Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 3
Page 1
Rangkuman Tanya Jawab Public Expose
PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO)
Senin, 3 November 2025
1. Pertanyaan: Sudah sampai tahap mana diskusi dengan Pemerintah? Apakah
untuk produksi baru? (Etta Rusdiana)
Jawaban:
Mayoritas proyek PGE berada di Pulau Sumatera dan Jawa, sehingga siap berkontribusi
dalam mendukung transisi dan ketahanan energi nasional. Selain itu, proyek-proyek
pengembangan PGE juga akan berdampak untuk mendorong pertumbuhan GDP
Indonesia. Secara geografis, wilayah kerja PGE di Pulau Sumatera memiliki kedekatan
jarak dengan Singapura, sehingga berpotensi untuk melakukan ekspor listrik apabila
jaringan pipeline telah tersedia. Dengan demikian, pesan utama yang dapat kami
sampaikan adalah bahwa saat ini PGE fokus untuk memenuhi kebutuhan dan ketahanan
energi nasional. Namun demikian, PGE juga terus memantau peluang ekspor listrik ke
negara-negara ASEAN agar dapat lebih awal memanfaatkan potensi pasar regional.
Sebagai penegasan, fokus utama PGE saat ini adalah pemenuhan kebutuhan listrik
domestik untuk mendukung ketahanan energi nasional. Namun, apabila jaringan dan
regulasi telah memungkinkan, PGE siap melaksanakan ekspor listrik dengan strategi yang
optimal bagi Perseroan.
2. Pertanyaan: Seberapa besar kebutuhan listrik per kilogram di plant Ulubelu?
Apakah sudah ada informasi harga pasar untuk hidrogen? (Etta Rusdiana)
Jawaban:
Terkait proyek pilot hidrogen yang sedang dilaksanakan di PGE, berdasarkan efisiensi
teknologi electrolyzer yang kami gunakan dalam Proyek Green Hydrogen, dibutuhkan
sekitar 50 kWh listrik untuk menghasilkan 1 kg hidrogen. Saat ini, belum terdapat data
harga pasar yang terpublikasi untuk Green Hydrogen, baik secara resmi maupun informal.
Sebagai pembanding, harga Grey Hydrogen atau Clean Hydrogen berada di kisaran
Rp1,1 juta per kg, termasuk biaya transportasi.
Perlu kami tegaskan bahwa proyek pilot Green Hydrogen ini tidak ditujukan untuk
komersialisasi, melainkan untuk menguji efisiensi teknologi yang digunakan dan
menentukan estimasi biaya produksi per kilogram Green Hydrogen agar Perseroan dapat
menghitung kelayakan komersialnya serta menyesuaikan dengan ekspektasi offtaker
dalam ekosistem hidrogen yang sedang dibangun.
3. Pertanyaan: Bagaimana proses penghitungan jumlah carbon credit berdasarkan
kapasitas pembangkit yang ada? (Etta Rusdiana)
Jawaban:
Carbon credit menjadi salah satu potensi sumber pendapatan Perseroan selain dari bisnis
utama, yaitu penjualan listrik dan uap kepada PLN. Perhitungan carbon credit dilakukan
Page 2
dengan membandingkan emisi pembangkitan energi fosil terhadap pembangkitan energi bersih (renewable energy), dalam hal ini panas bumi. Semakin besar kapasitas energi bersih yang terpasang, semakin besar pula pengurangan emisi yang dihasilkan. Secara umum, setiap 1 ton CO₂ yang dihasilkan dari pembangkitan energi fosil akan menjadi ekuivalen dengan emisi yang berhasil dihindari oleh pembangkitan energi baru terbarukan. Proses perhitungan dan validasi carbon credit dilakukan bersama lembaga independen yang berwenang untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas data. 4. Pertanyaan: Apakah akan ada maintenance di bulan November dan Desember 2025? Bagaimana rencana tahun 2026 untuk dua area ini, termasuk jadwal dan estimasi durasinya? (Arandi) Jawaban: Pada akhir Triwulan IV tahun 2025, seluruh kegiatan maintenance untuk area Lahendong dan Kamojang telah diselesaikan. Dengan demikian, tidak terdapat rencana kegiatan maintenance di kedua area tersebut selama November–Desember 2025. Untuk tahun 2026, kegiatan maintenance dijadwalkan pada Unit 5 dan Unit 6 Lahendong sekitar Triwulan II–III. Selain itu, Perseroan juga merencanakan major inspection di salah satu area lain di luar Lahendong dan Kamojang. Namun, khusus untuk Lahendong dan Kamojang, tidak ada kegiatan maintenance tambahan pada akhir tahun ini. 5. Pertanyaan: Setelah melakukan hedging terhadap pinjaman dalam mata uang Yen, bagaimana prognosa bottom line tahun 2025? (David) Jawaban: Perseroan telah melakukan hedging terhadap eksposur mata uang asing yang sebelumnya menimbulkan potensi forex loss. Eksposur utama berasal dari penguatan mata uang Japanese Yen terhadap USD, dengan nilai ekuivalen sekitar USD 130–140 juta. PGE menerapkan strategi partial hedge sebesar 50% dari total eksposur untuk mengantisipasi potensi penguatan Yen sekaligus menjaga fleksibilitas apabila Yen melemah. Tujuannya adalah agar unrealized forex loss tidak melebihi USD 10 juta. Hingga akhir Oktober 2025, nilai tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar USD 8–9 juta. 6. Pertanyaan: Bagaimana guidance target produksi Perseroan pada akhir tahun 2025 dan 2026? (Devi) Jawaban: Untuk tahun 2025, Outlook produksi diproyeksikan mencapai 4.978 GWh, dengan beroperasinya Lumut Balai Unit 2. Potensi pendapatan Perseroan diperkirakan berada di kisaran USD 424–426 juta, dengan EBITDA margin sekitar 78–80% dan net profit margin di kisaran 33–35%. Sementara itu, untuk tahun 2026, kinerja Perseroan diperkirakan akan mengalami stabilisasi dan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Produksi diproyeksikan naik sekitar 2,5% menjadi 5.103 GWh, dengan potensi pendapatan sekitar USD 450 juta (gabungan produksi own operation dan JOC). Perseroan akan menjaga EBITDA margin tetap di kisaran 78–80% dan net profit margin pada 33–35%.
Page 3
7. Pertanyaan: Kapan dan berapa lama pekerjaan pemeliharaan terjadwal Perseroan terhadap tiap-tiap pembangkit? (Devi) Jawaban: Seperti yang telah disampaikan oleh Direktur Keuangan, Bapak Yurizki Rio, proyeksi kenaikan produksi Perseroan tahun depan diperkirakan sebesar 2,5%. Dengan demikian, capacity factor PGE juga akan meningkat dari 84,2% (2025) menjadi sekitar 84,4% (2026). Meskipun peningkatannya tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa kinerja Perseroan tetap tumbuh secara konsisten setiap tahunnya. 8. Pertanyaan: Bagaimana prospek renewable energy di Indonesia, khususnya bagi PGEO, dengan dukungan Danantara ke depan? (Melki Maulana) Jawaban: Kehadiran Danantara sebagai holding BUMN di bidang energi baru terbarukan diharapkan dapat mendorong PGE untuk semakin optimis dalam memperkuat sinergi dengan PLN sebagai single offtaker. Sinergi ini akan mempercepat akselerasi pengembangan energi panas bumi di dalam negeri serta membuka peluang ekspansi ke luar negeri. Dengan dukungan Danantara, PGE dapat lebih optimal dalam berkontribusi terhadap pengembangan sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Names mentioned 2 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.