Back to announcement
20250923_TIRT_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31951747_lamp1.pdf
Asset transaction Needs review TIRTSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 101
Page 1
File No. 008.1/IDR/DO.2/KFS/IX/2025
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PERUBAHAN KEGIATAN USAHA
ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI UNTUK BARANG UMUM (KBLI 50131)
DAN ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI UNTUK BARANG KHUSUS (KBLI 50133)
SERTA AKTIVITAS PENUNJANG PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN LAINNYA
(KBLI 09900)
PT TIRTA MAHAKAM RESOURCES TBK
(REVISI 1)
KJPP ISKANDAR DAN REKAN
JAKARTA
2025
Page 2
SURAT LAPORAN RINGKAS YANG BERISI KESIMPULAN DAN PENDAPAT
File No. 008.1/IDR/DO.2/KFS/IX/2025 Jakarta, 17 September 2025
Kepada Yth,
PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Gapura Prima Office Tower (The Belleza) Lt. 20
Jalan Letjen Soepeno No. 34
Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan
Dengan Hormat,
Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Angkutan Laut Dalam Negeri
Untuk Barang Umum (Kbli 50131) dan Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang
Khusus (KBLI 50133) serta Aktivitas Penunjang Pertambangan Dan Penggalian Lainnya
(KBLI 09900) PT Tirta Mahakam Resources Tbk (Revisi 1)
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan (KJPP IDR atau Penilai atau Kami) telah memperoleh izin
usaha dari Menteri Keuangan berdasarkan surat keputusannya No. 772/KM.1/2013 tanggal 12
November 2013 dan telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Surat No. S-
774/PM.25/2013 tanggal 27 November 2013 dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar
Modal yang telah dilakukan pendaftaran ulang dengan No. STTD.PPB-43/PJ-1/PM.02/2023 tanggal 6
Juli 2023 sebagai Penilai Properti/Aset dan Bisnis di Pasar Modal.
Laporan studi kelayakan ini merupakan hasil revisi laporan studi kelayakan No.
007.1/IDR/DO.2/KFS/VIII/2025 tanggal 15 Agustus 2025 dan oleh karenanya laporan studi kelayakan
tersebut dibatalkan. Alasan diterbitkannya laporan study kelayakan revisi sehubungan dengan adanya
perubahan dan/atau tambahan data/informasi berdasarkan surat OJK No. S-446/PM.023/2025
tanggal 15 September 2025, Hal. Perubahan dan/atau Tambahan Informasi atas Rencana Perubahan
Kegiatan Usaha serta Transaksi Material dan Transaksi Afiliasi PT Tirta Mahakam Resources Tbk.
Informasi tambahan dalam laporan studi kelayakan revisi diantaranya pengungkapan nomor dan
tanggal Laporan Auditor Independen (LAI), pengungkapan asumsi dalam penyusunan proyeksi
keuangan dan análisis singkat akun-akun dan rasio keuangan. Laporan Studi Kelayakan telah direvisi
sebagaimana yang disajikan dalam laporan ini.
Latar Belakang
PT Tirta Mahakam Resources Tbk (selanjutnya disebut TIRT atau Perseroan atau Perusahaan)
merupakan perusahaan terbuka yang bergerak di bidang industri dan penjualan kayu lapis dan produk-
produk kayu sejenis. Namun sejak terjadinya pandemi Covid-19 pada tahun 2020 Perseroan telah
menghentikan aktivitas produksi dan penjualan kayu lapis. Perseroan menilai bahwa industri kayu
lapis sudah tidak lagi memberikan prospek usaha yang menjanjikan. Oleh sebab itu, Perseroan
berencana melakukan transformasi bisnis dari industri kayu lapis ke industri angkutan laut dan
Perseroan meyakini bahwa bisnis angkutan laut memiliki potensi yang lebih menjanjikan dan dapat
memberikan nilai tambah jangka panjang bagi Perseroan.
Perseroan berencana untuk melakukan perubahan kegiatan usaha dengan mengganti seluruh
kegiatan usaha yang sudah dijalankan yaitu di bidang industri dan penjualan kayu lapis dan produk-
produk kayu sejenis menjadi kegiatan usaha yang baru yaitu kegiatan usaha di bidang industri
Page 3
angkutan laut dalam negeri untuk barang umum dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya yang selanjutnya disebut Kegiatan Usaha. Sebagai langkah investasi awal dalam menjalankan kegiatan usaha yang baru Perseroan akan menjalankan Kegiatan Usaha dengan melakukan investasi modal tetap berupa pembelian terhadap 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan yaitu PT Lima Srikandi Jaya (LSJ), PT Mitra Kemakmuran Line (MKL) dan PT Antar Sarana Rekasa (ASR). Sumber pendanaan Perseroan untuk pembelian tersebut berasal dari fasilitas pinjaman pemegang saham yang telah dimiliki TIRT. Perseroan akan mengoperasikan armada kapal untuk menyediakan jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan tandan buah segar (TBS) melalui jalur laut dalam negeri, baik kepada pihak afiliasi maupun pihak ketiga. Dengan perubahan Kegiatan Usaha ini, diharapkan dapat memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan serta menjamin kelangsungan usaha Perseroan di masa mendatang. Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 17/POJK.04/2020, tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, diperlukan studi kelayakan usaha dari Penilai Independen. Sehubungan rencana tersebut, Perseroan telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan selaku Penilai Independen untuk melakukan studi kelayakan atas Kegiatan Usaha tersebut. Berdasarkan surat proposal penawaran/perjanjian kerja antara KJPP IDR dan TIRT No. 103.6/IDR/DO.2/Pr-FS/VI/2025 tanggal 25 Juni 2025, IDR telah melaksanakan Studi Kelayakan sesuai dengan perihal surat tersebut diatas seperti yang disajikan dalam laporan ini. Objek Penilaian Objek penilaian adalah kegiatan usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131) dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133) serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900) (selanjutnya disebut Kegiatan Usaha). Maksud dan Tujuan Maksud penilaian adalah untuk memberikan pendapat atas kelayakan suatu usaha atau proyek dengan tujuan penilaian untuk menyatakan layak atau tidak layak atas usaha atau proyek terkait dengan perubahan kegiatan usaha Perusahaan. Laporan ini tidak dapat digunakan untuk tujuan lainnya selain tersebut diatas. Tanggal Penilaian (Cut Off Date) Tanggal penilaian 30 Juni 2025 ditetapkan berdasarkan laporan keuangan interim Perseroan untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025, yang telah diaudit oleh KAP S. Mannan, Ardiansyah & Rekan dengan opini wajar tanpa modifikasian dengan paragraf ketidakpastian material tentang kelangsungan usaha dalam laporannya pada tanggal 8 Agustus 2025 dengan Laporan Auditor Independen No. 00076/2.0890/AU.1/04/1495-3/1/VIII/2025 yang ditandatangani oleh Akuntan Publik Yazid M. Aleq Bawafi yang terdaftar di OJK. Pendekatan dan Metodologi Pendapat yang diberikan Penilai berupa penilaian kelayakan usaha adalah untuk menyatakan kelayakan suatu usaha atau proyek. Pendapat mengenai kelayakan suatu usaha atau proyek diberikan setelah melakukan analisis atas: a. Kelayakan pasar Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk ii
Page 4
b. Kelayakan teknis
c. Kelayakan pola bisnis
d. Kelayakan model manajemen
e. Kelayakan keuangan
Kesimpulan
a. Analisis Kelayakan Pasar
• Kondisi Pasar
Produksi batu bara Indonesia mencapai 357,60 juta ton pada semester pertama (S1) 2025,
setara dengan 48,3% dari target pemerintah sepanjang tahun sebesar 739,67 juta ton,
menurut data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (DJMB) Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM). Angka tersebut diungkapkan oleh DJMB, dalam acara
Roadshow Edisi Kalimantan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pertambangan Batubara
Indonesia (APBI-ICMA) di Samarinda, Rabu (9 Juli).
Menanggapi kinerja tersebut, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengatakan
angka produksi turun sekitar 11% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Meskipun
produksi telah mencapai hampir 50% dari target tahun ini, kami menghadapi tantangan yang
signifikan, terutama dengan menurunnya permintaan akibat perubahan kebijakan domestik
di pasar-pasar utama seperti Tiongkok dan India.
Kalimantan terus memainkan peran dominan di sektor ini, menyumbang 688 juta ton atau
sekitar 82% dari total produksi batu bara Indonesia pada tahun 2024. "Batubara menyumbang
40,56% terhadap bauran energi nasional tahun lalu. ESDM menambahkan bahwa sekitar 50%
- 60% pembangkit listrik Indonesia masih bergantung pada Batubara 70% di antaranya
bersumber dari Kalimantan.
Ia menekankan pentingnya strategis pertambangan batubara dalam memenuhi permintaan
listrik global, dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia dari sektor mineral
dan batu bara mencapai Rp140,46 triliun pada tahun 2024 123,75% dari target tahunan, dan
setara dengan 52% dari total PNBP Kementerian ESDM.
APBI menekankan bahwa batubara bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen
pembangunan nasional yang membuka akses, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan
membentuk peradaban modern.
Indonesia tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar terhadap penambahan kapasitas
pembangkit batubara baru secara global pada tahun 2024, dengan penambahan sebesar 1,9
GW, menjadikannya urutan ketiga setelah China dan India. Menariknya, sekitar 80% dari
kapasitas baru tersebut berupa pembangkit Listrik tenaga uap (PLTU), yaitu pembangkit yang
dibangun khusus untuk melayani kebutuhan energi industri—terutama smelter logam seperti
nikel, kobalt, dan aluminium yang mendukung era kendaraan listrik (EV) yang sedang
berkembang pesat.
Menurut laporan Global Energy Monitor (GEM) yang dikutip Mongabay, kapasitas pembangkit
listrik meningkat tajam dari 5,5 GW pada 2019 menjadi 16,6 GW pada 2024—sebuah lonjakan
besar yang mencerminkan ekspansi industri hilir yang masif. Saat ini, terdapat 130 unit
pembangkit kapasitas minimal 30 MW, dengan 21 unit lainnya sedang dikonstruksi atau dalam
tahap perencanaan.
Indonesian National Shipowners Association (INSA) menilai kebijakan hilirisasi Presiden Joko
Widodo (Jokowi) yang melarang ekspor bahan mentah hasil tambang seperti nikel membawa
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk iii
Page 5
berkah bagi industri pelayaran di tanah air. Dengan adanya hilirisasi akan mengembangkan
banyak angkutan laut baru yaitu dari daerah ke daerah, dimana kapal-kapal domestik akan
mendominasi pelayanan logistik distribusi mineral tambang antar pulau di dalam negeri.
Karena sebagian besar smelter berlokasi di kawasan pesisir atau pulau-pulau dengan
infrastruktur terbatas, distribusi batubara untuk PLTU sangat bergantung pada angkutan laut,
terutama kapal tunda (tugboat) dan tongkang (barge).
Saat ini 20 (dua puluh) unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) masih
dioperasikan oleh LSJ, ASR dan MKL untuk mengangkut produk bauksit, batubara dan tandan
buah segar (TBS), untuk menjaga kesinambungan (sustainability) TIRT agar dapat
mempertahankan kelangsungan usahanya ke depan yaitu dengan melakukan diversifikasi
komoditas seperti pengangkutan nikel, pasir, pupuk, semen, atau logistik barang proyek.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target kewajiban pasokan
batubara untuk dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) pada tahun 2025 akan
lebih besar dibandingkan tahun 2024. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),
mengatakan target DMO tahun ini mencapai 239,7 juta ton.
Dalam perhitungan, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan target DMO sepanjang tahun
2024 yang berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) adalah 181,3 juta ton.
Sedangkan dalam realisasi mencapai 209,93 juta ton atau persentase DMO sepanjang 2024
adalah mencapai 115,79%. Adapun, jika dibandingkan arti target DMO tahun 2025 ini
meningkat 24,36% dibandingkan target DMO tahun lalu.
ESDM mengatakan peningkatan target ini berdasarkan perhitungan yang dari hasil rapat
multilateral dengan pelaku industri batubara. Target dari prognosa hasil, ESDM melakukan
rapat multilateral dengan pelaku industri yang menggunakan batu bara. Pertimbangan lainnya
adalah melihat dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2025.
Adapun, sebagian dari DMO tahun ini ungkap dia masih akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sebelumnya, Asosiasi Pertambangan
Batubara Indonesia (APBI) memprediksi kebutuhan Indonesia terhadap batu bara tahun 2025
akan terus meningkat, terutama untuk menjaga ketahanan energi.
Dengan penambahan volume DMO tahun ini menurutnya pemerintah juga akan menargetkan
adanya kenaikan produksi dan juga kenaikan konsumsi batubara domestik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memperkirakan permintaan listrik
Indonesia diperkirakan akan tumbuh dengan dimulainya proyek pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) baru sebesar 35.000 MW. Pada tahun 2024, konsumsi listrik domestik ditargetkan
mencapai 1.408 kWh/kapita, dari sekitar 1.285 kWh/kapita pada tahun 2023 dan 1.173
kWh/kapita pada tahun 2022. Pada bulan Desember 2023, ESDM melelang empat blok
tambang batu bara baru -- dua di Kalimantan dan dua di Sumatra.
Analisis dan prakiraan International Energy Agency's (IEA) untuk tahun 2024-2026
memperkirakan pembangkit listrik tenaga batubara Indonesia akan meningkat sekitar 5%
selama periode ini dan mempertahankan pangsa yang stabil dalam bauran pembangkit listrik.
Secara keseluruhan, IEA memproyeksikan permintaan domestik Indonesia mencapai 284 juta
ton pada tahun 2026, naik dari kurang dari 200 juta ton pada tahun 2024. Oleh karena itu yang
menjadi target pasar industri jasa pengangkutan yaitu memasok kepada perusahaan-
perusahaan pembangkit listrik di wilayah Indonesia.
• Pesaing Usaha
Pihak-pihak yang menjadi pesaing adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang sejenis.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk iv
Page 6
Pada kegiatan usaha jasa pengangkutan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) merupakan perusahaan jasa logistik dan transportasi laut,
dimana TCPI memiliki beragam jenis kapal untuk memenuhi kebutuhan logistik dan
transportasi laut seperti mother vessel, tugboat dan barge, pusher tugs dan pusher barges,
floating crane dan assist tug.
2. PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) adalah perusahaan jasa logistik dan
transportasi laut, dimana PSAT memiliki beragam jenis kapal untuk memenuhi kebutuhan
logistik dan transportasi laut seperti, tugboat dan barge dan bulk carrier.
3. PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) merupakan perusahaan jasa logistik yang
mengoperasikan tugboat, barge dan floating crane.
4. PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) adalah perusahaan layanan logistik laut yang
mengoperasikan fasilitas muatan apung, tugboat, barge, bulk carrier, dan tongkang derek
apung.
Prospek industri ini ke depan akan ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha untuk
melakukan konsolidasi, penerapan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan transparansi
operasional, serta adaptasi terhadap tuntutan pasar global terkait keberlanjutan dan
pengurangan emisi. Diversifikasi muatan, termasuk pengangkutan komoditas curah lainnya
seperti nikel, menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap batubara
di tengah dinamika transisi energi global. Dalam lanskap persaingan yang demikian,
keberhasilan akan sangat ditentukan oleh kekuatan modal, efisiensi biaya, daya saing armada,
serta ketangguhan strategi bisnis dalam menghadapi volatilitas pasar.
• Strategi Pemasaran
Perseroan membeli armada kapal dalam kondisi beroperasi untuk menjalankan kontrak
antara pemilik kapal dengan penyewa. Setelah Perseroan membeli armada kapal milik LSJ,
MKL dan ASR, Perseroan juga akan memperoleh pengalihan kontrak yang sedang berjalan dari
LSJ dan MKL sebagai berikut:
a. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 032/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan LSJ.
b. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 033/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan MKL.
c. Surat perjanjian angkutan laut No. 035/MKL-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024
antara MKL dengan MBL.
d. Surat perjanjian angkutan laut No. 021/LSJ-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024
antara LSJ dengan MBL.
e. Perjanjian sewa menyewa kapal “Time Charter” No. 001A/LSJ-GHL/I/2025 445-
ANGKT/GHLL-TRNE/JKT/02/2025 tanggal 3 Januari 2025 antara LSJ dengan GHL.
Strategi pemasaran Perseroan dalam menjalankan kegiatan usahanya dengan
mengoptimalkan kontrak eksisting dan melakukan ekspansi pasar baru.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Perseroan berkomitmen untuk membangun dan
mengembangkan bisnis pelayaran yang berkelanjutan. Tidak hanya terbatas pada
pengoperasian 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge)
pada tahap awal, Perseroan akan secara bertahap melakukan penambahan aset kapal sesuai
dengan kebutuhan operasional dan peluang pertumbuhan pasar. Langkah ini akan didukung
dengan peningkatan kapasitas pelayanan, diversifikasi rute dan jenis kargo.
Berdasarkan analisis kelayakan pasar yang mencakup kondisi pasar, pesaing usaha dan strategi
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk v
Page 7
pemasaran, dapat disimpulkan bahwa aspek pasar Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
b. Analisis Kelayakan Teknis
• Kapasitas
Rencana pengembangan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan yaitu TIRT berencana akan
membeli 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) yang
akan dioperasikan secara berpasangan menjadi 10 set tugboat (TB) dan tongkang (TK) dari
pihak terafiliasi TIRT dengan sumber pendanaan dari fasilitas pinjaman yang telah dimiliki TIRT
dari HJR sebagai pemegang saham TIRT. Dimana kapasitas muatan kapal bervariasi bergantung
pada dimensi kapal yang akan digunakan, berikut informasi kapasitas muatan setiap kapal:
Jenis Penyewaan Kapasitas
No. Uraian
Kapal Muatan (MT)
1 TB Bawal Mandiri I & TK Bawal Sejahtera I Time Charter 144
2 TB Rita 106 & TK Mariam 12 Freight Charter 3.500
3 TB Artha Sarana 58 & TK Goldwood IV Freight Charter 2.500
4 TB RYL 6 & TK Srikandi Jaya II Freight Charter 3.500
5 TB RYL 15 & TK Mariam 18 Freight Charter 3.300
6 TB Mitra Jaya VII & TK Karya 8 Freight Charter 4.500
7 TB RYL 9 & TK KC 240555 Freight Charter 4.500
8 TB Rita 102 & TK Rita 203 Freight Charter 4.700
9 TB Rita 109 & TK Mariam 6 Freight Charter 3.200
10 TB RYL 7 & TK Rita 204 Freight Charter 4.700
• Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Dalam menjalankan Kegiatan Usaha, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang
berpengalaman dibidang jasa pengangkutan komoditas tambang. Perseroan membutuhkan
personil sebanyak 11 orang, dimana 2 personil dipenuhi dari personil eksisting Perseroan dan
9 personil dipenuhi dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan.
• Proses Produksi
Proses penyediaan produksi/jasa pengangkutan komoditas pertambangan adalah sebagai
berikut:
1. Kontrak Pengangkutan
• TIRT dan Charterer/Penyewa menyepakati kontrak jasa pengangkutan laut.
• Kontrak sekurangnya memuat informasi tentang :
- Para pihak.
- Lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan.
- Durasi kontrak.
- Kegiatan pemuatan & pembongkaran.
- Metode pembayaran & tarif yang disepakati.
- Hak dan Kewajiban TIRT dan Charterer/Penyewa.
- Kepatuhan terhadap Standar & Regulasi.
• Setelah penandatanganan kontrak antara TIRT dan Charterer/Penyewa, TIRT
mempersiapkan kegiatan transhipment ke jetty pelabuhan atau ke kapal besar/Mother
Vessel (MV).
2. Persiapan Armada
• TIRT & Charterer/Penyewa melakukan Safety Check armada sebelum dilakukan
kegiatan transhipment.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk vi
Page 8
Pengecekan armada meliputi:
- Pengecekan Stability Booklet.
- Plat deck Tongkang.
- Sideboard Tongkang.
- Rampdoor Tongkang (jika ada).
- Drainase & pintu tongkang.
- Angka Draught pada tongkang.
- Jumlah fender pada tongkang.
- Jangkar dan peralatannya Tongkang.
- Tali Tongkang.
- Dokumen Tongkang.
- Kondisi permesinan Tugboat.
- Alat-alat Navigasi.
- Alat-alat keselamatan.
- Draught Tugboat.
- Tali & peralatan towing Tugboat.
- Jangkar dan peralatannya Tugboat.
- Dokumen Tugboat.
- Dokumen & kondisi awak kapal (crew).
3. Persiapan Menuju Pelabuhan/Pelabuhan Muat
• Pertukaran Informasi
- Nahkoda harus melakukan pertukaran informasi dengan Pelabuhan yang mencakup
hal-hal seperti di bawah ini, sebelum kapal tiba di pelabuhan terminal/Pelabuhan
muat:
- Informasi dari Nahkoda kepada Pelabuhan meliputi:
a. Kesiapan kapal.
b. Draught dan trim kapal tiba.
c. Perkiraan maksimum draught/draft dan trim selama dan selesai penanganan
muatan serta perkiraan waktu berangkat.
d. Bantuan Tugboat bila dibutuhkan.
e. Kebutuhan pencucian ruang muat Tongkang.
f. Pekerjaan perbaikan hingga dapat menyebabkan keterlambatan terhadap
pengoperasian penanganan muatan.
g. Menyusulkan pengoperasian penanganan muatan atau merubah perencanaan
penanganan muatan.
h. Kondisi muatan sebelumnya - bila sebagian muatan masih ada – pelaporan dalam
hal jenis muatan, jumlah dan penempatannya.
i. Jumlah dan jenis muatan.
j. Menunggu ijin masuk dari pelabuhan muat / bongkar.
- Informasi dari Pelabuhan kepada Nahkoda meliputi :
a. Prediksi pasang surut perairan pelabuhan dan density air laut sekitar dermaga
selama air surut.
b. Menggunakan Tugboat atau Mooring boat, apabila dibutuhkan bantuan untuk
olah gerak.
c. Menggunakan tali Tugboat.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk vii
Page 9
d. Kebutuhan tali tambat dan lain-lain untuk kegiatan sandar.
e. Sisi kapal yang akan sandar di dermaga.
f. Kecepatan dan sudut yang diizinkan pada waktu mendekati dermaga.
g. Perlengkapan isyarat visual dan bunyi selama kegiatan sandar di dermaga.
h. Untuk sandar di dermaga, persiapan penyediaan alat penghubung dari
pelabuhan.
i. Rencana jumlah muatan dan karakteristik muatan.
j. Kecepatan maksimum pemuatan di darat.
k. Metode komunikasi antara kapal dan darat serta berkomunikasi dalam keadaan
darurat.
4. A. Persiapan Kapal Tiba Di Pelabuhan
- Nahkoda harus memiliki ijin berlayar menuju pelabuhan tujuan.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi dan mengantisipasi kondisi umum dari
pelabuhan, sebelum kapal tiba.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan rencana
penyandaran termasuk hal-hal yang disebutkan di bawah ini, yang dapat ditanyakan
kepada Pandu.
- Untuk sandar di dermaga, kebutuhan minimum tali tambat dan perlengkapan lain
dari kapal, gambar keseluruhan letak bolder untuk penanganan muatan.
- Sebelum memasuki Pelabuhan, peralatan untuk keperluan penyandaran
dipersiapkan dan bila ditemukan ketidaksesuaian pada peralatan sehingga dapat
mempengaruhi keamanan kerja selama kegiatan penyandaran, segera dilaporkan
kepada Administrator Pelabuhan dan petugas yang berwenang. Jangkar dalam
keadaan stand by bila diperlukan, sejauh tidak ada larangan berlabuh jangkar.
Jumlah minimum Awak kapal yang dibutuhkan harus berada pada pos masing-
masing.
B. Prosedur Pemuatan & Pembongkaran
• Persiapan Kapal Tiba Di MV
- Nahkoda harus memiliki izin berlayar menuju MV.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi dan mengantisipasi kondisi umum dari
MV, sebelum kapal tiba.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan rencana
penyandaran termasuk hal-hal yang disebutkan di bawah ini, yang dapat
ditanyakan kepada Pandu.
- Untuk sandar di MV, kebutuhan minimum tali tambat dan perlengkapan lain
dari kapal, gambar keseluruhan letak bolder untuk penanganan muatan.
- Sebelum bersandar di MV, peralatan untuk keperluan penyandaran dipersiapkan
dan bila ditemukan ketidaksesuaian pada peralatan hingga dapat mempengaruhi
keamanan kerja selama kegiatan penyandaran, segera dilaporkan kepada Loading
Master dan awak kapal (crew) MV. Jangkar dalam keadaan stand by bila
diperlukan, sejauh tidak ada larangan berlabuh jangkar. Jumlah minimum Awak
kapal yang dibutuhkan harus berada pada pos masing-masing.
5. Operasi Pemuatan
- Nahkoda memberikan informasi kedatangan.
- Nahkoda memastikan kondisi Pelabuhan atau dermaga pelabuhan muat dan kondisi
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk viii
Page 10
kapal sebelum sandar.
- Setelah sandar harus memastikan bahwa pengikatan (mooring) kapal telah terikat
dengan benar.
- Sebelum kegiatan muat, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Initial Draught.
- Kapal menerima proses pemuatan dan diawasi oleh awak kapal (crew).
- Nahkoda selalu mempertimbangkan konsekuensi persyaratan-persyaratan komersil
dan keamanan. Apabila ada ketidaksesuaian diantara keduanya, maka persyaratan
keamanan lebih diutamakan dibandingkan dengan persyaratan komersil.
- Setelah kegiatan muat, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Final Draught.
- Setalah pemuatan, Nahkoda menandatangani hasil Draught Survey sebagai acuan
jumlah muatan yang dibawa oleh kapal.
- Kapal menerima dokumen muatan (Manifest, Bill of Lading, Draught Survey, Clearance
Pelabuhan tujuan atau Clearance MV).
- Sebelum kapal pergi meninggalkan Pelabuhan, Nahkoda mengecek kondisi muatan,
kondisi kapal & kesiapan berlayar.
- Sebelum kapal mengolong jembatan di alur sungai, pihak Nahkoda berkoordinasi
dengan tim darat serta agen terkait pengadaan kapal tunda dan pandu yang on board
untuk memastikan kapal dapat mengolong jembatan dengan baik.
6. Operasi Pembongkaran
- Nahkoda memberikan informasi kedatangan.
- Nahkoda memastikan kondisi Pelabuhan, sisi Mother Vessel, keadaan cuaca/ombak
dan kapal sebelum sandar.
- Setelah sandar harus memastikan bahwa pengikatan (mooring) kapal telah terikat
dengan benar.
- Sebelum kegiatan bongkar, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Initial Draught.
- Kapal menerima proses pembongkaran dan diawasi oleh awak kapal (crew).
- Nahkoda selalu mempertimbangkan konsekuensi persyaratan-persyaratan komersil
dan keamanan. Apabila ada ketidaksesuaian diantara keduanya, maka persyaratan
keamanan lebih diutamakan dibandingkan persyaratan komersil.
- Setelah kegiatan bongkar Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Final Draught.
- Setelah pemuatan, Nahkoda menandatangani hasil Draught Survey sebagai acuan
jumlah muatan yang dibawa oleh kapal yang akan ditagihkan.
- Kapal menerima dokumen muatan (Manifest, Bill of Lading, Draught Survey, Clearance
Pelabuhan tujuan, Clearance MV).
- Sebelum kapal pergi meninggalkan Pelabuhan atau MV, Nahkoda mengecek kapal &
kesiapan berlayar kembali ke Pelabuhan muat.
Bagan alur proses produksi/jasa pengangkutan dapat digambarkan sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk ix
Page 11
Berdasarkan analisis kelayakan teknis yang mencakup kapasitas, ketersediaan dan kualitas
sumber daya dan proses produksi dapat disimpulkan bahwa aspek teknis Kegiatan Usaha oleh
Perseroan adalah layak.
c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis
• Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan Dari Pola Bisnis
Keunggulan operasional yang akan dimiliki TIRT yaitu:
1. Standar HSE (Health, Safety, and Environment)
Perusahaan menerapkan standar keselamatan kerja, kesehatan, dan perlindungan
lingkungan yang memenuhi ketentuan nasional maupun internasional.
2. Pengalaman Manajemen
Pengalaman manajemen di industri angkutan laut mendukung efisiensi operasional melalui
pengelolaan sumber daya yang optimal, pengendalian risiko yang efektif, dan hubungan
strategis dengan mitra bisnis, sehingga memastikan kelancaran operasi, operasional yang
efektif dan efisien, dan keberlanjutan usaha.
3. Komitmen terhadap Service Level Agreement (SLA)
Perusahaan secara konsisten akan memenuhi target SLA yang telah disepakati dalam
kontrak angkutan laut dengan pelanggan. Hal ini mencerminkan komitmen terhadap
keandalan layanan, ketepatan waktu, dan kualitas hasil yang diharapkan.
4. Sistem Pemeliharaan Preventif (Pre-Maintenance System)
Diterapkannya sistem perawatan preventif yang terjadwal sesuai dengan standar Klas
Indonesia untuk memastikan kelayakan kapal (sea worthy), mengurangi potensi kerusakan
kapal serta memperpanjang umur aset. Strategi ini menurunkan biaya perbaikan darurat,
meminimalisir off-hire (downtime), dan memastikan keberlangsungan operasional.
Selain itu, keunggulan kompetitif TIRT terletak pada keunikan pola bisnis yang terintegrasi
secara vertikal dalam grup usaha terafiliasi, di mana TIRT direncanakan akan berperan dalam
mendukung kegiatan operasional entitas terafiliasi yang bergerak di sektor pertambangan
maupun smelter. Melalui keterlibatan ini, TIRT memperoleh kepastian usaha dan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk x
Page 12
keberlanjutan pendapatan, karena menyediakan jasa pengangkutan komoditas tambang
kepada entitas terafiliasi.
TIRT merupakan bagian dari grup HJR yang beberapa entitas afiliasinya beroperasi di sektor
pertambangan. Struktur hubungan antara entitas-entitas tersebut dapat digambarkan melalui
diagram berikut:
Sumber: Manajemen TIRT
• Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Kegiatan Usaha yang akan dilakukan TIRT memiliki beberapa pesaing dengan produk dan jasa
yang sama, adapun beberapa pesaing tersebut yaitu TCPI, PSAT, TPMA dan PSSI.
Sebagai anak perusahaan dari HJR yang merupakan holding di industri pertambangan, TIRT
memiliki keunggulan kompetitif dimana para pesaing tidak memiliki akses kepada grup usaha
pada industri pertambangan. Melakukan transaksi dengan pihak berelasi juga memungkinkan
proses negosiasi dilakukan secara lebih efisien, dengan tetap memperhatikan prinsip
kewajaran dan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan yang berlaku.
• Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
Dengan adanya perubahan Kegiatan Usaha, TIRT menunjukkan kemampuan untuk
menciptakan nilai melalui strategi integrasi secara vertikal dalam rantai pasok industri
pertambangan di lingkungan grup usaha HJR. Perubahan Kegiatan Usaha ini membuka
peluang bagi TIRT untuk menjadi bagian dan mengelola jasa pengangkutan komoditas
tambang yang sebelumnya dijalankan oleh entitas terafiliasi, yaitu LSJ, ASR, dan MKL.
Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena
keunikan dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk
menciptakan nilai dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis Kegiatan Usaha oleh Perseroan
adalah layak.
d. Analisis Kelayakan Model Manajemen
• Ketersediaan Tenaga Kerja
TIRT akan menjadi perusahaan yang bergerak di bidang angkutan laut dalam negeri untuk
barang umum dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang
pertambangan dan penggalian lainnya, dimana TIRT akan mengoperasikan armada kapal
untuk menyediakan jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan TBS
melalui jalur laut dalam negeri, baik kepada pihak afiliasi maupun pihak ketiga.
Tenaga kerja untuk Kegiatan Usaha akan disediakan sebanyak 11 orang yang telah
berpengalaman dalam berbagai bidang yang diperlukan untuk menjalankan Kegiatan Usaha.
• Manajemen Kekayaan Intelektual (Intellectual Property)
Dalam menjalankan angkutan laut dalam negeri untuk barang umum dan angkutan laut dalam
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xi
Page 13
negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya,
TIRT tidak memerlukan manajemen kekayaan intelektual.
• Manajemen Risiko
Risiko atas Kondisi Cuaca
Kegiatan usaha Perseroan dapat dijalankan dengan lancar dalam kondisi cuaca yang
menunjang. Apabila terjadi hujan deras ataupun angin kencang yang menyebabkan gejolak
pada perairan tempat kapal Perseroan beroperasi, maka kegiatan operasional Perseroan
dapat tertunda atau terhambat. Hal ini berdampak negatif terhadap ketepatan waktu
pengiriman bauksit maupun batubara dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar dan
sebaliknya. Perseroan akan melakukan mitigasi dengan cara:
a. Selalu memonitor laporan cuaca dari BMKG (team HO remind ke lapangan)
b. Dalam perjanjian angkutan laut dengan pelanggan, mencantumkan clausul force major.
c. Menerapkan SOP bahwa saat cuaca ekstrim, kapal wajib menunggu / sandar di lokasi
aman.
d. Memastikan seluruh peralatan kapal (terutama emergency) dapat berfungsi dengan baik
e. Selalu koordinasi dengan jetty, agen pelabuhan, Mother vessel, serta pemilik kargo untuk
penyesuaian jadwal maupun meminimalisir biaya penalty/demmurage (jika ada MV
demurrage)
Risiko Pihak Ketiga (Kecelakaan Kapal)
Wilayah atau lokasi tempat Perseroan memberikan jasa kepada pelanggannya juga
berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan usaha Perseroan. Di mana potensi terjadinya
kecelakaan, baik itu karena senggolan, ditabrak ataupun kandasnya kapal yang disebabkan
perairan sempit juga selalu menjadi pertimbangan dalam pemberian jasa, serta dapat
menyebabkan kapal tidak beroperasi optimal. Kecelakaan dapat saja terjadi karena kesalahan
pihak ketiga yang juga berlayar di wilayah atau lokasi perairan tersebut. Untuk menghindari
kecelakaan tersebut, Perseroan akan melakukan mitigasi dengan cara:
a. Mengasuransikan kapal Marine Hull dan Public Indemnity dengan nilai yang mencukupi
b. Saat di perairan sempit, ataupun akan melewati pengolongan jembatan, menggunakan
jasa pandu / assist,
c. Saat sandar / berthing menggunakan jasa assist
d. Saat berada di perairan yang padat, menjaga jarak dengan kapal lain serta menjaga batas
kecepatan di RPM rendah
e. Memastikan peta laut update, alat navigasi bekerja dengan baik, maintenance rutin atas
system kemudi utk mencegah hilangnya kendali kapal,
Risiko Kenaikan Harga Bahan Bakar
Risiko yang dimiliki oleh Perseroan adalah fluktuasi harga bahan bakar, namun Perseroan akan
melakukan mitigasi dengan membuat kesepakatan Rise and Fall untuk menyesuaikan kembali
harga sewa sesuai dengan fluktuasi harga bahan bakar.
• Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Dalam memenuhi kapasitas dan kemampuan manajemen untuk melakukan Kegiatan Usaha,
Perseroan akan menggunakan tenaga ahli dalam bidang jasa angkutan laut yang
berpengalaman dalam bidang keahlian meliputi corporate secretary, operation & designated
person ashore, logistik, external relation & marketing, technical, health, safety, &
environment, HRGA & crewing dan legal.
• Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xii
Page 14
Struktur organisasi sudah sesuai dan mendukung alur proses produksi/jasa pengangkutan
yang dibutuhkan. Hubungan antara fungsi-fungsi di dalamnya jelas, selaras dengan kebutuhan
operasional, dan mampu mendukung efektivitas manajemen.
Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, yang mencakup ketersediaan tenaga kerja,
manajemen kekayaan intelektual (intellectual property), manajemen risiko, kapasitas dan
kemampuan manajemen dan kesesuaian struktur organisasi dan manajemen dapat disimpulkan
bahwa aspek model manajemen Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
e. Analisis Kelayakan Keuangan
Investasi modal tetap meliputi 20 (dua puluh) unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang
(barge) dengan rincian sebagai berikut:
Jenis Kapal (Unit) Jumlah Jumlah
No. Pemilik Kapal
Satuan (Unit) (Rp.000)
Tugboat Barge
1 LSJ 6 5 11 86.308.000
2 MKL 3 - 3 39.761.000
3 ASR 1 5 6 36.029.000
Jumlah 10 10 20 162.098.000
Keterangan:
- Berdasarkan informasi Perseroan, pada tanggal penilaian biaya investasi tersebut belum ada, sehingga biaya investasi tersebut
diperlukan pada awal tahun proyeksi sebelum Kegiatan Usaha beroperasi
- Saat ini 20 (dua puluh) unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) masih dioperasikan oleh LSJ, MKL dan ASR untuk
mengangkut produk bauksit, batubara dan TBS
- Investasi pembelian kapal sebesar Rp 162.098.000 ribu (belum termasuk PPN) berdasarkan PPJB antara LSJ, MKL dan ASR dengan
TIRT.
Sumber: Manajemen TIRT
Kebutuhan modal kerja selama 1-2 bulan pertama operasi merupakan perkiraan kebutuhan
modal kerja berdasarkan historikal perusahaan dari industri usaha yang sejenis.
Perkiraan Investasi modal kerja, perinciannya adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perkiraan Kebutuhan Modal Kerja
(Rp.000)
Turnover
Uraian Jumlah
(Bulan)
Piutang usaha 2 19.472.716
Persediaan 1 4.916.861
Utang usaha 2 (9.833.722)
Jumlah 14.555.855
Keterangan:
• Piutang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari pendapatan.
• Persediaan diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari beban pokok pendapatan.
• Utang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari beban pokok pendapatan.
Kebutuhan biaya investasi Kegiatan Usaha adalah sebagai berikut:
Biaya investasi (Rp.000)
Modal Tetap 162.098.000
Modal Kerja 14.555.855
Jumlah Investasi 176.653.855
Sumber pembiayaan Kegiatan Usaha untuk modal tetap dan modal kerja seluruhnya dari kredit
yang berasal dari pinjaman pemegang saham, dengan rincian sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xiii
Page 15
Tabel 7.3
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Sumber Pembiayaan
(Rp.000)
Sumber Pembiayaan
Uraian Total
Modal Sendiri Kredit
A. Modal Tetap - 162.098.000 162.098.000
B. Modal Kerja - 14.555.855 14.555.855
Jumlah - 176.653.855 176.653.855
Struktur Pembiayaan 0,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
Dengan demikian perbandingan kredit terhadap modal sendiri (Debt/Equity) Kegiatan Usaha
tersebut adalah 0 : 100, atau seluruhnya dibiayai oleh pinjaman pemegang saham.
Sumber pembiayaan atas biaya modal tetap sebesar Rp 162.098.000 ribu (belum termasuk PPN)
dan biaya modal kerja sebesar Rp 14.555.855 ribu yang seluruhnya berasal dari kredit pinjaman
pemegang saham. Berdasarkan laporan keuangan TIRT per 30 Juni 2025 (audit), TIRT memiliki
fasilitas pinjaman pemegang saham sebesar Rp 1.000.000.000.000,- (satu triliun rupiah) yang
telah digunakan sebesar Rp 791.579.774 ribu,- (tujuh ratus sembilan puluh satu miliar lima ratus
tujuh puluh sembilan juta tujuh ratus tujuh puluh empat ribu rupiah), sehingga Perseroan
memiliki fasilitas pendanaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi dan modal kerja.
Rata-rata BEP pendapatan dalam Rupiah selama umur proyeksi adalah sebesar Rp 17.145.912
ribu.
Analisis atas proyeksi laba-rugi adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan TIRT selama jangka waktu proyeksi diasumsikan stabil karena tidak terdapat
kenaikan kapasitas muatan, kenaikan jumlah trip dan kenaikan tarif sewa.
b. Rasio margin laba kotor, EBITDA, EBIT, EBT dan EAT cenderung menurun dengan rata-rata
masing-masing sebesar 48,62%, 40,02%, 29,99%, 29,99% dan 28,79% utamanya dikarenakan
kenaikan salaries & allowances dan kenaikan beban beban umum dan administrasi.
Rata-rata ROI selama umur proyeksi adalah sebesar 16,96%.
Berdasarkan proyeksi posisi keuangan, Likuiditas dan solvabilitas Kegiatan Usaha cukup tinggi
selama umur proyeksi. Rata-rata Current Ratio, Debt to Equity Ratio dan Debt to Asset Ratio
selama umur proyeksi masing-masing sebesar 909,48%, 69,24% dan 25,33%.
Berdasarkan perhitungan kelayakan, IRR dan NPV Kegiatan Usaha selama umur proyeksi
menghasilkan IRR sebesar 22,31% lebih besar dari tingkat diskonto WACC sebesar 10,80% dan
NPV sebesar Rp 122.343.012 ribu lebih besar dari nol.
Berdasarkan analisis sensitivitas terlihat bahwa kelayakan investasi lebih sensitif terhadap
penurunan pendapatan dibandingkan dengan kenaikan BPP.
Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, yang mencakup biaya pendirian (start up costs), modal
kerja, sumber pembiayaan, biaya operasional, biaya bahan baku mentah, proyeksi laporan
keuangan, analisis titik impas, analisis profitabilitas dan tingkat imbal balik investasi dapat
disimpulkan bahwa aspek keuangan Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xiv
Page 16
Pendapat Atas Kelayakan Usaha Berdasarkan analisis kelayakan pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen dan keuangan, kami berpendapat bahwa Perubahan Kegiatan Usaha Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang Umum (KBLI 50131), dan Angkutan Laut Dalam Negeri Untuk Barang Khusus (KBLI 50133) serta Aktivitas Penunjang Pertambangan dan Penggalian Lainnya (KBLI 09900) PT Tirta Mahakam Resources Tbk adalah layak. Pendapat kelayakan ini hanya dapat digunakan sehubungan dengan rencana yang akan dilakukan Perseroan dan tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan lain. Pendapat kelayakan ini juga tidak dimaksudkan memberikan rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana tersebut. Adhitya Anindito, S.I.Korn., S.H., M.M., MAPPI (Cert.) Pemirnpin Rekan Penilai Properti/ Aset dan Bisnis MAPPI No. : 11-5-03079 RMK-2017.00547 NIPP Menkeu No. P -1.16.00463 NIPP Menkeu No. B -1.21.00596 STTO OJK No : STTO.PPB-43/ PJ-1/ PM.02/2 023 Laparan Stud; Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xv
Page 17
PERNYATAAN PENILAI
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, maupun pemegang saham Perseroan
ataupun pihak-pihak yang terkait dengan Perseroan tersebut. Kami juga tidak mempunyai
kepentingan ataupun keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, laporan
Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak
manapun.
2. Bahwa penugasan penilaian profesional telah dilaksanakan pada tanggal penilaian.
3. Bahwa analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan.
4. Bahwa penugasan penilaian profesional telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
5. Bahwa penilaian yang dihasilkan dalam penugasan penilaian professional telah disajikan sebagai
kesimpulan.
6. Bahwa lingkup pekerjaan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
7. Bahwa kesimpulan penilaian telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas.
8. Bahwa penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan.
9. Bahwa data ekonomi dan industri dalam laporan ini diperoleh dari berbagai sumberyang diyakini
penilai dapat dipertanggungjawabkan .
Penilai Publik,
Adhitya Anindito, S.I.Kom., S.H., M.M., MAPPI (Cert.)
MAPPI No.: 11-5-03079
RMK-2017.00547
NIPP Menkeu No . P -1.16.00463
NIPP Menkeu No . B -1 .21 .00596
STTD OJK No : STTD. PPB-43/ PJ-1 / PM. 02/ 2023
Reviuer,
Radithe Pramudito, S.E., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
MAPPI No.: 10-5-02670
RMK-2017.00316
Sigit E. Purnomo, S.E.
MAPPI No. : 19-T-09657
RMK-2020.03575
Penilai,
!Lw.-
Ryan Suradireja, S.Ak.
MAPPI No.: 19-P-09941
RMK-2021.03692
Syafika Firdausha, S.Ak.
MAPPI No.: 21-T-11013
RMK- 2022.04256
Laporon Studi Ke/ayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xvii
Page 18
DAFTAR ISI
SURAT LAPORAN RINGKAS YANG BERISI KESIMPULAN DAN PENDAPAT ...........................................................I
PERNYATAAN PENILAI ................................................................................................................................. XVI
DAFTAR ISI .................................................................................................................................................. XVII
DEFINISI DAN ISTILAH .......................................................................................................................................I
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................................. I-1
1.1. LATAR BELAKANG ..................................................................................................................................... I-1
1.2. IDENTITAS PEMBERI TUGAS ........................................................................................................................ I-2
1.3. DASAR PENUGASAN.................................................................................................................................. I-2
1.4. OBJEK PENILAIAN ..................................................................................................................................... I-2
1.5. MAKSUD DAN TUJUAN ............................................................................................................................. I-2
1.6. TANGGAL PENILAIAN (CUT OFF DATE) ......................................................................................................... I-2
1.7. RUANG LINGKUP PENILAIAN ....................................................................................................................... I-2
1.8. PENDEKATAN DAN METODOLOGI ................................................................................................................ I-2
1.9. PERNYATAAN INDEPENDENSI ...................................................................................................................... I-3
1.10. URAIAN MENGENAI PENILAI BISNIS DAN/ATAU PENILAI PROPERTI SERTA HASIL PENILAIAN OLEH PENILAI BISNIS
DAN/ATAU PENILAI PROPERTI YANG MENJADI DASAR DALAM STUDI KELAYAKAN. .............................................. I-3
1.11. SUMBER DATA......................................................................................................................................... I-3
1.12. INFORMASI MENGENAI IDENTITAS DAN JABATAN PIHAK-PIHAK YANG TELAH DIWAWANCARAI DAN HUBUNGANNYA
DENGAN OBJEK PENILAIAN ........................................................................................................................ I-4
1.13. ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ................................................................................................. I-4
BAB II DATA DAN INFORMASI KEGIATAN USAHA ........................................................................................ II-1
2.1. PERSEROAN ........................................................................................................................................... II-1
2.2. PROFIL KEGIATAN USAHA ......................................................................................................................... II-2
2.3. PRODUK/JASA ........................................................................................................................................ II-2
2.4. KINERJA KEUANGAN KEGIATAN USAHA........................................................................................................ II-2
2.5. TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN .................................................................................................................. II-2
2.6. LATAR BELAKANG EKONOMI...................................................................................................................... II-2
2.7. KEBUTUHAN PRODUKSI ATAU OPERASI ........................................................................................................ II-5
2.8. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL ............................................................................................................ II-6
2.9. PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT ............................................................................. II-6
2.10. ASPEK LINGKUNGAN ................................................................................................................................ II-7
2.11. PERSYARATAN MODAL DAN STRATEGI FINANSIAL .......................................................................................... II-7
BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR .......................................................................................................... III-1
3.1. KONDISI PASAR ...................................................................................................................................... III-1
3.2. PESAING USAHA .................................................................................................................................... III-3
3.3. STRATEGI PEMASARAN ............................................................................................................................ III-4
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .......................................................................................................... IV-1
4.1. KAPASITAS ............................................................................................................................................IV-1
4.2. KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA .............................................................................................IV-1
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xvii
Page 19
4.3. PROSES PRODUKSI/JASA ..........................................................................................................................IV-1 BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ................................................................................................... V-1 5.1. KEUNGGULAN KOMPETITIF KARENA KEUNIKAN DARI POLA BISNIS ....................................................................V-1 5.2. KEMAMPUAN PESAING UNTUK MENIRU PRODUK..........................................................................................V-2 5.3. KEMAMPUAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI..................................................................................................V-2 BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .................................................................................. VI-1 6.1. KETERSEDIAAN TENAGA KERJA ..................................................................................................................VI-1 6.2. MANAJEMEN KEKAYAAN INTELEKTUAL (INTELLECTUAL PROPERTY) ...................................................................VI-1 6.3. MANAJEMEN RISIKO ...............................................................................................................................VI-1 6.4. KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN................................................................................................VI-2 6.5. KESESUAIAN STRUKTUR ORGANISASI DAN MANAJEMEN ................................................................................VI-2 BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ................................................................................................ VII-1 7.1. BIAYA PENDIRIAN (START UP COSTS) .........................................................................................................VII-1 7.2. MODAL KERJA .....................................................................................................................................VII-1 7.3. SUMBER PEMBIAYAAN ...........................................................................................................................VII-1 7.4. PERSYARATAN KREDIT ............................................................................................................................VII-2 7.5. BIAYA OPERASIONAL..............................................................................................................................VII-3 7.6. BIAYA BAHAN BAKU MENTAH .................................................................................................................VII-4 7.7. ASUMSI – ASUMSI DALAM PROYEKSI KEUANGAN ........................................................................................VII-4 7.8. ANALISIS TITIK IMPAS (BREAK EVEN POINT ANALYSIS) ................................................................................VII-14 7.9. ANALISIS PROFITABILITAS ......................................................................................................................VII-15 7.10. ANALISIS RETURN ON INVESTMENT (ROI) ................................................................................................VII-15 7.11. ANALISIS LIKUIDITAS DAN SOLVABILITAS ..................................................................................................VII-16 7.12. ANALISIS INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) DAN NET PRESENT VALUE (NPV) ................................................VII-16 7.13. ANALISIS SENSITIVITAS .........................................................................................................................VII-19 LAMPIRAN Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk xviii
Page 20
DEFINISI DAN ISTILAH
Arus Kas Bersih : Jumlah kas yang tersedia setelah terpenuhinya kebutuhan kas untuk kegiatan
operasional; merupakan arus kas yang tersedia bagi penyedia modal yang terdiri
dari utang dan ekuitas; dan telah bebas dari kewajiban untuk mempertahankan
operasi saat ini dan untuk mengantisipasi pertumbuhan perusahaan
Asumsi : Sesuatu yang dianggap akan terjadi termasuk fakta, syarat, atau keadaan yang
mungkin dapat mempengaruhi objek Penilaian atau pendekatan penilaian dan
kewajarannya telah dianalisis oleh Penilai Bisnis sebagai bagian dari proses
Penilaian
BEI : Bursa Efek Indonesia
Business Interest : Kepemilikan dalam perusahaan yang meliputi penyertaan dalam perusahaan,
surat berharga, aset keuangan lainnya, dan aset tak berwujud
Dasar Penilaian : Suatu penjelasan dan/atau pendefinisian tentang jenis Nilai yang sedang diteliti
berdasarkan kriteria tertentu
Faktor Kapitalisasi : Semua jenis rasio yang digunakan untuk mengkonversi pendapatan menjadi suatu
Nilai
KAP : Kantor Akuntan Publik
KJPP IDR : Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan
Kapitalisasi : Pengkonversian arus kas bersih atau penghasilan bersih lain, baik yang bersifat
aktual maupun perkiraan, selama periode tertentu yang ekuivalen dengan Nilai
aset pada suatu tanggal tertentu atau pengakuan atas suatu pengeluaran modal
Kelangsungan Usaha : Suatu kondisi yang mencerminkan usaha yang sedang beroperasi atau dalam
konstruksi, atau suatu premis dalam Penilaian, dimana Penilai Bisnis menganggap
suatu perusahaan akan terus melanjutkan operasinya secara berkelanjutan
KEPI : Kode Etik Penilai Indonesia
Laporan Penilaian Bisnis : laporan tertulis yang dibuat oleh Penilai Bisnis yang memuat pendapat Penilai
Bisnis mengenai objek Penilaian serta menyajikan informasi tentang proses
Penilaian
Metode Kapitalisasi : Metode Penilaian yang mendasarkan pada suatu pendapatan yang dianggap
Pendapatan mewakili kemampuan di masa mendatang dari suatu perusahaan atau Business
Interest yang dinilai, dibagi dengan suatu tingkat kapitalisasi atau dikali dengan
Page 21
Faktor Kapitalisasi, sehingga menjadi suatu indikasi Nilai dari perusahaan atau
Business Interest
Metode Penilaian : Suatu cara atau rangkaian cara tertentu dalam melakukan Penilaian
Modal Investasi : Jumlah utang jangka panjang dan ekuitas pada suatu perusahaan
Nilai : Perkiraan harga yang diinginkan oleh penjual dan/atau pembeli atas suatu barang
atau jasa dan merupakan jumlah manfaat ekonomi berdasarkan nilai pasar yang
akan diperoleh dari objek Penilaian pada tanggal Penilaian
Nilai Aset Bersih : Total nilai pasar aset dikurangi total nilai pasar liabilitas
Nilai Buku : Hasil kapitalisasi atas biaya perolehan aset, dikurangi akumulasi depresiasi,
deplesi, amortisasi atau penurunan nilai sebagaimana yang tercatat dalam laporan
keuangan atau selisih antara total aset dikurangi dengan total liabilitas dari
perusahaan sebagaimana tercatat dalam laporan keuangan
Nilai Pasar (OJK) : Estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau
liabilitas pada Tanggal Penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan
penjual yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang
pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua Pihak masing–masing
bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian, dan tanpa
paksaan
Nilai Pasar (SPI) : Estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh atau dibayar untuk penukaran suatu
aset atau liabilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli yang berminat membeli
dengan penjual yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang
pemasarannya dilakukan secara layak, dimana kedua pihak masing-masing
bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian dan tanpa
paksaan (SPI 101 Edisi VII-2018 angka 3.1).
Nilai Terminal : Nilai dari jumlah arus kas untuk periode setelah periode waktu tetap, dimana arus
kas yang diterapkan dapat menggunakan model ekuitas atau Modal Investasi
OJK : Otoritas Jasa Keuangan
Penilai : Orang perseorangan yang dengan keahliannya menjalankan kegiatan Penilaian di
pasar modal
Penilai Bisnis : Penilai yang melakukan kegiatan penilaian bisnis sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai Penilai yang melakukan kegiatan di
pasar modal
Penilai Properti : Penilai yang melakukan kegiatan Penilaian properti sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai Penilai yang melakukan kegiatan di
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk ii
Page 22
pasar modal
Penilaian : Proses pekerjaan untuk memberikan opini tertulis atas nilai ekonomi suatu objek
penilaian
Penilaian Bisnis : Proses pekerjaan untuk memberikan opini tertulis atas objek Penilaian Bisnis
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai Penilai
yang melakukan kegiatan di pasar modal
Penugasan Penilaian : Penugasan yang diterima oleh Penilai dari pemberi penugasan untuk melakukan
Profesional Penilaian atas objek, tujuan Penilaian, dan tanggal tertentu dimana Penilai
mendasarkan opininya, yang disajikan dalam laporan Penilaian
Pihak : Orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang
terorganisasi
Premi Pengendalian : Suatu jumlah atau persentase tertentu yang merupakan penambah dari Nilai suatu
ekuitas sebagai cerminan dari tingkat pengendalian atas objek Penilaian
Premis Nilai : Asumsi Nilai yang berhubungan dengan suatu kondisi transaksi yang dapat
digunakan pada objek Penilaian
RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham
SPI : Standar Penilaian Indonesia
Studi Kelayakan Bisnis : Suatu Penugasan Penilaian Profesional yang diberikan oleh Penilai Bisnis berupa
pendapat untuk menyatakan kelayakan suatu usaha atau proyek
Tanggal Laporan : Tanggal ditandatanganinya Laporan Penilaian Bisnis oleh Penilai Bisnis
Penilaian Bisnis
Tanggal Penilaian : Tanggal pada saat Nilai, hasil Penilaian, atau perhitungan manfaat ekonomi
dinyatakan
Tenaga Ahli : Orang yang mempunyai keahlian dan kualifikasi pada suatu bidang tertentu di luar
ruang lingkup kegiatan Penilaian dan tidak bekerja pada kantor jasa Penilai publik
Tingkat Diskonto : Suatu Tingkat Imbal Balik untuk mengkonversikan nilai di masa depan ke nilai
sekarang yang mencerminkan nilai waktu dari uang dan ketidakpastian atas
terealisasinya pendapatan ekonomi
Tingkat Imbal Balik : Jumlah laba atau rugi dan/atau perubahan nilai yang direalisasikan atau
diharapkan dari suatu investasi yang dinyatakan dalam persentase
Tingkat Kapitalisasi : Jumlah pembagi yang digunakan untuk mengkonversi pendapatan menjadi Nilai
Time Charter : Penyewa kapal (charterer) menyewa kapal selama periode waktu tertentu (bisa
berupa bulan atau tahun). Selama masa sewa, kapal tetap dikelola, dioperasikan,
dan dirawat oleh pemilik kapal, tetapi penyewa diberikan kontrol komersial -
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk iii
Page 23
seperti menentukan rute, kecepatan, dan muatan kapal. Penyewa juga
menanggung biaya operasional seperti bahan bakar, pelabuhan, dan komisi,
sementara pemilik kapal menanggung kru dan perawatan teknis.
Freight Charter : Penyewa kapal menyewa kapal untuk satu perjalanan spesifik (misalnya dari
pelabuhan A ke pelabuhan B). Dalam model ini, pemilik kapal bertanggung jawab
penuh atas operasional kapal — termasuk kru, bahan bakar, dan biaya teknis. Biaya
sewa dibayar berdasarkan jumlah kargo (per ton) atau dengan tarif lump sum per
freight.
HJR : PT Harita Jayaraya
LSJ : PT Lima Srikandi Jaya
MKL : PT Mitra Kemakmuran Line
ASR : PT Antar Sarana Rekasa
TIRT : PT Tirta Mahakam Resources Tbk
WHW : PT Well Harvest Winning Alumina Refinery
MBL : PT Marina Bara Lestari
GHL : PT Gunajaya Harapan Lestari
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk iv
Page 24
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
PT Tirta Mahakam Resources Tbk (selanjutnya disebut TIRT atau Perseroan atau Perusahaan)
merupakan perusahaan terbuka yang bergerak di bidang industri dan penjualan kayu lapis dan
produk-produk kayu sejenis. Namun sejak terjadinya pandemi Covid-19 pada tahun 2020
Perseroan telah menghentikan aktivitas produksi dan penjualan kayu lapis. Perseroan menilai
bahwa industri kayu lapis sudah tidak lagi memberikan prospek usaha yang menjanjikan. Oleh
sebab itu, Perseroan berencana melakukan transformasi bisnis dari industri kayu lapis ke
industri angkutan laut dan Perseroan meyakini bahwa bisnis angkutan laut memiliki potensi
yang lebih menjanjikan dan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang bagi Perseroan.
Perseroan berencana untuk melakukan perubahan kegiatan usaha dengan mengganti seluruh
kegiatan usaha yang sudah dijalankan yaitu di bidang industri dan penjualan kayu lapis dan
produk-produk kayu sejenis menjadi kegiatan usaha yang baru yaitu kegiatan usaha di bidang
industri angkutan laut dalam negeri untuk barang umum dan angkutan laut dalam negeri untuk
barang khusus serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya yang
selanjutnya disebut Kegiatan Usaha.
Sebagai langkah investasi awal dalam menjalankan kegiatan usaha yang baru Perseroan akan
menjalankan Kegiatan Usaha dengan melakukan investasi modal tetap berupa pembelian
terhadap 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) dari
pihak yang terafiliasi dengan Perseroan yaitu PT Lima Srikandi Jaya (LSJ), PT Mitra Kemakmuran
Line (MKL) dan PT Antar Sarana Rekasa (ASR). Sumber pendanaan Perseroan untuk pembelian
tersebut berasal dari fasilitas pinjaman pemegang saham yang telah dimiliki TIRT.
Perseroan akan mengoperasikan armada kapal untuk menyediakan jasa pengangkutan
komoditas terutama bauksit, batubara dan tandan buah segar (TBS) melalui jalur laut dalam
negeri, baik kepada pihak afiliasi maupun pihak ketiga. Dengan perubahan Kegiatan Usaha ini,
diharapkan dapat memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan serta menjamin
kelangsungan usaha Perseroan di masa mendatang.
Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 17/POJK.04/2020, tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, diperlukan studi kelayakan usaha dari Penilai
Independen.
Sehubungan rencana tersebut, Perseroan telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar
dan Rekan selaku Penilai Independen untuk melakukan studi kelayakan atas Kegiatan Usaha
tersebut.
KJPP IDR telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan berdasarkan surat keputusannya
No. 772/KM.1/2013 tanggal 12 November 2013 dan telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) berdasarkan Surat No. S-774/PM.25/2013 tanggal 27 November 2013 dengan Surat Tanda
Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal yang telah dilakukan pendaftaran ulang dengan No.
STTD.PPB-43/PJ-1/PM.02/2023 tanggal 6 Juli 2023 sebagai Penilai Properti/Aset dan Bisnis di
Pasar Modal.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-1
Page 25
1.2. Identitas Pemberi Tugas
Nama : PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Alamat : Gapura Prima Office Tower (The Belleza) Lt. 20
Jalan Letjen Soepeno No. 34, Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan
Bidang Usaha : Penjualan kayu lapis dan produk-produk kayu sejenis
No. Telepon/Fax : 021-25675717/021-30485593
Email : corpsecretary@tirtamahakam.com
Website : www.tirtamahakam.com
1.3. Dasar Penugasan
Proposal/surat perjanjian kerja yang telah disepakati antara KJPP Iskandar dan Rekan (Penerima
Tugas) dan PT Tirta Mahakam Resources Tbk (Pemberi Tugas) No. 103.6/IDR/DO.2/Pr-
FS/VI/2025 tanggal 25 Juni 2025.
1.4. Objek Penilaian
Objek penilaian adalah kegiatan usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI
50131) dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133) serta aktivitas
penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900) (selanjutnya disebut Kegiatan
Usaha).
1.5. Maksud Dan Tujuan
Maksud penilaian adalah untuk memberikan pendapat atas kelayakan suatu usaha atau proyek
dengan tujuan penilaian untuk menyatakan layak atau tidak layak atas usaha atau proyek terkait
dengan perubahan kegiatan usaha Perusahaan.
Laporan ini tidak dapat digunakan untuk tujuan lainnya selain tersebut diatas.
1.6. Tanggal Penilaian (Cut Off Date)
Tanggal penilaian 30 Juni 2025 ditetapkan berdasarkan laporan keuangan interim Perseroan
untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025, yang telah diaudit oleh KAP S. Mannan,
Ardiansyah & Rekan dengan opini wajar tanpa modifikasian dengan paragraf ketidakpastian
material tentang kelangsungan usaha dalam laporannya pada tanggal 8 Agustus 2025 dengan
Laporan Auditor Independen No. 00076/2.0890/AU.1/04/1495-3/1/VIII/2025 yang
ditandatangani oleh Akuntan Publik Yazid M. Aleq Bawafi yang terdaftar di OJK.
1.7. Ruang Lingkup Penilaian
Ruang lingkup penilaian adalah:
a. Identifikasi masalah (identifikasi batasan, tujuan dan objek, definisi penilaian dan tanggal
penilaian),
b. Pengumpulan data,
c. Analisis data,
d. Estimasi nilai dengan menggunakan pendekatan penilaian,
e. Penulisan laporan.
1.8. Pendekatan dan Metodologi
Pendapat yang diberikan Penilai berupa penilaian kelayakan usaha adalah untuk menyatakan
kelayakan suatu usaha atau proyek.
Pendapat mengenai kelayakan suatu usaha atau proyek diberikan setelah melakukan analisis
atas:
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-2
Page 26
a. Kelayakan pasar
b. Kelayakan teknis
c. Kelayakan pola bisnis
d. Kelayakan model manajemen
e. Kelayakan keuangan
1.9. Pernyataan Independensi
a. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami tidak ada benturan kepentingan
dengan Perseroan maupun pihak yang terafiliasi dengan Perseroan dan transaksi yang akan
dilakukan Perseroan.
b. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, maupun pemegang saham
Perseroan ataupun pihak-pihak yang terkait dengan Perseroan tersebut. Kami juga tidak
mempunyai kepentingan ataupun keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini.
Selanjutnya, laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
kerugian pada pihak manapun.
c. Tidak ada satupun dari pemilik ataupun pegawai kami yang memiliki kepentingan dalam
bentuk apapun yang dapat menghalangi kami untuk melakukan penilaian secara independen
terhadap kelayakan Kegiatan Usaha. Kompensasi dan honorarium kami tidak bergantung
kepada kejadian maupun kesimpulan yang diambil oleh perseroan sebagai akibat dari
laporan kami ini.
1.10. Uraian Mengenai Penilai Bisnis Dan/Atau Penilai Properti Serta Hasil Penilaian Oleh Penilai
Bisnis Dan/Atau Penilai Properti Yang Menjadi Dasar Dalam Studi Kelayakan.
Dalam studi kelayakan ini kami tidak menggunakan hasil penilaian dari Penilai Bisnis dan/atau
Penilai Properti dengan demikian uraian mengenai Penilai Bisnis dan/atau Penilai Properti serta
hasil penilaian oleh Penilai Bisnis dan/atau Penilai Properti yang menjadi dasar dalam studi
kelayakan atas proyek tidak ada.
1.11. Sumber Data
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu,
atau melaksanakan prosedur atas data dan informasi, antara lain sebagai berikut:
a. Copy legalitas dan perizinan Perseroan.
b. Rencana anggaran biaya Kegiatan Usaha yang mencakup kebutuhan biaya investasi dan
operasional kegiatan usaha.
c. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 032/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan LSJ.
d. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 033/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan MKL.
e. Surat perjanjian angkutan laut No. 021/LSJ-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024 antara
LSJ dengan MBL.
f. Surat perjanjian angkutan laut No. 035/MKL-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024 antara
MKL dengan MBL.
g. Perjanjian sewa menyewa kapal “Time Charter” No. 001A/LSJ-GHL/I/2025 445-ANGKT/GHLL-
TRNE/JKT/02/2025 tanggal 3 Januari 2025 antara LSJ dengan GHL.
h. Perjanjian pinjam meminjam tanggal 19 Maret 2009 antara TIRT dengan HJR dan
adendumnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-3
Page 27
i. Pengikatan jual beli kapal sebanyak 11 unit (6 tugboat dan 5 barge) antara LSJ dengan TIRT.
j. Pengikatan jual beli kapal sebanyak 3 unit (3 tugboat) antara MKL dengan TIRT.
k. Pengikatan jual beli kapal sebanyak 6 unit (1 tugboat dan 5 barge) antara ASR dengan TIRT.
l. Proyeksi keuangan kegiatan usaha dari manajemen Perseroan.
m. Laporan keuangan Perseroan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025 yang telah diaudit oleh
Akuntan Publik Yazid M. Aleq Bawafi dari Kantor Akuntan Publik (KAP) S. Mannan, Ardiansyah
& Rekan dengan opini wajar tanpa modifikasian.
n. Hasil wawancara dengan pihak manajemen mengenai alasan, latar belakang, dan hal-hal lain
yang terkait dengan rencana Kegiatan Usaha.
o. Berbagai sumber informasi baik berdasarkan media cetak dan elektronik dan hasil analisis
lain yang kami anggap relevan.
1.12. Informasi Mengenai Identitas Dan Jabatan Pihak-Pihak Yang Telah Diwawancarai Dan
Hubungannya Dengan Objek Penilaian
Kami telah melakukan diskusi dan wawancara dengan manajemen Perseroan pada tanggal 7 Juli
– 8 Agustus 2025. Identitas yang kami wawancarai adalah Bapak Pohan Wijaya Po sebagai
Direksi TIRT.
1.13. Asumsi – Asumsi Dan Kondisi Pembatas
a. Laporan Penilaian ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
penilaian.
c. Penilai bertanggung jawab atas laporan penilaian dan kesimpulan nilai akhir.
d. Data dan informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya.
e. Penilai melakukan penelaahan atas status hukum objek penilaian.
f. Penilai tidak melakukan penyelidikan atas legalitas/status hukum dokumen-dokumen yang
digunakan dalam proses penilaian. Adalah bukan tugas Penilai untuk melakukan uji tuntas
(due diligence) dari aspek hukum atas catatan publik serta catatan kepemilikan.
g. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan
kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
pencapaiannya (Fiduaciary Duty).
h. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan.
i. Laporan penilaian ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
j. Jika penilaian diperuntukan untuk kepentingan Pasar Modal, data dan informasi dalam
penilaian bersumber dari atau divalidasi oleh Asosiasi Profesi Penilai (MAPPI).
k. Penilai dibebaskan dari segala tuntutan dan kewajiban yang berkaitan dengan penggunaan
laporan yang tidak sesuai dengan tujuan/kepentingan dari laporan penilaian.
l. Data dan informasi yang diterima Penilai dari Pemberi Tugas diasumsikan benar dan dapat
dipertanggung jawabkan, antara lain termasuk penunjukkan letak lokasi tempat, spesifikasi
jenis dan jumlah aset objek penilaian dan apabila data dan informasi tersebut tidak benar
maka Pemberi Tugas membebaskan Penilai dari tanggung jawab atas hasil penilaian yang
tidak tepat dikarenakan kesalahan tersebut.
m. Informasi yang telah diberikan oleh pihak lain kepada Penilai seperti yang telah disebutkan
dalam laporan penilaian dianggap layak dan dipercaya, tetapi Penilai tidak bertanggung
jawab jika ternyata informasi yang diberikan itu terbukti tidak sesuai dengan hal yang
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-4
Page 28
sesungguhnya. Tanggung jawab untuk memeriksa kembali kebenaran informasi tersebut
sepenuhnya berada di pihak Pemberi Tugas.
n. Setiap informasi yang berasal dari Data Pribadi yang diperoleh dan/atau digunakan Penilai
dalam penugasan ini hanya digunakan untuk kepentingan sesuai tujuan penilaian, dan
selanjutnya data dan informasi yang dimaksud dikecualikan sebagai Data Pribadi
sebagaimana diatur dalam ketentuan dan perundang-undangan yang terkait Perlindungan
Data Pribadi.
o. Laporan ini tidak sah jika tidak dibubuhi tandatangan Pemimpin Rekan/Rekan dan
stempel/seal perusahaan KJPP Iskandar dan Rekan serta tidak dapat dipertanggung
jawabkan bilamana pemberi tugas tidak melunasi imbalan jasa atas pekerjaan penilaian ini.
p. Pemberi Tugas adalah orang atau badan yang memberi instruksi kepada Penilai termasuk di
dalamnya direksi perusahaan atau pejabatnya, atau penasihat profesionalnya, contact
person ataupun yang ditugaskan mewakilinya.
q. Laporan ini bukan merupakan rekomendasi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu
transaksi sesuai dengan tujuan dalam laporan ini, dan laporan ini tidak terikat dengan
transaksi yang dilakukan dan transaksi yang dilakukan adalah mutlak keputusan dari pihak-
pihak yang bertransaksi.
r. Perbedaan kondisi yang mungkin terjadi antara tanggal penilaian dengan waktu
penggunaan hasil penilaian dapat menurunkan relevansi opini nilai terhadap kebutuhan
pengguna hasil penilaian, dikarenakan adanya perbedaan akses data dan informasi serta
asumsi dan analisis penilaian. Apabila pengguna hasil penilaian menemukan kondisi
tersebut, disarankan untuk menugaskan Penilai melakukan reviu terhadap penugasan yang
telah dilaksanakan dan apabila dimungkinkan dan dibutuhkan, Penilai dapat melakukan
penilaian ulang dengan mengulang kembali prosedur penilaian yang sebelumnya dilakukan,
secara lebih lengkap. Proses dan prosedur tersebut harus dituangkan dalam penugasan
yang berdiri sendiri dan berbeda dengan penugasan penilaian sebelumnya.
s. Jika kontrak dan/atau laporan penilaian ditulis dalam versi Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris, Pemberi Tugas dan Penerima Tugas sepakat bahwa dalam hal terjadi inkonsistensi
antara versi Bahasa Indonesia dan versi Bahasa Inggris, maka versi Bahasa Indonesia yang
akan berlaku dan versi Bahasa Inggris akan dianggap telah diubah untuk menyesuaikan
dengan versi Bahasa Indonesia.
t. Legalitas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penilaian adalah benar dan
tidak menyesatkan.
u. Data dan informasi yang relevan yang diperoleh dari sumber yang layak adalah benar dan
tidak menyesatkan.
v. Pemberi Tugas telah memberikan informasi yang lengkap mengenai objek penilaian dan
tidak ada hal-hal yang disembunyikan yang dapat berpengaruh secara signifikan terhadap
kesimpulan nilai.
w. Penilai beranggapan bahwa bagian-bagian properti yang tidak diinspeksi tidak memiliki
kerusakan yang berarti dan tidak menyebabkan perubahan nilai.
x. Objek penilaian diasumsikan tidak dibangun dengan material ataupun mengandung
material yang bersifat merusak dan berbahaya yang dapat menyebabkan pencemaran
lingkungan yang berpengaruh terhadap kesimpulan nilai.
y. Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dengan fakta yang sebenarnya pada tanggal
penilaian. Jika terdapat asumsi khusus akan diungkapkan dalam laporan penilaian.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-5
Page 29
z. Asumsi-asumsi dan kondisi pembatas ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan
(integral) dari laporan penilaian.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk I-6
Page 30
BAB II
DATA DAN INFORMASI KEGIATAN USAHA
2.1. Perseroan
Perseroan adalah TIRT, didirikan berdasarkan akta No. 245 tanggal 22 April 1981 jo. Akta
perubahan No. 14 tanggal 11 Januari 1982, keduanya dibuat dihadapan Notaris Kartini Muljadi,
SH. Akta pendirian Perusahaan dan perubahannya telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A 5/48/2 tanggal 8 Mei 1982.
Anggaran Dasar TIRT telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta
Pernyataan Keputusan Rapat No. 68 tanggal 23 September 2021 tentang perubahan Anggaran
Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan POJK Nomor 15/POJK.04/2020 tentang Rencana
dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka jo. POJK Nomor
16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka
secara Elektronik. Perubahan ini telah diaktakan dengan akta Notaris Leolin Jayayanti, SH.,M.Kn
No. 68 tanggal 23 September 2021 dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia dengan Surat No. AHU-AH.01.03-0454306 tanggal 29 September
2021.
TIRT memulai produksi komersialnya dibulan November 1983. TIRT berkedudukan di Jakarta
dengan lokasi pabrik di Desa Bukuan, Samarinda, Kalimantan Timur.
Kegiatan Usaha
Perusahaan bergerak dalam bidang industri dan penjualan kayu lapis dan produk-produk kayu
sejenis.
Susunan Pemegang Saham
Susunan pemegang saham Perseroan berdasarkan laporan keuangan pada tanggal 30 Juni 2025
(audit) adalah sebagai berikut:
No. Pemegang Saham Jumlah Saham (%) Jumlah (Rp)
1 PT Harita Jayaraya 744.029.910 73,54% 93.003.738.750
Koperasi Karyawan PT Tirta
2 1.364.012 0,13% 170.501.500
Mahakam Plywood Industry
3 KUD Budi Rahayu 909.332 0,09% 113.666.500
4 Masyarakat 265.471.496 26,24% 33.183.937.000
Jumlah 1.011.774.750 100,00% 126.471.843.750
Sumber: Laporan Keuangan periode 30 Juni 2025 (audit)
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi berdasarkan laporan keuangan pada tanggal 30 Juni 2025
(audit) adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Lim Gunardi Hariyanto
Komisaris Independen : Hendra Surya
Direksi
Presiden Direktur : Djohan Surja Putra
Direktur : Pohan Wijaya Po
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-1
Page 31
Perizinan
Perizinan yang dimiliki adalah:
- Nomor Induk Berusaha (NIB) 8120109861456.
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 01.001.792.9-054.000.
2.2. Profil Kegiatan Usaha
Rencana Kegiatan Usaha adalah angkutan laut dalam negeri untuk barang umum dan angkutan
laut dalam negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian
lainnya, dimana TIRT akan menjalankan jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit,
batubara dan TBS melalui jalur laut dalam negeri.
2.3. Produk/Jasa
Produk Kegiatan Usaha adalah jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan
TBS melalui jalur laut dalam negeri.
2.4. Kinerja Keuangan Kegiatan Usaha
Produk Kegiatan Usaha adalah jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan
TBS melalui jalur laut dalam negeri yang merupakan bidang usaha baru yang akan
dikembangkan, sehingga kinerja keuangan historis Kegiatan Usaha tidak ada.
2.5. Teknologi yang Digunakan
Dalam memberikan jasa pengangkutan, TIRT akan mengoperasikan armada kapal tunda dan
kapal tongkang untuk mendukung logistik komoditas terutama bauksit, batubara dan TBS
melalui jalur laut dalam negeri. Dalam pelaksanaannya, pengoperasian armada kapal tidak
memerlukan penerapan teknologi yang kompleks, karena kegiatan operasional utamanya akan
dijalankan berdasarkan penjadwalan dan pengaturan rute yang dilakukan secara manual.
2.6. Latar Belakang Ekonomi
PDB Menurut Lapangan Usaha
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan I-2025 (Q-to-Q)
Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 dibanding triwulan I-2025 (q-to-q) tumbuh sebesar 4,04%.
Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pengadaan Listrik dan Gas
yang terkontraksi sebesar 2,61%. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,53%; diikuti oleh Transportasi dan Pergudangan sebesar
6,58%; serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 6,43%. Sementara itu, Industri
Pengolahan serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang
memiliki peran dominan tumbuh masing-masing sebesar 1,38% dan 3,12%.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-2
Page 32
Gambar 1. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku triwulan II-2025 tidak
menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Lapangan
Usaha Industri Pengolahan sebesar 18,67%; diikuti oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
sebesar 13,83%; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar
13,02%; Konstruksi sebesar 9,48%; serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,59%. Peranan
kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia mencapai 63,59%.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan II-2024 (Y-on-Y)
Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,12%.
Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan
adalah Jasa Lainnya sebesar 11,31%; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,31%; Transportasi
dan Pergudangan sebesar 8,52%; serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar
8,04%.
Gambar 2. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pertumbuhan Ekonomi Semester I-2025 Terhadap Semester I-2024 (C-to-C)
Ekonomi Indonesia semester I-2025 terhadap semester I-2024 (c-to-c) tumbuh sebesar 4,99%.
Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan
adalah Jasa Lainnya sebesar 10,59%; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,29%; serta
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-3
Page 33
Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,75%. Sementara itu, Industri Pengolahan yang
memiliki peran dominan terhadap perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,12%.
Gambar 3. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (C-to-C) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
PDB Menurut Pengeluaran
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan I-2025 (Q-to-Q)
Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 dibanding triwulan I-2025 (q-to-q) tumbuh sebesar 4,04%.
Pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada
Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 21,05%; diikuti oleh Komponen
Ekspor Barang dan Jasa sebesar 4,85%; Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)
sebesar 4,10%; Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 3,14%; dan
Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-
LNPRT) sebesar 0,51%. Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang juga
tumbuh sebesar 9,89%.
Gambar 4. Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (Q-to-Q) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
Struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2025
tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh
Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia yaitu sebesar 54,25%; diikuti
oleh Komponen PMTB sebesar 27,83%; Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 22,28%;
Komponen PK-P sebesar 6,93%; Komponen Perubahan Inventori sebesar 2,60%; dan Komponen
PK-LNPRT sebesar 1,35%. Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor
pengurang dalam PDB Pengeluaran memiliki peran sebesar 20,66%.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-4
Page 34
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan II-2024 (Y-on-Y)
Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 tumbuh sebesar 5,12% (y-on-y).
Pertumbuhan terjadi pada hampir semua komponen pengeluaran, kecuali Komponen PK-P yang
terkontraksi sebesar 0,33%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan
Jasa sebesar 10,67%; diikuti Komponen PK-LNPRT sebesar 7,82%; Komponen PMTB sebesar
6,99%; dan Komponen PK-RT sebesar 4,97%. Komponen Impor Barang dan Jasa (yang
merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut Pengeluaran) juga tumbuh sebesar 11,65%.
Gambar 5. Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (Y-on-Y) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pertumbuhan Ekonomi Semester I-2025 Terhadap Semester I-2024 (C-to-C)
Ekonomi Indonesia semester I-2025 terhadap semester I-2024 tumbuh sebesar 4,99% (c-to-c).
Pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran, kecuali Komponen PK-P yang
terkontraksi sebesar 0,80%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan
Jasa sebesar 8,57%; diikuti Komponen PK-LNPRT sebesar 5,40%; Komponen PK-RT sebesar
4,96%; dan Komponen PMTB sebesar 4,55%. Komponen Impor Barang dan Jasa (yang
merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut Pengeluaran) juga tumbuh sebesar 7,96%.
Gambar 6. Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (C-to-C) (%),
Triwulan II-2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik
2.7. Kebutuhan Produksi atau Operasi
Jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan TBS melalui jalur laut dalam
negeri memerlukan investasi modal tetap dan modal kerja serta tenaga ahli dalam bidang jasa
pengangkutan.
Perseroan akan menjalankan Kegiatan Usaha yang baru dengan melakukan investasi modal
tetap berupa pembelian terhadap 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat, TB) dan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-5
Page 35
kapal tongkang (barge, TK) yang akan dioperasikan secara berpasangan menjadi 10 set tugboat
(TB) dan tongkang (TK) dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan yaitu LSJ, MKL dan ASR
dengan detail sebagai berikut:
Kapasitas
Tipe Tahun
No. Nama Kapal Pemilik Muatan Feet/Set
Kapal Pembuatan
(MT)/Set
1 TB Bawal Mandiri I LSJ Tugboat 2024
144 110
TK Bawal Sejahtera I LSJ Barge 2024
2 TB Rita 106 LSJ Tugboat 1994
3500 230
TK Mariam 12 ASR Barge 2008
3 TB Artha Sarana 58 MKL Tugboat 1987
2500 210
TK Goldwood IV LSJ Barge 1994
4 TB RYL 6 MKL Tugboat 2024
3500 250
TK Srikandi Jaya II ASR Barge 2007
5 TB RYL 15 MKL Tugboat 2024
3300 230
TK Mariam 18 ASR Barge 2008
6 TB Mitra Jaya VII ASR Tugboat 1988
4500 240
TK Karya 8 ASR Barge 2003
7 TB RYL 9 LSJ Tugboat 2024
4500 240
TK KC 240555 LSJ Barge 2003
8 TB Rita 102 LSJ Tugboat 1992
4700 250
TK Rita 203 LSJ Barge 2009
9 TB Rita 109 LSJ Tugboat 1988
3200 230
TK Mariam 6 ASR Barge 2007
10 TB RYL 7 LSJ Tugboat 2024
4700 250
TK Rita 204 LSJ Barge 2009
Fungsi dari kapal tunda dan kapal tongkang adalah sebagai berikut:
a. Kapal tunda (tugboat) merupakan kapal kecil yang memiliki mesin yang sangat kuat, fungsi
dari kapal tunda ini yaitu menarik atau mendorong kapal tongkang.
b. Kapal tongkang (barge) yaitu kapal datar, besar dan tidak memiliki mesin, fungsi dari kapal
tongkang ini digunakan untuk mengangkut muatan, dimana kapal tongkang ini didorong
atau ditarik oleh kapal tunda.
Perseroan memerlukan modal kerja untuk membiayai operasional harian seperti biaya bahan
bakar, gaji dan tunjangan, biaya agen, asuransi kapal dan perbaikan.
Sumber pendanaan untuk pemenuhan investasi modal tetap dan modal kerja berasal dari
fasilitas pinjaman pemegang saham yang telah dimiliki Perseroan.
Perseroan membutuhkan tenaga ahli yang berpengalaman di bidang angkutan laut dalam
negeri untuk barang umum dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus serta aktivitas
penunjang pertambangan dan penggalian lainnya. Kebutuhan tenaga ahli tersebut akan
diperoleh dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan.
2.8. Hak Atas Kekayaan Intelektual
Perseroan maupun Kegiatan Usaha tidak memiliki hak atas kekayaan intelektual atas Kegiatan
Usaha.
2.9. Peraturan dan Perundang-Undangan yang Terkait
Peraturan dan perundangan-undangan yang terkait adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-6
Page 36
Indonesia Nomor 4756);
2. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang;
3. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian;
4. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran juncto Undang-Undang Nomor
66 Tahun 2024 adalah Undang-Undang tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan juncto
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan Di Perairan;
6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan
Usaha Angkutan Laut;
2.10. Aspek Lingkungan
Berikut adalah daftar kegiatan uji kualitas lingkungan yang akan dilakukan:
1. Limbah kapal: melakukan pengelolaan limbah kapal seperti penyimpanan minyak pelumas,
oli bekas dan peralatan operasional bekas pakai.
2. Emisi udara: Perseroan akan memperhatikan efisiensi bahan bakar dan pemeliharaan
mesin, agar memperoleh standar operasional yang ramah lingkungan.
2.11. Persyaratan Modal dan Strategi Finansial
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 30 Juni 2025 yang telah diaudit oleh Akuntan
Publik Yazid M. Aleq Bawafi dari KAP S. Mannan, Ardiansyah & Rekan dengan opini wajar tanpa
modifikasian, jumlah modal disetor Perseroan sebesar Rp 126.471.843.750,-.
Persyaratan modal diperlukan untuk memenuhi biaya investasi tetap dan modal kerja. TIRT
berencana akan membeli 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang
(barge) dari pihak terafiliasi TIRT dengan sumber pendanaan dari fasilitas pinjaman yang telah
dimiliki TIRT dari HJR sebagai pemegang saham TIRT.
Strategi finansial yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memastikan modal kerja yang dimiliki Perseroan mencukupi untuk kebutuhan operasional
kapal.
2. Membuat kesepakatan Rise and Fall untuk menyesuaikan kembali harga sewa saat harga
bahan bakar mengalami fluktuasi.
3. Menggunakan fasilitas pinjaman pemegang saham yang telah dimiliki Perseroan untuk
investasi modal tetap dan modal kerja agar menghasilkan pendapatan dan laba yang
optimal.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk II-7
Page 37
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Kondisi Pasar
Produksi batu bara Indonesia mencapai 357,60 juta ton pada semester pertama (S1) 2025,
setara dengan 48,3% dari target pemerintah sepanjang tahun sebesar 739,67 juta ton, menurut
data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (DJMB) Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM). Angka tersebut diungkapkan oleh DJMB, dalam acara Roadshow Edisi
Kalimantan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA)
di Samarinda, Rabu (9 Juli).
Menanggapi kinerja tersebut, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengatakan
angka produksi turun sekitar 11% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Meskipun
produksi telah mencapai hampir 50% dari target tahun ini, kami menghadapi tantangan yang
signifikan, terutama dengan menurunnya permintaan akibat perubahan kebijakan domestik di
pasar-pasar utama seperti Tiongkok dan India.
Kalimantan terus memainkan peran dominan di sektor ini, menyumbang 688 juta ton atau
sekitar 82% dari total produksi batu bara Indonesia pada tahun 2024. "Batubara menyumbang
40,56% terhadap bauran energi nasional tahun lalu. ESDM menambahkan bahwa sekitar 50–60
% pembangkit listrik Indonesia masih bergantung pada Batubara 70% di antaranya bersumber
dari Kalimantan.
Ia menekankan pentingnya strategis pertambangan batubara dalam memenuhi permintaan
listrik global, dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia dari sektor mineral dan
batu bara mencapai Rp140,46 triliun pada tahun 2024 123,75% dari target tahunan, dan setara
dengan 52% dari total PNBP Kementerian ESDM.
APBI menekankan bahwa batubara bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen
pembangunan nasional yang membuka akses, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan
membentuk peradaban modern.
3.1.1. Pangsa Pasar
Indonesia tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar terhadap penambahan kapasitas
pembangkit batubara baru secara global pada tahun 2024, dengan penambahan sebesar 1,9
GW, menjadikannya urutan ketiga setelah China dan India. Menariknya, sekitar 80% dari
kapasitas baru tersebut berupa pembangkit Listrik tenaga uap (PLTU), yaitu pembangkit yang
dibangun khusus untuk melayani kebutuhan energi industri—terutama smelter logam seperti
nikel, kobalt, dan aluminium yang mendukung era kendaraan listrik (EV) yang sedang
berkembang pesat.
Menurut laporan Global Energy Monitor (GEM) yang dikutip Mongabay, kapasitas pembangkit
listrik meningkat tajam dari 5,5 GW pada 2019 menjadi 16,6 GW pada 2024—sebuah lonjakan
besar yang mencerminkan ekspansi industri hilir yang masif. Saat ini, terdapat 130 unit
pembangkit kapasitas minimal 30 MW, dengan 21 unit lainnya sedang dikonstruksi atau dalam
tahap perencanaan.
Indonesian National Shipowners Association (INSA) menilai kebijakan hilirisasi Presiden Joko
Widodo (Jokowi) yang melarang ekspor bahan mentah hasil tambang seperti nikel membawa
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk III-1
Page 38
berkah bagi industri pelayaran di tanah air. Dengan adanya hilirisasi akan mengembangkan
banyak angkutan laut baru yaitu dari daerah ke daerah, dimana kapal-kapal domestik akan
mendominasi pelayanan logistik distribusi mineral tambang antar pulau di dalam negeri.
Karena sebagian besar smelter berlokasi di kawasan pesisir atau pulau-pulau dengan
infrastruktur terbatas, distribusi batubara untuk PLTU sangat bergantung pada angkutan laut,
terutama kapal tunda (tugboat) dan tongkang (barge).
3.1.2. Kesinambungan (Sustainability)
Saat ini 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) masih
dioperasikan oleh LSJ, ASR dan MKL untuk mengangkut produk bauksit, batubara dan tandan
buah segar (TBS), untuk menjaga kesinambungan (sustainability) TIRT agar dapat
mempertahankan kelangsungan usahanya ke depan yaitu dengan melakukan diversifikasi
komoditas seperti pengangkutan nikel, pasir, pupuk, semen, atau logistik barang proyek.
3.1.3. Potensi Pasar
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target kewajiban pasokan
batubara untuk dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) pada tahun 2025 akan
lebih besar dibandingkan tahun 2024. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),
mengatakan target DMO tahun ini mencapai 239,7 juta ton.
Dalam perhitungan, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan target DMO sepanjang tahun
2024 yang berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) adalah 181,3 juta ton.
Sedangkan dalam realisasi mencapai 209,93 juta ton atau persentase DMO sepanjang 2024
adalah mencapai 115,79%. Adapun, jika dibandingkan arti target DMO tahun 2025 ini meningkat
24,36% dibandingkan target DMO tahun lalu.
ESDM mengatakan peningkatan target ini berdasarkan perhitungan yang dari hasil rapat
multilateral dengan pelaku industri batubara. Target dari prognosa hasil, ESDM melakukan
rapat multilateral dengan pelaku industri yang menggunakan batu bara. Pertimbangan lainnya
adalah melihat dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2025.
Adapun, sebagian dari DMO tahun ini ungkap dia masih akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sebelumnya, Asosiasi Pertambangan
Batubara Indonesia (APBI) memprediksi kebutuhan Indonesia terhadap batu bara tahun 2025
akan terus meningkat, terutama untuk menjaga ketahanan energi.
Dengan penambahan volume DMO tahun ini menurutnya pemerintah juga akan menargetkan
adanya kenaikan produksi dan juga kenaikan konsumsi batubara domestik.
3.1.4. Sasaran
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memperkirakan permintaan listrik
Indonesia diperkirakan akan tumbuh dengan dimulainya proyek pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) baru sebesar 35.000 MW. Pada tahun 2024, konsumsi listrik domestik ditargetkan
mencapai 1.408 kWh/kapita, dari sekitar 1.285 kWh/kapita pada tahun 2023 dan 1.173
kWh/kapita pada tahun 2022. Pada bulan Desember 2023, ESDM melelang empat blok tambang
batu bara baru -- dua di Kalimantan dan dua di Sumatra.
Analisis dan prakiraan International Energy Agency's (IEA) untuk tahun 2024-2026
memperkirakan pembangkit listrik tenaga batubara Indonesia akan meningkat sekitar 5%
selama periode ini dan mempertahankan pangsa yang stabil dalam bauran pembangkit listrik.
Secara keseluruhan, IEA memproyeksikan permintaan domestik Indonesia mencapai 284 juta
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk III-2
Page 39
ton pada tahun 2026, naik dari kurang dari 200 juta ton pada tahun 2024. Oleh karena itu yang
menjadi target pasar industri jasa pengangkutan yaitu memasok kepada perusahaan-
perusahaan pembangkit listrik di wilayah Indonesia.
3.1.5. Potensi Nilai Pasar
Pasar Batubara Indonesia bernilai USD 211,41 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan
mencapai USD 369,19 miliar pada tahun 2032, dengan pertumbuhan CAGR sebesar 7,2% dari
tahun 2026 hingga 2032.
Pendorong pasar utama permintaan Ekspor yang Kuat dari Negara-negara Asia: Permintaan
ekspor, terutama dari Tiongkok, India, dan negara-negara Asia lainnya, telah menjadi
pendorong signifikan bagi batubara Indonesia. Sebagai eksportir batubara termal terbesar di
dunia, Indonesia telah diuntungkan oleh kebutuhan energi negara-negara berkembang pesat di
kawasan ini, terutama selama periode pemulihan ekonomi pascapandemi.
3.2. Pesaing Usaha
Pihak-pihak yang menjadi pesaing adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang sejenis.
Pada kegiatan usaha jasa pengangkutan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) merupakan perusahaan jasa logistik dan transportasi laut,
dimana TCPI memiliki beragam jenis kapal untuk memenuhi kebutuhan logistik dan
transportasi laut seperti mother vessel, tugboat dan barge, pusher tugs dan pusher barges,
floating crane dan assist tug.
2. PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) adalah perusahaan jasa logistik dan
transportasi laut, dimana PSAT memiliki beragam jenis kapal untuk memenuhi kebutuhan
logistik dan transportasi laut seperti, tugboat dan barge dan bulk carrier.
3. PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) merupakan perusahaan jasa logistik yang
mengoperasikan tugboat, barge dan floating crane.
4. PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) adalah perusahaan layanan logistik laut yang
mengoperasikan fasilitas muatan apung, tugboat, barge, bulk carrier, dan tongkang derek
apung.
Industri transportasi laut komoditas pertambangan di Indonesia saat ini berada dalam kondisi
persaingan yang ketat. Sebagian besar kontrak jangka panjang dengan perusahaan tambang
utama dikuasai oleh sejumlah pelaku usaha besar yang memiliki keunggulan pada kepemilikan
armada modern dengan kapasitas angkut besar, efisiensi operasional, serta hubungan strategis
dengan pemilik tambang yang memungkinkan stabilitas pendapatan meskipun terjadi fluktuasi
pasar.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk III-3
Page 40
Sebaliknya, pelaku usaha menengah dan kecil umumnya bergantung pada pasar spot yang
sangat sensitif terhadap perubahan harga batubara global dan volume permintaan. Kondisi ini
menimbulkan risiko volatilitas pendapatan yang tinggi, terlebih dengan adanya potensi
kelebihan kapasitas pada periode penurunan permintaan atau gangguan musim hujan yang
memengaruhi jalur distribusi. Di sisi regulasi, penerapan asas cabotage, kewajiban penggunaan
kapal berbendera Indonesia, serta standar keselamatan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
memberikan proteksi terhadap pelaku domestik, namun secara bersamaan menuntut
pemenuhan persyaratan yang dapat meningkatkan beban biaya operasional.
Prospek industri ini ke depan akan ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha untuk melakukan
konsolidasi, penerapan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan transparansi operasional,
serta adaptasi terhadap tuntutan pasar global terkait keberlanjutan dan pengurangan emisi.
Diversifikasi muatan, termasuk pengangkutan komoditas curah lainnya seperti nikel, menjadi
strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap batubara di tengah dinamika
transisi energi global. Dalam lanskap persaingan yang demikian, keberhasilan akan sangat
ditentukan oleh kekuatan modal, efisiensi biaya, daya saing armada, serta ketangguhan strategi
bisnis dalam menghadapi volatilitas pasar.
3.3. Strategi Pemasaran
Perseroan membeli armada kapal dalam kondisi beroperasi untuk menjalankan kontrak antara
pemilik kapal dengan penyewa. Setelah Perseroan membeli armada kapal milik LSJ, MKL dan
ASR, Perseroan juga akan memperoleh pengalihan kontrak yang sedang berjalan dari LSJ dan
MKL sebagai berikut:
a. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 032/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan LSJ.
b. Perjanjian pengangkutan bauksit No. 033/PURCH/WHW/II/2025 tanggal 28 Februari 2025
antara WHW dengan MKL.
c. Surat perjanjian angkutan laut No. 035/MKL-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024 antara
MKL dengan MBL.
d. Surat perjanjian angkutan laut No. 021/LSJ-MBL/XII/2024 tanggal 30 Desember 2024 antara
LSJ dengan MBL.
e. Perjanjian sewa menyewa kapal “Time Charter” No. 001A/LSJ-GHL/I/2025 445-ANGKT/GHLL-
TRNE/JKT/02/2025 tanggal 3 Januari 2025 antara LSJ dengan GHL.
Strategi pemasaran Perseroan dalam menjalankan kegiatan usahanya dengan mengoptimalkan
kontrak eksisting dan melakukan ekspansi pasar baru.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Perseroan berkomitmen untuk membangun dan
mengembangkan bisnis pelayaran yang berkelanjutan. Tidak hanya terbatas pada
pengoperasian 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge)
pada tahap awal, Perseroan akan secara bertahap melakukan penambahan aset kapal sesuai
dengan kebutuhan operasional dan peluang pertumbuhan pasar. Langkah ini akan didukung
dengan peningkatan kapasitas pelayanan, diversifikasi rute dan jenis kargo.
Berdasarkan analisis kelayakan pasar yang mencakup kondisi pasar, pesaing usaha dan strategi
pemasaran, dapat disimpulkan bahwa aspek pasar Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk III-4
Page 41
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1. Kapasitas
Rencana pengembangan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan yaitu TIRT berencana akan
membeli 20 (dua puluh) unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) yang
akan dioperasikan secara berpasangan menjadi 10 set tugboat (TB) dan tongkang (TK) dari pihak
terafiliasi TIRT dengan sumber pendanaan dari fasilitas pinjaman yang telah dimiliki TIRT dari HJR
sebagai pemegang saham TIRT. Dimana kapasitas muatan kapal bervariasi bergantung pada
dimensi kapal yang akan digunakan, berikut informasi kapasitas muatan setiap kapal:
Jenis Penyewaan Kapasitas
No. Uraian
Kapal Muatan (MT)
1 TB Bawal Mandiri I & TK Bawal Sejahtera I Time Charter 144
2 TB Rita 106 & TK Mariam 12 Freight Charter 3.500
3 TB Artha Sarana 58 & TK Goldwood IV Freight Charter 2.500
4 TB RYL 6 & TK Srikandi Jaya II Freight Charter 3.500
5 TB RYL 15 & TK Mariam 18 Freight Charter 3.300
6 TB Mitra Jaya VII & TK Karya 8 Freight Charter 4.500
7 TB RYL 9 & TK KC 240555 Freight Charter 4.500
8 TB Rita 102 & TK Rita 203 Freight Charter 4.700
9 TB Rita 109 & TK Mariam 6 Freight Charter 3.200
10 TB RYL 7 & TK Rita 204 Freight Charter 4.700
Dokumentasi visual setiap armada kapal dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.2. Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Dalam menjalankan Kegiatan Usaha, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang
berpengalaman dibidang jasa pengangkutan komoditas tambang. Perseroan membutuhkan
personil sebanyak 11 orang, dimana 2 personil dipenuhi dari personil eksisting Perseroan dan 9
personil dipenuhi dari pihak yang terafiliasi dengan Perseroan.
4.3. Proses Produksi/Jasa
Proses penyediaan produksi/jasa pengangkutan komoditas pertambangan adalah sebagai
berikut:
4.3.1. Kontrak Pengangkutan
• TIRT dan Charterer/Penyewa menyepakati kontrak jasa pengangkutan laut.
• Kontrak sekurangnya memuat informasi tentang :
- Para pihak.
- Lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan.
- Durasi kontrak.
- Kegiatan pemuatan & pembongkaran.
- Metode pembayaran & tarif yang disepakati.
- Hak dan Kewajiban TIRT dan Charterer/Penyewa.
- Kepatuhan terhadap Standar & Regulasi.
• Setelah penandatanganan kontrak antara TIRT dan Charterer/Penyewa, TIRT
mempersiapkan kegiatan transhipment ke jetty pelabuhan atau ke kapal besar/Mother
Vessel (MV).
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk IV- 1
Page 42
4.3.2. Persiapan Armada
• TIRT & Charterer/Penyewa melakukan Safety Check armada sebelum dilakukan kegiatan
transhipment.
Pengecekan armada meliputi:
- Pengecekan Stability Booklet.
- Plat deck Tongkang.
- Sideboard Tongkang.
- Rampdoor Tongkang (jika ada).
- Drainase & pintu tongkang.
- Angka Draught pada tongkang.
- Jumlah fender pada tongkang.
- Jangkar dan peralatannya Tongkang.
- Tali Tongkang.
- Dokumen Tongkang.
- Kondisi permesinan Tugboat.
- Alat-alat Navigasi.
- Alat-alat keselamatan.
- Draught Tugboat.
- Tali & peralatan towing Tugboat.
- Jangkar dan peralatannya Tugboat.
- Dokumen Tugboat.
- Dokumen & kondisi awak kapal (crew).
4.3.3. Persiapan Menuju Pelabuhan/Pelabuhan Muat
• Pertukaran Informasi
- Nahkoda harus melakukan pertukaran informasi dengan Pelabuhan yang mencakup hal-
hal seperti di bawah ini, sebelum kapal tiba di pelabuhan terminal/Pelabuhan muat:
- Informasi dari Nahkoda kepada Pelabuhan meliputi:
a. Kesiapan kapal.
b. Draught dan trim kapal tiba.
c. Perkiraan maksimum draught/draft dan trim selama dan selesai penanganan muatan
serta perkiraan waktu berangkat.
d. Bantuan Tugboat bila dibutuhkan.
e. Kebutuhan pencucian ruang muat Tongkang.
f. Pekerjaan perbaikan hingga dapat menyebabkan keterlambatan terhadap
pengoperasian penanganan muatan.
g. Menyusulkan pengoperasian penanganan muatan atau merubah perencanaan
penanganan muatan.
h. Kondisi muatan sebelumnya - bila sebagian muatan masih ada – pelaporan dalam hal
jenis muatan, jumlah dan penempatannya.
i. Jumlah dan jenis muatan.
j. Menunggu ijin masuk dari pelabuhan muat / bongkar.
- Informasi dari Pelabuhan kepada Nahkoda meliputi :
b. Prediksi pasang surut perairan pelabuhan dan density air laut sekitar dermaga selama
air surut.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk IV- 2
Page 43
c. Menggunakan Tugboat atau Mooring boat, apabila dibutuhkan bantuan untuk olah
gerak.
d. Menggunakan tali Tugboat.
e. Kebutuhan tali tambat dan lain-lain untuk kegiatan sandar.
f. Sisi kapal yang akan sandar di dermaga.
g. Kecepatan dan sudut yang diizinkan pada waktu mendekati dermaga.
h. Perlengkapan isyarat visual dan bunyi selama kegiatan sandar di dermaga.
i. Untuk sandar di dermaga, persiapan penyediaan alat penghubung dari pelabuhan.
j. Rencana jumlah muatan dan karakteristik muatan.
k. Kecepatan maksimum pemuatan di darat.
l. Metode komunikasi antara kapal dan darat serta berkomunikasi dalam keadaan
darurat.
4.3.4. A. Persiapan Kapal Tiba Di Pelabuhan
- Nahkoda harus memiliki ijin berlayar menuju pelabuhan tujuan.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi dan mengantisipasi kondisi umum dari
pelabuhan, sebelum kapal tiba.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan rencana penyandaran
termasuk hal-hal yang disebutkan di bawah ini, yang dapat ditanyakan kepada Pandu.
- Untuk sandar di dermaga, kebutuhan minimum tali tambat dan perlengkapan lain dari
kapal, gambar keseluruhan letak bolder untuk penanganan muatan.
- Sebelum memasuki Pelabuhan, peralatan untuk keperluan penyandaran dipersiapkan dan
bila ditemukan ketidaksesuaian pada peralatan sehingga dapat mempengaruhi keamanan
kerja selama kegiatan penyandaran, segera dilaporkan kepada Administrator Pelabuhan
dan petugas yang berwenang. Jangkar dalam keadaan stand by bila diperlukan, sejauh
tidak ada larangan berlabuh jangkar. Jumlah minimum Awak kapal yang dibutuhkan harus
berada pada pos masing-masing.
4.3.4.B. Prosedur Pemuatan & Pembongkaran
• Persiapan Kapal Tiba Di MV
- Nahkoda harus memiliki izin berlayar menuju MV.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi dan mengantisipasi kondisi umum dari MV,
sebelum kapal tiba.
- Nahkoda harus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan rencana penyandaran
termasuk hal-hal yang disebutkan di bawah ini, yang dapat ditanyakan kepada Pandu.
- Untuk sandar di MV, kebutuhan minimum tali tambat dan perlengkapan lain dari kapal,
gambar keseluruhan letak bolder untuk penanganan muatan.
- Sebelum bersandar di MV, peralatan untuk keperluan penyandaran dipersiapkan dan
bila ditemukan ketidaksesuaian pada peralatan hingga dapat mempengaruhi keamanan
kerja selama kegiatan penyandaran, segera dilaporkan kepada Loading Master dan awak
kapal (crew) MV. Jangkar dalam keadaan stand by bila diperlukan, sejauh tidak ada
larangan berlabuh jangkar. Jumlah minimum Awak kapal yang dibutuhkan harus berada
pada pos masing-masing.
4.3.5. Operasi Pemuatan
- Nahkoda memberikan informasi kedatangan.
- Nahkoda memastikan kondisi Pelabuhan atau dermaga pelabuhan muat dan kondisi kapal
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk IV- 3
Page 44
sebelum sandar.
- Setelah sandar harus memastikan bahwa pengikatan (mooring) kapal telah terikat dengan
benar.
- Sebelum kegiatan muat, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Initial Draught.
- Kapal menerima proses pemuatan dan diawasi oleh awak kapal (crew).
- Nahkoda selalu mempertimbangkan konsekuensi persyaratan-persyaratan komersil dan
keamanan. Apabila ada ketidaksesuaian diantara keduanya, maka persyaratan keamanan
lebih diutamakan dibandingkan dengan persyaratan komersil.
- Setelah kegiatan muat, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor melakukan
pengecekan angka Final Draught.
- Setalah pemuatan, Nahkoda menandatangani hasil Draught Survey sebagai acuan jumlah
muatan yang dibawa oleh kapal.
- Kapal menerima dokumen muatan (Manifest, Bill of Lading, Draught Survey, Clearance
Pelabuhan tujuan atau Clearance MV).
- Sebelum kapal pergi meninggalkan Pelabuhan, Nahkoda mengecek kondisi muatan, kondisi
kapal & kesiapan berlayar.
- Sebelum kapal mengolong jembatan di alur sungai, pihak Nahkoda berkoordinasi dengan tim
darat serta agen terkait pengadaan kapal tunda dan pandu yang on board untuk memastikan
kapal dapat mengolong jembatan dengan baik.
4.3.6. Operasi Pembongkaran
- Nahkoda memberikan informasi kedatangan.
- Nahkoda memastikan kondisi Pelabuhan, sisi Mother Vessel, keadaan cuaca/ombak dan
kapal sebelum sandar.
- Setelah sandar harus memastikan bahwa pengikatan (mooring) kapal telah terikat dengan
benar.
- Sebelum kegiatan bongkar, Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Initial Draught.
- Kapal menerima proses pembongkaran dan diawasi oleh awak kapal (crew).
- Nahkoda selalu mempertimbangkan konsekuensi persyaratan-persyaratan komersil dan
keamanan. Apabila ada ketidaksesuaian diantara keduanya, maka persyaratan keamanan
lebih diutamakan dibandingkan persyaratan komersil.
- Setelah kegiatan bongkar Nahkoda dan tim Pelabuhan serta Independent Surveyor
melakukan pengecekan angka Final Draught.
- Setelah pemuatan, Nahkoda menandatangani hasil Draught Survey sebagai acuan jumlah
muatan yang dibawa oleh kapal yang akan ditagihkan.
- Kapal menerima dokumen muatan (Manifest, Bill of Lading, Draught Survey, Clearance
Pelabuhan tujuan, Clearance MV).
- Sebelum kapal pergi meninggalkan Pelabuhan atau MV, Nahkoda mengecek kapal &
kesiapan berlayar kembali ke Pelabuhan muat.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk IV- 4
Page 45
Bagan alur proses produksi/jasa pengangkutan dapat digambarkan sebagai berikut: Berdasarkan analisis kelayakan teknis yang mencakup kapasitas, ketersediaan dan kualitas sumber daya dan proses produksi dapat disimpulkan bahwa aspek teknis Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak. Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk IV- 5
Page 46
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1. Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan Dari Pola Bisnis
Keunggulan operasional yang akan dimiliki TIRT yaitu:
1. Standar HSE (Health, Safety, and Environment)
Perusahaan menerapkan standar keselamatan kerja, kesehatan, dan perlindungan
lingkungan yang memenuhi ketentuan nasional maupun internasional.
2. Pengalaman Manajemen
Pengalaman manajemen di industri angkutan laut mendukung efisiensi operasional melalui
pengelolaan sumber daya yang optimal, pengendalian risiko yang efektif, dan hubungan
strategis dengan mitra bisnis, sehingga memastikan kelancaran operasi, operasional yang
efektif dan efisien, dan keberlanjutan usaha.
3. Komitmen terhadap Service Level Agreement (SLA)
Perusahaan secara konsisten akan memenuhi target SLA yang telah disepakati dalam kontrak
angkutan laut dengan pelanggan. Hal ini mencerminkan komitmen terhadap keandalan
layanan, ketepatan waktu, dan kualitas hasil yang diharapkan.
4. Sistem Pemeliharaan Preventif (Pre-Maintenance System)
Diterapkannya sistem perawatan preventif yang terjadwal sesuai dengan standar Klas
Indonesia untuk memastikan kelayakan kapal (sea worthy), mengurangi potensi kerusakan
kapal serta memperpanjang umur aset. Strategi ini menurunkan biaya perbaikan darurat,
meminimalisir off-hire (downtime), dan memastikan keberlangsungan operasional.
Selain itu, keunggulan kompetitif TIRT terletak pada keunikan pola bisnis yang terintegrasi
secara vertikal dalam grup usaha terafiliasi, di mana TIRT direncanakan akan berperan dalam
mendukung kegiatan operasional entitas terafiliasi yang bergerak di sektor pertambangan
maupun smelter. Melalui keterlibatan ini, TIRT memperoleh kepastian usaha dan keberlanjutan
pendapatan, karena menyediakan jasa pengangkutan komoditas tambang kepada entitas
terafiliasi.
TIRT merupakan bagian dari grup HJR yang beberapa entitas afiliasinya beroperasi di sektor
pertambangan. Struktur hubungan antara entitas-entitas tersebut dapat digambarkan melalui
diagram berikut:
Sumber: Manajemen TIRT
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk V-1
Page 47
5.2. Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Kegiatan Usaha yang akan dilakukan TIRT memiliki beberapa pesaing dengan produk dan jasa
yang sama, adapun beberapa pesaing tersebut yaitu TCPI, PSAT, TPMA dan PSSI.
Sebagai anak perusahaan dari HJR yang merupakan holding di industri pertambangan, TIRT
memiliki keunggulan kompetitif dimana para pesaing tidak memiliki akses kepada grup usaha
pada industri pertambangan. Melakukan transaksi dengan pihak berelasi juga memungkinkan
proses negosiasi dilakukan secara lebih efisien, dengan tetap memperhatikan prinsip kewajaran
dan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan yang berlaku.
5.3. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
Dengan adanya perubahan Kegiatan Usaha, TIRT menunjukkan kemampuan untuk menciptakan
nilai melalui strategi integrasi secara vertikal dalam rantai pasok industri pertambangan di
lingkungan grup usaha HJR. Perubahan Kegiatan Usaha ini membuka peluang bagi TIRT untuk
menjadi bagian dan mengelola jasa pengangkutan komoditas tambang yang sebelumnya
dijalankan oleh entitas terafiliasi, yaitu LSJ, ASR, dan MKL.
Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena keunikan
dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk menciptakan nilai
dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk V-2
Page 48
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
TIRT akan menjadi perusahaan yang bergerak di bidang angkutan laut dalam negeri untuk
barang umum dan angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang
pertambangan dan penggalian lainnya, dimana TIRT akan mengoperasikan armada kapal untuk
menyediakan jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan TBS melalui jalur
laut dalam negeri, baik kepada pihak afiliasi maupun pihak ketiga.
Tenaga kerja untuk Kegiatan Usaha akan disediakan sebanyak 11 orang yang telah
berpengalaman dalam berbagai bidang yang diperlukan untuk menjalankan Kegiatan Usaha.
6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property)
Dalam menjalankan angkutan laut dalam negeri untuk barang umum dan angkutan laut dalam
negeri untuk barang khusus serta aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya,
TIRT tidak memerlukan manajemen kekayaan intelektual.
6.3. Manajemen Risiko
Risiko atas Kondisi Cuaca
Kegiatan usaha Perseroan dapat dijalankan dengan lancar dalam kondisi cuaca yang
menunjang. Apabila terjadi hujan deras ataupun angin kencang yang menyebabkan gejolak
pada perairan tempat kapal Perseroan beroperasi, maka kegiatan operasional Perseroan dapat
tertunda atau terhambat. Hal ini berdampak negatif terhadap ketepatan waktu pengiriman
bauksit maupun batubara dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar dan sebaliknya.
Perseroan akan melakukan mitigasi dengan cara:
a. Selalu memonitor laporan cuaca dari BMKG (team HO remind ke lapangan)
b. Dalam perjanjian angkutan laut dengan pelanggan, mencantumkan clausul force major.
c. Menerapkan SOP bahwa saat cuaca ekstrim, kapal wajib menunggu / sandar di lokasi aman.
d. Memastikan seluruh peralatan kapal (terutama emergency) dapat berfungsi dengan baik
e. Selalu koordinasi dengan jetty, agen pelabuhan, Mother vessel, serta pemilik kargo untuk
penyesuaian jadwal maupun meminimalisir biaya penalty/demmurage (jika ada MV
demurrage)
Risiko Pihak Ketiga (Kecelakaan Kapal)
Wilayah atau lokasi tempat Perseroan memberikan jasa kepada pelanggannya juga
berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan usaha Perseroan. Di mana potensi terjadinya
kecelakaan, baik itu karena senggolan, ditabrak ataupun kandasnya kapal yang disebabkan
perairan sempit juga selalu menjadi pertimbangan dalam pemberian jasa, serta dapat
menyebabkan kapal tidak beroperasi optimal. Kecelakaan dapat saja terjadi karena kesalahan
pihak ketiga yang juga berlayar di wilayah atau lokasi perairan tersebut. Untuk menghindari
kecelakaan tersebut, Perseroan akan melakukan mitigasi dengan cara:
a. Mengasuransikan kapal Marine Hull dan Public Indemnity dengan nilai yang mencukupi
b. Saat di perairan sempit, ataupun akan melewati pengolongan jembatan, menggunakan jasa
pandu / assist,
c. Saat sandar / berthing menggunakan jasa assist
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-1
Page 49
d. Saat berada di perairan yang padat, menjaga jarak dengan kapal lain serta menjaga batas
kecepatan di RPM rendah
e. Memastikan peta laut update, alat navigasi bekerja dengan baik, maintenance rutin atas
system kemudi untuk mencegah hilangnya kendali kapal,
Risiko Kenaikan Harga Bahan Bakar
Risiko yang dimiliki oleh Perseroan adalah fluktuasi harga bahan bakar, namun Perseroan akan
melakukan mitigasi dengan membuat kesepakatan Rise and Fall untuk menyesuaikan kembali
harga sewa sesuai dengan fluktuasi harga bahan bakar.
6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Dalam memenuhi kapasitas dan kemampuan manajemen untuk melakukan Kegiatan Usaha,
Perseroan akan menggunakan tenaga ahli dalam bidang jasa angkutan laut yang
berpengalaman dalam bidang keahlian meliputi corporate secretary, operation & designated
person ashore, logistik, external relation & marketing, technical, health, safety, & environment,
HRGA & crewing dan legal.
6.5. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Struktur organisasi TIRT setelah melakukan perubahan kegiatan usaha menjadi sebagai berikut:
sumber: manajemen TIRT
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-2
Page 50
a) Berikut tugas dan tanggung jawab dari setiap personil setelah perubahan Kegiatan Usaha
adalah sebagai berikut:
No. Nama Jabatan Tugas dan Tanggung Jawab
1 Tham Presiden • Menetapkan visi, misi, strategi bisnis, dan rencana jangka
Arvin Direktur panjang.
Setyanto • Mengarahkan dan mengawasi implementasi strategi oleh
seluruh departemen. Mengambil keputusan strategis terkait
ekspansi armada, investasi, dan Corporate Action.
• Memastikan penerapan GCG (transparansi, akuntabilitas,
tanggung jawab, independensi, kewajaran).
• Memastikan kepatuhan terhadap peraturan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan regulasi pasar
modal lainnya.
• Menyampaikan laporan berkala & keterbukaan informasi
kepada publik sesuai ketentuan.
• Menjadi juru bicara utama kepada investor, analis, dan
pemegang saham.
• Memimpin Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan rapat
dengan dewan komisaris.
• Memastikan kinerja keuangan, operasional, dan keselamatan
pelayaran sesuai target.
• Menyetujui laporan keuangan untuk diaudit dan
dipublikasikan.
• Mewakili perusahaan di regulator maritim (Kemenhub, BKI,
IMO) dan asosiasi pelayaran.
2 Pohan Direktur • Menyusun rencana kerja tahunan dan anggaran setiap
Wijaya Po departemen.
• Mengimplementasikan strategi perusahaan.
• Memastikan operasional di setiap departemen sesuai SOP,
standar keselamatan, dan regulasi.
• Memastikan segala pelaporan memenuhi ketentuan
keterbukaan informasi (jika berdampak material pada
perusahaan).
• Menyusun strategi pengembangan organisasi dan kompetensi
karyawan sesuai kebutuhan bisnis.
• Menjaga integritas dan budaya kerja sesuai prinsip GCG.
• Memberikan masukan strategis untuk keputusan manajemen.
3 Jackson Corporate • Mengikuti perkembangan regulasi dari OJK, BEI, dan instansi
Indrawan Secretary pemerintah lainnya yang terkait dengan kegiatan perusahaan
terbuka.
• Menyiapkan laporan berkala kepada regulator sesuai
kewajiban sebagai perusahaan publik.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-3
Page 51
• Mengembangkan dan mensosialisasikan pedoman GCG, kode
etik perusahaan, serta kebijakan perusahaan kepada seluruh
pemangku kepentingan internal.
• Menjaga pelaksanaan GCG di seluruh lini organisasi agar
selaras dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung
jawab, independensi, dan kewajaran.
• Menyiapkan dan mendistribusikan undangan RUPS, menyusun
risalah rapat, dan mendokumentasikan hasilnya.
• Menangani permintaan informasi dari pemegang saham
dengan prinsip keterbukaan informasi yang wajar.
• Menyampaikan informasi kinerja keuangan, strategi bisnis, dan
prospek perusahaan secara tepat dan akurat kepada calon
investor dan analis pasar modal.
• Menyusun dan mengarsipkan dokumen penting perusahaan
seperti akta pendirian, anggaran dasar, keputusan RUPS, izin
usaha, perjanjian-perjanjian penting, dan dokumen legal
lainnya.
• Menjaga agar seluruh dokumen legal perusahaan selalu
diperbarui dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
• Berkoordinasi dengan tim internal, penasihat hukum, dan
underwriter dalam penyusunan dokumen prospektus,
company profile, dan keterbukaan informasi apabila terdapat
corporate action.
• Memastikan seluruh informasi yang dipublikasikan telah
melewati proses verifikasi dan sesuai prinsip keterbukaan.
• Menyusun jadwal rapat Direksi dan/atau Dewan Komisaris
serta menyiapkan notulensi rapat yang terdokumentasi
dengan baik.
• Menjadi penghubung administratif antara Direksi dan Dewan
Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan dan
manajemen.
• Menjamin bahwa semua informasi atau kejadian material yang
dapat mempengaruhi nilai perusahaan atau keputusan
investor disampaikan secara tepat waktu kepada publik dan
regulator.
4 Albert Finance, • Melakukan analisis keuangan secara berkala untuk memastikan
Adiwijaya Accounting keberlanjutan usaha.
& Tax • Menyusun laporan cash flow untuk memantau dan
mengendalikan pengeluaran dan penerimaan dana
perusahaan.
• Merancang kebutuhan pembiayaan untuk operasional
pelayaran dan pengembangan armada kapal (termasuk
docking dan perawatan).
• Mengelola budgeting dan forecasting secara berkala.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-4
Page 52
• Mengidentifikasi dan mengakses sumber pendanaan eksternal
(perbankan, leasing, investor strategis) termasuk penyusunan
proposal pembiayaan dan analisis kelayakan.
• Memastikan ketersediaan dana untuk kebutuhan operasional
kapal dan proyek pelayaran berjalan tanpa hambatan.
• Mengelola penempatan dana jangka pendek dan strategi
pengelolaan utang-piutang.
• Menyusun laporan keuangan bulanan, triwulan, dan tahunan
sesuai dengan standar PSAK, untuk kebutuhan internal dan
eksternal (auditor, regulator, investor).
• Memastikan keterlacakan biaya kapal per unit atau per rute
(cost center) untuk analisis profitabilitas dan pengambilan
keputusan manajerial.
• Melakukan analisa varians biaya operasional kapal dan proyek
untuk mendukung efisiensi biaya.
• Menyajikan laporan keuangan manajerial untuk evaluasi
kinerja.
• Menyediakan dokumen pendukung untuk kebutuhan audit
eksternal dan mematuhi peraturan yang berlaku.
• Menjaga kelengkapan dan keakuratan pencatatan keuangan
sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG).
• Memastikan seluruh kewajiban perpajakan (PPN, PPh, PBBKB,
pajak daerah) dilaksanakan tepat waktu dan sesuai ketentuan
perundang-undangan.
• Melakukan tax planning untuk mengoptimalkan beban pajak
perusahaan secara legal dan efisien.
5 Zulfikar Operation & • Memastikan kegiatan operasional kapal (berangkat, sandar,
Ramadhan Designated muat, bongkar, lay-up) berjalan sesuai jadwal, efisien, dan
Person aman.
Ashore • Berkoordinasi dengan pihak pelabuhan, agen kapal, dan
logistik darat untuk menjamin kelancaran operasional harian
kapal.
• Melakukan analisa kinerja kapal (fuel consumption,
turnaround time, voyage performance) dan menyusun strategi
peningkatan efisiensi operasional.
• Menyusun dan memantau Key Performance Indicators (KPI)
operasional armada.
• Menyusun laporan operasional kapal secara periodik dan
memberikan rekomendasi perbaikan kepada manajemen dan
pemangku kepentingan internal.
• Memastikan data operasional terdokumentasi dengan baik
untuk keperluan audit, pelaporan publik, dan evaluasi
manajemen.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-5
Page 53
• Bertindak sebagai penghubung utama antara pihak
manajemen darat dan kapal untuk penerapan International
Safety Management (ISM) Code.
• Memastikan seluruh kapal perusahaan mematuhi prosedur
keselamatan, perlindungan lingkungan, dan persyaratan
hukum maritim nasional maupun internasional.
• Melaksanakan audit rutin terhadap penerapan sistem
keselamatan di kapal, serta menindaklanjuti temuan audit
(baik internal maupun eksternal).
• Mendorong budaya keselamatan dan kepatuhan di seluruh
tingkatan operasional armada.
• Menyusun dan menguji prosedur tanggap darurat (emergency
response) untuk berbagai skenario (kebakaran, tabrakan,
tumpahan bahan bakar, dll).
• Menjadi person-in-charge dalam penanganan insiden
keselamatan atau lingkungan, termasuk pelaporan ke otoritas
berwenang (misalnya: Kemenhub, BKI).
• Menyusun dan menyediakan data kinerja operasional dan
keselamatan kapal untuk keperluan due diligence apabila
diperlukan saat corporate action.
• Berperan aktif dalam membangun citra profesional
perusahaan dalam hal keselamatan dan kepatuhan, sebagai
bagian dari nilai jual perusahaan kepada calon investor.
• Berkoordinasi erat dengan divisi Maintenance, HSE,
Compliance, dan Finance untuk memastikan keseluruhan
proses operasional berjalan selaras dan terdokumentasi
dengan baik.
• Terlibat dalam pengambilan keputusan strategis terkait
pengadaan kapal, docking, dan pemetaan rute pelayaran.
6 Dwi Logistik • Merencanakan, melaksanakan, dan memonitor proses
Mustofa pengadaan kebutuhan operasional kapal (spare part, alat
keselamatan, bahan habis pakai, perbekalan kapal) dan
kebutuhan kantor darat sesuai prosedur dan anggaran yang
disetujui.
• Memastikan seluruh proses pengadaan sesuai dengan prinsip
transparansi, efisiensi, dan kepatuhan terhadap kebijakan
perusahaan.
• Melakukan seleksi vendor secara objektif dan membina
hubungan yang baik dengan pemasok strategis untuk
mendapatkan harga, kualitas, dan waktu pengiriman terbaik.
• Memastikan tersedianya kontrak kerja sama dan kesepakatan
pengadaan yang terdokumentasi sesuai dengan regulasi.
• Mengelola inventaris dan gudang perusahaan (baik di kantor
pusat maupun di kapal secara efektif menggunakan sistem
manajemen stok (Warehouse Management System / ERP).
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-6
Page 54
• Melakukan stock opname secara berkala dan memastikan
tidak terjadi penyimpangan, kerusakan, atau keusangan
barang.
• Merencanakan dan mengatur pengiriman barang ke kapal atau
site galangan secara tepat waktu dan efisien, termasuk
dukungan untuk kegiatan docking, maintenance, dan
emergency supply.
• Memastikan pengemasan dan dokumentasi pengiriman sesuai
dengan standar keamanan dan regulasi pelayaran.
• Menganalisis biaya logistik dan melakukan continuous
improvement untuk menekan cost-to-serve tanpa mengurangi
kualitas dan kecepatan pelayanan.
• Berkoordinasi dengan divisi Finance dan Operation untuk
menyelaraskan perencanaan pengadaan dengan cash flow dan
jadwal operasional kapal.
• Menjamin kelengkapan dokumentasi logistik untuk kebutuhan
audit internal, eksternal, dan regulator.
• Bekerja sama erat dengan Operation, Technical, Procurement,
dan Marine Department untuk sinkronisasi kebutuhan barang
dan jasa berdasarkan rencana pelayaran dan pemeliharaan
kapal.
• Memberikan dukungan logistik untuk proyek-proyek strategis
seperti pengadaan kapal baru, docking tahunan.
7 Doddie External • Membangun dan menjaga hubungan baik dengan instansi
Pradhono Relation & pemerintah, seperti Kemenhub, BKI, Syahbandar, dan otoritas
Marketing pelabuhan.
• Menjalin komunikasi dengan asosiasi industri (INSA, IMO, dll).
• Mengurus perizinan, sertifikasi, dan korespondensi resmi antar
lembaga.
• Mendukung penyelesaian isu eksternal yang berpotensi
menghambat operasional kapal.
• Menjadi representasi perusahaan dalam forum, pertemuan
industri, atau event pelayaran.
• Mempromosikan layanan pelayaran perusahaan kepada calon
pelanggan (cargo owner, freight forwarder, dll).
• Menyusun strategi pemasaran rute, layanan charter, atau
logistik terpadu.
• Menjaga hubungan dengan customer melalui pendekatan
personal dan layanan prima.
• Menganalisis tren pasar pelayaran untuk pengembangan rute
atau jasa baru.
• Menyiapkan materi promosi seperti brosur, presentasi,
website, atau media sosial.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-7
Page 55
8 Sewfa Technical • Memastikan kapal dalam kondisi layak laut (seaworthy) secara
Adianto teknis dan mekanis.
• Mengawasi perawatan dan perbaikan kapal, baik rutin (planned
maintenance) maupun darurat.
• Mengelola docking schedule, termasuk anggaran dan
pelaksanaan pekerjaan galangan.
• Memastikan kepatuhan kapal terhadap standar teknis dan
keselamatan, baik dari regulator nasional (Kemenhub, BKI)
maupun internasional (IMO, ISM, dll).
• Mengevaluasi performa teknis kapal (fuel consumption, engine
performance, dll) untuk efisiensi operasional.
• Mengarahkan tim teknis, termasuk chief engineer kapal dan
teknisi darat, dalam pelaksanaan tugas teknikal.
• Mendukung proses pengadaan spare part dan peralatan teknis
bersama tim warehouse dan procurement.
9 Tedy Health, • Menjaga keselamatan kerja bagi seluruh kru kapal dan staf
Kurniawan Safety, & darat.
Environment • Mengawasi kepatuhan terhadap standar keselamatan dan
lingkungan, seperti ISM Code, MARPOL, SOLAS, dan aturan
nasional.
• Menyusun SOP dan pelatihan keselamatan, termasuk drill
kebakaran, evakuasi, dan penanganan bahan berbahaya.
• Melakukan inspeksi rutin di kapal dan fasilitas kerja untuk
mengidentifikasi potensi bahaya.
• Menangani dan melaporkan insiden (accident/near-miss) serta
memastikan tindakan korektif dilakukan.
• Mendukung pelestarian lingkungan, seperti pengelolaan
limbah kapal, emisi, dan penggunaan bahan ramah lingkungan.
• Berkoordinasi dengan regulator, audit eksternal, dan tim
internal terkait isu HSE.
10 Padinring HRGA & • Menyusun strategi dan kebijakan SDM untuk mendukung
B. Palisuri Crewing kebutuhan bisnis, termasuk struktur organisasi, manajemen
S.IP talenta, dan pengembangan kompetensi.
• Mengawasi seluruh fungsi HR dan GA, mulai dari rekrutmen,
payroll, hubungan industrial, hingga layanan umum kantor.
• Mendukung budaya kerja yang positif dan memastikan
penerapan nilai-nilai perusahaan.
• Memastikan kepatuhan pada regulasi ketenagakerjaan dan
audit internal/eksternal.
• Mengelola anggaran HRGA dan mengontrol efektivitas biaya
layanan pendukung perusahaan.
• Menjadi partner strategis manajemen dalam pengambilan
keputusan yang terkait dengan SDM dan organisasi.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-8
Page 56
• Menyusun strategi manajemen awak kapal, termasuk
perencanaan kru, rotasi, dan talent pool pelaut.
• Memastikan ketersediaan dan kualitas kru kapal sesuai dengan
regulasi dan standar operasional.
• Mengawasi proses rekrutmen, sertifikasi, kontrak, dan
pelatihan awak kapal.
• Membangun sistem monitoring kinerja dan kesejahteraan
pelaut untuk meningkatkan retensi dan performa.
• Menjaga hubungan baik dengan instansi terkait pelaut
(Syahbandar, sekolah pelayaran, dll).
• Mengelola anggaran crewing secara efisien tanpa
mengorbankan keselamatan dan kualitas kru.
11 Intan Legal • Mengawasi seluruh aspek hukum perusahaan, termasuk
Audiasari kontrak, perizinan, aset, dan risiko hukum.
• Memberikan nasihat hukum kepada manajemen dalam
pengambilan keputusan bisnis (terutama terkait operasional
kapal, pengadaan, kerja sama, dan litigasi).
• Meninjau dan menyusun kontrak bisnis, seperti perjanjian
charter, jasa pelabuhan, pembelian kapal, asuransi, atau
vendor.
• Memastikan kepatuhan terhadap hukum nasional dan
internasional di sektor pelayaran (UU Pelayaran, Peraturan
Kemenhub, IMO, MARPOL, dll).
• Mewakili perusahaan dalam penyelesaian sengketa hukum,
baik di luar pengadilan (negosiasi, mediasi) maupun dalam
proses hukum.
• Berkoordinasi dengan instansi pemerintah, notaris, konsultan
hukum, dan pihak eksternal lainnya.
• Mengelola dokumentasi legal perusahaan, termasuk akta, izin
usaha, dan dokumen aset kapal.
b) Pekerjaan, uraian pengalaman kerja, sertifikasi yang dimiliki dan seminar yang pernah diikuti
dari setiap personil adalah sebagai berikut:
No. Nama Uraian
1 Tham Arvin Setyanto Pengalaman Kerja : 2005 - sekarang
Masa Kerja : 20 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor of Economics, STIE Jayakusuma (2006)
Sertifikasi yang dimiliki : Certified Public Accountant (CPA). (2011)
dan The Professional Program in Accounting (PPAK) of Trisakti
University, Jakarta. (2009)
2 Pohan Wijaya Po Pengalaman Kerja : 1997 - sekarang
Masa Kerja : 28 tahun
Riwayat Pendidikan: Diploma of Accounting, STIE Trisakti
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-9
Page 57
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
3 Jackson Indrawan Pengalaman Kerja : 2009 - sekarang
Masa Kerja : 16 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor of Economics, Tarumanagara
University, Jakarta (2009)
Sertifikasi yang dimiliki : Certified Public Accountant (CPA). (2019)
4 Albert Adiwijaya Pengalaman Kerja : 2004 - sekarang
Masa Kerja : 21 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor of Economics of Tarumanagara
University, Jakarta. (2003)
Sertifikasi yang dimiliki : The Professional Program in Accounting
(PPAK) of Trisakti University, Jakarta. (2009)
5 Zulfikar Ramadhan Pengalaman Kerja : 2018 - sekarang
Masa Kerja : 7 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor of Naval architecture - University
Darma persada. (2018)
Sertifikasi yang dimiliki : Maritime Labour Convention / International
Naval Surveys Bureau – INSB. (2022), Company Security Officer /
International Naval Surveys Bureau – INSB. (2020), Designated
Person Ashore / International Naval Surveys Bureau – INSB. (2019)
dan Marine Surveyor & Superintend / International Naval Surveys
Bureau – INSB. (2018)
6 Dwi Mustofa Pengalaman Kerja : 2017 - sekarang
Masa Kerja : 8 tahun
Riwayat Pendidikan: Sarjana Pendidikan Geografi - Universitas
Lampung. (2018)
Sertifikasi yang dimiliki : Excel Intermediate Training – INTERNUSA
CLC. (2023), Basic Training Operational Marine – Harita Shipping.
(2023), Ahli K3 Umum – Gadjah Mada Yogyakarta. (2021),
Management Unit Alat Berat Training – PT Trakindo Utama. (2021),
IC WATER Enviromental Relisience – Universitas Gajah Mada. (2017)
7 Doddie Pradhono Pengalaman Kerja : 1997 - sekarang
Masa Kerja : 28 tahun
Riwayat Pendidikan: MSc. International Business (IB) - University of
Stirling, Stirling U.K. (2000 - 2001), MM. Master of Management
Program - Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia. (1999 -
2000), Bachelor of Technical (First Degree) - Architecture Petra
Christian University, Surabaya Indonesia. (1992 - 1997)
Sertifikasi yang dimiliki : Marketing Audit Made Easy - MarkPlus
Consulting. (2013), Pelatihan Pemahaman CoC FSC New Standar -
FSC STD 40 004 V3 0 EN 2016 - MK Training Consultation. (2017),
Practical Problem Solving Course - PPM Management. (2024)
8 Sewfa Adianto Pengalaman Kerja : 2004 - sekarang
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-10
Page 58
Masa Kerja : 21 tahun
Riwayat Pendidikan: Sarjana Teknik Perkapalan – Universitas
Muhammadiyah Surabaya (2010)
Sertifikasi yang dimiliki : Hull Construction & Electrial - Badan
Klasifikasi RINA. (2010), English Languange - UPT Bahasa ITS
Surabaya. (2005)
9 Tedy Kurniawan Pengalaman Kerja : 2013 - sekarang
Masa Kerja : 12 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor Degree Of Occupational Health and
Safety – University of Binawan. (2018)
Sertifikasi yang dimiliki : Certified Occupational Safety & Health
Expert Candidate. (2018), Certified of Competence Junior Expert
Occupational health and Safety Associate. (2016), Certified Internal
Auditor ISM Code. (2024), Certified Quality Management
Representative. (2025), Certified Training Basic Fire, Basic First Aid,
and Evacuation (2015)
10 Padinring B. Palisuri S.IP Pengalaman Kerja : 2014 - sekarang
Masa Kerja : 21 tahun
Riwayat Pendidikan: Bachelor’s Degree of Political Science - 45
Makassar University. (2014)
Sertifikasi yang dimiliki : Sistem Manajemen Keselamatan – WNS
Training Center. (2017)
11 Intan Audiasari Pengalaman Kerja : 2016 - sekarang
Masa Kerja : 9 tahun
Riwayat Pendidikan: Sarjana Hukum, Universitas Esa Unggul. (2015)
Sertifikasi yang dimiliki : Konsultan Hukum Pasar Modal. (2023)
Struktur organisasi sudah sesuai dan mendukung alur proses produksi/jasa pengangkutan yang
dibutuhkan. Hubungan antara fungsi-fungsi di dalamnya jelas, selaras dengan kebutuhan
operasional, dan mampu mendukung efektivitas manajemen.
Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, yang mencakup ketersediaan tenaga kerja,
manajemen kekayaan intelektual (intellectual property), manajemen risiko, kapasitas dan
kemampuan manajemen dan kesesuaian struktur organisasi dan manajemen dapat disimpulkan
bahwa aspek model manajemen Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VI-11
Page 59
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN
Kegiatan Usaha diasumsikan sebagai entitas operasional yang lengkap tersendiri sebagai pengganti
kegiatan usaha Perusahaan yang sudah dijalankan sebelumnya.
7.1. Biaya Pendirian (start up costs)
7.1.1. Modal Tetap
Investasi modal tetap meliputi 20 (dua puluh) unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang
(barge) dengan rincian sebagai berikut:
Jenis Kapal (Unit) Jumlah Jumlah
No. Pemilik Kapal
Satuan (Unit) (Rp.000)
Tugboat Barge
1 LSJ 6 5 11 86.308.000
2 MKL 3 - 3 39.761.000
3 ASR 1 5 6 36.029.000
Jumlah 10 10 20 162.098.000
Keterangan:
- Berdasarkan informasi Perseroan, pada tanggal penilaian biaya investasi tersebut belum ada, sehingga biaya investasi tersebut
diperlukan pada awal tahun proyeksi sebelum Kegiatan Usaha beroperasi
- Saat ini 20 (dua puluh) unit kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) masih dioperasikan oleh LSJ, MKL dan ASR untuk
mengangkut produk bauksit, batubara dan TBS
- Investasi pembelian kapal sebesar Rp 162.098.000 ribu (belum termasuk PPN) berdasarkan PPJB antara LSJ, MKL dan ASR
dengan TIRT.
Sumber: Manajemen TIRT
7.2. Modal Kerja
Kebutuhan modal kerja selama 1-2 bulan pertama operasi merupakan perkiraan kebutuhan
modal kerja berdasarkan historikal perusahaan dari industri usaha yang sejenis.
Perkiraan Investasi modal kerja, perinciannya adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perkiraan Kebutuhan Modal Kerja
(Rp.000)
Turnover
Uraian Jumlah
(Bulan)
Piutang usaha 2 19.472.716
Persediaan 1 4.916.861
Utang usaha 2 (9.833.722)
Jumlah 14.555.855
Keterangan:
• Piutang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari pendapatan.
• Persediaan diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari beban pokok pendapatan.
• Utang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari beban pokok pendapatan.
7.3. Sumber Pembiayaan
Kebutuhan biaya investasi Kegiatan Usaha adalah sebagai berikut:
Biaya investasi (Rp.000)
Modal Tetap 162.098.000
Modal Kerja 14.555.855
Jumlah Investasi 176.653.855
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-1
Page 60
Sumber pembiayaan Kegiatan Usaha untuk modal tetap dan modal kerja seluruhnya dari kredit
yang berasal dari pinjaman pemegang saham, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 7.3
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Sumber Pembiayaan
(Rp.000)
Sumber Pembiayaan
Uraian Total
Modal Sendiri Kredit
A. Modal Tetap - 162.098.000 162.098.000
B. Modal Kerja - 14.555.855 14.555.855
Jumlah - 176.653.855 176.653.855
Struktur Pembiayaan 0,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
Dengan demikian perbandingan kredit terhadap modal sendiri (Debt/Equity) Kegiatan Usaha
tersebut adalah 0 : 100, atau seluruhnya dibiayai oleh pinjaman pemegang saham.
Sumber pembiayaan atas biaya modal tetap sebesar Rp 162.098.000 ribu (belum termasuk PPN)
dan biaya modal kerja sebesar Rp 14.555.855 ribu yang seluruhnya berasal dari kredit pinjaman
pemegang saham. Berdasarkan laporan keuangan TIRT per 30 Juni 2025 (audit), TIRT memiliki
fasilitas pinjaman pemegang saham sebesar Rp 1.000.000.000.000,- (satu triliun rupiah) yang
telah digunakan sebesar Rp 791.579.774 ribu,- (tujuh ratus sembilan puluh satu miliar lima ratus
tujuh puluh sembilan juta tujuh ratus tujuh puluh empat ribu rupiah), sehingga Perseroan
memiliki fasilitas pendanaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi dan modal kerja.
7.4. Persyaratan Kredit
Kredit yang dimohonkan terdiri dari kredit investasi dan kredit modal kerja sebagai berikut:
Persyaratan kredit investasi dan kredit modal kerja sebagai berikut:
Jenis fasilitas kredit : Kredit investasi dan kredit modal kerja
Tujuan penggunaan : Modal tetap dan modal kerja
Jumlah kredit : Rp 176.653.855 ribu
Sifat kredit : Revolving
Jangka waktu fasilitas kredit : Menyesuaikan dengan kondisi kas Perusahaan
Bunga : Tidak dikenakan bunga.
Skedul pembayaran bunga dan angsuran adalah sebagai berikut:
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Perhitungan Pembayaran Bunga dan Angsuran Pokok Utang Pemegang Saham (Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jun 2025 Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penarikan kredit - 176.653.855 - - - - -
Jumlah utang - 176.653.855 176.653.855 146.653.855 116.653.855 86.653.855 56.653.855
Bunga 0,00% - - - - - - -
Angsuran pokok - - 30.000.000 30.000.000 30.000.000 30.000.000 30.000.000
Saldo - 176.653.855 146.653.855 116.653.855 86.653.855 56.653.855 26.653.855
Catatan:
Berdasarkan perjanjian pinjam meminjam antara TIRT dengan HJR tanggal 19 Maret 2009 dan telah diubah beberapa kali, pinjaman TIRT tidak dikenakan biaya bunga oleh HJR
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-2
Page 61
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Perhitungan Pembayaran Bunga dan Angsuran Pokok Utang Pemegang Saham (Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Penarikan kredit - - - - -
Jumlah utang 26.653.855 - - - -
Bunga 0,00% - - - - -
Angsuran pokok 26.653.855 - - - -
Saldo - - - - -
Catatan:
Berdasarkan perjanjian pinjam meminjam antara TIRT dengan HJR tanggal 19 Maret 2009 dan telah diubah beberapa kali, pinjaman TIRT tidak dikenakan biaya bunga oleh HJR
7.5. Biaya Operasional
Biaya operasional terdiri dari Beban Pokok Pendapatan dan Beban Umum dan Administrasi.
Beban Pokok Pendapatan, dan Beban Umum dan Administrasi selama periode proyeksi adalah
sebagai berikut:
Tabel 7.4
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perkiraan Biaya Operasional Selama Periode Proyeksi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
0 1 2 3 4 5 6
Beban Pokok Pendapatan 30 Jun 2025 Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Kenaikan salaries & allowances 3,00% 0,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Salaries & allowances 6,00% Terhadap pendapatan 1.752.544 6.242.006 6.429.266 6.622.144 6.820.809 7.025.433
Fuel cost 25,00% Terhadap pendapatan 7.302.269 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359
Other cost (incl. biaya agen, asuransi kapal, perbaikan) 19,50% Terhadap pendapatan 5.695.769 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520
Jumlah Beban Pokok Pendapatan 14.750.582 52.536.886 52.724.146 52.917.024 53.115.688 53.320.312
Beban umum dan administrasi
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 0,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban beban umum dan administrasi 7,50% Terhadap pendapatan 2.190.681 7.802.508 8.036.583 8.277.680 8.526.011 8.781.791
Jumlah Beban Umum dan Administrasi 2.190.681 7.802.508 8.036.583 8.277.680 8.526.011 8.781.791
Jumlah Biaya Operasional - 16.941.263 60.339.393 60.760.729 61.194.704 61.641.699 62.102.104
Tabel 7.4
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perkiraan Biaya Operasional Selama Periode Proyeksi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
7 8 9 10 11
Beban Pokok Pendapatan 2031 2032 2033 2034 2035
Kenaikan salaries & allowances 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Salaries & allowances 6,00% Terhadap pendapatan 7.236.196 7.453.282 7.676.880 7.907.187 8.144.402
Fuel cost 25,00% Terhadap pendapatan 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359
Other cost (incl. biaya agen, asuransi kapal, perbaikan) 19,50% Terhadap pendapatan 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520
Jumlah Beban Pokok Pendapatan 53.531.075 53.748.161 53.971.760 54.202.066 54.439.282
Beban umum dan administrasi
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban beban umum dan administrasi 7,50% Terhadap pendapatan 9.045.245 9.316.602 9.596.100 9.883.983 10.180.503
Jumlah Beban Umum dan Administrasi 9.045.245 9.316.602 9.596.100 9.883.983 10.180.503
Jumlah Biaya Operasional 62.576.320 63.064.764 63.567.860 64.086.049 64.619.785
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
Biaya operasional yang dibutuhkan selama periode proyeksi adalah sebagai berikut:
a. Beban pokok pendapatan terdiri dari:
- Salaries & allowances merupakan biaya gaji dan berbagai tunjangan bagi awak kapal dan
posisi teknis lain di atas kapal yang diasumsikan sebesar 6,00% dari pendapatan tahun
pertama dan tahun kedua operasi, selanjutnya diasumsikan meningkat 3,00% setiap
tahun.
- Fuel cost yaitu biaya bahan bakar selama kapal beroperasi yang diasumsikan sebesar
25,00% dari pendapatan setiap tahun.
- Other Cost (termasuk biaya agen, asuransi kapal, dan perbaikan) merupakan bagian dari
biaya operasional langsung yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan operasional
kapal. Biaya agen timbul ketika kapal bersandar di pelabuhan untuk keperluan
pengurusan dokumen dan koordinasi pelabuhan. Biaya asuransi mencakup perlindungan
atas kerusakan fisik kapal serta tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga. Sementara
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-3
Page 62
itu, biaya perbaikan mencakup perawatan rutin guna memastikan kapal tetap dalam
kondisi optimal dan laik operasi di berbagai kondisi pelayaran yang diasumsikan sebesar
19,50% dari pendapatan setiap tahun.
b. Beban umum dan administrasi merupakan biaya-biaya yang tidak secara langsung terkait
dengan operasional kapal atau pengangkutan, tetapi diperlukan untuk mendukung kegiatan
usaha secara keseluruhan seperti gaji dan tunjangan staf kantor pusat, biaya kantor dan
pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang diasumsikan sebesar 7,50% di
tahun pertama dan kedua operasi, tahun selanjutnya diasumsikan meningkat 3,00% setiap
tahun.
7.6. Biaya Bahan Baku Mentah
Kegiatan Usaha adalah jasa pengangkutan komoditas terutama bauksit, batubara dan TBS
melalui jalur laut dalam negeri, dimana merupakan bidang usaha jasa pengangkutan dan tidak
memerlukan bahan baku karena bukan proses yang menghasilkan produk.
7.7. Asumsi – Asumsi dalam Proyeksi Keuangan
7.7.1. Proyeksi Laba Rugi (Tabel 7.10)
Periode disajikan selama 10 tahun 6 bulan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
- Proyeksi pendapatan diasumsikan sebagai berikut:
Proyeksi keuangan disusun selama 10 tahun 6 bulan berdasarkan pertimbangan Perseroan
dapat melunasi pinjaman dari HJR yang digunakan untuk melakukan pembelian 20 unit kapal
dan Perseroan telah menghasilkan arus kas yang stabil untuk memperoleh terminal value
pada metode discounted cash flow.
Perseroan berencana untuk mengubah kegiatan usahanya menjadi angkutan laut dengan
pendanaan dari HJR untuk membeli 20 unit kapal. Per tanggal penilaian Perseroan berada
dalam kondisi tidak beroperasi.
Sumber pendanaan yang berasal dari pinjaman pemegang saham pengendali untuk membeli
20 unit kapal akan meningkatkan akun utang pemegang saham dan aset tetap.
Dengan dilakukannya transaksi Perseroan akan kembali beroperasi komersial sehingga
meningkatkan akun pendapatan dan laba yang berasal dari aktivitas operasi kegiatan usaha
baru Perseroan.
Laba yang dihasilkan dari kegiatan operasi akan meningkatkan akun kas dan setara kas, saldo
laba dan ekuitas Perseroan.
Peningkatan pendapatan dan laba akan memperbaiki rasio profitabilitas Perseroan.
Peningkatan kas dan setara kas pada aset lancar akan meningkatkan rasio likuiditas
Perseroan. Peningkatan kas dan setara kas, aset tetap, saldo laba dan ekuitas Perseroan akan
meningkatkan rasio solvabilitas Perseroan.
o Proyeksi keuangan dilakukan dengan asumsi setiap armada kapal tunda (tugboat) telah
berpasangan dengan kapal tongkang (barge).
o Informasi kapasitas muatan setiap kapal adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-4
Page 63
Jenis Penyewaan Kapasitas
No. Uraian
Kapal Muatan (MT)
1 TB Bawal Mandiri I & TK Bawal Sejahtera I Time Charter 144
2 TB Rita 106 & TK Mariam 12 Freight Charter 3.500
3 TB Artha Sarana 58 & TK Goldwood IV Freight Charter 2.500
4 TB RYL 6 & TK Srikandi Jaya II Freight Charter 3.500
5 TB RYL 15 & TK Mariam 18 Freight Charter 3.300
6 TB Mitra Jaya VII & TK Karya 8 Freight Charter 4.500
7 TB RYL 9 & TK KC 240555 Freight Charter 4.500
8 TB Rita 102 & TK Rita 203 Freight Charter 4.700
9 TB Rita 109 & TK Mariam 6 Freight Charter 3.200
10 TB RYL 7 & TK Rita 204 Freight Charter 4.700
o Tingkat okupansi jenis penyewaan kapal Time Charter di tahun ke-1 proyeksi diasumsikan
selama 3 bulan dari total 6 bulan atau sebesar 50,00% dan tahun selanjutnya jumlah
bulan operasi diasumsikan selama 11 bulan dari total 12 bulan atau sebesar 91,67%.
o Tingkat okupansi muatan jenis penyewaan kapal Freight Charter diasumsikan sebesar
100% dari setiap trip yang dilakukan.
o Proyeksi tarif sewa disajikan berdasarkan dokumen perjanjian pengangkutan dan sewa
menyewa kapal LSJ dan MKL dengan WHW, MBL dan GHL yang direncanakan akan
dialihkan dari LSJ dan MKL kepada TIRT.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-5
Page 64
Proyeksi pendapatan disajikan sebagai berikut :
Tabel 7.5
PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Pendapatan (Rp.000)
Tahun Proyeksi
No. Uraian Satuan 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1 TB Bawal Mandiri I & TK Bawal Sejahtera I
Time Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Jumlah bulan Bulan 6 12 12 12 12 12
Jumlah bulan operasi Bulan 3 11 11 11 11 11
Tingkat okupansi (%) 50,00% 91,67% 91,67% 91,67% 91,67% 91,67%
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/Bulan 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Pendapatan Rp.000 750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000
2 TB Rita 106 & TK Mariam 12
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 10,00 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 35.000 94.500 94.500 94.500 94.500 94.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 1.988.543 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065
3 TB Artha Sarana 58 & TK Goldwood IV
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 2.500 2.500 2.500 2.500 2.500 2.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 10,00 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 25.000 67.500 67.500 67.500 67.500 67.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 1.420.388 3.835.046 3.835.046 3.835.046 3.835.046 3.835.046
4 TB RYL 6 & TK Srikandi Jaya II
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 9,00 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 31.500 94.500 94.500 94.500 94.500 94.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 1.789.688 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065
5 TB RYL 15 & TK Mariam 18
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.300 3.300 3.300 3.300 3.300 3.300
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 5,00 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 16.500 89.100 89.100 89.100 89.100 89.100
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 937.456 5.062.261 5.062.261 5.062.261 5.062.261 5.062.261
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-6
Page 65
Tabel 7.5
PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Pendapatan (Rp.000)
Tahun Proyeksi
No. Uraian Satuan 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
1 TB Bawal Mandiri I & TK Bawal Sejahtera I
Time Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Jumlah bulan Bulan 12 12 12 12 12
Jumlah bulan operasi Bulan 11 11 11 11 11
Tingkat okupansi (%) 91,67% 91,67% 91,67% 91,67% 91,67%
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/Bulan 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Pendapatan Rp.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000 2.750.000
2 TB Rita 106 & TK Mariam 12
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 94.500 94.500 94.500 94.500 94.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065
3 TB Artha Sarana 58 & TK Goldwood IV
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 2.500 2.500 2.500 2.500 2.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 67.500 67.500 67.500 67.500 67.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 3.835.046 3.835.046 3.835.046 3.835.046 3.835.046
4 TB RYL 6 & TK Srikandi Jaya II
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 94.500 94.500 94.500 94.500 94.500
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065 5.369.065
5 TB RYL 15 & TK Mariam 18
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.300 3.300 3.300 3.300 3.300
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00
Muatan MT 89.100 89.100 89.100 89.100 89.100
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 56,82 56,82 56,82 56,82 56,82
Pendapatan Rp.000 5.062.261 5.062.261 5.062.261 5.062.261 5.062.261
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-7
Page 66
Tabel 7.5
PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Pendapatan (Rp.000)
Tahun Proyeksi
No. Uraian Satuan 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
6 TB Mitra Jaya VII & TK Karya 8
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 12,00 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 54.000 162.000 162.000 162.000 162.000 162.000
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 5.670.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000
7 TB RYL 9 & TK KC 240555
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 8,00 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 36.000 162.000 162.000 162.000 162.000 162.000
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 3.780.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000
8 TB Rita 102 & TK Rita 203
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 11,00 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 51.700 169.200 169.200 169.200 169.200 169.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 5.428.500 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000
9 TB Rita 109 & TK Mariam 6
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.200 3.200 3.200 3.200 3.200 3.200
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 6,00 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 19.200 115.200 115.200 115.200 115.200 115.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 2.016.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000
10 TB RYL 7 & TK Rita 204
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 11,00 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 51.700 169.200 169.200 169.200 169.200 169.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 5.428.500 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000
TOTAL PENDAPATAN Rp.000 29.209.074 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-8
Page 67
Tabel 7.5
PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Pendapatan (Rp.000)
Tahun Proyeksi
No. Uraian Satuan 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
6TB Mitra Jaya VII & TK Karya 8
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 162.000 162.000 162.000 162.000 162.000
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000
7 TB RYL 9 & TK KC 240555
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.500 4.500 4.500 4.500 4.500
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 162.000 162.000 162.000 162.000 162.000
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000 17.010.000
8 TB Rita 102 & TK Rita 203
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 169.200 169.200 169.200 169.200 169.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000
9 TB Rita 109 & TK Mariam 6
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 3.200 3.200 3.200 3.200 3.200
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 115.200 115.200 115.200 115.200 115.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000 12.096.000
10 TB RYL 7 & TK Rita 204
Freight Charter
Jumlah pasangan kapal Unit 1 1 1 1 1
Kapasitas muatan MT 4.700 4.700 4.700 4.700 4.700
Tingkat okupansi muatan (%) 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah trip Trip 36,00 36,00 36,00 36,00 36,00
Muatan MT 169.200 169.200 169.200 169.200 169.200
Kenaikan tarif sewa (%) 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tarif sewa Rp.000/MT 105,00 105,00 105,00 105,00 105,00
Pendapatan Rp.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000 17.766.000
TOTAL PENDAPATAN Rp.000 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
- Proyeksi beban pokok pendapatan diasumsikan sebagai berikut:
o Salaries & allowances tahun ke-1 sampai tahun ke-2 diasumsikan 6,00% dari pendapatan
tahun ke-1 dan tahun ke-2 dan tahun selanjutnya salaries & allowances diasumsikan
meningkat 3,00% dari tahun sebelumnya.
o Fuel cost diasumsikan sebesar 25,00% dari total pendapatan setiap tahun.
o Other cost (incl. biaya agen, asuransi kapal, perbaikan) diasumsikan sebesar 19,50% dari
pendapatan setiap tahun.
- Proyeksi beban pokok pendapatan disajikan sebagai berikut :
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-9
Page 68
Tabel 7.6
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Beban Pokok Pendapatan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
30 Jun 2025 Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Kenaikan salaries & allowances 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Salaries & allowances 6,00% Terhadap pendapatan 1.752.544 6.242.006 6.429.266 6.622.144 6.820.809 7.025.433
Fuel cost 25,00% Terhadap pendapatan 7.302.269 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359
Other cost (incl. biaya agen, asuransi kapal, perbaikan) 19,50% Terhadap pendapatan 5.695.769 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520
Beban Pokok Pendapatan 14.750.582 52.536.886 52.724.146 52.917.024 53.115.688 53.320.312
Tabel 7.6
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Beban Pokok Pendapatan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Kenaikan salaries & allowances 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Salaries & allowances 6,00% Terhadap pendapatan 7.236.196 7.453.282 7.676.880 7.907.187 8.144.402
Fuel cost 25,00% Terhadap pendapatan 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359 26.008.359
Other cost (incl. biaya agen, asuransi kapal, perbaikan) 19,50% Terhadap pendapatan 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520 20.286.520
Beban Pokok Pendapatan 53.531.075 53.748.161 53.971.760 54.202.066 54.439.282
- Proyeksi beban umum dan administrasi diasumsikan sebesar 7,50% dari total pendapatan di
tahun ke-1 dan tahun selanjutnya beban umum dan administrasi diasumsikan meningkat
3,00% dari tahun sebelumnya disajikan sebagai berikut:
Tabel 7.8
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Beban Umum dan Administrasi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
30 Jun 2025 Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 0,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban beban umum dan administrasi 7,50% terhadap pendapatan 2.190.681 7.802.508 8.036.583 8.277.680 8.526.011 8.781.791
Beban umum dan administrasi 2.190.681 7.802.508 8.036.583 8.277.680 8.526.011 8.781.791
Tabel 7.8
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Beban Umum dan Administrasi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban beban umum dan administrasi 7,50% terhadap pendapatan 9.045.245 9.316.602 9.596.100 9.883.983 10.180.503
Beban umum dan administrasi 9.045.245 9.316.602 9.596.100 9.883.983 10.180.503
- Penyusutan
Perhitungan beban penyusutan disajikan pada lampiran 1.
- Bunga
Kegiatan Usaha menggunakan fasilitas kredit yang disajikan pada lampiran 2.
- Pajak
Tarif pajak diasumsikan sebesar 1,20% pendapatan setiap tahun.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-10
Page 69
Proyeksi Laba Rugi disajikan pada Tabel 7.10.
Tabel 7.10
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Laba Rugi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
30 Jun 2025 Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN #### - 29.209.074 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
BEBAN POKOK PENDAPATAN - (14.750.582) (52.536.886) (52.724.146) (52.917.024) (53.115.688) (53.320.312)
LABA KOTOR - 14.458.492 51.496.551 51.309.291 51.116.413 50.917.749 50.713.124
Beban Usaha - (2.190.681) (7.802.508) (8.036.583) (8.277.680) (8.526.011) (8.781.791)
Beban umum dan administrasi - (2.190.681) (7.802.508) (8.036.583) (8.277.680) (8.526.011) (8.781.791)
EBITDA - 12.267.811 43.694.043 43.272.708 42.838.733 42.391.738 41.931.333
Penyusutan - (2.051.553) (8.611.456) (9.016.701) (9.421.946) (9.827.191) (10.232.436)
EBIT - 10.216.258 35.082.587 34.256.007 33.416.786 32.564.547 31.698.897
Beban bunga - - - - - - -
EBT - 10.216.258 35.082.587 34.256.007 33.416.786 32.564.547 31.698.897
Tarif Pajak Final terhadap pendapatan 1,20% 1,20% 1,20% 1,20% 1,20% 1,20% 1,20%
Pajak - (350.509) (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401)
EAT - 9.865.749 33.834.186 33.007.606 32.168.385 31.316.145 30.450.496
Rasio Profitabilitas Rata-rata -
Margin Laba Kotor 48,62% n/a 49,50% 49,50% 49,32% 49,13% 48,94% 48,75%
Margin EBITDA 40,02% n/a 42,00% 42,00% 41,60% 41,18% 40,75% 40,31%
Margin EBIT 29,99% n/a 34,98% 33,72% 32,93% 32,12% 31,30% 30,47%
Margin EBT 29,99% n/a 34,98% 33,72% 32,93% 32,12% 31,30% 30,47%
Margin EAT 28,79% n/a 33,78% 32,52% 31,73% 30,92% 30,10% 29,27%
Return of Investment 16,96% n/a 5,58% 19,15% 18,68% 18,21% 17,73% 17,24%
Keterangan :
- Perhitungan penyusutan disajikan pada Lampiran 1
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
Tabel 7.10
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Laba Rugi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
PENDAPATAN #### 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
BEBAN POKOK PENDAPATAN (53.531.075) (53.748.161) (53.971.760) (54.202.066) (54.439.282)
LABA KOTOR 50.502.361 50.285.276 50.061.677 49.831.371 49.594.155
Beban Usaha (9.045.245) (9.316.602) (9.596.100) (9.883.983) (10.180.503)
Beban umum dan administrasi (9.045.245) (9.316.602) (9.596.100) (9.883.983) (10.180.503)
EBITDA 41.457.116 40.968.673 40.465.577 39.947.387 39.413.652
Penyusutan (10.637.681) (11.042.926) (11.448.171) (11.853.416) (12.258.661)
EBIT 30.819.435 29.925.747 29.017.405 28.093.971 27.154.991
Beban bunga - - - - -
EBT 30.819.435 29.925.747 29.017.405 28.093.971 27.154.991
Tarif Pajak Final terhadap pendapatan 1,20% 1,20% 1,20% 1,20% 1,20%
Pajak (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401) (1.248.401)
EAT 29.571.034 28.677.346 27.769.004 26.845.570 25.906.590
Rasio Profitabilitas Rata-rata
Margin Laba Kotor 48,62% 48,54% 48,34% 48,12% 47,90% 47,67%
Margin EBITDA 40,02% 39,85% 39,38% 38,90% 38,40% 37,89%
Margin EBIT 29,99% 29,62% 28,77% 27,89% 27,00% 26,10%
Margin EBT 29,99% 29,62% 28,77% 27,89% 27,00% 26,10%
Margin EAT 28,79% 28,42% 27,57% 26,69% 25,80% 24,90%
Return of Investment 16,96% 16,74% 16,23% 15,72% 15,20% 14,67%
Keterangan :
- Perhitungan penyusutan disajikan pada Lampiran 1
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
7.7.2. Proyeksi Posisi Keuangan (Tabel 7.11)
- Piutang Usaha
Piutang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari pendapatan.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-11
Page 70
- Persediaan
Persediaan diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari beban pokok pendapatan.
- Aset Tetap
Perhitungan nilai perolehan, akumulasi penyusutan dan nilai buku aset tetap disajikan pada
lampiran 1.
- Utang Usaha
Utang usaha diasumsikan dengan turnover 2 bulan dari beban pokok pendapatan.
- Utang Pemegang Saham
Kegiatan Usaha menggunakan fasilitas kredit dari pemegang saham yang disajikan pada
lampiran 2.
- Modal sendiri
Kegiatan Usaha tidak menggunakan modal sendiri, sehingga modal sendiri tidak ada.
- Saldo laba (rugi)
Saldo laba (rugi) adalah penjumlahan antara laba (rugi) bersih periode berjalan dengan saldo
(rugi) laba periode sebelumnya.
Proyeksi Posisi Keuangan disajikan pada Tabel 7.11.
Tabel 7.11
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Posisi Keuangan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jun 2025 Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar - 34.280.654 37.543.822 41.494.439 45.012.017 48.083.564 50.695.700
Kas dan Setara Kas 9.891.077 15.826.842 19.761.854 23.263.359 26.318.351 28.913.435
Piutang Usaha 2 bulan - 19.472.716 17.338.906 17.338.906 17.338.906 17.338.906 17.338.906
Persediaan 1 bulan - 4.916.861 4.378.074 4.393.679 4.409.752 4.426.307 4.443.359
Aset Tidak Lancar - 162.072.672 161.566.116 160.654.315 159.337.268 157.614.977 155.487.441
Aset Tetap
Nilai Perolehan - 164.124.225 172.229.125 180.334.025 188.438.925 196.543.825 204.648.725
Akumulasi Penyusutan - 2.051.553 10.663.009 19.679.710 29.101.657 38.928.848 49.161.284
Nilai Buku - 162.072.672 161.566.116 160.654.315 159.337.268 157.614.977 155.487.441
JUMLAH ASET - 196.353.326 199.109.938 202.148.754 204.349.285 205.698.541 206.183.141
LIABILITAS - 186.487.577 155.410.003 125.441.213 95.473.359 65.506.470 35.540.574
Liabilitas Jangka Pendek - 9.833.722 8.756.148 8.787.358 8.819.504 8.852.615 8.886.719
Utang Usaha 2 bulan - 9.833.722 8.756.148 8.787.358 8.819.504 8.852.615 8.886.719
Liabilitas Jangka Panjang - 176.653.855 146.653.855 116.653.855 86.653.855 56.653.855 26.653.855
Utang pemegang saham - 176.653.855 146.653.855 116.653.855 86.653.855 56.653.855 26.653.855
EKUITAS - 9.865.749 43.699.935 76.707.541 108.875.926 140.192.071 170.642.567
Modal Sendiri - - - - - - -
Saldo Laba - 9.865.749 43.699.935 76.707.541 108.875.926 140.192.071 170.642.567
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS - 196.353.326 199.109.938 202.148.754 204.349.285 205.698.541 206.183.141
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas Rata-rata
Current Ratio 909,48% n/a 348,60% 428,77% 472,21% 510,37% 543,16% 570,47%
Debt to Equity Ratio 69,24% n/a 1890,25% 355,63% 163,53% 87,69% 46,73% 20,83%
Debt to Assets Ratio 25,33% n/a 94,98% 78,05% 62,05% 46,72% 31,85% 17,24%
Keterangan : Perhitungan Aset Tetap penyusutan disajikan pada Lampiran 1
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-12
Page 71
Tabel 7.11
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Posisi Keuangan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
ASET
Aset Lancar 56.180.787 87.832.340 118.981.882 149.614.353 179.714.240
Kas dan Setara Kas 34.380.958 66.014.421 97.145.329 127.758.608 157.838.727
Piutang Usaha 2 bulan 17.338.906 17.338.906 17.338.906 17.338.906 17.338.906
Persediaan 1 bulan 4.460.923 4.479.013 4.497.647 4.516.839 4.536.607
Aset Tidak Lancar 152.954.660 150.016.633 146.673.362 142.924.846 138.771.085
Aset Tetap
Nilai Perolehan 212.753.625 220.858.525 228.963.425 237.068.325 245.173.225
Akumulasi Penyusutan 59.798.965 70.841.892 82.290.063 94.143.479 106.402.140
Nilai Buku 152.954.660 150.016.633 146.673.362 142.924.846 138.771.085
JUMLAH ASET 209.135.447 237.848.974 265.655.244 292.539.199 318.485.324
LIABILITAS 8.921.846 8.958.027 8.995.293 9.033.678 9.073.214
Liabilitas Jangka Pendek 8.921.846 8.958.027 8.995.293 9.033.678 9.073.214
Utang Usaha 2 bulan 8.921.846 8.958.027 8.995.293 9.033.678 9.073.214
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Utang pemegang saham - - - - -
EKUITAS 200.213.601 228.890.947 256.659.951 283.505.521 309.412.111
Modal Sendiri - - - - -
Saldo Laba 200.213.601 228.890.947 256.659.951 283.505.521 309.412.111
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 209.135.447 237.848.974 265.655.244 292.539.199 318.485.324
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas Rata-rata
Current Ratio 909,48% 629,70% 980,49% 1322,71% 1656,18% 1980,71%
Debt to Equity Ratio 69,24% 4,46% 3,91% 3,50% 3,19% 2,93%
Debt to Assets Ratio 25,33% 4,27% 3,77% 3,39% 3,09% 2,85%
Keterangan : Perhitungan Aset Tetap penyusutan disajikan pada Lampiran 1
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
7.7.3. Proyeksi Arus Kas (Tabel 7.12)
Proyeksi Arus Kas disajikan pada Tabel 7.12.
Berdasarkan proyeksi arus kas tersebut, terlihat akumulasi kas selalu positif setiap tahun dan
saldo kas bersih kumulatif pada akhir tahun ke-11 adalah Rp 157.838.727 ribu.
Tabel 7.12 900 30 30
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Arus Kas
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jun 2025 Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ARUS KAS DARI KEGIATAN OPERASI
Laba Bersih - 9.865.749 33.834.186 33.007.606 32.168.385 31.316.145 30.450.496
Penyusutan - 2.051.553 8.611.456 9.016.701 9.421.946 9.827.191 10.232.436
Perubahan Modal Kerja :
(Kenaikan) Penurunan Piutang Usaha - (19.472.716) 2.133.810 - - - -
(Kenaikan) Penurunan Persediaan - (4.916.861) 538.787 (15.605) (16.073) (16.555) (17.052)
Kenaikan (Penurunan) Utang Usaha - 9.833.722 (1.077.574) 31.210 32.146 33.111 34.104
Jumlah Perubahan Modal Kerja - (14.555.855) 1.595.023 15.605 16.073 16.555 17.052
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Operasi - (2.638.553) 44.040.665 42.039.912 41.606.404 41.159.892 40.699.984
ARUS KAS DARI KEGIATAN INVESTASI
(Kenaikan) Penurunan Aset Tetap (Nilai Perolehan) - (164.124.225) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Investasi - (164.124.225) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
ARUS KAS DARI KEGIATAN PENDANAAN
Kenaikan (Penurunan) Modal Sendiri - - - - - - -
Kenaikan (Penurunan) Utang Pemegang Saham - 176.653.855 (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Pendanaan - 176.653.855 (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000) (30.000.000)
KAS TAHUN BERJALAN - 9.891.077 5.935.765 3.935.012 3.501.504 3.054.992 2.595.084
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN - - 9.891.077 15.826.842 19.761.854 23.263.359 26.318.351
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN - 9.891.077 15.826.842 19.761.854 23.263.359 26.318.351 28.913.435
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-13
Page 72
Tabel 7.12
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Arus Kas
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
ARUS KAS DARI KEGIATAN OPERASI
Laba Bersih 29.571.034 28.677.346 27.769.004 26.845.570 25.906.590
Penyusutan 10.637.681 11.042.926 11.448.171 11.853.416 12.258.661
Perubahan Modal Kerja :
(Kenaikan) Penurunan Piutang Usaha - - - - -
(Kenaikan) Penurunan Persediaan (17.564) (18.090) (18.633) (19.192) (19.768)
Kenaikan (Penurunan) Utang Usaha 35.127 36.181 37.266 38.384 39.536
Jumlah Perubahan Modal Kerja 17.564 18.090 18.633 19.192 19.768
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Operasi 40.226.279 39.738.363 39.235.809 38.718.178 38.185.019
ARUS KAS DARI KEGIATAN INVESTASI
(Kenaikan) Penurunan Aset Tetap (Nilai Perolehan) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Investasi (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
ARUS KAS DARI KEGIATAN PENDANAAN
Kenaikan (Penurunan) Modal Sendiri - - - - -
Kenaikan (Penurunan) Utang Pemegang Saham (26.653.855) - - - -
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Pendanaan (26.653.855) - - - -
KAS TAHUN BERJALAN 5.467.524 31.633.463 31.130.909 30.613.278 30.080.119
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 28.913.435 34.380.958 66.014.421 97.145.329 127.758.608
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 34.380.958 66.014.421 97.145.329 127.758.608 157.838.727
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
7.8. Analisis Titik Impas (Break Even Point Analysis)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh
laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
pendapatan sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan
untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
𝐹𝐶
𝐵𝐸𝑃 =
𝑉𝐶
1 − 𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒
Dimana :
FC : Biaya tetap
VC : Biaya variabel
𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒 : Penjualan
Dalam perhitungan Break Even Point (BEP), beban maintenance dan beban overhead
digolongkan sebagai biaya tetap (fixed cost) dan beban pokok penjualan dan beban penjualan
sebagai biaya variabel (variable cost). Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP
dalam Rupiah untuk masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah
mencerminkan penjualan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk
pendapatan adalah sebagai berikut:
Tabel 7.13
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Analisis Break Even Point (BEP)
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian Rata-rata 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 29.209.074 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
Beban pokok pendapatan (Variable Cost ) 14.750.582 52.536.886 52.724.146 52.917.024 53.115.688 53.320.312
Beban umum dan administrasi (Fixed Cost ) 2.190.681 7.802.508 8.036.583 8.277.680 8.526.011 8.781.791
BEP Pendapatan (Rp.000) 17.145.912 4.425.617 15.762.642 16.294.775 16.846.948 17.420.060 18.015.059
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-14
Page 73
Tabel 7.13
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Analisis Break Even Point (BEP)
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
Beban pokok pendapatan (Variable Cost ) 53.531.075 53.748.161 53.971.760 54.202.066 54.439.282
Beban umum dan administrasi (Fixed Cost ) 9.045.245 9.316.602 9.596.100 9.883.983 10.180.503
BEP Pendapatan (Rp.000) 18.632.949 19.274.791 19.941.707 20.634.888 21.355.595
Rata-rata BEP pendapatan dalam Rupiah selama umur proyeksi adalah sebesar Rp 17.145.912
ribu.
7.9. Analisis Profitabilitas
Analisis Profitabilitas selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Laba Rugi dalam Tabel
7.10.
Rata-rata rasio profitabilitas selama umur proyeksi adalah sebagai berikut:
Tahun Proyeksi
Rasio Profitabilitas 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan (a) Rp.000 29.209.074 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
Laba kotor (b) Rp.000 14.458.492 51.496.551 51.309.291 51.116.413 50.917.749 50.713.124
EBITDA (c) Rp.000 12.267.811 43.694.043 43.272.708 42.838.733 42.391.738 41.931.333
EBIT (d) Rp.000 10.216.258 35.082.587 34.256.007 33.416.786 32.564.547 31.698.897
EBT (e) Rp.000 10.216.258 35.082.587 34.256.007 33.416.786 32.564.547 31.698.897
EAT (f) Rp.000 9.865.749 33.834.186 33.007.606 32.168.385 31.316.145 30.450.496
Margin Laba Kotor (b/a) 49,50% 49,50% 49,32% 49,13% 48,94% 48,75%
Margin EBITDA (c/a) 42,00% 42,00% 41,60% 41,18% 40,75% 40,31%
Margin EBIT (d/a) 34,98% 33,72% 32,93% 32,12% 31,30% 30,47%
Margin EBT (e/a) 34,98% 33,72% 32,93% 32,12% 31,30% 30,47%
Margin EAT (f/a) 33,78% 32,52% 31,73% 30,92% 30,10% 29,27%
Tahun Proyeksi
Rasio Profitabilitas 7 8 9 10 11 Rata-rata
2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan (a) Rp.000 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437 104.033.437
Laba kotor (b) Rp.000 50.502.361 50.285.276 50.061.677 49.831.371 49.594.155
EBITDA (c) Rp.000 41.457.116 40.968.673 40.465.577 39.947.387 39.413.652
EBIT (d) Rp.000 30.819.435 29.925.747 29.017.405 28.093.971 27.154.991
EBT (e) Rp.000 30.819.435 29.925.747 29.017.405 28.093.971 27.154.991
EAT (f) Rp.000 29.571.034 28.677.346 27.769.004 26.845.570 25.906.590
Margin Laba Kotor (b/a) 48,54% 48,34% 48,12% 47,90% 47,67% 48,62%
Margin EBITDA (c/a) 39,85% 39,38% 38,90% 38,40% 37,89% 40,02%
Margin EBIT (d/a) 29,62% 28,77% 27,89% 27,00% 26,10% 29,99%
Margin EBT (e/a) 29,62% 28,77% 27,89% 27,00% 26,10% 29,99%
Margin EAT (f/a) 28,42% 27,57% 26,69% 25,80% 24,90% 28,79%
Analisis atas proyeksi laba-rugi adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan TIRT selama jangka waktu proyeksi diasumsikan stabil karena tidak terdapat
kenaikan kapasitas muatan, kenaikan jumlah trip dan kenaikan tarif sewa.
b. Rasio margin laba kotor, EBITDA, EBIT, EBT dan EAT cenderung menurun dengan rata-rata
masing-masing sebesar 48,62%, 40,02%, 29,99%, 29,99% dan 28,79% utamanya dikarenakan
kenaikan salaries & allowances dan kenaikan beban beban umum dan administrasi.
7.10. Analisis Return on Investment (ROI)
Analisis Return on Invetment (ROI) selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Laba Rugi
dalam Tabel 7.10.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-15
Page 74
Tahun Proyeksi
Return on Invesment 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Laba bersih/EAT (a) Rp.000 9.865.749 33.834.186 33.007.606 32.168.385 31.316.145 30.450.496
Jumlah investasi (b) Rp.000 176.653.855 176.653.855 176.653.855 176.653.855 176.653.855 176.653.855
ROI (a/b) 5,58% 19,15% 18,68% 18,21% 17,73% 17,24%
Tahun Proyeksi
Return on Invesment 7 8 9 10 11 Rata-rata
2031 2032 2033 2034 2035
Laba bersih/EAT (a) Rp.000 29.571.034 28.677.346 27.769.004 26.845.570 25.906.590
Jumlah investasi (b) Rp.000 176.653.855 176.653.855 176.653.855 176.653.855 176.653.855
ROI (a/b) 16,74% 16,23% 15,72% 15,20% 14,67% 16,96%
Rata-rata ROI selama umur proyeksi adalah sebesar 16,96%.
7.11. Analisis Likuiditas dan Solvabilitas
Analisis Likuiditas dan Solvabilitas selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Posisi
Keuangan dalam Tabel 7.11.
Likuiditas dan solvabilitas Kegiatan Usaha cukup tinggi selama umur proyeksi. Rata-rata nilai
indikator current ratio, debt to equity ratio dan debt to asset ratio selama umur proyeksi, adalah
sebagai berikut:
Tahun Proyeksi
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset lancar (a) Rp.000 34.280.654 37.543.822 41.494.439 45.012.017 48.083.564 50.695.700
Total aset (b) Rp.000 196.353.326 199.109.938 202.148.754 204.349.285 205.698.541 206.183.141
Liabilitas jangka pendek (c) Rp.000 9.833.722 8.756.148 8.787.358 8.819.504 8.852.615 8.886.719
Total liabilitas (d) Rp.000 186.487.577 155.410.003 125.441.213 95.473.359 65.506.470 35.540.574
Ekuitas (e) Rp.000 9.865.749 43.699.935 76.707.541 108.875.926 140.192.071 170.642.567
Current Ratio (a/c) 348,60% 428,77% 472,21% 510,37% 543,16% 570,47%
Debt to Equity Ratio (d/e) 1890,25% 355,63% 163,53% 87,69% 46,73% 20,83%
Debt to Asset Ratio (d/b) 94,98% 78,05% 62,05% 46,72% 31,85% 17,24%
Tahun Proyeksi
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas 7 8 9 10 11 Rata-rata
2031 2032 2033 2034 2035
Aset lancar (a) Rp.000 56.180.787 87.832.340 118.981.882 149.614.353 179.714.240
Total aset (b) Rp.000 209.135.447 237.848.974 265.655.244 292.539.199 318.485.324
Liabilitas jangka pendek (c) Rp.000 8.921.846 8.958.027 8.995.293 9.033.678 9.073.214
Total liabilitas (d) Rp.000 8.921.846 8.958.027 8.995.293 9.033.678 9.073.214
Ekuitas (e) Rp.000 200.213.601 228.890.947 256.659.951 283.505.521 309.412.111
Current Ratio (a/c) 629,70% 980,49% 1322,71% 1656,18% 1980,71% 909,48%
Debt to Equity Ratio (d/e) 4,46% 3,91% 3,50% 3,19% 2,93% 69,24%
Debt to Asset Ratio (d/b) 4,27% 3,77% 3,39% 3,09% 2,85% 25,33%
Rata-rata Current Ratio, Debt to Equity Ratio dan Debt to Asset Ratio selama umur proyeksi
masing-masing sebesar 909,48%, 69,24% dan 25,33%.
7.12. Analisis Internal Rate of Return (IRR) dan Net Present Value (NPV)
Penentuan Tingkat Diskonto
Feasibilitas kelayakan usaha ditentukan dengan tingkat diskonto berdasarkan biaya modal rata-
rata tertimbang (Weight Average Cost of Capital, WACC), yang dihitung dengan formula sebagai
berikut :
WACC = Ke. We. + Kd (1-t). Wd
dimana :
WACC = Tingkat diskonto kelayakan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-16
Page 75
Ke = Biaya ekuitas
We = Proporsi ekuitas dalam struktur modal
Kd = Tingkat bunga pinjaman
t = Tarif Pajak, 0,00%
Wd = Proporsi utang dalam struktur modal
Biaya ekuitas dihitung dengan formula :
Ke = Rf + ß.Rpm + Rs
Dimana :
Ke = Biaya Ekuitas
Rf = Tingkat pendapatan bebas risiko
ß = Beta, yaitu faktor yang meliput risiko sistimatis dari suatu ekuitas
Rpm = Premi Risiko Ekuitas
Rs = Risiko Spesifik
Dari hasil perhitungan parameter-parameter tersebut diatas, maka tingkat diskonto untuk
industri sejenis yaitu Shipbuilding & Marine adalah sebagai berikut :
Uraian Nilai Sumber Keterangan
Harga dan Yield Obligasi Pemerintah
Penilai Harga Efek
Rf = 7,03% Republik Indonesia Tenor 30 Tahun
Indonesia
per 30 Juni 2025
RPm = 7,03% Damodaran Publikasi Juli 2025
Credit Default Spread (CDS) = 1,87% Damodaran Publikasi Juli 2025
Rs = 0,00% Judgement Penilai
Shipbuilding & Marine Publikasi
Unleverage Beta = 0,64 Damodaran
Januari 2025
Tax 0,00% PPh Badan
Shipbuilding & Marine Publikasi
DER Industri = 41,71% Damodaran
Januari 2025
Beta Releverage = 0,912 Hasil Perhitungan Bu x (1+((1-Tax)*DER))
Cost of Equity (Ke) = 11,56% Hasil Perhitungan (Rf+(Beta * RPm) - CDS
We = 70,57% Struktur Modal Rata-rata Industri
Wd = 29,43% Struktur Modal Rata-rata Industri
Suku bunga rata-rata pinjaman investasi Bank Pemerintah
Kd = 8,96%
dalam Rupiah Bulan Juni 2025
Tingkat Diskonto = 10,80% Hasil Perhitungan (Kd (1-T) x Wd) + (Ke x We)
Pemilihan Tingkat Pertumbuhan Perpetuitas dan Terminal Value
Nilai terminal (terminal value) diperoleh melalui kapitalisasi arus kas bersih periode kekal
dengan capitalization rate yang sesuai dengan tingkat diskonto. Dalam hal ini, asumsi yang
digunakan terhadap subjek penilaian adalah perusahaan yang bersifat going concern, dimana
perusahaan akan berjalan terus meskipun terjadi pergantian pada pemilik atau manajemen
perusahaan.
Dalam hal terdapat terminal value sebagai salah satu unsur pembentuk indikasi nilai, maka
terminal value diperoleh dengan formula:
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-17
Page 76
TV = Terminal Value
FCFn = Arus kas tahun ke-n
g = Pertumbuhan perpetuitas
r = Tingkat diskonto
Dalam hal umur ekonomis objek penilaian terbatas, maka Terminal Value diganti dengan Nilai
Sisa (Residual Value) pada akhir umur ekonomis objek penilaian. Nilai sisa diperoleh dari aset
tetap ditambah dengan estimasi jumlah yang dapat direalisasikan dari modal kerja bersih
dikurangi dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan pada akhir periode spesifik.
Dalam perhitungan ini kami menggunakan terminal value dengan tingkat pertumbuhan sebesar
0,00% sehingga capitalization rate yang kami gunakan adalah sebesar 10,80% - 0,00% = 10,80%.
Internal Rate of Return (IRR) dan Net Present Value (NPV)
Perhitungan IRR dan NPV Kegiatan Usaha selama umur proyeksi menghasilkan IRR sebesar
22,31% lebih besar dari tingkat diskonto WACC sebesar 10,80% dan NPV sebesar
Rp 122.343.012 ribu lebih besar dari nol.
Dengan nilai indikator kelayakan tersebut, dari aspek keuangan dapat disimpulkan bahwa
Kegiatan Usaha layak.
Perhitungan IRR dan NPV adalah sebagai berikut:
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perhitungan Kelayakan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Free Cash Flow to Firm
EAT - 9.865.749 33.834.186 33.007.606 32.168.385 31.316.145 30.450.496
(+) Penyusutan - 2.051.553 8.611.456 9.016.701 9.421.946 9.827.191 10.232.436
(+) Bunga (1-T) - - - - - - -
(+/-) Perubahan Modal Kerja - (14.555.855) 1.595.023 15.605 16.073 16.555 17.052
(-) Capex - (164.124.225) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
Jumlah Arus Kas Bersih - (166.762.778) 35.935.765 33.935.012 33.501.504 33.054.992 32.595.084
Terminal Value
Discount Rate 10,80%
Growth 0,00%
Terminal Caprate 10,80%
Terminal Value
Jumlah - (166.762.778) 35.935.765 33.935.012 33.501.504 33.054.992 32.595.084
Discount Rate 10,80% 10,80% 10,80% 10,80% 10,80% 10,80% 10,80%
Discount Factor 1,000 0,950 0,857 0,774 0,698 0,630 0,569
Present Value - (158.428.826) 30.812.870 26.261.736 23.399.679 20.837.845 18.545.478
NPV 122.343.012
IRR WACC10,80% 22,31%
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-18
Page 77
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Perhitungan Kelayakan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Free Cash Flow to Firm
EAT 29.571.034 28.677.346 27.769.004 26.845.570 25.906.590
(+) Penyusutan 10.637.681 11.042.926 11.448.171 11.853.416 12.258.661
(+) Bunga (1-T) - - - - -
(+/-) Perubahan Modal Kerja 17.564 18.090 18.633 19.192 19.768
(-) Capex (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900) (8.104.900)
Jumlah Arus Kas Bersih 32.121.379 31.633.463 31.130.909 30.613.278 30.080.119
Terminal Value
Discount Rate 10,80%
Growth 0,00%
Terminal Caprate 10,80%
Terminal Value 278.584.957
Jumlah 32.121.379 31.633.463 31.130.909 30.613.278 308.665.076
Discount Rate 10,80% 10,80% 10,80% 10,80% 10,80%
Discount Factor 0,514 0,463 0,418 0,378 0,341
Present Value 16.494.922 14.661.317 13.022.316 11.557.834 105.177.842
7.13. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan terhadap adanya penurunan pendapatan dan kenaikan beban
pokok pendapatan (BPP) yang berpengaruh terhadap kelayakan investasi yang digambarkan
dengan matriks sensitivitas sebagai berikut:
Analisis Sensitivitas
IRR (%) Pendapatan Menurun
BPP Meningkat 0,00% 3,35% 6,70% 10,05% 13,37% 13,38%
0,00% 22,31% 19,71% 16,96% 14,00% 10,80% 10,79%
6,35% 19,71% 16,96% 14,01% 10,77% 7,15%
12,70% 16,96% 14,01% 10,78%
19,05% 14,01% 10,78%
25,38% 10,80% 7,15%
25,39% 10,79%
Kelayakan investasi dilihat dari indikator nilai biaya modal (WACC) sebesar 10,80%, apabila IRR
> biaya modal maka investasi layak.
Berdasarkan tabel diatas, analisis sensitivitas adalah sebagai berikut:
1. Jika terjadi perubahan terhadap penurunan pendapatan dengan BPP (tetap) maka investasi
layak dengan penurunan pendapatan sampai 13,37% (IRR = 10,80%),
2. Jika pendapatan tidak berubah (tetap) maka investasi layak dengan kenaikan BPP hingga
25,38% (IRR = 10,80%),
3. Jika terjadi penurunan pendapatan dan kenaikan BPP, maka investasi layak dengan
penurunan pendapatan hingga 6,70% yang disertai dengan kenaikan BPP hingga 6,35% (IRR
= 14,01%),
4. Jika terjadi penurunan pendapatan dan kenaikan BPP, maka investasi layak dengan
penurunan pendapatan hingga 3,35% yang disertai dengan kenaikan BPP hingga 12,70%
(IRR = 14,01%).
Berdasarkan analisis sensitivitas terlihat bahwa kelayakan investasi lebih sensitif terhadap
penurunan pendapatan dibandingkan dengan kenaikan BPP.
Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, yang mencakup biaya pendirian (start up costs), modal
kerja, sumber pembiayaan, biaya operasional, biaya bahan baku mentah, proyeksi laporan keuangan,
analisis titik impas, analisis profitabilitas dan tingkat imbal balik investasi dapat disimpulkan bahwa
aspek keuangan Kegiatan Usaha oleh Perseroan adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII-19
Page 78
LAMPIRAN Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk
Page 79
LAMPIRAN 1
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Nilai Perolehan, Penyusutan, Akumulasi Penyusutan dan Nilai Buku Aset Tetap
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jul-Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Nilai Perolehan -
164.124.225 172.229.125 180.334.025 188.438.925 196.543.825 204.648.725
Aset kapal -162.098.000 162.098.000 162.098.000 162.098.000 162.098.000 162.098.000
Capex tahun Ke-1 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-2 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-3 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-4 2.026.225 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-5 2.026.225 8.104.900
Capex tahun Ke-6 2.026.225
Capex tahun Ke-7
Capex tahun Ke-8
Capex tahun Ke-9
Capex tahun Ke-10
Capex tahun Ke-11
Penyusutan - 2.051.553 8.611.456 9.016.701 9.421.946 9.827.191 10.232.436
Aset kapal 20 tahun 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-1 20 tahun 25.328 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-2 20 tahun - 101.311 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-3 20 tahun - - 101.311 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-4 20 tahun - - - 101.311 405.245 405.245
Capex tahun Ke-5 20 tahun - - - - 101.311 405.245
Capex tahun Ke-6 20 tahun - - - - - 101.311
Capex tahun Ke-7 20 tahun - - - - - -
Capex tahun Ke-8 20 tahun - - - - - -
Capex tahun Ke-9 20 tahun - - - - - -
Capex tahun Ke-10 20 tahun - - - - - -
Capex tahun
Kegiatan Ke-11
Usaha angkutan laut20 tahunegeri untuk barang umum (KBLI 50131),
dalam
Akumulasi
AngkutanPenyusutan
laut dalam negeri untuk barang khusus- (KBLI 50133)
2.051.553 10.663.009 19.679.710 29.101.657 38.928.848 49.161.284
Nilaidan
Buku
Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian- 162.072.672
lainnya (KBLI161.566.116
09900) 160.654.315 159.337.268 157.614.977 155.487.441
Sumber
Proyeksi: Manajemen Perseroan,
Nilai Perolehan, disesuaikan
Penyusutan, Akumulasi Penyusutan dan Nilai Buku Aset Tetap
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Nilai Perolehan 212.753.625 220.858.525 228.963.425 237.068.325 245.173.225
Aset kapal 162.098.000 162.098.000 162.098.000 162.098.000 162.098.000
Capex tahun Ke-1 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-2 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-3 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-4 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-5 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-6 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-7 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-8 2.026.225 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-9 2.026.225 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-10 2.026.225 8.104.900
Capex tahun Ke-11 2.026.225
Penyusutan 10.637.681 11.042.926 11.448.171 11.853.416 12.258.661
Aset kapal 20 tahun 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900 8.104.900
Capex tahun Ke-1 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-2 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-3 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-4 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-5 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-6 20 tahun 405.245 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-7 20 tahun 101.311 405.245 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-8 20 tahun - 101.311 405.245 405.245 405.245
Capex tahun Ke-9 20 tahun - - 101.311 405.245 405.245
Capex tahun Ke-10 20 tahun - - - 101.311 405.245
Capex tahun Ke-11 20 tahun 101.311
Akumulasi Penyusutan 59.798.965 70.841.892 82.290.063 94.143.479 106.402.140
Nilai Buku 152.954.660 150.016.633 146.673.362 142.924.846 138.771.085
Sumber : Manajemen Perseroan, disesuaikan
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII- 2
Page 80
Lampiran 2
Kegiatan Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang umum (KBLI 50131),
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Proyeksi Perhitungan Pembayaran Bunga dan Angsuran Pokok Utang Pemegang Saham (Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 0 1 2 3 4 5 6
Jun 2025 Des 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penarikan kredit - 176.653.855 - - - - -
Jumlah utang
Kegiatan - 176.653.855
Usaha angkutan laut dalam negeri untuk barang 176.653.855 146.653.855 116.653.855
umum (KBLI 50131), 86.653.855 56.653.855
Bunga 0,00% - - - - - - -
Angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus (KBLI 50133)
Angsuran pokok - - 30.000.000 30.000.000 30.000.000 30.000.000 30.000.000
dan Aktivitas Penunjang pertambangan dan penggalian lainnya (KBLI 09900)
Saldo - 176.653.855 146.653.855 116.653.855 86.653.855 56.653.855 26.653.855
Proyeksi Perhitungan Pembayaran Bunga dan Angsuran Pokok Utang Pemegang Saham (Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian 7 8 9 10 11
2031 2032 2033 2034 2035
Penarikan kredit - - - - -
Jumlah utang 26.653.855 - - - -
Bunga 0,00% - - - - -
Angsuran pokok 26.653.855 - - - -
Saldo - - - - -
Catatan:
Berdasarkan perjanjian pinjam meminjam antara TIRT dengan HJR tanggal 19 Maret 2009 dan telah diubah beberapa kali, pinjaman TIRT tidak dikenakan biaya bunga oleh HJR
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII- 3
Page 81
Lampiran 3
Foto Dokumentasi Visual Setiap Armada Kapal
Laporan Studi Kelayakan PT Tirta Mahakam Resources Tbk VII- 4
Page 82
Lampiran 3 (lanjutan)
TB Bawal Mandiri I
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Anjungan Buritan
Page 83
Lampiran 3 (lanjutan)
TK Bawal Sejahtera I
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 84
Lampiran 3 (lanjutan)
TK MARIAM 12
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 85
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RITA 106
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Anjungan Buritan
Page 86
Lampiran 3 (lanjutan)
TK GOLDWOOD IV
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 87
Lampiran 3 (lanjutan)
TB Artha Sarana 58
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Anjungan Buritan
Page 88
Lampiran 3 (lanjutan)
TK SRIKANDI JAYA II
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 89
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RYL 6
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal IMO & Tanda Selar
Anjungan Buritan
Page 90
Lampiran 3 (lanjutan)
TK MARIAM 18
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 91
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RYL 15
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal IMO & Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 92
Lampiran 3 (lanjutan)
TK KARYA 8
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 93
Lampiran 3 (lanjutan)
TB MITRA JAYA VII
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 94
Lampiran 3 (lanjutan)
TK KC 240555
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 95
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RYL 9
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal IMO & Tanda Selar
Haluan Anjungan
Page 96
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RITA 102
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 97
Lampiran 3 (lanjutan)
TK RITA 203
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 98
Lampiran 3 (lanjutan)
TK MARIAM 6
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 99
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RITA 109
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Page 100
Lampiran 3 (lanjutan)
TK RITA 204
Tampak Kapal Tongkang Tampak Kapal Tongkang
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Side Board
Page 101
Lampiran 3 (lanjutan)
TB RYL 7
Tampak Kapal Tug Boat Tampak Kapal Tug Boat
Nama Kapal Tanda Selar
Haluan Buritan
Names mentioned 61 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP ISKANDAR DAN REKAN
p.1 ×3
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan
p.2 ×4
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar
p.2 ×4
unresolved
org
KJPP IDR
p.2 ×3
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.2 ×2
unresolved
org
PT Lima Srikandi Jaya
p.3 ×2
unresolved
org
PT Mitra Kemakmuran Line
p.3 ×2
unresolved
org
PT Antar Sarana Rekasa
p.3 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.3 ×2
unresolved
org
S. Mannan
p.3 ×3
unresolved
org
Ardiansyah & Rekan
p.3 ×4
unresolved
org
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara
p.4 ×2
unresolved
org
Kementerian Energi
p.4
unresolved
org
Kementerian ESDM. APBI
p.4 ×2
unresolved
org
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
p.5 ×7
unresolved
person
Radithe Pramudito
p.17
unresolved
person
Sigit E. Purnomo
p.17
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik KJPP IDR
p.20
unresolved
org
PT Harita Jayaraya LSJ
p.23
unresolved
org
PT Lima Srikandi Jaya MKL
p.23
unresolved
org
PT Mitra Kemakmuran Line ASR
p.23
unresolved
org
PT Antar Sarana Rekasa TIRT
p.23
unresolved
org
PT Well Harvest Winning Alumina Refinery MBL
p.23
unresolved
org
PT Marina Bara Lestari GHL
p.23
unresolved
org
PT Gunajaya Harapan Lestari
p.23
unresolved
—
Telepon/Fax
p.25
unresolved
—
MAPPI
· Penilai
p.27
unresolved
person
Kartini Muljadi
p.30
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.30
unresolved
person
Leolin Jayayanti
p.30
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.30
unresolved
org
PT Tirta
p.30
unresolved
—
KUD Budi Rahayu
p.30 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik Struktur PDB Indonesia
p.32 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik Pertumbuhan Ekonomi Semester I-
p.32 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik
p.34
unresolved
org
Menteri Perhubungan Nomor PM
p.36
unresolved
—
Tham
· Presiden
p.50
unresolved
person
Arvin
· Direktur
p.50
unresolved
person
Pohan
· Direktur
p.50
unresolved
—
Jackson
· Corporate
p.50
unresolved
org
PT Trakindo Utama.
p.57
unresolved
org
Klasifikasi RINA.
p.58
unresolved
org
Shipbuilding & Marine Publikasi DER Industri
p.75
unresolved
org
Bank Pemerintah Kd
p.75
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
17881 ms
12 Sep 2026 22:35
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}