Back to announcement
20260907_FORU_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32145865_lamp1.pdf
Other Text extracted FORUSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 17
Page 1
Page 2
Tanggapan Atas Daftar Permintaan Penjelasan
PT Fortune Indonesia Tbk (“Perseroan”)
1. Berdasarkan Laporan Keuangan Perseroan per 30 Juni 2026, Pendapatan usaha Perseroan
mengalami penurunan 57,27% dari sebelumnya sebesar Rp24,23 miliar per 30 Juni 2025
menjadi Rp10,35 miliar per 30 Juni 2026. Penurunan tersebut terutama berasal dari penurunan
pendapatan jasa periklanan, pendapatan produksi digital, dan jasa kehumasan yang masing-
masing mengalami penurunan sebesar 40,99%, 65,21%, dan 76,91%.
Agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama yang menyebabkan penurunan pendapatan usaha.
Jawaban:
Penurunan pendapatan usaha pada semester I 2026 terutama disebabkan oleh lebih
rendahnya volume pekerjaan yang terealisasi dan perbedaan waktu pelaksanaan serta
pengakuan pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejumlah
pekerjaan masih berjalan secara bertahap sehingga belum seluruhnya dapat diakui
sebagai pendapatan sampai dengan 30 Juni 2026.
b. Penyebab penurunan sebesar 40,99%, 65,21%, dan 76,91% pada pendapatan jasa
periklanan, produksi digital, dan jasa kehumasan tersebut.
Jawaban:
Penurunan pendapatan pada jasa periklanan, produksi digital, dan jasa kehumasan
terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya volume pekerjaan yang terealisasi pada
semester I 2026 serta perbedaan waktu pelaksanaan dan pengakuan pendapatan.
Khusus jasa kehumasan, penurunan juga dipengaruhi oleh restrukturisasi kegiatan
usaha pada lini tersebut.
c. Strategi dan langkah yang telah dan akan dilakukan manajemen untuk meningkatkan
kembali pendapatan, khususnya pada segmen jasa periklanan, produksi digital, dan
jasa kehumasan.
Jawaban:
Perseroan melakukan penguatan aktivitas business development, optimalisasi cakupan
pekerjaan dari pelanggan yang ada, pengembangan peluang pelanggan baru, serta
transformasi kapabilitas layanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Perseroan
juga melakukan evaluasi atas portofolio layanan untuk meningkatkan produktivitas dan
profitabilitas pekerjaan.
d. Apabila terdapat kontrak atau pipeline pekerjaan yang belum terealisasi sampai dengan
30 Juni 2026, mohon disampaikan nilai kontrak/pipeline tersebut, estimasi waktu
pelaksanaan, serta estimasi kontribusinya terhadap pendapatan Perseroan pada
periode selanjutnya.
Jawaban:
Sampai dengan 30 Juni 2026 terdapat pekerjaan yang pelaksanaannya masih berjalan
secara bertahap dan belum seluruhnya dapat diakui sebagai pendapatan. Pelaksanaan
dan kontribusi pendapatan pada periode berikutnya akan mengikuti progres
pekerjaan, persetujuan pelanggan, dan ketentuan masing-masing kontrak. Rincian nilai
dan periode pekerjaan mengacu pada kontrak/komitmen yang berlaku.
2. Berdasarkan tanggapan atas permintaan penjelasan pada tanggal 19 Juni 2026, “...Laporan
Laba Rugi Perseroan (audited) Periode Q1 2026, Perseroan mencatatkan pendapatan usaha
sebesar Rp5,4 miliar, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan
pendapatan tersebut terutama disebabkan oleh beberapa kontrak pekerjaan yang belum mulai
Page 3
berjalan pada Triwulan I Tahun 2026 dan dijadwalkan mulai berjalan pada periode selanjutnya.
Sejalan dengan penurunan pendapatan tersebut, Perseroan mencatatkan rugi periode berjalan
sebesar Rp4,1 miliar pada Triwulan I Tahun 2026.”
Agar dijelaskan terkait:
a. Progres terkini atas kontrak pekerjaan tersebut.
Jawaban:
Sebagian pekerjaan yang pada Triwulan I 2026 belum berjalan atau belum dapat diakui
sebagai pendapatan telah mulai berjalan pada Triwulan II 2026 dan/atau periode
setelah 30 Juni 2026. Pengakuan pendapatan dilakukan secara bertahap sesuai progres
pekerjaan, persetujuan pelanggan, dan ketentuan kontrak.
b. Penjelasan lebih lanjut mengenai kontrak-kontrak dimaksud, antara lain nilai kontrak,
pihak pemberi kerja, jangka waktu pekerjaan, dan estimasi kontribusi pendapatan dari
masing- masing kontrak terhadap pendapatan Perseroan.
Jawaban:
Kontrak-kontrak dimaksud memiliki pola pelaksanaan yang berbeda, termasuk
pekerjaan yang dilaksanakan secara bertahap dan pekerjaan yang bersifat retainer.
Nilai kontrak, pihak pemberi kerja, jangka waktu pekerjaan, dan kontribusi pendapatan
mengikuti ketentuan masing-masing kontrak. Sampai dengan semester I 2026,
sebagian nilai pekerjaan telah diakui sebagai pendapatan dan sisanya akan diakui
sesuai progres pelaksanaan dan terpenuhinya kriteria pengakuan pendapatan.
3. Terdapat penurunan sebesar 78,04% pada beban langsung dari sebelumnya sebesar Rp12,79
miliar menjadi Rp2,80 miliar. Hal ini sejalan dengan penurunan signifikan pada pendapatan
Perseroan. Namun demikian, beban usaha Perseroan justru meningkat dari sebelumnya
sebesar Rp12,16 miliar menjadi Rp14,69 miliar.
Agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama yang menyebabkan beban langsung turun signifikan sebesar 78,04%, dari
Rp12,79 miliar menjadi Rp2,80 miliar.
Jawaban:
Penurunan beban langsung terutama sejalan dengan penurunan pendapatan dan lebih
rendahnya volume pekerjaan yang terealisasi pada semester I 2026. Karena sebagian
besar beban langsung berkaitan langsung dengan pelaksanaan pekerjaan pelanggan,
penurunan aktivitas tersebut menyebabkan beban langsung turun secara signifikan.
b. Jelaskan terkait komponen beban langsung yang mengalami penurunan terbesar.
Jawaban:
Penurunan terbesar berasal dari beban produksi digital dan jasa periklanan. Beban
produksi digital turun dari Rp5,56 miliar menjadi Rp1,36 miliar, sedangkan beban jasa
periklanan turun dari Rp4,23 miliar menjadi Rp0,88 miliar, sejalan dengan lebih
rendahnya volume pekerjaan pada periode berjalan.
c. Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan beban usaha di saat pendapatan
Perseroan justru mengalami penurunan sebesar 57,27%.
Jawaban:
Beban usaha meningkat dari Rp12,17 miliar menjadi Rp14,69 miliar terutama
disebabkan oleh peningkatan beban gaji, upah dan kesejahteraan karyawan serta
beban imbalan kerja. Peningkatan beban gaji terutama dipengaruhi oleh penguatan
struktur manajemen dan kapabilitas senior untuk mendukung pengembangan usaha,
sedangkan peningkatan beban imbalan kerja terutama berkaitan dengan
restrukturisasi organisasi pada periode berjalan.
Page 4
d. Jelaskan komponen beban usaha yang mengalami peningkatan paling signifikan,
termasuk penjelasan mengenai nature beban tersebut.
Jawaban:
Komponen yang meningkat paling signifikan adalah gaji, upah dan kesejahteraan
karyawan dari Rp9,21 miliar menjadi Rp10,27 miliar serta beban imbalan kerja dari
Rp0,21 miliar menjadi Rp1,82 miliar. Kenaikan beban gaji berkaitan dengan penguatan
kapabilitas organisasi, sedangkan kenaikan beban imbalan kerja terutama berkaitan
dengan kewajiban imbalan kerja sehubungan dengan restrukturisasi organisasi.
e. Dengan kondisi pendapatan yang menurun sementara beban usaha meningkat, mohon
dijelaskan langkah efisiensi yang telah dan akan dilakukan Perseroan.
Jawaban:
Perseroan melakukan efisiensi melalui penyesuaian struktur organisasi dan sumber
daya dengan kebutuhan usaha, pengendalian biaya operasional, peningkatan utilisasi
sumber daya internal, serta evaluasi biaya pihak ketiga. Langkah tersebut dilakukan
secara berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pengembangan
usaha.
f. Apakah peningkatan beban usaha tersebut berpotensi berlanjut pada periode
berikutnya? Jelaskan dampaknya terhadap profitabilitas Perseroan.
Jawaban:
Sebagian peningkatan beban usaha pada semester I 2026 berkaitan dengan
restrukturisasi organisasi dan tidak seluruhnya bersifat berulang. Namun, sebagian
beban terkait penguatan kapabilitas organisasi merupakan bagian dari kebutuhan
operasional ke depan. Perseroan terus melakukan pengendalian biaya agar
pertumbuhan beban usaha sejalan dengan perkembangan pendapatan dan tidak
memberikan tekanan yang berkelanjutan terhadap profitabilitas.
4. Perseroan mencatatkan rugi komprehensif sebesar Rp7,38 miliar dari sebelumnya
mencatatkan rugi sebesar Rp736,67 juta atau kerugian meningkat sebesar 902%.
Agar dijelaskan terkait:
a. Apakah terdapat beban atau kerugian non-operasional/non-recurring yang
memberikan dampak material terhadap rugi komprehensif periode berjalan?
Jawaban:
Ya. Pada semester I 2026 terdapat beban imbalan kerja yang meningkat terutama
sehubungan dengan restrukturisasi organisasi. Beban imbalan kerja tercatat sebesar
Rp1,82 miliar dibandingkan Rp0,21 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagian komponen tersebut bersifat tidak berulang.
b. Mohon dijelaskan langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan manajemen untuk
memperbaiki kinerja operasional dan mengurangi kerugian, khususnya mengingat
beban usaha meningkat di tengah penurunan pendapatan.
Jawaban:
Perseroan melakukan penguatan aktivitas business development dan kapabilitas
layanan untuk meningkatkan pendapatan, disertai penyesuaian struktur organisasi,
pengendalian biaya operasional, peningkatan utilisasi sumber daya, dan evaluasi
profitabilitas pekerjaan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperbaiki kinerja
operasional dan profitabilitas secara bertahap.
Page 5
5. Total aset Perseroan mengalami penurunan sebesar 30,84% dari Rp38,64 miliar pada
31 Desember 2025 menjadi Rp26,73 miliar pada 30 Juni 2026. Hal ini terutama disebabkan oleh
penurunan signifikan pada akun kas dan piutang usaha dengan masing-masing penurunan
sebesar 19,96% dan 59,25%. Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) 4, saldo kas
Perseroan di PT Bank Shinhan Indonesia dan deposito berjangka di PT Bank Hibank Indonesia
mengalami penurunan masing-masing Rp2 miliar. Selain itu, berdasarkan CaLK 5, piutang usaha
pihak ketiga Perseroan pada tahun berjalan mengalami penurunan dari Rp13,4 miliar per 31
Desember 2025 menjadi Rp5,5 miliar per 30 Juni 2026.
Agar dijelaskan terkait:
a. Penyebab penurunan saldo kas Perseroan pada PT Bank Shinhan Indonesia tersebut
selama periode berjalan.
Jawaban:
Perseroan mengalihkan fasilitas dari Bank Shinhan ke Bank Mandiri. Adapun Perseroan
berencana menutup rekening Bank Shinhan.
b. Penyebab penurunan saldo deposito berjangka pada PT Bank Hibank Indonesia
tersebut selama periode berjalan.
Jawaban:
Deposito berjangka pada Bank Hibank sebesar Rp2 miliar telah dicairkan pada periode
berjalan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan kegiatan operasional
Perseroan.
c. Penyebab penurunan piutang usaha pihak ketiga dari Rp13,4 miliar per 31 Desember
2025 menjadi Rp5,5 miliar per 30 Juni 2026.
Jawaban:
Penurunan piutang usaha pihak ketiga dari Rp13,41 miliar menjadi Rp5,46 miliar
terutama disebabkan oleh penerimaan pembayaran dari pelanggan selama periode
berjalan.
d. Apakah penurunan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan penerimaan dari
pelanggan, penghapusan piutang, reklasifikasi, atau faktor lainnya?
Jawaban:
Penurunan piutang terutama disebabkan oleh penerimaan dari pelanggan dan bukan
terutama berasal dari penghapusan atau reklasifikasi piutang. Per 30 Juni 2026,
manajemen berkeyakinan bahwa saldo piutang usaha dapat tertagih sehingga tidak
diperlukan provisi kerugian kredit ekspektasian.
e. Dampak penurunan kas dan piutang usaha tersebut terhadap kondisi likuiditas serta
kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
Jawaban:
Kondisi likuiditas Perseroan masih terjaga. Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas tercatat
sebesar Rp16,44 miliar dan aset lancar sebesar Rp23,42 miliar dibandingkan liabilitas
jangka pendek sebesar Rp9,99 miliar. Perseroan tetap melakukan pemantauan
likuiditas dan jatuh tempo kewajiban secara berkala.
f. Strategi dan langkah-langkah Perseroan ke depan dalam menjaga kecukupan kas dan
mengelola piutang usaha.
Jawaban:
Perseroan menjaga kecukupan kas melalui pemantauan dan perencanaan arus kas
secara berkala, percepatan proses penagihan dan penerimaan piutang, pengendalian
Page 6
pengeluaran berdasarkan prioritas, serta pengelolaan fasilitas modal kerja secara
terukur.
6. Total liabilitas Perseroan mengalami penurunan sebesar 29,7% dari sebelumnya sebesar
Rp15,26 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp10,73 miliar per 30 Juni 2026. Penurunan
tersebut terutama berasal dari penurunan beban yang masih harus dibayar sebesar 45,86%
dari sebelumnya sebesar Rp5,33 miliar menjadi Rp2,89 miliar per 30 Juni 2026.
Agar dijelaskan terkait:
a. Penyebab penurunan total liabilitas, khususnya penurunan beban yang masih harus
dibayar sebesar 45,86% dari Rp5,33 miliar menjadi Rp2,89 miliar.
Jawaban:
Penurunan total liabilitas terutama berasal dari penyelesaian kewajiban selama
periode berjalan. Khusus beban masih harus dibayar, penurunan terutama disebabkan
oleh realisasi kewajiban pihak ketiga yang sebelumnya telah diakui secara akrual dan
pada periode berjalan telah diterima tagihannya dan/atau diselesaikan
pembayarannya.
b. Rincian dan jenis beban yang masih harus dibayar yang mengalami penurunan.
Jawaban:
Penurunan beban masih harus dibayar terutama berasal dari biaya pihak ketiga atas
pekerjaan yang pada akhir tahun sebelumnya telah diakui secara akrual karena tagihan
vendor belum diterima. Pada semester I 2026, seiring diterimanya tagihan vendor,
kewajiban tersebut direalisasikan melalui pembayaran dan/atau dicatat sebagai utang
usaha sesuai status kewajibannya.
c. Dampak penurunan liabilitas tersebut terhadap kondisi keuangan dan arus kas
Perseroan, termasuk kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendek.
Jawaban:
Penurunan liabilitas terutama mencerminkan penyelesaian kewajiban yang
sebelumnya telah dicatat dan menimbulkan arus kas keluar pada periode berjalan.
Meskipun demikian, kondisi likuiditas Perseroan masih memadai untuk memenuhi
kewajiban jangka pendek, dengan tetap dilakukan pemantauan arus kas dan jatuh
tempo kewajiban secara berkala.
d. Dalam hal penurunan tersebut disebabkan oleh pembayaran kewajiban, agar
dijelaskan sumber dana yang digunakan untuk pembayaran tersebut.
Jawaban:
Pembayaran kewajiban terutama menggunakan kas yang tersedia, penerimaan dari
pelanggan, dan sumber pendanaan modal kerja yang tersedia bagi Perseroan.
e. Agar dijelaskan apakah terdapat kewajiban material yang telah jatuh tempo namun
belum dibayarkan per 30 Juni 2026, termasuk nilai dan umur kewajiban tersebut.
Jawaban:
Per 30 Juni 2026 terdapat utang usaha pihak ketiga yang telah jatuh tempo sebesar
Rp1,18 miliar, yang sebagian besar berada pada kategori 1–30 hari sebesar Rp936,26
juta, sedangkan sisanya berada pada kategori di atas 30 hari. Dari saldo kategori 1–30
hari tersebut, sebesar Rp854,28 juta telah dibayarkan pada minggu pertama Juli 2026.
Perseroan melakukan pemantauan dan penyelesaian kewajiban sesuai dengan jadwal
pembayaran dan pengelolaan arus kas.
Page 7
f. Apakah terdapat perubahan kebijakan atau metode pengakuan akrual selama periode
berjalan yang menyebabkan saldo beban yang masih harus dibayar menurun secara
signifikan?
Jawaban:
Tidak terdapat perubahan kebijakan atau metode pengakuan akrual yang material
selama periode berjalan. Penurunan saldo terutama disebabkan oleh realisasi
kewajiban yang sebelumnya telah diakui secara akrual.
g. Dampak penurunan liabilitas tersebut terhadap arus kas Perseroan.
Jawaban:
Penurunan liabilitas menimbulkan arus kas keluar sepanjang penurunan tersebut
berasal dari pembayaran kewajiban. Pembayaran dilakukan dengan
mempertimbangkan ketersediaan kas, penerimaan dari pelanggan, dan kebutuhan
modal kerja Perseroan.
h. Mengingat total liabilitas mengalami penurunan secara signifikan sementara total aset
Perseroan juga mengalami penurunan, agar dijelaskan dampak perubahan struktur
aset dan liabilitas tersebut terhadap kondisi likuiditas dan solvabilitas Perseroan.
Jawaban:
Per 30 Juni 2026, Perseroan memiliki aset lancar sebesar Rp23,42 miliar dibandingkan
liabilitas jangka pendek sebesar Rp9,99 miliar, sehingga kondisi likuiditas masih terjaga.
Dari sisi solvabilitas, Perseroan tetap memonitor perkembangan ekuitas, tingkat
leverage, dan kemampuan memenuhi kewajiban, terutama dengan
mempertimbangkan kerugian pada periode berjalan.
7. Total ekuitas Perseroan mengalami penurunan sebesar 31,58% dari sebelumnya sebesar
Rp23,38 miliar menjadi Rp15,99 miliar. Penurunan tersebut terutama berasal dari peningkatan
pada saldo defisit yang terus meningkat dari sebelumnya defisit sebesar Rp43,92 miliar menjadi
defisit Rp51,30 miliar. Hal tersebut sejalan dengan rugi komprehensif tahun berjalan yang
dicatatkan oleh Perseroan terus meningkat pada periode berjalan.
Agar dijelaskan terkait:
a. Penyebab peningkatan saldo defisit Perseroan dan rincian transaksi yang
menyebabkan peningkatan defisit tersebut.
Jawaban:
Peningkatan saldo defisit dari Rp43,92 miliar menjadi Rp51,31 miliar terutama
disebabkan oleh rugi periode berjalan sebesar Rp7,38 miliar
b. Faktor utama yang menyebabkan Perseroan masih membukukan rugi.
Jawaban:
Perseroan masih membukukan rugi terutama karena penurunan pendapatan yang
signifikan, sementara beban usaha meningkat pada periode berjalan. Kondisi tersebut
menyebabkan laba kotor yang dihasilkan belum mencukupi untuk menutup beban
usaha.
c. Komponen pendapatan dan beban yang paling signifikan berkontribusi terhadap rugi
komprehensif tahun berjalan, termasuk perubahan dibandingkan dengan periode yang
sama tahun sebelumnya.
Jawaban:
Komponen yang paling signifikan adalah penurunan pendapatan dari Rp24,24 miliar
menjadi Rp10,36 miliar. Beban langsung turun dari Rp12,79 miliar menjadi Rp2,81
miliar, sedangkan beban usaha meningkat dari Rp12,17 miliar menjadi Rp14,69 miliar,
Page 8
terutama pada beban gaji, upah dan kesejahteraan karyawan serta beban imbalan
kerja.
d. Mengingat defisit Perseroan telah mencapai Rp51,30 miliar, agar dijelaskan rencana
dan strategi Perseroan untuk mengurangi defisit tersebut, termasuk target waktu
Perseroan untuk mencapai profitabilitas.
Jawaban:
Perseroan berupaya mengurangi defisit melalui perbaikan profitabilitas secara
berkelanjutan dengan meningkatkan pendapatan, memperkuat pengembangan usaha,
meningkatkan produktivitas, dan mengendalikan struktur biaya. Perbaikan kinerja
ditargetkan berlangsung secara bertahap, sedangkan waktu pencapaian profitabilitas
akan bergantung pada realisasi pekerjaan dan kondisi usaha.
e. Agar dijelaskan dampak peningkatan defisit terhadap kemampuan Perseroan dalam
memenuhi kewajiban kepada kreditur dan pihak lainnya.
Jawaban:
Peningkatan defisit belum mengganggu kemampuan Perseroan dalam memenuhi
kewajiban. Per 30 Juni 2026, Perseroan masih memiliki ekuitas positif sebesar Rp16,00
miliar dan terus melakukan pemantauan likuiditas serta arus kas untuk memastikan
pemenuhan kewajiban sesuai jatuh tempo.
f. Apakah terdapat risiko pelanggaran terhadap covenant atau persyaratan tertentu atas
fasilitas pendanaan yang dimiliki Perseroan?
Jawaban:
Perseroan telah memastikan tidak terdapat pelanggaran terhadap covenant atas
fasilitas pendanaan yang dimiliki Perseroan. Terkait dengan aksi korporasi Perseroan
(PMHMETD I), Perseroan telah memperoleh persetujuan (waiver) dari kreditur.
g. Agar dijelaskan apakah terdapat kejadian atau transaksi setelah 30 Juni 2026 yang
berpotensi memberikan dampak material terhadap posisi ekuitas dan defisit
Perseroan.
Jawaban:
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, selain informasi yang telah
disampaikan melalui keterbukaan informasi Perseroan, tidak terdapat kejadian atau
transaksi setelah 30 Juni 2026 yang memberikan dampak material terhadap posisi
ekuitas dan defisit Perseroan.
8. Berdasarkan Laporan Arus Kas Perseroan, arus kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi
mengalami penurunan dan berbalik arah dari sebelumnya sebesar Rp1,82 miliar per 30 Juni
2025 menjadi arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp4,46 miliar per
30 Juni 2026. Penurunan ini terjadi karena menurunnya jumlah penerimaan kas dari pelanggan
sementara pembayaran beban usaha meningkat.
Agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama penyebab perubahan arus kas bersih dari aktivitas operasi Perseroan
berbalik menjadi arus kas digunakan untuk aktivitas operasi.
Jawaban:
Perubahan arus kas operasi menjadi negatif terutama dipengaruhi oleh penurunan
penerimaan kas dari pelanggan, sementara Perseroan tetap melakukan pembayaran
kepada karyawan, pemasok, dan kebutuhan operasional lainnya pada periode berjalan.
b. Penyebab penurunan penerimaan kas dari pelanggan pada periode berjalan.
Page 9
Jawaban:
Penerimaan kas dari pelanggan turun dari Rp29,26 miliar menjadi Rp18,71 miliar,
terutama sejalan dengan lebih rendahnya pendapatan yang terealisasi serta perbedaan
waktu antara pengakuan pendapatan, penagihan, dan penerimaan pembayaran.
c. Penyebab peningkatan pembayaran imbalan kerja, termasuk rincian komponen
pembayaran tersebut.
Jawaban:
Peningkatan pembayaran kepada Direksi dan karyawan terutama dipengaruhi oleh
pembayaran remunerasi rutin dan pembayaran manfaat karyawan sehubungan
dengan restrukturisasi organisasi. Pembayaran manfaat karyawan jangka panjang pada
semester I 2026 tercatat sebesar Rp2,84 miliar.
d. Apakah terdapat pembayaran imbalan kerja yang bersifat tidak berulang (non-
recurring) selama periode per 30 Juni 2026?
Jawaban:
Ya. Sebagian pembayaran manfaat karyawan pada semester I 2026 bersifat tidak
berulang karena berkaitan dengan restrukturisasi organisasi dan penyelesaian
kewajiban imbalan kerja.
e. Komponen lain dalam aktivitas operasi yang mengalami perubahan material dan turut
berkontribusi terhadap arus kas operasi negatif sebesar Rp4,46 miliar.
Jawaban:
Selain penurunan penerimaan kas dari pelanggan, perubahan material dalam aktivitas
operasi terutama berasal dari pembayaran kepada pemasok yang menurun dari
Rp15,55 miliar menjadi Rp5,97 miliar, sedangkan pembayaran beban usaha meningkat
dari Rp2,41 miliar menjadi Rp5,21 miliar. Penurunan pembayaran kepada pemasok
memberikan dampak positif terhadap arus kas, namun belum dapat mengimbangi
penurunan penerimaan kas dari pelanggan serta peningkatan pembayaran beban
usaha dan pembayaran kewajiban operasional lainnya. Dengan demikian, secara
keseluruhan arus kas neto dari aktivitas operasi pada periode berjalan menjadi negatif
sebesar Rp4,46 miliar.
f. Sumber pendanaan yang digunakan Perseroan untuk menutup kebutuhan kas
operasional akibat arus kas negatif dari aktivitas operasi selama periode berjalan.
Jawaban:
Kebutuhan kas operasional dipenuhi dari saldo kas yang tersedia, penerimaan dari
pelanggan, pencairan deposito berjangka, dan fasilitas modal kerja yang tersedia bagi
Perseroan.
g. Strategi Perseroan dalam mengurangi risiko kekurangan kas untuk membiayai kegiatan
operasional dan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Jawaban:
Perseroan melakukan perencanaan dan pemantauan arus kas secara berkala,
memprioritaskan pengeluaran, mempercepat proses penagihan dan penerimaan
piutang, serta mengelola fasilitas modal kerja secara terukur.
h. Strategi Perseroan untuk memperbaiki arus kas dari aktivitas operasi.
Jawaban:
Page 10
Perseroan berupaya memperbaiki arus kas operasi melalui peningkatan pendapatan,
percepatan penagihan dan penerimaan piutang, pengendalian biaya operasional, serta
pengelolaan modal kerja yang lebih efektif.
i. Apakah terdapat kejadian atau transaksi setelah 30 Juni 2026 yang berdampak material
terhadap posisi kas dan arus kas operasi Perseroan?
Jawaban:
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, selain informasi yang telah
disampaikan melalui keterbukaan informasi Perseroan, tidak terdapat kejadian atau
transaksi setelah 30 Juni 2026 yang berdampak material terhadap posisi kas dan arus
kas operasi Perseroan.
9. Per 30 Juni 2026, Net Profit Margin (NPM) Perseroan menurun signifikan dari -3,04% menjadi
-71,30% hal ini dikarenakan Perseroan mencatatkan kerugian tahun berjalan yang semakin
meningkat pada periode ini. Terkait rasio likuiditas, tidak terdapat perubahan signifikan dari
sebelumnya Current Ratio sebesar 2,54x menjadi 2,34x pada periode ini. Begitupun untuk rasio
Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR) Perseroan per 30 Juni 2026 masing-
masing sebesar 0,67x dan 0,40x dari sebelumnya masing-masing sebesar 0,65x dan 0,40x per
31 Desember 2025.
Agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama yang menyebabkan NPM Perseroan menurun signifikan.
Jawaban:
Penurunan NPM terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan yang signifikan
sementara beban usaha meningkat. Pendapatan turun dari Rp24,24 miliar menjadi
Rp10,36 miliar, sedangkan beban usaha meningkat dari Rp12,17 miliar menjadi
Rp14,69 miliar.
b. Komponen pendapatan dan beban apa yang paling berkontribusi terhadap
peningkatan kerugian tahun berjalan Perseroan pada periode 30 Juni 2026.
Jawaban:
Kontributor utama peningkatan kerugian adalah penurunan pendapatan sebesar
Rp13,88 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, disertai
peningkatan beban usaha sekitar Rp2,53 miliar. Penurunan beban langsung belum
cukup mengimbangi dampak kedua faktor tersebut.
c. DAR Perseroan tetap sebesar 0,40x meskipun DER meningkat. Bagaimana manajemen
menilai kondisi struktur permodalan dan tingkat leverage Perseroan saat ini, khususnya
dalam kaitannya dengan peningkatan kerugian tahun berjalan?
Jawaban:
Manajemen menilai kondisi struktur permodalan dan tingkat leverage Perseroan saat
ini masih sesuai dengan financial covenant yang disyaratkan kreditur. Terkait dengan
peningkatan kerugian tahun berjalan, Perseroan telah melakukan langkah-langkah
strategis untuk memperbaiki kinerja keuangan di tahun depan. Salah satu langkah
strategis adalah melalui aksi korporasi Perseroan.
10. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek
serta kelangsungan usaha Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.
Jawaban:
Tidak terdapat informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat
mempengaruhi harga efek serta kelangsungan usaha Perseroan yang belum diungkapkan
kepada publik.
Page 11
11. Berdasarkan Laporan Keuangan PT Borneo Prima (BP) per 31 Maret 2026 yang disampaikan
oleh Perseroan bersamaan dengan permintaan penjelasan Bursa tanggal 30 Juni 2026, berikut
merupakan ikhtisar dari laporan keuangan BP:
i. Pendapatan usaha BP mengalami peningkatan 78,93% dari sebelumnya sebesar
Rp6,31 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp11,28 miliar per 31 Maret 2026.
ii. BP mencatatkan laba komprehensif per 31 Maret 2026 sebesar Rp965,9 juta dari
sebelumnya mencatatkan rugi komprehensif sebesar Rp5,81 miliar.
iii. Total aset BP mengalami peningkatan sebesar 34,41% dari Rp24,65 miliar pada 31
Desember 2025 menjadi Rp33,14 miliar pada 31 Maret 2026.
iv. Total liabilitas BP mengalami peningkatan sebesar 18,48% dari sebelumnya sebesar
Rp76,63 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp90,80 miliar per 31 Maret 2026.
v. Total ekuitas BP mengalami peningkatan sebesar 0,97% dari sebelumnya sebesar
Rp49,49 miliar menjadi Rp49,97 miliar. Per 31 Maret 2026, saldo defisit menurun dari
sebelumnya defisit Rp73,95 miliar menjadi defisit Rp72,98 miliar. Hal tersebut sejalan
dengan rugi komprehensif tahun berjalan yang dicatatkan oleh BP terus meningkat
pada periode berjalan.
Atas hal tersebut, agar dijelaskan terkait:
a. Faktor utama penyebab peningkatan signifikan pada pendapatan usaha BP.
Jawaban:
Pendapatan bersih BP pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026 meningkat
menjadi USD11,29 juta dibandingkan USD6,31 juta pada periode tiga bulan yang
berakhir 31 Maret 2025. Dengan demikian, peningkatan sebesar 78,93% merupakan
perbandingan antarperiode kuartal I dan bukan perbandingan dengan pendapatan
untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2025. Peningkatan tersebut terutama berasal
dari peningkatan realisasi pengiriman dan penjualan batu bara setelah perbaikan
kesiapan operasional, ketersediaan alat, serta pengelolaan kegiatan produksi dan
pengiriman.
b. Kontribusi masing-masing segmen atau jenis usaha terhadap peningkatan pendapatan.
Jawaban:
Pendapatan bersih BP pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026 sebesar
USD11,29 juta seluruhnya berasal dari kegiatan usaha utama, yaitu penjualan batu
bara. BP tidak memiliki segmen usaha material lainnya di luar kegiatan pertambangan
dan penjualan batu bara.
c. Apakah terdapat tambahan kontrak jangka panjang? Jelaskan.
Jawaban:
Hingga saat ini belum terdapat tambahan kontrak jangka panjang. Saat ini, BP memiliki
kontrak jangka panjang / perjanjian jual beli batubara dengan IMR Group. Kedepannya,
BP tetap menjajaki peluang kerja sama dan perluasan basis pelanggan untuk
memperkuat keberlanjutan penjualan.
d. Penyebab peningkatan signifikan atas total aset pada tahun berjalan.
Jawaban:
Kenaikan sebesar 34,41% terjadi pada aset lancar BP, dari USD24,65 juta pada 31
Desember 2025 menjadi USD33,14 juta pada 31 Maret 2026. Sementara itu, total aset
BP meningkat dari USD126,13 juta menjadi USD140,78 juta, atau sebesar 11,61%.
Kenaikan total aset sebesar USD14,64 juta terutama berasal dari peningkatan aset
lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar meningkat sebesar USD8,48 juta, terutama
Page 12
karena peningkatan kas dan bank, piutang usaha, persediaan, serta piutang lain-lain.
Sementara itu, aset tidak lancar meningkat sebesar USD6,16 juta, terutama karena
peningkatan properti pertambangan dan deposito yang dibatasi penggunaannya.
Kedua kenaikan tersebut berkaitan dengan pengakuan kewajiban reklamasi lingkungan
dan penutupan tambang atau mine closure, dimana kewajiban tersebut dikapitalisasi
sebagai bagian dari properti pertambangan, sedangkan deposito yang dibatasi
penggunaannya ditempatkan sebagai jaminan reklamasi dan penutupan tambang
sesuai ketentuan yang berlaku.
e. Komponen aset yang mengalami peningkatan paling signifikan serta sumber
pendanaan atas peningkatan aset tersebut.
Jawaban:
Komponen aset yang meningkat paling signifikan adalah properti pertambangan, yang
meningkat dari USD45,04 juta pada 31 Desember 2025 menjadi USD49,52 juta pada
31 Maret 2026. Peningkatan tersebut terutama terkait pengakuan aset yang berasal
dari kewajiban reklamasi lingkungan dan penutupan tambang, sesuai dengan standar
akuntansi yang berlaku. Secara akuntansi, kewajiban reklamasi yang timbul
dikapitalisasi sebagai bagian dari aset pertambangan dan akan diamortisasi sesuai
masa manfaat aset terkait. Selain itu, peningkatan aset lancar didukung oleh
penerimaan dari pelanggan, peningkatan realisasi penjualan, serta pengelolaan modal
kerja. Dengan demikian, kenaikan aset tidak semata-mata berasal dari tambahan
pendanaan eksternal, melainkan juga dari aktivitas operasional dan penerapan
perlakuan akuntansi atas kegiatan pertambangan.
f. Penyebab peningkatan total liabilitas pada tahun berjalan.
Jawaban:
Total liabilitas BP meningkat dari USD76,64 juta pada 31 Desember 2025 menjadi
USD90,80 juta pada 31 Maret 2026. Peningkatan tersebut terutama berasal dari
kenaikan uang muka pelanggan, beban akrual, serta provisi reklamasi lingkungan dan
penutupan tambang. Uang muka pelanggan meningkat dari USD51,61 juta menjadi
USD59,62 juta seiring dengan pengaturan komersial dan penerimaan uang muka untuk
mendukung kegiatan penjualan batu bara. Beban akrual meningkat sejalan dengan
aktivitas operasional dan pengakuan biaya yang masih dalam proses verifikasi maupun
penyelesaian pembayaran pada akhir periode. Di samping itu, provisi reklamasi
lingkungan dan penutupan tambang meningkat dari USD0,17 juta menjadi USD4,90
juta. Peningkatan ini merupakan pengakuan kewajiban berdasarkan rencana reklamasi
dan penutupan tambang yang diperbarui, serta dilakukan sesuai ketentuan dan
standar akuntansi yang berlaku.
g. Dengan saldo defisit yang masih cukup besar, bagaimana strategi BP untuk terus
meminimalisir saldo defisit tersebut?
Jawaban:
Strategi BP untuk mengurangi saldo defisit yaitu menjalankan program perbaikan
operasional dan keuangan untuk meningkatkan profitabilitas. Strategi untuk
meningkatkan profitabilitas yang dijalankan meliputi peningkatan produktivitas
kontraktor, penguatan pengawasan kegiatan produksi, perbaikan perencanaan
tambang, pengendalian biaya per ton, dan pengelolaan modal kerja yang lebih baik.
Upaya-upaya tersebut mulai menunjukkan hasil pada kuartal I 2026, di mana BP
membukukan laba periode berjalan sebesar USD0,95 juta dan laba komprehensif
sebesar USD0,97 juta, dibandingkan rugi komprehensif sebesar USD5,81 juta pada
Page 13
periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025. Perseroan akan terus memantau
efektivitas strategi tersebut secara berkala.
h. Target waktu saldo defisit BP dapat berbalik arah menjadi saldo laba ditahan.
Jawaban:
Saldo defisit BP dapat berbalik arah menjadi saldo laba ditahan sangat bergantung pada
profitabilitas itu sendiri, dimana hal ini baru akan tercapai jika target produksi dan
penjualan telah mencapai realisasi diatas 2 juta ton per tahun. Selain itu, kondisi
tersebut akan sangat bergantung pada harga batu bara, kondisi operasional, serta
kondisi pasar. Mengingat posisi BP yang masih defisit cukup besar, agar dijelaskan
pertimbangan Perseroan dalam mengakuisisi BP menjadi anak perusahaan Perseroan.
i. Mengingat posisi BP yang masih defisit cukup besar, agar dijelaskan pertimbangan
Perseroan dalam mengakuisisi BP menjadi anak perusahaan Perseroan.
Jawaban:
Perseroan memilih mengakuisisi BP setelah mempertimbangkan berbagai alternatif
investasi dan ekspansi usaha. Keputusan tersebut didasarkan pada evaluasi
menyeluruh terhadap aspek teknis, operasional, komersial, dan strategis, dengan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
• BP memiliki sumber daya dan cadangan batu bara kokas (coking coal) yang dinilai
memadai untuk mendukung kegiatan usaha dalam jangka panjang. Ketersediaan
cadangan tersebut memberikan tingkat visibilitas produksi yang lebih baik serta
menjadi dasar bagi pengembangan usaha secara berkelanjutan.
• Perseroan menilai bahwa batu bara kokas (coking coal) memiliki prospek yang
menarik karena merupakan bahan baku utama dalam industri baja dan belum
memiliki substitusi yang ekonomis dalam proses produksi baja melalui blast
furnace. Seiring dengan pertumbuhan kebutuhan baja global dan pembangunan
infrastruktur di berbagai negara, permintaan terhadap batu bara kokas (coking
coal) diperkirakan tetap memiliki fundamental yang kuat.
• Perseroan juga mempertimbangkan perkembangan harga batu bara kokas (coking
coal) yang menunjukkan fundamental pasar yang relatif baik dibandingkan
beberapa komoditas tambang lainnya. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung
profitabilitas dan keberlanjutan usaha BP.
• BP telah memiliki perizinan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usahanya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kesiapan
aspek legal dan perizinan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting
karena dapat mendukung kelangsungan operasional dan meminimalkan risiko
pasca-akuisisi.
• BP didukung oleh jajaran manajemen dan tim operasional yang memiliki
pengalaman di industri pertambangan, termasuk pengalaman dalam pengelolaan
tambang batu bara kokas (coking coal). Perseroan menilai bahwa keberadaan
sumber daya manusia yang kompeten merupakan faktor penting untuk menjaga
kesinambungan operasional dan mendukung pencapaian target bisnis setelah
transaksi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Perseroan berpendapat bahwa akuisisi BP merupakan
kombinasi yang baik antara kualitas aset, prospek industri, kesiapan operasional, serta
kompetensi manajemen. Oleh karena itu, dibandingkan alternatif target akuisisi maupun
alternatif ekspansi lainnya, Perseroan menilai bahwa investasi pada BP merupakan pilihan
Page 14
yang paling sesuai dengan strategi pengembangan usaha Perseroan serta diharapkan dapat
memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemegang saham.
12. Berdasarkan tanggapan atas permintaan penjelasan yang Perseroan sampaikan pada tanggal
30 Juni 2026, pada tanggapan nomor 3 Perseroan menjelaskan bahwa belum terdapat pihak
yang akan menjadi pembeli siaga saham HMETD Perseroan. Agar dijelaskan terkait:
a. Sampai dengan saat ini, apakah Perseroan telah memperoleh calon pihak yang
bersedia menjadi Pembeli Siaga atas saham HMETD yang tidak terserap dalam
pelaksanaan PMHMETD?
Jawaban:
Perseroan tidak memiliki calon pihak yang menjadi Pembeli Siaga atas saham HMETD
yang tidak terserap dalam pelaksanaan PMHMETD.
b. Apabila sampai dengan saat ini belum terdapat Pembeli Siaga, bagaimana mitigasi
Perseroan atas risiko tidak terserapnya seluruh saham HMETD yang ditawarkan?
Jawaban:
Diluar HMETD yang akan dimiliki oleh Pemegang Saham Pengendali yang akan
dilaksanakan untuk menyelesaikan rencana inbreng atas saham BP, sisa HMETD yang
ditawarkan ke pemegang saham lainnya akan, apabila dilaksanakan, digunakan untuk
keperluan modal kerja BP. Mengingat tidak terdapat pihak yang menjadi Pembeli Siaga
untuk sisa HMETD tersebut dan apabila dana yang diperoleh dari pemegang saham
publik tidak tersedia untuk pelaksanaan sisa HMETD tersebut, maka kebutuhan modal
kerja BP akan dipenuhi melalui kas internal PT Borneo Prima dengan tetap
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang
berlaku. Meskipun terdapat ketidakpastian dalam pemenuhan tambahan modal kerja
kepada BP, saat ini BP memiliki modal kerja yang cukup untuk dapat melakukan
kegiatan operasional pertambangan. Dalam hal kas internal BP tidak mencukupi,
pemegang saham pengendali BP saat ini yaitu IMR AH telah berkomitmen untuk
mendukung pemenuhan modal kerja tersebut.
c. Apa pertimbangan Perseroan sehingga belum terdapat pihak yang ditetapkan sebagai
Pembeli Siaga, dan apakah kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keberhasilan
pelaksanaan PMHMETD?
Jawaban:
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015 Pasal 12,
Pembeli Siaga hanya diwajibkan dalam hal Perusahaan Terbuka bermaksud melakukan
penambahan modal dengan memberikan HMETD yang penggunaan dananya
digunakan untuk melakukan transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan.
Dalam PMHMETD I Perseroan, tidak terdapat penggunaan dana yang digunakan untuk
melakukan transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan selain perolehan
saham PT Borneo Prima yang dilakukan melalui penyertaan modal IMR AH kepada
Perseroan dalam bentuk selain uang (inbreng). Untuk sisa rencana penggunaan dana
yang berupa modal kerja PT Borneo Prima, merujuk pada Pasal 12 Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015, Perseroan tidak diwajibkan untuk memiliki
atau menunjuk Pembeli Siaga terkait pelaksanaan PMHMETD.
Kondisi tersebut tidak berpotensi memengaruhi keberhasilan pelaksanaan PMHMETD
I Perseroan.
Page 15
d. Apakah Perseroan telah melakukan penjajakan dengan calon investor atau pihak
tertentu untuk menjadi Pembeli Siaga? Jika telah, mohon dijelaskan perkembangan
dan status penjajakannya.
Jawaban:
Perseroan tidak melakukan penjajakan dengan calon investor atau pihak tertentu
untuk menjadi Pembeli Siaga, mengingat tidak diperlukannya Pembeli Siaga dalam
PMHMETD I Perseroan.
e. Apabila sampai dengan batas waktu pelaksanaan PMHMETD masih belum terdapat
Pembeli Siaga, bagaimana rencana Perseroan untuk memastikan kebutuhan dana yang
menjadi tujuan PMHMETD tetap dapat terpenuhi?
Jawaban:
Tidak terdapat Pembeli Siaga dalam PMHMETD I Perseroan, dikarenakan untuk sisa
rencana penggunaan dana yang berupa modal kerja, merujuk pada Pasal 12 Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015, Perseroan tidak diwajibkan untuk
memiliki atau menunjuk Pembeli Siaga terkait pelaksanaan PMHMETD. Berdasarkan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015 Pasal 12, Pembeli Siaga
hanya diwajibkan dalam hal Perusahaan Terbuka bermaksud melakukan penambahan
modal dengan memberikan HMETD yang penggunaan dananya digunakan untuk
melakukan transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan. Dalam PMHMETD I
Perseroan, tidak terdapat penggunaan dana yang digunakan untuk melakukan
transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan selain perolehan saham PT
Borneo Prima yang dilakukan melalui penyertaan modal IMR AH kepada Perseroan
dalam bentuk selain uang (inbreng).
Perlu diperhatikan bahwa salah satu rencana penggunaan dana hasil PMHMETD I
Perseroan, yaitu yang diperoleh dari pelaksanaan HMETD oleh pemegang saham publik
adalah untuk membiayai sebagian kebutuhan modal kerja. Meskipun terdapat
ketidakpastian dalam pemenuhan tambahan modal kerja kepada BP, saat ini BP
memiliki modal kerja yang cukup untuk dapat melakukan kegiatan operasional
pertambangan. Dalam hal kas internal BP tidak mencukupi, pemegang saham
pengendali BP saat ini yaitu IMR AH telah berkomitmen untuk mendukung pemenuhan
modal kerja tersebut.
f. Apakah belum adanya Pembeli Siaga berkaitan dengan kondisi pasar atau minat
investor terhadap saham Perseroan? Mohon dijelaskan pertimbangannya?
Jawaban:
Tidak terdapat Pembeli Siaga dalam PMHMETD I Perseroan, dikarenakan untuk sisa
rencana penggunaan dana yang berupa modal kerja, merujuk pada Pasal 12 Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015, Perseroan tidak diwajibkan untuk
memiliki atau menunjuk Pembeli Siaga terkait pelaksanaan PMHMETD. Berdasarkan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.04/2015 Pasal 12, Pembeli Siaga
hanya diwajibkan dalam hal Perusahaan Terbuka bermaksud melakukan penambahan
modal dengan memberikan HMETD yang penggunaan dananya digunakan untuk
melakukan transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan. Dalam PMHMETD I
Perseroan, tidak terdapat penggunaan dana yang digunakan untuk melakukan
transaksi dengan nilai tertentu yang telah ditetapkan selain perolehan saham PT
Borneo Prima yang dilakukan melalui penyertaan modal IMR AH kepada Perseroan
dalam bentuk selain uang (inbreng).
Page 16
g. Apakah Perseroan telah memiliki alternatif pendanaan lain apabila terdapat saham
HMETD yang tidak terserap dan tidak terdapat Pembeli Siaga? Agar dijelaskan sumber
dan rencana penggunaannya.
Jawaban:
Meskipun terdapat ketidakpastian dalam pendanaan yang diperoleh dari pelaksanaan
HMETD oleh pemegang saham publik, saat ini BP memiliki modal kerja yang cukup
untuk dapat melakukan kegiatan operasionalnya. Dalam hal kas internal BP tidak
mencukupi, pemegang saham pengendali BP saat ini yaitu IMR AH telah berkomitmen
untuk mendukung pemenuhan modal kerja tersebut.
13. Berdasarkan Prospektus, disebutkan bahwa penggunaan dana Perseroan dari PMHMETD
adalah:
i. Sekitar 76,81% akan digunakan untuk memperoleh Saham PT Borneo Prima (BP) Milik
IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH) senilai Rp21.241.250.000.082 oleh Perseroan yang
dilakukan melalui penyertaan modal IMR AH kepada Perseroan dalam bentuk selain
uang (inbreng).
ii. Sisa dana PMHMETD I yang diperoleh dari publik dalam bentuk uang, akan disalurkan
oleh Perseroan dalam bentuk pinjaman kepada BP yang selanjutnya akan digunakan
untuk membiayai sebagian kebutuhan modal kerja yang berkaitan dengan kegiatan
operasional untuk aktivitas-aktivitas yang dapat mendukung kegiatan operasional
pertambangan serta menunjang aktivitas produksi.
BP berlokasi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan wilayah konsesi yang
seluas 15.000 hektare dan memiliki cadangan batu bara yang memiliki kalori (CV adb) sampai
dengan 7.850 kcal/kg. Agar disebutkan kapasitas produksi BP.
Agar dijelaskan terkait:
a. Mengingat BP berlokasi di Kalimantan Tengah yang saat ini berada dalam kondisi siaga
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), agar dijelaskan apakah terdapat dampak
Karhutla terhadap wilayah konsesi, kegiatan operasional, infrastruktur, akses/jalan
angkut, maupun aktivitas produksi BP.
Jawaban:
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, Karhutla di wilayah Kalimantan
Tengah tidak memberikan dampak signifikan terhadap wilayah konsesi, kegiatan
operasional, infrastruktur, akses/jalan angkut, maupun aktivitas produksi BP. Hal ini
didukung oleh lokasi operasional BP yang relatif jauh dari wilayah terdampak Karhutla
dan berada pada elevasi di atas 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun demikian,
kondisi Karhutla di sekitar wilayah Kalimantan Tengah menyebabkan terdapatnya
sedikit dampak berupa asap di sekitar wilayah operasional BP. Namun, kondisi tersebut
tidak memengaruhi jarak pandang (visibility) maupun kelancaran kegiatan operasional,
sehingga kegiatan operasional dan produksi BP masih berjalan sebagaimana mestinya.
b. Apabila terdapat dampak Karhutla terhadap kegiatan operasional BP, agar dijelaskan
besaran dampaknya terhadap kapasitas dan/atau realisasi produksi batu bara serta
Jawaban:
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, tidak terdapat dampak Karhutla
terhadap kegiatan operasional BP, sehingga adanya Karhutla tidak memberikan
dampak terhadap kapasitas dan/atau realisasi produksi batu bara BP.
c. Apakah terdapat potensi gangguan terhadap pencapaian target produksi tahun 2026.
Jawaban:
Page 17
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, tidak terdapat potensi gangguan terhadap pencapaian target produksi tahun 2026.
Names mentioned 11 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Bank Hibank Indonesia
p.5 ×2
unresolved
org
Bank Shinhan
p.5 ×2
unresolved
org
Bank Mandiri. Adapun
p.5
unresolved
org
Bank Hibank
p.5
unresolved
org
PT Borneo Prima
p.11 ×7
unresolved
org
Milik IMR Asia Holding Pte Ltd
p.16
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.