Back to announcement
20260708_PJHB_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_32109982_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review PJHBSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 90
Page 1
Page 2
Jakarta, 5 Juni 2026
Kepada Yth.
PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Jl. Panglima Batur No.36 Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota,
Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75112
No. Laporan : 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Hal : Laporan Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Dengan hormat,
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT PELAYARAN JAYA HIDUP BARU TBK
Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. 018/FDI/PB-FS/III/2026 tertanggal 26 Maret 2026,
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat
penugasan dari PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (selanjutnya disebut “PJHB” atau “Perusahaan”) untuk
menyusun Studi Kelayakan (Feasibility Study) untuk Perusahaan dalam rangka Perubahan kegiatan
usaha.
Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari penugasan ini adalah untuk penyusunan Studi Kelayakan untuk Perusahaan
dalam rangka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan oleh Perusahaan. Laporan ini
diperuntukan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) d/h BAPEPAM-LK terkait dengan
peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI
Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.
Objek Studi Kelayakan
Obyek Jasa Studi Kelayakan dalam hal ini adalah rencana PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk untuk
melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) menjadi KBLI 64210 (Aktivitas
Perusahaan Induk/Holding Companies) dan KBLI 50121 (Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang
Umum).
Perusahaan saat ini melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang jasa sebagai berikut :
• Kegiatan usaha utama : angkutan laut perairan pelabuhan dalam negeri untuk barang
(KBLI 50132)
• Kegiatan usaha penunjang : aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200)
Sehubungan dengan adanya pembaharuan KBLI sesuai dengan Peraturan Badan Pusat Statistik No. 7
Tahun 2025, maka seluruh perusahaan harus memperbaharui KBLI. Oleh karena itu, Perusahaan akan
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti)
Page 3
memperbaharui KBLI menjadi KBLI 64210 (Aktivitas Perusahaan Induk/Holding Companies) dan KBLI 50121 (Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang Umum). Tanggal Studi Kelayakan Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan Berdasarkan POJK No.35/POJK.04/2020, tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis Kelayakan Pasar b. Analisis Kelayakan Teknis c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis d. Analisis Kelayakan Model Manajemen e. Analisis Kelayakan Keuangan Analisis Kelayakan Pasar Perekonomian global masih berada dalam tren melambat dengan tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah, yaitu sebesar 3,2% dibandingkan dengan capaian tahun 2025 sebesar 3,3%. Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, kerentanan rantai pasok global, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak pada aktivitas perdagangan dan investasi global. Ketidakpastian pasar keuangan global juga masih tinggi, seiring terbatasnya ruang penurunan suku bunga The Fed, masih tingginya yield US Treasury, serta penguatan indeks dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi mendorong keluarnya aliran modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga dapat memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan domestik. Dari sisi domestik, perekonomian nasional tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah tekanan eksternal. Aktivitas ekonomi domestik didukung oleh permintaan dalam negeri, konsumsi rumah tangga, investasi, serta kinerja ekspor. Selain itu, peningkatan keyakinan pelaku ekonomi dan dukungan stimulus fiskal turut mendorong pemulihan aktivitas ekonomi. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi domestik ditopang oleh kinerja positif pada sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta konstruksi. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua menunjukkan perkembangan yang baik, didukung oleh aktivitas industri, pertambangan, perdagangan, dan pariwisata Prospek perekonomian Indonesia tetap baik. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 berada dalam kisaran 4,7%–5,5% dan meningkat menjadi 4,9%–5,7% pada tahun 2026. Pertumbuhan tersebut didukung oleh permintaan domestik yang tetap kuat, konsumsi rumah tangga, investasi, serta kinerja ekspor. Ketahanan eksternal Indonesia juga diprakirakan tetap terjaga. Neraca Pembayaran Indonesia pada tahun 2025 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah. Selain itu, cadangan Halaman 2 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 4
devisa tetap memadai untuk mendukung stabilitas eksternal dan menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kebutuhan transportasi laut yang struktural. Kegiatan industri pertambangan, perkebunan, energi, migas, pembangunan infrastruktur, dan distribusi barang antarwilayah menimbulkan permintaan berkelanjutan terhadap jasa pengangkutan laut, termasuk kapal LCT yang mampu membawa alat berat dan kargo proyek secara langsung ke titik operasi. BPS mencatat barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik selama Januari-Desember 2025 mencapai 508,4 juta ton, meningkat 16,56% dibandingkan periode sebelumnya. Data ini mengindikasikan bahwa permintaan angkutan barang laut domestik masih memiliki momentum positif, meskipun dinamika per bulan dapat berfluktuasi sesuai musim, proyek, dan kondisi komoditas. Secara global, UNCTAD menyatakan bahwa pelayaran mengangkut lebih dari 80% perdagangan barang dunia. Namun, pasar pelayaran global memasuki periode pertumbuhan yang rapuh, biaya meningkat, dan ketidakpastian tinggi. UNCTAD memperkirakan volume perdagangan laut global pada 2025 hanya naik sekitar 0,5%, sementara rerouting akibat ketegangan geopolitik meningkatkan ton- miles dan membuat tarif angkut menjadi lebih volatil. Bagi Perusahaan, kondisi ini memberikan dua implikasi: peluang dari kebutuhan logistik maritim, tetapi juga risiko biaya bahan bakar, asuransi, waktu tunggu pelabuhan, dan gangguan rantai pasok suku cadang. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ketergantungan struktural terhadap transportasi laut. Konektivitas antarpulau, distribusi barang, pengangkutan alat berat, logistik proyek, serta mobilitas penumpang di wilayah kepulauan menjadikan industri pelayaran sebagai salah satu komponen penting dalam rantai pasok nasional. Bagi perusahaan pelayaran seperti PJHB, kondisi ini memberikan peluang pasar yang berkelanjutan, terutama pada segmen charter kapal, angkutan kargo proyek, alat berat, dan layanan angkutan laut yang bersifat fleksibel atau tidak terjadwal. Berdasarkan data BPS, kinerja angkutan laut domestik pada tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang positif. Selama Januari–Desember 2025, jumlah penumpang angkutan laut domestik mencapai 30,5 juta orang, meningkat 16,48% dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan jumlah barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik mencapai 508,4 juta ton, meningkat 16,56%. Data ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap jasa angkutan laut domestik masih memiliki momentum pertumbuhan yang kuat, baik dari sisi mobilitas orang maupun distribusi barang. Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pasar dalam rencana usaha Perusahaan, terkait kepentingan Perusahaan untuk penambahan KBLI, maka disimpulkan bahwa aspek pasar ini adalah layak. Analisis Kelayakan Teknis Kelayakan teknis ditinjau dari sisi pengalaman, ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan rencana pengembangan usaha eksisting, Perusahaan merencanakan penambahan armada secara bertahap, yaitu sebanyak 3 unit kapal pada tahun 2026 dan 2 unit kapal pada tahun 2028. Berdasarkan informasi dari manajemen, rencana pembelian kapal pada tahun 2026 murni ditujukan untuk mendukung pengembangan kegiatan usaha eksisting. Hal ini sejalan dengan adanya potensi peningkatan kebutuhan jasa transportasi laut, khususnya dari pelanggan di sektor LNG. Menurut keterangan yang diperoleh, BP diperkirakan akan melakukan penambahan produksi LNG, sehingga membutuhkan tambahan armada kapal untuk mendukung aktivitas transportasi. Selain itu, untuk Halaman 3 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 5
perusahaan internasional terdapat batasan umur pemakaian kapal maksimal sekitar 15 tahun, sehingga ketersediaan kapal dengan usia dan kondisi yang sesuai menjadi salah satu faktor penting dalam memenuhi kebutuhan pelanggan tersebut. Dengan demikian, jumlah armada Perusahaan diproyeksikan meningkat dari 5 unit kapal eksisting menjadi 8 unit kapal pada tahun 2026, dan selanjutnya menjadi 10 unit kapal pada tahun 2028. Penambahan armada tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas operasional, memperluas cakupan layanan charter, meningkatkan fleksibilitas penjadwalan kapal, serta mendukung pertumbuhan pendapatan Perusahaan melalui peningkatan utilisasi armada. Dari aspek kesiapan teknis, rencana penambahan armada pada tahun 2026 juga didukung oleh progres pembangunan kapal yang sedang berjalan. Berdasarkan keterangan pada saat inspeksi lapangan, kapal yang berada di galangan Tegal diperkirakan dapat selesai dikerjakan sekitar 10 bulan dari waktu pembangunan. Adapun CAPEX pada tahun 2026 dialokasikan secara khusus untuk pembelian kapal, dimana nilai CAPEX tersebut telah mencakup biaya-biaya pendukung sampai kapal siap berlayar atau beroperasi, termasuk pengurusan perizinan, sertifikasi, dan kebutuhan lainnya hingga kapal dapat diserahterimakan dalam kondisi siap operasi kepada Perusahaan. Berdasarkan komposisi karyawan Perusahaan, jumlah sumber daya manusia meningkat dari 59 orang pada tahun 2023 menjadi 69 orang pada tahun 2024, dan kembali meningkat menjadi 72 orang pada tahun 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Perusahaan telah melakukan penyesuaian kebutuhan tenaga kerja secara bertahap sejalan dengan perkembangan kegiatan operasional, peningkatan kebutuhan pengawasan, serta penguatan struktur organisasi. Dari sisi jenjang manajemen, komposisi karyawan tahun 2025 terdiri dari 7 orang manajerial, 3 orang supervisor, 7 orang staf, dan 55 orang ABK. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa mayoritas tenaga kerja Perusahaan berada pada fungsi operasional kapal, khususnya ABK, yang merupakan sumber daya utama dalam mendukung kegiatan pelayaran, pengoperasian armada LCT, serta layanan charter kapal. Dominasi ABK dalam struktur tenaga kerja mencerminkan karakter usaha Perusahaan yang berbasis pada operasional armada dan kesiapan kru kapal. Dari sisi usia, karyawan Perusahaan pada tahun 2025 didominasi oleh kelompok usia 41–50 tahun sebanyak 25 orang, diikuti kelompok usia 21–30 tahun sebanyak 18 orang, kelompok usia 31–40 tahun sebanyak 17 orang, kelompok usia di atas 50 tahun sebanyak 11 orang, dan kelompok usia di bawah 21 tahun sebanyak 1 orang. Komposisi ini menunjukkan adanya kombinasi antara tenaga kerja berpengalaman dan tenaga kerja usia produktif. Kelompok usia 41 tahun ke atas dapat mendukung aspek pengalaman teknis, operasional, dan pengambilan keputusan di lapangan, sedangkan kelompok usia 21–40 tahun menjadi basis regenerasi dan keberlanjutan tenaga kerja Perusahaan. Secara umum, ketersediaan sumber daya manusia Perusahaan dinilai memadai untuk mendukung kegiatan operasional saat ini. Namun, sejalan dengan rencana pengembangan usaha eksisting melalui penambahan armada sebanyak 3 unit kapal pada tahun 2026 dan 2 unit kapal pada tahun 2028, Perusahaan perlu melakukan perencanaan kebutuhan SDM secara lebih terstruktur. Dengan asumsi kebutuhan ABK sebanyak 11 orang per kapal, maka penambahan 3 unit kapal pada tahun 2026 membutuhkan tambahan ABK sebanyak 33 orang, sedangkan penambahan 2 unit kapal pada tahun 2028 membutuhkan tambahan ABK sebanyak 22 orang. Dengan demikian, secara kumulatif Perusahaan membutuhkan tambahan ABK sebanyak 55 orang sampai dengan tahun 2028. Halaman 4 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 6
Penambahan armada juga akan berdampak pada kebutuhan tenaga teknis kapal, fungsi pengawasan operasional, serta fungsi pendukung seperti administrasi, keuangan, keselamatan pelayaran, dan compliance. Dengan bertambahnya jumlah kapal, kebutuhan kru tidak hanya terkait jumlah personel, tetapi juga mencakup kesiapan kompetensi dan kelengkapan sertifikasi. Oleh karena itu, Perusahaan perlu memastikan ketersediaan ABK bersertifikasi, pengaturan jadwal kerja dan rotasi kru yang memadai, pelatihan keselamatan pelayaran, serta sistem monitoring kinerja operasional kapal. Penguatan fungsi supervisor dan compliance juga menjadi penting untuk memastikan seluruh armada dapat beroperasi sesuai standar keselamatan, regulasi pelayaran, dan kebutuhan layanan charter. Dengan demikian, dari aspek sumber daya manusia, Perusahaan memiliki basis tenaga kerja yang cukup kuat, terutama pada fungsi operasional kapal. Rencana pengembangan usaha melalui penambahan armada dinilai dapat didukung sepanjang Perusahaan melakukan penambahan SDM secara bertahap, menjaga ketersediaan kru bersertifikasi, memperkuat pengawasan operasional, serta menyesuaikan struktur organisasi dengan pertumbuhan jumlah armada. Proses bisnis PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dijalankan melalui penyediaan jasa charter kapal LCT untuk mengangkut alat berat, kontainer, bahan proyek, serta kargo industri lainnya. Kegiatan usaha dimulai dari permintaan pengiriman oleh klien, pengecekan ketersediaan kapal, kesepakatan charter, pengurusan operasional oleh agen, hingga proses muat, pengiriman, dan bongkar di pelabuhan tujuan. Model bisnis ini mengandalkan armada kapal sebagai aset utama dan pendapatan diperoleh dari jasa pengangkutan atau penyewaan kapal. Berdasarkan evaluasi terhadap aspek teknis dimana PJHB secara konsolidasi memiliki pengalaman, ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia, kapasitas dan pengalaman yang mencukupi, maka disimpulkan bahwa aspek teknis ini adalah layak. Analisis Kelayakan Pola Bisnis Kelayakan pola bisnis ditinjau dari sisi keunggulan kompetitif perusahaan dalam kegiatan pada jasa charter kapal LCT untuk pengangkutan alat berat, kontainer, bahan proyek, dan kargo industri, kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai tambah, dan kemampuan perusahaan untuk memitigasi risiko persaingan, sehingga perusahaan yakin bahwa kegiatan usaha ini akan berkelanjutan. Pola bisnis PJHB dinilai layak karena didukung oleh model usaha yang berfokus pada jasa charter kapal LCT untuk pengangkutan alat berat, kontainer, bahan proyek, dan kargo industri. Kegiatan usaha tersebut memiliki karakteristik yang spesifik karena melayani kebutuhan pengiriman yang tidak selalu bersifat rutin, bergantung pada lokasi proyek, jenis muatan, jadwal operasional, serta kebutuhan fleksibilitas rute pelayaran. Dalam kegiatan eksistingnya, PJHB menjalankan model layanan freight charter dan time charter, sehingga Perusahaan dapat menyesuaikan layanan berdasarkan kebutuhan pelanggan, baik dari sisi jenis muatan, kapasitas kapal, area operasi, maupun durasi penggunaan kapal. Model usaha ini dinilai relevan dengan kebutuhan industri pertambangan, perkebunan, konstruksi, energi, dan infrastruktur yang membutuhkan layanan angkutan laut yang fleksibel dan andal. Kemampuan pesaing untuk meniru produk atau layanan PJHB dinilai cukup terbatas, karena bisnis charter kapal LCT tidak hanya bergantung pada kepemilikan kapal, tetapi juga membutuhkan pengalaman operasional, jaringan pelanggan, perizinan, sertifikasi, kru berpengalaman, serta kemampuan mengelola rute dan risiko pelayaran. Halaman 5 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 7
Secara umum, layanan pengangkutan laut dengan kapal LCT dapat ditiru oleh perusahaan pelayaran lain yang memiliki armada sejenis. Namun, untuk mencapai kualitas layanan yang sama, pesaing membutuhkan waktu, investasi, dan pengalaman yang memadai. Hal ini karena PJHB telah memiliki pengalaman sejak tahun 2008 dalam jasa vessel chartering dan pengangkutan kargo berat, termasuk alat berat, kontainer, peralatan migas, pertambangan, perkebunan, konstruksi, dan kargo proyek lainnya. Kemampuan PJHB dalam menciptakan nilai dinilai berasal dari pemanfaatan armada LCT sebagai aset utama untuk menghasilkan pendapatan melalui jasa freight charter, time charter, dan pengangkutan kargo proyek. Dengan karakteristik kapal LCT yang dapat mengangkut alat berat, kontainer, dan kargo berukuran besar, Perusahaan memiliki peluang untuk melayani segmen pelanggan industri yang membutuhkan layanan angkutan laut khusus dan fleksibel. Secara umum, integrasi vertikal dan horizontal dapat memperkuat kemampuan PJHB dalam menciptakan nilai. Integrasi vertikal memberikan peluang efisiensi dan peningkatan kualitas layanan, sedangkan integrasi horizontal mendukung pertumbuhan kapasitas, perluasan pasar, dan peningkatan pendapatan. Dengan dukungan armada, pengalaman operasional, dan jaringan pelanggan, strategi integrasi ini dinilai dapat meningkatkan daya saing serta keberlanjutan usaha Perusahaan. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena keunikan dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk menciptakan nilai dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis Kegiatan Usaha oleh Perusahaan adalah layak. Analisis Kelayakan Model Manajemen Manajemen PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman yang memadai dalam menjalankan kegiatan usaha pelayaran, vessel chartering, dan pengangkutan kargo menggunakan kapal LCT. Hal ini tercermin dari pengalaman jajaran Dewan Komisaris dan Direksi yang sebagian besar telah memiliki rekam jejak panjang di industri pelayaran, pemasaran, operasional kapal, keuangan, akuntansi, serta tata kelola perusahaan. Dari sisi pengawasan, Perusahaan didukung oleh Dewan Komisaris yang memiliki kombinasi pengalaman di bidang pelayaran, bisnis, serta pasar modal. Hero Gozali selaku Komisaris Utama memiliki pengalaman panjang di Perusahaan, termasuk sebagai Direktur Utama sejak tahun 2008 sampai 2024 sebelum diangkat sebagai Komisaris Utama pada tahun 2025. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah karena beliau memiliki pemahaman historis yang kuat atas perkembangan usaha, pelanggan, armada, dan dinamika operasional Perusahaan. Secara keseluruhan, jajaran manajemen kunci Perusahaan dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung rencana pengembangan usaha. Kombinasi antara pengalaman operasional pelayaran, pemasaran, keuangan, akuntansi, dan tata kelola perusahaan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan usaha, terutama sejalan dengan rencana penambahan armada dan perluasan kapasitas operasional. Dari sisi sumber daya manusia, Perusahaan memiliki struktur tenaga kerja yang mendukung kegiatan usaha pelayaran dan charter kapal. Berdasarkan data komposisi karyawan, jumlah karyawan Perusahaan meningkat dari 59 orang pada tahun 2023 menjadi 69 orang pada tahun 2024, dan kembali meningkat menjadi 72 orang pada tahun 2025. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah melakukan penyesuaian kapasitas organisasi sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha dan kebutuhan operasional. Halaman 6 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 8
Berdasarkan jenjang manajemen, komposisi karyawan tahun 2025 terdiri dari 7 orang manajerial, 3 orang supervisor, 7 orang staf, dan 55 orang ABK. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa mayoritas sumber daya manusia Perusahaan berada pada fungsi operasional kapal, khususnya ABK, yang merupakan elemen utama dalam kegiatan pelayaran, pengoperasian armada LCT, serta penyediaan jasa charter kapal. Seiring dengan rencana penambahan armada sebanyak 3 unit kapal baru pada tahun 2026 dan 2 unit kapal baru pada tahun 2028, Perusahaan juga memproyeksikan kebutuhan tambahan ABK sebanyak 11 orang untuk setiap kapal baru. Dengan demikian, terdapat tambahan kebutuhan ABK sebanyak 33 orang pada tahun 2026 dan 22 orang pada tahun 2028. Penambahan ABK tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan operasional masing-masing kapal, termasuk fungsi nakhoda, perwira kapal, juru mudi, masinis, dan kru pendukung lainnya sesuai kebutuhan operasional pelayaran Sejalan dengan rencana pengembangan usaha eksisting melalui penambahan armada, manajemen Perusahaan dinilai memiliki kesiapan yang memadai untuk menjalankan pengembangan usaha secara bertahap. Rencana penambahan kapal ini bukan merupakan dampak langsung dari penambahan KBLI baru, melainkan merupakan bagian dari strategi Perusahaan untuk memperkuat kapasitas operasional, memperluas cakupan layanan charter, dan mendukung pertumbuhan pendapatan dari kegiatan usaha yang telah berjalan saat ini. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman Direksi dan Komisaris dalam industri pelayaran, pengelolaan operasional kapal, pemasaran jasa charter, serta pengelolaan keuangan Perusahaan. Dengan pengalaman tersebut, Perusahaan dinilai memiliki dasar manajerial yang cukup untuk mengelola pertumbuhan armada secara bertahap, termasuk dalam aspek perencanaan operasional, pengawasan armada, pengelolaan biaya, serta pemenuhan kewajiban perizinan dan keselamatan pelayaran. Sementara itu, rencana penambahan armada tetap perlu didukung oleh kesiapan sumber daya manusia, khususnya pada fungsi operasional kapal. Seiring dengan rencana penambahan 3 unit kapal baru pada tahun 2026 dan 2 unit kapal baru pada tahun 2028, Perusahaan perlu memastikan ketersediaan ABK, tenaga teknis, sertifikasi kru, dokumen pelaut, serta sistem penjadwalan kru yang memadai. Hal ini penting agar armada tambahan dapat beroperasi secara optimal tanpa mengganggu kegiatan operasional armada eksisting. Dengan demikian, dari aspek manajemen dan sumber daya manusia, rencana pengembangan usaha eksisting melalui penambahan armada dinilai dapat didukung oleh kapasitas manajemen yang ada, sepanjang Perusahaan melakukan penguatan organisasi secara bertahap. Penguatan tersebut mencakup penambahan kru sesuai pertumbuhan armada, peningkatan kompetensi keselamatan pelayaran, penguatan fungsi compliance, serta pengelolaan operasional armada yang lebih terstruktur. Berkaitan dengan pengembangan usaha eksisting melalui penambahan armada, Perusahaan telah memiliki pengalaman dan sumber daya manusia yang relevan dalam kegiatan usaha pelayaran, khususnya jasa charter kapal LCT dan pengangkutan kargo proyek. Kompetensi utama yang dibutuhkan tidak berkaitan dengan tenaga ahli khusus di bidang baru, melainkan terutama pada kesiapan operasional kapal, ketersediaan ABK bersertifikasi, pengelolaan jadwal pelayaran, pemenuhan aspek keselamatan, serta pengawasan kepatuhan terhadap regulasi pelayaran., maka disimpulkan bahwa rencana bisnis yang akan dilakukan, ditinjau dari aspek model manajemen adalah layak. Halaman 7 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 9
Analisis Kelayakan Keuangan
Pada tahun 2026, total kebutuhan investasi diproyeksikan sebesar Rp163,03 miliar, yang terutama
dialokasikan untuk pembangunan 3 unit kapal baru sebesar Rp163,00 miliar dan kendaraan
operasional sebesar Rp27 juta. Selanjutnya, pada tahun 2027, Perusahaan memproyeksikan capex
sebesar Rp1,16 miliar yang dialokasikan untuk kebutuhan docking.
Pada tahun 2028, total Investasi diproyeksikan sebesar Rp96,10 miliar, yang sebagian besar
dialokasikan untuk penambahan kapal sebesar Rp95,90 miliar, serta tambahan peralatan kapal dan
peralatan kantor masing-masing sebesar Rp181 juta dan Rp16 juta. Pada tahun 2029, terdapat capex
sebesar Rp28 juta untuk kendaraan operasional, sedangkan pada tahun 2030 terdapat capex sebesar
Rp1,21 miliar untuk kebutuhan docking.
Seluruh rencana investasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan usaha eksisting Perusahaan,
khususnya untuk memperkuat kapasitas armada, mendukung kegiatan operasional pelayaran, serta
meningkatkan fleksibilitas layanan charter kapal. Rencana capex ini tidak berkaitan langsung dengan
perubahan KBLI, melainkan merupakan investasi pendukung atas kegiatan usaha yang telah berjalan.
Rencana investasi penambahan armada dan kebutuhan capex pendukung akan dibiayai menggunakan
kas internal Perusahaan. Penggunaan kas internal mencerminkan kemampuan Perusahaan dalam
mendukung rencana pengembangan usaha eksisting tanpa menambah ketergantungan pada
pembiayaan eksternal.
Dengan sumber pendanaan tersebut, Perusahaan diharapkan dapat menjaga fleksibilitas keuangan,
mengendalikan beban keuangan, serta mempertahankan struktur permodalan yang sehat. Namun
demikian, pelaksanaan investasi tetap perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan
ketersediaan kas, kebutuhan modal kerja operasional, serta prioritas penggunaan dana Perusahaan.
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan beberapa indicator kelayakan yang
merujuk pada proyeksi arus kas bersih. Arus kas bersih yang digunakan adalah arus kas bersih
incremental, atau selisih arus kas bersih antara usaha Perusahaan dengan pengembangan usaha dan
usaha Perusahaan tanpa pengembangan usaha. Adapun indicator kelayakan yang digunakan dalam
hal ini mencakup Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI) dan Payback
Period. Proyeksi arus kas bersih incremental Perusahaan adalah sebagai berikut :
URAIAN SATUAN 2026 2027 2028 2029 2030
Laba (Rugi) Bersih Rp Juta (7.166) 17.885 24.423 27.175 31.361
Beban Penyusutan Rp Juta 8.150 8.150 12.945 12.945 12.945
Perubahan Utang Rp Juta - - - - -
Belanja Modal / Capex Rp Juta (151.510) - (95.901) - -
Perubahan Modal Kerja Rp Juta (201) (2.909) (1.236) (1.191) (1.429)
Terminal Value Rp Juta 426.243
ARUS KAS BERSIH Rp Juta (150.728) 23.126 (59.768) 38.929 469.120
Discount Rate % 9,70% 9,70% 9,70% 9,70% 9,70%
Discount Factor x 0,9116 0,8310 0,7575 0,6906 0,6295
PV ARUS KAS BERSIH Rp Juta (137.403) 19.217 (45.277) 26.883 295.322
Halaman 8 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 10
Berdasarkan proyeksi arus kas bersih yang telah disusun di atas, maka dihasilkan indicator kelayakan
sebagai berikut.
Keterangan Hasil Analisa Indikator Kelayakan Kesimpulan
NPV (Rp Juta) 158.743 NPV > 0 Layak
IRR 32,85% IRR > Tingkat Diskonto (Ke = 9,70%) Layak
PI 1,73 PI > 1 Layak
Payback Period 8 Tahun 5 Bulan
Asumsi-Asumsi dan Kondisi Pembatas
1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
Studi Kelayakan.
3. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan keakuratan dan
kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh dari
informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami anggap relevan.
4. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
6. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
7. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
8. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
9. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan telah disusun
sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan
ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
10. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara
khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan.
11. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan
maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak dapat digunakan
untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan
untuk tujuan lain.
12. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga pengguna
laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan relevansi antara hasil
dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
Halaman 9 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 11
Kesimpulan Studi Kelayakan Dengan mempertimbangkan hasil analisis Studi Kelayakan yang mencakup aspek kelayakan pasar, kelayakan teknis, kelayakan pola bisnis, kelayakan model manajemen, dan kelayakan keuangan, kami berpendapat bahwa rencana PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dalam rangka perubahan KBLI 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk/Holding Companies dan KBLI 50121 - Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Umum beserta rencana pengembangan usaha Perusahaan adalah LAYAK. Adapun rencana penambahan armada kapal yang digunakan dalam proyeksi keuangan merupakan bagian dari pengembangan kegiatan usaha eksisting Perusahaan, khususnya untuk memperkuat kapasitas armada LCT, meningkatkan fleksibilitas layanan charter, serta mendukung pertumbuhan pendapatan dari kegiatan usaha pelayaran yang telah berjalan. Berdasarkan analisis arus kas bersih inkremental, rencana pengembangan usaha tersebut menghasilkan indikator kelayakan keuangan yang positif, sehingga dinilai layak untuk dilaksanakan. Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa datang terkait dengan usaha Perusahaan maupun atas transaksi yang dilakukan. Demikian laporan Studi Kelayakan ini kami sampaikan, atas kerjasama dan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, KJPP FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Pimpinan Rekan M. Ichsan Suud, SP., MBA., MAPPI (Cert) Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453 MAPPI No. : 10-S-02571 STTD Bapepam No. : STTD.PB-50/PJ-1/PM.021/2025 RMK : RMK-2017.00526 Halaman 10 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 12
DAFTAR ISI
LAPORAN STUDI KELAYAKAN ....................................................................................................1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. 11
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 13
1.1 Uraian Mengenai Penugasan ............................................................................................ 13
1.2 Identifikasi Status Penilai ................................................................................................... 13
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................... 13
1.4 Identitfikasi Pengguna Laporan ......................................................................................... 13
1.5 Objek Studi Kelayakan...................................................................................................... 13
1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ................................................................................. 14
1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ............................................................................ 14
1.8 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................... 14
1.9 Tingkat Kedalaman Investigasi .......................................................................................... 14
1.10 Data, Informasi dan Prosedur yang Digunakan ................................................................. 15
1.11 Asumsi dan Asumsi Khusus ............................................................................................... 15
1.12 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi .................................................................... 15
1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan SPI.......................................... 15
1.14 Pernyataan Independensi .................................................................................................. 16
1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ......................................... 16
BAB II ANALISIS PERUSAHAAN ................................................................................................. 17
2.1 Data dan Informasi yang Digunakan................................................................................. 17
2.2 Gambaran Umum Perusahaan ......................................................................................... 18
2.2.1 Latar Belakang Perusahaan ....................................................................................... 18
2.2.2 Kegiatan Usaha Perusahaan ..................................................................................... 18
2.2.3 Perijinan ................................................................................................................... 18
2.2.4 Susunan Pemegang Saham ....................................................................................... 19
2.2.5 Susunan Manajemen Perusahaan .............................................................................. 19
2.3 Informasi Keuangan Perusahaan....................................................................................... 20
BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR ........................................................................................ 26
3.1. Tinjauan Ekonomi Makro Global dan Domestik................................................................. 26
3.2. Kondisi Pasar .................................................................................................................... 30
3.3. Pesaing Usaha .................................................................................................................. 34
3.4. Strategi Pemasaran ........................................................................................................... 35
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ....................................................................................... 36
4.1. Lokasi Operasional Perusahaan ........................................................................................ 36
4.2. Kapasitas .......................................................................................................................... 36
4.3. Ketersediaan Sumber Daya ............................................................................................... 38
4.4. Proses Bisnis ..................................................................................................................... 39
BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ................................................................................ 41
5.1 Keunggulan Kompetitif ...................................................................................................... 41
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk........................................................................ 42
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai ............................................................................... 42
BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .................................................................. 44
6.1 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan ........................................................ 44
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................... 45
6.3 Kesiapan Manajemen dan SDM Setelah Penambahan Armada.......................................... 47
6.4 Manajemen Kekayaan Intelektual ...................................................................................... 48
Halaman 11 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 13
6.5 Manajemen Risiko............................................................................................................. 48 6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................... 49 BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ............................................................................... 50 7.1 Gambaran Umum ............................................................................................................ 50 7.2 Biaya Investasi .................................................................................................................. 50 7.3 Modal Kerja ...................................................................................................................... 52 7.4 Sumber Pembiayaan ......................................................................................................... 52 7.5 Biaya Operasional ............................................................................................................ 52 7.6 Asumsi Proyeksi Laporan Keuangan .................................................................................. 53 7.7 Proyeksi Laba Rugi ............................................................................................................ 55 7.8 Proyeksi Posisi Keuangan .................................................................................................. 55 7.9 Tingkat Diskonto ............................................................................................................... 57 7.10 Analisa Kelayakan ............................................................................................................ 58 7.11 Analisis Sensitivitas............................................................................................................ 59 BAB VIII KESIMPULAN ............................................................................................................. 61 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 62 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 63 LAMPIRAN.............................................................................................................................. 65 Halaman 12 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. 018/FDI/PB-FS/III/2026 tertanggal 26 Maret
2026, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”)
mendapat penugasan dari PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (selanjutnya disebut “PJHB” atau
“Perusahaan”) untuk menyusun Studi Kelayakan (Feasibility Study) untuk Perusahaan dalam
rangka Perubahan kegiatan usaha.
1.2 Identifikasi Status Penilai
a. Pemimpin Rekan, Mochamad Ichsan Suud, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi
penilaian bisnis dengan Izin No. B-1.16.00453 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia,
dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi
Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) No. STTD. PB-50/PJ-1/PM.021/2025. Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
b. Penugasan Studi kelayakan ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau
benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek Studi kelayakan dan/
atau pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional dan tidak
memihak.
c. Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan Studi
kelayakan ini.
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan adalah sebagai berikut:
Nama : PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Alamat : Jl. Panglima Batur No.36 Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan
Samarinda Kota, Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75112
Bidang usaha : Bidang Jasa Pelayaran/Logistik
No Telepon/Fax : (0541) 7811333
Alamat Email : info@ptjhbgroup.com
Penanggung Jawab : Dewan Direksi
1.4 Identitfikasi Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam hal ini adalah sama dengan Pemberi Tugas
1.5 Objek Studi Kelayakan
Obyek Jasa Studi Kelayakan dalam hal ini adalah rencana PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
untuk melakukan perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) menjadi KBLI
64210 (Aktivitas Perusahaan Induk/Holding Companies) dan KBLI 50121 (Angkutan Laut Dalam
Negeri Untuk Barang Umum).
Perusahaan saat ini melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang jasa sebagai berikut :
Halaman 13 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 15
• Kegiatan usaha utama : angkutan laut perairan pelabuhan dalam negeri untuk
barang (KBLI 50132)
• Kegiatan usaha penunjang : aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200)
Sehubungan dengan adanya pembaharuan KBLI sesuai dengan Peraturan Badan Pusat Statistik
No. 7 Tahun 2025, maka seluruh perusahaan harus memperbaharui KBLI. Oleh karena itu,
Perusahaan akan memperbaharui KBLI menjadi KBLI 64210 (Aktivitas Perusahaan
Induk/Holding Companies) dan KBLI 50121 (Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang Umum).
1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan dari penugasan ini adalah untuk penyusunan Studi Kelayakan untuk
Perusahaan dalam rangka Rencana Perubahan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan oleh
Perusahaan. Laporan ini diperuntukan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
d/h BAPEPAM-LK terkait dengan peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal (“POJK 35”), Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi
VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu,
penilai akan menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.
1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)
Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025.
1.8 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan
Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis atas Kelayakan Pasar
b. Analisis atas Kelayakan Teknis
c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis
d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen
e. Analisis atas Kelayakan Keuangan
1.9 Tingkat Kedalaman Investigasi
a. Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek penugasan yang kami terima dari
pemberi tugas.
b. Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek penugasan adalah merupakan bagian dari
keperluan dan kepentingan pelaksanaan Studi Kelayakan.
c. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek penugasan.
Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara keseluruhan, maka
kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya (data yang relevan).
Halaman 14 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 16
d. Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan penugasan
1.10 Data, Informasi dan Prosedur yang Digunakan
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi. Penggunaan informasi
dan data tersebut dapat disetujui sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat
nasional dan atau internasional. Sumber data tersebut antara lain:
a. Bank Indonesia.
b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain
c. Badan Pusat Statistik.
d. Pemerintah Kota dan Kabupaten.
e. Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
dengan obyek Studi kelayakan.
f. Media cetak dan elektronik resmi.
g. Sumber lainnya.
1.11 Asumsi dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam Studi kelayakan.
1.12 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi
Persetujuan penilai harus didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian
dari laporan, atau referensi yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan
perusahaan/objek penugasan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek
penugasan, dan/atau pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari
perusahaan/objek penugasan.
Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.
Laporan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun, sebagian atau
keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan SPI
Penugasan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Pendapat
Kewajaran Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018), Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
No.17/SEOJK.04/2020.
Halaman 15 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 17
1.14 Pernyataan Independensi
a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
yang kami anggap relevan;
d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
aktual maupun potensial dengan obyek Studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami
tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
obyektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian (cut off date) per 31 Desember 2025 hingga laporan studi kelayakan ini
diterbitkan, terdapat kejadian penting setelah tanggal penilaian yang berupa :
Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perusahaan No. 21 tanggal 12 Februari 2026, yang dibuat di
hadapan Notaris Adi Jatmika, SH., MKn., Notaris di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,
Daerah Khusus Jakarta. Akta ini telah di setujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia nomor AHU-AH.01.03-0040763 TAHUN 2026 tanggal 13 Februari 2026.
Berdasarkan akta Perusahaan tersebut, modal dasar Perusahaan berjumlah Rp
200.000.000.000,- (dua ratus miliar Rupiah) yang terbagi atas 4.000.000.000 (empat miliar)
saham dengan nilai nominal masing-masing saham sebesar Rp 50,- (lima puluh Rupiah). Dari
modal dasar tersebut di atas telah ditempatkan dan disetor sejumlah 1.920.000.000 (satu miliar
sembilan ratus dua puluh juta) saham dengan nilai nominal seluruhnya sebesar
Rp 96.000.000.000,- (sembilan puluh enam miliar Rupiah). Susunan pemegang saham
Perusahaan berdasarkan Akta Perusahaan No. 21 tanggal 12 Februari 2026 adalah sebagai
berikut :
Jumlah Prosentase Nilai Nominal
Pemegang Saham
Saham % (Rp)
Tn. Hero Gozali 720.000.000 37,50% 36.000.000.000
Ny. Go sioe Bie 144.000.000 7,50% 7.200.000.000
Ny. Adelia Aryni Setiawan 244.800.000 12,75% 12.240.000.000
Tn. Nixen Samuel Gozali 144.000.000 7,50% 7.200.000.000
Nn. Nisiel Imanuella Gozali 144.000.000 7,50% 7.200.000.000
Nn. Monica Chandrasa 43.200.000 2,25% 2.160.000.000
Masyarakat 480.000.000 25,00% 24.000.000.000
Total 1.920.000.000 100,00% 96.000.000.000
Halaman 16 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 18
BAB II
ANALISIS PERUSAHAAN
2.1 Data dan Informasi yang Digunakan
Data dan informasi yang kami gunakan dalam studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
a. Laporan Keuangan Audit Konsolidasian PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2025 No.00072/3.0470/AU.1/06/1867-2/1/III/2026 tanggal 27 Maret
2026 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Djoko, Sidik dan Indra dengan pendapat wajar
dalam semua hal yang material dan ditandatangani oleh David Wahyu Saputra, SE., Ak., CA.,
CPA. dengan Izin Akuntan Publik No. AP.1867.
b. Laporan Keuangan Audit Konsolidasian PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2024 No.00041/3.0470/AU.1/06/1403-5/1/II/2025 tanggal 27
Februari 2025 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Djoko, Sidik dan Indra dengan pendapat
wajar dalam semua hal yang material dan ditandatangani oleh David Wahyu Saputra, SE., Ak.,
CA., CPA. dengan Izin Akuntan Publik No. AP.1867.
c. Laporan Keuangan Audit Konsolidasian PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2023 No.00023/3.0470/AU.1/06/1403-3/1/II/2025 tanggal 4 Februari
2025 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Djoko, Sidik dan Indra dengan pendapat wajar
dalam semua hal yang material dan ditandatangani oleh Muhammad Zainal Abidin, SE., MM.,
CA., CPA., CFI. dengan Izin Akuntan Publik No. AP.1403.
d. Laporan Keuangan Audit Konsolidasian PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2022 No.00015/3.0470/AU.1/06/1403-2/1/I/2025 tanggal 30 Januari
2025 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Djoko, Sidik dan Indra dengan pendapat wajar
dalam semua hal yang material dan ditandatangani oleh Muhammad Zainal Abidin, SE., MM.,
CA., CPA., CFI. dengan Izin Akuntan Publik No. AP.1403.
e. Laporan Keuangan Audit Konsolidasian PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2021 No.00013/3.0470/AU.1/06/1403-1/1/1/2025 tanggal 23 Januari
2025 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Djoko, Sidik dan Indra dengan pendapat wajar
dalam semua hal yang material dan ditandatangani oleh Muhammad Zainal Abidin, SE., MM.,
CA., CPA., CFI. dengan Izin Akuntan Publik No. AP.1403.
f. Proyeksi Keuangan Perusahaan untuk periode tahun 2026 sampai dengan 2030 yang disusun
oleh manajemen Perusahaan.
g. Perjanjian Kerja Pembuatan Kapal LCT Cipta Jaya Harapan 77 Nomor: 002/TSU-JHB/XII/2025
tanggal 15 Desember 2025, antara PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dengan PT Tegal
Shipyard Utama, untuk pembangunan 1 unit kapal Landing Craft Tank (LCT) ukuran 72,00 m x
16,00 m x 4,80 m dengan nilai kontrak sebesar Rp53.000.000.000.
h. Kontrak Pembangunan Kapal LCT Cipta Jaya Harapan 88 Nomor: 038/UBS-PJHB/X/2025
tanggal 28 Oktober 2025, antara PT Untung Brawijaya Sejahtera / UBS Shipyard dengan PT
Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk, untuk pembangunan 1 unit kapal Landing Craft Tank (LCT)
ukuran 72,00 m x 16,00 m x 4,80 m dengan nilai kontrak sebesar Rp53.000.000.000.
i. Kontrak Jasa Pembangunan Kapal LCT Cipta Jaya Harapan 99 Nomor: 001/UBS-PJHB/25-
01/07/2025 tanggal 3 Juli 2025, antara PT Untung Brawijaya Sejahtera / UBS Shipyard dengan
PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk, untuk pembangunan 1 unit kapal Landing Craft Tank (LCT)
ukuran 75,00 m x 16,00 m x 4,80 m dengan nilai kontrak sebesar Rp57.000.000.000.
j. Data legalitas Perusahaan antara lain akta pendirian, akta perubahan terakhir, Surat Kapal,
dan dokumen terkait lainnya.
Halaman 17 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 19
2.2 Gambaran Umum Perusahaan
2.2.1 Latar Belakang Perusahaan
PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan Akta Notaris Susanto
Tjiptowidjojo, S.H., No. 3 tanggal 9 Oktober 2008. Anggaran Dasar Perusahaan telah
mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan
Rapat Perusahaan No. 21 tanggal 12 Februari 2026, sebagaimana yang telah diuraikan
dalam sub bab 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian.
2.2.2 Kegiatan Usaha Perusahaan
Kegiatan usaha Perusahaan saat ini sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar PJHB, kegiatan
utama PJHB bergerak di bidang perdagangan dan industri. Perusahaan adalah perusahaan
yang bergerak di bidang Angkutan Laut Perairan Pelabuhan Dalam Negeri untuk Barang
berupa alat berat dan kontainer dengan kapal jenis (vessel chartering) jenis Landing Craft
Tank (LCT) dan jasa pengangkutan alat berat sejak tahun 2008. Sejak awal berdiri,
Perusahaan terus melakukan ekspansi dan pengembangan bisnis untuk memenuhi kebutuhan
berbagai jenis layanan kargo. Perusahaan melayani pengangkutan alat berat seperti
peralatan minyak dan gas untuk industri petroleum, alat berat untuk sektor pertambangan dan
perkebunan (seperti: dump truck, excavator, wheel loader, bulldozer, trafo, dan derek), serta
mesin pabrik dan pembangkit tenaga listrik (seperti: boiler, pipa, transformator PLN,
generator, dan tanker). Hingga saat ini, Perusahaan memiliki armada sebanyak 5 unit kapal
dengan kapasitas angkut antara 1.300 metrik ton hingga 2.500 metrik ton.
2.2.3 Perijinan
PJHB telah melengkapi dokumen perizinan dan persetujuan serta pendaftaran dan pelaporan
yang harus dilakukan PJHB dalam melakukan kegiatan usahanya di Indonesia. Adapun
dokumen tersebut antara lain
• Akta Pendirian berdasarkan Akta Notaris Susanto Tjiptowidjojo, S.H., No. 3 tanggal 9
Oktober 2008. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir berdasarkan akta Notaris Rosida Rajagukguk Siregar, S.H, M.Kn., Nomor 27
tanggal 4 Juli 2025 tentang perubahan anggaran dasar. Akta perubahan tersebut telah
memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia, sesuai dengan Surat Keputusan Nomor AHU-0044358.AH.01.02 Tahun 2025
tanggal 8 Juli 2025.
• Akta Peningkatan Modal Hasil Penawaran Umum No 21 Tanggal 12 Febuari 2026 oleh
Adi Jatmika, S.H., M.Kn. Akta ini telah di setujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia nomor AHU-AH.01.03-0040763 TAHUN 2026 TANGGAL
13 Februari 2026.
• Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Kapal (SIUPAL) Nomor: B XXXIV.253/AT.54
tanggal 6 Mei 2009 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
• Berita Acara Hasil Evaluasi Siupal / Siopsus Nomor : AL.010/1053/DA-2025 Tanggal 26
September 2025 yang dikeluarkan oleh Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral
Perhubungan Laut.
Halaman 18 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 20
• Surat Laut Kapal Cipta Jaya Harapan 9 No.PK.205/6022/SL-PM/DK-13 tanggal 22
Oktober 2013 yang dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan
Laut.
• Surat Laut Kapal Cipta Jaya Harapan 10 No.PK.205/5775/SL-PM/DK-13 tanggal 17
Oktober 2013 yang dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan
Laut.
• Surat Laut Kapal Cipta Jaya Harapan 7 No.PK.205/4262/SL-PM/DK-13 tanggal 27
Agustus 2013 yang dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan
Laut.
• Surat Laut Kapal Cipta Jaya Harapan 8 No. AL.520/2853/2678/DK/2025 tanggal 22
Agustus 2024 yang dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan
Laut.
• Surat Laut Kapal Lien Star 88 No.PK.205/1225/SL-PM/DK-16 tanggal 6 Oktober 2016
yang dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan Laut.
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) No.02.843.046.0-722.000
2.2.4 Susunan Pemegang Saham
Susunan pemegang saham Perusahaan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham Perusahaan
Lembar Prosentase Total
Pemegang Saham
Saham % (Rp)
Hero Gozali 720.000.000 50,00% 36.000.000.000
Adelia Aryni Setiawan 244.800.000 17,00% 12.240.000.000
Go sioe Bie 144.000.000 10,00% 7.200.000.000
Nixen Samuel Gozali 144.000.000 10,00% 7.200.000.000
Nisiel Imanuella Gozali 144.000.000 10,00% 7.200.000.000
Monica Chandrasa 43.200.000 3,00% 2.160.000.000
Total 1.440.000.000 100,00% 72.000.000.000
Susunan pemegang saham Perusahaan terakhir dinyatakan dalam Akta Pernyataan
Keputusan Rapat Perusahaan No. 21 tanggal 12 Februari 2026, sebagaimana yang telah
diuraikan dalam sub bab 1.15 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian.
2.2.5 Susunan Manajemen Perusahaan
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan per 31 Desember 2025 adalah sebagai
berikut:
Direksi
Direktur Utama : Go Sioe Bie
Direktur : Anthony Samuel Rahmatharun
Direktur : Willyharto Tjandra
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Hero Gozali
Komisaris Independen : Djunggu Harungguan Sitorus
Halaman 19 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 21
Komisaris : Adelia Aryani Setyawan
2.3 Informasi Keuangan Perusahaan
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat proyeksi keuangan masa depan.
Ikhtisar laporan keuangan Perusahaan dan analisa yang dibuat mengacu kepada laporan
keuangan Perusahaan yang telah diaudit.
Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar laporan posisi keuangan Perusahaan untuk periode
yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025:
Tabel 2. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan Perusahaan (dalam jutaan Rupiah)
Des Des Des Des Des
URAIAN SATUAN
2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar Rp Juta 21.184 32.650 28.205 23.408 180.927
Aset Tetap Rp Juta 25.126 27.900 51.844 66.094 154.221
Total Aset Rp Juta 46.310 60.550 80.049 89.502 335.148
Liabilitas Lancar Rp Juta 1.560 4.377 2.245 3.192 8.751
Liabilitas Jk. Panjang Rp Juta 8.435 3.243 2.862 2.041 6.679
Total Liabilitas Rp Juta 9.995 7.620 5.107 5.233 15.430
Ekuitas Rp Juta 36.315 52.930 74.942 84.269 319.718
Total Ekuitas & Liabilitas Rp Juta 46.310 60.550 80.049 89.502 335.148
Sumber: Laporan Keuangan Auditan 2021 - 2025
Aset
Jumlah aset lancar PJHB cenderung mengalami tren peningkatan dari tahun 2021 sampai 2025
dengan CAGR pertumbuhan jumlah aset lancar mengalami kenaikan sebesar 70,95% selama
periode tersebut. Pergerakan jumlah aset lancar PJHB terutama disebabkan oleh akun kas, dan
akun uang muka.
Jumlah aset tidak lancar PJHB mengalami peningkatan dari tahun 2021 sampai 2025 yang
sebagian besar disebabkan karena pergerakan akun aset tetap, adanya adanya penambahan
dikarenakan adanya revaluasi nilai asset tetap. Secara CAGR pertumbuhan jumlah aset tidak
lancar mengalami kenaikan sebesar 57,40% selama periode tersebut.
Secara rata-rata dari tahun 2021 sampai 2025, proporsi jumlah aset lancar dan jumlah aset tidak
lancar terhadap total aset adalah sebesar 43,01% : 56,99%.
Liabilitas
Jumlah liabilitas jangka pendek PJHB mengalami tren peningkatan dari tahun 2021 ke 2025,.
Secara CAGR pertumbuhan jumlah liabilitas jangka pendek mengalami kenaikan sebesar 53,90%
selama periode tersebut.
Halaman 20 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 22
Jumlah liabilitas jangka panjang PJHB cenderung mengalami tren fluktuatif dari tahun 2021
sampai 2025, pada tahun 2025 mengalami penurunan 47,36% jika dibandingkan tahun
sebelumnya. CAGR jumlah liabilitas jangka panjang mengalami kenaikan sebesar 227,20%
selama periode tersebut.
Secara rata-rata dari tahun 2021 sampai 2025, proporsi jumlah liabilitas jangka pendek dan
jumlah liabilitas jangka panjang terhadap total aset adalah sebesar 3,92% : 6,28%.
Ekuitas
Dari tahun 2021 sampai 2025 total ekuitas PJHB mengalami tren peningkatan dengan CAGR
pertumbuhan total ekuitas mengalami kenaikan sebesar 72,25% selama periode tersebut.
Peningkatan ini karena bertambahnya modal saham pada tahun 2025. Secara rata-rata dari
tahun 2021 sampai 2025, total ekuitas terhadap total aset adalah sebesar 89,80%.
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Laba (Rugi) Perusahaan (dalam jutaan Rupiah)
URAIAN SATUAN 2021 2022 2023 2024 2025
Pendapatan Rp Juta 36.068 57.532 56.099 54.660 52.886
Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 28.037 33.749 30.639 32.638 34.782
Laba (Rugi) Kotor Rp Juta 8.030 23.783 25.460 22.022 18.103
Laba (Rugi) Usaha Rp Juta 3.275 20.330 21.727 16.882 11.388
Laba (Rugi) Bersih Rp Juta 3.111 18.579 22.286 17.191 11.077
Sumber: Laporan Keuangan Auditan 2021 - 2025
Penjualan
Penjualan PJHB dari tahun 2021 sampai 2025 cenderung mengalami tren peningkatan dengan
CAGR peningkatan sebesar 10,04%. Penjualan pada 2025 sempat menurun sebesar negative
3,25% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan penjualan tertinggi terjadi sebesar
59,51% pada tahun 2022.
Beban Pokok Pendapatan
Pergerakan beban pokok pendapatan PJHB berfluktuatif dari tahun 2021 sampai 2025.
Persentase beban pokok pendapatan terhadap penjualan juga berfluktuatif, dengan rata-rata dari
tahun 2021 sampai 2025 adalah sebesar 63,30%.
Laba (Rugi) Kotor
Laba kotor PJHB mempunyai tren berfluktuatif dari tahun 2021 sampai 2025. Selama periode
tahun 2021 sampai 2025 laba kotor PJHB memiliki CAGR yang menurun sebesar 22,53%. Secara
margin laba kotor terus mengalami tren penurunan dengan rata – rata margin laba kotor PJHB
dari tahun 2021 sampai 2025 sebesar 36,70%.
Laba (Rugi) Bersih
Laba bersih PJHB cenderung mengalami tren peningkatan dari tahun 2021 sampai 2025,
walaupun pada tahun 2025 mengalami penurunan sebesar negatif 35,56% jika dibandingkan
tahun sebelumnya. Laba bersih PJHB memiliki CAGR sebesar 37,36% dari tahun 2021 sampai
2025. Secara rata – rata margin laba bersih PJHB dari tahun 2021 sampai 2025 adalah sebesar
26,61%.
Halaman 21 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 23
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Arus Kas Perusahaan (dalam jutaan Rupiah)
URAIAN SATUAN 2021 2022 2023 2024 2025
Arus Kas Operasional Rp Juta 1.911 26.536 25.863 22.796 25.904
Arus Kas Investasi Rp Juta (1.565) (7.046) (30.206) (15.637) (47.760)
Arus Kas Pendanaan Rp Juta 1.293 (14.025) (1.408) (8.268) 147.358
Kenaikan (Penurunan)
Rp Juta 1.638 5.465 (5.752) (1.109) 125.502
Kas
Saldo Awal Kas Rp Juta 16.009 17.647 23.112 17.361 16.252
Saldo Akhir Kas Rp Juta 17.647 23.112 17.361 16.252 141.754
Sumber: Laporan Keuangan Auditan 2021 - 2025
Berikut adalah macam-macam arus kas Perusahaan berdasarkan data historis laporan keuangan
Perusahaan per 31 Desember 2025 :
▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasional per 31 Desember 2025 adalah
sebesar Rp 25.904 Juta.
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi per 31 Desember 2025 adalah
sebesar Rp 47.760 Juta.
▪ Arus kas bersih yang digunakan dari aktivitas pendanaan per 31 Desember 2025 adalah
sebesar Rp 147.358 Juta.
Analisis Laporan Keuangan
a. Commonsize Statement
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan secara konsolidasi untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset
terhadap total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya
biaya atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
perusahaan dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:
Tabel 5. Analisis Commonsize Statement - Laporan Posisi Keuangan PJHB
Des Des Des Des Des
URAIAN SATUAN
2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar % 45,74% 53,92% 35,23% 26,15% 53,98%
Aset Tetap % 54,26% 46,08% 64,77% 73,85% 46,02%
Total Aset % 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Liabilitas Lancar % 3,37% 7,23% 2,80% 3,57% 2,61%
Liabilitas Jk. Panjang % 18,21% 5,36% 3,58% 2,28% 1,99%
Total Liabilitas % 21,58% 12,58% 6,38% 5,85% 4,60%
Ekuitas % 78,42% 87,42% 93,62% 94,15% 95,40%
Total Ekuitas & Liabilitas % 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Mengacu pada laporan posisi keuangan secara konsolidasi, berdasarkan analisis common size
statement, dapat dilihat bahwa rata-rata proporsi jumlah aset lancar dan aset tidak lancar
terhadap jumlah aset selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025
adalah sebesar 43,01% : 56,99%. Sedangkan pada periode 31 Desember 2025, PJHB secara
Halaman 22 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 24
konsolidasi mencatatkan proporsi aset tidak lancar dan aset tidak lancar sebesar 53,98% :
46,02%.
Di sisi liabilitas, rata-rata proporsi jumlah liabilitas terhadap aset selama periode 31 Desember
2021 sampai dengan 31 Desember 2025 liabilitas jangka pendek yang tercatat sebesar 3,92%
dan liabilitas jangka Panjang 6,28%. Di sisi ekuitas, rata-rata proporsi jumlah ekuitas PJHB secara
konsolidasi terhadap jumlah aset selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 adalah sebesar 89,80%.
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement - Laporan Laba (Rugi) PJHB
URAIAN SATUAN 2021 2022 2023 2024 2025
Pendapatan % 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Beban Pokok Pendapatan % 77,74% 58,66% 54,62% 59,71% 65,77%
Laba (Rugi) Kotor % 22,26% 41,34% 45,38% 40,29% 34,23%
Laba (Rugi) Usaha % 9,08% 35,34% 38,73% 30,89% 21,53%
Laba (Rugi) Bersih % 8,63% 32,29% 39,73% 31,45% 20,95%
Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa MGR secara
konsolidasi baru mencatatkan pendapatan pada tahun 2024 dengan margin kotor sebesar
40,96% dan pada tahun 2025 sebesar 34,23%.
Ratio Analysis
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan keuangan
yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan posisi keuangan
dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya. Berikut adalah tabel rasio
keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan Perseoran:
Tabel 7. Analisis Rasio Keuangan PJHB secara konsolidasi
RASIO KEUANGAN 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Aktivitas (x)
Rasio perputaran piutang 29 23 19 34 19
Rasio perputaran utang usaha 3 28 4 5 3
Rasio Likuiditas (x)
Rasio lancar 13,58 7,46 12,57 7,33 20,67
Rasio cepat 2,27 2,18 4,83 2,24 4,48
Rasio kas 11,31 5,28 7,73 5,09 16,20
Rasio Profitabilitas (%)
Rasio laba atas aset 6,72% 30,68% 27,84% 19,21% 3,31%
Rasio laba atas ekuitas 8,57% 35,10% 29,74% 20,40% 3,46%
Rasio Solvabilitas (%)
Rasio total Liabilitas / total aset 21,58% 12,58% 6,38% 5,85% 4,60%
Rasio total Liabilitas / total ekuitas 27,52% 14,40% 6,81% 6,21% 4,83%
Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas merupakan suatu rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur efektivitas
perusahaan dalam menggunakan aset atau sumberdaya yang dimilikinya.
Halaman 23 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 25
1. Rasio Perputaran Piutang
Rasio ini menunjukan berapa kali bisnis dapat mengkonversi piutang menjadi kas.
Berdasarkan tabel analisis rasio keuangan di atas, rata-rata rasio perputaran piutang usaha
dari tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah sebesar 24,90 kali.
2. Rasio Perputaran Utang
Rasio perputaran utang usaha adalah rasio yang mencerminkan seberapa lama hutang usaha
perusahaan dapat dibayarkan dalam satu periode. Rata-rata rasio perputaran piutang usaha
dari tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah sebesar 8,48 kali
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Lancar (current ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini
bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar perusahaan dapat
menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar maka
semakin aman perusahaan. Rasio lancar PJHB secara konsolidasi rata-rata sebesar 12,32
kali dari tahun 2021 sampai dengan 2025. Pada periode periode 31 Desember 2025, rasio
lancar perusahaan secara konsolidasi tercatat sebesar 20,67 kali.
2. Rasio Cepat (quick ratio)
Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar, namun
sebagian orang merasa bahwa hasil perhitungan rasio lancar yang menghitung seluruh aset
lancar kurang tajam, oleh karena itu beberapa pos seperti persediaan yang dianggap kurang
lancar, dikeluarkan dalam perhitungan rasio cepat. Rasio cepat PJHB secara konsolidasi juga
menunjukkan tren yang sama dengan rasio lancar dengan rata-rata sebesar 3,20 kali dari
tahun 2021 sampai dengan 2025, sedangkan pada periode periode 31 Desember 2025,
rasio cepat tercatat sebesar 4,48 kali.
3. Rasio Kas (cash ratio)
Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
PJHB secara konsolidasi pada periode periode 31 Desember 2025 sebesar 16,20 kali dengan
rata-rata dari tahun 2021 sampai dengan 2025 sebesar 9,12 sebesar kali.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio laba atas aset
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat
menghasilkan laba. Rasio laba atas aset PJHB secara konsolidasi pada periode periode 31
Desember 2025 adalah sebesar negatif 3,31%, sementara itu dari tahun 2021 sampai
dengan 2025 secara rata-rata adalah sebesar 17,55%.
Halaman 24 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 26
2. Rasio laba atas ekuitas
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau keuntungan yang
diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Adapun tingkat rasio laba atas ekuitas PJHB
secara konsolidasi pada periode periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 3,46%
sementara itu dari tahun 2021 sampai dengan 2025 secara rata-rata adalah sebesa 19,45%.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
kategori ini.
1. Rasio total liabilitas terhadap total aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total aset suatu
perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan suatu perusahaan.
Adapun tingkat rasio liabilitas terhadap total aset PJHB secara konsolidasi pada periode
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 4,60% dengan rata-rata dari tahun 2021 sampai
dengan 2025 adalah sebesar 10,20%.
2. Rasio total liabilitas terhadap total ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total ekuitas atau modal
suatu perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah liabilitas sama dengan jumlah ekuitas.
Berdasarkan tabel rasio keuangan PJHB secara konsolidasi diatas dapat dilihat bahwa rasio
liabilitas terhadap ekuitas pada periode periode 31 Desember 2025 adalah 4,83% dengan
rata-rata dari tahun 2021 sampai dengan 2025 adalah sebesar 11,95%.
Halaman 25 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 27
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Tinjauan Ekonomi Makro Global dan Domestik
Pertumbuhan Ekonomi Global
Perekonomian global masih berada dalam tren melambat dengan tingkat ketidakpastian yang
relatif tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah,
yaitu sebesar 3,2% dibandingkan dengan capaian tahun 2025 sebesar 3,3%. Perlambatan
tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat,
kerentanan rantai pasok global, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak
pada aktivitas perdagangan dan investasi global.
Ketidakpastian pasar keuangan global juga masih tinggi, seiring terbatasnya ruang penurunan
suku bunga The Fed, masih tingginya yield US Treasury, serta penguatan indeks dolar AS. Kondisi
tersebut berpotensi mendorong keluarnya aliran modal dari negara berkembang, termasuk
Indonesia, sehingga dapat memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar dan pasar
keuangan domestik.
Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Dari sisi domestik, perekonomian nasional tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah
tekanan eksternal. Aktivitas ekonomi domestik didukung oleh permintaan dalam negeri, konsumsi
rumah tangga, investasi, serta kinerja ekspor. Selain itu, peningkatan keyakinan pelaku ekonomi
dan dukungan stimulus fiskal turut mendorong pemulihan aktivitas ekonomi.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi domestik ditopang oleh kinerja positif pada
sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan,
informasi dan komunikasi, serta konstruksi. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali-
Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua menunjukkan perkembangan yang
baik, didukung oleh aktivitas industri, pertambangan, perdagangan, dan pariwisata.
Tabel 1. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran
Sumber: Bank Indonesia
Halaman 26 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 28
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Prospek perekonomian Indonesia tetap baik. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada tahun 2025 berada dalam kisaran 4,7%–5,5% dan meningkat menjadi
4,9%–5,7% pada tahun 2026. Pertumbuhan tersebut didukung oleh permintaan domestik yang
tetap kuat, konsumsi rumah tangga, investasi, serta kinerja ekspor.
Ketahanan eksternal Indonesia juga diprakirakan tetap terjaga. Neraca Pembayaran Indonesia
pada tahun 2025 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah. Selain
itu, cadangan devisa tetap memadai untuk mendukung stabilitas eksternal dan menjaga
ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif,
namun tetap perlu memperhatikan risiko eksternal, antara lain volatilitas pasar keuangan global,
tekanan nilai tukar, dinamika harga komoditas, serta ketidakpastian perdagangan global.
Dengan dukungan bauran kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural, pertumbuhan
ekonomi Indonesia diharapkan dapat tetap berkelanjutan dan lebih berdaya tahan
Perekonomian Indonesia tetap baik dan perlu terus ditingkatkan. Pertumbuhan ekonomi domestik
didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Dari sisi lapangan usaha, sektor
industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi, pergudangan, informasi dan
komunikasi, serta konstruksi menunjukkan kinerja positif. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi
di wilayah Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua menunjukkan
perkembangan yang baik. Pertumbuhan ini didukung oleh kegiatan industri, pertambangan,
perdagangan, dan pariwisata.
Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), perekonomian Indonesia diperkirakan
tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif selama periode 2025–2029. Nilai GDP
Constant Prices diproyeksikan meningkat secara konsisten dari Rp13.565.944 miliar pada tahun
2025 menjadi Rp16.528.612 miliar pada tahun 2029. Kenaikan tersebut mencerminkan prospek
ekonomi Indonesia yang tetap resilien dan berkelanjutan, didukung oleh aktivitas konsumsi
domestik, investasi, serta stabilitas makroekonomi.
Sementara itu, tingkat inflasi Indonesia selama periode proyeksi relatif stabil di kisaran 5,06%–
5,07%. Inflasi tertinggi diperkirakan terjadi pada tahun 2025, 2027, dan 2028 sebesar 5,07%,
sedangkan pada tahun 2026 dan 2029 sedikit lebih rendah sebesar 5,06%. Secara rata-rata,
inflasi Indonesia selama periode 2025–2029 berada pada level sekitar 5,07%, yang menunjukkan
tekanan harga masih terkendali meskipun berada pada level yang relatif stabil.
Tabel 2. Proyeksi PDB dan Pertumbuhan PDB Indonesia 2024-2029
Sumber: International Monetary Fund (IMF), diolah
Halaman 27 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 29
Secara keseluruhan, kombinasi antara peningkatan GDP secara konsisten dan inflasi yang relatif
stabil menunjukkan bahwa prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap positif.
Kondisi ini memberikan dasar yang baik bagi kegiatan usaha, terutama apabila didukung oleh
stabilitas kebijakan, peningkatan investasi, serta keberlanjutan permintaan domestik.
Grafik 1 Pertumbuhan Ekonomi Regional
Sumber: Bank Indonesia
Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen pada 2025 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1%,
dengan inflasi IHK Desember 2025 sebesar 2,92% secara tahunan. Inflasi yang terkendali
didukung oleh konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia dan sinergi pengendalian inflasi
antara Bank Indonesia dan Pemerintah.
Grafik 2 Inflasi IHK dan Komponen
Sumber: Bank Indonesia
Halaman 28 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 30
Pada tingkat global, IMF dalam World Economic Outlook April 2026 memproyeksikan
pertumbuhan global sebesar 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027 dengan risiko penurunan
yang masih dominan akibat ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, volatilitas
komoditas, dan ketidakpastian kebijakan. Kondisi ini menjadi latar penting bagi industri pelayaran
karena biaya bahan bakar, asuransi, rute, tarif, dan ketersediaan armada dapat terdampak oleh
dinamika global.
Tabel 3. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Indikator Keterangan
PDB Indonesia 2025 Rp23.821,1 triliun
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 5,11%
PDB per kapita 2025 Rp83,7 juta / USD5.083,4
Pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan Q4-
8,98%
2025 yoy
Proyeksi pertumbuhan global IMF 2026 3,1%
Proyeksi pertumbuhan global IMF 2027 3,2%
Sumber: BPS dan IMF World Economic Outlook April 2026; diolah.
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, sejalan dengan
kebijakan stabilisasi Bank Indonesia, prospek pertumbuhan ekonomi domestik, serta imbal hasil
aset keuangan domestik yang menarik.
Realisasi Investasi Tingkat Suku Bunga
Peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan. Bank
Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk melalui Kebijakan
Insentif Likuiditas Makroprudensial, untuk mendorong pembiayaan kepada sektor prioritas. Rapat
Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Januari 2026 memutuskan untuk
mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku
bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
Grafik 3 Suku Bunga Perbankan
Sumber: Bank Indonesia
Halaman 29 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 31
3.2. Kondisi Pasar
a. Analisis Industri Pelayaran dan Angkutan Laut
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kebutuhan transportasi laut yang struktural. Kegiatan
industri pertambangan, perkebunan, energi, migas, pembangunan infrastruktur, dan distribusi
barang antarwilayah menimbulkan permintaan berkelanjutan terhadap jasa pengangkutan laut,
termasuk kapal LCT yang mampu membawa alat berat dan kargo proyek secara langsung ke titik
operasi.
BPS mencatat barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik selama Januari-Desember
2025 mencapai 508,4 juta ton, meningkat 16,56% dibandingkan periode sebelumnya. Data ini
mengindikasikan bahwa permintaan angkutan barang laut domestik masih memiliki momentum
positif, meskipun dinamika per bulan dapat berfluktuasi sesuai musim, proyek, dan kondisi
komoditas.
Secara global, UNCTAD menyatakan bahwa pelayaran mengangkut lebih dari 80% perdagangan
barang dunia. Namun, pasar pelayaran global memasuki periode pertumbuhan yang rapuh, biaya
meningkat, dan ketidakpastian tinggi. UNCTAD memperkirakan volume perdagangan laut global
pada 2025 hanya naik sekitar 0,5%, sementara rerouting akibat ketegangan geopolitik
meningkatkan ton-miles dan membuat tarif angkut menjadi lebih volatil. Bagi Perusahaan, kondisi
ini memberikan dua implikasi: peluang dari kebutuhan logistik maritim, tetapi juga risiko biaya
bahan bakar, asuransi, waktu tunggu pelabuhan, dan gangguan rantai pasok suku cadang.
Tabel 4. Proyeksi Penjelasan Prospek Industri
Aspek Uraian
Kegiatan pertambangan, perkebunan, migas, proyek pembangkit, pembangunan
Pendorong Permintaan
infrastruktur, dan mobilisasi alat berat/kontainer.
Deck space luas, ramp door, fleksibilitas loading/unloading, sesuai untuk alat berat
Karakteristik Kapal LCT
dan kargo proyek.
Kebutuhan distribusi antarwilayah, rute proyek di Kalimantan/Sulawesi/Papua, dan
Peluang
kebutuhan kapal khusus untuk barang berat.
Fluktuasi tarif, biaya BBM, docking, cuaca, keselamatan, sertifikasi, persaingan
Tantangan
operator, dan konsentrasi pelanggan proyek.
Perlu menjaga utilisasi kapal, disiplin perawatan, kontrak yang melindungi risiko
Implikasi bagi Perusahaan
biaya, serta diversifikasi pelanggan dan rute.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ketergantungan struktural terhadap transportasi laut.
Konektivitas antarpulau, distribusi barang, pengangkutan alat berat, logistik proyek, serta mobilitas
penumpang di wilayah kepulauan menjadikan industri pelayaran sebagai salah satu komponen
penting dalam rantai pasok nasional. Bagi perusahaan pelayaran seperti PJHB, kondisi ini
memberikan peluang pasar yang berkelanjutan, terutama pada segmen charter kapal, angkutan
kargo proyek, alat berat, dan layanan angkutan laut yang bersifat fleksibel atau tidak terjadwal.
Berdasarkan data BPS, kinerja angkutan laut domestik pada tahun 2025 menunjukkan
pertumbuhan yang positif. Selama Januari–Desember 2025, jumlah penumpang angkutan laut
domestik mencapai 30,5 juta orang, meningkat 16,48% dibandingkan periode sebelumnya,
sedangkan jumlah barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik mencapai 508,4 juta ton,
meningkat 16,56%. Data ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap jasa angkutan laut
domestik masih memiliki momentum pertumbuhan yang kuat, baik dari sisi mobilitas orang
maupun distribusi barang.
Halaman 30 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 32
Tabel 5. Indikator Industri Angkutan Laut Indonesia
Indikator Data / Tren Implikasi terhadap PJHB
Penumpang angkutan 30,5 juta orang, naik Menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan mobilitas
laut domestik Jan–Des 16,48% YoY laut. Relevan untuk justifikasi pasar apabila KBLI 50121
2025 tetap diarahkan pada angkutan penumpang.
Barang angkutan laut 508,4 juta ton, naik Mendukung prospek bisnis utama PJHB di jasa
domestik Jan–Des 16,56% YoY pelayaran, charter, dan angkutan barang/kargo
2025 proyek.
Barang angkutan laut 38,9 juta ton Menunjukkan volume dasar bulanan yang besar untuk
Jan 2025 pasar logistik laut domestik.
Penumpang angkutan 2,5 juta orang Menunjukkan basis permintaan reguler terhadap
laut Jan 2025 angkutan laut penumpang.
Perdagangan maritim Diproyeksikan tumbuh Menunjukkan outlook global masih lemah, sehingga
global 2025 0,5% strategi PJHB perlu lebih fokus pada pasar domestik
dan charter berbasis kebutuhan proyek.
Perdagangan maritim Diproyeksikan tumbuh Memberikan indikasi pemulihan jangka menengah,
global 2026–2030 rata-rata 2,0% per namun tetap perlu memperhitungkan risiko geopolitik,
tahun freight volatility, dan biaya operasional.
Sumber: BPS, UNCTAD, diolah.
Berdasarkan tabel di atas, pasar domestik menjadi basis yang lebih relevan bagi PJHB
dibandingkan pasar global, karena pertumbuhan angkutan laut domestik masih kuat, sedangkan
pasar pelayaran global masih menghadapi tekanan. UNCTAD memperkirakan volume
perdagangan maritim global hanya tumbuh sekitar 0,5% pada tahun 2025, sebelum pulih secara
moderat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 2,0% per tahun pada periode 2026–2030. Kondisi
ini menunjukkan bahwa ekspansi armada PJHB perlu diarahkan pada segmen yang memiliki
permintaan lebih terukur, seperti angkutan barang, alat berat, konstruksi, pertambangan,
perkebunan, dan proyek infrastruktur domestik.
Grafik 4 Transportasi Laut Penumpang dan Barang angkuran Laut Des 2024-Des 2025 (Juta)
Sumber: BPS
Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri pada Desember 2025 tercatat 2,6 juta orang atau
naik 21,69 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Peningkatan jumlah penumpang
terjadi di semua pelabuhan yang diamati, yaitu Pelabuhan Belawan sebesar 268,89 persen,
Balikpapan sebesar 81,36 persen, Tanjung Priok sebesar 70,67 persen, Tanjung Perak sebesar
62,23 persen, dan Makassar sebesar 23,26 persen. Selama Januari– Desember 2025, jumlah
penumpang angkutan laut dalam negeri mencapai 30,5 juta orang atau naik 16,48 persen
dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Peningkatan jumlah penumpang terjadi di
Pelabuhan Balikpapan sebesar 28,87 persen, Tanjung Perak sebesar 6,87 persen, Belawan sebesar
Halaman 31 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 33
6,74 persen, dan Tanjung Priok sebesar 1,27 persen. Sebaliknya, penurunan jumlah penumpang terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 2,55 persen. Tabel 6. Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Dalam Negeri 2025 Sumber: BPS Sementara itu, jumlah barang yang diangkut pada Desember 2025 mencapai 46,4 juta ton atau turun 1,88 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 7,87 persen, Panjang sebesar 3,84 persen, dan Tanjung Perak 1,15 persen. Sebaliknya, peningkatan jumlah barang terjadi di Pelabuhan Balikpapan sebesar 16,57 persen dan Tanjung Priok sebesar 3,71 persen. Jumlah barang yang diangkut selama Januari–Desember 2025 mencapai 508,4 juta ton atau naik 16,56 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Peningkatan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 8,92 persen dan Tanjung Priok sebesar 5,24 persen. Sebaliknya, penurunan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Balikpapan sebesar 19,90 persen, Panjang sebesar 0,46 persen, dan Tanjung Perak sebesar 0,07 persen. Tabel 7. Perkembangan Barang Angkutan Laut Dalam Negeri 2025 Sumber: BPS Halaman 32 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 34
b. Keterkaitan dengan Segmen Kargo Proyek dan Alat Berat
Kegiatan usaha eksisting PJHB berfokus pada jasa pelayaran dan charter kapal LCT untuk
pengangkutan alat berat, kontainer, dan kargo proyek. Segmen ini memiliki keterkaitan erat
dengan aktivitas pertambangan, perkebunan, konstruksi, energi, dan infrastruktur, terutama karena
lokasi proyek banyak berada di luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa
Tenggara, dan wilayah pesisir lainnya.
Dari sisi permintaan alat berat, HINABI memperkirakan produksi alat berat nasional tahun 2025
dapat mencapai sekitar 8.500 unit, didukung oleh kebutuhan sektor agro, konstruksi, dan
pertambangan. Hal ini relevan bagi PJHB karena alat berat umumnya membutuhkan moda
angkutan laut untuk distribusi antarpulau, terutama untuk proyek yang berada di wilayah remote
atau pelabuhan dengan akses terbatas.
Kebutuhan LCT juga terlihat dari penggunaan kapal jenis Landing Craft Tank dalam pengiriman
alat berat ke proyek Ibu Kota Nusantara melalui Terminal Inggom. PTP Nonpetikemas menyebutkan
bahwa LCT digunakan karena memungkinkan muatan alat berat naik-turun seperti kapal Ro-Ro.
Hal ini memperkuat relevansi armada LCT PJHB untuk melayani segmen kargo proyek dan alat
berat yang membutuhkan fleksibilitas bongkar-muat.
Tabel 8. Pendorong Permintaan Jasa Kapal LCT
Pendorong Dampak terhadap Kebutuhan
Penjelasan
Permintaan Kapal
Pertambangan Kegiatan tambang batubara, nikel, bauksit, dan Mendorong kebutuhan charter
dan mineral mineral lain membutuhkan mobilisasi alat berat, kapal LCT untuk rute tidak tetap
spare part, material konstruksi, dan logistik proyek. dan lokasi proyek.
Perkebunan Pembukaan lahan, pemeliharaan kebun, dan Membutuhkan kapal dengan akses
dan kegiatan logging/HTI membutuhkan excavator, fleksibel ke pelabuhan kecil atau
kehutanan bulldozer, dump truck, dan alat pendukung. jetty proyek.
Infrastruktur Proyek jalan, pelabuhan, kawasan industri, Meningkatkan kebutuhan kapal
dan PSN pembangkit, smelter, dan IKN membutuhkan untuk general cargo dan project
peralatan proyek dan material berat. cargo.
Distribusi alat Banyak alat berat masuk melalui pelabuhan Mendukung kebutuhan jasa
berat utama, kemudian didistribusikan ke wilayah pengangkutan laut domestik
antarpulau proyek di luar Jawa. dengan pola charter.
Keterbatasan Banyak lokasi proyek tidak dapat dijangkau secara LCT menjadi moda yang relevan
akses darat efisien dengan transportasi darat. karena dapat melayani titik
bongkar yang lebih fleksibel.
Kebutuhan Permintaan proyek umumnya tidak selalu reguler Mendukung model bisnis PJHB
layanan dan bergantung pada jadwal pekerjaan. berbasis freight charter dan time
tramper charter.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, prospek industri untuk PJHB tidak hanya bergantung pada
pertumbuhan volume angkutan laut secara umum, tetapi juga pada kebutuhan spesifik kargo
proyek dan alat berat. Kapal LCT memiliki keunggulan karena dapat mengangkut muatan
berukuran besar, alat berat, material proyek, dan kargo nonpetikemas dengan fleksibilitas rute
yang lebih tinggi dibandingkan kapal liner reguler.
c. Analisis Supply dan Demand Industri
Dari sisi permintaan, pertumbuhan barang angkutan laut domestik sebesar 16,56% pada tahun
2025 menunjukkan bahwa kebutuhan logistik laut masih meningkat. Permintaan tersebut berasal
dari aktivitas ekonomi antarpulau, distribusi barang kebutuhan industri, komoditas, alat berat, serta
Halaman 33 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 35
material proyek. Selain itu, pertumbuhan penumpang angkutan laut domestik sebesar 16,48%
menunjukkan bahwa transportasi laut masih berperan penting dalam konektivitas wilayah
kepulauan.
Dari sisi supply, industri pelayaran bersifat padat modal karena membutuhkan investasi kapal,
docking, sertifikasi, asuransi, kru, bahan bakar, serta pemenuhan standar keselamatan dan
operasional. Penambahan armada oleh PJHB perlu dilihat sebagai upaya meningkatkan kapasitas
supply internal agar Perusahaan dapat menangkap peluang permintaan pasar yang meningkat.
Namun, ekspansi armada juga perlu disesuaikan dengan utilisasi, kontrak pelanggan, kesiapan
kru, jadwal docking, dan kemampuan pengelolaan biaya operasional.
Tabel 9. Analisis Supply dan Demand Industri Pelayaran PJHB
Aspek Kondisi Industri Implikasi Kelayakan
Demand barang Volume barang domestik Jan–Des Positif untuk pengembangan armada,
laut 2025 mencapai 508,4 juta ton, naik terutama pada segmen angkutan barang dan
16,56%. kargo proyek.
Demand Penumpang domestik Jan–Des 2025 Kenaikan jumlah penumpang menunjukkan
penumpang laut mencapai 30,5 juta orang, naik prospek usaha yang relative baik.
16,48%.
Demand project Kebutuhan alat berat dan proyek Mendukung model charter kapal PJHB.
cargo infrastruktur masih menjadi
pendorong utama angkutan LCT.
Supply kapal Industri kapal membutuhkan investasi Penambahan kapal harus disertai kesiapan
besar dan pemenuhan regulasi capex, sertifikasi, docking, kru, dan perizinan.
teknis.
Kompetisi Pasar charter kapal bersifat kompetitif PJHB perlu menjaga utilisasi dan kontrak
dan sensitif terhadap tarif, utilisasi, pelanggan agar investasi kapal
serta ketersediaan armada. menghasilkan return yang memadai.
Risiko biaya Biaya BBM, docking, asuransi, kru, Perlu dimasukkan dalam analisis sensitivitas
dan perawatan dapat berfluktuasi. dan asumsi biaya operasional.
Risiko global Perdagangan maritim global 2025 Fokus domestik menjadi strategi yang lebih
diproyeksikan hanya tumbuh 0,5% defensif dan relevan.
dan dipengaruhi geopolitik.
3.3. Pesaing Usaha
Dalam industri logistik dan transportasi maritim, persaingan didominasi oleh beberapa perusahaan
besar yang bergerak pada segmen bisnis serupa. Beberapa kompetitor utama yang beroperasi di
sektor jasa pengangkutan ini antara lain:
• PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI): Sebagai salah satu pemain utama dalam jasa logistik laut, TCPI
menawarkan solusi transportasi komprehensif yang didukung oleh portofolio armada yang
sangat beragam. Fasilitas mereka mencakup mother vessel, tugboat beserta tongkang (barge),
pusher tugs dan barges, floating crane, hingga kapal tunda bantuan (assist tug).
• PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT): Perusahaan ini berfokus pada layanan transportasi
laut dan logistik dengan mengandalkan beberapa tipe kapal utama. PSAT memenuhi kebutuhan
kargo pelanggannya melalui pengoperasian armada tugboat, tongkang, serta kapal
pengangkut muatan curah (bulk carrier).
• PT Trans Power Marine Tbk (TPMA): TPMA merupakan spesialis penyedia jasa logistik maritim
yang memusatkan kegiatan operasionalnya pada armada tugboat, tongkang, dan derek apung
(floating crane).
Halaman 34 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 36
• PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI): Sebagai penyedia layanan logistik laut yang terintegrasi, PSSI
mengelola fasilitas muat apung yang lengkap. Operasional mereka didukung oleh tugboat,
tongkang, kapal bulk carrier, hingga tongkang derek apung.
Ke depannya, arah dan kelangsungan industri transportasi laut akan sangat bergantung pada
seberapa adaptif para pelaku usaha dalam menghadapi dinamika pasar. Beberapa kunci utama
bagi pertumbuhan industri ini meliputi:
1. Digitalisasi dan Konsolidasi: Peningkatan efisiensi dan transparansi operasional mutlak
diperlukan melalui pemanfaatan teknologi digital, diiringi dengan strategi konsolidasi untuk
memperkuat posisi pasar.
2. Keberlanjutan Berwawasan Lingkungan: Terdapat tuntutan global yang semakin ketat terkait
operasional yang berkelanjutan (sustainability), khususnya dalam hal pengurangan emisi
karbon.
3. Diversifikasi Komoditas: Merespons tren transisi energi global, perusahaan tidak bisa lagi
hanya bergantung pada batu bara. Ekspansi ke pengangkutan muatan curah lain yang sedang
bertumbuh, seperti nikel, menjadi langkah strategis yang esensial.
Di tengah gejolak dan volatilitas pasar, keunggulan kompetitif sebuah perusahaan akan diuji.
Mereka yang mampu bertahan dan memenangkan persaingan adalah entitas yang memiliki
fundamental modal yang kokoh, tingkat efisiensi biaya yang tinggi, armada yang tangguh dan
modern, serta strategi bisnis yang mudah beradaptasi.
3.4. Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran Perusahaan diarahkan untuk memperkuat posisi PT Pelayaran Jaya Hidup Baru
Tbk sebagai penyedia jasa vessel chartering dengan armada Landing Craft Tank (LCT) untuk
kebutuhan pengangkutan alat berat, kontainer, kargo proyek, serta peralatan industri di sektor
pertambangan, perkebunan, migas, energi, dan infrastruktur. Pemasaran dilakukan dengan
menonjolkan keunggulan armada LCT Perusahaan, seperti kapasitas angkut yang memadai, area
deck yang luas, ramp door, fleksibilitas rute, serta pengalaman operasional sejak tahun 2008.
Dalam pelaksanaannya, pemasaran difokuskan pada peningkatan utilisasi kapal melalui
pengembangan pipeline kontrak, penawaran skema freight charter, time charter, dan joint filling,
serta penyesuaian layanan berdasarkan kebutuhan rute dan karakteristik kargo pelanggan.
Dengan strategi tersebut, Perusahaan diharapkan dapat memperluas basis pelanggan, mengurangi
risiko kapal tidak beroperasi, serta mendukung pertumbuhan pendapatan secara berkelanjutan.
Halaman 35 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 37
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1. Lokasi Operasional Perusahaan
PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk merupakan perusahaan pelayaran yang berdiri sejak tahun
2008 dan bergerak dalam penyediaan solusi vessel chartering, khususnya untuk
pengangkutan alat berat, kontainer, kargo proyek, mesin kilang, peralatan konstruksi, crane,
serta peralatan industri lainnya. Sejak awal berdiri, Perusahaan telah menjalankan kegiatan
usaha di bidang pelayaran domestik, jasa pengangkutan, dan charter kapal.
Dari sisi basis operasional, Perusahaan berkedudukan di Samarinda, Kalimantan Timur,
dengan alamat di Jl. Panglima Batur No. 36, Samarinda 75112, Kalimantan Timur. Lokasi
tersebut memiliki relevansi strategis terhadap kegiatan usaha Perusahaan, mengingat
Kalimantan Timur merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan,
perkebunan, konstruksi, energi, dan proyek infrastruktur yang tinggi. Kondisi ini mendukung
kebutuhan jasa angkutan laut, khususnya untuk mobilisasi alat berat, material proyek, dan
kargo industri melalui kapal jenis LCT.
Sejalan dengan profil tersebut, kegiatan operasional Perusahaan tidak hanya bertumpu pada
layanan angkutan laut umum, tetapi juga pada segmen khusus yang membutuhkan fleksibilitas
armada, rute, dan jadwal pengiriman. Armada Perusahaan saat ini terdiri dari 5 unit kapal
dengan kapasitas sekitar 1.300 metrik ton sampai 2.500 metrik ton, yang digunakan untuk
mendukung layanan charter kapal dan pengangkutan kargo proyek.
Dengan demikian, dari perspektif pasar, profil dan lokasi operasional Perusahaan mendukung
kelayakan rencana pengembangan usaha. Posisi Perusahaan di Samarinda memberikan
kedekatan dengan basis permintaan jasa pengangkutan alat berat dan kargo proyek di
wilayah Kalimantan serta kawasan Indonesia Timur. Hal ini memperkuat relevansi model bisnis
Perusahaan sebagai penyedia jasa charter kapal LCT, terutama untuk pelanggan dari sektor
pertambangan, perkebunan, konstruksi, energi, dan infrastruktur. Penambahan armada ke
depan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas layanan, memperluas cakupan operasional,
serta memperkuat kemampuan Perusahaan dalam menangkap peluang pertumbuhan
permintaan jasa angkutan laut dan charter kapal.
4.2. Kapasitas
Sejalan dengan rencana pengembangan usaha eksisting, Perusahaan merencanakan
penambahan armada secara bertahap, yaitu sebanyak 3 unit kapal pada tahun 2026 dan 2
unit kapal pada tahun 2028. Rencana penambahan armada ini bukan merupakan dampak
langsung dari penambahan KBLI baru, melainkan merupakan bagian dari strategi penguatan
dan perluasan kapasitas kegiatan usaha yang telah berjalan saat ini.
Berdasarkan informasi dari manajemen, rencana pembelian kapal pada tahun 2026 murni
ditujukan untuk mendukung pengembangan kegiatan usaha eksisting. Hal ini sejalan dengan
adanya potensi peningkatan kebutuhan jasa transportasi laut, khususnya dari pelanggan di
sektor LNG. Menurut keterangan yang diperoleh, BP diperkirakan akan melakukan
penambahan produksi LNG, sehingga membutuhkan tambahan armada kapal untuk
mendukung aktivitas transportasi. Selain itu, untuk perusahaan internasional terdapat batasan
umur pemakaian kapal maksimal sekitar 15 tahun, sehingga ketersediaan kapal dengan usia
Halaman 36 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 38
dan kondisi yang sesuai menjadi salah satu faktor penting dalam memenuhi kebutuhan
pelanggan tersebut.
Dengan demikian, jumlah armada Perusahaan diproyeksikan meningkat dari 5 unit kapal
eksisting menjadi 8 unit kapal pada tahun 2026, dan selanjutnya menjadi 10 unit kapal pada
tahun 2028. Penambahan armada tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas
operasional, memperluas cakupan layanan charter, meningkatkan fleksibilitas penjadwalan
kapal, serta mendukung pertumbuhan pendapatan Perusahaan melalui peningkatan utilisasi
armada.
Dari aspek kesiapan teknis, rencana penambahan armada pada tahun 2026 juga didukung
oleh progres pembangunan kapal yang sedang berjalan. Berdasarkan keterangan pada saat
inspeksi lapangan, kapal yang berada di galangan Tegal diperkirakan dapat selesai
dikerjakan sekitar 10 bulan dari waktu pembangunan. Adapun CAPEX pada tahun 2026
dialokasikan secara khusus untuk pembelian kapal, dimana nilai CAPEX tersebut telah
mencakup biaya-biaya pendukung sampai kapal siap berlayar atau beroperasi, termasuk
pengurusan perizinan, sertifikasi, dan kebutuhan lainnya hingga kapal dapat diserahterimakan
dalam kondisi siap operasi kepada Perusahaan.
Tabel 10. Tabel Kapal dan Spesifikasi Eksisting
Klasifikas
Nama Kapal Tahun LOA Lebar Kapasitas Kecepatan Keterangan
i
kapasitas
LCT Lien Star
2009 BKI 62,40 m 12,00 m 1.300 ton / 727 GT 7-8 knot pemakaian
88
BBM 2,2 ton/hari
kapasitas
LCT Cipta Jaya
2012 BKI/ECC 68,50 m 14,40 m 2.000 ton / 1.117 GT 6-7 knot pemakaian
Harapan 7
BBM 3 ton/hari
kapasitas
LCT Cipta Jaya
2023 BKI/ECC 73,00 m 16,00 m 116 TEUs 20 feet 6-7 knot pemakaian
Harapan 8
BBM 3 ton/hari
kapasitas
LCT Cipta Jaya
2010 BKI/ECC 66,95 m 13,70 m 1.700 ton / 928 GT 7 knot pemakaian
Harapan 9
BBM 2.5 ton/hari
kapasitas
LCT Cipta Jaya
2011 BKI/ECC 73,00 m 15,00 m 2.500 ton / 1.138 GT 7 knot pemakaian
Harapan 10
BBM 3 ton/hari
Berdasarkan kontrak pembangunan kapal yang telah ditandatangani, pada tahun 2026
Perusahaan merencanakan penambahan 3 unit kapal baru jenis Landing Craft Tank (LCT),
yaitu LCT Cipta Jaya Harapan 77, LCT Cipta Jaya Harapan 88, dan LCT Cipta Jaya Harapan
99. Rencana penambahan armada ini merupakan bagian dari strategi Perusahaan untuk
memperkuat kapasitas operasional, meningkatkan fleksibilitas penjadwalan armada, serta
mendukung peningkatan permintaan atas layanan charter kapal, pengangkutan alat berat,
kontainer, bahan proyek, dan kargo industri lainnya.
Pembangunan kapal tersebut dilakukan oleh beberapa galangan kapal berdasarkan kontrak
masing-masing. LCT Cipta Jaya Harapan 77 dibangun oleh PT Tegal Shipyard Utama dengan
ukuran kapal 72,00 m x 16,00 m x 4,80 m. Sementara itu, LCT Cipta Jaya Harapan 88
dibangun oleh PT Untung Brawijaya Sejahtera / UBS Shipyard dengan ukuran 72,00 m x 16,00
m x 4,80 m, dan LCT Cipta Jaya Harapan 99 juga dibangun oleh PT Untung Brawijaya
Sejahtera / UBS Shipyard dengan ukuran 75,00 m x 16,00 m x 4,80 m.
Halaman 37 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 39
Tabel 11. Tabel Spesifikasi Kapal Baru pada 2026
Galangan / Tipe Ukuran Klasifikasi / Ketentuan
Kapal Catatan Spesifikasi
Vendor Kapal Kapal Teknis
LCT PT Tegal Landing 72,00 m BKI: A+100 (I) P and SM,
CJH 77 Shipyard Craft Tank x 16,00 ECC + CO2 system + Draft 3,60 m; Ramp
Utama / LCT m x 4,80 Bilges Alarm + Door P 9 m x L 11 m;
m Automatic switch Mesin Utama Yanmar
shutdown untuk ME dan 6AYM.
AE
LCT PT Untung Landing 72,00 m Dibangun berdasarkan
CJH 88 Brawijaya Craft Tank x 16,00 ketentuan
Notasi Klasifikasi BKI
Sejahtera / / LCT m x 4,80 pembangunan kapal
+A100 (I) P + SM ECC
UBS m dari Biro Klasifikasi
Shipyard Indonesia.
LCT PT Untung Landing 75,00 m Dibangun sesuai
CJH 99 Brawijaya Craft Tank x 16,00 peraturan dan ketentuan Ukuran kapal lebih
Sejahtera / / LCT m x 4,80 pembangunan kapal panjang dibanding CJH
UBS m dari Biro Klasifikasi 77 dan CJH 88.
Shipyard Indonesia
Dokumentasi progress pembangunan kapal baru menunjukkan bahwa rencana investasi
penambahan armada telah mulai direalisasikan melalui proses konstruksi kapal di galangan.
Progress fisik ini mendukung asumsi belanja modal yang digunakan dalam proyeksi keuangan
dan analisis kelayakan investasi Perusahaan.
Gambar 1 Dokumentasi Progress Pembangunan Kapal Baru PJHB
4.3. Ketersediaan Sumber Daya
Berdasarkan komposisi karyawan Perusahaan, jumlah sumber daya manusia meningkat dari
59 orang pada tahun 2023 menjadi 69 orang pada tahun 2024, dan kembali meningkat
menjadi 72 orang pada tahun 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Perusahaan
telah melakukan penyesuaian kebutuhan tenaga kerja secara bertahap sejalan dengan
perkembangan kegiatan operasional, peningkatan kebutuhan pengawasan, serta penguatan
struktur organisasi.
Dari sisi jenjang manajemen, komposisi karyawan tahun 2025 terdiri dari 7 orang manajerial,
3 orang supervisor, 7 orang staf, dan 55 orang ABK. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa
mayoritas tenaga kerja Perusahaan berada pada fungsi operasional kapal, khususnya ABK,
yang merupakan sumber daya utama dalam mendukung kegiatan pelayaran, pengoperasian
armada LCT, serta layanan charter kapal. Dominasi ABK dalam struktur tenaga kerja
Halaman 38 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 40
mencerminkan karakter usaha Perusahaan yang berbasis pada operasional armada dan
kesiapan kru kapal.
Dari sisi usia, karyawan Perusahaan pada tahun 2025 didominasi oleh kelompok usia 41–50
tahun sebanyak 25 orang, diikuti kelompok usia 21–30 tahun sebanyak 18 orang, kelompok
usia 31–40 tahun sebanyak 17 orang, kelompok usia di atas 50 tahun sebanyak 11 orang,
dan kelompok usia di bawah 21 tahun sebanyak 1 orang. Komposisi ini menunjukkan adanya
kombinasi antara tenaga kerja berpengalaman dan tenaga kerja usia produktif. Kelompok
usia 41 tahun ke atas dapat mendukung aspek pengalaman teknis, operasional, dan
pengambilan keputusan di lapangan, sedangkan kelompok usia 21–40 tahun menjadi basis
regenerasi dan keberlanjutan tenaga kerja Perusahaan.
Secara umum, ketersediaan sumber daya manusia Perusahaan dinilai memadai untuk
mendukung kegiatan operasional saat ini. Namun, sejalan dengan rencana pengembangan
usaha eksisting melalui penambahan armada sebanyak 3 unit kapal pada tahun 2026 dan 2
unit kapal pada tahun 2028, Perusahaan perlu melakukan perencanaan kebutuhan SDM
secara lebih terstruktur. Dengan asumsi kebutuhan ABK sebanyak 11 orang per kapal, maka
penambahan 3 unit kapal pada tahun 2026 membutuhkan tambahan ABK sebanyak 33
orang, sedangkan penambahan 2 unit kapal pada tahun 2028 membutuhkan tambahan ABK
sebanyak 22 orang. Dengan demikian, secara kumulatif Perusahaan membutuhkan tambahan
ABK sebanyak 55 orang sampai dengan tahun 2028.
Penambahan armada juga akan berdampak pada kebutuhan tenaga teknis kapal, fungsi
pengawasan operasional, serta fungsi pendukung seperti administrasi, keuangan,
keselamatan pelayaran, dan compliance. Dengan bertambahnya jumlah kapal, kebutuhan kru
tidak hanya terkait jumlah personel, tetapi juga mencakup kesiapan kompetensi dan
kelengkapan sertifikasi. Oleh karena itu, Perusahaan perlu memastikan ketersediaan ABK
bersertifikasi, pengaturan jadwal kerja dan rotasi kru yang memadai, pelatihan keselamatan
pelayaran, serta sistem monitoring kinerja operasional kapal.
Penguatan fungsi supervisor dan compliance juga menjadi penting untuk memastikan seluruh
armada dapat beroperasi sesuai standar keselamatan, regulasi pelayaran, dan kebutuhan
layanan charter. Dengan demikian, dari aspek sumber daya manusia, Perusahaan memiliki
basis tenaga kerja yang cukup kuat, terutama pada fungsi operasional kapal. Rencana
pengembangan usaha melalui penambahan armada dinilai dapat didukung sepanjang
Perusahaan melakukan penambahan SDM secara bertahap, menjaga ketersediaan kru
bersertifikasi, memperkuat pengawasan operasional, serta menyesuaikan struktur organisasi
dengan pertumbuhan jumlah armada.
4.4. Proses Bisnis
Proses bisnis PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dijalankan melalui penyediaan jasa charter
kapal LCT untuk mengangkut alat berat, kontainer, bahan proyek, serta kargo industri lainnya.
Kegiatan usaha dimulai dari permintaan pengiriman oleh klien, pengecekan ketersediaan
kapal, kesepakatan charter, pengurusan operasional oleh agen, hingga proses muat,
pengiriman, dan bongkar di pelabuhan tujuan. Model bisnis ini mengandalkan armada kapal
sebagai aset utama dan pendapatan diperoleh dari jasa pengangkutan atau penyewaan
kapal.
Halaman 39 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 41
Gambar 2 Model Bisnis
Alur proses bisnis Perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Permintaan dari Klien
Klien menyampaikan kebutuhan pengiriman kepada Perusahaan, baik secara langsung
maupun melalui broker, termasuk jenis muatan, volume, rute, dan jadwal pengiriman.
2. Pengecekan Ketersediaan Kapal
Perusahaan melakukan pengecekan ketersediaan armada, kapasitas kapal, kesiapan kru,
rute pelayaran, serta estimasi waktu dan biaya.
3. Negosiasi dan Kesepakatan Charter
Apabila kapal tersedia, Perusahaan dan klien menyepakati tarif, jadwal, rute, jenis layanan,
serta ketentuan pengangkutan.
4. Koordinasi dengan Agen Pelayaran
Agen membantu proses administrasi dan operasional di pelabuhan, termasuk perizinan,
sandar kapal, dokumen pelayaran, dan koordinasi dengan pihak pelabuhan.
5. Proses Muat dan Bongkar
Barang dimuat di pelabuhan asal sesuai instruksi klien, kemudian dibongkar di pelabuhan
tujuan setelah kapal tiba.
6. Pengiriman Kargo
Kapal melakukan perjalanan dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar sesuai rute dan
jadwal yang telah disepakati.
7. Penyelesaian Administrasi dan Penagihan
Setelah pengiriman selesai, Perusahaan melakukan penyelesaian dokumen, konfirmasi
pekerjaan, dan penagihan kepada klien.
Halaman 40 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 42
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Keunggulan Kompetitif
Pola bisnis PJHB dinilai layak karena didukung oleh model usaha yang berfokus pada jasa
charter kapal LCT untuk pengangkutan alat berat, kontainer, bahan proyek, dan kargo
industri. Kegiatan usaha tersebut memiliki karakteristik yang spesifik karena melayani
kebutuhan pengiriman yang tidak selalu bersifat rutin, bergantung pada lokasi proyek, jenis
muatan, jadwal operasional, serta kebutuhan fleksibilitas rute pelayaran.
Dalam kegiatan eksistingnya, PJHB menjalankan model layanan freight charter dan time
charter, sehingga Perusahaan dapat menyesuaikan layanan berdasarkan kebutuhan
pelanggan, baik dari sisi jenis muatan, kapasitas kapal, area operasi, maupun durasi
penggunaan kapal. Model usaha ini dinilai relevan dengan kebutuhan industri
pertambangan, perkebunan, konstruksi, energi, dan infrastruktur yang membutuhkan
layanan angkutan laut yang fleksibel dan andal.
Selain kegiatan usaha eksisting tersebut, Perusahaan juga merencanakan penambahan KBLI
50121 - Angkutan Laut Luar Negeri Linier dan Tramper untuk Penumpang. KBLI ini mencakup
kegiatan angkutan laut luar negeri untuk penumpang, baik secara liner maupun tramper,
termasuk persewaan angkutan laut berikut operatornya. Penambahan KBLI 50121
merupakan perluasan klasifikasi kegiatan usaha yang berbeda dari kegiatan eksisting
Perusahaan, khususnya dari sisi cakupan rute, jenis layanan, perizinan, spesifikasi armada,
standar keselamatan, serta kebutuhan operasional. Dengan demikian, penambahan KBLI
tersebut perlu dipandang sebagai perluasan cakupan kegiatan usaha yang dapat membuka
peluang pengembangan bisnis ke depan, namun tetap memerlukan kesiapan regulasi,
operasional, armada, dan sumber daya apabila akan diimplementasikan secara komersial.
Keunggulan kompetitif Perusahaan antara lain sebagai berikut:
1. Keunikan Pola Bisnis Charter LCT
Perusahaan memiliki fokus pada kapal LCT yang sesuai untuk mengangkut alat berat,
kontainer, bahan proyek, dan kargo industri. Kapal LCT memiliki keunggulan dari sisi
fleksibilitas akses, terutama untuk area proyek, tambang, perkebunan, dan pelabuhan
tertentu yang membutuhkan kapal dengan ramp door serta area deck yang luas.
2. Pengalaman Manajemen
PJHB telah beroperasi sejak tahun 2008, sehingga memiliki pengalaman dalam
pengelolaan armada, rute pelayaran, operasional pelabuhan, serta pemenuhan
kebutuhan pelanggan proyek. Pengalaman tersebut menjadi faktor penting dalam
menjaga kelancaran operasional, efektivitas koordinasi di lapangan, serta mitigasi risiko
pelayaran.
3. Standar Health, Safety, and Environment (HSE)
Perusahaan memperhatikan aspek HSE dalam kegiatan operasional kapal, termasuk
keselamatan kru, keamanan muatan, kelayakan kapal, serta kepatuhan terhadap
ketentuan pelayaran. Penerapan standar HSE menjadi nilai tambah karena pelanggan
industri, khususnya sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur, umumnya
mensyaratkan standar keselamatan yang baik.
4. Sistem Pemeliharaan Preventif
Halaman 41 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 43
Perusahaan perlu menjaga keandalan armada melalui sistem pemeliharaan preventif,
antara lain melalui pemeriksaan rutin, docking berkala, pemenuhan sertifikasi, serta
perawatan mesin dan perlengkapan kapal. Sistem ini penting untuk meminimalkan risiko
kerusakan kapal, keterlambatan pengiriman, serta gangguan operasional.
5. Komitmen terhadap Service Level Agreement (SLA)
PJHB memiliki komitmen untuk menjaga kualitas layanan sesuai kesepakatan dengan
pelanggan, antara lain terkait ketepatan jadwal, kesiapan kapal, keamanan muatan,
koordinasi operasional, dan penyelesaian pengiriman. Kepatuhan terhadap SLA menjadi
faktor penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan serta meningkatkan peluang
kontrak berulang.
Dengan keunggulan tersebut, pola bisnis PJHB dinilai memiliki daya saing yang memadai,
terutama pada segmen pengangkutan kargo proyek, alat berat, dan kebutuhan logistik
industri. Sementara itu, penambahan KBLI 50121 dapat menjadi ruang pengembangan
usaha ke depan, namun pelaksanaannya perlu dilakukan secara terukur dengan
mempertimbangkan kesiapan perizinan, spesifikasi armada, standar keselamatan
penumpang, rute luar negeri, serta kebutuhan operasional yang berbeda dibandingkan
dengan bisnis charter LCT yang saat ini telah berjalan.
5.2 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk
Kemampuan pesaing untuk meniru produk atau layanan PJHB dinilai cukup terbatas, karena
bisnis charter kapal LCT tidak hanya bergantung pada kepemilikan kapal, tetapi juga
membutuhkan pengalaman operasional, jaringan pelanggan, perizinan, sertifikasi, kru
berpengalaman, serta kemampuan mengelola rute dan risiko pelayaran.
Secara umum, layanan pengangkutan laut dengan kapal LCT dapat ditiru oleh perusahaan
pelayaran lain yang memiliki armada sejenis. Namun, untuk mencapai kualitas layanan yang
sama, pesaing membutuhkan waktu, investasi, dan pengalaman yang memadai. Hal ini
karena PJHB telah memiliki pengalaman sejak tahun 2008 dalam jasa vessel chartering dan
pengangkutan kargo berat, termasuk alat berat, kontainer, peralatan migas, pertambangan,
perkebunan, konstruksi, dan kargo proyek lainnya.
5.3 Kemampuan untuk Menciptakan Nilai
Kemampuan PJHB dalam menciptakan nilai dinilai berasal dari pemanfaatan armada LCT
sebagai aset utama untuk menghasilkan pendapatan melalui jasa freight charter, time charter,
dan pengangkutan kargo proyek. Dengan karakteristik kapal LCT yang dapat mengangkut
alat berat, kontainer, dan kargo berukuran besar, Perusahaan memiliki peluang untuk
melayani segmen pelanggan industri yang membutuhkan layanan angkutan laut khusus dan
fleksibel.
Secara umum, integrasi vertikal dan horizontal dapat memperkuat kemampuan PJHB dalam
menciptakan nilai. Integrasi vertikal memberikan peluang efisiensi dan peningkatan kualitas
layanan, sedangkan integrasi horizontal mendukung pertumbuhan kapasitas, perluasan
pasar, dan peningkatan pendapatan. Dengan dukungan armada, pengalaman operasional,
dan jaringan pelanggan, strategi integrasi ini dinilai dapat meningkatkan daya saing serta
keberlanjutan usaha Perusahaan.
Halaman 42 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 44
Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena
keunikan dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk
menciptakan nilai dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis Kegiatan Usaha oleh
Perusahaan adalah layak.
Halaman 43 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 45
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan
Manajemen PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman
yang memadai dalam menjalankan kegiatan usaha pelayaran, vessel chartering, dan
pengangkutan kargo menggunakan kapal LCT. Hal ini tercermin dari pengalaman jajaran
Dewan Komisaris dan Direksi yang sebagian besar telah memiliki rekam jejak panjang di
industri pelayaran, pemasaran, operasional kapal, keuangan, akuntansi, serta tata kelola
perusahaan.
Dari sisi pengawasan, Perusahaan didukung oleh Dewan Komisaris yang memiliki kombinasi
pengalaman di bidang pelayaran, bisnis, serta pasar modal. Hero Gozali selaku Komisaris
Utama memiliki pengalaman panjang di Perusahaan, termasuk sebagai Direktur Utama sejak
tahun 2008 sampai 2024 sebelum diangkat sebagai Komisaris Utama pada tahun 2025.
Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah karena beliau memiliki pemahaman historis yang
kuat atas perkembangan usaha, pelanggan, armada, dan dinamika operasional Perusahaan.
Adelia Aryni Setyawan selaku Komisaris juga telah bergabung dengan Perusahaan sejak tahun
2008. Keberadaan beliau memberikan kesinambungan dalam fungsi pengawasan dan
pemahaman terhadap arah pengembangan usaha Perusahaan. Selain itu, Drs. Djunggu
Harungguan Sitorus, Akt., M.Si. selaku Komisaris Independen memiliki latar belakang yang
kuat di bidang akuntansi, pasar modal, pengawasan emiten, audit committee, dan tata kelola
perusahaan. Pengalaman beliau di Bapepam-LK serta beberapa perusahaan publik
memberikan dukungan terhadap penguatan aspek governance, kepatuhan, dan pengawasan
independen.
Dari sisi pengelolaan operasional, Perusahaan dipimpin oleh Direksi yang memiliki
pengalaman langsung di bidang pelayaran, pemasaran, operasional, keuangan, dan
akuntansi. Go Sioe Bie selaku Direktur Utama memiliki pengalaman di Perusahaan sejak tahun
2008, dimulai dari fungsi keuangan dan akuntansi, kemudian pemasaran, hingga diangkat
sebagai Direktur Utama pada tahun 2025. Pengalaman lintas fungsi tersebut memberikan
pemahaman yang menyeluruh terhadap aspek komersial dan keuangan Perusahaan.
Willyharto Tjandra selaku Direktur Operasional telah menjabat sebagai Direktur sejak tahun
2008 dan sebelumnya memiliki pengalaman sebagai Direktur Operasional serta Kepala Divisi
Operasional dan Marketing di PT Bunga Nusa Mahakam. Pengalaman tersebut relevan
dengan kegiatan utama Perusahaan yang membutuhkan pengelolaan armada, kru, jadwal
pelayaran, koordinasi agen, proses muat-bongkar, serta pemenuhan persyaratan keselamatan
dan teknis kapal.
Anthony Samuel Rahmatharun selaku Direktur Keuangan memiliki latar belakang akuntansi
dan pengalaman di bidang keuangan, perbankan, serta finance and accounting di
Perusahaan. Sebelum diangkat sebagai Direktur Keuangan pada tahun 2024, beliau menjabat
sebagai Head of Finance & Accounting Department Perusahaan sejak tahun 2017 sampai
2023. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan dalam pengelolaan fungsi keuangan,
pelaporan, dan pengendalian internal.
Secara keseluruhan, jajaran manajemen kunci Perusahaan dinilai memiliki kapasitas yang
cukup untuk mendukung rencana pengembangan usaha. Kombinasi antara pengalaman
Halaman 44 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 46
operasional pelayaran, pemasaran, keuangan, akuntansi, dan tata kelola perusahaan menjadi
faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan usaha, terutama sejalan dengan
rencana penambahan armada dan perluasan kapasitas operasional.
Tabel 12. Tabel Profil Manajemen Kunci Perusahaan
Relevansi terhadap Kelayakan
Nama Jabatan Pengalaman Utama
Manajemen
Hero Gozali Komisaris Pengalaman di Perusahaan Mendukung fungsi pengawasan
Utama sejak 2008, sebelumnya strategis dengan pemahaman
Direktur Utama Perusahaan dan mendalam atas bisnis
memiliki pengalaman pelayaran dan perkembangan
pemasaran di industri historis Perusahaan.
pelayaran.
Adelia Aryni Komisaris Komisaris Perusahaan sejak Memberikan kesinambungan
Setyawan 2008. pengawasan dan pemahaman
terhadap arah bisnis
Perusahaan.
Drs. Djunggu Komisaris Pengalaman di Bapepam-LK, Memperkuat aspek governance,
Harungguan Independen audit committee, komisaris kepatuhan, pengawasan
Sitorus, Akt., independen, dan tata kelola independen, dan praktik pasar
M.Si. perusahaan publik. modal.
Go Sioe Bie Direktur Berpengalaman di finance & Memiliki pemahaman lintas
Utama accounting, marketing, dan fungsi antara keuangan,
manajemen Perusahaan sejak komersial, dan strategi usaha.
2008.
Willyharto Direktur Pengalaman operasional Sangat relevan untuk
Tjandra Operasional pelayaran sejak sebelum pengelolaan armada,
bergabung dengan Perusahaan operasional kapal, kru, dan
dan menjabat sebagai Direktur layanan charter.
sejak 2008.
Anthony Direktur Pengalaman finance & Mendukung pengelolaan
Samuel Keuangan accounting Perusahaan sejak keuangan, proyeksi investasi,
Rahmatharun 2017 dan latar belakang pengendalian biaya, dan
perbankan. pelaporan keuangan.
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja
Dari sisi sumber daya manusia, Perusahaan memiliki struktur tenaga kerja yang mendukung
kegiatan usaha pelayaran dan charter kapal. Berdasarkan data komposisi karyawan, jumlah
karyawan Perusahaan meningkat dari 59 orang pada tahun 2023 menjadi 69 orang pada
tahun 2024, dan kembali meningkat menjadi 72 orang pada tahun 2025. Peningkatan ini
menunjukkan bahwa Perusahaan telah melakukan penyesuaian kapasitas organisasi sejalan
dengan perkembangan kegiatan usaha dan kebutuhan operasional.
Berdasarkan jenjang manajemen, komposisi karyawan tahun 2025 terdiri dari 7 orang
manajerial, 3 orang supervisor, 7 orang staf, dan 55 orang ABK. Komposisi tersebut
menunjukkan bahwa mayoritas sumber daya manusia Perusahaan berada pada fungsi
operasional kapal, khususnya ABK, yang merupakan elemen utama dalam kegiatan
pelayaran, pengoperasian armada LCT, serta penyediaan jasa charter kapal.
Seiring dengan rencana penambahan armada sebanyak 3 unit kapal baru pada tahun 2026
dan 2 unit kapal baru pada tahun 2028, Perusahaan juga memproyeksikan kebutuhan
tambahan ABK sebanyak 11 orang untuk setiap kapal baru. Dengan demikian, terdapat
Halaman 45 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 47
tambahan kebutuhan ABK sebanyak 33 orang pada tahun 2026 dan 22 orang pada tahun
2028. Penambahan ABK tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan operasional masing-
masing kapal, termasuk fungsi nakhoda, perwira kapal, juru mudi, masinis, dan kru
pendukung lainnya sesuai kebutuhan operasional pelayaran.
Tabel 13. Tabel Komposisi Karyawan Berdasarkan Jenjang Manajemen
Uraian 2023 2024 2025 2026F 2027F 2028F Analisis
Meningkat hingga 2025,
menunjukkan penguatan
Manajerial 4 5 7 7 7 7
fungsi pengelolaan dan
pengawasan.
Meningkat hingga 2025,
mendukung kebutuhan
Supervisor 1 1 3 3 3 3
koordinasi operasional yang
lebih besar.
Relatif stabil, mendukung
Staf 8 8 7 7 7 7 fungsi administrasi dan
pendukung.
Meningkat seiring
penambahan kapal baru,
ABK 46 55 55 88 88 110
dengan asumsi kebutuhan 11
ABK per kapal.
Menunjukkan pertumbuhan
kapasitas SDM secara
Jumlah 59 69 72 105 105 127
bertahap mengikuti
penambahan armada.
Dari sisi usia, struktur karyawan tahun 2025 didominasi oleh kelompok usia 41–50 tahun
sebanyak 25 orang, diikuti kelompok usia 21–30 tahun sebanyak 18 orang, kelompok usia
31–40 tahun sebanyak 17 orang, kelompok usia di atas 50 tahun sebanyak 11 orang, dan
kelompok usia di bawah 21 tahun sebanyak 1 orang. Komposisi ini menunjukkan kombinasi
antara tenaga kerja berpengalaman dan tenaga kerja usia produktif, yang dinilai memadai
untuk mendukung keberlanjutan operasional Perusahaan.
Dengan adanya rencana penambahan armada, kebutuhan SDM Perusahaan ke depan akan
meningkat terutama pada fungsi operasional kapal. Oleh karena itu, Perusahaan perlu
memastikan kesiapan rekrutmen, sertifikasi dan kompetensi ABK, pemenuhan dokumen
pelaut, serta penjadwalan kru yang memadai agar penambahan armada dapat beroperasi
secara optimal dan tidak mengganggu kegiatan usaha eksisting.
Tabel 14. Tabel Komposisi Karyawan Berdasarkan Usia
Kelompok Usia 2023 2024 2025 Analisis
Mendukung aspek pengalaman dan pengetahuan
> 50 tahun 7 9 11
teknis.
Kelompok dominan, mencerminkan tenaga kerja
41–50 tahun 17 25 25
matang dan berpengalaman.
Menjadi basis tenaga kerja produktif dan calon
31–40 tahun 16 16 17
penguatan manajerial.
21–30 tahun 18 18 18 Mendukung regenerasi dan keberlanjutan SDM.
Porsi kecil dan tidak material terhadap struktur
< 21 tahun 1 1 1
SDM.
Komposisi SDM relatif seimbang antara
Jumlah 59 69 72
pengalaman dan regenerasi.
Halaman 46 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 48
Berdasarkan komposisi tersebut, sumber daya manusia Perusahaan dinilai cukup memadai
untuk mendukung kegiatan usaha saat ini. Dominasi ABK menunjukkan bahwa struktur SDM
Perusahaan telah sesuai dengan karakter bisnis pelayaran yang membutuhkan kesiapan
operasional armada. Sementara itu, peningkatan jumlah manajerial dan supervisor
menunjukkan adanya penguatan fungsi pengawasan, koordinasi, dan pengambilan
keputusan operasional.
Namun, sejalan dengan rencana penambahan armada sebanyak 3 unit kapal pada tahun
2026 dan 2 unit kapal pada tahun 2028, Perusahaan perlu memastikan kesiapan tambahan
sumber daya manusia secara bertahap. Kebutuhan tersebut terutama meliputi tambahan ABK
bersertifikasi, tenaga teknis kapal, supervisor operasional, fungsi keselamatan dan
compliance, serta fungsi administrasi pendukung. Hal ini penting agar pertumbuhan jumlah
armada dapat diimbangi dengan kapasitas organisasi yang memadai.
6.3 Kesiapan Manajemen dan SDM Setelah Penambahan Armada
Sejalan dengan rencana penambahan armada, Perusahaan tidak memerlukan tenaga ahli
kunci baru yang bersifat khusus di luar kompetensi operasional pelayaran yang saat ini telah
dimiliki. Hal ini disebabkan karena spesifikasi kapal baru yang direncanakan pada dasarnya
memiliki karakteristik yang sejenis dengan armada LCT eksisting Perusahaan, khususnya LCT
Cipta Jaya Harapan 8, sehingga pola operasional, kebutuhan pengawasan, serta kompetensi
teknis yang diperlukan masih berada dalam lingkup pengalaman Perusahaan saat ini.
Dengan demikian, fokus kesiapan sumber daya manusia lebih diarahkan pada pemenuhan
kebutuhan ABK dan tenaga operasional kapal sesuai jumlah armada tambahan, termasuk
ketersediaan kru bersertifikasi, pemenuhan dokumen pelaut, pengaturan jadwal kerja dan
rotasi kru, serta pelatihan keselamatan pelayaran. Perusahaan juga perlu memastikan fungsi
pengawasan operasional, compliance, dan keselamatan pelayaran tetap memadai seiring
dengan peningkatan jumlah armada.
Berdasarkan asumsi kebutuhan ABK sebanyak 11 orang per kapal, penambahan 3 unit kapal
pada tahun 2026 membutuhkan tambahan ABK sebanyak 33 orang, sedangkan penambahan
2 unit kapal pada tahun 2028 membutuhkan tambahan ABK sebanyak 22 orang. Dengan
demikian, secara kumulatif Perusahaan membutuhkan tambahan ABK sebanyak 55 orang
sampai dengan tahun 2028. Kebutuhan tersebut dinilai dapat dipenuhi secara bertahap
melalui rekrutmen kru kapal yang telah memiliki sertifikasi dan pengalaman sesuai dengan
ketentuan pelayaran yang berlaku.
Dengan pengalaman manajemen dalam mengelola armada LCT eksisting serta karakteristik
kapal baru yang sejenis dengan armada yang telah dioperasikan, rencana pengembangan
usaha melalui penambahan armada dinilai dapat didukung oleh kapasitas manajemen dan
sumber daya manusia Perusahaan, sepanjang Perusahaan melakukan penambahan kru,
penguatan fungsi pengawasan, serta pemenuhan sertifikasi dan persyaratan keselamatan
pelayaran secara bertahap.
Halaman 47 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 49
6.4 Manajemen Kekayaan Intelektual
Dalam kegiatan usaha PJHB, kekayaan intelektual tidak menjadi aset utama seperti pada
perusahaan berbasis teknologi atau manufaktur. Nilai utama Perusahaan lebih banyak berasal
dari aset armada kapal, pengalaman operasional, jaringan pelanggan, standar keselamatan,
perizinan, serta reputasi layanan.
Meskipun demikian, Perusahaan tetap perlu menjaga aset tidak berwujud seperti nama baik
perusahaan, merek, dokumen operasional, prosedur kerja, data pelanggan, dan sistem
administrasi internal. Pengelolaan aset tidak berwujud tersebut penting untuk menjaga
kepercayaan pelanggan, mendukung kepatuhan, serta memperkuat posisi Perusahaan dalam
industri jasa pelayaran dan charter kapal.
6.5 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha jasa pelayaran dan charter kapal LCT, PJHB menghadapi
beberapa risiko utama yang perlu dikelola secara memadai, antara lain risiko cuaca,
kecelakaan kapal, kenaikan harga bahan bakar, serta risiko operasional armada. Pengelolaan
risiko tersebut menjadi penting untuk menjaga kelancaran pengiriman, keselamatan
pelayaran, serta kualitas layanan kepada pelanggan.
1. Risiko Kondisi Cuaca
Kegiatan operasional kapal sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan perairan. Cuaca
ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, gelombang tinggi, atau arus kuat dapat
menyebabkan keterlambatan pelayaran, perubahan jadwal, atau kapal harus menunggu
di lokasi aman. Untuk memitigasi risiko ini, Perusahaan perlu melakukan pemantauan
cuaca secara berkala, mengacu pada informasi BMKG, menerapkan SOP keselamatan
pelayaran, serta mencantumkan klausul force majeure dalam perjanjian dengan
pelanggan.
2. Risiko Kecelakaan Kapal dan Pihak Ketiga
Risiko kecelakaan dapat terjadi akibat kepadatan lalu lintas laut, perairan sempit, proses
sandar, kondisi pelabuhan, atau kesalahan pihak ketiga. Mitigasi dilakukan melalui
penggunaan jasa pandu/assist pada area tertentu, pembatasan kecepatan pada perairan
padat, pemeliharaan alat navigasi dan sistem kemudi, serta perlindungan asuransi seperti
Marine Hull dan Protection & Indemnity (P&I).
3. Risiko Kenaikan Harga Bahan Bakar
Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya utama dalam operasional kapal.
Fluktuasi harga bahan bakar dapat memengaruhi margin Perusahaan. Untuk mengurangi
dampaknya, Perusahaan dapat menerapkan mekanisme penyesuaian tarif atau klausul rise
and fall dalam kontrak charter, sehingga perubahan harga bahan bakar dapat disesuaikan
dengan tarif layanan.
4. Risiko Kesiapan Armada dan Operasional
Keterlambatan docking, kerusakan mesin, keterbatasan kru, atau belum lengkapnya
sertifikasi kapal dapat menghambat operasional. Mitigasi dilakukan melalui sistem
pemeliharaan preventif, pemeriksaan rutin, pemenuhan sertifikasi kapal, kesiapan kru,
serta monitoring jadwal operasi dan docking secara berkala.
5. Risiko Manajemen dan Struktur Organisasi
Untuk mendukung kegiatan usaha, Perusahaan perlu memastikan fungsi manajemen
berjalan efektif, mencakup operasional, teknis, HSE, crewing, legal, keuangan, pemasaran,
Halaman 48 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 50
dan administrasi. Struktur organisasi yang jelas dan pembagian tanggung jawab yang tepat
akan mendukung pengambilan keputusan, pengendalian risiko, serta efektivitas pelayanan
kepada pelanggan.
Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, yang mencakup ketersediaan tenaga
kerja, manajemen kekayaan intelektual (intellectual property), manajemen risiko, kapasitas
dan kemampuan manajemen dan kesesuaian struktur organisasi dan manajemen dapa
disimpulkan bahwa aspek model manajemen Kegiatan Usaha oleh Perusahaan adalah layak.
6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Kemampuan dalam mengelola suatu perusahaan memerlukan sumber daya manusia yang
profesional agar kegiatan operasional Perusahaan dapat berjalan efektif dan efisien. Berikut
adalah struktur organisasi Perusahaan:
Gambar 2. Struktur Organisasi
Sumber : Manajemen Perusahaan
Halaman 49 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 51
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN
7.1 Gambaran Umum
Perusahaan merencanakan penambahan armada secara bertahap sebagai bagian dari
pengembangan usaha eksisting guna memperkuat kapasitas operasional, meningkatkan
utilisasi armada, dan memperluas layanan charter pada kegiatan usaha yang telah berjalan
saat ini.
Berdasarkan informasi dari manajemen, rencana pembelian kapal pada tahun 2026 murni
ditujukan untuk mendukung pengembangan kegiatan usaha eksisting. Hal ini sejalan dengan
adanya potensi peningkatan kebutuhan transportasi laut dari pelanggan di sektor LNG,
dimana berdasarkan informasi yang diperoleh, BP diperkirakan akan melakukan
penambahan produksi LNG sehingga membutuhkan tambahan armada kapal untuk
mendukung aktivitas transportasinya. Selain itu, untuk perusahaan internasional, terdapat
batasan umur pemakaian kapal maksimal sekitar 15 tahun, sehingga ketersediaan kapal
dengan usia, kondisi, dan spesifikasi yang sesuai menjadi faktor penting dalam memenuhi
kebutuhan pelanggan tersebut.
Adapun rencana penambahan armada tersebut terdiri dari 3 unit kapal pada tahun 2026 dan
2 unit kapal pada tahun 2028. Dengan demikian, jumlah armada Perusahaan diproyeksikan
meningkat dari 5 unit kapal eksisting menjadi 8 unit kapal pada tahun 2026, dan selanjutnya
menjadi 10 unit kapal pada tahun 2028.
Analisa kelayakan keuangan dalam laporan ini ditinjau terhadap rencana Perusahaan atas
penambahan armada kapal tersebut. Namun demikian, mengingat bahwa kegiatan usaha
yang dijalankan Perusahaan dengan menggunakan armada kapal baru tetap akan
memanfaatkan aset-aset pendukung eksisting lainnya. Oleh karena itu, Analisa kelayakan
keuangan dengan mengacu pada arus kas bersih incremental, atau selisih arus kas bersih
antara usaha Perusahaan dengan pengembangan usaha dan usaha Perusahaan tanpa
pengembangan usaha.
7.2 Biaya Investasi
Dalam rencana pengembangan usaha, Perusahaan membutuhkan investasi untuk
penambahan armada kapal baru. Rencana penambahan kapal ini merupakan bagian dari
strategi pengembangan kegiatan usaha yang telah berjalan saat ini, khususnya untuk
memperkuat kapasitas operasional, meningkatkan fleksibilitas penjadwalan kapal, serta
mendukung perluasan layanan pelayaran dan charter kapal.
Rencana Investasi penambahan armada tidak hanya mencakup pembelian kapal baru, tetapi
juga mencakup biaya pendukung agar kapal dapat beroperasi secara optimal. Komponen
investasi tersebut meliputi pembelian kapal, docking, peralatan kapal, peralatan kantor
pendukung operasional, serta kendaraan operasional.
Berdasarkan kontrak pembangunan kapal yang telah ditandatangani, kebutuhan Investasi
untuk pembangunan 3 unit kapal baru jenis Landing Craft Tank (LCT) pada tahun 2026 adalah
Halaman 50 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 52
sebesar Rp163 miliar. Capex tersebut terdiri dari pembangunan LCT Cipta Jaya Harapan 77
oleh PT Tegal Shipyard Utama dengan nilai kontrak sebesar Rp53 miliar, LCT Cipta Jaya
Harapan 88 oleh PT Untung Brawijaya Sejahtera / UBS Shipyard dengan nilai kontrak sebesar
Rp53 miliar, serta LCT Cipta Jaya Harapan 99 oleh PT Untung Brawijaya Sejahtera / UBS
Shipyard dengan nilai kontrak sebesar Rp57 miliar.
Dengan demikian, total kebutuhan investasi pembangunan kapal baru pada tahun 2026 yang
dapat dikategorikan sebagai Investasi pembangunan armada adalah sebesar Rp163 miliar.
Tabel 15. Rekap Investasi Pembangunan Kapal Tahun 2026
Galangan / Tanggal Ukuran
Kapal Nomor Kontrak Nilai Kontrak
Pembangun Kapal Kontrak Kapal
15 72,00 m x
LCT Cipta Jaya PT Tegal Shipyard 002/TSU-
Desember 16,00 m x Rp53.000.000.000
Harapan 77 Utama JHB/XII/2025
2025 4,80 m
PT Untung Brawijaya 72,00 m x
LCT Cipta Jaya 038/UBS- 28 Oktober
Sejahtera / UBS 16,00 m x Rp53.000.000.000
Harapan 88 PJHB/X/2025 2025
Shipyard 4,80 m
PT Untung Brawijaya 001/UBS- 75,00 m x
LCT Cipta Jaya
Sejahtera / UBS PJHB/25- 3 Juli 2025 16,00 m x Rp57.000.000.000
Harapan 99
Shipyard 01/07/2025 4,80 m
Dari biaya investasi pembangunan 3 unit kapal sebesar Rp 163 miliar, telah dibayarkan
sebagian sampai dengan akhir tahun 2025 sebesar Rp 11,49 miliar yang dicatat sebagai akun
aset dalam penyelesaian. Dengan mempertimbangkan biaya investasi pembangunan kapal,
realisasi biaya sampai dengan akhir tahun 2025 dan biaya investasi kendaraan operasional
di tahun 2026 sebesar Rp 27 juta, maka proyeksi biaya investasi sepanjang tahun 2026 adalah
sebesar Rp 151,51 miliar. Selanjutnya, pada tahun 2027, Perusahaan memproyeksikan capex
sebesar Rp1,16 miliar yang dialokasikan untuk kebutuhan docking.
Pada tahun 2028, total Investasi diproyeksikan sebesar Rp96,10 miliar, yang sebagian besar
dialokasikan untuk penambahan kapal sebesar Rp95,90 miliar, serta tambahan peralatan
kapal dan peralatan kantor masing-masing sebesar Rp181 juta dan Rp16 juta. Pada tahun
2029, terdapat capex sebesar Rp28 juta untuk kendaraan operasional, sedangkan pada tahun
2030 terdapat capex sebesar Rp1,21 miliar untuk kebutuhan docking.
Seluruh rencana investasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan usaha eksisting
Perusahaan, khususnya untuk memperkuat kapasitas armada, mendukung kegiatan
operasional pelayaran, serta meningkatkan fleksibilitas layanan charter kapal. Rencana capex
ini tidak berkaitan langsung dengan penambahan KBLI baru, melainkan merupakan investasi
pendukung atas kegiatan usaha yang telah berjalan. Adapun detail rencana penambahan
investasi adalah sebagai berikut:
Tabel 16. Tabel Rencana Penambahan Investasi Perusahaan
Capex Satuan 2026 2027 2028 2029 2030
Kapal Rp Juta 163.000 - 95.901 - -
Docking Rp Juta - 1.156 - - 1.214
Peralatan Kapal Rp Juta - - 181 - -
Peralatan Kantor Rp Juta - - 16 - -
Kendaraan Rp Juta 27 - - 28 -
Total Capex Rp Juta 163.027 1.156 96.098 28 1.214
Halaman 51 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 53
7.3 Modal Kerja
Dalam pelaksanaan kegiatan usahanya, PJHB membutuhkan modal kerja untuk mendukung
kelancaran operasional Perusahaan, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan piutang
usaha, persediaan, kewajiban jangka pendek, serta kebutuhan operasional rutin lainnya.
Berdasarkan proyeksi tahun 2026–2030, kebutuhan modal kerja bersih PJHB diproyeksikan
rata-rata sebesar Rp1,69 miliar per tahun. Kebutuhan modal kerja tersebut terutama
dipengaruhi oleh perubahan komponen piutang usaha dan persediaan, serta perubahan
utang usaha yang berkaitan langsung dengan aktivitas operasional Perusahaan.
Secara tahunan, kebutuhan modal kerja bersih diproyeksikan sebesar Rp1,72 miliar pada
tahun 2026, Rp1,70 miliar pada tahun 2027, Rp1,80 miliar pada tahun 2028, Rp1,75 miliar
pada tahun 2029, dan Rp1,49 miliar pada tahun 2030. Dengan demikian, Perusahaan perlu
menjaga ketersediaan dana modal kerja secara memadai agar kegiatan operasional,
pemenuhan kewajiban jangka pendek, serta kebutuhan pendukung operasional kapal dapat
berjalan secara berkelanjutan.
7.4 Sumber Pembiayaan
Rencana investasi penambahan armada dan kebutuhan capex pendukung akan dibiayai
menggunakan kas internal Perusahaan. Penggunaan kas internal mencerminkan kemampuan
Perusahaan dalam mendukung rencana pengembangan usaha eksisting tanpa menambah
ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
Dengan sumber pendanaan tersebut, Perusahaan diharapkan dapat menjaga fleksibilitas
keuangan, mengendalikan beban keuangan, serta mempertahankan struktur permodalan
yang sehat. Namun demikian, pelaksanaan investasi tetap perlu dilakukan secara bertahap
dengan mempertimbangkan ketersediaan kas, kebutuhan modal kerja operasional, serta
prioritas penggunaan dana Perusahaan.
7.5 Biaya Operasional
Biaya operasional atas kegiatan usaha Perusahaan terdiri dari Beban Pokok Pendapatan,
beban operasional, beban gaji, beban pemeliharaan, dan beban lainnya. Proyeksi biaya
operasional kegiatan usaha Perusahaan untuk periode tahun 2026–2030 adalah sebagai
berikut:
Tabel 17. Beban Pokok Pendapatan (dalam Jutaan Rupiah)
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Pokok Pendapatan
Pemakaian bahan 11.739 19.426 23.953 25.335 26.135
Overhead 6.147 10.173 12.543 13.267 13.686
Karyawan 4.000 6.620 8.162 8.633 8.906
Pemeliharaan 1.776 2.939 3.623 3.833 3.954
Perlengkapan kapal 1.730 2.862 3.529 3.733 3.851
Halaman 52 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 54
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
Keagenan 1.232 2.039 2.514 2.659 2.743
Penyusutan 23.355 22.109 22.547 21.725 22.026
Total Beban Pokok Pendapatan 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Total Beban Pokok Pendapatan 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Tabel 18. Beban Operasional (dalam Jutaan Rupiah)
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Operasional
Beban Gaji, THR dan tunjangan
4.333 4.463 4.597 4.735 4.877
lainnya
Beban Pemeliharaan 1.504 1.549 1.596 1.644 1.693
Beban Tenaga Ahli 560 577 594 612 630
Beban Transportasi 317 327 337 347 347
Beban Listrik, air dan telepon 41 42 43 44 46
Beban Penyusutan 140 132 135 130 132
Beban Retribusi dan sumbangan 63 64 66 68 70
Beban dan denda pajak 6 7 7 7 7
Beban Sewa Gudang 100 103 106 109 113
Beban lain-lain 248 256 263 271 279
TOTAL BEBAN OPERASIONAL 7.312 7.519 7.744 7.967 8.194
7.6 Asumsi Proyeksi Laporan Keuangan
Proyeksi laporan keuangan menggunakan asumsi yang merefleksikan rencana bisnis
manajemen selama masa proyeksi sebagai berikut:
Tabel 19. Asumsi Proyeksi Keuangan
Des Des Des Des Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
GDP 4,94% 4,96% 4,96% 5,11% 5,14%
Inflasi 1,84% 2,91% 2,52% 2,52% 2,52%
Pajak 22% 22% 22% 22% 22%
Bunga Utang Investasi 8,4% 8,4% 8,4% 8,4% 8,4%
Hari 365 365 365 365 365
Bulan 12 12 12 12 12
Kapal beroperasi efektif setahun
LS 88 12 10 12 12 10
CJH 10 12 10 12 12 10
CJH 9 10 12 12 10 12
CJH 8 12 10 12 11 11
CJH 7 12 12 10 12 10
Halaman 53 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 55
Des Des Des Des Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
CJH 99 1 12 12 10 12
CJH 88 1 12 12 10 12
CJH 77 1 12 12 10 12
Kapal Baru 1 7 12 12
Kapal Baru 2 7 12 12
Tarif Kapal Per Bulan
LS 88 645 600 600 600 600
CJH 10 1.160 1.100 1.100 1.100 1.100
CJH 9 590 600 600 600 600
CJH 8 1.476 1.400 1.400 1.400 1.400
CJH 7 1.160 1.100 1.100 1.100 1.100
CJH 99 1.500 1.500 1.500 1.500 1.500
CJH 88 1.400 1.400 1.400 1.400 1.400
CJH 77 1.400 1.400 1.400 1.400 1.400
Kapal Baru 1 1.500 1.500 1.500
Kapal Baru 2 1.357 1.417 1.417
Beban Pokok Pendapatan 65,67% 66,98% 66,98% 67,65% 67,65%
Pemakaian bahan 18,49% 18,86% 18,86% 19,05% 19,05%
Overhead 9,68% 9,88% 9,88% 9,98% 9,98%
Karyawan 6,30% 6,43% 6,43% 6,49% 6,49%
Pemeliharaan 2,80% 2,85% 2,85% 2,88% 2,88%
Perlengkapan kapal 2,72% 2,78% 2,78% 2,81% 2,81%
Keagenan 1,94% 1,98% 1,98% 2,00% 2,00%
Penyusutan 23,7% 24,2% 24,2% 24,5% 24,5%
Beban Operasional 11,39% 7,23% 6,04% 5,94% 5,93%
Beban Gaji, THR dan tunjangan lainnya 6,82% 4,33% 3,62% 3,56% 3,55%
Beban Pemeliharaan 2,37% 1,50% 1,26% 1,24% 1,23%
Beban Tenaga Ahli 0,88% 0,56% 0,47% 0,46% 0,46%
Beban Transportasi 0,50% 0,32% 0,27% 0,26% 0,25%
Beban Listrik, air dan telepon 0,06% 0,04% 0,03% 0,03% 0,03%
Beban Penyusutan 0,09% 0,06% 0,05% 0,05% 0,05%
Beban Retribusi dan sumbangan 0,10% 0,06% 0,05% 0,05% 0,05%
Beban dan denda pajak 0,01% 0,01% 0,01% 0,01% 0,01%
Beban Imbalan kerja 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Sewa Gudang 0,16% 0,10% 0,08% 0,08% 0,08%
Beban lain-lain 0,39% 0,25% 0,21% 0,20% 0,20%
Beban pokok pendapatan, beban operasional diasumsikan sebesar persentase terhadap
penjualan selama masa proyeksi.
Halaman 54 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 56
7.7 Proyeksi Laba Rugi
Berikut ini adalah Proyeksi Laba rugi dengan adanya pengembangan usaha:
Tabel 20. Proyeksi Laporan Laba Rugi dengan pengembangan usaha (dalam Jutaan Rupiah)
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 63.485 103.000 127.000 133.000 137.200
Kapal Eksisting 59.185 51.400 55.400 55.000 50.600
Kapal Baru 4.300 51.600 71.600 78.000 86.600
Beban Pokok Pendapatan 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Pemakaian bahan 11.739 19.426 23.953 25.335 26.135
Overhead 6.147 10.173 12.543 13.267 13.686
Karyawan 4.000 6.620 8.162 8.633 8.906
Pemeliharaan 1.776 2.939 3.623 3.833 3.954
Perlengkapan kapal 1.730 2.862 3.529 3.733 3.851
Keagenan 1.232 2.039 2.514 2.659 2.743
Penyusutan 23.355 22.109 22.547 21.725 22.026
Laba Kotor 13.506 36.832 50.127 53.814 55.898
Biaya Operasional 7.312 7.519 7.744 7.967 8.194
Laba (Rugi) Operasional 6.194 29.312 42.383 45.847 47.704
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 6.194 29.312 42.383 45.847 47.704
Beban pajak penghasilan (794) (1.268) (1.557) (1.630) (1.681)
Laba Bersih Tahun Berjalan 5.400 28.044 40.827 44.217 46.023
7.8 Proyeksi Posisi Keuangan
Berikut ini adalah Proyeksi Posisi Keuangan dengan pengembangan usaha:
Tabel 21. Proyeksi Posisi Keuangan dengan pengembangan usaha (dalam Jutaan Rupiah)
Des Des Des Des Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan setara kas 17.396 64.827 30.435 94.727 160.203
Piutang usaha 4.954 9.048 12.402 14.294 13.908
Piutang lain-lain 96 96 96 96 96
Uang Muka 35.376 35.376 35.376 35.376 35.376
Klaim Pajak 68 68 68 68 68
Halaman 55 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 57
Des Des Des Des Des
URAIAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban dibayar di muka 834 834 834 834 834
Total Aset lancar 58.723 110.249 79.211 145.395 210.484
Aset Tidak Lancar
Piutang lain-lain - Pihak berelasi 3 3 3 3 3
Aset tetap 282.260 261.175 334.591 312.765 291.821
Total Aset Tidak Lancar 282.263 261.178 334.594 312.768 291.824
TOTAL ASET 340.986 371.427 413.806 458.162 502.309
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Jangka pendek
Utang Usaha - Pihak ketiga 685 3.082 4.633 4.773 2.896
Beban Akrual 6.391 6.391 6.391 6.391 6.391
Utang Pajak 324 324 324 324 324
Utang lain-lain - pihak ketiga 691 691 691 691 691
Jaminan pendapatan 1.100 1.100 1.100 1.100 1.100
Total Liabilitas jangka pendek 9.190 11.587 13.138 13.278 11.401
Liabilitas Jangka Panjang
Utank Bank - - - - -
Utang lain-lain - pihak berelasi 6.116 6.116 6.116 6.116 6.116
Utang lain-lain - pihak ketiga - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 563 563 563 563 563
Jaminan Penjualan - - - - -
Total Liabilitas jangka Panjang 6.679 6.679 6.679 6.679 6.679
Total Liabilitas 15.868 18.266 19.817 19.957 18.079
Ekuitas
Modal saham 72.000 72.000 72.000 72.000 72.000
Tambahan modal disetor 152.944 152.944 152.944 152.944 152.944
Saldo laba (rugi) 5.400 33.443 74.270 118.487 164.511
Dicadangkan 300 300 300 300 300
Belum dicadangkan 7.771 7.771 7.771 7.771 7.771
Penghasilan komprehensif lain 86.377 86.377 86.377 86.377 86.377
Kepentingan non-pengendali 326 326 326 326 326
Jumlah Ekuitas 325.118 353.162 393.988 438.206 484.229
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 340.986 371.427 413.806 458.162 502.309
Halaman 56 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 58
7.9 Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto ditentukan sesuai dengan jenis arus kas bersih yang digunakan dalam
Analisa kelayakan. Mengingat bahwa sumber pendanaan investasi pengembangan usaha
Perusahaan sepenuhya menggunakan modal Perseroan, maka arus kas bersih yang
digunakan adalah arus kas bersih untuk ekuitas / free cash flow to equity (FCFE). Oleh karena
itu, maka tingkat diskonto yang kami gunakan adalah biaya modal untuk ekuitas (cost of
equity). Biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
Pricing Model (“CAPM”), dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS
Ke = Rf + ß Rp – CDS
Rf (risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap tidak
memiliki kemungkinan gagal bayar. Dalam studi kelayakan ini, suku bunga bebas risiko yang
kami gunakan adalah Indeks Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 30 tahun, yield
tertimbang sebesar 6,70%, dan angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian
bebas risiko (Rf), penggunaan risk free rate didasari atas suku bunga bebas risiko sesuai
dengan mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan objek studi kelayakan, dan
mencerminkan jangka waktu proyeksi.
Rp (risk premium), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan tingkat
kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan
menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 5 Januari 2026 sebesar
6,70%.
CDS (Country Default Spread), adalah tingkat (rating) gagal bayar obligasi yang dikeluarkan
pemerintah dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari
2026 sebesar 1,62%.
ß (Beta), merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P 500
atau IHSG). Beta diperoleh dari unlevered beta yang mengacu kepada beta Damodaran
dengan data diperbarui 5 Januari 2026 dari industri Shipbuilding & Marine sebesar 0,69 yang
kemudian di re-levered kembali untuk menghasilkan levered beta dengan formula sebagai
berikut:
ßL = ßU x (1+ (1-t) x DER)
Dimana :
ßL : Beta Levered
ßU : Beta Unlevered
DER : Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
t : Pajak
DER mengacu kepada struktur pendanaan investasi Perusahaan, yaitu 0%, mengingat seluruh
pendanaan menggunakan modal Perusahaan.
Berdasarkan formula perhitungan beta di atas maka beta yang digunakan sebagai berikut:
Halaman 57 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 59
Deskripsi Nilai
ßU (Damodaran) 0,69
DER (Struktur pendanaan ) 0%
t 22,0%
ßL 0,69
Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM diperoleh
biaya modal untuk ekuitas sebagai berikut:
Deskripsi Sumber
Rf 6,70% SUN 30 tahun
ß 0,69 Dari perhitungan beta
Rp 6,69% Damodaran dengan data
CDS 1,62% diperbaharui 5 Januari 2026
Ke = Rf + ß Rp – CDS 9,70%
Biaya modal ekuitas (Ke) pada tabel diatas sebesar 9,70% digunakan sebagai tingkat diskonto
dalam Analisa kelayakan keuangan
7.10 Analisa Kelayakan
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan beberapa indicator kelayakan
yang merujuk pada proyeksi arus kas bersih. Arus kas bersih yang digunakan adalah arus kas
bersih incremental, atau selisih arus kas bersih antara usaha Perusahaan dengan
pengembangan usaha dan usaha Perusahaan tanpa pengembangan usaha. Adapun indicator
kelayakan yang digunakan dalam hal ini mencakup Net Present Value (NPV), Internal Rate of
Return (IRR), Profitability Index (PI) dan Payback Period.
NPV mengukur nilai kini proyeksi arus kas bersih dengan menggunakan tingkat diskonto
tertentu. Rencana investasi dikatakan layak apabila NPV bernilai positif. IRR adalah tingkat
imbal balik yang menghasilkan NPV bernilai 0 dari suatu proyeksi arus kas bersih, dimana
rencana investasi dikatakan layak apabila IRR memiliki nilai lebih besar dari tingkat diskonto.
Sementara PI dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih yang akan datang
suatu proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk proyek tersebut. Jika PI lebih
besar dari 1, maka investasi tersebut adalah layak.
Analisa kelayakan keuangan rencana pengembangan usaha Perusahaan, yang ditunjukan
oleh sejumlah indicator berdasarkan proyeksi arus kas bersih incremental Perusahaan
disajikan sebagai berikut.
Tabel 22. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental Perusahaan (dalam Jutaan Rupiah)
ANALISA KELAYAKAN INVESTASI 2026 2027 2028 2029 2030
Laba (Rugi) Bersih (7.166) 17.885 24.423 27.175 31.361
Beban Penyusutan 8.150 8.150 12.945 12.945 12.945
Perubahan Utang - - - - -
Belanja Modal / Capex (151.510) - (95.901) - -
Perubahan Modal Kerja (201) (2.909) (1.236) (1.191) (1.429)
Halaman 58 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 60
ANALISA KELAYAKAN INVESTASI 2026 2027 2028 2029 2030
Terminal Value 426.243
ARUS KAS BERSIH (150.728) 23.126 (59.768) 38.929 469.120
Discount Rate 9,70% 9,70% 9,70% 9,70% 9,70%
Discount Factor 0,9116 0,8310 0,7575 0,6906 0,6295
PV ARUS KAS BERSIH (137.403) 19.217 (45.277) 26.883 295.322
Tabel 23. Indikator Kelayakan
ANALISA KELAYAKAN INVESTASI NILAI KETERANGAN
NPV (Rp Juta) 158.743 Layak
IRR 32,85% Layak
Payback Period 8 Tahun 5 Bulan
Profitability Index 1,73 Layak
Berdasarkan hasil analisis kelayakan investasi, diperoleh NPV sebesar Rp 158,74 miliar, IRR
sebesar 32,85%, Profitability Index sebesar 1,73, dan Payback Period selama 8 tahun 5 bulan.
Nilai NPV yang positif menunjukkan bahwa rencana pengembangan usaha mampu
menghasilkan nilai tambah ekonomi setelah memperhitungkan tingkat diskonto yang
digunakan. IRR yang lebih tinggi dibandingkan tingkat diskonto menunjukkan bahwa tingkat
pengembalian investasi berada di atas tingkat imbal hasil yang disyaratkan. Selain itu,
Profitability Index yang lebih besar dari 1,00 menunjukkan bahwa nilai kini manfaat yang
diperoleh lebih besar dibandingkan nilai kini investasi yang dikeluarkan, Dengan demikian,
berdasarkan indikator NPV, IRR, PI, dan Payback Period, rencana pengembangan usaha
Perusahaan dinilai LAYAK.
7.11 Analisis Sensitivitas
Kelayakan investasi dilihat dari indikator biaya modal atau tingkat diskonto sebesar 9,70%.
Apabila IRR > Discount Rate, maka investasi dinilai layak untuk dijalankan.
Tabel 24. Tabel Sensitivitas
Perubahan Harga Penjualan
Kriteria Satuan
80% 90% 100% 110% 120%
NPV Rp Juta 61.148 109.945 158.743 207.541 256.339
IRR % 19,79% 26,68% 32,85% 38,47% 43,66%
Profitability Index x 1,28 1,51 1,73 1,96 2,18
10 Tahun 0 9 Tahun 8 Tahun 7 Tahun 6 Tahun
Payback Period -
Bulan 5 Bulan 5 Bulan 7 Bulan 12 Bulan
Berdasarkan tabel di atas, analisis sensitivitas terhadap perubahan harga penjualan adalah
sebagai berikut:
1. Pada kondisi harga penjualan normal atau 100%, investasi dinilai layak dengan NPV sebesar
Rp158.743 juta, IRR sebesar 32,85%, PI sebesar 1,73x, dan payback period selama 8 tahun
5 bulan.
2. Apabila harga penjualan meningkat menjadi 110% dan 120%, tingkat kelayakan investasi
semakin meningkat. Hal ini tercermin dari kenaikan NPV menjadi Rp207.541 juta dan
Halaman 59 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 61
Rp 256.339 juta, serta kenaikan IRR menjadi 38,47% dan 43,66%. Selain itu, PI meningkat
menjadi 1,96x dan 2,18x, dengan periode pengembalian investasi yang semakin cepat, yaitu
7 tahun 7 bulan dan 6 tahun 12 bulan.
3. Apabila harga penjualan turun menjadi 90%, investasi masih dinilai layak dengan NPV
sebesar Rp 109.945 juta, IRR sebesar 26,68%, PI sebesar 1,51x, dan payback period selama
9 tahun 5 bulan. IRR tersebut masih berada di atas tingkat diskonto sebesar 9,70%.
4. Apabila harga penjualan turun menjadi 80%, kelayakan investasi mengalami penurunan,
namun masih tetap layak untuk dijalankan. Pada skenario ini, investasi menghasilkan NPV
sebesar Rp 61.148 juta, IRR sebesar 19,79%, PI sebesar 1,28x, dan payback period selama
10 tahun 0 bulan. IRR tersebut masih lebih tinggi dibandingkan tingkat diskonto sebesar
9,70%.
Secara keseluruhan, hasil sensitivitas menunjukkan bahwa investasi masih layak pada seluruh
skenario perubahan harga penjualan, termasuk pada saat harga penjualan turun hingga 80%,
karena seluruh skenario masih menghasilkan NPV positif, IRR di atas tingkat diskonto, dan PI lebih
dari 1,00x.
Halaman 60 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 62
BAB VIII
KESIMPULAN
Dengan mempertimbangkan hasil analisis Studi Kelayakan yang mencakup aspek kelayakan
pasar, kelayakan teknis, kelayakan pola bisnis, kelayakan model manajemen, dan kelayakan
keuangan, kami berpendapat bahwa rencana PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk dalam rangka
perubahan KBLI 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk/Holding Companies dan KBLI 50121 -
Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Umum beserta rencana pengembangan usaha
Perusahaan adalah LAYAK.
Adapun rencana penambahan armada kapal yang digunakan dalam proyeksi keuangan
merupakan bagian dari pengembangan kegiatan usaha eksisting Perusahaan, khususnya untuk
memperkuat kapasitas armada LCT, meningkatkan fleksibilitas layanan charter, serta mendukung
pertumbuhan pendapatan dari kegiatan usaha pelayaran yang telah berjalan. Berdasarkan
analisis arus kas bersih inkremental, rencana pengembangan usaha tersebut menghasilkan
indikator kelayakan keuangan yang positif, sehingga dinilai layak untuk dilaksanakan.
Berikut merupakan hasil dari analisa parameter Net Present Value (NPV), dan Internal Rete of
Return (IRR), dan Profitability Index (PI), serta Payback Period:
Keterangan Hasil Analisa Indikator Kelayakan Kesimpulan
NPV (Rp Juta) 158.743 NPV > 0 Layak
IRR 32,85% IRR > Tingkat Diskonto (Ke = 9,70%) Layak
PI 1,73 PI > 1 Layak
Payback Period 8 Tahun 5 Bulan
Halaman 61 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 63
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion. b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses Studi Kelayakan. c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami anggap relevan. d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty). e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan. f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik. g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi Tugas. h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini. i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI). j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan. k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain. l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan). Halaman 62 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 64
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda tangan
di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan Studi Kelayakan adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek Studi Kelayakan.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil Studi Kelayakan yang dilaporkan.
5. Studi Kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode
Etik Penilai Indonesia (KEPI), SE OJK NO.17/SEOJK.04/2020, serta POJK No.35/POJK.04/2020,
tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek Studi
Kelayakan .
8. Penilai telah melakukan wawancara kepada pihak manajemen Perseroan.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
dalam laporan Studi Kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi Kelayakan.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan yang telah kami susun berdasarkan data
yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta lengkap.
Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan informasi
dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap
atau menyesatkan.
12. Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan terhadap obyek Studi Kelayakan pada tanggal Studi
Kelayakan (cut off date)
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
Studi Kelayakan .
14. Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Studi Kelayakan profesional telah disajikan
sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan ini kami peroleh dari sumber yang telah
terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 63 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 65
Penilai Tanda Tangan Penanggung Jawab: M. Ichsan Suud, S.P., M.B.A., MAPPI (Cert.) Izin Penilai Bisnis No. : B-1.16.00453 MAPPI No. : 10-S-02571 STTD Bapepam No. : STTD.PB-50/PJ-1/PM.021/2025 RMK No. : RMK-2017-00526 Pemeriksa: Bangkit Widhi Raharjo, S.E MAPPI No. : 15-T-06112 RMK : RMK-2017.01119 Penilai : Yus Dwiantoro, S.Kom. MAPPI No. : 21-P-10897 RMK No. : RMK-2023.04530 Penilai : Fajar Alfariz, S.T MAPPI No. : 22-P-11692 RMK : RMK-2024.04936 Penilai : Ratu Ayu Okta K., S.Ak. MAPPI No. : 24-P-12454 RMK No. : RMK-2026.05227 Halaman 64 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 66
LAMPIRAN Halaman 65 00107/2.0176-00/BS/06/0453/1/VI/2026
Page 67
Lampiran 1
ASUMSI PROYEKSI KEUANGAN
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
1. Asumsi Umum
GDP % 4,94% 4,96% 4,96% 5,11% 5,14%
Inflasi % 1,84% 2,91% 2,52% 2,52% 2,52%
Pajak % 22% 22% 22% 22% 22%
Bunga Utang Investasi % 8,4% 8,4% 8,4% 8,4% 8,4%
Hari Hari 365 365 365 365 365
Bulan Bulan 12 12 12 12 12
2. Asumsi Pendapatan
Periode Operasional
Kapal Eksisting
LS 88 Bulan 12 10 12 12 10
CJH 10 Bulan 12 10 12 12 10
CJH 9 Bulan 10 12 12 10 12
CJH 8 Bulan 12 10 12 11 11
CJH 7 Bulan 12 12 10 12 10
Rencana Kapal Baru
CJH 99 Bulan 1 12 12 10 12
CJH 88 Bulan 1 12 12 10 12
CJH 77 Bulan 1 12 12 10 12
Kapal Baru 1 Bulan 7 12 12
Kapal Baru 2 Bulan 7 12 12
Tarif Kapal Per Bulan
LS 88 Rp Juta 645 600 600 600 600
CJH 10 Rp Juta 1.160 1.100 1.100 1.100 1.100
CJH 9 Rp Juta 590 600 600 600 600
CJH 8 Rp Juta 1.476 1.400 1.400 1.400 1.400
CJH 7 Rp Juta 1.160 1.100 1.100 1.100 1.100
CJH 99 Rp Juta 1.500 1.500 1.500 1.500 1.500
CJH 88 Rp Juta 1.400 1.400 1.400 1.400 1.400
CJH 77 Rp Juta 1.400 1.400 1.400 1.400 1.400
Kapal Baru 1 Rp Juta 1.500 1.500 1.500
Kapal Baru 2 Rp Juta 1.357 1.417 1.417
3. Asumsi Biaya
Beban Pokok Pendapatan % Sales 65,67% 66,98% 66,98% 67,65% 67,65%
Pemakaian bahan % Sales 18,49% 18,86% 18,86% 19,05% 19,05%
Overhead % Sales 9,68% 9,88% 9,88% 9,98% 9,98%
Karyawan % Sales 6,30% 6,43% 6,43% 6,49% 6,49%
Pemeliharaan % Sales 2,80% 2,85% 2,85% 2,88% 2,88%
Perlengkapan kapal % Sales 2,72% 2,78% 2,78% 2,81% 2,81%
Keagenan % Sales 1,94% 1,98% 1,98% 2,00% 2,00%
Penyusutan % Sales 23,7% 24,2% 24,2% 24,5% 24,5%
Pemakaian bahan Rp Juta 9.959 10.248 10.506 10.771 11.042
Overhead Rp Juta 5.215 5.367 5.502 5.640 5.782
Karyawan Rp Juta 3.446 3.546 3.636 3.727 3.821
Pemeliharaan Rp Juta 1.506 1.550 1.589 1.629 1.670
Perlengkapan kapal Rp Juta 1.467 1.510 1.548 1.587 1.627
Keagenan Rp Juta 1.045 1.076 1.103 1.131 1.159
Beban Operasional % Sales 11,39% 7,23% 6,04% 5,94% 5,93%
Beban Gaji, THR dan tunjangan lainnya % Sales 6,82% 4,33% 3,62% 3,56% 3,55%
Beban Pemeliharaan % Sales 2,37% 1,50% 1,26% 1,24% 1,23%
Beban Tenaga Ahli % Sales 0,88% 0,56% 0,47% 0,46% 0,46%
Beban Transportasi % Sales 0,50% 0,32% 0,27% 0,26% 0,25%
Beban Listrik, air dan telepon % Sales 0,06% 0,04% 0,03% 0,03% 0,03%
Beban Penyusutan % Sales 0,09% 0,06% 0,05% 0,05% 0,05%
Beban Retribusi dan sumbangan % Sales 0,10% 0,06% 0,05% 0,05% 0,05%
Beban dan denda pajak % Sales 0,01% 0,01% 0,01% 0,01% 0,01%
Beban Imbalan kerja % Sales 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Beban Sewa Gudang % Sales 0,16% 0,10% 0,08% 0,08% 0,08%
Beban lain-lain % Sales 0,39% 0,25% 0,21% 0,20% 0,20%
Pajak
Beban Pajak Final Pasal 15 % Sales 1,20% 1,20% 1,20% 1,20% 1,20%
Beban Pajak Penghasilan Non Final % 0,05% 0,03% 0,03% 0,03% 0,03%
Alokasi Beban Penyusutan
Beban pokok pendapatan % 99% 99% 99% 99% 99%
Beban operasional % 1% 1% 1% 1% 1%
4. Asumsi Lainnya
Hari Perputaran Piutang Hari 28 32 36 39 37
Hari Perputaran Persediaan Hari - - - - -
Hari Perputaran Utang Hari 5 17 22 22 13
Page 68
Lampiran 2
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
31-Dec 31-Dec 31-Dec 31-Dec 31-Dec
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan setara kas Rp Juta 17.396 64.827 30.435 94.727 160.203
Piutang usaha Rp Juta 4.954 9.048 12.402 14.294 13.908
Piutang lain-lain Rp Juta 96 96 96 96 96
Uang Muka Rp Juta 35.376 35.376 35.376 35.376 35.376
Klaim Pajak Rp Juta 68 68 68 68 68
Beban dibayar di muka Rp Juta 834 834 834 834 834
Total Aset lancar Rp Juta 58.723 110.249 79.211 145.395 210.484
Aset Tidak Lancar
Piutang lain-lain - Pihak berelasi Rp Juta 3 3 3 3 3
Aset tetap Rp Juta 282.260 261.175 334.591 312.765 291.821
Total Aset Tidak Lancar Rp Juta 282.263 261.178 334.594 312.768 291.824
TOTAL ASET Rp Juta 340.986 371.427 413.806 458.162 502.309
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Jangka pendek
Utang Usaha - Pihak ketiga Rp Juta 685 3.082 4.633 4.773 2.896
Beban Akrual Rp Juta 6.391 6.391 6.391 6.391 6.391
Utang Pajak Rp Juta 324 324 324 324 324
Utang lain-lain - pihak ketiga Rp Juta 691 691 691 691 691
Jaminan pendapatan Rp Juta 1.100 1.100 1.100 1.100 1.100
Total Liabilitas jangka pendek Rp Juta 9.190 11.587 13.138 13.278 11.401
Liabilitas Jangka Panjang
Utank Bank Rp Juta - - - - -
Utang lain-lain - pihak berelasi Rp Juta 6.116 6.116 6.116 6.116 6.116
Utang lain-lain - pihak ketiga Rp Juta - - - - -
Liabilitas imbalan kerja Rp Juta 563 563 563 563 563
Jaminan Penjualan Rp Juta - - - - -
Total Liabilitas jangka Panjang Rp Juta 6.679 6.679 6.679 6.679 6.679
Total Liabilitas Rp Juta 15.868 18.266 19.817 19.957 18.079
Ekuitas
Modal saham Rp Juta 72.000 72.000 72.000 72.000 72.000
Tambahan modal disetor Rp Juta 152.944 152.944 152.944 152.944 152.944
Saldo laba (rugi) Rp Juta 5.400 33.443 74.270 118.487 164.511
Dicadangkan Rp Juta 300 300 300 300 300
Belum dicadangkan Rp Juta 7.771 7.771 7.771 7.771 7.771
Penghasilan komprehensif lain Rp Juta 86.377 86.377 86.377 86.377 86.377
Kepentingan non-pengendali Rp Juta 326 326 326 326 326
Jumlah Ekuitas Rp Juta 325.118 353.162 393.988 438.206 484.229
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS Rp Juta 340.986 371.427 413.806 458.162 502.309
Page 69
Lampiran 3
PROYEKSI LABA RUGI
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan Rp Juta 63.485 103.000 127.000 133.000 137.200
Kapal Eksisting Rp Juta 59.185 51.400 55.400 55.000 50.600
Kapal Baru Rp Juta 4.300 51.600 71.600 78.000 86.600
Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Pemakaian bahan Rp Juta 11.739 19.426 23.953 25.335 26.135
Overhead Rp Juta 6.147 10.173 12.543 13.267 13.686
Karyawan Rp Juta 4.000 6.620 8.162 8.633 8.906
Pemeliharaan Rp Juta 1.776 2.939 3.623 3.833 3.954
Perlengkapan kapal Rp Juta 1.730 2.862 3.529 3.733 3.851
Keagenan Rp Juta 1.232 2.039 2.514 2.659 2.743
Penyusutan Rp Juta 23.355 22.109 22.547 21.725 22.026
Laba Kotor Rp Juta 13.506 36.832 50.127 53.814 55.898
Biaya Operasional Rp Juta 7.312 7.519 7.744 7.967 8.194
Laba (Rugi) Operasional Rp Juta 6.194 29.312 42.383 45.847 47.704
OTHER INCOME (EXPENSES)
Pendapatan Keuangan Rp Juta
Biaya Keuangan Rp Juta - - - - -
Biaya Lainnya bersih Rp Juta
Jumlah Pendapatan (Beban) Lainnya Rp Juta - - - - -
Laba Sebelum Pajak Penghasilan Rp Juta 6.194 29.312 42.383 45.847 47.704
Beban pajak penghasilan Rp Juta (794) (1.268) (1.557) (1.630) (1.681)
Laba Bersih Tahun Berjalan Rp Juta 5.400 28.044 40.827 44.217 46.023
Page 70
Lampiran 4
PROYEKSI ARUS KAS
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Operasi
Laba Bersih Rp Juta 5.400 28.044 40.827 44.217 46.023
Beban Penyusutan Rp Juta 23.495 22.241 22.682 21.854 22.158
(Pendapatan) Beban Non Kas Lainnya Rp Juta
Kas Operasi Sebelum Perubahan Modal Kerja Rp Juta 28.894 50.285 63.509 66.072 68.181
Perubahan Modal Kerja
Piutang Usaha Rp Juta (2.154) (4.094) (3.355) (1.891) 386
Persediaan Rp Juta
Utang Usaha Rp Juta 439 2.397 1.552 139 (1.877)
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Operasi Rp Juta 27.179 48.588 61.706 64.320 66.690
Arus Kas Investasi
Pembelian Aktiva Tetap Rp Juta (151.537) (1.156) (96.098) (28) (1.214)
Penjualan aset Rp Juta
Aset tetap lainnya Rp Juta
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Investasi Rp Juta (151.537) (1.156) (96.098) (28) (1.214)
Arus Kas Pendanaan
Setoran Modal Rp Juta
Penambahan Hutang Bank Rp Juta -
Pembayaran Hutang Bank Rp Juta - - - - -
Penambahan Hutang Pemegang Saham Rp Juta
Pembayaran Hutang Pemegang Saham Rp Juta
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Pendanaan Rp Juta - - - - -
Kenaikan Penurunan Kas Rp Juta (124.358) 47.431 (34.392) 64.292 65.475
Kas Awal Tahun Rp Juta 141.754 17.396 64.827 30.435 94.727
Kas Akhir Tahun Rp Juta 17.396 64.827 30.435 94.727 160.203
Page 71
Lampiran 5
PROYEKSI PENDAPATAN
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan
LS 88 Rp Juta 7.739 6.000 7.200 7.200 6.000
CJH 10 Rp Juta 13.916 11.000 13.200 13.200 11.000
CJH 9 Rp Juta 5.904 7.200 7.200 6.000 7.200
CJH 8 Rp Juta 17.711 14.000 16.800 15.400 15.400
CJH 7 Rp Juta 13.916 13.200 11.000 13.200 11.000
CJH 99 Rp Juta 1.500 18.000 18.000 15.000 18.000
CJH 88 Rp Juta 1.400 16.800 16.800 14.000 16.800
CJH 77 Rp Juta 1.400 16.800 16.800 14.000 16.800
Kapal Baru 1 Rp Juta - - 10.500 18.000 18.000
Kapal Baru 2 Rp Juta - - 9.500 17.000 17.000
Subtotal Pendapatan Garam Rp Juta 63.485 103.000 127.000 133.000 137.200
TOTAL PENDAPATAN Rp Juta 63.485 103.000 127.000 133.000 137.200
Page 72
Lampiran 6
PROYEKSI HARGA POKOK PENDAPATAN
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Pokok Pendapatan
Pemakaian bahan Rp Juta 11.739 19.426 23.953 25.335 26.135
Overhead Rp Juta 6.147 10.173 12.543 13.267 13.686
Karyawan Rp Juta 4.000 6.620 8.162 8.633 8.906
Pemeliharaan Rp Juta 1.776 2.939 3.623 3.833 3.954
Perlengkapan kapal Rp Juta 1.730 2.862 3.529 3.733 3.851
Keagenan Rp Juta 1.232 2.039 2.514 2.659 2.743
Penyusutan Rp Juta 23.355 22.109 22.547 21.725 22.026
Total Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Total Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Page 73
Lampiran 7
PROYEKSI BEBAN OPERASIONAL
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Operasional
Beban Gaji, THR dan tunjangan lainnya Rp Juta 4.333 4.463 4.597 4.735 4.877
Beban Pemeliharaan Rp Juta 1.504 1.549 1.596 1.644 1.693
Beban Tenaga Ahli Rp Juta 560 577 594 612 630
Beban Transportasi Rp Juta 317 327 337 347 347
Beban Listrik, air dan telepon Rp Juta 41 42 43 44 46
Beban Penyusutan Rp Juta 140 132 135 130 132
Beban Retribusi dan sumbangan Rp Juta 63 64 66 68 70
Beban dan denda pajak Rp Juta 6 7 7 7 7
Beban Sewa Gudang Rp Juta 100 103 106 109 113
Beban lain-lain Rp Juta 248 256 263 271 279
TOTAL BEBAN OPERASIONAL Rp Juta 7.312 7.519 7.744 7.967 8.194
Page 74
Lampiran 8
PROYEKSI BEBAN PAJAK PENGHASILAN
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Pajak
Beban Pajak Final Pasal 15 Rp Juta 760 1.233 1.520 1.592 1.642
Beban Pajak Penghasilan Non Final Rp Juta 35 36 37 38 39
TOTAL BEBAN PAJAK Rp Juta 794 1.268 1.557 1.630 1.681
Page 75
Lampiran 9
PROYEKSI ASET TETAP
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Harga Perolehan Awal
Kapal Rp Juta 171.147 334.147 334.147 430.047 430.047
Docking Rp Juta 23.126 23.126 24.283 24.283 24.283
Peralatan Kapal Rp Juta 3.627 3.627 3.627 3.808 3.808
Peralatan Kantor Rp Juta 318 318 318 334 334
Kendaraan Rp Juta 531 558 558 558 586
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta 11.490 - - - -
Total Harga Perolehan Rp Juta 210.239 361.775 362.932 459.030 459.058
Capex / Deductions / Reclassifications
Kapal Rp Juta 163.000 95.901
Docking Rp Juta 1.156 1.214
Peralatan Kapal Rp Juta 181
Peralatan Kantor Rp Juta 16
Kendaraan Rp Juta 27 28
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta (11.490) - - - -
Total Capex / Deductions / Reclassifications Rp Juta 151.537 1.156 96.098 28 1.214
Harga Perolehan Akhir
Kapal Rp Juta 334.147 334.147 430.047 430.047 430.047
Docking Rp Juta 23.126 24.283 24.283 24.283 25.497
Peralatan Kapal Rp Juta 3.627 3.627 3.808 3.808 3.808
Peralatan Kantor Rp Juta 318 318 334 334 334
Kendaraan Rp Juta 558 558 558 586 586
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta - - - - -
Total Nilai Akhir Rp Juta 361.775 362.932 459.030 459.058 460.272
Penyusutan
Kapal Rp Juta 16.707 16.707 21.502 21.502 21.502
Docking Rp Juta 5.782 4.541 289 289 593
Peralatan Kapal Rp Juta 907 907 878 45 45
Peralatan Kantor Rp Juta 79 79 6 4 4
Kendaraan Rp Juta 20 7 7 14 14
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta
Total Penyusutan Rp Juta 23.495 22.241 22.682 21.854 22.158
15.127 24.996 30.808 32.585 33.613
Akumulasi Penyusutan
Kapal Rp Juta 57.979 74.686 96.188 117.691 139.193
Docking Rp Juta 18.875 23.416 23.705 23.994 24.586
Peralatan Kapal Rp Juta 1.887 2.794 3.672 3.718 3.763
Peralatan Kantor Rp Juta 237 316 322 326 330
Kendaraan Rp Juta 538 544 551 565 578
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta
Total Akumulasi Penyusutan Rp Juta 79.515 101.756 124.438 146.293 168.450
Nilai Buku
Kapal Rp Juta 276.168 259.460 333.859 312.356 290.854
Docking Rp Juta 4.252 867 578 289 911
Peralatan Kapal Rp Juta 1.740 833 136 91 45
Peralatan Kantor Rp Juta 81 2 12 8 4
Kendaraan Rp Juta 20 13 7 21 7
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta - - - - -
Total Nilai Buku Rp Juta 282.260 261.175 334.591 312.765 291.821
Page 76
Lampiran 10
TINGKAT DISKONTO
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
URAIAN NILAI
Weighted Equity 100,00%
Weighted Debt 0,00%
Cost of Equity
Risk Free 6,70%
Beta 0,69
Risk Premium 6,69%
Country Default Spread 1,62%
Spesific Risk 0,00%
9,70%
Page 77
Lampiran 11 0 1 2 3 4
ANALISA KELAYAKAN
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
URAIAN SATUAN 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS BERSIH DENGAN PENGEMBANGAN USAHA
Laba (Rugi) Bersih Rp Juta 5.400 28.044 40.827 44.217 46.023
Beban Penyusutan Rp Juta 23.495 22.241 22.682 21.854 22.158
Perubahan Utang Rp Juta - - - - -
Belanja Modal / Capex Rp Juta (151.537) (1.156) (96.098) (28) (1.214)
Perubahan Modal Kerja Rp Juta (1.716) (1.697) (1.803) (1.752) (1.492)
ARUS KAS BERSIH Rp Juta (124.358) 47.431 (34.392) 64.292 65.475
URAIAN #REF! #REF! #REF! #REF! #REF!
ARUS KAS BERSIH TANPA PENGEMBANGAN USAHA
Laba (Rugi) Bersih Rp Juta 12.566 10.159 16.403 17.042 14.663
Beban Penyusutan Rp Juta 15.345 14.091 9.737 8.909 9.213
Perubahan Utang Rp Juta - - - - -
Belanja Modal / Capex Rp Juta (27) (1.156) (197) (28) (1.214)
Perubahan Modal Kerja Rp Juta (1.515) 1.212 (567) (560) (62)
ARUS KAS BERSIH Rp Juta 26.369 24.306 25.376 25.363 22.599
ARUS KAS BERSIH INKREMENTAL
Laba (Rugi) Bersih Rp Juta (7.166) 17.885 24.423 27.175 31.361
Beban Penyusutan Rp Juta 8.150 8.150 12.945 12.945 12.945
Perubahan Utang Rp Juta - - - - -
Belanja Modal / Capex Rp Juta (151.510) - (95.901) - -
Perubahan Modal Kerja Rp Juta (201) (2.909) (1.236) (1.191) (1.429)
Terminal Value Rp Juta 426.243
ARUS KAS BERSIH Rp Juta (150.728) 23.126 (59.768) 38.929 469.120
Discount Rate % 9,70% 9,70% 9,70% 9,70% 9,70%
Discount Factor x 0,9116 0,8310 0,7575 0,6906 0,6295
PV ARUS KAS BERSIH Rp Juta (137.403) 19.217 (45.277) 26.883 295.322
INDIKATOR KELAYAKAN SATUAN JUMLAH & KETERANGAN
NPV Rp Juta 158.743 Layak Cek #REF!
IRR % 32,85% Layak
Payback Period - 8 Tahun 5 Bulan
Profitability Index x 1,73 Layak
Page 78
Lampiran 12
ANALISIS BREAK EVEN POINT
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Deskripsi Satuan 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan bersih Rp Juta 63.485 103.000 127.000 133.000 137.200
Biaya Variabel Rp Juta 49.979 66.168 76.873 79.186 81.302
Biaya Tetap Rp Juta 7.312 7.519 7.744 7.967 8.194
BEP Rp Juta 34.369 21.028 19.619 19.690 20.111
BEP Average Rp Juta 22.964
Page 79
Lampiran 13
ANALISIS SENSITIVITAS
Proyeksi Keuangan Dengan Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Sensitivitas Tingkat Sensitivitas
Tarif Kapal 100%
Biaya 100%
Bulan Operasional 100%
Perubahan Harga Penjualan
Kriteria Satuan
80% 90% 100% 110% 120%
NPV Rp Juta 61.148 109.945 158.743 207.541 256.339
IRR % 19,79% 26,68% 32,85% 38,47% 43,66%
PI x 1,28 1,51 1,73 1,96 2,18
Payback Period Tahun 10 Tahun 0 Bulan 9 Tahun 5 Bulan 8 Tahun 5 Bulan 7 Tahun 7 Bulan 6 Tahun 12 Bulan
Page 80
Lampiran 14
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
31-Dec 31-Dec 31-Dec 31-Dec 31-Dec 31-Dec
URAIAN SATUAN
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan setara kas Rp Juta 141.754 168.123 192.429 217.805 243.169 265.768
Piutang usaha Rp Juta 2.799 4.618 4.515 5.410 5.911 5.129
Piutang lain-lain Rp Juta 96 96 96 96 96 96
Uang Muka Rp Juta 35.376 35.376 35.376 35.376 35.376 35.376
Klaim Pajak Rp Juta 68 68 68 68 68 68
Beban dibayar di muka Rp Juta 834 834 834 834 834 834
Total Aset lancar Rp Juta 180.927 209.115 233.318 259.589 285.453 307.271
Aset Tidak Lancar
Piutang lain-lain - Pihak berelasi Rp Juta 3 3 3 3 3 3
Aset tetap Rp Juta 154.218 138.900 125.965 116.426 107.544 99.545
Total Aset Tidak Lancar Rp Juta 154.221 138.903 125.968 116.428 107.547 99.548
TOTAL ASET Rp Juta 335.148 348.018 359.286 376.018 393.000 406.819
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Jangka pendek
Utang Usaha - Pihak ketiga Rp Juta 246 550 1.659 1.988 1.928 1.084
Beban Akrual Rp Juta 6.391 6.391 6.391 6.391 6.391 6.391
Utang Pajak Rp Juta 324 324 324 324 324 324
Utang lain-lain - pihak ketiga Rp Juta 691 691 691 691 691 691
Jaminan pendapatan Rp Juta 1.100 1.100 1.100 1.100 1.100 1.100
Total Liabilitas jangka pendek Rp Juta 8.751 9.055 10.164 10.493 10.433 9.589
Liabilitas Jangka Panjang
Utank Bank Rp Juta - - - - -
Utang lain-lain - pihak berelasi Rp Juta 6.116 6.116 6.116 6.116 6.116 6.116
Utang lain-lain - pihak ketiga Rp Juta - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja Rp Juta 563 563 563 563 563 563
Jaminan Penjualan Rp Juta - - - - - -
Total Liabilitas jangka Panjang Rp Juta 6.679 6.679 6.679 6.679 6.679 6.679
Total Liabilitas Rp Juta 15.430 15.734 16.843 17.171 17.112 16.268
Ekuitas
Modal saham Rp Juta 72.000 72.000 72.000 72.000 72.000 72.000
Tambahan modal disetor Rp Juta 152.944 152.944 152.944 152.944 152.944 152.944
Saldo laba (rugi) Rp Juta - 12.566 22.725 39.128 56.170 70.833
Dicadangkan Rp Juta 300 300 300 300 300 300
Belum dicadangkan Rp Juta 7.771 7.771 7.771 7.771 7.771 7.771
Penghasilan komprehensif lain Rp Juta 86.377 86.377 86.377 86.377 86.377 86.377
Kepentingan non-pengendali Rp Juta 326 326 326 326 326 326
Jumlah Ekuitas Rp Juta 319.718 332.284 342.443 358.846 375.889 390.551
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS Rp Juta 335.148 348.018 359.286 376.018 393.000 406.819
Page 81
Lampiran 15
PROYEKSI LABA RUGI
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan Rp Juta 59.185 51.400 55.400 55.000 50.600
Kapal Eksisting Rp Juta 59.185 51.400 55.400 55.000 50.600
Kapal Baru Rp Juta
Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 40.150 35.630 32.978 31.986 30.439
Pemakaian bahan Rp Juta 10.944 9.504 10.244 10.170 9.356
Overhead Rp Juta 5.731 4.977 5.364 5.326 4.900
Karyawan Rp Juta 3.787 3.289 3.545 3.519 3.238
Pemeliharaan Rp Juta 1.655 1.438 1.550 1.538 1.415
Perlengkapan kapal Rp Juta 1.613 1.400 1.509 1.499 1.379
Keagenan Rp Juta 1.149 998 1.075 1.067 982
Penyusutan Rp Juta 15.272 14.024 9.690 8.867 9.169
Laba Kotor Rp Juta 19.035 15.770 22.422 23.014 20.161
Biaya Operasional Rp Juta 5.728 4.978 5.340 5.298 4.879
Laba (Rugi) Operasional Rp Juta 13.307 10.792 17.082 17.716 15.283
OTHER INCOME (EXPENSES)
Pendapatan Keuangan Rp Juta
Biaya Keuangan Rp Juta - - - - -
Biaya Lainnya bersih Rp Juta
Jumlah Pendapatan (Beban) Lainnya Rp Juta - - - - -
Laba Sebelum Pajak Penghasilan Rp Juta 13.307 10.792 17.082 17.716 15.283
Beban pajak penghasilan Rp Juta (741) (633) (679) (674) (620)
Laba Bersih Tahun Berjalan Rp Juta 12.566 10.159 16.403 17.042 14.663
Page 82
Lampiran 16
PROYEKSI ARUS KAS
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Operasi
Laba Bersih Rp Juta 12.566 10.159 16.403 17.042 14.663
Beban Penyusutan Rp Juta 15.345 14.091 9.737 8.909 9.213
(Pendapatan) Beban Non Kas Lainnya Rp Juta
Kas Operasi Sebelum Perubahan Modal Kerja Rp Juta 27.911 24.250 26.140 25.952 23.875
Perubahan Modal Kerja
Piutang Usaha Rp Juta (1.819) 103 (895) (501) 782
Persediaan Rp Juta
Utang Usaha Rp Juta 304 1.109 328 (60) (844)
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Operasi Rp Juta 26.396 25.462 25.573 25.391 23.813
Arus Kas Investasi
Pembelian Aktiva Tetap Rp Juta (27) (1.156) (197) (28) (1.214)
Penjualan aset Rp Juta
Aset tetap lainnya Rp Juta
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Investasi Rp Juta (27) (1.156) (197) (28) (1.214)
Arus Kas Pendanaan
Setoran Modal Rp Juta
Penambahan Hutang Bank Rp Juta
Pembayaran Hutang Bank Rp Juta
Penambahan Hutang Pemegang Saham Rp Juta
Pembayaran Hutang Pemegang Saham Rp Juta
Kenaikan (Penurunan) Arus Kas Pendanaan Rp Juta - - - - -
Kenaikan Penurunan Kas Rp Juta 26.369 24.306 25.376 25.363 22.599
Kas Awal Tahun Rp Juta 141.754 168.123 192.429 217.805 243.169
Kas Akhir Tahun Rp Juta 168.123 192.429 217.805 243.169 265.768
Page 83
Lampiran 17
PROYEKSI PENDAPATAN
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan
LS 88 Rp Juta 7.739 6.000 7.200 7.200 6.000
CJH 10 Rp Juta 13.916 11.000 13.200 13.200 11.000
CJH 9 Rp Juta 5.904 7.200 7.200 6.000 7.200
CJH 8 Rp Juta 17.711 14.000 16.800 15.400 15.400
CJH 7 Rp Juta 13.916 13.200 11.000 13.200 11.000
TOTAL PENDAPATAN #REF! 59.185 51.400 55.400 55.000 50.600
Page 84
Lampiran 18
PROYEKSI HARGA POKOK PENDAPATAN
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Pokok Pendapatan
Pemakaian bahan Rp Juta 10.944 9.504 10.244 10.170 9.356
Overhead Rp Juta 5.731 4.977 5.364 5.326 4.900
Karyawan Rp Juta 3.787 3.289 3.545 3.519 3.238
Pemeliharaan Rp Juta 1.655 1.438 1.550 1.538 1.415
Perlengkapan kapal Rp Juta 1.613 1.400 1.509 1.499 1.379
Keagenan Rp Juta 1.149 998 1.075 1.067 982
Penyusutan Rp Juta 15.272 14.024 9.690 8.867 9.169
Total Beban Pokok Pendapatan Rp Juta 40.150 35.630 32.978 31.986 30.439
Total Beban Pokok Pendpatan Rp Juta 40.150 35.630 32.978 31.986 30.439
Page 85
Lampiran 19
PROYEKSI BEBAN OPERASIONAL
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Biaya Operasional
Beban Gaji, THR dan tunjangan lainnya Rp Juta 3.445 2.992 3.225 3.202 2.945
Beban Pemeliharaan Rp Juta 522 453 488 485 446
Beban Tenaga Ahli Rp Juta 410 356 384 381 351
Beban Transportasi Rp Juta 202 175 189 187 172
Beban Listrik, air dan telepon Rp Juta 82 72 77 77 70
Beban Penyusutan Rp Juta 73 67 47 43 44
Beban Retribusi dan sumbangan Rp Juta 116 101 108 108 99
Beban dan denda pajak Rp Juta 251 218 235 233 215
Beban Imbalan kerja Rp Juta 259 225 243 241 222
Penyisihan penuruan nilai piutang Rp Juta - - - - -
Pemulihan penuruan nilai piutang Rp Juta - - - - -
Beban Sewa Gudang Rp Juta 35 30 33 33 30
Beban lain-lain Rp Juta 332 289 311 309 284
TOTAL BEBAN OPERASIONAL Rp Juta 5.728 4.978 5.340 5.298 4.879
Page 86
Lampiran 20
PROYEKSI BEBAN PAJAK PENGHASILAN
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Beban Pajak
Beban Pajak Final Pasal 15 Rp Juta 708 615 663 658 606
Beban Pajak Penghasilan Non Final Rp Juta 32 18 16 16 14
TOTAL BEBAN PAJAK Rp Juta 741 633 679 674 620
Page 87
Lampiran 21
PROYEKSI ASET TETAP
Proyeksi Keuangan Tanpa Pengembangan Usaha
Studi Kelayakan PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk
Per tanggal 31 Desember 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des Jan-Des
URAIAN SATUAN
2026 2027 2028 2029 2030
Harga Perolehan Awal
Kapal Rp Juta 171.147 171.147 171.147 171.147 171.147
Docking Rp Juta 23.126 23.126 24.283 24.283 24.283
Peralatan Kapal Rp Juta 3.627 3.627 3.627 3.808 3.808
Peralatan Kantor Rp Juta 318 318 318 334 334
Kendaraan Rp Juta 531 558 558 558 586
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta 11.490 11.490 11.490 11.490 11.490
Total Harga Perolehan Rp Juta 210.239 210.265 211.421 211.619 211.647
Capex / Deductions / Reclassifications
Kapal Rp Juta
Docking Rp Juta 1.156 1.214
Peralatan Kapal Rp Juta 181
Peralatan Kantor Rp Juta 16
Kendaraan Rp Juta 27 28
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta
Total Capex / Deductions / Reclassifications Rp Juta 27 1.156 197 28 1.214
Harga Perolehan Akhir
Kapal Rp Juta 171.147 171.147 171.147 171.147 171.147
Docking Rp Juta 23.126 24.283 24.283 24.283 25.497
Peralatan Kapal Rp Juta 3.627 3.627 3.808 3.808 3.808
Peralatan Kantor Rp Juta 318 318 334 334 334
Kendaraan Rp Juta 558 558 558 586 586
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta 11.490 11.490 11.490 11.490 11.490
Total Nilai Akhir Rp Juta 210.265 211.421 211.619 211.647 212.861
Penyusutan
Kapal Rp Juta 8.557 8.557 8.557 8.557 8.557
Docking Rp Juta 5.782 4.541 289 289 593
Peralatan Kapal Rp Juta 907 907 878 45 45
Peralatan Kantor Rp Juta 79 79 6 4 4
Kendaraan Rp Juta 20 7 7 14 14
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta
Total Penyusutan Rp Juta 15.345 14.091 9.737 8.909 9.213
15.127 24.996 30.808 32.585 33.613
Akumulasi Penyusutan
Kapal Rp Juta 49.829 58.386 66.943 75.501 84.058
Docking Rp Juta 18.875 23.416 23.705 23.994 24.586
Peralatan Kapal Rp Juta 1.887 2.794 3.672 3.718 3.763
Peralatan Kantor Rp Juta 237 316 322 326 330
Kendaraan Rp Juta 538 544 551 565 578
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta
Total Akumulasi Penyusutan Rp Juta 71.365 85.456 95.193 104.103 113.315
Nilai Buku
Kapal Rp Juta 121.318 112.760 104.203 95.646 87.088
Docking Rp Juta 4.252 867 578 289 911
Peralatan Kapal Rp Juta 1.740 833 136 91 45
Peralatan Kantor Rp Juta 81 2 12 8 4
Kendaraan Rp Juta 20 13 7 21 7
Aset dalam Penyelesaian Rp Juta 11.490 11.490 11.490 11.490 11.490
Total Nilai Buku Rp Juta 138.900 125.965 116.426 107.544 99.545
Page 88
Page 89
Page 90
Names mentioned 57 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.2 ×8
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.2 ×7
unresolved
org
KJPP FDI
p.2 ×4
unresolved
org
BAPEPAM-LK
p.2 ×8
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik
p.2 ×3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.3 ×12
unresolved
person
MBA.
p.11 ×2
unresolved
org
Bapepam
p.11 ×4
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.14
unresolved
—
Telepon/Fax
p.14
unresolved
—
Penanggung Jawab
p.14
unresolved
person
Adi Jatmika
· Notaris
p.17 ×2
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.17 ×2
unresolved
person
Adelia Aryni Setiawan
· Komisaris
p.17 ×2
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Djoko
p.18 ×5
unresolved
person
David Wahyu Saputra
p.18 ×2
unresolved
org
PT Tegal Shipyard Utama
p.18 ×3
unresolved
org
PT Untung Brawijaya Sejahtera
p.18 ×6
unresolved
person
Akta Notaris Susanto Tjiptowidjojo
p.19 ×2
unresolved
person
Rosida Rajagukguk Siregar
p.19
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.19
unresolved
org
Menteri Perhubungan
p.20 ×5
unresolved
org
Bank Indonesia Inflasi Inflasi Indeks Harga Konsumen
p.29
unresolved
org
Kota Nusantara
p.34
unresolved
org
PT Tegal
p.39
unresolved
org
PT Untung
p.39 ×2
unresolved
person
Drs. Djunggu Harungguan Sitorus
· Komisaris Independen
p.45
unresolved
person
Akt.
p.45
unresolved
—
Willyharto Tjandra
· Direktur
p.45
unresolved
org
PT Bunga Nusa Mahakam. Pengalaman
p.45
unresolved
—
Anthony Samuel Rahmatharun
· Direktur Keuangan
p.45
unresolved
—
Setyawan
· 2008.
p.46
unresolved
person
Drs. Djunggu
· Komisaris
p.46
unresolved
person
Sitorus, Akt.,
· independen, dan tata kelola
p.46
unresolved
person
Berpengalaman
· Direktur
p.46
unresolved
person
Willyharto
· Direktur
p.46
unresolved
person
Anthony
· Direktur
p.46
unresolved
—
Rahmatharun
· 2017 dan latar belakang
p.46
unresolved
org
PT Tegal Shipyard
p.52
unresolved
org
PT Untung Brawijaya
p.52 ×2
unresolved
person
Bangkit Widhi Raharjo
p.65
unresolved
person
Yus Dwiantoro
p.65
unresolved
person
Fajar Alfariz
p.65
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
6509 ms
12 Sep 2026 21:50
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}