Source file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 7
Page 1
LAPORAN PELAKSANAAN PAPARAN PUBLIK
PT CIPUTRA DEVELOPMENT TBK (PERSEROAN)
I. Pelaksanaan
Paparan publik telah dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Selasa, 17 Juni 2025
Waktu : Pk. 14.00 – 15.00 WIB
Teknis pelaksanaan : Hybrid (Offline dan Virtual)
Tempat / Media : Dian Ballroom, Raffles Hotel Jakarta Lt. 11 (Offline)
Ciputra World 1 Jakarta
Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 3-5, Karet Kuningan, Jakarta 12940
: Aplikasi Zoom (Virtual)
Manajemen yang hadir : 1. Candra Ciputra - Direktur Utama
2. Budiarsa Sastrawinata - Direktur
3. Agussurja Widjaja - Direktur
4. Artadinata Djangkar - Direktur
5. Meiko Handoyo - Direktur
6. Nanik J. Santoso - Direktur
7. Tulus Santoso - Direktur/Sekretaris Korporasi
II. Daftar Hadir Peserta
Terlampir
III. Materi Presentasi
Terlampir
IV. Pertanyaan dan Jawaban
Nama: Nitya - Kontan
Pertanyaan:
1. Kontribusi presales dengan insentif PPN DTP terhadap total presales Perseroan selama
periode Januari - Maret 2025 adalah sebesar 44%, berapa target Perseroan atas presales
dengan insentif PPN DTP untuk tahun 2025?
2. Bagaimana strategi Perseroan dalam menghadapi tantangan di industri properti, seperti
pelemahan daya beli yang berpengaruh pada aset hunian dan efisiensi anggaran
Pemerintah yang berpengaruh pada aset hotel?
3. Bagaimana update mengenai progres pengembangan Perseroan di IKN dan kapan akan
dilakukan ground breaking? Apakah Perseroan memiliki rencana pengembangan lain
selain hunian ASN dengan skema KPBU?
Jawaban:
1. Perseroan tidak menargetkan nilai presales dengan insentif PPN DTP untuk tahun 2025,
namun demikian Perseroan akan memaksimalkan jumlah unit properti yang dibangun agar
dapat diserahterimakan kepada pelanggan dalam periode berlakunya PPN DTP sesuai
kebijakan pemberian insentif PPN DTP.
Page 2
2. Daya beli masyarakat memang mengalami penurunan, tetapi melalui strategi diversifikasi produk dengan segmentasi berbagai harga, saat ini porsi pembeli properti Perseroan yang terbesar adalah segmen menengah atas (middle-up) yang tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan daya beli. Terkait dengan efisiensi anggaran Pemerintah yang mempengaruhi kinerja segmen perhotelan, Perseroan akan mencari solusi untuk mengatasi penurunan ini, namun Perseroan melihat Pemerintah juga perlu melakukan alokasi anggaran yang lebih seimbang secara sektoral. 3. Saat ini pengembangan Perseroan di IKN yang berupa hunian Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sedang dalam tahap review Feasibility Study (FS) yang dilakukan oleh konsultan Kementerian Keuangan. Otorita IKN (OIKN) berencana untuk memulai konstruksi (ground- breaking) pada awal tahun 2026 namun Perseroan menilai proses ground-breaking kemungkinan belum dapat dilakukan pada awal tahun depan mengingat masih banyaknya proses yang masih harus dijalankan, seperti menyelesaikan review FS, negosiasi, tender maupun proses lainnya. Di luar proyek dengan skema KPBU, Perseroan juga akan melakukan pengembangan terintegrasi (integrated development) di IKN dengan cakupan area yang lebih luas dan memerlukan penyesuaian dan tahapan yang diselaraskan dengan program OIKN. Dengan lokasi pengembangan Perseroan yang tidak berada pada sumbu utama, menjadikan pembahasan mengenai tata ruang dan land use menjadi lebih lama dibandingkan dengan pengembangan proyek-proyek di sepanjang sumbu Nusantara. Namun demikian, proses masih terus berjalan, tetapi belum sampai pada pembangunan fisik. Nama: Yanita - Bisnis Indonesia Pertanyaan: 1. Terkait keberlanjutan dan ESG, sampai saat ini berapa banyak gedung Perseroan yang telah tersertifikasi hijau? Apakah ada proyek hunian Perseroan yang tersertifikasi hijau dan mendapatkan KPR hijau? Bagaimana minat konsumen terhadap proyek hunian dengan konsep hijau? Apa tantangan yang dihadapi Perseroan terkait pengembangan proyek hijau? 2. Perseroan berada pada level 24,2 dalam index IDX ESG Leaders (medium risk rating), bagaimana upaya Perseroan untuk menaikkan rating menjadi low risk? 3. Apakah Perseroan akan meluncurkan proyek baru di tahun ini? Selama enam bulan ini segmen perumahan mana yang paling diminati konsumen? Jawaban: 1. Perseroan memiliki 7 proyek bersertifikasi hijau yang terdiri dari 5 gedung high-rise dan 2 proyek hunian landed, dengan 6 sertifikasi dari EDGE dan 1 sertifikasi dari Greenship untuk proyek Ciputra World 1 Jakarta - DBS Bank Tower. Terkait minat konsumen terhadap hunian dengan konsep hijau, Perseroan melihat ada keinginan dari konsumen untuk tinggal di proyek hunian dengan green certificate, namun belum sampai pada tahap mengutamakan konsep atau fasilitas hijau ini di atas harga pembelian rumah. Dalam membeli rumah konsumen lebih mempertimbangkan harga, lokasi dan reputasi pengembang.
Page 3
2. Terkait index IDX ESG Leaders, Perseroan akan terus mengintegrasikan perjalanan
keberlanjutan dengan secara aktif mencari peluang untuk menerapkan prinsip-prinsip
ramah lingkungan dalam aspek-aspek pengembangan Perseroan. Dengan demikian skor
rating IDX ESG Leaders akan menyesuaikan dengan sendirinya sehingga Perseroan
dapat mencapai low risk rating.
3. Perseroan melihat ada pergeseran minat konsumen pada harga produk residensial.
Sebelum pandemi COVID-19, segmen yang diminati adalah produk dengan harga di
bawah Rp1miliar. Setelah pandemi berakhir, segmen harga yang paling diminati bergeser
menjadi Rp1-2miliar. Saat ini segmen yang paling banyak diminati adalah produk
residensial dengan harga Rp2-3miliar, walaupun harga Rp1-2miliar masih tetap populer.
Perseroan melihat hal ini terkait dengan daya beli masyarakat. Untuk pembeli dengan
harga di bawah Rp1miliar (middle and middle-low consumers), daya belinya masih lemah
karena banyaknya PHK sehingga buyers’ confidence-nya belum kembali. Sementara
untuk pembeli dengan harga Rp1-3miliar dan di atas Rp3miliar daya belinya sudah
kembali. Dan terkait pergeseran minat konsumen ini, Perseroan sudah menyesuaikannya
dengan produk-produk yang memenuhi demand.
Mengenai proyek baru, Perseroan akan terus mencari dan mengembangkan proyek baru
melalui skema kerjasama operasi (joint operation/JO). Perseroan percaya bahwa daya
beli masyarakat masih ada, disamping pengaruh positif dari kondisi ekonomi global,
seperti menurunnya tingkat suku bunga yang akan diikuti oleh BI dan mempengaruhi
industri properti.
Nama: Carlton – Tuntun Sekuritas Indonesia
Pertanyaan:
Mengapa target presales Perseroan tahun 2025 stagnan, sementara Perseroan selama
beberapa tahun terakhir ini berfokus ke segmen kelas menengah atas yang memiliki daya beli
yang resilient?
Jawaban:
Perseroan menetapkan target presales tahun 2025 secara stagnan karena melihat 2
tantangan utama sebagai berikut:
1. Suku bunga KPR.
KPR yang merupakan kontribusi terbesar presales dalam cara pembayaran (72%)
menyebabkan ketergantungan terhadap KPR semakin meningkat. Dalam situasi
likuiditas perbankan saat ini, dimana Loan to Deposit Ratio secara agregat sudah
sangat tinggi (90%) mengakibatkan beberapa bank tidak memiliki ruang untuk
menurunkan suku bunga KPR. Per bulan Juni, Perseroan sudah melihat beberapa
bank besar menaikkan suku bunga KPR, walaupun secara nominal tidak besar.
Misalnya BCA yang di bulan Februari telah menaikkan suku bunga sebesar 25-40 bps,
kembali menaikkan suku bunga sebesar 37 bps. Kondisi seperti ini akan berdampak
kepada konsumen, sehingga jika 72% pembeli menggunakan KPR dan suku
bunganya terus naik maka akan berpengaruh juga terhadap presales Perseroan.
Page 4
2. Perseroan terus mencari proyek baru untuk dikembangkan dan saat ini Perseroan
sedang dalam tahap negosiasi untuk melakukan sekitar 5 proyek kerjasama operasi,
namun dari segi timing mungkin tidak dapat selesai pada tahun 2025 sehingga tidak
dapat mengkontribusi presales. Dengan demikian Perseroan hanya bisa
mengandalkan launching baru dari proyek-proyek existing.
Nama: Wawan - Koranproperti.com
Pertanyaan:
1. Mengenai proyek baru, apakah Perseroan menargetkan lokasinya, misalnya
Jabodetabek atau pinggir Jakarta arah timur seperti Karawang?
2. Dengan adanya ketidakpastian ekonomi, segmen mana dari proyek-proyek Perseroan
yang paling bertumbuh penjualannya?
3. Bagaimana pandangan Perseroan terkait rumah subsidi dengan ukuran 18 m2, apakah
ada keinginan untuk ikut berpartisipasi? Kalau ada, apakah lokasi pengembangannya
akan di di luar kota atau dalam kota? Informasi terakhir menyebutkan harga jual di luar
kota adalah sekitar Rp120juta, sementara di dalam kota Rp100juta.
Jawaban:
1. Dalam mencari proyek baru, Perseroan tidak menargetkan secara spesifik untuk
lokasinya, seperti apakah harus di wilayah Jabodetabek atau arah timur Jakarta.
Perseroan selalu terbuka untuk melakukan pengembangan di semua lokasi yang memiliki
lahan yang dapat dikembangkan dan menguntungkan. Secara historis memang
kontribusi presales Perseroan yang terbesar berasal dari wilayah Jabodetabek.
2. Perseroan mencatat segmen produk residensial dengan harga Rp1-2miliar yang paling
bertumbuh, walaupun ada pergeseran akibat kondisi ekonomi dan daya beli sebagian
masyarakat kelompok menengah yang terdampak.
3. Perseroan melihat ide dari program rumah subsidi dengan luas bangunan 18 m2
lokasinya berada di Jabodetabek, di mana harga tanah sudah cukup tinggi, namun masih
diharapkan menjadi lokasi tempat tinggal yang layak dan tidak jauh dari tempat kerja
sehingga ukuran rumah diperkecil sedemikian rupa. Dan seandainya terdapat lahan di
luar Jakarta dengan harga yang masih cukup murah, maka ukuran rumah tidak perlu
dibuat sekecil itu. Jadi program ini sebetulnya ingin membantu masyarakat untuk dapat
memiliki rumah di perkotaan dengan fasilitas KPR subsidi. Perseroan memandang hal ini
sebagai pilihan bagi masyarakat untuk tinggal di Jabodetabek dengan hunian berukuran
kecil (program rumah subsidi) atau di hunian dengan ukuran yang cukup besar dengan
lokasi yang agak jauh dari Jakarta namun memiliki infrastruktur Transit-Oriented
Development (TOD) sehingga tetap bisa bekerja di Jakarta.
Lebih jauh Perseroan memberi tanggapan positif atas program rumah subsidi yang
ukurannya diperkecil ini, karena tidak ada keharusan bagi pengembang, namun masih
memungkinkan untuk mengikuti permintaan atau kemampuan pasar. Permintaan pasar
akan dipengaruhi oleh daya beli dan ketersediaan lahan, dimana untuk ketersediaan
lahan, apabila harganya sudah terlalu tinggi, maka ukuran luas rumah akan diperkecil.
Dengan program rumah subsidi yang baru ini pengembang akan dapat menyediakan
produk sesuai dengan permintaan dan kemampuan pasar dengan tetap mengikuti aturan
hunian yang layak.
Page 5
Nama: Santi Palupi - Investor
Pertanyaan:
1. Dirjen Perumahan Rakyat sejak 2 tahun yang lalu telah menekankan agar pengembang
bisa menyediakan perumahan untuk rakyat. Bagaimana Perseroan menanggapi hal ini?
2. Apa saja kegiatan CSR yang dilakukan oleh Perseroan?
Jawaban:
1. Sebetulnya Perseroan sudah mengembangkan beberapa proyek terkait perumahan
rakyat, diantaranya Citra Maja Raya, yang menawarkan produk rumah dengan tipe luas
tanah 27 m2 dan luas bangunan 60 m2 yang masuk dalam kategori rumah subsidi atau
Fasilitas LIkuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dengan demikian Perseroan telah
melayani semua segmen masyarakat. Pada dasarnya Perseroan menyambut positif atas
alternatif maupun kesempatan untuk membangun beragam tipe rumah asalkan
memungkinkan dan dapat menyesuaikan dengan ketersediaan lahan dan harga tanah.
Selain Citra Maja Raya, Perseroan juga pernah menyediakan perumahan rakyat di
CitraIndah City Jonggol dengan membangun 1 cluster khusus dengan 300 unit rumah
subsidi atau FLPP, namun pada akhirnya produk ini tidak dapat dijual dengan fasilitas
FLPP walaupun pembelinya sudah ada, karena KPR dari pembeli yang tidak ada satupun
yang disetujui. Perseroan melihat bahwa permasalahan atas perumahan rakyat
sebetulnya bukan terletak pada developer yang menyediakan, melainkan pada
keterbatasan pembeli, yaitu masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit mendapatkan
akses perbankan.
2. Aktivitas CSR yang dilakukan Perseroan kebanyakan ditujukan bagi masyarakat di sekitar
proyek, beberapa diantaranya:
- Melakukan perbaikan sekolah-sekolah yang ada di sekitar proyek
- Bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam melakukan program perbaikan rumah
masyarakat di lingkungan sekitar
- Bekerja sama dengan karang taruna dan para pemuda di lingkungan sekitar untuk
melakukan pelatihan entrepreneurship dan pelatihan-pelatihan lainnya.
Nama: Hilda - Kompas.com
Pertanyaan:
1. Bagaimana Perseroan memandang proses pembangunan di IKN, mengingat sampai saat
ini Perseroan masih dalam proses review (sama seperti tahun lalu)? Sebetulnya proses
yang mana di IKN yang harus ditransformasikan dari pengelolaan OIKN? Secara lebih
spesifik, apakah sebetulnya IKN potensial dan bagus untuk investasi properti?
2. Terkait ESG, Perseroan masih menempati posisi ke-2, padahal kampanye EcoCulture
yang terkait sustainability dilakukan jauh lebih awal dibandingkan dengan kompetitor.
Skor ESG Perseroan adalah 24,2, masih kalah dibandingkan dengan kompetitor. Dan
bagaimana korelasi positif EcoCulture terhadap presales Perseroan?
3. Terkait rumah susbsidi dengan luas 14 m2, apakah Perseroan sudah melakukan studi
seperti apa keinginan dan kebutuhan market terhadap rumah subsidi ini? Apakah pembeli
betul-betul ingin membeli atau hanya menyewa?
Page 6
Jawaban: 1. Perseroan memang mengalami proses yang panjang untuk memenuhi permintaan OIKN yang terus berganti dalam hal pengembangan rumah ASN dengan skema KPBU. Misalnya tahun lalu Perseroan diwajibkan melakukan proses kurasi desain, yang pada akhirnya tidak sempat dilanjutkan karena kesibukan kuratornya. Kemudian ada pergantian Kepala OIKN yang mengeluarkan kebijakan baru bahwa tidak perlu dilakukan kurasi desain, sehingga desain yang sebelumnya sudah sempat diubah dan menyebabkan penambahan biaya kemudian diubah kembali. Selanjutnya dalam proses review FS, Perseroan harus menunggu konsultan yang ditunjuk oleh Kementerian Keuangan, dimana waktu penunjukan konsultan tersebut memakan waktu yang sangat lama dan baru pada akhir tahun 2024 konsultan ditunjuk dan dilakukan review. Setelah dikeluarkan hasil review, Perseroan harus melakukan revisi lagi. Tahapan selanjutnya, Perseroan akan melakukan pertemuan dengan BPKP dan pihak-pihak lainnya dan masih akan banyak tahap yang harus dijalankan. Sehingga Perseroan tidak berekspektasi proses pembangunan akan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Proses yang panjang untuk KPBU ini adalah terkait dengan pembiayaan pembangunan yang berasal dari APBN. Sementara untuk proyek dengan skema bukan KPBU tidak ada proses yang panjang seperti KPBU karena tidak menggunakan APBN. Namun pengembanganyang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan, sehingga dalam tahap awal ini belum dilakukan pembangunan karena belum ada urgensi untuk membangun suatu kawasan yang terintegrasi dengan fungsi-fungsi yang dibutuhkan. 2. Program EcoCulture berawal dari transaksi keuangan (financial transaction) yang dilakukan Perseroan dengan International Finance Corporation (IFC) yang merupakan bagian dari World Bank, yang mensyaratkan penerapan unsur hijau dengan standar EDGE pada proyek-proyek Perseroan, terkait fasilitas financing yang diberikan kepada Perseroan. Untuk itu ada beberapa proyek Perseroan yang sudah menerapkan program EcoCulture dan menggunakan standar EDGE, sementara ada juga proyek-proyek yang belum menerapkan, sehingga belum menjadi standar untuk seluruh proyek Perseroan. Namun demikian hal ini menjadikan Perseroan pioneer dalam hal green building. Perlu ditekankan, Perseroan memahami bahwa skor ESG ini sesuatu yang penting bagi investor dalam menilai komitmen keberlanjutan suatu perusahaan. Namun perlu disampaikan juga bahwa untuk mengukur ESG secara objektif adalah sangat sulit karena pada dasarnya semua aspek ESG baik dalam segi environmental, sosial dan governansi bersifat kulitatif. Tim Investor Relations Perseroan melihat bahwa setiap lembaga ESG memberikan kuesioner yang sangat berbeda, padahal semuanya menilai aspek yang sama, yaitu ESG. Namun demikian, Perseroan juga akan terus meningkatkan proses pengumpulan data serta inisiatif-inisiatif ESG maupun pelaporannya, sehingga seiring dengan berjalannya waktu, peningkatan ini akan tercermin pada penilaian ESG. Tetapi memang sulit untuk menilai ESG hanya dari 1 lembaga dengan skor yang diberikan. 3. Terkait rumah kecil (subsidi), berdasarkan pengalaman, Perseroan menilai bahwa calon konsumen memiliki preferensi untuk membeli dan memiliki rumahnya sendiri. Beberapa waktu yang lalu permasalahan yang terkait atas rumah subsidi adalah kuota FLPP yang terbatas, sedangkan sekarang kuotanya sudah besar. Saat ini yang menjadi masalah adalah kondisi ekonomi Indonesia yang tidak begitu kondusif, sehingga confidence level calon konsumen untuk membeli rumah jadi berkurang, walaupun pendapatannya mungkin belum berkurang. Hal ini juga yang menyebabkan sejak COVID-19 sampai sekarang confidence level untuk rumah dengan harga di bawah Rp1miliar, termasuk rumah subsidi, belum kembali.
Page 7
Nama: Michael - Investor Pertanyaan: Terkait land bank Perseroan yang tersebar di seluruh Indonesia, bagaimana Perseroan menetapkan pengembangan di setiap proyeknya, apakah ada proyek-proyek yang diprioritaskan untuk dikembangkan lebih dulu atau pengembangannya akan mengikuti supply dan demand di area masing-masing? Jawaban: Pengembangan land bank disesuaikan dengan demand dan kesiapan dari lahan itu sendiri. Dengan lokasi land bank dan juga minat konsumen yang beragam, Perseroan perlu mencermati dengan hati-hati mengenai pengembangan land bank-nya, terkait dengan yang akan dipercepat maupun yang masih dalam tahapan menunggu. Semua ini perlu disesuaikan dengan kondisi pasar dan juga segmen dari pasar itu sendiri. Nama: Sarah Yuniarni - REDD Intelligence Pertanyaan: 1. Berapa capex yg dianggarkan Perseroan untuk tahun 2025 dan akan digunakan untuk apa saja? 2. Berapa target presales Perseroan hingga akhir tahun 2025? Jawaban: 1. Realisasi capex selama 3 bulan pertama tahun ini sekitar Rp300miliar, relatif kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Perseroan akan mengalokasikan sekitar Rp1,5triliun sampai Rp2.0triliun untuk capex, yang sebagian besar akan digunakan untuk land banking. Perseroan akan melakukan land banking di Sentul. Capex lainnya adalah untuk pembangunan mal baru di CitraLand City CPI Makassar dan ada kemungkinan untuk pembangunan rumah sakit baru di lokasi yang belum dapat diungkapkan saat ini. 2. Perseroan menargetkan presales tahun 2025 sebesar Rp11triliun, sama dengan pencapaian tahun lalu.
Names mentioned 9 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Kementerian Keuangan. Otorita IKN
p.2
unresolved
org
Kementerian Keuangan
p.6
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.