Back to announcement
20260908_UNTD_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32146364_lamp1.pdf
Other Text extracted UNTDSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 9
Page 1
Tanggal : 8 September 2026
Nomor : 03/FA-TDI/IDX/IX/2026
Hal :Tanggapan atas surat S-11288/BEI.PP2/09-2026
Dengan hormat,
Menanggapi Surat nomor S-11288/BEI.PP2/09-2026 yakni terkait laporan Keuangan Perseroan
periode 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025, berikut kami sampaikan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan yang disampaikan
1. Apa faktor utama yang menyebabkan Harga Pokok Penjualan (HPP) naik 68,8%
sementara penjualan hanya naik 20,9%, sehingga terjadi rugi bruto? Agar dijelaskan
kontribusi:
a. kenaikan harga bahan/impor
b. perubahan harga jual
c. perubahan bauran produk
Jawaban:
Kenaikan HPP yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan penjualan terutama
disebabkan oleh kenaikan biaya perolehan barang serta harga jual beberapa produk
mengalami penyesuaian. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan yang signifikan
terhadap margin bruto dan pada akhirnya mengakibatkan rugi bruto.
Faktor-faktor yang berkontribusi adalah sebagai berikut:
a. Kenaikan harga bahan/barang impor dan biaya terkait impor
HPP mengalami peningkatan terutama akibat kenaikan harga perolehan barang
impor dan biaya-biaya yang terkait dengan proses impor. Pelemahan nilai tukar
Rupiah terhadap mata uang asing meningkatkan biaya perolehan barang dalam
Rupiah. Selain itu, kenaikan biaya logistik, freight, dan biaya impor lainnya turut
meningkatkan landed cost barang.
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk dampak konflik Iran, turut
memberikan tekanan terhadap biaya transportasi, logistik, perdagangan
internasional, serta volatilitas nilai tukar. Peningkatan biaya tersebut menyebabkan
harga pokok per unit barang yang dijual meningkat secara signifikan.
b. Penurunan harga jual
Beberapa produk Perusahaan juga mengalami penurunan harga jual pada periode
berjalan. Penurunan harga jual tersebut dipengaruhi oleh kondisi persaingan pasar
dan strategi Perusahaan untuk mempertahankan atau meningkatkan volume
penjualan.
Page 1 of 9
Page 2
c. Perubahan bauran produk
Selain faktor harga, terdapat perubahan bauran produk yang dijual, dengan adanya
peningkatan penjualan motor dan sepeda listrik. Perubahan komposisi penjualan
tersebut turut memengaruhi margin bruto secara keseluruhan karena masing-masing
produk memiliki struktur biaya dan tingkat margin yang berbeda.
2. Terkait dengan persentase laba kotor, agar dapat dijelaskan:
a. Latar belakang margin di semua segmen turun serentak termasuk sepeda listrik dari 37,5%
ke 2,5%? Agar dapat dijelaskan oleh Perseroan
b. Apakah rugi bruto ini bersifat sementara atau mencerminkan struktur biaya
baru yang berkelanjutan? Agar dijelaskan
Jawaban:
a. Latar belakang penurunan margin pada seluruh segmen
Penurunan margin kotor pada seluruh segmen, terutama disebabkan oleh peningkatan
biaya perolehan barang yang tidak sepenuhnya dapat diteruskan kepada pelanggan
melalui harga jual.
Kenaikan biaya tersebut terutama dipengaruhi oleh:
1. Perubahan nilai tukar, khususnya terhadap mata uang yang digunakan dalam
transaksi pembelian/impor, yang menyebabkan nilai biaya perolehan barang dalam
Rupiah meningkat;
2. Kenaikan biaya impor dan biaya logistik, termasuk freight dan biaya terkait
lainnya, yang meningkatkan landed cost produk;
3. Dampak kondisi geopolitik dan konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk
konflik Iran, yang menimbulkan tekanan terhadap biaya transportasi dan logistik
internasional serta volatilitas nilai tukar; dan
4. Penurunan/penyesuaian harga jual pada periode berjalan, sehingga peningkatan
biaya perolehan tidak dapat sepenuhnya dikompensasikan melalui harga jual.
Dampak tersebut terjadi pada berbagai segmen karena sebagian besar produk memiliki
komponen biaya yang berasal dari pembelian/impor, sehingga peningkatan biaya
perolehan memberikan tekanan terhadap margin secara luas.
Khusus untuk segmen sepeda listrik, penurunan margin dari 37,5% menjadi 2,5%
terutama mencerminkan tingginya sensitivitas margin segmen tersebut terhadap
kenaikan biaya perolehan dan biaya impor. Dengan margin awal yang relatif tinggi,
kenaikan landed cost yang signifikan, ditambah dengan penyesuaian harga jual dan
perubahan bauran produk, menyebabkan sebagian besar margin tersebut tergerus pada
periode berjalan.
Dengan demikian, penurunan margin pada seluruh segmen bukan semata-mata
disebabkan oleh penurunan volume penjualan, melainkan terutama merupakan
Page 2 of 9
Page 3
dampak kenaikan cost per unit yang terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap selling
price.
b. Apakah rugi bruto bersifat sementara atau mencerminkan struktur biaya baru yang
berkelanjutan?
Rugi bruto yang terjadi pada periode berjalan dipandang oleh Perseroan sebagai kondisi
yang bersifat sementara dan bukan merupakan perubahan permanen terhadap struktur
biaya Perseroan.
Rugi bruto terutama terjadi akibat peningkatan biaya perolehan dan biaya impor yang
bersifat tidak normal/temporer, termasuk dampak volatilitas nilai tukar, peningkatan
biaya logistik dan freight, serta kondisi geopolitik global. Faktor-faktor tersebut
memberikan tekanan yang signifikan terhadap landed cost produk dalam periode
berjalan.
Perseroan memperkirakan bahwa tekanan terhadap margin tersebut akan berkurang
seiring dengan normalisasi kondisi perdagangan dan biaya logistik/impor, stabilisasi
nilai tukar, serta dilakukannya penyesuaian strategi harga dan pengelolaan biaya.
Selain itu, Perseroan akan melakukan langkah-langkah untuk memulihkan margin,
antara lain melalui evaluasi harga jual, negosiasi harga dengan pemasok, optimalisasi
sumber pengadaan, efisiensi biaya logistik dan impor, serta pengelolaan bauran produk.
Dengan demikian, Perseroan tidak memperkirakan tingkat rugi bruto pada periode
berjalan akan menjadi kondisi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Namun
demikian, pemulihan margin akan bergantung pada perkembangan nilai tukar, biaya
impor/logistik, kondisi pasar, serta kemampuan Perseroan dalam melakukan
penyesuaian harga jual dan biaya perolehan.
3. Penjualan ke PT Bintang Mas Lestari melonjak dari Rp 4,5 miliar (H1-2025) menjadi
Rp132,6 miliar (61,2% penjualan). Agar dapat dijelaskan latar belakang peningkatan
tersebut.
Jawaban:
Peningkatan penjualan kepada PT Bintang Mas Lestari terutama disebabkan oleh
perubahan jaringan distribusi Perseroan dimana sebagian besar transaksi penjualan
Perseroan yang sebelumnya dilakukan melalui PT Sepeda Bersama Indonesia pada periode
sebelumnya dialihkan kepada PT Bintang Mas Lestari pada periode berjalan.
Oleh karena itu, peningkatan penjualan kepada PT Bintang Mas Lestari tidak semata-mata
mencerminkan peningkatan permintaan dari satu pelanggan, namun terutama merupakan
dampak dari perubahan jaringan distribusi Perseroan.
4. Sehubungan dengan berakhirnya status pihak berelasi SBI (15 April 2026) serta lisensi merek
United Bike/Avand dan perjanjian distributor (12 April 2026), agar dapat dijelaskan:
Page 3 of 9
Page 4
a. Bagaimana kelanjutan hak atas merek dan saluran distribusi Perusahaan pasca-April 2026?
b. Dampak dari status berakhirnya pihak SBI tersebut terhadap Operasional dan keuangan
Perseroan
Jawaban:
a. Kelanjutan hak atas merek dan saluran distribusi Perusahaan pasca-April 2026
Sehubungan dengan berakhirnya hubungan dengan SBI pada April 2026, Perseroan
melakukan pengakhiran perjanjian distributor SBI serta mengakhiri
penggunaan/pemberian hak terkait merek United Bike/Avand berdasarkan perjanjian
yang berlaku.
Pasca berakhirnya perjanjian tersebut, hak atas merek dan pengelolaan saluran
distribusi produk Perseroan tidak lagi dilakukan melalui SBI. Perseroan selanjutnya
melakukan pengalihan dan penataan kembali jaringan distribusi melalui PT Bintang
Mas Lestari.
b. Dampak berakhirnya status SBI sebagai pihak berelasi terhadap operasional dan
keuangan Perseroan
Berakhirnya status SBI sebagai pihak sepengendali dan berakhirnya perjanjian
distributor pada April 2026 menyebabkan adanya perubahan dalam jaringan distribusi
Perseroan. Dari sisi operasional, Perseroan melakukan transisi distribusi dari SBI
kepada PT Bintang Mas Lestari (BML) untuk produk Perseroan.
Perubahan tersebut menyebabkan sebagian transaksi penjualan yang sebelumnya
dilakukan melalui SBI beralih kepada BML. Hal ini sejalan dengan peningkatan
penjualan kepada BML pada periode berjalan.
Dengan demikian, berakhirnya status SBI sebagai pihak berelasi tidak menyebabkan
terhentinya kegiatan usaha Perseroan, melainkan merupakan bagian dari proses
perubahan dan penataan kembali jaringan distribusi Perseroan
5. Pada Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 1, disebutkan bahwa Perseroan
sebagai pemilik HAKI merek, sedangkan Catatan 29 menyebut Perusahaan menerima
lisensi merek dari SBI. Mohon klarifikasi status kepemilikan/hak atas merek United
Bike, Avand, dan United E- Motor.
Jawaban:
Perseroan menyampaikan bahwa Perseroan merupakan pemilik hak atas merek United
Bike, Avand, dan United E-Motor.
Sehubungan dengan kegiatan distribusi produk Perseroan, Perseroan memberikan hak
penggunaan/lisensi atas merek tersebut kepada SBI dalam kapasitasnya sebagai distributor
Page 4 of 9
Page 5
produk Perseroan, sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang berlaku sebagaimana
diungkapkan pada Catatan 29 atas Laporan Keuangan.
6. Terkait dengan pemenuhan covenant keuangan, agar dijelaskan:
a. Apakah seluruh covenant keuangan (rasio lancar, DER, dan khususnya DSCR
minimum 1,0× pada BCA) terpenuhi per 30 Juni 2026?
b. Bila tidak, apakah telah diperoleh waiver tertulis dari bank sebelum tanggal
pelaporan?
Jawaban:
Perseroan menyampaikan bahwa berdasarkan ketentuan dalam perjanjian fasilitas kredit
BCA, pemenuhan rasio DSCR minimum sebesar 1,0x dievaluasi secara tahunan, yaitu pada
saat dilakukannya perpanjangan fasilitas kredit.
Dengan demikian, pemenuhan DSCR tidak merupakan covenant yang diuji berdasarkan
laporan keuangan interim per 30 Juni 2026. Oleh karena itu, perhitungan DSCR secara
interim per 30 Juni 2026 yang belum mencapai 1,0x tidak merupakan pelanggaran covenant
berdasarkan ketentuan perjanjian fasilitas kredit BCA.
Perseroan tetap melakukan pemantauan terhadap pemenuhan seluruh covenant keuangan
dan kondisi likuiditas secara berkala. Perseroan juga terus melakukan komunikasi dengan
BCA dalam rangka proses evaluasi dan perpanjangan fasilitas kredit serta mempersiapkan
langkah-langkah untuk mendukung pemenuhan covenant pada periode evaluasi tahunan.
Berdasarkan evaluasi Perseroan, kondisi tersebut tidak mengakibatkan adanya pelanggaran
covenant per 30 Juni 2026 dan tidak mengubah hak Perseroan atas fasilitas kredit
berdasarkan ketentuan perjanjian yang berlaku pada tanggal pelaporan.
7. Mengapa fasilitas OCBC hanya diperpanjang sementara satu bulan? Bagaimana status dan
tingkat keyakinan atas perpanjangan/penuntasan fasilitas tersebut? Agar dapat dijelaskan
oleh Perseroan.
Jawaban:
Fasilitas pinjaman Perseroan pada OCBC saat ini diperpanjang secara sementara sampai
dengan 27 September 2026. Perpanjangan sementara tersebut dilakukan karena OCBC
menyampaikan beberapa persyaratan baru sehubungan dengan proses perpanjangan
fasilitas yang perlu dipertimbangkan dan dievaluasi oleh Direksi Perseroan.
Perpanjangan selama satu bulan tersebut dimaksudkan sebagai fasilitas interim untuk
menjaga keberlangsungan fasilitas pendanaan Perseroan selama proses pembahasan dan
penyelesaian persyaratan perpanjangan dengan OCBC.
Terkait status perpanjangan, Perseroan saat ini masih dalam proses pembahasan dengan
OCBC dan Direksi sedang melakukan evaluasi atas persyaratan baru yang disampaikan
Page 5 of 9
Page 6
oleh bank. Perseroan berkomitmen untuk menyelesaikan proses tersebut dan memperoleh
perpanjangan fasilitas untuk periode selanjutnya. Perseroan memiliki keyakinan bahwa
proses perpanjangan dapat diselesaikan dengan mempertimbangkan adanya perpanjangan
sementara yang telah diberikan oleh OCBC sampai dengan 27 September 2026.
8. Utang bank jangka pendek Rp481 miliar dan signifikan terhadap aspek pendanaan
Perseroan. Agar dapat dijelaskan bagaimana rencana pengelolaan risiko rollover dan
profil jatuh tempo utang untuk 12 bulan ke depan.
Jawaban:
Dalam mengelola risiko rollover atas fasilitas tersebut, Perseroan melakukan monitoring
secara berkala terhadap jadwal jatuh tempo masing-masing fasilitas serta melakukan
komunikasi dan pembahasan dengan bank terkait sebelum tanggal jatuh tempo. Perseroan
juga melakukan perencanaan kebutuhan likuiditas untuk memastikan ketersediaan dana
yang memadai untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
Untuk periode 12 bulan ke depan, strategi Perseroan meliputi:
1. Perpanjangan atau refinancing fasilitas yang jatuh tempo, dengan melakukan
pembahasan dengan bank secara proaktif sebelum tanggal jatuh tempo;
2. Pengelolaan arus kas operasional, termasuk optimalisasi penerimaan dari pelanggan dan
pengelolaan modal kerja untuk mendukung pembayaran kewajiban yang jatuh tempo;
3. Menjaga hubungan dan komunikasi dengan bank, termasuk memenuhi persyaratan dan
covenant yang dipersyaratkan dalam masing-masing fasilitas kredit;
4. Melakukan pemantauan profil jatuh tempo utang secara berkala sehingga kebutuhan
refinancing dapat diidentifikasi dan dipersiapkan lebih awal; dan
5. Apabila diperlukan, Perseroan akan mempertimbangkan sumber pendanaan alternatif
untuk mendukung kebutuhan likuiditas dan mengurangi ketergantungan terhadap
fasilitas yang akan jatuh tempo pada periode yang sama.
Dengan langkah-langkah tersebut, Perseroan berupaya mengelola risiko rollover secara
proaktif dan memastikan kecukupan likuiditas untuk memenuhi kewajiban yang jatuh
tempo selama 12 bulan ke depan.
9. Dasar manajemen menyimpulkan asumsi kelangsungan usaha (going concern) tetap tepat
mengingat kinerja semester 1 2026 mengalami rugi kotor dan rugi bersih.
Jawaban:
Manajemen tetap menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha Perseroan masih tepat
dengan mempertimbangkan prospek pemulihan kinerja operasional dan peningkatan
permintaan terhadap produk Perseroan.
Peningkatan demand terhadap produk Perseroan memberikan peluang bagi Perseroan untuk
meningkatkan volume penjualan dan mencapai margin kotor yang lebih baik dibandingkan
kondisi pada semester I 2026. Sejalan dengan peningkatan volume penjualan tersebut,
Page 6 of 9
Page 7
Perseroan juga terus melakukan evaluasi terhadap harga jual, biaya pengadaan, serta
efisiensi biaya operasional untuk memperbaiki tingkat profitabilitas.
Rugi kotor dan rugi bersih yang terjadi pada semester I 2026 terutama dipengaruhi oleh
kondisi peningkatan biaya pengadaan dan impor serta tekanan terhadap margin
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Manajemen menilai kondisi tersebut tidak serta-
merta mencerminkan kondisi operasional Perseroan dalam jangka panjang, dan masih
terdapat peluang perbaikan kinerja seiring dengan peningkatan permintaan pasar.
Selain itu, Perseroan terus melakukan pengelolaan likuiditas dan pendanaan, termasuk
melakukan monitoring atas jatuh tempo fasilitas pinjaman dan melakukan komunikasi
dengan pihak perbankan terkait perpanjangan maupun refinancing fasilitas yang
diperlukan.
Dengan mempertimbangkan prospek peningkatan permintaan, potensi perbaikan margin
kotor, langkah-langkah efisiensi dan pengelolaan biaya, serta pengelolaan likuiditas dan
pendanaan, Manajemen berkeyakinan bahwa Perseroan masih memiliki kemampuan untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya dan memenuhi kewajiban keuangannya dalam
jangka waktu yang dapat diperkirakan.
10. Akumulasi rugi fiskal mencapai Rp80,5 miliar, namun aset pajak tangguhan
hanya Rp3,6 miliar. Apa pertimbangan tidak diakuinya DTA atas mayoritas rugi fiskal,
dan bagaimana proyeksi laba kena pajak ke depan oleh Perseroan.
Jawaban:
Perseroan tidak mengakui aset pajak tangguhan atas seluruh akumulasi rugi fiskal
sebesar Rp80,5 miliar karena pengakuan aset pajak tangguhan dilakukan dengan
mempertimbangkan Perseroan masih mengalami rugi pada semester I 2026 dan terdapat
ketidakpastian mengenai waktu pemulihan profitabilitas, Manajemen menerapkan
pertimbangan yang prudent dalam menentukan jumlah rugi fiskal yang memenuhi
kriteria untuk diakui sebagai aset pajak tangguhan.
Aset pajak tangguhan sebesar Rp3,6 miliar yang diakui merupakan jumlah yang menurut
penilaian Manajemen memiliki dasar yang memadai untuk dapat direalisasikan melalui
laba kena pajak di masa mendatang. Sedangkan atas sebagian besar rugi fiskal yang
belum diakui sebagai aset pajak tangguhan, Perseroan akan melakukan evaluasi secara
berkala sejalan dengan perkembangan kinerja dan prospek profitabilitas Perseroan.
Untuk periode mendatang, manajemen memproyeksikan adanya perbaikan kinerja usaha
yang antara lain didukung oleh peningkatan permintaan dari pelanggan, sehingga
Perseroan diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan dan mencapai margin
kotor yang lebih baik. Selain itu, Perseroan terus melakukan langkah-langkah untuk
meningkatkan profitabilitas melalui pengelolaan harga jual, efisiensi biaya pengadaan
dan operasional, serta optimalisasi bauran produk.
Page 7 of 9
Page 8
Dengan adanya peningkatan penjualan dan perbaikan margin tersebut, Manajemen
memperkirakan laba kena pajak akan meningkat secara bertahap. Namun demikian,
mengingat proyeksi tersebut masih dipengaruhi oleh kondisi pasar, nilai tukar, biaya
impor, dan faktor operasional lainnya, Manajemen tetap menggunakan pendekatan
konservatif dalam menentukan jumlah aset pajak tangguhan yang dapat diakui.
Perseroan akan melakukan reassessment atas recoverability aset pajak tangguhan pada
setiap periode pelaporan dengan mempertimbangkan realisasi kinerja, proyeksi laba
kena pajak, serta sisa masa pemanfaatan rugi fiskal yang berlaku.
11. Arus kas operasi positif H1-2026 sebagian besar dari penagihan piutang & penurunan
persediaan. Bagaimana Perusahaan menjaga arus kas operasi bila kerugian berlanjut?
Agar dapat dijelaskan oleh Perseroan.
Jawaban:
Perseroan menjaga arus kas operasi terutama melalui peningkatan penjualan, khususnya
dengan memanfaatkan peningkatan permintaan terhadap produk Perseroan. Peningkatan
volume penjualan diharapkan dapat menghasilkan penerimaan kas dari pelanggan secara
berkelanjutan dan memperkuat kemampuan Perseroan dalam memenuhi kebutuhan modal
kerja dan kewajiban operasional.
Selain peningkatan penjualan, Perseroan juga melakukan pengelolaan modal kerja secara
aktif melalui percepatan penagihan piutang, pengendalian tingkat persediaan, serta
pengelolaan pembayaran kepada pemasok secara optimal. Perseroan juga terus melakukan
evaluasi terhadap harga jual dan biaya pengadaan untuk meningkatkan margin dan
memperbaiki konversi penjualan menjadi arus kas.
Dengan demikian, apabila tekanan terhadap profitabilitas masih berlanjut dalam jangka
pendek, Manajemen tetap berupaya menjaga kecukupan arus kas operasi melalui
peningkatan volume penjualan, optimalisasi modal kerja, dan pengendalian pengeluaran
kas. Manajemen juga melakukan monitoring arus kas dan kebutuhan likuiditas secara
berkala untuk memastikan kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban yang jatuh
tempo.
Page 8 of 9
Page 9
Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
12. Berdasarkan laporan penggunaan dana per 30 Juni 2026, agar Perseroan dapat menyajikan
perincian dari laporan penggunaan dana hasil penawaran umum dengan melengkapi table
berikut ini:
Jumlah yang telah
Jumlah tersisa per
direalisasi per 30
Keterangan 30 Juni % realisasi Keterangan
Juni
2026 2026
Baterai/Dinamo 44.083.730.722 18%
BRAKE SYSTEM 9.823.520.967 4%
FRAME 162.005.914.772 65%
136.497.036.731
multi information display (spidometer digital, GPS) 20.278.653.069 8%
WHEEL SET 4.222.021.613 2%
Suspension 7.709.700.335 3%
Total 248.123.541.477
Demikian penjelasan kami. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan banyak terima
kasih
Direktur yang membawahi bidang akuntansi dan Keuangan
Page 9 of 9
Names mentioned 2 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Bintang Mas Lestari
p.3 ×6
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.