Skip to content
Back to announcement

20260904_PEVE_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32145175_lamp1.pdf

Other Text extracted PEVE

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 23

Page 1
Jakarta 4 September 2026

Nomor Surat      : 01/PV-Corp/IX/2026


Perihal          : Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Terkait Laporan Keuangan per 30 Juni 2026

Kepada Yth.
PT Bursa Efek Indonesia
Gedung Bursa Efek Indonesia, Menara I, Lantai 6
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190 – Indonesia


Up. Adi Pratomo Aryanto, Kadiv Penilaian Perusahaan 2


Dengan hormat,

Menunjuk pada Surat PT Bursa Efek Indonesia perihal Daftar Permintaan Penjelasan Terkait Laporan Keuangan per
30 Juni 2026, bersama ini PT Penta Valent Tbk ("Perseroan") menyampaikan penjelasan serta informasi atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Bursa sebagai berikut:

Page 2
                                    Daftar Permintaan Penjelasan
                             Terkait Laporan Keuangan per 30 Juni 2026

1.   Berdasarkan CALK nomor 1c tentang Struktur Grup dan CALK nomor 22 tentang Kepentingan Non-
     Pengendali, ketiga entitas anak Perseroan yaitu PT Mega Depo Gemilang (99,95%), PT Natural
     Organik Bahagia (70%), dan PT Probylab Sehat Indonesia (51%) memiliki total aset gabungan
     sebelum eliminasi sebesar Rp7,38 miliar atau 0,51% dari total aset konsolidasian, namun membukukan
     rugi sebelum beban pajak penghasilan sebesar Rp1,62 miliar pada semester I tahun 2026. Kepentingan
     non-pengendali menurun sebesar Rp589,63 juta (54,79%) menjadi Rp486,48 juta. Atas hal tersebut,
     agar dijelaskan:
     a.   Kegiatan usaha, tahap perkembangan, dan kinerja keuangan masing-masing entitas anak pada
          semester I 2026 beserta faktor penyebab kerugiannya.
          Tanggapan:
          Kegiatan usaha ketiga anak perusahaan PT Mega Depo Gemilang bergerak di bidang
          perdagangan besar komersial, PT Natural Organik Bahagia bergerak di bidang perawatan kulit
          bayi, dan PT Probylab Sehat Indonesia bergerak di bidang suplemen kesehatan. Kerugian total
          Semester I 2026 sebesar Rp1.621.601.767 disebabkan oleh biaya awal penetrasi pasar baru,
          beban operasional, serta biaya investasi awal.
          Kinerja keuangan masing-masing Entitas Anak tersebut pada Semester I 2026:
          Entitas Anak                    Jumlah                Laba (Rugi)
                                          pendapatan
          PT Mega Depo Gemilang           Rp1.483.107.929       (Rp87.871.422)
          PT Natural Organik Bahagia      Rp277.706.349         (Rp835.988.673)
          PT Probylab Sehat Indonesia     Rp1.353.648.246       (Rp691.397.105)
          Faktor penyebab kerugian Entitas Anak tersebut disebabkan karena biaya awal penetrasi pasar
          baru, beban operasional, serta biaya investasi awal.

     b.   Rencana Perseroan atas ketiga entitas anak tersebut, termasuk kebutuhan pendanaan tambahan,
          rencana penambahan modal, atau rencana penghentian usaha.
          Jawaban:
          Perseroan berencana melakukan sinkronisasi serta restrukturisasi biaya operasional. Kebutuhan
          pendanaan anak perusahaan diprioritaskan melalui alokasi kas modal kerja internal induk.
          Hingga saat ini, belum terdapat rencana penambahan modal eksternal maupun penghentian
          usaha anak perusahaan.

     c.   Perlakuan akuntansi apabila kepentingan non-pengendali menjadi bernilai negatif akibat kerugian
          yang berlanjut, mengingat saldonya per 30 Juni 2026 hanya sebesar Rp486,48 juta.

          Jawaban:
          Sesuai dengan PSAK 110 PP 94 menyebutkan bahwa “Entitas mengatribusikan laba rugi dan
          setiap komponen dari penghasilan komprehensif lain kepada pemilik Entitas Induk dan
          kepentingan nonpengendali. Entitas juga mengatribusikan total penghasilan komprehensif lain
          kepada pemilik entitas induk dan kepentingan nonpengendali meskipun hal tersebut
          mengakibatkan kepentingan nonpengendali memiliki saldo defisit” sehingga menurut
          manajemen hal tersebut tidak merubah perlakuan akuntansi.

Page 3
     d.   Latar belakang penyajian total aset ketiga entitas anak dengan judul kolom “31 Mar 26” beserta
          angka yang seharusnya berlaku per 30 Juni 2026, mengingat nilai yang disajikan identik dengan
          angka per 31 Desember 2025 pada Laporan Keuangan Tahunan 2025 yang telah diaudit.


          Tanggapan:
          Terdapat kesalahan penyajian pada laporan keuangan interim 30 Juni 2026, dimana seharusnya
          angka masing-masing entitas anak per 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:


                 Entitas Anak             Jumlah Aset
          PT Mega Depo Gemilang         Rp3.384.351.635
          PT Natural Organik Bahagia    Rp1.224.728.836
          PT Probylab Sehat Indonesia Rp1.841.198.349



2.   Berdasarkan CALK nomor 5 tentang Kas dan Bank serta Laporan Arus Kas Interim Konsolidasian,
     Perseroan membukukan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp99,44 miliar
     pada semester I tahun 2026, setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya juga negatif sebesar
     Rp154,42 miliar. Defisit tersebut ditutup dari penarikan utang bank neto sebesar Rp94,05 miliar,
     sehingga saldo kas dan bank menurun sebesar Rp5,66 miliar (42,94%) menjadi Rp7,52 miliar atau
     setara 0,52% dari total aset dan 0,73% dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp1,03 triliun. Atas hal
     tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Faktor-faktor utama yang menyebabkan arus kas bersih dari aktivitas operasi Perseroan bernilai
          negatif, meskipun Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,84 triliun dan laba
          periode berjalan sebesar Rp30,50 miliar.


          Tanggapan:
          Faktor-faktor utama yang menyebabkan arus kas bersih dari aktivitas operasi Perseroan bersifat
          negatif, meskipun Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,84 triliun dan laba
          periode berjalan sebesar Rp30,50 miliar disebabkan karena pada semester I 2026, Perseroan
          banyak melakukan penjualan kredit sehingga dapat dilihat piutang Perseroan meningkat, dan
          Perseroan melakukan pembayaran atas utang usaha sehingga dapat dilihat utang usaha pada
          semester I 2026 mengalami penurunan.


     b.   Latar belakang penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp1,81 triliun yang lebih rendah Rp26,22
          miliar dibandingkan penjualan bersih yang diakui pada periode yang sama.


          Tanggapan:
          Latar belakang penerimaan kas dari pelanggan lebih rendah dibandingkan penjualan bersih yang
          diakui pada periode yang sama sebagian besar disebabkan karena pada Semester I 2026,
          Perseroan melakukan penjualan secara kredit, dapat dilihat dari kenaikan piutang usaha.

Page 4
     c.   Penilaian manajemen atas kecukupan kas Perseroan untuk memenuhi liabilitas jangka pendek
          sebesar Rp1,03 triliun, termasuk utang bank sebesar Rp420,66 miliar dan utang usaha sebesar
          Rp605,84 miliar yang akan jatuh tempo.


          Tanggapan:
          Penilaian manajemen atas kecukupan kas Perseroan untuk memenuhi liabilitas jangka pendek
          Perseroan yaitu Perseroan akan mengoptimalkan penjualan dalam bentuk kas, dan melakukan
          penagihan yang intensif atas piutang Perseroan.


     d.   Kebijakan Perseroan mengenai saldo kas minimum (minimum cash balance) yang harus
          dipertahankan untuk mendukung kegiatan operasional, mengingat cash ratio Perseroan hanya
          sebesar 0,01x.


          Tanggapan:
          Kebijakan Perseroan mengenai saldo kas minimum yaitu dipertahankan pada tingkat optimal
          kisaran Rp7,52 miliar (0,52% dari total aset). Perseroan meminimalkan idle cash di bank untuk
          langsung dikonversikan menjadi pembayaran utang dagang atau utang bank.


     e.   Langkah konkret yang telah dan akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki arus kas dari
          aktivitas operasi pada semester II tahun 2026 beserta target waktunya.


          Tanggapan:
          Langkah konkret yang telah dan akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki arus kas dari
          aktivitas operasi pada semester II tahun 2026 yaitu Perseroan mengoptimalkan penjualan secara
          kas dan melakukan penagihan yang intensif terhadap piutang Perseroan. Target waktu Perseroan
          untuk memperbaiki arus kas dari aktivitas operasi yaitu pada semester II 2026.


3.   Berdasarkan CALK nomor 6 tentang Piutang Usaha, saldo piutang usaha bruto per 30 Juni 2026
     sebesar Rp675,17 miliar atau meningkat sebesar Rp27,98 miliar (4,32%) dibandingkan posisi per
     31 Desember 2025 sebesar Rp647,18 miliar. Piutang usaha neto sebesar Rp665,67 miliar merupakan
     46,08% dari total aset Perseroan. Piutang yang telah lewat jatuh tempo mencapai Rp231,58 miliar atau
     34,30% dari piutang bruto, dengan kelompok umur lebih dari 90 hari sebesar Rp40,43 miliar.
     Cadangan kerugian kredit ekspektasian yang dibentuk sebesar Rp9,50 miliar atau 1,41% dari piutang
     bruto. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Latar belakang days sales outstanding Perseroan yang mencapai 66,14 hari (disetahunkan), jauh
          melampaui rata-rata jangka waktu kredit atas penjualan barang yang ditetapkan Perseroan sendiri
          sebesar 40 hari sebagaimana diungkapkan dalam CALK nomor 6.


          Tanggapan:
          Latar belakang days sales outstanding yaitu disebabkan karena sebagian penjualan Perseroan
          dilakukan terhadap rumah sakit Pemerintah dimana rumah sakit Pemerintah menunggu
          pencairan anggaran sehingga days sales outsanding tinggi.

Page 5
b.   Tingkat kolektibilitas piutang yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 90 hari sebesar Rp40,43
     miliar, termasuk profil pelanggannya.


     Tanggapan:
     Dengan profil pelanggan yaitu pelanggan tersebut sebagian besar merupakan rumah sakit
     pemerintah dimana terjadi keterlambatan pembayaran disebabkan karena menunggu pencairan
     anggaran sehingga kolektibilitas piutang tinggi.


c.   Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta nilai
     penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.


     Tanggapan:
     Sampai dengan tanggal surat ini dibuat, realisasi penerimaan piutang tanggal 30 Juni 2026
     sampai dengan 31 Agustus 2026 adalah sebesar Rp 26.117.895.503 atau sebesar 43,18 % dari
     piutang tersebut.


d.   Dasar dan pertimbangan manajemen dalam menetapkan cadangan kerugian kredit ekspektasian
     sebesar Rp9,50 miliar, yang hanya setara 4,10% dari piutang yang telah lewat jatuh tempo sebesar
     Rp231,58 miliar dan 23,50% dari piutang yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 90 hari.


     Tanggapan:
     Dasar dan pertimbangan manajemen dalam menetapkan cadangan kerugian kredit ekspektasian
     yang sebesar 4,10% dari piutang yang telah lewat jatuh tempo adalah dengan
     mempertimbangkan jangka waktu hubungan pelanggan dengan Perseroan, status catatan kredit
     pelanggan berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, faktor kondisi ekonomi secara
     umum, maka manajemen berkeyakinan bahwa kerugian atas piutang usaha yang tidak tertagih
     tidak akan lebih besar dari CKPN yang telah dibentuk.


e.   Latar belakang cadangan kerugian kredit ekspektasian yang sepanjang tahun 2025 hanya tumbuh
     19,36% (dari Rp6,98 miliar menjadi Rp8,33 miliar) di tengah piutang lewat jatuh tempo lebih dari
     90 hari yang melonjak 103,94% (dari Rp18,96 miliar menjadi Rp38,66 miliar), serta bagaimana
     pola tersebut berlanjut pada semester I 2026.


     Tanggapan:
     Latar belakang cadangan kerugian kredit ekspektasian sepanjang tahun 2025 hanya tumbuh
     19,36% dengan mempertimbangkan jangka waktu hubungan pelanggan dengan Perseroan,
     status catatan kredit pelanggan berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, faktor kondisi
     ekonomi secara umum, maka manajemen berkeyakinan bahwa kerugian atas piutang usaha yang
     tidak tertagih tidak akan lebih besar dari CKPN yang telah dibentuk.

Page 6
f.   Agar disampaikan matriks provisi (provision matrix) yang digunakan Perseroan sesuai PSAK
     109, meliputi tingkat kerugian historis (historical loss rate) untuk setiap kelompok umur piutang
     serta penyesuaian atas informasi masa depan (forward-looking information) yang diterapkan.


     Tanggapan:
     Matriks provis yang digunakan Perseroan sesuai PSAK 109 terlampir sebagai berikut:




g.   Apakah terdapat konsentrasi piutang pada pelanggan tertentu? Apabila ada, agar disampaikan
     nilai dan porsinya terhadap total piutang usaha, mengingat CALK nomor 31 menyatakan tidak
     terdapat konsentrasi risiko kredit yang signifikan.


     Tanggapan:
     Tidak terdapat konsentrasi piutang pada pelanggan tertentu.


h.   Kebijakan Perseroan dalam penagihan, penghentian pengakuan (write-off), dan pembatasan
     penjualan kredit kepada pelanggan yang menunggak.


     Tanggapan:
     Kebijakan Perseroan dalam penagihan sebagai berikut:
     1. Meminta konfirmasi mengenai waktu pembayaran
     2. Melakukan penagihan secara intensif dan persuasif melalui telpon, email, surat tertulis dan
        tatap muka ke pihak pemilik piutang.
     3. Tidak mengirimkan barang apabila piutang belum dibayar.
     4. Dan penarikan aset yang disepakati oleh kedua belah pihak sebagai jaminan
        pembayaran/pelunasan pembayaran.


     Kebijakan Perseroan dalam penghentian pengakuan (write-off) adalah dengan melihat apakah
     ada kemungkinan piutang tersebut dapat tertagih atau tidak, apabila kemungkinan tidak tertagih
     maka Perseroan akan menghentikan pengakuan.


     Kebijakan Perseroan dalam pembatasan penjualan kredit kepada pelanggan yang menunggak
     yaitu dengan tidak melakukan pengiriman barang apabila saldo kredit atas pelanggan tersebut
     sudah mencapai limit dan melakukan penagihan secara tertulis apabila pelanggan tersebut tetap
     tidak melakukan pelunasan atas kreditnya.

Page 7
4.   Berdasarkan CALK nomor 7 tentang Piutang Lain-lain, saldo piutang lain-lain per 30 Juni 2026
     sebesar Rp122,96 miliar atau meningkat sebesar Rp27,92 miliar (29,38%) dibandingkan posisi per 31
     Desember 2025 sebesar Rp95,04 miliar, di mana Rp122,63 miliar atau 99,73% merupakan piutang
     klaim atas klaim pelanggan, potongan penjualan, dan lainnya yang menjadi tanggungan pemasok.
     Perseroan tidak membentuk penyisihan kerugian penurunan nilai atas piutang tersebut. Atas hal
     tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Latar belakang peningkatan piutang klaim sebesar 30,70% dalam enam bulan, yang melampaui
          pertumbuhan penjualan bersih sebesar 8,96%.
          Tanggapan:
          Latar belakang peningkatan piutang klaim sebesar Rp27,92 miliar disebabkan karena seiring
          dengan kebijakan pemasok untuk meningkatkan pemberian promosi berupa tambahan
          diskon/potongan penjualan ke pelanggan (beban pemasok) dengan tujuan untuk meningkatkan
          penjualan, dimana tambahan diskon tersebut akan diklaim ke pemasok terkait.


     b.   Mekanisme, jangka waktu penyelesaian, dan proses verifikasi klaim kepada pemasok, termasuk
          apakah terdapat batas waktu pengajuan klaim yang dapat menggugurkan hak tagih Perseroan.


          Tanggapan:
          Mekanisme, jangka waktu penyelesaian dan proses verifikasi klaim kepada pemasok dan batas
          waktu pengajuan klaim yang dapat menggurkan hak tagih Perseroan adalah sebagai berikut
          dimana proses klaim ke pemasok pada umumnya memerlukan waktu maksimal 6 bulan sejak
          program berakhir.

     c.   Agar disampaikan analisis umur (aging) piutang klaim per 30 Juni 2026 beserta rincian pemasok
          dengan saldo klaim yang material.

          Tanggapan:
          Analisis umum (aging) piutang klaim per 30 Juni 2026 terlampir pada Lampiran I sheet Nomor
          21.

     d.   Dasar dan pertimbangan manajemen untuk tidak membentuk penyisihan kerugian penurunan nilai
          atas piutang klaim sebesar Rp122,63 miliar atau 8,49% dari total aset Perseroan.


          Tanggapan:
          Dasar dan pertimbangan manajemen untuk tidak membentuk penyisihan kerugian penurunan
          nilai atas piutang klaim disebabkan karena piutang lain-lain tersebut merupakan piutang yang
          sebelumnya sudah mendapatkan persetujuan dari pihak pemasok atas potongan penjualan,
          sehingga pasti dapat ditagih ke pemasok yang bersangkutan dan berdasarkan riwayat penagihan,
          piutang lain-lain tersebut dapat tertagih seluruhnya.


     e.   Agar disampaikan realisasi penerimaan atau kompensasi atas piutang klaim setelah tanggal
          30 Juni 2026 beserta nilai dan persentasenya.

          Tanggapan:
          Realisasi penerimaan atau kompensasi atas piutang klaim setelah tanggal 30 Juni 2026 sampai
          dengan 31 Agustus 2026 adalah sebesar Rp86.411.818.069 dengan persentase sebesar 70,47%
          dari piutang klaim.

Page 8
5.   Berdasarkan CALK nomor 8 tentang Persediaan, saldo persediaan bruto per 30 Juni 2026 sebesar
     Rp446,76 miliar dengan penyisihan penurunan nilai sebesar Rp3,50 miliar atau 0,78%, terdiri atas
     produk farmasi Rp321,73 miliar (turun 9,46%) dan produk konsumer Rp125,04 miliar (naik 28,25%).
     Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Kebijakan dan dasar pengukuran Nilai Realisasi Neto sesuai PSAK 14, termasuk perlakuan atas
          persediaan yang mendekati atau telah melewati tanggal kedaluwarsa, mengingat sebagian besar
          persediaan berupa produk farmasi.


          Tanggapan:
          Kebijakan dan dasar pengukuran nilai realisasi neto sesuai PSAK 14 yaitu perkiraan harga jual
          dalam kegiatan bisnis normal, dikurangi perkiraan biaya penyelesaian dan perkiraan biaya yang
          diperlukan untuk melakukan penjualan. Perlakuan atas persediaan yang mendekati atau telah
          melewati tanggal kadaluwarsa yaitu Perseroan memiliki perjanjian pengembalian produk
          apabila mendekati tanggal expired yang berkisar antara 3 - 6 bulan sebelum produk tersebut
          expired.


     b.   Agar disampaikan komposisi persediaan berdasarkan umur simpan dan sisa masa kedaluwarsa
          per 30 Juni 2026, beserta nilai persediaan yang tergolong lambat bergerak (slow moving).


          Komposisi persediaan berdasarkan umur simpan dan sisa masa kadaluwarsa per 30 Juni 2026
          beserta nilai persediaan yang tergolong slow moving adalah sebagai berikut:




     c.   Latar belakang peningkatan persediaan produk konsumer sebesar 28,25% di tengah penurunan
          persediaan produk farmasi sebesar 9,46%, serta kesesuaiannya dengan strategi usaha Perseroan.


          Tanggapan:
          Penurunan produk farmasi disebabkan karena peningkatan penjualan produk farmasi, sedangkan
          peningkatan persediaan produk konsumen disebabkan karena selama periode Januari – Juni
          2026 terdapat peningkatan penjualan produk konsumer sebesar 26,74 % setara dengan
          peningkatan persediaan produk konsumen Perseroan. Hal tersebut sesuai dengan strategi usaha
          Perseroan dimana Perseroan mengambil keputusan strategis mendiversifikasi portofolio usaha
          ke segmen ritel modern yang memiliki perputaran barang (inventory turnover) lebih cepat.

Page 9
     d.   Nilai persediaan dan piutang usaha yang telah diikat sebagai jaminan fidusia kepada masing-
          masing bank per 30 Juni 2026, beserta ketersediaan aset yang belum diikat untuk mendukung
          penambahan fasilitas pembiayaan ke depan.


          Tanggapan:
          Nilai persediaan dan piutang usaha yang telah diikat sebagai jaminan fidusia kepada masing-
          masing bank per 30 Juni 2026 dengan jumlah sebesar Rp 600 miliar. Sisa aset bebas jaminan
          dinilai memadai untuk mendukung ekspansi kredit masa depan.


6.   Berdasarkan CALK nomor 11 tentang Aset Tetap, CALK nomor 12 tentang Aset Hak-Guna dan
     Liabilitas Sewa, serta Laporan Arus Kas Interim Konsolidasian, terdapat beberapa hal yang perlu
     dikonfirmasi. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Rekonsiliasi penambahan aset tetap sebesar Rp559,14 juta pada CALK nomor 11 terhadap
          perolehan aset tetap secara kas sebesar Rp152,49 juta pada laporan arus kas dan uang muka
          pembelian aset tetap sebesar Rp350,53 juta yang menjadi nihil pada periode berjalan.


          Tanggapan:
          Terdapat kesalahan penyajian pada perolehan aset tetap secara kas pada laporan arus kas,
          dimana perolehan aset tetap secara kas seharusnya sebesar (Rp208.617.289). Kesalahan tersebut
          akan diperbaiki pada laporan keuangan selanjutnya.


     b.   Latar belakang selisih penyajian liabilitas sewa, di mana laporan posisi keuangan menyajikan
          Rp2,32 miliar sebagai bagian jangka pendek dan Rp192,94 juta sebagai bagian jangka panjang,
          sedangkan CALK nomor 12 menyajikan seluruhnya sebesar Rp2,32 miliar dengan jatuh tempo
          tidak lebih dari satu tahun.


          Tanggapan:
          Terdapat kesalahan penyajian pada CALK nomor 12, dimana seharusnya jumlah liabilitas sewa
          adalah sebesar Rp2.511.111.111 yang terdiri dari jangka pendek sebesar Rp2.318.166.666 dan
          jangka panjang sebesar Rp192.944.445. kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laparan
          keuangan selanjutnya.


     c.   Latar belakang penyajian “Pembayaran liabilitas sewa” sebesar Rp2,28 miliar sebagai arus kas
          masuk pada aktivitas pendanaan, sementara CALK nomor 12 menyatakan arus kas atas liabilitas
          sewa sepanjang periode sebesar Rp236,11 juta dan penambahan sebesar Rp2,32 miliar merupakan
          perubahan non-kas.


          Tanggapan:




          Terdapat kesalahan penyajian pada arus kas - pembayaran liabilitas sewa dimana seharusnya
          adalah sebesar (236.111.111). Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan
          selanjutnya.

Page 10
     d.   Latar belakang penyajian “Perolehan aset hak-guna” sebesar Rp2,52 miliar sebagai arus kas
          keluar pada aktivitas investasi, sementara CALK nomor 12 menyajikan penambahan biaya
          perolehan aset hak-guna sebesar Rp4,23 miliar.


          Tanggapan:
          Terdapat kesalahan penyajian pada arus kas - perolehan aset hak guna dimana seharusnya
          adalah sebesar (Rp1.721.693.009). Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan
          selanjutnya.

     e.   Latar belakang tidak disajikannya catatan Informasi Tambahan untuk Laporan Arus Kas pada
          Laporan Keuangan Interim, yang pada Laporan Keuangan Tahunan 2025 disajikan sebagai
          CALK nomor 27 dan memuat pengungkapan aktivitas non-kas serta rekonsiliasi liabilitas yang
          timbul dari aktivitas pendanaan sebagaimana disyaratkan PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas.
          Agar disampaikan pengungkapan dimaksud untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni
          2026.

          Tanggapan:
          Catatan Aktivitas Non-Kas Laporan Arus Kas interim terlewat disajikan karena kendala teknis.
          Pengungkapan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:




     f.   Latar belakang perbedaan klasifikasi beban penyusutan aset hak-guna sebesar Rp4,52 miliar, di
          mana CALK nomor 12 menyatakan diakui sebagai bagian dari Beban Penjualan (CALK nomor
          25) namun tersaji dalam Beban Umum dan Administrasi (CALK nomor 26), padahal pada
          Laporan Keuangan Tahunan 2025 yang diaudit beban tersebut disajikan dalam Beban Penjualan.


          Tanggapan:
          Terdapat kesalahan klasifikasi terhadap penyusutan aset hak guna, dimana seharusnya
          penyusutan aset hak guna tersaji dalam beban umum dan administrasi (CALK nomor 26).
          Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan selanjutnya.


7.   Berdasarkan CALK nomor 13 tentang Utang Bank, saldo utang bank per 30 Juni 2026 sebesar
     Rp420,66 miliar atau meningkat sebesar Rp94,05 miliar (28,80%) dibandingkan posisi per 31
     Desember 2025 sebesar Rp326,61 miliar, terdiri atas PT Bank CTBC Indonesia Rp217,99 miliar, PT
     Bank Permata Tbk Rp183,21 miliar, dan PT Bank DBS Indonesia Rp19,45 miliar. Sepanjang semester
     I 2026 Perseroan menarik utang bank sebesar Rp1.032,04 miliar dan melakukan pembayaran sebesar
     Rp937,99 miliar, dengan beban bunga meningkat sebesar Rp3,80 miliar (50,15%) menjadi Rp11,37
     miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Latar belakang penambahan fasilitas Omnibus Revolving Loan dari PT Bank Permata Tbk dengan
          pagu Rp200 miliar berdasarkan Akta Notaris Indra Wiguna, S.H., M.Kn. No. 1 tanggal 5 Maret
          2026, beserta peruntukan penggunaan dananya.


          Tanggapan:
          Penambahan fasilitas Omnibus Revolving Loan dari PT Bank Permata Tbk pagu Rp200 miliar
          ditujukan sebagai instrumen standby liquidity untuk mengantisipasi kebutuhan fluktuasi modal
          kerja operasional harian Perseroan.

Page 11
b.   Latar belakang perbedaan suku bunga atas fasilitas tersebut, yang dinyatakan sebesar 6,50% per
     tahun pada CALK nomor 13 Laporan Keuangan Interim dan 6,00% per tahun pada CALK nomor
     33b Laporan Keuangan Tahunan 2025 yang telah diaudit.


     Tanggapan:
     Latar belakang perbedaan suku bunga atas fasilitas Omnibus Revolving Loan dari Bank Permata
     disebabkan karena adanya perubahan suku bunga pada bulan Mei 2026 sehingga disesuaikan
     pada laporan keuangan interim.


c.   Status pemenuhan seluruh persyaratan rasio keuangan (financial covenant) per 30 Juni 2026,
     khususnya Debt Service Coverage Ratio minimum 1,25 kali kepada PT Bank CTBC Indonesia,
     mengingat arus kas bersih dari aktivitas operasi Perseroan bernilai negatif. Apabila terdapat
     persyaratan yang tidak terpenuhi, agar disampaikan tindak lanjut dan status pengesampingan
     (waiver) dari bank terkait.


     Tanggapan:
     Perusahaan telah memenuhi seluruh persyaratan rasio keuangan (financial covenant) per 30 Juni
     2026 kepada PT Bank CTBC Indonesia.


d.   Terkait persyaratan Total Debt terhadap Net Worth maksimum 3 kali kepada PT Bank DBS
     Indonesia, agar dijelaskan definisi Total Debt yang digunakan dan pemenuhannya per 31
     Desember 2025 maupun 30 Juni 2026, mengingat rasio total liabilitas terhadap ekuitas Perseroan
     tercatat sebesar 3,01x per 31 Desember 2025 dan 2,83x per 30 Juni 2026.


     Tanggapan:
     Total debt adalah jumlah liabilitas yang dimiliki Perseroan. Walaupun per 31 Desember 2025
     memiliki ratio total debt terhadap net worth dengan 3,01 atau lebih tepatnya 3,007, sehingga
     masih dalam batas yang dapat ditoleransi oleh Bank.


e.   Rencana Perseroan dalam menghadapi jatuh tempo seluruh fasilitas perbankan yang berjangka
     waktu tidak lebih dari 12 bulan, termasuk fasilitas PT Bank DBS Indonesia yang jatuh tempo
     pada 21 Juli 2026 dan fasilitas PT Bank CTBC Indonesia yang jatuh tempo pada 13 Oktober 2026,
     beserta status perpanjangannya sampai dengan tanggal surat ini.

     Tanggapan:
     Fasilitas PT Bank DBS Indonesia per saat ini telah diperpanjang sampai dengan tanggal 20 Juli
     2027 dan rencana Perseroan dalam menghadapi jatuh tempo dari PT Bank CTBC Indonesia
     yaitu saat ini sedang dalam proses finalisasi perpanjangan dari bank.


f.   Latar belakang kenaikan beban bunga sebesar 50,15% beserta rata-rata suku bunga efektif yang
     ditanggung Perseroan, serta proyeksi beban bunga untuk semester II 2026.

     Tanggapan:
     Kenaikan beban bunga sebesar 50,15% disebabkan terutama karena peningkatan rata-rata
     volume penarikan utang bank neto modal kerja. Rata-rata suku bunga efektif berjalan adalah
     kisaran 6,5% - 7,52% per tahun.

Page 12
8.   Berdasarkan CALK nomor 14 tentang Utang Usaha, saldo utang usaha per 30 Juni 2026 sebesar
     Rp605,84 miliar atau menurun sebesar Rp76,07 miliar (11,16%) dibandingkan posisi per 31 Desember
     2025 sebesar Rp681,92 miliar. Utang usaha yang telah lewat jatuh tempo menurun dari Rp291,45
     miliar (42,74%) menjadi Rp197,46 miliar (32,59%), termasuk yang telah lewat jatuh tempo lebih dari
     120 hari sebesar Rp16,50 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
     a.   Latar belakang penurunan saldo utang usaha kepada pihak ketiga sebesar 11,66% yang terjadi
          bersamaan dengan kenaikan utang bank sebesar 28,80%, serta apakah terdapat perubahan termin
          pembayaran yang diminta oleh pemasok atau prinsipal.


          Tanggapan:
          Latar belakang penurunan saldo utang usaha kepada pihak ketiga dimana bersamaan dengan
          kenaikan utang bank yaitu Perseroan menggunakan sumber dana hasil penarikan fasilitas kredit
          bank guna memastikan pelunasan tepat waktu utang usaha demi menjaga kontinuitas pasokan
          barang dagang utama.


     b.   Latar belakang dan status penyelesaian utang usaha yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 120
          hari sebesar Rp16,50 miliar.


          Tanggapan:
          Status penyelesaian utang usaha yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 120 hari sebesar 16,50
          miliar sudah selesai per tanggal surat ini dibuat.


     c.   Dampak pemendekan days payable outstanding dari 78,49 hari pada 31 Desember 2025 menjadi
          67,86 hari pada 30 Juni 2026 terhadap kebutuhan modal kerja Perseroan.


          Tanggapan:
          Dampak pemendekan days payable outstanding dari 78,49 hari menjadi 67,86 hari yaitu
          peningkatan utang bank Perseroan dan penurunan kas dan setara kas Perseroan.


9.   Berdasarkan CALK nomor 16 tentang Biaya Masih Harus Dibayar, saldo bunga pinjaman sebesar
     Rp956,31 juta, jasa profesional sebesar Rp278,00 juta, serta listrik, air, dan telepon sebesar Rp252,18
     juta disajikan dengan nominal yang identik pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025. Atas
     hal tersebut, agar dijelaskan dasar pengukuran dan pemutakhiran akrual dimaksud, khususnya akrual
     bunga pinjaman, mengingat pada periode yang sama saldo utang bank meningkat 28,80% dan beban
     bunga meningkat 50,15%.


     Tanggapan:
     Dasar pengukuran dan pemutakhiran akrual yaitu untuk listrik, air dan telepon Perseroan
     menggunakan saldo tersebut karena saldo tersebut merupakan rata-rata biaya yang dibayar tiap
     bulannya. Sedangkan untuk jasa profesional, Perseroan menggunakan saldo tersebut dikarenakan
     Perseroan mengasumsikan tidak adanya kenaikan jasa profesional dibanding tahun sebelumnya.
     Sedangkan untuk bunga pinjaman, Perseroan mengasumsikan saldo tersebut cukup untuk menutupi
     biaya bunga bank dikarenakan sebagian bunga bank di debit pada periode akhir bulan.

Page 13
10. Berdasarkan CALK nomor 17 tentang Saldo dan Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi, saldo utang
    usaha kepada PT Sekawan Kosmetika Wasantara per 30 Juni 2026 sebesar Rp10,47 miliar atau
    meningkat sebesar Rp2,53 miliar (31,83%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp7,94
    miliar, dengan pembelian pada semester I 2026 sebesar Rp11,81 miliar atau 0,73% dari jumlah
    pembelian. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
    a.   Dasar penetapan harga (pricing) atas transaksi pembelian dengan PT Sekawan Kosmetika
         Wasantara serta kewajaran syarat dan ketentuannya dibandingkan transaksi dengan pihak ketiga.


         Tanggapan:
         Dasar penetapan harga jual beli dengan PT Sekawan Kosmetika Wasantara menggunakan
         metode harga penjualan kembali (Resale Price Method) yang mengacu pada prinsip kelaziman
         usaha (Arm's Length Principle).


    b.   Pemenuhan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 42/POJK.04/2020 tentang
         Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan atas transaksi tersebut.


         Tanggapan:
         Transaksi tersebut memenuhi seluruh kriteria pengecualian transaksi afiliasi material sesuai
         regulasi POJK Nomor 42/POJK.04/2020 karena merupakan transaksi rutin bisnis utama.


    c.   Latar belakang penyajian persentase utang usaha pihak berelasi terhadap jumlah liabilitas sebesar
         1,73% per 30 Juni 2026 dan 0,76% per 31 Desember 2025, mengingat berdasarkan perhitungan
         atas angka yang disajikan, persentase terhadap jumlah liabilitas per 30 Juni 2026 adalah sebesar
         0,98% sedangkan angka 1,73% merupakan persentase terhadap jumlah utang usaha.


         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian, dimana seharusnya persentase terhadap jumlah liabilitas pada 30
         Juni 2026 adalah sebesar 0,98%. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan
         selanjutnya.


    d.   Apakah terdapat rencana transaksi dengan pihak berelasi lainnya, termasuk dengan PT Tancorp
         Mega Buana selaku entitas induk langsung dan PT Tancorp Global Sentosa selaku entitas induk
         utama, pada periode berikutnya.


         Tanggapan:
         Sampai dengan tanggal surat tanggapan ini, belum terdapat rencana transaksi komersial baru
         yang bersifat material dengan pihak PT Tancorp Mega Buana maupun PT Tancorp Global
         Sentosa.


11. Berdasarkan CALK nomor 18 tentang Perpajakan, laporan posisi keuangan menyajikan pajak dibayar
    di muka per 30 Juni 2026 sebesar Rp151,68 miliar sedangkan CALK nomor 18a menyajikan sebesar
    Rp149,14 miliar berupa Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar, sehingga terdapat selisih penyajian
    sebesar Rp2,54 miliar. Saldo tersebut setara 10,50% dari total aset Perseroan. Selain itu, terdapat
    taksiran klaim pajak penghasilan untuk tahun pajak 2024 dan 2025 sebesar Rp5,82 miliar yang tidak
    mengalami perubahan selama semester I 2026. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:

Page 14
a.   Rekonsiliasi antara saldo pajak dibayar di muka sebesar Rp151,68 miliar pada laporan posisi
     keuangan dengan Rp149,14 miliar yang dirinci pada CALK nomor 18a, beserta komponen yang
     menyusun perbedaan sebesar Rp2,54 miliar.

     Tanggapan:
     Selisih penyajian pajak dibayar di muka Rp2,54 miliar merupakan saldo Pajak Penghasilan (PPh
     Badan) Pasal 22 dan Pasal 23 yang belum disajikan dalam tabel rincian CALK 18a. Kesalahan
     penyajian tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan selanjutnya.


b.   Latar belakang terakumulasinya Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar hingga mencapai Rp149,14
     miliar, beserta rinciannya berdasarkan masa pajak.


     Tanggapan:
     Akumulasi PPN Lebih Bayar hingga Rp149,14 miliar terjadi karena akumulasi sejak jaman
     Covid-19 dimana Pemerintah memberikan fasilitas DTP PPN, sehingga PPN keluaran
     ditanggung Pemerintah, sehingga Akumulasi PPN lebih bayar meningkat drastis dan adanya
     PPN keluaran yang dilakukan terhadap WAPU.


c.   Rencana, jadwal, dan status permohonan restitusi atas Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar
     tersebut, serta dampaknya terhadap likuiditas Perseroan apabila restitusi dapat direalisasikan.


     Tanggapan:
     Sampai dengan tanggal surat ini dibuat, Perseroan belum memutuskan rencana, jadwal untuk
     melakukan permohonan restitusi atas Pajak Pertambahan Nilai. Dampak terhadap likuiditas
     Perseroan apabila restitusi dapat direalisasikan adalah menambah arus kas untuk modal kerja
     Perseroan.


d.   Rincian, latar belakang, dan status terkini atas taksiran klaim pajak penghasilan untuk tahun pajak
     2024 sebesar Rp2,91 miliar dan tahun pajak 2025 sebesar Rp2,91 miliar beserta estimasi waktu
     penerimaannya.


     Tanggapan:
     Sampai dengan tanggal surat ini dibuat, status terkait taksiran klaim pajak penghasilan untuk tahun
     pajak 2024 belum ada, karena masih dalam tahap pemeriksaan. Sedangkan untuk tahun pajak
     2025, masih belum diberikan surat pemeriksaan.


e.   Apakah terdapat pemeriksaan pajak, surat ketetapan pajak, keberatan, atau banding yang sedang
     berjalan per tanggal laporan keuangan? Apabila ada, agar disampaikan nilainya dan potensi
     dampaknya terhadap laporan keuangan Perseroan.


     Tanggapan:
     Tidak terdapat pemeriksaan pajak, surat ketetapan pajak, keberatan atau banding yang sedang
     berjalan per tanggal laporan keuangan Perseroan.

Page 15
12. Berdasarkan CALK nomor 23 tentang Penjualan Bersih, CALK nomor 24 tentang Beban Pokok
    Penjualan, dan CALK nomor 30 tentang Segmen Operasi, Perseroan membukukan penjualan bersih
    sebesar Rp1,84 triliun atau meningkat 8,96%, dengan produk konsumer tumbuh 26,75% dan produk
    farmasi tumbuh 4,89%. Pembelian dari PT LAPI Laboratories mencapai Rp304,43 miliar atau 18,75%
    dari penjualan bersih, meningkat dari 12,95% pada tahun 2024 dan 18,05% pada tahun 2025. Atas hal
    tersebut, agar dijelaskan:
    a.   Faktor-faktor utama yang mendorong pertumbuhan penjualan produk konsumer sebesar 26,75%
         serta apakah pertumbuhan tersebut bersifat berkelanjutan.


         Tanggapan:
         Pertumbuhan segmen produk konsumer sebesar 26,75% didorong oleh perluasan penetrasi gerai
         retail modern dan penambahan jumlah pemasok sehingga menambah variasi produk Perseroan.


    b.   Latar belakang melambatnya laju pertumbuhan penjualan menjadi 8,96% pada semester I 2026,
         dibandingkan pertumbuhan setahun penuh 2025 sebesar 17,77%.


         Tanggapan:
         Perlambatan laju pertumbuhan menjadi 8,96% di Semester I 2026 dikarenakan pada bulan
         Januari – Juni 2026 terjadi perlambatan ekonomi baik di Indonesia maupun secara global seperti
         kenaikan kurs mata uang.


    c.   Latar belakang menurunnya marjin segmen produk konsumer dari 10,26% menjadi 9,82% di
         tengah pertumbuhan penjualannya, sementara marjin segmen produk farmasi naik dari 10,95%
         menjadi 11,69%.


         Tanggapan:
         Margin produk konsumer sedikit terkontraksi menjadi 9,82% akibat meningkatnya diskon ke
         outlet-outlet tertentu dimana diskon tersebut ditanggung oleh Perseroan serta kenaikan harga
         produk dari pemasok.


    d.   Risiko ketergantungan Perseroan terhadap PT LAPI Laboratories yang porsinya terus meningkat,
         beserta langkah mitigasi yang dilakukan.


         Tanggapan:
         Perseroan memitigasi risiko konsentrasi pembelian ke PT LAPI Laboratories (18,75%) dengan
         cara secara aktif menandatangani nota kesepahaman keagenan distribusi baru dengan pemasok
         farmasi nasional lainnya.


    e.   Agar disampaikan jangka waktu, ketentuan pemutusan, dan status perpanjangan perjanjian
         distribusi dengan prinsipal utama Perseroan.


         Tanggapan:
         Kontrak perjanjian distribusi dengan prinsipal utama memiliki jangka waktu setahun dengan
         status perpanjangan secara otomatis tahunan.

Page 16
    f.   Apakah terdapat perubahan skema atau termin pembayaran kepada prinsipal utama pada semester
         I 2026 yang berdampak pada kebutuhan modal kerja Perseroan.


         Tanggapan:
         Tidak terdapat perubahan skema kontrak dengan prinsipal utama sepanjang semester I 2026.

13. Berdasarkan CALK nomor 25 tentang Beban Penjualan dan CALK nomor 26 tentang Beban Umum
    dan Administrasi, jumlah beban usaha pada semester I 2026 sebesar Rp158,92 miliar atau meningkat
    sebesar Rp19,07 miliar (13,64%), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar
    8,96%. Beban gaji, upah, dan tunjangan secara keseluruhan meningkat sebesar Rp14,32 miliar
    (26,46%) menjadi Rp68,44 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:


    a.   Latar belakang peningkatan beban gaji dan tunjangan sebesar 26,46%, termasuk apakah terdapat
         penyesuaian upah, perubahan struktur remunerasi, atau pembayaran insentif tertentu.

         Tanggapan:
         Peningkatan beban gaji dan tunjangan sebesar 26,46% menjadi Rp68,44 miliar sebagian besar
         disebabkan karena penyesuaian regulasi upah minimum regional (UMR) dan penambahan tim
         sales force divisi produk konsumer.

    b.   Latar belakang perbedaan pengungkapan jumlah karyawan tetap Grup per 31 Desember 2025,
         yang dinyatakan sebanyak 1.481 orang pada CALK nomor 1d Laporan Keuangan Interim dan
         1.218 orang pada Laporan Keuangan Tahunan 2025 yang telah diaudit, sehingga terdapat selisih
         263 orang.

         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian, dimana seharusnya jumlah karyawan tetap Grup per 31
         Desember 2025 adalah sebanyak 1.218 karyawan. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada
         laporan keuangan selanjutnya.

    c.   Latar belakang peningkatan beban pengangkutan dan pengiriman sebesar Rp6,40 miliar (40,82%)
         menjadi Rp22,08 miliar yang melampaui pertumbuhan penjualan, di tengah penurunan beban
         komisi sebesar 9,09%.


         Tanggapan:
         Lonjakan beban pengangkutan sebesar 40,82% menjadi Rp22,08 miliar disebabkan oleh
         perluasan jangkauan rute pengiriman melalui udara demi mengejar kecepatan pengiriman
         produk ke pelanggan dan juga adanya kenaikan biaya kirim oleh transporter.


    d.   Latar belakang penyajian beban imbalan kerja dengan nilai yang identik sebesar Rp1.244.650.710
         pada CALK nomor 25 dan CALK nomor 26, beserta dasar alokasinya.


         Tanggapan:
         Penyajian nilai beban imbalan kerja yang identik Rp1.244.650.710 mencerminkan kebijakan
         manajemen mengalokasikan beban aktuaria pensiun interim secara proporsional berimbang
         50:50 untuk divisi penjualan dan administrasi umum.

Page 17
    e.   Program efisiensi biaya yang telah dan akan dilakukan Perseroan beserta estimasi penghematan
         yang ditargetkan.


         Tanggapan:
         Perseroan sedang menjalankan program efisiensi rute pengiriman logistik        dengan tujuan
         penghematan biaya usaha semakmsimal mungkin pada Semester II 2026.

14. Berdasarkan CALK nomor 28 tentang Laba per Saham, perhitungan laba per saham dasar untuk
    periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 menggunakan jumlah rata-rata tertimbang saham
    sebesar 1.742.405.822 saham sehingga menghasilkan laba per saham sebesar Rp17,84. Sementara itu,
    CALK nomor 20 tentang Modal Saham dan laporan posisi keuangan menyatakan modal ditempatkan
    dan disetor penuh Perseroan tetap sebesar 1.765.625.000 saham pada tanggal 30 Juni 2026 maupun 31
    Desember 2025, dan tidak terdapat pengungkapan mengenai saham tresuri maupun pembelian kembali
    saham. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
    a.   Dasar perhitungan jumlah rata-rata tertimbang saham sebesar 1.742.405.822 saham, yang lebih
         rendah 23.219.178 saham dibandingkan jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh dan setara
         dengan rata-rata tertimbang saham pada tahun 2023 sebagai tahun pencatatan Perseroan.


         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian dalam perhitungan rata-rata tertimbang saham dimana seharusnya
         sebesar 1.765.625.000 saham, sehingga laba per saham yang dapat diatribusikan kepada Pemilik
         Entitas Induk seharusnya sebesar Rp17,61 per lembar saham pada 30 Juni 2026 dan Rp16,41
         per lembar saham pada 31 Desember 2025. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan
         keuangan selanjutnya.


    b.   Apakah Perseroan melakukan pembelian kembali saham atau memiliki saham tresuri selama
         semester I 2026? Apabila ada, agar disampaikan dasar hukum, jumlah, nilai, dan pemenuhan
         kewajiban keterbukaan informasinya, mengingat hal tersebut tidak diungkapkan dalam laporan
         keuangan.


         Tanggapan:
         Perseroan tidak melakukan tindakan korporasi seperti pembelian kembali saham maupun memiliki
         kepemilikan atas saham tresuri selama semester I 2026.


    c.   Apabila tidak terdapat perubahan jumlah saham, agar dijelaskan kesesuaian perhitungan tersebut
         dengan PSAK 56 tentang Laba per Saham beserta rencana Perseroan untuk melakukan koreksi,
         mengingat dengan pembagi 1.765.625.000 saham laba per saham akan berbeda.


         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian dalam perhitungan rata-rata tertimbang saham dimana seharusnya
         sebesar 1.765.625.000 saham, sehingga laba per saham yang dapat diatribusikan kepada Pemilik
         Entitas Induk seharusnya sebesar Rp17,61 per lembar saham pada 30 Juni 2026 dan Rp16,41
         per lembar saham pada 31 Desember 2025. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan
         keuangan selanjutnya.

Page 18
    d.   Dasar penggunaan jumlah rata-rata tertimbang saham sebesar 1.742.405.822 saham pada CALK
         nomor 29 Laporan Keuangan Tahunan 2025 yang telah diaudit, baik untuk tahun 2025 maupun
         tahun 2024, mengingat pembagi sebesar 1.765.625.000 saham akan menghasilkan laba per saham
         yang berbeda.


         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian dalam perhitungan rata-rata tertimbang saham dimana seharusnya
         sebesar 1.765.625.000 saham, sehingga laba per saham yang dapat diatribusikan kepada Pemilik
         Entitas Induk seharusnya sebesar Rp17,61 per lembar saham pada 30 Juni 2026 dan Rp16,41
         per lembar saham pada 31 Desember 2025. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan
         keuangan selanjutnya.


15. Berdasarkan CALK nomor 33 tentang Peristiwa Penting Setelah Periode Pelaporan, Perseroan
    mengungkapkan pengunduran diri Ibu Melisa Patricia sebagai Direktur Perseroan yang berlaku efektif
    sejak tanggal 9 Februari 2026 sebagai peristiwa setelah periode pelaporan. Atas hal tersebut, agar
    dijelaskan:


    a.   Latar belakang penyajian peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Februari 2026 sebagai peristiwa
         setelah periode pelaporan, mengingat tanggal tersebut berada dalam periode pelaporan yang
         berakhir 30 Juni 2026.

         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian dimana peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Februari 2026
         sebagai peristiwa setelah periode pelaporan dikarenakan peristiwa tersebut merupakan kejadian
         yang penting bagi Perseroan, sehingga Perseroan ingin menginformasikan lebih jelas.

    b.   Latar belakang tidak dicantumkannya yang bersangkutan dalam susunan Direksi Perseroan per
         31 Desember 2025 sebagaimana diungkapkan pada CALK nomor 1d.
         Tanggapan:
         Terdapat kesalahan penyajian, dimana seharusnya pada CALK nomor 1d disajikan 30 Juni 2026
         berbanding 31 Desember 2025. Kesalahan tersebut akan diperbaiki pada laporan keaungan
         selanjutnya


    c.   Status pemenuhan komposisi dan jumlah anggota Direksi Perseroan setelah pengunduran diri
         tersebut, beserta rencana penggantiannya.
         Tanggapan:
         Perseroan telah memenuhi komposisi dan jumlah anggota Direksi Perseroan setelah
         pengunduran diri tersebut. Sampai dengan tanggal surat ini dibuat, Perseroan belum membuat
         rencana penggantiannya.


16. Terkait konsistensi penyajian Laporan Keuangan Interim Konsolidasian Perseroan, agar dijelaskan dan
    dilakukan penyesuaian atas penggunaan frasa “Untuk Tahun yang Berakhir” untuk periode enam bulan
    yang berakhir 30 Juni 2026, penulisan “31 Juni 2026” pada CALK nomor 18c dan CALK nomor 32.
    Agar dijelaskan pula penomoran catatan atas laporan keuangan yang melompat dari CALK nomor 28
    tentang Laba per Saham ke CALK nomor 30 tentang Segmen Operasi tanpa CALK nomor 29,
    ketidakselarasan penomoran antara kolom bahasa Indonesia dan bahasa Inggris pada CALK nomor 27
    dan CALK nomor 28, serta rujukan catatan nomor 29 untuk Laba per Saham pada muka Laporan Laba
    Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian padahal catatan dimaksud bernomor 28.

Page 19
    Tanggapan:
    Perseroan menerima baik seluruh koreksi teknis dari Bursa dan memohon maaf atas terjadinya
    kelalaian pada laporan keuangan interim, termasuk penulisan frasa periode sebutan tahun, tanggal
    “31 Juni 2026", penomoran catatan yang melompat, serta salah rujukan angka bab catatan. Kesalahan
    tersebut akan diperbaiki pada laporan keuangan selanjutnya.


17. Sehubungan dengan kondisi keuangan Perseroan per 30 Juni 2026, di mana arus kas dari aktivitas
    operasi bernilai negatif, saldo kas dan bank tinggal sebesar Rp7,52 miliar, dan 95,79% aset Perseroan
    terkonsentrasi pada piutang usaha, persediaan, pajak dibayar di muka, serta piutang lain-lain, agar
    dijelaskan:
    a.   Penilaian manajemen atas kemampuan Perseroan mempertahankan kelangsungan usaha (going
         concern) beserta dasar pertimbangannya.


         Tanggapan:
         Manajemen mampu untuk mempertahankan kelangsungan usaha (going concern) dimana
         Perseroan mampu untuk menghasilan laba periode berjalan Rp30,50 miliar serta berusaha untuk
         mempercepat proses penagihan atas piutang usaha dan mempercepat melakukan penjualan atas
         persediaan Perseroan.


    b.   Strategi Perseroan dalam memperbaiki siklus konversi kas (cash conversion cycle) sebesar 47,93
         hari, khususnya melalui percepatan penagihan piutang dan optimalisasi persediaan.


         Tanggapan:
         Strategi perbaikan siklus konversi kas (cash conversion cycle) dieksekusi melalui pembentukan
         tim penagihan khusus untuk mempercepat penagihan piutang rumah sakit Pemerintah dan
         swasta serta memperbanyak tim penjualan untuk mengoptimalisasi penjualan persediaan.


    c.   Rencana Perseroan untuk memperkuat struktur permodalan, mengingat rasio utang berbunga
         terhadap ekuitas meningkat dari 0,94x menjadi 1,12x.


         Tanggapan:
         Struktur permodalan jangka panjang akan diperkuat secara bertahap melalui kebijakan
         penahanan laba bersih operasional berjalan untuk mempertebal ekuitas serta pembatasan
         penarikan plafon pinjaman baru.

Terkait Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
Berdasarkan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Perdana Saham Perseroan
nomor 02/PV-Corp/VII/23 tanggal 3 Juli 2023 untuk periode yang berakhir 30 Juni 2023, seluruh hasil
bersih Penawaran Umum Perdana Saham sebesar Rp50.289.613.010 telah direalisasikan untuk modal kerja
sehingga tidak terdapat sisa dana, dengan rincian sebagai berikut:
  Rencana Penggunaan Dana        Rencana (Rp)          Realisasi (Rp)       Sisa Dana (Rp)   Porsi Realisasi
Modal kerja (100,0%)                 50.289.613.010        50.289.613.010                -      100,00%
Total                                50.289.613.010        50.289.613.010                -     100,00%

Page 20
18. Atas realisasi penggunaan dana sebagaimana tabel di atas, agar dijelaskan:
    a.   Konfirmasi Perseroan bahwa laporan tanggal 3 Juli 2023 merupakan laporan realisasi penggunaan
         dana yang terakhir disampaikan dan seluruh dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham telah
         habis direalisasikan, sehingga kewajiban pelaporan berkala sebagaimana diatur dalam Peraturan
         Otoritas Jasa Keuangan Nomor 30/POJK.04/2015 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana
         Hasil Penawaran Umum telah terpenuhi.


         Tanggapan:
         Perseroan mengonfirmasi bahwa Laporan Realisasi Penggunaan Dana IPO per tanggal 3 Juli
         2023 merupakan laporan terakhir atas penggunaan dana.


    b.   Pemenuhan kewajiban pertanggungjawaban realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum
         dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan, beserta tanggal pelaksanaannya.


         Tanggapan:
         Pertanggungjawaban laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum tersebut telah
         dipaparkan dan mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham dalam agenda RUPST
         Perseroan.


    c.   Agar disampaikan rincian realisasi penggunaan dana untuk modal                    kerja   sebesar
         Rp50.289.613.010, meliputi jenis penggunaan dan periode realisasinya.


         Tanggapan:
         Rincian penyerapan dana modal kerja hasil IPO sebesar Rp50.289.613.010 sepenuhnya terpakai
         untuk pembelian persediaan dari pemasok.


    d.   Strategi pendanaan modal kerja Perseroan ke depan, mengingat hasil bersih Penawaran Umum
         sebesar Rp50,29 miliar tersebut kini telah jauh terlampaui oleh saldo utang bank sebesar
         Rp420,66 miliar atau setara 8,36 kali, sementara arus kas bersih dari aktivitas operasi Perseroan
         masih bernilai negatif.


         Tanggapan:
         Strategi pendanaan modal kerja ke depan akan menggunakan modal kerja dari penagihan
         piutang usaha, penjualan persediaan secara kas/tunai dan melakukan efisiensi biaya usaha
         Perseroan.


    e.   Apakah Perseroan memiliki rencana penambahan modal melalui penawaran umum terbatas atau
         mekanisme lainnya dalam waktu dekat? Apabila ada, agar disampaikan rencana dan tahapannya.


         Tanggapan:
         Sampai dengan tanggal surat ini dibuat, Perseroan tidak memiliki rencana penambahan modal
         baik melalui penawaran umum terbatas atau mekanisme lainnya dalam waktu dekat.

Page 21
Lain-lain
19. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek Perseroan
    serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.


    Tanggapan:
    Tidak terdapat informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi
    harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik


(Pertanyaan dan permintaan dokumen di bawah ini bersifat proyeksi dan/atau rahasia, sehingga
tanggapan Perseroan agar disampaikan melalui Form E074 – Surat Menyurat Emiten dengan Bursa)
20. Agar disampaikan rincian aging schedule piutang usaha per 30 Juni 2026 untuk piutang yang telah
    lewat jatuh tempo di atas 60 hari, dengan format sebagai berikut:
                                                                                          Realisasi Penerimaan
      No.         Pelanggan          Nilai Piutang (Rp)   Umur Piutang   Status Terkini
                                                                                          setelah 30 Juni 2026
       1.
       2.
      dst.


    Tanggapan:
    Rincian aging schedule piutang usaha per 30 Juni 2026 untuk piutang yang telah lewat jatuh tempo
    di atas 60 hari, terlampir pada Lampiran I sheet Nomor 20.

21. Agar disampaikan rincian piutang klaim kepada pemasok per 30 Juni 2026 sebesar Rp122,63 miliar,
    meliputi nama pemasok, nilai klaim, tanggal pengajuan klaim, umur klaim, status penyelesaian, dan
    realisasi penerimaannya setelah tanggal 30 Juni 2026.

    Tanggapan:
    Rincian piutang klaim kepada pemasok per 30 Juni 2026 sebesar Rp122,63 miliar terlampir pada
    Lampiran I sheet nomor 21.

22. Agar disampaikan rincian seluruh fasilitas perbankan Perseroan per tanggal surat ini, meliputi nama
    bank, jenis fasilitas, pagu, saldo terpakai, sisa pagu, suku bunga, tanggal jatuh tempo, jaminan,
    persyaratan rasio keuangan, dan status perpanjangannya.

    Tanggapan:
    Rincian seluruh fasilitas perbankan Perseroan per tanggal surat ini terlampir pada Lampiran I sheet
    Nomor 22.


23. Agar disampaikan perhitungan pemenuhan seluruh persyaratan rasio keuangan (financial covenant)
    kepada masing-masing bank untuk posisi 31 Desember 2025 dan 30 Juni 2026, beserta angka
    pembilang dan penyebut yang digunakan.

    Tanggapan:
    Perhitungan pemenuhan seluruh persyaratan rasio keuangan (financial covenant) untuk posisi 31
    Desember 2025 dan 30 Juni 2026 terlampir pada Lampiran I sheet Nomor 23.

Page 22
24. Agar disampaikan proyeksi laporan laba rugi dan laporan arus kas Perseroan sampai dengan 31
    Desember 2026, meliputi proyeksi arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan, beserta
    asumsi yang digunakan.

    Tanggapan:
    Proyeksi laporan laba rugi dan laporan arus kas Perseroan sampai dengan 31 Desember 2026
    terlampir pada Lampiran I sheet Nomor 24.


25. Agar disampaikan target dan proyeksi keuangan Perseroan untuk tahun 2026 dan 2027, meliputi:
    a.   Target penjualan bersih, laba bruto, EBITDA, laba bersih, total aset, dan total ekuitas beserta
         asumsi yang digunakan.


         Tanggapan:
         Target penjualan bersih, laba bruto, EBITDA, laba bersih, total aset, dan total ekuitas terlampir
         pada Lampiran I sheet nomor 25a.


    b.   Target days sales outstanding, days sales in inventory, days payable outstanding, dan cash
         conversion cycle.


         Tanggapan:
         Target days sales outstanding, days sales in inventory, days payable outstanding, dan cash
         conversion cycle terlampir pada lampiran I sheet nomor 25b.


    c.   Target pencapaian arus kas dari aktivitas operasi yang positif beserta target waktunya (timeline).


         Tanggapan:
         Target pencapaian arus kas dari aktivitas operasi yang positif beserta target waktunya (timeline)
         terlampir pada Lampiran I sheet nomor 25c.


    d.   Indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang digunakan Perseroan untuk
         memantau perbaikan likuiditas dan kualitas piutang.


         Tanggapan:
         Indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang digunakan Perseroan untuk
         memantau perbaikan likuiditas dan kualitas piutang terlampir pada Lampiran I sheet nomor 25d.

26. Agar disampaikan rencana kerja dan proyeksi keuangan atas ketiga entitas anak Perseroan untuk tahun
    2026 dan 2027, beserta kebutuhan pendanaannya.

    Tanggapan:
    Rencana kerja dan proyeksi keuangan atas ketiga entitas anak Perseroan untuk tahun 2026 dan 2027
    terlampir pada Lampiran I sheet nomor 26.

Page 23
Permintaan Dokumen
27. Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) dengan PT Bank Permata Tbk
    sebagaimana Akta Notaris Indra Wiguna, S.H., M.Kn. No. 1 tanggal 5 Maret 2026.


    Tanggapan:
    Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan (Ketentuan Khusus) dengan PT Bank Permata Tbk
    sebagaimana Akta Notaris Indra Wiguna, S.H., M.Kn. No. 1 tanggal 5 Maret 2026 terlampir pada
    lampiran II.

28. Bukti pengajuan dan/atau surat ketetapan atas permohonan restitusi Pajak Pertambahan Nilai lebih
    bayar serta klaim pajak penghasilan tahun pajak 2024 dan 2025.

    Tanggapan:
    Belum terdapat bukti pengajuan dan/atau surat ketetapan atas permohonan restitusi Pajak
    Pertambahan Nilai lebih bayar. Dan terkait klaim pajak penghasilan tahun pajak 2024 sedang dalam
    pemeriksaan, sedangkan untuk tahun 2025, Perseroan belum menerima surat permintaan
    pemeriksaan.


Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.


Hormat Kami,
PT Penta Valent Tbk




Franxiscus Afat Adinata Nursalim
Direktur


File

File Open PDF
Source IDX
Size0.73 MB
Published4 Sep 2026
Pages23
Characters58,549
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 21 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Penta Valent Tbk p.1 ×5
linked org Bank CTBC p.10 ×5
linked org Bank Permata Tbk p.10 ×16
linked org Bank DBS Indonesia p.10 ×6
linked org PT Tancorp Mega Buana p.13 ×3
linked org Tancorp Global p.13 ×2
linked person Melisa Patricia · Direktur p.18
possible org PT Bursa Efek Indonesia p.1 ×3
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.13 ×2
unresolved org PT Mega Depo Gemilang p.2 ×4
unresolved org PT Natural Organik Bahagia p.2 ×4
unresolved org PT Probylab Sehat Indonesia p.2 ×3
unresolved org PT Probylab Sehat Indonesia Rp p.3
unresolved org PT Bank CTBC Indonesia Rp p.10
unresolved org PT Bank DBS Indonesia Rp p.10
unresolved person Akta Notaris Indra Wiguna p.10 ×3
unresolved org PT Bank CTBC Indonesia p.11 ×4
unresolved org PT Sekawan Kosmetika Wasantara p.13 ×3
unresolved org PT Tancorp Global Sentosa p.13 ×2
unresolved org PT LAPI Laboratories p.15 ×3
unresolved person Franxiscus Afat Adinata Nursalim · Direktur p.23 ×2

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result