Back to announcement
20250520_TRIM_Laporan Informasi dan Fakta Material_31887418_lamp2.pdf
Other Text extracted TRIMSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 53
Page 1
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Lingkup Penugasan ........................................................................................................................................ ii
Analisa Kelayakan .......................................................................................................................................... v
Pernyataan Penilai.......................................................................................................................................... xii
Daftar Isi ......................................................................................................................................................... xiv
Istilah-Istilah Penilaian .................................................................................................................................... xv
PROSES STUDI KELAYAKAN
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ............................................................................................................. 1
Profil Perusahaan...................................................................................................................................... 1
Bidang Usaha............................................................................................................................................ 1
Struktur Permodalan dan Pemegang Saham ............................................................................................ 2
Susunan Anggota Direksi dan Dewan Komisaris ...................................................................................... 2
Struktur Organisasi Perusahaan ............................................................................................................... 2
Kinerja Keuangan...................................................................................................................................... 3
KELAYAKAN PASAR ..................................................................................................................................... 9
Kondisi Pasar ............................................................................................................................................ 9
Pesaing Usaha .......................................................................................................................................... 14
Strategi Pemasaran................................................................................................................................... 15
STUDI KELAYAKAN ....................................................................................................................................... 17
Analisis Kelayakan Teknis......................................................................................................................... 17
Analisis Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................................................. 20
Analisis Kelayakan Model Manajemen...................................................................................................... 23
Analisis Kelayakan Keuangan ................................................................................................................... 28
Kesimpulan ............................................................................................................................................... 38
Lampiran-Lampiran
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. xiii
Page 15
ISTILAH-ISTILAH PENILAIAN Penilaian Proses pekerjaan untuk memberikan opini tertulis atas nilai ekonomi suatu objek penilaian sesuai dengan SPI. Penilai Seseorang yang memiliki kompetensi dalam melakukan kegiatan Penilaian, yang sekurang-kurangnya telah lulus Pendidikan awal Penilaian. Penilai Publik Penilai yang telah memperoleh izin dari Menteri Keuangan untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Penyelia / Reviewer / Quality Control Penilai yang bertindak sebagai pengawas yang bertugas untuk mereview dan memastikan bahwa proses penilaian oleh Pelaksana telah dilakukan dengan benar. Pelaksana / Penilai Tenaga Penilai yang bertugas untuk melaksanakan proses penilaian. Pelaksana Inspeksi / Petugas Inspeksi Pegawai KJPP yang telah mebgikuti Pendidikan tingkat dasar yang diselenggarakan atau diakui oleh Asosiasi Profesi Penilai yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan inspeksi. Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Badan usaha yang telah mendapatkan izn usaha dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi Penilai Publik dalam memberikan jasanya. Pemberi Tugas Seorang, kelompok, atau suatu entitas yang penugasan penilaiannya dilakukan. Pengguna Laporan Seorang, kelompok, atau suatu entitas sebagai pengguna hasil Penilaian yang didasarkan dari hasil perikatan penugasan antara Penilai dan Pemberi Tugas. Nilai Suatu opini dari manfaat ekonomi atas kepemilikan aset, atau harga yang paling mungkin dibayarkan untuk suatu aset dalam pertukaran, sehingga nilai bukan merupakan fakta. Dasar Nilai Premis fundamental yang mendasari nilai yang dilaporkan. Tanggal Inspeksi Tanggal pada saat inspeksi terakhir telah selesai dilaksanakan. Tanggal Penilaian Tanggal pada saat opini nilai dinyatakan. Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. xiv
Page 16
Tanggal Laporan Tanggal pada saat laporan Penilaian diterbitkan. Asumsi Umum Asumsi fakta yang konsisten dengan, atau dapat konsisten dengan yang terjadi pada tanggal Penilaian. Asumsi Khusus Asumsi fakta yang berbeda dengan yang terjadi pada tanggal Penilaian. Data Masukan Penilaian (Valuation Inputs) Data dan informasi lainnya yang digunakan pada salah satu pendekatan penilaian yang diuraikan dalam SPI. Data masukan ini dapat berupa data yang aktual atau yang diasumsikan. Lingkup Penugasan Dasar dalam pengaturan kesepakatan penugasan penilaian, tingkat kedalaman investigasi, penentuan asumsi dan Batasan penilaian. Implementasi Bagian dari tugas penilaian, merupakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh Penilai meliputi tahapan investigas, penerapan pendekatan penilaian dan penyusunan kertas kerja Investigasi Proses pengumpulan data yang cukup dengan cara melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan, dan analisis sesuai tujuan penilaian. Laporan Penilaian Suatu dokumen yang mencantumkan instruksi penugasan, tujuan dan dsar penilaian, dan hasil analisis yang menghasilkan opini nilai. Laporan Penilaian Terinci Laporan penilaian yang secara umum mendeskripsikan informasi secara detil dan komprehensif. Laporan ini seharusnya mengandung seluruh informasi yang signifikan dalam penilaian, termasuk pembahasan secara mendetil atas setiap hal yang dinyatakan dalam laporan. Laporan ini membutuhkan tingkat kedalaman investigasi sesuai yang dimaksud dalam Lingkup Penugasan. Pendekatan Penilaian Landasan proses Penilaian dilengkapi dengan dengan metode Penilaian dari masing-masing pendekatan yang digunakan. Pendekatan Pasar Pendekatan yang memberikan indikasi nilai dengan membandingkan aset dengan aset lainnya yang identik atau sebanding dimana terdapat informasi harga. Pendekatan Pendapatan Pendekatan yang memberikan indikasi nilai dengan mengkonversi arus kas masa depan menjadi satu nilai saat ini. Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. xv
Page 17
Pendekatan Biaya Pendekatan yang memberikan indikasi nilai menggunakan prinsip ekonomi bahwa pembeli akan membayar aset tidak lebih dari biaya untuk mendapatkan aset dengan utilitas yang sama, baik melalui pembelian atau dengan pembuatan konstruksi dengan mengecualikan factor-faktor seperti waktu yang tidak semestinya, ketidaknyamanan, risiko atau faktor-faktor lainnya. Metode Penilaian Masing-masing pendekatan penilaian mempunyai metode penerapan yang berbeda yang dijelaskan dalam SPI 106. Metode penilaian mengacu pada POJK dan SEOJK yang berlaku. Metode Perbandingan Data Pasar. Menggunakan informasi dari transaksi yang melibatkan aset yang diperdagangkan di bursa yang sama atau sejenis dengan aset yang dinilai untuk mendapatkan indikasi nilai. Metode Arus Kas Terdiskonto (DCF). Arus kas yang diproyeksikan didiskonto Kembali ke tanggal penilaian, menghasilkan nilai kini dari aset. Metode Penjumlahan Metode yang menghitung nilai aset dengan menjumlahkan nilai dari setiap bagian komponennya. Kelangsungan Usaha (Going Concern) Suatu kondisi yang mencerminkan usaha yang sedang beroperasi atau sekurang-kurangnya dalam proses konstruksi atau suatu premis dalam penilaian, dimana Penilai menganggap suatu perusahaan akan terus melanjutkan operasinya secara berkelanjutan. Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. xvi
Page 18
1. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1.1 PROFIL PERUSAHAAN
PT. Trimegah Asset Management selanjutnya disebut “Perusahaan” merupakan perusahaan dengan status
Perusahaan tertutup. Perusahaan didirikan berdasarkan Akta Pendirian No. 131 tanggal 28 Oktober 2010
yang dibuat di hadapan Poerbaningsih Adi Warsito, Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta. Akta Pendirian ini
disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. AHU-
51853.AH.01.01 tanggal 04 November 2010. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali
perubahan, per tanggal cut off terakhir berdasarkan Akta Notaris No. 95 tanggal 11 Oktober 2022 yang dibuat
di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Kota Administrasi Jakarta Selatan, mengenai
pernyataan keputusan pemegang saham. Perubahan tersebut disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. AHU-AH.01.09-0065255 tanggal 13 Oktober 2022.
untuk perubahan aktual terakhir berdasarkan Akta Notaris No. 29 tanggal 30 Januari 2025 yang dibuat
dihadapan Leolin Jayayanti, S.H., Mkn., Notaris di Jakarta Selatan, mengenai pernyataan keputusan sirkuler
pemegang saham. Perubahan tersebut disetujui oleh Kementrian Hukum Republik Indonesia melalui Surat
Keputusan No. AHU-AH.01.09-0040611 tanggal 31 Januari 2025.
Kantor pusat Perusahaan berlokasi di Gedung Artha Graha Lt. 9, Jalan Jenderal Sudirman Kav 52-53 RT. 5
RW. 3, Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta 12190.
Entitas induk Perusahaan adalah PT. Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk yang didirikan di Indonesia.
1.2 BIDANG USAHA
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah Manajer
Investasi, yang mencakup melakukan pengelolaan portofolio Efek untuk kepentingan nasabah tertentu
berdasarkan perjanjian pengelolaan dana yang bersifat bilateral dan individual yang disusun sesuai dengan
peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK); melakukan
pengelolaan portofolio investasi kolektif untuk kepentingan sekelompok nasabah melalui wadah atau produk-
produk yang diatur dalam peraturan Bapepam dan LK; dan atau melakukan kegiatan lain sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan Bapepam dan LK, dengan Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLI) 66311;
Kegiatan usaha yang tercantum dalam pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan sudah Perusahaan jalankan.
1.3 STRUKTUR PERMODALAN DAN PEMEGANG SAHAM
Dasar hukum yang menjadi dasar pengungkapan Strukur Permodalan dan Pemegang Saham adalah Akta
Perubahan Perseroan nomor 95 tanggal 11 Oktober 2022 yang dibuat oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.,
dimana sebagai berikut:
Modal Dasar Rp100.000.000.000 (Seratus Miliar dengan jumlah lembar saham sebanyak
Rupiah) 2.000.000.000 (Dua Miliar)
Modal Ditempatkan Rp25.000.000.000 (Dua Puluh Lima dengan jumlah lembar saham sebanyak
Miliar Rupiah) 500.000.000 (Lima Ratus Juta)
Modal Disetor Rp25.000.000.000 (Dua Puluh Lima dengan jumlah lembar saham sebanyak
Miliar Rupiah) 500.000.000 (Lima Ratus Juta)
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 1
Page 19
Susunan pemegang saham sesuai dengan Akta Perubahan Perseroan nomor 95 tanggal 11 Oktober 2022
yang dibuat oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., dimana sebagai berikut:
Saham Jumlah Presentase
Pemegang Saham
(Lembar) (Rp) Kepemilikan
PT Trimegah Sekuritas Indonesia 499.500.000 24.975.000.000 99,90%
Tbk
Garibaldi Thohir 500.000 25.000.000 0,01%
Jumlah 500.000.000 25.000.000.000 100%
1.4 SUSUNAN ANGGOTA DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS
Dasar Hukum yang menjadi dasar pengungkapan Susunan Anggota Direksi dan Dewan Komisaris adalah
Akta Notaris No. 29 tanggal 30 Januari 2025 yang dibuat dihadapan Leolin Jayayanti, S.H, Dimana sebagai
berikut :
Direktur Utama : Antony Dirga
Direktur : Hendra Wijaya Harahap
Direktur : Darmayudha
Komisaris : Agus Dharma Priyambada
Komisaris Independen : Togu Cornetius Simanjuntak
1.5 STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN
Dalam setiap organisasi diperlukan ketegasan dalam pembagian tugas yang disesuaikan dengan bagan
organisasi, pendelegasian wewenang yang jelas dan koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga
kerja yang sesuai dengan pengalaman, keahlian dan keterampilannya merupakan faktor yang penting dalam
menerapkan kebijaksanaan perusahaan. Hal ini juga akan memperlancar pendelegasian tugas kepada unit
di bawahnya atau sebaliknya, yang pada akhirnya akan memperlancar kerja perusahaan.
Struktur organisasi yang telah dibuat dapat dijadikan pegangan dalam mengelola perusahaan, agar dapat
beroperasi sesuai dengan yang diharapkan. Struktur organisasi perusahaan ini disusun dengan pola yang
sederhana, yang diharapkan dapat mengelola proyek secara efektif dan efisien. Struktur organisasi ini
didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan pembagian tugas yang jelas dari seluruh
personil pengelola perusahaan secara menyeluruh. Struktur organisasi PT. Trimegah Asset Management
adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 2
Page 20
1.6 KINERJA KEUANGAN PT TRIMEGAH ASSET MANAGEMENT.
Kinerja keuangan perusahaan ditunjukkan dengan laporan keuangan yang memperlihatkan transaksi atau
perubahan pos-pos keuangan. Adapun laporan PT Trimegah Asset Management pada saat dilakukan studi
kelayakan telah diaudit, yaitu laporan keuangan yang berakhir pada:
1. Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020
dan 2019 yang telah diaudit oleh Christophorus Alvin Kossim selaku Akuntan Publik dan Kantor
Akuntan Publik (KAP) Purwanto, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan keuangan
tersebut disajikan secara wajar tanpa pengecualian.
2. Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021
dan 2020 yang telah diaudit oleh Christophorus Alvin Kossim selaku Akuntan Publik dan Kantor
Akuntan Publik (KAP) Purwanto, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan keuangan
tersebut disajikan secara wajar tanpa pengecualian.
3. Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022
dan 2021 yang telah diaudit oleh Ignatius Yokajaya selaku Akuntan Publik dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Purwanto, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan keuangan tersebut
disajikan secara wajar tanpa pengecualian.
4. Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023
dan 2022 yang telah diaudit oleh Ignatius Yokajaya selaku Akuntan Publik dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Purwanto, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan keuangan tersebut
disajikan secara wajar tanpa pengecualian.
5. Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024
dan 2023 yang telah diaudit oleh Ignatius Yokajaya selaku Akuntan Publik dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Purwanto, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan keuangan tersebut
disajikan secara wajar tanpa pengecualian.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 3
Page 21
1.6.1 Neraca Historis (Common-Size & Trend)
(dalam Ribu Rupiah)
Keterangan 2020 2021 2022 2023 2024
Des Des Des Des Des
Kas dan Setara Kas 11.645.795 57.286.280 39.811.278 5.841.969 34.887.921
Portofolio Efek 221.748.352 167.230.794 158.788.808 166.359.674 163.877.058
Piutang Usaha 10.451.908 13.525.312 16.898.787 30.576.063 25.365.017
Biaya Dibayar Dimuka 10.880.646 28.652.698 41.246.605 46.299.680 28.170.283
Piutang Lain-Lain 902.830 694.115 551.082 2.096.945 5.367.399
Pajak Dibayar Dimuka 194.187
Jumlah Aset Lancar 255.629.531 267.389.199 257.490.747 251.174.331 257.667.678
Aset tak Berwujud 378.683 412.567 285.500 186.800 198.104
Aset Tetap 1.578.280 1.403.389 1.228.849 1.230.392 2.295.456
Aset Hak Guna 8.999.120 7.199.296 6.607.396 5.506.163 4.404.930
Aset Pajak Tangguhan 8.694.795 9.916.963 6.655.120 8.578.717 8.761.385
Aset Lain-Lain 502.090 484.880 611.488 425.013 580.161
Jumlah Aset Tidak Lancar 20.152.968 19.417.095 15.388.353 15.927.085 16.240.036
JUMLAH ASET 275.782.499 286.806.294 272.879.100 267.101.416 273.907.714
Hutang Pajak 1.317.728 5.574.608 1.854.135 8.105.169 1.542.083
Beban Akrual 9.273.647 19.602.331 15.513.526 31.754.344 30.226.836
Liabilitas Sewa Bangunan 9.078.085 7.775.349 7.554.091 6.738.469 5.838.451
Liabilitas Imbalan Kerja 13.745.039 10.381.119 10.628.643 11.477.282 11.149.831
Hutang Lain-Lain 852.686 940.456 1.270.885 1.440.819 2.498.986
Jumlah Liabilitas 34.267.185 44.273.863 36.821.280 59.516.083 51.256.187
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 25.000.000 25.000.000 25.000.000 25.000.000 25.000.000
Saldo Laba 211.947.637 212.006.155 205.210.283 176.774.906 191.267.065
Penghasilan Komprehensif Lain 4.567.677 5.526.276 5.847.537 5.810.427 6.384.462
Jumlah Ekuitas 241.515.314 242.532.431 236.057.820 207.585.333 222.651.527
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 275.782.499 286.806.294 272.879.100 267.101.416 273.907.714
Keterangan Common Size
2020 2021 2022 2023 2024 AVG MED MIN MAX
Kas dan Setara Kas 4,22% 19,97% 14,59% 2,19% 12,74% 10,74% 12,74% 2,19% 19,97%
Portofolio Efek 80,41% 58,31% 58,19% 62,28% 59,83% 63,80% 59,83% 58,19% 80,41%
Piutang Usaha 3,79% 4,72% 6,19% 11,45% 9,26% 7,08% 6,19% 3,79% 11,45%
Biaya Dibayar Dimuka 3,95% 9,99% 15,12% 17,33% 10,28% 11,33% 10,28% 3,95% 17,33%
Piutang Lain-Lain 0,33% 0,24% 0,20% 0,79% 1,96% 0,70% 0,33% 0,20% 1,96%
Pajak Dibayar Dimuka 0,00% 0,00% 0,07% 0,00% 0,00% 0,01% 0,00% 0,00% 0,07%
Jumlah Aset Lancar 92,69% 93,23% 94,36% 94,04% 94,07% 93,68% 94,04% 92,69% 94,36%
Aset tak Berwujud 0,14% 0,14% 0,10% 0,07% 0,07% 0,11% 0,10% 0,07% 0,14%
Aset Tetap 0,57% 0,49% 0,45% 0,46% 0,84% 0,56% 0,49% 0,45% 0,84%
Aset Hak Guna 3,26% 2,51% 2,42% 2,06% 1,61% 2,37% 2,42% 1,61% 3,26%
Aset Pajak Tangguhan 3,15% 3,46% 2,44% 3,21% 3,20% 3,09% 3,20% 2,44% 3,46%
Aset Lain-Lain 0,18% 0,17% 0,22% 0,16% 0,21% 0,19% 0,18% 0,16% 0,22%
Jumlah Aset Tidak Lancar 7,31% 6,77% 5,64% 5,96% 5,93% 6,32% 5,96% 5,64% 7,31%
JUMLAH ASET 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Hutang Pajak 0,48% 1,94% 0,68% 3,03% 0,56% 1,34% 0,68% 0,48% 3,03%
Beban Akrual 3,36% 6,83% 5,69% 11,89% 11,04% 7,76% 6,83% 3,36% 11,89%
Liabilitas Sewa Bangunan 3,29% 2,71% 2,77% 2,52% 2,13% 2,69% 2,71% 2,13% 3,29%
Liabilitas Imbalan Kerja 4,98% 3,62% 3,90% 4,30% 4,07% 4,17% 4,07% 3,62% 4,98%
Hutang Lain-Lain 0,31% 0,33% 0,47% 0,54% 0,91% 0,51% 0,47% 0,31% 0,91%
Jumlah Liabilitas 12,43% 15,44% 13,49% 22,28% 18,71% 16,47% 15,44% 12,43% 22,28%
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 9,07% 8,72% 9,16% 9,36% 9,13% 9,09% 9,13% 8,72% 9,36%
Saldo Laba 76,85% 73,92% 75,20% 66,18% 69,83% 72,40% 73,92% 66,18% 76,85%
Penghasilan Komprehensif Lain 1,66% 1,93% 2,14% 2,18% 2,33% 2,05% 2,14% 1,66% 2,33%
Jumlah Ekuitas 87,57% 84,56% 86,51% 77,72% 81,29% 83,53% 84,56% 77,72% 87,57%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 4
Page 22
Keterangan Trend
2021 2022 2023 2024 AVG MED MIN MAX CAGR
Kas dan Setara Kas 391,91% -30,50% -85,33% 497,19% 193,32% 180,70% -85,33% 497,19% 32%
Portofolio Efek -24,59% -5,05% 4,77% -1,49% -6,59% -3,27% -24,59% 4,77% -7%
Piutang Usaha 29,41% 24,94% 80,94% -17,04% 29,56% 27,17% -17,04% 80,94% 25%
Biaya Dibayar Dimuka 163,34% 43,95% 12,25% -39,16% 45,10% 28,10% -39,16% 163,34% 27%
Piutang Lain-Lain -23,12% -20,61% 280,51% 155,96% 98,19% 67,68% -23,12% 280,51% 56%
Pajak Dibayar Dimuka 0,00% 0,00% -100,00% 0,00% -25,00% 0,00% -100,00% 0,00% 0%
Jumlah Aset Lancar 4,60% -3,70% -2,45% 2,59% 0,26% 0,07% -3,70% 4,60% 0%
Aset tak Berwujud 8,95% -30,80% -34,57% 6,05% -12,59% -12,37% -34,57% 8,95% -15%
Aset Tetap -11,08% -12,44% 0,13% 86,56% 15,79% -5,48% -12,44% 86,56% 10%
Aset Hak Guna -20,00% -8,22% -16,67% -20,00% -16,22% -18,33% -20,00% -8,22% -16%
Aset Pajak Tangguhan 14,06% -32,89% 28,90% 2,13% 3,05% 8,09% -32,89% 28,90% 0%
Aset Lain-Lain -3,43% 26,11% -30,50% 36,50% 7,17% 11,34% -30,50% 36,50% 4%
Jumlah Aset Tidak Lancar -3,65% -20,75% 3,50% 1,96% -4,73% -0,84% -20,75% 3,50% -5%
JUMLAH ASET 4,00% -4,86% -2,12% 2,55% -0,11% 0,22% -4,86% 4,00% 0%
Hutang Pajak 323,05% -66,74% 337,14% -80,97% 128,12% 128,15% -80,97% 337,14% 4%
Beban Akrual 111,38% -20,86% 104,69% -4,81% 47,60% 49,94% -20,86% 111,38% 34%
Liabilitas Sewa Bangunan -14,35% -2,85% -10,80% -13,36% -10,34% -12,08% -14,35% -2,85% -10%
Liabilitas Imbalan Kerja -24,47% 2,38% 7,98% -2,85% -4,24% -0,23% -24,47% 7,98% -5%
Hutang Lain-Lain 10,29% 35,13% 13,37% 73,44% 33,06% 24,25% 10,29% 73,44% 31%
Jumlah Liabilitas 29,20% -16,83% 61,64% -13,88% 15,03% 7,66% -16,83% 61,64% 11%
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0%
Saldo Laba 0,03% -3,21% -13,86% 8,20% -2,21% -1,59% -13,86% 8,20% -3%
Penghasilan Komprehensif Lain 20,99% 5,81% -0,63% 9,88% 9,01% 7,85% -0,63% 20,99% 9%
Jumlah Ekuitas 0,42% -2,67% -12,06% 7,26% -1,76% -1,12% -12,06% 7,26% -2%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 4,00% -4,86% -2,12% 2,55% -0,11% 0,22% -4,86% 4,00% 0%
Aset Perusahaan terdiri dari aset lancar dengan rasio 92,69%-94,36% dan aset tidak lancar dengan rasio
5,64%-7,31% dari total aset. Aset lancar Perusahaan sebagian besar berupa Portofolio Efek dengan rasio
58,19%-80,41% dan biaya dibayar dimuka dengan rasio 3,95%-17,33% dari total aset. Aset tidak lancar
Perusahaan sebagian besar berupa Aset Pajak Tangguhan dengan rasio 2,44% dan 3,46% dan Aset Hak
Guna dengan rasio 1,61% dan 3,26% dari total aset. Aset Perusahaan mengalami perubahan rata-rata
(0,11%) per tahun dimana aset lancar mengalami perubahan rata-rata 0,26% per tahun dan aset tidak lancar
mengalami perubahan rata-rata (4,73%) per tahun.
Liabilitas Perusahaan memiliki rasio sebesar 12,43%-22,28% dan Ekuitas Perusahaan memiliki rasio sebesar
77,72%-87,57% dari total liabilitas dan ekuitas. Liabilitas Perusahaan sebagian besar berupa Beban Akrual
dengan rasio 3,36%-11,89% dari total liabilitas dan ekuitas. Liabilitas perusahaan mengalami perubahan rata-
rata 15,03% per tahun
Ekuitas Perusahaan sebagian besar berupa Saldo Laba dengan rasio 66,18%-76,85% dari total liabilitas dan
ekuitas. Ekuitas Perusahaan mengalami perubahan rata-rata (1,76%) per tahun.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 5
Page 23
Laba Rugi Historis (Common Size & Trend)
(dalam Ribu Rupiah)
Keterangan 2020 2021 2022 2023 2024
Des Des Des Des Des
Investment Management Fee 109.893.316 136.126.920 165.336.524 239.286.100 245.476.327
Gain/(loss) on trading of marketable securities, net 2.331.213 6.508.962 13.331.873 4.270.469 5.643.553
Others 11.472.030 10.387.828 12.265.534 23.769.119 32.897.399
Total Pendapatan 123.696.559 153.023.710 190.933.931 267.325.688 284.017.279
Salaries and allowances (41.627.884) (43.107.482) (44.285.412) (56.283.054) (60.813.133)
Employee benefit expense (4.275.268) (1.316.592) (10.670.132) (1.741.737) (1.498.904)
Office rental (1.102.894) (1.078.430) (731.579) (1.200.265) (1.525.860)
Telecommunications (1.483.438) (1.554.034) (1.813.210) (1.667.193) (1.995.726)
General and administrative (2.643.261) (3.017.342) (4.381.105) (8.333.447) (8.285.118)
Professional fees (8.308.575) (8.560.114) (9.500.576) (10.029.171) (8.709.025)
Adv & promo - Management Fee Sharing (21.584.473) (33.344.144) (57.123.052) (103.108.064) (113.310.364)
Adv promo - Marketing and Promotions - - - - -
Bad Debt - - - - -
Training and seminar (102.172) (195.165) (413.430) (778.356) (1.129.093)
Travel (21.399) - (143.785) (338.558) (467.170)
Representations and donations (227.952) (184.963) (524.509) (1.276.554) (1.410.830)
Custodian - - - - -
Others (8.137.366) (11.186.322) (12.801.835) (14.770.277) (14.670.937)
Total Beban (89.514.682) (103.544.588) (142.388.625) (199.526.676) (213.816.160)
EBITDA 34.181.877 49.479.122 48.545.306 67.799.012 70.201.119
Pendapatan (Beban) Lain-Lain 781.267 1.999.263 622.545 1.623.206 687.242
Depreciation of fixed assets (2.307.186) (2.373.947) (2.082.207) (1.813.193) (1.866.194)
EBIT 32.655.958 49.104.438 47.085.644 67.609.025 69.022.167
Interest - - - - -
EBT 32.655.958 49.104.438 47.085.644 67.609.025 69.022.167
Tax (10.679.945) (9.045.890) (13.881.516) (16.044.402) (14.530.008)
EAT 21.976.013 40.058.548 33.204.128 51.564.623 54.492.159
Keterangan Common Size
2020 2021 2022 2023 2024 AVG MED MIN MAX
Investment Management Fee 88,84% 88,96% 86,59% 89,51% 86,43% 88,07% 88,84% 86,43% 89,51%
Gain/(loss) on trading of marketable securities, net 1,88% 4,25% 6,98% 1,60% 1,99% 3,34% 1,99% 1,60% 6,98%
Others 9,27% 6,79% 6,42% 8,89% 11,58% 8,59% 8,89% 6,42% 11,58%
Total Pendapatan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Salaries and allowances -33,65% -28,17% -23,19% -21,05% -21,41% -25,50% -23,19% -33,65% -21,05%
Employee benefit expense -3,46% -0,86% -5,59% -0,65% -0,53% -2,22% -0,86% -5,59% -0,53%
Office rental -0,89% -0,70% -0,38% -0,45% -0,54% -0,59% -0,54% -0,89% -0,38%
Telecommunications -1,20% -1,02% -0,95% -0,62% -0,70% -0,90% -0,95% -1,20% -0,62%
General and administrative -2,14% -1,97% -2,29% -3,12% -2,92% -2,49% -2,29% -3,12% -1,97%
Professional fees -6,72% -5,59% -4,98% -3,75% -3,07% -4,82% -4,98% -6,72% -3,07%
Adv & promo - Management Fee Sharing -17,45% -21,79% -29,92% -38,57% -39,90% -29,52% -29,92% -39,90% -17,45%
Adv promo - Marketing and Promotions 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Bad Debt 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Training and seminar -0,08% -0,13% -0,22% -0,29% -0,40% -0,22% -0,22% -0,40% -0,08%
Travel -0,02% 0,00% -0,08% -0,13% -0,16% -0,08% -0,08% -0,16% 0,00%
Representations and donations -0,18% -0,12% -0,27% -0,48% -0,50% -0,31% -0,27% -0,50% -0,12%
Custodian 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Others -6,58% -7,31% -6,70% -5,53% -5,17% -6,26% -6,58% -7,31% -5,17%
Total Beban -72,37% -67,67% -74,57% -74,64% -75,28% -72,91% -74,57% -75,28% -67,67%
EBITDA 27,63% 32,33% 25,43% 25,36% 24,72% 27,09% 25,43% 24,72% 32,33%
Pendapatan (Beban) Lain-Lain 0,63% 1,31% 0,33% 0,61% 0,24% 0,62% 0,61% 0,24% 1,31%
Depreciation of fixed assets -1,87% -1,55% -1,09% -0,68% -0,66% -1,17% -1,09% -1,87% -0,66%
EBIT 26,40% 32,09% 24,66% 25,29% 24,30% 26,55% 25,29% 24,30% 32,09%
Interest 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
EBT 26,40% 32,09% 24,66% 25,29% 24,30% 26,55% 25,29% 24,30% 32,09%
Tax -8,63% -5,91% -7,27% -6,00% -5,12% -6,59% -6,00% -8,63% -5,12%
EAT 17,77% 26,18% 17,39% 19,29% 19,19% 19,96% 19,19% 17,39% 26,18%
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 6
Page 24
Keterangan Trend
2021 2022 2023 2024 AVG MED MIN MAX CAGR
Investment Management Fee 23,87% 21,46% 44,73% 2,59% 23,16% 22,66% 2,59% 44,73% 22%
Gain/(loss) on trading of marketable securities, net 179,21% 104,82% -67,97% 32,15% 62,05% 68,49% -67,97% 179,21% 25%
Others -9,45% 18,08% 93,79% 38,40% 35,20% 28,24% -9,45% 93,79% 30%
Total Pendapatan 23,71% 24,77% 40,01% 6,24% 23,68% 24,24% 6,24% 40,01% 23%
Salaries and allowances 3,55% 2,73% 27,09% 8,05% 10,36% 5,80% 2,73% 27,09% 10%
Employee benefit expense -69,20% 710,44% -83,68% -13,94% 135,90% -41,57% -83,68% 710,44% -23%
Office rental -2,22% -32,16% 64,06% 27,13% 14,20% 12,45% -32,16% 64,06% 8%
Telecommunications 4,76% 16,68% -8,05% 19,71% 8,27% 10,72% -8,05% 19,71% 8%
General and administrative 14,15% 45,20% 90,21% -0,58% 37,25% 29,67% -0,58% 90,21% 33%
Professional fees 3,03% 10,99% 5,56% -13,16% 1,60% 4,30% -13,16% 10,99% 1%
Adv & promo - Management Fee Sharing 54,48% 71,31% 80,50% 9,89% 54,05% 62,90% 9,89% 80,50% 51%
Adv promo - Marketing and Promotions 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0%
Bad Debt 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0%
Training and seminar 91,02% 111,84% 88,27% 45,06% 84,05% 89,64% 45,06% 111,84% 82%
Travel -100,00% 0,00% 135,46% 37,99% 18,36% 18,99% -100,00% 135,46% 116%
Representations and donations -18,86% 183,58% 143,38% 10,52% 79,65% 76,95% -18,86% 183,58% 58%
Custodian 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0%
Others 37,47% 14,44% 15,38% -0,67% 16,65% 14,91% -0,67% 37,47% 16%
Total Beban 15,67% 37,51% 40,13% 7,16% 25,12% 26,59% 7,16% 40,13% 24%
EBITDA 44,75% -1,89% 39,66% 3,54% 21,52% 21,60% -1,89% 44,75% 20%
Pendapatan (Beban) Lain-Lain 155,90% -68,86% 160,74% -57,66% 47,53% 49,12% -68,86% 160,74% -3%
Depreciation of fixed assets 2,89% -12,29% -12,92% 2,92% -4,85% -4,70% -12,92% 2,92% -5%
EBIT 50,37% -4,11% 43,59% 2,09% 22,98% 22,84% -4,11% 50,37% 21%
Interest 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0%
EBT 50,37% -4,11% 43,59% 2,09% 22,98% 22,84% -4,11% 50,37% 21%
Tax -15,30% 53,46% 15,58% -9,44% 11,07% 3,07% -15,30% 53,46% 8%
EAT 82,28% -17,11% 55,30% 5,68% 31,54% 30,49% -17,11% 82,28% 25%
Pendapatan Perusahaan dihasilkan dari Investment Management Fee, Gain/(loss) on trading of marketable
securities, dan others. Pendapatan Perusahaan mengalami perubahan rata-rata 23,68% pada tahun historis,
perusahaan mencatatkan laba bersih dengan persentase rata-rata sebesar 19,96% dari total pendapatan.
Pada tahun historis Pendapatan dari Investment Management Fee, Gain/(loss) on trading of marketable
securities, dan others mengalami perubahan rata-rata sebesar 23,68% dari total pendapatan.
1.6.2 Arus Kas
Keterangan 2020 2021 2022 2023 2024
Des Des Des Des Des
Penerimaan dari Jasa Manager Investasi 112.321.151 134.008.656 166.884.795 244.114.659 275.248.705
Penerimaan dari dividen da pendapatan bunga 10.964.010 9.775.243 7.288.203 3.780.485 10.081.247
Penjualan/(Pembelian) aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi - neto - - 18.849.815 (3.300.396) 4.626.170
pembayaran kepada pemasok (50.019.311) (72.885.884) (123.469.889) (136.780.678) (136.041.878)
pembayaran kepada karyawan (39.560.797) (39.411.979) (46.856.610) (48.311.349) (60.607.280)
pembayaran pajak penghasilan (9.761.729) (8.136.753) (14.831.215) (13.673.063) (21.485.939)
pembayaran lainnya - neto 4.102.581 (116.877) (909.862) (623.948) (1.039.185)
Arus Kas dari Aktivitas Operasi 28.045.905 23.232.406 6.955.237 45.205.710 70.781.840
Penerimaan bunga 1.533.581 3.117.408 1.351.661 2.953.501 1.619.157
Penjualan/(Pembelian) penjualan portofolio efek - neto (29.574.870) 61.026.522
Perolehan Aset Tetap (709.129) (285.115) (330.073) (614.804) (1.705.449)
Perolehan Aset tak Berwujud (332.500) (148.000) - (135.880)
Arus Kas dari Aktivitas Investasi (29.082.918) 63.710.815 1.021.588 2.338.697 (222.172)
Pembayaran Dividen - (40.000.000) (40.000.000) (80.000.000) (40.000.000)
Pembayaran liabilitas sewa (1.180.246) (1.302.736) (1.079.888) (1.513.716) (1.513.716)
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan (1.180.246) (41.302.736) (41.079.888) (81.513.716) (41.513.716)
Perubahan Kas (2.217.259) 45.640.485 (33.103.063) (33.969.309) 29.045.952
Kas Awal Periode 13.863.054 11.645.795 72.914.341 39.811.278 5.841.969
Kas Akhir Periode 11.645.795 57.286.280 39.811.278 5.841.969 34.887.921
a. Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Secara umum Perseroan mampu menghasilkan arus kas operasi yang selama tahun historis. Selama
tahun historis mengalami tren kenaikan dengan rata-rata kenaikan CAGR 25,12% dan selama tahun
historis rata-rata aktivitas operasi Perseroan berada diangka Rp34.844.220.000.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 7
Page 25
b. Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Dari aktivitas investasi selama tahun historis mengalami tren penurunan dengan rata-rata penurunan
CAGR di (70,44%) dan selama tahun historis rata-rata aktivitas investasi Perseroan berada diangka
Rp7.553.202.000.
c. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Dari aktivitas pendanaan selama tahun historis mengalami tren penurunan dengan rata-rata
penurunan CAGR di 143,53% dan selama tahun historis rata-rata aktivitas pendanaan Perseroan
berada diangka Rp(41.318.060.000).
.Analisis Rasio
2020 2021 2022 2023 2024
Rasio Likuiditas
Rasio Lancar 7,46 6,04 6,99 4,22 5,03
Rasio Aktivitas
TO Piutang 11,83 11,31 11,30 8,74 11,20
TO Aset Tetap 78,37 109,04 155,38 217,27 123,73
TO Aset 0,45 0,53 0,70 1,00 1,04
Rasio Solvabilitas
Debt Equity Ratio 14,19% 18,25% 15,60% 28,67% 23,02%
Debt to Assets 12,43% 15,44% 13,49% 22,28% 18,71%
Return On Equity 9,10% 16,52% 14,07% 24,84% 24,47%
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan perseroan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Secara umum semakin tinggi rasio ini
berarti semakin aman Perseroan. Rasio lancar adalah rasio yang mencerminkan kemampuan aset lancar
perusahaan untuk menutupi kewajiban-kewajiban lancar atau utang jangka pendek. Rasio lancar rata-rata
Perusahaan adalah 5,95.
Rasio aktivitas merupakan suatu rasio yang berfungsi untuk mengukur tingkat efektifitas penggunaan aset
perusahaan. Rasio ini sering juga disebut rasio perputaran. Secara umum semakin tinggi perputaran berarti
semakin efektif tingkat penggunaan aset Perusahaan. Rasio perputaran Piutang rata-rata 10,88. Rasio
perputaran aset tetap rata-rata 136,76. Rasio perputaran Aset rata-rata 0,74.
Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan Perseroan untuk memenuhi seluruh liabilitasnya, yang diukur
dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu melalui perbandingan antara jumlah liabilitas dan jumlah aset
dan melalui perbandingan antara jumlah liabilitas dengan ekuitas. Debt equity ratio Perusahaan rata-rata
19,95%. Debt to asset ratio Perusahaan rata-rata 16,47%.
Rasio Profitabilitas. Tingkat imbal hasil aset menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba
neto dari aset yang dimilikinya. Return on equity Perusahaan rata-rata 17,80%.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 8
Page 26
2. KELAYAKAN PASAR
2.1. Kondisi Pasar
2.1.1. Kondisi Perekonomian Indonesia
Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku
triwulan II-2024 mencapai Rp5.536,5 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.231,0 triliun.
Ekonomi Indonesia triwulan II-2024 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 3,79
persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan
dan Perikanan sebesar 23,43 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
(PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 19,58 persen. Ekonomi Indonesia triwulan II-2024 terhadap
triwulan II-2023 tumbuh sebesar 5,05 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,17 persen. Sementara dari sisi
pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT)
mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,98 persen. Ekonomi Indonesia semester I-2024 terhadap
semester I-2023 tumbuh sebesar 5,08 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi
Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,25
persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen PK-LNPRT mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar
16,84 persen. Ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2024 menunjukkan pertumbuhan positif
pada semua wilayah. Kelompok provinsi di Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar dengan peranan
sebesar 57,04 persen dari ekonomi nasional dan mencatat kinerja pertumbuhan sebesar 4,92 persen (y-on-
y) dibanding triwulan II-2023.
2.1.2. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2024 membaik dan mendukung ketahanan
eksternal. NPI pada triwulan II 2024 menunjukkan perbaikan dengan mencatat defisit 0,6 miliar dolar AS, lebih
rendah dibandingkan dengan defisit 6,0 miliar dolar AS pada triwulan I 2024. Perbaikan tersebut ditopang
oleh peningkatan kinerja transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus serta defisit transaksi berjalan
yang tetap terjaga. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni tercatat tetap
tinggi sebesar 140,2 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang
luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah. Pada triwulan II 2024, transaksi berjalan mencatat defisit
3,0 miliar dolar AS (0,9% dari PDB), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan defisit 2,4 miliar dolar AS (0,7%
dari PDB) pada triwulan I 2024. Surplus neraca perdagangan barang meningkat, dikontribusikan oleh defisit
neraca perdagangan migas yang menurun dan surplus neraca perdagangan nonmigas yang relatif stabil.
Ekspor nonmigas tumbuh positif didukung oleh perbaikan harga komoditas dan permintaan dari mitra dagang
utama, sementara impor nonmigas relatif stabil dipengaruhi aktivitas ekonomi domestik yang terjaga. Defisit
neraca jasa meningkat dipengaruhi oleh defisit jasa perjalanan (travel) seiring pelaksanaan ibadah haji 2024.
Defisit neraca pendapatan primer juga lebih tinggi dipengaruhi oleh pembayaran dividen dan bunga/kupon
sesuai pola triwulanan.
Kinerja transaksi modal dan finansial membaik di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Transaksi modal dan finansial mencatat surplus 2,7 miliar dolar AS pada triwulan II 2024, dari sebelumnya
defisit 1,6 miliar dolar AS pada triwulan I 2024. Kinerja positif ini terutama ditopang oleh aliran masuk modal
asing pada investasi portofolio di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Investasi
langsung tetap membukukan surplus sejalan dengan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan iklim
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 9
Page 27
investasi domestik yang terjaga. Investasi lainnya mencatat penurunan defisit dipengaruhi oleh penurunan
investasi swasta pada beberapa instrumen finansial luar negeri, di tengah peningkatan pembayaran utang
luar negeri swasta sesuai jadwal.
NPI 2024 diprakirakan terjaga dengan transaksi berjalan dalam kisaran defisit rendah sebesar 0,1% sampai
dengan 0,9% dari PDB. Neraca transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap mencatatkan surplus
didukung oleh peningkatan aliran masuk modal asing baik dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA)
maupun investasi portofolio sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional
dan imbal hasil investasi yang menarik.
Grafik Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber: Bank Indonesia
2.1.3. Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2024 tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik, inflasi IHK Juni 2024 tercatat deflasi sebesar 0,08% (mtm), sehingga secara tahunan
menurun menjadi 2,51% (yoy) dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,84% (yoy). Inflasi yang terjaga ini
merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank
Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan
TPID) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah. Ke
depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan
2025.
Inflasi inti tetap terjaga. Inflasi inti pada Juni 2024 tercatat sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dari
inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,17% (mtm). Inflasi inti yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh
ekspektasi inflasi yang terjangkar, termasuk pada saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha,
serta kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik. Realisasi inflasi
inti pada Juni 2024 disumbang terutama oleh inflasi komoditas emas perhiasan dan kopi bubuk. Secara
tahunan, inflasi inti Juni 2024 tercatat sebesar 1,90% (yoy), menurun dari inflasi inti bulan sebelumnya
sebesar 1,93% (yoy).
Kelompok volatile food melanjutkan deflasi. Kelompok volatile food pada Juni 2024 mengalami deflasi
sebesar 0,98% (mtm), lebih dalam dari deflasi bulan sebelumnya sebesar 0,69% (mtm). Deflasi kelompok
volatile food disumbang terutama oleh komoditas bawang merah, tomat dan daging ayam ras. Penurunan
harga komoditas pangan didukung oleh peningkatan pasokan seiring dengan berlanjutnya musim panen dan
penurunan harga pakan untuk komoditas daging ayam ras. Secara tahunan, kelompok volatile food
mengalami inflasi sebesar 5,96% (yoy), menurun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 8,14% (yoy). Ke
depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap akan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi TPIP
dan TPID melalui GNPIP di berbagai daerah.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 10
Page 28
2.1.4. Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah tetap terkendali didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah pada
Maret 2024 (hingga 19 Maret 2024) relatif stabil dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank
Indonesia, di tengah dinamika penyesuaian aliran modal asing di pasar keuangan domestik sejalan dengan
ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Dengan perkembangan ini, nilai tukar Rupiah
melemah sebesar 2,02% dibandingkan dengan level akhir Desember 2023, lebih baik dibandingkan dengan
Ringgit Malaysia, Won Korea, dan Baht Thailand yang masing-masing melemah sebesar 3,02%, 3,87%, dan
5,39%. Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil dengan kecenderungan menguat, didorong oleh
kembali masuknya aliran modal asing sejalan dengan tetap terjaganya persepsi positif terhadap prospek
ekonomi Indonesia. Selain itu, kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan penguatan strategi operasi moneter
pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI juga mendukung prospek penguatan nilai
tukar Rupiah tersebut.
Koordinasi dengan Pemerintah, perbankan, dan dunia usaha terus ditingkatkan dan diperluas untuk
implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sejalan
dengan PP Nomor 36 Tahun 2023.
2.1.5. Suku Bunga
Transmisi kebijakan moneter berjalan dengan baik. Suku bunga pasar uang bergerak dalam kisaran BI-Rate
sebesar 5,93% pada 18 Maret 2024. Suku bunga SRBI tercatat menarik pada level 6,68%, 6,69%, dan 6,87%
masing-masing untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan pada 15 Maret 2024 sehingga mendukung efektivitas SRBI
sebagai instrumen moneter yang pro-market. Sementara itu, suku bunga perbankan tetap rendah dipengaruhi
oleh likuiditas perbankan yang memadai serta kebijakan transparansi SBDK yang meningkatkan efisiensi
suku bunga perbankan. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Februari 2024 tercatat
masing-masing sebesar 4,52% dan 9,28%, membaik dibandingkan dengan perkembangan bulan
sebelumnya. Imbal hasil SBN tenor 2 dan 10 tahun relatif stabil di tengah ketidakpastian pasar keuangan
global yang masih tinggi.
2.1.6. Cakupan Kegiatan Usaha Penasihat Investasi
Perusahaan dengan izin PI dapat memberikan jasa konsultasi dan nasihat investasi terkait berbagai
keputusan investasi di pasar modal kepada para nasabah.
Untuk jangka pendek dan menengah, perusahaan berencana untuk fokus memberikan jasa nasihat investasi
terutama pada nasabah institusi. Nasihat investasi pada nasabah ritel dapat dilakukan melalui kerjasama
dengan perusahaan lain yang relevan, seperti agen penjual reksa dana atau perantara pedagang efek.
Namun perusahaan tidak menutup kemungkinan untuk meluaskan layanan langsung pada nasabah ritel ke
depannya.
Cakupan kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan terkait dengan usaha sebagai penasihat investasi
meliputi antara lain: memberikan rekomendasi tertulis ataupun lisan tentang transaksi efek (saham, obligasi,
reksa dana, dll); membantu perencanaan portofolio dan alokasi aset; analisis kinerja investasi; membantu
dalam hal strategi manajemen risiko investasi;
menyusun riset dan publikasi rekomendasi investasi; membantu nasabah menyusun kebijakan investasi dan
panduan tata kelola investasi; bekerja sama dengan pihak lain untuk memfasilitasi pelaksanaan transaksi
efek (dengan keputusan final tetap pada nasabah).
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 11
Page 29
2.1.7. Potensi Industri Jasa Penasihat Investasi
2.1.7.1. Tren Industri
Industri penasihat investasi di Indonesia masih berkembang dan relatif kecil dibanding sektor
manajemen investasi, namun menunjukkan tren pertumbuhan yang baik seiring dengan meningkatnya
kebutuhan akan nasihat profesional. Awalnya, layanan penasihat investasi banyak ditujukan ke
nasabah kaya (high-net-worth clients) dan institusi besar. Namun dalam beberapa tahun terakhir,
terjadi perluasan jangkauan, baik ke segmen ritel menengah (melalui perusahaan fintech) maupun ke
lebih banyak institusi menengah, sejalan dengan keberhasilan upaya pendalaman pasar modal.
Untuk segmen institusi, tren utama meliputi:
• Meningkatnya kompleksitas portofolio institusi: Dana pensiun, perusahaan asuransi, dan institusi
keuangan lain menghadapi portofolio investasi yang kian beragam (saham, obligasi, investasi
alternatif). Banyak di antara mereka mulai mencari penasihat eksternal untuk menyusun strategi
investasi yang optimal dan mematuhi regulasi ALM (asset-liability management).
• Dorongan regulasi dan tata kelola: OJK mendorong penerapan tata kelola investasi yang
memegang prinsip kehati-hatian. Ada baiknya bagi dana pensiun untuk menggunakan penasihat
investasi independen agar pengelolaan investasi lebih profesional dan mengurangi risiko salah
kelola. Hal ini membuka peluang bagi PI untuk menggarap institusi yang sebelumnya merancang
strategi investasi sepenuhnya in-house.
• Kolaborasi dengan perusahaan fintech: Beberapa startup fintech dan platform digital bermitra
dengan perusahaan PI untuk menyediakan advisory secara online. Inovasi di segment ritel ini
mencerminkan tren digitalisasi yang bisa merambah segmen institusi (misalnya dengan membuat
dashboard online bagi nasabah institusi untuk memantau rekomendasi dan portofolio mereka
secara real-time).
• Persaingan dengan jasa konsultasi tradisional: Sebelum ada kategori PI, beberapa konsultan
investasi (baik individu maupun perusahaan asing) memberi nasihat investasi kepada institusi. Kini
semua diharuskan berizin PI jika nasihatnya mencakup rekomendasi spesifik efek. Tren ini
membuat para konsultan tradisional bertransformasi menjadi PI resmi atau bermitra dengan
perusahaan efek berizin. Hal ini meningkatkan kredibilitas industri secara keseluruhan karena
setiap pemberi nasihat yang legal berada di bawah pengawasan OJK.
Dari sisi jumlah pelaku, pemain di industri PI sebagian besar merupakan perusahaan manajer investasi
yang menambah izin penasihat investasi sebagai diversifikasi layanan. Sejumlah perusahaan manajer
investasi besar telah mengantongi izin PI dalam beberapa tahun terakhir. Tren ini menunjukkan
lanskap PI didominasi oleh nama-nama mapan di industri reksa dana yang memperluas layanan ke
nasihat investasi institusi. Selain itu, terdapat beberapa boutique advisory firms dan entitas khusus.
Secara keseluruhan, tren industri PI institusi di Indonesia adalah pertumbuhan perlahan namun pasti.
Kenaikan kesadaran institusi akan pentingnya ahli investasi independen menciptakan peluang bagi
perusahaan berizin PI untuk mengambil porsi lebih besar dalam pengelolaan aset institusi melalui
advisory.
Di masa depan, model bisnis PI akan semakin beragam, dari konsultasi tradisional berbasis retainer
fee hingga model success fee berbasis kinerja, serta adopsi teknologi analitik untuk memberikan
nasihat investasi yang lebih canggih
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 12
Page 30
2.1.7.2. Potensi Pasar untuk Nasabah Institusi
Pasar potensial bagi layanan penasihat investasi institusi di Indonesia sangat besar, mengingat
besarnya dana kelolaan berbagai institusi keuangan non-bank. Dua segmen utama adalah dana
pensiun dan perusahaan asuransi, disusul institusi lain seperti yayasan dengan dana abadi, dana haji,
serta perusahaan lainnya.
• Dana Pensiun: OJK mencatat total aset industri dana pensiun tumbuh 7,31% year-on-year
mencapai Rp1.508 triliun (per Desember 2024, termasuk dana pensiun publik dan swasta). Jika
difokuskan pada dana pensiun sukarela (dikelola oleh 191 entitas DPPK/PPIP per 2024) nilainya
sekitar Rp382,5 triliun (Aset Dana Pensiun per Akhir 2024 Capai Rp382,53 Triliun, Peserta
Terbanyak dari DPLK). Angka ini terus meningkat seiring pertumbuhan peserta dan hasil investasi.
Banyak dana pensiun swasta yang relatif kecil hingga menengah mungkin tidak memiliki tim
investasi lengkap, sehingga menjadi prospek nasabah bagi penasihat investasi eksternal. Bahkan
dana pensiun besar milik BUMN atau multinasional, yang punya komite investasi internal, bisa
memanfaatkan perspektif independen dari penasihat luar untuk meningkatkan imbal hasil dan
kepatuhan regulasi. Dengan asumsi sebagian porsi aset pensiun menggunakan jasa advisory,
pasar yang tersedia bernilai puluhan triliun rupiah. Sebuah studi menyebut potensi penambahan
optimal pengelolaan dana pensiun oleh PI dapat mencapai belasan triliun rupiah aset yang
sebelumnya belum tersentuh penasihat profesional. Tren reformasi pensiun dan tekanan untuk
meningkatkan kinerja investasi (menghindari underfunded liability) juga mendorong permintaan
akan nasihat ahli.
• Asuransi: Industri asuransi juga memiliki cadangan investasi yang masif. Total aset industri
asuransi Indonesia mencapai Rp1.133,87 triliun pada akhir 2024, terdiri dari portofolio asuransi
jiwa, asuransi umum, dan reasuransi. Perusahaan asuransi besar biasanya mengelola
investasinya melalui departemen investasi internal atau menyerahkannya ke manajer investasi
untuk sebagian portofolio (misal melalui kontrak pengelolaan dana/KpD). Meski demikian,
penasihat investasi eksternal dapat berperan dalam merumuskan strategic asset allocation,
penilaian risiko, atau second opinion atas rekomendasi investasi, terutama bagi asuransi
menengah yang mungkin butuh panduan ahli tanpa menambah banyak staf investasi. Dengan
regulasi OJK yang kian ketat tentang kualitas aset asuransi dan kesesuaian profil liabilitas, peran
penasihat dapat membantu perusahaan asuransi menyeimbangkan portofolio (misal durasi aset
vs liabilitas, diversifikasi sektor, dll).
• Institutsi dan Korporasi lainnya: Di luar dua sektor di atas, terdapat institusi dan korporasi
lainnya yang mungkin memerlukan konsultan investasi independen untuk area tertentu, seperti
Badan Pengelola Keuangan Haji, yayasan, dana endowment universitas dan sebagainya.
Melihat besarnya skala aset, yaitu ratusan triliun di dana pensiun dan asuransi, belasan hingga
puluhan triliun di yayasan atau dana khusus, serta potensi miliaran rupiah dana korporasi, dapat
disimpulkan bahwa penetrasi layanan advisory masih rendah. Penetrasi pasar PI institusi masih dalam
tahap awal; banyak institusi belum menggunakan penasihat profesional secara formal. Ini berarti
peluang pertumbuhan tinggi. Dengan asumsi konservatif saja, jika 10% dari aset dana pensiun dan
asuransi terbuka bagi jasa penasihat investasi, itu setara lebih dari Rp150 triliun aset di bawah advisori.
Dengan skema fee advisory misalnya 0,1% per tahun, pasar fee potensial bisa mencapai Rp150 miliar
per tahun di seluruh industri. Angka ini bisa lebih besar bila tren outsourcing investasi meningkat.
Selain itu, inisiatif OJK meningkatkan inklusi pasar modal akan memperbesar basis investor institusi
yang membutuhkan panduan investasi profesional. Oleh karena itu, potensi pertumbuhan pendapatan
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 13
Page 31
untuk unit usaha penasihat investasi sangat menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran institusi
terhadap kebutuhan investment advisory yang independen dan kompeten.
2.2. Pesaing Usaha
Peta persaingan di ranah penasihat investasi institusi mencakup beberapa kategori pelaku usaha:
(a) Manajer Investasi (perusahaan asset management) yang menawarkan jasa advisory;
(b) Perusahaan Penasihat Investasi independen, termasuk afiliasi perusahaan sekuritas atau kelompok
usaha tertentu; dan
(c) Konsultan Investasi lainnya.
Sebagian besar pemain terbesar berasal dari kategori (a), memanfaatkan reputasi dan sumber daya mereka
di industri pengelolaan dana.
Manajer Investasi: Banyak perusahaan MI memiliki izin ganda sebagai PI, sehingga menjadi pesaing utama.
Misalnya, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), salah satu MI terbesar dengan AUM reksa dana
sekitar Rp100 triliun, juga beroperasi sebagai PI. Dengan dukungan grup Manulife, mereka dapat
menawarkan nasihat investasi komprehensif (termasuk global outlook) kepada dana pensiun dan institusi
lokal. Selain itu, perusahaan MI lain yang terdaftar sebagai anggota Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia
(APII) adalah: Ashmore, Avrist AM, BNI AM, BNP Paribas AM, Eastspring Investments, Insight IM, Mandiri
Manajemen Investasi, Pinnacle Investment, PNM IM, Grow Investments, Jarvis AM, KISI AM, Setiabudi IM,
Syailenda Capital, Star AM dan UOB AM.
Penasihat Investasi Independen/Boutique: Terdapat sejumlah perusahaan yang berfokus pada jasa
penasihat investasi, bukan pengelolaan dana. Beberapa perusahaan boutique menawarkan jasa tailor-made
ke institusi lebih kecil. Ada perusahan fintech/platform yang menawarkan jasa portfolio allocation atau jasa
advisory terkait lainnya. Ada pula yang berafiliasi dengan kelompok usaha tertentu untuk menangani dana
internal grup dan kemudian melayani pihak eksternal. Perusahaan seperti ini biasanya lebih agile dan dapat
mengklaim netral (karena tidak menjual produk reksa dana sendiri). Namun, mereka perlu membangun
reputasi dan skala operasional. Kapasitas riset mereka mungkin terbatas dibanding MI besar, sehingga bisa
kalah bersaing untuk nasabah yang butuh analisis mendalam lintas instrumen. Nama-nama penasihat
independen yang terdaftar di sebagai anggota Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII) adalah: Axa, HB
Capital, Heritage Amanah, Jagartha Advisors, Moduit, Pasardana, Penasehat Investasi Indonesia, Infovesta,
XDana.
Konsultan Investasi dan Aktuaria: Pesaing tidak langsung bagi MI terkait jasa penasihat investasi adalah
kantor konsultan yang menawarkan jasa nasihat investasi sebagai bagian dari layanan aktuaria atau
konsultan manajemen. Contohnya, firma aktuaria atau konsultan terkadang memberi saran alokasi aset
strategis. Kelebihan mereka adalah pada integrasi nasihat investasi dengan perencanaan aktuaria liabilitas
(khusus pensiun dan asuransi). Namun, seringkali mereka tidak terlibat dalam rekomendasi efek spesifik day-
to-day, sehingga ruang lingkup bersaing mungkin berbeda (mereka di level strategi makro, sementara PI
umumnya hingga level pemilihan instrumen).
Dari sudut pandang perusahaan yang telah memiliki izin MI dan ingin masuk ke pasar PI institusi, pesaing
utama kemungkinan adalah sesama MI yang sudah lebih dahulu menawarkan jasa advisory.
Perlu dianalisis posisi unik perusahaan untuk bersaing: apakah akan menonjolkan keahlian tertentu (misalnya
spesialisasi di obligasi korporasi, atau keahlian alokasi strategis), teknologi (platform online untuk nasabah
institusi), atau layanan customized (dedicated advisor per nasabah). Diferensiasi layanan menjadi kunci.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 14
Page 32
Contoh Profil Pesaing di Pasar Penasihat Investasi Institusi:
Pesaing Latar Belakang Fokus Layanan Advisory Kelebihan Kompetitif
(Perusahaan) (Institusi)
MI besar (AUM Dana pensiun, asuransi; multi- Reputasi internasional, tim
Manulife AM
>Rp70T) aset global riset kuat
Dana pensiun korporasi, Dukungan grup UOB,
UOB AM MI bank asing
institusi lokal produk terdiversifikasi
Dana pensiun, perusahaan Niche di pasar lokal, fokus
Avrist AM MI lokal
asuransi domestik layanan personal
Fintech advisory High-net-worth dan ritel atas Platform teknologi, akses
Moduit
(bukan MI) kerjasama institusi mudah ritel
Tabel di atas menggambarkan beragam tipe pesaing: dari MI berafiliasi asing, MI lokal dan fintech advisory.
Untuk lebih memahami kompetisi, perusahaan sebaiknya melakukan benchmarking terhadap model bisnis
pesaing langsung. Misalnya, beberapa MI mengenakan fee rendah sebagai cross-selling (karena sudah
mendapat fee dari produk reksa dana), sedangkan boutique advisor murni mengandalkan fee advisory lebih
tinggi namun menjual independensi.
Secara umum, tingkat persaingan saat ini moderat karena belum banyak PI yang berfokus pada nasabah
institusi yang benar-benar berdiri sendiri; kebanyakan adalah tambahan layanan dari MI. Hal ini berarti
peluang masih terbuka lebar bagi pendatang baru yang agresif dan inovatif. Tantangannya, perusahaan harus
siap berkompetisi dengan nama-nama besar yang mempunyai hubungan yang sudah established dengan
banyak institusi.
Oleh karena itu, strategi masuk pasar perlu menekankan keunggulan unik (misal: track record tim manajemen
investasi perusahaan sebagai MI, ditambah layanan advisory yang tailor-made, atau dukungan platform
digital) untuk merebut pangsa pasar
2.3. Strategi Pemasaran
2.3.1. Tahap Peluncuran Layanan
Go-to-Market and Marketing: Begitu izin OJK terbit, mengumumkan ekspansi layanan melalui
siaran pers dan komunikasi ke jaringan nasabah existing. Selanjutnya, menghubungi nasabah
institusi existing untuk menawarkan jasa advisory. Kemudian mengirimkan proposal ke prospek
prioritas, misalnya ke dana pensiun swasta dan perusahaan asuransi yang belum menjadi nasabah.
Ikuti tender/RFP jika ada institusi yang membuka seleksi penasihat investasi.
Acquire First Clients: Nasabah baru untuk tahun pertama ditargetkan sebanyak 1–3 nasabah
institusi. Segera setelah mendapatkan engagement dan menandatangani perjanjian jasa penasihat
investasi , melaksanakan proses onboarding dengan mempelajari secara mendalam kebijakan
investasi nasabah, portofolio awal, preferensi mereka dan tujuan investasi yang diinginkan.
Delivering Advisory Service: Menyusun Investment Advisory Plan untuk setiap nasabah awal.
Contoh output tahun pertama: strategic asset allocation recommendation, daftar rekomendasi
instrumen (buy/hold/sell list), laporan kinerja bulanan/triwulanan. Juga memastikan layanan sesuai
kontrak, serta mengumpulkan feedback rutin dari nasabah.
Brand Building: Berpartisipasi di event industri, seperti seminar yang diadakan Asosiasi Dana
Pensiun Indonesia (ADPI) atau Asosiasi lainnya yang relevan, dengan menjadi pembicara tentang
outlook pasar. Selain itu, mempublikasikan beberapa riset insight kepada calon nasabah (dapat
dilakukan melalui media) untuk membangun reputasi sebagai thought leader
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 15
Page 33
2.3.2. Tahap Ekspansi
Scale Up Clients: Dengan track record nasabah pertama, referensi positif, dan penyesuaian model
bisnis dari pengalaman tahun pertama, perusahaan mendekati lebih banyak prospek dengan target
penambahan 3–5 nasabah baru di tahun kedua, khususnya di segmen yang sama (jika tahun
pertama fokus dana pensiun, ekpasnsi ke asuransi atau DPLK di tahun kedua). Di tahun ketiga
memasuki segmen yang lebih luas atau nasabah lebih besar.
Team Expansion: Menyesuaikan jumlah nasabah, rekrut 1-2 staf tambahan di tahun kedua (1
advisor junior dan 1 analis) dengan memastikan transfer pengetahuan dari tim existing ke anggota
baru berjalan lancar.
Refinement of Services: Mengevaluasi ulang SOP dan cakupan layanan, misalnya dengan
menambah layanan performance attribution analysis, atau konsultasi tata kelola investasi,
membantu nasabah menyusun guideline investasi. Juga menambahkan fitur layanan sesuai
permintaan umum nasabah, misalnya nasihat soal investasi bertema ESG.
Technology Leverage: Di tahun ke-2 atau 3, berinvestasi lebih jauh di teknologi jika basis nasabah
sudah cukup. Misalnya mengembangkan client dashboard online sehingga nasabah bisa login untuk
lihat rekomendasi terbaru, status portofolio mark-to-market, dll. Juga mempertimbangkan
menggunakan teknologi yang akan menjadi keunggulan kompetitif.
Governance and Audit: Meninjau kepatuhan regulasi, dan memperbaiki bila ada temuan. Juga
mempertimbangkan untuk rencana certification atau standar kualitas/ISO yang relevan di tahun ke-
3 untuk meningkatkan kredibilitas.
Review Financial Performance: Pada penghujung tahun ke-2 dan ke-3 meninjau kinerja keuangan
unit PI terhadap target, apakah sudah break-even atau belum, mempelajari perkembangan profit
margin. Hal ini dilakukan untuk menentukan strategi lebih lanjut, yaitu percepatan ekspansi (jika laba
cukup), atau penyesuaian pricing (jika laba kurang).
2.4. Kesimpulan Kelayakan Pasar
Mengacu pada perkembangan pasar Penasihat Investasi secara umum, pangsa pasar, serta adanya
perencanaan dan strategi pemasaran yang baik, dapat disimpulkan bahwa kegiatan usaha baru mempunyai
prospek yang cukup cerah dimasa yang akan datang.
Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pasar dalam Rencana Penambahan KBLI baru melalui kegiatan
Penasihat Investasi, maka disimpulkan bahwa aspek pasar ini adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 16
Page 34
3. STUDI KELAYAKAN
3.1. Analisis Kelayakan Teknis
Berdasarkan anggaran dasar Perusahaan dalam pasal 3 tertuang maksud dan tujuan kegiatan usaha terdiri
dari:
1. Manager Investasi, (KBLI 66311)
Yang mencakup usaha seperti Investasi efek atau portofolio efek, Perencanaan keuangan terkait
investasi, Strategi alokasi aset, Evaluasi risiko investasi, Rencana pensiun atau investasi jangka panjang
dan Informasi terkait kondisi pasar modal dan prospek ekonomi.
Terkait adanya rencana manajemen untuk melakukan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha yaitu
“Penaset Investasi Berbentuk Perusahaan” dengan rincian rencana penambahan KBLI oleh PT Trimegah
Asset Management sebagai berikut:
1. Penasehat Investasi Berbentuk Perusahaan (KBLI 66322)
Yang mencakup usaha seperti Pengelolaan portofolio efek untuk sekelompok nasabah atau pihak lain
berdasarkan perjanjian, Bertindak sebagai Manajer Investasi yang mengelola dana dan/atau portofolio
efek milik nasabah, baik individu maupun institusi, Melakukan investasi atas nama klien sesuai dengan
profil risiko, tujuan investasi, dan ketentuan dalam kontrak pengelolaan dana, Menyediakan produk
reksa dana, kontrak pengelolaan dana (KPD), discretionary fund, dan produk investasi kolektif lainnya,
Kegiatan ini juga dapat mencakup penyusunan strategi investasi, pemilihan instrumen, dan rebalancing
portofolio secara aktif.
3.1.1 Kapasitas
Saat ini, perusahaan telah memiliki jumlah sumber daya manusia yang memadai, yang juga telah
memenuhi persyaratan sertifikasi sebagaimana diwajibkan oleh regulasi untuk menjalankan kegiatan
operasional sebagai Penasihat Investasi berbentuk perusahaan. Meskipun demikian, dalam rangka
mendukung rencana ekspansi usaha ke depan, perusahaan merencanakan penambahan tenaga kerja
profesional melalui perluasan tim yang secara khusus akan difokuskan pada pengembangan layanan
Penasehat Investasi. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan jumlah nasabah serta
memperluas cakupan layanan konsultasi investasi yang diberikan secara lebih personal, strategis, dan
sesuai kebutuhan klien.
3.1.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya, Pekerja, dan Ahli Profesional
Untuk memberikan layanan penasihat investasi berkualitas kepada nasabah institusi, perusahaan perlu
menyiapkan infrastruktur pendukung, baik yang bersifat fisik maupun digital, serta Standard Operating
Procedure (SOP). Berikut komponen kunci infrastruktur:
• Sistem Informasi dan Data Pasar: Nasihat investasi yang tepat harus didukung oleh data pasar dan
riset yang mendalam. Maka, infrastruktur IT berupa terminal informasi keuangan (seperti Bloomberg)
sangat dibutuhkan. Terminal Bloomberg akan menyediakan data harga saham, obligasi, berita terkini,
serta alat analisis portofolio. Selain itu, software khusus lainnya akan diperlukan, (antara lain untuk
perhitungan yield, duration, convexity, sistem untuk asset allocation modeling, dan lain-lain.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 17
Page 35
Perusahaan juga membangun database internal tentang profil nasabah, kebijakan investasi mereka,
serta rekam jejak rekomendasi yang telah diberikan (untuk evaluasi). Infrastruktur data ini perlu
dilindungi dengan backup dan keamanan siber mengingat sensitivitas informasi portofolio nasabah.
• Platform Manajemen Portofolio dan Reporting: Meskipun tidak mengelola dana langsung,
penasihat perlu memantau kinerja portofolio nasabah seolah-olah dikelola. Implementasi portfolio
management system (PMS) akan membantu advisor melakukan tracking alokasi aset nasabah vs
benchmark, simulasi skenario (what-if analysis), dan menghasilkan laporan kinerja periodik. Laporan
ini akan disampaikan kepada nasabah (misal laporan kuartalan review portofolio dengan
rekomendasi). Platform bisa berupa perangkat lunak yang dibeli atau dibangun sendiri. Untuk efisiensi,
akan memanfaatkan sistem yang sudah dipakai unit MI dengan penyesuaian untuk advisory.
• Infrastruktur Komunikasi dengan Nasabah: Karena fokusnya nasabah institusi, interaksi cenderung
langsung (tatap muka, telepon, email). Namun, memiliki portal nasabah akan sangat membantu untuk
memberikan layanan yang lebih baik. Portal nasabah (dengan login) dapat memuat dokumen nasihat,
portofolio terkini, agenda pertemuan, dsb. Hal ini meningkatkan transparansi dan akses informasi.
• Struktur Organisasi dan SOP: Infrastruktur lunak berupa Standard Operating Procedure (SOP)
mencakup alur kerja pemberian nasihat: mulai dari analisis kebutuhan nasabah (investment policy
statement), proses investasi internal (meeting tim investasi, pembuatan rekomendasi tertulis), peer
review atau persetujuan internal, penyampaian rekomendasi ke nasabah, hingga tindak lanjut
monitoring. Juga penting untuk memiliki compliance monitoring system: misalnya software yang
mencatat setiap advice yang diberikan dan memeriksa apakah melanggar batasan investasi nasabah
atau aturan regulasi tertentu (seperti limit kepemilikan efek).
• Infrastruktur Fisik dan Pendukung: Karena perusahaan sudah beroperasi sebagai MI, sebagian
infrastruktur fisik seperti kantor, peralatan IT, server, sudah ada. Namun, perlu memperbarui atau
menambah perangkat keras: komputer atau laptop khusus untuk advisor dengan spesifikasi tinggi
(untuk handling data), secure server untuk menyimpan file riset.
• Perpustakaan Riset dan Informasi: Tim advisory akan memproduksi maupun mengonsumsi banyak
riset. Perusahaan akan menyiapkan document management system untuk menyimpan laporan riset
pihak ketiga (riset ekonomi, pasar global, sektor industri) serta laporan internal. Ini infrastruktur non-
fisik yang memudahkan knowledge sharing antar tim.
Semua infrastruktur di atas bertujuan memastikan penasihat investasi memberikan layanan secara
profesional, akurat, dan aman. Pada tahap awal, tidak semua sistem harus canggih; bisa dimulai dengan
memanfaatkan infrastruktur MI (untuk data dan IT) sambil mengembangkan hal spesifik advisory seperti
portal nasabah dan modul portfolio reporting. Investasi infrastruktur perlu disesuaikan dengan skala: untuk
2-3 nasabah awal, namun, seiring pertumbuhan bisnis, sistem otomatisasi menjadi keharusan agar
menjadi lebih efisien. Mengingat nasihat investasi sangat tergantung kualitas data dan analisis, alokasi
anggaran pada infrastruktur data dan analytic akan memberikan return dalam bentuk kepercayaan
nasabah atas rekomendasi yang diberikan.
Untuk tahap awal peluncuran unit penasihat investasi, struktur organisasi yang ramping namun efektif
perlu dibentuk. Struktur harus memenuhi persyaratan regulasi (misal penunjukan WMI sebagai
penanggung jawab) sekaligus cukup sumber daya untuk melayani nasabah institusi pertama. Struktur
organisasi awal yang direkomendasikan:
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 18
Page 36
• Direktur Penanggung Jawab PI: Seorang anggota direksi perusahaan ditunjuk memimpin unit PI
(merangkap sebagai direktur investasi MI). Tugasnya mengawasi keseluruhan layanan nasihat,
memastikan kepatuhan, dan bertanggung jawab ke OJK. Jika volume bisnis tumbuh, direktur terpisah
khusus PI akan dipertimbangkan, namun untuk tahap awal, peran ini dirangkap direksi investasi.
• Head of Investment Advisory: Secara operasional, unit ini dipimpin oleh seorang Head of Advisory,
bertanggung jawab merumuskan strategi nasihat, membina hubungan dengan nasabah kunci, dan
membimbing junior advisor/analyst. Head ini memiliki izin WMI.
• Investment Advisor: Yaitu pemegang izin WMI yang berperan langsung sebagai penasihat untuk
nasabah, melakukan analisis portofolio, menyiapkan rekomendasi investasi, dan presentasi ke
nasabah. Untuk tahap awal, satu advisor senior cukup, dengan support analis.
• Investment/Research Analyst: Seorang analis dengan izin WMI yang mendukung tim advisor.
Tugasnya mengumpulkan data pasar, melakukan quantitative analysis, membuat model proyeksi dan
menyiapkan draft rekomendasi.Analis juga merangkap peran support lain seperti membuat materi
laporan untuk nasabah.
• Head of Compliance: Perusahaan sebagai perusahaan MI sudah memiliki Divisi Compliance. Head
of Compliance memastikan setiap nasihat sesuai regulasi, me-review materi nasihat sebelum dikirim
(terutama cek benturan kepentingan, larangan tertentu), dan menangani pelaporan OJK terkait PI.
Tugas ini dirangkap oleh pejabat existing, namanya akan didaftarkan ke OJK sebagai contact person
untuk compliance PI.
• Support Staff: Termasuk administrasi dokumen, sekretaris yang menjadwalkan meeting, dan IT
support. Kebutuhan ini diambil dari resource perusahaan yang sudah ada, tidak akan melakukan
rekrutmen.
Struktur organisasi awal terdiri dari tim kecil berkompeten yang memanfaatkan fungsi pendukung
perusahaan yang sudah ada. Struktur ini cukup untuk melayani fase awal (3-5 nasabah). Seiring
pertumbuhan, tambahan SDM akan dilakukan mengikuti peningkatan pendapatan agar tetap efisien.
3.1.3 Proses Produksi
Proses produksi dari PI ini dijalankan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) ) mencakup alur kerja
pemberian nasihat: mulai dari analisis kebutuhan nasabah (investment policy statement), proses investasi
internal (meeting tim investasi, pembuatan rekomendasi tertulis), peer review atau persetujuan internal,
penyampaian rekomendasi ke nasabah, hingga tindak lanjut monitoring. Juga penting untuk memiliki
compliance monitoring system: misalnya software yang mencatat setiap advice yang diberikan dan
memeriksa apakah melanggar batasan investasi nasabah atau aturan regulasi tertentu (seperti limit
kepemilikan efek).
3.1.4 Kesimpulan Kelayakan Teknis
Berdasarkan evaluasi terhadap aspek teknis dalam Rencana Penambahan KBLI baru melalui kegiatan
Penasihat Investasi, maka disimpulkan bahwa aspek kelayakan teknis ini adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 19
Page 37
3.2. Analisis Kelayakan Pola Bisnis
3.2.1. Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan Dari Pola Bisnis;
Peta persaingan di ranah penasihat investasi institusi mencakup beberapa kategori pelaku usaha:
(a) Manajer Investasi (perusahaan asset management) yang menawarkan jasa advisory;
(b) Perusahaan Penasihat Investasi independen, termasuk afiliasi perusahaan sekuritas atau
kelompok usaha tertentu; dan
(c) Konsultan Investasi lainnya.
Sebagian besar pemain terbesar berasal dari kategori (a), memanfaatkan reputasi dan sumber daya
mereka di industri pengelolaan dana.
Secara keseluruhan, tren industri PI institusi di Indonesia adalah tumbuh perlahan namun pasti. Kenaikan
kesadaran institusi akan pentingnya ahli investasi independen menciptakan peluang bagi perusahaan
berizin PI untuk mengambil porsi lebih besar dalam pengelolaan aset institusi melalui advisory.
3.2.2. Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk;
Terdapat sejumlah perusahaan yang berfokus pada jasa penasihat investasi, bukan pengelolaan dana.
Namun, mereka perlu membangun reputasi dan skala operasional. Kapasitas riset mereka mungkin
terbatas dibanding MI besar, sehingga bisa kalah bersaing untuk nasabah yang butuh analisis mendalam
lintas instrumen.
Trimegah Asset management sudah berkecimpung selama hampir 16 Tahun dalam Pengelolaan asset
management dan saat ini menduduki posisi no 4 secara nasional dalam hal pengelolaan AUM. Berbagai
institusi nasional sudah merasakan dananya di kelola secara baik oleh TRAM dan akan masih banyak lagi
yang akan ikut serta dalam menyimpan dananya untuk di kelola secara baik oleh TRAM.
3.2.3. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai;
Perusahaan dapat menciptakan nilai tambah dari penambahan KBLI baru, karena dengan dilakukannya
penambahan kegiatan usaha ini dapat meningkatkan potensi bisnis dan berpeluang besar dalam
memperoleh laba. Perusahaan memiliki pangsa pasar yang tepat susai dengan perkembangan dunia
investasi yang semakin masif dan secara langsung merubah pola kerjasama dengan perusahaan
konsultan investasi. Dengan memanfaatkan pengalaman selama 16 tahun dalam pongelolaan asset
management, hal ini memberikan peluang besar bagi perusahaan dalam mempertahankan
keberlangsungan usaha.
3.2.4. Analisis SWOT
Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat) terdiri atas faktor internal yang bisa dikontrol
dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit untuk dikontrol. Kedua sisi dianalisis agar dapat
disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan mempunyai daya saing. Dari faktor internal
bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan (strength and weakness) sedangkan dari faktor eksternal
berupa peluang dan ancaman (opportunity and threat).
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 20
Page 38
1. Strength
Reputasi dan track record: Perusahaan sudah memiliki nama dan kepercayaan sebagai manajer
investasi, sehingga lebih mudah dipercaya juga sebagai penasihat investasi.
Basis klien eksisting: Sudah memiliki portofolio klien yang dapat dikembangkan untuk layanan
advisory.
Pengalaman pasar modal: Tim dan SDM sudah memahami regulasi, dinamika pasar, dan
instrumen investasi.
Infrastruktur dan sistem internal: Sudah memiliki sistem manajemen risiko, compliance, dan IT
yang dapat disesuaikan untuk kegiatan penasihat investasi.
Regulasi OJK yang mendukung diversifikasi usaha di bidang pasar modal: Ekspansi dalam
lini usaha yang masih dalam lingkup keahlian memperbesar peluang disetujui otoritas
2. Weakness
Perbedaan pendekatan layanan: Manajer investasi berfokus pada pengelolaan dana, sedangkan
penasihat investasi menekankan konsultasi dan strategi individual. Perlu adaptasi pola pikir dan
layanan.
Potensi konflik kepentingan: Jika tidak dikelola dengan baik, bisa terjadi benturan antara
kepentingan MI dan nasihat investasi yang diberikan.
Biaya operasional tambahan: Penambahan lini usaha berarti biaya tambahan untuk lisensi,
pelatihan, dan pemasaran.
Proses perizinan tambahan dari OJK: Harus memenuhi ketentuan Pasar Modal dan memperoleh
izin baru untuk beroperasi sebagai penasihat investasi.
3. Opportunity
Permintaan meningkat untuk layanan personal finance: Semakin banyak individu dan institusi
mencari panduan investasi yang customized.
Tren edukasi finansial dan literasi keuangan: Membuka peluang penyediaan layanan edukatif,
seminar, dan produk advisory digital.
Kolaborasi dengan platform fintech dan wealthtech: Bisa mengembangkan layanan advisory
berbasis teknologi.
Diversifikasi pendapatan: Menambah lini usaha berarti potensi menambah sumber pemasukan.
Potensi masuk ke segmen klien baru: Seperti HNWI (high net-worth individuals), UMKM yang
mencari nasihat investasi, atau institusi kecil yang tidak siap dikelola penuh oleh MI
4. Threat
Persaingan dari pemain besar: Perusahaan-perusahaan sekuritas, bank, dan fintech advisory
sudah memiliki pasar dan teknologi yang mapan.
Perubahan regulasi: Perubahan ketentuan dari OJK atau BEI bisa membatasi atau menghambat
operasional layanan advisory.
Risiko hukum dan reputasi: Salah nasihat atau ketidaksesuaian strategi investasi dengan
ekspektasi klien bisa menimbulkan sengketa atau penurunan kepercayaan.
Ketergantungan pada SDM berkualitas: Advisor yang profesional dan berizin terbatas dan
menjadi rebutan di industri.
Fluktuasi pasar dan ekonomi: Ketidakpastian ekonomi dapat mengurangi minat klien pada
layanan konsultasi berbayar
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 21
Page 39
3.2.5. Kesimpulan Kelayakan Pola Bisnis Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pola bisnis dari manajemen perusahaan dalam Rencana Penambahan KBLI baru melalui kegiatan Penasihat Investasi, maka disimpulkan bahwa aspek pola bisnis ini adalah layak. Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 22
Page 40
3.3. Analisis Kelayakan Model Manajemen
3.3.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Dalam rencana penambahan KBLI baru ini diperlukan tenaga kerja yang berkompeten dibidangnya dalam
kaitannya dengan keahlian khusus di bidang konsultasi investasi.
Saat ini, perusahaan telah memiliki jumlah sumber daya manusia yang memadai, yang juga telah
memenuhi persyaratan sertifikasi sebagaimana diwajibkan oleh regulasi untuk menjalankan kegiatan
operasional sebagai Penasihat Investasi berbentuk perusahaan. Meskipun demikian, dalam rangka
mendukung rencana ekspansi usaha ke depan, perusahaan merencanakan penambahan tenaga kerja
profesional melalui perluasan tim yang secara khusus akan difokuskan pada pengembangan layanan
Penasehat Investasi. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan jumlah nasabah serta
memperluas cakupan layanan konsultasi investasi yang diberikan secara lebih personal, strategis, dan
sesuai kebutuhan klien.
Dalam menjalankan kegiatan usaha eksisting, Perusahaan memiliki ketersediaan tenaga kerja sebagai
berikut:
Eksisting:
Kategori Jumlah orang
Karyawan tetap 57
Tenaga Kerja (Kontrak) 6
Total Tenaga Kerja 63
Penambahan dilakukan bertahap dalam jangka waktu 10 tahun:
Kategori Jumlah orang
Karyawan tetap 12
Tenaga Kerja (Kontrak) 0
Total Tenaga Kerja 12
Adapun kegiatan usaha eksisting beroperasi dengan jam kerja sebagai berikut:
1. Hari Kerja
Hari kerja di perusahaan adalah 5 ( lima ) hari dalam seminggu. Dan jam kerja perusahaan adalah 8
(delapan) jam sehari atau 40 (empat puluh) jam seminggu, dengan ketentuan bahwa apabila
perusahaan memerlukan kerja lembur maka pekerja wajib bersedia melakukan waktu kerja tersebut.
2. Jam kerja Kantor
Jam kerja Kantor di perusahaan adalah 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu)
minggu, untuk 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu :
Hari Senin s/d Kamis : 08.30 s/d 17.30 Istirahat : 12.00 s/d 13.00
Hari Jum’at : 08.30 s/d 17.30 Istirahat : 11.30 s/d 13.00
Apabila dipandang perlu untuk kepentingan produktifitas kerja, jam kerja dan hari kerja oleh Perusahaan
dapat diubah dengan ketentuan jumlah dan jam kerja tetap mengacu kepada ketentuan Undang
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 23
Page 41
undang/Peraturan ketenagakerjaan yang berlaku. Dalam Penambahan Kegiatan Usaha ini, Perusahaan
tidak merencanakan adanya penambahan tenaga kerja dari yang telah dimiliki saat ini.
3.3.2. Manajemen Kekayaan Intelektual (Intellectual Property);
Manajemen hak atas kekayaan intelektual adalah pengelolaan dan pengaturan penggunaan gagasan-
gagasan dan ekspresi yang diciptakannya oleh sumber daya manusia yang dimiliki untuk jangka waktu
tertentu. Dalam pengelolaan hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki sumber daya manusia diharapkan
akan lahirnya inovasi-inovasi baru yang muaranya bertujuan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan
pekerjaan.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Perusahaan akan memastikan sumber daya manusia memiliki
kompetensi teknis yang diperlukan.
3.3.3. Manajemen Risiko;
1. Risiko Internal
• Risiko Sumber Daya Manusia: Layanan advisory sangat bergantung pada keahlian individu. Ada
key person risk jika hanya 1-2 advisor senior yang memegang semua hubungan nasabah;
kepergian mereka dapat mengguncang bisnis.
Mitigasi: program retensi/insentif, dan knowledge sharing antar tim untuk mengurangi
ketergantungan individu. Selain itu, perlu diantisipasi kesenjangan antara kompetensi tim dengan
kebutuhan nasabah. Untuk itu perlu training berkelanjutan dan rekrut konsultan eksternal jika
diperlukan.
• Risiko Operasional dan Proses: Kemungkinan human error dalam memberikan rekomendasi
(salah perhitungan valuasi dan risiko, dsb) bisa terjadi. Kesalahan rekomendasi bisa berujung
kerugian bagi nasabah dan tuntutan reputasi atau bahkan legal jika dianggap lalai.
Mitigasi: implementasi check and balance internal, yaitu dengan semua nasihat penting di-review
oleh second person atau komite, dan/atau menggunakan tool tertentu. Juga, dokumentasi lengkap
setiap rekomendasi (why buy/sell) untuk pertanggungjawaban. Risiko operasional lain mencakup
kegagalan sistem IT (misal data feed eror yang tidak terdeteksi sehingga nasihat jadi keliru). Untuk
itu, sistem backup, cross-check manual, dan rencana darurat (disaster recovery plan untuk IT)
harus ada.
• Risiko Kepatuhan: Internal compliance risk misalnya tim advisory membocorkan informasi
nasabah ke pihak lain. Ini bisa mengakibatkan hilangnya trust.
Mitigasi: training etika berkala, audit internal kepatuhan untuk unit PI. Ada pula risiko fee setting,
yaitu memungut fee terlalu tinggi yang melanggar prinsip kewajaran tanpa pemberitahuan kepada
nasabah. Kebijakan penetapan fee harus terstandarisasi dan disetujui oleh manajemen dan
nasabah secara transparan.
• Risiko Keuangan Internal: Unit advisory mungkin merugi di awal 2 tahun dan membebani
keuangan perusahaan. Jika proyeksi meleset jauh (target jumlah nasabah tidak tercapai dan
pendapatan kecil sementara biaya berjalan terus), ada risiko cash flow drain.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 24
Page 42
Mitigasi: melakukan review berkala dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan
(misalnya dengan menunda rekrutmen baru).
• Risiko Reputasi Internal: Satu insiden buruk bisa mencoreng reputasi. Misalnya, advisor
diketahui melakukan insider trading di portofolio pribadinya atau menyalahgunakan info nasabah.
Hal ini akan mencederai nama baik perusahaan.
Mitigasi: aturan employee trading policy dan zero tolerance pelanggaran etika
2. Risiko Eksternal
• Risiko Pasar dan Kinerja: Kondisi pasar modal dapat berfluktuasi di luar kendali. Jika terjadi bear
market berkepanjangan, portofolio nasabah akan terdampak negatif dan nasabah bisa menjadi
kecewa atau menyalahkan penasihat meski penyebabnya adalah faktor eksternal. Ada juga risiko
event shock (yaitu contohnya krisis finansial atau pandemi) yang membuat saran sebelumnya
menjadi usang.
Mitigasi: komunikasikan sejak awal ke nasabah bahwa investasi punya risiko pasar; nasihat
didasarkan pada asumsi tentang suatu kondisi dan kondisi tersebut dapat berubah. Secara aktif,
advisor harus sigap mengubah rekomendasi saat kondisi berubah. Menyiapkan skenario stress
test dan strategi defensive saat krisis juga merupakan bagian manajemen risiko eksternal ini.
• Risiko Perubahan Regulasi: Kebijakan baru pemerintah/OJK dapat memengaruhi bisnis.
Contohnya kalau OJK menaikkan batas modal minimum PI, atau mewajibkan hal-hal tambahan
(misal keharusan memiliki sumber daya tertentu yang terpisah dari perusahaan MI). Ini dapat
meningkatkan biaya. Atau kalau regulasi untuk nasabah tertentu, misalnya dana pensiun, ternyata
berubah menjadi tidak boleh menggunakan jasa penasihat investasi kecuali memenuhi syarat
tertentu, ini tentu akan mengurangi target pasar.
Mitigasi: Mengurangi risiko ini tentu sulit karena di luar kontrol; namun, menjaga hubungan dengan
asosiasi mungkin dapat memberi informasi dini. Selain itu, diversifikasi segmen nasabah
diperlukan untuk menyebar dampak jika satu segmen terkena aturan restriktif.
• Risiko Persaingan: Muncul pesaing baru atau strategi agresif dari kompetitor. Misalnya: MI
pesaing menawarkan paket advisory gratis jika nasabah membeli produk reksa dana mereka, yang
bisa sangat menarik bagi institusi kecil (cross-subsidy strategy). Atau fintech robo-advisor canggih
yang masuk ke segmen institusi menawarkan biaya yang jauh lebih murah. Ini risiko kehilangan
pangsa pasar atau tekanan menurunkan fee.
Mitigasi: terus memantau pergerakan kompetitor, meningkatkan value proposition misalnya
dengan bundling dengan jasa lain yang tidak dimiliki kompetitor (contoh: nasihat investasi +
pelatihan investasi untuk staf nasabah). Sebaiknya tidak terjebak dengan perang harga; lebih baik
menonjolkan kualitas dan integritas.
• Risiko Makroekonomi: Termasuk dalam hal ini adalah risiko inflasi tinggi, resesi ekonomi, atau
gejolak kurs. Hal ini bisa berdampak pada keputusan nasabah untuk tidak menggunakan jasa
penasihat. Saat tekanan finansial, nasabah akan memangkas biaya konsultan (termasuk advisor
eksternal) untuk efisiensi, atau malah menunda investasi sehingga merasa tidak memerlukan
nasihat. Di sisi lain, boom ekonomi bisa meningkatkan permintaan jasa.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 25
Page 43
Mitigasi: Untuk kelangsungan bisnis, harus melakukan diversifikasi nasabah antar industri,
misalnya jika ada resesi, mungkin dana pensiun swasta terpukul tapi dana pensiun BUMN relatif
stabil; jadi basis nasabah yang terdiversifikasi akan membantu. Juga dapat memberikan
fleksibilitas fee (misalnya moratorium fee untuk sementara waktu jika nasabah benar-benar
mengalami kesulitan likuiditas tetapi portofolio tetap perlu dijaga).
• Risiko Hukum/Eksternal Lain: Penasihat investasi bisa dihadapkan risiko hukum jika nasabah
menggugat akibat merasa dirugikan. Walau kontrak advisory biasanya menyatakan tidak ada
jaminan hasil, di Indonesia gugatan perdata tetap mungkin.
Mitigasi: Perusahaan memiliki perlindungan asuransi untuk direksi untuk menanggung biaya
hukum. Selain itu, rekomendasi dan persetujuan nasabah selalu didokumentasikan agar ada bukti.
Selain itu, risiko eksternal mencakup reputasi industri, misalnya jika ada kasus besar penipuan
melibatkan “penasihat investasi gadungan”, kepercayaan publik dapat menurun meski perusahaan
kita tidak terlibat. Penting untuk turut serta dalam edukasi pasar dan menjaga citra industri secara
keseluruhan.
3.3.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen; Dan
Dengan pengalaman yang selama hampir 16 tahun dalam pengelolaan asset management, perusahaan
memiliki perhatian yang besar terhadap sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang
keberhasilan bisnis dan keberlanjutannya. Dibutuhkan sumber daya manusia berkualitas yang mampu
beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mampu mengatasi tantangan yang mengancam, serta
mampu mengantisipasi perubahan di masa depan.
Oleh sebab itu, Perusahaan menyadari pentingnya melakukan investasi yang signifikan dalam upaya
mengembangkan sumber daya manusia hingga mencapai kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan
kebutuhan Perusahaan. Hal ini menjadi bagian penting dalam rangka mewujudkan visi Perusahaan.
Kompetensi sumber daya manusia yang unggul diyakini Perusahaan adalah kunci yang akan mengantar
Perusahaan dalam mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Kesuksesan bisnis Perusahaan
tidak hanya ditentukan oleh kualitas produknya, namun juga karena didukung penuh oleh sumber daya
manusia yang terampil dan kompeten di setiap level.
Menyadari hal tersebut, Perusahaan senantiasa meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia
melalui penciptaan iklim kerja yang mampu menginspirasi dan memotivasi setiap karyawannya untuk
memberikan kinerja yang lebih baik dari waktu ke waktu. Perusahaan memberikan kesempatan yang
sama kepada setiap karyawannya untuk mengembangkan karir dengan tidak membeda-bedakan suku,
agama, ras maupun golongan.
Untuk menopang serta melancarkan rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan, maka
Perusahaan harus mampu menyediakan sumber daya manusia yang berkompeten dan berkualitas.
3.3.5. Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen
Dalam setiap organisasi diperlukan ketegasan dalam pembagian tugas yang disesuaikan dengan bagan
organisasi, pendelegasian wewenang yang jelas dan koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga
kerja yang sesuai dengan pengalaman, keahlian dan keterampilannya merupakan faktor yang penting
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 26
Page 44
dalam menerapkan kebijaksanaan perusahaan. Hal ini juga akan memperlancar pendelegasian tugas
kepada unit di bawahnya atau sebaliknya, yang pada akhirnya akan memperlancar kerja perusahaan.
Dengan memperhatikan analisis kelayakan model manajemen, Penambahan Kegiatan Usaha secara
model manajemen layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 27
Page 45
3.4. Analisis Kelayakan Keuangan
3.4.1. Biaya Pendirian (Start Up Costs);
Investasi Unit Total (IDR)
Peralatan Kantor 3 45.000.000
Hardware 3 90.000.000
Modal Kerja 2.000.000.000
Total 2.135.000.000
Struktur Investasi Porsi Nilai Investasi
Pendanaan Sendiri 100% 2.135.000.000
Pendanaan Pihak Ketiga 0% -
Total 100% 2.135.000.000
Berdasarkan informasi dari manajemen kegiata usaha dimulai dari tahun ke-1 setelah kegiatan usaha
direncanakan dan pengurusan izin. Pada tahun ke-2 dilakukan pemasaran dan mencari client yang akan
menggunakan jasa perusahaan. Lokasi rencana penambahan kegiatan usaha berada diarea yang sudah
dimiliki perusahaan yang berlokasi di Gedung Artha Graha Lt. 9, Jalan Jenderal Sudirman Kav 52-53 RT. 5
RW. 3, Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta 12190.
Dalam menjalankan kegiatan usaha yang baru ini perusahaan memanfaatkan kantor dan fasilitas lainnya
yang sudah dimiliki dalam aset tetap perusahaan. Dengan demikian perusahaan hanya memerlukan
investasi berupa peralatan kantor dan hardware untuk mendukung kegiatan usaha yang baru
Rencana penambahan kegiatan usaha dengan investasi berupa pembelian peralatan kantor dan hardware
sebagai berikut:
Meja dan kursi set dengan jumlah 3 unit
Aksesoris kantor set dengan jumlah 3 unit
Laptop dengan jumlah 3 unit
Investasi berupa Modal Kerja untuk mengcover beban operasi seperti gaji dan bonus karyawan, pembelian
sewa IT & Data (bloomberg, dll), biaya pemasaran, overhead hingga perizinan selama tahun 4 tahun
dikarenakan belum menghasilkan laba bersih.
Berdasarkan kebutuhan investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha sebesar Rp 2.135.000.000
(Dua Miliar Seratus Tiga Puluh Lima Juta Rupiah) dibandingkan dengan posisi ekuitas Perusahaan
Rp222.651.527.000 ( Dua Ratus Dua Puluh Dua Miliar Enam Ratus Lima Puluh Satu Juta Lima Ratus Dua
Puluh Tujuh Ribu), besaran investasi 0,959% dari ekuitas Perusahaan. Dengan demikian berdasarkan
POJK No. 17 /POJK.04/2020 Rencana Penambahan Kegiatan Usaha bukan merupakan transaksi material.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 28
Page 46
3.4.2. Proyeksi Modal Kerja;
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Modal Kerja
1 2 3 4 5 6
Piutang Usaha - 41.095.890 98.630.137 181.232.877 235.787.671 315.616.438
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Modal Kerja
7 8 9 10 11
Piutang Usaha 462.328.767 863.013.699 1.335.616.438 1.849.315.068 2.373.287.671
Modal kerja yang dibutuhkan terdiri dari Piutang Usaha. Modal kerja sebesar Rp41 Juta – 2.37 Miliar per
tahun selama tahun proyeksi.
3.4.3. Sumber Pembiayaan;
Struktur Investasi Porsi Nilai Investasi
Pendanaan Sendiri 100% 2.135.000.000
Pendanaan Pihak Ketiga 0% -
Total 100% 2.135.000.000
Total investasi yang dibutuhkan sejumlah Rp2.135.000.000 (Dua Miliar Rupiah) yang dikeluarkan pada
tahun pertama dengan sumber pembiayaan 100% pendaan sendiri senilai Rp2.135.000.000 (dua miliar).
Dengan mempertimbangkan saldo kas yang dimiliki dan laba bersih yang mampu dihasilkan oleh
perusahaan maka perusahaan sanggup untuk mengcover seluruh pendanaan investasi tanpa
mempengaruhi kinerja operasi kegiatan usaha yang sudah ada.
3.4.4. Proyeksi Penjualan
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Penjualan
1 2 3 4 5 6
Jumlah Klien Aktif - 2 4 7 9 12
Rata" Aset per Klien - 250.000.000.000 300.000.000.000 350.000.000.000 375.000.000.000 400.000.000.000
Fee Rata" (%) 0,000% 0,100% 0,100% 0,090% 0,085% 0,080%
Total Pendapatan - 500.000.000 1.200.000.000 2.205.000.000 2.868.750.000 3.840.000.000
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Penjualan
7 8 9 10 11
Jumlah Klien Aktif 15 20 25 30 35
Rata" Aset per Klien 500.000.000.000 750.000.000.000 1.000.000.000.000 1.250.000.000.000 1.500.000.000.000
Fee Rata" (%) 0,075% 0,070% 0,065% 0,060% 0,055%
Total Pendapatan 5.625.000.000 10.500.000.000 16.250.000.000 22.500.000.000 28.875.000.000
Berdasarkan informasi dari manajemen, pada tahun pertama perusahaan baru akan mempersiapkan
dokumen dan izin untuk melaksanakan kegiatan usaha baru yang akan mulai efektif pada quartal ke 4 tahun
pertama. Pada quartal ke 4 perusahaan baru akan approching ke client, estimasi mendapatkan client aktif
diakhir quartal ke 4 sehingga diproyeksikan belum mendapatkan client pada tahun pertama.
Client aktif yang akan didapatkan dari 2026 sebanyak 2 entitas yang akan terus bertambah hingga 35 entitas
pada tahun 2035. Rata-rata aset yang akan dikelolah per client sebesar 668 miliar selama tahun proyeksi.
Fee yang akan didapatkan sebesar 0,1% pada tahun 2025 dan akan terus turun hingga 0,055% pada tahun
2035 dikarenakan persaingan yang akan muncul sehingga menghasilkan fee rate yang lebih kompetitif
dipasar.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 29
Page 47
3.4.5. Proyeksi Biaya Operasional;
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Biaya Operasional
1 2 3 4 5 6
Biaya SDM (Gaji & Bonus) - (1.000.000.000) (1.500.000.000) (2.000.000.000) (2.300.000.000) (2.800.000.000)
- Gaji Pokok & Tunjangan - (900.000.000) (1.300.000.000) (1.700.000.000) (2.000.000.000) (2.400.000.000)
- Bonus/Insentif - (100.000.000) (200.000.000) (300.000.000) (300.000.000) (400.000.000)
Biaya Operasional Lain - (300.000.000) (350.000.000) (400.000.000) (450.000.000) (500.000.000)
- IT & Data (Bloomberg, dll) - (200.000.000) (210.000.000) (220.000.000) (230.000.000) (250.000.000)
- Pemasaran & Travel - (50.000.000) (80.000.000) (100.000.000) (120.000.000) (150.000.000)
- Overhead (alokasi kantor, legal) - (50.000.000) (60.000.000) (80.000.000) (100.000.000) (100.000.000)
Total Beban - (1.300.000.000) (1.850.000.000) (2.400.000.000) (2.750.000.000) (3.300.000.000)
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Biaya Operasional
7 8 9 10 11
Biaya SDM (Gaji & Bonus) (3.348.750.000) (4.404.750.000) (5.538.637.500) (6.823.670.625) (7.965.479.156)
- Gaji Pokok & Tunjangan (2.730.000.000) (3.197.250.000) (3.588.637.500) (4.011.170.625) (4.211.729.156)
- Bonus/Insentif (618.750.000) (1.207.500.000) (1.950.000.000) (2.812.500.000) (3.753.750.000)
Biaya Operasional Lain (731.250.000) (1.365.000.000) (2.112.500.000) (2.925.000.000) (3.753.750.000)
- IT & Data (Bloomberg, dll) (365.625.000) (682.500.000) (1.056.250.000) (1.462.500.000) (1.876.875.000)
- Pemasaran & Travel (225.000.000) (420.000.000) (650.000.000) (900.000.000) (1.155.000.000)
- Overhead (alokasi kantor, legal) (140.625.000) (262.500.000) (406.250.000) (562.500.000) (721.875.000)
Total Beban (4.080.000.000) (5.769.750.000) (7.651.137.500) (9.748.670.625) (11.719.229.156)
Beban umum dan administrasi sebesar 1,3 Miliar – 11,719 Miliar selama tahun proyeksi. Yang sebagian
besar terdiri dari gaji pokok dan tunjangan sebesar 35,9% - 72,7% selama tahun proyeksi. Biaya bonus
10,42% - 20% dari total penjualan, biaya IT & Data 6,5% - 40% dari total penjualan, biaya pemasaran &
travel sebesar 3,91% - 10% dari total penjualan dan biaya overhead 2,5% - 10% dari total penjualan
3.4.6. Proyeksi Laporan Keuangan;
1. Proyeksi Laba Rugi
Keterangan tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
1 2 3 4 5 6
Jumlah Klien Aktif - 2 4 7 9 12
Rata" Aset per Klien - 250.000.000.000 300.000.000.000 350.000.000.000 375.000.000.000 400.000.000.000
Fee Rata" (%) 0,000% 0,100% 0,100% 0,090% 0,085% 0,080%
Total Pendapatan - 500.000.000 1.200.000.000 2.205.000.000 2.868.750.000 3.840.000.000
Biaya SDM (Gaji & Bonus) - (1.000.000.000) (1.500.000.000) (2.000.000.000) (2.300.000.000) (2.800.000.000)
- Gaji Pokok & Tunjangan - (900.000.000) (1.300.000.000) (1.700.000.000) (2.000.000.000) (2.400.000.000)
- Bonus/Insentif - (100.000.000) (200.000.000) (300.000.000) (300.000.000) (400.000.000)
Biaya Operasional Lain - (300.000.000) (350.000.000) (400.000.000) (450.000.000) (500.000.000)
- IT & Data (Bloomberg, dll) - (200.000.000) (210.000.000) (220.000.000) (230.000.000) (250.000.000)
- Pemasaran & Travel - (50.000.000) (80.000.000) (100.000.000) (120.000.000) (150.000.000)
- Overhead (alokasi kantor, legal) - (50.000.000) (60.000.000) (80.000.000) (100.000.000) (100.000.000)
Total Beban - (1.300.000.000) (1.850.000.000) (2.400.000.000) (2.750.000.000) (3.300.000.000)
EBITDA - (800.000.000) (650.000.000) (195.000.000) 118.750.000 540.000.000
Depreciation of fixed assets (11.250.000) (11.250.000) (11.250.000) (18.750.000) (22.500.000) (30.000.000)
EBIT (11.250.000) (811.250.000) (661.250.000) (213.750.000) 96.250.000 510.000.000
Interest - - - - -
EBT (11.250.000) (811.250.000) (661.250.000) (213.750.000) 96.250.000 510.000.000
Tax - - - - (21.175.000) (112.200.000)
EAT (11.250.000) (811.250.000) (661.250.000) (213.750.000) 75.075.000 397.800.000
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 30
Page 48
Keterangan tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
7 8 9 10 11
Jumlah Klien Aktif 15 20 25 30 35
Rata" Aset per Klien 500.000.000.000 750.000.000.000 1.000.000.000.000 1.250.000.000.000 1.500.000.000.000
Fee Rata" (%) 0,075% 0,070% 0,065% 0,060% 0,055%
Total Pendapatan 5.625.000.000 10.500.000.000 16.250.000.000 22.500.000.000 28.875.000.000
Biaya SDM (Gaji & Bonus) (3.348.750.000) (4.404.750.000) (5.538.637.500) (6.823.670.625) (7.965.479.156)
- Gaji Pokok & Tunjangan (2.730.000.000) (3.197.250.000) (3.588.637.500) (4.011.170.625) (4.211.729.156)
- Bonus/Insentif (618.750.000) (1.207.500.000) (1.950.000.000) (2.812.500.000) (3.753.750.000)
Biaya Operasional Lain (731.250.000) (1.365.000.000) (2.112.500.000) (2.925.000.000) (3.753.750.000)
- IT & Data (Bloomberg, dll) (365.625.000) (682.500.000) (1.056.250.000) (1.462.500.000) (1.876.875.000)
- Pemasaran & Travel (225.000.000) (420.000.000) (650.000.000) (900.000.000) (1.155.000.000)
- Overhead (alokasi kantor, legal) (140.625.000) (262.500.000) (406.250.000) (562.500.000) (721.875.000)
Total Beban (4.080.000.000) (5.769.750.000) (7.651.137.500) (9.748.670.625) (11.719.229.156)
EBITDA 1.545.000.000 4.730.250.000 8.598.862.500 12.751.329.375 17.155.770.844
Depreciation of fixed assets (33.750.000) (37.500.000) (41.250.000) (45.000.000) (45.000.000)
EBIT 1.511.250.000 4.692.750.000 8.557.612.500 12.706.329.375 17.110.770.844
Interest -
EBT 1.511.250.000 4.692.750.000 8.557.612.500 12.706.329.375 17.110.770.844
Tax (332.475.000) (1.032.405.000) (1.882.674.750) (2.795.392.463) (3.764.369.586)
EAT 1.178.775.000 3.660.345.000 6.674.937.750 9.910.936.913 13.346.401.258
Pada tahun proyeksi Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Perusahaan diproyeksikan mendapatkan
EBIT (Earning Before Interest dan Tax) berkisar (811.250.000) – 17.110.770.844. Beban pajak
penghasilan diasumsikan berkisar 22%, sehingga Perusahaan mendapatkan EAT (Earning After Tax)
berkisar (811.250.000) – 13.346.401.258.
2. Metodologi Analisa
Metodologi dilakukan dengan menganalisa potensi keuntungan ekonomis yang dapat diperoleh dari
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha.
3. Model Arus Kas yang Digunakan
Untuk melakukan analisis keuangan dalam studi kelayakan dengan menggunakan metode diskonto arus
kas, dengan menggunakan arus kas terhadap proyek Free Cash Flow to Firm (FCFF). Kami menggunakan
metode FCFF karena perusahaan bergerak di bidang industri pengelolaan bukan tenunan dan industri
serat stapel buatan sehingga FCFF lebih tepat untuk mengakomodir arus kas proyek.
4. Penetapan Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto diestimasikan dengan menggunakan metode Weighted Average Cost of Capital (WACC).
Biaya Ekuitas (Ke) diestimasikan dengan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM), dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:
Biaya Ekuitas (Ke) = Rf + (Beta x Market Risk Premium) - RBDS
Rf (Risk Free) : Tingkat Pengembalian Bebas Risiko
Beta : Risiko sistemik usaha
Market Risk Premium : Premi Resiko Pasar
RBDS : Penyesuaian Tingkat Pengembalian Pasar
Rf (Risk Free) : 7,1118%
Beta : 0,91
Market Risk Premium : 7,38%
RBDS : 2,07%
Biaya Ekuitas (Ke) = 11,77%
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 31
Page 49
Tingkat Diskonto = (We x Ke) + (Wd x (Kd x (1-T))
We : Bobot modal sendiri pada usaha tertentu
Ke (Cost Of Equity) : Tingkat pengembalian modal sendiri
Wd : Bobot modal pinjaman pada usaha tertentu
Kd (Cost Of Debt) : Tingkat pengembalian modal pinjaman
T (Tax) : Pajak perseroan yang berlaku
We : 93,80%
Ke (Cost Of Equity) : 11,77%
Wd : 6,20%
Kd (Cost Of Debt) : 9,18%
T (Tax) : 22%
Tingkat Diskonto = 11,48%
1. Tingkat Pengembalian Bebas Risiko (Rf)
Adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap tidak memiliki kemungkinan
gagal bayar. Di Indonesia, instrumen bebas risiko yang dapat dipilih adalah tingkat bunga Obligasi
Pemerintah untuk jangka panjang (SUN). tingkat suku bunga bebas risiko yang digunakan merupakan
obligasi pemerintah RI dalam mata uang rupiah dengan tenor 30 tahun. Berdasarkan data yang
dikeluarkan oleh Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) maka yield SUN yang digunakan untuk proyek
adalah 7,1118%.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 32
Page 50
2. Risiko Sistemik Usaha (Beta)
Beta (β) adalah faktor untuk meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas. Beta akan dikalikan dengan
market risk premium untuk mendapatkan equity risk premium. Untuk memperoleh faktor beta yang
sesuai kami menggunakan unlevered beta sebesar 0,87, Unlevered beta rata-rata perusahaan
pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-relevered dengan tingkat leverage pasar
pada industri sejenis untuk memperoleh beta yang sesuai untuk mendiskonto Perseroan tersebut
sehingga didapatkan Beta 0,91.
3. Tingkat Premi Resiko Pasar (ERP)
Tingkat Premi Resiko Pasar (ERP) ditentukan menggunakan rujukan dari hasil Damodaran per tanggal
studi kelayakan dengan risk premium untuk pasar negara berkembang seperti Indonesia adalah
sekitar 7,38%.
4. Penyesuaian Tingkat Pengembalian Pasar (RBDS)
Pada perhitungan WACC, digunakan data yang bersumber dari Damodaran, dimana data yang
digunakan adalah Total Equity Risk Premium yang juga telah mempertimbangkan risiko, maka
diperlukan penyesuaian pada CAPM dengan memperhatikan Rating Based Default Spread dari
Damodaran dimana Cost of Equity dikurangkan dengan Rating Based Default Spread sebesar 2,07%.
5. Bobot Modal Sendiri Pasa Usaha Tertentu (We)
Komposisi pendanaan dihitung berdasarkan kinerja perbandingan interest bearing debt dengan
ekuitasnya, dimana komposisi struktur permodalan Perseroan diasumsikan mengikuti struktur
permodalan pasar dari hasil riset Aswath Damodaran, dengan demikian struktur modal sendiri untuk
proyek 93,8%.
6. Biaya Ekuitas (Ke)
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset Pricing Model
(CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas risiko ditambah premium
untuk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham adalah 11,77% .
7. Bobot modal pinjaman pada usaha tertentu (Wd)
Komposisi pendanaan dihitung berdasarkan kinerja perbandingan interest bearing debt dengan
ekuitasnya, dimana komposisi struktur permodalan Perseroan diasumsikan mengikuti struktur
permodalan pasar dari hasil riset Aswath Damodaran, dengan demikian struktur utang untuk proyek
6,2%.
8. Tingkat Pengembalian Modal Pinjaman (Kd)
Dalam analisa studi kelayakan ini, untuk biaya bunga untuk utang digunakan tingkat bunga pinjaman
rata-rata dalam mata uang Rupiah dari bank pemerintah per tanggal studi kelayakan, yaitu 9,18%.
Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya bunga setelah pajak sampai akhir proyeksi
sebesar 7,16%, dengan tarif pajak 22%.
5. Analisis Kelayakan Investasi
Untuk mengevaluasi kelayakan investasi pada Rencana Proyek sesuai SEOJK 17/2020 digunakan 4
(empat) indikator yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI),
dan Payback Period., yang didasarkan pada nilai kini arus kas bersih yang diproyeksikan hingga tahun
ke-11. Penggunaan NPV berarti mengukur nilai kini dari pengeluaran investasi dan manfaat bisnis yang
digambarkan oleh proyeksi manfaat neto.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 33
Page 51
Nilai NPV mencerminkan selisih dari nilai sekarang arus kas masa datang dengan nilai investasi. Dengan
membandingkan antara total investasi yang dikeluarkan pada awal periode proyek dan total arus kas yang
akan diterima setiap tahun, maka dapat diketahui nilai NPV yang dihasilkan oleh proyek tersebut. Jika
nilai NPV positif maka investasi tersebut layak dilaksanakan sedangkan jika nilai NPV negatif, investasi
tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan.
Nilai IRR mencerminkan besarnya tingkat bunga yang apabila digunakan untuk mendiskonto seluruh
selisih kas masuk akan menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi. IRR merupakan
nilai tingkat pengembalian investasi pada saat NPV Perseroan sama dengan 0, yang artinya tingkat
pengembalian dan risiko dari total investasi pada saat ini adalah sama dengan tingkat pengembalian dan
risiko pasar. Sehingga apabila IRR proyek lebih besar dari WACC (Discount Rate), maka proyek ini layak
dilaksanakan dan apabila IRR proyek lebih kecil dari WACC maka proyek ini sebaiknya tidak
dilaksanakan.
Untuk menganalisis keseluruhan profitabilitas dapat menggunakan Profitability Index (PI), dimana PI
merupakan teknik penilaian investasi yang dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih
yang akan datang suatu proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk proyek tersebut.
Apabila PI yang dihasilkan dari suatu proyek sama dengan 1 maka arus kas dari proyek tidak
menghasilkan nilai tambah, apabila PI lebih besar dari 1, maka nilai arus kas yang dihasilkan dari proyek
menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan, sedangkan apabila PI lebih kecil dari 1, maka nilai arus kas
yang dihasilkan dari proyek tidak menghasilkan nilai tambah bagi Perseroan. Dalam menganalisis PI suatu
proyek maka kelayakan dapat dinilai apabila nilai PI lebih dari 1. Jika PI lebih besar dari 1, maka investasi
tersebut dapat disimpulkan layak.
Payback period atau periode pengembalian modal adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai break
even point atau titik impas. Payback Period menentukan berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menutup biaya awal yang terkait dengan investasi. Semakin pendek pengembalian maka investasi
semakin diinginkan.
Kelayakan dari proyek ini dihitung dari manfaat ekonomis yang diantisipasi di masa mendatang dengan
Free Cash Flow To Firm yang selanjutnya dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Kelayakan
investasi proyek dihitung dengan menggunakan empat indikator yaitu Net Present Value, Internal Rate of
Return, Profitability Index (PI) dan Payback Period dengan ringkasan sebagai berikut:
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Keterangan
0 1 2 3 4 5
EBIT - (11.250.000) (811.250.000) (661.250.000) (213.750.000) 96.250.000
Tax - - - - - (21.175.000)
Depresiasi - 11.250.000 11.250.000 11.250.000 18.750.000 22.500.000
CNWC - - (41.095.890) (57.534.247) (82.602.740) (54.554.795)
Capex - - - - (90.000.000) (45.000.000)
Initial Investment (2.135.000.000) - - - - -
FCFF (2.135.000.000) - (841.095.890) (707.534.247) (367.602.740) (1.979.795)
TV
Growth
DR 11,48% 11,48% 11,48% 11,48% 11,48% 11,48%
DF 1 0,90 0,80 0,72 0,65 0,58
PV (2.135.000.000) - (676.734.227) (510.630.101) (237.970.981) (1.149.613)
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
Keterangan
6 7 8 9 10 11
EBIT 510.000.000 1.511.250.000 4.692.750.000 8.557.612.500 12.706.329.375 17.110.770.844
Tax (112.200.000) (332.475.000) (1.032.405.000) (1.882.674.750) (2.795.392.463) (3.764.369.586)
Depresiasi 30.000.000 33.750.000 37.500.000 41.250.000 45.000.000 45.000.000
CNWC (79.828.767) (146.712.329) (400.684.932) (472.602.740) (513.698.630) (523.972.603)
Capex (90.000.000) (45.000.000) (45.000.000) (45.000.000) (45.000.000) -
Initial Investment - - - - - -
FCFF 257.971.233 1.020.812.671 3.252.160.068 6.198.585.010 9.397.238.282 12.867.428.655
TV 138.384.348.451
Growth
DR 11,48% 11,48% 11,48% 11,48% 11,48% 11,48%
DF 0,52 0,47 0,42 0,38 0,34 0,30
PV 134.365.933 476.925.190 1.362.895.123 2.330.072.324 3.168.570.646 45.745.666.223
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 34
Page 52
Net Present Value (NPV) : 13.441.135.005
Internal Rate of Return (IRR) : 31,83%
Profitability Index (PI) : 24,26
Payback Period : 7 Tahun 0 Bulan
Berdasarkan analisa kelayakan di atas, NPV menunjukkan nilai positif, IRR lebih tinggi daripada WACC
dan PI lebih dari 1, dengan demikian investasi tersebut layak.
6. Analisis Profitabilitas
tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke tahun ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Profit Margin 0% -162% -55% -10% 3% 10% 21% 35% 41% 44% 46%
Return on Investment -1% -38% -31% -10% 4% 19% 55% 171% 313% 464% 625%
Return of investment berada diangka (1%) – 625% dengan demikian Return of Investment penambahan
kegiatan usaha menunjukan bahwa usaha dalam bidang jasa sangat normal untuk mendapatkan
keuntungan yang sangat besar. Profit margin berada di angka (162%)-46% selama tahun proyeksi.
7. Analisis Sensitifitas
Untuk menguji sensitifitas suatu proyek terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya, maka berikut
ini disajikan analisa sensitivitas terhadap kelayakan proyek, yaitu:
1. Investasi
2. Rata-rata aset per client
3. Fee rate
4. Beban Penjualan Umum dan Administrasi
Berdasarkan uji sensitivitas tersebut, kondisi parameter kelayakan proyek akan terlihat seperti di bawah
ini:
IRR NPV Profitability
Variable Skenario Kesimpulan
% Rupiah Index (PI)
Normal 31,83% 13.441.135.005 24,26 Layak
Investasi 5,00% 31,34% 13.334.385.005 23,10 Layak
Investasi 10,00% 30,86% 13.227.635.005 22,05 Layak
Investasi 15,00% 30,41% 13.120.885.005 21,09 Layak
rata-rata aset per client -5,00% 30,52% 12.187.040.066 22,52 Layak
rata-rata aset per client -10,00% 29,14% 10.932.945.128 20,78 Layak
rata-rata aset per client -15,00% 27,69% 9.678.850.189 19,04 Layak
fee rate -1,00% 31,57% 13.190.316.017 23,91 Layak
fee rate -3,00% 31,05% 12.688.678.042 23,21 Layak
fee rate -5,00% 30,52% 12.187.040.066 22,52 Layak
Beban Penjualan Umum dan Adm 2,00% 31,39% 13.096.052.799 23,82 Layak
Beban Penjualan Umum dan Adm 4,00% 30,96% 12.750.970.592 23,37 Layak
Beban Penjualan Umum dan Adm 6,00% 30,52% 12.405.888.386 22,93 Layak
Dengan memperhatikan analisis kelayakan keuangan, Penambahan Kegiatan Usaha secara keuangan layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 35
Page 53
3.5. Kesimpulan
Berdasarkan analisa pada kelayakan aspek pasar, kelayakan aspek teknis, kelayakan aspek pola bisnis,
kelayakan aspek model manajemen, dan kelayakan aspek keuangan maka dapat disimpulkan bahwa
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah Layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Trimegah Asset Management. 36
Names mentioned 19 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Trimegah Asset Management.
p.14 ×44
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.15 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan. Penyelia
p.15
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.18 ×2
unresolved
person
Jose Dima Satria
· Notaris
p.18 ×3
unresolved
person
Leolin Jayayanti
· Notaris
p.18 ×2
unresolved
org
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
p.18
unresolved
org
Bapepam
p.18 ×6
unresolved
org
PT TRIMEGAH ASSET MANAGEMENT. Kinerja
p.20
unresolved
—
Christophorus Alvin Kossim
· Akuntan Publik
p.20 ×2
unresolved
—
Ignatius Yokajaya
· Akuntan Publik
p.20 ×3
unresolved
org
Bank Indonesia
p.27 ×6
unresolved
org
Pusat Statistik
p.27
unresolved
org
Pengelola Keuangan Haji
p.30
unresolved
org
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
p.31
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.