Back to announcement
FINAL_Penjelasan Laporan Keuangan_30 Sept 2024.pdf
Financial statement Text extracted BTPNSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 3
Page 1
Penjelasan atas Laporan Keuangan PT BANK BTPN Tbk Posisi 30 September 2024 Total Aset Bank secara konsolidasi pada tanggal 30 September 2024 tercatat sebesar Rp 228,58 trilyun, naik sebesar Rp 27,13 trilyun atau naik 13,47% dibandingkan dengan posisi pada tanggal 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 201,45 trilyun. Demikian juga dengan Total Liabilitas (termasuk dana syirkah temporer) tercatat sebesar Rp 174,88 trilyun pada 30 September 2024, naik sebesar Rp 14,71 trilyun atau naik 9,18% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 160,17 trilyun. Laporan keuangan konsolidasi Bank posisi September 2024 telah memperhitungkan kinerja keuangan PT Oto Multiartha dan PT Summit Oto Finance yang telah Bank akuisisi pada akhir Maret 2024. Kedua perusahaan pembiayaan tersebut merupakan bagian dari OTO Group yang mayoritas sahamnya kini dimiliki oleh Bank. Adapun perubahan penting pada pos-pos neraca selama periode tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kas Kas pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,13 trilyun mengalami penurunan sebesar Rp 294,34 milyar atau sebesar Rp 21% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 1,43 trilyun. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan kas Rupiah. 2. Giro pada bank-bank lain Giro pada bank-bank lain pada 30 September 2024 sebesar Rp 1.66 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 702,16 milyar atau sebesar 73% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 962,23 milyar. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan giro pada bank-bank lain sebagai dampak dari akuisisi Entitas Anak. 3. Penempatan pada Bank Indonesia dan bank-bank lain Penempatan pada Bank Indonesia dan bank-bank lain pada 30 September 2024 sebesar Rp 4,69 trilyun mengalami penurunan sebesar Rp 4,27 trilyun atau sebesar 48% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 8,96 trilyun. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya pembiayaan antar bank jangka pendek, sehingga Bank mengurangi dana yang ditempatkan pada Bank Indonesia.
Page 2
4. Efek-efek Efek-efek pada 30 September 2024 sebesar Rp 29,32 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 12,06 trilyun atau sebesar 70% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 17,26 trilyun. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh adanya kenaikan penempatan pada produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dalam laporan keuangan masuk dalam kelompok Obligasi Pemerintah. 5. Tagihan derivatif Tagihan derivatif pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,41 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 276 milyar atau sebesar 24% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 1,13 trilyun. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan tagihan derivatif sebagai dampak dari akuisisi Entitas Anak. 6. Piutang pembiayaan Piutang pembiayaan pada 30 September 2024 sebesar Rp 27,39 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 27,39 trilyun atau sebesar 100% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023. Kenaikan ini disebabkan oleh adanya akuisisi Entitas Anak yang memiliki piutang pembiayaan, sehingga akun ini merupakan akun baru bagi Bank di tahun 2024. 7. Klaim pengembalian pajak Klaim pengembalian pajak pada 30 September 2024 sebesar Rp 221,09 milyar mengalami kenaikan sebesar Rp 153,75 milyar atau sebesar 228% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 67,34 milyar. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh adanya kelebihan pembayaran Angsuran PPh Pasal 25 yang dilakukan oleh Bank dan konsolidasi pembayaran pajak yang sedang dalam proses sengketa oleh Anak Perusahaan. 8. Aset takberwujud dan goodwill Aset takberwujud dan goodwill pada 30 September 2024 sebesar Rp 3,02 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 1,93 trilyun atau sebesar 177% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 1,09 trilyun. Kenaikan ini disebabkan oleh penambahan aset takberwujud dan goodwill dari akuisisi Entitas Anak. 9. Aset lain-lain Aset lain-lain pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,16 trilyun mengalami kenaikan sebesar Rp 266,08 milyar atau sebesar 30% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 891,39 milyar. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan uang muka dan agunan yang diambil alih sebagai dampak dari akuisisi Entitas Anak.
Page 3
10. Simpanan dari bank-bank lain
Simpanan dari bank-bank lain pada 30 September 2024 sebesar Rp 797,62 milyar mengalami penurunan
sebesar Rp 10,02 trilyun atau sebesar 93% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 10,82 trilyun. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya pinjaman mata uang asing
jangka pendek yang digantikan dengan pinjaman jangka panjang untuk menjaga rasio Bank dan adanya
peningkatan dana pihak ketiga baik Rupiah maupun Valas.
11. Liabilitas derivatif
Liabilitas derivatif pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,81 trilyun mengalami kenaikan sebesar
Rp 739,86 milyar atau sebesar 69% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 1,07 trilyun. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan liabilitas derivatif sebagai
dampak dari akuisisi Entitas Anak.
12. Liabilitas akseptasi
Liabilitas akseptasi pada 30 September 2024 sebesar Rp 3,08 trilyun mengalami kenaikan sebesar
Rp 757,54 milyar atau sebesar 33% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 2,32 trilyun. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh adanya peningkatan pada transaksi akseptasi Bank.
13. Utang pajak
Utang pajak pada 30 September 2024 sebesar Rp 326,05 milyar mengalami kenaikan sebesar Rp 88,13
milyar atau sebesar 37% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 237,92 milyar.
Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan utang pajak Entitas Anak yang dikonsolidasikan
sebagai dampak dari akuisi Entitas Anak di tahun 2024.
14. Utang obligasi
Utang obligasi pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,77 trilyun mengalami kenaikan sebesar
Rp 1,57 trilyun atau sebesar 775% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 202,08 milyar. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan utang obligasi sebagai
dampak dari akuisisi Entitas Anak dan penerbitan obligasi Berkelanjutan V Bank SMBCI Tahap I Tahun 2024
sebesar Rp 355 milyar di bulan Juli 2024.
15. Pinjaman yang diterima
Pinjaman yang diterima pada 30 September 2024 sebesar Rp 47,45 trilyun mengalami kenaikan sebesar
Rp 16,09 trilyun atau sebesar 51% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 31,36 trilyun. Kenaikan pinjaman yang diterima dilakukan untuk mendukung pertumbuhan kredit dan
juga meningkatkan rasio likuiditas Bank serta kenaikan pinjaman yang diterima dampak dari akuisisi Entitas
Anak.
16. Liabilitas imbalan kerja karyawan
Liabilitas imbalan kerja karyawan pada 30 September 2024 sebesar Rp 1,01 trilyun mengalami kenaikan
sebesar Rp 329,67 milyar atau sebesar 48% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 yaitu sebesar
Rp 681,29 milyar. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan liabilitas imbalan kerja
karyawan sebagai dampak dari akuisisi Entitas Anak.
Names mentioned 5 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Bank Indonesia
p.1 ×4
unresolved
org
Bank SMBCI Tahap I Tahun
p.3
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.