Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 42
Page 1
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk LAPORAN KEUANGAN INTERIM TANGGAL 30 JUNI 2026 DAN UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR 30 JUNI 2026 (TIDAK DIAUDIT) d1/
Page 2
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
DAFTAR ISI
Halaman
Surat Pernyataan Direksi
Laporan Keuangan Interim
Laporan Posisi Keuangan Interim 1
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Interim 3
Laporan Perubahan Ekuitas Interim 4
Laporan Arus Kas Interim 5
Catatan atas Laporan Keuangan Interim 6
Page 3
Page 4
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
LAPORAN POSISI KEUANGAN INTERIM
Tanggal 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
30 Juni 31 Desember
Catatan 2026 2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 4 116.459.706 267.606.401
Piutang usaha dari pihak ketiga 5 383.614.742 492.047.350
Piutang lain-lain - pihak berelasi 25 163.547.274 543.621.248
Pajak dibayar dimuka 14a - 14.538.439
Persediaan 7 654.627.423 582.618.400
Beban dibayar dimuka 8 20.734.416 -
Jumlah aset lancar 1.338.983.561 1.900.431.838
ASET TIDAK LANCAR
Persediaan 7 1.192.228.547 955.671.238
Aset tetap 9 55.179.101.558 56.002.964.213
Aset hak - guna 10 337.500.000 345.000.000
Investasi saham 11 20.510.000.000 20.510.000.000
Jumlah Aset Tidak Lancar 77.218.830.105 77.813.635.451
JUMLAH ASET 78.557.813.666 79.714.067.289
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan interim secara keseluruhan
2012 -1-
Page 5
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
LAPORAN POSISI KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
30 Juni 31 Desember
Catatan 2026 2025
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang lain-lain - pihak ketiga 12 2.771.517.497 2.430.362.422
Beban akrual 13 366.023.560 436.046.843
Utang pajak 14b 196.827.967 167.356.974
Utang bank 15 22.192.851.685 22.408.033.629
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 25.527.220.709 25.441.799.868
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas imbalan pascakerja 16 362.486.866 362.486.866
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 362.486.866 362.486.866
JUMLAH LIABILITAS 25.889.707.575 25.804.286.734
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 80,-
Modal dasar - 1.875.000.000 Saham
Modal ditempatkan dan disetor 896.709.596 Saham 17 71.736.767.680 71.736.767.680
Tambahan Modal Disetor - Bersih 18 6.711.738.981 6.711.738.981
Penghasilan Komprehensif Lain (34.855.422) (34.855.422)
Akumulasi Rugi (25.745.545.148) (24.503.870.684)
JUMLAH EKUITAS 52.668.106.091 53.909.780.555
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 78.557.813.666 79.714.067.289
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan interim secara keseluruhan
2012 -2-
Page 6
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN INTERIM
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
2026 2025
Catatan (Enam Bulan) (Enam Bulan)
PENDAPATAN USAHA 19 5.357.221.479 6.479.821.360
BEBAN POKOK PENDAPATAN 20 (4.903.679.589) (4.887.513.571)
LABA BRUTO 453.541.890 1.592.307.789
Beban Umum dan Administrasi 21 (690.371.895) (1.092.972.401)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain - Bersih 22 130.926.822 (3.461.738.162)
Jumlah Beban Usaha (559.445.073) (4.554.710.563)
LABA USAHA (105.903.183) (2.962.402.774)
Beban Bunga dan Keuangan 23 (1.135.771.281) (1.201.049.618)
RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN (1.241.674.464) (4.163.452.392)
Beban Pajak Penghasilan 14c - -
RUGI PERIODE BERJALAN (1.241.674.464) (4.163.452.392)
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN - -
RUGI KOMPREHENSIF PERIODE BERJALAN (1.241.674.464) (4.163.452.392)
RUGI PER SAHAM 24 (1,38) (4,64)
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan interim secara keseluruhan
2012 -3-
Page 7
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS INTERIM
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Tambahan Modal Pengukuran Kembali
Modal Saham Disetor Program Imbalan Pasti Akumulasi Rugi Jumlah Ekuitas
Saldo per 1 Januari 2025 71.736.767.680 6.711.738.981 38.520.038 (19.156.710.423) 59.330.316.276
Rugi Periode Berjalan - - - (4.163.452.392) (4.163.452.392)
Saldo per 30 Juni 2025 71.736.767.680 6.711.738.981 38.520.038 (23.320.162.815) 55.166.863.884
Saldo per 1 Januari 2025 71.736.767.680 6.711.738.981 38.520.038 (19.156.710.423) 59.330.316.276
Rugi Tahun Berjalan - - - (5.347.160.261) (5.347.160.261)
Penghasilan Komprehensif Lain - - (73.375.460) - (73.375.460)
Saldo per 31 Desember 2025 71.736.767.680 6.711.738.981 (34.855.422) (24.503.870.684) 53.909.780.555
Rugi Periode Berjalan - - (1.241.674.464) (1.241.674.464)
Saldo per 30 Juni 2026 71.736.767.680 6.711.738.981 (34.855.422) (25.745.545.148) 52.668.106.091
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan interim secara keseluruhan
-4-
Page 8
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
LAPORAN ARUS KAS INTERIM
Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
2026 2025
Catatan (Enam Bulan) (Enam Bulan)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Kas dari Pelanggan 5, 19 5.737.295.453 7.256.947.705
Pembayaran Kas kepada Karyawan 12, 20 (1.629.937.200) (1.728.578.318)
Pembayaran Kas kepada Pemasok dan 7,12,20
Operasional Lainnya 8 (2.766.982.266) (3.928.886.086)
Pembayaran Beban Bunga dan Keuangan 23 (1.135.771.281) (1.201.049.618)
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi 204.604.706 398.433.683
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan Aset Tetap 9 (140.569.457) (126.364.276)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi (140.569.457) (126.364.276)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran Utang Bank (215.181.944) (726.672.051)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan (215.181.944) (726.672.051)
PENURUNAN KAS DAN BANK (151.146.695) (454.602.644)
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 267.606.401 517.067.106
KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 116.459.706 62.464.462
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan interim secara keseluruhan
2012 -5-
Page 9
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
1. UMUM
1.a. Pendirian dan Informasi Umum
PT Planet Properindo Jaya Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Bandung berdasarkan akta No. 1
tanggal 7 Juni 2003 dibuat di hadapan Lili Sugianto, S.H. Notaris di Bandung. Akta pendirian
ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
berdasarkan Surat Keputusan No. C-22912 HT.01.01.TH.2003. Tahun 2003, tanggal 26
September 2003. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir Akta No. 05 tanggal 31 Mei 2024 dari Rahayu Ningsih, S.H., Notaris di Jakarta, yang
telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai dengan
Surat Keputusan No. AHU-0108094.AH.01.11.TAHUN.2024 tanggal 03 Juni 2024.
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan adalah
berusaha di bidang perhotelan. Ruang lingkup kegiatan usaha Perusahaan meliputi bidang
penyediaan kamar tempat menginap, penyediaan tempat dan pelayanan makan dan minum,
pelayanan pencucian/binatu, penyediaan fasilitas akomodasi dan pelayanan lain yang
diperlukan bagi penyelenggaraan kegiatan usaha hotel.
Perusahaan adalah pemilik Hotel Vue Palace, Artotel Curated yang berdomisili di Bandung
dengan kantor beralamat di Jl. Otto Iskandar Dinata No. 3 Babakan Ciamis Kec. Sumur
Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.
Pada saat ini kegiatan utama Perusahaan adalah menjalankan usaha dalam bidang perhotelan
yaitu mengelola dan menyewakan Hotel Vue Palace, Artotel Curated di Bandung.
Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha PT Wahana Tata Bangun, dengan PT Sosial
Integrasi Internasional sebagai pemegang saham utama dan Tn. Antonyo Hartono Tanujaya
sebagai pengendali terakhir.
Perusahaan memiliki 6 karyawan tetap (tidak diaudit) masing-masing pada tanggal
30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025.
1.b. Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan pengurus Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 adalah
sebagai berikut:
30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Seto Andry Wibowo
Komisaris Independen : Hannar Yogia
Dewan Direksi
Direktur Utama : Antonyo Hartono Tanujaya
Direktur : Emilia Marlina Kiuk
Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Planet
Properindo Jaya Tbk No. 09 tanggal 09 Juni 2023, Perusahaan mengangkat Emilia Marlina
Kiuk sebagai Direktur Perseroan, efektif sejak tanggal Surat Keputusan Rapat Umum
Pemegang Saham tersebut.
-6-
Page 10
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT Planet Properindo Jaya Tbk No. 009/IX/2021 tanggal
3 September 2021, Perusahaan mengangkat Komite Audit sebagai berikut:
Komite Audit:
Ketua Komite Audit : Hannar Yogia
Anggota Komite Audit : Asen Julianto
Anggota Komite Audit : Defi Desmiati
1.c. Penawaran Umum Saham Perusahaan
Pada tanggal 31 Agustus 2020, Perusahaan memperoleh surat pernyataan efektif
No S-238/D.04/2020 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan penawaran umum
saham kepada masyarakat sebanyak 267.856.800 saham atau sebanyak 30% dari jumlah
saham yang ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal Rp 80 setiap saham dengan
harga penawaran Rp 112 setiap saham disertai dengan penerbitan Waran Seri I sebanyak
212.053.300 yang diberikan secara cuma-cuma dengan nilai nominal Rp 80 per saham
dengan harga pelaksanaan Rp 130 per saham. Selisih lebih antara harga penawaran per
saham dengan nilai nominal per saham dicatat sebagai “Tambahan Modal Disetor” setelah
dikurangi biaya emisi saham, yang disajikan pada bagian ekuitas pada laporan posisi
keuangan. Masa pelaksanaan waran yaitu mulai tanggal 15 Maret 2021 sampai dengan
15 September 2023. Setiap pemegang 1 (satu) saham baru Perusahaan berhak membeli
1 (satu) waran. Bila waran tidak dilaksanakan sampai masa berlakunya habis, maka waran
tersebut menjadi kedaluwarsa.
Pada tanggal 30 Juni 2026 seluruh saham Perusahaan sejumlah 896.709.596 saham telah
tercatat pada Bursa Efek Indonesia.
1.d. Penyelesaian Laporan Keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan ini yang
telah diselesaikan dan disetujui untuk diterbitkan oleh Direksi Perusahaan pada tanggal
29 Juli 2026.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI SIGNIFIKAN
2.a. Pernyataan Kepatuhan
Laporan Keuangan Perusahaan disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan di Indonesia yang meliputi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan
Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan - Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI), dan peraturan pasar modal
antara lain Peraturan Otoritas Jasa Keuangan/Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (OJK/Bapepam-LK) No. VIII.G.7 tentang Penyajian dan Pengungkapan Laporan
Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik.
2.b. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha serta atas dasar akrual,
kecuali laporan arus kas yang menggunakan dasar kas.
-7-
Page 11
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Dasar pengukuran dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah konsep biaya perolehan
(historical cost), kecuali untuk beberapa akun tertentu yang didasarkan pengukuran lain
sebagaimana yang diungkapkan pada kebijakan akuntansi dalam masing-masing akun
tersebut.
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method) dengan
mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan adalah Rupiah (“Rp”) yang
juga merupakan mata uang fungsional Perusahaan.
2.c. Penerapan Baru dan Revisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (”PSAK”) dan
Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (”ISAK)
Standar dan interpretasi standar akuntansi keuangan yang baru serta amendemen dan
penyesuaian terhadap standar akuntansi keuangan yang telah diterbitkan dan berlaku efektif
untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2025 namun tidak berdampak
secara material terhadap pelaporan keuangan adalah sebagai berikut:
• PSAK No. 117 tentang ”Kontrak Asuransi”
• Amandemen PSAK No. 117 tentang ”Kontrak Asuransi” Penerapan Awal PSAK No. 117
dan PSAK No. 109 – Informasi Komparatif; dan
• Amandemen PSAK No. 221 tentang "Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing-
Kekurangan Ketertukaran".
Pada tanggal penerbitan laporan keuangan, terdapat pula beberapa standar dan interpretasi
standar akuntansi keuangan yang baru serta amendemen ataupun penyesuaian terhadap
standar akuntansi keuangan lainnya yang telah diterbitkan namun belum berlaku efektif.
Standar, interpretasi, amendemen ataupun penyesuaian tersebut akan berlaku efektif untuk
tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2026, sebagai berikut:
1 Januari 2026
• Amendemen PSAK No. 109, “Instrumen Keuangan” dan PSAK No. 107, “Instrumen
Keuangan: Pengungkapan”tentang “Klasifikasi dan Pengukuran Instrumen Keuangan”.
Penerapan dini untuk standar, interpretasi, amendemen ataupun penyesuaian terhadap
standar akuntansi keuangan di atas diperkenankan.
Manajemen masih mengevaluasi penerapan dari standar, interpretasi, amendemen ataupun
penyesuaian tersebut, dan mengevaluasi dampak yang mungkin timbul terhadap pelaporan
keuangan Perusahaan secara keseluruhan.
2.d. Transaksi Pihak Berelasi
Sesuai dengan PSAK 224, “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”, pihak dianggap berelasi jika
salah satu pihak memiliki kemampuan untuk mengendalikan (dengan cara kepemilikan, secara
langsung atau tidak langsung) atau mempunyai pengaruh signifikan (dengan cara partisipasi
dalam kebijakan keuangan dan operasional) atas pihak lain dalam mengambil keputusan
keuangan dan operasional.
Seluruh transaksi signifikan dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam Catatan 25 atas
laporan keuangan.
-8-
Page 12
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
2.e. Instrumen Keuangan
Aset Keuangan
Perusahaan menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada pengakuan awal. Klasifikasi
dan pengukuran aset keuangan harus didasarkan pada bisnis model dan arus kas kontraktual –
apakah semata dari pembayaran pokok dan bunga.
Aset keuangan diklasifikasikan dalam kategori berikut:
• Aset keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi; dan
• Aset keuangan yang diukur dengan nilai wajar melalui laba rugi atau melalui penghasilan
komprehensif lain.
Aset keuangan Perusahaan meliputi kas dan bank, piutang usaha, piutang lain-lain dan aset
keuangan lainnya. Aset keuangan diklasifikasikan sebagai aset lancar, jika jatuh tempo dalam
waktu 12 bulan, jika tidak maka aset keuangan ini diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar.
Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai
berikut:
(i) Aset keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi
Perusahaan mengukur aset keuangan pada biaya diamortisasi jika kedua kondisi berikut
terpenuhi: (1) aset keuangan yang dimiliki dalam model bisnis dengan tujuan untuk
mengumpulkan arus kas kontraktual; dan (2) persyaratan kontraktual dari aset keuangan
menimbulkan pada tanggal yang ditentukan untuk arus kas yang semata-mata pembayaran
pokok dan bunga atas jumlah pokok yang belum dibayar.
Aset keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi selanjutnya diukur dengan
menggunakan metode suku bunga efektif (Effective Interest Rate) (“EIR”), setelah dikurangi
dengan penurunan nilai. Biaya perolehan yang diamortisasi dihitung dengan
memperhitungkan diskonto atau premi atas biaya akuisisi atau biaya yang merupakan
bagian integral dari EIR tersebut. Amortisasi EIR dicatat dalam laba rugi. Kerugian yang
timbul dari penurunan nilai juga diakui pada laba rugi.
Kelompok aset keuangan ini meliputi kas dan bank, piutang usaha dan piutang lain-lain.
(ii) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui OCI
Instrumen utang
Perusahaan mengukur instrumen utang pada nilai wajar melalui OCI jika kedua kondisi
berikut terpenuhi: (1) aset keuangan yang dimiliki dalam model bisnis dengan tujuan untuk
mengumpulkan arus kas kontraktual dan penjualan; dan (2) persyaratan kontraktual dari aset
keuangan menimbulkan pada tanggal yang ditentukan untuk arus kas yang semata-mata
pembayaran pokok dan bunga atas jumlah pokok yang belum dibayar.
Untuk instrumen utang yang diukur pada nilai wajar melalui OCI, pendapatan bunga,
revaluasi selisih kurs, dan kerugian atau pembalikan penurunan nilai diakui dalam laba rugi
dan dihitung dengan cara yang sama seperti aset keuangan yang diukur dengan biaya
perolehan diamortisasi. Perubahan nilai wajar yang tersisa diakui dalam OCI. Setelah
penghentian pengakuan, perubahan nilai wajar kumulatif yang diakui di OCI didaur ulang
menjadi laba rugi. Perusahaan tidak memiliki instrumen utang yang diklasifikasikan sebagai
aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui OCI.
-9-
Page 13
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Perusahaan tidak memiliki instrumen utang yang diklasifikasikan sebagai aset keuangan
yang diukur pada OCI.
Instrumen ekuitas
Setelah pengakuan awal, Perusahaan dapat memilih untuk mengklasifikasikan investasi
ekuitasnya secara tidak dapat dibatalkan sebagai instrumen ekuitas yang ditetapkan pada
nilai wajar melalui OCI jika definisi ekuitas sesuai PSAK 232: Instrumen Keuangan:
Penyajian dan tidak dimiliki untuk diperdagangkan. Klasifikasi ditentukan berdasarkan
instrumen per instrumen.
Keuntungan dan kerugian dari aset keuangan ini tidak pernah didaur ulang menjadi laba
atau rugi. Dividen diakui sebagai pendapatan lain-lain dalam laba rugi pada saat hak
pembayaran telah ditetapkan, kecuali jika Perusahaan memperoleh keuntungan dari hasil
tersebut sebagai pemulihan sebagian biaya perolehan aset keuangan, dalam hal ini,
keuntungan tersebut adalah dicatat dalam OCI. Instrumen ekuitas yang ditetapkan pada nilai
wajar melalui OCI tidak tunduk pada penilaian penurunan nilai.
Perusahaan memiliki investasi saham yang merupakan instrumen ekuitas, yang
diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
(iii) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi termasuk aset keuangan yang dimiliki untuk
diperdagangkan, aset keuangan yang ditetapkan pada pengakuan awal pada nilai wajar
melalui laba rugi, atau aset keuangan yang wajib diukur pada nilai wajar. Aset keuangan
diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika mereka diperoleh untuk tujuan dijual
atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Derivatif, termasuk derivatif melekat yang dipisahkan,
juga diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan kecuali jika ditetapkan sebagai
instrumen lindung nilai yang efektif. Aset keuangan dengan arus kas yang tidak semata-mata
pembayaran pokok dan bunga diklasifikasikan dan diukur pada nilai wajar melalui laba rugi,
terlepas dari model bisnisnya. Terlepas dari kriteria untuk instrumen utang yang akan
diklasifikasikan pada biaya perolehan diamortisasi atau pada nilai wajar melalui OCI, seperti
dijelaskan di atas, instrumen utang dapat ditetapkan pada nilai wajar melalui laba rugi pada
pengakuan awal jika hal tersebut menghilangkan, atau secara signifikan mengurangi, ketidak
sesuaian akuntansi.
Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi selanjutnya disajikan dalam
laporan keuangan sebesar nilai wajar, dengan perubahan nilai wajar yang diakui dalam laba
rugi.
Perusahaan memiliki aset keuangan lainnya, yang diklasifikasikan sebagai aset keuangan
yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Aset keuangan (atau mana yang lebih tepat, bagian dari aset keuangan atau bagian dari
kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya pada saat: (1) hak untuk
menerima arus kas yang berasal dari aset tersebut telah berakhir; atau (2) Perusahaan telah
mengalihkan hak mereka untuk menerima arus kas yang berasal dari aset atau
berkewajiban untuk membayar arus kas yang diterima secara penuh tanpa penundaan
material kepada pihak ketiga dalam perjanjian “pass through”; dan baik (a) Perusahaan telah
secara substansial, mengalihkan seluruh risiko dan manfaat dari aset, atau (b) Perusahaan
secara substansial tidak mengalihkan atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat suatu
aset, namun telah mengalihkan kendali atas aset tersebut.
- 10 -
Page 14
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Liabilitas Keuangan
Liabilitas keuangan dalam lingkup PSAK 109 (sebelumnya PSAK 71) diklasifikasikan sebagai
berikut:
• Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi; dan
• Liabilitas keuangan yang diukur dengan nilai wajar melalui laba rugi.
Perusahaan menentukan klasifikasi liabilitas keuangan mereka pada saat pengakuan awal.
Seluruh liabilitas keuangan diakui pada awalnya sebesar nilai wajar dan dalam hal pinjaman dan
utang, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025, Perusahaan hanya memiliki liabilitas
keuangan diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi.
Liabilitas keuangan Perusahaan meliputi utang lain-lain, deposit tamu, beban akrual, dan utang
bank. Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka panjang jika jatuh tempo
melebihi 12 bulan dan sebagai liabilitas jangka pendek jika jatuh tempo yang tersisa kurang dari
12 bulan.
Pengukuran liabilitas keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai
berikut:
i) Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya diamortisasi
Liabilitas keuangan yang diukur pada biaya amortisasi (misalnya pinjaman dan utang yang
dikenakan bunga) selanjutnya diukur dengan menggunakan metode EIR. Amortisasi EIR
termasuk di dalam biaya keuangan dalam laba rugi.
ii) Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi termasuk liabilitas
keuangan untuk diperdagangkan dan liabilitas keuangan yang ditetapkan pada saat
pengakuan awal untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.
Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok untuk diperdagangkan jika mereka
diperoleh untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Kategori ini termasuk
instrumen keuangan derivatif yang diambil Perusahaan yang tidak ditujukan sebagai
instrumen lindung nilai dalam hubungan lindung nilai sebagaimana didefinisikan dalam
PSAK 109 (sebelumnya PSAK 71). Derivatif melekat yang dipisahkan juga diklasifikasikan
sebagai kelompok diperdagangkan kecuali mereka ditetapkan sebagai instrumen lindung
nilai efektif.
Keuntungan atau kerugian atas liabilitas yang dimiliki untuk diperdagangkan diakui dalam
laporan laba rugi.
Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya pada saat liabilitas tersebut berakhir atau
dibatalkan atau kedaluwarsa.
Dalam hal suatu liabilitas keuangan yang ada digantikan oleh liabilitas keuangan lain dari
pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau
modifikasi secara substansial atas persyaratan dari suatu liabilitas yang ada, pertukaran atau
modifikasi tersebut diperlakukan sebagai penghentian pengakuan liabilitas awal dan pengakuan
liabilitas baru, dan selisih antara nilai tercatat masing-masing liabilitas diakui dalam laba rugi.
- 11 -
Page 15
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Instrumen keuangan derivatif dan aktivitas lindung nilai
Metode pengakuan keuntungan atau kerugian yang timbul tergantung dari apakah derivatif
tersebut dimaksudkan sebagai instrumen lindung nilai, dan jika demikian, sifat dari item yang
dilindung nilai.
Untuk derivatif yang dikategorikan sebagai lindung nilai arus kas, pada awal transaksi,
Perusahaan mendokumentasikan hubungan antara instrumen lindung nilai dengan item yang
dilindung nilai, beserta tujuan manajemen risiko dan strategi pelaksanaan transaksi lindung nilai.
Perusahaan juga mendokumentasikan penilaiannya, pada saat dimulainya lindung nilai dan
secara berkesinambungan, apakah derivatif yang digunakan dalam transaksi lindung nilai sangat
efektif dalam menghapus dampak perubahan nilai wajar atas arus kas yang dilindung nilai.
Nilai wajar penuh derivatif lindung nilai diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar atau liabilitas
jangka panjang jika jatuh tempo yang tersisa untuk pokok yang dilindung nilai melebihi 12 bulan,
dan sebagai aset lancar atau liabilitas jangka pendek jika jatuh tempo yang tersisa kurang dari 12
bulan.
Perubahan nilai wajar derivatif yang ditetapkan dan memenuhi kriteria lindung nilai atas arus kas
untuk tujuan akuntansi, bagian efektifnya, diakui di penghasilan komprehensif lain di dalam
"cadangan lindung nilai arus kas". Ketika instrumen derivatif tersebut kadaluarsa atau tidak lagi
memenuhi kriteria lindung nilai untuk tujuan akuntansi, maka keuntungan atau kerugian kumulatif
di penghasilan komprehensif lain diakui pada laporan laba rugi.
Perubahan nilai wajar derivatif yang tidak memenuhi kriteria lindung nilai untuk tujuan akuntansi
diakui langsung pada laporan laba rugi di dalam "(Kerugian) keuntungan perubahan nilai wajar
derivatif - bersih".
Saling Hapus antar Aset dan Liabilitas Keuangan
Aset dan liabilitas keuangan dapat saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan
posisi keuangan jika, dan hanya jika, Perusahaan saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum
untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan berniat untuk
menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya
secara simultan.
Penurunan Nilai Aset Keuangan
Perusahaan menerapkan model kerugian kredit ekspektasian ("ECL") untuk pengukuran dan
pengakuan kerugian penurunan nilai. Pada setiap periode pelaporan, Perusahaan menilai
apakah risiko kredit dari instrumen keuangan telah meningkat secara signifikan sejak pengakuan
awal. Ketika melakukan penilaian, Perusahaan menggunakan perubahan atas risiko gagal bayar
yang terjadi sepanjang perkiraan usia instrumen keuangan daripada perubahan atas jumlah
ECL. Dalam melakukan penilaian, Perusahaan membandingkan antara risiko gagal bayar yang
terjadi atas instrumen keuangan pada saat periode pelaporan dengan risiko gagal bayar yang
terjadi atas instrumen keuangan pada saat pengakuan awal dan mempertimbangkan kewajaran
serta ketersediaan informasi, yang tersedia tanpa biaya atau usaha pada saat tanggal pelaporan
terkait dengan kejadian masa lalu, kondisi terkini dan perkiraan atas kondisi ekonomi di masa
depan, yang mengindikasikan kenaikan risiko kredit sejak pengakuan awal.
Perusahaan menerapkan metode yang disederhanakan untuk mengukur ECL tersebut terhadap
piutang usaha dan lain-lain tanpa komponen pendanaan yang signifikan.
2.f. Penentuan Nilai Wajar
Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan
dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar di pasar
- 12 -
Page 16
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
utama (atau pasar yang paling menguntungkan) pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar
saat ini (yaitu harga keluar) terlepas apakah harga tersebut dapat diobservasi secara langsung
atau diestimasi dengan menggunakan teknik penilaian lain pada tanggal pengukuran.
Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa transaksi untuk menjual aset atau mengalihkan
liabilitas terjadi:
(a) di pasar utama (principal market) untuk aset atau liabilitas tersebut; atau
(b) jika tidak terdapat pasar utama, di pasar yang paling menguntungkan (most advantageous
market) untuk aset atau liabilitas tersebut.
Perusahaan mengukur nilai wajar suatu aset atau liabilitas menggunakan asumsi yang akan
digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas tersebut, dengan asumsi
bahwa pelaku pasar bertindak dalam kepentingan ekonomis terbaiknya.
Pengukuran nilai wajar aset nonkeuangan memperhitungkan kemampuan pelaku pasar untuk
menghasilkan manfaat ekonomis dengan menggunakan aset dalam penggunaan tertinggi dan
terbaiknya (highest and best use) atau dengan menjualnya kepada pelaku pasar lain yang akan
menggunakan aset tersebut dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya.
Perusahaan menggunakan teknik penilaian yang sesuai dalam keadaan dan dimana data yang
memadai tersedia untuk mengukur nilai wajar, memaksimalkan penggunaan input yang dapat
diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi.
Hierarki nilai wajar dikategorikan dalam 3 (tiga) level input untuk teknik penilaian yang digunakan
dalam pengukuran nilai wajar, sebagai berikut:
(a) Input Level 1 - harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas
yang identik yang dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran.
(b) Input Level 2 - input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat
diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung atau tidak langsung.
(c) Input Level 3 - input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas.
Untuk aset dan liabilitas yang diakui pada laporan keuangan secara berulang, Perusahaan
menentukan apakah terjadi transfer antara Level di dalam hirarki dengan cara mengevaluasi
kategori (berdasarkan input level terendah yang signifikan dalam pengukuran nilai wajar)
setiap akhir periode pelaporan.
Perusahaan menentukan kelas aset dan liabilitas yang sesuai dengan sifat, karakteristik, dan
risiko aset dan liabilitas, dan level hirarki nilai wajar dimana pengukuran nilai wajar tersebut
dikategorikan.
Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan
dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada
tanggal pengukuran.
Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa transaksi untuk menjual aset atau mengalihkan
liabilitas terjadi di pasar utama atau, jika tidak terdapat pasar utama, di pasar yang paling
menguntungkan di mana Perusahaan memiliki akses pada tanggal tersebut.
Jika tersedia, Perusahaan mengukur nilai wajar instrumen keuangan dengan menggunakan
harga kuotasian di pasar aktif untuk instrumen tersebut. Jika harga kuotasian tidak tersedia di
pasar aktif, Perusahaan menggunakan teknik penilaian dengan memaksimalkan penggunaan
input yang dapat diobservasi dan relevan serta meminimalkan penggunaan input yang tidak
dapat diobservasi. Teknik penilaian mencakup penggunaan transaksi pasar terkini yang
dilakukan secara wajar oleh pihak-pihak yang berkeinginan dan memahami (recent arm’s length
market transactions), penggunaan nilai wajar terkini instrumen lain yang secara substansial
sama, analisis arus kas yang didiskonto, atau model penilaian lain.
- 13 -
Page 17
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
2.g. Kas dan Bank
Kas dan bank terdiri dari kas dan bank yang tidak dipergunakan sebagai jaminan serta tidak
dibatasi penggunaannya.
2.h. Dana Cadangan Untuk Penggantian Perabotan dan Perlengkapan Hotel
Pemasukan yang diperoleh dari hasil pengelolaan hotel harus diambil sebagian terlebih dahulu
untuk dimasukkan sebagai Dana Cadangan yang diperlukan untuk penggantian, penambahan
perabotan dan semua perlengkapan yang tidak dapat digunakan lagi dalam pengelolaan hotel.
Besar Dana Cadangan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tahun buku pertama sebesar 1% dari Pendapatan Total (Total Revenue).
b. Tahun buku kedua sebesar 1,5% dari Pendapatan Total (Total Revenue).
c. Tahun buku ketiga dan seterusnya sebesar 3% dari Pendapatan Total (Total Revenue).
Dana Cadangan yang tidak digunakan dalam tahun-tahun yang bersangkutan dapat digunakan
pada tahun-tahun berikutnya.
Sampai dengan 30 Juni 2026 belum dibentuk dana cadangan untuk penggantian perabotan
dan perlengkapan hotel.
2.i. Persediaan Hotel
Persediaan hotel merupakan makanan dan minuman, perlengkapan hotel lainnya, peralatan
operasional dan barang dagangan yang dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai
realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata
tertimbang (weighted average method). Nilai realisasi bersih merupakan estimasi harga jual
dari persediaan dikurangi seluruh biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan
untuk melakukan penjualan.
2.j. Beban Dibayar di Muka
Beban dibayar di muka dibebankan sesuai masa manfaat masing-masing biaya yang
bersangkutan dengan menggunakan metode garis lurus.
2.k. Aset Tetap
Aset tetap pada awalnya dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset terdiri dari
harga pembelian dan biaya lainnya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa
aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan supaya aset siap digunakan sesuai dengan maksud
manajemen. Setelah pengakuan awal, aset tetap, kecuali tanah, diukur sebesar biaya
perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Tanah
dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Sesuai dengan ISAK 36, Perusahaan menganalisa fakta dan keadaan untuk masing-masing
jenis hak atas tanah dalam bentuk Hak Guna Usaha (“HGU”), Hak Guna Bangunan (“HGB”)
dan Hak Pakai (“HP”) dalam menentukan akuntansi untuk masing-masing hak atas tanah
tersebut sehingga dapat merepresentasikan dengan tepat suatu kejadian atau transaksi
ekonomik yang mendasarinya. Jika hak atas tanah tersebut tidak mengalihkan pengendalian
atas aset pendasar kepada Perusahaan, melainkan mengalihkan hak untuk menggunakan
aset pendasar, Perusahaan menerapkan perlakuan akuntansi atas transaksi tersebut sebagai
sewa berdasarkan PSAK 116 (sebelumnya PSAK 73), “Sewa”. Jika hak atas tanah secara
substansi menyerupai pembelian tanah, maka Perusahaan menerapkan PSAK 216
(sebelumnya PSAK 16) “Aset tetap”.
Biaya setelah perolehan awal termasuk dalam jumlah tercatat aset atau diakui sebagai aset
yang terpisah, mana yang lebih tepat, ketika terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi di
- 14 -
Page 18
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke Perusahaan dan biaya
tersebut dapat diukur secara andal. Jumlah tercatat komponen yang diganti dihentikan
pengakuannya pada tahun dimana pada saat penggantian tersebut terjadi. Seluruh biaya
perbaikan dan pemeliharaan dibebankan ke dalam laporan laba rugi.
Penyusutan dihitung menggunakan metode garis lurus untuk mengalokasikan jumlah
tersusutkan selama estimasi manfaat aset tetap sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan Prasarana 40
Mebel dan Perlatan 4-8
Nilai residu, masa manfaat dan metode penyusutan aset tetap ditelaah setiap akhir tahun
keuangan atas pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi yang berlaku prospektif.
Aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau tidak ada manfaat ekonomi
masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Keuntungan atau kerugian
yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai selisih antara jumlah neto hasil
pelepasan dan jumlah tercatat dari aset tetap) diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.
Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi komprehensif pada
saat terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah,
mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset, jika dan hanya
jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut
akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi rugi
penurunan nilai. Aset dalam penyelesaian akan direklasifikasi ke aset tetap yang bersangkutan
pada saat aset tersebut selesai dan siap untuk digunakan. Penyusutan mulai dibebankan pada
tanggal aset tersebut siap digunakan.
Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset
tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap
tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi pada periode yang bersangkutan.
2.l. Sewa
Perusahaan sebagai Penyewa
Pada insepsi kontrak, Perusahaan menilai apakah kontrak adalah, atau mengandung, sewa.
Suatu kontrak adalah atau mengandung sewa jika kontrak tersebut memberikan hak untuk
mengendalikan penggunaan aset identifikasian selama suatu jangka waktu untuk
dipertukarkan dengan imbalan.
Untuk menilai apakah kontrak memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset yang
identifikasian, Perusahaan menilai apakah:
- Perusahaan memiliki hak untuk mendapatkan secara substansial seluruh manfaat
ekonomik dari penggunaan aset identifikasian selama periode penggunaan; dan
- 15 -
Page 19
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
- Perusahaan memiliki hak untuk mengarahkan penggunaan aset identifikasian.
Perusahaan memiliki hak ini ketika Perusahaan memiliki hak pengambilan keputusan yang
paling relevan untuk mengubah cara dan tujuan penggunaan aset telah ditentukan
sebelumnya:
1. Perusahaan memiliki hak untuk mengoperasikan aset identifikasian;
2. Perusahaan telah mendesain aset identifikasian dengan cara yang telah ditentukan
sebelumnya bagaimana dan untuk tujuan apa aset itu akan digunakan.
Pada insepsi atau penilaian kembali kontrak yang berisi komponen sewa, Perusahaan
mengalokasikan imbalan dalam kontrak untuk setiap komponen sewa atas dasar harga
tersendiri relatif dan harga tersendiri agregat dari komponen nonsewa. Akan tetapi, untuk sewa
perbaikan di mana Perusahaan adalah penyewa, Perusahaan telah memilih untuk tidak
memisahkan komponen nonsewa dan mencatat komponen sewa dan nonsewa sebagai
komponen sewa tunggal.
Pada saat permulaan sewa, penyewa mengakui aset hak-guna. Aset hak guna awalnya diukur
pada harga perolehan, yang terdiri dari jumlah awal yang disesuaikan dengan pembayaran
sewa yang dilakukan pada atau sebelum tanggal permulaan, ditambah biaya langsung awal
yang timbul dan estimasi biaya untuk membongkar dan memindahkan aset pendasar atau
merestorasi aset pendasar ke kondisi yang disyaratkan oleh syarat dan ketentuan sewa,
dikurangi insentif sewa yang diterima.
Setelah tanggal permulaan, Perusahaan mengukur aset hak guna dengan menggunakan
model biaya yang berkaitan aset tetap sesuai PSAK 216 (sebelumnya PSAK 16).
Berdasarkan model biaya, aset hak guna diukur pada biaya perolehan dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi penurunan nilai. Jika sewa mengalihkan kepemilikan aset pendasar
kepada Perusahaan pada akhir masa sewa atau jika biaya perolehan aset hak guna
mencerminkan bahwa penyewa akan mengeksekusi opsi beli, Perusahaan mendepresiasi hak
guna sejak tanggal permulaan hingga akhir umur manfaat aset pendasar. Jika tidak,
Perusahaan mendepresiasi aset hak guna dari tanggal permulaan hingga tanggal yang lebih
awal antara akhir umur manfaat aset hak guna atau akhir masa sewa.
Liabilitas sewa pada awalnya diukur pada nilai kini dari pembayaran sewa yang terutang
selama masa sewa, didiskontokan pada suku bunga implisit dalam sewa jika hal itu dapat
segera ditentukan. Jika suku bunga implisit tersebut tidak dapat segera ditentukan,
Perusahaan menggunakan suku bunga pinjaman inkremental.
Pembayaran sewa yang termasuk dalam pengukuran liabilitas sewa terdiri dari:
• Pembayaran tetap, termasuk pembayaran tetap secara-substansi dikurangi piutang
insentif sewa;
• Pembayaran sewa variabel yang bergantung pada indeks atau suku bunga, awalnya
diukur menggunakan indeks atau suku bunga pada tanggal permulaan;
• Jumlah yang diperkirakan akan dibayarkan oleh Perusahaan dalam jaminan nilai residual;
• Harga eksekusi opsi beli yang cukup pasti Perusahaan akan mengeksekusi; dan
• Pembayaran penalti untuk penghentian sewa lebih awal kecuali Perusahaan cukup pasti
untuk tidak menghentikan kontrak lebih awal.
Liabilitas sewa selanjutnya diukur kembali untuk mencerminkan perubahan dalam:
• Masa sewa (menggunakan tingkat diskonto yang direvisi);
• Penilaian opsi beli (menggunakan tingkat diskonto yang direvisi);
• Jumlah yang diperkirakan akan dibayarkan dalam jaminan nilai residual (menggunakan
tingkat diskonto yang tidak berubah); atau
• Pembayaran sewa masa depan sebagai akibat dari perubahan indeks atau suku bunga
- 16 -
Page 20
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
yang digunakan untuk menentukan pembayaran tersebut (menggunakan tingkat diskonto
yang tidak berubah).
Penyusutan dihitung menggunakan metode garis lurus untuk mencatat jumlah penyusutan
selama estimasi manfaat ekonomi aset hak-guna adalah sebagai berikut:
Jenis Aset Hak-Guna Masa Manfaat
Tanah 30 tahun
Sewa Jangka Pendek dan Sewa Aset Bernilai Rendah
Perusahaan menerapkan pengecualian pengakuan sewa jangka pendek (untuk sewa yang
memiliki jangka waktu selama 12 bulan atau kurang dari tanggal dimulainya dan tidak
mengandung opsi pembelian). Pembayaran sewa untuk sewa jangka pendek dan sewa untuk
aset bernilai rendah diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa.
2.m. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan
Pada setiap akhir periode pelaporan, Perusahaan menelaah nilai tercatat aset non-keuangan
untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan
nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, jumlah terpulihkan dari aset diestimasi untuk menentukan
tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi
jumlah terpulihkan atas suatu aset individual, Perusahaan mengestimasi jumlah terpulihkan
dari unit penghasil kas atas aset.
Estimasi jumlah terpulihkan adalah nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi biaya pelepasan
dan nilai pakai. Dalam menilai nilai pakai, estimasi arus kas masa depan didiskontokan ke nilai
kini menggunakan tingkat diskonto sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar kini
dari nilai waktu uang dan risiko spesifik atas aset yang mana estimasi arus kas masa depan
belum disesuaikan.
Jika jumlah terpulihkan dari aset non-keuangan (unit penghasil kas) kurang dari nilai
tercatatnya, nilai tercatat aset (unit penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar jumlah
terpulihkan dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi. Kebijakan akuntansi untuk
penurunan nilai aset keuangan dijelaskan dalam Catatan 3.
2.n. Liabilitas Imbalan Kerja
Perusahaan menyediakan imbalan kerja pasti kepada karyawannya sesuai dengan Peraturan
Pemerintah (“PP”) No. 35 tahun 2021 untuk Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 (Undang-
Undang Cipta Kerja) yang diundangkan pada November 2020, sebagaimana diubah menjadi
Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 tahun 2023 tentang Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-
Undang. Program imbalan pasti ini tidak didanai.
Liabilitas neto Perusahaan atas program imbalan pasti dihitung dari nilai kini liabilitas imbalan
pascakerja pasti pada akhir periode pelaporan dikurangi nilai wajar aset program, jika ada.
Perhitungan liabilitas imbalan pascakerja dilakukan dengan menggunakan metode Projected
Unit Credit dalam perhitungan aktuaria yang dilakukan setiap akhir periode pelaporan.
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, meliputi a) keuntungan dan kerugian
aktuarial,b) imbal hasil atas aset program, tidak termasuk bunga, dan c) setiap perubahan
dampak batas atas aset, tidak termasuk bunga, diakui di penghasilan komprehensif lain pada
saat terjadinya. Pengukuran kembali tidak direklasifikasi ke laba rugi pada periode berikutnya.
- 17 -
Page 21
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Ketika program imbalan berubah atau terdapat kurtailmen atas program, bagian imbalan yang
berubah terkait biaya jasa lalu, atau keuntungan atau kerugian kurtailmen, diakui di laba rugi
pada saat terdapat perubahan atau kurtailmen atas program.
Perusahaan menentukan (penghasilan) beban bunga neto atas (aset) liabilitas imbalan
pascakerja neto dengan menerapkan tingkat bunga diskonto pada awal periode pelaporan
tahunan untuk mengukur liabilitas imbalan pascakerja selama periode berjalan.
Perusahaan mengakui keuntungan dan kerugian atas penyelesaian liabilitas imbalan
pascakerja pada saat penyelesaian terjadi. keuntungan atau kerugian atas penyelesaian
merupakan selisih antara nilai kini liabilitas imbalan pascakerja yang ditetapkan pada tanggal
penyelesaian dengan harga penyelesaian, termasuk setiap aset program yang dialihkan dan
setiap pembayaran yang dilakukan secara langsung oleh Perusahaan sehubungan dengan
penyelesaian tersebut.
Perusahaan mengakui (1) biaya jasa, yang terdiri dari biaya jasa kini, biaya jasa lalu, dan
setiap keuntungan atau kerugian atas penyelesaian, dan (2) penghasilan atau beban bunga
neto di laba rugi pada saat terjadinya.
2.o. Biaya Pinjaman
Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan, konstruksi atau
pembuatan aset kualifikasian, merupakan aset yang membutuhkan waktu yang cukup lama
agar siap untuk digunakan atau dijual, ditambahkan pada biaya perolehan aset tersebut,
sampai dengan saat selesainya aset secara substansial siap untuk digunakan atau dijual.
Penghasilan investasi diperoleh atas investasi sementara dari pinjaman yang secara spesifik
belum digunakan untuk pengeluaran aset kualifikasian dikurangi dari biaya pinjaman yang
dikapitalisasi. Semua biaya pinjaman lainnya diakui dalam laba rugi pada periode terjadinya.
Kapitalisasi biaya pinjaman dimulai pada saat aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan
aset agar dapat digunakan sesuai dengan maksudnya dan pengeluaran untuk aset tersebut
dan biaya pinjaman telah terjadi. Kapitalisasi biaya pinjaman dihentikan pada saat selesainya
secara substansial yang diperlukan untuk mempersiapkan aset kualifikasian agar dapat
digunakan sesuai dengan maksudnya.
2.p. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Perusahaan mengakui pendapatan sesuai dengan ketentuan PSAK 115 (sebelumnya PSAK
72), Perusahaan mengakui pendapatan pada saat dan sejauh pengalihan barang atau jasa
kepada pelanggan akan mencerminkan jumlah yang diharapkan akan diterima Perusahaan
dalam pertukaran untuk barang atau jasa tersebut. Dalam menerapkan Standar ini,
Perusahaan mempertimbangkan
syarat-syarat kontrak dan semua fakta dan keadaan yang relevan. Pendapatan diakui
menggunakan penilaian 5 langkah:
1. Identifikasi Kontrak dengan Pelanggan
Kontrak adalah kesepakatan antara dua pihak atau lebih yang menciptakan hak dan
kewajiban yang dapat dipaksakan.
2. Identifikasi Kewajiban Pelaksanaan dalam Kontrak
Kewajiban pelaksanaan adalah janji kepada pelanggan untuk mengalihkan barang atau
jasa (atau sekumpulan barang atau jasa) yang bersifat dapat dibedakan; atau serangkaian
barang atau jasa bersifat dapat dibedakan yang secara substansial sama dan memiliki
pola pengalihan yang sama kepada pelanggan. Bersifat dapat dibedakan artinya dapat
dipisahkan, atau dapat diidentifikasi secara terpisah.
- 18 -
Page 22
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
3. Penetapan Harga Transaksi
Harga transaksi adalah jumlah imbalan yang diperkirakan menjadi hak Perusahaan dalam
pertukaran untuk mengalihkan barang atau jasa kepada pelanggan, tidak termasuk jumlah
yang ditagih atas nama pihak ketiga (misalnya, pajak pertambahan nilai). Jika imbalan
yang dijanjikan dalam kontrak mencakup jumlah variabel, Perusahaan mengestimasi
jumlah imbalan yang diharapkan menjadi haknya dalam pertukaran untuk mengalihkan
barang atau jasa yang dijanjikan kepada pelanggan dikurangi estimasi jumlah variabel
yang akan dibayar selama kontrak.
4. Alokasi Harga Transaksi untuk Kewajiban Pelaksanaan
Alokasikan harga transaksi untuk setiap kewajiban pelaksanaan berdasarkan harga jual
berdiri sendiri relatif dari setiap barang atau jasa berbeda yang dijanjikan dalam kontrak.
Jika hal ini tidak dapat diamati secara langsung, harga jual berdiri sendiri relatif perlu
diestimasi.
5. Pengakuan Pendapatan ketika Kewajiban Pelaksanaan Dipenuhi
Pendapatan dari penjualan diakui sebagai representasi penyerahan barang atau jasa
dengan jumlah yang secara tepat mewakili kewajiban yang dilakukan dan hak untuk
menerima imbalan sebagai imbalan atas barang dan/atau jasa tersebut. Pengakuan
pendapatan tergantung pada apakah pengalihan diselesaikan sepanjang waktu atau pada
waktu tertentu. Pengalihan kendali diperhitungkan.
Untuk setiap kewajiban pelaksanaan yang dipenuhi sepanjang waktu, pendapatan diakui
dengan mengukur kemajuan penyelesaian kewajiban pelaksanaan tersebut berdasarkan
pengukuran kemajuan yang tepat baik “Metode Keluaran” atau “Metode Masukan”.
Biaya Mendapatkan Kontrak
Biaya inkremental untuk mendapatkan kontrak dengan pelanggan diakui sebagai aset jika
Perusahaan mengharapkan untuk memulihkan biaya tersebut. Biaya inkremental tersebut
adalah biaya yang timbul untuk mendapatkan kontrak dengan pelanggan yang tidak akan
terjadi jika kontrak tersebut tidak berhasil diperoleh.
Biaya Pemenuhan Kontrak
Biaya inkremental untuk mendapatkan kontrak dengan pelanggan diakui sebagai aset jika
Perusahaan mengharapkan untuk memulihkan biaya tersebut. Biaya inkremental tersebut
adalah biaya yang timbul untuk mendapatkan kontrak dengan pelanggan yang tidak akan
terjadi jika kontrak tersebut tidak berhasil diperoleh.
Suatu aset diakui untuk biaya yang timbul untuk memenuhi kontrak hanya jika biaya tersebut
memenuhi semua kriteria berikut:
a) biaya terkait langsung dengan kontrak atau kontrak yang diantisipasi yang secara spesifik
dapat diidentifikasi oleh Perusahaan;
b) biaya menghasilkan atau meningkatkan sumber daya Perusahaan yang akan digunakan
untuk memenuhi (atau terus memenuhi) kewajiban pelaksanaan di masa depan; dan
c) biaya diharapkan dapat dipulihkan.
d) biaya terkait langsung dengan kontrak atau kontrak yang diantisipasi yang secara spesifik
dapat diidentifikasi oleh Perusahaan;
e) biaya menghasilkan atau meningkatkan sumber daya Perusahaan yang akan digunakan
untuk memenuhi (atau terus memenuhi) kewajiban pelaksanaan di masa depan; dan
f) biaya diharapkan dapat dipulihkan.
Aset yang dihasilkan akan diamortisasi secara sistematis selama periode kontrak. Ketika biaya
yang timbul dalam memenuhi kontrak dengan pelanggan berada dalam lingkup Pernyataan
lain, biaya tersebut diperhitungkan sesuai dengan Pernyataan lainnya.
Beban diakui pada saat terjadinya (basis akrual).
- 19 -
Page 23
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
2.q. Pajak Penghasilan
Beban pajak penghasilan terdiri dari jumlah beban pajak kini dan pajak tangguhan.
Pajak diakui sebagai pendapatan atau beban dan termasuk dalam laba rugi untuk periode
berjalan, kecuali pajak yang timbul dari transaksi atau kejadian yang diakui di luar laba rugi.
Pajak terkait dengan pos yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain, diakui dalam
penghasilan komprehensif lain dan pajak terkait dengan pos yang diakui langsung di ekuitas,
diakui langsung di ekuitas.
Pajak kini
Pajak terutang kini didasarkan pada laba kena pajak tahun berjalan. Laba kena pajak berbeda
dari laba yang dilaporkan dalam masing-masing laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain perusahaan dalam Perusahaan karena tidak termasuk pos-pos dari
pendapatan atau beban yang dapat dikenakan pajak atau dikurangkan di tahun-tahun lainnya
dan selanjutnya tidak termasuk pos-pos yang tidak dapat dikenakan pajak atau dikurangkan
dari pajak.
Liabilitas pajak kini masing-masing perusahaan di dalam Perusahaan dihitung dengan
menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial berlaku pada tanggal laporan
posisi keuangan.
Manajemen secara berkala mengevaluasi jumlah yang dilaporkan di dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan (“SPT”) terkait dengan keadaan dimana peraturan pajak yang berlaku
memerlukan interpretasi dan, jika diperlukan, manajemen akan menghitung provisi atas jumlah
yang mungkin timbul.
Pajak tangguhan
Pajak tangguhan diakui dengan menggunakan metode liabilitas atas perbedaan temporer
antara dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas dan nilai tercatatnya dalam laporan keuangan
pada akhir periode pelaporan.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer yang kena pajak.
Nilai tercatat dari aset dan liabilitas pajak tangguhan ditelaah pada setiap akhir periode
pelaporan dan diturunkan ketika tidak lagi terdapat kemungkinan bahwa akan terdapat laba
kena pajak yang memungkinkan semua atau sebagian dari aset pajak tangguhan tersebut
untuk direalisasi. Aset pajak tangguhan yang belum diakui dinilai kembali pada setiap tanggal
pelaporan dan diakui sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak di masa depan akan
memungkinkan aset pajak tangguhan untuk dipulihkan.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang diharapkan
akan berlaku pada tahun saat aset dipulihkan atau liabilitas diselesaikan berdasarkan tarif
pajak dan peraturan pajak yang berlaku atau yang secara substantif telah berlaku pada
tanggal pelaporan.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan saling hapus ketika terdapat hak yang dapat dipaksakan
secarahukum untuk melakukan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini dan
pajak tangguhantersebut terkait dengan Perusahaan kena pajak yang sama dan otoritas
perpajakan yang sama.
2.r. Laba Per Saham
Berdasarkan PSAK 233 (sebelumnya PSAK 56), “Laba per Saham”, laba per saham dasar
dihitung dengan membagi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dengan
- 20 -
Page 24
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
jumlah rata-rata tertimbang dari saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan yang
disesuaikan dengan jumlah saham biasa yang dibeli kembali.
Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih yang diatribusikan kepada
pemilik entitas induk dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan
dengan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif.
3. PERTIMBANGAN KRITIS AKUNTANSI DAN ESTIMASI AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN
Pertimbangan, Estimasi dan Asumsi
Penyusunan laporan keuangan mengharuskan manajemen Perusahaan untuk membuat
pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari pendapatan,
beban, aset dan liabilitas, dan pengungkapan atas liabilitas kontijensi, pada akhir periode pelaporan.
Ketidakpastian mengenai pertimbangan, estimasi dan asumsi tersebut dapat mengakibatkan
penyesuaian material terhadap nilai tercatat pada aset dan liabilitas dalam periode pelaporan
berikutnya.
Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada tanggal pelaporan
yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas
untuk periode berikutnya diungkapkan dibawah ini.
Perusahaan mendasarkan estimasi dan asumsi pada parameter yang tersedia pada saat laporan
keuangan disusun. Asumsi dan situasi mengenai perkembangan masa depan mungkin berubah akibat
perubahan pasar atau situasi diluar kendali Perusahaan. Perubahan tersebut dicerminkan dalam
asumsi terkait pada saat terjadinya.
Pertimbangan, estimasi dan asumsi berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan
kebijakan akuntansi Perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui
dalam laporan keuangan:
Menentukan Mata Uang Fungsional
Mata uang fungsional adalah mata uang dari lingkungan ekonomi utama dimana Perusahaan
beroperasi. Manajemen mempertimbangkan mata uang yang paling memengaruhi pendapatan dan
harga pokok penjualan dan indikator lainnya dalam menentukan mata uang yang paling sesuai
mewakili dampak ekonomi yang mendasari transaksi, peristiwa dan kondisi.
Menentukan Klasifikasi Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan
Perusahaan menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset keuangan dan
liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan definisi yang ditetapkan PSAK 109 dipenuhi. Dengan
demikian, aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi
Perusahaan seperti diungkapkan pada Catatan 3 pada laporan keuangan.
Menentukan Penilaian Model Bisnis
Klasifikasi dan pengukuran aset keuangan bergantung pada hasil pengujian semata pembayaran
pokok dabunga (“SPPI”) atas jumlah pokok terutang dan model bisnis. Perusahaan menentukan model
bisnis padtingkat yang mencerminkan bagaimana kelompok aset keuangan dikelola bersama untuk
mencapai tujuabisnis tertentu.
Penilaian ini mencakup penilaian yang mencerminkan semua bukti yang relevan termasuk bagaimana
kinerja aset dievaluasi dan kinerjanya diukur, risiko yang memengaruhi kinerja aset dan bagaimana
pengelolaannya. Perusahaan memantau aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan
diamortisasi atau nilai wajar melalui pendapatan komprehensif lain yang dihentikan pengakuannya
sebelum jatuh tempo untuk memahami alasan pelepasannya dan apakah alasan tersebut konsisten
dengan tujuan bisnis dimana aset tersebut dimiliki. Pemantauan adalah bagian dari penilaian
berkelanjutan Perusahaan tentang apakah model bisnis yang memiliki aset keuangan yang tersisa
- 21 -
Page 25
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
masih sesuai dan jika tidak sesuai apakah telah terjadi perubahan model bisnis dan oleh karena itu
terdapat perubahan prospektif terhadap klasifikasi aset keuangan tersebut.
Menentukan Peningkatan Risiko Kredit yang Signifikan
ECL diukur sebagai penyisihan yang setara dengan ECL 12-bulan (“12mECL”) untuk aset tahap 1,
atau ECL sepanjang umur untuk aset tahap 2 atau tahap 3. Suatu aset bergerak ke tahap 2 ketika
risiko kreditnya telah meningkat secara signifikan sejak pengakuan awal. Dalam menilai apakah risiko
kredit suatu aset telah meningkat secara signifikan, Perusahaan mempertimbangkan informasi
berwawasan ke depan yang wajar dan dapat didukung secara kualitatif dan kuantitatif.
Menentukan dan Menghitung Penyisihan Kerugian
Ketika mengukur ECL, Perusahaan menggunakan informasi berwawasan ke depan yang wajar dan
dapat didukung, yang didasarkan pada asumsi untuk pergerakan masa depan dari berbagai
pendorong ekonomi dan bagaimana pendorong ini akan saling memengaruhi.
Loss given default adalah estimasi kerugian yang timbul karena gagal bayar (default). Hal ini
didasarkan pada perbedaan antara arus kas kontraktual yang jatuh tempo dan yang diharapkan akan
diterima pemberi pinjaman, dengan mempertimbangkan arus kas dari agunan dan peningkatan kredit
integral.
Probabilitas default merupakan input utama dalam mengukur ECL. Default adalah estimasi
kemungkinan default selama jangka waktu tertentu, yang penghitungannya mencakup data historis,
asumsi, dan ekspektasi kondisi masa depan.
Menentukan Apakah Suatu Pengaturan adalah atau Mengandung Sewa
Penentuan apakah suatu pengaturan merupakan atau mengandung sewa memerlukan
pertimbangan yang cermat untuk menilai apakah pengaturan tersebut memberikan hak untuk
memperoleh secara substansial semua manfaat ekonomik dari penggunaan aset selama periode
penggunaan dan hak untuk mengarahkan penggunaan aset, bahkan jika pengaturan tersebut hak
tidak secara eksplisit ditentukan dalam pengaturan.
Penentuan Opsi Masa Sewa
Masa sewa merupakan komponen signifikan dalam pengukuran aset hak-guna dan liabilitas sewa.
Pertimbangan dilakukan dalam menentukan apakah terdapat opsi untuk memperpanjang sewa atau
membeli aset pendasar cukup pasti akan dieksekusi, atau opsi untuk mengakhiri sewa tidak akan
dieksekusi, ketika memastikan periode yang akan disertakan dalam masa sewa. Dalam menentukan
masa sewa, semua fakta dan keadaan yang menciptakan insentif ekonomik untuk menggunakan opsi
perpanjangan, atau tidak untuk menggunakan opsi penghentian, dipertimbangkan pada tanggal
insepsi sewa.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dapat mencakup pentingnya aset untuk operasi Perusahaan;
perbandingan syarat dan ketentuan dengan harga pasar yang berlaku; timbulnya penalti yang
signifikan; adanya perbaikan hak penyewaan yang signifikan; dan biaya serta masalah gangguan
untuk mengganti aset. Perusahaan menilai kembali apakah cukup pasti untuk mengeksekusi opsi
perpanjangan, atau tidak mengeksekusi opsi penghentian, jika terdapat peristiwa signifikan atau
perubahan keadaan yang signifikan.
Menentukan Suku Bunga Pinjaman Inkremental
Jika suku bunga implisit dalam sewa tidak dapat segera ditentukan, suku bunga pinjaman inkremental
diestimasi untuk mendiskontokan pembayaran sewa di masa mendatang untuk mengukur nilai kini
liabilitas sewa pada tanggal permulaaan sewa. Suku bunga tersebut didasarkan pada estimasi
Perusahaan yang harus dibayarkan oleh Perusahaan kepada pihak ketiga untuk meminjam dana yang
diperlukan untuk memperoleh aset dengan nilai yang sama dengan aset hak-guna, dengan
persyaratan, keamanan, dan lingkungan ekonomi yang serupa.
- 22 -
Page 26
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Penyisihan Penurunan Nilai Persediaan
Manajemen melakukan penilaian analisis umur persediaan pada setiap tanggal pelaporan dan
membentuk penyisihan untuk persediaan usang dan persediaan yang memiliki perputaran yang
lambat, denganmempertimbangkan nilai realisasi neto dari persediaan berdasarkan pada harga jual
dan kondisi pasar saatini. Jumlah tercatat persediaan diungkapkan di dalam Catatan 7 atas laporan
keuangan.
Menentukan Metode Penyusutan dan Estimasi Masa Manfaat Aset Tetap
Perusahaan mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap berdasarkan utilisasi dari aset yang
diharapkan dan didukung dengan rencana dan strategi usaha dan perilaku pasar.
Estimasi dari masa manfaat aset tetap adalah berdasarkan penelaahan Perusahaan terhadap praktek
industri, evaluasi teknis internal dan pengalaman untuk aset yang setara
Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran
masa manfaat ekonomisnya. Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 4
sampai dengan 20 tahun. Ini adalah umur yang secara umum diharapkan dalam industri dimana
Perusahaan menjalankan bisnisnya. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 9 atas laporan
keuangan.
Imbalan Kerja
Nilai kini dari kewajiban imbalan pasti tergantung pada sejumlah faktor yang ditentukan berdasarkan
basis aktuarial dengan menggunakan sejumlah asumsi. Asumsi yang digunakan dalam menentukan
biaya untuk imbalan pascakerja termasuk tingkat diskonto dan kenaikan gaji dimasa datang. Setiap
perubahan dalam asumsi ini akan berdampak pada nilai tercatat atas kewajiban imbalan pensiun.
Perusahaan menentukan tingkat diskonto dan tingkat kenaikan gaji dimasa datang yang sesuai pada
akhir periode pelaporan. Dalam menentukan tingkat suku bunga yang sesuai, Perusahaan
mempertimbangkan tingkat suku bunga obligasi pemerintah yang didenominasikan dalam mata uang
dimana imbalan akan dibayar dan memiliki jangka waktu yang serupa dengan jangka waktu liabilitas
terkait. Dalam menentukan tingkat kenaikan gaji masa datang, Perusahaan mengumpulkan data
historis mengenai perubahan gaji dasar pekerja dan menyesuaikan dengan perencanaan bisnis masa
mendatang.
Menentukan Pajak Penghasilan
Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan provisi atas pajak penghasilan badan. Terdapat
transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirnya adalah tidak pasti sepanjang
kegiatan usaha normal. Perusahaan mengakui liabilitas atas pajak penghasilan badan berdasarkan
estimasi apakah akan terdapat tambahan pajak penghasilan badan.
Dalam menentukan jumlah yang harus diakui terkait dengan liabilitas pajak yang tidak pasti,
Perusahaan menerapkan pertimbangan yang sama yang akan mereka gunakan dalam menentukan
jumlah cadangan yang harus diakui sesuai dengan PSAK 237 (sebelumnya PSAK 57) “Provisi,
Liabilitas Kontijensi dan Aset Kontijensi” dan ISAK 34 “Ketidakpastian dalam Perlakuan Pajak
Penghasilan”. Perusahaan membuat analisis untuk semua posisi pajak terkait dengan pajak
penghasilan untuk menentukan jika liabilitas pajak untuk manfaat pajak yang belum diakui harus
diakui.
Perusahaan menelaah aset pajak tangguhan pada setiap tanggal pelaporan dan mengurangi nilai
tercatat sepanjang tidak ada kemungkinan bahwa laba kena pajak memadai untuk mengkompensasi
sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan. Perusahaan juga menelaah waktu yang diharapkan dan
tarif pajak atas pemulihan perbedaan temporer dan menyesuaikan pengaruh atas pajak tangguhan
yang sesuai. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 14 atas laporan keuangan.
- 23 -
Page 27
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
4. KAS DAN BANK
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Kas 3.408.563 3.026.982
Bank
PT Bank Central Asia Tbk 53.982.469 18.041.054
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 39.841.249 241.017.155
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan
Banten Tbk 14.635.825 3.905.134
PT Bank KEB Hana Indonesia 4.591.600 1.616.076
Jumlah 116.459.706 267.606.401
5. PIUTANG USAHA DARI PIHAK KETIGA
Berdasarkan Pelanggan:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Agen Wisata 232.652.957 226.981.259
Instansi Pemerintahan 84.748.000 13.511.580
Kartu Kredit 25.229.819 90.426.400
Korporasi 13.165.520 -
PT Rumah Karya Entertaiment 27.818.446 161.128.111
Jumlah 383.614.742 492.047.350
Berdasarkan umur:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Telah jatuh tempo dan tidak Mengalami
penurunan nilai:
Kurang dari 30 hari 352.461.542 356.585.296
31 – 60 hari 31.153.200 -
61 – 90 hari - 135.462.054
Jumlah 383.614.742 492.047.350
Perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT Rumah Karya Entertaiment (Conclave
Bar) sehubungan dengan pembukaan restoran dan bar yang berada di properti milik perusahaan.
(Catatan 26).
Seluruh piutang usaha dari pihak ketiga didenominasi dalam mata uang rupiah.
Manajemen berkeyakinan bahwa seluruh piutang usaha dapat ditagih, sehingga, tidak ada penurunan
nilai yang diakui.
- 24 -
Page 28
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
6. PIUTANG LAIN-LAIN
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Pihak Berelasi 163.547.274 543.621.248
Jumlah 163.547.274 543.621.248
7. PERSEDIAAN
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Aset Lancar
Bahan Baku 367.618.053 303.675.053
Perlengkapan 287.009.370 278.943.347
Sub Jumlah 654.627.423 582.618.400
Aset Tidak Lancar
Perlengkapan Operasional Hotel 1.192.228.547 955.671.238
Sub Jumlah 1.192.228.547 955.671.238
Jumlah 1.846.855.970 1.538.289.638
Berdasarkan penelaahan pada akhir tahun berjalan, pihak manajemen berkeyakinan bahwa semua
jenis persediaan masih dalam kondisi baik dan masih dapat digunakan.
8. BEBAN DIBAYAR DIMUKA
Pada tanggal 30 Juni 2026, akun ini merupakan uang muka biaya operasional sebesar
Rp 20.734.416.
9. ASET TETAP
30 Juni 2026
Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Tanah 14.000.000.000 - - 14.000.000.000
Bangunan dan Prasarana 66.528.366.267 - - 66.528.366.267
Mebel dan Peralatan 6.529.220.320 140.569.457 - 6.669.789.777
Sub Jumlah 87.057.586.587 140.569.457 - 87.198.156.044
Akumulasi Penyusutan
Bangunan dan Prasarana 25.397.880.036 831.604.577 - 26.229.484.613
Mebel dan Peralatan 5.656.742.338 132.827.535 - 5.789.569.873
Jumlah 31.054.622.374 964.432.112 - 32.019.054.486
Nilai Buku 56.002.964.213 55.179.101.558
- 25 -
Page 29
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
31 Desember 2025
Saldo Awal Penambahan Reklasifikasi Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Tanah 14.000.000.000 - - 14.000.000.000
Bangunan dan Prasarana 66.528.366.267 - - 66.528.366.267
Mebel dan Peralatan 6.350.726.037 178.494.283 - 6.529.220.320
Sub Jumlah 86.879.092.304 178.494.283 - 87.057.586.587
Aset dalam Penyelesaian
Bangunan Hotel 23.999.969.280 - 23.999.969.280 -
Jumlah 110.879.061.584 178.494.283 23.999.969.280 87.057.586.587
Akumulasi Penyusutan
Bangunan dan Prasarana 23.734.670.880 1.663.209.156 - 25.397.880.036
Mebel dan Peralatan 5.377.925.495 278.816.843 - 5.656.742.338
Jumlah 29.112.596.375 1.942.025.999 - 31.054.622.374
Nilai Buku 81.766.465.209 56.002.964.213
Beban Penyusutan dialokasikan sebagai berikut:
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Beban Pokok Pendapatan (Catatan 20) 831.604.577 831.604.578
Beban Umum dan Administrasi (Catatan 21) 132.827.535 115.032.381
Jumlah 964.432.112 946.636.958
Pada tanggal 25 Juni 2025, Perusahaan melakukukan inbreng atau memasukkan aset ke PT Wahana
Makmur Jaya yaitu berupa aset yang terdiri dari pekerjaan interior, peralatan, perlengkapan dan
furniture pendukungnya untuk hotel di Lantai 9, 10 dan 11 Gedung Citi Hub, yang terletak di
Jl. Boulevard Artha Gading Blok D, No, 3, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa
Gading, Jakarta Utara dengan nilai seluruhnya sebesar Rp 20.510.000.000, nilai tersebut berdasarkan
penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Pung’s Zulkarnain dan Rekan dengan laporan
tertanggal 16 Juni 2025 dengan laporan No. 00892/2.0004-01/PI/10/0378/I/VI/2025, atas inbreng
tersebut Perusahaan menerima kompensasi berupa hak/kepemilikan 31.982 saham atau setara
dengan nilai nominal Rp 31.982.000.000 saham PT Wahana Makmur Jaya (Catatan 11).
Pada periode yang berakhir enam bulan pada tanggal 30 Juni 2025, perhitungan rugi pelepasan aset
tetap adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Nilai Wajar Aset Inbreng - 20.510.000.000
Dikurangi Nilai Buku Aset:
Bangunan Hotel - (23.999.969.280)
Rugi Pelepasan Aset Tetap (Catatan 22) - (3.489.969.280)
Bangunan dan Prasarana merupakan Bangunan Hotel Vue Palace, Artotel Curated yang berdomisili di
Jl. Otto Iskandardinata no.3 Bandung, dengan luas bangunan 7408 m2.
Bangunan hotel dalam penyelesaian merupakan hotel yang berlokasi di CITI HUB Kelapa Gading
sesuai dengan Surat Perintah Kerja No. 005/SPK/PPJ/VIII/2020 tanggal 2 Agustus 2020. Perusahaan
mengadakan perjanjian kerja dengan PT Wahana Sugiharto Makmur, atas pekerjaan pembangunan
Hotel 3 lantai di CITI HUB Kelapa Gading dengan nilai kontrak sebesar Rp23.999.969.280.
- 26 -
Page 30
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Perusahaan memiliki sebidang tanah berdasarkan Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli
No. 224 tanggal 20 Desember 2019 oleh Notaris Yunita Aristina, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta Utara.
Tanah seluas 17.370 m2 yang terletak di Kelurahan Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang,
Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Hak kepemilikan berupa Sertifikat Hak Milik Nomor:
116/Bojong Koneng. Penurunan Hak Milik yang sedang dalam proses penurunan hak menjadi
Sertifikat Hak Guna Bangunan.
Perusahaan juga memiliki sebidang tanah berdasarkan Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli
No. 225 tanggal 20 Desember 2019 oleh Notaris Yunita Aristina, S.H., M.Kn, Notaris di Jakarta Utara,
dengan tanah total seluas 13.010 m2 yang terletak di Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Babakan
Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat atas beberapa Sertifikat Hak Milik
Nomor: 315/Karang Tengah seluas 3.270 m2, Nomor: 316/Karang Tengah seluas 3.265 m2,
Nomor: 317/Karang Tengah seluas 3.240 m2, Nomor: 318/Karang Tengah seluas 3.235 m2.
Penurunan Hak Milik menjadi Sertifikat Hak Guna Bangunan sedang dalam proses.
Pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025, Bangunan dan tanah Perusahaan berupa hotel
dengan nilai sebesar Rp48.000.000.000 digunakan sebagai jaminan atas utang bank (Catatan 15).
Pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025, aset tetap tertentu, kecuali tanah, telah
diasuransikan terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya dengan nilai pertanggungan sebesar
Rp 50.972.498.980. Manajemen berkeyakinan bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk
menutup kerugian yang mungkin timbul atas aset tersebut.
Berdasarkan hasil penelaahan manajemen, tidak terdapat kejadian atau perubahan keadaan yang
mengindikasikan adanya penurunan nilai aset tetap pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember
2025.
10. ASET HAK - GUNA
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Tanah 450.000.000 450.000.000
Akumulasi Amortisasi (112.500.000) (105.000.000)
Jumlah 337.500.000 345.000.000
Perusahaan mengadakan perjanjian Sewa-Menyewa dengan Tn. Hartono Tanujaya atas sebidang
tanah dengan Sertifikat Hak Milik No. 481/Babakan Ciamis, seluas 3.020 m2 yang kemudian didirikan
sebuah banguna Hotel dengan nama Hotel Vue Palace, Artotel Curated yang beralamat di Jl. Otto
Iskandardinata No.3 Bandung. Masa sewa ini berlaku selama 30 tahun sejak Hotel mulai
beroperasional dengan harga sewa Rp 450.000.000.
Beban amortisasi sebesar Rp 7.500.000 untuk periode enam bulan 2026 dan 2025 dicatat pada
Beban Pokok Pendapatan (Catatan 20).
11. INVESTASI SAHAM
30 Juni 31 Desember
2026 2026
PT Wahana Makmur Jaya 20.510.000.000 20.510.000.000
Jumlah 20.510.000.000 20.510.000.000
Perusahaan menempatkan investasi saham pada PT Wahana Makmur Jaya, berkedudukan di Jakarta
Utara, dengan persentase kepemilikan sebesar 13,78%. Investasi saham tersebut dicatat dengan
menggunakan metode biaya (cost method). PT Wahana Makmur Jaya adalah Perusahaan yang
bergerak dalam pengembang dan pengelola properti. Berdasarkan akta No. 33 tanggal 25 Juni 2025
- 27 -
Page 31
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
dari Notaris Syarifudin, S.H disetujui peningkatan modal disetor pada PT Wahana Makmur Jaya
senilai Rp 31.982.000.000 atau 31.982 saham. Setoran modal Perusahaan kepada PT Wahana
Makmur Jaya yaitu berupa aset yang terdiri dari pekerjaan interior, peralatan, perlengkapan dan
furniture pendukungnya untuk hotel di Lantai 9, 10 dan 11 Gedung Citi Hub, yang terletak di Jl.
Boulevard Artha Gading Blok D, No, 3, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading,
Jakarta Utara dengan nilai seluruhnya sebesar Rp 20.510.000.000, nilai tersebut berdasarkan
penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Pung’s Zulkarnain dan Rekan dengan laporan
tertanggal 16 Juni 2025 dengan laporan No. 00892/2.0004-01/PI/10/0378/I/VI/2025, sebagaimana
Akta Perjanjian Inbreng No. 32 tertanggal 25 Juni 2025.
12. UTANG LAIN-LAIN – PIHAK KETIGA
30 Juni 31 Desember
2026 2025
PT Artotel Indonesia 1.053.614.362 947.763.073
PD Berkah Putra Lestari 162.546.900 111.466.400
Djitu Groseries 115.261.500 127.601.600
CV. Sidojaya 104.218.200 79.995.500
PT Ganesha Multi Karya 96.302.050 73.581.500
PT Falco Security 96.020.660 99.257.960
PT Primacom Interbuana 63.770.000 -
CV Sun Prima 56.938.339 56.938.339
Smart Linen 56.273.500 -
La Sabu 54.314.330 -
Lain-lain (Dibawah Rp 50.000.000) 912.257.656 933.758.050
Jumlah 2.771.517.497 2.430.362.422
Utang kepada Artotel Group merupakan utang tagihan Manajemen Artotel Group kepada Perusahaan
sehubungan dengan biaya jasa manajemen.
Utang kepada PD Berkah Putra Lestari merupakan utang untuk pembelian bahan baku makanan oleh
Perusahaan.
13. BEBAN AKRUAL
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Service Charge 116.491.641 138.512.172
Biaya Utilitas 105.455.118 114.503.769
Gaji dan Tunjangan 44.976.801 19.530.902
Jasa Profesional 99.100.000 163.500.000
Jumlah 366.023.560 436.046.843
- 28 -
Page 32
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
14. PERPAJAKAN
a. Pajak Dibayar Dimuka
Pada tanggal 31 Desember 2025, akun ini berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan
nilai sebesar Rp 14.538.439.
b. Utang Pajak
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Pajak Penghasilan
Pasal 21 2.398.228 -
Pasal 23 5.223.685 18.308.723
Pasal 25
Pajak Hotel dan Restoran 134.692.154 149.048.251
Pajak Bumi dan Bangunan 54.513.900 -
Jumlah 196.827.967 167.356.974
c. Pajak Penghasilan Badan
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Rugi Sebelum Pajak
Penghasilan (1.241.674.462) (4.163.452.392)
Beda Temporer:
Jumlah Beda Temporer - -
Beda Permanen:
Beban yang Tidak Dapat
Dikurangkan Secara Pajak `
Penghasilan yang telah
Dikenakan Pajak Final:
Bunga Jasa Giro 202.993 1.152.899
Jumlah Beda Permanen 202.993 1.152.899
Rugi Fiskal (1.241.471.469) (4.162.299.493)
Akumulasi Rugi Fiskal
2024 (636.101.489) (636.101.489
2023 (922.672.382) (922.672.382)
2022 (1.962.905.623) (1.962.905.623)
2021 (673.214.171) (673.214.171)
Total Akumulasi Rugi Fiskal (5.436.365.134) (8.357.193.158)
- 29 -
Page 33
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
15. UTANG BANK
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Bank KEB Hana Indonesia 22.192.851.685 22.408.033.629
Jumlah 22.192.851.685 22.408.033.629
Bank KEB Hana Indonesia
Berdasarkan Akta Perjanjian Kredit dan Pengakuan utang Nomor 17 tanggal 8 Maret 2013 yang
dibuat dihadapan Hariyanti Poerbiantari, S.H, Notaris di Jakarta Utara, Perusahaan memperoleh
Kredit Investasi dari Bank KEB Hana Indonesia. Perjanjian ini mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir berdasarkan Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK) Perpanjangan Fasilitas
Pembiayaan antara Perusahaan dengan PT Bank KEB Hana Indonesia No.31/MK/2026/KRED
tanggal 21 April 2026 sebagai berikut:
1. Alokasi sebagian plafond kredit dan perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit yang disetujui:
Jenis Kredit : Fixed Loan (FL) – Investasi - Uncommitted
Tujuan Kredit : Investasi dan alokasi sebagian ke fasilitas kredit WCI –
Uncommitted
Plafond Kredit Semula : Rp 22.277.000.000
Penurunan Plafond (alokasi) : Rp 1.100.000.000
Plafond Kredit Akhir : Rp 21.177.000.000
Jangka Waktu : 25 April 2026 s/d 25 Oktober 2026.
Suku Bunga : 10 % p.a (sepuluh persen per annum), efektif, mengambang
(floating).
Suku Bunga Dasar Kredit : 8,5% p.a (tujuh koma lima persen per annum), efektif.
Provisi : 0,25% p.a (nol koma dua lima persen per annum), dari
Plafon Kredit, dibayar dimuka secara proporsional
Biaya Administrasi : Rp2.500.000,- (Lima Juta Rupiah), dibayar dimuka.
Biaya Custody : Rp 250.000,- (Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
Pembayaran Kewajiban : Kewajiban Perusahaan per bulannya hanya bunga yang
dibayarkan pada tanggal 25 (dua puluh lima) setiap bulannya.
Seluruh pokok pinjaman akan dibayarkan oleh Perusahaan
sekaligus:
- pada akhir jangka waktu fasilitas kredit (dalam hal fasilitas
tersebut tidak memiliki tenor atau jangka waktu per
pencairan); atau
- pada akhir jangka waktu per pencairan fasilitas kredit (dalam
hal fasilitas tersebut memiliki tenor atau jangka waktu per
pencairan)
2. Fasilitas Kredit Baru yang Disetujui
Jenis Kredit : Working Capital Installment (WCI) - Uncommitted
Tujuan Kredit : Alokasi Sebagian plafond dari fasilitas kredit FL, Uncommited
Plafond Kredit : Rp 1.100.000.000
Plafond Kredit Akhir : Rp 21.177.000.000
Jangka Waktu : 25 April 2026 s/d 25 Oktober 2026.
Suku Bunga : 10 % p.a (sepuluh persen per annum), efektif, mengambang
Suku Bunga Dasar Kredit : 8,5 % p.a (sepuluh persen per annum), efektif
Provisi : Rp 2.750.000
- 30 -
Page 34
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Seluruh fasilitas pinjaman tersebut dijamin dengan Jaminan Berjalan 1 (satu) unit Tanah dan
Bangunan berupa Hotel, yang terletak di Jl. Otto Iskandardinata No. 3, Kelurahan Babakan Ciamis
Kecamatan Sumur Bandung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sesuai dengan SHM
No.481/Babakan-Ciamis terdaftar atas nama Tn. Antonyo Hartono Tanujaya, Ny. Nanirich
Tanujaya, Ny. Allentina Tanujaya, Angela Tanujaya, Amelina Tanjaya.
3. Perjanjian pinjaman ini juga mencakup persyaratan tertentu untuk melakukan hal-hal berikut:
• Wajib memberikan laporan secara tertulis apabila memperoleh fasilitas kredit / pinjaman dari
pihak lain atau kreditur lain kepada Bank.
• Memberi kuasa kepada Bank untuk mendebet secara otomatis rekening giro atau tabungan
atas nama Perusahaan untuk pembayaran angsuran Perusahaan untuk pembayaran
angsuran pada tanggal yang telah ditentukan setiap bulannya dan biaya-biaya lain yang
berhubungan dengan fasilitas kredit sebagaimana tercantum dalam SPPK ini.
• Wajib menerima petugas Bank yang melaksanakan kunjungan untuk penilaian aktivitas
usaha.
• Wajib menyalurkan aktivitas keuangan usaha melalui rekening di Bank.
• Wajib menggunakan fasilitas kredit sesuai dengan tujuan penggunaan kredit.
• Wajib menjaga saldo rekening koran / tabungan pada Bank untuk pembebanan bunga/
angsuran minimum sejumlah 1 (satu) bulan.
• Wajib memberitahukan kepada Bank apabila melakukan perubahan Anggaran Dasar.
• Tidak melakukan penurunan modal dan perubahan pemegang saham mayoritas tanpa
persetujuan terlebih dahulu dari Bank.
16. LIABILITAS IMBALAN PASCAKERJA
Perusahaan menghitung dan membukukan imbalan pascakerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai
dengan Undang-Undang Cipta Kerja No. 11/2020. Jumlah karyawan yang berhak atas imbalan
pascakerja tersebut adalah 6 orang pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025.
Risiko Tingkat Bunga
Penurunan suku bunga obligasi akan meningkatkan liabilitas program.
Risiko Harapan Hidup
Nilai kini kewajiban imbalan pasti dihitung dengan mengacu pada estimasi terbaik dari mortalitas
peserta program baik selama dan setelah kontrak kerja. Peningkatan harapan hidup peserta program
akan meningkatkan liabilitas program.
Risiko Gaji
Nilai kini kewajiban imbalan pasti dihitung dengan mengacu pada gaji masa depan peserta program.
Dengan demikian, kenaikan gaji peserta program akan meningkatkan liabilitas program. Beban
imbalan pascakerja yang diakui di laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain adalah sebagai
berikut:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Biaya Jasa:
Biaya Jasa Kini - 34.564.186
Biaya Bunga - 8.765.220
Komponen dari biaya imbalan pasti yang diakui dalam
laba rugi - 43.329.406
Komponen beban imbalan pasti yang diakui dalam
penghasilan komprehensif lain - 73.375.460
Jumlah - 116.704.866
- 31 -
Page 35
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Beban Imbalan Pascakerja dicatat sebagai bagian dari beban umum dan administrasi. Perusahaan
melakukan estimasi perhitungan imbalan pascakerja setiap akhir tahun.
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Saldo Awal 362.486.866 245.782.000
Biaya Jasa Kini - 34.564.186
Biaya Bunga - 8.765.220
penghasilan komprehensif lain - 73.375.460
Kewajiban Imbalan Pasti – Akhir 362.486.866 362.486.866
Perhitungan imbalan pascakerja dihitung oleh aktuaris independen Kantor Konsultan Aktuaria Budi
Ramdani untuk tanggal 31 Desember 2025 dengan nomor laporan 1258/PSAK/KKA-BR/II/2026
tanggal laporan 23 Februari 2026. Asumsi utama yang digunakan dalam menentukan penilaian
aktuarial adalah sebagai berikut:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Tingkat diskonto per tahun - 6,62%
Tingkat kenaikan gaji per tahun - 8,00%
Tingkat pensiun normal - 55 tahun
Tabel Amortisasi - TMI-2019
- (Average)
Asumsi aktuarial yang signifikan untuk penentuan kewajiban imbalan pasti adalah tingkat diskonto,
kenaikan gaji yang diharapkan dan mortalitas. Sensitivitas analisis di bawah ini ditentukan
berdasarkan masing-masing perubahan asumsi yang mungkin terjadi pada akhir periode pelaporan,
dengan semua asumsi lain konstan. Perubahan sebesar satu persen pada tingkat diskonto akan
berdampak pada nilai kini liabilitas imbalan kerja dan biaya jasa kini:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Kenaikan 1%:
Nilai kini - 340.696.401
Biaya jasa kini - 63.234.412
Penurunan 1%:
Nilai kini - 387.251.409
Biaya jasa kini - 76.109.031
Perubahan sebesar satu persen pada tingkat kenaikan gaji akan berdampak pada nilai kini liabilitas
imbalan kerja dan biaya jasa kini:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Kenaikan 1%:
Nilai kini - 384.764.303
Biaya jasa kini - 75.561.466
Penurunan 1%:
Nilai kini - 342.502.593
Biaya jasa kini - 63.578.573
Analisis sensitivitas yang disajikan di atas mungkin tidak mewakili perubahan yang sebenarnya dalam
kewajiban imbalan pasti mengingat bahwa perubahan asumsi terjadinya tidak terisolasi satu sama lain
karena beberapa asumsi tersebut mungkin berkorelasi.
- 32 -
Page 36
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Selanjutnya, dalam menyajikan analisis sensitivitas di atas, nilai kini kewajiban imbalan pasti dihitung
dengan menggunakan metode projected unit credit pada akhir periode pelaporan, yang sama dengan
yang diterapkan dalam menghitung liabilitas manfaat pasti yang diakui dalam laporan posisi keuangan.
Tidak ada perubahan dalam metode dan asumsi yang digunakan dalam penyusunan analisis
sensitivitas dari tahun sebelumnya.
17. MODAL SAHAM
Pemegang saham Perusahaan, jumlah saham yang ditempatkan dan disetor dan saldo yang
terkait pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Jumlah Persentase Jumlah Modal
Nama Pemegang Saham Saham Pemilikan (%) Disetor
PT Wahana Tata Bangun 599.462.500 66,85% 47.957.000.000
Tn. Antonyo Hartono Tanujaya 25.537.500 2,85% 2.043.000.000
Masyarakat (Masing-masing
dibawah 5%) 271.709.596 30,30% 21.736.767.680
Jumlah 896.709.596 100% 71.736.767.680
Informasi mengenai susunan pemegang saham dan kepemilikan saham Perusahaan per 30 Juni 2026
adalah berdasarkan laporan dari PT Adimitra Jasa Korpora, Biro Administrasi Efek Perusahaan.
Modal ditempatkan dan disetor penuh adalah saham biasa yang memberikan hak satu suara per
saham dan berpartisipasi dalam dividen.
18. TAMBAHAN MODAL DISETOR-BERSIH
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Tambahan modal disetor dari Initial
Public Offering (IPO) Penawaran
Perdana Saham Sebesar 271.709.596 saham
dengan nilai nominal Rp 80 yang ditawarkan Rp 130 8.571.417.600 8.571.417.600
Pelaksanaan Waran 319.000 319.000
Dikurangi dengan biaya emisi saham (1.859.997.619) (1.859.997.619)
Jumlah 6.711.738.981 6.711.738.981
19. PENDAPATAN USAHA
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Hotel 5.357.221.479 6.479.821.360
Jumlah 5.357.221.479 6.479.821.360
Pendapatan usaha perusahaan merupakan pendapatan atas sewa kamar hotel, penjualan makanan,
minuman dan lain-lain.
- 33 -
Page 37
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
20. BEBAN POKOK PENDAPATAN
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Gaji dan Tunjangan 1.946.128.523 1.779.911.685
Penyusutan Bangunan (Catatan 9) 831.604.578 831.604.578
Listrik dan Air 614.832.281 581.993.552
Makanan dan Minuman 490.663.413 551.338.716
Biaya Layanan Manajemen 379.039.444 382.663.936
Keamanan dan Kebersihan 277.583.226 119.030.750
Perlengkapan Hotel 198.047.336 134.193.480
Telepon dan Internet 133.510.541 144.939.630
Amortisasi Aset Hak-Guna (Catatan 10) 7.500.000 7.500.000
Lain-lain 24.770.247 354.337.244
Jumlah 4.903.679.589 4.887.513.571
21. BEBAN UMUM DAN ADMINISTRASI
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Perbaikan dan Pemeliharaan 150.271.900 124.199.601
Penyusutan (Catatan 9) 132.827.533 115.032.380
Pemasaran 70.994.916 134.262.234
Jasa Profesional 71.635.000 165.283.966
Biaya Asuransi 51.551.012 31.238.747
Transportasi dan Perjalanan 30.917.725 11.164.069
Lain-lain 182.173.809 511.791.404
Jumlah 690.371.895 1.092.972.401
22. PENDAPATAN LAIN-LAIN-BERSIH
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Pendapatan Jasa Giro 202.993 1.152.899
Pendapatan Lain-lain 167.108.580 31.881.388
Provisi dan Administrasi Bank (36.384.748) (4.803.169)
Kerugian atas Pelepasan Aset Tetap (Catatan 9) - (3.489.969.280)
Jumlah 130.926.825 (3.461.738.162)
23. BEBAN BUNGA DAN KEUANGAN
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Bunga Pinjaman Bank (1.135.771.281) (1.201.049.618)
Jumlah (1.135.771.281) (1.201.049.618)
- 34 -
Page 38
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
24. LABA (RUGI) PER SAHAM DASAR
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Rugi untuk Perhitungan
Rugi Per Saham (1.241.674.462) (4.163.452.392)
Jumlah Saham Lembar
Jumlah rata-rata
Tertimbang saham untuk Perhitungan Laba
Bersih Per Saham 896.709.596 896.709.596
Laba (Rugi) per saham Dasar (Rupiah Penuh) (1,38) (4,64)
Pada setiap tanggal pelaporan, tidak ada efek berpotensi saham yang dapat menimbulkan pengaruh
dilusi pada laba (rugi) bersih per saham Perseroan.
25. SIFAT DAN TRANSAKSI PIHAK BERELASI
Perusahaan melakukan transaksi usaha kepada pihak-pihak berelasi dimana menurut manajemen
dilakukan dengan persyaratan dan kondisi normal sebagaimana hal nya bila dilakukan dengan pihak
ketiga.
Saldo dari transaksi dengan pihak-pihak berelasi adalah sebagai berikut:
30 Juni 31 Desember
2026 2025
Piutang Lain-lain
Tn. Antonyo Hartono Tanujaya (Catatan 6) 163.547.274 543.621.248
Jumlah 163.547.274 543.621.248
Perusahaan menyediakan remunerasi kepada Dewan Direksi masing-masing untuk periode
enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 dan 2025 adalah sebagai berikut:
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Dewan Direksi 120.000.000 120.000.000
Jumlah 120.000.000 120.000.000
Sifat transaksi dan hubungan dengan pihak berelasi adalah sebagai berikut:
Pihak-pihak Berelasi Sifat Pihak Berelasi Sifat Transaksi
Tn. Antonyo Hartono Tanujaya Pemegang Saham Piutang Lain-lain
- 35 -
Page 39
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
26. IKATAN
• Berdasarkan Surat Perjanjian Pengelolaan antara Perusahaan dengan PT Artotel Indonesia
No.150/SU-MA/DIR/X/2021 tanggal 14 Oktober 2021, bahwa Perusahaan dan PT Artotel Indonesia
telah melakukan perjanjian kerjasama pengelolaan dengan PT Artotel Indonesia dengan jangka
waktu selama 10 tahun dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Selama Jangka Waktu Perjanjian, Hotel akan menggunakan Merek “VUE PALACE, ARTOTEL
CURATED”.
2. Pemilik wajib melakukan perancangan, kontruksi, furnishing dan melengkapi di atas lahan,
sebuah Hotel yang sesuai dengan brand Standart ARTOTEL dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Memiliki sedikitnya 102 (seratus dua) kamar;
b. Adanya ruang pertemuan;
c. Lobby;
d. Back-of-house facility; dan
e. Fasilitas lain yang terkait.
3. Pemilik harus membayar tiap bulan kepada operator atas jasa yang telah diberikan
berdasarkan Perjanjian ini termasuk seluruh imbalan jasa intensif selama masa perjanjian
berlaku. Jumlah pembayaran Imbalan Kerja Manajemen sebesar 2% (Dua Persen) dihitung
dari Gross Operating Revenue (GOR) dan Perusahaan harus membayar Imbalan Jasa
Intensif sebesar 5% (lima persen) dihitung dari Gross Operating Profit (GOP). Pembayaran
Imbalan Jasa insentif dan Imbalan Jasa Manajemen dilakukan setiap bulan.
Perjanjian ini efektif sejak 1 Januari 2022, dan akan mulai mengakui pendapatan bersama pada
periode buku 2022.
• Pada tanggal 25 April 2022, Perusahaan mengadakan perjanjian Kerja Sama tempat ruang usaha
dengan PT Rumah Karya Entertaiment selaku Pengelola Conclave Bar dengan jangka waktu 10
tahun terhitung sejak tanggal ditandatanganinya dan dapat diperpanjang selama 5 tahun sebagai
hak prioritas sesuai kesepakatan tertulis. Perusahaan berhak mendapatkan service tata kelola
yang layak serta berasaskan ketertiban dan keamanan di dalam maupun luar Hotel Bar.
Keuntungan didapat sebesar 2,5% dari omset apabila total Omset per bulan di bawah Rp 1,7 Miliar
dan 3% dari omset apabila total Omset per bulan di atas Rp 1,7 Miliar.
• Pada tanggal 23 September 2011, Perusahaan mengadakan perjanjian Sewa-Menyewa dengan
Tn. Hartono Tanujaya atas sebidang tanah Sertifikat Hak Milik No. 481/Babakan Ciamis, seluas
3.020 m2 yang terletak di Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Bandung,
Jawa Barat. Masa sewa ini berlaku selama 30 tahun sejak Hotel mulai beroperasional dengan
harga sewa Rp 450.000.000. Perjanjian ini memiliki opsi perpanjangan masa sewa. Sampai
dengan saat ini, Perusahaan menggunakan tanah ini sebagai lokasi Hotel Vue Palace milik
Perusahaan. Hotel mulai beroperasional secara komersil tahun 2019. Beban sewa tanah sebesar
Rp 7.500.000 untuk periode enam bulan dicatat pada Beban Pokok Pendapatan (Catatan 20).
• Berdasarkan Surat Perjanjian Kerjasama Investasi Perusahaan dengan PT Wahana Makmur Jaya
(WMJ) No: 001/WMJ-PPJ/V/2020 tanggal 14 Mei 2020, bahwa Perusahaan dan WMJ telah
membuat dan menyetujui perjanjian kerjasama investasi dalam kegiatan pembangunan
infrastruktur dan interior hotel serta penyediaan modal kerja hotel oleh pihak Perusahaan di
gedung CITI HUB milik WMJ. Obyek dalam perjanjian ini adalah area di lantai 9, 10 dan 11
gedung CITI HUB seluas +/- 3.105 m2 yang terletak di Jl. Sentra Bisnis Artha Gading Blok D kav
No. 3 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Perusahaan dapat melakukan pembangunan
infrastruktur dan interior hotel dengan memperhatikan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perjanjian ini berlaku efektif sampai dengan 10
- 36 -
Page 40
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
tahun berikut seluruh perubahan-perubahan dan perpanjangan-perpanjangan serta
pembaharuannya, dan akan diperpanjang secara otomatis berdasarkan kesepakatan Perusahaan
dan WMJ, kecuali disepakati lain oleh Para pihak secara tertulis.
• Berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) No. 005/SPK/PPJ/VIII/2020 tanggal 2 Agustus 2020
antara Perusahaan dengan PT Wahana Sugiharto Makmur, dengan ini Perusahaan telah
memberikan perintah kerja untuk melakukan pekerjaan pembangunan hotel 3 (tiga) lantai di CITI
HUB kelapa gading yang berlokasi di Jl. Sentra Bisnis Artha Gading Blok D kav No. 3 Kelapa
Gading Barat, Jakarta Utara dengan nilai kontrak sebesar Rp 23.999.969.280.
27. PENGUNGKAPAN TAMBAHAN ATAS AKTIVITAS INVESTASI NON-KAS
2026 2025
(Enam Bulan) (Enam Bulan)
Penambahan Investasi Saham melalui Inbreng
Aset Tetap - 20.510.000.000
Jumlah - 20.510.000.000
28. INSTRUMEN KEUANGAN
Kecuali untuk utang bank dan utang pemegang saham, manajemen menganggap bahwa jumlah
tercatat aset keuangan dan liabilitas keuangan yang diakui di dalam laporan posisi keuangan
mendekati nilai wajarnya dikarenakan jangka waktu yang singkat atas instrumen keuangan tersebut
dan beberapa instrumen keuangan tertentu ditentukan dengan menggunakan harga pasar yang
dikutip dalam pasar aktif pada tanggal pelaporan.
Perbandingan antara jumlah tercatat dan nilai wajar dari utang bank dan utang pemegang saham
yang dimiliki oleh Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 adalah sebagai
berikut:
30 Juni 2026 31 Desember 2025
Jumlah Jumlah
Tercatat Nilai Wajar Tercatat Nilai Wajar
Liabilitas Keuangan
Utang Bank 22.192.851.685 22.192.851.685 22.408.033.629 22.408.033.629
29. INSTRUMEN KEUANGAN, MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN DAN RISIKO MODAL
a. Manajemen Risiko Modal
Perusahaan mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk
melanjutkan keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang saham
melalui optimalisasi saldo utang dan ekuitas.
Struktur modal Perusahaan terdiri dari kas dan bank dan ekuitas yang terdiri dari modal
ditempatkan dan disetor. Direksi Perusahaan secara berkala akan melakukan reviu struktur
permodalan Perusahaan. Sebagai bagian dari reviu ini, Direksi akan mempertimbangkan biaya
permodalan dan risiko yang berhubungan.
- 37 -
Page 41
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
Tujuan dan Kebijakan Manajemen Risiko Keuangan
Tujuan dan kebijakan manajemen risiko keuangan Perusahaan adalah untuk memastikan bahwa
sumber daya keuangan yang memadai tersedia untuk operasi dan pengembangan bisnis, serta
untuk mengelola risiko kredit Perusahaan beroperasi dengan pedoman yang telah ditentukan oleh
Dewan Direksi.
b. Manajemen Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas (risiko pendanaan) adalah risiko dimana Perusahaan akan mengalami kesulitan
dalam memperoleh dana guna memenuhi komitmennya atas instrumen keuangan.
Pengelolaan terhadap risiko likuiditas dilakukan dengan cara menjaga profil jatuh tempo antara
aset dan liabilitas keuangan, penerimaan tagihan yang tepat waktu, manajemen kas yang
mencakup proyeksi dan realisasi arus kas hingga beberapa tahun ke depan serta memastikan
ketersediaan pendanaan melalui komitmen fasilitas kredit. Tabel di bawah merangkum profil jatuh
tempo liabilitas keuangan Perusahaan berdasarkan pembayaran kontraktual yang tidak
didiskontokan pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025.
30 Juni 2026
Kurang dari Lebih dari
1 Tahun 1 Tahun Jumlah
Tanpa Bunga
Beban akrual 366.023.560 - 366.023.560
Utang lain-lain -
Pihak ketiga 2.771.517.497 - 2.771.517.497
Dengan bunga
Utang bank 22.192.851.685 - 22.192.851.685
Jumlah 25.330.392.742 25.330.392.742
31 Desember 2025
Kurang dari Lebih dari
1 Tahun 1 Tahun Jumlah
Tanpa bunga
Beban akrual 436.046.843 - 436.046.843
Utang lain-lain kepada
Pihak ketiga 2.430.362.422 - 2.430.362.422
Dengan bunga
Utang bank 22.408.033.629 - 22.408.033.629
Jumlah 25.274.442.894 - 25.274.442.894
c. Nilai Wajar Instrumen Keuangan
Direksi menganggap bahwa nilai tercatat aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui dalam
laporan keuangan mendekati nilai wajarnya karena jatuh tempo dalam jangka pendek atau
menggunakan tingkat bunga pasar.
- 38 -
Page 42
PT PLANET PROPERINDO JAYA Tbk
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN INTERIM (Lanjutan)
Tanggal 30 Juni 2026
Dan Untuk Periode Enam Bulan yang Berakhir 30 Juni 2026 (Tidak Diaudit)
(Disajikan dalam Rupiah Penuh, kecuali Dinyatakan Lain)
30. KELANGSUNGAN USAHA
Liabilitas Jangka Pendek Melebihi Aset Lancar
Jumlah liabilitas jangka pendek melebihi aset lancar pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember
2025.
Dalam menghadapi kondisi ini, manajemen Perusahaan telah mengambil kebijakan dan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Melakukan restrukturisasi utang bank kepada PT Bank KEB Hana Indonesia (Catatan 15). Pihak
Bank telah menyetujui perpanjangan jatuh tempo dari yang semula tanggal 25 April 2026,
diperpanjang 6 bulan menjadi tanggal 25 Oktober 2026.
2. Melakukan efisiensi beban operasional hotel dengan cara mengelola sendiri hotel Vue Palace milik
Perusahaan.
Manajemen berkeyakinan bahwa kebijakan dan langkah-langkah yang telah diambil Perusahaan saat
ini dan yang akan dikerjakan di masa mendatang dapat memperkuat Perusahaan dalam melanjutkan
operasinya sebagai entitas yang berkemampuan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
- 39 -
Names mentioned 34 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
person
Lili Sugianto
· Notaris
p.9
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.9 ×2
unresolved
person
Rahayu Ningsih
p.9
unresolved
org
PT Sosial Integrasi Internasional
p.9
unresolved
person
Antonyo Hartono Tanujaya
p.9 ×13
unresolved
—
Emilia Marlina Kiuk
· Direktur
p.9
unresolved
org
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
p.10
unresolved
org
Bapepam-LK
p.10 ×2
unresolved
org
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat
p.27
unresolved
org
Banten Tbk
p.27
unresolved
org
PT Rumah Karya Entertaiment
p.27 ×3
unresolved
org
PT Wahana Makmur Jaya
p.29 ×8
unresolved
org
Pung’s Zulkarnain dan Rekan
p.29 ×2
unresolved
org
PT Wahana Sugiharto Makmur
p.29 ×2
unresolved
person
Yunita Aristina
· Notaris
p.30 ×3
unresolved
org
PT Artotel Indonesia
p.31 ×4
unresolved
org
PT Ganesha Multi Karya
p.31
unresolved
org
PT Falco Security
p.31
unresolved
org
PT Primacom Interbuana
p.31
unresolved
org
Bank KEB Hana Indonesia Berdasarkan Akta Perjanjian Kredit
p.33
unresolved
person
Hariyanti Poerbiantari
· Notaris
p.33
unresolved
org
Bank KEB Hana Indonesia. Perjanjian
p.33
unresolved
person
Nanirich Tanujaya
p.34
unresolved
person
Allentina Tanujaya
p.34
unresolved
org
PT Adimitra Jasa Korpora
p.36
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.