Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 53
Page 1
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK LAPORAN KEUANGAN TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT) (MATA UANG RUPIAH INDONESIA)
Page 2
PT. YANAPRIMA HASTAPERSADA TbK.
GEDONC GRAHT If, M I,ANI I i E
l JL. E, N- RASUNA SAID BLOX X . I XAV. I.1 I(UNINGAN TIMIJR
JAXARTA1299.INDONf,SIA'
Tf,LP(021)52611?2-3,51613?rl-5r X-(02D5161417
rso HACCP
I JL. PAIIL.TWAN. DESA CEMENGX LANC
SIDOARJO 6I25I, JATIM, INOONESIA
TELL(0!t)t9696t&20r X.(Olr)lr6Trrt
EMAIL il.@yrnrpriDl@n 36359/eL/0001/UK/En 36359/B/OOO1/UICEi
nn-td.@y.!.p.,m....r
SURAT PERNYATAAN DIREKSI
TENTANG TANGCUNG JAWAB ATAS LAPORAN KEUANGAN
PI YANAPRIMA TLCSTAPERSADA TBK. ("Persermn")
TANCCAL 3l Maret 2026 DAN 2025
UNTUK PERIODE 3 (TICA) BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT
Kami, yang b€nanda-targa.n di bawah ini
I Naina JAP IRWAN SUSANTO
Gedung Craha lram4 Lantai 2-E
Jl. H.R. Rasuna Said Blok x-1. Kav. 0l/02
Jalarta I 2950
Alam.t Rumah Bi ang Graha Family v, Blok Gl35
RT.003 RW.ol l. Babstar\ Wiyung, Sumbaya
Jabalan Drcktur Utsma
Nama RINAWATI
Alamat Kantor Gedung Craha lrama. Lantai 2-E
Jl H.R. R$una Said Blok X-1. Kav.0l/02
Jakartr 12950
Alamal Rumah Babatan Pratama 28/VV-80
RT. 006 RW.00E. Babatan. wivung, Sumbava
Jabalan Direklur Keuangan
Menyatakn bshws:
l. Kami berlanggung jawab atas p€nyusunan dan penyajian laporan kewmgan Perseroan'
2- Lapolrln keuangan Peneroan telah disusun dan disajika,t sesuai denga,l Standar Akuntansi
Keuangan di lndonesia.
3. a. Semua informasi dalam lapomn keuangan PeNeroan telah dimuat secam lengkap dan b€nar;
b. taporan keuangan Perseroan ridak mengandung informasi atau fakta material yang tidak benar
dan tidak menghilangkan informasi arau faka marerial'
4. Karni bertanggungjawab atas sistem pengendalian intemal dalam
Persercan'
Demikian Pemyataan ini dibuat dengan sebenamya'
Jakart4
27 APril 2026
93397
l{ INAWATI JAP I WAN S NTO
Direktur Keuahgon Direklur Ulama
Page 3
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT)
DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN
YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
DAFTAR ISI
Halaman
Laporan Posisi Keuangan ……………………………………………………………………. 1-2
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain ………………………………… 3
Laporan Perubahan Ekuitas ………………………………………………………………….. 4
Laporan Arus Kas ……………………………………………………………………………… 5
Catatan atas Laporan Keuangan …………………………………………………………….. 6 - 50
**************************
Page 4
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN POSISI KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Catatan 31 Maret 2026 31 Desember 2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 5 3.119.414.320 9.051.219.908
Piutang usaha
Pihak berelasi 6, 7, 13 1.140.652.374 2.676.718.745
Pihak ketiga 6, 13 78.544.607.120 80.736.967.770
Piutang lain-lain - pihak ketiga 253.561.400 156.620.884
Persediaan 8, 13 59.531.924.336 59.047.165.204
Pajak dibayar dimuka 15 1.403.754.521 312.982.684
Biaya dibayar di muka 204.580.341 13.790.721
Uang muka pembelian 9 24.347.958.854 6.549.589.695
Jumlah Aset Lancar 168.546.453.266 158.545.055.611
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan - bersih 15 2.317.872.641 2.346.015.808
Aset tetap - bersih 10, 13 92.586.483.180 95.866.311.468
Taksiran klaim pajak penghasilan 15 6.406.121.735 5.912.396.899
Aset hak-guna - bersih 11 121.930.306 152.851.520
Aset tidak lancar lain-lain 12 200.000.000 200.000.000
Jumlah Aset Tidak Lancar 101.632.407.862 104.477.575.695
JUMLAH ASET 270.178.861.128 263.022.631.306
Catatan atas Laporan Keuangan terlampir merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
1
Page 5
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN POSISI KEUANGAN (lanjutan)
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Catatan 31 Maret 2026 31 Desember 2025
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek 13 61.600.000.000 59.600.000.000
Utang usaha
pihak ketiga 14 11.504.124.405 7.122.923.044
pihak berelasi 7, 14 1.026.113.572 1.301.720.300
Utang pajak 15 174.846.126 15.107.309
Beban harus dibayar 16 2.650.693.712 2.815.221.014
Uang muka dari pelanggan 20 2.829.639.641 921.996.367
Liabilitas sewa jangka pendek 11 39.158.746 78.317.492
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek 16 6.703.028.749 6.892.959.682
Utang pembelian aset tetap 10 47.175.000 73.895.000
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 86.574.779.951 78.822.140.208
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang pihak berelasi 7 50.000.000.000 50.000.000.000
Estimasi liabilitas atas imbalan kerja karyawan 24 4.289.385.924 4.246.659.398
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 54.289.385.924 54.246.659.398
Jumlah Liabilitas 140.864.165.875 133.068.799.606
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham
Modal dasar - 2.000.000.000 saham
Modal ditempatkan dan disetor penuh -
668.000.089 saham 17 66.800.008.900 66.800.008.900
Tambahan modal disetor - bersih 18 28.054.021.637 28.054.021.637
Penghasilan komprehensif lain 2.685.947.273 2.609.873.180
Saldo laba
Telah ditentukan penggunaannya
untuk dana cadangan umum 14.000.000.000 14.000.000.000
Belum ditentukan penggunaannya 17.774.717.443 18.489.927.983
Jumlah Ekuitas 129.314.695.253 129.953.831.700
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 270.178.861.128 263.022.631.306
Catatan atas Laporan Keuangan terlampir merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
2
Page 6
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
2026 2025
Catatan (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
PENJUALAN BERSIH 7, 20 86.418.815.228 86.863.802.303
BEBAN POKOK PENJUALAN 7, 21 (80.465.506.505 ) (83.305.116.412)
LABA BRUTO 5.953.308.723 3.558.685.891
BEBAN USAHA
Beban penjualan 22 (1.917.855.077 ) (2.811.139.445)
Beban umum dan administrasi 22 (4.607.661.098 ) (4.503.407.782)
Jumlah beban usaha (6.525.516.175 ) (7.314.547.227)
RUGI USAHA (572.207.452 ) (3.755.861.336)
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
Beban keuangan 23 (343.288.685 ) (683.041.457)
Pemulihan (penyisihan) atas kerugian
kredit ekspetasian 6 79.483.159 (173.085.081)
Laba penjualan aset tetap 10 40.540.541 84.375.000
Selisih kurs - bersih 66.262.760 128.164.911
Pendapatan bunga 10.289.470 2.712.537
Lain-lain - bersih 10.396.038 (66.263.132)
Beban lain-lain - bersih (136.316.717 ) (707.137.222)
RUGI SEBELUM MANFAAT (BEBAN)
PAJAK PENGHASILAN (708.524.169 ) (4.462.998.558)
MANFAAT (BEBAN )PAJAK PENGHASILAN 15
Pajak tangguhan (6.686.371 ) 116.428.091
Manfaat (beban) Pajak Penghasilan (6.686.371 ) 116.428.091
RUGI PERIODE BERJALAN (715.210.540 ) (4.346.570.467)
LABA KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang Tidak akan Direklasifikasi
ke Laba Rugi
Keuntungan aktuarial
atas program imbalan pasti 97.530.889 22.156.010
Pajak penghasilan atas keuntungan
aktuarial atas program imbalan pasti (21.456.796 ) (4.874.322)
Laba Komprehensif Lain - Setelah Pajak 76.074.093 17.281.688
JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF
PERIODE BERJALAN (639.136.447 ) (4.329.288.779)
RUGI PER SAHAM 28 (1,07 ) (6,5)
Catatan atas Laporan Keuangan terlampir merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
3
Page 7
q
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Saldo Laba
Tambahan Penghasilan
Modal Disetor - Komprehensif Belum Ditentukan Telah Ditentukan
Modal Saham Bersih Lain Penggunaannya Penggunaannya Jumlah Ekuitas
Saldo 31 Desember 2024 66.800.008.900 28.054.021.637 2.305.576.805 12.988.720.710 14.000.000.000 124.148.328.052
Rugi periode berjalan - - - (4.346.570.467) - (4.346.570.467)
Laba komprehensif lain
periode berjalan - setelah pajak - - 17.281.688 - - 17.281.688
Saldo 31 Maret 2025 66.800.008.900 28.054.021.637 2.322.858.493 8.642.150.243 14.000.000.000 119.819.039.273
Saldo 31 Desember 2025 66.800.008.900 28.054.021.637 2.609.873.180 18.489.927.983 14.000.000.000 129.953.831.700
Rugi periode berjalan - - - (715.210.540) - (715.210.540)
Laba komprehensif lain
periode berjalan - setelah pajak - - 76.074.093 - - 76.074.093
Saldo 31 Maret 2026 66.800.008.900 28.054.021.637 2.685.947.273 17.774.717.443 14.000.000.000 129.314.695.253
Catatan atas Laporan Keuangan terlampir merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
4
Page 8
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
LAPORAN ARUS KAS
TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
2026 2025
Catatan (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Penerimaan kas dari pelanggan 92.054.885.523 83.035.685.424
Pembayaran kas kepada pemasok (75.100.245.477 ) (67.494.270.091)
Pembayaran kas kepada karyawan (18.732.240.224 ) (20.907.905.553)
Pembayaran beban usaha (3.957.191.526 ) (5.779.856.888)
Kas yang digunakan untuk operasi (5.734.791.704 ) (11.146.347.108)
Pembayaran beban keuangan (347.530.352 ) (712.664.508)
Penerimaan (pembayaran) pajak penghasilan
dan pajak pertambahan nilai (1.424.757.856 ) 2.017.149.942
Pendapatan bunga 10.289.470 2.712.537
Lain-lain - bersih (16.779.043 ) 173.808.976
Kas Bersih yang Digunakan untuk
Aktivitas Operasi (7.513.569.485 ) (9.665.340.161)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap 10 (389.395.223 ) (1.957.497.260)
Hasil penjualan aset tetap 10 40.540.541 84.375.000
Kas Bersih yang Digunakan untuk
Aktivitas Investasi (348.854.682 ) (1.873.122.260)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan dari pinjaman bank jangka pendek 13 36.000.000.000 36.661.326.130
Pembayaran pinjaman bank jangka pendek 13 (34.000.000.000 ) (27.000.000.000)
Pembayaran liabilitas sewa 11 (39.158.746 ) (36.794.860)
Pembayaran utang pembelian aset tetap (26.720.000 ) -
Kas Bersih yang Diperoleh dari
Aktivitas Pendanaan 1.934.121.254 9.624.531.270
PENURUNAN BERSIH KAS DAN BANK (5.928.302.913 ) (1.913.931.151)
DAMPAK BERSIH PERUBAHAN
NILAI TUKAR ATAS
KAS DAN BANK (3.502.675 ) (360.158)
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 9.051.219.908 6.289.218.331
KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 3.119.414.320 4.374.927.022
Catatan atas Laporan Keuangan terlampir merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
5
Page 9
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
1. UMUM
a. Pendirian Perusahaan
PT Yanaprima Hastapersada Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Indonesia pada tanggal
14 Desember 1995 berdasarkan akta Notaris Emmy Hartati Yunizar, S.H., No. 38. Akta pendirian
tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. C2-3253.HT.01.01.TH.1996 tanggal 1 MARET 1996 dan telah diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia No. 40 tanggal 17 Maret 1996, Tambahan No. 4599. Anggaran Dasar
Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta Notaris Rusnaldy,
S.H., No. 8 tanggal 15 Maret 2015, sehubungan dengan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan,
untuk disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tahun 2014. Akta perubahan
tersebut telah diterima dan dicatat oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.03-0939930 tanggal 11 Juni 2015.
Sesuai anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama adalah
bergerak dalam bidang industri karung plastik dan yang sejenisnya.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta, dengan kantor pusat berlokasi di Gedung Graha Irama
Lantai 15G, Jalan H.R. Rasuna Said Blok. X/1 Kav. 1-2, Jakarta Selatan, sedangkan pabriknya,
saat ini berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Perusahaan memulai kegiatan operasi komersialnya
pada bulan Juli 1997.
PT Hastagraha Bumipersada adalah entitas induk terakhir dari Perusahaan.
b. Penawaran Umum Efek Saham Perusahaan
Pada tanggal 22 Februari 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM & LK) (sekarang Otoritas Jasa
Keuangan/OJK) dengan suratnya No. S-1109/BL/2008 untuk melakukan penawaran umum atas
68.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga penawaran Rp 545 per
saham serta penerbitan 68.000.000 Waran Seri I dengan harga pelaksanaan Rp 680 setiap waran
yang menyertai saham biasa atas nama Perusahaan kepada masyarakat. Perusahaan telah
mencatatkan seluruh sahamnya beserta waran terkait pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada
tanggal 5 Maret 2008 (lihat Catatan 18).
c. Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan
Susunan anggota Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan
31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama : Alexander Tanzil
Komisaris : Santoso Wijaya
Komisaris Independen : Sri Wahjuningsih
Direksi
Direktur Utama : Jap Irwan Susanto
Direktur Keuangan
(Direktur Independen) : Rinawati
6
Page 10
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
1. U M U M (lanjutan)
c. Komisaris, Direksi, Komite Audit dan Karyawan (lanjutan)
Susunan anggota komite audit Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025
adalah sebagai berikut:
Ketua : Sri Wahjuningsih
Anggota : Rinna Yohana
Anggota : Patricia Sulistya Riani
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, jumlah karyawan tetap Perusahaan, masing-
masing sejumlah 16 orang dan 17 orang (tidak diaudit).
d. Penyelesaian Laporan Keuangan
Laporan keuangan telah diselesaikan dan diotorisasi untuk terbit oleh Direksi Perusahaan pada
tanggal 27 April 2026.
2. PENERAPAN STANDAR BARU DAN REVISI
a. Amandemen/penyesuaian Standar yang Berlaku Efektif pada Tahun Berjalan
Dalam tahun berjalan, Perusahaan telah menerapkan sejumlah amendemen PSAK yang relevan
dengan operasinya dan efektif untuk periode akuntansi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari
2026. Penerapan atas PSAK amendemen tidak mengakibatkan perubahan atas kebijakan
akuntansi Perusahaan dan tidak memiliki dampak material terhadap jumlah yang dilaporkan pada
tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya.
• Amandemen PSAK 109, “Instrumen Keuangan” dan PSAK 107, “Instrumen Keuangan:
Pengungkapan”: Klasifikasi dan Pengukuran Instrumen Keuangan
• Penyesuaian Tahunan 2024 terhadap PSAK 107, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”,
PSAK 109, “Instrumen Keuangan”, PSAK 110, “Laporan Keuangan konsolidasian” dan PSAK
207, “Laporan Arus Kas
b. Standar dan Amandemen/Penyesuaian Standar Telah Diterbitkan Tapi Belum Diterapkan
Pada tanggal persetujuan laporan keuangan, amendemen/penyesuaian atas PSAK yang relevan
bagi Perusahaan, yang telah diterbitkan namun belum berlaku efektif, dengan penerapan dini
diijinkan, adalah sebagai berikut:
Efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2027
• PSAK 118, “Penyajian dan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan”
Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan, dampak dari penerapan standar dan
amendemen/penyesuaian tersebut terhadap laporan keuangan tidak dapat diketahui atau
diestimasi oleh manajemen.
7
Page 11
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL
a. Pernyataan Kepatuhan dan Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (SAK),
yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar
Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan
Akuntan Indonesia (DSAK-IAI) dan Pengungkapan Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh
Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”).
Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan adalah selaras
dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan posisi
Perusahan pada tanggal 31 Desember 2025 dan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif
lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk periode tiga bulan yang berakhir pada
tanggal 31 Maret 2026, kecuali bagi penerapan beberapa SAK yang telah direvisi. Seperti
diungkapkan dalam catatan-catatan terkait atas laporan keuangan, beberapa standar akuntansi
yang telah direvisi dan diterbitkan, diterapkan efektif tanggal 1 Januari 2026.
Perusahan telah menyusun laporan keuangan dengan dasar bahwa Perusahan akan terus
mempertahankan kelangsungan usaha.
Laporan keuangan, kecuali untuk laporan arus kas, disusun berdasarkan dasar akrual dengan
menggunakan konsep harga perolehan, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan
pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus
kas dalam aktivitas-aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan adalah Rupiah, yang merupakan
mata uang fungsional Perusahaan.
b. Klasifikasi Lancar/Jangka Pendek dan Tidak Lancar/Jangka Panjang
Perusahaan menyajikan aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan berdasarkan klasifikasi
lancar/tidak lancar atau jangka pendek/jangka panjang.
Suatu aset disajikan lancar bila:
i. diperkirakan akan direalisasi atau diintensikan untuk dijual atau digunakan dalam siklus
operasi normal,
ii. untuk diperdagangkan,
iii. diperkirakan akan direalisasi dalam 12 bulan setelah tanggal pelaporan, atau kas atau setara
kas kecuali yang dibatasi penggunaannya atau akan digunakan untuk melunasi suatu liabilitas
dalam paling lambat 12 bulan setelah tanggal pelaporan.
Seluruh aset lain diklasifikasikan sebagai tidak lancar.
Suatu liabilitas disajikan jangka pendek bila:
i. diperkirakan akan dilunasi dalam siklus operasi normal,
ii. untuk diperdagangkan,
iii. telah jatuh tempo dan akan dilunasi dalam 12 bulan setelah tanggal pelaporan, atau
iv. tidak ada hak tanpa syarat untuk menangguhkan pelunasannya selama paling tidak 12 bulan
setelah periode pelaporan.
Seluruh liabilitas lain diklasifikasikan sebagai jangka panjang.
Aset pajak tangguhan diklasifikasikan sebagai aset lancar dan liabilitas pajak tangguhan
diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka panjang.
8
Page 12
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
c. Kas dan Bank
Kas dan bank terdiri dari kas dan penempatan di bank yang tidak dibatasi penggunaannya dan
tanpa terjadi perubahan nilai yang signifikan, dan tidak digunakan sebagai jaminan atas pinjaman
dan perjanjian fasilitas kredit lainnya.
d. Piutang Usaha
Piutang usaha disajikan dalam jumlah bersih setelah dikurangi dengan penyisihan penurunan nilai
piutang usaha. Kebijakan akuntansi untuk penyisihan atas penurunan nilai dijabarkan dalam
Catatan 2k.
e. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi
Perusahaan menerapkan PSAK No. 224 “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”.
Seluruh transaksi dan saldo yang signifikan dengan pihak-pihak berelasi, telah diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.
f. Persediaan
Persediaan dinyatakan sebesar nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih.
Biaya perolehan ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata bergerak. Penyisihan
penurunan nilai persediaan dibentuk berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan
pada akhir periode, untuk menyesuaikan nilai tercatat persediaan menjadi nilai realisasi bersih.
Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga jual dalam kegiatan usaha normal, dikurangi dengan
estimasi biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.
g. Biaya Dibayar di Muka
Biaya dibayar di muka dibebankan sesuai masa manfaat masing-masing biaya yang bersangkutan
dengan menggunakan metode garis lurus.
h. Aset Tetap
Aset tetap pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan, yang terdiri atas harga perolehan dan
biaya-biaya tambahan yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan
kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan.
Setelah pengakuan awal, aset tetap dinyatakan pada biaya perolehan dikurangi akumulasi
penyusutan dan kerugian penurunan nilai.
Pada setiap akhir periode pelaporan, taksiran masa manfaat dan metode penyusutan aset tetap
ditelaah oleh manajemen dan jika perlu disesuaikan secara prospektif.
Penyusutan aset tetap dimulai pada saat aset tersebut siap untuk digunakan sesuai dengan
maksud penggunaannya dan dihitung dengan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa
manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:
9
Page 13
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
h. Aset Tetap (lanjutan)
Tahun
Bangunan dan prasarana 20
Mesin dan peralatan 4 - 20
Perlengkapan pabrik 4-8
Peralatan kantor 4-8
Kendaraan 4-8
Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi karena manajemen
berpendapat bahwa kemungkinan besar hak atas tanah tersebut dapat diperbaharui/diperpanjang
pada saat jatuh tempo.
Biaya pengurusan legal hak atas tanah dalam bentuk Hak Guna Usaha (“HGU”), Hak Guna
Bangunan (“HGB”) dan Hak Pakai (“HP”) ketika tanah diperoleh pertama kali diakui sebagai
bagian dari biaya perolehan tanah pada akun “Aset Tetap” dan tidak diamortisasi. Sementara
biaya pengurusan atas perpanjangan atau pembaruan legal hak atas tanah dalam bentuk HGU,
HGB dan HP diakui pada laporan posisi keuangan dan diamortisasi sepanjang mana yang lebih
pendek antar umur hukum hak dan umur ekonomi tanah.
Beban perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain pada saat terjadinya; pengeluaran dalam jumlah signifikan dan yang
memperpanjang masa manfaat aset atau yang memberikan tambahan manfaat aset atau yang
memberikan tambahan manfaat ekonomis dikapitalisasi. Aset tetap yang sudah tidak
dipergunakan lagi atau yang dijual, dikeluarkan dari kelompok aset tetap yang bersangkutan dan
laba atau rugi yang terjadi diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain pada
periode yang bersangkutan.
i. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan
Pada setiap akhir periode pelaporan, Perusahaan menilai apakah terdapat indikasi suatu aset
mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka jumlah terpulihkan diestimasi
untuk aset individual. Jika tidak mungkin untuk mengestimasi jumlah terpulihkan aset individual,
maka Perusahaan menentukan nilai terpulihkan dari Unit Penghasilan Kas (UPK) yang mana aset
tercakup (aset dari UPK).
Jumlah terpulihkan dari suatu aset (baik aset individual maupun UPK) adalah jumlah yang lebih
tinggi antara nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai pakainya. Jika nilai tercatat
aset lebih besar daripada nilai terpulihkannya, maka aset tersebut dianggap mengalami
penurunan nilai dan nilai tercatat aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkannya. Rugi
penurunan nilai diakui pada laba rugi sebagai “rugi penurunan nilai”. Dalam menghitung nilai
pakai, estimasi arus kas masa depan neto didiskontokan ke nilai kini dengan menggunakan tingkat
diskonto sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar kini dari nilai waktu uang dan risiko
spesifik atas aset.
Dalam menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual, digunakan harga transaksi pasar
terakhir, jika tersedia. Jika tidak terdapat transaksi tersebut, Perusahaan menggunakan model
penilaian yang sesuai untuk menentukan nilai wajar aset. Perhitungan-perhitungan ini di dikuatkan
oleh penilaian berganda atau indikator nilai wajar lain yang tersedia.
10
Page 14
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
i. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan (lanjutan)
Kerugian penurunan nilai, jika ada, diakui pada laba rugi sesuai dengan kategori biaya yang
konsisten dengan fungsi dari aset yang diturunkan nilainya.
Penilaian dilakukan pada setiap akhir periode pelaporan apakah terdapat indikasi bahwa rugi
penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya untuk suatu aset mungkin tidak ada
lagi atau mungkin telah menurun. Jika indikasi tersebut ada, maka entitas mengestimasi jumlah
terpulihkan aset tersebut. Kerugian penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya
untuk suatu aset dibalik hanya jika terdapat perubahan asumsi-asumsi yang digunakan untuk
menentukan jumlah terpulihkan aset tersebut sejak rugi penurunan nilai terakhir diakui.
Pembalikan tersebut dibatasi sehingga jumlah tercatat aset tidak melebihi jumlah terpulihkannya
maupun jumlah tercatat, neto setelah penyusutan, seandainya tidak ada rugi yang telah diakui
untuk aset tersebut pada periode sebelumnya. Pembalikan rugi penurunan nilai diakui dalam laba
rugi. Setelah pembalikan tersebut diakui sebagai laba rugi, penyusutan aset tersebut disesuaikan
di periode mendatang untuk mengalokasikan jumlah tercatat aset yang direvisi, dikurang nilai
sisanya, dengan dasar yang sistematis selama sisa umur manfaatnya.
j. Aset Dalam Penyelesaian
Aset dalam penyelesaian (disajikan sebagai bagian dari akun “Aset Tetap” pada laporan posisi
keuangan) dinyatakan berdasarkan biaya perolehan. Akumulasi biaya perolehan akan
direklasifikasi ke akun aset tetap pada saat aset tersebut telah diselesaikan dan siap untuk
digunakan.
k. Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang memberikan aset keuangan bagi satu entitas dan
liabilitas keuangan atau ekuitas bagi entitas lain.
1. Aset Keuangan
Pengakuan dan pengukuran awal
Perusahaan mengklasifikasikan aset keuangannya dalam kategori (a) aset keuangan yang
diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, (b) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui pendapatan komprehensif lainnya, dan (c) aset keuangan yang diukur pada biaya
perolehan diamortisasi.
Aset keuangan Perusahaan terdiri dari kas dan bank, piutang usaha, piutang lain-lain dan aset
tidak lancar lain-lain diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur dengan biaya
diamortisasi. Perusahaan tidak memiliki aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.
Perusahaan menggunakan 2 (dua) metode untuk mengklasifikasikan aset keuangan, yaitu
model bisnis Perusahaan dalam mengelola aset keuangan dan karakteristik arus kas
kontraktual dari aset keuangan (“SPPI”).
11
Page 15
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
k. Instrumen Keuangan (lanjutan)
1. Aset Keuangan (lanjutan)
Pengujian SPPI
Sebagai langkah pertama dari proses klasifikasi, Perusahaan menilai persyaratan kontraktual
keuangan untuk mengidentifikasi apakah mereka memenuhi pengujian SPPI.
Nilai pokok untuk tujuan pengujian ini didefinisikan sebagai nilai wajar dari aset keuangan
pada pengakuan awal dan dapat berubah selama umur aset keuangan (misalnya, jika ada
pembayaran pokok atau amortisasi premi/diskon).
Elemen bunga yang paling signifikan dalam perjanjian biasanya adalah pertimbangan atas
nilai waktu dari uang dan risiko kredit. Untuk membuat penilaian SPPI, Perusahaan
menerapkan pertimbangan dan memperhatikan faktor-faktor yang relevan seperti mata uang
dimana aset keuangan didenominasikan dan periode pada saat suku bunga ditetapkan.
Sebaliknya, persyaratan kontraktual yang memberikan eksposur lebih dari de minimis atas
risiko atau volatilitas dalam arus kas kontraktual yang tidak terkait dengan dasar pengaturan
pinjaman, tidak menimbulkan arus kas kontraktual SPPI atas jumlah saldo. Dalam kasus
seperti itu, aset keuangan diharuskan untuk diukur pada Fair Value through Profit or Loss
(“FVTPL”).
Penilaian model bisnis
Perusahaan menentukan model bisnisnya berdasarkan tingkat yang paling mencerminkan
bagaimana Perusahaan mengelola kelompok atas keuangannya untuk mencapai tujuan
bisnisnya.
Model bisnis Perusahaan tidak dinilai berdasarkan masing-masing instrumennya, tetapi pada
tingkat portofolio secara agregat yang lebih tinggi dan didasarkan pada faktor-faktor yang
dapat diamati seperti:
• Bagaimana kinerja model bisnis dan aset keuangan yang dimiliki dalam model bisnis
tersebut dievaluasi dan dilaporkan kepada personel manajemen kunci;
• Risiko yang mempengaruhi kinerja model bisnis (dan aset keuangan yang dimiliki dalam
model bisnis tersebut) dan, khususnya, bagaimana cara risiko tersebut dikelola;
• Bagaimana manajer bisnis dikompensasi (misalnya, apakah kompensasi didasarkan pada
nilai wajar dari aset yang dikelola atau pada arus kas kontraktual yang tertagih);
• Frekuensi, nilai, dan waktu penjualan yang diharapkan, juga merupakan aspek penting
dari penilaian Perusahaan.
Penilaian model bisnis didasarkan pada skenario yang diharapkan secara wajar tanpa
mempertimbangkan skenario “worst case” atau “stress case”. Jika arus kas setelah
pengakuan awal direalisasikan dengan cara yang berbeda dari yang awal diharapkan,
Perusahaan tidak mengubah klasifikasi aset keuangan dimiliki yang tersisa dalam model
bisnis tersebut, tetapi memasukkan informasi tersebut dalam melakukan penilaian atas aset
keuangan yang baru atau yang baru dibeli selanjutnya.
12
Page 16
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
k. Instrumen Keuangan (lanjutan)
1. Aset Keuangan (lanjutan)
Penilaian model bisnis (lanjutan)
Aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi jika aset keuangan dikelola
dalam model bisnis yang bertujuan untuk memiliki aset keuangan dalam rangka mendapatkan
arus kas kontraktual dan persyaratan kontraktual dari aset keuangan yang pada tanggal
tertentu meningkatkan arus kas yang semata dari pembayaran pokok dan bunga (“SPPI”) dari
jumlah pokok terutang.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi
diakui pada nilai wajarnya ditambah biaya transaksi dan selanjutnya diukur pada biaya
perolehan diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif.
Pendapatan bunga dari aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dicatat
dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain dan diakui sebagai “Pendapatan
Keuangan”. Ketika penurunan nilai terjadi, kerugian penurunan nilai diakui sebagai pengurang
dari nilai tercatat aset keuangan dan diakui didalam laporan keuangan sebagai “Kerugian
penurunan nilai”.
Penurunan Nilai Aset Keuangan
Perusahaan mengakui cadangan untuk kerugian kredit ekspektasian (“ECL”) atas instrumen
utang diukur pada biaya perolehan diamortisasi atau pada FVTOCI, piutang sewa, aset
kontrak maupun kontrak jaminan keuangan.
Pengukuran kerugian kredit ekspektasian merupakan fungsi dari probability of default, loss
given default (yaitu besarnya kerugian jika terjadi gagal bayar) dan eksposur pada gagal
bayar. Penilaian probability of default dan loss given default berdasarkan data historis yang
disesuaikan dengan informasi masa depan seperti dijelaskan di atas. Adapun eksposur atas
gagal bayar, untuk aset keuangan, diwakili oleh nilai tercatat bruto aset pada tanggal
pelaporan; untuk kontrak jaminan keuangan, eksposur mencakup jumlah yang ditarik pada
tanggal pelaporan, ditambah dengan jumlah yang diperkirakan akan ditarik di masa depan
sebelum tanggal gagal bayar yang ditentukan berdasarkan tren historis, pemahaman
Perusahaan mengenai kebutuhan pembiayaan masa depan yang spesifik dari debiturnya, dan
informasi perkiraan masa depan lainnya yang relevan.
ECL didasarkan pada perbedaan antara arus kas kontraktual yang tertuang dalam kontrak
dan seluruh arus kas yang diharapkan akan diterima Perusahaan, didiskontokan
menggunakan suku bunga efektif awal. Arus kas yang diharapkan akan diterima tersebut
mencakup arus kas dari penjualan agunan yang dimiliki atau perluasan perbaikan risiko-kredit
lainnya yang merupakan bagian integral dari persyaratan kontrak.
ECL diakui dalam dua tahap. Untuk risiko kredit atas instrumen keuangan yang tidak
mengalami peningkatan secara signifikan sejak pengakuan awal, ECL dilakukan untuk
kerugian kredit yang diakibatkan oleh peristiwa gagal bayar yang mungkin terjadi dalam 12
bulan ke depan (ECL 12 bulan). Untuk risiko kredit atas instrumen keuangan yang mengalami
peningkatan secara signifikan sejak pengakuan awal, penyisihan kerugian dilakukan
sepanjang sisa umurnya, terlepas dari waktu terjadinya gagal bayar (ECL sepanjang
umurnya).
13
Page 17
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
k. Instrumen Keuangan (lanjutan)
1. Aset Keuangan (lanjutan)
Penurunan Nilai Aset Keuangan (lanjutan)
Karena piutang usaha dan aset kontrak tidak memiliki komponen pembiayaan signifikan,
Perusahaan menerapkan pendekatan yang disederhanakan dalam perhitungan ECL. Oleh
karena itu, Perusahaan tidak menelusuri perubahan dalam risiko kredit, namun justru
mengakui penyisihan kerugian berdasarkan ECL sepanjang umurnya pada setiap tanggal
pelaporan. Perusahaan membentuk matriks provisi berdasarkan pengalaman kerugian kredit
masa lampau, disesuaikan dengan perkiraan masa depan (forward-looking) atas faktor yang
spesifik untuk debitur dan lingkungan ekonomi.
Penghentian Pengakuan
Suatu aset keuangan, atau mana yang berlaku, bagian dari aset keuangan atau bagian dari
kelompok aset keuangan sejenis, dihentikan pengakuannya pada saat:
a. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; atau
b. Perusahaan mengalihkan hak kontraktual untuk menerima arus kas yang berasal dari
aset keuangan atau menanggung kewajiban untuk membayar arus kas yang diterima
tanpa penundaan yang material kepada pihak ketiga melalui suatu kesepakatan
penyerahan dan (i) secara substansial mengalihkan seluruh risiko dan manfaat atas
kepemilikan aset keuangan tersebut, atau (ii) secara substansial tidak mengalihkan dan
tidak mempertahankan seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan
tersebut, namun telah mengalihkan pengendalian atas aset keuangan tersebut.
Ketika Perusahaan telah mengalihkan hak untuk menerima arus kas dari suatu aset atau telah
menandatangani kesepakatan pelepasan (pass-through arrangement), dan secara substansial
tidak mengalihkan dan tidak mempertahankan seluruh risiko dan manfaat atas aset keuangan,
maupun tidak mengalihkan pengendalian atas aset, aset tersebut diakui sejauh keterlibatan
berkelanjutan Perusahaan terhadap aset keuangan tersebut.
Keterlibatan berkelanjutan yang berbentuk pemberian jaminan atas aset yang ditransfer diukur
sebesar jumlah terendah dari jumlah tercatat aset dan jumlah maksimal dari pembayaran yang
diterima yang mungkin harus dibayar kembali.
Dalam hal ini, Perusahaan juga mengakui liabilitas terkait. Aset yang dialihkan dan liabilitas
terkait diukur dengan dasar yang mencerminkan hak dan liabilitas yang masih dipertahankan
Perusahaan.
Pada penghentian pengkuan aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi,
perbedaan antara nilai tercatat aset dan jumlah imbalan yang diterima dan piutang diakui
dalam laba rugi. Selain itu, pada penghentian pengakuan investasi dalam instrumen utang
yang diklasifikasikan sebagai FVTOCI, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya
diakumulasi dalam cadangan revaluasi investasi, direklasifikasi ke laba rugi. Sebaliknya, pada
penghentian pengakuan investasi dalam instrumen ekuitas yang telah dipilih Grup pada
pengakuan awal untuk diukur di FVTOCI, keuntungan atau kerugian kumulatif yang
sebelumnya diakumulasi dalam cadangan revaluasi investasi tidak direklasifikasi ke laba rugi,
tetapi dipindahkan ke saldo laba.
14
Page 18
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
k. Instrumen Keuangan (lanjutan)
2. Liabilitas Keuangan
Pengakuan dan pengukuran awal
Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi atau liabilitas keuangan pada biaya perolehan diamortisasi. Perusahaan
menentukan klasifikasi liabilitas keuangan mereka pada saat pengakuan awal.
Liabilitas keuangan awalnya diukur sebesar nilai wajarnya. Biaya transaksi yang dapat
diatribusikan secara langsung dengan perolehan liabilitas keuangan (selain liabilitas keuangan
yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi) ditambahkan atau dikurangkan dari nilai wajar
liabilitas keuangan, yang sesuai, pada pengakuan awal. Biaya transaksi yang dapat
diatribusikan secara langsung dengan perolehan liabilitas keuangan yang diukur pada nilai
wajar melalui laba rugi langsung diakui dalam laba rugi.
Liabilitas keuangan Perusahaan terdiri dari utang bank jangka pendek, utang usaha, beban
harus dibayar, liabilitas imbalan kerja jangka pendek, liabilitas sewa dan utang pihak berelasi,
diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi.
Perusahaan tidak memiliki liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Pengukuran selanjutnya
Setelah pengakuan awal, liabilitas keuangan yang dikenakan bunga diukur pada biaya
perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode SBE.
Pada tanggal pelaporan, akrual beban bunga dicatat secara terpisah dari pokok pinjaman
terkait dalam bagian liabilitas jangka pendek. Keuntungan atau kerugian harus diakui dalam
laba rugi ketika liabilitas tersebut dihentikan pengakuannya serta melalui proses amortisasi
SBE.
Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan mempertimbangkan diskonto atau premium
atas perolehan dan komisi atau biaya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SBE.
Amortisasi SBE dicatat sebagai “Beban Keuangan” dalam laba rugi.
Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan
diamortisasi dari liabilitas keuangan dan metode untuk mengalokasikan biaya bunga selama
periode yang relevan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat
mendiskontokan estimasi pembayaran kas masa depan (mencakup seluruh komisi dan bentuk
lain yang dibayarkan dan diterima yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku
bunga efektif, biaya transaksi dan premium dan diskonto lainnya) selama perkiraan umur
liabilitas keuangan, atau (jika lebih tepat) digunakan periode yang lebih singkat untuk
memperoleh nilai tercatat neto pada saat pengakuan awal.
Penghentian pengakuan
Suatu liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya pada saat kewajiban yang ditetapkan
dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.
Ketika sebuah liabilitas keuangan ditukar dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi
pinjaman yang sama atas persyaratan yang secara substansial berbeda, atau bila persyaratan
dari liabilitas keuangan tersebut secara substansial dimodifikasi, pertukaran atau modifikasi
persyaratan tersebut dicatat sebagai penghentian pengakuan liabilitas keuangan awal dan
pengakuan liabilitas keuangan baru, dan selisih antara nilai tercatat masing-masing liabilitas
keuangan tersebut diakui pada laba rugi.
15
Page 19
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
k. Instrumen Keuangan (lanjutan)
3. Reklasifikasi Instrumen Keuangan
Perusahaan diperkenankan untuk melakukan reklasifikasi atas aset keuangan yang dimiliki
jika Perusahaan mengubah model bisnis untuk pengelolaan aset keuangan dan Perusahaan
tidak diperkenankan untuk melakukan reklasifikasi atas liabilitas keuangan.
Perubahan model bisnis sifatnya harus berdampak secara signifikan terhadap kegiatan
operasional Perusahaan seperti memperoleh, melepaskan, atau mengakhiri suatu lini bisnis.
Selain itu, Perusahaan perlu membuktikan adanya perubahan tersebut kepada pihak
eksternal.
Yang bukan merupakan perubahan model bisnis adalah: (a) perubahan intensi berkaitan
dengan aset keuangan tertentu (bahkan dalam situasi perubahan signifikan dalam kondisi
pasar), (b) hilangnya sementara pasar tertentu untuk aset keuangan, dan (c) pengalihan aset
keuangan antara bagian dari Perusahaan dengan model bisnis berbeda.
4. Saling Hapus dari Instrumen Keuangan
Aset keuangan dan liabilitas keuangan disalinghapuskan dan nilai netonya disajikan dalam
laporan posisi keuangan jika Perusahaan memiliki hak yang dapat dipaksakan secara hukum
untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui; dan berintensi untuk
menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya
secara simultan.
Hak saling hapus harus ada pada saat ini daripada bersifat kontinjen atas terjadinya suatu
peristiwa di masa depan dan harus dieksekusi oleh pihak lawan, baik dalam situasi bisnis
normal dan dalam peristiwa gagal bayar, peristiwa kepailitan, atau kebangkrutan.
l. Pengukuran Nilai Wajar
Nilai wajar dari aset atau liabilitas diukur dengan menggunakan asumsi yang akan digunakan
pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas tersebut, dengan asumsi bahwa pelaku
pasar bertindak dalam kepentingan ekonomi terbaiknya.
Pengukuran nilai wajar dari suatu aset non- keuangan memperhitungkan kemampuan pelaku
pasar untuk menghasilkan manfaat ekonomik dengan menggunakan aset dalam penggunaan
tertinggi dan terbaiknya atau dengan menjualnya kepada pelaku pasar lain yang akan
menggunakan aset tersebut pada penggunaan tertinggi dan terbaiknya.
Perusahaan menggunakan teknik penilaian yang sesuai dengan keadaan dan data yang memadai
tersedia untuk mengukur nilai wajar, dengan memaksimalkan masukan (input) yang dapat diamati
(observable) yang relevan dan meminimalkan masukan (input) yang tidak dapat diamati
(unobservable).
Semua aset dan liabilitas yang nilai wajarnya diukur atau diungkapkan dalam laporan keuangan
dikategorikan dalam hirarki nilai wajar berdasarkan level masukan (input) paling rendah yang
signifikan terhadap pengukuran nilai wajar secara keseluruhan sebagai berikut:
16
Page 20
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
l. Pengukuran Nilai Wajar (lanjutan)
i) Level 1 - Harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang
identik yang dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran.
ii) Level 2 - Teknik penilaian yang menggunakan tingkat masukan (input) yang paling rendah yang
signifikan terhadap pengukuran nilai wajar yang dapat diamati (observable) baik secara
langsung atau tidak langsung.
iii) Level 3 - Teknik penilaian yang menggunakan tingkat masukan (input) yang paling rendah yang
signifikan terhadap pengukuran nilai wajar yang tidak dapat diamati (unobservable) baik secara
langsung atau tidak langsung.
Untuk aset dan liabilitas yang diakui pada laporan keuangan secara berulang, Perusahaan
menentukan apakah terdapat perpindahan antara Level dalam hirarki dengan melakukan evaluasi
ulang atas penetapan kategori (berdasarkan level masukan (input) paling rendah yang signifikan
terhadap pengukuran nilai wajar secara keseluruhan) pada tiap akhir periode pelaporan.
m. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Perusahaan menerapkan PSAK 115 “Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan“ yang
mensyaratkan pengakuan pendapatan untuk memenuhi 5 (lima) langkah analisis sebagai berikut:
1. Identifikasi kontrak dengan pelanggan.
2. Identifikasi kewajiban pelaksanaan dalam kontrak. Kewajiban pelaksanaan merupakan janji-
janji dalam kontrak untuk menyerahkan barang atau jasa yang memiliki karakteristik berbeda
ke pelanggan.
3. Menetapkan harga transaksi, setelah dikurangi diskon, retur, insentif penjualan dan pajak
pertambahan nilai, yang berhak diperoleh suatu entitas sebagai kompensasi atas
diserahkannya barang atau jasa yang dijanjikan di kontrak.
4. Alokasi harga transaksi ke setiap kewajiban pelaksanaan dengan menggunakan dasar harga
jual berdiri sendiri relatif dari setiap barang atau jasa berbeda yang dijanjikan di kontrak.
Ketika tidak dapat diamati secara langsung, harga jual berdiri sendiri relatif diperkirakan
berdasarkan biaya yang diharapkan ditambah marjin.
5. Pengakuan pendapatan ketika kewajiban pelaksanaan telah dipenuhi dengan menyerahkan
barang atau jasa yang dijanjikan ke pelanggan (ketika pelanggan telah memiliki kendali atas
barang atau jasa tersebut).
Untuk penjualan barang, kewajiban pelaksanaan umumnya terpenuhi, dan pendapatan diakui,
pada saat pengendalian atas barang telah berpindah kepada pelanggan (pada suatu titik waktu).
Penerimaan kas dari pelanggan sehubungan dengan transaksi penjualan yang belum memenuhi
kriteria pengakuan pendapatan, dicatat sebagai bagian dari ”Uang Muka dari Pelanggan” dalam
laporan posisi keuangan.
Pengakuan beban
Beban diakui pada saat terjadinya (asas akrual).
n. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi
dilakukan. Pada tanggal laporan posisi keuangan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang
asing disesuaikan ke dalam Rupiah berdasarkan kurs rata-rata Bank Indonesia yang berlaku pada
tanggal tersebut. Laba atau rugi kurs yang terjadi, dikreditkan atau dibebankan pada laba rugi
periode berjalan.
17
Page 21
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
n. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing (lanjutan)
Pada tanggal laporan posisi keuangan, kurs rata-rata dari mata uang asing yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Mata Uang Asing 31 Maret 2026 31 Desember 2025
Dolar Amerika Serikat (US$) 1 16.993,00 16.782,00
Euro Eropa (EUR) 1 19.537,71 19.753,26
o. Imbalan Kerja Karyawan
Imbalan kerja jangka pendek
Perusahaan mengakui liabilitas imbalan kerja jangka pendek ketika jasa diberikan oleh karyawan
dan imbalan atas jasa tersebut akan dibayarkan dalam waktu dua belas bulan setelah jasa
tersebut diberikan.
Imbalan pascakerja
Perusahaan telah menerapkan PSAK No. 219 “Imbalan Kerja”. Penyisihan tersebut diestimasi
dengan menggunakan perhitungan aktuarial metode "Project Unit Credit”.
Perusahan mengakui kewajiban imbalan kerja yang tidak didanai sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 35 Tahun 2021 (PP 35/2021) yang menerapkan pengaturan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja yang
kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No. 6 tahun 2023. Beban pensiun berdasarkan
program dana pensiun manfaat pasti Perusahan ditentukan melalui perhitungan aktuaria secara
periodik dengan menggunakan metode projected-unit credit dan menerapkan asumsi atas tingkat
diskonto, hasil atas aset program dan tingkat kenaikan manfaat pasti pensiun tahunan.
Pengukuran kembali, terdiri atas keuntungan dan kerugian akturial, segera diakui pada laporan
posisi keuangan dengan pengaruh langsung didebit atau dikreditkan kepada saldo laba melalui
penghasilan komprehensif lain pada periode terjadinya. Pengukuran kembali tidak direklasifikasi
ke laba rugi periode berikutnya.
Biaya jasa lalu harus diakui sebagai beban pada saat yang lebih awal antara:
i) ketika program amandemen atau kurtailmen terjadi; atau
ii) ketika Perusahaan mengakui biaya restrukturisasi atau imbalan terminasi terkait.
Bunga neto dihitung dengan menerapkan tingkat diskonto yang digunakan terhadap liabilitas
imbalan kerja. Perusahaan mengakui perubahan berikut pada kewajiban obligasi neto pada
laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain:
i) biaya jasa terdiri atas biaya jasa kini, biaya jasa lalu, keuntungan atau kerugian atas
penyelesaian (curtailment) tidak rutin dan
ii) Beban atau penghasilan bunga neto.
18
Page 22
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
p. Pajak Penghasilan
Pajak kini
Aset atau liabilitas pajak kini untuk tahun berjalan diukur sebesar jumlah yang diharapkan dapat
direstitusi dari atau dibayarkan kepada otoritas perpajakan. Tarif pajak dan peraturan pajak yang
digunakan untuk menghitung jumlah tersebut adalah yang telah berlaku atau secara substantif
telah berlaku pada tanggal pelaporan di negara tempat Perusahaan beroperasi dan menghasilkan
pendapatan kena pajak. Manajemen secara periodik mengevaluasi posisi yang dilaporkan di Surat
Pemberitahuan Tahunan (SPT) sehubungan dengan situasi di mana aturan pajak yang berlaku
membutuhkan interpretasi. Jika perlu, manajemen menentukan provisi berdasarkan jumlah yang
diharapkan akan dibayar kepada otoritas pajak.
Kekurangan atau kelebihan pembayaran pajak penghasilan badan dicatat sebagai bagian dari
beban pajak dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.
Bunga dan denda yang timbul dari ketetapan pajak dan kurang bayar atau lebih bayar pajak
lainnya disajikan sebagai bagian dari penghasilan atau beban operasi lain karena tidak dianggap
sebagai bagian dari beban pajak penghasilan.
Koreksi terhadap liabilitas perpajakan diakui pada saat surat ketetapan pajak diterima. Jika
Perusahan mengajukan keberatan, Perusahan mempertimbangkan apakah besar kemungkinan
otoritas pajak akan menerima keberatan tersebut dan merefleksikan dampaknya terhadap liabilitas
perpajakan Perusahan.
Pajak tangguhan
Pajak tangguhan diakui menggunakan metode liabilitas atas perbedaan temporer antara dasar
pengenaan pajak aset dan liabilitas dan nilai tercatatnya dalam laporan keuangan pada akhir
periode pelaporan.
Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk setiap perbedaan temporer kena pajak.
Aset pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer yang dapat dikurangkan dan rugi
fiskal belum dikompensasi, sejauh terdapat kemungkinan besar bahwa laba kena pajak akan
tersedia untuk dimanfaatkan dengan perbedaan temporer yang dapat dikurangkan dan rugi fiskal
belum dikompensasi dapat dimanfaatkan.
Nilai tercatat dari aset pajak tangguhan ditelaah pada setiap akhir periode pelaporan dan
diturunkan ketika tidak lagi terdapat kemungkinan bahwa akan terdapat laba kena pajak yang
memungkinkan semua atau sebagian dari aset pajak tangguhan tersebut untuk direalisasi.
Penelaahan dilakukan pada setiap akhir periode pelaporan atas aset pajak tangguhan yang tidak
diakui sebelumnya dan aset pajak tangguhan tersebut diakui sepanjang kemungkinan besar laba
kena pajak mendatang akan tersedia sehingga aset pajak tangguhan tersebut dipulihkan.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang diharapkan akan
berlaku pada tahun saat aset dipulihkan atau liabilitas diselesaikan berdasarkan tarif pajak dan
peraturan pajak yang berlaku atau yang secara substantif telah berlaku pada tanggal pelaporan.
19
Page 23
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
p. Pajak Penghasilan (lanjutan)
Pajak Pertambahan Nilai
Pendapatan, beban-beban dan aset-aset diakui neto atas jumlah Pajak Pertambahan Nilai (“PPN“)
kecuali:
• PPN yang muncul dari pembelian aset atau jasa yang tidak dapat dikreditkan oleh kantor
pajak, yang dalam hal ini PPN diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset atau sebagai
bagian dari item beban-beban yang diterapkan; dan
• Piutang dan utang yang disajikan termasuk dengan jumlah PPN.
Jumlah PPN Neto yang terpulihkan dari, atau terutang kepada, kantor pajak termasuk sebagai
bagian dari piutang atau utang pada laporan posisi keuangan.
q. Rugi per Saham
Pada periode 2026 dan 2025, Perusahaan tidak mempunyai efek berpotensi saham yang bersifat
dilutif, oleh karena itu, rugi per saham dilusian tidak dihitung dan disajikan pada laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain.
Rugi per saham dihitung dengan membagi rugi periode berjalan dengan jumlah
rata-rata tertimbang saham yang beredar dalam periode yang bersangkutan yaitu sejumlah
668.000.089 saham.
r. Biaya Emisi Efek Ekuitas
Biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan penawaran umum saham Perusahaan kepada
masyarakat dicatat dan disajikan sebagai pengurang terhadap akun “Tambahan Modal Disetor -
Bersih” (agio saham) yang berasal dari penawaran umum saham tersebut (Catatan 1b dan 18).
s. Informasi Segmen
Segmen adalah bagian khusus dari Perusahaan yang terlibat baik dalam menyediakan produk dan
jasa (segmen usaha), maupun dalam menyediakan produk dan jasa dalam lingkungan ekonomi
tertentu (segmen geografis), yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dari segmen lainnya.
Jumlah setiap unsur segmen dilaporkan merupakan ukuran yang dilaporkan kepada pengambil
keputusan operasional untuk tujuan pengambilan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya
kepada segmen dan menilai kinerjanya.
Pendapatan, beban, hasil, aset dan liabilitas segmen termasuk item-item yang dapat diatribusikan
langsung kepada suatu segmen serta hal-hal yang dapat dialokasikan dengan dasar yang sesuai
kepada segmen tersebut.
t. Sewa
Perusahaan menilai pada awal kontrak apakah suatu kontrak adalah, atau berisi, sewa. Artinya,
jika kontrak memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset terindentifikasi untuk suatu
periode waktu sebagai imbalan untuk dipertukarkan.
20
Page 24
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
t. Sewa (lanjutan)
Sebagai Penyewa
Perusahaan menerapkan pendekatan pengakuan dan pengukuran tunggal untuk seluruh sewa,
kecuali untuk sewa jangka pendek dan sewa aset bernilai rendah. Perusahaan mengakui liabilitas
sewa untuk melakukan pembayaran sewa dan aset hak-guna yang memberikan hak untuk
menggunakan aset pendasarnya.
Aset hak-guna
Pada tanggal permulaan sewa, Perusahaan mengakui aset hak-guna dan liabilitas sewa. Aset hak
guna diukur pada biaya perolehan, dimana meliputi jumlah pengukuran awal liabilitas sewa yang
disesuaikan dengan pembayaran sewa yang dilakukan pada atau sebelum tanggal permulaan,
ditambah dengan biaya langsung awal yang dikeluarkan dan estimasi biaya yang akan
dikeluarkan untuk membongkar dan memindahkan aset pendasar atau untuk merestorasi aset
pendasar ke kondisi yang disyaratkan dan ketentuan sewa, dikurangi dengan insentif sewa yang
diterima.
Aset hak-guna kemudian disusutkan menggunakan metode garis lurus dari tanggal permulaan
hingga tanggal yang lebih awal antara akhir umur manfaat aset hak-guna atau akhir masa sewa.
Jika kepemilikan aset sewa beralih kepada Perusahaan pada akhir masa sewa atau biaya
perolehan merefleksikan penyewa akan mengeksekusi opsi beli, depresiasi dihitung dengan
menggunakan estimasi umur manfaat aset. Aset hak-guna juga diuji penurunan nilainya sesuai
dengan PSAK 236 “Penurunan Nilai Aset“.
Liabilitas sewa
Pada tanggal dimulainya sewa, Perusahaan mengakui liabilitas sewa yang diukur pada nilai kini
pembayaran sewa yang harus dilakukan selama masa sewa. Pembayaran sewa mencakup
pembayaran tetap (termasuk pembayaran tetap secara substansi) dikurangi piutang insentif sewa,
pembayaran sewa variabel yang bergantung pada indeks atau arif, dan jumlah yang diharapkan
akan dibayar di bawah jaminan nilai sisa. Pembayaran sewa juga mencakup harga pelaksanaan
dari opsi pembelian yang secara wajar pasti akan dilaksanakan oleh Perusahaan dan pembayaran
denda untuk penghentian sewa, jika masa sewa mencerminkan Perusahaan melaksanakan opsi
untuk mengakhiri. Pembayaran sewa variabel yang tidak bergantung pada indeks atau tarif diakui
sebagai beban (kecuai terjadi untuk menghasilkan persediaan) pada periode di mana peristiwa
atau kondisi yang memicu terjadinya pembayaran.
Dalam menghitung nilai kini pembayaran sewa, Perusahaan menggunakan suku bunga pinjaman
inkremental pada tanggal dimulainya sewa karena tingkat suku bunga implisit dalam sewa tidak
dapat segera ditentukan. Setelah tanggal pemulaan, jumlah liabilitas sewa ditingkatkan untuk
mencerminkan penambahan bunga dan dikurangi untuk pembayaran sewa yang dilakukan. Selain
itu, nilai tercatat liabilitas sewa diukur kembali jika ada modifikasi, perubahan jangka waktu sewa
(misalnya, perubahan pembayaran masa depan akibat perubahan indeks atau kurs yang
digunakan untuk pembayaran sewa) atau perubahan peniliaian opsi untuk membeli aset yang
mendasarinya.
21
Page 25
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI MATERIAL (lanjutan)
t. Sewa (lanjutan)
Sebagai Penyewa (lanjutan)
Sewa Jangka-Pendek dan Sewa Aset Bernilai - Rendah
Perusahaan memilih untuk tidak mengakui aset hak-guna dan liabilitas sewa untuk sewa jangka-
pendek yang memiliki masa sewa 12 bulan atau kurang dan sewa atas aset bernilai, rendah.
Perusahaan mengakui pembayaran sewa terkait dengan sewa ini sebagai beban dengan dasar
garis lurus selama masa sewa.
u. Provisi
Provisi diakui jika Perusahaan memiliki liabilitas kini (baik bersifat hukum maupun bersifat
konstruktif) yang akibat peristiwa masa lalu besar kemungkinannya penyelesaian liabilitas tersebut
mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi dan estimasi yang
andal mengenai jumlah liabilitas tersebut dibuat.
Provisi ditelaah pada setiap akhir periode pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan
estimasi kini terbaik. Jika tidak terdapat kemungkinan arus keluar sumberdaya yang mengandung
manfaat ekonomi untuk menyelesaikan liabilitas tersebut, provisi dibatalkan.
4. PERTIMBANGAN KRITIS AKUNTANSI DAN SUMBER UTAMA KETIDAKPASTIAN ESTIMASI
Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mewajibkan
manajemen untuk membuat pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah-jumlah
yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Sehubungan dengan adanya ketidakpastian yang melekat
dalam membuat estimasi, hasil sebenarnya yang dilaporkan di masa mendatang dapat berbeda
dengan jumlah estimasi yang dibuat.
Pertimbangan
Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi
Perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan
keuangan:
Menentukan Masa Sewa Kontrak dengan Opsi Pembaruan dan Penghentian - Perusahaan sebagai
Penyewa
Perusahaan menentukan bahwa masa sewa sebagai masa sewa yang tidak dapat dibatalkan,
bersamaan dengan periode yang tercakup dalam opsi perpanjangan sewa, jika dieksekusi secara
wajar dan pasti, atau periode yang tercakup dalam opsi penghentian sewa, jika tidak dieksekusi
secara wajar dan pasti.
Perusahaan menerapkan pertimbangan dalam mengevaluasi apakah wajar dan pasti untuk
mengeksekusi opsi untuk pembaruan atau penghentian sewa atau tidak. Untuk kontrak sewa dengan
opsi perpanjangan dan penghentian, manajemen perlu mengestimasi masa sewa yang memerlukan
pertimbangan semua fakta dan keadaan yang menimbulkan insentif ekonomi untuk mengeksekusi
opsi perpanjangan dan tidak mengeksekusi opsi penghentian, termasuk setiap perubahan yang
diharapkan dalam fakta dan keadaan dari tanggal permulaan hingga tanggal pengekesekusian opsi
tersebut. Opsi perpanjangan (atau periode setelah opsi penghentian) hanya dimasukkan dalam
persyaratan sewa jika Perusahaan cukup yakin untuk mengeksekusi opsi perpanjangan dan tidak
mengeksekusi opsi penghentian. Jika terdapat peristiwa signifikan atau perubahan keadaan yang
signifikan yang mempengaruhi penilaian ini dan masih dalam kendali penyewa, maka penilaian diatas
akan ditelaah kembali.
22
Page 26
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
4. PERTIMBANGAN KRITIS AKUNTANSI DAN SUMBER UTAMA KETIDAKPASTIAN ESTIMASI
(lanjutan)
Estimasi dan Asumsi
Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode
pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset
dan liabilitas untuk tahun/periode berikutnya, diungkapkan di bawah ini. Perusahaan mendasarkan
asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan
situasi mengenai perkembangan masa depan, mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi
diluar kendali Perusahaan. Perubahan tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat
terjadinya.
Penurunan Nilai Piutang Usaha
Perusahaan menggunakan matriks provisi untuk menghitung ECL atas piutang usaha. Tarif provisi
didasarkan pada hari yang lewat jatuh tempo untuk mengelompokan pelanggan ke segmen yang
memiliki pola kerugian serupa. Matriks provisi awalnya berdasarkan tarif default yang diamati
Perusahaan secara historis. Perusahaan akan mengkalibrasi matriks tersebut untuk menyesuaikan
pengalaman kerugian kredit historis dengan informasi kedepan. Misalnya, jika prakiraan kondisi
ekonomi diperkirakan memburuk selama tahun depan yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah
default di sektor usaha Perusahaan, tingkat default historis disesuaikan. Pada setiap tanggal
pelaporan, tarif default yang diamati secara historis diperbarui dan perubahan dalam estimasi
ke depan dianalisa kembali.
Penilaian korelasi antara tingkat default yang dapat diamati secara historis, taksiran kondisi ekonomi
dan ECL adalah estimasi yang signifikan. Jumlah ECL sensitif terhadap perubahan keadaan dan
taksiran kondisi ekonomi. Pengalaman kerugian kredit historis Perusahaan dan perkiraan kondisi
ekonomi mungkin juga tidak mewakili aktual default pelanggan yang sebenarnya di masa depan.
Estimasi Umur Ekonomis Aset Tetap
Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran
masa manfaat ekonomisnya. Umur ekonomis setiap item aset tetap milik Perusahaan diperkirakan
berdasarkan periode di mana aset tersebut diperkirakan akan tersedia untuk digunakan.
Perkiraan tersebut didasarkan pada evaluasi teknis internal dan pengalaman dengan aset serupa.
Umur ekonomis diperkirakan dari setiap aset dievaluasi secara berkala dan diperbarui jika perkiraan
sebelumnya berbeda akibat keausan fisik, obsolesensi teknis atau komersial, serta batasan hukum
atau lainnya terhadap penggunaan aset. Namun, kemungkinan hasil operasi di masa depan dapat
terpengaruh secara material oleh perubahan jumlah dan waktu pengeluaran yang dicatat akibat
perubahan faktor-faktor yang disebutkan di atas.
Perubahan dalam perkiraan umur ekonomis suatu aset tetap, bangunan, dan peralatan akan
mempengaruhi beban penyusutan yang dicatat, masing-masing, dan mengurangi nilai buku aset-aset
tersebut. Nilai tercatat bersih aset tetap Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember
2025, masing-masing adalah sebesar Rp 92.586.483.180 dan Rp 95.866.311.468. Penjelasan lebih
rinci diungkapkan dalam Catatan 10.
Penyisihan Penurunan Nilai Persediaan
Penyisihan penurunan nilai persediaan diestimasi berdasarkan fakta dan situasi terbaik yang tersedia,
termasuk namun tidak terbatas kepada, kondisi fisik persediaan yang dimiliki, harga jual pasar,
estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang timbul untuk penjualan. Provisi dievaluasi
kembali dan disesuaikan jika terdapat tambahan informasi yang mempengaruhi jumlah yang
diestimasi. Nilai tercatat persediaan diungkapkan dalam Catatan 8.
23
Page 27
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
4. PERTIMBANGAN KRITIS AKUNTANSI DAN SUMBER UTAMA KETIDAKPASTIAN ESTIMASI
(lanjutan)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan)
Imbalan Kerja
Penentuan liabilitas imbalan kerja Perusahaan bergantung pada pemilihan asumsi yang digunakan
oleh aktuaris independen dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara
lain, tingkat diskonto, tingkat kenaikan gaji tahunan, tingkat pengunduran diri karyawan tahunan,
tingkat kecacatan, umur pensiun dan tingkat kematian. Perusahaan berkeyakinan bahwa asumsi
tersebut adalah wajar dan sesuai. Nilai tercatat estimasi liabilitas atas imbalan kerja karyawan
Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, masing-masing adalah sebesar
Rp 4.289.385.924 dan Rp 4.246.659.398. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 24.
Pajak Penghasilan
Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan provisi atas pajak penghasilan badan. Terdapat
transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirnya adalah tidak pasti sepanjang
kegiatan usaha normal. Perusahaan mengakui liabilitas atas pajak penghasilan badan berdasarkan
estimasi apakah terdapat tambahan pajak penghasilan badan.
Aset Pajak Tangguhan
Aset pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer yang dapat dikurangkan dan semua kerugian
pajak yang belum digunakan sejauh kemungkinan bahwa laba kena pajak akan tersedia untuk
digunakan sebagai dasar pengurangan atas perbedaan sementara dan kerugian yang dapat
dikurangkan.
Estimasi signifikan oleh manajemen diharuskan dalam menentukan jumlah aset pajak tangguhan yang
dapat diakui, berdasarkan saat penggunaan dan tingkat penghasilan kena pajak serta strategi
perencanaan pajak masa depan. Rincian lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 15.
5. KAS DAN BANK
Akun ini terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Kas 185.334.850 176.771.348
Bank
Pihak ketiga
Rupiah
PT Bank Central Asia Tbk 2.586.309.198 1.424.940.902
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 51.338.885 30.149.949
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 43.145.285 39.679.627
Dolar Amerika Serikat
PT Bank Central Asia Tbk
(US$ 13.825 pada tanggal 31 Maret 2026 dan
US$ 439.120 pada tanggal 31 Desember 2025) 234.932.303 7.369.323.252
PT Mandiri (Persero) Tbk
(US$ 1.080 pada tanggal 31 Maret 2026 dan
US$ 617 pada tanggal 31 Desember 2025) 18.353.799 10.354.830
Jumlah Kas dan Bank 3.119.414.320 9.051.219.908
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, tidak terdapat kas dan bank Perusahaan yang
dibatasi penggunaannya atau ditempatkan pada pihak berelasi.
24
Page 28
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
6. PIUTANG USAHA
Rincian piutang usaha terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Pihak Berelasi (Catatan 7)
Rupiah 1.142.613.043 2.742.395.381
Penyisihan atas kerugian kredit ekspektasian (1.960.669 ) (65.676.636)
Jumlah pihak berelasi - bersih 1.140.652.374 2.676.718.745
Pihak Ketiga
Rupiah 73.775.068.056 78.776.004.523
Dolar Amerika Serikat
(US$ 481.784 pada tanggal 31 Maret 2026 dan
US$ 320.580 pada tanggal 31 Desember 2025) 7.626.703.012 4.833.894.387
Jumlah 81.401.771.068 83.609.898.910
Penyisihan atas kerugian kredit ekspektasian (2.857.163.948 ) (2.872.931.140)
Jumlah pihak ketiga - bersih 78.544.607.120 80.736.967.770
Piutang Usaha - Bersih 79.685.259.494 83.413.686.515
Analisis umur piutang usaha tersebut pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025 adalah
sebagai berikut:
Mata Uang Asing
Ekuivalen Jumlah
31 Maret 2026 Rupiah Jumlah (US$) dalam Rupiah dalam Rupiah
Belum jatuh tempo 51.118.479.165 242.440 4.147.440.331 55.265.919.496
Lewat jatuh tempo:
1 - 30 hari 12.894.179.624 172.138 2.897.490.930 15.791.670.554
31 - 60 hari 2.728.275.879 - - 2.728.275.879
61 - 90 hari 2.105.312.502 - - 2.105.312.502
>90 hari 6.071.433.929 67.206 581.771.751 6.653.205.680
Jumlah 74.917.681.099 481.784 7.626.703.012 82.544.384.111
Mata Uang Asing
Ekuivalen Jumlah
31 Desember 2025 Rupiah Jumlah (US$) dalam Rupiah dalam Rupiah
Belum jatuh tempo 46.376.859.272 253.374 4.252.122.636 50.628.981.908
Lewat jatuh tempo:
1 - 30 hari 13.735.043.441 - - 13.735.043.441
31 - 60 hari 6.563.017.789 - - 6.563.017.789
61 - 90 hari 2.596.982.503 - - 2.596.982.503
>90 hari 12.246.496.899 67.206 581.771.751 12.828.268.650
Jumlah 81.518.399.904 320.580 4.833.894.387 86.352.294.291
25
Page 29
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
6. PIUTANG USAHA (lanjutan)
Mutasi penyisihan atas kerugian kredit ekspektasian nilai piutang usaha adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Saldo awal periode 2.938.607.776 2.765.499.545
Perubahan selama periode berjalan (79.483.159) 173.085.081
Saldo akhir periode 2.859.124.617 2.938.584.626
Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai piutang usaha tersebut cukup untuk
menutupi kemungkinan kerugian yang timbul akibat tidak tertagihnya piutang.
Jangka waktu rata-rata kredit penjualan barang adalah 30 hari. Tidak ada bunga yang dibebankan
pada piutang usaha.
Pada tanggal 31 Maret 2026, piutang usaha Perusahaan dijadikan sebagai jaminan dengan
penyerahan hak secara fidusia atas fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk, sebagaimana
yang dijelaskan dalam Catatan 13.
7. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK BERELASI
Perusahaan, dalam kegiatan usaha normal, melakukan transaksi dengan pihak-pihak berelasi. Rincian
saldo dan transaksi dengan pihak-pihak berelasi adalah sebagai berikut:
Persentase Terhadap
Jumlah Jumlah Aset (%)
31 Maret 2026 31 Desember 2025 31 Maret 2026 31 Desember 2025
Piutang Usaha
PT Forindoprima Perkasa 1.123.024.651 491.083.214 0,4157 0,1867
PT Yanasurya Bhaktipersada 19.588.392 2.251.312.167 0,0073 0,8559
Jumlah 1.142.613.043 2.742.395.381 0,4230 1,0426
Persentase Terhadap
Jumlah Jumlah Liabilitas (%)
31 Maret 2026 31 Desember 2025 31 Maret 2026 31 Desember 2025
Utang Usaha
PT Forindoprima Perkasa 1.026.113.572 1.301.720.300 0,73 0,98
Utang Pihak Berelasi (Catatan 26)
PT Hastagraha Bumipersada 50.000.000.000 50.000.000.000 35,50 37,57
Persentase Terhadap
Jumlah Akun yang
Jumlah Bersangkutan (%)
2026 2025 2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Penjualan Bersih
PT Forindoprima Perkasa 1.349.025.810 - 1,56 -
PT Yanasurya Bhaktipersada 474.519.560 702.487.500 0,55 0,81
Jumlah 1.823.545.370 702.487.500 2,11 0,81
26
Page 30
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
7. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK BERELASI (lanjutan)
Persentase Terhadap
Jumlah Akun yang
Jumlah Bersangkutan (%)
2026 2025 2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Pembelian
PT Forindoprima Perkasa 1.656.541.567 6.492.241.068 1,92 7,79
Beban Umum dan Administrasi -
Beban Sewa (Catatan 26)
Alexander Tanzil 1.250.000 1.250.000 50,00 50,00
Santoso Wijaya 1.250.000 1.250.000 50,00 50,00
Jumlah 2.500.000 2.500.000 100,00 100,00
Rincian transaksi dan saldo berdasarkan sifat hubungan dengan pihak-pihak berelasi adalah sebagai
berikut:
No. Pihak-pihak Berelasi Sifat Relasi Jenis Transaksi
1. PT Hastagraha Bumipersada Pemegang saham Perusahaan Transaksi keuangan
2. PT Yanasurya Bhakti Persada Entitas dengan pengendalian bersama Transaksi usaha
3. PT Forindoprima Perkasa Entitas dengan pengendalian bersama Transaksi usaha
4. Alexander Tanzil Pemegang saham Perusahaan Transaksi sewa
5. Santoso Wijaya Pemegang saham Perusahaan Transaksi sewa
Jumlah kompensasi personil manajemen kunci (komisaris dan direksi) dalam Perusahaan:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Imbalan kerja jangka pendek (dalam jutaan Rupiah) 423 416
Jumlah dalam tabel di atas merupakan jumlah yang diakui sebagai biaya selama periode pelaporan
sehubungan dengan kompensasi yang diberikan kepada personil manajemen kunci tersebut.
Manajemen kunci Perusahaan meliputi semua anggota komisaris dan direksi.
8. PERSEDIAAN
Persediaan terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Barang jadi 13.866.107.574 16.531.598.795
Barang dalam proses 20.344.289.031 17.625.636.090
Bahan baku dan bahan pembantu 25.520.047.031 25.088.449.619
Jumlah 59.730.443.636 59.245.684.504
Dikurangi penyisihan penurunan nilai persediaan (198.519.300 ) (198.519.300)
Bersih 59.531.924.336 59.047.165.204
27
Page 31
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
8. PERSEDIAAN (lanjutan)
Mutasi penyisihan atas penurunan nilai persediaan adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Saldo awal periode 198.519.300 193.372.177
Perubahan selama periode berjalan:
Penyisihan periode berjalan - -
Saldo akhir periode 198.519.300 193.372.177
Manajemen berkeyakinan bahwa penyisihan atas penurunan nilai persediaan tersebut cukup untuk
menutupi kemungkinan kerugian yang terjadi akibat penurunan nilai persediaan.
Pada tanggal 31 Maret 2026, persediaan Perusahaan dijadikan sebagai jaminan dengan penyerahan
hak secara fidusia atas fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk, sebagaimana yang
dijelaskan dalam Catatan 13.
Pada tanggal 31 Maret 2026, persediaan tersebut telah diasuransikan terhadap risiko kerugian
kebakaran dan risiko lainnya dengan nilai pertanggungan secara keseluruhan sekitar
US$ 5.000.000. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi
kemungkinan kerugian atas risiko tersebut.
9. UANG MUKA PEMBELIAN
Akun ini merupakan uang muka pembelian kepada pihak ketiga atas pembelian bahan baku dan
bahan pembantu, dengan rincian sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Pihak Ketiga
Dolar Amerika Serikat
(US$ 1.183.496 pada tanggal 31 Maret 2026 dan
US$ 128.594 pada tanggal 31 Desember 2025) 19.963.953.430 2.136.241.126
Rupiah 4.177.968.819 4.413.348.569
Euro Eropa
(EUR 10.545 pada tanggal 31 Desember 2025) 206.036.605 -
Jumlah 24.347.958.854 6.549.589.695
10. ASET TETAP
Rincian aset tetap adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026
Saldo Awal Penambahan Pengurangan Reklasifikasi Saldo Akhir
Nilai Tercatat
Pemilikan Langsung
Tanah 35.817.601.419 35.817.601.419
Bangunan dan prasarana 65.872.621.865 - - - 65.872.621.865
Mesin dan peralatan 185.191.471.626 302.311.225 17.400.000 185.511.182.851
Perlengkapan pabrik 3.288.712.275 75.250.376 - - 3.363.962.651
Peralatan kantor 2.129.005.358 11.833.622 - - 2.140.838.980
Kendaraan 3.789.703.594 - 136.500.000 3.653.203.594
Jumlah Nilai Tercatat 296.089.116.137 389.395.223 136.500.000 17.400.000 296.359.411.360
28
Page 32
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
10. ASET TETAP (lanjutan)
31 Maret 2026
Saldo Awal Penambahan Pengurangan Reklasifikasi Saldo Akhir
Aset dalam Penyelesaian
Mesin dan peralatan 17.400.000 - - (17.400.000 ) -
Jumlah Nilai Tercatat 296.106.516.137 389.395.223 136.500.000 - 296.359.411.360
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan dan prasarana 47.500.423.845 721.704.911 - - 48.222.128.756
Mesin dan peralatan 144.870.425.095 2.875.635.645 - - 147.746.060.740
Perlengkapan pabrik 3.217.932.295 9.862.053 - - 3.227.794.348
Peralatan kantor 1.972.142.408 20.752.192 - - 1.992.894.600
Kendaraan 2.679.281.026 41.268.710 136.500.000 - 2.584.049.736
Jumlah Akumulasi
Penyusutan 200.240.204.669 3.669.223.511 136.500.000 - 203.772.928.180
Nilai Buku 95.866.311.468 92.586.483.180
31 Desember 2025
Saldo Awal Penambahan Pengurangan Reklasifikasi Saldo Akhir
Nilai Tercatat
Pemilikan Langsung
Tanah 35.817.601.419 - - - 35.817.601.419
Bangunan dan prasarana 65.872.621.865 - - - 65.872.621.865
Mesin dan peralatan 180.460.956.308 792.748.043 3.469.956.951 7.407.724.226 185.191.471.626
Perlengkapan pabrik 3.275.383.552 13.328.723 - - 3.288.712.275
Peralatan kantor 2.048.546.029 80.459.329 - - 2.129.005.358
Kendaraan 3.038.655.339 882.889.892 131.841.637 - 3.789.703.594
Jumlah 290.513.764.512 1.769.425.987 3.601.798.588 7.407.724.226 296.089.116.137
Aset dalam Penyelesaian
Mesin dan peralatan 146.303.800 7.278.820.426 - (7.407.724.226 ) 17.400.000
Jumlah Nilai Tercatat 290.660.068.312 9.048.246.413 3.601.798.588 - 296.106.516.137
Akumulasi Penyusutan
Pemilikan Langsung
Bangunan dan prasarana 44.613.604.200 2.886.819.645 - - 47.500.423.845
Mesin dan peralatan 136.937.984.827 11.378.181.153 3.445.740.885 - 144.870.425.095
Perlengkapan pabrik 3.197.200.569 20.731.726 - - 3.217.932.295
Peralatan kantor 1.878.406.372 93.736.036 - - 1.972.142.408
Kendaraan 2.655.660.112 155.462.551 131.841.637 - 2.679.281.026
Jumlah Akumulasi
Penyusutan 189.282.856.080 14.534.931.111 3.577.582.522 - 200.240.204.669
Nilai Buku 101.377.212.232 95.866.311.468
Penyusutan yang dibebankan pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain adalah
sebesar Rp 3.669.223.511 dan Rp 3.564.226.504, masing-masing untuk periode 2026 dan 2025 yang
dibebankan sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Beban pabrikasi (Catatan 21) 3.494.239.855 3.397.489.904
Beban umum dan administrasi (Catatan 22) 174.983.656 166.736.600
Jumlah 3.669.223.511 3.564.226.504
29
Page 33
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
10. ASET TETAP (lanjutan)
Rincian penjualan aset tetap pada periode 2026 dan 2025 adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Nilai tercatat 136.500.000 131.841.637
Akumulasi penyusutan 136.500.000 131.841.637
Nilai buku - -
Harga jual 40.540.541 84.375.000
Laba penjualan aset tetap 40.540.541 84.375.000
Pada periode 2026 dan 2025, laba penjualan aset tetap disajikan sebagai akun “Laba Penjualan Aset
Tetap” dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.
Pada tanggal 31 Maret 2026, aset tetap tersebut telah diasuransikan terhadap risiko kerugian
kebakaran dan risiko lainnya dengan nilai pertanggungan sejumlah Rp 95 milyar dan US$ 11.000.000
Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan
kerugian atas risiko tersebut.
Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat dari seluruh aset Perusahaan tersebut dapat dipulihkan,
sehingga tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai atas aset tersebut.
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, Perusahaan memiliki utang pembelian aset
tetap kepada pihak ketiga masing-masing sebesar Rp 47.175.000 dan Rp 73.895.000 yang
merupakan utang retensi atas pembangunan bangunan dan prasarana.
Pada tanggal 31 Maret 2026, aset tetap berupa tanah dan bangunan pabrik dijadikan sebagai jaminan
atas fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk, sebagaimana yang dijelaskan dalam
Catatan 13.
Hak atas tanah diperoleh berdasarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) yang dapat diperbaharui
dengan masa yang akan berakhir antara tahun 2028 sampai 2047. Perusahaan berkeyakinan bahwa
hak atas tanah tersebut dapat diperbarui berdasarkan praktik historis.
11. ASET HAK-GUNA DAN LIABILITAS SEWA
Rincian aset hak-guna adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026
Saldo Awal Penambahan Penghapusan Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Bangunan Kantor 321.054.563 - - 321.054.563
Akumulasi penyusutan
Bangunan Kantor 168.203.043 30.921.214 - 199.124.257
Nilai tercatat - bersih 152.851.520 121.930.306
30
Page 34
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
11. ASET HAK-GUNA DAN LIABILITAS SEWA (lanjutan)
31 Desember 2025
Saldo Awal Penambahan Penghapusan Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Bangunan Kantor 221.054.563 100.000.000 - 321.054.563
Akumulasi penyusutan
Bangunan Kantor 73.684.856 94.518.187 - 168.203.043
Nilai tercatat - bersih 147.369.707 152.851.520
Rincian liabilitas sewa adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Liabilitas sewa
Bagian jangka pendek 39.158.746 78.317.492
Bagian jangka panjang - -
Jumlah 39.158.746 78.317.492
Jumlah yang diakui dalam laporan arus kas adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Jumlah kas keluar untuk
Pembayaran liabilitas sewa 39.158.746 36.794.860
Pembayaran bunga 2.515.754 4.879.640
Jumlah 41.674.500 41.674.500
Jumlah yang diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain adalah sebagai
berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Bunga liabilitas sewa 2.515.754 4.879.640
Beban penyusutan aset hak-guna (Catatan 22) 30.921.214 18.421.214
Ringkasan komponen perubahan liabilitas yang timbul dari sewa adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Saldo awal 78.317.492 151.907.213
Penambahan - 100.000.000
Arus kas (39.158.746 ) (173.589.721)
Saldo akhir 39.158.746 78.317.492
31
Page 35
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
12. ASET TIDAK LANCAR LAIN-LAIN
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, aset tidak lancar lain-lain merupakan uang
jaminan untuk proyek tender masing-masing sebesar Rp 200.000.000
13. UTANG BANK JANGKA PENDEK
Utang bank terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Utang bank jangka pendek
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Kredit Modal Kerja 56.000.000.000 55.000.000.000
PT Mandiri (Persero) Tbk
Kredit Agunan Surat Berharga 5.600.000.000 4.600.000.000
Jumlah 61.600.000.000 59.600.000.000
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Bank BRI)
Pada tanggal 4 Oktober 2023, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit modal kerja - cash collateral
dari Bank BRI dengan jumlah fasilitas maksimum sebesar Rp 85.000.000.000, yang ditujukan untuk
modal kerja. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan, terakhir telah
diperpanjang kembali sampai dengan tanggal 4 Oktober 2026. Fasilitas tersebut dikenakan tingkat
bunga per tahun sebesar 2,90%.
Fasilitas tersebut dijamin dengan jaminan pribadi dari Alexander Tanzil dan Santoso Wijaya
(pemegang saham Perusahaan).
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri)
Pada tanggal 7 Februari 2024, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit Agunan Surat Berharga dari
Bank Mandiri dengan jumlah fasilitas maksimum sebesar Rp 43.600.000.000, yang ditujukan untuk
modal kerja. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan, sampai dengan
tanggal 6 Januari 2027. Fasilitas tersebut dikenakan tingkat bunga per tahun sebesar 1,50% di atas
tingkat suku bunga counter tertinggi deposito Rupiah di Bank Mandiri.
Fasilitas tersebut dijamin dengan jaminan pribadi dari Alexander Tanzil dan Santoso Wijaya
(pemegang saham Perusahaan).
PT Bank Central Asia Tbk (Bank BCA)
Pada tanggal 7 September 2022, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit lokal dan time loan revolving
dari Bank BCA dengan jumlah fasilitas maksimum sebesar Rp 75.000.000.000 dan
Rp 100.000.000.000, yang ditujukan untuk modal kerja. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu
selama 12 (dua belas) bulan, terakhir telah diperpanjang sampai dengan tanggal 7 April 2024.
Fasilitas tersebut dikenakan tingkat bunga per tahun sebesar 7,00%.
Pada tanggal 14 Desember 2022, Perusahaan memperoleh tambahan fasilitas kredit dari bank BCA
berupa fasilitas kredit investasi I dan fasilitas kredit investasi II dengan jumlah fasilitas maksimum,
masing-masing sebesar Rp 8.500.000.000 dan Rp 16.500.000.000, yang ditujukan untuk membiayai
pembelian mesin produksi dan pembangunan tambahan ruang produksi. Fasilitas kredit ini memiliki
jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan sampai dengan tanggal 7 April 2024. Fasilitas tersebut
dikenakan tingkat bunga per tahun sebesar 7,00%.
32
Page 36
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
13. UTANG BANK JANGKA PENDEK (lanjutan)
PT Bank Central Asia Tbk (Bank BCA) (lanjutan)
Pada tanggal 19 Maret 2024, Perusahaan memperoleh perpanjangan fasilitas kredit dari bank BCA
berupa fasilitas kredit lokal, time loan revolving, kredit investasi I, fasilitas kredit investasi II dan bank
garansi dengan jumlah fasilitas maksimum, masing-masing sebesar Rp 75.000.000.000,
Rp 100.000.000.000, Rp 8.500.000.000, Rp 16.500.000.000 dan Rp 5.000.000.000, yang ditujukan
untuk membiayai pembelian mesin produksi dan pembangunan tambahan ruang produksi. Fasilitas
kredit ini memiliki jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan, terakhir telah diperpanjang kembali
sampai dengan tanggal 7 Juni 2026. Fasilitas tersebut dikenakan tingkat bunga per tahun sebesar
7,5%.
Fasilitas tersebut dijamin dengan tanah dan bangunan Perusahaan, piutang usaha, persediaan dan
jaminan perusahaan dari PT Hastagraha Bumipersada (pemegang saham Perusahaan).
Sehubungan dengan fasilitas di atas, Perusahaan diwajibkan untuk memenuhi persyaratan tertentu
seperti menjaga rasio keuangan tertentu (rasio EBITDA per (interest ditambah installment) lebih dari 1
kali, current ratio lebih dari 1 kali dan Debt per Equity kurang dari 3 kali. Pada tanggal
31 Maret 2026, Perusahaan telah memenuhi persyaratan sehubungan dengan fasilitas kredit di atas.
Pada tanggal 31 Maret 2026, tidak terdapat saldo terutang atas fasilitas kredit tersebut.
14. UTANG USAHA
Akun ini merupakan liabilitas yang timbul dari pembelian bahan baku dan bahan pembantu, dengan
rincian sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Pihak berelasi (lihat Catatan 7)
PT Forindoprima Perkasa 1.026.113.572 1.301.720.300
Pihak ketiga - lokal
Rupiah 10.908.575.152 6.655.687.830
Dolar Amerika Serikat
(US$ 35.047 pada tanggal 31 Maret 2026 dan
US$ 27.841 pada tanggal 31 Desember 2025) 595.549.253 467.235.214
Jumlah pihak ketiga 11.504.124.405 7.122.923.044
Jumlah 12.530.237.977 8.424.643.344
Pemasok utama Perusahaan adalah PT PCM Kimia Indonesia.
15. PERPAJAKAN
a. Pajak dibayar di muka dan utang pajak
Pajak dibayar di muka
Pajak dibayar di muka pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025 merupakan pajak
pertambahan nilai - bersih, masing-masing sebesar Rp 1.403.754.521 dan Rp 312.982.684.
33
Page 37
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
15. PERPAJAKAN (lanjutan)
a. Pajak dibayar di muka dan utang pajak (lanjutan)
Utang pajak
Utang pajak terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Pajak Penghasilan:
Pasal 21 155.028.032 17.544
Pasal 23 19.818.094 15.089.765
Jumlah 174.846.126 15.107.309
b. Manfaat (beban) pajak penghasilan
Rekonsiliasi antara rugi sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan menurut laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain dengan taksiran rugi fiskal untuk periode yang berakhir pada
tanggal-tanggal 31 Maret 2026 dan 2025 adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Rugi sebelum manfaat (beban)
pajak penghasilan menurut laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain (708.524.169 ) (4.462.998.558)
Beda temporer:
Penyusutan aset tetap 66.938.884 87.603.588
Transaksi sewa 99.717 2.463.604
Estimasi liabilitas atas imbalan kerja karyawan 140.257.415 126.934.680
Penyisihan (pemulihan) atas
kerugian kredit ekspektasian (79.483.159 ) 173.085.081
Kompensasi PKWT 45.317.604 139.131.644
Beda tetap:
Kesejahteraan karyawan 12.527.000 23.766.830
Penyusutan 26.343.750
Sumbangan dan representasi 6.424.300 30.097.610
Penghasilan yang pajaknya bersifat final (10.289.470 ) (2.712.537)
Lain-lain - bersih 19.729.562 25.039.753
Taksiran rugi fiskal - periode berjalan (480.658.566 ) (3.857.588.305)
Akumulasi taksiran rugi fiskal pada tahun:
2024 - (2.290.945.802)
2021 - (5.480.006.867)
Penyesuaian taksiran rugi fiskal atas:
2021 - 2.652.537.445
2022 - 24.117.500
2023 - 34.220.000
Akumulasi taksiran rugi fiskal
akhir periode (480.658.566 ) (8.917.666.029)
34
Page 38
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
15. PERPAJAKAN (lanjutan)
b. Manfaat (beban) pajak penghasilan (lanjutan)
Sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan Indonesia, pajak penghasilan badan secara tahunan.
Laporan keuangan tanggal 31 Maret 2026 dan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada
tanggal tersebut tidak dapat digunakan untuk menghitung pajak penghasilan badan tahunan.
Dalam laporan keuangan ini, jumlah taksiran penghasilan kena pajak untuk periode tiga bulan
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 didasarkan atas perhitungan sementara. Jumlah
tersebut mungkin berbeda dari penghasilan kena pajak yang dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan (“SPT”) pajak penghasilan badan.
Beban pajak penghasilan (periode berjalan) dan perhitungan taksiran klaim pajak penghasilan
adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Taksiran rugi fiskal (dibulatkan) (480.658.000 ) (8.917.666.000)
Beban pajak penghasilan - periode berjalan - -
Pajak penghasilan dibayar di muka:
Pasal 22 493.724.836 795.608.735
Taksiran klaim pajak penghasilan 493.724.836 795.608.735
Taksiran klaim pajak penghasilan pada tanggal laporan posisi keuangan terdiri dari klaim untuk
tahun pajak sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Taksiran klaim pajak penghasilan:
Periode 2026 493.724.836 -
Tahun 2025 2.730.204.979 2.730.204.979
Tahun 2024 3.182.191.920 3.182.191.920
Jumlah 6.406.121.735 5.912.396.899
Pada tahun 2024, Perusahaan menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) pajak
penghasilan No. 00022/406/23/054/24 tertanggal 19 Desember 2024 atas pajak penghasilan
badan tahun pajak 2023 yang menetapkan klaim atas pajak penghasilan Perusahaan sebesar
Rp 2.880.397.282. Pada tanggal 16 Januari 2025, Perusahaan telah menerima pembayaran atas
pajak yang dinyatakan lebih bayar tersebut.
Rekonsiliasi antara manfaat (beban) pajak penghasilan yang dihitung dengan menggunakan tarif
pajak yang berlaku dari rugi sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan dengan manfaat pajak
penghasilan seperti yang tercantum dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain
untuk periode yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Maret 2026 dan 2025 adalah sebagai
berikut:
35
Page 39
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
15. PERPAJAKAN (lanjutan)
b. Manfaat (beban) pajak penghasilan (lanjutan)
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Rugi sebelum manfaat (beban) pajak
penghasilan menurut laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain (708.524.169 ) (4.462.998.558)
Manfaat pajak penghasilan dengan
tarif pajak yang berlaku (155.875.317 ) (981.859.683)
Pengaruh pajak atas beda tetap:
Kesejahteraan karyawan 2.755.940 5.228.703
Penyusutan 5.795.625 -
Sumbangan dan representasi 1.413.346 6.621.474
Penghasilan yang pajaknya bersifat final (2.263.683 ) (596.758)
Lain-lain - bersih 4.340.503 5.508.746
Penyesuaian pajak tangguhan 44.775.072 -
Rugi fiskal yang pajak
tangguhannya tidak diakui 105.744.885 848.669.427
Beban (manfaat) pajak penghasilan
menurut laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain 6.686.371 (116.428.091)
c. Aset pajak tangguhan - bersih
Pajak tangguhan yang berasal dari pengaruh beda temporer yang signifikan antara pelaporan
komersial dan pajak adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Aset (liabilitas) pajak tangguhan
Estimasi liabilitas atas imbalan kerja karyawan 943.664.903 934.265.067
Penyisihan atas penurunan nilai persediaan 43.674.248 43.674.248
Penyisihan atas kerugian kredit ekspektasian
piutang usaha 629.007.415 646.493.710
Penyisihan atas kerugian kredit ekspektasian
piutang lain-lain 115.133.326 115.133.326
Aset hak guna (26.824.667 ) (33.627.334)
Kompensasi PKWT 636.673.698 626.703.825
Liabilitas sewa 8.614.924 17.190.248
Penyusutan aset tetap (32.071.206 ) (3.817.282)
Aset pajak tangguhan - bersih 2.317.872.641 2.346.015.808
d. Administrasi
Berdasarkan peraturan perpajakan Indonesia, Perusahaan menghitung, menetapkan dan
membayar secara sendiri pajak penghasilannya (self-assessment). Direktorat Jenderal Pajak
(DJP) dapat menetapkan atau mengubah liabilitas pajak dalam batas waktu 5 (lima) tahun sejak
saat terutangnya pajak.
36
Page 40
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
16. BEBAN AKRUAL
Akun ini terdiri dari:
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek
Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan 6.703.028.749 6.892.959.682
Beban harus dibayar
Listrik, air dan telepon 1.454.288.653 1.625.778.512
Pengangkutan 817.985.002 1.031.575.462
Bunga 26.855.278 31.096.945
Lain-lain 351.564.779 126.770.095
Jumlah 2.650.693.712 2.815.221.014
17. MODAL SAHAM
Rincian pemilikan saham Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025 adalah
sebagai berikut:
Persentase
Pemegang Saham Jumlah Saham Pemilikan Jumlah
PT Hastagraha Bumipersada 597.650.500 89,469% 59.765.050.000
Alexander Tanzil (Komisaris Utama) 1.174.750 0,176% 117.475.000
Santoso Wijaya (Komisaris) 1.174.750 0,176% 117.475.000
Lain-lain (masing-masing dengan
pemilikan di bawah 5%) 68.000.089 10,179% 6.800.008.900
Jumlah 668.000.089 100,000% 66.800.008.900
Anggota Komisaris dan Direksi yang memiliki saham Perusahaan, sesuai Daftar Pemegang Saham
Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, adalah sebagai berikut:
Persentase
Pemegang Saham Jumlah Saham Pemilikan Jumlah
Komisaris
Alexander Tanzil 1.174.750 0,176% 117.475.000
Santoso Wijaya 1.174.750 0,176% 117.475.000
Jumlah 2.349.500 0,352% 234.950.000
Pengelolaan Modal
Tujuan utama pengelolaan modal Perusahaan adalah untuk memastikan pemeliharaan rasio modal
yang sehat untuk mendukung usaha dan memaksimalkan imbalan bagi pemegang saham.
Perusahaan dipersyaratkan oleh Undang-undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 untuk
menyisihkan dan mempertahankan suatu dana cadangan yang tidak boleh didistribusikan sampai
dana cadangan tersebut mencapai 20% dari modal saham diterbitkan dan dibayar penuh. Persyaratan
permodalan eksternal tersebut akan dipertimbangkan oleh Perusahaan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (“RUPS”) tahunan berikutnya.
37
Page 41
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
17. MODAL SAHAM (lanjutan)
Pengelolaan Modal (lanjutan)
Perusahaan mengelola struktur permodalan dan melakukan penyesuaian berdasarkan perubahan
kondisi ekonomi. Untuk memelihara dan menyesuaikan struktur permodalan, Perusahaan dapat
menyesuaikan usulan pembayaran dividen kepada pemegang saham, menerbitkan saham baru atau
mengusahakan tambahan pendanaan melalui pinjaman. Tidak ada perubahan atas tujuan, kebijakan
maupun proses dalam manajemen modal untuk periode yang berakhir pada tanggal-tanggal
31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025.
Kebijakan Perusahaan adalah mempertahankan struktur pemodalan yang sehat untuk mengamankan
akses terhadap pendanaan pada biaya yang wajar, antara lain dengan memonitor permodalan
menggunakan rasio debt to equity dan rasio gearing.
18. TAMBAHAN MODAL DISETOR - BERSIH
Rincian tambahan modal disetor pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025 adalah sebagai
berikut:
Agio saham sehubungan penawaran umum saham (Catatan 1b) 30.260.000.000
Biaya emisi efek ekuitas (Catatan 1b dan 3r) (2.206.029.983)
Agio saham sehubungan - pelaksanaan Waran Seri I 51.620
Bersih 28.054.021.637
19. DIVIDEN TUNAI
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan pada tanggal
26 Juni 2025, para pemegang saham menyetujui untuk tidak membagikan dividen kepada para
pemegang saham.
20. PENJUALAN BERSIH
Akun ini terdiri dari:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Pihak berelasi (Catatan 7)
Lokal 1.823.545.370 702.487.500
Pihak ketiga
Lokal 66.037.071.155 80.907.744.249
Ekspor 18.558.198.703 5.253.570.554
Jumlah 86.418.815.228 86.863.802.303
Sebagian penjualan, yaitu sekitar 2,11% dan 0,81%, masing-masing pada periode 2026 dan 2025,
dilakukan kepada pihak berelasi (Catatan 7).
38
Page 42
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
20. PENJUALAN BERSIH (lanjutan)
Pada periode 2026 dan 2025, penjualan kepada pihak ketiga dengan jumlah penjualan melebihi 10%
dari jumlah penjualan bersih adalah sebagai berikut:
Persentase
Terhadap Jumlah
Jumlah Penjualan Bersih (%)
2026 2025 2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Penjualan Bersih
Lucky Star Weaving Co. Ltd 16.410.242.662 2.951.094.860 18,99 3,40
PT Conch International Trade Indonesia - 18.356.188.405 - 21,13
Jumlah 16.410.242.662 21.307.283.265 18,99 24,53
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, Perusahaan memiliki uang muka dari pelanggan
(pihak ketiga) sebesar Rp 2.829.639.641 dan Rp 921.996.367.
21. BEBAN POKOK PENJUALAN
Akun ini terdiri dari:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Bahan baku yang digunakan 41.322.686.204 42.931.296.171
Upah buruh langsung 9.857.011.013 9.855.942.498
Beban pabrikasi
Pemakaian bahan pembantu 12.522.220.673 15.606.676.365
Upah buruh tidak langsung 6.191.543.818 6.271.157.346
Listrik 4.767.469.025 4.553.903.010
Penyusutan (Catatan 10) 3.494.239.855 3.397.489.904
Perawatan dan pemeliharaan 2.112.902.771 1.771.210.854
Lain-lain 45.119.000 119.552.363
Jumlah Beban Produksi 80.313.192.359 84.507.228.511
Persediaan barang dalam proses
Awal periode 17.625.636.090 22.882.301.357
Akhir periode (20.344.289.031) (22.262.409.561)
Beban Pokok Produksi 77.594.539.418 86.127.120.307
Persediaan barang jadi
Awal periode 16.531.598.795 14.899.576.784
Pembelian 554.511.130 501.621.622
Pemakaian sendiri (349.035.264) (1.509.849.717)
Akhir periode (13.866.107.574) (16.713.352.584)
Beban Pokok Penjualan 80.465.506.505 83.305.116.412
Sebagian pembelian, yaitu sekitar 1,92% dan 7,79% pada periode 2026 dan 2025, dilakukan dengan
pihak berelasi (Catatan 7).
39
Page 43
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
21. BEBAN POKOK PENJUALAN (lanjutan)
Pada periode 2026 dan 2025, tidak ada pembelian dari pemasok pihak ketiga dengan jumlah
pembelian melebihi 10% dari jumlah penjualan bersih.
Persentase
Terhadap Jumlah
Jumlah Penjualan Bersih (%)
2025 2024 2025 2024
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Pembelian
PT PCM Kimia Indonesia 11.907.225 .000 7.754.175.000 13,78 8,93
22. BEBAN USAHA
Rincian beban usaha adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Beban Penjualan
Pengangkutan dan transportasi 1.544.226.294 2.426.765.417
Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan 224.200.000 251.562.500
Lain-lain 149.428.783 132.811.528
Jumlah 1.917.855.077 2.811.139.445
Beban Umum dan Administrasi
Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan 2.409.811.875 2.218.178.913
Beban kantor 1.538.233.956 1.554.191.327
Asuransi 218.756.568 213.835.049
Penyusutan aset tetap (Catatan 10) 174.983.656 166.736.600
Perjalanan dinas 70.512.232 53.600.614
Penyusutan aset hak-guna (Catatan 11) 30.921.214 18.421.214
Lain-lain 164.441.597 278.444.065
Jumlah 4.607.661.098 4.503.407.782
Jumlah Beban Usaha 6.525.516.175 7.314.547.227
23. BEBAN KEUANGAN
Rincian beban keuangan adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Bunga pinjaman bank 316.650.343 657.263.551
Provisi dan administrasi bank 26.638.342 25.777.906
Jumlah 343.288.685 683.041.457
40
Page 44
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
24. ESTIMASI LIABILITAS ATAS IMBALAN KERJA KARYAWAN
Perusahaan mencatat estimasi liabilitas atas imbalan kerja karyawan pada tanggal 31 Maret 2026 dan
31 Desember 2025. Pada laporan keuangan tahun 2025, berdasarkan perhitungan aktuaria yang
dilakukan oleh KKA Tumpal Marbun, aktuaris independen, berdasarkan laporannya tanggal
10 Februari 2026 untuk tahun 2025, yang menggunakan metode “Projected Unit Credit”.
Asumsi-asumsi pokok yang digunakan dalam perhitungan aktuaria tersebut adalah sebagai berikut:
Tingkat diskonto : 5,52% per tahun
Tingkat kenaikan gaji : 10%
Referensi tingkat mortalitas : TMI-2019
Tingkat cacat tahunan : 5% dari tingkat mortalitas
Umur pensiun : 55 tahun
Analisis liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan yang disajikan sebagai “Estimasi Liabilitas
atas Imbalan Kerja Karyawan” di laporan posisi keuangan pada tanggal 31 Maret 2026 dan
31 Desember 2025, masing-masing adalah sebesar Rp 4.289.385.924 dan Rp 4.246.659.398.
Manajemen berkeyakinan bahwa estimasi liabilitas tersebut di atas cukup untuk memenuhi ketentuan
yang berlaku.
25. ASET DAN LIABILITAS MONETER DALAM MATA UANG ASING
Pada tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025, Perusahaan memiliki aset dan liabilitas moneter
dalam mata uang asing adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026
Ekuivalen
Mata Uang Asing Dalam Rupiah
Aset
Kas dan bank US$ 14.905 253.286.102
Piutang usaha US$ 481.784 7.626.703.012
Jumlah 7.879.989.114
Liabilitas
Utang usaha US$ 35.047 595.549.253
Aset - Bersih 7.284.439.861
31 Desember 2025
Ekuivalen
Mata Uang Asing Dalam Rupiah
Aset
Kas dan bank US$ 439.737 7.379.678.082
Piutang usaha US$ 320.580 4.833.894.387
Jumlah 12.213.572.469
Liabilitas
Utang usaha US$ 27.841 467.235.214
Aset - Bersih 11.746.337.255
41
Page 45
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
26. PERJANJIAN PENTING DAN KONTINJENSI
a. Pada tanggal 17 Desember 2018, Perusahaan memiliki perjanjian sewa ruangan kantor dengan
Yuandala Kolopaking untuk kantor pusat Perusahaan yang berlokasi di Gedung Graha Irama
Lantai 2E, Jalan H.R. Rasuna Said Blok. X/1 Kav. 1-2, Jakarta Selatan, yang berlaku untuk
periode 2 (dua) tahun, dari tanggal 21 Januari 2021 sampai dengan tanggal 20 Januari 2022,
dengan nilai sewa sebesar Rp 185.220.000, terakhir telah diperpanjang kembali untuk 3 (tiga)
tahun sampai dengan tanggal 20 Januari 2027 dengan nilai sewa sebesar Rp 277.830.000.
Jumlah beban sewa pada periode 2026 dan 2025 sebesar Rp 23.152.500 dan 23.152.500.
b. Pada tanggal 21 Maret 2022, Perusahaan memiliki perjanjian sewa atas sebagian ruangan kantor
di Rukan Golden Palace Blok A No. 21-23, Surabaya dengan Alexander Tanzil dan Santoso
Wijaya (pemegang saham Perusahaan) untuk kantor pemasaran Perusahaan, yang berlaku untuk
periode 21 Maret 2022 sampai dengan tanggal 31 Desember 2022, dengan nilai sewa sebesar
Rp 10.000.000. Perjanjian sewa tersebut, terakhir telah diperpanjang kembali sampai dengan
tanggal 31 Desember 2026. Jumlah beban sewa pada periode 2026 dan 2025 adalah sebesar
Rp 2.500.000 (Catatan 7).
c. Pada tanggal 7 Agustus 2025, Perusahaan memiliki perjanjian sewa atas bangunan Gudang di
Desa Pasinan Lemah Putih, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik dengan Lion Djajono
untuk Gudang Persediaan Bahan Baku, yang berlaku untuk periode 15 Agustus 2025 sampai
dengan tanggal 14 Agustus 2027, dengan nilai sewa sebesar Rp 100.000.000 yang sudah
dibayarkan sepenuhnya pada 24 agustus 2025.
d. Pada tanggal 3 Agustus 2018, Perusahaan memperoleh pinjaman dari PT Hastagraha
Bumipersada (pemegang saham Perusahaan) dengan jumlah pinjaman maksimum Rp
50.000.000.000, yang ditujukan untuk modal kerja. Pinjaman ini tidak dikenakan bunga, tidak
dijamin, dan memiliki jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Berdasarkan perjanjian perpanjangan
tanggal 3 Agustus 2024, jangka waktu pinjaman diperpanjang hingga 3 Agustus 2025.
Selanjutnya, berdasarkan perjanjian perpanjangan lain tanggal 3 Agustus 2025, jangka waktu
pinjaman diperpanjang kembali hingga 3 Agustus 2026.
27. INFORMASI SEGMEN
Segmen Usaha
Kegiatan usaha Perusahaan dikelompokkan dalam 4 (empat) segmen usaha utama, yaitu Karung
Plastik, Kantong Semen, Roll Sheet dan Sandwich Sheet dan Lain-lain. Segmen ini digunakan
sebagai dasar pelaporan informasi segmen usaha. Pembebanan harga antar segmen, jika ada,
didasarkan pada harga pokok segmen (at cost).
Informasi mengenai segmen usaha Perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
Karung Kantong Roll Sheet dan
31 Maret 2026 Plastik Semen Sandwich Sheet Lain-lain Jumlah
PENJUALAN BERSIH 33.546.991.248 25.939.199.140 25.994.442.454 938.182.386 86.418.815.228
BEBAN POKOK PENJUALAN (30.617.235.101) (24.036.789.334) (24.878.769.410) (932.712.660) (80.465.506.505 )
HASIL
Hasil segmen (laba bruto) 2.929.756.147 1.902.409.806 1.115.673.044 5.469.726 5.953.308.723
Beban penjualan dan
beban umum dan administrasi
tidak dapat dialokasikan (6.525.516.175 )
Rugi usaha (572.207.452 )
42
Page 46
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
27. INFORMASI SEGMEN (lanjutan)
Segmen Usaha (lanjutan)
Karung Kantong Roll Sheet dan
31 Maret 2026 Plastik Semen Sandwich Sheet Lain-lain Jumlah
Beban keuangan (343.288.685 )
Lain-lain - bersih 206.971.968
Rugi sebelum beban pajak
penghasilan (708.524.169 )
Beban pajak penghasilan (6.686.371 )
Rugi periode berjalan (715.210.540 )
Laba komprehensif lain -
- setelah pajak 76.074.093
Jumlah rugi komprehensif
periode berjalan (639.136.447 )
Aset segmen Persediaan 24.128.338.708 18.507.067.762 16.896.517.866 - 59.531.924.336
Aset tidak dapat dialokasi 210.646.936.792
Jumlah aset 270.178.861.128
Liabilitas tidak dapat dialokasi 140.864.165.875
Jumlah liabilitas 140.864.165.875
Penambahan aset tetap 389.395.223
Penyusutan 3.669.223.511
Karung Kantong Roll Sheet dan
31 Maret 2025 Plastik Semen Sandwich Sheet Lain-lain Jumlah
PENJUALAN BERSIH 33.379.478.388 43.087.983.200 9.906.777.990 489.562.725 86.863.802.303
BEBAN POKOK PENJUALAN (32.587.946.702) (40.744.727.820) (9.484.883.090) (487.558.800) (83.305.116.412 )
HASIL
Hasil segmen (laba bruto) 791.531.686 2.343.255.380 421.894.900 2.003.925 3.558.685.891
Beban penjualan dan
beban umum dan administrasi
tidak dapat dialokasikan (7.314.547.227 )
Rugi usaha (3.755.861.336 )
Beban keuangan (683.041.457)
Lain-lain - bersih (24.095.765)
Rugi sebelum manfaat pajak
penghasilan (4.462.998.558)
Manfaat pajak penghasilan 116.428.091
Rugi periode berjalan (4.346.570.467)
Laba komprehensif lain -
- setelah pajak 17.281.688
Jumlah laba komprehensif
periode berjalan (4.329.288.779 )
Karung Kantong Roll Sheet dan
31 Desember 2025 Plastik Semen Sandwich Sheet Lain-lain Jumlah
Aset segmen Persediaan 30.038.486.902 15.042.198.195 13.966.480.107 - 59.047.165.204
Aset tidak dapat dialokasi 203.997.466.101
Jumlah aset 263.044.631.305
Liabilitas tidak dapat dialokasi 133.068.799.606
Jumlah liabilitas 133.068.799.606
Penambahan aset tetap 9.048.246.413
Penyusutan 14.534.931.111
43
Page 47
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
27. INFORMASI SEGMEN (lanjutan)
Segmen Geografis
Aset utama Perusahaan berlokasi di Sidoarjo, Surabaya. Analisis penjualan bersih berdasarkan
wilayah pemasaran adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Lokal 67.860.616.525 81.610.231.749
Ekspor
Asia 18.558.198.703 4.451.959.225
Amerika Selatan - 801.611.329
Jumlah 86.418.815.228 86.863.802.303
28. RUGI PER SAHAM
Rugi per saham dihitung dengan membagi rugi periode berjalan dengan rata-rata tertimbang jumlah
saham yang beredar pada periode yang bersangkutan. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Rugi periode berjalan (715.210.540 ) (4.346.570.467)
Jumlah rata-rata tertimbang saham
yang beredar 668.000.089 668.000.089
Rugi per saham (1,07 ) (6,5)
29. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN
Risiko utama dari instrumen keuangan adalah risiko pasar (termasuk risiko fluktuasi harga bahan
baku, risiko perubahan nilai tukar mata uang asing dan risiko tingkat bunga), risiko kredit serta risiko
likuiditas. Kebijakan keuangan Perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi dampak keuangan dari
fluktuasi tingkat bunga dan nilai tukar mata uang asing serta meminimalisir potensi kerugian yang
dapat berdampak pada risiko keuangan Perusahaan.
Faktor-faktor Risiko Keuangan
a. Risiko Pasar
Risiko Fluktuasi Harga Bahan Baku
Risiko usaha utama yang dihadapi oleh Perusahaan adalah fluktuasi harga bahan baku biji plastik
Polypropylene (PP). PP merupakan produk komoditas yang mana harga pasarnya ditentukan oleh
permintaan dan penawaran di dunia. Harga PP dapat diklasifikasikan menjadi 2 area yaitu harga
PP nasional dan regional. Secara regional, PP di Indonesia diimpor dari Asia Tenggara, Asia
Selatan, Asia Timur dan Negara Timur Tengah. Harga pasar yang terbentuk di Indonesia
merupakan ekuilibrium dari harga PP nasional, Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur dan
Negara Timur Tengah.
44
Page 48
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
29. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)
Faktor-faktor Risiko Keuangan (lanjutan)
a. Risiko Pasar (lanjutan)
Risiko Fluktuasi Harga Bahan Baku (lanjutan)
Walaupun secara umum, harga PP dipengaruhi oleh harga minyak karena PP merupakan produk
turunan dari minyak, namun korelasi antara harga PP dan harga minyak ini cukup kecil dan faktor
yang paling dominan adalah permintaan dan penawaran.
Risiko Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Asing
Pembelian bahan baku adalah dalam mata uang asing (Dolar Amerika Serikat). Seiring dengan
meningkatnya harga minyak dunia, nilai kurs mata uang dunia selalu berubah. Untuk mengatasi
hal ini, Perusahaan mengadakan pembelian bahan baku yang terjadwal dengan memperhatikan
fluktuasi kurs dolar setiap saat dan juga dengan memperkuat pasar ekspor, dimana harga jual
juga dalam valuta asing (Dolar Amerika Serikat) sehingga gejolak nilai tukar dapat diminimalisasi.
Risiko Tingkat Bunga
Risiko tingkat suku bunga adalah risiko dimana nilai wajar arus kas di masa depan akan
berfluktuasi karena perubahan tingkat suku bunga di pasar. Pinjaman yang diperoleh dengan
tingkat bunga mengambang menimbulkan risiko suku bunga atas arus kas.
Risiko tingkat bunga Perusahaan terutama terkait dengan pinjaman yang diperoleh Perusahaan.
Perusahaan melakukan penelaahan berkala atas dampak perubahan suku bunga untuk mengelola
risiko suku bunga.
Tabel berikut menyajikan nilai tercatat instrumen keuangan yang dimiliki oleh Perusahaan yang
terpengaruh oleh risiko suku bunga berdasarkan tanggal jatuh tempo:
31 Maret 2026
Kurang Lebih
dari 1 tahun dari 1 tahun Nilai tercatat
Suku bunga mengambang
Kas di bank 2.934.079.470 - 2.934.079.470
Suku bunga tetap
Utang bank jangka pendek (61.600.000.000) - (61.600.000.000 )
Liabilitas sewa
bagian jangka pendek (39.158.746) - (39.158.746 )
Bersih (58.705.079.276) - (58.705.079.276 )
45
Page 49
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
29. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)
Faktor-faktor Risiko Keuangan (lanjutan)
a. Risiko Pasar (lanjutan)
Risiko Tingkat Bunga (lanjutan)
31 Desember 2025
Kurang Lebih
dari 1 tahun dari 1 tahun Nilai tercatat
Suku bunga mengambang
Kas di bank 8.874.448.560 - 8.874.448.560
Suku bunga tetap
Utang bank jangka pendek (59.600.000.000) - (59.600.000.000 )
Liabilitas sewa
bagian jangka pendek (78.317.492) - (78.317.492 )
Bersih (50.803.868.932) - (50.803.868.932 )
Instrumen keuangan lainnya yang dimiliki Perusahaan yang tidak dimasukkan pada tabel di atas
adalah yang tidak dikenakan bunga atau tidak signifikan sehingga tidak terpengaruh risiko tingkat
bunga.
b. Risiko Kredit
Perusahaan tidak memiliki risiko yang signifikan terhadap risiko kredit. Perusahaan memiliki
kebijakan untuk memastikan keseluruhan penjualan produk dilakukan kepada pelanggan dengan
reputasi dan riwayat kredit yang baik. Selain itu, Perusahaan senantiasa melakukan penelaahan
berkala atas kredit pelanggan yang ada.
c. Risiko Likuiditas
Manajemen risiko likuiditas yang hati-hati mensyaratkan tersedianya kas dan bank yang memadai
untuk memenuhi kebutuhan modal operasional. Perusahaan dalam menjalankan kegiatan
usahanya senantiasa menjaga fleksibilitas melalui dana kas dan bank yang memadai dan
ketersediaan dana dalam bentuk kredit yang memadai.
Manajemen mengelola risiko likuiditas dengan senantiasa memantau perkiraan cadangan
likuiditas Perusahaan berdasarkan arus kas yang diharapkan serta menelaah kebutuhan
pembiayaan untuk modal kerja dan aktivitas pendanaan secara teratur dan pada saat yang
dianggap perlu.
46
Page 50
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
29. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)
Nilai Wajar Instrumen Keuangan
Nilai tercatat dan taksiran nilai wajar dari instrumen keuangan Perusahaan yang dicatat di laporan
posisi keuangan tanggal 31 Maret 2026 dan 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
31 Maret 2026
Nilai tercatat Nilai wajar
Aset Keuangan Lancar
Kas dan bank 3.119.414.320 3.119.414.320
Piutang usaha
Pihak berelasi 1.140.652.374 1.140.652.374
Pihak ketiga 78.544.607.120 78.544.607.120
Piutang lain-lain - pihak ketiga 253.561.400 253.561.400
Jumlah aset keuangan lancar 83.058.235.214 83.058.235.214
Aset Keuangan Tidak Lancar
Aset tidak lancar lain-lain 200.000.000 200.000.000
Jumlah Aset Keuangan 83.258.235.214 83.258.235.214
Liabilitas Keuangan Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek 61.600.000.000 61.600.000.000
Utang usaha
pihak ketiga 11.504.124.405 11.504.124.405
pihak berelasi 1.026.113.572 1.026.113.572
Beban harus dibayar 2.650.693.712 2.650.693.712
Liabilitas sewa jangka pendek 39.158.746 39.158.746
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek 6.703.028.749 6.703.028.749
Jumlah liabilitas keuangan jangka pendek 83.523.119.184 83.523.119.184
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang
Utang pihak berelasi 50.000.000.000 50.000.000.000
Jumlah liabilitas keuangan jangka panjang 50.000.000.000 50.000.000.000
Jumlah Liabilitas Keuangan 133.523.119.184 133.523.119.184
31 Desember 2025
Nilai tercatat Nilai wajar
Aset Keuangan Lancar
Kas dan bank 9.051.219.908 9.051.219.908
Piutang usaha
Pihak berelasi 2.676.718.745 2.676.718.745
Pihak ketiga 80.736.967.770 80.736.967.770
Piutang lain-lain - pihak ketiga 156.620.884 156.620.884
Jumlah aset keuangan lancar 92.621.527.307 92.621.527.307
47
Page 51
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
29. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)
Nilai Wajar Instrumen Keuangan (lanjutan)
31 Desember 2025
Nilai tercatat Nilai wajar
Aset Keuangan Tidak Lancar
Aset tidak lancar lain-lain 200.000.000 200.000.000
Jumlah Aset Keuangan 92.821.527.307 92.821.527.307
Liabilitas Keuangan Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek 59.600.000.000 59.600.000.000
Utang usaha
pihak ketiga 7.122.923.044 7.122.923.044
pihak berelasi 1.301.720.300 1.301.720.300
Beban harus dibayar 2.815.221.014 2.815.221.014
Liabilitas sewa jangka pendek 78.317.492 78.317.492
Liabilitas imbalan kerja jangka pendek 6.892.959.682 6.892.959.682
Jumlah liabilitas keuangan
jangka pendek 77.811.141.532 77.811.141.532
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang
Utang pihak berelasi 50.000.000.000 50.000.000.000
Jumlah liabilitas keuangan jangka panjang 50.000.000.000 50.000.000.000
Jumlah Liabilitas Keuangan 127.811.141.532 127.811.141.532
Nilai wajar aset dan liabilitas keuangan ditentukan berdasarkan jumlah dimana instrumen tersebut
dapat dipertukarkan dalam transaksi kini antara pihak-pihak yang berkeinginan (willing parties) dan
bukan merupakan penjualan yang dipaksakan atau likuidasi.
Instrumen keuangan yang disajikan di dalam laporan posisi keuangan dicatat sebesar nilai wajar, atau
disajikan dalam jumlah tercatat baik karena jumlah tersebut adalah kurang lebih sebesar nilai wajarnya
atau karena nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal.
Metode dan asumsi berikut ini digunakan untuk mengestimasi nilai wajar untuk setiap kelompok
instrumen keuangan yang praktis untuk memperkirakan nilai tersebut:
Aset dan liabilitas keuangan jangka pendek
Instrumen keuangan jangka pendek dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang terdiri dari kas dan
bank, piutang usaha, piutang lain-lain, utang bank jangka pendek, utang usaha, beban harus dibayar
dan liabilitas imbalan kerja jangka pendek.
Manajemen menetapkan bahwa nilai wajar aset dan liabilitas jangka pendek diasumsikan sama
dengan nilai tercatatnya karena akan jatuh tempo dalam waktu singkat.
Aset dan liabilitas keuangan jangka panjang
Utang pihak berelasi dicatat sebesar biaya perolehan yang diamortisasi menggunakan metode suku
bunga efektif dan dampaknya dianggap tidak material.
Manajemen menetapkan bahwa nilai wajar aset dan liabilitas keuangan jangka panjang yang tidak
memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan/atau nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal (aset
tidak lancar lain-lain) adalah kurang lebih sebesar nilai tercatatnya.
48
Page 52
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
30. INFORMASI TAMBAHAN UNTUK LAPORAN ARUS KAS
Aktivitas non-kas
2026 2025
(Tiga Bulan) (Tiga Bulan)
Penambahan aset tetap dari reklasifikasi
uang muka pembelian aset tetap - 2.540.040.998
Penambahan aset tetap dari utang pembelian
aset tetap - 2.329.940.800
Rekonsiliasi utang neto
Perubahan pada liabilitas yang timbul dari aktivitas pendanaan pada laporan arus kas adalah sebagai
berikut:
Transaksi
1 Januari 2026 Arus Kas Non Kas 31 Maret 2026
Utang bank jangka pendek 59.600.000.000 2.000.000.000 - 61.600.000.000
Liabilitas sewa 78.317.492 (39.158.746 ) - 39.158.746
Transaksi
1 Januari 2025 Arus Kas Non Kas 31 Maret 2025
Utang bank jangka pendek 91.046.236.271 9.661.326.130 - 100.707.562.401
Liabilitas sewa 151.907.213 (36.794.860 ) - 115.112.353
31. PERISTIWA SETELAH PERIODE PELAPORAN
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah
Setelah tanggal pelaporan, dinamika geopolitik global dan konflik yang terjadi di kawasan Timur
Tengah, menyebabkan ketidakpastian geopolitik dan volatilitas di pasar keuangan dan energi global.
Perusahaan menilai potensi dampak terhadap operasi Perusahaan yang dapat timbul atas dinamika
geopolitik tersebut melalui beberapa faktor, antara lain volatilitas harga bahan baku dan biaya energi,
gangguan rantai pasokan dan logistik.
Manajemen secara aktif memantau perkembangan situasi geopolitik tersebut serta melakukan
evaluasi terhadap potensi dampaknya terhadap kegiatan operasional, biaya produksi, dan kinerja
keuangan Perusahaan.
Pada tanggal otorisasi atas laporan keuangan ini, tidak memungkinkan untuk mengestimasi secara
andal dampak keuangan yang mungkin timbul akibat potensi eskalasi lanjutan dari konflik tersebut
pada laporan keuangan Perusahaan.
Manajemen akan terus memonitor perkembangan terkait konflik ini dan setiap dampak signifikan lebih
lanjut, apabila ada, akan diungkapkan dalam pelaporan keuangan Perusahaan pada periode
berikutnya.
49
Page 53
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA TBK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
TANGGAL 31 MARET 2026 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2025 (DIAUDIT)
SERTA UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 MARET 2026 DAN 31 MARET 2025 (TIDAK DIAUDIT)
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
31. PERISTIWA SETELAH PERIODE PELAPORAN (lanjutan)
Surat Ketetapan Pajak (SKP)
Perusahaan menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) pajak penghasilan
No. 00020/406/24/054/26 tertanggal 10 April 2026 atas pajak penghasilan badan tahun pajak 2024
yang menetapkan klaim atas pajak penghasilan Perusahaan sebesar
Rp 3.182.191.918.
50
Names mentioned 35 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
—
Alamal Rumah
p.2
unresolved
—
Jabalan
p.2
unresolved
—
Keuahgon
p.2
unresolved
person
Direklur Ulama
· Direktur Keuahgon
p.2
unresolved
person
Emmy Hartati Yunizar
p.9
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.9
unresolved
person
Rusnaldy
p.9
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.9
unresolved
org
PT Hastagraha Bumipersada
p.9 ×6
unresolved
org
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
p.9
unresolved
org
BAPEPAM
p.9
unresolved
org
Bank Indonesia
p.20
unresolved
org
Mandiri (Persero) Tbk
p.27 ×4
unresolved
org
PT Forindoprima Perkasa
p.29 ×6
unresolved
org
PT Yanasurya Bhaktipersada
p.29 ×2
unresolved
org
PT Yanasurya Bhakti Persada
p.30
unresolved
org
Bank BRI
p.35 ×2
unresolved
org
Bank Mandiri. Fasilitas
p.35
unresolved
org
Bank BCA
p.35 ×3
unresolved
org
PT PCM Kimia Indonesia.
p.36 ×2
unresolved
org
Direktorat Jenderal Pajak
p.39
unresolved
—
pemilikan di bawah 5%)
p.40
unresolved
org
Penjualan Bersih Lucky Star Weaving Co. Ltd
p.42
unresolved
org
PT Conch International Trade Indonesia
p.42
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.