Skip to content
Back to announcement

20241111_PGEO_Public Expose_31766751_lamp2.pdf

Other Text extracted PGEO

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 4

Page 1
                 Rangkuman Tanya Jawab Public Expose
                 PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO)
                         Rabu, 6 November 2024

1. Apa langkah konkret PGE yang telah dilakukan PGE dalam mengakselerasi
   volume produksi hingga 9M2024 ini? (Bapak Kevin Sirait)

   PGE saat ini terus melakukan continuous improvement dalam mengembangkan dan
   mengimplementasikan operational excellent yang berbasis asset management
   (ISO55001:2014). Di dalamnya terdapat berbagai aktivitas unggulan seperti

          A. reliability program, PGE menerapkan RBI (Risk-Based Inspection), SAMS
             (Seamless Asset Management System), dan RCM (Reliability Centered
             Maintenance) melalui modul plant maintenance SAP.
          B. Safety asset integrity management
          C. Turn around atau major overhaul management
          D. Personal capability improvement
          E. Strategic corporate action technical advisor
          F. Long term contract
          G. Digital transformation

   Hal-hal diatas PGE kembangkan sehingga kami berhasil mengurangi unplanned shut
   down dan menjaga keandalan power plant. Pada akhirnya dapat mengurangi lose
   opportunity dan juga dapat membantu kami mengakselerasi maintenance program
   terjadwal. Atas maintenance terjadwal, dari rencana 10 hari, kami pada akhirnya dapat
   selesaikan dalam waktu 7 hari, dan yang direncanakan akan selesai dalam waktu 30
   hari, pada akhirnya dapat kami selesaikan dalam waktu 12 hari. Percepatan ini
   memberikan peluang lebih bagi PGE untuk berproduksi lebih optimal dan availability
   factor juga meningkat.

   Selain itu, hal lain yang kami lakukan untuk dapat terus meningkatkan volume produksi
   adalah dengan melaksanakan program pengeboran sumur make up dan melakukan
   komunikasi dan koordinasi dengan offtaker PGE. 2024 tersisa waktu dua bulan lagi,
   kami berharap hingga akhir 2024, PGE dapat terus meningkatkan volume
   produksinya, yakni lebih baik dari total volume produksi tahun 2023 dan menjadikan
   2024 sebagai all time high produksi bagi PGE.

2. Bagaimana target produksi untuk tahun 2024 dan 2025? (Bapak Hafis)

   Harapannya adalah pada pertengahan tahun 2025 kami akan mendapatkan tambahan
   kapasitas terpasang dari penyelesaian unit baru kami di Lumut Balai unit 2 dan
   diperkirakan akan dapat beroperasi secara optimal. Kemudian untuk area Ulubelu saat
   ini PGE sedang mempercepat program eksplorasi, sementara pada area Karaha
   program recovery yang sedang berjalan diharapkan akan dapat mendorong produksi
   menjadi lebih baik. Berdasarkan program ini maka pembangkitan di tahun 2025 akan
   dapat lebih optimal serta lebih baik apabila dibandingkan dengan tahun 2024.
Page 2
3. Apakah dapat diinfokan, bagaimana ekspansi bisnis dan rencana prioritas
   PGEO pada tahun 2025? Apakah ada ekspansi dan akuisisi yang akan
   direalisasikan di luar negeri? Seperti di Turki atau kawasan Afrika? (Bapak
   Ridwan)

   Seperti Keterbukaan Informasi yang sebelumnya pernah disampaikan oleh PGE,
   bahwa PGE sudah menandatangani MoU dengan perusahaan nasional geothermal
   dari Kenya, yakni GDC. Tim PGE saat ini sedang bekerja untuk itu, harapannya di
   tahun 2025 kami bisa menyelesaikan kajian terhadap pengembangan usaha panas
   bumi di Afrika.

   Selain itu, kami juga ingin menyampaikan bahwa di tahun 2025 terdapat beberapa
   strategi tumbuh yang sebelumnya sudah disampaikan oleh pak Direktur Utama, yakni
   PGE akan fokus menyelesaikan Project 1 GWh. Pertama, Lumut Balai unit 2 yang
   akan beroperasi secara komersial (COD) pada pertengahan 2025. Kedua, kami juga
   akan memulai proyek pembangunan power plant oleh PLN di proyek Hululais. Ini
   merupakan ekspansi yang akan terjadi di 2025. Kami juga memulai tahapan eksplorasi
   di salah satu lapangan PGE di Sumatera yang FID (Final Investment Decision) nya
   hari ini sudah disetujui. Sementara untuk ekspansi bisnis PGE di luar negeri, seperti
   ekspasi ke Turki, kami masih tetap melihat dan mengkaji secara mendalam pada
   aspek resource dan aspek commerciality. Apabila hasil studi yang ada mengatakan
   bahwa dua hal tersebut sesuai harapan, tentunya PGE akan melanjutkan proses yang
   ada. Di sisi lain, PGE juga terus melihat peluang lapangan baru dari proses biding
   yang dibuka pemerintah. Harapannya peluang-peluang dari lapangan baru ini bisa
   menambah asset eksplorasi PGE di dalam negeri

4. Sejauh ini berapa persen pemanfaatan geothermal di Indonesia? Apa kendala
   energy company kurang berminat investasi di Indonesia khususnya di
   geothermal? Apakah ada potensi underwater geothermal potensial? (Bapak Yogi
   Eriawan)

   Pemanfaatan Geothermal di Indonesia dan Potensinya
   Indonesia memiliki potensi panas bumi (geothermal) yang sangat besar, mencapai
   sekitar 24 GW. Namun, hingga saat ini, pemanfaatannya baru sekitar 10% dari total
   potensi tersebut. Ini menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan kapasitas
   produksi listrik berbasis geothermal masih sangat terbuka dan besar.

   Kendala dalam Pengembangan Geothermal
   Salah satu kendala utama dalam pengembangan geothermal di Indonesia adalah
   terkait komersialitasnya. Mengembangkan proyek geothermal membutuhkan biaya
   investasi awal yang tinggi, terutama pada fase pengeboran dan Pembangunan
   infrastruktur dasar. Tantangan lain yang diemui investor adalah risiko dalam fase
   pengeboran, dan proses pengembangan yang membutuhkan waktu yang lama hingga
   mencapai tahap komersial (COD).
Page 3
   Namun, melihat kunci pengembanngan adalah terkait aspek komersial, PGE yang
   saat ini memiliki total cadangan hingga 3GW, dapat memainkan peran penting dalam
   menghasilkan biaya pengembangan yang kompetitif dan efisien. Kami berhasil
   mengindentifikasi strategi dalam menjawab tantangan yang ada, seperti
   menggunakan teknologi yang efisien, mengakselerasi waktu COD untuk mempercepat
   komersialiasi proyek, memitigasi berbagai risiko yang mungkin muncul pada setiap
   fase pengembangan, dan memulai inisiasi industrialiasi pada ekosistem panas bumi
   di Indonesia. Hal ini untuk mendorong minat investasi masuk ke Indonesia, sehingga
   dapat mencapai target komersialisasi yang diharapkan dan dapat mendukung
   program pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission Indonesia pada 2060.


   Potensi Geothermal di Bawah Laut
   Secara teoritis, potensi geothermal di bawah laut memang ada, terutama karena
   adanya gunung api bawah laut yang menyimpan energi panas. Namun, faktor
   aksesibilitas, kelayakan teknis, dan terutama komersialitasnya perlu dipertimbangkan
   dengan cermat. Tantangan untuk mengakses sumber daya ini lebih besar
   dibandingkan dengan sumber geothermal di daratan, sehingga investasi dan teknologi
   yang sangat maju dibutuhkan untuk mewujudkannya sebagai sumber energi yang
   komersial.


5. Mengingat posisi Ulubelu yang sangat strategis, apakah peningkatan produksi
   bisa terus dilakukan sampai mensuppply listrik ke pulau Jawa, atau setidaknya
   mensupply Lampung dan provinsi lain di Sumatera? (Ibu Lina)

   Ulubelu adalah salah satu aset penting dari PGE, kami akan melakukan berbagai
   upaya peningkatan produksi. Ada dua hal, yakni kami melakukan akselerasi kegiatan
   eksplorasi di area Ulubelu extension, di tahun ini FID akan bisa kami peroleh dan di
   tahun depan PGE akan memulai fase eksplorasi di Ulubelu extension tersebut. Kedua,
   Ulubelu juga menjadi salah satu pilot kami untuk mengimplementasikan ORC Co-
   Generation yang dimana sudah ditandatangani konsersium agreement antara PT
   Pertamina Geothermal Energy dan PT PLN Indonesia power untuk pengembangan
   Co-generation tersebut, dan salah satunya adalah di area Ulubelu. Harapannya
   adalah kapasitas pembangkit yang ada di Ulubelu dapat memberikan peningkatan
   supply listrik dan tentunya akan memberi manfaat tidak hanya bagi Sumatera, namun
   diharapkan juga bagi pulau Jawa dengan super grid yang dicanangkan PLN

6. Bagaimana prospek perluasan kapasitas kapasitas site Kamojang 5 tahun ke
   depan, tantangan apa saja yang paling signifikan dalam perluasan kapasitas
   produksi? (Bapak Julianto Wawan)

   Prospek Perluasan Kapasitas Site Kamojang dalam 5 Tahun ke Depan
   Site Kamojang adalah salah satu lapangan utama PGE yang berkontribusi signifikan
   terhadap kapasitas listrik geothermal di Indonesia, selain site Ulubelu. Dalam 5 tahun
   ke depan, PGE berencana memperluas kapasitas produksi di Kamojang sebagai
   bagian dari strategi mencapai kapasitas 3GW, dengan tujuan untuk menambah
Page 4
  kapasitas lebih dari 1GW yang saat ini perseroan sedang kembangkan. Dengan
  rencana super grid yang diharapkan terhubung dalam beberapa tahun mendatang,
  Kamojang akan menjadi penopang penting bagi pasokan listrik Jawa dan pulau-pulau
  lain. Kamojang juga merupakan lapangan geothermal tertua milik PGE, dengan umur
  operasional yang telah mencapai 40 tahun. Namun, dalam industri geothermal, usia
  ini masih tergolong muda. Bahkan, reservoir di Kamojang dinilai masih sangat baik
  dan mampu dioptimalkan untuk jangka Panjang (mengingat masih ada area Utara dan
  Barat yang berpotensi dikembangkan).

  Tantangan dalam Perluasan Kapasitas Produksi di Kamojang
  Tantangan terbesar dalam mengembangkan kapasitas di Kamojang adalah
  keterbatasan ruang, karena area ini sudah sangat padat. Tantangan lainnya adalah
  keberadaan kawasan hutan yang membatasi area pengembangan. PGE saat ini terus
  merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Kami yakin dapat
  melakukan pengembangan dan optimisasi dari area Kamojang.


7. Bagaimana perkembangan proyek kerjasama antara Chevron dan Pertamina
   Geothermal Energy dengan terbentuknya perusahaan baru yaitu PT Cahaya
   Anagata Energy (CAE) di WKP Way Ratai? (Bapak Gabriel Tamba)

  Joint venture ini adalah salah satu milestone bagi PGE menjalin kerja sama dengan
  perusahaan energi kelas dunia, yakni Chevron. PGE melalui CAE berhasil
  memperoleh Izin Panas Bumi (IPB) pada September 2024 lalu dari Pemerintah
  Indonesia. Tentunya setelah Izin ini diterbitkan, PGE dan Chevron dapat
  mengakselerasi program-program pengembangan, membentuk tim kerja serta
  melanjutkan pengurusan izin-izin lainnya yang dibutuhkan. Dengan demikian
  harapannya CAE sudah dapat memulai fase eksplorasi. Oleh karenanya mohon doa
  agar kerjasama ini benar-benar dapat segera diimplementasikan dan dapat
  memberikan nilai tambah bagi Pertamina Energi Geothermal pada khususnya dan
  Indonesia pada umumnya.

File

File Open PDF
Source IDX
Size0.03 MB
Published11 Nov 2024
Pages4
Characters10,526
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 10 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org PT Pertamina Geothermal Energy p.1 ×4
possible person Ridwan p.2
possible person Lina p.3
unresolved person Kevin Sirait p.1
unresolved person Hafis p.1
unresolved person Yogi Eriawan p.2
unresolved org PT PLN Indonesia p.3
unresolved person Julianto Wawan p.3
unresolved org PT Cahaya Anagata Energy p.4
unresolved person Gabriel Tamba p.4

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result