Back to announcement
20251003_SBMA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31954069_lamp3.pdf
Asset transaction Needs review SBMASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 87
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
Tanggal: 30 September 2025
Page 2
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
Tanggal: 30 September 2025
Page 3
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025 Bekasi, 30 September 2025
SURAT PENGANTAR
Kepada:
Direksi PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir,
Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan,
Provinsi Kalimantan Timur
Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha untuk KBLI 23953, KBLI
46633, KBLI 38220, KBLI 23929, KBLI 2392, KBLI 49342, serta KBLI 46100
Dengan hormat,
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21
April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025,
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), yang
bergerak di bidang industri perdagangan ritel barang primer, telah menunjuk KJPP Syarif,
Endang, dan Rekan, sebagai Penilai Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan
Usaha untuk Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah
Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan
Genteng);
5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6. KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
TANGGAL PENILAIAN
Tanggal Penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.
IDENTITAS PEMBERI TUGAS
Nama Perusahaan : SBMA
Bidang Usaha : Perdagangan besar bahan kimia gas
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Telepon : +62 542 743555
Website : https://www.suryabirumurni.co.id/
Email : sbm@suryabiru.co.id
i
Page 4
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak), sebagai syarat
pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan Kegiatan Usaha (atau
selanjutnya disebut “POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan ataupun
kepentingan lainnya.
PROSEDUR YANG DIGUNAKAN
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020, tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun
oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai
Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait.
INDEPENDENSI PENILAI
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-pihak yang terkait
dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan
pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak
dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun. Imbalan
yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan
dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang
tercantum pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal
21 April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025.
RUANG LINGKUP PENUGASAN
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu untuk
melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan Kegiatan Usaha
sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI
46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur,
Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI
23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan
ii
Page 5
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar
Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional;
dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
studi kelayakan.
c. Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan dan
kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh
dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang
kami anggap relevan.
d. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen dengan
mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan pencapaiannya ( fiduciary
duty).
e. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan.
f. Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
g. Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
i. Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak melakukan
market research khusus atas adanya supplier produk paving block yang telah memiliki
komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan perumahan di Kalimantan dan
IKN.
KEJADIAN SETELAH TANGGAL PENILAIAN
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan tanggal
diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang terjadi selama periode
tersebut.
iii
Page 6
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) adalah layak.
Seluruh kajian ini kami sampaikan dengan catatan semua asumsi yang diterapkan dalam
Studi Kelayakan ini dapat dipenuhi.
PENUTUP
Penugasan untuk mempersiapkan Studi Kelayakan Usaha ini bukan dan tidak dapat
dianggap dalam segala hal sebagai review atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu
pada informasi keuangan. Penugasan kami tidak dilakukan untuk tujuan mengungkapkan
kelemahan pengendalian internal, kesalahan dalam laporan keuangan, segala bentuk
implikasi pajak atau pelanggaran hukum. Studi Kelayakan Usaha ini juga tidak
dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana
proyek atau untuk mengambil tindakan tertentu atas Rencana Kegiatan Usaha.
Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kepercayaan yang telah diberikan kami ucapkan
terima kasih dan kami berharap kiranya laporan ini dapat berguna bagi kemajuan usaha
selanjutnya.
Hormat kami,
KJPP SYARIF, ENDANG & REKAN
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) Digitally signed by Endang Sunardi
DN: cn=Endang Sunardi, c=ID, o=KJPP Syarif
Rekan Endang dan Rekan,
email=syarifendangdanrekan@gmail.com
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
iv
Page 7
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-
pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya,
Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
kerugian pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak
dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan
kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang tercantum pada Surat Perjanjian
Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan Addendum
No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025;
2. Penilai bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan dalam rangka penugasan Studi
Kelayakan, sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
3. Analisis Kelayakan dilaksanakan per tanggal 30 Juni 2025, parameter dan data yang
digunakan dalam analisis menggunakan data per 30 Juni 2025;
4. Penugasan penilaian telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Penilaian
pada Tanggal Penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan Tujuan Penilaian
sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
5. Laporan Studi Kelayakan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan dalam Peraturan OJK
No. 35/POJK.04/2020, SEOJK No. 17/SEOJK.04/2020, Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang ditetapkan oleh Masyarakat
Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
6. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai Kesimpulan pada
Laporan Studi Kelayakan ini;
7. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada Ruang Lingkup dan data yang dianalisis
serta data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Penilaian ini pada
Sumber Data diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini dapat
dipertanggungjawabkan;
8. Laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang
mempengaruhi analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan ini;
9. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
10. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di
dalam Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik;
11. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai juga tidak mempunyai
kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Imbalan yang
Penilai terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang tercantum
pada Laporan Penilaian ini;
12. Dalam melakukan penugasan ini, Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan
profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan; dan
13. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan
bantuan profesional dalam menyiapkan Laporan Penilaian.
v
Page 8
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KJPP Syarif, Endang & Rekan menyatakan bahwa Para Penilai yang kami libatkan dalam
penugasan Penilaian ini adalah Penilai profesional yang kompeten dan memiliki keahlian
penilaian yang baik.
No. Nama Tugas Tanda Tangan
1. Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) Penanggung Jawab (....................)
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai : No. B-1.12.00340
Klasifikasi Izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
2. Meilindra Indriani, S.Si. Reviewer (....................)
MAPPI : No. 14-T-05006
Register : No. RMK-2017.01002
3. Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev. Staf Penilai (....................)
MAPPI : No. 09-P-02398
Register : No. RMK-2021.03694
4. Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt. Tenaga Inspeksi (....................)
MAPPI : No. 13-A-04453
vi
Page 9
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR ISI
SURAT PENGANTAR........................................................................................................... i
PERNYATAAN PENILAI ...................................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................. x
1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ................................................................. 1
1.2 Tanggal Penilaian ................................................................................................. 1
1.3 Identitas Pemberi Tugas ....................................................................................... 1
1.4 Latar Belakang...................................................................................................... 1
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .................................................................... 2
1.6 Data dan Informasi yang Digunakan .................................................................... 2
1.7 Prosedur yang Digunakan .................................................................................... 3
1.8 Ruang Lingkup Penugasan ................................................................................... 3
1.9 Asumsi dan Kondisi Pembatas .............................................................................. 4
1.10 Kualifikasi Penilai ................................................................................................. 4
1.11 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan ............................................................ 5
2 INFORMASI UMUM ................................................................................................ 6
2.1 Profil Perseroan .................................................................................................... 6
2.1.1 Bidang Usaha ....................................................................................................... 6
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan ......................................... 6
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ................................................................. 7
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional ............................................................................. 7
2.2 Kinerja Keuangan ................................................................................................. 7
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan ....................................................................................... 8
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi) ............................................................................................. 11
2.3 Produk dan Layanan Perseroan........................................................................... 17
2.4 Teknologi yang Digunakan ................................................................................. 18
2.5 Pasar yang Dituju ............................................................................................... 18
2.6 Pesaing dan Persaingan ...................................................................................... 19
2.7 Pola Bisnis .......................................................................................................... 19
2.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 20
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi ...................................................................... 21
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia ............................................ 21
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual ........................................................................... 21
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait .................................................... 21
2.13 Aspek Lingkungan ............................................................................................. 23
2.14 Faktor Risiko Utama ........................................................................................... 23
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial ........................................................... 24
3 KELAYAKAN PASAR ............................................................................................. 25
3.1 Kondisi Pasar ..................................................................................................... 25
3.2 Pangsa Pasar ...................................................................................................... 29
vii
Page 10
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3.3 Kesinambungan ................................................................................................. 31
3.4 Potensi Pasar ...................................................................................................... 32
3.5 Sasaran .............................................................................................................. 35
3.6 Potensi Nilai Pasar .............................................................................................. 35
3.7 Pesaing Usaha .................................................................................................... 35
3.8 Strategi Pemasaran............................................................................................. 36
4 KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................ 37
4.1 Kapasitas ........................................................................................................... 37
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ............................................................. 38
4.3 Proses Produksi .................................................................................................. 39
5 KELAYAKAN POLA BISNIS .................................................................................... 41
5.1 Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 42
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................ 42
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ................................................................ 42
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 44
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja ................................................................................. 44
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual ....................................................................... 44
6.3 Manajemen Risiko .............................................................................................. 44
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ............................................................. 49
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ................................................ 50
7 KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 51
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs).......................................................................... 51
7.2 Modal Kerja ........................................................................................................ 51
7.3 Sumber Pembiayaan ........................................................................................... 52
7.4 Biaya Operasional ............................................................................................... 53
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah ................................................................................... 53
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ................................................................... 53
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................... 55
7.8 Proyeksi Laba (Rugi) ........................................................................................... 56
7.9 Proyeksi Arus Kas ............................................................................................... 57
7.10 Analisis Titik Impas ............................................................................................ 59
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas ............................................... 60
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi .............................................................................. 61
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto .............................................................................. 62
7.14 Analisis Kelayakan Proyek .................................................................................. 65
7.15 Analisis Sensitivitas ............................................................................................ 68
8 KESIMPULAN ....................................................................................................... 70
8.1 Kajian Kelayakan Pasar ....................................................................................... 70
8.2 Kajian Kelayakan Teknis ..................................................................................... 72
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis ............................................................................... 72
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen ................................................................... 73
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan ................................................................................ 74
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan ............................................................................... 74
8.7 Saran .................................................................................................................. 75
viii
Page 11
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan ................................................................... 6
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000).......................................................... 8
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000) ............................................................... 12
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan ..................................................................... 16
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ........................................................ 19
Tabel 6 Progress Legalitas Usaha ..................................................................................... 22
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia ..................................................................................... 25
Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ............... 26
Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ........ 27
Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia ........................................................................... 27
Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan) ..................................... 30
Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ...................................................... 35
Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku ..................................................................................... 38
Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................... 38
Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000) ..................................................................... 51
Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)......................................................................................... 52
Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000) ............................................................................. 52
Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta) ............................................................................... 53
Tabel 19 Struktur Pendapatan.......................................................................................... 53
Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000) .................................................................... 55
Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000) .............................................................................. 56
Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000) ............................................................................... 57
Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000) ............................................................ 59
Tabel 24 Analisis Likuiditas ............................................................................................. 60
Tabel 25 Analisis Solvabilitas ........................................................................................... 60
Tabel 26 Analisis Profitabilitas ......................................................................................... 61
Tabel 27 Return on Investment ........................................................................................ 62
Tabel 28 Surat Utang Negara ........................................................................................... 64
Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas................................................................................. 64
Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital ..................................................................... 65
Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000) ................................................................................. 66
Tabel 32 Perhitungan PI ................................................................................................... 66
Tabel 33 Perhitungan PP .................................................................................................. 67
Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000) ................................................................... 67
Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas ....................................................................... 68
ix
Page 12
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 PMI Global ....................................................................................................... 25
Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang .................................................... 26
Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara Berkembang . 28
Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen ..................................................................... 29
Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%) ................... 31
Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah ............................................................................ 37
Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block .............................................. 37
Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbid ................................................................ 40
Gambar 9 Pola Bisnis ....................................................................................................... 41
Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................... 50
Gambar 11 Analisis Sensitivitas ....................................................................................... 69
x
Page 13
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
1 PENDAHULUAN
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang, dan Rekan telah ditunjuk oleh PT Surya Biru
Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), berdasarkan Surat
Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan
Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025, sebagai Penilai
Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan
Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk
Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya
Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan Pembuangan
Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik
Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/
Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
1.2 Tanggal Penilaian
Tanggal penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.
1.3 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama Perusahaan : PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk.,
Bidang Usaha : Perdagangan besar bahan kimia gas
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Telepon : +62 542 743555
Website : https://www.suryabirumurni.co.id/
Email : sbm@suryabiru.co.id
1.4 Latar Belakang
Perseroan didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980,
dibuat di hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian
ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat
Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
Notaris No. 179, tanggal 27 Agustus 2024 dari Rosida Rajaguguk Siregar, S.H., M.Kn.,
Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan tersebut telah
diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum
1
Page 14
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-
0255447, tanggal 25 September 2024.
Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
Timur.
1.5 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen
dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata,
Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment
dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari
Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan
Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk
Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau
Kontrak) sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
Kegiatan Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan
ataupun kepentingan lainnya.
1.6 Data dan Informasi yang Digunakan
Dalam rangka melakukan Studi Kelayakan ini, kami telah mempelajari, menganalisis
dan mempertimbangkan informasi sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2021, No. 00028/2.1104/AU.1/
04/1292-1/1/III/2022, tanggal 23 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Ahalik
dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan dengan opini
wajar dalam semua hal yang material;
2. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2022,
No. 00023/2.1104/AU.1/04/1292-2/1/III/2023, tanggal 29 Maret 2023 yang
telah diaudit oleh Ahalik dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
dan Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
3. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2023,
No. 00136/2.1035/AU.1/04/1164-1/1/III/2024, tanggal 27 Maret 2024 yang
telah diaudit oleh Christiadi Tjahnadi dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
4. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2024,
No. 00179/2.1035/AU.1/04/1674-1/1/III/2025, tanggal 28 Maret 2025 yang
telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan opini
wajar dalam semua hal yang material;
5. Laporan Keuangan Perseroan per 30 Juni 2025,
No. 00607/2.1035/AU.1/04/1674-2/1/IX/2025, tanggal 29 September 2025
2
Page 15
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
yang telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan
opini wajar dalam semua hal yang material;
6. Proyeksi Keuangan selama 10 tahun;
7. Legalitas Perseroan;
8. Wawancara dan diskusi dengan manajemen Perseroan sehubungan dengan
penugasan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha, yakni dengan Ibu
Rini Dwiyanti sebagai Direktur Utama dan Bapak Rahadian sebagai Supervisor
Pengembangan Bisnis;
9. Representation Letter No. 102/DIR-SBMA/SK/IX/2025, tanggal 29 September
2025, sehubungan dengan Penugasan Penilaian Studi Kelayakan atas
Penambahan Kegiatan Usaha.
1.7 Prosedur yang Digunakan
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa
Keuangan No. 17 /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018
yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode
Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup:
1. Kajian Kelayakan Pasar;
2. Kajian Kelayakan Teknis;
3. Kajian Kelayakan Pola Bisnis;
4. Kajian Kelayakan Model Manajemen; dan
5. Kajian Kelayakan Keuangan.
1.8 Ruang Lingkup Penugasan
Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu
untuk melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan
Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
dan Genteng);
5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6. KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).
Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
Profesional, paling sedikit meliputi:
3
Page 16
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian
Profesional; dan
3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.
1.9 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
adalah:
• Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
• Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
dalam studi kelayakan.
• Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan
dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta
penelitian yang kami anggap relevan.
• Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen
dengan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
• Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran
proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
• Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
• Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
• Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
• Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak
melakukan market research khusus atas adanya supplier produk paving block
yang telah memiliki komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan
perumahan di Kalimantan dan IKN.
1.10 Kualifikasi Penilai
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 1498/KM.1/2012, tanggal
28 Desember 2012, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang dan Rekan
dengan Izin KJPP No. 2.12.0113.
Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai
Usaha bersertifikat MAPPI dengan perizinan sebagai berikut:
MAPPI : No. 09-S-02341
Izin Penilai Publik : No. B-1.12.00340
4
Page 17
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Klasifikasi izin : Penilaian Bisnis
Register : No. RMK-2017.00303
STTD OJK : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
STTD IKNB : No. 173/NB.122/STTD-P/2019
1.11 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan
Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan
tanggal diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang terjadi
selama periode tersebut.
5
Page 18
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2 INFORMASI UMUM
2.1 Profil Perseroan
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan" atau “SBMA”)
didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian ini telah
disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan
No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir
Akta Notaris No. 179, tanggal 27 Agustus 2024, dari Rosida Rajaguguk-Siregar,
S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan
tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat
No. AHU-AH.01.09-0255447, tanggal 25 September 2024.
Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
Timur.
2.1.1 Bidang Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
adalah berusaha di bidang industri kimia anorganik gas. Pada saat ini, Perusahaan
bergerak dalam bidang perdagangan besar bahan kimia gas.
2.1.2 Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan
Rincian pemegang saham Perseroan dan persentase kepemilikannya pada tanggal
30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan
Jumlah Persentase Jumlah
Pemegang Saham
Saham Kepemilikan (Rp.000)
PT Surya Biru Titilea Investama 585.000.000 62,91% 58.500.000
Tiffany Wei 65.000.000 6,99% 6.500.000
Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 279.926.282 30,10% 27.992.628
Jumlah 929.926.282 100,00% 92.992.628
Sumber: Manajemen Perseroan
6
Page 19
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2.1.3 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan pengurus Perseroan per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Effendi
Komisaris Independen : M. Slamet Brotosiswoyo
Komisaris : Dinawati
Direksi
Direktur Utama : Rini Dwiyanti
Wakil Direktur : Welly Sumanteri
Direktur : Julianto Setyoadji
Direktur : Carsen Finrely
Komite Audit
Ketua : M.Slamet BrotosiswoyoIwanho
Anggota : Dwi Irma Anjalita M Noor
Anggota : Maurice Ganda Nainggolan
2.1.4 Legalitas dan Izin Operasional
Dalam menjalankan kegiatan operasional Perseroan memiliki dokumen perizinan
usaha dan legalitas lainnya yang dikeluarkan oleh instansi terkait antara lain:
• Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., oleh Notaris Abdul Latief, S.H., dan
disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
berdasarkan Surat Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal
15 Desember 1982;
• Akta No. 179, tanggal 27 Agustus 2024 dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H.,
M.Kn., dan disahkan melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0255447,
tanggal 25 September 2024;
• Nomor Induk Berusaha (NIB): No. 120007440825; dan
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 01.150.545.0-725.000
2.2 Kinerja Keuangan
Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan kinerja Perseroan berdasarkan
data Laporan Keuangan audited per 31 Desember 2021, 2022, 2023, 2024 dan 30
Juni 2025 serta Laporan Keuangan unaudited per 31 Desember 2020.
7
Page 20
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2.2.1 Kinerja Posisi Keuangan
Kinerja Posisi Keuangan Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
adalah sebagai berikut.
Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
ASET
Aset Lancar
Kas dan bank 12.868.014 10.422.997 4.752.401 8.303.761 23.098.928 1.779.321
Piutang usaha
> Pihak ketiga 19.294.928 21.822.757 21.723.493 22.953.314 23.651.765 17.926.430
> Pihak berelasi 41.641 27.889 147.639 478.047 - -
Piutang lain-lain 160.068 156.653 293.822 343.658 485.515 705.519
Persediaan
> Bahan baku 1.527.759 1.610.179 1.653.473 1.814.715 645.576 803.548
> Bahan jadi 1.109.725 2.196.279 1.158.541 3.399.807 3.217.791 3.045.822
> Barang pembantu 3.899.269 1.143.378 778.384 811.030 782.060 379.277
Uang muka dan biaya di muka 2.249.650 1.821.420 1.177.298 1.595.287 3.706.315 6.517.658
Pajak dibayar di muka - - - 1.473.024 - -
Total Aset Lancar 41.151.054 39.201.552 31.685.052 41.172.643 55.587.950 31.157.575
Aset Tidak Lancar
Uang muka pembelian aset tetap 483.210 925.405 7.682.053 - - -
Aset tetap
Biaya perolehan
Kepemilikan langsung
> Tanah 171.842.000 171.842.000 171.842.000 171.052.294 169.613.630 143.535.210
> Bangunan 11.630.981 11.630.981 11.320.651 11.190.899 11.190.899 11.190.899
> Tabung 36.059.289 33.080.709 30.133.025 29.225.576 30.334.780 28.737.638
> Mesin dan instalasi 60.729.185 60.305.495 59.134.311 16.475.739 16.599.352 16.407.866
> Storage tank 13.850.693 13.850.693 11.335.334 11.335.334 10.562.986 10.562.986
> Kendaraan 24.439.217 24.439.217 12.472.024 11.510.038 11.556.046 10.231.306
Aset Hak Guna
> Tanah 617.761 567.376 435.051 - - -
Aset Dalam Penyelesaian
> Mesin 147.431 - 66.000 33.447.210 3.814.217 -
Jumlah nilai perolehan 319.316.557 315.716.470 296.738.397 284.237.091 253.671.910 220.665.906
Akumulasi penyusutan
Kepemilikan langsung
> Bangunan (7.363.273) (7.148.405) (6.727.721) (6.318.908) (5.911.177) (5.373.394)
> Tabung (24.431.243) (23.326.866) (22.662.038) (21.906.173) (24.644.779) (24.035.084)
> Mesin dan instalasi (18.539.390) (16.558.983) (12.686.020) (10.611.350) (10.942.248) (10.143.463)
> Storage tank (11.133.932) (10.928.451) (10.731.937) (10.635.185) (10.558.455) (10.500.321)
> Kendaraan (10.721.108) (9.550.834) (7.788.539) (7.228.408) (8.182.735) (7.688.926)
Kepemilikan langsung
> Tanah (93.479) (64.404) (30.684) - - -
Jumlah akumulasi penyusutan (72.282.425) (67.577.944) (60.626.939) (56.700.024) (60.239.393) (57.741.189)
Nilai Buku 247.034.133 248.138.527 236.111.458 227.537.067 193.432.517 162.924.717
Beban ditangguhkan - -
Aset pajak tangguhan 1.573.941 1.556.242 701.351 896.341 1.598.288 1.171.328
Setoran jaminan 154.331 154.331 - - -
Total Aset Tidak Lancar 249.245.615 250.774.505 244.494.862 228.433.407 195.030.805 164.096.045
8
Page 21
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
TOTAL ASET 290.396.669 289.976.057 276.179.915 269.606.050 250.618.756 195.253.620
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Utang bank jangka pendek 7.678.182 8.289.775 17.441.571 22.090.304 25.200.000 29.043.208
Utang usaha
> Pihak ketiga 3.012.851 2.418.380 2.606.814 5.113.965 3.904.713 2.613.031
> Pihak berelasi 100.728 225.711 - - - -
Beban akrual 7.051.429 7.999.097 2.522.030 1.118.714 985.412 1.098.125
Utang pajak 1.356.864 2.512.109 1.109.235 507.341 1.806.761 1.255.009
Liabilitas jk panjang yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun
> Utang bank 4.328.970 4.328.970 4.294.395 2.153.735 - -
> Utang pembiayaan konsumen 2.439.092 3.337.919 785.939 1.823.096 756.606 564.728
> Liabilitas sewa - - - - - -
Total Liabilitas Lancar 25.968.117 29.111.961 28.759.984 32.807.155 32.653.492 34.574.101
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Liabilitas jk pnjg - setelah
dikurangi bagian yang jatuh
tempo dalam satu
tahun
> Utang bank 13.069.339 15.350.779 17.550.668 13.497.326 - -
> Utang pembiayaan konsumen 512.436 1.208.786 363.058 - 79.614 -
Liabilitas sewa 392.051 376.261 223.816 - -
Uang jaminan pelanggan 11.855.787 12.125.218 10.530.496 8.556.674 7.396.052 5.333.692
Pendapatan diterima di muka 50.717 69.442 60.167 3.167 22.167 41.167
Liabilitas imbalan pascakerja 4.101.825 3.835.526 3.242.700 3.669.215 5.174.671 5.324.216
Total Liabilitas Tidak Lancar 29.982.155 32.966.012 31.970.905 25.726.381 12.672.504 10.699.075
TOTAL LIABILITAS 55.950.272 62.077.972 60.730.889 58.533.536 45.325.996 45.273.176
EKUITAS
Modal saham 92.992.628 92.992.628 92.992.628 92.992.628 92.840.000 65.000.000
> PT Surya Biru Titilea Investama 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000 58.500.000
> Tiffany Wei 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000 6.500.000
> Masyarakat (masing-masing 27.992.628 27.992.628 27.992.628 27.992.628 27.840.000 -
dibawah 5%)
Tambahan modal disetor 29.394.526 29.394.526 29.394.526 29.394.526 29.196.109 11.294.492
Penghasilan komprehensif lain 72.167.029 72.163.341 72.049.137 71.010.351 70.066.085 67.909.251
Saldo laba
> Telah ditentukan 2.500.000 2.500.000 1.500.000 1.500.000 928.400 650.000
penggunaannya
> Belum ditentukan 37.392.214 30.847.589 19.512.735 16.175.009 12.262.166 5.126.700
penggunaannya
TOTAL EKUITAS 234.446.397 227.898.084 215.449.026 211.072.514 205.292.760 149.980.443
Kepentingan nonpengendali - - - - - -
TOTAL EKUITAS 234.446.397 227.898.084 215.449.026 211.072.514 205.292.760 149.980.443
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 290.396.669 289.976.057 276.179.915 269.606.050 250.618.756 195.253.620
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
9
Page 22
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Aset
• Pada tahun 2021, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp250,62 miliar,
naik sebesar 28,36% dari total aset yang dicatat tahun 2020 yang sebesar
Rp195,25 miliar. Total aset ini terdiri atas aset lancar sebesar Rp55,59 miliar
dan aset tidak lancar sebesar Rp193,43 miliar. Kenaikan aset terutama
disebabkan karena naiknya aset tanah pada aset tidak lancar lainnya
dibandingkan di tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2022, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp269,61 miliar,
naik sebesar 7,58% dari total aset yang dicatat tahun 2021. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp41,17 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp228,43
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya aset dalam
penyelesaian mesin pada aset tidak lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp276,18 miliar,
naik sebesar 2,44% dari total aset yang dicatat tahun 2022. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp31,69 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp244,49
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya mesin dan instalasi
pada aset tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2024, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp289,98 miliar,
naik sebesar 5,00% dari total aset yang dicatat tahun 2023. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp39,20 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp250,77
miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya kendaraan pada aset
tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp290,40 miliar
atau sebesar 100,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset ini terdiri
atas aset lancar sebesar Rp41,15 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp249,25
miliar.
Liabilitas
• Total liabilitas Perseroan tahun 2021 adalah sebesar Rp45,33 miliar, naik 0,12%
dari akhir tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp45,27 miliar. Liabilitas ini terdiri
atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp32,65 miliar dan liabilitas jangka
panjang sebesar Rp12,67 miliar. Kenaikan liabilitas terutama disebabkan utang
bank jangka pendek yang lebih tinggi pada liabilitas jangka pendek
dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2022 adalah sebesar Rp58,53 miliar, naik
29,14% dari akhir tahun 2021. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek
sebesar Rp32,81 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp25,73 miliar.
Penurunan liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari akun utang bank
setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas
jangka panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2023 adalah sebesar Rp60,73 miliar, naik 3,75%
dari akhir tahun 2022. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar
Rp28,76 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp31,97 miliar. Kenaikan
10
Page 23
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun utang bank setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas jangka panjang
dibandingkan tahun sebelumnya.
• Total liabilitas Perseroan tahun 2024 tercatat sebesar Rp62,08 miliar,
meningkat sebesar 2,22% dari akhir tahun 2023. Liabilitas ini terdiri atas
liabilitas jangka pendek sebesar Rp29,11 miliar dan liabilitas jangka panjang
sebesar Rp32,97 miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun
beban akrual pada liabilitas jangka pendek dibanding dibandingkan tahun
sebelumnya.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total liabilitas sebesar Rp55,95
miliar atau sebesar 90,13% dibandingkan tahun sebelumnya. Total liabilitas ini
terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp25,97 miliar dan liabilitas jangka
panjang sebesar Rp29,98 miliar.
Ekuitas
• Pada tahun 2021, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 36,88% menjadi
sebesar Rp205,29 miliar, dari yang semula tercatat Rp149,98 miliar di tahun
2020. Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari tercatatnya penyertaan saham
masyarakat sebesar Rp27,84 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2022, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 2,82%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2021, menjadi sebesar Rp211,07 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2022.
• Pada tahun 2023, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 2,07%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2022, menjadi sebesar Rp215,45 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2023.
• Pada tahun 2024, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 5,76%
dibandingkan total ekuitas pada tahun 2023, menjadi sebesar Rp227,90 miliar.
Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2024.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total ekuitas sebesar Rp234,45
miliar atau sebesar 102,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Total ekuitas ini
didominasi oleh modal saham sebesar 39,66%, tambahan modal disetor sebesar
12,54%, penghasilan komprehensif lain sebesar 30,78% dan saldo laba sebesar
17,02% dari ekuitas.
2.2.2 Kinerja Laba (Rugi)
Kinerja Laba (Rugi) Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
adalah sebagai berikut.
11
Page 24
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000)
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
PENDAPATAN 67.173.896 131.677.483 113.369.718 103.643.140 88.261.235 74.268.102
Jasa 1.777.448 4.710.140 4.206.033 4.022.080 3.563.605 3.634.117
Produk
Ocygen 18.559.710 33.048.435 22.627.067 20.461.596 7.898.242 3.050.362
Acetylene 15.914.084 36.494.449 33.665.752 29.286.298 21.446.520 18.679.090
Argon 9.367.998 16.377.253 22.593.000 20.877.491 21.534.712 10.985.023
Nitrogen 8.768.276 16.303.992 6.361.733 5.071.477 17.463.078 13.512.067
Karbondioksida 3.760.629 7.026.114 7.796.853 4.895.185 3.425.367 2.712.652
Gas campuran 9.025.752 17.717.101 16.119.281 - - -
Lain-lain - - - 23.051.093 12.929.712 21.694.791
BEBAN POKOK PENDAPATAN (32.613.555) (62.159.988) (59.725.790) (51.476.913) (42.237.404) (36.511.873)
Pembelian bahan baku (15.977.399) (45.292.707) (38.823.977) (38.350.829) (30.389.410) (23.403.695)
Persediaan bahan baku awal (1.610.179) (1.653.473) (1.814.715) (645.576) (803.548) (1.151.010)
Ongkos angkut pembelian (1.788.282) (3.851.808) (4.052.782) (3.944.372) (2.423.311) (1.532.896)
Persediaan bahan baku akhir 1.527.759 1.610.179 1.653.473 1.814.715 645.576 803.548
Sub total (17.848.100) (49.187.809) (43.038.001) (41.126.062) (32.970.693) (25.284.053)
Beban listri dan air (9.981.944) (2.098.804) (6.365.475) (3.814.892) (3.571.136) (5.419.786)
Penyusutan (4.370.376) (7.847.449) (4.354.391) (2.665.853) (2.359.323) (3.153.827)
Perbaikan dan pemeliharaan (362.072) (2.878.298) (1.790.115) (1.643.784) (452.848) (628.147)
Beban asuransi dan pengiriman (434.320) (729.244) (843.705) (343.454) (594.127) (353.898)
Sewa isotank (156.533) (287.488) (843.150) (246.325) - -
Gaji dan tunjangan (82.525) (153.575) (145.054) (1.783.433) (2.343.025) (2.113.510)
Sparepart mesin dan instalasi (1.080.674) (15.060) (104.633) (35.127) (118.222) (48.626)
Pembelian Kran dan Cat Untuk - - - - - (402.762)
Tabung
Beban air - - - - - (66.565)
Sub total (16.468.444) (14.009.917) (14.446.523) (10.532.867) (9.438.681) (12.187.120)
Persediaan jadi awal (2.196.279) (1.158.541) (3.399.807) (3.217.791) (3.045.822) (2.086.521)
Persediaan jadi akhir 3.899.269 2.196.279 1.158.541 3.399.807 3.217.791 3.045.822
Total (32.613.555) (62.159.988) (59.725.790) (51.476.913) (42.237.404) (36.511.873)
LABA (RUGI) BRUTO 34.560.342 69.517.495 53.643.928 52.166.228 46.023.831 37.756.229
BEBAN USAHA (26.008.806) (53.238.113) (46.030.906) (44.282.527) (36.378.840) (30.009.027)
Beban Umum dan Administrasi (24.847.662) (50.332.695) (39.585.647) (41.712.386) (33.336.731) (25.280.152)
Gaji dan tunjangan (13.191.970) (24.598.047) (20.138.724) (19.333.022) (17.097.154) (10.510.560)
Pemasaran dan penjualan (5.521.405) (10.983.594) (9.074.909) (8.411.239) (6.221.710) (7.084.897)
Beban pengolahan limbah - (3.570.490) - (3.570.490) - -
Perbaikan dan pemeliharaan (1.690.238) (2.643.737) (3.046.152) (2.698.461) (2.438.179) (2.167.485)
Jamsostek (831.361) (1.412.660) (1.282.621) (1.162.942) (1.091.447) (1.030.589)
Jasa profesional (549.631) (1.067.351) (1.184.427) (1.519.710) (1.719.359) (259.887)
Perlengkapan kantor (549.640) (555.873) (535.124) (733.138) (502.772) (427.030)
Pajak dan retribusi (359.933) (1.413.188) (370.863) (473.054) (564.477) (677.335)
Imbalan kerja (502.858) (1.003.760) (926.751) (930.208) (687.952) (637.316)
Penyusutan (334.105) (636.189) (587.673) (704.958) (629.639) (545.562)
Perjalanan dinas (573.590) (750.064) (622.448) (417.591) (223.796) (105.068)
Listrik, air dan telepon (172.381) (365.493) (380.517) (240.389) (552.138) (508.838)
12
Page 25
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Uraian 2025 2024 2023 2022 2021 2020
30 Juni
Asuransi (158.019) (285.538) (157.462) (105.717) (342.196) (11.192)
Transportasi - - - - (217.928) (184.437)
Sumbangan dan iuran rutin - (193.016) (140.622) (33.275) (39.630) (33.250)
Konsumsi - (83.431) (104.251) (113.480) (107.093) (72.728)
Sewa - - - (90.226) (178.150) (36.900)
Hiburan, rekreasi dan olahraga - (121.249) - (121.249) (71.952) (41.024)
Pengobatan karyawan - - (120.872) (156.038) (162.614) (101.614)
Tes kesehatan - - - - (176.335) (65.097)
Materai - - - - (65.618) (43.511)
Air - - - - - (36.826)
Jamuan - - - - (17.669) (25.465)
Lain-lain (412.533) (649.015) (912.232) (897.198) (228.924) (673.542)
Beban Bunga dan Keuangan (1.036.510) (3.046.658) (3.620.031) (3.451.113) (2.767.418) (3.439.392)
Beban bunga pinjaman bank (997.383) (2.876.707) (3.456.219) (3.114.640) (2.630.365) (3.260.801)
Beban bunga liabilitas sewa (17.904) (29.698) (36.918) - - (178.592)
Administrasi dan provisi (21.222) (140.253) (126.894) (336.473) (137.053)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (124.634) 141.239 (2.825.228) 880.972 (274.691) (1.289.483)
Keuntungan penjualan aset - 484.528 - 374.487 490.757 332.137
tetap
Pendapatan jasa giro 51.517 74.845 79.610 182.138 183.518 8.719
Laba (rugi) selisih kurs - - - 122.825 - 6.098
Pendapatan lain-lain - - - - 680.232 18.020
Penyisihan penurunan nilai - (473.660) (1.576.065) (73.887) (451.898) (380.253)
piutang
Beban kerugian pelepasan - - - (21.875) - -
nilai aset tetap
Beban pajak (200.680) (136.014) (1.654.840) (83.636) (151.094) (355.408)
Beban denda perkara - - - - (1.000.000) -
Lain-lain 24.529 191.541 326.067 380.920 (26.207) (918.796)
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 8.551.535 16.279.382 7.613.022 7.883.701 9.644.991 7.747.202
PENGHASILAN
BEBAN PAJAK PENGHASILAN (2.006.910) (3.879.598) (2.880.407) (3.399.257) (2.231.125) (2.442.565)
LABA TAHUN BERJALAN 6.544.625 12.399.784 4.732.615 4.484.443 7.413.866 5.304.637
PENGHASILAN (RUGI) 3.688 114.204 1.038.787 944.266 2.156.834 67.912.127
KOMPREHENSIF LAIN
Surplus revaluasi aset tetap - - 789.706 1.438.664 1.931.420 68.355.746
Pengukuran kembali program 4.728 146.415 542.072 (228.067) 288.992 (404.015)
imbalan pasti
Pajak penghasilan terkait (1.040) (32.211) (292.991) (266.331) (63.578) (39.603)
LABA (RUGI) KOMPREHENSIF 6.548.312 12.513.988 5.771.402 5.428.709 9.570.699 73.216.765
TAHUN BERJALAN
LABA (RUGI) PER SAHAM 2,13 14,37 5,09 4,83 10,65 17,14
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
13
Page 26
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Pendapatan
• Pada tahun 2021, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp88,62
miliar, naik 18,84% dari Rp74,27 miliar pada tahun 2020. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh peningkatan produk argon sebesar 96,04% dibandingkan
tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2022, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp103,64
miliar, naik 17,43% dari Rp88,62 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh peningkatan produk ocygen sebesar 159,07% dibandingkan
tahun sebelumnya.
• Pada tahun 2023, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp113,37
miliar, naik 9,38% dari Rp103,64 miliar pada tahun 2022. Kenaikan pendapatan
dikontribusi oleh tercatatnya produk gas campuran sebesar Rp16,12 miliar.
• Pada tahun 2024, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp131,68
miliar, naik 16,15% dari Rp113,37 miliar pada tahun 2023. Kenaikan
pendapatan dikontribusi oleh tercatatnya produk oxygen sebesar Rp46,06
miliar.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp67,13
miliar atau sebesar 51,01% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Beban Pokok Pendapatan dan Laba kotor
• Pada tahun 2021, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 15,68% dari tahun 2020 sebesar Rp36,51 miliar menjadi Rp42,24
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
bahan baku di tahun 2021 sebesar 29,85%. Sementara, laba kotor Perseroan
mengalami kenaikan sebesar 21,90% menjadi Rp46,02 miliar dari Rp37,76
miliar di tahun 2020.
• Pada tahun 2022, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 21,88% dari tahun 2021 sebesar Rp42,24 miliar menjadi Rp51,48
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
bahan baku di tahun 2022 sebesar 26,20%. Sementara, laba kotor Perseroan
mengalami kenaikan sebesar 13,35% menjadi Rp52,17 miliar dari Rp46,02
miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
sebesar 16,02% dari tahun 2022 sebesar Rp51,48 miliar menjadi Rp59,73
miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
beban listrik dan air di tahun 2022 sebesar 66,86%. Sementara, laba kotor
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 2,83% menjadi Rp59,73 miliar dari
Rp51,48 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, beban pokok pendapatan Perseroan meningkat sebesar
4,08% dari tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp52,73 miliar menjadi sebesar
Rp62,16 miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari
pembelian bahan baku di tahun 2023 sebesar 16,66%. Sementara, laba kotor
14
Page 27
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 29,59% menjadi Rp69,52 miliar dari
Rp53,64 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan beban pokok pendapatan
sebesar Rp32,61 miliar atau setara 52,47% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Sehingga laba kotor yang tercatat pada 30 Juni 2025 adalah
sebesar Rp34,56 miliar sebesar 49,72% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Laba (Rugi) Sebelum Pajak
• Pada tahun 2021, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp33,34
miliar (31,87%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
menjadi sebesar Rp2,77 miliar (19,54%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
beban lain-lain sebesar Rp274,69 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami kenaikan sebesar 24,50% menjadi Rp9,64 miliar dari
Rp7,75 miliar di tahun 2020.
• Pada tahun 2022, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp41,71
miliar (25,12%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
menjadi sebesar Rp3,45 miliar (24,71%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
pendapatan lain-lain sebesar Rp880,97 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 18,26% menjadi Rp7,88 miliar dari
Rp9,64 miliar di tahun 2021.
• Pada tahun 2023, beban umum dan administrasi turun menjadi sebesar
Rp39,59 miliar (5,10%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
menjadi sebesar Rp3,62 miliar (4,29%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
beban lain-lain sebesar Rp2,83 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 3,43% menjadi Rp7,61 miliar dari
Rp7,88 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp50,33
miliar (27,15%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
menjadi sebesar Rp3,05 miliar (15,84%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
pendapatan lain-lain sebesar Rp141,24 juta. Sementara, laba sebelum pajak
Perseroan mengalami penurunan sebesar 113,84% menjadi Rp16,28 miliar dari
Rp7,61 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp24,85
miliar, beban bunga dan keuangan sebesar Rp1,04 miliar dan pendapatan lain-
lain sebesar Rp124,63 juta. Sementara, laba sebelum pajak Perseroan pada 30
Juni 2025 tercatat sebesar Rp8,55 miliar.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
• Pada tahun 2021, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
39,76% menjadi Rp7,41 miliar dari Rp5,30 miliar di tahun 2020.
• Pada tahun 2022, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
39,51% menjadi Rp4,48 miliar dari Rp7,41 miliar di tahun 2021.
15
Page 28
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Pada tahun 2023, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
5,53% menjadi Rp4,73 miliar dari Rp4,84 miliar di tahun 2022.
• Pada tahun 2024, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
162,01% menjadi Rp12,40 miliar dari Rp4,73 miliar di tahun 2023.
• Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan laba tahun berjalan sebesar
Rp6,54 miliar atau sebesar 52,78% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan
30 Juni
Uraian 2024 2023 2022 2021 2020 Average
2025
A. LIQUIDITY (%)
Current Ratio 158,47% 134,66% 110,17% 125,50% 170,24% 90,12% 131,52%
Quick Ratio 124,02% 110,86% 92,57% 96,73% 143,17% 57,00% 104,06%
Working Capital To Total Assets 5,23% 3,48% 1,06% 3,10% 9,15% -1,75% 3,38%
B. ACTIVITY
Total Assets Turnover (X) 0,46 0,45 0,41 0,38 0,35 0,38 0,41
Inventory Turnover (X) 9,98 12,56 16,63 8,54 9,09 8,63 10,91
Account Receivable Turnover (X) 37 29 22 43 40 42 35,45
Average Collection Period (Day) 6,95 6,03 5,18 4,42 3,73 4,14 5,08
Working Capital Turnover (X) 53 61 70 83 98 88 75,32
C. SOLVABILITY (%)
Total Debt to Equity Ratio 23,86% 27,24% 28,19% 27,73% 22,08% 30,19% 26,55%
Total Debt to Asset Ratio 19,27% 21,41% 21,99% 21,71% 18,09% 23,19% 20,94%
Long Term Debt To Equity Ratio 12,79% 14,47% 14,84% 12,19% 6,17% 7,13% 11,26%
D. RENTABILITY (%)
Gross Profit Margin 51,45% 52,79% 47,32% 50,33% 52,15% 50,84% 50,81%
Operating Profit Margin 12,73% 12,36% 6,72% 7,61% 10,93% 10,43% 10,13%
Net Profit Margin 9,74% 9,42% 4,17% 4,33% 8,40% 7,14% 7,20%
Rate of Return on Investment 4,51% 4,28% 1,71% 1,66% 2,96% 2,72% 2,97%
Rate of Return on Equity 5,58% 5,44% 2,20% 2,12% 3,61% 3,54% 3,75%
Sumber: Laporan Keuangan Perseroan
Rasio Likuiditas
Selama periode 2020—30 Juni 2025, rasio likuiditas menunjukkan rata-rata current
ratio dan quick ratio adalah sebesar 131,52% dan 104,06%. Sementara itu untuk
working capital to total assets ratio memiliki rata-rata sebesar 3,38%. Hal ini
menunjukkan bahwa Perseroan memiliki aset lancar yang bersifat cukup likuid
untuk membayar seluruh utang jangka pendeknya.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menggambarkan kemampuan Perseroan dalam memanfaatkan aset-
aset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Rata-rata
perputaran aset adalah sebanyak 0,41 kali, yang menunjukkan bahwa kemampuan
Perseroan untuk menghasilkan penjualan dari total aset yang dimiliki masih cukup
rendah, karena total aset yang dimiliki tidak menghasilkan penjualan yang lebih
besar dari jumlah aset. Rasio ini mengindikasikan bahwa efektivitas penggunaan
16
Page 29
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
aset oleh Perseroan masih perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan pendapatan
yang lebih optimal.
Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan
pinjaman yang diberikan oleh kreditor baik dalam bentuk jangka pendek maupun
jangka panjang. Salah satu rasio solvabilitas adalah debt to equity ratio (DER)
menunjukkan besarnya porsi utang terhadap ekuitas dalam pembiayaan
perusahaan, sedangkan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan posisi liabilitas
terhadap aset dalam pembiayaan perusahaan. Rasio solvabilitas menunjukkan rata-
rata DER sebesar 26,55%, yang berarti bahwa Perseroan memiliki ketergantungan
terhadap utang yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya untuk
membiayai operasionalnya. Sementara itu, rata-rata DAR adalah sebesar 20,94%,
yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keuangan di tingkat
menengah karena masih memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan aset
melalui utang.
Rasio Rentabilitas
Rasio Rentabilitas menggambarkan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
menghasilkan sebuah laba. Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata gross
profit margin sebesar 50,81%. Gross profit margin merupakan perbandingan laba
kotor dengan besarnya tingkat pendapatan. Sementara itu rata-rata net profit
margin sebesar 7,20%. Net profit margin merupakan rasio yang membandingkan
antara laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari pendapatan bersih.
Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata tingkat balikan terhadap total
investasi (ROI) adalah sebesar 2,97%, menunjukkan bahwa Perseroan mengalami
keuntungan dan dapat menghasilkan laba bersih dari total investasi yang dilakukan.
Selain itu, rata-rata tingkat balikan terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 3,75%,
yang juga menunjukkan bahwa Perseroan mampu menghasilkan laba bersih dari
jumlah ekuitas yang diinvestasikan.
2.3 Produk dan Layanan Perseroan
Produk dan jasa yang telah dihasilkan oleh Perseroan hingga saat ini adalah sebagai
berikut.
Perdagangan
• Gas Industri seperti Oxygen, Acetylene, Nitrogen, Argon, Karbondioksida,
Helium, Hidrogen.
• Gas campuran yang terdiri dari 2 atau lebih gas seperti campuran Argon dan
karbondioksida, campuran untuk gas pemadam, dan sebagainya.
17
Page 30
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
• Gas Spesial yang komponennya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Umumnya digunakan untuk pengujian di Laboratorium • Selain dalam bentuk
Gas, Oxygen, Nitrogen dan Argon dapat dijual dalam bentuk Liquid atau Bulk.
Perawatan Tabung
• Uji hidrostatis untuk mengecek ketahanan tabung.
• Sertifikasi tabung yang telah lolos uji hidrostatis dan layak untuk digunakan.
• Pembersihan Tabung.
• Pengecatan kembali tabung.
Jasa
• Reparasi Tangki kriogenik.
• Uji kebocoran tangki.
• Aksesoris tabung dan tangki.
Selanjutnya, Perseroan berencana untuk menambah bisnis baru yaitu pabrik batako
dan paving block yang berasal dari limbah karbit yang merupakan produk
sampingan dari pembuatan gas asetilena melalui reaksi kimia antara air dan Kalsium
Karbida.
2.4 Teknologi yang Digunakan
Mesin yang akan digunakan pada penambahan kegiatan usaha ini adalah ZN600VP,
yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang di Jerman
dan dibuat di Tiongkok. Terdapat motor getaran frekuensi motor getaran 2x12.1KW
(getaran servo), untuk mencapai gaya getaran 100KN. Sistem kontrol PLC SIEMENS,
layar sentuh, kontaktor, sistem hidrolik Italia, sistem penjepit cetakan otomatis,
menjadi mesin yang paling efisien & stabil di Tiongkok.
Mesin tersebut juga dilengkapi dengan sistem servo vibrasi yang baru, yang dapat
memastikan motor getar berada dalam kondisi tersinkronisasi, yang dapat
menjamin keluaran vertikal gaya pemadatan. Selain itu, dapat menghindari juga
kerusakan tegangan geser akibat gaya pemadatan horizontal pada mesin dan
perpanjang masa pakai mesin. Sehingga, Perseroan dapat mencapai efisiensi
kinerja, penghematan energi, dan perlindungan lingkungan dalam pembuatan
batako dan paving block.
2.5 Pasar yang Dituju
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota
18
Page 31
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
Balikpapan.
Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material bangunan,
termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti
yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
2.6 Pesaing dan Persaingan
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
1. PT Varia Usaha Beton Teluk Pandan, Kec. Teluk
Pandan, Kabupaten Kutai 1.950 Rp3.600
Timur
2. PT Kutai Inti Beton Samboja 19.500 Rp3.600
3. Kampoeng FABA Kelurahan Graha Indah,
1.125
Kecamatan Balikpapan Utara
4. CV Borneo Conblock Samarinda
8.400
Mandiri
5. CV Kalimantan Beton Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu 34.400
Raya, Kalimantan Barat
6. Fadil Karya Balikpapan Rp3.500
7. Bintang Jaya Beton Samarinda Rp3.400 - 3.600
8. Pilar Beton Indo Samboja Rp3.550 - 3.700
9. Beton Elemen Prima Samarinda Rp3.200 - 3.400
10. Tiga Mutiara Beton Balikpapan Rp3.300 - 3.500
2.7 Pola Bisnis
Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
19
Page 32
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
Perseroan.
2.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
profil usaha, maupun dokumentasi proyek, membantu meningkatkan
kepercayaan klien;
2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
berinteraksi dengan konsumen;
4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
memperluas jejaring;
6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.
Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
perusahaan;
2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.
20
Page 33
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2.9 Kebutuhan Produksi atau Operasi
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan melakukan
pengadaan mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok.
Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block
otomatis. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
bahan baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan
semen. Selain itu, Perseroan juga berencana akan melakukan penambahan tenaga
kerja sebanyak 12 orang.
2.10 Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan
manajemen dan sumber daya manusia, sehingga akan mengadakan rekrutmen
sebanyak 12 orang.
2.11 Hak Atas Kekayaan Intelektual
Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan usaha
baru.
2.12 Peraturan Perundang-undangan yang Terkait
Beberapa peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan penambahan
kegiatan usaha Perseroan, antara lain adalah:
1. Peraturan perundang-undangan terkait penilaian adalah Undang-undang
Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
2. POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
Kegiatan Usaha.
3. POJK No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
4. Peraturan BPS Nomor 2 Tahun 2020 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
6. Legalitas Usaha
Terkait legalitas usaha yang diperlukan terkait penambahan kegiatan usaha ini
dirinci sebagai berikut:
21
Page 34
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 6 Progress Legalitas Usaha
No. Jenis Perizinan Referensi Status Durasi Keterangan
1 NIB (Nomor Induk ➢ Undang-Undang No. 11 belum 3 bulan Harus melalui
Berusaha) Tahun 2020 tentang Cipta punya RUPS.
Kerja.
➢ Peraturan Pemerintah No. 24
Tahun 2018 tentang
Pelayanan Perizinan Berusaha
Terintegrasi Secara
Elektronik.
2 Surat Layak Operasi Peraturan Pemerintah No. 22 belum 1 tahun Harus memiliki
(SLO) untuk Tahun 2021 tentang punya PERTEK dan
Pengelolaan Penyelenggaraan Perlindungan PERLING.
Limbah B3 dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
3 Izin Fasilitas Impor Peraturan Menteri Perdagangan belum 1 bulan Saat Pembelian
Mesin Produksi No. 45 Tahun 2019 tentang punya Mesin.
Ketentuan Impor Mesin dan
Peralatan.
4 Analisis Dampak Peraturan Menteri Perhubungan belum 6 bulan Site Plan Batako
Lalu Lintas No. 96 Tahun 2019 tentang punya dan Paving Block
(Andalalin) Baru Pedoman Teknis Analisis harus ditetapkan
Dampak Lalu Lintas. terlebih dahulu.
5 Izin Transportasi Peraturan Menteri Lingkungan belum 1 tahun Harus
Limbah B3 Hidup dan Kehutanan No. 6 punya menentukan
Tahun 2021 tentang kendaraan yang
Pengangkutan Limbah B3. akan digunakan.
6 Persetujuan Peraturan Pemerintah No. 22 belum 6 bulan Menunggu
Lingkungan Baru Tahun 2021 tentang punya Pabrik Batako
untuk Proses Bisnis Penyelenggaraan Perlindungan dan Paving Block
Baru dan Pengelolaan Lingkungan berdiri.
Hidup.
7 Rincian Teknis TPS Peraturan Menteri Lingkungan belum on Tinggal
Limbah B3 Hidup dan Kehutanan No. 6 punya progress menunggu rilis.
Tahun 2021 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
8 Persetujuan Peraturan Pemerintah No. 16 belum 6 bulan Gambar
Bangunan Gedung Tahun 2021 tentang Peraturan punya Bangunan dan
(PBG) dan Surat Pelaksanaan Undang-Undang Lokasi Bangunan
Layak Fungsi (SLF) No. 28 Tahun 2002 tentang belum
Bangunan Gedung. ditetapkan.
9 PERTEK Kementerian Lingkungan belum on Menunggu
punya progress respon dari
KLHK pasca
revisi.
22
Page 35
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2.13 Aspek Lingkungan
Tanggung jawab Perseroan di bidang lingkungan hidup tercermin dari komitmen
untuk mencegah segala bentuk pencemaran lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan
pengelolaan limbah karbit untuk produksi batako dan paving block. Limbah karbit
yang tidak dikelola dengan baik dapat melepaskan gas asetilena yang berbahaya ke
udara. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku batako dan paving block,
risiko pelepasan gas beracun tersebut dapat diminimalkan. Selain itu, pemanfaatan
limbah karbit juga mengurangi tumpukan limbah di lingkungan, sehingga kualitas
lingkungan sekitar, terutama di daerah dekat industri atau tempat pembuangan
limbah, menjadi lebih baik. Penggunaan limbah karbit dalam pembuatan batako dan
paving block juga membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke
lingkungan, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran
tanah dan air.
2.14 Faktor Risiko Utama
Dalam menjalankan usahanya, Perseroan berpotensi menghadapi beberapa risiko
yang dapat memengaruhi kinerja Perseroan. Beberapa risiko utama yang dihadapi
Perseroan antara lain:
Risiko Prakonstruksi
1) Risiko Kondisi Ekonomi;
2) Risiko Perkembangan Pemukiman;
3) Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN;
4) Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN;
5) Risiko Penawaran dan Permintaan;
6) Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3;
7) Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan;
8) Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3;
9) Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama;
10) Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan;
11) Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3;
12) Risiko Perubahan Regulasi; dan
13) Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan.
Risiko Konstruksi
1) Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat;
2) Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air);
3) Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek;
4) Risiko Kegagalan Konstruksi;
5) Risiko Cost Over Run; dan
6) Risiko Pengendalian SDM Proyek.
23
Page 36
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Risiko Operasional
1) Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai;
2) Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan;
3) Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten;
4) Risiko SDM;
5) Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran;
6) Risiko Mesin; dan
7) Risiko Bahan Baku.
Upaya Perseroan dalam mencegah dan meminimalisir dampak maupun kerugian
akibat potensi risiko utama adalah dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang
efektif dengan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang sesuai.
2.15 Persyaratan Modal dan Strategi Finansial
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya pendirian maupun biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan
melakukan pendanaan yang bersumber dari kas yang tersedia dan pihak perbankan.
24
Page 37
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3 KELAYAKAN PASAR
3.1 Kondisi Pasar
Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat pascapengumuman kenaikan
tarif efektif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke beberapa negara maju dan
berkembang. Pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun
di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan
moneter di negara tersebut. Kinerja ekonomi Tiongkok juga diprakirakan belum
kuat, di tengah berbagai strategi diversifikasi ekspor. Sementara itu, kinerja
perekonomian India diprakirakan tetap baik didukung permintaan domestik. Bank
Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 masih belum kuat
sekitar 3,0%.
Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia
Sumber: Bank Indonesia
Gambar 1 PMI Global
Sumber: Bank Indonesia
25
Page 38
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tekanan inflasi AS masih menurun sehingga mendorong tetap kuatnya ekspektasi
arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Sementara itu, pergeseran aliran
modal keluar dari AS ke Eropa dan negara berkembang, serta komoditas yang
dianggap aman seperti emas, terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya risiko
ekonomi AS, termasuk risiko fiskal. Perkembangan ini mendorong berlanjutnya
pelemahan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan
negara berkembang (ADXY).
Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang
Sumber: Bank Indonesia
Kondisi Ekonomi Indonesia
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus didorong di tengah
prospek perekonomian global yang melemah. Pada triwulan II 2025, pertumbuhan
ekonomi ditopang oleh investasi nonbangunan terkait kegiatan di sektor
transportasi. Kinerja ekspor cukup baik ditopang oleh ekspor berbasis sumber daya
alam dan produk manufaktur.
Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran
Sumber: Bank Indonesia
26
Page 39
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih perlu ditingkatkan, tercermin pada
penjualan eceran yang melambat. Secara sektoral, Lapangan Usaha (LU) Pertanian
tetap tumbuh ditopang oleh kinerja subsektor LU Perkebunan dan dukungan
program Pemerintah, sedangkan kinerja beberapa LU utama lainnya seperti LU
Industri Pengolahan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum belum kuat.
Secara spasial, ekonomi di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) diprakirakan
tumbuh di atas 5%, sedangkan wilayah lainnya belum meningkat.
Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
Sumber: Bank Indonesia
Neraca Pembayaran Indonesia
Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber: Bank Indonesia *Angka sementara; **Angka sangat sementara
Neraca perdagangan pada Mei 2025 masih mencatat surplus 4,3 miliar dolar AS,
meningkat dari surplus April 2025 sebesar 0,2 miliar dolar AS. Perkembangan
positif pada neraca perdagangan ini didukung oleh ekspor komoditas mesin listrik
serta besi dan baja. Kinerja ekspor diprakirakan akan tetap positif sejalan dengan
hasil perundingan tarif dengan Pemerintah AS. Sementara itu, aliran masuk modal
asing ke instrumen portofolio domestik juga terus berlanjut dipengaruhi tetap
baiknya prospek perekonomian Indonesia, tingginya imbal hasil instrumen
27
Page 40
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
keuangan Indonesia, dan bergesernya aliran modal ke negara berkembang
termasuk Indonesia sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS. Aliran masuk
modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net
inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025
sebesar 1,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi
sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2
bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas
standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat sebesar 0,34%
(ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan terkini
hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap
stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Secara umum, perkembangan
Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara
berkembang mitra dagang utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang
negara maju di luar dolar AS, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor
Indonesia. Perkembangan nilai tukar ini didukung oleh konsistensi kebijakan
stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke
instrumen SBN, serta konversi valas ke Rupiah oleh eksportir pascapenerapan
penguatan kebijakan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
(DHE SDA).
Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS, dan Negara
Berkembang
Sumber: Bank Indonesia
28
Page 41
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Inflasi
Inflasi IHK Juni 2025 tercatat rendah 1,87% (yoy) ditopang inflasi inti yang menurun,
inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices (AP) yang
terkendali. Inflasi inti tercatat turun menjadi 2,37% (yoy), dipengaruhi konsistensi
suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai
dengan sasarannya serta permintaan yang lebih rendah. Inflasi kelompok VF masih
tercatat rendah 0,57% (yoy) didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan
utama dan eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi
Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan
(GNPIP). Sementara itu, inflasi kelompok AP tetap terkendali 1,34% (yoy), di tengah
kenaikan tarif air minum PAM dan cukai hasil tembakau.
Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen
Sumber: Bank Indonesia
3.2 Pangsa Pasar
Penduduk Kalimantan Timur pada tahun 2024 sebanyak 4,05 juta jiwa. Jumlah ini
merupakan yang terbesar ketiga di Pulau Kalimantan, setelah Kalimantan Barat dan
Kalimantan Selatan. Bila dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020, yang
sebanyak 3,77 juta jiwa, penduduk Kalimantan Timur bertambah sebanyak 279,82
ribu jiwa sepanjang 2020-2024. Sedangkan jumlah penduduk pada tahun 2025 di
Kalimantan Timur sebanyak 4,27 juta jiwa.
Laju Pertumbuhan penduduk per tahun pada periode 2021—2025 di Kalimantan
Timur adalah sebesar 2,93% per tahun. Adapun bila dilihat menurut wilayahnya,
Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki laju pertumbuhan penduduk tertinggi,
sebesar 23,53% per tahun. Sementara Kota Samarinda memiliki laju pertumbuhan
penduduk terendah, sebesar 0,89% per tahun.
29
Page 42
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di tahun 2025.
Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan)
Uraian 2021 2022 2023 2024 2025
Paser 278 281 284 287 290
Kutai Barat 174 175 177 179 180
Kutai Kartanegara 736 746 757 790 846
Kutai Timur 440 448 456 463 470
Berau 251 255 258 262 265
Penajam Paser Utara 181 189 198 268 400
Mahakam Ulu 33 33 34 34 35
Balikpapan 695 703 710 717 725
Samarinda 835 843 851 858 865
Bontang 181 183 186 188 191
Kalimantan Timur 3.803 3.857 3.910 4.046 4.268
Pertumbuhan 1,40% 1,37% 3,48% 5,48%
Sumber: BPS
Pertumbuhan kebutuhan rumah sangat dipengaruhi oleh laju urbanisasi,
pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 36 unit komersil dan 1.139 unit subsidi yang
telah terjual. Disisi lain, terdapat 33 unit yang sudah ready stock, dan 60 unit yang
sedang dalam proses pengajuan kepada pihak perbankan. Sedangkan jumlah kavling
rumah pada tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 217 rumah komersil
dan 1.698 rumah subsidi.
Disisi lain, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian
Rencana Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN
Nusantara memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan,
dan terbagi atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.
Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.
30
Page 43
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Sub-WP 1A KIPP diperuntukkan sebagai government core activity, sedangkan Sub-WP
1B dan 1C KIPP lahannya bersifat mixed use sehingga bukan hanya untuk
pembangunan kantor pemerintahan melainkan juga untuk bangunan-bangunan non
pemerintahan seperti mal, sekolah dan sebagainya.
Pembangunan IKN mengusung konsep forest city di mana 60—70% lahannya untuk
kawasan hijau seperti lanskap, ruang publik hijau, taman-taman dan ruang terbuka
hijau, sehingga lahan yang dipakai untuk pembangunan sekitar 30—40%.
3.3 Kesinambungan
Lapangan usaha kegiatan konstruksi meliputi kegiatan konstruksi gedung tempat
tinggal, perkantoran, bangunan pabrik, jalan, jembatan, dan termasuk pula
konstruksi jaringan pipa dan listrik, serta pembongkaran dan penyiapan lahan.
Lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha yang cukup strategis di Provinsi
Kalimantan Timur, tercermin dari posisi lapangan usaha ini yang selalu berada di
urutan kelima di dalam struktur perekonomian Provinsi Kalimantan Timur tahun
2024.
Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%)
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
-2 2020 2021 2022 2023 2024
Konstruksi Real Estate
Sumber: BPS
Pada tahun 2024, kontribusi lapangan usaha konstruksi mencapai Rp52.471,79
miliar atau sebesar 9,19% terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur.
Angka tersebut meningkat dari tahun 2020 yang mencapai Rp35.601,17 miliar atau
sebesar 7,54%. Hal ini dipengaruhi oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
Kalimantan Timur yang terus berjalan, Dengan penghitungan atas dasar harga
konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi Kalimantan
31
Page 44
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami perlambatan meskipun
pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2023 sebesar 15,82%.
Lapangan usaha Real Estat memberikan kontribusi sebesar 0,85% pada tahun 2024
dan 2023. Sementara kontribusi pada tahun 2020 mencapai 0,91%. Namun nilai
tambah lapangan usaha ini di tahun 2024 naik menjadi Rp4.860,55 miliar, lebih
tinggi dari tahun 2020 yang sebesar Rp4.321,11 miliar. Dengan penghitungan atas
dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi
Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan
dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%.
3.4 Potensi Pasar
Seiring dengan meningkatnya harga dan permintaan properti akibat pesatnya
pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi, pasar real estate di Indonesia
merupakan salah satu sektor terkuat di kawasan ini. Sektor real estate di Indonesia
adalah salah satu dari sedikit sektor yang tidak terlalu terpengaruh oleh krisis Covid-
19. Angka resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produk domestic
bruto (PDB) dari aktivitas real estate di Indonesia berjumlah Rp520,73 triliun
(US$29,85 Triliun) pada tahun 2024. PDB Indonesia yang berasal dari aktivitas real
estate meningkat secara bertahap sejak tahun 2014. Proyek perumahan terjangkau
di Indonesia yang didukung oleh pemerintah, investor asing, dan asosiasi seperti
Bank Dunia diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan pasar real estat.
Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2024 secara tahunan
menunjukkan penurunan. Pada triwulan IV 2024, penjualan properti residensial
mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09%, lebih dalam dibandingkan dengan
kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14% (yoy). Perkembangan tersebut
didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang masing-
masing tercatat kontraksi sebesar 23,70% (yoy) dan 16,61% (yoy). Sementara itu,
penjualan rumah tipe besar tumbuh 20,44% (yoy) pada triwulan IV 2014. Secara
triwulan, penjualan juga rumah juga menurun. Penjualan rumah primer pada triwulan
IV 2014 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62% (qtq), berlanjut dari
kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,62% (qtq). Kontraksi pertumbuhan
penjualan rumah pada triwulan IV 2024 terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah
masing-masing sebesar 11,94% (qtq) dan 9.13% (qtq). Sementara itu, penjualan
rumah tipe besar menunjukkan peningkatan sebesar 14,12% (qtq).
Berdasarkan hasil survei, sejumlah faktor yang menghambat pengembangan dan
penjualan properti residensial primer adalah kenaikan harga bangunan (21,40%),
masalah perizinan (15,05%), suku bunga KPR (14,31%), proporsi uang muka yang
tinggi dalam pengajuan KPR (10,59%), perpajakan (9,72%), dan lainnya (15,05%).
32
Page 45
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan positif pada sektor properti
residensial di Kota Balikpapan sepanjang triwulan I 2025. Peningkatan ini tercermin
dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang menunjukkan Indeks Harga
Properti Residensial (IHPR) tumbuh sebesar 1,31% secara tahunan (yoy), meski sedikit
melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,55%.
Deputi Direktur BI Balikpapan, mengatakan peningkatan harga didorong oleh naiknya
harga rumah tipe besar (luas bangunan di atas 70 meter persegi) yang tumbuh
sebesar 1,34% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 yang hanya sebesar
1,28%.
Sementara itu, harga rumah tipe kecil (≤36 m²) dan menengah (36—70 m²) masing-
masing tumbuh sebesar 1,59% dan 1%. Meski mengalami perlambatan dari triwulan
sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 2,01% untuk rumah kecil dan 1,35%
untuk rumah menengah, keduanya tetap berada dalam tren pertumbuhan positif.
Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program
pemerintah di sektor perumahan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas
Makroprudensial (KLM). Mulai 1 April 2025, insentif KLM akan ditingkatkan dari 4%
menjadi 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). BI juga menambah alokasi KLM khusus
sektor perumahan dari rencana semula Rp23 triliun menjadi Rp103 triliun secara
nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong penyaluran kredit oleh perbankan ke
sektor prioritas, termasuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, sebagai
bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional. Bank Indonesia berharap
peningkatan insentif dan dukungan kebijakan ini mampu memperkuat peran sektor
properti dalam perekonomian, terutama di daerah seperti Balikpapan yang terus
berkembang seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Program 3 juta rumah adalah inisiatif pemerintah untuk mengatasi backlog
perumahan dan menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
(MBR). Untuk merealisasikannya, Pemerintah menerapkan strategi utama seperti
transparansi, optimalisasi aset negara, inovasi pembiayaan, serta kebijakan
pendukung seperti pelonggaran aturan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Otoritas
Jasa Keuangan (OJK). Menteri keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati
mengungkapkan Kementerian Keuangan menyelaraskan seluruh kebijakan dan
instrumen keuangan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan
kebijakan dari Bank Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Program Juta 3 Rumah.
Menkeu mengatakan melalui Undang-Undang APBN 2025 telah memberikan
dukungan sebanyak 220 ribu rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Saat ini sudah dialokasikan Rp18 triliun dalam bentuk FLPP (Fasilitas Likuiditas
Pembiayaan Perumahan) untuk fasilitas likuiditas, yang dikombinasikan dengan PMN
(Penyertaan Modal Negara) di PT SMF (Sarana Multigriya Finansial) untuk mendukung
220 ribu MBR dengan pinjaman bunga sebesar 5% selama 20 tahun. Adapun Menkeu
33
Page 46
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
masih akan mencari berbagai instrumen untuk memenuhi target anggaran Program
3 Juta Rumah yang akan didiskusikan dengan Kementerian dan Lembaga terkait.
Menkeu optimis Pemerintah dapat meningkatkan skala program tersebut untuk
memenuhi target 3 juta rumah bagi MBR. Selain itu, Pemerintah juga memiliki
instrumen lain, seperti perbaikan rumah bagi masyarakat dan juga skema bantuan
uang muka.
Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
Kalimantan Timur. Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin
menjanjikan yang didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur
Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan
properti hunian di wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan
diyakini akan terus meningkat. Bisnis properti di kawasan ini akan semakin
menjanjikan dan itu salah satunya didorong oleh pembangunan berbagai proyek
infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini juga menjadi momentum yang baik untuk terus
memperbesar potensi bisnis properti di kawasan ini.
Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
bisnis properti. Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring
peningkatan populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial,
pendidikan, rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara. Upaya
land development tersebut dilakukan oleh Kementerian PUPR dengan membuka,
membentuk strukturnya dengan membuat jalan terlebih dahulu, kemudian
membangun kavling-kavling lalu diratakan sehingga menjadi lahan siap bangun.
Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.
34
Page 47
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
3.5 Sasaran
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota
Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
Balikpapan. Sasaran selanjutnya adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah
Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.
Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor
properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.
3.6 Potensi Nilai Pasar
Dari Penambahan Kegiatan Usaha baru ini, Perseroan diproyeksikan mencatatkan
tambahan pendapatan dari penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp6,94 miliar,
tahun tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar,
tahun 2029 sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun
2031 sebesar Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033
sebesar Rp22,77 miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92
miliar di tahun 2035.
3.7 Pesaing Usaha
Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
Perseroan adalah sebagai berikut.
Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
1. PT Varia Usaha Beton Teluk Pandan, Kec. Teluk
Pandan, Kabupaten Kutai 1.950 Rp3.600
Timur
2. PT Kutai Inti Beton Samboja 19.500 Rp3.600
3. Kampoeng FABA Kelurahan Graha Indah,
1.125
Kecamatan Balikpapan Utara
4. CV Borneo Conblock Samarinda
8.400
Mandiri
35
Page 48
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Kapasitas
No Nama Perusahaan Alamat Harga/pcs
(pcs/hari)
5. CV Kalimantan Beton Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu 34.400
Raya, Kalimantan Barat
6. Fadil Karya Balikpapan Rp3.500
7. Bintang Jaya Beton Samarinda Rp3.400 - 3.600
8. Pilar Beton Indo Samboja Rp3.550 - 3.700
9. Beton Elemen Prima Samarinda Rp3.200 - 3.400
10. Tiga Mutiara Beton Balikpapan Rp3.300 - 3.500
3.8 Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
profil usaha, maupun dokumentasi proyek, membantu meningkatkan
kepercayaan klien;
2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
berinteraksi dengan konsumen;
4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
memperluas jejaring;
6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.
Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
perusahaan;
2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.
36
Page 49
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4 KELAYAKAN TEKNIS
4.1 Kapasitas
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan mengimpor mesin
batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok. Mesin ini bernama
ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang
di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas terpasang mesin adalah sebesar
24.000 unit/hari.
Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
batako dan paving block.
Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah
Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block
Sumber: Manajemen Perseroan
37
Page 50
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Bahan Baku Mentah
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan bahan
baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan semen
dengan kebutuhan sebagai berikut.
Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku
No Material Berat Aktual (Kg)
1. Limbah Karbit 0,15
2. Pasir Kasar 1,80
3. Batu Pecah 1,05
4. Semen 0,45
Total 3,45
Sumber: Manajemen Perseroan
Pekerja
Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
kerja 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan berencana
melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.
Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja
No Tenaga Kerja Jumlah (orang)
1. Superintendent batako dan paving block 1
2. Supervisor produksi 1
3. Supervisor sales dan distribusi 1
4. Operator 4
5. Quality control 1
6. Staf sales 2
7. Driver 2
Total 12
Sumber: Manajemen Perseroan
Tenaga Ahli
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun
membutuhkan tenaga ahli khusus.
38
Page 51
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
4.3 Proses Produksi
Kegiatan treatment untuk limbah karbit sebagai bahan baku produksi batako dan
paving block sebagai berikut.
1. Mempersiapkan tangki generator
➢ Memastikan tangki generator dalam kondisi bersih dan siap digunakan; dan
➢ Menyiapkan Kalsium Karbida dalam jumlah yang telah ditentukan.
2. mencampurkan air dan kalsium karbida dalam tangki generator
➢ Memasukkan air ke dalam tangki generator sesuai dengan jumlah yang
dibutuhkan;
➢ Menambahkan Kalsium Karbida ke dalam tangki generator; dan
➢ Biarkan Kalsium Karbida bereaksi dengan air, menghasilkan gas C2H2 dan
limbah slurry.
3. Memisahkan gas C2H2 dan limbah slurry
➢ Gas C2H2 yang dihasilkan akan keluar melalui outlet gas generator untuk
dialirkan ke gas holder; dan
➢ Limbah slurry yang dihasilkan akan keluar melalui outlet slurry generator
untuk dialirkan ke bak kontrol sementara.
4. Memindahkan limbah slurry dari bak kontrol sementara ke bak kontrol utama
➢ Menggunakan pompa pemindah untuk memindahkan limbah slurry dari bak
kontrol sementara ke bak kontrol utama.
5. Penyaringan dan pemisahan limbah slurry
➢ Menggunakan mesin filter press yang dilengkapi dengan high pressure
centrifugal pump untuk menghisap limbah slurry dari bak kontrol utama; dan
➢ Limbah slurry yang terhisap akan mengalami proses filtrasi untuk
memisahkan padatan dan air bersih yang sudah difilter.
6. Pengemasan limbah slurry padatan
➢ Limbah slurry padatan yang telah dipisahkan akan dimasukkan ke dalam
karung sesuai dengan berat yang telah ditentukan.
7. Penyelesaian Proses
➢ Limbah slurry padatan yang sudah dikemas dalam karung siap untuk
dipindahkan atau dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku.
39
Page 52
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbit
Sumber: Manajemen Perseroan
Sedangkan untuk proses pembuatan batako dan paving block dimulai dengan
mencampurkan semen, pasir, batu pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya
yaitu memasukkan adukan tersebut kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan
dan kemudian baru dapat di masukkan kedalam cetakan batako dan paving block.
Proses pelepasan dari cetakan dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk
diuji.
40
Page 53
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk
5 KELAYAKAN POLA BISNIS
Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
Perseroan.
Gambar 9 Pola Bisnis
41
Page 54
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
5.1 Keunggulan Kompetitif
Berdasarkan pengalaman Perseroan sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak
lama memiliki manajemen dan sistem operasional yang kompeten untuk melakukan
ekspansi usaha. Keunggulan kompetitif Perseroan diuraikan sebagai beriku.
• Perseroan telah memiliki lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan
usaha. Sehingga tidak memerlukan biaya tambahan untuk pembelian atau
penyewaan gudang/pabrik.
• Perseroan memiliki jangkauan penjualan yang luas.
• Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang
cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas yang kecil, dan konsisten mencatatkan
laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat memungkinkan untuk membiayai
penambahan kegiatan usaha.
• Perseroan telah memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil
dari produk gas acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan.
• Produk batako telah memiliki SNI.
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk
Kemungkinan pesaing dalam bidang usaha ini cukup besar, dimana risiko adanya
produk Perseroan yang mungkin ditiru oleh perusahaan lain merupakan risiko yang
melekat pada kegiatan bisnis Perseroan. Kemampuan pesaing untuk meniru produk
memang tidak dapat dihindari, sehingga membuat kegiatan usaha dalam bidang ini
menjadi sangat kompetitif. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan
diantaranya sebagai berikut.
• Meningkatkan kualitas produk dan layanan;
• Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan intelektual;
• Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; dan
• Memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk Perseroan.
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai
Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
nilai yang diantaranya:
1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
Penggunaan limbah B3 sebagai bahan baku batako dan paving block
menciptakan nilai tambah dan citra positif sebagai Perusahaan yang menjaga
lingkungan dengan melakukan pengelolaan limbah yang efektif. Sehingga
secara tidak langsung diharapkan dapat mendukung komitmen pemerintah
untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan.
42
Page 55
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2. Menambah sumber pendapatan baru
Permintaan yang berkesinambungan dari pasar dapat dimanfaatkan oleh
Perseroan atas penambahan kegiatan usaha yang akan dijalankan dapat
menambah sumber pendapatan baru bagi Perseroan.
3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
Penjualan atas penambahan kegiatan usaha proyek ini akan menghasilkan laba
bagi Perseroan yang akan meningkatkan kinerja keuangan Perseroan.
4. Efisiensi operasional
Perseroan dapat menekan biaya pengelolaan limbah karbit yang dihasilkan atas
pengelolaan bisnis eksisting terkait produk gas acetylene. Lebih lanjut, mesin
batako dan paving block yang digunakan memiliki kecepatan produksi, kualitas
yang konsisten, dan efisiensi terhadap tenaga kerja sehingga sehingga
memungkinkan Perseroan mencapai skala ekonomi yang lebih besar dengan
memberikan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Keempat hal di atas dapat memberikan kontribusi yang positif dan nilai tambah bagi
Perseroan.
43
Page 56
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
6 KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sumber daya manusia yang berkualitas baik dan memiliki pengetahuan serta
keterampilan yang cakap merupakan modal penting bagi Perseroan. Strategi dan
tujuan jangka panjang yang akan dicapai oleh Perseroan juga bergantung kepada
kemampuan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki. Berdasarkan
informasi dari manajemen, sampai dengan tanggal 30 Juni 2025, Perseroan
memiliki 277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan melakukan
penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual
Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan belum memiliki Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan
usaha baru.
6.3 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha barunya, Perseroan mungkin menghadapi
beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja usahanya. Risiko utama yang
mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
Risiko Prakonstruksi
1. Risiko Kondisi Ekonomi
Kondisi Perekonomian Nasional serta kebijakan fiskal dan moneter yang
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional akan berpengaruh pada kinerja
kegiatan usaha perseroan. Menurunnya tingkat pertumbuhan PDB, tingginya
tingkat suku bunga, serta tingginya laju inflasi/deflasi dapat mengakibatkan
perubahan, perlambatan atau resesi kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Secara tidak langsung, kondisi perekonomian nasional yang tidak kondusif
dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja penjualan Perseroan. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah diversifikasi sumber pendapatan dari produk baru,
mengubah model bisnis jika situasi mengharuskan, dan terbuka terhadap
inovasi.
2. Risiko Perkembangan Pemukiman
Perubahan kebijakan pemerintah terkait perkembangan pemukiman serta tidak
tepatnya data ketersediaan rumah akan berdampak pada tidak akuratnya
permintaan akan kebutuhan pembangunan tempat tinggal dan kebutuhan
renovasi bangunan. Hal ini akan mempengaruhi permintaan atas produk bahan
44
Page 57
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
bangunan. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah penentuan catchment area
serta memantau kebutuhan akan hunian milik di sekitar area.
3. Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN
Pada awal tahun 2025, proyek IKN terancam terhambat, setelah anggaran
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk proyek tersebut dipangkas drastis
akibat amanat efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu sasaran
pasar Perseroan adalah rencana pembangunan Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN.
Mitigasi yang dapat dilakukan adalah memantau perkembangan perencanaan
Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN yang menunjukkan perkembangan yang positif pada
pertengahan tahun 2025. Selanjutnya Perseroan perlu berupaya untuk
mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi.
4. Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN
Pada umumnya kontraktor menggunakan sub-kontraktor untuk melakukan
pekerjaan konstruksi tertentu dan supplier yang memasok kebutuhan material
proyek. Keterlambatan pembayaran dapat menyebabkan terhentinya
pengiriman material atau komponen dari supplier, yang berujung pada
keterlambatan proyek secara keseluruhan. Dari sisi cash flow, supplier akan
mengalami kesulitan arus kas (negatif cash flow), sehingga sulit untuk
memenuhi kewajiban pembayaran mereka sendiri. Kaitannya dengan proyek
IKN, Perseroan selaku supplier yang ditunjuk oleh kontraktor perlu melakukan
mitigasi dengan membuat kontrak yang kuat yang memuat klausul-klausul
terkait hak dan kewajiban Perseroan sebagai supplier. Selanjutnya Perseroan
melakukan negosiasi agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan secara
bertahap (termin) yang terikat pada progress penyelesaian/material yang telah
terkirim. Lebih lanjut, Perseroan perlu memitigasi dengan menyiapkan dana
yang cukup besar untuk kebutuhan produksi sehingga kas Perseroan tetap
terjaga positif.
5. Risiko Penawaran dan Permintaan
Risiko ini berasal dari terbatasnya informasi produksi barang yang dihasilkan
oleh kompetitor dan konsumen yang berada di sekitar area pemasaran. Risiko
ini juga berasal dari keberlanjutan proyek IKN kedepannya yang mengakibatkan
scoop pembangunan yang tidak sesuai rencana sehingga rendahnya
permintaan. Risiko ini berdampak pada rendahnya utilisasi produksi yang
berakibat tidak efektifnya mesin utama. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
memantau perkembangan supply dan demand, serta melakukan kajian market
riset yang komprehensif secara berkala. Sedangkan mitigasi untuk proyek-
proyek IKN adalah Perseroan perlu mencari potensi pasar baru.
45
Page 58
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
6. Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3
Pelanggaran terhadap peraturan pengelolaan limbah B3 dapat mengakibatkan
sanksi administratif, denda, atau bahkan pencabutan izin operasional. Untuk
mengatasi hal ini, perusahaan perlu membentuk tim internal yang bertanggung
jawab memantau dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Selain itu,
audit reguler terhadap proses pengelolaan limbah B3 harus dilakukan untuk
memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.
7. Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan
Penolakan izin lingkungan (AMDAL atau UKL-UPL) oleh KLHK dapat
menghentikan proyek sebelum dimulai. Untuk mengurangi risiko ini,
perusahaan perlu melibatkan konsultan lingkungan berpengalaman dalam
penyusunan dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Selain itu, sosialisasi dengan
masyarakat sekitar dan pemangku kepentingan harus dilakukan untuk
mengurangi resistensi terhadap proyek.
8. Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3
Kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan, atau pemanfaatan limbah B3
dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan sanksi hukum. Strategi
mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan pelatihan rutin bagi
karyawan terkait pengelolaan limbah B3 sesuai standar, memastikan TPS
Limbah B3 dirancang dan dioperasikan sesuai standar keamanan, serta
melakukan pemantauan berkala terhadap proses pengelolaan limbah B3.
9. Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama
Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu dapat menunda pelaksanaan
proyek. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu membuat timeline yang jelas
untuk setiap tahap pengajuan izin dan memantau progresnya secara berkala.
Selain itu, menunjuk tim khusus yang bertanggung jawab untuk mengurus
perizinan dan berkoordinasi dengan instansi terkait juga dapat mempercepat
proses.
10. Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan
Proyek dapat menghadapi tuntutan hukum dari masyarakat atau LSM
lingkungan jika dianggap merugikan lingkungan atau kesehatan masyarakat.
Strategi mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan sosialisasi dan
edukasi kepada masyarakat sekitar tentang manfaat dan dampak proyek,
membentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendukung
masyarakat sekitar, serta membuka saluran komunikasi dengan masyarakat
dan LSM untuk menampung masukan dan keluhan.
46
Page 59
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
11. Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3
Pelanggaran terhadap peraturan pengangkutan limbah B3 dapat
mengakibatkan sanksi hukum atau kecelakaan yang merugikan. Untuk
mengurangi risiko ini, perusahaan perlu memastikan semua kendaraan
pengangkut memenuhi standar keamanan dan memiliki izin yang sah. Selain
itu, pelatihan rutin bagi pengemudi terkait prosedur pengangkutan limbah B3
dan pemantauan rute pengangkutan secara berkala juga perlu dilakukan.
12. Risiko Perubahan Regulasi
Perubahan regulasi di tengah proyek dapat mengakibatkan ketidaksesuaian
dengan persyaratan yang telah dipenuhi. Untuk mengantisipasi hal ini,
perusahaan perlu memantau perkembangan regulasi secara berkala melalui tim
hukum internal atau konsultan hukum. Selain itu, rencana kontingensi untuk
mengantisipasi perubahan regulasi yang signifikan juga perlu disiapkan.
13. Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan
Minimnya ketersediaan kas internal untuk penambahan kegiatan usaha akan
berpotensi proyek tidak dapat terlaksana. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
melakukan pendanaan kepada pihak perbankan.
Risiko Konstruksi
1. Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat
Lalu lalang kendaraan proyek serta kelalaian pengemudi dan pekerja proyek
akan berdampak pada gangguan arus lalu lintas dan lingkungan. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah sosialisasi pada masyarakat setempat mengenai proses
pengembangan tersebut, dan bekerjasama dengan pihak yang berwenang
mengenai adanya mobilisasi peralatan dan material.
2. Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air)
Kondisi lingkungan dapat terganggu oleh polusi suara dan udara yang
disebabkan oleh pergerakan alat berat dan mesin. Selain itu kualitas air dapat
terganggu oleh penggunaan air yang berlebihan saat konstruksi. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah mensyaratkan kontraktor untuk menggunakan terkini
yang ramah lingkungan, dan pembatas untuk area proyek untuk mencegah
masyarakat memasuki area proyek.
3. Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek
Risiko ini berasal dari kemampuan kontraktor tidak memadai, adanya
perubahan atau penambahan scope of project, pengawasan proyek yang kurang
baik, dan equipment freight & customs clearance terhambat. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah: pemilihan kontraktor yang berpengalaman dan
bereputasi baik, pemahaman dan pembuatan lingkup pekerjaan dan spesifikasi
47
Page 60
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
kontrak yang detail dan jelas, pemilihan manajemen konstruksi proyek yang
profesional dan bereputasi baik, serta memahami prosedur & membina
hubungan dengan instansi terkait.
4. Risiko Kegagalan Konstruksi
Risiko ini berasal dari pengendalian atas proyek yang lemah, on time delivery
tidak konsisten dan cenderung lemah, dan lemahnya perhitungan estimasi
waktu kemungkinan terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek yang
ditinjau dari berbagai macam kemungkinan. Mitigasi yang dapat dilakukan
adalah mengkaji kembali kesesuaian fungsi, persyaratan tata bangunan,
keselamatan, kesehatan dan kenyamanan, serta kemudahan bangunan pada
desain konstruksi, melakukan komunikasi kepada Manajemen Proyek agar
dapat memastikan pengiriman material konstruksi/mesin/alat berat yang
terjadwal, dan melakukan update progres fisik dan biaya konstruksi secara
berkala yang dilakukan Konsultan Pengawas Proyek.
5. Risiko Cost Over Run
Risiko ini berasal dari kesalahan estimasi quantity surveyor dan dalam
menentukan bill of quantity. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
komunikasi dengan estimator terkait pengurangan tingkat kompleksitas
perhitungan dengan cara mengelompokan item pekerjaan, sehingga
perhitungan akan dapat dilakukan dengan fokus, dan secara berkala melakukan
evaluasi terhadap akurasi perhitungan dengan membuat program perhitungan
yang memiliki tingkat otomatisasi yang tinggi.
6. Risiko Pengendalian SDM Proyek
Dalam menunjuk kontraktor, Perseroan tidak memiliki kontrol penuh atas SDM
yang berada di proyek. Rendahnya kompetensi SDM proyek akan berdampak
pada terhambatnya proyek. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah komunikasi
dengan kontraktor terkait perhitungan produktivitas alat dan biaya overhead,
melakukan komunikasi dengan kontraktor terkait sinkronisasi jumlah tenaga
yang digunakan dengan peralatan dan keahliannya, dan menyesuaikan kembali
analisa yang terkait dengan volume pekerjaan, tingkat kesulitan, cuaca dan
parameter non teknis lainnya.
Risiko Operasional
1. Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai
Risiko ini berasal dari kemampuan pendanaan yang kurang memadai;
kemampuan finansial atas operasional; serta persediaan tidak terpenuhi secara
wajar. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pendanaan dari pihak
perbankan.
48
Page 61
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2. Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan
Risiko ini berasal dari volume penjualan tidak sesuai target. Mitigasi yang dapat
dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk yang
dihasilkan.
3. Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten
Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya tenaga ahli yang paham
terkait produktivitas, keputusan, finansial, inovasi, dan keselamatan tenaga
kerja. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah recruitment tenaga ahli yang
didasari oleh kualifikasi yang ketat seperti pendidikan, keahlian, pengalaman,
pengelolaan SDM, jaringan, dan kemampuan komunikasi yang baik.
4. Risiko SDM
Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya penambahan SDM,
pelatihan dan penempatan posisi yang tepat. Mitigasi yang dapat dilakukan
adalah melakukan evaluasi pada kinerja SDM; modul training; serta penempatan
karyawan yang lebih akurat.
5. Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran
Risiko ini berasal dari kesalahan segmentasi dan target pasar. Mitigasi yang
dapat dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk
yang dihasilkan.
6. Risiko Mesin
Risiko ini berasal dari manual book yang sulit dipahami operator, tidak
diikutinya prosedur pengoperasian, dan pengadaan mesin yang tidak sesuai
spesifikasi. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah perlu adanya transfer
teknologi dari vendor kepada tenaga ahli/pihak yang kompeten untuk
merancang, merawat, memperbaiki dan mengoptimalkan penggunaan mesin.
7. Risiko Bahan Baku
Risiko ini berasal dari kegagalan produksi, perencanaan waktu supply bahan
baku, dan jumlah tidak sesuai. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
quality control terhadap kualitas bahan baku yang dibutuhkan.
6.4 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Perseroan telah memiliki pengalaman dan keberhasilan yang baik untuk mengelola
usaha, sehingga Perseroan juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang baik
untuk menambah portofolio produknya.
Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan
49
Page 62
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk mengelola SDM secara terstruktur
dan efektif, guna memastikan bahwa setiap karyawan dapat berkontribusi secara
optimal sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat,
Perseroan dapat terus meningkatkan produktivitas dan daya saing di industri.
Kontribusi SDM dalam keberlanjutan usaha Perseroan memiliki peran penting yang
tidak dapat terbantahkan. Untuk terus mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif,
Perseroan terus berupaya dalam membangun peningkatan pengelolaan SDM.
Perseroan meyakini bahwa hubungan yang baik dengan karyawan dapat
meningkatkan produktivitas dan efektivitas kinerja dalam mencapai target-target
usaha.
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Dalam menganalisis kesesuaian struktur organisasi dan manajemen, penting untuk
memahami bagaimana struktur organisasi yang ada mendukung pencapaian dari
Penambahan Kegiatan Usaha baru.
Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
operator produksi, quality control, sales dan driver.
Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan
Sumber: Manajemen Perseroan
50
Page 63
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7 KELAYAKAN KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian
ini menganalisis besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga
didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu proyek/rencana layak dilaksanakan
ataupun tidak.
Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji beberapa hal berikut, diantaranya
adalah kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Costs)
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex), dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000)
Keterangan Satuan Volume Harga Total
A LAHAN
1 Pengadaan Lahan 0
2 Pengerukan Area Pabrik m³ 9.800 100 1.176.000
3 Pengerukan Jalan Masuk m³ 870 100 104.400
Sub Total 1.280.400
B PRA OPERASI
1 SLO unit 1 100.000 100.000
2 PERTEK unit 1 100.000 100.000
3 UKL/UPL unit 1 300.000 300.000
4 KBLI unit 1 100.000 100.000
5 Tambah Daya Listrik lot 1 700.000 700.000
Sub Total 1.300.000
C BANGUNAN m² 1.296 2.000 2.592.000
D MESIN DAN ALAT BERAT
1 Mesin QGM ZN600VP unit 1 8.165.000 8.165.000
2 Dump Truck - Isuzu Giga unit 1 500.000 500.000
Sub Total 8.665.000
Total Investasi 13.837.400
Sumber: Proyeksi Keuangan
7.2 Modal Kerja
Asumsi modal kerja yang diperlukan adalah sebagai berikut.
51
Page 64
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Perputaran persediaan
Bahan baku : 30 hari
Barang jadi : 15 hari
Perputaran piutang usaha : 30 hari
Perputaran utang usaha : 60 hari
Proyeksi Modal Kerja tahun 2026—2035 adalah sebagai berikut.
Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 1.838.916 2.587.031 2.961.877 3.057.043 3.147.627
Hutang Lancar (1.236.543) (1.415.043) (1.580.570) (1.622.366) (1.679.148)
Modal Kerja 602.373 1.171.988 1.381.307 1.434.678 1.468.478
Perubahan Modal Kerja 602.373 569.614 209.319 53.371 33.801
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
PERHITUNGAN MODAL KERJA
Aset Lancar 3.235.518 3.326.142 3.424.927 3.526.616 3.631.301
Hutang Lancar (1.737.919) (1.798.746) (1.861.702) (1.926.861) (1.994.302)
Modal Kerja 1.497.600 1.527.397 1.563.225 1.599.755 1.636.999
Perubahan Modal Kerja 29.121 29.797 35.828 36.530 37.245
Sumber: Proyeksi Keuangan
Berdasarkan proyeksi keuangan atas adanya penambahan KBLI baru, modal kerja
yang dibutuhkan pada tahun 2026 sampai dengan tahun 2030 berturut-turut
adalah sebesar Rp602,37 juta, Rp1,17 miliar, Rp1,38 miliar, Rp1,43 miliar, Rp1,47
miliar, Rp1,50 miliar, Rp1,53 miliar, Rp1,56 miliar, Rp1,60 miliar dan Rp1,64 miliar.
7.3 Sumber Pembiayaan
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
bersumber dari kas yang tersedia dan perbankan.
Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000)
Keterangan Komposisi Nilai
SUMBER PEMBIAYAAN
a. Pinjaman Bank 65% 9.000.000
b. Modal Sendiri 35% 4.837.400
Total 100% 13.837.400
Sumber: Proyeksi Keuangan
52
Page 65
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
7.4 Biaya Operasional
Biaya operasional pada tahun 2026—2035 diproyeksikan seperti tabel dibawah ini.
Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta)
Uraian 2026 2027 2028 2029 2030
Beban Usaha 1.500.000 3.105.000 3.213.675 3.326.154 3.442.569
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035
Beban Usaha 3.563.059 3.687.766 3.816.838 3.950.427 4.088.692
Pada tahun 2026, beban operasional Perseroan diproyeksikan sebesar Rp1,50
miliar. Beban ini meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp4,09 miliar pada tahun
2035.
7.5 Biaya Bahan Baku Mentah
Biaya bahan baku mentah yang dibutuhkan dirinci sebagai berikut.
- Semen
Biaya bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
- Batu Pecah
Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
- Pasir
Biaya bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.
7.6 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan
Berikut ini merupakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.
Waktu Operasional
Periode proyeksi dimulai bulan pertengahan Juni 2026 hingga tahun 2035. Jumlah
hari operasional diasumsikan selama 150 hari di tahun 2026 dan 300 hari untuk
tahun-tahun proyeksi selanjutnya.
Struktur Pendapatan
Pendapatan untuk tahun-tahun proyeksi diasumsikan sebagai berikut:
Tabel 19 Struktur Pendapatan
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Kapasitas Terpasang / Hari 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Kapasitas Terpasang / Tahun 3.600.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000
Utilitas 75,00% 85,00% 95,00% 95,00% 95,00%
53
Page 66
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Kapasitas Tercapai 2.700.000 6.120.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000
Harga / pcs 2.800 2.870 2.942 3.015 3.091
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
Kapasitas Terpasang / Hari 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Kapasitas Terpasang / Tahun 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000
Utilitas 95,00% 95,00% 95,00% 95,00% 95,00%
Kapasitas Tercapai 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000 6.840.000
Harga / pcs 3.168 3.247 3.328 3.412 3.497
Sumber: Proyeksi Keuangan
Keterangan: Harga produk diasumsikan mengalami kenaikan sebesar 2,50% setiap tahunnya
Struktur Biaya
Harga Pokok Produksi
a. Biaya Pemakaian Bahan Baku
Pemakaian bahan baku untuk penambahan kegiatan usaha dirinci sebagai
berikut.
- Semen
Kebutuhan semen sebanyak 0,45 kg untuk setiap 1 kg produksi. Biaya
bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
- Batu Pecah
Kebutuhan batu pecah sebanyak 1,05 kg untuk setiap 1 kg produksi.
Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
- Pasir
Kebutuhan pasir sebanyak 1,80 kg untuk setiap 1 kg produksi. Biaya
bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.
Asumsi biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap
tahunnya.
b. Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 12 orang dengan rata-rata gaji
setiap bulan sebanyak Rp4.800.00/bulan. Gaji diasumsikan meningkat
sebesar 3,50% setiap tahunnya.
c. Biaya Distribusi
Biaya distribusi diasumsikan sebesar Rp11.000.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
54
Page 67
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
d. Biaya Maintenance
Biaya maintenance diasumsikan sebesar Rp43,325.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
e. Biaya Listrik
Biaya listrik diasumsikan sebesar Rp39.600.000/bulan. Biaya ini
diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
f. Beban Umum dan Administrasi
Biaya umum dan administrasi diasumsikan sebesar Rp250.000.000/bulan.
Biaya ini diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.
Beban Bunga Bank
Beban bunga bank terdiri dari hutang bank Kredit Investasi diasumsikan sebesar
8,92%.
Tarif Pajak
Pajak penghasilan badan (PPh Badan) diproyeksikan sebesar 22,00% dan
diasumsikan tetap selama masa proyeksi.
7.7 Proyeksi Posisi Keuangan
Proyeksi Posisi Keuangan Perseroan pada tahun ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar 348.759 2.286.518 3.097.155 4.890.437 6.727.394 5.536.898
Aset Tidak Lancar 6.325.900 13.171.090 12.487.807 11.737.768 10.920.973 10.037.422
TOTAL ASET 6.674.659 15.457.608 15.584.962 16.628.205 17.648.367 15.574.320
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek - 1.236.543 1.415.043 1.580.570 1.622.366 1.679.148
Liabilitas Jangka Panjang 6.825.900 14.437.400 12.637.400 10.837.400 9.037.400 4.068.700
Ekuitas (151.241) (216.335) 1.532.519 4.210.235 6.988.601 9.826.472
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 6.674.659 15.457.608 15.584.962 16.628.205 17.648.367 15.574.320
55
Page 68
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
ASET
Aset Lancar 5.313.906 9.132.687 12.944.528 16.740.029 20.513.663
Aset Tidak Lancar 9.217.116 8.460.054 7.636.236 6.745.663 5.788.333
TOTAL ASET 14.531.022 17.592.741 20.580.764 23.485.691 26.301.997
LIABILITAS & EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek 1.737.919 1.798.746 1.861.702 1.926.861 1.994.302
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Ekuitas 12.793.103 15.793.995 18.719.063 21.558.830 24.307.695
TOTAL LIABILITAS & EKUITAS 14.531.022 17.592.741 20.580.764 23.485.691 26.301.997
Sumber: Proyeksi Keuangan
Selama tahun 2025—2035, total aset diproyeksikan mengalami kenaikan. Pada
tahun 2025, total aset diproyeksikan sebesar Rp6,67 miliar hingga menjadi sebesar
Rp26,30 miliar pada tahun 2035.
Pada tahun 2025 total liabilitas Perseroan diproyeksikan sebesar Rp6,83 miliar yang
meningkat menjadi sebesar Rp15,67 miliar di tahun 2026. Pada tahun 2028-2030,
liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan dari Rp14,05 miliar menjadi Rp9,83
miliar. Penurunan yang signifikan terjadi di tahun 2031 yang diproyeksikan sebesar
Rp1,74 miliar yang kemudian terjadi peningkatan hingga mencapai sebesar Rp1,99
miliar di tahun 2035.
Total ekuitas juga diproyeksikan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun
2025, total ekuitas diproyeksikan sebesar negatif Rp151,24 juta hingga menjadi
sebesar Rp24,31 miliar pada tahun 2035.
7.8 Proyeksi Laba (Rugi)
Proyeksi Laba Rugi Perseroan ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan - 6.943.696 17.474.287 20.034.526 20.624.609 21.140.224
Beban Pokok Penjualan - (4.052.023) (10.105.740) (11.460.228) (11.902.568) (12.319.254)
Laba (Rugi) Kotor - 2.891.673 7.368.547 8.574.298 8.722.041 8.820.971
Beban Usaha - (1.500.000) (3.105.000) (3.213.675) (3.326.154) (3.442.569)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA - 1.391.673 4.263.547 5.360.623 5.395.888 5.378.402
Beban Penyusutan & Amortisasi - (666.310) (1.399.376) (1.466.131) (1.532.887) (1.599.643)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (151.241) (790.457) (622.051) (461.522) (300.993) (140.463)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak (151.241) (65.094) 2.242.120 3.432.970 3.562.008 3.638.296
Pajak Final - - (493.266) (755.253) (783.642) (800.425)
Laba (Rugi) Bersih (151.241) (65.094) 1.748.854 2.677.716 2.778.366 2.837.871
56
Page 69
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
Penjualan 21.668.730 22.210.448 22.765.710 23.334.852 23.918.224
Beban Pokok Penjualan (12.755.866) (13.202.230) (13.658.875) (14.137.032) (14.631.924)
Laba (Rugi) Kotor 8.912.864 9.008.218 9.106.835 9.197.821 9.286.300
Beban Usaha (3.563.059) (3.687.766) (3.816.838) (3.950.427) (4.088.692)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA 5.349.805 5.320.452 5.289.997 5.247.394 5.197.608
Beban Penyusutan & Amortisasi (1.536.399) (1.473.154) (1.539.910) (1.606.666) (1.673.422)
Pendapatan (Beban) Lain-lain (10.033) - - - -
Laba (Rugi) Sebelum Pajak 3.803.373 3.847.297 3.750.086 3.640.728 3.524.186
Pajak Final (836.742) (846.405) (825.019) (800.960) (775.321)
Laba (Rugi) Bersih 2.966.631 3.000.892 2.925.067 2.839.767 2.748.865
Sumber: Proyeksi Keuangan
Selama tahun 2026—2035, total penjualan diproyeksikan mengalami kenaikan.
Pada tahun 2026, total penjualan diproyeksikan sebesar Rp6,94 miliar yang
kemudian mengalami kenaikan hingga menjadi sebesar Rp23,92 miliar pada tahun
2035.
Setelah diakumulasi dengan beban pokok penjualan, beban usaha, beban lainnya,
dan pajak final, Perseroan diproyeksikan mencatatkan tambahan laba bersih dari
penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp1,75 miliar pada tahun 2027 menjadi
sebesar Rp2,75 miliar di tahun 2035.
7.9 Proyeksi Arus Kas
Proyeksi Arus Kas Perseroan tahun 2025—2035 ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000)
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha - 5.811.571 16.038.045 18.387.853 18.929.436 19.402.672
Penerimaan Piutang - - 1.132.124 1.436.243 1.646.673 1.695.173
Pembayaran Hutang Usaha - (2.555.522) (8.429.679) (9.449.606) (9.827.595) (10.158.037)
Beban Pokok Penjualan - (966.750) (1.941.557) (2.009.511) (2.079.844) (2.152.638)
Beban Usaha - (1.500.000) (3.105.000) (3.213.675) (3.326.154) (3.442.569)
Pajak Penghasilan Badan - - (493.266) (755.253) (783.642) (800.425)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS OPERASI - 789.299 3.200.667 4.396.051 4.558.875 4.544.176
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi (6.325.900) (7.511.500) - - - -
Capital Expenditures, CAPEX - - (716.092) (716.092) (716.092) (716.092)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI (6.325.900) (7.511.500) (716.092) (716.092) (716.092) (716.092)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pinjaman KI 4.110.000 4.890.000 - - - -
Pinjaman KMK - - - - - -
Modal Sendiri KI 2.215.900 2.621.500 - - - -
Modal Sendiri KMK - 1.000.000 - - - -
57
Page 70
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Hutang Pemegang Saham 500.000 - - - - -
Biaya Provisi (41.100) (48.900) - - - -
Angsuran Hutang Pokok Bank KI - (900.000) (1.800.000) (1.800.000) (1.800.000) (1.800.000)
Angsuran Hutang Pokok Bank KMK - - - - - -
Pembayaran Bunga Bank KI - Baru (110.141) (741.557) (622.051) (461.522) (300.993) (140.463)
Pembayaran Bunga Bank KMK - Baru - - - - - -
Pembayaran Hutang Pemegang Saham - - - - - (3.168.700)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
6.674.659 6.821.043 (2.422.051) (2.261.522) (2.100.993) (5.109.163)
(UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS 348.759 98.842 62.524 1.418.437 1.741.789 (1.281.079)
KAS AWAL TAHUN - 348.759 447.601 510.125 1.928.562 3.670.351
KAS AKHIR TAHUN 348.759 447.601 510.125 1.928.562 3.670.351 2.389.272
Keterangan 2031 2032 2033 2034 2035
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha 19.887.739 20.384.932 20.894.555 21.416.919 21.952.342
Penerimaan Piutang 1.737.553 1.780.992 1.825.516 1.871.154 1.917.933
Pembayaran Hutang Usaha (10.513.568) (10.881.543) (11.262.397) (11.656.581) (12.064.561)
Beban Pokok Penjualan (2.227.981) (2.305.960) (2.386.669) (2.470.202) (2.556.659)
Beban Usaha (3.563.059) (3.687.766) (3.816.838) (3.950.427) (4.088.692)
Pajak Penghasilan Badan (836.742) (846.405) (825.019) (800.960) (775.321)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
4.483.942 4.444.250 4.429.148 4.409.903 4.385.042
AKTIVITAS OPERASI
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi - - - - -
Capital Expenditures, CAPEX (716.092) (716.092) (716.092) (716.092) (716.092)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
AKTIVITAS INVESTASI (716.092) (716.092) (716.092) (716.092) (716.092)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pinjaman KI - - - - -
Pinjaman KMK - - - - -
Modal Sendiri KI - - - - -
Modal Sendiri KMK - - - - -
Hutang Pemegang Saham - - - - -
Biaya Provisi - - - - -
Angsuran Hutang Pokok Bank KI (900.000) - - - -
Angsuran Hutang Pokok Bank KMK - - - - -
Pembayaran Bunga Bank KI - Baru (10.033) - - - -
Pembayaran Bunga Bank KMK - Baru - - - - -
Pembayaran Hutang Pemegang Saham (3.168.700) - - - -
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
(4.078.733) - - - -
AKTIVITAS PENDANAAN
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS (310.883) 3.728.158 3.713.056 3.693.811 3.668.950
KAS AWAL TAHUN 2.389.272 2.078.389 5.806.547 9.519.603 13.213.414
KAS AKHIR TAHUN 2.078.389 5.806.547 9.519.603 13.213.414 16.882.364
Sumber: Proyeksi Keuangan
Arus kas atas adanya penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan terus
meningkat. Kas dan setara kas pada awal periode tahun 2025 adalah Rp348,76 juta
58
Page 71
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
yang kemudian pada akhir periode proyeksi tahun 2035 menjadi sebesar Rp16,88
miliar.
7.10 Analisis Titik Impas
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak
memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha
dikatakan impas jika jumlah pendapatan ( revenue) sama dengan jumlah biaya, atau
apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.
BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
Total Biaya Tetap
BEP =
(1- (Total Biaya Variabel))
Penjualan
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk
masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah
mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan
BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha
adalah sebagai berikut.
Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000)
Tahun Penjualan Variable Cost Fixed Cost BEP
2026 6.943.696 4.052.023 2.956.767 7.100.004
2027 17.474.287 10.105.740 5.126.427 12.157.167
2028 20.034.526 11.460.228 5.141.329 12.013.121
2029 20.624.609 11.902.568 5.160.033 12.201.693
2030 21.140.224 12.319.254 5.182.675 12.420.732
2031 21.668.730 12.755.866 5.109.491 12.422.065
2032 22.210.448 13.202.230 5.160.920 12.724.643
2033 22.765.710 13.658.875 5.356.748 13.391.060
2034 23.334.852 14.137.032 5.557.093 14.098.334
2035 23.918.224 14.631.924 5.762.114 14.841.167
BEP Rata-rata 12.336.999
BEP Rata-rata (%) 64,56%
Sumber: Proyeksi Keuangan
Dari hasil perhitungan BEP, apabila Perseroan ingin mencatatkan keuntungan, maka
Perseroan harus mencatatkan penjualan di tahun 2026 sebesar Rp6,94 miliar, tahun
tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar, tahun 2029
sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun 2031 sebesar
Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033 sebesar Rp22,77
miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92 miliar di tahun
59
Page 72
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
2035. Sehingga rata-rata BEP Perseroan atas penambahan kegiatan usaha baru
selama periode proyeksi adalah sebesar Rp12,37 miliar.
7.11 Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas
Analisis likuiditas adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan menghitung
rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancar.
Tabel 24 Analisis Likuiditas
Working Capital to
Tahun Current Ratio Quick Ratio
Total Assets Ratio
2026 184,91% 127,75% 6,79%
2027 218,87% 137,55% 10,79%
2028 309,41% 226,20% 19,91%
2029 414,67% 330,72% 28,93%
2030 329,74% 245,77% 24,77%
2031 305,76% 222,07% 24,61%
2032 507,73% 424,30% 41,69%
2033 695,31% 611,85% 53,85%
2034 868,77% 785,28% 63,07%
2035 1028,61% 945,11% 70,41%
Average 486,38% 405,66% 34,48%
Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya peningkatan dari rasio likuiditas setelah
adanya penambahan kegiatan usaha.
Analisis solvabilitas adalah rasio yang berfungsi menilai kemampuan perusahaan
dalam melunasi semua kewajibannya, baik dalam jangka pendek, maupun jangka
Panjang dengan jaminan aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan.
Tabel 25 Analisis Solvabilitas
Tahun Debt to Equity Ratio Debt to Assets Ratio
2026 152,53% 60,40%
2027 98,03% 49,50%
2028 57,65% 36,57%
2029 32,44% 24,49%
2030 19,85% 16,56%
2031 13,58% 11,96%
2032 11,39% 10,22%
2033 9,95% 9,05%
2034 8,94% 8,20%
2035 8,20% 7,58%
Average 41,26% 23,45%
60
Page 73
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya penurunan dari rasio solvabilitas, hal ini
dikarenakan adanya penyelesaian kewajiban setelah adanya penambahan kegiatan
usaha.
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan
dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa
besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai
gambaran bagaimana Perseroan mendapatkan laba atas penambahan kegiatan
usaha barunya terdapat pada tabel berikut ini.
Tabel 26 Analisis Profitabilitas
Operating Operating Profit Net Profit
Tahun
Profit Margin Margin Margin
2026 32,05% 10,45% -0,94%
2027 34,16% 16,39% 10,01%
2028 35,48% 19,44% 13,37%
2029 34,86% 18,73% 13,47%
2030 34,16% 17,87% 13,42%
2031 34,04% 17,60% 13,69%
2032 33,93% 17,32% 13,51%
2033 33,24% 16,47% 12,85%
2034 32,53% 15,60% 12,17%
2035 31,83% 14,73% 11,49%
Average 33,63% 16,46% 11,30%
Dari tabel di atas diketahui bahwa dari penambahan kegiatan usaha baru
memberikan dampak positif yang signifikan pada rasio profitabilitas, dimana
selama tahun-tahun proyeksi rata-rata gross profit margin, operating profit margin
dan net profit margin masing-masing sebesar 33,63%, 16,46%, dan 11,30%.
7.12 Tingkat Imbal Balik Investasi
Return on Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva
yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan
mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui
seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional
dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.
Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas Penambahan Kegiatan Usaha Perseroan.
61
Page 74
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 27 Return on Investment
Laba Bersih Total Investasi
Tahun ROI
(Rp.000) (Rp.000)
2025 (151.241) 6.674.659 -2,27%
2026 (65.094) 15.457.608 -0,42%
2027 1.748.854 15.584.962 11,22%
2028 2.677.716 16.628.205 16,10%
2029 2.778.366 17.648.367 15,74%
2030 2.837.871 15.574.320 18,22%
2031 2.966.631 14.531.022 20,42%
2032 3.000.892 17.592.741 17,06%
2033 2.925.067 20.580.764 14,21%
2034 2.839.767 23.485.691 12,09%
2035 2.748.865 26.301.997 10,45%
Average 12,08%
Rasio ROI Perseroan pada tahun 2025—2035 diproyeksikan akan meningkat setiap
tahunnya seiring dengan peningkatan laba bersih dan total investasi Perseroan.
Perseroan diproyeksikan mencatatkan rata-rata ROI sebesar 12,08%.
7.13 Penetapan Tingkat Diskonto
Faktor diskonto yang digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital yang
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
WACC = (Kd*(1-t)* % Debt) + (Ke* % Equity)
Keterangan:
WACC = Weighted average cost of capital (tingkat biaya tertimbang atas
modal)
Kd Cost of debt (tingkat bunga hutang perusahaan)
Ke = The required rate of return (biaya ekuitas)
T = Tax rate (tarif pajak)
% Debt = Proportion of Debt in the Capital structure (proporsi hutang dalam
struktur kapital)
% Equity = Proportion of Equity in the Capital structure (proporsi ekuitas dalam
struktur kapital)
Berikut adalah asumsi yang digunakan untuk mengestimasi tingkat diskonto yang
akan digunakan dalam Penilaian.
62
Page 75
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Cost of Debt (tingkat biaya hutang)
Tingkat biaya hutang (cost of debt) diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
• Rata-rata tertimbang tingkat suku bunga efektif atas dana pinjaman investasi
yang akan digunakan yaitu sebesar 8,92%. (merujuk pada bunga Kredit Investasi
per 30 Juni 2025 dari SEKI Bank Indonesia).
• Tingkat pajak yang digunakan adalah sebesar 22,00% berdasarkan tingkat pajak
korporasi di Indonesia (Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020 - PPh Badan).
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka tingkat biaya hutang (cost of
debt) yang diaplikasikan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x ((1-T)
Kd = 8,92% x (1-22,00%) = 6,96%
Cost of Equity (biaya modal untuk ekuitas)
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan Model CAPM
(Capital Asset Pricing Model). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah
bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari
sekuritas saham, dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + (Rm – Rf) β + Rs
Ke = Rf + (Rp x β) + Rs
Keterangan:
Rf = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
Rm = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp = market risk premium untuk pasar ekuitas secara keseluruhan
β = ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara objektif dari
responsivitas pengembalian perusahaan terhadap pergerakan
pengembalian portofolio pasar
Rs = tingkat kembalian tambahan spesifik untuk Perusahaan
Tingkat biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
faktor sebagai berikut:
Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia,
instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Surat Utang Negara
(most active government bond).
63
Page 76
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Dalam penilaian Perseroan digunakan Surat Utang Negara dengan rata-rata yield
adalah sebesar 7,06%. Angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
bebas risiko (Rf).
Tabel 28 Surat Utang Negara
Bond Maturity Yield
FR0103 15-Jul-35 7,0199%
FR0106 15-Aug-40 7,0371%
FR0107 15-Aug-45 7,0780%
FR0105 15-Jul-64 7,1089%
Rata-rata 7,0610%
Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI,
20 Maret 2025
Rp (Market Risk Premium - MRP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
risiko dengan tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas.
Premi risiko pasar (Rm-Rf) atau MRP ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi
pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang emerging.
Beta (β), adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan
dikalikan dengan market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.
Rs (Specific Company Risk Premium). Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh
Indonesia telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum
mencerminkan risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh
suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aswath Damodaran per Juli 2025, diprediksi
market risk premium adalah sebesar 7,03%.
Untuk memperoleh faktor Beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan,
kami menggunakan beta pembanding berdasarkan penelitian yang dilakukan
Aswath Damodaran dalam industri Construction Supplies per Januari 2025 yaitu
rata-rata sebesar 0,93.
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas Perseroan adalah:
Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas
Keterangan Biaya Modal untuk Ekuitas
Biaya Modal untuk Ekuitas
a. Risk Free Rate ( Rf ) 7,06%
b. Risk Premium Ekuitas ( Rm ) 7,03%
64
Page 77
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Keterangan Biaya Modal untuk Ekuitas
c. β (Beta) 0,93
c. Specific Risk 0,00%
Biaya Modal untuk Ekuitas-CAPM 13,60%
Credit Default Spread 1,87%
Biaya Modal untuk Ekuitas 11,72%
Pada formulasi di atas, yield tingkat bunga bebas risiko sebenarnya telah
memperhatikan semua risiko pasar, sehingga dalam perhitungan tingkat diskonto
yang berlaku di Indonesia, yield tersebut harus dikoreksi dengan credit default
spread sebesar 1,87%, sehingga biaya modal ekuitas yang diterapkan dalam
penilaian Perseroan menjadi 11,72%.
Berdasarkan asumsi tersebut, besarnya Weighted Average Cost of Capital (WACC)
yang kami gunakan sebagai tingkat diskonto dalam penilaian Perseroan adalah
sebesar 10,38% seperti pada tabel berikut.
Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital
Jenis Modal Biaya Modal Bobot Tertimbang
Cost of Debt ( Kd = i x (1-T)) 6,96% 28,28% 1,97%
Cost of Equity ( Ke = Rf + ( Rm-Rf ) * Beta 11,72% 71,72% 8,41%
Weighted Average Cost of Capital (WACC) 10,38%
7.14 Analisis Kelayakan Proyek
a. Net Present Value (NPV)
NPV merupakan nilai dari total investasi yang dikeluarkan pada awal periode
setelah ditambah arus kas bersih yang akan diterima oleh Perseroan setiap
tahun sampai akhir tahun periode proyek. Dengan membandingkan antara total
investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui apabila proyek tersebut
menghasilkan NPV positif maka proyek ini layak dikerjakan apabila
menghasilkan NPV negatif maka proyek ini tidak layak dikerjakan.
𝑇
𝐶𝐹𝑡
𝑁𝑃𝑉 = ∑ − 𝐶𝐹0
(1 + 𝑟)𝑡
𝑡−1
NPV : Net Present Value
CFt : arus kas pada periode t
CF0 : arus kas investasi awal pada periode 0
r : tingkat diskonto
Berikut adalah perhitungan NPV dari rencana penambahan kegiatan usaha.
65
Page 78
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000)
Keterangan FCFF Discount Factor PV FCFF
2025 (6.391.231) 0,95184 (6.083.410)
2026 (6.934.243) 0,86236 (5.979.802)
2027 2.347.723 0,78129 1.834.255
2028 3.578.423 0,70784 2.532.969
2029 3.776.564 0,64130 2.421.922
2030 3.797.182 0,58102 2.206.225
2031 3.765.642 0,52640 1.982.224
2032 3.728.157 0,47691 1.778.005
2033 3.713.057 0,43208 1.604.337
2034 3.693.811 0,39146 1.445.985
2035 9.457.283 0,35466 3.354.136
NPV 7.096.846
Keterangan: Salvage Value sebesar Rp5,79 miliar
b. Profitability Index (PI)
PI merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari
investasi yang dilakukan pada awal periode perusahaan. Nilai tambah yang
didapat dari investasi diperhitungkan dengan membagi total investasi proyek
pada awal periode dengan jumlah arus kas yang dihasilkan selama periode
berjalannya proyek. Apabila PI dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1
(satu) maka arus kas dari proyek setiap tahun tidak menghasilkan nilai tambah,
apabila PI lebih besar dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari
proyek setiap tahun menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan sedangkan PI
lebih kecil dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek setiap
tahun tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI
suatu proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1 (satu).
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹1 )
𝑃𝐼 =
∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹0 )
PI : Profitability Index
CFI : nilai kini seluruh arus kas masuk
CFo : nilai kini seluruh arus kas keluar
Berikut adalah perhitungan PI dari Rencana penambahan kegiatan usaha.
Tabel 32 Perhitungan PI
PV FCFF
Keterangan
(Rp.000)
Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
Arus kas masuk 28.500.681
Arus kas keluar (21.403.836)
PI 1,33157
66
Page 79
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
c. Payback Period (PP)
Payback Period tidak ada kriteria, hanya menunjukkan tingkat pengembalian
investasi.
Tabel 33 Perhitungan PP
NCF
No Tahun Faktor
(Rp.000)
1 (6.391.231) 2025 0,50
2 (13.325.474) 2026 1,00
3 (10.977.751) 2027 1,00
4 (7.399.328) 2028 1,00
5 (3.622.764) 2029 1,00
6 174.418 2030 0,95
Total 4,45
Payback Period 4 Tahun 5 Bulan
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap penambahan
kegiatan usaha Perseroan, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut.
Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000)
Ke te ra nga n TOTAL 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035
0,50 1,50 2,50 3,50 4,50 5,50 6,50 7,50 8,50 9,50 10,50
EBI TDA 53.983.722 0 1.391.673 4.263.547 5.360.623 5.395.888 5.378.402 5.349.805 5.320.452 5.289.997 5.247.394 10.985.941
CASH OUT FLOW
- Tax -6.917.034 0 0 -493.266 -755.253 -783.642 -800.425 -836.742 -846.405 -825.019 -800.960 -775.321
- Interest ( i x T ) 22,00% -525.087 -24.231 -163.142 -136.851 -101.535 -66.218 -30.902 -2.207 0 0 0 0
- Investment Outlays -13.927.400 -6.367.000 -7.560.400 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Investment Outlays (Eksisting) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
- Capital Expenditure, CAPEX -6.444.832 0 0 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092 -716.092
+ / - Working Capital -1.636.999 0 -602.373 -569.614 -209.319 -53.371 -33.801 -29.121 -29.797 -35.828 -36.530 -37.245
TOTAL -29.451.353 -6.391.231 -8.325.916 -1.915.825 -1.782.200 -1.619.323 -1.581.220 -1.584.163 -1.592.295 -1.576.940 -1.553.582 -1.528.658
NET CASH FLOW 24.532.369 -6.391.231 -6.934.243 2.347.723 3.578.423 3.776.564 3.797.182 3.765.642 3.728.157 3.713.057 3.693.811 9.457.283
Discount Factor 10,38% 0,95184 0,86236 0,78129 0,70784 0,64130 0,58102 0,52640 0,47691 0,43208 0,39146 0,35466
DISCOUNTED CASH FLOW 7.096.846 -6.083.410 -5.979.802 1.834.255 2.532.969 2.421.922 2.206.225 1.982.224 1.778.005 1.604.337 1.445.985 3.354.136
P ROCEED -6.391.231 -13.325.474 -10.977.751 -7.399.328 -3.622.764 174.418 3.940.060 7.668.217 11.381.274 15.075.085 24.532.369
PRESENT VALUE KAS MASUK 28.500.681 0 1.200.120 3.331.072 3.794.490 3.460.399 3.124.940 2.816.123 2.537.391 2.285.701 2.054.153 3.896.293
PRESENT VALUE KAS KELUAR -21.403.836 -6.083.410 -7.179.923 -1.496.817 -1.261.521 -1.038.477 -918.715 -833.899 -759.386 -681.364 -608.168 -542.156
INTERNAL RATE OF RETURN, IRR 20,57%
NET PRESENT VALUE, NPV 7.096.846
PROFITABILITY INDEX, PI 1,33157
PAYBACK PERIOD, PP 4 Tahun 5 Bulan ==> Sejak Operasional
BREAK EVEN POINT, BEP
BEP
BEP Rata-rata 12.336.999
BEP Rata-rata ( % ) 64,56%
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp7.096.846.000,-. Dengan demikian, hasil
NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
karena memberikan keuntungan.
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
67
Page 80
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
(cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
PI yang diperoleh adalah sebesar 1,33157. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 4 tahun 5 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 5
bulan.
7.15 Analisis Sensitivitas
Untuk menguji kepekaan usaha terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
maka berikut ini disajikan analisis sensitivitas terhadap kelayakan usaha, yaitu:
− Jumlah produksi turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%,
10,00%, 15,00%, dan 20,00%.
− Struktur biaya naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
− Harga jual turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
− Discount rate naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
15,00%, dan 20,00%.
Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
1. PRODUKSI TURUN
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 7.096.846 4.922.731 2.748.617 574.502 -1.599.612
Internal Rate of Return (IRR) 20,57% 17,56% 14,46% 11,25% 7,90%
Return On Investment (ROI) 14,22% 14,29% 14,38% 14,53% 14,80%
Profitability Index (PI) 1,33157 1,23707 1,13657 1,02948 0,91514
BEP
a. Rp.000 12.341.877 12.511.025 12.704.509 12.927.990 13.189.031
b. % terhadap pendapatan 64,58% 68,92% 73,89% 79,63% 86,34%
2. STRUKTUR BIAYA NAIK
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 7.096.846 5.038.394 2.979.942 921.490 -1.136.961
Internal Rate of Return (IRR) 20,57% 17,74% 14,82% 11,78% 8,60%
Return On Investment (ROI) 14,22% 14,00% 13,69% 13,23% 12,50%
Profitability Index (PI) 1,33157 1,24181 1,14703 1,04678 0,94057
BEP
a. Rp.000 12.341.877 13.121.389 14.006.465 15.020.222 16.193.102
b. % terhadap pendapatan 64,58% 68,62% 73,19% 78,42% 84,46%
3 HARGA JUAL TURUN
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 7.096.846 2.864.280 -1.368.287 -5.670.959 -10.682.064
Internal Rate of Return (IRR) 20,57% 14,64% 8,25% 1,06% -8,92%
68
Page 81
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
KONDISI PERUBAHAN KONDISI
Keterangan
NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
Return On Investment (ROI) 14,22% 14,02% 13,54% 11,04% 17,19%
Profitability Index (PI) 1,33157 1,14182 0,92795 0,68237 0,38700
BEP
a. Rp.000 12.341.877 13.357.857 14.703.551 16.571.043 19.338.327
b. % terhadap pendapatan 64,58% 73,54% 85,38% 101,78% 126,00%
4. INTEREST RATE
Net Present Value (NPV) -
Dalam Rp.000,- 7.096.846 6.567.720 6.060.917 5.575.368 5.110.064
Internal Rate of Return (IRR) 20,57% 20,55% 20,53% 20,52% 20,50%
Return On Investment (ROI) 14,22% 14,30% 14,37% 14,44% 14,51%
Profitability Index (PI) 1,33157 1,31077 1,29038 1,27041 1,25084
BEP
a Rp.000 12.341.877 12.369.156 12.396.435 12.423.714 12.450.993
b. % terhadap pendapatan 64,58% 64,81% 65,03% 65,26% 65,48%
Berdasarkan uji sensitivitas tersebut, kondisi parameter kelayakan usaha akan
terlihat seperti pada grafik di bawah ini.
Gambar 11 Analisis Sensitivitas
8.000.000
6.000.000
4.000.000
2.000.000
NPV (Rp000,-)
0
(2.000.000) NORMAL 5,00% 10,00% 15,00% 20,00%
(4.000.000)
(6.000.000)
(8.000.000)
(10.000.000)
(12.000.000)
Total Produksi Turun Struktur Biaya Naik Harga Jual Turun Tingkat Bunga Naik
Sumber: Proyeksi Keuangan
Berdasarkan analisis sensitivitas, pada kondisi normal NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp7,10 miliar, jika terjadi perubahan terhadap pendapatan, dimana
pendapatan turun sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
negatif Rp1,60 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap struktur biaya, dimana
struktur biaya naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
sebesar negatif Rp1,14 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap harga jual turun,
dimana harga jual turun sampai dengan 10,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
sebesar negatif Rp10,68 miliar. Sedangkan apabila terjadi perubahan terhadap
interest rate, dimana interest rate naik sampai dengan 10,00% maka NPV yang
dihasilkan adalah sebesar Rp5,11 miliar.
Dari analisis sensitivitas di atas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
sensitif terhadap kelayakan usaha.
69
Page 82
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8 KESIMPULAN
8.1 Kajian Kelayakan Pasar
Dari Kajian Kelayakan Pasar, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi
Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami
perlambatan meskipun pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun
2023 sebesar 15,82%. Sedangkan laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di
Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%
Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di 2025.
Pertumbuhan kebutuhan rumah sangat dipengaruhi oleh laju urbanisasi,
pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kavling rumah di Provinsi Kalimantan Timur
sebanyak 217 rumah komersil dan 1.698 rumah subsidi.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.
Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian Rencana
Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Nusantara
memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan, dan terbagi
atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.
70
Page 83
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.
Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
Kalimantan Timur.
Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin menjanjikan yang
didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur Eksekutif Pusat
Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan properti hunian di
wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan diyakini akan terus
meningkat.
Bisnis properti di kawasan ini akan semakin menjanjikan dan itu salah satunya
didorong oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini
juga menjadi momentum yang baik untuk terus memperbesar potensi bisnis properti
di kawasan ini.
Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
bisnis properti.
Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring peningkatan
populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial, pendidikan,
rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.
Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah yaitu: Kota
Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
Balikpapan. Sasaran selanjutnya adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah
Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.
Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor
71
Page 84
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.
Dengan analisis pasar tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.
8.2 Kajian Kelayakan Teknis
Dari Kajian Kelayakan Teknis, dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
Perseroan akan mengimpor Mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara
Tiongkok. Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving
block otomatis, yang dirancang di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas
terpasang mesin adalah sebesar 24.000 unit/hari.
Alur operasional kegiatan Perseroan terdiri dari mencampurkan semen, pasir, batu
pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan adukan tersebut
kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan dan kemudian baru dapat di
masukkan kedalam cetakan batako dan paving block. Proses pelepasan dari cetakan
dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk diuji.
Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
batako dan paving block
Dengan analisis teknis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.
8.3 Kajian Kelayakan Pola Bisnis
Dari Kajian Kelayakan Pola Bisnis, Perseroan telah berdiri sejak lama sehingga
memiliki keunggulan kompetitif di antaranya adalah 1) Perseroan telah memiliki
lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan usaha. Sehingga tidak memerlukan
biaya tambahan untuk pembelian atau penyewaan gudang/pabrik; 2) Perseroan
memiliki jangkauan penjualan yang luas; 3) Berdasarkan kinerja keuangan,
Perseroan memiliki kondisi keuangan yang cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas
yang kecil, dan konsisten mencatatkan laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat
memungkinkan untuk membiayai penambahan kegiatan usaha; 4) Perseroan telah
memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil dari produk gas
acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan. Dengan keunggulan
72
Page 85
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan nilai yaitu 1) Citra
Bisnis Ramah Lingkungan; 2) Menambah sumber pendapatan baru; 3) Meningkatkan
kinerja keuangan Perseroan; dan 4) Efisiensi operasional.
Kemampuan pesaing untuk meniru produk memang tidak dapat dihindari, sehingga
membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi sangat kompetitif. Upaya
mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya adalah 1) Meningkatkan
kualitas produk dan layanan; 2) Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan
intelektual; 3) Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; 4) Melakukan inovasi
produk secara berkelanjutan; dan 5) Memperkuat loyalitas konsumen terhadap
produk Perseroan.
Dengan analisis pola bisnis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.
8.4 Kajian Kelayakan Model Manajemen
Dari kelayakan model manajemen, Perseroan memiliki 277 orang karyawan. Dalam
rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan SDM,
sehingga akan melakukan melakukan penambahan tenaga kerja. Perseroan telah
memiliki pengalaman dan keberhasilan yang baik untuk mengelola usaha, sehingga
Perseroan juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang baik untuk menambah
portofolio produknya.
Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan
kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
operator produksi, quality control, sales dan driver.
Dengan analisis model manajemen tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.
73
Page 86
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8.5 Kajian Kelayakan Keuangan
Dari Kajian Kelayakan Keuangan, analisis kelayakan proyek menunjukkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha ini memenuhi kriteria kelayakan dengan variabel-
variabel sebagai berikut:
• Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp7.096.846.000,-. Dengan demikian, hasil
NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
karena memberikan keuntungan.
• Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
(cost of capital) yang diasumsikan.
• Profitability Index (PI) > 1 → Layak
IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
(cost of capital) yang diasumsikan.
• Payback Period (PP)
PP yang diperoleh adalah 4 tahun 5 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 5
bulan.
Kemudian, dari analisis sensitivitas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
sensitif terhadap kelayakan usaha.
Dengan analisis keuangan tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
8.6 Kesimpulan Studi Kelayakan
Dengan demikian, berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis,
Kelayakan Pola Bisnis, Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat
disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953
(Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
(Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342
(Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100
(Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) adalah layak.
74
Page 87
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
8.7 Saran
Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat kami sampaikan
bahwa kami menyarankan agar manajemen Perseroan dapat menggunakan mesin
produksi yang lebih kompetitif, memperhatikan variable-variabel yang sensitif
terhadap kelayakan usaha yaitu harga jual dan volume produksi. Selanjutnya untuk
mengantisipasi risiko tidak tercapainya demand yang berasal dari proyek IKN, maka
Perseroan perlu menjajaki potensi-potensi lain untuk menjaga keberlangsungan
usaha.
75
Names mentioned 64 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Syarif
p.3 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.3
unresolved
org
| SBMA
· Nama Perusahaan
p.3
unresolved
org
ENDANG & REKAN
p.6 ×2
unresolved
org
REKAN Endang Sunardi
p.6
unresolved
org
KJPP Syarif Rekan
p.6
unresolved
org
Endang dan Rekan
p.6 ×2
unresolved
person
Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)
p.8 ×2
unresolved
person
Meilindra Indriani
p.8
unresolved
person
Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev.
p.8 ×2
unresolved
org
Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt.
p.8
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Syarif
p.13 ×2
unresolved
person
Mohamad Rasjid Umar
· Notaris
p.13 ×5
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.13 ×3
unresolved
person
Rosida Rajaguguk Siregar
p.13 ×3
unresolved
org
Kementerian
p.13
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.14
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan
p.14 ×2
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
p.14 ×2
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
p.14 ×3
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Anwar
p.14 ×3
unresolved
person
Rahadian
p.15
unresolved
org
KJPP
p.16
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.18 ×2
unresolved
org
PT Surya Biru Titilea Investama
p.18 ×2
unresolved
person
Abdul Latief
p.19
unresolved
org
Kota Nusantara
p.30 ×7
unresolved
org
PT Varia Usaha Beton
p.31 ×2
unresolved
org
PT Kutai Inti Beton
p.31 ×2
unresolved
org
Menteri Perdagangan
p.34
unresolved
org
Menteri Perhubungan
p.34
unresolved
org
Menteri Lingkungan
p.34 ×2
unresolved
org
Kementerian Lingkungan
p.34
unresolved
org
Bank Indonesia
p.37 ×14
unresolved
org
Bank Indonesia Gambar
p.37
unresolved
org
Bank Indonesia Kondisi Ekonomi Indonesia Di
p.38
unresolved
org
Bank Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia Tabel
p.39
unresolved
org
Pusat Statistik
p.44
unresolved
person
Deputi
· Direktur
p.45
unresolved
org
Kementerian Keuangan
p.45
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
p.46 ×2
unresolved
org
Kota Negara Nusantara. Upaya
p.46
unresolved
org
Kementerian PUPR
p.46
unresolved
org
Kementerian Pekerjaan Umum
p.57
unresolved
org
Bank KI
p.70 ×4
unresolved
org
Bank KMK
p.70 ×4
unresolved
org
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
p.76
unresolved
org
Kementerian Keuangan RI
p.76
unresolved
org
Kota Negara Nusantara. Prinsip
p.82
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
21189 ms
12 Sep 2026 22:35
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL_FACT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}