Back to announcement
20260901_CNMA_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32144022_lamp1.pdf
Other Text extracted CNMASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 18
Page 1
Jakarta, 1 September 2026 No. 63/CNMA-IDX/IX/2026
Kepada Yth.
Bursa Efek Indonesia
Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower 1, Lantai 6
Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
Jakarta Selatan – 12190
U.p: Bapak Adi Pratomo Aryanto
Ketua Divisi Penilaian Perusahaan 2
Perihal:
Tanggapan Atas Permintaan Penjelasan Bursa Terkait Laporan Keuangan Per 30 Juni 2026
PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (“Perseroan”)
Dengan hormat,
Merujuk pada Surat Bursa Efek Indonesia (“BEI”) No. S-11132/BEI.PP2/08-2026 tanggal 28
Agustus 2026 perihal Permintaan Penjelasan Bursa terkait Laporan Keuangan per 30 Juni 2026
Perseroan, bersama ini kami menyampaikan penjelasan sebagai berikut:
1. Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 1 tentang Umum, agar
dijelaskan latar belakang penurunan total aset PT Nusantara Elang Sejahtera sebesar
27,46%.
Tanggapan:
Penurunan total aset PT Nusantara Elang Sejahtera sebesar Rp39,47 miliar (-27,46%), dari
Rp143,72 miliar menjadi Rp104,25 miliar, disebabkan terutama karena pembayaran hutang
usaha sebesar Rp45 miliar offset dengan kenaikan beberapa pos balance sheet lainnya.
Periode peak penjualan tiket melalui TIX.ID menjelang akhir tahun 2025 menghasilkan
posisi hutang usaha kepada pemilik bioskop pada 31 Desember 2025 sejumlah Rp71,14
miliar, sedangkan posisi hutang usaha kepada pemilik bioskop pada 30 Juni 2026 hanya
sebesar Rp26,13 miliar.
2. Berdasarkan CALK nomor 4 tentang Kas dan Setara Kas serta Laporan Arus Kas Interim
Konsolidasian, saldo kas dan setara kas per 30 Juni 2026 sebesar Rp1,39 triliun atau
menurun sebesar Rp421,50 miliar (23,27%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025
sebesar Rp1,81 triliun. Arus kas bersih dari aktivitas operasi menurun 30,39% menjadi
Rp531,64 miliar seiring turunnya penerimaan kas dari pelanggan sebesar 10,34%. Selain
itu, terjadi perubahan komposisi penempatan dana, di mana kas di bank menurun 42,53%
menjadi Rp966,55 miliar sementara deposito berjangka meningkat 271,40% menjadi
Rp403,54 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan saldo kas dan setara kas serta arus
kas bersih dari aktivitas operasi pada semester I 2026.
b. Latar belakang perubahan komposisi penempatan dana dari kas di bank menjadi
deposito berjangka, termasuk penempatan baru pada PT Bank Maybank Indonesia Tbk
1
Page 2
sebesar Rp300,04 miliar dan deposito berjangka pada PT Bank Permata Tbk sebesar
Rp312,00 miliar.
c. Penilaian manajemen atas kecukupan kas Perseroan untuk memenuhi kebutuhan
belanja modal, pembayaran liabilitas sewa, dan kegiatan operasional pada periode
berikutnya.
d. Faktor penyebab penurunan penghasilan keuangan sebesar Rp19,17 miliar (47,14%)
menjadi Rp21,49 miliar pada semester I 2026.
Tanggapan:
a. Faktor utama yang menyebabkan penurunan saldo kas dan setara kas sebesar Rp421,50
miliar (23,27%) per 30 Juni 2026 dibandingkan dengan saldo per 31 Desember 2025
adalah penggunaan kas untuk pembayaran dividen tahun buku 2025, realisasi belanja
modal dan pembayaran liabilitas sewa masing-masing dengan total sebesar Rp615,83
miliar, Rp218,99 miliar, dan Rp120,89 miliar. Pengeluaran tersebut di offset dengan
penerimaan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp531,64 miliar.
Faktor utama penurunan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar 30,39% atau
sebesar Rp232,07 miliar pada semester I 2026 dibandingkan dengan semester I 2025
antara lain:
Penurunan penerimaan kas dari pelanggan dan penerimaan pendapatan bunga
masing-masing sebesar Rp300,53 miliar dan Rp17,31 miliar. Penurunan kas dari
pelanggan disebabkan karena penurunan pendapatan tiket dan pendapatan makanan
dan minuman sebesar Rp294,18 miliar atau 10,64% akibat dinamika pasar
sepanjang semester I 2026. Sedangkan, penurunan penerimaan pendapatan bunga
disebabkan menurun nya tingkat suku bunga dan rata-rata saldo kas dan setara kas.
Penurunan penerimaan kas dari pelanggan dan pendapatan bunga ini diimbangi
dengan penurunan pembayaran kepada pemasok sebesar Rp134,65 miliar sebagai
akibat langsung dari penurunan beban penayangan film dan beban makanan dan
minuman.
Selain itu, terdapat kenaikan pembayaran kepada karyawan dan pajak masing-
masing sebesar dan Rp19,90 miliar (atau 5.85%) dan Rp28,99 miliar (atau 18.23%).
Kenaikan pembayaran kepada karyawan terutama karena kenaikan tingkat gaji
seiring dengan kenaikan Upah Minimum Regional dan Provinsi pada awal tahun
2026. Kenaikan pembayaran pajak terutama karena kenaikan angsuran PPh 25
tahun 2026 jika dibandingkan dengan tahun 2025.
b. Latar belakang perubahan komposisi penempatan dana Perseroan dilakukan untuk
mendapatkan imbal balik bunga (yield) yang lebih baik, termasuk penenmpatan
deposito di dua bank tersebut.
Perubahan penempatan dana Perseroan bertujuan untuk meningkatkan optimalisasi
pendapatan bunga dari idle money: Perseroan melakukan penataan ulang manajemen
kas dengan mengalihkan penempatan dana pada rekening Giro (kas di bank) yang
menghasilkan return rendah ke instrumen Deposito Berjangka yang memiliki tingkat
suku bunga lebih kompetitif.
c. Manajemen menilai bahwa kondisi kecukupan kas Perseroan sangat memadai untuk
dapat membiayai kebutuhan belanja modal, melakukan pembayaran liabilitas sewa,
dan kegiatan operasional Perseroan setidaknya sampai dengan periode 12 bulan
berikutnya.
2
Page 3
Penilaian ini didasari dengan posisi kas dan setara kas yang lebih besar dari jumlah
utang jangka pendek Perseroan.
d. Faktor penyebab penurunan penghasilan keuangan pada semester I 2026 adalah sebagai
berikut:
Penurunan tingkat suku bunga deposito:
Adanya tren penurunan tingkat suku bunga penempatan dana sepanjang semester I
2026, dimana suku bunga maksimal sebesar 5.5%, lebih rendah dibandingkan
dengan periode selama semester I 2025 yang mencapai maksimal 7.25%.
Penurunan rata-rata saldo kas dan setara kas:
Penurunan rata-rata saldo kas dan setara kas Perseroan sebesar Rp539 miliar (atau
sekitar 28%) dibandingkan periode semester I 2025. Penurunan rata-rata saldo kas
dan setara kas ini secara langsung mengurangi perolehan pendapatan
bunga/penghasilan keuangan yang dihasilkan dari penempatan kas tersebut.
3. Berdasarkan CALK nomor 5 tentang Piutang Usaha dan Piutang Lainnya, saldo piutang
usaha dan piutang lainnya per 30 Juni 2026 sebesar Rp128,17 miliar atau meningkat
sebesar Rp23,01 miliar (21,88%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar
Rp105,16 miliar, di tengah penurunan pendapatan Perseroan sebesar 8,59%. Piutang yang
telah lewat jatuh tempo mencapai Rp65,40 miliar atau 51,03% dari total piutang, meningkat
dari Rp24,58 miliar atau 23,38% pada 31 Desember 2025, dengan kelompok umur 31-180
hari melonjak dari Rp7,15 miliar menjadi Rp35,25 miliar (392,98%). Atas hal tersebut,
agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang usaha dan piutang lainnya pada semester I
2026 meskipun pendapatan Perseroan menurun.
b. Latar belakang peningkatan piutang lewat jatuh tempo 31-180 hari secara signifikan
serta tingkat kolektibilitas piutang dimaksud.
c. Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta
nilai penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.
d. Dasar dan pertimbangan manajemen untuk tidak membentuk penyisihan kerugian
kredit ekspektasian (Expected Credit Loss/ECL), mengingat terdapat piutang yang
telah lewat jatuh tempo lebih dari 180 hari sebesar Rp2,97 miliar, di antaranya Rp2,53
miliar telah lewat jatuh tempo lebih dari 360 hari.
e. Agar disampaikan analisis ECL yang dilakukan Perseroan berdasarkan PSAK 71,
termasuk asumsi probability of default, loss given default, dan historical loss rate yang
digunakan sehingga menghasilkan ECL nihil.
f. Langkah yang dilakukan Perseroan untuk menjaga kualitas piutang dan meminimalkan
risiko gagal bayar pelanggan.
Tanggapan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang usaha dan piutang lainnya
Peningkatan saldo piutang usaha dan piutang lainnya per 30 Juni 2026 terutama
dipengaruhi oleh kenaikan pendapatan iklan sebesar Rp65 miliar atau 212%
dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut berasal dari perjanjian kerja
sama pemasangan iklan dengan salah satu agensi iklan untuk periode 1 Januari 2026 –
31 Maret 2027. Sebagian pendapatan tersebut masih dalam proses penagihan, sehingga
berdampak pada peningkatan saldo piutang pada periode berjalan.
3
Page 4
b. Peningkatan piutang lewat jatuh tempo 31–180 hari dan tingkat kolektibilitas
Peningkatan piutang dengan aging 31–180 hari terutama berasal dari piutang dari
agensi iklan seperti yang dijelaskan pada poin a.
Berdasarkan histori pembayaran dan proses penagihan yang sedang berjalan,
manajemen berkeyakinan piutang tersebut masih memiliki tingkat kolektibilitas yang
baik. Manajemen Perseroan secara berkala melakukan monitoring dan tindak lanjut
penagihan untuk memastikan piutang dapat direalisasikan.
c. Realisasi penerimaan piutang setelah 30 Juni 2026
Sampai dengan 25 Agustus 2026, Perseroan telah menerima pembayaran atas piutang
per 30 Juni 2026 sebesar Rp57,9 miliar, atau sebesar 45,2% dari saldo piutang sebesar
Rp128,17 miliar per 30 Juni 2026.
d. Dasar pertimbangan tidak membentuk ECL
Manajemen melakukan evaluasi kolektibilitas piutang dengan mempertimbangkan
umur piutang, historis pembayaran, status penagihan, karakteristik debitur, serta
subsequent collection.
Berdasarkan evaluasi atas kolektibilitas piutang tersebut, manajemen menilai bahwa
risiko kredit tergolong sangat rendah sehingga tidak diperlukan pembentukan ECL.
e. Analisis ECL berdasarkan PSAK 71
Perseroan melakukan evaluasi ECL dengan mempertimbangkan analisa umur piutang,
historis pembayaran, status penagihan, karakteristik debitur, serta informasi forward-
looking yang relevan. Dalam melakukan evaluasi kolektibilitas, Perseroan juga
mempertimbangkan tingkat kolektibilitas setelah tanggal pelaporan.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, manajemen menilai risiko gagal bayar sangat
rendah dan estimasi ECL per 30 Juni 2026 adalah nihil.
f. Langkah menjaga kualitas piutang dan meminimalkan risiko gagal bayar
Perseroan melakukan monitoring umur piutang dan status penagihan piutang secara
berkala serta melakukan tindak lanjut atas piutang yang telah jatuh tempo. Perseroan
juga melakukan evaluasi terhadap kolektibilitas masing-masing debitur, termasuk
piutang dengan saldo material. Selain itu, Perseroan secara berkala mengevaluasi risiko
kredit dan kebutuhan pembentukan ECL sesuai dengan ketentuan PSAK 71.
4. Berdasarkan CALK nomor 7 tentang Aset Tetap, nilai tercatat aset tetap per 30 Juni 2026
sebesar Rp4,24 triliun atau menurun sebesar Rp199,21 miliar (4,49%) dibandingkan posisi
per 31 Desember 2025 sebesar Rp4,44 triliun. Penambahan aset tetap pada semester I 2026
sebesar Rp198,71 miliar atau hanya setara 49,78% dari beban penyusutan sebesar
Rp399,18 miliar, dan terdapat pengurangan aset tetap dengan biaya perolehan sebesar
Rp53,73 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Realisasi pembukaan bioskop dan layar baru pada semester I 2026 dibandingkan
rencana yang telah ditetapkan Perseroan.
b. Latar belakang penambahan aset tetap yang lebih rendah dibandingkan beban
penyusutan serta implikasinya terhadap kapasitas usaha Perseroan ke depan.
c. Apakah terdapat penutupan bioskop atau layar selama semester I 2026? Apabila ada,
agar disampaikan lokasi, jumlah layar, dan latar belakang penutupannya.
d. Rincian dan latar belakang pengurangan aset tetap sebesar Rp53,73 miliar (biaya
perolehan) selama semester I 2026.
4
Page 5
e. Peruntukan dan estimasi waktu realisasi uang muka untuk pembelian aset tetap sebesar
Rp102,45 miliar per 30 Juni 2026, di mana sebesar Rp14,02 miliar merupakan uang
muka kepada pihak berelasi.
f. Dasar keyakinan manajemen bahwa nilai terpulihkan aset tetap masih melebihi nilai
tercatatnya, mengingat terjadinya penurunan pendapatan dan laba pada semester I
2026.
Tanggapan:
a. Perseroan telah membuka sebanyak 2 bioskop dengan 7 layar baru pada semester I
2026. Pembukaan bioskop baru ini sudah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
Perseroan.
b. Dalam kondisi perekonomian saat ini, Perseroan memilih untuk lebih konservatif
dalam melakukan ekspansi usahanya sehingga penambahan aset tetap pada semester I
2026 terlihat lebih kecil daripada beban penyusutannya. Situasi ini diyakini bersifat
sementara sambil menunggu kondisi perekonomian yang lebih stabil.
c. Tidak ada penutupan bioskop atau layar selama semester I 2026.
d. Rincian pengurangan aset tetap sebesar Rp53,73 miliar (biaya perolehan) dapat dilihat
pada Catatan 7 atas laporan keuangan konsolidasian. Pengurangan aset tetap terutama
karena retirement aset atas berakhirnya masa sewa The Ballroom.
e. Uang muka pembelian aset tetap diperuntukkan untuk proyek pembukaan bioskop baru
pada tahun 2026 - 2027, sehingga diharapkan saldo tersebut akan terealisasi selambat-
lambatnya pada akhir tahun depan.
f. Manajemen berkeyakinan bahwa nilai terpulihkan aset tetap masih melebihi nilai
tercatatnya, meskipun terjadi penurunan pendapatan dan laba pada semester I 2026.
Penurunan tersebut sifatnya sementara terkait dengan seasonailty bisnis.
5. Berdasarkan CALK nomor 8 tentang Utang Usaha dan Utang Lainnya, saldo utang usaha
dan utang lainnya kepada pihak berelasi per 30 Juni 2026 sebesar Rp47,48 miliar atau
meningkat sebesar Rp23,31 miliar (96,44%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025
sebesar Rp24,17 miliar, dengan porsi terhadap total utang usaha dan utang lainnya
meningkat dari 7,73% menjadi 14,50%. Selain itu, utang usaha yang telah lewat jatuh
tempo 31-180 hari meningkat 156,68% menjadi Rp7,09 miliar dan yang telah lewat jatuh
tempo lebih dari 180 hari sebesar Rp1,64 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo utang usaha dan utang lainnya kepada pihak berelasi
pada semester I 2026.
b. Rincian jenis transaksi, nilai, dan jangka waktu pembayaran atas saldo utang kepada
masing-masing pihak berelasi yang material.
c. Latar belakang dan status penyelesaian utang usaha yang telah lewat jatuh tempo lebih
dari 180 hari sebesar Rp1,64 miliar.
d. Kemampuan dan strategi Perseroan dalam memenuhi kewajiban tersebut pada saat
jatuh tempo.
Tanggapan:
5
Page 6
a. Saldo utang usaha sangat dipengaruhi oleh seasonality bisnis dimana Perseroan selalu
mengantisipasi kenaikan jumlah penonton karena penayangan film di masa libur
sekolah pada bulan Juni. Peningkatan utang usaha kepada pihak berelasi sebagian besar
dikarenakan kenaikan pembelian persediaan F&B untuk menunjang seasonality bisnis.
b. Rincian jenis transaksi, nilai, dan jangka waktu pembayaran atas saldo utang
kepada masing-masing pihak berelasi yang material
Pihak Berelasi Nilai Jangka Jenis Transaksi
Waktu
Pembayaran
PT Megatech Engineering Rp17,18 miliar < 40 hari Renovasi, Peralatan,
Perlengkapan &
Maintenance studio
PT Delta Raya Sejahtera Rp16,02 miliar < 30 hari Kebutuhan &
Perlengkapan F&B
PT Delta Raya Sentosa Rp7,95 miliar < 30 hari Kebutuhan &
Perlengkapan F&B
PT Multi Interbuana Rp6,22 miliar < 40 hari Perlengkapan &
Teknindo Maintenance studio
c. Perseroan berupaya menyelesaikan setiap bentuk kewajiban yang telah jatuh tempo.
Pada periode Juli 2026, Perseroan telah menyelesaikan beberapa kewajiban yang telah
jatuh tempo lebih dari 180 hari senilai Rp414 juta atau setara dengan 25% dari total
saldo utang. Sisa kewajiban sedang dalam proses penyelesaian administrasi.
d. Perseroan melakukan monitoring utang yang telah jatuh tempo dan status pembayaran
secara berkala serta melakukan koordinasi & rekonsiliasi dengan pihak ketiga terkait
utang yang telah jatuh tempo. Sejauh ini, saldo utang yang telah lewat jatuh tempo lebih
dari 180 hari tidak material terhadap kemampuan keuangan Perseroan.
6. Berdasarkan CALK nomor 9 tentang Perpajakan, saldo utang pajak penghasilan per 30
Juni 2026 sebesar Rp5,39 miliar atau menurun sebesar Rp84,01 miliar (93,97%)
dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp89,40 miliar. Pada saat yang sama,
klaim pengembalian pajak meningkat sebesar Rp14,41 miliar (612,32%) menjadi Rp16,77
miliar, dan terdapat penyesuaian atas beban pajak tahun-tahun sebelumnya sebesar Rp1,35
miliar, agar dijelaskan:
a. Latar belakang penurunan saldo utang pajak penghasilan secara signifikan pada
semester I 2026.
b. Rincian, latar belakang, dan status terkini atas klaim pengembalian pajak sebesar
Rp16,77 miliar beserta estimasi waktu penerimaannya.
c. Apakah terdapat pemeriksaan pajak, surat ketetapan pajak, keberatan, atau banding
yang sedang berjalan? Apabila ada, agar disampaikan nilainya dan potensi dampaknya
terhadap laporan keuangan Perseroan.
d. Latar belakang penyesuaian atas beban pajak tahun-tahun sebelumnya sebesar Rp1,35
miliar pada entitas anak.
Tanggapan:
6
Page 7
a. Saldo utang pajak penghasilan per 31 Desember 2025 sebesar Rp89,40 miliar
mencerminkan saldo utang pajak penghasilan badan Perseroan dan entitas anak yang
dihitung untuk satu tahun buku pajak, dimana saldo utang ini telah dibayarkan seluruh
nya pada periode semester I tahun 2026. Sedangkan saldo utang pajak penghasilan
pada semester I 2026 mencerminkan saldo perkiraan utang pajak penghasilan yang
dihitung berdasarkan laporan laba-rugi semester I tahun 2026, dimana laba nya juga
menurun dibandingkan dengan semester I tahun 2025.
Angsuran pajak PPh Pasal 25 Perseroan dan entitas anak pada semester I 2026
dibandingkan dengan semester I 2025 meningkat sebesar 26,85% (dari Rp47,2 miliar
menjadi Rp59,9 miliar). Hal ini juga mengkontribusi penurunan saldo utang pajak
penghasilan dan peningkatan saldo klaim pengembalian pajak pada semester I 2026.
b. Rincian atas klaim pengembalian pajak sebesar Rp16,77 miliar adalah sebagai berikut:
(disajikan dalam jutaan Rp) 2026 Keterangan
Perseroan:
Tahun 2026 7,257
Entitas anak:
Tahun 2026 7,530
Tahun 2025 1,981 LB SPT PPH Badan
Total 16,768
Saat ini, pemeriksaan pajak untuk tahun buku 2025 belum dimulai sehingga estimasi
waktu penerimaannya masih belum bisa ditentukan.
Untuk klaim pengembalian pajak tahun 2026 merupakan perhitungan lebih bayar pajak
penghasilan badan menggunakan laba-rugi semester I tahun 2026. Angka ini akan
disesuaikan dengan angka aktual pada akhir tahun 2026.
c. Berikut ini adalah pemeriksaan pajak yang sedang berjalan:
Entitas Jenis Tanggal Surat Tahun
Pemeriksaan Pemeriksaan Pajak
PT Gading Adipermai Semua jenis pajak 30 Juli 2026 2022
PT Lia Anugrah Semesta Semua jenis pajak 17 Juni 2026 2022 & 2023
PT Intra Mandiri Semua jenis pajak 18 Juni 2026 2022
PT Kharisma Maju Abadi Semua jenis pajak 16 September 2025 2022
Disamping itu, terdapat keberatan yang masih berjalan di Kanwil untuk PT Lia Anugrah
Semesta atas Pajak Pertambahan nilai senilai Rp365,8 juta. Proses keberatan ini masih
berjalan dan menunggu keputusan.
Sampai saat ini, belum ada potensi pajak material terhadap laporan keuangan atas
pemeriksaan yang sedang berjalan diatas.
7
Page 8
c. Terdapat penyesuaian atas beban pajak tahun-tahun sebelumnya sebesar Rp1,35 miliar
pada entitas anak yaitu PT Nusantara Elang Sejahtera dan PT Prima Mandala, dimana
penyesuaian ini dilatarbelakangi atas adanya perbedaan perhitungan PPH Badan tahun
2025 pada laporan konsolidasian 31 Desember 2025 dengan SPT PPH Badan final
yang dibayar dan dilaporkan pada bulan April 2026.
7. Berdasarkan CALK nomor 10 tentang Pendapatan Diterima Dimuka, saldo pendapatan
diterima dimuka per 30 Juni 2026 sebesar Rp111,86 miliar atau menurun sebesar Rp7,51
miliar (6,29%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025, yang terdiri atas M-Tix sebesar
Rp88,63 miliar (turun 3,82%) serta Movie Card dan voucher sebesar Rp22,82 miliar (turun
14,82%). Penurunan tersebut sejalan dengan turunnya pendapatan digital platform sebesar
17,26% dan total aset entitas anak PT Nusantara Elang Sejahtera sebesar 27,46% menjadi
Rp104,25 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang penurunan saldo simpanan pelanggan pada platform M-Tix serta Movie
Card dan voucher.
b. Perkembangan jumlah pengguna aktif dan porsi transaksi melalui platform digital
terhadap total transaksi Perseroan.
c. Kebijakan akuntansi Perseroan atas Movie Card dan voucher yang telah kedaluwarsa
atau tidak digunakan (breakage) beserta nilainya pada semester I 2026.
Tanggapan:
a. Penurunan saldo simpanan pelanggan pada platform M-Tix, termasuk Movie Card dan
voucher, terutama disebabkan adanya penambahan saluran pembayaran pada aplikasi
M-Tix, antara lain QRIS, GoPay, Kartu Kredit dan BCA Virtual Account.
b. Perkembangan jumlah pengguna aktif dan porsi transaksi melalui platform digital
terhadap total transaksi Perseroan adalah sebagai berikut:
YTD June 2026 YTD June 2025 Inc/dec
Active user 2,568,599 2,183,235 +385,364
% transaksi online 38.4% 37.4% +1%
c. Kebijakan akuntansi Perseroan atas Movie Card dan voucher yang telah kedaluwarsa
atau tidak digunakan (breakage) beserta nilainya pada semester I 2026.
Perseroan menerapkan kebijakan akuntansi atas saldo Movie Card dan voucher yang
telah kedaluwarsa atau tidak digunakan (breakage) dengan mengacu pada PSAK 115
– Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan, khususnya ketentuan mengenai hak
pelanggan yang tidak dilaksanakan (breakage). Saldo yang telah kedaluwarsa dan tidak
lagi menjadi hak pelanggan diakui sebagai pendapatan pada saat Perseroan tidak lagi
memiliki kewajiban untuk memenuhi hak tersebut, dengan mempertimbangkan
ketentuan masa berlaku serta pola historis penggunaan dan kedaluwarsa Movie Card
dan voucher.
Pada Semester I 2026, nilai saldo Movie Card dan voucher yang telah
kedaluwarsa/tidak digunakan dan telah diakui sebagai pendapatan (breakage) adalah
sebesar nihil.
8
Page 9
8. Berdasarkan CALK nomor 11 tentang Modal Saham, Perseroan telah mengumumkan
pengakhiran lebih awal periode pembelian kembali saham pada tanggal 20 Februari 2026,
dengan realisasi pembelian sepanjang Januari-Februari 2026 sebesar Rp396 juta (3.811.800
saham) dari pagu sebanyak-banyaknya Rp300 miliar. Selanjutnya, berdasarkan RUPST
tanggal 6 April 2026, Perseroan mendistribusikan 1.632.939.689 saham tresuri senilai
Rp222,85 miliar kepada pemegang saham pada tanggal 28 April 2026 dengan rasio 50:1,
sehingga sisa saham tresuri menjadi 65.075.711 saham. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang dan dasar pertimbangan Perseroan mengakhiri periode pembelian
kembali saham lebih awal dari jadwal yang telah disetujui RUPST.
b. Latar belakang realisasi pembelian kembali saham yang jauh lebih rendah
dibandingkan pagu yang telah ditetapkan.
c. Dasar pertimbangan Perseroan memilih mekanisme distribusi saham tresuri kepada
pemegang saham dibandingkan alternatif pengalihan saham tresuri lainnya, serta
manfaat yang diharapkan bagi pemegang saham.
d. Perlakuan akuntansi atas distribusi saham tresuri yang mengurangi tambahan modal
disetor sebesar Rp222,85 miliar beserta dasar standar akuntansi yang digunakan.
e. Rencana Perseroan atas sisa saham tresuri sebanyak 65.075.711 lembar beserta batas
waktu pengalihannya sesuai ketentuan yang berlaku.
Tanggapan:
a. Pelaksanaan Buyback awal dilatarbelakangi kondisi perdagangan harga saham yang
pada saat itu dianggap belum mencerminkan nilai, kinerja, dan prospek Perseroan
sebenarnya. Namun kemudian, seiring dengan berjalannya waktu dan adanya ketentuan
terkait peningkatan minimum free float yang akan diberlakukan, maka Perseroan wajib
menjaga jumlah saham yang dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Oleh
karena itu, Perseroan melalui Keputusan Sirkuler Direksi, menghentikan pelaksanaan
buyback saham lebih awal dari jadwal yang telah disetujui RUPST.
b. Realisasi pembelian kembali saham sebesar Rp222,85 miliar, dimana nilai ini lebih
rendah dibandingkan pagu yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu sebanyak-
banyaknya Rp300 miliar karena Perseroan harus mempertimbangkan jumlah minimal
free float saham sesuai dengan regulasi yang berlaku.
c. Perseroan mempertimbangkan distribusi saham hasil pembelian kembali kepada
pemegang saham sebagai salah satu alternatif pengalihan dengan memperhatikan
kondisi pasar modal yang masih dinamis dan tingkat volatilitas yang relatif tinggi.
Dalam kondisi tersebut, Perseroan menilai distribusi secara proporsional kepada
pemegang saham dapat memberikan manfaat secara langsung kepada pemegang saham
sekaligus diharapkan dapat membantu meningkatkan jumlah free float saham guna
memenuhi ketentuan free float yang baru.
d. Perlakuan akuntansi atas distribusi saham tresuri yang mengurangi tambahan modal
disetor sebesar Rp222,85 miliar beserta dasar standar akuntansi yang digunakan.
Perlakukan akuntansi dan standar akuntansi yang digunakan sudah dijelaskan pada
Catatan 3l pada Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian per 30 Juni 2026.
9
Page 10
Pada PSAK 232 par 33 dinyatakan sebagai berikut:
Dalam standar ini tidak secara eksplisit menyebutkan mengenai pos atau akun untuk
mencatat distribusi saham tresuri kepada pemegang saham, namun pada prinsipnya
sama seperti keuntungan atau kerugian yang timbul atas realisasi saham tresuri dimana
diakui secara langsung di ekuitas, maka demikian juga distribusi saham tresuri diakui
langsung di ekuitas mengurangi tambahan modal disetor. Hal ini adalah kebijakan
akuntansi yang diterapkan oleh Grup dan diaplikasikan secara konsisten pada laporan
keuangan konsolidasian Grup.
e. Perseroan berencana untuk mengalihkan sisa saham tresuri 65.075.711 lembar melalui
penjualan melalui Bursa maupun diluar Bursa, sesuai dengan ketentuan dalam POJK
29/2023 paling lambat 3 tahun dari selesainya pembelian kembali saham yaitu 18
Februari 2029.
9. Berdasarkan CALK nomor 12 tentang Dividen dan Saldo Laba, Perseroan membayarkan
dividen tunai sebesar Rp571,53 miliar pada tanggal 28 April 2026 sebagai bagian dari
dividen tahun buku 2025 sebesar Rp12 (Rupiah penuh) per saham atau seluruhnya sekitar
Rp979,78 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Kebijakan dividen Perseroan serta dasar pertimbangan penetapan besaran dividen
tahun buku 2025.
b. Apakah penetapan besaran dividen tersebut telah mempertimbangkan kinerja
operasional dan kebutuhan pendanaan ekspansi Perseroan pada tahun 2026.
c. Penilaian manajemen atas kecukupan saldo laba untuk mendukung rencana
pengembangan usaha Perseroan ke depan.
d. Rencana kebijakan dividen Perseroan ke depan dengan mempertimbangkan kondisi
kinerja dan likuiditas terkini.
Tanggapan:
a. Kebijakan dividen Perseroan serta dasar pertimbangan penetapan besaran dividen
tahun buku 2025 adalah sebagai berikut:
Merujuk pada Kebijakan Dividen yang tercantum dalam Prospektus IPO, Perseroan
menetapkan target pembagian dividen minimum sebesar 35% dari laba bersih tahun
berjalan. Kendati demikian, realisasi besaran dividen yang dibagikan tetap dievaluasi
secara berkala dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti pendapatan, arus kas,
kondisi keuangan dan rencana investasi dan peluang pertumbuhan Perseroan.
Penetapan besaran dividen tahun 2025 didasari oleh pertimbangan berikut ini:
10
Page 11
Kondisi likuiditas dan arus kas yang kuat. Perseroan memiliki posisi keuangan
yang sehat didukung dengan tidak adanya pinjaman Bank ataupun pinjaman
berbunga lainnya. Hal ini meminimalkan kewajiban pemenuhan beban keuangan
dan memberikan fleksibilitas penggunaan kas.
Perseroan memiliki kelebihan akumulasi kas internal. Melihat kondisi
makroekonomi saat ini dan strategi Perseroan yang lebih konservatif dan selektif
dalam melakukan ekspansi, kelebihan kas tersebut dapat dialihkan sebagai
pengembalian nilai (return) yang menarik bagi para pemegang saham dalam bentuk
dividen, tanpa mengganggu kebutuhan modal kerja operasional berjalan.
b. Penetapan besaran dividen untuk tahun buku 2025 telah mempertimbangkan dengan
matang kinerja operasional dan kebutuhan pendanaan ekspansi Perseroan pada tahun
2026. Seluruh kebutuhan ekspansi dapat dipenuhi dari sisa dana dari hasil penawaran
umum perdana saham dan dari arus kas operasional Perseroan.
c. Manajemen menilai bahwa saldo laba Perseroan saat ini mencukupi untuk mendukung
rencana pengembangan usaha Perseroan ke depan. Perseroan secara konsisten
membukukan kinerja laba bersih yang positif, yang secara langsung memperkuat
struktur ekuitas melalui akumulasi saldo laba ditahan setelah dikurangi pembagian
dividen.
d. Perseroan berkomitmen mempertahankan kebijakan dividen yang konsisten dan
menarik guna memberi nilai tambah optimal bagi para pemegang saham jangka
panjang. Kebijakan dividen ini ditetapkan secara terukur dengan senantiasa
menyelaraskan antara komitmen imbal hasil dan kondisi Perseroan.
10. Berdasarkan CALK nomor 14 tentang Pendapatan, Perseroan membukukan pendapatan
sebesar Rp2,63 triliun pada semester I 2026 atau menurun sebesar Rp247,40 miliar (8,59%)
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,88 triliun. Penurunan
terjadi pada pendapatan tiket sebesar Rp212,51 miliar (11,82%), makanan dan minuman
Rp81,68 miliar (8,44%), digital platform Rp11,95 miliar (17,26%), serta acara dan
pendapatan lainnya Rp7,19 miliar (54,71%). Lini yang tumbuh adalah pendapatan iklan
sebesar Rp65,93 miliar (212,78%) menjadi Rp96,91 miliar. Atas hal tersebut, agar
dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan pendapatan tiket serta makanan
dan minuman pada semester I 2026.
b. Pengaruh ketersediaan dan kinerja judul film (film slate) yang ditayangkan selama
semester I 2026 terhadap penurunan pendapatan Perseroan.
c. Pengaruh perubahan perilaku konsumen dan persaingan dengan layanan streaming
terhadap kinerja pendapatan Perseroan.
d. Apakah penurunan pendapatan tersebut diperkirakan bersifat sementara atau berpotensi
berlanjut pada periode berikutnya, beserta langkah-langkah yang telah dan akan
dilakukan Perseroan untuk memulihkan pendapatan.
e. Latar belakang peningkatan pendapatan iklan yang sangat signifikan pada semester I
2026 serta apakah pendapatan tersebut bersifat berkelanjutan (recurring) dan menjadi
bagian dari strategi diversifikasi pendapatan Perseroan.
f. Metode pengakuan pendapatan dan dasar pengukuran tingkat penyelesaian atas
pendapatan iklan yang diakui sepanjang waktu (over time).
g. Apakah terdapat pelanggan iklan yang merupakan pihak berelasi atau pihak terafiliasi
dengan Perseroan? Apabila ada, agar disampaikan nilai transaksinya.
11
Page 12
h. Latar belakang penurunan pendapatan digital platform serta acara dan pendapatan
lainnya pada semester I 2026.
Tanggapan:
a. Penurunan pendapatan tiket serta makanan & minuman masing-masing sebesar
Rp212,51 miliar (11,82%) dan Rp81,68 miliar (8.44%), terutama disebabkan karena
penurunan jumlah penonton sebesar 12,14%, yang disebabkan oleh faktor seasonality
film slate.
b. Kinerja luar biasa satu judul film pada semester I 2025, mencatatkan perolehan
penonton yang memecahkan rekor perolehan penonton bulanan tertinggi pada bulan
April 2025, Sementara itu, tidak adanya film dengan kinerja serupa pada tahun 2026
menyebabkan perolehan penonton turun 12,14% dibandingkan dengan periode yang
sama pada tahun 2025.
c. Berdasarkan evaluasi Perseroan, tidak terdapat indikasi bahwa perubahan perilaku
konsumen maupun persaingan dengan layanan streaming memberikan pengaruh yang
material terhadap kinerja pendapatan Perseroan secara umum. Hal ini terbukti dengan
terpecahkannya rekor perolehan penonton terbanyak atas satu judul film yang telah
terjadi berulang kali paska pandemi. Penurunan pendapatan Perseroan lebih
dipengaruhi oleh kinerja film slate.
d. Penurunan pendapatan diharapkan bersifat sementara seiring dengan kreativitas
produksi film dalam negeri maunpun luar negeri yang terus berkembang.
Perseroan akan terus mengoptimalkan penayangan film melalui kurasi film yang lebih
optimal, meningkatkan pengalaman pelanggan, mengembangkan program promosi dan
bundling tiket dengan F&B, serta mengoptimalkan kontribusi pendapatan F&B dan
sumber pendapatan lainnya. Perseroan juga akan terus melakukan evaluasi terhadap
kinerja setiap judul film dan menyesuaikan strategi operasional dan pemasaran
berdasarkan respons dan preferensi pelanggan.
e. Peningkatan pendapatan iklan yang signifikan pada semester I 2026 didukung oleh
inisiatif Perseroan untuk menjalin kerja sama yang lebih optimal dengan agensi iklan.
Kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk membuka akses ke jaringan
periklanan yang lebih luas dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif secara
berkelanjutan.
f. Sebagaimana dijelaskan dalam Catatan 3g atas laporan keuangan konsolidasian
Perseroan, pendapatan iklan diakui sepanjang waktu, yaitu selama masa kontrak
penayangan iklan, yaitu ketika kewajiban penayangan iklan telah dilakukan.
g. Tidak terdapat pelanggan iklan yang merupakan pihak berelasi atau pihak terafiliasi
dengan Perseroan per 30 Juni 2026.
h. Pada semester I 2026, penurunan pendapatan digital platform disebabkan terutama
karena penurunan jumlah penonton. Sedangkan penurunan pendapatan dari acara dan
lainnya terutama disebabkan oleh dihentikannya pengoperasian The Ballroom sejak
awal tahun 2026 karena berakhirnya masa sewa.
12
Page 13
11. Berdasarkan CALK nomor 15 tentang Beban Operasional, beban operasional di luar
penyusutan aset tetap pada semester I 2026 sebesar Rp886,88 miliar atau meningkat sebesar
Rp10,11 miliar (1,15%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di tengah
penurunan pendapatan sebesar 8,59%. Peningkatan terbesar berasal dari beban promosi
sebesar Rp21,91 miliar (988,63%) menjadi Rp24,12 miliar dan kompensasi karyawan
sebesar Rp11,30 miliar (3,23%) menjadi Rp360,79 miliar. Atas hal tersebut, agar
dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan beban promosi yang sangat signifikan pada semester I
2026 beserta rincian program promosi yang dilaksanakan.
b. Evaluasi Perseroan atas efektivitas beban promosi tersebut, mengingat pendapatan
pada periode yang sama justru mengalami penurunan.
c. Latar belakang peningkatan beban kompensasi karyawan meskipun jumlah karyawan
tetap Grup menurun dari 1.222 orang per 31 Desember 2025 menjadi 1.166 orang per
30 Juni 2026.
d. Program efisiensi biaya yang telah dan akan dilakukan Perseroan beserta estimasi
penghematan yang ditargetkan.
Tanggapan:
a. Peningkatan beban promosi yang sangat signifikan pada semester I 2026 terutama
karena komisi agensi iklan pada semester I 2026 sejalan dengan kenaikan pendapatan
iklan pada Semester I 2026 sebesar 212,78%.
b. Beban promosi ini spesifik terkait dengan pendapatan iklan sehingga akan berjalan
seiring dengan peningkatan atau penurunan pendapatan iklan.
c. Peningkatan beban kompensasi karyawan terutama disebabkan oleh kenaikan Upah
Minimum Regional dan Provinsi. Jumlah karyawan secara keseluruhan (karyawan
tetap dan kontrak) relatif tidak berubah.
d. Perseroan secara berkala memonitor biaya operasional secara efisien dan efektif agar
tidak mengalami kenaikan, selain biaya karyawan dan penyusutan.
12. Berdasarkan CALK nomor 16 tentang Transaksi Pihak Berelasi, pembelian barang dan
jasa dari entitas sepengendali pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp345,75 miliar atau
13,14% dari total pendapatan Perseroan. Selain itu, terdapat penjualan aset tetap dan
persediaan kepada entitas sepengendali sebesar Rp2,18 miliar yang tidak terdapat pada
periode yang sama tahun sebelumnya. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Dasar penetapan harga (pricing) atas transaksi pembelian barang dan jasa dengan pihak
berelasi serta kewajaran syarat dan ketentuannya dibandingkan transaksi dengan pihak
ketiga.
b. Pemenuhan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 42/POJK.04/2020
tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan Tertentu atas transaksi-
transaksi tersebut.
c. Latar belakang, rincian objek, dan dasar penentuan nilai atas penjualan aset tetap dan
persediaan kepada entitas sepengendali sebesar Rp2,18 miliar.
d. Potensi risiko usaha yang timbul dari ketergantungan terhadap pemasok pihak berelasi
serta langkah mitigasi yang dilakukan Perseroan.
13
Page 14
Tanggapan:
a. Dasar penetapan harga untuk transaksi pembelian barang dan jasa dengan pihak berelasi
dilakukan dengan prinsip arm’s length transaction, sebagaimana telah diungkapkan
dalam Prospektus Perseroan.
b. Transaksi pembelian barang dan jasa dari entitas sepengendali merupakan transaksi
yang berkelanjutan sesuai dengan Pasal 5 huruf d Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan
Kepentingan Tertentu.
Transaksi penjualan aset sebagaimana dimaksud di atas telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan Pasal 6 ayat 1 huruf c Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan
Tertentu.
c. Penjualan aset tetap merupakan transaksi penjualan leasehold improvement yang
berdasarkan perjanjian sewa harus dikembalikan sesuai pada kondisi semula. Dasar
penentuan nilai atas penjualan aset tersebut berpedoman pada nilai bukunya.
d. Manajemen Perseroan menilai bahwa transaksi dengan pihak berelasi justru dapat
mengurangi risiko keberlangsungan rantai pasok.
13. Berdasarkan Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Interim
Konsolidasian serta CALK nomor 18 tentang Laba Sebelum Bunga, Pajak, Penyusutan
dan Amortisasi, Perseroan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp200,99 miliar
atau menurun sebesar Rp122,97 miliar (37,96%) dan EBITDA sebesar Rp708,19 miliar
atau menurun 15,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan laba periode berjalan lebih dalam
dibandingkan penurunan pendapatan.
b. Komponen beban yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penurunan margin
usaha Perseroan.
c. Porsi biaya tetap (fixed cost) terhadap total beban Perseroan serta sensitivitas laba
terhadap penurunan jumlah penonton.
d. Langkah-langkah yang akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki margin usaha
dan profitabilitas.
Tanggapan:
a. Penurunan laba periode berjalan yang lebih dalam dibandingkan dengan penurunan
pendapatan terutama disebabkan oleh adanya komponen biaya tetap (fixed cost) yang
relatif tidak berubah sejalan dengan fluktuasi pendapatan. Dengan demikian, ketika
pendapatan mengalami penurunan, sebagian biaya operasional tetap (fixed cost) harus
ditanggung oleh Perseroan, sehingga berdampak lebih besar terhadap margin dan laba
periode berjalan.
b. Beban operasional dan depresiasi sampai dengan Juni 2026 sebesar Rp1,28 miliar,
dimana angka ini hampir sama dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan margin
terutama dipengaruhi oleh penurunan pendapatan sebesar Rp247,40 miliar atau 8,59%,
14
Page 15
sementara sebagian beban operasional Perseroan bersifat tetap dan tidak mengalami
penurunan secara proporsional terhadap penurunan pendapatan.
Penurunan margin lebih mencerminkan dampak operating leverage dari struktur biaya
tetap Perseroan dibandingkan dengan adanya peningkatan signifikan pada komponen
beban tertentu.
c. Perseroan memiliki struktur biaya yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Komponen biaya tetap memiliki porsi yang relatif signifikan dalam struktur biaya
Perseroan, antara lain biaya sewa dan pemeliharaan, penyusutan aset tetap, serta biaya
tenaga kerja, depresiasi dan biaya operasional tertentu yang tidak secara langsung
berubah mengikuti jumlah penonton.
Dengan karakteristik tersebut, penurunan jumlah penonton dan pendapatan tidak serta-
merta diikuti oleh penurunan biaya dalam proporsi yang sama. Oleh karena itu,
penurunan jumlah penonton dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap laba
dibandingkan dengan persentase penurunan pendapatan, terutama karena biaya tetap
tetap harus ditanggung Perseroan.
d. Perseroan secara berkelanjutan melakukan evaluasi dan optimalisasi struktur biaya
serta efisiensi operasional untuk mengurangi dampak operating leverage tersebut. Di
sisi lain, Perseroan terus berupaya meningkatkan jumlah penonton, pendapatan per
penonton, serta mengoptimalkan pendapatan dari lini bisnis lainnya guna menjaga dan
meningkatkan profitabilitas Perseroan.
14. Berdasarkan CALK nomor 20 tentang Informasi Segmen, laba segmen film, makanan dan
minuman pada semester I 2026 sebesar Rp219,65 miliar atau menurun sebesar Rp193,22
miliar (46,80%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp412,87
miliar. Berdasarkan informasi geografis, pendapatan menurun pada seluruh wilayah, yaitu
Jabodetabek 13,31%, Jawa di luar Jabodetabek 13,16%, dan luar Jawa 5,75%. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan laba segmen film, makanan dan
minuman secara signifikan.
b. Latar belakang penurunan pendapatan yang lebih dalam pada wilayah Jabodetabek dan
Jawa dibandingkan wilayah luar Jawa.
c. Strategi Perseroan dalam memperbaiki kinerja masing-masing wilayah operasional.
Tanggapan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan laba segmen film, makanan dan
minuman secara signifikan adalah penurunan jumlah penonton/admission. Sedangkan,
biaya secara keseluruhan mengalami sedikit peningkatan yang terutama dikarenakan
jumlah outlet yang lebih banyak, peningkatan gaji karyawan mengikuti tingkat upah
regional/provinsi, serta meningkatnya harga bahan baku dan kemasan.
b. Penurunan pendapatan yang lebih dalam terdapat pada wilayah Jabodetabek dan Jawa
disebabkan karena rasio layar terhadap jumlah penduduk lebih besar sehingga lebih
sensitif terhadap penurunan jumlah penonton.
15
Page 16
c. Strategi Perseroan dalam memperbaiki kinerja masing-masing wilayah operasional
adalah dengan memaksimalkan penjadwalan film yang lebih sesuai dengan preferensi
penonton di masing-masing wilayah operasional.
Terkait Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
Berdasarkan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Perseroan untuk
periode sampai dengan 14 Agustus 2026, seluruh hasil bersih Penawaran Umum Perdana
Saham sebesar Rp2.172.675 juta telah direalisasikan sehingga tidak terdapat sisa dana. Namun
demikian, terdapat perbedaan antara rencana penggunaan dana dengan realisasinya, sebagai
berikut:
Rencana Penggunaan Dana Rencana Realisasi Lebih/ Porsi
(Rp juta) (Rp juta) (Kurang) Realisasi
(Rp juta)
Ekspansi jejaring bioskop (±65,0%) 1.412.239 1.352.675 (59.564) 62,26%
Pelunasan pokok utang BRI (±20,0%) 434.535 500.000 65.465 23,01%
Modal kerja (±15,0%) 325.901 320.000 (5.901) 14,73%
Total 2.172.675 2.172.675 - 100,00%
15. Atas perbedaan realisasi penggunaan dana terhadap rencana sebagaimana tabel di atas,
agar dijelaskan:
a. Latar belakang perbedaan realisasi penggunaan dana tersebut.
b. Apakah perubahan penggunaan dana tersebut telah memperoleh persetujuan Rapat
Umum Pemegang Saham dan telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan sesuai
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 30/POJK.04/2015 tentang Laporan Realisasi
Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum? Apabila belum, agar dijelaskan dasar
pertimbangannya.
c. Rincian realisasi dana untuk ekspansi jejaring bioskop sebesar Rp1.352.675 juta,
meliputi jumlah bioskop dan layar yang dibangun, lokasi, serta periode realisasinya.
d. Latar belakang pelunasan pokok utang kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Tbk yang lebih besar Rp65.465 juta dibandingkan rencana.
Tanggapan:
Atas perbedaan realisasi penggunaan dana terhadap rencana sebagaimana tabel di atas,
dijelaskan sebagai berikut:
a. Latar belakang perbedaan realisasi penggunaan dana pada ekspansi jejaring bioskop
dan pelunasan pokok utang BRI adalah langkah strategis manajemen untuk melakukan
efisiensi biaya bunga jangka panjang. Langkah ini diambil untuk menurunkan beban
keuangan Perseroan secara signifikan pada periode berjalan, yang pada akhirnya akan
memperbaiki rasio profitabilitas dan struktur permodalan Perseroan.
b. Perubahan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum tersebut tidak
memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) karena bukan
merupakan perubahan yang material. Realisasi penggunaan dana tetap disalurkan pada
pos-pos kegiatan yang sama sesuai yang diungkapkan dalam Prospektus. Perseroan
juga tetap melaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara berkala melalui
Laporan Realisasi Penggunaan Dana (LRPD) sesuai ketentuan POJK Nomor
30/POJK.04/2015, khususnya pada pasal 11.
16
Page 17
c. Rincian realisasi dana untuk ekspansi jejaring bioskop sebesar Rp1.352.675 juta,
meliputi jumlah bioskop dan layar yang dibangun, lokasi, serta periode realisasinya,
sebagai berikut:
Sejak IPO sampai dengan saat ini, Perseroan telah menambah 40 outlet baru dengan
158 layar baru, dengan rincian sebagai berikut:
Periode Jumlah outlet baru Jumlah layar
baru
2 Agustus 2023 – 31 Desember 2023 10 38
1 Januari 2024 – 31 Desember 2024 16 70
1 Januari 2025 – 31 Desember 2025 12 43
1 Januari 2026 – sekarang 2 7
Total 40 158
Rincian dana yang telah direalisasikan untuk ekspansi Perseroan sampai dengan saat
ini dengan melakukan penambahan layar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia
adalah sebagai berikut:
Daftar Lokasi Jumlah dana yang dikeluarkan
menggunakan dana IPO
(dalam jutaan Rp)
Pulau Jawa Rp 886,170
Pulau Sumatera Rp 167,153
Pulau Kalimantan Rp 104,127
Pulau Sulawesi Rp 87,222
Pulau Bali Rp 49,084
Pulau Papua Rp 46,711
Pulau Flores Rp 12,208
Total Rp1,352,675
d. Latar belakang pelunasan pokok utang kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Tbk. yang lebih besar Rp65.465 juta dibandingkan rencana awal telah disampaikan
pada poin 15.a di atas. Bukti pendukung pelunasan utang telah Perseroan sampaikan
dalam surat nomor 64/CNMA-OJK/VII/2025 tanggal 16 Juli 2025.
Lain-lain
16. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga
efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada
publik.
Tanggapan:
Tidak ada informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material, yang dapat
mempengaruhi harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum
diungkapkan kepada publik.
17
Page 18
Demikian tanggapan dan penjelasan ini kami sampaikan. Perseroan berharap tanggapan dan
penjelasan tersebut dapat memberikan informasi yang diperlukan sehubungan dengan
permintaan penjelasan dimaksud.
Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk
Tri Rudy Anitio
Direktur
18
Names mentioned 20 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
person
Adi Pratomo Aryanto Ketua Divisi Penilaian
p.1
unresolved
org
PT Nusantara Elang Sejahtera
p.1 ×4
unresolved
org
PT Megatech Engineering
p.6
unresolved
org
PT Delta Raya Sejahtera
p.6
unresolved
org
PT Delta Raya Sentosa
p.6
unresolved
org
PT Multi Interbuana
p.6
unresolved
org
PT Gading Adipermai
p.7
unresolved
org
PT Lia Anugrah Semesta Semua
p.7
unresolved
org
PT Intra Mandiri
p.7
unresolved
org
PT Kharisma Maju Abadi Semua
p.7
unresolved
org
PT Lia Anugrah Semesta
p.7
unresolved
org
PT Prima Mandala
p.8
unresolved
person
Tri Rudy Anitio
· Direktur
p.18
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.