Skip to content
Back to announcement

20250327_SGRO_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31872137_lamp2.pdf

Asset transaction Needs review SGRO

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 105

Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN

PERUBAHAN KEGIATAN USAHA

 PT SAMPOERNA AGRO Tbk
    Tanggal Studi Kelayakan:
       31 Desember 2024
Page 2
Nomor: 00002/IDR-FS/III/2025                                                                       27 Maret 2025

Kepada Yth.
PT SAMPOERNA AGRO TBK
Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F
Jalan Jendral Sudirman Kav.45
Karet Semanggi, Setiabudi
Jakarta Selatan – DKI Jakarta

Up      : Direksi
Perihal : Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha

Dengan hormat,

Memenuhi permintaan PT Sampoerna Agro Tbk (“Pemberi Tugas/SGRO”) perihal Penyusunan Studi Kelayakan atas
rencana perubahan kegiatan usaha seperti yang tertuang di dalam Surat Perjanjian Kerja No. 010/IDR-
B/BS/SPK/III/2025 pada tanggal 4 Maret 2025, serta dalam batas-batas kemampuan kami sebagai Kantor Jasa Penilai
Publik (KJPP) yang beroperasi dengan Izin Usaha No. 2.09.0047, berdasarkan dari Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia No. 552KM.1/2009. Maka dengan ini, kami menyatakan bahwa telah meneliti dan menganalisis
kelayakan dari rencana perubahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh SGRO per tanggal 31 Desember 2024.

LATAR BELAKANG
PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama Perseroan
diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. PT Sampoerna Agro Tbk bersama entitas anaknya adalah
perusahaan perkebunan yang terdiversifikasi dan terintegrasi. Perseroan beroperasi secara komersial sejak bulan
November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor 788, Palembang, Sumatera
Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan,
perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha utama Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit
dan industri minyak mentah kelapa sawit (CPO), industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan
besar buah yang mengandung minyak. Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya
Perseroan, antara lain pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti
usaha sumber energi terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.

Berdasarkan informasi Pemberi Tugas, SGRO berencana ingin mengubah kegiatan usaha Perseroan dengan
pertimbangan dan alasan yaitu sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk meningkatkan kinerja
serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para
pemegang saham di masa mendatang, maka Perseroan memandang perlu melakukan pengembangan usaha
dengan mengubah kegiatan usaha utama Perseroan dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan
kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.
Page 3
Berdasarkan penjelasan dari manajemen SGRO, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini
mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut.

Dalam pelaksanaannya, sebagai perusahaan Tbk, SGRO harus mengikuti peraturan OJK yaitu Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan ("POJK") Nomor No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Untuk transaksi yang menyebabkan terjadinya Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan POJK No.17/2020
mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan tentang perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh penilai
independen. Dalam rangka pelaksanaan Rencana Transaksi dan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur
dalam Peraturan POJK No.17/2020, maka SGRO perlu menunjuk penilai untuk melaksanakan penyusunan studi
kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (“Studi Kelayakan”).

STATUS PENILAI
Studi Kelayakan Ini dilakukan oleh Bunga Budiarti, M.Ec., Dev. MAPPI (Cert.) merupakan Penilai independen yang
bernaung dalam KJPP Iwan Bachron & Rekan berdasarkan ijin Penilai Publik No. B-1.16.00465, yang terdaftar sebagai
profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) dengan Surat Tanda Terdaftar (“STTD”) Profesi
Penunjang Pasar Modal dari Bagian Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Penilai Properti dan Bisnis)
STTD OJK No. STTD.PPB-27/PM.2/2018. Bertindak independen, objektif, dan memiliki kompetensi untuk melakukan
studi kelayakan sebagaimana yang dimaksud dalam lingkup penugasan ini.

KJPP Iwan Bachron & Rekan dalam memberikan jasa studi kelayakan sesuai dengan kemampuan dan keahlian
dengan menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan tidak memihak. Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau
benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik aset dan pemberi
tugas. Untuk studi kelayakan objek sebagaimana dijelaskan di bawah tidak diperlukan bantuan tenaga ahli luar.
Seluruh Penilai, ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan tim penugasan di bawah
koordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan studi kelayakan.

IDENTITAS PEMBERI TUGAS DAN PENGGUNA LAPORAN
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sebagaimana dimaksud dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah:
Nama               : PT Sampoerna Agro Tbk
Domisili           : Sampoerna Strategic Square, North Tower 28/F, Jalan Jendral Sudirman Kac.45, Kelurahan Karet
                     Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Industri           : Perkebunan, Perindustrian, dan Perdagangan
Telp               : (021) 5771711 ext 3384
Email              : imelda.siahaan@sampoernaagro.com

(Pemberi tugas memastikan bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan (dalam kurun waktu 2 bulan), aset atau objek studi
kelayakan tersebut tidak sedang atau telah dilakukan studi kelayakan lain untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal
studi kelayakan yang sama atau berdekatan.)

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                               II
Page 4
OBJEK STUDI KELAYAKAN
Objek studi kelayakan berupa rencana perubahan kegiatan usaha SGRO menjadi kegiatan usaha perusahaan holding
(KBLI 64200).

JENIS MATA UANG
Dalam penugasan ini mata uang pada studi kelayakan dinyatakan dalam Rupiah.

MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
Maksud dan tujuan dari studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas rencana perubahan
kegiatan usaha, yang ditinjau dari berbagai aspek, meliputi: aspek hukum; aspek pasar; aspek teknis; aspek pola
bisnis; aspek model manajemen; dan aspek keuangan dalam rangka memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur
dalam Peraturan POJK No.17/2020 tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama” (“POJK
No.17/2020”).

TANGGAL STUDI KELAYAKAN
Tanggal studi kelayakan akan ditentukan pada tanggal 31 Desember 2024. Tanggal ini dipilih atas dasar pertimbangan
kepentingan dan tujuan studi kelayakan serta dari data keuangan SGRO yang kami terima.

TINGKAT KEDALAMAN INVESTIGASI
        Tidak dilakukan uji tuntas atas laporan keuangan objek studi kelayakan
        Tidak dilakukan uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek studi kelayakan.
        Pengumpulan data dan informasi dari pihak manajemen SGRO diverifikasi secara tertulis atau wawancara
         langsung.
        Inspeksi dan/atau wawancara dapat dilakukan tanpa ada pembatasan termasuk akses data yang harus
         disediakan oleh pemberi tugas dan/atau pihak terkait lainya.
        Segala sesuatu yang membatasi pekerjaan studi kelayakan ini akan dicatatkan sebagai bagian yang mengikat
         atas hasil studi kelayakan yang dilakukan.

SIFAT DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIANDALKAN
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk digunakan sepanjang
sumber data tersebut diyakini kebenarannya. Sumber data tersebut antara lain:
   ⮚     Informasi primer yang relevan atas objek studi kelayakan diberikan secara langsung oleh Pemberi Tugas
         selama proses penyusunan studi kelayakan dengan rincian sebagai berikut:
             Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh (KAP)
              Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00254/2.1032/AU.1/01/1814-1/1/III/2025 tanggal 20 Maret 2025
              dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     III
Page 5
             Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh (KAP)
              Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00307/2.1032/AU.1/01/1562-3/1/III/2024 tanggal 26 Maret 2024
              dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
             Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh (KAP)
              Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00506/2.1032/AU.1/01/1562-2/1/III/2023 tanggal 30 Maret 2023
              dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
             Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh (KAP)
              Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00327/2.1032/AU.1/01/1562-1/1/III/2022 tanggal 28 Maret 2022
              dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
             Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh (KAP)
              Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00494/2.1032/AU.1/01/0701-3/1/IV/2021 tanggal 15 April 2021
              dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
             Company Profile, legalitas usaha dan laporan manajemen SGRO.
     Informasi sekunder atas data lain yang diperlukan untuk penilaian diperoleh dari media cetak, media
         elektronik dan papan pengumuman yang layak, diantaranya:
             Bank Indonesia (BI)
             Badan Pusat Statistik (BPS)
             Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
             Data riset dari lembaga independen seperti website Aswath Damodaran
             Media cetak dan elektronik resmi seperti Yahoo Finance, Bloomberg, Koyfin, S&P Capital IQ, dan website
              Bursa Efek Indonesia.

ASUMSI DAN ASUMSI KHUSUS
     Objek studi kelayakan yang dinilai tidak mempunyai masalah hukum dan hak kepemilikannya adalah sah,
         bebas dari sengketa dan dapat dialihkan haknya.
     Objek studi kelayakan yang ditunjukkan kepada kami adalah benar merupakan objek dalam studi kelayakan.
     Seluruh data dan informasi yang diberikan pemberi tugas sehubungan dengan studi kelayakan ini adalah
         relevan, benar dan dapat dipercaya.
     Kami tidak melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen – dokumen legal yang terkait.
     Seluruh pernyataan data dan informasi yang diberikan Pemberi Tugas adalah relevan, benar dan dapat
         dipercaya sesuai dengan prosedur studi kelayakan yang umum berlaku dan disampaikan dengan itikad baik.
     Kondisi-kondisi tidak wajar yang tersembunyi terhadap objek studi kelayakan yang dapat membawa efek
         negatif terhadap nilai, tidak menjadi tanggung jawab kami sebab merupakan bagian pekerjaan ahli lain.
     Baik Pemimpin Rekan dan atau Rekan, serta para Penilai maupun karyawannya tidak mempunyai
         kepentingan finansial apapun terhadap objek studi kelayakan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                        IV
Page 6
PERSYARATAN DAN PERSETUJUAN UNTUK PUBLIKASI
Laporan ini tidak bertujuan untuk disirkulasikan atau didistribusikan secara umum dan tidak untuk direproduksi serta
digunakan untuk tujuan lain, kecuali atas persetujuan kami secara tertulis. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian
atau kehilangan yang diderita akibat penggunaan laporan ini oleh pihak lain tanpa persetujuan kami secara tertulis.

STANDAR STUDI KELAYAKAN
Dalam pekerjaan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.17/POJK.04/2020 tentang
Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (POJK 17/POJK.04/2020), Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020
tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (POJK 35/POJK.04/2020) serta Kode Etik
Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII dan 320, 330, dan 340 – Edisi Revisi (KEPI-
SPI Edisi VII.2018).

ASUMSI-ASUMSI POKOK
Studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan, serta
peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku sampai dengan tanggal studi kelayakan. Dalam studi kelayakan, kami
mempertimbangkan beberapa asumsi, seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban SGRO. Kami juga
mengasumsikan bahwa dari tanggal studi kelayakan sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan
tidak terjadi perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam
studi kelayakan.

KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL STUDI KELAYAKAN
Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan studi kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi mengenai
peristiwa penting yang dapat berdampak secara material terhadap hasil analisis studi kelayakan.

KONDISI PEMBATAS
Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan, keandalan dan kelengkapan
dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi lain yang diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas atau
yang tersedia secara umum yang pada hakikatnya adalah benar, lengkap dan tidak menyesatkan, dan kami tidak
bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap informasi-informasi tersebut. Kami juga
bergantung kepada jaminan dari Pemberi Tugas bahwa mereka tidak mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan
informasi-informasi yang diberikan kepada kami menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.

Analisis studi kelayakan SGRO dipersiapkan menggunakan data dan informasi sebagaimana diungkapkan di atas.
Segala perubahan atas data dan informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir pendapat kami secara material.
Kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas studi kelayakan kami maupun segala kehilangan,
kerusakan, biaya ataupun pengeluaran apapun yang disebabkan oleh ketidakterbukaan informasi sehingga data yang
kami peroleh menjadi tidak lengkap dan atau dapat disalahartikan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                          V
Page 7
Hasil dari studi kelayakan kami sangat tergantung dari data serta asumsi-asumsi yang mendasarinya, perubahan pada
sumber data serta asumsi sesuai data pasar akan merubah hasil dari studi kelayakan kami. Oleh karena itu, kami
sampaikan bahwa perubahan terhadap data yang digunakan dapat berpengaruh terhadap hasil studi kelayakan, dan
bahwa perbedaan yang terjadi dapat bernilai material. Walaupun penyusunan laporan studi kelayakan ini telah
dilaksanakan dengan itikad baik dan dengan cara yang profesional, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas
kemungkinan terjadinya perbedaan kesimpulan yang disebabkan oleh adanya analisis tambahan, diaplikasikannya
hasil studi kelayakan sebagai dasar untuk melakukan analisis transaksi, ataupun adanya perubahan dalam data yang
dijadikan sebagai dasar studi kelayakan.

Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan SGRO tidak merupakan dan tidak dapat ditafsirkan dalam
bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas informasi keuangan.
Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal,
kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran hukum.

KETERSEDIAAN TENAGA AHLI
Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap mempertahankan
management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan pengalaman dan keahlian dari
management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha.
Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas
Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi
Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada saat ini. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka
kedepannya SGRO juga dapat menambah tenaga ahli apabila diperlukan.

PERTIMBANGAN ALASAN PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen, Saat ini Perseroan bergerak dalam bidang usaha
perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit. Latar belakang, pertimbangan dan alasan dari rencana perubahan
kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk meningkatkan kinerja
serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para
pemegang saham di masa mendatang. Maka Perseroan memandang perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha
dengan fokus meningkatkan nilai (value) bagi anak dan cucu perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan.
Untuk itu Perseroan berencana mengubah kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang
perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.

Atas hal tersebut, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI),
menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan
holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan
kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies" tidak terlibat dalam kegiatan usaha
perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (counsellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                       VI
Page 8
INDEPENDENSI PENILAI
Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan kepentingan dan
tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR juga tidak memiliki kepentingan
ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya, Studi Kelayakan tidak disusun untuk
memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi
oleh hasil yang diperoleh dari proses penyusunan Studi Kelayakan dan IDR hanya menerima imbalan sesuai dengan
surat perjanjian kerja yang telah disetujui oleh manajemen SGRO.

METODOLOGI STUDI KELAYAKAN
Penyusunan Studi Kelayakan mencakup analisis atas aspek hukum, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, dan
aspek model manajemen serta aspek keuangan. Untuk dapat melakukan analisis tersebut, maka akan dikumpulkan
berbagai data penunjang, baik data primer maupun data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
mendalam (in-depth interview) kepada instansi/individu yang kompeten dan survey/penelitian lapangan.

Selanjutnya dalam menganalisa aspek keuangan digunakan metode diskonto arus kas (discounted cash flow method).
Sebelum melakukan proses diskonto (discounting), terlebih dahulu harus diproyeksikan pendapatan mendatang
berupa arus kas bersih (net cash flow) yang sesuai dengan sifat dan jenis usaha yang dinilai. Setelah proyeksi tersedia,
langkah berikutnya adalah menetapkan tingkat diskonto (discount rate) yang tepat. Proses selanjutnya adalah
melakukan perhitungan diskonto biasa, yaitu dengan mendiskonto nilai-nilai arus kas bersih yang telah diproyeksikan,
termasuk nilai periode kekal (continuing value), dengan faktor diskonto (discount factor) yang diperoleh dari tingkat
diskonto sesuai dengan periode proyeksinya, yang kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kini (present value)
dari keseluruhan pendapatan di masa mendatang. Analisis kelayakan dilakukan dengan mengacu pada parameter
investasi seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan profitability index (PI).




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                          VII
Page 9
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis atas seluruh data dan informasi yang telah kami terima dan dengan mempertimbangkan
semua faktor yang relevan yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, maka menurut pendapat kami Rencana
Perubahan Kegiatan Usaha adalah layak. Hal ini dapat dilihat dari nilai kriteria investasi yang diperhitungkan selama
5 tahun masa proyeksi sebagai berikut:

Net Present Value (Nilai Bersih)
Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa Net Present Value (NPV) perubahan
positif sebesar Rp8.559.017.229.177 pada tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan. Nilai NPV > 0
menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan.

Internal Rate of Return (Tingkat Pengembalian)
Analisa Internal Rate of Return (IRR) perubahan pada proyek ini menunjukkan bahwa nilai perhitungan adalah 30,80%.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan tingkat diskonto (discount
rate) yang ditetapkan sehingga proyek tersebut layak untuk direalisasikan.

Profitability Index (Indeks Profitabilitas)
Profitability Index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi untuk
kelangsungan hidup atau profitabilitas. Pada studi ini menunjukkan bahwa PI perubahan sebesar 2,13849. Indeks
profitabilitas apa pun yang sama dengan atau lebih besar dari 1 dianggap baik dan layak untuk direalisasikan.

Kelayakan tersebut kami tentukan berdasarkan data dan informasi yang kami peroleh dari pihak manajemen SGRO,
serta pihak-pihak lain yang relevan dengan penugasan. Kami menganggap bahwa semua informasi tersebut adalah
benar, dan bahwa tidak ada keadaan atau hal-hal yang tidak terungkap yang akan mempengaruhi kelayakan tersebut
secara material.

Kami tidak melakukan penyelidikan dan juga bukan merupakan tanggung jawab kami kemungkinan terjadinya masalah
yang berkaitan dengan status hukum kepemilikan, kewajiban utang dan/atau sengketa atas Rencana Perubahan
Kegiatan Usaha. Kami tegaskan pula bahwa kami tidak memperoleh manfaat atau keuntungan apapun baik saat ini
maupun di masa datang, dan imbalan jasa yang telah disetujui atas penugasan ini tidak tergantung pada hasil yang
dilaporkan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                       VIII
Page 10
Berdasarkan hasil analisa kami atas semua aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa Rencana Perubahan Kegiatan
Usaha yang dimaksud, Layak Untuk Direalisasikan.

Perlu disampaikan bahwa proyeksi usaha dan keuangan disusun atas dasar asumsi-asumsi tertentu yang validitasnya
tergantung dari kondisi yang akan timbul dikemudian hari.



Hormat kami,
KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN
Appraisers and Consultants




Bunga Budiarti, S.E., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
Rekan
Penilai Bisnis dan Properti
Izin Penilai Publik No. B-1.16.00.465
Izin Penilai Publik No. P-1.17.00500
STTD OJK no. STTD.PPB-27/PM.2/2018
MAPPI No. 11-S-02732
No. Register: RMK-2017.00554




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  IX
Page 11
                            ASUMSI-ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
   1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.

   2. IDR telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan.

   3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya. Informasi
        yang dinyatakan tanpa menyebutkan sumbernya merupakan hasil penelaahan kami terhadap data yang
        ada, pemeriksaan atas dokumen ataupun keterangan dari instansi pemerintah yang berwenang. Tanggung
        jawab untuk memeriksa kembali kebenaran informasi tersebut sepenuhnya berada dipihak Pemberi Tugas.

   4. IDR menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran proyeksi
        keuangan yang dibuat oleh manajemen SGRO dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).

   5. IDR bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi keuangan.

   6. Laporan ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat
        mempengaruhi operasional SGRO.

   7. IDR bertanggung jawab atas laporan dan kesimpulan akhir.

   8. IDR telah memperoleh informasi atas status hukum objek Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
        Penunjang dari SGRO. IDR tidak melakukan penelitian dan penyelidikan yang ada hubungannya dengan
        kebenaran legalitas, serta hutang piutang yang mengakibatkan kerugian atas properti yang dinilai, karena
        bukan merupakan ruang lingkup pekerjaan penilai, kami berasumsi bahwa objek yang dinilai tersebut telah
        bebas dari segala tuntutan hukum.

   9. Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) IWAN BACHRON DAN REKAN tidak berkewajiban untuk memberikan
        kesaksian atau hadir di depan pengadilan atau pejabat pemerintah, jika hal tersebut tidak terkait dengan
        maksud dan tujuan laporan ini, serta di luar ruang lingkup dari penugasan.

   10. Jika dikemudian hari Penilai diminta untuk memberikan penjelasan dan pemaparan yang dilakukan diluar
        wilayah kerja kantor kami, maupun kepada pihak selain pemberi tugas dan pengguna jasa, maka segala
        bentuk biaya yang timbul menjadi beban pemberi tugas.

   11. Laporan Studi Kelayakan ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan Pimpinan dan stempel kantor
        (office seal) dari KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     X
Page 12
                                             PERNYATAAN PENILAI

Dalam batas kemampuan dan keyakinan serta pemahaman kami sebagai penilai, yang bertanda tangan di bawah
ini menyatakan bahwa:

1. Pernyataan dalam laporan ini, sebatas pengetahuan kami, bahwa perhitungan dan analisis dalam studi
     kelayakan usaha telah dilakukan dengan benar dan akurat.

2. Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai konsultan penyusun Laporan Studi Kelayakan ini,
     bahwa nilai investasi yang terdapat dalam laporan ini yang menjadi dasar bagi analisa, pendapat dan
     kesimpulan yang diuraikan didalamnya adalah sesuai dan benar. Perlu kami tegaskan bahwa kami tidak
     mengambil keuntungan atas hasil dari analisa proyek, baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.

3. Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan
     kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR juga
     tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya, Studi
     Kelayakan tidak disusun untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun.

4. Biaya jasa profesional tidak dikaitkan dengan opini yang telah ditentukan sebelumnya atau gambaran opini
     yang diinginkan oleh Pemberi Tugas, opini, pencapaian hasil yang dinyatakan, atau adanya kondisi yang terjadi
     kemudian (subsequent event) yang berhubungan secara langsung dengan penggunaan yang dimaksud.

5. Penilai telah mengikuti persyaratan pendidikan profesional yang ditetapkan/ dilaksanakan oleh Masyarakat
     Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).

6. Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh Penilai, serta laporan telah dibuat dengan memenuhi
     ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), Standar Penilaian Indonesia (SPI), serta POJK yang berlaku.

7. Laporan Studi Kelayakan ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan Rekan dan stempel kantor (office
     seal) dari KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     XI
Page 13
Selanjutnya laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi analisa,
pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam laporan ini.


No. Nama                                                                               Tanda Tangan

1. Penanggung Jawab
    Bunga Budiarti, SE., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
    Izin Penilai Publik No. : B-1.16.00.465
    No. Register             : RMK-2017.00554
    MAPPI No.                : 11-S-02732                                                ..................

2. Reviewer
    Dean Fajar Ramadhan, S.M.
    No. Register             : RMK-2023.04532
    MAPPI No.                : 21-T-10752                                                ..................

3. Penilai
    Afif Mustafid Taftazani, STP., MSi.
    No. Register             : RMK-2018.02399
    MAPPI No.                : 12-T-03388                                                ..................

    Dipa Pranaya, S.M.
    No. Register             : RMK-2023.04533
    MAPPI No.                : 22-T-11276                                                ..................

    Rafi Fauzan, S.M.
    No. Register             : RMK-2023.04531
    MAPPI No.                : 21-T-10885                                                ..................

4. Asisten Penilai
    Irfan Arsyad, S.TP.
    MAPPI No.                : 23-A-12241                                                ..................




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     XII
Page 14
                                                                         DAFTAR ISI

SURAT PENGANTAR ................................................................................................................................................. I
ASUMSI-ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ......................................................................................................... X
PERNYATAAN PENILAI .......................................................................................................................................... XI
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................................ XIII

BAB I PENDAHULUAN
I.1.         LATAR BELAKANG .................................................................................................................................. I-1
I.2.         LINGKUP PENUGASAN ............................................................................................................................ I-2
I.2.1.       Status Penilai ............................................................................................................................................ I-2
I.2.2.       Identitas Pemberi Tugas Dan Pengguna Laporan .................................................................................... I-2
I.2.3.       Objek Studi Kelayakan .............................................................................................................................. I-2
I.2.4.       Jenis Mata Uang ........................................................................................................................................ I-2
I.2.5.       Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ........................................................................................................ I-3
I.2.6.       Tanggal Studi Kelayakan .......................................................................................................................... I-3
I.2.7.       Tingkat Kedalaman Investigasi ................................................................................................................. I-3
I.2.8.       Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan ............................................................................... I-3
I.2.9.       Asumsi dan Asumsi Khusus ...................................................................................................................... I-4
I.2.10. Persyaratan dan Persetujuan Untuk Publikasi .......................................................................................... I-4
I.2.11. Standar Studi Kelayakan........................................................................................................................... I-5
I.2.12. Asumsi-Asumsi Pokok ...............................................................................................................................I-5
I.2.13. Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) ................................................ I-5
I.2.14. Kondisi Pembatas ..................................................................................................................................... I-5
I.2.15. Ketersediaan Tenaga Ahli ......................................................................................................................... I-6
I.2.16. Pertimbangan Alasan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................................... I-6
I.2.17. Independensi Penilai ................................................................................................................................. I-7
I.2.18. Metodologi Studi Kelayakan ...................................................................................................................... I-7
I.2.19. Hasil Pelaksanaan Inspeksi ...................................................................................................................... I-7
I.3.         ASPEK MANAJEMEN ............................................................................................................................... I-8
I.3.1.       Sejarah dan Pendirian Perusahaan .......................................................................................................... I-8
I.3.2.       Maksud Dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha .............................................................................................. I-8
I.3.3.       Struktur Permodalan Dan Susunan Pemegang Saham ............................................................................ I-9
I.3.4        Susunan Dewan Komisaris Dan Direksi.................................................................................................. I-10
I.3.5        Struktur Grup SGRO ................................................................................................................................ I-11
I.3.6        Struktur Organisasi SGRO ....................................................................................................................... I-12




  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                          XIII
Page 15
BAB II ASPEK HUKUM DAN KINERJA HISTORIS
II.1.        PROFIL PERUSAHAAN............................................................................................................................ II-1
II.2.        AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN .......................................................................................... II-1
II.3.        STRUKTUR PERMODALAN..................................................................................................................... II-2
II.4.        SUSUNAN PENGURUS ........................................................................................................................... II-2
II.5.        KEGIATAN USAHA ................................................................................................................................... II-3
II.6.        PERIZINAN YANG PERLU DIPENUHI OLEH SGRO ATAS PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA ..........II-4
II.7.        LEGALITAS DAN PERIZINAN .................................................................................................................. II-4
II.9.        ANALISIS KEUANGAN HISTORIS ........................................................................................................... II-7
II.9.1.      LAPORAN POSISI KEUANGAN ............................................................................................................... II-7
II.9.2.      LAPORAN LABA (RUGI)......................................................................................................................... II-12
II.9.3.      LAPORAN ARUS KAS ............................................................................................................................ II-14
II.9.4.      RASIO KEUANGAN ................................................................................................................................ II-15

BAB III ASPEK PASAR
III.1.       KONDISI MAKRO EKONOMI .................................................................................................................. III-1
III.1.1. Perkembangan Ekonomi Dunia................................................................................................................ III-1
III.1.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ............................................................................................................ III-1
III.1.3. Nilai Tukar Rupiah.................................................................................................................................... III-2
III.1.4. Inflasi ........................................................................................................................................................ III-3
III.1.5. Perkembangan Moneter........................................................................................................................... III-4
III.2.       GAMBARAN INDUSTRI KELAPA SAWIT DI INDONESIA ...................................................................... III-7
III.3.       INFORMASI NON KEUANGAN SGRO.................................................................................................. III-14
III.3.1. Strategi Pemasaran Rencana Perubahan Kegiatan Usaha ................................................................... III-15
III.3.2. Keunggulan Kompetitif ........................................................................................................................... III-16
III.4.       KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN PASAR .................................................................................... III-16

BAB IV ASPEK TEKNIS
IV.1.        RENCANA PERUBAHAN KEGIATAN USAHA ....................................................................................... IV-1
IV.2.        PRODUK ATAU JASA YANG AKAN DIJUAL ......................................................................................... IV-2
IV.3.        PELANGGAN DAN PEMASOK............................................................................................................... IV-2
IV.4.        ANALISIS KAPASITAS ........................................................................................................................... IV-3
IV.5.        ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA, TERMASUK PEKERJA DAN AHLI..... IV-4
IV.6.        ANALISIS PROSES PRODUKSI ............................................................................................................ IV-5
IV.7.        KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN TEKNIS ..................................................................................... IV-5




  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                             XIV
Page 16
BAB V ASPEK POLA BISNIS
V.1.         KEGIATAN USAHA UTAMA .................................................................................................................. V-1
V.2.         PERUBAHAN KEGIATAN USAHA ......................................................................................................... V-1
V.3.         KEUNGGULAN KOMPETITIF POLA BISNIS......................................................................................... V-2
V.4.         PERTIMBANGAN DAN ALASAN ........................................................................................................... V-3
V.5.         KETERSEDIAAN TENAGA AHLI ........................................................................................................... V-4
V.6.         ANALISIS KOMPETITOR DAN DAYA SAING ....................................................................................... V-4
V.7.         KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN POLA BISNIS........................................................................... V-5

BAB VI ASPEK MODEL MANAJEMEN
VI.1.        KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN .................................................................................. VI-1
VI.2.        KETERSEDIAAN TENAGA KERJA ...................................................................................................... VI-1
VI.3.        MANAJEMEN SGRO ............................................................................................................................ VI-2
VI.3.1. Dewan Komisaris .................................................................................................................................. VI-2
VI.3.2. Direksi ................................................................................................................................................... VI-2
VI.3.3. Komite Audit .......................................................................................................................................... VI-3
VI.3.4. Sekretaris Perusahaan .......................................................................................................................... VI-4
VI.3.5. Audit Internal ......................................................................................................................................... VI-5
VI.3.6. Komposisi Karyawan ............................................................................................................................. VI-6
VI.4.        MANAJEMEN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA IATA .................................................................... VI-6
VI.5.        KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ............................................................ VI-7

BAB VII ANALISIS RISIKO
VII.1.       IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN RISIKO ....................................................................................... VII-1
VII.1.1. Risiko Strategik ...................................................................................................................................... VII-1
VII.1.2. Risiko Operasional ................................................................................................................................. VII-1
VII.1.3. Risiko Keuangan .................................................................................................................................... VII-2
VII.1.4. Risiko Kredit ........................................................................................................................................... VII-2
VII.1.5. Risiko Likuiditas...................................................................................................................................... VII-2
VII.1.6. Risiko Industri ......................................................................................................................................... VII-2
VII.1.7. Risiko Hukum ......................................................................................................................................... VII-3
VII.1.8. Risiko Kepatuhan ................................................................................................................................... VII-3
VII.1.9. Risiko Reputasi ...................................................................................................................................... VII-3
VII.2.       PENERAPAN PENGELOLAAN MANAJEMENRISIKO .......................................................................... VII-4
VII.3.       ANALISIS SWOT ................................................................................................................................. VII-5
VII.3.1. Strength (Kekuatan) ............................................................................................................................. VII-5




  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                         XV
Page 17
VII.3.2. Weakness (Kelemahan) ....................................................................................................................... VII-5
VII.3.3. Opportunity (Peluang) .......................................................................................................................... VII-5
VII.3.4. Threats (Ancaman) ............................................................................................................................... VII-5

BAB VIII ASPEK KEUANGAN
VIII.1.       PENENTUAN ARUS KAS BERSIH ................................................................................................... VIII-1
VIII.2.       PENENTUAN TINGKAT DISKONTO ................................................................................................ VIII-2
VIII.2.1. Penentuan Biaya Modal Untuk Ekuitas ............................................................................................. VIII-2
VIII.2.2. Penentuan Biaya Modal Untuk Hutang ............................................................................................. VIII-4
VIII.2.3. Tingkat Diskonto SGRO .................................................................................................................... VIII-4
VIII.3.       PROYEKSI KEUANGAN SGRO ....................................................................................................... VIII-4
VIII.3.1. Proyeksi Keuangan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha ................................................................. VIII-5
VIII.3.1.1 Proyeksi Pendapatan ........................................................................................................................ VIII-5
VIII.3.1.2 Proyeksi Beban ................................................................................................................................. VIII-6
VIII.3.1.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan .......................................................................................................... VIII-6
VIII.3.1.4. Nilai Pelepasan Aset ......................................................................................................................... VIII-7
VIII.3.1.5. Modal Kerja ....................................................................................................................................... VIII-7
VIII.3.1.6. Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure) ..................................................................................... VIII-7
VIII.3.2. Proyeksi Keuangan Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................... VIII-8
VIII.3.2.1. Proyeksi Pendapatan ........................................................................................................................ VIII-8
VIII.3.2.2. Proyeksi Beban ................................................................................................................................. VIII-8
VIII.3.2.3. Proyeksi Laba (Rugi) Tahun Berjalan................................................................................................ VIII-9
VIII.3.2.4. Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure) ..................................................................................... VIII-9
VIII.3.3. Nilai Kekal (Terminal Value) .............................................................................................................. VIII-9
VIII.3.4. Analisis Titik Impas ...........................................................................................................................VIII-10
VIII.3.5. Analisis Profitabilitas ........................................................................................................................VIII-11
VIII.3.6. Analisis Tingkat Imbal Balik Investasi (Return on Investment) .........................................................VIII-12
VIII.3.7. Pengaruh Perubahan Kegiatan Usaha Pada Kondisi Keuangan SGRO ..........................................VIII-12
VIII.4.       KRITERIA KELAYAKAN ..................................................................................................................VIII-17
VIII.5.       KESIMPULAN HASIL ANALISIS ......................................................................................................VIII-19




  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                      XVI
Page 18
                                                                DAFTAR TABEL

      Tabel.I.1.       Daftar Hadir Wawancara.................................................................................................... I-7
      Tabel.I.2.       Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham SGRO .......................................... I-9

      Tabel.II.1.      Susunan Pemegang Saham SGRO.................................................................................. II-2
      Tabel.II.2.      Rincian Unit Usaha SGRO................................................................................................ II-4
      Tabel.II.3.      Laporan Posisi Keuangan SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah) .................... II-7
      Tabel.II.4.      Laporan Laba (Rugi) SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah) .......................... II-12
      Tabel.II.5.      Laporan Arus Kas SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)............................... II-14
      Tabel.II.6.      Rasio-Rasio Keuangan SGRO ....................................................................................... II-15

      Tabel III.1.     Luas Areal Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (hektar) 2019–2023 ............................. III-8
      Tabel III.2.     Produksi Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (ton), 2019–2023 .................................... III-9
      Tabel III.3.     Ekspor dan Impor Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit, 2019– 2023 ............................. III-12

      Tabel IV.1.      Entitas Anak SGRO ......................................................................................................... V-2

      Tabel VI.1.      Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Jabatan............................................................ VI-6
      Tabel VI.4.      Susunan Struktur Organisasi Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.................................. VI-6

      Tabel VIII.1.    Biaya Modal untuk Ekuitas SGRO ................................................................................ VIII-3
      Tabel VIII.2.    WACC SGRO ............................................................................................................... VIII-4
      Tabel VIII.3.    Initial Outlays ................................................................................................................ VIII-5
      Tabel VIII.4.    Analisis BEP Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ........................................................................................................................VIII-10
      Tabel VIII.5.    Analisis BEP Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ........................................................................................................................VIII-10
      Tabel VIII.6.    Rasio Keuangan SGRO Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha .....................VIII-11
      Tabel VIII.7.    Rasio Keuangan SGRO Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha ...................VIII-11
      Tabel VIII.8.    Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ........................................................................................................................VIII-13
      Tabel VIII.9.    Proyeksi Laba Rugi SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah ..........VIII-14
      Tabel VIII.10. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ........................................................................................................................VIII-15
      Tabel VIII.11. Proyeksi Laba Rugi SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ........................................................................................................................VIII-16
      Tabel VIII.12. Proyeksi Kelayakan Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah) ..................VIII-17
      Tabel VIII.13. Proyeksi Kelayakan Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah) ....................VIII-18


Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                              XVII
Page 19
      Tabel VIII.14. Kriteria Kelayakan Sebelum dan Setelah Perubahan Kegiatan Utama (Dalam
                       Ribuan Rupiah) ............................................................................................................VIII-18




                                         DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK
      Gambar I.1.      Struktur Grup SGRO ....................................................................................................... I-11
      Gambar I.2.      Struktur Organisasi SGRO.............................................................................................. I-12

      Grafik III.1.    Pergerakan Nilai Tukar Rupiah ....................................................................................... III-2
      Grafik III.2.    Pergerakan Inflasi ........................................................................................................... III-3
      Grafik III.3.    Suku Bunga Kebijakan BI dan IndONIA.......................................................................... III-4
      Grafik III.4.    Suku Bunga Perbankan .................................................................................................. III-5
      Grafik III.5.    Perkembangan Kredit dan DPK ...................................................................................... III-5
      Grafik III.6.    Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan ..................................................................... III-6
      Grafik III.7.    Rasio Kredit Bermasalah (NPL) ...................................................................................... III-6
      Grafik III.8.    Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Menurut Status
                       Pengusahaan, 2023 ........................................................................................................ III-8
      Grafik III.9.    Produksi Minyak Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023 ......................... III-9
      Grafik III.10.    Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, 2019-2023 ........................................................ III-9
      Grafik III.11.    Volume Ekspor Minyak Sawit Menurut Jenisnya, 2023 .................................................III-10
      Grafik III.12.    Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit, 2019–2023......................................................III-11
      Grafik III.13.    Volume Ekspor CPO menurut Negara Tujuan, 2023 .....................................................III-11
      Grafik III.14.    Volume dan Nilai Impor Minyak Sawit, 2019–2023........................................................III-12
      Grafik III.15.    Rata-rata Harga CPO dan PKO Kalimantan Timur, 2021 - Oktober 2024 .....................III-13

      Grafik VIII.1.   Pendapatan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ......................................................................................................................... VIII-6
      Grafik VIII.2.   Beban Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah) ............... VIII-6
      Grafik VIII.3.   Laba tahun berjalan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam
                       Ribuan Rupiah) ............................................................................................................. VIII-7
      Grafik VIII.4.   Pendapatan sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan
                       Rupiah) ......................................................................................................................... VIII-8
      Grafik VIII.5.   Beban Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah) ............. VIII-9
      Grafik VIII.6.   Laba Tahun Berjalan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam
                       Ribuan Rupiah) ............................................................................................................. VIII-9




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                              XVIII
Page 20
                                                      BAB I
                                                  PENDAHULUAN

I.1.   LATAR BELAKANG
       PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama
       Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. PT Sampoerna Agro Tbk bersama
       entitas anaknya adalah perusahaan perkebunan yang terdiversifikasi dan terintegrasi. Perseroan beroperasi
       secara komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat
       Nomor 788, Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan
       menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha utama
       Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit dan industri minyak mentah kelapa sawit (CPO),
       industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan besar buah yang mengandung minyak.
       Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain pemanfaatan
       sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber energi
       terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.

       Berdasarkan informasi Pemberi Tugas, SGRO berencana ingin mengubah kegiatan usaha Perseroan
       dengan pertimbangan dan alasan yaitu sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan untuk
       meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan untuk
       meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang, maka Perseroan memandang perlu
       melakukan pengembangan usaha dengan mengubah kegiatan usaha utama Perseroan dari perusahaan
       yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.

       Berdasarkan penjelasan dari manajemen SGRO, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi
       Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200.
       Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang
       menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan
       kelompok tersebut.

       Dalam pelaksanaannya, sebagai perusahaan Tbk, SGRO harus mengikuti peraturan OJK yaitu Peraturan
       Otoritas Jasa Keuangan ("POJK") Nomor No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
       Kegiatan Usaha. Untuk transaksi yang menyebabkan terjadinya Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan
       POJK No.17/2020 mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan tentang perubahan kegiatan usaha yang
       disusun oleh penilai independen. Dalam rangka pelaksanaan Rencana Transaksi dan untuk memenuhi
       ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan POJK No.17/2020, maka SGRO perlu menunjuk penilai
       untuk melaksanakan penyusunan studi kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (“Studi
       Kelayakan”).




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 I-1
Page 21
I.2.   LINGKUP PENUGASAN
I.2.1. Status Penilai
       Studi Kelayakan Ini dilakukan oleh Bunga Budiarti, M.Ec., Dev. MAPPI (Cert.) merupakan Penilai
       independen yang bernaung dalam KJPP Iwan Bachron & Rekan berdasarkan ijin Penilai Publik No. B-
       1.16.00465, yang terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”)
       dengan Surat Tanda Terdaftar (“STTD”) Profesi Penunjang Pasar Modal dari Bagian Pengawas Pasar
       Modal dan Lembaga Keuangan (Penilai Properti dan Bisnis) STTD OJK No. STTD.PPB-27/PM.2/2018.
       Bertindak independen, objektif, dan memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan sebagaimana
       yang dimaksud dalam lingkup penugasan ini.

       KJPP Iwan Bachron & Rekan dalam memberikan jasa studi kelayakan sesuai dengan kemampuan dan
       keahlian dengan menjunjung tinggi integritas, kejujuran dan tidak memihak. Penilai tidak memiliki
       keterlibatan material atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan objek studi
       kelayakan dan/atau pemilik aset dan pemberi tugas. Untuk studi kelayakan objek sebagaimana dijelaskan
       di bawah tidak diperlukan bantuan tenaga ahli luar. Seluruh Penilai, ahli dan staf pelaksana dalam
       penugasan ini adalah satu kesatuan tim penugasan di bawah koordinator Penilai berizin atau penanggung
       jawab laporan studi kelayakan.

I.2.2. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
       Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sebagaimana dimaksud dalam Laporan Studi Kelayakan ini
       adalah:
       Nama                  : PT Sampoerna Agro Tbk
       Domisili              : Sampoerna Strategic Square, North Tower 28/F, Jalan Jendral Sudirman Kac.45,
                              Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
       Industri              : Perkebunan, perindustrian, dan perdagangan
       Telp                  : (021) 5771711 ext 3384
       Email                 : imelda.siahaan@sampoernaagro.com

       (Pemberi tugas memastikan bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan (dalam kurun waktu 2 bulan), aset atau
       objek studi kelayakan tersebut tidak sedang atau telah dilakukan studi kelayakan lain untuk maksud, tujuan,
       pengguna laporan dan tanggal studi kelayakan yang sama atau berdekatan).

I.2.3. Objek Studi Kelayakan
       Objek studi kelayakan berupa rencana perubahan kegiatan usaha SGRO menjadi kegiatan usaha
       perusahaan holding (KBLI 64200).

I.2.4 Jenis Mata Uang
       Dalam penugasan ini mata uang pada studi kelayakan dinyatakan dalam Rupiah.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                        I-2
Page 22
I.2.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
       Maksud dan tujuan dari studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas rencana
       perubahan kegiatan usaha, yang ditinjau dari berbagai aspek, meliputi: aspek hukum; aspek pasar; aspek
       teknis; aspek pola bisnis; aspek model manajemen; dan aspek keuangan dalam rangka memenuhi
       ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan POJK No.17/2020 tentang “Transaksi Material dan
       Perubahan Kegiatan Usaha Utama” (“POJK No.17/2020”).

I.2.6. Tanggal Studi Kelayakan
       Tanggal studi kelayakan akan ditentukan pada tanggal 31 Desember 2024. Tanggal ini dipilih atas dasar
       pertimbangan kepentingan dan tujuan studi kelayakan serta dari data keuangan SGRO yang kami terima.

I.2.7. Tingkat Kedalaman Investigasi
         Tidak dilakukan uji tuntas atas laporan keuangan objek studi kelayakan
         Tidak dilakukan uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek studi kelayakan.
         Pengumpulan data dan informasi dari pihak manajemen SGRO diverifikasi secara tertulis atau
             wawancara langsung.
         Inspeksi dan/atau wawancara dapat dilakukan tanpa ada pembatasan termasuk akses data yang harus
             disediakan oleh pemberi tugas dan/atau pihak terkait lainya.
         Segala sesuatu yang membatasi pekerjaan studi kelayakan ini akan dicatatkan sebagai bagian yang
             mengikat atas hasil studi kelayakan yang dilakukan.

I.2.8. Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan
       Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk digunakan
       sepanjang sumber data tersebut diyakini kebenarannya. Sumber data tersebut antara lain:
       ⮚     Informasi primer yang relevan atas objek studi kelayakan diberikan secara langsung oleh Pemberi
             Tugas selama proses penyusunan studi kelayakan dengan rincian sebagai berikut:
                  Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh
                   (KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00254/2.1032/AU.1/01/1814-1/1/III/2025 tanggal 20
                   Maret 2025 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
                  Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh
                   (KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00307/2.1032/AU.1/01/1562-3/1/III/2024 tanggal 26
                   Maret 2024 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
                  Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh
                   (KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00506/2.1032/AU.1/01/1562-2/1/III/2023 tanggal 30
                   Maret 2023 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
                  Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh
                   (KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00327/2.1032/AU.1/01/1562-1/1/III/2022 tanggal 28
                   Maret 2022 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 I-3
Page 23
                  Laporan keuangan konsolidasian SGRO periode 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh
                   (KAP) Purwantono, Sungkoro & Surja No. 00494/2.1032/AU.1/01/0701-3/1/IV/2021 tanggal 15
                   April 2021 dengan opini wajar dalam semua hal yang material dan Parent Only;
                  Company Profile, legalitas usaha dan laporan manajemen SGRO.
         Informasi sekunder atas data lain yang diperlukan untuk penilaian diperoleh dari media cetak, media
             elektronik dan papan pengumuman yang layak, diantaranya:
                  Bank Indonesia (BI)
                  Badan Pusat Statistik (BPS)
                  Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
                  Data riset dari lembaga independen seperti website Aswath Damodaran
                  Media cetak dan elektronik resmi seperti Yahoo Finance, Bloomberg, Koyfin, S&P Capital IQ,
                   dan website Bursa Efek Indonesia.

I.2.9. Asumsi dan Asumsi Khusus
         Objek studi kelayakan yang dinilai tidak mempunyai masalah hukum dan hak kepemilikannya adalah
             sah, bebas dari sengketa dan dapat dialihkan haknya.
         Objek studi kelayakan yang ditunjukkan kepada kami adalah benar merupakan objek dalam studi
             kelayakan.
         Seluruh data dan informasi yang diberikan pemberi tugas sehubungan dengan studi kelayakan ini
             adalah relevan, benar dan dapat dipercaya.
         Kami tidak melakukan penelitian terhadap keabsahan dokumen – dokumen legal yang terkait.
         Seluruh pernyataan data dan informasi yang diberikan Pemberi Tugas adalah relevan, benar dan
             dapat dipercaya sesuai dengan prosedur studi kelayakan yang umum berlaku dan disampaikan
             dengan itikad baik.
         Kondisi-kondisi tidak wajar yang tersembunyi terhadap objek studi kelayakan yang dapat membawa
             efek negatif terhadap nilai, tidak menjadi tanggung jawab kami sebab merupakan bagian pekerjaan
             ahli lain.
        ⮚ Baik Pemimpin Rekan dan atau Rekan, serta para Penilai maupun karyawannya tidak mempunyai
             kepentingan finansial apapun terhadap objek studi kelayakan.

I.2.10. Persyaratan dan Persetujuan Untuk Publikasi
       Laporan ini tidak bertujuan untuk disirkulasikan atau didistribusikan secara umum dan tidak untuk
       direproduksi serta digunakan untuk tujuan lain, kecuali atas persetujuan kami secara tertulis. Kami tidak
       bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan yang diderita akibat penggunaan laporan ini oleh pihak
       lain tanpa persetujuan kami secara tertulis.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 I-4
Page 24
I.2.11. Standar Studi Kelayakan
       Dalam pekerjaan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
       No.17/POJK.04/2020         tentang    Transaksi     Material    dan   Perubahan   Kegiatan   Usaha   (POJK
       17/POJK.04/2020), Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
       Penilaian Bisnis di Pasar Modal (POJK 35/POJK.04/2020) serta Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar
       Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII dan 320, 330, dan 340 – Edisi Revisi (KEPI-SPI Edisi VII.2018).

I.2.12. Asumsi-Asumsi Pokok
       Studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi umum bisnis dan keuangan,
       serta peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku sampai dengan tanggal studi kelayakan. Dalam studi
       kelayakan, kami mempertimbangkan beberapa asumsi, seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban
       SGRO. Kami juga mengasumsikan bahwa dari tanggal studi kelayakan sampai dengan tanggal
       diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi perubahan apapun yang berpengaruh secara material
       terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.

I.2.13. Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
       Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan studi kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
       mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material terhadap hasil analisis studi kelayakan.

I.2.14. Kondisi Pembatas
      Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan, keandalan dan
      kelengkapan dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi lain yang diberikan kepada kami oleh
      Pemberi Tugas atau yang tersedia secara umum yang pada hakikatnya adalah benar, lengkap dan tidak
      menyesatkan, dan kami tidak bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap
      informasi-informasi tersebut. Kami juga bergantung kepada jaminan dari Pemberi Tugas bahwa mereka
      tidak mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan informasi-informasi yang diberikan kepada kami menjadi
      tidak lengkap atau menyesatkan.

      Analisis studi kelayakan SGRO dipersiapkan menggunakan data dan informasi sebagaimana diungkapkan
      di atas. Segala perubahan atas data dan informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir pendapat kami
      secara material. Kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas studi kelayakan kami
      maupun segala kehilangan, kerusakan, biaya ataupun pengeluaran apapun yang disebabkan oleh
      ketidakterbukaan informasi sehingga data yang kami peroleh menjadi tidak lengkap dan atau dapat
      disalahartikan.

      Hasil dari studi kelayakan kami sangat tergantung dari data serta asumsi-asumsi yang mendasarinya,
      perubahan pada sumber data serta asumsi sesuai data pasar akan merubah hasil dari studi kelayakan kami.
      Oleh karena itu, kami sampaikan bahwa perubahan terhadap data yang digunakan dapat berpengaruh
      terhadap hasil studi kelayakan, dan bahwa perbedaan yang terjadi dapat bernilai material. Walaupun



 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                    I-5
Page 25
      penyusunan laporan studi kelayakan ini telah dilaksanakan dengan itikad baik dan dengan cara yang
      profesional, kami tidak dapat menerima tanggung jawab atas kemungkinan terjadinya perbedaan
      kesimpulan yang disebabkan oleh adanya analisis tambahan, diaplikasikannya hasil studi kelayakan
      sebagai dasar untuk melakukan analisis transaksi, ataupun adanya perubahan dalam data yang dijadikan
      sebagai dasar studi kelayakan.

      Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan SGRO tidak merupakan dan tidak dapat ditafsirkan
      dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas
      informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan
      dalam pengendalian internal, kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran
      hukum.

I.2.15. Ketersediaan Tenaga Ahli
       Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap
       mempertahankan management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan
       pengalaman dan keahlian dari management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha
       Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha
       perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI
       64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM)
       yang ada saat ini. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka kedepannya SGRO
       juga dapat menambah tenaga ahli apabila diperlukan.

I.2.16. Pertimbangan Alasan Perubahan Kegiatan Usaha
       Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen, Saat ini Perseroan bergerak dalam bidang usaha
       perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit. Latar belakang, pertimbangan dan alasan dari rencana
       perubahan kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya Perseroan
       untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara berkelanjutan dan
       untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang. Maka Perseroan memandang
       perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha dengan fokus meningkatkan nilai (value) bagi anak dan cucu
       perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan. Untuk itu Perseroan berencana mengubah
       kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan pabrik
       kelapa sawit menjadi perusahaan holding.

      Atas hal tersebut, Perseroan perlu untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
      (KBLI), menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode KBLI 64200. Kelompok ini mencakup kegiatan
      dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok
      perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies"
      tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan
      penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               I-6
Page 26
I.2.17. Independensi Penilai
       Dalam mempersiapkan Studi Kelayakan, IDR bertindak secara independen tanpa adanya benturan
       kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SGRO ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan SGRO. IDR
       juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Selanjutnya,
       Studi Kelayakan tidak disusun untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan
       yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil yang diperoleh dari proses penyusunan Studi
       Kelayakan dan IDR hanya menerima imbalan sesuai dengan surat perjanjian kerja yang telah disetujui oleh
       manajemen SGRO.

I.2.18. Metodologi Studi Kelayakan
       Penyusunan Studi Kelayakan mencakup analisis atas aspek hukum, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola
       bisnis, dan aspek model manajemen serta aspek keuangan. Untuk dapat melakukan analisis tersebut, maka
       akan dikumpulkan berbagai data penunjang, baik data primer maupun data sekunder. Pengumpulan data
       dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada instansi/individu yang kompeten dan
       survey/penelitian lapangan.
       Selanjutnya dalam menganalisa aspek keuangan digunakan metode diskonto arus kas (discounted cash
       flow method). Sebelum melakukan proses diskonto (discounting), terlebih dahulu harus diproyeksikan
       pendapatan mendatang berupa arus kas bersih (net cash flow) yang sesuai dengan sifat dan jenis usaha
       yang dinilai. Setelah proyeksi tersedia, langkah berikutnya adalah menetapkan tingkat diskonto (discount
       rate) yang tepat. Proses selanjutnya adalah melakukan perhitungan diskonto biasa, yaitu dengan
       mendiskonto nilai-nilai arus kas bersih yang telah diproyeksikan, termasuk nilai periode kekal (continuing
       value), dengan faktor diskonto (discount factor) yang diperoleh dari tingkat diskonto sesuai dengan periode
       proyeksinya, yang kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kini (present value) dari keseluruhan
       pendapatan di masa mendatang. Analisis kelayakan dilakukan dengan mengacu pada parameter investasi
       seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan profitability index (PI).

I.2.19 Hasil Pelaksanaan Inspeksi
       Pelaksana Inspeksi/Wawancara:
            a. Tanggal Wawancara                 : 26 Maret 2025
            b. Pelaksana Wawancara               : Afif Mustafid Taftazani
       Dalam studi kelayakan ini, kami melakukan wawancara, baik dengan manajemen SGRO ataupun pihak
       yang mewakilinya di kantor SGRO. Berikut adalah pihak yang diwawancarai dalam hubungannya dengan
       Objek Studi Kelayakan, yaitu:
                                               Tabel I.1. Daftar Hadir Wawancara

               Pihak yang diwawancarai                             Jabatan                       Perusahaan
         Imelda Susanti Siahaan                       Corporate Finance                                SGRO
         Josephine Chandra                            Finance & Accounting                             SGRO


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     I-7
Page 27
I.3.   ASPEK MANAJEMEN
I.3.1. Sejarah dan Pendirian Perusahaan
       PT Sampoerna Agro Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya
       berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina
       Chandra Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang. Akta pendirian tersebut telah mendapatkan
       pengesahan       oleh    Menteri     Kehakiman       Republik        Indonesia   berdasarkan   Keputusan    No.
       C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994. Nama Perseroan di ubah dari PT Selapan Jaya menjadi
       PT Sampoerna Agro Tbk berdasarkan Akta Nomor 52 tanggal 16 Feburari 2007 dibuat dihadapan Sutjipto,
       Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta. Akta Perubahan Nama Perseroan tersebut telah mendapat Persetujuan
       dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : W7-02335 HT.01.04-TH.2007.

       Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan sebagaimana termuat dalam Akta
       Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat dihadapan
       Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta, mengenai perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk
       disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
       Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Terbuka dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
       No.16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka secara
       Elektronik yang telah disetujui oleh Menkumham dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312
       tanggal 14 Juni 2021. Pada tahun 2022, Perseroan telah melakukan perubahan Anggaran Dasar
       sebagaimana ternyata dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.22 tanggal
       18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., mengenai pengurangan modal ditempatkan
       dan disetor. Akta tersebut telah mendapatkan Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dari Menteri
       Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-0020056.AH.01.02.TAHUN 2022 tanggal 22 Maret 2022.

       Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta Nomor 38 tanggal 29 Mei
       2024 dibuat di hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
       dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
       Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Nomor AHU-
       AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.

I.3.2. Maksud dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha

       Berdasarkan Akta Nomor 20 tanggal 27 Agustus 2020, maksud dan tujuan didirikan Perseroan adalah
       menjalankan usaha di bidang perkebunan buah kelapa sawit, industri minyak mentah kelapa sawit (crude
       palm oil), industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) dan perdagangan besar buah yang
       mengandung minyak.

       Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama
       sebagai berikut :




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                         I-8
Page 28
        a) Menjalankan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari
             kegiatan pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan
             buah kelapa sawit. Termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit.
        b) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil) yang mencakup
             usaha pengolahan kelapa sawit menjadi minyak.
        c) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) yang
             mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti (crude palm kernel
             oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut.
        d) Menjalankan usaha di bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup
             usaha perdagangan besar hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa
             dan kelapa sawit. Termasuk perdagangan besar bibit buah yang mengandung minyak.

       Selain kegiatan usaha utama tersebut, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu
       menjalankan usaha-usaha lain yang berkaitan dan menunjang kegiatan usaha diatas sesuai dengan
       peraturan perundang undangan yang berlaku.

I.3.3. Struktur Permodalan Dan Susunan Pemegang Saham
       Berdasarkan Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris
       di Kota Administrasi Jakarta Selatan, struktur permodalan perseroan adalah Modal Dasar Perseroan
       ditetapkan sebesar Rp1.100.000.000.000,- terbagi atas 5.500.000.000 lembar saham, masing-masing
       lembar saham bernilai nominal Rp200,-. Dari modal dasar tersebut telah ditempatkan dan disetor sebanyak
       33,065% atau sejumlah 1.818.622.000 lembar saham dengan nominal seluruhnya sebesar
       Rp363.724.400.000,- telah disetor penuh kepada Perseroan oleh masing-masing pemegang saham yang
       telah mengambil bagian saham.

       Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Notaris di Kota
       Administrasi Jakarta Selatan, susunan Pemegang Saham Perseroan sebagai berikut:

                           Tabel I.2 Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham SGRO
                                                         Jumlah Lembar         Nilai Nominal      Persentase
                       Keterangan
                                                            Saham                   (Rp)              (%)
        Twinwood Family Holdings SFO Limited                  1.268.217.500     253.443.500.000        69,68%
        Masyarakat                                               551.404.500    110.280.900.000       30,32%
        Total                                                 25.238.221.508        129.256.163         100%




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 I-9
Page 29
I.3.4. Susunan Dewan Komisaris Dan Direksi
       Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024
       yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan dicatat
       dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
       Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
       AH.01.09-0207625 Tanggal 29 Mei 2024, maka susunan Dewan Komisaris dan Direksi SGRO adalah
       sebagai berikut:

         Dewan Komisaris
         Komisaris Utama                         : Eka Dharmajanto Kasih
         Komisaris Independen                    : RB. Permana Agung Dradjattun
         Komisaris Independen                    : Saud Usman Nasution

         Direksi
         Direktur Utama                          : Budi Setiawan Halim
         Direktur                                : Hero Djajakusumah
         Direktur                                : Dwi Asmono
         Direktur                                : Lim King Hui
         Direktur                                : Parluhutan Sitohang
         Direktur                                : Heri Harjanto
         Direktur                                : Eris Ariaman




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  I - 10
Page 30
I.3.5. Struktur Grup SGRO
Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, berikut adalah struktur Grup SGRO:




 Sumber: Manajemen SGRO

                                            Gambar I.1 Struktur Grup SGRO




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk       I - 11
Page 31
I.3.6. Struktur Organisasi SGRO
Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, berikut adalah struktur Organisasi SGRO




                      Sumber: Manajemen SGRO

                                        Gambar I.2 Struktur Organisasi SGRO




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk            I - 12
Page 32
                                                         BAB II
                              ASPEK HUKUM DAN KINERJA HISTORIS

II.1.   PROFIL PERUSAHAAN
        PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama
        Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna Agro Tbk pada tahun 2007. Perseroan beroperasi secara
        komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor
        788, Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan
        menyelenggarakan usaha dalam bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. Bidang usaha
        utama Perseroan adalah di bidang perkebunan buah kelapa sawit dan industri minyak mentah kelapa sawit
        (CPO), industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) dan perdagangan besar buah yang mengandung
        minyak. Sedangkan usaha penunjang untuk mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain
        pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber
        energi terbarukan menggunakan limbah hasil pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.

        Kantor perwakilan korporasi SGRO terletak Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F, Jalan
        Jenderal Sudirman Kav. 45, Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI
        Jakarta.

II.2.   AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN
        SGRO didirikan dengan nama PT Selapan Jaya berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor
        8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina Chandra Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang.
        Akta pendirian tersebut telah mendapatkan pengesahan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
        berdasarkan Keputusan No. C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994. Nama Perseroan di ubah
        dari PT Selapan Jaya menjadi PT Sampoerna Agro Tbk berdasarkan Akta Nomor 52 tanggal 16 Feburari
        2007 dibuat dihadapan Sutjipto, Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta. Akta Perubahan Nama Perseroan
        tersebut telah mendapat Persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
        Nomor W7-02335 HT.01.04-TH.2007.

        Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan sebagaimana termuat dalam Akta
        Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat dihadapan
        Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta, mengenai perubahan Anggaran Dasar Perseroan untuk
        disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
        Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Terbuka dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
        No.16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka secara
        Elektronik yang telah disetujui oleh Menkumham dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312
        tanggal 14 Juni 2021. Pada tahun 2022, Perseroan telah melakukan perubahan Anggaran Dasar
        sebagaimana ternyata dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.22
        tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., mengenai pengurangan modal

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               II - 1
Page 33
        ditempatkan dan disetor. Akta tersebut telah mendapatkan Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar
        dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-0020056.AH.01.02 Tahun 2022 tanggal 22 Maret
        2022.

        Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta Nomor 38 tanggal 29 Mei
        2024 dibuat di hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
        dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
        Republik Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan Nomor
        AHU-AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.

II.3.   STRUKTUR PERMODALAN

        Berdasarkan Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris
        di Kota Administrasi Jakarta Selatan, struktur permodalan perseroan adalah Modal Dasar Perseroan
        ditetapkan sebesar Rp1.100.000.000.000,- terbagi atas 5.500.000.000 lembar saham, masing-masing
        lembar saham bernilai nominal Rp200,-. Dari modal dasar tersebut telah ditempatkan dan disetor
        sebanyak 33,065% atau sejumlah 1.818.622.000 lembar saham dengan nominal seluruhnya sebesar
        Rp363.724.400.000,- telah disetor penuh kepada Perseroan oleh masing-masing pemegang saham yang
        telah mengambil bagian saham.

        Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Notaris di Kota
        Administrasi Jakarta Selatan, susunan Pemegang Saham Perseroan sebagai berikut:

                                        Tabel II.1 Susunan Pemegang Saham SGRO
                                                         Jumlah Lembar         Nilai Nominal        Persentase
                       Keterangan
                                                            Saham                   (Rp)                (%)
         Twinwood Family Holdings SFO Limited                 1.268.217.500     253.443.500.000          69,68%
         Masyarakat                                              551.404.500      110.280.900.000       30,32%
         Total                                                25.238.221.508         129.256.163          100%


II.4.   SUSUNAN PENGURUS
        Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terakhir termuat dalam Akta No. 38 Tanggal 29 Mei
        2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di Jakarta Selatan, yang telah diterima dan
        dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
        Republik Indonesia sesuai dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
        AHU-AH.01.09-0207625 Tanggal 29 Mei 2024, maka susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan
        adalah sebagai berikut:

         Dewan Komisaris
         Komisaris Utama                         : Eka Dharmajanto Kasih
         Komisaris Independen                    : RB. Permana Agung Dradjattun
         Komisaris Independen                    : Saud Usman Nasution


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  II - 2
Page 34
         Direksi
         Direktur Utama                          : Budi Setiawan Halim
         Direktur                                : Hero Djajakusumah
         Direktur                                : Dwi Asmono
         Direktur                                : Lim King Hui
         Direktur                                : Parluhutan Sitohang
         Direktur                                : Heri Harjanto
         Direktur                                : Eris Ariaman

II.5.   KEGIATAN USAHA

        Berdasarkan Akta Nomor 20 tanggal 27 Agustus 2020, maksud dan tujuan didirikan Perseroan adalah
        menjalankan usaha di bidang perkebunan buah kelapa sawit, industri minyak mentah kelapa sawit (crude
        palm oil), industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) dan perdagangan besar buah
        yang mengandung minyak. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Perseroan dapat
        melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut :

        a) Menjalankan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari
             kegiatan pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan
             buah kelapa sawit. Termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit.
        b) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil) yang mencakup
             usaha pengolahan kelapa sawit menjadi minyak.
        c) Menjalankan usaha di bidang industri minyak mentah inti kelapa sawit (crude palm kernel oil) yang
             mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti (crude palm kernel
             oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut.
        d) Menjalankan usaha di bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup
             usaha perdagangan besar hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa
             dan kelapa sawit. Termasuk perdagangan besar bibit buah yang mengandung minyak.

        Selain kegiatan usaha utama tersebut, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu
        menjalankan usaha-usaha lain yang berkaitan dan menunjang kegiatan usaha diatas sesuai dengan
        peraturan perundang undangan yang berlaku.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               II - 3
Page 35
        Berdasarkan Nomor Induk Berusaha (NIB): 9120309730555 tanggal 5 Juli 2019, SGRO memiliki daftar
        bidang usaha sebagai berikut:

                                             Tabel II.2. Rincian Unit Usaha SGRO

                   Judul Kode Klasifikasi Baku Lapangan                                Perizinan Berusaha
         No.                                                           Kode KBLI
                          Usaha Indonesia (KBLI)                                      Jenis         Status
                  Industri Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit
          1.                                                                10432   NIB & Izin       Terbit
                  (Crude Palm Kernel Oil)
                  Perdagangan Besar Buah Yang Mengandung
          2.                                                                46202   NIB & Izin       Terbit
                  Minyak

          3.      Perkebunan Buah Kelapa Sawit                              01262   NIB & Izin       Terbit

                  Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (Crude
          4.                                                                10431   NIB & Izin       Terbit
                  Palm Oil)


II.6.   PERIZINAN YANG PERLU DIPENUHI OLEH SGRO ATAS PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
        Terdapat kewajiban perizinan/persetujuan lembaga lain yang perlu dipenuhi oleh SGRO sehubungan
        dengan proses penambahan kegiatan usaha perusahaan holding. Perubahan kegiatan usaha menjadi
        perusahaan holding membutuhkan persetujuan RUPS yang harus dituangkan dalam dokumen resmi.
        SGRO juga perlu menyesuaikan KBLI agar sesuai dengan kegiatan usaha holding. Selain itu, perizinan
        berusaha berbasis risiko sesuai UU Cipta Kerja harus diurus untuk memastikan kepatuhan terhadap
        hukum.

II.7.   LEGALITAS DAN PERIZINAN
        Saat ini SGRO telah memperoleh dokumen-dokumen yang diperlukan dari instansi yang berwenang
        berkaitan dengan usahanya dengan rincian sebagai berikut:
         Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 8 tanggal 7 Juni 1993 dibuat dihadapan Tina Chandra
               Gerung, Sarjana Hukum, Notaris di Palembang;
         Surat pengesahan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.
               C21840.HT.01.01.TH.94 Tanggal 4 Februari 1994;
         Akta Perubahan Nama Perseroan Nomor 52 tanggal 16 Feburari 2007 dibuat dihadapan Sutjipto,
               Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta;
         Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W7-02335
               HT.01.04-TH.2007;
         Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 18 tanggal 9 Juni 2021 dibuat
               dihadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta;
         Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W7-02335
               HT.01.04-TH.2007 dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01030373312 tanggal 14 Juni 2021;
         Akta Nomor 2 tanggal 18 Januari 2022 dibuat dihadapan Liestiani Wang, S.H, M.Kn., Notaris di Kota
               Administrasi Jakarta Selatan., mengenai pengurangan modal ditempatkan dan disetor;



 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                II - 4
Page 36
        Surat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor
            AHU-0020056.AH.01.02 Tahun 2022 tanggal 22 Maret 2022;
        Akta Perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Nomor 38 tanggal 29 Mei 2024 dibuat di
            hadapan Liestiani Wang, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan;
        Surat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-
            AH.01.090207625 tanggal 29 Mei 2024.
        Nomor Induk Berusaha (NIB) 9120309730555 atas nama PT Sampoerna Agro Tbk diterbitkan oleh
            Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS pada tanggal 5 Juli
            2019;
        Izin Usaha Industri (IUI) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) :
            9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Industri Minyak Mentah
            Kelapa Sawit (Crude Palm Oil) dengan kode KBLI 10431;
        Izin Usaha Industri (IUI) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) :
            9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Industri Minyak Mentah Inti
            Kelapa Sawit (Crude Palm Kernel Oil) dengan kode KBLI 10432;
        Izin Usaha Perkebunan (IUP) atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha
            (NIB) : 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Perkebunan Buah Kelapa
            Sawit dengan kode KBLI 01262;
        Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atas PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha
            (NIB) : 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019 untuk kegiatan usaha Perdagangan Besar Buah
            Yang Mengandung Minyak dengan kode KBLI 46202;
        Izin Komersial/Operasional atas nama PT Sampoerna Agro Tbk dengan Nomor Induk Berusaha (NIB)
            : 9120309730555 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 3 September 2019;
        Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha (PKKPR) Nomor
            23052210211602004 diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan
            Penyelenggara OSS pada tanggal 23 Mei 2022;
        Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Nomor : 01.598.906.4-054.000 atas nama SAMPOERNA
            AGRO,Tbk.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              II - 5
Page 37
II.8.    INFORMASI PERPAJAKAN
         Dalam menjalankan kegiatan usaha saat ini, informasi perpajakan yang dikenakan kepada SGRO adalah
         sebagai berikut:

          Pajak Penghasilan 21

          Pajak Penghasilan 22

          Pajak Penghasilan 23/26

          Pajak Penghasilan 25

          Pajak Penghasilan 29

          Pajak Penghasilan 4 (2)

          Pajak Penghasilan 15

          Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

          Pajak Bumi Bangunan (PBB)




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                           II - 6
Page 38
 II.9. ANALISIS KEUANGAN HISTORIS
     Analisis kinerja keuangan historis SGRO terdiri dari analisis posisi keuangan, laba (rugi), arus kas dan rasio
     keuangan didasarkan atas laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwantono,
     Sungkoro & Surja untuk periode 31 Desember 2020, 31 Desember 2021, 31 Desember 2022, 31 Desember 2023
     dan periode 31 Desember 2024. Dalam penyajian data laporan keuangan SGRO berikut, hanya disajikan laporan
     keuangan entitas induk saja (parent only) dan tidak dilakukan penyesuaian apapun terhadap angka-angka yang
     disajikan.

II.9.1. LAPORAN POSISI KEUANGAN
     Berikut adalah laporan posisi keuangan SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.

                          Tabel II.3. Laporan Posisi Keuangan SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
                                            FY2020          FY2021               FY2022          FY2023           FY2024
              U R A I A N
                                            Audited         Audited              Audited         Audited          Audited
      ASET LANCAR
      Kas                                        80.124           75.697               47.396          57.985           78.189
      Bank
        Pihak berelasi                           53.313           89.587              157.149             3.431        615.582
        Pihak ketiga                          14.280.164      13.022.041           52.110.490      41.186.287      188.910.999
      Piutang usaha
        Pihak berelasi                         5.216.747       3.300.000            8.390.531      20.063.693       13.333.009
        Pihak ketiga                          39.954.395       1.923.947           21.875.761       2.315.296       14.840.608
      Piutang lain-lain
        Pihak berelasi                        51.161.223      49.885.512           54.996.756      53.895.492       56.503.564
        Pihak ketiga                           2.340.909      39.620.702          107.835.795      82.541.305        1.456.619
      Persediaan                              38.084.536      24.896.340           45.212.626      21.400.315       36.007.239
      Aset biologis                            9.526.013       6.258.474            6.965.204       6.247.301        6.597.709
      Pajak dibayar dimuka                    14.189.219       7.577.311            9.224.658       2.994.135       14.287.740
      Biaya dibayar dimuka, uang muka
                                               1.042.483         994.427              641.902       2.751.008          946.326
      dan aset lancar lainnya
      Jumlah Aset Lancar                     175.929.126     147.644.038          307.458.268     233.456.248      333.577.584

      ASET TIDAK LANCAR
      Penyertaan saham                     4.171.287.616   4.510.051.997         4.969.557.854   5.817.857.854    7.212.468.962
      Piutang pihak berelasi               2.725.499.491   3.354.856.278         3.527.351.882   2.866.246.647    1.420.881.317
      Tanaman produktif
        Tanaman menghasilkan                  66.546.182      61.836.550           57.347.554      52.858.559       62.669.142
      Aset tetap, neto                       101.166.930      90.005.074           83.133.010      78.441.252       83.819.890
      Aset pajak tangguhan                     3.187.769       3.251.340            3.988.682       4.328.295        4.586.125
      Aset takberwujud                          112.033           26.271               60.253                 -               -
      Aset hak guna, neto                     11.204.552       7.833.881            5.429.547       2.714.773       16.327.451
      Aset tidak lancar lainnya                1.304.578       1.291.847            1.238.163         908.654          938.858
      Jumlah Aset Tidak Lancar             7.080.309.151   8.029.153.238         8.648.106.945   8.823.356.034    8.801.691.745
      JUMLAH ASET                          7.256.238.277   8.176.797.276         8.955.565.213   9.056.812.282    9.135.269.329




      Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                           II - 7
Page 39
                                    FY2020             FY2021               FY2022          FY2023          FY2024
         U R A I A N
                                    Audited            Audited              Audited         Audited         Audited

 LIABILITAS JANGKA PENDEK
 Utang bank jangka pendek            482.100.100         28.538.010                     -               -               -
 Utang usaha
   Pihak berelasi                     23.896.499            151.767           33.316.124      16.560.522      49.252.535
   Pihak ketiga                       63.226.452         52.925.723           48.522.376      26.501.540      86.563.115
 Utang lain-lain
   Pihak berelasi                    249.500.000        240.000.000                     -               -               -
   Pihak ketiga                           77.693             40.495            8.103.746      14.978.129       7.013.289
 Uang muka penjualan                  32.239.609         19.934.394            7.602.897                -               -
 Liabilitas kontrak                             -                  -                    -     39.518.272      19.113.612
 Utang pajak                          11.854.979         31.481.283           41.385.861      15.794.896       4.739.785
 Beban akrual                         10.475.442          8.272.567           19.518.208      24.317.884     101.458.439
 Utang jangka panjang jatuh tempo
 dalam satu tahun
   Utang Obligasi, neto                         -                  -         208.381.284     127.376.892     166.405.299
   Sukuk Ijarah, neto                           -                  -         174.854.162     236.635.000     199.904.416
   Utang bank                         84.954.912         15.422.949                     -               -               -
   Liabilitas sewa                     2.525.562          2.597.335            2.105.556       3.231.791       1.274.948
 Jumlah Liabilitas Jangka
                                     960.851.248        399.364.523          543.790.214     504.914.926     635.725.438
 Pendek


 LIABILITAS JANGKA PANJANG
 Utang jangka panjang - setelah
 dikurangi bagian jatuh tempo
 dalam satu tahun
    Utang Obligasi, neto             297.924.535        469.954.642          784.993.334     659.999.114     495.018.376
   Sukuk Ijarah, neto                296.541.556        692.676.596          822.854.422     586.970.365     387.816.892
   Utang bank                        356.400.494        215.107.617                     -               -               -
   Liabilitas sewa                     9.182.594          5.986.870            3.231.791                -     14.161.222
 Utang pihak berelasi                620.700.000        707.500.000          664.000.000     340.000.000                -
 Liabilitas imbalan kerja             25.742.207         20.074.274           25.257.375      25.601.347      27.479.793
 Jumlah Liabilitas Jangka
                                    1.606.491.386     2.111.299.999         2.300.336.922   1.612.570.826    924.476.283
 Panjang
 JUMLAH LIABILITAS                  2.567.342.634     2.510.664.522         2.844.127.136   2.117.485.752   1.560.201.721


 EKUITAS
 Modal saham                         378.000.000        378.000.000          363.724.400     363.724.400     363.724.400
 Tambahan Modal Disetor              952.757.463        952.757.463          855.301.127     855.301.127     855.301.127
 Selisih transaksi dengan
                                         403.752            403.752              403.752         403.752         403.752
 kepentingan nonpengendali
 Saham treasuri                     (111.731.936)      (111.731.936)                    -               -               -
 Saldo laba
 Ditentukan untuk cadangan umum       83.994.710         83.994.710           83.994.710      83.994.710      83.994.710
 Belum ditentukan penggunaannya     3.385.471.654     4.362.708.765         4.808.014.088   5.635.902.541   6.271.643.619
 Jumlah Ekuitas                     4.688.895.643     5.666.132.754         6.111.438.077   6.939.326.530   7.575.067.608
 JUMLAH LIABILITAS DAN
                                    7.256.238.277     8.176.797.276         8.955.565.213   9.056.812.282   9.135.269.329
 EKUITAS
Sumber : Laporan Keuangan SGRO




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                          II - 8
Page 40
  a. Aset
      Posisi total aset SGRO pada FY2020 tercatat sebesar Rp7.256.238.277 ribu meningkat menjadi
      Rp9.135.269.329 ribu pada FY2024 atau naik dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound
      Annual Growth Rate {CAGR}) sebesar 5,93%. Pada bagian aset lancar, kas mengalami fluktuasi. Pada
      FY2020, nilai kas tercatat sebesar Rp80.124 ribu dan sedikit menurun menjadi Rp75.697 ribu pada FY2021
      (turun 5,5%). Pada FY2022, nilai kas menurun sebesar 37,4% menjadi Rp47.396 ribu, kemudian naik
      22,3% menjadi Rp57.985 ribu pada FY2023, dan meningkat lagi sebesar 34,8% menjadi Rp78.189 ribu
      pada FY2024. Piutang usaha - pihak berelasi mengalami perubahan dari Rp5.216.747 ribu pada FY2020
      menjadi Rp3.300.000 ribu pada FY2021 (turun 36,8%). Pada FY2022, piutang usaha meningkat menjadi
      Rp8.390.531 ribu (naik 154,2%) dan meningkat menjadi Rp20.063.693 ribu pada FY2023 (naik 139,2%).
      Namun, pada FY2024, terjadi penurunan (turun 33,6%) menjadi Rp13.333.009 ribu. Sementara itu, piutang
      usaha - pihak ketiga juga menunjukkan fluktuasi dari Rp39.954.395 ribu pada FY2020 menjadi
      Rp1.923.947 ribu pada FY2021 (turun 95,2%). Pada FY2022, nilai piutang pihak ketiga meningkat (naik
      1.037,3%) menjadi Rp21.875.761 ribu, kemudian menurun menjadi Rp2.315.296 ribu (turun 89,4%) pada
      FY2023, dan meningkat (naik 540,9%) menjadi Rp14.840.608 ribu pada FY2024.

      Pada aset tidak lancar, pada FY2020 penyertaan saham tercatat sebesar Rp4.171.287.616 ribu. Pada
      FY2021, jumlah ini (naik 8,1%) menjadi Rp4.510.051.997 ribu. Selanjutnya, pada FY2022, terjadi kenaikan
      (naik 10,2%) menjadi Rp4.969.557.854 ribu, kemudian melonjak (naik 17,1%) menjadi Rp5.817.857.854
      ribu pada FY2023. Pada FY2024, jumlah penyertaan saham kembali meningkat (naik 24%) menjadi
      Rp7.212.468.962 ribu. Piutang pihak berelasi juga mengalami perubahan selama periode ini. Dimulai dari
      Rp2.725.499.491 ribu pada FY2020, jumlah ini (naik 23,1%) menjadi Rp3.354.856.278 ribu pada FY2021.
      Pada FY2022, piutang ini (naik 5,1%) menjadi Rp3.527.351.882 ribu, namun mengalami penurunan (turun
      18,8%) menjadi Rp2.866.246.647 ribu pada FY2023. Pada FY2024, terjadi penurunan (turun 50,4%)
      menjadi Rp1.420.881.317 ribu. Tanaman menghasilkan menunjukkan tren penurunan selama beberapa
      tahun. Pada FY2020, jumlahnya tercatat sebesar Rp66.546.182 ribu, kemudian (turun 7,1%) menjadi
      Rp61.836.550 ribu pada FY2021, dan kembali (turun 7,3%) menjadi Rp57.347.554 ribu pada FY2022.
      Pada FY2023, nilai ini (turun 7,8%) menjadi Rp52.858.559 ribu, tetapi (naik 18,6%) menjadi Rp62.669.142
      ribu pada FY2024.

      Aset tetap, neto menunjukkan penurunan dari Rp101.166.930 ribu pada FY2020 menjadi Rp90.005.074
      ribu pada FY2021 (turun 11%). Pada FY2022, jumlahnya kembali (turun 7,6%) menjadi Rp83.133.010 ribu,
      dan melanjutkan tren penurunan (turun 5,6%) menjadi Rp78.441.252 ribu pada FY2023. Namun, pada
      FY2024, terjadi peningkatan (naik 6,9%) menjadi Rp83.819.890 ribu. Aset pajak tangguhan menunjukkan
      peningkatan bertahap selama periode ini. Pada FY2020, jumlahnya tercatat sebesar Rp3.187.769 ribu,
      kemudian (naik 2%) menjadi Rp3.251.340 ribu pada FY2021. Pada FY2022, nilai aset pajak tangguhan
      (naik 22,7%) menjadi Rp3.988.682 ribu, dan terus meningkat (naik 8,5%) menjadi Rp4.328.295 ribu pada
      FY2023. Pada FY2024, terjadi kenaikan kecil (naik 6%) menjadi Rp4.586.125 ribu. Aset takberwujud
      mengalami penurunan selama periode ini. Pada FY2020, nilainya tercatat sebesar Rp112.033 ribu, lalu

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               II - 9
Page 41
      (turun 76,6%) menjadi Rp26.271 ribu pada FY2021. Selanjutnya, pada FY2022, aset takberwujud (naik
      129,5%) menjadi Rp60.253 ribu. Aset hak guna, neto juga mencatat tren penurunan awal. Dimulai dari
      Rp11.204.552 ribu pada FY2020, aset ini (turun 30,1%) menjadi Rp7.833.881 ribu pada FY2021, lalu (turun
      30,7%) menjadi Rp5.429.547 ribu pada FY2022. Pada FY2023, aset ini turun lebih lanjut (turun 50%)
      menjadi Rp2.714.773 ribu. Namun, pada FY2024, terjadi kenaikan (naik 501,6%) menjadi Rp16.327.451
      ribu. Aset tidak lancar lainnya mengalami fluktuasi kecil. Pada FY2020, nilainya tercatat sebesar
      Rp1.304.578 ribu, lalu (turun 1%) menjadi Rp1.291.847 ribu pada FY2021. Pada FY2022, aset ini (turun
      4,2%) menjadi Rp1.238.163 ribu, dan (turun 26,6%) menjadi Rp908.654 ribu pada FY2023. Namun, pada
      FY2024, aset tidak lancar lainnya kembali (naik 3,3%) menjadi Rp938.858 ribu

 b. Liabilitas
      Posisi total liabilitas SGRO tercatat mengalami fluktuasi selama periode FY2020 hingga FY2024. Liabilitas
      jangka pendek mengalami perubahan. Utang bank jangka pendek dimulai dari Rp482.100.100 ribu pada
      FY2020, kemudian (turun 94,1%) menjadi Rp28.538.010 ribu pada FY2021, dan tidak tercatat pada
      FY2022, FY2023, dan FY2024. Utang usaha pihak berelasi mencatat fluktuasi besar. Pada FY2020,
      nilainya sebesar Rp23.896.499 ribu, kemudian (turun 99,4%) menjadi Rp151.767 ribu pada FY2021, (naik
      21.905,8%) menjadi Rp33.316.124 ribu pada FY2022, (turun 50,3%) menjadi Rp16.560.522 ribu pada
      FY2023, dan (naik 197,3%) menjadi Rp49.252.535 ribu pada FY2024. Utang usaha pihak ketiga juga
      menunjukkan pergerakan dari Rp63.226.452 ribu pada FY2020, (turun 16,3%) menjadi Rp52.925.723 ribu
      pada FY2021, (turun 8,3%) menjadi Rp48.522.376 ribu pada FY2022, (turun 45,4%) menjadi
      Rp26.501.540 ribu pada FY2023, dan akhirnya (naik 226,6%) menjadi Rp86.563.115 ribu pada FY2024.
      Utang lain-lain pihak berelasi dimulai dari Rp249.500.000 ribu pada FY2020, (turun 3,8%) menjadi
      Rp240.000.000 ribu pada FY2021, dan tidak tercatat pada FY2022 hingga FY2024. Sementara itu, utang
      lain-lain pihak ketiga mencatat nilai Rp77.693 ribu pada FY2020, (turun 47,9%) menjadi Rp40.495 ribu
      pada FY2021, (naik 19.922,9%) menjadi Rp8.103.746 ribu pada FY2022, (naik 84,8%) menjadi
      Rp14.978.129 ribu pada FY2023, dan (turun 53,2%) menjadi Rp7.013.289 ribu pada FY2024. Uang muka
      penjualan mengalami penurunan dari Rp32.239.609 ribu pada FY2020, (turun 38,2%) menjadi
      Rp19.934.394 ribu pada FY2021, (turun 61,8%) menjadi Rp7.602.897 ribu pada FY2022, dan tidak tercatat
      pada FY2023 dan FY2024. Liabilitas kontrak baru tercatat pada FY2023 sebesar Rp39.518.272 ribu,
      kemudian (turun 51,6%) menjadi Rp19.113.612 ribu pada FY2024.

      Selanjutnya, utang pajak naik dari Rp11.854.979 ribu pada FY2020, (naik 165,6%) menjadi Rp31.481.283
      ribu pada FY2021, (naik 31,4%) menjadi Rp41.385.861 ribu pada FY2022, (turun 61,8%) menjadi
      Rp15.794.896 ribu pada FY2023, dan (turun 70%) menjadi Rp4.739.785 ribu pada FY2024. Beban akrual
      mulai dari Rp10.475.442 ribu pada FY2020, (turun 21%) menjadi Rp8.272.567 ribu pada FY2021, (naik
      135,9%) menjadi Rp19.518.208 ribu pada FY2022, (naik 24,6%) menjadi Rp24.317.884 ribu pada FY2023,
      dan melonjak (naik 317,1%) menjadi Rp101.458.439 ribu pada FY2024.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                II - 10
Page 42
      Pada liabilitas jangka panjang, utang obligasi setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun
      dimulai dari Rp297.924.535 ribu pada FY2020, (naik 57,7%) menjadi Rp469.954.642 ribu pada FY2021,
      (naik 67%) menjadi Rp784.993.334 ribu pada FY2022, (turun 15,9%) menjadi Rp659.999.114 ribu pada
      FY2023, dan (turun 24,9%) menjadi Rp495.018.376 ribu pada FY2024. Sukuk Ijarah, neto, mengalami
      lonjakan (naik 133,7%) dari Rp296.541.556 ribu pada FY2020 menjadi Rp692.676.596 ribu pada FY2021,
      (naik 18,8%) menjadi Rp822.854.422 ribu pada FY2022, (turun 28,7%) menjadi Rp586.970.365 ribu pada
      FY2023, dan (turun 33,9%) menjadi Rp387.816.892 ribu pada FY2024.

 c. Ekuitas
      Pada periode FY2020 hingga FY2024, ekuitas mencatat sejumlah perubahan . Modal saham tetap stabil
      pada FY2020 dan FY2021 dengan nilai sebesar Rp378.000.000 ribu, sebelum mengalami penurunan
      (turun 3,8%) menjadi Rp363.724.400 ribu pada FY2022, dan nilainya tetap tidak berubah pada FY2023
      serta FY2024. Tambahan modal disetor menunjukkan stabilitas pada FY2020 dan FY2021 dengan nilai
      sebesar Rp952.757.463 ribu, kemudian menurun (turun 10,2%) menjadi Rp855.301.127 ribu pada FY2022,
      dan tidak ada perubahan pada FY2023 dan FY2024. Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali
      tetap konsisten sepanjang periode ini dengan nilai Rp403.752 ribu. Saham treasuri tercatat sebesar
      Rp(111.731.936) ribu pada FY2020 dan FY2021, namun tidak lagi tercatat pada FY2022, FY2023, maupun
      FY2024.

      Saldo laba yang ditentukan untuk cadangan umum tetap tidak berubah sepanjang periode FY2020 hingga
      FY2024 dengan nilai Rp83.994.710 ribu. Sementara itu, saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya
      mencatat peningkatan tiap tahunnya. Pada FY2020, nilainya sebesar Rp3.385.471.654 ribu, kemudian
      (naik 28,9%) menjadi Rp4.362.708.765 ribu pada FY2021, (naik 10,2%) menjadi Rp4.808.014.088 ribu
      pada FY2022, (naik 17,2%) menjadi Rp5.635.902.541 ribu pada FY2023, dan (naik 11,3%) menjadi
      Rp6.271.643.619 ribu pada FY2024. Total jumlah ekuitas secara keseluruhan mencatat pertumbuhan dari
      Rp4.688.895.643 ribu pada FY2020, (naik 20,9%) menjadi Rp5.666.132.754 ribu pada FY2021, (naik
      7,9%) menjadi Rp6.111.438.077 ribu pada FY2022, (naik 13,5%) menjadi Rp6.939.326.530 ribu pada
      FY2023, dan (naik 9,2%) menjadi Rp7.575.067.608 ribu pada FY2024.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                           II - 11
Page 43
III.9.2 LAPORAN LABA (RUGI)
        Berikut adalah Laporan laba (rugi) SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.

                        Tabel III.4. Laporan Laba (Rugi) SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
                                       FY2020           FY2021              FY2022          FY2023          FY2024
         U R A I A N
                                       Audited         Audited              Audited         Audited         Audited
 Pendapatan Usaha                       571.252.903      742.074.397         732.914.504     636.910.014     691.492.010
 Beban Pokok Pendapatan                (490.062.356)   (684.445.590)        (629.457.305)   (541.343.990)   (655.266.011)
 Laba Bruto                              81.190.547       57.628.807         103.457.199      95.566.024      36.225.999
 Perubahan nilai wajar aset biologis      4.441.411      (3.267.539)             706.730        (717.903)        350.408
 Beban penjualan dan pemasaran           (9.521.409)     (9.689.174)         (11.907.542)    (10.808.251)    (10.699.396)
 Beban umum dan administrasi            (45.418.118)    (40.954.314)         (51.445.529)    (49.030.784)    (49.956.384)
 Pendapatan lainnya                     398.622.148      969.584.302         759.817.308    1.153.859.698    999.638.242
 Beban lainnya                           (5.792.769)     (5.014.824)         (18.484.657)    (22.473.239)   (200.367.652)
 Laba (Rugi) Usaha                      423.521.810      968.287.258         782.143.509    1.166.395.545    775.191.217
 Pendapatan keuangan                    244.783.135      295.703.375         345.628.566     259.450.611     174.613.728
 Biaya keuangan                        (233.305.079)   (278.662.354)        (238.940.192)   (225.106.678)    (93.551.264)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak              434.999.866      985.328.279         888.831.883    1.200.739.478    856.253.681
 Beban pajak penghasilan                (12.935.304)     (9.224.590)         (33.785.127)    (13.598.921)       (970.256)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan             422.064.562      976.103.689         855.046.756    1.187.140.557    855.283.425
Sumber : Laporan Keuangan SGRO


   a. Pendapatan dan Beban Pokok Pendapatan
        Pendapatan Usaha SGRO terdiri dari penjualan tandan buah segar, minyak sawit mentah, inti sawit dan
        lain-lain. Pendapatan mengalami fluktuasi dari Rp571.252.903 ribu pada FY2020 menjadi Rp742.074.397
        ribu pada FY2021 (naik 29,91%), namun menurun menjadi Rp732.914.504 ribu pada FY2022 (turun
        1,23%), lalu menurun lagi ke Rp636.910.014 ribu pada FY2023 (turun 13,10%) sebelum akhirnya naik
        menjadi Rp691.492.010 ribu pada FY2024 (naik 8,57%).

        Beban Pokok Pendapatan meningkat dari Rp490.062.356 ribu pada FY2020 menjadi Rp684.445.590 ribu
        pada FY2021 (naik 39,67%), kemudian turun ke Rp629.457.305 ribu pada FY2022 (turun 8,03%), lalu turun
        lagi menjadi Rp541.343.990 ribu pada FY2023 (turun 14%), sebelum naik ke Rp655.266.011 ribu pada
        FY2024 (naik 21,03%). Laba Bruto menunjukkan fluktuasi signifikan, dari Rp81.190.547 ribu pada FY2020
        menjadi Rp57.628.807 ribu pada FY2021 (turun 29,04%), kemudian meningkat menjadi Rp103.457.199
        ribu pada FY2022 (naik 79,54%), sebelum turun ke Rp95.566.024 ribu pada FY2023 (turun 7,64%) dan
        turun lagi menjadi Rp36.225.999 ribu pada FY2024 (turun 62,09%).

  b. Beban
        Beban usaha SGRO terdiri dari beban penjualan dan pemasaran dan beban umum dan administrasi.
        Beban Penjualan dan Pemasaran stabil mengalami kenaikan kecil dari Rp9.521.409 ribu pada FY2020
        menjadi Rp9.689.174 ribu pada FY2021 (naik 1,76%), kemudian naik lagi menjadi Rp11.907.542 ribu pada
        FY2022 (naik 22,89%), namun turun sedikit ke Rp10.808.251 ribu pada FY2023 (turun 9,22%) dan
        Rp10.699.396 ribu pada FY2024 (turun 1,01%). Beban Umum dan Administrasi cenderung meningkat, dari



 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                       II - 12
Page 44
      Rp45.418.118 ribu pada FY2020 menjadi Rp40.954.314 ribu pada FY2021 (turun 9,83%), naik lagi ke
      Rp51.445.529 ribu pada FY2022 (naik 25,58%), sebelum turun menjadi Rp49.030.784 ribu pada FY2023
      (turun 4,69%) dan kembali naik ke Rp49.956.384 ribu pada FY2024 (naik 1,88%).

      Sementara itu, pada pos Perubahan Nilai Wajar Aset Biologis mengalami dinamika, dari Rp4.441.411 ribu
      pada FY2020 menjadi negatif Rp3.267.539 ribu pada FY2021 (turun 173,54%), lalu sedikit positif ke
      Rp706.730 ribu pada FY2022, sebelum kembali negatif di Rp717.903 ribu pada FY2023, dan menjadi
      positif Rp350.408 ribu pada FY2024.

      Pendapatan Lainnya mengalami peningkatan besar dari Rp398.622.148 ribu pada FY2020 menjadi
      Rp969.584.302 ribu pada FY2021 (naik 143,28%), namun turun menjadi Rp759.817.308 ribu pada FY2022
      (turun 21,66%), lalu meningkat lagi ke Rp1.153.859.698 ribu pada FY2023 (naik 51,86%) sebelum turun
      ke Rp999.638.242 ribu pada FY2024 (turun 13,36%). Beban Lainnya naik dari Rp5.792.769 ribu pada
      FY2020 menjadi Rp5.014.824 ribu pada FY2021 (turun 13,40%), lalu meningkat ke Rp18.484.657 ribu
      pada FY2022 (naik 268,41%), meningkat lagi ke Rp22.473.239 ribu pada FY2023 (naik 21,61%), sebelum
      melonjak menjadi Rp200.367.652 ribu pada FY2024 (naik 791,63%).

  c. Laba (Rugi) Tahun Berjalan
      Pendapatan Keuangan bertumbuh dari Rp244.783.135 ribu pada FY2020 menjadi Rp295.703.375 ribu
      pada FY2021 (naik 20,82%), meningkat lagi menjadi Rp345.628.566 ribu pada FY2022 (naik 16,88%),
      namun turun menjadi Rp259.450.611 ribu pada FY2023 (turun 24,94%) dan Rp174.613.728 ribu pada
      FY2024 (turun 32,68%). Biaya Keuangan meningkat dari Rp233.305.079 ribu pada FY2020 menjadi
      Rp278.662.354 ribu pada FY2021 (naik 19,46%), lalu turun menjadi Rp238.940.192 ribu pada FY2022
      (turun 14,23%), turun lagi ke Rp225.106.678 ribu pada FY2023 (turun 5,80%) dan Rp93.551.264 ribu pada
      FY2024 (turun 58,45%).

      Beban Pajak Penghasilan turun dari Rp12.935.304 ribu pada FY2020 menjadi Rp9.224.590 ribu pada
      FY2021 (turun 28,68%), kemudian naik menjadi Rp33.785.127 ribu pada FY2022 (naik 266,33%), lalu
      menurun ke Rp13.598.921 ribu pada FY2023 (turun 59,74%) dan Rp970.256 ribu pada FY2024 (turun
      92,87%).

      Laba (Rugi) Tahun Berjalan meningkat dari Rp422.064.562 ribu pada FY2020 menjadi Rp976.103.689 ribu
      pada FY2021 (naik 131,28%), lalu turun ke Rp855.046.756 ribu pada FY2022 (turun 12,41%), meningkat
      lagi ke Rp1.187.140.557 ribu pada FY2023 (naik 38,89%), sebelum sedikit menurun ke Rp855.283.425
      ribu pada FY2024 (turun 27,93%).




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                            II - 13
Page 45
II.9.3. LAPORAN ARUS KAS
       Berikut adalah laporan arus kas SGRO periode FY2020 sampai dengan FY2024.

                   Tabel III.5. Laporan Arus Kas SGRO FY2020 – FY2024 (dalam ribuan rupiah)
                                     FY2020             FY2021              FY2022           FY2023            FY2024
        U R A I A N
                                     Audited           Audited              Audited          Audited           Audited


 ARUS KAS DARI AKTIVITAS
                                       15.582.275         71.040.978          26.822.450       41.058.888        13.837.023
 OPERASIONAL
 ARUS KAS DARI AKTIVITAS
                                      295.538.259        716.482.282         520.011.303      458.632.392      (311.673.241)
 INVESTASI
 ARUS KAS DARI AKTIVITAS
                                     (302.713.676)     (788.750.292)        (507.710.728)    (510.758.036)      446.192.006
 PENDANAAN
 SURPLUS (DEFISIT) PERIODE
                                        8.406.858        (1.227.032)          39.123.025      (11.066.756)      148.355.788
 BERJALAN
 DAMPAK NETO PERUBAHAN NILAI
 TUKAR ATAS KAS DAN BANK
                                              1.090              757                 4.685             (576)            1.275

 SALDO KAS AWAL                         6.005.653         14.413.601          13.187.326       52.315.036        41.247.704
 SALDO KAS AKHIR                       14.413.601         13.187.326          52.315.036       41.247.704       189.604.770
Sumber : Laporan Keuangan SGRO

       Dari laporan keuangan yang diperoleh, aktivitas arus kas SGRO pada periode yang berakhir per
       31 Desember 2024 adalah sebagai berikut:
        Arus kas bersih dari aktivitas operasi SGRO menunjukkan arus kas masuk bersih dari aktivitas operasi
           sebesar Rp13.837.023 ribu.
        Arus kas bersih dari aktivitas investasi SGRO menunjukkan arus kas keluar bersih dari aktivitas
           investasi sebesar Rp(311.673.241) ribu.
        Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan SGRO menunjukkan arus kas masuk bersih dari aktivitas
           pendanaan sebesar Rp446.192.006 ribu.
        Surplus periode berjalan SGRO sebesar Rp148.355.788 ribu.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                          II - 14
Page 46
II.9.4. RASIO KEUANGAN
         Analisa rasio pada dasarnya adalah mencari perbandingan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Oleh karena
         itu dalam implementasinya akan banyak sekali rasio yang dapat diukur sesuai dengan tujuan analisis.
         Analisa rasio keuangan adalah menyatakan ulang data-data keuangan atau data akuntansi secara relatif
         untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan dengan menggunakan berbagai
         metode perhitungan serta interpretasi atas hasil perbandingan tersebut untuk menilai kinerja keuangan
         selama periode analisis. Berikut adalah perkembangan indikator utama keuangan SGRO dalam kurun
         waktu FY2020 sampai dengan FY2024.

                                      Tabel III.6. Rasio-Rasio Keuangan SGRO
                                    FY2020             FY2021               FY2022        FY2023        FY2024
        U R A I A N
                                    Audited           Audited               Audited       Audited       Audited

 LIQUIDITY RATIO
 Current Ratio                           18,31%             36,97%               56,54%        46,24%        52,47%
 Quick Ratio                             14,35%             30,74%               48,23%        42,00%        46,81%
 Net Working Capital Ratio               -10,82%            -3,08%               -2,64%        -3,00%        -3,31%


 SOLVABILITY RATIO
 Total Debt to Equity Ratio              54,75%             44,31%               46,54%        30,51%        20,60%
 Total Debt to Asset Ratio               35,38%             30,70%               31,76%        23,38%        17,08%
 Long Term Debt to Equity Ratio          34,26%             37,26%               37,64%        23,24%        12,20%


 PROFITABILITY RATIO
 Gross Profit Ratio                      14,21%              7,77%               14,12%        15,00%         5,24%
 Operating Profit Ratio                  74,14%            130,48%              106,72%       183,13%       112,10%
 Net Profit Ratio                        73,88%            131,54%              116,66%       186,39%       123,69%
 ROA (Return on Asset)                    5,82%             11,94%               9,55%         13,11%         9,36%
 ROE (Return on Equity)                   9,00%             17,23%               13,99%        17,11%        11,29%


Sumber : Laporan Keuangan SGRO (data diolah)

         Rasio likuiditas SGRO menunjukkan pola yang fluktuatif. Current Ratio meningkat dari 18,31% pada
         FY2020 menjadi 36,97% pada FY2021, kemudian naik lagi menjadi 56,54% pada FY2022, sebelum
         menurun menjadi 46,24% pada FY2023 dan kembali naik menjadi 52,47% pada FY2024. Quick Ratio
         menunjukkan tren yang sama, meningkat dari 14,35% pada FY2020 menjadi 30,74% pada FY2021, lalu
         naik lebih jauh menjadi 48,23% pada FY2022, turun menjadi 42,00% pada FY2023, dan kembali meningkat
         menjadi 46,81% pada FY2024. Namun, Net Working Capital Ratio tetap berada di zona negatif sepanjang
         periode, meskipun ada perbaikan dari -10,82% pada FY2020 menjadi -3,08% pada FY2021 dan -2,64%
         pada FY2022. Kemudian, terjadi penurunan menjadi -3,00% pada FY2023 dan -3,31% pada FY2024.

         Rasio solvabilitas SGRO menunjukkan tren positif dalam pengelolaan utang perusahaan. Total Debt to
         Equity Ratio menurun dari 54,75% pada FY2020 menjadi 44,31% pada FY2021, naik menjadi 46,54% pada
         FY2022, kemudian menurun menjadi 30,51% pada FY2023 dan akhirnya mencapai 20,60% pada FY2024.


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                    II - 15
Page 47
      Total Debt to Asset Ratio mengikuti pola yang sama, menurun dari 35,38% pada FY2020 menjadi 30,70%
      pada FY2021, kemudian naik menjadi 31,76% pada FY2022, sebelum menurun lagi menjadi 23,38% pada
      FY2023 dan 17,08% pada FY2024. Long Term Debt to Equity Ratio juga menunjukkan penurunan
      konsisten, dari 34,26% pada FY2020 ke 37,26% pada FY2021 dan 37,64% pada FY2022, lalu turun
      signifikan menjadi 23,24% pada FY2023 dan 12,20% pada FY2024.

      Rasio profitabilitas SGRO menunjukkan fluktuasi. Gross Profit Ratio menurun dari 14,21% pada FY2020
      menjadi 7,77% pada FY2021, naik menjadi 14,12% pada FY2022 dan 15,00% pada FY2023, sebelum
      kembali menurun menjadi 5,24% pada FY2024. Operating Profit Ratio menunjukkan peningkatan dari
      74,14% pada FY2020 menjadi 130,48% pada FY2021, kemudian menurun ke 106,72% pada FY2022, naik
      kembali menjadi 183,13% pada FY2023, sebelum akhirnya turun menjadi 112,10% pada FY2024. Net
      Profit Ratio mengikuti tren sama, meningkat dari 73,88% pada FY2020 menjadi 131,54% pada FY2021,
      menurun menjadi 116,66% pada FY2022, lalu naik ke 186,39% pada FY2023, dan menurun menjadi
      123,69% pada FY2024. ROA (Return on Asset) menunjukkan tren positif dari 5,82% pada FY2020 menjadi
      11,94% pada FY2021, tetapi kemudian menurun menjadi 9,55% pada FY2022, naik menjadi 13,11% pada
      FY2023, dan akhirnya menurun menjadi 9,36% pada FY2024. ROE (Return on Equity) juga menunjukkan
      pola sama, meningkat dari 9,00% pada FY2020 menjadi 17,23% pada FY2021, menurun menjadi 13,99%
      pada FY2022, naik ke 17,11% pada FY2023, dan akhirnya menurun ke 11,29% pada FY2024.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                          II - 16
Page 48
                                                          BAB III
                                                   ASPEK PASAR

III.1   KONDISI MAKRO EKONOMI
III.1.1 Perkembangan Ekonomi Dunia
        Divergensi pertumbuhan ekonomi dunia melebar dan ketidakpastian pasar keuangan global
        berlanjut. Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih kuat dari prakiraan didukung oleh stimulus
        fiskal yang meningkatkan permintaan domestik dan kenaikan investasi di bidang teknologi yang mendorong
        peningkatan produktivitas. Sebaliknya, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang masih lemah dipengaruhi
        oleh menurunnya keyakinan konsumen dan tertahannya produktivitas, sementara ekonomi India masih
        tertahan akibat sektor manufaktur yang terbatas. Sejalan dengan itu, prospek pertumbuhan ekonomi dunia
        2025 diprakirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya menjadi 3,2%. Di sisi lain, arah kebijakan
        Pemerintah dan bank sentral AS berpengaruh pada ketidakpastian pasar keuangan global. Kuatnya
        ekonomi AS serta dampak kebijakan tarif menahan proses disinflasi di AS dan berdampak pada
        menguatnya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas. Kebijakan fiskal AS yang
        lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi, baik pada tenor jangka pendek maupun jangka
        panjang. Bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang meningkat, perkembangan tersebut
        menyebabkan makin besarnya preferensi investor global untuk memindahkan portofolionya ke AS. Indeks
        mata uang dolar AS naik tinggi makin menambah tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia. Berbagai
        perkembangan global ini memerlukan penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan
        global untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

III.1.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
        Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik dengan kecenderungan lebih rendah dari prakiraan
        sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2024 sedikit di bawah prakiraan dipengaruhi oleh lebih
        rendahnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi. Secara keseluruhan, pertumbuhan
        ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7–5,5%. Pada 2025, pertumbuhan
        ekonomi diperkirakan juga cenderung lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Ekspor diprakirakan lebih
        rendah sehubungan dengan melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS.
        Konsumsi rumah tangga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah sehubungan dengan
        belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Pada saat yang sama, dorongan
        investasi swasta juga belum kuat karena masih lebih besarnya kapasitas produksi dalam memenuhi
        permintaan, baik domestik maupun ekspor. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi
        Indonesia 2025 mencapai kisaran 4,7–5,5%, sedikit lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8–
        5,6%. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga
        stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui
        optimalisasi stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran yang
        ditempuh Bank Indonesia dengan kebijakan stimulus fiskal Pemerintah. Lebih dari itu, Bank Indonesia

  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              III - 1
Page 49
       mendukung penuh implementasi program-program Pemerintah dalam Asta Cita, termasuk untuk ketahanan
       pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital.

       Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat sehingga mendukung ketahanan eksternal. Surplus
       neraca perdagangan berlanjut pada Desember 2024 yang tercatat 2,2 miliar dolar AS dipengaruhi oleh
       kinerja ekspor komoditas utama Indonesia yang kuat, seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak
       hewan nabati, serta besi dan baja. Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan 2024 tetap sehat dan
       diprakirakan dalam kisaran defisit rendah 0,1% sampai dengan 0,9% dari PDB. Sementara itu, tingginya
       ketidakpastian pasar keuangan global menurunkan aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan
       domestik dengan SBN dan SRBI masing-masing hanya mencatat inflows 19 juta dolar AS dan 288 juta dolar
       AS pada awal tahun 2025 (hingga 13 Januari 2025). Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir
       Desember 2024 tercatat tinggi sebesar 155,7 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor
       atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar
       kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, NPI pada 2025 diprakirakan tetap sehat seiring
       dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi berjalan yang terjaga
       dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB. Surplus neraca transaksi modal dan finansial
       didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek
       perekonomian domestik yang lebih baik dan imbal hasil investasi yang menarik.

III.1.3 Nilai Tukar Rupiah
       Nilai tukar Rupiah terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi, didukung oleh kebijakan stabilisasi
       Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada Januari 2025 (hingga 14 Januari 2025) hanya
       melemah sebesar 1,00% (ptp) dari level nilai tukar akhir 2024. Perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap
       dolar AS juga relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India, peso
       Filipina, dan baht Thailand yang masing-masing melemah sebesar 1,20%; 1,33%; dan 1,92%.

                                          Grafik III.1 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah




        Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                     III - 2
Page 50
       Sebaliknya, nilai tukar Rupiah tercatat menguat terhadap mata uang kelompok negara maju di luar dolar
       AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negara berkembang. Perkembangan tersebut sejalan dengan
       kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut,
       imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.
       Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai
       tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia
       yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi
       moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas
       kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar
       Rupiah.

III.1.4 Inflasi
       Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2024 terjaga dalam kisaran sasarannya 2,5±1%, sejalan inflasi IHK
       Desember 2024 yang tercatat 1,57% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali
       pada level 2,26% (yoy) sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-Rate) untuk
       mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, kelompok volatile food (VF)
       mencatat inflasi 0,12% (yoy) didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim
       panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi TPIP/TPID melalui GNPIP. Secara spasial, inflasi IHK di
       berbagai daerah juga terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Ke depan, Bank Indonesia meyakini
       inflasi IHK tetap terkendali dalam sasarannya. Inflasi inti diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang
       terjangkar dalam sasaran, kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan
       domestik, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank
       Indonesia, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi.

                                                 Grafik III.2 Pergerakan Inflasi




       Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                       III - 3
Page 51
       Inflasi VF diprakirakan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah
       Pusat dan Daerah. Bank Indonesia terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter guna
       menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%, dengan tetap mendukung upaya
       turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

III.1.5 Perkembangan Moneter
       Transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga berjalan baik dalam upaya turut mendukung
       pertumbuhan ekonomi. Suku bunga pasar uang (IndONIA) bergerak di sekitar BI-Rate, yaitu 6,03% pada
       14 Januari 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan tanggal 10 Januari 2025 tercatat menarik
       untuk mendukung aliran masuk modal asing masing-masing pada level 7,06%; 7,10%; dan 7,23%. Imbal
       hasil SBN tenor 2 tahun dan 10 tahun per 14 Januari 2025, masing-masing meningkat menjadi 6,98% dan
       7,25% sehingga juga tetap menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik di tengah
       berlanjutnya ketidakpastian global. Sementara itu, suku bunga perbankan tetap terjaga ditopang likuiditas
       perbankan yang memadai serta efisiensi perbankan dalam pembentukan harga yang makin baik dengan
       transparansi SBDK. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Desember 2024 tercatat
       masing-masing sebesar 4,87% dan 9,20%, relatif stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya.

                                     Grafik III.3 Suku Bunga Kebijakan BI dan IndONIA




       Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  III - 4
Page 52
                                             Grafik III.4 Suku Bunga Perbankan




      Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024

      Peran kredit/pembiayaan pada 2024 tetap kuat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
      kredit pada 2024 mencapai 10,39% (yoy), berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia 10–12%. Dari
      sisi penawaran, pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh terjaganya minat penyaluran kredit perbankan,
      berlanjutnya realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, tersedianya dukungan pendanaan dari
      pertumbuhan DPK, serta positifnya dampak KLM Bank Indonesia. Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit
      didukung oleh kinerja usaha korporasi yang terjaga, di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas.
      Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi,
      masing-masing sebesar 8,35% (yoy), 13,62% (yoy), dan 10,61% (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh
      sebesar 9,87% (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh 3,37% (yoy). Kedepan, pertumbuhan kredit
      diprakirakan meningkat dalam kisaran sasaran 11–13% pada 2025 sejalan prospek pertumbuhan ekonomi
      yang tetap baik dan dukungan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia. Berbagai kebijakan insentif dari
      Pemerintah diprakirakan juga dapat mendorong permintaan kredit lebih lanjut.

                                         Grafik III.5 Perkembangan Kredit dan DPK




      Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              III - 5
Page 53
      Ketahanan sistem keuangan terjaga baik. Likuiditas perbankan tetap memadai, tercermin dari rasio Alat
      Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Desember 2024 yang tinggi sebesar 25,59%. Rasio
      kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2024 tercatat tinggi sebesar
      26,89%, tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Risiko kredit tetap
      terkendali, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan pada November
      2024 yang terjaga rendah, sebesar 2,19% (bruto) dan 0,75% (neto). Hasil stress-test Bank Indonesia
      menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, serta ditopang oleh
      kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat
      sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas
      sistem keuangan.

                                   Grafik III.6 Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan




      Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024

                                          Grafik III.7 Rasio Kredit Bermasalah (NPL)




      Sumber: Laporan Kebijakan Moneter, Triwulan IV 2024
Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                             III - 6
Page 54
III.2   GAMBARAN INDUSTRI KELAPA SAWIT DI INDONESIA
        Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal
        ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar
        12,53% pada tahun 2023 atau merupakan urutan ketiga setelah sektor Industri Pengolahan sebesar 18,67%
        dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,94%. Salah satu
        subsektor yang cukup besar potensinya adalah subsektor perkebunan. Kontribusi subsektor perkebunan
        tahun 2023 yaitu sebesar 3,88% terhadap total PDB dan 30,97% terhadap sektor Pertanian, Kehutanan,
        dan Perikanan atau merupakan urutan pertama pada sektor tersebut. Kelapa sawit merupakan salah satu
        komoditas hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di
        Indonesia karena kemampuannya menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor
        industri. Sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia mempunyai potensi yang
        besar untuk memasarkan minyak sawit dan inti sawit baik di dalam maupun luar negeri. Pasar potensial
        yang akan menyerap pemasaran minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) adalah industri
        fraksinasi/ranifasi (terutama industri minyak goreng), lemak khusus (cocoa butter substitute),
        margarine/shortening, oleochemical, dan lain-lain.

        Luas Areal Kelapa Sawit
        Luas perkebunan kelapa sawit berdasarkan land used dan produksi CPO pada tahun 2018 meningkat
        signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan cakupan
        administratur perusahaan kelapa sawit, sehingga luas areal perkebunan kelapa sawit menjadi 14,33 juta
        hektar. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai dengan 2023, luas areal perkebunan kelapa sawit
        berdasarkan land used terus mengalami peningkatan yang hampir stagnan. Pada tahun 2023 diperkirakan
        luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 15,93 juta hektar.

        Areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 26 provinsi yaitu seluruh provinsi di Pulau Sumatera dan
        Kalimantan, Provinsi Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
        Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Pada tahun 2023, Provinsi Riau
        masih menjadi provinsi penghasil kelapa sawit terbesar dengan luas sebesar 3,40 juta hektar atau 21,36
        persen dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dari luas areal tersebut, Provinsi Riau
        menghasilkan 9,22 juta ton CPO.

        Luas areal perkebunan kelapa sawit menurut status pengusahaan pada tahun 2023 tidak menunjukkan
        perubahan berarti. Seperti tahun sebelumnya, penguasaan luas areal perkebunan kelapa sawit masih
        didominasi oleh perkebunan besar swasta. Sebesar 8,61 juta hektar atau 54,08 persen perkebunan kelapa
        sawit dikuasai oleh perkebunan swasta; diikuti perkebunan rakyat yang menguasai 6,74 juta hektar atau
        42,29 persen perkebunan kelapa sawit; serta sisanya 0,58 juta hektar atau 3,63 persen dikuasai oleh
        perkebunan besar negara.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  III - 7
Page 55
            Grafik III.8 Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023




                    Sumber: BPS

                      Tabel III.1 Luas Areal Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (hektar) 2019–2023
                                                               Status Pengusahaan
                        Tahun           Perkebunan         Perkebunan       Perkebunan
                                                                                           Total Luas
                                      Besar Negara        Besar Sw asta       Raky at
                         2019                 617.501           7.942.336      5.896.775    14.456.612
                         2020                 565.241           7.977.298      6.044.058    14.586.597
                         2021                 550.333           8.041.608      6.029.752    14.621.693
                         2022                 548.311           8.576.838      6.213.407    15.338.556
                         2023                 577.937           8.614.259      6.736.516    15.928.712
                    Sumber: BPS

      Produksi Minyak Sawit
      Pada tahun 2022 terjadi peningkatan sebesar 3,76 persen dibanding tahun 2021 menjadi 46,82 juta ton.
      Pada tahun 2023, produksi CPO kembali mengalami peningkatan menjadi 47,08 juta ton. Produksi minyak
      sawit (CPO) terbesar tahun 2023 berasal dari Provinsi Riau dengan produksi sebesar 9,22 juta ton atau
      sekitar 19,59 persen dari total produksi Indonesia. Produksi terbesar selanjutnya berasal dari Provinsi
      Kalimantan Tengah dengan produksi sebesar 8,47 juta ton atau 17,98 persen.

      Berdasarkan status pengusahaannya, pada tahun 2022 sebesar 60,26 persen dari produksi minyak sawit
      (CPO) atau 28,21 juta ton minyak sawit (CPO) berasal dari perkebunan besar swasta, sebesar 34,84 persen
      atau 16,31 juta ton dari Perkebunan rakyat dan sisanya 4,90 persen atau 2,30 juta ton berasal dari
      perkebunan besar negara. Meskipun total produksi pada tahun 2023 mengalami peningkatan, struktur
      produksi menurut status pengusahaan tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni didominasi
      oleh produksi perkebunan swasta dengan perkiraan sebesar 28,66 juta ton CPO (60,88 persen); diikuti
      perkebunan rakyat dengan total produksi 16,22 juta ton (34,46 persen); serta sisanya sebesar 2,20 juta ton
      (4,67 persen) diproduksi oleh perkebunan besar negara.


Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 III - 8
Page 56
                     Grafik II.9 Produksi Minyak Sawit Indonesia Menurut Status Pengusahaan, 2023




               Sumber: BPS

                          Tabel III.2 Produksi Kelapa Sawit Perkebunan Indonesia (ton), 2019–2023
                                              Status Pengusahaan
                                                                                   Produksi Miny ak Produksi Inti Saw it
                  Tahun         Perkebunan       Perkebunan        Perkebunan
                                                                                     Saw it (CPO)          (PKO)
                               Besar Negara     Besar Sw asta        Raky at
                   2019             2.134.367        30.060.003       14.925.877         47.120.247           9.424.049
                   2020             2.310.612        27.935.806       15.495.427         45.741.845           9.148.369
                   2021             2.256.134        27.361.506       15.503.840         45.121.480           9.024.296
                   2022             2.295.975        28.213.089       16.310.607         46.819.672           9.363.934
                   2023             2.197.217        28.663.639       16.223.443         47.084.299           9.416.860
              Sumber: BPS


                               Grafik III.10 Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, 2019-2023




           Sumber: BPS




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                               III - 9
Page 57
      Ekspor dan Impor Minyak Sawit
      Ekspor dan impor minyak sawit dirinci berdasarkan kelompok kode Harmonized System (HS) yaitu Crude
      Palm Oil (Kode HS 15111000), Other Palm Oil (Kode HS 15119000), Crude Oil of Palm Kernel (Kode H
      15132110), dan Other Palm Oil Kernel (Kode HS 15132900). Berdasarkan kelompok HS minyak sawit, pada
      tahun 2023 ekspor terbesar adalah Other Palm Oil (HS 15119000) sebesar 81,83 persen terhadap total
      ekspor minyak sawit Indonesia. Selanjutnya, kontribusi ekspor minyak sawit terbesar adalah Crude Palm
      Oil (HS 15111000), Other Palm Oil Kernel (HS 15132900), dan Crude Oil of Palm Kernel (H 15132110)
      dengan kontribusi masing-masing sebesar 13,06 persen, 4,97 persen, dan 0,14 persen terhadap total
      ekspor.

                             Grafik III.11 Volume Ekspor Minyak Sawit Menurut Jenisnya, 2023




                    Sumber: BPS

      Dari sisi volume, ekspor minyak sawit selama tahun 2019 sampai tahun 2022 cenderung mengalami
      penurunan. Namun, pada tahun 2023 volume ekspor minyak sawit mengalami peningkatan. Penurunan
      ekspor minyak sawit terbesar terjadi pada tahun 2020 dengan volume ekspor sebesar 27,63 juta ton atau
      menurun 8,55 persen dibanding tahun 2019. Meskipun volume ekspor cenderung menurun, penurunan
      tersebut tidak sejalan dengan nilai ekspor minyak sawit yang cenderung meningkat. Berdasarkan publikasi
      World Bank Commodities Price Data (The Pink Sheet), pada tahun 2017 terjadi peningkatan rata-rata harga
      minyak sawit di pasar dunia sebesar 751 US$/mt, sehingga menyebabkan peningkatan nilai ekspor hingga
      27,32 persen dibanding tahun 2016. Peningkatan harga tersebut tidak berlangsung lama sebab pada tahun
      2018 dan 2019, harga minyak sawit Kembali mengalami penurunan menjadi 639 US$/mt pada 2018 dan
      601 US$/mt pada 2019. Pada tahun 2020, harga minyak sawit di pasar dunia kembali melambung menjadi
      752 US$/mt. Kenaikan harga tersebut menyebabkan peningkatan nilai ekspor sebesar 16,94 persen
      dibanding 2019, meskipun dari sisi volume ekspor minyak sawit mengalami penurunan sebesar 8,55
      persen. Selanjutnya pada tahun 2021–2022, harga minyak sawit kembali naik, sehingga menyebabkan
      peningkatan nilai ekspor secara signifikan menjadi 29,75 miliar US$ pada tahun 2022. Tahun 2023,
      meskipun volume mengalami peningkatan dibanding tahun 2022, tetapi nilai ekspor justru mengalami
      penurunan sebesar 19,29 persen yaitu sebesar 24,01 miliar US$.

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                             III - 10
Page 58
                              Grafik III.12 Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit, 2019–2023




                Sumber: BPS

      Produksi minyak sawit Indonesia sebagian besar diekspor ke mancanegara dan sisanya dipasarkan di
      dalam negeri. Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia menjangkau lima benua yaitu Asia, Afrika, Australia,
      Amerika, dan Eropa dengan pangsa utama di Asia. Pada tahun 2023, lima besar negara pengimpor CPO
      Indonesia adalah India, Italia, Malaysia, Belanda, dan Kenya. Total ekspor CPO ke lima negara tersebut
      mencapai 97,64 persen terhadap total ekspor CPO Indonesia. Negara tujuan ekspor CPO terbesar yaitu
      India dengan volume ekspor 3,12 juta ton atau 86,71 persen dari total volume ekspor CPO Indonesia
      dengan nilai US$ 2,63 miliar. Selanjutnya CPO paling banyak diekspor menuju Italia dan Malaysia dengan
      kontribusi ekspor sebesar 4,02 persen dan 3,00 persen dari total ekspor CPO.

                              Grafik III.13 Volume Ekspor CPO menurut Negara Tujuan, 2023




                  Sumber: BPS




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                             III - 11
Page 59
      Volume impor minyak sawit selama periode tahun 2019 sampai 2023 cenderung cukup fluktuatif. Total
      volume impor minyak kelapa sawit pada tahun 2019 tercatat sebesar 93,56 ribu ton dengan nilai sebesar
      US$ 45,68 juta. Pada tahun 2020 volume impor minyak sawit mengalami penurunan cukup signifikan
      menjadi 1,62 ribu ton. Pada tahun 2021, volume impor kembali turun menjadi 0,36 ribu ton dengan nilai
      sebesar US$ 0,70 juta. Selanjutnya, pada tahun 2022 volume impor meningkat menjadi 0,51 ribu ton dengan
      nilai sebesar US$ 1,73 juta. Tahun 2023, volume impor juga meningkat menjadi 0,76 ribu ton dengan nilai
      sebesar US$1,28 juta. Jika pada tahun 2019, impor minyak sawit didominasi oleh Other Palm Oil
      (HS15119000) yang mencapai 94% dari total impor minyak sawit, maka pada tahun 2020 impor didominasi
      oleh Other Palm Oil Kernel (HS 15132900) yang volumenya tidak jauh berbeda dengan Other Palm Oil
      (HS15119000), masing- masing sebesar 0,664 ribu ton dan 0,657 ribu ton. Selanjutnya, pada tahun 2021-
      2023, impor minyak sawit kembali didominasi oleh Other Palm Oil (HS15119000) dengan volume impor
      tahun 2023 sebesar 0,756 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 1,274 juta.

                                Grafik III.14 Volume dan Nilai Impor Minyak Sawit, 2019–2023




                  Sumber: BPS

                       Tabel III.3 Ekspor dan Impor Minyak Kelapa Sawit dan Inti Sawit, 2019– 2023
                                                         Ekspor                                                                Impor
                         Minyak Saw it (CPO) dan CPO              Inti Saw it (PKO) dan PKO        Minyak Saw it (CPO) dan Inti Saw it (PKO) dan PKO
                                     Lainny a                               Lainny a                    CPO Lainnya                             Lainny a
               Tahun
                           Volume                Nilai            Volume               Nilai        Volume            Nilai            Volume              Nilai

                             (ton)          (000 US$)               (ton)          (000 US$)          (ton)         (000 US$)           (ton)         (000 US$)

               2019         28.279.350          14.716.275          1.937.238          1.268.634       93.285           45.530                  273                147
               2020         25.935.257          17.363.921          1.698.177          1.328.356              957             939               664                676
               2021         25.624.258          26.755.136          1.418.411          1.926.157              363             694                 0                  1
               2022         24.989.929          27.738.517          1.337.464          2.007.582              382        1.401                  126                327
               2023         26.129.721          22.685.184          1.408.126          1.323.197              757        1.274                    7                  9
             Sumber: BPS

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                   III - 12
Page 60
      Konsumsi dan Harga Minyak Sawit
      Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Badan Pengelolaan Dana
      Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), konsumsi CPO dalam negeri telah mengalami peningkatan yang
      signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, konsumsi CPO untuk biodiesel mencapai 7,3
      juta ton dan meningkat menjadi 9,05 juta ton pada tahun 2022. Pada tahun 2023, konsumsi ini diperkirakan
      melampaui 10 juta ton, dengan proyeksi mencapai 12 juta ton pada tahun 2024. Selain itu, konsumsi CPO
      untuk kebutuhan lokal juga menunjukkan tren yang meningkat, dengan 21,24 juta ton pada tahun 2022 dan
      naik sekitar 8,90% menjadi 23,13 juta ton pada tahun 2023. Implementasi kebijakan biodiesel (B35) turut
      mendorong peningkatan konsumsi biodiesel dari 9,048 juta ton pada tahun 2022 menjadi 10,65 juta ton
      pada tahun 2023.

      Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim), sejak Januari 2021 sampai
      dengan Oktober 2024 harga CPO dan PKO mengalami tren fluktuatif. Harga CPO meningkat dari
      RP10.837,79 pada tahun 2021 menjadi Rp12.143,52 pada tahun 2022, namun sedikit menurun menjadi
      Rp10.978,32 pada tahun 2023 sebelum akhirnya naik lagi menjadi Rp12.215,41 pada periode Januari-
      Oktober 2024. Sementara itu, harga PKO juga mengalami peningkatan dari Rp6.618,53 pada tahun 2021
      menjadi Rp7.818,95 pada tahun 2022. Namun, pada tahun 2023, harga PKO menurun signifikan menjadi
      Rp4.987,46 sebelum naik kembali menjadi Rp6.893,75 pada periode Januari-Oktober 2024.

                        Grafik III.15 Rata-rata Harga CPO dan PKO Kalimantan Timur, 2021 - Oktober 2024

                                                 Rata-rata Harga CPO dan PKO
                        14.000,00
                        12.000,00
                        10.000,00
                         8.000,00
               Rupiah




                         6.000,00
                         4.000,00
                         2.000,00
                                -
                                          2021                2022               2023        Jan-Okt 2024

                                                             CPO           PKO

                Sumber: Disbun Kaltim (data diolah)

      Tantangan Keberlanjutan dalam Industri Kelapa Sawit
      Peningkatan efisiensi produksi kelapa sawit di Indonesia telah menjadi fokus utama dalam beberapa tahun
      terakhir. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan ini meliputi penerapan teknologi canggih
      dalam budidaya dan pemurnian kelapa sawit, yang membantu meningkatkan produktivitas dan mengurangi
      pemborosan. Penggunaan bibit unggul yang lebih produktif dan tahan terhadap hama serta penyakit juga
      berkontribusi pada peningkatan efisiensi. Selain itu, program pelatihan dan edukasi bagi petani mengenai
      teknik budidaya yang lebih efisien dan pengelolaan lahan yang baik membantu meningkatkan hasil

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                    III - 13
Page 61
        produksi. Penerapan praktik pengelolaan lahan yang lebih baik, seperti rotasi tanaman dan penggunaan
        pupuk organik, juga berkontribusi pada peningkatan efisiensi produksi. Data dari penelitian menunjukkan
        bahwa efisiensi pabrik kelapa sawit di Indonesia telah meningkat, terutama di perusahaan yang
        menggunakan teknologi dan praktik pengelolaan yang lebih baik. Misalnya, beberapa pabrik kelapa sawit
        telah mencapai efisiensi yang lebih tinggi dengan mengadopsi teknik baru dan meningkatkan kualitas
        manajemen.

        Kemitraan dengan petani lokal menjadi fokus utama dalam strategi pengembangan industri kelapa sawit.
        Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjamin pasokan bahan baku
        yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi. Dengan adanya kemitraan ini, petani lokal dapat memperoleh
        pendapatan yang lebih stabil, akses ke teknologi pertanian modern, dan pelatihan untuk meningkatkan
        produktivitas serta kualitas hasil panen mereka. Selain itu, perusahaan juga diuntungkan dengan pasokan
        bahan baku yang konsisten dan berkualitas tinggi. Hal ini memastikan proses produksi berjalan lancar dan
        hasil produk akhir dapat memenuhi standar pasar global. Kemitraan ini juga menunjukkan komitmen
        perusahaan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, di mana keseimbangan antara keuntungan
        ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan selalu dijaga. Perusahaan dapat menciptakan
        dampak positif yang meluas ke seluruh komunitas pertanian. Petani menjadi lebih mandiri dan sejahtera,
        sementara perusahaan memperoleh reputasi yang baik sebagai pelaku industri yang bertanggung jawab.
        Pada akhirnya, kolaborasi ini memperkuat ekosistem industri kelapa sawit secara keseluruhan dan
        memastikan keberlanjutan jangka panjang bagi semua pihak yang terlibat.

        Industri kelapa sawit Indonesia juga menghadapi tantangan dalam aspek keberlanjutan. Isu deforestasi dan
        kerusakan habitat menjadi perhatian utama bagi berbagai pemangku kepentingan. Perusahaan kelapa
        sawit dituntut untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, termasuk penerapan kebijakan
        no-deforestation, no-peat, no-exploitation (NDPE). Peningkatan transparansi dan sertifikasi keberlanjutan
        seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan
        ini.

III.3   INFORMASI NON KEUANGAN SGRO
        PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) saat ini adalah perusahaan yang berfokus pada sektor perkebunan,
        perindustrian, dan perdagangan dengan komitmen kuat terhadap pengelolaan sumber daya alam secara
        optimal. Bidang usaha utama Perseroan meliputi pengembangan dan pengelolaan perkebunan kelapa
        sawit, serta produksi minyak mentah nabati seperti minyak sawit (CPO) dan inti sawit (PK) beserta produk
        turunannya. Selain itu, hasil produksi ini dipasarkan melalui aktivitas perdagangan yang terus
        dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar dan mendukung pertumbuhan bisnis yang
        berkelanjutan. SGRO memiliki pasar geografis di seluruh wilayah di Indonesia pada umumnya dan sejumlah
        negara di kawasan Asia.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                III - 14
Page 62
       Sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan optimalisasi sumber daya, SGRO juga menjalankan usaha
       penunjang dengan memanfaatkan limbah hasil pengolahan pabrik kelapa sawit dan produk turunannya.
       Pemanfaatan limbah ini tidak hanya mendukung pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, tetapi
       juga menghasilkan inovasi di bidang sumber energi terbarukan. Proses pengolahan limbah dan
       pengembangan produk hasil olahan ini dilakukan dengan standar teknologi modern, sehingga memperkuat
       peran Perseroan dalam mendukung kebijakan energi hijau sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri
       kelapa sawit.

III.3.1. Strategi Pemasaran Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
       Saat ini, bidang usaha SGRO mencakup berbagai aktivitas yang berfokus pada sektor kelapa sawit, seperti
       Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil
       (CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) (KBLI
       10432), dan Perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan analisis dan
       pandangan dari manajemen, SGRO menyadari bahwa untuk menciptakan efisiensi dan fokus dalam
       pengelolaan, kegiatan operasional perkebunan dan pabrik kelapa sawit sebaiknya dikelola oleh entitas anak
       tersendiri. Dengan langkah ini, diharapkan entitas anak tersebut dapat lebih optimal dalam menjalankan
       operasionalnya dan memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi grup perusahaan secara
       keseluruhan.

       Sejalan dengan strategi tersebut, SGRO berencana untuk mengubah kegiatan usahanya menjadi aktivitas
       perusahaan holding (KBLI 64200). Sebagai perusahaan holding, SGRO akan bertindak sebagai pengelola
       utama aset-aset grup yang terdiri dari perusahaan subsidiari dan memiliki kegiatan utama berupa
       kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagaimana karakteristik umum perusahaan
       holding, SGRO tidak akan terlibat langsung dalam kegiatan operasional sehari-hari dari anak
       perusahaannya. Sebaliknya, perusahaan induk akan fokus pada pemberian layanan strategis yang meliputi
       konsultasi manajemen, pengelolaan aset, dan dukungan dalam proses merger serta akuisisi perusahaan.
       Hal ini mencakup peran sebagai penasihat (counsellors) untuk membantu perumusan strategi bisnis dan
       perunding (negotiators) dalam mengelola berbagai perjanjian penting. SGRO akan menerima imbal hasil
       dalam bentuk management fee yang diperoleh dari perusahaan subsidiari yang berada di bawah
       naungannya. Management fee ini pada fase awalnya akan dibebankan kepada entitas anak yang sudah
       beroperasi dan menghasilkan laba, sebagai kompensasi atas layanan strategis yang diberikan.

       Dalam perannya sebagai perusahaan holding, SGRO akan memusatkan perhatian pada pengelolaan dan
       pengendalian anak perusahaan melalui kepemilikan saham. SGRO tidak akan berinteraksi langsung
       dengan pelanggan maupun pemasok, melainkan menjadikan anak perusahaan di bawah naungannya
       sebagai "pelanggan" utama. Layanan yang diberikan oleh SGRO kepada anak perusahaan mencakup
       berbagai aspek strategis, seperti manajemen aset, perencanaan dan eksekusi strategi bisnis, pengawasan
       operasional, serta memastikan bahwa setiap entitas anak bergerak sejalan dengan visi dan misi grup secara
       keseluruhan. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan struktur yang lebih efisien dan mendukung
       pertumbuhan berkelanjutan bagi SGRO dan seluruh anak perusahaannya.
 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               III - 15
Page 63
III.3.2 Keunggulan Kompetitif
       Berdasarkan dengan informasi yang diterima dari manajemen SGRO, keunggulan kompetitif yang dimiliki
       SGRO setelah berubah menjadi perusahaan holding terletak pada berbagai aspek yang meningkatkan
       efisiensi, fleksibilitas, dan peluang pertumbuhan strategis. Dengan mengalihkan pengelolaan operasional
       perkebunan dan pabrik kelapa sawit kepada entitas anak, SGRO memastikan setiap anak perusahaan lebih
       fokus pada aktivitas inti mereka, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan hasil produksi. Sebagai
       perusahaan holding, SGRO dapat mengelola aset, strategi bisnis, dan pengawasan secara terpusat,
       sehingga menjaga keselarasan visi dan misi di seluruh grup perusahaan. Selain itu, model bisnis holding
       membuka peluang diversifikasi portofolio bisnis, memungkinkan SGRO masuk ke sektor lain yang lebih
       menjanjikan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor, seperti kelapa sawit. Struktur ini juga
       menciptakan peluang sinergi antar anak perusahaan, di mana mereka dapat saling mendukung untuk
       menciptakan nilai tambah bagi grup secara keseluruhan. Keunggulan lainnya adalah efisiensi dalam
       investasi dan pengelolaan sumber daya, di mana SGRO dapat mengalokasikan dana dan aset berdasarkan
       prioritas strategis. Selain itu, peran SGRO sebagai penasihat dan perunding dalam proses merger dan
       akuisisi memberikan keunggulan kompetitif dalam memperluas jangkauan bisnis. Dengan pola bisnis ini,
       SGRO memiliki kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih strategis, membuka peluang
       baru, dan tetap kompetitif di pasar yang dinamis.

 III.4 KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN PASAR
       Dengan memperhatikan perkembangan usaha, potensi pasar, kondisi industri dan kondisi perekonomian
       Indonesia yang sedang tumbuh, maka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pasar layak untuk
       dilaksanakan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                III - 16
Page 64
                                                        BAB IV
                                                  ASPEK TEKNIS

PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) merupakan perseroan terbatas berstatus perusahaan terbuka yang didirikan
di Indonesia. SGRO bergerak di bidang usaha bidang perkebunan, perindustrian, dan perdagangan. SGRO
didirikan dengan nama PT Selapan Jaya tanggal 7 Juni 1993. Nama Perseroan diubah menjadi PT Sampoerna
Agro Tbk pada tahun 2007. Perseroan beroperasi secara komersial sejak bulan November 1998 dengan kantor
pusatnya berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Nomor 788, Palembang, Sumatera Selatan. Kantor perwakilan
korporasi SGRO terletak Sampoerna Strategic Square, North Tower, 28/F, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 45,
Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

IV.1 RENCANA PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
      Saat ini bidang usaha Perseroan adalah Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak
      mentah kelapa sawit (CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit (CPKO) (KBLI10432),
      dan perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan informasi dari
      manajemen, SGRO melihat perkebunan dan pabrik kelapa sawit perlu dikelola oleh entitas anak tersendiri
      sehingga diharapkan dapat lebih fokus dan dapat memberikan kontribusi positif.

      Perseroan akan merubah kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) yaitu
      perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah
      kepemilikan kelompok tersebut. "Holding Companies" tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan
      subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (counsellors) dan perunding
      (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

      Adapun pengalihan unit bisnis Kebun kelapa sawit, PKS dan perdagangan minyak sawit akan dialihkan dan
      dikelola oleh entitas anak tidak langsung SGRO yaitu PT Gading Jaya Agro dan PT Palma Timur Sejahtera
      yang dimana kedua Perusahaan tersebut kepemilikan sahamnya sama-sama dimiliki oleh entitas anak
      langsung SGRO yaitu PT Usaha Agro Indonesia dan PT Sungai Menang. PT Gading Jaya Agro dan PT
      Palma Timur Sejahtera memiliki maksud dan tujuan dalam Anggaran Dasar antara lain menjalankan usaha
      di bidang perkebunan kelapa sawit yang mencakup usaha perkebunan mulai dari kegiatan pengolahan
      lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan buah kelapa sawit. Termasuk
      kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman buah kelapa sawit (KBLI 01262), menjalankan usaha di
      bidang industri minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil) yang mencakup usaha pengolahan kelapa
      sawit menjadi minyak (KBLI 10431), menjalankan usaha di bidang industri Minyak mentah inti kelapa sawit
      (Crude Palm Kernel Oil) yang mencakup usaha pengolahan inti kelapa sawit menjadi minyak mentah inti
      (Crude Palm Kernel Oil/CPKO) yang masih perlu diolah lebih lanjut (KBLI 10432), Menjalankan usaha di
      bidang perdagangan besar buah yang mengandung minyak yang mencakup usaha perdagangan besar
      hasil pertanian tanaman buah yang mengandung minyak, seperti kelapa dan kelapa sawit (KBLI 46202).



 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              IV - 1
Page 65
IV.2 PRODUK ATAU JASA YANG AKAN DIJUAL

      SGRO melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), menjadi Aktivitas
      Perusahaan Holding sehingga SGRO tidak menghasilkan produk yang perlu dipasarkan. Sebagai
      Perusahaan Holding, SGRO akan lebih berfokus dalam memberikan pengawasan dan pengelolaan kepada
      entitas anak dalam bentuk konsultasi manajemen dan investasi atau sebagai penasihat (counsellors) dan
      perunding (negotiators) dalam merancang strategi dan prospek bisnis entitas anak. Jasa yang disediakan
      antara lain:

           1. Corporate Affairs & Legal Services (Jasa Urusan Korporasi & Hukum)
           2. Engineering Services (Jasa Teknik)
           3. Treasury Services (Jasa Perbendaharaan)
           4. Tax & Compliance Services (Jasa Pajak & Kepatuhan)
           5. ICT Services (Jasa Teknologi Informasi & Komunikasi)
           6. Procurement Services (Jasa Pengadaan)
           7. Accounting Services (Jasa Akuntansi)
           8. Human Resource Services (Jasa Sumber Daya Manusia)
           9. Internal Audit Services (Jasa Audit Internal)
           10. Research & Development Services (Jasa Penelitian & Pengembangan)
           11. Financial System Services (Jasa Sistem Keuangan)

IV.3 PELANGGAN DAN PEMASOK
       Sebagai perusahaan holding atau induk, fokus utama kegiatan usaha SGRO adalah mengelola dan
       mengontrol anak perusahaan melalui kepemilikan saham, tidak langsung berinteraksi dengan pelanggan
       atau pemasok. Pelanggan utama perusahaan holding dalam hal ini SGRO adalah anak perusahaan yang
       berada di bawah kendalinya. Perusahaan induk memberikan layanan seperti manajemen aset, strategi
       bisnis, dan pengawasan operasional kepada anak perusahaan.

       Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited periode 31 Desember 2024, Investasi SGRO pada
       entitas anak adalah sebagai berikut:

                                                 Tabel IV.1 Entitas Anak SGRO
                                                                                                            Total Aset
                                                                                              Persentase
                     Nama                 Domisili                 Bidang Usaha                               (Juta
                                                                                              Kepemilikan
                                                                                                             Rupiah)
        Entitas Anak Langsung
        PT Telaga Hikmah                 Palembang     Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit       99,45%        1.020.769
        PT Aek Tarum                     Palembang     Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit       99,00%         663.149
        PT Gunung Tua Abadi              Palembang     Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit       99,86%         429.361
        PT Mutiara Bunda Jaya            Palembang     Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit       99,38%         609.087
                                                       Perkebunan dan produksi benih kelapa
        PT Binasawit Makmur              Palembang                                              99,00%         170.036
                                                       sawit



 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                         IV - 2
Page 66
                                                                                                            Total Aset
                                                                                              Persentase
                    Nama                   Domisili                   Bidang Usaha                            (Juta
                                                                                              Kepemilikan
                                                                                                             Rupiah)
        PT Sawit Selatan                  Palembang      Perkebunan kelapa sawit                99,98%         336.929
        PT Sungai Menang                  Palembang      Konsultasi manajemen                   99,99%        3.184.104
        PT Tania Binatama*                  Jakarta      Perkebunan kelapa sawit                   -                     -
        PT Selatanjaya Permai             Palembang      Perkebunan kelapa sawit                99,99%         685.471
        PT Usaha Agro Indonesia             Jakarta      Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit     99,99%        1.831.875
                                          Pangkalan
        PT Sungai Rangit                                 Perkebunan dan pabrik Kelapa Sawit     99,99%        1.464.195
                                            Bun
        PT Sampoerna Bio Fuels              Jakarta      Konsultasi manajemen                   99,99%        1.476.522
        PT Nusantara Sago Prima*            Jakarta      Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu        -                     -
        Sampoerna Palma Pte. Ltd.,        Singapura      Perdagangan umum                      100,00%            2.557
        Entitas Anak Tidak Langsung
        PT Lanang Agro Bersatu1             Jakarta      Perkebunan dan pabrik kelapa sawit    100,00%         797.037
        PT National Sago Prima2             Jakarta      Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu    100,00%         528.491
        PT Pertiwi Agro Sejahtera3          Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%         204.874
        PT Pangan Agro Nusantara*           Jakarta      Perkebunan                                -                     -
        PT Palma Timur Sejahtera1           Jakarta      Perkebunan                            100,00%               97
        PT Gading Jaya Agro1)
                                            Jakarta      Perkebunan                            100,00%                   9
        (d.h PT Industri Hutan Lestari)
        PT Industri Hutan Unggul*           Jakarta      Perkebunan                                -                     -
        PT Usaha Agro Jaya *                Jakarta      Perkebunan                                -                     -
        PT Tebar Tandan Tenerah3            Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%         285.919
        PT Hutan Ketapang Industri4         Jakarta      Kehutanan                              80,00%        3.070.364
        PT Kusuma Mentari Makmur3           Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%           98.914
        PT Nusantara Sarana Alam3           Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%         258.173
        PT Agro Planindo Utama3             Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%           84.026
        PT Kedurang Prakarsa Nabati3        Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%           16.117
        PT Anugerah Palm Indonesia1         Jakarta      Perkebunan kelapa sawit               100,00%         110.469
        PT Sugih Amerta Berlabuh1           Jakarta      Jasa                                  100,00%            2.028
         *) Telah dilikuidasi
         1) Dimiliki oleh PT Usaha Agro Indonesia dan PT Sungai Menang
         2) Dimiliki oleh PT Sampoerna Bio Fuels dan PT Sungai Menang
         3) Dimiliki oleh PT Sungai Menang, PT Sungai Rangit dan PT Usaha Agro Indonesia
         4) Dimiliki 80,00% oleh PT Sungai Menang

IV.4   ANALISIS KAPASITAS
       Terkait kapasitas, manajemen memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengelola aktivitas Perusahaan
       holding. Kapasitas manajemen perusahaan holding meliputi beberapa aspek berikut:
        1. Kemampuan Strategis, yaitu manajemen bertanggung jawab untuk menyusun visi, misi, dan strategi
             perusahaan induk serta memastikan bahwa anak perusahaan sejajar dengan tujuan strategis tersebut.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                         IV - 3
Page 67
        2. Pengawasan Keuangan, yaitu Perusahaan memiliki tim yang ahli dalam mengelola keuangan,
             perencanaan anggaran, alokasi modal, dan pengawasan kinerja keuangan anak perusahaan.
        3. Manajemen Risiko, yaitu kapasitas untuk mengenali, menilai, dan mengelola risiko yang menjadi
             kemampuan krusial manajemen dalam perusahaan holding untuk melindungi kepentingan seluruh
             grup.
        4. Kemampuan Kepemimpinan, yaitu manajemen perusahaan holding mampu membangun hubungan
             yang baik dengan pemimpin anak perusahaan, memotivasi mereka, dan memastikan keberhasilan
             kolaborasi antarunit bisnis.
        5. Pendekatan Operasional, yaitu meskipun tidak selalu terlibat dalam operasi sehari-hari, perusahaan
             holding memiliki kapasitas untuk memberikan arahan dan dukungan kepada anak perusahaan dalam
             bidang seperti teknologi, sumber daya manusia, atau pengembangan produk.

IV.5     ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA, TERMASUK PEKERJA, DAN AHLI
         Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, Perseroan akan tetap
         mempertahankan management maupun staff operasional yang saat ini ada dengan mempertimbangkan
         pengalaman dan keahlian dari management maupun staff operasional telah sejalan dengan lini usaha
         Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Perubahan kegiatan usaha Perseroan dari usaha
         perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi Aktivitas Perusahaan Holding dengan kode
         KBLI 64200 dapat didukung dan dikembangkan dengan kualifikasi dan kompetensi Sumber Daya Manusia
         (SDM) yang ada saat ini.

         Saat ini SGRO telah memiliki sumber daya manusia dan tenaga ahli yang cukup kompeten untuk
         mendukung kegiatan usaha yang baru. Tenaga ahli tersebut meliputi:

            1 Orang Direktur Utama
            1 Orang Direktur Sustainability, Research and Development
            1 Orang Direktur Commercial
            1 Orang Direktur Human Resources
            1 Orang Direktur Palm Oil Operations
            1 Orang Direktur Finance
            1 Orang Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma
            1 Orang head yang membawahi Divisi Agronomy & Continuous Improvements
            1 Orang head yang membawahi Divisi Engineering & Operation
            1 Orang head yang membawahi Divisi Internal Audit
            1 Orang head yang membawahi Divisi Sustainability & Operations Sago

         Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha tersebut, maka kedepannya SGRO juga dapat
         menambah tenaga ahli apabila diperlukan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              IV - 4
Page 68
IV.6     ANALISIS PROSES PRODUKSI JASA
         Dalam kapasitasnya sebagai penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators), SGRO sebagai
         perusahaan holding menjalankan proses yang sistematis untuk memberikan dukungan manajerial dan
         investasi kepada entitas anak. Berikut adalah analisis prosesnya:

          1. Identifikasi Kebutuhan
               Perusahaan holding melakukan analisis terhadap kondisi bisnis dan operasional entitas anak untuk
               memahami kebutuhan spesifik mereka. Aspek yang dianalisis meliputi kinerja keuangan, pasar yang
               sedang dihadapi, potensi risiko, dan peluang pertumbuhan.
          2. Perancangan Strategi
               Berdasarkan hasil identifikasi, perusahaan holding merancang strategi bisnis yang disesuaikan
               dengan kebutuhan entitas anak. Strategi ini mencakup pengembangan produk atau jasa, ekspansi
               pasar, diversifikasi bisnis, hingga efisiensi operasional.
          3. Konsultasi Manajemen
               Perusahaan holding memberikan konsultasi kepada tim manajemen entitas anak terkait
               implementasi strategi. Konsultasi ini dapat mencakup [engelolaan sumber daya manusia,
               optimalisasi proses kerja, serta perencanaan keuangan dan pengembangan teknologi.
          4. Investasi
               Perusahaan holding dapat menawarkan dukungan investasi untuk merealisasikan strategi bisnis.
               Investasi ini dapat berbentuk modal tambahan, alokasi sumber daya, atau fasilitas pinjaman.
               Investasi dilakukan dengan mempertimbangkan potensi keuntungan jangka panjang dan
               keselarasan dengan tujuan grup.
          5. Negosiasi dan Kolaborasi
               Sebagai perunding, perusahaan holding berperan dalam mediasi antar pihak atau mitra strategis
               yang relevan dengan entitas anak, seperti pemasok, investor, atau regulator. Holding juga bertindak
               sebagai fasilitator untuk memastikan kesepakatan yang mendukung perkembangan entitas anak.
          6. Pengawasan Berkelanjutan
               Setelah strategi diterapkan, perusahaan holding terus memantau dan mengevaluasi kinerja entitas
               anak. Pemantauan dilakukan melalui laporan berkala dan pertemuan koordinasi untuk memastikan
               bahwa tujuan bisnis dicapai secara efektif.

IV.7     KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN TEKNIS
         Dengan memperhatikan perizinan yang telah dimiliki SGRO, fasilitas yang memadai, rincian produk atau
         jasa yang akan dijual, serta beberapa pemasok dan pelanggan SGRO, maka rencana perubahan kegiatan
         usaha dalam bidang perdagangan batu bara yang akan dilakukan oleh SGRO secara teknis layak untuk
         dilaksanakan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  IV - 5
Page 69
                                                         BAB V
                                              ASPEK POLA BISNIS
V.1   KEGIATAN USAHA UTAMA
      PT Sampoerna Agro Tbk (“SGRO”) menjalankan usaha di bidang perkebunan, perindustrian, dan
      perdagangan. Bidang usaha yang Perseroan jalankan adalah Usaha utama di bidang perkebunan kelapa
      sawit dan industri minyak mentah (minyak makan) dari nabati, minyak sawit (CPO) dan inti sawit (PK) dan
      produk turunannya, serta perdagangan hasil produksi usaha tersebut. Usaha penunjang untuk
      mengoptimalisasi sumber daya Perseroan, antara lain: pemanfaatan sisa hasil pengolahan pabrik kelapa
      sawit dan/atau produk turunannya, seperti usaha sumber energi terbarukan menggunakan limbah hasil
      pengolahan, berikut pengolahan dan perdagangannya.

      Untuk memelihara pertumbuhan yang berkelanjutan, Perseroan menerapkan strategi diversifikasi yang
      berlapis, dengan fokus pada sebaran area geografis dan portofolio produk, yang didukung oleh intensifikasi
      untuk semakin meningkatkan kinerja. Sejak menjadi perusahaan publik tahun 2007, luas perkebunan inti
      kelapa sawit Perseroan telah berkembang lebih dari dua kali lipat, atau sebesar 82.123 hektare (ha) pada
      tahun 2023. Luas ini merupakan 45% dari total luas Perseroan untuk bisnis kelapa sawitnya, yakni 184.052
      ha. Perkebunan kelapa sawit Perseroan tersebar di dua pulau di Indonesia, yakni Sumatera dan Kalimantan.
      Sebagian besar upaya ekspansi lahan Perseroan dilakukan di Kalimantan. Per akhir 2023, luas lahan
      tertanam inti dan plasma di Kalimantan Tengah dan Barat telah mencapai 50.027 ha, lebih dari tiga kali lipat
      dari luasan di tahun 2007. Produk-produk kelapa sawit Perseroan dijual di pasar domestik dan diekspor ke
      berbagai negara mengikuti harga pasar.

      Per akhir 2023, Perseroan memiliki dan mengoperasikan sendiri 8 pabrik kelapa sawit (PKS), yakni 5 di
      Sumatera dan 3 di Kalimantan. Seluruhnya memproses TBS yang diperoleh dari perkebunan sendiri (baik
      inti maupun plasma) dan dari pihak ketiga. Sampoerna Agro menjalankan penelitian dan pengembangan
      bibit unggul untuk inovasi yang revolusioner di masa depan. Perseroan mengelola fasilitas penelitian dan
      pengembangan, serta kebun benih kelapa sawit unggulan di daerah Sumatera Selatan, yaitu Kebun Surya
      Adi dan Kebun Mesuji, serta laboratorium analisis terintegrasi di Palembang.

      Selain bisnis kelapa sawit, Perseroan juga mengelola industri sagu dengan lahan tertanam 12.781 ha per
      akhir 2023 di Provinsi Riau, dari total lahan yang dimiliki seluas kurang lebih 21.000 ha. Perseroan
      memproduksi tepung sagu berkualitas tinggi yang dijual ke pasar domestik dan internasional dengan merek
      Prima Starch.

V.2. PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
      Saat ini, bidang usaha SGRO mencakup berbagai aktivitas yang berfokus pada sektor kelapa sawit, seperti
      Perkebunan buah kelapa sawit (KBLI 01262), Industri minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil
      (CPO) (KBLI 10431), Industri minyak mentah inti kelapa sawit atau Crude Palm Kernel Oil (CPKO) (KBLI
      10432), dan Perdagangan besar buah yang mengandung minyak (KBLI 46202). Berdasarkan analisis dan

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                   V-1
Page 70
      pandangan dari manajemen, SGRO menyadari bahwa untuk menciptakan efisiensi dan fokus dalam
      pengelolaan, kegiatan operasional perkebunan dan pabrik kelapa sawit sebaiknya dikelola oleh entitas anak
      tersendiri. Dengan langkah ini, diharapkan entitas anak tersebut dapat lebih optimal dalam menjalankan
      operasionalnya dan memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi grup perusahaan secara
      keseluruhan.

      Sejalan dengan strategi tersebut, SGRO berencana untuk mengubah kegiatan usahanya menjadi aktivitas
      perusahaan holding (KBLI 64200). Sebagai perusahaan holding, SGRO akan bertindak sebagai pengelola
      utama aset-aset grup yang terdiri dari perusahaan subsidiari dan memiliki kegiatan utama berupa
      kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagaimana karakteristik umum perusahaan
      holding, SGRO tidak akan terlibat langsung dalam kegiatan operasional sehari-hari dari anak
      perusahaannya. Sebaliknya, perusahaan induk akan fokus pada pemberian layanan strategis yang meliputi
      konsultasi manajemen, pengelolaan aset, dan dukungan dalam proses merger serta akuisisi perusahaan.
      Hal ini mencakup peran sebagai penasihat (counsellors) untuk membantu perumusan strategi bisnis dan
      perunding (negotiators) dalam mengelola berbagai perjanjian penting. Jasa yang diberikan antara lain Jasa
      Urusan Korporasi & Hukum; Jasa Teknik; Jasa Perbendaharaan; Jasa Pajak & Kepatuhan; Jasa Teknologi
      Informasi & Komunikasi (TIK); Jasa Pengadaan; Jasa Akuntansi; Jasa Sumber Daya Manusia; Jasa Audit
      Internal; Jasa Penelitian & Pengembangan; dan Jasa Sistem Keuangan

      Dalam perannya sebagai perusahaan holding, SGRO akan memusatkan perhatian pada pengelolaan dan
      pengendalian anak perusahaan melalui kepemilikan saham. SGRO tidak akan berinteraksi langsung
      dengan pelanggan maupun pemasok, melainkan menjadikan anak perusahaan di bawah naungannya
      sebagai "pelanggan" utama. Layanan yang diberikan oleh SGRO kepada anak perusahaan mencakup
      berbagai aspek strategis, seperti manajemen aset, perencanaan dan eksekusi strategi bisnis, pengawasan
      operasional, serta memastikan bahwa setiap entitas anak bergerak sejalan dengan visi dan misi grup secara
      keseluruhan. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan struktur yang lebih efisien dan mendukung
      pertumbuhan berkelanjutan bagi SGRO dan seluruh anak perusahaannya.

V.3. KEUNGGULAN KOMPETITIF POLA BISNIS
      Berdasarkan dengan informasi yang diterima dari manajemen SGRO, keunggulan kompetitif yang dimiliki
      SGRO setelah berubah menjadi perusahaan holding terletak pada berbagai aspek yang meningkatkan
      efisiensi, fleksibilitas, dan peluang pertumbuhan strategis. Dengan mengalihkan pengelolaan operasional
      perkebunan dan pabrik kelapa sawit kepada entitas anak, SGRO memastikan setiap anak perusahaan lebih
      fokus pada aktivitas inti mereka, sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan hasil produksi. Sebagai
      perusahaan holding, SGRO dapat mengelola aset, strategi bisnis, dan pengawasan secara terpusat,
      sehingga menjaga keselarasan visi dan misi di seluruh grup perusahaan. Selain itu, model bisnis holding
      membuka peluang diversifikasi portofolio bisnis, memungkinkan SGRO masuk ke sektor lain yang lebih
      menjanjikan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor, seperti kelapa sawit. Struktur ini juga
      menciptakan peluang sinergi antar anak perusahaan, di mana mereka dapat saling mendukung untuk


 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 V-2
Page 71
     menciptakan nilai tambah bagi grup secara keseluruhan. Keunggulan lainnya adalah efisiensi dalam
     investasi dan pengelolaan sumber daya, di mana SGRO dapat mengalokasikan dana dan aset berdasarkan
     prioritas strategis. Selain itu, peran SGRO sebagai penasihat dan perunding dalam proses merger dan
     akuisisi memberikan keunggulan kompetitif dalam memperluas jangkauan bisnis. Dengan pola bisnis ini,
     SGRO memiliki kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih strategis, membuka peluang
     baru, dan tetap kompetitif di pasar yang dinamis.

V.4. PERTIMBANGAN DAN ALASAN
     Berdasarkan informasi yang kami terima dari manajemen SGRO, latar belakang, pertimbangan dan alasan
     dari rencana perubahan kegiatan usaha Perseroan adalah sejalan dengan strategi Perseroan dan upaya
     Perseroan untuk meningkatkan kinerja serta mendorong pertumbuhan kinerja Perseroan secara
     berkelanjutan dan untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang. Maka
     Perseroan memandang perlu melakukan reorganisasi kegiatan usaha dengan fokus meningkatkan nilai
     (value) bagi anak dan cucu perusahaan (subsidiaries) sesuai Visi dan Misi Perseroan. Untuk itu Perseroan
     berencana mengubah kegiatan usaha utama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan
     kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit menjadi perusahaan holding.

     Salah satu pertimbangan utama adalah efisiensi operasional. Dengan memisahkan pengelolaan
     perkebunan dan pabrik kelapa sawit menjadi entitas anak, setiap unit bisnis dapat lebih fokus pada kegiatan
     inti mereka, sehingga meningkatkan produktivitas dan kinerja secara keseluruhan. Selain itu, perubahan ini
     memberikan SGRO kemampuan untuk mengelola grup perusahaan secara lebih terpusat, dengan fokus
     pada strategi bisnis, pengelolaan aset, dan pengawasan operasional anak perusahaan.

     Alasan lainnya adalah fleksibilitas dan peluang diversifikasi. Sebagai perusahaan holding, SGRO dapat
     mendiversifikasi portofolio bisnisnya dengan memasuki sektor lain yang lebih menjanjikan, yang dapat
     membantu mengurangi risiko ketergantungan pada industri kelapa sawit. Pola bisnis holding juga
     memungkinkan SGRO untuk memanfaatkan peluang merger dan akuisisi, memperluas jangkauan
     bisnisnya, dan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Selain itu, dengan menjadi holding,
     SGRO dapat memberikan arahan strategis yang lebih terorganisir kepada anak perusahaan, memastikan
     bahwa setiap entitas bergerak sesuai dengan visi dan misi grup.

     Transformasi ini juga kemungkinan didorong oleh kebutuhan untuk menghadapi tantangan pasar dan
     regulasi yang terus berkembang. Sebagai perusahaan holding, SGRO memiliki fleksibilitas untuk
     menyesuaikan strategi bisnis di berbagai sektor dan yurisdiksi, sekaligus meningkatkan kemampuan
     mereka untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi dan hukum. Dengan pendekatan ini, SGRO
     berupaya menciptakan struktur yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan jangka
     panjang.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  V-3
Page 72
V.5. KETERSEDIAAN TENAGA AHLI
       Sehubungan dengan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, SGRO telah
       mengembangkan strategi untuk mempertahankan jajaran manajemen dan staf operasional yang ada,
       dengan pertimbangan bahwa pengalaman dan keahlian mereka sangat relevan untuk mendukung lini usaha
       Perseroan setelah perubahan kegiatan usaha. Transformasi dari usaha perkebunan dan pabrik kelapa sawit
       menjadi aktivitas perusahaan holding dengan kode KBLI 64200 dilakukan dengan keyakinan bahwa
       kualifikasi dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang ada saat ini mampu mendukung keberhasilan
       model bisnis baru tersebut. SGRO melihat bahwa tenaga ahli yang saat ini berada di dalam struktur
       perusahaan memiliki keahlian spesifik dan pengalaman yang tak ternilai, yang dapat terus dimanfaatkan
       untuk memperkuat operasional dan mendorong pertumbuhan anak perusahaan.

       Saat ini SGRO telah memiliki sumber daya manusia dan tenaga ahli yang cukup kompeten untuk
       mendukung kegiatan usaha yang baru. Tenaga ahli tersebut meliputi:

         1 Orang Direktur Utama
         1 Orang Direktur Sustainability, Research and Development
         1 Orang Direktur Commercial
         1 Orang Direktur Human Resources
         1 Orang Direktur Palm Oil Operations
         1 Orang Direktur Finance
         1 Orang Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma
         1 Orang head yang membawahi Divisi Agronomy & Continuous Improvements
         1 Orang head yang membawahi Divisi Engineering & Operation
         1 Orang head yang membawahi Divisi Internal Audit
         1 Orang head yang membawahi Divisi Sustainability & Operations Sago

       Selain itu, SGRO menyadari pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi dinamika pasar dan tuntutan bisnis
       yang terus berkembang. Untuk itu, SGRO telah memastikan bahwa tenaga ahli yang ada saat ini cukup
       kompeten untuk mendukung kegiatan usaha perusahaan holding. Namun, SGRO juga membuka peluang
       untuk menambah tenaga ahli baru yang memiliki kualifikasi dan keahlian sesuai dengan kebutuhan strategis
       di masa depan. Langkah ini menunjukkan komitmen SGRO dalam terus beradaptasi dengan perkembangan
       bisnis dan menciptakan struktur organisasi yang kuat demi keberhasilan perusahaan holding.

V.6. ANALISIS KOMPETITOR DAN DAYA SAING
      SGRO sebagai perusahaan holding akan bersaing dengan grup bisnis lain yang memiliki struktur serupa,
      khususnya perusahaan yang juga memiliki portofolio di sektor agribisnis atau sektor terkait. Kompetitor ini
      mungkin memiliki keunggulan berupa pengalaman yang lebih panjang dalam pengelolaan holding,
      diversifikasi portofolio yang matang, atau skala ekonomi yang lebih besar. Selain itu, jaringan bisnis yang
      luas dan akses ke sumber daya keuangan yang kuat membuat kompetitor dalam posisi strategis yang lebih
      mapan. SGRO perlu mengamati secara cermat strategi kompetitor, terutama dalam hal inovasi, efisiensi

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  V-4
Page 73
      operasional, dan pendekatan mereka terhadap merger serta akuisisi.

      Namun demikian, SGRO memiliki keunggulan kompetitif yang dapat meningkatkan daya saingnya.
      Pengalaman SGRO yang mendalam di sektor kelapa sawit memberikan keunggulan unik dalam memahami
      dinamika pasar dan tantangan operasional industri ini. Transformasi SGRO menjadi perusahaan holding
      juga memungkinkan fokus strategis pada pengelolaan aset, diversifikasi portofolio, dan pengawasan entitas
      anak, sehingga dapat menciptakan peluang baru di sektor yang menjanjikan. Selain itu, SGRO didukung
      oleh sumber daya manusia yang kompeten, termasuk tenaga ahli di berbagai bidang seperti keuangan,
      hukum, dan operasional, yang menjadi aset penting untuk memastikan keberhasilan model bisnis baru.

      Untuk memperkuat daya saingnya, SGRO dapat mengadopsi sejumlah strategi. Diversifikasi portofolio
      bisnis menjadi salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan, terutama dengan memasuki sektor yang
      memiliki pertumbuhan tinggi. Selain itu, inovasi berbasis teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi
      operasional dan menciptakan nilai tambah bagi anak perusahaan. SGRO juga dapat membangun kemitraan
      strategis dengan mitra bisnis yang relevan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan sinergi
      grup. Penguatan tata kelola menjadi prioritas penting untuk memastikan reputasi perusahaan tetap terjaga,
      terutama dalam pengelolaan entitas anak di berbagai sektor.

      Penggunaan strategi yang tepat, SGRO dapat memanfaatkan keunggulan kompetitifnya untuk menghadapi
      tantangan kompetitor. Kombinasi pengalaman sektor, sumber daya manusia yang berkualitas, dan
      pendekatan strategis yang inovatif memberikan SGRO fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan
      pasar. Dalam menjalankan transformasi ini, SGRO tidak hanya dapat memperkuat posisinya di pasar
      agribisnis tetapi juga berpotensi menjadi perusahaan holding yang kompetitif dan berpengaruh di berbagai
      sektor. Dengan demikian, SGRO dapat menciptakan nilai jangka panjang yang signifikan bagi seluruh grup
      perusahaan dan pemangku kepentingan.

V.7. KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN POLA BISNIS
      Dengan memperhatikan pola bisnis yang akan diterapkan oleh SGRO dalam Rencana Perubahan Kegiatan
      Usaha, maka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pola bisnis layak untuk dilaksanakan.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                V-5
Page 74
                                                         BAB VI
                                        ASPEK MODEL MANAJEMEN
Sistem organisasi dan manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya suatu perusahaan
yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk
mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi
kerja yang terpadu dan terarah.

Dalam setiap organisasi diperlukan ketegasan dalam pembagian tugas yang disesuaikan dengan bagan organisasi,
pendelegasian wewenang yang jelas dan koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai
dengan pengalaman, keahlian dan keterampilannya merupakan faktor yang penting dalam menerapkan
kebijaksanaan perusahaan. Hal ini juga akan memperlancar pendelegasian tugas kepada unit di bawahnya atau
sebaliknya, yang pada akhirnya akan memperlancar kerja perusahaan.

SGRO akan terus mengembangkan usahanya pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, struktur organisasi
SGRO harus dijadikan pegangan dalam menjalankan kegiatan usahanya.

VI.1 KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN
     Pada perkembangan selanjutnya, struktur organisasi SGRO akan terus berkembang sesuai dengan
     perkembangan industri dan ekonomi untuk mendukung transformasi perusahaan menjadi aktivitas holding.
     Tercermin dari latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dilewati karyawan. Pendidikan dan pelatihan
     turut SGRO jalankan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualifikasi, serta kompetensi karyawan yang
     memiliki kualifikasi khusus melalui program pengembangan dan pelaksanaan pelatihan, seminar dan
     workshop. Dengan kombinasi pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman industri, manajemen SGRO siap
     menghadapi tantangan transformasi dan mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan.

VI.2 KETERSEDIAAN TENAGA KERJA
     Ketersediaan tenaga kerja akan menentukan tim pelaksana yang terbaik dengan kebijaksanaan dalam
     pengangkatan tenaga kerja dan diutamakan yang sudah berpengalaman dalam bidangnya. Usaha
     meningkatkan produktivitas dari karyawan yang akan dilakukan antara lain:
     1. Peningkatan keahlian karyawan (man power training);
     2. Sistem manajemen yang baik untuk dapat melaksanakan tugas semaksimal mungkin;
     3. Job description yang jelas dari setiap karyawan secara terarah;
     4. Rasa tanggung jawab kepada perusahaan dalam usaha penyempurnaan dan penghematan;
     5. Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dengan cara memperhatikan kesejahteraan karyawan,
          menjamin ketenangan dan kepastian serta ketenteraman kerja.




  Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                             VI - 1
Page 75
VI.3 MANAJEMEN SGRO
VI.3.1 Dewan Komisaris
      Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Setiap anggota Dewan Komisaris memiliki
      keahlian dalam bisnis dan keuangan yang sesuai dengan operasional SGRO. Dewan Komisaris
      melaksanakan fungsi pengawasan, dan memberikan nasihat kepada Direksi terkait perencanaan,
      pengelolaan, serta pelaksanaan bisnis dan isu-isu SGRO.
      Dewan Komisaris memiliki kewenangan dan tanggung jawab sebagai berikut:
        1. Dewan Komisaris melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas pengawasan terhadap
              kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, dan memberi nasihat kepada Direksi;
        2. Dalam kondisi tertentu, Dewan Komisaris wajib menyelenggarakan RUPS Tahunan dan RUPS lainnya
              sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan
              anggaran dasar;
        3. Dewan Komisaris wajib memastikan terselenggaranya GCG dalam kegiatan usaha Perseroan pada
              seluruh tingkatan organisasi;
        4. Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya Dewan Komisaris
              wajib membentuk Komite Audit dan dapat membentuk komite lainnya. Pengangkatan Anggota Komite
              dilakukan dengan persetujuan Dewan Komisaris;
        5. Melakukan evaluasi terhadap kinerja komite yang membantu pelaksanaan tugas dan tanggung
              jawabnya;
        6. Setiap anggota Dewan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng penuh secara pribadi
              atas kerugian Perseroan yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian dalam menjalankan tugasnya;
              dan
        7. Dewan Komisaris wajib memastikan Direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari
              audit internal Perseroan dan/atau auditor eksternal serta hasil pengawasan otoritas berwenang lainnya.
              Bertanggung jawab atas semua tindakan SGRO dan memberikan saran kepada Direksi.

      Dewan Komisaris melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka sebagaimana diatur dalam Anggaran
      Dasar     dan    perundang-undangan         yang     berlaku,   seperti   Peraturan   Otoritas   Jasa Keuangan
      No.33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.

      Berdasarkan Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris di
      Jakarta Selatan, susunan Dewan Komisaris SGRO adalah sebagai berikut:

              Komisaris Utama                      : Eka Dharmajanto Kasih
              Komisaris Independen                 : RB. Permana Agung Dradjattun
              Komisaris Independen                 : Saud Usman Nasution




   Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                    VI - 2
Page 76
VI.3.2. Direksi
       Direksi adalah organ SGRO yang mengemban tanggung jawab untuk menjalankan operasional dan bisnis
       SGRO sehari-hari. Anggota Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS.
       Direksi memiliki kewenangan dan tanggung jawab sebagai berikut:
         1. Direksi menjalankan dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan
              Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar;
         2. Direksi menjalankan pengurusan Perseroan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana
              diatur dalam Anggaran Dasar;
         3. Setiap anggota Direksi wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada
              butir 1 dan 2 di atas dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan kehati-hatian;
         4. Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang
              bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sejalan dengan Pasal 97 ayat 3 UUPT;
         5. Direksi melaksanakan prinsip-prinsip GCG dalam setiap kegiatan usaha Perseroan pada seluruh
              tingkatan atau jenjang organisasi;
         6. Direksi wajib menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari audit internal Perseroan dan/atau
              auditor eksternal serta hasil pengawasan otoritas berwenang lainnya yang bersifat material terhadap
              kelangsungan kegiatan usaha Perseroan;
         7. Dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip GCG Direksi setidaknya wajib membentuk Unit Audit
              Internal;
         8. Direksi bertanggung jawab atas setiap informasi yang menyangkut Perseroan yang disampaikan oleh
              Perseroan kepada publik;
         9. Direksi wajib menumbuhkan dan mewujudkan terlaksananya budaya kepatuhan pada semua tingkatan
              organisasi dan kegiatan usaha Perseroan; dan
         10. Direksi wajib memastikan terlaksananya fungsi kepatuhan Perseroan.Menjalankan dan bertanggung
              jawab atas pengurusan SGRO untuk kepentingan SGRO sesuai dengan maksud dan tujuan SGRO
              yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

          Berdasarkan Akta No. 38 Tanggal 29 Mei 2024 yang dibuat dihadapan Liestiani Wang, SH, M.Kn, Notaris
          di Jakarta Selatan, susunan Direksi SGRO adalah sebagai berikut:
                  Presiden Direktur                                            : Budi Setiawan Halim
                  Direktur Sustainability, Research and Development            : Dwi Asmono
                  Direktur Commercial                                          : Lim King Hui
                  Direktur Human Resources                                     : Hero Djajakusumah
                  Direktur Palm Oil Operations                                 : Parluhutan Sitohang
                  Direktur Finance                                             : Heri Harjanto
                  Direktur Corporate Affairs, Legal, and Plasma                : Eris Ariaman


    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               VI - 3
Page 77
VI.3.3. Komite Audit
       Dalam melaksanakan tugas pengawasan terhadap pengelolaan SGRO, Dewan Komisaris didukung oleh
       Komite Audit. Komite ini adalah organ untuk melaksanakan audit atas laporan yang disiapkan oleh Direksi,
       melakukan analisis atas laporan yang dibuat oleh Akuntan Publik dan Unit Audit Internal serta laporan
       keuangan yang diterbitkan oleh SGRO. Dalam proses audit, Komite Audit melakukan pertemuan dengan
       semua pihak yang mewakili divisi/departemen yang terlibat dalam operasional, pembukuan, serta kontrol dan
       pengawasan aset. Meskipun Komite Audit hadir untuk membantu Dewan Komisaris, keputusan akhir tetap
       merupakan tanggung jawab Dewan Komisaris. Komite Audit bertanggung jawab langsung kepada Dewan
       Komisaris.

       Ruang lingkup dan tanggung jawab Komite Audit adalah sebagai berikut:
         1. Meninjau laporan keuangan dan informasi keuangan lainnya yang dipersiapkan bagi para pemegang
              saham, masyarakat, dan otoritas pasar modal;
         2. Meninjau kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku;
         3. Meninjau dan memantau sistem pengendalian internal Perseroan;
         4. Merekomendasikan seleksi auditor eksternal kepada Dewan Komisaris;
         5. Memberikan konfirmasi terkait sistem, kebijakan, dan prosedur untuk dipastikan patuh terhadap
              ketentuan pasar modal dan peraturan lain yang berkaitan dengan aktivitas kelompok usaha;
         6. Meninjau laporan tahunan Perseroan; dan
         7. Meninjau proses dan hasil karya audit oleh auditor

        Komite Audit SGRO dibentuk berdasarkan Surat keputusan Dewan Komisaris Perseroan tanggal 27 Mei
        2022, dengan susunan anggota Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2023 sebagai berikut:

              Ketua                                 : Saud Usman Nasution
              Anggota                               : Sukarnen
              Anggota                               : Pradhono

VI.3.4 Sekretaris Perusahaan
       Dengan menyediakan data dan informasi yang akurat dan relevan tentang kegiatan SGRO. Tugas dan
       tanggung jawabnya membangun fungsi Sekretaris Perusahaan untuk mematuhi Peraturan Otoritas Jasa
       Keuangan No.35/POJK.04/2014 tentang Sekretaris Perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik. Dalam
       menjalankan fungsinya, Sekretaris Perusahaan bekerja sama dengan Divisi Legal dan Hubungan Investor.

       Secara umum, Sekretaris Perusahaan melapor langsung kepada Direksi dan berperan sebagai penghubung
       komunikasi antara SGRO dengan para Pemegang Saham, investor, masyarakat dan pemangku kepentingan
       lainnya tanggung jawab Sekretaris Perusahaan lainnya adalah sebagai berikut:
         1. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan yang berlaku di bidang Pasar Modal;
         2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat atas setiap Informasi yang dibutuhkan pemodal berkaitan


    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                              VI - 4
Page 78
              dengan kondisi Emiten atau Perusahaan Publik;
         3. Memberikan masukan kepada Direksi Emiten atau Perusahaan Publik untuk mematuhi ketentuan
              Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya;
         4. Membantu Direksi dan Dewan Komisaris dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang meliputi:
              keterbukaan informasi kepada masyarakat, penyediaan informasi pada situs Perseroan, penyampaian
              Laporan kepada OJK, penyelenggaraan dan dokumentasi rapat Direksi dan/atau Dewan Komisaris serta
              pelaksanaan program orientasi terhadap perusahaan bagi Direksi dan/atau Dewan Komisaris; dan
         5. Sebagai penghubung antara Emiten atau Perusahaan Publik dengan OJK serta masyarakat.

VI.3.5. Audit Internal
       SGRO membangun fungsi Audit Internal adalah untuk mematuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
       No.56/POJK.04/2015 tentang pembentukan dan pedoman untuk Penyusunan Piagam Unit Internal Audit.

       Audit Internal adalah sebuah fungsi untuk menjamin dan memberikan konsultasi secara independen dan
       obyektif untuk menambah nilai dan meningkatkan kegiatan operasional SGRO. Fungsi ini membantu SGRO
       mencapai tujuannya melalui pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan
       efektivitas proses manajemen risiko, kontrol dan tata kelola. Dalam melaksanakan tugasnya, Auditor Internal
       akan menerapkan dan menjunjung prinsip integritas, objektivitas, kerahasiaan dan kompetensi.

       Fungsi Unit Audit Internal adalah untuk memberikan jaminan yang independen dan obyektif terhadap
       efektivitas dan integritas operasional SGRO. Dalam melaksanakan tugasnya, Audit Internal memberikan
       konsultasi kepada departemen dan unit tertentu untuk memperkuat operasional masing-masing.

       Tanggung jawab Departemen Internal Audit meliputi:
         1. Menyusun dan melaksanakan Rencana Kerja Internal Audit Tahunan;
         2. Menetapkan frekuensi audit, subyek pemeriksaan, dan lingkup pemeriksaan audit untuk mencapai
              tujuan audit;
         3. Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian internal dan sistem manajemen risiko sesuai
              dengan kebijakan Perseroan;
         4. Melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang operasional, keuangan,
              akuntansi, sumber daya manusia dan kegiatan lainnya;
         5. Memberikan saran perbaikan dan informasi objektif lainnya tentang kegiatan yang diperiksa di seluruh
              tingkatan manajemen yang diperlukan;
         6. Menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan audit internal yang dilakukannya;
         7. Melakukan pemeriksaan khusus apabila diperlukan (menggunakan sistem pelaporan pelanggaran);
         8. Membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan kepada Direksi dan Dewan Komisaris;
         9. Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan yang telah disarankan;
         10. Berkoordinasi dengan Manajemen, Komite Audit, dan Auditor Eksternal.


    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                VI - 5
Page 79
VI.3.6   Komposisi Karyawan
         Berdasarkan informasi dari Manajemen SGRO, hingga 31 Desember 2024 jumlah karyawan adalah sebanyak
         825 karyawan. Berikut komposisi distribusi komposisi karyawan berdasarkan jenjang jabatan dengan rincian
         sebagai berikut:

                               Tabel VI.1 Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Jabatan
                                        Jabatan                                Jumlah Pegawai
                         Direksi                                                      7
                         Komisaris                                                    3
                         Diatas Supervisor                                            36
                         Setingkat supervisor                                         31
                         Dibawah supervisor                                          774
                                         Jumlah                                      825


 VI.4.   MANAJEMEN PERUBAHAN KEGIATAN USAHA SGRO
         Berdasarkan informasi yang diberikan oleh manajemen SGRO. Karyawan yang tersusun dalam organisasi
         yang baru sebagai karyawan utama untuk penambahan kegiatan usaha beberapa ada yang berasal dari
         pengalihan struktur organisasi yang lama yang diberi jabatan yang baru, dan ada juga yang direkrut pada
         saat terjadi penambahan kegiatan usaha tersebut. Berikut susunan pengurus organisasi untuk penambahan
         kegiatan usaha SGRO.

         Struktur organisasi sudah memiliki beberapa elemen kunci yang dibutuhkan untuk operasi perusahaan
         holding, seperti Direktur Sustainability, Research and Development, Commercial, Human Resources, Palm
         Oil Operations, Finance, dan Corporate Affairs, Legal, and Plasma. Adanya komponen pengawasan regulasi
         dan legal yang penting untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan dalam perusahaan holding. Secara
         keseluruhan, struktur organisasi ini tampaknya cukup siap untuk mengakomodir perubahan kegiatan usaha
         menjadi holding, tetapi mungkin perlu beberapa penyesuaian dan penguatan di beberapa area spesifik untuk
         memastikan kelancaran dan kesuksesan operasional baru ini.

                         Tabel VI.2 Susunan Struktur Organisasi Perubahan Kegiatan Usaha SGRO

            No.                      Nama                                                  Jabatan
             1.   Budi Setiawan Halim                           President Director

             2.   Dwi Asmono                                    Sustainability, Research and Development Director

             3.   Lim King Hui                                  Commercial Director

             4.   Hero Djajakusumah                             Human Resources Director

             5.   Parluhutan Sitohang                           Palm Oil Operations Director

             6.   Heri Harjanto                                 Finance Director

             7.   Eris Ariaman                                  Corporate Affairs, Legal, and Plasma Director

             8.   Velan Mahadevan                               Head of Agronomy & Continuous Improvements Director


    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                          VI - 6
Page 80
          No.                      Nama                                                 Jabatan
           9.    Mohd Rasakh Bin Abdullah                      Head of Engineering & Operation

           10.   Ronald Romatua Marpaung                       Head of Internal Audit

           11.   Bona Ranto Pasaribu                           Head of Sustainability & Operations Sago



VI.5.   KESIMPULAN ANALISA KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
        Berdasarkan struktur organisasi Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, jumlah personel, dan pengelolaan
        manajemen SGRO, maka secara umum hal tersebut telah cukup mendukung operasional kerja perusahaan
        dalam Rencana Perubahan Kegiatan Usaha secara pola bisnis layak untuk dilaksanakan.




   Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               VI - 7
Page 81
                                                        BAB VII
                                                ANALISIS RISIKO

Analisis Risiko untuk SGRO adalah satu kajian sistematis tentang ketidakpastian dan risiko yang akan dihadapi
dalam bidang usaha kegiatan perusahaan holding. Analisis risiko akan mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi
oleh unit bisnis, memahami bagaimana dan kapan mereka muncul, serta mengestimasi dampak (finansial atau
lainnya) dari kejadian yang tidak diinginkan.

Ketidakpastian, yang secara konstan muncul di kehidupan bisnis, seringkali memberikan dampak pada
pengambilan keputusan dan tindakan. Untuk itu perusahaan harus memiliki kerangka kerja manajemen risiko yang
baik dan harus dijalankan dengan tertib oleh setiap fungsi dan bidang dalam organisasi. Selain itu peran Tone
from the Top yaitu Direksi dan Manajemen kunci perusahaan dalam membangun budaya kerja, budaya sadar
risiko, dan budaya kepatuhan juga menjadi kunci keberhasilan penerapan kerangka kerja Governance, Risk, and
Compliance (GRC).

Tujuan dari analisis risiko ini adalah untuk mengurangi kerugian finansial yang menyebabkan ketidakpastian pada
pengoperasian usaha kegiatan perusahaan holding.

VII.1. IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN RISIKO
Jenis risiko yang harus diidentifikasi dan dikelola adalah Risiko Strategik, Risiko Operasional, Risiko Keuangan,
Risiko Kredit, Risiko Likuiditas, Risiko Industri, Risiko Hukum, Risiko Kepatuhan dan Risiko Reputasi. Identifikasi
dan pengelolaan risiko-risiko tersebut adalah sebagai berikut.

VII.1.1 RISIKO STRATEGIK
       Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi sejumlah risiko strategik yang dapat memengaruhi
       keberlangsungan dan kesuksesan mereka. Salah satu risiko utama adalah ketergantungan pada kinerja
       anak perusahaan, di mana performa buruk dari entitas anak dapat memengaruhi reputasi dan keuangan
       grup secara keseluruhan. Diversifikasi yang tidak efektif juga menjadi tantangan, karena fokus manajemen
       dapat terpecah jika perusahaan induk mengelola banyak sektor yang berbeda. Selain itu,
       ketidakseimbangan kontrol antara holding dan anak perusahaan dapat menyebabkan tumpang tindih fungsi
       manajemen atau ketidakselarasan dengan visi grup. Untuk mengelola risiko strategik perusahaan holding,
       diperlukan strategi mitigasi yang komprehensif. Pertama, perusahaan holding dapat menerapkan sistem
       pengawasan kinerja anak perusahaan yang ketat melalui laporan berkala dan penilaian target strategis
       untuk mengurangi ketergantungan pada kinerja individual anak perusahaan. Diversifikasi bisnis harus
       dirancang secara cermat, dengan fokus pada sektor yang saling melengkapi untuk mengoptimalkan sinergi
       dan menghindari fragmentasi.

VII.1.2 RISIKO OPERASIONAL
       Risiko operasional yang dimaksud meliputi faktor-faktor yang berdampak pada gejolak produksi secara
       signifikan, antara lain produktivitas dan jumlah pekerja pemanen yang kompeten, tingkat kehadiran tenaga

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                  VII - 1
Page 82
       kerja panen, hingga perubahan teknologi. Untuk mengurangi dampak negatif dari produktivitas dan jumlah
       pekerja pemanen yang kompeten, SGRI melakukan mekanisasi panen dan memenuhi kebutuhan
       perumahan untuk pemanen. Aspek informasi komunikasi teknologi (ICT) yang memadai berperan penting
       dalam mengoptimalisasi operasi bisnis secara keseluruhan. SGRO melakukan pengembangan sistem dan
       melakukan pengkinian secara terus-menerus atas sistem sehingga sesuai dengan business process yang
       sudah dijalankan. SGRO berfokus pada pelaksanaan Business Continuity Plan yang komprehensif, agar
       selalu siap menerapkan rencana kontinjensi yang sesuai dengan perkembangan terkini di lapangan.
       Manajemen SGRO juga telah melakukan penyesuaian prioritas, dengan penekanan pada keberlangsungan
       kegiatan operasional yang memiliki dampak langsung terhadap produktivitas, dengan gangguan seminimal
       mungkin.

VII.1.3 RISIKO KEUANGAN
       SGRO menghadapi berbagai risiko keuangan yang timbul sebagai akibat pendapatan dan laba di bawah
       anggaran apabila target produksi tidak tercapai dan biaya melebihi anggaran. Penanganan risiko ini
       dilakukan antara lain dengan melakukan identifikasi biaya yang cenderung melebihi anggaran, membuat
       form permintaan tambahan anggaran disertai penjelasan atas pengajuan biaya dan dilakukan rapat
       bersama bulanan untuk membahas biaya yang melebihi anggaran.

VII.1.4 RISIKO KREDIT
       Manajemen Risiko Kredit berfokus untuk memitigasi terjadinya kegagalan pemenuhan kewajiban kepada
       Perusahaan. Berkenaan dengan hal dimaksud, mitigasi terhadap Risiko Kredit antara lain dilakukan pada
       proses investasi, dan pelaksanaan bisnis asuransi. Risiko ini terjadi ketika pihak yang menerima pinjaman
       atau investasi dari SGRO tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran bunga atau pokok pinjaman.
       Pada proses investasi, diversifikasi portfolio dilakukan dengan memastikan penempatan investasi melalui
       institusi yang tepat untuk meminimalkan terjadinya risiko loss dan gagal bayar.

VII.1.5 RISIKO LIKUIDITAS
       Manajemen Risiko Likuiditas dilakukan agar Perusahaan dapat memenuhi setiap kewajiban finansial yang
       sudah diperjanjikan secara tepat waktu, serta dapat memelihara tingkat likuiditas yang memadai dan
       optimal. Pengelolaan Risiko Likuiditas Perusahaan dilakukan dengan memelihara rasio likuiditas dan rasio
       kecukupan investasi pada posisi aman, yaitu di atas limit yang telah ditetapkan oleh Regulator.

VII.1.6 RISIKO INDUSTRI
       Risiko industri meliputi risiko-risiko yang dihadapi Perseroan dalam upayanya melakukan usaha. Risiko
       industri dapat berupa risiko fluktuasi harga komoditas, pasokan bahan baku dan faktor persaingan.
       Pengelolaan risiko ini dilakukan antara lain dengan secara aktif terlibat di pasar komoditas untuk
       mendapatkan tren industri terkini serta menganalisis faktor-faktor relevan yang dapat berdampak pada
       harga saat ini hingga beberapa bulan ke depan. Forward selling merupakan salah satu pendekatan lindung
       nilai yang kerap dilakukan untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga. Risiko atas ketersediaan pasokan

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                VII - 2
Page 83
       bahan baku dapat dikelola dengan memiliki prosedur standar operasional (SOP) atas pembelian bahan
       baku serta melakukan benchmarking harga sebagai dasar pembelian secara teratur. Dalam mengelola
       risiko persaingan di industri perkebunan, Perseroan senantiasa meningkatkan daya saing dengan cara
       melakukan intensifikasi dan diversifikasi yang didukung penuh dengan fasilitas riset dan pengembangan
       yang mutakhir. Sebagai salah satu faktor pendorong keunggulan bersaingnya, Perseroan memberikan
       layanan purna-jual yang efektif kepada pelanggan produk benih sawit Sriwijaya.

VII.1.7 RISIKO HUKUM
       Mitigasi risiko terhadap Risiko Hukum dilakukan melalui reviu terhadap Perjanjian Kerja Sama, baik dalam
       rangka kegiatan operasional maupun bisnis Perusahaan, dan pemberian advis hukum kepada Unit Kerja.
       Penanganan Risiko Hukum dilakukan terhadap pencegahan dan penanganan tuntutan hukum dan/atau
       kelemahan aspek hukum yang dihadapi perusahaan. Untuk meminimalkan risiko ini, Perseroan senantiasa
       berupaya mengurangi risiko hukum melalui pengendalian internal yang efektif serta memastikan kepatuhan
       Perseroan terhadap seluruh peraturan perundang-undangan, dan kebijakan Pemerintah yang berlaku, serta
       kontrak-kontrak yang dibuat oleh Perseroan dengan pihak lain. Whistleblowing system ditegakkan sebagai
       upaya untuk menghindari kecurangan dan pelanggaran hukum oleh internal Perseroan.

VII.1.8 RISIKO KEPATUHAN
       Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi risiko kepatuhan (compliance risk) yang cukup
       kompleks, mengingat struktur grup bisnisnya yang melibatkan banyak entitas dan sering beroperasi di
       berbagai yurisdiksi. Risiko kepatuhan ini mencakup potensi pelanggaran terhadap peraturan hukum, pajak,
       atau kebijakan yang berlaku di negara tempat anak perusahaan beroperasi. Misalnya, ketidakpatuhan
       terhadap peraturan anti-monopoli, peraturan perpajakan lintas negara, atau undang-undang perlindungan
       data dapat menimbulkan sanksi hukum, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi. Kegagalan Perseroan
       dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku berpotensi mendatangkan sanksi dan
       berdampak negatif terhadap kinerja Perseroan dan anak-anak perusahaan Perseroan. Untuk
       meminimalkan risiko kegagalan dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, Perseroan
       dan anak-anak perusahaan Perseroan menerapkan GCG dalam kegiatan operasional sehingga
       pelaksanaan kegiatan Perseroan dan anak-anak perusahaan Perseroan dapat berjalan sesuai dengan
       peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah.

VII.1.9 RISIKO REPUTASI
       Perusahaan dengan kegiatan usaha holding menghadapi risiko reputasi yang signifikan karena aktivitasnya
       melibatkan banyak entitas anak dan sering beroperasi di berbagai sektor industri. Risiko reputasi dapat
       timbul ketika salah satu anak perusahaan mengalami masalah seperti skandal keuangan, pelanggaran
       hukum, atau praktik bisnis yang tidak etis. Meskipun perusahaan induk tidak terlibat langsung, dampak
       negatif tersebut dapat meluas ke seluruh grup, merusak citra dan kepercayaan pemangku kepentingan,
       termasuk investor, mitra bisnis, dan publik. Selain itu, perusahaan holding juga menghadapi tantangan
       dalam menjaga reputasi di berbagai wilayah yang memiliki regulasi dan ekspektasi budaya yang berbeda.

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               VII - 3
Page 84
       Untuk mengatasi risiko ini, perusahaan holding harus menerapkan kebijakan tata kelola yang kuat, termasuk
       transparansi dalam operasional dan komunikasi, serta memastikan anak perusahaan mematuhi standar
       etika yang tinggi. Pengawasan yang ketat terhadap aktivitas entitas anak melalui audit internal dan
       pemantauan kinerja juga penting untuk mendeteksi dan mengatasi potensi masalah sejak dini. Dengan
       membangun sistem mitigasi risiko reputasi yang solid, perusahaan holding dapat melindungi citra grup
       secara keseluruhan dan menjaga hubungan baik dengan semua pemangku kepentingan.

VII.2. PENERAPAN PENGELOLAAN MANAJEMEN RISIKO
       Agar pengelolaan risiko dapat berjalan dengan efektif, perseroan melakukan upaya-upaya sebagai
       berikut.

       1.    Melaksanakan sistem pengendalian intern secara efektif dalam penerapan Manajemen Risiko
             Perseroan dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan
       2.    Sistem pengendalian intern dalam penerapan Manajemen Risiko paling sedikit mencakup:
             a.    Kesesuaian antara sistem pengendalian intern dengan jenis dan tingkat risiko yang melekat pada
                   kegiatan usaha Perseroan;
             b.    Penetapan wewenang dan tanggung jawab untuk pemantauan kepatuhan kebijakan, prosedur
                   dan limit;
             c.    Penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang jelas dari satuan kerja operasional
                   kepada satuan kerja yang melaksanakan fungsi pengendalian intern;
             d.    Struktur organisasi yang menggambarkan secara jelas tugas dan tanggung jawab masing-
                   masing satuan kerja individu;
             e.    Pelaporan keuangan dan kegiatan operasional yang akurat dan tepat waktu;
             f.    Kecukupan prosedur untuk memastikan kepatuhan Perseroan terhadap ketentuan dan
                   perundangundangan yang berlaku;
             g.    Kaji ulang yang efektif, independen, dan objektif terhadap kebijakan kerangka dan prosedur
                   operasional Perseroan;
             h.    Pengujian dan kaji ulang yang memadai terhadap sistem informasi manajemen;
             i.    Dokumentasi secara lengkap dan memadai terhadap cakupan, prosedur operasional, temuan
                   audit, serta tanggapan pengurus Perseroan berdasarkan hasil audit; dan
             j.    Verifikasi dan kaji ulang secara berkala dan berkesinambungan terhadap penanganan
                   kelemahan Perseroan yang bersifat material dan tindakan pengurus Perseroan untuk
                   memperbaiki penyimpangan yang terjadi.




 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 VII - 4
Page 85
VII.3    ANALISIS SWOT
VII.3.1 Strength (Kekuatan)
         1. Memiliki manajemen yang kompeten dan berpengalaman lebih dari 20 tahun dan memiliki portofolio
             anak usaha yang terdiversifikasi dalam sektor perkebunan dan kehutanan yang memungkinkan untuk
             menyesuaikan dengan fluktuasi pasar.
         2. Memiliki keuntungan dalam hal skala ekonomi seperti efisiensi biasa dalam pengadaan, distribusi dan
             operasional.
         3. Relasi yang sudah terbentuk dengan mitra, pemasok, dan pelanggan dapat membantu saat
             membangun struktur grup holding.
         4. Sebagai perusahaan holding, dapat fokus pada pengelolaan portofolio bisnis yang beragam dengan
             alokasi sumber daya yang lebih efisien.

VII.3.2 Weakness (Kelemahan)
        1. Industri perkebunan dan kehutanan pada anak usaha sangat tergantung pada faktor alam seperti
             cuaca dan perubahan iklim sehingga dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh Manajemen
             Perusahaan holding.
        2. Proses transformasi dari operasional langsung ke model holding dapat memakan waktu dan sumber
             daya yang signifikan.
        3. Keberlanjutan Keuangan: Perubahan model bisnis mungkin memerlukan investasi awal yang besar
             dan menimbulkan risiko tekanan likuiditas dalam jangka pendek

         Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan dapat menyediakan pelatihan khusus kepada tim
         manajemen dan merekrut profesional yang ahli di bidang pengelolaan holding. Proses peralihan yang
         memakan waktu dan sumber daya juga dapat diminimalkan melalui perencanaan transformasi yang
         matang, dengan menyusun target waktu yang jelas serta mengalokasikan anggaran khusus..

VII.3.3 Opportunity (Peluang)

        1. Permintaan global untuk produk Perkebunan yang terus meningkat
        2. Pemanfaatan teknologi terbaru dapat meningkatkan efisiensi dan hasil produksi anak usaha
        3. Dengan menjadi holding, perusahaan dapat masuk ke sektor bisnis baru yang menjanjikan, seperti
             teknologi atau layanan keuangan.
        4. Anak perusahaan di berbagai industri dapat saling mendukung, menciptakan nilai tambah melalui
             sinergi operasional dan strategis.

VII.3.4 Threats (Ancaman)
        1. Kegagalan perseroan dalam memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku berpotensi
             emndatangkan sanksi dan berdampak negatif terhadap kinerja Perseroan dan entitas anak perseroan.
        2. Perusahaan holding harus bersaing dengan grup bisnis lain yang mungkin memiliki pengalaman dan
             sumber daya yang lebih matang.

 Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                               VII - 5
Page 86
       3. Beroperasi di berbagai sektor dan yurisdiksi dapat meningkatkan risiko kepatuhan terhadap aturan
            hukum.
       4. Perubahan kondisi ekonomi global atau lokal dapat memengaruhi strategi dan keberlanjutan bisnis.

            Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan dapat fokus pada penciptaan nilai tambah melalui
            sinergi antar anak perusahaan, serta berinovasi dalam strategi bisnis untuk tetap kompetitif. Untuk
            mengatasi kompleksitas regulasi, diperlukan tim kepatuhan yang proaktif dalam memantau perubahan
            peraturan dan memastikan anak perusahaan tetap mematuhi kebijakan setempat. Risiko
            ketergantungan pada anak perusahaan dapat diminimalkan dengan diversifikasi portofolio bisnis di
            berbagai sektor, sehingga kegagalan satu entitas tidak berdampak besar pada grup secara
            keseluruhan. Selain itu, untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi, perusahaan perlu
            mendiversifikasi aset dan pasar, serta mengembangkan strategi adaptif yang memungkinkan grup
            untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang berubah-ubah.




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                VII - 6
Page 87
                                                            BAB VIII
                                                   ASPEK KEUANGAN

Analisis keuangan dalam Studi Kelayakan menggunakan metode diskonto arus kas (discounted cash flow) dengan
mengacu pada kriteria net present value (NPV), dimana Penambahan Kegiatan Usaha SGRO dapat dikatakan layak
atau menguntungkan jika NPV lebih besar dari nol, analisa internal rate of return (IRR) perubahan menunjukkan jumlah
yang lebih besar dari pada diskonto yang digunakan, profitability index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk
mengevaluasi proyek-proyek investasi untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas, menunjukkan perhitungan lebih
besar dari pada satu.

Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan didasarkan pada proyeksi keuangan yang disusun oleh
manajemen SGRO. Kami telah melakukan penyesuaian terhadap proyeksi tersebut berdasarkan kondisi pasar,
pengalaman, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku secara umum, agar dapat menggambarkan kondisi operasi dan
kinerja SGRO dengan lebih wajar. Secara garis besar, tidak ada penyesuaian yang signifikan yang kami lakukan
terhadap target kinerja SGRO.

VIII.1     PENENTUAN ARUS KAS BERSIH
           Untuk melakukan analisis keuangan dalam Studi Kelayakan dengan menggunakan metode diskonto arus
           kas, terdapat 3 (tiga) pilihan pendapatan ekonomi untuk didiskonto yaitu dividen, arus kas bersih (AKB)
           untuk ekuitas (free cash flow to equity), dan AKB untuk kapital (free cash flow to invested capital) atau AKB
           untuk perusahaan (free cash flow to firm).

           Dalam Studi Kelayakan, pendapatan ekonomi yang akan didiskonto dalam analisis kelayakan adalah AKB
           untuk perusahaan. Pemilihan arus kas bersih untuk perusahaan yang digunakan sebagai basis perhitungan
           kelayakan didasarkan pada kondisi proyeksi perusahaan yang mencerminkan kondisi struktur capital yang
           cukup volatile (yang terlihat dari pergerakan debt yang berubah selama periode proyeksi).

           Pengertian AKB berarti bahwa arus kas yang diperoleh sudah bebas dari kewajiban penyediaan
           pengeluaran barang modal (capital expenditure), baik untuk mempertahankan operasi perusahaan saat ini
           maupun penyediaan cadangan untuk penggantian (reserve for replacement), modal kerja dan untuk
           pertumbuhan melalui penyediaan dana tambahan pengeluaran barang modal, dihitung sebagai berikut:

           FCFF = EBIT x (1-t) + D + ΔWC - Capex
           dimana :
           FCFF         : Arus kas bersih untuk perusahaan
           EBIT         : Earnings before Interest and Tax
           (1-t)        : Pajak
           D            : Depresiasi dan amortisasi
           ∆WC          : Perubahan modal kerja bersih
           Capex        : Capital expenditure

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 VIII - 1
Page 88
VIII.2     PENENTUAN TINGKAT DISKONTO
VIII.2.1   Penentuan Biaya Modal Untuk Ekuitas
           Untuk mendiskonto arus kas bersih tiap-tiap tahun, tingkat diskonto yang digunakan adalah biaya modal
           ekuitas (cost of equity) digunakan capital asset pricing model (CAPM) dengan menggunakan persamaan
           sebagai berikut:

           k e  R f  (   RP m )  RBDS

           dimana:
           ke      = Balikan yang diharapkan dari suatu sekuritas tertentu, atau biaya modal ekuitas/saham biasa
           Rf      = Tingkat balikan yang tersedia untuk suatu sekuritas bebas risiko (risk free rate)
           β       = Beta
           RPm = Premi risiko ekuitas untuk pasar secara keseluruhan (equity risk premium)
           RBDS = Rating-based default spread

           Rf adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal
           bayar. Instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Obligasi Pemerintah untuk jangka
           panjang. Terkait dengan tanggal studi kelayakan yang jatuh pada tanggal 31 Desember 2024, maka
           instrumen bebas risiko yang dipakai adalah obligasi Pemerintah Indonesia dalam mata Rupiah dengan tenor
           30 tahun dengan yield sebesar 7,11% per tanggal 31 Desember 2024 yang diperoleh dari situs PHEI, dan
           angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat balikan bebas risiko.

           Rpm adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan tingkat balikan investasi dalam
           bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara
           (country-specific risk premiums) seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk
           premium. Dengan mengikutsertakan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi
           perubahan-perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara yang bersangkutan. Untuk
           studi kelayakan ini, kami menggunakan tingkat premi risiko sebesar 6,87%, untuk negara Indonesia yang
           diolah dari hasil riset Aswath Damodaran (New York University Business School) sampai dengan bulan
           Januari 2025.

           Beta (β) adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan dikalikan dengan market
           risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.

           Untuk memperoleh faktor beta yang sesuai kami menggunakan unlevered beta sebesar 0,52 yang diperoleh
           dari rata-rata perusahaan Farming/Agriculture yang kami peroleh dari Aswath Damodaran.

           Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta untuk menghitung
           cost of equity SGRO, di mana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered beta. Cara ini dilakukan untuk
           menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing perusahaan terhadap beta. Perusahaan yang
           sama dengan leverage yang berbeda akan memiliki cost of equity yang berbeda pula, oleh karena itu
           pengaruh leverage yang ada di tiap perusahaan perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                VIII - 2
Page 89
      Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-
      relevered dengan tingkat leverage pasar pada industri sejenis untuk memperoleh beta yang sesuai untuk
      mendiskonto arus kas tersebut dengan formula sebagai berikut:

       L   U  1  1  T   DER 

      dimana:
      T       = Tingkat pajak

      DER = Debt to Equity Ratio

      βL      = Beta levered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara Objektif dari
                 responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan pengembalian portofolio pasar
                 apabila dibandingkan dengan portofolio pasar dengan pengaruh utang

      βU      = Beta unlevered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara Objektif dari
                 responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan pengembalian portofolio pasar
                 apabila dibandingkan dengan portofolio pasar tanpa pengaruh utang

      Sama halnya dengan data unlevered beta, data DER juga diperoleh dari rata-rata perusahaan yang
      bergerak dalam bidang Farming/Agriculture di Emerging Markets yang bersumber dari Aswath Damodaran
      per Januari 2025. Dari data tersebut, DER yang dihasilkan adalah 64,76%. Dengan memasukkan
      persamaan diatas, diperoleh nilai βL sebesar 0,78.

      Dalam studi kelayakan ini juga digunakan RBDS untuk melakukan penyesuaian terhadap biaya modal
      ekuitas mengingat dalam perhitungan biaya modal ekuitas ini digunakan Rpm yang berasal dari hasil riset
      Aswath Damodaran, dimana nilai RBDS sebesar 1,89% digunakan untuk mengurangi besaran biaya modal
      ekuitas.

      Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM diperoleh biaya modal atas
      ekuitas SGRO adalah:

                                   Tabel VIII.1. Biaya Modal untuk Ekuitas SGRO

                               Keterangan                                          Persentase
       Tingkat Bunga Bebas Risiko                                                    7,11%
       Premi Risiko Pasar                                                            6,87%
       Beta                                                                           0,78
       RBDS                                                                          1,89%
                       Biaya Modal untuk Ekuitas                                     10,55%




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                VIII - 3
Page 90
VIII.2.2   Penentuan Biaya Modal Untuk Hutang
           Penentuan posisi tingkat leverage yang optimal adalah mencari titik dimana tambahan penghematan pajak
           yang berasal dari tambahan hutang akan sama dengan tambahan biaya bunga sebagai akibat dari risiko
           gagal bayar yang diantisipasi dari keberadaan keseluruhan hutang. Biaya hutang diperoleh dari rata-rata
           suku bunga kredit korporasi bank Pemerintah Indonesia untuk mata uang Rupiah yaitu sebesar 9,21%
           dengan perhitungan sebagai berikut:

                                     Kd   = i x (1-T)
                                     Kd   = 9,21% x (1-22%) = 7,18%

           Untuk kepentingan studi kelayakan, komposisi pendanaan dihitung berdasarkan kinerja perbandingan
           interest bearing debt dengan ekuitas pasar pada per Januari 2025 yaitu sebesar 39,31%, sedangkan
           sisanya yaitu sebesar 60,69% akan dipenuhi dengan modal sendiri.

VIII.2.3   Tingkat Diskonto SGRO
           Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan kekuatan/kelebihan serta risiko yang dihadapi, Kami
           berpendapat bahwa tingkat diskonto sebesar 9,23% untuk SGRO adalah wajar untuk mendiskonto arus kas
           bersih dengan perhitungan sebagai berikut:

                                                        Tabel VIII.2. WACC SGRO
                               Keterangan                          Biaya Modal    Komposisi Modal    WACC
               a.     Cost of Debt                                     7,18%          39,31%         2,82%
               b.     Cost of Equity                                  10,55%          60,69%         6,40%
                      Weighted Average Cost of Capital (WACC)                                        9,23%



VIII.3     PROYEKSI KEUANGAN SGRO
           Perhitungan analisis keuangan dalam Studi Kelayakan dilakukan dengan metode diskonto arus kas yang
           didasarkan pada proyeksi keuangan yang disusun oleh manajemen SGRO. Kami telah melakukan
           penyesuaian terhadap proyeksi tersebut agar dapat menggambarkan kondisi operasi dan kinerja SGRO
           dengan lebih wajar. Secara garis besar, tidak ada penyesuaian yang signifikan yang kami lakukan terhadap
           target kinerja SGRO.

           Mengingat bahwa terdapat dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan Sebelum Rencana
           Perubahan Kegiatan Usaha dan proyeksi keuangan Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, maka
           analisis kelayakan atas Rencana Perubahan Kegiatan Usaha harus didasarkan pada analisis inkremental
           dari dua skenario proyeksi keuangan tersebut.

           Penyusunan asumsi sampai tahun 2029, atas pertimbangan bahwa kegiatan perubahan usaha ini tidak
           memerlukan biaya capex (biaya investasi) yang tinggi dan SGRO telah memiliki pool of captive customers
           yang memadai, sehingga SGRO mendapatkan pendapatan managament fee yang stabil dan telah
           mencapai fase maturity-nya.

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                            VIII - 4
Page 91
           Untuk menentukan kelayakan, digunakan analisis NPV, IRR dan PI inkremental yang dihitung dengan
           mengurangkan NPV dari AKB untuk ekuitas tanpa Rencana Perubahan Kegiatan Usaha terhadap NPV dari
           AKB untuk ekuitas dengan Rencana Perubahan Kegiatan Usaha.

           Proyeksi sebelum perubahan kegiatan usaha disusun dengan initial cost diperhitungkan dari nilai pelepasan
           asset yang akan dialihkan ke entitas anak yaitu Aset tanaman dan non tanaman, aset biologis dan
           persediaan. Selain itu penyertaan saham pada entitas anak juga diperhitungkan sebagai initial cost
           mengingat SGRO adalah perusahaan holding. Sedangkan proyeksi setelah kegiatan usaha initial cost
           hanya diperhitungakan dari penyertaan saham pada entitas anak. Rincian nilai pengalihan aset adalah
           sebagai berikut.

                                                       Tabel VIII.3. Initial Outlays
             No.                             Jenis Aset                                    Nilai (Rp000)
              1.   Aset tanaman, neto                                                                       62.669.142
              2.   Aset tetap - neto                                                                        83.819.890
              3.   Persediaan                                                                               36.007.239
              4.   Aset biologis                                                                             6.597.709
                   Jumlah                                                                                  189.093.980
           Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)


VIII.3.1   Proyeksi Keuangan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha
           Proyeksi keuangan setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha disusun dengan memperhatikan bahwa
           Rencana Perubahan Kegiatan Usaha belum dilaksanakan. Setelah dilaksanakannya Rencana Perubahan
           Kegiatan Usaha, SGRO mendapatkan pendapatan yang berasal management fee dari Entitas Anak.

           Asumsi-asumsi dan penyesuaian yang mendasari penyusunan proyeksi keuangan dengan Perubahan
           Kegiatan usaha adalah sebagai berikut:

                  Proyeksi keuangan eksplisit (periode tetap) yang digunakan didasarkan pada Business Plan
                   manajemen mulai FY2025 sampai dengan FY2029. Ditetapkan proyeksi hingga tahun 2029 dengan
                   mempertimbangkan periode waktu hingga mencapai fase maturity-nya.
                  Pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp60 milyar yang berasal management fee dari Entitas
                   Anak
                  Asumsi pajak penghasilan badan adalah tarif pajak yang berlaku di Indonesia, yaitu 22%.

VIII.3.1.1 Proyeksi Pendapatan
           Pendapatan SGRO setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha berasal dari management fee dari Entitas
           Anak. Pendapatan SGRO ini diproyeksikan sebesar Rp60.000.000 ribu dan diasumsikan tetap sepanjang
           tahun proyeksi. Terjadi penurunan pendapatan yang signifikan dikarenakan SGRO tidak lagi memperoleh
           pendapatan dari penjualan TBS, CPO, PKO dan pendapatan lainnya. Grafik berikut menunjukkan proyeksi
           Pendapatan SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:




     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                 VIII - 5
Page 92
                             Grafik VIII.1. Pendapatan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)


                                                               Pendapatan
                             70.000.000
                             60.000.000
                             50.000.000
             RIBUAN RUPIAH




                             40.000.000
                             30.000.000
                             20.000.000
                             10.000.000
                                     -
                                               FY2025       FY2026         FY2027         FY2028         FY2029
                              Pendapatan      60.000.000   60.000.000     60.000.000     60.000.000     60.000.000

          Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

VIII.3.1.2 Proyeksi Beban
          Beban SGRO setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha berasal dari Beban umum dan administrasi.
          Grafik berikut menunjukkan proyeksi Beban SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025
          sampai dengan FY2029:
                             Grafik VIII.2. Beban Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)

                                                             Beban usaha
                              70.000.000
                              60.000.000
             RIBUAN RUPIAH




                              50.000.000
                              40.000.000
                              30.000.000
                              20.000.000
                              10.000.000
                                          -
                                               FY2025       FY2026         FY2027        FY2028         FY2029
                              Beban usaha     49.614.061   52.538.969     55.641.908    58.933.964     62.426.922

          Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)


VIII.3.1.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan
          Laba tahun berjalan atau laba bersih SGRO adalah laba yang didapatkan setelah dikurangi dengan pajak
          yang harus ditanggung. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Laba tahun berjalan SGRO pada periode
          proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:




    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                    VIII - 6
Page 93
             Grafik VIII.3. Laba tahun berjalan Setelah Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)

                                                            Laba Tahun Berjalan
                             1.200.000.000

                             1.150.000.000

                             1.100.000.000
             RIBUAN RUPIAH




                             1.050.000.000

                             1.000.000.000

                              950.000.000

                              900.000.000

                              850.000.000
                                                FY2025         FY2026         FY2027          FY2028          FY2029
                                       Laba   965.193.316    990.632.052   1.052.713.225   1.098.262.483   1.143.599.590

          Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)


VIII.3.1.4 Nilai Pelepasan Aset
          Dalam merealisasikan Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, SGRO berencana melepas kepemilikan asset
          berupa Aset Tanaman senilai Rp62.669.142 ribu, aset tetap senilai Rp83.819.890 ribu, aset biologis senilai
          Rp6.597.709 ribu dan persediaan senilai Rp36.007.239 ribu. Dengan demikian total pelepasan asset adalah
          sebesar Rp189.093.980 ribu. Total aset ini nantinya akan dialihkan ke anak perusahaan terkendali yaitu PT
          Gading Jaya Agro dan PT Palma Timur Sejahtera dan dijadikan dasar penentuan kelayakan dalam
          perubahan kegiatan usaha. Atas pelepasan aset ini SGRO mendapatkan gain sebesar Rp10.906.020 ribu
          sehingga total kas yang diterima SGRO sebesar Rp200.000.000 ribu.

VIII.3.1.5 Modal Kerja
          Dalam perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) yang akan dilakukan
          oleh SGRO, tidak diperlukan tambahan pendanaan modal kerja. Modal kerja yang timbul akan didanai dari
          internal kas SRGO.

VIII.3.1.6 Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure)
          Pada periode eksplisit yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029 tidak diproyeksikan capital
          expenditure. Hal ini dikarenakan dengan menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) SGRO tidak
          lagi melakukan kegiatan operasional bisnis secara langsung, namun didiversifikasi dengan memberikan
          jasa penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi
          perusahaan.




    Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                           VIII - 7
Page 94
VIII.3.2   Proyeksi Keuangan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha
           Proyeksi keuangan sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha disusun dengan memperhatikan bahwa
           Rencana Perubahan Kegiatan Usaha tidak dilaksanakan sehingga pendapatan utama SGRO hanya hasil
           penjualan TBS, CPO, PKO, dan lain-lain.

           Proyeksi keuangan dalam laporan ini didasarkan pada proyeksi keuangan yang diberikan oleh Pemberi
           Tugas dengan dilakukan adjustment berdasarkan kinerja keuangan historis dan kinerja pasar. Dalam hal ini
           kami hanya mereviu kewajaran asumsi yang digunakan. Proyeksi yang digunakan dalam penilaian ini telah
           disusun dengan hati-hati dengan penetapan asumsi yang didasarkan pada data dan pertimbangan yang
           memadai yang dapat dipertanggungjawabkan.

           Asumsi-asumsi yang mendasari penyusunan proyeksi keuangan sebelum perubahan kegiatan usaha
           adalah sebagai berikut:

                          Proyeksi keuangan eksplisit (periode tetap) yang digunakan didasarkan pada Business Plan
                           manajemen mulai FY2025 sampai dengan FY2029. Ditetapkan proyeksi hingga tahun 2029 dengan
                           mempertimbangkan periode waktu hingga mencapai fase maturity-nya.
                          Asumsi pajak penghasilan badan adalah tarif pajak yang berlaku di Indonesia, yaitu 22%.

VIII.3.2.1 Proyeksi Pendapatan
           Pendapatan SGRO berasal dari penjualan Tandan buah segar, minyak sawit mentah, inti sawit, dan lain-
           lain. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Pendapatan SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode
           FY2025 sampai dengan FY2029.

                                Grafik VIII.4. Pendapatan sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)

                                                                 Pendapatan
                                580.000.000
                                570.000.000
                                560.000.000
                RIBUAN RUPIAH




                                550.000.000
                                540.000.000
                                530.000.000
                                520.000.000
                                510.000.000
                                500.000.000
                                                 FY2025        FY2026          FY2027          FY2028          FY2029
                                  Pendapatan   528.095.659   548.584.088     554.935.558     571.332.521     574.934.747

           Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

VIII.3.2.2 Proyeksi Beban
           Beban Langsung SGRO berasal dari harga pokok penjualan, sedangkan Beban Usaha SGRO berasal dari
           beban penjualan dan pemasaran, beban umum dan administrasi dan penyusutan. Grafik berikut
           menunjukkan proyeksi Beban SGRO pada periode proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan
           FY2029:

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                        VIII - 8
Page 95
                                 Grafik VIII.5. Beban Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)


                                                                           Beban
                                   530.000.000                                                                              90.000.000
                                   520.000.000                                                                              80.000.000
                                                                                                                            70.000.000
                                   510.000.000
              RIBUAN RUPIAH



                                                                                                                            60.000.000
                                   500.000.000                                                                              50.000.000
                                   490.000.000                                                                              40.000.000
                                                                                                                            30.000.000
                                   480.000.000
                                                                                                                            20.000.000
                                   470.000.000                                                                              10.000.000
                                   460.000.000                                                                              -
                                                     FY2025        FY2026          FY2027         FY2028        FY2029
                                 Beban langsung    482.903.956   496.200.200     497.123.164    522.776.777   522.058.432
                                 Beban usaha        64.585.441   67.888.595      70.991.534     74.283.590    77.776.548

           Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

VIII.3.2.3 Proyeksi Laba Tahun Berjalan
           Laba tahun berjalan atau laba bersih SGRO adalah laba yang didapatkan setelah dikurangi dengan pajak
           yang harus ditanggung. Grafik berikut menunjukkan proyeksi Laba tahun berjalan SGRO pada periode
           proyeksi yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029:

            Grafik VIII.6. Laba Tahun Berjalan Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha SGRO (Dalam Ribuan Rupiah)

                                                                 Laba Tahun Berjalan
                              1.110.000.000
                              1.100.000.000
                              1.090.000.000
                              1.080.000.000
              RIBUAN RUPIAH




                              1.070.000.000
                              1.060.000.000
                              1.050.000.000
                              1.040.000.000
                              1.030.000.000
                              1.020.000.000
                              1.010.000.000
                              1.000.000.000
                                                    FY2025          FY2026             FY2027           FY2028           FY2029
                                        Laba     1.040.404.611   1.062.069.984      1.101.465.145    1.102.823.744    1.103.469.283

           Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)


VIII.3.2.4 Proyeksi Biaya Modal (Capital Expenditure)
           Pada periode eksplisit yaitu untuk periode FY2025 sampai dengan FY2029 diproyeksikan capital
           expenditure atas aset tetap dengan total sebesar Rp43.057.068 ribu merupakan penambahan aset tanaman
           dan non tanaman selama masa proyeksi.

VIII.3.3   Nilai Kekal (Terminal Value)
           Sebagai dasar dalam menentukan nilai terminal (terminal value) atau nilai pada periode kekal (perpetuity
           period), kami menggunakan proyeksi pada periode eksplisit yaitu untuk periode 31 Desember 2025 sampai
           dengan 31 Desember 2028 sebagai periode tetap (fixed period), sedangkan tahun 2029 dianggap sebagai

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                 VIII - 9
Page 96
            awal periode kekal. Dalam studi kelayakan ini pertumbuhan AKB dalam periode kekal diasumsikan sebesar
            2,89% (sumber: EIU).

VIII.3.4    Analisis Titik Impas
            Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak
            menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama
            dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
            BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:




            Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-masing periode
            selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam Rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar
            terjadi BEP. Perhitungan BEP pada proyeksi Setelah dan Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
            adalah sebagai berikut:

                   Tabel VIII.4. Analisis BEP Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)

                                                                                  P R O Y E K S I (RP000)
                 URA IA N                Rata-rata
                                                         2025            2026                   2027              2028            2029

     1 BIAYA TIDAK TETAP
        - Beban operasional Langsung                 0              0               0                       0              0                0
        - Beban langsung lainnya                     0              0               0                       0              0                0
           Jumlah Biaya Tidak Tetap                  0              0               0                       0              0                0

     2 BIAYA TETAP
        - Beban Usaha Lainnya             55.831.165       49.614.061      52.538.969             55.641.908      58.933.964      62.426.922
        - beban keuangan                  32.624.138       86.358.638      62.471.550             14.290.500               0               0
        - Penyusutan                               0                0               0                      0               0               0
           Jumlah Biaya Tetap             88.455.302      135.972.698     115.010.519             69.932.408      58.933.964      62.426.922

       JUMLAH BIAYA                       88.455.302      135.972.698     115.010.519             69.932.408      58.933.964      62.426.922

     3 HASIL PENJUALAN                  1.168.988.950    1.114.360.345   1.131.955.277         1.158.875.524    1.195.845.995   1.243.907.609
        - Pendapatan Utama                 60.000.000       60.000.000      60.000.000            60.000.000       60.000.000      60.000.000
        - Pendapatan Deviden              934.375.222      879.746.617     897.341.549           924.261.796      961.232.268   1.009.293.881
        - Pendapatan lainnya              174.613.728      174.613.728     174.613.728           174.613.728      174.613.728     174.613.728

       Break Even Point (Nilai)           88.455.302      135.972.698     115.010.519             69.932.408      58.933.964      62.426.922
       Break Even Point (% Penjualan)          7,57%             12%             10%                      6%              5%              5%

   Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)




     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                   VIII - 10
Page 97
                    Tabel VIII.5. Analisis BEP Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                                                                            P R O Y E K S I (RP000)
                     URAIAN                           Rata-rata
                                                                             2025                 2026                  2027                 2028                  2029

     1 BIAYA TIDAK TETAP
        - Beban operasional Langsung                  504.212.506        482.903.956          496.200.200            497.123.164            522.776.777           522.058.432
        - Beban langsung lainnya                       12.174.351         11.871.754           12.250.000             12.250.000             12.250.000            12.250.000
           Jumlah Biaya Tidak Tetap                   516.386.857        494.775.710          508.450.200            509.373.164            535.026.777           534.308.432

     2 BIAYA TETAP
        - Beban Usaha Lainnya                          55.831.165         49.614.061           52.538.969               55.641.908           58.933.964            62.426.922
        - beban keuangan                               32.624.138         86.358.638           62.471.550               14.290.500                    0                     0
        - Penyusutan                                    3.099.626          3.099.626            3.099.626                3.099.626            3.099.626             3.099.626
           Jumlah Biaya Tetap                          91.554.928        139.072.324          118.110.145               73.032.034           62.033.590            65.526.548

           JUMLAH BIAYA                               607.941.785        633.848.034          626.560.345              582.405.198          597.060.368           599.834.980

     3 HASIL PENJUALAN                               1.716.882.999      1.689.402.143        1.709.890.572         1.716.242.042        1.732.639.005         1.736.241.231
        - Pendapatan Utama                             555.576.515        528.095.659          548.584.088           554.935.558          571.332.521           574.934.747
        - Pendapatan Deviden                           986.692.756        986.692.756          986.692.756           986.692.756          986.692.756           986.692.756
        - Pendapatan lainnya                           174.613.728        174.613.728          174.613.728           174.613.728          174.613.728           174.613.728

           Break Even Point (Nilai)                   130.936.781        196.671.592          168.094.421            103.856.061             89.746.760            94.655.786
           Break Even Point (% Penjualan)                   7,63%               12%                  10%                      6%                     5%                    5%

   Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

VIII.3.4      Analisis Profitabilitas
              Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam usahanya
              mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai
              untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan.
              Sebagai gambaran bagaimana SGRO dalam usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel berikut ini:

                               Tabel VIII.6. Rasio Keuangan SGRO Setelah Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
                                                                                                                  P R O Y E K S I (RP000)
                          URA IA N                    Rata -Rata
                                                                              2025                   2026                        2027                 2028                2029
            4. PROVITABILITY RATIO
                - Operating Profit Margin (%)            1464,24%                    1384%                      1408%                  1448%               1504%                 1578%
                - Net Profit Margin (%)                  1750,13%                    1609%                      1651%                  1755%               1830%                 1906%
                - Rate of Return on Investment (%)         10,14%                      10%                        10%                    10%                 10%                   10%
                - Rate of Return on Equity (%)             10,71%                      12%                        11%                    11%                 10%                   10%
              Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

                              Tabel VIII.7. Rasio Keuangan SGRO Sebelum Rencana Perubahan Kegiatan Usaha
                                                                                                                    P R O Y E K S I (RP000)
                           URAIAN                         Rata -Rata
                                                                                    2025                 2026               2027                    2028                  2029
            4. PROVITABILITY RATIO
                - Gross Profit Margin (%)                            9,24%                   9%                  10%                  10%                    8%                    9%
                - Operating Profit Margin (%)                      174,22%                 183%                 177%                 175%                  168%                  167%
                - Net Profit Margin (%)                            194,81%                 197%                 194%                 198%                  193%                  192%
                - Rate of Return on Investment (%)                  10,20%                  11%                  10%                  11%                   10%                    9%
                - Rate of Return on Equity (%)                      10,92%                  12%                  12%                  11%                   10%                   10%
              Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)


              Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa profitabilitas SGRO yang digambarkan dalam persentase laba
              operasi (Operating Profit Margin) terhadap pendapatan dan persentase laba bersih (Net Profit Margin)
              terhadap pendapatan tercatat memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun 2024 sampai dengan
              2029, yang dapat diartikan bahwa SGRO memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba bagi perusahaan
              yang baik.

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                                     VIII - 11
Page 98
VIII.3.6   Analisis Tingkat Imbal Balik Investasi (Return on Investment)
           Return on Invesment adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam
           perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva
           yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, SGRO dapat mengetahui
           seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional dan dapat
           memberikan informasi ukuran profitabilitas SGRO. Dalam tabel VIII.4-5, dapat terlihat bahwa tingkat imbal
           balik investment memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun 2025 sampai dengan 2029, yang
           dapat diartikan bahwa SGRO tingkat balikan dari investasi SGRO semakin baik

VIII.3.7   Pengaruh Perubahan Kegiatan Usaha Pada Kondisi Keuangan SGRO
           Dalam Rencana Perubahan Kegiatan Usaha, SGRO merencanakan perubahan Kegiatan usaha SGRO
           yaitu menjadi kegiatan usaha perusahaan holding dengan kode KBLI 64200.

           Berdasarkan hasil analisis proyeksi keuangan, diketahui bahwa Perubahan Kegiatan usaha dimaksud akan
           memberikan manfaat kepada SGRO maupun Pemegang Saham SGRO, adalah sebagai berikut:




     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                             VIII - 12
Page 99
              Tabel VIII.8. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                           Realisasi                                           Proyeksi                                        2024-2029
                          Uraian                            FY2024          FY2025           FY2026            FY2027           FY2028           FY2029          CAGR
                                                             2024            2025             2026              2027             2028             2029

  ASET
  ASET LANCAR
     Kas dan bank                                          189.604.770     661.099.917     1.198.863.873     1.308.894.283    2.109.663.847    2.927.513.523
     Piutang usaha                                          28.173.617       3.200.967         3.081.418         3.046.150        2.958.727        2.940.189
     Piutang lain-lain                                      57.960.183      57.960.183        57.960.183        57.960.183       57.960.183       57.960.183
     Persediaan                                             36.007.239             -                 -                 -                -                -
     Aset biologis                                           6.597.709             -                 -                 -                -                -
     Pajak dibayar dimuka                                   14.287.740      14.287.740        14.287.740        14.287.740       14.287.740       14.287.740
     Aset lancar lainnya                                       946.326         946.326           946.326           946.326          946.326          946.326
     TOTAL ASET LANCAR                                     333.577.584     737.495.133     1.275.139.540     1.385.134.682    2.185.816.823    3.003.647.961     55,20%
  ASET TIDAK LANCAR
     Penyertaan saham                                     7.212.468.962   7.212.468.962    7.212.468.962     7.212.468.962    7.212.468.962    7.212.468.962
     Piutang pihak berelasi                               1.420.881.317   1.420.881.317    1.420.881.317     1.420.881.317    1.420.881.317    1.420.881.317
     Aset tanamam, neto                                      62.669.142             -                -                 -                -                -
     Aset tetap - neto                                       83.819.890             -                -                 -                -                -
     Aset lain-lain                                          21.852.434      21.852.434       21.852.434        21.852.434       21.852.434       21.852.434
     TOTAL ASET TIDAK LANCAR                              8.801.691.745   8.655.202.713    8.655.202.713     8.655.202.713    8.655.202.713    8.655.202.713     -0,34%
  JUMLAH ASET                                             9.135.269.329   9.392.697.846    9.930.342.253    10.040.337.395   10.841.019.536   11.658.850.674      5,00%

  LIABILITAS DAN EKUITAS
  LIABILITAS LANCAR
     Utang bank jangka pendek                                        -               -                -                 -                -                -
     Utang usaha                                           135.815.650               -                -                 -                -                -
     Utang lain-lain                                         7.013.289       7.013.289        7.013.289         7.013.289        7.013.289        7.013.289
     Liabilitas kontrak                                     19.113.612      19.113.612       19.113.612        19.113.612       19.113.612       19.113.612
     Utang pajak                                             4.739.785      24.100.351       26.312.706        36.229.890       38.649.548       37.881.097
     Utang obligasi dan ijarah jatuh tempo                 366.309.715     205.200.000      677.635.268                 -                -                -
     Aset lancar lain-lain                                 102.733.387     102.733.387      102.733.387       102.733.387      102.733.387      102.733.387
     Jumlah Liabilitas Lancar                              635.725.438     358.160.639      832.808.262       165.090.178      167.509.836      166.741.385     -23,48%

  LIABILITAS JANGKA PANJANG
     Utang obligasi dan ijarah jangka panjang               882.835.268     677.635.268               -                 -                -                -
     Utang lain-lain jangka panjang                          41.641.015      41.641.015      41.641.015        41.641.015       41.641.015       41.641.015
     Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                       924.476.283     719.276.283      41.641.015        41.641.015       41.641.015       41.641.015     -46,21%
  JUMLAH LIABILITAS                                       1.560.201.721   1.077.436.922     874.449.277       206.731.193      209.150.851      208.382.400     -33,14%

  EKUITAS
     Modal saham                                           363.724.400     363.724.400      363.724.400       363.724.400      363.724.400      363.724.400
     Tambahan Modal Disetor                                855.301.127     855.301.127      855.301.127       855.301.127      855.301.127      855.301.127
     Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali        403.752         403.752          403.752           403.752          403.752          403.752
     Saldo laba:
       Saldo Laba (Rugi) Ditahan                          6.355.638.329   6.355.638.329    7.320.831.645     8.311.463.697   9.364.176.922 10.462.439.405
       Saldo Laba (Rugi)                                                    965.193.316      990.632.052     1.052.713.225   1.098.262.483   1.143.599.590
     Deviden                                                               (225.000.000)    (475.000.000)     (750.000.000) (1.050.000.000) (1.375.000.000)
     Jumlah Ekuitas                                       7.575.067.608   8.315.260.924    9.055.892.976     9.833.606.201 10.631.868.684 11.450.468.274           8,61%

  JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                           9.135.269.329   9.392.697.846    9.930.342.253    10.040.337.394   10.841.019.535   11.658.850.674       5,00%
 Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
       Dengan Perubahan Kegiatan Usaha, aset lancar dalam neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi
       sebesar Rp4.640.235.631 ribu pada tahun 2029 dari Rp 333.577.584 ribu pada tahun 2023 atau
       diproyeksikan rata-rata naik sebesar 69,30% selama tahun 2024–2029 (CAGR), aset tidak lancar dalam
       neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp8.655.202.713 ribu pada tahun 2029 dari Rp
       8.801.691.745 ribu pada tahun 2023 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -0,34% selama tahun 2024–
       2029 (CAGR), liabilitas jangka pendek SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp 166.741.385 ribu pada
       tahun 2029 dari Rp 635.725.438 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -23,48%
       selama tahun 2024–2029 (CAGR), pada liabilitas jangka panjang SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp
       41.641.015 ribu pada tahun 2029 dari Rp 924.476.283 ribu dari tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                               VIII - 13
Page 100
      turun sebesar -46,21% selama tahun 2024–2029 (CAGR), dan nilai ekuitas SGRO diproyeksikan menjadi
      Rp 11.450.468.274 ribu pada tahun 2029 dari Rp 7.575.067.608 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan
      rata-rata naik sebesar 8,61% selama tahun 2024–2029 (CAGR).

                Tabel VIII.9. Proyeksi Laba Rugi SGRO Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                                                           Proyeksi                                            2024-2029
                      Uraian                 FY2024        FY2025           FY2026         FY2027          FY2028             FY2029             CAGR


  PENDAPATAN
     T andan buah segar                     106.129.085            -                -              -               -                 -
     Minyak sawit mentah                    493.006.283            -                -              -               -                 -
     Inti sawit                              90.536.888            -                -              -               -                 -
     Lain-lain                                1.819.754            -                -              -               -                 -
     Pendapatan Manajemen Fee                       -       60.000.000       60.000.000     60.000.000      60.000.000        60.000.000
  Jumlah Pendapatan                         691.492.010     60.000.000       60.000.000     60.000.000      60.000.000        60.000.000        -38,67%
                                                                                    -
  BEBAN POKOK PENDAPATAN                                                            -
     HPP                                   (655.266.011)            -               -              -                -                  -
     T otal Beban Langsung                 (655.266.011)            -               -              -                -                  -       -100,00%

  LABA BRUTO                                 36.225.999     60.000.000       60.000.000     60.000.000      60.000.000        60.000.000         10,62%

  BEBAN OPERASIONAL
  Beban umum dan administrasi
     Beban penjualan dan pemasaran          (10.699.396)                -             -                -                -                  -
     Beban umum dan administrasi
       Biaya Personel                       (35.185.068)   (37.472.099)     (39.907.787)   (42.501.795)    (45.264.414)  (48.206.603)
       Non biaya personel                   (11.671.690)   (12.141.962)     (12.631.182)   (13.140.113)    (13.669.550)  (14.220.319)
     Pendapatan Deviden                     999.988.650    879.746.617      897.341.549    924.261.796     961.232.268 1.009.293.881
     Beban lainnya                         (200.367.652)             -                -              -               -             -
     Penyusutan                              (3.099.626)             -                -              -               -             -
  TOTAL BEBAN                               738.965.218    830.132.556      844.802.580    868.619.887     902.298.303   946.866.959              5,08%

  LABA (RUGI) USAHA                         775.191.217    890.132.556      904.802.580    928.619.887     962.298.303      1.006.866.959         5,37%

  Pendapatan (beban) Keuangan
     Pendapatan keuangan                    174.613.728    174.613.728      174.613.728    174.613.728     174.613.728       174.613.728
     Beban keuangan                         (93.551.264)   (86.358.638)     (62.471.550)   (14.290.500)              -                 -
     Pendapatanpengalihan aset                              10.906.020
  TOTAL BEBAN                                81.062.464     99.161.111      112.142.178    160.323.228     174.613.728       174.613.728         16,59%

  LABA SEBELUM PAJAK                        856.253.681    989.293.667  1.016.944.758 1.088.943.115 1.136.912.031 1.181.480.687                   6,65%
                                                                                  -
  BEBAN PAJAK PENGHASILAN - NETO                                                  -
     Beban pajak penghasilan                   (970.256)   (24.100.351)   (26.312.706)  (36.229.890)  (38.649.548)  (37.881.097)
  LABA TAHUN BERJALAN                       855.283.425    965.193.316    990.632.052 1.052.713.225 1.098.262.483 1.143.599.590                   5,98%
 Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

      Setelah Perubahan Kegiatan Usaha, pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp 60.000.000 ribu pada
      tahun 2029 dari Rp 691.492.010 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -38,67%
      selama tahun 2024–2029 (CAGR), Laba (Rugi) Kotor diproyeksikan menjadi sebesar Rp60.000.000 ribu
      pada tahun 2029 dari Rp 36.225.999 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar
      10,62% selama tahun 2024–2029 (CAGR), Laba (Rugi) Operasi diproyeksikan menjadi sebesar Rp
      1.006.866.959 ribu pada tahun 2029 dari Rp 775.191.217 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-
      rata naik sebesar 5,37% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Tahun Berjalan diproyeksikan
      menjadi sebesar Rp 1.143.599.590 ribu pada tahun 2029 dari Rp855.283.425 ribu pada tahun 2024 atau
      diproyeksikan rata-rata turun sebesar 5,98% selama tahun 2024–2029 (CAGR).

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                             VIII - 14
Page 101
           Tabel VIII.10. Proyeksi Posisi Keuangan SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                    Realisasi                                            Proyeksi
                      Uraian                        FY 2024           FY 2025           FY 2026          FY 2027           FY 2028           FY 2029        2025-2029
                                                      2024             2025              2026             2027              2028              2029            CAGR


ASET
ASET LANCAR
   Kas dan bank                                     189.604.770      658.571.633      1.278.390.389    1.446.343.464     2.281.170.060     3.090.216.605
   Piutang usaha                                     28.173.617       28.173.617         28.173.617       28.173.617        28.173.617        28.173.617
   Piutang lain-lain                                 57.960.183        57.960.183        57.960.183       57.960.183        57.960.183        57.960.183
   Persediaan                                        36.007.239        34.890.558        34.923.065       34.925.011        33.702.774        33.705.008
   Aset biologis                                      6.597.709         6.597.709         6.597.709        6.597.709         6.597.709         6.597.709
   Pajak dibayar dimuka                              14.287.740        14.287.740        14.287.740       14.287.740        14.287.740        14.287.740
   Aset lancar lainnya                                  946.326           946.326          946.326          946.326           946.326           946.326
   TOTAL ASET LANCAR                                333.577.584      801.427.766      1.421.279.029    1.589.234.050     2.422.838.410     3.231.887.189      57,49%
ASET TIDAK LANCAR
   Penyertaan saham                               7.212.468.962     7.212.468.962     7.212.468.962    7.212.468.962     7.212.468.962     7.212.468.962
   Piutang pihak berelasi                         1.420.881.317     1.420.881.317     1.420.881.317    1.420.881.317     1.420.881.317     1.420.881.317
   Aset tanamam, neto                                62.669.142        51.341.475        41.488.847       30.493.064        (2.886.451)      (36.265.967)
   Aset tetap - neto                                 83.819.890        86.801.984        89.784.078       92.766.172        95.748.266        98.730.360
   Aset lain-lain                                    21.852.434        21.852.434        21.852.434       21.852.434        21.852.434        21.852.434
   TOTAL ASET TIDAK LANCAR                        8.801.691.745     8.793.346.172     8.786.475.638    8.778.461.949     8.748.064.528     8.717.667.107       -0,19%
JUMLAH ASET                                       9.135.269.329     9.594.773.937    10.207.754.667   10.367.695.999    11.170.902.938    11.949.554.295        5,52%

LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
   Utang bank jangka pendek                                     -               -                 -                 -                -                  -
   Utang usaha                                      135.815.650      135.815.650       135.815.650      135.815.650       135.815.650       135.815.650
   Utang lain-lain                                    7.013.289         7.013.289         7.013.289        7.013.289         7.013.289         7.013.289
   Liabilitas kontrak                                19.113.612        19.113.612        19.113.612       19.113.612        19.113.612        19.113.612
   Utang pajak                                        4.739.785        15.149.497        21.260.244       32.371.699        32.754.894        32.936.969
   Utang obligasi dan ijarah jatuh tempo            366.309.715      205.200.000       677.635.268                  -                -                  -
   Aset lancar lain-lain                            102.733.387      102.733.387       102.733.387      102.733.387       102.733.387       102.733.387
   Jumlah Liabilitas Lancar                         635.725.438      485.025.435       963.571.449      297.047.637       297.430.832       297.612.907       -14,08%

LIABILITAS JANGKA PANJANG
   Utang bank jangka panjang                                    -
   Utang obligasi dan ijarah jangka panjang         882.835.268      677.635.268                  -                 -                -                  -
   Utang pihak berelasi                                         -
   Utang lain-lain jangka panjang                    41.641.015        41.641.015        41.641.015       41.641.015        41.641.015        41.641.015
   Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                 924.476.283       719.276.283        41.641.015      41.641.015        41.641.015        41.641.015       -46,21%
JUMLAH LIABILITAS                                 1.560.201.721     1.204.301.718     1.005.212.464     338.688.652       339.071.847       339.253.922       -26,30%

EKUITAS
   Modal saham                                      363.724.400      363.724.400       363.724.400      363.724.400       363.724.400       363.724.400
   Tambahan Modal Disetor                           855.301.127      855.301.127       855.301.127      855.301.127       855.301.127       855.301.127
   Selisih transaksi dengan kepentingan nonpengendali 403.752            403.752           403.752          403.752           403.752           403.752
   Saldo laba:
     Saldo Laba (Rugi) Ditahan                    6.355.638.329     6.355.638.329     7.396.042.940  8.458.112.923   9.559.578.068 10.662.401.811
     Saldo Laba (Rugi)                                              1.040.404.611     1.062.069.984  1.101.465.145   1.102.823.744   1.103.469.283
   Deviden                                                           (225.000.000)     (475.000.000)  (750.000.000) (1.050.000.000) (1.375.000.000)
   Jumlah Ekuitas                                 7.575.067.608     8.390.472.219     9.202.542.202 10.029.007.347 10.831.831.090 11.610.300.373               8,92%

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                     9.135.269.329     9.594.773.937    10.207.754.667   10.367.695.999    11.170.902.937    11.949.554.295       5,52%

Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)
    Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha, aset lancar dalam neraca keuangan SGRO diproyeksikan menjadi
    sebesar Rp3.231.887.189 ribu pada tahun 2029 dari Rp333.577.584 ribu pada tahun 2023 atau diproyeksikan
    rata-rata naik sebesar 57,49% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Aset tidak lancar dalam neraca keuangan
    SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp8.717.667.107 ribu pada tahun 2029 dari Rp 8.801.691.745 ribu
    pada tahun 2023 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -0,19% selama tahun 2024–2029 (CAGR).
    Liabilitas lancar SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp297.612.907 ribu pada tahun 2029 dari
    Rp635.725.438 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -14,08% selama tahun
    2024–2029 (CAGR). Pada liabilitas tidak lancar SGRO diproyeksikan menjadi sebesar Rp41.641.015 ribu
    pada tahun 2029 dari Rp924.476.283 ribu dari tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -46,21%
    selama tahun 2024–2029 (CAGR). Nilai ekuitas SGRO diproyeksikan menjadi Rp 11.610.300.373 ribu pada
    tahun 2029 dari Rp7.575.067.608 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar 8,92%

Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                               VIII - 15
Page 102
    selama tahun 2024–2029 (CAGR).

               Tabel VIII.11. Proyeksi Laba Rugi SGRO Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                                                            Proyeksi                                       2024-2029
                     Uraian                FY 2024          FY 2025         FY 2026         FY 2027         FY 2028         FY 2029          CAGR
                                            2024             2025            2026            2027            2028            2029

 PENDAPATAN
    Tandan buah segar                      106.129.085      82.569.114       88.920.584     95.272.054     111.669.017     115.271.244
    Minyak sawit mentah                    493.006.283     390.071.904      402.500.000    402.500.000     402.500.000     402.500.000
    Inti sawit                              90.536.888      53.634.887       55.343.750     55.343.750      55.343.750      55.343.750
    Lain-lain                                1.819.754       1.819.754        1.819.754      1.819.754       1.819.754       1.819.754
 Jumlah Pendapatan                         691.492.010     528.095.659      548.584.088    554.935.558     571.332.521     574.934.747       -3,62%
                                                                                    -
 BEBAN POKOK PENDAPATAN                                                             -
    HPP                                   (655.266.011)   (482.903.956)    (496.200.200)   (497.123.164)   (522.776.777)   (522.058.432)
    Total Beban Langsung                  (655.266.011)   (482.903.956)    (496.200.200)   (497.123.164)   (522.776.777)   (522.058.432)

 LABA BRUTO                                 36.225.999      45.191.702      52.383.888      57.812.394      48.555.744      52.876.316        7,86%

 BEBAN OPERASIONAL
 Beban umum dan administrasi
    Beban penjualan dan pemasaran          (10.699.396)     (11.871.754)    (12.250.000)    (12.250.000)    (12.250.000)    (12.250.000)
    Beban umum dan administrasi
     Biaya Personel                        (35.185.068)     (37.472.099)    (39.907.787)    (42.501.795)    (45.264.414)    (48.206.603)
     Non biaya personel                    (11.671.690)     (12.141.962)    (12.631.182)    (13.140.113)    (13.669.550)    (14.220.319)
    Pendapatan Lainnya                     999.988.650     986.692.756     986.692.756     986.692.756     986.692.756     986.692.756
    Beban lainnya                         (200.367.652)               -               -                -              -                -
    Penyusutan                              (3.099.626)      (3.099.626)     (3.099.626)     (3.099.626)     (3.099.626)     (3.099.626)
 TOTAL BEBAN                               738.965.218     922.107.316     918.804.161     915.701.222     912.409.166     908.916.208        4,23%

 LABA (RUGI) USAHA                         775.191.217     967.299.018     971.188.049     973.513.616     960.964.910     961.792.524        4,41%

 Pendapatan (beban) Keuangan
    Pendapatan keuangan                    174.613.728     174.613.728     174.613.728     174.613.728     174.613.728     174.613.728
    Beban keuangan                         (93.551.264)     (86.358.638)    (62.471.550)    (14.290.500)              -                -
    Pendapatan (beban) lainnya - neto
 TOTAL BEBAN                                81.062.464      88.255.090     112.142.178     160.323.228     174.613.728     174.613.728       16,59%

 LABA SEBELUM PAJAK                        856.253.681    1.055.554.108
                                                                      1.083.330.227 1.133.836.844 1.135.578.638 1.136.406.252                 5,82%
                                                                                -
 BEBAN PAJAK PENGHASILAN - NETO                                                 -
    Beban pajak penghasilan                   (970.256)  (15.149.497)   (21.260.244)  (32.371.699)  (32.754.894)  (32.936.969)
 LABA TAHUN BERJALAN                       855.283.425 1.040.404.611 1.062.069.984 1.101.465.145 1.102.823.744 1.103.469.283                  5,23%
 Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

      Sebelum Perubahan Kegiatan Usaha, pendapatan SGRO diproyeksikan sebesar Rp574.934.747 ribu pada
      tahun 2029 dari Rp691.492.010 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata turun sebesar -3,62%
      selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Kotor diproyeksikan menjadi sebesar Rp52.876.316 ribu
      pada tahun 2029 dari Rp36.225.999 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar 7,86%
      selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Operasi diproyeksikan menjadi sebesar Rp 961.792.524
      ribu pada tahun 2029 dari Rp 775.191.217 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata naik sebesar
      4,41% selama tahun 2024–2029 (CAGR). Laba (Rugi) Tahun Berjalan diproyeksikan menjadi Rp
      1.103.469.283 ribu pada tahun 2029 dari Rp855.283.425 ribu pada tahun 2024 atau diproyeksikan rata-rata
      naik sebesar 5,23% selama tahun 2024–2029 (CAGR).




Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                              VIII - 16
Page 103
VIII.4       KRITERIA KELAYAKAN
             Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter investasi seperti
             Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Analisis kelayakan atas
             Perubahan Kegiatan Usaha SGRO harus didasarkan pada analisis inkremental dari dua skenario proyeksi
             keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa Perubahan Kegiatan Usaha SGRO dan proyeksi keuangan
             dengan Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.

             Analisis NPV bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Perubahan Kegiatan Usaha SGRO di masa depan jika
             ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek yang memiliki NPV positif berarti
             menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.

             Analisa Internal Rate of Return (IRR) bertujuan untuk melihat tingkat pengembalian dari Perubahan
             Kegiatan Usaha SGRO di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek
             yang memiliki IRR lebih besar dari pada tingkat diskonto yang digunakan berarti menguntungkan dan layak
             untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.

             Analisa Profitability Index (PI) adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi Perubahan Kegiatan
             Usaha SGRO dalam kelangsungan usahanya atau profitabilitasnya dari di masa depan jika ditinjau pada
             saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek yang memiliki PI lebih besar dari satu berarti
             menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.

             Untuk menentukan kelayakan, digunakan analisis NPV, IRR, dan PI inkremental/perubahan yang dihitung
             dari hasil selisih AKB untuk kapital (FCFF) Tanpa Perubahan Kegiatan Usaha SGRO dengan AKB untuk
             kapital (FCFF) Dengan Perubahan Kegiatan Usaha SGRO.

                          Tabel VIII.12. Proyeksi Kelayakan Sebelum Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                           REALISASI                                     P R O Y E K S I (RP000)
                   URAIAN                   TOTAL
                                                             2024             2025             2026              2027                 2028                2029
                                                             0,00             1,00             2,00               3,00                4,00                5,00
         CASH IN FLOW
           Net Income                    5.410.232.765                     1.040.404.611    1.062.069.984    1.101.465.145         1.102.823.744      1.103.469.283
           Depreciation/Amortization       127.081.706                        18.041.141       18.041.141       18.041.141            36.479.141         36.479.141
           Interest (1-T)                  127.234.136                        67.359.737       48.727.809       11.146.590                    -                  -
           Salvage Value                             0                                -                -                -                     -                  -
         TOTAL IN FLOW                   5.664.548.608                 0    1.125.805.489    1.128.838.934    1.130.652.876         1.139.302.885      1.139.948.424

         CASH OUT FLOW
           Investment Outlays           (7.401.562.942) (7.401.562.942)
           Capital Expenditure, CAPEX      (43.057.068)                      (9.695.568)     (11.170.608)      (10.027.452)           (6.081.720)         (6.081.720)
           +/- Working Capital            (335.810.301)                    (149.583.322)     478.513.507      (666.525.759)            1.605.432             179.841
         TOTAL OUT FLOW                 (7.780.430.311) (7.401.562.942)    (159.278.890)     467.342.899      (676.553.211)           (4.476.288)         (5.901.879)

         NET CASH FLOW                   -2.115.881.703 (7.401.562.942)     966.526.599     1.596.181.833      454.099.665         1.134.826.597      1.134.046.545
         Terminal Value                                                                                                                              18.416.776.728
         FREE CASH FLOW                 16.300.895.025 (7.401.562.942)      966.526.599     1.596.181.833      454.099.665         1.134.826.597     19.550.823.273
         Discount Factor                                     1,00000           0,91551           0,83816          0,76735               0,70252            0,64316
         DISCOUNTED CASH FLOW            8.541.259.326 (7.401.562.942)      884.867.559     1.337.861.910      348.453.290           797.236.836     12.574.402.673

         PROCEED                                         (7.401.562.942) (6.435.036.343) (4.838.854.510) (4.384.754.844) (3.249.928.248)              (2.115.881.703)

         PRESENT VALUE KAS MASUK        16.223.027.754               -     1.030.689.436     946.151.986       867.606.266          800.381.512 12.578.198.554
         PRESENT VALUE KAS KELUAR       (7.681.768.428) (7.401.562.942)     (145.821.877)    391.709.924      (519.152.976)          (3.144.676)    (3.795.881)

         INTERNAL RATE OF RETURN, IRR           30,66%
         NET PRESENT VALUE, NPV          8.541.259.326
         PROFITABILITY INDEX, PI               2,11189

     Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                       VIII - 17
Page 104
      Kelayakan sebelum perubahan kegiatan usaha diperoleh dari initial cost sebesar Rp 7.401.562.942 ribu
      terdiri dari spin off asset sebesar Rp 189.093.980 ribu dan investasi penyertaan saham sebesar Rp
      7.212.468.962 ribu. Hasil analisis kelayakan pada diskon factor 9,23% didapatkan kriteria kelayakan IRR
      sebesar 30,66%, NPV Rp8.541.259.326 ribu dan PI 2,11189.

      Sedangkan kelayakan setelah perubahan kegiatan usaha disajikan sebagai berikut.

                      Tabel VIII.13. Proyeksi Kelayakan Setelah Perubahan Usaha (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                      REALISASI                                      P R O Y E K S I (RP000)
              URAIAN                   TOTAL
                                                        2024            2025              2026                      2027             2028               2029
                                                        0,00            1,00              2,00                       3,00            4,00               5,00
    CASH IN FLOW
      Net Income                    5.250.400.666                       965.193.316       990.632.052            1.052.713.225    1.098.262.483     1.143.599.590
      Depreciation/Amortization                 0                                -                 -                        -                -                 -
      Interest (1-T)                  127.234.136                        67.359.737        48.727.809               11.146.590               -                 -
      Salvage Value                             0                                -                 -                        -                -                 -
    TOTAL IN FLOW                   5.377.634.802                 0    1.032.553.053     1.039.359.861            1.063.859.815    1.098.262.483     1.143.599.590

    CASH OUT FLOW
      Investment Outlays           (7.212.468.962) (7.212.468.962)
      Capital Expenditure, CAPEX                -                                 -                    -                     -                -                 -
      +/- Working Capital            (401.145.677)                     (209.987.202)         474.767.172          (667.682.816)       2.507.081          (749.913)
    TOTAL OUT FLOW                 (7.613.614.639) (7.212.468.962)     (209.987.202)         474.767.172          (667.682.816)       2.507.081          (749.913)

    NET CASH FLOW                   -2.235.979.837 (7.212.468.962)      822.565.852      1.514.127.033             396.176.999    1.100.769.564     1.142.849.677
    Terminal Value                                                                                                                                 18.559.738.504
    FREE CASH FLOW                 16.323.758.667 (7.212.468.962)       822.565.852      1.514.127.033             396.176.999    1.100.769.564    19.702.588.180

    Discount Factor                                     1,00000            0,91551            0,83816                 0,76735         0,70252            0,64316
    DISCOUNTED CASH FLOW            8.559.017.229 (7.212.468.962)       753.069.639      1.269.086.543             304.006.344     773.311.136     12.672.012.530

    PROCEED                                         (7.212.468.962)   (6.389.903.110)   (4.875.776.077)         (4.479.599.078) (3.378.829.514)     (2.235.979.837)

    PRESENT VALUE KAS MASUK        16.076.866.826               -       945.315.628          871.153.862           816.352.624     771.549.865     12.672.494.847
    PRESENT VALUE KAS KELUAR       (7.517.849.597) (7.212.468.962)     (192.245.989)         397.932.681          (512.346.280)      1.761.271           (482.318)

    INTERNAL RATE OF RETURN, IRR           30,80%
    NET PRESENT VALUE, NPV          8.559.017.229
    PROFITABILITY INDEX, PI               2,13849


      Sumber: Manajemen SGRO (data diolah)

      Kelayakan setelah perubahan kegiatan usaha diperoleh dari initial cost sebesar Rp 7.212.468.962 ribu yaitu
      dari investasi penyertaan saham sebesar Rp 7.212.468.962 ribu. Hasil analisis kelayakan pada diskon
      factor 9,23% didapatkan kriteria kelayakan IRR sebesar 30,80%, NPV Rp8.559.017.229 ribu dan PI
      2,13849.

      Dari hasil perhitungan diperoleh hasil AKB untuk kapital (FCFF) diatas, analisis perhitungan NPV, IRR, dan
      PI mengalami inkremental/perubahan seperti tabel berikut.

             Tabel VIII.14. Kriteria Kelayakan Sebelum dan Setelah Perubahan Kegiatan Utama (Dalam Ribuan
                                                                       Rupiah)
                                                                  Sebelum Perubahan                Setelah Perubahan                    Inkremental
                           URAIAN
                                                                      2024-2029                            2024-2029                     2024-2029
        1.     Arus Kas Bersih Untuk Kapital                             16.300.895.025                      16.323.758.667                 22.863.642
        2.     Internal Rate of Return (IRR)                                        30,66%                               30,80%                     0,14%
        3.     Net Present Value (NPV)                                    8.541.259.326                        8.559.017.229                17.757.903
        4.     Profitability Index (PI)                                            2,11189                              2,13849                    0,02661
      Sumber: Hasil analisis



Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                                                                    VIII - 18
Page 105
           Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa dengan metode arus kas bersih (AKB) untuk kapital, kriteria
           kelayakan dari IRR, NPV, dan PI setelah perubahan kegiatan usaha lebih baik dibandingkan dengan
           sebelum perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200). Hal ini
           menunjukkan bahwa aksi korporasi SGRO terkait perubahan kegiatan usaha menjadi aktivitas perusahaan
           holding (KBLI 64200) memberikan kontribusi positif dan layak untuk dilaksanakan.

VIII.5.    KESIMPULAN HASIL ANALISIS
           Berdasarkan hasil analisis atas seluruh data dan informasi yang telah diterima IDR dan dengan
           mempertimbangkan semua faktor yang relevan yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, maka IDR
           berpendapat bahwa Perubahan Kegiatan Usaha adalah layak secara finansial. Dengan demikian, dapat
           disimpulkan bahwa Perubahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.




     Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk                         VIII - 19

File

File Open PDF
Source IDX
Size7.02 MB
Published28 Mar 2025
Pages105
Characters324,917
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 73 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org SAMPOERNA AGRO Tbk p.1 ×388
linked org Jakarta Selatan – DKI Jakarta p.2 ×5
linked org Twinwood Family Holdings p.28 ×2
linked person Eka Dharmajanto Kasih p.29 ×3
linked person RB. Permana Agung Dradjattun p.29 ×3
linked person Saud Usman Nasution p.29 ×4
linked person Budi Setiawan Halim · President Director p.29 ×4
linked person Hero Djajakusumah · Human Resources Director p.29 ×4
linked person Lim King Hui · Commercial Director p.29 ×4
linked person Parluhutan Sitohang · Palm Oil Operations Director p.29 ×4
linked person Heri Harjanto · Finance Director p.29 ×4
linked person Eris Ariaman · Corporate Affairs, Legal, and Plasma Director p.29 ×4
linked org PT Sungai Menang. p.64 ×10
linked org PT Sampoerna Bio Fuels p.66 ×3
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.3 ×14
possible org Bursa Efek Indonesia p.5 ×2
possible person Dwi Asmono · Sustainability, Research and Development Director p.29 ×4
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.36 ×7
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.2
unresolved org PT Selapan Jaya p.2 ×8
unresolved org KJPP Iwan Bachron & Rekan p.3 ×4
unresolved org KJPP Iwan Bachron p.3 ×4
unresolved — Domisili p.3 ×2
unresolved org Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha – PT Sampoerna Agro Tbk p.3 ×2
unresolved org Bank Indonesia p.5 ×19
unresolved org Pusat Statistik p.5 ×2
unresolved org KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN Appraisers p.10
unresolved person Consultants Bunga Budiarti p.10
unresolved person Bunga Budiarti, S.E., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.) · Rekan p.10 ×3
unresolved org KJPP IWAN BACHRON DAN REKAN. p.11 ×2
unresolved person Penanggung Jawab Bunga Budiarti p.13
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.27 ×5
unresolved person Liestiani Wang · Notaris p.27 ×27
unresolved org Twinwood Family Holdings SFO Limited p.28 ×2
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.32 ×2
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor W p.32 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU- AH. p.36
unresolved org Bank Commodities Price Data p.57
unresolved org Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit p.60
unresolved org PT Gading Jaya Agro p.64 ×4
unresolved org PT Palma Timur Sejahtera p.64 ×4
unresolved org PT Usaha Agro Indonesia p.64 ×4
unresolved org PT Telaga Hikmah p.65
unresolved org PT Aek Tarum p.65
unresolved org PT Gunung Tua Abadi p.65
unresolved org PT Mutiara Bunda Jaya p.65
unresolved org PT Binasawit Makmur p.65
unresolved org PT Tania Binatama p.66
unresolved org PT Selatanjaya Permai p.66
unresolved org PT Sungai Rangit p.66 ×2
unresolved org PT Nusantara Sago Prima p.66
unresolved org Sampoerna Palma Pte. Ltd. p.66
unresolved org PT Lanang Agro Bersatu p.66
unresolved org PT National Sago Prima p.66
unresolved org PT Pertiwi Agro Sejahtera p.66
unresolved org PT Pangan Agro Nusantara p.66
unresolved org PT Industri Hutan Lestari p.66
unresolved org PT Industri Hutan Unggul p.66
unresolved org PT Usaha Agro Jaya p.66
unresolved org PT Tebar Tandan Tenerah p.66
unresolved org PT Hutan Ketapang Industri p.66
unresolved org PT Kusuma Mentari Makmur p.66
unresolved org PT Nusantara Sarana Alam p.66
unresolved org PT Agro Planindo Utama p.66
unresolved org PT Kedurang Prakarsa Nabati p.66
unresolved org PT Anugerah Palm Indonesia p.66
unresolved org PT Sugih Amerta Berlabuh p.66
unresolved org PT Sungai Menang IV. p.66
unresolved org Departemen Internal Audit p.78
unresolved — Velan Mahadevan · Head of Agronomy & Continuous Improvements Director p.79
unresolved person Mohd Rasakh Bin Abdullah · Head of Engineering & Operation p.80
unresolved — Ronald Romatua Marpaung · Head of Internal Audit p.80
unresolved — Bona Ranto Pasaribu · Head of Sustainability & Operations Sago p.80

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 22574 ms 12 Sep 2026 22:53
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL_FACT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result