Back to announcement
20260828_RMKO_Tanggapan atas Permintaan Penjelasan Bursa_32133507_lamp1.pdf
Other Text extracted RMKOSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 33
Page 1
Nomor : 49/CS/RMKO/8/2026 Jakarta, 28 Agustus 2026
Lampiran :-
Kepada Yth.
Bapak Adi Pratomo Aryanto
PH Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2
PT Bursa Efek Indonesia
Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower 1 Lantai 6
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190, Indonesia
Perihal : Permintaaan Penjelasan Bursa
Dengan hormat,
Merujuk pada surat PT Bursa Efek Indonesia Nomor S-11031/BEI.PP2/08-2026 yang kami
terima pada tanggal 26 Agustus 2026 melalui IDXNET. Dengan ini kami untuk dan atas nama
PT. Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (“Perseroan”) menyampaikan penjelasan sebagai
berikut:
Nama Emiten : PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
Bidang Usaha : Bergerak di bidang jasa penunjang pertambangan dan jasa
penyewaan alat-alat berat.
Telepon : +62 21 582 2555
Faksimili : +62 21 582 7555
Email : corsec@rmko.co.id
1. Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 6 tentang Piutang Usaha,
saldo Piutang Usaha Pihak Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp41,38 miliar atau
meningkat sebesar Rp23,04 miliar (125,7%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025
sebesar Rp18,34 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang usaha pihak ketiga pada semester I 2026.
b. Tingkat kolektibilitas piutang tersebut dan dasar keyakinan manajemen atas
kebertertagihannya mengingat saldo piutang meningkat signifikan.
c. Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta
nilai penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.
d. Langkah yang dilakukan Perseroan untuk menjaga kualitas piutang dan
meminimalkan risiko gagal bayar pelanggan.
e. Rincian Aging schedule untuk piutang lewat 60 hari, termasuk rincian pelanggan
utama, nilai piutang masing-masing, dan jangka waktu keterlambatannya.
No. Pelanggan Piutang Jangka waktu Status Terkini
1.
2.
…
f. Dasar dan pertimbangan manajemen untuk tidak membentuk penyisihan kerugian
kredit ekspektasian (ECL), mengingat terdapat piutang usaha yang telah jatuh tempo
lebih dari 90 hari sebesar Rp34,33 miliar per 30 Juni 2026.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 2
g. Agar disampaikan analisis ECL yang dilakukan Perseroan berdasarkan PSAK 71,
termasuk asumsi probability of default, loss given default, dan historical loss rate yang
digunakan sehingga menghasilkan ECL nihil.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo piutang usaha pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama dipengaruhi
oleh transaksi kegiatan operasional Perseroan dalam pemberian jasa kepada
pelanggan, yang pada tanggal pelaporan masih dalam proses penyelesaian
pembayaran.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari piutang kepada PT Sahala Bara Lestari
(“SBL”), yang meningkat dari sebesar Rp17,59 miliar per 31 Desember 2025 menjadi
Rp39,25 miliar per 30 Juni 2026, atau meningkat sebesar Rp21,66 miliar. Saldo piutang
SBL tersebut mencakup sekitar 94,85% dari total piutang usaha pihak ketiga per
30 Juni 2026 dan merupakan sekitar 93,99% dari total peningkatan piutang usaha pihak
ketiga selama semester I 2026. Pada periode Juli 2026 Perseroan telah menerima
pembayaran dari SBL sebesar Rp38,86 miliar, atau sekitar 99,00% dari saldo piutang
SBL per 30 Juni 2026.
b. Manajemen melakukan evaluasi terhadap kolektibilitas piutang usaha berdasarkan
antara lain histori pembayaran pelanggan, status penyelesaian tagihan, komunikasi
dengan pelanggan, realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan, serta informasi
lain yang dapat mengindikasikan adanya peningkatan risiko kredit.
Berdasarkan evaluasi tersebut, manajemen berkeyakinan bahwa saldo piutang usaha
pihak ketiga per 30 Juni 2026 masih dapat tertagih. Keyakinan tersebut terutama
didukung oleh:
- Tidak terdapat indikasi kesulitan keuangan pelanggan yang menyebabkan
pelanggan tidak dapat memenuhi kewajibannya;
- Tidak terdapat sengketa atas keberadaan dan nilai tagihan yang material;
- Hubungan komersial dengan pelanggan masih berlangsung; dan
- Terdapat realisasi penerimaan atas saldo piutang setelah tanggal 30 Juni 2026
sebagaimana dijelaskan pada butir (c)
c. Sampai dengan 28 Agustus 2026, Perseroan telah menerima pembayaran atas piutang
usaha sebesar Rp59,63 miliar, atau sekitar 99,52% dari saldo piutang usaha per
30 Juni 2026 sebesar Rp59,92 miliar.
d. Perseroan menjaga kualitas piutang melalui penerapan termin pembayaran sesuai
perjanjian atau kesepakatan komersial dengan masing-masing pelanggan serta
pemantauan kolektabilitas secara berkala. Pemantauan dilakukan melalui penelaahan
umur dan jatuh tempo piutang, rekonsiliasi saldo, komunikasi dan tindak lanjut
penagihan kepada pelanggan, evaluasi riwayat pembayaran, serta pemantauan
realisasi pembayaran setelah tanggal pelaporan. Atas piutang yang telah melewati
jatuh tempo, Perseroan melakukan tindak lanjut penagihan dan pemantauan
penyelesaian pembayaran secara lebih intensif.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 3
e. Berikut rincian piutang usaha yang telah jatuh tempo lebih dari 60 hari per 30 Juni 2026:
No. Pelanggan Piutang Jangka Status Terkini
waktu
1. PT Sahala Bara Rp 6,38 miliar 61-90 hari Telah diterima pembayaran
Lestari sebesar Rp38,86 miliar
2. PT Sahala Bara Rp 22,43 miliar >90 hari sampai dengan 28 Agustus
Lestari 2026.
3. PT Trans Andalan Rp 1,38 miliar 61-90 hari Telah diterima pembayaran
Energi sebesar Rp212,17 juta
sampai dengan 28 Agustus
2026.
4. PT Duta Bara Utama Rp 463,65 juta >90 hari Telah diterima pembayaran
sebesar Rp463,65 juta
sampai dengan 28 Agustus
2026.
5. PT Royaltama Mulia Rp 2,05 miliar 61-90 hari Masih dalam proses
Transportindo penagihan dan tindak lanjut
6. PT Royaltama Mulia Rp 1,00 miliar >90 hari pembayaran. Komunikasi
Transportindo dengan pelanggan berjalan
baik dan tidak terdapat
7. PT Artha Nusantara Rp 160,59 juta 61-90 hari
sengketa atas saldo
Pelabuhan
piutang.
8. PT Artha Nusantara Rp 3,86 miliar >90 hari
Pelabuhan
9. PT Beltindo Mulia Rp 81,36 juta 61-90 hari
Kencana
10. PT Beltindo Mulia Rp 161,73 juta >90 hari
Kencana
11. PT Salaam Konstruksi Rp 281,59 juta >90 hari
Indonesia
12. PT Central Mulia Rp 6,14 miliar >90 hari
Kencana
f. Perseroan menerapkan pendekatan yang disederhanakan (simplified approach) dalam
pengukuran kerugian kredit ekspektasian atas piutang usaha sesuai PSAK 109, yaitu
dengan mengukur lifetime expected credit loss pada setiap tanggal pelaporan.
Dalam melakukan penilaian tersebut, Perseroan mempertimbangkan antara lain umur
piutang, riwayat penyelesaian dan kerugian kredit historis, probability of default (PD),
loss given default (LGD), kondisi terkini pelanggan, serta faktor forward-looking yang
relevan. Untuk saldo piutang yang telah melewati 90 hari, Perseroan melakukan
penilaian secara individual dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan
pembayaran pelanggan, status penyelesaian tagihan, komunikasi dengan pelanggan,
serta realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tidak terdapat indikasi kesulitan keuangan atau
sengketa atas saldo piutang yang material. Selain itu, realisasi penerimaan setelah
tanggal pelaporan menunjukkan tingkat pemulihan yang tinggi atas saldo piutang
usaha pihak ketiga, termasuk penerimaan atas sebagian besar saldo pelanggan
utama.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 4
Manajemen menilai risiko kerugian kredit atas saldo piutang usaha per 30 Juni 2026
rendah dan tidak terdapat kebutuhan pembentukan penyisihan kerugian kredit yang
material.
g. Perseroan menerapkan simplified approach sesuai PSAK 109 dengan mengukur
lifetime ECL berdasarkan EAD, PD, LGD, dan faktor forward-looking. PD ditentukan
berdasarkan profil umur dan riwayat pembayaran pelanggan, sedangkan LGD
didasarkan pada tingkat pemulihan historis. Berdasarkan evaluasi historis, tingkat
pemulihan piutang pihak ketiga sebesar sekitar 93,57% atau setara dengan historical
loss rate/LGD sekitar 6,43%.
Atas saldo yang telah melewati 90 hari, Perseroan melakukan individual assessment
dengan mempertimbangkan kondisi pelanggan, riwayat pembayaran, komunikasi dan
status penyelesaian tagihan, serta realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan.
Sampai dengan 28 Agustus 2026, sekitar 95,53% saldo piutang usaha pihak ketiga per
30 Juni 2026 telah diterima.
Berdasarkan keseluruhan analisis kuantitatif dan kualitatif tersebut, Manajemen menilai
risiko kerugian kredit atas saldo piutang usaha per 30 Juni 2026 rendah dan tidak
terdapat kebutuhan pembentukan ECL yang material.
2. Berdasarkan CALK nomor 7 tentang Piutang Lain-lain, saldo Piutang Lain-lain Pihak
Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp4,64 miliar atau meningkat sebesar Rp4,62 miliar
(26.818,6%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp17,24 juta. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga secara signifikan pada
semester I 2026.
b. Rincian pihak ketiga dan transaksi yang mendasari timbulnya saldo tersebut.
c. Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta
nilai penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.
d. Dasar pertimbangan manajemen sehingga tidak membentuk cadangan kerugian
penurunan nilai atas piutang tersebut.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama disebabkan
oleh pengakuan piutang atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak
Penghasilan Badan tahun 2024 sebesar Rp4,62 miliar.
Piutang tersebut mencerminkan hak Perseroan atas pengembalian kelebihan
pembayaran Pajak Penghasilan Badan tahun 2024 yang sampai dengan tanggal 30
Juni 2026 belum diterima oleh Perseroan.
Dengan demikian, peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga pada semester I
2026 terutama berasal dari pengakuan hak restitusi pajak tersebut dan bukan berasal
dari transaksi operasional pemberian jasa kepada pelanggan.
b. Saldo piutang lain-lain pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama terdiri atas SKPLB Pajak
Penghasilan Badan Tahun Pajak 2024 sebesar Rp4,62 miliar yang belum diterima
oleh Perseroan pada tanggal pelaporan. Sisa saldo merupakan piutang karyawan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 5
c. Sampai dengan 28 Agustus 2026, Perseroan belum menerima pengembalian atas
SKPLB PPh Badan Tahun Pajak 2024 sebesar Rp4,62 miliar. Piutang tersebut masih
dalam proses penyelesaian administrasi pengembalian pajak sesuai dengan
mekanisme yang berlaku.
d. Manajemen tidak membentuk cadangan kerugian penurunan nilai karena sebagian
besar saldo piutang lain-lain pihak ketiga berasal dari SKPLB Pajak Penghasilan
Badan Tahun Pajak 2024 yang telah ditetapkan oleh otoritas pajak. Dengan demikian,
risiko tidak diterimanya piutang tersebut dinilai rendah dan perbedaan saldo pada
tanggal pelaporan terutama disebabkan oleh perbedaan waktu penerimaan
pengembalian pajak.
3. Berdasarkan CALK nomor 8 tentang Persediaan, saldo Persediaan per 30 Juni 2026
sebesar Rp46,82 miliar atau meningkat sebesar Rp9,20 miliar (24,5%) dibandingkan
posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp37,62 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo persediaan pada semester I 2026.
b. Kesesuaian peningkatan persediaan dengan kebutuhan proyek dan aktivitas
operasional Perseroan.
c. Rincian komposisi persediaan per 30 Juni 2026.
d. Apakah terdapat persediaan yang mengalami penurunan nilai, usang, atau slow
moving?
e. Kebijakan Perseroan dalam melakukan penelaahan dan pencadangan atas
persediaan tersebut.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo persediaan per 30 Juni 2026 terutama berasal dari peningkatan
persediaan suku cadang, dari sebesar Rp34,45 miliar per 31 Desember 2025 menjadi
Rp43,73 miliar per 30 Juni 2026. Peningkatan tersebut sejalan dengan kebutuhan
Perseroan untuk mendukung kegiatan perbaikan dan pemeliharaan (repair and
maintenance) serta operasional alat berat dan peralatan lainnya. Kebutuhan suku
cadang juga meningkat seiring dengan adanya penambahan aset tetap operasional
Perseroan selama semester I 2026, sehingga diperlukan ketersediaan suku cadang
yang memadai untuk menunjang keberlangsungan dan kesiapan operasional aset
tersebut.
b. Peningkatan persediaan dinilai sejalan dengan kebutuhan proyek dan aktivitas
operasional Perseroan, khususnya untuk menunjang pemeliharaan dan perbaikan alat
berat serta menjaga kesiapan operasional aset. Seiring dengan penambahan aset
tetap operasional selama semester I 2026, kebutuhan terhadap suku cadang, bahan
bakar, dan pelumas juga meningkat untuk mendukung aktivitas operasional secara
berkelanjutan.
c. Berikut rincian komposisi persediaan per 30 Juni 2026:
Jenis Persediaan Saldo Persediaan Komposisi
Suku cadang Rp43,73 miliar 93,38%
Bahan bakar Rp2,050 miliar 4,38%
Pelumas Rp1,05 miliar 2,24%
Total Rp46,82 miliar 100,00%
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 6
d. Berdasarkan penelaahan Manajemen per 30 Juni 2026, tidak terdapat kondisi yang
mengindikasikan penurunan nilai persediaan. Perseroan juga melakukan pemantauan
atas pergerakan dan penggunaan persediaan, khususnya suku cadang, untuk
mengidentifikasi persediaan yang berpotensi mengalami pergerakan lambat atau tidak
lagi digunakan.
e. Perseroan melakukan penelaahan atas nilai dan pergerakan persediaan secara
berkala. Persediaan dicatat sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan
dan nilai realisasi bersih, sedangkan kebutuhan pencadangan atas persediaan usang
atau slow moving ditentukan berdasarkan kondisi persediaan dan estimasi
penggunaan masing-masing jenis persediaan di masa mendatang. Berdasarkan hasil
penelaahan per 30 Juni 2026, Manajemen tidak mengidentifikasi kondisi yang
memerlukan pembentukan cadangan penurunan nilai persediaan.
4. Berdasarkan CALK nomor 9 tentang Biaya Dibayar di Muka dan Uang Muka, saldo akun
tersebut per 30 Juni 2026 sebesar Rp11,34 miliar atau meningkat sebesar Rp4,82 miliar
(73,8%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp6,53 miliar. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Rincian komponen utama yang membentuk saldo biaya dibayar di muka dan uang
muka per 30 Juni 2026.
b. Latar belakang peningkatan saldo tersebut selama semester I 2026.
c. Kegiatan operasional atau proyek yang mendasari pembayaran dimuka tersebut.
d. Estimasi realisasi dan pembebanan saldo tersebut pada periode berikutnya.
Penjelasan:
a. Saldo biaya dibayar di muka dan uang muka per 30 Juni 2026 sebesar Rp11,34 miliar
terutama terdiri atas uang muka pembelian lainnya sebesar Rp9,09 miliar, asuransi
dibayar di muka sebesar Rp1,24 miliar, biaya dibayar di muka lainnya sebesar
Rp661,03 juta, uang muka pembelian suku cadang sebesar Rp217,15 juta, serta sewa
dibayar di muka sebesar Rp139,21 juta.
b. Peningkatan saldo biaya dibayar di muka dan uang muka selama semester I 2026
terutama berasal dari kenaikan uang muka pembelian lainnya. Dari saldo tersebut,
sekitar Rp6,03 miliar merupakan uang muka yang berkaitan dengan penggunaan jasa
pihak ketiga untuk mendukung pelaksanaan proyek konstruksi yang dilakukan oleh
entitas anak Perseroan (PT Royaltama Mulia Konstruksi (“ROKT”)). Peningkatan
tersebut terjadi sejalan dengan kebutuhan pelaksanaan proyek yang pada tanggal
30 Juni 2026 masih dalam proses penyelesaian.
c. Pembayaran dimuka terutama berkaitan dengan penggunaan jasa dan pembelian
material untuk mendukung pelaksanaan proyek konstruksi jalan hauling,
pembangunan fasilitas Train Loading System (TLS), serta pembangunan dan
pekerjaan infrastruktur pendukung lainnya.
d. Saldo biaya dibayar di muka akan dibebankan secara bertahap sesuai dengan periode
manfaat masing-masing biaya, sedangkan saldo uang muka akan direalisasikan
sesuai dengan penyelesaian barang atau jasa yang mendasarinya. Sebagian besar
saldo tersebut diperkirakan akan direalisasikan atau dibebankan dalam siklus operasi
normal Perseroan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 7
5. Berdasarkan CALK nomor 24 tentang Pendapatan Diterima Dimuka, saldo Pendapatan
Diterima Dimuka per 30 Juni 2026 sebesar Rp176,78 miliar atau meningkat sebesar
Rp115,52 miliar (188,6%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp61,26
miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo Pendapatan Diterima Dimuka pada semester I
2026.
b. Rincian kontrak dan/atau pelanggan yang membentuk saldo material beserta nilai
masingmasing saldo.
c. Tingkat penyelesaian pekerjaan per 30 Juni 2026 atas masing-masing kontrak yang
material.
d. Estimasi penyelesaian pekerjaan dan pengakuan pendapatan atas saldo tersebut.
e. Risiko yang dihadapi Perseroan dalam memenuhi kewajiban penyelesaian pekerjaan
dimaksud dan langkah mitigasinya.
f. Agar Perseroan melampirkan kontrak yang mendasari saldo Pendapatan Diterima
Dimuka yang material.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo Pendapatan Diterima Dimuka pada semester I 2026 terutama
berasal dari penerimaan atas pekerjaan konstruksi sebelum seluruh kewajiban
pelaksanaan terkait pekerjaan tersebut terpenuhi pada tanggal pelaporan. Sejalan
dengan progres pelaksanaan proyek konstruksi, sebagian saldo tersebut telah diakui
sebagai pendapatan, sedangkan bagian yang belum memenuhi kewajiban
pelaksanaan tetap dicatat sebagai Pendapatan Diterima Dimuka per 30 Juni 2026.
b. Saldo Pendapatan Diterima Dimuka yang material per 30 Juni 2026 terutama berasal
dari pekerjaan konstruksi untuk PT Royaltama Mulia Kencana (“RMUK”) berdasarkan
Perjanjian No. 02.89/SPK/RMUK-ROKT/XI/2025 tanggal 10 November 2025, dengan
nilai saldo Pendapatan Diterima Dimuka sebesar Rp121,12 miliar. Saldo tersebut
berkaitan dengan pekerjaan pembangunan fasilitas penunjang kegiatan operasional
RMUK yang pada tanggal 30 Juni 2026 masih dalam proses pelaksanaan.
c. Tingkat penyelesaian pekerjaan atas kontrak material dengan RMUK per 30 Juni 2026
adalah sekitar 69,70%.
d. Pekerjaan konstruksi tersebut ditargetkan diselesaikan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan sebagaimana diatur dalam kontrak dan perkembangan masing-masing
proyek dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Pengakuan pendapatan tidak
semata-mata didasarkan pada waktu penerimaan pembayaran, melainkan
berdasarkan progres pekerjaan yang telah dilaksanakan.
e. Risiko utama dalam penyelesaian pekerjaan konstruksi terutama berkaitan dengan
ketepatan waktu pelaksanaan pekerjaan, ketersediaan material dan jasa pendukung,
serta kondisi operasional di lokasi proyek. Perseroan melakukan mitigasi melalui
pemantauan progres pekerjaan secara berkala, koordinasi dengan pemberi kerja dan
kontraktor/vendor terkait, pengendalian kebutuhan material dan sumber daya, serta
evaluasi realisasi biaya dan jadwal penyelesaian proyek.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 8
f. Kontrak yang mendasari saldo Pendapatan Diterima Dimuka yang material
dilampirkan terpisah dari dokumen ini.
6. Berdasarkan CALK nomor 11 tentang Utang Usaha, saldo Utang Usaha Pihak Berelasi
per 30 Juni 2026 sebesar Rp117 miliar atau meningkat sebesar Rp44,71 miliar (61,9%)
dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp72,29 miliar. Atas hal tersebut,
agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo utang usaha pihak berelasi pada semester I 2026.
b. Rincian pihak berelasi yang memiliki saldo utang material per 30 Juni 2026.
c. Jenis transaksi yang mendasari timbulnya utang tersebut.
d. Kemampuan dan strategi Perseroan dalam memenuhi kewajiban tersebut pada saat
jatuh tempo.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo utang usaha pihak berelasi pada semester I 2026 terutama
disebabkan oleh meningkatnya transaksi pembelian barang dan/atau jasa untuk
mendukung kegiatan operasional dan pelaksanaan proyek Perseroan. Kenaikan
tersebut terutama berasal dari transaksi dengan PT Rantaimulia Kencana dan PT RMK
Energy Tbk.
b. Berikut rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material utang per 30 Juni 2026:
No. Pihak Berelasi Saldo
1 PT Rantai Mulia Kencana Rp82,15 miliar
2 PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara Rp18,50 miliar
3 PT RMK Energy Tbk Rp13,22 miliar
c. Utang usaha pihak berelasi terutama timbul dari transaksi pembelian barang, material,
suku cadang, serta jasa yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan
pelaksanaan proyek Perseroan, termasuk kebutuhan pemeliharaan alat berat, kegiatan
penunjang pertambangan, pengangkutan, emplasemen, serta fasilitas operasional
seperti Train Loading System (TLS) dan kegiatan konstruksi.
d. Perseroan memenuhi kewajiban utang usaha dengan memperhatikan jadwal jatuh
tempo dan kebutuhan likuiditas operasional. Pembayaran dilakukan secara bertahap
sesuai dengan termin yang disepakati dengan masing-masing pemasok, dengan
sumber pembayaran terutama berasal dari penerimaan kegiatan operasional
Perseroan. Perseroan juga melakukan pemantauan arus kas, jadwal pembayaran
kepada pemasok, serta penerimaan dari pelanggan secara berkala untuk memastikan
kewajiban dapat diselesaikan sesuai dengan jatuh temponya.
7. Berdasarkan CALK nomor 12 tentang Utang Lain-lain, saldo Utang Lain-lain Pihak
Berelasi per 30 Juni 2026 sebesar Rp21,46 miliar atau meningkat sebesar Rp8,52 miliar
(65,8%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp12,95 miliar. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi pada semester I 2026.
b. Rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material per 30 Juni 2026.
c. Jenis transaksi yang mendasari timbulnya saldo utang tersebut.
d. Mekanisme pelunasan dan jangka waktu penyelesaian kewajiban dimaksud.
e. Dampak transaksi tersebut terhadap posisi likuiditas Perseroan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 9
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi pada semester I 2026 terutama
disebabkan oleh adanya biaya dan/atau kebutuhan operasional dan modal kerja
Perseroan yang terlebih dahulu dibayarkan oleh pihak berelasi selama periode
berjalan.
b. Berikut rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material utang per 30 Juni 2026:
No. Pihak Berelasi Saldo
1 PT Truba Bara Banyu Enim Rp17,21 miliar
2 PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara Rp4,20 miliar
c. Utang lain-lain pihak berelasi timbul dari pembayaran biaya yang terlebih dahulu
dilakukan oleh pihak berelasi untuk memenuhi kebutuhan operasional dan modal kerja
Perseroan. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan usaha Perseroan,
antara lain pembayaran kepada pemasok, kebutuhan operasional proyek, serta biaya
operasional lainnya. Setiap transaksi didukung dengan dokumen pendukung dan
dilakukan rekonsiliasi saldo secara berkala antar pihak berelasi.
d. Saldo utang lain-lain pihak berelasi tidak dikenakan bunga dan direncanakan untuk
diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Penyelesaian dilakukan melalui
pembayaran dan/atau perhitungan antar saldo yang dapat saling diperhitungkan,
berdasarkan hasil rekonsiliasi dan kesepakatan para pihak. Pelaksanaan
penyelesaian kewajiban dilakukan dengan memperhatikan jadwal penyelesaian
kewajiban, ketersediaan arus kas, penerimaan dari pelanggan, dan prioritas
kebutuhan operasional Perseroan.
e. Peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi menambah kewajiban jangka pendek
Perseroan dan menjadi bagian dari pengelolaan modal kerja Perseroan. Namun
demikian, saldo tersebut tidak dikenakan bunga, dan penyelesaiannya dikelola
dengan mempertimbangkan jadwal kewajiban, ketersediaan arus kas, penerimaan
dari pelanggan, serta prioritas kebutuhan operasional. Perseroan melakukan
pemantauan arus kas dan jadwal penyelesaian kewajiban secara berkala untuk
menjaga kecukupan likuiditas dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
8. Berdasarkan CALK nomor 13 tentang Beban yang Masih Harus Dibayar, terdapat saldo
Beban yang Masih Harus Dibayar yang antara lain terdiri atas akrual sewa alat berat,
akrual pembelian material konstruksi, akrual jasa profesional dan akrual gaji karyawan.
Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Rincian komponen utama yang membentuk saldo Beban yang Masih Harus Dibayar
per 30 Juni 2026.
b. Dasar pengakuan dan metode perhitungan masing-masing akrual yang material.
c. Rencana penyelesaian kewajiban dimaksud beserta sumber pendanaannya.
Penjelasan:
a. Saldo Beban yang Masih Harus Dibayar per 30 Juni 2026 sebesar Rp16,37 miliar,
terutama terdiri atas akrual sewa alat berat sebesar sekitar Rp8,20 miliar, akrual
pembelian material konstruksi sebesar sekitar Rp8,15 miliar, serta akrual jasa
profesional sebesar sekitar Rp12,50 juta. Saldo tersebut mencerminkan kewajiban
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 10
atas barang dan/atau jasa yang telah diterima atau telah dimanfaatkan sampai dengan
tanggal pelaporan namun dokumen penagihannya belum diterima atau belum
diproses seluruhnya.
b. Beban yang masih harus dibayar diakui berdasarkan basis akrual, yaitu ketika barang
atau jasa telah diterima dan/atau pekerjaan telah dilaksanakan sampai dengan tanggal
pelaporan, namun dokumen penagihan dari pemasok atau penyedia jasa belum
diterima atau belum diproses sampai dengan tanggal tersebut.
Untuk akrual sewa alat berat, nilai akrual dihitung berdasarkan estimasi pemakaian
alat berat untuk pelaksanaan proyek konstruksi sampai dengan tanggal pelaporan,
mengacu pada tarif sewa dan dokumen pendukung operasional yang tersedia. Untuk
akrual pembelian material konstruksi, nilai akrual ditentukan berdasarkan material
yang telah diterima dan/atau digunakan untuk proyek konstruksi sampai dengan
tanggal pelaporan namun belum diterbitkan tagihannya. Sedangkan akrual jasa
profesional dihitung berdasarkan jasa yang telah diberikan sampai dengan tanggal
pelaporan sesuai kontrak atau kesepakatan yang berlaku. Seluruh akrual tersebut
selanjutnya direkonsiliasi dan disesuaikan pada saat dokumen tagihan aktual diterima.
c. Kewajiban atas Beban yang Masih Harus Dibayar akan diselesaikan setelah dokumen
penagihan dan dokumen pendukung terkait diterima, diverifikasi, dan direkonsiliasi
dengan nilai akrual yang telah dicatat. Pembayaran dilakukan sesuai dengan
ketentuan dan jadwal pembayaran masing-masing pemasok atau penyedia jasa.
Sumber pendanaan untuk penyelesaian kewajiban tersebut terutama berasal dari arus
kas kegiatan operasional Perseroan, termasuk penerimaan dari pelanggan, dengan
tetap memperhatikan kebutuhan modal kerja dan jadwal kewajiban yang jatuh tempo.
9. Berdasarkan CALK nomor 16 tentang Modal Saham dan Saldo Laba, saldo laba ditahan
belum dicadangkan dalam posisi defisit sebesar Rp84,16 miliar atau meningkat sebesar
Rp47,38 miliar (128,8%) dibandingkan defisit Rp36,78 miliar per 31 Desember 2025. Atas
hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan peningkatan defisit pada semester I 2026.
b. Strategi dan langkah yang akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki struktur
permodalan.
c. Target dan proyeksi manajemen dalam mengembalikan saldo laba ditahan ke posisi
positif serta perkembangan pelaksanaan strategi yang telah disampaikan Perseroan
pada tahun buku 2025.
Penjelasan:
a. Peningkatan defisit saldo laba pada semester I 2026 terutama disebabkan oleh rugi
bersih periode berjalan sebesar Rp47,38 miliar. Kerugian tersebut terutama
dipengaruhi oleh beban pokok pendapatan pada segmen pertambangan dan jasa
sewa yang masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan, sehingga
laba dari segmen konstruksi belum sepenuhnya dapat menutup kerugian pada kedua
segmen tersebut.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan tunjangan,
perbaikan dan pemeliharaan, serta beban penyusutan, disertai utilisasi alat dan
produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 11
b. Perseroan akan memperbaiki struktur permodalan terutama melalui peningkatan
modal disetor melalui PMHMETD I, peningkatan kinerja operasional dan profitabilitas,
dengan melakukan pengendalian biaya operasional, optimalisasi utilisasi dan
produktivitas alat berat, pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, evaluasi
tarif dan struktur biaya kontrak, optimalisasi penagihan piutang, serta pengelolaan
modal kerja secara lebih disiplin.
Perseroan juga terus mengoptimalkan kegiatan usaha yang telah berjalan dan
meningkatkan pemanfaatan infrastruktur serta aset operasional untuk mendorong
peningkatan volume kegiatan dan pendapatan.
c. Manajemen menargetkan pemulihan saldo laba secara bertahap melalui peningkatan
modal disetor melalui PMHMETD I, perbaikan kinerja dan profitabilitas Perseroan
sebagaimana tercermin dalam proyeksi keuangan Perseroan untuk periode 2026–
2028 yang sebelumnya telah disampaikan kepada OJK. Pemulihan saldo laba menjadi
positif akan bergantung pada realisasi laba bersih Perseroan pada periode-periode
mendatang.
Strategi yang telah disampaikan pada tahun buku 2025 telah mulai dilaksanakan,
antara lain melalui pengendalian biaya operasional, peningkatan utilisasi dan
produktivitas alat berat, evaluasi profitabilitas per proyek/kontrak, pengendalian biaya
bahan bakar dan pemeliharaan, optimalisasi penagihan piutang, serta pengelolaan
modal kerja. Meskipun pada semester I 2026 Perseroan masih mencatat rugi bersih,
langkah-langkah perbaikan tersebut terus dijalankan untuk meningkatkan profitabilitas
secara bertahap.
10. Perseroan membukukan Beban Pokok Penjualan sebesar Rp219,95 miliar atau lebih
tinggi dibandingkan Pendapatan sebesar Rp181,23 miliar sehingga Perseroan
membukukan laba kotor negatif sebesar Rp38,73 miliar pada semester I 2026. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan Beban Pokok Penjualan masih melebihi
pendapatan Perseroan.
b. Komponen Beban Pokok Penjualan yang mengalami kenaikan signifikan selama
semester I 2026.
c. Apakah terdapat proyek, kontrak, atau segmen usaha yang menghasilkan margin
negatif.
d. Langkah-langkah yang akan dilakukan Perseroan untuk meningkatkan margin usaha
dan memperbaiki profitabilitas.
e. Proyeksi manajemen terhadap pencapaian laba kotor positif pada periode mendatang
serta perkembangan efektivitas langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan sejak
tahun buku 2025.
f. Latar belakang dan penjelasan penyebab segmen operasi sewa membukukan rugi
kotor.
Penjelasan:
a. Beban Pokok Pendapatan masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan pada semester
I 2026 terutama karena struktur biaya pada segmen pertambangan dan jasa sewa
masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing
segmen. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 12
tunjangan, penyusutan, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan, disertai utilisasi alat
dan produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
Di sisi lain, segmen konstruksi telah memberikan kontribusi laba kotor positif, namun
kontribusi tersebut belum sepenuhnya dapat menutup rugi kotor yang berasal dari
segmen pertambangan dan jasa sewa.
b. Komponen Beban Pokok Pendapatan yang mengalami peningkatan selama semester
I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya terutama meliputi:
- Bahan bakar, dari Rp39,85 miliar menjadi Rp60,96 miliar;
- Bahan baku/material, dari nihil menjadi Rp26,79 miliar, terutama sejalan dengan
adanya kegiatan konstruksi pada semester I 2026;
- Penyusutan, dari Rp24,58 miliar menjadi Rp34,28 miliar;
- Gaji dan tunjangan, dari Rp39,99 miliar menjadi Rp49,04 miliar;
- Sewa, dari Rp0,88 miliar menjadi Rp4,58 miliar; dan
- Transportasi dan perjalanan, dari Rp2,96 miliar menjadi Rp5,38 miliar.
c. Berdasarkan informasi segmen per 30 Juni 2026, terdapat dua segmen usaha yang
masih menghasilkan margin kotor negatif, yaitu:
- Segmen pertambangan, dengan pendapatan sebesar Rp43,49 miliar dan Beban
Pokok Pendapatan sebesar Rp70,41 miliar, sehingga mencatat rugi kotor sebesar
Rp26,92 miliar;
- Segmen jasa sewa, dengan pendapatan sebesar Rp65,87 miliar dan Beban Pokok
Pendapatan sebesar Rp106,63 miliar, sehingga mencatat rugi kotor sebesar
Rp40,76 miliar.
d. Perseroan terus melakukan langkah perbaikan margin dan profitabilitas melalui
pengendalian biaya operasional, optimalisasi utilisasi dan produktivitas alat berat,
pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, evaluasi struktur tarif dan biaya
kontrak, optimalisasi jadwal operasional, serta evaluasi profitabilitas masing-masing
proyek dan kontrak secara berkala.
Selain itu, Perseroan melakukan evaluasi mekanisme penyesuaian tarif dan model
pricing untuk memastikan struktur pendapatan dan biaya pada kontrak berjalan
maupun kontrak baru dapat memberikan tingkat margin yang memadai.
e. Manajemen menargetkan perbaikan margin secara bertahap melalui pelaksanaan
langkah-langkah peningkatan efisiensi dan produktivitas sebagaimana telah
dijelaskan di atas. Pencapaian laba kotor positif akan bergantung pada realisasi
peningkatan pendapatan, utilisasi dan produktivitas alat, serta efektivitas
pengendalian biaya pada periode berikutnya, sebagaimana tercermin dalam proyeksi
keuangan Perseroan yang telah disusun.
Langkah perbaikan yang mulai diterapkan sejak tahun buku 2025 telah menunjukkan
perkembangan, meskipun Perseroan masih mencatat rugi kotor pada semester I 2026.
Secara konsolidasian, rugi kotor semester I 2026 sebesar Rp38,73 miliar, membaik
dibandingkan rugi kotor sebesar Rp53,68 miliar pada semester I 2025. Selain itu,
segmen konstruksi telah mencatat laba kotor positif sebesar Rp28,95 miliar pada
semester I 2026. Perseroan akan terus melanjutkan langkah perbaikan tersebut untuk
meningkatkan margin secara berkelanjutan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 13
f. Rugi kotor pada segmen jasa sewa terutama disebabkan oleh struktur biaya
operasional alat berat yang masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan sewa yang
dihasilkan. Komponen biaya utama antara lain bahan bakar, gaji dan tunjangan
operator serta tenaga pendukung, biaya perbaikan dan pemeliharaan, dan beban
penyusutan alat berat.
Selain itu, utilisasi dan produktivitas alat selama periode berjalan belum sepenuhnya
berada pada tingkat optimal, sehingga biaya tetap dan biaya operasional alat belum
dapat terserap secara optimal oleh pendapatan yang dihasilkan. Perseroan
melakukan perbaikan melalui peningkatan utilisasi dan produktivitas alat, optimalisasi
jadwal operasional, pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, serta evaluasi
tarif sewa dan struktur biaya kontrak.
11. Perseroan membukukan rugi pada 31 Desember 2025 sebesar Rp49,40 miliar atau
meningkat sebesar Rp30,72 miliar (164,5%) dibandingkan tahun sebelumnya dan per 30
Juni 2026 sebesar Rp47,38 miliar yang membuat saldo ekuitas menurun menjadi
Rp130,81 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan peningkatan rugi tahun berjalan pada tahun
2025.
b. Faktor-faktor utama yang menyebabkan Perseroan masih membukukan rugi yang
material meskipun pendapatan meningkat sebesar 89,2% pada 30 Juni 2026.
c. Penilaian manajemen terkait kemampuan Perseroan untuk mempertahankan
kelangsungan usaha (going concern).
d. Rencana aksi yang akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki kinerja operasional,
kondisi keuangan, dan likuiditas Perseroan.
e. Bentuk dukungan yang diperoleh atau akan diperoleh dari pemegang saham, pihak
berelasi, kreditur, maupun pihak lainnya dalam mendukung keberlangsungan usaha
Perseroan.
Penjelasan:
a. Peningkatan rugi tahun berjalan pada tahun 2025 terutama disebabkan oleh kenaikan
Beban Pokok Pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan pendapatan
Perseroan. Kenaikan Beban Pokok Pendapatan terutama berasal dari peningkatan
biaya bahan bakar, bahan baku, gaji dan tunjangan, perbaikan dan pemeliharaan,
serta beban penyusutan, sejalan dengan peningkatan aktivitas operasional,
penambahan aset operasional, dan pelaksanaan proyek Perseroan.
Selain itu, pada tahun 2025 kegiatan operasional Perseroan masih berada dalam fase
transisional/ramp-up, termasuk investasi dan kesiapan operasi serta perpindahan pit
pada akhir tahun, yang menyebabkan utilisasi alat, produktivitas, dan efisiensi biaya
belum berada pada tingkat optimal.
b. Meskipun pendapatan Perseroan pada semester I 2026 meningkat, Perseroan masih
membukukan rugi karena struktur biaya pada segmen pertambangan dan jasa sewa
masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing
segmen. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan
tunjangan, penyusutan, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan, disertai utilisasi alat
dan produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 14
Pada periode yang sama, segmen konstruksi telah menghasilkan laba kotor positif,
namun kontribusi tersebut belum sepenuhnya dapat menutup rugi yang berasal dari
segmen pertambangan dan jasa sewa.
c. Manajemen menilai bahwa penggunaan basis akuntansi kelangsungan usaha (going
concern) masih tepat dan Perseroan memiliki kemampuan untuk melanjutkan kegiatan
usahanya. Penilaian tersebut mempertimbangkan keberlangsungan kontrak dan
kegiatan operasional Perseroan, penerimaan dari kegiatan usaha, langkah perbaikan
kinerja dan likuiditas yang sedang dijalankan, serta dukungan dari pemegang saham
pengendali.
Dalam proses audit laporan keuangan tahun 2025, Akuntan juga telah melakukan
evaluasi atas indikator going concern sesuai SA 570 dan menyimpulkan bahwa tidak
terdapat ketidakpastian material atas kemampuan Perseroan mempertahankan
kelangsungan usahanya.
d. Perseroan akan melanjutkan langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan, antara
lain:
- meningkatkan kinerja operasional melalui optimalisasi volume pekerjaan, utilisasi
alat berat, dan produktivitas proyek;
- melakukan efisiensi biaya operasional, termasuk pengendalian biaya bahan bakar,
biaya perawatan, biaya subkontraktor, dan biaya pendukung operasional lainnya;
- mempercepat penagihan piutang usaha untuk memperkuat arus kas operasional dan
mendukung pembayaran kewajiban pokok serta bunga pinjaman sesuai jadwal;
- mengendalikan belanja modal agar penggunaan kas lebih difokuskan pada
kebutuhan operasional dan kewajiban keuangan yang jatuh tempo; dan
- memperkuat struktur permodalan dan modal kerja Perseroan.
e. Dukungan terhadap keberlangsungan usaha Perseroan antara lain berasal dari
pemegang saham pengendali, serta penguatan modal kerja melalui rencana
PMHMETD I. Selain itu, keberlangsungan kegiatan usaha Perseroan juga didukung
oleh hubungan operasional dan kontrak jangka panjang dengan pihak berelasi dalam
ekosistem usaha Grup.
Dari sisi kreditur, Perseroan tetap memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga
pinjaman sesuai jadwal serta menjaga komunikasi dengan pihak bank. Sehubungan
dengan covenant yang belum terpenuhi per 31 Desember 2025, Perseroan telah
mengajukan waiver kepada pihak bank.
Kebutuhan modal kerja Perseroan juga didukung oleh penerimaan dari pelanggan,
fasilitas pinjaman bank apabila diperlukan, serta sumber pendanaan lain yang tersedia
sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan Perseroan.
12. Berdasarkan CALK nomor 18 tentang Pendapatan, terdapat jenis pendapatan baru yaitu
pendapatan jasa konstruksi sebesar Rp71,86 miliar di mana tidak terdapat pendapatan
tersebut pada tahun sebelumnya. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Apakah pendapatan jasa konstruksi tersebut merupakan bagian dari kegiatan usaha
utama Perseroan atau merupakan sumber pendapatan baru?
b. Apakah pendapatan jasa konstruksi akan menjadi pendapatan berkelanjutan?
c. Nature dari pendapatan jasa konstruksi tersebut.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 15
d. Apakah pendapatan jasa konstruksi tersebut berasal dari satu proyek tertentu atau
beberapa proyek? Agar dijelaskan kontribusinya masing-masing.
e. Metode pengakuan pendapatan yang digunakan Perseroan atas pendapatan jasa
konstruksi tersebut.
Penjelasan:
a. Pendapatan jasa konstruksi merupakan bagian dari kegiatan usaha Perseroan dari
entitas anak Perseroan, khususnya dalam penyediaan jasa konstruksi yang berkaitan
dengan infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan. Pendapatan tersebut bukan
merupakan kegiatan usaha baru, namun mulai memberikan kontribusi yang lebih
signifikan pada semester I 2026 sejalan dengan pelaksanaan proyek konstruksi yang
berjalan pada periode tersebut.
b. Pendapatan jasa konstruksi diharapkan tetap menjadi salah satu sumber pendapatan
Perseroan, sejalan dengan kebutuhan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan. Namun demikian, besaran
pendapatan konstruksi pada setiap periode akan bergantung pada ketersediaan
proyek, nilai kontrak, serta progres pelaksanaan pekerjaan pada masing-masing
periode.
c. Pendapatan jasa konstruksi berasal dari pekerjaan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan, antara lain pembangunan jalan,
jembatan, fasilitas penunjang operasional, serta infrastruktur terkait lainnya sesuai
dengan ruang lingkup masing-masing kontrak.
d. Pendapatan jasa konstruksi sebesar Rp71,86 miliar per 30 Juni 2026 berasal dari
beberapa proyek konstruksi, bukan dari satu proyek tertentu. Proyek-proyek tersebut
terutama dilaksanakan berdasarkan kerja sama dengan PT Royaltama Mulia Kencana
(“RMUK”) dan PT RMK Energy Tbk (“RMKE”).
Kontribusi pendapatan jasa konstruksi yang berasal dari pekerjaan untuk RMUK
adalah sebesar sekitar Rp63,92 miliar, atau sekitar 88,9% dari total pendapatan jasa
konstruksi, sedangkan pekerjaan untuk RMKE memberikan kontribusi sebesar sekitar
Rp7,95 miliar, atau sekitar 11,1%.
Pekerjaan konstruksi untuk RMUK terdiri atas beberapa pekerjaan pembangunan dan
pengembangan infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan, antara lain
pembangunan dan pemeliharaan hauling road, konstruksi Train Loading System
(TLS), pekerjaan jalan, jembatan, serta fasilitas penunjang operasional lainnya.
Sementara itu, pekerjaan untuk RMKE antara lain mencakup pembangunan dan
perbaikan jalan hauling, rigid pavement, fasilitas pelabuhan, jembatan timbang,
bangunan dan fasilitas operasional penunjang lainnya.
e. Pendapatan jasa konstruksi diakui sepanjang waktu (over time) dengan menggunakan
metode input cost-to-cost. Tingkat penyelesaian pekerjaan ditentukan berdasarkan
perbandingan antara biaya kontrak yang telah terjadi sampai dengan tanggal
pelaporan terhadap estimasi total biaya kontrak. Dengan demikian, pendapatan diakui
sejalan dengan progres pemenuhan kewajiban pelaksanaan atas masing-masing
kontrak.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 16
Lain-lain
13. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga
efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada
publik.
Penjelasan:
Tidak terdapat Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat
mempengaruhi harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum
diungkapkan kepada publik.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 17
Nomor : 49/CS/RMKO/8/2026 Jakarta, 28 Agustus 2026
Lampiran :-
Kepada Yth.
Bapak Adi Pratomo Aryanto
PH Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2
PT Bursa Efek Indonesia
Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower 1 Lantai 6
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190, Indonesia
Perihal : Permintaaan Penjelasan Bursa
Dengan hormat,
Merujuk pada surat PT Bursa Efek Indonesia Nomor S-11031/BEI.PP2/08-2026 yang kami
terima pada tanggal 26 Agustus 2026 melalui IDXNET. Dengan ini kami untuk dan atas nama
PT. Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (“Perseroan”) menyampaikan penjelasan sebagai
berikut:
Nama Emiten : PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
Bidang Usaha : Bergerak di bidang jasa penunjang pertambangan dan jasa
penyewaan alat-alat berat.
Telepon : +62 21 582 2555
Faksimili : +62 21 582 7555
Email : corsec@rmko.co.id
1. Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) nomor 6 tentang Piutang Usaha,
saldo Piutang Usaha Pihak Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp41,38 miliar atau
meningkat sebesar Rp23,04 miliar (125,7%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025
sebesar Rp18,34 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang usaha pihak ketiga pada semester I 2026.
b. Tingkat kolektibilitas piutang tersebut dan dasar keyakinan manajemen atas
kebertertagihannya mengingat saldo piutang meningkat signifikan.
c. Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta
nilai penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.
d. Langkah yang dilakukan Perseroan untuk menjaga kualitas piutang dan
meminimalkan risiko gagal bayar pelanggan.
e. Rincian Aging schedule untuk piutang lewat 60 hari, termasuk rincian pelanggan
utama, nilai piutang masing-masing, dan jangka waktu keterlambatannya.
No. Pelanggan Piutang Jangka waktu Status Terkini
1.
2.
…
f. Dasar dan pertimbangan manajemen untuk tidak membentuk penyisihan kerugian
kredit ekspektasian (ECL), mengingat terdapat piutang usaha yang telah jatuh tempo
lebih dari 90 hari sebesar Rp34,33 miliar per 30 Juni 2026.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 18
g. Agar disampaikan analisis ECL yang dilakukan Perseroan berdasarkan PSAK 71,
termasuk asumsi probability of default, loss given default, dan historical loss rate yang
digunakan sehingga menghasilkan ECL nihil.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo piutang usaha pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama dipengaruhi
oleh transaksi kegiatan operasional Perseroan dalam pemberian jasa kepada
pelanggan, yang pada tanggal pelaporan masih dalam proses penyelesaian
pembayaran.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari piutang kepada PT Sahala Bara Lestari
(“SBL”), yang meningkat dari sebesar Rp17,59 miliar per 31 Desember 2025 menjadi
Rp39,25 miliar per 30 Juni 2026, atau meningkat sebesar Rp21,66 miliar. Saldo piutang
SBL tersebut mencakup sekitar 94,85% dari total piutang usaha pihak ketiga per
30 Juni 2026 dan merupakan sekitar 93,99% dari total peningkatan piutang usaha pihak
ketiga selama semester I 2026. Pada periode Juli 2026 Perseroan telah menerima
pembayaran dari SBL sebesar Rp38,86 miliar, atau sekitar 99,00% dari saldo piutang
SBL per 30 Juni 2026.
b. Manajemen melakukan evaluasi terhadap kolektibilitas piutang usaha berdasarkan
antara lain histori pembayaran pelanggan, status penyelesaian tagihan, komunikasi
dengan pelanggan, realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan, serta informasi
lain yang dapat mengindikasikan adanya peningkatan risiko kredit.
Berdasarkan evaluasi tersebut, manajemen berkeyakinan bahwa saldo piutang usaha
pihak ketiga per 30 Juni 2026 masih dapat tertagih. Keyakinan tersebut terutama
didukung oleh:
- Tidak terdapat indikasi kesulitan keuangan pelanggan yang menyebabkan
pelanggan tidak dapat memenuhi kewajibannya;
- Tidak terdapat sengketa atas keberadaan dan nilai tagihan yang material;
- Hubungan komersial dengan pelanggan masih berlangsung; dan
- Terdapat realisasi penerimaan atas saldo piutang setelah tanggal 30 Juni 2026
sebagaimana dijelaskan pada butir (c)
c. Sampai dengan 28 Agustus 2026, Perseroan telah menerima pembayaran atas piutang
usaha sebesar Rp59,63 miliar, atau sekitar 99,52% dari saldo piutang usaha per
30 Juni 2026 sebesar Rp59,92 miliar.
d. Perseroan menjaga kualitas piutang melalui penerapan termin pembayaran sesuai
perjanjian atau kesepakatan komersial dengan masing-masing pelanggan serta
pemantauan kolektabilitas secara berkala. Pemantauan dilakukan melalui penelaahan
umur dan jatuh tempo piutang, rekonsiliasi saldo, komunikasi dan tindak lanjut
penagihan kepada pelanggan, evaluasi riwayat pembayaran, serta pemantauan
realisasi pembayaran setelah tanggal pelaporan. Atas piutang yang telah melewati
jatuh tempo, Perseroan melakukan tindak lanjut penagihan dan pemantauan
penyelesaian pembayaran secara lebih intensif.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 19
e. Berikut rincian piutang usaha yang telah jatuh tempo lebih dari 60 hari per 30 Juni 2026:
No. Pelanggan Piutang Jangka Status Terkini
waktu
1. PT Sahala Bara Rp 6,38 miliar 61-90 hari Telah diterima pembayaran
Lestari sebesar Rp38,86 miliar
2. PT Sahala Bara Rp 22,43 miliar >90 hari sampai dengan 28 Agustus
Lestari 2026.
3. PT Trans Andalan Rp 1,38 miliar 61-90 hari Telah diterima pembayaran
Energi sebesar Rp212,17 juta
sampai dengan 28 Agustus
2026.
4. PT Duta Bara Utama Rp 463,65 juta >90 hari Telah diterima pembayaran
sebesar Rp463,65 juta
sampai dengan 28 Agustus
2026.
5. PT Royaltama Mulia Rp 2,05 miliar 61-90 hari Masih dalam proses
Transportindo penagihan dan tindak lanjut
6. PT Royaltama Mulia Rp 1,00 miliar >90 hari pembayaran. Komunikasi
Transportindo dengan pelanggan berjalan
baik dan tidak terdapat
7. PT Artha Nusantara Rp 160,59 juta 61-90 hari
sengketa atas saldo
Pelabuhan
piutang.
8. PT Artha Nusantara Rp 3,86 miliar >90 hari
Pelabuhan
9. PT Beltindo Mulia Rp 81,36 juta 61-90 hari
Kencana
10. PT Beltindo Mulia Rp 161,73 juta >90 hari
Kencana
11. PT Salaam Konstruksi Rp 281,59 juta >90 hari
Indonesia
12. PT Central Mulia Rp 6,14 miliar >90 hari
Kencana
f. Perseroan menerapkan pendekatan yang disederhanakan (simplified approach) dalam
pengukuran kerugian kredit ekspektasian atas piutang usaha sesuai PSAK 109, yaitu
dengan mengukur lifetime expected credit loss pada setiap tanggal pelaporan.
Dalam melakukan penilaian tersebut, Perseroan mempertimbangkan antara lain umur
piutang, riwayat penyelesaian dan kerugian kredit historis, probability of default (PD),
loss given default (LGD), kondisi terkini pelanggan, serta faktor forward-looking yang
relevan. Untuk saldo piutang yang telah melewati 90 hari, Perseroan melakukan
penilaian secara individual dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan
pembayaran pelanggan, status penyelesaian tagihan, komunikasi dengan pelanggan,
serta realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tidak terdapat indikasi kesulitan keuangan atau
sengketa atas saldo piutang yang material. Selain itu, realisasi penerimaan setelah
tanggal pelaporan menunjukkan tingkat pemulihan yang tinggi atas saldo piutang
usaha pihak ketiga, termasuk penerimaan atas sebagian besar saldo pelanggan
utama.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 20
Manajemen menilai risiko kerugian kredit atas saldo piutang usaha per 30 Juni 2026
rendah dan tidak terdapat kebutuhan pembentukan penyisihan kerugian kredit yang
material.
g. Perseroan menerapkan simplified approach sesuai PSAK 109 dengan mengukur
lifetime ECL berdasarkan EAD, PD, LGD, dan faktor forward-looking. PD ditentukan
berdasarkan profil umur dan riwayat pembayaran pelanggan, sedangkan LGD
didasarkan pada tingkat pemulihan historis. Berdasarkan evaluasi historis, tingkat
pemulihan piutang pihak ketiga sebesar sekitar 93,57% atau setara dengan historical
loss rate/LGD sekitar 6,43%.
Atas saldo yang telah melewati 90 hari, Perseroan melakukan individual assessment
dengan mempertimbangkan kondisi pelanggan, riwayat pembayaran, komunikasi dan
status penyelesaian tagihan, serta realisasi penerimaan setelah tanggal pelaporan.
Sampai dengan 28 Agustus 2026, sekitar 95,53% saldo piutang usaha pihak ketiga per
30 Juni 2026 telah diterima.
Berdasarkan keseluruhan analisis kuantitatif dan kualitatif tersebut, Manajemen menilai
risiko kerugian kredit atas saldo piutang usaha per 30 Juni 2026 rendah dan tidak
terdapat kebutuhan pembentukan ECL yang material.
2. Berdasarkan CALK nomor 7 tentang Piutang Lain-lain, saldo Piutang Lain-lain Pihak
Ketiga per 30 Juni 2026 sebesar Rp4,64 miliar atau meningkat sebesar Rp4,62 miliar
(26.818,6%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp17,24 juta. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga secara signifikan pada
semester I 2026.
b. Rincian pihak ketiga dan transaksi yang mendasari timbulnya saldo tersebut.
c. Agar disampaikan realisasi penerimaan piutang setelah tanggal 30 Juni 2026 beserta
nilai penerimaan dan persentasenya terhadap saldo piutang terkait.
d. Dasar pertimbangan manajemen sehingga tidak membentuk cadangan kerugian
penurunan nilai atas piutang tersebut.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama disebabkan
oleh pengakuan piutang atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak
Penghasilan Badan tahun 2024 sebesar Rp4,62 miliar.
Piutang tersebut mencerminkan hak Perseroan atas pengembalian kelebihan
pembayaran Pajak Penghasilan Badan tahun 2024 yang sampai dengan tanggal 30
Juni 2026 belum diterima oleh Perseroan.
Dengan demikian, peningkatan saldo piutang lain-lain pihak ketiga pada semester I
2026 terutama berasal dari pengakuan hak restitusi pajak tersebut dan bukan berasal
dari transaksi operasional pemberian jasa kepada pelanggan.
b. Saldo piutang lain-lain pihak ketiga per 30 Juni 2026 terutama terdiri atas SKPLB Pajak
Penghasilan Badan Tahun Pajak 2024 sebesar Rp4,62 miliar yang belum diterima
oleh Perseroan pada tanggal pelaporan. Sisa saldo merupakan piutang karyawan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 21
c. Sampai dengan 28 Agustus 2026, Perseroan belum menerima pengembalian atas
SKPLB PPh Badan Tahun Pajak 2024 sebesar Rp4,62 miliar. Piutang tersebut masih
dalam proses penyelesaian administrasi pengembalian pajak sesuai dengan
mekanisme yang berlaku.
d. Manajemen tidak membentuk cadangan kerugian penurunan nilai karena sebagian
besar saldo piutang lain-lain pihak ketiga berasal dari SKPLB Pajak Penghasilan
Badan Tahun Pajak 2024 yang telah ditetapkan oleh otoritas pajak. Dengan demikian,
risiko tidak diterimanya piutang tersebut dinilai rendah dan perbedaan saldo pada
tanggal pelaporan terutama disebabkan oleh perbedaan waktu penerimaan
pengembalian pajak.
3. Berdasarkan CALK nomor 8 tentang Persediaan, saldo Persediaan per 30 Juni 2026
sebesar Rp46,82 miliar atau meningkat sebesar Rp9,20 miliar (24,5%) dibandingkan
posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp37,62 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo persediaan pada semester I 2026.
b. Kesesuaian peningkatan persediaan dengan kebutuhan proyek dan aktivitas
operasional Perseroan.
c. Rincian komposisi persediaan per 30 Juni 2026.
d. Apakah terdapat persediaan yang mengalami penurunan nilai, usang, atau slow
moving?
e. Kebijakan Perseroan dalam melakukan penelaahan dan pencadangan atas
persediaan tersebut.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo persediaan per 30 Juni 2026 terutama berasal dari peningkatan
persediaan suku cadang, dari sebesar Rp34,45 miliar per 31 Desember 2025 menjadi
Rp43,73 miliar per 30 Juni 2026. Peningkatan tersebut sejalan dengan kebutuhan
Perseroan untuk mendukung kegiatan perbaikan dan pemeliharaan (repair and
maintenance) serta operasional alat berat dan peralatan lainnya. Kebutuhan suku
cadang juga meningkat seiring dengan adanya penambahan aset tetap operasional
Perseroan selama semester I 2026, sehingga diperlukan ketersediaan suku cadang
yang memadai untuk menunjang keberlangsungan dan kesiapan operasional aset
tersebut.
b. Peningkatan persediaan dinilai sejalan dengan kebutuhan proyek dan aktivitas
operasional Perseroan, khususnya untuk menunjang pemeliharaan dan perbaikan alat
berat serta menjaga kesiapan operasional aset. Seiring dengan penambahan aset
tetap operasional selama semester I 2026, kebutuhan terhadap suku cadang, bahan
bakar, dan pelumas juga meningkat untuk mendukung aktivitas operasional secara
berkelanjutan.
c. Berikut rincian komposisi persediaan per 30 Juni 2026:
Jenis Persediaan Saldo Persediaan Komposisi
Suku cadang Rp43,73 miliar 93,38%
Bahan bakar Rp2,050 miliar 4,38%
Pelumas Rp1,05 miliar 2,24%
Total Rp46,82 miliar 100,00%
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 22
d. Berdasarkan penelaahan Manajemen per 30 Juni 2026, tidak terdapat kondisi yang
mengindikasikan penurunan nilai persediaan. Perseroan juga melakukan pemantauan
atas pergerakan dan penggunaan persediaan, khususnya suku cadang, untuk
mengidentifikasi persediaan yang berpotensi mengalami pergerakan lambat atau tidak
lagi digunakan.
e. Perseroan melakukan penelaahan atas nilai dan pergerakan persediaan secara
berkala. Persediaan dicatat sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan
dan nilai realisasi bersih, sedangkan kebutuhan pencadangan atas persediaan usang
atau slow moving ditentukan berdasarkan kondisi persediaan dan estimasi
penggunaan masing-masing jenis persediaan di masa mendatang. Berdasarkan hasil
penelaahan per 30 Juni 2026, Manajemen tidak mengidentifikasi kondisi yang
memerlukan pembentukan cadangan penurunan nilai persediaan.
4. Berdasarkan CALK nomor 9 tentang Biaya Dibayar di Muka dan Uang Muka, saldo akun
tersebut per 30 Juni 2026 sebesar Rp11,34 miliar atau meningkat sebesar Rp4,82 miliar
(73,8%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp6,53 miliar. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Rincian komponen utama yang membentuk saldo biaya dibayar di muka dan uang
muka per 30 Juni 2026.
b. Latar belakang peningkatan saldo tersebut selama semester I 2026.
c. Kegiatan operasional atau proyek yang mendasari pembayaran dimuka tersebut.
d. Estimasi realisasi dan pembebanan saldo tersebut pada periode berikutnya.
Penjelasan:
a. Saldo biaya dibayar di muka dan uang muka per 30 Juni 2026 sebesar Rp11,34 miliar
terutama terdiri atas uang muka pembelian lainnya sebesar Rp9,09 miliar, asuransi
dibayar di muka sebesar Rp1,24 miliar, biaya dibayar di muka lainnya sebesar
Rp661,03 juta, uang muka pembelian suku cadang sebesar Rp217,15 juta, serta sewa
dibayar di muka sebesar Rp139,21 juta.
b. Peningkatan saldo biaya dibayar di muka dan uang muka selama semester I 2026
terutama berasal dari kenaikan uang muka pembelian lainnya. Dari saldo tersebut,
sekitar Rp6,03 miliar merupakan uang muka yang berkaitan dengan penggunaan jasa
pihak ketiga untuk mendukung pelaksanaan proyek konstruksi yang dilakukan oleh
entitas anak Perseroan (PT Royaltama Mulia Konstruksi (“ROKT”)). Peningkatan
tersebut terjadi sejalan dengan kebutuhan pelaksanaan proyek yang pada tanggal
30 Juni 2026 masih dalam proses penyelesaian.
c. Pembayaran dimuka terutama berkaitan dengan penggunaan jasa dan pembelian
material untuk mendukung pelaksanaan proyek konstruksi jalan hauling,
pembangunan fasilitas Train Loading System (TLS), serta pembangunan dan
pekerjaan infrastruktur pendukung lainnya.
d. Saldo biaya dibayar di muka akan dibebankan secara bertahap sesuai dengan periode
manfaat masing-masing biaya, sedangkan saldo uang muka akan direalisasikan
sesuai dengan penyelesaian barang atau jasa yang mendasarinya. Sebagian besar
saldo tersebut diperkirakan akan direalisasikan atau dibebankan dalam siklus operasi
normal Perseroan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 23
5. Berdasarkan CALK nomor 24 tentang Pendapatan Diterima Dimuka, saldo Pendapatan
Diterima Dimuka per 30 Juni 2026 sebesar Rp176,78 miliar atau meningkat sebesar
Rp115,52 miliar (188,6%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp61,26
miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo Pendapatan Diterima Dimuka pada semester I
2026.
b. Rincian kontrak dan/atau pelanggan yang membentuk saldo material beserta nilai
masingmasing saldo.
c. Tingkat penyelesaian pekerjaan per 30 Juni 2026 atas masing-masing kontrak yang
material.
d. Estimasi penyelesaian pekerjaan dan pengakuan pendapatan atas saldo tersebut.
e. Risiko yang dihadapi Perseroan dalam memenuhi kewajiban penyelesaian pekerjaan
dimaksud dan langkah mitigasinya.
f. Agar Perseroan melampirkan kontrak yang mendasari saldo Pendapatan Diterima
Dimuka yang material.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo Pendapatan Diterima Dimuka pada semester I 2026 terutama
berasal dari penerimaan atas pekerjaan konstruksi sebelum seluruh kewajiban
pelaksanaan terkait pekerjaan tersebut terpenuhi pada tanggal pelaporan. Sejalan
dengan progres pelaksanaan proyek konstruksi, sebagian saldo tersebut telah diakui
sebagai pendapatan, sedangkan bagian yang belum memenuhi kewajiban
pelaksanaan tetap dicatat sebagai Pendapatan Diterima Dimuka per 30 Juni 2026.
b. Saldo Pendapatan Diterima Dimuka yang material per 30 Juni 2026 terutama berasal
dari pekerjaan konstruksi untuk PT Royaltama Mulia Kencana (“RMUK”) berdasarkan
Perjanjian No. 02.89/SPK/RMUK-ROKT/XI/2025 tanggal 10 November 2025, dengan
nilai saldo Pendapatan Diterima Dimuka sebesar Rp121,12 miliar. Saldo tersebut
berkaitan dengan pekerjaan pembangunan fasilitas penunjang kegiatan operasional
RMUK yang pada tanggal 30 Juni 2026 masih dalam proses pelaksanaan.
c. Tingkat penyelesaian pekerjaan atas kontrak material dengan RMUK per 30 Juni 2026
adalah sekitar 69,70%.
d. Pekerjaan konstruksi tersebut ditargetkan diselesaikan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan sebagaimana diatur dalam kontrak dan perkembangan masing-masing
proyek dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Pengakuan pendapatan tidak
semata-mata didasarkan pada waktu penerimaan pembayaran, melainkan
berdasarkan progres pekerjaan yang telah dilaksanakan.
e. Risiko utama dalam penyelesaian pekerjaan konstruksi terutama berkaitan dengan
ketepatan waktu pelaksanaan pekerjaan, ketersediaan material dan jasa pendukung,
serta kondisi operasional di lokasi proyek. Perseroan melakukan mitigasi melalui
pemantauan progres pekerjaan secara berkala, koordinasi dengan pemberi kerja dan
kontraktor/vendor terkait, pengendalian kebutuhan material dan sumber daya, serta
evaluasi realisasi biaya dan jadwal penyelesaian proyek.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 24
f. Kontrak yang mendasari saldo Pendapatan Diterima Dimuka yang material
dilampirkan terpisah dari dokumen ini.
6. Berdasarkan CALK nomor 11 tentang Utang Usaha, saldo Utang Usaha Pihak Berelasi
per 30 Juni 2026 sebesar Rp117 miliar atau meningkat sebesar Rp44,71 miliar (61,9%)
dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp72,29 miliar. Atas hal tersebut,
agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo utang usaha pihak berelasi pada semester I 2026.
b. Rincian pihak berelasi yang memiliki saldo utang material per 30 Juni 2026.
c. Jenis transaksi yang mendasari timbulnya utang tersebut.
d. Kemampuan dan strategi Perseroan dalam memenuhi kewajiban tersebut pada saat
jatuh tempo.
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo utang usaha pihak berelasi pada semester I 2026 terutama
disebabkan oleh meningkatnya transaksi pembelian barang dan/atau jasa untuk
mendukung kegiatan operasional dan pelaksanaan proyek Perseroan. Kenaikan
tersebut terutama berasal dari transaksi dengan PT Rantaimulia Kencana dan PT RMK
Energy Tbk.
b. Berikut rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material utang per 30 Juni 2026:
No. Pihak Berelasi Saldo
1 PT Rantai Mulia Kencana Rp82,15 miliar
2 PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara Rp18,50 miliar
3 PT RMK Energy Tbk Rp13,22 miliar
c. Utang usaha pihak berelasi terutama timbul dari transaksi pembelian barang, material,
suku cadang, serta jasa yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan
pelaksanaan proyek Perseroan, termasuk kebutuhan pemeliharaan alat berat, kegiatan
penunjang pertambangan, pengangkutan, emplasemen, serta fasilitas operasional
seperti Train Loading System (TLS) dan kegiatan konstruksi.
d. Perseroan memenuhi kewajiban utang usaha dengan memperhatikan jadwal jatuh
tempo dan kebutuhan likuiditas operasional. Pembayaran dilakukan secara bertahap
sesuai dengan termin yang disepakati dengan masing-masing pemasok, dengan
sumber pembayaran terutama berasal dari penerimaan kegiatan operasional
Perseroan. Perseroan juga melakukan pemantauan arus kas, jadwal pembayaran
kepada pemasok, serta penerimaan dari pelanggan secara berkala untuk memastikan
kewajiban dapat diselesaikan sesuai dengan jatuh temponya.
7. Berdasarkan CALK nomor 12 tentang Utang Lain-lain, saldo Utang Lain-lain Pihak
Berelasi per 30 Juni 2026 sebesar Rp21,46 miliar atau meningkat sebesar Rp8,52 miliar
(65,8%) dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp12,95 miliar. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Latar belakang peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi pada semester I 2026.
b. Rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material per 30 Juni 2026.
c. Jenis transaksi yang mendasari timbulnya saldo utang tersebut.
d. Mekanisme pelunasan dan jangka waktu penyelesaian kewajiban dimaksud.
e. Dampak transaksi tersebut terhadap posisi likuiditas Perseroan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 25
Penjelasan:
a. Peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi pada semester I 2026 terutama
disebabkan oleh adanya biaya dan/atau kebutuhan operasional dan modal kerja
Perseroan yang terlebih dahulu dibayarkan oleh pihak berelasi selama periode
berjalan.
b. Berikut rincian pihak berelasi yang memiliki saldo material utang per 30 Juni 2026:
No. Pihak Berelasi Saldo
1 PT Truba Bara Banyu Enim Rp17,21 miliar
2 PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara Rp4,20 miliar
c. Utang lain-lain pihak berelasi timbul dari pembayaran biaya yang terlebih dahulu
dilakukan oleh pihak berelasi untuk memenuhi kebutuhan operasional dan modal kerja
Perseroan. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan usaha Perseroan,
antara lain pembayaran kepada pemasok, kebutuhan operasional proyek, serta biaya
operasional lainnya. Setiap transaksi didukung dengan dokumen pendukung dan
dilakukan rekonsiliasi saldo secara berkala antar pihak berelasi.
d. Saldo utang lain-lain pihak berelasi tidak dikenakan bunga dan direncanakan untuk
diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Penyelesaian dilakukan melalui
pembayaran dan/atau perhitungan antar saldo yang dapat saling diperhitungkan,
berdasarkan hasil rekonsiliasi dan kesepakatan para pihak. Pelaksanaan
penyelesaian kewajiban dilakukan dengan memperhatikan jadwal penyelesaian
kewajiban, ketersediaan arus kas, penerimaan dari pelanggan, dan prioritas
kebutuhan operasional Perseroan.
e. Peningkatan saldo utang lain-lain pihak berelasi menambah kewajiban jangka pendek
Perseroan dan menjadi bagian dari pengelolaan modal kerja Perseroan. Namun
demikian, saldo tersebut tidak dikenakan bunga, dan penyelesaiannya dikelola
dengan mempertimbangkan jadwal kewajiban, ketersediaan arus kas, penerimaan
dari pelanggan, serta prioritas kebutuhan operasional. Perseroan melakukan
pemantauan arus kas dan jadwal penyelesaian kewajiban secara berkala untuk
menjaga kecukupan likuiditas dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
8. Berdasarkan CALK nomor 13 tentang Beban yang Masih Harus Dibayar, terdapat saldo
Beban yang Masih Harus Dibayar yang antara lain terdiri atas akrual sewa alat berat,
akrual pembelian material konstruksi, akrual jasa profesional dan akrual gaji karyawan.
Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Rincian komponen utama yang membentuk saldo Beban yang Masih Harus Dibayar
per 30 Juni 2026.
b. Dasar pengakuan dan metode perhitungan masing-masing akrual yang material.
c. Rencana penyelesaian kewajiban dimaksud beserta sumber pendanaannya.
Penjelasan:
a. Saldo Beban yang Masih Harus Dibayar per 30 Juni 2026 sebesar Rp16,37 miliar,
terutama terdiri atas akrual sewa alat berat sebesar sekitar Rp8,20 miliar, akrual
pembelian material konstruksi sebesar sekitar Rp8,15 miliar, serta akrual jasa
profesional sebesar sekitar Rp12,50 juta. Saldo tersebut mencerminkan kewajiban
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 26
atas barang dan/atau jasa yang telah diterima atau telah dimanfaatkan sampai dengan
tanggal pelaporan namun dokumen penagihannya belum diterima atau belum
diproses seluruhnya.
b. Beban yang masih harus dibayar diakui berdasarkan basis akrual, yaitu ketika barang
atau jasa telah diterima dan/atau pekerjaan telah dilaksanakan sampai dengan tanggal
pelaporan, namun dokumen penagihan dari pemasok atau penyedia jasa belum
diterima atau belum diproses sampai dengan tanggal tersebut.
Untuk akrual sewa alat berat, nilai akrual dihitung berdasarkan estimasi pemakaian
alat berat untuk pelaksanaan proyek konstruksi sampai dengan tanggal pelaporan,
mengacu pada tarif sewa dan dokumen pendukung operasional yang tersedia. Untuk
akrual pembelian material konstruksi, nilai akrual ditentukan berdasarkan material
yang telah diterima dan/atau digunakan untuk proyek konstruksi sampai dengan
tanggal pelaporan namun belum diterbitkan tagihannya. Sedangkan akrual jasa
profesional dihitung berdasarkan jasa yang telah diberikan sampai dengan tanggal
pelaporan sesuai kontrak atau kesepakatan yang berlaku. Seluruh akrual tersebut
selanjutnya direkonsiliasi dan disesuaikan pada saat dokumen tagihan aktual diterima.
c. Kewajiban atas Beban yang Masih Harus Dibayar akan diselesaikan setelah dokumen
penagihan dan dokumen pendukung terkait diterima, diverifikasi, dan direkonsiliasi
dengan nilai akrual yang telah dicatat. Pembayaran dilakukan sesuai dengan
ketentuan dan jadwal pembayaran masing-masing pemasok atau penyedia jasa.
Sumber pendanaan untuk penyelesaian kewajiban tersebut terutama berasal dari arus
kas kegiatan operasional Perseroan, termasuk penerimaan dari pelanggan, dengan
tetap memperhatikan kebutuhan modal kerja dan jadwal kewajiban yang jatuh tempo.
9. Berdasarkan CALK nomor 16 tentang Modal Saham dan Saldo Laba, saldo laba ditahan
belum dicadangkan dalam posisi defisit sebesar Rp84,16 miliar atau meningkat sebesar
Rp47,38 miliar (128,8%) dibandingkan defisit Rp36,78 miliar per 31 Desember 2025. Atas
hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan peningkatan defisit pada semester I 2026.
b. Strategi dan langkah yang akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki struktur
permodalan.
c. Target dan proyeksi manajemen dalam mengembalikan saldo laba ditahan ke posisi
positif serta perkembangan pelaksanaan strategi yang telah disampaikan Perseroan
pada tahun buku 2025.
Penjelasan:
a. Peningkatan defisit saldo laba pada semester I 2026 terutama disebabkan oleh rugi
bersih periode berjalan sebesar Rp47,38 miliar. Kerugian tersebut terutama
dipengaruhi oleh beban pokok pendapatan pada segmen pertambangan dan jasa
sewa yang masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan, sehingga
laba dari segmen konstruksi belum sepenuhnya dapat menutup kerugian pada kedua
segmen tersebut.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan tunjangan,
perbaikan dan pemeliharaan, serta beban penyusutan, disertai utilisasi alat dan
produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 27
b. Perseroan akan memperbaiki struktur permodalan terutama melalui peningkatan
modal disetor melalui PMHMETD I, peningkatan kinerja operasional dan profitabilitas,
dengan melakukan pengendalian biaya operasional, optimalisasi utilisasi dan
produktivitas alat berat, pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, evaluasi
tarif dan struktur biaya kontrak, optimalisasi penagihan piutang, serta pengelolaan
modal kerja secara lebih disiplin.
Perseroan juga terus mengoptimalkan kegiatan usaha yang telah berjalan dan
meningkatkan pemanfaatan infrastruktur serta aset operasional untuk mendorong
peningkatan volume kegiatan dan pendapatan.
c. Manajemen menargetkan pemulihan saldo laba secara bertahap melalui peningkatan
modal disetor melalui PMHMETD I, perbaikan kinerja dan profitabilitas Perseroan
sebagaimana tercermin dalam proyeksi keuangan Perseroan untuk periode 2026–
2028 yang sebelumnya telah disampaikan kepada OJK. Pemulihan saldo laba menjadi
positif akan bergantung pada realisasi laba bersih Perseroan pada periode-periode
mendatang.
Strategi yang telah disampaikan pada tahun buku 2025 telah mulai dilaksanakan,
antara lain melalui pengendalian biaya operasional, peningkatan utilisasi dan
produktivitas alat berat, evaluasi profitabilitas per proyek/kontrak, pengendalian biaya
bahan bakar dan pemeliharaan, optimalisasi penagihan piutang, serta pengelolaan
modal kerja. Meskipun pada semester I 2026 Perseroan masih mencatat rugi bersih,
langkah-langkah perbaikan tersebut terus dijalankan untuk meningkatkan profitabilitas
secara bertahap.
10. Perseroan membukukan Beban Pokok Penjualan sebesar Rp219,95 miliar atau lebih
tinggi dibandingkan Pendapatan sebesar Rp181,23 miliar sehingga Perseroan
membukukan laba kotor negatif sebesar Rp38,73 miliar pada semester I 2026. Atas hal
tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan Beban Pokok Penjualan masih melebihi
pendapatan Perseroan.
b. Komponen Beban Pokok Penjualan yang mengalami kenaikan signifikan selama
semester I 2026.
c. Apakah terdapat proyek, kontrak, atau segmen usaha yang menghasilkan margin
negatif.
d. Langkah-langkah yang akan dilakukan Perseroan untuk meningkatkan margin usaha
dan memperbaiki profitabilitas.
e. Proyeksi manajemen terhadap pencapaian laba kotor positif pada periode mendatang
serta perkembangan efektivitas langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan sejak
tahun buku 2025.
f. Latar belakang dan penjelasan penyebab segmen operasi sewa membukukan rugi
kotor.
Penjelasan:
a. Beban Pokok Pendapatan masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan pada semester
I 2026 terutama karena struktur biaya pada segmen pertambangan dan jasa sewa
masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing
segmen. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 28
tunjangan, penyusutan, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan, disertai utilisasi alat
dan produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
Di sisi lain, segmen konstruksi telah memberikan kontribusi laba kotor positif, namun
kontribusi tersebut belum sepenuhnya dapat menutup rugi kotor yang berasal dari
segmen pertambangan dan jasa sewa.
b. Komponen Beban Pokok Pendapatan yang mengalami peningkatan selama semester
I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya terutama meliputi:
- Bahan bakar, dari Rp39,85 miliar menjadi Rp60,96 miliar;
- Bahan baku/material, dari nihil menjadi Rp26,79 miliar, terutama sejalan dengan
adanya kegiatan konstruksi pada semester I 2026;
- Penyusutan, dari Rp24,58 miliar menjadi Rp34,28 miliar;
- Gaji dan tunjangan, dari Rp39,99 miliar menjadi Rp49,04 miliar;
- Sewa, dari Rp0,88 miliar menjadi Rp4,58 miliar; dan
- Transportasi dan perjalanan, dari Rp2,96 miliar menjadi Rp5,38 miliar.
c. Berdasarkan informasi segmen per 30 Juni 2026, terdapat dua segmen usaha yang
masih menghasilkan margin kotor negatif, yaitu:
- Segmen pertambangan, dengan pendapatan sebesar Rp43,49 miliar dan Beban
Pokok Pendapatan sebesar Rp70,41 miliar, sehingga mencatat rugi kotor sebesar
Rp26,92 miliar;
- Segmen jasa sewa, dengan pendapatan sebesar Rp65,87 miliar dan Beban Pokok
Pendapatan sebesar Rp106,63 miliar, sehingga mencatat rugi kotor sebesar
Rp40,76 miliar.
d. Perseroan terus melakukan langkah perbaikan margin dan profitabilitas melalui
pengendalian biaya operasional, optimalisasi utilisasi dan produktivitas alat berat,
pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, evaluasi struktur tarif dan biaya
kontrak, optimalisasi jadwal operasional, serta evaluasi profitabilitas masing-masing
proyek dan kontrak secara berkala.
Selain itu, Perseroan melakukan evaluasi mekanisme penyesuaian tarif dan model
pricing untuk memastikan struktur pendapatan dan biaya pada kontrak berjalan
maupun kontrak baru dapat memberikan tingkat margin yang memadai.
e. Manajemen menargetkan perbaikan margin secara bertahap melalui pelaksanaan
langkah-langkah peningkatan efisiensi dan produktivitas sebagaimana telah
dijelaskan di atas. Pencapaian laba kotor positif akan bergantung pada realisasi
peningkatan pendapatan, utilisasi dan produktivitas alat, serta efektivitas
pengendalian biaya pada periode berikutnya, sebagaimana tercermin dalam proyeksi
keuangan Perseroan yang telah disusun.
Langkah perbaikan yang mulai diterapkan sejak tahun buku 2025 telah menunjukkan
perkembangan, meskipun Perseroan masih mencatat rugi kotor pada semester I 2026.
Secara konsolidasian, rugi kotor semester I 2026 sebesar Rp38,73 miliar, membaik
dibandingkan rugi kotor sebesar Rp53,68 miliar pada semester I 2025. Selain itu,
segmen konstruksi telah mencatat laba kotor positif sebesar Rp28,95 miliar pada
semester I 2026. Perseroan akan terus melanjutkan langkah perbaikan tersebut untuk
meningkatkan margin secara berkelanjutan.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 29
f. Rugi kotor pada segmen jasa sewa terutama disebabkan oleh struktur biaya
operasional alat berat yang masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan sewa yang
dihasilkan. Komponen biaya utama antara lain bahan bakar, gaji dan tunjangan
operator serta tenaga pendukung, biaya perbaikan dan pemeliharaan, dan beban
penyusutan alat berat.
Selain itu, utilisasi dan produktivitas alat selama periode berjalan belum sepenuhnya
berada pada tingkat optimal, sehingga biaya tetap dan biaya operasional alat belum
dapat terserap secara optimal oleh pendapatan yang dihasilkan. Perseroan
melakukan perbaikan melalui peningkatan utilisasi dan produktivitas alat, optimalisasi
jadwal operasional, pengendalian biaya bahan bakar dan pemeliharaan, serta evaluasi
tarif sewa dan struktur biaya kontrak.
11. Perseroan membukukan rugi pada 31 Desember 2025 sebesar Rp49,40 miliar atau
meningkat sebesar Rp30,72 miliar (164,5%) dibandingkan tahun sebelumnya dan per 30
Juni 2026 sebesar Rp47,38 miliar yang membuat saldo ekuitas menurun menjadi
Rp130,81 miliar. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Faktor-faktor utama yang menyebabkan peningkatan rugi tahun berjalan pada tahun
2025.
b. Faktor-faktor utama yang menyebabkan Perseroan masih membukukan rugi yang
material meskipun pendapatan meningkat sebesar 89,2% pada 30 Juni 2026.
c. Penilaian manajemen terkait kemampuan Perseroan untuk mempertahankan
kelangsungan usaha (going concern).
d. Rencana aksi yang akan dilakukan Perseroan untuk memperbaiki kinerja operasional,
kondisi keuangan, dan likuiditas Perseroan.
e. Bentuk dukungan yang diperoleh atau akan diperoleh dari pemegang saham, pihak
berelasi, kreditur, maupun pihak lainnya dalam mendukung keberlangsungan usaha
Perseroan.
Penjelasan:
a. Peningkatan rugi tahun berjalan pada tahun 2025 terutama disebabkan oleh kenaikan
Beban Pokok Pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan pendapatan
Perseroan. Kenaikan Beban Pokok Pendapatan terutama berasal dari peningkatan
biaya bahan bakar, bahan baku, gaji dan tunjangan, perbaikan dan pemeliharaan,
serta beban penyusutan, sejalan dengan peningkatan aktivitas operasional,
penambahan aset operasional, dan pelaksanaan proyek Perseroan.
Selain itu, pada tahun 2025 kegiatan operasional Perseroan masih berada dalam fase
transisional/ramp-up, termasuk investasi dan kesiapan operasi serta perpindahan pit
pada akhir tahun, yang menyebabkan utilisasi alat, produktivitas, dan efisiensi biaya
belum berada pada tingkat optimal.
b. Meskipun pendapatan Perseroan pada semester I 2026 meningkat, Perseroan masih
membukukan rugi karena struktur biaya pada segmen pertambangan dan jasa sewa
masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing
segmen. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh biaya bahan bakar, gaji dan
tunjangan, penyusutan, serta biaya perbaikan dan pemeliharaan, disertai utilisasi alat
dan produktivitas yang masih dalam proses optimalisasi.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 30
Pada periode yang sama, segmen konstruksi telah menghasilkan laba kotor positif,
namun kontribusi tersebut belum sepenuhnya dapat menutup rugi yang berasal dari
segmen pertambangan dan jasa sewa.
c. Manajemen menilai bahwa penggunaan basis akuntansi kelangsungan usaha (going
concern) masih tepat dan Perseroan memiliki kemampuan untuk melanjutkan kegiatan
usahanya. Penilaian tersebut mempertimbangkan keberlangsungan kontrak dan
kegiatan operasional Perseroan, penerimaan dari kegiatan usaha, langkah perbaikan
kinerja dan likuiditas yang sedang dijalankan, serta dukungan dari pemegang saham
pengendali.
Dalam proses audit laporan keuangan tahun 2025, Akuntan juga telah melakukan
evaluasi atas indikator going concern sesuai SA 570 dan menyimpulkan bahwa tidak
terdapat ketidakpastian material atas kemampuan Perseroan mempertahankan
kelangsungan usahanya.
d. Perseroan akan melanjutkan langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan, antara
lain:
- meningkatkan kinerja operasional melalui optimalisasi volume pekerjaan, utilisasi
alat berat, dan produktivitas proyek;
- melakukan efisiensi biaya operasional, termasuk pengendalian biaya bahan bakar,
biaya perawatan, biaya subkontraktor, dan biaya pendukung operasional lainnya;
- mempercepat penagihan piutang usaha untuk memperkuat arus kas operasional dan
mendukung pembayaran kewajiban pokok serta bunga pinjaman sesuai jadwal;
- mengendalikan belanja modal agar penggunaan kas lebih difokuskan pada
kebutuhan operasional dan kewajiban keuangan yang jatuh tempo; dan
- memperkuat struktur permodalan dan modal kerja Perseroan.
e. Dukungan terhadap keberlangsungan usaha Perseroan antara lain berasal dari
pemegang saham pengendali, serta penguatan modal kerja melalui rencana
PMHMETD I. Selain itu, keberlangsungan kegiatan usaha Perseroan juga didukung
oleh hubungan operasional dan kontrak jangka panjang dengan pihak berelasi dalam
ekosistem usaha Grup.
Dari sisi kreditur, Perseroan tetap memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga
pinjaman sesuai jadwal serta menjaga komunikasi dengan pihak bank. Sehubungan
dengan covenant yang belum terpenuhi per 31 Desember 2025, Perseroan telah
mengajukan waiver kepada pihak bank.
Kebutuhan modal kerja Perseroan juga didukung oleh penerimaan dari pelanggan,
fasilitas pinjaman bank apabila diperlukan, serta sumber pendanaan lain yang tersedia
sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan Perseroan.
12. Berdasarkan CALK nomor 18 tentang Pendapatan, terdapat jenis pendapatan baru yaitu
pendapatan jasa konstruksi sebesar Rp71,86 miliar di mana tidak terdapat pendapatan
tersebut pada tahun sebelumnya. Atas hal tersebut, agar dijelaskan:
a. Apakah pendapatan jasa konstruksi tersebut merupakan bagian dari kegiatan usaha
utama Perseroan atau merupakan sumber pendapatan baru?
b. Apakah pendapatan jasa konstruksi akan menjadi pendapatan berkelanjutan?
c. Nature dari pendapatan jasa konstruksi tersebut.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 31
d. Apakah pendapatan jasa konstruksi tersebut berasal dari satu proyek tertentu atau
beberapa proyek? Agar dijelaskan kontribusinya masing-masing.
e. Metode pengakuan pendapatan yang digunakan Perseroan atas pendapatan jasa
konstruksi tersebut.
Penjelasan:
a. Pendapatan jasa konstruksi merupakan bagian dari kegiatan usaha Perseroan dari
entitas anak Perseroan, khususnya dalam penyediaan jasa konstruksi yang berkaitan
dengan infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan. Pendapatan tersebut bukan
merupakan kegiatan usaha baru, namun mulai memberikan kontribusi yang lebih
signifikan pada semester I 2026 sejalan dengan pelaksanaan proyek konstruksi yang
berjalan pada periode tersebut.
b. Pendapatan jasa konstruksi diharapkan tetap menjadi salah satu sumber pendapatan
Perseroan, sejalan dengan kebutuhan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan. Namun demikian, besaran
pendapatan konstruksi pada setiap periode akan bergantung pada ketersediaan
proyek, nilai kontrak, serta progres pelaksanaan pekerjaan pada masing-masing
periode.
c. Pendapatan jasa konstruksi berasal dari pekerjaan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan, antara lain pembangunan jalan,
jembatan, fasilitas penunjang operasional, serta infrastruktur terkait lainnya sesuai
dengan ruang lingkup masing-masing kontrak.
d. Pendapatan jasa konstruksi sebesar Rp71,86 miliar per 30 Juni 2026 berasal dari
beberapa proyek konstruksi, bukan dari satu proyek tertentu. Proyek-proyek tersebut
terutama dilaksanakan berdasarkan kerja sama dengan PT Royaltama Mulia Kencana
(“RMUK”) dan PT RMK Energy Tbk (“RMKE”).
Kontribusi pendapatan jasa konstruksi yang berasal dari pekerjaan untuk RMUK
adalah sebesar sekitar Rp63,92 miliar, atau sekitar 88,9% dari total pendapatan jasa
konstruksi, sedangkan pekerjaan untuk RMKE memberikan kontribusi sebesar sekitar
Rp7,95 miliar, atau sekitar 11,1%.
Pekerjaan konstruksi untuk RMUK terdiri atas beberapa pekerjaan pembangunan dan
pengembangan infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan, antara lain
pembangunan dan pemeliharaan hauling road, konstruksi Train Loading System
(TLS), pekerjaan jalan, jembatan, serta fasilitas penunjang operasional lainnya.
Sementara itu, pekerjaan untuk RMKE antara lain mencakup pembangunan dan
perbaikan jalan hauling, rigid pavement, fasilitas pelabuhan, jembatan timbang,
bangunan dan fasilitas operasional penunjang lainnya.
e. Pendapatan jasa konstruksi diakui sepanjang waktu (over time) dengan menggunakan
metode input cost-to-cost. Tingkat penyelesaian pekerjaan ditentukan berdasarkan
perbandingan antara biaya kontrak yang telah terjadi sampai dengan tanggal
pelaporan terhadap estimasi total biaya kontrak. Dengan demikian, pendapatan diakui
sejalan dengan progres pemenuhan kewajiban pelaksanaan atas masing-masing
kontrak.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 32
Lain-lain
13. Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga
efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum diungkapkan kepada
publik.
Penjelasan:
Tidak terdapat Informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat
mempengaruhi harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan yang belum
diungkapkan kepada publik.
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk
WISMA RMK, Jl. Puri Kencana Blok M4 No. 1 – Kembangan Selatan Jakarta 11610 Indonesia
P. +62-21 582 2555, 582 0003 & 5830 2728-29
F. + 62-21 582 7555 & 582 0424
Page 33
Names mentioned 20 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
person
Adi Pratomo Aryanto PH Kepala Divisi Penilaian
p.1 ×2
unresolved
org
PT Sahala Bara Lestari
p.2 ×2
unresolved
org
PT Sahala Bara
p.3 ×4
unresolved
org
PT Trans Andalan
p.3 ×2
unresolved
org
PT Duta Bara Utama
p.3 ×2
unresolved
org
PT Royaltama Mulia
p.3 ×4
unresolved
org
PT Artha Nusantara
p.3 ×4
unresolved
org
PT Beltindo Mulia
p.3 ×4
unresolved
org
PT Salaam Konstruksi
p.3 ×2
unresolved
org
PT Central Mulia
p.3 ×2
unresolved
org
Tahun Pajak
p.4 ×6
unresolved
org
PT Royaltama Mulia Konstruksi
p.6 ×2
unresolved
org
PT Royaltama Mulia Kencana
p.7 ×4
unresolved
org
PT Rantai Mulia Kencana
p.8 ×2
unresolved
org
PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara
p.8 ×4
unresolved
org
PT Truba Bara Banyu Enim
p.9 ×2
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.