Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 6
Page 1
PAPARAN PUBLIK TAHUNAN
PT Bank OCBC NISP Tbk
9 April 2026
A. Tanya-Jawab
Pertanyaan Pertama
Rina - Suara.com
1. Rupiah hari ini tertekan dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu. Kira-kira bagaimana
dengan pertumbuhan kredit valas untuk OCBC?
2. Dengan tantangan kondisi geopolitik yang tidak menentu ini, apa tantangan OCBC dan juga
apakah perkembangan valas saat ini jadi ancaman atau peluang bagi OCBC?
3. Bagaimana OCBC memitigasi tingginya volatilitas valas saat ini?
Tanggapan Bapak Martin Widjaja - Direktur
Komposisi kredit valas selama dua-tiga tahun terakhir sudah banyak penurunan. Karena banyak
sekali korporasi yang lebih memilih untuk meminjam dalam bentuk Rupiah.
Jadi dari sisi portofolio, exposure terhadap volatilitas US Dolar sudah sangat terjaga hari ini. Bukan
berarti kredit valas tidak akan tumbuh, ada beberapa sektor yang memang basis income-nya untuk
export. Mereka akan tetap meminjam dalam bentuk US Dolar atau mata uang asing lainnya, tapi
memang US Dolar yang paling banyak.
Kedisiplinan untuk hedging sangat tinggi sekarang untuk mengurangi volatilitas jangka medium
sampai jangka anjang. Instrumen-instrumen yang dipakai juga seperti yang biasa dipakai selama ini
forward, cross currency swap, interest rate swap, semua dilakukan jauh lebih disiplin untuk menjaga
volatilitas tersebut.
Secara portofolio, OCBC comfortable dengan aktivitas hedging yang dilakukan dan kredit valas
sendiri, meskipun ini masih di awal tahun. Kita akan expect high single digit growth, dari beberapa
sektor yang memang membutuhkan kredit dalam bentuk valas.
Tanggapan Bapak Johannes Husin - Direktur
Mengenai apakah dengan volatilitas valas terhadap Rupiah yang sangat tinggi ini menjadi ancaman
atau kesempatan, untuk kami, jelas tugas utama adalah memastikan posisi nasabah kita aman
semua. OCBC ada exposure, dan nasabah juga punya exposure. Kami mau memastikan bahwa dalam
gejolak ini, kami bisa membantu nasabah kami untuk memitigasi.
Mengenai opportunity, kami melihat itu sebagai sesuatu yang memang kalau ada kesempatan, bisa
memberikan nasabah untuk men-diversify portofolio mereka, yang memang sesuatu yang sangat
lumrah, kita lihat dan kita bantu juga.
Jadi kalau dilihat dari situasi seperti ini, yang paling penting adalah, kami berkoordinasi dengan pihak
regulator, memastikan bahwa tidak ada kepanikan. Karena bukan pertama kali kejadian seperti ini,
1
OCBC Information Classification: Public
Page 2
dan kebetulan kali ini banyak hal-hal yang di luar kontrol negara kita, dalam artian seperti perang
Iran.
Mengenai pertanyaan ketiga, cara memitigasi. Sekali lagi, kita punya risk management framework
yang sudah kita bangun sejak lama. Stress test selalu kami lakukan. Aktivitas kami selalu dibatasi oleh
limit-limit yang sudah diberikan oleh management, dan sekali lagi kami juga bekerja sama dengan
pihak regulator untuk memastikan bahwa aktivitas kami terkendali dengan baik, dalam koridor yang
sudah diberikan. Terima kasih.
Pertanyaan Kedua
Dani - Bisnis Indonesia
1. Bank Indonesia sudah menyatakan akan memprioritaskan stabilitas di tengah volatility, terkait
dengan nilai tukar Rupiah. Ini bisa di-translate bahwa BI juga mungkin akan semakin terbatas
untuk menurunkan suku bunganya. Dari OCBC sendiri seperti apa proyeksi ke depannya? Melihat
ketidakpastian yang masih sangat tinggi karena perang di middle east hanya terbatas ceasefire
yang hanya dua pekan, dan kita tidak tahu setelahnya seperti apa.
2. Pertumbuhan kredit OCBC 2025 di angka 2%, Ibu Presdir atau Ibu Direktur menyebut ada
perlambatan dari tahun sebelumnya. Bisa dijelaskan apa sebenarnya faktor perlambatan
pertumbuhan kredit ini bagi OCBC?
3. Kita ketahui sebenernya selama 2025, at least di akhir 2025, dari pemerintah punya kebijakan
untuk membanjiri likuiditas di pasar keuangan, yang diperpanjang sampai September. Walaupun
Bank yang dibanjiri likuiditas hanya Himbara, sebenarnya kalau dari stance OCBC, seberapa besar
dampak banjir likuiditas ini di pasar keuangan terhadap kinerja perbankan?
Tanggapan Ibu Parwati Surjaudaja - Direktur
Memang di tahun 2025 kami tumbuh relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, terutama
hal ini lebih di segmen retail, yaitu terlihat dari segmen UKM dan juga segmen KPR. Namun dari sisi
business banking, commercial dan korporasi sebetulnya masih tumbuh dengan cukup baik.
Kemudian kami pun melihat 2025 pun cukup banyak tantangan, sehingga memang kami secara sadar
penuh juga memang relatif menjaga agar lebih hati-hati untuk jangka panjang.
Tanggapan Bapak Johannes Husin - Direktur
Saya coba jawab yang pertanyaan pertama mengenai BI memang memprioritaskan stabilitas di FX.
Apakah dengan begitu sepertinya kemungkinan untuk penurunan bunga lebih lanjut akan tertunda?
Memang sudah ada message seperti itu, tapi kita juga harus ingat sekali lagi bahwa kondisi saat ini
sangat likuid. Penurunan suku bunga itu sejak tahun 2024, sudah diharapkan lebih banyak lagi 2025
tidak terjadi, karena suku bunga dari mata uang seluruh dunia masih mengacu melihat pergerakan
suku bunga Amerika sebagai benchmark.
Dengan inflasi di sana selalu tinggi, apalagi sekarang dengan adanya krisis di Timur Tengah yang
menaikkan harga minyak, yang jelas itu adalah inflationary pressure. Jadi yang terbaik saat ini adalah
memastikan bahwa inflasi terkendali.
2
OCBC Information Classification: Public
Page 3
Memang saat ini suku bunga secara kurva boleh dibilang agak lumayan sehat. Karena suku bunga
jangka pendek dijaga untuk memastikan bahwa ekonomi bisa bergerak dengan suku bunga yang
reasonable atau masuk akal. Sedangkan untuk kurva yang agak panjang memang terkoreksi awal
tahun ini. Sekali lagi, ini karena memang situasi pasar yang kurang kondusif saat ini.
Kita lihat ini sebagai situasi di mana dari sisi valas dimana impor kita dari sisi minyak masih banyak,
ekspor kita juga terakhir ini agak kurang. Yang paling baik adalah memastikan bahwa valas terkendali,
stabil, dengan level yang bisa memberikan business opportunity, kesempatan untuk eksportir dan
importir juga.
Dan kita juga tahu akhir-akhir ini juga Bank Indonesia sudah sangat lebih sigap mengintervensi
market dari pagi sampai sore, dan di luar negeri juga menggunakan NDF bukan DNDF. Jadi memang
sudah cukup efektif.
Kita berharap bahwa situasi yang saat ini sedang berkelanjutan bisa secepatnya selesai. Jadi semua
negara bisa berfokus ke kondisi makro masing-masing. Dimana kalau misalnya itu sudah selesai,
kondisi makro kita akan mengizinkan kita untuk suku bunga yang lebih rendah. Karena memang pada
dasarnya, sebenarnya likuiditas banyak di pasar.
Untuk pertanyaan mengenai likuiditas dibanjiri ke pasar, itu membantu dari tahun lalu, terutama
memang ke Himbara. Kita mengerti memang ini adalah kepentingan nasional. Walaupun bank-bank
non-Himbara tidak menerima, tapi ini adalah pasar. Kalau pasar, semuanya pasti balik ke kondisi ini.
Jadi itu memang memberikan keleluasaan industri perbankan di Indonesia, memperbaiki kondisi
likuiditas yang sebelumnya memang ketat sekali dari awal tahun 2025.
Dan saat ini, untuk likuiditas cukup banyak di pasar uang antarbank, dan yang kita harapkan dengan
perbaikan makro ekonomi dan situasi yang ada sekarang, loan growth bisa berjalan dengan nyaman,
karena likuiditas selalu ada. Dan perbankan juga punya banyak sekali obligasi-obligasi pemerintah,
dimana kalau perlu di-convert menjadi likuiditas prosesnya mudah. Karena ada REPO dengan Bank
Indonesia atau bisa dijual karena kebanyakan jangka pendek. Terima kasih.
Pertanyaan Ketiga
Zefanya, CNBC Indonesia
1. LDR OCBC berada di kisaran 70%. Untuk kebijakan tahun ini apakah mau dijaga di level itu? Dan
kita tahu kalau itu di bawah ketentuan BI. Apakah karena pertimbangan demand kredit lagi
rendah atau ada risiko dan lain sebagainya?
2. Di revisi UU P2SK ada wacana bahwa pungutan OJK ke lembaga jasa keuangan akan dihapus.
Bagaimana tanggapan OCBC Indonesia dan kira-kira dampaknya ke beban dan ke non-interest
margin seperti apa?
3. OJK juga sempat bilang kalau tahun ini ada dua sampai tiga bank KBMI 3 yang eligible untuk naik
kelas ke KBMI 4. Kalau OCBC sendiri bagaimana? Dan mungkin apakah ada rencana jangka
panjang atau jangka menengah?
3
OCBC Information Classification: Public
Page 4
Tanggapan Ibu Parwati Surjaudaja, Direktur
Mengenai LDR, per hari ini sebetulnya sudah di atas 70%. Perkiraan kami, di tahun 2026 ini LDR masih
akan di kisaran di bawah 80%. Lalu kami melihat dalam kondisi seperti saat ini maupun 2025, kami
sangat ingin memastikan bisa menjaga likuidas dengan baik.
Jadi, walaupun LDR-nya 70% sebetulnya pertumbuhannya di dana pihak ketiga, terbesar
pertumbuhannya dari CASA, dari low cost funding. Sehingga seperti terlihat juga dari profitabilitas
dan lainnya bisa terjaga dengan baik.
Untuk pungutan OJK, kami belum terlalu tahu detailnya, tapi nanti tentunya kami akan mengikuti
arahan dari pemerintah/regulator seperti apa. Kalau ditanya hari ini dampaknya, mungkin kami
belum bisa share, jadi kita sama-sama mencermati dulu saja perkembangannya
Untuk KBMI 3 ke KBMI 4, per hari ini rasanya kami masih cukup jauh dari level Rp 70 T, saat ini sekitar
Rp 44 T. Jadi mungkin dalam beberapa tahun kemudian, sesuai dengan pertumbuhan organik, kami
bisa mencapai KBMI 4, tapi bukan tahun ini.
Pertanyaan Keempat
Heri - Fortune Indonesia
Sebelumnya selamat atas kinerja yang diraih, Bu.
1. DPK 2025 tumbuh kuat 18%, kira-kira target 2026 seperti apa?
2. Lalu terkait produk Young Nyala, ini kan untuk produk tabungan yang untuk anak-anak, kira-kira
perkembangannya seperti apa, berhubungan dengan THR Lebaran dan imlek, kira-kira menopang
pertumbuhannya Young Nyala dan kontribusinya kepada DPK seperti apa?
Tanggapan Ibu Hartati
Proyeksi pertumbuhan DPK di tahun 2026, kami perkirakan di low double digit.
Tanggapan Bapak Johannes Husin
Saat ini datanya belum ada.
Tanggapan Ibu Parwati Surjaudaja
Nanti boleh kami susulkan. Terima kasih atas interestnya. Memang kami merasakan ini produk yang
harusnya sangat bermanfaat, supaya sejak dini mereka semua sudah diedukasi dengan baik.
Pertanyaan Kelima
Ammar Resqianto, dari Kontan
OJK baru-baru ini menyampaikan revisi aturan Rencana Bisnis Bank atau RBB melalui RPOJK untuk
mendorong penyaluran kredit bank ke program-program strategis pemerintah.
Bagaimana tanggapan dari OCBC terhadap revisi tersebut dan untuk saat ini bagaimana porsi kredit
OCBC terhadap program-program pemerintah? Apakah akan meningkat angkanya? proyeksinya
seperti apa.
4
OCBC Information Classification: Public
Page 5
Tanggapan Bapak Martin Widjaja
Secara umum, kita akan berusaha untuk berpartisipasi dari semua kebijakan yang sifatnya
mendukung pergerakan ekonomi. Tapi pada dasarnya, keputusan kredit itu akan berdasarkan
strength dari kredit itu sendiri.
Jadi kita akan selalu terbuka untuk melihat program-program strategis. Contohnya, seperti pada
waktu pemerintah meng-encourage untuk FDI masuk ke dalam mineral processing, meng-create
value add, supaya menimbulkan value add lapangan kerja di Indonesia bagian timur khususnya, kami
juga termasuk sangat aktif di sana, dan itu sekarang berlanjut. Kalau itu dulu awalnya upstream,
sekarang kami mulai masuk ke midstream.
Jadi kami sangat welcome secara prinsip untuk berpartisipasi. Tapi kembali lagi, semua harus
dilakukan secara prudent.
B. Daftar Hadir
No Nama Institusi
1 David Gita Roza Investor Daily
2 Nurul Hidayat Bisnis Indonesia
3 Sastro Media indonesia
4 Raka Denny Harian disway
5 Fahrurrazi Assyar IVOOX.id
6 Monic Validnews
7 Zetta Hannany IDNFinancials
8 Wiyanto (anto) Industry.co.id
9 Kenny kurnia putra Jpnn.com
10 Sivana Zahla investortrust.id
11 Didi Kurniawan VOI
12 Yoga VIVA Jakarta / jakarta.viva.co.id
13 Irza farel Radio Elshinta
14 Prayogi Republika
15 Isra Triansyah Sindonews
16 Fajar Disway.id
17 Tira Santia Liputan6.com
5
OCBC Information Classification: Public
Page 6
18 Fredrikus Koran Kakarta
19 Rina Suara.com
20 Ahmad Nabhani Harian Ekonomi Neraca
21 Noval Rakyat Merdeka
22 Isna Rifka Kompas.com
23 Karunia Putri Katadata
24 Prima Gumilang Infobank
25 Idham Nur Indrajaya Akurat.co
26 David Noach Investortrust.id
27 Uswah Hasanah Suar.id
28 Dany Saputra Bisnis Indonesia
29 Zahwah Alya Olenka.id
30 Ichsan Emrald Alamsyah Republika.co.id
31 Nita Magdalene
32 Angga Bratadharma Media Asuransi
33 Suheriadi Fortune Indonesia
34 Ammar Rezqianto Kontan
35 Zefanya Aprilia CNBC Indonesia
36 Desty Luthfiani KabarBursa.com
37 Muhammad Imam Hatami TrenAsia.id
38 Adrian Bachtiar Metrotvnews.com
39 Echa Tri Wahyuni Akurat.co
40 Irwan Rismawan Tribunnews
41 Ali Rachman (aldo) INDOPOSCO
###
6
OCBC Information Classification: Public
Names mentioned 27 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Bank Indonesia
p.2 ×3
unresolved
person
Presdir
p.2
unresolved
person
Hartati Proyeksi
p.4
unresolved
person
Johannes Husin Saat
p.4 ×5
unresolved
person
Parwati Surjaudaja Nanti
p.4 ×5
unresolved
person
Martin Widjaja Secara
p.5 ×3
unresolved
—
David Gita Roza
p.5
unresolved
person
Nurul Hidayat
p.5
unresolved
—
Sastro
p.5
unresolved
—
Raka Denny
p.5
unresolved
—
Fahrurrazi Assyar
p.5
unresolved
—
Monic
p.5
unresolved
—
Zetta Hannany
p.5
unresolved
—
Wiyanto (anto)
p.5
unresolved
—
Kenny kurnia putra
p.5
unresolved
—
Sivana Zahla
p.5
unresolved
—
Didi Kurniawan
p.5
unresolved
—
Yoga
p.5
unresolved
—
Irza farel
p.5
unresolved
—
Prayogi
p.5
unresolved
—
Isra Triansyah
p.5
unresolved
—
Fajar
p.5
unresolved
—
Tira Santia
p.5
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.