Skip to content
Back to announcement

20251106_SBMA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31983287_lamp3.pdf

Asset transaction Needs review SBMA

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 103

Page 1
     LAPORAN STUDI KELAYAKAN
   PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA


PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK

No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025
         Tanggal: 4 November 2025


                 Atas Revisi


No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
         Tanggal: 30 September 2025
Page 2
     LAPORAN STUDI KELAYAKAN
   PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA


PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK

No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025
         Tanggal: 4 November 2025


                 Atas Revisi


No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
         Tanggal: 30 September 2025
Page 3
No. 00027/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/XI/2025                     Bekasi, 4 November 2025
SURAT PENGANTAR
Kepada:
Direksi PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir,
Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan,
Provinsi Kalimantan Timur


Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha untuk KBLI 23953, KBLI
          46633, KBLI 38220, KBLI 23929, KBLI 2392, KBLI 49432, serta KBLI 46100


Dengan hormat,

PENDAHULUAN
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21
April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025,
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), yang
bergerak di bidang industri perdagangan ritel barang primer, telah menunjuk KJPP Syarif,
Endang, dan Rekan, sebagai Penilai Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan
Usaha untuk Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1.    KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2.    KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah
      Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3.    KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4.    KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan
      Genteng);
5.    KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6.    KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7.    KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


Laporan ini merupakan revisi atas Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
sebelumnya yaitu Laporan No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025, tanggal 30
September 2025. Kami menyatakan bahwa membatalkan laporan sebelumnya. Hal-hal yang
menjadi objek revisi adalah sebagai berikut:
• Penambahan pengungkapan latar belakang penambahan kegiatan usaha;
• Revisi atas pengungkapan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, dan Anggaran Dasar yang
     dimintakan RUPSLB;
• Pengungkapan identifikasi objek penilaian;
• Penambahan pengungkapan prosedur yang digunakan;
• Pengungkapan Informasi profil Perseroan menggunakan data terbaru dan yang benar;


                                                                                       i
Page 4
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      • Penambahan pengungkapan Laporan Keuangan per 30 Juni 2024 pada kinerja laba (rugi)
         dan rasio keuangan;
      • Revisi atas pengungkapan sumber Laporan Keuangan per 30 Juni 2025;
      • Revisi atas pengungkapan pasar yang dituju;
      • Penambahan pengungkapan bagan alur proses bisnis dan nilai tambah pada sub bab
         2.7;
      • Penambahan pengungkapan terkait tidak diperlukannya tenaga ahli pada sub bab 2.10;
      • Revisi atas pengungkapan persyaratan modal dan strategi finansial pada sub bab 2.15;
      • Update pada kondisi pasar menggunakan data per triwulan II 2025;
      • Revisi pada tabel jumlah penduduk provinsi Kalimantan Timur;
      • Penambahan pengungkapan kesinambungan;
      • Revisi pengungkapan sasaran pasar;
      • Penambahan pengungkapan dasar perhitungan nilai atas proyeksi pendapatan;
      • Revisi pengungkapan kapasitas dan kemampuan manajemen;
      • Penambahan pengungkapan atas struktur organisasi atas penambahan kegiatan usaha;
      • Revisi kertas kerja serta kelayakan keuangan atas adanya perubahan biaya investasi;
      • Revisi kesalahan penulisan pada tahun proyeksi modal kerja;
      • Penambahan pengungkapan rincian transakasi peningkatan atas biaya operasional;
      • Penambahan pengungkapan kebutuhan bahan secara kuantitas adanya inflasi biaya
         bahan baku;
      • Penambahan pengungkapan atas dasar penentuan asumsi proyeksi keuangan;
      • Penambahan pengungkapan proyeksi posisi keuangan;
      • Revisi kesalahan penulisan pada tabel rasio proyeksi keuangan; dan
      • Penambahan pengungkapan pada kesimpulan.

      TANGGAL PENILAIAN
      Tanggal Penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.


      IDENTITAS PEMBERI TUGAS
      Nama Perusahaan      :   SBMA
      Bidang Usaha         :   Perdagangan besar bahan kimia gas
      Alamat               :   Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
                               Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
      Telepon              :   +62 542 743555
      Website              :   https://www.suryabirumurni.co.id/
      Email                :   corsec@suryabiru.co.id

      MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
      Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
      Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
      Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
      Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
      Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/

                                                                                               ii
Page 5
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
      Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
      46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak), sebagai syarat
      pemenuhan       atas   Peraturan        Otoritas   Jasa   Keuangan   Republik   Indonesia
      No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan Kegiatan Usaha (atau
      selanjutnya disebut “POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan ataupun
      kepentingan lainnya.

      PROSEDUR YANG DIGUNAKAN
      Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
      Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020, tentang Penilaian dan
      Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
      Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
      Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun
      oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai
      Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait.

      INDEPENDENSI PENILAI
      Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
      tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-pihak yang terkait
      dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan
      pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak
      dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun. Imbalan
      yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan
      dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang
      tercantum pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal
      21 April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025.

      RUANG LINGKUP PENUGASAN
      Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu untuk
      melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan Kegiatan Usaha
      sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI
      46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur,
      Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI
      23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
      KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan
      Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar
      Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


      Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
      Profesional, paling sedikit meliputi:
      1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
      2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional;
          dan
      3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.

                                                                                              iii
Page 6
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
      Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
      adalah:
      a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      b. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
           studi kelayakan.
      c. Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan dan
           kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh
           dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang
           kami anggap relevan.
      d. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen dengan
           mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan pencapaiannya ( fiduciary
           duty).
      e. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
           keuangan yang telah disesuaikan.
      f.   Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
           rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
      g. Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
           dihasilkan.
      h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
           pemberi tugas.
      i.   Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak melakukan
           market research khusus atas adanya supplier produk paving block yang telah memiliki
           komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan perumahan di Kalimantan dan
           IKN.

      KEJADIAN SETELAH TANGGAL PENILAIAN
      Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan tanggal
      diterbitkannya laporan ini, terdapat kejadian penting yang terjadi selama periode tersebut.
      Kejadian setelah tanggal penilaian yang patut diinformasikan yaitu:
      1. Pada tanggal 2 Juli 2025, sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tahunan
           (RUPS Tahunan) pada tanggal 4 Juni 2025, terjadi pembagian dividen pada tanggal 2 Juli
           2025;
      2. Pada tanggal 27 Agustus 2025, Perseroan menerima surat tanggapan dari PT Bank CIMB
           Niaga Tbk atas covenant non financial yang dilakukan Perusahaan, antara lain terkait
           perubahan susunan direksi, pembagian deviden, dan lini usaha Perseroan yang terbaru;
      3. Pada tanggal 29 Agustus 2025, menjelaskan kembali perihal penghapusan personal
           guarantee atas nama Bapak Effendi, Welly Sumanteri, Rini Dwiyanti sebesar kewajiban
           di PT Bank CIMB Niaga Tbk bersifat Join and Several;
      4. Pada tanggal 8 September 2025, terdapat perhitungan imbalan pascakerja dihitung oleh
           aktuaris independen Kantor Konsultan Aktuaria Steven & Mourits untuk periode 30 Juni
           2025; dan




                                                                                               iv
Page 7
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      5. Pada tanggal 27 Oktober 2025, terdapat surat dukungan dari PT Bank Mandiri (Persero)
         Tbk, terkait penambahan unit bisnis baru. Dukungan tersebut termasuk namun tidak
         terbatas pada fasilitas kredit.


      Selanjutnya, selama periode Juli hingga September 2025, Perseroan telah melakukan dan
      menyampaikan beberapa keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
      sebagai bagian dari langkah penguatan internal dan persiapan implementasi rencana
      penambahan kegiatan usaha baru. Keterbukaan informasi tersebut antara lain mencakup:
       1. Penyampaian Laporan Keuangan Triwulan II Tahun 2025, sebagai bentuk transparansi
          kinerja keuangan Perseroan yang menjadi dasar evaluasi kesiapan pendanaan internal;
       2. Penyampaian Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk
          memperoleh persetujuan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan sesuai dengan
          ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020;
       3. Penyempurnaan struktur organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,
          yang dilakukan secara bertahap untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kegiatan
          usaha baru; dan
       4. Langkah-langkah internal terkait evaluasi teknis dan kemitraan strategis, yang
          diarahkan untuk memastikan kesiapan operasional dan kepatuhan terhadap ketentuan
          peraturan yang berlaku.




                                                                                            v
Page 8
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      KESIMPULAN
      Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
      Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat disimpulkan bahwa
      Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
      Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
      Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
      Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
      Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
      Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
      46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) yang akan
      dilaksanakan oleh Perseroan adalah layak.


      Seluruh kajian ini kami sampaikan dengan catatan semua asumsi yang diterapkan dalam
      Studi Kelayakan ini dapat dipenuhi.


      PENUTUP
      Penugasan untuk mempersiapkan Studi Kelayakan Usaha ini bukan dan tidak dapat
      dianggap dalam segala hal sebagai review atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu
      pada informasi keuangan. Penugasan kami tidak dilakukan untuk tujuan mengungkapkan
      kelemahan pengendalian internal, kesalahan dalam laporan keuangan, segala bentuk
      implikasi pajak atau pelanggaran hukum. Studi Kelayakan Usaha ini juga tidak
      dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana
      proyek atau untuk mengambil tindakan tertentu atas Rencana Kegiatan Usaha.


      Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kepercayaan yang telah diberikan kami ucapkan
      terima kasih dan kami berharap kiranya laporan ini dapat berguna bagi kemajuan usaha
      selanjutnya.


      Hormat kami,
      KJPP SYARIF, ENDANG & REKAN




      Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)       Digitally signed by Endang Sunardi
                                                      DN: cn=Endang Sunardi, c=ID, o=KJPP Syarif
      Rekan                                           Endang dan Rekan,
                                                      email=syarifendangdanrekan@gmail.com
      MAPPI                 : No. 09-S-02341
      Izin Penilai Publik   : No. B-1.12.00340
      Klasifikasi Izin      : Penilaian Bisnis
      Register              : No. RMK-2017.00303
      STTD OJK              : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
      STTD IKNB             : No. 173/NB.122/STTD-P/2019




                                                                                                   vi
Page 9
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                         PERNYATAAN PENILAI

      Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan
      di bawah ini menerangkan bahwa:
      1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
          independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-
          pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
          kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya,
          Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
          kerugian pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak
          dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan
          kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang tercantum pada Surat Perjanjian
          Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan Addendum
          No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025;
      2. Penilai bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan dalam rangka penugasan Studi
          Kelayakan, sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
      3. Analisis Kelayakan dilaksanakan per tanggal 30 Juni 2025, parameter dan data yang
          digunakan dalam analisis menggunakan data per 30 Juni 2025;
      4. Penugasan penilaian telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Penilaian
          pada Tanggal Penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan Tujuan Penilaian
          sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
      5. Laporan Studi Kelayakan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan dalam Peraturan OJK
          No. 35/POJK.04/2020, SEOJK No. 17/SEOJK.04/2020, Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
          serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang ditetapkan oleh Masyarakat
          Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
      6. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai Kesimpulan pada
          Laporan Studi Kelayakan ini;
      7. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada Ruang Lingkup dan data yang dianalisis
          serta data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Penilaian ini pada
          Sumber     Data    diperoleh      dari   berbagai   sumber    yang    diyakini   dapat
          dipertanggungjawabkan;
      8. Laporan    ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan               yang
          mempengaruhi analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan ini;
      9. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
      10. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di
          dalam Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik;
      11. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai juga tidak mempunyai
          kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Imbalan yang
          Penilai terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang tercantum
          pada Laporan Penilaian ini;
      12. Dalam melakukan penugasan ini, Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan
          profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan; dan
      13. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan
          bantuan profesional dalam menyiapkan Laporan Penilaian.

                                                                                              vii
Page 10
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      KJPP Syarif, Endang & Rekan menyatakan bahwa Para Penilai yang kami libatkan dalam
      penugasan Penilaian ini adalah Penilai profesional yang kompeten dan memiliki keahlian
      penilaian yang baik.


      No.    Nama                                                    Tugas        Tanda Tangan




       1.    Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)      Penanggung Jawab      (....................)
             MAPPI              : No. 09-S-02341
             Izin Penilai       : No. B-1.12.00340
             Klasifikasi Izin   : Penilaian Bisnis
             Register           : No. RMK-2017.00303
             STTD OJK           : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
             STTD IKNB          : No. 173/NB.122/STTD-P/2019




       2.    Meilindra Indriani, S.Si.                              Reviewer      (....................)
             MAPPI              : No. 14-T-05006
             Register           : No. RMK-2017.01002




       3.    Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev.                         Staf Penilai   (....................)
             MAPPI              : No. 09-P-02398
             Register           : No. RMK-2021.03694




       4.    Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt.                     Tenaga Inspeksi    (....................)
             MAPPI              : No. 13-A-04453




                                                                                                     viii
Page 11
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                               DAFTAR ISI

      SURAT PENGANTAR........................................................................................................... i
      PERNYATAAN PENILAI .................................................................................................... vii
      DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ix
      DAFTAR TABEL ............................................................................................................... xii
      DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... xiii
      1         PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
      1.1       Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ................................................................. 1
      1.2       Tanggal Penilaian ................................................................................................. 1
      1.3       Identitas Pemberi Tugas ....................................................................................... 1
      1.4       Latar Belakang...................................................................................................... 1
      1.5       Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .................................................................... 3
      1.6       Objek Penilaian .................................................................................................... 3
      1.7       Jenis Mata Uang ................................................................................................... 3
      1.8       Data dan Informasi yang Digunakan .................................................................... 3
      1.9       Prosedur yang Digunakan .................................................................................... 4
      1.10      Ruang Lingkup Penugasan ................................................................................... 5
      1.11      Asumsi dan Kondisi Pembatas .............................................................................. 5
      1.12      Kualifikasi Penilai ................................................................................................. 6
      1.13      Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan ............................................................ 6
      2         INFORMASI UMUM ................................................................................................ 8
      2.1       Profil Perseroan .................................................................................................... 8
      2.1.1     Bidang Usaha ....................................................................................................... 8
      2.1.2     Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan ......................................... 8
      2.1.3     Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ................................................................. 9
      2.1.4     Legalitas dan Izin Operasional ............................................................................. 9
      2.2       Kinerja Keuangan ............................................................................................... 10
      2.2.1     Kinerja Posisi Keuangan ..................................................................................... 10
      2.2.2     Kinerja Laba (Rugi) ............................................................................................. 14
      2.3       Produk dan Layanan Perseroan........................................................................... 20
      2.4       Teknologi yang Digunakan ................................................................................. 20
      2.5       Pasar yang Dituju ............................................................................................... 21
      2.6       Pesaing dan Persaingan ...................................................................................... 21
      2.7       Pola Bisnis .......................................................................................................... 22
      2.8       Strategi Pemasaran............................................................................................. 23
      2.9       Kebutuhan Produksi atau Operasi ...................................................................... 24
      2.10      Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia ............................................ 24
      2.11      Hak Atas Kekayaan Intelektual ........................................................................... 24
      2.12      Peraturan Perundang-undangan yang Terkait .................................................... 24
      2.13      Aspek Lingkungan ............................................................................................. 26
      2.14      Faktor Risiko Utama ........................................................................................... 26
      2.15      Persyaratan Modal dan Strategi Finansial ........................................................... 27
      3         KELAYAKAN PASAR ............................................................................................. 28

                                                                                                                                         ix
Page 12
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      3.1     Kondisi Pasar ..................................................................................................... 28
      3.2     Pangsa Pasar ...................................................................................................... 33
      3.3     Kesinambungan ................................................................................................. 34
      3.4     Potensi Pasar ...................................................................................................... 35
      3.5     Sasaran .............................................................................................................. 38
      3.6     Potensi Nilai Pasar .............................................................................................. 38
      3.7     Pesaing Usaha .................................................................................................... 39
      3.8     Strategi Pemasaran............................................................................................. 39
      4       KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................ 41
      4.1     Kapasitas ........................................................................................................... 41
      4.2     Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ............................................................. 42
      4.3     Proses Produksi .................................................................................................. 43
      5       KELAYAKAN POLA BISNIS .................................................................................... 45
      5.1     Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 46
      5.2     Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................ 46
      5.3     Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ................................................................ 47
      6       KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 48
      6.1     Ketersediaan Tenaga Kerja ................................................................................. 48
      6.2     Manajemen Kekayaan Intelektual ....................................................................... 48
      6.3     Manajemen Risiko .............................................................................................. 48
      6.4     Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ............................................................. 54
      6.5     Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ................................................ 54
      7       KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 56
      7.1     Biaya Pendirian (Start Up Costs).......................................................................... 56
      7.2     Modal Kerja ........................................................................................................ 56
      7.3     Sumber Pembiayaan ........................................................................................... 57
      7.4     Biaya Operasional ............................................................................................... 58
      7.5     Biaya Bahan Baku Mentah ................................................................................... 58
      7.6     Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ................................................................... 58
      7.7     Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................... 61
      7.8     Proyeksi Laba (Rugi) ........................................................................................... 63
      7.9     Proyeksi Arus Kas ............................................................................................... 64
      7.10    Analisis Titik Impas ............................................................................................ 66
      7.11    Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas ............................................... 67
      7.12    Tingkat Imbal Balik Investasi .............................................................................. 69
      7.13    Penetapan Tingkat Diskonto .............................................................................. 69
      7.14    Analisis Kelayakan Proyek .................................................................................. 72
      7.15    Analisis Sensitivitas ............................................................................................ 76
      8       KESIMPULAN ....................................................................................................... 79
      8.1     Kajian Kelayakan Pasar ....................................................................................... 79
      8.2     Kajian Kelayakan Teknis ..................................................................................... 81
      8.3     Kajian Kelayakan Pola Bisnis ............................................................................... 82
      8.4     Kajian Kelayakan Model Manajemen ................................................................... 82
      8.5     Kajian Kelayakan Keuangan ................................................................................ 84

                                                                                                                                          x
Page 13
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8.6     Kesimpulan Studi Kelayakan ............................................................................... 84
      8.7     Saran .................................................................................................................. 85




                                                                                                                                        xi
Page 14
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                        DAFTAR TABEL

      Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan ................................................................... 9
      Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)........................................................ 10
      Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000) ............................................................... 14
      Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan ..................................................................... 18
      Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ........................................................ 21
      Tabel 6 Progress Legalitas Usaha ..................................................................................... 25
      Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia ..................................................................................... 28
      Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ............... 29
      Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ........ 30
      Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia ........................................................................... 31
      Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan) ...................................... 33
      Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ...................................................... 39
      Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku ..................................................................................... 42
      Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................... 42
      Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000) ..................................................................... 56
      Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)......................................................................................... 57
      Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000) ............................................................................. 57
      Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta) ............................................................................... 58
      Tabel 19 Struktur Pendapatan.......................................................................................... 59
      Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000) .................................................................... 61
      Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000) .............................................................................. 64
      Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000) ............................................................................... 64
      Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000) ............................................................ 66
      Tabel 24 Analisis Likuiditas ............................................................................................. 67
      Tabel 25 Analisis Solvabilitas ........................................................................................... 68
      Tabel 26 Analisis Profitabilitas ......................................................................................... 68
      Tabel 27 Return on Investment ........................................................................................ 69
      Tabel 28 Surat Utang Negara ........................................................................................... 71
      Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas................................................................................. 72
      Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital ..................................................................... 72
      Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000) ................................................................................. 73
      Tabel 32 Perhitungan PI ................................................................................................... 74
      Tabel 33 Perhitungan PP .................................................................................................. 74
      Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000) ................................................................... 74
      Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas ....................................................................... 76




                                                                                                                                xii
Page 15
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                      DAFTAR GAMBAR

      Gambar 1 PMI Global ....................................................................................................... 28
      Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang .................................................... 29
      Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara Berkembang . 32
      Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen ..................................................................... 32
      Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%) ................... 34
      Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah ............................................................................ 41
      Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block .............................................. 41
      Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbid ................................................................ 44
      Gambar 9 Pola Bisnis ....................................................................................................... 45
      Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................... 55
      Gambar 11 Analisis Sensitivitas ....................................................................................... 77




                                                                                                                                xiii
Page 16
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      1     PENDAHULUAN


      1.1   Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian


            Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang, dan Rekan telah ditunjuk oleh PT Surya Biru
            Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), berdasarkan Surat
            Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan
            Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025, sebagai Penilai
            Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan
            Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk
            Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya
            Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan Pembuangan
            Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik
            Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/
            Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
            46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


      1.2   Tanggal Penilaian


            Tanggal penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.


      1.3   Identitas Pemberi Tugas


            Pemberi tugas dalam studi kelayakan ini adalah:


            Nama Perusahaan      :    PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk.,
            Bidang Usaha         :    Perdagangan besar bahan kimia gas
            Alamat               :    Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
                                      Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
            Telepon              :    +62 542 743555
            Website              :    https://www.suryabirumurni.co.id/
            Email                :    corsec@suryabiru.co.id


      1.4   Latar Belakang


            PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan" atau “SBMA”)
            didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
            hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian ini telah
            disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan
            No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.


            Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
            Notaris No. 155 tanggal 26 Juni 2025 dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H., M.Kn.,
            Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi dan Komisaris. Perubahan

                                                                                                 1
Page 17
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum
            Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No.
            AHU-AH.01.09-0304955 tanggal 1 Juli 2025.


            Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
            adalah: KBLI 46651 Perdagangan Besar Gas Industri dan KBLI 20112 Industri Kimia
            Dasar Anorganik Gas Industri.


            Perseroan merupakan perusahaan publik yang bergerak di bidang industri gas
            industri, khususnya memproduksi dan mendistribusikan berbagai jenis gas seperti
            oksigen, nitrogen, argon, asetilena, serta gas lainnya yang digunakan untuk
            keperluan industri, kesehatan, dan energi.


            Semenjak berdiri dan resmi menjadi perusahaan terbuka pada 2021, Perseroan telah
            berkembang menjadi salah satu penyedia gas industri terkemuka di Indonesia dengan
            jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Tersertifikasi dengan
            ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu, kami berkomitmen untuk menjaga
            kualitas dan memberikan layanan yang lebih baik bagi pelanggan. Selama lebih dari
            40 tahun beroperasi di bisnis Gas Industri, Perseroan selalu bertujuan untuk
            menghasilkan produk yang lebih baik, kualitas yang lebih baik, dan layanan yang
            lebih baik.


            Dalam rangka memenuhi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun
            2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Perseroan masih
            menggunakan Jasa pihak ketiga untuk melakukan pengolahan terhadap limbah residu
            dari proses produksi Perseroan. Dalam rangka efisiensi biaya, saat ini Perseroan
            tengah dalam upaya memperoleh perizinan untuk mengelola limbah tanpa
            menggunakan Jasa pihak ketiga dengan konsekuensi bahwa Perseroan akan
            membutuhkan investasi barang modal terkait pengolahan limbah yang efisien dan
            dapat memberikan manfaat ekonomis.


            Atas hal tersebut, maka Perseroan berencana akan melakukan perubahan atas Pasal
            3 Anggaran Dasar Perusahaan sehingga perlu terlebih dahulu persetujuan RUPSLB.
            Perubahan tersebut adalah Perseroan akan melakukan penambahan kegiatan usaha
            baru yang sebagai berikut:
            1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
            2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
               Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
            3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
            4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
               dan Genteng);
            5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
            6. KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
            7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).

                                                                                                2
Page 18
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
            Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
            Timur.


      1.5   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan


            Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
            Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen
            dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata,
            Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment
            dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari
            Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan
            Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk
            Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau
            Kontrak) sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
            Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
            Kegiatan Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan
            ataupun kepentingan lainnya.


      1.6   Objek Penilaian


            Objek studi kelayakan adalah penambahan kegiatan usaha sesuai dengan KBLI 23953
            (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
            Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
            Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
            (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
            KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432 (Kegiatan
            Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas
            Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


      1.7   Jenis Mata Uang


            Dalam penugasan studi kelayakan ini perhitungan dinyatakan dalam mata uang
            Rupiah.



      1.8   Data dan Informasi yang Digunakan


            Dalam rangka melakukan Studi Kelayakan ini, kami telah mempelajari, menganalisis
            dan mempertimbangkan informasi sebagai berikut:
             1. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2020, No. 00074/2.1104/AU.1/
                04/0147-3/1/VIII/2021, tanggal 9 Agustus 2021 yang telah diaudit oleh Maurice
                Ganda Nainggolan dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan
                Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;

                                                                                              3
Page 19
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             2. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2021, No. 00028/2.1104/AU.1/
                 04/1292-1/1/III/2022, tanggal 23 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Ahalik
                 dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan dengan opini
                 wajar dalam semua hal yang material;
             3. Laporan       Keuangan        Perseroan      per      31        Desember       2022,
                 No. 00023/2.1104/AU.1/04/1292-2/1/III/2023, tanggal 29 Maret 2023 yang
                 telah diaudit oleh Ahalik dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
                 dan Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
             4. Laporan       Keuangan        Perseroan      per      31        Desember       2023,
                 No. 00136/2.1035/AU.1/04/1164-1/1/III/2024, tanggal 27 Maret 2024 yang
                 telah diaudit oleh Christiadi Tjahnadi dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
                 dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
             5. Laporan       Keuangan        Perseroan      per      31        Desember       2024,
                 No. 00179/2.1035/AU.1/04/1674-1/1/III/2025, tanggal 28 Maret 2025 yang
                 telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan opini
                 wajar dalam semua hal yang material;
             6. Laporan        Keuangan          Perseroan      per        30       Juni       2025,
                 No. 00607/2.1035/AU.1/04/1674-2/1/IX/2025, tanggal 29 September 2025
                 yang telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan
                 opini wajar dalam semua hal yang material;
             7. Proyeksi Keuangan selama 10 tahun;
             8. Legalitas Perseroan;
             9. Wawancara dan diskusi dengan manajemen Perseroan sehubungan dengan
                 penugasan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha, yakni dengan Ibu
                 Rini Dwiyanti sebagai Direktur Utama dan Bapak Rahadian sebagai Supervisor
                 Pengembangan Bisnis;
             10. Representation Letter No. 102/DIR-SBMA/SK/IX/2025, tanggal 29 September
                 2025,    sehubungan    dengan     Penugasan   Penilaian   Studi   Kelayakan    atas
                 Penambahan Kegiatan Usaha.


      1.9   Prosedur yang Digunakan


            Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan
            Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
            dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa
            Keuangan No. 17 /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
            Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018
            yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode
            Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup:
            1.   Metode Pengumpulan Data;
            2.   Survey Lapangan;
            3.   Analisis Kelayakan Pasar;
            4.   Analisis Kelayakan Teknis;
            5.   Analisis Kelayakan Pola Bisnis;

                                                                                                  4
Page 20
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            6.   Analisis Kelayakan Model Manajemen;
            7.   Analisis Kajian Kelayakan Keuangan; dan
            8.   Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.


      1.10 Ruang Lingkup Penugasan


            Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu
            untuk melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan
            Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
            1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
            2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
                 Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
            3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
            4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
                 dan Genteng);
            5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
            6. KBLI 49432 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
            7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


            Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
            Profesional, paling sedikit meliputi:
            1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
            2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian
                 Profesional; dan
            3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.


      1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas


            Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
            adalah:
            •    Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
            •    Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
                 dalam studi kelayakan.
            •    Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan
                 dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
                 diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta
                 penelitian yang kami anggap relevan.
            •    Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen
                 dengan   mencerminkan      kewajaran   proyeksi   keuangan     dan   kemampuan
                 pencapaiannya (fiduciary duty).
            •    Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran
                 proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
            •    Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
                 bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.

                                                                                              5
Page 21
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            •   Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
                dihasilkan.
            •   Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
                pemberi tugas.
            •   Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak
                melakukan market research khusus atas adanya supplier produk paving block
                yang telah memiliki komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan
                perumahan di Kalimantan dan IKN.


      1.12 Kualifikasi Penilai

            Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan
            berdasarkan        Keputusan    Menteri   Keuangan     No. 1498/KM.1/2012,   tanggal
            28 Desember 2012, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang dan Rekan
            dengan Izin KJPP No. 2.12.0113.


            Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai
            Usaha bersertifikat MAPPI dengan perizinan sebagai berikut:


            Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
            MAPPI                             : No. 09-S-02341
            Izin Penilai Publik               : No. B-1.12.00340
            Klasifikasi izin                  : Penilaian Bisnis
            Register                          : No. RMK-2017.00303
            STTD OJK                          : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
            STTD IKNB                         : No. 173/NB.122/STTD-P/2019

      1.13 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan

            Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan
            tanggal diterbitkannya laporan ini, terdapat kejadian penting yang terjadi selama
            periode tersebut. Kejadian setelah tanggal penilaian yang patut diinformasikan yaitu:
             1. Pada tanggal 2 Juli 2025 sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
                 tahunan (RUPS Tahunan) pada tanggal 4 Juni 2025 terjadi pembagian dividen
                 pada tanggal 2 Juli 2025;
             2. Pada tanggal 27 Agustus 2025, Perseroan menerima surat tanggapan dari PT
                 Bank CIMB Niaga Tbk atas covenant non financial yang dilakukan Perusahaan,
                 antara lain, terkait perubahan susunan direksi, pembagian deviden, dan lini
                 usaha Perseroan yang terbaru;
             3. Pada tanggal 29 Agustus 2025, menjelaskan kembali perihal penghapusan
                 personal guarantee atas nama Bapak Effendi, Welly Sumanteri, Rini Dwiyanti
                 sebesar kewajiban di PT Bank CIMB Niaga Tbk bersifat Join and Several;




                                                                                               6
Page 22
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                4. Pada tanggal 8 September 2025, terdapat perhitungan imbalan pascakerja
                   dihitung oleh aktuaris independen Kantor Konsultan Aktuaria Steven & Mourits
                   untuk periode 30 Juni 2025; dan
                5. Pada tanggal 27 Oktober 2025, terdapat surat dukungan dari PT Bank Mandiri
                   (Persero) Tbk, terkait penambahan unit bisnis baru. Dukungan tersebut termasuk
                   namun tidak terbatas pada fasilitas kredit.
            .
            Selanjutnya, selama periode Juli hingga September 2025, Perseroan telah melakukan
            dan menyampaikan beberapa keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan
            (OJK) sebagai bagian dari langkah penguatan internal dan persiapan implementasi
            rencana penambahan kegiatan usaha baru. Keterbukaan informasi tersebut antara
            lain mencakup:
                1. Penyampaian Laporan Keuangan Triwulan II Tahun 2025, sebagai bentuk
                   transparansi kinerja keuangan Perseroan yang menjadi dasar evaluasi kesiapan
                   pendanaan internal;
                2. Penyampaian Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk
                   memperoleh persetujuan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan sesuai
                   dengan ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020;
                3. Penyempurnaan struktur organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya
                   manusia, yang dilakukan secara bertahap untuk mendukung efektivitas
                   pelaksanaan kegiatan usaha baru; dan
                4. Langkah-langkah internal terkait evaluasi teknis dan kemitraan strategis, yang
                   diarahkan untuk memastikan kesiapan operasional dan kepatuhan terhadap
                   ketentuan peraturan yang berlaku.




                                                                                               7
Page 23
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2       INFORMASI UMUM


      2.1     Profil Perseroan


              Perseroan didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980,
              dibuat di hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian
              ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat
              Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.


              Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
              Notaris No. 155, tanggal 26 Juni 2025, dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H., M.Kn.,
              Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan tersebut telah
              diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian
              Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-
              AH.01.09-0304955, tanggal 1 Juli 2025, mengenai perubahan Direksi Dan
              Komisaris. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem
              Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
              Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0304955, tanggal 1 Juli 2025.


              Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
              Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
              Timur.


      2.1.1   Bidang Usaha


              Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
              adalah KBLI 46651 Perdagangan Besar Gas Industri dan KBLI 20112 Industri Kimia
              Dasar Anorganik Gas Industri.

      2.1.2   Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan


              Rincian pemegang saham Perseroan dan persentase kepemilikannya pada tanggal
              30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.




                                                                                               8
Page 24
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                       Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan
                                   Modal Dasar Sesuai Akta No. 85 tanggal 22 Maret 2021
                                                   Rp260.000.000.000,-
                     Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Sesuai Akta No. 85 tanggal 22 Maret 2021
                                                   Rp65.000.000.000,-
                Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan Sampai Dengan Tingkat Individu
                                               Pertanggal 30 September 2025
                                                            Nilai Nominal Rp100 per Saham
                                                                                              Jumlah
                                                                                          Modal Disetor
               No.      Pemegang Saham                                  Persentase
                                                 Jumlah Saham                                  dan
                                                                      Kepemilikan
                                                                                           Ditempatkan
                                                                                            Penuh (Rp)
                1      PT Surya Biru Titilea
                                                    585.000.000                  62,91%   58.500.000.000
                       Investama
                2      Tiffany Wei                   65.000.000                   6,99%    6.500.000.000
                3      Effendi (Komisaris
                                                      2.900.000                   0,31%     290.000.000
                       Utama)
                4      Rini Dwiyanti
                                                     25.795.700                   2,77%    2.579.570.000
                       (Direktur Utama)
                                                 Saham Publik (Masyarakat)
                5      Masyarakat                   251.230.582                  27,02%   25.123.058.200
                       Jumlah                       929.926.282                 100,00%   92.992.628.200
              Sumber: Manajemen Perseroan


      2.1.3   Susunan Dewan Komisaris dan Direksi


              Susunan pengurus Perseroan per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.


              Dewan Komisaris
              Komisaris Utama                            : Effendi
              Komisaris Independen                       : M. Slamet Brotosiswoyo
              Komisaris                                  : Dinawati


              Direksi
              Direktur Utama                             : Rini Dwiyanti
              Wakil Direktur                             : Welly Sumanteri
              Direktur                                   : Julianto Setyoadji


      2.1.4   Legalitas dan Izin Operasional


              Dalam menjalankan kegiatan operasional Perseroan memiliki dokumen perizinan
              usaha dan legalitas lainnya yang dikeluarkan oleh instansi terkait antara lain:




                                                                                                           9
Page 25
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                •      Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
                       hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., oleh Notaris Abdul Latief, S.H., dan
                       disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
                       berdasarkan        Surat      Keputusan         No. C2-3061HT.01.01.TH 1982,                  tanggal
                       15 Desember 1982;
                •      Akta Notaris No. 155, tanggal 26 Juni 2025, dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H.,
                       M.Kn., dan disahkan melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak
                       Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0304955
                       tanggal, 1 Juli 2025;
                •      Nomor Induk Berusaha (NIB): No. 120007440825; dan
                •      Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 01.150.545.0-725.000.


      2.2       Kinerja Keuangan


                Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan kinerja Perseroan berdasarkan
                data Laporan Keuangan audited per 31 Desember 2020, 2021, 2022, 2023, 2024
                dan 30 Juni 2025, serta Laporan Keuangan Interim 30 Juni 2024.


      2.2.1     Kinerja Posisi Keuangan


                Kinerja Posisi Keuangan Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
                adalah sebagai berikut.


                                 Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)

                        Uraian                    2025          2024          2023          2022          2021           2020
                                              30 Juni
         ASET
         Aset Lancar
         Kas dan bank                        12.868.014       10.422.997     4.752.401     8.303.761    23.098.928      1.779.321
         Piutang usaha
         > Pihak ketiga                      19.294.928       21.822.757    21.723.493    22.953.314    23.651.765     17.926.430
         > Pihak berelasi                          41.641        27.889       147.639       478.047              -              -
         Piutang lain-lain                        160.068       156.653       293.822       343.658       485.515        705.519
         Persediaan
         > Bahan baku                         1.527.759        1.610.179     1.653.473     1.814.715      645.576        803.548
         > Bahan jadi                         1.109.725        2.196.279     1.158.541     3.399.807     3.217.791      3.045.822
         > Barang pembantu                    3.899.269        1.143.378      778.384       811.030       782.060        379.277
         Uang muka dan biaya di muka          2.249.650        1.821.420     1.177.298     1.595.287     3.706.315      6.517.658
         Pajak dibayar di muka                           -             -             -     1.473.024             -              -
         Total Aset Lancar                   41.151.054       39.201.552    31.685.052    41.172.643    55.587.950     31.157.575


         Aset Tidak Lancar
         Uang muka pembelian aset tetap           483.210       925.405      7.682.053             -             -              -
         Aset tetap
         Biaya perolehan
         Kepemilikan langsung
         > Tanah                            171.842.000      171.842.000   171.842.000   171.052.294   169.613.630    143.535.210
         > Bangunan                          11.630.981       11.630.981    11.320.651    11.190.899    11.190.899     11.190.899
         > Tabung                            36.059.289       33.080.709    30.133.025    29.225.576    30.334.780     28.737.638



                                                                                                                          10
Page 26
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                        Uraian                 2025            2024           2023           2022           2021           2020
                                              30 Juni
         > Mesin dan instalasi               60.729.185      60.305.495     59.134.311     16.475.739     16.599.352     16.407.866
         > Storage tank                      13.850.693      13.850.693     11.335.334     11.335.334     10.562.986     10.562.986
         > Kendaraan                         24.439.217      24.439.217     12.472.024     11.510.038     11.556.046     10.231.306
         Aset Hak Guna
         > Tanah                                617.761         567.376        435.051              -              -              -
         Aset Dalam Penyelesaian
         > Mesin                                147.431               -         66.000     33.447.210      3.814.217              -
         Jumlah nilai perolehan             319.316.557     315.716.470    296.738.397    284.237.091    253.671.910    220.665.906
         Akumulasi penyusutan
         Kepemilikan langsung
         > Bangunan                          (7.363.273)     (7.148.405)    (6.727.721)    (6.318.908)    (5.911.177)    (5.373.394)
         > Tabung                           (24.431.243)    (23.326.866)   (22.662.038)   (21.906.173)   (24.644.779)   (24.035.084)
         > Mesin dan instalasi              (18.539.390)    (16.558.983)   (12.686.020)   (10.611.350)   (10.942.248)   (10.143.463)
         > Storage tank                     (11.133.932)    (10.928.451)   (10.731.937)   (10.635.185)   (10.558.455)   (10.500.321)
         > Kendaraan                        (10.721.108)     (9.550.834)    (7.788.539)    (7.228.408)    (8.182.735)    (7.688.926)
         Kepemilikan langsung
         > Tanah                                (93.479)        (64.404)       (30.684)             -              -              -
         Jumlah akumulasi penyusutan        (72.282.425)    (67.577.944)   (60.626.939)   (56.700.024)   (60.239.393)   (57.741.189)
           Nilai Buku                       247.034.133     248.138.527    236.111.458    227.537.067    193.432.517    162.924.717
         Beban ditangguhkan                                                                         -              -
         Aset pajak tangguhan                 1.573.941       1.556.242        701.351        896.341      1.598.288      1.171.328
         Setoran jaminan                        154.331         154.331              -              -              -
         Total Aset Tidak Lancar            249.245.615     250.774.505    244.494.862    228.433.407    195.030.805    164.096.045


         TOTAL ASET                         290.396.669     289.976.057    276.179.915    269.606.050    250.618.756    195.253.620


         LIABILITAS DAN EKUITAS
         LIABILITAS LANCAR
         Utang bank jangka pendek             7.678.182       8.289.775     17.441.571     22.090.304     25.200.000     29.043.208
         Utang usaha
         > Pihak ketiga                       3.012.851       2.418.380      2.606.814      5.113.965      3.904.713      2.613.031
         > Pihak berelasi                       100.728         225.711              -              -              -              -
         Beban akrual                         7.051.429       7.999.097      2.522.030      1.118.714        985.412      1.098.125
         Utang pajak                          1.356.864       2.512.109      1.109.235        507.341      1.806.761      1.255.009
         Liabilitas jk panjang yang jatuh
         tempo dalam waktu satu tahun
         > Utang bank                         4.328.970       4.328.970      4.294.395      2.153.735              -              -
         > Utang pembiayaan konsumen          2.439.092       3.337.919        785.939      1.823.096        756.606        564.728
         > Liabilitas sewa                              -             -              -              -              -              -
         Total Liabilitas Lancar             25.968.117      29.111.961     28.759.984     32.807.155     32.653.492     34.574.101


         LIABILITAS TIDAK LANCAR
         Liabilitas jk pnjg - setelah
         dikurangi bagian yang jatuh
         tempo dalam satu
         tahun
         > Utang bank                        13.069.339      15.350.779     17.550.668     13.497.326              -              -
         > Utang pembiayaan konsumen            512.436       1.208.786        363.058              -         79.614              -
         Liabilitas sewa                        392.051         376.261        223.816              -              -
         Uang jaminan pelanggan              11.855.787      12.125.218     10.530.496      8.556.674      7.396.052      5.333.692
         Pendapatan diterima di muka             50.717          69.442         60.167          3.167         22.167         41.167
         Liabilitas imbalan pascakerja        4.101.825       3.835.526      3.242.700      3.669.215      5.174.671      5.324.216
         Total Liabilitas Tidak Lancar       29.982.155      32.966.012     31.970.905     25.726.381     12.672.504     10.699.075




                                                                                                                            11
Page 27
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                         Uraian                 2025            2024          2023          2022          2021          2020
                                               30 Juni
         TOTAL LIABILITAS                     55.950.272      62.077.972    60.730.889    58.533.536    45.325.996    45.273.176


         EKUITAS
         Modal saham                          92.992.628      92.992.628    92.992.628    92.992.628    92.840.000    65.000.000
         > PT Surya Biru Titilea Investama    58.500.000      58.500.000    58.500.000    58.500.000    58.500.000    58.500.000
         > Tiffany Wei                         6.500.000       6.500.000     6.500.000     6.500.000     6.500.000     6.500.000
         > Masyarakat (masing-masing          27.992.628      27.992.628    27.992.628    27.992.628    27.840.000             -
         dibawah 5%)
         Tambahan modal disetor               29.394.526      29.394.526    29.394.526    29.394.526    29.196.109    11.294.492
         Penghasilan komprehensif lain        72.167.029      72.163.341    72.049.137    71.010.351    70.066.085    67.909.251
         Saldo laba
         > Telah ditentukan                    2.500.000       2.500.000     1.500.000     1.500.000      928.400       650.000
         penggunaannya
         > Belum ditentukan                   37.392.214      30.847.589    19.512.735    16.175.009    12.262.166     5.126.700
         penggunaannya


         TOTAL EKUITAS                       234.446.397     227.898.084   215.449.026   211.072.514   205.292.760   149.980.443


         Kepentingan nonpengendali                       -             -             -             -             -             -


         TOTAL EKUITAS                       234.446.397     227.898.084   215.449.026   211.072.514   205.292.760   149.980.443


         TOTAL LIABILITAS & EKUITAS          290.396.669     289.976.057   276.179.915   269.606.050   250.618.756   195.253.620

       Sumber: Laporan Keuangan Perseroan


               Aset
               •       Pada tahun 2021, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp250,62 miliar,
                       naik sebesar 28,36% dari total aset yang dicatat tahun 2020 yang sebesar
                       Rp195,25 miliar. Total aset ini terdiri atas aset lancar sebesar Rp55,59 miliar
                       dan aset tidak lancar sebesar Rp193,43 miliar. Kenaikan aset terutama
                       disebabkan karena naiknya aset tanah pada aset tidak lancar lainnya
                       dibandingkan di tahun sebelumnya.
               •       Pada tahun 2022, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp269,61 miliar,
                       naik sebesar 7,58% dari total aset yang dicatat tahun 2021. Total aset ini terdiri
                       atas aset lancar sebesar Rp41,17 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp228,43
                       miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya aset dalam
                       penyelesaian mesin pada aset tidak lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
               •       Pada tahun 2023, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp276,18 miliar,
                       naik sebesar 2,44% dari total aset yang dicatat tahun 2022. Total aset ini terdiri
                       atas aset lancar sebesar Rp31,69 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp244,49
                       miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya mesin dan instalasi
                       pada aset tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
               •       Pada tahun 2024, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp289,98 miliar,
                       naik sebesar 5,00% dari total aset yang dicatat tahun 2023. Total aset ini terdiri
                       atas aset lancar sebesar Rp39,20 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp250,77
                       miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya kendaraan pada aset
                       tetap dibandingkan tahun sebelumnya.


                                                                                                                         12
Page 28
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp290,40 miliar
                  atau sebesar 100,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset ini terdiri
                  atas aset lancar sebesar Rp41,15 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp249,25
                  miliar.


              Liabilitas
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2021 adalah sebesar Rp45,33 miliar, naik 0,12%
                  dari akhir tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp45,27 miliar. Liabilitas ini terdiri
                  atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp32,65 miliar dan liabilitas jangka
                  panjang sebesar Rp12,67 miliar. Kenaikan liabilitas terutama disebabkan utang
                  bank jangka pendek yang lebih tinggi pada liabilitas jangka pendek
                  dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2022 adalah sebesar Rp58,53 miliar, naik
                  29,14% dari akhir tahun 2021. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek
                  sebesar Rp32,81 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp25,73 miliar.
                  Penurunan liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari akun utang bank
                  setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas
                  jangka panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2023 adalah sebesar Rp60,73 miliar, naik 3,75%
                  dari akhir tahun 2022. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar
                  Rp28,76 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp31,97 miliar. Kenaikan
                  liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun utang bank setelah dikurangi
                  bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas jangka panjang
                  dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2024 tercatat sebesar Rp62,08 miliar,
                  meningkat sebesar 2,22% dari akhir tahun 2023. Liabilitas ini terdiri atas
                  liabilitas jangka pendek sebesar Rp29,11 miliar dan liabilitas jangka panjang
                  sebesar Rp32,97 miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun
                  beban akrual pada liabilitas jangka pendek dibanding dibandingkan tahun
                  sebelumnya.
             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total liabilitas sebesar Rp55,95
                  miliar atau sebesar 90,13% dibandingkan tahun sebelumnya. Total liabilitas ini
                  terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp25,97 miliar dan liabilitas jangka
                  panjang sebesar Rp29,98 miliar.


              Ekuitas
             •    Pada tahun 2021, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 36,88% menjadi
                  sebesar Rp205,29 miliar, dari yang semula tercatat Rp149,98 miliar di tahun
                  2020. Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari tercatatnya penyertaan saham
                  masyarakat sebesar Rp27,84 miliar di tahun 2021.
             •    Pada      tahun   2022,   total   ekuitas   mengalami   kenaikan   sebesar   2,82%
                  dibandingkan total ekuitas pada tahun 2021, menjadi sebesar Rp211,07 miliar.
                  Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2022.



                                                                                                  13
Page 29
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                      •    Pada    tahun    2023,      total     ekuitas    mengalami         kenaikan       sebesar     2,07%
                           dibandingkan total ekuitas pada tahun 2022, menjadi sebesar Rp215,45 miliar.
                           Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2023.
                      •    Pada    tahun    2024,      total     ekuitas    mengalami         kenaikan       sebesar     5,76%
                           dibandingkan total ekuitas pada tahun 2023, menjadi sebesar Rp227,90 miliar.
                           Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2024.
                      •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total ekuitas sebesar Rp234,45
                           miliar atau sebesar 102,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Total ekuitas ini
                           didominasi oleh modal saham sebesar 39,66%, tambahan modal disetor sebesar
                           12,54%, penghasilan komprehensif lain sebesar 30,78% dan saldo laba sebesar
                           17,02% dari ekuitas.


          2.2.2       Kinerja Laba (Rugi)


                      Kinerja Laba (Rugi) Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
                      adalah sebagai berikut.


                                           Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000)
                                        2025            2024
                  Uraian                                                2024           2023           2022             2021           2020
                                       30 Juni         30 Juni
   PENDAPATAN                         67.173.896      60.754.718     131.677.483    113.369.718    103.643.140     88.261.235       74.268.102
   Jasa                                1.777.448       1.936.752       4.710.140      4.206.033      4.022.080      3.563.605        3.634.117
   Produk
   Ocygen                             18.559.710      13.593.684      33.048.435     22.627.067     20.461.596      7.898.242        3.050.362
          Acetylene                   15.914.084      17.683.987      36.494.449     33.665.752     29.286.298     21.446.520       18.679.090
          Argon                        9.367.998      12.186.381      16.377.253     22.593.000     20.877.491     21.534.712       10.985.023
          Nitrogen                     8.768.276       4.818.547      16.303.992      6.361.733      5.071.477     17.463.078       13.512.067
          Karbondioksida               3.760.629       2.411.164       7.026.114      7.796.853      4.895.185      3.425.367        2.712.652
          Gas campuran                 9.025.752       8.124.202      17.717.101     16.119.281               -               -              -
          Lain-lain                              -               -             -               -    23.051.093     12.929.712       21.694.791


   BEBAN POKOK PENDAPATAN            (32.613.555)    (29.952.219)    (62.159.988)   (59.725.790)   (51.476.913)   (42.237.404)     (36.511.873)
   Pembelian bahan baku              (15.977.399)    (17.000.767)    (45.292.707)   (38.823.977)   (38.350.829)   (30.389.410)     (23.403.695)
   Persediaan bahan baku awal         (1.610.179)     (1.653.473)     (1.653.473)    (1.814.715)     (645.576)         (803.548)    (1.151.010)
   Ongkos angkut pembelian            (1.788.282)     (1.887.994)     (3.851.808)    (4.052.782)    (3.944.372)    (2.423.311)      (1.532.896)
   Persediaan bahan baku akhir         1.527.759       1.637.489       1.610.179      1.653.473      1.814.715          645.576        803.548
   Sub total                         (17.848.100)    (18.904.746)    (49.187.809)   (43.038.001)   (41.126.062)   (32.970.693)     (25.284.053)
   Beban listri dan air               (9.981.944)     (5.864.145)     (2.098.804)    (6.365.475)    (3.814.892)    (3.571.136)      (5.419.786)
   Penyusutan                         (4.370.376)     (3.715.067)     (7.847.449)    (4.354.391)    (2.665.853)    (2.359.323)      (3.153.827)
   Perbaikan dan pemeliharaan          (362.072)      (1.346.422)     (2.878.298)    (1.790.115)    (1.643.784)        (452.848)     (628.147)
   Beban asuransi dan pengiriman       (434.320)       (296.244)       (729.244)      (843.705)      (343.454)         (594.127)     (353.898)
   Sewa isotank                        (156.533)       (164.113)       (287.488)      (843.150)      (246.325)                -              -
   Gaji dan tunjangan                    (82.525)        (74.625)      (153.575)      (145.054)     (1.783.433)    (2.343.025)      (2.113.510)
   Sparepart mesin dan instalasi      (1.080.674)                -       (15.060)     (104.633)        (35.127)        (118.222)       (48.626)
   Pembelian Kran dan Cat Untuk                  -                             -               -              -               -      (402.762)
     Tabung                                                      -
   Beban air                                     -               -             -               -              -               -        (66.565)
   Sub total                         (16.468.444)    (11.460.615)    (14.009.917)   (14.446.523)   (10.532.867)    (9.438.681)     (12.187.120)


   Persediaan jadi awal               (2.196.279)     (1.158.541)     (1.158.541)    (3.399.807)    (3.217.791)    (3.045.822)      (2.086.521)
   Persediaan jadi akhir               3.899.269       1.571.684       2.196.279      1.158.541      3.399.807      3.217.791        3.045.822



                                                                                                                              14
Page 30
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                       2025            2024
                 Uraian                                                2024           2023           2022           2021           2020
                                      30 Juni         30 Juni


   Total                            (32.613.555)    (29.952.219)    (62.159.988)   (59.725.790)   (51.476.913)   (42.237.404)   (36.511.873)


   LABA (RUGI) BRUTO                 34.560.342      30.802.500      69.517.495     53.643.928     52.166.228     46.023.831     37.756.229


   BEBAN USAHA                      (26.008.806)    (23.915.837)    (53.238.113)   (46.030.906)   (44.282.527)   (36.378.840)   (30.009.027)


   Beban Umum dan Administrasi      (24.847.662)    (22.195.888)    (50.332.695)   (39.585.647)   (41.712.386)   (33.336.731)   (25.280.152)
   Gaji dan tunjangan               (13.191.970)    (12.329.089)    (24.598.047)   (20.138.724)   (19.333.022)   (17.097.154)   (10.510.560)
   Pemasaran dan penjualan           (5.521.405)     (5.083.872)    (10.983.594)    (9.074.909)    (8.411.239)    (6.221.710)    (7.084.897)
   Beban pengolahan limbah                      -               -    (3.570.490)             -     (3.570.490)             -              -
   Perbaikan dan pemeliharaan        (1.690.238)     (1.288.332)     (2.643.737)    (3.046.152)    (2.698.461)    (2.438.179)    (2.167.485)
   Jamsostek                          (831.361)       (684.323)      (1.412.660)    (1.282.621)    (1.162.942)    (1.091.447)    (1.030.589)
   Jasa profesional                   (549.631)       (492.448)      (1.067.351)    (1.184.427)    (1.519.710)    (1.719.359)     (259.887)
   Perlengkapan kantor                (549.640)       (389.552)       (555.873)      (535.124)      (733.138)      (502.772)      (427.030)
   Pajak dan retribusi                (359.933)       (129.390)      (1.413.188)     (370.863)      (473.054)      (564.477)      (677.335)
   Imbalan kerja                      (502.858)       (553.374)      (1.003.760)     (926.751)      (930.208)      (687.952)      (637.316)
   Penyusutan                         (334.105)       (307.397)       (636.189)      (587.673)      (704.958)      (629.639)      (545.562)
   Perjalanan dinas                   (573.590)       (334.465)       (750.064)      (622.448)      (417.591)      (223.796)      (105.068)
   Listrik, air dan telepon           (172.381)                 -     (365.493)      (380.517)      (240.389)      (552.138)      (508.838)
   Asuransi                           (158.019)       (125.905)       (285.538)      (157.462)      (105.717)      (342.196)        (11.192)
   Transportasi                                 -               -             -              -              -      (217.928)      (184.437)
   Sumbangan dan iuran rutin                    -               -     (193.016)      (140.622)        (33.275)       (39.630)       (33.250)
   Konsumsi                                     -       (36.573)        (83.431)     (104.251)      (113.480)      (107.093)        (72.728)
   Sewa                                         -               -             -              -        (90.226)     (178.150)        (36.900)
   Hiburan, rekreasi dan olahraga               -               -     (121.249)              -      (121.249)        (71.952)       (41.024)
   Pengobatan karyawan                          -               -             -      (120.872)      (156.038)      (162.614)      (101.614)
   Tes kesehatan                                -               -             -              -              -      (176.335)        (65.097)
   Materai                                      -               -             -              -              -        (65.618)       (43.511)
   Air                                          -               -             -              -              -              -        (36.826)
   Jamuan                                       -               -             -              -              -        (17.669)       (25.465)
   Lain-lain                          (412.533)       (441.168)       (649.015)      (912.232)      (897.198)      (228.924)      (673.542)


   Beban Bunga dan Keuangan          (1.036.510)     (1.546.330)     (3.046.658)    (3.620.031)    (3.451.113)    (2.767.418)    (3.439.392)
   Beban bunga pinjaman bank          (997.383)      (1.508.786)     (2.876.707)    (3.456.219)    (3.114.640)    (2.630.365)    (3.260.801)
   Beban bunga liabilitas sewa          (17.904)        (15.093)        (29.698)       (36.918)             -              -      (178.592)
   Administrasi dan provisi             (21.222)        (22.451)      (140.253)      (126.894)      (336.473)      (137.053)


   Pendapatan (Beban) Lain-lain       (124.634)       (173.618)         141.239     (2.825.228)       880.972      (274.691)     (1.289.483)
   Keuntungan penjualan aset                    -                       484.528              -        374.487        490.757        332.137
     tetap                                                      -
   Pendapatan jasa giro                  51.517          26.024          74.845         79.610        182.138        183.518          8.719
   Laba (rugi) selisih kurs                     -         2.437               -              -        122.825              -          6.098
   Pendapatan lain-lain                         -               -             -              -              -        680.232         18.020
   Penyisihan penurunan nilai                   -                     (473.660)     (1.576.065)       (73.887)     (451.898)      (380.253)
     piutang                                          (183.573)
   Beban kerugian pelepasan                     -                             -              -        (21.875)             -              -
     nilai aset tetap                                           -
   Beban pajak                        (200.680)       (139.400)       (136.014)     (1.654.840)       (83.636)     (151.094)      (355.408)
   Beban denda perkara                          -               -             -              -              -     (1.000.000)             -
   Lain-lain                             24.529         120.893         191.541        326.067        380.920        (26.207)     (918.796)


   LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK          8.551.535       6.886.663      16.279.382      7.613.022      7.883.701      9.644.991      7.747.202
     PENGHASILAN




                                                                                                                           15
Page 31
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                    2025           2024
               Uraian                                             2024          2023          2022          2021          2020
                                   30 Juni        30 Juni


   BEBAN PAJAK PENGHASILAN        (2.006.910)    (1.593.082)    (3.879.598)   (2.880.407)   (3.399.257)   (2.231.125)   (2.442.565)


   LABA TAHUN BERJALAN             6.544.625      5.293.581     12.399.784     4.732.615     4.484.443     7.413.866     5.304.637




   PENGHASILAN (RUGI)                  3.688                       114.204     1.038.787       944.266     2.156.834    67.912.127
     KOMPREHENSIF LAIN                                      -
   Surplus revaluasi aset tetap              -              -            -       789.706     1.438.664     1.931.420    68.355.746
   Pengukuran kembali program          4.728                       146.415       542.072     (228.067)       288.992     (404.015)
     imbalan pasti                                          -
   Pajak penghasilan terkait          (1.040)               -      (32.211)    (292.991)     (266.331)       (63.578)      (39.603)


   LABA (RUGI) KOMPREHENSIF        6.548.312      5.293.581     12.513.988     5.771.402     5.428.709     9.570.699    73.216.765
     TAHUN BERJALAN


   LABA (RUGI) PER SAHAM                7,40           5,70          14,37          5,09          4,83         10,65        106,90

  Sumber: Laporan Keuangan Perseroan


                  Pendapatan
                  •     Pada tahun 2021, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp88,62
                        miliar, naik 18,84% dari Rp74,27 miliar pada tahun 2020. Kenaikan pendapatan
                        dikontribusi oleh peningkatan produk argon sebesar 96,04% dibandingkan
                        tahun sebelumnya.
                  •     Pada tahun 2022, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp103,64
                        miliar, naik 17,43% dari Rp88,62 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan
                        dikontribusi oleh peningkatan produk ocygen sebesar 159,07% dibandingkan
                        tahun sebelumnya.
                  •     Pada tahun 2023, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp113,37
                        miliar, naik 9,38% dari Rp103,64 miliar pada tahun 2022. Kenaikan pendapatan
                        dikontribusi oleh tercatatnya produk gas campuran sebesar Rp16,12 miliar.
                  •     Pada tahun 2024, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp131,68
                        miliar, naik 16,15% dari Rp113,37 miliar pada tahun 2023. Kenaikan
                        pendapatan dikontribusi oleh tercatatnya produk oxygen sebesar Rp46,06
                        miliar.
                  •     Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp67,13
                        miliar atau sebesar 51,01% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


                  Beban Pokok Pendapatan dan Laba kotor
                  •     Pada tahun 2021, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                        sebesar 15,68% dari tahun 2020 sebesar Rp36,51 miliar menjadi Rp42,24
                        miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                        bahan baku di tahun 2021 sebesar 29,85%. Sementara, laba kotor Perseroan
                        mengalami kenaikan sebesar 21,90% menjadi Rp46,02 miliar dari Rp37,76
                        miliar di tahun 2020.



                                                                                                                   16
Page 32
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             •    Pada tahun 2022, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                  sebesar 21,88% dari tahun 2021 sebesar Rp42,24 miliar menjadi Rp51,48
                  miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                  bahan baku di tahun 2022 sebesar 26,20%. Sementara, laba kotor Perseroan
                  mengalami kenaikan sebesar 13,35% menjadi Rp52,17 miliar dari Rp46,02
                  miliar di tahun 2021.
             •    Pada tahun 2023, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                  sebesar 16,02% dari tahun 2022 sebesar Rp51,48 miliar menjadi Rp59,73
                  miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                  beban listrik dan air di tahun 2022 sebesar 66,86%. Sementara, laba kotor
                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 2,83% menjadi Rp59,73 miliar dari
                  Rp51,48 miliar di tahun 2022.
             •    Pada tahun 2024, beban pokok pendapatan Perseroan meningkat sebesar
                  4,08% dari tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp52,73 miliar menjadi sebesar
                  Rp62,16 miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari
                  pembelian bahan baku di tahun 2023 sebesar 16,66%. Sementara, laba kotor
                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 29,59% menjadi Rp69,52 miliar dari
                  Rp53,64 miliar di tahun 2023.
             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan beban pokok pendapatan
                  sebesar Rp32,61 miliar atau setara 52,47% jika dibandingkan dengan tahun
                  sebelumnya. Sehingga laba kotor yang tercatat pada 30 Juni 2025 adalah
                  sebesar Rp34,56 miliar sebesar 49,72% jika dibandingkan dengan tahun
                  sebelumnya.


              Laba (Rugi) Sebelum Pajak
             •    Pada tahun 2021, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp33,34
                  miliar (31,87%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
                  menjadi sebesar Rp2,77 miliar (19,54%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  beban lain-lain sebesar Rp274,69 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 24,50% menjadi Rp9,64 miliar dari
                  Rp7,75 miliar di tahun 2020.
             •    Pada tahun 2022, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp41,71
                  miliar (25,12%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
                  menjadi sebesar Rp3,45 miliar (24,71%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  pendapatan lain-lain sebesar Rp880,97 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami penurunan sebesar 18,26% menjadi Rp7,88 miliar dari
                  Rp9,64 miliar di tahun 2021.
             •    Pada tahun 2023, beban umum dan administrasi turun menjadi sebesar
                  Rp39,59 miliar (5,10%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
                  menjadi sebesar Rp3,62 miliar (4,29%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  beban lain-lain sebesar Rp2,83 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami penurunan sebesar 3,43% menjadi Rp7,61 miliar dari
                  Rp7,88 miliar di tahun 2022.



                                                                                          17
Page 33
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                 •       Pada tahun 2024, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp50,33
                         miliar (27,15%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
                         menjadi sebesar Rp3,05 miliar (15,84%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                         pendapatan lain-lain sebesar Rp141,24 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                         Perseroan mengalami penurunan sebesar 113,84% menjadi Rp16,28 miliar dari
                         Rp7,61 miliar di tahun 2023.
                 •       Pada 30 Juni 2025, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp24,85
                         miliar, beban bunga dan keuangan sebesar Rp1,04 miliar dan pendapatan lain-
                         lain sebesar Rp124,63 juta. Sementara, laba sebelum pajak Perseroan pada 30
                         Juni 2025 tercatat sebesar Rp8,55 miliar.


                  Laba (Rugi) Tahun Berjalan
                 •       Pada tahun 2021, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                         39,76% menjadi Rp7,41 miliar dari Rp5,30 miliar di tahun 2020.
                 •       Pada tahun 2022, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
                         39,51% menjadi Rp4,48 miliar dari Rp7,41 miliar di tahun 2021.
                 •       Pada tahun 2023, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                         5,53% menjadi Rp4,73 miliar dari Rp4,84 miliar di tahun 2022.
                 •       Pada tahun 2024, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                         162,01% menjadi Rp12,40 miliar dari Rp4,73 miliar di tahun 2023.
                 •       Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan laba tahun berjalan sebesar
                         Rp6,54         miliar    atau     sebesar    52,78%    jika    dibandingkan      dengan       tahun
                         sebelumnya.


                                                 Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan
                                                 30 Juni    30 Juni
                      Uraian                                          2024      2023        2022      2021      2020     Average
                                                 2025       2024
      A.   LIQUIDITY (%)
           Current Ratio                         158,47%    115,96%   134,66%   110,17%     125,50%   170,24%   90,12%    131,52%
           Quick Ratio                           124,02%     96,71%   110,86%    92,57%      96,73%   143,17%   57,00%    104,06%
           Working Capital To Total Assets         5,23%      1,68%     3,48%     1,06%       3,10%     9,15%   -1,75%      3,38%
      B.   ACTIVITY
           Total Assets Turnover (X)                0,46       0,43      0,45      0,41        0,38      0,35     0,38         0,41
           Inventory Turnover (X)                   9,98      14,22     12,56     16,63        8,54      9,09     8,63      10,91
           Average Day's Inventory (Day)              37         26       29           22       43        40       42
           Account Receivable Turnover (X)          6,95       5,46      6,03      5,18        4,42      3,73     4,14      35,45
           Average Collection Period (Day)            53         67       61           70       83        98       88          5,08
           Working Capital Turnover (X)             8,85      25,34     13,05     38,76       12,39      3,85   -21,74      75,32


      C.   SOLVABILITY (%)
           Total Debt to Equity Ratio             23,86%     29,74%    27,24%    28,19%      27,73%    22,08%   30,19%     26,55%
           Total Debt to Asset Ratio              19,27%     22,93%    21,41%    21,99%      21,71%    18,09%   23,19%     20,94%
           Long Term Debt To Equity Ratio         12,79%     16,07%    14,47%    14,84%      12,19%     6,17%    7,13%     11,26%
      D. RENTABILITY (%)
           Gross Profit Margin                    51,45%     50,70%    52,79%    47,32%      50,33%    52,15%   50,84%     50,81%
           Operating Profit Margin                12,73%     11,34%    12,36%     6,72%       7,61%    10,93%   10,43%     10,13%
           Net Profit Margin                       9,74%      8,71%     9,42%     4,17%       4,33%     8,40%    7,14%      7,20%
           Rate of Return on Investment            4,51%      3,71%     4,28%     1,71%       1,66%     2,96%    2,72%      2,97%
           Rate of Return on Equity                5,58%      4,82%     5,44%     2,20%       2,12%     3,61%    3,54%      3,75%




                                                                                                                         18
Page 34
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




     Sumber     : Laporan Keuangan Perseroan
     Keterangan: Perhitungan rata-rata rasio keuangan yang dihitung adalah tahun 2020, 2021,
                  2022, 2023, 2024, dan 30 Juni 2025. Untuk 30 Juni 2024 digunakan sebagai
                  perbandingan dengan rasio keuangan saat tanggal penilaian.


              Rasio Likuiditas
              Selama periode 2020—30 Juni 2025, rasio likuiditas menunjukkan rata-rata current
              ratio dan quick ratio adalah sebesar 131,52% dan 104,06%. Sementara itu untuk
              working capital to total assets ratio memiliki rata-rata sebesar 3,38%. Hal ini
              menunjukkan bahwa Perseroan memiliki aset lancar yang bersifat cukup likuid
              untuk membayar seluruh utang jangka pendeknya.


              Rasio Aktivitas
              Rasio aktivitas menggambarkan kemampuan Perseroan dalam memanfaatkan aset-
              aset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Rata-rata
              perputaran aset adalah sebanyak 0,41 kali, yang menunjukkan bahwa kemampuan
              Perseroan untuk menghasilkan penjualan dari total aset yang dimiliki masih cukup
              rendah, karena total aset yang dimiliki tidak menghasilkan penjualan yang lebih
              besar dari jumlah aset. Rasio ini mengindikasikan bahwa efektivitas penggunaan
              aset oleh Perseroan masih perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan pendapatan
              yang lebih optimal.


              Rasio Solvabilitas
              Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan
              pinjaman yang diberikan oleh kreditor baik dalam bentuk jangka pendek maupun
              jangka panjang. Salah satu rasio solvabilitas adalah debt to equity ratio (DER)
              menunjukkan        besarnya   porsi   utang   terhadap   ekuitas   dalam   pembiayaan
              perusahaan, sedangkan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan posisi liabilitas
              terhadap aset dalam pembiayaan perusahaan. Rasio solvabilitas menunjukkan rata-
              rata DER sebesar 26,55%, yang berarti bahwa Perseroan memiliki ketergantungan
              terhadap utang yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya untuk
              membiayai operasionalnya. Sementara itu, rata-rata DAR adalah sebesar 20,94%,
              yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keuangan di tingkat
              menengah karena masih memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan aset
              melalui utang.


              Rasio Rentabilitas
              Rasio Rentabilitas menggambarkan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
              menghasilkan sebuah laba. Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata gross
              profit margin sebesar 50,81%. Gross profit margin merupakan perbandingan laba
              kotor dengan besarnya tingkat pendapatan. Sementara itu rata-rata net profit
              margin sebesar 7,20%. Net profit margin merupakan rasio yang membandingkan
              antara laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari pendapatan bersih.



                                                                                                19
Page 35
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata tingkat balikan terhadap total
              investasi (ROI) adalah sebesar 2,97%, menunjukkan bahwa Perseroan mengalami
              keuntungan dan dapat menghasilkan laba bersih dari total investasi yang dilakukan.
              Selain itu, rata-rata tingkat balikan terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 3,75%,
              yang juga menunjukkan bahwa Perseroan mampu menghasilkan laba bersih dari
              jumlah ekuitas yang diinvestasikan.


      2.3     Produk dan Layanan Perseroan


             Produk dan jasa yang telah dihasilkan oleh Perseroan hingga saat ini adalah sebagai
             berikut.

             Perdagangan

             • Gas Industri seperti Oxygen, Acetylene, Nitrogen, Argon, Karbondioksida,
                Helium, Hidrogen.
             • Gas campuran yang terdiri dari 2 atau lebih gas seperti campuran Argon dan
                karbondioksida, campuran untuk gas pemadam, dan sebagainya.
             • Gas Spesial yang komponennya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
                Umumnya digunakan untuk pengujian di Laboratorium • Selain dalam bentuk
                Gas, Oxygen, Nitrogen dan Argon dapat dijual dalam bentuk Liquid atau Bulk.

             Perawatan Tabung

             • Uji hidrostatis untuk mengecek ketahanan tabung.
             • Sertifikasi tabung yang telah lolos uji hidrostatis dan layak untuk digunakan.
             • Pembersihan Tabung.
             • Pengecatan kembali tabung.

             Jasa

             • Reparasi Tangki kriogenik.
             • Uji kebocoran tangki.
             • Aksesoris tabung dan tangki.


             Selanjutnya, Perseroan berencana untuk menambah bisnis baru yaitu pabrik batako
             dan paving block yang berasal dari limbah karbit yang merupakan produk
             sampingan dari pembuatan gas asetilena melalui reaksi kimia antara air dan Kalsium
             Karbida.


      2.4     Teknologi yang Digunakan


              Mesin yang akan digunakan pada penambahan kegiatan usaha ini adalah ZN600VP,
              yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang di Jerman
              dan dibuat di Tiongkok. Terdapat motor getaran frekuensi motor getaran 2x12.1KW
              (getaran servo), untuk mencapai gaya getaran 100KN. Sistem kontrol PLC SIEMENS,




                                                                                                20
Page 36
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              layar sentuh, kontaktor, sistem hidrolik Italia, sistem penjepit cetakan otomatis,
              menjadi mesin yang paling efisien & stabil di Tiongkok.


              Mesin tersebut juga dilengkapi dengan sistem servo vibrasi yang baru, yang dapat
              memastikan motor getar berada dalam kondisi tersinkronisasi, yang dapat
              menjamin keluaran vertikal gaya pemadatan. Selain itu, dapat menghindari juga
              kerusakan tegangan geser akibat gaya pemadatan horizontal pada mesin dan
              perpanjang masa pakai mesin. Sehingga, Perseroan dapat mencapai efisiensi
              kinerja, penghematan energi, dan perlindungan lingkungan dalam pembuatan
              batako dan paving block.


      2.5     Pasar yang Dituju


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
             perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
             Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
             sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
             Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota Samarinda, Kabupaten Kutai
             Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
             adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
             Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.


             Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material bangunan,
             termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti
             yang sedang berkembang pesat di Indonesia.


      2.6     Pesaing dan Persaingan


             Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
             dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
             proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
             Perseroan adalah sebagai berikut.


                               Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
                                                                        Kapasitas
              No     Nama Perusahaan                   Alamat                          Harga/pcs
                                                                        (pcs/hari)
               1.   PT Varia Usaha Beton   Teluk Pandan, Kec. Teluk
                                           Pandan, Kabupaten Kutai          1.950    Rp3.600
                                           Timur
               2.   PT Kutai Inti Beton    Samboja                         19.500    Rp3.600
               3.   Kampoeng FABA          Kelurahan Graha Indah,
                                                                            1.125
                                           Kecamatan Balikpapan Utara
               4.   CV Borneo Conblock     Samarinda
                                                                            8.400
                    Mandiri



                                                                                                   21
Page 37
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                                        Kapasitas
              No        Nama Perusahaan                Alamat                            Harga/pcs
                                                                        (pcs/hari)
               5.   CV Kalimantan Beton   Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
                                          Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu      34.400
                                          Raya, Kalimantan Barat
               6.   Fadil Karya           Balikpapan                                 Rp3.500
               7.   Bintang Jaya Beton    Samarinda                                  Rp3.400 - 3.600
               8.   Pilar Beton Indo      Samboja                                    Rp3.550 - 3.700
               9.   Beton Elemen Prima    Samarinda                                  Rp3.200 - 3.400
              10. Tiga Mutiara Beton      Balikpapan                                 Rp3.300 - 3.500


      2.7     Pola Bisnis


                                            Gambar 1 Alur Proses Bisnis



                                              Penerimaan Order


                                            Perencanaan Produksi

                    C                                                                Seleksi & Evaluasi
                                                 Purchasing
                    U                                                                    Supplier
                    S
                                              Incoming Material
                    T
                    O
                    M                       Gudang Raw Material

                    E
                    R                             Produksi                            Quality Control


                                              Gudang Finished


                                                  Delivery



             Sumber: Manajemen Perseroan


             Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
             distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
             perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
             stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
             ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
             berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
             yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
             bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah



                                                                                                     22
Page 38
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
             tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
             dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
             QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
             berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
             produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
             produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
             tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
             Perseroan. Berikut digambarkan alur proses bisnis yang akan dilakukan.


             Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
             nilai yang diantaranya:
             1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
             2. Menambah sumber pendapatan baru
             3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
             4. Efisiensi operasional


      2.8     Strategi Pemasaran

             Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
             terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
             dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
              1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
                  profil   usaha,   maupun   dokumentasi     proyek,   membantu   meningkatkan
                  kepercayaan klien;
              2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
                  seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
              3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
                  berinteraksi dengan konsumen;
              4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
                  dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
              5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
                  kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
                  memperluas jejaring;
              6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
                  memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
              7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
                  meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.


             Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
             1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
                kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
                perusahaan;



                                                                                            23
Page 39
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                  serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                  terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
             3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
                  persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.



      2.9     Kebutuhan Produksi atau Operasi


             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan melakukan
             pengadaan mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok.
             Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block
             otomatis. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
             bahan baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan
             semen. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
             tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12
             orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor Produksi, Supervisor Sales &
             Distribution, Quality Control Batako, Operator, Operator Control Panel, Operator
             Block Curing, Operator Block Cubing, Sales, Distribution, Packing dan Driver.
             Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai kebutuhan tenaga ahli tambahan
             tidak signifikan karena teknologi produksinya user friendly yang dapat dioperasikan
             oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih. Nantinya, apabila mesin produksi
             tersebut sudah tiba perusahaan akan melakukan training secara menyuluruh kepada
             para pegawai yang bersangkutan agar dapat mengoperasikan mesin dengan baik.


      2.10    Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia


             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan
             manajemen dan sumber daya manusia, sehingga akan mengadakan rekrutmen
             sebanyak 12 orang.


      2.11    Hak Atas Kekayaan Intelektual


             Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki Hak Atas Kekayaan
             Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan usaha
             baru.


      2.12    Peraturan Perundang-undangan yang Terkait


              Beberapa peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan penambahan
              kegiatan usaha Perseroan, antara lain adalah:
             1.    Peraturan perundang-undangan terkait penilaian adalah Undang-undang
                   Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.



                                                                                             24
Page 40
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                2.     POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
                       Kegiatan Usaha.
                3.     POJK No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
                       Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
                4.     Peraturan BPS Nomor 2 Tahun 2020 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
                       Indonesia.
                5.     Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
                       Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
                6.     Legalitas Usaha
                       Terkait legalitas usaha yang diperlukan terkait penambahan kegiatan usaha ini
                       dirinci sebagai berikut:


                                             Tabel 6 Progress Legalitas Usaha
          No.              Jenis Perizinan         Referensi           Status     Durasi        Keterangan
          Grup 1: Perizinan Dasar & Lokasi
                                                                                            Menunggu
                                                                                            anggaran dasar
                     PKKPR (Persetujuan                            On Progres               bidang usaha Baru
                                              (Peraturan terkait
          1          Kesesuaian Kegiatan                           kelengkapan   3 Bulan    (KBLI) dan hal ini
                                              Tata Ruang)
                     Pemanfaatan Ruang)                            dokumen                  menjadi dasar
                                                                                            kepengurusan DELH
                                                                                            & PBG.
                     DELH (Dokumen                                                          Menunggu PKKPR
                                                                   On Progres
                     Evaluasi Lingkungan      - PP No. 22 Tahun                             selesai. Bisnis baru
          2                                                        pelengkapan   6 bulan
                     Hidup) / Persetujuan     2021                                          (via RUPS) akan
                                                                   dokumen
                     Lingkungan Baru                                                        dimasukkan di sini.
                     PBG (Persetujuan         - PP No. 16 Tahun
                                                                   On Progres               Menunggu PKKPR,
                     Bangunan Gedung) &       2021
          3                                                        pelengkapan   6 bulan    Siteplan, dan
                     SLF (Sertifikat Laik     - UU No. 28 Tahun
                                                                   dokumen                  PERTEK.
                     Fungsi)                  2002
                                                                                            Sudah ada namun
                                                                                            belum mencakup
          4          NIB                      -                                  -
                                                                                            bisnis baru karena
                                                                                            diperlukan RUPS
                     Andalalin Baru
                                              - Permenhub No.      Belum
          5          (Analisis Dampak                                            6 bulan    Menunggu PKKPR
                                              96 Tahun 2015        diajukan
                     Lalu Lintas)
          Grup 2: Perizinan Spesifik (Limbah B3)
                                                                   On Progress
                     Izin Pemanfaatan         - PP No. 22 Tahun    melengkapi    On         Menunggu Izin
          6
                     Limbah B3                2021                 dokumen       Progress   Dasar (PBG, DELH)
                                                                   perizinan
                                                                                            Perpanjangan
                     Rincian Teknis TPS       - Permen LHK No.                   On
          7                                                        sudah ada                karena menunggu
                     Limbah B3                6 Tahun 2021                       Progress
                                                                                            DELH selesai




                                                                                                         25
Page 41
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




          No.        Jenis Perizinan           Referensi        Status       Durasi        Keterangan
                                                                                       menunggu RUPS,
                                         - Permen LHK No.
          8       Izin Transportasi B3                       Belum punya     1 tahun   karena
                                         4 Tahun 2021
                                                                                       membutuhkan KBLI
          Grup 3: Perizinan Operasional (Tahap Lanjut)
                                                                                       Prasyarat: Harus
                  SLO (Pengelolaan       - PP No. 22 Tahun                             memiliki PERTEK
          9                                                  Belum punya     1 tahun
                  Limbah B3)             2021                                          dan PERLING (No. 3
                                                                                       DELH).
                  Izin Fasilitas Impor   - Permendag No.                               Diurus saat proses
          10                                                 Belum punya     1 bulan
                  Mesin Produksi         45 Tahun 2019                                 pembelian mesin.
          Grup 4: Administrasi & Integrasi Sistem
                                                                                       Membutuhkan kode
                  STP (Surat Tanda
          11                             (Terkait OSS)       Belum dimulai   TBC       KBLI dan menunggu
                  Pendaftaran)
                                                                                       RUPS


      2.13      Aspek Lingkungan


                Tanggung jawab Perseroan di bidang lingkungan hidup tercermin dari komitmen
                untuk mencegah segala bentuk pencemaran lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan
                pengelolaan limbah karbit untuk produksi batako dan paving block. Limbah karbit
                yang tidak dikelola dengan baik dapat melepaskan gas asetilena yang berbahaya ke
                udara. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku batako dan paving block,
                risiko pelepasan gas beracun tersebut dapat diminimalkan. Selain itu, pemanfaatan
                limbah karbit juga mengurangi tumpukan limbah di lingkungan, sehingga kualitas
                lingkungan sekitar, terutama di daerah dekat industri atau tempat pembuangan
                limbah, menjadi lebih baik. Penggunaan limbah karbit dalam pembuatan batako dan
                paving block juga membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke
                lingkungan, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran
                tanah dan air.


      2.14      Faktor Risiko Utama


                Dalam menjalankan usahanya, Perseroan berpotensi menghadapi beberapa risiko
                yang dapat memengaruhi kinerja Perseroan. Beberapa risiko utama yang dihadapi
                Perseroan antara lain:


                Risiko Prakonstruksi
                1)   Risiko Kondisi Ekonomi;
                2)   Risiko Perkembangan Pemukiman;
                3)   Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN;
                4)   Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN;
                5)   Risiko Penawaran dan Permintaan;
                6)   Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3;



                                                                                                   26
Page 42
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              7)   Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan;
              8)   Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3;
              9)   Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama;
              10) Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan;
              11) Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3;
              12) Risiko Perubahan Regulasi; dan
              13) Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan.


              Risiko Konstruksi
              1)   Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat;
              2)   Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air);
              3)   Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek;
              4)   Risiko Kegagalan Konstruksi;
              5)   Risiko Cost Over Run; dan
              6)   Risiko Pengendalian SDM Proyek.
              Risiko Operasional
              1) Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai;
              2) Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan;
              3) Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten;
              4) Risiko SDM;
              5) Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran;
              6) Risiko Mesin; dan
              7) Risiko Bahan Baku.


              Upaya Perseroan dalam mencegah dan meminimalisir dampak maupun kerugian
              akibat potensi risiko utama adalah dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang
              efektif dengan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang sesuai.


      2.15    Persyaratan Modal dan Strategi Finansial


              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
              bersumber dari kas yang tersedia dan pihak perbankan.




                                                                                             27
Page 43
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      3       KELAYAKAN PASAR

      3.1    Kondisi Pasar

             Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat pascapengumuman kenaikan
             tarif efektif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke beberapa negara maju dan
             berkembang. Pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun
             di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan
             moneter di negara tersebut. Kinerja ekonomi Tiongkok juga diprakirakan belum
             kuat, di tengah berbagai strategi diversifikasi ekspor. Sementara itu, kinerja
             perekonomian India diprakirakan tetap baik didukung permintaan domestik. Bank
             Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 masih belum kuat
             sekitar 3,0%.


                                            Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia
                          Negara               2020    2021    2022     2023   2024   2025*
               Dunia                           -2,8     6,3     3,5     3,3    3,3     3,0
               Negara Maju                     -4,2     5,6     2,6     1,7    1,8     1,6
               Amerika Serikat                 -2,8     5,9     1,9     2,9    2,8     2,1
               Kawasan Eropa                   -6,1     5,6     3,4     0,4    0,9     0,9
               Jepang                          -4,2     2,2     1,0     1,5    0,1     0,8
               Negara Berkembang               -1,8     6,9     4,1     4,4    4,3     3,9
               Tiongkok                        2,2      8,4     3,0     5,2    5,0     4,3
               India                           -6,6     8,3     6,8     7,7    6,5     6,6
               ASEAN-5                         -4,4     4,0     5,5     4,0    4,6     4,3
               Amerika Latin                   -7,0     7,4     4,2     2,4    2,4     2,0
               Negara Berkembang Eropa         -1,6     7,3     1,2     3,3    3,4     2,1
               Timur Tengah & Asia Tengah      -2,6     4,3     5,4     2,0    2,4     3,5
            Sumber: Bank Indonesia
                        *Proyeksi Bank Indonesia


                                                 Gambar 2 PMI Global




               Sumber: Bank Indonesia



                                                                                              28
Page 44
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  Tekanan inflasi AS masih menurun sehingga mendorong tetap kuatnya ekspektasi
                  arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Sementara itu, pergeseran aliran
                  modal keluar dari AS ke Eropa dan negara berkembang, serta komoditas yang
                  dianggap aman seperti emas, terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya risiko
                  ekonomi AS, termasuk risiko fiskal. Perkembangan ini mendorong berlanjutnya
                  pelemahan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan
                  negara berkembang (ADXY).


                                     Gambar 3 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang




                  Sumber: Bank Indonesia


                  Kondisi Ekonomi Indonesia


                  Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus didorong. Kegiatan
                  ekonomi triwulan II 2025 menunjukkan kinerja ekspor nonmigas yang lebih baik,
                  dipengaruhi front loading ekspor ke AS sebagai respons antisipasi eksportir
                  terhadap kebijakan tariff AS. Sementara itu, permintaan domestik khususnya
                  konsumsi rumah tangga dan investasi terus ditingkatkan. Dari sisi Pemerintah,
                  kebijakan fiskal ditempuh untuk mempercepat belanja melalui pemberian gaji ke-
                  13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan subsidi transportasi, serta penebalan
                  bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Dari sisi Bank Indonesia,
                  penurnan suku bunga dan pelonggaran likuiditas ditempuh melalui kebijakan
                  moneter yang dibarengi peningkatan insentif likuiditas makroprudensial untuk
                  mendorong kredit pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.


                       Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran
                                                    2023                                      2024                              2025
           Komponen           2022                                        2023                                     2024
                                        I      II          III     IV             I      II          III    IV              I          II
   Konsumsi Rumah Tangga       4,94    4,53    5,22        5,05    4,47    4,82   4,91   4,93        4,91   4,98    4,94    4,95       4,97
   Konsumsi Lembaga
   Nonprofit yang Melayani
   Rumah Tangga                5,66    6,29    8,78          6,4   18,4     10    24,1   9,79        11,5   6,06    12,5    7,82       7,82
   Konsumsi Pemerintah        -4,42    3,33   -3,86        10,5    2,94    3,02   20,4   4,62        2,03   4,17    6,61   -1,37   -0,33
   Investasi (PMTDB)           3,87    1,53    5,08        4,05    4,32    3,76   3,78   5,16        4,42   5,03    4,61    6,99       6,99




                                                                                                                            29
Page 45
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                              2023                                                2024                                     2025
            Komponen            2022                                                     2023                                                  2024
                                         I          II               III         IV                I         II           III       IV                 I          II
   Investasi Bangunan            0,91   0,08        6,31             3,32         6,42    4,04     5,46      6,02         5,31      5,26        5,51   4,89       4,89
   Investasi Nonbangunan         12,5    5,7        2,05               6,1       -0,78    3,03    -0,78      2,96         1,97       4,4        2,23   12,9       12,9
   Ekspor                        16,2   11,7       -3,91         -2,84            1,66    1,34     1,48      8,13         8,79      7,63        6,51   6,46       10,7
   Impor                        15,00   4,12       -3,25         -6,82            0,14    -1,6         1,5   11,9         7,79      10,4        7,95   4,17       11,7
   PDB                           5,31   5,04        4,94             5,17         5,04    5,05     5,11      5,05         4,95      5,02        5,03   4,87       5,12

  Sumber: Bank Indonesia


                     Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
                                                              2023                                                     2024                                    2025
            Komponen            2022                                                      2023                                                  2024
                                             I           II            III         IV                  I          II          III    IV                    I           II
   Pertanian, Kehutanan, dan
                                 2,25    0,44        2,03             1,49        1,13     1,31   -3,54       3,25        1,69       0,71       0,67   10,52          1,65
   Perikanan
   Pertambangan dan
                                 4,38    4,92        5,01             6,95        7,46     6,12    9,31       3,17        3,46       3,95        4,9   -1,23          2,03
   Penggalian
   Industri Pengolahan           4,89    4,43        4,88             5,19        4,07     4,54    4,13       3,95        4,72       4,89       4,43    4,55          5,68
   Pengadaan Listrik dan Gas     6,61    2,67        3,15             5,06        8,68     4,91    5,35       5,39        5,02       3,42       4,77    5,11           0,9
   Pengadaan Air, Pengelolaan
   Sampah, Limbah dan Daur       3,23        5,7     4,78             4,49        4,66      4,9    4,44       0,84        0,03       1,06       1,56    0,18          0,82
   Ulang
   Konstruksi                    2,01    0,32        5,23             6,39        7,68     4,91    7,59       7,29        7,48       5,81       7,02    2,18          4,98
   Perdagangan Besar dan
   Eceran Reparasi Mobil dan     5,53    4,94            5,3               5,1    4,09     4,85    4,58       4,85        4,82       5,19       4,86    5,03          5,37
   Sepeda Motor
   Transportasi dan
                                19,87   15,93      15,28             14,74       10,33    13,96    8,66       9,56        8,64       7,92       8,69    9,01          8,52
   Pergudangan
   Penyediaan Akomodasi dan
                                11,94   11,54        9,91            10,93        7,88      10     9,34      10,15        8,32       6,61       8,56    5,75          8,04
   Makan Minum
   Informasi dan Komunikasi      7,73    7,11        8,03             8,51        6,74     7,59    8,41       7,66        6,82       7,45       7,57    7,72          7,92
   Jasa Keuangan dan Asuransi    1,93    4,45        2,86             5,24        6,56     4,77    3,93           7,9     5,49       1,74       4,74    3,98           3,2
   Real Estat                    1,72    0,37        0,96             2,21        2,18     1,43    2,54       2,16        2,32       2,97        2,5    2,94          3,71
   Jasa Perusahaan               8,77    6,37        9,59             9,37        7,62     8,24    9,63       7,96        7,93       8,08       8,38    9,27          9,31
   Administrasi Pemerintahan,
   Pertahanan dan Jaminan        2,52    2,13        8,18            -6,24        1,63     1,51   18,89       2,81        3,94       1,16        6,4    4,79          4,69
   Sosial Wajib
   Jasa Pendidikan               0,55    1,02        5,42            -2,09        2,63     1,77    7,43       2,44        2,56       2,95       3,75    5,04           1,4
   Jasa Kesehatan dan
                                 2,75    4,77        8,27             2,92        3,09     4,67   11,65       8,57        7,65           5,2    8,11    5,78           3,8
   Kegiatan Sosial
   Jasa lainnya                  9,47        8,9   11,89             11,14       10,15    10,52    8,92       8,85        9,95      11,36        9,8    9,84      11,31
   PDB                           5,31    5,04        5,17             4,94        5,04     5,05    5,11       5,05        4,95       5,02       5,03    4,87          5,12

 Sumber: Bank Indonesia


                     Neraca Pembayaran Indonesia


                     Neraca perdagangan pada Mei 2025 masih mencatat surplus 4,3 miliar dolar AS,
                     meningkat dari surplus April 2025 sebesar 0,2 miliar dolar AS. Perkembangan
                     positif pada neraca perdagangan ini didukung oleh ekspor komoditas mesin listrik
                     serta besi dan baja. Kinerja ekspor diprakirakan akan tetap positif sejalan dengan
                     hasil perundingan tarif dengan Pemerintah AS. Sementara itu, aliran masuk modal
                     asing ke instrumen portofolio domestik juga terus berlanjut dipengaruhi tetap
                     baiknya prospek perekonomian Indonesia, tingginya imbal hasil instrumen
                     keuangan Indonesia, dan bergesernya aliran modal ke negara berkembang
                     termasuk Indonesia sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS. Aliran masuk


                                                                                                                                                       30
Page 46
     Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
     PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                           modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net
                           inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025
                           sebesar 1,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi
                           sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2
                           bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas
                           standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.


                                                           Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia
   Komponen (Miliar                        2022                                     2023                                     2024*                            2025
        Dolar AS)            I      II      III     IV      Total     I      II      III     IV      Total     I      II      III     IV      Total      I*          II**
 Transaksi Berjalan          0,7     4,3     4,7     3,5     13,2     2,9    -2,3    -1,3    -1,4     -2,0    -2,4    -3,0    -2,0    -1,2     -8,7      -0,2        -3,0
 A. Barang 1)               11,3    16,8    17,6    17,0     62,7    14,8    10,0    10,2    11,4     46,3     9,3    10,0     9,2    11,3     39,8      13,0        10,6
   - Ekspor, fob            66,8    75,2    77,8    72,8    292,5    66,8    61,6    63,5    65,9    257,7    61,9    62,3    67,5    71,3    263,1      65,9        68,0
   - Impor, fob            -55,5   -58,4   -60,2   -55,8   -229,9   -52,1   -51,6   -53,3   -54,5   -211,4   -52,6   -52,3   -58,3   -60,0   -223,3     -53,0    -57,4
     a. Nonmigas            17,2    24,4    25,2    23,0     89,8    19,0    15,2    16,0    17,7     67,8    15,1    15,2    14,7    17,8     62,7      18,8        15,7
     b. Migas               -5,7    -7,2    -6,5    -5,4    -24,8    -3,9    -4,7    -5,4    -5,9    -19,9    -5,5    -4,6    -4,4    -5,1    -19,6      -4,7        -4,2
 B. Jasa - jasa             -4,3    -5,0    -5,3    -5,4    -20,0    -4,5    -4,5    -3,9    -4,8    -17,7    -4,2    -5,0    -4,2    -5,2    -18,6      -5,5        -5,5
 C. Pendapatan Primer       -7,7    -9,0    -8,9    -9,6    -35,3    -8,8    -9,2    -8,8    -9,3    -36,0    -8,8    -9,4    -8,5    -9,0    -35,9      -9,3        -9,8
 D. Pendapatan
 Sekunder                    1,5     1,5     1,3     1,6      5,8     1,4     1,4     1,3     1,3      5,4     1,3     1,4     1,5     1,7        6,0     1,6         1,7
 Transaksi Modal &
 Finansial                  -2,0    -1,7    -5,6     0,2     -9,2     4,0    -4,5    -0,5    10,8      9,8    -2,4     2,6     8,0     9,4     17,6      -0,4        -5,2
   1. Investasi
 Langsung                    4,6     6,6     3,4     3,4     18,1     4,4     3,9     2,7     3,4     14,4     4,9     2,3     5,1     3,4     15,7       2,5         2,6
   2. Investasi
 Portofolio                 -3,2    -3,6    -3,1    -1,7    -11,6     3,0    -2,6    -3,0     4,9      2,2    -2,1     3,2     9,8    -2,5        8,3     1,0        -8,1
   4. Investasi Lainnya     -3,6    -4,6    -5,9    -1,5    -15,6    -3,6    -5,6    -0,1     2,4     -6,9    -4,8    -3,3    -7,2     8,5     -6,7      -4,2         0,3
 Neraca Keseluruhan         -1,8     2,4    -1,3     4,7      4,0     6,5    -7,4    -1,5     8,6      6,3    -6,0    -0,6     5,9     7,9        7,2    -0,8        -6,7
 - Cadangan Devisa         139,1   136,4   130,8   137,2    137,2   145,2   137,5   134,9   146,4    146,4   140,4   140,2   149,9   155,7    155,7     157,1    152,6
 Dalam Bulan Impor
 dan Pembayaran
 Utang Luar Negeri
 Pemerintah                  7,0     6,4     5,7     5,9      5,9     6,2     6,0     6,0     6,5      6,5     6,2     6,1     6,4     6,5        6,5     6,5         6,1
 - Transaksi Berjalan (%
 PDB)                        0,2     1,3     1,4     1,1      1,0     0,9    -0,7    -0,4    -0,4     -0,1    -0,7    -0,9    -0,6    -0,3     -0,6      -0,1        -0,8

Sumber: Bank Indonesia *Angka sementara; **Angka sangat sementara


                           Nilai Tukar Rupiah


                           Nilai tukar Rupiah pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat sebesar 0,34%
                           (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan terkini
                           hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap
                           stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Secara umum, perkembangan
                           Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara
                           berkembang mitra dagang utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang
                           negara maju di luar dolar AS, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor
                           Indonesia. Perkembangan nilai tukar ini didukung oleh konsistensi kebijakan
                           stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke
                           instrumen SBN, serta konversi valas ke Rupiah oleh eksportir pascapenerapan
                           penguatan kebijakan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
                           (DHE SDA).




                                                                                                                                             31
Page 47
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  Gambar 4 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara
                                                 Berkembang




             Sumber: Bank Indonesia


             Inflasi


                                  Gambar 5 Grafik Inflasi IHK dan Komponen




                        Sumber: Bank Indonesia

             Inflasi IHK Juni 2025 tercatat rendah 1,87% (yoy) ditopang inflasi inti yang menurun,
             inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices (AP) yang
             terkendali. Inflasi inti tercatat turun menjadi 2,37% (yoy), dipengaruhi konsistensi
             suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai
             dengan sasarannya serta permintaan yang lebih rendah. Inflasi kelompok VF masih
             tercatat rendah 0,57% (yoy) didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan
             utama dan eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi
             Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan


                                                                                               32
Page 48
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             (GNPIP). Sementara itu, inflasi kelompok AP tetap terkendali 1,34% (yoy), di tengah
             kenaikan tarif air minum PAM dan cukai hasil tembakau.

      3.2    Pangsa Pasar

             Penduduk Kalimantan Timur pada tahun 2025 sebanyak 4,27 jiwa sedangkan pada
             tahun 2024 sebanyak 4,05 juta jiwa. Jumlah ini merupakan yang terbesar ketiga di
             Pulau     Kalimantan,    setelah   Kalimantan   Barat    dan   Kalimantan    Selatan.    Bila
             dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020, yang sebanyak 3,77 juta jiwa,
             penduduk Kalimantan Timur bertambah sebanyak 501,60 ribu jiwa sepanjang 2020-
             2025.


             Laju Pertumbuhan penduduk per tahun pada periode 2021—2025 di Kalimantan
             Timur adalah sebesar 2,93% per tahun. Adapun bila dilihat menurut wilayahnya,
             Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki laju pertumbuhan penduduk tertinggi,
             sebesar 23,53% per tahun. Sementara Kota Samarinda memiliki laju pertumbuhan
             penduduk terendah, sebesar 0,89% per tahun.


             Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
             Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
             Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
             setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
             tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
             dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
             termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
             penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di tahun 2025.


                         Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan)
                             Uraian                 2021       2022         2023    2024        2025
               Paser                                  0,28       0,28        0,28        0,29        0,29
               Kutai Barat                            0,17       0,18        0,18        0,18        0,18
               Kutai Kartanegara                      0,74       0,75        0,76        0,79        0,85
               Kutai Timur                            0,44       0,45        0,46        0,46        0,47
               Berau                                  0,25       0,26        0,26        0,26        0,27
               Penajam Paser Utara                    0,18       0,19        0,20        0,27        0,40
               Mahakam Ulu                            0,03       0,03        0,03        0,03        0,04
               Balikpapan                             0,70       0,70        0,71        0,72        0,73
               Samarinda                              0,84       0,84        0,85        0,86        0,87
               Bontang                                0,18       0,18        0,19        0,19        0,19
               Kalimantan Timur                       3,80       3,86        3,91        4,05        4,27
               Pertumbuhan                                      1,40%       1,37%    3,48%       5,48%
             Sumber: BPS




                                                                                                      33
Page 49
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Pertumbuhan        kebutuhan   rumah   sangat   dipengaruhi   oleh   laju   urbanisasi,
             pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
             oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
             yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
             Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 36 unit komersil dan 1.139 unit subsidi yang
             telah terjual. Disisi lain, terdapat 33 unit yang sudah ready stock, dan 60 unit yang
             sedang dalam proses pengajuan kepada pihak perbankan. Sedangkan jumlah kavling
             rumah pada tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 217 rumah komersil
             dan 1.698 rumah subsidi.


             Disisi lain, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian
             Rencana Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN
             Nusantara memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan,
             dan terbagi atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C. Berdasarkan
             data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-Wilayah
             Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP 1B
             dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektar. Sub-WP 1A
             KIPP diperuntukkan sebagai government core activity, sedangkan Sub-WP 1B dan
             1C KIPP lahannya bersifat mixed use sehingga bukan hanya untuk pembangunan
             kantor pemerintahan melainkan juga untuk bangunan-bangunan non pemerintahan
             seperti mal, sekolah dan sebagainya. Pembangunan IKN mengusung konsep forest
             city di mana 60—70% lahannya untuk kawasan hijau seperti lanskap, ruang publik
             hijau, taman-taman dan ruang terbuka hijau, sehingga lahan yang dipakai untuk
             pembangunan sekitar 30—40%.


      3.3    Kesinambungan

                    Gambar 6 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%)
               18
               16
               14
               12
               10
                8
                6
                4
                2
                0
               -2        2020        2021       2022         2023          2024      Tri II 2025

                                              Konstruksi     Real Estate


             Sumber: BPS




                                                                                                   34
Page 50
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Lapangan usaha kegiatan konstruksi meliputi kegiatan konstruksi gedung tempat
             tinggal, perkantoran, bangunan pabrik, jalan, jembatan, dan termasuk pula
             konstruksi jaringan pipa dan listrik, serta pembongkaran dan penyiapan lahan.
             Lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha yang cukup strategis di Provinsi
             Kalimantan Timur, tercermin dari posisi lapangan usaha ini yang selalu berada di
             urutan kelima di dalam struktur perekonomian Provinsi Kalimantan Timur tahun
             2024.


             Pada tahun 2024, kontribusi lapangan usaha konstruksi mencapai Rp52.471,79
             miliar atau sebesar 9,19% terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur.
             Angka tersebut meningkat dari tahun 2020 yang mencapai Rp35.601,17 miliar atau
             sebesar 7,54%. Hal ini dipengaruhi oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
             Kalimantan Timur yang terus berjalan, Dengan penghitungan atas dasar harga
             konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi Kalimantan
             Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami perlambatan meskipun
             pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2023 sebesar 15,82%.
             Pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha konstruksi mencapai Rp25.856,69 miliar
             atau meningkat sebesar 1,83% dari triwulan II 2024 yang sebesar Rp25.392,26 miliar.


             Lapangan usaha Real Estat memberikan kontribusi sebesar 0,85% pada tahun 2024
             dan 2023. Sementara kontribusi pada tahun 2020 mencapai 0,91%. Namun nilai
             tambah lapangan usaha ini di tahun 2024 naik menjadi Rp4.860,55 miliar, lebih
             tinggi dari tahun 2020 yang sebesar Rp4.321,11 miliar. Dengan penghitungan atas
             dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi
             Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan
             dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%. Pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
             real estate mencapai Rp2.571,48 miliar atau meningkat sebesar 8,07% dari triwulan
             II 2024 yang sebesar Rp2.379,48 miliar.


      3.4    Potensi Pasar


             Seiring dengan meningkatnya harga dan permintaan properti akibat pesatnya
             pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi, pasar real estate di Indonesia
             merupakan salah satu sektor terkuat di kawasan ini. Sektor real estate di Indonesia
             adalah salah satu dari sedikit sektor yang tidak terlalu terpengaruh oleh krisis Covid-
             19. Angka resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produk domestic
             bruto (PDB) dari aktivitas real estate di Indonesia berjumlah Rp520,73 triliun
             (US$29,85 Triliun) pada tahun 2024. PDB Indonesia yang berasal dari aktivitas real
             estate meningkat secara bertahap sejak tahun 2014. Proyek perumahan terjangkau
             di Indonesia yang didukung oleh pemerintah, investor asing, dan asosiasi seperti
             Bank Dunia diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan pasar real estat.




                                                                                               35
Page 51
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2024 secara tahunan
             menunjukkan penurunan. Pada triwulan IV 2024, penjualan properti residensial
             mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09%, lebih dalam dibandingkan dengan
             kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14% (yoy). Perkembangan tersebut
             didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang masing-
             masing tercatat kontraksi sebesar 23,70% (yoy) dan 16,61% (yoy). Sementara itu,
             penjualan rumah tipe besar tumbuh 20,44% (yoy) pada triwulan IV 2014. Secara
             triwulan, penjualan juga rumah juga menurun. Penjualan rumah primer pada triwulan
             IV 2014 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62% (qtq), berlanjut dari
             kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,62% (qtq). Kontraksi pertumbuhan
             penjualan rumah pada triwulan IV 2024 terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah
             masing-masing sebesar 11,94% (qtq) dan 9.13% (qtq). Sementara itu, penjualan
             rumah tipe besar menunjukkan peningkatan sebesar 14,12% (qtq).


             Berdasarkan hasil survei, sejumlah faktor yang menghambat pengembangan dan
             penjualan properti residensial primer adalah kenaikan harga bangunan (21,40%),
             masalah perizinan (15,05%), suku bunga KPR (14,31%), proporsi uang muka yang
             tinggi dalam pengajuan KPR (10,59%), perpajakan (9,72%), dan lainnya (15,05%).


             Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan positif pada sektor properti
             residensial di Kota Balikpapan sepanjang triwulan I 2025. Peningkatan ini tercermin
             dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang menunjukkan Indeks Harga
             Properti Residensial (IHPR) tumbuh sebesar 1,31% secara tahunan (yoy), meski sedikit
             melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,55%.


             Deputi Direktur BI Balikpapan, mengatakan peningkatan harga didorong oleh naiknya
             harga rumah tipe besar (luas bangunan di atas 70 meter persegi) yang tumbuh
             sebesar 1,34% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 yang hanya sebesar
             1,28%.


             Sementara itu, harga rumah tipe kecil (≤36 m²) dan menengah (36—70 m²) masing-
             masing tumbuh sebesar 1,59% dan 1%. Meski mengalami perlambatan dari triwulan
             sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 2,01% untuk rumah kecil dan 1,35%
             untuk rumah menengah, keduanya tetap berada dalam tren pertumbuhan positif.


             Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program
             pemerintah     di   sektor     perumahan   melalui   Kebijakan   Insentif    Likuiditas
             Makroprudensial (KLM). Mulai 1 April 2025, insentif KLM akan ditingkatkan dari 4%
             menjadi 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). BI juga menambah alokasi KLM khusus
             sektor perumahan dari rencana semula Rp23 triliun menjadi Rp103 triliun secara
             nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong penyaluran kredit oleh perbankan ke
             sektor prioritas, termasuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, sebagai
             bagian   dari upaya    pemulihan    ekonomi nasional.    Bank    Indonesia   berharap



                                                                                               36
Page 52
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             peningkatan insentif dan dukungan kebijakan ini mampu memperkuat peran sektor
             properti dalam perekonomian, terutama di daerah seperti Balikpapan yang terus
             berkembang seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).


             Program 3 juta rumah adalah inisiatif pemerintah untuk mengatasi backlog
             perumahan dan menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
             (MBR). Untuk merealisasikannya, Pemerintah menerapkan strategi utama seperti
             transparansi, optimalisasi aset negara, inovasi pembiayaan, serta kebijakan
             pendukung seperti pelonggaran aturan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Otoritas
             Jasa   Keuangan    (OJK).   Menteri   keuangan   (Menkeu)    Sri   Mulyani   Indrawati
             mengungkapkan Kementerian Keuangan menyelaraskan seluruh kebijakan dan
             instrumen keuangan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan
             kebijakan dari Bank Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Program Juta 3 Rumah.
             Menkeu mengatakan melalui Undang-Undang APBN 2025 telah memberikan
             dukungan sebanyak 220 ribu rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
             Saat ini sudah dialokasikan Rp18 triliun dalam bentuk FLPP (Fasilitas Likuiditas
             Pembiayaan Perumahan) untuk fasilitas likuiditas, yang dikombinasikan dengan PMN
             (Penyertaan Modal Negara) di PT SMF (Sarana Multigriya Finansial) untuk mendukung
             220 ribu MBR dengan pinjaman bunga sebesar 5% selama 20 tahun. Adapun Menkeu
             masih akan mencari berbagai instrumen untuk memenuhi target anggaran Program
             3 Juta Rumah yang akan didiskusikan dengan Kementerian dan Lembaga terkait.
             Menkeu optimis Pemerintah dapat meningkatkan skala program tersebut untuk
             memenuhi target 3 juta rumah bagi MBR. Selain itu, Pemerintah juga memiliki
             instrumen lain, seperti perbaikan rumah bagi masyarakat dan juga skema bantuan
             uang muka.


             Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
             Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
             Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
             keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
             Kalimantan Timur. Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin
             menjanjikan yang didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur
             Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan
             properti hunian di wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan
             diyakini akan terus meningkat. Bisnis properti di kawasan ini akan semakin
             menjanjikan dan itu salah satunya didorong oleh pembangunan berbagai proyek
             infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini juga menjadi momentum yang baik untuk terus
             memperbesar potensi bisnis properti di kawasan ini.


             Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
             fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
             juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
             sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini



                                                                                               37
Page 53
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
             maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
             bisnis properti. Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring
             peningkatan populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial,
             pendidikan, rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.


             Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
             penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
             dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara. Upaya
             land development tersebut dilakukan oleh Kementerian PUPR dengan membuka,
             membentuk      strukturnya     dengan   membuat   jalan   terlebih   dahulu,   kemudian
             membangun kavling-kavling lalu diratakan sehingga menjadi lahan siap bangun.


             Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
             dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
             apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
             kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
             orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
             mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.


      3.5    Sasaran


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
             perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
             Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
             sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
             Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota Samarinda, Kabupaten Kutai
             Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
             adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
             Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.


             Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
             bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor
             properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
             memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
             berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.


      3.6    Potensi Nilai Pasar


              Dari Penambahan Kegiatan Usaha baru ini, Perseroan diproyeksikan mencatatkan
              tambahan pendapatan dari penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp6,94 miliar,
              tahun tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar,
              tahun 2029 sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun



                                                                                                38
Page 54
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              2031 sebesar Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033
              sebesar Rp22,77 miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92
              miliar di tahun 2035.


              Dasar penentuan pada proyeksi pendapatan adalah waktu operasional yang dimulai
              pada tahun pertengahan tahun 2026 dengan hari operasional selama 150 hari
              sedangkan untuk tahun 2027—2035 hari operasional selama 300 hari. Volume
              produksi didasari oleh kapasitas produksi mesin yang telah dikoreksi oleh produk
              akhir yang siap untuk dijual kepada pelanggan. Disisi harga jual, diproyeksikan
              adanya peningkatan harga setiap tahunnya yang merujuk pada target inflasi BI
              tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.


      3.7    Pesaing Usaha


             Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
             dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
             proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
             Perseroan adalah sebagai berikut.


                              Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
                                                                         Kapasitas
              No     Nama Perusahaan                    Alamat                           Harga/pcs
                                                                         (pcs/hari)
               1.   PT Varia Usaha Beton   Teluk Pandan, Kec. Teluk
                                           Pandan, Kabupaten Kutai           1.950    Rp3.600
                                           Timur
               2.   PT Kutai Inti Beton    Samboja                          19.500    Rp3.600
               3.   Kampoeng FABA          Kelurahan Graha Indah,
                                                                             1.125
                                           Kecamatan Balikpapan Utara
               4.   CV Borneo Conblock     Samarinda
                                                                             8.400
                    Mandiri
               5.   CV Kalimantan Beton    Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
                                           Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu      34.400
                                           Raya, Kalimantan Barat
               6.   Fadil Karya            Balikpapan                                 Rp3.500
               7.   Bintang Jaya Beton     Samarinda                                  Rp3.400 - 3.600
               8.   Pilar Beton Indo       Samboja                                    Rp3.550 - 3.700
               9.   Beton Elemen Prima     Samarinda                                  Rp3.200 - 3.400
              10. Tiga Mutiara Beton       Balikpapan                                 Rp3.300 - 3.500


      3.8    Strategi Pemasaran


             Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
             terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
             dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.




                                                                                                     39
Page 55
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
                  profil   usaha,   maupun   dokumentasi     proyek,   membantu       meningkatkan
                  kepercayaan klien;
              2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
                  seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
              3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
                  berinteraksi dengan konsumen;
              4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
                  dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
              5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
                  kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
                  memperluas jejaring;
              6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
                  memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
              7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
                  meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.


             Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
             1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
                kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
                perusahaan;
             2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
             3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
                persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.




                                                                                              40
Page 56
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4       KELAYAKAN TEKNIS

      4.1    Kapasitas


              Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan mengimpor mesin
              batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok. Mesin ini bernama
              ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang
              di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas terpasang mesin adalah sebesar
              24.000 unit/hari.


              Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
              pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
              Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
              kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
              1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
              batako dan paving block.


                                    Gambar 7 Rencana Layout TPS Limbah




                          Gambar 8 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block




              Sumber: Manajemen Perseroan




                                                                                          41
Page 57
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4.2    Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya

              Bahan Baku Mentah


              Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan bahan
              baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan semen
              dengan kebutuhan sebagai berikut.


                                        Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku
               No                        Material                        Berat Aktual (Kg)

               1.   Limbah Karbit                                              0,15
               2.   Pasir Kasar                                                1,80
               3.   Batu Pecah                                                 1,05
               4.   Semen                                                      0,45
                                             Total                             3,45
              Sumber: Manajemen Perseroan


              Pekerja


              Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
              kerja sebanyak 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan
              berencana melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.


                                       Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja
               No                     Tenaga Kerja                        Jumlah (orang)

               1.   Superintendent batako                                       1
               2.   Supervisor production                                       1
               3.   Quality control batako                                      1
               4.   Supervisor sales & distribution                             1
               5.   Operator
                    Control Panel                                               2
                    Block Curing                                                1
                    Block Cubing                                                1
               6.   Sales                                                       1
               7.   Distribution
                    Packing                                                     2
                    Driver                                                      1
                                             Total                              12
              Sumber: Manajemen Perseroan


              Tenaga Ahli

             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun
             membutuhkan tenaga ahli khusus.


                                                                                             42
Page 58
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4.3    Proses Produksi


             Kegiatan treatment untuk limbah karbit sebagai bahan baku produksi batako dan
             paving block sebagai berikut.

             1. Mempersiapkan tangki generator
                ➢ Memastikan tangki generator dalam kondisi bersih dan siap digunakan; dan
                ➢ Menyiapkan Kalsium Karbida dalam jumlah yang telah ditentukan.
             2. mencampurkan air dan kalsium karbida dalam tangki generator
                ➢ Memasukkan air ke dalam tangki generator sesuai dengan jumlah yang
                   dibutuhkan;
                ➢ Menambahkan Kalsium Karbida ke dalam tangki generator; dan
                ➢ Biarkan Kalsium Karbida bereaksi dengan air, menghasilkan gas C2H2 dan
                   limbah slurry.
             3. Memisahkan gas C2H2 dan limbah slurry
                ➢ Gas C2H2 yang dihasilkan akan keluar melalui outlet gas generator untuk
                   dialirkan ke gas holder; dan
                ➢ Limbah slurry yang dihasilkan akan keluar melalui outlet slurry generator
                   untuk dialirkan ke bak kontrol sementara.
             4. Memindahkan limbah slurry dari bak kontrol sementara ke bak kontrol utama
                ➢ Menggunakan pompa pemindah untuk memindahkan limbah slurry dari bak
                   kontrol sementara ke bak kontrol utama.
             5. Penyaringan dan pemisahan limbah slurry
                ➢ Menggunakan mesin filter press yang dilengkapi dengan high pressure
                   centrifugal pump untuk menghisap limbah slurry dari bak kontrol utama; dan
                ➢ Limbah     slurry   yang   terhisap   akan   mengalami   proses   filtrasi   untuk
                   memisahkan padatan dan air bersih yang sudah difilter.
             6. Pengemasan limbah slurry padatan
                ➢ Limbah slurry padatan yang telah dipisahkan akan dimasukkan ke dalam
                   karung sesuai dengan berat yang telah ditentukan.
             7. Penyelesaian Proses
                ➢ Limbah slurry padatan yang sudah dikemas dalam karung siap untuk
                   dipindahkan atau dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku.




                                                                                                 43
Page 59
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                             Gambar 9 Diagram Alur Proses Limbah Karbit




              Sumber: Manajemen Perseroan


             Sedangkan untuk proses pembuatan batako dan paving block dimulai dengan
             mencampurkan semen, pasir, batu pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya
             yaitu memasukkan adukan tersebut kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan
             dan kemudian baru dapat di masukkan kedalam cetakan batako dan paving block.
             Proses pelepasan dari cetakan dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk
             diuji.




                                                                                          44
Page 60
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk




         5      KELAYAKAN POLA BISNIS

                Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
                distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
                perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
                stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
                ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
                berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
                yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
                bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
                diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
                tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
                dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
                QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
                berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
                produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
                produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
                tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
                Perseroan.


                                               Gambar 10 Pola Bisnis




                                             Penerimaan Order


                                            Perencanaan Produksi

                     C                                                           Seleksi & Evaluasi
                                                 Purchasing                          Supplier
                     U
                     S
                                             Incoming Material
                     T
                     O
                     M                      Gudang Raw Material
                     E
                     R                            Produksi                        Quality Control


                                              Gudang Finished


                                                  Delivery


                Sumber: Manajemen Perseroan




                                                                                                 45
Page 61
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      5.1    Keunggulan Kompetitif


              Berdasarkan pengalaman Perseroan sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak
              lama memiliki manajemen dan sistem operasional yang kompeten untuk melakukan
              ekspansi usaha. Keunggulan kompetitif Perseroan diuraikan sebagai berikut.
             •   Perseroan telah memiliki lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan
                 usaha. Sehingga tidak memerlukan biaya tambahan untuk pembelian atau
                 penyewaan gudang/pabrik.
             •   Perseroan memiliki jangkauan penjualan yang luas.
             •   Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang
                 cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas yang kecil, dan konsisten mencatatkan
                 laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat memungkinkan untuk membiayai
                 penambahan kegiatan usaha.
             •   Perseroan telah memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil
                 dari produk gas acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan.
             •   Produk batako telah memiliki SNI.
             •   Mesin ZN600 VP dapat menghasilkan 4 produk yang berbeda, dengan beragam
                 produk yang dapat dihasilkan dari sisi bentuk dan ukuran maka dapat
                 menghasilkan varian desain dan estetika serta fungsi yang dapat menjadi
                 keunggulan produk yang akan akan dihasilkan.
             •   Atas keunikan penambahan bisnis ini dalam menciptakan nilai, maka akan
                 memberikan keunggulan kompetitif bagi Perseroan sebagai perusahaan yang
                 dapat memiliki solusi konkrit atas permasalahan limbah. Limbah yang
                 digunakan sebagai bahan baku juga merupakan keunggulan kompetitif tersediri
                 yang berkaitan dengan efisensi biaya untuk pengelolahan limbah.


      5.2    Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk


              Kemungkinan pesaing dalam bidang usaha ini cukup besar, dimana risiko adanya
              produk Perseroan yang mungkin ditiru oleh perusahaan lain merupakan risiko yang
              melekat pada kegiatan bisnis Perseroan. Kemampuan pesaing untuk meniru produk
              memang tidak dapat dihindari, terutama apabila dilihat dari diferensiasi produk
              yang dihasilkan, sehingga membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi
              sangat kompetitif. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya
              sebagai berikut.
             •   Meningkatkan kualitas produk dan layanan;
             •   Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan intelektual;
             •   Membedakan produk dari bentuk dan ukuran; dan
             •   Memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk Perseroan.




                                                                                              46
Page 62
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      5.3    Kemampuan untuk Menciptakan Nilai


              Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
              nilai yang diantaranya:


             1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
                 Penggunaan limbah B3 sebagai bahan baku batako dan paving block
                 menciptakan nilai tambah dan citra positif sebagai Perusahaan yang menjaga
                 lingkungan dengan melakukan pengelolaan limbah yang efektif. Sehingga
                 secara tidak langsung diharapkan dapat mendukung komitmen pemerintah
                 untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah
                 lingkungan.


             2. Menambah sumber pendapatan baru
                 Permintaan yang berkesinambungan dari pasar dapat dimanfaatkan oleh
                 Perseroan atas penambahan kegiatan usaha yang akan dijalankan dapat
                 menambah sumber pendapatan baru bagi Perseroan.


             3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
                 Penjualan atas penambahan kegiatan usaha proyek ini akan menghasilkan laba
                 bagi Perseroan yang akan meningkatkan kinerja keuangan Perseroan.


             4. Efisiensi operasional
                 Perseroan dapat menekan biaya pengelolaan limbah karbit yang dihasilkan atas
                 pengelolaan bisnis eksisting terkait produk gas acetylene. Lebih lanjut, mesin
                 batako dan paving block yang digunakan memiliki kecepatan produksi, kualitas
                 yang konsisten, dan efisiensi terhadap tenaga kerja sehingga sehingga
                 memungkinkan Perseroan mencapai skala ekonomi yang lebih besar dengan
                 memberikan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.


              Keempat hal di atas dapat memberikan kontribusi yang positif dan nilai tambah bagi
              Perseroan.




                                                                                             47
Page 63
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      6       KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN

      6.1    Ketersediaan Tenaga Kerja


             Sumber daya manusia yang berkualitas baik dan memiliki pengetahuan serta
             keterampilan yang cakap merupakan modal penting bagi Perseroan. Strategi dan
             tujuan jangka panjang yang akan dicapai oleh Perseroan juga bergantung kepada
             kemampuan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki. Berdasarkan
             informasi dari manajemen, sampai dengan tanggal 30 Juni 2025, Perseroan memiliki
             277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan
             membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan tenaga kerja
             sebanyak 12 orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor Produksi,
             Supervisor Sales & Distribution, Quality Control Batako, Operator, Operator Control
             Panel, Operator Block Curing, Operator Block Cubing, Sales, Distribution, Packing
             dan Driver. Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai kebutuhan tenaga ahli
             tambahan tidak signifikan karena teknologi produksinya user friendly yang dapat
             dioperasikan oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih. Nantinya apabila mesin
             produksi tersebut sudah tiba perusahaan akan melakukan training secara
             menyuluruh kepada para pegawai yang bersangkutan agar dapat mengoperasikan
             mesin dengan baik.


      6.2    Manajemen Kekayaan Intelektual


             Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan belum memiliki Hak Atas
             Kekayaan Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan
             usaha baru.


      6.3    Manajemen Risiko

             Dalam menjalankan kegiatan usaha barunya, Perseroan mungkin menghadapi
             beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja usahanya. Risiko utama yang
             mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.


              Risiko Prakonstruksi


              1.   Risiko Kondisi Ekonomi
                   Kondisi Perekonomian Nasional serta kebijakan fiskal dan moneter yang
                   meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional akan berpengaruh pada kinerja
                   kegiatan usaha perseroan. Menurunnya tingkat pertumbuhan PDB, tingginya
                   tingkat suku bunga, serta tingginya laju inflasi/deflasi dapat mengakibatkan
                   perubahan, perlambatan atau resesi kondisi perekonomian secara keseluruhan.
                   Secara tidak langsung, kondisi perekonomian nasional yang tidak kondusif
                   dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja penjualan Perseroan. Mitigasi yang
                   dapat dilakukan adalah diversifikasi sumber pendapatan dari produk baru,



                                                                                             48
Page 64
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                   mengubah model bisnis jika situasi mengharuskan, dan terbuka terhadap
                   inovasi.


              2.   Risiko Perkembangan Pemukiman
                   Perubahan kebijakan pemerintah terkait perkembangan pemukiman serta tidak
                   tepatnya data ketersediaan rumah akan berdampak pada tidak akuratnya
                   permintaan akan kebutuhan pembangunan tempat tinggal dan kebutuhan
                   renovasi bangunan. Hal ini akan mempengaruhi permintaan atas produk bahan
                   bangunan. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah penentuan catchment area
                   serta memantau kebutuhan akan hunian milik di sekitar area.


              3.   Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN
                   Pada awal tahun 2025, proyek IKN terancam terhambat, setelah anggaran
                   Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk proyek tersebut dipangkas drastis
                   akibat amanat efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu sasaran
                   pasar Perseroan adalah rencana pembangunan Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN.
                   Mitigasi yang dapat dilakukan adalah memantau perkembangan perencanaan
                   Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN yang menunjukkan perkembangan yang positif pada
                   pertengahan tahun 2025. Selanjutnya Perseroan perlu berupaya untuk
                   mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                   serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                   terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi.


              4.   Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN
                   Pada umumnya kontraktor menggunakan sub-kontraktor untuk melakukan
                   pekerjaan konstruksi tertentu dan supplier yang memasok kebutuhan material
                   proyek.    Keterlambatan   pembayaran      dapat   menyebabkan    terhentinya
                   pengiriman material atau komponen dari supplier, yang berujung pada
                   keterlambatan proyek secara keseluruhan. Dari sisi cash flow, supplier akan
                   mengalami kesulitan arus kas (negatif cash flow), sehingga sulit untuk
                   memenuhi kewajiban pembayaran mereka sendiri. Kaitannya dengan proyek
                   IKN, Perseroan selaku supplier yang ditunjuk oleh kontraktor perlu melakukan
                   mitigasi dengan membuat kontrak yang kuat yang memuat klausul-klausul
                   terkait hak dan kewajiban Perseroan sebagai supplier. Selanjutnya Perseroan
                   melakukan negosiasi agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan secara
                   bertahap (termin) yang terikat pada progress penyelesaian/material yang telah
                   terkirim. Lebih lanjut, Perseroan perlu memitigasi dengan menyiapkan dana
                   yang cukup besar untuk kebutuhan produksi sehingga kas Perseroan tetap
                   terjaga positif.


              5.   Risiko Penawaran dan Permintaan
                   Risiko ini berasal dari terbatasnya informasi produksi barang yang dihasilkan
                   oleh kompetitor dan konsumen yang berada di sekitar area pemasaran. Risiko




                                                                                             49
Page 65
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                   ini juga berasal dari keberlanjutan proyek IKN kedepannya yang mengakibatkan
                   scoop     pembangunan        yang   tidak   sesuai   rencana   sehingga   rendahnya
                   permintaan. Risiko ini berdampak pada rendahnya utilisasi produksi yang
                   berakibat tidak efektifnya mesin utama. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
                   memantau perkembangan supply dan demand, serta melakukan kajian market
                   riset yang komprehensif secara berkala. Sedangkan mitigasi untuk proyek-
                   proyek IKN adalah Perseroan perlu mencari potensi pasar baru.


              6.   Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3
                   Pelanggaran terhadap peraturan pengelolaan limbah B3 dapat mengakibatkan
                   sanksi administratif, denda, atau bahkan pencabutan izin operasional. Untuk
                   mengatasi hal ini, perusahaan perlu membentuk tim internal yang bertanggung
                   jawab memantau dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Selain itu,
                   audit reguler terhadap proses pengelolaan limbah B3 harus dilakukan untuk
                   memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.


              7.   Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan
                   Penolakan    izin    lingkungan     (AMDAL    atau    UKL-UPL)   oleh   KLHK   dapat
                   menghentikan        proyek   sebelum    dimulai.     Untuk   mengurangi   risiko ini,
                   perusahaan perlu melibatkan konsultan lingkungan berpengalaman dalam
                   penyusunan dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Selain itu, sosialisasi dengan
                   masyarakat sekitar dan pemangku kepentingan harus dilakukan untuk
                   mengurangi resistensi terhadap proyek.


              8.   Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3
                   Kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan, atau pemanfaatan limbah B3
                   dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan sanksi hukum. Strategi
                   mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan pelatihan rutin bagi
                   karyawan terkait pengelolaan limbah B3 sesuai standar, memastikan TPS
                   Limbah B3 dirancang dan dioperasikan sesuai standar keamanan, serta
                   melakukan pemantauan berkala terhadap proses pengelolaan limbah B3.


              9.   Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama
                   Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu dapat menunda pelaksanaan
                   proyek. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu membuat timeline yang jelas
                   untuk setiap tahap pengajuan izin dan memantau progresnya secara berkala.
                   Selain itu, menunjuk tim khusus yang bertanggung jawab untuk mengurus
                   perizinan dan berkoordinasi dengan instansi terkait juga dapat mempercepat
                   proses.


              10. Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan
                   Proyek dapat menghadapi tuntutan hukum dari masyarakat atau LSM
                   lingkungan jika dianggap merugikan lingkungan atau kesehatan masyarakat.




                                                                                                     50
Page 66
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  Strategi mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan sosialisasi dan
                  edukasi kepada masyarakat sekitar tentang manfaat dan dampak proyek,
                  membentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendukung
                  masyarakat sekitar, serta membuka saluran komunikasi dengan masyarakat
                  dan LSM untuk menampung masukan dan keluhan.


              11. Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3
                  Pelanggaran     terhadap    peraturan   pengangkutan     limbah   B3      dapat
                  mengakibatkan sanksi hukum atau kecelakaan yang merugikan. Untuk
                  mengurangi risiko ini, perusahaan perlu memastikan semua kendaraan
                  pengangkut memenuhi standar keamanan dan memiliki izin yang sah. Selain
                  itu, pelatihan rutin bagi pengemudi terkait prosedur pengangkutan limbah B3
                  dan pemantauan rute pengangkutan secara berkala juga perlu dilakukan.


              12. Risiko Perubahan Regulasi
                  Perubahan regulasi di tengah proyek dapat mengakibatkan ketidaksesuaian
                  dengan persyaratan yang telah dipenuhi. Untuk mengantisipasi hal ini,
                  perusahaan perlu memantau perkembangan regulasi secara berkala melalui tim
                  hukum internal atau konsultan hukum. Selain itu, rencana kontingensi untuk
                  mengantisipasi perubahan regulasi yang signifikan juga perlu disiapkan.


              13. Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan
                  Minimnya ketersediaan kas internal untuk penambahan kegiatan usaha akan
                  berpotensi proyek tidak dapat terlaksana. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
                  melakukan pendanaan kepada pihak perbankan.


              Risiko Konstruksi


              1. Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat
                  Lalu lalang kendaraan proyek serta kelalaian pengemudi dan pekerja proyek
                  akan berdampak pada gangguan arus lalu lintas dan lingkungan. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah sosialisasi pada masyarakat setempat mengenai proses
                  pengembangan tersebut, dan bekerjasama dengan pihak yang berwenang
                  mengenai adanya mobilisasi peralatan dan material.


              2. Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air)
                  Kondisi lingkungan dapat terganggu oleh polusi suara dan udara yang
                  disebabkan oleh pergerakan alat berat dan mesin. Selain itu kualitas air dapat
                  terganggu oleh penggunaan air yang berlebihan saat konstruksi. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah mensyaratkan kontraktor untuk menggunakan terkini
                  yang ramah lingkungan, dan pembatas untuk area proyek untuk mencegah
                  masyarakat memasuki area proyek.




                                                                                              51
Page 67
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              3. Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek
                  Risiko ini berasal dari kemampuan kontraktor tidak memadai, adanya
                  perubahan atau penambahan scope of project, pengawasan proyek yang kurang
                  baik, dan equipment freight & customs clearance terhambat. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah: pemilihan kontraktor yang berpengalaman dan
                  bereputasi baik, pemahaman dan pembuatan lingkup pekerjaan dan spesifikasi
                  kontrak yang detail dan jelas, pemilihan manajemen konstruksi proyek yang
                  profesional dan bereputasi baik, serta memahami prosedur & membina
                  hubungan dengan instansi terkait.


              4. Risiko Kegagalan Konstruksi
                  Risiko ini berasal dari pengendalian atas proyek yang lemah, on time delivery
                  tidak konsisten dan cenderung lemah, dan lemahnya perhitungan estimasi
                  waktu kemungkinan terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek yang
                  ditinjau dari berbagai macam kemungkinan. Mitigasi yang dapat dilakukan
                  adalah mengkaji kembali kesesuaian fungsi, persyaratan tata bangunan,
                  keselamatan, kesehatan dan kenyamanan, serta kemudahan bangunan pada
                  desain konstruksi, melakukan komunikasi kepada Manajemen Proyek agar
                  dapat memastikan pengiriman material konstruksi/mesin/alat berat yang
                  terjadwal, dan melakukan update progres fisik dan biaya konstruksi secara
                  berkala yang dilakukan Konsultan Pengawas Proyek.


              5. Risiko Cost Over Run
                  Risiko ini berasal dari kesalahan estimasi quantity surveyor dan dalam
                  menentukan bill of quantity. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
                  komunikasi dengan estimator terkait pengurangan tingkat kompleksitas
                  perhitungan   dengan      cara   mengelompokan   item   pekerjaan,   sehingga
                  perhitungan akan dapat dilakukan dengan fokus, dan secara berkala melakukan
                  evaluasi terhadap akurasi perhitungan dengan membuat program perhitungan
                  yang memiliki tingkat otomatisasi yang tinggi.


              6. Risiko Pengendalian SDM Proyek
                  Dalam menunjuk kontraktor, Perseroan tidak memiliki kontrol penuh atas SDM
                  yang berada di proyek. Rendahnya kompetensi SDM proyek akan berdampak
                  pada terhambatnya proyek. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah komunikasi
                  dengan kontraktor terkait perhitungan produktivitas alat dan biaya overhead,
                  melakukan komunikasi dengan kontraktor terkait sinkronisasi jumlah tenaga
                  yang digunakan dengan peralatan dan keahliannya, dan menyesuaikan kembali
                  analisa yang terkait dengan volume pekerjaan, tingkat kesulitan, cuaca dan
                  parameter non teknis lainnya.




                                                                                            52
Page 68
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Risiko Operasional


             1.   Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai
                  Risiko ini berasal dari kemampuan pendanaan yang kurang memadai;
                  kemampuan finansial atas operasional; serta persediaan tidak terpenuhi secara
                  wajar. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pendanaan dari pihak
                  perbankan.


             2.   Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan
                  Risiko ini berasal dari volume penjualan tidak sesuai target. Mitigasi yang dapat
                  dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk yang
                  dihasilkan.


             3.   Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten
                  Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya tenaga ahli yang paham
                  terkait produktivitas, keputusan, finansial, inovasi, dan keselamatan tenaga
                  kerja. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah recruitment tenaga ahli yang
                  didasari oleh kualifikasi yang ketat seperti pendidikan, keahlian, pengalaman,
                  pengelolaan SDM, jaringan, dan kemampuan komunikasi yang baik.


             4.   Risiko SDM
                  Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya penambahan SDM,
                  pelatihan dan penempatan posisi yang tepat. Mitigasi yang dapat dilakukan
                  adalah melakukan evaluasi pada kinerja SDM; modul training; serta penempatan
                  karyawan yang lebih akurat.


             5.   Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran
                  Risiko ini berasal dari kesalahan segmentasi dan target pasar. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk
                  yang dihasilkan.


             6.   Risiko Mesin
                  Risiko ini berasal dari manual book yang sulit dipahami operator, tidak
                  diikutinya prosedur pengoperasian, dan pengadaan mesin yang tidak sesuai
                  spesifikasi. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah perlu adanya transfer
                  teknologi dari vendor kepada tenaga ahli/pihak yang kompeten untuk
                  merancang, merawat, memperbaiki dan mengoptimalkan penggunaan mesin.


             7.   Risiko Bahan Baku
                  Risiko ini berasal dari kegagalan produksi, perencanaan waktu supply bahan
                  baku, dan jumlah tidak sesuai. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
                  quality control terhadap kualitas bahan baku yang dibutuhkan.




                                                                                                53
Page 69
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      6.4    Kapasitas dan Kemampuan Manajemen


              Perseroan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengelolaan kegiatan usaha yang
              telah berjalan. Untuk mendukung rencana penambahan kegiatan usaha baru,
              Perseroan sedang mempersiapkan langkah-langkah peningkatan kapasitas dan
              kompetensi agar mampu mengelola portofolio produk yang lebih beragam secara
              optimal di masa mendatang.


              Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
              keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan
              kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
              Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk mengelola SDM secara terstruktur
              dan efektif, guna memastikan bahwa setiap karyawan dapat berkontribusi secara
              optimal sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat,
              Perseroan dapat terus meningkatkan produktivitas dan daya saing di industri.


              Kontribusi SDM dalam keberlanjutan usaha Perseroan memiliki peran penting yang
              tidak dapat terbantahkan. Untuk terus mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif,
              Perseroan terus berupaya dalam membangun peningkatan pengelolaan SDM.
              Perseroan meyakini bahwa hubungan yang baik dengan karyawan dapat
              meningkatkan produktivitas dan efektivitas kinerja dalam mencapai target-target
              usaha.


      6.5    Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen


              Dalam menganalisis kesesuaian struktur organisasi dan manajemen, penting untuk
              memahami bagaimana struktur organisasi yang ada mendukung pencapaian dari
              Penambahan Kegiatan Usaha baru.


              Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
              Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
              yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
              operator produksi, quality control, sales dan driver.




                                                                                                54
Page 70
    Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
    PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                          Gambar 11 Struktur Organisasi Unit Bisnis Batako dan Paving Block




                                 Sumber: Manajemen Perseroan


                  Dengan adanya penambahan kegiatan usaha baru ini, maka unit bisnis akan
                  tergabung dalam satu struktur organisasi eksisting sebagai berikut:


                              Gambar 12 Struktur Organisasi Tambahan Kegiatan Usaha




Sumber: Manajemen Perseroan
Keterangan: Data struktur organisasi penambahan kegiatan usaha telah dilampirkan




                                                                                              55
Page 71
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      7       KELAYAKAN KEUANGAN

              Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian
              ini menganalisis besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga
              didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu proyek/rencana layak dilaksanakan
              ataupun tidak.


              Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji beberapa hal berikut, diantaranya
              adalah kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
              (discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.

      7.1    Biaya Pendirian (Start Up Costs)

              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya investasi (capex), dengan rincian sebagai berikut.


                                      Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000)
                    Keterangan                            Satuan   Volume         Harga       Total
               A    LAHAN
               1    Pengadaan Lahan                                                                   0
               2    Pengerukan Area Pabrik                  m³      9.800             100     1.176.000
               3    Pengerukan Jalan Masuk                  m³       870              100      104.400
                    Sub Total                                                                 1.280.400

               B    PRA OPERASI
               1    SLO                                    unit       1           100.000      100.000
               2    PERTEK                                 unit       1           100.000      100.000
               3    UKL/UPL                                unit       1           300.000      300.000
               4    KBLI                                   unit       1           100.000      100.000
               5    Tambah Daya Listrik                     lot       1           700.000      700.000
                    Sub Total                                                                 1.300.000

               C    BANGUNAN DAN FASILITAS                  m²      1.296           2.000     2.592.000

               D    MESIN DAN ALAT BERAT
               1    Mesin QGM ZN600VP                      unit       1          8.165.000    8.165.000
               2    Dump Truck - Isuzu Giga                unit       1           500.000      500.000
               3    Biaya Kirim                             Ls        1           416.000      416.000
               4    Biaya Instalasi                         Ls        1           176.000      176.000
                    Sub Total                                                                 9.257.000

               Total Investasi                                                               14.429.400
             Sumber: Proyeksi Keuangan


      7.2    Modal Kerja


              Asumsi modal kerja yang diperlukan adalah sebagai berikut.



                                                                                                    56
Page 72
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Perputaran persediaan
                 Bahan baku                                   : 30 hari
                 Barang jadi                                  : 15 hari
              Perputaran piutang usaha                        : 30 hari
              Perputaran utang usaha                          : 60 hari


              Proyeksi Modal Kerja tahun 2026—2035 adalah sebagai berikut.


                                               Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)
                         Keterangan               2026         2027           2028           2029               2030

               PERHITUNGAN MODAL KERJA
                    Aset Lancar                  1.842.777    2.591.140      2.966.204      3.061.590      3.152.395
                    Hutang Lancar              (1.236.543)   (1.415.043)    (1.580.570)   (1.622.366)     (1.679.148)
               Modal Kerja                        606.234     1.176.096      1.385.634      1.439.225      1.473.247
               Perubahan Modal Kerja              606.234       569.862        209.538        53.591             34.022



                         Keterangan               2031         2032           2033           2034               2035

               PERHITUNGAN MODAL KERJA
                    Aset Lancar                  3.240.511    3.331.361      3.430.373      3.532.293      3.637.210
                    Hutang Lancar              (1.737.919)   (1.798.746)    (1.861.702)   (1.926.861)     (1.994.302)
               Modal Kerja                       1.502.592    1.532.615      1.568.671      1.605.431      1.642.908
               Perubahan Modal Kerja               29.345        30.023         36.056        36.760             37.477
             Sumber: Proyeksi Keuangan


              Berdasarkan proyeksi keuangan atas adanya penambahan KBLI baru, modal kerja
              yang dibutuhkan pada tahun 2026 sampai dengan tahun 2035 berturut-turut
              adalah sebesar Rp606,23 juta, Rp1,18 miliar, Rp1,39 miliar, Rp1,44 miliar, Rp1,47
              miliar, Rp1,50 miliar, Rp1,53 miliar, Rp1,57 miliar, Rp1,61 miliar dan Rp1,64 miliar.


      7.3    Sumber Pembiayaan


              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
              bersumber dari kas yang tersedia dan perbankan.


                                         Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000)
                                    Keterangan                             Komposisi                    Nilai
               SUMBER PEMBIAYAAN
               a.    Pinjaman Bank                                                   65%                   9.380.000
               b.    Modal Sendiri                                                   35%                   5.049.400
                                       Total                                         100%                14.429.400
             Sumber: Proyeksi Keuangan




                                                                                                                       57
Page 73
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      7.4    Biaya Operasional

              Biaya operasional pada tahun 2026—2035 diproyeksikan seperti tabel dibawah ini.


                                     Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta)
                       Uraian           2026       2027          2028        2029        2030
               Biaya Usaha            1.500.000   3.105.000   3.213.675     3.326.154   3.442.569


                       Uraian           2031       2032          2033        2034        2035
               Biaya Usaha            3.563.059   3.687.766   3.816.838     3.950.427   4.088.692


              Pada tahun 2026, biaya operasional Perseroan diproyeksikan sebesar Rp1,50 miliar.
              Biaya ini meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp4,09 miliar pada tahun 2035.
              Peningkatan pada proyeksi biaya operasional adalah sebesar 3,50%. Peningkatan ini
              merujuk target inflasi BI tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.


      7.5    Biaya Bahan Baku Mentah

              Biaya bahan baku mentah pada tahun 2026 diasumsikan sebagai berikut.
             - Semen
                Biaya bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
             - Batu Pecah
                Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
             - Pasir
                Biaya bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.


             Biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50%. Peningkatan ini merujuk
             target inflasi BI tahun 2025 yang sebesar 2,5+1%.

      7.6    Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan


              Berikut ini merupakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.


              Waktu Operasional


             Periode proyeksi dimulai bulan pertengahan Juni 2026 hingga tahun 2035. Jumlah
             hari operasional diasumsikan selama 150 hari di tahun 2026 dan 300 hari untuk
             tahun-tahun proyeksi selanjutnya.


             Struktur Pendapatan


             Pendapatan untuk tahun-tahun proyeksi diasumsikan sebagai berikut:




                                                                                                58
Page 74
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                             Tabel 19 Struktur Pendapatan
                          Keterangan            2026        2027        2028        2029        2030
               Kapasitas Terpasang / Hari        24.000      24.000      24.000      24.000      24.000
               Kapasitas Terpasang / Tahun     3.600.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000
               Utilitas                          75,00%      85,00%      95,00%      95,00%      95,00%
               Kapasitas Tercapai              2.700.000   6.120.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000
               Persediaan awal                         -    220.109     251.507     281.096     281.096
               Persediaan akhir                (220.109)   (251.507)   (281.096)   (281.096)   (281.096)
               Volume penjualan                2.479.891   6.088.602   6.810.411   6.840.000   6.840.000
               Harga / pcs                        2.800       2.870       2.942       3.015       3.091


                          Keterangan            2031        2032        2033        2034        2035
               Kapasitas Terpasang / Hari        24.000      24.000      24.000      24.000      24.000
               Kapasitas Terpasang / Tahun     7.200.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000
               Utilitas                          95,00%      95,00%      95,00%      95,00%      95,00%
               Kapasitas Tercapai              6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000
               Persediaan awal                  281.096     281.096     281.096     281.096     281.096
               Persediaan akhir                (281.096)   (281.096)   (281.096)   (281.096)   (281.096)
               Volume penjualan                6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000
               Harga / pcs                        3.168       3.247       3.328       3.412       3.497
             Sumber: Proyeksi Keuangan
             Keterangan: Harga produk diasumsikan mengalami kenaikan sebesar 2,50% setiap tahunnya


             Dasar penentuan pada proyeksi keuangan adalah waktu operasional yang dimulai
             pada tahun pertengahan tahun 2026 dengan hari operasional selama 150 hari.
             Sedangkan proyeksi keuangan selama 10 tahun didasari oleh umur teknis aset
             produksi utama selama 10 tahun. Untuk tahun 2027-2035 hari operasional selama
             300 hari.


             Dasar penentuan pada proyeksi keuangan melekat pada kapasitas produksi.
             Kapasitas terpasang mesin adalah 24.000 pcs/hari atau setara 7.200.000 pcs/tahun
             yang kemudian dikoreksi produk akhir yang siap untuk dijual kepada pelanggan
             (asumsi persediaan barang jadi selama 15 hari) sehingga dapat diketahui volume
             penjualan untuk setiap tahunnya.


             Selanjutnya harga jual diasumikan sebesar Rp2.800/pcs yang diasumsikan
             meningkat sebesar 2,50%. Peningkatan ini merujuk target inflasi BI tahun 2025 yang
             sebesar 2,5+1%. Tingkat ketercapaian atas proyeksi masih realisitis dan dapat
             dicapai. Hal ini merujuk pada masih besarnya potensi pasar paving block seiring
             dengan pembangunan perumahan di beberapa daerah Provinsi Kalimantan Timur
             serta rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
             Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.




                                                                                                       59
Page 75
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Struktur Biaya


             Harga Pokok Produksi


                  a. Biaya Pemakaian Bahan Baku


                     Pemakaian bahan baku untuk penambahan kegiatan usaha dirinci sebagai
                     berikut.
                     - Semen
                        Kebutuhan semen sebanyak 0,45 kg untuk setiap 1 paving block. Biaya
                        bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
                     - Batu Pecah
                        Kebutuhan batu pecah sebanyak 1,05 kg untuk setiap 1 paving block.
                        Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
                     - Pasir
                        Kebutuhan pasir sebanyak 1,80 kg untuk setiap 1 paving block. Biaya
                        bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.


                     Asumsi biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap
                     tahunnya.


                  b. Biaya Tenaga Kerja


                     Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 12 orang dengan rata-rata gaji
                     setiap bulan sebanyak Rp4.800.00/bulan. Gaji diasumsikan meningkat
                     sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                  c. Biaya Distribusi


                     Biaya distribusi diasumsikan sebesar Rp11.000.000/bulan. Biaya ini
                     diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                  d. Biaya Maintenance


                     Biaya maintenance diasumsikan sebesar Rp43,325.000/bulan. Biaya ini
                     diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                  e. Biaya Listrik


                     Biaya     listrik   diasumsikan   sebesar   Rp39.600.000/bulan.   Biaya   ini
                     diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.




                                                                                               60
Page 76
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                      f. Beban Umum dan Administrasi


                          Biaya umum dan administrasi diasumsikan sebesar Rp250.000.000/bulan.
                          Biaya ini diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                   Beban Bunga Bank


                   Beban bunga bank terdiri dari hutang bank Kredit Investasi diasumsikan sebesar
                   8,92%.


                   Tarif Pajak


                   Pajak penghasilan badan (PPh Badan) diproyeksikan sebesar 22,00% dan
                   diasumsikan tetap selama masa proyeksi.


      7.7       Proyeksi Posisi Keuangan


                Proyeksi Posisi Keuangan Perseroan pada tahun ditunjukkan pada tabel berikut ini:


                                         Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000)
                   Keterangan                2025        2026        2027        2028        2029        2030

            ASET
            Aset Lancar                      344.884    2.233.814   2.963.252   4.675.191   6.430.652   5.052.471
            Aset Tidak Lancar               6.503.500 13.733.490 13.027.180 12.250.095 11.402.235 10.483.600
            TOTAL ASET                      6.848.384 15.967.304 15.990.432 16.925.286 17.832.887 15.536.071


            LIABILITAS & EKUITAS
            Liabilitas Jangka Pendek                -   1.236.543   1.415.043   1.580.570   1.622.366   1.679.148
            Liabilitas Jangka Panjang       7.003.500 15.029.400 13.229.400 11.429.400      9.629.400   4.554.700
            Ekuitas                         (155.116)   (298.638)   1.345.989   3.915.316   6.581.122   9.302.222
            TOTAL LIABILITAS & EKUITAS      6.848.384 15.967.304 15.990.432 16.925.286 17.832.887 15.536.071



                   Keterangan                2031        2032        2033        2034        2035

            ASET
            Aset Lancar                     4.262.436   8.025.473 11.781.264 15.520.367 19.237.212
            Aset Tidak Lancar               9.624.190   8.824.005   7.953.045   7.011.310   5.998.799
            TOTAL ASET                     13.886.626 16.849.478 19.734.309 22.531.676 25.236.012


            LIABILITAS & EKUITAS
            Liabilitas Jangka Pendek        1.737.919   1.798.746   1.861.702   1.926.861   1.994.302
            Liabilitas Jangka Panjang               -           -           -           -           -
            Ekuitas                        12.148.707 15.050.732 17.872.607 20.604.815 23.241.710
            TOTAL LIABILITAS & EKUITAS     13.886.626 16.849.478 19.734.309 22.531.676 25.236.012
         Sumber: Proyeksi Keuangan




                                                                                                           61
Page 77
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan kas akhir tahun
             2025 yang berasal dari akumulasi arus kas neto diperoleh dari (untuk) aktivitas
             operasi, arus kas neto diperoleh dari (untuk) aktivitas investasi, dan arus kas neto
             diperoleh dari (untuk) aktivitas pendanaan. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya
             dapat dilihat kertas kerja.


             Peningkatan piutang berasal dari perhitungan uang yang terutang atas pendapatan
             yang diterima dari penambahan kegiatan usaha baru dengan asumsi perputaran
             piutang adalah selama 30 hari dalam satu tahun. Pada tahun 2026 (6 bulan
             operasional) nilai penjualan sebesar Rp6,94 miliar sehingga piutang usaha sebesar
             Rp1,13 miliar, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun penuh
             penjualan sebesar dan Rp17,47 miliar piutang usaha menjadi sebesar Rp1,44 miliar.
             Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.



             Peningkatan persediaan berasal dari bahan baku dan barang jadi. Asumsi
             perputaran persediaan bahan baku adalah selama 30 hari dalam satu tahun.
             Sehingga dapat diperhitungkan sisa bahan baku yang belum diproses menjadi
             barang jadi. Asumsi perputaran persediaan barang jadi adalah selama 15 hari dalam
             satu tahun. Sehingga dapat diperhitungkan produk akhir yang telah selesai
             diproduksi oleh Perseroan dan siap untuk dijual kepada pelanggan. Atas penjelasan
             tersebut maka pada tahun 2026 (6 bulan operasional) persediaan bahan baku
             sebesar Rp288,01 juta, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun penuh
             persediaan bahan baku menjadi sebesar Rp675,66 juta. Sedangkan untuk
             persediaan barang jadi pada tahun 2026 (6 bulan operasional) persediaan barang
             jadi sebesar Rp422,65 juta, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan satu tahun
             penuh persediaan bahan baku menjadi sebesar Rp479,24 juta. Untuk tahun-tahun
             proyeksi selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.


             Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas nilai buku
             aset tetap yang berasal investasi selama tahun 2025-2026 untuk jenis aset
             bangunan, sarana prasarana, mesin, alat berat, dan pra operasi. Lebih lanjut, Penilai
             juga memperhitungkan adanya biaya capex untuk kebutuhan maintenance tahunan
             setelah selesai pembangunan (di mulai dari tahun 2027 dan sampai dengan akhir
             proyeksi). Disamping itu perlu memperhitungkan adanya penyusutan untuk setiap
             jenis berdasarkan tarif susutnya masing-masing. Atas penjelasan tersebut maka
             harga perolehan tahun 2025 sebesar Rp6,50 miliar, harga perolehan tahun 2026
             sebesar Rp14,43 miliar dengan beban penyusutan sebesar Rp659,91juta, harga
             perolehan awal tahun 2027 sebesar Rp14,43 miliar, capex maintenance sebesar
             Rp756,29 juta dengan beban penyusutan sebesar Rp1,46 miliar, dan tahun 2028
             harga perolehan awal sebesar Rp15,19 miliar, capex maintenance sebesar Rp756,29
             juta dengan beban penyusutan sebesar Rp1,53 miliar. Untuk tahun-tahun proyeksi
             selanjutnya dapat dilihat kertas kerja.




                                                                                               62
Page 78
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Selama tahun 2025—2035, total aset diproyeksikan mengalami kenaikan. Pada
             tahun 2025, total aset diproyeksikan sebesar Rp6,85 miliar hingga menjadi sebesar
             Rp25,24 miliar pada tahun 2035.


             Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas utang
             usaha yang berasal dari kewajiban yang perlu dibayar atas pembelian bahan baku
             dengan asumsi perputaran utang adalah selama 60 hari dalam satu tahun. Pada
             tahun 2026 (6 bulan operasional) pembelian bahan baku sebesar Rp3,79 miliar
             sehingga utang sebesar Rp1,24 miliar, sedangkan di tahun 2027 yang merupakan
             satu tahun penuh pembelian bahan baku sebesar Rp8,61 miliar dan utang usaha
             menjadi sebesar Rp1,42 miliar. Untuk tahun-tahun proyeksi selanjutnya dapat
             dilihat kertas kerja.


             Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat peningkatan atas utang bank
             yang berasal dari penarikan utang bank Kredit Investasi (KI) untuk pendanaan
             proyek sebesar Rp4,23 miliar di tahun 2025, dan sebesar Rp5,15 miliar di tahun
             2026. Setelah operasional di pertengahan tahun 2026, diagendakan adanya
             angsuran utang bank KI sebesar Rp900,00 juta di tahun 2026, sebesar Rp1,80
             miliar di tahun 2027 sampai dengan 2030, sedangkan di tahun 2031 angsuran
             sebesar Rp1,28 miliar.


             Pada tahun 2025 total liabilitas Perseroan diproyeksikan sebesar Rp7,00 miliar yang
             meningkat menjadi sebesar Rp16,27 miliar di tahun 2026. Pada tahun 2027—2030,
             liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan dari Rp14,64 miliar menjadi Rp6,23
             miliar. Terjadi penurunan yang signifikan di tahun 2031 yang diproyeksikan sebesar
             Rp1,74 miliar yang kemudian terjadi peningkatan hingga mencapai sebesar Rp1,99
             miliar di tahun 2035.


             Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, terdapat defisit/laba di ekuitas atas
             yang berasal dari saldo laba (rugi) awal tahun ditambah laba (rugi) tahun berjalan.


             Total ekuitas juga diproyeksikan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun
             2025, total ekuitas diproyeksikan sebesar negatif Rp155,12 juta hingga menjadi
             sebesar Rp23,24 miliar pada tahun 2035.


      7.8    Proyeksi Laba (Rugi)


             Proyeksi Laba Rugi Perseroan ditunjukkan pada tabel berikut.




                                                                                              63
Page 79
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                           Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000)
            Keterangan                  2025            2026               2027              2028              2029             2030

Penjualan                                       -       6.943.696        17.474.287        20.034.526       20.624.609        21.140.224
Beban Pokok Penjualan                           -     (4.065.922)       (10.142.255)      (11.498.060)     (11.941.730)     (12.359.792)
Laba (Rugi) Kotor                               -       2.877.773          7.332.032        8.536.467        8.682.880          8.780.433
Beban Usaha                                     -     (1.500.000)        (3.105.000)       (3.213.675)      (3.326.154)       (3.442.569)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA                      -       1.377.773          4.227.032        5.322.792        5.356.726          5.337.864
Beban Penyusutan & Amortisasi                   -       (695.910)        (1.462.595)       (1.533.370)      (1.604.145)       (1.674.920)
Pendapatan (Beban) Lain-lain            (155.116)       (825.385)          (655.941)         (495.412)         (334.882)        (174.353)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak               (155.116)       (143.522)          2.108.496        3.294.010        3.417.699          3.488.591
Pajak Final                                     -                  -       (463.869)         (724.682)         (751.894)        (767.490)
Laba (Rugi) Bersih                      (155.116)       (143.522)          1.644.627        2.569.328        2.665.805          2.721.101



                           Keterangan                2031               2032              2033             2034              2035

               Penjualan                            21.668.730         22.210.448      22.765.710        23.334.852        23.918.224
               Beban Pokok Penjualan             (12.797.829)       (13.245.668)      (13.703.838)      (14.183.575)      (14.680.101)
               Laba (Rugi) Kotor                     8.870.901          8.964.781       9.061.871          9.151.278        9.238.122
               Beban Usaha                          (3.563.059)        (3.687.766)     (3.816.838)       (3.950.427)       (4.088.692)
               Laba (Rugi) Usaha - EBITDA            5.307.842          5.277.015       5.245.033          5.200.851        5.149.430
               Beban Penyusutan & Amortisasi        (1.615.695)        (1.556.470)     (1.627.245)       (1.698.020)       (1.768.795)
               Pendapatan (Beban) Lain-lain            (42.808)                   -                 -                 -                -
               Laba (Rugi) Sebelum Pajak             3.649.339          3.720.545       3.617.788          3.502.831        3.380.635
               Pajak Final                           (802.855)          (818.520)         (795.913)        (770.623)         (743.740)
               Laba (Rugi) Bersih                    2.846.485          2.902.025       2.821.875          2.732.208        2.636.895
              Sumber: Proyeksi Keuangan


                   Selama tahun 2026—2035, total penjualan diproyeksikan mengalami kenaikan.
                   Pada tahun 2026, total penjualan diproyeksikan sebesar Rp6,94 miliar yang
                   kemudian mengalami kenaikan hingga menjadi sebesar Rp23,92 miliar pada tahun
                   2035.


                   Setelah diakumulasi dengan beban pokok penjualan, beban usaha, beban lainnya,
                   dan pajak final, Perseroan diproyeksikan mencatatkan tambahan laba bersih dari
                   penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp1,64 miliar pada tahun 2027 menjadi
                   sebesar Rp2,64 miliar di tahun 2035.


       7.9         Proyeksi Arus Kas


                   Proyeksi Arus Kas Perseroan tahun 2025—2035 ditunjukkan pada tabel berikut ini:


                                               Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000)
                 Keterangan                     2025              2026             2027             2028            2029             2030

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha                                         -     5.811.571       16.038.045        18.387.853       18.929.436     19.402.672
Penerimaan Piutang                                       -                 -      1.132.124       1.436.243        1.646.673        1.695.173
Biaya Pokok                                              -        (984.510)    (1.978.320)       (2.047.561)      (2.119.226)    (2.193.398)




                                                                                                                                  64
Page 80
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                Keterangan                2025          2026          2027          2028          2029          2030

Pembayaran Kepada Supplier                       -    (2.555.522)   (8.429.679)   (9.449.606)   (9.827.595) (10.158.037)
Biaya Operasional                                -    (1.500.000)   (3.105.000)   (3.213.675)   (3.326.154)   (3.442.569)
Pajak Final                                      -             -     (463.869)     (724.682)     (751.894)     (767.490)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS OPERASI                        -       771.539     3.193.301     4.388.572     4.551.242     4.536.351
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi                               (6.503.500)   (7.925.900)            -             -             -             -
Capital Expenditures, CAPEX                      -             -     (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI             (6.503.500)   (7.925.900)    (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Modal Sendiri - I                        2.273.500     2.775.900             -             -             -             -
Modal Sendiri - MK                               -     1.000.000             -             -             -             -
Hutang Pemegang Saham                      500.000             -             -             -             -             -
Pinjaman - KI                            4.230.000     5.150.000             -             -             -             -
Angsuran - KI                                    -     (900.000)    (1.800.000)   (1.800.000)   (1.800.000)   (1.800.000)
Pembayaran Bunga - KI                    (112.816)     (773.885)     (655.941)     (495.412)     (334.882)     (174.353)
Pembayaran Hutang Pemegang Saham                 -             -             -             -             -    (3.274.700)
Biaya Provisi                              (42.300)      (51.500)            -             -             -             -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN              6.848.384     7.200.515    (2.455.941)   (2.295.412)   (2.134.882)   (5.249.053)
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS                   344.884        46.154       (18.925)    1.336.875     1.660.075    (1.468.986)
KAS AWAL TAHUN                                   -       344.884       391.037       372.112     1.708.988     3.369.062
KAS AKHIR TAHUN                            344.884       391.037       372.112     1.708.988     3.369.062     1.900.076



                Keterangan                2031          2032          2033          2034          2035

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha                        19.887.739    20.384.932    20.894.555    21.416.919    21.952.342
Penerimaan Piutang                       1.737.553     1.780.992     1.825.516     1.871.154     1.917.933
Biaya Pokok                             (2.270.167)   (2.349.623)   (2.431.860)   (2.516.975)   (2.605.069)
Pembayaran Kepada Supplier             (10.513.568) (10.881.543) (11.262.397) (11.656.581) (12.064.561)
Biaya Operasional                       (3.563.059)   (3.687.766)   (3.816.838)   (3.950.427)   (4.088.692)
Pajak Final                              (802.855)     (818.520)     (795.913)     (770.623)     (743.740)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS OPERASI                        4.475.643     4.428.472     4.413.064     4.393.468     4.368.213
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi                                        -             -             -             -             -
Capital Expenditures, CAPEX              (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS INVESTASI                      (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)     (756.285)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Modal Sendiri - I                                -             -             -             -             -
Modal Sendiri - MK                               -             -             -             -             -
Hutang Pemegang Saham                            -             -             -             -             -
Pinjaman - KI                                    -             -             -             -             -
Angsuran - KI                           (1.280.000)            -             -             -             -
Pembayaran Bunga - KI                      (42.808)            -             -             -             -
Pembayaran Hutang Pemegang Saham        (3.274.700)            -             -             -             -
Biaya Provisi                                    -             -             -             -             -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS PENDANAAN                     (4.597.508)            -             -             -             -




                                                                                                              65
Page 81
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




               Keterangan                    2031            2032           2033           2034           2035

 KENAIKAN (PENURUNAN) KAS                   (878.150)       3.672.187      3.656.779      3.637.183      3.611.928
 KAS AWAL TAHUN                            1.900.076        1.021.925      4.694.112      8.350.891     11.988.074
 KAS AKHIR TAHUN                           1.021.925        4.694.112      8.350.891     11.988.074     15.600.003
Sumber: Proyeksi Keuangan


                   Arus kas atas adanya penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan terus
                   meningkat. Kas dan setara kas pada awal periode tahun 2025 adalah Rp344,88 juta
                   yang kemudian pada akhir periode proyeksi tahun 2035 menjadi sebesar Rp15,60
                   miliar.


        7.10       Analisis Titik Impas


                   Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak
                   memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha
                   dikatakan impas jika jumlah pendapatan ( revenue) sama dengan jumlah biaya, atau
                   apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.


                   BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
                                                              Total Biaya Tetap
                                          BEP     =
                                                        (1- (Total Biaya Variabel))
                                                                    Penjualan


                   Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk
                   masing-masing     periode        selama    masa       proyeksi.      Nilai     BEP   dalam    rupiah
                   mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan
                   BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                   adalah sebagai berikut.


                                    Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000)
                        Tahun             Penjualan            Variable Cost            Fixed Cost            BEP

                         2026                   6.943.696               4.065.922          3.021.295         7.289.996
                         2027                17.474.287              10.142.255            5.223.536        12.449.150
                         2028                20.034.526              11.498.060            5.242.457        12.303.701
                         2029                20.624.609              11.941.730            5.265.181        12.506.484
                         2030                21.140.224              12.359.792            5.291.842        12.740.912
                         2031                21.668.730              12.797.829            5.221.562        12.754.579
                         2032                22.210.448              13.245.668            5.244.236        12.992.714
                         2033                22.765.710              13.703.838            5.444.083        13.676.911
                         2034                23.334.852              14.183.575            5.648.447        14.402.981
                         2035                23.918.224              14.680.101            5.857.487        15.165.494
                                                                                       BEP Rata-rata        12.628.292
                                                                                    BEP Rata-rata (%)            66,11%
                   Sumber: Proyeksi Keuangan



                                                                                                                     66
Page 82
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Penjualan berasal dari volume penjualan dikalikan harga penjualan sebagaimana
             telah dijelaskan pada sub bab 7.6. Untuk biaya variable merupakan pengeluaran
             yang jumlahnya berubah-ubah secara proporsional mengikuti volume produksi.
             Komponen biaya ini terdiri dari pemakaian bahan baku, biaya tenaga kerja biaya
             distribusi, biaya maintenance, biaya listrik, dan koreksi atas adanya persediaan
             barang jadi. Untuk biaya tetap terdiri dari beban usaha, beban penyusutan, dan
             beban lain-lain.


             Dari hasil perhitungan BEP, apabila Perseroan ingin mencatatkan keuntungan, maka
             Perseroan harus mencatatkan penjualan di tahun 2026 sebesar Rp6,94 miliar, tahun
             tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar, tahun 2029
             sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun 2031 sebesar
             Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033 sebesar Rp22,77
             miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92 miliar di tahun
             2035. Sehingga rata-rata BEP Perseroan atas penambahan kegiatan usaha baru
             selama periode proyeksi adalah sebesar Rp12,37 miliar.


      7.11   Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas


             Analisis likuiditas adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan menghitung
             rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
             kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancar.


                                            Tabel 24 Analisis Likuiditas
                                                                                 Working Capital to
                      Tahun                 Current Ratio       Quick Ratio
                                                                                 Total Assets Ratio
                       2026                        180,65%             123,18%               6,25%
                       2027                        209,41%             127,80%               9,68%
                       2028                        295,79%             212,31%              18,28%
                       2029                        396,38%             312,15%              26,96%
                       2030                        300,89%             216,64%              21,71%
                       2031                        245,26%             161,28%              18,18%
                       2032                        446,17%             362,45%              36,96%
                       2033                        632,82%             549,07%              50,27%
                       2034                        805,47%             721,69%              60,33%
                       2035                        964,61%             880,80%              68,33%
                      Average                      447,75%             366,74%              31,69%


             Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya peningkatan dari rasio likuiditas setelah
             adanya penambahan kegiatan usaha.


             Analisis solvabilitas adalah rasio yang berfungsi menilai kemampuan perusahaan
             dalam melunasi semua kewajibannya, baik dalam jangka pendek, maupun jangka
             Panjang dengan jaminan aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan.




                                                                                                 67
Page 83
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                            Tabel 25 Analisis Solvabilitas
                             Tahun               Debt to Equity Ratio    Debt to Assets Ratio
                             2026                              155,45%                 60,85%
                             2027                              102,53%                 50,62%
                             2028                               61,74%                 38,17%
                             2029                               35,81%                 26,37%
                             2030                               23,53%                 19,05%
                             2031                               14,31%                 12,52%
                             2032                               11,95%                 10,68%
                             2033                               10,42%                  9,43%
                             2034                                9,35%                  8,55%
                             2035                                8,58%                  7,90%
                            Average                             43,37%                 24,41%


             Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya penurunan dari rasio solvabilitas, hal ini
             dikarenakan adanya penyelesaian kewajiban setelah adanya penambahan kegiatan
             usaha.


             Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan
             dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
             penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa
             besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai
             gambaran bagaimana Perseroan mendapatkan laba atas penambahan kegiatan
             usaha barunya terdapat pada tabel berikut ini.


                                        Tabel 26 Analisis Profitabilitas
                                             Gross Profit     Operating Profit          Net Profit
                         Tahun
                                               Margin             Margin                 Margin
                          2026                        31,42%                  9,82%             -2,07%
                          2027                        33,59%                 15,82%              9,41%
                          2028                        34,96%                 18,91%             12,82%
                          2029                        34,32%                 18,19%             12,93%
                          2030                        33,61%                 17,33%             12,87%
                          2031                        33,48%                 17,04%             13,14%
                          2032                        33,36%                 16,75%             13,07%
                          2033                        32,66%                 15,89%             12,40%
                          2034                        31,94%                 15,01%             11,71%
                          2035                        31,23%                 14,13%             11,02%
                        Average                       33,06%                 15,89%             10,73%


             Dari tabel di atas diketahui bahwa dari penambahan kegiatan usaha baru
             memberikan dampak positif yang signifikan pada rasio profitabilitas, dimana
             selama tahun-tahun proyeksi rata-rata gross profit margin, operating profit margin
             dan net profit margin masing-masing sebesar 33,06%, Rp15,89%, dan 10,73%.



                                                                                                     68
Page 84
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      7.12   Tingkat Imbal Balik Investasi


             Return on Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva
             yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
             Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan
             mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui
             seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional
             dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.


             Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas Penambahan Kegiatan Usaha Perseroan.


                                        Tabel 27 Return on Investment
                                        Laba Bersih        Total Investasi
                         Tahun                                                 ROI
                                            (Rp.000)          (Rp.000)
                         2026                  (143.522)        15.967.304           -0,90%
                         2027                  1.644.627        15.990.432           10,29%
                         2028                  2.569.328        16.925.286           15,18%
                         2029                  2.665.805        17.832.887           14,95%
                         2030                  2.721.101        15.536.071           17,51%
                         2031                  2.846.485        13.886.626           20,50%
                         2032                  2.902.025        16.849.478           17,22%
                         2033                  2.821.875        19.734.309           14,30%
                         2034                  2.732.208        22.531.676           12,13%
                         2035                  2.636.895        25.236.012           10,45%
                        Average                                                      13,16%


             Rasio ROI Perseroan pada tahun 2026—2035 diproyeksikan akan meningkat setiap
             tahunnya seiring dengan peningkatan laba bersih dan total investasi Perseroan.
             Perseroan diproyeksikan mencatatkan rata-rata ROI sebesar 13,16%.


      7.13   Penetapan Tingkat Diskonto


             Faktor diskonto yang digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital yang
             dihitung dengan rumus sebagai berikut:


                                  WACC = (Kd*(1-t)* % Debt) + (Ke* % Equity)


              Keterangan:
             WACC       = Weighted average cost of capital (tingkat biaya tertimbang atas
                            modal)
             Kd           Cost of debt (tingkat bunga hutang perusahaan)
             Ke         = The required rate of return (biaya ekuitas)
             T          = Tax rate (tarif pajak)




                                                                                              69
Page 85
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             % Debt      = Proportion of Debt in the Capital structure (proporsi hutang dalam
                            struktur kapital)
             % Equity    = Proportion of Equity in the Capital structure (proporsi ekuitas dalam
                            struktur kapital)


             Berikut adalah asumsi yang digunakan untuk mengestimasi tingkat diskonto yang
             akan digunakan dalam Penilaian.


             Cost of Debt (tingkat biaya hutang)

             Tingkat biaya hutang (cost of debt) diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
             faktor sebagai berikut:

             • Rata-rata tertimbang tingkat suku bunga efektif atas dana pinjaman investasi
                  yang akan digunakan yaitu sebesar 8,92%. (merujuk pada bunga Kredit Investasi
                  per 30 Juni 2025 dari SEKI Bank Indonesia).

             • Tingkat pajak yang digunakan adalah sebesar 22,00% berdasarkan tingkat pajak
                  korporasi di Indonesia (Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020 - PPh Badan).

             Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka tingkat biaya hutang (cost of
             debt) yang diaplikasikan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:

             Kd = i x ((1-T)

             Kd = 8,92% x (1-22,00%) = 6,96%


             Cost of Equity (biaya modal untuk ekuitas)

             Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan Model CAPM
             (Capital Asset Pricing Model). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah
             bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari
             sekuritas saham, dengan formula sebagai berikut:


                                            Ke = Rf + (Rm – Rf) β + Rs
                                                Ke = Rf + (Rp x β) + Rs


             Keterangan:
             Rf       = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
             Rm       = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
             Rp       = market risk premium untuk pasar ekuitas secara keseluruhan
             β        = ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara objektif dari
                        responsivitas    pengembalian         perusahaan   terhadap   pergerakan
                        pengembalian portofolio pasar
             Rs       = tingkat kembalian tambahan spesifik untuk Perusahaan




                                                                                               70
Page 86
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Tingkat biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
             faktor sebagai berikut:


             Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
             dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia,
             instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Surat Utang Negara
             (most active government bond).

             Dalam penilaian Perseroan digunakan Surat Utang Negara dengan rata-rata yield
             adalah sebesar 7,06%. Angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
             bebas risiko (Rf).


                                            Tabel 28 Surat Utang Negara
                            Bond                         Maturity                   Yield
               FR0103                                   15-Jul-35                           7,0199%
               FR0106                                  15-Aug-40                            7,0371%
               FR0107                                  15-Aug-45                            7,0780%
               FR0105                                   15-Jul-64                           7,1089%
                                       Rata-rata                                            7,0610%
             Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI,
                     20 Maret 2025


             Rp (Market Risk Premium - MRP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
             risiko dengan tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas.


             Premi risiko pasar (Rm-Rf) atau MRP ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi
             pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang emerging.


             Beta (β), adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan
             dikalikan dengan market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.


             Rs (Specific Company Risk Premium). Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh
             Indonesia telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum
             mencerminkan risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh
             suatu perusahaan.


             Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aswath Damodaran per Juli 2025, diprediksi
             market risk premium adalah sebesar 7,03%.

             Untuk memperoleh faktor Beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan,
             kami menggunakan beta pembanding berdasarkan penelitian yang dilakukan
             Aswath Damodaran dalam industri Construction Supplies per Januari 2025 yaitu
             rata-rata sebesar 0,93.




                                                                                                 71
Page 87
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas Perseroan adalah:


                                            Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas
                                        Keterangan                          Biaya Modal untuk Ekuitas

                      Biaya Modal untuk Ekuitas
                      a. Risk Free Rate ( Rf )                                                   7,06%
                      b. Risk Premium Ekuitas ( Rm )                                             7,03%
                       c.   β (Beta)                                                              0,93
                      d.    Specific Risk                                                        0,00%
                      Biaya Modal untuk Ekuitas-CAPM                                            13,60%
                      Credit Default Spread                                                      1,87%
                      Biaya Modal untuk Ekuitas                                                 11,72%


             Pada formulasi di atas, yield tingkat bunga bebas risiko sebenarnya telah
             memperhatikan semua risiko pasar, sehingga dalam perhitungan tingkat diskonto
             yang berlaku di Indonesia, yield tersebut harus dikoreksi dengan credit default
             spread sebesar 1,87%, sehingga biaya modal ekuitas yang diterapkan dalam
             penilaian Perseroan menjadi 11,72%.


             Berdasarkan asumsi tersebut, besarnya Weighted Average Cost of Capital (WACC)
             yang kami gunakan sebagai tingkat diskonto dalam penilaian Perseroan adalah
             sebesar 10,38% seperti pada tabel berikut.


                                       Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital
                              Jenis Modal                          Biaya Modal       Bobot       Tertimbang

              Cost of Debt ( Kd = i x (1-T))                              6,96%       28,28%              1,97%
              Cost of Equity ( Ke = Rf + ( Rm-Rf ) * Beta               11,72%        71,72%              8,41%
                              Weighted Average Cost of Capital (WACC)                                    10,38%


      7.14   Analisis Kelayakan Proyek


              a. Net Present Value (NPV)
                 NPV merupakan nilai dari total investasi yang dikeluarkan pada awal periode
                 setelah ditambah arus kas bersih yang akan diterima oleh Perseroan setiap
                 tahun sampai akhir tahun periode proyek. Dengan membandingkan antara total
                 investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
                 akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui apabila proyek tersebut
                 menghasilkan          NPV    positif   maka       proyek   ini   layak   dikerjakan    apabila
                 menghasilkan NPV negatif maka proyek ini tidak layak dikerjakan.

                                                               𝑇
                                                                     𝐶𝐹𝑡
                                                   𝑁𝑃𝑉 = ∑                  − 𝐶𝐹0
                                                                   (1 + 𝑟)𝑡
                                                            𝑡−1




                                                                                                            72
Page 88
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                    NPV          :   Net Present Value
                    CFt          :   arus kas pada periode t
                    CF0          :   arus kas investasi awal pada periode 0
                    r            :   tingkat diskonto


                 Berikut adalah perhitungan NPV dari rencana penambahan kegiatan usaha.


                                       Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000)
                       Keterangan             FCFF          Discount Factor         PV FCFF
                          2025                  (6.570.620)             0,951837      (6.254.159)
                          2026                  (7.376.115)             0,862358      (6.360.855)
                          2027                   2.292.709              0,781291        1.791.273
                          2028                   3.523.296              0,707845        2.493.947
                          2029                   3.721.283              0,641303        2.386.470
                          2030                   3.741.709              0,581016        2.173.994
                          2031                   3.709.940              0,526397        1.952.902
                          2032                   3.672.187              0,476913        1.751.312
                          2033                   3.656.779                0,43208       1.580.020
                          2034                   3.637.183              0,391462        1.423.817
                          2035                   9.610.728              0,354662        3.408.557
                   NPV                                                                  6.347.281
                 Keterangan: Salvage Value sebesar Rp6,00 miliar


              b. Profitability Index (PI)
                 PI merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari
                 investasi yang dilakukan pada awal periode perusahaan. Nilai tambah yang
                 didapat dari investasi diperhitungkan dengan membagi total investasi proyek
                 pada awal periode dengan jumlah arus kas yang dihasilkan selama periode
                 berjalannya proyek. Apabila PI dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1
                 (satu) maka arus kas dari proyek setiap tahun tidak menghasilkan nilai tambah,
                 apabila PI lebih besar dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari
                 proyek setiap tahun menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan sedangkan PI
                 lebih kecil dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek setiap
                 tahun tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI
                 suatu proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1 (satu).

                                                           ∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹1 )
                                                    𝑃𝐼 =
                                                           ∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹0 )

                    PI           :   Profitability Index
                    CFI          :   nilai kini seluruh arus kas masuk
                    CFo          :   nilai kini seluruh arus kas keluar


                 Berikut adalah perhitungan PI dari Rencana penambahan kegiatan usaha.




                                                                                                   73
Page 89
 Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
 PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                           Tabel 32 Perhitungan PI
                                                                                                        PV FCFF
                                                         Keterangan
                                                                                                        (Rp.000)
                        Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
                             Arus kas masuk                                                              28.361.824
                             Arus kas keluar                                                           (22.014.544)
                        PI                                                                                  1,28832


                   c. Payback Period (PP)
                       Payback Period tidak ada kriteria, hanya menunjukkan tingkat pengembalian
                       investasi.

                                                          Tabel 33 Perhitungan PP
                                                   NCF
                                 No                                       Tahun                  Faktor
                                               (Rp.000)
                                  1                (6.570.620)                    0,50            (6.570.620)
                                  2            (13.946.735)                       1,00           (13.946.735)
                                  3            (11.654.026)                       1,00           (11.654.026)
                                  4                (8.130.730)                    1,00            (8.130.730)
                                  5                (4.409.447)                    1,00            (4.409.447)
                                  6                 (667.739)                     1,00                (667.739)
                                  7                 3.042.201                     0,18             3.042.201
                                                            Total                                 4,68
                                                      Payback Period                       4 Tahun 8 Bulan


                   Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap penambahan
                   kegiatan usaha Perseroan, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut.


                                             Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000)
                                      2025                2026            2027            2028             2029             2030
         Keterangan
                                      0,50                1,50            2,50            3,50              4,50             5,50
EBITDA                                         -         1.377.773       4.227.032       5.322.792        5.356.726         5.337.864


CASH OUT FLOW
- Tax                                          -                    -    (463.869)       (724.682)         (751.894)        (767.490)
- Interest ( i x T )                  (24.820)           (170.255)       (144.307)       (108.991)          (73.674)         (38.358)
- Investment Outlays              (6.545.800)         (7.977.400)                 -               -                -                -
- Investment Outlays
  (Eksisting)                                  -                    -             -               -                -                -
- Capital Expenditure,
  CAPEX                                        -                    -    (756.285)       (756.285)         (756.285)        (756.285)
+/- Working Capital                            -         (606.234)       (569.862)       (209.538)          (53.591)         (34.022)
TOTAL                             (6.570.620)         (8.753.889)       (1.934.323)   (1.799.495)        (1.635.443)    (1.596.155)


NET CASH FLOW                     (6.570.620)         (7.376.115)        2.292.709       3.523.296        3.721.283         3.741.709




                                                                                                                       74
Page 90
 Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
 PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                  2025           2026           2027          2028          2029             2030
         Keterangan
                                  0,50           1,50           2,50          3,50          4,50              5,50
Discount factor
(10,38%)                           0,95184        0,86236        0,78129       0,70784       0,64130          0,58102
DISCOUNTED CASH FLOW            (6.254.159)    (6.360.855)     1.791.273     2.493.947     2.386.470         2.173.994


PROCEED                         (6.570.620)   (13.946.735)   (11.654.026)   (8.130.730)   (4.409.447)        (667.739)


PRESENT VALUE KAS
MASUK                                    -      1.188.134      3.302.543     3.767.711     3.435.285         3.101.387
PRESENT VALUE KAS
KELUAR                          (6.254.159)    (7.548.989)    (1.511.270)   (1.273.763)   (1.048.815)        (927.392)


                                  2031           2032           2033          2034          2035
         Keterangan
                                  6,50           7,50           8,50          9,50          10,50
EBITDA                           5.307.842      5.277.015      5.245.033     5.200.851    11.148.230


CASH OUT FLOW
- Tax                            (802.855)      (818.520)      (795.913)     (770.623)     (743.740)
- Interest ( i x T )                (9.418)             -              -             -              -
- Investment Outlays                     -              -              -             -              -
- Investment Outlays
 (Eksisting)                             -              -              -             -              -
- Capital Expenditure,
 CAPEX                           (756.285)      (756.285)      (756.285)     (756.285)     (756.285)
+/- Working Capital                (29.345)       (30.023)       (36.056)      (36.760)      (37.477)
TOTAL                           (1.597.902)    (1.604.828)    (1.588.255)   (1.563.668)   (1.537.502)


NET CASH FLOW                    3.709.940      3.672.187      3.656.779     3.637.183     9.610.728


Discount factor
(10,38%)                           0,52640        0,47691        0,43208       0,39146       0,35466
DISCOUNTED CASH FLOW             1.952.902      1.751.312      1.580.020     1.423.817     3.408.557


PROCEED                          3.042.201      6.714.388     10.371.167    14.008.350    23.619.078


PRESENT VALUE KAS
MASUK                            2.794.034      2.516.675      2.266.273     2.035.933     3.953.850
PRESENT VALUE KAS
KELUAR                           (841.131)      (765.363)      (686.253)     (612.116)     (545.293)


                   • Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
                       NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp6.347.281.000,-. Dengan demikian, hasil
                       NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
                       karena memberikan keuntungan.




                                                                                                        75
Page 91
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             • Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
                  IRR yang dihasilkan adalah sebesar 19,21%. Hasil IRR berada di atas tingkat
                  discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
                  bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
                  (cost of capital) yang diasumsikan.
             • Profitability Index (PI) > 1 → Layak
                  PI yang diperoleh adalah sebesar 1,28832. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
                  dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
                  keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
             • Payback Period (PP)
                  PP yang diperoleh adalah 4 tahun 8 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
                  mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 8
                  bulan.


      7.15   Analisis Sensitivitas


              Untuk menguji kepekaan usaha terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
              maka berikut ini disajikan analisis sensitivitas terhadap kelayakan usaha, yaitu:
              −   Jumlah produksi turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%,
                  10,00%, 15,00%, dan 20,00%.
              −   Struktur biaya naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.
              −   Harga jual turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.
              −   Discount rate naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.


                                             Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas
                                                        KONDISI                      PERUBAHAN KONDISI
                        Keterangan
                                                        NORMAL         5,00%       10,00%       15,00%      20,00%
                  1.   PRODUKSI TURUN
                       Net Present Value (NPV) -
                       Dalam Rp.000,-                    6.347.281    4.173.166    1.999.052    -175.063    -2.349.177

                       Internal Rate of Return (IRR)       19,21%       16,28%       13,26%       10,12%        6,85%
                       Return On Investment (ROI)          14,30%       14,38%       14,50%       14,70%       15,09%
                       Profitability Index (PI)           1,28832      1,19523      1,09640      0,99129      0,87928
                       BEP
                       a. Rp.000                        12.628.292   12.805.514   13.008.376   13.242.875   13.517.043
                       b. % terhadap pendapatan            66,11%       70,58%       75,69%       81,61%       88,53%
                  2.   STRUKTUR BIAYA NAIK
                       Net Present Value (NPV) -
                       Dalam Rp.000,-                    6.347.281    4.288.829    2.230.377     171.925    -1.886.527
                       Internal Rate of Return (IRR)       19,21%       16,45%       13,60%       10,63%        7,52%
                       Return On Investment (ROI)          14,30%       14,08%       13,76%       13,29%       12,51%
                       Profitability Index (PI)           1,28832      1,19998      1,10683      1,00846      0,90444
                       BEP
                       a. Rp.000                        12.628.292   13.429.938   14.340.736   15.384.732   16.593.636
                       b. % terhadap pendapatan            66,11%       70,26%       74,97%       80,35%       86,58%




                                                                                                                  76
Page 92
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                                    KONDISI                         PERUBAHAN KONDISI
                                  Keterangan
                                                                    NORMAL           5,00%        10,00%        15,00%          20,00%
                         3       HARGA JUAL TURUN
                                 Net Present Value (NPV) -
                                 Dalam Rp.000,-                      6.347.281      2.114.714    -2.117.852    -6.454.693     -11.580.199
                                 Internal Rate of Return (IRR)         19,21%         13,43%         7,18%         0,11%             -9,91%
                                 Return On Investment (ROI)            14,30%         14,12%        13,66%        10,50%             16,37%
                                 Profitability Index (PI)             1,28832        1,10163       0,89195       0,65108         0,36321
                                 BEP
                                 a. Rp.000                         12.628.292    13.676.997      15.068.213    17.003.018      19.878.984
                                 b. % terhadap pendapatan              66,11%         75,33%        87,54%       104,48%         129,58%
                          4.     INTEREST RATE
                                 Net Present Value (NPV) -
                                 Dalam Rp.000,-                      6.347.281      5.824.694     5.324.319     4.845.089       4.385.996
                                 Internal Rate of Return (IRR)         19,21%         19,20%        19,18%        19,16%             19,15%
                                 Return On Investment (ROI)            14,30%         14,38%        14,46%        14,54%             14,63%
                                 Profitability Index (PI)             1,28832        1,26792       1,24794       1,22837         1,20920
                                 BEP
                                 a Rp.000                          12.628.292    12.657.858      12.687.423    12.716.988      12.746.554
                                 b. % terhadap pendapatan              66,11%         66,35%        66,59%        66,83%             67,07%



              Berdasarkan uji sensitivitas tersebut, kondisi parameter kelayakan usaha akan
              terlihat seperti pada grafik di bawah ini.


                                                             Gambar 13 Analisis Sensitivitas
                                8.000.000
                                6.000.000
                                4.000.000
                                2.000.000
                                             0
               NPV (Rp000,-)




                                (2.000.000)           NORMAL          5,00%             10,00%          15,00%              20,00%

                                (4.000.000)
                                (6.000.000)
                                (8.000.000)
                               (10.000.000)
                               (12.000.000)
                               (14.000.000)
                                                             Total Produksi Turun        Struktur Biaya Naik

                                                             Harga Jual Turun            Tingkat Bunga Naik

             Sumber: Proyeksi Keuangan


             Berdasarkan analisis sensitivitas, pada kondisi normal NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar Rp6,35 miliar, jika terjadi perubahan terhadap pendapatan, dimana
             pendapatan turun sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
             negatif Rp2,34 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap struktur biaya, dimana
             struktur biaya naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar negatif Rp1,88 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap harga jual turun,




                                                                                                                                       77
Page 93
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             dimana harga jual turun sampai dengan 10,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar negatif Rp11,58 miliar. Sedangkan apabila terjadi perubahan terhadap
             interest rate, dimana interest rate naik sampai dengan 10,00% maka NPV yang
             dihasilkan adalah sebesar Rp4,39 miliar.


             Dari analisis sensitivitas di atas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
             sensitif terhadap kelayakan usaha.




                                                                                           78
Page 94
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8       KESIMPULAN

      8.1    Kajian Kelayakan Pasar


             Dari Kajian Kelayakan Pasar, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi
             Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami
             perlambatan meskipun pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun
             2023 sebesar 15,82%. Sedangkan pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
             konstruksi mencapai Rp25.856,69 miliar atau meningkat sebesar 1,83% dari triwulan
             II 2024 yang sebesar Rp25.392,26 miliar.


             Untuk laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi Kalimantan Timur
             tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan dibandingkan
             tahun 2023 sebesar 4,39%. Sedangkan pada triwulan II 2025, PDRB lapangan usaha
             real estate mencapai Rp2.571,48 miliar atau meningkat sebesar 8,07% dari triwulan
             II 2024 yang sebesar Rp2.379,48 miliar.


             Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
             Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
             Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
             setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
             tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
             dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
             termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
             penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di 2025.


             Pertumbuhan     kebutuhan      rumah   sangat   dipengaruhi   oleh   laju   urbanisasi,
             pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
             oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
             yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
             Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kavling rumah di Provinsi Kalimantan Timur
             sebanyak 217 rumah komersil dan 1.698 rumah subsidi.


             Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
             penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
             dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.


             Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
             dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
             apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
             kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
             orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
             mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.



                                                                                                79
Page 95
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian Rencana
             Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Nusantara
             memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan, dan terbagi
             atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.


             Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
             Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
             1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.


             Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
             Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
             Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
             keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
             Kalimantan Timur.


             Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin menjanjikan yang
             didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur Eksekutif Pusat
             Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan properti hunian di
             wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan diyakini akan terus
             meningkat.


             Bisnis properti di kawasan ini akan semakin menjanjikan dan itu salah satunya
             didorong oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini
             juga menjadi momentum yang baik untuk terus memperbesar potensi bisnis properti
             di kawasan ini.


             Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
             fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
             juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
             sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
             memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
             maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
             bisnis properti.


             Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring peningkatan
             populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial, pendidikan,
             rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah
             perkembangan properti-properti residensial (perumahan) oleh developer di sekitar
             Penajam Paser Utara yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih lanjut
             sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah penduduk Kalimantan
             Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah yaitu: Kota Samarinda, Kabupaten Kutai



                                                                                              80
Page 96
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Balikpapan. Sasaran selanjutnya
             adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti
             Pusat   Pemerintahan    atau   KIPP   IKN.   Proyek-proyek   ini   diharapkan   dapat
             meningkatkan permintaan akan material bangunan, termasuk batako dan paving
             block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti yang sedang berkembang pesat
             di Indonesia. Perusahaan juga akan memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif
             untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan
             pedesaan.


             Dengan analisis pasar tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
             Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.


      8.2    Kajian Kelayakan Teknis


              Dari Kajian Kelayakan Teknis, dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
              Perseroan akan mengimpor Mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara
              Tiongkok. Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving
              block otomatis, yang dirancang di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas
              terpasang mesin adalah sebesar 24.000 unit/hari.


              Alur operasional kegiatan Perseroan terdiri dari mencampurkan semen, pasir, batu
              pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan adukan tersebut
              kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan dan kemudian baru dapat di
              masukkan kedalam cetakan batako dan paving block. Proses pelepasan dari cetakan
              dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk diuji.


             Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
             pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
             Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
             kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
             1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
             batako dan paving block.


             Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
             kerja sebanyak 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan
             berencana melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang. Dalam rencana
             penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun membutuhkan
             tenaga ahli khusus.


             Dengan analisis teknis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
             Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.




                                                                                               81
Page 97
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8.3    Kajian Kelayakan Pola Bisnis


             Dari Kajian Kelayakan Pola Bisnis, Perseroan telah berdiri sejak lama sehingga
             memiliki keunggulan kompetitif di antaranya adalah 1) Perseroan telah memiliki
             lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan usaha. Sehingga tidak memerlukan
             biaya tambahan untuk pembelian atau penyewaan gudang/pabrik; 2) Perseroan
             memiliki jangkauan penjualan yang luas; 3) Berdasarkan kinerja keuangan,
             Perseroan memiliki kondisi keuangan yang cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas
             yang kecil, dan konsisten mencatatkan laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat
             memungkinkan untuk membiayai penambahan kegiatan usaha; 4) Perseroan telah
             memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil dari produk gas
             acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan. Dengan keunggulan
             kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan nilai yaitu 1) Citra
             Bisnis Ramah Lingkungan; 2) Menambah sumber pendapatan baru; 3) Meningkatkan
             kinerja keuangan Perseroan; dan 4) Efisiensi operasional.


              Kemampuan pesaing untuk meniru produk memang tidak dapat dihindari, sehingga
              membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi sangat kompetitif. Upaya
              mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya adalah 1) Meningkatkan
              kualitas produk dan layanan; 2) Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan
              intelektual; 3) Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; 4) Melakukan inovasi
              produk secara berkelanjutan; dan 5) Memperkuat loyalitas konsumen terhadap
              produk Perseroan.


             Dengan analisis pola bisnis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
             Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.


      8.4    Kajian Kelayakan Model Manajemen


             Perseroan memiliki 277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan
             usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan
             penambahan tenaga kerja. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
             Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan penambahan
             tenaga kerja sebanyak 12 orang antara lain Superintendent Batako, Supervisor
             Produksi, Supervisor Sales & Distribution, Quality Control Batako, Operator,
             Operator Control Panel, Operator Block Curing, Operator Block Cubing, Sales,
             Distribution, Packing dan Driver. Dengan komposisi tersebut perusahaan menilai
             kebutuhan tenaga ahli tambahan tidak signifikan karena teknologi produksinya user
             friendly yang dapat dioperasikan oleh tenaga kerja internal yang telah terlatih.

              Manajemen Kekayaan Intelektual
              Pada penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan belum memiliki HAKI.




                                                                                              82
Page 98
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Manajemen Risiko
              Terkait Manajemen Risiko terdapat beberapa risiko utama yang dihadapi Perseroan
              yaitu:
             ➢ Risiko Prakonstruksi
                 Risiko Kondisi Ekonomi, Risiko Perkembangan Pemukiman, Risiko Stagnasi
                 Perkembangan Proyek IKN, Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh
                 Kontraktor IKN, Risiko Penawaran dan Permintaan, Risiko Ketidakpatuhan
                 terhadap   Regulasi   Limbah   B3,   Risiko   Penolakan   Izin   atau   Persetujuan
                 Lingkungan, Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3, Risiko
                 Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama, Risiko Tuntutan Hukum
                 dari Masyarakat atau LSM Lingkungan, Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan
                 Limbah B3, Risiko Perubahan Regulasi, dan Risiko Terpenuhinya Dana Proyek
                 yang Diperlukan.
             ➢ Risiko Konstruksi
                 Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat, Risiko Kondisi
                 Lingkungan (Suara, Udara, dan Air), Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan
                 Proyek, Risiko Kegagalan Konstruksi, Risiko Cost Over Run; dan Risiko
                 Pengendalian SDM Proyek.
             ➢ Risiko Operasional
                 Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai, Risiko Tidak Tercapainya
                 Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan, Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten,
                 Risiko SDM, Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran, Risiko Mesin; dan Risiko
                 Bahan Baku.


              Kapasitas dan kemampuan manajemen
              Perseroan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengelolaan kegiatan usaha yang
              telah berjalan. Untuk mendukung rencana penambahan kegiatan usaha baru,
              Perseroan sedang mempersiapkan langkah-langkah peningkatan kapasitas dan
              kompetensi agar mampu mengelola portofolio produk yang lebih beragam secara
              optimal di masa mendatang. Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM)
              merupakan elemen krusial dalam keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap
              pencapaian dan pertumbuhan kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta
              kontribusi individu di dalamnya. Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk
              mengelola SDM secara terstruktur dan efektif, guna memastikan bahwa setiap
              karyawan dapat berkontribusi secara optimal sesuai dengan kompetensi yang
              dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat, Perseroan dapat terus meningkatkan
              produktivitas dan daya saing di industri.


              Kesesuaian struktur organisasi dan manajemen
              Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
              yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
              operator produksi, quality control, sales dan driver. Dengan adanya penambahan




                                                                                                 83
Page 99
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              kegiatan usaha baru ini, maka Perseroan telah membuat struktur organisasi atas
              unit bisnis yang akan tergabung dalam satu struktur organisasi eksisting.


              Dengan analisis model manajemen tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
              Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.


      8.5    Kajian Kelayakan Keuangan


              Dari Kajian Kelayakan Keuangan, analisis kelayakan proyek menunjukkan bahwa
              Penambahan Kegiatan Usaha ini memenuhi kriteria kelayakan dengan variabel-
              variabel sebagai berikut:


             • Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
                NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp6.347.281.000,-. Dengan demikian, hasil
                NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
                karena memberikan keuntungan.
             • Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
                IRR yang dihasilkan adalah sebesar 19,21%. Hasil IRR berada di atas tingkat
                discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
                bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
                (cost of capital) yang diasumsikan.
             • Profitability Index (PI) > 1 → Layak
                PI yang diperoleh adalah sebesar 1,28832. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
                dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
                keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
             • Payback Period (PP)
                PP yang diperoleh adalah 4 tahun 8 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
                mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 8
                bulan.


             Kemudian, dari analisis sensitivitas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
             sensitif terhadap kelayakan usaha.


             Dengan      analisis    keuangan    tersebut,   maka   dapat   kami   simpulkan   bahwa
             Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.


      8.6    Kesimpulan Studi Kelayakan


             Dengan demikian, berdasarkan kajian, evaluasi, analisis kelayakan pasar, analisis
             kelayakan     teknis,    analisis   kelayakan    pola bisnis, analisis kelayakan model
             manajemen, dan analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya
             dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
             disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha sesuai dengan KBLI 23953



                                                                                                  84
Page 100
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
             Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
             Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
             (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
             KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49432
             (Kegiatan   Angkutan    Bermotor   untuk   Barang   Khusus),   serta   KBLI   46100
             (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) yang akan dilakukan
             oleh Perseroan adalah layak.


      8.7    Saran


             Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
             Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat kami sampaikan
             bahwa kami menyarankan agar manajemen Perseroan dapat menggunakan mesin
             produksi yang lebih kompetitif, memperhatikan variable-variabel yang sensitif
             terhadap kelayakan usaha yaitu harga jual dan volume produksi. Selanjutnya untuk
             mengantisipasi risiko tidak tercapainya demand yang berasal dari proyek IKN, maka
             Perseroan perlu menjajaki potensi-potensi lain untuk menjaga keberlangsungan
             usaha.




                                                                                              85
Page 101
     LAMPIRAN
STRUKTUR ORGANISASI
Page 102
                                                                                                                                                                                   PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK

                         CODE JOB LEVEL

                                                                                                                                                                                                                               GENERAL MEETING OF
                                                                                                                                                                                                                                 SHAREHOLDERS
                 LEVEL 1 : GENERAL MANAGER / MANAGER
                                                                                                                                                                                                                                                                NOMINEE & RENUMERATION
                 LEVEL 2 : SUPERINTENDENT                                                                                                                                                    AUDIT COMMITTEE                     BOARD OF COMMISIONER
                                                                                                                                                                                                                                                                      COMMITTEE


                 LEVEL 3 : SUPERVISOR/MANAGEMENT TRAINEE                                                                                                                                                                        PRESIDENT DIRECTOR

                 LEVEL 4 : STAFF

                 LEVEL 5 : OPERATOR/ADMIN/ CREW                                                                                                                                           INTERNAL AUDIT & RISK
                                                                                                                                                                                              MANAGEMENT

                                                                                                                                                                                                                                                          VICE PRESIDENT DIRECTOR



                                                                                                                                                                                                                                                          Board Of Directors
                                                                                                                                                                                                                                                              Secretary



                                                                                                                                                                                                                                                          ISO SECRETARIAT




                                                                                                                                          DIRECTOR OF OPERATIONAL
                                                                                                                                                & MARKETING                                                                                                                                                                                                                                           CORPORATE SECRETARY
                                                                                                                                                                                                                           .




                                                                                                            MANAGER PRODUCTION &                                    MANAGER BUSINESS
                                                                                                                                                                                                                                 MANAGER SALES &                                                                                                               MANAGER FINANCE &
MANAGER HSE                                                                                                     OPERATIONAL                                           DEVELOPMENT                                                                                                                     MANAGER GHRL & ICT
                                                                                                                                                                                                                                   DISTRIBUTION                                                                                                                 ADMINISTRATION




                                                                                                                                                                                                         SUPERINTENDENT                                                                         SUPERINTENDENT                    SUPERINTENDENT
SUPERINTENDENT
     HSE
                                                   SUPERTENDENT                     SUPERINTENDENT     SUPERINTENDENT   SUPERINTENDENT   SUPERINTENDENT
                                                                                                                                            CYLINDER
                                                                                                                                                           SUPERINTENDENT       SUPERINTENDENT
                                                                                                                                                                                                             SALES &
                                                                                                                                                                                                                                  SUPERINTENDENT         HUB                   SUPERINTENDENT
                                                                                                                                                                                                                                                                                                    HUMAN
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 SUPERINTENDENT
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 GENERAL AFFAIR
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      LEGAL          SUPERINTENDENT        SUPERINTENDENT
                                                      BATAKO                        QUALITY CONTROL      ACETYLENE        PRODUCTION                        PROCUREMENT     BUSINESS & DEVELOPMENT                                  TRANSPORT                                        ICT                                            COMPLIANCE         ACCOUNTING           FINANCE & TAX
                                                                                                                                          MANAGEMENT                                                      DISTRIBUTION                                                                            RESOURCE
                                                                                                                                                                                     STAFF

                                                                                                                                                                                                                                                        SAMARINDA
                                                                                                                        ENGINEERING &       SPV. CYL.       PROCUREMENT                                         SALES /
                                                                                                       SPV. ACETYLENE                                                            SPV. BUSINESS &                                  SPV. TRANSPORT                                                  SPV. HUMAN      SPV. GENERAL    LEGAL COMPLIANCE                                                          STAFF CORPORATE
                                                                SPV SALES &                                             ADMINISTRATION    MAINTENANCE          STAFF                                           MARKETING                                                           SPV. ICT                                           OFFICER        SPV. ACCOUNTING          CASHIER
 HSE OFFICER               SPV. PROD        QC BATAKO                                    SPV. QC GAS        PLANT                                                                 DEVELOPMENT                                                           BONTANG                                   RESOURCE           AFFAIR                                                                                    SECRETARY
                                                                DISTRIBUTION

                                                                                                                                                                                                                                                        TANJUNG
                                                                                                                                             OP. CYL.      SPV. WAREHOUSE
                                                                                                         OPERATOR                                                                                              SPV.                 TRANSPORT                                                                                                                               FINANCE STAFF
                                                                                                                            SPV. ASP      MAINTENANCE                                                                                                                             ICT STAFF         HUMAN           GENERAL                            ACCOUNTING
                                                                                                         ACETYLENE                                                                                         DISTRIBUTION               STAFF              BERAU                                    RESOURCE           AFFAIR                              STAFF
                                                                                                                                                                                   BUSINESS &
                                                                                                                                                             WAREHOUSE           DEVELOPEMENT
  SAFETYMAN                OPERATOR                     SALES                                                                                SPV. CYL.         STAFF                 STAFF                 DISTRIBUTION                                 TARAKAN                                                                                                               TAX STAFF
                                                                           DISTRIBUTION                                     OP. ASP                                                                                                OP. TRANSPORT                                                                    SECURITY
                                                                                                                                          ADMINISTRATION                                                      STAFF
                                                                                                                                                                                                                                                        NUNUKAN                                                     CLEANING
                                                                                                                                                                                                                                     MECHANIC                                                                        SERVICE
                         CONTROL PANEL                                                                                                        CYL.                                                                                                                                                                                                                          ADMINISTRATION
                                                                               PACKING                                    SPV. FILLING
                                                                                                                                         ADMINISTRATION                                                                              DRIVER &
                                                                                                                            STATION
                                                                                                                                                                                                                                     HELPER

                         BLOCK CURING
                                                                                                                                            SPV. CYL.
                                                                                                                          OP. FILLING      COLLECTION
                                                                               DRIVER

                         BLOCK CUBING                                                                                                        OP. CYL.
                                                                                                                                           COLLECTION
                                                                                                                             SPV .
                                                                                                                         MAINTENANCE
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   DATE OF APPROVAL :    22 AGUSTUS 2025
                                                                                                                                               SPV.
                                                                                                                                         STOCK/PANGGUNG                                                                                                                                                                                                                                            DOCUMENT NO       :   082/DIR-SBMA/SK/VIII/2025
                                                                                                                         OP. ELECTRIC
                                                                                                                         MAINTENANCE
                                                                                                                                               OP.
                                                                                                                                         STOCK/PANGGUNG




                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Rini Dwiyanti                              Effendi
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             President Director                  President Commissioner
Page 103

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.46 MB
Published6 Nov 2025
Pages103
Characters333,552
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 60 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK · Nama Perusahaan p.1 ×312
linked org Bank CIMB Niaga Tbk p.6 ×11
linked org Bank Mandiri (Persero) Tbk p.7 ×5
linked org Negara Maju p.15 ×3
linked person Maurice Ganda Nainggolan p.18 ×4
linked org PT Surya Biru Titilea p.24 ×2
linked — Tiffany Wei p.24 ×2
linked person Effendi Komisaris p.24
linked person M. Slamet Brotosiswoyo p.24
linked person Julianto Setyoadji p.24
linked org Sarana Multigriya Finansial p.52
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.5 ×6
possible person Effendi p.6 ×2
possible person Rini Dwiyanti · Direktur Utama p.6 ×6
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.17 ×2
possible person Sri | Mulyani p.52
unresolved org KJPP Syarif p.3 ×2
unresolved org Rekan · Penilai p.3
unresolved org | SBMA · Nama Perusahaan p.4
unresolved org ENDANG & REKAN p.8 ×2
unresolved org REKAN Endang Sunardi p.8
unresolved org KJPP Syarif Rekan p.8
unresolved org Endang dan Rekan p.8 ×2
unresolved person Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) p.10 ×3
unresolved person Meilindra Indriani p.10
unresolved person Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev. p.10 ×2
unresolved org Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt. p.10
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Syarif p.16 ×2
unresolved person Mohamad Rasjid Umar · Notaris p.16 ×5
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.16 ×3
unresolved person Rosida Rajaguguk-Siregar p.16 ×3
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.17 ×4
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.18
unresolved org Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan p.18 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan p.18 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan p.19 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Anwar p.19 ×3
unresolved person Rahadian p.19
unresolved org KJPP p.21
unresolved person Abdul Latief p.25
unresolved org PT Surya Biru Titilea Investama p.27
unresolved org Kota Nusantara p.36 ×7
unresolved org PT Varia Usaha Beton p.36 ×2
unresolved org PT Kutai Inti Beton p.36 ×2
unresolved org Bank Indonesia p.43 ×16
unresolved org Bank Indonesia Gambar p.43
unresolved org Bank Indonesia Kondisi Ekonomi Indonesia Di p.44
unresolved org Bank Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia Neraca p.45
unresolved org Bank Indonesia Inflasi Gambar p.47
unresolved org Bank Indonesia Inflasi IHK p.47
unresolved org Pusat Statistik p.50
unresolved person Deputi · Direktur p.51
unresolved org Kementerian Keuangan p.52
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat p.53 ×2
unresolved org Kota Negara Nusantara. Upaya p.53
unresolved org Kementerian PUPR p.53
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum p.64
unresolved org Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko p.86
unresolved org Kementerian Keuangan RI p.86
unresolved org Kota Negara Nusantara. Prinsip p.94

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 7519 ms 12 Sep 2026 22:34
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL_FACT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result