Back to announcement
20230814_HEXA_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31371140_lamp3.pdf
Asset transaction Needs review HEXASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 90
Page 1
Laporan Final
Studi Kelayakan Penambahan
Kegiatan Usaha
PT Hexindo Adiperkasa Tbk
Page 2
Laporan Final
Studi Kelayakan Penambahan
Kegiatan Usaha
PT Hexindo Adiperkasa Tbk
KANTOR JASA PENILAI PUBLIK
Izin Usaha: 2.09.0040
Wilayah Kerja: Seluruh Indonesia
No. File: 00009/2.0040-0/FS/05/0585/1/VIII/2023
Page 3
No. 00009/2.0040-0/FS/05/0585/1/VIII/2023
Jakarta, 04 Agustus 2023
Kepada Yth.
DIREKSI
PT HEXINDO ADIPERKASA TBK (“HEXA”)
Pulo Gadung Industrial Estate
Jl. Pulo Kambing II, Kav. I-II. No. 33
Jakarta 13930
Indonesia.
Perihal : Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha HEXA
Dengan hormat,
Sehubungan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”)
No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. PT Hexindo
Adiperkasa Tbk (“HEXA”) berencana melakukan penambahan kegiatan usaha.
I. PENDAHULUAN
Rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh HEXA adalah kegiatan
usaha yang belum terdapat di dalam anggaran dasar HEXA, maka HEXA berencana
melakukan perubahan kegiatan usaha berupa penambahan Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (“KBLI”) sesuai dengan POJK 17/POJK.04/2020. Rencana transaksi yang
akan dilakukan oleh HEXA berupa penambahan kegiatan usaha berupa penambahan
KBLI, sehingga dalam rencana transaksi tersebut tidak menganggu operasional HEXA
eksisting.
Adapun KBLI yang akan ditambahkan adalah sebagai berikut:
1. 43905 : Penyewaan Alat Konstruksi dengan Operator;
2. 68111 : Real Estat Yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
3. 77100 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mobil,
Bus, Truk dan Sejenisnya;
4. 77391 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Industri Pengolahan;
5. 77392 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertanian dan Peralatannya;
6. 77393 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Konstruksi dan Teknik Sipil; dan
7. 77395 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertambangan dan Energi serta Peralatannya.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
i
Page 4
II. RINGKASAN STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
Kantor Jasa Penilai Publik Tri, Santi dan Rekan (“TSR”) ditunjuk oleh
PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”) berdasarkan surat penawaran
No. 14/PEN/FS/KJPP-TS/IV/2023 tanggal 13 April 2023 dengan maksud untuk
memberikan Jasa Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). TSR adalah Kantor Jasa Penilai Publik
yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan
No. 981/KM.1/2009 tanggal 21 Juli 2009, dengan nama Kantor Jasa Penilai Publik Tri,
Santi dan Rekan dengan Izin KJPP No. 2.09.0040.
1) Status Penilai
Penilai adalah partner dari TSR dengan kualifikasi sebagai berikut:
Nama : Ruspriono, SE., MM., MAPPI (Cert)
No. Ijin Penilai Publik : B-1.20.00585
No. MAPPI : 10-S-02481
No. RMK : 2017.01022
No. STTD (OJK) : STTD.PB-52/PM.223/2022
Kualifikasi : Penilai Bisnis
TSR adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan
Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan penugasan ini. Penilai
memiliki kompetensi untuk melakukan penugasan ini dan TSR adalah Kantor Jasa
Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal.
TSR bertindak secara independen dalam penyusunan Laporan studi kelayakan ini
tanpa adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pemberi tugas,
obyek studi kelayakan ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan pemberi tugas
dan obyek studi kelayakan. TSR juga tidak memiliki kepentingan ataupun
keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.
Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
merugikan pihak manapun. Imbalan jasa yang TSR terima sama sekali tidak
dipengaruhi oleh hasil yang dihasilkan.
2) Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan Penguna Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha
yang diterbitkan oleh TSR adalah :
• Nama Perusahaan : PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
• Alamat : Pulo Gadung Industrial Estate Jl. Pulo Kambing II,
Kav. I-II. No. 33 Jakarta 13930 Indonesia.
• Telepon : +62 21 4603738
• Website : www.hexindo-tbk.co.id
3) Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Maksud dan tujuan dari laporan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan
pendapat mengenai kelayakan atas penambahan kegiatan usaha berupa
penambahan KBLI yang ditinjau dari berbagai aspek yaitu aspek pasar, aspek teknis,
aspek pola bisnis, aspek model manajemen, dan aspek keuangan.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang
Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
ii
Page 5
mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas perubahan kegiatan usaha yang
disusun oleh penilai.
4) Objek Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Bahwa obyek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh pemberi
tugas adalah Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa
berupa penambahan KBLI. Berikut adalah rencana penambahan KBLI yang akan
dilakukan oleh HEXA:
1. 43905 : Penyewaan Alat Konstruksi dengan Operator;
2. 68111 : Real Estat Yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
3. 77100 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mobil,
Bus, Truk dan Sejenisnya;
4. 77391 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Industri Pengolahan;
5. 77392 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertanian dan Peralatannya;
6. 77393 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Konstruksi dan Teknik Sipil; dan
7. 77395 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertambangan dan Energi serta Peralatannya.
5) Tanggal Studi kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Tanggal efektif studi kelayakan penambahan kegiatan usaha adalah per
31 Maret 2023, dengan menggunakan parameter dan laporan keuangan audit per
31 Maret 2023 dimana batas tersebut diambil atas dasar pertimbangan kepentingan
dan tujuan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha berupa penambahan KBLI.
6) Gambaran Umum HEXA
Sejarah Singkat
PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”) didirikan di Indonesia berdasarkan Akta Notaris
Mohamad Ali, S.H., No. 37 tanggal 28 November 1988. Akta Pendirian ini telah
disahkan oleh Kementerian Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. C2-4389.HT.01.01.TH.89 tanggal 12 Mei 1989, serta diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia No. 54 Tambahan No. 1251 tanggal 7 Juli 1989.
Anggaran Dasar HEXA telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan
terakhir dinyatakan dalam Akta Notaris Jose Dima, S.H., M.Kn., No. 118 tanggal
28 Januari 2021 mengenai perubahan Anggaran Dasar dan telah diberitahukan
kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat
No. AHU-AH.01.03-0069433 tanggal 3 Februari 2021.
HEXA memulai operasi komersial pada bulan Januari 1989. HEXA berkedudukan di
Jakarta yang berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung, Jalan Pulo Kambing II Kav.
I-II No. 33, Jakarta 13930. Pada tanggal 31 Desember 2022, Perusahaan memiliki
19 cabang, 17 kantor perwakilan dan 16 kantor proyek, yang tersebar di seluruh
Indonesia.
Aktivitas Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar HEXA, kegiatan usaha HEXA adalah
perdagangan dan penyewaan alat berat serta pelayanan purna jual. Saat ini, HEXA
bertindak selaku distributor alat-alat berat jenis tertentu dan suku cadang dari merek
“Hitachi” dan “Bell”.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
iii
Page 6
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi HEXA pada tanggal 31 Maret 2023
adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Toto Wahyudiyanto
Komisaris Independen : Harry Danui
Direksi
Direktur Utama : Djonggi TP. Gultom
Direktur : Yasumasa Zaizen
Direktur : Dai Tamura
Direktur : Teru Karahashi
Direktur : Yoshendri
Direktur : Dwi Swasono
Direktur : Fumio Nakajima
Direktur : Makoto Sorimachi
Direktur : Toshitaka Uchida
Susunan Permodalan
Kepemilikan saham HEXA pada tanggal 31 Maret 2023 adalah sebagai berikut:
Jumlah Saham Jumlah Nominal Persentase
Daftar Pemegang Saham
(Lembar) (Rupiah) Kepemilikan
Hitachi Construction Machinery Co.
408.180.000 408.180.000.000 48,59%
Ltd., Jepang
ITOCHU Corporation, Jepang 210.400.000 210.400.000.000 25,05%
Hitachi Construction Machinery Asia
42.620.000 42.620.000.000 5,07%
and Pacific Pte. Ltd., Singapura
Masyarakat (kepemilikan di
178.800.000 178.800.000.000 21,29%
bawah 5%)
Jumlah 840.000.000 840.000.000.000 100,00%
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
iv
Page 7
Struktur Organisasi
Struktur Organisasi HEXA adalah sebagai berikut :
Sumber: Manajemen HEXA, Annual Report 2022
7) Ketersediaan Tenaga Ahli Penambahan Kegiatan Usaha
Rencana penambahan kegiatan usaha diperlukan tenaga kerja yang berkompeten
dibidangnya dalam kaitan penambahan bidang usaha ini. HEXA telah
mempersiapkan tenaga ahli yang dapat mendukung penambahan kegiatan usaha
dimana tenaga kerja dalam rencana penambahan kegiatan usaha berasal dari
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
v
Page 8
tenaga ahli yang sudah ada di HEXA, sehingga tidak terdapat biaya yang akan
dikeluarkan oleh HEXA dalam perekrutan tenaga ahli.
8) Penjelasan, Pertimbangan, dan Alasan Dilakukannya Penambahan
Kegiatan Usaha
Saat ini salah satu kegiatan usaha HEXA adalah melaksanakan aktivitas penjualan
dan penyewaan alat berat yang merupakan penopang utama aktivitas operasional
HEXA. HEXA sudah memulai perjalanan di lini bisnis ini sejak tahun 1988 Jenis
produk alat berat yang dijual dan/atau disewakan oleh HEXA meliputi ekskavator 6
ton ke atas, mini ekskavator, wheel loader dan articulated dump truck.
Sejalan dengan pertumbuhan industri alat berat di Indonesia sangat dipengaruhi
oleh pertumbuhan industri sektor pertambangan, agro, kehutanan dan konstruksi
atau infrastruktur pada kebutuhan Pelanggan menjadi dasar pertimbangan HEXA
melakukan penambahan bidang usaha khususnya dalam penyewaan alat berat di
berbagai macam sektor, agar HEXA selalu siap dalam menghadapi berbagai
tantangan persaingan usaha yang semakin ketat di masa sekarang ini, dan mampu
meraih setiap peluang usaha baru di masa depan. Mengingat kegiatan usaha
penyewaan alat berat di sektor pertambangan dan energi, konstruksi dan teknik
sipil, pertanian, industry pengolahan memerlukan KBLI tersendiri dan belum dimiliki
HEXA saat ini, maka atas dasar tersebut HEXA bermaksud untuk menambahkan
kegiatan-kegiatan usaha jasa penyewaan.
Kedepannya, HEXA akan terus mengembangkan usahanya, dan karenanya HEXA
berencana untuk melakukan penambahan kegiatan usaha di bidang sebagai berikut:
1. Penyewaan Alat Konstruksi Dengan Operator (Kode KBLI 2020: 43905);
2. Real Estat Yang Dimiliki Sendiri atau Disewa (Kode KBLI 2020: 68111);
3. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mobil, Bus, Truk
Dan Sejenisnya (Kode KBLI 2020: 77100);
4. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin Dan
Peralatan Industri Pengolahan (Kode KBLI 2020: 77391);
5. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin Pertanian
Dan Peralatannya (Kode KBLI 2020: 77392);
6. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin Dan
Peralatan Konstruksi Dan Teknik Sipil (Kode KBLI 2020: 77393);
7. Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa Hak Opsi Mesin Pertambangan dan
Energi serta Peralatannya (Kode KBLI 2020: 77395).
Dengan mengembangkan berbagai kapabilitas terbaru, HEXA diharapkan dapat
terus menjaga keberlanjutan usaha kepada seluruh Pelanggan, pemegang saham
dan stakeholder lainnya.
9) Asumsi dan Kondisi Pembatas
1. Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer
opinion.
2. TSR telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
vi
Page 9
3. Dalam menyusun laporan ini, TSR mengandalkan kelengkapan informasi yang
disediakan oleh HEXA dan atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia
untuk publik dan informasi lainnya yang dapat dipercaya keakuratannya.
4. TSR menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan dengan
mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh HEXA
dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. TSR bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan.
6. Pemberi tugas menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
seluruhnya kepada TSR dan tidak ada pengurangan atas fakta-fakta yang
penting.
7. Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional HEXA.
8. TSR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
9. Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan Pasar
Modal dan pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.
10. Studi kelayakan ini disusun berdasarkan kondisi perekonomian, industri dan
keuangan, serta regulasi pemerintah terkait dengan penambahan kegiatan
usaha yang akan dilakukan pada tanggal pendapat ini diterbitkan.
11. TSR mengasumsikan bahwa penerbitan studi kelayakan tidak terjadi perubahan
apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang
digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini. TSR tidak bertanggungjawab
untuk menegaskan kembali atau melengkapi, memutakhirkan pendapat kami
karena adanya perubahan asumsi dan kondisi serta peristiwa-peristiwa yang
terjadi setelah tanggal laporan ini.
12. Lingkup pekerjaan akan dilakukan sesuai dengan analisis dan interpretasi kami
terhadap hukum dan Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang
Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal,
Peraturan OJK No. 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan
kegiatan usaha serta standar penilaian yang berlaku di Republik Indonesia,
sehingga tidak dimaksudkan untuk diaplikasikan, dianalisis atau
diinterpretasikan menurut peraturan perundang-undangan di negara lain.
13. Penugasan untuk melakukan studi kelayakan adalah bukan dan tidak dapat
dianggap sebagai kajian atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu pada
informasi keuangan. Penugasan ini dilakukan bukan dengan tujuan untuk
menemukan kelemahan pengawasan internal, kesalahan atau kecurangan pada
laporan keuangan, implikasi perpajakan ataupun pelanggaran hukum.
14. Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Pemberi
Tugas, selama tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.
10) Pendekatan dan Metodologi Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan
Usaha
Untuk melakukan studi kelayakan ini, TSR akan menggunakan sesuai Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa
Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
vii
Page 10
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah:
1. Pengumpulan data-data primer dari HEXA yang terkait dengan rencana
penambahan kegiatan usaha
2. Melakukan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha meliputi:
a) Kelayakan Pasar.
b) Kelayakan Teknis.
c) Kelayakan Pola Bisnis.
d) Kelayakan Model Manajemen.
e) Kelayakan Keuangan.
3. Memberikan kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
11) Aspek Pasar
Salah satu parameter penentuan alat berat yang tepat menyesuaikan pada kriteria
suatu lokasi, dimana masing-masing kriteria lokasi memiliki karakteristik yang
berbeda dalam mengelola bisnis pertambangan, perusahaan konstruksi, pertanian
dan infrastruktur. Pelanggan akan menentukan keputusan apakah melakukan
pembelian ataupun menyewa dan selanjutnya menetukan model inti yang paling
sesuai dengan pengaplikasian dan lokasi.
Secara general, HEXA menyadari ketatnya persaingan usaha dalam industri alat
berat, selama pandemic Covid-19 dan setelah menurunnya kasus Covid-19 membuat
banyak perusahaan dalam bidang yang sama melakukan distribusi pengadaan dan
penyewaan produk yang sejenis. Berbagai jenis pembangunan mulai dari
infrastruktur sendiri diperkirakan akan terus meningkat selama lima tahun ke depan,
perusahaan pertambangan dan disusul juga dengan perkebunan atau pertanian
akhir-akhir ini yang makin gencar bermunculan, yang berarti banyaknya kebutuhan
dari Pelanggan untuk menambah armada, memenuhi permintaan dan
memaksimalkan pendapatan. Adanya sarana bantuan untuk bisa melangsungkan
segala pembangunan tersebut membutuhkan peralatan yang memadai dala
memproses pengerjaannya tersebut. Selain itu, label harga pembelian alat berat
lebih besar dibandingkan menyewa, tentunya hal ini membuat para pemilik proyek
atau Pelanggan lebih memilih untuk menyewa daripada membelinya. Sektor bisnis
ini menjadi peluang bagi pertumbuhan bisnis HEXA.
Saat ini HEXA mentargetkan beberapa Pelanggan potensial dalam hal penyewaan
alat berat kepada lokal perusahaan penyewaan, perusahaan kontraktor tambang
yang sudah pernah membeli alat berat di HEXA, Pelanggan baru dengan kondisi
finansial yang bagus. Dilatar belakangi oleh hal-hal tersebut di atas maka diperlukan
adanya suatu strategi mempromosikan kegiatan penyewaan alat berat di berbagai
macam sektor serta menambah opsi baru dengan menawarkan penyewaan alat
berat dengan operator, user atau Pelanggan dapat memilih mana yang cocok bagi
kelangsungan bisnis mereka.
Maka, apabila kondisi industri alat berat dimasa mendatang akan terus tumbuh dan
tidak terdapat kejadian force majure yang dapat menganggu kelangsungan usaha
HEXA dapat maka disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha dari aspek pasar
yang akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
12) Aspek Teknis
HEXA merupakan perusahaan yang melaksanakan bidang usaha distribusi dan
penyewaan alat berat yang mulai beroperasi sejak tahun 1988. Selain itu, HEXA juga
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
viii
Page 11
merupakan perusahaan yang mencakup beberapa jenis usaha seperti penjualan
suku cadang dan aksesoris pendukung alat berat lainnya.
Rencana penambahan kegiatan usaha HEXA mengacu kepada usulan untuk
menjawab kebutuhan pasar. HEXA telah menjalankan jasa alat berat di berbagai
bidang. Namun, sehubungan dengan rincian HEXA untuk melakukan penambahan
jasa penyewaan di bidang konstruksi, pertambangan, dan pertanian maka rencana
penambahan kegiatan usaha ini mengacu pada KBLI yang sebelumnya disampaikan.
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Kondisi Teknis, maka disimpulkan bahwa
penambahan kegiatan usaha dari aspek teknis yang akan dilakukan oleh HEXA
adalah layak.
13) Aspek Pola Bisnis
Dalam menjalankan pengembangan kegiatan usaha baru tersebut, HEXA didukung
oleh tenaga ahli yang memiliki kompetensi yang akan menciptakan keunggulan
kompetitif bagi HEXA dalam menjalankan rencana pengembangan usaha. Dengan
keunggulan kompetitif yang dimiliki, maka HEXA diperkirakan akan dapat bersaing
dengan perusahaan kompetitor.
Pengembangan kegiatan usaha baru yang akan dilakukan oleh HEXA adalah
penyewaan atau rental alat berat di berbagai sektor, penyewaan alat berat dengan
operator, dan sewa real/estate (warehouse) atas property yang dimiliki oleh HEXA.
Terdapat sejumlah perusahaan kompetitor yang menjadi pesaing HEXA, namun
HEXA memiliki beberapa mitigasi untuk memitigasi risiko tersebut.
Dengan penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan maka diharapkan akan
dapat memberikan nilai tambah bagi HEXA berupa perluasan bidang jasa yang dapat
disediakan bagi Pelanggan.
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Aspek Pola Bisnis dan telah melakukan
beberapa strategi dan pendekatan dalam rencana penambahan kegiatan usaha
untuk menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif, maka disimpulkan bahwa
penambahan kegiatan usaha dari aspek pola bisnis yang akan dilakukan oleh HEXA
adalah layak.
14) Aspek Model Manajemen
Penambahan kegiatan usaha merupakan bentuk respon HEXA terhadap
pengembangan usaha penyewaan/rental alat berat di berbagai sektor, penyewaan
alat berat dengan operator, dan penyewaan real estat yang dimiliki sendiri, HEXA
akan menggunakan tenaga kerja dan tenaga ahli pendukung yang memiliki
kemampuan berdasarkan pengalaman dan pelatihan-pelatihan yang telah diikuti.
Dengan pengalaman dan pelatihan yang pernah diikuti serta kinerja selama bekerja
di HEXA, tenaga kerja yang dimiliki diyakini merupakan figur yang tepat untuk
menjalankan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pengembangan usaha yang
akan dijalankan oleh HEXA.
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Aspek Model Manajemen. HEXA dalam
rencana penambahan kegiatan usaha telah mempersiapkan sumber daya manusia
sesuai dengan struktur organisasi dan telah melakukan mitigasi risiko serta memiliki
kapasitas dan kemampuan manajemen, maka disimpulkan bahwa penambahan
kegiatan usaha dari aspek model manajemen yang akan dilakukan oleh HEXA adalah
layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
ix
Page 12
15) Aspek Keuangan
Kebutuhan Investasi dan Sumber Pembiayaan Penambahan Kegiatan
Usaha
Dalam rangka penambahan kegiatan usaha, jumlah biaya investasi yang dibutuhkan
adalah sebesar USD52,066 ribu yang akan dilakukan selama 5 tahun. Dalam
penambahan KBLI baru ini HEXA melakukan penambahan alat berat untuk
disewakan. Berikut adalah rincian investasi yang direncanakan:
Rencana Investasi Penambahan kegiatan Usaha
Dalam Ribuan USD
FY FY FY FY FY
NO. KETERANGAN
2023 2024 2025 2026 2027
1 Heavy Equipment investment 66 unit 9,186
2 Heavy Equipment investment 84 unit 10,402
3 Heavy Equipment investment 66 unit 10,611
3 Heavy Equipment investment 66 unit 10,825
4 Heavy Equipment investment 66 unit 11.042
Grand Total 9,186 10,402 10,611 10,825 11,042
Sumber Pembiayaan Investasi Penambahan Kegiatan Usaha
Dalam rangka penambahan kegiatan usaha sumber pembiayaan investasi diperoleh
dari utang bank dan utang pemegang saham HEXA.
Rencana Pelaksanaan Penambahan Kegiatan Usaha
Estimasi pelaksanaan penambahan kegiatan usaha dapat dilaksanakan pada tahun
buku 2023 sampai dengan tahun buku 2027.
Tingkat Diskonto
Tingkat Diskonto adalah suatu tingkat imbal balik untuk mengkonversikan nilai di
masa depan ke nilai sekarang yang mencerminkan nilai waktu dari uang dan
ketidakpastian atas terealisasinya pendapatan ekonomi. Dalam perhitungan tingkat
diskonto TSR menggunakan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal.
Berikut adalah hasil perhitungan WACC per 31 Maret 2023:
Jenis Modal Biaya Modal Bobot Tertimbang
Utang 4,94% 48,56% 2,40%
Ekuitas 10,07% 51,44% 5,18%
WACC 7,58%
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan kekuatan/kelebihan serta
risiko yang dihadapi, TSR berpendapat bahwa tingkat diskonto sebesar 7,58%
adalah wajar.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
x
Page 13
Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan Penambahan Kegiatan Usaha
Pertimbangan-pertimbangan yang ditetapkan dalam setiap asumsi ditentukan secara
realistis dengan memperhatikan setiap tahap perkembangan dari tahun ke tahun
dari rencana penambahan kegiatan usaha HEXA. Berikut adalah asumsi yang
digunakan:
Asumsi HEXA Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
1) Penjualan:
a. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan dan Penyewaan Alat Berat tumbuh
sebesar 9,16% selama periode proyeksi.
b. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan suku cadang tumbuh sebesar
4,28% selama periode proyeksi.
c. Berdasarkan kinerja historikal jasa pemeliharaan dan perbaikan tumbuh
sebesar 6,14% selama periode proyeksi.
2) Beban Pokok:
a. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan dan Penyewaan Alat
Berat sebesar 88,24% dari Penjualan dan Penyewaan Alat Berat.
b. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan suku cadang Berat
sebesar 60,92% dari Penjualan suku cadang.
c. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok jasa pemeliharaan dan
perbaikan sebesar 54,08% dari Penjualan jasa pemeliharaan dan perbaikan.
3) Beban Usaha diasumsikan sebagai berikut:
a. Beban Penjualan sebesar 4,49% dari penjualan didasarkan pada rata-rata
historikal.
b. Beban Administrasi tumbuh sebesar 5,0% per tahun selama periode
proyeksi.
4) Asumsi pajak badan yang digunakan selama periode proyeksi berdasarkan
Taksiran pajak penghasilan pph badan untuk perusahaan diperhitungkan sesuai
ketentuan yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2021
tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Tarif PPh Badan ditetapkan pada tarif
22% mulai tahun 2022.
5) Asumsi perputaran modal kerja adalah sebagai berikut:
a. Perputaran piutang usaha sebesar 81 hari.
b. Perputaran persediaan sebesar 164 hari.
c. Perputaran utang usaha sebesar 79 hari.
Asumsi HEXA Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
1) Penjualan:
a. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan dan Penyewaan Alat Berat tumbuh
sebesar 9,16% selama periode proyeksi.
b. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan suku cadang tumbuh sebesar
4,28% selama periode proyeksi.
c. Berdasarkan kinerja historikal jasa pemeliharaan dan perbaikan tumbuh
sebesar 6,14% selama periode proyeksi.
d. Penambahan KBLI menyebabkan adanya pertumbuhan pada Rental sebesar
100% di tahun buku 2023, tumbuh sebesar 45,50% di tahun buku 2024,
tumbuh sebesar 14,41% di tahun buku 2025, turun sebesar 8,78% di tahun
buku 2026 dan tetap di tahun buku 2027.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xi
Page 14
2) Beban Pokok:
a. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan dan Penyewaan Alat
Berat sebesar 88,24% dari Penjualan dan Penyewaan Alat Berat.
b. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan suku cadang Berat
sebesar 60,92% dari Penjualan suku cadang.
c. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok jasa pemeliharaan dan
perbaikan sebesar 54,08% dari Penjualan jasa pemeliharaan dan perbaikan.
d. Rata-rata Beban Pokok rental selama periode proyeksi sebesar 56,12% dari
Penjualan rental.
3) Beban Usaha diasumsikan sebagai berikut:
a. Beban Penjualan sebesar 4,49% dari penjualan didasarkan pada rata-rata
historikal.
b. Beban Administrasi tumbuh sebesar 5,0% per tahun selama periode
proyeksi.
4) Asumsi pajak badan yang digunakan selama periode proyeksi berdasarkan
Taksiran pajak penghasilan pph badan untuk perusahaan diperhitungkan sesuai
ketentuan yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2021
tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Tarif PPh Badan ditetapkan pada tarif
22% mulai tahun 2022.
5) Asumsi perputaran modal kerja adalah sebagai berikut:
a. Perputaran piutang usaha sebesar 81 hari.
b. Perputaran persediaan sebesar 164 hari.
c. Perputaran utang usaha sebesar 79 hari.
Analisis Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Kelayakan dari penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih arus kas
bersih Free Cash Flow HEXA sebelum penambahan dengan Free Cash Flow setelah
penambahan. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha
yang akan dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
• Net Present Value (NPV) : USD26,786,000
• Internal Rate of Return (IRR) : 80,63%
• Profitability Index (PI) : 1,76
• Payback Period : 3 Tahun 8 Bulan
• Break Even Point : USD1,862,000
10,79% dari Penjualan
Sensitivitas
Untuk menguji kepekaan proyek terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
maka dilakukan analisis sensitivitas terhadap penurunan penjualan, peningkatan
beban pokok dan peningkatan beban usaha.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xii
Page 15
Adapun sensitivitas penambahan kegiatan usaha adalah sebagai berikut :
ANALISIS SENSITIVITAS
30.000
In Thousand USD
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0
0,00% 3,00% 6,00% 9,00% 12,00% 15,00%
Penjualan Turun 26.786 24.211 21.636 19.061 16.485 13.910
Beban Pokok Dan Beban
26.786 25.413 24.039 22.666 21.292 19.919
Usaha Naik
Penjualan Turun Beban Pokok Dan Beban Usaha Naik
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha
sangat sensitif terhadap terhadap penurunan penjualan dan kenaikan beban pokok
dan beban usaha.
III. KESIMPULAN
Berdasarkan kajian, evaluasi terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek
model manajemen, dan aspek keuangan dengan syarat seluruh aspek tersebut terpenuhi.
Maka disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh HEXA
adalah layak.
TSR melakukan analisis dan perhitungan dalam proses studi kelayakan didasarkan pada
dokumen, informasi dan data-data yang disampaikan oleh pemberi tugas. Laporan studi
kelayakan atas penambahan kegiatan usaha ini harus dipandang sebagai satu kesatuan.
Penggunaan sebagian analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan keseluruhan informasi
dan analisis dapat menyebabkan pandangan yang menyesatkan.
Bahwa atas isi dan segala sesuatu yang terdapat dan/atau yang digunakan dalam
penugasan, pemberi tugas memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada
TSR termasuk didalamnya anggota rekan dan seluruh staff yang ada dari tuntutan kerugian
harta, gugatan dan tanggung jawab (semuanya dalam bentuk apapun juga) baik secara
sendiri-sendiri maupun institusi yang timbul secara langsung maupun tidak langsung terhadap
pihak manapun juga apabila hal itu diakibatkan oleh kesalahan penyampaian data dan
informasi apakah yang disampaikan secara verbal dan/atau dalam bentuk asli, foto kopi,
dan/atau salinan dari pemberi tugas. Di sini ditegaskan bahwa TSR tidak menarik keuntungan,
baik sekarang maupun di masa yang akan datang, dari penugasan yang dilaksanakan.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xiii
Page 16
TSR menyatakan bahwa kami tidak ada hubungan afiliasi dengan HEXA, baik secara langsung
maupun tidak langsung dan TSR tidak bertanggungjawab untuk menegaskan kembali atau
melengkapi pendapat TSR karena peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal laporan ini.
Hormat kami,
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Ruspriono S.E., MM., MAPPI (Cert).
Rekan Penilai Bisnis
MAPPI : 10-S-02481
Izin Penilai Publik : B-1.20.00585
STTD : STTD.PB-52/PM.223/2022
RMK : 2017.01022
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xiv
Page 17
PERNYATAAN PENILAI
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan studi kelayakan atas penambahan
kegiatan usaha ini adalah benar sesuai dengan pemahaman terbaik dari Penilai;
2. Penugasan studi kelayakan atas penambahan kegiatan usaha telah dilakukan terhadap
Obyek studi kelayakan penambahan kegiatan usaha pada tanggal 31 Maret 2023;
3. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan;
4. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan studi
kelayakan atas penambahan kegiatan usaha;
5. Lingkup pekerjaan dan data yang dianalisa telah diungkapkan;
6. Baik pimpinan rekan maupun rekan dan para penilai lainnya sama sekali tidak mempunyai
kepentingan financial terhadap pemberi tugas dan / atau perusahaan yang dinilai baik
sekarang maupun di kemudian hari.
7. Penilai usaha telah melaksanakan proses penugasan secara independen dan tidak ada
conflict of interest dengan perusahaan baik dengan manajemen maupun pemiliknya dan
atau pemberi tugas.
8. Berdasarkan kajian, evaluasi terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek
model manajemen, dan aspek keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat
semua asumsi-asumsi yang telah diproyeksikan dapat terpenuhi. Maka disimpulkan bahwa
penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
9. Data ekonomi dan industri dalam Laporan studi kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini oleh Penilai dapat
dipertanggungjawabkan;
10. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan / atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah;
11. Penilai telah memiliki pemahaman mengenai usaha dan / atau objek yang dinilai; dan
12. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam laporan studi kelayakan atas
penambahan kegiatan usaha ini, telah menyediakan bantuan profesional dalam
menyiapkan laporan studi kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
13. Laporan ini tidak sah jika tidak dibubuhi stempel (seal) dari TSR
No. Nama Tanda Tangan
1. Penanggung jawab:
Ruspriono, SE., MM., MAPPI (Cert)
MAPPI : 10-S-02481
Izin Penilai Publik : B-1.20.00585
STTD : STTD.PB-52/PM.223/2022
RMK : 2017.01022
2. Reviewer:
Santi Dewiyani, ST., M.Com, MAPPI (Cert)
MAPPI : 99-S-1215
Izin Penilai Publik : B-1.09.00236
STTD : STTD.PB-10/PJ-1/PM.2/2023
RMK : 2017.00215
3. Penilai:
Hernowo Dwianto.
MAPPI : 17-P-07169
RMK : 2020.03303
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xv
Page 18
DAFTAR ISI
RINGKASAN STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA …………………. i
PERNYATAAN PENILAI ........................................................................................ xv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ xvi
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................xviii
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xx
1 PENDAHULUAN............................................................................................... 1
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian ..................................................................... 1
1.2 Status Penilai ......................................................................................................... 1
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ...................................................... 2
1.4 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ............................ 2
1.5 Objek Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ................................................ 2
1.6 Metodologi ............................................................................................................. 2
1.7 Asumsi dan Kondisi Pembatas ................................................................................. 3
1.8 Tanggal Studi kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................. 4
1.9 Jenis Mata Uang yang Digunakan ............................................................................ 4
1.10 Sumber dan Data Informasi Yang Dapat Diandalkan ................................................. 4
1.11 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli ........................................................... 5
1.12 Penjelasan mengenai Kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan ................... 5
1.13 Pernyataan Penilai .................................................................................................. 5
2 GAMBARAN UMUM PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK ....................................... 7
2.1 Sejarah Singkat ...................................................................................................... 7
2.2 Aktivitas Usaha ....................................................................................................... 7
2.3 Produk ................................................................................................................... 7
2.4 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi ..................................................................... 7
2.5 Susunan Permodalan .............................................................................................. 8
2.6 Legalitas, Perizinan dan Keuangan ........................................................................... 8
2.7 Struktur Organisasi ............................................................................................... 10
2.8 Kinerja Keuangan HEXA ........................................................................................ 11
2.9 Rasio Keuangan HEXA .......................................................................................... 16
2.10 Informasi Investigasi Lapangan ............................................................................. 17
3 ASPEK MAKRO EKONOMI INDONESIA .......................................................... 19
3.1 Makro Ekonomi Indonesia ..................................................................................... 19
3.2 Inflasi .................................................................................................................. 20
3.3 Suku Bunga ......................................................................................................... 21
3.4 Neraca Pembayaran Indonesia .............................................................................. 23
4 ASPEK PASAR ............................................................................................... 25
4.1 Produksi Alat Berat di Indonesia ............................................................................ 25
4.2 Kondisi Pasar Industri Alat Berat di Indonesia ........................................................ 25
4.3 Persaingan Usaha ................................................................................................. 27
4.4 Peluang dan Strategi Pemasaran HEXA .................................................................. 30
4.5 Kesimpulan Aspek Pasar ....................................................................................... 32
5 ASPEK TEKNIS .............................................................................................. 33
5.1 Kegiatan Usaha Eksisting HEXA ............................................................................. 33
5.2 Kinerja Kegiatan Usaha Eksisting HEXA .................................................................. 33
5.3 Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................. 34
5.4 Kesimpulan Aspek Teknis ...................................................................................... 34
6 Aspek Pola Bisnis.......................................................................................... 35
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xvi
Page 19
6.1 Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan dari Pola Bisnis Penambahan
Kegiatan Usaha .................................................................................................... 35
6.2 Kemampuan Menciptakan Nilai Penambahan Kegiatan Usaha .................................. 35
6.3 Perjanjian-Perjanjian yang dimiliki Terkait Penambahan Kegiatan Usaha .................. 36
6.4 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk Penambahan Kegiatan Usaha ................. 36
6.5 Kesimpulan Aspek Pola Bisnis ................................................................................ 36
7 Aspek Model Manajemen .............................................................................. 37
7.1 Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi Penambahan Kegiatan Usaha .......... 37
7.2 Manajemen Risiko Penambahan Kegiatan Usaha .................................................... 38
7.3 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Penambahan Kegiatan Usaha ..................... 39
7.4 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen Penambahan Kegiatan Usaha ......... 39
7.5 Kesimpulan Aspek Model Manajemen..................................................................... 39
8 ANALISIS SWOT ........................................................................................... 40
9 ASPEK KEUANGAN ........................................................................................ 42
9.1 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pembiayaannya .................................................. 42
9.2 Sumber Pembiayaan Investasi ............................................................................... 42
9.3 Rencana pelaksanaan Penambahan kegiatan usaha ................................................ 42
9.4 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................................ 42
9.5 Tingkat Diskonto .................................................................................................. 44
9.5.1 Cost of Equity .................................................................................................. 44
9.5.2 Cost of Debt .................................................................................................... 46
9.5.3 WACC ............................................................................................................. 46
9.6 Analisis Kelayakan Proyek ..................................................................................... 46
9.7 Sensitivitas ........................................................................................................... 47
9.8 Analisis Profitabilitas Penambahan Kegiatan Usaha ................................................. 47
9.9 Kesimpulan Aspek Keuangan ................................................................................. 48
10 KESIMPULAN ................................................................................................ 49
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xvii
Page 20
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Struktur Organisasi HEXA ............................................................................ 10
Gambar 2. Grafik Laba (Rugi) dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian ............ 12
Gambar 3. Grafik Posisi Keuangan Konsolidasian ........................................................... 14
Gambar 4. Grafik Arus Kas Konsolidasian ...................................................................... 16
Gambar 5. Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB Menurut Wilayah (persen) ....................... 20
Gambar 6. Inflasi Indonesia ......................................................................................... 21
Gambar 7. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA ..................................... 22
Gambar 8. Suku Bunga Perbankan ............................................................................... 23
Gambar 9. Neraca Pembayaran Indonesia ..................................................................... 24
Gambar 10. Produksi Alat Berat Konstruksi & Pertambangan ............................................ 25
Gambar 11. Kebutuhan dan Ketersediaan Alat Berat ........................................................ 26
Gambar 12. Tren Penjualan Alat Berat di Indonesia ......................................................... 27
Gambar 13. Struktur Organisasi Penambahan Kegiatan Usaha ......................................... 37
Gambar 14. Analisa Sensitivitas Penambahan Kegiatan Usaha .......................................... 47
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xviii
Page 21
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham HEXA ..................................................................... 8
Tabel 2. Laba (Rugi) dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian ......................... 11
Tabel 3. Posisi Keuangan Konsolidasian ....................................................................... 13
Tabel 4. Arus Kas Konsolidasian .................................................................................. 15
Tabel 5. Rasio Keuangan ............................................................................................ 16
Tabel 6. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha....... 19
Tabel 7. Market Share HEXA ....................................................................................... 31
Tabel 8. Sumber Daya Manusia Penambahan KBLI ....................................................... 37
Tabel 9. Rencana Investasi Penambahan kegiatan Usaha ............................................. 42
Tabel 10. Biaya Ekuitas................................................................................................. 45
Tabel 11. WACC ........................................................................................................... 46
Tabel 12. Analisis Profitabilitas ...................................................................................... 47
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xix
Page 22
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Proyeksi Sebelum - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru.......................... 51
Lampiran 2. Proyeksi Setelah - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru ........................... 56
Lampiran 3. Proyeksi Inkremental - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru .................... 61
Lampiran 4. Tingkat Diskonto / WACC ............................................................................. 66
Lampiran 5. Analisis Kelayakan - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru ......................... 67
Lampiran 6. Sensitivitas - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru ................................... 68
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
xx
Page 23
1 PENDAHULUAN
1.1 Nomor dan Tanggal Laporan Penilaian
Kantor Jasa Penilai Publik Tri, Santi dan Rekan (“TSR”) ditunjuk oleh
PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”) berdasarkan surat penawaran
No. 14/PEN/FS/KJPP-TS/IV/2023 tanggal 13 April 2023 dengan maksud untuk
memberikan Jasa Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”). Kami adalah Kantor Jasa Penilai
Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan
No. 981/KM.1/2009 tanggal 21 Juli 2009, dengan nama TSR dengan Izin KJPP
No. 2.09.0040. Dalam rangka perubahan dan/atau tambahan informasi atas rencana
perubahan kegiatan usaha HEXA berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Adapun perubahan dan/atau tambahan informasi yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Susunan laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha HEXA didasarkan
pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 (”POJK.
35/2020”) tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No.17/SEOJK.04/2020 (”SE. 17/2020”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
2. Rencana transaksi berupa penambahan kegiatan usaha berupa penambahan KBLI
HEXA tidak merubah kegiatan usaha HEXA yang sedang berlangsung.
3. Metodologi mengacu kepada POJK. 35/2020 dan SE. 17/2020.
4. Tambahan informasi aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek model
manajemen dan aspek keuangan.
Selanjutnya TSR telah menyusun Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha
HEXA dengan Laporan No. 00009/2.0040-0/FS/05/0585/1/VIII/2023 tanggal
04 Agustus 2023.
1.2 Status Penilai
Penilai adalah partner dari TSR dengan kualifikasi sebagai berikut:
Nama : Ruspriono, SE., MM., MAPPI (Cert)
No. Ijin Penilai Publik : B-1.20.00585
No. MAPPI : 10-S-02481
No. RMK : 2017.01022
No. STTD (OJK) : STTD.PB-52/PM.223/2022
Kualifikasi : Penilai Bisnis
TSR adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan
Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan penugasan ini. Penilai memiliki
kompetensi untuk melakukan penugasan ini dan TSR adalah Kantor Jasa Penilai Publik
yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal.
TSR bertindak secara independen dalam penyusunan Laporan studi kelayakan ini tanpa
adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pemberi tugas, obyek studi
kelayakan ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan pemberi tugas dan obyek studi
kelayakan. TSR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait
dengan penugasan ini.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
1
Page 24
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan Penguna Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha yang
diterbitkan oleh TSR adalah :
• Nama Perusahaan : PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
• Alamat : Pulo Gadung Industrial Estate Jl. Pulo Kambing II,
Kav. I-II. No. 33 Jakarta 13930 Indonesia.
• Telepon : +62 21 4603738
• Website : www.hexindo-tbk.co.id
1.4 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Maksud dan tujuan dari laporan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat
mengenai kelayakan atas penambahan kegiatan usaha berupa penambahan KBLI yang
ditinjau dari berbagai aspek yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek
model manajemen, dan aspek keuangan.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang
Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan
adanya laporan studi kelayakan atas perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh
penilai.
1.5 Objek Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Bahwa obyek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh pemberi
tugas adalah Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa
berupa penambahan KBLI. Berikut adalah rencana penambahan KBLI yang akan
dilakukan oleh HEXA:
1. 43905 : Penyewaan Alat Konstruksi dengan Operator;
2. 68111 : Real Estat Yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
3. 77100 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mobil,
Bus, Truk dan Sejenisnya;
4. 77391 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Industri Pengolahan;
5. 77392 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertanian dan Peralatannya;
6. 77393 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Konstruksi dan Teknik Sipil; dan
7. 77395 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertambangan dan Energi serta Peralatannya.
1.6 Metodologi
Untuk melakukan studi kelayakan ini, TSR akan menggunakan sesuai Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
2
Page 25
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah:
1. Pengumpulan data-data primer dari HEXA yang terkait dengan rencana
penambahan kegiatan usaha
2. Melakukan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha meliputi:
a) Kelayakan Pasar.
b) Kelayakan Teknis.
c) Kelayakan Pola Bisnis.
d) Kelayakan Model Manajemen.
e) Kelayakan Keuangan.
3. Memberikan kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
1.7 Asumsi dan Kondisi Pembatas
1. Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer
opinion.
2. TSR telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
3. Dalam menyusun laporan ini, TSR mengandalkan kelengkapan informasi yang
disediakan oleh HEXA dan diungkap pada sub bab tersendiri dalam laporan ini dan
atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi
lainnya yang dapat dipercaya keakuratannya.
4. TSR menggunakan proyeksi keuangan selama lima tahun yang telah disesuaikan
dengan mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh HEXA
dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. TSR bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan penambahan kegiatan
usaha dan kewajaran proyeksi keuangan yang telah disesuaikan.
6. Pemberi tugas menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
seluruhnya kepada TSR dan tidak ada pengurangan atas fakta-fakta yang penting.
7. Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional HEXA.
8. TSR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
9. Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan Pasar Modal
dan pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.
10. Studi kelayakan ini disusun berdasarkan kondisi perekonomian, industri dan
keuangan, serta regulasi Pemerintah terkait dengan Penambahan Kegiatan Usaha
yang akan dilakukan pada tanggal pendapat ini diterbitkan.
11. TSR mengasumsikan bahwa penerbitan studi kelayakan tidak terjadi perubahan
apapun yang berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang
digunakan dalam penyusunan studi kelayakan ini. TSR tidak bertanggungjawab
untuk menegaskan kembali atau melengkapi, memutakhirkan pendapat kami
karena adanya perubahan asumsi dan kondisi serta peristiwa-peristiwa yang terjadi
setelah tanggal laporan ini.
12. Lingkup pekerjaan akan dilakukan sesuai dengan analisis dan interpretasi kami
terhadap hukum dan Peraturan OJK No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman
Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Peraturan OJK
No. 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha
serta standar penilaian yang berlaku di Republik Indonesia, sehingga tidak
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
3
Page 26
dimaksudkan untuk diaplikasikan, dianalisis atau diinterpretasikan menurut
peraturan perundang-undangan di negara lain.
13. Penugasan untuk melakukan studi kelayakan adalah bukan dan tidak dapat
dianggap sebagai kajian atau audit atau pelaksanaan prosedur tertentu pada
informasi keuangan. Penugasan ini dilakukan bukan dengan tujuan untuk
menemukan kelemahan pengawasan internal, kesalahan atau kecurangan pada
laporan keuangan, implikasi perpajakan ataupun pelanggaran hukum.
14. Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Pemberi Tugas,
selama tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.
1.8 Tanggal Studi kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha
Tanggal efektif studi kelayakan adalah per 31 Maret 2023, dengan menggunakan
parameter dan laporan keuangan dalam analisis didasarkan pada data per 31 Maret
2023 dimana batas tersebut diambil atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan
studi kelayakan penambahan kegiatan usaha berupa penambahan KBLI. Adapun
proyeksi yang digunakan adalah dari 31 Maret 2023 hingga 31 Maret 2028.
1.9 Jenis Mata Uang yang Digunakan
Dalam studi kelayakan ini mata uang yang digunakan adalah mata uang Dolar Amerika
Serikat, sesuai dengan mata uang fungsional yang tercantum dalam laporan keuangan.
1.10 Sumber dan Data Informasi Yang Dapat Diandalkan
Sumber dan data informasi yang relevan dan tanpa verifikasi yang digunakan dalam
proses penugasan ini antara lain adalah:
1. Laporan keuangan HEXA yang telah diaudit 31 Maret 2023, 31 Maret 2022,
31 Maret 2021, 31 Maret 2020, dan 31 Maret 2019.
2. Keterangan singkat mengenai HEXA, meliputi latar belakang, susunan manajemen,
kepemilikan saham dan kegiatan usaha yang telah disiapkan oleh manajemen
HEXA;
3. Hasil diskusi dan wawancara dengan pihak dari HEXA, mengenai alasan, latar
belakang, dan hal-hal lain yang terkait dengan studi kelayakan penambahan
kegiatan usaha HEXA;
4. Data dan informasi industri berdasarkan media cetak maupun elektronik, antara
lain Badan Pusat Statistik;
5. Data dan informasi pasar berdasarkan media cetak maupun elektronik antara lain
website Aswath Damodaran, World Bank;
6. Data dan informasi ekonomi berdasarkan media cetak maupun elektronik, antara
lain website Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan
7. Informasi lain dari pihak manajemen Perseroan dan HEXA serta pihak-pihak lain
yang relevan untuk penugasan.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
4
Page 27
8. Identitas dan jabatan pihak-pihak yang telah diwawancarai terkait dengan studi
kelayakan penambahan kegiatan usaha adalah sebagai berikut :
Pihak Yang Diwawancarai Jabatan Entitas
Dea Deskarina Legal Departement HEXA
Yoshendri Director HEXA
Daisuke Inoue General Sales Support HEXA
Listiana Kurniawati Corporate Planning & SMO HEXA
1.11 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam melakukan studi kelayakan, TSR tidak menggunakan tenaga ahli dan hasil
pekerjaan tenaga ahli.
1.12 Penjelasan mengenai Kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan
Berdasarkan informasi dari manajemen HEXA tidak terdapat kejadian penting setelah
tanggal studi kelayakan.
1.13 Pernyataan Penilai
• Laporan studi kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha ini disusun
berdasarkan permintaan dari HEXA yang dipakai semata-mata untuk membantu
HEXA dalam memberikan gambaran mengenai rencana penambahan kegiatan usaha
berupa penambahaan KBLI yang memerlukan pendapat dari pihak independen.
Studi kelayakan ini akan diserahkan ke OJK dan akan diumumkan kepada
masyarakat, dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lainnya. Karena pihak lain
mungkin bermaksud untuk menggunakan laporan ini untuk tujuan yang lain.
• HEXA telah membebaskan TSR dan penilai dari setiap klaim yang dapat dan akan
timbul dari kesalahan ataupun kekurangan dalam bahan atau informasi yang
disediakan HEXA, Anak Perusahaan, perusahaan afiliasi, konsultan atau pihak ketiga,
kepada TSR dalam penyusunan laporan ini.
• TSR ingin menekankan bahwa hasil analisis dan penelaahan kami secara khusus
hanya terbatas pada laporan studi kelayakan atas rencana penambahan kegiatan
usaha, di luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar
lingkup penugasan kami.
• Bahwa atas isi dan segala sesuatu yang terdapat dan/atau yang digunakan dalam
penugasan, pemberi tugas memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya
kepada TSR termasuk didalamnya anggota rekan dan seluruh staff yang ada dari
tuntutan kerugian harta, gugatan dan tanggung jawab (semuanya dalam bentuk
apapun juga) baik secara sendiri-sendiri maupun institusi yang timbul secara
langsung maupun tidak langsung terhadap pihak manapun juga apabila hal itu
diakibatkan oleh kesalahan penyampaian data dan informasi apakah yang
disampaikan secara verbal dan/atau dalam bentuk asli, foto kopi, dan/atau salinan
dari pemberi tugas. Di sini ditegaskan bahwa TSR tidak menarik keuntungan, baik
sekarang maupun di masa yang akan datang, dari objek yang dinilai atau dari nilai
yang diperoleh
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
5
Page 28
• Manajemen HEXA menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
studi kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
seluruhnya kepada TSR dan tidak ada pengurangan atas fakta-fakta yang penting.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
6
Page 29
2 GAMBARAN UMUM PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
2.1 Sejarah Singkat
PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”) didirikan di Indonesia berdasarkan Akta Notaris
Mohamad Ali, S.H., No. 37 tanggal 28 November 1988. Akta Pendirian ini telah
disahkan oleh Kementerian Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. C2-4389.HT.01.01.TH.89 tanggal 12 Mei 1989, serta diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia No. 54 Tambahan No. 1251 tanggal 7 Juli 1989. Anggaran
Dasar HEXA telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir dinyatakan
dalam Akta Notaris Jose Dima, S.H., M.Kn., No. 118 tanggal 28 Januari 2021 mengenai
perubahan Anggaran Dasar dan telah diberitahukan kepada Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat No. AHU-AH.01.03-0069433 tanggal
3 Februari 2021.
HEXA memulai operasi komersial pada bulan Januari 1989. HEXA berkedudukan di
Jakarta yang berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung, Jalan Pulo Kambing II
Kav. I-II No. 33, Jakarta 13930. Pada tanggal 31 Desember 2022, Perusahaan memiliki
19 cabang, 17 kantor perwakilan dan 16 kantor proyek, yang tersebar di seluruh
Indonesia.
2.2 Aktivitas Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar HEXA, kegiatan usaha HEXA adalah
perdagangan dan penyewaan alat berat serta pelayanan purna jual. Saat ini, HEXA
bertindak selaku distributor alat-alat berat jenis tertentu dan suku cadang dari merek
“Hitachi” dan “Bell”.
2.3 Produk
HEXA menjual berbagai alat berat Hitachi dan Bell untuk konstruksi, perhutanan,
pertambangan, beserta attachment dengan bobot yang berkisar antara 800 kg sampai
800 ton. HEXA menawarkan alat berat untuk semua jenis pekerjaan, termasuk menggali
(digging), loading, carrying, memecahkan (breaking), mengambil (grabbing),
Memotong (cutting), menghancurkan (crushing), dan menyaring (screening). Di
luar itu, HEXA juga menjual suku cadang asli yang tersedia lengkap dari seluruh dunia
dengan Jepang sebagai pusatnya. Dengan demikian, pelanggan bisa mendapatkan suku
cadang secepat dan seefisien mungkin.
2.4 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi HEXA pada tanggal 31 Maret 2023
adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Toto Wahyudiyanto
Komisaris Independen : Harry Danui
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
7
Page 30
Direksi
Direktur Utama : Djonggi TP. Gultom
Direktur : Yasumasa Zaizen
Direktur : Dai Tamura
Direktur : Teru Karahashi
Direktur : Yoshendri
Direktur : Dwi Swasono
Direktur : Fumio Nakajima
Direktur : Makoto Sorimachi
Direktur : Toshitaka Uchida
2.5 Susunan Permodalan
Kepemilikan saham HEXA pada tanggal 31 Maret 2023 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham HEXA
Jumlah Saham Jumlah Nominal Persentase
Daftar Pemegang Saham
(Lembar) (Rupiah) Kepemilikan
Hitachi Construction Machinery Co.
408.180.000 408.180.000.000 48,59%
Ltd., Jepang
ITOCHU Corporation, Jepang 210.400.000 210.400.000.000 25,05%
Hitachi Construction Machinery Asia
42.620.000 42.620.000.000 5,07%
and Pacific Pte. Ltd., Singapura
Masyarakat (kepemilikan di
178.800.000 178.800.000.000 21,29%
bawah 5%)
Jumlah 840.000.000 840.000.000.000 100,00%
Sumber : Laporan keuangan HEXA per 31 Maret 2023
2.6 Legalitas, Perizinan dan Keuangan
Data- data legalitas, perizinan dan keuangan yang telah diperoleh dari HEXA sebagai
berikut:
1. Akta pendirian Akta Notaris Mohamad Ali, S.H., No. 37 tanggal 28 November 1988.
Akta pendirian ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam
surat keputusannya No. C2-4389.HT.01.01.TH.89 tanggal 12 Mei 1989, serta
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 54 Tambahan No. 1251
tanggal 7 Juli 1989.
2. Akta Notaris Jose Dima, S.H., M.Kn., No. 118 tanggal 28 Januari 2021 mengenai
perubahan Anggaran Dasar dan telah diberitahukan kepada Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat No. AHU-AH.01.03-0069433
tanggal 3 Februari 2021.
3. Nomor Pokok Wajib Pajak (“NPWP”) No. 01.385.957.4-091.000
4. Nomor Induk Berusaha (“NIB”) No. 8120105841806
5. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak No. PEM-00231/WPJ.19/KP.0103/2012
yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak
Besar pada 03 April 2012.
6. Laporan Keuangan per 31 Maret 2018 dengan angka pembanding per
31 Maret 2017 yang telah diaudit oleh Peter Surja, CPA dengan Lisensi Akuntan
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
8
Page 31
Publik AP.0686 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja (Ernest &
Young) dengan No. Laporan RPC-7614/PSS/2018 pada 28 Juni 2018 dengan
pendapat wajar tanpa pengecualian.
7. Laporan Keuangan per 31 Maret 2019 dengan angka pembanding per
31 Maret 2018 yang telah diaudit oleh Peter Surja, CPA dengan Lisensi Akuntan
Publik AP.0686 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja (Ernest &
Young) dengan No. Laporan 01595/2.1032/AU.1/05/0686-2/1/VI/2019 pada 27 Juni
2019 dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
8. Laporan Keuangan per 31 Maret 2020 dengan angka pembanding per
31 Maret 2019 yang telah diaudit oleh Ratnawati Setiadi, CPA dengan Lisensi
Akuntan Publik AP.0698 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja
(Ernest & Young) dengan No. Laporan 01556/2.1032/AU.1/05/0698-1/1/VI/2020
pada 29 Juni 2020 dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
9. Laporan Keuangan per 31 Maret 2021 dengan angka pembanding per
31 Maret 2020 yang telah diaudit oleh Benediktio Salim, CPA dengan Lisensi Akuntan
Publik AP.1561 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja (Ernest &
Young) dengan No. Laporan 01727/2.1032/AU.1/05/1561-2/1/VI/2021 pada 29 Juni
2021 dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
10. Laporan Keuangan per 31 Maret 2022 dengan angka pembanding per
31 Maret 2021 yang telah diaudit oleh Benediktio Salim, CPA dengan Lisensi Akuntan
Publik AP.1561 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja (Ernest &
Young) dengan No. Laporan 01674/2.1032/AU.1/05/1561-2/1/VI/2022 pada 28 Juni
2022 dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
11. Laporan Keuangan Limited Review per 31 Maret 2023 dengan angka pembanding
per 31 Maret 2022 yang telah diaudit oleh Benediktio Salim, CPA dengan Lisensi
Akuntan Publik AP.1561 dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja
(Ernest & Young) dengan No. Laporan 01890/2.1032/AU.1/05/1561-3/1/VI/2023
pada 27 Juni 2023 dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
9
Page 32
2.7 Struktur Organisasi
Struktur Organisasi HEXA adalah sebagai berikut :
Gambar 1. Struktur Organisasi HEXA
Sumber: Manajemen HEXA, Annual Report 2022
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
10
Page 33
2.8 Kinerja Keuangan HEXA
Laba (Rugi) dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian
Tabel 2. Laba (Rugi) dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian
(Dalam USD)
URAIAN 2019 2020 2021 2022 2023
Total Penghasilan 461,333,111 424,431,271 264,010,037 463,262,626 630,495,198
Laba Kotor 96,522,177 107,900,378 69,463,577 116,400,946 124,965,272
Laba Usaha 50,519,400 53,547,802 32,981,430 70,820,772 70,125,867
Laba Bersih Periode
37,600,177 38,436,806 25,597,235 55,083,408 51,620,039
Berjalan
Laba Komprehensif 37,025,417 39,118,930 26,741,602 55,862,336 50,124,057
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA untuk periode yang berakhir di 31 Maret
HEXA membukukan penghasilan neto sebesar USD630,5 juta, naik 36,1% dibandingkan
tahun sebelumnya sebesar USD463,3 juta. Penghasilan neto HEXA berasal dari
kontribusi segmen Penjualan Alat Berat, segmen Penjualan Suku Cadang, segmen Jasa
Pemeliharaan dan Perbaikan, serta segmen Jasa Penyewaan Alat Berat. Segmen
Penjualan Alat Berat tumbuh 46,1%, segmen Penjualan Suku Cadang naik 24,0%,
segmen Jasa Pemeliharaan dan Perbaikan naik 6,4%, dan segmen Penyewaan Alat
Berat tumbuh signifikan sebesar 209,3%. Segmen Penjualan Alat Berat masih menjadi
kontributor terbesar dari penghasilan neto HEXA sebesar 66,6%, disusul segmen
Penjualan Suku Cadang sebesar 21,1%, segmen Jasa Pemeliharaan dan Perbaikan
sebesar 11,2% dan segmen Penyewaan Alat Berat sebesar 1,1%. HEXA membukukan
penghasilan neto tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2022 sebesar
USD463,3 juta, naik 75% dibandingkan 31 Maret 2021 sebesar USD264,0 juta.
Penjualan alat berat mengalami kenaikan sebesar 110%, sedangkan penjualan suku
cadang naik 57% dan pendapatan jasa pemeliharaan dan perbaikan naik 12%. Pada
tahun buku 2021, pendapatan dari jasa penyewaan alat berat naik signifikan dari
USD37,2 ribu pada tahun buku sebelumnya menjadi USD2,3 juta. Segmen penjualan
alat berat masih menjadi kontributor terbesar dari penghasilan neto HEXA sebesar 62%,
disusul segmen penjualan suku cadang sebesar 23,2%, segmen jasa pemeliharaan dan
perbaikan sebesar 14,3% dan segmen jasa penyewaan alat berat sebesar 0,5%. HEXA
mencatatkan penghasilan neto untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Maret
2020 sebesar USD424,4 juta, turun USD36,9 juta atau 8,0% dari periode yang sama di
31 Maret 2019 sebesar USD461,3 juta. Penurunan tersebut terutama terjadi karena
adanya penurunan nilai penghasilan dari segmen Penjualan dan Penyewaan Alat Berat
sebesar 9,8%, diikuti oleh segmen Jasa Pemeliharaan dan Perbaikan sebesar 5,8% dan
segmen Penjualan Suku Cadang sebesar 4,9%.
HEXA membukukan laba bruto sebesar USD125,0 juta, naik 7,4% dibandingkan tahun
buku sebelumnya sebesar USD116,4 juta. Marjin laba bruto turun dari 25,1% menjadi
19,8% sebagai dampak dari kenaikan beban pokok penghasilan sebesar 45,7%, lebih
besar dari kenaikan penghasilan neto sebesar 36,1%. Laba usaha sebesar USD70,1
juta, turun 1,0% dari USD70,8 juta. HEXA membukukan laba kotor pada tahun buku
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2022 sebesar USD116,4 juta, naik 68%
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD69,5 juta. Kenaikan laba kotor sejalan
dengan kenaikan penghasilan neto HEXA. Tetapi marjin laba kotor menunjukkan
penurunan dari 26,3% pada periode sebelumnya menjadi 25,1% sebagai dampak dari
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
11
Page 34
kenaikan beban pokok penghasilan sebesar 78%, lebih besar dari kenaikan penghasilan
neto sebesar 75%. Laba usaha sebesar USD70,8 juta, naik 115% dibandingkan
USD33,0 juta pada tahun sebelumnya. HEXA mencatatkan laba kotor untuk tahun buku
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020 sebesar USD107,9 juta, naik USD11,4 juta
atau 11,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD96,5 juta.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya perbaikan profit dari masing-
masing segmen. HEXA mencatatkan laba usaha untuk tahun buku yang berakhir pada
tanggal 31 Maret 2020 sebesar USD53,6 juta, naik USD3,0 juta atau 6,0% dari periode
yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD50,5 juta. Peningkatan tersebut terutama
disebabkan oleh adanya kenaikan laba bruto tahun berjalan.
HEXA memperoleh laba tahun berjalan pada tahun buku yang berakhir pada tanggal
31 Maret 2023 sebesar USD51,6 juta, turun 6,3% dari USD55,1 juta pada periode
31 Maret 2022. HEXA memperoleh laba tahun berjalan pada tahun buku yang berakhir
pada tanggal 31 Maret 2022 sebesar USD55,1 juta, naik 115% dari USD25,6 juta pada
periode 31 Maret 2021. HEXA mencatatkan laba bersih untuk tahun buku yang berakhir
pada tanggal 31 Maret 2020 sebesar USD38,4 juta, naik USD0,8 juta atau 2,2% dari
periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD37,6 juta. Nilai laba bersih
tersebut telah dikurangi beban pajak penghasilan – neto pada tahun buku 2019 sebesar
USD13,8 juta, naik USD1,2 juta atau 9,9% dari tahun buku sebelumnya.
HEXA mencatat penghasilan komprehensif lain setelah pajak sebesar negatif USD1,5
juta, yang terutama merupakan nilai pengukuran kembali atas program imbalan pasti.
Selain itu, HEXA juga mencatat adanya perubahan nilai wajar investasi saham sebesar
USD225,0 ribu. Dengan demikian, pada tahun buku 2022, HEXA mencatat jumlah laba
komprehensif tahun berjalan sebesar USD50,1 juta, turun 10,3% dari USD55,9 juta
pada periode sebelumnya. HEXA pada 31 Maret 2022 mencatat jumlah laba
komprehensif tahun berjalan sebesar USD55,9 juta, naik 109% dari USD26,7 juta pada
periode sebelumnya. HEXA mencatatkan laba komprehensif bersih untuk tahun buku
yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020 sebesar USD39,1 juta, naik USD2,1 juta atau
5,7% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD37,0 juta. Peningkatan
tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya pencatatan penghasilan dari pengukuran
kembali atas program imbalan pasti senilai USD905,3 juta atau naik 218,1% dari tahun
buku 2018.
Gambar 2. Grafik Laba (Rugi) dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian
LABA (RUGI)
700.000.000
600.000.000
Dalam USD
500.000.000
400.000.000
300.000.000
200.000.000
100.000.000
-
31/03/2019 31/03/2020 31/03/2021 31/03/2022 31/03/2023
Total Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih Periode Berjalan
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA per 31 Maret, Diolah TSR
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
12
Page 35
Posisi Keuangan Konsolidasian
Tabel 3. Posisi Keuangan Konsolidasian
(Dalam USD)
URAIAN 2019 2020 2021 2022 2023
Total Aset 346,312,450 266,022,591 256,229,672 304,647,996 463,332,330
Total Liabilitas 177,023,250 87,695,831 81,910,755 144,944,530 297,571,533
Total Ekuitas 169,289,200 178,326,760 174,318,917 159,703,466 165,760,797
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA untuk periode yang berakhir di 31 Maret
Aset lancar HEXA per 31 Maret 2023 sebesar USD404 juta, naik 55% atau sebesar
USD143 juta dari USD261 juta per 31 Maret 2022. Kenaikan aset lancar terutama
disebabkan oleh kenaikan persediaan sebesar USD85,4 juta, kenaikan uang muka
sebesar USD1,3 juta, dan kenaikan kas dan bank sebesar USD10,3 juta. Aset tidak
lancar per 31 Maret 2023 sebesar USD59,6 juta atau naik 36% atau sebesar USD15,9
juta dari USD43,7 juta per 31 Maret 2022. Kenaikan aset tidak lancar terutama
disebabkan oleh nilai aset tetap – neto yang naik 49% atau sebesar USD15,5 juta. Aset
lancar HEXA per 31 Maret 2022 sebesar USD261 juta, naik 22% atau sebesar USD46,6
juta dari USD214,3 juta per 31 Maret 2021. Kenaikan aset lancar terutama disebabkan
oleh kenaikan persediaan sebesar USD25,4 juta, kenaikan piutang non-usaha pihak
ketiga sebesar USD39,9 juta, dan penurunan kas dan bank sebesar USD19,6 juta. Aset
tidak lancar per 31 Maret 2022 sebesar USD43,7 juta, naik 4% atau sebesar USD1,8
juta dari USD41,9 juta per 31 Maret 2021. Kenaikan aset tidak lancar terutama
disebabkan oleh nilai aset tetap – neto yang naik 5% atau sebesar USD1,6 juta dan
aset hak guna-neto yang naik 38% atau sebesar USD 696,2 ribu. Jumlah Aset HEXA
per 31 Maret 2020 tercatat sebesar USD266,0 juta, turun 23,2% atau USD80,3 juta dari
31 Maret 2019 yaitu sebesar USD346,3 juta. Jumlah aset tersebut terdiri dari aset lancar
sebesar 84,4% dan aset tidak lancar sebesar 15,6%. Jumlah Aset Lancar HEXA per 31
Maret 2020 tercatat sebesar USD224,4 juta, turun 26,1% atau USD79,3 juta dari per
31 Maret 2019 yaitu sebesar USD303,7 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan
oleh pelunasan utang bank jangka pendek, pembayaran utang usaha yang jatuh tempo,
dan adanya perbaikan tingkat kolektabilitas piutang usaha. Jumlah Aset Tidak Lancar
HEXA per 31 Maret 2020 tercatat sebesar USD41,6 juta, turun 2,4% atau USD1,0 juta
per 31 Maret 2019 yaitu sebesar USD42,6 juta. Penurunan tersebut terutama
disebabkan oleh turunnya nilai aset pajak tangguhan karena adanya perubahan
penurunan tarif pajak penghasilan badan.
Jumlah liabilitas HEXA per 31 Maret 2023 sebesar USD297,6 juta, naik 105% atau
sebesar USD152,6 juta dibandingkan per 31 Maret 2022 sebesar USD144,9 juta.
Liabilitas terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar 95,5% dan liabilitas jangka panjang
sebesar 4,5%. Jumlah liabilitas HEXA per 31 Maret 2022 sebesar USD144,9 juta, naik
77% atau sebesar USD63 juta dibandingkan per 31 Maret 2021 sebesar USD81,9 juta.
Liabilitas terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar 91,7% dan liabilitas jangka panjang
sebesar 8,3%. Liabilitas jangka pendek sebesar USD133,0 juta, naik 89% atau sebesar
USD62,6 juta dari USD70,4 juta pada periode sebelumnya. Kenaikan liabilitas jangka
pendek terutama disebabkan oleh utang usaha pihak berelasi yang naik 161% atau
sebesar USD55,0 juta dan uang muka pelanggan yang naik 118% atau sebesar USD5,4
juta. Sebaliknya, akun beban akrual turun 49% atau sebesar USD8,1 juta. Liabilitas
jangka panjang sebesar USD11,9 juta, naik 4% atau sebesar USD419,9 juta dari
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
13
Page 36
USD11,5 juta. Kenaikan ini terutama disebabkan kenaikan nilai liabilitas sewa setelah
dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun sebesar 113% atau sebesar
USD346,9 ribu. Jumlah Liabilitas HEXA per 31 Maret 2020 tercatat sebesar USD87,7
juta, turun 50,5% atau USD89,3 juta dari per 31 Maret 2019 yaitu sebesar USD177,0
juta. Jumlah liabilitas tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar 88,6% dan
liabilitas jangka panjang sebesar 11,4%. Jumlah Liabilitas Jangka Pendek HEXA per 31
Maret 2020 tercatat sebesar USD77,7 juta, turun 53,2% atau USD88,2 juta dari per 31
Maret 2019 yaitu sebesar USD165,9 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
pelunasan utang bank jangka pendek dan pelunasan utang usaha pada tahun buku
2019. Jumlah Liabilitas Jangka Panjang Perseroan pada per 31 Maret 2020 tercatat
sebesar USD41,6 juta, turun 2,4% atau USD1,0 juta dari per 31 Maret 2019 yaitu
sebesar USD42,6 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya nilai
liabilitas imbalan kerja yang disebabkan oleh adanya pelemahan mata uang rupiah
terhadap USD.
Jumlah ekuitas HEXA per 31 Maret 2023 naik 4% atau sebesar USD6 juta dari USD159,7
juta per 31 Maret 2022 menjadi USD165,8 juta. Peningkatan ekuitas disebabkan
peningkatan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar 6%
dibandingkan periode sebelumnya. Jumlah ekuitas HEXA per 31 Maret 2022 turun 8%
atau sebesar USD14,6 juta dari USD174,3 juta per 31 Maret 2021 menjadi USD159,7
juta. Penurunan ekuitas disebabkan penurunan saldo laba yang belum ditentukan
penggunaannya sebesar 11% dibandingkan periode sebelumnya disebabkan
pembagian dividen kas kepada pemegang saham pada Oktober 2021 sebesar USD70,5
juta yang berasal dari laba bersih tahun buku 2020 sebesar USD20,5 juta dan saldo
laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar USD50,0 juta sejalan dengan
kenaikan perolehan laba tahun berjalan. Pada tahun buku 2020, dividen kas yang
dibagikan sebesar USD30,7 juta. Jumlah Ekuitas HEXA per 31 Maret 2020 tercatat
sebesar USD178,3 juta, naik 5,3% atau USD9,0 juta dari per 31 Maret 2019 yaitu
sebesar USD178,3 juta.
Gambar 3. Grafik Posisi Keuangan Konsolidasian
POSISI KEUANGAN
500.000.000
450.000.000
400.000.000
350.000.000
Dalam USD
300.000.000
250.000.000
200.000.000
150.000.000
100.000.000
50.000.000
-
31/03/2019 31/03/2020 31/03/2021 31/03/2022 31/03/2023
Total Aset Total Liabilitas Total Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA per 31 Maret, Diolah TSR
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
14
Page 37
Arus Kas Konsolidasian
Tabel 4. Arus Kas Konsolidasian
(Dalam USD)
URAIAN 2019 2020 2021 2022 2023
Kas Dari Aktivitas
(27,795,514) 45,624,235 52,572,382 51,534,804 (31,254,234)
Operasi
Kas Dari Aktivitas
(1,527,249) (3,395,461) (767,635) (1,248,378) (5,019,894)
Investasi
Kas Dari Aktivitas
17,389,120 (71,884,194) (33,999,518) (69,628,788) 47,370,106
Pembiayaan
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA untuk periode yang berakhir di 31 Maret
Kas neto HEXA yang diperoleh dari aktivitas operasi pada 31 Maret 2023 tercatat minus
sebesar USD31,2 juta, turun 161% atau sebesar USD83 juta dibandingkan USD51,5
juta pada pada 31 Maret 2022. Penurunan kas tersebut terutama disebabkan adanya
peningkatan pembayaran kepada pemasok. Kas neto HEXA yang diperoleh dari aktivitas
operasi pada 31 Maret 2022 tercatat sebesar USD51,5 juta, turun 2% atau sebesar
USD1,0 juta dibandingkan USD52,6 juta pada pada 31 Maret 2021. Penurunan kas
tersebut terutama disebabkan adanya peningkatan pembayaran pajak penghasilan dan
beban usaha. Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi HEXA pada 31 Maret 2020
tercatat sebesar USD45,6 juta, naik USD73,4 juta atau 264,1% dibandingkan dengan
kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi pada 31 Maret 2019 sebesar USD27,8
juta. Peningkatan tersebut terutama berasal dari kenaikan kas neto yang diperoleh dari
operasi sebesar 479,1%, yang terdiri dari peningkatan penerimaan dari pelanggan
sebesar USD6,7 juta atau 1,5%, adanya penurunan pembayaran kepada pemasok
sebesar USD91,4 juta atau 21,9%, adanya pembayaran biaya operasional USD8,7 juta
atau 23,3%, serta adanya kenaikan pembayaran operasional lainnya USD15,9 juta atau
173,8%.
Kas neto HEXA yang digunakan untuk aktivitas investasi pada 31 Maret 2023 tercatat
sebesar USD5,0 juta, naik 302% atau sebesar USD3,8 juta dari USD1,2 juta ribu pada
31 Maret 2022. Kenaikan kas untuk aktivitas investasi terutama karena nilai perolehan
aset tetap naik 276% atau sebesar USD3,9 juta menjadi USD5,4 juta dibandingkan
USD1,4 juta pada periode sebelumnya. Kas neto HEXA yang digunakan untuk aktivitas
investasi pada 31 Maret 2022 tercatat sebesar USD1,2 juta, naik 63% atau sebesar
USD480,1 ribu dari USD767,6 ribu pada 31 Maret 2021. Kenaikan kas untuk aktivitas
investasi terutama karena nilai perolehan aset tetap naik 67% atau sebesar USD574,5
ribu menjadi USD1,4 juta dibandingkan USD858,3 ribu pada periode sebelumnya. Kas
bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi HEXA pada 31 Maret 2020 tercatat
sebesar USD3,4 juta, naik USD1,9 juta atau 122,3% dibandingkan dengan 31 Maret
2019 sebesar USD1,5 juta. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan
perolehan aset tetap.
Kas bersih HEXA yang digunakan untuk aktivitas pendanaan pada 31 Maret 2023
tercatat sebesar USD47,4 juta, naik 168% atau sebesar USD117 juta dari minus
USD69,6 juta pada 31 Maret 2022. Aktivitas pendanaan terutama disebabkan oleh
penerimaan utang bank jangka pendek yang naik 365% atau sebesar USD373 juta
menjadi USD475,1 juta dibandingkan USD102,1 juta pada tahun buku sebelumnya,
pembayaran utang bank jangka pendek yang naik 283% atau sebesar USD279 juta
menjadi USD377,4 juta dibandingkan USD98,4 juta pada tahun buku sebelumnya. Kas
bersih HEXA yang digunakan untuk aktivitas pendanaan pada 31 Maret 2022 tercatat
sebesar USD69,6 juta, naik 105% atau sebesar USD35,6 juta dari USD34,0 juta pada
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
15
Page 38
31 Maret 2021. Kenaikan kas untuk aktivitas pendanaan terutama disebabkan oleh
pembayaran utang bank jangka pendek yang naik 243% atau sebesar USD68,7 juta
menjadi USD98,4 juta dibandingkan USD28,7 juta pada tahun buku sebelumnya, serta
pembayaran dividen kas yang naik 129% atau sebesar USD39,7 juta menjadi USD70,7
juta dari USD30,8 juta pada tahun buku sebelumnya. Kas bersih yang digunakan untuk
aktivitas pendanaan HEXA pada 31 Maret 2020 tercatat sebesar USD71,9 juta, turun
USD89,3 juta atau 513,4% dibandingkan dengan kas bersih yang diperoleh dari
aktivitas pendanaan pada 31 Maret 2019 sebesar USD17,4 juta. Penurunan tersebut
terutama disebabkan oleh pembayaran utang bank jangka pendek sebesar 216,8% dan
pembayaran dividen kas sebesar 68,2%.
Gambar 4. Grafik Arus Kas Konsolidasian
ARUS KAS
60.000.000
40.000.000
20.000.000
Dalam USD
-
31/03/2019 31/03/2020 31/03/2021 31/03/2022 31/03/2023
(20.000.000)
(40.000.000)
(60.000.000)
(80.000.000)
Kas Dari Aktivitas Operasi Kas Dari Aktivitas Investasi Kas Dari Aktivitas Pembiayaan
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA per 31 Maret, Diolah TSR
2.9 Rasio Keuangan HEXA
Tabel 5. Rasio Keuangan
URAIAN 2019 2020 2021 2022 2023
LIQUIDITY
Current Ratio 1,83 2,89 3,04 1,96 1,42
ACTIVITY
Account Receivable Turnover 73 59 96 86 90
Inventory Turnover 163 157 202 140 158
Account Payable Turnover 73 43 70 100 107
SOLVABILITY
Total Debt to Equity Ratio 1,05 0,49 0,47 0,91 1,80
Total Debt to Assets Ratio 0,51 0,33 0,32 0,48 0,64
PROFITABILITY
Gross Profit Margin 20,92% 25,42% 26,31% 25,13% 19,82%
Net Profit Margin 8,15% 9,06% 9,70% 11,89% 8,19%
Rate of Return on Assets 10,86% 14,45% 9,99% 18,08% 11,14%
Rate of Return on Equity 22,21% 21,55% 14,68% 34,49% 31,14%
Sumber: Laporan Keuangan Audited HEXA untuk periode yang berakhir di 31 Maret
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
16
Page 39
Rasio Likuiditas
Tabel diatas menunjukkan HEXA dari 31 Maret 2019 sampai dengan 31 Maret 2023
memiliki rasio likuiditas yang positif dimana HEXA memiliki kemampuan membayar
seluruh utang jangka pendeknya melalui aset lancar selama periode historis. Rasio
likuiditas HEXA pada 31 Maret 2023 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan
periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan liabilitas jangka pendek HEXA
sebesar 114%.
Rasio Aktivitas
Semakin tinggi nilai rasio aktivitas maka semakin lambat perputarannya, begitu pula
sebaliknya. Selama 31 Maret 2019 sampai dengan 31 Maret 2023, HEXA menjaga rasio
aktivitas. Pada 31 Maret 2023, tercatat bahwa perputaran utang usaha HEXA yang
meningkat yang disebabkan karena meningkatnya utang pihak ketiga dan utang
berelasi pada periode 2023, sehingga di 31 Maret 2023 menunjukkan semakin
lambatnya utang yang dibayarkan oleh HEXA.
Rasio Solvabilitas
Secara umum dapat dikatakan semakin besar total debt to equity ratio adalah dapat
dikatakan kurang baik, karena semakin besar peranan utang sebagai sumber
pembiayaan yang berarti juga semakin kecil debt capacity-nya. Selain itu, semakin
besar total debt to total asset ratio maka dapat dikatakan kurang baik karena semakin
besar porsi utang dalam pembiayaan. Selama 31 Maret 2021 sampai dengan 31 Maret
2023 rasio solvabilitas HEXA mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan meningkatnya
jumlah utang dan menurunnya ekuitas yang tercatat pada periode 31 Maret 2023,
sehingga secara umum kinerja solvabilitas HEXA kurang baik jika dibandingkan periode
sebelumnya.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas ini menunjukkan kemampuan HEXA dalam menghasilkan laba.
Selama 31 Maret 2019 sampai dengan 31 Maret 2023 menunjukan kinerja yang baik,
dengan nilai Net Profit Margin (“NPM”) menunjukan nilai positif. Pencapaian NPM
tertinggi terjadi pada 31 Maret 2023 sebesar 8,19%.
2.10 Informasi Investigasi Lapangan
Kami telah melakukan investigasi lapangan dalam rangka memperoleh informasi yang
relevan dalam penugasan penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh HEXA
sebagai berikut:
Lokasi : Kawasan Industri Pulogadung, Jalan Pulo Kambing II
Kav. I-II No. 33, Jakarta 13930 Indonesia.
Tanggal : 20 Juli 2023
No. Surat Tugas : No. 04/ST/KJPP-TS/IV/2023 tanggal 20 Juli 2023
Pelaksana : Ruspriono
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
17
Page 40
Tampak Depan Lobby
Ruang Kerja Alat Berat
Berdasarkan hasil investigasi lapangan, HEXA menjalankan kegiatan usaha di bidang
distribusi alat berat dan peralatannya.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
18
Page 41
3 ASPEK MAKRO EKONOMI INDONESIA
3.1 Makro Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat ditopang oleh naiknya permintaan
domestik dan positifnya kinerja ekspor. Konsumsi swasta diprakirakan semakin kuat
seiring dengan terus naiknya mobilitas, membaiknya keyakinan konsumen, dan
meningkatnya daya beli seiring dengan penurunan inflasi. Kegiatan investasi tetap
berlanjut, terutama investasi nonbangunan. Kinerja ekspor tetap positif. Hingga Maret
2023, ekspor nonmigas Indonesia tumbuh tinggi, didukung antara lain oleh ekspor batu
bara, mesin listrik, dan kendaraan bermotor. Berdasarkan negara tujuan, ekspor
nonmigas ke Tiongkok, AS, dan Jepang menjadi kontributor utama. Berdasarkan
lapangan usaha, kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan
komunikasi diprakirakan tumbuh kuat. Secara spasial, peningkatan konsumsi terjadi di
hampir seluruh wilayah dan diikuti kinerja ekspor yang tetap tinggi di wilayah Sulawesi-
Maluku-Papua (Sulampua). Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan
ekonomi 2023 diprakirakan bias atas dalam kisaran proyeksi 4,5-5,3%.
Tabel 6. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Lapangan Usaha
Sumber : Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan I 2023
Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar
harga berlaku triwulan I-2023 mencapai Rp5.071,7 triliun dan atas dasar harga konstan
2010 Rp2.961,2 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan I-2023 terhadap triwulan I-2022
tumbuh sebesar 5,03 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi
dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 15,93 persen. Sementara
dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan
tertinggi sebesar 11,68 persen. Ekonomi Indonesia triwulan I-2023 terhadap triwulan
sebelumnya terkontraksi sebesar 0,92 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, kontraksi
pertumbuhan terdalam terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial sebesar 14,56 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar
45,38 persen. Kelompok provinsi di Pulau Jawa pada triwulan I-2023 mencatat dominasi
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
19
Page 42
struktur ekonomi Indonesia secara spasial dengan peranan sebesar 57,17 persen
dengan kinerja ekonomi yang mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 4,96
persen dibanding triwulan I-2022 (y-on-y).
Gambar 5. Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB Menurut Wilayah (persen)
Sumber : BPS – Berita Resmi Statistik No.34/05/Th. XXVI, 5 Mei 2023.
3.2 Inflasi
Tekanan inflasi terus menurun dan mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi Indeks
Harga Konsumen (IHK) secara bulanan tercatat 0,18% (mtm) lebih rendah dari pola
historisnya di periode awal bulan Ramadan, sehingga secara tahunan turun dari level
bulan sebelumnya sebesar 5,47% (yoy) menjadi 4,97% (yoy). Penurunan inflasi terjadi
di semua kelompok, yaitu inti, volatile food, dan administered prices. Inflasi inti Maret
2023 terus melambat dari 3,09% (yoy) menjadi 2,94% (yoy) dipengaruhi ekspektasi
inflasi dan tekanan imported inflation yang menurun serta pasokan agregat yang
memadai dalam merespons kenaikan permintaan barang dan jasa. Sementara itu,
inflasi volatile food turun dari 7,62% (yoy) pada Februari 2023 menjadi 5,83% (yoy).
Tekanan inflasi yang terus menurun tersebut dipengaruhi oleh dampak positif kebijakan
moneter Bank Indonesia yang pre-emptive dan forward looking serta sinergi yang erat
dalam pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah)
dalam TPIP dan TPID melalui penguatan GNPIP di berbagai daerah. Dengan
perkembangan tersebut, Bank Indonesia meyakini inflasi inti akan tetap terkendali
dalam kisaran 3,0±1% di sisa tahun 2023 dan inflasi IHK dapat kembali ke dalam
sasaran 3,0±1% lebih awal dari prakiraan sebelumnya. Bank Indonesia akan terus
memperkuat koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam pengendalian
inflasi.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
20
Page 43
Gambar 6. Inflasi Indonesia
Sumber : BPS – Berita Resmi Statistik No.23/04/Th. XXVI, 3 April 2023.
Pada Maret 2023 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 4,97 persen dengan
Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,36. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Tual
sebesar 7,49 persen dengan IHK sebesar 117,19 dan terendah terjadi di Merauke
sebesar 3,17 persen dengan IHK sebesar 112,59. Inflasi y-on-y terjadi karena adanya
kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok
pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,05 persen;
kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,18 persen; kelompok perumahan, air, listrik,
dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,74 persen; kelompok perlengkapan,
peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,72 persen; kelompok
kesehatan sebesar 2,65 persen; kelompok transportasi sebesar 13,72 persen; kelompok
rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,54 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,75
persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,00 persen;
serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,74 persen. Sementara
kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok informasi,
komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,23 persen. Tingkat inflasi month to month
(m-to-m) Maret 2023 sebesar 0,18 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Maret
2023 sebesar 0,68 persen. Tingkat inflasi y-on-y komponen inti Maret 2023 sebesar
2,94 persen, inflasi m-to-m sebesar 0,16 persen, dan inflasi y-to-d sebesar 0,63 persen.
3.3 Suku Bunga
Likuiditas perbankan dan perekonomian memadai sehingga berkontribusi positif
mendorong peningkatan kredit/pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sejalan dengan stance kebijakan likuiditas Bank Indonesia yang akomodatif, indikator
rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat tinggi yakni 28,91%
pada Maret 2023. Likuiditas perekonomian juga memadai tecermin pada uang beredar
dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) bulan Maret 2023 yang masing-masing tumbuh
sebesar 4,8% (yoy) dan 6,2% (yoy). Likuiditas yang memadai pada gilirannya
mendukung ketersediaan dana bagi perbankan untuk penyaluran kredit/pembiayaan
bagi dunia usaha dan mengarahkan suku bunga perbankan yang kondusif mendukung
pertumbuhan ekonomi. Di pasar uang, suku bunga IndONIA tetap rendah sebesar
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
21
Page 44
5,65% pada 17 April 2023. Imbal hasil SBN tenor jangka pendek tercatat 6,24%,
menurun 20bps dibandingkan dengan level Februari 2023, sedangkan imbal hasil SBN
tenor jangka panjang terkendali. Suku bunga deposito 1 bulan pada Maret 2023 juga
tercatat rendah 4,10%, turun 2bps dibandingkan dengan Februari 2023. Suku bunga
kredit Maret 2023 juga kondusif mendukung permintaan kredit, yakni sebesar 9,38%,
meningkat 4bps dibandingkan dengan level bulan sebelumnya. Bank Indonesia akan
terus memastikan kecukupan likuiditas untuk terjaganya stabilitas sistem keuangan
serta mendorong berlanjutnya peningkatan kredit/pembiayaan bagi pemulihan ekonomi
nasional.
Gambar 7. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA
Sumber : Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan I 2023
Intermediasi perbankan terus positif menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2023 tetap tinggi yaitu sebesar 9,93%
(yoy). Pembiayaan syariah juga menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan
lebih tinggi mencapai 19,43% (yoy) pada Maret 2023. Di segmen UMKM, pertumbuhan
kredit juga terus berlanjut, yaitu mencapai 8,63% (yoy) pada Maret 2023, didukung
realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp30,31 triliun hingga 31 Maret
2023. Kredit/pembiayaan yang tinggi didorong kondisi likuiditas perbankan yang
memadai dan standar penyaluran kredit/pembiayaan perbankan yang masih longgar.
Pertumbuhan kredit/pembiayaan juga ditopang oleh peningkatan permintaan korporasi
dan rumah tangga seiring dengan kinerja usaha korporasi dan UMKM, serta konsumsi
rumah tangga yang terus terjaga. Bank Indonesia akan terus mendorong intermediasi
perbankan terutama kepada sektor-sektor prioritas yang belum pulih, Kredit Usaha
Rakyat (KUR), dan kredit/pembiayaan hijau, guna mengakselerasi pemulihan ekonomi.
Dengan memperhatikan perkembangan dan upaya sinergis yang dilakukan,
pertumbuhan kredit pada 2023 sesuai dengan prakiraan sebelumnya yaitu dalam
kisaran 10-12%.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
22
Page 45
Gambar 8. Suku Bunga Perbankan
Sumber : Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Triwulan I 2023
Ketahanan sistem keuangan, khususnya perbankan, tetap terjaga, baik dari sisi
permodalan, risiko kredit, maupun likuiditas. Permodalan perbankan kuat dengan rasio
kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio /CAR) sebesar 26,02% pada Februari 2023.
Risiko kredit juga terkendali, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing
Loan /NPL) yang rendah, yaitu 2,58% (bruto) dan 0,75% (neto) pada Februari 2023.
Likuiditas perbankan pada Maret 2023 juga terjaga didukung pertumbuhan Dana Pihak
Ketiga (DPK) sebesar 7,00% (yoy). Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan
ketahanan perbankan Indonesia yang kuat. Ke depan, Bank Indonesia terus
memperkuat sinergi dengan KSSK dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi domestik
dan global, yang dapat mengganggu ketahanan sistem keuangan.
3.4 Neraca Pembayaran Indonesia
Neraca Transaksi Berjalan (TB) tetap solid yang tecermin dari capaian surplus pada
triwulan I 2023 sebesar USD3,0 miliar (0,9% dari PDB), melanjutkan surplus pada
triwulan sebelumnya sebesar USD4,2 miliar (1,3% dari PDB). Surplus TB bersumber
dari masih tingginya surplus neraca perdagangan nonmigas yang didukung oleh
permintaan komoditas ekspor utama. Selain itu, harga minyak melanjutkan tren
penurunan seiring dengan berkurangnya disrupsi suplai minyak global sehingga
menyebabkan perbaikan pada defisit neraca migas. Kinerja neraca jasa dan neraca
pendapatan primer juga mencatat perbaikan defisit pada periode laporan. Peningkatan
mobilitas pasca-pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),
penyelenggaraan event internasional, dan pembukaan kembali ekonomi Tiongkok
memberi dampak positif pada peningkatan wisatawan mancanegara (wisman)
sehingga mendorong kenaikan surplus jasa perjalanan. Sementara itu, perbaikan defisit
neraca pendapatan primer didorong perbaikan defisit neraca pendapatan primer
didorong oleh pembayaran hasil investasi kepada investor asing yang menurun sejalan
dengan siklus bisnis korporasi yang cenderung lebih rendah pada awal tahun. Di sisi
lain, penurunan penerimaan hibah pemerintah menyebabkan surplus neraca
pendapatan sekunder tercatat lebih rendah sejalan dengan pola tahunannya.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
23
Page 46
Gambar 9. Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber : Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Realisasi Triwulan I – 2023, Bank Indonesia.
Neraca transaksi modal dan finansial (TMF) pada triwulan I 2023 meningkat signifikan
menjadi surplus USD3,4 miliar (1,0% dari PDB) dibandingkan dengan surplus USDO,3
miliar (0,1% dari PDB) pada triwulan IV 2022. Kinerja investasi portofolio meningkat
seiring lebih derasnya aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN)
domestik. Perkembangan positif tersebut sejalan dengan ketidakpastian di pasar
keuangan global yang berkurang, kondisi ekonomi domestik yang terus membaik, serta
imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik. Begitu pula dengan makin solidnya
perkembangan investasi langsung yang mencerminkan tetap terjaganya persepsi positif
investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang kondusif.
Peningkatan surplus TMF lebih lanjut tertahan oleh investasi lainnya yang mencatat
peningkatan defisit dibandingkan triwulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, NPI triwulan I 2023 membukukan surplus sebesar USD6,5 miliar,
meningkat dibandingkan dengan surplus USD4,7 miliar pada triwulan sebelumnya.
Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2023 tercatat
sebesar USD145,2 miliar, lebih tinggi dari posisi pada akhir Desember 2022 sebesar
USD137,2 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan
pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 6,2 bulan, serta berada di
atas standar kecukupan internasional.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
24
Page 47
4 ASPEK PASAR
4.1 Produksi Alat Berat di Indonesia
Industri alat berat nasional membidik produksi sebanyak 6.000 unit pada tahun 2021,
kendati kinerja sektor tersebut masih tertatih-tatih. Hingga kuartal II/2021 saja,
produksi baru mencapai 1.406 unit. Capaian tersebut tercatat turun 11 unit dari kuartal
I/2021 atau secara quarter to quarter (qtq). Namun, jika dibandingkan dengan produksi
pada kuartal II/2020 atau secara year on year (yoy), industri alat berat nasional
mencatatkan kenaikan 122% dari penurunan produksi pada kuartal II/2021 ini masih
disebabkan oleh kendala gangguan suplai bahan baku impor dan juga mulai
meningkatnya kasus Covid-19 pada akhir Juni. Untuk diketahui, tingkat komponen
dalam negeri (TKDN) indusri alat berat nasoinal baru mencapai 40%. Masyoritas
material harus didatangkan dari luar negeri, padahal dunia tengah mengalami
kelangkaan bahan baku yang memicu lonjakan harga material alat berat sebesar
10%-15% sepanjang tahun berjalan. Permintaan industri alat berat masih
mengandalkan sektor pertambangan batu bara. Sejalan dengan itu, mayoritas produksi
nasional masih difokuskan pada alat berat tipe besar. Permintaan ekspor juga cukup
signifikan meski belum sampai 20% dari hasil total produksi.
Gambar 10. Produksi Alat Berat Konstruksi & Pertambangan
Sumber : https://bisnisindonesia.id/article/industri-alat-berat-masih-tersendat-emiten-pasang-target-nekat
4.2 Kondisi Pasar Industri Alat Berat di Indonesia
Pembangunan infrastruktur menjadi fokus pemerintahan saat ini, dengan menggenjot
pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan lain-lain, diharapkan akan
memperkecil kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia dan mempercepat
pertumbuhan ekonomi. Anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pun tidak main-main.
Pada APBN tahun 2017, Rp. 378 Triliun dialokasikan pemerintah untuk mempercepat
pembangunan infrastruktur bahkan di RAPBN tahun 2018 pemerintah menambah
anggaran untuk proyek infrastruktur menjadi Rp. 409 Triliun. Produksi alat berat
nasional di sepanjang 2022 tercatat sebanyak 8.826 unit atau tumbuh 30,9%
dibandingkan 2021 sebesar 6.740 unit. Produksi alat berat di 2022 ini mencetak rekor
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
25
Page 48
tertinggi sejak 1999 di mana pada kala itu produksi baru di 726 unit dalam setahun. Di
sepanjang tahun lalu, produksi Hydraulic Excavator paling mendominasi sebanyak 7.458
unit atau naik 21,6% YoY. Kemudian diikuti produksi Bulldozer sebanyak 908 unit, lalu
Dump Truck 339 unit, dan Motor Grader sebanyak 121 unit.
Saat ini Indonesia juga berada dalam posisi ke-4 sebagai negara pangsa konstruksi
nasional terbesar di Asia. Terhitung dalam kurun waktu 2014-2019 diprediksi nilai pasar
konstruksi nasional mencapai Rp.5.000 Triliun. Oleh sebab itu, tidak mengherankan
apabila perusahaan berbasis konstruksi berkembang di Indonesia, baik perusahaan
perseorangan maupun perusahaan-perusahaan skala besar yang sudah menangani
berbagai macam pembangunan konstruksi dan bekerjasama dengan pemerintah. Hal
ini juga memberikan sinyal positif, tidak hanya bagi perusahaan konstruksi, namun juga
perusahaan penyedia alat berat seperti CAT, Hitachi, Komatsu, dan Sany yang memang
merupakan pemain 'berat' di industri alat berat. Dengan tren positif ini, mereka optimis
untuk semakin gencar melakukan ekspansi bisnis di Indonesia dan juga sebagai
'penyokong' kebutuhan alat berat di perusahaan konstruksi dalam proses pembangunan
infrastruktur. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi adalah pasokan alat berat dari
perusahaan penyedia alat berat ini tidak dapat mengimbangi kebutuhan alat berat skala
nasional.
Gambar 11. Kebutuhan dan Ketersediaan Alat Berat
Sumber : https://www.kompasiana.com/farizbagusp/5a35b82ccf01b45bad56c404/menangkap-potensi-
besar-dari-bisnis-alat-berat
Penjualan alat berat di Indonesia, pada kuartal 1 2023 turun sedikit dibandingkan
penjualan alat berat di Indonesia kuartal 1 tahun 2022. Namun, sepanjang tahun 2022
dan 2021, penjualan alat berat mengalami pertumbuhan. Padahal, pada tahun 2019
dan 2020, penjualan alat berat di Indonesia mengalami kinerja negatif atau terjadi
penurunan penjualan cukup besar. Peningkatan penjualan alat berat di dalam negeri
pada tahun 2022 dan 2021, terjadi karena peningkatan bisnis di sektor industri
pertambangan batubara. Karena, pada akhir tahun 2021 sampai akhir 2022, harga
batubara meningkat cukup baik sehingga membuat pendapatan perusahaan batubara
ikut membaik. Alhasil, kebutuhan akan alat berat untuk mendukung operasional
produksi batubara juga meningkat.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
26
Page 49
Gambar 12. Tren Penjualan Alat Berat di Indonesia
Sumber : https://www.dataindustri.com/produk/data-penjualan-alat-berat-indonesia/
Pada kuartal 1 2023, pangsa pasar penjualan alat berat di dalam negeri, masih dikuasai
oleh alat berat merek Komatsu. Kemudian di posisi kedua, Hitachi produsen alat berat
asal Jepang. Kemudian disusul oleh Sany yang merupakan perusahaaan alat berat asal
China. Naiknya alat berat Sany dimulai ketika harga batubara sempat mengalami
penurunan beberapa tahun lalu, sehingga membuat pendapatan perusahaan alat berat
menjari menurun. Sedangkan, produksi batubara harus tetap dilakukan, sehingga alat
berat dengan harga yang lebih murah namun kualitas tetap baik menjadi pilihan
perusahaan batubara di Indonesia dan ketika harga batubara kembali naik, Sany masih
menjadi salah satu pilihan perusahaan alat berat dan menguasai pangsa pasar alat
berat di posisi kedua setelah Komatsu.
4.3 Persaingan Usaha
Berdasarkan Roadmap Infrastruktur Indonesia, permintaan alat berat akan meningkat
dalam beberapa tahun ke depan menyusul rekor tertinggi yang dicapai pada 2021.
Rekor permintaan alat berat diperkirakan masih akan terjadi pada 2022 dan 2023.
Menguatnya harga komoditas masih berlangsung laporan ini diterbitkan. Kondisi ini
telah mendorong meningkatnya permintaan alat berat dan berbagai pendukung logistik
di sektor tersebut. Permintaan yang terus menguat itu diperkirakan berlanjut hingga
2023. Prospek tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis alat berat
yang, menurut perkiraan Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (HINABI), tahun 2022
ini sekitar 30% hingga 40%.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan harga batubara
pada akhir tahun 2022 masih tinggi. Sejalan dengan itu, pelaku usaha melihat prospek
bisnis pada 2023 masih cukup menjanjikan. Permintaan terhadap batubara diperkirakan
masih cukup bagus tahun depan. Adapun pembeli strategis batubara masih dari
negara-negara seperti Tiongkok, India, dan negara-negara lainnya. Prospek permintaan
dari Eropa masih tetap ada karena mereka membutuhkan banyak batubara tahun
depan. Pemulihan ekonomi yang berlanjut hingga 2023 membawa peluang usaha bagi
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
27
Page 50
perusahaan penjual dan penyewa di industri alat berat, meski diramalkan tidak selaju
kencang seperti pada 2022. Itu karena permintaan batubara tahun depan diperkirakan
tertekan karena dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia yang di ambang resesi.
Pemulihan ekonomi dan prospek pertumbuhan bisnis batubara menjadi latar belakang
PT United Tractors Tbk (“UNTR”) untuk terus menggenjot penjualan alat berat dan
melakukan diversifikasi bisnis. Bisnis tambang yang tumbuh moncer hingga akhir tahun
2022 membuat UNTR kebanjiran permintaan alat berat. UNTR mengestimasikan,
penjualan alat berat mencapai 5.500 unit tahun 2022. Jumlah ini sekitar 56% lebih
banyak dari penjualan sebanyak 3.088 unit pada 2021. Peningkatan penjualan alat
berat UNTR tahun ini didorong oleh permintaan dari sektor pertambangan dengan porsi
lebih dari 60%. Selebihnya dari sektor konstruksi, kehutanan, dan agro. Target bisnis
UNTR tahun depan naik seiring masih solidnya harga batubara. Karena itu, UNTR
mengejar target tinggi pada 2023. Penjualan alat berat Komatsu, misalnya, ditargetkan
5.750 unit, naik 4,55%, dari proyeksi penjualan tahun ini sebanyak 5.500 unit. Adapun
produksi batubara ditargetkan naik 5% menjadi 123 juta ton pada 2023, dari proyeksi
tahun ini sebanyak 117 juta ton. Sementara volume penjualan batubara pada 2023
diperkirakan tumbuh 5% dari proyeksi tahun ini sebanyak 9 juta ton. Penjualan alat
berat dan batubara UNTR melaju hingga Oktober 2022. UNTR mencatatkan penjualan
5.087 unit alat berat Komatsu sepanjang periode Januari hingga Oktober (10 bulan)
2022. Jika dibandingkan dengan periode yang sama 2021, penjualan Komatsu UNTR
melesat 96,4% dari sebanyak 2.590 unit. Dengan demikian, hingga Oktober 2022, anak
usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini telah merealisasikan 92,49% dari target
penjualan alat berat tahun ini. Penjualan UNTR di periode ini masih didominasi oleh
pelanggan dari sektor pertambangan sebesar 61%, disusul penjualan ke sektor
konstruksi sebesar 18%, sektor kehutanan sebesar 11%, dan sektor agribisnis sebesar
10%. Pangsa pasar Komatsu per oktober 2022 sebesar 29%. Pada periode Oktober
2022, UNTR menjual 553 unit alat berat, naik 1,46% dari penjualan pada September
2022 sebesar 545 unit. Penjualan masih didominasi oleh sektor pertambangan sebesar
60%, disusul sektor konstruksi sebesar 20%, sektor kehutanan 10%, dan sektor
agribisnis 10%. Selain alat berat, segmen bisnis batubara UNTR yang dijalankan oleh
anak usahanya, yakni PT Tuah Turangga Agung (TTA) juga tumbuh moncer. Sepanjang
10 bulan 2022, UNTR membukukan volume penjualan 8,50 juta ton batubara, naik
4,30% dari realisasi penjualan di periode yang sama tahun 2021 sebanyak 8,15 juta
ton. Penjualan batubara UNTR pada periode Oktober sebesar 733.000 ton, naik 53,99%
dari realisasi penjualan pada bulan sebelumnya yang hanya 476.000 ton.
PT Kobexindo Tractors Tbk (“KOBX”), emiten penyedia alat berat terintegrasi ini terus
berinovasi dan menangkap peluang-peluang yang ada demi pertumbuhan bisnis yang
berkelanjutan. Seperti yang dilakukan KOBX di pengujung September 2022. Saat itu,
KOBX menandatangani perjanjian kerjasama dengan pihak prinsipal NHL TEREX guna
menjamin kesediaan pasokan alat berat secara tepat waktu pada tahun 2023.
Manajemen KOBX optimistis, solidnya kinerja penjualan dan neraca keuangan KOBX per
September 2022 akan terus berlanjut. Selama periode Januari hingga September 2022,
KOBX berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada
pemilik entitas induk sebesar 35,87% menjadi US$ 6,36 juta, dibandingkan periode
sama tahun lalu sebesar US$ 4,68 juta. Pertumbuhan laba tersebut, tidak lepas dari
pertumbuhan pendapatan konsolidasi KOBX. Per September 2022, pendapatan KOBX
tumbuh 42,80% menjadi US$ 127,78 juta, dibandingkan sebesar US$ 89,48 juta per
September 2021. Pendapatan secara konsolidasi tersebut ditopang oleh keempat
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
28
Page 51
segmen yang dimiliki KOBX, yaitu penjualan unit alat berat, penjualan suku cadang,
jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, dan pendapatan sewa (alat berat dan
bangunan). Kenaikan harga komoditas tambang menjadi katalis pertumbuhan triwulan
III 2022. Untuk akhir tahun, berdasarkan pencapaian kinerja hingga triwulan III dan
stabilnya permintaan alat berat untuk mendukung peningkatan produksi batubara
menjelang musim dingin menjadi pertimbangan bagi Perseroan untuk merevisi naik
target pendapatan 2022, dari tumbuh 20% menjadi 40. Segmen penjualan unit alat
berat merupakan segmen utama KOBX. Per September 2022, sektor ini berhasil
berkontribusi sebesar 78,44% terhadap pendapatan secara konsolidasian. Segmen
penjualan unit alat berat berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 100,23 juta, tumbuh
46,21% dibandingkan tahun lalu US$ 68,55 juta. KOBX berupaya memperkuat
penjualan di semua sektor, baik alat berat pertambangan maupun non-tambang. Selain
memperkenalkan produk-produk baru seperti Doosan Excavator DX1000LC dan Rigid
Dump Truck NHL Terex TR100 di kelas 100 ton, KOBX juga memperkuat strategi
diversifikasi dengan memperkenalkan produk Dynapac untuk segmen konstruksi yang
baru saja diperkenalkan pada Mining Expo di Jakarta pada pertengahan September
2022. Segmen pendapatan KOBX di luar penjualan unit alat berat pun turut
membukukan kinerja positif. Segmen penjualan suku cadang tumbuh 25,95%, dari US$
11,55 juta di triwulan III 2021 menjadi US$ 14,55 juta di triwulan III 2022. Segmen
jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan tumbuh 33,16%, dari US$ 6,09 juta
menjadi US$ 8,10 juta. Adapun segmen sewa tercatat tumbuh 48,87%, dari US$ 3,29
juta menjadi US$ 4,89 juta per September 2022. KOBX berupaya memaksimalkan
peluang untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Selain diversifikasi dalam
jajaran lini produk, KOBX melakukan diversifikasi di bidang jasa, yaitu jasa kontraktor
pertambangan. Keputusan tersebut guna memperkuat lini bisnis utama KOBX di bidang
alat berat dan sebagai bagian dari konsep pelayanan terintegrasi yang ditawarkan,
yakni penjualan unit, penyediaan sparepart dan jasa perbaikan alat berat. Dengan
demikian, pelanggan KOBX dapat memilih opsi yang terbaik dan memaksimalkan
keuntungannya.
PT Intraco Penta Tbk (“INTA”) juga mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 497,16
miliar per September 2022, naik dari Rp 443,78 miliar di periode yang sama tahun 2021.
Pendapatan INTA berasal dari penjualan alat-alat berat, penjualan suku cadang dan
jasa penyewaan. Meski pendapatan usaha tumbuh, hingga akhir September 2022, INTA
masih menderita rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas
induk sebesar Rp 52,37 miliar. Namun, angka ini menyusut dibandingkan rugi bersih
sebesar Rp 196,48 miliar per September 2021.
HEXA juga mendulang untung, pada periode enam bulan yang berakhir pada
30 September 2022, HEXA telah membukukan penghasilan neto sebesar US$ 262,62
juta, tumbuh 47% jika dibandingkan penghasilan neto HEXA pada periode yang sama
tahun fiskal 2021 sebesar US$ 178,64 juta. Mayoritas penghasilan neto tersebut berasal
dari penjualan alat berat yang mencapai US$ 169,35 juta atau setara 64,48% dari
total penghasilan neto HEXA per September 2022, atau tumbuh 66,19%, dari US$
101,90 juta per September 2021. Sedang sisanya berasal dari lini usaha penjualan suku
cadang, jasa pemeliharaan dan perbaikan, serta jasa penyewaan alat berat. Emiten di
bidang perdagangan alat-alat berat dan pelayanan purna jual dengan merek utama
Hitachi ini menetapkan proyeksi penjualan sebesar US$ 531,9 juta untuk periode April
2022 – Maret 2023. Angka proyeksi ini lebih tinggi 14,8% dibandingkan realisasi di
periode sama tahun fiskal 2021 sebesar US$ 463,3 juta.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
29
Page 52
4.4 Peluang dan Strategi Pemasaran HEXA
Kinerja industri alat berat Tanah Air diproyeksikan tetap terus tumbuh pada tahun 2023
seiring meningkatnya sektor pertambangan. Sepanjang kuartal I/2023, produksi alat
berat mencapai angka 2.176 unit, lebih banyak 63 unit dari periode yang sama tahun
lalu sebanyak 2.113 unit. Hingga akhir tahun 2023, produksi alat berat dalam negeri
bisa menembus kisaran 10.000 unit, asalkan tren sektor pertambangan terus melaju.
Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (“Hinabi”) menargetkan produksi alat berat
tahun ini akan mencapai kapasitas maksimal sebanyak 10.000 unit. Terlebih tahun
2023, produksi alat berat tidak terpengaruh oleh harga material yang melambung tinggi
seperti tahun lalu. Dengan demikian, pihaknya optimistis bisa mencapai produksi hingga
10.000 unit.
Salah satu parameter penentuan alat berat yang tepat menyesuaikan pada kriteria
suatu lokasi, dimana masing-masing kriteria lokasi memiliki karakteristik yang berbeda
dalam mengelola bisnis pertambangan, perusahaan konstruksi, pertanian dan
infrastruktur. Pelanggan akan menentukan keputusan apakah melakukan pembelian
ataupun menyewa dan selanjutnya menetukan model inti yang paling sesuai dengan
pengaplikasian dan lokasi.
Secara general, HEXA menyadari ketatnya persaingan usaha dalam industri alat berat,
selama pandemic Covid-19 dan setelah menurunnya kasus Covid-19 membuat banyak
perusahaan dalam bidang yang sama melakukan distribusi pengadaan dan penyewaan
produk yang sejenis. Berbagai jenis pembangunan mulai dari infrastruktur sendiri
diperkirakan akan terus meningkat selama lima tahun ke depan, perusahaan
pertambangan dan disusul juga dengan perkebunan atau pertanian akhir-akhir ini yang
makin gencar bermunculan, yang berarti banyaknya kebutuhan dari Pelanggan untuk
menambah armada, memenuhi permintaan dan memaksimalkan pendapatan. Adanya
sarana bantuan untuk bisa melangsungkan segala pembangunan tersebut
membutuhkan peralatan yang memadai dala memproses pengerjaannya tersebut.
Selain itu, label harga pembelian alat berat lebih besar dibandingkan menyewa,
tentunya hal ini membuat para pemilik proyek atau Pelanggan lebih memilih untuk
menyewa daripada membelinya. Sektor bisnis ini menjadi peluang bagi pertumbuhan
bisnis HEXA.
Saat ini HEXA mentargetkan beberapa Pelanggan potensial dalam hal penyewaan alat
berat kepada lokal perusahaan penyewaan, perusahaan kontraktor tambang yang
sudah pernah membeli alat berat di HEXA, Pelanggan baru dengan kondisi finansial
yang bagus. Dilatar belakangi oleh hal-hal tersebut di atas maka diperlukan adanya
suatu strategi mempromosikan kegiatan penyewaan alat berat di berbagai macam
sektor serta menambah opsi baru dengan menawarkan penyewaan alat berat dengan
operator, user atau Pelanggan dapat memilih mana yang cocok bagi kelangsungan
bisnis mereka.
HEXA optimistis prospek bisnis di tahun fiskal 2022 alias periode April 2022 - Maret 2023
berpotensi lebih baik dibanding periode sama tahun sebelumnya. Dengan optimisme
tersebut, HEXA yang bergerak di bidang perdagangan alat-alat berat dan pelayanan
purna jual dengan merek utama Hitachi itu menetapkan angka proyeksi penjualan
sebesar US$ 531,9 juta untuk tahun fiskal 2022 alias periode April 2022 - Maret 2023
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
30
Page 53
ini. HEXA akan mengevaluasi angka proyeksi tersebut setiap bulan. Apabila market
trennya terus positif, akan evaluasi mengarah ke naik begitu juga kebalikannya.
Angka proyeksi penjualan HEXA di tahun fiskal 2022 lebih besar 14,8% dibanding
realisasi penjualan tahun fiskal 2021. Pada April 2021 - Maret 2022 lalu, penghasilan
neto alias net revenue HEXA hanya mencapai US$ 463,26 juta. HEXA optimistis,
tingginya harga komoditas tambang, khususnya batubara, bisa mendorong permintaan
alat berat. Untuk itu, HEXA telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengeruk berkah
di segmen pasar pertambangan. HEXA berstrategi untuk konsisten mengadakan
pertemuan dengan para pelanggan di sektor tambang guna membahas kebutuhan alat
mereka. Selain itu, HEXA juga berstrategi menyiapkan kontrak-kontrak spesial untuk
pelanggan di sektor tambang. Kemudian secara konsisten juga memberikan konsultasi
teknikal terhadap customer-customer yang bergerak di sektor tambang.
Pada kuartal pertama tahun fiskal 2022, HEXA telah membukukan penghasilan neto
sebesar US$ 114,10 juta, melesat 54,51% dibanding penghasilan neto HEXA di kuartal
pertama tahun fiskal 2021 yang berjumlah US$ 73,84 juta. Mayoritas penghasilan neto
tersebut berasal dari penjualan alat berat yang mencapai US$ 73,60 juta atau setara
64,40% dari total penghasilan neto HEXA di kuartal pertama alias April-Juni 2022 ini,
sedang sisanya berasal dari lini usaha penjualan suku cadang, jasa pemeliharaan dan
perbaikan, serta jasa penyewaan alat berat. Penjualan alat berat di kuartal pertama
tahun fiskal 2022 didominasi oleh penjualan Excavator yang jumlahnya 538 unit
(termasuk rental 8 unit), kemudian diikuti oleh penjualan 139 unit Mini Excavator, dan
9 unit Wheel Loader. Sebagian besar penjualan Excavator tersebut menyasar sektor
Agro dengan porsi kontribusi 36%, disusul oleh sektor tambang 22%, konstruksi 22%,
forestry 18%, dan lain-lain 3%.
Pencapaian kuartal I, yaitu April-Juni tahun fiskal lebih baik dibandingkan tahun lalu,
hal ini disebabkan terutama di sektor batubara. Selain memacu kinerja, HEXA juga
menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) 16,4 juta untuk
menunjang bisnis rental perusahaan. Sumber pendanaannya berasal dari pendanaan
internal dan eksternal.
Tabel 7. Market Share HEXA
Sumber : Annual Report HEXA
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
31
Page 54
HEXA menerapkan beberapa strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan, antara
lain:
1. Menawarkan solusi andal melalui dukungan purna jual HEXA Perseroan
menyediakan layanan remanufacturing untuk unit Construction Equipment serta
program refurbishment pada unit Mining sebagai perluasan layanan penjualan,
serta mengembangkan sistem baru untuk mendorong pertumbuhan melalui parts
online shop.
2. Meningkatkan peluang penjualan dengan menyediakan rentang produk yang lebih
luas melalui:
▪ Menawarkan Bell-ADT bersama dengan unit ekskavator sebagai kesepakatan
paket.
▪ Fokus pada bisnis sewa dan mesin bekas sebagai prospek pengembangan
pasar.
▪ Mengembangkan jenis-jenis attachment baru untuk memenuhi permintaan
pelanggan.
Untuk mendukung strategi tersebut, HEXA menerapkan Program “One HEXINDO”
dalam rangka membentuk budaya Perusahaan yang lebih baik serta program-program
pengembangan kompetensi karyawan termasuk karyawan yang bertugas di bidang
penjualan/pemasaran.
4.5 Kesimpulan Aspek Pasar
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Kondisi Pasar yang masih terus tumbuh
seiring meningkatnya sektor pertambangan. Maka, kondisi industri alat berat dimasa
mendatang akan terus tumbuh dan tidak terdapat kejadian force majure yang dapat
menganggu kelangsungan usaha HEXA maka dapat disimpulkan bahwa penambahan
kegiatan usaha dari aspek pasar yang akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
32
Page 55
5 ASPEK TEKNIS
5.1 Kegiatan Usaha Eksisting HEXA
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar HEXA, kegiatan usaha HEXA adalah
perdagangan dan penyewaan alat berat serta pelayanan purna jual. Saat ini, HEXA
bertindak selaku distributor alat-alat berat jenis tertentu dan suku cadang dari merek
“Hitachi”, “John Deere”, “Krupp” dan “Bell”. Hitachi Construction Machinery Co. Ltd.,
yang didirikan di Jepang, adalah entitas induk dari HEXA. Hitachi Ltd., yang didirikan di
Jepang, adalah entitas induk akhir dari HEXA.
HEXA menjual berbagai alat berat Hitachi dan Bell untuk konstruksi, perhutanan,
pertambangan, beserta attachment dengan bobot yang berkisar antara 800 kg sampai
800 ton. HEXA menawarkan alat berat untuk semua jenis pekerjaan, termasuk menggali
(digging), loading, carrying, memecahkan (breaking), mengambil (grabbing),
Memotong (cutting), menghancurkan (crushing), dan menyaring (screening). Di
luar itu, HEXA juga menjual suku cadang asli yang tersedia lengkap dari seluruh dunia
dengan Jepang sebagai pusatnya. Dengan demikian, pelanggan bisa mendapatkan suku
cadang secepat dan seefisien mungkin.
5.2 Kinerja Kegiatan Usaha Eksisting HEXA
HEXA mencatatkan kenaikan permintaan lebih dari 30% pada awal tahun 2022 atau
pada kuartal keempat tahun buku laporan keuangannya. Permintaan alat berat
terbanyak berasal dari sektor agroindustri dan pertambangan. Kenaikan permintaan
dari kedua sektor tersebut seiring dengan meningkatnya harga jual crude palm oil
(“CPO”) dan batubara. Kondisi ini membuat aktivitas di kebun sawit dan pertambangan
batubara meningkat sehingga membutuhkan lebih banyak alat berat. Hal tersebut
terlihat dari kenaikan pembelian alat berat oleh kontraktor perkebunan yang bekerja
untuk grup perkebunan sawit besar. Sementara itu, perusahaan perkebunan sawit skala
menengah dan kecil (perorangan) banyak membeli unit alat berat untuk kebutuhan
perawatan kebunnya.
Lebih lanjut, porsi penjualan alat berat ke sektor agroindustri dan pertambangan
memang sudah lebih mendominasi pada kuartal I sampai dengan kuartal ketiga (April
2021-Desember 2021), yakni agroindustri 33% dan pertambangan 30%. Hal ini
membuat porsi penjualan alat berat untuk sektor kehutanan pada periode tersebut jadi
berkurang, yakni hanya sebesar 23%. Porsi penjualan ke sektor pertambangan dan
agroindustri lebih tinggi di sepanjang sembilan bulan pertama tahun buku. Padahal,
pada akhir tahun buku sebelumnya, kontribusi penjualan ke sektor agrobisnis dan
kehutanan berimbang.
Secara rinci, penjualan alat berat ke sektor agroindustri sepanjang April-Desember 2021
mencapai 488 unit, naik dari periode sama tahun 2020 yang sebanyak 245 unit.
Kemudian, penjualan ke sektor pertambangan mencapai 454 unit, naik dari periode
sama tahun sebelumnya sebanyak 70 unit. Lalu, penjualan alat berat ke sektor
kehutanan mencapai 346 unit, naik dari sebelumnya sebanyak 212 unit. Meskipun
penjualan alat berat ke sektor agroindustri dan pertambangan menunjukkan
peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan penjualan ke sektor kehutanan, HEXA kini
menghadapi tekanan dari eksternal. Secara kuantitas memang meningkat, tetapi tahun
2023 menghadapi tekanan dari sisi kompetisi khususnya dari pabrikan China. Oleh
karena itu, HEXA akan melakukan beberapa inisiatif untuk menjadi one stop solution
bagi pelanggan. Untuk sektor kehutanan yang porsinya sempat menurun, Hexindo juga
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
33
Page 56
akan mengikuti perkembangan kebutuhan saat ini dan ke depannya. Khusus alat berat
sektor kehutanan, Hexindo tengah menginisiasi untuk melengkapinya dengan full
mechanization harvesting process. Hexindo menggandeng pabrikan attachment dan
peralatan pendukung lainnya seperti harvester head, felling head, tree shear, cultivator,
grass cutter, dan lain-lain.
5.3 Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
HEXA merupakan perusahaan yang melaksanakan bidang usaha distribusi dan
penyewaan alat berat yang mulai beroperasi sejak tahun 1988. Selain itu, HEXA juga
merupakan perusahaan yang mencakup beberapa jenis usaha seperti penjualan suku
cadang dan aksesoris pendukung alat berat lainnya.
Rencana penambahan kegiatan usaha HEXA mengacu kepada usulan untuk menjawab
kebutuhan pasar. HEXA telah menjalankan jasa alat berat di berbagai bidang. Namun,
sehubungan dengan rincian HEXA untuk melakukan penambahan jasa penyewaan di
bidang konstruksi, pertambangan, dan pertanian maka rencanapPenambahan kegiatan
usaha HEXA dengan menambah lini bisnis sesuai dengan KBLI sebagai berikut
1. 43905 : Penyewaan Alat Konstruksi dengan Operator;
2. 68111 : Real Estat Yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
3. 77100 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mobil,
Bus, Truk dan Sejenisnya;
4. 77391 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Industri Pengolahan;
5. 77392 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertanian dan Peralatannya;
6. 77393 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin
dan Peralatan Konstruksi dan Teknik Sipil; dan
7. 77395 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa Hak Opsi Mesin
Pertambangan dan Energi serta Peralatannya.
Rencana penambahan kegiatan usaha diperlukan tenaga kerja yang berkompeten
dibidangnya dalam kaitan penambahan bidang usaha ini. HEXA telah mempersiapkan
tenaga ahli yang dapat mendukung penambahan kegiatan usaha, dimana tenaga kerja
dalam rencana penambahan kegiatan usaha berasal dari karyawan eksisting HEXA,
sehingga tidak terdapat biaya yang akan dikeluarkan oleh HEXA dalam perekrutan
tenaga ahli.
Dalam rencana penambahan kegiatan usaha, HEXA diharapkan dapat meningkatkan
akan permintaan pasar di berbagai segmen industri, sehingga akan memperbesar
penjualan dan pangsa pasar yang sudah ada.
5.4 Kesimpulan Aspek Teknis
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Kondisi Teknis dalam rencana penambahan
kegiatan usaha, maka disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha dari aspek
teknis yang akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
34
Page 57
6 Aspek Pola Bisnis
6.1 Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan dari Pola Bisnis Penambahan
Kegiatan Usaha
HEXA merupakan perusahaan di bidang distributor alat berat yang bergerak sejak tahun
1988. HEXA berkomitmen menjadi penyedia alat berat beserta peralatan pendukung
lainnya yang terpercaya dan selalu berorientasi pada pelanggan di Indonesia. Dengan
adanya rencana penambahan kegiatan usaha, akan menunjang kegiatan usaha HEXA
yang sudah ada menjadi lebih efektif sehingga dapat meningkatkan daya saing.
Keunggulan kompetitif HEXA dalam melaksanakan adanya rencana penambahan
kegiatan usaha adalah sebagai berikut:
1. Berpengalaman di bidang alat berat selama lebih dari 35 tahun;
2. Memiliki mitra dengan principal alat berat terkemuka dalam lingkup internasional
seperti Hitachi, Bell, dan lainnya;
3. Memberikan layanan berkualitas yang kompeten dan tepat waktu;
4. Melengkapi kegiatan usaha utama HEXA yaitu distributor dan rental alat berat;
5. Masuk ke target pasar yang dalam menyediakan layanan penyediaan pengemudi
khususnya di daerah Balikpapan dan sekitarnyadalam berbagai sekotr yang
berbeda misalnya sektor pertambangan, pertanian, dsb.;
6. Menyediakan rental alat berat dengan operator yang berkualitas dan memahami
daerah/wilayah site;
7. Orientasi pelayanan terhadap kebutuhan pelanggan dengan menyediakan jasa
yang maksimal;
8. Memberikan harga yang kompetitif sehingga mampu bersaing dengan kompetitor
lain.
6.2 Kemampuan Menciptakan Nilai Penambahan Kegiatan Usaha
Keunggulan HEXA sebagai perusahaan perdagangan dan penyewaan alat berat serta
pelayanan purna jual dimana saat ini HEXA bertindak selaku distributor alat-alat berat
jenis tertentu dan suku cadang dari merek “Hitachi” dan “Bell”. HEXA bergerak cepat
untuk menyelaraskan keunggulan produk dan layanan dengan ekspektasi pelanggan
yang dinamis. HEXA mengembangkan inovasi pada sistem penjualan suku cadang dan
layanan purna jual, memperkuat segmen pasar remanufaktur dan rekondisi, serta
meredefinisi strategi pemasaran pada pasar-pasar potensial untuk menangkap peluang
yang lebih luas.
HEXA dapat menciptakan nilai dan keunggulan dari penambahan kegiatan usaha,
karena dilakukan untuk menambah dan mengembangkan kegiatan usaha HEXA serta
memaksimalkan potensi bisnis HEXA. Dengan dilaksanakannya penambahan kegiatan
usaha, HEXA akan memiliki potensi nilai tambah dari sisi pendapatan dan laba serta
peluang untuk keberlangsungan kegiatan usaha HEXA. Pengalaman yang dimiliki HEXA
membuat penerapan sistem dan operasional kerja menjadi relatif mudah diterapkan
untuk kegiatan usaha yang baru. Pendekatan yang menjadi kunci sukses HEXA adalah
pengembangan bidang usaha yang ditawarkan akan sejalan dengan perkembangan
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
35
Page 58
terkini. Melihat perkembangan dunia pertambangan, konstruksi, pertanian yang
semakin masif dan secara langsung merubah pola Kerjasama dengan perusahaan alat
berat, hal ini tentu saja memberikan peluang yang besar bagi HEXA dalam
mempertahankan kelangsungan usaha HEXA.
6.3 Perjanjian-Perjanjian yang dimiliki Terkait Penambahan Kegiatan Usaha
Saat ini, HEXA memiliki beberapa perjanjian terkait penambahan kegiatan usaha, salah
satunya adalah perjanjian dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Pama Persada, dll.
Skema bisnis baru terutama dalam hal bidang usaha rental di berbagai sektor akan
menjadi peluang usaha baru untuk pembaharuan perjanjian-perjanjian Kerjasama
dengan Pelanggan tersebut nantinya.
6.4 Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk Penambahan Kegiatan Usaha
Saat ini terdapat beberapa perusahaan sejenis yang memiliki produk dan layanan yang
sama, namun terdapat beberapa hal yang akan dilakukan HEXA untuk memitigasi risiko
sehingga pesaing sulit untuk meniru produk yang dihasilkan HEXA, diantaranya sebagai
berikut:
1. Mendistribusikan produk terbaik kepada masyarakat dan para pelanggan;
2. Menjalin kemitraan yang baik dengan para principal alat berat;
3. Memiliki harga jual produk yang kompetitif;
4. Mampu memenuhi permintaan pelanggan dan mengantisipasi kebutuhan pasar;
5. Mengoptimalkan strategi pemasaran.
6.5 Kesimpulan Aspek Pola Bisnis
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Aspek Pola Bisnis dan telah melakukan
beberapa strategi dan pendekatan dalam rencana penambahan kegiatan usaha untuk
menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif, maka disimpulkan bahwa penambahan
kegiatan usaha dari aspek pola bisnis yang akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
36
Page 59
7 Aspek Model Manajemen
7.1 Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi Penambahan Kegiatan Usaha
Berdasarkan struktur di atas, saat ini HEXA telah memiliki sumber daya manusia yang
cukup memadai. HEXA mengoptimalkan fasilitas-fasilitas kerja mulai dari ruang kerja,
sistim informasi, mesin dan peralatan, manajemen dan sumber daya yang telah tersedia
untuk mendukung rencana penambahan kegiatan usaha. Pengalaman HEXA di bidang
distribusi dan penyewaan alat berat menjadi keunggulan bagi HEXA dalam menjalankan
rencana penambahan kegiatan usaha secara profesional dan memadai.
Rencana penambahan kegiatan usaha diperlukan tenaga kerja yang berkompeten
dibidangnya dalam kaitan penambahan bidang usaha ini, berikut adalah susunan
manajeman yang akan menjalankan penambahan kegiatan usaha adalah sebagai
berikut:
Tabel 8. Sumber Daya Manusia Penambahan KBLI
NAMA POSISI
Dwi Swasono Sales Director
Teru Karahashi Product Support Director
Sumber : Manajemen HEXA
Serta didukung beberapa tenaga di bidang berikut :
1. General Sales Support
2. Mining Sales
3. Remanufacture
Berikut adalah struktur organisasi penambahaan kegiatan usaha
Gambar 13. Struktur Organisasi Penambahan Kegiatan Usaha
Sumber: Manajemen HEXA
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
37
Page 60
7.2 Manajemen Risiko Penambahan Kegiatan Usaha
Seperti halnya kegiatan usaha yang dijalankan oleh perusahaan lain, Penambahan
kegiatan usaha juga tidak terlepas dari beberapa risiko yang timbul dalam proses
menjalankan usaha. Risiko yang muncul bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal
maupun internal. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dalam pengelolaan risiko tersebut
yaitu dengan analisa sistematis dan berkelanjutan mengenai peluang munculnya risiko,
dampak dari risiko, serta cara menekan dan meminimalkan risiko usaha yang dihadapi.
Evaluasi dilakukan melalui proses audit oleh Satuan Audit Internal dengan melakukan
penetapan objek audit serta prioritas berdasarkan tingkat risiko dari yang paling tinggi
ke yang paling rendah. Hasil dari evaluasi tersebut dilaporkan ke Direksi untuk
kemudian disusun langkah perbaikan dan antisipasi serta sebagai bahan telaah Komite
Audit. Dalam penambahaan kegiatan usaha telah mengidentifikasi dan mengklasifikasi
risiko-risiko yang dihadapi dalam menjalankan usahanya. Risiko-risiko tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Risiko Tingkat Suku Bunga, Risiko tingkat suku bunga adalah risiko dimana
nilai wajar arus kas di masa depan akan berfluktuasi karena perubahan tingkat
suku bunga pasar. HEXA terpengaruh risiko perubahan suku bunga pasar terkait
dengan utang bank jangka pendek. HEXA mengelola risiko ini dengan memilih
bank yang dapat memberikan tingkat suku bunga pinjaman yang terendah.
2) Risiko Strategis, Risiko kredit adalah risiko jika pihak pelanggan tidak
memenuhi kewajibannya yang menyebabkan kerugian keuangan. HEXA
mengelola dan mengendalikan risiko ini dengan menetapkan batasan risiko yang
dapat diterima dan memantau eksposur terkait dengan batasan-batasan
tersebut. HEXA menetapkan sejumlah kebijakan sebelum memberikan kredit
kepada pelanggan baru, antara lain dengan melakukan survei atas pelanggan
tersebut, melakukan pemeriksaan terhadap dokumentasi termasuk kontrak kerja
pelanggan dengan pihak lain dan memberikan kredit limit yang terbatas. HEXA
juga menetapkan kebijakan jangka waktu kredit sampai dengan 18 bulan untuk
penjualan alat berat dan 90 hari untuk penjualan suku cadang. Piutang atas
penjualan alat berat dijamin dengan jaminan secara fidusia atas alat berat yang
dijual tersebut. Peningkatan kredit limit dan perpanjangan jangka waktu kredit
akan diberikan setelah melalui proses verifikasi. Piutang yang telah jatuh tempo
akan dipantau secara terus menerus dan menghentikan penyaluran kredit kepada
pelanggan tersebut bila terjadi tunggakan pembayaran dan hanya melakukan
transaksi penjualan secara kas. Tidak ada risiko kredit yang terpusat Sehubungan
dengan risiko kredit yang timbul dari aset keuangan lainnya, yang terdiri dari kas
di bank, dari pihak lawan, HEXA memiliki kebijakan untuk tidak menempatkan
investasi pada instrumen yang memiliki risiko kredit yang tinggi dan untuk
menempatkan investasi hanya pada bank dengan rating kredit yang tinggi. HEXA
menetapkan batasan risiko yang dapat diterima, menetapkan kebijakan, serta
senantiasa memantau paparan terkait batasan-batasan tersebut.
3) Risiko Likuiditas, Risiko likuiditas adalah risiko yang terjadi jika posisi arus kas
menunjukkan pendapatan jangka pendek tidak cukup menutupi pengeluaran
jangka pendek. Kebutuhan likuiditas HEXA secara historis timbul akibat
kebutuhan untuk membiayai investasi dan keperluan modal kerja, sedangkan
untuk biaya operasional dapat dipenuhi dari arus kas HEXA. Dalam mengelola
risiko likuiditas, manajemen selalu menjaga saldo kas dan bank yang dianggap
memadai untuk membiayai operasional HEXA, sedangkan untuk mengatasi
dampak dari fluktuasi arus kas, diatasi dengan ketersediaan fasilitas utang bank.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
38
Page 61
7.3 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Penambahan Kegiatan Usaha
Dalam rangka perizinan teknis sehubungan dengan rencana perluasan bidang usaha
ini, HEXA akan memulai proses pendaftaran dan sertifikasi apabila HEXA telah
mendapatkan KBLI sehubungan dengan rencana tersebut.
7.4 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen Penambahan Kegiatan
Usaha
Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha yaitu penambahan kegiatan
usaha berupa penambahan KBLI Baru berupa penambahan KBLI yaitu 43905 :
Penyewaan Alat Konstruksi dengan Operator; 68111 : Real Estat Yang Dimiliki Sendiri
atau Disewa; 77100 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi
Mobil, Bus, Truk dan Sejenisnya; 77391 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha
Tanpa Hak Opsi Mesin dan Peralatan Industri Pengolahan; 77392 : Aktivitas Penyewaan
dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin Pertanian dan Peralatannya; 77393 :
Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin dan Peralatan
Konstruksi dan Teknik Sipil; dan 77395 : Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Tanpa
Hak Opsi Mesin Pertambangan dan Energi serta Peralatannya. HEXA telah
mempersiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan
operasional atas penambahan kegiatan usaha. Adapun tenaga ahli inti yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
Susunan Manajeman yang akan menjalankan penambahan kegiatan usaha adalah
sebagai berikut:
NAMA POSISI
Dwi Swasono Sales Director
Teru Karahashi Product Support Director
Serta didukung beberapa tenaga di bidang berikut :
1. General Sales Support
2. Mining Sales
3. Remanufacture
7.5 Kesimpulan Aspek Model Manajemen
Berdasarkan kajian dan evaluasi terhadap Aspek Model Manajemen. HEXA dalam
rencana penambahan kegiatan usaha telah mempersiapkan sumber daya manusia
sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh Kominfo, memiliki struktur organisasi dan telah
melakukan mitigasi risiko serta memiliki kapasitas dan kemampuan manajemen, maka
disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha dari aspek model manajemen yang
akan dilakukan oleh HEXA adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
39
Page 62
8 ANALISIS SWOT
Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal
yang bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol.
Kedua sisi dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan
dan mempunyai daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan
kelemahan (strength and weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan
ancaman (opportunity and threat). Berikut adalah analisis SWOT dalam menjalankan
kegiatan usaha baru:
1) Strength
a) HEXA memiliki jaringan dealer dan rekanan yang luas yang tidak hanya
membantu memberikan layanan yang efisien kepada pelanggan, tetapi juga
membantu dalam mengelola tantangan di dalam persaingan.
b) HEXA menghadapi tekanan penurunan profitabilitas, namun dibandingkan
dengan kompetitor, Hexindo Adiperkasa masih mampu menghasilkan margin
keuntungan yang lebih tinggi.
c) Sumber daya manusia merupakan bagian integral dari keberhasilan HEXA.
d) Produk-produk baru dengan cepat meningkatkan pangsa pasar HEXA.
e) Sudah memiliki berbagai macam sertifikasi ISO, sehingga mempunyai jaminan
kualitas produk.
f) Pemegang tunggal dealer resmi untuk Hitachi Construction Machinery.
g) HEXA memberikan pilihan bauran produk yang lengkap kepada para
pelanggannya. Hal ini membantu perusahaan dalam melayani berbagai segmen
pelanggan.
h) HEXA memiliki posisi kepemimpinan pasar yang kuat, hal ini telah membantu
untuk meningkatkan kesuksesan produk baru dengan cepat.
2) Weakness
a) Menurunnya pangsa pasar HEXA dimana pertumbuhan industri tumbuh lebih
cepat dari HEXA. HEXA harus secara hati-hati menganalisa berbagai tren di
sektor Barang Modal dan mencari apa yang perlu dilakukan untuk mendorong
pertumbuhan di masa depan.
b) Model bisnis HEXA dapat dengan mudah ditiru oleh para. Untuk mengatasi
tantangan ini, HEXA perlu membangun model platform yang dapat
mengintegrasikan pemasok, vendor, dan pengguna akhir.
c) Tingginya perputaran karyawan di tingkat bawah juga menjadi perhatian bagi
HEXA. Hal ini dapat menyebabkan gaji yang lebih tinggi untuk mempertahankan
talenta di dalam perusahaan.
d) Tingginya biaya untuk mengganti tenaga ahli yang ada di HEXA. Hanya sedikit
karyawan yang bertanggung jawab atas basis pengetahuan HEXA dan
mengganti tenaga ahli yang ada akan sulit.
3) Opportunity
a) Tren migrasi pelanggan ke produk yang lebih tinggi. Hal ini merupakan peluang
besar bagi HEXA, karena memiliki pengakuan merek yang kuat di segmen
premium, pelanggan memiliki pengalaman dengan layanan pelanggan yang
sangat baik yang disediakan oleh merek HEXA di segmen yang lebih rendah.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
40
Page 63
b) Meningkatkan basis pelanggan di segmen yang lebih rendah, karena pelanggan
harus bermigrasi dari operator yang tidak terorganisir di industri Barang Modal
ke pemain berlisensi. Hal ini akan memberikan HEXA kesempatan untuk
menembus pasar entry level dengan penawaran yang lebih menarik.
c) Meningkatnya peraturan pemerintah yang menyulitkan pemain yang tidak
terorganisir untuk beroperasi di industri Mesin Konstruksi dan Pertanian.
Industri mesin. Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi HEXA untuk
meningkatkan basis pelanggan.
4) Threat
a) Tantangan terbesar bagi HEXA dan pemain lain di industri ini adalah
meningkatnya komoditisasi produk di industri Barang Modal.
b) Kekurangan sumber daya manusia yang terampil, mengingat tingginya
perputaran karyawan dan meningkatnya ketergantungan pada solusi inovatif
yang dapat menghadapi tantangan sumber daya manusia yang terampil dalam
waktu dekat.
c) Banyaknya perusahaan sejenis yang memiliki segmentasi pasar sendiri.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
41
Page 64
9 ASPEK KEUANGAN
9.1 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pembiayaannya
Dalam rangka penambahan kegiatan usaha, jumlah biaya investasi yang dibutuhkan
adalah sebesar USD52,066 ribu yang akan dilakukan selama 5 tahun. Dalam
penambahan KBLI baru ini HEXA melakukan penambahan alat berat untuk disewakan.
Berikut adalah rincian investasi yang direncanakan:
Tabel 9. Rencana Investasi Penambahan kegiatan Usaha
Dalam Ribuan USD
FY FY FY FY FY
NO. KETERANGAN
2023 2024 2025 2026 2027
1 Heavy Equipment investment 66 unit 9,186
2 Heavy Equipment investment 84 unit 10,402
3 Heavy Equipment investment 84 unit 10,611
3 Heavy Equipment investment 84 unit 10,825
4 Heavy Equipment investment 84 unit 11.042
Grand Total 9,186 10,402 10,611 10,825 11,042
Sumber : Manajemen HEXA
9.2 Sumber Pembiayaan Investasi
Dalam rangka penambahan kegiatan usaha sumber pembiayaan investasi diperoleh dari
Utang Bank dan Utang pemegang saham HEXA.
9.3 Rencana pelaksanaan Penambahan kegiatan usaha
Estimasi pelaksanaan penambahan kegiatan usaha dapat dilaksanakan pada tahun
buku 2023 sampai dengan tahun buku 2027.
9.4 Asumsi-Asumsi Proyeksi Keuangan
Pertimbangan-pertimbangan yang ditetapkan dalam setiap asumsi ditentukan dengan
memperhatikan setiap tahap perkembangan dari tahun ke tahun dari rencana
penambahan kegiatan usaha HEXA. Berikut adalah asumsi yang digunakan:
Asumsi HEXA Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
1) Penjualan:
a. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan dan Penyewaan Alat Berat tumbuh
sebesar 9,16% selama periode proyeksi.
b. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan suku cadang tumbuh sebesar 4,28%
selama periode proyeksi.
c. Berdasarkan kinerja historikal jasa pemeliharaan dan perbaikan tumbuh
sebesar 6,14% selama periode proyeksi.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
42
Page 65
2) Beban Pokok:
a. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan dan Penyewaan Alat
Berat sebesar 88,24% dari Penjualan dan Penyewaan Alat Berat.
b. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan suku cadang Berat
sebesar 60,92% dari Penjualan suku cadang.
c. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok jasa pemeliharaan dan perbaikan
sebesar 54,08% dari Penjualan jasa pemeliharaan dan perbaikan.
3) Beban Usaha diasumsikan sebagai berikut:
a. Beban Penjualan sebesar 4,49% dari penjualan didasarkan pada rata-rata
historikal.
b. Beban Administrasi tumbuh sebesar 5,0% per tahun selama periode proyeksi.
4) Asumsi pajak badan yang digunakan selama periode proyeksi berdasarkan
Taksiran pajak penghasilan pph badan untuk perusahaan diperhitungkan sesuai
ketentuan yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2021
tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Tarif PPh Badan ditetapkan pada tarif
22% mulai tahun 2022.
5) Asumsi perputaran modal kerja adalah sebagai berikut:
a. Perputaran piutang usaha sebesar 81 hari.
b. Perputaran persediaan sebesar 164 hari.
c. Perputaran utang usaha sebesar 79 hari.
Asumsi HEXA Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
1) Penjualan:
a. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan dan Penyewaan Alat Berat tumbuh
sebesar 9,16% selama periode proyeksi.
b. Berdasarkan kinerja historikal Penjualan suku cadang tumbuh sebesar 4,28%
selama periode proyeksi.
c. Berdasarkan kinerja historikal jasa pemeliharaan dan perbaikan tumbuh
sebesar 6,14% selama periode proyeksi.
d. Penambahan KBLI menyebabkan adanya pertumbuhan pada Rental sebesar
100% di tahun buku 2023, tumbuh sebesar 45,50% di tahun buku 2024,
tumbuh sebesar 14,41% di tahun buku 2025, turun sebesar 8,78% di tahun
buku 2026 dan tetap di tahun buku 2027.
2) Beban Pokok:
a. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan dan Penyewaan Alat
Berat sebesar 88,24% dari Penjualan dan Penyewaan Alat Berat.
b. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok Penjualan suku cadang Berat
sebesar 60,92% dari Penjualan suku cadang.
c. Berdasarkan kinerja historikal Beban Pokok jasa pemeliharaan dan perbaikan
sebesar 54,08% dari Penjualan jasa pemeliharaan dan perbaikan.
d. Rata-rata Beban Pokok rental selama periode proyeksi sebesar 56,12% dari
Penjualan rental.
3) Beban Usaha diasumsikan sebagai berikut:
a. Beban Penjualan sebesar 4,49% dari penjualan didasarkan pada rata-rata
historikal.
b. Beban Administrasi tumbuh sebesar 5,0% per tahun selama periode proyeksi.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
43
Page 66
4) Asumsi pajak badan yang digunakan selama periode proyeksi berdasarkan
Taksiran pajak penghasilan pph badan untuk perusahaan diperhitungkan sesuai
ketentuan yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2021
tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Tarif PPh Badan ditetapkan pada tarif
22% mulai tahun 2022.
5) Asumsi perputaran modal kerja adalah sebagai berikut:
a. Perputaran piutang usaha sebesar 81 hari.
b. Perputaran persediaan sebesar 164 hari.
c. Perputaran utang usaha sebesar 79 hari.
9.5 Tingkat Diskonto
Tingkat Diskonto adalah suatu tingkat imbal balik untuk mengkonversikan nilai di masa
depan ke nilai sekarang yang mencerminkan nilai waktu dari uang dan ketidakpastian
atas terealisasinya pendapatan ekonomi. Dalam perhitungan tingkat diskonto TSR
menggunakan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang
Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Salinan Surat
Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang
Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
9.5.1 Cost of Equity
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital
Assets Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah biaya
bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari sekuritas
saham, dengan formula sebagai berikut :
Ke = Rf + (Rm-Rf) B + Rs
Ke = Tingkat Biaya Ekuitas
Rf = Tingkat Suku Bunga Bebas Risiko
Rm-Rf = Market Risk Premium
Beta (B) = Ukuran Risiko Sistematis
Rs = Specific Risk
Tingkat Suku Bunga Bebas Risiko (Rf) adalah pendapatan yang tersedia (per tanggal
penilaian yang dilakukan) dari investasi yang secara umum dianggap sebagai investasi
bebas resiko oleh pelaku pasar.
Dalam hal ini Rf diperoleh berdasarkan rata-rata tingkat balikan (Yield) Surat Utang
Negara (SUN) Indonesia pada tanggal 31 Maret 2023 dalam mata uang USD yang
jatuh tempo 30 tahun yaitu sebesar 5,39% yang menurut kami merupakan tingkat
suku bunga bebas risiko dalam keadaan normal dengan bersumber dari
https://www.bondsupermart.com/bsm/bond-factsheet/US455780DS23.
Market Risk Premium, adalah merupakan selisih dari Expected Return Market dengan
Risk Free Rate. Hal ini menandakan bahwa risk premium merupakan kelebihan yang
akan diterima investor apabila berinvestasi pada aset berisiko dengan risiko sebesar
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
44
Page 67
β. Untuk penilaian ini dimana Equity Risk Premium pada Januari 2023 yang diperoleh
dari Damodaran sebesar 9,23% dengan Country Default Spread sebesar 2,33%.
Beta, yaitu risiko sistematis/sensitivitas tingkat pendapatan dari sebuah Perseroan
terhadap pergerakan tingkat pendapatan pasar secara keseluruhan. Premi risiko masih
harus dikalikan dengan debt to equity dari industri yang bersangkutan. Untuk
memperoleh faktor beta yang sesuai dan akan digunakan dalam perhitungan nilai
investasi, digunakan beta pembanding di industri terkait yang diambil dari Damodaran
untuk Emerging Markets dalam industri Retail (Distributor) per 5 Januari 2023 sebesar
0,44.
Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut:
βL
βu =
1 + (1-T) x DER
dimana:
T = Tarif Pajak Penghasilan Badan
DER = Debt to equity ratio
βL = Beta levered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
portofolio pasar dengan pengaruh hutang.
βu = Beta unlevered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang
diukur secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan
terhadap pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila
dibandingkan dengan portofolio pasar tanpa pengaruh hutang.
Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini
adalah sebesar 0,44 kemudian di-relever dengan tingkat leverage yang berlaku
dipasar yaitu sebesar 0,94 dengan formula sebagai berikut:
βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
βL = 0,44 x (1 + (1-22%) x 0,94)
= 0,76
Specific Company Risk Premium. Sebagian dari risiko yang dihadapi oleh Indonesia
telah tercermin dalam perhitungan equity risk premium namun belum mencerminkan
risiko yang berkaitan dengan karakteristik spesifik yang dimiliki oleh objek penilaian.
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Biaya Ekuitas
KETERANGAN PERSENTASE
Tingkat Bunga Bebas Risiko 5,39%
Risk Premium 9,23%
Relevered Beta 0,76
Rs 0,00%
CDS 2,33%
Cost of Equity 10,07%
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
45
Page 68
9.5.2 Cost of Debt
Sesuai dengan tujuan studi kelayakan, maka tingkat diskonto yang digunakan adalah
tingkat diskonto yang merupakan rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal
dari kreditor (pinjaman) maupun yang berasal dari (investor) penyertaan. Penentuan
posisi tingkat leverage yang optimal adalah mencari titik dimana tambahan
penghematan pajak yang berasal dari tambahan hutang akan sama dengan tambahan
biaya bunga sebagai akibat dari risiko gagal bayar yang diantisipasi dari keberadaan
keseluruhan hutang.
Dalam studi kelayakan ini, untuk biaya bunga untuk hutang digunakan tingkat bunga
pinjaman rata-rata dalam mata uang asing yang berlaku yang bersumber dari
pinjaman kredit investasi (Perseroan) Bank Indonesia Maret 2023. Berdasarkan biaya
bunga tersebut maka diperoleh biaya modal dengan perhitungan sebagai berikut:
Kd = i x ((1-T))
Kd = 6,33% x (1-22,00%) = 4,94%
9.5.3 WACC
Komposisi pendanaan dihitung berdasarkan DER market sebesar 0,94. Berikut adalah
perhitungan WACC per 31 Maret 2023:
Tabel 11. WACC
Jenis Modal Biaya Modal Bobot Tertimbang
Utang 4,94% 48,56% 2,40%
Ekuitas 10,07% 51,44% 5,18%
WACC 7,58%
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan kekuatan/kelebihan serta risiko
yang dihadapi, kami berpendapat bahwa tingkat diskonto sebesar 7,58% adalah
wajar.
9.6 Analisis Kelayakan Proyek
Kelayakan dari penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih arus kas bersih
Free Cash Flow HEXA sebelum penambahan dengan Free Cash Flow setelah
penambahan. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha yang akan
dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
• Net Present Value (NPV) : USD26,786,000
• Internal Rate of Return (IRR) : 80,63%
• Profitability Index (PI) : 1,76
• Payback Period : 3 Tahun 8 Bulan
• Break Even Point : USD1,862,000
10,79% dari Penjualan
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
46
Page 69
9.7 Sensitivitas
Untuk menguji kepekaan proyek terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya,
maka dilakukan analisis sensitivitas terhadap penurunan penjualan, peningkatan beban
pokok dan peningkatan beban usaha. Adapun sensitivitas penambahan kegiatan usaha
adalah sebagai berikut :
Gambar 14. Analisa Sensitivitas Penambahan Kegiatan Usaha
ANALISIS SENSITIVITAS
30.000
In Thousand USD
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0
0,00% 3,00% 6,00% 9,00% 12,00% 15,00%
Penjualan Turun 26.786 24.211 21.636 19.061 16.485 13.910
Beban Pokok Dan Beban Usaha
26.786 25.413 24.039 22.666 21.292 19.919
Naik
Penjualan Turun Beban Pokok Dan Beban Usaha Naik
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha sangat
sensitif terhadap terhadap penurunan penjualan dan kenaikan beban pokok dan beban
usaha.
9.8 Analisis Profitabilitas Penambahan Kegiatan Usaha
Untuk mengukur kemampuan perusahan dalam menghasilkan laba, berikut Profitabilitas
yang dihasilkan :
Tabel 12. Analisis Profitabilitas
Analisa Profitabilitas 2023 2024 2025 2026 2027
Gross Profit Margin 15,28% 47,00% 52,35% 48,48% 48,56%
Operating Profit Margin 21,35% 49,63% 57,57% 55,97% 40,41%
Net Profit Margin 13,97% 34,55% 39,54% 35,72% 22,07%
Rate of Return on Investment 17,93% 18,66% 14,05% 8,02% 4,05%
Rate of Return on Equity 100,00% 79,36% 50,91% 28,44% 14,95%
Rasio profitabilitas ini menunjukkan kemampuan HEXA dalam menghasilkan laba.
Selama periode proyeksi dari tahun buku 2023 sampai dengan tahun buku 2027
menunjukan peningkatan kinerja, dimana seluruh rasio profitabilitas menunjukan nilai
positif.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
47
Page 70
9.9 Kesimpulan Aspek Keuangan
Berdasarkan kajian dan analisis keuangan dengan syarat semua asumsi-asumsi yang
telah diproyeksikan dapat terpenuhi diperoleh hasil NPV > 0 dan IRR > tingkat diskonto.
Maka, disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha dari aspek keuangan yang akan
dilakukan oleh HEXA adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
48
Page 71
10 KESIMPULAN
Berdasarkan kajian, evaluasi terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek
model manajemen, dan aspek keuangan dengan syarat seluruh aspek tersebut terpenuhi.
Maka disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh HEXA
adalah layak.
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
49
Page 72
LAMPIRAN KEUANGAN
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
50
Page 73
Lampiran 1. Proyeksi Sebelum - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SEBELUM PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI LABA (RUGI)
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
PENJUALAN 679.636 732.871 790.554 853.074 920.850
BEBAN POKOK (536.236 ) (580.019 ) (627.562 ) (679.198 ) (735.288 )
LABA (RUGI) KOTOR 143.400 152.852 162.992 173.876 185.562
BEBAN USAHA (74.472 ) (75.858 ) (80.547 ) (82.653 ) (83.395 )
LABA (RUGI) USAHA 68.928 76.993 82.445 91.223 102.167
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN (3.934 ) (3.344 ) (2.843 ) (2.416 ) (2.054 )
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 64.994 73.649 79.603 88.806 100.113
LABA (RUGI) BERSIH 50.695 57.446 62.090 69.269 78.088
JUMLAH LABA (RUGI) KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 50.695 57.446 62.090 69.269 78.088
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
51
Page 74
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SEBELUM PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 33.099 55.226 83.766 117.112 155.779
Piutang usaha 150.525 162.760 175.570 189.455 203.949
Piutang non usaha 630 630 630 630 630
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan 240.113 260.429 281.776 304.961 329.243
Uang muka 1.629 1.629 1.629 1.629 1.629
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 386 386 386 386 386
TOTAL ASET LANCAR 426.381 481.060 543.757 614.173 691.615
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan tidak lancar 6.056 6.056 6.056 6.056 6.056
Aset tetap 42.006 39.631 36.688 36.055 39.410
Aset Hak Guna 2.715 2.189 1.662 1.136 609
Aset tak berwujud 122 122 122 122 122
Estimasi tagihan pajak 257 257 257 257 257
Aset Pajak Tangguhan 3.038 3.038 3.038 3.038 3.038
Uang Jaminan 31 31 31 31 31
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 54.225 51.324 47.855 46.695 49.524
TOTAL ASET 480.607 532.384 591.613 660.867 741.139
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Pinjaman bank jangka pendek 102.787 87.369 74.264 63.124 53.656
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
52
Page 75
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SEBELUM PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Utang Usaha 115.224 124.973 135.217 146.342 157.995
Utang Non Usaha 2.760 2.760 2.760 2.760 2.760
Uang muka penjualan 7.029 7.029 7.029 7.029 7.029
Beban Akrual 11.356 11.356 11.356 11.356 11.356
Imbalan kerja jangka pendek 5.846 5.846 5.846 5.846 5.846
Utang Pajak 3.202 3.202 3.202 3.202 3.202
Liabilitas derivatif 1.746 1.746 1.746 1.746 1.746
Bagian utang sewa yg JT dlm 1 tahun 831 831 831 831 831
TOTAL LIABILITAS LANCAR 250.780 245.111 242.250 242.236 244.420
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang sewa > 1 Tahun 925 925 925 925 925
Utang Pemegang Saham 0 0 0 0 0
Imbalan kerja 12.445 12.445 12.445 12.445 12.445
TOTAL LIABILITAS TIDAK LANCAR 13.371 13.371 13.371 13.371 13.371
TOTAL LIABILITAS 264.151 258.482 255.620 255.606 257.790
EKUITAS
Modal Saham 23.233 23.233 23.233 23.233 23.233
Tambahan Modal 7.999 7.999 7.999 7.999 7.999
Saldo Laba 184.715 242.161 304.251 373.520 451.608
Penghasilan Komprehensif lainnya 509 509 509 509 509
TOTAL EKUITAS 216.456 273.902 335.992 405.261 483.349
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 480.607 532.384 591.613 660.867 741.139
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
53
Page 76
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SEBELUM PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI
LABA BERSIH 50.695 57.446 62.090 69.269 78.088
Depresiasi dan Amortisasi 14.797 12.335 12.903 10.594 6.605
Piutang usaha 5.311 (12.235) (12.811) (13.885) (14.493)
Piutang non usaha 0 0 0 0 0
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan (21.533) (20.316) (21.347) (23.184) (24.283)
Uang muka 0 0 0 0 0
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 0 0 0 0 0
Aset keuangan tidak lancar 0 0 0 0 0
Aset tak berwujud 0 0 0 0 0
Estimasi tagihan pajak 0 0 0 0 0
Aset Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Uang Jaminan 0 0 0 0 0
Utang Usaha (33.421) 9.749 10.244 11.126 11.653
Utang Non Usaha 0 0 0 0 0
Uang muka penjualan 0 0 0 0 0
Beban Akrual 0 0 0 0 0
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
54
Page 77
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SEBELUM PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Imbalan kerja jangka pendek 0 0 0 0 0
Utang Pajak 0 0 0 0 0
Liabilitas derivatif 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI 15.850 46.979 51.079 53.920 57.569
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian Aset Tetap (9.434) (9.434) (9.434) (9.434) (9.434)
Penghapusan Aset Tetap 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI (9.434) (9.434) (9.434) (9.434) (9.434)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang Bank 0 (15.418) (13.105) (11.140) (9.469)
Modal Saham 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN 0 (15.418) (13.105) (11.140) (9.469)
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS BERJALAN 6.416 22.127 28.540 33.346 38.667
SALDO KAS (AWAL) 26.682 33.099 55.226 83.766 117.112
SALDO KAS (AKHIR) 33.099 55.226 83.766 117.112 155.779
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
55
Page 78
Lampiran 2. Proyeksi Setelah - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SETELAH PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI LABA (RUGI)
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
PENJUALAN 694.161 755.457 816.338 875.363 943.140
BEBAN POKOK (548.542 ) (591.990 ) (639.848 ) (690.681 ) (746.754 )
LABA (RUGI) KOTOR 145.619 163.467 176.490 184.682 196.386
BEBAN USAHA (73.590 ) (75.265 ) (79.200 ) (80.985 ) (85.212 )
LABA (RUGI) USAHA 72.029 88.202 97.290 103.697 111.174
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN (4.434 ) (4.549 ) (4.616 ) (4.685 ) (4.755 )
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 67.595 83.653 92.673 99.013 106.419
LABA (RUGI) BERSIH 52.724 65.249 72.285 77.230 83.007
JUMLAH LABA (RUGI) KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 52.724 65.249 72.285 77.230 83.007
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
56
Page 79
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SETELAH PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 32.946 81.636 138.455 193.044 252.013
Piutang usaha 150.617 162.852 176.122 190.359 204.852
Piutang non usaha 630 630 630 630 630
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan 240.113 260.429 281.776 304.961 329.243
Uang muka 1.629 1.629 1.629 1.629 1.629
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 386 386 386 386 386
TOTAL ASET LANCAR 426.321 507.562 598.998 691.008 788.754
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan tidak lancar 6.056 6.056 6.056 6.056 6.056
Aset tetap 53.381 54.946 53.994 58.443 63.613
Aset Hak Guna 2.715 2.189 1.662 1.136 609
Aset tak berwujud 122 122 122 122 122
Estimasi tagihan pajak 257 257 257 257 257
Aset Pajak Tangguhan 3.038 3.038 3.038 3.038 3.038
Uang Jaminan 31 31 31 31 31
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 65.600 66.639 65.160 69.083 73.727
TOTAL ASET 491.921 574.202 664.159 760.091 862.480
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
Pinjaman bank jangka pendek 104.073 105.529 107.015 108.531 110.076
Utang Usaha 115.324 125.073 135.317 146.442 158.095
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
57
Page 80
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SETELAH PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Utang Non Usaha 2.760 2.760 2.760 2.760 2.760
Uang muka penjualan 7.029 7.029 7.029 7.029 7.029
Beban Akrual 11.356 11.356 11.356 11.356 11.356
Imbalan kerja jangka pendek 5.846 5.846 5.846 5.846 5.846
Utang Pajak 3.202 3.202 3.202 3.202 3.202
Liabilitas derivatif 1.746 1.746 1.746 1.746 1.746
Bagian utang sewa yg JT dlm 1 tahun 831 831 831 831 831
TOTAL LIABILITAS LANCAR 252.166 263.372 275.101 287.742 300.941
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang sewa > 1 Tahun 6.069 11.894 17.837 23.898 30.082
Utang Pemegang Saham 2.756 2.756 2.756 2.756 2.756
Imbalan kerja 12.445 12.445 12.445 12.445 12.445
TOTAL LIABILITAS TIDAK LANCAR 21.270 27.095 33.038 39.099 45.283
TOTAL LIABILITAS 273.436 290.467 308.139 326.842 346.224
EKUITAS
Modal Saham 23.233 23.233 23.233 23.233 23.233
Tambahan Modal 7.999 7.999 7.999 7.999 7.999
Saldo Laba 186.744 251.993 324.278 401.508 484.515
Penghasilan Komprehensif lainnya 509 509 509 509 509
TOTAL EKUITAS 218.485 283.734 356.020 433.249 516.257
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 491.921 574.202 664.159 760.091 862.480
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
58
Page 81
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SETELAH PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI
LABA BERSIH 52.724 65.249 72.285 77.230 83.007
Depresiasi dan Amortisasi 12.608 10.227 10.041 7.544 7.040
Piutang usaha 5.219 (12.235) (13.270) (14.236) (14.493)
Piutang non usaha 0 0 0 0 0
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan (21.533) (20.316) (21.347) (23.184) (24.283)
Uang muka 0 0 0 0 0
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 0 0 0 0 0
Aset keuangan tidak lancar 0 0 0 0 0
Aset tak berwujud 0 0 0 0 0
Estimasi tagihan pajak 0 0 0 0 0
Aset Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Uang Jaminan 0 0 0 0 0
Utang Usaha (33.321) 9.749 10.244 11.126 11.653
Utang Non Usaha 0 0 0 0 0
Uang muka penjualan 0 0 0 0 0
Beban Akrual 0 0 0 0 0
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
59
Page 82
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SETELAH PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Imbalan kerja jangka pendek 0 0 0 0 0
Utang Pajak 0 0 0 0 0
Liabilitas derivatif 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI 15.697 52.675 57.953 58.479 62.924
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian Aset Tetap (18.619) (19.836) (20.045) (20.258) (20.476)
Penghapusan Aset Tetap 0 8.570 11.484 8.792 8.792
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI (18.619) (11.266) (8.562) (11.467) (11.684)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang Bank 9.186 7.282 7.428 7.577 7.729
Modal Saham 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN 9.186 7.282 7.428 7.577 7.729
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS BERJALAN 6.263 48.690 56.819 54.589 58.969
SALDO KAS (AWAL) 26.682 32.946 81.636 138.455 193.044
SALDO KAS (AKHIR) 32.946 81.636 138.455 193.044 252.013
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
60
Page 83
Lampiran 3. Proyeksi Inkremental - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI LABA (RUGI)
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
PENJUALAN 14.525 22.587 25.784 22.290 22.290
BEBAN POKOK (12.306 ) (11.971 ) (12.286 ) (11.484 ) (11.465 )
LABA (RUGI) KOTOR 2.219 10.616 13.498 10.806 10.824
BEBAN USAHA 882 593 1.346 1.669 (1.817 )
LABA (RUGI) USAHA 3.101 11.209 14.844 12.475 9.007
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN (499 ) (1.205 ) (1.774 ) (2.268 ) (2.701 )
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 2.601 10.004 13.071 10.206 6.307
LABA (RUGI) BERSIH 2.029 7.803 10.195 7.961 4.919
JUMLAH LABA (RUGI) KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 2.029 7.803 10.195 7.961 4.919
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
61
Page 84
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank (153 ) 26.410 54.689 75.932 96.234
Piutang usaha 93 93 552 904 904
Piutang non usaha 0 0 0 0 0
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan 0 0 0 0 0
Uang muka 0 0 0 0 0
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 0 0 0 0 0
TOTAL ASET LANCAR (60 ) 26.502 55.241 76.836 97.138
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan tidak lancar 0 0 0 0 0
Aset tetap 11.375 15.315 17.305 22.388 24.203
Aset Hak Guna 0 0 0 0 0
Aset tak berwujud 0 0 0 0 0
Estimasi tagihan pajak 0 0 0 0 0
Aset Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Uang Jaminan 0 0 0 0 0
TOTAL ASET TIDAK LANCAR 11.375 15.315 17.305 22.388 24.203
TOTAL ASET 11.315 41.818 72.546 99.224 121.341
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS LANCAR
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
62
Page 85
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI POSISI KEUANGAN
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Pinjaman bank jangka pendek 1.286 18.160 32.751 45.406 56.421
Utang Usaha 100 100 100 100 100
Utang Non Usaha 0 0 0 0 0
Uang muka penjualan 0 0 0 0 0
Beban Akrual 0 0 0 0 0
Imbalan kerja jangka pendek 0 0 0 0 0
Utang Pajak 0 0 0 0 0
Liabilitas derivatif 0 0 0 0 0
Bagian utang sewa yg JT dlm 1 tahun 0 0 0 0 0
TOTAL LIABILITAS LANCAR 1.386 18.260 32.851 45.506 56.521
LIABILITAS TIDAK LANCAR
Utang sewa > 1 Tahun 5.144 10.969 16.911 22.973 29.157
Utang Pemegang Saham 2.756 2.756 2.756 2.756 2.756
Imbalan kerja 0 0 0 0 0
TOTAL LIABILITAS TIDAK LANCAR 7.900 13.725 19.667 25.729 31.913
TOTAL LIABILITAS 9.286 31.985 52.518 71.235 88.433
EKUITAS
Modal Saham 0 0 0 0 0
Tambahan Modal 0 0 0 0 0
Saldo Laba 2.029 9.832 20.028 27.988 32.908
Penghasilan Komprehensif lainnya 0 0 0 0 0
TOTAL EKUITAS 2.029 9.832 20.028 27.988 32.908
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 11.315 41.818 72.546 99.224 121.341
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
63
Page 86
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI
LABA BERSIH 2.029 7.803 10.195 7.961 4.919
Depresiasi dan Amortisasi (2.190 ) (2.108 ) (2.862 ) (3.050 ) 435
Piutang usaha (93 ) 0 (459 ) (352 ) 0
Piutang non usaha 0 0 0 0 0
Piutang Derivatif 0 0 0 0 0
Persediaan 0 0 0 0 0
Uang muka 0 0 0 0 0
Pajak dibayar di muka 0 0 0 0 0
Beban dibayar di muka 0 0 0 0 0
Aset keuangan tidak lancar 0 0 0 0 0
Aset tak berwujud 0 0 0 0 0
Estimasi tagihan pajak 0 0 0 0 0
Aset Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Uang Jaminan 0 0 0 0 0
Utang Usaha 100 0 0 0 0
Utang Non Usaha 0 0 0 0 0
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
64
Page 87
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PROYEKSI CASH FLOW
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
Uang muka penjualan 0 0 0 0 0
Beban Akrual 0 0 0 0 0
Imbalan kerja jangka pendek 0 0 0 0 0
Utang Pajak 0 0 0 0 0
Liabilitas derivatif 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI (153) 5.695 6.874 4.559 5.354
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian Aset Tetap (9.186 ) (10.402 ) (10.611 ) (10.825 ) (11.042 )
Penghapusan Aset Tetap 0 8.570 11.484 8.792 8.792
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI (9.186) (1.832) 872 (2.033) (2.250)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Utang Bank 9.186 22.700 20.533 18.717 17.198
Modal Saham 0 0 0 0 0
TOTAL ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN 9.186 22.700 20.533 18.717 17.198
KENAIKAN (PENURUNAN) KAS BERJALAN (153) 26.563 28.279 21.243 20.302
SALDO KAS (AWAL) 0 (153) 26.410 54.689 75.932
SALDO KAS (AKHIR) (153) 26.410 54.689 75.932 96.234
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
65
Page 88
Lampiran 4. Tingkat Diskonto / WACC
TINGKAT DISKONTO
Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Risk free rate* Rf 5,39%
Unlevered Beta β 0,44
Relevered Beta β 0,76
Market Risk Premium Rm-Rf 9,23%
Spesific Risk 0,00%
CDS 2,33%
Cost of Equity Re 10,07%
Cost of Debt Rd 6,33%
Tax Rate t 22,00%
Cost of Debt (after-tax) Rd (1-t) 4,94%
Leverage D/E 0,94
Weighted Average Cost of Capital WACC 7,58%
* Risk Free Rate is based on the Indonesian Government more than 30 years Bond
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
66
Page 89
Lampiran 5. Analisis Kelayakan - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
STUDI KELAYAKAN PENAMBAHAN KEGIATAN
USAHA
ANALISIS PROYEK
In Thousand USD
31/03/2024 31/03/2025 31/03/2026 31/03/2027 31/03/2028
URAIAN FY 2023 FY 2024 FY 2025 FY 2026 FY 2027
1 2 3 4 5
ANALISA PROYEK
EAT 2.029 7.803 10.195 7.961 4.919
Depresiasi (2.190) (2.108) (2.862) (3.050) 435
Interest (1-t) 389 940 1.383 1.769 2.107
Capital Expenditures (9.186) (10.402) (10.611) (10.825) (11.042)
Aset Disposal 0 8.570 11.484 8.792 8.792
Perubahan Modal Kerja 7 0 (459) (352) 0
Salvage Value 0 0 0 0 24.203
TOTAL (8.949) 4.803 9.130 4.296 29.414
Discount Factor 7,58% 0,93 0,86 0,80 0,75 0,69
Present Value (8.319) 4.150 7.333 3.207 20.415
Net Present Value 26.786
Internal Rate of Return 80,63%
Profitability Index 1,76
ROI 12,54%
PAYBACK PERIOD ANALYSIS 3,59 Tahun
3 Tahun dan 8 Bulan
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
67
Page 90
Lampiran 6. Sensitivitas - Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru
PT. HEXINDO ADIPERKASA TBK
SENSITIVITAS
PERUBAHAN KONDISI
URAIAN NORMAL
3,0% 6,0% 9,0% 12,0% 15,0%
PENJUALAN TURUN 3,0% 6,0% 9,0% 12,0% 15,0%
Net Present Value (NPV) 26.786 24.211 21.636 19.061 16.485 13.910
Internal Rate of Return (IRR) 80,63% 70,80% 61,81% 53,54% 45,90% 38,81%
Return On Investment (ROI) 12,54% 10,99% 9,44% 7,89% 6,33% 4,78%
Profitability Index (PI) 1,76 1,56 1,37 1,17 0,98 0,78
BEBAN POKOK DAN BEBAN USAHA NAIK 3,0% 6,0% 9,0% 12,0% 15,0%
Net Present Value (NPV) 26.786 25.413 24.039 22.666 21.292 19.919
Internal Rate of Return (IRR) 80,63% 74,78% 69,32% 64,18% 59,35% 54,79%
Return On Investment (ROI) 12,54% 11,56% 10,58% 9,59% 8,61% 7,62%
Profitability Index (PI) 1,76 1,66 1,55 1,45 1,34 1,24
KJPP Tri, Santi dan Rekan
Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Hexindo Adiperkasa Tbk (“HEXA”)
68
Names mentioned 0 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
The name pass has not read this document yet.
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
5706 ms
12 Sep 2026 22:05
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}