Back to announcement
20260727_ENAK_Laporan Informasi dan Fakta Material_32115189_lamp1.pdf
Other Text extracted ENAKSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 25
Page 1
No. Ref : 046/CORPSEC/Jul/2026 Jakarta, 27 Juli 2026
Lampiran : 1 (satu) Berkas
Kepada Yth.:
PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”)
Gedung Bursa Efek Indonesia
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta, 12190
u.p. : Bapak Saidu Solihin
Direktur
Bapak Adi Pratomo Aryanto
Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2
Perihal : Penyampaian Tanggapan Lanjutan atas Permintaan Penjelasan Laporan
Keuangan per 31 Maret 2026
Dengan hormat,
Sehubungan dengan Surat Bursa Efek Indonesia ("Bursa") Nomor S-08684/BEI.PP2/07-
2026 perihal Permintaan Penjelasan atas Laporan Keuangan per 31 Maret 2026, yang
diterima Perseroan melalui SPE IDXnet pada tanggal 20 Juli 2026 yang telah ditanggapi
sebagian melalui Surat Perseroan Nomor 042/CORPSEC/Jul/2026 dan
043/CORPSEC/Jul/2026 tertanggal 22 Juli 2026, bersama ini PT Champ Resto Indonesia
Tbk ("Perseroan") kembali menyampaikan tanggapan lanjutan atas permintaan
penjelasan dimaksud sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini.
Dengan penyampaian tanggapan dalam lampiran dimaksud, Perseroan telah
memberikan tanggapan atas seluruh permintaan penjelasan sebagaimana dimaksud
dalam Surat Bursa.
Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan
terima kasih.
Hormat kami,
PT CHAMP RESTO INDONESIA Tbk
RIDWAN BUDIJONO
Direktur Utama
Page 2
Lampiran Surat No. 046/CORPSEC/Jul/2026
1. Berdasarkan laporan keuangan Perseroan baik dari sisi posisi keuangan dan kinerja
keuangan per 31 Maret 2026, agar Perseroan dapat menjelaskan:
a. Informasi jumlah karyawan Perseroan dengan melengkapi tabel berikut ini
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Informasi same-store sales growth (SSSG) per merek/restoran yang dikelola
oleh Perseroan.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
c. Jumlah gerai Perseroan berkurang dari 343 ke 330. Agar dijelaskan jumlah
gerai yang ditutup dan dibuka, dan bagaimana untuk kriteria penutupan?
Tanggapan Perseroan:
Selama periode Januari hingga Maret 2026, Perseroan melakukan penutupan
sebanyak 13 gerai dan tidak membuka gerai baru. Penutupan tersebut
dilakukan sebagai bagian dari strategi optimalisasi jaringan gerai, dengan
mempertimbangkan evaluasi atas kinerja operasional masing-masing gerai
serta hasil negosiasi dengan pihak pengelola atau pengembang pusat
perbelanjaan terkait upaya peningkatan traffic pengunjung dan/atau
optimalisasi biaya sewa. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
operasional dan mendukung kinerja Perseroan secara berkelanjutan.
Selanjutnya, Perseroan berencana untuk membuka gerai baru pada kuartal ke-
3 tahun 2026 secara selektif, dengan tetap memperhatikan belanja modal dan
tingkat pengembalian yang optimum. Sehingga diharapkan rencana
pembukaan gerai baru tersebut akan mendukung kinerja Perseroan.
d. Beban penjualan Perseroan yaitu sebesar ~56,6% dari penjualan. Bagaimana
usaha Perseroan agar laba usaha kembali menjadi positif?
Tanggapan Perseroan:
Untuk mengembalikan laba usaha ke posisi yang positif, Perseroan
menerapkan berbagai langkah strategis yang berfokus pada peningkatan
pendapatan dan efisiensi biaya. Upaya peningkatan pendapatan dilakukan
melalui rasionalisasi menu dan penyesuaian harga jual, sedangkan optimalisasi
biaya dilakukan melalui penyesuaian komposisi tenaga kerja di gerai, negosiasi
ulang biaya sewa dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan,
serta efisiensi berbagai biaya operasional lainnya, seperti listrik, gas, air,
perlengkapan, dan biaya operasional pendukung lainnya. Langkah-langkah
tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus
memperkuat profitabilitas Perseroan.
Page 3
e. Arus kas operasi pada 31 Maret 2026 berbalik menjadi -Rp18,3 miliar di mana pembayaran ke pemasok mengalami kenaikan sebesar 15% Agar dapat dijelaskan latar belakang dan penyebab atas hal tersebut. Tanggapan Perseroan: Arus kas dari aktivitas operasi pada 31 Maret 2026 yang tercatat negatif sebesar Rp18,3 miliar terutama dipengaruhi oleh peningkatan pembayaran kepada pemasok sebesar 15% dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan pembayaran tersebut merupakan bagian dari strategi Perseroan untuk memperbaiki posisi utang usaha melalui percepatan pembayaran kepada pemasok. Langkah ini dilakukan guna menjaga hubungan kerja sama yang baik dengan pemasok, meningkatkan kredibilitas Perseroan, serta memperoleh syarat perdagangan (trade terms) yang lebih kompetitif, termasuk potensi harga yang lebih baik, ketersediaan pasokan yang lebih terjamin, dan fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku. Meskipun strategi tersebut memberikan tekanan sementara terhadap arus kas operasi, Perseroan meyakini bahwa langkah ini akan memberikan manfaat jangka panjang melalui peningkatan efisiensi biaya pengadaan, kelancaran operasional, serta mendukung perbaikan kinerja usaha secara berkelanjutan. f. Sehubungan dengan modal kerja bersih negatif ~Rp 343,8 miliar dan rasio lancar 0,25x, agar dijelaskan bagaimana rencana pengelolaan likuiditas 12 bulan ke depan? Tanggapan Perseroan: Perseroan menyadari bahwa posisi modal kerja bersih yang negatif sebesar Rp 343,8 miliar dan rasio lancar sebesar 0,25x memerlukan pengelolaan likuiditas yang disiplin dan berkelanjutan. Untuk menjaga kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek selama 12 bulan ke depan, Perseroan telah menyusun dan mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang berfokus pada optimalisasi arus kas operasional dan pengelolaan modal kerja. Langkah-langkah tersebut meliputi negosiasi ulang dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan untuk memperoleh skema biaya sewa yang lebih efisien, optimalisasi termin pembayaran kepada pemasok dengan tetap menjaga hubungan bisnis yang baik, serta penerapan program efisiensi biaya operasional di seluruh lini usaha, termasuk pengendalian biaya tenaga kerja, utilitas, perlengkapan, dan biaya operasional lainnya. Di sisi pendapatan, Perseroan terus berupaya meningkatkan penjualan melalui berbagai inisiatif operasional dan komersial, antara lain optimalisasi portofolio menu, penyesuaian harga jual yang mempertimbangkan kondisi pasar, peningkatan efektivitas program promosi, serta penguatan kinerja gerai yang memiliki potensi pertumbuhan. Perseroan juga secara berkala mengevaluasi kinerja setiap gerai untuk memastikan alokasi sumber daya dilakukan secara optimal. Melalui implementasi berbagai langkah tersebut, Perseroan menargetkan peningkatan arus kas operasional, perbaikan pengelolaan modal kerja, serta
Page 4
penguatan posisi likuiditas secara bertahap, sehingga Perseroan tetap mampu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dan mendukung keberlangsungan operasional dalam 12 bulan mendatang. Namun, perlu dicatat juga bahwa liabilitas jangka pendek Perseroan sebagian besar terdiri atas utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun untuk pinjaman bank jangka panjang dan liabilitas sewa hak-guna yang diakui berdasarkan PSAK 73. Utang jangka panjang adalah liabilitas tersebut memiliki jadwal pembayaran secara bertahap sesuai dengan jangka waktu masing- masing perjanjian. Sedangkan liabilitas sewa hak-guna sebesar Rp 133 miliar yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun merupakan bagian dari liabilitas sewa yang diakui berdasarkan penerapan PSAK 73: Sewa. Saldo tersebut merepresentasikan nilai kini (present value) atas kewajiban pembayaran sewa sesuai dengan kontrak sewa yang telah disepakati, dan bukan merupakan tambahan kewajiban atau komitmen pembayaran baru yang timbul pada periode berjalan. g. Berdasarkan indikator-indikator keuangan Perseroan, apa dasar manajemen menyimpulkan tidak ada keraguan signifikan atas kelangsungan usaha? Apa rencana strategis (target SSSG, efisiensi, restrukturisasi, atau dukungan pemegang saham) untuk membalik tren rugi dan arus kas operasi negatif? Tanggapan Perseroan: Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan atas kemampuan Perseroan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern). Keyakinan tersebut didasarkan pada hasil evaluasi terhadap kondisi operasional, posisi keuangan, serta rencana bisnis dan proyeksi arus kas Perseroan untuk sedikitnya 12 bulan ke depan. Dalam rangka memperbaiki kinerja keuangan dan memperkuat likuiditas, Perseroan telah mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang berfokus pada peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, dan optimalisasi modal kerja. Dari sisi pendapatan, Perseroan terus mendorong pertumbuhan penjualan melalui optimalisasi portofolio menu, penyesuaian harga jual yang mempertimbangkan kondisi pasar, peningkatan efektivitas program pemasaran dan promosi, serta penguatan kinerja gerai yang memiliki potensi pertumbuhan. Perseroan juga secara berkelanjutan melakukan evaluasi terhadap portofolio gerai untuk memastikan setiap outlet memberikan kontribusi yang optimal terhadap profitabilitas, termasuk melakukan relokasi atau penutupan gerai yang tidak memenuhi target kinerja. Di sisi efisiensi, Perseroan menjalankan berbagai program pengendalian biaya melalui negosiasi ulang biaya sewa dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan, optimalisasi komposisi tenaga kerja di gerai, pengendalian biaya utilitas dan biaya operasional lainnya, serta peningkatan efisiensi dalam pengadaan barang dan bahan baku melalui pengelolaan hubungan yang lebih baik dengan pemasok dan optimalisasi syarat perdagangan. Perseroan juga
Page 5
terus mengelola modal kerja secara disiplin melalui optimalisasi termin
pembayaran kepada pemasok, percepatan perputaran persediaan, serta
pemantauan arus kas secara berkala untuk memastikan kecukupan likuiditas
dalam mendukung kegiatan operasional.
Selain implementasi berbagai inisiatif tersebut, manajemen secara berkala
melakukan penelaahan atas pencapaian kinerja dibandingkan dengan rencana
bisnis dan proyeksi arus kas, sehingga langkah-langkah korektif dapat segera
dilakukan apabila terdapat perubahan kondisi usaha. Dengan
mempertimbangkan prospek usaha Perseroan, kemampuan menghasilkan arus
kas dari kegiatan operasional, serta efektivitas berbagai program peningkatan
pendapatan dan efisiensi yang sedang dijalankan, manajemen meyakini bahwa
Perseroan memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban
yang jatuh tempo dan mempertahankan kelangsungan usahanya dalam periode
paling sedikit 12 bulan sejak tanggal pelaporan. Sebagai tambahan, Perseroan
juga masih memiliki akses terhadap fasilitas perbankan dan/atau sumber
pendanaan lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan
modal kerja sesuai kebutuhan.
2. Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 6 terkait dengan
Piutang Usaha, agar Perseroan dapat menjelaskan:
a. Nature dari piutang usaha Perseroan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
sebesar Rp1,8 miliar pada 31 Maret 2026.
Tanggapan Perseroan:
Piutang usaha kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar Rp1,8 miliar per
31 Maret 2026 merupakan piutang yang timbul dari transaksi penjualan
Perseroan yang dilakukan melalui mesin Electronic Data Capture (EDC) BCA.
Sesuai dengan mekanisme penyelesaian transaksi (settlement) yang berlaku,
dana hasil transaksi penjualan tersebut diterima oleh Perseroan pada hari
kerja berikutnya (H+1) setelah tanggal transaksi.
Dengan demikian, saldo piutang usaha tersebut bersifat jangka pendek,
merupakan bagian dari siklus operasional normal Perseroan, dan bukan
merupakan piutang yang timbul akibat pemberian fasilitas kredit kepada
pelanggan. Saldo piutang tersebut akan tertagih secara otomatis sesuai dengan
jadwal settlement yang telah disepakati dengan pihak bank, sehingga memiliki
tingkat risiko kredit yang relatif rendah.
b. Informasi cadangan kerugian piutang sebesar Rp 392 juta berdasarkan nama
pihak.
Tanggapan Perseroan:
[Terlampir bersama surat ini Cadangan Piutang Tak Tertagih per 31 Maret
2026]
Page 6
c. Status pelunasan piutang usaha Perseroan dengan melengkapi tabel berikut
ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
3. Berdasarkan CALK nomor 7 terkait dengan Piutang lain-lain, lebih khusus terkait
dengan piutang lain-lain jangka panjang dari Drs. Yunus Ciptawilangga sebesar
Rp4,9 miliar, agar dapat dijelaskan oleh Perseroan:
a. Nature dan keuntungan ekonomis yang diperoleh Perseroan dari piutang
tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.
b. Status realisasi pelunasan piutang tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.
c. Bagaimana pertimbangan Perseroan terkait perlu atau tidak diperlukannya
pencadangan piutang lain-lain tersebut? Agar dijelaskan.
Tanggapan Perseroan:
Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.
4. Berdasarkan CALK nomor 9 terkait dengan Uang Muka, Uang Muka Perseroan per
31 Maret 2026 mengalami kenaikan dari semula sebesar Rp4,5 miliar menjadi
sebesar Rp7 miliar dibandingkan posisi per 31 Desember 2025. Agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan uang muka operasional dari semula sebesar Rp2,8
miliar menjadi sebesar Rp5,5 miliar pada tahun 2026.
Tanggapan Perseroan:
Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 042/CORPSEC/Jul/2026
tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 023 IDXnet.
b. Status realisasi pembelian peralatan gerai per Rp1,5 miliar.
Tanggapan Perseroan:
Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 042/CORPSEC/Jul/2026
tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 023 IDXnet.
Page 7
5. Berdasarkan CALK nomor 11 terkait dengan aset tetap, agar dijelaskan:
a. Agar dapat dilengkapi laporan keuangan interim Perseroan untuk halaman 36-
37.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
Keuangan Nomor 11 mengenai mutasi aset tetap, termasuk rincian mutasi
untuk periode 31 Desember 2025 sampai dengan 31 Maret 2026 serta mutasi
untuk periode 31 Desember 2024 sampai dengan 31 Desember 2025. Informasi
yang disajikan akan mencakup saldo awal, penambahan, pengurangan,
reklasifikasi (apabila ada), beban penyusutan, serta saldo akhir untuk masing-
masing kelompok aset tetap sesuai dengan ketentuan PSAK yang berlaku.
b. Informasi Mutasi Aset Tetap untuk 31 Desember 2025 sampai dengan 31 Maret
2025 dan untuk 31 Desember 2024 sampai dengan 31 Desember 2025.
Tanggapan Perseroan:
[Terlampir bersama surat ini]
c. Revaluasi tanah & bangunan menggunakan dua KJPP dan dua metode berbeda
dalam ~3 bulan. Mohon penjelasan dasar pemilihan penilai/metode dan
dampaknya terhadap surplus revaluasi Rp42,9 miliar.
Tanggapan Perseroan:
Revaluasi tanah dan bangunan dilakukan oleh dua Kantor Jasa Penilai Publik
(KJPP) yang independen. Penunjukan masing-masing KJPP didasarkan pada
ruang lingkup penugasan dan karakteristik aset yang dinilai, sehingga setiap
KJPP melakukan penilaian atas kelompok aset yang berbeda.
Dalam melakukan penilaian, masing-masing KJPP menerapkan metode yang
dianggap paling sesuai dengan karakteristik aset dan ketersediaan data pasar.
Sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI), terdapat tiga pendekatan
penilaian yang dapat digunakan untuk menentukan nilai pasar suatu aset, yaitu
Pendekatan Pasar (Market Approach), Pendekatan Pendapatan (Income
Approach), dan Pendekatan Biaya (Cost/Replacement Cost Approach).
Pemilihan pendekatan penilaian sepenuhnya merupakan pertimbangan
profesional (professional judgement) dari KJPP berdasarkan karakteristik aset,
tujuan penilaian, serta ketersediaan data yang relevan. Selain itu, kedua KJPP
merupakan penilai independen yang memiliki izin usaha dan kompetensi sesuai
ketentuan yang berlaku. Hasil penilaian masing-masing KJPP telah disusun
sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan digunakan sebagai dasar
pencatatan revaluasi aset sesuai dengan ketentuan standar akuntansi
keuangan yang berlaku.
Penggunaan dua KJPP dan metode penilaian yang berbeda tidak memberikan
dampak terhadap surplus revaluasi sebesar Rp42,9 miliar, mengingat masing-
masing KJPP melakukan penilaian atas aset yang berbeda dan hasil
penilaiannya dicatat secara terpisah sesuai dengan aset yang menjadi objek
Page 8
penilaian. Dengan demikian, surplus revaluasi merupakan akumulasi hasil
revaluasi atas seluruh aset yang dinilai dan bukan disebabkan oleh perbedaan
metode penilaian yang digunakan
d. Perincian aset tetap yang dijadikan jaminan atas utang bank yang mencakup
informasi kelompok aset tetap, nilai jaminan dan status jaminan per saat ini.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
Keuangan Nomor 11 mengenai aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan atas
fasilitas pinjaman bank. Informasi yang akan disampaikan meliputi kelompok
aset tetap yang dijaminkan, nilai tercatat atau nilai jaminan sesuai dengan
dokumen perjanjian kredit, nama kreditur, serta status jaminan pada tanggal
pelaporan. Pengungkapan tersebut dilakukan untuk memberikan informasi
yang memadai kepada para pengguna laporan keuangan mengenai aset
Perseroan yang menjadi agunan atas fasilitas pinjaman yang dimiliki.
Kelompok Aset Tetap Nilai Perolehan Jaminan Status Jaminan
Tanah 95.232.800.000 Nilai appraisal
Bangunan 20.940.700.000 Nilai appraisal
Renovasi Bangunan 434.095.168.109 Nilai perolehan
Peralatan Outlet 25.122.934.575 Nilai perolehan
Peralatan Kitchen 35.376.035.040 Nilai perolehan
Mesin Elektronik 44.378.335.504 Nilai perolehan
Furniture 25.953.336.104 Nilai perolehan
Total 681.099.309.332
6. Berdasarkan CALK nomor 12 terkait dengan Aset Tak Berwujud, agar Perseroan
dapat menjelaskan:
a. Nature dari aset tak berwujud Bagi Hasil sebesar Rp3,7 miliar.
Tanggapan Perseroan:
Aset tak berwujud berupa "Bagi Hasil" sebesar Rp3,7 miliar merupakan hak
ekonomis yang timbul dari transaksi pengalihan hak dan pengambilalihan
kewajiban (bagi hasil) dengan PT Monsieur Spoon yang dilakukan pada tahun
2019. Transaksi tersebut memberikan Perseroan hak kontraktual untuk
memperoleh manfaat ekonomis sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
perjanjian antara para pihak. Oleh karena itu, nilai tersebut diakui sebagai
aset tak berwujud sesuai dengan substansi ekonomi transaksi dan kebijakan
akuntansi Perseroan yang mengacu pada standar akuntansi keuangan yang
berlaku.
Page 9
b. Latar belakang aset tak berwujud tersebut tidak diamortisasi (tidak terdapat
penambahan amortisasi) untuk periode berjalan.
Tanggapan Perseroan:
Tidak terdapat beban amortisasi atas aset tak berwujud tersebut pada periode
berjalan karena aset tersebut telah diamortisasi secara penuh pada periode-
periode sebelumnya, sehingga nilai tercatatnya pada 31 Desember 2025 telah
mencapai nilai residu atau nihil sesuai dengan kebijakan akuntansi Perseroan.
Oleh karena itu, tidak terdapat tambahan beban amortisasi yang diakui pada
periode yang berakhir 31 Maret 2026.
c. Perincian perangkat lunak sebesar Rp10,1 miliar berdasarkan perangkat lunak
dan fungsinya.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
Keuangan Nomor 12 mengenai rincian aset tak berwujud berupa perangkat
lunak sebesar Rp10,1 miliar. Informasi yang akan disampaikan mencakup jenis
perangkat lunak yang dimiliki, fungsi atau penggunaannya dalam mendukung
kegiatan operasional Perseroan, serta nilai tercatat masing-masing kelompok
perangkat lunak apabila material. Pengungkapan tersebut bertujuan untuk
memberikan informasi yang lebih memadai kepada para pengguna laporan
keuangan mengenai komposisi dan pemanfaatan aset tak berwujud Perseroan.
No Software Fungsi Harga Perolehan
1 Software (net) - Software (net) - Monsieur Spoon 4.700.000.000
Monsieur Spoon
2 CRI Super Apps Aplikasi yang digunakan sebagai 3.420.452.351
sarana promosi dan penjualan
produk
3 Pro Int Human Aplikasi untuk otomatisasi 2.003.400.000
Capital administrasi HR, seperti
manajemen absensi,
perhitungan gaji (payroll), cuti,
hingga rekrutmen dan evaluasi
kinerja.
10.123.852.351
7. Berdasarkan CALK nomor 13 terkait dengan Aset Hak Guna, agar dapat dijelaskan:
a. Perincian aset hak guna sewa berdasarkan merek/gerai:
Tanggapan Perseroan:
Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
Keuangan Nomor 13 mengenai rincian aset hak guna berdasarkan merek
dan/atau gerai yang menggunakan aset hak guna tersebut. Informasi yang
Page 10
disajikan akan memberikan gambaran mengenai komposisi aset hak guna yang
dimiliki Perseroan sesuai dengan klasifikasi operasional masing-masing merk
maupun gerai, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih memadai
kepada para pengguna laporan keuangan.
Brand Perolehan Aset Hak Guna Akumulasi Depresiasi Nilai Buku 31 Mar
26
Back 10.148.552.263 5.411.309.020 4.737.243.243
Office
Pusat 22.657.929.224 15.288.238.260 7.369.690.964
Produksi
dan
Gudang
Bmk 23.489.401.311 17.238.673.940 6.250.727.371
Chopstix 21.477.361.599 14.696.847.195 6.780.514.404
Croco 60.189.366.302 27.907.385.182 32.281.981.120
Dewata 16.124.818.218 10.665.743.636 5.459.074.582
Gokana 260.328.618.510 181.888.352.194 78.440.266.316
Grillman 12.500.003.790 4.239.527.252 8.260.476.538
Monsieur 135.750.381.089 81.168.654.553 54.581.726.536
Spoon
Platinum 101.330.605.929 70.763.012.921 30.567.593.008
Raacha 348.683.593.307 240.486.999.532 108.196.593.774
Total 1.012.680.631.540 669.754.743.684 342.925.887.856
b. Bagaimana strategi Perseroan untuk dapat memperoleh harga sewa ruang
toko/kantor yang optimal.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan secara berkelanjutan melakukan pengelolaan biaya sewa sebagai
salah satu upaya meningkatkan efisiensi operasional. Strategi yang dilakukan
antara lain melalui negosiasi secara aktif dengan pengelola atau pengembang
Page 11
pusat perbelanjaan untuk memperoleh struktur biaya sewa yang lebih
kompetitif dan sesuai dengan potensi bisnis masing-masing lokasi.
Dalam proses negosiasi, Perseroan mempertimbangkan berbagai aspek, antara
lain kinerja penjualan gerai, tingkat profitabilitas, kontribusi gerai terhadap
keseluruhan portofolio usaha, kondisi lalu lintas pengunjung (traffic) pusat
perbelanjaan, prospek lokasi, serta kondisi pasar properti ritel. Perseroan juga
mengupayakan skema kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah
pihak (win-win solution), sehingga keberlangsungan operasional gerai tetap
terjaga dengan struktur biaya yang lebih optimal.
c. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi rencana Perseroan untuk
memperpanjang dan mengakhiri kontrak sewa? Agar dijelaskan.
Tanggapan Perseroan:
Keputusan Perseroan untuk memperpanjang maupun mengakhiri kontrak sewa
dilakukan berdasarkan evaluasi bisnis yang komprehensif terhadap masing-
masing gerai. Faktor-faktor utama yang menjadi pertimbangan meliputi
kinerja operasional dan profitabilitas gerai, tren penjualan, tingkat kunjungan
(traffic) pusat perbelanjaan, prospek pengembangan lokasi, serta hasil
evaluasi atas kontribusi gerai terhadap kinerja Perseroan secara keseluruhan.
Selain faktor operasional, Perseroan juga mempertimbangkan hasil negosiasi
dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan, khususnya terkait
besaran biaya sewa, skema kerja sama, insentif yang diberikan, serta
fleksibilitas syarat dan ketentuan sewa. Apabila hasil evaluasi menunjukkan
bahwa suatu gerai masih memiliki prospek yang baik dan dapat memberikan
nilai tambah bagi Perseroan dengan struktur biaya yang memadai, maka
Perseroan akan mempertimbangkan untuk memperpanjang kontrak sewa.
Sebaliknya, apabila suatu gerai tidak lagi memenuhi kriteria kelayakan usaha
atau tidak tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan dengan pihak
pengelola, Perseroan dapat memutuskan untuk tidak memperpanjang atau
mengakhiri kontrak sewa sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio
gerai dan peningkatan efisiensi operasional.
8. Berdasarkan CALK nomor 14 terkait dengan Aset Lain-Lain, agar dijelaskan:
a. Latar belakang aset lain-lain lancar Perseroan sebesar Rp7,3 miliar yaitu
perlengkapan dan peralatan gerai tidak disajikan sebagai bagian dari aset
tetap.
Tanggapan Perseroan:
Perlengkapan dan peralatan gerai yang disajikan sebagai aset lain-lain lancar
sebesar Rp7,3 miliar merupakan barang-barang yang telah dibeli dan diterima
oleh Perseroan, namun pada tanggal pelaporan masih berada di gudang dan
belum dialokasikan atau dipasang pada gerai tertentu. Oleh karena itu, aset
tersebut belum digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan belum
memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset tetap sesuai dengan kebijakan
akuntansi Perseroan. Setelah perlengkapan dan peralatan tersebut dipasang
Page 12
dan mulai digunakan pada gerai yang bersangkutan, nilainya akan
direklasifikasi menjadi aset tetap sesuai dengan kelompok aset yang relevan.
b. Perseroan memiliki aset lain-lain tidak lancar yaitu uang jaminan sebesar
Rp58,9 miliar. Agar dijelaskan nature dari uang jaminan tersebut dan perincian
dari uang jaminan tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Aset lain-lain tidak lancar berupa uang jaminan sebesar Rp58,9 miliar
merupakan security deposit yang ditempatkan Perseroan kepada pemilik atau
pengelola gedung/pusat perbelanjaan sebagai bagian dari persyaratan dalam
perjanjian sewa gerai. Uang jaminan tersebut berfungsi sebagai jaminan atas
pelaksanaan kewajiban Perseroan selama masa sewa dan pada umumnya akan
dikembalikan kepada Perseroan pada saat berakhirnya masa sewa, setelah
seluruh kewajiban sesuai perjanjian dipenuhi.
Perseroan akan melengkapi pengungkapan mengenai perincian uang jaminan
tersebut pada Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi mengenai
pihak penerima jaminan dan nilai jaminan yang terkait, sesuai dengan tingkat
materialitas dan ketentuan pengungkapan yang berlaku.
Jenis Uang Jaminan Nilai
Deposit Sewa 37.745.299.118
Deposit Service Charge 17.081.246.133
Deposit Listrik Air dan Gas 2.600.428.007
Deposit Fit Out 811.666.883
Deposit Telepon 717.773.000
Jumlah 58.956.413.142
9. Berdasarkan CALK nomor 15 terkait dengan Utang Bank Jangka Pendek Perseroan,
agar dapat dijelaskan:
a. Perincian utang bank jangka pendek dengan melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Jumlah sisa plafon fasilitas yang belum ditarik dan bagaimana profil jatuh
tempo pinjaman 12 bulan ke depan? Apakah ada risiko refinancing?
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 13
c. Terkait dengan batasan-batasan kredit pinjaman, agar Perseroan dapat
melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
10. Berdasarkan CALK nomor 16 terkait dengan Utang Bank Jangka Panjang, agar
Perseroan dapat menjelaskan:
a. Utang bank jangka panjang Perseroan mengalami peningkatan sebesar Rp23,5
miliar dalam kurun waktu 3 bulan, agar Perseroan dapat menjelaskan:
i. Latar belakang Perseroan meningkatkan pinjaman bank jangka panjang.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
ii. Tujuan dan penggunaan dana dari pinjaman bank jangka panjang.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Perincian utang bank jangka pendek dengan melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
c. Sehubungan dengan terdapatnya jumlah yang akan jatuh tempo dalam setahun
yaitu sebesar Rp71,1 miliar, agar Perseroan dapat menjelaskan upaya
Perseroan dalam melakukan pelunasan pinjaman tersebut.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
d. Pada pengungkapan disebutkan bahwa fasilitas kredit jangka panjang tersebut
dijaminkan dengan persediaan barang sebesar Rp50 miliar atas nama PT
Champ Resto Indonesia Tbk. Pada laporan posisi keuangan Perseroan, jumlah
Persediaan sebesar Rp35,2 miliar per 31 Maret 2026. Agar Perseroan dapat
menjelaskan apakah Perseroan masih sesuai dengan ketentuan penjaminan
oleh Bank.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 14
e. Terkait dengan batasan-batasan kredit pinjaman, agar Perseroan dapat
melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
11. Berdasarkan CALK nomor 18 terkait dengan Utang Usaha, agar Perseroan dapat
menjelaskan:
a. Terdapat utang usaha yang telah melebihi jatuh tempo sebesar Rp6,4 miliar,
Rp4,1 miliar dan Rp1,6 miliar masing-masing untuk periode 1-30 hari, 31-60
hari dan lebih dari 60 hari. Agar dapat dijelaskan latar belakang utang usaha
tersebut belum dibayarkan oleh Perseroan dan rencana Perseroan untuk
melakukan pembayaran utang usaha tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Utang usaha yang telah melewati jatuh tempo merupakan kewajiban
Perseroan kepada pemasok yang sebagian besar berasal dari pembelian
bahan baku dan kebutuhan operasional lainnya dalam kegiatan usaha sehari-
hari. Keterlambatan pembayaran tersebut terutama disebabkan oleh
pengelolaan modal kerja dan penyesuaian arus kas operasional Perseroan,
sehingga pembayaran kepada pemasok dilakukan berdasarkan skala prioritas
dengan tetap mempertimbangkan keberlangsungan operasional Perseroan.
Perseroan secara aktif melakukan komunikasi dan negosiasi dengan para
pemasok untuk memperoleh penyesuaian termin pembayaran yang lebih
sesuai dengan kondisi arus kas Perseroan, dengan tetap menjaga hubungan
kerja sama yang baik. Di samping itu, Perseroan terus melaksanakan berbagai
inisiatif untuk meningkatkan arus kas operasional, antara lain melalui
peningkatan penjualan, pengendalian biaya operasional, serta optimalisasi
pengelolaan modal kerja. Melalui langkah-langkah tersebut, Perseroan
berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban kepada pemasok secara
bertahap sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai dengan masing-
masing pemasok.
b. Apakah terdapat potensi tuntutan hukum berupa upaya PKPU atau kepailitan
dari pihak-pihak supplier/vendor Perseroan yang saat ini Perseroan masih
memiliki utang usaha dengan para pihak tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, Perseroan tidak
mengidentifikasi adanya potensi tuntutan hukum, termasuk permohonan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) maupun kepailitan, dari
pemasok atau vendor terkait dengan utang usaha Perseroan.
Perseroan senantiasa menjaga komunikasi dan hubungan kerja sama yang
baik dengan para pemasok serta secara aktif melakukan penyelesaian
kewajiban sesuai dengan hasil negosiasi dan kesepakatan yang telah dicapai.
Berdasarkan evaluasi manajemen, hubungan usaha dengan para pemasok
Page 15
tetap berjalan dengan baik dan kegiatan operasional Perseroan tidak
mengalami gangguan yang material akibat posisi utang usaha tersebut.
12. Berdasarkan CALK nomor 19 terkait dengan Utang Lain-Lain, agar dijelaskan
nature dari utang lain-lain dengan PT Cipta Rasa Juara sebesar Rp1,3 miliar dan
rencana Perseroan untuk melakukan pelunasan dari utang tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Utang lain-lain kepada PT Cipta Rasa Juara sebesar Rp1,3 miliar merupakan
pinjaman yang diberikan untuk mendukung kebutuhan operasional Perseroan.
Pinjaman tersebut bersifat non-komersial dan tidak diatur dalam perjanjian
tertulis yang menetapkan jangka waktu pengembalian maupun pengenaan suku
bunga, sehingga penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kesepahaman dan
komunikasi antara kedua belah pihak.
Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, Perseroan terus melakukan
komunikasi dan koordinasi dengan PT Cipta Rasa Juara terkait mekanisme serta
jadwal pelunasan pinjaman tersebut. Perseroan berkomitmen untuk
menyelesaikan kewajiban dimaksud dengan mempertimbangkan kondisi arus kas
dan kemampuan keuangan Perseroan, serta tetap menjaga hubungan kerja sama
yang baik dengan PT Cipta Rasa Juara. Manajemen meyakini bahwa penyelesaian
utang tersebut dapat dilakukan melalui kesepakatan yang saling menguntungkan
tanpa mengganggu kelangsungan operasional Perseroan.
13. Berdasarkan CALK nomor 20 terkait dengan Perpajakan, agar dijelaskan:
a. Rincian utang pajak Rp86,6 miliar (PB1/pajak restoran, PPh 21/23/4(2)) dan
status penyetorannya. Apakah terdapat tunggakan, surat ketetapan, atau
eksposur sanksi/denda?
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Mengapa terdapat beban pajak tangguhan Rp4,57 miliar di tengah rugi? Apa
dasar penurunan aset pajak tangguhan dari Rp8,1 ke Rp3,5 miliar.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
c. Bagaimana penilaian pemulihan (recoverability) aset pajak tangguhan serta rugi
fiskal yang berulang (PSAK 212)?
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
d. Pos "Manfaat Pajak Penghasilan" pada laba rugi sebenarnya menambah rugi
(beban). Mohon konfirmasi/koreksi penamaan.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 16
e. Apakah saat ini terdapat dan/atau akan ada rencana pemeriksaan pajak oleh
otoritas perpajakan? Agar dapat dijelaskan.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
14. Berdasarkan CALK nomor 22 terkait dengan Beban Akrual, agar dapat dijelaskan
oleh Perseroan:
a. Latar belakang dan nature dari beban akrual tunjangan hari raya dan bonus
sebesar Rp7 miliar dan rencana realisasi pembayaran oleh Perseroan.
Tanggapan Perseroan:
Beban akrual tunjangan hari raya (THR) dan bonus sebesar Rp7,0 miliar
merupakan kewajiban Perseroan yang telah timbul sampai dengan tanggal
pelaporan sebagai konsekuensi atas jasa yang telah diberikan oleh karyawan,
namun pembayarannya baru akan direalisasikan pada periode berikutnya
sesuai dengan jadwal pembayaran dan kebijakan Perseroan. Oleh karena itu,
kewajiban tersebut diakui sebagai beban akrual sesuai dengan prinsip akrual
dan kebijakan akuntansi Perseroan.
Untuk komponen tunjangan hari raya (THR), Perseroan senantiasa memenuhi
kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang ketenagakerjaan dan pembayaran THR tersebut telah direalisasikan
pada bulan Maret 2026. Sementara itu, pembayaran bonus akan dilakukan
sesuai dengan kebijakan remunerasi Perseroan dengan mempertimbangkan
pencapaian kinerja Perseroan maupun kinerja individu yang bersangkutan.
b. Latar belakang dan nature dari beban akrual biaya gaji sebesar Rp4,3 miliar
dan rencana realisasi pembayaran oleh Perseroan.
Tanggapan Perseroan:
Beban akrual gaji sebesar Rp4,3 miliar merupakan akrual atas kewajiban gaji
karyawan yang telah menjadi hak karyawan sampai dengan tanggal 31 Maret
2026, termasuk tambahan kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas operasional
selama periode Hari Raya (peak season), namun pembayarannya dilakukan
pada periode berikutnya sesuai dengan siklus penggajian Perseroan.
c. Seluruh kewajiban gaji tersebut telah direalisasikan dan dibayarkan secara
penuh oleh Perseroan pada bulan April 2026 sesuai dengan jadwal
pembayaran yang berlaku.Perincian lebih lanjut dari beban akrual lain-lain
per 31 Maret 2026 yaitu sebesar Rp16,8 miliar.
Tanggapan Perseroan:
Beban akrual lain-lain sebesar Rp16,8 miliar terdiri atas akrual berbagai biaya
operasional yang telah menjadi kewajiban Perseroan sampai dengan tanggal
pelaporan, namun pada saat tersebut belum jatuh tempo atau belum
ditagihkan oleh pihak terkait. Komponen utama beban akrual lain-lain
Page 17
meliputi biaya transportasi, jasa konsultan, serta berbagai biaya operasional
lainnya yang timbul dalam kegiatan usaha normal Perseroan.
Perseroan akan melengkapi rincian beban akrual lain-lain tersebut sesuai
dengan tingkat materialitas pada Catatan atas Laporan Keuangan, dan
seluruh kewajiban tersebut akan diselesaikan sesuai dengan ketentuan
pembayaran yang berlaku berdasarkan perjanjian maupun kebijakan
operasional Perseroan.
15. Berdasarkan CALK nomor 23 terkait dengan Liabilitas Sewa Hak Guna, agar
dijelaskan:
a. Perincian liabiltias hak guna sewa dengan melengkapi tabel ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Berdasarkan pengungkapan, terdapat porsi liabilitas sewa hak guna sebesar Rp
133 miliar yang akan jatuh tempo kurang dari 1 tahun, agar Perseroan dapat
menjelaskan upaya dan strategi keuangan Perseroan untuk pembayaran
jumlah tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Liabilitas sewa hak guna sebesar Rp 133 miliar yang akan jatuh tempo dalam
waktu kurang dari satu tahun merupakan bagian dari liabilitas sewa yang
diakui berdasarkan penerapan PSAK 73: Sewa. Saldo tersebut
merepresentasikan nilai kini (present value) atas kewajiban pembayaran sewa
sesuai dengan kontrak sewa yang telah disepakati, dan bukan merupakan
tambahan kewajiban atau komitmen pembayaran baru yang timbul pada
periode berjalan.
Penerapan PSAK 73 mengubah perlakuan akuntansi atas transaksi sewa, di
mana pembayaran sewa yang sebelumnya diakui sebagai beban sewa
operasional kini diakui sebagai pelunasan liabilitas sewa dan beban bunga,
disertai dengan pengakuan aset hak guna. Dengan demikian, pengakuan
liabilitas sewa dan aset hak guna pada laporan posisi keuangan merupakan
konsekuensi dari perubahan standar akuntansi untuk mencerminkan secara
lebih tepat hak penggunaan aset dan kewajiban pembayaran sewa yang telah
dikomitmenkan oleh Perseroan berdasarkan kontrak sewa.
Dari sisi pengelolaan likuiditas, pembayaran liabilitas sewa dilakukan sesuai
dengan jadwal pembayaran yang telah diatur dalam masing-masing perjanjian
sewa dan merupakan bagian dari arus kas operasional rutin Perseroan. Untuk
memenuhi kewajiban tersebut, Perseroan terus berupaya meningkatkan arus
kas operasional melalui peningkatan penjualan, pelaksanaan program
efisiensi biaya, optimalisasi portofolio gerai, serta negosiasi dengan pengelola
atau pengembang pusat perbelanjaan untuk memperoleh struktur biaya sewa
yang lebih kompetitif apabila kontrak sewa diperpanjang atau diperbarui.
Page 18
Dengan mempertimbangkan proyeksi arus kas operasional dan pengelolaan
likuiditas yang dilakukan secara berkelanjutan, manajemen meyakini
bahwa Perseroan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban
pembayaran sewa sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dalam
kontrak sewa.
16. Berdasarkan CALK nomor 24 terkait dengan Liabilitas Imbalan Pasca Kerja
Karyawan, Asumsi aktuaria imbalan kerja per 31 Maret 2026 tidak disajikan —
apakah dilakukan pengukuran kembali pada laporan keuangan interim?
Tanggapan Perseroan:
Perseroan tidak melakukan pengukuran kembali (remeasurement) atas liabilitas
imbalan pasca kerja pada laporan keuangan interim per 31 Maret 2026.
Pengukuran aktuaria atas liabilitas imbalan pasca kerja dilakukan secara tahunan
oleh aktuaris independen sesuai dengan kebijakan akuntansi Perseroan dan
ketentuan standar akuntansi yang berlaku.
Oleh karena itu, asumsi-asumsi aktuaria yang digunakan dalam perhitungan
liabilitas imbalan pasca kerja tidak diperbarui secara khusus pada tanggal 31
Maret 2026. Perseroan akan melakukan pengukuran kembali dan memperbarui
asumsi aktuaria pada akhir tahun pelaporan atau apabila terdapat indikasi adanya
perubahan signifikan yang dapat berdampak material terhadap nilai liabilitas
imbalan pasca kerja, sesuai dengan ketentuan standar akuntansi yang berlaku.
17. Berdasarkan CALK nomor 32 terkait Penjualan Bersih, agar Perseroan dapat
menjelaskan:
a. Perincian penjualan per 31 Maret 2026 dengan 31 Maret 2025 berdasarkan
merek gerai.
Brand 1Q25 1Q26
Gokana 113.497.415.574 103.622.684.313
RaaCha 130.852.939.693 130.753.081.064
Monsieur Spoon 86.423.034.371 73.423.371.994
Lainnya 33.327.731.337 33.751.317.506
Total 364.101.120.975 341.550.454.877
b. Perincian penjualan per 31 Maret 2026 dengan 31 Maret 2025 berdasarkan
wilayah geografis.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 19
c. Penjualan Perseroan mengalami penurunan penjualan sebesar Rp22,5 miliar
(6%), agar dijelaskan bagaimana upaya Perseroan untuk meningkatkan
kinerja penjualan?
Tanggapan Perseroan:
Menurunnya penjualan Perseroan sebesar Rp22,5 miliar atau sekitar 6%
mendorong manajemen untuk mengimplementasikan berbagai inisiatif
strategis guna meningkatkan kinerja penjualan dan memperkuat daya saing
Perseroan. Upaya tersebut dilakukan melalui kombinasi strategi peningkatan
pendapatan, optimalisasi produk, dan penguatan aktivitas pemasaran.
Dari sisi produk, Perseroan melakukan rasionalisasi dan penyempurnaan
portofolio menu (menu engineering) serta penyesuaian harga jual dengan
mempertimbangkan preferensi pelanggan, kondisi pasar, dan tingkat
profitabilitas produk. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik
produk sekaligus mengoptimalkan nilai penjualan.
Selain itu, Perseroan terus mengembangkan penjualan ke segmen Business-
to-Business (B2B) melalui kerja sama dengan berbagai instansi, perusahaan,
dan institusi, sehingga dapat memperluas sumber pendapatan di luar
penjualan ritel pada gerai.
Di bidang pemasaran, Perseroan meningkatkan berbagai inisiatif dan aktivasi
marketing, baik melalui program promosi, kampanye pemasaran, maupun
kolaborasi dengan mitra strategis dan platform digital, guna meningkatkan
brand awareness, jumlah kunjungan pelanggan (traffic), serta frekuensi
transaksi di seluruh jaringan gerai.
Perseroan juga secara berkala melakukan evaluasi terhadap kinerja masing-
masing gerai dan efektivitas program pemasaran untuk memastikan setiap
inisiatif yang dijalankan memberikan kontribusi positif terhadap
pertumbuhan penjualan dan profitabilitas Perseroan secara berkelanjutan.
18. Berdasarkan CALK nomor 33 terkait dengan Beban Pokok Penjualan, agar
Perseroan dapat menjelaskan:
a. Latar belakang dari biaya transportasi, listrik, perizinan retribusi dan
sumbangan disajikan sebagai bagian dari biaya pokok penjualan.
Tanggapan Perseroan:
Biaya transportasi, listrik, perizinan retribusi, dan sumbangan yang disajikan
sebagai bagian dari biaya pokok penjualan merupakan biaya-biaya yang
secara langsung berkaitan dengan proses produksi, pengolahan, dan distribusi
bahan baku menjadi produk yang dijual oleh Perseroan. Biaya transportasi
mencakup pengiriman bahan baku dan distribusi yang terkait dengan proses
produksi, sedangkan biaya listrik terutama digunakan untuk mendukung
aktivitas produksi dan operasional dapur atau fasilitas pengolahan.
Selain itu, biaya perizinan dan retribusi tertentu yang berhubungan langsung
Page 20
dengan kegiatan produksi dan distribusi produk, serta sumbangan yang
merupakan persyaratan operasional pada lokasi tertentu yang terkait dengan
kelangsungan proses produksi dan distribusi, diklasifikasikan sebagai bagian
dari biaya pokok penjualan sesuai dengan substansi ekonominya. Perseroan
melakukan pengklasifikasian tersebut dengan mempertimbangkan
keterkaitan biaya terhadap proses menghasilkan produk yang dijual kepada
pelanggan.
b. Beban tenaga kerja langsung Perseroan mengalami penurunan dari semula
sebesar Rp11,7 miliar menjadi sebesar Rp11,4 miliar per 31 Maret 2026. Agar
dapat dijelaskan latar belakang dari penurunan tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Penurunan beban tenaga kerja langsung dari Rp11,7 miliar menjadi Rp11,4
miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026 terutama disebabkan oleh
inisiatif Perseroan dalam melakukan optimalisasi biaya tenaga kerja sebagai
bagian dari program peningkatan efisiensi operasional dan perbaikan kinerja
keuangan.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain penyesuaian komposisi tenaga
kerja di gerai, pengaturan jadwal kerja yang lebih efisien berdasarkan
tingkat aktivitas operasional dan traffic pelanggan, serta peningkatan
produktivitas tenaga kerja melalui evaluasi kebutuhan operasional di masing-
masing gerai. Perseroan tetap memastikan bahwa upaya efisiensi tersebut
tidak mengurangi kualitas layanan dan operasional yang diberikan kepada
pelanggan.
Manajemen memandang bahwa pengendalian biaya tenaga kerja langsung
merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga margin usaha dan
mendukung upaya Perseroan untuk meningkatkan profitabilitas secara
berkelanjutan.
19. Berdasarkan CALK nomor 34 terkait Beban Penjualan, agar Perseroan dapat
menjelaskan:
a. Nature dari biaya layanan (service charge) di mana per 31 Maret 2026 sebesar
Rp 24 miliar dan bagaimana upaya Perseroan dapat mengoptimalkan biaya
layanan tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Biaya layanan (service charge) sebesar Rp24,0 miliar merupakan biaya yang
dibebankan oleh pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan kepada
penyewa sebagai bagian dari kewajiban berdasarkan perjanjian sewa. Biaya
tersebut pada umumnya digunakan untuk membiayai pengelolaan dan
pemeliharaan area bersama (common area), termasuk namun tidak terbatas
pada keamanan, kebersihan, utilitas area bersama, pemeliharaan fasilitas
gedung, sistem pendingin udara (central air conditioning), parkir, serta
Page 21
fasilitas pendukung lainnya yang digunakan secara bersama oleh seluruh
tenant.
Dalam rangka mengoptimalkan biaya layanan tersebut, Perseroan secara aktif
melakukan negosiasi dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan,
baik pada saat perpanjangan kontrak maupun selama masa sewa apabila
dimungkinkan berdasarkan ketentuan perjanjian. Selain itu, Perseroan secara
berkala mengevaluasi efektivitas biaya okupansi setiap gerai, termasuk service
charge, dengan mempertimbangkan kinerja gerai, tingkat kunjungan (traffic)
pusat perbelanjaan, dan kontribusi gerai terhadap profitabilitas Perseroan.
Melalui langkah tersebut, Perseroan berupaya memperoleh struktur biaya
okupansi yang lebih kompetitif tanpa mengurangi keberlangsungan
operasional gerai.
b. Komponen biaya gaji dan tunjangan Perseroan mengalami penurunan dari
semula sebesar Rp80,1 miliar menjadi sebesar Rp70,7 miliar. Agar dapat
dijelaskan latar belakang dari penurunan biaya gaji dan tunjangan tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Biaya gaji dan tunjangan mengalami penurunan dari Rp80,1 miliar menjadi
Rp70,7 miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026. Penurunan tersebut
merupakan hasil dari berbagai inisiatif efisiensi yang dijalankan Perseroan
sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan memperbaiki
kinerja keuangan.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi optimalisasi jumlah dan komposisi
tenaga kerja di gerai maupun kantor pusat, penyesuaian penempatan sumber
daya manusia berdasarkan kebutuhan operasional, serta peningkatan
produktivitas melalui pengelolaan jadwal kerja yang lebih efektif. Perseroan
juga melakukan evaluasi secara berkala terhadap struktur organisasi dan biaya
tenaga kerja untuk memastikan keseimbangan antara efisiensi biaya dan
kualitas layanan kepada pelanggan.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Perseroan berhasil menekan biaya gaji dan
tunjangan tanpa mengurangi efektivitas operasional, sehingga dapat
mendukung peningkatan efisiensi dan profitabilitas Perseroan secara
berkelanjutan.
20. Berdasarkan CALK nomor 35 terkait dengan beban umum dan administrasi, agar
dapat dijelaskan:
a. Latar belakang penurunan komponen beban gaji dan tunjangan dari semula
sebesar Rp24,9 miliar menjadi sebesar Rp22,4 miliar.
Tanggapan Perseroan:
Beban gaji dan tunjangan mengalami penurunan dari Rp24,9 miliar menjadi
Rp22,4 miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026. Penurunan tersebut
Page 22
merupakan hasil dari berbagai inisiatif efisiensi yang dijalankan Perseroan sebagai bagian dari program optimalisasi struktur biaya dan peningkatan produktivitas organisasi. Upaya yang dilakukan antara lain melalui penyesuaian struktur organisasi, optimalisasi jumlah dan penempatan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan operasional, serta peningkatan efisiensi proses kerja. Langkah- langkah tersebut dilakukan secara selektif dengan tetap memperhatikan efektivitas operasional dan kualitas tata kelola perusahaan. Melalui inisiatif tersebut, Perseroan berhasil mengendalikan biaya tenaga kerja sekaligus mendukung upaya peningkatan kinerja keuangan secara berkelanjutan. b. Latar belakang peningkatan komponen jasa tenaga ahli dari semula sebesar Rp 2 miliar menjadi sebesar Rp4,6 miliar. Tanggapan Perseroan: Beban jasa tenaga ahli meningkat dari Rp2,0 miliar menjadi Rp4,6 miliar terutama disebabkan oleh penggunaan jasa konsultan profesional yang ditunjuk Perseroan untuk mendukung berbagai inisiatif strategis dalam rangka meningkatkan kinerja usaha dan memperkuat kondisi keuangan Perseroan. Ruang lingkup jasa yang diberikan meliputi antara lain evaluasi efisiensi operasional, optimalisasi struktur biaya, peningkatan profitabilitas, penguatan pengelolaan modal kerja, serta penyusunan rekomendasi strategis untuk mendukung keberlanjutan usaha. Manajemen memandang penggunaan jasa tenaga ahli tersebut sebagai investasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang melalui peningkatan efisiensi operasional, perbaikan kinerja keuangan, serta penguatan daya saing Perseroan. c. Latar belakang peningkatan komponen Koordinasi dan jamuan dari semula sebesar Rp 315 juta menjadi sebesar Rp 944 juta. Tanggapan Perseroan: Beban koordinasi dan jamuan meningkat dari Rp315 juta menjadi Rp944 juta, yang terutama disebabkan oleh peningkatan kegiatan koordinasi internal Perseroan, termasuk akrual biaya rapat kerja (Raker) yang diselenggarakan pada periode berjalan. Rapat kerja tersebut merupakan bagian dari agenda strategis Perseroan untuk melakukan evaluasi kinerja, menyelaraskan arah dan prioritas bisnis, menetapkan rencana kerja, serta memperkuat koordinasi lintas fungsi dalam pelaksanaan berbagai inisiatif strategis. Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dan efektivitas komunikasi antar unit kerja, sehingga implementasi strategi Perseroan dapat berjalan secara lebih optimal dan target bisnis yang telah ditetapkan dapat dicapai secara lebih efektif.
Page 23
21. Berdasarkan CALK nomor 41 terkait dengan Instrumen Keuangan, agar dapat
dijelaskan:
a. Perseroan memiliki posisi liabilitas bersih sebesar Rp 323 miliar. Agar dapat
dijelaskan bagaimana upaya Perseroan untuk dapat memitigasi risiko likuiditas
tersebut.
Tanggapan Perseroan:
Posisi liabilitas bersih Perseroan sebesar Rp323 miliar perlu dilihat dengan
mempertimbangkan karakteristik industri food and beverage (F&B) serta
struktur laporan posisi keuangan Perseroan. Pada industri F&B, aset lancar
umumnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan sektor usaha lainnya
karena sebagian besar penjualan dilakukan secara tunai atau melalui kartu
debit/kredit dan platform pembayaran digital dengan periode penerimaan
yang relatif singkat. Dengan demikian, saldo piutang usaha pada umumnya
tidak signifikan.
Di sisi lain, liabilitas keuangan Perseroan sebagian besar terdiri atas pinjaman
bank jangka panjang dan liabilitas sewa yang diakui berdasarkan PSAK 73, yang
memiliki jadwal pembayaran secara bertahap sesuai dengan jangka waktu
masing-masing perjanjian. Oleh karena itu, posisi liabilitas bersih tersebut
tidak serta-merta mencerminkan tekanan likuiditas yang harus dipenuhi dalam
jangka pendek.
Dalam rangka memitigasi risiko likuiditas, Perseroan secara berkelanjutan
menerapkan berbagai langkah pengelolaan keuangan, antara lain
meningkatkan penjualan melalui berbagai inisiatif bisnis, mengendalikan dan
mengefisienkan biaya operasional, mengoptimalkan pengelolaan modal kerja,
melakukan negosiasi termin pembayaran dengan pemasok, serta melakukan
negosiasi biaya sewa dengan pengelola pusat perbelanjaan. Perseroan juga
secara rutin memantau proyeksi arus kas dan kebutuhan pendanaan untuk
memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai dalam memenuhi
kewajiban yang jatuh tempo.
Berdasarkan evaluasi manajemen, struktur liabilitas Perseroan masih dapat
dikelola sesuai dengan profil jatuh temponya dan didukung oleh berbagai
inisiatif perbaikan kinerja yang sedang dijalankan. Oleh karena itu,
manajemen meyakini bahwa risiko likuiditas Perseroan tetap berada pada
tingkat yang dapat dikelola secara memadai.
b. Perincian jatuh tempo realisasi dari aset keuangan dan liabilitas keuangan
dengan melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 24
22. Berdasarkan CALK nomor 42 terkait dengan Manajemen Risiko Keuangan, agar
Perseroan dapat menjelaskan:
a. Mitigasi risiko Perseroan terhadap potensi risiko suku mata uang asing.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan memiliki eksposur yang sangat terbatas terhadap risiko perubahan
nilai tukar mata uang asing karena hampir seluruh transaksi operasional, baik
pendapatan maupun pengeluaran, dilakukan dalam mata uang Rupiah. Selain
itu, sumber pembelian bahan baku, pembayaran kepada pemasok, serta
fasilitas pinjaman Perseroan pada umumnya juga menggunakan mata uang
Rupiah.
Dengan karakteristik tersebut, Perseroan tidak memiliki eksposur yang
material terhadap risiko nilai tukar mata uang asing. Meskipun demikian,
manajemen tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap
perkembangan nilai tukar dan akan mempertimbangkan langkah-langkah
mitigasi yang diperlukan apabila di masa mendatang terdapat transaksi atau
komitmen dalam mata uang asing yang dapat berdampak material terhadap
kondisi keuangan Perseroan.
b. Agar diinformasikan tabel Analisa sensitivitas untuk risiko suku bunga, apabila
masing-masing suku bunga mengalami kenaikan 1% atau penurunan 1%.
Tanggapan Perseroan:
Perseroan akan melengkapi pengungkapan analisis sensitivitas terhadap risiko
suku bunga pada Catatan atas Laporan Keuangan, yang menggambarkan
dampak terhadap laba sebelum pajak dan/atau ekuitas apabila tingkat suku
bunga mengalami kenaikan atau penurunan sebesar 1% dengan asumsi variabel
lainnya tetap (ceteris paribus), sesuai dengan ketentuan PSAK mengenai
instrumen keuangan dan pengungkapan risiko keuangan.
Akun 31-Mar-26 31-Dec-25
Utang bank jangka pendek 48.501.986.650 40.759.605.388
Utang bank jangka panjang 247.263.919.963 226.692.796.494
Jumlah 295.765.906.613 267.452.401.882
Sensitivitas:
Jika suku bunga naik 1% 2.957.659.066 2.674.524.019
Jika suku bunga turun 1% (2.957.659.066) (2.674.524.019)
Page 25
23. Berdasarkan tabel perbandingan proyeksi keuangan yang disusun Perseroan pada
proses penawaran umum perdana saham dan perbandingannya dengan laporan
keuangan yang telah diaudit per 31 Desember 2025, agar dapat dijelaskan:
a. Pendapatan Perseroan pada tahun 2025 diproyeksikan yaitu sebesar Rp3,9
triliun, sementara realisasi pendapatan Perseroan yaitu sebesar Rp1,4 triliun.
Agar Perseroan dapat menjelaskan latar belakang ketidaktercapaian tersebut.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
b. Laba bersih Perseroan pada tahun 2025 diproyeksikan yaitu sebesar Rp654
miliar sementara realisasi pada tahun 2025 yaitu sebesar rugi bersih Rp 74
miliar. Agar Perseroan dapat menjelaskan latar belakang ketidaktercapaian
tersebut.
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
c. Proyeksi keuangan tahun 2026 dengan melengkapi tabel berikut ini:
Tanggapan Perseroan:
[Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Names mentioned 9 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
person
Saidu Solihin
p.1
unresolved
person
RIDWAN BUDIJONO
· Direktur Utama
p.1
unresolved
person
Drs. Yunus Ciptawilangga
p.6
unresolved
org
PT Monsieur Spoon
p.8
unresolved
org
PT Cipta Rasa Juara. Manajemen
p.15
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.