Back to announcement
Lamp 3. Penjelasan aset dan liabilitas.pdf
Financial statement Text extracted BTPSSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 3
Page 1
Penjelasan atas Laporan Keuangan PT BANK BTPN SYARIAH Tbk. (“Bank”) Konsolidasian
Posisi 31 Maret 2024
Indonesia dan dunia sedang berada di dalam momentum pemulihan ekonomi setelah selama tiga tahun
terakhir menghadapi tantangan yang sangat kompleks akibat imbas pandemi COVID-19 dan perlambatan
ekonomi yang berdampak pada hampir seluruh industri. Dinamika ekonomi keuangan global berubah
cepat dengan risiko dan ketidakpastian meningkat karena perubahan arah kebijakan moneter AS dan
memburuknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi di triwulan I tahun 2024
diperkirakan akan lebih tinggi dari triwulan IV tahun 2023 didukung permintaan domestik yang tetap
kuat dari konsumsi rumah tangga sejalan dengan Ramadan dan Idulfitri 1445 H.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan mencapai kisaran 4,7%-5,5%, didukung oleh
permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga.
PT BANK BTPN SYARIAH Tbk terus fokus melayani masyarakat inklusi, terutama dalam memberikan akses
keuangan berupa pembiayaan bagi para perempuan pelaku ekonomi yang masuk dalam kelompok
unbankable (tak tersentuh layanan keuangan profesional). Selama lebih dari satu dekade, Bank telah
menjalankan model bisnis yang sudah didesain untuk memberikan kesempatan tumbuh dan memenuhi
berbagai kebutuhan bagi masyarakat inklusi. Dalam perjalanannya di triwulan kesatu tahun ini, Bank
terus berupaya melakukan penyesuaian demi mengembalikan perilaku efektif nasabah untuk
membangun empat perilaku unggul yang selama ini menjadi Kunci Sukses berjalannya model bisnis Bank
yakni Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS).
Dengan kondisi-kondisi internal dan eksternal yang disebutkan di atas serta dukungan dari regulator
serta pemerintah yang terus berupaya terbaik melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),
kinerja dapat terjaga dengan pencapaian Total Aset PT BANK BTPN SYARIAH Tbk pada tanggal
31 Maret 2024 tercatat sebesar Rp 21,2 triliun, mengalami penurunan (pertumbuhan negatif) sebesar
Rp 238,6 miliar atau 1,1% dibandingkan dengan posisi pada tanggal 31 Desember 2023 yang sebesar
Rp 21,4 triliun. Adapun perubahan penting pada pos-pos neraca selama periode tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Giro dan Penempatan pada BI
Giro dan Penempatan pada BI posisi 31 Maret 2024 sebesar Rp 654 miliar mengalami penurunan
sebesar Rp 109 miliar atau sebesar 14,3% dibandingkan posisi 31 Desember 2023
sebesar Rp 763 miliar. Penurunan tersebut dikarenakan tidak adanya penempatan Fasilitas
Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS) yang jatuh tempo dan ditempatkan kembali pada
aktiva produktif yang memberikan imbal hasil lebih optimal.
Page 2
2. Piutang Murabahah Piutang murabahah gross posisi 31 Maret 2024 sebesar Rp 10,9 triliun mengalami penurunan sebesar Rp 502,6 miliar atau sebesar 4,4% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 11,4 triliun. Hal ini disebabkan Bank lebih selektif dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah, yakni nasabah yang menunjukkan perilaku BDKS (Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu), hal ini sejalan dengan fokus Bank pada kualitas pembiayaan. 3. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Piutang Murabahah CKPN piutang murabahah posisi 31 Maret 2024 sebesar Rp 1,1 triliun mengalami penurunan Rp 122 miliar atau sebesar 10% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 1,2 triliun. Hal ini sejalan dengan berakhirnya pemberian relaksasi pembiayaan kepada nasabah yang terdampak Covid-19 pada Maret 2024 ini. Dimana Bank di akhir tahun lalu telah melakukan pencadangan yang memadai untuk portfolio Covid-19 tersebut. 4. Piutang Qardh Piutang qardh gross posisi 31 Maret 2024 sebesar Rp 331 juta mengalami penurunan sebesar Rp 199 juta atau sebesar 37,6% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 530 juta. Hal ini disebabkan adanya pelunasan atas piutang qardh tersebut. 5. Pembiayaan Musyarakah Pembiayaan musyarakah gross posisi 31 Maret 2024 sebesar Rp 10,9 miliar mengalami penurunan sebesar Rp 8,7 miliar atau sebesar 44,3% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 19,7 miliar dikarenakan adanya pembayaran pembiayaan dan pelunasan. 6. Biaya Dibayar Dimuka Biaya dibayar dimuka pada 31 Maret 2024 sebesar Rp 98,2 miliar mengalami kenaikan sebesar Rp 50,1 miliar atau sebesar 104,4% dibandingkan 31 Desember 2023 yaitu sebesar Rp 48 miliar. Hal ini dikarenakan adanya pembayaran asuransi kesehatan untuk karyawan, pemeliharaan IT, asuransi DPK penjaminan serta pembayaran dan perpanjangan lisensi hak guna pakai. 7. Aset Lain-lain Aset lain-lain pada 31 Maret 2024 sebesar Rp 43,7 miliar mengalami kenaikan sebesar 23,3% atau Rp 8,3 miliar dibandingkan posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp. 35,5 miliar. Hal ini disebabkan adanya kenaikan uang muka operasional, beban yang ditangguhkan, tagihan kepada pihak ketiga dan lain – lain. 8. Liabilitas Segera Liabilitas segera pada tanggal 31 Maret 2024 sebesar Rp 45,1 miliar mengalami kenaikan sebesar Rp 15,8 miliar atau sebesar 53,7% dibandingkan posisi 31 Desember 2023 yaitu Rp 29,3 miliar. Hal ini disebabkan adanya kenaikan kewajiban yang telah jatuh tempo kepada pihak ketiga dan kewajiban segera lainnya.
Page 3
9. Liabilitas Lain-lain
Liabilitas lain-lain pada 31 Maret 2024 sebesar Rp 628,9 miliar mengalami kenaikan sebesar
Rp 566,4 miliar atau 905,2% dibandingkan posisi 31 Desember 2023 yaitu Rp 62,6 miliar.
Hal ini disebabkan adanya akrual dividen yang akan dibayar di April 2024, asuransi dan lainnya.
10. Akrual
Akrual pada 31 Maret 2024 sebesar Rp 69,6 miliar mengalami kenaikan sebesar
Rp 2,1 miliar atau 3,0% dibandingkan posisi 31 Desember 2023 yaitu Rp 67,6 miliar.
Peningkatan mayoritas akrual dikarenakan adanya akrual SIPO dan operasional lainnya.
11. Liabilitas Imbalan Pasca Kerja
Liabilitas imbalan pasca kerja pada 31 Maret 2024 sebesar Rp 84,6 miliar mengalami penurunan
sebesar Rp 144,7 miliar atau 63,1% dibandingkan posisi 31 Desember 2023 yaitu Rp 229,3 miliar.
Penurunan disebabkan karena realisasi pembayaran imbalan kerja jangka pendek
kepada karyawan.
12. Dana Syirkah Temporer
Dana syirkah temporer pada tanggal 31 Maret 2024 sebesar Rp 9,6 triliun mengalami penurunan
sebesar Rp 337,1 miliar atau 3,4% dibandingkan posisi 31 Desember 2023 yaitu Rp 9,9 triliun.
Tabungan dan deposito mengalami penurunan masing-masing sebesar Rp 131,7 miliar
dan Rp 205,4 miliar. Penurunan Dana Syirkah Temporer pada triwulan pertama tahun 2024,
sesuai dengan strategi Bank untuk menjaga pendanaan pada level yang dikehendaki. Bank
senantiasa menjaga kinerja yang cukup optimal dan stabil.
13. Ekuitas
Ekuitas pada tanggal 31 Maret 2024 sebesar Rp 8,5 triliun mengalami penurunan sebesar
Rp 275,5 miliar atau sebesar 3,1% dibandingkan dengan periode 31 Desember 2023 sebesar
Rp 8,8 triliun. Penurunan ekuitas mayoritas disebabkan oleh akrual dividen yang akan dibayar
sebesar Rp 540,4 miliar serta adanya pertumbuhan modal secara organik berupa penambahan
laba bersih periode berjalan sebesar Rp 264 miliar.
Names mentioned 3 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Bank Indonesia
p.1
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.