Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 5
Page 1
Laporan Pelaksanaan Paparan Publik (Public Expose) Tahun 2026
PT Harum Energy Tbk
Pelaksanaan
Kegiatan Paparan Publik (Public Expose) PT Harum Energy Tbk (“Perseroan”) Tahun 2026 (“Public Expose”)
telah diselenggarakan pada:
Hari, tanggal : Rabu, 3 Juni 2026
Waktu : 13.30 – 14.30 WIB
Tempat : Live Event Zoom
Deutsche Bank Building, Lantai 9
Jln. Imam Bonjol No. 80, Jakarta Pusat
Peserta
Kegiatan Public Expose dihadiri oleh:
• Perseroan:
- Direktur Utama : Ray Antonio Gunara
- Direktur : Hariyadi
- Investor Relation : Regina Korompis
- Sekretaris Perusahaan (Moderator) : Renny Soependi
• Analis/Investor/Media:
- Analis, Investor, dan Masyarakat : 6 orang
- Media : 8 orang
Total : 14 orang
Acara
Urutan acara Public Expose adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Presentasi
3. Tanya jawab dan penutupan
Pembukaan dan Presentasi
Pembukaan Public Expose disampaikan oleh Ibu Renny Soependi selaku moderator, kemudian Public Expose
dilanjutkan dengan presentasi oleh Bapak Ray Gunara, Bapak Hariyadi dan Ibu Regina Korompis yang
memaparkan kinerja Perseroan selama tahun 2025 dan periode 3 (tiga) bulan pertama tahun 2026 yang
mencakup pemaparan mengenai hal-hal berikut ini:
(i) Sekilas Perseroan, meliputi lokasi kegiatan operasi dan aset Perseroan dan jejak langkah ekspansi
Perseroan ke industri nikel;
1
Page 2
(ii) Kegiatan usaha Perseroan, meliputi kinerja penjualan batu bara dan produk nikel, pasar penjualan batu
bara dan nikel, profitabilitas, laporan keuangan konsolidasian, rencana produksi Perseroan untuk batu
bara dan produk nikel tahun 2026, rencana investasi tahun 2026, dan strategi usaha; dan
(iii) Pelaksanaan kegiatan dan program tanggung jawab sosial Perseroan.
Setelah disampaikannya presentasi tersebut, acara Public Expose dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Perseroan memberikan kesempatan bertanya kepada peserta Public Expose dimana terdapat beberapa
pertanyaan dari peserta Public Expose yang telah ditanggapi dalam waktu yang tersedia, sebagai berikut:
1. Pertanyaan dari Daniel (Analis)
a. Manajemen melaporkan slide 11 dan 13 bahwa laba konsolidasi +272% YoY, namun laba ke pemilik
induk hanya USD8,9 juta. Seiring matangnya bisnis nikel, bagaimana roadmap Perseroan dalam
meningkatkan flow-through laba kepada pemegang saham induk?
b. Manajemen melaporkan slide 12 bahwa utang kepada nonpengendali entitas anak naik +218%
menjadi USD629 juta. Apa terms dan kondisi utang ke nonpengendali ini, apakah berbasis bunga
pasar, dan bagaimana rencana pelunasannya?
c. Manajemen melaporkan slide 8 bahwa Indonesia mendominasi >65% pasokan nikel global, kuota
RKAB disetujui 190–200 juta ton. Bagaimana Perseroan memposisikan diri jika regulasi kuota RKAB
diperketat lebih lanjut dan apakah ada buffer cadangan bijih yang cukup dari POS untuk
mengamankan suplai ke smelter?
d. Manajemen melaporkan slide 4 bahwa kepemilikan efektif HRUM di BSE melewati 4 lapisan entitas.
Apakah ada pertimbangan untuk menyederhanakan struktur kepemilikan di entitas nikel guna
meningkatkan transparansi dan efisiensi alokasi modal?
e. Manajemen melaporkan slide 16 bahwa USD302 juta dari total capex USD310 juta dialokasikan ke
nikel. Jika harga nikel LME kembali turun ke level USD15.000/ton, threshold harga berapa yang akan
memicu review atau pengurangan capex?
Jawaban:
a. Hasil kinerja keuangan Perseroan kuartal 1 tahun 2026 dipengaruhi oleh produksi unit bisnis
batubara Perseroan yang rendah sehingga mempengaruhi jumlah laba ke pemegang saham induk
secara keseluruhan. Penyebab rendahnya produksi batubara pada kuartal 1 tahun 2026 karena
adanya penundaan perizinan, tetapi untuk saat ini perizinan sudah diperoleh dan produksi batubara
sudah dimulai kembali dan berjalan normal. Perseroan mengharapkan kontribusi batubara di kuartal
selanjutnya akan jauh lebih baik sehingga flow-through laba kepada pemegang saham induk akan
lebih mencerminkan porsi yang sebenarnya.
b. Kenaikan utang ke non-pengendali ini berkaitan dengan investasi di BSE atau proyek HPAL yang
sedang dalam proses penyelesaian proyek pada tahun 2025. Porsi utang kepada pihak non-
pengendali ini sudah proporsional sesuai dengan kepemilikan masing-masing pemengang saham.
Utang kepada pihak non-pengendali ini dikenakan bunga dan pengenaan bunga tersebut sudah
tercatat dalam Laporan Keuangan. Berdasarkan pandangan Perseroan, bunga yang diberlakukan
bersifat wajar sesuai dengan bunga yang berlaku di pasar saat ini. Namun dari segi statusnya, utang
di bank memang didahulukan dibandingkan ke pemegang saham karena sifatnya subordinasi.
2
Page 3
c. Pasokan cadangan bijih nikel dari POS untuk saat ini belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan
smelter-smelter Perseroan, namun pada tahun ini Perseroan mengharapkan dapat memenuhi lebih
dari 50% kebutuhan konsumsi bijih nikel pada smelter-smelter internal. Hal ini merupakan kenaikan
yang signifikan dari tahun lalu yang hanya sekitar 10% dari kebutuhan bijih nikel yang dapat dipasok
secara terintegrasi. Kedepannya Perseroan akan lebih meningkatkan pasokan bijih nikel dari POS
sehingga dapat lebih mengoptimalkan integrasi vertikal dari seluruh unit usaha nikel Perseroan.
Tentunya hal ini akan tergantung dari besaran RKAB POS yang disetujui, namun demikian posisi
Perseroan sebagai perusahaan nikel yang terintegrasi, dimana semua bijih nikel yang dihasilkan
sepenuhnya digunakan secara internal untuk konsumsi smelter-smelter, jadi Perseroan
mengharapkan hal tersebut dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyetujui besaran
RKAB.
d. Saat ini, Perseroan belum memandang perlu melakukan penyederhanaan struktur kepemilikan,
karena struktur tersebut dibentuk untuk mengoptimalkan pembiayaan dari perbankan dan
pemegang saham. Pada saat ini secara komersial, struktur tersebut meskipun melewati beberapa
entitas tidak memberatkan dan dalam hal ini, profitabilitas dari pihak BSE dapat tetap flowthrough
ke Perseroan secara cukup efisien.
e. Untuk tahun 2026 ini, Perseroan sudah tidak mencadangkan capex dalam jumlah yang signifikan jadi
perubahan harga di pasar tidak akan lagi mempengaruhi biaya capex karena biaya-biaya capex yang
signifikan sudah dibelanjakan di tahun 2026 dan kedepannya Perseroan belum lagi memiliki rencana
investasi yang signifikan.
2. Pertanyaan dari Tri (Petromindo)
Apakah Perseroan berencana/sudah mengajukan revisi RKAB 2026 untuk volume batubara dan bijih nikel?
Berapa usulan revisi volume batubara dan bijih nikel?
Jawaban:
Terkait dengan revisi RKAB batubara tahun 2026 baru dapat dilakukan di triwulan ke-2 jadi sekitar bulan
Juli, jadi Perseroan harus terlebih dulu menyampaikan laporan triwulan 1 dan 2, setelah itu baru dapat
menyampaikan revisi RKAB tahun 2026. Kami harus memonitor ketentuan dari Minerba seperti apa dan
alokasinya berapa. Demikian juga halnya, untuk proses revisi RKAB komoditas bijih nikel, kurang lebih
alurnya sama.
3. Pertanyaan dari Annisa Saumi (Bisnis Indonesia)
a. Dengan pelemahan rupiah saat ini, apakah hal ini akan membawa dampak terhadap keuntungan
selisih kurs bagi perseroan? Apakah akan mempengaruhi top line maupun bottom line HRUM?
b. Terkait hasil RUPS hari ini, apakah perseroan membagikan dividen ke pemegang saham? jika iya,
berapa besaran dividen ini? kapan akan dibagikan?
Jawaban:
a. Perseroan bergerak di bidang komoditas (batubara dan nikel) dimana harga jualnya mengacu pada
harga yang berlaku di pasar global yang menggunakan mata uang asing. Hal ini menyebabkan
pendapatan Perseroan sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas tersebut di pasar
3
Page 4
dunia, namun dari segi biaya, lebih dari 50%, biaya-biaya dinyatakan dalam mata uang Rupiah,
sehingga apabila mata uang Rupiah mengalami depresiasi secara garis besar memang bisa membawa
manfaat lebih untuk Perseroan karena sebagian besar pendapatan Perseroan terkait dengan mata
uang asing. Namun demikian, itu bukan satu-satunya penentu naik atau turunnya struktur biaya
Perseroan karena banyak faktor-faktor lain yang juga akan mempengaruhi struktur dan biaya
produksi Perseroan.
b. Untuk RUPST hari ini, Rapat memutuskan untuk tidak membagikan dividen dari tahun buku 2025.
4. Pertanyaan dari Kevin Siahaan (Investor)
a. Produksi Batubara HRUM turun drastis. Apakah HRUM sudah mendapat RKAB Batubara 2026?
Berapa alokasi yang didapatkan untuk batubara?
b. Terkait pemberitaan mengenai dinamika sosial dan proses hukum di sekitar PT Position, dapatkah
manajemen memberikan update resmi mengenai status operasional PT Position pada 2026? Apakah
ada penghentian atau pembatasan operasional, dan bagaimana perusahaan mengelola risiko
sosial/legal di lapangan? Berapa kuantiti RKAB 2026 yang didapatkan PT Position (POS)?
c. Untuk BSE HPAL dengan kapasitas sekitar 67.000 ton nikel in MHP, bagaimana progress ramp-up
sampai pertengahan 2026? Terkait kenaikan harga sulfur. Bagaimana ini nanti dampaknya, apakah
bisa HRUM Bisa menaikan harga pass through ke pelanggan? apakah akan ada tekanan ke margin
keuntungan HRUM pada HPAL?
d. Dalam Sustainability Report 2025, tingkat turnover karyawan tercatat cukup tinggi, yaitu 81,9%. Apa
faktor utama yang menyebabkan angka tersebut karena banyaknya pegawai yang berhenti di
Kalimantan dan penambahan pegawai baru di bisnis nikel?
e. Untuk BSE HPAL dengan kapasitas sekitar 67.000 ton nikel in MHP, bagaimana progress ramp-up
sampai pertengahan 2026? Terkait kenaikan harga sulfur. Bagaimana ini nanti dampaknya, apakah
bisa HRUM Bisa menaikan harga pass through pelanggan? apakah akan ada tekanan ke margin
keuntungan HRUM pada HPAL?
Jawaban:
a. Penurunan produksi batubara Perseroan hanya terjadi di Q1 2026 karena adanya penundaan
perolehan perizinan, yang mana izin tersebut sudah diperoleh pada akhir Maret 2026 sehingga
produksi sudah berjalan normal kembali. Sedangkan untuk RKAB batubara 2026, angka yang
diperoleh adalah 3 juta ton, lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 5 juta ton.
b. Perseroan menyampaikan bahwa proses hukum POS tersebut memang belum selesai sepenuhnya,
namun demikian dengan perkembangan yang ada, proses hukum tersebut sama sekali tidak
mengganggu operasional POS sehingga kegiatan operasional dapat berjalan tanpa hambatan.
c. - BSE mulai persiapan produksi (commissioning) sejak akhir tahun 2025 namun penjualan
komersial baru dimulai pada akhir Maret 2026. Dapat dilihat pada Laporan Keuangan Q1
2026, total penjualan adalah sebesar 4.091 ton dalam bentuk MHP. Dari segi utilitasi kapasitas
BSE sudah mendekati 100% sehingga kami harapkan produksi MHP di BSE dapat mencapai
kurang lebih 45.000 – 50.000 ton sampai dengan akhir tahun 2026 ini.
4
Page 5
- Terkait kenaikan harga sulfur, hal ini sangat memengaruhi struktur biaya dari produksi BSE,
namun kenaikan biaya produksi tersebut akan naik secara bertahap karena sebelum kenaikan
harga sulfur di awal tahun ini, BSE sudah memiliki inventori sulfur yang masih menggunakan
harga lama (sebelum kenaikan harga sulfur).
- Harga pass through ke pelanggan dapat naik tapi hanya pada tingkat tertentu, pada dasarnya
yang akan mempengaruhi berapa besar biaya yang dapat di pass through ke pelanggan adalah
permintaan (demand) dan penawaran (supply) produk itu sendiri.
d. Menurut pandangan kami, tingkat turnover ini dikarenakan formula perhitungan, yaitu terdapat
kenaikan jumlah pegawai yang cukup signifikan di tahun 2025 di Perseroan secara group konsilidasi
karena dimulainya proyek-proyek baru, terutama di BSE. Namun demikian kami akan evaluasi dan
mengoordinasikan dengan pihak HRD untuk memastikan tingkat turnover tersebut.
5. Pertanyaan dari Raccon (Investor)
Apakah HRUM terkena kebijakan PT DSI (Danantara Sumber Daya Indonesia)? Ada rumor tambang
mineral akan dikenakan skema gross split, apakah ada informasi?
Jawaban:
- Sampai dengan saat ini Perseroan belum menerima informasi secara rinci mengenai kebijakan PT DSI
ini. Namun secara garis besar dari unit usaha batubara Perseroan, yang mana ekspor merupakan
80% dari total penjualan batubara Perseroan, jadi kami mengantisipasi untuk porsi ekspor Perseroan
akan terdampak pada kebijakan PT DSI. Namun untuk menilai dampak tersebut positif atau negatif,
kami masih menuggu informasi lebih lanjut dari kebijakan tersebut secara keseluruhan.
- Untuk produk bijih nikel sepenuhnya dijual ke internal smelter Perseroan dan ekspor tidak
diperbolehkan untuk bijin nikel. Sedangkan untuk produk nikel sendiri, sekitar 60% juga diekspor,
namun sampai dengan saat ini Perseroan belum dapat menilai apakah produk-produk nikel
Perseroan akan terdampak oleh kebijakan PT DSI atau tidak, karena Perseroan masih menunggu
klarifikasi lebih lanjut tentang produk ferronickel yang dimaksud, apakah juga termasuk didalamnya
produk-produk nikel yaitu MHP, NPI, dan nickel mate.
- Saat ini, Perseroan belum mengetahui lebih lanjut mengenai kebijakan skema gross split tersebut,
jadi Perseroan belum dapat memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.
******HE******
5
Names mentioned 9 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
—
Moderator
· Sekretaris Perusahaan
p.1
unresolved
person
Renny Soependi
p.1
unresolved
person
Ray Gunara
p.1
unresolved
person
Hariyadi
p.1
unresolved
person
Regina Korompis
p.1
unresolved
org
PT DSI
p.5 ×3
unresolved
org
PT DSI. Namun
p.5
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.