Back to announcement
20251106_SBMA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31983287_lamp3.pdf
Asset transaction Needs review SBMASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 103
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK
No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025
Tanggal: 4 November 2025
Atas Revisi
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
Tanggal: 30 September 2025
Page 2
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK
No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025
Tanggal: 4 November 2025
Atas Revisi
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
Tanggal: 30 September 2025
Page 3
No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025 Bekasi, 4 November 2025
SURAT PENGANTAR
Kepada:
Direksi PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir,
Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan,
Provinsi Kalimantan Timur
Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha untuk KBLI 23953, KBLI
46633, KBLI 38220, KBLI 23929, KBLI 2392, KBLI 49432, serta KBLI 46100
Dengan hormat,
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21
April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025,
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), yang
bergerak di bidang industri perdagangan ritel barang primer, telah menunjuk KJPP Syarif,
Endang, dan Rekan, sebagai Penilai Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan
Usaha untuk Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah
Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan
Genteng);
5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6. KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
Laporan ini merupakan revisi atas Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
sebelumnya yaitu Laporan No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025, tanggal 30
September 2025. Kami menyatakan bahwa membatalkan laporan sebelumnya. Hal-hal yang
menjadi objek revisi adalah sebagai berikut:
• Penambahan pengungkapan latar belakang penambahan kegiatan usaha;
• Revisi atas pengungkapan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, dan Anggaran Dasar yang
dimintakan RUPSLB;
• Pengungkapan identifikasi objek penilaian;
• Penambahan pengungkapan prosedur yang digunakan;
• Pengungkapan Informasi profil Perseroan menggunakan data terbaru dan yang benar;
i
Page 4
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Penambahan pengungkapan Laporan Keuangan per 30 Juni 2024 pada kinerja laba (rugi)
dan rasio keuangan;
• Revisi atas pengungkapan sumber Laporan Keuangan per 30 Juni 2025;
• Revisi atas pengungkapan pasar yang dituju;
• Penambahan pengungkapan bagan alur proses bisnis dan nilai tambah pada sub bab
2.7;
• Penambahan pengungkapan terkait tidak diperlukannya tenaga ahli pada sub bab 2.10;
• Revisi atas pengungkapan persyaratan modal dan strategi finansial pada sub bab 2.15;
• Update pada kondisi pasar menggunakan data per triwulan II 2025;
• Revisi pada tabel jumlah penduduk provinsi Kalimantan Timur;
• Penambahan pengungkapan kesinambungan;
• Revisi pengungkapan sasaran pasar;
• Penambahan pengungkapan dasar perhitungan nilai atas proyeksi pendapatan;
• Revisi pengungkapan kapasitas dan kemampuan manajemen;
• Penambahan pengungkapan atas struktur organisasi atas penambahan kegiatan usaha;
• Revisi kertas kerja serta kelayakan keuangan atas adanya perubahan biaya investasi;
• Revisi kesalahan penulisan pada tahun proyeksi modal kerja;
• Penambahan pengungkapan rincian transakasi peningkatan atas biaya operasional;
• Penambahan pengungkapan kebutuhan bahan secara kuantitas adanya inflasi biaya
bahan baku;
• Penambahan pengungkapan atas dasar penentuan asumsi proyeksi keuangan;
• Penambahan pengungkapan proyeksi posisi keuangan;
• Revisi kesalahan penulisan pada tabel rasio proyeksi keuangan; dan
• Penambahan pengungkapan pada kesimpulan.
TANGGAL PENILAIAN
Tanggal Penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.
IDENTITAS PEMBERI TUGAS
Nama Perusahaan : SBMA
Bidang Usaha : Perdagangan besar bahan kimia gas
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Telepon : +62 542 743555
Website : https://www.suryabirumurni.co.id/
Email : corsec@suryabiru.co.id
MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
ii
Page 5
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak), sebagai syarat
pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan Kegiatan Usaha (atau
selanjutnya disebut “POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan ataupun
kepentingan lainnya.
PROSEDUR YANG DIGUNAKAN
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020, tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun
oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai
Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait.
INDEPENDENSI PENILAI
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-pihak yang terkait
dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan
pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak
dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun. Imbalan
yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan
dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang
tercantum pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal
21 April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025.
RUANG LINGKUP PENUGASAN
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu untuk
melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan Kegiatan Usaha
sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI
46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur,
Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI
23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan
Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar
Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional;
dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
iii
Page 6
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
studi kelayakan.
c. Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan dan
kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh
dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang
kami anggap relevan.
d. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen dengan
mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan pencapaiannya ( fiduciary
duty).
e. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan.
f. Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
g. Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
i. Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak melakukan
market research khusus atas adanya supplier produk paving block yang telah memiliki
komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan perumahan di Kalimantan dan
IKN.
KEJADIAN SETELAH TANGGAL PENILAIAN
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan tanggal
diterbitkannya laporan ini, terdapat kejadian penting yang terjadi selama periode tersebut.
Kejadian setelah tanggal penilaian yang patut diinformasikan yaitu:
1. Pada tanggal 2 Juli 2025, sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tahunan
(RUPS Tahunan) pada tanggal 4 Juni 2025, terjadi pembagian dividen pada tanggal 2 Juli
2025;
2. Pada tanggal 27 Agustus 2025, Perseroan menerima surat tanggapan dari PT Bank CIMB
Niaga Tbk atas covenant non financial yang dilakukan Perusahaan, antara lain terkait
perubahan susunan direksi, pembagian deviden, dan lini usaha Perseroan yang terbaru;
3. Pada tanggal 29 Agustus 2025, menjelaskan kembali perihal penghapusan personal
guarantee atas nama Bapak Effendi, Welly Sumanteri, Rini Dwiyanti sebesar kewajiban
di PT Bank CIMB Niaga Tbk bersifat Join and Several;
4. Pada tanggal 8 September 2025, terdapat perhitungan imbalan pascakerja dihitung oleh
aktuaris independen Kantor Konsultan Aktuaria Steven & Mourits untuk periode 30 Juni
2025; dan
iv
Page 7
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
5. Pada tanggal 27 Oktober 2025, terdapat surat dukungan dari PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk, terkait penambahan unit bisnis baru. Dukungan tersebut termasuk namun tidak
terbatas pada fasilitas kredit.
Selanjutnya, selama periode Juli hingga September 2025, Perseroan telah melakukan dan
menyampaikan beberapa keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
sebagai bagian dari langkah penguatan internal dan persiapan implementasi rencana
penambahan kegiatan usaha baru. Keterbukaan informasi tersebut antara lain mencakup:
1. Penyampaian Laporan Keuangan Triwulan II Tahun 2025, sebagai bentuk transparansi
kinerja keuangan Perseroan yang menjadi dasar evaluasi kesiapan pendanaan internal;
2. Penyampaian Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk
memperoleh persetujuan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan sesuai dengan
ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020;
3. Penyempurnaan struktur organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,
yang dilakukan secara bertahap untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kegiatan
usaha baru; dan
4. Langkah-langkah internal terkait evaluasi teknis dan kemitraan strategis, yang
diarahkan untuk memastikan kesiapan operasional dan kepatuhan terhadap ketentuan
peraturan yang berlaku.
v
Page 8
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) yang akan
dilaksanakan oleh Perseroan adalah layak.
Seluruh kajian ini kami sampaikan dengan catatan semua asumsi yang diterapkan dalam
Studi Kelayakan ini dapat dipenuhi.
PENUTUP
Penugasan untuk mempersiapkan Studi Kelayakan Usaha ini bukan dan tidak dapat
dianggap dalam segala hal sebagai review atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu
pada informasi keuangan. Penugasan kami tidak dilakukan untuk tujuan mengungkapkan
kelemahan pengendalian internal, kesalahan dalam laporan keuangan, segala bentuk
implikasi pajak atau pelanggaran hukum. Studi Kelayakan Usaha ini juga tidak
dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana
proyek atau untuk mengambil tindakan tertentu atas Rencana Kegiatan Usaha.
Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kepercayaan yang telah diberikan kami ucapkan
terima kasih dan kami berharap kiranya laporan ini dapat berguna bagi kemajuan usaha
selanjutnya.
Hormat kami,
KJPP SYARIF, ENDANG & REKAN
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) Digitally signed by Endang Sunardi
DN: cn=Endang Sunardi, c=ID, o=KJPP Syarif
Rekan Endang dan Rekan,
email=syarifendangdanrekan@gmail.com
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
vi
Page 9
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-
pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya,
Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
kerugian pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak
dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan
kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang tercantum pada Surat Perjanjian
Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan Addendum
No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025;
2. Penilai bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan dalam rangka penugasan Studi
Kelayakan, sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
3. Analisis Kelayakan dilaksanakan per tanggal 30 Juni 2025, parameter dan data yang
digunakan dalam analisis menggunakan data per 30 Juni 2025;
4. Penugasan penilaian telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Penilaian
pada Tanggal Penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan Tujuan Penilaian
sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
5. Laporan Studi Kelayakan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan dalam Peraturan OJK
No. 35/POJK.04/2020, SEOJK No. 17/SEOJK.04/2020, Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang ditetapkan oleh Masyarakat
Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
6. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai Kesimpulan pada
Laporan Studi Kelayakan ini;
7. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada Ruang Lingkup dan data yang dianalisis
serta data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Penilaian ini pada
Sumber Data diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini dapat
dipertanggungjawabkan;
8. Laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang
mempengaruhi analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan ini;
9. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
10. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di
dalam Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik;
11. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Imbalan yang
Penilai terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang tercantum
pada Laporan Penilaian ini;
12. Dalam melakukan penugasan ini, Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan
profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan; dan
13. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan
bantuan profesional dalam menyiapkan Laporan Penilaian.
vii
Page 10
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KJPP Syarif, Endang & Rekan menyatakan bahwa Para Penilai yang kami libatkan dalam
penugasan Penilaian ini adalah Penilai profesional yang kompeten dan memiliki keahlian
penilaian yang baik.
No. Nama Tugas Tanda Tangan
1. Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) Penanggung Jawab (....................)
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
2. Meilindra Indriani, S.Si. Reviewer (....................)
MAPPI : No. 14-T-05006
Register : No. RMK-2017.01002
3. Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev. Staf Penilai (....................)
MAPPI : No. 09-P-02398
Register : No. RMK-2021.03694
4. Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt. Tenaga Inspeksi (....................)
MAPPI : No. 13-A-04453
viii
Page 11
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR ISI
SURAT PENGANTAR........................................................................................................... i
PERNYATAAN PENILAI .................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... xiii
1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ................................................................. 1
1.2 Tanggal Penilaian ................................................................................................. 1
1.3 Identitas Pemberi Tugas ....................................................................................... 1
1.4 Latar Belakang...................................................................................................... 1
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .................................................................... 3
1.6 Objek Penilaian .................................................................................................... 3
1.7 Jenis Mata Uang ................................................................................................... 3
1.8 Data dan Informasi yang Digunakan .................................................................... 3
1.9 Prosedur yang Digunakan .................................................................................... 4
1.10 Ruang Lingkup Penugasan ................................................................................... 5
1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas .............................................................................. 5
1.12 Kualifikasi Penilai ................................................................................................. 6
1.13 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan ............................................................ 6
2 INFORMASI UMUM ................................................................................................ 8
2.1 Profil Perseroan .................................................................................................... 8
2.1.1 Bidang Usaha ....................................................................................................... 8
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan ......................................... 8
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ................................................................. 9
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional ............................................................................. 9
2.2 Kinerja Keuangan ............................................................................................... 10
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan ..................................................................................... 10
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi) ............................................................................................. 14
2.3 Produk dan Layanan Perseroan........................................................................... 20
2.4 Teknologi yang Digunakan ................................................................................. 20
2.5 Pasar yang Dituju ............................................................................................... 21
2.6 Pesaing dan Persaingan ...................................................................................... 21
2.7 Pola Bisnis .......................................................................................................... 22
2.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 23
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi ...................................................................... 24
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia ............................................ 24
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual ........................................................................... 24
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait .................................................... 24
2.13 Aspek Lingkungan ............................................................................................. 26
2.14 Faktor Risiko Utama ........................................................................................... 26
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial ........................................................... 27
3 KELAYAKAN PASAR ............................................................................................. 28
ix
Page 12
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3.1 Kondisi Pasar ..................................................................................................... 28
3.2 Pangsa Pasar ...................................................................................................... 33
3.3 Kesinambungan ................................................................................................. 34
3.4 Potensi Pasar ...................................................................................................... 35
3.5 Sasaran .............................................................................................................. 38
3.6 Potensi Nilai Pasar .............................................................................................. 38
3.7 Pesaing Usaha .................................................................................................... 39
3.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 39
4 KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................ 41
4.1 Kapasitas ........................................................................................................... 41
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ............................................................. 42
4.3 Proses Produksi .................................................................................................. 43
5 KELAYAKAN POLA BISNIS .................................................................................... 45
5.1 Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 46
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................ 46
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ................................................................ 47
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 48
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja ................................................................................. 48
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual ....................................................................... 48
6.3 Manajemen Risiko .............................................................................................. 48
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ............................................................. 54
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ................................................ 54
7 KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 56
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs).......................................................................... 56
7.2 Modal Kerja ........................................................................................................ 56
7.3 Sumber Pembiayaan ........................................................................................... 57
7.4 Biaya Operasional ............................................................................................... 58
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah ................................................................................... 58
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ................................................................... 58
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................... 61
7.8 Proyeksi Laba (Rugi) ........................................................................................... 63
7.9 Proyeksi Arus Kas ............................................................................................... 64
7.10 Analisis Titik Impas ............................................................................................ 66
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas ............................................... 67
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi .............................................................................. 69
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto .............................................................................. 69
7.14 Analisis Kelayakan Proyek .................................................................................. 72
7.15 Analisis Sensitivitas ............................................................................................ 76
8 KESIMPULAN ....................................................................................................... 79
8.1 Kajian Kelayakan Pasar ....................................................................................... 79
8.2 Kajian Kelayakan Teknis ..................................................................................... 81
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis ............................................................................... 82
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen ................................................................... 82
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan ................................................................................ 84
x
Page 13
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan ............................................................................... 84
8.7 Saran .................................................................................................................. 85
xi
Page 14
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan ................................................................... 9
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)........................................................ 10
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000) ............................................................... 14
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan ..................................................................... 18
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ........................................................ 21
Tabel 6 Progress Legalitas Usaha ..................................................................................... 25
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia ..................................................................................... 28
Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ............... 29
Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ........ 30
Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia ........................................................................... 31
Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan) ...................................... 33
Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ...................................................... 39
Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku ..................................................................................... 42
Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................... 42
Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000) ..................................................................... 56
Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)......................................................................................... 57
Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000) ............................................................................. 57
Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta) ............................................................................... 58
Tabel 19 Struktur Pendapatan.......................................................................................... 59
Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000) .................................................................... 61
Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000) .............................................................................. 64
Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000) ............................................................................... 64
Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000) ............................................................ 66
Tabel 24 Analisis Likuiditas ............................................................................................. 67
Tabel 25 Analisis Solvabilitas ........................................................................................... 68
Tabel 26 Analisis Profitabilitas ......................................................................................... 68
Tabel 27 Return on Investment ........................................................................................ 69
Tabel 28 Surat Utang Negara ........................................................................................... 71
Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas................................................................................. 72
Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital ..................................................................... 72
Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000) ................................................................................. 73
Tabel 32 Perhitungan PI ................................................................................................... 74
Tabel 33 Perhitungan PP .................................................................................................. 74
Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000) ................................................................... 74
Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas ....................................................................... 76
xii
Page 15
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 PMI Global ....................................................................................................... 28
Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang .................................................... 29
Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara Berkembang . 32
Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen ..................................................................... 32
Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%) ................... 34
Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah ............................................................................ 41
Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block .............................................. 41
Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbid ................................................................ 44
Gambar 9 Pola Bisnis ....................................................................................................... 45
Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................... 55
Gambar 11 Analisis Sensitivitas ....................................................................................... 77
xiii
Page 16
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
1 PENDAHULUAN
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang, dan Rekan telah ditunjuk oleh PT Surya Biru
Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), berdasarkan Surat
Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan
Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025, sebagai Penilai
Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan
Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk
Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya
Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan Pembuangan
Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik
Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/
Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
1.2 Tanggal Penilaian
Tanggal penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.
1.3 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama Perusahaan : PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk.,
Bidang Usaha : Perdagangan besar bahan kimia gas
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Telepon : +62 542 743555
Website : https://www.suryabirumurni.co.id/
Email : corsec@suryabiru.co.id
1.4 Latar Belakang
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan" atau “SBMA”)
didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian ini telah
disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan
No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
Notaris No. 155 tanggal 26 Juni 2025 dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H., M.Kn.,
Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi dan Komisaris. Perubahan
1
Page 17
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No.
AHU-AH.01.09-0304955 tanggal 1 Juli 2025.
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
adalah: KBLI 46651 Perdagangan Besar Gas Industri dan KBLI 20112 Industri Kimia
Dasar Anorganik Gas Industri.
Perseroan merupakan perusahaan publik yang bergerak di bidang industri gas
industri, khususnya memproduksi dan mendistribusikan berbagai jenis gas seperti
oksigen, nitrogen, argon, asetilena, serta gas lainnya yang digunakan untuk
keperluan industri, kesehatan, dan energi.
Semenjak berdiri dan resmi menjadi perusahaan terbuka pada 2021, Perseroan telah
berkembang menjadi salah satu penyedia gas industri terkemuka di Indonesia dengan
jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Tersertifikasi dengan
ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu, kami berkomitmen untuk menjaga
kualitas dan memberikan layanan yang lebih baik bagi pelanggan. Selama lebih dari
40 tahun beroperasi di bisnis Gas Industri, Perseroan selalu bertujuan untuk
menghasilkan produk yang lebih baik, kualitas yang lebih baik, dan layanan yang
lebih baik.
Dalam rangka memenuhi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun
2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Perseroan masih
menggunakan Jasa pihak ketiga untuk melakukan pengolahan terhadap limbah residu
dari proses produksi Perseroan. Dalam rangka efisiensi biaya, saat ini Perseroan
tengah dalam upaya memperoleh perizinan untuk mengelola limbah tanpa
menggunakan Jasa pihak ketiga dengan konsekuensi bahwa Perseroan akan
membutuhkan investasi barang modal terkait pengolahan limbah yang efisien dan
dapat memberikan manfaat ekonomis.
Atas hal tersebut, maka Perseroan berencana akan melakukan perubahan atas Pasal
3 Anggaran Dasar Perusahaan sehingga perlu terlebih dahulu persetujuan RUPSLB.
Perubahan tersebut adalah Perseroan akan melakukan penambahan kegiatan usaha
baru yang sebagai berikut:
1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
dan Genteng);
5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6. KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
2
Page 18
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
Timur.
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen
dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata,
Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment
dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari
Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan
Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk
Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau
Kontrak) sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
Kegiatan Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan
ataupun kepentingan lainnya.
1.6 Objek Penilaian
Objek studi kelayakan adalah penambahan kegiatan usaha sesuai dengan KBLI 23953
(Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
(Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan
Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas
Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
1.7 Jenis Mata Uang
Dalam penugasan studi kelayakan ini perhitungan dinyatakan dalam mata uang
Rupiah.
1.8 Data dan Informasi yang Digunakan
Dalam rangka melakukan Studi Kelayakan ini, kami telah mempelajari, menganalisis
dan mempertimbangkan informasi sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2020, No. 00074/2.1104/AU.1/
04/0147-3/1/VIII/2021, tanggal 9 Agustus 2021 yang telah diaudit oleh Maurice
Ganda Nainggolan dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan
Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
3
Page 19
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2021, No. 00028/2.1104/AU.1/
04/1292-1/1/III/2022, tanggal 23 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Ahalik
dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan dengan opini
wajar dalam semua hal yang material;
3. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2022,
No. 00023/2.1104/AU.1/04/1292-2/1/III/2023, tanggal 29 Maret 2023 yang
telah diaudit oleh Ahalik dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
dan Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
4. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2023,
No. 00136/2.1035/AU.1/04/1164-1/1/III/2024, tanggal 27 Maret 2024 yang
telah diaudit oleh Christiadi Tjahnadi dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
5. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2024,
No. 00179/2.1035/AU.1/04/1674-1/1/III/2025, tanggal 28 Maret 2025 yang
telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan opini
wajar dalam semua hal yang material;
6. Laporan Keuangan Perseroan per 30 Juni 2025,
No. 00607/2.1035/AU.1/04/1674-2/1/IX/2025, tanggal 29 September 2025
yang telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan
opini wajar dalam semua hal yang material;
7. Proyeksi Keuangan selama 10 tahun;
8. Legalitas Perseroan;
9. Wawancara dan diskusi dengan manajemen Perseroan sehubungan dengan
penugasan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha, yakni dengan Ibu
Rini Dwiyanti sebagai Direktur Utama dan Bapak Rahadian sebagai Supervisor
Pengembangan Bisnis;
10. Representation Letter No. 102/DIR-SBMA/SK/IX/2025, tanggal 29 September
2025, sehubungan dengan Penugasan Penilaian Studi Kelayakan atas
Penambahan Kegiatan Usaha.
1.9 Prosedur yang Digunakan
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa
Keuangan No. 17 /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018
yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode
Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup:
1. Metode Pengumpulan Data;
2. Survey Lapangan;
3. Analisis Kelayakan Pasar;
4. Analisis Kelayakan Teknis;
5. Analisis Kelayakan Pola Bisnis;
4
Page 20
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
6. Analisis Kelayakan Model Manajemen;
7. Analisis Kajian Kelayakan Keuangan; dan
8. Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.
1.10 Ruang Lingkup Penugasan
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu
untuk melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan
Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
dan Genteng);
5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6. KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian
Profesional; dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
• Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
• Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
dalam studi kelayakan.
• Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan
dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta
penelitian yang kami anggap relevan.
• Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen
dengan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
• Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran
proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
• Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
5
Page 21
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
• Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
• Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak
melakukan market research khusus atas adanya supplier produk paving block
yang telah memiliki komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan
perumahan di Kalimantan dan IKN.
1.12 Kualifikasi Penilai
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 1498/KM.1/2012, tanggal
28 Desember 2012, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang dan Rekan
dengan Izin KJPP No. 2.12.0113.
Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai
Usaha bersertifikat MAPPI dengan perizinan sebagai berikut:
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
Klasifikasi izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
1.13 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan
tanggal diterbitkannya laporan ini, terdapat kejadian penting yang terjadi selama
periode tersebut. Kejadian setelah tanggal penilaian yang patut diinformasikan yaitu:
1. Pada tanggal 2 Juli 2025 sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
tahunan (RUPS Tahunan) pada tanggal 4 Juni 2025 terjadi pembagian dividen
pada tanggal 2 Juli 2025;
2. Pada tanggal 27 Agustus 2025, Perseroan menerima surat tanggapan dari PT
Bank CIMB Niaga Tbk atas covenant non financial yang dilakukan Perusahaan,
antara lain, terkait perubahan susunan direksi, pembagian deviden, dan lini
usaha Perseroan yang terbaru;
3. Pada tanggal 29 Agustus 2025, menjelaskan kembali perihal penghapusan
personal guarantee atas nama Bapak Effendi, Welly Sumanteri, Rini Dwiyanti
sebesar kewajiban di PT Bank CIMB Niaga Tbk bersifat Join and Several;
6
Page 22
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4. Pada tanggal 8 September 2025, terdapat perhitungan imbalan pascakerja
dihitung oleh aktuaris independen Kantor Konsultan Aktuaria Steven & Mourits
untuk periode 30 Juni 2025; dan
5. Pada tanggal 27 Oktober 2025, terdapat surat dukungan dari PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk, terkait penambahan unit bisnis baru. Dukungan tersebut termasuk
namun tidak terbatas pada fasilitas kredit.
.
Selanjutnya, selama periode Juli hingga September 2025, Perseroan telah melakukan
dan menyampaikan beberapa keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) sebagai bagian dari langkah penguatan internal dan persiapan implementasi
rencana penambahan kegiatan usaha baru. Keterbukaan informasi tersebut antara
lain mencakup:
1. Penyampaian Laporan Keuangan Triwulan II Tahun 2025, sebagai bentuk
transparansi kinerja keuangan Perseroan yang menjadi dasar evaluasi kesiapan
pendanaan internal;
2. Penyampaian Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk
memperoleh persetujuan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan sesuai
dengan ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020;
3. Penyempurnaan struktur organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya
manusia, yang dilakukan secara bertahap untuk mendukung efektivitas
pelaksanaan kegiatan usaha baru; dan
4. Langkah-langkah internal terkait evaluasi teknis dan kemitraan strategis, yang
diarahkan untuk memastikan kesiapan operasional dan kepatuhan terhadap
ketentuan peraturan yang berlaku.
7
Page 23
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2 INFORMASI UMUM
2.1 Profil Perseroan
Perseroan didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980,
dibuat di hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian
ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat
Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
Notaris No. 155, tanggal 26 Juni 2025, dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H., M.Kn.,
Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan tersebut telah
diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-
AH.01.09-0304955, tanggal 1 Juli 2025, mengenai perubahan Direksi Dan
Komisaris. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem
Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0304955, tanggal 1 Juli 2025.
Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
Timur.
2.1.1 Bidang Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
adalah KBLI 46651 Perdagangan Besar Gas Industri dan KBLI 20112 Industri Kimia
Dasar Anorganik Gas Industri.
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan
Rincian pemegang saham Perseroan dan persentase kepemilikannya pada tanggal
30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.
8
Page 24
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan
Modal Dasar Sesuai Akta No. 85 tanggal 22 Maret 2021
Rp260.000.000.000,-
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Sesuai Akta No. 85 tanggal 22 Maret 2021
Rp65.000.000.000,-
Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan Sampai Dengan Tingkat Individu
Pertanggal 30 September 2025
Nilai Nominal Rp100 per Saham
Jumlah
Modal Disetor
No. Pemegang Saham Persentase
Jumlah Saham dan
Kepemilikan
Ditempatkan
Penuh (Rp)
1 PT Surya Biru Titilea
585.000.000 62,91% 58.500.000.000
Investama
2 Tiffany Wei 65.000.000 6,99% 6.500.000.000
3 Effendi (Komisaris
2.900.000 0,31% 290.000.000
Utama)
4 Rini Dwiyanti
25.795.700 2,77% 2.579.570.000
(Direktur Utama)
Saham Publik (Masyarakat)
5 Masyarakat 251.230.582 27,02% 25.123.058.200
Jumlah 929.926.282 100,00% 92.992.628.200
Sumber: Manajemen Perseroan
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan pengurus Perseroan per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Effendi
Komisaris Independen : M. Slamet Brotosiswoyo
Komisaris : Dinawati
Direksi
Direktur Utama : Rini Dwiyanti
Wakil Direktur : Welly Sumanteri
Direktur : Julianto Setyoadji
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional
Dalam menjalankan kegiatan operasional Perseroan memiliki dokumen perizinan
usaha dan legalitas lainnya yang dikeluarkan oleh instansi terkait antara lain:
9
Page 25
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., oleh Notaris Abdul Latief, S.H., dan
disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
berdasarkan Surat Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal
15 Desember 1982;
• Akta Notaris No. 155, tanggal 26 Juni 2025, dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H.,
M.Kn., dan disahkan melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0304955
tanggal, 1 Juli 2025;
• Nomor Induk Berusaha (NIB): No. 120007440825; dan
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 01.150.545.0-725.000.
2.2 Kinerja Keuangan
Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan kinerja Perseroan berdasarkan
data Laporan Keuangan audited per 31 Desember 2020, 2021, 2022, 2023, 2024
dan 30 Juni 2025, serta Laporan Keuangan Interim 30 Juni 2024.
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan
Kinerja Posisi Keuangan Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
adalah sebagai berikut.
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
ASET
Aset Lancar
Kas dan bank 12.868.014 10.422.997 4.752.401 8.303.761 23.098.928 1.779.321
Piutang usaha
> Pihak ketiga 19.294.928 21.822.757 21.723.493 22.953.314 23.651.765 17.926.430
> Pihak berelasi 41.641 27.889 147.639 478.047 - -
Piutang lain-lain 160.068 156.653 293.822 343.658 485.515 705.519
Persediaan
> Bahan baku 1.527.759 1.610.179 1.653.473 1.814.715 645.576 803.548
> Bahan jadi 1.109.725 2.196.279 1.158.541 3.399.807 3.217.791 3.045.822
> Barang pembantu 3.899.269 1.143.378 778.384 811.030 782.060 379.277
Uang muka dan biaya di muka 2.249.650 1.821.420 1.177.298 1.595.287 3.706.315 6.517.658
Pajak dibayar di muka - - - 1.473.024 - -
Total Aset Lancar 41.151.054 39.201.552 31.685.052 41.172.643 55.587.950 31.157.575
Aset Tidak Lancar
Uang muka pembelian aset tetap 483.210 925.405 7.682.053 - - -
Aset tetap
Biaya perolehan
Kepemilikan langsung
> Tanah 171.842.000 171.842.000 171.842.000 171.052.294 169.613.630 143.535.210
> Bangunan 11.630.981 11.630.981 11.320.651 11.190.899 11.190.899 11.190.899
> Tabung 36.059.289 33.080.709 30.133.025 29.225.576 30.334.780 28.737.638
10
Page 26
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
> Mesin dan instalasi 60.729.185 60.305.495 59.134.311 16.475.739 16.599.352 16.407.866
> Storage tank 13.850.693 13.850.693 11.335.334 11.335.334 10.562.986 10.562.986
> Kendaraan 24.439.217 24.439.217 12.472.024 11.510.038 11.556.046 10.231.306
Aset Hak Guna
> Tanah 617.761 567.376 435.051 - - -
Aset Dalam Penyelesaian
> Mesin 147.431 - 66.000 33.447.210 3.814.217 -
Jumlah nilai perolehan 319.316.557 315.716.470 296.738.397 284.237.091 253.671.910 220.665.906
Akumulasi penyusutan
Kepemilikan langsung
> Bangunan (7.363.273) (7.148.405) (6.727.721) (6.318.908) (5.911.177) (5.373.394)
> Tabung (24.431.243) (23.326.866) (22.662.038) (21.906.173) (24.644.779) (24.035.084)
> Mesin dan instalasi (18.539.390) (16.558.983) (12.686.020) (10.611.350) (10.942.248) (10.143.463)
> Storage tank (11.133.932) (10.928.451) (10.731.937) (10.635.185) (10.558.455) (10.500.321)
> Kendaraan (10.721.108) (9.550.834) (7.788.539) (7.228.408) (8.182.735) (7.688.926)
Kepemilikan langsung
> Tanah (93.479) (64.404) (30.684) - - -
Jumlah akumulasi penyusutan (72.282.425) (67.577.944) (60.626.939) (56.700.024) (60.239.393) (57.741.189)
Nilai Buku 247.034.133 248.138.527 236.111.458 227.537.067 193.432.517 162.924.717
Beban ditangguhkan - -
Aset pajak tangguhan 1.573.941 1.556.242 701.351 896.341 1.598.288 1.171.328
Setoran jaminan 154.331 154.331 - - -
Total Aset Tidak Lancar 249.245.615 250.774.505 244.494.862 228.433.407 195.030.805 164.096.045
TOTAL ASET 290.396.669 289.976.057 276.179.915 269.606.050 250.618.756 195.253.620
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang bank jangka pendek 7.678.182 8.289.775 17.441.571 22.090.304 25.200.000 29.043.208
Utang usaha
> Pihak ketiga 3.012.851 2.418.380 2.606.814 5.113.965 3.904.713 2.613.031
> Pihak berelasi 100.728 225.711 - - - -
Beban akrual 7.051.429 7.999.097 2.522.030 1.118.714 985.412 1.098.125
Utang pajak 1.356.864 2.512.109 1.109.235 507.341 1.806.761 1.255.009
Liabilitas jk panjang yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun
> Utang bank 4.328.970 4.328.970 4.294.395 2.153.735 - -
> Utang pembiayaan konsumen 2.439.092 3.337.919 785.939 1.823.096 756.606 564.728
> Liabilitas sewa - - - - - -
Total Liabilitas Lancar 25.968.117 29.111.961 28.759.984 32.807.155 32.653.492 34.574.101
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Liabilitas jk pnjg - setelah
dikurangi bagian yang jatuh
tempo dalam satu
tahun
> Utang bank 13.069.339 15.350.779 17.550.668 13.497.326 - -
> Utang pembiayaan konsumen 512.436 1.208.786 363.058 - 79.614 -
Liabilitas sewa 392.051 376.261 223.816 - -
Uang jaminan pelanggan 11.855.787 12.125.218 10.530.496 8.556.674 7.396.052 5.333.692
Pendapatan diterima di muka 50.717 69.442 60.167 3.167 22.167 41.167
Liabilitas imbalan pascakerja 4.101.825 3.835.526 3.242.700 3.669.215 5.174.671 5.324.216
Total Liabilitas Tidak Lancar 29.982.155 32.966.012 31.970.905 25.726.381 12.672.504 10.699.075
11
Page 27
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
TOTAL LIABILITAS 55.950.272 62.077.972 60.730.889 58.533.536 45.325.996 45.273.176
EKUITAS
Modal saham 92.992.628 92.992.628 92.992.628 92.992.628 92.840.000 65.000.000
> PT Surya Biru Titilea Investama 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000
> Tiffany Wei 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000
> Masyarakat (masing-masing 27.992.628 27.992.628 27.992.628 27.992.628 27.840.000 -
dibawah 5%)
Tambahan modal disetor 29.394.526 29.394.526 29.394.526 29.394.526 29.196.109 11.294.492
Penghasilan komprehensif lain 72.167.029 72.163.341 72.049.137 71.010.351 70.066.085 67.909.251
Saldo laba
> Telah ditentukan 2.500.000 2.500.000 1.500.000 1.500.000 928.400 650.000
penggunaannya
> Belum ditentukan 37.392.214 30.847.589 19.512.735 16.175.009 12.262.166 5.126.700
penggunaannya
TOTAL EKUITAS 234.446.397 227.898.084 215.449.026 211.072.514 205.292.760 149.980.443
Kepentingan nonpengendali - - - - - -
TOTAL EKUITAS 234.446.397 227.898.084 215.449.026 211.072.514 205.292.760 149.980.443
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 290.396.669 289.976.057 276.179.915 269.606.050 250.618.756 195.253.620
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Aset
• Pada tahun 2021, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp250,62 miliar,
naik sebesar 28,36% dari total aset yang dicatat tahun 2020 yang sebesar
Rp195,25 miliar. Total aset ini terdiri atas aset lancar sebesar Rp55,59 miliar
dan aset tidak lancar sebesar Rp193,43 miliar. Kenaikan aset terutama
disebabkan karena naiknya aset tanah pada aset tidak lancar lainnya
dibandingkan di tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2022, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp269,61 miliar,
naik sebesar 7,58% dari total aset yang dicatat tahun 2021. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp41,17 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp228,43
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya aset dalam
penyelesaian mesin pada aset tidak lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp276,18 miliar,
naik sebesar 2,44% dari total aset yang dicatat tahun 2022. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp31,69 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp244,49
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya mesin dan instalasi
pada aset tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2024, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp289,98 miliar,
naik sebesar 5,00% dari total aset yang dicatat tahun 2023. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp39,20 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp250,77
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya kendaraan pada aset
tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
12
Page 28
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp290,40 miliar
atau sebesar 100,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp41,15 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp249,25
miliar.
Liabilitas
• Total liabilitas Perseroan tahun 2021 adalah sebesar Rp45,33 miliar, naik 0,12%
dari akhir tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp45,27 miliar. Liabilitas ini terdiri
atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp32,65 miliar dan liabilitas jangka
panjang sebesar Rp12,67 miliar. Kenaikan liabilitas terutama disebabkan utang
bank jangka pendek yang lebih tinggi pada liabilitas jangka pendek
dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2022 adalah sebesar Rp58,53 miliar, naik
29,14% dari akhir tahun 2021. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek
sebesar Rp32,81 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp25,73 miliar.
Penurunan liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari akun utang bank
setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas
jangka panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2023 adalah sebesar Rp60,73 miliar, naik 3,75%
dari akhir tahun 2022. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar
Rp28,76 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp31,97 miliar. Kenaikan
liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun utang bank setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas jangka panjang
dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2024 tercatat sebesar Rp62,08 miliar,
meningkat sebesar 2,22% dari akhir tahun 2023. Liabilitas ini terdiri atas
liabilitas jangka pendek sebesar Rp29,11 miliar dan liabilitas jangka panjang
sebesar Rp32,97 miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun
beban akrual pada liabilitas jangka pendek dibanding dibandingkan tahun
sebelumnya.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total liabilitas sebesar Rp55,95
miliar atau sebesar 90,13% dibandingkan tahun sebelumnya. Total liabilitas ini
terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp25,97 miliar dan liabilitas jangka
panjang sebesar Rp29,98 miliar.
Ekuitas
• Pada tahun 2021, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 36,88% menjadi
sebesar Rp205,29 miliar, dari yang semula tercatat Rp149,98 miliar di tahun
2020. Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari tercatatnya penyertaan saham
masyarakat sebesar Rp27,84 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2022, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 2,82%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2021, menjadi sebesar Rp211,07 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2022.
13
Page 29
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Pada tahun 2023, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 2,07%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2022, menjadi sebesar Rp215,45 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2023.
• Pada tahun 2024, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 5,76%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2023, menjadi sebesar Rp227,90 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2024.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total ekuitas sebesar Rp234,45
miliar atau sebesar 102,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Total ekuitas ini
didominasi oleh modal saham sebesar 39,66%, tambahan modal disetor sebesar
12,54%, penghasilan komprehensif lain sebesar 30,78% dan saldo laba sebesar
17,02% dari ekuitas.
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi)
Kinerja Laba (Rugi) Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
adalah sebagai berikut.
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000)
2025 2024
Uraian 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni 30 Juni
PENDAPATAN 67.173.896 60.754.718 131.677.483 113.369.718 103.643.140 88.261.235 74.268.102
Jasa 1.777.448 1.936.752 4.710.140 4.206.033 4.022.080 3.563.605 3.634.117
Produk
Ocygen 18.559.710 13.593.684 33.048.435 22.627.067 20.461.596 7.898.242 3.050.362
Acetylene 15.914.084 17.683.987 36.494.449 33.665.752 29.286.298 21.446.520 18.679.090
Argon 9.367.998 12.186.381 16.377.253 22.593.000 20.877.491 21.534.712 10.985.023
Nitrogen 8.768.276 4.818.547 16.303.992 6.361.733 5.071.477 17.463.078 13.512.067
Karbondioksida 3.760.629 2.411.164 7.026.114 7.796.853 4.895.185 3.425.367 2.712.652
Gas campuran 9.025.752 8.124.202 17.717.101 16.119.281 - - -
Lain-lain - - - - 23.051.093 12.929.712 21.694.791
BEBAN POKOK PENDAPATAN (32.613.555) (29.952.219) (62.159.988) (59.725.790) (51.476.913) (42.237.404) (36.511.873)
Pembelian bahan baku (15.977.399) (17.000.767) (45.292.707) (38.823.977) (38.350.829) (30.389.410) (23.403.695)
Persediaan bahan baku awal (1.610.179) (1.653.473) (1.653.473) (1.814.715) (645.576) (803.548) (1.151.010)
Ongkos angkut pembelian (1.788.282) (1.887.994) (3.851.808) (4.052.782) (3.944.372) (2.423.311) (1.532.896)
Persediaan bahan baku akhir 1.527.759 1.637.489 1.610.179 1.653.473 1.814.715 645.576 803.548
Sub total (17.848.100) (18.904.746) (49.187.809) (43.038.001) (41.126.062) (32.970.693) (25.284.053)
Beban listri dan air (9.981.944) (5.864.145) (2.098.804) (6.365.475) (3.814.892) (3.571.136) (5.419.786)
Penyusutan (4.370.376) (3.715.067) (7.847.449) (4.354.391) (2.665.853) (2.359.323) (3.153.827)
Perbaikan dan pemeliharaan (362.072) (1.346.422) (2.878.298) (1.790.115) (1.643.784) (452.848) (628.147)
Beban asuransi dan pengiriman (434.320) (296.244) (729.244) (843.705) (343.454) (594.127) (353.898)
Sewa isotank (156.533) (164.113) (287.488) (843.150) (246.325) - -
Gaji dan tunjangan (82.525) (74.625) (153.575) (145.054) (1.783.433) (2.343.025) (2.113.510)
Sparepart mesin dan instalasi (1.080.674) - (15.060) (104.633) (35.127) (118.222) (48.626)
Pembelian Kran dan Cat Untuk - - - - - (402.762)
Tabung -
Beban air - - - - - - (66.565)
Sub total (16.468.444) (11.460.615) (14.009.917) (14.446.523) (10.532.867) (9.438.681) (12.187.120)
Persediaan jadi awal (2.196.279) (1.158.541) (1.158.541) (3.399.807) (3.217.791) (3.045.822) (2.086.521)
Persediaan jadi akhir 3.899.269 1.571.684 2.196.279 1.158.541 3.399.807 3.217.791 3.045.822
14
Page 30
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2025 2024
Uraian 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni 30 Juni
Total (32.613.555) (29.952.219) (62.159.988) (59.725.790) (51.476.913) (42.237.404) (36.511.873)
LABA (RUGI) BRUTO 34.560.342 30.802.500 69.517.495 53.643.928 52.166.228 46.023.831 37.756.229
BEBAN USAHA (26.008.806) (23.915.837) (53.238.113) (46.030.906) (44.282.527) (36.378.840) (30.009.027)
Beban Umum dan Administrasi (24.847.662) (22.195.888) (50.332.695) (39.585.647) (41.712.386) (33.336.731) (25.280.152)
Gaji dan tunjangan (13.191.970) (12.329.089) (24.598.047) (20.138.724) (19.333.022) (17.097.154) (10.510.560)
Pemasaran dan penjualan (5.521.405) (5.083.872) (10.983.594) (9.074.909) (8.411.239) (6.221.710) (7.084.897)
Beban pengolahan limbah - - (3.570.490) - (3.570.490) - -
Perbaikan dan pemeliharaan (1.690.238) (1.288.332) (2.643.737) (3.046.152) (2.698.461) (2.438.179) (2.167.485)
Jamsostek (831.361) (684.323) (1.412.660) (1.282.621) (1.162.942) (1.091.447) (1.030.589)
Jasa profesional (549.631) (492.448) (1.067.351) (1.184.427) (1.519.710) (1.719.359) (259.887)
Perlengkapan kantor (549.640) (389.552) (555.873) (535.124) (733.138) (502.772) (427.030)
Pajak dan retribusi (359.933) (129.390) (1.413.188) (370.863) (473.054) (564.477) (677.335)
Imbalan kerja (502.858) (553.374) (1.003.760) (926.751) (930.208) (687.952) (637.316)
Penyusutan (334.105) (307.397) (636.189) (587.673) (704.958) (629.639) (545.562)
Perjalanan dinas (573.590) (334.465) (750.064) (622.448) (417.591) (223.796) (105.068)
Listrik, air dan telepon (172.381) - (365.493) (380.517) (240.389) (552.138) (508.838)
Asuransi (158.019) (125.905) (285.538) (157.462) (105.717) (342.196) (11.192)
Transportasi - - - - - (217.928) (184.437)
Sumbangan dan iuran rutin - - (193.016) (140.622) (33.275) (39.630) (33.250)
Konsumsi - (36.573) (83.431) (104.251) (113.480) (107.093) (72.728)
Sewa - - - - (90.226) (178.150) (36.900)
Hiburan, rekreasi dan olahraga - - (121.249) - (121.249) (71.952) (41.024)
Pengobatan karyawan - - - (120.872) (156.038) (162.614) (101.614)
Tes kesehatan - - - - - (176.335) (65.097)
Materai - - - - - (65.618) (43.511)
Air - - - - - - (36.826)
Jamuan - - - - - (17.669) (25.465)
Lain-lain (412.533) (441.168) (649.015) (912.232) (897.198) (228.924) (673.542)
Beban Bunga dan Keuangan (1.036.510) (1.546.330) (3.046.658) (3.620.031) (3.451.113) (2.767.418) (3.439.392)
Beban bunga pinjaman bank (997.383) (1.508.786) (2.876.707) (3.456.219) (3.114.640) (2.630.365) (3.260.801)
Beban bunga liabilitas sewa (17.904) (15.093) (29.698) (36.918) - - (178.592)
Administrasi dan provisi (21.222) (22.451) (140.253) (126.894) (336.473) (137.053)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (124.634) (173.618) 141.239 (2.825.228) 880.972 (274.691) (1.289.483)
Keuntungan penjualan aset - 484.528 - 374.487 490.757 332.137
tetap -
Pendapatan jasa giro 51.517 26.024 74.845 79.610 182.138 183.518 8.719
Laba (rugi) selisih kurs - 2.437 - - 122.825 - 6.098
Pendapatan lain-lain - - - - - 680.232 18.020
Penyisihan penurunan nilai - (473.660) (1.576.065) (73.887) (451.898) (380.253)
piutang (183.573)
Beban kerugian pelepasan - - - (21.875) - -
nilai aset tetap -
Beban pajak (200.680) (139.400) (136.014) (1.654.840) (83.636) (151.094) (355.408)
Beban denda perkara - - - - - (1.000.000) -
Lain-lain 24.529 120.893 191.541 326.067 380.920 (26.207) (918.796)
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 8.551.535 6.886.663 16.279.382 7.613.022 7.883.701 9.644.991 7.747.202
PENGHASILAN
15
Page 31
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2025 2024
Uraian 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni 30 Juni
BEBAN PAJAK PENGHASILAN (2.006.910) (1.593.082) (3.879.598) (2.880.407) (3.399.257) (2.231.125) (2.442.565)
LABA TAHUN BERJALAN 6.544.625 5.293.581 12.399.784 4.732.615 4.484.443 7.413.866 5.304.637
PENGHASILAN (RUGI) 3.688 114.204 1.038.787 944.266 2.156.834 67.912.127
KOMPREHENSIF LAIN -
Surplus revaluasi aset tetap - - - 789.706 1.438.664 1.931.420 68.355.746
Pengukuran kembali program 4.728 146.415 542.072 (228.067) 288.992 (404.015)
imbalan pasti -
Pajak penghasilan terkait (1.040) - (32.211) (292.991) (266.331) (63.578) (39.603)
LABA (RUGI) KOMPREHENSIF 6.548.312 5.293.581 12.513.988 5.771.402 5.428.709 9.570.699 73.216.765
TAHUN BERJALAN
LABA (RUGI) PER SAHAM 7,40 5,70 14,37 5,09 4,83 10,65 106,90
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Pendapatan
• Pada tahun 2021, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp88,62
miliar, naik 18,84% dari Rp74,27 miliar pada tahun 2020. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh peningkatan produk argon sebesar 96,04% dibandingkan
tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2022, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp103,64
miliar, naik 17,43% dari Rp88,62 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh peningkatan produk ocygen sebesar 159,07% dibandingkan
tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp113,37
miliar, naik 9,38% dari Rp103,64 miliar pada tahun 2022. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh tercatatnya produk gas campuran sebesar Rp16,12 miliar.
• Pada tahun 2024, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp131,68
miliar, naik 16,15% dari Rp113,37 miliar pada tahun 2023. Kenaikan
pendapatan dikontribusi oleh tercatatnya produk oxygen sebesar Rp46,06
miliar.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp67,13
miliar atau sebesar 51,01% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Beban Pokok Pendapatan dan Laba kotor
• Pada tahun 2021, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 15,68% dari tahun 2020 sebesar Rp36,51 miliar menjadi Rp42,24
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
bahan baku di tahun 2021 sebesar 29,85%. Sementara, laba kotor Perseroan
mengalami kenaikan sebesar 21,90% menjadi Rp46,02 miliar dari Rp37,76
miliar di tahun 2020.
16
Page 32
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Pada tahun 2022, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 21,88% dari tahun 2021 sebesar Rp42,24 miliar menjadi Rp51,48
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
bahan baku di tahun 2022 sebesar 26,20%. Sementara, laba kotor Perseroan
mengalami kenaikan sebesar 13,35% menjadi Rp52,17 miliar dari Rp46,02
miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 16,02% dari tahun 2022 sebesar Rp51,48 miliar menjadi Rp59,73
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
beban listrik dan air di tahun 2022 sebesar 66,86%. Sementara, laba kotor
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 2,83% menjadi Rp59,73 miliar dari
Rp51,48 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, beban pokok pendapatan Perseroan meningkat sebesar
4,08% dari tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp52,73 miliar menjadi sebesar
Rp62,16 miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari
pembelian bahan baku di tahun 2023 sebesar 16,66%. Sementara, laba kotor
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 29,59% menjadi Rp69,52 miliar dari
Rp53,64 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan beban pokok pendapatan
sebesar Rp32,61 miliar atau setara 52,47% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Sehingga laba kotor yang tercatat pada 30 Juni 2025 adalah
sebesar Rp34,56 miliar sebesar 49,72% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Laba (Rugi) Sebelum Pajak
• Pada tahun 2021, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp33,34
miliar (31,87%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
menjadi sebesar Rp2,77 miliar (19,54%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
beban lain-lain sebesar Rp274,69 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 24,50% menjadi Rp9,64 miliar dari
Rp7,75 miliar di tahun 2020.
• Pada tahun 2022, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp41,71
miliar (25,12%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
menjadi sebesar Rp3,45 miliar (24,71%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
pendapatan lain-lain sebesar Rp880,97 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 18,26% menjadi Rp7,88 miliar dari
Rp9,64 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, beban umum dan administrasi turun menjadi sebesar
Rp39,59 miliar (5,10%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
menjadi sebesar Rp3,62 miliar (4,29%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
beban lain-lain sebesar Rp2,83 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 3,43% menjadi Rp7,61 miliar dari
Rp7,88 miliar di tahun 2022.
17
Page 33
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Pada tahun 2024, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp50,33
miliar (27,15%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
menjadi sebesar Rp3,05 miliar (15,84%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
pendapatan lain-lain sebesar Rp141,24 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 113,84% menjadi Rp16,28 miliar dari
Rp7,61 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp24,85
miliar, beban bunga dan keuangan sebesar Rp1,04 miliar dan pendapatan lain-
lain sebesar Rp124,63 juta. Sementara, laba sebelum pajak Perseroan pada 30
Juni 2025 tercatat sebesar Rp8,55 miliar.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
• Pada tahun 2021, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
39,76% menjadi Rp7,41 miliar dari Rp5,30 miliar di tahun 2020.
• Pada tahun 2022, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
39,51% menjadi Rp4,48 miliar dari Rp7,41 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
5,53% menjadi Rp4,73 miliar dari Rp4,84 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
162,01% menjadi Rp12,40 miliar dari Rp4,73 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan laba tahun berjalan sebesar
Rp6,54 miliar atau sebesar 52,78% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan
30 Juni 30 Juni
Uraian 2024 2023 2022 2021 2020 Average
2025 2024
A. LIQUIDITY (%)
Current Ratio 158,47% 115,96% 134,66% 110,17% 125,50% 170,24% 90,12% 131,52%
Quick Ratio 124,02% 96,71% 110,86% 92,57% 96,73% 143,17% 57,00% 104,06%
Working Capital To Total Assets 5,23% 1,68% 3,48% 1,06% 3,10% 9,15% -1,75% 3,38%
B. ACTIVITY
Total Assets Turnover (X) 0,46 0,43 0,45 0,41 0,38 0,35 0,38 0,41
Inventory Turnover (X) 9,98 14,22 12,56 16,63 8,54 9,09 8,63 10,91
Average Day's Inventory (Day) 37 26 29 22 43 40 42
Account Receivable Turnover (X) 6,95 5,46 6,03 5,18 4,42 3,73 4,14 35,45
Average Collection Period (Day) 53 67 61 70 83 98 88 5,08
Working Capital Turnover (X) 8,85 25,34 13,05 38,76 12,39 3,85 -21,74 75,32
C. SOLVABILITY (%)
Total Debt to Equity Ratio 23,86% 29,74% 27,24% 28,19% 27,73% 22,08% 30,19% 26,55%
Total Debt to Asset Ratio 19,27% 22,93% 21,41% 21,99% 21,71% 18,09% 23,19% 20,94%
Long Term Debt To Equity Ratio 12,79% 16,07% 14,47% 14,84% 12,19% 6,17% 7,13% 11,26%
D. RENTABILITY (%)
Gross Profit Margin 51,45% 50,70% 52,79% 47,32% 50,33% 52,15% 50,84% 50,81%
Operating Profit Margin 12,73% 11,34% 12,36% 6,72% 7,61% 10,93% 10,43% 10,13%
Net Profit Margin 9,74% 8,71% 9,42% 4,17% 4,33% 8,40% 7,14% 7,20%
Rate of Return on Investment 4,51% 3,71% 4,28% 1,71% 1,66% 2,96% 2,72% 2,97%
Rate of Return on Equity 5,58% 4,82% 5,44% 2,20% 2,12% 3,61% 3,54% 3,75%
18
Page 34
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Sumber : Laporan Keuangan Perseroan
Keterangan: Perhitungan rata-rata rasio keuangan yang dihitung adalah tahun 2020, 2021,
2022, 2023, 2024, dan 30 Juni 2025. Untuk 30 Juni 2024 digunakan sebagai
perbandingan dengan rasio keuangan saat tanggal penilaian.
Rasio Likuiditas
Selama periode 2020—30 Juni 2025, rasio likuiditas menunjukkan rata-rata current
ratio dan quick ratio adalah sebesar 131,52% dan 104,06%. Sementara itu untuk
working capital to total assets ratio memiliki rata-rata sebesar 3,38%. Hal ini
menunjukkan bahwa Perseroan memiliki aset lancar yang bersifat cukup likuid
untuk membayar seluruh utang jangka pendeknya.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menggambarkan kemampuan Perseroan dalam memanfaatkan aset-
aset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Rata-rata
perputaran aset adalah sebanyak 0,41 kali, yang menunjukkan bahwa kemampuan
Perseroan untuk menghasilkan penjualan dari total aset yang dimiliki masih cukup
rendah, karena total aset yang dimiliki tidak menghasilkan penjualan yang lebih
besar dari jumlah aset. Rasio ini mengindikasikan bahwa efektivitas penggunaan
aset oleh Perseroan masih perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan pendapatan
yang lebih optimal.
Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan
pinjaman yang diberikan oleh kreditor baik dalam bentuk jangka pendek maupun
jangka panjang. Salah satu rasio solvabilitas adalah debt to equity ratio (DER)
menunjukkan besarnya porsi utang terhadap ekuitas dalam pembiayaan
perusahaan, sedangkan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan posisi liabilitas
terhadap aset dalam pembiayaan perusahaan. Rasio solvabilitas menunjukkan rata-
rata DER sebesar 26,55%, yang berarti bahwa Perseroan memiliki ketergantungan
terhadap utang yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya untuk
membiayai operasionalnya. Sementara itu, rata-rata DAR adalah sebesar 20,94%,
yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keuangan di tingkat
menengah karena masih memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan aset
melalui utang.
Rasio Rentabilitas
Rasio Rentabilitas menggambarkan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
menghasilkan sebuah laba. Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata gross
profit margin sebesar 50,81%. Gross profit margin merupakan perbandingan laba
kotor dengan besarnya tingkat pendapatan. Sementara itu rata-rata net profit
margin sebesar 7,20%. Net profit margin merupakan rasio yang membandingkan
antara laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari pendapatan bersih.
19
Page 35
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata tingkat balikan terhadap total
investasi (ROI) adalah sebesar 2,97%, menunjukkan bahwa Perseroan mengalami
keuntungan dan dapat menghasilkan laba bersih dari total investasi yang dilakukan.
Selain itu, rata-rata tingkat balikan terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 3,75%,
yang juga menunjukkan bahwa Perseroan mampu menghasilkan laba bersih dari
jumlah ekuitas yang diinvestasikan.
2.3 Produk dan Layanan Perseroan
Produk dan jasa yang telah dihasilkan oleh Perseroan hingga saat ini adalah sebagai
berikut.
Perdagangan
• Gas Industri seperti Oxygen, Acetylene, Nitrogen, Argon, Karbondioksida,
Helium, Hidrogen.
• Gas campuran yang terdiri dari 2 atau lebih gas seperti campuran Argon dan
karbondioksida, campuran untuk gas pemadam, dan sebagainya.
• Gas Spesial yang komponennya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Umumnya digunakan untuk pengujian di Laboratorium • Selain dalam bentuk
Gas, Oxygen, Nitrogen dan Argon dapat dijual dalam bentuk Liquid atau Bulk.
Perawatan Tabung
• Uji hidrostatis untuk mengecek ketahanan tabung.
• Sertifikasi tabung yang telah lolos uji hidrostatis dan layak untuk digunakan.
• Pembersihan Tabung.
• Pengecatan kembali tabung.
Jasa
• Reparasi Tangki kriogenik.
• Uji kebocoran tangki.
• Aksesoris tabung dan tangki.
Selanjutnya, Perseroan berencana untuk menambah bisnis baru yaitu pabrik batako
dan paving block yang berasal dari limbah karbit yang merupakan produk
sampingan dari pembuatan gas asetilena melalui reaksi kimia antara air dan Kalsium
Karbida.
2.4 Teknologi yang Digunakan
Mesin yang akan digunakan pada penambahan kegiatan usaha ini adalah ZN600VP,
yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang di Jerman
dan dibuat di Tiongkok. Terdapat motor getaran frekuensi motor getaran 2x12.1KW
(getaran servo), untuk mencapai gaya getaran 100KN. Sistem kontrol PLC SIEMENS,
20
Page 36
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
layar sentuh, kontaktor, sistem hidrolik Italia, sistem penjepit cetakan otomatis,
menjadi mesin yang paling efisien & stabil di Tiongkok.
Mesin tersebut juga dilengkapi dengan sistem servo vibrasi yang baru, yang dapat
memastikan motor getar berada dalam kondisi tersinkronisasi, yang dapat
menjamin keluaran vertikal gaya pemadatan. Selain itu, dapat menghindari juga
kerusakan tegangan geser akibat gaya pemadatan horizontal pada mesin dan
perpanjang masa pakai mesin. Sehingga, Perseroan dapat mencapai efisiensi
kinerja, penghematan energi, dan perlindungan lingkungan dalam pembuatan
batako dan paving block.
2.5 Pasar yang Dituju
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota Samarinda, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.
Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material bangunan,
termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti
yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
2.6 Pesaing dan Persaingan
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
1. PT Varia Usaha Beton Teluk Pandan, Kec. Teluk
Pandan, Kabupaten Kutai 1.950 Rp3.600
Timur
2. PT Kutai Inti Beton Samboja 19.500 Rp3.600
3. Kampoeng FABA Kelurahan Graha Indah,
1.125
Kecamatan Balikpapan Utara
4. CV Borneo Conblock Samarinda
8.400
Mandiri
21
Page 37
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
5. CV Kalimantan Beton Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu 34.400
Raya, Kalimantan Barat
6. Fadil Karya Balikpapan Rp3.500
7. Bintang Jaya Beton Samarinda Rp3.400 - 3.600
8. Pilar Beton Indo Samboja Rp3.550 - 3.700
9. Beton Elemen Prima Samarinda Rp3.200 - 3.400
10. Tiga Mutiara Beton Balikpapan Rp3.300 - 3.500
2.7 Pola Bisnis
Gambar 1 Alur Proses Bisnis
Penerimaan Order
Perencanaan Produksi
C Seleksi & Evaluasi
Purchasing
U Supplier
S
Incoming Material
T
O
M Gudang Raw Material
E
R Produksi Quality Control
Gudang Finished
Delivery
Sumber: Manajemen Perseroan
Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
22
Page 38
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
Perseroan. Berikut digambarkan alur proses bisnis yang akan dilakukan.
Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
nilai yang diantaranya:
1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
2. Menambah sumber pendapatan baru
3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
4. Efisiensi operasional
2.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
profil usaha, maupun dokumentasi proyek, membantu meningkatkan
kepercayaan klien;
2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
berinteraksi dengan konsumen;
4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
memperluas jejaring;
6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.
Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
perusahaan;
23
Page 39
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan melakukan
pengadaan mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok.
Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block
otomatis. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
bahan baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan
semen. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12
orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor Produksi, Supervisor Sales &
Distribution, Quality Control Batako, Operator, Operator Control Panel, Operator
Block Curing, Operator Block Cubing, Sales, Distribution, Packing dan Driver.
Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai kebutuhan tenaga ahli tambahan
tidak signifikan karena teknologi produksinya user friendly yang dapat dioperasikan
oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih. Nantinya, apabila mesin produksi
tersebut sudah tiba perusahaan akan melakukan training secara menyuluruh kepada
para pegawai yang bersangkutan agar dapat mengoperasikan mesin dengan baik.
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan
manajemen dan sumber daya manusia, sehingga akan mengadakan rekrutmen
sebanyak 12 orang.
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual
Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan usaha
baru.
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait
Beberapa peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan penambahan
kegiatan usaha Perseroan, antara lain adalah:
1. Peraturan perundang-undangan terkait penilaian adalah Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
24
Page 40
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2. POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
Kegiatan Usaha.
3. POJK No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
4. Peraturan BPS Nomor 2 Tahun 2020 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
6. Legalitas Usaha
Terkait legalitas usaha yang diperlukan terkait penambahan kegiatan usaha ini
dirinci sebagai berikut:
Tabel 6 Progress Legalitas Usaha
No. Jenis Perizinan Referensi Status Durasi Keterangan
Grup 1: Perizinan Dasar & Lokasi
Menunggu
anggaran dasar
PKKPR (Persetujuan On Progres bidang usaha Baru
(Peraturan terkait
1 Kesesuaian Kegiatan kelengkapan 3 Bulan (KBLI) dan hal ini
Tata Ruang)
Pemanfaatan Ruang) dokumen menjadi dasar
kepengurusan DELH
& PBG.
DELH (Dokumen Menunggu PKKPR
On Progres
Evaluasi Lingkungan - PP No. 22 Tahun selesai. Bisnis baru
2 pelengkapan 6 bulan
Hidup) / Persetujuan 2021 (via RUPS) akan
dokumen
Lingkungan Baru dimasukkan di sini.
PBG (Persetujuan - PP No. 16 Tahun
On Progres Menunggu PKKPR,
Bangunan Gedung) & 2021
3 pelengkapan 6 bulan Siteplan, dan
SLF (Sertifikat Laik - UU No. 28 Tahun
dokumen PERTEK.
Fungsi) 2002
Sudah ada namun
belum mencakup
4 NIB - -
bisnis baru karena
diperlukan RUPS
Andalalin Baru
- Permenhub No. Belum
5 (Analisis Dampak 6 bulan Menunggu PKKPR
96 Tahun 2015 diajukan
Lalu Lintas)
Grup 2: Perizinan Spesifik (Limbah B3)
On Progress
Izin Pemanfaatan - PP No. 22 Tahun melengkapi On Menunggu Izin
6
Limbah B3 2021 dokumen Progress Dasar (PBG, DELH)
perizinan
Perpanjangan
Rincian Teknis TPS - Permen LHK No. On
7 sudah ada karena menunggu
Limbah B3 6 Tahun 2021 Progress
DELH selesai
25
Page 41
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
No. Jenis Perizinan Referensi Status Durasi Keterangan
menunggu RUPS,
- Permen LHK No.
8 Izin Transportasi B3 Belum punya 1 tahun karena
4 Tahun 2021
membutuhkan KBLI
Grup 3: Perizinan Operasional (Tahap Lanjut)
Prasyarat: Harus
SLO (Pengelolaan - PP No. 22 Tahun memiliki PERTEK
9 Belum punya 1 tahun
Limbah B3) 2021 dan PERLING (No. 3
DELH).
Izin Fasilitas Impor - Permendag No. Diurus saat proses
10 Belum punya 1 bulan
Mesin Produksi 45 Tahun 2019 pembelian mesin.
Grup 4: Administrasi & Integrasi Sistem
Membutuhkan kode
STP (Surat Tanda
11 (Terkait OSS) Belum dimulai TBC KBLI dan menunggu
Pendaftaran)
RUPS
2.13 Aspek Lingkungan
Tanggung jawab Perseroan di bidang lingkungan hidup tercermin dari komitmen
untuk mencegah segala bentuk pencemaran lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan
pengelolaan limbah karbit untuk produksi batako dan paving block. Limbah karbit
yang tidak dikelola dengan baik dapat melepaskan gas asetilena yang berbahaya ke
udara. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku batako dan paving block,
risiko pelepasan gas beracun tersebut dapat diminimalkan. Selain itu, pemanfaatan
limbah karbit juga mengurangi tumpukan limbah di lingkungan, sehingga kualitas
lingkungan sekitar, terutama di daerah dekat industri atau tempat pembuangan
limbah, menjadi lebih baik. Penggunaan limbah karbit dalam pembuatan batako dan
paving block juga membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke
lingkungan, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran
tanah dan air.
2.14 Faktor Risiko Utama
Dalam menjalankan usahanya, Perseroan berpotensi menghadapi beberapa risiko
yang dapat memengaruhi kinerja Perseroan. Beberapa risiko utama yang dihadapi
Perseroan antara lain:
Risiko Prakonstruksi
1) Risiko Kondisi Ekonomi;
2) Risiko Perkembangan Pemukiman;
3) Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN;
4) Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN;
5) Risiko Penawaran dan Permintaan;
6) Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3;
26
Page 42
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7) Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan;
8) Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3;
9) Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama;
10) Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan;
11) Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3;
12) Risiko Perubahan Regulasi; dan
13) Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan.
Risiko Konstruksi
1) Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat;
2) Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air);
3) Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek;
4) Risiko Kegagalan Konstruksi;
5) Risiko Cost Over Run; dan
6) Risiko Pengendalian SDM Proyek.
Risiko Operasional
1) Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai;
2) Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan;
3) Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten;
4) Risiko SDM;
5) Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran;
6) Risiko Mesin; dan
7) Risiko Bahan Baku.
Upaya Perseroan dalam mencegah dan meminimalisir dampak maupun kerugian
akibat potensi risiko utama adalah dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang
efektif dengan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang sesuai.
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
bersumber dari kas yang tersedia dan pihak perbankan.
27
Page 43
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3 KELAYAKAN PASAR
3.1 Kondisi Pasar
Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat pascapengumuman kenaikan
tarif efektif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke beberapa negara maju dan
berkembang. Pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun
di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan
moneter di negara tersebut. Kinerja ekonomi Tiongkok juga diprakirakan belum
kuat, di tengah berbagai strategi diversifikasi ekspor. Sementara itu, kinerja
perekonomian India diprakirakan tetap baik didukung permintaan domestik. Bank
Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 masih belum kuat
sekitar 3,0%.
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia
Negara 2020 2021 2022 2023 2024 2025*
Dunia -2,8 6,3 3,5 3,3 3,3 3,0
Negara Maju -4,2 5,6 2,6 1,7 1,8 1,6
Amerika Serikat -2,8 5,9 1,9 2,9 2,8 2,1
Kawasan Eropa -6,1 5,6 3,4 0,4 0,9 0,9
Jepang -4,2 2,2 1,0 1,5 0,1 0,8
Negara Berkembang -1,8 6,9 4,1 4,4 4,3 3,9
Tiongkok 2,2 8,4 3,0 5,2 5,0 4,3
India -6,6 8,3 6,8 7,7 6,5 6,6
ASEAN-5 -4,4 4,0 5,5 4,0 4,6 4,3
Amerika Latin -7,0 7,4 4,2 2,4 2,4 2,0
Negara Berkembang Eropa -1,6 7,3 1,2 3,3 3,4 2,1
Timur Tengah & Asia Tengah -2,6 4,3 5,4 2,0 2,4 3,5
Sumber: Bank Indonesia
*Proyeksi Bank Indonesia
Gambar 2 PMI Global
Sumber: Bank Indonesia
28
Page 44
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tekanan inflasi AS masih menurun sehingga mendorong tetap kuatnya ekspektasi
arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Sementara itu, pergeseran aliran
modal keluar dari AS ke Eropa dan negara berkembang, serta komoditas yang
dianggap aman seperti emas, terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya risiko
ekonomi AS, termasuk risiko fiskal. Perkembangan ini mendorong berlanjutnya
pelemahan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan
negara berkembang (ADXY).
Gambar 3 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang
Sumber: Bank Indonesia
Kondisi Ekonomi Indonesia
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus didorong. Kegiatan
ekonomi triwulan II 2025 menunjukkan kinerja ekspor nonmigas yang lebih baik,
dipengaruhi front loading ekspor ke AS sebagai respons antisipasi eksportir
terhadap kebijakan tariff AS. Sementara itu, permintaan domestik khususnya
konsumsi rumah tangga dan investasi terus ditingkatkan. Dari sisi Pemerintah,
kebijakan fiskal ditempuh untuk mempercepat belanja melalui pemberian gaji ke-
13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan subsidi transportasi, serta penebalan
bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Dari sisi Bank Indonesia,
penurnan suku bunga dan pelonggaran likuiditas ditempuh melalui kebijakan
moneter yang dibarengi peningkatan insentif likuiditas makroprudensial untuk
mendorong kredit pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran
2023 2024 2025
Komponen 2022 2023 2024
I II III IV I II III IV I II
Konsumsi Rumah Tangga 4,94 4,53 5,22 5,05 4,47 4,82 4,91 4,93 4,91 4,98 4,94 4,95 4,97
Konsumsi Lembaga
Nonprofit yang Melayani
Rumah Tangga 5,66 6,29 8,78 6,4 18,4 10 24,1 9,79 11,5 6,06 12,5 7,82 7,82
Konsumsi Pemerintah -4,42 3,33 -3,86 10,5 2,94 3,02 20,4 4,62 2,03 4,17 6,61 -1,37 -0,33
Investasi (PMTDB) 3,87 1,53 5,08 4,05 4,32 3,76 3,78 5,16 4,42 5,03 4,61 6,99 6,99
29
Page 45
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2023 2024 2025
Komponen 2022 2023 2024
I II III IV I II III IV I II
Investasi Bangunan 0,91 0,08 6,31 3,32 6,42 4,04 5,46 6,02 5,31 5,26 5,51 4,89 4,89
Investasi Nonbangunan 12,5 5,7 2,05 6,1 -0,78 3,03 -0,78 2,96 1,97 4,4 2,23 12,9 12,9
Ekspor 16,2 11,7 -3,91 -2,84 1,66 1,34 1,48 8,13 8,79 7,63 6,51 6,46 10,7
Impor 15,00 4,12 -3,25 -6,82 0,14 -1,6 1,5 11,9 7,79 10,4 7,95 4,17 11,7
PDB 5,31 5,04 4,94 5,17 5,04 5,05 5,11 5,05 4,95 5,02 5,03 4,87 5,12
Sumber: Bank Indonesia
Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
2023 2024 2025
Komponen 2022 2023 2024
I II III IV I II III IV I II
Pertanian, Kehutanan, dan
2,25 0,44 2,03 1,49 1,13 1,31 -3,54 3,25 1,69 0,71 0,67 10,52 1,65
Perikanan
Pertambangan dan
4,38 4,92 5,01 6,95 7,46 6,12 9,31 3,17 3,46 3,95 4,9 -1,23 2,03
Penggalian
Industri Pengolahan 4,89 4,43 4,88 5,19 4,07 4,54 4,13 3,95 4,72 4,89 4,43 4,55 5,68
Pengadaan Listrik dan Gas 6,61 2,67 3,15 5,06 8,68 4,91 5,35 5,39 5,02 3,42 4,77 5,11 0,9
Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah dan Daur 3,23 5,7 4,78 4,49 4,66 4,9 4,44 0,84 0,03 1,06 1,56 0,18 0,82
Ulang
Konstruksi 2,01 0,32 5,23 6,39 7,68 4,91 7,59 7,29 7,48 5,81 7,02 2,18 4,98
Perdagangan Besar dan
Eceran Reparasi Mobil dan 5,53 4,94 5,3 5,1 4,09 4,85 4,58 4,85 4,82 5,19 4,86 5,03 5,37
Sepeda Motor
Transportasi dan
19,87 15,93 15,28 14,74 10,33 13,96 8,66 9,56 8,64 7,92 8,69 9,01 8,52
Pergudangan
Penyediaan Akomodasi dan
11,94 11,54 9,91 10,93 7,88 10 9,34 10,15 8,32 6,61 8,56 5,75 8,04
Makan Minum
Informasi dan Komunikasi 7,73 7,11 8,03 8,51 6,74 7,59 8,41 7,66 6,82 7,45 7,57 7,72 7,92
Jasa Keuangan dan Asuransi 1,93 4,45 2,86 5,24 6,56 4,77 3,93 7,9 5,49 1,74 4,74 3,98 3,2
Real Estat 1,72 0,37 0,96 2,21 2,18 1,43 2,54 2,16 2,32 2,97 2,5 2,94 3,71
Jasa Perusahaan 8,77 6,37 9,59 9,37 7,62 8,24 9,63 7,96 7,93 8,08 8,38 9,27 9,31
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan 2,52 2,13 8,18 -6,24 1,63 1,51 18,89 2,81 3,94 1,16 6,4 4,79 4,69
Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 0,55 1,02 5,42 -2,09 2,63 1,77 7,43 2,44 2,56 2,95 3,75 5,04 1,4
Jasa Kesehatan dan
2,75 4,77 8,27 2,92 3,09 4,67 11,65 8,57 7,65 5,2 8,11 5,78 3,8
Kegiatan Sosial
Jasa lainnya 9,47 8,9 11,89 11,14 10,15 10,52 8,92 8,85 9,95 11,36 9,8 9,84 11,31
PDB 5,31 5,04 5,17 4,94 5,04 5,05 5,11 5,05 4,95 5,02 5,03 4,87 5,12
Sumber: Bank Indonesia
Neraca Pembayaran Indonesia
Neraca perdagangan pada Mei 2025 masih mencatat surplus 4,3 miliar dolar AS,
meningkat dari surplus April 2025 sebesar 0,2 miliar dolar AS. Perkembangan
positif pada neraca perdagangan ini didukung oleh ekspor komoditas mesin listrik
serta besi dan baja. Kinerja ekspor diprakirakan akan tetap positif sejalan dengan
hasil perundingan tarif dengan Pemerintah AS. Sementara itu, aliran masuk modal
asing ke instrumen portofolio domestik juga terus berlanjut dipengaruhi tetap
baiknya prospek perekonomian Indonesia, tingginya imbal hasil instrumen
keuangan Indonesia, dan bergesernya aliran modal ke negara berkembang
termasuk Indonesia sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS. Aliran masuk
30
Page 46
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net
inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025
sebesar 1,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi
sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2
bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas
standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia
Komponen (Miliar 2022 2023 2024* 2025
Dolar AS) I II III IV Total I II III IV Total I II III IV Total I* II**
Transaksi Berjalan 0,7 4,3 4,7 3,5 13,2 2,9 -2,3 -1,3 -1,4 -2,0 -2,4 -3,0 -2,0 -1,2 -8,7 -0,2 -3,0
A. Barang 1) 11,3 16,8 17,6 17,0 62,7 14,8 10,0 10,2 11,4 46,3 9,3 10,0 9,2 11,3 39,8 13,0 10,6
- Ekspor, fob 66,8 75,2 77,8 72,8 292,5 66,8 61,6 63,5 65,9 257,7 61,9 62,3 67,5 71,3 263,1 65,9 68,0
- Impor, fob -55,5 -58,4 -60,2 -55,8 -229,9 -52,1 -51,6 -53,3 -54,5 -211,4 -52,6 -52,3 -58,3 -60,0 -223,3 -53,0 -57,4
a. Nonmigas 17,2 24,4 25,2 23,0 89,8 19,0 15,2 16,0 17,7 67,8 15,1 15,2 14,7 17,8 62,7 18,8 15,7
b. Migas -5,7 -7,2 -6,5 -5,4 -24,8 -3,9 -4,7 -5,4 -5,9 -19,9 -5,5 -4,6 -4,4 -5,1 -19,6 -4,7 -4,2
B. Jasa - jasa -4,3 -5,0 -5,3 -5,4 -20,0 -4,5 -4,5 -3,9 -4,8 -17,7 -4,2 -5,0 -4,2 -5,2 -18,6 -5,5 -5,5
C. Pendapatan Primer -7,7 -9,0 -8,9 -9,6 -35,3 -8,8 -9,2 -8,8 -9,3 -36,0 -8,8 -9,4 -8,5 -9,0 -35,9 -9,3 -9,8
D. Pendapatan
Sekunder 1,5 1,5 1,3 1,6 5,8 1,4 1,4 1,3 1,3 5,4 1,3 1,4 1,5 1,7 6,0 1,6 1,7
Transaksi Modal &
Finansial -2,0 -1,7 -5,6 0,2 -9,2 4,0 -4,5 -0,5 10,8 9,8 -2,4 2,6 8,0 9,4 17,6 -0,4 -5,2
1. Investasi
Langsung 4,6 6,6 3,4 3,4 18,1 4,4 3,9 2,7 3,4 14,4 4,9 2,3 5,1 3,4 15,7 2,5 2,6
2. Investasi
Portofolio -3,2 -3,6 -3,1 -1,7 -11,6 3,0 -2,6 -3,0 4,9 2,2 -2,1 3,2 9,8 -2,5 8,3 1,0 -8,1
4. Investasi Lainnya -3,6 -4,6 -5,9 -1,5 -15,6 -3,6 -5,6 -0,1 2,4 -6,9 -4,8 -3,3 -7,2 8,5 -6,7 -4,2 0,3
Neraca Keseluruhan -1,8 2,4 -1,3 4,7 4,0 6,5 -7,4 -1,5 8,6 6,3 -6,0 -0,6 5,9 7,9 7,2 -0,8 -6,7
- Cadangan Devisa 139,1 136,4 130,8 137,2 137,2 145,2 137,5 134,9 146,4 146,4 140,4 140,2 149,9 155,7 155,7 157,1 152,6
Dalam Bulan Impor
dan Pembayaran
Utang Luar Negeri
Pemerintah 7,0 6,4 5,7 5,9 5,9 6,2 6,0 6,0 6,5 6,5 6,2 6,1 6,4 6,5 6,5 6,5 6,1
- Transaksi Berjalan (%
PDB) 0,2 1,3 1,4 1,1 1,0 0,9 -0,7 -0,4 -0,4 -0,1 -0,7 -0,9 -0,6 -0,3 -0,6 -0,1 -0,8
Sumber: Bank Indonesia *Angka sementara; **Angka sangat sementara
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat sebesar 0,34%
(ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan terkini
hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap
stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Secara umum, perkembangan
Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara
berkembang mitra dagang utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang
negara maju di luar dolar AS, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor
Indonesia. Perkembangan nilai tukar ini didukung oleh konsistensi kebijakan
stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke
instrumen SBN, serta konversi valas ke Rupiah oleh eksportir pascapenerapan
penguatan kebijakan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
(DHE SDA).
31
Page 47
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Gambar 4 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara
Berkembang
Sumber: Bank Indonesia
Inflasi
Gambar 5 Grafik Inflasi IHK dan Komponen
Sumber: Bank Indonesia
Inflasi IHK Juni 2025 tercatat rendah 1,87% (yoy) ditopang inflasi inti yang menurun,
inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices (AP) yang
terkendali. Inflasi inti tercatat turun menjadi 2,37% (yoy), dipengaruhi konsistensi
suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai
dengan sasarannya serta permintaan yang lebih rendah. Inflasi kelompok VF masih
tercatat rendah 0,57% (yoy) didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan
utama dan eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi
Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan
32
Page 48
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
(GNPIP). Sementara itu, inflasi kelompok AP tetap terkendali 1,34% (yoy), di tengah
kenaikan tarif air minum PAM dan cukai hasil tembakau.
3.2 Pangsa Pasar
Penduduk Kalimantan Timur pada tahun 2025 sebanyak 4,27 jiwa sedangkan pada
tahun 2024 sebanyak 4,05 juta jiwa. Jumlah ini merupakan yang terbesar ketiga di
Pulau Kalimantan, setelah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Bila
dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020, yang sebanyak 3,77 juta jiwa,
penduduk Kalimantan Timur bertambah sebanyak 501,60 ribu jiwa sepanjang 2020-
2025.
Laju Pertumbuhan penduduk per tahun pada periode 2021—2025 di Kalimantan
Timur adalah sebesar 2,93% per tahun. Adapun bila dilihat menurut wilayahnya,
Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki laju pertumbuhan penduduk tertinggi,
sebesar 23,53% per tahun. Sementara Kota Samarinda memiliki laju pertumbuhan
penduduk terendah, sebesar 0,89% per tahun.
Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di tahun 2025.
Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan)
Uraian 2021 2022 2023 2024 2025
Paser 0,28 0,28 0,28 0,29 0,29
Kutai Barat 0,17 0,18 0,18 0,18 0,18
Kutai Kartanegara 0,74 0,75 0,76 0,79 0,85
Kutai Timur 0,44 0,45 0,46 0,46 0,47
Berau 0,25 0,26 0,26 0,26 0,27
Penajam Paser Utara 0,18 0,19 0,20 0,27 0,40
Mahakam Ulu 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04
Balikpapan 0,70 0,70 0,71 0,72 0,73
Samarinda 0,84 0,84 0,85 0,86 0,87
Bontang 0,18 0,18 0,19 0,19 0,19
Kalimantan Timur 3,80 3,86 3,91 4,05 4,27
Pertumbuhan 1,40% 1,37% 3,48% 5,48%
Sumber: BPS
33
Page 49
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Pertumbuhan kebutuhan rumah sangat dipengaruhi oleh laju urbanisasi,
pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 36 unit komersil dan 1.139 unit subsidi yang
telah terjual. Disisi lain, terdapat 33 unit yang sudah ready stock, dan 60 unit yang
sedang dalam proses pengajuan kepada pihak perbankan. Sedangkan jumlah kavling
rumah pada tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 217 rumah komersil
dan 1.698 rumah subsidi.
Disisi lain, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian
Rencana Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN
Nusantara memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan,
dan terbagi atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C. Berdasarkan
data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-Wilayah
Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP 1B
dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektar. Sub-WP 1A
KIPP diperuntukkan sebagai government core activity, sedangkan Sub-WP 1B dan
1C KIPP lahannya bersifat mixed use sehingga bukan hanya untuk pembangunan
kantor pemerintahan melainkan juga untuk bangunan-bangunan non pemerintahan
seperti mal, sekolah dan sebagainya. Pembangunan IKN mengusung konsep forest
city di mana 60—70% lahannya untuk kawasan hijau seperti lanskap, ruang publik
hijau, taman-taman dan ruang terbuka hijau, sehingga lahan yang dipakai untuk
pembangunan sekitar 30—40%.
3.3 Kesinambungan
Gambar 6 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%)
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
-2 2020 2021 2022 2023 2024 Tri II 2025
Konstruksi Real Estate
Sumber: BPS
34
Page 50
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Lapangan usaha kegiatan konstruksi meliputi kegiatan konstruksi gedung tempat
tinggal, perkantoran, bangunan pabrik, jalan, jembatan, dan termasuk pula
konstruksi jaringan pipa dan listrik, serta pembongkaran dan penyiapan lahan.
Lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha yang cukup strategis di Provinsi
Kalimantan Timur, tercermin dari posisi lapangan usaha ini yang selalu berada di
urutan kelima di dalam struktur perekonomian Provinsi Kalimantan Timur tahun
2024.
Pada tahun 2024, kontribusi lapangan usaha konstruksi mencapai Rp52.471,79
miliar atau sebesar 9,19% terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur.
Angka tersebut meningkat dari tahun 2020 yang mencapai Rp35.601,17 miliar atau
sebesar 7,54%. Hal ini dipengaruhi oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
Kalimantan Timur yang terus berjalan, Dengan penghitungan atas dasar harga
konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi Kalimantan
Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami perlambatan meskipun
pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2023 sebesar 15,82%.
Pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha konstruksi mencapai Rp25.856,69 miliar
atau meningkat sebesar 1,83% dari triwulan II 2024 yang sebesar Rp25.392,26 miliar.
Lapangan usaha Real Estat memberikan kontribusi sebesar 0,85% pada tahun 2024
dan 2023. Sementara kontribusi pada tahun 2020 mencapai 0,91%. Namun nilai
tambah lapangan usaha ini di tahun 2024 naik menjadi Rp4.860,55 miliar, lebih
tinggi dari tahun 2020 yang sebesar Rp4.321,11 miliar. Dengan penghitungan atas
dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi
Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan
dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%. Pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
real estate mencapai Rp2.571,48 miliar atau meningkat sebesar 8,07% dari triwulan
II 2024 yang sebesar Rp2.379,48 miliar.
3.4 Potensi Pasar
Seiring dengan meningkatnya harga dan permintaan properti akibat pesatnya
pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi, pasar real estate di Indonesia
merupakan salah satu sektor terkuat di kawasan ini. Sektor real estate di Indonesia
adalah salah satu dari sedikit sektor yang tidak terlalu terpengaruh oleh krisis Covid-
19. Angka resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produk domestic
bruto (PDB) dari aktivitas real estate di Indonesia berjumlah Rp520,73 triliun
(US$29,85 Triliun) pada tahun 2024. PDB Indonesia yang berasal dari aktivitas real
estate meningkat secara bertahap sejak tahun 2014. Proyek perumahan terjangkau
di Indonesia yang didukung oleh pemerintah, investor asing, dan asosiasi seperti
Bank Dunia diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan pasar real estat.
35
Page 51
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2024 secara tahunan
menunjukkan penurunan. Pada triwulan IV 2024, penjualan properti residensial
mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09%, lebih dalam dibandingkan dengan
kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14% (yoy). Perkembangan tersebut
didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang masing-
masing tercatat kontraksi sebesar 23,70% (yoy) dan 16,61% (yoy). Sementara itu,
penjualan rumah tipe besar tumbuh 20,44% (yoy) pada triwulan IV 2014. Secara
triwulan, penjualan juga rumah juga menurun. Penjualan rumah primer pada triwulan
IV 2014 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62% (qtq), berlanjut dari
kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,62% (qtq). Kontraksi pertumbuhan
penjualan rumah pada triwulan IV 2024 terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah
masing-masing sebesar 11,94% (qtq) dan 9.13% (qtq). Sementara itu, penjualan
rumah tipe besar menunjukkan peningkatan sebesar 14,12% (qtq).
Berdasarkan hasil survei, sejumlah faktor yang menghambat pengembangan dan
penjualan properti residensial primer adalah kenaikan harga bangunan (21,40%),
masalah perizinan (15,05%), suku bunga KPR (14,31%), proporsi uang muka yang
tinggi dalam pengajuan KPR (10,59%), perpajakan (9,72%), dan lainnya (15,05%).
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan positif pada sektor properti
residensial di Kota Balikpapan sepanjang triwulan I 2025. Peningkatan ini tercermin
dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang menunjukkan Indeks Harga
Properti Residensial (IHPR) tumbuh sebesar 1,31% secara tahunan (yoy), meski sedikit
melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,55%.
Deputi Direktur BI Balikpapan, mengatakan peningkatan harga didorong oleh naiknya
harga rumah tipe besar (luas bangunan di atas 70 meter persegi) yang tumbuh
sebesar 1,34% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 yang hanya sebesar
1,28%.
Sementara itu, harga rumah tipe kecil (≤36 m²) dan menengah (36—70 m²) masing-
masing tumbuh sebesar 1,59% dan 1%. Meski mengalami perlambatan dari triwulan
sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 2,01% untuk rumah kecil dan 1,35%
untuk rumah menengah, keduanya tetap berada dalam tren pertumbuhan positif.
Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program
pemerintah di sektor perumahan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas
Makroprudensial (KLM). Mulai 1 April 2025, insentif KLM akan ditingkatkan dari 4%
menjadi 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). BI juga menambah alokasi KLM khusus
sektor perumahan dari rencana semula Rp23 triliun menjadi Rp103 triliun secara
nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong penyaluran kredit oleh perbankan ke
sektor prioritas, termasuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, sebagai
bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional. Bank Indonesia berharap
36
Page 52
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
peningkatan insentif dan dukungan kebijakan ini mampu memperkuat peran sektor
properti dalam perekonomian, terutama di daerah seperti Balikpapan yang terus
berkembang seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Program 3 juta rumah adalah inisiatif pemerintah untuk mengatasi backlog
perumahan dan menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
(MBR). Untuk merealisasikannya, Pemerintah menerapkan strategi utama seperti
transparansi, optimalisasi aset negara, inovasi pembiayaan, serta kebijakan
pendukung seperti pelonggaran aturan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Otoritas
Jasa Keuangan (OJK). Menteri keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati
mengungkapkan Kementerian Keuangan menyelaraskan seluruh kebijakan dan
instrumen keuangan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan
kebijakan dari Bank Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Program Juta 3 Rumah.
Menkeu mengatakan melalui Undang-Undang APBN 2025 telah memberikan
dukungan sebanyak 220 ribu rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Saat ini sudah dialokasikan Rp18 triliun dalam bentuk FLPP (Fasilitas Likuiditas
Pembiayaan Perumahan) untuk fasilitas likuiditas, yang dikombinasikan dengan PMN
(Penyertaan Modal Negara) di PT SMF (Sarana Multigriya Finansial) untuk mendukung
220 ribu MBR dengan pinjaman bunga sebesar 5% selama 20 tahun. Adapun Menkeu
masih akan mencari berbagai instrumen untuk memenuhi target anggaran Program
3 Juta Rumah yang akan didiskusikan dengan Kementerian dan Lembaga terkait.
Menkeu optimis Pemerintah dapat meningkatkan skala program tersebut untuk
memenuhi target 3 juta rumah bagi MBR. Selain itu, Pemerintah juga memiliki
instrumen lain, seperti perbaikan rumah bagi masyarakat dan juga skema bantuan
uang muka.
Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
Kalimantan Timur. Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin
menjanjikan yang didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur
Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan
properti hunian di wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan
diyakini akan terus meningkat. Bisnis properti di kawasan ini akan semakin
menjanjikan dan itu salah satunya didorong oleh pembangunan berbagai proyek
infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini juga menjadi momentum yang baik untuk terus
memperbesar potensi bisnis properti di kawasan ini.
Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
37
Page 53
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
bisnis properti. Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring
peningkatan populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial,
pendidikan, rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara. Upaya
land development tersebut dilakukan oleh Kementerian PUPR dengan membuka,
membentuk strukturnya dengan membuat jalan terlebih dahulu, kemudian
membangun kavling-kavling lalu diratakan sehingga menjadi lahan siap bangun.
Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.
3.5 Sasaran
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota Samarinda, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.
Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor
properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.
3.6 Potensi Nilai Pasar
Dari Penambahan Kegiatan Usaha baru ini, Perseroan diproyeksikan mencatatkan
tambahan pendapatan dari penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp6,94 miliar,
tahun tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar,
tahun 2029 sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun
38
Page 54
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2031 sebesar Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033
sebesar Rp22,77 miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92
miliar di tahun 2035.
Dasar penentuan pada proyeksi pendapatan adalah waktu operasional yang dimulai
pada tahun pertengahan tahun 2026 dengan hari operasional selama 150 hari
sedangkan untuk tahun 2027—2035 hari operasional selama 300 hari. Volume
produksi didasari oleh kapasitas produksi mesin yang telah dikoreksi oleh produk
akhir yang siap untuk dijual kepada pelanggan. Disisi harga jual, diproyeksikan
adanya peningkatan harga setiap tahunnya yang merujuk pada target inflasi BI
tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.
3.7 Pesaing Usaha
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
1. PT Varia Usaha Beton Teluk Pandan, Kec. Teluk
Pandan, Kabupaten Kutai 1.950 Rp3.600
Timur
2. PT Kutai Inti Beton Samboja 19.500 Rp3.600
3. Kampoeng FABA Kelurahan Graha Indah,
1.125
Kecamatan Balikpapan Utara
4. CV Borneo Conblock Samarinda
8.400
Mandiri
5. CV Kalimantan Beton Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu 34.400
Raya, Kalimantan Barat
6. Fadil Karya Balikpapan Rp3.500
7. Bintang Jaya Beton Samarinda Rp3.400 - 3.600
8. Pilar Beton Indo Samboja Rp3.550 - 3.700
9. Beton Elemen Prima Samarinda Rp3.200 - 3.400
10. Tiga Mutiara Beton Balikpapan Rp3.300 - 3.500
3.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
39
Page 55
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
profil usaha, maupun dokumentasi proyek, membantu meningkatkan
kepercayaan klien;
2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
berinteraksi dengan konsumen;
4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
memperluas jejaring;
6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.
Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
perusahaan;
2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.
40
Page 56
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4 KELAYAKAN TEKNIS
4.1 Kapasitas
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan mengimpor mesin
batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok. Mesin ini bernama
ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang
di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas terpasang mesin adalah sebesar
24.000 unit/hari.
Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
batako dan paving block.
Gambar 7 Rencana Layout TPS Limbah
Gambar 8 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block
Sumber: Manajemen Perseroan
41
Page 57
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Bahan Baku Mentah
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan bahan
baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan semen
dengan kebutuhan sebagai berikut.
Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku
No Material Berat Aktual (Kg)
1. Limbah Karbit 0,15
2. Pasir Kasar 1,80
3. Batu Pecah 1,05
4. Semen 0,45
Total 3,45
Sumber: Manajemen Perseroan
Pekerja
Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
kerja sebanyak 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan
berencana melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.
Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja
No Tenaga Kerja Jumlah (orang)
1. Superintendent batako 1
2. Supervisor production 1
3. Quality control batako 1
4. Supervisor sales & distribution 1
5. Operator
Control Panel 2
Block Curing 1
Block Cubing 1
6. Sales 1
7. Distribution
Packing 2
Driver 1
Total 12
Sumber: Manajemen Perseroan
Tenaga Ahli
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun
membutuhkan tenaga ahli khusus.
42
Page 58
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4.3 Proses Produksi
Kegiatan treatment untuk limbah karbit sebagai bahan baku produksi batako dan
paving block sebagai berikut.
1. Mempersiapkan tangki generator
➢ Memastikan tangki generator dalam kondisi bersih dan siap digunakan; dan
➢ Menyiapkan Kalsium Karbida dalam jumlah yang telah ditentukan.
2. mencampurkan air dan kalsium karbida dalam tangki generator
➢ Memasukkan air ke dalam tangki generator sesuai dengan jumlah yang
dibutuhkan;
➢ Menambahkan Kalsium Karbida ke dalam tangki generator; dan
➢ Biarkan Kalsium Karbida bereaksi dengan air, menghasilkan gas C2H2 dan
limbah slurry.
3. Memisahkan gas C2H2 dan limbah slurry
➢ Gas C2H2 yang dihasilkan akan keluar melalui outlet gas generator untuk
dialirkan ke gas holder; dan
➢ Limbah slurry yang dihasilkan akan keluar melalui outlet slurry generator
untuk dialirkan ke bak kontrol sementara.
4. Memindahkan limbah slurry dari bak kontrol sementara ke bak kontrol utama
➢ Menggunakan pompa pemindah untuk memindahkan limbah slurry dari bak
kontrol sementara ke bak kontrol utama.
5. Penyaringan dan pemisahan limbah slurry
➢ Menggunakan mesin filter press yang dilengkapi dengan high pressure
centrifugal pump untuk menghisap limbah slurry dari bak kontrol utama; dan
➢ Limbah slurry yang terhisap akan mengalami proses filtrasi untuk
memisahkan padatan dan air bersih yang sudah difilter.
6. Pengemasan limbah slurry padatan
➢ Limbah slurry padatan yang telah dipisahkan akan dimasukkan ke dalam
karung sesuai dengan berat yang telah ditentukan.
7. Penyelesaian Proses
➢ Limbah slurry padatan yang sudah dikemas dalam karung siap untuk
dipindahkan atau dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku.
43
Page 59
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Gambar 9 Diagram Alur Proses Limbah Karbit
Sumber: Manajemen Perseroan
Sedangkan untuk proses pembuatan batako dan paving block dimulai dengan
mencampurkan semen, pasir, batu pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya
yaitu memasukkan adukan tersebut kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan
dan kemudian baru dapat di masukkan kedalam cetakan batako dan paving block.
Proses pelepasan dari cetakan dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk
diuji.
44
Page 60
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk
5 KELAYAKAN POLA BISNIS
Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
Perseroan.
Gambar 10 Pola Bisnis
Penerimaan Order
Perencanaan Produksi
C Seleksi & Evaluasi
Purchasing Supplier
U
S
Incoming Material
T
O
M Gudang Raw Material
E
R Produksi Quality Control
Gudang Finished
Delivery
Sumber: Manajemen Perseroan
45
Page 61
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
5.1 Keunggulan Kompetitif
Berdasarkan pengalaman Perseroan sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak
lama memiliki manajemen dan sistem operasional yang kompeten untuk melakukan
ekspansi usaha. Keunggulan kompetitif Perseroan diuraikan sebagai berikut.
• Perseroan telah memiliki lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan
usaha. Sehingga tidak memerlukan biaya tambahan untuk pembelian atau
penyewaan gudang/pabrik.
• Perseroan memiliki jangkauan penjualan yang luas.
• Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang
cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas yang kecil, dan konsisten mencatatkan
laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat memungkinkan untuk membiayai
penambahan kegiatan usaha.
• Perseroan telah memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil
dari produk gas acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan.
• Produk batako telah memiliki SNI.
• Mesin ZN600 VP dapat menghasilkan 4 produk yang berbeda, dengan beragam
produk yang dapat dihasilkan dari sisi bentuk dan ukuran maka dapat
menghasilkan varian desain dan estetika serta fungsi yang dapat menjadi
keunggulan produk yang akan akan dihasilkan.
• Atas keunikan penambahan bisnis ini dalam menciptakan nilai, maka akan
memberikan keunggulan kompetitif bagi Perseroan sebagai perusahaan yang
dapat memiliki solusi konkrit atas permasalahan limbah. Limbah yang
digunakan sebagai bahan baku juga merupakan keunggulan kompetitif tersediri
yang berkaitan dengan efisensi biaya untuk pengelolahan limbah.
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk
Kemungkinan pesaing dalam bidang usaha ini cukup besar, dimana risiko adanya
produk Perseroan yang mungkin ditiru oleh perusahaan lain merupakan risiko yang
melekat pada kegiatan bisnis Perseroan. Kemampuan pesaing untuk meniru produk
memang tidak dapat dihindari, terutama apabila dilihat dari diferensiasi produk
yang dihasilkan, sehingga membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi
sangat kompetitif. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya
sebagai berikut.
• Meningkatkan kualitas produk dan layanan;
• Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan intelektual;
• Membedakan produk dari bentuk dan ukuran; dan
• Memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk Perseroan.
46
Page 62
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai
Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
nilai yang diantaranya:
1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
Penggunaan limbah B3 sebagai bahan baku batako dan paving block
menciptakan nilai tambah dan citra positif sebagai Perusahaan yang menjaga
lingkungan dengan melakukan pengelolaan limbah yang efektif. Sehingga
secara tidak langsung diharapkan dapat mendukung komitmen pemerintah
untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan.
2. Menambah sumber pendapatan baru
Permintaan yang berkesinambungan dari pasar dapat dimanfaatkan oleh
Perseroan atas penambahan kegiatan usaha yang akan dijalankan dapat
menambah sumber pendapatan baru bagi Perseroan.
3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
Penjualan atas penambahan kegiatan usaha proyek ini akan menghasilkan laba
bagi Perseroan yang akan meningkatkan kinerja keuangan Perseroan.
4. Efisiensi operasional
Perseroan dapat menekan biaya pengelolaan limbah karbit yang dihasilkan atas
pengelolaan bisnis eksisting terkait produk gas acetylene. Lebih lanjut, mesin
batako dan paving block yang digunakan memiliki kecepatan produksi, kualitas
yang konsisten, dan efisiensi terhadap tenaga kerja sehingga sehingga
memungkinkan Perseroan mencapai skala ekonomi yang lebih besar dengan
memberikan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Keempat hal di atas dapat memberikan kontribusi yang positif dan nilai tambah bagi
Perseroan.
47
Page 63
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sumber daya manusia yang berkualitas baik dan memiliki pengetahuan serta
keterampilan yang cakap merupakan modal penting bagi Perseroan. Strategi dan
tujuan jangka panjang yang akan dicapai oleh Perseroan juga bergantung kepada
kemampuan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki. Berdasarkan
informasi dari manajemen, sampai dengan tanggal 30 Juni 2025, Perseroan memiliki
277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan
membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan tenaga kerja
sebanyak 12 orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor Produksi,
Supervisor Sales & Distribution, Quality Control Batako, Operator, Operator Control
Panel, Operator Block Curing, Operator Block Cubing, Sales, Distribution, Packing
dan Driver. Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai kebutuhan tenaga ahli
tambahan tidak signifikan karena teknologi produksinya user friendly yang dapat
dioperasikan oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih. Nantinya apabila mesin
produksi tersebut sudah tiba perusahaan akan melakukan training secara
menyuluruh kepada para pegawai yang bersangkutan agar dapat mengoperasikan
mesin dengan baik.
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual
Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan belum memiliki Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan
usaha baru.
6.3 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha barunya, Perseroan mungkin menghadapi
beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja usahanya. Risiko utama yang
mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
Risiko Prakonstruksi
1. Risiko Kondisi Ekonomi
Kondisi Perekonomian Nasional serta kebijakan fiskal dan moneter yang
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional akan berpengaruh pada kinerja
kegiatan usaha perseroan. Menurunnya tingkat pertumbuhan PDB, tingginya
tingkat suku bunga, serta tingginya laju inflasi/deflasi dapat mengakibatkan
perubahan, perlambatan atau resesi kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Secara tidak langsung, kondisi perekonomian nasional yang tidak kondusif
dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja penjualan Perseroan. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah diversifikasi sumber pendapatan dari produk baru,
48
Page 64
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
mengubah model bisnis jika situasi mengharuskan, dan terbuka terhadap
inovasi.
2. Risiko Perkembangan Pemukiman
Perubahan kebijakan pemerintah terkait perkembangan pemukiman serta tidak
tepatnya data ketersediaan rumah akan berdampak pada tidak akuratnya
permintaan akan kebutuhan pembangunan tempat tinggal dan kebutuhan
renovasi bangunan. Hal ini akan mempengaruhi permintaan atas produk bahan
bangunan. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah penentuan catchment area
serta memantau kebutuhan akan hunian milik di sekitar area.
3. Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN
Pada awal tahun 2025, proyek IKN terancam terhambat, setelah anggaran
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk proyek tersebut dipangkas drastis
akibat amanat efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu sasaran
pasar Perseroan adalah rencana pembangunan Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN.
Mitigasi yang dapat dilakukan adalah memantau perkembangan perencanaan
Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN yang menunjukkan perkembangan yang positif pada
pertengahan tahun 2025. Selanjutnya Perseroan perlu berupaya untuk
mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi.
4. Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN
Pada umumnya kontraktor menggunakan sub-kontraktor untuk melakukan
pekerjaan konstruksi tertentu dan supplier yang memasok kebutuhan material
proyek. Keterlambatan pembayaran dapat menyebabkan terhentinya
pengiriman material atau komponen dari supplier, yang berujung pada
keterlambatan proyek secara keseluruhan. Dari sisi cash flow, supplier akan
mengalami kesulitan arus kas (negatif cash flow), sehingga sulit untuk
memenuhi kewajiban pembayaran mereka sendiri. Kaitannya dengan proyek
IKN, Perseroan selaku supplier yang ditunjuk oleh kontraktor perlu melakukan
mitigasi dengan membuat kontrak yang kuat yang memuat klausul-klausul
terkait hak dan kewajiban Perseroan sebagai supplier. Selanjutnya Perseroan
melakukan negosiasi agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan secara
bertahap (termin) yang terikat pada progress penyelesaian/material yang telah
terkirim. Lebih lanjut, Perseroan perlu memitigasi dengan menyiapkan dana
yang cukup besar untuk kebutuhan produksi sehingga kas Perseroan tetap
terjaga positif.
5. Risiko Penawaran dan Permintaan
Risiko ini berasal dari terbatasnya informasi produksi barang yang dihasilkan
oleh kompetitor dan konsumen yang berada di sekitar area pemasaran. Risiko
49
Page 65
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
ini juga berasal dari keberlanjutan proyek IKN kedepannya yang mengakibatkan
scoop pembangunan yang tidak sesuai rencana sehingga rendahnya
permintaan. Risiko ini berdampak pada rendahnya utilisasi produksi yang
berakibat tidak efektifnya mesin utama. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
memantau perkembangan supply dan demand, serta melakukan kajian market
riset yang komprehensif secara berkala. Sedangkan mitigasi untuk proyek-
proyek IKN adalah Perseroan perlu mencari potensi pasar baru.
6. Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3
Pelanggaran terhadap peraturan pengelolaan limbah B3 dapat mengakibatkan
sanksi administratif, denda, atau bahkan pencabutan izin operasional. Untuk
mengatasi hal ini, perusahaan perlu membentuk tim internal yang bertanggung
jawab memantau dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Selain itu,
audit reguler terhadap proses pengelolaan limbah B3 harus dilakukan untuk
memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.
7. Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan
Penolakan izin lingkungan (AMDAL atau UKL-UPL) oleh KLHK dapat
menghentikan proyek sebelum dimulai. Untuk mengurangi risiko ini,
perusahaan perlu melibatkan konsultan lingkungan berpengalaman dalam
penyusunan dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Selain itu, sosialisasi dengan
masyarakat sekitar dan pemangku kepentingan harus dilakukan untuk
mengurangi resistensi terhadap proyek.
8. Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3
Kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan, atau pemanfaatan limbah B3
dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan sanksi hukum. Strategi
mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan pelatihan rutin bagi
karyawan terkait pengelolaan limbah B3 sesuai standar, memastikan TPS
Limbah B3 dirancang dan dioperasikan sesuai standar keamanan, serta
melakukan pemantauan berkala terhadap proses pengelolaan limbah B3.
9. Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama
Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu dapat menunda pelaksanaan
proyek. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu membuat timeline yang jelas
untuk setiap tahap pengajuan izin dan memantau progresnya secara berkala.
Selain itu, menunjuk tim khusus yang bertanggung jawab untuk mengurus
perizinan dan berkoordinasi dengan instansi terkait juga dapat mempercepat
proses.
10. Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan
Proyek dapat menghadapi tuntutan hukum dari masyarakat atau LSM
lingkungan jika dianggap merugikan lingkungan atau kesehatan masyarakat.
50
Page 66
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Strategi mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan sosialisasi dan
edukasi kepada masyarakat sekitar tentang manfaat dan dampak proyek,
membentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendukung
masyarakat sekitar, serta membuka saluran komunikasi dengan masyarakat
dan LSM untuk menampung masukan dan keluhan.
11. Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3
Pelanggaran terhadap peraturan pengangkutan limbah B3 dapat
mengakibatkan sanksi hukum atau kecelakaan yang merugikan. Untuk
mengurangi risiko ini, perusahaan perlu memastikan semua kendaraan
pengangkut memenuhi standar keamanan dan memiliki izin yang sah. Selain
itu, pelatihan rutin bagi pengemudi terkait prosedur pengangkutan limbah B3
dan pemantauan rute pengangkutan secara berkala juga perlu dilakukan.
12. Risiko Perubahan Regulasi
Perubahan regulasi di tengah proyek dapat mengakibatkan ketidaksesuaian
dengan persyaratan yang telah dipenuhi. Untuk mengantisipasi hal ini,
perusahaan perlu memantau perkembangan regulasi secara berkala melalui tim
hukum internal atau konsultan hukum. Selain itu, rencana kontingensi untuk
mengantisipasi perubahan regulasi yang signifikan juga perlu disiapkan.
13. Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan
Minimnya ketersediaan kas internal untuk penambahan kegiatan usaha akan
berpotensi proyek tidak dapat terlaksana. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
melakukan pendanaan kepada pihak perbankan.
Risiko Konstruksi
1. Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat
Lalu lalang kendaraan proyek serta kelalaian pengemudi dan pekerja proyek
akan berdampak pada gangguan arus lalu lintas dan lingkungan. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah sosialisasi pada masyarakat setempat mengenai proses
pengembangan tersebut, dan bekerjasama dengan pihak yang berwenang
mengenai adanya mobilisasi peralatan dan material.
2. Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air)
Kondisi lingkungan dapat terganggu oleh polusi suara dan udara yang
disebabkan oleh pergerakan alat berat dan mesin. Selain itu kualitas air dapat
terganggu oleh penggunaan air yang berlebihan saat konstruksi. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah mensyaratkan kontraktor untuk menggunakan terkini
yang ramah lingkungan, dan pembatas untuk area proyek untuk mencegah
masyarakat memasuki area proyek.
51
Page 67
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3. Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek
Risiko ini berasal dari kemampuan kontraktor tidak memadai, adanya
perubahan atau penambahan scope of project, pengawasan proyek yang kurang
baik, dan equipment freight & customs clearance terhambat. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah: pemilihan kontraktor yang berpengalaman dan
bereputasi baik, pemahaman dan pembuatan lingkup pekerjaan dan spesifikasi
kontrak yang detail dan jelas, pemilihan manajemen konstruksi proyek yang
profesional dan bereputasi baik, serta memahami prosedur & membina
hubungan dengan instansi terkait.
4. Risiko Kegagalan Konstruksi
Risiko ini berasal dari pengendalian atas proyek yang lemah, on time delivery
tidak konsisten dan cenderung lemah, dan lemahnya perhitungan estimasi
waktu kemungkinan terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek yang
ditinjau dari berbagai macam kemungkinan. Mitigasi yang dapat dilakukan
adalah mengkaji kembali kesesuaian fungsi, persyaratan tata bangunan,
keselamatan, kesehatan dan kenyamanan, serta kemudahan bangunan pada
desain konstruksi, melakukan komunikasi kepada Manajemen Proyek agar
dapat memastikan pengiriman material konstruksi/mesin/alat berat yang
terjadwal, dan melakukan update progres fisik dan biaya konstruksi secara
berkala yang dilakukan Konsultan Pengawas Proyek.
5. Risiko Cost Over Run
Risiko ini berasal dari kesalahan estimasi quantity surveyor dan dalam
menentukan bill of quantity. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
komunikasi dengan estimator terkait pengurangan tingkat kompleksitas
perhitungan dengan cara mengelompokan item pekerjaan, sehingga
perhitungan akan dapat dilakukan dengan fokus, dan secara berkala melakukan
evaluasi terhadap akurasi perhitungan dengan membuat program perhitungan
yang memiliki tingkat otomatisasi yang tinggi.
6. Risiko Pengendalian SDM Proyek
Dalam menunjuk kontraktor, Perseroan tidak memiliki kontrol penuh atas SDM
yang berada di proyek. Rendahnya kompetensi SDM proyek akan berdampak
pada terhambatnya proyek. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah komunikasi
dengan kontraktor terkait perhitungan produktivitas alat dan biaya overhead,
melakukan komunikasi dengan kontraktor terkait sinkronisasi jumlah tenaga
yang digunakan dengan peralatan dan keahliannya, dan menyesuaikan kembali
analisa yang terkait dengan volume pekerjaan, tingkat kesulitan, cuaca dan
parameter non teknis lainnya.
52
Page 68
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Risiko Operasional
1. Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai
Risiko ini berasal dari kemampuan pendanaan yang kurang memadai;
kemampuan finansial atas operasional; serta persediaan tidak terpenuhi secara
wajar. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pendanaan dari pihak
perbankan.
2. Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan
Risiko ini berasal dari volume penjualan tidak sesuai target. Mitigasi yang dapat
dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk yang
dihasilkan.
3. Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten
Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya tenaga ahli yang paham
terkait produktivitas, keputusan, finansial, inovasi, dan keselamatan tenaga
kerja. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah recruitment tenaga ahli yang
didasari oleh kualifikasi yang ketat seperti pendidikan, keahlian, pengalaman,
pengelolaan SDM, jaringan, dan kemampuan komunikasi yang baik.
4. Risiko SDM
Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya penambahan SDM,
pelatihan dan penempatan posisi yang tepat. Mitigasi yang dapat dilakukan
adalah melakukan evaluasi pada kinerja SDM; modul training; serta penempatan
karyawan yang lebih akurat.
5. Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran
Risiko ini berasal dari kesalahan segmentasi dan target pasar. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk
yang dihasilkan.
6. Risiko Mesin
Risiko ini berasal dari manual book yang sulit dipahami operator, tidak
diikutinya prosedur pengoperasian, dan pengadaan mesin yang tidak sesuai
spesifikasi. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah perlu adanya transfer
teknologi dari vendor kepada tenaga ahli/pihak yang kompeten untuk
merancang, merawat, memperbaiki dan mengoptimalkan penggunaan mesin.
7. Risiko Bahan Baku
Risiko ini berasal dari kegagalan produksi, perencanaan waktu supply bahan
baku, dan jumlah tidak sesuai. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
quality control terhadap kualitas bahan baku yang dibutuhkan.
53
Page 69
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Perseroan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengelolaan kegiatan usaha yang
telah berjalan. Untuk mendukung rencana penambahan kegiatan usaha baru,
Perseroan sedang mempersiapkan langkah-langkah peningkatan kapasitas dan
kompetensi agar mampu mengelola portofolio produk yang lebih beragam secara
optimal di masa mendatang.
Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan
kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk mengelola SDM secara terstruktur
dan efektif, guna memastikan bahwa setiap karyawan dapat berkontribusi secara
optimal sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat,
Perseroan dapat terus meningkatkan produktivitas dan daya saing di industri.
Kontribusi SDM dalam keberlanjutan usaha Perseroan memiliki peran penting yang
tidak dapat terbantahkan. Untuk terus mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif,
Perseroan terus berupaya dalam membangun peningkatan pengelolaan SDM.
Perseroan meyakini bahwa hubungan yang baik dengan karyawan dapat
meningkatkan produktivitas dan efektivitas kinerja dalam mencapai target-target
usaha.
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Dalam menganalisis kesesuaian struktur organisasi dan manajemen, penting untuk
memahami bagaimana struktur organisasi yang ada mendukung pencapaian dari
Penambahan Kegiatan Usaha baru.
Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
operator produksi, quality control, sales dan driver.
54
Page 70
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Gambar 11 Struktur Organisasi Unit Bisnis Batako dan Paving Block
Sumber: Manajemen Perseroan
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha baru ini, maka unit bisnis akan
tergabung dalam satu struktur organisasi eksisting sebagai berikut:
Gambar 12 Struktur Organisasi Tambahan Kegiatan Usaha
Sumber: Manajemen Perseroan
Keterangan: Data struktur organisasi penambahan kegiatan usaha telah dilampirkan
55
Page 71
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7 KELAYAKAN KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian
ini menganalisis besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga
didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu proyek/rencana layak dilaksanakan
ataupun tidak.
Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji beberapa hal berikut, diantaranya
adalah kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs)
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex), dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000)
Keterangan Satuan Volume Harga Total
A LAHAN
1 Pengadaan Lahan 0
2 Pengerukan Area Pabrik m³ 9.800 100 1.176.000
3 Pengerukan Jalan Masuk m³ 870 100 104.400
Sub Total 1.280.400
B PRA OPERASI
1 SLO unit 1 100.000 100.000
2 PERTEK unit 1 100.000 100.000
3 UKL/UPL unit 1 300.000 300.000
4 KBLI unit 1 100.000 100.000
5 Tambah Daya Listrik lot 1 700.000 700.000
Sub Total 1.300.000
C BANGUNAN DAN FASILITAS m² 1.296 2.000 2.592.000
D MESIN DAN ALAT BERAT
1 Mesin QGM ZN600VP unit 1 8.165.000 8.165.000
2 Dump Truck - Isuzu Giga unit 1 500.000 500.000
3 Biaya Kirim Ls 1 416.000 416.000
4 Biaya Instalasi Ls 1 176.000 176.000
Sub Total 9.257.000
Total Investasi 14.429.400
Sumber: Proyeksi Keuangan
7.2 Modal Kerja
Asumsi modal kerja yang diperlukan adalah sebagai berikut.
56
Page 72
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Perputaran persediaan
Bahan baku : 30 hari
Barang jadi : 15 hari
Perputaran piutang usaha : 30 hari
Perputaran utang usaha : 60 hari
Proyeksi Modal Kerja tahun 2026—2035 adalah sebagai berikut.
Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 1.842.777 2.591.140 2.966.204 3.061.590 3.152.395
Hutang Lancar (1.236.543) (1.415.043) (1.580.570) (1.622.366) (1.679.148)
Modal Kerja 606.234 1.176.096 1.385.634 1.439.225 1.473.247
Perubahan Modal Kerja 606.234 569.862 209.538 53.591 34.022
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 3.240.511 3.331.361 3.430.373 3.532.293 3.637.210
Hutang Lancar (1.737.919) (1.798.746) (1.861.702) (1.926.861) (1.994.302)
Modal Kerja 1.502.592 1.532.615 1.568.671 1.605.431 1.642.908
Perubahan Modal Kerja 29.345 30.023 36.056 36.760 37.477
Sumber: Proyeksi Keuangan
Berdasarkan proyeksi keuangan atas adanya penambahan KBLI baru, modal kerja
yang dibutuhkan pada tahun 2026 sampai dengan tahun 2035 berturut-turut
adalah sebesar Rp606,23 juta, Rp1,18 miliar, Rp1,39 miliar, Rp1,44 miliar, Rp1,47
miliar, Rp1,50 miliar, Rp1,53 miliar, Rp1,57 miliar, Rp1,61 miliar dan Rp1,64 miliar.
7.3 Sumber Pembiayaan
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
bersumber dari kas yang tersedia dan perbankan.
Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000)
Keterangan Komposisi Nilai
SUMBER PEMBIAYAAN
a. Pinjaman Bank 65% 9.380.000
b. Modal Sendiri 35% 5.049.400
Total 100% 14.429.400
Sumber: Proyeksi Keuangan
57
Page 73
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7.4 Biaya Operasional
Biaya operasional pada tahun 2026—2035 diproyeksikan seperti tabel dibawah ini.
Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta)
Uraian 2026 2027 2028 2029 2030
Biaya Usaha 1.500.000 3.105.000 3.213.675 3.326.154 3.442.569
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035
Biaya Usaha 3.563.059 3.687.766 3.816.838 3.950.427 4.088.692
Pada tahun 2026, biaya operasional Perseroan diproyeksikan sebesar Rp1,50 miliar.
Biaya ini meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp4,09 miliar pada tahun 2035.
Peningkatan pada proyeksi biaya operasional adalah sebesar 3,50%. Peningkatan ini
merujuk target inflasi BI tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah
Biaya bahan baku mentah pada tahun 2026 diasumsikan sebagai berikut.
- Semen
Biaya bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
- Batu Pecah
Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
- Pasir
Biaya bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.
Biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50%. Peningkatan ini merujuk
target inflasi BI tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan
Berikut ini merupakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.
Waktu Operasional
Periode proyeksi dimulai bulan pertengahan Juni 2026 hingga tahun 2035. Jumlah
hari operasional diasumsikan selama 150 hari di tahun 2026 dan 300 hari untuk
tahun-tahun proyeksi selanjutnya.
Struktur Pendapatan
Pendapatan untuk tahun-tahun proyeksi diasumsikan sebagai berikut:
58
Page 74
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 19 Struktur Pendapatan
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Kapasitas Terpasang / Hari 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Kapasitas Terpasang / Tahun 3.600.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000
Utilitas 75,00% 85,00% 95,00% 95,00% 95,00%
Kapasitas Tercapai 2.700.000 6.120.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000
Persediaan awal - 220.109 251.507 281.096 281.096
Persediaan akhir (220.109) (251.507) (281.096) (281.096) (281.096)
Volume penjualan 2.479.891 6.088.602 6.810.411 6.840.000 6.840.000
Harga / pcs 2.800 2.870 2.942 3.015 3.091
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
Kapasitas Terpasang / Hari 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Kapasitas Terpasang / Tahun 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000
Utilitas 95,00% 95,00% 95,00% 95,00% 95,00%
Kapasitas Tercapai 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000
Persediaan awal 281.096 281.096 281.096 281.096 281.096
Persediaan akhir (281.096) (281.096) (281.096) (281.096) (281.096)
Volume penjualan 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000
Harga / pcs 3.168 3.247 3.328 3.412 3.497
Sumber: Proyeksi Keuangan
Keterangan: Harga produk diasumsikan mengalami kenaikan sebesar 2,50% setiap tahunnya
Dasar penentuan pada proyeksi keuangan adalah waktu operasional yang dimulai
pada tahun pertengahan tahun 2026 dengan hari operasional selama 150 hari.
Sedangkan proyeksi keuangan selama 10 tahun didasari oleh umur teknis aset
produksi utama selama 10 tahun. Untuk tahun 2027-2035 hari operasional selama
300 hari.
Dasar penentuan pada proyeksi keuangan melekat pada kapasitas produksi.
Kapasitas terpasang mesin adalah 24.000 pcs/hari atau setara 7.200.000 pcs/tahun
yang kemudian dikoreksi produk akhir yang siap untuk dijual kepada pelanggan
(asumsi persediaan barang jadi selama 15 hari) sehingga dapat diketahui volume
penjualan untuk setiap tahunnya.
Selanjutnya harga jual diasumikan sebesar Rp2.800/pcs yang diasumsikan
meningkat sebesar 2,50%. Peningkatan ini merujuk target inflasi BI tahun 2025 yang
sebesar 2,5+1%. Tingkat ketercapaian atas proyeksi masih realisitis dan dapat
dicapai. Hal ini merujuk pada masih besarnya potensi pasar paving block seiring
dengan pembangunan perumahan di beberapa daerah Provinsi Kalimantan Timur
serta rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.
59
Page 75
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Struktur Biaya
Harga Pokok Produksi
a. Biaya Pemakaian Bahan Baku
Pemakaian bahan baku untuk penambahan kegiatan usaha dirinci sebagai
berikut.
- Semen
Kebutuhan semen sebanyak 0,45 kg untuk setiap 1 paving block. Biaya
bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
- Batu Pecah
Kebutuhan batu pecah sebanyak 1,05 kg untuk setiap 1 paving block.
Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
- Pasir
Kebutuhan pasir sebanyak 1,80 kg untuk setiap 1 paving block. Biaya
bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.
Asumsi biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap
tahunnya.
b. Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 12 orang dengan rata-rata gaji
setiap bulan sebanyak Rp4.800.00/bulan. Gaji diasumsikan meningkat
sebesar 3,50% setiap tahunnya.
c. Biaya Distribusi
Biaya distribusi diasumsikan sebesar Rp11.000.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
d. Biaya Maintenance
Biaya maintenance diasumsikan sebesar Rp43,325.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
e. Biaya Listrik
Biaya listrik diasumsikan sebesar Rp39.600.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
60
Page 76
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
f. Beban Umum dan Administrasi
Biaya umum dan administrasi diasumsikan sebesar Rp250.000.000/bulan.
Biaya ini diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
Beban Bunga Bank
Beban bunga bank terdiri dari hutang bank Kredit Investasi diasumsikan sebesar
8,92%.
Tarif Pajak
Pajak penghasilan badan (PPh Badan) diproyeksikan sebesar 22,00% dan
diasumsikan tetap selama masa proyeksi.
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan
Proyeksi Posisi Keuangan Perseroan pada tahun ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar 344.884 2.233.814 2.963.252 4.675.191 6.430.652 5.052.471
Aset Tidak Lancar 6.503.500 13.733.490 13.027.180 12.250.095 11.402.235 10.483.600
TOTAL ASET 6.848.384 15.967.304 15.990.432 16.925.286 17.832.887 15.536.071
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek - 1.236.543 1.415.043 1.580.570 1.622.366 1.679.148
Liabilitas Jangka Panjang 7.003.500 15.029.400 13.229.400 11.429.400 9.629.400 4.554.700
Ekuitas (155.116) (298.638) 1.345.989 3.915.316 6.581.122 9.302.222
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 6.848.384 15.967.304 15.990.432 16.925.286 17.832.887 15.536.071
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
ASET
Aset Lancar 4.262.436 8.025.473 11.781.264 15.520.367 19.237.212
Aset Tidak Lancar 9.624.190 8.824.005 7.953.045 7.011.310 5.998.799
TOTAL ASET 13.886.626 16.849.478 19.734.309 22.531.676 25.236.012
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek 1.737.919 1.798.746 1.861.702 1.926.861 1.994.302
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Ekuitas 12.148.707 15.050.732 17.872.607 20.604.815 23.241.710
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 13.886.626 16.849.478 19.734.309 22.531.676 25.236.012
Sumber: Proyeksi Keuangan
61
Page 77
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan kas akhir tahun
2025 yang berasal dari akumulasi arus kas neto diperoleh dari (untuk) aktivitas
operasi, arus kas neto diperoleh dari (untuk) aktivitas investasi, dan arus kas neto
diperoleh dari (untuk) aktivitas pendanaan. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya
dapat dilihat kertas kerja.
Peningkatan piutang berasal dari perhitungan uang yang terutang atas pendapatan
yang diterima dari penambahan kegiatan usaha baru dengan asumsi perputaran
piutang adalah selama 30 hari dalam satu tahun. Pada tahun 2026 (6 bulan
operasional) nilai penjualan sebesar Rp6,94 miliar sehingga piutang usaha sebesar
Rp1,13 miliar, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun penuh
penjualan sebesar dan Rp17,47 miliar piutang usaha menjadi sebesar Rp1,44 miliar.
Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.
Peningkatan persediaan berasal dari bahan baku dan barang jadi. Asumsi
perputaran persediaan bahan baku adalah selama 30 hari dalam satu tahun.
Sehingga dapat diperhitungkan sisa bahan baku yang belum diproses menjadi
barang jadi. Asumsi perputaran persediaan barang jadi adalah selama 15 hari dalam
satu tahun. Sehingga dapat diperhitungkan produk akhir yang telah selesai
diproduksi oleh Perseroan dan siap untuk dijual kepada pelanggan. Atas penjelasan
tersebut maka pada tahun 2026 (6 bulan operasional) persediaan bahan baku
sebesar Rp288,01 juta, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun penuh
persediaan bahan baku menjadi sebesar Rp675,66 juta. Sedangkan untuk
persediaan barang jadi pada tahun 2026 (6 bulan operasional) persediaan barang
jadi sebesar Rp422,65 juta, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun
penuh persediaan bahan baku menjadi sebesar Rp479,24 juta. Untuk tahun-tahun
proyeksi selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas nilai buku
aset tetap yang berasal investasi selama tahun 2025-2026 untuk jenis aset
bangunan, sarana prasarana, mesin, alat berat, dan pra operasi. Lebih lanjut, Penilai
juga memperhitungkan adanya biaya capex untuk kebutuhan maintenance tahunan
setelah selesai pembangunan (di mulai dari tahun 2027 dan sampai dengan akhir
proyeksi). Disamping itu perlu memperhitungkan adanya penyusutan untuk setiap
jenis berdasarkan tarif susutnya masing-masing. Atas penjelasan tersebut maka
harga perolehan tahun 2025 sebesar Rp6,50 miliar, harga perolehan tahun 2026
sebesar Rp14,43 miliar dengan beban penyusutan sebesar Rp659,91juta, harga
perolehan awal tahun 2027 sebesar Rp14,43 miliar, capex maintenance sebesar
Rp756,29 juta dengan beban penyusutan sebesar Rp1,46 miliar, dan tahun 2028
harga perolehan awal sebesar Rp15,19 miliar, capex maintenance sebesar Rp756,29
juta dengan beban penyusutan sebesar Rp1,53 miliar. Untuk tahun-tahun proyeksi
selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.
62
Page 78
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Selama tahun 2025—2035, total aset diproyeksikan mengalami kenaikan. Pada
tahun 2025, total aset diproyeksikan sebesar Rp6,85 miliar hingga menjadi sebesar
Rp25,24 miliar pada tahun 2035.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas utang
usaha yang berasal dari kewajiban yang perlu dibayar atas pembelian bahan baku
dengan asumsi perputaran utang adalah selama 60 hari dalam satu tahun. Pada
tahun 2026 (6 bulan operasional) pembelian bahan baku sebesar Rp3,79 miliar
sehingga utang sebesar Rp1,24 miliar, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan
satu tahun penuh pembelian bahan baku sebesar Rp8,61 miliar dan utang usaha
menjadi sebesar Rp1,42 miliar. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya dapat
dilihat kertas kerja.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas utang bank
yang berasal dari penarikan utang bank Kredit Investasi (KI) untuk pendanaan
proyek sebesar Rp4,23 miliar di tahun 2025, dan sebesar Rp5,15 miliar di tahun
2026. Setelah operasional di pertengahan tahun 2026, diagendakan adanya
angsuran utang bank KI sebesar Rp900,00 juta di tahun 2026, sebesar Rp1,80
miliar di tahun 2027 sampai dengan 2030, sedangkan di tahun 2031 angsuran
sebesar Rp1,28 miliar.
Pada tahun 2025 total liabilitas Perseroan diproyeksikan sebesar Rp7,00 miliar yang
meningkat menjadi sebesar Rp16,27 miliar di tahun 2026. Pada tahun 2027—2030,
liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan dari Rp14,64 miliar menjadi Rp6,23
miliar. Terjadi penurunan yang signifikan di tahun 2031 yang diproyeksikan sebesar
Rp1,74 miliar yang kemudian terjadi peningkatan hingga mencapai sebesar Rp1,99
miliar di tahun 2035.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat defisit/laba di ekuitas atas
yang berasal dari saldo laba (rugi) awal tahun ditambah laba (rugi) tahun berjalan.
Total ekuitas juga diproyeksikan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun
2025, total ekuitas diproyeksikan sebesar negatif Rp155,12 juta hingga menjadi
sebesar Rp23,24 miliar pada tahun 2035.
7.8 Proyeksi Laba (Rugi)
Proyeksi Laba Rugi Perseroan ditunjukkan pada tabel berikut.
63
Page 79
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan - 6.943.696 17.474.287 20.034.526 20.624.609 21.140.224
Beban Pokok Penjualan - (4.065.922) (10.142.255) (11.498.060) (11.941.730) (12.359.792)
Laba (Rugi) Kotor - 2.877.773 7.332.032 8.536.467 8.682.880 8.780.433
Beban Usaha - (1.500.000) (3.105.000) (3.213.675) (3.326.154) (3.442.569)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA - 1.377.773 4.227.032 5.322.792 5.356.726 5.337.864
Beban Penyusutan & Amortisasi - (695.910) (1.462.595) (1.533.370) (1.604.145) (1.674.920)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (155.116) (825.385) (655.941) (495.412) (334.882) (174.353)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak (155.116) (143.522) 2.108.496 3.294.010 3.417.699 3.488.591
Pajak Final - - (463.869) (724.682) (751.894) (767.490)
Laba (Rugi) Bersih (155.116) (143.522) 1.644.627 2.569.328 2.665.805 2.721.101
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
Penjualan 21.668.730 22.210.448 22.765.710 23.334.852 23.918.224
Beban Pokok Penjualan (12.797.829) (13.245.668) (13.703.838) (14.183.575) (14.680.101)
Laba (Rugi) Kotor 8.870.901 8.964.781 9.061.871 9.151.278 9.238.122
Beban Usaha (3.563.059) (3.687.766) (3.816.838) (3.950.427) (4.088.692)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA 5.307.842 5.277.015 5.245.033 5.200.851 5.149.430
Beban Penyusutan & Amortisasi (1.615.695) (1.556.470) (1.627.245) (1.698.020) (1.768.795)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (42.808) - - - -
Laba (Rugi) Sebelum Pajak 3.649.339 3.720.545 3.617.788 3.502.831 3.380.635
Pajak Final (802.855) (818.520) (795.913) (770.623) (743.740)
Laba (Rugi) Bersih 2.846.485 2.902.025 2.821.875 2.732.208 2.636.895
Sumber: Proyeksi Keuangan
Selama tahun 2026—2035, total penjualan diproyeksikan mengalami kenaikan.
Pada tahun 2026, total penjualan diproyeksikan sebesar Rp6,94 miliar yang
kemudian mengalami kenaikan hingga menjadi sebesar Rp23,92 miliar pada tahun
2035.
Setelah diakumulasi dengan beban pokok penjualan, beban usaha, beban lainnya,
dan pajak final, Perseroan diproyeksikan mencatatkan tambahan laba bersih dari
penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp1,64 miliar pada tahun 2027 menjadi
sebesar Rp2,64 miliar di tahun 2035.
7.9 Proyeksi Arus Kas
Proyeksi Arus Kas Perseroan tahun 2025—2035 ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha - 5.811.571 16.038.045 18.387.853 18.929.436 19.402.672
Penerimaan Piutang - - 1.132.124 1.436.243 1.646.673 1.695.173
Biaya Pokok - (984.510) (1.978.320) (2.047.561) (2.119.226) (2.193.398)
64
Page 80
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pembayaran Kepada Supplier - (2.555.522) (8.429.679) (9.449.606) (9.827.595) (10.158.037)
Biaya Operasional - (1.500.000) (3.105.000) (3.213.675) (3.326.154) (3.442.569)
Pajak Final - - (463.869) (724.682) (751.894) (767.490)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS OPERASI - 771.539 3.193.301 4.388.572 4.551.242 4.536.351
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi (6.503.500) (7.925.900) - - - -
Capital Expenditures, CAPEX - - (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI (6.503.500) (7.925.900) (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Modal Sendiri - I 2.273.500 2.775.900 - - - -
Modal Sendiri - MK - 1.000.000 - - - -
Hutang Pemegang Saham 500.000 - - - - -
Pinjaman - KI 4.230.000 5.150.000 - - - -
Angsuran - KI - (900.000) (1.800.000) (1.800.000) (1.800.000) (1.800.000)
Pembayaran Bunga - KI (112.816) (773.885) (655.941) (495.412) (334.882) (174.353)
Pembayaran Hutang Pemegang Saham - - - - - (3.274.700)
Biaya Provisi (42.300) (51.500) - - - -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN 6.848.384 7.200.515 (2.455.941) (2.295.412) (2.134.882) (5.249.053)
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS 344.884 46.154 (18.925) 1.336.875 1.660.075 (1.468.986)
KAS AWAL TAHUN - 344.884 391.037 372.112 1.708.988 3.369.062
KAS AKHIR TAHUN 344.884 391.037 372.112 1.708.988 3.369.062 1.900.076
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha 19.887.739 20.384.932 20.894.555 21.416.919 21.952.342
Penerimaan Piutang 1.737.553 1.780.992 1.825.516 1.871.154 1.917.933
Biaya Pokok (2.270.167) (2.349.623) (2.431.860) (2.516.975) (2.605.069)
Pembayaran Kepada Supplier (10.513.568) (10.881.543) (11.262.397) (11.656.581) (12.064.561)
Biaya Operasional (3.563.059) (3.687.766) (3.816.838) (3.950.427) (4.088.692)
Pajak Final (802.855) (818.520) (795.913) (770.623) (743.740)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS OPERASI 4.475.643 4.428.472 4.413.064 4.393.468 4.368.213
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi - - - - -
Capital Expenditures, CAPEX (756.285) (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS INVESTASI (756.285) (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Modal Sendiri - I - - - - -
Modal Sendiri - MK - - - - -
Hutang Pemegang Saham - - - - -
Pinjaman - KI - - - - -
Angsuran - KI (1.280.000) - - - -
Pembayaran Bunga - KI (42.808) - - - -
Pembayaran Hutang Pemegang Saham (3.274.700) - - - -
Biaya Provisi - - - - -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS PENDANAAN (4.597.508) - - - -
65
Page 81
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS (878.150) 3.672.187 3.656.779 3.637.183 3.611.928
KAS AWAL TAHUN 1.900.076 1.021.925 4.694.112 8.350.891 11.988.074
KAS AKHIR TAHUN 1.021.925 4.694.112 8.350.891 11.988.074 15.600.003
Sumber: Proyeksi Keuangan
Arus kas atas adanya penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan terus
meningkat. Kas dan setara kas pada awal periode tahun 2025 adalah Rp344,88 juta
yang kemudian pada akhir periode proyeksi tahun 2035 menjadi sebesar Rp15,60
miliar.
7.10 Analisis Titik Impas
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak
memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha
dikatakan impas jika jumlah pendapatan ( revenue) sama dengan jumlah biaya, atau
apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
Total Biaya Tetap
BEP =
(1- (Total Biaya Variabel))
Penjualan
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk
masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah
mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan
BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha
adalah sebagai berikut.
Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000)
Tahun Penjualan Variable Cost Fixed Cost BEP
2026 6.943.696 4.065.922 3.021.295 7.289.996
2027 17.474.287 10.142.255 5.223.536 12.449.150
2028 20.034.526 11.498.060 5.242.457 12.303.701
2029 20.624.609 11.941.730 5.265.181 12.506.484
2030 21.140.224 12.359.792 5.291.842 12.740.912
2031 21.668.730 12.797.829 5.221.562 12.754.579
2032 22.210.448 13.245.668 5.244.236 12.992.714
2033 22.765.710 13.703.838 5.444.083 13.676.911
2034 23.334.852 14.183.575 5.648.447 14.402.981
2035 23.918.224 14.680.101 5.857.487 15.165.494
BEP Rata-rata 12.628.292
BEP Rata-rata (%) 66,11%
Sumber: Proyeksi Keuangan
66
Page 82
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Penjualan berasal dari volume penjualan dikalikan harga penjualan sebagaimana
telah dijelaskan pada sub bab 7.6. Untuk biaya variable merupakan pengeluaran
yang jumlahnya berubah-ubah secara proporsional mengikuti volume produksi.
Komponen biaya ini terdiri dari pemakaian bahan baku, biaya tenaga kerja biaya
distribusi, biaya maintenance, biaya listrik, dan koreksi atas adanya persediaan
barang jadi. Untuk biaya tetap terdiri dari beban usaha, beban penyusutan, dan
beban lain-lain.
Dari hasil perhitungan BEP, apabila Perseroan ingin mencatatkan keuntungan, maka
Perseroan harus mencatatkan penjualan di tahun 2026 sebesar Rp6,94 miliar, tahun
tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar, tahun 2029
sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun 2031 sebesar
Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033 sebesar Rp22,77
miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92 miliar di tahun
2035. Sehingga rata-rata BEP Perseroan atas penambahan kegiatan usaha baru
selama periode proyeksi adalah sebesar Rp12,37 miliar.
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas
Analisis likuiditas adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan menghitung
rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancar.
Tabel 24 Analisis Likuiditas
Working Capital to
Tahun Current Ratio Quick Ratio
Total Assets Ratio
2026 180,65% 123,18% 6,25%
2027 209,41% 127,80% 9,68%
2028 295,79% 212,31% 18,28%
2029 396,38% 312,15% 26,96%
2030 300,89% 216,64% 21,71%
2031 245,26% 161,28% 18,18%
2032 446,17% 362,45% 36,96%
2033 632,82% 549,07% 50,27%
2034 805,47% 721,69% 60,33%
2035 964,61% 880,80% 68,33%
Average 447,75% 366,74% 31,69%
Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya peningkatan dari rasio likuiditas setelah
adanya penambahan kegiatan usaha.
Analisis solvabilitas adalah rasio yang berfungsi menilai kemampuan perusahaan
dalam melunasi semua kewajibannya, baik dalam jangka pendek, maupun jangka
Panjang dengan jaminan aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan.
67
Page 83
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 25 Analisis Solvabilitas
Tahun Debt to Equity Ratio Debt to Assets Ratio
2026 155,45% 60,85%
2027 102,53% 50,62%
2028 61,74% 38,17%
2029 35,81% 26,37%
2030 23,53% 19,05%
2031 14,31% 12,52%
2032 11,95% 10,68%
2033 10,42% 9,43%
2034 9,35% 8,55%
2035 8,58% 7,90%
Average 43,37% 24,41%
Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya penurunan dari rasio solvabilitas, hal ini
dikarenakan adanya penyelesaian kewajiban setelah adanya penambahan kegiatan
usaha.
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa
besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai
gambaran bagaimana Perseroan mendapatkan laba atas penambahan kegiatan
usaha barunya terdapat pada tabel berikut ini.
Tabel 26 Analisis Profitabilitas
Gross Profit Operating Profit Net Profit
Tahun
Margin Margin Margin
2026 31,42% 9,82% -2,07%
2027 33,59% 15,82% 9,41%
2028 34,96% 18,91% 12,82%
2029 34,32% 18,19% 12,93%
2030 33,61% 17,33% 12,87%
2031 33,48% 17,04% 13,14%
2032 33,36% 16,75% 13,07%
2033 32,66% 15,89% 12,40%
2034 31,94% 15,01% 11,71%
2035 31,23% 14,13% 11,02%
Average 33,06% 15,89% 10,73%
Dari tabel di atas diketahui bahwa dari penambahan kegiatan usaha baru
memberikan dampak positif yang signifikan pada rasio profitabilitas, dimana
selama tahun-tahun proyeksi rata-rata gross profit margin, operating profit margin
dan net profit margin masing-masing sebesar 33,06%, Rp15,89%, dan 10,73%.
68
Page 84
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi
Return on Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva
yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan
mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui
seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional
dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.
Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas Penambahan Kegiatan Usaha Perseroan.
Tabel 27 Return on Investment
Laba Bersih Total Investasi
Tahun ROI
(Rp.000) (Rp.000)
2026 (143.522) 15.967.304 -0,90%
2027 1.644.627 15.990.432 10,29%
2028 2.569.328 16.925.286 15,18%
2029 2.665.805 17.832.887 14,95%
2030 2.721.101 15.536.071 17,51%
2031 2.846.485 13.886.626 20,50%
2032 2.902.025 16.849.478 17,22%
2033 2.821.875 19.734.309 14,30%
2034 2.732.208 22.531.676 12,13%
2035 2.636.895 25.236.012 10,45%
Average 13,16%
Rasio ROI Perseroan pada tahun 2026—2035 diproyeksikan akan meningkat setiap
tahunnya seiring dengan peningkatan laba bersih dan total investasi Perseroan.
Perseroan diproyeksikan mencatatkan rata-rata ROI sebesar 13,16%.
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto
Faktor diskonto yang digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital yang
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
WACC = (Kd*(1-t)* % Debt) + (Ke* % Equity)
Keterangan:
WACC = Weighted average cost of capital (tingkat biaya tertimbang atas
modal)
Kd Cost of debt (tingkat bunga hutang perusahaan)
Ke = The required rate of return (biaya ekuitas)
T = Tax rate (tarif pajak)
69
Page 85
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
% Debt = Proportion of Debt in the Capital structure (proporsi hutang dalam
struktur kapital)
% Equity = Proportion of Equity in the Capital structure (proporsi ekuitas dalam
struktur kapital)
Berikut adalah asumsi yang digunakan untuk mengestimasi tingkat diskonto yang
akan digunakan dalam Penilaian.
Cost of Debt (tingkat biaya hutang)
Tingkat biaya hutang (cost of debt) diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
• Rata-rata tertimbang tingkat suku bunga efektif atas dana pinjaman investasi
yang akan digunakan yaitu sebesar 8,92%. (merujuk pada bunga Kredit Investasi
per 30 Juni 2025 dari SEKI Bank Indonesia).
• Tingkat pajak yang digunakan adalah sebesar 22,00% berdasarkan tingkat pajak
korporasi di Indonesia (Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020 - PPh Badan).
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka tingkat biaya hutang (cost of
debt) yang diaplikasikan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x ((1-T)
Kd = 8,92% x (1-22,00%) = 6,96%
Cost of Equity (biaya modal untuk ekuitas)
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan Model CAPM
(Capital Asset Pricing Model). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah
bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari
sekuritas saham, dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + (Rm – Rf) β + Rs
Ke = Rf + (Rp x β) + Rs
Keterangan:
Rf = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
Rm = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp = market risk premium untuk pasar ekuitas secara keseluruhan
β = ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara objektif dari
responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan
pengembalian portofolio pasar
Rs = tingkat kembalian tambahan spesifik untuk Perusahaan
70
Page 86
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tingkat biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia,
instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Surat Utang Negara
(most active government bond).
Dalam penilaian Perseroan digunakan Surat Utang Negara dengan rata-rata yield
adalah sebesar 7,06%. Angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
bebas risiko (Rf).
Tabel 28 Surat Utang Negara
Bond Maturity Yield
FR0103 15-Jul-35 7,0199%
FR0106 15-Aug-40 7,0371%
FR0107 15-Aug-45 7,0780%
FR0105 15-Jul-64 7,1089%
Rata-rata 7,0610%
Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI,
20 Maret 2025
Rp (Market Risk Premium - MRP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
risiko dengan tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas.
Premi risiko pasar (Rm-Rf) atau MRP ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi
pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang emerging.
Beta (β), adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan
dikalikan dengan market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.
Rs (Specific Company Risk Premium). Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh
Indonesia telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum
mencerminkan risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh
suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aswath Damodaran per Juli 2025, diprediksi
market risk premium adalah sebesar 7,03%.
Untuk memperoleh faktor Beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan,
kami menggunakan beta pembanding berdasarkan penelitian yang dilakukan
Aswath Damodaran dalam industri Construction Supplies per Januari 2025 yaitu
rata-rata sebesar 0,93.
71
Page 87
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas Perseroan adalah:
Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas
Keterangan Biaya Modal untuk Ekuitas
Biaya Modal untuk Ekuitas
a. Risk Free Rate ( Rf ) 7,06%
b. Risk Premium Ekuitas ( Rm ) 7,03%
c. β (Beta) 0,93
d. Specific Risk 0,00%
Biaya Modal untuk Ekuitas-CAPM 13,60%
Credit Default Spread 1,87%
Biaya Modal untuk Ekuitas 11,72%
Pada formulasi di atas, yield tingkat bunga bebas risiko sebenarnya telah
memperhatikan semua risiko pasar, sehingga dalam perhitungan tingkat diskonto
yang berlaku di Indonesia, yield tersebut harus dikoreksi dengan credit default
spread sebesar 1,87%, sehingga biaya modal ekuitas yang diterapkan dalam
penilaian Perseroan menjadi 11,72%.
Berdasarkan asumsi tersebut, besarnya Weighted Average Cost of Capital (WACC)
yang kami gunakan sebagai tingkat diskonto dalam penilaian Perseroan adalah
sebesar 10,38% seperti pada tabel berikut.
Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital
Jenis Modal Biaya Modal Bobot Tertimbang
Cost of Debt ( Kd = i x (1-T)) 6,96% 28,28% 1,97%
Cost of Equity ( Ke = Rf + ( Rm-Rf ) * Beta 11,72% 71,72% 8,41%
Weighted Average Cost of Capital (WACC) 10,38%
7.14 Analisis Kelayakan Proyek
a. Net Present Value (NPV)
NPV merupakan nilai dari total investasi yang dikeluarkan pada awal periode
setelah ditambah arus kas bersih yang akan diterima oleh Perseroan setiap
tahun sampai akhir tahun periode proyek. Dengan membandingkan antara total
investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui apabila proyek tersebut
menghasilkan NPV positif maka proyek ini layak dikerjakan apabila
menghasilkan NPV negatif maka proyek ini tidak layak dikerjakan.
𝑇
𝐶𝐹𝑡
𝑁𝑃𝑉 = ∑ − 𝐶𝐹0
(1 + 𝑟)𝑡
𝑡−1
72
Page 88
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
NPV : Net Present Value
CFt : arus kas pada periode t
CF0 : arus kas investasi awal pada periode 0
r : tingkat diskonto
Berikut adalah perhitungan NPV dari rencana penambahan kegiatan usaha.
Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000)
Keterangan FCFF Discount Factor PV FCFF
2025 (6.570.620) 0,951837 (6.254.159)
2026 (7.376.115) 0,862358 (6.360.855)
2027 2.292.709 0,781291 1.791.273
2028 3.523.296 0,707845 2.493.947
2029 3.721.283 0,641303 2.386.470
2030 3.741.709 0,581016 2.173.994
2031 3.709.940 0,526397 1.952.902
2032 3.672.187 0,476913 1.751.312
2033 3.656.779 0,43208 1.580.020
2034 3.637.183 0,391462 1.423.817
2035 9.610.728 0,354662 3.408.557
NPV 6.347.281
Keterangan: Salvage Value sebesar Rp6,00 miliar
b. Profitability Index (PI)
PI merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari
investasi yang dilakukan pada awal periode perusahaan. Nilai tambah yang
didapat dari investasi diperhitungkan dengan membagi total investasi proyek
pada awal periode dengan jumlah arus kas yang dihasilkan selama periode
berjalannya proyek. Apabila PI dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1
(satu) maka arus kas dari proyek setiap tahun tidak menghasilkan nilai tambah,
apabila PI lebih besar dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari
proyek setiap tahun menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan sedangkan PI
lebih kecil dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek setiap
tahun tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI
suatu proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1 (satu).
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹1 )
𝑃𝐼 =
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹0 )
PI : Profitability Index
CFI : nilai kini seluruh arus kas masuk
CFo : nilai kini seluruh arus kas keluar
Berikut adalah perhitungan PI dari Rencana penambahan kegiatan usaha.
73
Page 89
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 32 Perhitungan PI
PV FCFF
Keterangan
(Rp.000)
Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
Arus kas masuk 28.361.824
Arus kas keluar (22.014.544)
PI 1,28832
c. Payback Period (PP)
Payback Period tidak ada kriteria, hanya menunjukkan tingkat pengembalian
investasi.
Tabel 33 Perhitungan PP
NCF
No Tahun Faktor
(Rp.000)
1 (6.570.620) 0,50 (6.570.620)
2 (13.946.735) 1,00 (13.946.735)
3 (11.654.026) 1,00 (11.654.026)
4 (8.130.730) 1,00 (8.130.730)
5 (4.409.447) 1,00 (4.409.447)
6 (667.739) 1,00 (667.739)
7 3.042.201 0,18 3.042.201
Total 4,68
Payback Period 4 Tahun 8 Bulan
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap penambahan
kegiatan usaha Perseroan, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut.
Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000)
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Keterangan
0,50 1,50 2,50 3,50 4,50 5,50
EBITDA - 1.377.773 4.227.032 5.322.792 5.356.726 5.337.864
CASH OUT FLOW
- Tax - - (463.869) (724.682) (751.894) (767.490)
- Interest ( i x T ) (24.820) (170.255) (144.307) (108.991) (73.674) (38.358)
- Investment Outlays (6.545.800) (7.977.400) - - - -
- Investment Outlays
(Eksisting) - - - - - -
- Capital Expenditure,
CAPEX - - (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
+/- Working Capital - (606.234) (569.862) (209.538) (53.591) (34.022)
TOTAL (6.570.620) (8.753.889) (1.934.323) (1.799.495) (1.635.443) (1.596.155)
NET CASH FLOW (6.570.620) (7.376.115) 2.292.709 3.523.296 3.721.283 3.741.709
74
Page 90
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Keterangan
0,50 1,50 2,50 3,50 4,50 5,50
Discount factor
(10,38%) 0,95184 0,86236 0,78129 0,70784 0,64130 0,58102
DISCOUNTED CASH FLOW (6.254.159) (6.360.855) 1.791.273 2.493.947 2.386.470 2.173.994
PROCEED (6.570.620) (13.946.735) (11.654.026) (8.130.730) (4.409.447) (667.739)
PRESENT VALUE KAS
MASUK - 1.188.134 3.302.543 3.767.711 3.435.285 3.101.387
PRESENT VALUE KAS
KELUAR (6.254.159) (7.548.989) (1.511.270) (1.273.763) (1.048.815) (927.392)
2031 2032 2033 2034 2035
Keterangan
6,50 7,50 8,50 9,50 10,50
EBITDA 5.307.842 5.277.015 5.245.033 5.200.851 11.148.230
CASH OUT FLOW
- Tax (802.855) (818.520) (795.913) (770.623) (743.740)
- Interest ( i x T ) (9.418) - - - -
- Investment Outlays - - - - -
- Investment Outlays
(Eksisting) - - - - -
- Capital Expenditure,
CAPEX (756.285) (756.285) (756.285) (756.285) (756.285)
+/- Working Capital (29.345) (30.023) (36.056) (36.760) (37.477)
TOTAL (1.597.902) (1.604.828) (1.588.255) (1.563.668) (1.537.502)
NET CASH FLOW 3.709.940 3.672.187 3.656.779 3.637.183 9.610.728
Discount factor
(10,38%) 0,52640 0,47691 0,43208 0,39146 0,35466
DISCOUNTED CASH FLOW 1.952.902 1.751.312 1.580.020 1.423.817 3.408.557
PROCEED 3.042.201 6.714.388 10.371.167 14.008.350 23.619.078
PRESENT VALUE KAS
MASUK 2.794.034 2.516.675 2.266.273 2.035.933 3.953.850
PRESENT VALUE KAS
KELUAR (841.131) (765.363) (686.253) (612.116) (545.293)
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp6.347.281.000,-. Dengan demikian, hasil
NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
karena memberikan keuntungan.
75
Page 91
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 19,21%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
(cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
PI yang diperoleh adalah sebesar 1,28832. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 4 tahun 8 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 8
bulan.
7.15 Analisis Sensitivitas
Untuk menguji kepekaan usaha terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
maka berikut ini disajikan analisis sensitivitas terhadap kelayakan usaha, yaitu:
− Jumlah produksi turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%,
10,00%, 15,00%, dan 20,00%.
− Struktur biaya naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
− Harga jual turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
− Discount rate naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
1. PRODUKSI TURUN
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 6.347.281 4.173.166 1.999.052 -175.063 -2.349.177
Internal Rate of Return (IRR) 19,21% 16,28% 13,26% 10,12% 6,85%
Return On Investment (ROI) 14,30% 14,38% 14,50% 14,70% 15,09%
Profitability Index (PI) 1,28832 1,19523 1,09640 0,99129 0,87928
BEP
a. Rp.000 12.628.292 12.805.514 13.008.376 13.242.875 13.517.043
b. % terhadap pendapatan 66,11% 70,58% 75,69% 81,61% 88,53%
2. STRUKTUR BIAYA NAIK
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 6.347.281 4.288.829 2.230.377 171.925 -1.886.527
Internal Rate of Return (IRR) 19,21% 16,45% 13,60% 10,63% 7,52%
Return On Investment (ROI) 14,30% 14,08% 13,76% 13,29% 12,51%
Profitability Index (PI) 1,28832 1,19998 1,10683 1,00846 0,90444
BEP
a. Rp.000 12.628.292 13.429.938 14.340.736 15.384.732 16.593.636
b. % terhadap pendapatan 66,11% 70,26% 74,97% 80,35% 86,58%
76
Page 92
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
3 HARGA JUAL TURUN
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 6.347.281 2.114.714 -2.117.852 -6.454.693 -11.580.199
Internal Rate of Return (IRR) 19,21% 13,43% 7,18% 0,11% -9,91%
Return On Investment (ROI) 14,30% 14,12% 13,66% 10,50% 16,37%
Profitability Index (PI) 1,28832 1,10163 0,89195 0,65108 0,36321
BEP
a. Rp.000 12.628.292 13.676.997 15.068.213 17.003.018 19.878.984
b. % terhadap pendapatan 66,11% 75,33% 87,54% 104,48% 129,58%
4. INTEREST RATE
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 6.347.281 5.824.694 5.324.319 4.845.089 4.385.996
Internal Rate of Return (IRR) 19,21% 19,20% 19,18% 19,16% 19,15%
Return On Investment (ROI) 14,30% 14,38% 14,46% 14,54% 14,63%
Profitability Index (PI) 1,28832 1,26792 1,24794 1,22837 1,20920
BEP
a Rp.000 12.628.292 12.657.858 12.687.423 12.716.988 12.746.554
b. % terhadap pendapatan 66,11% 66,35% 66,59% 66,83% 67,07%
Berdasarkan uji sensitivitas tersebut, kondisi parameter kelayakan usaha akan
terlihat seperti pada grafik di bawah ini.
Gambar 13 Analisis Sensitivitas
8.000.000
6.000.000
4.000.000
2.000.000
0
NPV (Rp000,-)
(2.000.000) NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
(4.000.000)
(6.000.000)
(8.000.000)
(10.000.000)
(12.000.000)
(14.000.000)
Total Produksi Turun Struktur Biaya Naik
Harga Jual Turun Tingkat Bunga Naik
Sumber: Proyeksi Keuangan
Berdasarkan analisis sensitivitas, pada kondisi normal NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp6,35 miliar, jika terjadi perubahan terhadap pendapatan, dimana
pendapatan turun sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
negatif Rp2,34 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap struktur biaya, dimana
struktur biaya naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
sebesar negatif Rp1,88 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap harga jual turun,
77
Page 93
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
dimana harga jual turun sampai dengan 10,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
sebesar negatif Rp11,58 miliar. Sedangkan apabila terjadi perubahan terhadap
interest rate, dimana interest rate naik sampai dengan 10,00% maka NPV yang
dihasilkan adalah sebesar Rp4,39 miliar.
Dari analisis sensitivitas di atas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
sensitif terhadap kelayakan usaha.
78
Page 94
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8 KESIMPULAN
8.1 Kajian Kelayakan Pasar
Dari Kajian Kelayakan Pasar, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi
Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami
perlambatan meskipun pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun
2023 sebesar 15,82%. Sedangkan pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
konstruksi mencapai Rp25.856,69 miliar atau meningkat sebesar 1,83% dari triwulan
II 2024 yang sebesar Rp25.392,26 miliar.
Untuk laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi Kalimantan Timur
tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan dibandingkan
tahun 2023 sebesar 4,39%. Sedangkan pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
real estate mencapai Rp2.571,48 miliar atau meningkat sebesar 8,07% dari triwulan
II 2024 yang sebesar Rp2.379,48 miliar.
Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di 2025.
Pertumbuhan kebutuhan rumah sangat dipengaruhi oleh laju urbanisasi,
pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kavling rumah di Provinsi Kalimantan Timur
sebanyak 217 rumah komersil dan 1.698 rumah subsidi.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.
Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.
79
Page 95
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian Rencana
Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Nusantara
memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan, dan terbagi
atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.
Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.
Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
Kalimantan Timur.
Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin menjanjikan yang
didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur Eksekutif Pusat
Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan properti hunian di
wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan diyakini akan terus
meningkat.
Bisnis properti di kawasan ini akan semakin menjanjikan dan itu salah satunya
didorong oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini
juga menjadi momentum yang baik untuk terus memperbesar potensi bisnis properti
di kawasan ini.
Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
bisnis properti.
Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring peningkatan
populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial, pendidikan,
rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah yaitu: Kota Samarinda, Kabupaten Kutai
80
Page 96
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN. Proyek-proyek ini diharapkan dapat
meningkatkan permintaan akan material bangunan, termasuk batako dan paving
block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti yang sedang berkembang pesat
di Indonesia. Perusahaan juga akan memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif
untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan
pedesaan.
Dengan analisis pasar tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.
8.2 Kajian Kelayakan Teknis
Dari Kajian Kelayakan Teknis, dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan akan mengimpor Mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara
Tiongkok. Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving
block otomatis, yang dirancang di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas
terpasang mesin adalah sebesar 24.000 unit/hari.
Alur operasional kegiatan Perseroan terdiri dari mencampurkan semen, pasir, batu
pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan adukan tersebut
kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan dan kemudian baru dapat di
masukkan kedalam cetakan batako dan paving block. Proses pelepasan dari cetakan
dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk diuji.
Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
batako dan paving block.
Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
kerja sebanyak 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan
berencana melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang. Dalam rencana
penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun membutuhkan
tenaga ahli khusus.
Dengan analisis teknis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.
81
Page 97
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis
Dari Kajian Kelayakan Pola Bisnis, Perseroan telah berdiri sejak lama sehingga
memiliki keunggulan kompetitif di antaranya adalah 1) Perseroan telah memiliki
lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan usaha. Sehingga tidak memerlukan
biaya tambahan untuk pembelian atau penyewaan gudang/pabrik; 2) Perseroan
memiliki jangkauan penjualan yang luas; 3) Berdasarkan kinerja keuangan,
Perseroan memiliki kondisi keuangan yang cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas
yang kecil, dan konsisten mencatatkan laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat
memungkinkan untuk membiayai penambahan kegiatan usaha; 4) Perseroan telah
memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil dari produk gas
acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan. Dengan keunggulan
kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan nilai yaitu 1) Citra
Bisnis Ramah Lingkungan; 2) Menambah sumber pendapatan baru; 3) Meningkatkan
kinerja keuangan Perseroan; dan 4) Efisiensi operasional.
Kemampuan pesaing untuk meniru produk memang tidak dapat dihindari, sehingga
membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi sangat kompetitif. Upaya
mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya adalah 1) Meningkatkan
kualitas produk dan layanan; 2) Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan
intelektual; 3) Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; 4) Melakukan inovasi
produk secara berkelanjutan; dan 5) Memperkuat loyalitas konsumen terhadap
produk Perseroan.
Dengan analisis pola bisnis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen
Perseroan memiliki 277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan
usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan
penambahan tenaga kerja. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan
tenaga kerja sebanyak 12 orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor
Produksi, Supervisor Sales & Distribution, Quality Control Batako, Operator,
Operator Control Panel, Operator Block Curing, Operator Block Cubing, Sales,
Distribution, Packing dan Driver. Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai
kebutuhan tenaga ahli tambahan tidak signifikan karena teknologi produksinya user
friendly yang dapat dioperasikan oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih.
Manajemen Kekayaan Intelektual
Pada penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan belum memiliki HAKI.
82
Page 98
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Manajemen Risiko
Terkait Manajemen Risiko terdapat beberapa risiko utama yang dihadapi Perseroan
yaitu:
➢ Risiko Prakonstruksi
Risiko Kondisi Ekonomi, Risiko Perkembangan Pemukiman, Risiko Stagnasi
Perkembangan Proyek IKN, Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh
Kontraktor IKN, Risiko Penawaran dan Permintaan, Risiko Ketidakpatuhan
terhadap Regulasi Limbah B3, Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan
Lingkungan, Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3, Risiko
Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama, Risiko Tuntutan Hukum
dari Masyarakat atau LSM Lingkungan, Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan
Limbah B3, Risiko Perubahan Regulasi, dan Risiko Terpenuhinya Dana Proyek
yang Diperlukan.
➢ Risiko Konstruksi
Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat, Risiko Kondisi
Lingkungan (Suara, Udara, dan Air), Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan
Proyek, Risiko Kegagalan Konstruksi, Risiko Cost Over Run; dan Risiko
Pengendalian SDM Proyek.
➢ Risiko Operasional
Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai, Risiko Tidak Tercapainya
Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan, Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten,
Risiko SDM, Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran, Risiko Mesin; dan Risiko
Bahan Baku.
Kapasitas dan kemampuan manajemen
Perseroan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengelolaan kegiatan usaha yang
telah berjalan. Untuk mendukung rencana penambahan kegiatan usaha baru,
Perseroan sedang mempersiapkan langkah-langkah peningkatan kapasitas dan
kompetensi agar mampu mengelola portofolio produk yang lebih beragam secara
optimal di masa mendatang. Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM)
merupakan elemen krusial dalam keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap
pencapaian dan pertumbuhan kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta
kontribusi individu di dalamnya. Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk
mengelola SDM secara terstruktur dan efektif, guna memastikan bahwa setiap
karyawan dapat berkontribusi secara optimal sesuai dengan kompetensi yang
dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat, Perseroan dapat terus meningkatkan
produktivitas dan daya saing di industri.
Kesesuaian struktur organisasi dan manajemen
Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
operator produksi, quality control, sales dan driver. Dengan adanya penambahan
83
Page 99
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
kegiatan usaha baru ini, maka Perseroan telah membuat struktur organisasi atas
unit bisnis yang akan tergabung dalam satu struktur organisasi eksisting.
Dengan analisis model manajemen tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan
Dari Kajian Kelayakan Keuangan, analisis kelayakan proyek menunjukkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha ini memenuhi kriteria kelayakan dengan variabel-
variabel sebagai berikut:
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp6.347.281.000,-. Dengan demikian, hasil
NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
karena memberikan keuntungan.
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 19,21%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
(cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
PI yang diperoleh adalah sebesar 1,28832. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 4 tahun 8 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 8
bulan.
Kemudian, dari analisis sensitivitas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
sensitif terhadap kelayakan usaha.
Dengan analisis keuangan tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan
Dengan demikian, berdasarkan kajian, evaluasi, analisis kelayakan pasar, analisis
kelayakan teknis, analisis kelayakan pola bisnis, analisis kelayakan model
manajemen, dan analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya
dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha sesuai dengan KBLI 23953
84
Page 100
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
(Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
(Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432
(Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100
(Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) yang akan dilakukan
oleh Perseroan adalah layak.
8.7 Saran
Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat kami sampaikan
bahwa kami menyarankan agar manajemen Perseroan dapat menggunakan mesin
produksi yang lebih kompetitif, memperhatikan variable-variabel yang sensitif
terhadap kelayakan usaha yaitu harga jual dan volume produksi. Selanjutnya untuk
mengantisipasi risiko tidak tercapainya demand yang berasal dari proyek IKN, maka
Perseroan perlu menjajaki potensi-potensi lain untuk menjaga keberlangsungan
usaha.
85
Page 101
LAMPIRAN STRUKTUR ORGANISASI
Page 102
PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK
CODE JOB LEVEL
GENERAL MEETING OF
SHAREHOLDERS
LEVEL 1 : GENERAL MANAGER / MANAGER
NOMINEE & RENUMERATION
LEVEL 2 : SUPERINTENDENT AUDIT COMMITTEE BOARD OF COMMISIONER
COMMITTEE
LEVEL 3 : SUPERVISOR/MANAGEMENT TRAINEE PRESIDENT DIRECTOR
LEVEL 4 : STAFF
LEVEL 5 : OPERATOR/ADMIN/ CREW INTERNAL AUDIT & RISK
MANAGEMENT
VICE PRESIDENT DIRECTOR
Board Of Directors
Secretary
ISO SECRETARIAT
DIRECTOR OF OPERATIONAL
& MARKETING CORPORATE SECRETARY
.
MANAGER PRODUCTION & MANAGER BUSINESS
MANAGER SALES & MANAGER FINANCE &
MANAGER HSE OPERATIONAL DEVELOPMENT MANAGER GHRL & ICT
DISTRIBUTION ADMINISTRATION
SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT
SUPERINTENDENT
HSE
SUPERTENDENT SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT
CYLINDER
SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT
SALES &
SUPERINTENDENT HUB SUPERINTENDENT
HUMAN
SUPERINTENDENT
GENERAL AFFAIR
LEGAL SUPERINTENDENT SUPERINTENDENT
BATAKO QUALITY CONTROL ACETYLENE PRODUCTION PROCUREMENT BUSINESS & DEVELOPMENT TRANSPORT ICT COMPLIANCE ACCOUNTING FINANCE & TAX
MANAGEMENT DISTRIBUTION RESOURCE
STAFF
SAMARINDA
ENGINEERING & SPV. CYL. PROCUREMENT SALES /
SPV. ACETYLENE SPV. BUSINESS & SPV. TRANSPORT SPV. HUMAN SPV. GENERAL LEGAL COMPLIANCE STAFF CORPORATE
SPV SALES & ADMINISTRATION MAINTENANCE STAFF MARKETING SPV. ICT OFFICER SPV. ACCOUNTING CASHIER
HSE OFFICER SPV. PROD QC BATAKO SPV. QC GAS PLANT DEVELOPMENT BONTANG RESOURCE AFFAIR SECRETARY
DISTRIBUTION
TANJUNG
OP. CYL. SPV. WAREHOUSE
OPERATOR SPV. TRANSPORT FINANCE STAFF
SPV. ASP MAINTENANCE ICT STAFF HUMAN GENERAL ACCOUNTING
ACETYLENE DISTRIBUTION STAFF BERAU RESOURCE AFFAIR STAFF
BUSINESS &
WAREHOUSE DEVELOPEMENT
SAFETYMAN OPERATOR SALES SPV. CYL. STAFF STAFF DISTRIBUTION TARAKAN TAX STAFF
DISTRIBUTION OP. ASP OP. TRANSPORT SECURITY
ADMINISTRATION STAFF
NUNUKAN CLEANING
MECHANIC SERVICE
CONTROL PANEL CYL. ADMINISTRATION
PACKING SPV. FILLING
ADMINISTRATION DRIVER &
STATION
HELPER
BLOCK CURING
SPV. CYL.
OP. FILLING COLLECTION
DRIVER
BLOCK CUBING OP. CYL.
COLLECTION
SPV .
MAINTENANCE
DATE OF APPROVAL : 22 AGUSTUS 2025
SPV.
STOCK/PANGGUNG DOCUMENT NO : 082/DIR-SBMA/SK/VIII/2025
OP. ELECTRIC
MAINTENANCE
OP.
STOCK/PANGGUNG
Rini Dwiyanti Effendi
President Director President Commissioner
Page 103
Names mentioned 60 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Syarif
p.3 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.3
unresolved
org
| SBMA
· Nama Perusahaan
p.4
unresolved
org
ENDANG & REKAN
p.8 ×2
unresolved
org
REKAN Endang Sunardi
p.8
unresolved
org
KJPP Syarif Rekan
p.8
unresolved
org
Endang dan Rekan
p.8 ×2
unresolved
person
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
p.10 ×3
unresolved
person
Meilindra Indriani
p.10
unresolved
person
Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev.
p.10 ×2
unresolved
org
Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt.
p.10
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif
p.16 ×2
unresolved
person
Mohamad Rasjid Umar
· Notaris
p.16 ×5
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.16 ×3
unresolved
person
Rosida Rajaguguk-Siregar
p.16 ×3
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.17 ×4
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.18
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan
p.18 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
p.18 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
p.19 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Anwar
p.19 ×3
unresolved
person
Rahadian
p.19
unresolved
org
KJPP
p.21
unresolved
person
Abdul Latief
p.25
unresolved
org
PT Surya Biru Titilea Investama
p.27
unresolved
org
Kota Nusantara
p.36 ×7
unresolved
org
PT Varia Usaha Beton
p.36 ×2
unresolved
org
PT Kutai Inti Beton
p.36 ×2
unresolved
org
Bank Indonesia
p.43 ×16
unresolved
org
Bank Indonesia Gambar
p.43
unresolved
org
Bank Indonesia Kondisi Ekonomi Indonesia Di
p.44
unresolved
org
Bank Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia Neraca
p.45
unresolved
org
Bank Indonesia Inflasi Gambar
p.47
unresolved
org
Bank Indonesia Inflasi IHK
p.47
unresolved
org
Pusat Statistik
p.50
unresolved
person
Deputi
· Direktur
p.51
unresolved
org
Kementerian Keuangan
p.52
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
p.53 ×2
unresolved
org
Kota Negara Nusantara. Upaya
p.53
unresolved
org
Kementerian PUPR
p.53
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum
p.64
unresolved
org
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
p.86
unresolved
org
Kementerian Keuangan RI
p.86
unresolved
org
Kota Negara Nusantara. Prinsip
p.94
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
7519 ms
12 Sep 2026 22:34
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL_FACT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}