Skip to content
Back to announcement

20260727_ENAK_Laporan Informasi dan Fakta Material_32115189_lamp1.pdf

Other Text extracted ENAK

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 25

Page 1
No. Ref      : 046/CORPSEC/Jul/2026                        Jakarta, 27 Juli 2026
Lampiran     : 1 (satu) Berkas

Kepada Yth.:
PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”)
Gedung Bursa Efek Indonesia
Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
Jakarta, 12190
u.p.    : Bapak Saidu Solihin
           Direktur
           Bapak Adi Pratomo Aryanto
           Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2


Perihal : Penyampaian Tanggapan Lanjutan atas Permintaan Penjelasan Laporan
          Keuangan per 31 Maret 2026


Dengan hormat,

Sehubungan dengan Surat Bursa Efek Indonesia ("Bursa") Nomor S-08684/BEI.PP2/07-
2026 perihal Permintaan Penjelasan atas Laporan Keuangan per 31 Maret 2026, yang
diterima Perseroan melalui SPE IDXnet pada tanggal 20 Juli 2026 yang telah ditanggapi
sebagian    melalui   Surat     Perseroan    Nomor     042/CORPSEC/Jul/2026       dan
043/CORPSEC/Jul/2026 tertanggal 22 Juli 2026, bersama ini PT Champ Resto Indonesia
Tbk ("Perseroan") kembali menyampaikan tanggapan lanjutan atas permintaan
penjelasan dimaksud sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini.

Dengan penyampaian tanggapan dalam lampiran dimaksud, Perseroan telah
memberikan tanggapan atas seluruh permintaan penjelasan sebagaimana dimaksud
dalam Surat Bursa.

Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan
terima kasih.


Hormat kami,
PT CHAMP RESTO INDONESIA Tbk



RIDWAN BUDIJONO
Direktur Utama
Page 2
                    Lampiran Surat No. 046/CORPSEC/Jul/2026

1. Berdasarkan laporan keuangan Perseroan baik dari sisi posisi keuangan dan kinerja
    keuangan per 31 Maret 2026, agar Perseroan dapat menjelaskan:
    a. Informasi jumlah karyawan Perseroan dengan melengkapi tabel berikut ini

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

  b. Informasi same-store sales growth (SSSG) per merek/restoran yang dikelola
     oleh Perseroan.

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]


  c. Jumlah gerai Perseroan berkurang dari 343 ke 330. Agar dijelaskan jumlah
     gerai yang ditutup dan dibuka, dan bagaimana untuk kriteria penutupan?

      Tanggapan Perseroan:
      Selama periode Januari hingga Maret 2026, Perseroan melakukan penutupan
      sebanyak 13 gerai dan tidak membuka gerai baru. Penutupan tersebut
      dilakukan sebagai bagian dari strategi optimalisasi jaringan gerai, dengan
      mempertimbangkan evaluasi atas kinerja operasional masing-masing gerai
      serta hasil negosiasi dengan pihak pengelola atau pengembang pusat
      perbelanjaan terkait upaya peningkatan traffic pengunjung dan/atau
      optimalisasi biaya sewa. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
      operasional dan mendukung kinerja Perseroan secara berkelanjutan.
      Selanjutnya, Perseroan berencana untuk membuka gerai baru pada kuartal ke-
      3 tahun 2026 secara selektif, dengan tetap memperhatikan belanja modal dan
      tingkat pengembalian yang optimum. Sehingga diharapkan rencana
      pembukaan gerai baru tersebut akan mendukung kinerja Perseroan.

  d. Beban penjualan Perseroan yaitu sebesar ~56,6% dari penjualan. Bagaimana
     usaha Perseroan agar laba usaha kembali menjadi positif?

      Tanggapan Perseroan:
      Untuk mengembalikan laba usaha ke posisi yang positif, Perseroan
      menerapkan berbagai langkah strategis yang berfokus pada peningkatan
      pendapatan dan efisiensi biaya. Upaya peningkatan pendapatan dilakukan
      melalui rasionalisasi menu dan penyesuaian harga jual, sedangkan optimalisasi
      biaya dilakukan melalui penyesuaian komposisi tenaga kerja di gerai, negosiasi
      ulang biaya sewa dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan,
      serta efisiensi berbagai biaya operasional lainnya, seperti listrik, gas, air,
      perlengkapan, dan biaya operasional pendukung lainnya. Langkah-langkah
      tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus
      memperkuat profitabilitas Perseroan.
Page 3
e. Arus kas operasi pada 31 Maret 2026 berbalik menjadi -Rp18,3 miliar di mana
   pembayaran ke pemasok mengalami kenaikan sebesar 15% Agar dapat
   dijelaskan latar belakang dan penyebab atas hal tersebut.

   Tanggapan Perseroan:
   Arus kas dari aktivitas operasi pada 31 Maret 2026 yang tercatat negatif
   sebesar Rp18,3 miliar terutama dipengaruhi oleh peningkatan pembayaran
   kepada pemasok sebesar 15% dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan
   pembayaran tersebut merupakan bagian dari strategi Perseroan untuk
   memperbaiki posisi utang usaha melalui percepatan pembayaran kepada
   pemasok. Langkah ini dilakukan guna menjaga hubungan kerja sama yang baik
   dengan pemasok, meningkatkan kredibilitas Perseroan, serta memperoleh
   syarat perdagangan (trade terms) yang lebih kompetitif, termasuk potensi
   harga yang lebih baik, ketersediaan pasokan yang lebih terjamin, dan
   fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku. Meskipun strategi tersebut
   memberikan tekanan sementara terhadap arus kas operasi, Perseroan
   meyakini bahwa langkah ini akan memberikan manfaat jangka panjang melalui
   peningkatan efisiensi biaya pengadaan, kelancaran operasional, serta
   mendukung perbaikan kinerja usaha secara berkelanjutan.

f. Sehubungan dengan modal kerja bersih negatif ~Rp 343,8 miliar dan rasio
   lancar 0,25x, agar dijelaskan bagaimana rencana pengelolaan likuiditas 12
   bulan ke depan?

   Tanggapan Perseroan:
   Perseroan menyadari bahwa posisi modal kerja bersih yang negatif sebesar Rp
   343,8 miliar dan rasio lancar sebesar 0,25x memerlukan pengelolaan likuiditas
   yang disiplin dan berkelanjutan. Untuk menjaga kemampuan Perseroan dalam
   memenuhi kewajiban jangka pendek selama 12 bulan ke depan, Perseroan
   telah menyusun dan mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang
   berfokus pada optimalisasi arus kas operasional dan pengelolaan modal kerja.
   Langkah-langkah tersebut meliputi negosiasi ulang dengan pengelola atau
   pengembang pusat perbelanjaan untuk memperoleh skema biaya sewa yang
   lebih efisien, optimalisasi termin pembayaran kepada pemasok dengan tetap
   menjaga hubungan bisnis yang baik, serta penerapan program efisiensi biaya
   operasional di seluruh lini usaha, termasuk pengendalian biaya tenaga kerja,
   utilitas, perlengkapan, dan biaya operasional lainnya.

   Di sisi pendapatan, Perseroan terus berupaya meningkatkan penjualan melalui
   berbagai inisiatif operasional dan komersial, antara lain optimalisasi portofolio
   menu, penyesuaian harga jual yang mempertimbangkan kondisi pasar,
   peningkatan efektivitas program promosi, serta penguatan kinerja gerai yang
   memiliki potensi pertumbuhan. Perseroan juga secara berkala mengevaluasi
   kinerja setiap gerai untuk memastikan alokasi sumber daya dilakukan secara
   optimal.

   Melalui implementasi berbagai langkah tersebut, Perseroan menargetkan
   peningkatan arus kas operasional, perbaikan pengelolaan modal kerja, serta
Page 4
   penguatan posisi likuiditas secara bertahap, sehingga Perseroan tetap mampu
   memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dan mendukung keberlangsungan
   operasional dalam 12 bulan mendatang.

   Namun, perlu dicatat juga bahwa liabilitas jangka pendek Perseroan sebagian
   besar terdiri atas utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
   untuk pinjaman bank jangka panjang dan liabilitas sewa hak-guna yang diakui
   berdasarkan PSAK 73. Utang jangka panjang adalah liabilitas tersebut memiliki
   jadwal pembayaran secara bertahap sesuai dengan jangka waktu masing-
   masing perjanjian. Sedangkan liabilitas sewa hak-guna sebesar Rp 133 miliar
   yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun merupakan bagian
   dari liabilitas sewa yang diakui berdasarkan penerapan PSAK 73: Sewa. Saldo
   tersebut merepresentasikan nilai kini (present value) atas kewajiban
   pembayaran sewa sesuai dengan kontrak sewa yang telah disepakati, dan
   bukan merupakan tambahan kewajiban atau komitmen pembayaran baru yang
   timbul pada periode berjalan.

g. Berdasarkan indikator-indikator keuangan Perseroan, apa dasar manajemen
   menyimpulkan tidak ada keraguan signifikan atas kelangsungan usaha? Apa
   rencana strategis (target SSSG, efisiensi, restrukturisasi, atau dukungan
   pemegang saham) untuk membalik tren rugi dan arus kas operasi negatif?

   Tanggapan Perseroan:
   Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat ketidakpastian material yang
   dapat menimbulkan keraguan signifikan atas kemampuan Perseroan untuk
   mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern). Keyakinan tersebut
   didasarkan pada hasil evaluasi terhadap kondisi operasional, posisi keuangan,
   serta rencana bisnis dan proyeksi arus kas Perseroan untuk sedikitnya 12 bulan
   ke depan.

   Dalam rangka memperbaiki kinerja keuangan dan memperkuat likuiditas,
   Perseroan telah mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang
   berfokus pada peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, dan optimalisasi
   modal kerja. Dari sisi pendapatan, Perseroan terus mendorong pertumbuhan
   penjualan melalui optimalisasi portofolio menu, penyesuaian harga jual yang
   mempertimbangkan kondisi pasar, peningkatan efektivitas program
   pemasaran dan promosi, serta penguatan kinerja gerai yang memiliki potensi
   pertumbuhan. Perseroan juga secara berkelanjutan melakukan evaluasi
   terhadap portofolio gerai untuk memastikan setiap outlet memberikan
   kontribusi yang optimal terhadap profitabilitas, termasuk melakukan relokasi
   atau penutupan gerai yang tidak memenuhi target kinerja.

   Di sisi efisiensi, Perseroan menjalankan berbagai program pengendalian biaya
   melalui negosiasi ulang biaya sewa dengan pengelola atau pengembang pusat
   perbelanjaan, optimalisasi komposisi tenaga kerja di gerai, pengendalian
   biaya utilitas dan biaya operasional lainnya, serta peningkatan efisiensi dalam
   pengadaan barang dan bahan baku melalui pengelolaan hubungan yang lebih
   baik dengan pemasok dan optimalisasi syarat perdagangan. Perseroan juga
Page 5
      terus mengelola modal kerja secara disiplin melalui optimalisasi termin
      pembayaran kepada pemasok, percepatan perputaran persediaan, serta
      pemantauan arus kas secara berkala untuk memastikan kecukupan likuiditas
      dalam mendukung kegiatan operasional.

      Selain implementasi berbagai inisiatif tersebut, manajemen secara berkala
      melakukan penelaahan atas pencapaian kinerja dibandingkan dengan rencana
      bisnis dan proyeksi arus kas, sehingga langkah-langkah korektif dapat segera
      dilakukan     apabila    terdapat    perubahan     kondisi   usaha.   Dengan
      mempertimbangkan prospek usaha Perseroan, kemampuan menghasilkan arus
      kas dari kegiatan operasional, serta efektivitas berbagai program peningkatan
      pendapatan dan efisiensi yang sedang dijalankan, manajemen meyakini bahwa
      Perseroan memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban
      yang jatuh tempo dan mempertahankan kelangsungan usahanya dalam periode
      paling sedikit 12 bulan sejak tanggal pelaporan. Sebagai tambahan, Perseroan
      juga masih memiliki akses terhadap fasilitas perbankan dan/atau sumber
      pendanaan lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan
      modal kerja sesuai kebutuhan.

2. Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 6 terkait dengan
   Piutang Usaha, agar Perseroan dapat menjelaskan:
   a. Nature dari piutang usaha Perseroan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
      sebesar Rp1,8 miliar pada 31 Maret 2026.

      Tanggapan Perseroan:
      Piutang usaha kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar Rp1,8 miliar per
      31 Maret 2026 merupakan piutang yang timbul dari transaksi penjualan
      Perseroan yang dilakukan melalui mesin Electronic Data Capture (EDC) BCA.
      Sesuai dengan mekanisme penyelesaian transaksi (settlement) yang berlaku,
      dana hasil transaksi penjualan tersebut diterima oleh Perseroan pada hari
      kerja berikutnya (H+1) setelah tanggal transaksi.

      Dengan demikian, saldo piutang usaha tersebut bersifat jangka pendek,
      merupakan bagian dari siklus operasional normal Perseroan, dan bukan
      merupakan piutang yang timbul akibat pemberian fasilitas kredit kepada
      pelanggan. Saldo piutang tersebut akan tertagih secara otomatis sesuai dengan
      jadwal settlement yang telah disepakati dengan pihak bank, sehingga memiliki
      tingkat risiko kredit yang relatif rendah.

   b. Informasi cadangan kerugian piutang sebesar Rp 392 juta berdasarkan nama
      pihak.

      Tanggapan Perseroan:
      [Terlampir bersama surat ini Cadangan Piutang Tak Tertagih per 31 Maret
      2026]
Page 6
   c. Status pelunasan piutang usaha Perseroan dengan melengkapi tabel berikut
      ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]


3. Berdasarkan CALK nomor 7 terkait dengan Piutang lain-lain, lebih khusus terkait
   dengan piutang lain-lain jangka panjang dari Drs. Yunus Ciptawilangga sebesar
   Rp4,9 miliar, agar dapat dijelaskan oleh Perseroan:
   a. Nature dan keuntungan ekonomis yang diperoleh Perseroan dari piutang
      tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
      tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.

   b. Status realisasi pelunasan piutang tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
      tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.

   c. Bagaimana pertimbangan Perseroan terkait perlu atau tidak diperlukannya
      pencadangan piutang lain-lain tersebut? Agar dijelaskan.

      Tanggapan Perseroan:
      Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 043/CORPSEC/Jul/2026
      tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 074 IDXnet.

4. Berdasarkan CALK nomor 9 terkait dengan Uang Muka, Uang Muka Perseroan per
   31 Maret 2026 mengalami kenaikan dari semula sebesar Rp4,5 miliar menjadi
   sebesar Rp7 miliar dibandingkan posisi per 31 Desember 2025. Agar dijelaskan:

   a. Latar belakang peningkatan uang muka operasional dari semula sebesar Rp2,8
      miliar menjadi sebesar Rp5,5 miliar pada tahun 2026.

      Tanggapan Perseroan:
      Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 042/CORPSEC/Jul/2026
      tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 023 IDXnet.


   b. Status realisasi pembelian peralatan gerai per Rp1,5 miliar.

      Tanggapan Perseroan:
      Telah disampaikan kepada Bursa melalui Surat Nomor 042/CORPSEC/Jul/2026
      tanggal 22 Juli 2026 yang diunggah pada Form 023 IDXnet.
Page 7
5. Berdasarkan CALK nomor 11 terkait dengan aset tetap, agar dijelaskan:
   a. Agar dapat dilengkapi laporan keuangan interim Perseroan untuk halaman 36-
      37.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
      Keuangan Nomor 11 mengenai mutasi aset tetap, termasuk rincian mutasi
      untuk periode 31 Desember 2025 sampai dengan 31 Maret 2026 serta mutasi
      untuk periode 31 Desember 2024 sampai dengan 31 Desember 2025. Informasi
      yang disajikan akan mencakup saldo awal, penambahan, pengurangan,
      reklasifikasi (apabila ada), beban penyusutan, serta saldo akhir untuk masing-
      masing kelompok aset tetap sesuai dengan ketentuan PSAK yang berlaku.

   b. Informasi Mutasi Aset Tetap untuk 31 Desember 2025 sampai dengan 31 Maret
      2025 dan untuk 31 Desember 2024 sampai dengan 31 Desember 2025.

      Tanggapan Perseroan:
      [Terlampir bersama surat ini]

   c. Revaluasi tanah & bangunan menggunakan dua KJPP dan dua metode berbeda
      dalam ~3 bulan. Mohon penjelasan dasar pemilihan penilai/metode dan
      dampaknya terhadap surplus revaluasi Rp42,9 miliar.

      Tanggapan Perseroan:
      Revaluasi tanah dan bangunan dilakukan oleh dua Kantor Jasa Penilai Publik
      (KJPP) yang independen. Penunjukan masing-masing KJPP didasarkan pada
      ruang lingkup penugasan dan karakteristik aset yang dinilai, sehingga setiap
      KJPP melakukan penilaian atas kelompok aset yang berbeda.

      Dalam melakukan penilaian, masing-masing KJPP menerapkan metode yang
      dianggap paling sesuai dengan karakteristik aset dan ketersediaan data pasar.
      Sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI), terdapat tiga pendekatan
      penilaian yang dapat digunakan untuk menentukan nilai pasar suatu aset, yaitu
      Pendekatan Pasar (Market Approach), Pendekatan Pendapatan (Income
      Approach), dan Pendekatan Biaya (Cost/Replacement Cost Approach).
      Pemilihan pendekatan penilaian sepenuhnya merupakan pertimbangan
      profesional (professional judgement) dari KJPP berdasarkan karakteristik aset,
      tujuan penilaian, serta ketersediaan data yang relevan. Selain itu, kedua KJPP
      merupakan penilai independen yang memiliki izin usaha dan kompetensi sesuai
      ketentuan yang berlaku. Hasil penilaian masing-masing KJPP telah disusun
      sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan digunakan sebagai dasar
      pencatatan revaluasi aset sesuai dengan ketentuan standar akuntansi
      keuangan yang berlaku.

      Penggunaan dua KJPP dan metode penilaian yang berbeda tidak memberikan
      dampak terhadap surplus revaluasi sebesar Rp42,9 miliar, mengingat masing-
      masing KJPP melakukan penilaian atas aset yang berbeda dan hasil
      penilaiannya dicatat secara terpisah sesuai dengan aset yang menjadi objek
Page 8
      penilaian. Dengan demikian, surplus revaluasi merupakan akumulasi hasil
      revaluasi atas seluruh aset yang dinilai dan bukan disebabkan oleh perbedaan
      metode penilaian yang digunakan

   d. Perincian aset tetap yang dijadikan jaminan atas utang bank yang mencakup
      informasi kelompok aset tetap, nilai jaminan dan status jaminan per saat ini.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
      Keuangan Nomor 11 mengenai aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan atas
      fasilitas pinjaman bank. Informasi yang akan disampaikan meliputi kelompok
      aset tetap yang dijaminkan, nilai tercatat atau nilai jaminan sesuai dengan
      dokumen perjanjian kredit, nama kreditur, serta status jaminan pada tanggal
      pelaporan. Pengungkapan tersebut dilakukan untuk memberikan informasi
      yang memadai kepada para pengguna laporan keuangan mengenai aset
      Perseroan yang menjadi agunan atas fasilitas pinjaman yang dimiliki.


         Kelompok Aset Tetap    Nilai Perolehan Jaminan     Status Jaminan

       Tanah                             95.232.800.000      Nilai appraisal

       Bangunan                          20.940.700.000      Nilai appraisal

       Renovasi Bangunan                434.095.168.109      Nilai perolehan

       Peralatan Outlet                  25.122.934.575      Nilai perolehan

       Peralatan Kitchen                 35.376.035.040      Nilai perolehan

       Mesin Elektronik                  44.378.335.504      Nilai perolehan

       Furniture                         25.953.336.104      Nilai perolehan

                   Total               681.099.309.332



6. Berdasarkan CALK nomor 12 terkait dengan Aset Tak Berwujud, agar Perseroan
   dapat menjelaskan:
   a. Nature dari aset tak berwujud Bagi Hasil sebesar Rp3,7 miliar.

      Tanggapan Perseroan:
      Aset tak berwujud berupa "Bagi Hasil" sebesar Rp3,7 miliar merupakan hak
      ekonomis yang timbul dari transaksi pengalihan hak dan pengambilalihan
      kewajiban (bagi hasil) dengan PT Monsieur Spoon yang dilakukan pada tahun
      2019. Transaksi tersebut memberikan Perseroan hak kontraktual untuk
      memperoleh manfaat ekonomis sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
      perjanjian antara para pihak. Oleh karena itu, nilai tersebut diakui sebagai
      aset tak berwujud sesuai dengan substansi ekonomi transaksi dan kebijakan
      akuntansi Perseroan yang mengacu pada standar akuntansi keuangan yang
      berlaku.
Page 9
   b. Latar belakang aset tak berwujud tersebut tidak diamortisasi (tidak terdapat
      penambahan amortisasi) untuk periode berjalan.

      Tanggapan Perseroan:
      Tidak terdapat beban amortisasi atas aset tak berwujud tersebut pada periode
      berjalan karena aset tersebut telah diamortisasi secara penuh pada periode-
      periode sebelumnya, sehingga nilai tercatatnya pada 31 Desember 2025 telah
      mencapai nilai residu atau nihil sesuai dengan kebijakan akuntansi Perseroan.
      Oleh karena itu, tidak terdapat tambahan beban amortisasi yang diakui pada
      periode yang berakhir 31 Maret 2026.

   c. Perincian perangkat lunak sebesar Rp10,1 miliar berdasarkan perangkat lunak
      dan fungsinya.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
      Keuangan Nomor 12 mengenai rincian aset tak berwujud berupa perangkat
      lunak sebesar Rp10,1 miliar. Informasi yang akan disampaikan mencakup jenis
      perangkat lunak yang dimiliki, fungsi atau penggunaannya dalam mendukung
      kegiatan operasional Perseroan, serta nilai tercatat masing-masing kelompok
      perangkat lunak apabila material. Pengungkapan tersebut bertujuan untuk
      memberikan informasi yang lebih memadai kepada para pengguna laporan
      keuangan mengenai komposisi dan pemanfaatan aset tak berwujud Perseroan.

        No        Software                    Fungsi                Harga Perolehan

        1    Software (net)    - Software (net) - Monsieur Spoon       4.700.000.000
             Monsieur Spoon

        2    CRI Super Apps       Aplikasi yang digunakan sebagai      3.420.452.351
                                  sarana promosi dan penjualan
                                  produk

        3    Pro    Int   Human Aplikasi   untuk    otomatisasi        2.003.400.000
             Capital            administrasi    HR,      seperti
                                manajemen               absensi,
                                perhitungan gaji (payroll), cuti,
                                hingga rekrutmen dan evaluasi
                                kinerja.

                                                                    10.123.852.351



7. Berdasarkan CALK nomor 13 terkait dengan Aset Hak Guna, agar dapat dijelaskan:
   a. Perincian aset hak guna sewa berdasarkan merek/gerai:

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan akan melengkapi pengungkapan pada Catatan atas Laporan
      Keuangan Nomor 13 mengenai rincian aset hak guna berdasarkan merek
      dan/atau gerai yang menggunakan aset hak guna tersebut. Informasi yang
Page 10
        disajikan akan memberikan gambaran mengenai komposisi aset hak guna yang
        dimiliki Perseroan sesuai dengan klasifikasi operasional masing-masing merk
        maupun gerai, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih memadai
        kepada para pengguna laporan keuangan.

Brand         Perolehan Aset Hak Guna    Akumulasi Depresiasi       Nilai Buku 31 Mar
                                                                                   26

Back                   10.148.552.263               5.411.309.020      4.737.243.243
Office

Pusat                  22.657.929.224              15.288.238.260      7.369.690.964
Produksi
dan
Gudang

Bmk                    23.489.401.311             17.238.673.940       6.250.727.371


Chopstix               21.477.361.599             14.696.847.195       6.780.514.404


Croco                  60.189.366.302             27.907.385.182      32.281.981.120


Dewata                 16.124.818.218             10.665.743.636       5.459.074.582


Gokana                260.328.618.510            181.888.352.194      78.440.266.316


Grillman               12.500.003.790              4.239.527.252       8.260.476.538


Monsieur              135.750.381.089             81.168.654.553      54.581.726.536
Spoon

Platinum              101.330.605.929             70.763.012.921      30.567.593.008


Raacha                348.683.593.307            240.486.999.532     108.196.593.774


Total                1.012.680.631.540           669.754.743.684    342.925.887.856



 b. Bagaimana strategi Perseroan untuk dapat memperoleh harga sewa ruang
    toko/kantor yang optimal.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan secara berkelanjutan melakukan pengelolaan biaya sewa sebagai
      salah satu upaya meningkatkan efisiensi operasional. Strategi yang dilakukan
      antara lain melalui negosiasi secara aktif dengan pengelola atau pengembang
Page 11
      pusat perbelanjaan untuk memperoleh struktur biaya sewa yang lebih
      kompetitif dan sesuai dengan potensi bisnis masing-masing lokasi.

      Dalam proses negosiasi, Perseroan mempertimbangkan berbagai aspek, antara
      lain kinerja penjualan gerai, tingkat profitabilitas, kontribusi gerai terhadap
      keseluruhan portofolio usaha, kondisi lalu lintas pengunjung (traffic) pusat
      perbelanjaan, prospek lokasi, serta kondisi pasar properti ritel. Perseroan juga
      mengupayakan skema kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah
      pihak (win-win solution), sehingga keberlangsungan operasional gerai tetap
      terjaga dengan struktur biaya yang lebih optimal.

   c. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi rencana Perseroan                     untuk
      memperpanjang dan mengakhiri kontrak sewa? Agar dijelaskan.

      Tanggapan Perseroan:
      Keputusan Perseroan untuk memperpanjang maupun mengakhiri kontrak sewa
      dilakukan berdasarkan evaluasi bisnis yang komprehensif terhadap masing-
      masing gerai. Faktor-faktor utama yang menjadi pertimbangan meliputi
      kinerja operasional dan profitabilitas gerai, tren penjualan, tingkat kunjungan
      (traffic) pusat perbelanjaan, prospek pengembangan lokasi, serta hasil
      evaluasi atas kontribusi gerai terhadap kinerja Perseroan secara keseluruhan.

      Selain faktor operasional, Perseroan juga mempertimbangkan hasil negosiasi
      dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan, khususnya terkait
      besaran biaya sewa, skema kerja sama, insentif yang diberikan, serta
      fleksibilitas syarat dan ketentuan sewa. Apabila hasil evaluasi menunjukkan
      bahwa suatu gerai masih memiliki prospek yang baik dan dapat memberikan
      nilai tambah bagi Perseroan dengan struktur biaya yang memadai, maka
      Perseroan akan mempertimbangkan untuk memperpanjang kontrak sewa.
      Sebaliknya, apabila suatu gerai tidak lagi memenuhi kriteria kelayakan usaha
      atau tidak tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan dengan pihak
      pengelola, Perseroan dapat memutuskan untuk tidak memperpanjang atau
      mengakhiri kontrak sewa sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio
      gerai dan peningkatan efisiensi operasional.

8. Berdasarkan CALK nomor 14 terkait dengan Aset Lain-Lain, agar dijelaskan:
   a. Latar belakang aset lain-lain lancar Perseroan sebesar Rp7,3 miliar yaitu
      perlengkapan dan peralatan gerai tidak disajikan sebagai bagian dari aset
      tetap.

      Tanggapan Perseroan:
      Perlengkapan dan peralatan gerai yang disajikan sebagai aset lain-lain lancar
      sebesar Rp7,3 miliar merupakan barang-barang yang telah dibeli dan diterima
      oleh Perseroan, namun pada tanggal pelaporan masih berada di gudang dan
      belum dialokasikan atau dipasang pada gerai tertentu. Oleh karena itu, aset
      tersebut belum digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan belum
      memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset tetap sesuai dengan kebijakan
      akuntansi Perseroan. Setelah perlengkapan dan peralatan tersebut dipasang
Page 12
      dan mulai digunakan pada gerai yang bersangkutan, nilainya akan
      direklasifikasi menjadi aset tetap sesuai dengan kelompok aset yang relevan.

  b. Perseroan memiliki aset lain-lain tidak lancar yaitu uang jaminan sebesar
     Rp58,9 miliar. Agar dijelaskan nature dari uang jaminan tersebut dan perincian
     dari uang jaminan tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Aset lain-lain tidak lancar berupa uang jaminan sebesar Rp58,9 miliar
      merupakan security deposit yang ditempatkan Perseroan kepada pemilik atau
      pengelola gedung/pusat perbelanjaan sebagai bagian dari persyaratan dalam
      perjanjian sewa gerai. Uang jaminan tersebut berfungsi sebagai jaminan atas
      pelaksanaan kewajiban Perseroan selama masa sewa dan pada umumnya akan
      dikembalikan kepada Perseroan pada saat berakhirnya masa sewa, setelah
      seluruh kewajiban sesuai perjanjian dipenuhi.


      Perseroan akan melengkapi pengungkapan mengenai perincian uang jaminan
      tersebut pada Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi mengenai
      pihak penerima jaminan dan nilai jaminan yang terkait, sesuai dengan tingkat
      materialitas dan ketentuan pengungkapan yang berlaku.


               Jenis Uang Jaminan                        Nilai

        Deposit Sewa                                37.745.299.118

        Deposit Service Charge                      17.081.246.133

        Deposit Listrik Air dan Gas                  2.600.428.007

        Deposit Fit Out                               811.666.883

        Deposit Telepon                               717.773.000

        Jumlah                                     58.956.413.142


9. Berdasarkan CALK nomor 15 terkait dengan Utang Bank Jangka Pendek Perseroan,
   agar dapat dijelaskan:
   a. Perincian utang bank jangka pendek dengan melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

   b. Jumlah sisa plafon fasilitas yang belum ditarik dan bagaimana profil jatuh
      tempo pinjaman 12 bulan ke depan? Apakah ada risiko refinancing?

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 13
   c. Terkait dengan batasan-batasan kredit pinjaman, agar Perseroan dapat
      melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]



10. Berdasarkan CALK nomor 16 terkait dengan Utang Bank Jangka Panjang, agar
    Perseroan dapat menjelaskan:
    a. Utang bank jangka panjang Perseroan mengalami peningkatan sebesar Rp23,5
       miliar dalam kurun waktu 3 bulan, agar Perseroan dapat menjelaskan:
       i. Latar belakang Perseroan meningkatkan pinjaman bank jangka panjang.

          Tanggapan Perseroan:
          [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

      ii. Tujuan dan penggunaan dana dari pinjaman bank jangka panjang.

          Tanggapan Perseroan:
          [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

   b. Perincian utang bank jangka pendek dengan melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

   c. Sehubungan dengan terdapatnya jumlah yang akan jatuh tempo dalam setahun
      yaitu sebesar Rp71,1 miliar, agar Perseroan dapat menjelaskan upaya
      Perseroan dalam melakukan pelunasan pinjaman tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

   d. Pada pengungkapan disebutkan bahwa fasilitas kredit jangka panjang tersebut
      dijaminkan dengan persediaan barang sebesar Rp50 miliar atas nama PT
      Champ Resto Indonesia Tbk. Pada laporan posisi keuangan Perseroan, jumlah
      Persediaan sebesar Rp35,2 miliar per 31 Maret 2026. Agar Perseroan dapat
      menjelaskan apakah Perseroan masih sesuai dengan ketentuan penjaminan
      oleh Bank.

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 14
    e. Terkait dengan batasan-batasan kredit pinjaman, agar Perseroan dapat
       melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

11. Berdasarkan CALK nomor 18 terkait dengan Utang Usaha, agar Perseroan dapat
    menjelaskan:
    a. Terdapat utang usaha yang telah melebihi jatuh tempo sebesar Rp6,4 miliar,
       Rp4,1 miliar dan Rp1,6 miliar masing-masing untuk periode 1-30 hari, 31-60
       hari dan lebih dari 60 hari. Agar dapat dijelaskan latar belakang utang usaha
       tersebut belum dibayarkan oleh Perseroan dan rencana Perseroan untuk
       melakukan pembayaran utang usaha tersebut.

        Tanggapan Perseroan:
        Utang usaha yang telah melewati jatuh tempo merupakan kewajiban
        Perseroan kepada pemasok yang sebagian besar berasal dari pembelian
        bahan baku dan kebutuhan operasional lainnya dalam kegiatan usaha sehari-
        hari. Keterlambatan pembayaran tersebut terutama disebabkan oleh
        pengelolaan modal kerja dan penyesuaian arus kas operasional Perseroan,
        sehingga pembayaran kepada pemasok dilakukan berdasarkan skala prioritas
        dengan tetap mempertimbangkan keberlangsungan operasional Perseroan.

        Perseroan secara aktif melakukan komunikasi dan negosiasi dengan para
        pemasok untuk memperoleh penyesuaian termin pembayaran yang lebih
        sesuai dengan kondisi arus kas Perseroan, dengan tetap menjaga hubungan
        kerja sama yang baik. Di samping itu, Perseroan terus melaksanakan berbagai
        inisiatif untuk meningkatkan arus kas operasional, antara lain melalui
        peningkatan penjualan, pengendalian biaya operasional, serta optimalisasi
        pengelolaan modal kerja. Melalui langkah-langkah tersebut, Perseroan
        berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban kepada pemasok secara
        bertahap sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai dengan masing-
        masing pemasok.

    b. Apakah terdapat potensi tuntutan hukum berupa upaya PKPU atau kepailitan
       dari pihak-pihak supplier/vendor Perseroan yang saat ini Perseroan masih
       memiliki utang usaha dengan para pihak tersebut.

        Tanggapan Perseroan:
        Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, Perseroan tidak
        mengidentifikasi adanya potensi tuntutan hukum, termasuk permohonan
        Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) maupun kepailitan, dari
        pemasok atau vendor terkait dengan utang usaha Perseroan.

        Perseroan senantiasa menjaga komunikasi dan hubungan kerja sama yang
        baik dengan para pemasok serta secara aktif melakukan penyelesaian
        kewajiban sesuai dengan hasil negosiasi dan kesepakatan yang telah dicapai.
        Berdasarkan evaluasi manajemen, hubungan usaha dengan para pemasok
Page 15
       tetap berjalan dengan baik dan kegiatan operasional Perseroan tidak
       mengalami gangguan yang material akibat posisi utang usaha tersebut.

12. Berdasarkan CALK nomor 19 terkait dengan Utang Lain-Lain, agar dijelaskan
    nature dari utang lain-lain dengan PT Cipta Rasa Juara sebesar Rp1,3 miliar dan
    rencana Perseroan untuk melakukan pelunasan dari utang tersebut.

    Tanggapan Perseroan:
    Utang lain-lain kepada PT Cipta Rasa Juara sebesar Rp1,3 miliar merupakan
    pinjaman yang diberikan untuk mendukung kebutuhan operasional Perseroan.
    Pinjaman tersebut bersifat non-komersial dan tidak diatur dalam perjanjian
    tertulis yang menetapkan jangka waktu pengembalian maupun pengenaan suku
    bunga, sehingga penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kesepahaman dan
    komunikasi antara kedua belah pihak.

    Sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan ini, Perseroan terus melakukan
    komunikasi dan koordinasi dengan PT Cipta Rasa Juara terkait mekanisme serta
    jadwal pelunasan pinjaman tersebut. Perseroan berkomitmen untuk
    menyelesaikan kewajiban dimaksud dengan mempertimbangkan kondisi arus kas
    dan kemampuan keuangan Perseroan, serta tetap menjaga hubungan kerja sama
    yang baik dengan PT Cipta Rasa Juara. Manajemen meyakini bahwa penyelesaian
    utang tersebut dapat dilakukan melalui kesepakatan yang saling menguntungkan
    tanpa mengganggu kelangsungan operasional Perseroan.

13. Berdasarkan CALK nomor 20 terkait dengan Perpajakan, agar dijelaskan:
  a. Rincian utang pajak Rp86,6 miliar (PB1/pajak restoran, PPh 21/23/4(2)) dan
     status penyetorannya. Apakah terdapat tunggakan, surat ketetapan, atau
     eksposur sanksi/denda?
     Tanggapan Perseroan:
     [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

  b. Mengapa terdapat beban pajak tangguhan Rp4,57 miliar di tengah rugi? Apa
     dasar penurunan aset pajak tangguhan dari Rp8,1 ke Rp3,5 miliar.
     Tanggapan Perseroan:
     [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

  c. Bagaimana penilaian pemulihan (recoverability) aset pajak tangguhan serta rugi
     fiskal yang berulang (PSAK 212)?
     Tanggapan Perseroan:
     [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

  d. Pos "Manfaat Pajak Penghasilan" pada laba rugi sebenarnya menambah rugi
     (beban). Mohon konfirmasi/koreksi penamaan.
     Tanggapan Perseroan:
     [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 16
     e. Apakah saat ini terdapat dan/atau akan ada rencana pemeriksaan pajak oleh
        otoritas perpajakan? Agar dapat dijelaskan.
       Tanggapan Perseroan:
       [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]


14. Berdasarkan CALK nomor 22 terkait dengan Beban Akrual, agar dapat dijelaskan
    oleh Perseroan:
    a. Latar belakang dan nature dari beban akrual tunjangan hari raya dan bonus
        sebesar Rp7 miliar dan rencana realisasi pembayaran oleh Perseroan.

       Tanggapan Perseroan:
       Beban akrual tunjangan hari raya (THR) dan bonus sebesar Rp7,0 miliar
       merupakan kewajiban Perseroan yang telah timbul sampai dengan tanggal
       pelaporan sebagai konsekuensi atas jasa yang telah diberikan oleh karyawan,
       namun pembayarannya baru akan direalisasikan pada periode berikutnya
       sesuai dengan jadwal pembayaran dan kebijakan Perseroan. Oleh karena itu,
       kewajiban tersebut diakui sebagai beban akrual sesuai dengan prinsip akrual
       dan kebijakan akuntansi Perseroan.

       Untuk komponen tunjangan hari raya (THR), Perseroan senantiasa memenuhi
       kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
       bidang ketenagakerjaan dan pembayaran THR tersebut telah direalisasikan
       pada bulan Maret 2026. Sementara itu, pembayaran bonus akan dilakukan
       sesuai dengan kebijakan remunerasi Perseroan dengan mempertimbangkan
       pencapaian kinerja Perseroan maupun kinerja individu yang bersangkutan.

   b. Latar belakang dan nature dari beban akrual biaya gaji sebesar Rp4,3 miliar
      dan rencana realisasi pembayaran oleh Perseroan.

       Tanggapan Perseroan:
       Beban akrual gaji sebesar Rp4,3 miliar merupakan akrual atas kewajiban gaji
       karyawan yang telah menjadi hak karyawan sampai dengan tanggal 31 Maret
       2026, termasuk tambahan kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas operasional
       selama periode Hari Raya (peak season), namun pembayarannya dilakukan
       pada periode berikutnya sesuai dengan siklus penggajian Perseroan.

   c. Seluruh kewajiban gaji tersebut telah direalisasikan dan dibayarkan secara
      penuh oleh Perseroan pada bulan April 2026 sesuai dengan jadwal
      pembayaran yang berlaku.Perincian lebih lanjut dari beban akrual lain-lain
      per 31 Maret 2026 yaitu sebesar Rp16,8 miliar.

       Tanggapan Perseroan:
       Beban akrual lain-lain sebesar Rp16,8 miliar terdiri atas akrual berbagai biaya
       operasional yang telah menjadi kewajiban Perseroan sampai dengan tanggal
       pelaporan, namun pada saat tersebut belum jatuh tempo atau belum
       ditagihkan oleh pihak terkait. Komponen utama beban akrual lain-lain
Page 17
       meliputi biaya transportasi, jasa konsultan, serta berbagai biaya operasional
       lainnya yang timbul dalam kegiatan usaha normal Perseroan.

       Perseroan akan melengkapi rincian beban akrual lain-lain tersebut sesuai
       dengan tingkat materialitas pada Catatan atas Laporan Keuangan, dan
       seluruh kewajiban tersebut akan diselesaikan sesuai dengan ketentuan
       pembayaran yang berlaku berdasarkan perjanjian maupun kebijakan
       operasional Perseroan.

15. Berdasarkan CALK nomor 23 terkait dengan Liabilitas Sewa Hak Guna, agar
    dijelaskan:
    a. Perincian liabiltias hak guna sewa dengan melengkapi tabel ini:

     Tanggapan Perseroan:
     [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

  b. Berdasarkan pengungkapan, terdapat porsi liabilitas sewa hak guna sebesar Rp
     133 miliar yang akan jatuh tempo kurang dari 1 tahun, agar Perseroan dapat
     menjelaskan upaya dan strategi keuangan Perseroan untuk pembayaran
     jumlah tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Liabilitas sewa hak guna sebesar Rp 133 miliar yang akan jatuh tempo dalam
      waktu kurang dari satu tahun merupakan bagian dari liabilitas sewa yang
      diakui berdasarkan penerapan PSAK 73: Sewa. Saldo tersebut
      merepresentasikan nilai kini (present value) atas kewajiban pembayaran sewa
      sesuai dengan kontrak sewa yang telah disepakati, dan bukan merupakan
      tambahan kewajiban atau komitmen pembayaran baru yang timbul pada
      periode berjalan.

      Penerapan PSAK 73 mengubah perlakuan akuntansi atas transaksi sewa, di
      mana pembayaran sewa yang sebelumnya diakui sebagai beban sewa
      operasional kini diakui sebagai pelunasan liabilitas sewa dan beban bunga,
      disertai dengan pengakuan aset hak guna. Dengan demikian, pengakuan
      liabilitas sewa dan aset hak guna pada laporan posisi keuangan merupakan
      konsekuensi dari perubahan standar akuntansi untuk mencerminkan secara
      lebih tepat hak penggunaan aset dan kewajiban pembayaran sewa yang telah
      dikomitmenkan oleh Perseroan berdasarkan kontrak sewa.

      Dari sisi pengelolaan likuiditas, pembayaran liabilitas sewa dilakukan sesuai
      dengan jadwal pembayaran yang telah diatur dalam masing-masing perjanjian
      sewa dan merupakan bagian dari arus kas operasional rutin Perseroan. Untuk
      memenuhi kewajiban tersebut, Perseroan terus berupaya meningkatkan arus
      kas operasional melalui peningkatan penjualan, pelaksanaan program
      efisiensi biaya, optimalisasi portofolio gerai, serta negosiasi dengan pengelola
      atau pengembang pusat perbelanjaan untuk memperoleh struktur biaya sewa
      yang lebih kompetitif apabila kontrak sewa diperpanjang atau diperbarui.
Page 18
          Dengan mempertimbangkan proyeksi arus kas operasional dan pengelolaan
          likuiditas yang dilakukan secara berkelanjutan, manajemen meyakini
          bahwa Perseroan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban
          pembayaran sewa sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dalam
          kontrak sewa.

16. Berdasarkan CALK nomor 24 terkait dengan Liabilitas Imbalan Pasca Kerja
    Karyawan, Asumsi aktuaria imbalan kerja per 31 Maret 2026 tidak disajikan —
    apakah dilakukan pengukuran kembali pada laporan keuangan interim?

  Tanggapan Perseroan:
  Perseroan tidak melakukan pengukuran kembali (remeasurement) atas liabilitas
  imbalan pasca kerja pada laporan keuangan interim per 31 Maret 2026.
  Pengukuran aktuaria atas liabilitas imbalan pasca kerja dilakukan secara tahunan
  oleh aktuaris independen sesuai dengan kebijakan akuntansi Perseroan dan
  ketentuan standar akuntansi yang berlaku.

   Oleh karena itu, asumsi-asumsi aktuaria yang digunakan dalam perhitungan
   liabilitas imbalan pasca kerja tidak diperbarui secara khusus pada tanggal 31
   Maret 2026. Perseroan akan melakukan pengukuran kembali dan memperbarui
   asumsi aktuaria pada akhir tahun pelaporan atau apabila terdapat indikasi adanya
   perubahan signifikan yang dapat berdampak material terhadap nilai liabilitas
   imbalan pasca kerja, sesuai dengan ketentuan standar akuntansi yang berlaku.

17. Berdasarkan CALK nomor 32 terkait Penjualan Bersih, agar Perseroan dapat
    menjelaskan:
    a. Perincian penjualan per 31 Maret 2026 dengan 31 Maret 2025 berdasarkan
       merek gerai.

              Brand                 1Q25                     1Q26


              Gokana                113.497.415.574          103.622.684.313

              RaaCha                130.852.939.693          130.753.081.064

              Monsieur Spoon        86.423.034.371           73.423.371.994

              Lainnya               33.327.731.337           33.751.317.506

              Total                 364.101.120.975          341.550.454.877


   b. Perincian penjualan per 31 Maret 2026 dengan 31 Maret 2025 berdasarkan
      wilayah geografis.

       Tanggapan Perseroan:
       [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 19
   c. Penjualan Perseroan mengalami penurunan penjualan sebesar Rp22,5 miliar
      (6%), agar dijelaskan bagaimana upaya Perseroan untuk meningkatkan
      kinerja penjualan?

       Tanggapan Perseroan:
       Menurunnya penjualan Perseroan sebesar Rp22,5 miliar atau sekitar 6%
       mendorong manajemen untuk mengimplementasikan berbagai inisiatif
       strategis guna meningkatkan kinerja penjualan dan memperkuat daya saing
       Perseroan. Upaya tersebut dilakukan melalui kombinasi strategi peningkatan
       pendapatan, optimalisasi produk, dan penguatan aktivitas pemasaran.

       Dari sisi produk, Perseroan melakukan rasionalisasi dan penyempurnaan
       portofolio menu (menu engineering) serta penyesuaian harga jual dengan
       mempertimbangkan preferensi pelanggan, kondisi pasar, dan tingkat
       profitabilitas produk. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik
       produk sekaligus mengoptimalkan nilai penjualan.

       Selain itu, Perseroan terus mengembangkan penjualan ke segmen Business-
       to-Business (B2B) melalui kerja sama dengan berbagai instansi, perusahaan,
       dan institusi, sehingga dapat memperluas sumber pendapatan di luar
       penjualan ritel pada gerai.

       Di bidang pemasaran, Perseroan meningkatkan berbagai inisiatif dan aktivasi
       marketing, baik melalui program promosi, kampanye pemasaran, maupun
       kolaborasi dengan mitra strategis dan platform digital, guna meningkatkan
       brand awareness, jumlah kunjungan pelanggan (traffic), serta frekuensi
       transaksi di seluruh jaringan gerai.

       Perseroan juga secara berkala melakukan evaluasi terhadap kinerja masing-
       masing gerai dan efektivitas program pemasaran untuk memastikan setiap
       inisiatif yang dijalankan memberikan kontribusi positif terhadap
       pertumbuhan penjualan dan profitabilitas Perseroan secara berkelanjutan.

18. Berdasarkan CALK nomor 33 terkait dengan Beban Pokok Penjualan, agar
    Perseroan dapat menjelaskan:
    a. Latar belakang dari biaya transportasi, listrik, perizinan retribusi dan
        sumbangan disajikan sebagai bagian dari biaya pokok penjualan.

       Tanggapan Perseroan:
       Biaya transportasi, listrik, perizinan retribusi, dan sumbangan yang disajikan
       sebagai bagian dari biaya pokok penjualan merupakan biaya-biaya yang
       secara langsung berkaitan dengan proses produksi, pengolahan, dan distribusi
       bahan baku menjadi produk yang dijual oleh Perseroan. Biaya transportasi
       mencakup pengiriman bahan baku dan distribusi yang terkait dengan proses
       produksi, sedangkan biaya listrik terutama digunakan untuk mendukung
       aktivitas produksi dan operasional dapur atau fasilitas pengolahan.

       Selain itu, biaya perizinan dan retribusi tertentu yang berhubungan langsung
Page 20
        dengan kegiatan produksi dan distribusi produk, serta sumbangan yang
        merupakan persyaratan operasional pada lokasi tertentu yang terkait dengan
        kelangsungan proses produksi dan distribusi, diklasifikasikan sebagai bagian
        dari biaya pokok penjualan sesuai dengan substansi ekonominya. Perseroan
        melakukan pengklasifikasian tersebut dengan mempertimbangkan
        keterkaitan biaya terhadap proses menghasilkan produk yang dijual kepada
        pelanggan.

    b. Beban tenaga kerja langsung Perseroan mengalami penurunan dari semula
       sebesar Rp11,7 miliar menjadi sebesar Rp11,4 miliar per 31 Maret 2026. Agar
       dapat dijelaskan latar belakang dari penurunan tersebut.

        Tanggapan Perseroan:
        Penurunan beban tenaga kerja langsung dari Rp11,7 miliar menjadi Rp11,4
        miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026 terutama disebabkan oleh
        inisiatif Perseroan dalam melakukan optimalisasi biaya tenaga kerja sebagai
        bagian dari program peningkatan efisiensi operasional dan perbaikan kinerja
        keuangan.

        Langkah-langkah yang dilakukan antara lain penyesuaian komposisi tenaga
        kerja di gerai, pengaturan jadwal kerja yang lebih efisien berdasarkan
        tingkat aktivitas operasional dan traffic pelanggan, serta peningkatan
        produktivitas tenaga kerja melalui evaluasi kebutuhan operasional di masing-
        masing gerai. Perseroan tetap memastikan bahwa upaya efisiensi tersebut
        tidak mengurangi kualitas layanan dan operasional yang diberikan kepada
        pelanggan.

        Manajemen memandang bahwa pengendalian biaya tenaga kerja langsung
        merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga margin usaha dan
        mendukung upaya Perseroan untuk meningkatkan profitabilitas secara
        berkelanjutan.



19. Berdasarkan CALK nomor 34 terkait Beban Penjualan, agar Perseroan dapat
    menjelaskan:
     a. Nature dari biaya layanan (service charge) di mana per 31 Maret 2026 sebesar
        Rp 24 miliar dan bagaimana upaya Perseroan dapat mengoptimalkan biaya
        layanan tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Biaya layanan (service charge) sebesar Rp24,0 miliar merupakan biaya yang
      dibebankan oleh pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan kepada
      penyewa sebagai bagian dari kewajiban berdasarkan perjanjian sewa. Biaya
      tersebut pada umumnya digunakan untuk membiayai pengelolaan dan
      pemeliharaan area bersama (common area), termasuk namun tidak terbatas
      pada keamanan, kebersihan, utilitas area bersama, pemeliharaan fasilitas
      gedung, sistem pendingin udara (central air conditioning), parkir, serta
Page 21
      fasilitas pendukung lainnya yang digunakan secara bersama oleh seluruh
      tenant.

      Dalam rangka mengoptimalkan biaya layanan tersebut, Perseroan secara aktif
      melakukan negosiasi dengan pengelola atau pengembang pusat perbelanjaan,
      baik pada saat perpanjangan kontrak maupun selama masa sewa apabila
      dimungkinkan berdasarkan ketentuan perjanjian. Selain itu, Perseroan secara
      berkala mengevaluasi efektivitas biaya okupansi setiap gerai, termasuk service
      charge, dengan mempertimbangkan kinerja gerai, tingkat kunjungan (traffic)
      pusat perbelanjaan, dan kontribusi gerai terhadap profitabilitas Perseroan.
      Melalui langkah tersebut, Perseroan berupaya memperoleh struktur biaya
      okupansi yang lebih kompetitif tanpa mengurangi keberlangsungan
      operasional gerai.

   b. Komponen biaya gaji dan tunjangan Perseroan mengalami penurunan dari
      semula sebesar Rp80,1 miliar menjadi sebesar Rp70,7 miliar. Agar dapat
      dijelaskan latar belakang dari penurunan biaya gaji dan tunjangan tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Biaya gaji dan tunjangan mengalami penurunan dari Rp80,1 miliar menjadi
      Rp70,7 miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026. Penurunan tersebut
      merupakan hasil dari berbagai inisiatif efisiensi yang dijalankan Perseroan
      sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan memperbaiki
      kinerja keuangan.

      Langkah-langkah yang dilakukan meliputi optimalisasi jumlah dan komposisi
      tenaga kerja di gerai maupun kantor pusat, penyesuaian penempatan sumber
      daya manusia berdasarkan kebutuhan operasional, serta peningkatan
      produktivitas melalui pengelolaan jadwal kerja yang lebih efektif. Perseroan
      juga melakukan evaluasi secara berkala terhadap struktur organisasi dan biaya
      tenaga kerja untuk memastikan keseimbangan antara efisiensi biaya dan
      kualitas layanan kepada pelanggan.

      Melalui berbagai inisiatif tersebut, Perseroan berhasil menekan biaya gaji dan
      tunjangan tanpa mengurangi efektivitas operasional, sehingga dapat
      mendukung peningkatan efisiensi dan profitabilitas Perseroan secara
      berkelanjutan.



20. Berdasarkan CALK nomor 35 terkait dengan beban umum dan administrasi, agar
    dapat dijelaskan:
     a. Latar belakang penurunan komponen beban gaji dan tunjangan dari semula
        sebesar Rp24,9 miliar menjadi sebesar Rp22,4 miliar.

      Tanggapan Perseroan:
      Beban gaji dan tunjangan mengalami penurunan dari Rp24,9 miliar menjadi
      Rp22,4 miliar pada periode yang berakhir 31 Maret 2026. Penurunan tersebut
Page 22
  merupakan hasil dari berbagai inisiatif efisiensi yang dijalankan Perseroan
  sebagai bagian dari program optimalisasi struktur biaya dan peningkatan
  produktivitas organisasi.

  Upaya yang dilakukan antara lain melalui penyesuaian struktur organisasi,
  optimalisasi jumlah dan penempatan sumber daya manusia sesuai dengan
  kebutuhan operasional, serta peningkatan efisiensi proses kerja. Langkah-
  langkah tersebut dilakukan secara selektif dengan tetap memperhatikan
  efektivitas operasional dan kualitas tata kelola perusahaan. Melalui inisiatif
  tersebut, Perseroan berhasil mengendalikan biaya tenaga kerja sekaligus
  mendukung upaya peningkatan kinerja keuangan secara berkelanjutan.

b. Latar belakang peningkatan komponen jasa tenaga ahli dari semula sebesar Rp
   2 miliar menjadi sebesar Rp4,6 miliar.

  Tanggapan Perseroan:
  Beban jasa tenaga ahli meningkat dari Rp2,0 miliar menjadi Rp4,6 miliar
  terutama disebabkan oleh penggunaan jasa konsultan profesional yang
  ditunjuk Perseroan untuk mendukung berbagai inisiatif strategis dalam rangka
  meningkatkan kinerja usaha dan memperkuat kondisi keuangan Perseroan.

  Ruang lingkup jasa yang diberikan meliputi antara lain evaluasi efisiensi
  operasional, optimalisasi struktur biaya, peningkatan profitabilitas,
  penguatan pengelolaan modal kerja, serta penyusunan rekomendasi strategis
  untuk mendukung keberlanjutan usaha. Manajemen memandang penggunaan
  jasa tenaga ahli tersebut sebagai investasi yang diharapkan dapat memberikan
  manfaat jangka panjang melalui peningkatan efisiensi operasional, perbaikan
  kinerja keuangan, serta penguatan daya saing Perseroan.

c. Latar belakang peningkatan komponen Koordinasi dan jamuan dari semula
   sebesar Rp 315 juta menjadi sebesar Rp 944 juta.

  Tanggapan Perseroan:
  Beban koordinasi dan jamuan meningkat dari Rp315 juta menjadi Rp944 juta,
  yang terutama disebabkan oleh peningkatan kegiatan koordinasi internal
  Perseroan, termasuk akrual biaya rapat kerja (Raker) yang diselenggarakan
  pada periode berjalan.

  Rapat kerja tersebut merupakan bagian dari agenda strategis Perseroan untuk
  melakukan evaluasi kinerja, menyelaraskan arah dan prioritas bisnis,
  menetapkan rencana kerja, serta memperkuat koordinasi lintas fungsi dalam
  pelaksanaan berbagai inisiatif strategis. Selain itu, kegiatan tersebut juga
  bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dan efektivitas komunikasi antar
  unit kerja, sehingga implementasi strategi Perseroan dapat berjalan secara
  lebih optimal dan target bisnis yang telah ditetapkan dapat dicapai secara
  lebih efektif.
Page 23
21. Berdasarkan CALK nomor 41 terkait dengan Instrumen Keuangan, agar dapat
    dijelaskan:
     a. Perseroan memiliki posisi liabilitas bersih sebesar Rp 323 miliar. Agar dapat
        dijelaskan bagaimana upaya Perseroan untuk dapat memitigasi risiko likuiditas
        tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      Posisi liabilitas bersih Perseroan sebesar Rp323 miliar perlu dilihat dengan
      mempertimbangkan karakteristik industri food and beverage (F&B) serta
      struktur laporan posisi keuangan Perseroan. Pada industri F&B, aset lancar
      umumnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan sektor usaha lainnya
      karena sebagian besar penjualan dilakukan secara tunai atau melalui kartu
      debit/kredit dan platform pembayaran digital dengan periode penerimaan
      yang relatif singkat. Dengan demikian, saldo piutang usaha pada umumnya
      tidak signifikan.

      Di sisi lain, liabilitas keuangan Perseroan sebagian besar terdiri atas pinjaman
      bank jangka panjang dan liabilitas sewa yang diakui berdasarkan PSAK 73, yang
      memiliki jadwal pembayaran secara bertahap sesuai dengan jangka waktu
      masing-masing perjanjian. Oleh karena itu, posisi liabilitas bersih tersebut
      tidak serta-merta mencerminkan tekanan likuiditas yang harus dipenuhi dalam
      jangka pendek.

      Dalam rangka memitigasi risiko likuiditas, Perseroan secara berkelanjutan
      menerapkan berbagai langkah pengelolaan keuangan, antara lain
      meningkatkan penjualan melalui berbagai inisiatif bisnis, mengendalikan dan
      mengefisienkan biaya operasional, mengoptimalkan pengelolaan modal kerja,
      melakukan negosiasi termin pembayaran dengan pemasok, serta melakukan
      negosiasi biaya sewa dengan pengelola pusat perbelanjaan. Perseroan juga
      secara rutin memantau proyeksi arus kas dan kebutuhan pendanaan untuk
      memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai dalam memenuhi
      kewajiban yang jatuh tempo.

      Berdasarkan evaluasi manajemen, struktur liabilitas Perseroan masih dapat
      dikelola sesuai dengan profil jatuh temponya dan didukung oleh berbagai
      inisiatif perbaikan kinerja yang sedang dijalankan. Oleh karena itu,
      manajemen meyakini bahwa risiko likuiditas Perseroan tetap berada pada
      tingkat yang dapat dikelola secara memadai.


    b. Perincian jatuh tempo realisasi dari aset keuangan dan liabilitas keuangan
       dengan melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]
Page 24
22. Berdasarkan CALK nomor 42 terkait dengan Manajemen Risiko Keuangan, agar
    Perseroan dapat menjelaskan:
     a. Mitigasi risiko Perseroan terhadap potensi risiko suku mata uang asing.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan memiliki eksposur yang sangat terbatas terhadap risiko perubahan
      nilai tukar mata uang asing karena hampir seluruh transaksi operasional, baik
      pendapatan maupun pengeluaran, dilakukan dalam mata uang Rupiah. Selain
      itu, sumber pembelian bahan baku, pembayaran kepada pemasok, serta
      fasilitas pinjaman Perseroan pada umumnya juga menggunakan mata uang
      Rupiah.

      Dengan karakteristik tersebut, Perseroan tidak memiliki eksposur yang
      material terhadap risiko nilai tukar mata uang asing. Meskipun demikian,
      manajemen tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap
      perkembangan nilai tukar dan akan mempertimbangkan langkah-langkah
      mitigasi yang diperlukan apabila di masa mendatang terdapat transaksi atau
      komitmen dalam mata uang asing yang dapat berdampak material terhadap
      kondisi keuangan Perseroan.

  b. Agar diinformasikan tabel Analisa sensitivitas untuk risiko suku bunga, apabila
     masing-masing suku bunga mengalami kenaikan 1% atau penurunan 1%.

      Tanggapan Perseroan:
      Perseroan akan melengkapi pengungkapan analisis sensitivitas terhadap risiko
      suku bunga pada Catatan atas Laporan Keuangan, yang menggambarkan
      dampak terhadap laba sebelum pajak dan/atau ekuitas apabila tingkat suku
      bunga mengalami kenaikan atau penurunan sebesar 1% dengan asumsi variabel
      lainnya tetap (ceteris paribus), sesuai dengan ketentuan PSAK mengenai
      instrumen keuangan dan pengungkapan risiko keuangan.

                  Akun                 31-Mar-26            31-Dec-25

       Utang bank jangka pendek       48.501.986.650        40.759.605.388

       Utang bank jangka panjang     247.263.919.963       226.692.796.494

       Jumlah                        295.765.906.613       267.452.401.882



       Sensitivitas:

       Jika suku bunga naik 1%         2.957.659.066          2.674.524.019

       Jika suku bunga turun 1%       (2.957.659.066)       (2.674.524.019)
Page 25
23. Berdasarkan tabel perbandingan proyeksi keuangan yang disusun Perseroan pada
    proses penawaran umum perdana saham dan perbandingannya dengan laporan
    keuangan yang telah diaudit per 31 Desember 2025, agar dapat dijelaskan:
    a. Pendapatan Perseroan pada tahun 2025 diproyeksikan yaitu sebesar Rp3,9
       triliun, sementara realisasi pendapatan Perseroan yaitu sebesar Rp1,4 triliun.
       Agar Perseroan dapat menjelaskan latar belakang ketidaktercapaian tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]


   b. Laba bersih Perseroan pada tahun 2025 diproyeksikan yaitu sebesar Rp654
      miliar sementara realisasi pada tahun 2025 yaitu sebesar rugi bersih Rp 74
      miliar. Agar Perseroan dapat menjelaskan latar belakang ketidaktercapaian
      tersebut.

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]


   c. Proyeksi keuangan tahun 2026 dengan melengkapi tabel berikut ini:

      Tanggapan Perseroan:
      [Kami sampaikan secara terpisah karena bersifat confidential]

File

File Open PDF
Source IDX
Size0.33 MB
Published27 Jul 2026
Pages25
Characters61,399
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 9 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Champ Resto Indonesia Tbk p.1 ×8
linked org Bank Central Asia Tbk p.5 ×5
linked org PT Cipta Rasa Juara p.15 ×6
possible org PT Bursa Efek Indonesia p.1 ×3
unresolved person Saidu Solihin p.1
unresolved person RIDWAN BUDIJONO · Direktur Utama p.1
unresolved person Drs. Yunus Ciptawilangga p.6
unresolved org PT Monsieur Spoon p.8
unresolved org PT Cipta Rasa Juara. Manajemen p.15

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result