dan RUPS lainnya
sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan
anggaran dasar;
3. Dewan Komisaris wajib memastikan terselenggaranya GCG dalam kegiatan usaha Perseroan pada
seluruh tingkatan organisasi;
4. Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya Dewan Komisaris
wajib membentuk Komite Audit dan dapat membentuk komite lainnya. Pengangkatan Anggota Komite
dilakukan dengan persetujuan Dewan Komisaris;
5. Melakukan evaluasi terhadap kinerja komite yang membantu pelaksanaan tugas dan tanggung
jawabnya;
6. Setiap anggota Dewan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng penuh secara pribadi
atas kerugian Perseroan yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian dalam menjalankan tugasnya;
dan
7. Dewan Komisaris wajib memastikan Direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari
audit internal Perseroan dan/atau auditor eksternal serta hasil pengawasan otoritas berwenang lainnya.
Bertanggung jawab atas semua tindakan SGRO dan memberikan saran kepada Direksi.
Dewan Komisaris melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka sebagaimana diatur dalam Anggaran
Dasar dan perundang-undangan yang berlaku, seperti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.
Berdasarkan Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di
Jakarta Selatan, susunan Dewan Komisaris SGRO adalah sebagai berikut:
Komisaris Utama : Eka Dharmajanto Kasih
Komisaris Independen : RB. Permana Agung Dradjattun
Komisaris Independen : Saud Usman Nasution
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 2
Page 76
VI.3.2. Direksi
Direksi adalah organ SGRO yang mengemban tanggung jawab untuk menjalankan operasional dan bisnis
SGRO sehari-hari. Anggota Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS.
Direksi memiliki kewenangan dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Direksi menjalankan dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan
Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar;
2. Direksi menjalankan pengurusan Perseroan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana
diatur dalam Anggaran Dasar;
3. Setiap anggota Direksi wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada
butir 1 dan 2 di atas dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan kehati-hatian;
4. Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang
bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sejalan dengan Pasal 97 ayat 3 UUPT;
5. Direksi melaksanakan prinsip-prinsip GCG dalam setiap kegiatan usaha Perseroan pada seluruh
tingkatan atau jenjang organisasi;
6. Direksi wajib menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari audit internal Perseroan dan/atau
auditor eksternal serta hasil pengawasan otoritas berwenang lainnya yang bersifat material terhadap
kelangsungan kegiatan usaha Perseroan;
7. Dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip GCG Direksi setidaknya wajib membentuk Unit Audit
Internal;
8. Direksi bertanggung jawab atas setiap informasi yang menyangkut Perseroan yang disampaikan oleh
Perseroan kepada publik;
9. Direksi wajib menumbuhkan dan mewujudkan terlaksananya budaya kepatuhan pada semua tingkatan
organisasi dan kegiatan usaha Perseroan; dan
10. Direksi wajib memastikan terlaksananya fungsi kepatuhan Perseroan.Menjalankan dan bertanggung
jawab atas pengurusan SGRO untuk kepentingan SGRO sesuai dengan maksud dan tujuan SGRO
yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar.
Berdasarkan Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris
di Jakarta Selatan, susunan Direksi SGRO adalah sebagai berikut:
Presiden Direktur : Budi Setiawan Halim
Direktur Sustainability, Research and Development : Dwi Asmono
Direktur Commercial : Lim King Hui
Direktur Human Resources : Hero Djajakusumah
Direktur Palm Oil Operations : Parluhutan Sitohang
Direktur Finance : Heri Harjanto
Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma : Eris Ariaman
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 3
Page 77
VI.3.3. Komite Audit
Dalam melaksanakan tugas pengawasan terhadap pengelolaan SGRO, Dewan Komisaris didukung oleh
Komite Audit. Komite ini adalah organ untuk melaksanakan audit atas laporan yang disiapkan oleh Direksi,
melakukan analisis atas laporan yang dibuat oleh Akuntan Publik dan Unit Audit Internal serta laporan
keuangan yang diterbitkan oleh SGRO. Dalam proses audit, Komite Audit melakukan pertemuan dengan
semua pihak yang mewakili divisi/departemen yang terlibat dalam operasional, pembukuan, serta kontrol dan
pengawasan aset. Meskipun Komite Audit hadir untuk membantu Dewan Komisaris, keputusan akhir tetap
merupakan tanggung jawab Dewan Komisaris. Komite Audit bertanggung jawab langsung kepada Dewan
Komisaris.
Ruang lingkup dan tanggung jawab Komite Audit adalah sebagai berikut:
1. Meninjau laporan keuangan dan informasi keuangan lainnya yang dipersiapkan bagi para pemegang
saham, masyarakat, dan otoritas pasar modal;
2. Meninjau kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku;
3. Meninjau dan memantau sistem pengendalian internal Perseroan;
4. Merekomendasikan seleksi auditor eksternal kepada Dewan Komisaris;
5. Memberikan konfirmasi terkait sistem, kebijakan, dan prosedur untuk dipastikan patuh terhadap
ketentuan pasar modal dan peraturan lain yang berkaitan dengan aktivitas kelompok usaha;
6. Meninjau laporan tahunan Perseroan; dan
7. Meninjau proses dan hasil karya audit oleh auditor
Komite Audit SGRO dibentuk berdasarkan Surat keputusan Dewan Komisaris Perseroan tanggal 27 Mei
2022, dengan susunan anggota Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2023 sebagai berikut:
Ketua : Saud Usman Nasution
Anggota : Sukarnen
Anggota : Pradhono
VI.3.4 Sekretaris Perusahaan
Dengan menyediakan data dan informasi yang akurat dan relevan tentang kegiatan SGRO. Tugas dan
tanggung jawabnya membangun fungsi Sekretaris Perusahaan untuk mematuhi Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan No.35/POJK.04/2014 tentang Sekretaris Perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik. Dalam
menjalankan fungsinya, Sekretaris Perusahaan bekerja sama dengan Divisi Legal dan Hubungan Investor.
Secara umum, Sekretaris Perusahaan melapor langsung kepada Direksi dan berperan sebagai penghubung
komunikasi antara SGRO dengan para Pemegang Saham, investor, masyarakat dan pemangku kepentingan
lainnya tanggung jawab Sekretaris Perusahaan lainnya adalah sebagai berikut:
1. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan yang berlaku di bidang Pasar Modal;
2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat atas setiap Informasi yang dibutuhkan pemodal berkaitan
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 4
Page 78
dengan kondisi Emiten atau Perusahaan Publik;
3. Memberikan masukan kepada Direksi Emiten atau Perusahaan Publik untuk mematuhi ketentuan
Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya;
4. Membantu Direksi dan Dewan Komisaris dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang meliputi:
keterbukaan informasi kepada masyarakat, penyediaan informasi pada situs Perseroan, penyampaian
Laporan kepada OJK, penyelenggaraan dan dokumentasi rapat Direksi dan/atau Dewan Komisaris serta
pelaksanaan program orientasi terhadap perusahaan bagi Direksi dan/atau Dewan Komisaris; dan
5. Sebagai penghubung antara Emiten atau Perusahaan Publik dengan OJK serta masyarakat.
VI.3.5. Audit Internal
SGRO membangun fungsi Audit Internal adalah untuk mematuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.56/POJK.04/2015 tentang pembentukan dan pedoman untuk Penyusunan Piagam Unit Internal Audit.
Audit Internal adalah sebuah fungsi untuk menjamin dan memberikan konsultasi secara independen dan
obyektif untuk menambah nilai dan meningkatkan kegiatan operasional SGRO. Fungsi ini membantu SGRO
mencapai tujuannya melalui pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan
efektivitas proses manajemen risiko, kontrol dan tata kelola. Dalam melaksanakan tugasnya, Auditor Internal
akan menerapkan dan menjunjung prinsip integritas, objektivitas, kerahasiaan dan kompetensi.
Fungsi Unit Audit Internal adalah untuk memberikan jaminan yang independen dan obyektif terhadap
efektivitas dan integritas operasional SGRO. Dalam melaksanakan tugasnya, Audit Internal memberikan
konsultasi kepada departemen dan unit tertentu untuk memperkuat operasional masing-masing.
Tanggung jawab Departemen Internal Audit meliputi:
1. Menyusun dan melaksanakan Rencana Kerja Internal Audit Tahunan;
2. Menetapkan frekuensi audit, subyek pemeriksaan, dan lingkup pemeriksaan audit untuk mencapai
tujuan audit;
3. Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian internal dan sistem manajemen risiko sesuai
dengan kebijakan Perseroan;
4. Melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang operasional, keuangan,
akuntansi, sumber daya manusia dan kegiatan lainnya;
5. Memberikan saran perbaikan dan informasi objektif lainnya tentang kegiatan yang diperiksa di seluruh
tingkatan manajemen yang diperlukan;
6. Menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan audit internal yang dilakukannya;
7. Melakukan pemeriksaan khusus apabila diperlukan (menggunakan sistem pelaporan pelanggaran);
8. Membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris;
9. Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan yang telah disarankan;
10. Berkoordinasi dengan Manajemen, Komite Audit, dan Auditor Eksternal.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 5
Page 79
VI.3.6 Komposisi Karyawan
Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, hingga 31 Desember 2024 jumlah karyawan adalah sebanyak
825 karyawan. Berikut komposisi distribusi komposisi karyawan berdasarkan jenjang jabatan dengan rincian
sebagai berikut:
Tabel VI.1 Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Jabatan
Jabatan Jumlah Pegawai
Direksi 7
Komisaris 3
Diatas Supervisor 36
Setingkat supervisor 31
Dibawah supervisor 774
Jumlah 825
VI.4. MANAJEMEN PERUBAHAN KEGIATAN USAHA SGRO
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh manajemen SGRO. Karyawan yang tersusun dalam organisasi
yang baru sebagai karyawan utama untuk penambahan kegiatan usaha beberapa ada yang berasal dari
pengalihan struktur organisasi yang lama yang diberi jabatan yang baru, dan ada juga yang direkrut pada
saat terjadi penambahan kegiatan usaha tersebut. Berikut susunan pengurus organisasi untuk penambahan
kegiatan usaha SGRO.
Struktur organisasi sudah memiliki beberapa elemen kunci yang dibutuhkan untuk operasi perusahaan
holding, seperti Direktur Sustainability, Research and Development, Commercial, Human Resources, Palm
Oil Operations, Finance, dan Corporate Affairs, Legal, and Plasma. Adanya komponen pengawasan regulasi
dan legal yang penting untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan dalam perusahaan holding. Secara
keseluruhan, struktur organisasi ini tampaknya cukup siap untuk mengakomodir perubahan kegiatan usaha
menjadi holding, tetapi mungkin perlu beberapa penyesuaian dan penguatan di beberapa area spesifik untuk
memastikan kelancaran dan kesuksesan operasional baru ini.
Tabel VI.2 Susunan Struktur Organisasi Perubahan Kegiatan Usaha SGRO
No. Nama Jabatan
1. Budi Setiawan Halim President Director
2. Dwi Asmono Sustainability, Research and Development Director
3. Lim King Hui Commercial Director
4. Hero Djajakusumah Human Resources Director
5. Parluhutan Sitohang Palm Oil Operations Director
6. Heri Harjanto Finance Director
7. Eris Ariaman Corporate Affairs, Legal, and Plasma Director
8. Velan Mahadevan Head of Agronomy & Continuous Improvements Director
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 6
Page 80
No. Nama Jabatan
9. Mohd Rasakh Bin Abdullah Head of Engineering & Operation
10. Ronald Romatua Marpaung Head of Internal Audit
11. Bona Ranto Pasaribu Head of Sustainability & Operations Sago
VI.5. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
Berdasarkan struktur organisasi Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, jumlah personel, dan pengelolaan
manajemen SGRO, maka secara umum hal tersebut telah cukup mendukung operasional kerja perusahaan
dalam Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pola bisnis layak untuk dilaksanakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VI - 7
Page 81
BAB VII
ANALISIS RISIKO
Analisis Risiko untuk SGRO adalah satu kajian sistematis tentang ketidakpastian dan risiko yang akan dihadapi
dalam bidang usaha kegiatan perusahaan holding. Analisis risiko akan mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi
oleh unit bisnis, memahami bagaimana dan kapan mereka muncul, serta mengestimasi dampak (finansial atau
lainnya) dari kejadian yang tidak diinginkan.
Ketidakpastian, yang secara konstan muncul di kehidupan bisnis, seringkali memberikan dampak pada
pengambilan keputusan dan tindakan. Untuk itu perusahaan harus memiliki kerangka kerja manajemen risiko yang
baik dan harus dijalankan dengan tertib oleh setiap fungsi dan bidang dalam organisasi. Selain itu peran Tone
from the Top yaitu Direksi dan Manajemen kunci perusahaan dalam membangun budaya kerja, budaya sadar
risiko, dan budaya kepatuhan juga menjadi kunci keberhasilan penerapan kerangka kerja Governance, Risk, and
Compliance (GRC).
Tujuan dari analisis risiko ini adalah untuk mengurangi kerugian finansial yang menyebabkan ketidakpastian pada
pengoperasian usaha kegiatan perusahaan holding.
VII.1. IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN RISIKO
Jenis risiko yang harus diidentifikasi dan dikelola adalah Risiko Strategik, Risiko Operasional, Risiko Keuangan,
Risiko Kredit, Risiko Likuiditas, Risiko Industri, Risiko Hukum, Risiko Kepatuhan dan Risiko Reputasi. Identifikasi
dan pengelolaan risiko-risiko tersebut adalah sebagai berikut.
VII.1.1 RISIKO STRATEGIK
Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi sejumlah risiko strategik yang dapat memengaruhi
keberlangsungan dan kesuksesan mereka. Salah satu risiko utama adalah ketergantungan pada kinerja
anak perusahaan, di mana performa buruk dari entitas anak dapat memengaruhi reputasi dan keuangan
grup secara keseluruhan. Diversifikasi yang tidak efektif juga menjadi tantangan, karena fokus manajemen
dapat terpecah jika perusahaan induk mengelola banyak sektor yang berbeda. Selain itu,
ketidakseimbangan kontrol antara holding dan anak perusahaan dapat menyebabkan tumpang tindih fungsi
manajemen atau ketidakselarasan dengan visi grup. Untuk mengelola risiko strategik perusahaan holding,
diperlukan strategi mitigasi yang komprehensif. Pertama, perusahaan holding dapat menerapkan sistem
pengawasan kinerja anak perusahaan yang ketat melalui laporan berkala dan penilaian target strategis
untuk mengurangi ketergantungan pada kinerja individual anak perusahaan. Diversifikasi bisnis harus
dirancang secara cermat, dengan fokus pada sektor yang saling melengkapi untuk mengoptimalkan sinergi
dan menghindari fragmentasi.
VII.1.2 RISIKO OPERASIONAL
Risiko operasional yang dimaksud meliputi faktor-faktor yang berdampak pada gejolak produksi secara
signifikan, antara lain produktivitas dan jumlah pekerja pemanen yang kompeten, tingkat kehadiran tenaga
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 1
Page 82
kerja panen, hingga perubahan teknologi. Untuk mengurangi dampak negatif dari produktivitas dan jumlah
pekerja pemanen yang kompeten, SGRI melakukan mekanisasi panen dan memenuhi kebutuhan
perumahan untuk pemanen. Aspek informasi komunikasi teknologi (ICT) yang memadai berperan penting
dalam mengoptimalisasi operasi bisnis secara keseluruhan. SGRO melakukan pengembangan sistem dan
melakukan pengkinian secara terus-menerus atas sistem sehingga sesuai dengan business process yang
sudah dijalankan. SGRO berfokus pada pelaksanaan Business Continuity Plan yang komprehensif, agar
selalu siap menerapkan rencana kontinjensi yang sesuai dengan perkembangan terkini di lapangan.
Manajemen SGRO juga telah melakukan penyesuaian prioritas, dengan penekanan pada keberlangsungan
kegiatan operasional yang memiliki dampak langsung terhadap produktivitas, dengan gangguan seminimal
mungkin.
VII.1.3 RISIKO KEUANGAN
SGRO menghadapi berbagai risiko keuangan yang timbul sebagai akibat pendapatan dan laba di bawah
anggaran apabila target produksi tidak tercapai dan biaya melebihi anggaran. Penanganan risiko ini
dilakukan antara lain dengan melakukan identifikasi biaya yang cenderung melebihi anggaran, membuat
form permintaan tambahan anggaran disertai penjelasan atas pengajuan biaya dan dilakukan rapat
bersama bulanan untuk membahas biaya yang melebihi anggaran.
VII.1.4 RISIKO KREDIT
Manajemen Risiko Kredit berfokus untuk memitigasi terjadinya kegagalan pemenuhan kewajiban kepada
Perusahaan. Berkenaan dengan hal dimaksud, mitigasi terhadap Risiko Kredit antara lain dilakukan pada
proses investasi, dan pelaksanaan bisnis asuransi. Risiko ini terjadi ketika pihak yang menerima pinjaman
atau investasi dari SGRO tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran bunga atau pokok pinjaman.
Pada proses investasi, diversifikasi portfolio dilakukan dengan memastikan penempatan investasi melalui
institusi yang tepat untuk meminimalkan terjadinya risiko loss dan gagal bayar.
VII.1.5 RISIKO LIKUIDITAS
Manajemen Risiko Likuiditas dilakukan agar Perusahaan dapat memenuhi setiap kewajiban finansial yang
sudah diperjanjikan secara tepat waktu, serta dapat memelihara tingkat likuiditas yang memadai dan
optimal. Pengelolaan Risiko Likuiditas Perusahaan dilakukan dengan memelihara rasio likuiditas dan rasio
kecukupan investasi pada posisi aman, yaitu di atas limit yang telah ditetapkan oleh Regulator.
VII.1.6 RISIKO INDUSTRI
Risiko industri meliputi risiko-risiko yang dihadapi Perseroan dalam upayanya melakukan usaha. Risiko
industri dapat berupa risiko fluktuasi harga komoditas, pasokan bahan baku dan faktor persaingan.
Pengelolaan risiko ini dilakukan antara lain dengan secara aktif terlibat di pasar komoditas untuk
mendapatkan tren industri terkini serta menganalisis faktor-faktor relevan yang dapat berdampak pada
harga saat ini hingga beberapa bulan ke depan. Forward selling merupakan salah satu pendekatan lindung
nilai yang kerap dilakukan untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga. Risiko atas ketersediaan pasokan
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 2
Page 83
bahan baku dapat dikelola dengan memiliki prosedur standar operasional (SOP) atas pembelian bahan
baku serta melakukan benchmarking harga sebagai dasar pembelian secara teratur. Dalam mengelola
risiko persaingan di industri perkebunan, Perseroan senantiasa meningkatkan daya saing dengan cara
melakukan intensifikasi dan diversifikasi yang didukung penuh dengan fasilitas riset dan pengembangan
yang mutakhir. Sebagai salah satu faktor pendorong keunggulan bersaingnya, Perseroan memberikan
layanan purna-jual yang efektif kepada pelanggan produk benih sawit Sriwijaya.
VII.1.7 RISIKO HUKUM
Mitigasi risiko terhadap Risiko Hukum dilakukan melalui reviu terhadap Perjanjian Kerja Sama, baik dalam
rangka kegiatan operasional maupun bisnis Perusahaan, dan pemberian advis hukum kepada Unit Kerja.
Penanganan Risiko Hukum dilakukan terhadap pencegahan dan penanganan tuntutan hukum dan/atau
kelemahan aspek hukum yang dihadapi perusahaan. Untuk meminimalkan risiko ini, Perseroan senantiasa
berupaya mengurangi risiko hukum melalui pengendalian internal yang efektif serta memastikan kepatuhan
Perseroan terhadap seluruh peraturan perundang-undangan, dan kebijakan Pemerintah yang berlaku, serta
kontrak-kontrak yang dibuat oleh Perseroan dengan pihak lain. Whistleblowing system ditegakkan sebagai
upaya untuk menghindari kecurangan dan pelanggaran hukum oleh internal Perseroan.
VII.1.8 RISIKO KEPATUHAN
Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi risiko kepatuhan (compliance risk) yang cukup
kompleks, mengingat struktur grup bisnisnya yang melibatkan banyak entitas dan sering beroperasi di
berbagai yurisdiksi. Risiko kepatuhan ini mencakup potensi pelanggaran terhadap peraturan hukum, pajak,
atau kebijakan yang berlaku di negara tempat anak perusahaan beroperasi. Misalnya, ketidakpatuhan
terhadap peraturan anti-monopoli, peraturan perpajakan lintas negara, atau undang-undang perlindungan
data dapat menimbulkan sanksi hukum, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi. Kegagalan Perseroan
dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku berpotensi mendatangkan sanksi dan
berdampak negatif terhadap kinerja Perseroan dan anak-anak perusahaan Perseroan. Untuk
meminimalkan risiko kegagalan dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, Perseroan
dan anak-anak perusahaan Perseroan menerapkan GCG dalam kegiatan operasional sehingga
pelaksanaan kegiatan Perseroan dan anak-anak perusahaan Perseroan dapat berjalan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah.
VII.1.9 RISIKO REPUTASI
Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi risiko reputasi yang signifikan karena aktivitasnya
melibatkan banyak entitas anak dan sering beroperasi di berbagai sektor industri. Risiko reputasi dapat
timbul ketika salah satu anak perusahaan mengalami masalah seperti skandal keuangan, pelanggaran
hukum, atau praktik bisnis yang tidak etis. Meskipun perusahaan induk tidak terlibat langsung, dampak
negatif tersebut dapat meluas ke seluruh grup, merusak citra dan kepercayaan pemangku kepentingan,
termasuk investor, mitra bisnis, dan publik. Selain itu, perusahaan holding juga menghadapi tantangan
dalam menjaga reputasi di berbagai wilayah yang memiliki regulasi dan ekspektasi budaya yang berbeda.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 3
Page 84
Untuk mengatasi risiko ini, perusahaan holding harus menerapkan kebijakan tata kelola yang kuat, termasuk
transparansi dalam operasional dan komunikasi, serta memastikan anak perusahaan mematuhi standar
etika yang tinggi. Pengawasan yang ketat terhadap aktivitas entitas anak melalui audit internal dan
pemantauan kinerja juga penting untuk mendeteksi dan mengatasi potensi masalah sejak dini. Dengan
membangun sistem mitigasi risiko reputasi yang solid, perusahaan holding dapat melindungi citra grup
secara keseluruhan dan menjaga hubungan baik dengan semua pemangku kepentingan.
VII.2. PENERAPAN PENGELOLAAN MANAJEMEN RISIKO
Agar pengelolaan risiko dapat berjalan dengan efektif, perseroan melakukan upaya-upaya sebagai
berikut.
1. Melaksanakan sistem pengendalian intern secara efektif dalam penerapan Manajemen Risiko
Perseroan dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan
2. Sistem pengendalian intern dalam penerapan Manajemen Risiko paling sedikit mencakup:
a. Kesesuaian antara sistem pengendalian intern dengan jenis dan tingkat risiko yang melekat pada
kegiatan usaha Perseroan;
b. Penetapan wewenang dan tanggung jawab untuk pemantauan kepatuhan kebijakan, prosedur
dan limit;
c. Penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang jelas dari satuan kerja operasional
kepada satuan kerja yang melaksanakan fungsi pengendalian intern;
d. Struktur organisasi yang menggambarkan secara jelas tugas dan tanggung jawab masing-
masing satuan kerja individu;
e. Pelaporan keuangan dan kegiatan operasional yang akurat dan tepat waktu;
f. Kecukupan prosedur untuk memastikan kepatuhan Perseroan terhadap ketentuan dan
perundangundangan yang berlaku;
g. Kaji ulang yang efektif, independen, dan objektif terhadap kebijakan kerangka dan prosedur
operasional Perseroan;
h. Pengujian dan kaji ulang yang memadai terhadap sistem informasi manajemen;
i. Dokumentasi secara lengkap dan memadai terhadap cakupan, prosedur operasional, temuan
audit, serta tanggapan pengurus Perseroan berdasarkan hasil audit; dan
j. Verifikasi dan kaji ulang secara berkala dan berkesinambungan terhadap penanganan
kelemahan Perseroan yang bersifat material dan tindakan pengurus Perseroan untuk
memperbaiki penyimpangan yang terjadi.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 4
Page 85
VII.3 ANALISIS SWOT
VII.3.1 Strength (Kekuatan)
1. Memiliki manajemen yang kompeten dan berpengalaman lebih dari 20 tahun dan memiliki portofolio
anak usaha yang terdiversifikasi dalam sektor perkebunan dan kehutanan yang memungkinkan untuk
menyesuaikan dengan fluktuasi pasar.
2. Memiliki keuntungan dalam hal skala ekonomi seperti efisiensi biasa dalam pengadaan, distribusi dan
operasional.
3. Relasi yang sudah terbentuk dengan mitra, pemasok, dan pelanggan dapat membantu saat
membangun struktur grup holding.
4. Sebagai perusahaan holding, dapat fokus pada pengelolaan portofolio bisnis yang beragam dengan
alokasi sumber daya yang lebih efisien.
VII.3.2 Weakness (Kelemahan)
1. Industri perkebunan dan kehutanan pada anak usaha sangat tergantung pada faktor alam seperti
cuaca dan perubahan iklim sehingga dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh Manajemen
Perusahaan holding.
2. Proses transformasi dari operasional langsung ke model holding dapat memakan waktu dan sumber
daya yang signifikan.
3. Keberlanjutan Keuangan: Perubahan model bisnis mungkin memerlukan investasi awal yang besar
dan menimbulkan risiko tekanan likuiditas dalam jangka pendek
Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan dapat menyediakan pelatihan khusus kepada tim
manajemen dan merekrut profesional yang ahli di bidang pengelolaan holding. Proses peralihan yang
memakan waktu dan sumber daya juga dapat diminimalkan melalui perencanaan transformasi yang
matang, dengan menyusun target waktu yang jelas serta mengalokasikan anggaran khusus..
VII.3.3 Opportunity (Peluang)
1. Permintaan global untuk produk Perkebunan yang terus meningkat
2. Pemanfaatan teknologi terbaru dapat meningkatkan efisiensi dan hasil produksi anak usaha
3. Dengan menjadi holding, perusahaan dapat masuk ke sektor bisnis baru yang menjanjikan, seperti
teknologi atau layanan keuangan.
4. Anak perusahaan di berbagai industri dapat saling mendukung, menciptakan nilai tambah melalui
sinergi operasional dan strategis.
VII.3.4 Threats (Ancaman)
1. Kegagalan perseroan dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku berpotensi
emndatangkan sanksi dan berdampak negatif terhadap kinerja Perseroan dan entitas anak perseroan.
2. Perusahaan holding harus bersaing dengan grup bisnis lain yang mungkin memiliki pengalaman dan
sumber daya yang lebih matang.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 5
Page 86
3. Beroperasi di berbagai sektor dan yurisdiksi dapat meningkatkan risiko kepatuhan terhadap aturan
hukum.
4. Perubahan kondisi ekonomi global atau lokal dapat memengaruhi strategi dan keberlanjutan bisnis.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan dapat fokus pada penciptaan nilai tambah melalui
sinergi antar anak perusahaan, serta berinovasi dalam strategi bisnis untuk tetap kompetitif. Untuk
mengatasi kompleksitas regulasi, diperlukan tim kepatuhan yang proaktif dalam memantau perubahan
peraturan dan memastikan anak perusahaan tetap mematuhi kebijakan setempat. Risiko
ketergantungan pada anak perusahaan dapat diminimalkan dengan diversifikasi portofolio bisnis di
berbagai sektor, sehingga kegagalan satu entitas tidak berdampak besar pada grup secara
keseluruhan. Selain itu, untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi, perusahaan perlu
mendiversifikasi aset dan pasar, serta mengembangkan strategi adaptif yang memungkinkan grup
untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang berubah-ubah.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VII - 6
Page 87
BAB VIII
ASPEK KEUANGAN
Analisis keuangan dalam Studi Kelayakan menggunakan metode diskonto arus kas (discounted cash flow) dengan
mengacu pada kriteria net present value (NPV), dimana Penambahan Kegiatan Usaha SGRO dapat dikatakan layak
atau menguntungkan jika NPV lebih besar dari nol, analisa internal rate of return (IRR) perubahan menunjukkan jumlah
yang lebih besar dari pada diskonto yang digunakan, profitability index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk
mengevaluasi proyek-proyek investasi untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas, menunjukkan perhitungan lebih
besar dari pada satu.
Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan didasarkan pada proyeksi keuangan yang disusun oleh
manajemen SGRO. Kami telah melakukan penyesuaian terhadap proyeksi tersebut berdasarkan kondisi pasar,
pengalaman, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku secara umum, agar dapat menggambarkan kondisi operasi dan
kinerja SGRO dengan lebih wajar. Secara garis besar, tidak ada penyesuaian yang signifikan yang kami lakukan
terhadap target kinerja SGRO.
VIII.1 PENENTUAN ARUS KAS BERSIH
Untuk melakukan analisis keuangan dalam Studi Kelayakan dengan menggunakan metode diskonto arus
kas, terdapat 3 (tiga) pilihan pendapatan ekonomi untuk didiskonto yaitu dividen, arus kas bersih (AKB)
untuk ekuitas (free cash flow to equity), dan AKB untuk kapital (free cash flow to invested capital) atau AKB
untuk perusahaan (free cash flow to firm).
Dalam Studi Kelayakan, pendapatan ekonomi yang akan didiskonto dalam analisis kelayakan adalah AKB
untuk perusahaan. Pemilihan arus kas bersih untuk perusahaan yang digunakan sebagai basis perhitungan
kelayakan didasarkan pada kondisi proyeksi perusahaan yang mencerminkan kondisi struktur capital yang
cukup volatile (yang terlihat dari pergerakan debt yang berubah selama periode proyeksi).
Pengertian AKB berarti bahwa arus kas yang diperoleh sudah bebas dari kewajiban penyediaan
pengeluaran barang modal (capital expenditure), baik untuk mempertahankan operasi perusahaan saat ini
maupun penyediaan cadangan untuk penggantian (reserve for replacement), modal kerja dan untuk
pertumbuhan melalui penyediaan dana tambahan pengeluaran barang modal, dihitung sebagai berikut:
FCFF = EBIT x (1-t) + D + ΔWC - Capex
dimana :
FCFF : Arus kas bersih untuk perusahaan
EBIT : Earnings before Interest and Tax
(1-t) : Pajak
D : Depresiasi dan amortisasi
∆WC : Perubahan modal kerja bersih
Capex : Capital expenditure
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 1
Page 88
VIII.2 PENENTUAN TINGKAT DISKONTO
VIII.2.1 Penentuan Biaya Modal Untuk Ekuitas
Untuk mendiskonto arus kas bersih tiap-tiap tahun, tingkat diskonto yang digunakan adalah biaya modal
ekuitas (cost of equity) digunakan capital asset pricing model (CAPM) dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut:
k e R f ( RP m ) RBDS
dimana:
ke = Balikan yang diharapkan dari suatu sekuritas tertentu, atau biaya modal ekuitas/saham biasa
Rf = Tingkat balikan yang tersedia untuk suatu sekuritas bebas risiko (risk free rate)
β = Beta
RPm = Premi risiko ekuitas untuk pasar secara keseluruhan (equity risk premium)
RBDS = Rating-based default spread
Rf adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal
bayar. Instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Obligasi Pemerintah untuk jangka
panjang. Terkait dengan tanggal studi kelayakan yang jatuh pada tanggal 31 Desember 2024, maka
instrumen bebas risiko yang dipakai adalah obligasi Pemerintah Indonesia dalam mata Rupiah dengan tenor
30 tahun dengan yield sebesar 7,11% per tanggal 31 Desember 2024 yang diperoleh dari situs PHEI, dan
angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat balikan bebas risiko.
Rpm adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan tingkat balikan investasi dalam
bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara
(country-specific risk premiums) seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk
premium. Dengan mengikutsertakan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi
perubahan-perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara yang bersangkutan. Untuk
studi kelayakan ini, kami menggunakan tingkat premi risiko sebesar 6,87%, untuk negara Indonesia yang
diolah dari hasil riset Aswath Damodaran (New York University Business School) sampai dengan bulan
Januari 2025.
Beta (β) adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan dikalikan dengan market
risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.
Untuk memperoleh faktor beta yang sesuai kami menggunakan unlevered beta sebesar 0,52 yang diperoleh
dari rata-rata perusahaan Farming/Agriculture yang kami peroleh dari Aswath Damodaran.
Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta untuk menghitung
cost of equity SGRO, di mana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered beta. Cara ini dilakukan untuk
menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing perusahaan terhadap beta. Perusahaan yang
sama dengan leverage yang berbeda akan memiliki cost of equity yang berbeda pula, oleh karena itu
pengaruh leverage yang ada di tiap perusahaan perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 2
Page 89
Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-
relevered dengan tingkat leverage pasar pada industri sejenis untuk memperoleh beta yang sesuai untuk
mendiskonto arus kas tersebut dengan formula sebagai berikut:
L U 1 1 T DER
dimana:
T = Tingkat pajak
DER = Debt to Equity Ratio
βL = Beta levered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara Objektif dari
responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan pengembalian portofolio pasar
apabila dibandingkan dengan portofolio pasar dengan pengaruh utang
βU = Beta unlevered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara Objektif dari
responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan pengembalian portofolio pasar
apabila dibandingkan dengan portofolio pasar tanpa pengaruh utang
Sama halnya dengan data unlevered beta, data DER juga diperoleh dari rata-rata perusahaan yang
bergerak dalam bidang Farming/Agriculture di Emerging Markets yang bersumber dari Aswath Damodaran
per Januari 2025. Dari data tersebut, DER yang dihasilkan adalah 64,76%. Dengan memasukkan
persamaan diatas, diperoleh nilai βL sebesar 0,78.
Dalam studi kelayakan ini juga digunakan RBDS untuk melakukan penyesuaian terhadap biaya modal
ekuitas mengingat dalam perhitungan biaya modal ekuitas ini digunakan Rpm yang berasal dari hasil riset
Aswath Damodaran, dimana nilai RBDS sebesar 1,89% digunakan untuk mengurangi besaran biaya modal
ekuitas.
Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM diperoleh biaya modal atas
ekuitas SGRO adalah:
Tabel VIII.1. Biaya Modal untuk Ekuitas SGRO
Keterangan Persentase
Tingkat Bunga Bebas Risiko 7,11%
Premi Risiko Pasar 6,87%
Beta 0,78
RBDS 1,89%
Biaya Modal untuk Ekuitas 10,55%
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 3
Page 90
VIII.2.2 Penentuan Biaya Modal Untuk Hutang
Penentuan posisi tingkat leverage yang optimal adalah mencari titik dimana tambahan penghematan pajak
yang berasal dari tambahan hutang akan sama dengan tambahan biaya bunga sebagai akibat dari risiko
gagal bayar yang diantisipasi dari keberadaan keseluruhan hutang. Biaya hutang diperoleh dari rata-rata
suku bunga kredit korporasi bank Pemerintah Indonesia untuk mata uang Rupiah yaitu sebesar 9,21%
dengan perhitungan sebagai berikut:
Kd = i x (1-T)
Kd = 9,21% x (1-22%) = 7,18%
Untuk kepentingan studi kelayakan, komposisi pendanaan dihitung berdasarkan kinerja perbandingan
interest bearing debt dengan ekuitas pasar pada per Januari 2025 yaitu sebesar 39,31%, sedangkan
sisanya yaitu sebesar 60,69% akan dipenuhi dengan modal sendiri.
VIII.2.3 Tingkat Diskonto SGRO
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan kekuatan/kelebihan serta risiko yang dihadapi, Kami
berpendapat bahwa tingkat diskonto sebesar 9,23% untuk SGRO adalah wajar untuk mendiskonto arus kas
bersih dengan perhitungan sebagai berikut:
Tabel VIII.2. WACC SGRO
Keterangan Biaya Modal Komposisi Modal WACC
a. Cost of Debt 7,18% 39,31% 2,82%
b. Cost of Equity 10,55% 60,69% 6,40%
Weighted Average Cost of Capital (WACC) 9,23%
VIII.3 PROYEKSI KEUANGAN SGRO
Perhitungan analisis keuangan dalam Studi Kelayakan dilakukan dengan metode diskonto arus kas yang
didasarkan pada proyeksi keuangan yang disusun oleh manajemen SGRO. Kami telah melakukan
penyesuaian terhadap proyeksi tersebut agar dapat menggambarkan kondisi operasi dan kinerja SGRO
dengan lebih wajar. Secara garis besar, tidak ada penyesuaian yang signifikan yang kami lakukan terhadap
target kinerja SGRO.
Mengingat bahwa terdapat dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan Sebelum Rencana
Perubahan Kegiatan Usaha dan proyeksi keuangan Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, maka
analisis kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha harus didasarkan pada analisis inkremental
dari dua skenario proyeksi keuangan tersebut.
Penyusunan asumsi sampai tahun 2029, atas pertimbangan bahwa kegiatan perubahan usaha ini tidak
memerlukan biaya capex (biaya investasi) yang tinggi dan SGRO telah memiliki pool of captive customers
yang memadai, sehingga SGRO mendapatkan pendapatan managament fee yang stabil dan telah
mencapai fase maturity-nya.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 4
Page 91
Untuk menentukan kelayakan, digunakan analisis NPV, IRR dan PI inkremental yang dihitung dengan
mengurangkan NPV dari AKB untuk ekuitas tanpa Rencana Perubahan Kegiatan Usaha terhadap NPV dari
AKB untuk ekuitas dengan Rencana Perubahan Kegiatan Usaha.
Proyeksi sebelum perubahan kegiatan usaha disusun dengan initial cost diperhitungkan dari nilai pelepasan
asset yang akan dialihkan ke entitas anak yaitu Aset tanaman dan non tanaman, aset biologis dan
persediaan. Selain itu penyertaan saham pada entitas anak juga diperhitungkan sebagai initial cost
mengingat SGRO adalah perusahaan holding. Sedangkan proyeksi setelah kegiatan usaha initial cost
hanya diperhitungakan dari penyertaan saham pada entitas anak. Rincian nilai pengalihan aset adalah
sebagai berikut.
Tabel VIII.3. Initial Outlays
No. Jenis Aset Nilai (Rp000)
1. Aset tanaman, neto 62.669.142
2. Aset tetap - neto 83.819.890
3. Persediaan 36.007.239
4. Aset biologis 6.597.709
Jumlah 189.093.980
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.1 Proyeksi Keuangan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha
Proyeksi keuangan setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha disusun dengan memperhatikan bahwa
Rencana Perubahan Kegiatan Usaha belum dilaksanakan. Setelah dilaksanakannya Rencana Perubahan
Kegiatan Usaha, SGRO mendapatkan pendapatan yang berasal management fee dari Entitas Anak.
Asumsi-asumsi dan penyesuaian yang mendasari penyusunan proyeksi keuangan dengan Perubahan
Kegiatan usaha adalah sebagai berikut:
Proyeksi keuangan eksplisit (periode tetap) yang digunakan didasarkan pada Business Plan
manajemen mulai FY2025 sampai dengan FY2029. Ditetapkan proyeksi hingga tahun 2029 dengan
mempertimbangkan periode waktu hingga mencapai fase maturity-nya.
Pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp60 milyar yang berasal management fee dari Entitas
Anak
Asumsi pajak penghasilan badan adalah tarif pajak yang berlaku di Indonesia, yaitu 22%.
VIII.3.1.1 Proyeksi Pendapatan
Pendapatan SGRO setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha berasal dari management fee dari Entitas
Anak. Pendapatan SGRO ini diproyeksikan sebesar Rp60.000.000 ribu dan diasumsikan tetap sepanjang
tahun proyeksi. Terjadi penurunan pendapatan yang signifikan dikarenakan SGRO tidak lagi memperoleh
pendapatan dari penjualan TBS, CPO, PKO dan pendapatan lainnya. Grafik berikut menunjukkan proyeksi
Pendapatan SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 5
Page 92
Grafik VIII.1. Pendapatan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Pendapatan
70.000.000
60.000.000
50.000.000
RIBUAN RUPIAH
40.000.000
30.000.000
20.000.000
10.000.000
-
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Pendapatan 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.1.2 Proyeksi Beban
Beban SGRO setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha berasal dari Beban umum dan administrasi.
Grafik berikut menunjukkan proyeksi Beban SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025
sampai dengan FY2029:
Grafik VIII.2. Beban Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Beban usaha
70.000.000
60.000.000
RIBUAN RUPIAH
50.000.000
40.000.000
30.000.000
20.000.000
10.000.000
-
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Beban usaha 49.614.061 52.538.969 55.641.908 58.933.964 62.426.922
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.1.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan
Laba tahun berjalan atau laba bersih SGRO adalah laba yang didapatkan setelah dikurangi dengan pajak
yang harus ditanggung. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Laba tahun berjalan SGRO pada periode
proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 6
Page 93
Grafik VIII.3. Laba tahun berjalan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Laba Tahun Berjalan
1.200.000.000
1.150.000.000
1.100.000.000
RIBUAN RUPIAH
1.050.000.000
1.000.000.000
950.000.000
900.000.000
850.000.000
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Laba 965.193.316 990.632.052 1.052.713.225 1.098.262.483 1.143.599.590
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.1.4 Nilai Pelepasan Aset
Dalam merealisasikan Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, SGRO berencana melepas kepemilikan asset
berupa Aset Tanaman senilai Rp62.669.142 ribu, aset tetap senilai Rp83.819.890 ribu, aset biologis senilai
Rp6.597.709 ribu dan persediaan senilai Rp36.007.239 ribu. Dengan demikian total pelepasan asset adalah
sebesar Rp189.093.980 ribu. Total aset ini nantinya akan dialihkan ke anak perusahaan terkendali yaitu PT
Gading Jaya Agro dan PT Palma Timur Sejahtera dan dijadikan dasar penentuan kelayakan dalam
perubahan kegiatan usaha. Atas pelepasan aset ini SGRO mendapatkan gain sebesar Rp10.906.020 ribu
sehingga total kas yang diterima SGRO sebesar Rp200.000.000 ribu.
VIII.3.1.5 Modal Kerja
Dalam perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) yang akan dilakukan
oleh SGRO, tidak diperlukan tambahan pendanaan modal kerja. Modal kerja yang timbul akan didanai dari
internal kas SRGO.
VIII.3.1.6 Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure)
Pada periode eksplisit yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029 tidak diproyeksikan capital
expenditure. Hal ini dikarenakan dengan menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) SGRO tidak
lagi melakukan kegiatan operasional bisnis secara langsung, namun didiversifikasi dengan memberikan
jasa penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi
perusahaan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 7
Page 94
VIII.3.2 Proyeksi Keuangan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha
Proyeksi keuangan sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha disusun dengan memperhatikan bahwa
Rencana Perubahan Kegiatan Usaha tidak dilaksanakan sehingga pendapatan utama SGRO hanya hasil
penjualan TBS, CPO, PKO, dan lain-lain.
Proyeksi keuangan dalam laporan ini didasarkan pada proyeksi keuangan yang diberikan oleh Pemberi
Tugas dengan dilakukan adjustment berdasarkan kinerja keuangan historis dan kinerja pasar. Dalam hal ini
kami hanya mereviu kewajaran asumsi yang digunakan. Proyeksi yang digunakan dalam penilaian ini telah
disusun dengan hati-hati dengan penetapan asumsi yang didasarkan pada data dan pertimbangan yang
memadai yang dapat dipertanggungjawabkan.
Asumsi-asumsi yang mendasari penyusunan proyeksi keuangan sebelum perubahan kegiatan usaha
adalah sebagai berikut:
Proyeksi keuangan eksplisit (periode tetap) yang digunakan didasarkan pada Business Plan
manajemen mulai FY2025 sampai dengan FY2029. Ditetapkan proyeksi hingga tahun 2029 dengan
mempertimbangkan periode waktu hingga mencapai fase maturity-nya.
Asumsi pajak penghasilan badan adalah tarif pajak yang berlaku di Indonesia, yaitu 22%.
VIII.3.2.1 Proyeksi Pendapatan
Pendapatan SGRO berasal dari penjualan Tandan buah segar, minyak sawit mentah, inti sawit, dan lain-
lain. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Pendapatan SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode
FY2025 sampai dengan FY2029.
Grafik VIII.4. Pendapatan sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Pendapatan
580.000.000
570.000.000
560.000.000
RIBUAN RUPIAH
550.000.000
540.000.000
530.000.000
520.000.000
510.000.000
500.000.000
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Pendapatan 528.095.659 548.584.088 554.935.558 571.332.521 574.934.747
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.2.2 Proyeksi Beban
Beban Langsung SGRO berasal dari harga pokok penjualan, sedangkan Beban Usaha SGRO berasal dari
beban penjualan dan pemasaran, beban umum dan administrasi dan penyusutan. Grafik berikut
menunjukkan proyeksi Beban SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan
FY2029:
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 8
Page 95
Grafik VIII.5. Beban Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Beban
530.000.000 90.000.000
520.000.000 80.000.000
70.000.000
510.000.000
RIBUAN RUPIAH
60.000.000
500.000.000 50.000.000
490.000.000 40.000.000
30.000.000
480.000.000
20.000.000
470.000.000 10.000.000
460.000.000 -
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Beban langsung 482.903.956 496.200.200 497.123.164 522.776.777 522.058.432
Beban usaha 64.585.441 67.888.595 70.991.534 74.283.590 77.776.548
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.2.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan
Laba tahun berjalan atau laba bersih SGRO adalah laba yang didapatkan setelah dikurangi dengan pajak
yang harus ditanggung. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Laba tahun berjalan SGRO pada periode
proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:
Grafik VIII.6. Laba Tahun Berjalan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)
Laba Tahun Berjalan
1.110.000.000
1.100.000.000
1.090.000.000
1.080.000.000
RIBUAN RUPIAH
1.070.000.000
1.060.000.000
1.050.000.000
1.040.000.000
1.030.000.000
1.020.000.000
1.010.000.000
1.000.000.000
FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Laba 1.040.404.611 1.062.069.984 1.101.465.145 1.102.823.744 1.103.469.283
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.2.4 Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure)
Pada periode eksplisit yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029 diproyeksikan capital
expenditure atas aset tetap dengan total sebesar Rp43.057.068 ribu merupakan penambahan aset tanaman
dan non tanaman selama masa proyeksi.
VIII.3.3 Nilai Kekal (Terminal Value)
Sebagai dasar dalam menentukan nilai terminal (terminal value) atau nilai pada periode kekal (perpetuity
period), kami menggunakan proyeksi pada periode eksplisit yaitu untuk periode 31 Desember 2025 sampai
dengan 31 Desember 2028 sebagai periode tetap (fixed period), sedangkan tahun 2029 dianggap sebagai
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 9
Page 96
awal periode kekal. Dalam studi kelayakan ini pertumbuhan AKB dalam periode kekal diasumsikan sebesar
2,89% (sumber: EIU).
VIII.3.4 Analisis Titik Impas
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak
menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama
dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-masing periode
selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam Rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar
terjadi BEP. Perhitungan BEP pada proyeksi Setelah dan Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
adalah sebagai berikut:
Tabel VIII.4. Analisis BEP Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
P R O Y E K S I (RP000)
URA IA N Rata-rata
2025 2026 2027 2028 2029
1 BIAYA TIDAK TETAP
- Beban operasional Langsung 0 0 0 0 0 0
- Beban langsung lainnya 0 0 0 0 0 0
Jumlah Biaya Tidak Tetap 0 0 0 0 0 0
2 BIAYA TETAP
- Beban Usaha Lainnya 55.831.165 49.614.061 52.538.969 55.641.908 58.933.964 62.426.922
- beban keuangan 32.624.138 86.358.638 62.471.550 14.290.500 0 0
- Penyusutan 0 0 0 0 0 0
Jumlah Biaya Tetap 88.455.302 135.972.698 115.010.519 69.932.408 58.933.964 62.426.922
JUMLAH BIAYA 88.455.302 135.972.698 115.010.519 69.932.408 58.933.964 62.426.922
3 HASIL PENJUALAN 1.168.988.950 1.114.360.345 1.131.955.277 1.158.875.524 1.195.845.995 1.243.907.609
- Pendapatan Utama 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000
- Pendapatan Deviden 934.375.222 879.746.617 897.341.549 924.261.796 961.232.268 1.009.293.881
- Pendapatan lainnya 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728
Break Even Point (Nilai) 88.455.302 135.972.698 115.010.519 69.932.408 58.933.964 62.426.922
Break Even Point (% Penjualan) 7,57% 12% 10% 6% 5% 5%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 10
Page 97
Tabel VIII.5. Analisis BEP Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
P R O Y E K S I (RP000)
URAIAN Rata-rata
2025 2026 2027 2028 2029
1 BIAYA TIDAK TETAP
- Beban operasional Langsung 504.212.506 482.903.956 496.200.200 497.123.164 522.776.777 522.058.432
- Beban langsung lainnya 12.174.351 11.871.754 12.250.000 12.250.000 12.250.000 12.250.000
Jumlah Biaya Tidak Tetap 516.386.857 494.775.710 508.450.200 509.373.164 535.026.777 534.308.432
2 BIAYA TETAP
- Beban Usaha Lainnya 55.831.165 49.614.061 52.538.969 55.641.908 58.933.964 62.426.922
- beban keuangan 32.624.138 86.358.638 62.471.550 14.290.500 0 0
- Penyusutan 3.099.626 3.099.626 3.099.626 3.099.626 3.099.626 3.099.626
Jumlah Biaya Tetap 91.554.928 139.072.324 118.110.145 73.032.034 62.033.590 65.526.548
JUMLAH BIAYA 607.941.785 633.848.034 626.560.345 582.405.198 597.060.368 599.834.980
3 HASIL PENJUALAN 1.716.882.999 1.689.402.143 1.709.890.572 1.716.242.042 1.732.639.005 1.736.241.231
- Pendapatan Utama 555.576.515 528.095.659 548.584.088 554.935.558 571.332.521 574.934.747
- Pendapatan Deviden 986.692.756 986.692.756 986.692.756 986.692.756 986.692.756 986.692.756
- Pendapatan lainnya 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728
Break Even Point (Nilai) 130.936.781 196.671.592 168.094.421 103.856.061 89.746.760 94.655.786
Break Even Point (% Penjualan) 7,63% 12% 10% 6% 5% 5%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
VIII.3.4 Analisis Profitabilitas
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam usahanya
mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai
untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan.
Sebagai gambaran bagaimana SGRO dalam usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel VIII.6. Rasio Keuangan SGRO Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
P R O Y E K S I (RP000)
URA IA N Rata -Rata
2025 2026 2027 2028 2029
4. PROVITABILITY RATIO
- Operating Profit Margin (%) 1464,24% 1384% 1408% 1448% 1504% 1578%
- Net Profit Margin (%) 1750,13% 1609% 1651% 1755% 1830% 1906%
- Rate of Return on Investment (%) 10,14% 10% 10% 10% 10% 10%
- Rate of Return on Equity (%) 10,71% 12% 11% 11% 10% 10%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Tabel VIII.7. Rasio Keuangan SGRO Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
P R O Y E K S I (RP000)
URAIAN Rata -Rata
2025 2026 2027 2028 2029
4. PROVITABILITY RATIO
- Gross Profit Margin (%) 9,24% 9% 10% 10% 8% 9%
- Operating Profit Margin (%) 174,22% 183% 177% 175% 168% 167%
- Net Profit Margin (%) 194,81% 197% 194% 198% 193% 192%
- Rate of Return on Investment (%) 10,20% 11% 10% 11% 10% 9%
- Rate of Return on Equity (%) 10,92% 12% 12% 11% 10% 10%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa profitabilitas SGRO yang digambarkan dalam persentase laba
operasi (Operating Profit Margin) terhadap pendapatan dan persentase laba bersih (Net Profit Margin)
terhadap pendapatan tercatat memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun 2024 sampai dengan
2029, yang dapat diartikan bahwa SGRO memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba bagi perusahaan
yang baik.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 11
Page 98
VIII.3.6 Analisis Tingkat Imbal Balik Investasi (Return on Investment)
Return on Invesment adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam
perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva
yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, SGRO dapat mengetahui
seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional dan dapat
memberikan informasi ukuran profitabilitas SGRO. Dalam tabel VIII.4-5, dapat terlihat bahwa tingkat imbal
balik investment memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun 2025 sampai dengan 2029, yang
dapat diartikan bahwa SGRO tingkat balikan dari investasi SGRO semakin baik
VIII.3.7 Pengaruh Perubahan Kegiatan Usaha Pada Kondisi Keuangan SGRO
Dalam Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, SGRO merencanakan perubahan Kegiatan usaha SGRO
yaitu menjadi kegiatan usaha perusahaan holding dengan kode KBLI 64200.
Berdasarkan hasil analisis proyeksi keuangan, diketahui bahwa Perubahan Kegiatan usaha dimaksud akan
memberikan manfaat kepada SGRO maupun Pemegang Saham SGRO, adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 12
Page 99
Tabel VIII.8. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
Realisasi Proyeksi 2024-2029
Uraian FY2024 FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 CAGR
2024 2025 2026 2027 2028 2029
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 189.604.770 661.099.917 1.198.863.873 1.308.894.283 2.109.663.847 2.927.513.523
Piutang usaha 28.173.617 3.200.967 3.081.418 3.046.150 2.958.727 2.940.189
Piutang lain-lain 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183
Persediaan 36.007.239 - - - - -
Aset biologis 6.597.709 - - - - -
Pajak dibayar dimuka 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740
Aset lancar lainnya 946.326 946.326 946.326 946.326 946.326 946.326
TOTAL ASET LANCAR 333.577.584 737.495.133 1.275.139.540 1.385.134.682 2.185.816.823 3.003.647.961 55,20%
ASET TIDAK LANCAR
Penyertaan saham 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962
Piutang pihak berelasi 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317
Aset tanamam, neto 62.669.142 - - - - -
Aset tetap - neto 83.819.890 - - - - -
Aset lain-lain 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 8.801.691.745 8.655.202.713 8.655.202.713 8.655.202.713 8.655.202.713 8.655.202.713 -0,34%
JUMLAH ASET 9.135.269.329 9.392.697.846 9.930.342.253 10.040.337.395 10.841.019.536 11.658.850.674 5,00%
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang bank jangka pendek - - - - - -
Utang usaha 135.815.650 - - - - -
Utang lain-lain 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289
Liabilitas kontrak 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612
Utang pajak 4.739.785 24.100.351 26.312.706 36.229.890 38.649.548 37.881.097
Utang obligasi dan ijarah jatuh tempo 366.309.715 205.200.000 677.635.268 - - -
Aset lancar lain-lain 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387
Jumlah Liabilitas Lancar 635.725.438 358.160.639 832.808.262 165.090.178 167.509.836 166.741.385 -23,48%
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang obligasi dan ijarah jangka panjang 882.835.268 677.635.268 - - - -
Utang lain-lain jangka panjang 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 924.476.283 719.276.283 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 -46,21%
JUMLAH LIABILITAS 1.560.201.721 1.077.436.922 874.449.277 206.731.193 209.150.851 208.382.400 -33,14%
EKUITAS
Modal saham 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400
Tambahan Modal Disetor 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127
Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali 403.752 403.752 403.752 403.752 403.752 403.752
Saldo laba:
Saldo Laba (Rugi) Ditahan 6.355.638.329 6.355.638.329 7.320.831.645 8.311.463.697 9.364.176.922 10.462.439.405
Saldo Laba (Rugi) 965.193.316 990.632.052 1.052.713.225 1.098.262.483 1.143.599.590
Deviden (225.000.000) (475.000.000) (750.000.000) (1.050.000.000) (1.375.000.000)
Jumlah Ekuitas 7.575.067.608 8.315.260.924 9.055.892.976 9.833.606.201 10.631.868.684 11.450.468.274 8,61%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 9.135.269.329 9.392.697.846 9.930.342.253 10.040.337.394 10.841.019.535 11.658.850.674 5,00%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Dengan Perubahan Kegiatan Usaha, aset lancar dalam neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi
sebesar Rp4.640.235.631 ribu pada tahun 2029 dari Rp 333.577.584 ribu pada tahun 2023 atau
diproyeksikan rata-rata naik sebesar 69,30% selama tahun 2024–2029 (CAGR), aset tidak lancar dalam
neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp8.655.202.713 ribu pada tahun 2029 dari Rp
8.801.691.745 ribu pada tahun 2023 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -0,34% selama tahun 2024–
2029 (CAGR), liabilitas jangka pendek SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp 166.741.385 ribu pada
tahun 2029 dari Rp 635.725.438 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -23,48%
selama tahun 2024–2029 (CAGR), pada liabilitas jangka panjang SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp
41.641.015 ribu pada tahun 2029 dari Rp 924.476.283 ribu dari tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 13
Page 100
turun sebesar -46,21% selama tahun 2024–2029 (CAGR), dan nilai ekuitas SGRO diproyeksikan menjadi
Rp 11.450.468.274 ribu pada tahun 2029 dari Rp 7.575.067.608 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan
rata-rata naik sebesar 8,61% selama tahun 2024–2029 (CAGR).
Tabel VIII.9. Proyeksi Laba Rugi SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
Proyeksi 2024-2029
Uraian FY2024 FY2025 FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 CAGR
PENDAPATAN
T andan buah segar 106.129.085 - - - - -
Minyak sawit mentah 493.006.283 - - - - -
Inti sawit 90.536.888 - - - - -
Lain-lain 1.819.754 - - - - -
Pendapatan Manajemen Fee - 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000
Jumlah Pendapatan 691.492.010 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 -38,67%
-
BEBAN POKOK PENDAPATAN -
HPP (655.266.011) - - - - -
T otal Beban Langsung (655.266.011) - - - - - -100,00%
LABA BRUTO 36.225.999 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 10,62%
BEBAN OPERASIONAL
Beban umum dan administrasi
Beban penjualan dan pemasaran (10.699.396) - - - - -
Beban umum dan administrasi
Biaya Personel (35.185.068) (37.472.099) (39.907.787) (42.501.795) (45.264.414) (48.206.603)
Non biaya personel (11.671.690) (12.141.962) (12.631.182) (13.140.113) (13.669.550) (14.220.319)
Pendapatan Deviden 999.988.650 879.746.617 897.341.549 924.261.796 961.232.268 1.009.293.881
Beban lainnya (200.367.652) - - - - -
Penyusutan (3.099.626) - - - - -
TOTAL BEBAN 738.965.218 830.132.556 844.802.580 868.619.887 902.298.303 946.866.959 5,08%
LABA (RUGI) USAHA 775.191.217 890.132.556 904.802.580 928.619.887 962.298.303 1.006.866.959 5,37%
Pendapatan (beban) Keuangan
Pendapatan keuangan 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728
Beban keuangan (93.551.264) (86.358.638) (62.471.550) (14.290.500) - -
Pendapatanpengalihan aset 10.906.020
TOTAL BEBAN 81.062.464 99.161.111 112.142.178 160.323.228 174.613.728 174.613.728 16,59%
LABA SEBELUM PAJAK 856.253.681 989.293.667 1.016.944.758 1.088.943.115 1.136.912.031 1.181.480.687 6,65%
-
BEBAN PAJAK PENGHASILAN - NETO -
Beban pajak penghasilan (970.256) (24.100.351) (26.312.706) (36.229.890) (38.649.548) (37.881.097)
LABA TAHUN BERJALAN 855.283.425 965.193.316 990.632.052 1.052.713.225 1.098.262.483 1.143.599.590 5,98%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Setelah Perubahan Kegiatan Usaha, pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp 60.000.000 ribu pada
tahun 2029 dari Rp 691.492.010 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -38,67%
selama tahun 2024–2029 (CAGR), Laba (Rugi) Kotor diproyeksikan menjadi sebesar Rp60.000.000 ribu
pada tahun 2029 dari Rp 36.225.999 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar
10,62% selama tahun 2024–2029 (CAGR), Laba (Rugi) Operasi diproyeksikan menjadi sebesar Rp
1.006.866.959 ribu pada tahun 2029 dari Rp 775.191.217 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-
rata naik sebesar 5,37% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Tahun Berjalan diproyeksikan
menjadi sebesar Rp 1.143.599.590 ribu pada tahun 2029 dari Rp855.283.425 ribu pada tahun 2024 atau
diproyeksikan rata-rata turun sebesar 5,98% selama tahun 2024–2029 (CAGR).
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 14
Page 101
Tabel VIII.10. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
Realisasi Proyeksi
Uraian FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 2025-2029
2024 2025 2026 2027 2028 2029 CAGR
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 189.604.770 658.571.633 1.278.390.389 1.446.343.464 2.281.170.060 3.090.216.605
Piutang usaha 28.173.617 28.173.617 28.173.617 28.173.617 28.173.617 28.173.617
Piutang lain-lain 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183 57.960.183
Persediaan 36.007.239 34.890.558 34.923.065 34.925.011 33.702.774 33.705.008
Aset biologis 6.597.709 6.597.709 6.597.709 6.597.709 6.597.709 6.597.709
Pajak dibayar dimuka 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740 14.287.740
Aset lancar lainnya 946.326 946.326 946.326 946.326 946.326 946.326
TOTAL ASET LANCAR 333.577.584 801.427.766 1.421.279.029 1.589.234.050 2.422.838.410 3.231.887.189 57,49%
ASET TIDAK LANCAR
Penyertaan saham 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962 7.212.468.962
Piutang pihak berelasi 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317 1.420.881.317
Aset tanamam, neto 62.669.142 51.341.475 41.488.847 30.493.064 (2.886.451) (36.265.967)
Aset tetap - neto 83.819.890 86.801.984 89.784.078 92.766.172 95.748.266 98.730.360
Aset lain-lain 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434 21.852.434
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 8.801.691.745 8.793.346.172 8.786.475.638 8.778.461.949 8.748.064.528 8.717.667.107 -0,19%
JUMLAH ASET 9.135.269.329 9.594.773.937 10.207.754.667 10.367.695.999 11.170.902.938 11.949.554.295 5,52%
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang bank jangka pendek - - - - - -
Utang usaha 135.815.650 135.815.650 135.815.650 135.815.650 135.815.650 135.815.650
Utang lain-lain 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289 7.013.289
Liabilitas kontrak 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612 19.113.612
Utang pajak 4.739.785 15.149.497 21.260.244 32.371.699 32.754.894 32.936.969
Utang obligasi dan ijarah jatuh tempo 366.309.715 205.200.000 677.635.268 - - -
Aset lancar lain-lain 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387 102.733.387
Jumlah Liabilitas Lancar 635.725.438 485.025.435 963.571.449 297.047.637 297.430.832 297.612.907 -14,08%
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang -
Utang obligasi dan ijarah jangka panjang 882.835.268 677.635.268 - - - -
Utang pihak berelasi -
Utang lain-lain jangka panjang 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 924.476.283 719.276.283 41.641.015 41.641.015 41.641.015 41.641.015 -46,21%
JUMLAH LIABILITAS 1.560.201.721 1.204.301.718 1.005.212.464 338.688.652 339.071.847 339.253.922 -26,30%
EKUITAS
Modal saham 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400 363.724.400
Tambahan Modal Disetor 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127 855.301.127
Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali 403.752 403.752 403.752 403.752 403.752 403.752
Saldo laba:
Saldo Laba (Rugi) Ditahan 6.355.638.329 6.355.638.329 7.396.042.940 8.458.112.923 9.559.578.068 10.662.401.811
Saldo Laba (Rugi) 1.040.404.611 1.062.069.984 1.101.465.145 1.102.823.744 1.103.469.283
Deviden (225.000.000) (475.000.000) (750.000.000) (1.050.000.000) (1.375.000.000)
Jumlah Ekuitas 7.575.067.608 8.390.472.219 9.202.542.202 10.029.007.347 10.831.831.090 11.610.300.373 8,92%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 9.135.269.329 9.594.773.937 10.207.754.667 10.367.695.999 11.170.902.937 11.949.554.295 5,52%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha, aset lancar dalam neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi
sebesar Rp3.231.887.189 ribu pada tahun 2029 dari Rp333.577.584 ribu pada tahun 2023 atau diproyeksikan
rata-rata naik sebesar 57,49% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Aset tidak lancar dalam neraca keuangan
SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp8.717.667.107 ribu pada tahun 2029 dari Rp 8.801.691.745 ribu
pada tahun 2023 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -0,19% selama tahun 2024–2029 (CAGR).
Liabilitas lancar SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp297.612.907 ribu pada tahun 2029 dari
Rp635.725.438 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -14,08% selama tahun
2024–2029 (CAGR). Pada liabilitas tidak lancar SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp41.641.015 ribu
pada tahun 2029 dari Rp924.476.283 ribu dari tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -46,21%
selama tahun 2024–2029 (CAGR). Nilai ekuitas SGRO diproyeksikan menjadi Rp 11.610.300.373 ribu pada
tahun 2029 dari Rp7.575.067.608 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar 8,92%
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 15
Page 102
selama tahun 2024–2029 (CAGR).
Tabel VIII.11. Proyeksi Laba Rugi SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
Proyeksi 2024-2029
Uraian FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 CAGR
2024 2025 2026 2027 2028 2029
PENDAPATAN
Tandan buah segar 106.129.085 82.569.114 88.920.584 95.272.054 111.669.017 115.271.244
Minyak sawit mentah 493.006.283 390.071.904 402.500.000 402.500.000 402.500.000 402.500.000
Inti sawit 90.536.888 53.634.887 55.343.750 55.343.750 55.343.750 55.343.750
Lain-lain 1.819.754 1.819.754 1.819.754 1.819.754 1.819.754 1.819.754
Jumlah Pendapatan 691.492.010 528.095.659 548.584.088 554.935.558 571.332.521 574.934.747 -3,62%
-
BEBAN POKOK PENDAPATAN -
HPP (655.266.011) (482.903.956) (496.200.200) (497.123.164) (522.776.777) (522.058.432)
Total Beban Langsung (655.266.011) (482.903.956) (496.200.200) (497.123.164) (522.776.777) (522.058.432)
LABA BRUTO 36.225.999 45.191.702 52.383.888 57.812.394 48.555.744 52.876.316 7,86%
BEBAN OPERASIONAL
Beban umum dan administrasi
Beban penjualan dan pemasaran (10.699.396) (11.871.754) (12.250.000) (12.250.000) (12.250.000) (12.250.000)
Beban umum dan administrasi
Biaya Personel (35.185.068) (37.472.099) (39.907.787) (42.501.795) (45.264.414) (48.206.603)
Non biaya personel (11.671.690) (12.141.962) (12.631.182) (13.140.113) (13.669.550) (14.220.319)
Pendapatan Lainnya 999.988.650 986.692.756 986.692.756 986.692.756 986.692.756 986.692.756
Beban lainnya (200.367.652) - - - - -
Penyusutan (3.099.626) (3.099.626) (3.099.626) (3.099.626) (3.099.626) (3.099.626)
TOTAL BEBAN 738.965.218 922.107.316 918.804.161 915.701.222 912.409.166 908.916.208 4,23%
LABA (RUGI) USAHA 775.191.217 967.299.018 971.188.049 973.513.616 960.964.910 961.792.524 4,41%
Pendapatan (beban) Keuangan
Pendapatan keuangan 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728 174.613.728
Beban keuangan (93.551.264) (86.358.638) (62.471.550) (14.290.500) - -
Pendapatan (beban) lainnya - neto
TOTAL BEBAN 81.062.464 88.255.090 112.142.178 160.323.228 174.613.728 174.613.728 16,59%
LABA SEBELUM PAJAK 856.253.681 1.055.554.108
1.083.330.227 1.133.836.844 1.135.578.638 1.136.406.252 5,82%
-
BEBAN PAJAK PENGHASILAN - NETO -
Beban pajak penghasilan (970.256) (15.149.497) (21.260.244) (32.371.699) (32.754.894) (32.936.969)
LABA TAHUN BERJALAN 855.283.425 1.040.404.611 1.062.069.984 1.101.465.145 1.102.823.744 1.103.469.283 5,23%
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha, pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp574.934.747 ribu pada
tahun 2029 dari Rp691.492.010 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -3,62%
selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Kotor diproyeksikan menjadi sebesar Rp52.876.316 ribu
pada tahun 2029 dari Rp36.225.999 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar 7,86%
selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Operasi diproyeksikan menjadi sebesar Rp 961.792.524
ribu pada tahun 2029 dari Rp 775.191.217 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar
4,41% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Tahun Berjalan diproyeksikan menjadi Rp
1.103.469.283 ribu pada tahun 2029 dari Rp855.283.425 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata
naik sebesar 5,23% selama tahun 2024–2029 (CAGR).
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 16
Page 103
VIII.4 KRITERIA KELAYAKAN
Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter investasi seperti
Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Analisis kelayakan atas
Perubahan Kegiatan Usaha SGRO harus didasarkan pada analisis inkremental dari dua skenario proyeksi
keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa Perubahan Kegiatan Usaha SGRO dan proyeksi keuangan
dengan Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.
Analisis NPV bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Perubahan Kegiatan Usaha SGRO di masa depan jika
ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek yang memiliki NPV positif berarti
menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.
Analisa Internal Rate of Return (IRR) bertujuan untuk melihat tingkat pengembalian dari Perubahan
Kegiatan Usaha SGRO di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek
yang memiliki IRR lebih besar dari pada tingkat diskonto yang digunakan berarti menguntungkan dan layak
untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.
Analisa Profitability Index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi Perubahan Kegiatan
Usaha SGRO dalam kelangsungan usahanya atau profitabilitasnya dari di masa depan jika ditinjau pada
saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek yang memiliki PI lebih besar dari satu berarti
menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.
Untuk menentukan kelayakan, digunakan analisis NPV, IRR, dan PI inkremental/perubahan yang dihitung
dari hasil selisih AKB untuk kapital (FCFF) Tanpa Perubahan Kegiatan Usaha SGRO dengan AKB untuk
kapital (FCFF) Dengan Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.
Tabel VIII.12. Proyeksi Kelayakan Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
REALISASI P R O Y E K S I (RP000)
URAIAN TOTAL
2024 2025 2026 2027 2028 2029
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
CASH IN FLOW
Net Income 5.410.232.765 1.040.404.611 1.062.069.984 1.101.465.145 1.102.823.744 1.103.469.283
Depreciation/Amortization 127.081.706 18.041.141 18.041.141 18.041.141 36.479.141 36.479.141
Interest (1-T) 127.234.136 67.359.737 48.727.809 11.146.590 - -
Salvage Value 0 - - - - -
TOTAL IN FLOW 5.664.548.608 0 1.125.805.489 1.128.838.934 1.130.652.876 1.139.302.885 1.139.948.424
CASH OUT FLOW
Investment Outlays (7.401.562.942) (7.401.562.942)
Capital Expenditure, CAPEX (43.057.068) (9.695.568) (11.170.608) (10.027.452) (6.081.720) (6.081.720)
+/- Working Capital (335.810.301) (149.583.322) 478.513.507 (666.525.759) 1.605.432 179.841
TOTAL OUT FLOW (7.780.430.311) (7.401.562.942) (159.278.890) 467.342.899 (676.553.211) (4.476.288) (5.901.879)
NET CASH FLOW -2.115.881.703 (7.401.562.942) 966.526.599 1.596.181.833 454.099.665 1.134.826.597 1.134.046.545
Terminal Value 18.416.776.728
FREE CASH FLOW 16.300.895.025 (7.401.562.942) 966.526.599 1.596.181.833 454.099.665 1.134.826.597 19.550.823.273
Discount Factor 1,00000 0,91551 0,83816 0,76735 0,70252 0,64316
DISCOUNTED CASH FLOW 8.541.259.326 (7.401.562.942) 884.867.559 1.337.861.910 348.453.290 797.236.836 12.574.402.673
PROCEED (7.401.562.942) (6.435.036.343) (4.838.854.510) (4.384.754.844) (3.249.928.248) (2.115.881.703)
PRESENT VALUE KAS MASUK 16.223.027.754 - 1.030.689.436 946.151.986 867.606.266 800.381.512 12.578.198.554
PRESENT VALUE KAS KELUAR (7.681.768.428) (7.401.562.942) (145.821.877) 391.709.924 (519.152.976) (3.144.676) (3.795.881)
INTERNAL RATE OF RETURN, IRR 30,66%
NET PRESENT VALUE, NPV 8.541.259.326
PROFITABILITY INDEX, PI 2,11189
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 17
Page 104
Kelayakan sebelum perubahan kegiatan usaha diperoleh dari initial cost sebesar Rp 7.401.562.942 ribu
terdiri dari spin off asset sebesar Rp 189.093.980 ribu dan investasi penyertaan saham sebesar Rp
7.212.468.962 ribu. Hasil analisis kelayakan pada diskon factor 9,23% didapatkan kriteria kelayakan IRR
sebesar 30,66%, NPV Rp8.541.259.326 ribu dan PI 2,11189.
Sedangkan kelayakan setelah perubahan kegiatan usaha disajikan sebagai berikut.
Tabel VIII.13. Proyeksi Kelayakan Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
REALISASI P R O Y E K S I (RP000)
URAIAN TOTAL
2024 2025 2026 2027 2028 2029
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
CASH IN FLOW
Net Income 5.250.400.666 965.193.316 990.632.052 1.052.713.225 1.098.262.483 1.143.599.590
Depreciation/Amortization 0 - - - - -
Interest (1-T) 127.234.136 67.359.737 48.727.809 11.146.590 - -
Salvage Value 0 - - - - -
TOTAL IN FLOW 5.377.634.802 0 1.032.553.053 1.039.359.861 1.063.859.815 1.098.262.483 1.143.599.590
CASH OUT FLOW
Investment Outlays (7.212.468.962) (7.212.468.962)
Capital Expenditure, CAPEX - - - - - -
+/- Working Capital (401.145.677) (209.987.202) 474.767.172 (667.682.816) 2.507.081 (749.913)
TOTAL OUT FLOW (7.613.614.639) (7.212.468.962) (209.987.202) 474.767.172 (667.682.816) 2.507.081 (749.913)
NET CASH FLOW -2.235.979.837 (7.212.468.962) 822.565.852 1.514.127.033 396.176.999 1.100.769.564 1.142.849.677
Terminal Value 18.559.738.504
FREE CASH FLOW 16.323.758.667 (7.212.468.962) 822.565.852 1.514.127.033 396.176.999 1.100.769.564 19.702.588.180
Discount Factor 1,00000 0,91551 0,83816 0,76735 0,70252 0,64316
DISCOUNTED CASH FLOW 8.559.017.229 (7.212.468.962) 753.069.639 1.269.086.543 304.006.344 773.311.136 12.672.012.530
PROCEED (7.212.468.962) (6.389.903.110) (4.875.776.077) (4.479.599.078) (3.378.829.514) (2.235.979.837)
PRESENT VALUE KAS MASUK 16.076.866.826 - 945.315.628 871.153.862 816.352.624 771.549.865 12.672.494.847
PRESENT VALUE KAS KELUAR (7.517.849.597) (7.212.468.962) (192.245.989) 397.932.681 (512.346.280) 1.761.271 (482.318)
INTERNAL RATE OF RETURN, IRR 30,80%
NET PRESENT VALUE, NPV 8.559.017.229
PROFITABILITY INDEX, PI 2,13849
Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
Kelayakan setelah perubahan kegiatan usaha diperoleh dari initial cost sebesar Rp 7.212.468.962 ribu yaitu
dari investasi penyertaan saham sebesar Rp 7.212.468.962 ribu. Hasil analisis kelayakan pada diskon
factor 9,23% didapatkan kriteria kelayakan IRR sebesar 30,80%, NPV Rp8.559.017.229 ribu dan PI
2,13849.
Dari hasil perhitungan diperoleh hasil AKB untuk kapital (FCFF) diatas, analisis perhitungan NPV, IRR, dan
PI mengalami inkremental/perubahan seperti tabel berikut.
Tabel VIII.14. Kriteria Kelayakan Sebelum dan Setelah Perubahan Kegiatan Utama (Dalam Ribuan
Rupiah)
Sebelum Perubahan Setelah Perubahan Inkremental
URAIAN
2024-2029 2024-2029 2024-2029
1. Arus Kas Bersih Untuk Kapital 16.300.895.025 16.323.758.667 22.863.642
2. Internal Rate of Return (IRR) 30,66% 30,80% 0,14%
3. Net Present Value (NPV) 8.541.259.326 8.559.017.229 17.757.903
4. Profitability Index (PI) 2,11189 2,13849 0,02661
Sumber: Hasil analisis
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 18
Page 105
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa dengan metode arus kas bersih (AKB) untuk kapital, kriteria
kelayakan dari IRR, NPV, dan PI setelah perubahan kegiatan usaha lebih baik dibandingkan dengan
sebelum perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200). Hal ini
menunjukkan bahwa aksi korporasi SGRO terkait perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan
holding (KBLI 64200) memberikan kontribusi positif dan layak untuk dilaksanakan.
VIII.5. KESIMPULAN HASIL ANALISIS
Berdasarkan hasil analisis atas seluruh data dan informasi yang telah diterima IDR dan dengan
mempertimbangkan semua faktor yang relevan yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, maka IDR
berpendapat bahwa Perubahan Kegiatan Usaha adalah layak secara finansial. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Perubahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk VIII - 19
Names mentioned 73 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.2
unresolved
org
PT Selapan Jaya
p.2 ×8
unresolved
org
KJPP Iwan Bachron & Rekan
p.3 ×4
unresolved
org
KJPP Iwan Bachron
p.3 ×4
unresolved
—
Domisili
p.3 ×2
unresolved
org
Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk
p.3 ×2
unresolved
org
Bank Indonesia
p.5 ×19
unresolved
org
Pusat Statistik
p.5 ×2
unresolved
org
KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN Appraisers
p.10
unresolved
person
Consultants Bunga Budiarti
p.10
unresolved
person
Bunga Budiarti, S.E., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
· Rekan
p.10 ×3
unresolved
org
KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN.
p.11 ×2
unresolved
person
Penanggung Jawab Bunga Budiarti
p.13
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.27 ×5
unresolved
person
Liestiani Wang
· Notaris
p.27 ×27
unresolved
org
Twinwood Family Holdings SFO Limited
p.28 ×2
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.32 ×2
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W
p.32 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU- AH.
p.36
unresolved
org
Bank Commodities Price Data
p.57
unresolved
org
Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit
p.60
unresolved
org
PT Gading Jaya Agro
p.64 ×4
unresolved
org
PT Palma Timur Sejahtera
p.64 ×4
unresolved
org
PT Usaha Agro Indonesia
p.64 ×4
unresolved
org
PT Telaga Hikmah
p.65
unresolved
org
PT Aek Tarum
p.65
unresolved
org
PT Gunung Tua Abadi
p.65
unresolved
org
PT Mutiara Bunda Jaya
p.65
unresolved
org
PT Binasawit Makmur
p.65
unresolved
org
PT Tania Binatama
p.66
unresolved
org
PT Selatanjaya Permai
p.66
unresolved
org
PT Sungai Rangit
p.66 ×2
unresolved
org
PT Nusantara Sago Prima
p.66
unresolved
org
Sampoerna Palma Pte. Ltd.
p.66
unresolved
org
PT Lanang Agro Bersatu
p.66
unresolved
org
PT National Sago Prima
p.66
unresolved
org
PT Pertiwi Agro Sejahtera
p.66
unresolved
org
PT Pangan Agro Nusantara
p.66
unresolved
org
PT Industri Hutan Lestari
p.66
unresolved
org
PT Industri Hutan Unggul
p.66
unresolved
org
PT Usaha Agro Jaya
p.66
unresolved
org
PT Tebar Tandan Tenerah
p.66
unresolved
org
PT Hutan Ketapang Industri
p.66
unresolved
org
PT Kusuma Mentari Makmur
p.66
unresolved
org
PT Nusantara Sarana Alam
p.66
unresolved
org
PT Agro Planindo Utama
p.66
unresolved
org
PT Kedurang Prakarsa Nabati
p.66
unresolved
org
PT Anugerah Palm Indonesia
p.66
unresolved
org
PT Sugih Amerta Berlabuh
p.66
unresolved
org
PT Sungai Menang IV.
p.66
unresolved
org
Departemen Internal Audit
p.78
unresolved
—
Velan Mahadevan
· Head of Agronomy & Continuous Improvements Director
p.79
unresolved
person
Mohd Rasakh Bin Abdullah
· Head of Engineering & Operation
p.80
unresolved
—
Ronald Romatua Marpaung
· Head of Internal Audit
p.80
unresolved
—
Bona Ranto Pasaribu
· Head of Sustainability & Operations Sago
p.80
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
22574 ms
12 Sep 2026 22:53
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL_FACT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}