Back to announcement
20251023_SMCB_Pengumuman RUPS_31979191_lamp3.pdf
RUPS notice Text extracted SMCBSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 140
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
Atas Penambahan Kegiatan Usaha PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Untuk PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Talavera Office Park, Talavera Suite Lantai 15
Jl. TB Simatupang 22-26 Jakarta Selatan, 12430
Page 2
No. File : 00075/2.0116-06/BS/04/0511/1/X/2025
Jakarta, 27 Oktober 2025
Yth. Dewan Direksi
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Talavera Office Park, Talavera Suite Lantai 15
Jl. TB Simatupang 22-26 Jakarta Selatan, 12430
Ringkasan Eksekutif Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Solusi Bangun
Indonesia Tbk
Dengan hormat,
Ringkasan Laporan Studi kelayakan ini merupakan bagian dari Laporan Studi Kelayakan secara
keseluruhan yang disajikan sebagai laporan terinci dan tidak dapat dipisahkan. KANTOR JASA
PENILAI PUBLIK GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN (“GEAR”) telah ditunjuk oleh
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA (“SBI”) melalui persetujuan surat penawaran
No. Gear.00190/2.0116-002/BI/4/0511/1/VI/2025 tanggal 02 Juni 2025 dan Perjanjian Ringkas
No. 7210088091/SA/PROC/SBI/IX/2025 tanggal 15 September 2025 dengan Maksud penugasan ini
adalah untuk melakukan Kajian Penambahan Kegiatan Usaha PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (“SBI”)
yaitu KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, yang diperlukan
dalam rangka memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”), mengacu kepada Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No.17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
Usaha (“POJK 17”), Peraturan Otoritas Jasa KeuanganNo. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
No. 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018 dan tidak
digunakan di luar konteks atau tujuan penilaian tersebut
1. Identifikasi Status Penilai
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal 16 April
2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI (Cert) yang
ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi (B)
No. B-01.18.00511 dan terdaftar di OJK untuk Pasar Modal dengan No. STTD.PB-
51/PM.223/2021 dan OJK IKNB dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020 dan juga sebagai anggota
MAPPI dengan No. 14-S-05089 dan Nomor Register RMK-2017.01120.
GEAR adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal
serta memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian ini.
2. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan adalah sebagai berikut:
Nama : PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
: Industri Bahan Bangunan (Industri Pengolahan, Konstruksi, Penunjang
Bidang Usaha
Lainnya)
: Talavera Office Park, Talavera Suite Lantai 15, Jl. TB Simatupang 22-26
Alamat
Jakarta Selatan, 12430
Telepon : (021) 29861000
Fax : (021) 29863333
Email : corp.comm-sbi@sig.id
Page 3
Website : www.solusibangunindonesia.com
3. Maksud dan Tujuan Penilaian
Maksud penugasan ini adalah untuk melakukan Kajian Penambahan Kegiatan Usaha
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk yaitu KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak
Bumi dan Gas Alam, yang diperlukan dalam rangka memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan
(“OJK”).
Penugasan ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha”,
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018.
4. Obyek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) yaitu
KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam.
5. Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan
Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas dasar
pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) masa
berlaku laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date)
dalam laporan penilaian.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi
Kelayakan yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date) dalam
Laporan Studi Kelayakan.
6. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen tanpa
adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SBI ataupun pihak-pihak yang
terafiliasi dengan SBI. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi atau
merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami terima sama
sekali tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.
7. Tanggung Jawab Penilai
Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa
semua perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah dilakukan
dengan benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang diterbitkan.
Page 4
8. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan
Dalam menyusun laporan Studi Kelayakan ini, kami telah melakukan analisis melalui
pendekatan dan prosedur studi kelayakan yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
Pengumpulan Data
• Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana ekspansi atas
penambahan kegiatan usaha yang meliputi data-data identitas Perseroan, perizinan,
spesifikasi proyek, aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang terkait.
• Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
dipertanggungjawabkan,
• Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh
dalam kelayakan dengan pihak Perseroan.
Proses Analisis
• Analisis Pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha, strategi
pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
• Analisis teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari rencana
penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan, ketersediaan dan
kualitas sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
• Analisis pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini, analisis atas
penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai, analisis
keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis industri,
analisis risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
• Aspek model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan karyawan atas
rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur organisasi dan
manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen kekayaan intelektual,
manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi karyawan.
• Analisis keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi, rencana biaya
investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan, analisis rasio
keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah, analisis titik
impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis inkremental,
dan analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
9. Standar Penugasan Studi Kelayakan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah dibuat
dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.
10. Tingkat Kedalaman Investigasi
Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan informasi
dari pihak manajemen SBI, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen kelengkapan analisis
yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi melalui wawancara berupa con call atau virtual
meeting.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada
laporan keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
Page 5
2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
dilakukan;
3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.
Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini SBI masih menjalankan
kegiatan operasinya yaitu sebagai Perusahaan yang bergerak di Bidang Industri bahan
bangunan, perdagangan, pertambangan, transportasi, serta pengelolaan limbah, termasuk
limbah B3 dan kegiatan daur ulang.
Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik SBI dan melakukan
wawancara dengan manajemen SBI ataupun pihak yang mewakilinya dan pihak-pihak lain
yang relevan.
Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:
Figur 1. Pihak yang Diwawancara & PIC SBI
Pihak Yang Diwawancarai Jabatan Perusahaan
Indriarto Soeroyo Permitting & Compliance Manager SBI
Adhi Priyo Dwiarso CIP Business Partner SBI
Merdiano Buyung Maulana Key Account Executive SBI
I Gede Kresna Mustaqim Exernal Compliance Officer SBI
Herru Hermawan Susanto Operational & Field Services Engineer SBI
Yanyan Fauzi Nurdiansyah External Compliance Superintendent SBI
11. Data dan Informasi Rencana Penambahan Usaha
Beberapa sumber informasi relevan yang handal tanpa perlu melakukan verifikasi, antara lain:
• Data-data laporan keuangan historis;
• Data investasi dan dokumen pendukung lainnya yang disediakan manajemen SBI;
• Data-data ekonomi yang diperoleh dari Penelitian Damodaran dan sumber-sumber lainnya
yang relevan;
• Data-data ekonomi baik yang bersifat makro ataupun mikro yang diperoleh dari instansi
terkait, seperti Bank Indonesia dan lainnya.
12. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam melaksanakan pembuatan Laporan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.
13. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi
Beberapa asumsi yang digunakan dalam penyusunan Studi Kelayakan ini adalah:
• Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
• Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
Page 6
• Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan informasi
yang disediakan oleh SBI dan atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk
publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
• Pemberi tugas menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut penugasan
studi kelayakan telah diungkapkan seluruhnya kepada GEAR dan tidak ada pengurangan atas
fakta-fakta yang penting.
• GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh SBI dan telah disesuaikan
sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty).
• Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi
yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional SBI.
• GEAR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang dihasilkan.
• GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari pemberi
tugas.
• Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan Pasar Modal dan
pemenuhan peraturan OJK dan tidak untuk kepentingan perpajakan.
• Laporan Studi Kelayakan ini disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi
umum bisnis dan keuangan, serta peraturan-peraturan pemerintah terkait dengan Rencana
Transaksi yang akan dilakukan pada tanggal studi kelayakan ini diterbitkan.
• Dalam penyusunan Laporan Studi Kelayakan ini, kami menggunakan beberapa asumsi,
seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban SBI dan semua pihak yang terlibat dalam
Penambahan Kegiatan Usaha serta keakuratan informasi mengenai Penambahan Kegiatan
Usaha yang diungkapkan oleh manajemen SBI.
• Studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan sebagian dari
analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis lainnya secara utuh
sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan kesimpulan yang menyesatkan
atas proses yang mendasari studi kelayakan. Penyusunan Laporan Studi Kelayakan ini
merupakan suatu proses yang rumit dan mungkin tidak dapat dilakukan melalui analisis yang
tidak lengkap.
• Kami juga mengasumsikan bahwa dari tanggal penerbitan Laporan Studi Kelayakan ini
sampai dengan tanggal terjadinya Penambahan Kegiatan Usaha tidak terjadi perubahan
apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam
penyusunan Laporan Studi Kelayakan ini. Kami tidak bertanggungjawab untuk menegaskan
kembali atau melengkapi, memutakhirkan (update) opini kami karena adanya perubahan
asumsi dan kondisi serta peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal laporan ini.
Kondisi Pembatas
• Kami tidak melakukan proses due diligence terhadap entitas atau pihak-pihak yang
melakukan transaksi.
• Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan,
kehandalan dan kelengkapan dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi lain
yang diberikan kepada kami oleh SBI atau yang tersedia secara umum yang pada
hakekatnya adalah benar, lengkap dan tidak menyesatkan, dan kami tidak bertanggung
jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap informasi-informasi tersebut.
Kami juga bergantung kepada jaminan dari manajemen SBI, bahwa mereka tidak
mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan informasi-informasi yang diberikan kepada
kami menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
• Analisis studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha ini dipersiapkan menggunakan
data dan informasi sebagaimana diungkapkan diatas. Segala perubahan atas data dan
informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir opini kami secara material. Oleh
karenanya, kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas studi kelayakan
kami dikarenakan adanya perubahan data dan informasi tersebut
Page 7
• Kami tidak memberikan opini atas dampak perpajakan dari Penambahan Kegiatan Usaha
ini. Jasa-jasa yang kami berikan kepada SBI dalam kaitan dengan Penambahan Kegiatan
Usaha ini hanya merupakan pemberian studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
yang akan dilakukan dan bukan jasa-jasa akuntansi, audit, atau perpajakan. Kami tidak
melakukan penelitian atas keabsahan Penambahan Kegiatan Usaha dari aspek hukum dan
implikasi aspek perpajakan.
• Pekerjaan kami berkaitan dengan studi kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ini tidak
merupakan dan tidak dapat ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit
atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut
juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian
internal, kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran hukum.
Selain itu, kami tidak mempunyai kewenangan dan tidak berada dalam posisi untuk
mendapatkan dan menganalisa suatu bentuk transaksi-transaksi lainnya diluar Penambahan
Kegiatan Usaha yang ada dan mungkin tersedia untuk SBI serta pengaruh dari transaksi-
transaksi tersebut terhadap Penambahan Kegiatan Usaha ini.
14. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.
15. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) dan Tanggal
Laporan
Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian penting
setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan. Penilai tidak
berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi Kelayakan yang
dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan dan disampaikan
kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam hal yang substansi,
maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.
16. Konfirmasi bahwa Laporan Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, dan SEOJK 17.
17. Konfirmasi Laporan Studi Kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI
Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi kelayakan telah
dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
Penilaian Indonesia Edisi VII tahun 2018 (“SPI”) yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi
Penilai Indonesia (“MAPPI”).
Page 8
18. Analisis Kelayakan
18.1 Aspek Pasar
Industri aktivitas penunjang pertambangan minyak bumi dan gas alam (KBLI 09100),
termasuk industri pengelolaan limbah B3 dan non-B3, merupakan sektor strategis yang
memiliki prospek pertumbuhan tinggi dalam mendukung keberlanjutan industri energi
nasional. Kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Indonesia secara konsisten menghasilkan
berbagai jenis limbah, seperti drilling waste, sludge oil, dan produced water, yang
membutuhkan pengelolaan profesional dan terintegrasi agar tidak menimbulkan pencemaran
lingkungan. Peningkatan aktivitas eksplorasi di wilayah kerja baru serta upaya pemerintah
dalam memperkuat produksi minyak dan gas domestik turut memperbesar kebutuhan terhadap
penyedia jasa pengelolaan limbah industri yang kompeten, berizin lengkap, dan ramah
lingkungan.
Kondisi pasar juga didorong oleh semakin ketatnya regulasi pengelolaan limbah industri, baik
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun non-B3. Pemerintah melalui Kementerian
Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) serta Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memperkuat ketentuan pelaporan,
pemantauan, dan pengelolaan limbah operasional migas untuk memastikan kegiatan produksi
berlangsung secara berkelanjutan. Hal ini membuka peluang besar bagi perusahaan jasa
pengelolaan limbah yang memiliki kompetensi teknis, fasilitas terintegrasi, serta komitmen
terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam konteks tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (“SBI”) melalui unit usaha divisi
AFR dengan merek dagang “Nathabumi” memiliki potensi besar untuk memperluas kegiatan
usahanya melalui pencantuman KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi. SBI telah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan limbah industri melalui
penerapan teknologi co-processing, yang memungkinkan limbah dimanfaatkan kembali
sebagai bahan bakar alternatif atau bahan baku substitusi di industri semen. Teknologi ini
terbukti ramah lingkungan, efisien, dan telah sesuai dengan standar nasional maupun
internasional. Dengan reputasi tersebut, SBI memiliki daya saing kuat untuk memasuki pasar
jasa pengelolaan limbah pada sektor migas, khususnya dalam penanganan limbah pengeboran
(drilling mud), cutting oil, sludge oil, dan produced water.
Dari aspek kesinambungan pasar, sektor migas di Indonesia memiliki karakteristik jangka
panjang dan relatif stabil. Meskipun terdapat fluktuasi harga minyak global, kegiatan
eksplorasi dan produksi dalam negeri tetap dijaga sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk
mencapai kemandirian energi nasional. perluasan wilayah kerja migas baru menjadi faktor
pendorong yang menjaga keberlangsungan kegiatan hulu migas dan pada akhirnya memperluas
permintaan jasa pengelolaan limbah. Oleh karena itu, peluang bisnis pada sektor penunjang
migas tidak hanya bersifat reaktif terhadap siklus produksi, tetapi juga bersifat strategis dalam
mendukung rantai pasok industri energi nasional.
Dari sisi potensi pasar, peluang pengelolaan limbah di sektor migas tidak hanya berasal dari
perusahaan hulu, tetapi juga dari perusahaan jasa penunjang seperti drilling contractor dan
lainnya yang berada di lapangan eksplorasi. Entitas-entitas ini menghasilkan limbah
operasional yang memerlukan pengolahan lanjutan agar sesuai dengan ketentuan lingkungan.
Dalam hal ini, SBI melalui unit usaha divisi AFR dengan merek dagang “Nathabumi” dapat
berperan sebagai mitra strategis dengan menawarkan solusi pengelolaan limbah terintegrasi,
baik untuk B3 maupun non-B3, yang mencakup pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan,
hingga pemanfaatan limbah dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Page 9
Analisis sasaran pasar juga menunjukkan bahwa sektor hulu migas di Indonesia didominasi
oleh perusahaan besar seperti Pertamina Hulu Energi, Medco E&P Indonesia, dan beberapa
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lain yang beroperasi di wilayah darat dan lepas
pantai. Selain itu, terdapat ratusan perusahaan jasa pengeboran dan penunjang seperti
Halliburton Indonesia, Schlumberger Geophysics Nusantara, Weatherford Indonesia, dan
lainnya, yang menjadi pengguna potensial layanan pengelolaan limbah industri. Dengan
jaringan operasional dan kapabilitas yang dimiliki, SBI berpeluang menjalin kerja sama jangka
panjang dengan berbagai entitas tersebut dalam penyediaan jasa pengelolaan limbah sesuai
standar lingkungan dan industri.
Dari keseluruhan aspek pasar yang telah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa rencana
penambahan kegiatan usaha dengan mencantumkan KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi memiliki prospek yang strategis bagi SBI. Dukungan
regulasi pemerintah, pertumbuhan aktivitas eksplorasi migas, serta meningkatnya kebutuhan
terhadap pengelolaan limbah B3 dan non-B3 yang berkelanjutan menjadi faktor utama yang
menjamin kesinambungan dan potensi pengembangan pasar di sektor ini. Dengan pengalaman,
fasilitas, dan reputasi yang dimiliki melalui unit usaha divisi AFR dengan merek dagang
“Nathabumi”, SBI memiliki posisi kompetitif untuk memperkuat pangsa pasar di bidang jasa
penunjang migas sekaligus memperluas diversifikasi usaha di sektor pengelolaan limbah
industri. Berdasarkan kondisi tersebut secara aspek pasar layak.
18.2 Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis teknis, rencana penambahan kegiatan usaha SBI dengan KBLI
09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, khususnya melalui
kegiatan drilling waste management, dinilai layak secara teknis untuk diimplementasikan.
Produk jasa yang dihasilkan berfokus pada pengelolaan limbah hasil pengeboran migas,
meliputi lumpur pengeboran (drilling mud), cutting oil, dan limbah cair proses produksi.
Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendukung praktik industri migas yang
berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang aman, efisien, dan sesuai ketentuan peraturan
lingkungan hidup.
Dari sisi proses produksi, SBI melalui unit usaha AFR dengan merek dagang “Nathabumi”
telah memiliki fasilitas teknis yang memadai, meliputi sistem pengumpulan, pemisahan,
pengeringan, serta pengolahan lanjutan dengan teknologi co-processing, dan treatment limbah
cair yang sesuai dengan standar Kementerian Lingkungan Hidup Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup (BPLH).
Dari aspek sumber daya manusia dan fasilitas, SBI didukung oleh unit usaha AFR dengan
merek dagang “Nathabumi” yang memiliki tenaga kerja berpengalaman sebanyak 84 orang,
termasuk 33 orang telah memiliki sertifikasi untuk menunjang layanan drilling waste
management, dan 12 orang telah memiliki sertifikasi pengolah limbah B3. Serta fasilitas
pengelolaan yang sudah beroperasi dan memenuhi ketentuan teknis.
Selanjutnya, dari sisi rencana keberlanjutan, SBI telah menyusun strategi pengembangan teknis
jangka panjang melalui modernisasi peralatan, peningkatan kapasitas SDM, serta penerapan
sistem manajemen lingkungan dan keselamatan kerja (K3L) secara terintegrasi. Komitmen ini
memastikan kegiatan drilling waste management tidak hanya berorientasi pada kepatuhan
regulasi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap efisiensi operasional dan
perlindungan lingkungan.
Page 10
Dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia,
penerapan teknologi pengolahan yang sesuai standar, serta arah pengembangan berkelanjutan,
maka penambahan kegiatan usaha secara aspek teknis layak.
18.3 Aspek Pola Bisnis
Dari sisi keunggulan kompetitif, SBI memiliki landasan yang kuat untuk melakukan ekspansi
usaha di bidang aktivitas penunjang pertambangan minyak bumi dan gas alam melalui layanan
pengelolaan limbah B3 dan non-B3. Kapabilitas komersial dan teknis yang telah terbukti,
dukungan fasilitas laboratorium yang lengkap, serta pengalaman panjang dalam pengelolaan
limbah industri menjadi faktor pembeda utama yang sulit disaingi oleh kompetitor. Selain itu,
jaringan kerja sama yang solid dengan pemerintah daerah dan pelaku industri energi
memberikan keunggulan strategis dalam memperluas pasar serta memperkuat kepercayaan
pelanggan terhadap kualitas dan kepatuhan lingkungan yang dijalankan SBI.
Dari aspek kemampuan pesaing dalam meniru produk, peluang kompetitor untuk mereplikasi
layanan drilling waste management tergolong rendah karena tingginya hambatan teknis,
regulatif, dan investasi yang diperlukan. Pengelolaan limbah pengeboran membutuhkan sistem
teknologi khusus, tenaga ahli bersertifikat, serta izin operasional yang kompleks. Keunggulan
SBI yang telah memiliki sistem co-processing terintegrasi dan rekam jejak nasional dalam
pengelolaan limbah industri menjadikannya memiliki posisi kompetitif yang kokoh dan sulit
disaingi oleh perusahaan baru di sektor yang sama.
Dari aspek kemampuan menciptakan nilai, kegiatan usaha SBI tidak hanya menghasilkan
manfaat ekonomi bagi perusahaan, tetapi juga memberikan nilai tambah lingkungan dan sosial.
Layanan pengelolaan limbah pengeboran minyak dan gas mendukung upaya pengurangan
pencemaran, efisiensi biaya pengelolaan limbah, serta peningkatan tanggung jawab
lingkungan perusahaan migas. Melalui integrasi dengan fasilitas yang telah ada, SBI mampu
menciptakan sistem pengelolaan limbah yang efisien, aman, dan berkelanjutan, sekaligus
mendukung penciptaan lapangan kerja lokal dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah
daerah.
Namun demikian, hasil analisis risiko menunjukkan bahwa usaha drilling waste management
memiliki sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan terhadap tingkat
eksplorasi migas nasional, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang ketat, risiko teknis
dalam penanganan limbah berbahaya, serta kebutuhan investasi dan biaya operasional yang
besar. Selain itu, persaingan dengan penyedia jasa sejenis serta potensi dampak kebijakan
transisi energi nasional perlu dihadapi dengan strategi adaptif dan efisiensi operasional yang
tinggi. Berdasarkan analisis SWOT, SBI memiliki kekuatan internal yang signifikan berupa
reputasi, pengalaman, dan fasilitas pengelolaan limbah yang mumpuni, serta peluang pasar
yang terbuka luas seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi migas nasional. Strategi
pengembangan diarahkan pada pemanfaatan keunggulan fasilitas eksisting, peningkatan
kapasitas sumber daya manusia, kolaborasi teknologi dengan mitra strategis, serta perluasan
jaringan layanan ke wilayah operasi migas potensial seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Dengan memperhatikan pola bisnis yang akan diterapkan oleh manajemen SBI, dilihat dari
segmen usaha, keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk,
kemampuan dalam menciptakan nilai, analisis risiko, serta hasil analisis SWOT terhadap
rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 09100 serta prospek pasar yang tumbuh seiring
peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi migas nasional. Dengan demikian, rencana
penambahan kegiatan usaha secara aspek pola bisnis layak.
Page 11
18.4 Aspek Model Manajemen
Berdasarkan analisis model manajemen terhadap struktur organisasi, kesiapan sumber daya
manusia, strategi pengelolaan tenaga kerja, serta pendekatan manajerial dalam mendukung
kegiatan operasional dan riset, penambahan kegiatan usaha oleh SBI dinilai layak dari aspek
model manajemen. SBI menunjukkan kemampuan untuk mengelola sumber daya secara
efisien melalui optimalisasi tenaga kerja internal sebanyak 84 orang yang telah berpengalaman
dengan 33 orang memiliki sertifikasi terkait layanan drilling waste management, dan 12 orang
telah memiliki sertifikasi untuk pengolah limbah B3 . Langkah ini mencerminkan efisiensi dan
efektivitas manajerial dalam memenuhi kebutuhan operasional jangka pendek tanpa
menimbulkan beban berlebih pada struktur organisasi yang ada.
Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem koordinasi
yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan secara
konsisten, menjadi pondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan ekspansi usaha.
Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh terhadap dinamika
industri, SBI dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai untuk mengarahkan
pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan. Dengan struktur
organisasi yang solid, tenaga kerja yang kompeten, dan strategi mitigasi risiko yang telah
dirumuskan, rencana penambahan kegiatan usaha ini secara aspek model manajemen layak.
18.5 Aspek Keuangan
Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha usaha KBLI 09100 –
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam adalah sebesar
Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta Tujuh Ratus Tujuh
Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah).
Dalam rangka merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, SBI melakukan investasi
untuk KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam sebesar
Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta Tujuh Ratus Tujuh
Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah) yang bersumber dari kas.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
keuangan SBI. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa waktu
proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen SBI telah
menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun tersebut
perusahaan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going concern bisnis
SBI diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi pendapatan/gordon
model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan, Penilai telah melakukan
diskusi dengan manajemen SBI bahwa proyeksi yang digunakan telah wajar dan sudah
dilakukan penyesuaian oleh Penilai.
Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat keuntungan
yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang umumnya dinyatakan
dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan
usaha selama masa proyeksi Juli-Desember 2025 – 2030 adalah sebesar 274,18%.
Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
diantisipasi di masa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih
antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash Flow
to Firm apabila SBI tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya
dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to
Incremental.
Page 12
Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan mempertimbangkan
asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
● Net Present Value (NPV) : Rp64.133.000.000
● Internal Rate of Return (IRR) : 30,41%
● Profitability Index (PI) : 3,74
● Payback Period (PP) : 4 tahun 3 bulan
Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat
risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha dibidang
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam. maka proyeksi arus kas
inkremental nya bernilai positif.
IRR sebesar 30,41% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha oleh
SBI dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto
Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai faktor
yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan nilai
investasi proyek penambahan kegiatan usaha SBI menunjukkan tingkat kelayakan finansial
yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi fluktuasi biaya investasi
hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penambahan kegiatan usaha ini
tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan seluruh parameter keuangan yang
menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial akibat perubahan nilai investasi
tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman untuk direalisasikan dari perspektif
keuangan.
Berdasarkan kajian evaluasi dan analisa keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan
syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka rencana penambahan
kegiatan usaha atas KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Alam secara aspek keuangan layak.
Page 13
Hormat kami,Our Regards KJPP GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., MEc.Dev., MAPPI (Cert) Partner Klasifikasi Bidang Jasa : Penilai Bisnis (B) Ijin Penilai : No. B-1.18.00511 MAPPI : No. 14-S-05089 No. Register : RMK-2017.01120 STTD IKNB OJK : 211/NB.122/STTD-P/2020 STTD OJK : STTD.PB-51/PM.223/2021
Page 14
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Within the limits of our ability and confidence as
penilai, kami yang bertanda-tangan dibawah ini appraisers, we, the undersigned certify that,
menerangkan bahwa :
1. Pernyataan yang menjadi dasar dari analisis, 1. The statements that form the basis of the
pendapat dan kesimpulan nilai yang diuraikan analysis, opinion and value conclusions
dalam Laporan Penilaian adalah benar, sesuai described in the Valuation Report are true,
dengan pemahaman terbaik Penilai, dan in accordance with understanding best
berdasarkan informasi dan data pendukung Appraiser, and based on information and
yang kami gunakan dalam proses penilaian; supporting data that we use in the
appraisal process
2. Selanjutnya laporan ini menjelaskan semua 2. Furthermore, this report explains all the
syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi conditions of limitation that affect the
analisa, pendapat dan kesimpulan yang tertera analysis, opinion and conclusions
dalam laporan ini; contained in this report;
3. Imbalan jasa tidak berpengaruh terhadap 3. Fees do not affect the appraisal process.
proses penilaian.
4. Penilai tidak memiliki kepentingan terhadap 4. The Appraiser has no interest in the Object
Obyek Penilaian. of the Appraisal.
5. Laporan ini tidak lepas dari ketentuan- 5. This report cannot be separated from the
ketentuan yang tercantum dalam Kode Etik provisions contained in the Indonesian
Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Appraisal Code of Ethics (KEPI) and the
Penilaian Indonesia 2018 (SPI Edisi VII 2018 Indonesian Appraisal Standard (SPI
Tahun 2018) Edition VII Year 2018)
6. Penilai bertanggung jawab sepenuhnya atas 6. The appraiser is fully responsible for the
prosedur, pelaporan dan hasil penilaian yang procedures, reporting and results of the
dilakukan; assessment carried out;
7. Penugasan penyusunan penilaian secara 7. Assignment to prepare a professional
profesional telah dilakukan terhadap Obyek assessment has been carried out on the
Penilaian pada tanggal Penilaian (Cut Off Valuation Object on the Cut Off Date;
Date);
8. Penilai telah melakukan inspeksi lapangan 8. The Appraiser has conducted a field
yang merupakan Obyek Penilaian. inspection which is the Object of the
Assessment.
9. Penilai telah melakukan ruang lingkup sebagai 9. The appraiser has carried out the
berikut: identifikasi masalah, inspeksi, following scopes: problem identification,
pengumpulan data dan wawancara, analisis inspection, data collection and interviews,
data, estimasi nilai dengan pendekatan data analysis, value estimation with an
penilaian, penulisan laporan. appraisal approach, report writing.
10. Analisa telah dilakukan untuk tujuan 10. The analysis has been carried out for the
sebagaimana diungkapkan dalam Laporan purposes as disclosed in the Valuation
Penilaian; Report;
11. Penugasan penilaian profesional telah 11. The assignment of professional assessment
dilaksanakan sesuai dengan peraturan has been carried out in accordance with
perundangan yang berlaku; the applicable laws and regulations;
12. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penugasan 12. The conclusions generated in the
profesional telah disajikan sebagai pendapat professional assignment have been
hasil penilaian; presented as an opinion on the results of
the assessment;
13. Pendapat tersebut telah sesuai dengan asumsi- 13. The opinion is in accordance with the
asumsi dan kondisi pembatas; assumptions and limiting conditions;
iii
Page 15
14. Penilai telah memenuhi persyaratan 14. The appraiser has finish the professional
pendidikan professional yang ditentukan dan education requirements determined and or
atau diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai organized by the Appraisal Association
yang diakui Pemerintah, recognized by the Government,
15. Tidak seorangpun selain yang bertanda tangan 15. None of other than the undersigned, has
di bawah ini, yang telah terlibat dalam been involved in carrying out the
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan inspection, analysis, conclusion and
kesimpulan dan opini sebagaimana yang opinion making as stated in this
dinyatakan dalam Laporan Penilaian ini. Assessment Report.
Jakarta, 27 Oktober 2025
Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev – Penanggung Jawab
Izin Penilai : B-1.18.00511
MAPPI No. : 14-S-05089
RMK : RMK-2017.01120
.............................
Rahmat Faizal, S.E., M.S.M, CIB – Reviewer
MAPPI No. : 17-P-7514
RMK : RMK-2019.02920
.............................
Guntur Pramudiyanto, S.E., M.Ec. Dev – Penilai
MAPPI No. : 04-S-01770
RMK : RMK-2017.00119
.............................
Siti Khumairoq, SE – Penilai
MAPPI No. : 17-T-07312
RMK : RMK-2018.02229
.............................
Aurellia Nur Halimatussadiyah, S.Tr.E – Penilai
MAPPI No. : 24-P-12961
RMK : RMK-2024.04971
.............................
Tri Meizaraafi, SE – Penilai
MAPPI No. : 17-P-07314
RMK : RMK-2018.02228
.............................
Aidy Yudha Prastyanto, SE – Penilai
MAPPI No. : 23-P-11814
RMK : RMK-2024.05017
.............................
iv
Page 16
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
DAFTAR ISI
Halaman
SERTIFIKAT
PERNYATAAN PENILAI
1. PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 6
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................................. 6
1.1.1 Latar Belakang KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam .. 6
1.2. Identifikasi Status Penilai ................................................................................................................. 7
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan .............................................................................. 7
1.4. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ............................................................................................... 8
1.5. Objek Studi Kelayakan ..................................................................................................................... 8
1.6. Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan .............................................. 8
1.7. Independensi Penilai......................................................................................................................... 8
1.8. Tanggung Jawab Penilai ................................................................................................................... 8
1.9. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan .......................................................................... 9
1.10. Standar Penugasan Studi Kelayakan ................................................................................................ 9
1.11. Data, Informasi dan Prosedur ..........................................................................................................10
1.11.1. Data Dan Informasi Rencana Penambahan Usaha ..........................................................................10
1.12. Tingkat Kedalaman Investigasi .......................................................................................................11
1.13. Asumsi dan Kondisi Pembatas ........................................................................................................12
1.14. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan Tanggal
Laporan............................................................................................................................................13
1.15. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli ................................................................................14
1.16. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ............................................................................................14
1.17. Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.....14
1.18. Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI ......................................14
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN .........................................................................................15
2.1. Gambaran Umum SBI .....................................................................................................................15
2.2. Domisili ...........................................................................................................................................15
2.3. Struktur Permodalan ........................................................................................................................15
2.4. Susunan Pengurus............................................................................................................................16
2.5. Struktur Organisasi ..........................................................................................................................17
2.6. Perizinan dan Legalitas....................................................................................................................20
2.7. Kinerja Keuangan Historis ..............................................................................................................22
2.7.1 Analisis Posisi Keuangan ................................................................................................................24
2.7.2 Analisis Laba Rugi ..........................................................................................................................25
2.7.3 Analisis Arus Kas ............................................................................................................................26
2.7.4 Analisis Rasio Keuangan .................................................................................................................27
2.8. Kinerja SBI 2024 .............................................................................................................................31
2.9. Informasi Perpajakan .......................................................................................................................32
3. TINJAUAN MAKRO EKONOMI ...............................................................................................33
3.1. Perekonomian Global dan Domestik ...............................................................................................33
3.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ....................................................................................................35
3.3. Analisis Industri Semen ...................................................................................................................42
3.4. Analisis Industri Pengelolaan Limbah B3 .......................................................................................43
3.5. Analisis Industri Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam ........................................................44
Business Valuation Unit
1 Jakarta
Page 17
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
4. ASPEK PASAR .............................................................................................................................47
4.1. Kondisi Pasar ...................................................................................................................................47
4.1.1. Pangsa Pasar ....................................................................................................................................47
4.1.2. Kesinambungan (Sustainability)......................................................................................................48
4.1.3. Potensi Pasar ...................................................................................................................................49
4.1.4. Sasaran ............................................................................................................................................49
4.1.5. Potensi Nilai Pasar...........................................................................................................................50
4.2. Pesaing Usaha..................................................................................................................................50
4.3. Strategi Pemasaran ..........................................................................................................................50
4.4. Kesimpulan Aspek Pasar .................................................................................................................51
5. ASPEK TEKNIS............................................................................................................................53
5.1. Produk yang dihasilkan ...................................................................................................................53
5.2. Proses Pengelolaan Limbah Pengeboran .........................................................................................53
5.3. Ketersediaan Sumber Daya .............................................................................................................54
5.4. Rencana Keberlanjutan....................................................................................................................54
5.5. Kesimpulan Aspek Teknis ...............................................................................................................55
6. ASPEK POLA BISNIS..................................................................................................................57
6.1. Kegiatan Usaha................................................................................................................................57
6.2. Entitas Anak ....................................................................................................................................59
6.3. Penambahan Kegiatan Usaha ..........................................................................................................60
6.4. Keunggulan Kompetitif ...................................................................................................................60
6.5. Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk ...................................................................................61
6.6. Kemampuan Untuk Menciptakan nilai ............................................................................................61
6.7. Analisis Risiko ................................................................................................................................62
6.8. Analisis SWOT................................................................................................................................63
6.9. Potensi Pasar dan Proyeksi Pertumbuhan Sektor – Sektor Baru .....................................................65
6.10. Kesimpulan......................................................................................................................................66
7. ASPEK MODEL MANAJEMEN ................................................................................................68
7.1. Sumber Daya Manusia ....................................................................................................................68
7.2. Komposisi Karyawan SBI ...............................................................................................................69
7.3. Manajemen Kekayaan Intelektual ...................................................................................................70
7.4. Manajemen Risiko ...........................................................................................................................70
7.5. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ..........................................................................................71
7.6. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................................72
7.7. Kesimpulan Aspek Model Manajemen ...........................................................................................75
8. ANALISIS ASPEK KEUANGAN ................................................................................................76
8.1. Rencana Biaya Investasi ..................................................................................................................76
8.2. Sumber Pembiayaan ........................................................................................................................77
8.3. Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan.............................................................................................77
8.4. Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ...............................................................81
8.4.1. Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .....................................................81
8.4.2. Proyeksi Laba (Rugi) Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................82
8.4.3. Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................83
8.5. Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .............................................................84
8.5.1. Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha...................................................84
8.5.2. Proyeksi Laba (Rugi) Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..........................................................85
8.5.3. Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..............................................................86
8.6. Analisis Rasio Keuangan .................................................................................................................87
8.7. Biaya Operasional ...........................................................................................................................92
8.8. Biaya Bahan Baku Mentah ..............................................................................................................92
Business Valuation Unit
2 Jakarta
Page 18
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
8.9. Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) ...................................................................................92
8.10. Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)...................................................................................92
8.11. Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment).......................................................93
8.12. Penentuan Tingkat Diskonto ...........................................................................................................93
8.12.1. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital) ........................95
8.13. Analisis Inkremental........................................................................................................................96
8.14. Analisis Kelayakan Usaha ...............................................................................................................97
8.15. Analisis Sensitivitas ......................................................................................................................100
8.16. Kesimpulan Kelayakan Usaha Aspek Keuangan...........................................................................100
9. KLASIFIKASI PENILAI USAHA ............................................................................................102
● Lampiran Keuangan
Business Valuation Unit
3 Jakarta
Page 19
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
DAFTAR FIGUR
Halaman
Figur 1. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha SBI ...................................................................... 6
Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi ................................................................................ 11
Figur 3. Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham SBI................................................................... 16
Figur 4. Struktur Organisasi Perusahaan ............................................................................................. 18
Figur 5. Struktur Organisasi Unit Usaha Divisi AFR ........................................................................... 19
Figur 6. Historis Laporan Posisi Keuangan ......................................................................................... 23
Figur 7. Historis Laporan Laba (Rugi)................................................................................................ 23
Figur 8. Historis Laporan Arus Kas .................................................................................................... 24
Figur 9. Historis Perkembangan Posisi Keuangan ............................................................................... 24
Figur 10. Historis Perkembangan Laba (Rugi) .................................................................................... 25
Figur 11. Historis Perkembangan Arus Kas ........................................................................................ 26
Figur 12. Historis Rasio Keuangan .................................................................................................... 27
Figur 13. Kinerja SBI Tahun 2022 - 2024 ........................................................................................... 31
Figur 14. Pertumbuhan PDB Dunia dan PMI Global ........................................................................... 33
Figur 15. Indeks Keyakinan Konsumen dan Penjualan Eceran Global ................................................... 34
Figur 16. Inflasi Dunia, Harga Komoditas Ekspor Indonesia ................................................................ 34
Figur 17. Yield UST 10Y dan JGB 10Y dan Indeks Ketidakpastian Global ........................................... 34
Figur 18. Aliran Modal Ke Negara Berkembang dan Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko Negara
Berkembang. ..................................................................................................................................35
Figur 19. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ...............................36
Figur 20. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan II 2025 dan Indeks Keyakinan Konsumen ................36
Figur 21. Nilai Tukar Petani dan Penjualan Eceran.......................................................................................36
Figur 22. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Purchasing Managers’ Index (PMI)
Manufaktur ....................................................................................................................................37
Figur 23. Ekspor Nonmigas dan Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama .............................................37
Figur 24. Neraca Pembayaran Indonesia dan Neraca Perdagangan ...............................................................38
Figur 25. Aliran Modal Asing dan Cadangan Devisa ....................................................................................38
Figur 26. Rupiah vs Negara Kawasan dan Suku Bunga Kebijakan Negara Kawasan ...................................38
Figur 27. Inflasi IHK Provinsi .......................................................................................................................39
Figur 28. Inflasi IHK dan Komponen dan Ekspektasi Inflasi .......................................................................40
Figur 29. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan dan Likuiditas perbankan dan perekonomian .......... 41
Figur 30. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA dan Transmisi BI Rate kepada SBDK ... 42
Figur 31. Suku Bunga Perbankan dan Perkembangan Kredit dan DPK ................................................. 42
Figur 32. Permodalan Industri Perbankan dan Rasio Kredit Bermasalah (NPL) ..................................... 42
Figur 33. Rekapitulasi Limbah B3 2021-Triwulan I 2025 ............................................................................44
Figur 34. Peta Realisasi Pengeboran Sumur Eksplorasi 2023 .......................................................................46
Figur 35. Penemuan Eksplorasi Tahun 2023 .................................................................................................46
Figur 36. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................50
Figur 37. Flow Chart Drilling Waste Management .......................................................................................53
Figur 38. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha SBI ..........................................................................60
Figur 39. Analisis SWOT ..............................................................................................................................63
Figur 40. Potensi Pasar ..................................................................................................................................66
Figur 41. Komposisi Jumlah Karyawan Divisi AFR .....................................................................................68
Figur 42. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan .....................................................................69
Figur 43. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan .........................................................................................69
Figur 44. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia ................................................................................69
Figur 45. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan ...............................................................69
Business Valuation Unit
4 Jakarta
Page 20
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 46. Jumlah Karyawan di Unit Usaha AFR : .........................................................................................70
Figur 47. Jumlah Karyawan yang memiliki sertifikasi untuk menunjang layanan drilling waste management
dan pengelolaan limbah B3 di unit usaha divisi AFR Nathabumi : ...............................................70
Figur 48. Manajemen Risiko .........................................................................................................................70
Figur 49. Struktur Organisasi SBI .................................................................................................................73
Figur 50. Struktur Organisasi Unit Usaha Divisi AFR ..................................................................................74
Figur 51. Biaya Investasi ...............................................................................................................................76
Figur 52. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................................77
Figur 53. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..............................................................................79
Figur 54. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Tanpa Penambahan Usaha............................................................81
Figur 55. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ............................................82
Figur 56. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha....................................................82
Figur 57. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha....................................................83
Figur 58. Proyeksi Arus Kas SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................83
Figur 59. Proyeksi Posisi Keuangan SBI dengan Penambahan Kegiatan Usaha ...........................................84
Figur 60. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..........................................85
Figur 61. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Dengan Penambahan Kegiatan usaha ..................................................85
Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ...................................................86
Figur 63. Proyeksi Arus Kas SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .....................................................86
Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................87
Figur 65. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .................................................89
Figur 66. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................92
Figur 67. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................93
Figur 68. Biaya Modal Ekuitas ......................................................................................................................95
Figur 69. WACC ...........................................................................................................................................96
Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha.............................................96
Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..........................................97
Figur 72. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental SBI selama Periode Juli-Desember 2025 sampai dengan
2030 ...............................................................................................................................................97
Figur 73. NPV Free Cash Flow to Incremental ............................................................................................98
Figur 74. Analisis Sensitivitas .....................................................................................................................100
Business Valuation Unit
5 Jakarta
Page 21
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.1.1 Latar Belakang KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan
Gas Alam
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (“SBI”) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
industri bahan bangunan, perdagangan, pertambangan, transportasi, serta pengelolaan
limbah, termasuk pemanfaatan dan pengolahan limbah B3. Melalui unit usaha Divisi AFR
dengan merek dagang "Nathabumi" (selanjutnya disebut "Nathabumi"), SBI terus
memperkuat posisi di sektor pengelolaan limbah dan memperluas jangkauan kegiatan usaha
untuk mendukung pengembangan bisnis berkelanjutan.
Peluang pasar di bidang pengelolaan limbah pertambangan minyak dan gas bumi saat ini
menunjukkan potensi yang signifikan. Seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi dan
produksi migas di Indonesia, kebutuhan terhadap layanan pengelolaan limbah yang
memenuhi standar lingkungan dan keselamatan kerja juga semakin tinggi. Dengan
pengalaman dan kompetensi dalam pengelolaan limbah industri serta limbah B3, SBI
memiliki kapasitas untuk berperan aktif dalam rantai pasok jasa pendukung pertambangan
migas, sekaligus memperkuat portofolio bisnis di sektor jasa lingkungan terpadu.
Sehubungan dengan hal tersebut, dan guna mendukung legalitas serta keberlanjutan
pengembangan kegiatan usaha, SBI bermaksud menambahkan kegiatan usaha baru dengan
mencantumkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) 09100 – Aktivitas
Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam ke dalam Anggaran Dasar Perseroan.
Penambahan KBLI ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan peluang pendapatan perusahaan
yang sebelumnya terbatas akibat adanya persyaratan KBLI 09100 untuk pekerjaan on-site
services seperti drilling waste management pada pengelolaan limbah pertambangan minyak
bumi dan gas alam.
Figur 1.Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha SBI
No. Nama KBLI Kode KBLI
1. Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam 09100
Sumber: Manajemen SBI
Berdasarkan penjelasan dari manajemen, SBI berencana menambah kegiatan usaha yang
sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 17/POJK 04/2020 (“POJK
17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama”.
Sehubungan dengan hal tersebut, SBI membutuhkan pihak independen untuk melakukan
kajian dan analisis kelayakan atas rencana Penambahan Kegiatan Usaha. SBI telah menunjuk
KJPP Guntur, Eki, Andri, dan Rekan (“GEAR”) untuk melakukan penyusunan studi
kelayakan berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. Gear.00190/2.0116-
002/BI/4/0511/1/VI/2025 tanggal 02 Juni 2025 dan Perjanjian Ringkas
No. 7210088091/SA/PROC/SBI/IX/2025 tanggal 15 September 2025.
Business Valuation Unit
6 Jakarta
Page 22
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.2. Identifikasi Status Penilai
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP No. 2.13.0116
dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa Keuangan
(“OJK”) d/h Bapepam.
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal 16
April 2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI
(Cert) yang ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi
(B) No. B-01.18.00511 dan terdaftar di OJK untuk Pasar Modal dengan No. STTD.PB-
51/PM.223/2021 Tanggal 04 Mei 2021 dan terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang
pasar modal di OJK dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal dari OJK
IKNB dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020 tanggal 10 September 2020 dan juga sebagai
anggota MAPPI dengan No. 14-S-05089 tanggal 6 Desember 2017 dan Nomor Register
RMK-2017.01120 tanggal 12 September 2017.
GEAR adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar
Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan Studi Kelayakan ini.
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas adalah pihak dimana Penilai mengikatkan diri dalam hubungan kontraktual,
● Nama : PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
● Bidang usaha : Industri Bahan Bangunan (Industri Pengolahan, Konstruksi, Penunjang
Lainnya)
● Alamat : Talavera Office Park, Talavera Suite Lantai 15, Jl. TB Simatupang
22-26 Jakarta Selatan, 12430
● Telepon : (021) 2986 1000
● Fax : (021) 2986 3333
● Email : corp.comm-sbi@sig.id
● Website : www.solusibangunindonesia.com
Pengguna laporan atas hasil penilaian adalah:
● Nama : PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
● Bidang usaha : Industri Bahan Bangunan (Industri Pengolahan, Konstruksi, Penunjang
Lainnya)
● Alamat : Talavera Office Park, Talavera Suite Lantai 15, Jl. TB Simatupang
22-26 Jakarta Selatan, 12430
● Telepon : (021) 2986 1000
● Fax : (021) 2986 3333
● Email : corp.comm-sbi@sig.id
● Website : www.solusibangunindonesia.com
Business Valuation Unit
7 Jakarta
Page 23
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.4. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud penugasan ini adalah untuk melakukan Kajian Penambahan Kegiatan Usaha
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (“SBI”) yaitu KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang
Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, yang diperlukan dalam rangka memenuhi
peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”).
Penugasan ini dilakukan mengacu kepada POJK 17, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 17/SEOJK.04/2020
(“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018.
1.5. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”)
yaitu KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam.
1.6. Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan
Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas
dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan POJK 35 masa berlaku laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal
efektif penilaian (Cut Off Date) dalam laporan penilaian.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi
Kelayakan yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (cut off date) dalam
Laporan Studi Kelayakan.
1.7. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen
tanpa adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan SBI ataupun pihak-pihak
yang terafiliasi dengan SBI. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan
pribadi atau merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami
terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.
1.8. Tanggung Jawab Penilai
Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa
semua perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah
dilakukan dengan benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang
diterbitkan.
Business Valuation Unit
8 Jakarta
Page 24
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.9. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan
Dalam menyusun laporan Studi Kelayakan ini, kami telah melakukan analisis melalui
pendekatan dan prosedur studi kelayakan yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
Pengumpulan Data
● Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana ekspansi atas
penambahan kegiatan usaha yang meliputi data-data identitas Perseroan, perizinan,
spesifikasi proyek, aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang
terkait.
● Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
dipertanggungjawabkan,
● Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh
dalam kelayakan dengan pihak Perseroan.
Proses Analisis
● Analisis Pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha, strategi
pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
● Analisis teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari rencana
penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan, ketersediaan dan
kualitas sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
● Analisis pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini, analisis atas
penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai, analisis
keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis industri,
analisis risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
● Aspek model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan karyawan
atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur organisasi dan
manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen kekayaan intelektual,
manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi karyawan.
● Analisis keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi, rencana
biaya investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan, analisis rasio
keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah, analisis titik
impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis inkremental,
dan analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
1.10. Standar Penugasan Studi Kelayakan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah
dibuat dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.
Business Valuation Unit
9 Jakarta
Page 25
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.11. Data, Informasi dan Prosedur
1.11.1. Data dan Informasi Rencana Penambahan Usaha
Kami telah melakukan analisis dan mempertimbangkan data dan informasi yang
disediakan SBI untuk tujuan penugasan ini, yaitu:
1. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2020 yang telah diaudit oleh Daniel Kohar, SE., CPA., (Nomor Izin Akuntan Publik:
AP.1130) dari Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan,
dengan nomor laporan 00057/2.1025/AU.1/04/1130-2/1/II/2021 tanggal 18 Februari
2021 dengan opini wajar dalam semua hal yang material.
2. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2021 yang telah diaudit oleh Daniel Kohar, SE., CPA., (Nomor Izin Akuntan Publik:
AP.1130) dari Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan,
dengan nomor laporan 00182/2.1025/AU.1/04/1130-3/1/II/2022 tanggal 22 Februari
2022 dengan opini wajar dalam semua hal yang material.
3. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2022 yang telah diaudit oleh Theodorus Bambang Dwi K.A (Nomor Izin Akuntan
Publik: AP.1208) dari Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan, dengan nomor
laporan 00023/2.1265/AU.1/04/1208-1/1/II/2023 tanggal 23 Februari 2023 dengan
opini wajar dalam semua hal yang material.
4. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2023 yang telah diaudit oleh Juan Ramon Junius Siahaan (Nomor Izin Akuntan
Publik: AP.1672) dari Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan, dengan nomor
laporan 00039/2.1265/AU.1/04/1672-1/1/III/2024 tanggal 07 Maret 2024 dengan
opini wajar dalam semua hal yang material.
5. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2024 yang telah diaudit oleh Juan Ramon Junius Siahaan (Nomor Izin Akuntan
Publik: AP.1672) dari Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan, dengan nomor
laporan 00096/2.1460/AU.1/04/1672-2/1/III/2025 tanggal 26 Maret 2025 dengan
opini wajar dalam semua hal yang material.
6. Laporan Keuangan Konsolidasian SBI yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025 yang
telah diaudit oleh Juan Ramon Junius Siahaan (Nomor Izin Akuntan Publik:
AP.1672) dari Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan, dengan nomor laporan
00726/2.1460/AU.1/04/1672-3/1/IX/2025 tanggal 26 September 2025 dengan opini
wajar dalam semua hal yang material.
7. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 0010 0170 7709 2000
8. Nomor Induk Berusaha: 9120409812015 dengan nama pelaku usaha PT Solusi
Bangun Indonesia Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik sistem OSS
tanggal 21 Agustus 2019.
9. Informasi lain dari pihak manajemen SBI serta pihak-pihak lain yang relevan untuk
penugasan.
10. Dokumen-dokumen lain yang terkait dengan Penambahan Kegiatan Usaha SBI
11. Informasi dan/atau dokumen terkait lainnya yang didapat dari berbagai pencarian
baik melalui Internet maupun media lainnya.
Business Valuation Unit
10 Jakarta
Page 26
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Seluruh data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan Laporan Studi Kelayakan
ini diperoleh dari manajemen SBI sepanjang proses penyusunan laporan baik diskusi dan
wawancara.
1.12. Tingkat Kedalaman Investigasi
Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan
informasi dari pihak manajemen SBI, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen
kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi melalui wawancara
berupa con call atau virtual meeting.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada
laporan keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
dilakukan;
3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.
Pelaksana Investigasi
Berikut ini informasi terkait pelaksanaan investigasi lapangan:
● No. Surat Tugas : JKT/0057/ST.GEAR/2025
● Lokasi : Jl. Raya Narogong Km.7, Desa Kembang Kuning – Kec.
Klapanunggal, Kab. Bogor, Jawa Barat 16710
● Tanggal Investigasi : 02 Oktober 2025
● Pelaksana Investigasi : Siti Khumairoq, Aidy Yudha Prastyanto, Tri Meizaraafi
● Penanggung Jawab Investigasi: Dwi Hari Prasetyo
Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini SBI masih
menjalankan kegiatan operasinya yaitu sebagai Perusahaan yang bergerak di Bidang
Industri bahan bangunan, perdagangan, pertambangan, transportasi, serta pengelolaan
limbah, termasuk limbah B3 dan kegiatan daur ulang.
Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik SBI dan
melakukan wawancara dengan manajemen SBI ataupun pihak yang mewakilinya dan pihak-
pihak lain yang relevan. Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:
Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi
Pihak Yang Diwawancarai Jabatan Perusahaan
Indriarto Soeroyo Permitting & Compliance Manager SBI
Adhi Priyo Dwiarso CIP Business Partner SBI
Merdiano Buyung Maulana Key Account Executive SBI
I Gede Kresna Mustaqim Exernal Compliance Officer SBI
Herru Hermawan Susanto Operational & Field Services Engineer SBI
Yanyan Fauzi Nurdiansyah External Compliance Superintendent SBI
Business Valuation Unit
11 Jakarta
Page 27
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.13. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi
Beberapa asumsi yang digunakan dalam penyusunan Studi Kelayakan ini adalah:
● Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
● Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
dalam proses Studi Kelayakan.
● Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan
informasi yang disediakan oleh SBI dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
● Pemberi tugas menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
penugasan studi kelayakan telah diungkapkan seluruhnya kepada GEAR dan tidak ada
pengurangan atas fakta-fakta yang penting.
● GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh SBI dan telah
disesuaikan sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
● Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional SBI.
● GEAR bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
● GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek Studi Kelayakan dari
pemberi tugas.
● Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan Pasar Modal dan
pemenuhan peraturan OJK dan tidak untuk kepentingan perpajakan.
● Laporan Studi Kelayakan ini disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian,
kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan-peraturan pemerintah terkait dengan
Rencana Transaksi yang akan dilakukan pada tanggal studi kelayakan ini diterbitkan.
● Dalam penyusunan Laporan Studi Kelayakan ini, kami menggunakan beberapa asumsi,
seperti terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban SBI dan semua pihak yang terlibat
dalam Penambahan Kegiatan Usaha serta keakuratan informasi mengenai Penambahan
Kegiatan Usaha yang diungkapkan oleh manajemen SBI.
● Studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan sebagian dari
analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis lainnya secara
utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan kesimpulan yang
menyesatkan atas proses yang mendasari studi kelayakan. Penyusunan Laporan Studi
Kelayakan ini merupakan suatu proses yang rumit dan mungkin tidak dapat dilakukan
melalui analisis yang tidak lengkap.
● Kami juga mengasumsikan bahwa dari tanggal penerbitan Laporan Studi Kelayakan ini
sampai dengan tanggal terjadinya Penambahan Kegiatan Usaha tidak terjadi perubahan
apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam
penyusunan Laporan Studi Kelayakan ini. Kami tidak bertanggungjawab untuk
menegaskan kembali atau melengkapi, memutakhirkan (update) opini kami karena
adanya perubahan asumsi dan kondisi serta peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah
tanggal laporan ini.
Business Valuation Unit
12 Jakarta
Page 28
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Kondisi Pembatas:
● Kami tidak melakukan proses due diligence terhadap entitas atau pihak-pihak yang
melakukan transaksi.
● Dalam melaksanakan analisis, kami mengasumsikan dan bergantung pada keakuratan,
kehandalan dan kelengkapan dari semua informasi keuangan dan informasi-informasi
lain yang diberikan kepada kami oleh SBI atau yang tersedia secara umum yang pada
hakekatnya adalah benar, lengkap dan tidak menyesatkan, dan kami tidak bertanggung
jawab untuk melakukan pemeriksaan independen terhadap informasi-informasi tersebut.
Kami juga bergantung kepada jaminan dari manajemen SBI, bahwa mereka tidak
mengetahui fakta-fakta yang menyebabkan informasi-informasi yang diberikan kepada
kami menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
● Analisis studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha ini dipersiapkan
menggunakan data dan informasi sebagaimana diungkapkan diatas. Segala perubahan
atas data dan informasi tersebut dapat mempengaruhi hasil akhir opini kami secara
material. Oleh karenanya, kami tidak bertanggungjawab atas perubahan kesimpulan atas
studi kelayakan kami dikarenakan adanya perubahan data dan informasi tersebut.
● Kami tidak memberikan opini atas dampak perpajakan dari Penambahan Kegiatan Usaha
ini. Jasa-jasa yang kami berikan kepada SBI dalam kaitan dengan Penambahan Kegiatan
Usaha ini hanya merupakan pemberian studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
yang akan dilakukan dan bukan jasa-jasa akuntansi, audit, atau perpajakan. Kami tidak
melakukan penelitian atas keabsahan Penambahan Kegiatan Usaha dari aspek hukum dan
implikasi aspek perpajakan.
● Pekerjaan kami berkaitan dengan studi kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ini tidak
merupakan dan tidak dapat ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit
atau pelaksanaan prosedur-prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut
juga tidak dapat dimaksudkan untuk mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian
internal, kesalahan, atau penyimpangan dalam laporan keuangan atau pelanggaran
hukum. Selain itu, kami tidak mempunyai kewenangan dan tidak berada dalam posisi
untuk mendapatkan dan menganalisa suatu bentuk transaksi-transaksi lainnya diluar
Penambahan Kegiatan Usaha yang ada dan mungkin tersedia untuk SBI serta pengaruh
dari transaksi-transaksi tersebut terhadap Penambahan Kegiatan Usaha ini.
1.14. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan
Tanggal Laporan
Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian
penting setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan.
Penilai tidak berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi
Kelayakan yang dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan
dan disampaikan kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam
hal yang substansi, maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.
Business Valuation Unit
13 Jakarta
Page 29
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
1.15. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam melaksanakan pembuatan Laporan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan
Usaha ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.
1.16. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.
1.17. Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35 dan SEOJK 17.
1.18. Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI
Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta Laporan Studi kelayakan telah
dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta SPI Edisi
VII tahun 2018 yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (“MAPPI”).
Business Valuation Unit
14 Jakarta
Page 30
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Gambaran Umum SBI
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (“Perusahaan”) didirikan dalam rangka Undang-undang
No.1 tahun 1967 juncto Undang-undang No. 11 tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing
(“PMA”), berdasarkan Akta No. 53 tanggal 15 Juni 1971 dari Notaris Abdul Latief, S.H.
Akta pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
dalam Surat Keputusan No. JA.5/149/7 tanggal 23 September 1971 dan diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia No. 82 tanggal 12 Oktober 1971, Tambahan No. 466.
Perusahaan mengganti status investasinya dari penanaman modal asing (PMA) ke
penanaman modal dalam negeri (PMDN) berdasarkan persetujuan dari Ketua Badan
Koordinasi Penanaman Modal No. 17/V/1988 tanggal 19 November 1988. Efektif tanggal 1
Januari 2006, Perusahaan mengganti namanya dari PT Semen Cibinong Tbk menjadi PT
Holcim Indonesia Tbk.
Sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Akta No. 11 tanggal 11 Februari 2019, PT Holcim Indonesia
Tbk berubah nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Perubahan ini telah disetujui
oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui keputusan No.
AHU- 0008550.AH.01.02.TAHUN 2019 tanggal 18 Februari 2019.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu, terakhir
dengan Akta No. 18 tanggal 12 Agustus 2025 dibuat dihadapan Notaris Aulia Taufani, S.H.,
dan telah diterima dan dicatat di dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum
Kementerian Hukum Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
dalam Surat Penerimaan Pemberitahuan Nomor AHU-AH.01.09-0329839 tanggal 26
Agustus 2025, dimana Perusahaan melakukan perubahan Direksi dan Komisaris.
Ruang lingkup kegiatan usaha Perusahaan menurut anggaran dasar antara lain adalah
berusaha dalam bidang industri pengolahan; konstruksi; pengangkutan dan pergudangan;
aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, agen perjalanan
dan penunjang usaha lainnya; perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil
dan sepeda motor; treatment air, treatment air limbah, treatment dan pemulihan material
sampah dan aktivitas remediasi; aktivitas profesional ilmiah dan teknis; pertambangan dan
penggalian; real estat.
2.2. Domisili
Perseroan berdomisili di Jakarta dengan Kantor pusat berada di Gedung Talavera Suite
Lantai 15, Talavera Office Park, Jl. TB Simatupang No. 22-26, Jakarta, Indonesia. Perseroan
mulai beroperasi secara komersial pada bulan Agustus 1977.
2.3. Struktur Permodalan
Berdasarkan Laporan Keuangan Audit 30 Juni 2025 susunan pemegang saham SBI adalah
sebagai berikut:
Business Valuation Unit
15 Jakarta
Page 31
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 3.Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham SBI
Jumlah Saham Kepemilikan Jumlah
Pemegang Saham
(Lembar) (%) (Rupiah Penuh)
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk 7.533.148.888 83,52% 3.766.574.000.000
Taiheiyo Cement Corporation 1.367.396.991 15,16% 683.698.000.000
Masyarakat 118.836.094 1,32% 59.419.000.000
Total 9.019.381.973 100,00% 4.509.691.000.000
Sumber: Laporan Keuangan Audit 30 Juni 2025 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
2.4. Susunan Pengurus
Berdasarkan Laporan Keuangan Audit 30 Juni 2025 SBI, berikut merupakan Susunan Dewan
Komisaris dan Direksi sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Prijo Sambodo
Komisaris : Herudi Kandau Nugroho
Komisaris : Shinji Fukami
Komisaris Independen : Prijo Sambodo
Direksi
Direktur Utama : Asri Mukhtar
Direktur : Soni Asrul Sani
Direktur : Ony Suprihartono
Direktur : Yasuhide Abe
Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk No. 18
tanggal 12 Agustus 2025 oleh Aulia Taufani., S.H., notaris di Kota Jakarta Selatan, Susunan
Dewan Komisaris dan Direksi sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Fadlansyah Lubis
Komisaris : Prasetyo Suharto
Komisaris : Shinji Fukami
Komisaris Independen : Agnes Marcelina Tjhin
Komisaris Independen : Husnedi
Direksi
Direktur Utama : Ainul Yaqin
Direktur : Edi Sarwono
Direktur : Asruddin
Direktur : Yasuhide Abe
Berdasarkan Surat Nomor 308/LGRC/SBI/X/2025 tanggal 2 Oktober 2025 perihal
Keterbukaan Informasi Terkait Pengunduran Diri Direktur Utama PT Solusi Bangun
Indonesia Tbk, dijelaskan bahwa pada tanggal 30 September 2025, PT Solusi Bangun
Indonesia Tbk (“Perseroan”) telah menerima surat pengunduran diri dari Bapak Ainul Yaqin
selaku Direktur Utama Perseroan. Selanjutnya, berdasarkan Surat Nomor
329/LGRC/SBI/X/2025 tanggal 17 Oktober 2025 perihal Keterbukaan Informasi Terkait
Business Valuation Unit
16 Jakarta
Page 32
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Pemberhentian Sementara Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Perseroan
menunjuk Sdr. Asruddin sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama. Dengan demikian,
susunan Dewan Komisaris dan Direksi sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Fadlansyah Lubis
Komisaris : Prasetyo Suharto
Komisaris : Shinji Fukami
Komisaris Independen : Agnes Marcelina Tjhin
Komisaris Independen : Husnedi
Direksi
Direktur Utama : Asruddin
Direktur : Edi Sarwono
Direktur : Asruddin
Direktur : Yasuhide Abe
2.5. Struktur Organisasi
Berdasarkan informasi dari manajemen, susunan organisasi SBI per 30 Juni 2025 adalah
sebagai berikut:
Business Valuation Unit
17 Jakarta
Page 33
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 4. Struktur Organisasi Perusahaan
Sumber: Annual Report SBI 2024
Business Valuation Unit
18 Jakarta
Page 34
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Berdasarkan informasi dari manajemen, susunan organisasi Unit Usaha Divisi AFR per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut :
Figur 5. Struktur Organisasi Unit Usaha Divisi AFR
Sumber: Manajemen SBI
Business Valuation Unit
19 Jakarta
Page 35
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
2.6. Perizinan dan Legalitas
Berikut adalah legalitas yang dimiliki oleh SBI yang digunakan dalam operasionalnya,
diantaranya yaitu:
1. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Semen Tjibinong No. 53 tanggal 15 Juni 1971
oleh Abdul Latief, Notaris di Jakarta, dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. J.A.5/149/7 tanggal 23 September 1971
tentang Pengesahan Badan Hukum Perseroan.
2. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT. Semen
Cibinong Tbk No. 21 tanggal 30 November 2005 oleh Dr. A, Partomuan Pohan, S.H,
LL.M., Notaris di Jakarta, dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia No : CC-34995 HT.01.04.TH.2005 tanggal 30 Desember
2005 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
3. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar PT. Holcim Indonesia
Tbk No. 11 tanggal 11 Februari 2019 oleh Aulia Taufani., S.H., notaris di Kota Jakarta
Selatan, dan telah disahkan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia melalui Surat Keputusan No. AHU-0008550.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal
18 Februari 2019 tentang Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas PT.
Solusi Bangun Indonesia Tbk tanggal 18 Februari 2019.
4. Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk No. 18 tanggal 12
Agustus 2025 oleh Aulia Taufani., S.H., notaris di Kota Jakarta Selatan, dan telah
diterima dan dicatat di dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian
Hukum Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum dalam Surat
Penerimaan Pemberitahuan Nomor AHU-AH.01.09-0329839 tanggal 26 Agustus 2025.
5. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 0010 0170 7709 2000.
6. Nomor Induk Berusaha: 9120409812015 dengan nama pelaku usaha PT Solusi Bangun
Indonesia Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik sistem OSS tanggal 21
Agustus 2019.
7. Izin Usaha atas nama Perusahaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, terkait kode KBLI
23941, dengan Lokasi Usaha Jl. Raya Narogong KM 7, Kelurahan Kembang Kuning,
Kec. Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dikeluarkan tanggal 22
Agustus 2019.
8. Izin Usaha atas nama Perusahaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, terkait kode KBLI
23941, dengan Lokasi Usaha Jl. Ir. H. Juanda No. 1, Kelurahan Karangtalun, Kec.
Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah dikeluarkan tanggal 22
Agustus 2019.
9. Izin Usaha atas nama Perusahaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, terkait kode KBLI
23941, dengan Lokasi Usaha Jl. Glondong Gede-Kerek KM 3, Desa Merkawang, Kec.
Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur dikeluarkan tanggal 22 Agustus
2019.
Dan Berikut adalah legalitas yang dimiliki oleh SBI untuk unit usaha divisi AFR yang
digunakan dalam operasionalnya, diantaranya yaitu:
1. Izin Lingkungan atas nama PT Holcim Indonesia Tbk dengan lokasi Jl. Raya Narogong
KM 7, Kelurahan Kembang Kuning, Kec. Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi
Jawa Barat dikeluarkan tanggal 30 Desember 2016.
Business Valuation Unit
20 Jakarta
Page 36
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
2. Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan
Hidup Republik Indonesia Nomor 1153 Tahun 2025 tentang Perubahan Atas Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 864 Tahun 2024
Tentang Kelayakan Lingkungan Hidup Kegiatan Terpadu Pembangunan Pabrik Semen
Narogong Di Desa Kembang Kuning, Desa Nambo, dan Desa Lulut, Kecamatan
Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat oleh PT Solusi Bangun Indonesia
Tbk. Tanggal 10 Juni 2025.
3. Izin Lokasi atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan lokasi Jl. Raya Narogong
KM 7, Kelurahan Kembang Kuning, Kec. Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi
Jawa Barat dikeluarkan tanggal 20 Mei 2019.
4. Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan Kegiatan Pemanfaatan
Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Narogong Nomor S.617/MENLHK-
PSLB3/VPLB3/PLB.3/4/2021 tanggal 20 April 2021.
5. Surat Kelayakan Operasional di bidang Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Narogong Nomor
S.711/MENLHK-PSLB3/VPLB3/PLB.3/4/2021 tanggal 30 April 2021.
6. Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan Pengolahan
Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk. Nomor S.43/G/G.4/PLB3.0/B/I/2025
tanggal 17 Januari 2025.
7. Perubahan Kedua Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan
Kegiatan Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Narogong
Nomor S.305/G/G.4/PLB3.0/B/5/2025 tanggal 09 Mei 2025
8. Izin Usaha (Izin Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (limbah B3) untuk
Usaha Jasa) atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk tanggal terbut izin usaha proyek
pertama 24 Desember 2019 dan perubahan ke -11 tanggal 6 Juli 2020.
9. Surat Pernyataan Telah Terpenuhinya Pemenuhan Komitmen Izin Pengelolaan Limbah
B3 untuk Usaha Jasa Pengolahan Limbah B3 menggunakan Ozone Depleting Substances
(ODS) Treatment Facility berupa alat Rotary Kiln NAR-2 PT Solusi Bangun Indonesia
Tbk Nomor S.88/Menlhk/ Setjen/PLB.3/1/2020 tanggal 24 Januari 2020.
10. Izin Lingkungan atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan lokasi usaha Jl. Ir.
H. Juanda No. 1, Kelurahan Karangtalun, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap,
Provinsi Jawa Tengah dikeluarkan tanggal 22 Agustus 2019.
11. Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan
Hidup Republik Indonesia Nomor 731 Tahun 2025 Tentang Kelayakan Lingkungan
Hidup Kegiatan Operasional Industri Semen Di Kecamatan Cilacap Utara, Kecamatan
Cilacap Selatan Dan Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Tanggal 07 Mei 2025.
12. Izin Lokasi atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan lokasi usaha Jl. Ir. H.
Juanda No. 1, Kelurahan Karangtalun, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Provinsi
Jawa Tengah dikeluarkan tanggal 22 Agustus 2019.
13. Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan Kegiatan Pemanfaatan
Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap Nomor
S.616/MENLHK.PSLB3/VPLB3/PLB.3/4/2021 tanggal 20 April 2021.
14. Surat Kelayakan Operasional di bidang Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap Nomor
S.711/MENLHK-PSLB3/VPLB3/PLB.3/4/2021 tanggal 30 April 2021.
15. Perubahan Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan Kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap Nomor
S.516/PSLB3/PLB3/PLB.3/8/2023 tanggal 24 Agustus 2023.
Business Valuation Unit
21 Jakarta
Page 37
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
16. Izin Lingkungan atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan Lokasi Usaha Jl.
Glondong Gede-Kerek KM 3, Desa Merkawang, Kec. Tambakboyo, Kabupaten Tuban,
Provinsi Jawa Timur dikeluarkan tanggal 22 Agustus 2019.
17. Izin Lingkungan (Perubahan) atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan Lokasi
Usaha Jl, Glondong Gede-Kerek KM 3, Desa Merkawang, Kec. Tambakboyo,
Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur dikeluarkan tanggal 07 Januari 2021.
18. Surat Keputusan Bupati Tuban Nomor 188.45/172/Kpts/414.013/2020 Tentang
Perubahan Atas Keputusan Bupati Nomor 188.45/08/Kpts/414.012/2013 Tentang
Kelayakan Lingkungan Hidup Kegiatan Pembangunan Pabrik Semen, Penambangan,
Terminal Khusus Dan Fasilitas Pendukungnya Di Kabupaten Tuban oleh PT. Holcim
Indonesia Tbk. Tanggal 17 Juli 2020.
19. Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan
Hidup Republik Indonesia Nomor 1746 Tahun 2025 Tentang Perubahan Atas Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor 1400 Tahun 2024 Tentang
Kelayakan Lingkungan Hidup Kegiatan Pembangunan Dan Operasional Pabrik Semen,
Penambangan, Terminal Khusus Dan Fasilitas Pendukungnya Di Kabupaten Tuban,
Provinsi Jawa Timur oleh PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk. Tanggal 21 Agustus 2025.
20. Izin Lokasi atas nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan Lokasi Usaha Jl,
Glondong Gede-Kerek KM 3, Desa Merkawang, Kec. Tambakboyo, Kabupaten Tuban,
Provinsi Jawa Timur dikeluarkan tanggal 21 Agustus 2019.
21. Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan Kegiatan Pemanfaatan
Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pabrik Tuban Nomor S.790/MENLHK-
PSLB3/VPLB3/PLB.3/5/2021 tanggal 11 Mei 2021.
22. Surat Kelayakan Operasional di bidang Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pabrik Tuban Nomor
S.791/MENLHK-PSLB3/VPLB3/PLB3/5/2021 tanggal 11 Mei 2021.
23. Perubahan Persetujuan Teknis di Bidang Pengelolaan Limbah B3 dengan Kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pabrik Tuban Nomor
S.106/G/G.4/PLB.3.0/B/2/2025 tanggal 12 Februari 2025.
2.7. Kinerja Keuangan Historis
Untuk melihat perkembangan kinerja SBI, seperti posisi keuangan, laba rugi dan potensi atau
kemajuan yang dialami selama beberapa tahun terakhir, maka hasil analisis keuangan historis
yang bersumber dari laporan keuangan audited per 31 Desember 2019, per 31 Desember
2020, per 31 Desember 2021, per 31 Desember 2022, per 31 Desember 2023, per 31
Desember 2024 dan per 30 Juni 2025 disajikan sebagai berikut:
Business Valuation Unit
22 Jakarta
Page 38
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 6. Historis Laporan Posisi Keuangan
(Dalam Jutaan Rupiah)
Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Keterangan
Audit Audit Audit Audit Audit Audit Audit
Aset
Aset Lancar 3.206.838 4.216.215 5.238.269 5.059.160 6.091.058 4.703.796 4.530.794
Aset Tidak
16.360.660 16.521.910 16.252.754 16.319.350 16.115.681 16.342.556 16.209.544
Lancar
Jumlah Aset 19.567.498 20.738.125 21.491.023 21.378.510 22.206.739 21.046.352 20.740.338
Liabilitas dan
Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas
Jangka 2.963.506 4.141.265 3.899.406 4.849.160 5.518.883 4.464.643 4.667.704
Pendek
Liabilitas
Jangka 9.621.380 9.030.681 6.392.545 4.669.312 4.183.242 3.667.599 3.260.309
Panjang
Jumlah
12.584.886 13.171.946 10.291.951 9.518.472 9.702.125 8.132.242 7.928.013
Liabilitas
Ekuitas
Jumlah Ekuitas 6.982.612 7.566.179 11.199.072 11.860.038 12.504.614 12.914.110 12.812.325
Jumlah
Liabilitas dan 19.567.498 20.738.125 21.491.023 21.378.510 22.206.739 21.046.352 20.740.338
Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Figur 7. Historis Laporan Laba (Rugi)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Keterangan
Audit Audit Audit Audit Audit Audit Audit
Penjualan 11.057.843 10.108.220 11.218.181 12.262.048 12.371.333 11.818.978 4.973.697
Beban Pokok
(8.172.758) (7.124.690) (8.365.429) (9.330.140) (9.597.271) (9.263.093) (3.934.978)
Penjualan
Laba Kotor 2.885.085 2.983.530 2.852.752 2.931.908 2.774.062 2.555.885 1.038.719
Laba Sebelum
Pajak 407.610 977.898 1.086.817 1.169.870 1.230.626 1.016.682 359.289
Penghasilan
Laba Bersih
499.052 650.988 713.344 839.276 894.645 745.090 266.527
Tahun Berjalan
Jumlah Laba
Komprehensif
Lain Tahun 566.262 618.629 693.646 877.246 896.359 677.890 270.760
Berjalan
Setelah Pajak
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Business Valuation Unit
23 Jakarta
Page 39
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 8. Historis Laporan Arus Kas
(Dalam Jutaan Rupiah)
Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Keterangan
Audit Audit Audit Audit Audit Audit Audit
Arus Kas
209.344 1.000.000 1.536.576 2.995.242 1.208.081 1.876.799 332.408
Operasi
Arus Kas
(536.593) (344.714) (398.477) (931.130) (807.633) (767.005) (128.371)
Investasi
Arus Kas
376.406 (510.963) (1.371.477) (2.060.427) (355.923) (1.299.895) (148.016)
Pendanaan
Kas dan Bank
336.606 386.751 526.813 290.567 294.344 339.455 150.342
Awal Tahun
Kas dan Bank
386.751 526.813 290.567 294.344 339.455 150.342 205.670
Akhir Tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
2.7.1 Analisis Posisi Keuangan
Perkembangan posisi keuangan SBI dapat dilihat pada grafik berikut:
Figur 9. Historis Perkembangan Posisi Keuangan
Pertumbuhan Posisi Keuangan SBI
31 Desember 2019 -30 Juni 2025
(Dalam Jutaan Rupiah)
25,000,000
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
-
Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Aset 19,567,498 20,738,125 21,491,023 21,378,510 22,206,739 21,046,352 20,740,338
Liabilitas 12,584,886 13,171,946 10,291,951 9,518,472 9,702,125 8,132,242 7,928,013
Ekuitas 6,982,612 7,566,179 11,199,072 11,860,038 12,504,614 12,914,110 12,812,325
Aset Liabilitas Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Total aset SBI pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp19.567.498 juta dan meningkat menjadi
Rp20.738.125 juta pada tahun 2020 atau tumbuh sebesar 5,98%. Pada tahun 2021 aset
kembali meningkat menjadi Rp21.491.023 juta atau naik 3,63% dibandingkan tahun
sebelumnya. Namun pada tahun 2022, total aset mengalami penurunan tipis sebesar 0,52%
menjadi Rp21.378.510 juta. Selanjutnya, pada tahun 2023 aset meningkat menjadi
Rp22.206.739 juta atau naik 3,87%, kemudian menurun kembali menjadi Rp21.046.352 juta
pada tahun 2024 atau turun 5,23%. Per 30 Juni 2025, total aset tercatat sebesar Rp20.740.338
juta atau turun 1,45% dari tahun sebelumnya.
Total liabilitas SBI pada tahun 2019 sebesar Rp12.584.886 juta dan meningkat menjadi
Rp13.171.946 juta pada tahun 2020 atau naik 4,66%. Pada tahun 2021 liabilitas turun
signifikan menjadi Rp10.291.951 juta atau menurun 21,86%, kemudian terus menurun
menjadi Rp9.518.472 juta pada tahun 2022 dan Rp9.702.125 juta pada tahun 2023.
Business Valuation Unit
24 Jakarta
Page 40
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Penurunan berlanjut hingga tahun 2024 sebesar Rp8.132.242 juta, dan kembali menurun pada
30 Juni 2025 menjadi Rp7.928.013 juta. Tren ini menunjukkan adanya upaya Perseroan
dalam mengurangi beban liabilitas secara bertahap dari tahun ke tahun.
Total ekuitas SBI pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp6.982.612 juta dan meningkat menjadi
Rp7.566.179 juta pada tahun 2020 atau naik 8,36%. Pada tahun 2021, ekuitas meningkat
signifikan menjadi Rp11.199.072 juta atau tumbuh 48,01% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan terus berlanjut pada tahun 2022 menjadi Rp11.860.038 juta, tahun 2023 menjadi
Rp12.504.614 juta, dan tahun 2024 menjadi Rp12.914.110 juta. Per 30 Juni 2025, total
ekuitas tercatat sebesar Rp12.812.325 juta atau relatif stabil. Peningkatan ekuitas ini
menunjukkan kinerja keuangan Perseroan yang semakin solid, ditunjang oleh pertumbuhan
laba ditahan dan perbaikan struktur permodalan.
2.7.2 Analisis Laba Rugi
Perkembangan laba (rugi) SBI dapat dilihat pada grafik berikut:
Figur 10. Historis Perkembangan Laba (Rugi)
Pertumbuhan Laba Rugi SBI
31 Desember 2019 - 30 Juni 2025
(Dalam Jutaan Rupiah)
14,000,000
12,000,000
10,000,000
8,000,000
6,000,000
4,000,000
2,000,000
- Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Penjualan 11,057,843 10,108,220 11,218,181 12,262,048 12,371,333 11,818,978 4,973,697
Beban Pokok Penjualan 8,172,758 7,124,690 8,365,429 9,330,140 9,597,271 9,263,093 3,934,978
Laba Kotor 2,885,085 2,983,530 2,852,752 2,931,908 2,774,062 2,555,885 1,038,719
Laba Usaha 1,246,125 1,644,852 1,538,101 1,445,681 1,471,159 1,251,641 443,724
Laba Tahun Berjalan 499,052 650,988 713,344 839,276 894,645 745,090 266,527
Penjualan Beban Pokok Penjualan Laba Kotor Laba Usaha Laba Tahun Berjalan
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Penjualan pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp10.108.220 juta, menurun sebesar 8,59%
dibandingkan tahun 2019 yang mencapai Rp11.057.843 juta. Pada tahun 2021 hingga 2023,
penjualan SBI menunjukkan peningkatan berturut-turut sebesar 10,98%, 9,31%, dan 0,89%,
hingga mencapai Rp12.371.333 juta pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024 penjualan
mengalami penurunan sebesar 4,46% menjadi Rp11.818.978 juta. Per 30 Juni 2025,
penjualan tercatat sebesar Rp4.973.697 juta, menyesuaikan dengan periode pelaporan yang
hanya mencakup setengah tahun.
Beban Pokok Penjualan pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp7.124.690 juta, turun 12,81%
dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp8.172.758 juta. Pada tahun 2021 hingga 2023, beban
pokok penjualan meningkat masing-masing sebesar 17,41%, 11,53%, dan 2,86%, seiring
Business Valuation Unit
25 Jakarta
Page 41
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
peningkatan aktivitas penjualan dan biaya produksi. Pada tahun 2024, beban pokok penjualan
menurun menjadi Rp9.263.093 juta atau turun 3,48% dibandingkan tahun sebelumnya. Per
30 Juni 2025, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp3.934.978 juta.
Laba Kotor SBI pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp2.983.530 juta, meningkat 3,41%
dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp2.885.085 juta. Namun pada tahun 2021 laba kotor
menurun menjadi Rp2.853.855 juta, diikuti fluktuasi pada tahun-tahun berikutnya, yaitu
Rp2.931.908 juta pada 2022, Rp2.774.062 juta pada 2023, dan Rp2.555.885 juta pada 2024.
Per 30 Juni 2025, laba kotor tercatat sebesar Rp1.038.719 juta.
Laba Usaha pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp1.164.852 juta, menurun 6,52%
dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp1.246.125 juta. Pada tahun 2021 hingga 2023, laba
usaha mengalami peningkatan masing-masing sebesar 11,73%, 15,53%, dan 0,68%, hingga
mencapai Rp1.471.159 juta pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024 laba usaha menurun
sebesar 14,97% menjadi Rp1.251.641 juta. Per 30 Juni 2025, laba usaha tercatat sebesar
Rp443.724 juta, menyesuaikan dengan periode pelaporan setengah tahun.
Laba Bersih Tahun Berjalan pada tahun 2020 tercatat sebesar Rp650.988 juta, meningkat
30,44% dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp499.052 juta. Pada tahun 2021 laba bersih
meningkat menjadi Rp720.933 juta, kemudian naik pada tahun 2022 sebesar 16,38% menjadi
Rp839.276 juta, dan mencapai Rp894.645 juta pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024
laba bersih menurun menjadi Rp745.090 juta, dan per 30 Juni 2025 tercatat sebesar
Rp266.527 juta.
2.7.3 Analisis Arus Kas
Perkembangan arus kas SBI dapat dilihat pada figur berikut:
Figur 11. Historis Perkembangan Arus Kas
Pertumbuhan Arus Kas SBI
31 Desember 2019 - 30 Juni 2025
(Dalam Jutaan Rupiah)
4,000,000
3,000,000
2,000,000
1,000,000
-
(1,000,000)
(2,000,000)
(3,000,000)
Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Juni 2025
Arus Kas Bersih Operasi 209,344 1,000,000 1,536,576 2,995,242 1,208,081 1,876,799 332,408
Arus Kas Bersih Investasi (536,593) (344,714) (398,477) (931,130) (807,633) (767,005) (128,371)
Arus Kas Bersih Pendanaan 376,406 (510,963) (1,371,477) (2,060,427) (355,923) (1,299,895) (148,016)
Kas dan Setara Kas Awal Tahun 336,606 386,751 526,813 290,567 294,344 339,455 150,342
Kas dan Setara Kas Akhir Tahun 386,751 526,813 290,567 294,344 339,455 150,342 205,670
Arus Kas Bersih Operasi Arus Kas Bersih Investasi Arus Kas Bersih Pendanaan
Kas dan Setara Kas Awal Tahun Kas dan Setara Kas Akhir Tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Business Valuation Unit
26 Jakarta
Page 42
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Dari figur kinerja arus kas diatas, aktivitas cash flow SBI untuk periode 31 Desember 2019
– 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
● Arus kas bersih dari aktivitas operasi pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp209.344 juta
dan meningkat signifikan menjadi Rp1.000.000 juta pada tahun 2020 atau naik
377,68%. Peningkatan terus berlanjut pada tahun 2021 sebesar Rp1.536.576 juta dan
mencapai Rp2.995.242 juta pada tahun 2022 atau tumbuh 94,93% dibandingkan tahun
sebelumnya. Namun, pada tahun 2023 arus kas operasi menurun menjadi Rp1.208.081
juta atau turun 59,67%, sebelum kembali meningkat pada tahun 2024 sebesar
Rp1.876.799 juta. Per 30 Juni 2025, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar
Rp332.408 juta, mencerminkan posisi kas yang positif di tengah aktivitas operasional
yang stabil.
● Arus kas bersih dari aktivitas investasi selama periode 2019–2024 tercatat negatif
masing-masing sebesar Rp536.593 juta, Rp344.714 juta, Rp398.477 juta, Rp931.130
juta, Rp807.633 juta, dan Rp767.005 juta. Kondisi negatif tersebut menunjukkan adanya
aktivitas investasi yang berkelanjutan, terutama terkait dengan pembelian aset tetap dan
investasi jangka panjang Perseroan. Per 30 Juni 2025, arus kas bersih dari aktivitas
investasi juga tercatat negatif sebesar Rp128.371 juta, menunjukkan komitmen
Perseroan dalam mempertahankan dan mengembangkan kapasitas produksinya.
● Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp376.406
juta, namun menurun pada tahun 2020 menjadi negatif Rp510.963 juta dan kembali
menurun signifikan pada tahun 2021 menjadi negatif Rp1.371.477 juta. Tren penurunan
berlanjut pada tahun 2022 sebesar negatif Rp2.060.427 juta, yang menunjukkan
pengurangan kewajiban pinjaman. Pada tahun 2023, kondisi pendanaan mulai membaik
dengan arus kas negatif Rp355.923 juta, namun kembali turun pada tahun 2024 menjadi
negatif Rp1.299.895 juta. Per 30 Juni 2025, arus kas dari aktivitas pendanaan tercatat
negatif sebesar Rp148.016 juta, seiring dengan strategi pengelolaan struktur modal yang
lebih konservatif.
● Saldo kas dan bank akhir tahun menunjukkan fluktuasi selama periode 2019–2025. Pada
tahun 2019 tercatat sebesar Rp386.751 juta, meningkat menjadi Rp526.813 juta pada
tahun 2020, kemudian menurun menjadi Rp290.567 juta pada tahun 2021 dan relatif
stabil pada tahun-tahun berikutnya yaitu Rp294.344 juta pada tahun 2022, Rp339.455
juta pada tahun 2023, dan Rp150.342 juta pada tahun 2024. Per 30 Juni 2025, saldo kas
dan bank tercatat sebesar Rp205.670 juta, menunjukkan pengelolaan kas yang
terkendali meskipun terdapat dinamika pada aktivitas investasi dan pendanaan.
2.7.4 Analisis Rasio Keuangan
Figur 12. Historis Rasio Keuangan
Des Des Des Des Des Des Juni
Keterangan
2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Likuiditas
Current Ratio 108,21% 101,81% 134,34% 104,33% 110,37% 105,36% 97,07%
Quick Ratio 71,00% 76,50% 108,20% 78,30% 89,14% 79,57% 69,43%
Cash Ratio 13,05% 12,72% 7,45% 6,07% 6,15% 3,37% 4,41%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 21,1 11,3 4,9 7,5 5,9 5,5 5,8
Pihak Berelasi 23,8 73,1 101,8 73,7 105,9 71,6 79,7
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 2,4 1,7 3,9 2,1 3,2 3,6 3,1
Pihak Berelasi 3,1 1,2 2,3 2,5 3,3 4,6 8,2
Business Valuation Unit
27 Jakarta
Page 43
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Des Des Des Des Des Des Juni
Keterangan
2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Perputaran Persediaan 49,2 53,7 44,5 49,4 44,5 45,4 59,3
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 71,1 83,8 84,5 92,5 85,7 76,9 81,2
Pihak Berelasi 10,8 19,4 50,8 68,0 77,2 55,2 52,9
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 15,1 5,2 2,6 3,2 1,9 3,3 6,3
Pihak Berelasi 0,2 0,5 0,1 0,0 5,5 0,3 15,5
Perputaran Beban Yang Masih
17,2 16,2 9,8 11,0 11,3 10,0 15,2
Harus Dibayar
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 64,32% 63,52% 47,89% 44,52% 43,69% 38,64% 38,23%
Debt to Equity Ratio 180,23% 174,09% 91,90% 80,26% 77,59% 62,97% 61,88%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 26,09% 29,52% 25,43% 23,91% 22,42% 21,63% 20,88%
Operating Profit Margin 11,27% 16,27% 13,71% 11,79% 11,89% 10,59% 8,92%
Net Profit Margin 4,51% 6,44% 6,36% 6,84% 7,23% 6,30% 5,36%
ROA 2,55% 3,14% 3,32% 3,93% 4,03% 3,54% 1,29%
ROE 7,15% 8,60% 6,37% 7,08% 7,15% 5,77% 2,08%
Sumber: Laporan Keuangan Audit SBI
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Current Ratio
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang
dimilikinya. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas perusahaan,
dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar kewajiban. Rasio
lancar SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 108,21%;
101,81%; 134,34%; 104,33%; 110,37%; 105,36%; dan 97,07%.
2. Quick Ratio
Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar, namun
sebagian orang merasa bahwa hasil perhitungan rasio lancar yang menghitung seluruh
aset lancar kurang tajam, oleh karena itu beberapa pos seperti persediaan yang dianggap
kurang lancar, dikeluarkan dalam perhitungan rasio cepat. Rasio cepat pada periode 31
Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 71%; 76,50%; 108,20%; 78,30%;
89,14%; 79,57%; dan 69,43%.
3. Cash Ratio
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya menggunakan aset yang paling likuid, yaitu kas
dan setara kas. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas perusahaan,
dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar kewajiban. Rasio
kas SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 13,05%;
12,72%; 7,45%; 6,07%; 6,15%; 3,37%; dan 4,41%.
Business Valuation Unit
28 Jakarta
Page 44
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas (activity ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
pemanfaatan sumber daya perusahaan atau menilai kemampuan perusahaan dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.
1. Rasio Perputaran Piutang Usaha
Rasio perputaran piutang usaha merupakan indikator keuangan yang digunakan untuk
mengukur efektivitas perusahaan dalam mengelola piutang usaha. Rasio ini
menunjukkan seberapa cepat perusahaan dapat menagih piutang usaha dari debitur
dalam satu periode tertentu. Rasio perputaran piutang usaha SBI pada periode
31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 untuk piutang kepada pihak ketiga tercatat selama
21,1 hari; 11,3 hari; 4,9 hari; 7,5 hari; 5,9 hari; 5,5 hari; dan 5,8 hari. Untuk piutang
kepada pihak berelasi tercatat selama 23,8 hari; 73,1 hari; 101,8 hari; 73,7 hari; 105,9
hari; 71,6 hari; dan 79,7 hari.
2. Rasio Perputaran Piutang Lain-Lain
Rasio perputaran piutang lain-lain merupakan indikator keuangan yang digunakan
untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam mengelola piutang lain-lain. Rasio ini
menunjukkan seberapa cepat perusahaan dapat menagih piutang lain-lain dari debitur
dalam satu periode tertentu. Rasio perputaran piutang lain-lain SBI pada periode
31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 untuk piutang lain-lain kepada pihak ketiga tercatat
selama 2,4 hari; 1,7 hari; 3,9 hari; 2,1 hari; 3,2 hari; 3,6 hari; dan 3,1 hari. Untuk piutang
lain-lain kepada pihak berelasi tercatat selama 3,1 hari; 1,2 hari; 2,3 hari; 2,5 hari; 3,3
hari; 4,6 hari; dan 8,2 hari.
3. Rasio Perputaran Persediaan
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk melihat berapa hari persediaan
berubah menjadi penjualan. Rasio perputaran persediaan SBI pada periode
31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat selama 49,2 hari; 53,7 hari; 44,5 hari; 49,4
hari; 44,5 hari; 45,4 hari; dan 59,3 hari.
4. Rasio Perputaran Utang Usaha
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan
membayar utang usaha (kewajiban kepada pemasok) selama periode tertentu. Rasio ini
memberikan gambaran mengenai efisiensi perusahaan dalam mengelola kewajiban
jangka pendek kepada pemasoknya. Rasio utang usaha SBI pada periode
31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 untuk utang usaha kepada pihak ketiga tercatat
selama 71,1 hari; 83,8 hari; 84,5 hari; 92,5 hari; 85,7 hari; 76,9 hari; dan 81,2 hari.
Untuk utang usaha kepada pihak berelasi tercatat selama 10,8 hari; 19,4 hari; 50,8 hari;
68,0 hari; 77,2 hari; 55,2 hari; dan 52,9 hari
5. Rasio Perputaran Utang Lain-Lain
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan
membayar utang lain-lain selama periode tertentu. Rasio ini memberikan gambaran
mengenai efisiensi perusahaan dalam mengelola kewajiban jangka pendek kepada
pemasoknya. Rasio utang lain-lain SBI pada periode 31 Desember 2019 –
30 Juni 2025 untuk utang lain-lain kepada pihak ketiga tercatat selama 15,1 hari; 5,2
hari; 2,6 hari; 3,2 hari; 1,9 hari; 3,3 hari; dan 6,3 hari.
Business Valuation Unit
29 Jakarta
Page 45
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Untuk utang lain-lain kepada pihak berelasi tercatat selama 0,2 hari; 0,5 hari; 0,1 hari;
0,0 hari; 5,5 hari; 0,3 hari; dan 15,5 hari.
6. Rasio Beban Yang Masih Harus Dibayar
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan membayar kewajiban
jangka pendeknya yang timbul dari beban-beban operasional. Rasio ini mencerminkan
efisiensi perusahaan dalam mengelola kewajiban akrualnya serta menunjukkan
kemampuan likuiditas jangka pendek. Rasio beban yang masih harus dibayar SBI pada
periode 31 Desember 2019 - 30 Juni 2025 tercatat selama 17,2 hari; 16,2 hari; 9,8 hari;
11,0 hari; 11,3 hari; 10,0 hari; dan 15,2 hari
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk melunasi utang-utangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
kategori ini.
1. Debt to asset ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset Perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan Perusahaan. Adapun
tingkat rasio liabilitas terhadap total aset SBI pada periode 31 Desember 2019 –
30 Juni 2025 tercatat sebesar 64,32%; 63,52%; 47,89%; 44,52%; 43,69%; 38,64%; dan
38,23%.
2. Debt to equity ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah liabilitas sama dengan jumlah ekuitas.
Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa rasio liabilitas terhadap
ekuitas SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 180,23%;
174,09%; 91,90%; 80,26%; 77,59%; 62,97%; dan 61,88%.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba
dalam operasinya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.
1. Gross Profit Margin (Rasio Laba Kotor)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
kotor. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba kotor. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba kotor SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
26,09%; 29,52%; 25,43%; 23,91%; 22,42%; 21,63%’ dan 20,88%.
2. Operating Margin (Rasio Laba Operasi)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
operasi. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba operasi. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba operasi SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
11,27%; 16,27%; 13,71%; 11,79%; 11,89%; 10,59%; dan 8,92%.
Business Valuation Unit
30 Jakarta
Page 46
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
3. Net Profit Margin (Rasio Laba Bersih)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba bersih. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba bersih SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
4,51%; 6,44%; 6,36%; 6,84%; 7,23%; 6,30%; dan 5,36%.
4. Ratio Return On Asset (ROA)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih dengan menggunakan seluruh aset perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan
diatas dapat dilihat bahwa rasio ROA SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni
2025 tercatat sebesar 2,55%; 3,14%; 3,32%; 3,93%; 4,03%; 3,54%; dan 1,29%.
5. Ratio Return On Equity (ROE)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih dengan menggunakan ekuitas perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan
diatas dapat dilihat bahwa rasio ROE SBI pada periode 31 Desember 2019 – 30 Juni
2025 tercatat sebesar 7,15%; 8,60%; 6,37%; 7,08%; 7,15%; 5,77%; dan 2,08%.
2.8. Kinerja SBI 2024
Kinerja Perseroan dalam periode tahun 2022 hingga 2024 menunjukkan tren yang relatif
stabil. Dari sisi produksi, Perseroan mencatat total produksi sebesar 10,18 juta ton pada tahun
2022, meningkat menjadi 10,88 juta ton pada tahun 2023, dan sedikit menurun menjadi 10,76
juta ton pada tahun 2024. Pendapatan usaha Perseroan pada tahun 2022 tercatat sebesar
Rp12.2 triliun, mengalami peningkatan pada tahun 2023 menjadi Rp12.3 triliun, namun
menurun pada tahun 2024 menjadi Rp11.8 triliun. Sementara itu, laba tahun berjalan pada
tahun 2022 sebesar Rp745 miliar, meningkat menjadi Rp894 miliar pada tahun 2023,
kemudian kembali menurun menjadi Rp745 miliar pada tahun 2024. Secara keseluruhan,
performa Perseroan pada periode tersebut menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh
dinamika pasar dan efisiensi operasional, dengan capaian kinerja yang tetap stabil dalam
menjaga tingkat produksi dan profitabilitas perusahaan. Berikut grafik dari Kinerja Perseroan
tahun 2022 - 2024:
Figur 13. Kinerja SBI Tahun 2022 - 2024
Sumber: Annual Report SBI, 2024
Business Valuation Unit
31 Jakarta
Page 47
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Strategi Pemasaran SBI 2024
Mengingat persaingan di industri bahan bangunan yang sangat kompetitif perseroan memiliki
strategi pemasaran yang menginduk pada strategi Induk perseroan yang telah merumuskan
strategi penetrasi pasar domestik yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan dinilai efektif
dalam menghadapi kompetisi di industri bahan bangunan
Perseroan memiliki strategi pemasaran diantaranya melalui strategi multi brand, strategi
micro market, dan strategi direct selling, pengelolaan pelanggan dan wilayah, pengembangan
ekosistem digital, pangsa pasar, komunikasi pemasaran, customer engagement, dan
implementasi inisiatif strategis. Perseroan berkomitmen untuk menjalankan operasinya
dengan optimal dan memastikan bahwa produk-produknya dapat ditemukan, di akses dan
dipilih oleh pelanggan yang membutuhkan solusi bahan bangunan.
2.9. Informasi Perpajakan
Pada periode 30 Juni 2025, SBI tercatat memiliki utang pajak sebesar Rp9.216 juta.
Business Valuation Unit
32 Jakarta
Page 48
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
3. TINJAUAN MAKRO EKONOMI
3.1. Perekonomian Global dan Domestik
Ketidakpastian perekonomian global kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS)
memberlakukan kenaikan tarif efektif resiprokal terhadap sejumlah negara maju dan
berkembang. Kondisi ini berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa,
dan Jepang, meskipun negara-negara tersebut telah menerapkan kebijakan fiskal ekspansif
serta melonggarkan kebijakan moneternya. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok
diperkirakan masih menghadapi tekanan seiring upaya diversifikasi ekspor yang belum
menunjukkan hasil optimal. Sementara itu, India diproyeksikan tetap mencatat kinerja
ekonomi yang solid, didorong oleh tingginya permintaan domestik. Bank Indonesia
memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 masih akan berada pada level
moderat, sekitar 3,0%. Tekanan inflasi di Amerika Serikat menunjukkan tren penurunan,
yang memperkuat ekspektasi terhadap arah pelonggaran kebijakan suku bunga acuan Federal
Funds Rate (FFR) di masa mendatang. Seiring dengan meningkatnya risiko ekonomi dan
fiskal di AS, terjadi pergeseran arus modal menuju kawasan Eropa, negara-negara
berkembang, serta instrumen investasi yang dinilai aman seperti emas. Perkembangan
tersebut turut mendorong pelemahan nilai indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju
(DXY) maupun negara berkembang (ADXY).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus diperkuat di tengah melemahnya prospek
perekonomian global. Pada triwulan II tahun 2025, kinerja ekonomi domestik didukung oleh
peningkatan investasi nonbangunan, khususnya pada kegiatan di sektor transportasi. Kinerja
ekspor juga menunjukkan hasil yang cukup baik, terutama dari komoditas berbasis sumber
daya alam serta produk manufaktur. Sementara itu, tingkat konsumsi rumah tangga masih
perlu ditingkatkan, yang tercermin dari melambatnya pertumbuhan penjualan eceran. Dari
sisi sektoral, Lapangan Usaha (LU) Pertanian masih mencatat pertumbuhan positif, ditopang
oleh kinerja subsektor perkebunan dan berbagai program dukungan pemerintah. Namun
demikian, beberapa lapangan usaha utama lainnya, seperti LU Industri Pengolahan serta LU
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, masih menunjukkan kinerja yang belum
optimal. Secara spasial, perekonomian di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua)
diperkirakan tumbuh di atas 5%, sementara pertumbuhan di wilayah lainnya relatif belum
mengalami peningkatan yang signifikan.
Figur 14. Pertumbuhan PDB Dunia dan PMI Global
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Business Valuation Unit
33 Jakarta
Page 49
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 15. Indeks Keyakinan Konsumen dan Penjualan Eceran Global
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 16. Inflasi Dunia, Harga Komoditas Ekspor Indonesia
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 17. Yield UST 10Y dan JGB 10Y dan Indeks Ketidakpastian Global
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Business Valuation Unit
34 Jakarta
Page 50
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 18. Aliran Modal Ke Negara Berkembang dan Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko
Negara Berkembang.
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
3.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perekonomian global, khususnya di negara-negara maju, diperkirakan mengalami pelemahan
lebih lanjut seiring dengan kebijakan kenaikan tarif resiprokal yang akan diberlakukan oleh
Amerika Serikat (AS) mulai 1 Agustus 2025. Prospek ekonomi AS masih menunjukkan
perlambatan, disertai meningkatnya risiko fiskal yang berpotensi menekan stabilitas ekonomi
domestik maupun global. Kondisi serupa juga terjadi di Tiongkok, yang meskipun telah
menerapkan berbagai strategi diversifikasi ekspor, kinerjanya masih belum menunjukkan
penguatan yang signifikan. Kebijakan tarif baru yang diterapkan AS turut memberikan
dampak negatif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa dan Jepang. Di
sisi lain, perekonomian India diperkirakan tetap mencatat kinerja positif, ditopang oleh
kuatnya permintaan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai dinamika tersebut,
Bank Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 masih
akan berada pada tingkat moderat, yaitu sekitar 3,0%. Dalam menghadapi kondisi global
yang penuh ketidakpastian tersebut, diperlukan langkah antisipatif melalui penguatan
koordinasi dan respons kebijakan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun regional. Upaya
ini penting untuk menjaga ketahanan eksternal, mempertahankan stabilitas makroekonomi,
serta terus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik secara berkelanjutan.
Dari sisi domestik, berbagai langkah kebijakan perlu terus diperkuat untuk menjaga dan
mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah melemahnya prospek perekonomian
global. Pada semester II tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mengalami
perbaikan, dengan proyeksi sepanjang tahun berada dalam kisaran 4,6–5,4%. Perbaikan ini
ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik serta kinerja ekspor yang tetap positif,
seiring dengan hasil perundingan tarif antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang
memberikan dampak positif terhadap perdagangan luar negeri. Sinergi kebijakan antara
Pemerintah dan Bank Indonesia juga meningkatkan optimisme pelaku ekonomi, sehingga
mendorong peningkatan aktivitas di berbagai sektor. Pemerintah menerapkan kebijakan
fiskal yang berfokus pada penguatan perlindungan sosial dan pelaksanaan program-program
strategis dalam kerangka Asta Cita. Sementara itu, Bank Indonesia menempuh langkah-
langkah kebijakan yang tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga
mendorong pertumbuhan melalui penurunan suku bunga acuan (BI-Rate), pelonggaran
Business Valuation Unit
35 Jakarta
Page 51
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
likuiditas, serta pemberian insentif makroprudensial kepada sektor perbankan untuk
memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas. Ke depan, Bank Indonesia akan terus
memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dengan
tetap bersinergi erat bersama kebijakan fiskal dan sektor riil Pemerintah. Langkah ini
diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat momentum
pertumbuhan nasional secara berkelanjutan.
Figur 19. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 20. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan II 2025 dan Indeks Keyakinan
Konsumen
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 21. Nilai Tukar Petani dan Penjualan Eceran
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Business Valuation Unit
36 Jakarta
Page 52
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 22. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Purchasing Managers’
Index (PMI) Manufaktur
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 23. Ekspor Nonmigas dan Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap baik dan mendukung ketahanan eksternal. Neraca
perdagangan pada Mei 2025 masih mencatat surplus 4,3 miliar dolar AS, meningkat dari
surplus April 2025 sebesar 0,2 miliar dolar AS. Perkembangan positif pada neraca
perdagangan ini didukung oleh ekspor komoditas mesin listrik serta besi dan baja. Kinerja
ekspor diperkirakan akan tetap positif sejalan dengan hasil perundingan tarif dengan
Pemerintah AS. Sementara itu, aliran masuk modal asing ke instrumen portofolio domestik
juga terus berlanjut dipengaruhi tetap baiknya prospek perekonomian Indonesia, tingginya
imbal hasil instrumen keuangan Indonesia, dan bergesernya aliran modal ke negara
berkembang termasuk Indonesia sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS. Aliran
masuk modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net
inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025 sebesar
1,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi sebesar 152,6
miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan
pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan
internasional sekitar 3 bulan impor.
Melihat ke depan, NPI 2025 diperkirakan akan mencatat defisit transaksi berjalan yang lebih
rendah dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB dengan surplus transaksi
modal dan finansial yang berlanjut, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Business Valuation Unit
37 Jakarta
Page 53
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 24. Neraca Pembayaran Indonesia dan Neraca Perdagangan
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 25. Aliran Modal Asing dan Cadangan Devisa
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 26. Rupiah vs Negara Kawasan dan Suku Bunga Kebijakan Negara Kawasan
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Nilai tukar Rupiah menguat didukung kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta berlanjutnya
aliran masuk modal asing. Nilai tukar Rupiah pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat
sebesar 0,34% (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan
terkini hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap stabil
di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Secara umum, perkembangan Rupiah relatif
stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang mitra dagang
utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang negara maju di luar dolar AS, sehingga
tetap mendukung daya saing ekspor Indonesia. Perkembangan nilai tukar ini didukung oleh
Business Valuation Unit
38 Jakarta
Page 54
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing,
terutama ke instrumen SBN, serta konversi valas ke Rupiah oleh eksportir pasca penerapan
penguatan kebijakan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE
SDA).
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2025 tetap terjaga rendah dan mendukung
stabilitas perekonomian. Inflasi IHK Juni 2025 tercatat rendah 1,87% (yoy) ditopang inflasi
inti yang menurun, inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices
(AP) yang terkendali. Inflasi inti tercatat turun menjadi 2,37% (yoy), dipengaruhi konsistensi
suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan
sasarannya serta permintaan yang lebih rendah. Inflasi kelompok VF masih tercatat rendah
0,57% (yoy) didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan utama dan eratnya sinergi
pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Sementara itu, inflasi kelompok
AP tetap terkendali 1,34% (yoy), di tengah kenaikan tarif air minum PAM dan cukai hasil
tembakau.
Figur 27. Inflasi IHK Provinsi
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Business Valuation Unit
39 Jakarta
Page 55
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 28. Inflasi IHK dan Komponen dan Ekspektasi Inflasi
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Bank Indonesia terus memperkuat respons kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas dan
turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi operasi moneter terus dioptimalkan untuk
memperkuat efektivitas transmisi penurunan suku bunga. Di pasar uang, sejalan dengan
penurunan BI-Rate pada Mei 2025 dan operasi moneter Bank Indonesia, suku bunga
INDONIA terus menurun menjadi 5,14% pada 15 Juli 2025 dari sebelum pengumuman
penurunan BI-Rate pada Mei sebesar 5,77%. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan
juga menurun dari masing-masing sebesar 6,40%, 6,44%, dan 6,47% sebelum penurunan BI-
Rate pada Mei 2025 menjadi 5,85%; 5,86%; dan 5,87% pada tanggal 11 Juli 2025. Imbal
hasil SBN untuk tenor 2 tahun menurun dari 6,13% menjadi 5,86%, sementara untuk tenor
10 tahun menurun dari 6,71% menjadi 6,56%. Namun demikian, suku bunga deposito 1 bulan
meningkat, dari 4,81% pada Mei 2025 menjadi 4,85% pada Juni 2025, seiring dengan
persaingan bank untuk memperoleh pendanaan. Suku bunga kredit perbankan juga masih
tinggi, yaitu 9,16% pada Juni 2025, tidak jauh berbeda dari 9,18% pada Mei 2025.
Strategi operasi moneter pro-market juga terus dioptimalkan untuk mendukung kecukupan
likuiditas di pasar uang dan perbankan. Hingga 14 Juli 2025, total posisi instrumen SRBI
tercatat sebesar Rp782,62 triliun, menurun dari Rp923,53 triliun pada awal Januari 2025,
sehingga mendukung ekspansi likuiditas kebijakan moneter. Sementara itu, posisi instrumen
SVBI dan SUVBI pada periode yang sama tercatat masing-masing sebesar 3,53 miliar dolar
AS dan 491 juta dolar AS. Implementasi dealer utama (primary dealer) sejak Mei 2024 juga
makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo)
antar pelaku pasar. Bank Indonesia juga melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder
untuk memperkuat ekspansi likuiditas kebijakan moneter, sekaligus mencerminkan sinergi
erat antara kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal Pemerintah. Selama tahun 2025
(hingga 15 Juli 2025), Bank Indonesia telah membeli SBN sebesar Rp144,90 triliun, yaitu
melalui pasar sekunder sebesar Rp102,58 triliun dan pasar primer dalam bentuk Surat
Perbendaharaan Negara (SPN), termasuk syariah, sebesar Rp42,32 triliun.
Kredit perbankan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kredit
perbankan pada Juni 2025 tumbuh sebesar 7,77% (yoy), menurun dibandingkan dengan
pertumbuhan Mei 2025 sebesar 8,43% (yoy). Dari sisi penawaran, perkembangan ini
dipengaruhi oleh perilaku bank yang cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit, di
tengah DPK yang tumbuh meningkat menjadi 6,96% (yoy) pada Juni 2025. Perkembangan
ini mengakibatkan bank cenderung menempatkan pada surat-surat berharga dan
Business Valuation Unit
40 Jakarta
Page 56
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
meningkatkan standar penyaluran kredit (lending standard). Dari sisi permintaan,
perkembangan kredit ini juga dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi yang perlu terus didorong.
Berdasarkan penggunaan, kredit investasi, kredit konsumsi, dan kredit modal kerja masing-
masing tumbuh sebesar 12,53% (yoy), 8,49% (yoy), dan 4,45% (yoy) pada Juni 2025.
Berdasarkan sektor, kredit sektor Perdagangan, Pertanian, dan Jasa Dunia Usaha perlu
ditingkatkan untuk mendukung pembiayaan ekonomi. Pembiayaan syariah tumbuh sebesar
8,37% (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit UMKM masih rendah sebesar 2,18% (yoy).
Bank Indonesia terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas
Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan.
Hingga minggu pertama Juli 2025, total insentif KLM mencapai Rp376 triliun, yang
disalurkan kepada kelompok bank BUMN sebesar Rp167,1 triliun, bank BUSN sebesar
Rp166,7 triliun, BPD sebesar Rp36,8 triliun, dan KCBA sebesar Rp5,8 triliun. Secara
sektoral, insentif tersebut disalurkan kepada sektor-sektor prioritas yakni pertanian, real
estate, perumahan rakyat, konstruksi, perdagangan dan manufaktur, transportasi,
pergudangan, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta UMKM, Ultra Mikro, dan hijau.
Ketahanan perbankan tetap kuat dan mendukung stabilitas sistem keuangan. Permodalan
terjaga pada level tinggi, sementara likuiditas perbankan tetap memadai dan risiko kredit
rendah. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
perbankan pada Mei 2025 tetap tinggi sebesar 25,48% sehingga masih mampu untuk
menyerap risiko. Sementara itu, likuiditas perbankan juga terjaga yang tercermin dari rasio
Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,05% pada Juni 2025. Rasio
kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan terjaga rendah, sebesar 2,29%
(bruto) dan 0,85% (neto) pada Mei 2025. Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan
ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas
korporasi yang terjaga.
Figur 29. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan dan Likuiditas perbankan dan
perekonomian
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Business Valuation Unit
41 Jakarta
Page 57
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 30. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA dan Transmisi BI Rate
kepada SBDK
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 31. Suku Bunga Perbankan dan Perkembangan Kredit dan DPK
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
Figur 32. Permodalan Industri Perbankan dan Rasio Kredit Bermasalah (NPL)
Sumber: Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan II 2025
3.3. Analisis Industri Semen
Dilansir dari cnbcindonesia.com, Industri semen nasional masih menunjukkan kinerja yang
tertekan pada semester I tahun 2025. Hal ini tercermin dari sejumlah emiten semen yang
masih mencatatkan penurunan penjualan, bahkan sebagian masih membukukan kerugian.
Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi dan investasi
nasional yang dilaporkan pemerintah.
Business Valuation Unit
42 Jakarta
Page 58
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal
II tahun 2025 tercatat sebesar 5,12% secara tahunan (year-on-year/yoy), didorong oleh
peningkatan investasi. Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi
juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan kontribusi sebesar 27,83% terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan mencapai 6,99% (yoy). Capaian ini meningkat
tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 2,12%
(yoy). Bahkan, pertumbuhan investasi pada kuartal II tahun 2025 menjadi yang tertinggi
sejak kuartal II tahun 2021, yaitu sebesar 7,52%, ketika Indonesia masih berada dalam masa
pandemi Covid-19. Jika mengesampingkan periode pandemi, capaian tersebut merupakan
yang tertinggi sejak kuartal I tahun 2018, ketika investasi tumbuh sebesar 7,92% (yoy).
Namun demikian, pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi belum mampu
memberikan dampak positif terhadap industri semen. Berdasarkan data Asosiasi Semen
Indonesia (ASI), penjualan semen domestik pada semester I tahun 2025 mengalami
penurunan sebesar 2,5% (yoy) menjadi 27,7 juta ton, dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 28,48 juta ton. Produksi semen juga tercatat menurun 5,8% (yoy)
menjadi 28,76 juta ton dari sebelumnya 30,53 juta ton. Penurunan penjualan terjadi hampir
di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di wilayah Sumatera yang tumbuh sebesar 4,9% dan
Maluku–Papua yang tumbuh sebesar 5%.
Faktor utama penurunan penjualan semen antara lain masih lemahnya daya beli masyarakat
dan lambatnya pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur nasional. Selain itu, kondisi pasar
semen yang masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply) turut menekan kinerja
industri, dengan tingkat utilisasi pabrik yang hanya mencapai sekitar 55,6%. ASI
menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 2% pada tahun 2025, namun dengan kinerja
semester I yang masih tertekan, target tersebut dinilai masih cukup menantang untuk dicapai.
3.4. Analisis Industri Pengelolaan Limbah B3
Pembangunan ekonomi di Indonesia saat ini semakin berkembang pesat, khususnya di bidang
industri serta semakin meningkatnya produksi limbah B3 dan non B3, maka permintaan
mengangkut limbah dari perusahaan atau pabrik penghasil limbah semakin meningkat dan
variatif, termasuk cara pengelolaan serta penanganan limbah B3 atau pun non B3 yang baik
dan benar sesuai standarisasi yang mengacu terhadap Pemerintah dan Peraturan Perundang-
undangan lainnya yang masih berlaku.
Pengelolaan limbah bahan beracun dan berbahaya atau B3 dan non B3 didorong untuk
diimplementasikan ke dalam ekonomi sirkular. Pemanfaatan limbah B3 memiliki potensi
ekonomi yang besar, Mewujudkan ekonomi sirkular melalui perdagangan limbah sisa
produksi sangat penting untuk mengurangi krisis lingkungan. Beberapa prinsip yang dapat
diterapkan melalui perdagangan limbah adalah pengurangan limbah, efisiensi sumber daya,
kreasi nilai tambah, inovasi dan kestabilan rantai pasok. Kolaborasi antara Pemerintah,
industri, dan organisasi internasional sangat diperlukan untuk formulasi kebijakan sisa
limbah produksi dengan cara yang berkelanjutan.
Business Valuation Unit
43 Jakarta
Page 59
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 33. Rekapitulasi Limbah B3 2021-Triwulan I 2025
2021 2022 2023 2024
Limbah dihasilkan (ton) 68.558.606 73.803.891 83.476.816 67.944.443
Limbah dikelola lanjut (ton) 64.019.719 68.635.978 80.449.050 46.297.143
Disimpan (ton) 4.536.887 5.167.913 3.027.765 21.647.300
% terkelola 93,4% 93,0% 96,4% 68,1%
Sumber: Ditjen PSLB3 KLHK
Volume limbah yang dihasilkan menunjukkan fluktuasi sepanjang 2021–2024. Pada 2021
tercatat sebesar 68,56 juta ton, meningkat hingga 83,48 juta ton pada 2023, kemudian
menurun menjadi 67,94 juta ton pada 2024. Dari jumlah tersebut, limbah yang dikelola lanjut
naik dari 64,02 juta ton pada 2021 menjadi 80,45 juta ton pada 2023, namun turun signifikan
menjadi 46,30 juta ton pada 2024. Limbah yang disimpan meningkat tajam pada 2024
mencapai 21,65 juta ton, jauh di atas tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 3–5 juta
ton. Persentase pengelolaan limbah juga menurun dari kisaran 93–96% pada 2021–2023
menjadi 68,1% pada 2024, yang menunjukkan adanya keterbatasan kapasitas atau hambatan
dalam proses pengelolaan. Kondisi ini membuka peluang bagi perusahaan pengelola limbah
untuk memperluas kapasitas dan layanan melalui pembangunan fasilitas baru, kerja sama
operasional, serta penerapan teknologi pengelolaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
3.5. Analisis Industri Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam
Dilansir dari neraca.co.id, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
menetapkan sejumlah langkah strategis dalam rangka menjamin ketersediaan energi
nasional, sejalan dengan program pemerintah yang berfokus pada swasembada energi dan
hilirisasi industri. Pada semester I tahun 2025, kinerja sektor minyak dan gas bumi (migas)
menunjukkan perkembangan positif. Produksi minyak nasional pada Juni 2025 mencapai
608,1 ribu barel per hari, atau 100,5% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) 2025 sebesar 605 ribu barel per hari. Rata-rata produksi selama semester I tercatat
Business Valuation Unit
44 Jakarta
Page 60
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
602,4 ribu barel per hari, atau 99,5% dari target, yang menjadi capaian tertinggi dalam lebih
dari satu dekade terakhir. Produksi gas bumi juga menunjukkan peningkatan yang signifikan,
mencapai 1.146,4 MBOEPD pada Juni 2025 dengan rata-rata semester I sebesar 1.199,7
MBOEPD atau 119% dari target APBN. Dari total pemanfaatan gas bumi sebesar 5.598
BBTUD, sekitar 69% (3.877 BBTUD) disalurkan untuk kebutuhan domestik, guna
mendukung kegiatan hilirisasi dan industri nasional, sementara 31% (1.721 BBTUD)
dialokasikan untuk ekspor.
Pemerintah berupaya mempercepat proses perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama
(KKKS) untuk mendorong peningkatan lifting migas sesuai target nasional. Dari total 128
cekungan migas di Indonesia, saat ini baru 20 cekungan yang berproduksi aktif, sehingga
masih terdapat potensi besar untuk kegiatan eksplorasi lanjutan. Selain itu, beberapa Wilayah
Kerja (WK) yang telah memiliki Plan of Development (POD) masih belum beroperasi,
sehingga diperlukan percepatan dalam pengembangan wilayah tersebut serta penyelesaian
hambatan administrasi dan teknis yang ada. Dalam rangka mendukung peningkatan investasi,
pemerintah juga menyiapkan kebijakan fiskal yang lebih kompetitif melalui penerapan
skema gross split maupun cost recovery, dengan tingkat pengembalian investasi (Internal
Rate of Return/IRR) yang dirancang agar proyek hulu migas tetap ekonomis dan menarik
bagi investor.
Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui optimalisasi lapangan eksisting, reaktivasi
sumur tidak aktif, serta percepatan kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan baru. Di
sisi lain, perusahaan migas nasional terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga tingkat
produksi di tengah tantangan penurunan alamiah (natural decline) yang mencapai sekitar
21% per tahun. Hingga Mei 2025, produksi migas nasional tercatat sebesar 1,04 juta barel
setara minyak per hari (MMBOEPD), yang terdiri dari 559 ribu barel minyak per hari
(MBOPD) dan 2.800 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Pada periode yang
sama, kegiatan hulu migas mencakup penyelesaian 5 sumur eksplorasi, 341 sumur
pengembangan, 523 kegiatan workover, dan 15.424 kegiatan well services. Selain itu, telah
ditemukan sumber daya migas baru dengan total potensi sebesar 767 juta barel setara minyak
(MMBOE) serta penambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 40,9 MMBOE, baik dari hasil
kegiatan domestik maupun luar negeri.
Berkaca dari tahun 2023 dari rencana pengeboran 57 sumur eksplorasi, terealisasi sebanyak
38 sumur atau 67% dari target. Dari jumlah tersebut, 26 sumur telah selesai dibor, dengan 14
sumur di antaranya berhasil menemukan hidrokarbon. Rasio keberhasilan pengeboran
eksplorasi mencapai 54%, dengan estimasi total sumber daya mencapai sekitar 1.711,77 juta
barel setara minyak (MMBOE) berdasarkan hasil preliminary post drill kategori P50.
Business Valuation Unit
45 Jakarta
Page 61
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 34. Peta Realisasi Pengeboran Sumur Eksplorasi 2023
Sumber: Laporan SKK Migas Tahun 2023
Dari 38 sumur yang tajak pada tahun 2023, terdapat 26 sumur yang telah dinyatakan selesai.
Persentase geological success ratio (sumur penemuan dan indikasi dihitung sebagai
kesuksesan dalam membuktikan sistem petroleum yang menghasilkan hidrokarbon) adalah
54% (14 penemuan dari 26 sumur). Estimasi sumber daya dari 14 sumur tersebut adalah
±1.711,77 MMBOE (P50, preliminary post drill).
Figur 35.Penemuan Eksplorasi Tahun 2023
Sumber: Laporan SKK Migas Tahun 2023
Secara keseluruhan, kinerja sektor migas nasional tahun 2025 menunjukkan arah yang
positif. Peningkatan produksi, percepatan eksplorasi, serta dukungan kebijakan fiskal yang
kondusif menjadi faktor pendorong utama. Meski demikian, tantangan berupa keterbatasan
kapasitas produksi, kebutuhan investasi tambahan, dan efisiensi operasional masih perlu
menjadi fokus untuk mewujudkan kemandirian energi nasional secara berkelanjutan.
Business Valuation Unit
46 Jakarta
Page 62
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
4. ASPEK PASAR
4.1. Kondisi Pasar
Secara umum, industri minyak dan gas bumi (migas) nasional pada tahun 2025 menunjukkan
tren pertumbuhan yang positif, seiring dengan peningkatan produksi, percepatan kegiatan
eksplorasi, dan dukungan kebijakan fiskal yang kondusif. Hingga Mei 2025, produksi migas
nasional tercatat mencapai 1,04 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD), yang terdiri
atas 559 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 2.800 juta standar kaki kubik gas per hari
(MMSCFD). Kegiatan hulu migas pada periode tersebut meliputi penyelesaian 5 sumur
eksplorasi, 341 sumur pengembangan, 523 kegiatan workover, dan 15.424 kegiatan well
services. Selain itu, telah ditemukan sumber daya migas baru dengan potensi sebesar 767 juta
barel setara minyak (MMBOE) serta penambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 40,9
MMBOE. Meskipun demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan
kapasitas produksi, kebutuhan investasi tambahan, serta peningkatan efisiensi operasional
untuk mewujudkan kemandirian energi nasional secara berkelanjutan.
Seiring dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi migas, timbul pula peluang bagi sektor
pengelolaan limbah untuk berkembang. Aktivitas pengeboran, pengujian sumur, serta proses
pengolahan minyak dan gas berpotensi menghasilkan berbagai jenis limbah, baik cair, padat
dan gas. Kondisi ini membuka kesempatan bagi perusahaan pengelola limbah untuk
memperluas layanan melalui penyediaan fasilitas pengolahan yang sesuai standar
lingkungan, sekaligus mendukung penerapan prinsip keberlanjutan dalam industri migas
nasional.
4.1.1. Pangsa Pasar
Industri pengelolaan limbah B3 dan non-B3 di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang
signifikan seiring dengan meningkatnya aktivitas industri dan penerapan regulasi lingkungan
yang lebih ketat. Salah satu segmen pasar yang kini menjadi perhatian adalah pengelolaan
limbah dari kegiatan pertambangan minyak bumi dan gas alam (migas), yang meliputi proses
eksplorasi, pengeboran, produksi, hingga pengolahan hasil tambang. Setiap tahap kegiatan
tersebut menghasilkan berbagai jenis limbah seperti drilling waste, sludge oil, produced
water, dan residu bahan kimia, yang seluruhnya memerlukan pengolahan dengan teknologi
dan izin khusus sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Permintaan terhadap jasa pengelolaan limbah di sektor migas terus meningkat seiring dengan
berlanjutnya kegiatan eksplorasi dan produksi di berbagai wilayah Indonesia seperti
Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga
mendorong peningkatan produksi migas nasional guna memperkuat ketahanan energi,
sehingga secara langsung meningkatkan volume limbah yang perlu dikelola secara aman dan
berkelanjutan. Kondisi ini menciptakan peluang pasar yang luas bagi perusahaan yang
memiliki kapabilitas teknis dan fasilitas pengelolaan limbah sesuai standar lingkungan,
terutama untuk kegiatan drilling waste management dan pengelolaan limbah cair maupun
padat dari aktivitas migas.
Secara umum, struktur pasar pengelolaan limbah migas di Indonesia masih terbatas pada
beberapa pemain besar yang beroperasi di sekitar kawasan industri migas utama. Namun,
masih terdapat kekosongan layanan di beberapa wilayah potensial, khususnya pada area
Business Valuation Unit
47 Jakarta
Page 63
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
eksplorasi baru yang belum memiliki fasilitas pengolahan terintegrasi. Kesenjangan ini
membuka peluang bagi pelaku usaha lain yang mampu menyediakan solusi pengelolaan
limbah terpadu dengan teknologi ramah lingkungan dan efisiensi tinggi.
Dalam konteks ini, SBI memiliki potensi yang kuat untuk memasuki dan memperluas pangsa
pasar di sektor pengelolaan limbah migas. Melalui unit bisnis AFR, SBI telah memiliki
pengalaman dan infrastruktur dalam pengelolaan limbah B3 dan non-B3, termasuk fasilitas
co-processing yang memenuhi standar lingkungan nasional dan internasional. Keunggulan
ini memberikan daya saing tersendiri dalam menawarkan layanan pengelolaan limbah
terintegrasi yang tidak hanya memenuhi kewajiban lingkungan, tetapi juga mendukung
penerapan prinsip keberlanjutan dan efisiensi sumber daya di sektor migas.
Dengan dukungan kapabilitas teknis, sistem manajemen lingkungan yang sudah mapan, serta
reputasi korporasi yang kuat, SBI berpeluang untuk memperluas jaringan dan kerja sama
dengan perusahaan migas nasional maupun internasional. Hal ini didukung pula oleh tren
industri yang mengarah pada pemilihan mitra pengelola limbah dengan rekam jejak ESG
(Environmental, Social, and Governance) yang baik. Oleh karena itu, pangsa pasar
pengelolaan limbah B3 dan non-B3 untuk sektor pertambangan minyak bumi dan gas alam
dapat dikategorikan sangat potensial untuk dikembangkan oleh SBI, terutama dalam layanan
jasa drilling waste management dan pengolahan residu kegiatan eksplorasi migas secara
berkelanjutan.
4.1.2. Kesinambungan (Sustainability)
Kegiatan pengelolaan limbah B3 dan non-B3 pada sektor pertambangan minyak bumi dan
gas alam berperan penting dalam mendukung keberlanjutan industri energi nasional. Limbah
hasil eksplorasi dan produksi migas, seperti drilling waste, sludge oil, dan produced water,
memerlukan sistem penanganan terintegrasi agar tidak mencemari lingkungan serta dapat
dimanfaatkan kembali secara aman. Penerapan teknologi pengolahan yang efisien dan
berprinsip ekonomi sirkular menjadi kunci dalam mengurangi dampak lingkungan sekaligus
menciptakan nilai tambah dari pemanfaatan residu limbah.
Peluang pengembangan jasa pengelolaan limbah di sektor migas bersifat jangka panjang,
seiring dengan terus berjalannya kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Indonesia serta
dukungan kebijakan pemerintah terhadap ketahanan energi nasional. Regulasi lingkungan
yang semakin ketat dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)
juga mendorong meningkatnya permintaan terhadap layanan pengelolaan limbah yang
berstandar tinggi dan berkelanjutan.
SBI memiliki potensi kuat untuk menjaga kesinambungan usaha di sektor ini melalui unit
bisnis AFR yang telah menerapkan teknologi co-processing ramah lingkungan sesuai standar
nasional dan internasional. Dengan dukungan pengalaman, infrastruktur pengelolaan limbah
yang memadai, serta komitmen terhadap efisiensi dan inovasi, SBI berpeluang memperkuat
posisi sebagai penyedia layanan pengelolaan limbah berkelanjutan yang mendukung
pertumbuhan industri migas nasional.
Business Valuation Unit
48 Jakarta
Page 64
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
4.1.3. Potensi Pasar
Potensi pasar pengelolaan limbah B3 dan non-B3 di sektor pertambangan minyak bumi dan
gas alam di Indonesia sangat besar dan menjanjikan. Kegiatan eksplorasi, pengeboran, serta
produksi migas di berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi
menghasilkan volume limbah industri yang tinggi, mencakup drilling waste, sludge oil,
produced water, dan residu bahan kimia. Setiap perusahaan migas membutuhkan mitra
pengelola limbah yang memiliki izin lengkap, teknologi pengolahan ramah lingkungan, serta
kepatuhan terhadap regulasi pemerintah. Kondisi ini membuka peluang pasar luas bagi
penyedia jasa pengelolaan limbah yang mampu menawarkan solusi terpadu dan
berkelanjutan.
Selain perusahaan migas utama, potensi pasar juga berasal dari sektor penunjang seperti
perusahaan jasa pengeboran (drilling service), kontraktor lapangan (oilfield contractor), serta
kawasan industri yang mendukung kegiatan hulu migas. Setiap entitas dalam rantai nilai
tersebut menghasilkan limbah B3 dan non-B3 yang memerlukan pengumpulan,
pengangkutan, hingga pengolahan dengan teknologi sesuai standar lingkungan.
Meningkatnya kesadaran industri terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance
(ESG) turut mendorong permintaan terhadap pengelolaan limbah yang efisien dan dapat
dipertanggungjawabkan secara transparan.
Dengan pengalaman dan kemampuan teknis yang dimiliki melalui unit usaha divisi AFR
dengan merek dagang “Nathabumi”, SBI memiliki peluang besar untuk mengisi celah pasar
tersebut. SBI dapat memanfaatkan fasilitas dan teknologi co-processing yang telah terbukti
dalam pengelolaan limbah industri untuk memperluas layanan ke sektor migas, terutama
dalam kegiatan drilling waste management dan pengelolaan limbah cair. Melalui pendekatan
berbasis keberlanjutan dan dukungan kebijakan pemerintah terhadap penguatan ketahanan
energi nasional, potensi pasar pengelolaan limbah migas bagi SBI diproyeksikan akan terus
tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan bisnis di masa
mendatang.
4.1.4. Sasaran
Sasaran utama pasar pengelolaan limbah B3 dan non-B3 pada sektor pertambangan minyak
bumi dan gas alam meliputi perusahaan-perusahaan migas yang terlibat dalam kegiatan
eksplorasi, pengeboran, dan produksi. Perusahaan-perusahaan ini, baik berskala nasional
maupun internasional, merupakan penghasil utama limbah industri yang memerlukan
layanan pengelolaan limbah secara terpadu, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga
pengolahan akhir. Sasaran potensial meliputi perusahaan hulu seperti Pertamina Hulu Energi,
Medco E&P Indonesia, dan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lain yang
beroperasi di wilayah darat dan lepas pantai. Setiap entitas tersebut membutuhkan mitra
pengelola limbah yang memiliki sertifikasi dan fasilitas pengolahan sesuai dengan ketentuan
Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH).
Selain perusahaan hulu migas, sasaran pasar juga mencakup perusahaan jasa penunjang
kegiatan migas seperti drilling contractor dan penyedia jasa migas seperti Halliburton
Indonesia, Schlumberger Geophysics Nusantara, Weatherford Indonesia, dan lainnya.
Entitas-entitas ini biasanya menangani limbah operasional seperti drilling mud, cutting oil,
dan limbah cair proses produksi yang membutuhkan pengelolaan lanjutan. Dalam konteks
Business Valuation Unit
49 Jakarta
Page 65
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
ini, penyedia layanan seperti SBI melalui unit usaha divisi AFR dengan merek dagang
“Nathabumi” memiliki peluang untuk menjalin kemitraan strategis dalam penyediaan jasa
drilling waste management maupun pengelolaan limbah B3 dan non-B3 yang dihasilkan dari
kegiatan pendukung eksplorasi dan produksi migas.
4.1.5. Potensi Nilai Pasar
Potensi nilai pasar Perseroan dapat digambarkan dengan proyeksi pendapatan. Berdasarkan
proyeksi yang disusun dengan penambahan kegiatan usaha, potensi nilai pasar Perseroan
untuk periode Juli – Desember 2025 sampai dengan Desember 2030 dapat dilihat pada tabel
berikut.
Figur 36. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Dalam Jutaan Rupiah)
Keterangan Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Pendapatan 5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
4.2. Pesaing Usaha
Dalam upaya melakukan ekspansi usaha di bidang Aktivitas Penunjang Pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Alam (KBLI: 09100), SBI tentu tidak dapat menghindari dinamika
persaingan pasar. Kehadiran sejumlah pelaku usaha lain dalam industri sejenis menjadi faktor
penting yang perlu diperhitungkan. Adapun beberapa perusahaan yang menjadi kompetitor
utama SBI di sektor ini, adalah sebagai berikut:
● PT. PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri)
● PT. PLKK (Pengelola Limbah Kutai Kartanegara)
● PT. ITP Tbk (Indocement Tunggal Prakarsa)
● PT. MHK Tbk (Multi Hanna Kreasindo)
● PT. Wastec International
4.3. Strategi Pemasaran
Sebagai bagian dari pengembangan usaha di sektor penunjang industri migas nasional,
layanan drilling waste management yang akan dijalankan oleh SBI memiliki potensi pasar
yang luas, terutama dari meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi migas di Indonesia.
Strategi pemasaran disusun untuk menjangkau berbagai segmen pelanggan, termasuk
perusahaan kontraktor migas, operator eksplorasi dan produksi (E&P), serta badan usaha
milik negara (BUMN) di sektor energi. Pendekatan utama yang akan dilakukan adalah
melalui kerja sama langsung dengan pelaku industri migas, baik melalui mekanisme
pengadaan tertutup (tender) maupun penunjukan langsung sesuai dengan regulasi sektor
energi dan lingkungan. SBI juga akan mengoptimalkan jaringan kemitraan yang telah
dimiliki melalui unit usaha divisi AFR dengan merek dagang “Nathabumi” serta memperluas
kerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait pengelolaan limbah industri.
Selain pendekatan langsung kepada pelaku usaha, SBI akan memanfaatkan strategi
komunikasi bisnis dan publikasi korporasi untuk memperkuat posisi merek sebagai penyedia
layanan pengelolaan limbah migas yang andal dan berpengalaman. Kegiatan promosi
Business Valuation Unit
50 Jakarta
Page 66
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
dilakukan melalui forum industri, pameran energi, seminar lingkungan, serta kolaborasi
dengan asosiasi migas nasional. Strategi ini bertujuan untuk menampilkan keunggulan teknis
SBI, seperti penerapan teknologi co-processing dan sistem integrated waste solutions yang
telah diakui secara nasional. SBI juga akan mengembangkan sistem pemasaran digital
berbasis business-to-business (B2B) melalui situs resmi dan kanal profesional untuk
memperluas jangkauan ke calon pelanggan korporasi, termasuk perusahaan jasa pengeboran
dan perusahaan minyak internasional yang beroperasi di Indonesia.
Secara keseluruhan, strategi pemasaran SBI untuk layanan drilling waste management
diarahkan pada penguatan reputasi sebagai mitra strategis industri migas nasional,
peningkatan penetrasi pasar di wilayah eksplorasi baru, serta optimalisasi peluang kerja sama
dengan pemerintah dan pelaku energi. Pendekatan multi-kanal ini diharapkan dapat
mendorong pertumbuhan permintaan layanan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat
kontribusi SBI dalam mendukung kebijakan nasional terkait pengelolaan limbah industri
yang ramah lingkungan.
4.4. Kesimpulan Aspek Pasar
Industri aktivitas penunjang pertambangan minyak bumi dan gas alam (KBLI 09100),
termasuk industri pengelolaan limbah B3 dan non-B3, merupakan sektor strategis yang
memiliki prospek pertumbuhan tinggi dalam mendukung keberlanjutan industri energi
nasional. Kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Indonesia secara konsisten
menghasilkan berbagai jenis limbah, seperti drilling waste, sludge oil, dan produced water,
yang membutuhkan pengelolaan profesional dan terintegrasi agar tidak menimbulkan
pencemaran lingkungan. Peningkatan aktivitas eksplorasi di wilayah kerja baru serta upaya
pemerintah dalam memperkuat produksi minyak dan gas domestik turut memperbesar
kebutuhan terhadap penyedia jasa pengelolaan limbah industri yang kompeten, berizin
lengkap, dan ramah lingkungan.
Kondisi pasar juga didorong oleh semakin ketatnya regulasi pengelolaan limbah industri,
baik limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun non-B3. Pemerintah melalui
Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) serta
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memperkuat ketentuan
pelaporan, pemantauan, dan pengelolaan limbah operasional migas untuk memastikan
kegiatan produksi berlangsung secara berkelanjutan. Hal ini membuka peluang besar bagi
perusahaan jasa pengelolaan limbah yang memiliki kompetensi teknis, fasilitas terintegrasi,
serta komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam konteks tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) melalui unit usaha divisi
AFR dengan merek dagang “Nathabumi” memiliki potensi besar untuk memperluas kegiatan
usahanya melalui pencantuman KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak
dan Gas Bumi. SBI telah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan limbah industri
melalui penerapan teknologi co-processing, yang memungkinkan limbah dimanfaatkan
kembali sebagai bahan bakar alternatif atau bahan baku substitusi di industri semen.
Teknologi ini terbukti ramah lingkungan, efisien, dan telah sesuai dengan standar nasional
maupun internasional. Dengan reputasi tersebut, SBI memiliki daya saing kuat untuk
memasuki pasar jasa pengelolaan limbah pada sektor migas, khususnya dalam penanganan
limbah pengeboran (drilling mud), cutting oil, sludge oil, dan produced water.
Business Valuation Unit
51 Jakarta
Page 67
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Dari aspek kesinambungan pasar, sektor migas di Indonesia memiliki karakteristik jangka
panjang dan relatif stabil. Meskipun terdapat fluktuasi harga minyak global, kegiatan
eksplorasi dan produksi dalam negeri tetap dijaga sebagai bagian dari strategi pemerintah
untuk mencapai kemandirian energi nasional. perluasan wilayah kerja migas baru menjadi
faktor pendorong yang menjaga keberlangsungan kegiatan hulu migas dan pada akhirnya
memperluas permintaan jasa pengelolaan limbah. Oleh karena itu, peluang bisnis pada sektor
penunjang migas tidak hanya bersifat reaktif terhadap siklus produksi, tetapi juga bersifat
strategis dalam mendukung rantai pasok industri energi nasional.
Dari sisi potensi pasar, peluang pengelolaan limbah di sektor migas tidak hanya berasal dari
perusahaan hulu, tetapi juga dari perusahaan jasa penunjang seperti drilling contractor dan
lainnya yang berada di lapangan eksplorasi. Entitas-entitas ini menghasilkan limbah
operasional yang memerlukan pengolahan lanjutan agar sesuai dengan ketentuan lingkungan.
Dalam hal ini, SBI melalui unit usaha divisi AFR dengan merek dagang “Nathabumi” dapat
berperan sebagai mitra strategis dengan menawarkan solusi pengelolaan limbah terintegrasi,
baik untuk B3 maupun non-B3, yang mencakup pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan,
hingga pemanfaatan limbah dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Analisis sasaran pasar juga menunjukkan bahwa sektor hulu migas di Indonesia didominasi
oleh perusahaan besar seperti Pertamina Hulu Energi, Medco E&P Indonesia, dan beberapa
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lain yang beroperasi di wilayah darat dan lepas
pantai. Selain itu, terdapat ratusan perusahaan jasa pengeboran dan penunjang seperti
Halliburton Indonesia, Schlumberger Geophysics Nusantara, Weatherford Indonesia, dan
lainnya, yang menjadi pengguna potensial layanan pengelolaan limbah industri. Dengan
jaringan operasional dan kapabilitas yang dimiliki, SBI berpeluang menjalin kerja sama
jangka panjang dengan berbagai entitas tersebut dalam penyediaan jasa pengelolaan limbah
sesuai standar lingkungan dan industri.
Dari keseluruhan aspek pasar yang telah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa rencana
penambahan kegiatan usaha dengan mencantumkan KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi memiliki prospek yang strategis bagi SBI. Dukungan
regulasi pemerintah, pertumbuhan aktivitas eksplorasi migas, serta meningkatnya kebutuhan
terhadap pengelolaan limbah B3 dan non-B3 yang berkelanjutan menjadi faktor utama yang
menjamin kesinambungan dan potensi pengembangan pasar di sektor ini. Dengan
pengalaman, fasilitas, dan reputasi yang dimiliki melalui unit usaha divisi AFR dengan merek
dagang “Nathabumi”, SBI memiliki posisi kompetitif untuk memperkuat pangsa pasar di
bidang jasa penunjang migas sekaligus memperluas diversifikasi usaha di sektor pengelolaan
limbah industri. Berdasarkan kondisi tersebut secara aspek pasar layak.
Business Valuation Unit
52 Jakarta
Page 68
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
5. ASPEK TEKNIS
5.1. Produk yang dihasilkan
Produk yang dihasilkan dari rencana penambahan kegiatan usaha dengan mencantumkan
KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi adalah drilling
waste management. Layanan ini mencakup kegiatan penanganan, pemisahan, pengolahan,
dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan dari proses pengeboran minyak dan gas bumi,
seperti drilling mud, drilling cutting, sludge oil, dan limbah cair hasil produksi.
5.2. Proses Pengelolaan Limbah Pengeboran
Figur 37. Flow Chart Drilling Waste Management
Sumber: Manajemen SBI
Kegiatan pengelolaan limbah pengeboran (drilling waste management) bertujuan untuk
memisahkan, menstabilisasi, dan memastikan pembuangan akhir serbuk bor (cuttings) serta
lumpur sisa (drilling mud) dari aktivitas pengeboran berjalan sesuai ketentuan lingkungan
dan efisiensi operasi. Proses ini melibatkan serangkaian tahapan mekanis, hidraulik, dan
sentrifugal dengan alur kerja sebagai berikut:
1. Mud Circulation System, Lumpur bor berbasis air atau minyak (Water-Based Mud/Oil-
Based Mud – WBM/OBM) dipompakan dari mud pit menuju lubang sumur melalui drill
string dan bit nozzle menggunakan pompa hidrolik pada top drive. Aliran ini berfungsi
sebagai media pelumas, pendingin, serta pengangkat serbuk bor (cuttings) dari dasar
sumur.
2. Cuttings Transport via Annulus, Lumpur yang keluar dari bit naik melalui annulus
menuju permukaan, membawa WBM / OBM drill cuttings hasil proses pengeboran.
Campuran lumpur dan serbuk bor dialirkan melalui bell nipple dan flow line menuju
sistem pemisahan awal.
Business Valuation Unit
53 Jakarta
Page 69
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
3. Primary Solids Control (Shale Shaker), Pada unit shale shaker, terjadi proses pemisahan
awal antara lumpur bor dan drill cuttings melalui mekanisme pengayakan berfrekuensi
tinggi. Lumpur yang telah terpisah sebagian padatan akan mengalir ke sistem sirkulasi
berikutnya, sedangkan serbuk bor dengan kadar lumpur tinggi dialirkan ke tahap
lanjutan.
4. Secondary Solids Control (Vertical Cuttings Dryer), Serbuk bor hasil shale shaker
dialirkan menggunakan auger conveyor menuju vertical cuttings dryer (VCD). Di unit
ini, dilakukan proses pemisahan lanjutan dengan gaya sentrifugal berkecepatan tinggi
(≥900 RPM) untuk mengurangi kandungan minyak atau air pada cuttings hingga
mencapai kadar kelembaban yang memenuhi baku mutu.
5. Solid cuttings (dry) akan dikemas menggunakan waste containment dalam bentuk jumbo
bag atau cutting skip untuk dikirim ke fasilitas onshore treatment/ pemanfaatan ke SBI
Plant. Liquid phase hasil pemisahan dialirkan ke holding tank untuk proses lebih lanjut
di Centrifuge
6. Tertiary Treatment (Decanter Centrifuge), Lumpur cair dari holding tank akan diproses
melalui decanter centrifuge untuk memisahkan fine solids dengan gaya sentrifugal
tinggi. Solid residue hasil pemisahan akan dikumpulkan dan dikirim ke onshore disposal
bersama dry drilling cuttings.
7. Lumpur yang telah diproses dan telah memenuhi parameter spesifikasi (viskositas,
densitas, dan kontaminan) akan dikembalikan ke active system pada mud pit untuk
digunakan kembali dalam siklus pengeboran berikutnya.
8. Waste Handling and Final Treatment, Semua material padat hasil pemisahan yang tidak
dapat digunakan kembali akan dikemas secara aman (bagging/skip & ship) dan dikirim
menggunakan alat transportasi (darat maupun laut) yang memiliki izin sesuai dengan
ketentuan Pengangkutan Limbah B3. Selanjutnya Limbah tersebut dikirim ke SBI Plant
untuk proper proses Final Treatment sesuai dengan prosedur pengelolaan limbah B3
yang berlaku serta izin lingkungan yang relevan.
Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk mengoptimalkan mud recovery untuk efisiensi biaya
operasional pengeboran, meminimalkan dampak lingkungan dari drill cuttings and mud, dan
melakukan pengelolaan limbah pengeboran yang memenuhi ketentuan perundangan dan
standar industri, seperti PP 22/2021, PermenLHK No. 6 Tahun 2021, dan kebutuhan dari
pelanggan
5.3. Ketersediaan Sumber Daya
Dalam pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha, SBI akan memanfaatkan sumber
daya manusia yang telah tersedia dari unit usaha divisi AFR dengan merek dagang
“Nathabumi”, dengan jumlah 84 orang karyawan berpengalaman, di mana 33 orang di
antaranya telah tersertifikasi terkait layanan drilling waste management dan 12 orang telah
memiliki sertifikasi pengelola limbah B3. Ketersediaan tenaga kerja tersebut dinilai telah
memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan usaha baru dengan KBLI 09100 –
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
5.4. Rencana Keberlanjutan
Dalam rangka memperkuat keberlanjutan operasional dan mendukung pengelolaan
lingkungan di sektor energi nasional, SBI melalui unit bisnis usaha AFR dengan merek
dagang “Nathabumi” berencana mengembangkan layanan drilling waste management
Business Valuation Unit
54 Jakarta
Page 70
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
sebagai bagian dari penambahan kegiatan usaha KBLI 09100. Rencana ini merupakan
langkah strategis untuk memperluas kapasitas teknis Nathabumi dalam menangani limbah
industri berbahaya maupun non-berbahaya yang berasal dari kegiatan eksplorasi dan
produksi migas.
Secara teknis, implementasi kegiatan drilling waste management akan memanfaatkan
infrastruktur dan fasilitas pengelolaan yang telah dimiliki unit bisnis usaha AFR, termasuk
unit co-processing serta sistem pengelolaan limbah cair dan lumpur pengeboran yang sesuai
dengan standar Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan
Hidup (BPLH). Pengelolaan limbah akan dilakukan melalui proses pemisahan, pengeringan,
dan pengolahan lanjut untuk mengurangi kandungan bahan berbahaya sebelum dimanfaatkan
kembali atau dikirim ke fasilitas pemrosesan akhir.
Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, SBI akan melakukan peningkatan
kapasitas teknis melalui pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kerja, pembaruan sistem
pemantauan kualitas hasil olahan, serta modernisasi peralatan pengelolaan limbah agar sesuai
dengan perkembangan teknologi terbaru. Selain itu, pengawasan operasional akan dijalankan
dengan sistem manajemen lingkungan terpadu, sehingga setiap kegiatan pengelolaan limbah
dapat memenuhi standar keselamatan kerja (K3L) dan kriteria teknis nasional. Melalui
pendekatan ini, SBI menegaskan komitmennya dalam mewujudkan pengelolaan limbah
migas yang aman, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi perusahaan
sebagai penyedia layanan lingkungan terintegrasi di Indonesia.
5.5. Kesimpulan Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis teknis, rencana penambahan kegiatan usaha SBI dengan KBLI
09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, khususnya melalui
kegiatan drilling waste management, dinilai layak secara teknis untuk diimplementasikan.
Produk jasa yang dihasilkan berfokus pada pengelolaan limbah hasil pengeboran migas,
meliputi lumpur pengeboran (drilling mud), cutting oil, dan limbah cair proses produksi.
Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendukung praktik industri migas yang
berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang aman, efisien, dan sesuai ketentuan
peraturan lingkungan hidup.
Dari sisi proses produksi, SBI melalui unit usaha AFR dengan merek dagang “Nathabumi”
telah memiliki fasilitas teknis yang memadai, meliputi sistem pengumpulan, pemisahan,
pengeringan, serta pengolahan lanjutan dengan teknologi co-processing, dan treatment
limbah cair yang sesuai dengan standar Kementerian Lingkungan Hidup Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH).
Dari aspek sumber daya manusia dan fasilitas, SBI didukung oleh unit usaha AFR dengan
merek dagang “Nathabumi” yang memiliki tenaga kerja berpengalaman sebanyak 84 orang,
termasuk 33 orang telah memiliki sertifikasi untuk menunjang layanan drilling waste
management, dan 12 orang telah memiliki sertifikasi pengolah limbah B3. Serta fasilitas
pengelolaan yang sudah beroperasi dan memenuhi ketentuan teknis.
Selanjutnya, dari sisi rencana keberlanjutan, SBI telah menyusun strategi pengembangan
teknis jangka panjang melalui modernisasi peralatan, peningkatan kapasitas SDM, serta
penerapan sistem manajemen lingkungan dan keselamatan kerja (K3L) secara terintegrasi.
Business Valuation Unit
55 Jakarta
Page 71
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Komitmen ini memastikan kegiatan drilling waste management tidak hanya berorientasi
pada kepatuhan regulasi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap efisiensi
operasional dan perlindungan lingkungan.
Dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia,
penerapan teknologi pengolahan yang sesuai standar, serta arah pengembangan
berkelanjutan, maka aspek teknis penambahan kegiatan usaha SBI dengan KBLI 09100
dinyatakan layak.
Business Valuation Unit
56 Jakarta
Page 72
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
6. ASPEK POLA BISNIS
6.1. Kegiatan Usaha
Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, maksud dan tujuan Perseroan bergerak dalam
bidang industri pengolahan; konstruksi; pengangkutan dan pergudangan; aktivitas
penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, agen perjalanan dan
penunjang usaha lainnya; perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan
sepeda motor; treatment air, treatment air limbah, treatment dan pemulihan material sampah
dan aktivitas remediasi; aktivitas profesional ilmiah dan teknis; pertambangan dan
penggalian; real estat. Pada saat ini Perseroan melakukan kegiatan usaha utama yaitu sebagai
berikut:
a. KBLI 77400 – Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Intelektual Properti, Bukan Karya
Hak Cipta
Kelompok ini mencakup usaha yang kegiatan memperbolehkan pihak lain menggunakan
aset non finansial di mana pembayaran royalti atau balas jasa lisensi yang dibayar ke
pemegang aset. Penggunaan aset tersebut dapat berbagai macam bentuk, seperti izin
reproduksi, digunakan dalam proses atau produksi berikut, pengoperasian bisnis di
bawah sistem waralaba dan lain-lain. Pemilik intelektual properti dapat sekaligus
pembuatnya atau juga bukan. kegiatan yang dicakup meliputi sewa guna usaha tanpa hak
opsi (operational leasing) intelektual properti yang tak berwujud (bukan karya/hak cipta
seperti buku atau piranti lunak) dan penerimaan royalti atau balas jasa lisensi untuk
penggunaan, seperti entitas yang dipatenkan, trade mark dan service mark, brand name,
hak eksplorasi barang tambang/mineral, perjanjian franchise/waralaba dan intelektual
properti yang tak berwujud lainnya.
b. KBLI 23941 – Industri Semen
Kelompok ini mencakup usaha pembuatan macam-macam semen (semen hidrolik dan
arang atau kerak besi), seperti portland, natural, semen mengandung aluminium, semen
terak dan semen superfosfat dan jenis semen lainnya.
c. KBLI 17022 – Industri Kemasan dan Kotak dari Kertas dan Karton
Kelompok ini mencakup usaha pembuatan segala macam kemasan dan kotak dari
kertas/karton yang digunakan untuk pembungkus/pengepakan, termasuk juga pembuatan
kotak untuk rokok dan barang lainnya. Misalnya kemasan dan kotak dari kertas dan
papan kertas bergelombang, kemasan dan kotak papan kertas yang dapat dilipat, kemasan
dan kotak dari papan padat, kemasan dan kotak lain dari kertas dan papan kertas, sak dan
kantong kertas dan kotak file kantor dan barang sejenisnya.
d. KBLI 08105 – Penggalian Tanah dan Tanah Liat
Kelompok ini mencakup usaha penggalian tanah dan tanah liat. Kegiatan pembentukan,
penghancuran dan penggilingan tanah dan tanah liat dimasukkan dalam kelompok ini.
Hasil dari penggalian tanah dan tanah liat/lempung antara lain kaolin (china clay), ball
clay (firing clay), abu bumi, serpih dan tanah urug.
e. KBLI 82920 – Aktivitas Pengepakan
Kelompok ini mencakup usaha jasa pengepakan/pengemasan atas dasar balas jasa (fee)
atau kontrak, baik menggunakan atau tidak suatu proses otomatis. Termasuk pembotolan
minuman dan makanan, pengemasan benda padat (blister packaging, pembungkusan
Business Valuation Unit
57 Jakarta
Page 73
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
dengan alumunium foil dan lain-lain), pengemasan obat dan bahan obat-obatan,
pelabelan, pembubuhan perangko dan pemberian cap, pengemasan parsel atau bingkisan
dan pembungkusan hadiah. Termasuk pengalengan dan sejenisnya. Jasa pengepakan
untuk kegiatan pengangkutan dimasukkan dalam kelompok 52291 s.d. 52299 yang
bersesuaian.
f. KBLI 08102 – Penggalian Batu Kapur/ Gamping
Kelompok ini mencakup usaha penggalian batu kapur atau gamping. Termasuk disini
kegiatan pemecahan, penghancuran, penyaringan dan penghalusannya.
g. KBLI 71202 – Jasa Pengujian Laboratorium
Kelompok ini mencakup kegiatan uji fisik, kimia, biologi, kelistrikan, mekanik dan
analisis lainnya dari semua jenis material dan produk yang mencakup kegiatan pengujian
di bidang kesehatan makanan, termasuk uji penyakit hewan dan kontrol yang
berhubungan dengan produksi makanan; uji austik dan vibrasi (getar), uji komposisi dan
kemurnian mineral dan sebagainya, uji karakteristik fisik dan kinerja material seperti
kekuatan, ketebalan, daya tahan, radioaktif dan lain-lain, uji kualifikasi dan ketahanan,
uji kinerja dari mesin keseluruhan seperti motor, automobil, perlengkapan elektronik,
pengujian perangkat telekomunikasi, pengujian laboratorium sektor konstruksi, dan lain-
lain, analisis kegagalan, uji dan pengukuran indikator lingkungan seperti polusi udara
dan air, uji dengan menggunakan model atau maket seperti pesawat terbang, kapal,
bendungan dan lain-lain. Termasuk kegiatan operasional laboratorium kepolisian dan
penilaian kesesuaian uji mutu sistem resi gudang. Pengujian medis dimasukkan dalam
kelompok 86903.
h. KBLI 50133 – Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang Khusus
Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang dengan menggunakan kapal laut
yang dirancang secara khusus untuk mengangkut suatu jenis barang tertentu, seperti
angkutan barang berbahaya, limbah bahan berbahaya dan beracun, bahan bakar minyak,
minyak bumi, hasil olahan, LPG, LNG dan CNG, ikan dan sejenisnya. Termasuk usaha
persewaan angkutan laut berikut operatornya.
i. KBLI 38211 – Treatment dan Pembuangan Sampah Tidak Berbahaya
Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian lahan untuk pembuangan limbah dan
sampah yang tidak berbahaya, pembuangan limbah dan sampah yang tidak berbahaya
melalui pembakaran atau metode lain dengan atau tanpa menghasilkan produk berupa
listrik atau uap, bahan bakar substitusi, biogas, abu atau produk ikutan lainnya untuk
kegunaan lebih lanjut, dan sebagainya dan treatment limbah dan sampah organik untuk
pembuangan.
j. KBLI 46634 – Perdagangan Besar Semen, Kapur, Pasir dan Batu
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar semen, kapur, pasir, dan batu untuk
bahan konstruksi, seperti semen portland putih, semen portland abu-abu, semen posolan
kapur, semen portland posolan, kapur tohor, kapur tembok, pasir, kerikil, koral, batu,
batu pecahan, batu lempengan, batu pualam dan kubus mosaik.
Business Valuation Unit
58 Jakarta
Page 74
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
k. KBLI 38220 – Pengelolaan dan Pembuangan Sampah Berbahaya
Kelompok ini mencakup usaha treatment dan pembuangan yang dikelola baik oleh
pemerintah dan swasta, seperti pembuangan dan treatment limbah padat atau limbah
tidak padat yang berbahaya serta limbah spesifik, mencakup bahan mudah meledak,
bahan mudah teroksidasi, bahan yang mudah terbakar, bahan beracun, iritan,
karsinogenik, korosif atau bahan yang dapat menyebabkan infeksi dan substansi dan
preparat lainnya yang berbahaya untuk kesehatan manusia dan lingkungan. Kegiatannya
adalah usaha pengoperasian fasilitas untuk pembuangan limbah berbahaya dan sampah
spesifik, treatment dan pembuangan binatang hidup atau mati yang beracun dan limbah
terkontaminasi lainnya, pembakaran limbah berbahaya, treatment, pembuangan dan
penyimpanan limbah radioaktif, seperti treatment dan pembuangan limbah radioaktif
transisi, mencakup peluruhan pada masa/periode pembuangan limbah dan
pembungkusan, penyiapan dan treatment lainnya terhadap limbah radioaktif.
l. KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
Kelompok ini mencakup usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan barang
sementara sebelum barang tersebut dikirim ke tujuan akhir, dengan tujuan komersil.
m. KBLI 52219 – Aktivitas Penunjang Angkutan Darat Lainnya
Kelompok ini mencakup kegiatan usaha penggantian (switching) dan pelangsiran
(shunting), bantuan derek, pencairan gas untuk tujuan transportasi dan jasa penunjang
angkutan darat lainnya.
n. KBLI 61992 – Aktivitas Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Sendiri
Kelompok ini mencakup usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang khusus digunakan
untuk keperluan sendiri dalam hal pengembangan hobi dan latih diri.
o. KBLI 74909 – Aktivitas Profesional, Ilmiah dan Teknis Lainnya YTDL
Kelompok ini mencakup kegiatan profesional, ilmiah dan teknik lainnya yang tidak
diklasifikasikan di tempat lain, seperti jasa konsultasi ilmu pertanian (agronomist),
konsultasi lingkungan, konsultasi teknik lain dan kegiatan konsultan selain konsultan
arsitek, teknik dan manajemen. Termasuk juga jasa penyelaman dan pengangkatan benda
muatan kapal tenggelam di kapal tenggelam. Kelompok ini juga mencakup kegiatan yang
dilakukan oleh agen atau perwakilan atas nama perorangan yang biasa terlibatkan dalam
pembuatan gambar bergerak, produksi teater atau hiburan lainnya atau atraksi olahraga
dan penempatan buku, permainan (sandiwara, musik dan lain-lain), hasil seni, fotografi
dan lain-lain, dengan publisher, produser dan lain-lain.
6.2. Entitas Anak
Berdasarkan laporan keuangan SBI 30 Juni 2025, SBI memiliki entitas anak sebagai berikut
:
● PT Solusi Bangun Beton (SBB)
● PT Readymix Concrete Indonesia (RCI)
● PT Pendawa Lestari Perkasa (PLP)
● PT Solusi Bangun Andalas (SBA)
● PT Aroma Cipta Anugrahtama (ACA)
Business Valuation Unit
59 Jakarta
Page 75
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
● PT Ciptanugrah Indonesia (CI)
● PT Aroma Sejahtera Indonesia (ASI)
● PT SBI Bangun Nusantara (SBN)
6.3. Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 38. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha SBI
No. Nama KBLI Kode KBLI
1. Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam 09100
Sumber: Manajemen SBI
Adapun penjelasan secara rinci terkait KBLI penambahan usaha sebagai berikut:
KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam :
Kelompok ini mencakup kegiatan jasa yang berkaitan dengan pertambangan minyak dan gas
bumi yang dilakukan atas dasar balas jasa (fee) atau kontrak, seperti jasa eksplorasi
pengambilan minyak atau gas dengan cara tradisional yaitu membuat observasi geologi,
pemasangan alat pengeboran, perbaikan dan pembongkaran penyemenan sumur minyak dan
sumur gas, pembuatan saluran sumur, pemompaan sumur produksi, penyumbatan dan
penutupan sumur produksi, pengujian produksi, dismantling, pencairan dan regasifikasi gas
alam untuk kebutuhan transportasi di lokasi pertambangan, pengeboran percobaan dalam
rangka penyulingan minyak bumi dan gas alam dan jasa pemadam kebakaran ladang minyak
bumi dan gas alam.
6.4. Keunggulan Kompetitif
SBI meyakini bahwa keunggulan kompetitif yang dimilikinya akan menjadi faktor penentu
dalam keberhasilan ekspansi usaha di bidang aktivitas penunjang pertambangan minyak
bumi dan gas alam melalui industri pengelola limbah b3 dan non b3 pertambangan minyak
bumi dan gas alam. Keunggulan-keunggulan ini memberikan pondasi kuat bagi SBI untuk
bersaing secara efektif di pasar nasional. Berikut adalah keunggulan kompetitif utama yang
dimiliki oleh SBI:
1. Memiliki kapabilitas komersial dan teknis yang terbukti, didukung oleh pengalaman
panjang dalam pengelolaan portofolio di bidang Integrated Waste Solutions (IWS).
2. Mempunyai portofolio dan pengalaman jangka panjang dalam berbagai proyek Oil and
Gas (O&G), yang mencerminkan kompetensi dalam sektor energi dan industri terkait.
3. Telah memperoleh lisensi resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia atau
Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) dalam bidang analisis pemantauan
lingkungan, sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi dan standar nasional.
4. Menjalin hubungan yang kuat dengan pemerintah daerah sebagai mitra dalam kegiatan
pengumpulan Municipal Solid Waste (MSW), yang mendukung efektivitas pengelolaan
limbah perkotaan.
5. Memiliki kehadiran yang kuat di wilayah Pulau Jawa, yang berpotensi menjadi basis
strategis untuk mendukung perluasan dan pengembangan kegiatan usaha SIG di wilayah
lain.
6. Mampu menyediakan layanan terpadu dari hulu hingga hilir (end-to-end services) kepada
pelanggan, guna menjamin efisiensi dan kualitas hasil layanan.
Business Valuation Unit
60 Jakarta
Page 76
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
7. Didukung oleh fasilitas laboratorium yang komprehensif dan keahlian teknis yang
mumpuni, sebagai fondasi dalam menjamin keandalan proses analisis dan pengendalian
kualitas lingkungan.
6.5. Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk
Kemampuan pesaing untuk meniru hasil pengembangan kegiatan usaha KBLI 09100 –
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, khususnya pada layanan
pengelolaan limbah B3 dan non-B3 dari kegiatan pengeboran atau pekerjaan drilling waste
management, secara prinsip memang dimungkinkan. Namun, proses imitasi ini menghadapi
berbagai hambatan teknis dan regulatif yang membuatnya sulit direplikasi secara
menyeluruh. Pengelolaan limbah pengeboran melibatkan tahapan yang kompleks, seperti
pemisahan padatan dan cairan, stabilisasi dan solidifikasi limbah, hingga pengolahan
material yang mengandung hidrokarbon. Setiap tahapan memerlukan kompetensi teknis
tinggi, fasilitas berteknologi khusus, serta kepatuhan ketat terhadap peraturan pengelolaan
limbah B3 yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup (BPLH).
Selain faktor teknis, perizinan operasional, sertifikasi lingkungan, serta pengalaman kerja di
sektor pengelolaan limbah industri juga menjadi hambatan utama bagi pesaing baru. SBI
memiliki rekam jejak panjang dalam kegiatan pengelolaan limbah melalui penerapan
teknologi co-processing dan integrated waste solutions, sehingga telah memiliki standar dan
sistem pengelolaan yang diakui secara nasional. Layanan yang ditawarkan tidak hanya
mencakup pengelolaan limbah fisik, tetapi juga analisis laboratorium, pemantauan kualitas
lingkungan, serta pelaporan berstandar tinggi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri
migas. Aspek-aspek ini membutuhkan fasilitas laboratorium yang komprehensif, tenaga ahli
bersertifikat, dan sistem manajemen lingkungan terakreditasi yang sulit untuk segera ditiru
oleh pesaing.
Selain itu, SBI juga memiliki hubungan kerja sama yang kuat dengan pemerintah dan pelaku
industri migas nasional, yang menjadi keunggulan kompetitif tersendiri. Jaringan ini
mendukung kelancaran koordinasi operasional, pemenuhan izin, serta memperkuat
kepercayaan pelanggan terhadap kualitas layanan perusahaan. Dengan mempertimbangkan
keseluruhan faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun secara teoritis layanan
drilling waste management dapat ditiru, kemampuan pesaing untuk menirunya secara efektif,
efisien, dan sesuai standar lingkungan menghadapi tantangan besar. Oleh karena itu, SBI
memiliki posisi kompetitif yang kuat dalam mengembangkan dan mempertahankan pasar di
bidang pengelolaan limbah pertambangan minyak bumi dan gas alam.
6.6. Kemampuan Untuk Menciptakan nilai
Kemampuan SBI dalam menciptakan nilai melalui penambahan kegiatan usaha KBLI 09100
– Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam terlihat dari
pengembangan layanan pengelolaan limbah B3 dan non-B3 hasil kegiatan pengeboran
minyak dan gas (drilling waste management). Layanan ini tidak hanya berfungsi untuk
menangani limbah migas, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi, lingkungan, dan
sosial. Melalui penerapan proses pemisahan padatan dan cairan, pengeringan, serta
penetralan limbah yang mengandung bahan berbahaya, SBI mampu mengolah limbah
pengeboran menjadi material yang lebih aman dan ramah lingkungan. Upaya ini sejalan
Business Valuation Unit
61 Jakarta
Page 77
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
dengan komitmen perusahaan untuk menjalankan kegiatan industri yang efisien, bertanggung
jawab, dan mendukung pengurangan dampak pencemaran lingkungan.
Selain memberikan nilai ekonomi bagi perusahaan, kegiatan pengelolaan limbah ini juga
menciptakan manfaat jangka panjang bagi pelanggan dan masyarakat. Integrasi pengelolaan
limbah dengan fasilitas yang telah dimiliki SBI meningkatkan efisiensi biaya serta menjamin
kualitas hasil pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan lingkungan. Dukungan tenaga ahli,
fasilitas laboratorium yang memadai, serta sistem pemantauan kualitas lingkungan yang
teratur menjadikan SBI sebagai mitra terpercaya bagi industri minyak dan gas. Kegiatan ini
juga berkontribusi dalam membuka lapangan kerja lokal, memperkuat kerja sama dengan
pemerintah daerah, serta mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan
demikian, penambahan kegiatan usaha melalui KBLI 09100 memperkuat posisi SBI sebagai
perusahaan yang inovatif, bertanggung jawab, dan berperan aktif dalam pembangunan
industri yang berwawasan lingkungan.
6.7. Analisis Risiko
Seperti halnya kegiatan usaha yang dilakukan oleh perusahaan lainnya, penambahan kegiatan
usaha yang akan dilaksanakan oleh SBI di bidang Aktivitas Penunjang Pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Alam tidak terlepas dari risiko usaha yang disebabkan oleh berbagai
faktor yang akhirnya dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan kesehatan bisnis. Risiko-
risiko tersebut antara lain:
Risiko Usaha layanan jasa Drilling Waste Management (KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang
Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam):
● Risiko Ketergantungan terhadap Aktivitas Eksplorasi dan Produksi Migas
Kinerja usaha jasa drilling waste management sangat bergantung pada intensitas kegiatan
eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Penurunan harga minyak dunia atau
kebijakan pengendalian produksi dapat mengurangi volume pengeboran, yang secara
langsung menurunkan permintaan terhadap layanan pengelolaan limbah pengeboran.
● Risiko Kepatuhan terhadap Regulasi Lingkungan
Kegiatan pengelolaan limbah B3 di sektor migas tunduk pada berbagai ketentuan
perundang-undangan yang ketat, seperti perizinan pengelolaan limbah B3, standar baku
mutu lingkungan, serta pelaporan elektronik melalui SIMPEL atau ESDM One Map.
Ketidakpatuhan terhadap regulasi dapat berakibat pada sanksi administratif, penghentian
operasional, hingga kerugian reputasi perusahaan.
● Risiko Teknis dalam Penanganan Limbah Berbahaya
Proses penanganan drilling waste, sludge oil, maupun limbah cair mengandung risiko
teknis tinggi seperti kebocoran, tumpahan, atau pencemaran lingkungan akibat kegagalan
sistem pengolahan. Kegagalan operasional dapat menimbulkan dampak lingkungan dan
sosial yang luas serta menurunkan kepercayaan pelanggan, terutama perusahaan migas
berskala besar.
● Risiko Investasi dan Biaya Operasional yang Tinggi
Usaha drilling waste management membutuhkan investasi besar dalam peralatan khusus
seperti solid control unit, thermal desorption unit, dan sistem pengelolaan limbah cair.
Selain itu, biaya operasional seperti transportasi limbah, pengujian laboratorium, serta
pemeliharaan fasilitas pengolahan cukup tinggi. Ketidakseimbangan antara beban biaya
dan volume pekerjaan dapat mempengaruhi profitabilitas usaha.
Business Valuation Unit
62 Jakarta
Page 78
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
● Risiko Persaingan dengan Penyedia Jasa Sejenis
Pasar pengelolaan limbah migas di Indonesia telah diisi oleh sejumlah perusahaan
nasional dan multinasional dengan fasilitas serta teknologi pengolahan yang mumpuni.
Ketatnya persaingan dapat menekan margin keuntungan dan mengharuskan perusahaan
melakukan efisiensi serta inovasi layanan agar tetap kompetitif.
● Risiko Keterlambatan Proyek dan Kinerja Mitra Kerja
Sebagai penyedia jasa penunjang, keberhasilan proyek sangat bergantung pada
koordinasi dengan kontraktor pengeboran dan operator migas. Keterlambatan dalam
pengiriman limbah, gangguan logistik, atau ketidaksesuaian jadwal pengeboran dapat
menghambat pelaksanaan layanan dan menimbulkan potensi penalti dari pihak pengguna
jasa.
● Risiko Perubahan Kebijakan Energi dan Transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT)
Perubahan arah kebijakan energi nasional menuju energi bersih dan penurunan
ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat mengurangi aktivitas eksplorasi migas
dalam jangka panjang. Hal ini berpotensi menurunkan permintaan terhadap jasa
penunjang pertambangan migas, termasuk layanan drilling waste management.
6.8. Analisis SWOT
Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal yang
bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol. Kedua sisi
dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan mempunyai
daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan (strength and
weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan ancaman (opportunity and
threat).
Strategi penambahan kegiatan usaha KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Alam dilakukan dengan membuat SWOT matriks. SWOT matriks ini
dibangun berdasarkan faktor-faktor strategi, baik internal (kekuatan dan kelemahan) maupun
eksternal (peluang dan ancaman). Berdasarkan matriks posisi analisis SWOT yang ada maka
dapat disusun 4 (empat) strategi utama, yaitu Strengths – Opportunities (S – O), Weakness –
Opportunity (W – O), Strength – Threat (S – T), dan Weakness – Threat (W – T).
Figur 39. Analisis SWOT
Kekuatan / Strength Kelemahan / Weakness
● Memiliki fasilitas co- ● Proses perizinan di sektor
processing yang telah migas memiliki kompleksitas
beroperasi secara komersial tinggi dan waktu pengurusan
dan diakui pemerintah yang relatif panjang.
sebagai teknologi ● Diperlukan investasi
pengelolaan limbah ramah tambahan untuk fasilitas
lingkungan. penanganan awal
Faktor Internal ● Berpengalaman dalam (pretreatment) limbah
Faktor Eksternal pengelolaan limbah industri pengeboran sebelum masuk ke
B3 dan non-B3, termasuk proses co-processing.
pengelolaan limbah padat, ● Ketergantungan terhadap
cair, dan residu bahan bakar volume kegiatan eksplorasi
alternatif. dan produksi migas yang
● Didukung oleh jaringan bersifat fluktuatif dapat
operasional seperti memengaruhi kestabilan
Nathabumi yang memiliki pasokan limbah.
basis pelanggan dari sektor
Business Valuation Unit
63 Jakarta
Page 79
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
energi dan manufaktur. ● Kebutuhan sumber daya
● Infrastruktur dan sumber manusia dengan kompetensi
daya teknis telah memenuhi teknis khusus di bidang
standar keselamatan dan pengelolaan limbah migas
lingkungan, memudahkan masih harus ditingkatkan.
integrasi dengan sistem
pengelolaan limbah migas.
● Reputasi perusahaan
sebagai bagian dari SIG
Group memperkuat
kepercayaan mitra bisnis
dan pemerintah dalam
pengembangan layanan
baru.
Peluang / Opportunity Strategi (“SO”) Strategi (“WO”)
● Pemerintah menargetkan ● Mengoptimalkan fasilitas co- ● Melakukan transfer
peningkatan produksi minyak processing dan reputasi pengetahuan dan pelatihan
nasional hingga 1 juta barel perusahaan untuk menjalin teknis bersama mitra yang
per hari dan gas sebesar 12 kerja sama strategis dengan telah berpengalaman dalam
miliar kaki kubik per hari pada perusahaan migas nasional pengelolaan drilling waste
tahun 2030 (Sumber: dan internasional dalam management guna
Kementerian ESDM, 2024). pengelolaan limbah mempercepat adaptasi
● Meningkatnya aktivitas pengeboran. teknologi.
eksplorasi dan pengeboran, ● Memperluas jangkauan ● Mengajukan dukungan dan
terutama di wilayah layanan Nathabumi sebagai kemitraan dengan pemerintah
Kalimantan Timur, Natuna, jaringan distribusi dan melalui program pengelolaan
dan Indonesia Timur, akan hubungan pelanggan utama limbah terintegrasi di kawasan
meningkatkan kebutuhan di sektor energi dan industri migas nasional.
pengelolaan limbah pertambangan. ● Melakukan investasi bertahap
pengeboran. ● Meningkatkan promosi pada fasilitas pretreatment
● Potensi kerja sama dengan layanan pengelolaan limbah limbah pengeboran agar siap
perusahaan migas nasional migas melalui kegiatan diolah melalui sistem co-
(seperti Pertamina) dan swasta pameran industri, forum processing.
(seperti Medco, Harbour migas nasional, dan ● Mengembangkan unit kerja
Energy, EMP, dan BP) melalui kolaborasi dengan asosiasi khusus yang fokus pada sektor
jaringan Nathabumi yang lingkungan serta migas untuk memperkuat
sudah terjalin. Kementerian ESDM. kompetensi sumber daya
● Dukungan pemerintah ● Mengembangkan paket manusia dan koordinasi
terhadap penerapan layanan terpadu yang operasional.
pengelolaan limbah ramah mencakup pengangkutan, ● Menyusun strategi pemasaran
lingkungan dan efisiensi energi pengolahan, dan pemanfaatan digital berbasis data (data-
memberi nilai tambah limbah sebagai bahan bakar driven marketing) untuk
kompetitif bagi SBI. alternatif (alternative fuel), menargetkan pelanggan
● Tren pengurangan emisi dan untuk memberikan nilai potensial di wilayah eksplorasi
penerapan prinsip industri tambah bagi pelanggan. baru seperti Kalimantan
berkelanjutan mendorong ● Memanfaatkan kebijakan Timur, Sulawesi, dan Papua.
permintaan terhadap solusi pemerintah tentang
pengelolaan limbah peningkatan produksi minyak
terintegrasi. dan gas untuk memperkuat
posisi SBI sebagai mitra
utama dalam pengelolaan
limbah ramah lingkungan.
Ancaman / Threat Strategi (“ST”) Strategi (“WT”)
● Persaingan dari perusahaan ● Memperkuat keunggulan ● Melakukan studi kelayakan
yang telah berpengalaman dan kompetitif dengan teknis mendalam sebelum
memiliki izin khusus dalam menonjolkan aspek ekspansi ke wilayah baru agar
drilling waste management. keamanan, efisiensi, dan
risiko operasional dan
● Perubahan kebijakan kepatuhan terhadap regulasi
lingkungan atau pembaruan finansial dapat ditekan.
Business Valuation Unit
64 Jakarta
Page 80
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
regulasi B3 yang dapat lingkungan dalam seluruh ● Menyusun perencanaan
meningkatkan biaya materi promosi. investasi jangka panjang yang
operasional dan administrasi. ● Menjalin kemitraan jangka fleksibel agar dapat
● Ketidakstabilan harga minyak panjang dengan perusahaan
menyesuaikan dengan
dunia yang dapat migas utama untuk menjaga
memengaruhi jumlah proyek stabilitas pasokan limbah dan dinamika pasar migas global.
eksplorasi dan volume limbah mengurangi dampak ● Memperkuat kerja sama
yang dihasilkan. fluktuasi harga minyak dengan lembaga penelitian
● Risiko teknis dari karakteristik global. dan universitas untuk
limbah pengeboran yang ● Melakukan sertifikasi pengembangan metode
bervariasi dan memerlukan tambahan dan audit pengelolaan limbah
penanganan berbeda di setiap lingkungan secara berkala
pengeboran yang lebih efisien
lokasi. guna memastikan seluruh
● Potensi hambatan logistik dan proses pengelolaan limbah dan ekonomis.
distribusi, terutama di wilayah memenuhi standar nasional ● Meningkatkan kapasitas
operasi terpencil seperti lepas dan internasional. tenaga kerja melalui pelatihan
pantai dan kawasan timur ● Membangun pusat logistik rutin dan sertifikasi K3L
Indonesia. regional untuk mempercepat untuk menjaga standar
pengumpulan dan keselamatan dan mutu
pengiriman limbah dari
layanan.
wilayah operasi terpencil.
● Mengintegrasikan teknologi ● Mengoptimalkan komunikasi
pemantauan digital (digital dengan pemerintah daerah
monitoring system) untuk untuk mempercepat proses
memastikan transparansi dan perizinan dan memperoleh
keandalan proses dukungan kebijakan lokal.
pengelolaan limbah.
6.9. Potensi Pasar dan Proyeksi Pertumbuhan Sektor – Sektor Baru
Potensi pasar kegiatan penunjang pertambangan minyak bumi dan gas alam, khususnya pada
layanan pengelolaan limbah pengeboran (drilling waste management), menunjukkan prospek
pertumbuhan yang signifikan di Indonesia. Berdasarkan sebaran wilayah operasi dan
pelanggan potensial pada peta industri, aktivitas eksplorasi dan produksi migas tersebar di
hampir seluruh wilayah Indonesia, meliputi blok-blok utama seperti Andaman, Natuna,
Mahakam, Cepu, hingga Kalimantan Timur dan Papua. Beberapa perusahaan besar seperti
Pertamina, Medco Energy, Harbour Energy, ENI, ExxonMobil, dan BP menjadi pemain
utama yang membutuhkan layanan pengelolaan limbah pengeboran secara berkelanjutan.
Total nilai kontrak potensial dari pelanggan eksisting dan prospektif yang tercatat mencapai
lebih dari 1 triliun rupiah per tahun, dengan kebutuhan cutting skip rata-rata antara 50 hingga
300 unit per sumur tergantung pada lokasi dan kedalaman pengeboran. Kondisi ini
mencerminkan besarnya peluang pasar bagi penyedia jasa pengelolaan limbah yang memiliki
kemampuan teknis dan legalitas lengkap seperti SBI.
Business Valuation Unit
65 Jakarta
Page 81
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 40. Potensi Pasar
Sumber: Manajemen SBI
Dilansir dari indonesia.go.id bahwa secara nasional, pertumbuhan sektor penunjang industri
migas diproyeksikan meningkat seiring dengan program pemerintah dalam peningkatan
produksi minyak nasional menuju 1 juta barel per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari
pada tahun 2030. Peningkatan jumlah proyek eksplorasi baru, terutama di wilayah lepas
pantai (offshore) dan kawasan timur Indonesia, akan mendorong peningkatan volume limbah
pengeboran yang perlu dikelola secara aman dan efisien. Hal ini membuka peluang ekspansi
bagi SBI dalam memperluas cakupan layanan pengelolaan limbah B3 dan non-B3 di berbagai
blok migas nasional. Dengan dukungan fasilitas co-processing yang telah teruji, jaringan
pelanggan eksisting melalui unit bisnis usaha AFR dengan merek dagang “Nathabumi”, serta
hubungan baik dengan pemerintah daerah dan pelaku industri energi, SBI berpotensi menjadi
salah satu penyedia layanan pengelolaan limbah industri migas terintegrasi terbesar di
Indonesia. Dengan mempertimbangkan arah kebijakan energi nasional dan tren peningkatan
aktivitas eksplorasi, sektor ini diperkirakan tumbuh stabil dalam kisaran 5–7% per tahun
selama lima tahun mendatang.
6.10. Kesimpulan
Dari sisi keunggulan kompetitif, SBI memiliki landasan yang kuat untuk melakukan ekspansi
usaha di bidang aktivitas penunjang pertambangan minyak bumi dan gas alam melalui
layanan pengelolaan limbah B3 dan non-B3. Kapabilitas komersial dan teknis yang telah
terbukti, dukungan fasilitas laboratorium yang lengkap, serta pengalaman panjang dalam
pengelolaan limbah industri menjadi faktor pembeda utama yang sulit disaingi oleh
kompetitor. Selain itu, jaringan kerja sama yang solid dengan pemerintah daerah dan pelaku
industri energi memberikan keunggulan strategis dalam memperluas pasar serta memperkuat
kepercayaan pelanggan terhadap kualitas dan kepatuhan lingkungan yang dijalankan SBI.
Business Valuation Unit
66 Jakarta
Page 82
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Dari aspek kemampuan pesaing dalam meniru produk, peluang kompetitor untuk mereplikasi
layanan drilling waste management tergolong rendah karena tingginya hambatan teknis,
regulatif, dan investasi yang diperlukan. Pengelolaan limbah pengeboran membutuhkan
sistem teknologi khusus, tenaga ahli bersertifikat, serta izin operasional yang kompleks.
Keunggulan SBI yang telah memiliki sistem co-processing terintegrasi dan rekam jejak
nasional dalam pengelolaan limbah industri menjadikannya memiliki posisi kompetitif yang
kokoh dan sulit disaingi oleh perusahaan baru di sektor yang sama.
Dari aspek kemampuan menciptakan nilai, kegiatan usaha SBI tidak hanya menghasilkan
manfaat ekonomi bagi perusahaan, tetapi juga memberikan nilai tambah lingkungan dan
sosial. Layanan pengelolaan limbah pengeboran minyak dan gas mendukung upaya
pengurangan pencemaran, efisiensi biaya pengelolaan limbah, serta peningkatan tanggung
jawab lingkungan perusahaan migas. Melalui integrasi dengan fasilitas yang telah ada, SBI
mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah yang efisien, aman, dan berkelanjutan,
sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja lokal dan memperkuat kerja sama dengan
pemerintah daerah.
Namun demikian, hasil analisis risiko menunjukkan bahwa usaha drilling waste management
memiliki sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan terhadap tingkat
eksplorasi migas nasional, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang ketat, risiko teknis
dalam penanganan limbah berbahaya, serta kebutuhan investasi dan biaya operasional yang
besar. Selain itu, persaingan dengan penyedia jasa sejenis serta potensi dampak kebijakan
transisi energi nasional perlu dihadapi dengan strategi adaptif dan efisiensi operasional yang
tinggi. Berdasarkan analisis SWOT, SBI memiliki kekuatan internal yang signifikan berupa
reputasi, pengalaman, dan fasilitas pengelolaan limbah yang mumpuni, serta peluang pasar
yang terbuka luas seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi migas nasional. Strategi
pengembangan diarahkan pada pemanfaatan keunggulan fasilitas eksisting, peningkatan
kapasitas sumber daya manusia, kolaborasi teknologi dengan mitra strategis, serta perluasan
jaringan layanan ke wilayah operasi migas potensial seperti Kalimantan, Sulawesi, dan
Papua.
Dengan memperhatikan pola bisnis yang akan diterapkan oleh manajemen SBI, dilihat dari
segmen usaha, keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk,
kemampuan dalam menciptakan nilai, analisis risiko, serta hasil analisis SWOT terhadap
rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 09100 serta prospek pasar yang tumbuh seiring
peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi migas nasional. Dengan demikian, rencana
penambahan kegiatan usaha secara aspek pola bisnis layak.
Business Valuation Unit
67 Jakarta
Page 83
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
7. ASPEK MODEL MANAJEMEN
7.1. Sumber Daya Manusia
Salah satu faktor kunci yang sangat menentukan keberhasilan dalam pengelolaan perusahaan
adalah peran penting yang dimainkan oleh sumber daya manusia yang menangani berbagai
aspek operasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya manajemen yang profesional
dan terampil dalam setiap fungsi operasional perusahaan, agar semua kegiatan dapat berjalan
secara efisien dan efektif. Manajemen yang baik akan memastikan koordinasi yang optimal
antara berbagai divisi, serta mampu mengelola sumber daya dengan baik untuk mencapai
tujuan perusahaan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat meminimalkan kesalahan,
meningkatkan produktivitas, dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Dalam pelaksanaan penambahan kegiatan usaha, SBI akan memanfaatkan sumber daya
manusia yang telah tersedia dari unit usaha divisi AFR dengan merek dagang “Nathabumi”,
dengan total 84 orang karyawan berpengalaman. Dari jumlah tersebut, 33 orang memiliki
sertifikasi drilling waste management, dan 12 orang memiliki sertifikasi pengelolaan limbah
B3.
Berikut merupakan komposisi Karyawan Divisi AFR untuk penambahan kegiatan usaha:
Figur 41. Komposisi Jumlah Karyawan Divisi AFR
Tenaga kerja dengan Tenaga kerja dengan
Tenaga kerja
sertifikasi Drilling Waste sertifikasi pengelola limbah
(orang)
Management B3
84 33 12
Sumber: Manajemen SBI
Dalam rangka mendukung rencana perubahan kegiatan usaha dan peningkatan kapasitas
operasional, SBI telah melakukan pemetaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) secara
rinci. Pemetaan ini mencakup identifikasi jumlah, jenis keterampilan, serta tingkat
kompetensi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan usaha baru, untuk memenuhi
kebutuhan sumber daya manusia dalam mendukung penambahan kegiatan usaha pada KBLI
09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, khususnya layanan
drilling waste management, SBI telah menyiapkan beberapa langkah strategis yang terarah
dan berkelanjutan.
Pertama, SBI akan melaksanakan program pelatihan dan pengembangan kompetensi bagi
tenaga kerja baru dan eksisting guna memastikan keterampilan dan pemahaman teknis sesuai
dengan kebutuhan layanan drilling waste management. Program ini difokuskan pada
peningkatan produktivitas, penerapan keselamatan kerja (K3), serta pemahaman terhadap
standar lingkungan dan efisiensi proses kerja. Kedua, sebagai bagian dari strategi penguatan
daya saing, SBI akan menguatkan unit riset dan pengembangan (R&D) internal yang
berfungsi untuk melakukan inovasi proses, meningkatkan efektivitas penanganan limbah,
dan mendukung pengembangan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan.
Selanjutnya, untuk memastikan tata kelola sumber daya manusia yang optimal, SBI akan
melakukan penyesuaian struktur organisasi dan penguatan fungsi pendukung SDM. Langkah
ini bertujuan agar pengelolaan pertumbuhan jumlah karyawan, peningkatan kompetensi,
Business Valuation Unit
68 Jakarta
Page 84
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
serta pembagian fungsi kerja dapat berjalan efektif dan selaras dengan arah pengembangan
usaha perusahaan. Melalui strategi ini, SBI menunjukkan kesiapan manajerial dan
operasional yang kuat dalam mendukung pelaksanaan kegiatan usaha baru di sektor
penunjang industri migas secara berkelanjutan.
7.2. Komposisi Karyawan SBI
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Annual Report SBI tahun 2024, jumlah karyawan
yang tercatat sebanyak 1.893 orang. Berikut adalah rincian distribusi karyawan berdasarkan
tingkat pendidikan, jabatan, jenjang usia, dan status ketenagakerjaan:
Figur 42. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Orang
Doktor 2
Pascasarjana 111
Sarjana 850
Diploma 388
SMA 478
SD/SMP 64
Jumlah 1.893
Sumber: Annual Report SBI, 2024
Figur 43. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan
Jabatan Orang
Executive Management -
Top Management 16
Senior Management 42
Middle Management 427
First Management 1.215
Non-Management 193
Jumlah 1.893
Sumber: Annual Report SBI, 2024
Figur 44. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia
Usia Orang
<30 Tahun 67
30-50 Tahun 1.219
>50 Tahun 607
Jumlah 1.893
Sumber: Annual Report SBI, 2024
Figur 45. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan
Status Ketenagakerjaan Orang
Tetap / Permanent 1.845
Kontrak/ Contract 48
Jumlah 1.893
Sumber: Annual Report SBI, 2024
Business Valuation Unit
69 Jakarta
Page 85
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Berdasarkan informasi dari manajemen SBI berikut merupakan Jumlah Sumber Daya
Manusia yang ada di unit usaha divisi AFR:
Figur 46. Jumlah Karyawan di Unit Usaha AFR :
Bagian Orang
NB Management 7
Commercial 25
Business Development 2
Technical 8
Compliance & Permitting 8
Operation 34
Total 84
Sumber: Manajemen SBI
Figur 47. Jumlah Karyawan yang memiliki sertifikasi untuk menunjang layanan drilling
waste management dan pengelolaan limbah B3 di unit usaha divisi AFR
Nathabumi :
Bagian Orang
Sertifikasi DWM 33
Sertifikasi Pengolah Limbah B3 12
Total 45
Sumber: Manajemen SBI
7.3. Manajemen Kekayaan Intelektual
Menurut Undang – Undang yang telah disahkan oleh DPR – RI pada tanggal 21 Maret 1997,
Hak Atas Kekayaan Intelektual adalah hak-hak secara umum yang berhubungan dengan
permasalahan hasil penemuan dan kreativitas seseorang atau beberapa orang yang
berhubungan dengan perlindungan permasalahan reputasi dalam bidang komersial
(commercial reputation) dan tindakan/jasa dalam bidang komersial (goodwill).
7.4. Manajemen Risiko
Seperti halnya dengan ekspansi usaha yang dilakukan oleh berbagai perusahaan, penambahan
kegiatan usaha SBI dalam bidang aktivitas penunjang pertambangan minyak bumi dan gas
alam juga menghadapi berbagai risiko. Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor
eksternal maupun internal. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak
risiko tersebut. SBI telah melakukan identifikasi dan analisis terhadap potensi risiko yang
mungkin muncul beserta dampaknya. Berikut adalah risiko yang telah diidentifikasi
berdasarkan analisis risiko yang telah dijelaskan dalam aspek pola bisnis beserta strategi
mitigasi yang diterapkan, yaitu sebagai berikut:
Figur 48. Manajemen Risiko
No. Jenis Risiko Strategi Mitigasi
Diversifikasi sumber pendapatan dengan memperluas
Risiko Ketergantungan layanan pengelolaan limbah ke sektor industri lain yang
terhadap Aktivitas memiliki karakteristik serupa, seperti petrokimia dan
1.
Eksplorasi dan Produksi lainnya. Selain itu, menjalin kontrak jangka panjang dengan
Migas perusahaan migas nasional maupun swasta untuk menjaga
kestabilan volume pekerjaan.
Business Valuation Unit
70 Jakarta
Page 86
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
No. Jenis Risiko Strategi Mitigasi
Melakukan pembaruan dan penyesuaian prosedur
operasional secara berkala sesuai ketentuan peraturan
Risiko Kepatuhan terhadap lingkungan terbaru. Menyediakan tim kepatuhan internal
2.
Regulasi Lingkungan (compliance team) yang berfokus pada pemantauan izin,
audit lingkungan, dan pelaporan kepada instansi
berwenang.
Meningkatkan pelatihan teknis bagi tenaga kerja serta
menerapkan standar keselamatan kerja (K3) yang ketat.
Risiko Teknis dalam
Penggunaan teknologi pengolahan yang telah teruji dan
3. Penanganan Limbah
sistem pemantauan kualitas hasil olahan juga menjadi
Berbahaya
langkah penting untuk memastikan keamanan dan efisiensi
proses.
Melakukan perencanaan keuangan yang cermat dengan
analisis kelayakan investasi dan skema pembiayaan
Risiko Investasi dan Biaya
4. bertahap. Optimalisasi pemanfaatan fasilitas eksisting SBI
Operasional yang Tinggi
seperti peralatan Drilling waste management dapat
mengurangi kebutuhan rental peralatan yang besar.
Memperkuat keunggulan kompetitif melalui inovasi
layanan, efisiensi biaya, dan penerapan sistem manajemen
Risiko Persaingan dengan
5. mutu. Selain itu, memanfaatkan reputasi dan jaringan bisnis
Penyedia Jasa Sejenis
SBI serta Nathabumi sebagai nilai tambah dalam
memenangkan tender proyek.
Menetapkan sistem pemantauan proyek terpadu dengan Key
Risiko Keterlambatan Performance Indicator (KPI) yang jelas bagi mitra kerja.
6. Proyek dan Kinerja Mitra Pelaksanaan evaluasi berkala terhadap kinerja kontraktor
Kerja dan penerapan sanksi atau insentif akan membantu menjaga
ketepatan waktu dan kualitas pekerjaan
Menyesuaikan strategi bisnis dengan mengembangkan
Risiko Perubahan
layanan pengelolaan limbah non-migas, termasuk dari
Kebijakan Energi dan
7. sektor energi terbarukan. Selain itu, melakukan kajian pasar
Transisi ke Energi Baru
dan kebijakan energi secara berkala agar arah bisnis tetap
Terbarukan (EBT)
relevan dengan dinamika industri nasional.
7.5. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Seiring dengan rencana penambahan kegiatan usaha pada aktivitas penunjang pertambangan
minyak bumi dan gas alam, SBI telah menyiapkan strategi pengelolaan sumber daya manusia
yang adaptif dan terukur. Untuk mendukung operasional KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang
Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam, SBI akan mengoptimalkan tenaga kerja internal
sebanyak 84 orang yang telah memiliki pengalaman di bidang pengelolaan limbah industri,
di mana 33 orang di antaranya telah memiliki sertifikasi terkait layanan drilling waste
management dan 12 orang telah memiliki sertifikasi pengolah limbah B3 Langkah ini
mencerminkan kesiapan manajerial dalam memenuhi kebutuhan awal operasional tanpa
menambah beban struktur organisasi secara signifikan, serta menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam mengintegrasikan sumber daya internal dengan tenaga baru yang akan
dilatih sesuai standar operasional.
Fokus utama manajemen SBI dalam tahap awal pengembangan layanan drilling waste
management adalah memastikan kesiapan teknis dan efisiensi operasional melalui
penyempurnaan desain proses, peningkatan performa fasilitas, serta penerapan standar
Business Valuation Unit
71 Jakarta
Page 87
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
keselamatan kerja (K3) secara menyeluruh. Kegiatan pelatihan dan pengujian lapangan akan
dilakukan untuk menjamin bahwa seluruh tenaga kerja memahami prosedur pengelolaan
limbah B3 dan non-B3 dengan aman dan sesuai regulasi lingkungan yang berlaku.
Pendekatan ini mencerminkan komitmen manajemen dalam mengedepankan tata kelola yang
bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan operasional.
Kemampuan manajemen SBI dalam membangun koordinasi lintas fungsi, mengoptimalkan
sumber daya internal, serta menjalin kerja sama strategis dengan mitra eksternal
menunjukkan kapasitas organisasi yang solid untuk menjalankan kegiatan usaha baru.
Pengalaman SBI dalam pengelolaan limbah industri melalui unit bisnis usaha AFR dengan
merek dagang “Nathabumi” menjadi modal penting dalam memperkuat implementasi
operasional layanan drilling waste management.
7.6. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Sistem organisasi dan manajemen yang efektif sangat penting untuk mendukung terciptanya
perusahaan yang teratur dalam pengendalian internal, sehingga dapat membangun
perusahaan yang solid dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Struktur organisasi dan
manajemen yang baik berkaitan erat dengan koordinasi kerja yang terorganisir dan terarah.
Setiap organisasi memerlukan pembagian tugas yang jelas, disesuaikan dengan bagan
organisasi, delegasi wewenang yang tegas, serta koordinasi yang terintegrasi. Penempatan
tenaga kerja yang tepat sesuai dengan pengalaman, keahlian, dan keterampilan mereka
menjadi faktor kunci dalam implementasi kebijakan perusahaan. Hal ini akan mempermudah
proses delegasi tugas antara unit yang ada, yang pada gilirannya akan memperlancar kinerja
perusahaan. Oleh karena itu, SBI menyadari pentingnya memiliki struktur organisasi dan
sistem manajemen yang efektif dan adaptif dalam menjawab tantangan bisnis yang dinamis.
Struktur organisasi yang jelas, terukur, dan selaras dengan strategi bisnis menjadi fondasi
utama dalam mewujudkan visi Perseroan. SBI meyakini bahwa keberhasilan tidak hanya
bergantung pada produk dan layanan yang dihasilkan, tetapi juga pada bagaimana fungsi-
fungsi manajerial dijalankan secara terintegrasi, efisien, dan akuntabel. Dengan struktur
organisasi yang tepat, alur pengambilan keputusan dapat berjalan lebih cepat, koordinasi
antar unit menjadi lebih harmonis, serta pengawasan dan evaluasi kinerja dapat dilakukan
secara menyeluruh. Menyadari pentingnya hal tersebut, Perseroan secara konsisten
melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap struktur organisasi dan kebijakan manajemen
agar tetap relevan dan responsif terhadap perkembangan industri. Berikut merupakan struktur
organisasi SBI per 30 Juni 2025.
Business Valuation Unit
72 Jakarta
Page 88
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 49. Struktur Organisasi SBI
Sumber: Annual Report SBI 2024
Business Valuation Unit
73 Jakarta
Page 89
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 50. Struktur Organisasi Unit Usaha Divisi AFR
Sumber: Manajemen SBI
Business Valuation Unit
74 Jakarta
Page 90
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
7.7. Kesimpulan Aspek Model Manajemen
Berdasarkan analisis model manajemen terhadap struktur organisasi, kesiapan sumber daya
manusia, strategi pengelolaan tenaga kerja, serta pendekatan manajerial dalam mendukung
kegiatan operasional dan riset, penambahan kegiatan usaha oleh SBI dinilai layak dari aspek
model manajemen. SBI menunjukkan kemampuan untuk mengelola sumber daya secara
efisien melalui optimalisasi tenaga kerja internal sebanyak 84 orang yang telah
berpengalaman dengan 33 orang memiliki sertifikasi terkait layanan drilling waste
management, dan 12 orang telah memiliki sertifikasi untuk pengolah limbah B3 . Langkah
ini mencerminkan efisiensi dan efektivitas manajerial dalam memenuhi kebutuhan
operasional jangka pendek tanpa menimbulkan beban berlebih pada struktur organisasi yang
ada.
Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem
koordinasi yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan
secara konsisten, menjadi pondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan
ekspansi usaha. Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh
terhadap dinamika industri, SBI dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai untuk
mengarahkan pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan. Dengan
struktur organisasi yang solid, tenaga kerja yang kompeten, dan strategi mitigasi risiko yang
telah dirumuskan, rencana penambahan kegiatan usaha ini secara aspek model manajemen
layak.
Business Valuation Unit
75 Jakarta
Page 91
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
8. ANALISIS ASPEK KEUANGAN
8.1. Rencana Biaya Investasi
Berkaitan dengan penambahan kegiatan usaha, SBI secara garis besar rencana Anggaran
Biaya Penambahan Kegiatan Usaha yang dibutuhkan oleh SBI dapat disajikan sebagai
berikut:
Figur 51. Biaya Investasi
Uraian Unit Volume Unit Cost Total Cost
Preparation Pre Production
Concept and Design
lot 1 9.835 142.600.874
Consulting
Mechanical DWM
Main Equipment 10.212.260.785
Shale Shaker (Hig Dryer) set 2 47.534 1.378.475.111
Decanter Centrifuge set 1 377.891 5.479.417.016
Vertical Cutting Dryer set 1 231.336 3.354.368.658
Dewatering Unit set 0
Supporting Equipment 4.198.803.498
Auger - screw conveyor set 2 65.564 1.901.344.980
Platfrom - skid set 2 16.391 475.336.245
Compressor set 2 5.464 158.445.415
Pump set 2 21.855 633.781.660
Generator set 1 43.709 633.781.660
Portable lab test (if
set 1 27.318 396.113.538
necessary)
INSTALLATION 1.152.885.142
Electrical Installation set 1 720.553.214 720.553.214
Trial and comisioning set 1 432.331.928 432.331.928
PRE-PRODUCTION
1.012.331.928
EXPENSE
Commisioning and Training 1 432.331.928 432.331.928
Service Engineer (20 days) 1 40.000 580.000.000
TOTAL PROJECT 16.718.882.227
Contingency lot 1 1.671.888.223
Cutting Skip 5.000.000.000
TOTAL INVESTMENT 23.390.770.450
Sumber: Manajemen SBI
Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha usaha KBLI 09100 –
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam adalah sebesar
Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta Tujuh Ratus
Tujuh Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah).
Business Valuation Unit
76 Jakarta
Page 92
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
8.2. Sumber Pembiayaan
Dalam rangka merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, SBI melakukan
investasi untuk KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Alam sebesar Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta
Tujuh Ratus Tujuh Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah) yang bersumber dari kas.
8.3. Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan
Asumsi – asumsi yang digunakan dalam penyusunan proyeksi keuangan sebelum dan setelah
penambahan kegiatan usaha adalah upaya pengembangan bisnis SBI. Proyeksi disusun
selama 5 tahun dengan asumsi sebagai berikut:
Figur 52. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Inflasi Persen 1,70% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Jutaan
Volume Penjualan 6,3 13,0 13,4 13,8 13,8 13,8
Ton
Pendapatan
Jutaan
Cement+Clinker 5.149.903 10.696.864 11.202.300 11.702.082 11.944.872 12.245.989
Rupiah
Jutaan
Non Cement 440.906 1.404.735 1.482.031 1.572.220 1.667.906 1.769.425
Rupiah
Jutaan
Total Pendapatan 5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
Rupiah
COGS
Jutaan
Cement 3.704.485 7.780.383 8.150.141 8.510.206 8.670.754 8.888.420
Rupiah
Jutaan
Non Cement 337.522 1.100.192 1.152.394 1.209.469 1.269.856 1.333.752
Rupiah
Jutaan
Total COGS 4.042.007 8.880.576 9.302.535 9.719.675 9.940.610 10.222.172
Rupiah
Beban Penjualan Jutaan
547.975 1.217.637 1.293.267 1.372.496 1.415.985 1.467.922
dan Distribusi Rupiah
Tarif Pajak Persen 28% 28% 28% 28% 28% 28%
JIBOR Persen 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44%
Perputaran
Perputaran Piutang
Usaha
Pihak Ketiga Hari 6 6 6 6 6 6
Pihak Berelasi Hari 88 88 88 88 88 88
Perputaran Piutang
Lain-Lain
Pihak Ketiga Hari 3 3 3 3 3 3
Pihak Berelasi Hari 3 3 3 3 3 3
Perputaran
Hari 46 46 46 46 46 46
Persediaan
Perputaran Utang
Usaha
Pihak Ketiga Hari 85 85 85 85 85 85
Pihak Berelasi Hari 63 63 63 63 63 63
Perputaran utang
Lain-Lain
Pihak Ketiga Hari 3 3 3 3 3 3
Business Valuation Unit
77 Jakarta
Page 93
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Pihak Berelasi Hari 2 2 2 2 2 2
Perputaran Beban
Yang Masih Harus Hari 11 11 11 11 11 11
Dibayar
Sumber: Manajemen SBI
Asumsi – Asumsi tanpa penambahan kegiatan usaha:
1. Tingkat inflasi Juli – Desember 2025 diasumsikan sebesar 1,70% dan pada tahun 2026 –
2030 diasumsikan tetap setiap tahunnya sebesar 2,50%.
2. Volume penjualan Juli – Desember 2025 diasumsikan sebesar 6,3 juta ton. Mengalami
peningkatan menjadi 13,0 juta ton pada 2026 dan 13,4 juta ton pada 2027. Pada 2028 –
2030 diasumsikan sebesar 13,8 juta ton.
3. Pendapatan dari segmen Cement/ Clinker diasumsikan meningkat dari Rp5.149.903 juta
pada Juli-Desember 2025 menjadi Rp12.245.989 juta pada tahun 2030. Pendapatan Non-
Cement juga menunjukkan peningkatan dari Rp440.906 juta pada Juli-Desember 2025
menjadi Rp1.769.425 juta pada tahun 2030. Dengan demikian, total pendapatan
Perseroan secara keseluruhan diproyeksikan naik dari Rp5.590.809 juta pada Juli-
Desember 2025 menjadi Rp14.015.415 juta pada tahun 2030.
4. COGS segmen Cement diasumsikan meningkat dari Rp3.704.485 juta pada Juli-
Desember 2025 menjadi Rp8.888.420 juta pada 2030. Kemudian untuk COGS Non-
Cement diasumsikan meningkat dari Rp337.522 juta pada Juli-Desember 2025 menjadi
Rp1.333.752 juta pada 2030. Dengan demikian, total COGS diasumsikan tumbuh secara
proporsional terhadap pendapatan, yaitu dari Rp4.042.007 juta pada Juli-Desember 2025
menjadi Rp10.222.172 juta pada tahun 2030.
5. Beban penjualan dan distribusi diasumsikan mengalami peningkatan dari Rp547.975 juta
pada Juli-Desember 2025 menjadi Rp1.467.922 juta pada tahun 2030, yang
mencerminkan biaya distribusi dan pemasaran yang bertambah seiring dengan
peningkatan penjualan dan cakupan pasar.
6. Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah tarif pajak efektif yang berlaku
untuk Perseroan, yaitu sebesar 28%.
7. Tingkat suku bunga acuan JIBOR diproyeksikan tetap pada 6,44% setiap tahunnya.
8. Beberapa parameter terkait perputaran modal kerja diasumsikan stabil sepanjang periode
proyeksi:
● Perputaran Piutang Usaha: 6 hari untuk pihak ketiga dan 88 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Piutang Lain-lain: 3 hari untuk pihak ketiga dan 3 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Persediaan: 46 hari.
● Perputaran Utang Usaha: 85 hari untuk pihak ketiga dan 63 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Utang Lain-lain: 3 hari untuk pihak ketiga dan 2 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Beban yang Masih Harus Dibayar: 11 hari secara konsisten setiap tahun.
Business Valuation Unit
78 Jakarta
Page 94
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 53. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Inflasi Persen 1,70% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Penjualan Jutaan
5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
Eksisting Rupiah
HPP Jutaan
4.042.007 8.880.576 9.302.535 9.719.675 9.940.610 10.222.172
Existing Rupiah
Beban
Penjualan
Persen 9,80% 10,06% 10,20% 10,34% 10,40% 10,47%
dan
Distribusi
Respected
Project
Total Juaan
5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
Revenue Rupiah
Jutaan
HPP 4.431.802 9.670.199 10.030.288 10.448.667 10.670.483 10.975.568
Rupiah
Tarif Pajak Persen 28% 28% 28% 28% 28% 28%
JIBOR Persen 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44%
Perputaran
Perputaran
Piutang
Usaha
Pihak
Hari 6 6 6 6 6 6
Ketiga
Pihak
Hari 88 88 88 88 88 88
Berelasi
Perputaran
Piutang
Lain-Lain
Pihak
Hari 3 3 3 3 3 3
Ketiga
Pihak
Hari 3 3 3 3 3 3
Berelasi
Perputaran
Hari 46 46 46 46 46 46
Persediaan
Perputaran
Utang
Usaha
Pihak
Hari 85 85 85 85 85 85
Ketiga
Pihak
Hari 63 63 63 63 63 63
Berelasi
Perputaran
utang Lain-
Lain
Pihak
Hari 3 3 3 3 3 3
Ketiga
Pihak
Hari 2 2 2 2 2 2
Berelasi
Perputaran
Beban Yang
Masih Hari 11 11 11 11 11 11
Harus
Dibayar
Sumber: Manajemen SBI
Business Valuation Unit
79 Jakarta
Page 95
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Asumsi – Asumsi dengan penambahan kegiatan usaha:
1. Tingkat inflasi Juli – Desember 2025 diasumsikan sebesar 1,70% dan pada tahun 2026 –
2030 diasumsikan tetap setiap tahunnya sebesar 2,50%.
2. Penjualan dari kegiatan usaha eksisting diproyeksikan mengalami pertumbuhan stabil
dari Rp5.590.809 juta pada Juli-Desember 2025 menjadi Rp14.015.415 juta pada tahun
2030.
3. HPP dari kegiatan usaha eksisting diasumsikan meningkat secara proporsional terhadap
pendapatan, yaitu dari Rp4.042.007 juta pada Juli-Desember 2025 menjadi
Rp10.222.172 juta pada tahun 2030.
4. Beban penjualan dan distribusi diasumsikan stabil di kisaran 9,80% pada Juli-Desember
2025 hingga 10,47% pada 2026-2030 terhadap penjualan.
5. Selain dari kegiatan usaha eksisting, Perseroan juga memperhitungkan kontribusi dari
penambahan kegiatan usaha. Sehingga proyeksi pendapatan setelah penambahan
kegiatan usaha diasumsikan pada Juli-Desember 2025 sebesar R5.604.078 juta pada Juli-
Desember 2025 menjadi R14.046.055 juta pada tahun 2030
6. HPP setelah adanya penambahan kegiatan usaha diasumsikan Rp4.431.802 juta pada
Juli-Desember 2025 menjadi Rp10.975.568 juta di tahun 2030.
7. Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah tarif pajak efektif yang berlaku
untuk Perseroan, yaitu sebesar 28%.
8. Tingkat suku bunga acuan JIBOR diproyeksikan tetap pada 6,44% setiap tahunnya.
9. Beberapa parameter terkait perputaran modal kerja diasumsikan stabil sepanjang periode
proyeksi:
● Perputaran Piutang Usaha: 6 hari untuk pihak ketiga dan 88 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Piutang Lain-lain: 3 hari untuk pihak ketiga dan 3 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Persediaan: 46 hari.
● Perputaran Utang Usaha: 85 hari untuk pihak ketiga dan 63 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Utang Lain-lain: 3 hari untuk pihak ketiga dan 2 hari untuk pihak
berelasi.
● Perputaran Beban yang Masih Harus Dibayar: 11 hari secara konsisten setiap tahun.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
keuangan SBI. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa waktu
proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen SBI telah
menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun tersebut
perusahaan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going concern bisnis
SBI diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi pendapatan/ gordon
model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan, Penilai telah melakukan
diskusi dengan manajemen SBI bahwa proyeksi yang digunakan telah wajar dan sudah
dilakukan penyesuaian oleh Penilai.
Business Valuation Unit
80 Jakarta
Page 96
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
8.4. Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
8.4.1. Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan SBI adalah sebagai berikut:
Figur 54. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Tanpa Penambahan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Aset 21.061.731 21.344.802 21.124.869 21.701.931 22.214.576 22.777.344
Liabilitas 8.122.026 8.118.112 7.542.401 7.733.516 7.837.131 7.977.810
Ekuitas 12.939.705 13.226.690 13.582.467 13.968.416 14.377.445 14.799.535
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Selama periode proyeksi Juli – Desember 2025 hingga Desember 2030, total aset SBI
menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten meskipun tanpa adanya penambahan usaha
baru. Pada Juli – Desember 2025, aset perusahaan diproyeksikan sebesar Rp21.061.731 juta.
Nilai ini terus meningkat menjadi Rp21.344.802 juta pada tahun 2026 dan Rp21.124.869 juta
pada tahun 2027. Pertumbuhan ini berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, dengan aset
mencapai Rp21.701.931 juta di tahun 2028, Rp22.214.576 juta di tahun 2029, dan
Rp22.777.344 juta di tahun 2030.
Liabilitas SBI selama periode proyeksi menunjukkan kecenderungan yang relatif stabil
dengan sedikit fluktuasi. Pada Juli – Desember 2025, liabilitas tercatat sebesar Rp8.122.026
juta, yang kemudian sedikit meningkat menjadi Rp8.118.112 juta pada tahun 2026. Pada
tahun 2027 dan 2028 terjadi penurunan liabilitas menjadi masing-masing Rp7.542.401 juta
dan Rp7.733.516 juta, yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengurangi beban
kewajiban atau melakukan pelunasan utang. Namun, pada tahun 2029 dan 2030, liabilitas
kembali mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp7.837.131 juta dan Rp7.977.810.
Ekuitas perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan signifikan sepanjang periode
proyeksi, menandakan peningkatan akumulasi keuntungan. Pada Juli – Desember 2025,
ekuitas SBI diproyeksikan sebesar Rp12.939.705 juta. Nilai ini terus meningkat setiap tahun,
menjadi Rp13.226.690 juta di tahun 2026, Rp13.582.467 juta di tahun 2027, dan
Rp13.968.416 juta di tahun 2028. Tren positif ini berlanjut hingga mencapai Rp14.377.445
juta di tahun 2029 dan Rp14.799.535 juta pada akhir periode proyeksi di tahun 2030.
Business Valuation Unit
81 Jakarta
Page 97
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 55. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Posisi Keuangan SBI
Juli - Desember 2025 s.d Desember 2030
Dalam Jutaan Rupiah
25,000,000
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Jul-Des Des Des Des Des Des
Jumlah Aset 21,061,731 21,344,802 21,124,869 21,701,931 22,214,576 22,777,344
Jumlah Liabilitas 8,122,026 8,118,112 7,542,401 7,733,516 7,837,131 7,977,810
Jumlah Ekuitas 12,939,705 13,226,690 13,582,467 13,968,416 14,377,445 14,799,535
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
8.4.2. Proyeksi Laba (Rugi) Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi Laba (Rugi) SBI adalah sebagai berikut:
Figur 56. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Penjualan 5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
Harga
Pokok (4.425.576) (9.657.502) (10.017.265) (10.435.309) (10.656.792) (10.961.535)
Penjualan
Laba Kotor 1.165.233 2.444.097 2.667.066 2.838.992 2.955.986 3.053.880
Laba Usaha 438.735 860.678 1.004.069 1.087.877 1.151.990 1.188.269
Laba Rugi
Tahun 254.760 573.969 711.555 771.897 818.058 844.179
Berjalan
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Dari sisi penjualan, total pendapatan perusahaan diproyeksikan tumbuh stabil, dimulai dari
Rp5.590.809 juta pada Juli – Desember 2025, dan meningkat menjadi Rp12.101.600 juta di
tahun 2026. Selanjutnya, penjualan terus naik menjadi Rp12.684.331 juta di tahun 2027,
Rp13.274.302 juta di tahun 2028, Rp13.612.778 juta di tahun 2029, hingga mencapai
Rp14.015.415 juta di tahun 2030.
Harga Pokok Penjualan (HPP) juga mengalami peningkatan, sejalan dengan kenaikan
volume penjualan. HPP diproyeksikan sebesar Rp4.425.576 juta pada Juli – Desember 2025
dan meningkat menjadi Rp9.657.502 juta di tahun 2026. Selanjutnya, HPP terus naik menjadi
Rp10.017.265 juta di tahun 2027, Rp10.435.309 juta di tahun 2028, Rp10.656.792 juta di
tahun 2029, hingga naik menjadi Rp10.961.535 juta pada tahun 2030.
Business Valuation Unit
82 Jakarta
Page 98
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Laba usaha SBI menunjukkan tren yang sangat positif. Pada Juli – Desember 2025, laba
usaha diproyeksikan sebesar Rp438.735 juta, dan terus meningkat setiap tahun menjadi
Rp860.678 juta di tahun 2026, Rp1.004.069juta di tahun 2027, Rp1.087.877juta di tahun
2028, Rp1.151.990juta di tahun 2029, hingga mencapai Rp1.188.269 juta di tahun 2030.
Laba bersih tahun berjalan SBI juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Dimulai dari
Rp254.760 juta di Juli – Desember 2025, laba bersih meningkat menjadi Rp573.969juta di
tahun 2026, Rp711.555di tahun 2027, Rp771.897juta di tahun 2028, Rp818.058juta di tahun
2029, dan mencapai Rp844.179juta pada tahun 2030. Kenaikan ini mencerminkan
profitabilitas perusahaan yang terjaga, serta kemampuan dalam menghasilkan keuntungan
bersih dari operasional normal tanpa perluasan usaha tambahan.
Figur 57. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Laba Rugi SBI
Juli - Desember 2025 s.d Desember 2030
Dalam Jutaan Rupiah
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0
-5,000,000
-10,000,000
-15,000,000
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Jul-Des Des Des Des Des Des
Penjualan 5,590,809 12,101,600 12,684,331 13,274,302 13,612,778 14,015,415
Beban Pokok Penjualan (4,425,576) (9,657,502) (10,017,265 (10,435,309 (10,656,792 (10,961,535
Laba Kotor 1,165,233 2,444,097 2,667,066 2,838,992 2,955,986 3,053,880
Laba Usaha 438,735 860,678 1,004,069 1,087,877 1,151,990 1,188,269
Laba Rugi Tahun Berjalan 254,760 573,969 711,555 771,897 818,058 844,179
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
8.4.3. Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 58. Proyeksi Arus Kas SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas Operasi 628.318 1.365.872 1.388.637 1.466.217 1.519.433 1.577.689
Arus Kas Aktivitas Investasi (125) (199.431) (433.514) (393.197) (427.266) (464.480)
Arus Kas Aktivitas
(127.380) (686.984) (1.096.659) (385.949) (409.029) (422.090)
Pendanaan
Kas dan Setara Awal Tahun 205.670 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613
Kas dan Setara Akhir Tahun 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613 3.105.732
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan tren peningkatan secara konsisten selama
periode proyeksi. Pada Juli–Desember 2025, arus kas operasi diproyeksikan sebesar
Rp628.318 juta. Nilai ini meningkat signifikan menjadi Rp1. 365.872 juta pada Desember
Business Valuation Unit
83 Jakarta
Page 99
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
2026, kemudian relatif stabil di kisaran Rp1.388.637juta pada Desember 2027 hingga
Rp1.577.689 juta pada tahun 2030.
Arus kas dari aktivitas investasi menunjukkan tren peningkatan secara konsisten selama
periode proyeksi. Pada Juli–Desember 2025, arus kas investasi menunjukkan angka negatif
sebesar Rp125, pada tahun 2026 menunjukkan angka negatif Rp433.514 juta hingga di tahun
2030 menunjukkan angka negatif Rp464.480 juta.
Pada Juli – Desember 2025 terdapat arus kas dari aktivitas pendanaan sebesar negatif
Rp127.380 juta. Arus kas dari aktivitas pendanaan tanpa penambahan kegiatan usaha di tahun
2026-2029 masing-masing tercatat sebesar negatif Rp686.984 juta, negatif Rp1.096.659 juta,
negarif Rp385.949 juta, negatif Rp409.029 juta, hingga negatif Rp422.090 juta pada tahun
2030.
8.5. Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
8.5.1. Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan SBI adalah sebagai berikut:
Figur 59. Proyeksi Posisi Keuangan SBI dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Aset 21.069.215 21.356.432 21.140.718 21.722.089 22.239.138 22.806.606
Liabilitas 8.127.524 8.123.764 7.548.199 7.739.461 7.843.226 7.984.057
Ekuitas 12.941.691 13.232.667 13.592.520 13.982.627 14.395.913 14.822.550
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Pada periode Juli–Desember 2025, total aset SBI diproyeksikan sebesar Rp21.069.215 juta.
Nilai ini mengalami peningkatan di tahun 2026 menjadi Rp21.356.432 juta. Pertumbuhan
aset berlanjut di tahun 2027 dengan nilai Rp21.140.718 juta, kemudian naik menjadi
Rp21.722.089 juta pada 2028. Tren peningkatan ini konsisten hingga 2029 dengan proyeksi
Rp22.239.138 juta, dan mencapai Rp22.806.606 juta pada 2030.
Liabilitas SBI pada Juli–Desember 2025 tercatat sebesar Rp8.127.524 juta, kemudian
meningkat menjadi Rp8.123.764 juta pada 2026. Sedangkan di tahun 2027, liabilitas
menurun menjadi Rp7.548.199 juta, menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan kewajiban
jangka pendek maupun jangka panjang. Pada tahun 2028 meningkat sedikit menjadi
Rp7.739.461 juta. Kemudian pada 2029, liabilitas sedikit meningkat menjadi Rp7.843.226
juta, dan kembali naik ke Rp7.984.057 juta di 2030.
Ekuitas SBI pada Juli–Desember 2025 sebesar Rp12.941.691 juta, yang menunjukkan porsi
modal sendiri cukup dominan terhadap total aset. Pada 2026, ekuitas naik menjadi
Rp13.232.667 juta, dan terus meningkat ke Rp13.592.520 juta pada 2027. Tren kenaikan
berlanjut di 2028 menjadi Rp13.982.627juta, kemudian Rp14.395.913 juta pada 2029, dan
mencapai Rp14.822.550 juta pada 2030.
Business Valuation Unit
84 Jakarta
Page 100
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Figur 60. Proyeksi Posisi Keuangan SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Posisi Keuangan SBI
Juli - Desember 2025 s.d Desember 2030
Dalam Jutaan Rupiah
25,000,000
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0
Jul-Des Des Des Des Des Des
Posisi Keuangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Jumlah Aset 21,069,21 21,356,43 21,140,71 21,722,08 22,239,13 22,806,60
Jumlah Liabilitas 8,127,524 8,123,764 7,548,199 7,739,461 7,843,226 7,984,057
Jumlah Ekuitas 12,941,69 13,232,66 13,592,52 13,982,62 14,395,91 14,822,55
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
8.5.2. Proyeksi Laba (Rugi) Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 61. Proyeksi Laba (Rugi) SBI Dengan Penambahan Kegiatan usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Penjualan 5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
Harga
Pokok (4.431.802) (9.670.199) (10.030.288) (10.448.667) (10.670.483) (10.975.568)
Penjualan
Laba Kotor 1.172.276 2.458.602 2.681.925 2.854.214 2.971.588 3.070.487
Laba Usaha 444.252 871.765 1.015.388 1.099.429 1.163.813 1.200.901
Laba Rugi
Tahun 258.733 581.952 719.705 780.215 826.571 853.274
Berjalan
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Pada periode Juli–Desember 2025, penjualan SBI diproyeksikan sebesar Rp5.604.078 juta.
Pada tahun 2026, penjualan meningkat tajam menjadi Rp12.128.801 juta dan tren positif ini
berlanjut pada 2027 dengan nilai Rp12.712.213 juta, kemudian naik menjadi Rp13.302.880
juta pada 2028. Pada tahun 2029, penjualan diperkirakan mencapai Rp13.642.072 juta, dan
meningkat kembali menjadi Rp14.046.055 juta pada 2030.
Harga pokok penjualan pada Juli–Desember 2025 diperkirakan sebesar Rp4.431.802 juta.
Pada tahun 2026, HPP meningkat menjadi Rp9.670.199 juta, sejalan dengan peningkatan
volume produksi. Nilai ini terus naik menjadi Rp10.030.288 juta di 2027 dan Rp10.448.667
juta di 2028. Selanjutnya, HPP sedikit meningkat menjadi Rp10.670.483 juta pada 2029, dan
mencapai Rp10.975.568 juta pada 2030.
Laba usaha pada Juli–Desember 2025 sebesar Rp444.252 juta, dan meningkat menjadi
Rp871.765 juta pada 2026. Di tahun 2027, laba usaha tumbuh menjadi Rp1.015.388 juta,
menunjukkan peningkatan kinerja operasional yang berkelanjutan. Pada 2028, nilai laba
Business Valuation Unit
85 Jakarta
Page 101
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
usaha naik menjadi Rp1.099.429 juta, kemudian mencapai Rp1.163.813 juta pada 2029, dan
Rp1.200.901 juta di 2030.
Laba tahun berjalan pada periode Juli–Desember 2025 tercatat sebesar Rp258.733 juta. Nilai
ini meningkat signifikan menjadi Rp581.952juta pada 2026, dan Rp719.705juta pada 2027.
Tren positif berlanjut pada 2028 dengan laba tahun berjalan sebesar Rp780.215juta, lalu
meningkat menjadi Rp826.571juta pada 2029, dan mencapai Rp853.274juta pada 2030.
Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Laba Rugi SBI
Juli - Desember 2025 s.d Desember 2030
Dalam Jutaan Rupiah
20,000,000
15,000,000
10,000,000
5,000,000
0
-5,000,000
-10,000,000
-15,000,000
Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba - Rugi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 5,604,078 12,128,801 12,712,213 13,302,880 13,642,072 14,046,055
Beban Pokok Penjualan (4,431,802) (9,670,199) (10,030,288) (10,448,667) (10,670,483) (10,975,568)
Laba Kotor 1,172,276 2,458,602 2,681,925 2,854,214 2,971,588 3,070,487
Laba Usaha 444,252 871,765 1,015,388 1,099,429 1,163,813 1,200,901
Laba Rugi Tahun Berjalan 258,733 581,952 719,705 780,215 826,571 853,274
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
8.5.3. Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 63. Proyeksi Arus Kas SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas Operasi 628.983 1.373.723 1.396.704 1.474.449 1.527.855 1.586.522
Arus Kas Aktivitas Investasi (125) (199.431) (433.514) (393.197) (427.266) (464.480)
Arus Kas Aktivitas
(129.366) (690.976) (1.100.734) (390.107) (413.285) (426.637)
Pendanaan
Kas dan Setara Awal Tahun 205.670 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383
Kas dan Setara Akhir Tahun 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383 3.124.788
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Pada periode Juli–Desember 2025, arus kas bersih dari aktivitas operasi diproyeksikan
sebesar Rp628.983 juta. Nilai ini meningkat signifikan menjadi Rp1.373.723 juta pada tahun
2026 dan kembali naik menjadi Rp1.396.704 juta di tahun 2027. Kenaikan berlanjut di tahun
2028 sebesar Rp1.474.449 juta, kemudian Rp1.527.855 juta pada 2029, dan mencapai
Rp1.586.522 juta pada 2030.
Business Valuation Unit
86 Jakarta
Page 102
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Arus kas dari aktivitas investasi menunjukkan tren peningkatan secara konsisten selama
periode proyeksi. Pada Juli–Desember 2025, arus kas investasi menunjukkan angka negatif
sebesar Rp125 juta, pada tahun 2026 menunjukkan angka negatif Rp433.514 juta hingga di
tahun 2030 menunjukkan angka negatif Rp464.480 juta.
Pada Juli – Desember 2025 terdapat arus kas dari aktivitas pendanaan sebesar negatif
Rp129.366 juta. Arus kas dari aktivitas pendanaan tanpa penambahan kegiatan usaha di tahun
2026-2029 masing-masing tercatat sebesar negatif Rp690.976 juta, negatif Rp1.100.734 juta,
negatif Rp390.107 juta, dan negatif Rp413.285 juta hingga negatif Rp426.637 juta pada
tahun 2030.
8.6. Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan atau financial ratio merupakan suatu alat analisis yang digunakan
oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-
masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti laporan posisi keuangan, laba rugi, dan
arus kas dalam periode tertentu.
Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Proyeksi keuangan SBI tanpa penambahan kegiatan usaha selama proyeksi dapat
dilihat pada figur berikut:
Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Likuiditas
Current Ratio 107,88% 116,40% 114,14% 126,47% 138,40% 149,60%
Quick Ratio 85,13% 93,23% 90,82% 102,99% 114,84% 125,93%
Cash Ratio 14,55% 22,60% 19,31% 30,95% 42,42% 53,29%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11,79 5,94 5,94 5,94 5,94 5,94
Pihak Berelasi 175,02 88,23 88,23 88,23 88,23 88,23
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 6,37 3,21 3,21 3,21 3,21 3,21
Pihak Berelasi 6,26 3,15 3,15 3,15 3,15 3,15
Perputaran Persediaan 91,13 45,94 45,94 45,94 45,94 45,94
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 168,41 84,90 84,90 84,90 84,90 84,90
Pihak Berelasi 124,57 62,80 62,80 62,80 62,80 62,80
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 5,48 2,76 2,76 2,76 2,76 2,76
Pihak Berelasi 3,00 1,51 1,51 1,51 1,51 1,51
Perputaran Beban Yang Masih
20,85 10,51 10,51 10,51 10,51 10,51
Harus Dibayar
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 38,56% 38,03% 35,70% 35,64% 35,28% 35,03%
Debt to Equity Ratio 62,77% 61,38% 55,53% 55,36% 54,51% 53,91%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 20,84% 20,20% 21,03% 21,39% 21,71% 21,79%
Operating Profit Margin 7,85% 7,11% 7,92% 8,20% 8,46% 8,48%
Business Valuation Unit
87 Jakarta
Page 103
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Net Profit Margin 4,56% 4,74% 5,61% 5,81% 6,01% 6,02%
ROA 1,21% 2,69% 3,37% 3,56% 3,68% 3,71%
ROE 1,97% 4,34% 5,24% 5,53% 5,69% 5,70%
Rasio Likuiditas
Pada periode Juli–Desember 2025, tingkat current ratio SBI tercatat sebesar 107,88%,
menunjukkan kemampuan perusahaan yang cukup baik dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki. Pada tahun 2026, rasio ini meningkat menjadi
116,47%, namun di pada tahun 2027 mengalami penurunan menjadi 114,14%. Kemudian
pada tahun 2028 kembali mengalami kenaikan menjadi 126.47%. Kenaikan terus berlanjut
menjadi 138.40% di 2029, dan 149.60% pada 2030, menunjukkan likuiditas yang sangat kuat
serta kemampuan perusahaan yang semakin besar untuk menutup utang jangka pendek tanpa
tekanan likuiditas.
Sementara itu, quick ratio pada Juli - Desember 2025 sebesar 85,13%, kemudian meningkat
menjadi 93,23% pada 2026. Pada tahun 2027 sedikit mengalami penurunan menjadi 90,82%,
selanjutnya terus mengalami kenaikan menjadi 102,99% di 2028, 114,84% di 2029 dan
125,93% di 2030. Peningkatan yang konsisten menandakan bahwa perusahaan memiliki aset
lancar non-persediaan yang cukup untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya secara cepat.
Adapun cash ratio menunjukkan tren yang sama, dari 14,55% di Juli – Desember 2025
menjadi 22,60% di 2026, 19,31% di 2027, lalu meningkat menjadi 30,95% pada 2028,
42,42% di 2029, dan 53,29% pada 2030. Peningkatan rasio kas ini menunjukkan penguatan
posisi kas perusahaan dari tahun ke tahun, sehingga ketergantungan terhadap aset nonkas
untuk melunasi kewajiban semakin berkurang.
Rasio Aktivitas
Perputaran piutang usaha pihak ketiga menunjukkan penurunan dari 11,79 hari pada Juli -
Desember 2025 menjadi 5,94 hari mulai 2026 hingga 2030, yang menunjukkan adanya
kebijakan penjualan kredit yang lebih panjang atau peningkatan saldo piutang. Untuk pihak
berelasi, rasio menurun dari 175,02 hari pada 2025 menjadi 88,23 kali pada 2026 dan stabil
hingga 2030.
Perputaran piutang lain-lain pihak ketiga turun dari 6,37 hari di Juli - Desember 2025 menjadi
3,21 hari di 2026 dan bertahan di angka tersebut hingga 2030, sedangkan pihak berelasi turun
dari 6,26 hari menjadi 3,15 hari dan stabil seterusnya. Perputaran persediaan menurun dari
91,13 hari pada 2025 menjadi 45,94 hari sejak 2026 hingga 2030.
Sementara itu, perputaran utang usaha pihak ketiga turun dari 168,41 hari pada Juli -
Desember 2025 menjadi 84,90 hari di 2026. Kondisi serupa terjadi pada pihak berelasi yang
turun dari 124,57 hari menjadi 62,80 hari dan stabil hingga 2030. Utang lain-lain pihak ketiga
menurun dari 5,48 hari menjadi 2,76 hari, sedangkan pihak berelasi menurun dari 3,00 hari
menjadi 1,51 hari. Perputaran beban yang masih harus dibayar juga menurun dari 20,85 hari
di Juli - Desember 2025 menjadi 10,51 hari pada 2026 dan stabil sampai 2030.
Business Valuation Unit
88 Jakarta
Page 104
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Solvabilitas
Rasio Debt to Asset menunjukkan tren menurun dari 38,56% pada Juli - Desember 2025
menjadi 38,03% pada 2026, lalu turun kembali ke 35,70% di 2027, 35,64% di 2028, 35,28%
di 2029, dan 35,03% pada 2030. Penurunan rasio ini mencerminkan bahwa proporsi aset yang
dibiayai oleh utang semakin kecil, sehingga struktur modal perusahaan menjadi lebih sehat
dan risiko keuangan menurun.
Rasio Debt to Equity juga menunjukkan pola serupa, yaitu 62,77% pada Juli - Desember
2025, menurun menjadi 61,38% di 2026, 55,53% di 2027, 55,36% di 2028, 54,51% di 2029,
dan 53,91% di 2030. Penurunan bertahap ini menandakan peningkatan modal sendiri yang
lebih dominan dibandingkan kewajiban, sehingga solvabilitas perusahaan semakin kuat.
Rasio Profitabilitas
Rasio Gross Margin berada pada kisaran stabil, yaitu 20,84% pada Juli - Desember 2025,
20,20% di 2026, 21,03% di 2027, 21,39% di 2028, 21,71% di 2029, dan meningkat hingga
tahun 2030 sebesar 21,79%.
Operating Margin berada pada kisaran stabil, yaitu 7,85% pada Juli - Desember 2025, 7,11%
di 2026, 7,92% di 2027, 8,20% di 2028, 8,46% di 2029, dan 8,48% pada 2030.
Net Profit Margin meningkat dari 4,56% pada Juli - Desember 2025 menjadi 4,74% di 2026,
kemudian sedikit naik ke 5,61% pada 2027, dan terus mengalami kenaikan hingga tahun 2030
sebesar 6,02% menggambarkan kenaikan laba bersih relatif terhadap penjualan.
Return on Assets (ROA) juga menunjukkan tren positif dari 1,21% di Juli - Desember 2025
menjadi 3,71% pada 2030 menandakan peningkatan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki
Return on Equity (ROE) juga menunjukkan tren positif dari 1,97% di Juli - Desember 2025
menjadi 5,70% pada 2030, menandakan peningkatan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dari total ekuitas yang dimiliki.
Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Proyeksi keuangan SBI dengan penambahan kegiatan usaha selama proyeksi dapat
dilihat pada figur berikut:
Figur 65. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Likuiditas
Current Ratio 107,92% 116,49% 114,31% 126,69% 138,69% 149,94%
Quick Ratio 85,16% 93,32% 90,99% 103,21% 115,12% 126,27%
Cash Ratio 14,50% 22,62% 19,41% 31,11% 42,63% 53,56%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11,79 5,94 5,94 5,94 5,94 5,94
Business Valuation Unit
89 Jakarta
Page 105
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pihak Berelasi 175,02 88,23 88,23 88,23 88,23 88,23
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 6,37 3,21 3,21 3,21 3,21 3,21
Pihak Berelasi 6,26 3,15 3,15 3,15 3,15 3,15
Perputaran Persediaan 91,13 45,94 45,94 45,94 45,94 45,94
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 168,41 84,90 84,90 84,90 84,90 84,90
Pihak Berelasi 124,57 62,80 62,80 62,80 62,80 62,80
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 5,48 2,76 2,76 2,76 2,76 2,76
Pihak Berelasi 3,00 1,51 1,51 1,51 1,51 1,51
Perputaran Beban Yang Masih
20,85 10,51 10,51 10,51 10,51 10,51
Harus Dibayar
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 38,58% 38,04% 35,70% 35,63% 35,27% 35,01%
Debt to Equity Ratio 62,80% 61,39% 55,53% 55,35% 54,48% 53,86%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 20,92% 20,27% 21,10% 21,46% 21,78% 21,86%
Operating Profit Margin 7,93% 7,19% 7,99% 8,26% 8,53% 8,55%
Net Profit Margin 4,62% 4,80% 5,66% 5,87% 6,06% 6,07%
ROA 1,23% 2,72% 3,40% 3,59% 3,72% 3,74%
ROE 2,00% 4,40% 5,29% 5,58% 5,74% 5,76%
Sumber: Manajemen SBI (diolah)
Rasio Likuiditas
Pada periode Juli–Desember 2025, tingkat current ratio SBI tercatat sebesar 107,92%,
menunjukkan kemampuan perusahaan yang cukup baik dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki. Pada tahun 2026, rasio ini meningkat menjadi
116,49%, namun di pada tahun 2027 mengalami penurunan menjadi 114,31%. Kemudian
pada tahun 2028 kembali mengalami kenaikan menjadi 126,69%. Kenaikan terus berlanjut
menjadi 138,69% di 2029, dan 149,94% pada 2030, menunjukkan likuiditas yang sangat kuat
serta kemampuan perusahaan yang semakin besar untuk menutup utang jangka pendek tanpa
tekanan likuiditas.
Quick ratio pada Juli – Desemer 2025 sebesar 85,16%, kemudian meningkat menjadi
93,320% pada 2026. Pada tahun 2027 sedikit mengalami penurunan menjadi 90,99%,
selanjutnya terus mengalami kenaikan menjadi 103,21% di 2028, 115,12% di 2029 dan
126,27% di 2030. Peningkatan yang konsisten menandakan bahwa perusahaan memiliki aset
lancar non-persediaan yang cukup untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya secara cepat.
Adapun cash ratio menunjukkan tren yang sama, dari 14,50% di Juli – Desember 2025
menjadi 22,62% di 2026. Cash ratio mengami penurunan di tahun 2027 menjadi 19,41%, lalu
meningkat menjadi 31,11% pada 2028, 42,63% di 2029, dan 53,56% pada 2030. Peningkatan
rasio kas ini menunjukkan penguatan posisi kas perusahaan dari tahun ke tahun, sehingga
ketergantungan terhadap aset nonkas untuk melunasi kewajiban semakin berkurang.
Business Valuation Unit
90 Jakarta
Page 106
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan efisiensi perusahaan dalam mengelola aset operasionalnya.
Perputaran piutang usaha pihak ketiga pada periode Juli - Desember 2025 tercatat sebesar
11,79 hari, kemudian menurun menjadi 5,94 hari dan stabil hingga 2030. Sementara itu,
perputaran piutang pihak berelasi turun dari 175,02 hari pada 2025 menjadi 88,23 hari sejak
2026 dan bertahan di tingkat tersebut hingga 2030.
Piutang lain-lain pihak ketiga pada Juli - Desember 2025 sebesar 6,37 hari dan turun menjadi
3,21 hari di tahun 2026 sampai 2030. Piutang lain-lain pihak berelasi pada Juli-Desember
2025 sebesar 6,26 hari dan turun menjadi 3,15 hari di tahun 2026 sampai 2030.
Perputaran persediaan menurun dari 91,13 hari menjadi 45,94 hari dari Juli - Dessember 2025
sampai 2030.
Di sisi lain, perputaran utang usaha kepada pihak ketiga dan berelasi juga melambat dari
168,41 dan 124,57 hari menjadi masing-masing 84,90 dan 62,80 hari di tahun 2026 sampai
2030. Utang lain-lain pihak ketiga pada Juli-Desember 2025 sebesar 5,48 hari dan turun
menjadi 2,76 hari di tahun 2026 sampai 2030. Utang lain-lain pihak berelasi pada Juli-
Desember 2025 sebesar 3,00 hari dan turun menjadi 1,51 hari di tahun 2026 sampai 2030.
Sementara itu untuk perputaran beban yang masih harus dibayar pada Juli-Desember 2025
sebesar 20,85 hari dan turun menjadi 10,51 hari di tahun 2026 sampai 2030.
Rasio Solvabilitas
Berdasarkan proyeksi, Debt to Asset Ratio menunjukkan tren menurun dari 38,580% pada
Juli - Desember 2025 menjadi 35,01% di Desember 2030. Sementara itu, Debt to Equity
Ratio juga menunjukkan arah yang konsisten menurun dari 62,80% pada Juli - Desember
2025 menjadi 53,86% pada Desember 2030.
Rasio Profitabilitas
Rasio Gross Margin berada pada kisaran stabil, yaitu 20,92% pada Juli - Desember 2025,
sedikit menurun di 2026 sebesar 20,27%, kemudian meningkat di tahun 2027 sebesar 21,10%
dan terus meningkat hingga sebesar 21,86% pada tahun 2030.
Operating Margin berada pada kisaran stabil, yaitu 7,93% pada Juli - Desember 2025, sedikit
menurun di 2026 sebesar 7,19%, kemudian meningkat di tahun 2027 sebesar 7,99% dan terus
meningkat hingga sebesar 8,55% pada tahun 2030.
Net Profit Margin meningkat dari 4,62% pada Juli - Desember 2025 menjadi 4,80% di 2026,
kemudian sedikit naik ke 5,66% pada 2027, dan terus mengalami kenaikan sedikit di tahun
2028 sebesar 5,87%, di 2029 sebesar 6,06% hingga di 2030 sebesar 6,07% yang
menggambarkan kenaikan laba bersih relatif terhadap penjualan.
Return on Assets (ROA) juga menunjukkan tren positif dari 1,23% di Juli - Desember 2025
menjadi 3,74% pada 2030, menandakan peningkatan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki.
Business Valuation Unit
91 Jakarta
Page 107
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Return on Equity (ROE) juga menunjukkan tren positif dari 2,00% di Juli - Desember 2025
menjadi 5,76% pada 2030, menandakan peningkatan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dari total ekuitas yang dimiliki.
8.7. Biaya Operasional
Biaya operasional SBI terdiri dari beban penjualan dan distribusi serta beban umum dan
administrasi. Biaya operasional dengan penambahan kegiatan usaha tercatat sebesar
Rp728.024 juta di Juli – Desember 2025 naik menjadi Rp1.869.586juta di tahun 2030.
8.8. Biaya Bahan Baku Mentah
Biaya bahan baku terdiri dari cement, non cement, penyusutan dan DWM. Harga pokok
penjualan dengan penambahan kegiatan usaha tercatat sebesar Rp4.431.802 juta di Juli-
Desember 2025 sampai dengan Rp10.975.568 juta di tahun 2030.
8.9. Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh
laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat
digunakan untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai
berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
BEP = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
(1−( )
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-
masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah mencerminkan pendapatan
minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk Rupiah pada proyeksi
Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebagai berikut:
Figur 66. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Analisis BEP Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Dengan Rencana 2025
Penambahan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Kegiatan Usaha
Penjualan 5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
Beban Pokok
4.431.802 9.670.199 10.030.288 10.448.667 10.670.483 10.975.568
Penjualan
Beban Operasional 178.749 366.463 370.428 379.334 388.744 398.455
BEP 854.510 1.807.839 1.755.812 1.767.993 1.784.659 1.822.746
8.10. Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis
rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang
Business Valuation Unit
92 Jakarta
Page 108
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai gambaran bagaimana Perseroan dalam
usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel berikut ini.
Figur 67. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Analisis Profitabilitas Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Dengan Penambahan 2025
Kegiatan Usaha Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Gross Margin 20,92% 20,27% 21,10% 21,46% 21,78% 21,86%
Operating Margin 7,93% 7,19% 7,99% 8,26% 8,53% 8,55%
Net Profit Margin 4,62% 4,80% 5,66% 5,87% 6,06% 6,07%
ROA 1,23% 2,72% 3,40% 3,59% 3,72% 3,74%
ROE 2,00% 4,40% 5,29% 5,58% 5,74% 5,76%
8.11. Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)
Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Dalam konteks studi kelayakan, ROI
digunakan untuk mengukur sejauh mana investasi yang dilakukan memberikan
pengembalian secara finansial.
Perhitungan ROI dilakukan dengan membandingkan laba bersih atau Net Present Value
(NPV) terhadap total investasi awal yang telah dikeluarkan. Dengan demikian, ROI menjadi
indikator penting untuk menilai efektivitas dan efisiensi penggunaan dana investasi.
Secara teknis, ROI adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar laba bersih yang diperoleh
dibandingkan dengan total investasi. Persamaan yang digunakan untuk menghitung ROI
adalah sebagai berikut:
𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒
ROI = 𝑥100%
𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑚𝑒𝑛𝑡
Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
Juli-Desember 2025 – Desember 2030 adalah sebesar 274,18%.
8.12. Penentuan Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas
risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham, dengan
formula sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) + α
Dimana :
Rf = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß = risiko sistematis
Rm = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp = selisih antara Rm dengan Rf
α = risiko spesifik
Business Valuation Unit
93 Jakarta
Page 109
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia, instrumen bebas risiko
yang dapat dipilih adalah tingkat bunga obligasi Pemerintah untuk jangka panjang.
Terkait dengan tanggal studi kelayakan yang jatuh pada tanggal 30 Juni 2025, maka
instrumen bebas risiko yang dipilih didasarkan pada obligasi Pemerintah dengan bunga tetap
yang dikeluarkan oleh Pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor
30 tahun, yield tertimbang sebesar 7,03% yang bersumber dari IPBA per 30 Juni 2025, dan
angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian bebas risiko (Rf).
Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko
dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk
premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk premiums)
seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk premium. Dengan
mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi perubahan-
perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara berkembang (emerging
market).
Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan menggunakan rujukan dari hasil Penelitian
Damodaran per tanggal 01 Januari 2025 dengan risk premium untuk pasar negara
berkembang seperti Indonesia adalah sekitar 6,87%. Dengan Rating Based Default Spread
sebesar 1,89%.
α (Alpha), Faktor alpha merupakan risiko spesifik perusahaan yang mungkin mencerminkan
jenis properti, perusahaan dan premi risiko lainnya. Pada penilaian ini, faktor Alpha atau
risiko spesifik SBI adalah 0 (“Nol”) karena tidak terdapat risiko spesifik terkait operasional
dan keuangan SBI.
ß (Beta). Beta merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P 500
atau IHSG). Untuk SBI kami menggunakan Beta dari industri sejenis.
Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta untuk
menghitung cost of equity, dimana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered beta. Cara
ini dilakukan untuk menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing perusahaan
terhadap beta. Perusahaan yang sama dengan leverage yang berbeda akan memiliki cost of
equity yang berbeda pula, oleh karena itu pengaruh leverage yang ada di tiap perusahaan
perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.
Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut:
βL
βu =
1 + (1-T) x DER
Dimana:
T = Tarif Pajak Penghasilan Badan
DER = Debt to equity ratio
Business Valuation Unit
94 Jakarta
Page 110
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
βL = Beta levered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
portofolio pasar dengan pengaruh hutang
βu = Beta unlevered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
portofolio pasar tanpa pengaruh hutang
Unlevered beta perusahaan pembanding yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan beta
untuk SBI adalah sebesar 0,86. Unlevered beta tersebut diperoleh dari Penelitian Damodaran
per 05 Januari 2025 dengan kategori Oil/Gas (Production and Exploration).
Unlevered beta perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-
relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar yaitu sebesar 27,99% yang besumber
dari DER. Untuk memperoleh beta yang sesuai maka mendiskonto AKB tersebut dengan
formula sebagai berikut:
βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
βL = 0,86 x (1 + (1-22,00%) x 27,99%)
βL = 1,05
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas SBI adalah sebagai berikut:
Figur 68. Biaya Modal Ekuitas
Keterangan Nilai
Risk Free Rate (Rf) 7,03%
Risk Premium Market (Rpm) 6,87%
β (Beta) 1,05
Rating Based Default Spread (RBDS) 1,89%
α (Alpha) -
Biaya Modal untuk Ekuitas 12,36%
Sumber: Penelitian Damodaran (Diolah GEAR)
8.12.1. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital)
Sesuai dengan AKB yang digunakan, yaitu arus kas bersih untuk perusahaan (free cash flow
to firm), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan rata-
rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari kreditor (pinjaman) maupun yang berasal
dari (investor) penyertaan.
Dalam penilaian ini, untuk biaya bunga utang digunakan tingkat bunga pinjaman rata-rata
dalam mata uang Rupiah berdasarkan suku bunga pinjaman investasi dari Bank Perseroan
berdasarkan data yang dipublikasikan Bank Indonesia per Juni 2025 sebesar 8,96%.
Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya utang bersih setelah pajak dengan
perhitungan sebagai berikut:
Wd = i x ((1-T))
Wd = 8,96% x (1-22%) = 6,99%
Business Valuation Unit
95 Jakarta
Page 111
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Berikut adalah perhitungan WACC SBI per 30 Juni 2025:
Figur 69. WACC
Jenis Modal Biaya Modal Komposisi Tertimbang
Biaya Hutang 6,99% 21,87% 1,53%
Biaya Ekuitas 12,36 78,13% 9,66%
Biaya Modal Rata- Rata Tertimbang 11,19%
Berdasarkan figur diatas, maka tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian sebesar
11,19% yang menurut pendapat kami merupakan tingkat diskonto yang wajar.
8.13. Analisis Inkremental
Proses kajian kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih untuk
perusahaan (Free Cash Flow to Firm/FCFF). yang mencerminkan arus kas bersih masa
datang yang tersedia didalam perusahaan yang dapat dibayarkan kepada semua penyedia
kapital (claim holder), baik pemegang ekuitas (common stock), pemegang saham preferen
(preferred stock) maupun para kreditor baik pokok maupun bunga atas pinjaman yang
diterima oleh perusahaan, setelah terpenuhinya semua kebutuhan operasional dan investasi
yang diperlukan dalam mempertahankan pertumbuhan perusahaan baik selama proyeksi
periode eksplisit maupun masa kekal (periode implisit). Arus kas bersih untuk perusahaan
(FCFF) tersebut didapat dari:
FCFF = CFO + I . (1-T) – ΔCAPEX
Dimana:
FCFF : Arus Kas Bersih untuk Perusahaan
CFO : Arus Kas Operasi
I : Beban Utang Berbunga (Interest Bearing Debt)
T : Tingkat Pajak
ΔCAPEK : Perubahan arus kas investasi
Arus kas inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih eksisting tanpa penambahan
kegiatan usaha dengan arus kas bersih adanya penambahan kegiatan usaha. Hasil dari
perhitungan arus kas inkremental ini dijadikan sebagai dasar dalam menentukan kelayakan
usaha.
Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih SBI tanpa penambahan kegiatan usaha selama
periode Juli-Desember 2025 sampai dengan 2030:
Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih SBI Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas Operasi 628.318 1.365.872 1.388.637 1.466.217 1.519.433 1.577.589
Arus Kas Aktivitas Investasi (125) (199.431) (433.5140 (393.197) (427.266) (464.480)
(1.096.659
Arus Kas Aktivitas Pendanaan (127.380) (686.984) (385.949) (409.029) (422.090)
)
Kas dan Setara Awal Tahun 205.670 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613
Business Valuation Unit
96 Jakarta
Page 112
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Kas dan Setara Akhir Tahun 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613 3.105.732
Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih SBI dengan penambahan kegiatan usaha selama
periode Juli-Desember 2025 sampai dengan 2030:
Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih SBI Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas Operasi 628.318 1.373.723 1.396.704 1.474.449 1.527.855 1.585.522
Arus Kas Aktivitas Investasi (125) (199.431) (433.514) (393.197) (427.266) (464.480)
Arus Kas Aktivitas
(129.366) (690.976) (1.100.734) (390.107) (413.285) (426.637)
Pendanaan
Kas dan Setara Awal Tahun 205.670 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383
Kas dan Setara Akhir Tahun 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383 3.124.788
Figur 72. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental SBI selama Periode Juli-Desember 2025
sampai dengan 2030
(Jutaan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas Operasi 666 7.851 8.066 8.232 8.422 8.833
Arus Kas Aktivitas Investasi - - - - - -
Arus Kas Aktivitas
(1.986) (3.992) (4.075) (4.159) (4.256) (4.548)
Pendanaan
Kas dan Setara Awal Tahun - (1.321) 2.539 6.531 10.604 14.770
Kas dan Setara Akhir Tahun (1.321) 2.539 6.531 10.604 14.770 19.056
Analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha SBI didasarkan pada analisis
inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan yaitu proyeksi keuangan tanpa penambahan
kegiatan usaha dan proyeksi keuangan dengan penambahan kegiatan usaha.
8.14. Analisis Kelayakan Usaha
Parameter kelayakan finansial yang digunakan meliputi NPV (Net Present Value), IRR
(Internal Rate of Return), PI (Profitability Index), dan Payback Period.
● Net Present Value (NPV)
NPV adalah selisih antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk dengan nilai sekarang
dari arus kas yang keluar pada periode waktu tertentu. NPV mengestimasikan nilai
sekarang pada suatu proyek, aset ataupun investasi berdasarkan arus kas masuk maupun
arus kas keluar yang diharapkan pada masa depan yang disesuaikan dengan tingkat
diskonto yang relevan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa NPV adalah nilai
sekarang dari suatu aset maupun proyek. Persamaan dari NPV adalah sebagai berikut:
Business Valuation Unit
97 Jakarta
Page 113
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
𝐶𝐹𝑡
NPV = ∑𝑇𝑡−1 (1+𝑟)𝑡
− 𝐶𝐹 0
Dimana:
NPV = Net Present Value
CFt = Arus Kas Pada Peiode t1
CF0 = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
r = Tingkat Diskonto
Berikut ini disajikan perhitungan Net Present Value dari arus kas bersih inkremental SBI
dengan adanya penambahan kegiatan usaha:
Figur 73. NPV Free Cash Flow to Incremental
(Jutaan Rupiah)
Juli - Des Des Des Des Des Des
2025 2026 2027 2028 2029 2030
FCFF 3.972 7.983 8.150 8.318 8.512 9.095
EAT - - - - - -
Depresiasi (+) - - - - - -
CAPEX (-) (3.307) (132) (83) (85) (90) (262)
Perubahan Modal
- - - - - -
Kerja (+/-)
Interest x (1-tax)
FCFF 666. 7.851 8.066 8.232 8.422 8.833
Terminal Value 2,5% 104.232
DCF FCFF 666 7.851 8.066 3.232 8.422 113.065
Discount Factor 11,19% 0,95 0,85 0,77 0,69 0,62 0,56
Terminal Growth 2,50%
PV FCFF (23.391) 631 6.697 6.188 5.680 5.226 63.102
NPV 64.133
Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa NPV SBI dengan adanya
penambahan kegiatan usaha diperoleh sebesar Rp64.133 juta. Hasil tersebut
menyimpulkan bahwa investasi penambahan usaha dengan parameter NPV layak untuk
dilakukan karena NPV yang dihasilkan adalah positif. NPV yang positif (NPV > 0)
menunjukan bahwa penerimaan lebih besar dibandingkan dengan nilai yang
diinvestasikan, sedangkan NPV yang negatif (NPV < 0) menandakan penerimaan lebih
kecil dibandingkan dengan pengeluaran atau akan mengalami kerugian pada investasinya
setelah mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money). Namun apabila hasil
perhitungan NPV adalah nol (NPV = 0), maka artinya investasi atau pembelian tersebut
hanya balik modal (tidak untung dan tidak rugi). Semakin besar angka positifnya,
semakin besar pula penerimaan yang bisa didapatkannya. Oleh karena itu, perhitungan
NPV ini tidak saja digunakan untuk mengevaluasi layak atau tidaknya untuk berinvestasi,
namun juga digunakan untuk membandingkan investasi mana yang lebih baik jika
terdapat dua pilihan investasi atau lebih.
● Internal Rate of Return (IRR)
IRR menjadi salah satu acuan penghitungan efisiensi dari sebuah investasi. Secara
sederhana, penghitungan IRR dapat menjadi dasar apakah sebuah investasi layak
dilakukan atau tidak. IRR yang lebih besar dari tingkat diskonto maka menggambarkan
Business Valuation Unit
98 Jakarta
Page 114
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return lebih besar dari yang
dirancang sebelumnya. Artinya, perusahaan disarankan menerima atau menjalankan
proyek investasi tersebut. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka
akan memberi gambaran bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return lebih
kecil dari yang ditargetkan sehingga perusahaan lebih baik menolak proyek tersebut.
Sedangkan untuk IRR yang nilainya sama dengan tingkat diskonto menjadi
pertimbangan bahwa investasi yang dilakukan diperkirakan menghasilkan return sebesar
yang ditargetkan. Persamaan dari IRR adalah sebagai berikut:
𝐶𝐹𝑡
NPV = ∑𝑇𝑡−1 (1+𝐼𝑅𝑅)𝑡
− 𝐶𝐹 0
Dimana:
IRR = Internal Rate of Return
CFt = Arus Kas Pada Peiode t1
CF0 = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
r = Tingkat Diskonto
IRR adalah tingkat diskonto yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Kesimpulannya
bila penghitungan IRR lebih besar daripada tingkat diskonto, maka dapat dibilang bahwa
investasi yang akan dilakukan dinilai layak. Namun, jika nilai IRR sama dengan tingkat
diskonto, maka investasi yang akan dilakukan dinilai balik modal. Sementara bila IRR
lebih kecil dari tingkat diskonto, maka investasi yang dilakukan dinilai tidak layak.
Berdasarkan perhitungan atas kajian kelayakan penambahan kegiatan usaha SBI
diperoleh besaran IRR sebesar 30,41%. Hal ini menunjukkan bahwa investasi yang
dilakukan oleh SBI dengan parameter IRR layak untuk dilakukan karena IRR yang
dihasilkan lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat diskonto untuk industri sejenis
yaitu sebesar 11,19%.
● Profitability Index (PI)
PI adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi
untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas mereka. Teknik arus kas diskonto yang
digunakan dalam mencapai indeks profitabilitas. PI juga dikenal sebagai rasio manfaat-
biaya. PI lebih besar dari atau sama dengan 1 ditafsirkan sebagai kriteria baik dan dapat
diterima. PI dihitung dengan mencari nilai present value perkiraan arus kas yang akan
diterima dari investasi, setelah itu baru dibandingkan dengan jumlah nilai investasi
proyek tersebut. Persamaan untuk menghitung PI adalah sebagai berikut:
𝛴 𝑃𝑉(𝐶𝐹𝑡)
PI =
𝛴𝑃𝑉(𝐶𝐹0)
Dimana:
IRR = Profitability Index
CFt = Present Value of Future Cash Flow
CF0 = Initial Investment
Business Valuation Unit
99 Jakarta
Page 115
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Profitability Index menunjukkan angka 3,74 artinya bahwa SBI ketika menambah
kegiatan usaha dianggap wajar dikarenakan Profitability Index diatas 1.
● Payback Period (PP)
Payback period adalah periode yang dibutuhkan untuk menutup kembali pengeluaran
investasi atau initial cash investment. Artinya, kurun waktu yang dibutuhkan agar bisa
menutup kembali pengeluaran saat investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran
kas netto (net cash flows). Penambahan kegiatan usaha SBI diperoleh payback period
selama 4 tahun 3 bulan.
8.15. Analisis Sensitivitas
Penyusunan pendapat studi kelayakan ini telah dilakukan analisis sensitivitas yang bertujuan
untuk melihat faktor-faktor mana yang paling berpengaruh terhadap parameter kelayakan
penambahan kegiatan usaha SBI. Hal tersebut dilakukan simulasi terhadap investasi, Setelah
itu, dilakukan simulasi untuk melihat pengaruh parameter kelayakan terhadap faktor utama
yang digunakan dalam analisis sensitivitas:
Figur 74. Analisis Sensitivitas
Keterangan NPV IRR Hasil
0% 64.133 30,41% Layak
-20% 69.079 37,38% Layak
-15% 67.855 35,43% Layak
-10% 66.623 33,64% Layak
-5% 65.382 31,97% Layak
0% 64.133 30,41% Layak
5% 62.876 28,95% Layak
10% 61.610 27,58% Layak
15% 60.336 26,29% Layak
20% 59.054 25,06% Layak
8.16. Kesimpulan Kelayakan Usaha Aspek Keuangan
Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha usaha KBLI 09100 –
Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam adalah sebesar
Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta Tujuh Ratus
Tujuh Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah).
Dalam rangka merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, SBI melakukan
investasi untuk KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Alam sebesar Rp23.390.770.450 (Dua Puluh Tiga Miliar Tiga Ratus Sembilan Puluh Juta
Tujuh Ratus Tujuh Puluh Ribu Empat Ratus Lima Puluh Rupiah) yang bersumber dari kas.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
keuangan SBI. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa waktu
proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen SBI telah
menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun tersebut
Business Valuation Unit
100 Jakarta
Page 116
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
perusahaan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going concern bisnis
SBI diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi pendapatan/gordon
model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan, Penilai telah melakukan
diskusi dengan manajemen SBI bahwa proyeksi yang digunakan telah wajar dan sudah
dilakukan penyesuaian oleh Penilai.
Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI)
atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi Juli-Desember 2025 – 2030 adalah
sebesar 274,18%.
Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
diantisipasi di masa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih
antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash
Flow to Firm apabila SBI tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya
dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to
Incremental. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan
mempertimbangkan asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai
berikut:
● Net Present Value (NPV) : Rp64.133.000.000
● Internal Rate of Return (IRR) : 30,41%
● Profitability Index (PI) : 3,74
● Payback Period (PP) : 4 tahun 3 bulan
Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat
risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha
dibidang Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Alam. maka proyeksi
arus kas inkremental nya bernilai positif.
IRR sebesar 30,41% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha
oleh SBI dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto
Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai
faktor yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
perubahan nilai investasi proyek penambahan kegiatan usaha SBI menunjukkan tingkat
kelayakan finansial yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi
fluktuasi biaya investasi hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
penambahan kegiatan usaha ini tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan
seluruh parameter keuangan yang menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial
akibat perubahan nilai investasi tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman
untuk direalisasikan dari perspektif keuangan.
Berdasarkan kajian evaluasi dan analisa keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan
syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka rencana penambahan
kegiatan usaha atas KBLI 09100 – Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi dan
Gas Alam secara aspek keuangan layak.
Business Valuation Unit
101 Jakarta
Page 117
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
9. KLASIFIKASI PENILAI USAHA
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP
No. 2.13.0116 dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa
Keuangan (“OJK”) d/h Bapepam dan LK dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang
Pasar Modal dari Bapepam dan LK No. STTD.PB-51/PM.223/2021 dan 211/NB.122/STTD-
P/2020.
Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai Usaha
bersertifikat MAPPI dengan perijinan sebagai berikut :
Mappi No. : 14-S-05089
Ijin Penilai : No. B-1.18.00511
No. Reg. : RMK-2017.01120
STTD : PB-51/PM.223/2021
STTD IKNB : 211/NB.122/STTD-P/2020
Business Valuation Unit
102 Jakarta
Page 118
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
LAMPIRAN KEUANGAN
Business Valuation Unit
103 Jakarta
Page 119
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Historis
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Lampiran -1.1
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Posisi Keuangan 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 386.751 526.813 290.567 294.344 339.455 150.342 205.670
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga 638.962 312.708 151.930 250.343 198.850 178.161 160.471
Pihak Berelasi 721.929 2.024.834 3.128.112 2.476.106 3.588.223 2.317.488 2.190.385
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 74.003 45.756 119.160 71.635 109.299 116.656 84.753
Pihak Berelasi 92.605 32.513 71.094 83.386 110.318 147.841 226.161
Persediaan 1.102.680 1.048.354 1.019.014 1.262.429 1.171.348 1.151.302 1.289.895
Pajak lain-lain dibayar di muka 96.172 139.236 401.334 582.030 525.154 609.659 323.376
Biaya Dibayar Dimuka 41.650 28.761 30.851 10.228 24.493 9.968 25.509
Aset Derivatif 67 -
Aset Lancar Lainnya 52.086 57.240 26.207 28.659 23.918 22.312 24.574
Jumlah Aset Lancar 3.206.838 4.216.215 5.238.269 5.059.160 6.091.058 4.703.796 4.530.794
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 22.211 22.934 23.927 30.316 35.533 46.554 48.799
Aset Pajak Tangguhan 16.922 18.507 32.903 32.232 30.188 33.398 29.915
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan 15.465.852 15.258.887 15.007.206 15.260.436 15.383.772 15.449.192 15.245.033
Aset Hak Guna - 466.378 271.332 159.915 151.424 261.969 302.443
Tagihan Pengembalian Pajak - - - - - -
- Pajak Penghasilan Badan 299.367 161.355 319.671 316.474 112.758 152.669 182.534
- Pajak lain-lain 143.765 194.271 193.875 125.620 4.589 1.883 6.851
Goodwill 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808
Aset tidak lancar lainnya 80.735 67.770 72.032 62.549 65.609 65.083 62.161
Jumlah Aset Tidak Lancar 16.360.660 16.521.910 16.252.754 16.319.350 16.115.681 16.342.556 16.209.544
Jumlah Aset 19.567.498 20.738.125 21.491.023 21.378.510 22.206.739 21.046.352 20.740.338
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 1.591.171 1.636.149 1.936.700 2.363.590 2.253.090 1.952.230 1.764.922
Pihak Berelasi 241.170 378.832 1.164.491 1.737.590 2.029.229 1.401.741 1.149.614
Utang Lain-Lain - - - - -
Pihak Ketiga 338.838 100.574 60.122 81.916 51.242 83.112 136.832
Pihak berelasi 3.750 10.175 3.269 991 145.311 8.526 337.719
Utang Pajak -
Pajak penghasilan badan 40.958 49.033 271 17.953 21.997 2.704 2.484
Pajak lain-lain 63.310 3.201 16.992 10.935 13.057 6.266 6.732
Beban Masih Harus Dibayar 384.841 316.652 224.278 281.174 296.911 252.867 329.828
Liabilitas Derivatif 3.429 1.098 132 603 7 - 9
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 179.929 209.803 279.586 218.946 185.406 248.205 127.838
Pinjaman Bank Jangka Panjang 116.110 1.100.000 - - 400.000 400.000 700.000
Liabilitas Sewa - 335.748 213.565 135.462 122.633 108.992 111.726
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 2.963.506 4.141.265 3.899.406 4.849.160 5.518.883 4.464.643 4.667.704
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 535.711 674.445 1.011.863 1.112.133 1.203.377 1.230.890 1.254.431
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah dikurangi
bagian jatuh tempo dalam satu tahun 8.546.350 7.269.246 4.380.372 2.734.547 2.337.097 1.539.857 1.140.881
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 496.146 531.070 529.996 482.868 463.355 562.466 494.917
Provisi untuk Restorasi 43.173 75.749 91.053 82.901 87.977 88.867 95.531
Utang Lain-lain
Pihak Berelasi 121.648 120.214
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya - 252.039 265.324 216.783 35.062 30.057 14.034
Liabilitas Sewa - 228.132 113.937 40.080 56.374 93.814 140.301
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 9.621.380 9.030.681 6.392.545 4.669.312 4.183.242 3.667.599 3.260.309
Jumlah Liabilitas 12.584.886 13.171.946 10.291.951 9.518.472 9.702.125 8.132.242 7.928.013
Ekuitas
Modal Saham 3.831.450 3.831.450 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691
Tambahan Modal Disetor 2.587.309 2.587.309 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275
Komponen ekuitas lain
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak (178.500) (210.859) (261.104) (223.134) (221.420) (288.620) (284.387)
Saldo Laba - - - - -
Dicadangkan 766.290 766.290 766.290 766.290 901.938 901.938 901.938
Belum dicadangkan (23.937) 591.989 1.169.920 1.792.916 2.300.130 2.776.826 2.670.808
Jumlah Ekuitas 6.982.612 7.566.179 11.199.072 11.860.038 12.504.614 12.914.110 12.812.325
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 19.567.498 20.738.125 21.491.023 21.378.510 22.206.739 21.046.352 20.740.338
Business Valuation Unit
104 Jakarta
Page 120
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Lampiran -1.2
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Laba Rugi 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan 11.057.843 10.108.220 11.218.181 12.262.048 12.371.333 11.818.978 4.973.697
Beban Pokok Penjualan (8.172.758) (7.124.690) (8.365.429) (9.330.140) (9.597.271) (9.263.093) (3.934.978)
Laba Kotor 2.885.085 2.983.530 2.852.752 2.931.908 2.774.062 2.555.885 1.038.719
-73,91% -70,48% -74,57% -76,09% -77,58% -78,37% -79,12%
Beban Usaha
Distribusi dan penjualan (1.046.109) (965.140) (964.184) (1.040.626) (948.597) (954.720) (430.204)
Umum dan administrasi (661.162) (397.370) (394.547) (347.121) (352.506) (365.423) (143.839)
Laba (rugi) selisih kurs 51.876 (37.909) 4.020 122 (2.271) 24.819 (16.312)
Rugi dari penghapusan aset tetap (40.938) (16.755) 1.093 (418) (261) (264) -
Penghasilan lain-lain 63.227 98.906
Lainnya - bersih (5.854) (20.410) 38.967 (98.184) 732 (8.656) (4.640)
Laba Sebelum Bunga dan Pajak Penghasilan 1.246.125 1.644.852 1.538.101 1.445.681 1.471.159 1.251.641 443.724
Penghasilan Keuangan 3.851 6.970 3.572 6.678 5.333 5.545 3.357
Beban Keuangan (842.366) (673.924) (454.856) (282.489) (245.866) (240.504) (87.792)
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 407.610 977.898 1.086.817 1.169.870 1.230.626 1.016.682 359.289
Beban Pajak Penghasilan 91.442 (326.910) (373.473) (330.594) (335.981) (271.592) (92.762)
Jumlah Beban Pajak Penghasilan 91.442 (326.910) (373.473) (330.594) (335.981) (271.592) (92.762)
Laba Bersih Tahun Berjalan 499.052 650.988 713.344 839.276 894.645 745.090 266.527
Penghasilan Komprehensif Lain
Pos yang tidak akan direklasifikasi Ke laba Rugi :
Pengukurann Kembali Liabilitas Imbalan Kerja
Karyawan 89.614 (25.409) (25.061) 48.272 2.148 (86.019) 5.428
Pajak Tangguhan dari Pengukuran Liabilitas Imbalan
Kerja Karyawan - - - - -
Lainnya - - - - - -
Manfaat Pajak Penghasilan Tangguhan - - - 18.819
Beban Pajak Terkait (22.404) (6.950) 5.363 (10.302) (434) - (1.195)
Jumlah Penghasilan (Rugi) Komprehensif Lain Tahun
Berjalan Setalah Pajak 67.210 (32.359) (19.698) 37.970 1.714 (67.200) 4.233
Jumlah Laba Komprehensif Lain Tahun Berjalan Setelah Pajak 566.262 618.629 693.646 877.246 896.359 677.890 270.760
Laba Bersih Tahun Berjalan yang dapat Diatribusikan Kepada :
Pemilik Entitas Induk 499.052 650.988 720.933 839.276 894.645 745.090 266.527
Kepentingan Non Pengendali -
Jumlah 499.052 650.988 720.933 839.276 894.645 745.090 266.527
Jumlah Laba Komprehensif tahun berjalan yang dapat
diatribusikan kepada
Pemilik entitas induk -
kepentingan non pengendali -
Jumlah -
Laba Per Saham Dasar 65 85 87,00 93,00 99,00 83,00 30,00
Business Valuation Unit
105 Jakarta
Page 121
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Lampiran -1.3
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Arus Kas 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
Penerimaan kas dari pelanggan 11.645.978 10.075.278 10.223.580 12.585.901 12.563.253 13.196.148 5.140.048
Pembayaran kas kepada pemasok (8.339.444) (7.072.023) (7.070.929) (8.704.066) (10.919.597) (9.697.530) (4.719.852)
Pembayaran kas karyawan (1.372.011) (1.118.037) (1.204.340) (1.131.782) (1.021.507) (977.510) (494.749)
Penerimaan dari Penghasilan Bunga 3.851 6.970 3.572 6.678 5.333 5.545 3.357
Pembayaran Transitional Services and License Agreement (447.685) (340.395) - - - - -
Pembayaran beban keuangan (780.969) (739.806) (444.798) (275.986) (250.318) (245.623) (91.036)
Penerimaan dari perjanjian kesanggupan 337.400 - - - -
Pembayaran Pajak Penghasilan Badan dan pajak lainnya (500.376) (153.130) (265.405) (275.109) (229.996) (1.065.666) (128.772)
Penerimaan Pajak Penghasilan dan pajak lainnya 3.743 294.896 789.606 1.060.913 661.435 623.412
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi 209.344 1.000.000 1.536.576 2.995.242 1.208.081 1.876.799 332.408
Arus kas Dari Aktivitas Investasi
Perolehan Aset Tetap (539.024) (389.693) (485.159) (869.504) (761.667) (730.229) (124.131)
Penerimaan dari hasil ganti rugi aset tetap - 55.061 68.589 48.992 - - -
Hasil Penjualan aset tetap 3.373 - 36.843 - - - -
Perolehan aset hak guna - (9.359) (17.757) (64.147) (41.288) (27.661) (2.494)
Penarikan Deposito Berjangka 152.000 - -
Penempatan Deposito Berjangka (192.082) - -
Penempatan kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya (942) (5.265) (993) (6.389) (5.250) (10.185) (1.746)
Penarikan kas dan setara kas yang dibatasi penggunaanya 4.542 572 1.070 -
Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (536.593) (344.714) (398.477) (931.130) (807.633) (767.005) (128.371)
Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan
Pembayaran Pinjaman bank jangka pendek (3.172.083) (738.000) - - - -
Pembayaran pinjaman bank jangka panjang (11.574.101) (1.965.657) (4.000.000) (4.400.000) - (800.000) (100.000)
Pembayaran biaya transaksi (78.865) (5.250) - - - -
Penerimaan pinjaman bank jangka jangka pendek 1.865.000 738.000 - - - -
Penerimaan Pinjaman jangka bank jangka panjang 13.336.455 1.650.000 - 2.744.097 - -
Penerimaan dari penerbitan saham 3.119.909 -
Biaya penerbitan saham (14.702) -
Pembayaran Pokok liabilitas sewa - (162.488) (281.938) (188.721) (110.440) (237.669) (48.016)
Pembayaran dividen - (27.568) (194.746) (215.803) (245.483) (262.226) -
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan 376.406 (510.963) (1.371.477) (2.060.427) (355.923) (1.299.895) (148.016)
Kenaikan (Penurunan) Berisih Pada Kas dan Bank 49.157 144.323 (233.378) 3.685 44.525 (190.101) 56.021
Kas dan Bank Awal Tahun 336.606 386.751 526.813 290.567 294.344 339.455 150.342
Pengaruh perubahan kurs mata uang asing 988 (4.261) (2.868) 92 586 988 (693)
Kas dan Bank Akhir Tahun 386.751 526.813 290.567 294.344 339.455 150.342 205.670
Business Valuation Unit
106 Jakarta
Page 122
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Analisis Vertikal
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Persentase
Lampiran -1.5
Analisis Vertikal
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Posisi Keuangan 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 1,98% 2,54% 1,35% 1,38% 1,53% 0,71% 0,99%
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga 3,27% 1,51% 0,71% 1,17% 0,90% 0,85% 0,77%
Pihak Berelasi 3,69% 9,76% 14,56% 11,58% 16,16% 11,01% 10,56%
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 0,38% 0,22% 0,55% 0,34% 0,49% 0,55% 0,41%
Pihak Berelasi 0,47% 0,16% 0,33% 0,39% 0,50% 0,70% 1,09%
Persediaan 5,64% 5,06% 4,74% 5,91% 5,27% 5,47% 6,22%
Pajak lain-lain dibayar di muka 0,49% 0,67% 1,87% 2,72% 2,36% 2,90% 1,56%
Biaya Dibayar Dimuka 0,21% 0,14% 0,14% 0,05% 0,11% 0,05% 0,12%
Aset Derivatif 0,00%
Aset Lancar Lainnya 0,27% 0,28% 0,12% 0,13% 0,11% 0,11% 0,12%
Jumlah Aset Lancar 16,39% 20,33% 24,37% 23,66% 27,43% 22,35% 21,85%
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 0,11% 0,11% 0,11% 0,14% 0,16% 0,22% 0,24%
Aset Pajak Tangguhan 0,09% 0,09% 0,15% 0,15% 0,14% 0,16% 0,14%
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan 79,04% 73,58% 69,83% 71,38% 69,28% 73,41% 73,50%
Aset Hak Guna 0,00% 2,25% 1,26% 0,75% 0,68% 1,24% 1,46%
Tagihan Pengembalian Pajak 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
- Pajak Penghasilan Badan 0,78% 1,49% 1,48% 0,51% 0,73% 0,88%
- Pajak lain-lain 0,94% 0,90% 0,59% 0,02% 0,01% 0,03%
Goodwill 1,60% 1,54% 1,55% 1,49% 1,58% 1,60%
Aset tidak lancar lainnya 0,41% 0,33% 0,34% 0,29% 0,30% 0,31% 0,30%
Jumlah Aset Tidak Lancar 83,61% 79,67% 75,63% 76,34% 72,57% 77,65% 78,15%
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 8,13% 7,89% 9,01% 11,06% 10,15% 9,28% 8,51%
Pihak Berelasi 1,23% 1,83% 5,42% 8,13% 9,14% 6,66% 5,54%
Utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 1,73% 0,48% 0,28% 0,38% 0,23% 0,39% 0,66%
Pihak berelasi 0,02% 0,05% 0,02% 0,00% 0,65% 0,04% 1,63%
Utang Pajak
Pajak penghasilan badan 0,21% 0,24% 0,00% 0,08% 0,10% 0,01% 0,01%
Pajak lain-lain 0,32% 0,02% 0,08% 0,05% 0,06% 0,03% 0,03%
Beban Masih Harus Dibayar 1,97% 1,53% 1,04% 1,32% 1,34% 1,20% 1,59%
Liabilitas Derivatif 0,02% 0,01% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 0,92% 1,01% 1,30% 1,02% 0,83% 1,18% 0,62%
Pinjaman Bank Jangka Panjang 0,59% 5,30% 0,00% 0,00% 1,80% 1,90% 3,38%
Liabilitas Sewa 0,00% 1,62% 0,99% 0,63% 0,55% 0,52% 0,54%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 15,15% 19,97% 18,14% 22,68% 24,85% 21,21% 22,51%
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 2,74% 3,25% 4,71% 5,20% 5,42% 5,85% 6,05%
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah dikurangi bagian
jatuh tempo dalam satu tahun 43,68% 35,05% 20,38% 12,79% 10,52% 7,32% 5,50%
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 2,54% 2,56% 2,47% 2,26% 2,09% 2,67% 2,39%
Provisi untuk Restorasi 0,22% 0,37% 0,42% 0,39% 0,40% 0,42% 0,46%
Utang Lain-lain
Pihak Berelasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,58% 0,58%
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya 0,00% 1,22% 1,23% 1,01% 0,16% 0,14% 0,07%
Liabilitas Sewa 0,00% 1,10% 0,53% 0,19% 0,25% 0,45% 0,68%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 49,17% 43,55% 29,75% 21,84% 18,84% 17,43% 15,72%
Jumlah Liabilitas 64,32% 63,52% 47,89% 44,52% 43,69% 38,64% 38,23%
Ekuitas
Modal Saham 19,58% 18,48% 20,98% 21,09% 20,31% 21,43% 21,74%
Tambahan Modal Disetor 13,22% 12,48% 23,33% 23,45% 22,58% 23,82% 24,18%
Komponen ekuitas lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak
-0,91% -1,02% -1,21% -1,04% -1,00% -1,37% -1,37%
Saldo Laba 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Dicadangkan 3,92% 3,70% 3,57% 3,58% 4,06% 4,29% 4,35%
Belum dicadangkan -0,12% 2,85% 5,44% 8,39% 10,36% 13,19% 12,88%
Jumlah Ekuitas 35,68% 36,48% 52,11% 55,48% 56,31% 61,36% 61,77%
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Business Valuation Unit
107 Jakarta
Page 123
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Persentase
Lampiran -1.6
Analisis Vertikal
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Laba Rugi 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Beban Pokok Penjualan -73,91% -70,48% -74,57% -76,09% -77,58% -78,37% -79,12%
Laba Kotor 26,09% 29,52% 25,43% 23,91% 22,42% 21,63% 20,88%
Beban Usaha
Distribusi dan penjualan -9,46% -9,55% -8,59% -8,49% -7,67% -8,08% -8,65%
Umum dan administrasi -5,98% -3,93% -3,52% -2,83% -2,85% -3,09% -2,89%
Laba (rugi) selisih kurs 0,47% -0,38% 0,04% 0,00% -0,02% 0,21% -0,33%
Rugi dari penghapusan aset tetap -0,37% -0,17% 0,01% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Penghasilan lain-lain 0,57% 0,98% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Lainnya - bersih -0,05% -0,20% 0,35% -0,80% 0,01% -0,07% -0,09%
Laba Sebelum Bunga dan Pajak Penghasilan 11,27% 16,27% 13,71% 11,79% 11,89% 10,59% 8,92%
Penghasilan Keuangan 0,03% 0,07% 0,03% 0,05% 0,04% 0,05% 0,07%
Beban Keuangan -7,62% -6,67% -4,05% -2,30% -1,99% -2,03% -1,77%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 3,69% 9,67% 9,69% 9,54% 9,95% 8,60% 7,22%
Beban Pajak Penghasilan 0,83% -3,23% -3,33% -2,70% -2,72% -2,30% -1,87%
Jumlah Beban Pajak Penghasilan 0,83% -3,23% -3,33% -2,70% -2,72% -2,30% -1,87%
Laba Bersih Tahun Berjalan 4,51% 6,44% 6,36% 6,84% 7,23% 6,30% 5,36%
Penghasilan Komprehensif Lain
Pos yang tidak akan direklasifikasi Ke laba Rugi :
Pengukurann Kembali Liabilitas Imbalan Kerja Karyawan 0,81% -0,25% -0,22% 0,39% 0,02% -0,73% 0,11%
Pajak Tangguhan dari Pengukuran Liabilitas Imbalan Kerja Karyawan
Lainnya
Manfaat Pajak Penghasilan Tangguhan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,16% 0,00%
Beban Pajak Terkait -0,20% -0,07% 0,05% -0,08% 0,00% 0,00% -0,02%
Jumlah Penghasilan (Rugi) Komprehensif Lain Tahun Berjalan Setalah
0,61%
Pajak -0,32% -0,18% 0,31% 0,01% -0,57% 0,09%
Jumlah Laba Komprehensif Lain Tahun Berjalan Setelah Pajak 5,12% 6,12% 6,18% 7,15% 7,25% 5,74% 5,44%
Laba Bersih Tahun Berjalan yang dapat Diatribusikan Kepada :
Pemilik Entitas Induk 4,51% 6,44% 6,43% 6,84% 7,23% 6,30% 5,36%
Kepentingan Non Pengendali
Jumlah 4,51% 6,44% 6,43% 6,84% 7,23% 6,30% 5,36%
Jumlah Laba Komprehensif tahun berjalan yang dapat diatribusikan
0,00%
kepada 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pemilik entitas induk 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
kepentingan non pengendali 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Laba Per Saham Dasar
Business Valuation Unit
108 Jakarta
Page 124
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Analisis Horizontal
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Persentase
Lampiran -1.7
Analisis Horizontal
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Posisi Keuangan 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 36,22% -44,84% 1,30% 15,33% -55,71% 36,80%
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga -51,06% -51,41% 64,78% -20,57% -10,40% -9,93%
Pihak Berelasi 180,48% 54,49% -20,84% 44,91% -35,41% -5,48%
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga -38,17% 160,42% -39,88% 52,58% 6,73% -27,35%
Pihak Berelasi -64,89% 118,66% 17,29% 32,30% 34,01% 52,98%
Persediaan -4,93% -2,80% 23,89% -7,21% -1,71% 12,04%
Pajak lain-lain dibayar di muka 44,78% 188,24% 45,02% -9,77% 16,09% -46,96%
Biaya Dibayar Dimuka -30,95% 7,27% -66,85% 139,47% -59,30% 155,91%
Aset Derivatif 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -100,00%
Aset Lancar Lainnya 9,90% -54,22% 9,36% -16,54% -6,71% 10,14%
Jumlah Aset Lancar 31,48% 24,24% -3,42% 20,40% -22,78% -3,68%
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 3,26% 4,33% 26,70% 17,21% 31,02% 4,82%
Aset Pajak Tangguhan 9,37% 77,79% -2,04% -6,34% 10,63% -10,43%
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan -1,34% -1,65% 1,69% 0,81% 0,43% -1,32%
Aset Hak Guna 0,00% -41,82% -41,06% -5,31% 73,00% 15,45%
Tagihan Pengembalian Pajak 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
- Pajak Penghasilan Badan -46,10% 98,12% -1,00% -64,37% 35,40% 19,56%
- Pajak lain-lain 35,13% -0,20% -35,21% -96,35% -58,97% 263,83%
Goodwill 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset tidak lancar lainnya -16,06% 6,29% -13,16% 4,89% -0,80% -4,49%
Jumlah Aset Tidak Lancar 0,99% -1,63% 0,41% -1,25% 1,41% -0,81%
Jumlah Aset 5,98% 3,63% -0,52% 3,87% -5,23% -1,45%
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 2,83% 18,37% 22,04% -4,68% -13,35% -9,59%
Pihak Berelasi 57,08% 207,39% 49,21% 16,78% -30,92% -17,99%
Utang Lain-Lain
Pihak Ketiga -70,32% -40,22% 36,25% -37,45% 62,20% 64,64%
Pihak berelasi 171,33% -67,87% -69,68% 14563,07% -94,13% 3861,05%
Utang Pajak
Pajak penghasilan badan 19,72% -99,45% 6524,72% 22,53% -87,71% -8,14%
Pajak lain-lain -94,94% 430,83% -35,65% 19,41% -52,01% 7,44%
Beban Masih Harus Dibayar -17,72% -29,17% 25,37% 5,60% -14,83% 30,44%
Liabilitas Derivatif -67,98% -87,98% 356,82% -98,84% -100,00% 0,00%
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 16,60% 33,26% -21,69% -15,32% 33,87% -48,49%
Pinjaman Bank Jangka Panjang 847,38% -100,00% 0,00% 0,00% 0,00% 75,00%
Liabilitas Sewa 0,00% -36,39% -36,57% -9,47% -11,12% 2,51%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 39,74% -5,84% 24,36% 13,81% -19,10% 4,55%
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 25,90% 50,03% 9,91% 8,20% 2,29% 1,91%
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun -14,94% -39,74% -37,57% -14,53% -34,11% -25,91%
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 7,04% -0,20% -8,89% -4,04% 21,39% -12,01%
Provisi untuk Restorasi 75,45% 20,20% -8,95% 6,12% 1,01% 7,50%
Utang Lain-lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pihak Berelasi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -1,18%
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya 0,00% 5,27% -18,29% -83,83% -14,27% -53,31%
Liabilitas Sewa 0,00% -50,06% -64,82% 40,65% 66,41% 49,55%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang -6,14% -29,21% -26,96% -10,41% -12,33% -11,11%
Jumlah Liabilitas 4,66% -21,86% -7,52% 1,93% -16,18% -2,51%
Ekuitas
Modal Saham 0,00% 17,70% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tambahan Modal Disetor 0,00% 93,80% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Komponen ekuitas lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak 18,13% 23,83% -14,54% -0,77% 30,35% -1,47%
Saldo Laba 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Dicadangkan 0,00% 0,00% 0,00% 17,70% 0,00% 0,00%
Belum dicadangkan -2573,11% 97,63% 53,25% 28,29% 20,72% -3,82%
0 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah Ekuitas 8,36% 48,01% 5,90% 5,43% 3,27% -0,79%
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 5,98% 3,63% -0,52% 3,87% -5,23% -1,45%
Business Valuation Unit
109 Jakarta
Page 125
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Persentase
Lampiran -1.8
Analisis Horizontal
Keterangan Des Des Des Des Des Des Juni
Laba Rugi 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan -8,59% 10,98% 9,31% 0,89% -4,46% -57,92%
Beban Pokok Penjualan -12,82% 17,41% 11,53% 2,86% -3,48% -57,52%
Laba Kotor 3,41% -4,38% 2,77% -5,38% -7,86% -59,36%
Beban Usaha 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Distribusi dan penjualan -7,74% -0,10% 7,93% -8,84% 0,65% -54,94%
Umum dan administrasi -39,90% -0,71% -12,02% 1,55% 3,66% -60,64%
Laba (rugi) selisih kurs -173,08% -110,60% -96,97% -1961,48% -1192,87% -165,72%
Rugi dari penghapusan aset tetap -59,07% -106,52% -138,24% -37,56% 1,15% -100,00%
Penghasilan lain-lain 56,43% -100,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Lainnya - bersih 248,65% -290,92% -351,97% -100,75% -1282,51% -46,40%
Laba Sebelum Bunga dan Pajak Penghasilan 32,00% -6,49% -6,01% 1,76% -14,92% -64,55%
Penghasilan Keuangan 80,99% -48,75% 86,95% -20,14% 3,98% -39,46%
Beban Keuangan -20,00% -32,51% -37,89% -12,96% -2,18% -63,50%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 139,91% 11,14% 7,64% 5,19% -17,38% -64,66%
Beban Pajak Penghasilan -457,51% 14,24% -11,48% 1,63% -19,16% -65,85%
Jumlah Beban Pajak Penghasilan -457,51% 14,24% -11,48% 1,63% -19,16% -65,85%
Laba Bersih Tahun Berjalan 30,44% 9,58% 17,65% 6,60% -16,72% -64,23%
Penghasilan Komprehensif Lain 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pos yang tidak akan direklasifikasi Ke laba Rugi : 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pengukurann Kembali Liabilitas Imbalan Kerja Karyawan -128,35% -1,37% -292,62% -95,55% -4104,61% -106,31%
Pajak Tangguhan dari Pengukuran Liabilitas Imbalan Kerja Karyawan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Lainnya 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Manfaat Pajak Penghasilan Tangguhan 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% -100,00%
Beban Pajak Terkait -68,98% -177,17% -292,09% -95,79% -100,00% 0,00%
Jumlah Penghasilan (Rugi) Komprehensif Lain Tahun Berjalan Setalah Pajak -148,15% -39,13% -292,76% -95,49% -4020,65% -106,30%
Jumlah Laba Komprehensif Lain Tahun Berjalan Setelah Pajak 9,25% 12,13% 26,47% 2,18% -24,37% -60,06%
Laba Bersih Tahun Berjalan yang dapat Diatribusikan Kepada : 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pemilik Entitas Induk 30,44% 10,74% 16,42% 6,60% -16,72% -64,23%
Kepentingan Non Pengendali 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah 30,44% 10,74% 16,42% 6,60% -16,72% -64,23%
Jumlah Laba Komprehensif tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pemilik entitas induk 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
kepentingan non pengendali 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Laba Per Saham Dasar
Business Valuation Unit
110 Jakarta
Page 126
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Keuangan Historis
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Lampiran - 1.4
Rasio Keuangan Des Des Des Des Des Des Juni
Keterangan 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Likuiditas
Current Ratio 108,21% 101,81% 134,34% 104,33% 110,37% 105,36% 97,07%
Quick Ratio 71,00% 76,50% 108,20% 78,30% 89,14% 79,57% 69,43%
Cash Ratio 13,05% 12,72% 7,45% 6,07% 6,15% 3,37% 4,41%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 21,1 11,3 4,9 7,5 5,9 5,5 5,8
Pihak Berelasi 23,8 73,1 101,8 73,7 105,9 71,6 79,7
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 2,4 1,7 3,9 2,1 3,2 3,6 3,1
Pihak Berelasi 3,1 1,2 2,3 2,5 3,3 4,6 8,2
Perputaran Persediaan 49,2 53,7 44,5 49,4 44,5 45,4 59,3
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 71,1 83,8 84,5 92,5 85,7 76,9 81,2
Pihak Berelasi 10,8 19,4 50,8 68,0 77,2 55,2 52,9
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 15,1 5,2 2,6 3,2 1,9 3,3 6,3
Pihak Berelasi 0,2 0,5 0,1 0,0 5,5 0,3 15,5
Perputaran Beban Yang Masih Harus Dibayar 17,2 16,2 9,8 11,0 11,3 10,0 15,2
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 64,32% 63,52% 47,89% 44,52% 43,69% 38,64% 38,23%
Debt to Equity Ratio 180,23% 174,09% 91,90% 80,26% 77,59% 62,97% 61,88%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 26,09% 29,52% 25,43% 23,91% 22,42% 21,63% 20,88%
Operating Profit Margin 11,27% 16,27% 13,71% 11,79% 11,89% 10,59% 8,92%
Net Profit Margin 4,51% 6,44% 6,36% 6,84% 7,23% 6,30% 5,36%
ROA 2,55% 3,14% 3,32% 3,93% 4,03% 3,54% 1,29%
ROE 7,15% 8,60% 6,37% 7,08% 7,15% 5,77% 2,08%
Business Valuation Unit
111 Jakarta
Page 127
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Asumsi – Asumsi
Asumsi Before
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Asumsi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Hari Per tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,70% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Penjualan
Cement Production (million Ton) 5,3 11,3 11,7 12,2 12,4 12,6
Clinker Production (million Ton) 4,5 9,0 9,2 9,5 9,3 9,3
Clinker Sales Volume (million Ton) 0,7 1,2 1,1 1,0 0,8 0,6
Cement Sales Volume (million Ton) 5,6 11,8 12,3 12,8 13,0 13,2
Cement Prod + Clinker Sales (million Ton) 6,0 12,5 12,9 13,2 13,2 13,2
Total Sales Volume (million Ton) 6,3 13,0 13,4 13,8 13,8 13,8
ASP (Rp. Thousand/Ton) 817.445 822.496 834.041 846.857 867.023 885.235
Revenue Cement+Clinker 5.149.903 10.696.864 11.202.300 11.702.082 11.944.872 12.245.989
Non Cement 440.906 1.404.735 1.482.031 1.572.220 1.667.906 1.769.425
Total Revenue 5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
COGS
Variable cost 2.609.772 5.419.535 5.691.040 5.950.160 6.014.203 6.130.186
Fixed Cost 1.094.713 2.360.848 2.459.101 2.560.046 2.656.551 2.758.234
Total COGS Cement 3.704.485 7.780.383 8.150.141 8.510.206 8.670.754 8.888.420
COGS non Cement 337.522 1.100.192 1.152.394 1.209.469 1.269.856 1.333.752
Total COGS 4.042.007 8.880.576 9.302.535 9.719.675 9.940.610 10.222.172
Beban Penjualan dan Distribusi 547.975 1.217.637 1.293.267 1.372.496 1.415.985 1.467.922
Beban Umum dan Administrasi
Gaji, upah dan tunjangan 195.855 99.592 204.164 209.269 214.500 219.863 225.359
Jasa Profesional 25.314 12.872 26.388 27.048 27.724 28.417 29.127
Pemeliharaan data dan sistem, proyek regional dan shared services 14.597 7.423 15.216 15.597 15.987 16.386 16.796
Cadangan kerugian penurunan nilai 7.132 3.627 7.435 7.621 7.811 8.007 8.207
Sumbangan dan representasi 17.844 9.074 18.601 19.066 19.543 20.031 20.532
Biaya Outsource 36.569 18.595 38.120 39.073 40.050 41.052 42.078
Penyusutan aset hak guna 3.360 6.710 1.672 1.380 1.373 1.373
Perjalanan 10.909 5.547 11.372 11.656 11.948 12.246 12.552
Biaya bank 5.014 2.550 5.227 5.357 5.491 5.629 5.769
Penyusutan dan deplesi 618 1.256 1.296 1.307 1.309 1.352
Perbaikan dan pemeliharaan 2.607 1.326 2.718 2.786 2.855 2.927 3.000
Konferensi dan rapat 6.349 3.228 6.618 6.783 6.953 7.127 7.305
Sewa 3.664 1.863 3.820 3.915 4.013 4.113 4.216
Lisensi dan izin 1.925 979 2.007 2.057 2.108 2.161 2.215
Pendidikan, pelatihan dan pengembangan 1.889 961 1.969 2.019 2.069 2.121 2.174
Lain-lain 13.586 6.908 14.162 14.516 14.879 15.251 15.632
Pajak 28% 28% 28% 28% 28% 28% 28%
JIBOR 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44%
Perputaran
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 6 6 6 6 6 6 6 6
Pihak Berelasi 88 88 88 88 88 88 88 88
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3 3 3
Pihak Berelasi 3 3 3 3 3 3 3 3
Perputaran Persediaan 46 46 46 46 46 46 46 46
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 85 85 85 85 85 85 85 85
Pihak Berelasi 63 63 63 63 63 63 63 63
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3 3 3
Pihak Berelasi 2 2 2 2 2 2 2 2
Perputaran Beban Yang Masih Harus Dibayar 11 11 11 11 11 11 11 11
Business Valuation Unit
112 Jakarta
Page 128
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Asumsi After
PT SOLUSI BANGUN INDONESIA TBK
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Jutaan Rupiah
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Asumsi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Hari Per tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,70% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Penjualan Eksisting 5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
HPP Eksisting 4.042.007 8.880.576 9.302.535 9.719.675 9.940.610 10.222.172
Beban Penjualan dan Distribusi % to sales 9,80% 10,06% 10,20% 10,34% 10,40% 10,47%
Respected Project
SBI Charge to Pertamina Hulu KalTim (PHK)
DWM Solid Control Package (A) 8.813 18.067 18.519 18.982 19.457 20.352
a. Equipmment & Tools 1200 vessel/days 49,02% 4.320 8856 9077 9304 9537 9976
b. Cutting Skip 12000 days 9,76% 860 1763 1807 1852 1899 1986
c. Personell 1200 vessel/days 36,20% 3.190 6540 6703 6871 7042 7366
d. Installation & Dismantle Unit 6 unit 1,70% 150 308 315 323 331 346
e. Mob Demob Trip 4 trip 3,33% 293 601 616 632 648 677
DWM Solid Control Package (B) 4.456 9.134 9.363 9.597 9.837 10.289
a. Cutting Dryer Package with screw Conveyor or other
alternate, complete with equipment to transfer cutting, 2 730 days 64,88% 2.891 5.926 6.074 6.226 6.382 6675
Centrifuge, tank & pump if necessary
b. Lump sum installation cost 2 1 day 2,36% 105 215 221 226 232 242
c. Cutting Dryer Operator 4 730 days 32,77% 1.460 2.993 3.068 3.145 3.223 3371
Total Revenue 13.269 27.202 27.882 28.579 29.293 30.641
SCHEME
a. Equipment & Tools 1 set
b. Cutting Dryer Package with screw conveyor or other
alternate, complete with equipment to transfer cutting, 1 set
centrifuge, tank and pump if necessary
Contrak Charge to SBI
DWM Solid Control Package (A) 44,40% 3.913 8.022 8.223 8.428 8.639 8.855
a. Equipment & Tools 1200 vessel/days - - - - - -
b. Cutting Skip 12000 days 14,57% 570 1.169 1.198 1.228 1.258 1290
c. Personell 1200 vessel/days 74,11% 2.900 5.945 6.094 6.246 6.402 6562
d. Installation & Dismantle Unit 6 unit 3,83% 150 308 315 323 331 339
e. Mob Demob Trip 4 trip 7,50% 293 601 616 632 648 664
DWM Solid Control Package (B) 33,37% 1.487 2.974 3.048 3.125 3.203 3.283
a. Cutting Dryer Package with screw conveyor or other
alternate, complete with equipment to transfer cutting, 2 730 days - - - - -
centrifuge, tank & pump if necessary
b. Lump sum installation cost 2 1 day 6,72% 100 200 205 210 215 221
c. Cutting Dryer Operator 4 730 days 93,28% 1.387 2.774 2.843 2.914 2.987 3062
Total Rental Cost 5.400 10.996 11.271 11.553 11.842 12.138
Other Cost 826 1.701 1.752 1.804 1.849 1.896
Maintenance Installation Cost 0,1 IDR/Year 764 1.575 1.622 1.671 1.712 1755
Electrical Cost (Asumsi dari Electrical Installation) 0,1 IDR/Year 61 126 130 134 137 140
General and administrative expenses 226 680 697 714 732 766
Total Profit 6.818 13.825 14.162 14.507 14.870 15.841
Pajak 28% 28% 28% 28% 28% 28%
JIBOR 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44% 6,44%
Perputaran
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 6 6 6 6 6 6
Pihak Berelasi 88 88 88 88 88 88
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3
Pihak Berelasi 3 3 3 3 3 3
Perputaran Persediaan 46 46 46 46 46 46
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 85 85 85 85 85 85
Pihak Berelasi 63 63 63 63 63 63
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3
Pihak Berelasi 2 2 2 2 2 2
Perputaran Beban Yang Masih Harus Dibayar 11 11 11 11 11 11
Business Valuation Unit
113 Jakarta
Page 129
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Proyeksi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba - Rugi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 5.590.809 12.101.600 12.684.331 13.274.302 13.612.778 14.015.415
Beban Pokok Penjualan (4.425.576) (9.657.502) (10.017.265) (10.435.309) (10.656.792) (10.961.535)
Laba Kotor 1.165.233 2.444.097 2.667.066 2.838.992 2.955.986 3.053.880
Beban Usaha
Penjualan dan Distribusi (547.975) (1.217.637) (1.293.267) (1.372.496) (1.415.985) (1.467.922)
Umum dan administrasi (178.523) (365.783) (369.731) (378.619) (388.012) (397.689)
Laba Usaha 438.735 860.678 1.004.069 1.087.877 1.151.990 1.188.269
Penghasilan Keuangan - - - - - -
Beban Keuangan (84.901) (63.499) (15.798) (15.798) (15.798) (15.798)
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 353.834 797.179 988.271 1.072.079 1.136.192 1.172.471
Beban Pajak Penghasilan (99.074) (223.210) (276.716) (300.182) (318.134) (328.292)
Laba Rugi Tahun Berjalan 254.760 573.969 711.555 771.897 818.058 844.179
Business Valuation Unit
114 Jakarta
Page 130
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Posisi Keuangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613 3.105.732
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga 180.516 196.974 206.459 216.062 221.571 228.125
Pihak Berelasi 2.680.845 2.925.262 3.066.123 3.208.733 3.290.552 3.387.879
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 97.511 106.401 111.524 116.711 119.687 123.228
Pihak Berelasi 95.832 104.569 109.604 114.702 117.627 121.106
Persediaan 1.104.965 1.215.538 1.260.819 1.313.436 1.341.313 1.379.669
Pajak lain-lain dibayar di muka 323.376 323.376 323.376 323.376 323.376 323.376
Biaya Dibayar Dimuka 25.509 25.509 25.509 25.509 25.509 25.509
Aset Derivatif - - - - - -
Aset Lancar Lainnya 24.574 24.574 24.574 24.574 24.574 24.574
Jumlah Aset Lancar 5.239.609 6.108.142 6.172.392 7.074.579 7.878.822 8.719.198
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 48.799 48.799 48.799 48.799 48.799 48.799
Aset Pajak Tangguhan 29.915 29.915 29.915 29.915 29.915 29.915
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan 14.916.743 14.260.163 13.603.583 12.960.899 12.338.911 11.716.923
Aset Tetap Baru - 189.340 591.095 932.997 1.287.605 1.656.204
Aset Hak Guna 243.186 124.964 95.606 71.388 47.170 22.952
Aset Hak Guna Baru 125 125 125 - - -
Tagihan Pengembalian Pajak
- Pajak Penghasilan Badan 182.534 182.534 182.534 182.534 182.534 182.534
- Pajak lain-lain 6.851 6.851 6.851 6.851 6.851 6.851
Goodwill 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808
Aset tidak lancar lainnya 62.161 62.161 62.161 62.161 62.161 62.161
Jumlah Aset Tidak Lancar 15.822.122 15.236.660 14.952.477 14.627.352 14.335.754 14.058.147
Jumlah Aset 21.061.731 21.344.802 21.124.869 21.701.931 22.214.576 22.777.344
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 2.041.902 2.246.234 2.329.911 2.427.143 2.478.658 2.549.538
Pihak Berelasi 1.510.427 1.661.574 1.723.471 1.795.396 1.833.502 1.885.933
Utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 66.453 73.103 75.826 78.991 80.667 82.974
Pihak berelasi 36.341 39.978 41.467 43.198 44.115 45.376
Utang Pajak
Pajak penghasilan badan 2.484 2.484 2.484 2.484 2.484 2.484
Pajak lain-lain 6.732 6.732 6.732 6.732 6.732 6.732
Beban Masih Harus Dibayar 252.795 278.092 288.451 300.489 306.866 315.642
Liabilitas Derivatif 9 9 9 9 9 9
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 127.838 127.838 127.838 127.838 127.838 127.838
Pinjaman Bank Jangka Panjang 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000
Liabilitas Sewa 111.726 111.726 111.726 111.726 111.726 111.726
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 4.856.707 5.247.769 5.407.915 5.594.006 5.692.597 5.828.252
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah
1.140.881 740.881 - - - -
dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 494.917 494.917 494.917 494.917 494.917 494.917
Provisi untuk Restorasi 100.541 105.565 110.589 115.613 120.637 125.661
Utang Lain-lain
Pihak Berelasi 120.214 120.214 120.214 120.214 120.214 120.214
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya 14.034 14.034 14.034 14.034 14.034 14.034
Liabilitas Sewa 140.301 140.301 140.301 140.301 140.301 140.301
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.265.319 2.870.343 2.134.486 2.139.510 2.144.534 2.149.558
Jumlah Liabilitas 8.122.026 8.118.112 7.542.401 7.733.516 7.837.131 7.977.810
Ekuitas
Modal Saham 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691
Tambahan Modal Disetor 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275
Komponen ekuitas lain
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak (284.387) (284.387) (284.387) (284.387) (284.387) (284.387)
Saldo Laba
Dicadangkan 901.938 901.938 901.938 901.938 901.938 901.938
Belum dicadangkan 2.925.568 3.499.537 4.211.093 4.982.990 5.801.048 6.645.227
Pembayaran Dividen (127.380) (414.365) (770.142) (1.156.091) (1.565.120) (1.987.210)
Jumlah Ekuitas 12.939.705 13.226.690 13.582.467 13.968.416 14.377.445 14.799.535
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 21.061.731 21.344.802 21.124.869 21.701.931 22.214.576 22.777.344
Business Valuation Unit
115 Jakarta
Page 131
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Aktivitas Operasi
EAT 254.760 573.969 711.555 771.897 818.058 844.179
Penyusutan (+)
Aset Tetap 328.290 666.545 688.215 693.979 694.646 717.870
Aset Hak Guna 59.257 118.347 29.483 24.343 24.218 24.218
Total Penyusutan 387.547 784.892 717.698 718.322 718.864 742.088
Perubahan Modal Kerja
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga -20.045 -16.458 -9.485 -9.603 -5.509 -6.554
Pihak Berelasi -490.460 -244.417 -140.861 -142.611 -81.818 -97.327
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga -12.758 -8.890 -5.124 -5.187 -2.976 -3.540
Pihak Berelasi 130.329 -8.737 -5.035 -5.098 -2.925 -3.479
Persediaan 184.930 -110.573 -45.281 -52.617 -27.877 -38.356
Pajak lain-lain dibayar di muka - - - - - -
Biaya Dibayar Dimuka - - - - - -
Aset Derivatif - - - - - -
Aset Lancar Lainnya - - - - - -
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya - - - - - -
Aset Pajak Tangguhan - - - - - -
Tagihan Pengembalian Pajak - - - - - -
- Pajak Penghasilan Badan - - - - - -
- Pajak lain-lain - - - - - -
Goodwill - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - - - -
Utang Usaha
Pihak Ketiga 276.980 204.332 83.677 97.233 51.515 70.880
Pihak Berelasi 360.813 151.147 61.897 71.925 38.106 52.431
Utang Lain-Lain - - - - - -
Pihak Ketiga -70.379 6.650 2.723 3.164 1.677 2.307
Pihak berelasi -301.378 3.637 1.489 1.731 917 1.262
Utang Pajak - - - - - -
Pajak penghasilan badan - - - - - -
Pajak lain-lain - - - - - -
Beban Masih Harus Dibayar -77.033 25.297 10.359 12.038 6.378 8.775
Liabilitas Derivatif - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek - - - - - -
Pinjaman Bank Jangka Panjang - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Liabilitas Pajak Tangguhan - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang - - - - - -
Provisi untuk Restorasi 5.010 5.024 5.024 5.024 5.024 5.024
Utang Lain-lain - - - - - -
Pihak Berelasi - - - - - -
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Perubahan Modal Kerja -13.990 7.011 -40.616 -24.002 -17.489 -8.578
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Operasi 628.318 1.365.872 1.388.637 1.466.217 1.519.433 1.577.689
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Perolehan Aset Tetap Baru - (199.306) (433.389) (393.197) (427.266) (464.480)
Perolehan Aset Hak Guna Baru (125) (125) (125) - - -
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Investasi (125) (199.431) (433.514) (393.197) (427.266) (464.480)
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pembayaran Pinjaman Jangka Panjang - (400.000) (740.881) - - -
Pembayaran Dividen (127.380) (286.984) (355.778) (385.949) (409.029) (422.090)
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Pendanaan (127.380) (686.984) (1.096.659) (385.949) (409.029) (422.090)
Kenaikan (Penurunan) Kas dan Setara Kas 500.812 479.457 - 141.536 687.072 683.137 691.119
Saldo Kas dan Setara Kas Awal Periode 205.670 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613
Saldo Kas dan Setara Kas Akhir Periode 706.482 1.185.939 1.044.403 1.731.475 2.414.613 3.105.732
Business Valuation Unit
116 Jakarta
Page 132
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Keuangan Proyeksi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Likuiditas
Current Ratio 107,88% 116,40% 114,14% 126,47% 138,40% 149,60%
Quick Ratio 85,13% 93,23% 90,82% 102,99% 114,84% 125,93%
Cash Ratio 14,55% 22,60% 19,31% 30,95% 42,42% 53,29%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11,8 5,9 5,9 5,9 5,9 5,9
Pihak Berelasi 175,0 88,2 88,2 88,2 88,2 88,2
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 6,4 3,2 3,2 3,2 3,2 3,2
Pihak Berelasi 6,3 3,2 3,2 3,2 3,2 3,2
Perputaran Persediaan 91,1 45,9 45,9 45,9 45,9 45,9
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 168,4 84,9 84,9 84,9 84,9 84,9
Pihak Berelasi 124,6 62,8 62,8 62,8 62,8 62,8
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 5,5 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8
Pihak Berelasi 3,0 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Perputaran Beban Yang Masih Harus Dibayar 20,8 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 38,56% 38,03% 35,70% 35,64% 35,28% 35,03%
Debt to Equity Ratio 62,77% 61,38% 55,53% 55,36% 54,51% 53,91%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 20,84% 20,20% 21,03% 21,39% 21,71% 21,79%
Operating Profit Margin 7,85% 7,11% 7,92% 8,20% 8,46% 8,48%
Net Profit Margin 4,56% 4,74% 5,61% 5,81% 6,01% 6,02%
ROA 1,21% 2,69% 3,37% 3,56% 3,68% 3,71%
ROE 1,97% 4,34% 5,24% 5,53% 5,69% 5,70%
Proyeksi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba - Rugi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
Beban Pokok Penjualan (4.431.802) (9.670.199) (10.030.288) (10.448.667) (10.670.483) (10.975.568)
Laba Kotor 1.172.276 2.458.602 2.681.925 2.854.214 2.971.588 3.070.487
Beban Usaha
Penjualan dan Distribusi (549.275) (1.220.374) (1.296.109) (1.375.451) (1.419.032) (1.471.131)
Umum dan administrasi (178.749) (366.463) (370.428) (379.334) (388.744) (398.455)
Laba Usaha 444.252 871.765 1.015.388 1.099.429 1.163.813 1.200.901
Penghasilan Keuangan - - - - - -
Beban Keuangan (84.901) (63.499) (15.798) (15.798) (15.798) (15.798)
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 359.351 808.266 999.590 1.083.631 1.148.015 1.185.103
Beban Pajak Penghasilan (100.618) (226.315) (279.885) (303.417) (321.444) (331.829)
Laba Rugi Tahun Berjalan 258.733 581.952 719.705 780.215 826.571 853.274
Business Valuation Unit
117 Jakarta
Page 133
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Juni Jul-Des Des Des Des Des Des
Posisi Keuangan 2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 205.670 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383 3.124.788
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga 160.471 180.945 197.417 206.913 216.527 222.048 228.624
Pihak Berelasi 2.190.385 2.687.207 2.931.837 3.072.862 3.215.642 3.297.633 3.395.286
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 84.753 97.742 106.640 111.769 116.963 119.945 123.497
Pihak Berelasi 226.161 96.059 104.804 109.845 114.949 117.880 121.371
Persediaan 1.289.895 1.106.519 1.217.136 1.262.458 1.315.117 1.343.036 1.381.435
Pajak lain-lain dibayar di muka 323.376 323.376 323.376 323.376 323.376 323.376 323.376
Biaya Dibayar Dimuka 25.509 25.509 25.509 25.509 25.509 25.509 25.509
Aset Derivatif - - - - - - -
Aset Lancar Lainnya 24.574 24.574 24.574 24.574 24.574 24.574 24.574
Jumlah Aset Lancar 4.530.794 5.247.093 6.119.771 6.188.241 7.094.736 7.903.384 8.748.460
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 48.799 48.799 48.799 48.799 48.799 48.799 48.799
Aset Pajak Tangguhan 29.915 29.915 29.915 29.915 29.915 29.915 29.915
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan 15.245.033 14.916.743 14.260.163 13.603.583 12.960.899 12.338.911 11.716.923
Aset Tetap Baru - 189.340 591.095 932.997 1.287.605 1.656.204
Aset Hak Guna 302.443 243.186 124.964 95.606 71.388 47.170 22.952
Aset Hak Guna Baru 125 125 125 - - -
Tagihan Pengembalian Pajak
- Pajak Penghasilan Badan 182.534 182.534 182.534 182.534 182.534 182.534 182.534
- Pajak lain-lain 6.851 6.851 6.851 6.851 6.851 6.851 6.851
Goodwill 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808 331.808
Aset tidak lancar lainnya 62.161 62.161 62.161 62.161 62.161 62.161 62.161
Jumlah Aset Tidak Lancar 16.209.544 15.822.122 15.236.660 14.952.477 14.627.352 14.335.754 14.058.147
Jumlah Aset 20.740.338 21.069.215 21.356.432 21.140.718 21.722.089 22.239.138 22.806.606
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 1.764.922 2.044.775 2.249.187 2.332.940 2.430.250 2.481.842 2.552.802
Pihak Berelasi 1.149.614 1.512.552 1.663.759 1.725.712 1.797.694 1.835.858 1.888.348
Utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 136.832 66.547 73.199 75.925 79.092 80.771 83.080
Pihak berelasi 337.719 36.392 40.030 41.521 43.253 44.171 45.434
Utang Pajak
Pajak penghasilan badan 2.484 2.484 2.484 2.484 2.484 2.484 2.484
Pajak lain-lain 6.732 6.732 6.732 6.732 6.732 6.732 6.732
Beban Masih Harus Dibayar 329.828 253.150 278.457 288.826 300.873 307.261 316.046
Liabilitas Derivatif 9 9 9 9 9 9 9
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 127.838 127.838 127.838 127.838 127.838 127.838 127.838
Pinjaman Bank Jangka Panjang 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000
Liabilitas Sewa 111.726 111.726 111.726 111.726 111.726 111.726 111.726
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 4.667.704 4.862.205 5.253.421 5.413.713 5.599.951 5.698.692 5.834.499
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431 1.254.431
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah dikurangi bagian jatuh
1.140.881 1.140.881 740.881 - - - -
tempo dalam satu tahun
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 494.917 494.917 494.917 494.917 494.917 494.917 494.917
Provisi untuk Restorasi 95.531 100.541 105.565 110.589 115.613 120.637 125.661
Utang Lain-lain
Pihak Berelasi 120.214 120.214 120.214 120.214 120.214 120.214 120.214
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya 14.034 14.034 14.034 14.034 14.034 14.034 14.034
Liabilitas Sewa 140.301 140.301 140.301 140.301 140.301 140.301 140.301
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.260.309 3.265.319 2.870.343 2.134.486 2.139.510 2.144.534 2.149.558
Jumlah Liabilitas 7.928.013 8.127.524 8.123.764 7.548.199 7.739.461 7.843.226 7.984.057
Ekuitas
Modal Saham 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691 4.509.691
Tambahan Modal Disetor 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275 5.014.275
Komponen ekuitas lain
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak -284.387 -284.387 -284.387 -284.387 -284.387 -284.387 -284.387
Saldo Laba
Dicadangkan 901.938 901.938 901.938 901.938 901.938 901.938 901.938
Belum dicadangkan 2.670.808 2.929.541 3.511.493 4.231.198 5.011.412 5.837.983 6.691.257
Pembayaran Dividen -129.366 -420.342 -780.195 -1.170.302 -1.583.588 -2.010.225
Jumlah Ekuitas 12.812.325 12.941.691 13.232.667 13.592.520 13.982.627 14.395.913 14.822.550
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 20.740.338 21.069.215 21.356.432 21.140.718 21.722.089 22.239.138 22.806.606
Business Valuation Unit
118 Jakarta
Page 134
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Aktivitas Operasi
EAT 258.733 581.952 719.705 780.215 826.571 853.274
Penyusutan (+)
Aset Tetap 328.290 666.545 688.215 693.979 694.646 717.870
Aset Hak Guna 59.257 118.347 29.483 24.343 24.218 24.218
Total Penyusutan 387.547 784.892 717.698 718.322 718.864 742.088
Perubahan Modal Kerja
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga -20.474 -16.472 -9.496 -9.614 -5.521 -6.576
Pihak Berelasi -496.822 -244.630 -141.025 -142.779 -81.991 -97.653
Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga -12.989 -8.898 -5.130 -5.193 -2.982 -3.552
Pihak Berelasi 130.102 -8.745 -5.041 -5.104 -2.931 -3.491
Persediaan 183.376 -110.617 -45.322 -52.659 -27.919 -38.399
Pajak lain-lain dibayar di muka - - - - - -
Biaya Dibayar Dimuka - - - - - -
Aset Derivatif - - - - - -
Aset Lancar Lainnya - - - - - -
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya - - - - - -
Aset Pajak Tangguhan - - - - - -
Tagihan Pengembalian Pajak - - - - - -
- Pajak Penghasilan Badan - - - - - -
- Pajak lain-lain - - - - - -
Goodwill - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - - - -
Utang Usaha
Pihak Ketiga 279.853 204.412 83.753 97.311 51.592 70.960
Pihak Berelasi 362.938 151.207 61.953 71.982 38.164 52.490
Utang Lain-Lain - - - - - -
Pihak Ketiga - 70.285 6.653 2.726 3.167 1.679 2.309
Pihak berelasi - 301.327 3.638 1.491 1.732 918 1.263
Utang Pajak - - - - - -
Pajak penghasilan badan - - - - - -
Pajak lain-lain - - - - - -
Beban Masih Harus Dibayar - 76.678 25.307 10.369 12.047 6.387 8.785
Liabilitas Derivatif - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek - - - - - -
Pinjaman Bank Jangka Panjang - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Liabilitas Pajak Tangguhan - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang - - - - - -
Provisi untuk Restorasi 5.010 5.024 5.024 5.024 5.024 5.024
Utang Lain-lain - - - - - -
Pihak Berelasi - - - - - -
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Perubahan Modal Kerja -17.297 6.879 -40.699 -24.087 -17.580 -8.840
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Operasi 628.983 1.373.723 1.396.704 1.474.449 1.527.855 1.586.522
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Perolehan Aset Tetap Baru - (199.306) (433.389) (393.197) (427.266) (464.480)
Perolehan Aset Hak Guna Baru - 125 (125) (125) - - -
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Investasi -125 -199.431 -433.514 -393.197 -427.266 -464.480
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pembayaran Pinjaman Jangka Panjang - (400.000) (740.881) - - -
Pembayaran Dividen (129.366) (290.976) (359.853) (390.107) (413.285) (426.637)
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Pendanaan (129.366) (690.976) (1.100.734) (390.107) (413.285) (426.637)
Kenaikan (Penurunan) Kas dan Setara Kas 499.492 483.317 - 137.544 691.146 687.303 695.405
Saldo Kas dan Setara Kas Awal Periode 205.670 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383
Saldo Kas dan Setara Kas Akhir Periode 705.162 1.188.478 1.050.934 1.742.080 2.429.383 3.124.788
Business Valuation Unit
119 Jakarta
Page 135
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Rasio Keuangan Proyeksi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Keuangan Juli - Des Des Des Des Des Des
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Likuiditas
Current Ratio 107,92% 116,49% 114,31% 126,69% 138,69% 149,94%
Quick Ratio 85,16% 93,32% 90,99% 103,21% 115,12% 126,27%
Cash Ratio 14,50% 22,62% 19,41% 31,11% 42,63% 53,56%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11,8 5,9 5,9 5,9 5,9 5,9
Pihak Berelasi 175,0 88,2 88,2 88,2 88,2 88,2
Perputaran Piutang Lain-Lain
Pihak Ketiga 6,4 3,2 3,2 3,2 3,2 3,2
Pihak Berelasi 6,3 3,2 3,2 3,2 3,2 3,2
Perputaran Persediaan 91,1 45,9 45,9 45,9 45,9 45,9
Perputaran Utang Usaha
Pihak Ketiga 168,4 84,9 84,9 84,9 84,9 84,9
Pihak Berelasi 124,6 62,8 62,8 62,8 62,8 62,8
Perputaran utang Lain-Lain
Pihak Ketiga 5,5 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8
Pihak Berelasi 3,0 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Perputaran Beban Yang Masih Harus Dibayar 20,8 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5
Rasio Solvabilitas
Debt to Assets Ratio 38,58% 38,04% 35,70% 35,63% 35,27% 35,01%
Debt to Equity Ratio 62,80% 61,39% 55,53% 55,35% 54,48% 53,86%
Rasio Profitabilitas
Gross Profit Margin 20,92% 20,27% 21,10% 21,46% 21,78% 21,86%
Operating Profit Margin 7,93% 7,19% 7,99% 8,26% 8,53% 8,55%
Net Profit Margin 4,62% 4,80% 5,66% 5,87% 6,06% 6,07%
ROA 1,23% 2,72% 3,40% 3,59% 3,72% 3,74%
ROE 2,00% 4,40% 5,29% 5,58% 5,74% 5,76%
Analisis Inkremental
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba - Rugi 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 13.269 27.202 27.882 28.579 29.293 30.641
Beban Pokok Penjualan (6.226) (12.697) (13.023) (13.357) (13.691) (14.034)
Laba Kotor 7.043 14.505 14.859 15.221 15.602 16.607
Beban Usaha
Penjualan dan Distribusi (1.301) (2.737) (2.843) (2.955) (3.047) (3.209)
Umum dan administrasi (226) (680) (697) (714) (732) (766)
Laba Usaha 5.517 11.088 11.319 11.552 11.823 12.632
Penghasilan Keuangan - - - - - -
Beban Keuangan - - - - - -
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 5.517 11.088 11.319 11.552 11.823 12.632
Beban Pajak Penghasilan (1.545) (3.105) (3.169) (3.235) (3.310) (3.537)
Laba Rugi Tahun Berjalan 3.972 7.983 8.150 8.318 8.512 9.095
Business Valuation Unit
120 Jakarta
Page 136
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Posisi Keuangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 205.670 (1.321) 2.539 6.531 10.604 14.770 19.056
Piutang Usaha - Bersih - - - - - -
Pihak Ketiga 160.471 428 443 454 465 477 499
Pihak Berelasi 2.190.385 6.363 6.575 6.740 6.908 7.081 7.407
Piutang Lain-Lain - - - - - -
Pihak Ketiga 84.753 231 239 245 251 258 269
Pihak Berelasi 226.161 227 235 241 247 253 265
Persediaan 1.289.895 1.554 1.598 1.639 1.681 1.723 1.766
Pajak lain-lain dibayar di muka 323.376 - - - - - -
Biaya Dibayar Dimuka 25.509 - - - - - -
Aset Derivatif - - - - - - -
Aset Lancar Lainnya 24.574 - - - - - -
Jumlah Aset Lancar 4.530.794 7.484 11.630 15.850 20.157 24.562 29.262
Aset Tidak Lancar
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya 48.799 - - - - - -
Aset Pajak Tangguhan 29.915 - - - - - -
Aset Tetap dan Tanah Pertambangan 15.245.033 - - - - - -
Aset Tetap Baru - - - - - -
Aset Hak Guna 302.443 - - - - - -
Aset Hak Guna Baru - - - - - -
Tagihan Pengembalian Pajak - - - - - -
- Pajak Penghasilan Badan 182.534 - - - - - -
- Pajak lain-lain 6.851 - - - - - -
Goodwill 331.808 - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya 62.161 - - - - - -
Jumlah Aset Tidak Lancar 16.209.544 - - - - - -
Jumlah Aset 20.740.338 7.484 11.630 15.850 20.157 24.562 29.262
Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 1.764.922 2.873 2.953 3.029 3.107 3.184 3.264
Pihak Berelasi 1.149.614 2.125 2.185 2.241 2.298 2.356 2.414
Utang Lain-Lain - - - - - -
Pihak Ketiga 136.832 93 96 99 101 104 106
Pihak berelasi 337.719 51 53 54 55 57 58
Utang Pajak - - - - - -
Pajak penghasilan badan 2.484 - - - - - -
Pajak lain-lain 6.732 - - - - - -
Beban Masih Harus Dibayar 329.828 356 366 375 385 394 404
Liabilitas Derivatif 9 - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek 127.838 - - - - - -
Pinjaman Bank Jangka Panjang 700.000 - - - - - -
Liabilitas Sewa 111.726 - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 4.667.704 5.498 5.652 5.797 5.946 6.095 6.247
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 1.254.431 - - - - - -
Pinjaman Bank Jangka Panjang setelah dikurangi bagian jatuh tempo
1.140.881
dalam satu tahun - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang 494.917 - - - - - -
Provisi untuk Restorasi 95.531 - - - - - -
Utang Lain-lain - - - - - -
Pihak Berelasi 120.214 - - - - - -
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya 14.034 - - - - - -
Liabilitas Sewa 140.301 - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.260.309 - - - - - -
Jumlah Liabilitas 7.928.013 5.498 5.652 5.797 5.946 6.095 6.247
Ekuitas
Modal Saham 4.509.691 - - - - - -
Tambahan Modal Disetor 5.014.275 - - - - - -
Komponen ekuitas lain - - - - - -
Pengukuran kembali liabilitas imbalan pascakerja, setelah pajak - 284.387 - - - - - -
Saldo Laba - - - - - -
Dicadangkan 901.938 - - - - - -
Belum dicadangkan 2.670.808 3.972 11.955 20.105 28.423 36.935 46.030
Pembayaran Dividen (1.986) (5.978) (10.053) (14.211) (18.467) (23.015)
Jumlah Ekuitas 12.812.325 1.986 5.978 10.053 14.211 18.467 23.015
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 20.740.338 7.484 11.630 15.850 20.157 24.562 29.262
Business Valuation Unit
121 Jakarta
Page 137
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Keterangan Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Aktivitas Operasi
EAT 3.972 7.983 8.150 8.318 8.512 9.095
Penyusutan (+) 0 0 0 0 0 0
Aset Tetap 0 0 0 0 0 0
Aset Hak Guna 0 0 0 0 0 0
Total Penyusutan 0 0 0 0 0 0
Perubahan Modal Kerja
Piutang Usaha - Bersih
Pihak Ketiga -428 -14 -11 -11 -12 -22
Pihak Berelasi -6.363 -213 -164 -168 -173 -326
Piutang Lain-Lain 0 0 0 0 0 0
Pihak Ketiga -231 -8 -6 -6 -6 -12
Pihak Berelasi -227 -8 -6 -6 -6 -12
Persediaan -1.554 -44 -41 -42 -42 -43
Pajak lain-lain dibayar di muka - - - - - -
Biaya Dibayar Dimuka - - - - - -
Aset Derivatif - - - - - -
Aset Lancar Lainnya - - - - - -
Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya - - - - - -
Aset Pajak Tangguhan - - - - - -
Tagihan Pengembalian Pajak - - - - - -
- Pajak Penghasilan Badan - - - - - -
- Pajak lain-lain - - - - - -
Goodwill - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - - - -
- - - - - -
Utang Usaha - - - - - -
Pihak Ketiga 2.873 81 76 78 78 80
Pihak Berelasi 2.125 60 56 58 57 59
Utang Lain-Lain - - - - - -
Pihak Ketiga 93 3 2 3 3 3
Pihak berelasi 51 1 1 1 1 1
Utang Pajak - - - - - -
Pajak penghasilan badan - - - - - -
Pajak lain-lain - - - - - -
Beban Masih Harus Dibayar 356 10 9 10 10 10
Liabilitas Derivatif - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek - - - - - -
Pinjaman Bank Jangka Panjang - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Liabilitas Pajak Tangguhan - - - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Panjang - - - - - -
Provisi untuk Restorasi - - - - - -
Utang Lain-lain - - - - - -
Pihak Berelasi - - - - - -
Liabilitas dan Provisi Jangka Panjang lainnya - - - - - -
Liabilitas Sewa - - - - - -
Perubahan Modal Kerja -3.307 -132 -83 -85 -90 -262
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Operasi 666 7.851 8.066 8.232 8.422 8.833
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Perolehan Aset Tetap Baru - - - - - -
Perolehan Aset Hak Guna Baru - - - - - -
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Investasi - - - - - -
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pembayaran Pinjaman Jangka Panjang - - - - - -
Pembayaran Dividen (1.986) (3.992) (4.075) (4.159) (4.256) (4.548)
Arus Kas Bersih Diperoleh (Digunakan) dari Aktivitas Pendanaan (1.986) (3.992) (4.075) (4.159) (4.256) (4.548)
Kenaikan (Penurunan) Kas dan Setara Kas (1.321) 3.860 3.992 4.074 4.166 4.286
Saldo Kas dan Setara Kas Awal Periode - (1.321) 2.539 6.531 10.604 14.770
Saldo Kas dan Setara Kas Akhir Periode (1.321) 2.539 6.531 10.604 14.770 19.056
Investasi
Uraian Unit Volume Unit Cost Total Cost
Preparation Pre Production
Concept and Design
lot 1 9.835 142.600.874
Consulting
Mechanical DWM
Main Equipment 10.212.260.785
Shale Shaker (Hig Dryer) set 2 47.534 1.378.475.111
Decanter Centrifuge set 1 377.891 5.479.417.016
Vertical Cutting Dryer set 1 231.336 3.354.368.658
Dewatering Unit set 0
Supporting Equipment 4.198.803.498
Auger - screw conveyor set 2 65.564 1.901.344.980
Business Valuation Unit
122 Jakarta
Page 138
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Uraian Unit Volume Unit Cost Total Cost
Platfrom - skid set 2 16.391 475.336.245
Compressor set 2 5.464 158.445.415
Pump set 2 21.855 633.781.660
Generator set 1 43.709 633.781.660
Portable lab test (if
set 1 27.318 396.113.538
necessary)
INSTALLATION 1.152.885.142
Electrical Installation set 1 720.553.214 720.553.214
Trial and comisioning set 1 432.331.928 432.331.928
PRE-PRODUCTION
1.012.331.928
EXPENSE
Commisioning and Training 1 432.331.928 432.331.928
Service Engineer (20 days) 1 40.000 580.000.000
TOTAL PROJECT 16.718.882.227
Contingency lot 1 1.671.888.223
Cutting Skip 5.000.000.000
TOTAL INVESTMENT 23.390.770.450
Analisis BEP
Jul-Des Des Des Des Des Des
Analisis BEP dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 5.604.078 12.128.801 12.712.213 13.302.880 13.642.072 14.046.055
Beban Pokok Penjualan 4.431.802 9.670.199 10.030.288 10.448.667 10.670.483 10.975.568
Beban Operasional 178.749 366.463 370.428 379.334 388.744 398.455
BEP 854.510 1.807.839 1.755.812 1.767.993 1.784.659 1.822.746
Analisis Biaya Bahan Baku
Jul-Des Des Des Des Des Des
Analisis Biaya Bahan Baku Mentah
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Cement 3.704.485 7.780.383 8.150.141 8.510.206 8.670.754 8.888.420
Non Cement 337.522 1.100.192 1.152.394 1.209.469 1.269.856 1.333.752
Penyusutan 383.569 776.927 714.730 715.634 716.182 739.363
DWM 6.226 12.697 13.023 13.357 13.691 14.034
Jumlah Biaya Bahan Baku Mentah 4.431.802 9.670.199 10.030.288 10.448.667 10.670.483 10.975.568
Analisis Biaya Operasional
Jul-Des Des Des Des Des Des
Analisis Biaya Operasional
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Gaji, upah dan tunjangan 99.592 204.164 209.269 214.500 219.863 225.359
Jasa Profesional 12.872 26.388 27.048 27.724 28.417 29.127
Pemeliharaan data dan sistem, proyek regional dan shared services 7.423 15.216 15.597 15.987 16.386 16.796
Cadangan kerugian penurunan nilai 3.627 7.435 7.621 7.811 8.007 8.207
Sumbangan dan representasi 9.074 18.601 19.066 19.543 20.031 20.532
Biaya Outsource 18.595 38.120 39.073 40.050 41.052 42.078
Penyusutan aset hak guna 3.360 6.710 1.672 1.380 1.373 1.373
Perjalanan 5.547 11.372 11.656 11.948 12.246 12.552
Biaya bank 2.550 5.227 5.357 5.491 5.629 5.769
Penyusutan dan deplesi 618 1.256 1.296 1.307 1.309 1.352
Perbaikan dan pemeliharaan 1.326 2.718 2.786 2.855 2.927 3.000
Konferensi dan rapat 3.228 6.618 6.783 6.953 7.127 7.305
Sewa 1.863 3.820 3.915 4.013 4.113 4.216
Lisensi dan izin 979 2.007 2.057 2.108 2.161 2.215
Pendidikan, pelatihan dan pengembangan 961 1.969 2.019 2.069 2.121 2.174
Lain-lain 6.908 14.162 14.516 14.879 15.251 15.632
DWM 226 680 697 714 732 766
Jumlah Biaya Operasional 178.749 366.463 370.428 379.334 388.744 398.455
Business Valuation Unit
123 Jakarta
Page 139
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Discount Factor
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PERHITUNGAN DISCOUNT RATE
Description Capital Cost Composition Weighted Cost
Cost of Debt 6,99% 21,87% 1,53%
Cost of Equity 12,4% 78,13% 9,66%
11,19%
Cost of Equity Cost of Debt
Risk Free 7,03% IPBA, 30 Juni 2025 Bank Interest 8,96% Bank Indonesia, Jun 2025
Beta 1,05 Damodaran, January 2025 Tax 22,00%
Risk Premium 6,87% Damodaran, January 2025
RBDS 1,89% Damodaran, January 2025
KE 12,36% KD 6,99%
Unleveraged Beta 0,86
Levered Beta 1,05
Keterangan Beta Market D/E Unlevered Beta
Oil/Gas (Production and Exploration) 1,04 27,99% 0,86
Debt 21,87% 27,99%
Equity 78,13%
Analisis Kelayakan Usaha
Jul-Des Des Des Des Des Des
DCF - FCFF
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Free Cash Flow to Firm
EAT 3.972 7.983 8.150 8.318 8.512 9.095
Depresiasi (+) - - - - - -
Capital Expenditure (-) - - - - - -
Perubahan Modal Kerja (+/-) -3.307 -132 -83 -85 -90 -262
Interest x (1-tax) - - - - - -
FCFF 666 7.851 8.066 8.232 8.422 8.833
Terminal Value 104.232
DCF FCFF 666 7.851 8.066 8.232 8.422 113.065
Diskon Faktor 11,19% 0,95 0,85 0,77 0,69 0,62 0,56
Terminal Growth 2,50%
PV FCFF -23.391 631 6.697 6.188 5.680 5.226 63.102
NPV of Project 64.133
IRR 30,41%
ROI 274,18%
Profitability Index 3,74
PBP 4 tahun 3 bulan
Business Valuation Unit
124 Jakarta
Page 140
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
Dokumentasi Inspeksi
Business Valuation Unit
125 Jakarta
Names mentioned 79 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
ANDRI & REKAN
p.2 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×2
unresolved
org
Kementerian Keuangan dan Pasar Modal
p.2 ×2
unresolved
org
Bank Indonesia
p.5 ×36
unresolved
org
Kementerian Lingkungan Hidup
p.8 ×5
unresolved
org
Pengendalian Lingkungan Hidup
p.8 ×6
unresolved
org
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
p.8 ×3
unresolved
org
Kementerian Lingkungan Hidup Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
p.9 ×2
unresolved
org
KJPP GUNTUR
p.13 ×2
unresolved
person
Rahmat Faizal
p.15
unresolved
person
Guntur Pramudiyanto
p.15
unresolved
person
Siti Khumairoq
p.15
unresolved
person
Tri Meizaraafi
p.15
unresolved
person
Aidy Yudha Prastyanto
p.15
unresolved
org
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
p.16 ×108
unresolved
org
KJPP GUNTUR EKI ANDRI
p.16 ×108
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.22 ×2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur
p.22 ×2
unresolved
org
Andri dan Rekan
p.22 ×2
unresolved
org
KJPP
p.22 ×2
unresolved
org
Bapepam
p.22 ×6
unresolved
person
Daniel Kohar
p.25 ×2
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Tanudiredja
p.25 ×2
unresolved
org
Rintis & Rekan
p.25 ×2
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan
p.25 ×4
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Imelda
p.25 ×4
unresolved
person
Abdul Latief
· Notaris
p.30
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.30 ×2
unresolved
org
Koordinasi Penanaman Modal
p.30
unresolved
org
Semen Cibinong Tbk
p.30 ×5
unresolved
org
Holcim Indonesia Tbk.
p.30 ×10
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.30 ×3
unresolved
person
Aulia Taufani
p.30 ×4
unresolved
org
Kementerian Hukum Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
p.30 ×2
unresolved
—
Pelaksana Tug
· Direktur Utama
p.32
unresolved
person
Partomuan Pohan
p.35
unresolved
person
Ir. H. Juanda
p.35 ×3
unresolved
org
Menteri Lingkungan Hidup
p.36 ×3
unresolved
org
Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
p.36 ×3
unresolved
org
Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia
p.36
unresolved
org
Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan
p.37
unresolved
org
Bank Indonesia Triwulan II
p.48 ×19
unresolved
org
Pusat Statistik
p.58
unresolved
org
Kementerian ESDM
p.62 ×3
unresolved
org
PT. PPLI
p.65
unresolved
org
PT. PLKK
p.65
unresolved
org
ITP Tbk
p.65 ×2
unresolved
org
MHK Tbk
p.65 ×2
unresolved
org
PT. Wastec International
p.65
unresolved
org
PT Solusi Bangun Beton
p.74
unresolved
org
PT Readymix Concrete Indonesia
p.74
unresolved
org
PT Pendawa Lestari Perkasa
p.74
unresolved
org
PT Aroma Cipta Anugrahtama
p.74
unresolved
org
PT Ciptanugrah Indonesia
p.75
unresolved
org
PT Aroma Sejahtera Indonesia
p.75
unresolved
org
PT SBI Bangun Nusantara
p.75
unresolved
org
Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia
p.75
unresolved
org
DER
p.109
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.