Back to announcement
20260730_PMUI_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32116148_lamp1.pdf
Other Needs review PMUISource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 12
Page 1
Nomor : 1-060/PMUI-CORP/VII/2026
Cirebon, 30 Juli 2026
Kepada Yth,
Direktur Penilaian Perusahaan
PT BURSA EFEK INDONESIA
Gedung Bursa Efek Indonesia
Jalan Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta Selatan 12190
Up : Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 1
Perihal : Permintaan Penjelasan perihal:
Penyampaian Laporan Keuangan Interim Yang Tidak Diaudit TW1
Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek
Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum per 30 Juni 2026
Dengan hormat,
Merujuk pada Surat Nomor S-09172/BEI.PP1/07-2026 tanggal 27 Juli 2026 tentang
Permintaan Penjelasan atas Laporan Keuangan Interim Yang Tidak Diaudit, Laporan Bulanan
Registrasi Pemegang Efek dan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
per 30 Juni 2026, dengan ini kami sampaikan penjelasan/tanggapan atas surat Bursa.
Demikian hal ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk
Agus Susanto
Direktur Utama
Grha Prima Indonesia Jl Tuparev, 87 A Cirebon – West Java
(0231) 233 500 - www.pmui.co.id
Page 2
Permintaan Penjelasan
PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk
1. Berdasarkan Laporan Realisasi Penggunaan Dana per 30 Juni 2026, dijelaskan bahwa rencana
penggunaan dana IPO untuk pembelian tanah dan bangunan serta pemberian pinjaman ke PT Graha
Prima Mentari Tbk (entitas anak) masih dalam tahap kajian dan baru akan terealisasi tahun 2027.
Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan terkait:
a. Latar belakang belum adanya realisasi atas kedua rencana penggunaan dana tersebut.
Jawaban:
- Penggunaan dana IPO untuk pinjaman ke PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) sampai
saat ini belum direalisasikan dikarenakan sampai saat ini posisi permodalan GRPM masih
cukup kuat. Kebutuhan dana GRPM dapat dipenuhi dari fasilitas tanpa bunga pinjaman
dari principal untuk kebutuhan pembelian PO.
- Penggunaan dana IPO untuk pembelian gedung sampai saat ini belum direalisasikan
dikarenakan Perseroan masih menimbang beberapa hal termasuk kondisi ekonomi yang
ada saat ini. Perseroan masih menimbang apakah sebaiknya dibelikan gedung atau untuk
pengembangan usaha.
b. Perkembangan kajian yang dilakukan Perseroan dan target waktu penyelesaian.
Jawaban:
- Perseroan statusnya masih melakukan evaluasi terhadap kondisi ekonomi makro, prospek
investasi, dan kebutuhan modal kerja sehingga keputusan penggunaan dana IPO
ditargetkan akan ditetapkan paling lambat pada akhir tahun 2026.
c. Merujuk pada keterbukaan informasi PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) tanggal 13
Februari 2026, GRPM telah menandatangani Term Sheet Negosiasi sehubungan dengan
rencana pengambilalihan oleh Rimau Group. Berdasarkan informasi tersebut, apakah akan
ada penyesuaian penggunaan dana IPO untuk pemberian pinjaman ke GRPM? Jelaskan.
Jawaban:
- Dapat disampaikan jika transaksi penjualan GRPM terjadi, maka akan ada penyesuaian
penggunaan dana IPO untuk pemberian pinjaman ke GRPM, apabila transaksi tersebut
efektif dan setelah memperoleh persetujuan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku..
2. Berdasarkan CALK 5 Kas dan Setara Kas, diketahui bahwa saldo kas dan setara kas Perseroan per
31 Maret 2026 sebesar Rp197,29 miliar yang terdiri atas kas di bank sebanyak Rp187,44 miliar
dan saldo di akun Xendit sebanyak Rp6,50 miliar. Selain itu, terdapat perpindahan saldo antar bank
atas dana hasil IPO dengan rincian sebagai berikut:
Page 3
Atas informasi tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai hal-hal sebagai berikut.
a. Latar belakang perpindahan rekening bank atas penempatan dana hasil IPO.
Jawaban:
- Dapat disampaikan pemindahan tersebut dikarenakan Perseroan mencari imbal
hasil yang lebih tinggi pada posisi 31 Maret 2026. Untuk Maret 2026, bunga di
Maybank berkisar di 5.5%, sedangkan bunga di BRI di 6 persen.
b. Latar belakang Perseroan tidak menempatkan dana di deposito berjangka pada 31 Maret 2026.
Jawaban:
- Dana ditempatkan pada rekening dengan fitur yang memberikan Tingkat imbal hasil
kompetitif dengan fleksibilitas penarikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan deposito
berjangka, sehingga tetap aman dan dapat imbal hasil yang baik.
c. Strategi Perseroan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan kas Perusahaan mengingat
saldo pada 31 Maret 2026 sebesar 32,28% dari total aset.
Jawaban:
- Strategi Perseroan adalah menempatkan dana cash tersebut di instrument bank yang
terpecaya (bank besar), dengan likuiditas yang tinggi dan dengan imbal hasil yang
menarik.
3. Berdasarkan CALK 6 Piutang Usaha, terdapat peningkatan sebesar 8,83% dari Rp80,23 miliar
pada 31 Desember 2025 menjadi Rp87,32 miliar pada 31 Maret 2026. Perseroan memiliki saldo
piutang usaha yang telah jatuh tempo sebanyak Rp42,12 miliar atau 48,07% dari total piutang usaha
dengan rincian sebagai berikut:
Page 4
Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan mengenai:
a. Latar belakang belum tertagihnya piutang usaha yang sudah jatuh tempo.
Jawaban:
- Selain kenaikan penjualan pada masa pestive, kenaikan saldo piutang usaha juga
dipengaruhi oleh karakteristik pelanggan Perseroan, dimana sebagian pelanggan
merupakan jaringan supermarket dan modern trade yang memiliki jangka waktu
pembayaran relatif lebih panjang.
b. Kendala yang dihadapi Perseroan atas penagihan piutang usaha tersebut.
Jawaban:
- Sebagian besar piutang yang telah jatuh tempo masih berasal dari pelanggan yang masih
aktif bertransaksi dengan Perseroan. Keterlambatan pembayaran lebih disebabkan oleh
perbedaan siklus arus kas pelanggan dan historisnya tetap dapat tertagih.
c. Pertimbangan Perseroan atas pencadangan piutang usaha sebesar Rp311,25 juta.
Jawaban:
- Perseroan mencadangkan piutang tak tertagih sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian
dan sebagai bentuk kepatuhan akan standard akuntansi yang mengharuskan Perseroan
untuk mencadangkan piutang yang melebih jatuh tempo. Walaupun pada kenyataannya,
kecil kemungkinan piutang usaha itu tidak tertagih
- Perseroan menghitung penyisihan kerugian penurunan nilai piutang usaha sesuai dengan
ketentuan PSAK 71 – Instrumen Keuangan dengan menggunakan pendekatan Expected
Credit Loss (ECL). Dalam melakukan pengukuran ECL, Perseroan tidak hanya
mempertimbangkan umur piutang (aging receivables), tetapi juga mengevaluasi riwayat
pembayaran pelanggan, profil risiko kredit masing-masing pelanggan, pengalaman
kerugian kredit historis, kondisi ekonomi yang relevan, serta informasi prospektif
(forward-looking information).
4. Berdasarkan CALK 7 Piutang Lain-Lain, terdapat peningkatan saldo piutang lain-lain sebesar
86,35% dari Rp11,22 miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp20,92 miliar pada 31 Maret 2026.
Page 5
Keseluruhan saldo piutang lain-lain berasal dari pihak ketiga yang terdiri atas pemasok sebesar
Rp20,58 miliar dan karyawan sebesar Rp336,95 juta.
a. Latar belakang dan nature piutang lain-lain yang diberikan Perseroan kepada pemasok dan
karyawan.
Jawaban:
- Piutang kepada pemasok adalah piutang atas biaya promosi, insentif pemasaran, dan
program kerjasama lainnya yang terlebih dahulu didanai oleh Perseroan sesuai dengan
kesepakatan yang telah disetujui bersama principal/pemasok.
- Piutang karyawan adalah pinjaman karyawan kepada Perusahaan.
b. Rincian pihak penerima piutang lain-lain tersebut.
Jawaban:
c. Pertimbangan Perseroan untuk tidak mencadangkan piutang lain-lain tersebut.
Jawaban:
- Perseroan telah melakukan evaluasi atas kolektibilitas piutang klaim kepada pemasok.
Berdasarkan evaluasi manajemen, klaim tersebut dapat dipulihkan karena merupakan
klaim yang timbul berdasarkan hubungan bisnis dan kesepakatan dengan pemasok terkait
barang yang rusak dan/atau expired dan dana talangan lainnya.
- Biasanya penyelesaian dari Piutang Pemasok melalui credit note dan atau potongan
tagihan.
- Untuk Piutang Karyawan biasanya juga tidak pernah bermasalah, karena dicicil setiap
gajian
5. Berdasarkan CALK 10 Pinjaman Bank Jangka Pendek, terdapat kenaikan pada pinjaman dari
PT Bank Maybank Indonesia Tbk sebesar Rp5,68 miliar menjadi Rp32,58 miliar pada 31 Maret
2026 dari sebelumnya sebesar Rp26,90 miliar pada 31 Desember 2025. Pinjaman tersebut
merupakan fasilitas kredit yang diperoleh PT Tri Usaha Jaya (TUJ) selaku entitas anak Perseroan.
Atas pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan tersebut, Bursa meminta penjelasan terkait:
Page 6
a. Tujuan pengambilan fasilitas kredit atau pembiayaan terkait serta kesesuaiannya dengan
ketentuan penggunaan dana dalam perjanjian kredit.
Jawaban:
- Fasilitas tersebut berupa Bank Garansi yang digunakan untuk mendukung pembelian
barang dagangan dari principal sesuai ketentuan fasilitas kredit dan tidak digunakan untuk
kebutuhan di luar dari kegiatan operasional tersebut.
b. Apakah Perseroan dan/atau entitas anak pernah melakukan restrukturisasi kredit atau
pembiayaan dengan Bank sejak fasilitas ini diperoleh. Jika pernah, mohon dijelaskan tanggal,
jenis restrukturisasi, dan alasannya.
Jawaban:
- Sampai dengan saat ini, Perseroan belum pernah melakukan restrukturisasi.
c. Bagaimana pemenuhan financial covenant oleh TUJ? Mohon dapat mengisi tabel berikut:
Financial Penjelasan jika tidak
31 Maret 2026 31 Desember 2025
Covenant memenuhi
Jawaban:
Pada umumnya jaminan akan mencukupi karena biasanya dilandasi oleh hard collateral atau
berbentuk hard assets.
Tidak ada financial covenantnya tapi ada negative covenantnya.
Adapun dalam perjanjian pinjaman tersebut, TUJ tidak diperkenankan untuk:
- menerima sesuatu pinjaman uang atau fasilitas keuangan leasing berupa apapun juga atau
untuk mengikat diri sebagai penjamin/avalis untuk menjamin hutang orang /pihak lain
(kecuali utang dagang yang dibuat dalam rangka menjalankan usaha sehari-hari) tanpa
surat persetujuan dari PT Bank Maybank Indonesia.
- Tidak diperkenankan untuk memberikan pinjaman ke pemegang saham, pengurus,
Perusahaan afiliasi pemilik tanpa izin dari BMI.
6. Berdasarkan CALK 11 Utang Usaha, terdapat kenaikan sebesar Rp40,31 miliar dari Rp62,46 miliar
pada 31 Desember 2025 menjadi Rp102,78 miliar pada 31 Maret 2026. Transaksi utang usaha
terbesar Perseroan adalah dengan PT Softex Indonesia dan PT Coca Cola Distribution Indonesia
dengan masing-masing senilai Rp40,00 miliar dan Rp43,20 miliar. Atas hal tersebut, Bursa
meminta penjelasan terkait:
a. Rincian umur utang usaha Perseroan.
Jawaban:
- Umur utang usaha Perseroan kepada PT Softex Indonesia dan PT Coca Cola Distribution
Indonesia belum jatuh tempo.
Page 7
b. Penyebab kenaikan signifikan saldo utang usaha kepada PT Coca Cola Distribution Indonesia
yang meningkat lebih dari tiga kali lipat (dari Rp10,73 miliar menjadi Rp43,21 miliar),
termasuk apakah kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan volume
pembelian/persediaan.
Jawaban:
- Periode Q1 2026 adalah periode di mana Indonesia merayakan festive season (musim
raya) yaitu Lebaran atau Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan meningkatnya kebutuhan akan
barang dagangan dan kebutuhan akan stock, yang mana setiap festive season penjualan
akan meningkat beberapa kali lipat dibandingkan hari biasa. Selain itu ad ajuga travel ban
yang membuat Perseroan wajib melakukan stock pile (pemenuhan kebutuhan persediaan).
- Kenaikan utang usaha tersebut sejalan dengan peningkatan volume pembelian dan
persediaan dalam rangka memenuhi kebutuhan penjualan selama periode Hari Raya.
c. Dampak kenaikan konsentrasi utang usaha pada dua pemasok utama yang mewakili 81% dari
total utang usaha terhadap risiko ketergantungan pasokan (supplier concentration risk) dan
langkah mitigasi yang telah atau akan dilakukan Perseroan.
Jawaban:
- Perseroan dapat menginformasikan tidak ada dampak baik operasional maupun finansial
yang dialami oleh Perseroan dan anak usahanya terkait melonjaknya hutang usaha ini,
dikarenakan hutang usaha tersebut tidak dikenakan bunga, dan hanya digunakan untuk
membeli persediaan barang dagangan.
d. Kecukupan arus kas operasi Perseroan untuk memenuhi kewajiban utang usaha tersebut pada
saat jatuh tempo, mengingat kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi pada periode yang sama
relatif tipis dibandingkan skala penerimaan dari pelanggan.
Jawaban:
- Arus kas Perseroan sangat mencukupi, Perseroan memiliki saldo kas 197miliar,
fasilitas perbankan yang masih tersedia, serta siklus penerimaan piutang yang memadai
sehingga manajemen meyakini seluruh kewajiban dapat dipenuhi tepat waktu.
7. Merujuk pada Laporan Laba Rugi, pendapatan neto Perseroan tercatat naik sebesar 23,11% dan
laba tahun berjalan naik sebesar 82,05% pada 31 Maret 2026 dibandingkan 31 Maret 2025. Sejalan
dengan hal tersebut, beban umum dan administrasi turut mengalami kenaikan signifikan sebesar
90,44%, dari Rp10,60 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp20,19 miliar pada 31 Maret 2026.
Namun demikian, Bursa mencermati bahwa nilai pembanding pada CALK 20 Beban Umum dan
Administrasi menggunakan angka 31 Desember 2025 sehingga tidak rekonsiliasi dengan nilai
pembanding pada Laporan Laba Rugi periode 31 Maret 2025. Hal ini terjadi pada seluruh CALK
untuk akun pada Laporan Laba Rugi. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan terkait:
a. Latar belakang ketidaksesuaian informasi pada CALK dan Bursa meminta Perseroan
menyampaikan koreksi dan/atau penyajian kembali rincian CALK dengan pembanding
periode yang tepat, agar konsisten dan dapat direkonsiliasi dengan Laporan Laba Rugi.
Jawaban:
Page 8
Page 9
Page 10
b. Kesesuaian penyajian Laporan Keuangan 31 Maret 2026 Perseroan dengan PSAK 234 dimana
dijelaskan “... laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain komparatif untuk periode
interim yang dapat dibandingkan (periode berjalan dan awal tahun buku sampai tanggal
pelaporan) dari tahun buku terdekat sebelumnya”.
Jawaban:
- Perseroan telah menyusun laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 dengan mengacu
pada ketentuan PSAK 234 tentang Laporan Keuangan Interim.
- Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain telah disajikan untuk periode tiga
bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026 beserta informasi komparatif untuk periode tiga
bulan yang berakhir pada 31 Maret 2025. Dengan demikian, penyajian informasi
komparatif untuk periode interim yang dapat dibandingkan telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan PSAK 234.
- Sehubungan dengan komponen penghasilan komprehensif lain, pada periode yang
berakhir pada 31 Maret 2026 maupun periode komparatif yang berakhir pada 31 Maret
2025 tidak terdapat saldo penghasilan komprehensif lain yang diakui dalam laporan laba
rugi dan penghasilan komprehensif lain. Oleh karena itu, laporan keuangan interim
Perseroan menyajikan saldo penghasilan komprehensif lain sebesar nihil pada kedua
periode tersebut.
- Dengan demikian, Perseroan berpendapat bahwa penyajian laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain beserta informasi komparatif dalam laporan keuangan
interim per 31 Maret 2026 telah memenuhi ketentuan penyajian sebagaimana diatur dalam
PSAK 234.
c. Rincian nilai beban umum dan administrasi periode 31 Maret 2026 dan 31 Maret 2025.
Jawaban:
d. Latar belakang kenaikan beban umum dan administrasi tersebut.
Jawaban:
- Kenaikan pada beban umum dan administrasi terdapat pada akun biaya gaji dan biaya
sewa gedung
Page 11
e. Analisis Perseroan atas pertumbuhan beban yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan
(90,44% berbanding 23,11%).
Jawaban:
- Karena terdapat banyak penambahan area sejak akhir 2025, sehingga dampaknya
dirasakan di Q1 2026. Selain itu adanya masa festive ini membuat lonjakan biaya antara
lain Tunjangan Hari Raya.
8. Berdasarkan Laporan Laba Rugi, terdapat peningkatan signifikan atas penghasilan keuangan
sebesar 88,8x pada periode 31 Maret 2026 dibandingkan periode 31 Maret 2025, yaitu dari
Rp24,26 juta menjadi Rp2,15 miliar. Merujuk pada CALK 5 Kas dan Setara Kas, Bursa
mencermati adanya pencairan/jatuh tempo deposito berjangka pada PT Bank Mayapada
Internasional Tbk sebesar Rp5 miliar serta perpindahan saldo yang cukup signifikan antar rekening
bank pada periode berjalan. Atas hal tersebut, Bursa meminta penjelasan terkait:
a. Rincian sumber penghasilan keuangan Perseroan untuk masing-masing periode.
Jawaban:
Penghasilan keuangan Perseroan sebagai berikut
b. Apakah terdapat skema bunga/bagi hasil khusus pada rekening-rekening yang mengalami
kenaikan saldo signifikan tersebut yang berkontribusi terhadap kenaikan penghasilan
keuangan dimaksud.
Jawaban:
- Kenaikan penghasilan keuangan terutama berasal dari meningkatnya saldo kas hasil IPO
yang ditempatkan pada instrument perbankan dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi
dibanding periode sebelumnya.
Page 12
9. Berdasarkan Laporan Arus Kas, terdapat penurunan signifikan pada arus kas keluar untuk aktivitas
investasi, dari Rp124,97 miliar pada 31 Maret 2025 menjadi Rp472,69 juta pada 31 Maret 2026.
Penurunan tersebut disebabkan oleh tidak berulangnya transaksi penambahan investasi pada entitas
anak sebesar Rp130,16 miliar yang tercatat pada periode 31 Maret 2025. Atas hal tersebut, Bursa
meminta penjelasan terkait:
a. Sifat serta tujuan transaksi penambahan investasi pada entitas anak yang terjadi pada periode
31 Maret 2025.
Jawaban:
- Sifatnya adalah untuk melakukan konsolidasi dan melakukan diversifikasi dan
pengembangan bisnis Perseroan. Investasi pada anak usaha (GRPM) adalah investasi
pada Perusahaan distribusi FMCG yang masih dapat dikembangkan.
b. Apakah Perseroan memiliki rencana investasi/akuisisi entitas anak lanjutan pada periode
mendatang yang berpotensi mempengaruhi arus kas investasi secara material.
Jawaban:
Sampai dengan saat ini Perseroan belum memiliki rencana belanja modal material yang telah
diputuskan.
c. Penjelasan atas rendahnya realisasi belanja modal pada periode 31 Maret 2026 dibandingkan
skala operasional Perseroan, serta apakah terdapat rencana belanja modal signifikan yang
telah dianggarkan namun belum direalisasikan pada periode berjalan.
Jawaban:
- Perseroan sangat berhati-hati dalam melakukan investasi. Investasi yang dilakukan harus
dengan keyakinan investasi tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat
(keuntungan) secara finansial kepada Perseroan. Oleh sebab itu realisasi belanja modal
masih terjaga.
Names mentioned 10 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Tri Usaha Jaya
p.5
unresolved
org
Bank Garansi
p.6
unresolved
org
PT Softex Indonesia
p.6 ×2
unresolved
org
PT Coca Cola Distribution Indonesia
p.6 ×3
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.000
73 ms
12 Sep 2026 19:13
not the LBRE cover form (probably a registrar attachment)