Back to announcement
20260918_PPGL_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32149792_lamp1.pdf
Other Text extracted PPGLSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 13
Page 1
1. Mengenai kegiatan usaha Perseroan saat ini setelah Divestasi pada PT Armada Berjaya Trans Tbk
(“JAYA”) sebesar 45,79%, agar dapat dijelaskan dengan mengisi tabel berikut:
a. Kontribusi pendapatan yang diterima pada setiap lokasi kegiatan usaha.
b. Fungsi – fungsi utama yang ada pada setiap lokasi tersebut.
c. Jenis – jenis kegiatan usaha apa saja yang ada pada setiap lokasi tersebut.
Segmen Geografis Kontribusi Fungsi-fungsi Jenis Kegiatan Usaha
Banten Pendapatan utama
Jawa Barat
DKI Jakarta
Bali
Jawa Timur
Bengkulu
Jawaban Perseroan:
Segmen geografis Perseroan sesuai dengan yang sudah diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan Perseroan, merupakan segmentasi pembagian geografis berdasarkan lokasi dari
Pelanggan Perseroan sehingga hal tersebut bukan merupakan fungsi-fungsi utama ataupun kegiatan-
kegiatan usaha Perseroan yang terpisah.
2. Terkait dengan kewajaran transaksi dan keterlibatan pengendali PPGL sebagai pihak pembeli,
realisasi dan penggunaan dana divestasi serta pembayaran dividen sekitar Rp30 miliar, serta dampak
divestasi terhadap kondisi usaha PPGL dan peningkatan harga saham yang signifikan, agar dapat
dijelaskan:
a. Dasar pertimbangan dan mekanisme penetapan nilai transaksi sebesar Rp44,60 miliar, termasuk
faktor yang mendasari perbedaan dengan bagian aset neto JAYA sebesar Rp56,33 miliar dan nilai
pasar berdasarkan KJPP sebesar Rp42,81 miliar.
b. JAYA dan Entitas Anak berkontribusi sekitar 90,09% terhadap total aset, 40,84% terhadap
pendapatan, dan 45,80% terhadap laba bersih PPGL. Mohon dijelaskan dasar KJPP dalam
menilai JAYA sebagai aset non-inti (non-core asset) dan bagaimana KJPP mempertimbangkan
materialitas kontribusi tersebut dalam kesimpulan kewajaran transaksi.
c. Mengingat transaksi dilakukan dengan pihak terafiliasi, termasuk pengendali PPGL, mohon
dijelaskan prosedur dan analisis yang dilakukan KJPP untuk memastikan bahwa harga transaksi
Rp44,60 miliar tidak dipengaruhi oleh hubungan afiliasi para pihak dan telah mencerminkan
kondisi transaksi yang wajar (arm’s length).
d. Mohon dijelaskan kemampuan Perseroan untuk mempertahankan kelangsungan usaha (going
concern) pascadivestasi JAYA, mengingat penurunan signifikan pendapatan dan laba serta
berkurangnya aset produktif Perseroan, termasuk langkah yang telah dan akan dilakukan untuk
menjaga keberlanjutan kegiatan usaha.
Page 2
Jawaban Perseroan:
a. Sesuai dengan laporan KJPP Dasa’at Yudistira & Rekan dalam Laporannya No. 00003/2.0041-
00/BS/06/0384/1/I/2026 tanggal 22 Januari 2026 tentang Penilaian 45,79% Ekuitas JAYA dan
Entitas anak, KJPP menggunakan dua Pendekatan Penilaian yaitu Pendekatan Pendapatan
dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow Method (“DCF”) dan Pendekatan Pasar
dengan menggunakan metode Metode Guideline Publicly Traded Company (”GPTC”).
Berdasarkan hasil kajian dan analisis yang telah dilakukan terhadap seluruh aspek yang terkait
dalam rangka menentukan Nilai Pasar 45,79% ekuitas PT Armada Berjaya Trans Tbk dan
Entitas Anak (“JAYA”) pada 30 September 2025 adalah sebesar Rp42,8 Miliar sehingga nilai
transaksi Rp44,60 Miliar masih dalam batas kewajaran berdasarkan hasil laporan KJPP tersebut.
b. Perseroan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Jasa Pengurusan Transportasi,
sedangkan JAYA dan Entitas Anaknya bergerak di bidang usaha yang berbeda dengan Perseroan.
Dengan pelepasan kepemilikan saham pada entitas tersebut, Perseroan dapat lebih fokus
pada inti bisnisnya (core business) yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan
kontribusi positif bagi kinerja keuangan konsolidasian Perseroan di masa yang akan datang
melalui struktur organisasi yang lebih ramping dan efektif.
Melalui pelepasan aset non-inti seperti saham JAYA, Perseroan dapat lebih lincah dalam
mengadopsi praktik bisnis ramah lingkungan, seperti optimasi rute untuk menekan emisi karbon
dan penggunaan dokumentasi paperless. Diversifikasi layanan yang mencakup penanganan kargo
khusus dan penguatan armada distribusi domestik akan menjadi pilar pertumbuhan
perusahaan. Dengan organisasi yang lebih ramping dan fokus, Perseroan berada pada
posisi yang lebih kompetitif untuk menghadapi persaingan global dibandingkan saat masih
mengelola portofolio investasi yang terdiversifikasi luas namun kurang sinergis
.
c. Aspek kewajaran yang dilakukan KJPP merujuk pada aspek kewajaran sesuai dengan ketentuan
dalam POJK 35 tahun 2020 serta SE-17 tahun 2020 terkait kewajaran.
Sebagai tambahan selain itu, merujuk kepada ketentuan, sebelum melaksanakan transaksi
tersebut Perseroan juga telah melaksanakan RUPSLB terkait dengan pengambilan keputusan dan
persetujuan pemegang saham Perseroan untuk melaksanakan rencana transaksi tersebut. Hasil
keputusan RUPSLB tersebut sudah diaktakan dalam Akta No. 3 tanggal 12 Maret 2026 oleh
Notaris Gatot Widodo , SE., SH., M.Kn.
d. Manajemen Perseroan terus berencana dan menerapkan pengembangan usaha berupa
diversifikasi Pelanggan potential Perseroan melalui langkah-langkah pemasaran jasa perseroan
kepada para Pelanggan potential
3. Penjelasan mengenai pengembangan usaha atas produk dan/atau jasa yang direncanakan ke depannya
serta strategi diversifikasi yang akan dilakukan Perseroan, jika ada.
Jawaban Perseroan:
Manajemen Perseroan terus berencana dan menerapkan pengembangan usaha berupa diversifikasi
Pelanggan potential Perseroan melalui langkah-langkah pemasaran jasa perseroan kepada para
Pelanggan potential.
Page 3
4. Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 4 tentang Kas dan Setara Kas,
Perseroan mencatatkan penurunan kas dari Rp10,13 miliar mejadi Rp4 miliar pada 30 Juni 2026 ,
agar dapat dijelaskan:
a. Tujuan penggunaan dana dari pencairan deposito berjangka yang turun dari Rp5,01 miliar
menjadi Rp2,00 miliar
b. Kontribusi yang diharapkan Perseroan atas penempatan kas pada Deposito Berjangka
tersebut.
Jawaban Perseroan:
Kas dan Setara Kas merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per
30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah.
Deposito Berjangka per 30 Juni 2026 merupakan aset Perseroan yang bertujuan untuk penerimaan
bunga dari kelebihan dana Perseroan.
5. Berdasarkan CALK nomor 5 terkait dengan Piutang Usaha, Perseroan memiliki piutang usaha
sebesar Rp21,9 miliar per 30 Juni 2026 atau telah mengalami penurunan sebesar Rp14,23 miliar
dibanding piutang usaha per 31 Desember 2025 sebesar Rp36,20 miliar. Agar dapat dijelaskan:
a. Strategi Perseroan agar seluruh pelanggan membayarkan piutang usahanya sebelum jatuh
tempo.
b. Realisasi pelunasan terkini pada piutang usaha Perseroan dengan melengkapi tabel berikut ini:
Keterangan Jumlah Jumlah Outstanding Outstanding
pelunasan
Belum jatuh tempo … penuh)
(Rp (Rp) (%)
Jatuh tempo:
1-30 hari 14.926.769.773
31-60 hari 6.711.295.245
61-90 hari 333.708.646
Lewat 90 hari
Total 21.971.773.664
c. Bagaimana Perseroan memastikan piutang yang telah jatuh tempo dapat ditagih dengan baik?
d. Terdapat penyisihan penurunan nilai sebesar Rp722,1 juta pada periode 31 Desember 2025, agar
Perseroan sampaikan nama pihak tersebut dan latar belakang pihak tersebut disisihkan.
e. Strategi Perseroan mengurangi kerugian kredit ekspektasian dikemudian hari.
Jawaban Perseroan:
Piutang Usaha dan Penyisihan Piutang Usaha merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA
dan Entitas Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas
anaknya dalam Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah.
Per tanggal jawaban ini disampaikan, Piutang Usaha sebesarRp21,97miliar tersebut sudah diterima
seluruhnya oleh Perseroan.
Page 4
6. Berdasarkan CALK nomor 6 terkait piutang lain-lain, Perseroan memiliki piutang lain-lain kepada
pemegang saham sebesar Rp21,62 miliar per 30 Juni 2026, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rekonsiliasi saldo piutang pemegang saham sebesar Rp21,62 miliar per 30 Juni
2026 dengan nilai transaksi divestasi JAYA sebesar Rp44,60 miliar, termasuk bagian yang
telah dibayarkan dan bagian yang masih terutang
b. Mengingat pembayaran dilakukan tanpa bunga, mohon dijelaskan alasan pemberian fasilitas
pembayaran tanpa bunga tersebut dan dampaknya terhadap manfaat ekonomi yang diterima
PPGL, khususnya selama periode piutang belum dilunasi.
c. Mohon dijelaskan apakah terdapat keterkaitan antara piutang pemegang saham dari divestasi
dengan pembayaran dividen sebesar Rp30,46 miliar pada 17 Juni 2026, termasuk apakah
terdapat mekanisme set-off atau diperhitungkan dengan hak dividen pemegang saham.
Jawaban Perseroan:
Piutang Lain-lain per 30 Juni 2026 berasal dari transaksi divestasi JAYA sebesar Rp44,60 miliar
kepada Pemegang Saham dan sudah dilunasi saat dividen yang dibayarkan Perseroan kepada
Pemegang Saham tersebut. Saldo Rp 21,62 miliar merupakan bagian yang masih terutang.
Sesuai perjanjian antara Perseroan dan Pemegang Saham, Piutang lain-lain tersebut dikenakan
bunga yang dihitung secara bulanan atas bagian yang masih terutang.
7. Berdasarkan CALK nomor 7 terkait Persediaan Aset Real Estat, Per 30 Juni 2026, persediaan aset
real estat menjadi nihil dari Rp23,25 miliar per 31 Desember 2025. Berdasarkan mutasi, seluruh
saldo tersebut dihapus melalui penyesuaian sebesar Rp23,25 miliar, mohon dijelaskan rincian aset
real estat sebesar Rp23,25 miliar yang telah dikeluarkan dari laporan keuangan Perseroan, termasuk
jenis dan nilai masing-masing aset yang sebelumnya tercatat sebagai bangunan, bangunan dalam
pengembangan, dan tanah dalam pengembangan.
Jawaban Perseroan:
Persediaan Aset Real Estat merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas
Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam
Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah.
8. Berdasarkan CALK nomor 8 terkait Biaya dibayar dimuka dan Uang Muka, Per 30 Juni 2026, biaya
dibayar di muka dan uang muka turun signifikan menjadi Rp97,62 juta dari Rp4,88 miliar per 31
Desember 2025, atau turun sekitar 98,0%. Penurunan terutama berasal dari biaya dibayar di muka
lain-lain yang turun dari Rp2,60 miliar menjadi Rp97,62 juta serta tidak terdapat lagi saldo asuransi,
sewa, dan uang muka pembelian truk. Agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rincian dan sifat biaya dibayar di muka lain-lain sebesar Rp97,62 juta per 30
Juni 2026 serta penggunaannya.
b. Mohon dijelaskan realisasi/pemanfaatan saldo biaya dibayar di muka lain-lain tersebut sampai
dengan 30 Juni 2026, serta apakah terdapat saldo yang diperkirakan tidak dapat direalisasikan
atau memerlukan penyesuaian.
Page 5
Jawaban Perseroan:
a. Biaya dibayar di muka lain-lain sebesar Rp 97,62 juta per 30 Juni 2026 merupakan biaya dibayar
dimuka atas biaya-biaya terkait pelayaran atau jasa trucking.
b. Biaya dibayar di muka tersebut pada point a akan direalisasikan di bulan-bulan berikutnya ketika
dokumen-dokumen pendukung biaya-biaya tersebut sudah diterima lengkap.
9. Berdasarkan CALK nomor 9 terkait Uang Muka Pembelian Tanah, Pada tanggal 31 Desember 2024,
Entitas Anak - ABS memiliki uang muka pembelian tanah kepada pihak ketiga sebesar Rp
2.650.000.000 terletak di beberapa area. Agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status dan perlakuan atas uang muka pembelian tanah sebesar Rp2,65 miliar
setelah dekonsolidasi ABS, termasuk apakah hak dan kewajiban terkait uang muka tersebut turut
beralih kepada pemilik baru JAYA.
b. Mohon dijelaskan apakah terdapat dampak finansial bagi PPGL atas pelepasan uang muka
tersebut, termasuk apakah terdapat selisih antara nilai tercatat dengan nilai yang
diperhitungkan dalam transaksi divestasi.
Jawaban Perseroan:
a. Uang Muka Pembelian tanah merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas
Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya
dalam Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah.
b. Tidak ada dampak finansial terhadap Perseroan.
10. Berdasarkan CALK nomor 10 terkait Kas di Bank dan Deposito yang Dibatasi Penggunaannya,
Perseroan mencatatkan nihil atas akun tersebut dibandingkan periode 31 Des 2025 sebelum divestasi
sebesar Rp131 juta, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status dan perlakuan atas dana yang sebelumnya dibatasi penggunaannya
sebesar Rp131,19 juta setelah divestasi JAYA, termasuk apakah dana tersebut turut beralih
kepada pemilik baru JAYA atau telah dilepaskan oleh bank.
b. Apabila dana tersebut telah dilepaskan atau digunakan, mohon dijelaskan pihak yang menerima
atau menggunakan dana tersebut serta dampaknya terhadap arus kas dan laporan keuangan
PPGL.
Jawaban Perseroan:
a. Kas di Bank dan Deposito yang Dibatasi Penggunaanya merupakan aset konsolidasian yang
berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan
JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas
yang terpisah.
b. Tidak ada dampak finansial terhadap Perseroan.
11. Berdasarkan CALK nomor 11 terkait Aset Tetap, Per 30 Juni 2026, aset tetap neto Perseroan turun
sangat signifikan menjadi Rp478,56 juta dari Rp252,47 miliar per 31 Desember 2025. Penurunan
terutama berasal dari pengurangan aset tetap sebesar Rp285,80 miliar (harga perolehan), yang sejalan
dengan dekonsolidasi JAYA. Setelah divestasi, aset tetap yang tersisa terutama berupa kendaraan
dan peralatan kantor dengan nilai tercatat relatif kecil , agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rincian aset tetap yang masih dimiliki PPGL per 30 Juni 2026 berupa
kendaraan sebesar Rp500 juta dan peralatan kantor sebesar Rp478,56 juta, termasuk jenis dan
nilai tercatat masing-masing aset.
Page 6
b. Mohon dijelaskan apakahs terdapat aset tetap JAYA yang masih digunakan atau
dimanfaatkan oleh PPGL setelah divestasi, termasuk dasar dan ketentuan penggunaannya
apabila ada.
c. Mengingat aset tetap JAYA yang sebelumnya digunakan sebagai jaminan utang bank, utang
pembiayaan konsumen, dan liabilitas sewa pembiayaan, mohon dijelaskan status pelepasan
jaminan tersebut setelah divestasi dan apakah masih terdapat kewajiban atau eksposur PPGL
terkait aset tersebut.
d. Strategi Perseroan atas aset tetap untuk menjaga keberlangsungan usaha kedepannya.
Jawaban Perseroan:
a. Per 30 Juni 2026, Aset Tetap yang dimiliki Perseroan berupa Kendaraan berupa Mobil Sedan
merk BYD dan juga Peralatan Kantor berupa bermacam jenis Komputer, Meja Kerja, Kursi dan
Peralatan Kantor lainnya dimana semua aset tetap tersebut digunakan untuk operasional
Perseroan.
b. Tidak ada aset tetap milik JAYA dan Entitas Anaknya yang digunakan oleh Perseroan karena
sudah menjadi entitas yang terpisah.
c. Aset Tetap merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per 30
Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak
finansial terhadap Perseroan.
d. Perseroan merupakan Perusahaan Jasa sehingga hanya memiliki beberapa aset tetap untuk
operasionalnya.
12. Berdasarkan CALK nomor 12 terkait Properti Investasi, Per 30 Juni 2026, properti investasi menjadi
nihil, dari Rp58,28 miliar per 31 Desember 2025. Saldo tersebut sebelumnya terdiri dari tanah,
bangunan, perabot, dan bangunan dalam penyelesaian, sehingga seluruhnya tidak lagi tercatat setelah
divestasi JAYA, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rincian properti investasi sebesar Rp58,28 miliar yang tidak lagi tercatat per
30 Juni 2026, termasuk status masing-masing aset setelah divestasi.
b. Mengingat pada 31 Desember 2025 properti investasi tersebut dijadikan jaminan atas
pinjaman, mohon dijelaskan status jaminan tersebut setelah divestasi JAYA dan apakah masih
terdapat kewajiban atau eksposur PPGL terkait aset tersebut.
c. Strategi Perseroan atas properti investasi untuk menjaga keberlangsungan usaha
kedepannya.
Jawaban Perseroan:
Properti Investasi merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per
30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak
finansial terhadap Perseroan.
13. Berdasarkan CALK nomor 13 terkait Aset Hak-Guna, Per 30 Juni 2026, aset hak-guna menjadi nihil,
dari nilai tercatat Rp6,09 miliar per 31 Desember 2025, sejalan dengan dekonsolidasi JAYA. Aset
hak-guna tersebut berasal dari kontrak sewa tanah dengan jangka waktu 25–33 tahun, agar dapat
dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status kontrak sewa tanah setelah divestasi JAYA, termasuk apakah hak dan
kewajiban berdasarkan kontrak tersebut sepenuhnya beralih kepada JAYA.
Page 7
b. Mengingat kontrak sewa memiliki jangka waktu yang panjang, mohon dijelaskan apakah
terdapat kewajiban, komitmen pembayaran, atau potensi liabilitas sewa yang masih menjadi
tanggung jawab PPGL setelah divestasi
Jawaban Perseroan:
Aset Hak Guna merupakan aset konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per 30
Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan Keuangan
Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak finansial terhadap
Perseroan.
14. Berdasarkan CALK nomor 14 terkait Utang Bank, Per 30 Juni 2026, utang bank menjadi nihil, dari
Rp2,98 miliar per 31 Desember 2025, sejalan dengan dekonsolidasi JAYA. Utang tersebut
sebelumnya seluruhnya berasal dari fasilitas pinjaman JAYA, dengan jaminan berupa aset dan
piutang JAYA, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status fasilitas dan jaminan utang bank JAYA setelah divestasi, termasuk
apakah seluruh kewajiban dan jaminan telah beralih kepada JAYA atau telah dilepaskan oleh
bank.
b. Mohon dijelaskan apakah PPGL masih memiliki kewajiban, penjaminan, atau eksposur atas
fasilitas pinjaman JAYA setelah divestasi.
Jawaban Perseroan:
Utang Bank merupakan liabilitas konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per 30
Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan Keuangan
Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak finansial terhadap
Perseroan.
15. Berdasarkan CALK nomor 15 terkait dengan utang usaha, Perseroan memiliki utang usaha sebesar
Rp2,04 miliar per 30 Juni 2026 atau telah mengalami penurunan dibanding utang usaha per 31
Desember 2025 sebesar Rp7,55 miliar. Agar dapat dijelaskan:
a. Agar disampaikan tabel terbaru analisis umur utang usaha dengan melengkapi tabel berikut ini:
Keterangan Jumlah Jumlah Outstanding Outstanding
Belum jatuh tempo Pembayaran (Rp) (%)
Jatuh tempo:
1-30 hari
31-60 hari
61-90 hari
Lewat 90 hari
Total
b. Strategi Perseroan untuk mengatur dan melunasi utang usaha.
c. Rincian dari Utang usaha lain-lain untuk Perseroan setelah divestasi.
Page 8
Jawaban Perseroan:
Utang Usaha merupakan liabilitas konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per
30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah.
Per tanggal jawaban ini disampaikan, Utang Usaha sebesarRp2,04miliar tersebut sudah dibayar
seluruhnya oleh Perseroan.
16. Berdasarkan CALK nomor 16 tentang utang lain-lain, Per 30 Juni 2026, utang lain-lain menjadi nihil,
dari Rp138,46 miliar per 31 Desember 2025. Saldo sebelumnya terutama merupakan utang kepada PT
Rahardja Ekalancar sebesar Rp78,19 miliar dan PT Tunas Mobilindo Perkasa sebesar Rp59,50 miliar
terkait pembelian aset tetap kendaraan, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status penyelesaian utang lain-lain sebesar Rp138,46 miliar setelah divestasi
JAYA, termasuk apakah seluruh kewajiban tersebut beralih kepada JAYA.
b. Mohon dijelaskan apakah terdapat pembayaran atau penyelesaian kewajiban oleh PPGL atas
utang tersebut sebelum divestasi, serta dampaknya terhadap arus kas dan laporan keuangan
Perseroan
c. Mohon dikonfirmasi bahwa setelah divestasi tidak terdapat kewajiban, jaminan, atau komitmen
PPGL yang masih terkait dengan utang kepada PT Rahardja Ekalancar dan PT Tunas Mobilindo
Perkasa.
Jawaban Perseroan:
Utang Lain-lain merupakan liabilitas konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya.
Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak
finansial terhadap Perseroan.
17. Terkait dengan perpajakan, agar dapat dijelaskan:
a. Apakah Perseroan pernah mendapatkan potensi sanksi administrasi, bunga, atau denda dari Dirjen
pajak selama 2 tahun terakhir? Agar dielaborasi.
b. Apakah ada permasalahan perpajakan dalam aksi korporasi divestasi yang dilakukan oleh
Perseroan? Agar dielaborasi.
c. Mohon dijelaskan kebijakan dan mekanisme pengendalian perpajakan yang diterapkan
Perseroan di seluruh entitas Grup untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan
yang berlaku, termasuk proses monitoring, reviu, dan mitigasi risiko perpajakan, sehingga dapat
meminimalkan potensi temuan material, sanksi, denda, maupun sengketa perpajakan di kemudian
hari.
Jawaban Perseroan:
Semua eksposur Perpajakan sudah diungkapkan oleh Perseroan dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan. Perseroan memiliki Konsultan Pajak yang membantu Perseroan dalam menerapkan
kepatuhan terhadap ketentuan dan undang-undang perpajakan.
Page 9
18. Berdasarkan CALK nomor 18 terkait Beban Akrual, Per 30 Juni 2026, beban akrual sebesar Rp286,69
juta, turun 33,2% dari Rp429,34 juta per 31 Desember 2025. Seluruh saldo berasal dari beban
operasional dan diperkirakan diselesaikan dalam waktu 12 bulan, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rincian beban akrual operasional sebesar Rp286,69 juta per 30 Juni 2026,
termasuk sifat dan pihak yang terkait.
b. Mohon dijelaskan apakah terdapat beban akrual yang timbul sebelum divestasi JAYA namun
masih menjadi kewajiban PPGL setelah divestasi.
Jawaban Perseroan:
a. Per 30 Juni 2026, Beban Akrual sebesar Rp286,69 juta merupakan beban akrual atas gaji
karyawan yang akan dibayarkan di bulan berikutnya.
b. Tidak ada beban akrual milik JAYA dan Entitas Anaknya per laporan keuangan 30 Juni 2026.
19. Berdasarkan CALK nomor 20 terkait Uang Muka Penjualan dan Pendapatan Diterima Dimuka, Per
30 Juni 2026, saldo uang muka penjualan dan pendapatan diterima di muka menjadi nihil, dari Rp29,67
miliar per 31 Desember 2025. Saldo tersebut sebelumnya terutama berasal dari pendapatan sewa vila
yang diterima di muka oleh Entitas Anak, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan status uang muka pelanggan sebesar Rp29,67 miliar setelah divestasi
JAYA, termasuk apakah seluruh kewajiban kepada pelanggan telah beralih kepada JAYA.
b. Mohon dikonfirmasi apakah terdapat pendapatan yang telah diterima PPGL sebelum divestasi
namun kewajiban untuk memberikan jasa sewa masih berlangsung setelah divestasi, serta
bagaimana perlakuannya dalam laporan keuangan PPGL.
Jawaban Perseroan:
Uang Muka Penjualan dan Pendpaatan Diterima Dimuka merupakan liabilitas konsolidasian yang
berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA
dan Entitas anaknya dalam Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang
terpisah, sehingga tidak ada dampak finansial terhadap Perseroan.
20. Berdasarkan CALK nomor 23 terkait Utang ke Lembaga Keuangan lainnya, Per 30 Juni 2026, utang
kepada lembaga keuangan lainnya tercatat sebesar Rp8,92 miliar, turun 44,6% dari Rp16,10 miliar per
31 Desember 2025. Penurunan terutama disebabkan oleh PT Aditama Finance yang sudah tidak
memiliki saldo utang, sejalan dengan fasilitas yang tidak diperpanjang setelah jatuh tempo 5 April
2025. Sementara itu, utang kepada Bank Hibank Indonesia sebesar Rp8,92 miliar masih berasal dari
fasilitas modal kerja dengan tingkat bunga 7,5% per tahun, dengan fasilitas yang berdasarkan perjanjian
terakhir akan jatuh tempo pada Oktober dan Desember 2026, agar dapat dijelaskan:
a. Rencana Perseroan atas pelunasan utang kepada Bank Hibank Indonesia sebesar Rp8,92 miliar
yang akan jatuh tempo pada Oktober dan Desember 2026, termasuk sumber dana yang akan
digunakan.
b. Apakah Perseroan akan melakukan perpanjangan fasilitas Bank Hibank Indonesia setelah jatuh
tempo, mengingat fasilitas tersebut merupakan salah satu sumber pendanaan modal kerja
Perseroan? Agar dielaborasi
c. Mohon dijelaskan dampak tidak diperpanjangnya fasilitas PT Aditama Finance terhadap
kebutuhan modal kerja dan sumber pendanaan Perseroan ke depan.
Page 10
Jawaban Perseroan:
Utang Lembaga Keuangan Lainnya kepada Bank Hibank merupakan jenis pinjaman berupa factoring
(anjak piutang) atas tagihan Perseroan kepada Pelanggan Perseroan, pelunasan fasilitas tersebut
berasal dari pelunasan tagihan Pelanggan Perseroan. Fasilitas tersebut diperpanjang setiap
tahunnya oleh Perseroan. Fasilitas dari Bank Hibank tersebut mencukupi kebutuhan dana untuk
Perseroan sehingga Perseroan tidak memperpanjang fasilitas di PT Aditama Finance.
21. Pada CALK nomor 29 terkait Pendapatan, per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp40,51 miliar, turun
54,5% dibandingkan Rp89,05 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Pendapatan seluruhnya
berasal dari jasa angkutan darat, sedangkan pendapatan sewa dan penjualan real estat sudah tidak
terdapat pada 2026. Dari sisi pelanggan, PT Torabika Eka Semesta memberikan kontribusi terbesar
sebesar Rp11,80 miliar atau 29,13%, diikuti PT Mayora Indah Tbk sebesar Rp7,29 miliar
atau18,00%, sehingga kedua pelanggan tersebut menyumbang 47,13% dari total pendapatan, agar
dapat dijelaskan:
a. Faktor utama penurunan pendapatan jasa angkutan darat sebesar 54,5% pada 30 Juni 2026
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, termasuk kontribusi penurunan volume
dan/atau tarif jasa.
b. Perkembangan hubungan usaha dan kontrak Perseroan dengan PT Torabika Eka Semesta dan PT
Mayora Indah Tbk, termasuk prospek keberlanjutan pendapatan dari kedua pelanggan tersebut.
c. Langkah Perseroan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pelanggan tertentu dan
memperluas basis pelanggan.
Jawaban Perseroan:
Pendapatan merupakan pendapatan konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas Anaknya. Per
30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam Laporan
Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada dampak
finansial terhadap Perseroan.
Perseroan tetap memperpanjang hubungan usaha dan kotrak dengan semua Pelanggan eksisting
Perseroan dan ke depannya terus berencana untuk mendiversifikasi jenis pelanggan Perseroan.
22. Pada CALK nomor 30 terkait Beban Pokok Pendapatan, per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp27,21
miliar, turun 56,6% dibandingkan Rp62,71 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan
beban pokok pendapatan sedikit lebih besar dibandingkan penurunan pendapatan sebesar 54,5%,
sehingga secara umum margin kotor Perseroan meningkat, agar dapat dijelaskan:
a. Faktor peningkatan beban pengangkutan dari Rp2,60 miliar menjadi Rp7,56 miliar pada saat
pendapatan jasa angkutan darat justru mengalami penurunan signifikan.
b. Komponen utama beban lain-lain yang turun signifikan dari Rp16,99 miliar menjadi Rp2,74
miliar, serta faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.
c. Strategi Perseroan dalam menjaga efisiensi beban pokok pendapatan dan mempertahankan
peningkatan margin kotor di tengah penurunan pendapatan.
Jawaban Perseroan:
Beban Pokok Pendapatan merupakan beban konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas
Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam
Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada
dampak finansial terhadap Perseroan.
Page 11
Perseroan tetap memperpanjang hubungan usaha dan kotrak dengan semua Vendor Pelayaran dan
Trucking eksisting Perseroan dan menegosiasikan harga pelayaran dan trucking yang terbaik dan
efisien .
23. Pada CALK nomor 31 terkait Beban Umum dan Administrasi, per 30 Juni 2026 tercatat sebesar
Rp10,19 miliar, turun 48,2% dibandingkan Rp19,64 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Penurunan terutama berasal dari gaji dan tunjangan yang turun 62,5% serta penyusutan aset tetap yang
turun signifikan, sejalan dengan perubahan struktur aset Perseroan pascadivestasi JAYA. Namun
demikian, beban lain-lain justru meningkat 29,5% menjadi Rp6,51 miliar dan menjadi komponen
terbesar, yaitu sekitar 64% dari total beban umum dan administrasi, agar dapat dijelaskan:
a. Rincian dan komponen utama beban lain-lain sebesar Rp6,51 miliar pada 30 Juni 2026 serta
faktor peningkatannya dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
b. Apakah terdapat beban yang bersifat tidak berulang (non-recurring) dalam beban lain-lain
tersebut, khususnya yang timbul sehubungan dengan divestasi JAYA.
c. langkah Perseroan untuk mengendalikan beban umum dan administrasi, khususnya beban lain-
lain, seiring dengan penurunan pendapatan Perseroan.
Jawaban Perseroan:
Beban Umum dan administrasi merupakan beban konsolidasian yang berasal dari JAYA dan Entitas
Anaknya. Per 30 Juni 2026, Perseroan tidak mengkonsolidasikan JAYA dan Entitas anaknya dalam
Laporan Keuangan Perseroan karena sudah menjadi entitas yang terpisah, sehingga tidak ada
dampak finansial terhadap Perseroan.
Beban lain-lain Rp6,51 miliar pada 30 Juni 2026 merupakan beban Perseroan terkait biaya lain-
lain operasional Perseroan seperti biaya operasional di pelabuhan, biaya pemasaran dan lainnya.
24. Berdasarkan laporan arus kas Perseroan, agar dapat dijelaskan:
a. Mohon dijelaskan rekonsiliasi saldo kas dan setara kas per 30 Juni 2026 antara laporan posisi
keuangan sebesar Rp4,04 miliar dengan saldo akhir kas dalam laporan arus kas sebesar
Rp1,71 miliar.
b. Dalam laporan arus kas terdapat penerimaan dari pelepasan entitas anak sebesar Rp44,60
miliar, sementara berdasarkan Pendapat Kewajaran KJPP imbalan transaksi masih tercatat
sebagai piutang pemegang saham. Mohon dijelaskan jumlah yang telah diterima Perseroan
secara aktual sampai dengan 30 Juni 2026 dan rekonsiliasinya dengan nilai transaksi tersebut
c. Mohon dijelaskan penggunaan dana yang diterima Perseroan dari transaksi divestasi JAYA,
mengingat arus kas pendanaan menunjukkan pengeluaran sebesar Rp30,23 miliar, antara lain
untuk pembayaran dividen sebesar Rp30,46 miliar.
d. Rencana pengelolaan likuiditas Perseroan pascadivestasi JAYA, termasuk kecukupan kas dan arus
kas operasi untuk memenuhi kebutuhan operasional serta kewajiban utang kepada Bank Hibank
Indonesia yang akan jatuh tempo pada Oktober dan Desember 2026.
Jawaban Perseroan:
a. Perseroan menyampaikan bahwa saldo kas dan setara kas per 30 Juni 2026 yang disajikan dalam
laporan posisi keuangan telah sesuai dengan saldo akhir kas dan setara kas dalam laporan arus
kas, yaitu masing-masing sebesar Rp4.043.099.359, tidak terdapat selisih yang memerlukan
rekonsiliasi.
b. Sampai dengan 30 Juni 2026 tidak terdapat penerimaan kas atas pelepasan entitas anak.
Penyelesaian sebesar Rp23.125.531.750 dilakukan melalui mekanisme set-off dengan kewajiban
Page 12
dividen dan merupakan transaksi nonkas, sedangkan sebesar Rp21.477.351.050 masih tercatat
sebagai piutang pemegang saham. Perseroan akan melakukan koreksi (jika diperlukan) atas
penyajian laporan arus kas beserta rekonsiliasi akun terkait agar sesuai dengan substansi
transaksi dan saldo kas aktual.
c. Perseroan akan melakukan koreksi (jika diperlukan) atas penyajian transaksi set-off dimaksud
dalam laporan arus kas karena merupakan transaksi nonkas.
d. Perseroan akan menjaga likuiditas melalui pengelolaan arus kas operasi, percepatan penagihan
piutang, dan efisiensi biaya operasional. Pemenuhan kewajiban kepada PT Bank Hibank
Indonesia yang jatuh tempo pada Oktober dan Desember 2026 akan diprioritaskan dan
disesuaikan dengan penerimaan kas Perseroan serta penyelesaian piutang pemegang saham.
25. Apakah terdapat rencana dari pemegang saham mayoritas (>5%) Perseroan terkait kepemilikan saham
Perseroan seperti divestasi atau rencana lainnya?
Jawaban Perseroan:
Berdasarkan konfirmasi kepada pemegang saham mayoritas, terdapat penjajakan terkait kepemilikan
saham Perseroan. Namun, sampai dengan tanggal tanggapan ini, tidak ada keputusan maupun
perjanjian yang mengikat. Perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi kepada publik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganyang berlaku.
26. Apakah Perseroan mengetahui adanya aktivitas gadai saham (repo) yang dilakukan oleh Pemegang
Saham Perseroan? Apakah Perseroan pernah menerima aliran uang yang bersumber dari
aktivitas gadai saham (repo) yang dilakukan oleh pemegang saham?
Jawaban Perseroan:
Berdasarkan informasi yang dimiliki Perseroan sampai dengan tanggal tanggapan ini, Perseroan
tidak mengetahui adanya aktivitas gadai saham (repo) yang dilakukan oleh pemegang saham
Perseroan. Perseroan juga tidak pernah menerima aliran dana yang bersumber dari aktivitas gadai
saham (repo) tersebut.
27. Apakah Perseroan memiliki perkara hukum (termasuk terkait perpajakan, somasi, gugatan, PKPU atau
pailit) dari pihak ketiga, kreditur maupun supplier Perseroan? Jika ada, mohon disampaikan nomor
perkara, pokok perkara, dan perkembangan atas perkara hukum tersebut.
Jawaban Perseroan:
Sampai dengan tanggal tanggapan ini, Perseroan tidak memiliki perkara hukum, termasuk perkara
perpajakan, somasi, gugatan, penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU), maupun kepailitan
yang diajukan oleh pihak ketiga, kreditur, atau pemasok terhadap Perseroan.
Page 13
28. Apakah terdapat rencana aksi korporasi yang akan dilakukan Perseroan di tahun 2026? Jika ada,
mohon penjelasan lebih lanjut terkait dengan rencana aksi korporasi tersebut.
Jawaban Perseroan:
Perseroan sedang melakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif aksi korporasi yang dapat
mendukung pengembangan usaha dan peningkatan nilai bagi pemegang saham. Namun, sampai
dengan tanggal tanggapan ini, belum terdapat rencana aksi korporasi yang bersifat definitif. Apabila
terdapat rencana yang telah diputuskan, Perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
29. Apakah terdapat rencana selain aksi korporasi yang telah disampaikan kepada publik? Jika ada, mohon
penjelasan lebih lanjut terkait dengan rencana tersebut.
Jawaban Perseroan:
Sampai dengan tanggal tanggapan ini, tidak terdapat rencana aksi korporasi Perseroan selain yang
telah disampaikan kepada publik melalui keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
30. Sehubungan dengan peningkatan harga saham PPGL yang signifikan setelah divestasi JAYA, apakah
Perseroan mengetahui adanya rencana atau informasi material yang belum disampaikan kepada publik
yang dapat berkaitan dengan pergerakan harga tersebut?
Jawaban Perseroan:
Sampai dengan tanggal tanggapan ini, Perseroan tidak mengetahui adanya rencana atau informasi
maupun fakta material yang belum disampaikan kepada publik yang dapat memengaruhi atau
berkaitan dengan peningkatan harga saham Perseroan. Perseroan juga tidak mengetahui penyebab
pergerakan harga saham tersebut karena terbentuk berdasarkan mekanisme pasar.
31. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga Efek
Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.
Jawaban Perseroan:
Sampai dengan tanggal tanggapan ini, tidak terdapat informasi, fakta, atau kejadian penting lainnya
yang bersifat material dan dapat memengaruhi harga efek maupun kelangsungan usaha Perseroan
yang belum diungkapkan kepada publik.
Names mentioned 12 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Dasa’at Yudistira & Rekan
p.2
unresolved
org
KJPP Dasa’at Yudistira
p.2
unresolved
org
PT Rahardja Ekalancar
p.8 ×2
unresolved
org
PT Tunas Mobilindo Perkasa
p.8
unresolved
org
PT Tunas Mobilindo Perkasa. Jawaban
p.8
unresolved
org
PT Aditama Finance
p.9 ×3
unresolved
org
Bank Hibank Indonesia
p.9 ×5
unresolved
org
Bank Hibank
p.10 ×2
unresolved
org
PT Torabika Eka Semesta
p.10 ×2
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.