Back to announcement
20250505_BWPT_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31882541_lamp3.pdf
Asset transaction Needs review BWPTSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 50
Page 1
File No. 003.2/IDR/DE.2/KFS/V/2025
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
PERDAGANGAN BESAR MINYAK
DAN LEMAK NABATI (KBLI 46315)
PT EAGLE HIGH PLANTATIONS TBK
KJPP ISKANDAR DAN REKAN
JAKARTA
2025
Page 2
SURAT LAPORAN RINGKAS YANG BERISI KESIMPULAN DAN PENDAPAT
File No. 003.2/IDR/DE.2/KFS/V/2025 Jakarta, 2 Mei 2025
Kepada Yth,
PT EAGLE HIGH PLANTATIONS Tbk
Rajawali Place, Lantai 28
Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B/4
Setiabudi, Jakarta Selatan
Dengan Hormat,
Perihal: Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak
dan Lemak Nabati (KBLI 46315) PT Eagle High Plantations Tbk
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan (IDR atau Penilai atau Kami) telah memperoleh izin
usaha dari Menteri Keuangan berdasarkan surat keputusannya No. 772/KM.1/2013 tanggal 12
November 2013 dan telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Surat No. S-
774/PM.25/2013 tanggal 27 November 2013 dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar
Modal yang telah dilakukan pendaftaran ulang dengan No. STTD.PPB-33/PJ-1/PM.02/2023 tanggal 6
Juli 2023 sebagai Penilai Properti/Aset dan Bisnis di Pasar Modal.
PT Eagle High Plantations Tbk (selanjutnya disebut BWPT atau Perseroan atau Perusahaan atau
Sponsor Proyek) saat ini bergerak di bidang industri dan perkebunan kelapa sawit dengan Crude
Palm Oil (selanjutnya disebut CPO) dan Palm Kernel (selanjutnya disebut PK) sebagai produk utama.
Total luas perkebunan BWPT saat ini adalah +87.000 hektar dan berlokasi di Sumatera, Kalimantan,
dan Papua.
BWPT merencanakan menambah kegiatan usaha yang dimilikinya dibidang perdagangan besar
minyak dan lemak nabati (selanjutnya disebut Proyek), penambahan kegiatan usaha ini bertujuan
untuk memungkinkan BWPT melakukan pembelian CPO dari pabrik kelapa sawit disekitar lokasi
BWPT yang dimiliki pihak ketiga dengan memanfaatkan investasi bulking/jetty yang sudah ada
sebelumnya, dengan penambahan fasilitas berupa receiving facility baik di pabrik kelapa sawit
maupun di lokasi bulking berada, dimana CPO yang dibeli dari pihak ketiga tersebut akan dijual
kembali bersama dengan CPO yang diproduksi oleh BWPT sendiri.
Untuk itu sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 17/POJK.04/2020, tentang
Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, diperlukan studi kelayakan usaha dari Penilai
Independen.
Sehubungan rencana tersebut, Perseroan telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan
Rekan selaku Penilai Independen untuk melakukan studi kelayakan atas proyek tersebut.
Berdasarkan surat proposal penawaran/perjanjian kerja antara IDR dan BWPT No.
042.1/IDR/DE.2/Pr-FS/III/2025 tanggal 10 Maret 2025, IDR telah melaksanakan Studi Kelayakan
sesuai dengan perihal surat tersebut diatas seperti yang disajikan dalam laporan ini.
Page 3
Objek Penilaian
Objek penilaian adalah Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati BWPT
(selanjutnya disebut Proyek).
Maksud dan Tujuan
Maksud penilaian adalah untuk memberikan pendapat atas kelayakan suatu usaha atau proyek
dengan tujuan penilaian untuk menyatakan layak atau tidak layak atas usaha atau proyek terkait
dengan perubahan/penambahan kegiatan usaha Perusahaan.
Laporan ini tidak dapat digunakan untuk tujuan lainnya selain tersebut diatas.
Tanggal Penilaian (Cut Off Date)
Tanggal penilaian 31 Desember 2024 ditetapkan berdasarkan laporan keuangan Perseroan yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Ario Bulan Awalia
Noor dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Mirawati Sensi Idris yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan
dengan opini wajar, dalam semua hal yang material.
Pendekatan dan Metodologi
Pendapat yang diberikan Penilai berupa penilaian kelayakan usaha adalah untuk menyatakan
kelayakan suatu usaha atau proyek.
Pendapat mengenai kelayakan suatu usaha atau proyek diberikan setelah melakukan analisis atas:
• Kelayakan pasar
• Kelayakan pola bisnis
• Kelayakan model manajemen
• Kelayakan teknis
• Kelayakan keuangan
Kesimpulan
a. Analisis Kelayakan Pasar
• Kondisi Pasar
Pada tahun 2024, produksi minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) Indonesia mengalami
penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa
Sawit Indonesia (GAPKI), total produksi PKO pada tahun 2024 tercatat sebesar 4,598 juta
ton, turun 3,80% dari produksi tahun 2023 yang mencapai 4,77 juta ton.
Penurunan ini sejalan dengan fluktuasi produksi minyak sawit mentah (CPO) sepanjang
tahun 2024. Misalnya, pada bulan Desember 2024, produksi CPO tercatat sebesar 3,876 juta
ton, sementara produksi PKO turun menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton pada bulan
November.
Meskipun demikian, konsumsi domestik terhadap produk sawit, termasuk PKO, tetap
menunjukkan tren positif. Konsumsi dalam negeri pada bulan Desember 2024 tercatat
sebesar 2,187 juta ton, meningkat dibandingkan bulan November yang mencapai 2,030 juta
ton.
Secara keseluruhan, meskipun ada penurunan dalam produksi PKO, sektor sawit Indonesia
tetap menunjukkan daya tahan dengan meningkatnya konsumsi domestik dan ekspor
produk olahan sawit.
Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 29,5 juta ton,
menurun dari 32,2 juta ton pada tahun 2023. Nilai ekspor juga mengalami penurunan,
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk ii
Page 4
mencapai USD 27,76 miliar dibandingkan dengan USD 30,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke China dan India, masing-masing sebesar 2,38 juta
ton dan 1,13 juta ton.
GAPKI memproyeksikan bahwa produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 akan mencapai
53,6 juta ton. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga global dan kebijakan perdagangan
internasional dapat mempengaruhi laju ekspor di masa mendatang.
Harga produsen TBS nasional periode bulanan tahun 2021 - 2024 secara umum
menunjukkan pola berfluktuasi, namun cenderung mengalami sedikit peningkatan. Jika
dicermati harga per bulan selama periode tersebut, dimana harga tertinggi TBS terjadi pada
bulan April 2022 mencapai Rp. 3.585 per kg, sedangkan terendah terjadi pada bulan Juli
2022 sebesar Rp. 1.811 per kg. Data harga pembelian TBS merupakan harga yang ditetapkan
tim penetapan harga pembelian TBS. Harga ini dikirim oleh petugas PIP Kabupaten dan
Provinsi sesuai dengan waktu pelaksanaan penetapan harga TBS di provinsinya. Dinamika
harga TBS masih terus dipantau pemerintah. Fakta empiris menunjukkan fluktuasi harga CPO
di tingkat global secara langsung berimbas pada TBS. Fenomena yang berkembang bahwa
terjadi perbedaan harga TBS, pekebun yang tergabung dalam kelembagaan atau bermitra
dengan perusahaan pengolah kelapa sawit (PKS) harga TBS nya lebih tinggi dibandingkan
dengan pekebun yang tidak melakukan kemitraan. Selain itu tantangan lainnya, kebijakan
“bebas deforestasi” yang sudah mulai diimplementasikan di Uni Eropa berpotensi
memperlebar selisih harga TBS. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal
Perkebunan terus berupaya mencari solusi untuk membantu petani menghadapi berbagai
tantangan dilapangan, menjaga komitmen dan mengatur strategi tepat guna demi perolehan
harga tandan buah segar kelapa sawit yang layak bagi pekebun.
• Pesaing Usaha
Pihak-pihak yang menjadi pesaing adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang sejenis.
Pada kegiatan usaha kelapa sawit diantaranya adalah sebagai berikut:
1. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) memiliki pengolahan minyak inti sawit melalui anak
perusahaannya yaitu PT Tanjung Bina Lestari yang berlokasi di Sulawesi Barat. AALI
memiliki luas lahan 287.044 hektar yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan
Sulawesi. Dari luasan tersebut, 214.815 hektar adalah perkebunan inti sedangkan 72.229
hektar adalah perkebunan plasma.
2. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatat produksi CPO sebesar 283.651 metrik
ton di 2023 menjadi 245.395 metrik ton pada 2024 akibat dampak cuaca ekstrem.
Perkebunan ANJT di Pulau Belitung, Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan terdampak
kekeringan akibat El Nino.
3. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menargetkan produksi minyak sawit mentah (CPO)
sebesar 80.000 ton pada tahun 2024, meningkat sekitar 64% dibandingkan dengan
produksi tahun 2023 yang mencapai 48.663 ton. Target ini didukung oleh beroperasinya
pabrik kelapa sawit kedua di Tapanuli Selatan, yang diharapkan dapat meningkatkan
kapasitas produksi secara signifikan.
4. PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) memiliki lahan yang telah ditanam kelapa
sawit seluas 40.718,45 hektar. Pada tahun 2024, STAA mencatat kinerja yang solid
meskipun menghadapi tantangan eksternal. Produksi tandan buah segar (TBS) mencapai
1,047 juta ton atau meningkat 2,5% dari tahun sebelumnya, sementara produksi minyak
sawit mentah (CPO) tercatat sebesar 389.765 ton.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk iii
Page 5
• Target Pasar
Target pasar yang dituju untuk Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati
adalah industri pangan dan non pangan antara lain sebagai berikut:
1. Pangan
a. Bahan baku minyak goreng
b. Cokelat
c. Margarin
d. Kue
e. Mie instan
2. Non Pangan
a. Kosmetik
b. Pupuk
c. Bahan baku biodiesel
d. Sabun, sampo
e. Pelumas
• Strategi Pemasaran
Saat ini, BWPT telah memproduksi dan memasarkan produk CPO. Seiring dengan
meningkatnya permintaan pasar terhadap kedua komoditas tersebut, BWPT melihat peluang
untuk memperluas volume penjualannya. Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus
bertumbuh, BWPT merencanakan untuk menambah pasokan CPO dengan cara melakukan
pembelian dari pabrik kelapa sawit milik pihak ketiga yang berlokasi di sekitar wilayah
operasional BWPT.
CPO yang dibeli dari pihak ketiga ini akan dipasarkan bersama dengan produk yang
dihasilkan oleh BWPT sendiri. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing
perusahaan dalam hal kapasitas suplai, memperluas jaringan pelanggan, serta memberikan
fleksibilitas dalam memenuhi permintaan pasar yang dinamis, baik dalam skala volume
maupun keberlanjutan pasokan.
Selain itu strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh BWPT yaitu menerapkan Long-Term
Contract (LTC) dengan sejumlah refinery besar di Indonesia. Pendekatan ini bertujuan untuk
memastikan terserapnya seluruh volume produk CPO yang dimiliki BWPT, baik yang berasal
dari produksi sendiri maupun hasil pembelian dari pihak ketiga.
Berdasarkan analisis kelayakan pasar yang mencakup kondisi pasar, pesaing usaha, target pasar
dan strategi pemasaran, dapat disimpulkan bahwa aspek pasar proyek oleh sponsor proyek
adalah layak.
b. Analisis Kelayakan Pola Bisnis
• Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan Dari Pola Bisnis
BWPT merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kelapa sawit sejak
tahun 2000 dengan CPO sebagai produk utama BWPT. Total luas perkebunan BWPT saat ini
adalah + 87.000 hektar dan berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Keunggulan logistik menjadi salah satu faktor pembeda utama BWPT dibandingkan para
pesaing. BWPT memiliki fasilitas penyimpanan (storage) yang berada di area pabrik kelapa
sawit (mills) serta sarana pengiriman melalui jetty dan fasilitas bulking, yang seluruhnya
berlokasi strategis dan berdekatan dengan sumber pasokan dari pabrik-pabrik kelapa sawit
milik pihak ketiga.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk iv
Page 6
• Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Salah satu keunggulan utama BWPT adalah infrastruktur logistik yang terintegrasi, seperti
fasilitas jetty dan bulking, yang mendukung efisiensi distribusi dan pengadaan produk.
Keunggulan logistik ini cukup sulit ditiru oleh pesaing karena memerlukan investasi modal
dan ketersediaan lahan strategis. Selain itu pembangunan fasilitas jetty atau bulking
memerlukan proses perizinan yang memerlukan waktu dan konstruksi yang tidak singkat
serta pengadaan lahan yang cukup sulit.
• Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
Keunggulan kompetitif BWPT dalam hal lokasi strategis dan infrastruktur logistik yang
dimiliki seperti fasilitas penyimpanan (storage), jetty, dan bulking. Kedekatan infrastruktur
logistik terhadap sumber pasokan, termasuk pabrik kelapa sawit pihak ketiga,
memungkinkan BWPT untuk menekan biaya transportasi secara signifikan dibandingkan
pesaing.
Efisiensi biaya ini secara langsung meningkatkan margin perdagangan serta memperkuat
daya saing harga produk BWPT di pasar. Selain itu strategi yang dilakukan untuk
menciptakan nilai yaitu akan diterapkannya Long-Term Contract (LTC) dengan sejumlah
refinery besar di Indonesia. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan terserapnya seluruh
volume produk CPO yang dimiliki BWPT, baik yang berasal dari produksi sendiri maupun hasil
pembelian dari pihak ketiga.
Dengan demikian, kemampuan BWPT dalam memanfaatkan infrastruktur logistik tidak
hanya menciptakan efisiensi operasional, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang
berkelanjutan bagi perusahaan.
Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena
keunikan dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk
menciptakan nilai dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis proyek oleh sponsor proyek
adalah layak.
c. Analisis Kelayakan Model Manajemen
• Ketersediaan Tenaga Kerja
BWPT merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kelapa sawit sejak
tahun 2000 dengan CPO sebagai produk utama BWPT.
Tenaga kerja untuk Proyek telah tersedia sebanyak 7 orang yang telah berpengalaman dalam
berbagai bidang termasuk dalam melakukan perdagangan CPO.
• Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Sponsor proyek memiliki kapasitas dan kemampuan manajemen dalam mengelola Proyek,
karena sponsor proyek mempunyai tenaga kerja yang kompeten yang diperlukan dalam
mengelola usaha pengolahan kelapa sawit.
Perseroan memiliki tenaga ahli dalam bidang pengolahan kelapa sawit dengan pengalaman
lebih dari 20 tahun dengan bidang keahlian meliputi CPO & PK Sales, Trading CPO & PK, dan
Bulking.
• Kesesuaian Organisasi dan Manajemen
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, salah satu faktor yang penting adalah kemampuan
dari pengelola (manajemen).
• Manajemen Kekayaan Intelektual
Dalam menjalankan Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati, BWPT
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk v
Page 7
tidak memerlukan manajemen kekayaan intelektual.
• Manajemen Risiko
Manajemen risiko dalam usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati bertujuan
untuk meminimalkan potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas, ketidakstabilan
pasokan, gangguan logistik, serta perubahan regulasi. Strategi yang diterapkan mencakup
penggunaan instrumen lindung nilai, diversifikasi sumber dan pasar, optimalisasi rantai
pasok, serta kepatuhan terhadap kebijakan dan standar keberlanjutan. Selain itu,
perlindungan terhadap risiko keuangan dan operasional dilakukan melalui asuransi,
pengendalian internal, serta penerapan prosedur standar yang ketat. Pendekatan ini
diharapkan mampu meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan usaha dalam menghadapi
dinamika pasar.
Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, yang mencakup ketersediaan tenaga kerja,
kapasitas dan kemampuan manajemen, kesesuaian struktur organisasi, manajemen kekayaan
intelektual dan manajemen risiko dapat disimpulkan bahwa aspek model manajemen proyek
oleh sponsor proyek adalah layak.
d. Analisis Kelayakan Teknis
• Kapasitas Produksi
Perseroan merencanakan pembangunan receiving facility baru di lokasi yang telah tersedia
sebelumnya, yaitu di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Pembangunan fasilitas ini merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk mendukung
kelancaran dan efisiensi operasional dalam aktivitas perdagangan CPO.
Fasilitas ini akan difungsikan sebagai pusat penerimaan dan penyimpanan sementara produk
CPO yang diperoleh dari pabrik kelapa sawit milik pihak ketiga. Dengan kapasitas
penyimpanan yang memadai, receiving facility akan memungkinkan Perseroan untuk
mengelola volume pasokan secara lebih fleksibel, menjamin kontinuitas distribusi, serta
menjaga kualitas produk sebelum dikirim ke pelanggan akhir atau ke fasilitas pengolahan
selanjutnya.
Langkah ini juga merupakan bagian dari strategi penguatan rantai pasok yang terintegrasi,
serta untuk mengantisipasi peningkatan volume perdagangan seiring dengan tumbuhnya
permintaan pasar terhadap produk CPO.
• Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Saat ini BWPT bergerak di bidang industri dan perkebunan kelapa sawit dengan CPO sebagai
produk utama dengan total luas perkebunan BWPT saat ini adalah +87.000 hektar dan
berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Sehingga BWPT telah memiliki ketersediaan dan kualitas sumber daya yang memadai untuk
mendukung pelaksanaan Proyek. Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan didukung oleh
tenaga kerja yang berpengalaman di industri kelapa sawit, mulai dari produksi, pengolahan,
hingga distribusi.
Tenaga kerja untuk Proyek telah tersedia sebanyak 7 orang yang telah berpengalaman dalam
berbagai bidang termasuk dalam melakukan operasional Proyek.
• Proses Produksi
Proyek merupakan perluasan kegiatan usaha Perseroan di bidang perdagangan CPO. Dalam
menjalankan kegiatan usaha tersebut, Perseroan akan melaksanakan serangkaian proses
yang bertujuan untuk memastikan kelancaran rantai pasok serta optimalisasi distribusi
produk ke pembeli. Adapun alur proses kegiatan usaha perdagangan CPO dapat dijelaskan
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk vi
Page 8
sebagai berikut:
1. Pengadaan dari Supplier
BWPT menjalin kerja sama dengan beberapa supplier atau pemasok produk CPO.
Pengadaan produk dilakukan melalui mekanisme kontrak jual beli (purchase agreement),
yang mencakup kesepakatan volume, harga, kualitas, dan waktu pengiriman.
2. Peran Sentral BWPT
BWPT bertindak sebagai entitas pengelola perdagangan yang mengonsolidasikan
pasokan dari para supplier, baik untuk keperluan distribusi internal maupun penjualan
kembali ke pasar. BWPT memiliki fasilitas penyimpanan dan logistik yang memungkinkan
pengelolaan stok dan pengiriman secara efisien.
3. Penjualan kepada Buyer
Produk yang telah diperoleh akan dijual oleh BWPT kepada para buyer, yaitu industri
pengguna akhir seperti refinery. Penjualan dilakukan melalui dua skema utama, yaitu:
a. Kontrak Jangka Panjang (Long Term Contract/LTC), untuk menjamin kesinambungan
pasokan dan kestabilan permintaan.
b. Kontrak Spot, untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek berdasarkan harga pasar
saat ini.
Berdasarkan analisis kelayakan teknis, dapat disimpulkan bahwa aspek teknis proyek oleh
sponsor proyek adalah layak.
e. Analisis Kelayakan Keuangan
Jumlah Biaya investasi adalah sebesar Rp 354.914 ribu, terdiri dari biaya investasi modal tetap
sebesar Rp 289.000 ribu dan perkiraan biaya investasi modal kerja sebesar Rp 65.914 ribu.
Sumber pembiayaan seluruhnya berasal dari modal sendiri.
Rata-rata BEP penjualan dalam Rupiah selama umur proyeksi adalah sebesar Rp 24.640 ribu.
Rata-rata rasio profitabilitas selama umur proyeksi yang diukur menggunakan Margin Laba
Kotor/Sales, EBITDA/Sales, EBIT/Sales, EBT/Sales dan EAT/Sales berturut-turut adalah 9,35%,
8,93%, 6,95%, 6,95% dan 5,28%.
Rata-rata ROI selama umur proyeksi adalah sebesar 14,55%.
Berdasarkan proyeksi posisi keuangan, Likuiditas dan solvabilitas proyek cukup tinggi selama
umur proyeksi. Rata-rata nilai indikator current ratio, debt to equity ratio dan debt to asset ratio
selama umur proyeksi berturut-turut adalah 524,96%, 12,34% dan 10,97%.
Berdasarkan perhitungan kelayakan, IRR dan NPV proyek selama umur proyeksi menghasilkan
IRR sebesar 20,97% lebih besar dari tingkat diskonto Ke sebesar 10,55% dan NPV sebesar Rp
191.164 ribu lebih besar dari nol.
Dengan nilai indikator kelayakan tersebut, dari aspek keuangan dapat disimpulkan bahwa
proyek layak.
Berdasarkan analisis sensitivitas terlihat bahwa kelayakan investasi lebih sensitif terhadap
penurunan penjualan dibandingkan dengan kenaikan BPP.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk vii
Page 9
Pendapat Atas Kelayakan Usaha
Berdasarkan analisis kelayakan pasar, pola bisnis, model manajemen, teknis dan keuangan, kami
berpendapat bahwa penambahan kegiatan usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati (KBLI
46315) PT Eagle High Plantations Tbk adalah layak untuk dilaksanakan .
Pendapat kelayakan ini hanya dapat digunakan sehubungan dengan rencana yang akan dilakukan
Perseroan dan tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan lain . Pendapat kelayakan ini juga tidak
dimaksudkan memberikan rekomendasi untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana tersebut.
Hormat kami,
KJPP ISKA ....,....."..,...
\
~"?'
~
a. ...
~ ...
1.
S.E. M.Ec.Oev
Rekan
Penilai Properti/ Aset dan Bisnis
MAPPI No .: 10-5-02670
RMK-2017.00316
NIPP Menkeu No. : P-1.13.00355
NIPP Menkeu No .: B-1.18.00520
5TTD OJK No: 5TTD. PPB -33/PJ-1/PM. 02/ 2023
Laporan 5tudi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk viii
Page 10
PERNYATAAN PENILAI
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, maupun pemegang saham
Perseroan ataupun pihak-pihak yang terkait dengan Perseroan tersebut. Kami juga tidak
mempunyai kepentingan ataupun keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini.
Selanjutnya, laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
kerugian pada pihak manapun.
2. Bahwa penugasan penilaian profesional telah dilaksanakan pada tanggal penilaian.
3. Bahwa analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan.
4. Bahwa penugasan penilaian profesional telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
5. Bahwa penilaian yang dihasilkan dalam penugasan penilaian professional telah disajikan
sebagai kesimpulan .
6. Bahwa lingkup pekerjaan dan data yang dianalisis telah diungkapkan .
7. Bahwa kesimpulan penilaian telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas.
8. Bahwa penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan.
9. Bahwa data ekonomi dan industri dalam laporan ini diperoleh dari berbagai sumber yang
diyakini penilai dapat dipertanggungjawabkan.
Penilai Publik,
Radithe Pramudito, S.E., M.Ec.Dev, MAPPI (Cert.)
MAPPI No. : 10-5-02670
RMK-2017.00316
NIPP Menkeu No.: P-1 .13.00355
NIPP Menkeu No. : 8-1.18.00520
STTD OJK No : STTD. PP8·33/PJ-1/ PM. 02/2023
Reviuer,
Adhitya Anindito, S.I.Kom., S.H., M.M., MAPPI (Cert.)
MAPPI No.: 11-5-03079
RMK-2017.00547
Penilai,
Sigit E. Purnomo, S.E.
MAPPI No.: 19·T-09657
RMK-2020.03575
Ryan Suradireja, S.Ak.
MAPPI No.: 19-P-09941
RMK-2021.03692
Syafika Firdausha, S.Ak.
MAPPI No.: 21-T-11013
RMK- 2022.04256
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk ix
Page 11
DAFTAR ISI
SURAT LAPORAN RINGKAS YANG BERISI KESIMPULAN DAN PENDAPAT ...........................................................I
PERNYATAAN PENILAI ................................................................................................................................... IX
DAFTAR ISI ...................................................................................................................................................... X
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................................. I-1
1.1. LATAR BELAKANG ..................................................................................................................................... I-1
1.2. IDENTITAS PEMBERI TUGAS ........................................................................................................................ I-1
1.3. DASAR PENUGASAN.................................................................................................................................. I-1
1.4. OBJEK PENILAIAN ..................................................................................................................................... I-1
1.5. MAKSUD DAN TUJUAN ............................................................................................................................. I-2
1.6. TANGGAL PENILAIAN (CUT OFF DATE) ......................................................................................................... I-2
1.7. RUANG LINGKUP PENILAIAN ....................................................................................................................... I-2
1.8. PENDEKATAN DAN METODOLOGI ................................................................................................................ I-2
1.9. PERNYATAAN INDEPENDENSI ...................................................................................................................... I-2
1.10. URAIAN MENGENAI PENILAI BISNIS DAN/ATAU PENILAI PROPERTI SERTA HASIL PENILAIAN OLEH PENILAI BISNIS
DAN/ATAU PENILAI PROPERTI YANG MENJADI DASAR DALAM STUDI KELAYAKAN. .............................................. I-3
1.11. SUMBER DATA......................................................................................................................................... I-3
1.12. INFORMASI MENGENAI IDENTITAS DAN JABATAN PIHAK-PIHAK YANG TELAH DIWAWANCARAI DAN
HUBUNGANNYA DENGAN OBJEK PENILAIAN ................................................................................................. I-3
1.13. ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ................................................................................................. I-3
BAB II DATA DAN INFORMASI PROYEK ........................................................................................................ II-1
2.1. SPONSOR PROYEK ................................................................................................................................... II-1
2.2. PROFIL PROYEK....................................................................................................................................... II-2
2.3. PRODUK/JASA ........................................................................................................................................ II-2
2.4. KINERJA KEUANGAN PROYEK ..................................................................................................................... II-2
2.5. TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN .................................................................................................................. II-2
2.6. LATAR BELAKANG EKONOMI...................................................................................................................... II-2
2.7. KEBUTUHAN PRODUKSI ATAU OPERASI ........................................................................................................ II-5
2.8. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL ............................................................................................................ II-6
2.9. PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT ............................................................................. II-6
2.10. ASPEK LINGKUNGAN ................................................................................................................................ II-7
2.11. PERSYARATAN MODAL DAN STRATEGI FINANSIAL .......................................................................................... II-7
BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR .......................................................................................................... III-1
3.1. KONDISI PASAR ...................................................................................................................................... III-1
3.2. PESAING USAHA .................................................................................................................................... III-4
3.3. TARGET PASAR ...................................................................................................................................... III-5
3.4. STRATEGI PEMASARAN ............................................................................................................................ III-5
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ................................................................................................. IV-1
4.1. KEUNGGULAN KOMPETITIF KARENA KEUNIKAN DARI POLA BISNIS ...................................................................IV-1
4.2. KEMAMPUAN PESAING UNTUK MENIRU PRODUK.........................................................................................IV-1
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk x
Page 12
4.3. KEMAMPUAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI.................................................................................................IV-1 BAB V ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ..................................................................................... V-1 5.1. KETERSEDIAAN TENAGA KERJA ...................................................................................................................V-1 5.2. KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN.................................................................................................V-1 5.3. KESESUAIAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN ................................................................................................V-1 5.4. MANAJEMEN KEKAYAAN INTELEKTUAL ........................................................................................................V-3 5.5. MANAJEMEN RISIKO ................................................................................................................................V-3 BAB VI ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ......................................................................................................... VI-1 6.1. KAPASITAS PRODUKSI..............................................................................................................................VI-1 6.2. KETERSEDIAAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA .............................................................................................VI-1 6.3. PROSES PRODUKSI ..................................................................................................................................VI-1 BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ................................................................................................ VII-1 7.1. BIAYA INVESTASI ...................................................................................................................................VII-1 7.2. SUMBER PEMBIAYAAN ...........................................................................................................................VII-1 7.3. PERSYARATAN KREDIT ............................................................................................................................VII-2 7.4. BIAYA OPERASIONAL..............................................................................................................................VII-2 7.5. BIAYA BAHAN BAKU MENTAH .................................................................................................................VII-2 7.6. ASUMSI – ASUMSI DALAM PROYEKSI KEUANGAN ........................................................................................VII-2 7.7. ANALISIS TITIK IMPAS (BREAK EVEN POINT ANALYSIS) ..................................................................................VII-8 7.8. ANALISIS PROFITABILITAS ........................................................................................................................VII-9 7.9. ANALISIS RETURN ON INVESTMENT (ROI) ..................................................................................................VII-9 7.10. ANALISIS LIKUIDITAS DAN SOLVABILITAS ..................................................................................................VII-10 7.11. ANALISIS KELAYAKAN PROYEK................................................................................................................VII-10 7.12. ANALISIS SENSITIVITAS .........................................................................................................................VII-12 LAMPIRAN Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk xi
Page 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
PT Eagle High Plantations Tbk (selanjutnya disebut BWPT atau Perseroan atau Perusahaan
atau Sponsor Proyek) saat ini bergerak di bidang industri dan perkebunan kelapa sawit dengan
Crude Palm Oil (selanjutnya disebut CPO) dan Palm Kernel (selanjutnya disebut PK) sebagai
produk utama. Total luas perkebunan BWPT saat ini adalah +87.000 hektar dan berlokasi di
Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
BWPT merencanakan menambah kegiatan usaha yang dimilikinya dibidang perdagangan besar
minyak dan lemak nabati (selanjutnya disebut Proyek), penambahan kegiatan usaha ini
bertujuan untuk memungkinkan BWPT melakukan pembelian CPO dari pabrik kelapa sawit
disekitar lokasi BWPT yang dimiliki pihak ketiga dengan memanfaatkan investasi bulking/jetty
yang sudah ada sebelumnya, dengan penambahan fasilitas berupa receiving facility baik di
pabrik kelapa sawit maupun di lokasi bulking berada, dimana CPO yang dibeli dari pihak ketiga
tersebut akan dijual kembali bersama dengan CPO yang diproduksi oleh BWPT sendiri.
Untuk itu sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 17/POJK.04/2020,
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, diperlukan studi kelayakan usaha
dari Penilai Independen.
Sehubungan rencana tersebut, Perseroan telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar
dan Rekan selaku Penilai Independen untuk melakukan studi kelayakan atas proyek tersebut.
IDR telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan berdasarkan surat keputusannya No.
772/KM.1/2013 tanggal 12 November 2013 dan telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) berdasarkan Surat No. S-774/PM.25/2013 tanggal 27 November 2013 dengan Surat
Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal yang telah dilakukan pendaftaran ulang
dengan No. STTD.PPB-33/PJ-1/PM.02/2023 tanggal 6 Juli 2023 sebagai Penilai Properti/Aset
dan Bisnis di Pasar Modal.
1.2. Identitas Pemberi Tugas
Nama : PT Eagle High Plantations Tbk
Alamat : Rajawali Place, Lantai 28 Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B/4 Setiabudi,
Jakarta Selatan
Bidang Usaha : Agriculture Plantation
No. Telepon/Fax : (021) 8665 8828
Email : corsec@eaglehighplantations.com
Website : www.eaglehighplantations.com
1.3. Dasar Penugasan
Proposal/surat perjanjian kerja yang telah disepakati antara KJPP Iskandar dan Rekan
(Penerima Tugas) dan PT Eagle High Plantations Tbk (Pemberi Tugas) No. 042.1/IDR/DE.2/Pr-
FS/III/2025 tanggal 10 Maret 2025.
1.4. Objek Penilaian
Objek penilaian adalah Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati BWPT
(selanjutnya disebut Proyek).
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk I-1
Page 14
1.5. Maksud Dan Tujuan
Maksud penilaian adalah untuk memberikan pendapat atas kelayakan suatu usaha atau
proyek dengan tujuan penilaian untuk menyatakan layak atau tidak layak atas usaha atau
proyek terkait dengan perubahan/penambahan kegiatan usaha Perusahaan.
Laporan ini tidak dapat digunakan untuk tujuan lainnya selain tersebut diatas.
1.6. Tanggal Penilaian (Cut Off Date)
Tanggal penilaian 31 Desember 2024 ditetapkan berdasarkan laporan keuangan Perseroan
yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Akuntan Publik Ario
Bulan Awalia Noor dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Mirawati Sensi Idris yang terdaftar di
Otoritas Jasa Keuangan dengan opini wajar, dalam semua hal yang material.
1.7. Ruang Lingkup Penilaian
Ruang lingkup penilaian adalah:
a. Identifikasi masalah (identifikasi batasan, tujuan dan objek, definisi penilaian dan tanggal
penilaian),
b. Pengumpulan data,
c. Analisis data,
d. Estimasi nilai dengan menggunakan pendekatan penilaian,
e. Penulisan laporan.
1.8. Pendekatan dan Metodologi
Pendapat yang diberikan Penilai berupa penilaian kelayakan usaha adalah untuk menyatakan
kelayakan suatu usaha atau proyek.
Pendapat mengenai kelayakan suatu usaha atau proyek diberikan setelah melakukan analisis
atas:
a. Kelayakan pasar
b. Kelayakan pola bisnis
c. Kelayakan model manajemen
d. Kelayakan teknis
e. Kelayakan keuangan
1.9. Pernyataan Independensi
a. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami tidak ada benturan kepentingan
dengan Perseroan maupun pihak yang terafiliasi dengan Perseroan dan transaksi yang akan
dilakukan Perseroan.
b. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara
independen tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perseroan, maupun
pemegang saham Perseroan ataupun pihak-pihak yang terkait dengan Perseroan tersebut.
Kami juga tidak mempunyai kepentingan ataupun keuntungan pribadi berkaitan dengan
penugasan ini. Selanjutnya, laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
c. Tidak ada satupun dari pemilik ataupun pegawai kami yang memiliki kepentingan dalam
bentuk apapun yang dapat menghalangi kami untuk melakukan penilaian secara
independen terhadap kelayakan proyek. Kompensasi dan honorarium kami tidak
bergantung kepada kejadian maupun kesimpulan yang diambil oleh perseroan sebagai
akibat dari laporan kami ini.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk I-2
Page 15
1.10. Uraian Mengenai Penilai Bisnis Dan/Atau Penilai Properti Serta Hasil Penilaian Oleh Penilai
Bisnis Dan/Atau Penilai Properti Yang Menjadi Dasar Dalam Studi Kelayakan.
Dalam studi kelayakan ini kami tidak menggunakan hasil penilaian dari Penilai Bisnis dan/atau
Penilai Properti dengan demikian uraian mengenai Penilai Bisnis dan/atau Penilai Properti
serta hasil penilaian oleh Penilai Bisnis dan/atau Penilai Properti yang menjadi dasar dalam
studi kelayakan atas proyek tidak ada.
1.11. Sumber Data
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu,
atau melaksanakan prosedur atas data dan informasi, antara lain sebagai berikut:
a. Copy legalitas dan perizinan Perseroan.
b. Rencana anggaran biaya proyek yang mencakup kebutuhan biaya investasi dan operasional
proyek.
c. Proyeksi keuangan proyek.
d. Laporan keuangan Perseroan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah
diaudit oleh Akuntan Publik Ario Bulan Awalia Noor dari Kantor Akuntan Publik (KAP)
Mirawati Sensi Idris dengan opini wajar, dalam semua hal yang material.
e. Hasil wawancara dengan pihak manajemen mengenai alasan, latar belakang, dan hal-hal
lain yang terkait dengan rencana proyek.
f. Berbagai sumber informasi baik berdasarkan media cetak dan elektronik dan hasil analisis
lain yang kami anggap relevan.
1.12. Informasi Mengenai Identitas Dan Jabatan Pihak-Pihak Yang Telah Diwawancarai Dan
Hubungannya Dengan Objek Penilaian
Kami telah melakukan diskusi dan wawancara dengan manajemen Perseroan pada tanggal 27
Maret – 22 April 2025. Identitas yang kami wawancarai adalah Ibu Rizka Dewi S sebagai
Corporate Secretary BWPT.
1.13. Asumsi – Asumsi Dan Kondisi Pembatas
1.13.1. Asumsi dan Asumsi Khusus
a. Legalitas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penilaian adalah benar
dan tidak menyesatkan.
b. Data dan informasi yang relevan yang diperoleh dari sumber yang layak adalah
benar dan tidak menyesatkan.
c. Pemberi Tugas telah memberikan informasi yang lengkap mengenai objek
penilaian dan tidak ada hal-hal yang disembunyikan yang dapat berpengaruh
secara signifikan terhadap kesimpulan nilai.
d. Penilai beranggapan bahwa bagian-bagian properti yang tidak diinspeksi tidak
memiliki kerusakan yang berarti dan tidak menyebabkan perubahan nilai.
e. Objek penilaian diasumsikan tidak dibangun dengan material ataupun mengandung
material yang bersifat merusak dan berbahaya yang dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan yang berpengaruh terhadap kesimpulan nilai.
f. Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dengan fakta yang sebenarnya pada
tanggal penilaian. Jika terdapat asumsi khusus akan diungkapkan dalam laporan
penilaian.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk I-3
Page 16
1.13.2. Kondisi dan Syarat Pembatas
a. Laporan Penilaian ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses penilaian.
c. Penilai bertanggung jawab atas laporan penilaian dan kesimpulan nilai akhir.
d. Penilai melakukan penelaahan atas status hukum objek penilaian.
e. Penilai tidak melakukan penyelidikan atas legalitas/status hukum dokumen-
dokumen yang digunakan dalam proses penilaian. Adalah bukan tugas Penilai
untuk melakukan uji tuntas (due diligence) dari aspek hukum atas catatan publik
serta catatan kepemilikan.
f. Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuiakan yang
mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan
kemampuan pencapaiannya (Fiduaciary Duty).
g. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi
keuangan.
h. Laporan penilaian ini terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang bersifat
rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.
i. Jika penilaian diperuntukan untuk kepentingan Pasar Modal, data dan informasi
dalam penilaian bersumber dari atau divalidasi oleh Asosiasi Profesi Penilai
(MAPPI).
j. Penilai dibebaskan dari segala tuntutan dan kewajiban yang berkaitan dengan
penggunaan laporan yang tidak sesuai dengan tujuan/kepentingan dari laporan
penilaian.
k. Data dan informasi yang diterima Penilai dari Pemberi Tugas diasumsikan benar
dan dapat dipertanggung jawabkan, antara lain termasuk penunjukkan letak lokasi
tempat, spesifikasi jenis dan jumlah aset objek penilaian dan apabila data dan
informasi tersebut tidak benar maka Pemberi Tugas membebaskan Penilai dari
tanggung jawab atas hasil penilaian yang tidak tepat dikarenakan kesalahan
tersebut.
l. Informasi yang telah diberikan oleh pihak lain kepada Penilai seperti yang telah
disebutkan dalam laporan penilaian dianggap layak dan dipercaya, tetapi Penilai
tidak bertanggung jawab jika ternyata informasi yang diberikan itu terbukti tidak
sesuai dengan hal yang sesungguhnya. Tanggung jawab untuk memeriksa kembali
kebenaran informasi tersebut sepenuhnya berada di pihak Pemberi Tugas.
m. Setiap informasi yang berasal dari Data Pribadi yang diperoleh dan/atau digunakan
Penilai dalam penugasan ini hanya digunakan untuk kepentingan sesuai tujuan
penilaian, dan selanjutnya data dan informasi yang dimaksud dikecualikan sebagai
Data Pribadi sebagaimana diatur dalam ketentuan dan perundang-undangan yang
terkait Perlindungan Data Pribadi.
n. Laporan ini tidak sah jika tidak dibubuhi tandatangan Pemimpin Rekan/Rekan dan
stempel/seal perusahaan KJPP Iskandar dan Rekan serta tidak dapat dipertanggung
jawabkan bilamana pemberi tugas tidak melunasi imbalan jasa atas pekerjaan
penilaian ini.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk I-4
Page 17
o. Pemberi Tugas adalah orang atau badan yang memberi instruksi kepada Penilai
termasuk di dalamnya direksi perusahaan atau pejabatnya, atau penasihat
profesionalnya, contact person ataupun yang ditugaskan mewakilinya.
p. Laporan ini bukan merupakan rekomendasi untuk melakukan atau tidak melakukan
suatu transaksi sesuai dengan tujuan dalam laporan ini, dan laporan ini tidak
terikat dengan transaksi yang dilakukan dan transaksi yang dilakukan adalah
mutlak keputusan dari pihak-pihak yang bertransaksi.
q. Perbedaan kondisi yang mungkin terjadi antara tanggal penilaian dengan waktu
penggunaan hasil penilaian dapat menurunkan relevansi opini nilai terhadap
kebutuhan pengguna hasil penilaian, dikarenakan adanya perbedaan akses data
dan informasi serta asumsi dan analisis penilaian. Apabila pengguna hasil penilaian
menemukan kondisi tersebut, disarankan untuk menugaskan Penilai melakukan
reviu terhadap penugasan yang telah dilaksanakan dan apabila dimungkinkan dan
dibutuhkan, Penilai dapat melakukan penilaian ulang dengan mengulang kembali
prosedur penilaian yang sebelumnya dilakukan, secara lebih lengkap. Proses dan
prosedur tersebut harus dituangkan dalam penugasan yang berdiri sendiri dan
berbeda dengan penugasan penilaian sebelumnya.
r. Jika kontrak dan/atau laporan penilaian ditulis dalam versi Bahasa Indonesia dan
Bahasa Inggris, Pemberi Tugas dan Penerima Tugas sepakat bahwa dalam hal
terjadi inkonsistensi antara versi Bahasa Indonesia dan versi Bahasa Inggris, maka
versi Bahasa Indonesia yang akan berlaku dan versi Bahasa Inggris akan dianggap
telah diubah untuk menyesuaikan dengan versi Bahasa Indonesia.
s. Asumsi-asumsi dan kondisi pembatas ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan
(integral) dari laporan penilaian.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk I-5
Page 18
BAB II
DATA DAN INFORMASI PROYEK
2.1. Sponsor Proyek
Sponsor proyek adalah PT Eagle High Plantations Tbk berkedudukan di Jakarta Selatan,
didirikan dengan nama PT BW Plantation berdasarkan Akta No. 13 tanggal 6 November 2000
dari Paulus Widodo Sugeng Haryono, S.H., notaris di Jakarta. Akta tersebut telah mendapat
pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat
Keputusan No. C-25665.HT.01.01.Th.2000 tanggal 22 Desember 2000 serta diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia No. 68 tanggal 26 Agustus 2003, Tambahan No. 7449.
Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir mengenai
perubahan beberapa ketentuan dalam Anggaran Dasar untuk disesuaikan dengan Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No. 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka, diaktakan pada Akta No. 2 tanggal 8 Mei 2023
dari Novita Puspitarini, S.H., Notaris di Jakarta dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Pemberitahuan Penerimaan Perubahan
Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-0116320 tanggal 11 Mei 2023.
Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004.
Pabrik pengolahan kelapa sawit Grup berada di Kalimantan dan Papua dan perkebunan entitas
anak berlokasi di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
Kegiatan Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
terutama meliputi bidang industri dan pertanian. Perusahaan dan entitas anak didirikan dan
menjalankan usahanya di Indonesia dan Singapura. Ruang lingkup kegiatan usaha Grup
meliputi pengembangan perkebunan, pengolahan hasil perkebunan, perdagangan dan lain-
lain. Bidang usaha meliputi perkebunan kelapa sawit dan hasil olahan kelapa sawit antara lain
produk perkebunan. Produk tersebut mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak
kelapa sawit (crude palm oil) dan inti sawit (palm kernel).
Susunan Pemegang Saham
Susunan pemegang saham Perseroan berdasarkan laporan keuangan pada tanggal 31
Desember 2024 (audit) adalah sebagai berikut:
PT EAGLE HIGH PLANTATIONS Tbk
Jumlah Jumlah
No. Pemegang Saham (%)
Saham (Rp)
1 PT Rajawali Capital International 11.886.121.516 37,70% 1.188.612.000.000
2 FIC Properties Sdn Bhd 11.664.357.670 37,00% 1.166.436.000.000
3 Masyarakat (masing-masing di bawah 5%) 7.974.811.814 25,30% 797.481.000.000
Jumlah 31.525.291.000 100,00% 3.152.529.000.000
Sumber: Laporan Keuangan tahun 2024 (audit)
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi berdasarkan laporan keuangan pada tanggal 31
Desember 2024 (audit) adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-1
Page 19
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Abed Nego
Komisaris : Mohammad Prianto Madelar
Komisaris Independen : Yohanes Wahyu Saronto
Direksi
Direktur Utama : Henderi Djunaidi
Direktur : Andrew Haryono
Direktur : Yeoh Lean Khai
Perizinan
Perizinan yang dimiliki adalah:
- Izin Usaha Industri No. 805/T/INDUSTRI/2008 yang diterbitkan oleh Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal pada tanggal 6 Agustus 2008.
- Nomor Induk Berusaha (NIB) 8120310110629.
- Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 01.882.908.5-054.000.
- Ijin Usaha Pengolahan (IUP-P) No. 525/002/Ek yang diterbitkan oleh Bupati Kotawaringin
Barat pada tanggal 14 Januari 2016.
- Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 01 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan
Kabupaten Kotawaringin Barat pada tanggal 27 Agustus 2002.
- Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor: 0007 yang diterbitkan oleh Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Kotawaringin Barat pada tanggal 11 Desember 2013.
2.2. Profil Proyek
Rencana proyek adalah Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati
mencakup usaha yang memungkinkan BWPT melakukan pembelian CPO dari pihak ketiga,
yang selanjutnya akan dijual kembali bersama dengan CPO yang diproduksi oleh BWPT sendiri.
Kegiatan usaha tersebut merupakan kegiatan usaha baru BWPT, namun BWPT telah memiliki
personil yang berpengalaman dibidang Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak
Nabati sehingga diharapkan tidak terdapat kendala dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.
2.3. Produk/Jasa
Produk proyek kegiatan usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati adalah
perdagangan CPO.
2.4. Kinerja Keuangan Proyek
Proyek adalah kegiatan usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati yang merupakan
bidang usaha baru yang akan dikembangkan, sehingga kinerja keuangan historis proyek tidak
ada.
2.5. Teknologi yang Digunakan
Dalam melakukan pembelian CPO, tidak terdapat teknologi yang digunakan.
2.6. Latar Belakang Ekonomi
PDB Menurut Lapangan Usaha
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 terhadap 2023 (C-to-C)
Ekonomi Indonesia tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03%. Pertumbuhan terjadi pada seluruh
lapangan usaha. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Jasa Lainnya
sebesar 9,80%; diikuti Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,69%; dan Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,56%. Sementara itu, Industri Pengolahan yang
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-2
Page 20
memiliki peran dominan tumbuh 4,43%. Sedangkan Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masing-masing tumbuh
sebesar 4,86% dan 0,67%.
Gambar 1. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (C-to-C) (%), 2022—2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2024
didominasi oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 18,98%; diikuti oleh
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,07%; Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan sebesar 12,61%; Konstruksi sebesar 10,09%; serta Pertambangan
dan Penggalian sebesar 9,15%. Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian
Indonesia mencapai 63,90%.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2024 Terhadap Triwulan IV-2023 (Y-on-Y)
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2024 terhadap triwulan IV-2023 (y-on-y) tumbuh sebesar
5,02%. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang tumbuh
signifikan adalah Jasa Lainnya sebesar 11,36%; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 8,08%;
Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,92%; dan Informasi dan Komunikasi sebesar 7,45%.
Sebagai lapangan usaha yang memiliki peran dominan, Industri Pengolahan tumbuh sebesar
4,89%. Sedangkan Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; serta
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masing-masing tumbuh sebesar 5,19% dan 0,71%.
Gambar 2. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (%),
Triwulan IV-2023, Triwulan III-2024, dan Triwulan IV-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2024 Terhadap Triwulan III-2024 (Q-to-Q)
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2024 tumbuh sebesar 0,53% (q-to-q). Pertumbuhan terjadi
pada beberapa lapangan usaha. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-3
Page 21
diantaranya Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar
16,63%; diikuti oleh Jasa Pendidikan sebesar 14,94%; serta Jasa Lainnya sebesar 8,40%.
Sementara itu, lapangan usaha yang mengalami kontraksi terdalam adalah Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan sebesar 18,49%.
Gambar 3. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (%),
Triwulan IV-2023, Triwulan III-2024, dan Triwulan IV-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
PDB Menurut Pengeluaran, Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 terhadap 2023 (C -to-C)
Ekonomi Indonesia tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03% (c-to-c) dibanding tahun 2023.
Pertumbuhan terjadi pada semua komponen PDB Pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi terjadi
pada PK-LNPRT sebesar 12,48%; diikuti Komponen PK-P sebesar 6,61%; Komponen Ekspor
Barang dan Jasa sebesar 6,51%; Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT)
sebesar 4,94%; dan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 4,61%.
Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa (faktor pengurang dalam PDB menurut
pengeluaran) tumbuh sebesar 7,95%.
Gambar 4. Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (C -to-C) (%), 2022-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
Struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku tahun 2024 ti dak
menunjukkan perubahan yang signifi kan. Perekonomian Indonesia didominasi oleh
Komponen PK-RT dengan kontribusi sebesar 54,04%. Komponen PMTB memiliki kontribusi
terbesar kedua yakni sebesar 29,15%, diikuti Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar
22,18%; Komponen PK-P sebesar 7,73%; Komponen Perubahan Inventori sebesar 2,25%; dan
Komponen PK-LNPRT sebesar 1,36%. Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa
memiliki kontribusi sebesar 20,39%.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-4
Page 22
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2024 Terhadap Triwulan IV-2023 (Y-on-Y)
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2024 terhadap triwulan IV-2023 tumbuh sebesar 5,02% (y-on-
y). Pertumbuhan terjadi pada semua komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi terjadi
pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa, yang mengalami peningkatan sebesar 7,63%, diikuti
Komponen PK-LNPRT tumbuh sebesar 6,06%. Selain itu, Komponen PMTB, PK-RT, dan PK-P
tumbuh masing-masing sebesar 5,03%, 4,98%, dan 4,17%. Sementara itu, Komponen Impor
Barang dan Jasa tumbuh sebesar 10,36%.
Gambar 5. Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (Y-on-Y) (%),
Triwulan IV-2023, Triwulan III-2024, dan Triwulan IV-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2024 Terhadap Triwulan III-2024 (Q-to-Q)
Ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2024 dibanding triwulan III-2024 tumbuh sebesar 0,53%
(q-to-q). Pertumbuhan terti nggi dicapai oleh Komponen PK-P sebesar 38,58%, diikuti
Komponen PK-LNPRT sebesar 6,36%. Selain itu, Komponen Ekspor Barang dan Jasa, Komponen
PMTB, dan Komponen PK-RT masing-masing tumbuh sebesar 4,63%, 2,44%, dan 1,64%.
Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa tumbuh sebesar 3,23%.
Pertumbuhan PDB Beberapa Komponen Pengeluaran (Q-to-Q) (%),
Triwulan IV-2023, Triwulan III-2024, dan Triwulan IV-2024
Sumber: Badan Pusat Statistik
2.7. Kebutuhan Produksi atau Operasi
Kegiatan usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati memerlukan investasi modal
tetap dan modal kerja serta tenaga ahli dalam bidang kelapa sawit. Investasi modal tetap
berupa tangki unloading, pemipaan tangki unloading, pondasi & jalan akses, jasa install,
consumable dan pengecatan serta transport. Tenaga ahli dalam bidang kelapa sawit telah
dimiliki oleh Perseroan.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-5
Page 23
Perseroan memiliki tenaga ahli dalam bidang kegiatan usaha perdagangan besar minyak dan
lemak nabati dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dengan bidang keahlian operasional
dibidang perdagangan CPO. Selain itu Proyek juga membutuhkan modal tetap sebagai berikut:
Jumlah Jumlah
Uraian Satuan
Satuan (Rp.000)
Tangki Unloading Ls 1 49.192
Pemipaan Tangki Unloading Ls 1 47.496
Pondasi & Jalan Akses Ls 1 64.248
Jasa install, consumable dan pengecatan Ls 1 61.065
Transport Ls 1 67.000
Jumlah 289.000
Fungsi masing-masing bagian adalah sebagai berikut:
a. Tangki Unloading digunakan untuk proses pemindahan dan penyimpanan CPO secara
aman.
b. Pemipaan Tangki Unloading meliputi instalasi jalur pipa yang terhubung langsung dengan
tangki unloading, yang berfungsi untuk mengalirkan material ke unit pemrosesan atau
penyimpanan lanjutan.
c. Pondasi & Jalan Akses merupakan akses yang digunakan untuk kemudahan mobilisasi
saat proses pemindahan dan penyimpanan CPO.
d. Jasa install, consumable dan pengecatan adalah jasa pengerjaan untuk melakukan
instalasi tangki dan infraktruktur lainnya.
e. Transport mencakup biaya pengangkutan seluruh peralatan dan material dari lokasi
penyimpanan/vendor ke lokasi proyek.
Berdasarkan informasi manajemen sumber pembiayaan proyek seluruhnya dari modal sendiri
dengan jangka waktu pembangunan Proyek 1 bulan.
2.8. Hak Atas Kekayaan Intelektual
Sponsor proyek maupun Proyek tidak memiliki hak atas kekayaan intelektual atas proyek.
2.9. Peraturan dan Perundang-Undangan yang Terkait
Peraturan dan perundangan-undangan yang terkait adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4756);
2. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5170);
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5360);
5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 131, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5433);
6. Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja;
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-6
Page 24
7. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 Tentang Perindustrian;
8. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan;
9. Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 Tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa
Sawit Berkelanjutan Indonesia;
10. Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pengembangan
Industri Nasional 2015 – 2035;
11. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19 Tahun 2023 Tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 03 Tahun 2022 Tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia,
Penelitian dan Pengembangan, Peremajaan, serta Sarana dan Prasarana Perkebunan
Kelapa Sawit.
2.10. Aspek Lingkungan
Berikut adalah daftar kegiatan uji kualitas lingkungan yang akan dilakukan:
1. Kepatuhan terhadap rantai pasok yang bersih: audit terhadap seluruh mitra dan pemasok
CPO, untuk memastikan tidak adanya praktik illegal logging, pembakaran lahan, atau
penggunaan lahan gambut yang tidak sesuai.
2. Penilaian dampak lingkungan (AMDAL): untuk menilai dampak lingkungan dalam proyek
pembangunan atau pengembangan fasilitas receiving facility.
2.11. Persyaratan Modal dan Strategi Finansial
Tidak ada modal dan strategi finansial khusus dalam menjalankan kegiatan usaha Proyek.
Kebutuhan modal diperlukan untuk memenuhi investasi yang diperlukan untuk kegiatan usaha
perdagangan besar minyak dan lemak nabati. Dalam usaha perdagangan besar minyak dan
lemak nabati tergantung dari pembelian CPO yang diperoleh dari pihak ketiga.
Perseroan akan membangun pabrik receiving facility di lokasi receiving facility yang telah ada
sebelumnya yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Perseroan akan memperoleh bahan baku berupa CPO di sekitar pabrik kelapa sawit BWPT
dengan tetap memperhatikan kualitas dan harga.
Strategi finansial yang digunakan adalah menyiapkan anggaran biaya operasional untuk
proyek dan memperoleh margin dari penjualan CPO. Berdasarkan informasi manajemen
sumber pembiayaan proyek seluruhnya dari modal sendiri dengan jangka waktu
pembangunan receiving facility kisaran selama 1 bulan.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk II-7
Page 25
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Kondisi Pasar
Produksi CPO
Produksi CPO tahun 2023 diperkirakan mencapai 50,07 juta ton atau naik sebesar 7,15% dari
tahun 2022 yakni sebesar 46,73 juta ton. Sementara itu, produksi PKO mencapai 4,77 juta ton
atau naik 5,66% dari tahun sebelumnya (2022) yakni sebesar 4,52 juta ton. Kenaikan produksi
dari tahun 2022 ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai hal, antara lain: (1) harga minyak
sawit menjelang akhir tahun 2021 dan sepanjang tahun 2022 relatif tinggi, sehingga
mendorong pelaku usaha untuk mengelola kebunnya dengan baik, termasuk pemberian
pupuk; (2) adanya perluasan areal yang telah menghasilkan di tahun 2023. Hal ini sesuai
dengan data Kementerian Pertanian dalam periode 2017- 2020 terdapat perluasan 540 ribu
hektar dan diperkirakan tahun 2023 akan ada penambahan areal TM (Tanaman Menghasilkan)
seluas 260 ribu hektar; (3) El Nino yang semula diperkirakan akan melanda Indonesia, ternyata
tidak berpengaruh terhadap produksi tanaman kelapa sawit, karena melanda di sebagian
besar Indonesia bagian selatan.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, luas areal kelapa sawit Indonesia
tahun 2023 angka sementara mencapai 16,83 juta hektar, yang terdiri dari areal perkebunan
rakyat (PR) sebesar 37,37% atau 6,29 juta hektar, perkebunan besar swasta (PBS) sebesar
51,08% atau 8,60 juta hektar dan perkebunan besar negara (PBN) hanya sebesar 3,24% atau
545,71 ribu hektar, sementara ada juga luasan yang akan dikonfirmasikan sebesar 8,31% atau
1,40 juta hektar. Produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2023 sebesar 46,99 juta ton dalam
bentuk minyak sawit angka sementara. Produksi kelapa sawit tersebut sebagian besar
ditujukan untuk ekspor. Volume ekspor kelapa sawit Indonesia yang cukup besar tersebut
menjadikan Indonesia sebagai negara eksportir kelapa sawit terbesar pertama dunia.
Jika dilihat produksi kelapa sawit per provinsi periode tahun 2019 – 2023 terdapat sembilan
provinsi sentra produksi kelapa sawit. Tahun 2023 kontribusi ke sembilan provinsi tersebut
mencapai 87,82% terhadap total produksi minyak sawit Indonesia.
Gambar 1. Provinsi Sentra Produksi Kelapa Sawit Indonesia, 2023
Sumber: Analisis Kinerja Perdagangan Kelapa Sawit 2024
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk III-1
Page 26
Pada tahun 2024, produksi minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) Indonesia mengalami
penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa
Sawit Indonesia (GAPKI), total produksi PKO pada tahun 2024 tercatat sebesar 4,598 juta ton,
turun 3,80% dari produksi tahun 2023 yang mencapai 4,77 juta ton.
Penurunan ini sejalan dengan fluktuasi produksi minyak sawit mentah (CPO) sepanjang tahun
2024. Misalnya, pada bulan Desember 2024, produksi CPO tercatat sebesar 3,876 juta ton,
sementara produksi PKO turun menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton pada bulan November.
Meskipun demikian, konsumsi domestik terhadap produk sawit, termasuk PKO, tetap
menunjukkan tren positif. Konsumsi dalam negeri pada bulan Desember 2024 tercatat sebesar
2,187 juta ton, meningkat dibandingkan bulan November yang mencapai 2,030 juta ton.
Secara keseluruhan, meskipun ada penurunan dalam produksi PKO, sektor sawit Indonesia
tetap menunjukkan daya tahan dengan meningkatnya konsumsi domestik dan ekspor produk
olahan sawit.
Pasar ekspor minyak sawit
Pada tahun 2024, pasar ekspor minyak sawit Indonesia mengalami dinamika yang signifikan.
Meskipun volume ekspor menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sektor ini tetap menjadi
kontributor utama devisa negara.
Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 29,5 juta ton,
menurun dari 32,2 juta ton pada tahun 2023. Nilai ekspor juga mengalami penurunan,
mencapai USD 27,76 miliar dibandingkan dengan USD 30,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke China dan India, masing-masing sebesar 2,38 juta
ton dan 1,13 juta ton.
GAPKI memproyeksikan bahwa produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 akan mencapai
53,6 juta ton. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga global dan kebijakan perdagangan
internasional dapat mempengaruhi laju ekspor di masa mendatang.
Perkembangan harga
Untuk melihat kinerja perdagangan kelapa sawit dalam negeri diantaranya dengan melihat
perkembangan rata-rata harga kelapa sawit baik di tingkat petani (harga produsen) dalam
wujud Tandan Buah Segar (TBS), Harga CPO maupun harga perdagangan konsumen dalam
wujud minyak goreng sawit. Harga produsen TBS nasional periode bulanan tahun 2021 - 2024
secara umum menunjukkan pola berfluktuasi, namun cenderung mengalami sedikit
peningkatan. Jika dicermati harga per bulan selama periode tersebut, dimana harga tertinggi
TBS terjadi pada bulan April 2022 mencapai Rp. 3.585 per kg, sedangkan terendah terjadi pada
bulan Juli 2022 sebesar Rp. 1.811 per kg. Data harga pembelian TBS merupakan harga yang
ditetapkan tim penetapan harga pembelian TBS. Harga ini dikirim oleh petugas PIP Kabupaten
dan Provinsi sesuai dengan waktu pelaksanaan penetapan harga TBS di provinsinya. Dinamika
harga TBS masih terus dipantau pemerintah. Fakta empiris menunjukkan fluktuasi harga CPO
di tingkat global secara langsung berimbas pada TBS. Fenomena yang berkembang bahwa
terjadi perbedaan harga TBS, pekebun yang tergabung dalam kelembagaan atau bermitra
dengan perusahaan pengolah kelapa sawit (PKS) harga TBS nya lebih tinggi dibandingkan
dengan pekebun yang tidak melakukan kemitraan. Selain itu tantangan lainnya, kebijakan
“bebas deforestasi” yang sudah mulai diimplementasikan di Uni Eropa berpotensi
memperlebar selisih harga TBS. Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk III-2
Page 27
Perkebunan terus berupaya mencari solusi untuk membantu petani menghadapi berbagai
tantangan dilapangan, menjaga komitmen dan mengatur strategi tepat guna demi perolehan
harga tandan buah segar kelapa sawit yang layak bagi pekebun.
Gambar 2. Perkembangan harga produsen TBS bulanan, 2021 – 2024
Sumber: Analisis Kinerja Perdagangan Kelapa Sawit 2024
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Kebutuhan CPO
Kebutuhan CPO di dalam negeri dan luar negeri dapat bervariasi tergantung pada sejumlah
faktor termasuk industri yang menggunakannya, tren konsumsi global dan kebijakan
pemerintah terkait. Kebutuhan CPO tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Kebutuhan di dalam negeri:
a. Industri Makanan dan Minuman Olahan
CPO banyak dimanfaatkan oleh industri makanan sebagai bahan baku utama minyak
goreng, margarin, shortening, dan lemak nabati lainnya. Selain itu, industri roti,
makanan ringan, dan produk olahan seperti mi instan juga menggunakan turunan CPO.
Kebutuhan ini ditopang oleh permintaan dari perusahaan besar makanan, UMKM, dan
sektor rumah tangga di seluruh Indonesia.
b. Industri Biofuel dan Energi Terbarukan
CPO merupakan bahan baku utama dalam produksi biodiesel di Indonesia, terutama
dalam program B35 (campuran 35% biodiesel dari CPO ke solar). Pemerintah sangat
mendorong penggunaan biodiesel untuk mengurangi impor bahan bakar fosil dan
mendukung energi ramah lingkungan. Kebutuhan domestik CPO untuk biofuel terus
meningkat seiring target energi terbarukan nasional.
c. Industri Kimia dan Oleokimia
CPO juga digunakan untuk menghasilkan turunan oleokimia seperti asam lemak, metil
ester, dan gliserin. Produk-produk ini dipakai lebih lanjut dalam industri sabun,
deterjen, pelumas industri, dan bahan pembersih. Beberapa kawasan industri di Riau,
Kalimantan, dan Sumatera Barat menyerap CPO sebagai bahan baku utama untuk
produk kimia domestik.
d. Industri Farmasi dan Kesehatan
CPO dan turunannya digunakan dalam pembuatan kapsul lunak, pelapis obat, dan
bahan tambahan farmasi. Industri farmasi lokal menggunakan bahan turunan dari CPO
karena sifatnya yang dapat dimurnikan hingga kualitas food grade dan farmasi.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk III-3
Page 28
2. Kebutuhan di luar negeri:
a. Industri Pangan dan Bahan Olahan
CPO diekspor ke berbagai negara seperti India, Tiongkok, Pakistan, dan negara-negara
Afrika sebagai bahan baku minyak goreng dan margarin. Industri makanan global
memanfaatkan CPO karena harga yang kompetitif, ketersediaan dalam jumlah besar,
dan kestabilan lemaknya. Permintaan tinggi dari sektor HORECA (hotel, restoran,
katering) menjadi pendorong ekspor ini.
b. Industri Bioenergi dan Biodiesel
Uni Eropa dan negara-negara seperti Jepang serta Korea Selatan menggunakan CPO
sebagai salah satu bahan dasar biofuel, meskipun pengaturannya semakin ketat karena
isu keberlanjutan. Namun, beberapa negara tetap menerima impor CPO yang
tersertifikasi ISPO atau RSPO untuk kebutuhan energi hijau mereka.
c. Industri Oleokimia dan Produk Kimia Global
Negara-negara seperti Belanda, India, dan Malaysia mengimpor CPO untuk diproses
menjadi produk oleokimia turunan seperti fatty alcohol, fatty acid, dan ester. Produk
ini kemudian digunakan dalam industri kosmetik, pembersih rumah tangga, pelumas
industri, dan plastik ramah lingkungan.
d. Industri Kosmetik dan Produk Perawatan Tubuh
CPO yang telah diolah (refined dan bleached) digunakan sebagai bahan dasar dalam
pembuatan sabun, lotion, dan produk personal care lainnya. Industri kosmetik di Eropa
dan Amerika Serikat menggunakan turunan CPO sebagai alternatif lemak nabati alami
karena sifatnya yang stabil dan mudah diolah.
3.2. Pesaing Usaha
Pihak-pihak yang menjadi pesaing adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang sejenis.
Pada kegiatan usaha kelapa sawit diantaranya adalah sebagai berikut:
1. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) memiliki pengolahan minyak inti sawit melalui anak
perusahaannya yaitu PT Tanjung Bina Lestari yang berlokasi di Sulawesi Barat. AALI
memiliki luas lahan 287.044 hektar yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan
Sulawesi. Dari luasan tersebut, 214.815 hektar adalah perkebunan inti sedangkan 72.229
hektar adalah perkebunan plasma.
2. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatat produksi CPO sebesar 283.651 metrik ton
di 2023 menjadi 245.395 metrik ton pada 2024 akibat dampak cuaca ekstrem. Perkebunan
ANJT di Pulau Belitung, Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan terdampak kekeringan
akibat El Nino.
3. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menargetkan produksi minyak sawit mentah (CPO)
sebesar 80.000 ton pada tahun 2024, meningkat sekitar 64% dibandingkan dengan
produksi tahun 2023 yang mencapai 48.663 ton. Target ini didukung oleh beroperasinya
pabrik kelapa sawit kedua di Tapanuli Selatan, yang diharapkan dapat meningkatkan
kapasitas produksi secara signifikan.
4. PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) memiliki lahan yang telah ditanam kelapa
sawit seluas 40.718,45 hektar. Pada tahun 2024, STAA mencatat kinerja yang solid
meskipun menghadapi tantangan eksternal. Produksi tandan buah segar (TBS) mencapai
1,047 juta ton atau meningkat 2,5% dari tahun sebelumnya, sementara produksi minyak
sawit mentah (CPO) tercatat sebesar 389.765 ton.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk III-4
Page 29
3.3. Target Pasar
Target pasar yang dituju untuk Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati
adalah industri pangan dan non pangan antara lain sebagai berikut:
2. Pangan
a. Bahan baku minyak goreng
b. Cokelat
c. Margarin
d. Kue
e. Mie instan
3. Non Pangan
a. Kosmetik
b. Pupuk
c. Bahan baku biodiesel
d. Sabun, sampo
e. Pelumas
3.4. Strategi Pemasaran
Saat ini, BWPT telah memproduksi dan memasarkan produk CPO. Seiring dengan
meningkatnya permintaan pasar terhadap kedua komoditas tersebut, BWPT melihat peluang
untuk memperluas volume penjualannya. Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus
bertumbuh, BWPT merencanakan untuk menambah pasokan CPO dengan cara melakukan
pembelian dari pabrik kelapa sawit milik pihak ketiga yang berlokasi di sekitar wilayah
operasional BWPT.
CPO yang dibeli dari pihak ketiga ini akan dipasarkan bersama dengan produk yang dihasilkan
oleh BWPT sendiri. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan dalam
hal kapasitas suplai, memperluas jaringan pelanggan, serta memberikan fleksibilitas dalam
memenuhi permintaan pasar yang dinamis, baik dalam skala volume maupun keberlanjutan
pasokan.
Selain itu strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh BWPT yaitu menerapkan Long-Term
Contract (LTC) dengan sejumlah refinery besar di Indonesia. Pendekatan ini bertujuan untuk
memastikan terserapnya seluruh volume produk CPO yang dimiliki BWPT, baik yang berasal
dari produksi sendiri maupun hasil pembelian dari pihak ketiga.
Berdasarkan analisis kelayakan pasar yang mencakup kondisi pasar, pesaing usaha, target pasar dan
strategi pemasaran, dapat disimpulkan bahwa aspek pasar proyek oleh sponsor proyek adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk III-5
Page 30
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
4.1. Keunggulan Kompetitif Karena Keunikan Dari Pola Bisnis
BWPT merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kelapa sawit sejak
tahun 2000 dengan CPO sebagai produk utama BWPT. Total luas perkebunan BWPT saat ini
adalah + 87.000 hektar dan berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Keunggulan logistik menjadi salah satu faktor pembeda utama BWPT dibandingkan para
pesaing. BWPT memiliki fasilitas penyimpanan (storage) yang berada di area pabrik kelapa
sawit (mills) serta sarana pengiriman melalui jetty dan fasilitas bulking, yang seluruhnya
berlokasi strategis dan berdekatan dengan sumber pasokan dari pabrik-pabrik kelapa sawit
milik pihak ketiga.
4.2. Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Salah satu keunggulan utama BWPT adalah infrastruktur logistik yang terintegrasi, seperti
fasilitas jetty dan bulking, yang mendukung efisiensi distribusi dan pengadaan produk.
Keunggulan logistik ini cukup sulit ditiru oleh pesaing karena memerlukan investasi modal dan
ketersediaan lahan strategis. Selain itu pembangunan fasilitas jetty atau bulking memerlukan
proses perizinan yang memerlukan waktu dan konstruksi yang tidak singkat serta pengadaan
lahan yang cukup sulit.
4.3. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
Keunggulan kompetitif BWPT dalam hal lokasi strategis dan infrastruktur logistik yang dimiliki
seperti fasilitas penyimpanan (storage), jetty, dan bulking. Kedekatan infrastruktur logistik
terhadap sumber pasokan, termasuk pabrik kelapa sawit pihak ketiga, memungkinkan BWPT
untuk menekan biaya transportasi secara signifikan dibandingkan pesaing.
Efisiensi biaya ini secara langsung meningkatkan margin perdagangan serta memperkuat daya
saing harga produk BWPT di pasar. Selain itu strategi yang dilakukan untuk menciptakan nilai
yaitu akan diterapkannya Long-Term Contract (LTC) dengan sejumlah refinery besar di
Indonesia. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan terserapnya seluruh volume produk
CPO yang dimiliki BWPT, baik yang berasal dari produksi sendiri maupun hasil pembelian dari
pihak ketiga.
Dengan demikian, kemampuan BWPT dalam memanfaatkan infrastruktur logistik tidak hanya
menciptakan efisiensi operasional, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan
bagi perusahaan.
Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis yang mencakup keunggulan kompetitif karena keunikan
dari pola bisnis, kemampuan pesaing untuk meniru produk dan kemampuan untuk menciptakan nilai
dapat disimpulkan bahwa aspek pola bisnis proyek oleh sponsor proyek adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk IV- 1
Page 31
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
5.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
BWPT merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kelapa sawit sejak
tahun 2000 dengan CPO sebagai produk utama BWPT.
Tenaga kerja untuk Proyek telah tersedia sebanyak 7 orang yang telah berpengalaman dalam
berbagai bidang termasuk dalam melakukan perdagangan CPO.
5.2. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Sponsor proyek memiliki kapasitas dan kemampuan manajemen dalam mengelola Proyek,
karena sponsor proyek mempunyai tenaga kerja yang kompeten yang diperlukan dalam
mengelola usaha pengolahan kelapa sawit.
Perseroan memiliki tenaga ahli dalam bidang pengolahan kelapa sawit dengan pengalaman
lebih dari 20 tahun dengan bidang keahlian meliputi CPO & PK Sales, Trading CPO & PK, dan
Bulking.
5.3. Kesesuaian Organisasi dan Manajemen
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, salah satu faktor yang penting adalah kemampuan
dari pengelola (manajemen). Adapun struktur organisasi Perusahaan adalah sebagai berikut:
sumber: manajemen BWPT
a) Berikut tugas dan tanggung jawab dari setiap personil adalah sebagai berikut:
No. Nama Jabatan Tugas & Tanggung Jawab
1 Yeoh Lean Khai CMEO Direktur
2 Andreas Widodo Head- CPO & PK Sales Operasional Sales CPO & PK
3 Robert Zhang Head -Trading CPO & PK Operasional Trading CPO & PK
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk V-1
Page 32
4 Firman Sulaiman Sr Mgr Bulking MHK Operasional Bulking MHK
5 Wahyu Wibisono Koordinator Bulking BHL Operasional Bulking BHL
6 Alexander Situmeang Assistant TLP Operasional Bulking TLP
7 Partono Koordinator Bulking BBN Operasional Bulking BBN
b) Pekerjaan, jabatan, uraian pengalaman kerja, sertifikasi yang dimiliki dan seminar yang
pernah diikuti dari setiap personil adalah sebagai berikut:
No. Nama Jabatan Uraian
1 Yeoh Lean Khai CMEO Pengalaman Kerja : 1991 – saat ini di
bidang kelapa sawit.
Masa Kerja : 30 tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti : n/a
2 Andreas Widodo Head- CPO & PK Sales Pengalaman Kerja : 1994 – saat ini
dibidang kelapa sawit
Masa Kerja : 25 tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti : n/a
3 Robert Zhang Head -Trading CPO & PK Pengalaman Kerja : 1998 – saat ini
dibidang kelapa sawit
Masa Kerja : 20 Tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti : n/a
4 Firman Sulaiman Sr Mgr Bulking MHK Pengalaman Kerja : lebih dari 20
tahun dibidang kelapa sawit dan
turunan nya
Masa Kerja : 20 tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti :
1. Pelatihan PM16 Tahun 2021
dengan Silabus IMO.1.10
2. ABUPI Focus Group Discussion
Usaha bidang jasa kepelabuhan
PM51 Tahun 2015 –
BUP/TERSUS/TUKS
3. Training on Dreding and
Reflection Work
4. Indonesian Port Infrastructures
Expert
5 Wahyu Wibisono Koordinator Bulking BHL Pengalaman Kerja : lebih dari 20
tahun dibidang kelapa sawit
Masa Kerja : 20 tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti : n/a
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk V-2
Page 33
6 Alexander Situmeang Assistant TLP Pengalaman Kerja : lebih dari 5 tahun
dibidang kelapa sawit
Masa Kerja : 5 tahun
Sertifikasi yang dimiliki :
Pembinaan Pengawasan Norma
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Seminar yang pernah diikuti :
Pemroses Rencana Penambatan Kapal
dan Rencana Operasi (RPK-RO)
Kepada Pihak Badan Usaha Pelabuhan
Terminal Khusus (TERSUS) dan
Terminal Untuk Kepentingan Sendiri
(TUKS) pada Sistem Inaportnet di
Pelabuhan Sampit
7 Partono Koordinator Bulking BBN Pengalaman Kerja : lebih dari 20
tahun dibidang pengolahan kelapa
sawit
Masa Kerja : 20 tahun
Sertifikasi yang dimiliki : n/a
Seminar yang pernah diikuti :
1. Sosisalisasi PM 20 Tahun 2017
Tentang Tersus dan TUKS
2. Sosialisasi PM 78 Tahun 2018
3. Training Inaportnet
4. Sosialisasi KM 44 Tahun 2020
tentang Penetapan Alur
5. Seminar Keselamatan dan
Kemanan Pelayara
5.4. Manajemen Kekayaan Intelektual
Dalam menjalankan Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati, BWPT
tidak memerlukan manajemen kekayaan intelektual.
5.5. Manajemen Risiko
Manajemen risiko dalam usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati bertujuan untuk
meminimalkan potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas, ketidakstabilan pasokan,
gangguan logistik, serta perubahan regulasi. Strategi yang diterapkan mencakup penggunaan
instrumen lindung nilai, diversifikasi sumber dan pasar, optimalisasi rantai pasok, serta
kepatuhan terhadap kebijakan dan standar keberlanjutan. Selain itu, perlindungan terhadap
risiko keuangan dan operasional dilakukan melalui asuransi, pengendalian internal, serta
penerapan prosedur standar yang ketat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan
ketahanan dan keberlanjutan usaha dalam menghadapi dinamika pasar.
Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, yang mencakup ketersediaan tenaga kerja,
kapasitas dan kemampuan manajemen, kesesuaian struktur organisasi, manajemen kekayaan
intelektual dan manajemen risiko dapat disimpulkan bahwa aspek model manajemen proyek oleh
sponsor proyek adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk V-3
Page 34
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
6.1. Kapasitas Produksi
Perseroan merencanakan pembangunan receiving facility baru di lokasi yang telah tersedia
sebelumnya, yaitu di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Pembangunan fasilitas ini merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk mendukung
kelancaran dan efisiensi operasional dalam aktivitas perdagangan CPO.
Fasilitas ini akan difungsikan sebagai pusat penerimaan dan penyimpanan sementara produk
CPO yang diperoleh dari pabrik kelapa sawit milik pihak ketiga. Dengan kapasitas penyimpanan
yang memadai, receiving facility akan memungkinkan Perseroan untuk mengelola volume
pasokan secara lebih fleksibel, menjamin kontinuitas distribusi, serta menjaga kualitas produk
sebelum dikirim ke pelanggan akhir atau ke fasilitas pengolahan selanjutnya.
Langkah ini juga merupakan bagian dari strategi penguatan rantai pasok yang terintegrasi,
serta untuk mengantisipasi peningkatan volume perdagangan seiring dengan tumbuhnya
permintaan pasar terhadap produk CPO.
6.2. Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya
Saat ini BWPT bergerak di bidang industri dan perkebunan kelapa sawit dengan CPO sebagai
produk utama dengan total luas perkebunan BWPT saat ini adalah +87.000 hektar dan
berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Sehingga BWPT telah memiliki ketersediaan dan kualitas sumber daya yang memadai untuk
mendukung pelaksanaan Proyek. Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan didukung oleh
tenaga kerja yang berpengalaman di industri kelapa sawit, mulai dari produksi, pengolahan,
hingga distribusi.
Tenaga kerja untuk Proyek telah tersedia sebanyak 7 orang yang telah berpengalaman dalam
berbagai bidang termasuk dalam melakukan operasional Proyek.
6.3. Proses Produksi
Proyek merupakan perluasan kegiatan usaha Perseroan di bidang perdagangan CPO. Dalam
menjalankan kegiatan usaha tersebut, Perseroan akan melaksanakan serangkaian proses yang
bertujuan untuk memastikan kelancaran rantai pasok serta optimalisasi distribusi produk ke
pembeli. Adapun alur proses kegiatan usaha perdagangan CPO dapat dijelaskan sebagai
berikut:
4. Pengadaan dari Supplier
BWPT menjalin kerja sama dengan beberapa supplier atau pemasok produk CPO.
Pengadaan produk dilakukan melalui mekanisme kontrak jual beli (purchase agreement),
yang mencakup kesepakatan volume, harga, kualitas, dan waktu pengiriman.
5. Peran Sentral BWPT
BWPT bertindak sebagai entitas pengelola perdagangan yang mengonsolidasikan pasokan
dari para supplier, baik untuk keperluan distribusi internal maupun penjualan kembali ke
pasar. BWPT memiliki fasilitas penyimpanan dan logistik yang memungkinkan pengelolaan
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VI-1
Page 35
stok dan pengiriman secara efisien.
6. Penjualan kepada Buyer
Produk yang telah diperoleh akan dijual oleh BWPT kepada para buyer, yaitu industri
pengguna akhir seperti refinery. Penjualan dilakukan melalui dua skema utama, yaitu:
a. Kontrak Jangka Panjang (Long Term Contract/LTC), untuk menjamin kesinambungan
pasokan dan kestabilan permintaan.
b. Kontrak Spot, untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek berdasarkan harga pasar saat
ini.
Alur proses kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan analisis kelayakan teknis, dapat disimpulkan bahwa aspek teknis proyek oleh sponsor
proyek adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VI-2
Page 36
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN
Proyek diasumsikan sebagai entitas operasional yang lengkap tersendiri sebagai penambahan
kegiatan usaha Perusahaan.
7.1. Biaya Investasi
7.1.1. Modal Tetap
Investasi modal tetap meliputi tangki unloading, pemipaan tangki unloading, pondasi & jalan
akses, jasa install, consumable dan pengecatan serta transport dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 7.1
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Biaya Investasi Modal Tetap
Jumlah Jumlah
Uraian Satuan
Satuan (Rp.000)
Tangki Unloading Ls 1 49.192
Pemipaan Tangki Unloading Ls 1 47.496
Pondasi & Jalan Akses Ls 1 64.248
Jasa install, consumable dan pengecatan Ls 1 61.065
Transport Ls 1 67.000
Jumlah 289.000
Keterangan: Berdasarkan informasi manajemen, pada tanggal penilaian biaya investasi tersebut belum ada, sehingga biaya
investasi tersebut diperlukan pada awal tahun proyeksi sebelum proyek beroperasi
Sumber: Manajemen Perseroan
7.1.2. Modal Kerja
Perkiraan Investasi modal kerja pada awal produksi, perinciannya adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Perkiraan Kebutuhan Modal Kerja
(Rp.000)
Turnover
Uraian Jumlah
(Bulan)
Piutang usaha 1 65.914
Persediaan 1 59.751
Utang usaha 1 (59.751)
Jumlah 65.914
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
7.1.3. Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan biaya investasi proyek adalah sebagai berikut:
(Rp.000)
Modal Tetap 289.000
Modal Kerja 65.914
Jumlah Investasi 354.914
7.2. Sumber Pembiayaan
Sumber pembiayaan proyek untuk modal tetap dan modal kerja seluruhnya dari modal sendiri,
dengan rincian sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-1
Page 37
Tabel 7.3
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Sumber Pembiayaan
(Rp.000)
Sumber Pembiayaan
Uraian Total
Modal Sendiri Kredit
A.Modal Tetap 289.000 - 289.000
B.Modal Kerja 65.914 - 65.914
Jumlah 354.914 - 354.914
Struktur Pembiayaan 100,00% 0,00% 100,00%
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
Dengan demikian perbandingan kredit terhadap modal sendiri (Debt/Equity) proyek tersebut
adalah 0 : 100, atau seluruhnya dibiayai oleh modal sendiri.
7.3. Persyaratan Kredit
Proyek tidak menggunakan fasilitas kredit, seluruhnya dibiayai oleh modal sendiri, sehingga
tidak ada persyaratan kredit.
7.4. Biaya Operasional
Biaya operasional terdiri dari beban pokok penjualan, beban penjualan dan beban umum dan
administrasi. Beban pokok penjualan, beban penjualan dan beban umum dan administrasi
tahun pertama adalah sebagai berikut:
Tabel 7.4
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Perkiraan Biaya Operasional Tahun Pertama Operasi
(Rp.000)
Uraian Jumlah
Beban pokok penjualan 717.015
Beban penjualan 3.164
Beban umum dan administrasi 1.186
Jumlah 721.366
Keterangan: Beban pokok penjualan terdiri dari pembelian CPO dan estate, mill overhead cost
Sumber: Manajemen Perseroan, disesuaikan
Beban pokok penjualan terdiri dari:
- Pembelian CPO yang diasumsikan sebesar 90,00% dari penjualan tahun ke-1.
- Estate, mill overhead cost diasumsikan sebesar 0,65% dari penjualan tahun ke 1.
Beban penjualan diasumsikan sebesar 0,15% dari penjualan tahun ke-1.
Beban umum dan administrasi diasumsikan sebesar 0,25% dari penjualan tahun ke-1 dan
selanjutnya diasumsikan meningkat 3,00% setiap tahun.
7.5. Biaya Bahan Baku Mentah
Proyek adalah usaha perdagangan CPO yang telah diperhitungkan dalam beban pokok
penjualan. Kebutuhan CPO untuk proyek Perseroan diperkirakan sebesar 90,00% dari
penjualan.
7.6. Asumsi – Asumsi dalam Proyeksi Keuangan
Proyeksi disajikan selama 10 tahun dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
7.6.1. Proyeksi Laba Rugi
- Proyeksi penjualan disajikan sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-2
Page 38
Tabel 7.5
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
Penjualan Crude Palm Oil (CPO)
Pertumbuhan penjualan CPO (%) 0,00% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Penjualan CPO (Kg) 65.914 67.562 69.251 70.982 72.757
Kenaikan harga jual CPO (%) 0,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Harga jual CPO (Rp/Kg) 12.000 12.240 12.485 12.734 12.989
TOTAL PENJUALAN 790.971 826.960 864.587 903.926 945.054
Tabel 7.5
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Penjualan Crude Palm Oil (CPO)
Pertumbuhan penjualan CPO (%) 2,50% 2,50% 2,50% 2,50% 2,50%
Penjualan CPO (Kg) 74.576 76.440 78.351 80.310 82.318
Kenaikan harga jual CPO (%) 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Harga jual CPO (Rp/Kg) 13.249 13.514 13.784 14.060 14.341
TOTAL PENJUALAN 988.054 1.033.011 1.080.013 1.129.153 1.180.530
- Proyeksi beban pokok penjualan diasumsikan sebagai berikut:
o Biaya pembelian CPO diasumsikan sebesar 90,00% dari total penjualan setiap tahun.
o Biaya estate, mill overhead cost diasumsikan sebesar 0,65% dari total penjualan setiap
tahun.
- Proyeksi beban pokok penjualan disajikan sebagai berikut :
Tabel 7.6
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Pokok Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
Pembelian CPO 90,00% 711.874 744.264 778.128 813.533 850.549
Estate, Mill Overhead Cost 0,65% 5.141 5.375 5.620 5.876 6.143
Beban Pokok Penjualan 717.015 749.639 783.748 819.409 856.692
Tabel 7.6
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Pokok Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Pembelian CPO 90,00% 889.249 929.710 972.011 1.016.238 1.062.477
Estate, Mill Overhead Cost 0,65% 6.422 6.715 7.020 7.339 7.673
Beban Pokok Penjualan 895.671 936.424 979.031 1.023.577 1.070.150
- Proyeksi beban penjualan diasumsikan sebesar 0,15% dari total penjualan setiap tahun
disajikan sebagai berikut:
Tabel 7.7
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
Beban penjualan 0,15% 1.186 1.240 1.297 1.356 1.418
Beban penjualan 1.186 1.240 1.297 1.356 1.418
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-3
Page 39
Tabel 7.7
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Penjualan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Beban penjualan 0,15% 1.482 1.550 1.620 1.694 1.771
Beban penjualan 1.482 1.550 1.620 1.694 1.771
- Proyeksi beban umum dan administrasi tahun ke-1 operasi diasumsikan sebesar 0,25% dari
total penjualan dan tahun selanjutnya diasumsikan meningkat 3,00% setiap tahun disajikan
sebagai berikut:
Tabel 7.8
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Umum dan Administrasi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban umum dan administrasi 0,25% ke pendapatan 1.977 2.037 2.098 2.161 2.226
Beban umum dan administrasi 1.977 2.037 2.098 2.161 2.226
Tabel 7.8
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Beban Umum dan Administrasi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Kenaikan beban umum dan administrasi 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00% 3,00%
Proporsi beban umum dan administrasi 0,25% ke pendapatan 2.292 2.361 2.432 2.505 2.580
Beban umum dan administrasi 2.292 2.361 2.432 2.505 2.580
- Penyusutan
Perhitungan beban penyusutan disajikan pada lampiran 1.
- Bunga
Proyek tidak menggunakan fasilitas kredit, sehingga beban bunga diasumsikan tidak ada
(nol).
- Pajak
Tarif pajak diasumsikan sebesar 22,00% laba sebelum pajak dengan menerapkan tax loss
carry forward.
Proyeksi Laba Rugi disajikan pada Tabel 7.10.
7.6.2. Proyeksi Posisi Keuangan
- Piutang Usaha
Piutang usaha diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari penjualan.
- Persediaan
Persediaan diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari beban pokok penjualan.
- Aset Tetap
Perhitungan nilai perolehan, akumulasi penyusutan dan nilai buku aset tetap disajikan pada
lampiran 1.
- Utang Usaha
Utang usaha diasumsikan dengan turnover 1 bulan dari biaya operasional.
- Utang Bank
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-4
Page 40
Proyek tidak menggunakan fasilitas kredit dari bank, sehingga utang bank diasumsikan tidak
ada (nol).
- Modal sendiri
Modal sendiri pada tahun ke-1 adalah sebesar biaya investasi modal tetap dan investasi
modal kerja dan selanjutnya diasumsikan tetap, sama dengan tahun ke-1.
- Saldo laba (rugi)
Saldo laba (rugi) adalah penjumlahan antara laba (rugi) bersih periode berjalan dengan
saldo (rugi) laba periode sebelumnya.
Proyeksi Posisi Keuangan disajikan pada Tabel 7.11.
7.6.3. Proyeksi Arus Kas
Proyeksi Arus Kas disajikan pada Tabel 7.12.
Berdasarkan proyeksi arus kas tersebut, terlihat akumulasi kas selalu positif setiap tahun dan
saldo kas bersih kumulatif pada akhir tahun ke-10 adalah Rp 482.237 ribu.
Tabel 7.10
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Laba Rugi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
PENJUALAN 9,00% 790.971 826.960 864.587 903.926 945.054
BEBAN POKOK PENJUALAN (717.015) (749.639) (783.748) (819.409) (856.692)
LABA KOTOR 73.956 77.321 80.839 84.517 88.363
Beban Usaha (3.164) (3.277) (3.395) (3.517) (3.643)
Beban penjualan (1.186) (1.240) (1.297) (1.356) (1.418)
Beban umum dan administrasi (1.977) (2.037) (2.098) (2.161) (2.226)
EBITDA 67.628 74.044 77.444 81.000 84.719
Penyusutan (14.450) (15.534) (16.618) (17.701) (18.785)
EBIT 53.178 58.510 60.827 63.299 65.934
Beban Bunga - - - - -
EBT 53.178 58.510 60.827 63.299 65.934
Tarif Pajak % EBT -22,00% -22,00% -22,00% -22,00% -22,00%
Pajak (11.699) (24.571) (13.382) (13.926) (14.506)
EAT 41.479 33.939 47.445 49.373 51.429
Rasio Profitabilitas Rata-rata
Margin Laba Kotor 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35%
Margin EBITDA 8,93% 8,55% 8,95% 8,96% 8,96% 8,96%
Margin EBIT 6,95% 6,72% 7,08% 7,04% 7,00% 6,98%
Margin EBT 6,95% 6,72% 7,08% 7,04% 7,00% 6,98%
Margin EAT 5,28% 5,24% 4,10% 5,49% 5,46% 5,44%
Return of Investment 14,55% 11,69% 9,56% 13,37% 13,91% 14,49%
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-5
Page 41
Tabel 7.10
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Laba Rugi
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
PENJUALAN 9,00% 988.054 1.033.011 1.080.013 1.129.153 1.180.530
BEBAN POKOK PENJUALAN (895.671) (936.424) (979.031) (1.023.577) (1.070.150)
LABA KOTOR 92.383 96.586 100.981 105.576 110.380
Beban Usaha (3.774) (3.911) (4.052) (4.199) (4.351)
Beban penjualan (1.482) (1.550) (1.620) (1.694) (1.771)
Beban umum dan administrasi (2.292) (2.361) (2.432) (2.505) (2.580)
EBITDA 88.609 92.676 96.929 101.377 106.029
Penyusutan (19.869) (20.953) (22.036) (23.120) (24.204)
EBIT 68.740 71.723 74.893 78.257 81.825
Beban Bunga - - - - -
EBT 68.740 71.723 74.893 78.257 81.825
Tarif Pajak % EBT -22,00% -22,00% -22,00% -22,00% -22,00%
Pajak (15.123) (15.779) (16.476) (17.217) (18.001)
EAT 53.617 55.944 58.416 61.041 63.823
Rasio Profitabilitas Rata-rata
Margin Laba Kotor 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35%
Margin EBITDA 8,93% 8,97% 8,97% 8,97% 8,98% 8,98%
Margin EBIT 6,95% 6,96% 6,94% 6,93% 6,93% 6,93%
Margin EBT 6,95% 6,96% 6,94% 6,93% 6,93% 6,93%
Margin EAT 5,28% 5,43% 5,42% 5,41% 5,41% 5,41%
Return of Investment 14,55% 15,11% 15,76% 16,46% 17,20% 17,98%
Tabel 7.11
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Posisi Keuangan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
ASET
Aset Lancar 181.594 212.110 257.340 305.711 357.357
Kas dan Setara Kas 55.929 80.727 119.979 162.100 207.211
Piutang Usaha 1 bulan 65.914 68.913 72.049 75.327 78.755
Persediaan 1 bulan 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Aset Tidak Lancar 274.550 280.691 285.749 289.723 292.613
Aset Tetap
Nilai Perolehan 289.000 310.675 332.350 354.025 375.700
Akumulasi Penyusutan 14.450 29.984 46.601 64.303 83.088
Nilai Buku 274.550 280.691 285.749 289.723 292.613
JUMLAH ASET 456.144 492.802 543.089 595.434 649.969
LIABILITAS 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Liabilitas Jangka Pendek 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Utang Usaha 1 bulan 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Utang bank - - - - -
EKUITAS 396.393 430.332 477.776 527.150 578.579
Modal Sendiri 354.914 354.914 354.914 354.914 354.914
Saldo Laba 41.479 75.417 122.862 172.235 223.664
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 456.144 492.802 543.089 595.434 649.969
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas Rata-rata
Current Ratio 524,96% 303,92% 339,54% 394,01% 447,71% 500,56%
Debt to Equity Ratio 12,34% 15,07% 14,52% 13,67% 12,95% 12,34%
Debt to Assets Ratio 10,97% 13,10% 12,68% 12,03% 11,47% 10,98%
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-6
Page 42
Tabel 7.11
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Posisi Keuangan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
ASET
Aset Lancar 412.416 471.034 533.362 599.560 669.793
Kas dan Setara Kas 255.439 306.914 361.775 420.166 482.237
Piutang Usaha 1 bulan 82.338 86.084 90.001 94.096 98.377
Persediaan 1 bulan 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Aset Tidak Lancar 294.419 295.141 294.780 293.335 290.806
Aset Tetap
Nilai Perolehan 397.375 419.050 440.725 462.400 484.075
Akumulasi Penyusutan 102.956 123.909 145.945 169.065 193.269
Nilai Buku 294.419 295.141 294.780 293.335 290.806
JUMLAH ASET 706.835 766.175 828.142 892.895 960.599
LIABILITAS 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Liabilitas Jangka Pendek 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Utang Usaha 1 bulan 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Liabilitas Jangka Panjang - - - - -
Utang bank - - - - -
EKUITAS 632.196 688.140 746.556 807.597 871.420
Modal Sendiri 354.914 354.914 354.914 354.914 354.914
Saldo Laba 277.281 333.226 391.642 452.683 516.506
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 706.835 766.175 828.142 892.895 960.599
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas Rata-rata
Current Ratio 524,96% 552,55% 603,62% 653,74% 702,90% 751,06%
Debt to Equity Ratio 12,34% 11,81% 11,34% 10,93% 10,56% 10,23%
Debt to Assets Ratio 10,97% 10,56% 10,19% 9,85% 9,55% 9,28%
Tabel 7.12
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Arus Kas
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
ARUS KAS DARI KEGIATAN OPERASI
Laba Bersih 41.479 33.939 47.445 49.373 51.429
Penyusutan 14.450 15.534 16.618 17.701 18.785
Perubahan Modal Kerja :
(Kenaikan) Penurunan Piutang Usaha (65.914) (2.999) (3.136) (3.278) (3.427)
(Kenaikan) Penurunan Persediaan (59.751) (2.719) (2.842) (2.972) (3.107)
Kenaikan (Penurunan) Utang Usaha 59.751 2.719 2.842 2.972 3.107
Jumlah Perubahan Modal Kerja (65.914) (2.999) (3.136) (3.278) (3.427)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Operasi (9.985) 46.473 60.927 63.796 66.786
ARUS KAS DARI KEGIATAN INVESTASI
(Kenaikan) Penurunan Aset Tetap (Nilai Perolehan) (289.000) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Investasi (289.000) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
ARUS KAS DARI KEGIATAN PENDANAAN
Kenaikan (Penurunan) Modal Sendiri 354.914 - - - -
Kenaikan (Penurunan) Utang Bank - - - - -
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Pendanaan 354.914 - - - -
KAS TAHUN BERJALAN 55.929 24.798 39.252 42.121 45.111
KAS AWAL TAHUN - 55.929 80.727 119.979 162.100
KAS DAN SETARA KAS 55.929 80.727 119.979 162.100 207.211
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-7
Page 43
Tabel 7.12
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Arus Kas
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
ARUS KAS DARI KEGIATAN OPERASI
Laba Bersih 53.617 55.944 58.416 61.041 63.823
Penyusutan 19.869 20.953 22.036 23.120 24.204
Perubahan Modal Kerja :
(Kenaikan) Penurunan Piutang Usaha (3.583) (3.746) (3.917) (4.095) (4.281)
(Kenaikan) Penurunan Persediaan (3.248) (3.396) (3.551) (3.712) (3.881)
Kenaikan (Penurunan) Utang Usaha 3.248 3.396 3.551 3.712 3.881
Jumlah Perubahan Modal Kerja (3.583) (3.746) (3.917) (4.095) (4.281)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Operasi 69.903 73.150 76.536 80.066 83.746
ARUS KAS DARI KEGIATAN INVESTASI
(Kenaikan) Penurunan Aset Tetap (Nilai Perolehan) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Investasi (21.675) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
ARUS KAS DARI KEGIATAN PENDANAAN
Kenaikan (Penurunan) Modal Sendiri - - - - -
Kenaikan (Penurunan) Utang Bank - - - - -
Jumlah Arus Kas yang diperoleh (digunakan) Dari Kegiatan Pendanaan - - - - -
KAS TAHUN BERJALAN 48.228 51.475 54.861 58.391 62.071
KAS AWAL TAHUN 207.211 255.439 306.914 361.775 420.166
KAS DAN SETARA KAS 255.439 306.914 361.775 420.166 482.237
7.7. Analisis Titik Impas (Break Even Point Analysis)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh
laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
pendapatan sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan
untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
𝐹𝐶
𝐵𝐸𝑃 =
𝑉𝐶
1 − 𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒
Dimana :
FC : Biaya tetap
VC : Biaya variabel
𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒 : Penjualan
Dalam perhitungan Break Even Point (BEP), beban maintenance dan beban overhead
digolongkan sebagai biaya tetap (fixed cost) dan beban pokok penjualan dan beban penjualan
sebagai biaya variabel (variable cost). Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh
BEP dalam Rupiah untuk masing-masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah
mencerminkan penjualan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk
penjualan adalah sebagai berikut:
Tabel 7.13
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Analisis Break Even Point (BEP)
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
Rata-rata 1 2 3 4 5
Penjualan 790.971 826.960 864.587 903.926 945.054
Beban pokok penjualan (Variable Cost ) 717.015 749.639 783.748 819.409 856.692
Beban penjualan (Variable Cost ) 1.186 1.240 1.297 1.356 1.418
Beban umum dan administrasi (Fixed Cost ) 1.977 2.037 2.098 2.161 2.226
BEP Penjualan (Rp.000) 24.640 21.494 22.139 22.803 23.487 24.191
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-8
Page 44
Tabel 7.13
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Analisis Break Even Point (BEP)
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Penjualan 988.054 1.033.011 1.080.013 1.129.153 1.180.530
Beban pokok penjualan (Variable Cost ) 895.671 936.424 979.031 1.023.577 1.070.150
Beban penjualan (Variable Cost ) 1.482 1.550 1.620 1.694 1.771
Beban umum dan administrasi (Fixed Cost ) 2.292 2.361 2.432 2.505 2.580
BEP Penjualan (Rp.000) 24.917 25.665 26.435 27.228 28.045
Rata-rata BEP penjualan dalam Rupiah selama umur proyeksi adalah sebesar Rp 24.640 ribu.
7.8. Analisis Profitabilitas
Analisis Profitabilitas selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Laba Rugi dalam Tabel
7.10.
Rata-rata rasio profitabilitas selama umur proyeksi adalah sebagai berikut:
Tahun Proyeksi
Rasio Profitabilitas
1 2 3 4 5
Pendapatan (a) Rp.000 790.971 826.960 864.587 903.926 945.054
Laba kotor (b) Rp.000 73.956 77.321 80.839 84.517 88.363
EBITDA (c) Rp.000 67.628 74.044 77.444 81.000 84.719
EBIT (d) Rp.000 53.178 58.510 60.827 63.299 65.934
EBT (e) Rp.000 53.178 58.510 60.827 63.299 65.934
EAT (f) Rp.000 41.479 33.939 47.445 49.373 51.429
Margin Laba Kotor (b/a) 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35%
Margin EBITDA (c/a) 8,55% 8,95% 8,96% 8,96% 8,96%
Margin EBIT (d/a) 6,72% 7,08% 7,04% 7,00% 6,98%
Margin EBT (e/a) 6,72% 7,08% 7,04% 7,00% 6,98%
Margin EAT (f/a) 5,24% 4,10% 5,49% 5,46% 5,44%
Tahun Proyeksi
Rasio Profitabilitas Rata-rata
6 7 8 9 10
Pendapatan (a) Rp.000 988.054 1.033.011 1.080.013 1.129.153 1.180.530
Laba kotor (b) Rp.000 92.383 96.586 100.981 105.576 110.380
EBITDA (c) Rp.000 88.609 92.676 96.929 101.377 106.029
EBIT (d) Rp.000 68.740 71.723 74.893 78.257 81.825
EBT (e) Rp.000 68.740 71.723 74.893 78.257 81.825
EAT (f) Rp.000 53.617 55.944 58.416 61.041 63.823
Margin Laba Kotor (b/a) 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35% 9,35%
Margin EBITDA (c/a) 8,97% 8,97% 8,97% 8,98% 8,98% 8,93%
Margin EBIT (d/a) 6,96% 6,94% 6,93% 6,93% 6,93% 6,95%
Margin EBT (e/a) 6,96% 6,94% 6,93% 6,93% 6,93% 6,95%
Margin EAT (f/a) 5,43% 5,42% 5,41% 5,41% 5,41% 5,28%
7.9. Analisis Return on Investment (ROI)
Analisis Return on Invetment (ROI) selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Laba
Rugi dalam Tabel 7.10.
Tahun
Return on Invesment
1 2 3 4 5
Laba bersih/EAT (a) Rp.000 41.479 33.939 47.445 49.373 51.429
Jumlah investasi (b) Rp.000 354.914 354.914 354.914 354.914 354.914
ROI (a/b) 11,69% 9,56% 13,37% 13,91% 14,49%
Tahun
Return on Invesment Rata-rata
6 7 8 9 10
Laba bersih/EAT (a) Rp.000 53.617 55.944 58.416 61.041 63.823
Jumlah investasi (b) Rp.000 354.914 354.914 354.914 354.914 354.914
ROI (a/b) 15,11% 15,76% 16,46% 17,20% 17,98% 14,55%
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-9
Page 45
Rata-rata ROI selama umur proyeksi adalah sebesar 14,55%.
7.10. Analisis Likuiditas dan Solvabilitas
Analisis Likuiditas dan Solvabilitas selama umur proyeksi, dapat dilihat pada Proyeksi Posisi
Keuangan dalam Tabel 7.11.
Likuiditas dan solvabilitas proyek cukup tinggi selama umur proyeksi. Rata-rata nilai indikator
current ratio, debt to equity ratio dan debt to asset ratio selama umur proyeksi, adalah sebagai
berikut:
Tahun
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas
1 2 3 4 5
Aset lancar (a) Rp.000 181.594 212.110 257.340 305.711 357.357
Total aset (b) Rp.000 456.144 492.802 543.089 595.434 649.969
Liabilitas jangka pendek (c) Rp.000 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Total liabilitas (d) Rp.000 59.751 62.470 65.312 68.284 71.391
Ekuitas (e) Rp.000 396.393 430.332 477.776 527.150 578.579
Current Ratio (a/c) 303,92% 339,54% 394,01% 447,71% 500,56%
Debt to Equity Ratio (d/e) 15,07% 14,52% 13,67% 12,95% 12,34%
Debt to Asset Ratio (d/b) 13,10% 12,68% 12,03% 11,47% 10,98%
Tahun
Rasio Likuiditas dan Solvabilitas Rata-rata
6 7 8 9 10
Aset lancar (a) Rp.000 412.416 471.034 533.362 599.560 669.793
Total aset (b) Rp.000 706.835 766.175 828.142 892.895 960.599
Liabilitas jangka pendek (c) Rp.000 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Total liabilitas (d) Rp.000 74.639 78.035 81.586 85.298 89.179
Ekuitas (e) Rp.000 632.196 688.140 746.556 807.597 871.420
Current Ratio (a/c) 552,55% 603,62% 653,74% 702,90% 751,06% 524,96%
Debt to Equity Ratio (d/e) 11,81% 11,34% 10,93% 10,56% 10,23% 12,34%
Debt to Asset Ratio (d/b) 10,56% 10,19% 9,85% 9,55% 9,28% 10,97%
7.11. Analisis Kelayakan Proyek
Penentuan Tingkat Diskonto
Feasibilitas kelayakan proyek ditentukan dengan tingkat diskonto berdasarkan biaya ekuitas
(Cost of Equity, Ke), yang dihitung dengan formula sebagai berikut :
Biaya ekuitas dihitung dengan formula :
Ke = Rf + ß.Rpm - CDS
Dimana :
Ke = Biaya Ekuitas
Rf = Tingkat pendapatan bebas risiko
ß = Beta, yaitu faktor yang meliput risiko sistematis dari suatu ekuitas
Rpm = Premi Risiko Ekuitas
CDS = Credit Default Spread
Dari hasil perhitungan parameter-parameter tersebut diatas, maka tingkat diskonto industri
sejenis yaitu industri Farming/Agriculture adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-10
Page 46
Uraian Nilai Sumber Keterangan
Harga dan Yield Obligasi Pemerintah
Penilai Harga Efek
Rf = 7,11% Republik Indonesia Tenor 30 Tahun
Indonesia
per 30 Desember 2024
RPm = 6,87% Damodaran Publikasi Januari 2025
Credit Default Spread (CDS) = 1,89% Damodaran Publikasi Januari 2025
Farming/Agriculture Publikasi
Unleverage Beta = 0,52 Damodaran
Januari 2025
Tax 22,00% PPh Badan
Farming/Agriculture Publikasi
DER Industri = 64,76% Damodaran
Januari 2025
Beta Releverage = 0,775 Hasil Perhitungan Bu x (1+((1-Tax)*DER))
Cost of Equity (Ke) = 10,55% Hasil Perhitungan (Rf+(Beta * RPm) - CDS
Pemilihan Tingkat Pertumbuhan Perpetuitas dan Terminal Value
Nilai terminal (terminal value) diperoleh melalui kapitalisasi arus kas bersih periode kekal
dengan capitalization rate yang sesuai dengan tingkat diskonto. Dalam hal ini, asumsi yang
digunakan terhadap subjek penilaian adalah perusahaan yang bersifat going concern, dimana
perusahaan akan berjalan terus meskipun terjadi pergantian pada pemilik atau manajemen
perusahaan.
Dalam hal terdapat terminal value sebagai salah satu unsur pembentuk indikasi nilai, maka
terminal value diperoleh dengan formula:
TV = Terminal Value
FCFn = Arus kas tahun ke-n
g = Pertumbuhan perpetuitas
r = Tingkat diskonto
Dalam hal umur ekonomis objek penilaian terbatas, maka Terminal Value diganti dengan Nilai
Sisa (Residual Value) pada akhir umur ekonomis objek penilaian. Nilai sisa diperoleh dari aset
tetap ditambah dengan estimasi jumlah yang dapat direalisasikan dari modal kerja bersih
dikurangi dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan pada akhir periode spesifik.
Dalam perhitungan ini kami menggunakan terminal value dengan tingkat pertumbuhan
sebesar 2,00% sehingga capitalization rate yang kami gunakan adalah sebesar 10,55% - 2,00%
= 8,55%.
Internal Rate of Return (IRR) dan Net Present Value (NPV)
Perhitungan IRR dan NPV proyek selama umur proyeksi menghasilkan IRR sebesar 20,97%
lebih besar dari tingkat diskonto Ke sebesar 10,55% dan NPV sebesar Rp 191.164 ribu lebih
besar dari nol.
Dengan nilai indikator kelayakan tersebut, dari aspek keuangan dapat disimpulkan bahwa
proyek layak.
Perhitungan IRR dan NPV adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-11
Page 47
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Perhitungan Kelayakan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian Kini
1 2 3 4 5
Free Cash Flow to Equity
EAT - 41.479 33.939 47.445 49.373 51.429
(+) Penyusutan - 14.450 15.534 16.618 17.701 18.785
(+/-) Net debt - - - - - -
(+/-) Perubahan Modal Kerja - (65.914) (2.999) (3.136) (3.278) (3.427)
(-) Capex - (289.000) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
Jumlah Arus Kas Bersih - (298.985) 24.798 39.252 42.121 45.111
Terminal Value
Discount Rate 10,55%
Growth 2,00%
Terminal Caprate 8,55%
Terminal Value
Jumlah - (298.985) 24.798 39.252 42.121 45.111
Discount Rate 10,55% 10,55% 10,55% 10,55% 10,55% 10,55%
Discount Factor 1,000 0,905 0,818 0,740 0,669 0,606
Present Value - (270.446) 20.290 29.050 28.199 27.318
NPV 191.164
IRR Ke 10,55% 20,97%
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Perhitungan Kelayakan
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Free Cash Flow to Equity
EAT 53.617 55.944 58.416 61.041 63.823
(+) Penyusutan 19.869 20.953 22.036 23.120 24.204
(+/-) Net debt - - - - -
(+/-) Perubahan Modal Kerja (3.583) (3.746) (3.917) (4.095) (4.281)
(-) Capex (21.675) (21.675) (21.675) (21.675) (21.675)
Jumlah Arus Kas Bersih 48.228 51.475 54.861 58.391 62.071
Terminal Value
Discount Rate 10,55%
Growth 2,00%
Terminal Caprate 8,55%
Terminal Value 740.273
Jumlah 48.228 51.475 54.861 58.391 802.343
Discount Rate 10,55% 10,55% 10,55% 10,55% 10,55%
Discount Factor 0,495 0,448 0,405 0,367 0,332
Present Value 23.895 23.070 22.240 21.412 266.136
7.12. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan terhadap adanya penurunan penjualan dan kenaikan beban
pokok penjualan (BPP) yang berpengaruh terhadap kelayakan investasi yang digambarkan
dengan matriks sensitivitas sebagai berikut:
Analisis Sensitivitas
IRR (%) Penjualan Turun
HPP Naik 0,00% 1,00% 2,00% 2,79% 2,80%
0,00% 20,97% 17,57% 13,84% 10,58% 10,53%
1,50% 16,20% 12,33% 7,89% 3,74%
2,50% 12,66% 8,29%
3,04% 10,58% 5,83%
3,05% 10,54%
Kelayakan investasi dilihat dari indikator nilai biaya ekuitas (Ke) 10,55%, apabila IRR > biaya
ekuitas maka investasi layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-12
Page 48
Berdasarkan analisis sensitivitas jika terjadi perubahan terhadap penurunan penjualan dengan
BPP (tetap) maka investasi layak dengan penurunan penjualan sampai 2,79% (IRR = 10,58%),
jika penjualan tidak berubah (tetap) maka investasi layak dengan kenaikan BPP hingga 3,04%
(IRR = 10,58%), jika terjadi penurunan penjualan dan kenaikan BPP, maka investasi layak
dengan penurunan pendapatan hingga 1,00% yang disertai dengan kenaikan BPP hingga 1,00%
(IRR = 15,35%), jika terjadi penurunan penjualan dan kenaikan BPP, maka investasi layak
dengan penurunan pendapatan hingga 1,00% yang disertai dengan kenaikan BPP hingga 1,50%
(IRR = 12,33%).
Berdasarkan matriks sensitivitas terlihat bahwa kelayakan investasi lebih sensitif terhadap
penurunan penjualan dibandingkan dengan kenaikan BPP.
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII-13
Page 49
LAMPIRAN Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk
Page 50
LAMPIRAN 1
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Nilai Perolehan, Penyusutan, Akumulasi Penyusutan dan Nilai Buku Aset Tetap
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
1 2 3 4 5
Nilai Perolehan 289.000 310.675 332.350 354.025 375.700
Unloading CPO 289.000 289.000 289.000 289.000 289.000
Capex tahun Ke-1 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-2 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-3 21.675 21.675
Capex tahun Ke-4 21.675
Capex tahun Ke-5
Capex tahun Ke-6
Capex tahun Ke-7
Capex tahun Ke-8
Capex tahun Ke-9
Capex tahun Ke-10
Penyusutan 14.450 15.534 16.618 17.701 18.785
Unloading CPO 20 tahun 14.450 14.450 14.450 14.450 14.450
Capex tahun Ke-1 20 tahun - 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-2 20 tahun - - 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-3 20 tahun - - - 1.084 1.084
Capex tahun Ke-4 20 tahun - - - - 1.084
Capex tahun Ke-5 20 tahun - - - - -
Capex tahun Ke-6 20 tahun - - - - -
Capex tahun Ke-7 20 tahun - - - - -
Capex tahun Ke-8 20 tahun - - - - -
Capex tahun Ke-9 20 tahun - - - - -
Capex tahun Ke-10 20 tahun - - - - -
Akumulasi Penyusutan 14.450 29.984 46.601 64.303 83.088
Nilai Buku 274.550 280.691 285.749 289.723 292.613
Kegiatan Usaha Perdagangan Besar Minyak dan Lemak Nabati (KBLI 46315)
Proyeksi Nilai Perolehan, Penyusutan, Akumulasi Penyusutan dan Nilai Buku Aset Tetap
(Rp.000)
Tahun Proyeksi
Uraian
6 7 8 9 10
Nilai Perolehan 397.375 419.050 440.725 462.400 484.075
Unloading CPO 289.000 289.000 289.000 289.000 289.000
Capex tahun Ke-1 21.675 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-2 21.675 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-3 21.675 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-4 21.675 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-5 21.675 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-6 21.675 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-7 21.675 21.675 21.675
Capex tahun Ke-8 21.675 21.675
Capex tahun Ke-9 21.675
Capex tahun Ke-10
Penyusutan 19.869 20.953 22.036 23.120 24.204
Unloading CPO 20 tahun 14.450 14.450 14.450 14.450 14.450
Capex tahun Ke-1 20 tahun 1.084 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-2 20 tahun 1.084 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-3 20 tahun 1.084 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-4 20 tahun 1.084 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-5 20 tahun 1.084 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-6 20 tahun - 1.084 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-7 20 tahun - - 1.084 1.084 1.084
Capex tahun Ke-8 20 tahun - - - 1.084 1.084
Capex tahun Ke-9 20 tahun - - - - 1.084
Capex tahun Ke-10 20 tahun - - - - -
Akumulasi Penyusutan 102.956 123.909 145.945 169.065 193.269
Nilai Buku 294.419 295.141 294.780 293.335 290.806
Laporan Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk VII- 2
Names mentioned 52 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Plantations Tbk
p.2
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.2 ×2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan
p.2 ×2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar
p.2 ×2
unresolved
org
Rekan
· Penilai
p.2 ×2
unresolved
org
Kementerian Pertanian
p.4 ×3
unresolved
org
Direktorat Jenderal Perkebunan
p.4 ×2
unresolved
org
PT Tanjung Bina Lestari
p.4 ×2
unresolved
org
KJPP ISKA
p.9
unresolved
person
Radithe Pramudito
p.10
unresolved
person
Sigit E. Purnomo
p.10
unresolved
—
Telepon/Fax
p.13
unresolved
org
KJPP Iskandar dan Rekan
p.13 ×2
unresolved
org
Studi Kelayakan PT Eagle High Plantations Tbk
p.13
unresolved
person
Rizka Dewi S
· Corporate Secretary
p.15
unresolved
—
MAPPI
· Penilai
p.16
unresolved
org
PT BW Plantation
p.18
unresolved
person
Paulus Widodo Sugeng Haryono
p.18
unresolved
org
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.18
unresolved
person
Novita Puspitarini
p.18
unresolved
org
Menteri
p.18
unresolved
org
PT Rajawali Capital International
p.18
unresolved
org
FIC Properties Sdn Bhd
p.18
unresolved
org
Koordinasi Penanaman Modal
p.19
unresolved
org
Pusat Statistik Struktur PDB Indonesia
p.20 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-
p.20 ×2
unresolved
org
Pusat Statistik PDB Menurut Pengeluaran
p.21
unresolved
org
Pusat Statistik
p.22
unresolved
org
Menteri Pertanian
p.24 ×2
unresolved
org
Direktorat Jenderal
p.26
unresolved
person
CMEO
· Direktur
p.31
unresolved
—
Andreas Widodo
· Head- CPO & PK Sales
p.31 ×2
unresolved
—
Robert Zhang
· Head -Trading CPO & PK
p.31 ×2
unresolved
—
Firman Sulaiman
· Sr Mgr Bulking MHK
p.32
unresolved
—
Wahyu Wibisono
· Koordinator Bulking BHL
p.32
unresolved
org
Pelabuhan Terminal Khusus
p.33
unresolved
org
Farming
p.46
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
7141 ms
12 Sep 2026 22:51
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}