Skip to content
Back to announcement

20251003_SBMA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31954069_lamp3.pdf

Asset transaction Needs review SBMA

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 87

Page 1
     LAPORAN STUDI KELAYAKAN
   PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA



PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK


No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
         Tanggal: 30 September 2025
Page 2
     LAPORAN STUDI KELAYAKAN
   PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA



PT SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK


No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025
         Tanggal: 30 September 2025
Page 3
No. 00020/2.0113-03/BS-FS/04/0340/1/IX/2025                  Bekasi, 30 September 2025
SURAT PENGANTAR
Kepada:
Direksi PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir,
Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan,
Provinsi Kalimantan Timur


Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha untuk KBLI 23953, KBLI
          46633, KBLI 38220, KBLI 23929, KBLI 2392, KBLI 49342, serta KBLI 46100


Dengan hormat,

PENDAHULUAN
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21
April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025,
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), yang
bergerak di bidang industri perdagangan ritel barang primer, telah menunjuk KJPP Syarif,
Endang, dan Rekan, sebagai Penilai Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan
Usaha untuk Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
1.   KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
2.   KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah
     Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
3.   KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
4.   KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan
     Genteng);
5.   KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
6.   KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
7.   KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


TANGGAL PENILAIAN
Tanggal Penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.


IDENTITAS PEMBERI TUGAS
Nama Perusahaan      :   SBMA
Bidang Usaha         :   Perdagangan besar bahan kimia gas
Alamat               :   Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
                         Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Telepon              :   +62 542 743555
Website              :   https://www.suryabirumurni.co.id/
Email                :   sbm@suryabiru.co.id


                                                                                         i
Page 4
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN
      Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
      Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
      Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
      Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
      Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
      Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
      Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
      46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak), sebagai syarat
      pemenuhan      atas    Peraturan      Otoritas   Jasa   Keuangan    Republik    Indonesia
      No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan Kegiatan Usaha (atau
      selanjutnya disebut “POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan ataupun
      kepentingan lainnya.

      PROSEDUR YANG DIGUNAKAN
      Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
      Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020, tentang Penilaian dan
      Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
      Nomor 17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
      Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun
      oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai
      Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait.

      INDEPENDENSI PENILAI
      Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
      tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-pihak yang terkait
      dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan
      pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak
      dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun. Imbalan
      yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan
      dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang
      tercantum pada Surat Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal
      21 April 2025 dan Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025.

      RUANG LINGKUP PENUGASAN
      Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu untuk
      melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan Kegiatan Usaha
      sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI
      46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur,
      Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI
      23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
      KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan


                                                                                              ii
Page 5
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar
      Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


      Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
      Profesional, paling sedikit meliputi:
      1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
      2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional;
           dan
      3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.

      ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
      Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
      adalah:
      a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      b. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
           studi kelayakan.
      c. Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan dan
           kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh
           dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang
           kami anggap relevan.
      d. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen dengan
           mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dan kemampuan pencapaiannya ( fiduciary
           duty).
      e. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
           keuangan yang telah disesuaikan.
      f.   Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
           rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
      g. Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
           dihasilkan.
      h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
           pemberi tugas.
      i.   Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak melakukan
           market research khusus atas adanya supplier produk paving block yang telah memiliki
           komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan perumahan di Kalimantan dan
           IKN.

      KEJADIAN SETELAH TANGGAL PENILAIAN
      Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan tanggal
      diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang terjadi selama periode
      tersebut.




                                                                                              iii
Page 6
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      KESIMPULAN
      Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
      Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat disimpulkan bahwa
      Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan
      Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan
      Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan
      Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/
      Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah
      Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
      46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) adalah layak.


      Seluruh kajian ini kami sampaikan dengan catatan semua asumsi yang diterapkan dalam
      Studi Kelayakan ini dapat dipenuhi.


      PENUTUP
      Penugasan untuk mempersiapkan Studi Kelayakan Usaha ini bukan dan tidak dapat
      dianggap dalam segala hal sebagai review atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu
      pada informasi keuangan. Penugasan kami tidak dilakukan untuk tujuan mengungkapkan
      kelemahan pengendalian internal, kesalahan dalam laporan keuangan, segala bentuk
      implikasi pajak atau pelanggaran hukum. Studi Kelayakan Usaha ini juga tidak
      dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana
      proyek atau untuk mengambil tindakan tertentu atas Rencana Kegiatan Usaha.


      Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kepercayaan yang telah diberikan kami ucapkan
      terima kasih dan kami berharap kiranya laporan ini dapat berguna bagi kemajuan usaha
      selanjutnya.


      Hormat kami,
      KJPP SYARIF, ENDANG & REKAN




      Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)            Digitally signed by Endang Sunardi
                                                           DN: cn=Endang Sunardi, c=ID, o=KJPP Syarif
      Rekan                                                Endang dan Rekan,
                                                           email=syarifendangdanrekan@gmail.com
      MAPPI                 : No. 09-S-02341
      Izin Penilai Publik   : No. B-1.12.00340
      Klasifikasi Izin      : Penilaian Bisnis
      Register              : No. RMK-2017.00303
      STTD OJK              : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
      STTD IKNB             : No. 173/NB.122/STTD-P/2019




                                                                                                        iv
Page 7
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                         PERNYATAAN PENILAI

      Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan
      di bawah ini menerangkan bahwa:
      1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
          independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, dan pihak-
          pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
          kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya,
          Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
          kerugian pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak
          dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan
          kami hanya menerima imbalan sesuai dengan yang tercantum pada Surat Perjanjian
          Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan Addendum
          No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025;
      2. Penilai bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan dalam rangka penugasan Studi
          Kelayakan, sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
      3. Analisis Kelayakan dilaksanakan per tanggal 30 Juni 2025, parameter dan data yang
          digunakan dalam analisis menggunakan data per 30 Juni 2025;
      4. Penugasan penilaian telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Penilaian
          pada Tanggal Penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan Tujuan Penilaian
          sebagaimana diungkapkan dalam Laporan ini;
      5. Laporan Studi Kelayakan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan dalam Peraturan OJK
          No. 35/POJK.04/2020, SEOJK No. 17/SEOJK.04/2020, Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
          serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang ditetapkan oleh Masyarakat
          Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
      6. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai Kesimpulan pada
          Laporan Studi Kelayakan ini;
      7. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada Ruang Lingkup dan data yang dianalisis
          serta data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Penilaian ini pada
          Sumber     Data    diperoleh      dari   berbagai   sumber    yang    diyakini   dapat
          dipertanggungjawabkan;
      8. Laporan    ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan               yang
          mempengaruhi analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan ini;
      9. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
      10. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di
          dalam Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik;
      11. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai juga tidak mempunyai
          kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Imbalan yang
          Penilai terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang tercantum
          pada Laporan Penilaian ini;
      12. Dalam melakukan penugasan ini, Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan
          profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan; dan
      13. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan
          bantuan profesional dalam menyiapkan Laporan Penilaian.

                                                                                               v
Page 8
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      KJPP Syarif, Endang & Rekan menyatakan bahwa Para Penilai yang kami libatkan dalam
      penugasan Penilaian ini adalah Penilai profesional yang kompeten dan memiliki keahlian
      penilaian yang baik.


      No.    Nama                                                    Tugas        Tanda Tangan




       1.    Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.)      Penanggung Jawab      (....................)
             MAPPI              : No. 09-S-02341
             Izin Penilai       : No. B-1.12.00340
             Klasifikasi Izin   : Penilaian Bisnis
             Register           : No. RMK-2017.00303
             STTD OJK           : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
             STTD IKNB          : No. 173/NB.122/STTD-P/2019




       2.    Meilindra Indriani, S.Si.                              Reviewer      (....................)
             MAPPI              : No. 14-T-05006
             Register           : No. RMK-2017.01002




       3.    Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev.                         Staf Penilai   (....................)
             MAPPI              : No. 09-P-02398
             Register           : No. RMK-2021.03694




       4.    Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt.                     Tenaga Inspeksi    (....................)
             MAPPI              : No. 13-A-04453




                                                                                                       vi
Page 9
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                               DAFTAR ISI

      SURAT PENGANTAR........................................................................................................... i
      PERNYATAAN PENILAI ...................................................................................................... v
      DAFTAR ISI ..................................................................................................................... vii
      DAFTAR TABEL ................................................................................................................ ix
      DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................. x
      1         PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
      1.1       Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ................................................................. 1
      1.2       Tanggal Penilaian ................................................................................................. 1
      1.3       Identitas Pemberi Tugas ....................................................................................... 1
      1.4       Latar Belakang...................................................................................................... 1
      1.5       Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .................................................................... 2
      1.6       Data dan Informasi yang Digunakan .................................................................... 2
      1.7       Prosedur yang Digunakan .................................................................................... 3
      1.8       Ruang Lingkup Penugasan ................................................................................... 3
      1.9       Asumsi dan Kondisi Pembatas .............................................................................. 4
      1.10      Kualifikasi Penilai ................................................................................................. 4
      1.11      Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan ............................................................ 5
      2         INFORMASI UMUM ................................................................................................ 6
      2.1       Profil Perseroan .................................................................................................... 6
      2.1.1     Bidang Usaha ....................................................................................................... 6
      2.1.2     Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan ......................................... 6
      2.1.3     Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ................................................................. 7
      2.1.4     Legalitas dan Izin Operasional ............................................................................. 7
      2.2       Kinerja Keuangan ................................................................................................. 7
      2.2.1     Kinerja Posisi Keuangan ....................................................................................... 8
      2.2.2     Kinerja Laba (Rugi) ............................................................................................. 11
      2.3       Produk dan Layanan Perseroan........................................................................... 17
      2.4       Teknologi yang Digunakan ................................................................................. 18
      2.5       Pasar yang Dituju ............................................................................................... 18
      2.6       Pesaing dan Persaingan ...................................................................................... 19
      2.7       Pola Bisnis .......................................................................................................... 19
      2.8       Strategi Pemasaran............................................................................................. 20
      2.9       Kebutuhan Produksi atau Operasi ...................................................................... 21
      2.10      Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia ............................................ 21
      2.11      Hak Atas Kekayaan Intelektual ........................................................................... 21
      2.12      Peraturan Perundang-undangan yang Terkait .................................................... 21
      2.13      Aspek Lingkungan ............................................................................................. 23
      2.14      Faktor Risiko Utama ........................................................................................... 23
      2.15      Persyaratan Modal dan Strategi Finansial ........................................................... 24
      3         KELAYAKAN PASAR ............................................................................................. 25
      3.1       Kondisi Pasar ..................................................................................................... 25
      3.2       Pangsa Pasar ...................................................................................................... 29

                                                                                                                                        vii
Page 10
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      3.3     Kesinambungan ................................................................................................. 31
      3.4     Potensi Pasar ...................................................................................................... 32
      3.5     Sasaran .............................................................................................................. 35
      3.6     Potensi Nilai Pasar .............................................................................................. 35
      3.7     Pesaing Usaha .................................................................................................... 35
      3.8     Strategi Pemasaran............................................................................................. 36
      4       KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................ 37
      4.1     Kapasitas ........................................................................................................... 37
      4.2     Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ............................................................. 38
      4.3     Proses Produksi .................................................................................................. 39
      5       KELAYAKAN POLA BISNIS .................................................................................... 41
      5.1     Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 42
      5.2     Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ........................................................ 42
      5.3     Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ................................................................ 42
      6       KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ....................................................................... 44
      6.1     Ketersediaan Tenaga Kerja ................................................................................. 44
      6.2     Manajemen Kekayaan Intelektual ....................................................................... 44
      6.3     Manajemen Risiko .............................................................................................. 44
      6.4     Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ............................................................. 49
      6.5     Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ................................................ 50
      7       KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 51
      7.1     Biaya Pendirian (Start Up Costs).......................................................................... 51
      7.2     Modal Kerja ........................................................................................................ 51
      7.3     Sumber Pembiayaan ........................................................................................... 52
      7.4     Biaya Operasional ............................................................................................... 53
      7.5     Biaya Bahan Baku Mentah ................................................................................... 53
      7.6     Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ................................................................... 53
      7.7     Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................... 55
      7.8     Proyeksi Laba (Rugi) ........................................................................................... 56
      7.9     Proyeksi Arus Kas ............................................................................................... 57
      7.10    Analisis Titik Impas ............................................................................................ 59
      7.11    Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas ............................................... 60
      7.12    Tingkat Imbal Balik Investasi .............................................................................. 61
      7.13    Penetapan Tingkat Diskonto .............................................................................. 62
      7.14    Analisis Kelayakan Proyek .................................................................................. 65
      7.15    Analisis Sensitivitas ............................................................................................ 68
      8       KESIMPULAN ....................................................................................................... 70
      8.1     Kajian Kelayakan Pasar ....................................................................................... 70
      8.2     Kajian Kelayakan Teknis ..................................................................................... 72
      8.3     Kajian Kelayakan Pola Bisnis ............................................................................... 72
      8.4     Kajian Kelayakan Model Manajemen ................................................................... 73
      8.5     Kajian Kelayakan Keuangan ................................................................................ 74
      8.6     Kesimpulan Studi Kelayakan ............................................................................... 74
      8.7     Saran .................................................................................................................. 75

                                                                                                                                      viii
Page 11
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                        DAFTAR TABEL

      Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan ................................................................... 6
      Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000).......................................................... 8
      Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000) ............................................................... 12
      Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan ..................................................................... 16
      Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ........................................................ 19
      Tabel 6 Progress Legalitas Usaha ..................................................................................... 22
      Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia ..................................................................................... 25
      Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ............... 26
      Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha ........ 27
      Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia ........................................................................... 27
      Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan) ..................................... 30
      Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa ...................................................... 35
      Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku ..................................................................................... 38
      Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................... 38
      Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000) ..................................................................... 51
      Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)......................................................................................... 52
      Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000) ............................................................................. 52
      Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta) ............................................................................... 53
      Tabel 19 Struktur Pendapatan.......................................................................................... 53
      Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000) .................................................................... 55
      Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000) .............................................................................. 56
      Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000) ............................................................................... 57
      Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000) ............................................................ 59
      Tabel 24 Analisis Likuiditas ............................................................................................. 60
      Tabel 25 Analisis Solvabilitas ........................................................................................... 60
      Tabel 26 Analisis Profitabilitas ......................................................................................... 61
      Tabel 27 Return on Investment ........................................................................................ 62
      Tabel 28 Surat Utang Negara ........................................................................................... 64
      Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas................................................................................. 64
      Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital ..................................................................... 65
      Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000) ................................................................................. 66
      Tabel 32 Perhitungan PI ................................................................................................... 66
      Tabel 33 Perhitungan PP .................................................................................................. 67
      Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000) ................................................................... 67
      Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas ....................................................................... 68




                                                                                                                                 ix
Page 12
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                      DAFTAR GAMBAR

      Gambar 1 PMI Global ....................................................................................................... 25
      Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang .................................................... 26
      Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS & Negara Berkembang . 28
      Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen ..................................................................... 29
      Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%) ................... 31
      Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah ............................................................................ 37
      Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block .............................................. 37
      Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbid ................................................................ 40
      Gambar 9 Pola Bisnis ....................................................................................................... 41
      Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................... 50
      Gambar 11 Analisis Sensitivitas ....................................................................................... 69




                                                                                                                                   x
Page 13
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      1     PENDAHULUAN


      1.1   Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian


            Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang, dan Rekan telah ditunjuk oleh PT Surya Biru
            Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan” atau “SBMA”), berdasarkan Surat
            Perjanjian Kerja (SPK) No. 0021/SPK/MSE-03/ES/IV/2025, tanggal 21 April 2025 dan
            Addendum No. 0038/SPK/MSE-03/ES/VII/2025, tanggal 28 Juli 2025, sebagai Penilai
            Independen untuk menyusun Laporan Studi Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan
            Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk
            Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya
            Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 ( Treatment dan Pembuangan
            Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik
            Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/
            Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus), serta KBLI
            46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


      1.2   Tanggal Penilaian


            Tanggal penilaian dalam Laporan Studi Kelayakan ini adalah per 30 Juni 2025.


      1.3   Identitas Pemberi Tugas


            Pemberi tugas dalam studi kelayakan ini adalah:


            Nama Perusahaan      :    PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk.,
            Bidang Usaha         :    Perdagangan besar bahan kimia gas
            Alamat               :    Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan
                                      Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
            Telepon              :    +62 542 743555
            Website              :    https://www.suryabirumurni.co.id/
            Email                :    sbm@suryabiru.co.id


      1.4   Latar Belakang


            Perseroan didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980,
            dibuat di hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian
            ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat
            Keputusan No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.


            Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir Akta
            Notaris No. 179, tanggal 27 Agustus 2024 dari Rosida Rajaguguk Siregar, S.H., M.Kn.,
            Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan tersebut telah
            diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum

                                                                                                 1
Page 14
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-
            0255447, tanggal 25 September 2024.


            Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
            Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
            Timur.


      1.5   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan


            Studi Kelayakan ini dibuat untuk mengetahui kelayakan usaha sehubungan dengan
            Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen
            dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata,
            Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca), KBLI 38220 (Treatment
            dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari
            Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng), KBLI 2392 (Industri Bahan
            Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk
            Barang Khusus), serta KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau
            Kontrak) sebagai syarat pemenuhan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
            Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
            Kegiatan Usaha (“POJK No.17/2020”), dan bukan untuk kepentingan perbankan
            ataupun kepentingan lainnya.


      1.6   Data dan Informasi yang Digunakan


            Dalam rangka melakukan Studi Kelayakan ini, kami telah mempelajari, menganalisis
            dan mempertimbangkan informasi sebagai berikut:
             1. Laporan Keuangan Perseroan per 31 Desember 2021, No. 00028/2.1104/AU.1/
                04/1292-1/1/III/2022, tanggal 23 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Ahalik
                dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan dengan opini
                wajar dalam semua hal yang material;
             2. Laporan       Keuangan      Perseroan      per      31        Desember    2022,
                No. 00023/2.1104/AU.1/04/1292-2/1/III/2023, tanggal 29 Maret 2023 yang
                telah diaudit oleh Ahalik dari Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan
                dan Rekan dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
             3. Laporan       Keuangan      Perseroan      per      31        Desember    2023,
                No. 00136/2.1035/AU.1/04/1164-1/1/III/2024, tanggal 27 Maret 2024 yang
                telah diaudit oleh Christiadi Tjahnadi dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan
                dengan opini wajar dalam semua hal yang material;
             4. Laporan       Keuangan      Perseroan      per      31        Desember    2024,
                No. 00179/2.1035/AU.1/04/1674-1/1/III/2025, tanggal 28 Maret 2025 yang
                telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan opini
                wajar dalam semua hal yang material;
             5. Laporan        Keuangan       Perseroan       per        30       Juni    2025,
                No. 00607/2.1035/AU.1/04/1674-2/1/IX/2025, tanggal 29 September 2025

                                                                                              2
Page 15
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                yang telah diaudit oleh Andri dari Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan dengan
                opini wajar dalam semua hal yang material;
             6. Proyeksi Keuangan selama 10 tahun;
             7. Legalitas Perseroan;
             8. Wawancara dan diskusi dengan manajemen Perseroan sehubungan dengan
                penugasan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha, yakni dengan Ibu
                Rini Dwiyanti sebagai Direktur Utama dan Bapak Rahadian sebagai Supervisor
                Pengembangan Bisnis;
             9. Representation Letter No. 102/DIR-SBMA/SK/IX/2025, tanggal 29 September
                2025,    sehubungan      dengan     Penugasan   Penilaian   Studi   Kelayakan   atas
                Penambahan Kegiatan Usaha.


      1.7   Prosedur yang Digunakan


            Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan
            Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
            dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa
            Keuangan No. 17 /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
            Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018
            yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode
            Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup:
            1. Kajian Kelayakan Pasar;
            2. Kajian Kelayakan Teknis;
            3. Kajian Kelayakan Pola Bisnis;
            4. Kajian Kelayakan Model Manajemen; dan
            5. Kajian Kelayakan Keuangan.


      1.8   Ruang Lingkup Penugasan


            Ruang Lingkup penugasan adalah sesuai dengan tujuan dari Studi Kelayakan ini, yaitu
            untuk melakukan kajian atau analisis kelayakan sehubungan dengan Penambahan
            Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI sebagai berikut:
            1. KBLI 23953 (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi);
            2. KBLI 46633 (Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari
               Tanah Liat, Kapur, Semen Atau Kaca);
            3. KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya);
            4. KBLI 23929 (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata
               dan Genteng);
            5. KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik);
            6. KBLI 49342 (Kegiatan Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus); dan
            7. KBLI 46100 (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak).


            Berdasarkan POJK No. 35/POJK.04/2020, ruang lingkup dari Penugasan Penilaian
            Profesional, paling sedikit meliputi:

                                                                                                  3
Page 16
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            1. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional;
            2. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian
                Profesional; dan
            3. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.


      1.9   Asumsi dan Kondisi Pembatas


            Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini
            adalah:
            •   Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
            •   Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
                dalam studi kelayakan.
            •   Dalam menyusun laporan studi kelayakan ini, penilai mengandalkan keakuratan
                dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
                diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta
                penelitian yang kami anggap relevan.
            •   Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh manajemen
                dengan    mencerminkan       kewajaran   proyeksi    keuangan   dan   kemampuan
                pencapaiannya (fiduciary duty).
            •   Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran
                proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
            •   Laporan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
                bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
            •   Penilai bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
                dihasilkan.
            •   Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
                pemberi tugas.
            •   Lebih lanjut, Penilai menjelaskan bahwa pada aspek pemasaran, Penilai tidak
                melakukan market research khusus atas adanya supplier produk paving block
                yang telah memiliki komitmen dalam pembangunan proyek pembangunan
                perumahan di Kalimantan dan IKN.


      1.10 Kualifikasi Penilai

            Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan
            berdasarkan       Keputusan     Menteri   Keuangan      No. 1498/KM.1/2012,   tanggal
            28 Desember 2012, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Syarif, Endang dan Rekan
            dengan Izin KJPP No. 2.12.0113.


            Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai
            Usaha bersertifikat MAPPI dengan perizinan sebagai berikut:


            MAPPI                             : No. 09-S-02341
            Izin Penilai Publik               : No. B-1.12.00340

                                                                                               4
Page 17
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




            Klasifikasi izin                : Penilaian Bisnis
            Register                        : No. RMK-2017.00303
            STTD OJK                        : No. STTD.PB-08/PJ-1/PM.02/2023
            STTD IKNB                       : No. 173/NB.122/STTD-P/2019

      1.11 Kejadian Setelah Tanggal Studi Kelayakan

            Dari tanggal Penilaian Studi Kelayakan, yaitu tanggal 30 Juni 2025, sampai dengan
            tanggal diterbitkannya laporan ini, tidak terdapat kejadian penting yang terjadi
            selama periode tersebut.




                                                                                           5
Page 18
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2       INFORMASI UMUM


      2.1     Profil Perseroan


              PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan" atau “SBMA”)
              didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
              hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., Notaris di Balikpapan. Akta pendirian ini telah
              disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan
              No. C2-3061HT.01.01.TH 1982, tanggal 15 Desember 1982.


              Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir
              Akta Notaris No. 179, tanggal 27 Agustus 2024, dari Rosida Rajaguguk-Siregar,
              S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan Direksi. Perubahan
              tersebut telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum
              Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat
              No. AHU-AH.01.09-0255447, tanggal 25 September 2024.


              Kantor Perusahaan berlokasi di Kota Balikpapan, Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kelurahan
              Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan
              Timur.


      2.1.1   Bidang Usaha


              Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan
              adalah berusaha di bidang industri kimia anorganik gas. Pada saat ini, Perusahaan
              bergerak dalam bidang perdagangan besar bahan kimia gas.

      2.1.2   Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Perseroan


              Rincian pemegang saham Perseroan dan persentase kepemilikannya pada tanggal
              30 Juni 2025 adalah sebagai berikut.


                                   Tabel 1 Susunan Pemegang Saham Perseroan
                                                           Jumlah       Persentase      Jumlah
                             Pemegang Saham
                                                           Saham       Kepemilikan      (Rp.000)
               PT Surya Biru Titilea Investama          585.000.000         62,91%     58.500.000
               Tiffany Wei                               65.000.000           6,99%     6.500.000
               Masyarakat (masing-masing di bawah 5%)   279.926.282         30,10%     27.992.628
                                 Jumlah                 929.926.282        100,00%     92.992.628
              Sumber: Manajemen Perseroan




                                                                                                   6
Page 19
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2.1.3   Susunan Dewan Komisaris dan Direksi


              Susunan pengurus Perseroan per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:


              Dewan Komisaris
              Komisaris Utama                       : Effendi
              Komisaris Independen                  : M. Slamet Brotosiswoyo
              Komisaris                             : Dinawati


              Direksi
              Direktur Utama                        : Rini Dwiyanti
              Wakil Direktur                        : Welly Sumanteri
              Direktur                              : Julianto Setyoadji
              Direktur                              : Carsen Finrely


              Komite Audit
              Ketua                                 : M.Slamet BrotosiswoyoIwanho
              Anggota                               : Dwi Irma Anjalita M Noor
              Anggota                               : Maurice Ganda Nainggolan


      2.1.4   Legalitas dan Izin Operasional


              Dalam menjalankan kegiatan operasional Perseroan memiliki dokumen perizinan
              usaha dan legalitas lainnya yang dikeluarkan oleh instansi terkait antara lain:


              •   Akta Pendirian Perseroan Terbatas No. 57, tanggal 25 Oktober 1980, dibuat di
                  hadapan Mohamad Rasjid Umar, S.H., oleh Notaris Abdul Latief, S.H., dan
                  disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
                  berdasarkan    Surat      Keputusan   No. C2-3061HT.01.01.TH 1982,       tanggal
                  15 Desember 1982;
              •   Akta No. 179, tanggal 27 Agustus 2024 dari Rosida Rajaguguk-Siregar, S.H.,
                  M.Kn., dan disahkan melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak
                  Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat No. AHU-AH.01.09-0255447,
                  tanggal 25 September 2024;
              •   Nomor Induk Berusaha (NIB): No. 120007440825; dan
              •   Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 01.150.545.0-725.000


      2.2     Kinerja Keuangan


              Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan kinerja Perseroan berdasarkan
              data Laporan Keuangan audited per 31 Desember 2021, 2022, 2023, 2024 dan 30
              Juni 2025 serta Laporan Keuangan unaudited per 31 Desember 2020.




                                                                                                7
Page 20
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2.2.1     Kinerja Posisi Keuangan


                Kinerja Posisi Keuangan Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
                adalah sebagai berikut.


                                   Tabel 2 Kinerja Posisi Keuangan Perseroan (Rp.000)

                        Uraian                2025             2024           2023           2022           2021           2020
                                              30 Juni
         ASET
         Aset Lancar
         Kas dan bank                       12.868.014       10.422.997      4.752.401      8.303.761     23.098.928      1.779.321
         Piutang usaha
         > Pihak ketiga                     19.294.928       21.822.757     21.723.493     22.953.314     23.651.765     17.926.430
         > Pihak berelasi                       41.641           27.889        147.639        478.047              -              -
         Piutang lain-lain                     160.068          156.653        293.822        343.658        485.515        705.519
         Persediaan
         > Bahan baku                        1.527.759        1.610.179      1.653.473      1.814.715        645.576        803.548
         > Bahan jadi                        1.109.725        2.196.279      1.158.541      3.399.807      3.217.791      3.045.822
         > Barang pembantu                   3.899.269        1.143.378        778.384        811.030        782.060        379.277
         Uang muka dan biaya di muka         2.249.650        1.821.420      1.177.298      1.595.287      3.706.315      6.517.658
         Pajak dibayar di muka                          -             -              -      1.473.024              -              -
         Total Aset Lancar                  41.151.054       39.201.552     31.685.052     41.172.643     55.587.950     31.157.575


         Aset Tidak Lancar
         Uang muka pembelian aset tetap        483.210          925.405      7.682.053              -              -              -
         Aset tetap
         Biaya perolehan
         Kepemilikan langsung
         > Tanah                           171.842.000      171.842.000    171.842.000    171.052.294    169.613.630    143.535.210
         > Bangunan                         11.630.981       11.630.981     11.320.651     11.190.899     11.190.899     11.190.899
         > Tabung                           36.059.289       33.080.709     30.133.025     29.225.576     30.334.780     28.737.638
         > Mesin dan instalasi              60.729.185       60.305.495     59.134.311     16.475.739     16.599.352     16.407.866
         > Storage tank                     13.850.693       13.850.693     11.335.334     11.335.334     10.562.986     10.562.986
         > Kendaraan                        24.439.217       24.439.217     12.472.024     11.510.038     11.556.046     10.231.306
         Aset Hak Guna
         > Tanah                               617.761          567.376        435.051              -              -              -
         Aset Dalam Penyelesaian
         > Mesin                               147.431                -         66.000     33.447.210      3.814.217              -
         Jumlah nilai perolehan            319.316.557      315.716.470    296.738.397    284.237.091    253.671.910    220.665.906
         Akumulasi penyusutan
         Kepemilikan langsung
         > Bangunan                         (7.363.273)      (7.148.405)    (6.727.721)    (6.318.908)    (5.911.177)    (5.373.394)
         > Tabung                          (24.431.243)     (23.326.866)   (22.662.038)   (21.906.173)   (24.644.779)   (24.035.084)
         > Mesin dan instalasi             (18.539.390)     (16.558.983)   (12.686.020)   (10.611.350)   (10.942.248)   (10.143.463)
         > Storage tank                    (11.133.932)     (10.928.451)   (10.731.937)   (10.635.185)   (10.558.455)   (10.500.321)
         > Kendaraan                       (10.721.108)      (9.550.834)    (7.788.539)    (7.228.408)    (8.182.735)    (7.688.926)
         Kepemilikan langsung
         > Tanah                               (93.479)         (64.404)       (30.684)             -              -              -
         Jumlah akumulasi penyusutan       (72.282.425)     (67.577.944)   (60.626.939)   (56.700.024)   (60.239.393)   (57.741.189)
           Nilai Buku                      247.034.133      248.138.527    236.111.458    227.537.067    193.432.517    162.924.717
         Beban ditangguhkan                                                                         -              -
         Aset pajak tangguhan                1.573.941        1.556.242        701.351        896.341      1.598.288      1.171.328
         Setoran jaminan                       154.331          154.331              -              -              -
         Total Aset Tidak Lancar           249.245.615      250.774.505    244.494.862    228.433.407    195.030.805    164.096.045




                                                                                                                              8
Page 21
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                         Uraian                 2025            2024          2023          2022          2021          2020
                                               30 Juni
         TOTAL ASET                          290.396.669     289.976.057   276.179.915   269.606.050   250.618.756   195.253.620


         LIABILITAS DAN EKUITAS
         LIABILITAS LANCAR
         Utang bank jangka pendek              7.678.182       8.289.775    17.441.571    22.090.304    25.200.000    29.043.208
         Utang usaha
         > Pihak ketiga                        3.012.851       2.418.380     2.606.814     5.113.965     3.904.713     2.613.031
         > Pihak berelasi                       100.728         225.711              -             -             -             -
         Beban akrual                          7.051.429       7.999.097     2.522.030     1.118.714      985.412      1.098.125
         Utang pajak                           1.356.864       2.512.109     1.109.235      507.341      1.806.761     1.255.009
         Liabilitas jk panjang yang jatuh
         tempo dalam waktu satu tahun
         > Utang bank                          4.328.970       4.328.970     4.294.395     2.153.735             -             -
         > Utang pembiayaan konsumen           2.439.092       3.337.919      785.939      1.823.096      756.606       564.728
         > Liabilitas sewa                               -             -             -             -             -             -
         Total Liabilitas Lancar              25.968.117      29.111.961    28.759.984    32.807.155    32.653.492    34.574.101


         LIABILITAS TIDAK LANCAR
         Liabilitas jk pnjg - setelah
         dikurangi bagian yang jatuh
         tempo dalam satu
         tahun
         > Utang bank                         13.069.339      15.350.779    17.550.668    13.497.326             -             -
         > Utang pembiayaan konsumen            512.436        1.208.786      363.058              -       79.614              -
         Liabilitas sewa                        392.051         376.261       223.816              -             -
         Uang jaminan pelanggan               11.855.787      12.125.218    10.530.496     8.556.674     7.396.052     5.333.692
         Pendapatan diterima di muka             50.717          69.442        60.167          3.167       22.167        41.167
         Liabilitas imbalan pascakerja         4.101.825       3.835.526     3.242.700     3.669.215     5.174.671     5.324.216
         Total Liabilitas Tidak Lancar        29.982.155      32.966.012    31.970.905    25.726.381    12.672.504    10.699.075


         TOTAL LIABILITAS                     55.950.272      62.077.972    60.730.889    58.533.536    45.325.996    45.273.176


         EKUITAS
         Modal saham                          92.992.628      92.992.628    92.992.628    92.992.628    92.840.000    65.000.000
         > PT Surya Biru Titilea Investama    58.500.000      58.500.000    58.500.000    58.500.000    58.500.000    58.500.000
         > Tiffany Wei                         6.500.000       6.500.000     6.500.000     6.500.000     6.500.000     6.500.000
         > Masyarakat (masing-masing          27.992.628      27.992.628    27.992.628    27.992.628    27.840.000             -
         dibawah 5%)
         Tambahan modal disetor               29.394.526      29.394.526    29.394.526    29.394.526    29.196.109    11.294.492
         Penghasilan komprehensif lain        72.167.029      72.163.341    72.049.137    71.010.351    70.066.085    67.909.251
         Saldo laba
         > Telah ditentukan                    2.500.000       2.500.000     1.500.000     1.500.000      928.400       650.000
         penggunaannya
         > Belum ditentukan                   37.392.214      30.847.589    19.512.735    16.175.009    12.262.166     5.126.700
         penggunaannya


         TOTAL EKUITAS                       234.446.397     227.898.084   215.449.026   211.072.514   205.292.760   149.980.443


         Kepentingan nonpengendali                       -             -             -             -             -             -


         TOTAL EKUITAS                       234.446.397     227.898.084   215.449.026   211.072.514   205.292.760   149.980.443


         TOTAL LIABILITAS & EKUITAS          290.396.669     289.976.057   276.179.915   269.606.050   250.618.756   195.253.620

       Sumber: Laporan Keuangan Perseroan


                                                                                                                          9
Page 22
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Aset
             •    Pada tahun 2021, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp250,62 miliar,
                  naik sebesar 28,36% dari total aset yang dicatat tahun 2020 yang sebesar
                  Rp195,25 miliar. Total aset ini terdiri atas aset lancar sebesar Rp55,59 miliar
                  dan aset tidak lancar sebesar Rp193,43 miliar. Kenaikan aset terutama
                  disebabkan karena naiknya aset tanah pada aset tidak lancar lainnya
                  dibandingkan di tahun sebelumnya.
             •    Pada tahun 2022, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp269,61 miliar,
                  naik sebesar 7,58% dari total aset yang dicatat tahun 2021. Total aset ini terdiri
                  atas aset lancar sebesar Rp41,17 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp228,43
                  miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya aset dalam
                  penyelesaian mesin pada aset tidak lancar dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Pada tahun 2023, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp276,18 miliar,
                  naik sebesar 2,44% dari total aset yang dicatat tahun 2022. Total aset ini terdiri
                  atas aset lancar sebesar Rp31,69 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp244,49
                  miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya mesin dan instalasi
                  pada aset tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Pada tahun 2024, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp289,98 miliar,
                  naik sebesar 5,00% dari total aset yang dicatat tahun 2023. Total aset ini terdiri
                  atas aset lancar sebesar Rp39,20 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp250,77
                  miliar. Kenaikan aset terutama disebabkan karena naiknya kendaraan pada aset
                  tetap dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total aset sebesar Rp290,40 miliar
                  atau sebesar 100,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset ini terdiri
                  atas aset lancar sebesar Rp41,15 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp249,25
                  miliar.


              Liabilitas
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2021 adalah sebesar Rp45,33 miliar, naik 0,12%
                  dari akhir tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp45,27 miliar. Liabilitas ini terdiri
                  atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp32,65 miliar dan liabilitas jangka
                  panjang sebesar Rp12,67 miliar. Kenaikan liabilitas terutama disebabkan utang
                  bank jangka pendek yang lebih tinggi pada liabilitas jangka pendek
                  dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2022 adalah sebesar Rp58,53 miliar, naik
                  29,14% dari akhir tahun 2021. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek
                  sebesar Rp32,81 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp25,73 miliar.
                  Penurunan liabilitas disebabkan terutama peningkatan dari akun utang bank
                  setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas
                  jangka panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
             •    Total liabilitas Perseroan tahun 2023 adalah sebesar Rp60,73 miliar, naik 3,75%
                  dari akhir tahun 2022. Liabilitas ini terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar
                  Rp28,76 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp31,97 miliar. Kenaikan



                                                                                                  10
Page 23
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun utang bank setelah dikurangi
                  bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun pada liabilitas jangka panjang
                  dibandingkan tahun sebelumnya.
              •   Total liabilitas Perseroan tahun 2024 tercatat sebesar Rp62,08 miliar,
                  meningkat sebesar 2,22% dari akhir tahun 2023. Liabilitas ini terdiri atas
                  liabilitas jangka pendek sebesar Rp29,11 miliar dan liabilitas jangka panjang
                  sebesar Rp32,97 miliar. Kenaikan liabilitas disebabkan terutama kenaikan akun
                  beban akrual pada liabilitas jangka pendek dibanding dibandingkan tahun
                  sebelumnya.
              •   Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total liabilitas sebesar Rp55,95
                  miliar atau sebesar 90,13% dibandingkan tahun sebelumnya. Total liabilitas ini
                  terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp25,97 miliar dan liabilitas jangka
                  panjang sebesar Rp29,98 miliar.


              Ekuitas
              •   Pada tahun 2021, total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 36,88% menjadi
                  sebesar Rp205,29 miliar, dari yang semula tercatat Rp149,98 miliar di tahun
                  2020. Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari tercatatnya penyertaan saham
                  masyarakat sebesar Rp27,84 miliar di tahun 2021.
              •   Pada   tahun      2022,   total   ekuitas   mengalami   kenaikan   sebesar   2,82%
                  dibandingkan total ekuitas pada tahun 2021, menjadi sebesar Rp211,07 miliar.
                  Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2022.
              •   Pada   tahun      2023,   total   ekuitas   mengalami   kenaikan   sebesar   2,07%
                  dibandingkan total ekuitas pada tahun 2022, menjadi sebesar Rp215,45 miliar.
                  Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2023.
              •   Pada   tahun      2024,   total   ekuitas   mengalami   kenaikan   sebesar   5,76%
                  dibandingkan total ekuitas pada tahun 2023, menjadi sebesar Rp227,90 miliar.
                  Kenaikan ekuitas ini dikontribusi dari naiknya saldo laba di tahun 2024.
              •   Pada 30 Juni 2025, Perseroan membukukan total ekuitas sebesar Rp234,45
                  miliar atau sebesar 102,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Total ekuitas ini
                  didominasi oleh modal saham sebesar 39,66%, tambahan modal disetor sebesar
                  12,54%, penghasilan komprehensif lain sebesar 30,78% dan saldo laba sebesar
                  17,02% dari ekuitas.


      2.2.2   Kinerja Laba (Rugi)


              Kinerja Laba (Rugi) Perseroan selama tahun 2020 sampai dengan 30 Juni 2025
              adalah sebagai berikut.




                                                                                                 11
Page 24
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                         Tabel 3 Kinerja Laba (Rugi) Perseroan (Rp.000)

                        Uraian               2025            2024           2023           2022           2021           2020
                                            30 Juni
         PENDAPATAN                        67.173.896     131.677.483    113.369.718    103.643.140     88.261.235     74.268.102
         Jasa                               1.777.448       4.710.140      4.206.033      4.022.080      3.563.605      3.634.117
         Produk
         Ocygen                            18.559.710      33.048.435     22.627.067     20.461.596      7.898.242      3.050.362
                Acetylene                  15.914.084      36.494.449     33.665.752     29.286.298     21.446.520     18.679.090
                Argon                       9.367.998      16.377.253     22.593.000     20.877.491     21.534.712     10.985.023
                Nitrogen                    8.768.276      16.303.992      6.361.733      5.071.477     17.463.078     13.512.067
                Karbondioksida              3.760.629       7.026.114      7.796.853      4.895.185      3.425.367      2.712.652
                Gas campuran                9.025.752      17.717.101     16.119.281              -              -              -
                Lain-lain                             -             -              -     23.051.093     12.929.712     21.694.791


         BEBAN POKOK PENDAPATAN           (32.613.555)    (62.159.988)   (59.725.790)   (51.476.913)   (42.237.404)   (36.511.873)
         Pembelian bahan baku             (15.977.399)    (45.292.707)   (38.823.977)   (38.350.829)   (30.389.410)   (23.403.695)
         Persediaan bahan baku awal        (1.610.179)     (1.653.473)    (1.814.715)     (645.576)      (803.548)     (1.151.010)
         Ongkos angkut pembelian           (1.788.282)     (3.851.808)    (4.052.782)    (3.944.372)    (2.423.311)    (1.532.896)
         Persediaan bahan baku akhir        1.527.759       1.610.179      1.653.473      1.814.715        645.576        803.548
         Sub total                        (17.848.100)    (49.187.809)   (43.038.001)   (41.126.062)   (32.970.693)   (25.284.053)
         Beban listri dan air              (9.981.944)     (2.098.804)    (6.365.475)    (3.814.892)    (3.571.136)    (5.419.786)
         Penyusutan                        (4.370.376)     (7.847.449)    (4.354.391)    (2.665.853)    (2.359.323)    (3.153.827)
         Perbaikan dan pemeliharaan         (362.072)      (2.878.298)    (1.790.115)    (1.643.784)     (452.848)      (628.147)
         Beban asuransi dan pengiriman      (434.320)       (729.244)      (843.705)      (343.454)      (594.127)      (353.898)
         Sewa isotank                       (156.533)       (287.488)      (843.150)      (246.325)              -              -
         Gaji dan tunjangan                   (82.525)      (153.575)      (145.054)     (1.783.433)    (2.343.025)    (2.113.510)
         Sparepart mesin dan instalasi     (1.080.674)        (15.060)     (104.633)        (35.127)     (118.222)        (48.626)
         Pembelian Kran dan Cat Untuk                 -             -              -              -              -      (402.762)
           Tabung
         Beban air                                    -             -              -              -              -        (66.565)
         Sub total                        (16.468.444)    (14.009.917)   (14.446.523)   (10.532.867)    (9.438.681)   (12.187.120)


         Persediaan jadi awal              (2.196.279)     (1.158.541)    (3.399.807)    (3.217.791)    (3.045.822)    (2.086.521)
         Persediaan jadi akhir              3.899.269       2.196.279      1.158.541      3.399.807      3.217.791      3.045.822


         Total                            (32.613.555)    (62.159.988)   (59.725.790)   (51.476.913)   (42.237.404)   (36.511.873)


         LABA (RUGI) BRUTO                 34.560.342      69.517.495     53.643.928     52.166.228     46.023.831     37.756.229


         BEBAN USAHA                      (26.008.806)    (53.238.113)   (46.030.906)   (44.282.527)   (36.378.840)   (30.009.027)


         Beban Umum dan Administrasi      (24.847.662)    (50.332.695)   (39.585.647)   (41.712.386)   (33.336.731)   (25.280.152)
         Gaji dan tunjangan               (13.191.970)    (24.598.047)   (20.138.724)   (19.333.022)   (17.097.154)   (10.510.560)
         Pemasaran dan penjualan           (5.521.405)    (10.983.594)    (9.074.909)    (8.411.239)    (6.221.710)    (7.084.897)
         Beban pengolahan limbah                      -    (3.570.490)             -     (3.570.490)             -              -
         Perbaikan dan pemeliharaan        (1.690.238)     (2.643.737)    (3.046.152)    (2.698.461)    (2.438.179)    (2.167.485)
         Jamsostek                          (831.361)      (1.412.660)    (1.282.621)    (1.162.942)    (1.091.447)    (1.030.589)
         Jasa profesional                   (549.631)      (1.067.351)    (1.184.427)    (1.519.710)    (1.719.359)     (259.887)
         Perlengkapan kantor                (549.640)       (555.873)      (535.124)      (733.138)      (502.772)      (427.030)
         Pajak dan retribusi                (359.933)      (1.413.188)     (370.863)      (473.054)      (564.477)      (677.335)
         Imbalan kerja                      (502.858)      (1.003.760)     (926.751)      (930.208)      (687.952)      (637.316)
         Penyusutan                         (334.105)       (636.189)      (587.673)      (704.958)      (629.639)      (545.562)
         Perjalanan dinas                   (573.590)       (750.064)      (622.448)      (417.591)      (223.796)      (105.068)
         Listrik, air dan telepon           (172.381)       (365.493)      (380.517)      (240.389)      (552.138)      (508.838)




                                                                                                                        12
Page 25
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                       Uraian               2025           2024          2023          2022          2021          2020
                                           30 Juni
         Asuransi                          (158.019)      (285.538)     (157.462)     (105.717)     (342.196)       (11.192)
         Transportasi                                -            -             -             -     (217.928)     (184.437)
         Sumbangan dan iuran rutin                   -    (193.016)     (140.622)       (33.275)      (39.630)      (33.250)
         Konsumsi                                    -      (83.431)    (104.251)     (113.480)     (107.093)       (72.728)
         Sewa                                        -            -             -       (90.226)    (178.150)       (36.900)
         Hiburan, rekreasi dan olahraga              -    (121.249)             -     (121.249)       (71.952)      (41.024)
         Pengobatan karyawan                         -            -     (120.872)     (156.038)     (162.614)     (101.614)
         Tes kesehatan                               -            -             -             -     (176.335)       (65.097)
         Materai                                     -            -             -             -       (65.618)      (43.511)
         Air                                         -            -             -             -             -       (36.826)
         Jamuan                                      -            -             -             -       (17.669)      (25.465)
         Lain-lain                         (412.533)      (649.015)     (912.232)     (897.198)     (228.924)     (673.542)


         Beban Bunga dan Keuangan         (1.036.510)    (3.046.658)   (3.620.031)   (3.451.113)   (2.767.418)   (3.439.392)
         Beban bunga pinjaman bank         (997.383)     (2.876.707)   (3.456.219)   (3.114.640)   (2.630.365)   (3.260.801)
         Beban bunga liabilitas sewa         (17.904)       (29.698)      (36.918)            -             -     (178.592)
         Administrasi dan provisi            (21.222)     (140.253)     (126.894)     (336.473)     (137.053)


         Pendapatan (Beban) Lain-lain      (124.634)        141.239    (2.825.228)      880.972     (274.691)    (1.289.483)
         Keuntungan penjualan aset                   -      484.528             -       374.487       490.757       332.137
           tetap
         Pendapatan jasa giro                 51.517         74.845        79.610       182.138       183.518          8.719
         Laba (rugi) selisih kurs                    -            -             -       122.825             -          6.098
         Pendapatan lain-lain                        -            -             -             -       680.232        18.020
         Penyisihan penurunan nilai                  -    (473.660)    (1.576.065)      (73.887)    (451.898)     (380.253)
           piutang
         Beban kerugian pelepasan                    -            -             -       (21.875)            -             -
           nilai aset tetap
         Beban pajak                       (200.680)      (136.014)    (1.654.840)      (83.636)    (151.094)     (355.408)
         Beban denda perkara                         -            -             -             -    (1.000.000)            -
         Lain-lain                            24.529        191.541       326.067       380.920       (26.207)    (918.796)


         LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK         8.551.535     16.279.382     7.613.022     7.883.701     9.644.991     7.747.202
           PENGHASILAN


         BEBAN PAJAK PENGHASILAN          (2.006.910)    (3.879.598)   (2.880.407)   (3.399.257)   (2.231.125)   (2.442.565)


         LABA TAHUN BERJALAN               6.544.625     12.399.784     4.732.615     4.484.443     7.413.866     5.304.637




         PENGHASILAN (RUGI)                    3.688        114.204     1.038.787       944.266     2.156.834    67.912.127
           KOMPREHENSIF LAIN
         Surplus revaluasi aset tetap                -            -       789.706     1.438.664     1.931.420    68.355.746
         Pengukuran kembali program            4.728        146.415       542.072     (228.067)       288.992     (404.015)
           imbalan pasti
         Pajak penghasilan terkait            (1.040)       (32.211)    (292.991)     (266.331)       (63.578)      (39.603)


         LABA (RUGI) KOMPREHENSIF          6.548.312     12.513.988     5.771.402     5.428.709     9.570.699    73.216.765
           TAHUN BERJALAN


         LABA (RUGI) PER SAHAM                  2,13          14,37          5,09          4,83         10,65          17,14

       Sumber: Laporan Keuangan Perseroan




                                                                                                                  13
Page 26
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Pendapatan
             •    Pada tahun 2021, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp88,62
                  miliar, naik 18,84% dari Rp74,27 miliar pada tahun 2020. Kenaikan pendapatan
                  dikontribusi oleh peningkatan produk argon sebesar 96,04% dibandingkan
                  tahun sebelumnya.
             •    Pada tahun 2022, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp103,64
                  miliar, naik 17,43% dari Rp88,62 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan
                  dikontribusi oleh peningkatan produk ocygen sebesar 159,07% dibandingkan
                  tahun sebelumnya.
             •    Pada tahun 2023, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp113,37
                  miliar, naik 9,38% dari Rp103,64 miliar pada tahun 2022. Kenaikan pendapatan
                  dikontribusi oleh tercatatnya produk gas campuran sebesar Rp16,12 miliar.
             •    Pada tahun 2024, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp131,68
                  miliar, naik 16,15% dari Rp113,37 miliar pada tahun 2023. Kenaikan
                  pendapatan dikontribusi oleh tercatatnya produk oxygen sebesar Rp46,06
                  miliar.
             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp67,13
                  miliar atau sebesar 51,01% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


              Beban Pokok Pendapatan dan Laba kotor
             •    Pada tahun 2021, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                  sebesar 15,68% dari tahun 2020 sebesar Rp36,51 miliar menjadi Rp42,24
                  miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                  bahan baku di tahun 2021 sebesar 29,85%. Sementara, laba kotor Perseroan
                  mengalami kenaikan sebesar 21,90% menjadi Rp46,02 miliar dari Rp37,76
                  miliar di tahun 2020.
             •    Pada tahun 2022, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                  sebesar 21,88% dari tahun 2021 sebesar Rp42,24 miliar menjadi Rp51,48
                  miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                  bahan baku di tahun 2022 sebesar 26,20%. Sementara, laba kotor Perseroan
                  mengalami kenaikan sebesar 13,35% menjadi Rp52,17 miliar dari Rp46,02
                  miliar di tahun 2021.
             •    Pada tahun 2023, beban pokok pendapatan Perseroan mengalami kenaikan
                  sebesar 16,02% dari tahun 2022 sebesar Rp51,48 miliar menjadi Rp59,73
                  miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari pembelian
                  beban listrik dan air di tahun 2022 sebesar 66,86%. Sementara, laba kotor
                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 2,83% menjadi Rp59,73 miliar dari
                  Rp51,48 miliar di tahun 2022.
             •    Pada tahun 2024, beban pokok pendapatan Perseroan meningkat sebesar
                  4,08% dari tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp52,73 miliar menjadi sebesar
                  Rp62,16 miliar. Peningkatan beban pokok pendapatan dikontribusi dari
                  pembelian bahan baku di tahun 2023 sebesar 16,66%. Sementara, laba kotor




                                                                                              14
Page 27
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 29,59% menjadi Rp69,52 miliar dari
                  Rp53,64 miliar di tahun 2023.
             •    Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan beban pokok pendapatan
                  sebesar Rp32,61 miliar atau setara 52,47% jika dibandingkan dengan tahun
                  sebelumnya. Sehingga laba kotor yang tercatat pada 30 Juni 2025 adalah
                  sebesar Rp34,56 miliar sebesar 49,72% jika dibandingkan dengan tahun
                  sebelumnya.


              Laba (Rugi) Sebelum Pajak
             •    Pada tahun 2021, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp33,34
                  miliar (31,87%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
                  menjadi sebesar Rp2,77 miliar (19,54%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  beban lain-lain sebesar Rp274,69 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami kenaikan sebesar 24,50% menjadi Rp9,64 miliar dari
                  Rp7,75 miliar di tahun 2020.
             •    Pada tahun 2022, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp41,71
                  miliar (25,12%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
                  menjadi sebesar Rp3,45 miliar (24,71%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  pendapatan lain-lain sebesar Rp880,97 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami penurunan sebesar 18,26% menjadi Rp7,88 miliar dari
                  Rp9,64 miliar di tahun 2021.
             •    Pada tahun 2023, beban umum dan administrasi turun menjadi sebesar
                  Rp39,59 miliar (5,10%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan naik
                  menjadi sebesar Rp3,62 miliar (4,29%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  beban lain-lain sebesar Rp2,83 miliar. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami penurunan sebesar 3,43% menjadi Rp7,61 miliar dari
                  Rp7,88 miliar di tahun 2022.
             •    Pada tahun 2024, beban umum dan administrasi naik menjadi sebesar Rp50,33
                  miliar (27,15%) dari tahun sebelumnya, beban bunga dan keuangan turun
                  menjadi sebesar Rp3,05 miliar (15,84%) dari tahun sebelumnya, dan tercatat
                  pendapatan lain-lain sebesar Rp141,24 juta. Sementara, laba sebelum pajak
                  Perseroan mengalami penurunan sebesar 113,84% menjadi Rp16,28 miliar dari
                  Rp7,61 miliar di tahun 2023.
             •    Pada 30 Juni 2025, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp24,85
                  miliar, beban bunga dan keuangan sebesar Rp1,04 miliar dan pendapatan lain-
                  lain sebesar Rp124,63 juta. Sementara, laba sebelum pajak Perseroan pada 30
                  Juni 2025 tercatat sebesar Rp8,55 miliar.


              Laba (Rugi) Tahun Berjalan
             •    Pada tahun 2021, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                  39,76% menjadi Rp7,41 miliar dari Rp5,30 miliar di tahun 2020.
             •    Pada tahun 2022, laba tahun berjalan Perseroan mengalami penurunan sebesar
                  39,51% menjadi Rp4,48 miliar dari Rp7,41 miliar di tahun 2021.



                                                                                          15
Page 28
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                 •       Pada tahun 2023, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                         5,53% menjadi Rp4,73 miliar dari Rp4,84 miliar di tahun 2022.
                 •       Pada tahun 2024, laba tahun berjalan Perseroan mengalami kenaikan sebesar
                         162,01% menjadi Rp12,40 miliar dari Rp4,73 miliar di tahun 2023.
                 •       Pada 30 Juni 2025, Perseroan telah membukukan laba tahun berjalan sebesar
                         Rp6,54          miliar     atau    sebesar    52,78%     jika   dibandingkan        dengan     tahun
                         sebelumnya.


                                                  Tabel 4 Analisis Rasio Keuangan Perseroan
                                                           30 Juni
                                Uraian                                2024     2023      2022      2021       2020      Average
                                                           2025
            A.       LIQUIDITY (%)
                     Current Ratio                         158,47%   134,66%   110,17%   125,50%   170,24%     90,12%   131,52%
                     Quick Ratio                           124,02%   110,86%    92,57%    96,73%   143,17%     57,00%   104,06%
                     Working Capital To Total Assets         5,23%     3,48%     1,06%     3,10%     9,15%     -1,75%     3,38%
            B.       ACTIVITY
                     Total Assets Turnover (X)                0,46      0,45      0,41      0,38      0,35       0,38      0,41
                     Inventory Turnover (X)                   9,98     12,56     16,63      8,54      9,09       8,63     10,91
                     Account Receivable Turnover (X)            37       29        22        43        40         42      35,45
                     Average Collection Period (Day)          6,95      6,03      5,18      4,42      3,73       4,14      5,08
                     Working Capital Turnover (X)               53       61        70        83        98         88      75,32


            C.       SOLVABILITY (%)
                     Total Debt to Equity Ratio             23,86%    27,24%    28,19%    27,73%    22,08%     30,19%    26,55%
                     Total Debt to Asset Ratio              19,27%    21,41%    21,99%    21,71%    18,09%     23,19%    20,94%
                     Long Term Debt To Equity Ratio         12,79%    14,47%    14,84%    12,19%     6,17%      7,13%    11,26%
            D. RENTABILITY (%)
                     Gross Profit Margin                    51,45%    52,79%    47,32%    50,33%    52,15%     50,84%    50,81%
                     Operating Profit Margin                12,73%    12,36%     6,72%     7,61%    10,93%     10,43%    10,13%
                     Net Profit Margin                       9,74%     9,42%     4,17%     4,33%     8,40%      7,14%     7,20%
                     Rate of Return on Investment            4,51%     4,28%     1,71%     1,66%     2,96%      2,72%     2,97%
                     Rate of Return on Equity                5,58%     5,44%     2,20%     2,12%     3,61%      3,54%     3,75%

          Sumber: Laporan Keuangan Perseroan


                 Rasio Likuiditas
                 Selama periode 2020—30 Juni 2025, rasio likuiditas menunjukkan rata-rata current
                 ratio dan quick ratio adalah sebesar 131,52% dan 104,06%. Sementara itu untuk
                 working capital to total assets ratio memiliki rata-rata sebesar 3,38%. Hal ini
                 menunjukkan bahwa Perseroan memiliki aset lancar yang bersifat cukup likuid
                 untuk membayar seluruh utang jangka pendeknya.


                 Rasio Aktivitas
                 Rasio aktivitas menggambarkan kemampuan Perseroan dalam memanfaatkan aset-
                 aset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Rata-rata
                 perputaran aset adalah sebanyak 0,41 kali, yang menunjukkan bahwa kemampuan
                 Perseroan untuk menghasilkan penjualan dari total aset yang dimiliki masih cukup
                 rendah, karena total aset yang dimiliki tidak menghasilkan penjualan yang lebih
                 besar dari jumlah aset. Rasio ini mengindikasikan bahwa efektivitas penggunaan




                                                                                                                           16
Page 29
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             aset oleh Perseroan masih perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan pendapatan
             yang lebih optimal.


             Rasio Solvabilitas
             Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan
             pinjaman yang diberikan oleh kreditor baik dalam bentuk jangka pendek maupun
             jangka panjang. Salah satu rasio solvabilitas adalah debt to equity ratio (DER)
             menunjukkan      besarnya      porsi   utang   terhadap   ekuitas   dalam   pembiayaan
             perusahaan, sedangkan debt to asset ratio (DAR) menunjukkan posisi liabilitas
             terhadap aset dalam pembiayaan perusahaan. Rasio solvabilitas menunjukkan rata-
             rata DER sebesar 26,55%, yang berarti bahwa Perseroan memiliki ketergantungan
             terhadap utang yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya untuk
             membiayai operasionalnya. Sementara itu, rata-rata DAR adalah sebesar 20,94%,
             yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keuangan di tingkat
             menengah karena masih memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan aset
             melalui utang.


             Rasio Rentabilitas
             Rasio Rentabilitas menggambarkan kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk
             menghasilkan sebuah laba. Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata gross
             profit margin sebesar 50,81%. Gross profit margin merupakan perbandingan laba
             kotor dengan besarnya tingkat pendapatan. Sementara itu rata-rata net profit
             margin sebesar 7,20%. Net profit margin merupakan rasio yang membandingkan
             antara laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari pendapatan bersih.


              Selama periode 2020—30 Juni 2025, rata-rata tingkat balikan terhadap total
              investasi (ROI) adalah sebesar 2,97%, menunjukkan bahwa Perseroan mengalami
              keuntungan dan dapat menghasilkan laba bersih dari total investasi yang dilakukan.
              Selain itu, rata-rata tingkat balikan terhadap ekuitas (ROE) tercatat sebesar 3,75%,
              yang juga menunjukkan bahwa Perseroan mampu menghasilkan laba bersih dari
              jumlah ekuitas yang diinvestasikan.


      2.3     Produk dan Layanan Perseroan


             Produk dan jasa yang telah dihasilkan oleh Perseroan hingga saat ini adalah sebagai
             berikut.

             Perdagangan

             • Gas Industri seperti Oxygen, Acetylene, Nitrogen, Argon, Karbondioksida,
                Helium, Hidrogen.
             • Gas campuran yang terdiri dari 2 atau lebih gas seperti campuran Argon dan
                karbondioksida, campuran untuk gas pemadam, dan sebagainya.




                                                                                                17
Page 30
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             • Gas Spesial yang komponennya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
                Umumnya digunakan untuk pengujian di Laboratorium • Selain dalam bentuk
                Gas, Oxygen, Nitrogen dan Argon dapat dijual dalam bentuk Liquid atau Bulk.

             Perawatan Tabung

             • Uji hidrostatis untuk mengecek ketahanan tabung.
             • Sertifikasi tabung yang telah lolos uji hidrostatis dan layak untuk digunakan.
             • Pembersihan Tabung.
             • Pengecatan kembali tabung.

             Jasa

             • Reparasi Tangki kriogenik.
             • Uji kebocoran tangki.
             • Aksesoris tabung dan tangki.


             Selanjutnya, Perseroan berencana untuk menambah bisnis baru yaitu pabrik batako
             dan paving block yang berasal dari limbah karbit yang merupakan produk
             sampingan dari pembuatan gas asetilena melalui reaksi kimia antara air dan Kalsium
             Karbida.


      2.4     Teknologi yang Digunakan


              Mesin yang akan digunakan pada penambahan kegiatan usaha ini adalah ZN600VP,
              yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang di Jerman
              dan dibuat di Tiongkok. Terdapat motor getaran frekuensi motor getaran 2x12.1KW
              (getaran servo), untuk mencapai gaya getaran 100KN. Sistem kontrol PLC SIEMENS,
              layar sentuh, kontaktor, sistem hidrolik Italia, sistem penjepit cetakan otomatis,
              menjadi mesin yang paling efisien & stabil di Tiongkok.


              Mesin tersebut juga dilengkapi dengan sistem servo vibrasi yang baru, yang dapat
              memastikan motor getar berada dalam kondisi tersinkronisasi, yang dapat
              menjamin keluaran vertikal gaya pemadatan. Selain itu, dapat menghindari juga
              kerusakan tegangan geser akibat gaya pemadatan horizontal pada mesin dan
              perpanjang masa pakai mesin. Sehingga, Perseroan dapat mencapai efisiensi
              kinerja, penghematan energi, dan perlindungan lingkungan dalam pembuatan
              batako dan paving block.


      2.5     Pasar yang Dituju


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
             pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
             Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
             penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota




                                                                                                18
Page 31
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
             Balikpapan.


             Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material bangunan,
             termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor properti
             yang sedang berkembang pesat di Indonesia.


      2.6     Pesaing dan Persaingan


             Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
             dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
             proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
             Perseroan adalah sebagai berikut.


                                  Tabel 5 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
                                                                          Kapasitas
              No     Nama Perusahaan                     Alamat                           Harga/pcs
                                                                          (pcs/hari)
               1.   PT Varia Usaha Beton    Teluk Pandan, Kec. Teluk
                                            Pandan, Kabupaten Kutai           1.950    Rp3.600
                                            Timur
               2.   PT Kutai Inti Beton     Samboja                          19.500    Rp3.600
               3.   Kampoeng FABA           Kelurahan Graha Indah,
                                                                              1.125
                                            Kecamatan Balikpapan Utara
               4.   CV Borneo Conblock      Samarinda
                                                                              8.400
                    Mandiri
               5.   CV Kalimantan Beton     Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
                                            Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu      34.400
                                            Raya, Kalimantan Barat
               6.   Fadil Karya             Balikpapan                                 Rp3.500
               7.   Bintang Jaya Beton      Samarinda                                  Rp3.400 - 3.600
               8.   Pilar Beton Indo        Samboja                                    Rp3.550 - 3.700
               9.   Beton Elemen Prima      Samarinda                                  Rp3.200 - 3.400
              10. Tiga Mutiara Beton        Balikpapan                                 Rp3.300 - 3.500


      2.7     Pola Bisnis


             Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
             distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
             perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
             stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
             ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
             berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
             yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
             bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
             diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama


                                                                                                      19
Page 32
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
             dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
             QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
             berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
             produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
             produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
             tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
             Perseroan.


      2.8     Strategi Pemasaran

             Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
             terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
             dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
              1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
                  profil   usaha,   maupun   dokumentasi     proyek,   membantu       meningkatkan
                  kepercayaan klien;
              2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
                  seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
              3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
                  berinteraksi dengan konsumen;
              4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
                  dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
              5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
                  kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
                  memperluas jejaring;
              6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
                  memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
              7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
                  meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.


             Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
             1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
                kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
                perusahaan;
             2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
             3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
                persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.




                                                                                              20
Page 33
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2.9     Kebutuhan Produksi atau Operasi


             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan melakukan
             pengadaan mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok.
             Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block
             otomatis. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan
             bahan baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan
             semen. Selain itu, Perseroan juga berencana akan melakukan penambahan tenaga
             kerja sebanyak 12 orang.


      2.10    Kebutuhan Manajemen dan Sumber Daya Manusia


             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan
             manajemen dan sumber daya manusia, sehingga akan mengadakan rekrutmen
             sebanyak 12 orang.


      2.11    Hak Atas Kekayaan Intelektual


             Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki Hak Atas Kekayaan
             Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan usaha
             baru.


      2.12    Peraturan Perundang-undangan yang Terkait


              Beberapa peraturan perundangan-undangan yang terkait dengan penambahan
              kegiatan usaha Perseroan, antara lain adalah:
             1.   Peraturan perundang-undangan terkait penilaian adalah Undang-undang
                  Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
             2.   POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Penambahan
                  Kegiatan Usaha.
             3.   POJK No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
                  Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
             4.   Peraturan BPS Nomor 2 Tahun 2020 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
                  Indonesia.
             5.   Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
                  Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
             6.   Legalitas Usaha
                  Terkait legalitas usaha yang diperlukan terkait penambahan kegiatan usaha ini
                  dirinci sebagai berikut:




                                                                                            21
Page 34
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                           Tabel 6 Progress Legalitas Usaha
        No.     Jenis Perizinan                      Referensi                Status    Durasi       Keterangan

         1    NIB (Nomor Induk          ➢ Undang-Undang          No.    11    belum    3 bulan    Harus melalui
              Berusaha)                  Tahun 2020 tentang Cipta             punya               RUPS.
                                         Kerja.
                                        ➢ Peraturan Pemerintah No. 24
                                         Tahun         2018        tentang
                                         Pelayanan Perizinan Berusaha
                                         Terintegrasi               Secara
                                         Elektronik.
         2    Surat Layak Operasi       Peraturan Pemerintah No. 22           belum    1 tahun    Harus memiliki
              (SLO)            untuk    Tahun         2021         tentang    punya               PERTEK dan
              Pengelolaan               Penyelenggaraan Perlindungan                              PERLING.
              Limbah B3                 dan   Pengelolaan       Lingkungan
                                        Hidup.


         3    Izin Fasilitas Impor      Peraturan Menteri Perdagangan         belum    1 bulan    Saat Pembelian
              Mesin Produksi            No. 45 Tahun 2019 tentang             punya               Mesin.
                                        Ketentuan Impor Mesin dan
                                        Peralatan.
         4    Analisis     Dampak       Peraturan Menteri Perhubungan         belum    6 bulan    Site Plan Batako
              Lalu             Lintas   No. 96 Tahun 2019 tentang             punya               dan Paving Block
              (Andalalin) Baru          Pedoman        Teknis      Analisis                       harus ditetapkan
                                        Dampak Lalu Lintas.                                       terlebih dahulu.
         5    Izin    Transportasi      Peraturan Menteri Lingkungan          belum    1 tahun    Harus
              Limbah B3                 Hidup dan Kehutanan No. 6             punya               menentukan
                                        Tahun         2021         tentang                        kendaraan yang
                                        Pengangkutan Limbah B3.                                   akan digunakan.
         6    Persetujuan               Peraturan Pemerintah No. 22           belum    6 bulan    Menunggu
              Lingkungan        Baru    Tahun         2021         tentang    punya               Pabrik Batako
              untuk Proses Bisnis       Penyelenggaraan Perlindungan                              dan Paving Block
              Baru                      dan   Pengelolaan       Lingkungan                        berdiri.
                                        Hidup.
         7    Rincian Teknis TPS        Peraturan Menteri Lingkungan          belum      on       Tinggal
              Limbah B3                 Hidup dan Kehutanan No. 6             punya    progress   menunggu rilis.
                                        Tahun         2021         tentang
                                        Pengelolaan Limbah B3.
         8    Persetujuan               Peraturan Pemerintah No. 16           belum    6 bulan    Gambar
              Bangunan Gedung           Tahun 2021 tentang Peraturan          punya               Bangunan dan
              (PBG)      dan   Surat    Pelaksanaan     Undang-Undang                             Lokasi Bangunan
              Layak Fungsi (SLF)        No. 28 Tahun 2002 tentang                                 belum
                                        Bangunan Gedung.                                          ditetapkan.
         9    PERTEK                    Kementerian Lingkungan                belum      on       Menunggu
                                                                              punya    progress   respon dari
                                                                                                  KLHK pasca
                                                                                                  revisi.




                                                                                                                22
Page 35
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      2.13    Aspek Lingkungan


              Tanggung jawab Perseroan di bidang lingkungan hidup tercermin dari komitmen
              untuk mencegah segala bentuk pencemaran lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan
              pengelolaan limbah karbit untuk produksi batako dan paving block. Limbah karbit
              yang tidak dikelola dengan baik dapat melepaskan gas asetilena yang berbahaya ke
              udara. Dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku batako dan paving block,
              risiko pelepasan gas beracun tersebut dapat diminimalkan. Selain itu, pemanfaatan
              limbah karbit juga mengurangi tumpukan limbah di lingkungan, sehingga kualitas
              lingkungan sekitar, terutama di daerah dekat industri atau tempat pembuangan
              limbah, menjadi lebih baik. Penggunaan limbah karbit dalam pembuatan batako dan
              paving block juga membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke
              lingkungan, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran
              tanah dan air.


      2.14    Faktor Risiko Utama


              Dalam menjalankan usahanya, Perseroan berpotensi menghadapi beberapa risiko
              yang dapat memengaruhi kinerja Perseroan. Beberapa risiko utama yang dihadapi
              Perseroan antara lain:


              Risiko Prakonstruksi
              1)   Risiko Kondisi Ekonomi;
              2)   Risiko Perkembangan Pemukiman;
              3)   Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN;
              4)   Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN;
              5)   Risiko Penawaran dan Permintaan;
              6)   Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3;
              7)   Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan;
              8)   Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3;
              9)   Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama;
              10) Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan;
              11) Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3;
              12) Risiko Perubahan Regulasi; dan
              13) Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan.


              Risiko Konstruksi
              1)   Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat;
              2)   Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air);
              3)   Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek;
              4)   Risiko Kegagalan Konstruksi;
              5)   Risiko Cost Over Run; dan
              6)   Risiko Pengendalian SDM Proyek.



                                                                                            23
Page 36
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Risiko Operasional
              1) Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai;
              2) Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan;
              3) Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten;
              4) Risiko SDM;
              5) Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran;
              6) Risiko Mesin; dan
              7) Risiko Bahan Baku.


              Upaya Perseroan dalam mencegah dan meminimalisir dampak maupun kerugian
              akibat potensi risiko utama adalah dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang
              efektif dengan identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang sesuai.


      2.15    Persyaratan Modal dan Strategi Finansial


              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya pendirian maupun biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan
              melakukan pendanaan yang bersumber dari kas yang tersedia dan pihak perbankan.




                                                                                             24
Page 37
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      3       KELAYAKAN PASAR

      3.1    Kondisi Pasar

             Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat pascapengumuman kenaikan
             tarif efektif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke beberapa negara maju dan
             berkembang. Pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun
             di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan
             moneter di negara tersebut. Kinerja ekonomi Tiongkok juga diprakirakan belum
             kuat, di tengah berbagai strategi diversifikasi ekspor. Sementara itu, kinerja
             perekonomian India diprakirakan tetap baik didukung permintaan domestik. Bank
             Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 masih belum kuat
             sekitar 3,0%.


                                       Tabel 7 Pertumbuhan PDB Dunia




             Sumber: Bank Indonesia


                                            Gambar 1 PMI Global




               Sumber: Bank Indonesia




                                                                                        25
Page 38
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Tekanan inflasi AS masih menurun sehingga mendorong tetap kuatnya ekspektasi
             arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Sementara itu, pergeseran aliran
             modal keluar dari AS ke Eropa dan negara berkembang, serta komoditas yang
             dianggap aman seperti emas, terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya risiko
             ekonomi AS, termasuk risiko fiskal. Perkembangan ini mendorong berlanjutnya
             pelemahan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan
             negara berkembang (ADXY).


                            Gambar 2 Grafik Aliran Modal Ke Negara Berkembang




             Sumber: Bank Indonesia


             Kondisi Ekonomi Indonesia


             Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus didorong di tengah
             prospek perekonomian global yang melemah. Pada triwulan II 2025, pertumbuhan
             ekonomi ditopang oleh investasi nonbangunan terkait kegiatan di sektor
             transportasi. Kinerja ekspor cukup baik ditopang oleh ekspor berbasis sumber daya
             alam dan produk manufaktur.


                Tabel 8 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran




              Sumber: Bank Indonesia


                                                                                           26
Page 39
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih perlu ditingkatkan, tercermin pada
             penjualan eceran yang melambat. Secara sektoral, Lapangan Usaha (LU) Pertanian
             tetap tumbuh ditopang oleh kinerja subsektor LU Perkebunan dan dukungan
             program Pemerintah, sedangkan kinerja beberapa LU utama lainnya seperti LU
             Industri Pengolahan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum belum kuat.
             Secara spasial, ekonomi di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) diprakirakan
             tumbuh di atas 5%, sedangkan wilayah lainnya belum meningkat.


             Tabel 9 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha




             Sumber: Bank Indonesia


             Neraca Pembayaran Indonesia


                                    Tabel 10 Neraca Pembayaran Indonesia




             Sumber: Bank Indonesia *Angka sementara; **Angka sangat sementara


             Neraca perdagangan pada Mei 2025 masih mencatat surplus 4,3 miliar dolar AS,
             meningkat dari surplus April 2025 sebesar 0,2 miliar dolar AS. Perkembangan
             positif pada neraca perdagangan ini didukung oleh ekspor komoditas mesin listrik
             serta besi dan baja. Kinerja ekspor diprakirakan akan tetap positif sejalan dengan
             hasil perundingan tarif dengan Pemerintah AS. Sementara itu, aliran masuk modal
             asing ke instrumen portofolio domestik juga terus berlanjut dipengaruhi tetap
             baiknya prospek perekonomian Indonesia, tingginya imbal hasil instrumen


                                                                                            27
Page 40
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             keuangan Indonesia, dan bergesernya aliran modal ke negara berkembang
             termasuk Indonesia sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS. Aliran masuk
             modal asing ke SBN pada awal triwulan III 2025 (hingga 14 Juli 2025) mencatat net
             inflows sebesar 0,9 miliar dolar AS, melanjutkan net inflows pada triwulan II 2025
             sebesar 1,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi
             sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2
             bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas
             standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.


             Nilai Tukar Rupiah


             Nilai tukar Rupiah pada Juni 2025 (hingga 30 Juni 2025) menguat sebesar 0,34%
             (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir bulan sebelumnya. Perkembangan terkini
             hingga pertengahan Juli 2025 (hingga 15 Juli 2025) menunjukkan Rupiah tetap
             stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Secara umum, perkembangan
             Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara
             berkembang mitra dagang utama Indonesia dan terhadap kelompok mata uang
             negara maju di luar dolar AS, sehingga tetap mendukung daya saing ekspor
             Indonesia. Perkembangan nilai tukar ini didukung oleh konsistensi kebijakan
             stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke
             instrumen SBN, serta konversi valas ke Rupiah oleh eksportir pascapenerapan
             penguatan kebijakan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
             (DHE SDA).


                 Gambar 3 Indeks Rupiah Terhadap US$, Negara Maju Kecuali AS, dan Negara
                                                 Berkembang




             Sumber: Bank Indonesia




                                                                                               28
Page 41
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Inflasi


             Inflasi IHK Juni 2025 tercatat rendah 1,87% (yoy) ditopang inflasi inti yang menurun,
             inflasi volatile food (VF) yang rendah, dan inflasi administered prices (AP) yang
             terkendali. Inflasi inti tercatat turun menjadi 2,37% (yoy), dipengaruhi konsistensi
             suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai
             dengan sasarannya serta permintaan yang lebih rendah. Inflasi kelompok VF masih
             tercatat rendah 0,57% (yoy) didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan
             utama dan eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi
             Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan
             (GNPIP). Sementara itu, inflasi kelompok AP tetap terkendali 1,34% (yoy), di tengah
             kenaikan tarif air minum PAM dan cukai hasil tembakau.


                                  Gambar 4 Grafik Inflasi IHK dan Komponen




                        Sumber: Bank Indonesia

      3.2    Pangsa Pasar

             Penduduk Kalimantan Timur pada tahun 2024 sebanyak 4,05 juta jiwa. Jumlah ini
             merupakan yang terbesar ketiga di Pulau Kalimantan, setelah Kalimantan Barat dan
             Kalimantan Selatan. Bila dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020, yang
             sebanyak 3,77 juta jiwa, penduduk Kalimantan Timur bertambah sebanyak 279,82
             ribu jiwa sepanjang 2020-2024. Sedangkan jumlah penduduk pada tahun 2025 di
             Kalimantan Timur sebanyak 4,27 juta jiwa.


             Laju Pertumbuhan penduduk per tahun pada periode 2021—2025 di Kalimantan
             Timur adalah sebesar 2,93% per tahun. Adapun bila dilihat menurut wilayahnya,
             Kabupaten Penajam Paser Utara memiliki laju pertumbuhan penduduk tertinggi,
             sebesar 23,53% per tahun. Sementara Kota Samarinda memiliki laju pertumbuhan
             penduduk terendah, sebesar 0,89% per tahun.




                                                                                               29
Page 42
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
             Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
             Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
             setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
             tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
             dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
             termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
             penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di tahun 2025.


                         Tabel 11 Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Timur (Ribuan)
                             Uraian                 2021      2022     2023         2024       2025
               Paser                                  278       281         284       287         290
               Kutai Barat                            174       175         177       179         180
               Kutai Kartanegara                      736       746         757       790         846
               Kutai Timur                            440       448         456       463         470
               Berau                                  251       255         258       262         265
               Penajam Paser Utara                    181       189         198       268         400
               Mahakam Ulu                             33        33         34         34          35
               Balikpapan                             695       703         710       717         725
               Samarinda                              835       843         851       858         865
               Bontang                                181       183         186       188         191
               Kalimantan Timur                     3.803     3.857     3.910       4.046       4.268
               Pertumbuhan                                    1,40%     1,37%       3,48%       5,48%
             Sumber: BPS


             Pertumbuhan      kebutuhan     rumah    sangat   dipengaruhi    oleh   laju    urbanisasi,
             pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
             oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
             yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
             Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 36 unit komersil dan 1.139 unit subsidi yang
             telah terjual. Disisi lain, terdapat 33 unit yang sudah ready stock, dan 60 unit yang
             sedang dalam proses pengajuan kepada pihak perbankan. Sedangkan jumlah kavling
             rumah pada tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 217 rumah komersil
             dan 1.698 rumah subsidi.


             Disisi lain, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian
             Rencana Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN
             Nusantara memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan,
             dan terbagi atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.


             Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
             Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
             1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.



                                                                                                   30
Page 43
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Sub-WP 1A KIPP diperuntukkan sebagai government core activity, sedangkan Sub-WP
             1B dan 1C KIPP lahannya bersifat mixed use sehingga bukan hanya untuk
             pembangunan kantor pemerintahan melainkan juga untuk bangunan-bangunan non
             pemerintahan seperti mal, sekolah dan sebagainya.


             Pembangunan IKN mengusung konsep forest city di mana 60—70% lahannya untuk
             kawasan hijau seperti lanskap, ruang publik hijau, taman-taman dan ruang terbuka
             hijau, sehingga lahan yang dipakai untuk pembangunan sekitar 30—40%.


      3.3    Kesinambungan

             Lapangan usaha kegiatan konstruksi meliputi kegiatan konstruksi gedung tempat
             tinggal, perkantoran, bangunan pabrik, jalan, jembatan, dan termasuk pula
             konstruksi jaringan pipa dan listrik, serta pembongkaran dan penyiapan lahan.
             Lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha yang cukup strategis di Provinsi
             Kalimantan Timur, tercermin dari posisi lapangan usaha ini yang selalu berada di
             urutan kelima di dalam struktur perekonomian Provinsi Kalimantan Timur tahun
             2024.


                    Gambar 5 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Konstruksi dan Real Estat (%)
               18
               16
               14
               12
               10
                8
                6
                4
                2
                0
               -2         2020           2021                2022             2023   2024

                                                Konstruksi          Real Estate

             Sumber: BPS


             Pada tahun 2024, kontribusi lapangan usaha konstruksi mencapai Rp52.471,79
             miliar atau sebesar 9,19% terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur.
             Angka tersebut meningkat dari tahun 2020 yang mencapai Rp35.601,17 miliar atau
             sebesar 7,54%. Hal ini dipengaruhi oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di
             Kalimantan Timur yang terus berjalan, Dengan penghitungan atas dasar harga
             konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi Kalimantan




                                                                                             31
Page 44
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami perlambatan meskipun
             pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2023 sebesar 15,82%.


             Lapangan usaha Real Estat memberikan kontribusi sebesar 0,85% pada tahun 2024
             dan 2023. Sementara kontribusi pada tahun 2020 mencapai 0,91%. Namun nilai
             tambah lapangan usaha ini di tahun 2024 naik menjadi Rp4.860,55 miliar, lebih
             tinggi dari tahun 2020 yang sebesar Rp4.321,11 miliar. Dengan penghitungan atas
             dasar harga konstan 2010, laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di Provinsi
             Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami peningkatan
             dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%.


      3.4    Potensi Pasar


             Seiring dengan meningkatnya harga dan permintaan properti akibat pesatnya
             pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi, pasar real estate di Indonesia
             merupakan salah satu sektor terkuat di kawasan ini. Sektor real estate di Indonesia
             adalah salah satu dari sedikit sektor yang tidak terlalu terpengaruh oleh krisis Covid-
             19. Angka resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produk domestic
             bruto (PDB) dari aktivitas real estate di Indonesia berjumlah Rp520,73 triliun
             (US$29,85 Triliun) pada tahun 2024. PDB Indonesia yang berasal dari aktivitas real
             estate meningkat secara bertahap sejak tahun 2014. Proyek perumahan terjangkau
             di Indonesia yang didukung oleh pemerintah, investor asing, dan asosiasi seperti
             Bank Dunia diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan pasar real estat.


             Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2024 secara tahunan
             menunjukkan penurunan. Pada triwulan IV 2024, penjualan properti residensial
             mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09%, lebih dalam dibandingkan dengan
             kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,14% (yoy). Perkembangan tersebut
             didorong oleh penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang masing-
             masing tercatat kontraksi sebesar 23,70% (yoy) dan 16,61% (yoy). Sementara itu,
             penjualan rumah tipe besar tumbuh 20,44% (yoy) pada triwulan IV 2014. Secara
             triwulan, penjualan juga rumah juga menurun. Penjualan rumah primer pada triwulan
             IV 2014 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62% (qtq), berlanjut dari
             kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 7,62% (qtq). Kontraksi pertumbuhan
             penjualan rumah pada triwulan IV 2024 terjadi pada rumah tipe kecil dan menengah
             masing-masing sebesar 11,94% (qtq) dan 9.13% (qtq). Sementara itu, penjualan
             rumah tipe besar menunjukkan peningkatan sebesar 14,12% (qtq).


             Berdasarkan hasil survei, sejumlah faktor yang menghambat pengembangan dan
             penjualan properti residensial primer adalah kenaikan harga bangunan (21,40%),
             masalah perizinan (15,05%), suku bunga KPR (14,31%), proporsi uang muka yang
             tinggi dalam pengajuan KPR (10,59%), perpajakan (9,72%), dan lainnya (15,05%).




                                                                                               32
Page 45
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan positif pada sektor properti
             residensial di Kota Balikpapan sepanjang triwulan I 2025. Peningkatan ini tercermin
             dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang menunjukkan Indeks Harga
             Properti Residensial (IHPR) tumbuh sebesar 1,31% secara tahunan (yoy), meski sedikit
             melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,55%.


             Deputi Direktur BI Balikpapan, mengatakan peningkatan harga didorong oleh naiknya
             harga rumah tipe besar (luas bangunan di atas 70 meter persegi) yang tumbuh
             sebesar 1,34% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 yang hanya sebesar
             1,28%.


             Sementara itu, harga rumah tipe kecil (≤36 m²) dan menengah (36—70 m²) masing-
             masing tumbuh sebesar 1,59% dan 1%. Meski mengalami perlambatan dari triwulan
             sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 2,01% untuk rumah kecil dan 1,35%
             untuk rumah menengah, keduanya tetap berada dalam tren pertumbuhan positif.


             Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam mendukung program
             pemerintah     di   sektor     perumahan    melalui   Kebijakan     Insentif    Likuiditas
             Makroprudensial (KLM). Mulai 1 April 2025, insentif KLM akan ditingkatkan dari 4%
             menjadi 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). BI juga menambah alokasi KLM khusus
             sektor perumahan dari rencana semula Rp23 triliun menjadi Rp103 triliun secara
             nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong penyaluran kredit oleh perbankan ke
             sektor prioritas, termasuk sektor perumahan, real estate, dan konstruksi, sebagai
             bagian   dari upaya     pemulihan      ekonomi nasional.   Bank     Indonesia   berharap
             peningkatan insentif dan dukungan kebijakan ini mampu memperkuat peran sektor
             properti dalam perekonomian, terutama di daerah seperti Balikpapan yang terus
             berkembang seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).


             Program 3 juta rumah adalah inisiatif pemerintah untuk mengatasi backlog
             perumahan dan menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
             (MBR). Untuk merealisasikannya, Pemerintah menerapkan strategi utama seperti
             transparansi, optimalisasi aset negara, inovasi pembiayaan, serta kebijakan
             pendukung seperti pelonggaran aturan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Otoritas
             Jasa   Keuangan     (OJK).   Menteri    keuangan   (Menkeu)   Sri    Mulyani    Indrawati
             mengungkapkan Kementerian Keuangan menyelaraskan seluruh kebijakan dan
             instrumen keuangan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan
             kebijakan dari Bank Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Program Juta 3 Rumah.
             Menkeu mengatakan melalui Undang-Undang APBN 2025 telah memberikan
             dukungan sebanyak 220 ribu rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
             Saat ini sudah dialokasikan Rp18 triliun dalam bentuk FLPP (Fasilitas Likuiditas
             Pembiayaan Perumahan) untuk fasilitas likuiditas, yang dikombinasikan dengan PMN
             (Penyertaan Modal Negara) di PT SMF (Sarana Multigriya Finansial) untuk mendukung
             220 ribu MBR dengan pinjaman bunga sebesar 5% selama 20 tahun. Adapun Menkeu



                                                                                                  33
Page 46
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             masih akan mencari berbagai instrumen untuk memenuhi target anggaran Program
             3 Juta Rumah yang akan didiskusikan dengan Kementerian dan Lembaga terkait.
             Menkeu optimis Pemerintah dapat meningkatkan skala program tersebut untuk
             memenuhi target 3 juta rumah bagi MBR. Selain itu, Pemerintah juga memiliki
             instrumen lain, seperti perbaikan rumah bagi masyarakat dan juga skema bantuan
             uang muka.


             Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
             Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
             Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
             keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
             Kalimantan Timur. Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin
             menjanjikan yang didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur
             Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan
             properti hunian di wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan
             diyakini akan terus meningkat. Bisnis properti di kawasan ini akan semakin
             menjanjikan dan itu salah satunya didorong oleh pembangunan berbagai proyek
             infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini juga menjadi momentum yang baik untuk terus
             memperbesar potensi bisnis properti di kawasan ini.


             Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
             fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
             juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
             sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
             memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
             maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
             bisnis properti. Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring
             peningkatan populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial,
             pendidikan, rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.


             Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
             penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
             dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara. Upaya
             land development tersebut dilakukan oleh Kementerian PUPR dengan membuka,
             membentuk      strukturnya     dengan   membuat   jalan   terlebih   dahulu,   kemudian
             membangun kavling-kavling lalu diratakan sehingga menjadi lahan siap bangun.


             Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
             dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
             apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
             kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
             orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
             mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.



                                                                                                34
Page 47
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      3.5    Sasaran


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
             pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
             Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
             penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah, yaitu Kota
             Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
             Balikpapan. Sasaran selanjutnya adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah
             Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.


             Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
             bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor
             properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
             memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
             berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.


      3.6    Potensi Nilai Pasar


              Dari Penambahan Kegiatan Usaha baru ini, Perseroan diproyeksikan mencatatkan
              tambahan pendapatan dari penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp6,94 miliar,
              tahun tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar,
              tahun 2029 sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun
              2031 sebesar Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033
              sebesar Rp22,77 miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92
              miliar di tahun 2035.


      3.7    Pesaing Usaha


             Dalam hal pesaing dan persaingan, penting untuk terus memantau perkembangan
             dan strategi perusahaan dalam industri dan sektor serupa di sekitar pembangunan
             proyek. Saat ini, beberapa pesaing yang memiliki bidang usaha yang sama dengan
             Perseroan adalah sebagai berikut.


                              Tabel 12 Perusahaan Pesaing dengan Produk Serupa
                                                                        Kapasitas
              No     Nama Perusahaan                   Alamat                          Harga/pcs
                                                                        (pcs/hari)
               1.   PT Varia Usaha Beton   Teluk Pandan, Kec. Teluk
                                           Pandan, Kabupaten Kutai          1.950    Rp3.600
                                           Timur
               2.   PT Kutai Inti Beton    Samboja                         19.500    Rp3.600
               3.   Kampoeng FABA          Kelurahan Graha Indah,
                                                                            1.125
                                           Kecamatan Balikpapan Utara
               4.   CV Borneo Conblock     Samarinda
                                                                            8.400
                    Mandiri



                                                                                                   35
Page 48
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                                            Kapasitas
              No      Nama Perusahaan                    Alamat                             Harga/pcs
                                                                            (pcs/hari)
               5.    CV Kalimantan Beton    Jl. Raya Desa Kapur, Kapur,
                                            Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu        34.400
                                            Raya, Kalimantan Barat
               6.    Fadil Karya            Balikpapan                                   Rp3.500
               7.    Bintang Jaya Beton     Samarinda                                    Rp3.400 - 3.600
               8.    Pilar Beton Indo       Samboja                                      Rp3.550 - 3.700
               9.    Beton Elemen Prima     Samarinda                                    Rp3.200 - 3.400
              10. Tiga Mutiara Beton        Balikpapan                                   Rp3.300 - 3.500


      3.8    Strategi Pemasaran


             Strategi pemasaran yang dijalankan oleh Perseroan atas kegiatan usaha baru ini
             terdiri dari pemasaran ritel dan tender. Pada pemasaran ritel, strategi yang
             dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
              1. Membangun Identitas perusahaan yang jelas dan konsisten, baik dari segi logo,
                    profil   usaha,     maupun   dokumentasi      proyek,    membantu       meningkatkan
                    kepercayaan klien;
              2. Memperkuat jaringan distribusinya untuk memastikan produk dapat menjangkau
                    seluruh wilayah target pasar dengan lebih efektif;
              3. Memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan visibilitas produk dan
                    berinteraksi dengan konsumen;
              4. Menyajikan studi kasus, dokumentasi hasil kerja, dan testimoni klien sebelumnya
                    dapat menjadi bukti konkret atas kualitas layanan;
              5. Bergabung dalam asosiasi industri, menghadiri pameran, atau menjalin
                    kemitraan dengan konsultan, arsitek, atau pengembang adalah cara efektif
                    memperluas jejaring;
              6. Melakukan inovasi dalam pengembangan produk batako dan paving block untuk
                    memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah; dan
              7. Memberikan pelayanan yang komunikatif, tepat waktu, dan berkualitas akan
                    meningkatkan peluang referensi dan kontrak berulang.


             Pada pemasaran tender, strategi yang dilakukan Perseroan adalah sebagai berikut.
             1. Membangun identitas dan branding yang kuat dengan memanfaatkan jaringan dan
                kemitraan bisnis juga dapat membantu meningkatkan branding dan reputasi
                perusahaan;
             2. Mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi; dan
             3. Menyusun penawaran yang kompetitif dengan menyesuaikan penawaran dengan
                persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen tender.




                                                                                                        36
Page 49
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4       KELAYAKAN TEKNIS

      4.1    Kapasitas


              Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan akan mengimpor mesin
              batako dan paving block yang berasal dari Negara Tiongkok. Mesin ini bernama
              ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving block otomatis, yang dirancang
              di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas terpasang mesin adalah sebesar
              24.000 unit/hari.


              Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
              pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
              Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
              kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
              1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
              batako dan paving block.


                                    Gambar 6 Rencana Layout TPS Limbah




                          Gambar 7 Rencana Layout Pabrik Batako dan Paving Block




              Sumber: Manajemen Perseroan




                                                                                          37
Page 50
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4.2    Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya

              Bahan Baku Mentah


              Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan bahan
              baku mentah yang terdiri dari limbah karbit, pasir kasar, batu pecah, dan semen
              dengan kebutuhan sebagai berikut.


                                          Tabel 13 Kebutuhan Bahan Baku
               No                         Material                        Berat Aktual (Kg)

               1.   Limbah Karbit                                               0,15
               2.   Pasir Kasar                                                 1,80
               3.   Batu Pecah                                                  1,05
               4.   Semen                                                       0,45
                                           Total                                3,45
              Sumber: Manajemen Perseroan


              Pekerja


              Berdasarkan informasi dari manajemen, saat ini Perseroan memiliki jumlah tenaga
              kerja 277 orang. Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, Perseroan berencana
              melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.


                                       Tabel 14 Kebutuhan Tenaga Kerja
               No                     Tenaga Kerja                         Jumlah (orang)

               1.   Superintendent batako dan paving block                       1
               2.   Supervisor produksi                                          1
               3.   Supervisor sales dan distribusi                              1
               4.   Operator                                                     4
               5.   Quality control                                              1
               6.   Staf sales                                                   2
               7.   Driver                                                       2
                                           Total                                 12
              Sumber: Manajemen Perseroan


              Tenaga Ahli

             Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan tidak memiliki ataupun
             membutuhkan tenaga ahli khusus.




                                                                                              38
Page 51
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      4.3    Proses Produksi


             Kegiatan treatment untuk limbah karbit sebagai bahan baku produksi batako dan
             paving block sebagai berikut.

             1. Mempersiapkan tangki generator
                ➢ Memastikan tangki generator dalam kondisi bersih dan siap digunakan; dan
                ➢ Menyiapkan Kalsium Karbida dalam jumlah yang telah ditentukan.
             2. mencampurkan air dan kalsium karbida dalam tangki generator
                ➢ Memasukkan air ke dalam tangki generator sesuai dengan jumlah yang
                   dibutuhkan;
                ➢ Menambahkan Kalsium Karbida ke dalam tangki generator; dan
                ➢ Biarkan Kalsium Karbida bereaksi dengan air, menghasilkan gas C2H2 dan
                   limbah slurry.
             3. Memisahkan gas C2H2 dan limbah slurry
                ➢ Gas C2H2 yang dihasilkan akan keluar melalui outlet gas generator untuk
                   dialirkan ke gas holder; dan
                ➢ Limbah slurry yang dihasilkan akan keluar melalui outlet slurry generator
                   untuk dialirkan ke bak kontrol sementara.
             4. Memindahkan limbah slurry dari bak kontrol sementara ke bak kontrol utama
                ➢ Menggunakan pompa pemindah untuk memindahkan limbah slurry dari bak
                   kontrol sementara ke bak kontrol utama.
             5. Penyaringan dan pemisahan limbah slurry
                ➢ Menggunakan mesin filter press yang dilengkapi dengan high pressure
                   centrifugal pump untuk menghisap limbah slurry dari bak kontrol utama; dan
                ➢ Limbah     slurry   yang   terhisap   akan   mengalami   proses   filtrasi   untuk
                   memisahkan padatan dan air bersih yang sudah difilter.
             6. Pengemasan limbah slurry padatan
                ➢ Limbah slurry padatan yang telah dipisahkan akan dimasukkan ke dalam
                   karung sesuai dengan berat yang telah ditentukan.
             7. Penyelesaian Proses
                ➢ Limbah slurry padatan yang sudah dikemas dalam karung siap untuk
                   dipindahkan atau dibuang sesuai dengan prosedur yang berlaku.




                                                                                                 39
Page 52
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                             Gambar 8 Diagram Alur Proses Limbah Karbit




              Sumber: Manajemen Perseroan


             Sedangkan untuk proses pembuatan batako dan paving block dimulai dengan
             mencampurkan semen, pasir, batu pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya
             yaitu memasukkan adukan tersebut kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan
             dan kemudian baru dapat di masukkan kedalam cetakan batako dan paving block.
             Proses pelepasan dari cetakan dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk
             diuji.




                                                                                          40
Page 53
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene, Tbk




         5      KELAYAKAN POLA BISNIS

                Alur proses kegiatan usaha Perseroan adalah berdasarkan permintaan dari
                distributor, dengan pemesanan berdasarkan purchase order. Perseroan melakukan
                perencanaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi produksi, ketersediaan
                stock, dan waktu pemeliharaan mesin produksi. Setelah itu, Perseroan memastikan
                ketersediaan bahan baku yaitu pasir dan semen untuk memastikan proses produksi
                berjalan sesuai dengan perencanaan, apabila persediaan bahan baku dibawah stock
                yang ditentukan, maka tim purchasing dari Perseroan akan melakukan pembelian
                bahan baku utama atau bahan penolong lainnya. Setelah bahan baku utama telah
                diterima, maka tim quality control (QC) melakukan testing pada bahan baku utama
                tersebut untuk menentukan formula yang digunakan untuk memproduksi batako
                dan paving block sehingga memiliki kualitas yang sama. Setelah dilakukan proses
                QC penerimaan bahan baku, maka proses produksi batako dan paving block
                berlangsung. Dari proses ini, sekaligus dilakukan pengecekan spesifikasi dan fisik
                produk untuk memastikan hasil produksi sesuai dengan spesifikasi. Setelah proses
                produksi selesai, produk batako dan paving block langsung dipindahkan pada
                tempat penyimpanan produk dan langsung dapat dikirimkan kepada distributor
                Perseroan.


                                              Gambar 9 Pola Bisnis




                                                                                               41
Page 54
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      5.1    Keunggulan Kompetitif


              Berdasarkan pengalaman Perseroan sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak
              lama memiliki manajemen dan sistem operasional yang kompeten untuk melakukan
              ekspansi usaha. Keunggulan kompetitif Perseroan diuraikan sebagai beriku.
             •   Perseroan telah memiliki lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan
                 usaha. Sehingga tidak memerlukan biaya tambahan untuk pembelian atau
                 penyewaan gudang/pabrik.
             •   Perseroan memiliki jangkauan penjualan yang luas.
             •   Berdasarkan kinerja keuangan, Perseroan memiliki kondisi keuangan yang
                 cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas yang kecil, dan konsisten mencatatkan
                 laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat memungkinkan untuk membiayai
                 penambahan kegiatan usaha.
             •   Perseroan telah memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil
                 dari produk gas acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan.
             •   Produk batako telah memiliki SNI.


      5.2    Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk


              Kemungkinan pesaing dalam bidang usaha ini cukup besar, dimana risiko adanya
              produk Perseroan yang mungkin ditiru oleh perusahaan lain merupakan risiko yang
              melekat pada kegiatan bisnis Perseroan. Kemampuan pesaing untuk meniru produk
              memang tidak dapat dihindari, sehingga membuat kegiatan usaha dalam bidang ini
              menjadi sangat kompetitif. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan
              diantaranya sebagai berikut.
             •   Meningkatkan kualitas produk dan layanan;
             •   Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan intelektual;
             •   Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; dan
             •   Memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk Perseroan.


      5.3    Kemampuan untuk Menciptakan Nilai


              Dengan keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan
              nilai yang diantaranya:


             1. Citra Bisnis Ramah Lingkungan
                 Penggunaan limbah B3 sebagai bahan baku batako dan paving block
                 menciptakan nilai tambah dan citra positif sebagai Perusahaan yang menjaga
                 lingkungan dengan melakukan pengelolaan limbah yang efektif. Sehingga
                 secara tidak langsung diharapkan dapat mendukung komitmen pemerintah
                 untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah
                 lingkungan.




                                                                                              42
Page 55
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             2. Menambah sumber pendapatan baru
                 Permintaan yang berkesinambungan dari pasar dapat dimanfaatkan oleh
                 Perseroan atas penambahan kegiatan usaha yang akan dijalankan dapat
                 menambah sumber pendapatan baru bagi Perseroan.


             3. Meningkatkan kinerja keuangan Perseroan
                 Penjualan atas penambahan kegiatan usaha proyek ini akan menghasilkan laba
                 bagi Perseroan yang akan meningkatkan kinerja keuangan Perseroan.


             4. Efisiensi operasional
                 Perseroan dapat menekan biaya pengelolaan limbah karbit yang dihasilkan atas
                 pengelolaan bisnis eksisting terkait produk gas acetylene. Lebih lanjut, mesin
                 batako dan paving block yang digunakan memiliki kecepatan produksi, kualitas
                 yang konsisten, dan efisiensi terhadap tenaga kerja sehingga sehingga
                 memungkinkan Perseroan mencapai skala ekonomi yang lebih besar dengan
                 memberikan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.


              Keempat hal di atas dapat memberikan kontribusi yang positif dan nilai tambah bagi
              Perseroan.




                                                                                             43
Page 56
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      6       KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN

      6.1    Ketersediaan Tenaga Kerja


              Sumber daya manusia yang berkualitas baik dan memiliki pengetahuan serta
              keterampilan yang cakap merupakan modal penting bagi Perseroan. Strategi dan
              tujuan jangka panjang yang akan dicapai oleh Perseroan juga bergantung kepada
              kemampuan mendayagunakan sumber daya manusia yang dimiliki. Berdasarkan
              informasi dari manajemen, sampai dengan tanggal 30 Juni 2025, Perseroan
              memiliki 277 orang karyawan. Dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
              Perseroan membutuhkan tambahan SDM, sehingga akan melakukan melakukan
              penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang.


      6.2    Manajemen Kekayaan Intelektual


             Sampai dengan laporan ini diterbitkan, Perseroan belum memiliki Hak Atas
             Kekayaan Intelektual (HAKI) yang didaftarkan terkait dengan penambahan kegiatan
             usaha baru.


      6.3    Manajemen Risiko

             Dalam menjalankan kegiatan usaha barunya, Perseroan mungkin menghadapi
             beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja usahanya. Risiko utama yang
             mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.


              Risiko Prakonstruksi


              1.   Risiko Kondisi Ekonomi
                   Kondisi Perekonomian Nasional serta kebijakan fiskal dan moneter yang
                   meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional akan berpengaruh pada kinerja
                   kegiatan usaha perseroan. Menurunnya tingkat pertumbuhan PDB, tingginya
                   tingkat suku bunga, serta tingginya laju inflasi/deflasi dapat mengakibatkan
                   perubahan, perlambatan atau resesi kondisi perekonomian secara keseluruhan.
                   Secara tidak langsung, kondisi perekonomian nasional yang tidak kondusif
                   dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja penjualan Perseroan. Mitigasi yang
                   dapat dilakukan adalah diversifikasi sumber pendapatan dari produk baru,
                   mengubah model bisnis jika situasi mengharuskan, dan terbuka terhadap
                   inovasi.


              2.   Risiko Perkembangan Pemukiman
                   Perubahan kebijakan pemerintah terkait perkembangan pemukiman serta tidak
                   tepatnya data ketersediaan rumah akan berdampak pada tidak akuratnya
                   permintaan akan kebutuhan pembangunan tempat tinggal dan kebutuhan
                   renovasi bangunan. Hal ini akan mempengaruhi permintaan atas produk bahan



                                                                                             44
Page 57
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                   bangunan. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah penentuan catchment area
                   serta memantau kebutuhan akan hunian milik di sekitar area.


              3.   Risiko Stagnasi Perkembangan Proyek IKN
                   Pada awal tahun 2025, proyek IKN terancam terhambat, setelah anggaran
                   Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk proyek tersebut dipangkas drastis
                   akibat amanat efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu sasaran
                   pasar Perseroan adalah rencana pembangunan Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN.
                   Mitigasi yang dapat dilakukan adalah memantau perkembangan perencanaan
                   Sub WP 1B dan 1C KIPP IKN yang menunjukkan perkembangan yang positif pada
                   pertengahan tahun 2025. Selanjutnya Perseroan perlu berupaya untuk
                   mengikuti proses pengadaan dengan memahami regulasi dan prosedur tender
                   serta memahami persyaratan tender dengan teliti yang dapat mengidentifikasi
                   terkait persyaratan khusus, batas waktu, dan kriteria evaluasi.


              4.   Risiko Keterlambatan Bayar Proyek IKN oleh Kontraktor IKN
                   Pada umumnya kontraktor menggunakan sub-kontraktor untuk melakukan
                   pekerjaan konstruksi tertentu dan supplier yang memasok kebutuhan material
                   proyek.    Keterlambatan   pembayaran      dapat    menyebabkan       terhentinya
                   pengiriman material atau komponen dari supplier, yang berujung pada
                   keterlambatan proyek secara keseluruhan. Dari sisi cash flow, supplier akan
                   mengalami kesulitan arus kas (negatif cash flow), sehingga sulit untuk
                   memenuhi kewajiban pembayaran mereka sendiri. Kaitannya dengan proyek
                   IKN, Perseroan selaku supplier yang ditunjuk oleh kontraktor perlu melakukan
                   mitigasi dengan membuat kontrak yang kuat yang memuat klausul-klausul
                   terkait hak dan kewajiban Perseroan sebagai supplier. Selanjutnya Perseroan
                   melakukan negosiasi agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan secara
                   bertahap (termin) yang terikat pada progress penyelesaian/material yang telah
                   terkirim. Lebih lanjut, Perseroan perlu memitigasi dengan menyiapkan dana
                   yang cukup besar untuk kebutuhan produksi sehingga kas Perseroan tetap
                   terjaga positif.


              5.   Risiko Penawaran dan Permintaan
                   Risiko ini berasal dari terbatasnya informasi produksi barang yang dihasilkan
                   oleh kompetitor dan konsumen yang berada di sekitar area pemasaran. Risiko
                   ini juga berasal dari keberlanjutan proyek IKN kedepannya yang mengakibatkan
                   scoop     pembangunan    yang   tidak   sesuai   rencana   sehingga   rendahnya
                   permintaan. Risiko ini berdampak pada rendahnya utilisasi produksi yang
                   berakibat tidak efektifnya mesin utama. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
                   memantau perkembangan supply dan demand, serta melakukan kajian market
                   riset yang komprehensif secara berkala. Sedangkan mitigasi untuk proyek-
                   proyek IKN adalah Perseroan perlu mencari potensi pasar baru.




                                                                                                 45
Page 58
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              6.   Risiko Ketidakpatuhan terhadap Regulasi Limbah B3
                   Pelanggaran terhadap peraturan pengelolaan limbah B3 dapat mengakibatkan
                   sanksi administratif, denda, atau bahkan pencabutan izin operasional. Untuk
                   mengatasi hal ini, perusahaan perlu membentuk tim internal yang bertanggung
                   jawab memantau dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Selain itu,
                   audit reguler terhadap proses pengelolaan limbah B3 harus dilakukan untuk
                   memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.


              7.   Risiko Penolakan Izin atau Persetujuan Lingkungan
                   Penolakan   izin    lingkungan   (AMDAL    atau    UKL-UPL)   oleh   KLHK   dapat
                   menghentikan       proyek   sebelum   dimulai.    Untuk   mengurangi   risiko ini,
                   perusahaan perlu melibatkan konsultan lingkungan berpengalaman dalam
                   penyusunan dokumen AMDAL atau UKL-UPL. Selain itu, sosialisasi dengan
                   masyarakat sekitar dan pemangku kepentingan harus dilakukan untuk
                   mengurangi resistensi terhadap proyek.


              8.   Risiko Sanksi Akibat Kesalahan dalam Pengelolaan Limbah B3
                   Kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan, atau pemanfaatan limbah B3
                   dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan sanksi hukum. Strategi
                   mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan pelatihan rutin bagi
                   karyawan terkait pengelolaan limbah B3 sesuai standar, memastikan TPS
                   Limbah B3 dirancang dan dioperasikan sesuai standar keamanan, serta
                   melakukan pemantauan berkala terhadap proses pengelolaan limbah B3.


              9.   Risiko Penundaan Proyek Akibat Proses Perizinan yang Lama
                   Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu dapat menunda pelaksanaan
                   proyek. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu membuat timeline yang jelas
                   untuk setiap tahap pengajuan izin dan memantau progresnya secara berkala.
                   Selain itu, menunjuk tim khusus yang bertanggung jawab untuk mengurus
                   perizinan dan berkoordinasi dengan instansi terkait juga dapat mempercepat
                   proses.


              10. Risiko Tuntutan Hukum dari Masyarakat atau LSM Lingkungan
                   Proyek dapat menghadapi tuntutan hukum dari masyarakat atau LSM
                   lingkungan jika dianggap merugikan lingkungan atau kesehatan masyarakat.
                   Strategi mitigasi yang dapat dilakukan antara lain melakukan sosialisasi dan
                   edukasi kepada masyarakat sekitar tentang manfaat dan dampak proyek,
                   membentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendukung
                   masyarakat sekitar, serta membuka saluran komunikasi dengan masyarakat
                   dan LSM untuk menampung masukan dan keluhan.




                                                                                                  46
Page 59
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              11. Risiko Pelanggaran dalam Pengangkutan Limbah B3
                  Pelanggaran     terhadap    peraturan   pengangkutan     limbah   B3      dapat
                  mengakibatkan sanksi hukum atau kecelakaan yang merugikan. Untuk
                  mengurangi risiko ini, perusahaan perlu memastikan semua kendaraan
                  pengangkut memenuhi standar keamanan dan memiliki izin yang sah. Selain
                  itu, pelatihan rutin bagi pengemudi terkait prosedur pengangkutan limbah B3
                  dan pemantauan rute pengangkutan secara berkala juga perlu dilakukan.


              12. Risiko Perubahan Regulasi
                  Perubahan regulasi di tengah proyek dapat mengakibatkan ketidaksesuaian
                  dengan persyaratan yang telah dipenuhi. Untuk mengantisipasi hal ini,
                  perusahaan perlu memantau perkembangan regulasi secara berkala melalui tim
                  hukum internal atau konsultan hukum. Selain itu, rencana kontingensi untuk
                  mengantisipasi perubahan regulasi yang signifikan juga perlu disiapkan.


              13. Risiko Terpenuhinya Dana Proyek yang Diperlukan
                  Minimnya ketersediaan kas internal untuk penambahan kegiatan usaha akan
                  berpotensi proyek tidak dapat terlaksana. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah
                  melakukan pendanaan kepada pihak perbankan.


              Risiko Konstruksi


              1. Risiko Mobilisasi dan Demobilisasi Mesin dan Alat Berat
                  Lalu lalang kendaraan proyek serta kelalaian pengemudi dan pekerja proyek
                  akan berdampak pada gangguan arus lalu lintas dan lingkungan. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah sosialisasi pada masyarakat setempat mengenai proses
                  pengembangan tersebut, dan bekerjasama dengan pihak yang berwenang
                  mengenai adanya mobilisasi peralatan dan material.


              2. Risiko Kondisi Lingkungan (Suara, Udara, dan Air)
                  Kondisi lingkungan dapat terganggu oleh polusi suara dan udara yang
                  disebabkan oleh pergerakan alat berat dan mesin. Selain itu kualitas air dapat
                  terganggu oleh penggunaan air yang berlebihan saat konstruksi. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah mensyaratkan kontraktor untuk menggunakan terkini
                  yang ramah lingkungan, dan pembatas untuk area proyek untuk mencegah
                  masyarakat memasuki area proyek.


              3. Risiko Mundurnya Waktu Pelaksanaan Proyek
                  Risiko ini berasal dari kemampuan kontraktor tidak memadai, adanya
                  perubahan atau penambahan scope of project, pengawasan proyek yang kurang
                  baik, dan equipment freight & customs clearance terhambat. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah: pemilihan kontraktor yang berpengalaman dan
                  bereputasi baik, pemahaman dan pembuatan lingkup pekerjaan dan spesifikasi




                                                                                              47
Page 60
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  kontrak yang detail dan jelas, pemilihan manajemen konstruksi proyek yang
                  profesional dan bereputasi baik, serta memahami prosedur & membina
                  hubungan dengan instansi terkait.


              4. Risiko Kegagalan Konstruksi
                  Risiko ini berasal dari pengendalian atas proyek yang lemah, on time delivery
                  tidak konsisten dan cenderung lemah, dan lemahnya perhitungan estimasi
                  waktu kemungkinan terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek yang
                  ditinjau dari berbagai macam kemungkinan. Mitigasi yang dapat dilakukan
                  adalah mengkaji kembali kesesuaian fungsi, persyaratan tata bangunan,
                  keselamatan, kesehatan dan kenyamanan, serta kemudahan bangunan pada
                  desain konstruksi, melakukan komunikasi kepada Manajemen Proyek agar
                  dapat memastikan pengiriman material konstruksi/mesin/alat berat yang
                  terjadwal, dan melakukan update progres fisik dan biaya konstruksi secara
                  berkala yang dilakukan Konsultan Pengawas Proyek.


              5. Risiko Cost Over Run
                  Risiko ini berasal dari kesalahan estimasi quantity surveyor dan dalam
                  menentukan bill of quantity. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
                  komunikasi dengan estimator terkait pengurangan tingkat kompleksitas
                  perhitungan      dengan   cara   mengelompokan   item   pekerjaan,   sehingga
                  perhitungan akan dapat dilakukan dengan fokus, dan secara berkala melakukan
                  evaluasi terhadap akurasi perhitungan dengan membuat program perhitungan
                  yang memiliki tingkat otomatisasi yang tinggi.


              6. Risiko Pengendalian SDM Proyek
                  Dalam menunjuk kontraktor, Perseroan tidak memiliki kontrol penuh atas SDM
                  yang berada di proyek. Rendahnya kompetensi SDM proyek akan berdampak
                  pada terhambatnya proyek. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah komunikasi
                  dengan kontraktor terkait perhitungan produktivitas alat dan biaya overhead,
                  melakukan komunikasi dengan kontraktor terkait sinkronisasi jumlah tenaga
                  yang digunakan dengan peralatan dan keahliannya, dan menyesuaikan kembali
                  analisa yang terkait dengan volume pekerjaan, tingkat kesulitan, cuaca dan
                  parameter non teknis lainnya.


              Risiko Operasional


             1.   Risiko Tidak Tersedianya Modal Kerja yang Memadai
                  Risiko ini berasal dari kemampuan pendanaan yang kurang memadai;
                  kemampuan finansial atas operasional; serta persediaan tidak terpenuhi secara
                  wajar. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pendanaan dari pihak
                  perbankan.




                                                                                            48
Page 61
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             2.   Risiko Tidak Tercapainya Pendapatan Sesuai yang Diproyeksikan
                  Risiko ini berasal dari volume penjualan tidak sesuai target. Mitigasi yang dapat
                  dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk yang
                  dihasilkan.


             3.   Risiko Tenaga Ahli Tidak Kompeten
                  Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya tenaga ahli yang paham
                  terkait produktivitas, keputusan, finansial, inovasi, dan keselamatan tenaga
                  kerja. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah recruitment tenaga ahli yang
                  didasari oleh kualifikasi yang ketat seperti pendidikan, keahlian, pengalaman,
                  pengelolaan SDM, jaringan, dan kemampuan komunikasi yang baik.


             4.   Risiko SDM
                  Dalam penambahan kegiatan usaha baru, perlu adanya penambahan SDM,
                  pelatihan dan penempatan posisi yang tepat. Mitigasi yang dapat dilakukan
                  adalah melakukan evaluasi pada kinerja SDM; modul training; serta penempatan
                  karyawan yang lebih akurat.


             5.   Risiko Pemasaran Tidak Tepat Sasaran
                  Risiko ini berasal dari kesalahan segmentasi dan target pasar. Mitigasi yang
                  dapat dilakukan adalah melakukan strategi pemasaran yang tepat atas produk
                  yang dihasilkan.


             6.   Risiko Mesin
                  Risiko ini berasal dari manual book yang sulit dipahami operator, tidak
                  diikutinya prosedur pengoperasian, dan pengadaan mesin yang tidak sesuai
                  spesifikasi. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah perlu adanya transfer
                  teknologi dari vendor kepada tenaga ahli/pihak yang kompeten untuk
                  merancang, merawat, memperbaiki dan mengoptimalkan penggunaan mesin.


             7.   Risiko Bahan Baku
                  Risiko ini berasal dari kegagalan produksi, perencanaan waktu supply bahan
                  baku, dan jumlah tidak sesuai. Mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan
                  quality control terhadap kualitas bahan baku yang dibutuhkan.

      6.4    Kapasitas dan Kemampuan Manajemen


              Perseroan telah memiliki pengalaman dan keberhasilan yang baik untuk mengelola
              usaha, sehingga Perseroan juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang baik
              untuk menambah portofolio produknya.


              Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
              keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan




                                                                                                49
Page 62
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
              Oleh karena itu, Perseroan berkomitmen untuk mengelola SDM secara terstruktur
              dan efektif, guna memastikan bahwa setiap karyawan dapat berkontribusi secara
              optimal sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan pengelolaan yang tepat,
              Perseroan dapat terus meningkatkan produktivitas dan daya saing di industri.


              Kontribusi SDM dalam keberlanjutan usaha Perseroan memiliki peran penting yang
              tidak dapat terbantahkan. Untuk terus mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif,
              Perseroan terus berupaya dalam membangun peningkatan pengelolaan SDM.
              Perseroan meyakini bahwa hubungan yang baik dengan karyawan dapat
              meningkatkan produktivitas dan efektivitas kinerja dalam mencapai target-target
              usaha.


      6.5    Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen


              Dalam menganalisis kesesuaian struktur organisasi dan manajemen, penting untuk
              memahami bagaimana struktur organisasi yang ada mendukung pencapaian dari
              Penambahan Kegiatan Usaha baru.


              Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
              Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
              yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
              operator produksi, quality control, sales dan driver.


                                   Gambar 10 Struktur Organisasi Perseroan




              Sumber: Manajemen Perseroan




                                                                                                50
Page 63
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      7       KELAYAKAN KEUANGAN

              Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian
              ini menganalisis besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga
              didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu proyek/rencana layak dilaksanakan
              ataupun tidak.


              Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji beberapa hal berikut, diantaranya
              adalah kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
              (discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.

      7.1    Biaya Pendirian (Start Up Costs)

              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya investasi (capex), dengan rincian sebagai berikut.


                                   Tabel 15 Rencana Anggaran Biaya (Rp.000)
                    Keterangan                            Satuan   Volume         Harga       Total
               A    LAHAN
               1    Pengadaan Lahan                                                                   0
               2    Pengerukan Area Pabrik                  m³      9.800             100     1.176.000
               3    Pengerukan Jalan Masuk                  m³       870              100      104.400
                    Sub Total                                                                 1.280.400

               B    PRA OPERASI
               1    SLO                                    unit       1           100.000      100.000
               2    PERTEK                                 unit       1           100.000      100.000
               3    UKL/UPL                                unit       1           300.000      300.000
               4    KBLI                                   unit       1           100.000      100.000
               5    Tambah Daya Listrik                     lot       1           700.000      700.000
                    Sub Total                                                                 1.300.000

               C    BANGUNAN                                m²      1.296           2.000     2.592.000

               D    MESIN DAN ALAT BERAT
               1    Mesin QGM ZN600VP                      unit       1          8.165.000    8.165.000
               2    Dump Truck - Isuzu Giga                unit       1           500.000      500.000
                    Sub Total                                                                 8.665.000

               Total Investasi                                                               13.837.400
             Sumber: Proyeksi Keuangan


      7.2    Modal Kerja


              Asumsi modal kerja yang diperlukan adalah sebagai berikut.




                                                                                                    51
Page 64
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




              Perputaran persediaan
                 Bahan baku                                   : 30 hari
                 Barang jadi                                  : 15 hari
              Perputaran piutang usaha                        : 30 hari
              Perputaran utang usaha                          : 60 hari


              Proyeksi Modal Kerja tahun 2026—2035 adalah sebagai berikut.


                                               Tabel 16 Modal Kerja (Rp.000)
                         Keterangan               2026         2027           2028           2029               2030

               PERHITUNGAN MODAL KERJA
                    Aset Lancar                  1.838.916    2.587.031      2.961.877      3.057.043      3.147.627
                    Hutang Lancar              (1.236.543)   (1.415.043)    (1.580.570)   (1.622.366)     (1.679.148)
               Modal Kerja                        602.373     1.171.988      1.381.307      1.434.678      1.468.478
               Perubahan Modal Kerja              602.373       569.614        209.319        53.371             33.801



                         Keterangan               2031         2032           2033           2034               2035

               PERHITUNGAN MODAL KERJA
                    Aset Lancar                  3.235.518    3.326.142      3.424.927      3.526.616      3.631.301
                    Hutang Lancar              (1.737.919)   (1.798.746)    (1.861.702)   (1.926.861)     (1.994.302)
               Modal Kerja                       1.497.600    1.527.397      1.563.225      1.599.755      1.636.999
               Perubahan Modal Kerja               29.121        29.797         35.828        36.530             37.245
             Sumber: Proyeksi Keuangan


              Berdasarkan proyeksi keuangan atas adanya penambahan KBLI baru, modal kerja
              yang dibutuhkan pada tahun 2026 sampai dengan tahun 2030 berturut-turut
              adalah sebesar Rp602,37 juta, Rp1,17 miliar, Rp1,38 miliar, Rp1,43 miliar, Rp1,47
              miliar, Rp1,50 miliar, Rp1,53 miliar, Rp1,56 miliar, Rp1,60 miliar dan Rp1,64 miliar.


      7.3    Sumber Pembiayaan


              Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan memerlukan
              biaya investasi (capex), sehingga Perseroan akan melakukan pendanaan yang
              bersumber dari kas yang tersedia dan perbankan.


                                         Tabel 17 Pembiayaan Proyek (Rp.000)
                                    Keterangan                             Komposisi                    Nilai
               SUMBER PEMBIAYAAN
               a.    Pinjaman Bank                                                   65%                   9.000.000
               b.    Modal Sendiri                                                   35%                   4.837.400
                                       Total                                         100%                13.837.400
             Sumber: Proyeksi Keuangan




                                                                                                                       52
Page 65
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      7.4    Biaya Operasional

              Biaya operasional pada tahun 2026—2035 diproyeksikan seperti tabel dibawah ini.


                                            Tabel 18 Biaya Operasional (Rp.Juta)
                          Uraian              2026            2027             2028          2029         2030
               Beban Usaha                   1.500.000    3.105.000           3.213.675     3.326.154    3.442.569


                          Uraian              2031            2032             2033          2034         2035
               Beban Usaha                   3.563.059    3.687.766           3.816.838     3.950.427    4.088.692


              Pada tahun 2026, beban operasional Perseroan diproyeksikan sebesar Rp1,50
              miliar. Beban ini meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp4,09 miliar pada tahun
              2035.

      7.5    Biaya Bahan Baku Mentah

              Biaya bahan baku mentah yang dibutuhkan dirinci sebagai berikut.
             - Semen
                 Biaya bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
             - Batu Pecah
                 Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
             - Pasir
                 Biaya bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.


      7.6    Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan


              Berikut ini merupakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan.


              Waktu Operasional


             Periode proyeksi dimulai bulan pertengahan Juni 2026 hingga tahun 2035. Jumlah
             hari operasional diasumsikan selama 150 hari di tahun 2026 dan 300 hari untuk
             tahun-tahun proyeksi selanjutnya.


             Struktur Pendapatan


             Pendapatan untuk tahun-tahun proyeksi diasumsikan sebagai berikut:


                                               Tabel 19 Struktur Pendapatan
                          Keterangan              2026          2027             2028         2029        2030
               Kapasitas Terpasang / Hari            24.000          24.000        24.000       24.000      24.000
               Kapasitas Terpasang / Tahun       3.600.000     7.200.000        7.200.000    7.200.000   7.200.000
               Utilitas                              75,00%      85,00%            95,00%       95,00%      95,00%




                                                                                                                 53
Page 66
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                           Keterangan           2026        2027        2028        2029        2030
               Kapasitas Tercapai              2.700.000   6.120.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000
               Harga / pcs                        2.800       2.870       2.942       3.015       3.091


                           Keterangan           2031        2032        2033        2034        2035
               Kapasitas Terpasang / Hari        24.000      24.000      24.000      24.000      24.000
               Kapasitas Terpasang / Tahun     7.200.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000   7.200.000
               Utilitas                          95,00%      95,00%      95,00%      95,00%      95,00%
               Kapasitas Tercapai              6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000   6.840.000
               Harga / pcs                        3.168       3.247       3.328       3.412       3.497
             Sumber: Proyeksi Keuangan
             Keterangan: Harga produk diasumsikan mengalami kenaikan sebesar 2,50% setiap tahunnya


              Struktur Biaya


             Harga Pokok Produksi


                   a. Biaya Pemakaian Bahan Baku


                          Pemakaian bahan baku untuk penambahan kegiatan usaha dirinci sebagai
                          berikut.
                          - Semen
                             Kebutuhan semen sebanyak 0,45 kg untuk setiap 1 kg produksi. Biaya
                             bahan baku semen diasumsikan sebesar Rp1.200/kg.
                          - Batu Pecah
                             Kebutuhan batu pecah sebanyak 1,05 kg untuk setiap 1 kg produksi.
                             Biaya bahan baku batu pecah diasumsikan sebesar Rp276/kg.
                          - Pasir
                             Kebutuhan pasir sebanyak 1,80 kg untuk setiap 1 kg produksi. Biaya
                             bahan baku pasir diasumsikan sebesar Rp260/kg.


                          Asumsi biaya bahan baku diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap
                          tahunnya.


                   b. Biaya Tenaga Kerja


                          Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 12 orang dengan rata-rata gaji
                          setiap bulan sebanyak Rp4.800.00/bulan. Gaji diasumsikan meningkat
                          sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                   c. Biaya Distribusi


                          Biaya distribusi diasumsikan sebesar Rp11.000.000/bulan. Biaya ini
                          diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.




                                                                                                       54
Page 67
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                      d. Biaya Maintenance


                          Biaya maintenance diasumsikan sebesar Rp43,325.000/bulan. Biaya ini
                          diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                      e. Biaya Listrik


                          Biaya    listrik   diasumsikan     sebesar     Rp39.600.000/bulan.         Biaya    ini
                          diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                      f. Beban Umum dan Administrasi


                          Biaya umum dan administrasi diasumsikan sebesar Rp250.000.000/bulan.
                          Biaya ini diasumsikan meningkat sebesar 3,50% setiap tahunnya.


                   Beban Bunga Bank


                   Beban bunga bank terdiri dari hutang bank Kredit Investasi diasumsikan sebesar
                   8,92%.


                   Tarif Pajak


                   Pajak penghasilan badan (PPh Badan) diproyeksikan sebesar 22,00% dan
                   diasumsikan tetap selama masa proyeksi.


      7.7       Proyeksi Posisi Keuangan


                Proyeksi Posisi Keuangan Perseroan pada tahun ditunjukkan pada tabel berikut ini:


                                         Tabel 20 Proyeksi Posisi Keuangan (Rp.000)
                   Keterangan                 2025        2026         2027       2028        2029           2030

            ASET
            Aset Lancar                       348.759    2.286.518   3.097.155   4.890.437   6.727.394   5.536.898
            Aset Tidak Lancar                6.325.900 13.171.090 12.487.807 11.737.768 10.920.973 10.037.422
            TOTAL ASET                       6.674.659 15.457.608 15.584.962 16.628.205 17.648.367 15.574.320


            LIABILITAS & EKUITAS
            Liabilitas Jangka Pendek                 -   1.236.543   1.415.043   1.580.570   1.622.366   1.679.148
            Liabilitas Jangka Panjang        6.825.900 14.437.400 12.637.400 10.837.400      9.037.400   4.068.700
            Ekuitas                          (151.241)   (216.335)   1.532.519   4.210.235   6.988.601   9.826.472
            TOTAL LIABILITAS & EKUITAS       6.674.659 15.457.608 15.584.962 16.628.205 17.648.367 15.574.320




                                                                                                              55
Page 68
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                      Keterangan                       2031           2032           2033          2034            2035

               ASET
               Aset Lancar                         5.313.906         9.132.687 12.944.528 16.740.029 20.513.663
               Aset Tidak Lancar                   9.217.116         8.460.054    7.636.236       6.745.663      5.788.333
               TOTAL ASET                         14.531.022 17.592.741 20.580.764 23.485.691 26.301.997


               LIABILITAS & EKUITAS
               Liabilitas Jangka Pendek            1.737.919         1.798.746    1.861.702       1.926.861      1.994.302
               Liabilitas Jangka Panjang                       -              -             -               -             -
               Ekuitas                            12.793.103 15.793.995 18.719.063 21.558.830 24.307.695
               TOTAL LIABILITAS & EKUITAS         14.531.022 17.592.741 20.580.764 23.485.691 26.301.997
              Sumber: Proyeksi Keuangan


                   Selama tahun 2025—2035, total aset diproyeksikan mengalami kenaikan. Pada
                   tahun 2025, total aset diproyeksikan sebesar Rp6,67 miliar hingga menjadi sebesar
                   Rp26,30 miliar pada tahun 2035.


                   Pada tahun 2025 total liabilitas Perseroan diproyeksikan sebesar Rp6,83 miliar yang
                   meningkat menjadi sebesar Rp15,67 miliar di tahun 2026. Pada tahun 2028-2030,
                   liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan dari Rp14,05 miliar menjadi Rp9,83
                   miliar. Penurunan yang signifikan terjadi di tahun 2031 yang diproyeksikan sebesar
                   Rp1,74 miliar yang kemudian terjadi peningkatan hingga mencapai sebesar Rp1,99
                   miliar di tahun 2035.


                   Total ekuitas juga diproyeksikan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun
                   2025, total ekuitas diproyeksikan sebesar negatif Rp151,24 juta hingga menjadi
                   sebesar Rp24,31 miliar pada tahun 2035.


       7.8         Proyeksi Laba (Rugi)


                   Proyeksi Laba Rugi Perseroan ditunjukkan pada tabel berikut:


                                            Tabel 21 Proyeksi Laba Rugi (Rp.000)

            Keterangan                     2025               2026            2027              2028             2029            2030

Penjualan                                          -      6.943.696          17.474.287      20.034.526         20.624.609     21.140.224
Beban Pokok Penjualan                              -     (4.052.023)       (10.105.740)     (11.460.228)    (11.902.568)      (12.319.254)
Laba (Rugi) Kotor                                  -      2.891.673           7.368.547         8.574.298        8.722.041      8.820.971
Beban Usaha                                        -     (1.500.000)         (3.105.000)     (3.213.675)        (3.326.154)    (3.442.569)
Laba (Rugi) Usaha - EBITDA                         -      1.391.673           4.263.547         5.360.623        5.395.888      5.378.402
Beban Penyusutan & Amortisasi                      -          (666.310)      (1.399.376)     (1.466.131)        (1.532.887)    (1.599.643)
Pendapatan (Beban) Lain-lain               (151.241)          (790.457)       (622.051)         (461.522)        (300.993)       (140.463)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak                  (151.241)           (65.094)       2.242.120         3.432.970        3.562.008      3.638.296
Pajak Final                                        -                   -      (493.266)         (755.253)        (783.642)       (800.425)
Laba (Rugi) Bersih                         (151.241)           (65.094)       1.748.854         2.677.716        2.778.366      2.837.871




                                                                                                                                   56
Page 69
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                          Keterangan               2031               2032            2033            2034             2035

              Penjualan                          21.668.730         22.210.448     22.765.710       23.334.852        23.918.224
              Beban Pokok Penjualan             (12.755.866)       (13.202.230)   (13.658.875)     (14.137.032)    (14.631.924)
              Laba (Rugi) Kotor                   8.912.864          9.008.218      9.106.835         9.197.821        9.286.300
              Beban Usaha                        (3.563.059)        (3.687.766)    (3.816.838)      (3.950.427)       (4.088.692)
              Laba (Rugi) Usaha - EBITDA          5.349.805          5.320.452      5.289.997         5.247.394        5.197.608
              Beban Penyusutan & Amortisasi      (1.536.399)        (1.473.154)    (1.539.910)      (1.606.666)       (1.673.422)
              Pendapatan (Beban) Lain-lain            (10.033)                -                -               -                -
              Laba (Rugi) Sebelum Pajak           3.803.373          3.847.297      3.750.086         3.640.728        3.524.186
              Pajak Final                          (836.742)          (846.405)       (825.019)       (800.960)        (775.321)
              Laba (Rugi) Bersih                  2.966.631          3.000.892      2.925.067         2.839.767        2.748.865
            Sumber: Proyeksi Keuangan


                   Selama tahun 2026—2035, total penjualan diproyeksikan mengalami kenaikan.
                   Pada tahun 2026, total penjualan diproyeksikan sebesar Rp6,94 miliar yang
                   kemudian mengalami kenaikan hingga menjadi sebesar Rp23,92 miliar pada tahun
                   2035.


                   Setelah diakumulasi dengan beban pokok penjualan, beban usaha, beban lainnya,
                   dan pajak final, Perseroan diproyeksikan mencatatkan tambahan laba bersih dari
                   penambahan kegiatan usaha baru sebesar Rp1,75 miliar pada tahun 2027 menjadi
                   sebesar Rp2,75 miliar di tahun 2035.


        7.9        Proyeksi Arus Kas


                   Proyeksi Arus Kas Perseroan tahun 2025—2035 ditunjukkan pada tabel berikut ini:


                                             Tabel 22 Proyeksi Arus Kas (Rp.000)
                Keterangan                     2025              2026          2027            2028            2029            2030

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan Usaha                                        -    5.811.571       16.038.045      18.387.853      18.929.436     19.402.672
Penerimaan Piutang                                      -               -     1.132.124       1.436.243       1.646.673       1.695.173
Pembayaran Hutang Usaha                                 -   (2.555.522)      (8.429.679)     (9.449.606)     (9.827.595) (10.158.037)
Beban Pokok Penjualan                                   -        (966.750)   (1.941.557)     (2.009.511)     (2.079.844)    (2.152.638)
Beban Usaha                                             -   (1.500.000)      (3.105.000)     (3.213.675)     (3.326.154)    (3.442.569)
Pajak Penghasilan Badan                                 -               -     (493.266)       (755.253)       (783.642)       (800.425)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS OPERASI                               -         789.299     3.200.667       4.396.051       4.558.875       4.544.176
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Investasi                                    (6.325.900)    (7.511.500)                 -              -                -             -
Capital Expenditures, CAPEX                             -               -     (716.092)       (716.092)       (716.092)       (716.092)
ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
(UNTUK) AKTIVITAS INVESTASI                  (6.325.900)    (7.511.500)       (716.092)       (716.092)       (716.092)       (716.092)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pinjaman KI                                   4.110.000      4.890.000                  -              -                -             -
Pinjaman KMK                                            -               -               -              -                -             -
Modal Sendiri KI                              2.215.900      2.621.500                  -              -                -             -
Modal Sendiri KMK                                       -    1.000.000                  -              -                -             -




                                                                                                                            57
Page 70
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                    Keterangan             2025          2026          2027          2028          2029          2030

 Hutang Pemegang Saham                      500.000             -             -             -             -             -
 Biaya Provisi                              (41.100)      (48.900)            -             -             -             -
 Angsuran Hutang Pokok Bank KI                    -     (900.000)    (1.800.000)   (1.800.000)   (1.800.000)   (1.800.000)
 Angsuran Hutang Pokok Bank KMK                   -             -             -             -             -             -
 Pembayaran Bunga Bank KI - Baru          (110.141)     (741.557)     (622.051)     (461.522)     (300.993)     (140.463)
 Pembayaran Bunga Bank KMK - Baru                 -             -             -             -             -             -
 Pembayaran Hutang Pemegang Saham                 -             -             -             -             -    (3.168.700)
 ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI
                                          6.674.659     6.821.043    (2.422.051)   (2.261.522)   (2.100.993)   (5.109.163)
 (UNTUK) AKTIVITAS PENDANAAN
 KENAIKAN (PENURUNAN) KAS                   348.759        98.842        62.524     1.418.437     1.741.789    (1.281.079)
 KAS AWAL TAHUN                                   -       348.759       447.601       510.125     1.928.562     3.670.351
 KAS AKHIR TAHUN                            348.759       447.601       510.125     1.928.562     3.670.351     2.389.272



                    Keterangan             2031          2032          2033          2034          2035

 ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
 Penerimaan Usaha                        19.887.739    20.384.932    20.894.555    21.416.919    21.952.342
 Penerimaan Piutang                       1.737.553     1.780.992     1.825.516     1.871.154     1.917.933
 Pembayaran Hutang Usaha                (10.513.568) (10.881.543) (11.262.397) (11.656.581) (12.064.561)
 Beban Pokok Penjualan                   (2.227.981)   (2.305.960)   (2.386.669)   (2.470.202)   (2.556.659)
 Beban Usaha                             (3.563.059)   (3.687.766)   (3.816.838)   (3.950.427)   (4.088.692)
 Pajak Penghasilan Badan                  (836.742)     (846.405)     (825.019)     (800.960)     (775.321)
 ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
                                          4.483.942     4.444.250     4.429.148     4.409.903     4.385.042
 AKTIVITAS OPERASI
 ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
 Investasi                                        -             -             -             -             -
 Capital Expenditures, CAPEX              (716.092)     (716.092)     (716.092)     (716.092)     (716.092)
 ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
 AKTIVITAS INVESTASI                      (716.092)     (716.092)     (716.092)     (716.092)     (716.092)
 ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
 Pinjaman KI                                      -             -             -             -             -
 Pinjaman KMK                                     -             -             -             -             -
 Modal Sendiri KI                                 -             -             -             -             -
 Modal Sendiri KMK                                -             -             -             -             -
 Hutang Pemegang Saham                            -             -             -             -             -
 Biaya Provisi                                    -             -             -             -             -
 Angsuran Hutang Pokok Bank KI            (900.000)             -             -             -             -
 Angsuran Hutang Pokok Bank KMK                   -             -             -             -             -
 Pembayaran Bunga Bank KI - Baru            (10.033)            -             -             -             -
 Pembayaran Bunga Bank KMK - Baru                 -             -             -             -             -
 Pembayaran Hutang Pemegang Saham        (3.168.700)            -             -             -             -
 ARUS KAS NETO DIPEROLEH DARI (UNTUK)
                                         (4.078.733)            -             -             -             -
 AKTIVITAS PENDANAAN
 KENAIKAN (PENURUNAN) KAS                 (310.883)     3.728.158     3.713.056     3.693.811     3.668.950
 KAS AWAL TAHUN                           2.389.272     2.078.389     5.806.547     9.519.603    13.213.414
 KAS AKHIR TAHUN                          2.078.389     5.806.547     9.519.603    13.213.414    16.882.364
Sumber: Proyeksi Keuangan


                     Arus kas atas adanya penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan terus
                     meningkat. Kas dan setara kas pada awal periode tahun 2025 adalah Rp348,76 juta




                                                                                                               58
Page 71
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             yang kemudian pada akhir periode proyeksi tahun 2035 menjadi sebesar Rp16,88
             miliar.


      7.10   Analisis Titik Impas


             Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak
             memperoleh laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha
             dikatakan impas jika jumlah pendapatan ( revenue) sama dengan jumlah biaya, atau
             apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.


             BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
                                                     Total Biaya Tetap
                                    BEP     =
                                                (1- (Total Biaya Variabel))
                                                          Penjualan


             Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk
             masing-masing      periode     selama    masa    proyeksi.    Nilai   BEP     dalam    rupiah
             mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan
             BEP untuk Rupiah pada proyeksi Dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha
             adalah sebagai berikut.


                               Tabel 23 Analisis Kelayakan Proyek BEP (Rp.000)
                   Tahun            Penjualan         Variable Cost        Fixed Cost          BEP

                   2026                6.943.696           4.052.023          2.956.767       7.100.004
                   2027              17.474.287           10.105.740          5.126.427      12.157.167
                   2028              20.034.526           11.460.228          5.141.329      12.013.121
                   2029              20.624.609           11.902.568          5.160.033      12.201.693
                   2030              21.140.224           12.319.254          5.182.675      12.420.732
                   2031              21.668.730           12.755.866          5.109.491      12.422.065
                   2032              22.210.448           13.202.230          5.160.920      12.724.643
                   2033              22.765.710           13.658.875          5.356.748      13.391.060
                   2034              23.334.852           14.137.032          5.557.093      14.098.334
                   2035              23.918.224           14.631.924          5.762.114      14.841.167
                                                                          BEP Rata-rata      12.336.999
                                                                       BEP Rata-rata (%)           64,56%
             Sumber: Proyeksi Keuangan


             Dari hasil perhitungan BEP, apabila Perseroan ingin mencatatkan keuntungan, maka
             Perseroan harus mencatatkan penjualan di tahun 2026 sebesar Rp6,94 miliar, tahun
             tahun 2027 sebesar Rp17,47 miliar, tahun 2028 sebesar Rp20,03 miliar, tahun 2029
             sebesar Rp20,62 miliar, tahun 2030 sebesar Rp21,14 miliar, tahun 2031 sebesar
             Rp21,67 miliar, tahun 2032 sebesar Rp22,21 miliar, tahun 2033 sebesar Rp22,77
             miliar, tahun 2034 sebesar Rp23,33 miliar, dan sebesar Rp23,92 miliar di tahun




                                                                                                       59
Page 72
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             2035. Sehingga rata-rata BEP Perseroan atas penambahan kegiatan usaha baru
             selama periode proyeksi adalah sebesar Rp12,37 miliar.


      7.11   Analisis Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas


             Analisis likuiditas adalah analisis keuangan yang dilakukan dengan menghitung
             rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
             kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancar.


                                            Tabel 24 Analisis Likuiditas
                                                                                    Working Capital to
                      Tahun                 Current Ratio         Quick Ratio
                                                                                    Total Assets Ratio
                       2026                        184,91%              127,75%                    6,79%
                       2027                        218,87%              137,55%                   10,79%
                       2028                        309,41%              226,20%                   19,91%
                       2029                        414,67%              330,72%                   28,93%
                       2030                        329,74%              245,77%                   24,77%
                       2031                        305,76%              222,07%                   24,61%
                       2032                        507,73%              424,30%                   41,69%
                       2033                        695,31%              611,85%                   53,85%
                       2034                        868,77%              785,28%                   63,07%
                       2035                       1028,61%              945,11%                   70,41%
                      Average                      486,38%              405,66%                   34,48%


             Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya peningkatan dari rasio likuiditas setelah
             adanya penambahan kegiatan usaha.


             Analisis solvabilitas adalah rasio yang berfungsi menilai kemampuan perusahaan
             dalam melunasi semua kewajibannya, baik dalam jangka pendek, maupun jangka
             Panjang dengan jaminan aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan.


                                            Tabel 25 Analisis Solvabilitas
                                Tahun            Debt to Equity Ratio      Debt to Assets Ratio
                                2026                          152,53%                    60,40%
                                2027                           98,03%                    49,50%
                                2028                           57,65%                    36,57%
                                2029                           32,44%                    24,49%
                                2030                           19,85%                    16,56%
                                2031                           13,58%                    11,96%
                                2032                           11,39%                    10,22%
                                2033                            9,95%                     9,05%
                                2034                            8,94%                     8,20%
                                2035                            8,20%                     7,58%
                              Average                          41,26%                    23,45%




                                                                                                      60
Page 73
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Dari tabel di atas terlihat bahwa adanya penurunan dari rasio solvabilitas, hal ini
             dikarenakan adanya penyelesaian kewajiban setelah adanya penambahan kegiatan
             usaha.


             Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan
             dalam usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait
             penjualan. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa
             besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan. Sebagai
             gambaran bagaimana Perseroan mendapatkan laba atas penambahan kegiatan
             usaha barunya terdapat pada tabel berikut ini.


                                        Tabel 26 Analisis Profitabilitas
                                              Operating       Operating Profit     Net Profit
                         Tahun
                                            Profit Margin         Margin            Margin
                          2026                     32,05%                10,45%          -0,94%
                          2027                     34,16%                16,39%          10,01%
                          2028                     35,48%                19,44%          13,37%
                          2029                     34,86%                18,73%          13,47%
                          2030                     34,16%                17,87%          13,42%
                          2031                     34,04%                17,60%          13,69%
                          2032                     33,93%                17,32%          13,51%
                          2033                     33,24%                16,47%          12,85%
                          2034                     32,53%                15,60%          12,17%
                          2035                     31,83%                14,73%          11,49%
                        Average                    33,63%                16,46%          11,30%


             Dari tabel di atas diketahui bahwa dari penambahan kegiatan usaha baru
             memberikan dampak positif yang signifikan pada rasio profitabilitas, dimana
             selama tahun-tahun proyeksi rata-rata gross profit margin, operating profit margin
             dan net profit margin masing-masing sebesar 33,63%, 16,46%, dan 11,30%.


      7.12   Tingkat Imbal Balik Investasi


             Return on Investment (ROI) adalah rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva
             yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
             Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan
             mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI, Perseroan dapat mengetahui
             seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional
             dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.


             Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas Penambahan Kegiatan Usaha Perseroan.




                                                                                                61
Page 74
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                         Tabel 27 Return on Investment
                                         Laba Bersih        Total Investasi
                         Tahun                                                  ROI
                                            (Rp.000)           (Rp.000)
                         2025                   (151.241)         6.674.659           -2,27%
                         2026                    (65.094)        15.457.608           -0,42%
                         2027                   1.748.854        15.584.962           11,22%
                         2028                   2.677.716        16.628.205           16,10%
                         2029                   2.778.366        17.648.367           15,74%
                         2030                   2.837.871        15.574.320           18,22%
                         2031                   2.966.631        14.531.022           20,42%
                         2032                   3.000.892        17.592.741           17,06%
                         2033                   2.925.067        20.580.764           14,21%
                         2034                   2.839.767        23.485.691           12,09%
                         2035                   2.748.865        26.301.997           10,45%
                        Average                                                       12,08%


             Rasio ROI Perseroan pada tahun 2025—2035 diproyeksikan akan meningkat setiap
             tahunnya seiring dengan peningkatan laba bersih dan total investasi Perseroan.
             Perseroan diproyeksikan mencatatkan rata-rata ROI sebesar 12,08%.


      7.13   Penetapan Tingkat Diskonto


             Faktor diskonto yang digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital yang
             dihitung dengan rumus sebagai berikut:


                                  WACC = (Kd*(1-t)* % Debt) + (Ke* % Equity)


              Keterangan:
             WACC       = Weighted average cost of capital (tingkat biaya tertimbang atas
                            modal)
             Kd           Cost of debt (tingkat bunga hutang perusahaan)
             Ke         = The required rate of return (biaya ekuitas)
             T          = Tax rate (tarif pajak)
             % Debt     = Proportion of Debt in the Capital structure (proporsi hutang dalam
                            struktur kapital)
             % Equity   = Proportion of Equity in the Capital structure (proporsi ekuitas dalam
                            struktur kapital)


             Berikut adalah asumsi yang digunakan untuk mengestimasi tingkat diskonto yang
             akan digunakan dalam Penilaian.




                                                                                               62
Page 75
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Cost of Debt (tingkat biaya hutang)

             Tingkat biaya hutang (cost of debt) diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
             faktor sebagai berikut:

             • Rata-rata tertimbang tingkat suku bunga efektif atas dana pinjaman investasi
                  yang akan digunakan yaitu sebesar 8,92%. (merujuk pada bunga Kredit Investasi
                  per 30 Juni 2025 dari SEKI Bank Indonesia).

             • Tingkat pajak yang digunakan adalah sebesar 22,00% berdasarkan tingkat pajak
                  korporasi di Indonesia (Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020 - PPh Badan).

             Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka tingkat biaya hutang (cost of
             debt) yang diaplikasikan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:

             Kd = i x ((1-T)

             Kd = 8,92% x (1-22,00%) = 6,96%


             Cost of Equity (biaya modal untuk ekuitas)

             Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan Model CAPM
             (Capital Asset Pricing Model). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah
             bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari
             sekuritas saham, dengan formula sebagai berikut:


                                            Ke = Rf + (Rm – Rf) β + Rs
                                             Ke = Rf + (Rp x β) + Rs


             Keterangan:
             Rf       = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
             Rm       = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
             Rp       = market risk premium untuk pasar ekuitas secara keseluruhan
             β        = ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur secara objektif dari
                        responsivitas    pengembalian      perusahaan     terhadap    pergerakan
                        pengembalian portofolio pasar
             Rs       = tingkat kembalian tambahan spesifik untuk Perusahaan


             Tingkat biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mempertimbangkan faktor-
             faktor sebagai berikut:


             Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
             dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia,
             instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Surat Utang Negara
             (most active government bond).




                                                                                               63
Page 76
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Dalam penilaian Perseroan digunakan Surat Utang Negara dengan rata-rata yield
             adalah sebesar 7,06%. Angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
             bebas risiko (Rf).


                                            Tabel 28 Surat Utang Negara
                             Bond                         Maturity                     Yield
               FR0103                                    15-Jul-35                               7,0199%
               FR0106                                    15-Aug-40                               7,0371%
               FR0107                                    15-Aug-45                               7,0780%
               FR0105                                    15-Jul-64                               7,1089%
                                         Rata-rata                                               7,0610%
             Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI,
                     20 Maret 2025


             Rp (Market Risk Premium - MRP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
             risiko dengan tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas.


             Premi risiko pasar (Rm-Rf) atau MRP ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi
             pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang emerging.


             Beta (β), adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan
             dikalikan dengan market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium.


             Rs (Specific Company Risk Premium). Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh
             Indonesia telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum
             mencerminkan risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh
             suatu perusahaan.


             Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aswath Damodaran per Juli 2025, diprediksi
             market risk premium adalah sebesar 7,03%.

             Untuk memperoleh faktor Beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan,
             kami menggunakan beta pembanding berdasarkan penelitian yang dilakukan
             Aswath Damodaran dalam industri Construction Supplies per Januari 2025 yaitu
             rata-rata sebesar 0,93.


             Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas Perseroan adalah:


                                        Tabel 29 Biaya Modal untuk Ekuitas
                                      Keterangan                     Biaya Modal untuk Ekuitas

                     Biaya Modal untuk Ekuitas
                        a. Risk Free Rate ( Rf )                                          7,06%
                        b. Risk Premium Ekuitas ( Rm )                                    7,03%




                                                                                                      64
Page 77
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                        Keterangan                         Biaya Modal untuk Ekuitas

                       c.   β (Beta)                                                             0,93
                       c.   Specific Risk                                                       0,00%
                      Biaya Modal untuk Ekuitas-CAPM                                           13,60%
                      Credit Default Spread                                                     1,87%
                      Biaya Modal untuk Ekuitas                                                11,72%


             Pada formulasi di atas, yield tingkat bunga bebas risiko sebenarnya telah
             memperhatikan semua risiko pasar, sehingga dalam perhitungan tingkat diskonto
             yang berlaku di Indonesia, yield tersebut harus dikoreksi dengan credit default
             spread sebesar 1,87%, sehingga biaya modal ekuitas yang diterapkan dalam
             penilaian Perseroan menjadi 11,72%.


             Berdasarkan asumsi tersebut, besarnya Weighted Average Cost of Capital (WACC)
             yang kami gunakan sebagai tingkat diskonto dalam penilaian Perseroan adalah
             sebesar 10,38% seperti pada tabel berikut.


                                       Tabel 30 Weighted Average Cost of Capital
                              Jenis Modal                         Biaya Modal       Bobot       Tertimbang

              Cost of Debt ( Kd = i x (1-T))                             6,96%       28,28%              1,97%
              Cost of Equity ( Ke = Rf + ( Rm-Rf ) * Beta              11,72%        71,72%              8,41%
                              Weighted Average Cost of Capital (WACC)                                   10,38%


      7.14   Analisis Kelayakan Proyek


              a. Net Present Value (NPV)
                 NPV merupakan nilai dari total investasi yang dikeluarkan pada awal periode
                 setelah ditambah arus kas bersih yang akan diterima oleh Perseroan setiap
                 tahun sampai akhir tahun periode proyek. Dengan membandingkan antara total
                 investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
                 akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui apabila proyek tersebut
                 menghasilkan          NPV   positif   maka       proyek   ini   layak   dikerjakan    apabila
                 menghasilkan NPV negatif maka proyek ini tidak layak dikerjakan.
                                                              𝑇
                                                                    𝐶𝐹𝑡
                                                  𝑁𝑃𝑉 = ∑                  − 𝐶𝐹0
                                                                  (1 + 𝑟)𝑡
                                                            𝑡−1

                    NPV            :   Net Present Value
                    CFt            :   arus kas pada periode t
                    CF0            :   arus kas investasi awal pada periode 0
                    r              :   tingkat diskonto


                 Berikut adalah perhitungan NPV dari rencana penambahan kegiatan usaha.




                                                                                                           65
Page 78
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                            Tabel 31 Perhitungan NPV (Rp.000)
                         Keterangan                FCFF          Discount Factor           PV FCFF
                              2025                   (6.391.231)               0,95184       (6.083.410)
                              2026                   (6.934.243)               0,86236       (5.979.802)
                              2027                    2.347.723                0,78129        1.834.255
                              2028                    3.578.423                0,70784        2.532.969
                              2029                    3.776.564                0,64130        2.421.922
                              2030                    3.797.182                0,58102        2.206.225
                              2031                    3.765.642                0,52640        1.982.224
                              2032                    3.728.157                0,47691        1.778.005
                              2033                    3.713.057                0,43208        1.604.337
                              2034                    3.693.811                0,39146        1.445.985
                              2035                    9.457.283                0,35466        3.354.136
                   NPV                                                                        7.096.846
                 Keterangan: Salvage Value sebesar Rp5,79 miliar


              b. Profitability Index (PI)
                 PI merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari
                 investasi yang dilakukan pada awal periode perusahaan. Nilai tambah yang
                 didapat dari investasi diperhitungkan dengan membagi total investasi proyek
                 pada awal periode dengan jumlah arus kas yang dihasilkan selama periode
                 berjalannya proyek. Apabila PI dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1
                 (satu) maka arus kas dari proyek setiap tahun tidak menghasilkan nilai tambah,
                 apabila PI lebih besar dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari
                 proyek setiap tahun menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan sedangkan PI
                 lebih kecil dari 1 (satu), maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek setiap
                 tahun tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI
                 suatu proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1 (satu).

                                                                ∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹1 )
                                                         𝑃𝐼 =
                                                                ∑ 𝑃𝑉(𝐶𝐹0 )

                        PI           :    Profitability Index
                        CFI          :    nilai kini seluruh arus kas masuk
                        CFo          :    nilai kini seluruh arus kas keluar


                 Berikut adalah perhitungan PI dari Rencana penambahan kegiatan usaha.


                                                   Tabel 32 Perhitungan PI
                                                                                         PV FCFF
                                                 Keterangan
                                                                                         (Rp.000)
                   Arus kas bersih untuk perusahaan (FCFF)
                        Arus kas masuk                                                    28.500.681
                        Arus kas keluar                                                  (21.403.836)
                   PI                                                                        1,33157




                                                                                                        66
Page 79
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                               c. Payback Period (PP)
                                      Payback Period tidak ada kriteria, hanya menunjukkan tingkat pengembalian
                                      investasi.


                                                                                         Tabel 33 Perhitungan PP
                                                                            NCF
                                                    No                                                                  Tahun                                    Faktor
                                                                          (Rp.000)
                                                       1                   (6.391.231)                                   2025                                    0,50
                                                       2                  (13.325.474)                                   2026                                    1,00
                                                       3                  (10.977.751)                                   2027                                    1,00
                                                       4                   (7.399.328)                                   2028                                    1,00
                                                       5                   (3.622.764)                                   2029                                    1,00
                                                       6                           174.418                               2030                                    0,95
                                                                                           Total                                                                 4,45
                                                                                   Payback Period                                                    4 Tahun 5 Bulan


                               Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap penambahan
                               kegiatan usaha Perseroan, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut.


                                                                     Tabel 34 Analisis Kelayakan Proyek (Rp.000)

          Ke te ra nga n                       TOTAL         2025           2026          2027             2028           2029         2030         2031          2032         2033         2034         2035
                                                             0,50           1,50          2,50             3,50           4,50         5,50         6,50          7,50         8,50         9,50         10,50

 EBI TDA                                       53.983.722            0      1.391.673     4.263.547         5.360.623      5.395.888   5.378.402    5.349.805      5.320.452    5.289.997    5.247.394   10.985.941

 CASH OUT FLOW
   - Tax                                        -6.917.034            0              0      -493.266         -755.253       -783.642     -800.425     -836.742      -846.405     -825.019     -800.960     -775.321
   - Interest ( i x T )               22,00%      -525.087      -24.231       -163.142      -136.851         -101.535        -66.218      -30.902       -2.207             0            0            0            0
   - Investment Outlays                        -13.927.400   -6.367.000     -7.560.400             0                0              0            0            0             0            0            0            0
   - Investment Outlays (Eksisting)                      0            0              0             0                0              0            0            0             0            0            0            0
   - Capital Expenditure, CAPEX                 -6.444.832            0              0      -716.092         -716.092       -716.092     -716.092     -716.092      -716.092     -716.092     -716.092     -716.092
 + / - Working Capital                          -1.636.999            0       -602.373      -569.614         -209.319        -53.371      -33.801      -29.121       -29.797      -35.828      -36.530      -37.245
 TOTAL                                         -29.451.353   -6.391.231     -8.325.916    -1.915.825       -1.782.200     -1.619.323   -1.581.220   -1.584.163    -1.592.295   -1.576.940   -1.553.582   -1.528.658

 NET CASH FLOW                                 24.532.369    -6.391.231     -6.934.243    2.347.723         3.578.423      3.776.564   3.797.182    3.765.642      3.728.157    3.713.057    3.693.811    9.457.283
    Discount Factor                   10,38%                   0,95184        0,86236      0,78129           0,70784        0,64130     0,58102      0,52640        0,47691      0,43208      0,39146      0,35466
 DISCOUNTED CASH FLOW                           7.096.846    -6.083.410     -5.979.802    1.834.255         2.532.969      2.421.922   2.206.225    1.982.224      1.778.005    1.604.337    1.445.985    3.354.136

 P ROCEED                                                    -6.391.231    -13.325.474   -10.977.751       -7.399.328     -3.622.764     174.418    3.940.060      7.668.217   11.381.274   15.075.085   24.532.369

 PRESENT VALUE KAS MASUK                        28.500.681            0      1.200.120     3.331.072        3.794.490      3.460.399   3.124.940    2.816.123      2.537.391    2.285.701    2.054.153    3.896.293
 PRESENT VALUE KAS KELUAR                      -21.403.836   -6.083.410     -7.179.923    -1.496.817       -1.261.521     -1.038.477    -918.715     -833.899       -759.386     -681.364     -608.168     -542.156

 INTERNAL RATE OF RETURN, IRR                      20,57%
 NET PRESENT VALUE, NPV                         7.096.846
 PROFITABILITY INDEX, PI                         1,33157
 PAYBACK PERIOD, PP                                     4    Tahun                  5    Bulan         ==> Sejak Operasional

 BREAK EVEN POINT, BEP
 BEP
 BEP Rata-rata                                 12.336.999
 BEP Rata-rata ( % )                               64,56%




                               • Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
                                      NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp7.096.846.000,-. Dengan demikian, hasil
                                      NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
                                      karena memberikan keuntungan.
                               • Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
                                      IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
                                      discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan




                                                                                                                                                                                                   67
Page 80
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                  bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
                  (cost of capital) yang diasumsikan.
             • Profitability Index (PI) > 1 → Layak
                  PI yang diperoleh adalah sebesar 1,33157. Dengan demikian, hasil PI yang lebih
                  dari 1 menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan karena memberikan
                  keuntungan dari pengeluaran investasi yang dilakukan.
             • Payback Period (PP)
                  PP yang diperoleh adalah 4 tahun 5 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
                  mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 5
                  bulan.


      7.15   Analisis Sensitivitas


              Untuk menguji kepekaan usaha terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
              maka berikut ini disajikan analisis sensitivitas terhadap kelayakan usaha, yaitu:
              −   Jumlah produksi turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%,
                  10,00%, 15,00%, dan 20,00%.
              −   Struktur biaya naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.
              −   Harga jual turun dengan perubahan kondisi penurunan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.
              −   Discount rate naik dengan perubahan kondisi kenaikan sebesar 5,00%, 10,00%,
                  15,00%, dan 20,00%.


                                             Tabel 35 Perhitungan Analisis Sensitivitas
                                                        KONDISI                      PERUBAHAN KONDISI
                        Keterangan
                                                        NORMAL         5,00%       10,00%       15,00%       20,00%
                  1.   PRODUKSI TURUN
                       Net Present Value (NPV) -
                       Dalam Rp.000,-                    7.096.846    4.922.731    2.748.617     574.502     -1.599.612

                       Internal Rate of Return (IRR)       20,57%       17,56%       14,46%       11,25%         7,90%
                       Return On Investment (ROI)          14,22%       14,29%       14,38%       14,53%        14,80%
                       Profitability Index (PI)           1,33157      1,23707      1,13657      1,02948       0,91514
                       BEP
                       a. Rp.000                        12.341.877   12.511.025   12.704.509   12.927.990    13.189.031
                       b. % terhadap pendapatan            64,58%       68,92%       73,89%       79,63%        86,34%
                  2.   STRUKTUR BIAYA NAIK
                       Net Present Value (NPV) -
                       Dalam Rp.000,-                    7.096.846    5.038.394    2.979.942     921.490     -1.136.961
                       Internal Rate of Return (IRR)       20,57%       17,74%       14,82%       11,78%         8,60%
                       Return On Investment (ROI)          14,22%       14,00%       13,69%       13,23%        12,50%
                       Profitability Index (PI)           1,33157      1,24181      1,14703      1,04678       0,94057
                       BEP
                       a. Rp.000                        12.341.877   13.121.389   14.006.465   15.020.222    16.193.102
                       b. % terhadap pendapatan            64,58%       68,62%       73,19%       78,42%        84,46%
                  3    HARGA JUAL TURUN
                       Net Present Value (NPV) -
                       Dalam Rp.000,-                    7.096.846    2.864.280   -1.368.287   -5.670.959   -10.682.064
                       Internal Rate of Return (IRR)       20,57%       14,64%        8,25%        1,06%        -8,92%




                                                                                                                   68
Page 81
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




                                                                      KONDISI                           PERUBAHAN KONDISI
                                    Keterangan
                                                                      NORMAL             5,00%         10,00%            15,00%       20,00%
                                   Return On Investment (ROI)             14,22%          14,02%         13,54%           11,04%            17,19%
                                   Profitability Index (PI)              1,33157         1,14182        0,92795          0,68237        0,38700
                                   BEP
                                   a. Rp.000                          12.341.877    13.357.857       14.703.551     16.571.043       19.338.327
                                   b. % terhadap pendapatan               64,58%          73,54%         85,38%          101,78%        126,00%
                              4.   INTEREST RATE
                                   Net Present Value (NPV) -
                                   Dalam Rp.000,-                      7.096.846     6.567.720        6.060.917      5.575.368        5.110.064
                                   Internal Rate of Return (IRR)          20,57%          20,55%         20,53%           20,52%            20,50%
                                   Return On Investment (ROI)             14,22%          14,30%         14,37%           14,44%            14,51%
                                   Profitability Index (PI)              1,33157         1,31077        1,29038          1,27041        1,25084
                                   BEP
                                   a Rp.000                           12.341.877    12.369.156       12.396.435     12.423.714       12.450.993
                                   b. % terhadap pendapatan               64,58%          64,81%         65,03%           65,26%            65,48%



              Berdasarkan uji sensitivitas tersebut, kondisi parameter kelayakan usaha akan
              terlihat seperti pada grafik di bawah ini.


                                                               Gambar 11 Analisis Sensitivitas
                               8.000.000
                               6.000.000
                               4.000.000
                               2.000.000
              NPV (Rp000,-)




                                          0
                              (2.000.000)            NORMAL            5,00%               10,00%               15,00%             20,00%
                              (4.000.000)
                              (6.000.000)
                              (8.000.000)
                         (10.000.000)
                         (12.000.000)
                                    Total Produksi Turun           Struktur Biaya Naik           Harga Jual Turun           Tingkat Bunga Naik

             Sumber: Proyeksi Keuangan


             Berdasarkan analisis sensitivitas, pada kondisi normal NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar Rp7,10 miliar, jika terjadi perubahan terhadap pendapatan, dimana
             pendapatan turun sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah sebesar
             negatif Rp1,60 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap struktur biaya, dimana
             struktur biaya naik sampai dengan 20,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar negatif Rp1,14 miliar. Apabila terjadi perubahan terhadap harga jual turun,
             dimana harga jual turun sampai dengan 10,00% maka NPV yang dihasilkan adalah
             sebesar negatif Rp10,68 miliar. Sedangkan apabila terjadi perubahan terhadap
             interest rate, dimana interest rate naik sampai dengan 10,00% maka NPV yang
             dihasilkan adalah sebesar Rp5,11 miliar.


             Dari analisis sensitivitas di atas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
             sensitif terhadap kelayakan usaha.




                                                                                                                                              69
Page 82
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8       KESIMPULAN

      8.1    Kajian Kelayakan Pasar


             Dari Kajian Kelayakan Pasar, laju pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di Provinsi
             Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 13,60% atau cenderung mengalami
             perlambatan meskipun pernah mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun
             2023 sebesar 15,82%. Sedangkan laju pertumbuhan lapangan usaha real estate di
             Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024 sebesar 5,88% atau cenderung mengalami
             peningkatan dibandingkan tahun 2023 sebesar 4,39%


             Penduduk Kalimantan Timur banyak terkonsentrasi hanya di lima wilayah saja, yaitu
             Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten
             Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Kelima wilayah ini dihuni oleh lebih dari
             setengah penduduk Kalimantan Timur, yakni 77,49%. Sisanya, 22,51% penduduk
             tinggal di tujuh kabupaten/ kota lainnya di Kalimantan Timur. Adapun wilayah
             dengan persentase penduduk paling sedikit di Kalimantan Timur adalah Kabupaten
             termuda di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, dengan jumlah
             penduduk hanya 0,81% dari total penduduk Kalimantan Timur di 2025.


             Pertumbuhan     kebutuhan      rumah   sangat   dipengaruhi   oleh   laju   urbanisasi,
             pertumbuhan penduduk, serta dinamika perekonomian. Berdasarkan data yang dirilis
             oleh Sistem Informasi Kumpulan Pengembang Tapera, terdapat 808 pengembang
             yang tergabung dalam pembangunan perumahan di Provinsi Kalimantan Timur.
             Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kavling rumah di Provinsi Kalimantan Timur
             sebanyak 217 rumah komersil dan 1.698 rumah subsidi.


             Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini melakukan
             penyiapan lahan siap bangun (land development) di Sub-Wilayah Pengembangan 1B
             dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.


             Prinsip perancangan KIPP mengacu pada struktur ruang Kawasan KIPP dirancang
             dengan pendekatan apresiasi terhadap alam ( Nature-Inspired Design), antara lain
             apresiasi morfologi alami lahan, sistem konektivitas kawasan dan struktur ruang
             kota dibentuk melingkar, pembentukan sumbu dan koridor visual kawasan sebagai
             orientasi utama pengembangan kawasan, blok dan fungsi kegiatan dibentuk
             mengisi pola ruang kota telah disusun dalam program dan rencana kawasan.


             Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian Rencana
             Induk Ibu Kota Nusantara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Nusantara
             memiliki peran sebagai Wilayah Perencanaan (WP) Pusat Pemerintahan, dan terbagi
             atas tiga Sub-WP yakni Sub-WP 1A, Sub-WP 1B, Sub-WP 1C.




                                                                                                70
Page 83
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             Berdasarkan data Otorita IKN, KIPP Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terdiri dari Sub-
             Wilayah Pengembangan (Sub-WP 1A) dengan total luas lahan 2.876 hektare, Sub-WP
             1B dengan total luas lahan 2.037 hektare, dan Sub-WP 1C 1.758 hektare.


             Pemerintah yang mulai membangun Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan
             Timur akan membawa berita baik bagi daerah penyangga seperti Balikpapan dan
             Samarinda. Sektor properti di Samarinda dan Balikpapan diyakini akan memperoleh
             keuntungan dari pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara (PPU) di
             Kalimantan Timur.


             Bisnis properti di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin menjanjikan yang
             didorong momentum pembangunan infrastruktur di IKN. Direktur Eksekutif Pusat
             Studi Properti Indonesia (PSPI) mengatakan kebutuhan permintaan properti hunian di
             wilayah yang dekat dengan IKN seperti Samarinda dan Balikpapan diyakini akan terus
             meningkat.


             Bisnis properti di kawasan ini akan semakin menjanjikan dan itu salah satunya
             didorong oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur di IKN Nusantara. Hal ini
             juga menjadi momentum yang baik untuk terus memperbesar potensi bisnis properti
             di kawasan ini.


             Potensi yang paling memungkinkan yaitu kebutuhan akan produk residensial hingga
             fasilitas berupa pusat ritel hingga komersial. Perkembangan infrastruktur yang terjadi
             juga akan meningkatkan potensi kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, hingga
             sekitarannya yang akan menarik minat kalangan investor. Terlebih kawasan ini
             memiliki basis ekonomi sebagai daerah pertambangan seperti batubara, minyak, gas,
             maupun perkebunan sehingga menjadi pasar yang penting untuk perkembangan
             bisnis properti.


             Perusahaan developer akan mendorong proyek real estate dan seiring peningkatan
             populasi akan diikuti dengan berbagai sarana lain seperti komersial, pendidikan,
             rumah sakit, bisnis, pariwisata, dan sebagainya.


             Sasaran produk Perseroan dalam penambahan kegiatan usaha ini adalah rencana
             pembangunan kawasan perumahan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser
             Utara. Lebih lanjut sasaran pasar yang dituju adalah wilayah dengan jumlah
             penduduk Kalimantan Timur yang terkonsentrasi di empat wilayah yaitu: Kota
             Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota
             Balikpapan. Sasaran selanjutnya adalah rencana pembangunan Sub-Wilayah
             Pengembangan 1B dan 1C Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP IKN.


             Proyek-proyek ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan akan material
             bangunan, termasuk batako dan paving block, seiring dengan pertumbuhan sektor



                                                                                              71
Page 84
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             properti yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan juga akan
             memanfaatkan jaringan distribusi yang efektif untuk menjangkau konsumen di
             berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan dan pedesaan.


             Dengan analisis pasar tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
             Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.


      8.2    Kajian Kelayakan Teknis


              Dari Kajian Kelayakan Teknis, dalam rencana penambahan kegiatan usaha ini,
              Perseroan akan mengimpor Mesin batako dan paving block yang berasal dari Negara
              Tiongkok. Mesin ini bernama ZN600VP yaitu mesin pembuat batako dan paving
              block otomatis, yang dirancang di Jerman dan dibuat di Tiongkok. Kapasitas
              terpasang mesin adalah sebesar 24.000 unit/hari.


              Alur operasional kegiatan Perseroan terdiri dari mencampurkan semen, pasir, batu
              pecah dan limbah karbid. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan adukan tersebut
              kedalam mixer sebagai pencampuran lanjutan dan kemudian baru dapat di
              masukkan kedalam cetakan batako dan paving block. Proses pelepasan dari cetakan
              dapat dilakukan setelah 24 jam sehingga siap untuk diuji.


             Lahan yang digunakan untuk penambahan kegiatan usaha ini berada pada kawasan
             pabrik Perseroan yang berlokasi di Jl. Mulawarman Km.18, RT 24, No.49, Manggar.
             Dari lahan yang tersedia, dibutuhkan TPS limbah karbit seluas 240 m2 dengan
             kapasitas tampung sebanyak 960 m3 dan pabrik batako dan paving block seluas
             1.296 m2. Pabrik batako dan paving block dapat menampung sebanyak 3.450.000
             batako dan paving block


             Dengan analisis teknis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa Penambahan
             Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.


      8.3    Kajian Kelayakan Pola Bisnis


             Dari Kajian Kelayakan Pola Bisnis, Perseroan telah berdiri sejak lama sehingga
             memiliki keunggulan kompetitif di antaranya adalah 1) Perseroan telah memiliki
             lahan yang tersedia untuk penambahan kegiatan usaha. Sehingga tidak memerlukan
             biaya tambahan untuk pembelian atau penyewaan gudang/pabrik; 2) Perseroan
             memiliki jangkauan penjualan yang luas; 3) Berdasarkan kinerja keuangan,
             Perseroan memiliki kondisi keuangan yang cukup likuid, memiliki proporsi liabilitas
             yang kecil, dan konsisten mencatatkan laba bersih tiap tahunnya sehingga sangat
             memungkinkan untuk membiayai penambahan kegiatan usaha; 4) Perseroan telah
             memiliki salah satu sumber bahan baku yaitu limbah karbit hasil dari produk gas
             acetylene sehingga ketersediaannya stabil dan berkelanjutan. Dengan keunggulan



                                                                                             72
Page 85
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




             kompetitif yang sudah dimiliki, Perseroan dapat menciptakan nilai yaitu 1) Citra
             Bisnis Ramah Lingkungan; 2) Menambah sumber pendapatan baru; 3) Meningkatkan
             kinerja keuangan Perseroan; dan 4) Efisiensi operasional.


              Kemampuan pesaing untuk meniru produk memang tidak dapat dihindari, sehingga
              membuat kegiatan usaha dalam bidang ini menjadi sangat kompetitif. Upaya
              mitigasi yang dapat dilakukan oleh Perseroan diantaranya adalah 1) Meningkatkan
              kualitas produk dan layanan; 2) Melindungi dan mendaftarkan hak kekayaan
              intelektual; 3) Meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk; 4) Melakukan inovasi
              produk secara berkelanjutan; dan 5) Memperkuat loyalitas konsumen terhadap
              produk Perseroan.


             Dengan analisis pola bisnis tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
             Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.


      8.4    Kajian Kelayakan Model Manajemen


              Dari kelayakan model manajemen, Perseroan memiliki 277 orang karyawan. Dalam
              rencana penambahan kegiatan usaha ini, Perseroan membutuhkan tambahan SDM,
              sehingga akan melakukan melakukan penambahan tenaga kerja. Perseroan telah
              memiliki pengalaman dan keberhasilan yang baik untuk mengelola usaha, sehingga
              Perseroan juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang baik untuk menambah
              portofolio produknya.


              Bagi Perseroan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen krusial dalam
              keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Setiap pencapaian dan pertumbuhan
              kinerja Perseroan bergantung pada dedikasi serta kontribusi individu di dalamnya.
              Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha baru ini, Perseroan
              Perseroan berencana akan melakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 12 orang
              yang terdiri dari superintendent, supervisor produksi, supervisor sales & distribusi,
              operator produksi, quality control, sales dan driver.


              Dengan analisis model manajemen tersebut, maka dapat kami simpulkan bahwa
              Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.




                                                                                                73
Page 86
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8.5    Kajian Kelayakan Keuangan


              Dari Kajian Kelayakan Keuangan, analisis kelayakan proyek menunjukkan bahwa
              Penambahan Kegiatan Usaha ini memenuhi kriteria kelayakan dengan variabel-
              variabel sebagai berikut:


             • Net Present Value (NPV) > 0 → Layak
                NPV yang dihasilkan adalah sebesar Rp7.096.846.000,-. Dengan demikian, hasil
                NPV yang positif atau lebih dari nol menunjukkan bahwa proyek layak dikerjakan
                karena memberikan keuntungan.
              • Internal Rate of Return (IRR) > Discount Rate → Layak
                IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
                discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
                bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
                (cost of capital) yang diasumsikan.
             • Profitability Index (PI) > 1 → Layak
                IRR yang dihasilkan adalah sebesar 20,57%. Hasil IRR berada di atas tingkat
                discount rate yang sebesar 10,38%. Dengan demikian, hasil IRR menunjukkan
                bahwa proyek layak dikerjakan karena keuntungan lebih besar dari biaya modal
                (cost of capital) yang diasumsikan.
             • Payback Period (PP)
                PP yang diperoleh adalah 4 tahun 5 bulan. Dengan demikian, Perseroan mampu
                mengembalikan seluruh investasi setelah proyek berjalan selama 4 tahun 5
                bulan.


             Kemudian, dari analisis sensitivitas, harga jual turun merupakan faktor yang paling
             sensitif terhadap kelayakan usaha.


             Dengan      analisis   keuangan   tersebut,   maka   dapat   kami    simpulkan     bahwa
             Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.


      8.6    Kesimpulan Studi Kelayakan


             Dengan demikian, berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis,
             Kelayakan Pola Bisnis, Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat
             disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha sesuai dengan KBLI 23953
             (Industri Barang Dari Semen dan Kapur Untuk Konstruksi), KBLI 46633 (Perdagangan
             Besar Genteng, Batu Bata, Ubin dan Sejenisnya Dari Tanah Liat, Kapur, Semen Atau
             Kaca), KBLI 38220 (Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya), KBLI 23929
             (Industri Bahan Bangunan Dari Tanah Liat/ Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng),
             KBLI 2392 (Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/ Keramik), KBLI 49342
             (Kegiatan     Angkutan    Bermotor   untuk    Barang   Khusus),     serta   KBLI   46100
             (Perdagangan Besar Atas Dasar Balas Jasa (Fee) atau Kontrak) adalah layak.



                                                                                                   74
Page 87
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk




      8.7    Saran


             Berdasarkan analisis atas Kelayakan Pasar, Kelayakan Teknis, Kelayakan Pola Bisnis,
             Kelayakan Model Manajemen, dan Kelayakan Keuangan, dapat kami sampaikan
             bahwa kami menyarankan agar manajemen Perseroan dapat menggunakan mesin
             produksi yang lebih kompetitif, memperhatikan variable-variabel yang sensitif
             terhadap kelayakan usaha yaitu harga jual dan volume produksi. Selanjutnya untuk
             mengantisipasi risiko tidak tercapainya demand yang berasal dari proyek IKN, maka
             Perseroan perlu menjajaki potensi-potensi lain untuk menjaga keberlangsungan
             usaha.




                                                                                             75

File

File Open PDF
Source IDX
Size2.36 MB
Published3 Oct 2025
Pages87
Characters265,599
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 64 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org SURYA BIRU MURNI ACETYLENE TBK · Nama Perusahaan p.1 ×270
linked org Negara Maju p.12 ×2
linked person Maurice Ganda Nainggolan p.14 ×3
linked — Surya Biru Titilea p.18 ×2
linked — Tiffany Wei p.18 ×2
linked person Effendi Komisaris p.19
linked person M. Slamet Brotosiswoyo p.19
linked person Julianto Setyoadji p.19
linked person Carsen Finrely p.19
linked person Dwi Irma Anjalita M Noor p.19
linked org Sarana Multigriya Finansial p.45
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.4 ×4
possible person Rini Dwiyanti · Direktur Utama p.15 ×2
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.33
possible person Sri | Mulyani p.45
unresolved org KJPP Syarif p.3 ×2
unresolved org Rekan · Penilai p.3
unresolved org | SBMA · Nama Perusahaan p.3
unresolved org ENDANG & REKAN p.6 ×2
unresolved org REKAN Endang Sunardi p.6
unresolved org KJPP Syarif Rekan p.6
unresolved org Endang dan Rekan p.6 ×2
unresolved person Endang Sunardi, S.T., M.M., MAPPI (Cert.) p.8 ×2
unresolved person Meilindra Indriani p.8
unresolved person Toyib Efendi, S.E., M.Ec.Dev. p.8 ×2
unresolved org Muhammad Rizal Hidayat, S.Pt. p.8
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Syarif p.13 ×2
unresolved person Mohamad Rasjid Umar · Notaris p.13 ×5
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.13 ×3
unresolved person Rosida Rajaguguk Siregar p.13 ×3
unresolved org Kementerian p.13
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.14
unresolved org Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan dan Rekan p.14 ×2
unresolved org Kantor Akuntan Publik Maurice Ganda Nainggolan p.14 ×2
unresolved org Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan p.14 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Anwar p.14 ×3
unresolved person Rahadian p.15
unresolved org KJPP p.16
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.18 ×2
unresolved org PT Surya Biru Titilea Investama p.18 ×2
unresolved person Abdul Latief p.19
unresolved org Kota Nusantara p.30 ×7
unresolved org PT Varia Usaha Beton p.31 ×2
unresolved org PT Kutai Inti Beton p.31 ×2
unresolved org Menteri Perdagangan p.34
unresolved org Menteri Perhubungan p.34
unresolved org Menteri Lingkungan p.34 ×2
unresolved org Kementerian Lingkungan p.34
unresolved org Bank Indonesia p.37 ×14
unresolved org Bank Indonesia Gambar p.37
unresolved org Bank Indonesia Kondisi Ekonomi Indonesia Di p.38
unresolved org Bank Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia Tabel p.39
unresolved org Pusat Statistik p.44
unresolved person Deputi · Direktur p.45
unresolved org Kementerian Keuangan p.45
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat p.46 ×2
unresolved org Kota Negara Nusantara. Upaya p.46
unresolved org Kementerian PUPR p.46
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum p.57
unresolved org Bank KI p.70 ×4
unresolved org Bank KMK p.70 ×4
unresolved org Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko p.76
unresolved org Kementerian Keuangan RI p.76
unresolved org Kota Negara Nusantara. Prinsip p.82

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 21189 ms 12 Sep 2026 22:35
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL_FACT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result