Skip to content
Back to announcement

20260520_WSBP_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32093151_lamp1.pdf

Asset transaction Needs review WSBP

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 101

Page 1
        LAPORAN STUDI KELAYAKAN
      PT WASKITA BETON PRECAST TBK
 No. 00015/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026
           Tanggal: 23 April 2026

Tanggal Studi Kelayakan per 31 Desember 2025
Page 2
                                                                                                  Kantor Cabang Jakarta Selatan
                                                                                            The AKKAS Commercial Building, Lt.2
                                                             Jl. T.B. Simatupang No.23 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan
                                                                       Telp. : +62 21 78343013 | Wilayah Kerja Seluruh Indonesia


No. Laporan : 00015/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026                                  Jakarta, 23 April 2026

Kepada Yth.
PT Waskita Beton Precast Tbk
Gedung Vasaka Lt. 5
Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang
Jakarta Timur, 13340

U.p.    : Direksi

Dengan hormat,

Sesuai penugasan dari PT Waskita Beton Precast Tbk kepada Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki
dan Rekan (”HMR” atau “kami” atau “Penilai”) untuk memberikan pendapat mengenai kelayakan atas
rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 77100-Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan
Bermotor oleh PT Waskita Beton Precast Tbk (“Perseroan” atau “WSBP”) sebagaimana tertuang dalam
Surat Perjanjian Kerja No. 4200018719/WBP-HMR/2026 dan No. 002/SPK/HMR-JKSL/B/III/2026
tanggal 30 Maret 2026, dan Addendum Surat Perjanjian Kerja No. 4200018719/ADD-1/WBP-HMR/2026
dan No. 002-1/SPK/HMR-JKSL/B/III/2026 tanggal 7 April 2026 yang telah disetujui oleh manajemen
Perseroan, maka dengan ini kami telah melakukan studi kelayakan (feasibility study) secara independen
dengan tanggal studi kelayakan per 31 Desember 2025. Laporan studi kelayakan ini diterbitkan sebagai
revisi atas Laporan Studi Kelayakan dengan Nomor 00011/2.0120-04/BS/03/0627/1/IV/2026 tanggal 10
April 2026 dengan tanggal studi kelayakan 31 Desember 2025. Revisi yang dilakukan mencakup
penambahan informasi pada Gambaran Umum Perseroan, Aspek Model Manajemen, dan Aspek
Keuangan. Dengan diterbitkannya laporan studi kelayakan revisi ini, maka membatalkan laporan studi
kelayakan sebelumnya.

Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama                 : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha         : Manufaktur Beton Pracetak (Precast) dan Ready Mix (Beton Cor Siap Pakai)
Alamat               : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks     : (021) 22892999
E-mail               : info@waskitaprecast.co.id

Latar Belakang Studi Kelayakan
Dengan adanya pertumbuhan nilai pasar konstruksi/pembangunan dari tahun ke tahun, maka membuka
peluang bisnis dalam bidang konstruksi salah satunya adalah bisnis sewa kendaraan ekspedisi seperti
truk trailer dalam mempermudah proses distribusi dan pengangkutan material konstruksi ke berbagai
lokasi proyek secara efisien dan tepat waktu. Sejak tahun 2024 Perseroan telah melakukan bisnis sewa
kendaraan dengan skema sewa bulanan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan utilitas aset, efisiensi
fixed cost seperti beban penyusutan, dan mendapatkan revenue tambahan. Berikut merupakan realisasi
bisnis sewa kendaraan yang sudah berjalan pada tahun 2024 dan tahun 2025:




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |i
Page 3
                                 Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2024
 No.       Jenis Alat                         Customer                            Status             Jumlah
 1.    Truck Mixer           PT Indosarana Jaya Perkasa                          Terkirim              33
 2.    Truck Mixer           PT Sumber Urip Sejati                               Terkirim              20
 3.    Truck Mixer           PT Sadulur Berkah Makmur                            Terkirim              8
 4.    Truck Mixer           PT Nindya Beton                                     Terkirim              3
 5.    Truck Mixer           WSKT-ADHI-ANDESMONT (Rukoh)                         Terkirim              1
 6.    Dump Truck            PT Niscala Indonesia Group                          Terkirim              2
 7.    Truck Trailer         PT Indosarana Jaya Perkasa                          Terkirim              2
 8.    Truck Trailer         PT Ardeco Energy Persada                            Terkirim              2
 9.    Truck Trailer         PT Universal Eco Pasific                            Terkirim              1
 10.   Truck Trailer         PT Hastari Jaya Sentosa                             Terkirim              3
                                          Sumber: manajemen Perseroan


                                 Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2025
 No.       Jenis Alat                          Customer                           Status             Jumlah
 1.    Truck Mixer           PT Indosarana Jaya Perkasa                          Terkirim              25
 2.    Truck Mixer           PT Sumber Urip Sejati                               Terkirim              20
 3.    Truck Mixer           PT WSKT-ADHI-ADESMONT KSO                           Terkirim              1
 4.    Truck Mixer           PT Indosarana Jaya Perkasa                          Terkirim              3
 5.    Truck Mixer           PT Hastari Jaya Sentosa                             Terkirim              3
 6.    Truck Mixer           PT Waskita Wiswa KSO                                Terkirim              2
 7.    Truck Mixer           PT Aurel Putri Lingga                               Terkirim              2
 8.    Truck Mixer           PT Sadulur Berkah Makmur                            Terkirim              3
 9.    Truck Mixer           PT Baja Cilegon Energi                              Terkirim              8
 10.   Truck Mixer           Koperasi Karyawan Warga Varia Usaha                 Terkirim              3
                             Beton
 11.   Truck Mixer           CV Aarshiya                                         Terkirim                2
 12.   Truck Mixer           PT Sraya Artha Gemilang                             Terkirim                3
 13.   Truck Mixer           CV Kartika Jaya                                     Terkirim                3
                                          Sumber: manajemen Perseroan


Realisasi sewa kendaraan tersebut merupakan penyewaan kepada pihak internal (Waskita Group) dan
pihak ekstenal. Hingga saat ini Perseroan memiliki unit-unit peralatan dan kendaraan yang berpotensi
untuk disewakan dengan rincian sebagai berikut.

                 Daftar Peralatan dan Kendaraan yang Berpotensi untuk Disewakan
                                                                          Rusak             Rusak
 No.        Jenis Alat          Divisi        Operasi        Idle                                        Total
                                                                          Ringan            Berat
 1.    Dump Truck             Peralatan          1            1             18               19              39
 2.    Excavator              Peralatan          -            -              8                3              11
 3.    Mobile     Concrete    Peralatan          -            -              3                2              5
       Pump
 4.    Mobile Crane           Peralatan          1           1              -                 1            3
 5.    Rough Terrain          Peralatan          1           2              2                 1            6
 6.    Stone Crusher          Peralatan          -            -             6                 3            9
 7.    Truck Mixer            Peralatan         39           10            104               88           241




                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |ii
Page 4
                                                                          Rusak           Rusak
 No.         Jenis Alat          Divisi       Operasi        Idle                                         Total
                                                                          Ringan          Berat
 8.    Truck Trailer          Peralatan          4             4            30              9              47
 9.    Wheel Loader           Peralatan          -             2            25             56              83
                                          Sumber: manajemen Perseroan


Berdasarkan tabel di atas, dari total 47 unit truk trailer yang dimiliki Perseroan terdapat 10 unit truk trailer
yang dapat diperbaiki dan berpotensi untuk disewakan sebagai kendaraan ekspedisi. Dengan
pertimbangan potensi bisnis untuk sewa kendaraan ekspedisi berupa truk trailer, Perseroan mengalami
kendala dalam melaksanakan kegiatan tersebut dikarenakan belum memenuhi izin legalitas usaha bisnis
sewa kendaraan ekspedisi. Berdasarkan hal tersebut, Perseroan perlu menambahkan Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 77100 - Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan Bermotor
sehingga Perseroan dapat melakukan penyewaan truk trailer dengan skema ekspedisi.

Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.

Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 77100-
Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan Bermotor oleh Perseroan (selanjutnya disebut “Rencana
Penambahan KBLI”).

Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.

Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.




                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iii
Page 5
Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).

Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Bapak
Hendro sebagai Manajer Workshop Peralatan Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah melakukan
site visit terhadap truk trailer yang akan disewakan.

Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut:
• Informasi terkait kondisi truk trailer yang akan disewakan;
• Informasi terkait jumlah kendaraan yang akan disewakan;
• Perseroan memiliki 47 unit truk trailer dengan 10 unit yang dapat diperbaiki dan direncanakan akan
   disewakan dengan skema ekspedisi;
• Informasi terkait skema penyewaan yang biasa diberlakukan dari sewa unit; unit dan operator; unit,
   operator dan maintenance;

Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
    keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
    yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
    dokumen legalitas Perseroan;
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
    peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
    ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
    perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
    bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
    asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
    dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
    mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
    tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
    yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan



                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |iv
Page 6
    data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
    kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
    ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
    prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
    mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
    laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.

Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.

Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.

Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
   identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
   Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
   Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.

Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
    lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |v
Page 7
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya.

Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
1. Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
    oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
    tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
    audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
    dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
    jawab audit;
6. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
    opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
    audit;
7. Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
    Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
8. Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
9. Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
    Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
    lainnya yang kami anggap relevan.

Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.

Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vi
Page 8
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki perizinan pokok dan
   dokumen operasional lainnya untuk melakukan kegiatan komersialnya sesuai dengan peraturan
   perundang-undangan yang berlaku. Rencana Penambahan KBLI dilakukan sebagai salah satu syarat
   untuk memenuhi izin legalitas usaha bisnis sewa kendaraan ekspedisi;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, Rencana Penambahan KBLI akan memperluas jangkauan
   pasar dan meningkatkan kontribusi pendapatan non-proyek utama secara prudent. Perseroan juga
   merancang strategi pemasaran untuk mendukung Rencana Penambahan KBLI secara bertahap dan
   selaras dengan tujuan Perseroan dalam meningkatkan pemanfaatan aset, diversifikasi pendapatan,
   serta pengelolaan risiko usaha secara terkendali;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan memiliki 10 unit truk trailer dengan merk Hino
   bertipe FM350 dengan kapasitas 60 ton yang dapat diperbaiki dan dimanfaatkan untuk jasa sewa
   kendaraan ekspedisi. Perseroan juga memiliki jumlah tenaga ahli dan tenaga kerja yang kompeten dan
   berpengalaman. Pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia direncanakan dilakukan secara
   bertahap oleh Perseroan dan disesuaikan dengan skala operasional bisnis sewa truk trailer, sehingga
   tetap memperhatikan efisiensi dan pengendalian risiko operasional;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, Perseroan memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai
   tambah (added value) melalui optimalisasi pemanfaatan truk trailer untuk meningkatkan utilisasi aset
   tanpa memerlukan investasi modal yang signifikan, sehingga memberikan added value berupa
   efisiensi struktur biaya dan peningkatan potensi margin usaha;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan dan manajemen Perseroan telah
   memiliki tim operasional terutama divisi peralatan untuk menjalankan Rencana Penambahan KBLI.
   Perseroan dapat memanfaatkan pengalaman operasional dan hubungan bisnis yang telah terbangun,
   baik dengan entitas internal maupun pelanggan eksternal, sehingga kegiatan sewa kendaraan dapat
   dijalankan secara lebih efektif dan berkelanjutan;
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
   positif, analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi dibandingkan
   arus kas keluar, dan analisis ROI menunjukkan adanya return bagi Perseroan;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
   pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
   proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
   disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
   adalah layak.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |vii
Page 9

          
Page 10

          
Page 11
DAFTAR ISI
  PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI ......................................................................................... ix
  DAFTAR ISI .................................................................................................................................. x
  DAFTAR TABEL............................................................................................................................xii
  DAFTAR GRAFIK ........................................................................................................................ xiii
  DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................... xiv
  1. LINGKUP PENUGASAN ........................................................................................................ 1
  1.1.   Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................ 1
  1.2.   Latar Belakang Studi Kelayakan ....................................................................................... 1
  1.3.   Status Penilai .................................................................................................................. 2
  1.4.   Objek Studi Kelayakan ..................................................................................................... 3
  1.5.   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan................................................................................. 3
  1.6.   Tanggal Studi Kelayakan .................................................................................................. 3
  1.7.   Mata Uang yang Digunakan .............................................................................................. 3
  1.8.   Tingkat Kedalaman Investigasi ......................................................................................... 3
  1.9.   Hasil Inspeksi.................................................................................................................. 3
  1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 3
  1.11. Asumsi Khusus................................................................................................................ 4
  1.12. Subsequent Event ........................................................................................................... 4
  1.13. Metodologi Studi Kelayakan ............................................................................................. 4
  1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan ...................................................................... 5
  1.15. Sumber Data ................................................................................................................... 5
  1.16. Independensi Penilai ....................................................................................................... 6
  1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ............................................................................ 6
  2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN .......................................................................................... 7
  2.1.   Gambaran Umum Perseroan ........................................................................................... 7
  2.2.   Pemegang Saham ........................................................................................................... 7
  2.3.   Susunan Pengurus .......................................................................................................... 7
  2.4.   Gambaran Usaha ............................................................................................................ 8
  2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional ...................................................................... 8
  2.4.2. Analisis SWOT ............................................................................................................... 13
  2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional ............................................................. 14
  2.5.   Kinerja Keuangan .......................................................................................................... 14
  2.5.1. Laba Rugi Historis ......................................................................................................... 15
  2.5.2. Posisi Keuangan Historis ............................................................................................... 16
  2.5.3. Arus Kas Historis ........................................................................................................... 18
  2.5.4. Rasio Keuangan Historis ................................................................................................ 19
  3. ASPEK PASAR .................................................................................................................... 21
  3.1.   Analisa Makro Ekonomi dan Pasar.................................................................................. 21
  3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan ..................................................................................... 21
  3.1.2. Nilai Tukar Rupiah ......................................................................................................... 21
  3.1.3. Suku Bunga ................................................................................................................... 22
  3.1.4. Inflasi ............................................................................................................................ 23
  3.2.   Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi ......................................................................... 24



                                                                             Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |x
Page 12
3.2.2. Sertifikasi Badan Usaha (SBU) ....................................................................................... 27
3.2.3. Tinjauan Industri Sewa Peralatan Konsturksi .................................................................. 28
3.3.   Potensi dan Sasaran Pasar ............................................................................................ 30
3.4.   Pesaing Usaha .............................................................................................................. 31
3.5.   Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 31
3.6.   Target Pasar .................................................................................................................. 35
3.7.   Pemasok dan Pelanggan Utama ..................................................................................... 35
4. ASPEK TEKNIS ................................................................................................................... 36
4.1.   Kapasitas Segmen Usaha .............................................................................................. 36
4.2.   Ketersediaan Bahan Baku .............................................................................................. 38
4.3.   Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli...................................................... 38
4.4.   Proses Produksi ............................................................................................................ 40
5. ASPEK POLA BISNIS .......................................................................................................... 50
5.1.   Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 50
5.2.   Kemampuan Pesaing Meniru Produk .............................................................................. 51
5.3.   Kemampuan Menciptakan Nilai ..................................................................................... 52
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN .............................................................................................. 53
6.1.   Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 53
6.2.   Manajemen Kekayaan Intelektual................................................................................... 55
6.3.   Manajemen Risiko ......................................................................................................... 55
6.4.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ......................................................................... 58
6.5.   Struktur Kepemilikan Saham .......................................................................................... 59
6.6.   Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................................... 60
7. ASPEK KEUANGAN ............................................................................................................ 62
7.1.   Rencana Manajemen ..................................................................................................... 62
7.2.   Asumsi Pada Proyeksi Keuangan .................................................................................... 62
7.3.   Biaya Pendirian dan Investasi......................................................................................... 62
7.4.   Biaya Operasional ......................................................................................................... 62
7.5.   Biaya Bahan Baku .......................................................................................................... 63
7.6.   Analisis Titik Impas (Break Even Point) ........................................................................... 63
7.7.   Sumber Pendanaan ....................................................................................................... 63
7.8.   Analisis Tingkat Diskonto ............................................................................................... 64
7.9.   Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment .................................................. 65
8. KESIMPULAN ........................................................................................................................ 70
9. LAMPIRAN ............................................................................................................................ 71
10. REFERENSI .......................................................................................................................... 72




                                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xi
Page 13
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2024................................................................................... 1
Tabel 2. Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2025................................................................................... 1
Tabel 3. Daftar Peralatan dan Kendaraan yang Berpotensi untuk Disewakan ......................................... 2
Tabel 4. Susunan Pemegang Saham.................................................................................................... 7
Tabel 5. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat ......................................................... 14
Tabel 6. Laporan Laba Rugi ............................................................................................................... 15
Tabel 7. Posisi Keuangan Historis ..................................................................................................... 16
Tabel 8. Arus Kas Historis ................................................................................................................. 18
Tabel 9. Analisis Rasio Keuangan Historis.......................................................................................... 20
Tabel 10. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026 ........................................................................ 25
Tabel 11. Kemampuan Pesaing ......................................................................................................... 51
Tabel 12. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan ............................................................... 53
Tabel 13. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi....................................................................... 53
Tabel 14. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur ........................................................................ 54
Tabel 15. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan..................................................................... 54
Tabel 16. Asumsi Proyeksi Pendapatan ............................................................................................. 62
Tabel 17. Biaya Operasional ............................................................................................................. 63
Tabel 18. Analisis Titik Impas ............................................................................................................ 63
Tabel 19. WACC ............................................................................................................................... 65
Tabel 20. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI .................................................. 66
Tabel 21. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI .................................................... 66
Tabel 22. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI ..................... 67
Tabel 23. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI ....................... 67
Tabel 24. Analisis Kelayakan Investasi............................................................................................... 68
Tabel 25. Analisis Sensitivity ............................................................................................................. 69




                                                                              Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xii
Page 14
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025 .......................................................................... 21
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025 ...................................... 22
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025................................................................................... 23
Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi ........................................................................... 26
Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia .......................................................................... 26
Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU) .............................................................................................. 27
Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang .................... 27
Grafik 8. Pangsa Pasar Global Penyewaan Peralatan Konstruksi......................................................... 28
Grafik 9. Pangsa Pasar Penyewaan Peralatan Konstruksi Berdasarkan Produk Tahun 2024 ................. 29
Grafik 10. Pangsa Pasar Penyewaan Peralatan Konstruksi Berdasarkan Wilayah Tahun 2025 .............. 30




                                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiii
Page 15
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Struktur Organisasi Area Peralatan Barat .......................................................................... 39
Gambar 2. Struktur Organisasi Area Peralatan Timur ......................................................................... 39
Gambar 3. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix................................................................... 40
Gambar 4. Prosedur Penyewaan Alat dengan Pembayaran Tunai Sebelum Pemakaian ........................ 42
Gambar 5. Prosedur Penyewaan Alat dengan Pembayaran Tempo ..................................................... 46
Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham .................................................................................................. 59
Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan ......................................................................................... 60
Gambar 8. Struktur Organisasi Divisi Peralatan ................................................................................. 61




                                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |xiv
Page 16
1.     LINGKUP PENUGASAN

1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama                 : PT Waskita Beton Precast Tbk
Bidang Usaha         : Manufaktur Beton Pracetak (Precast) dan Ready Mix (Beton Cor Siap Pakai)
Alamat               : Gedung Vasaka Lt. 5, Jalan MT Haryono Kav. 10A, Cawang, Jakarta Timur, 13340
Telepon dan Faks     : (021) 22892999
E-mail               : info@waskitaprecast.co.id

1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan
Dengan adanya pertumbuhan nilai pasar konstruksi/pembangunan dari tahun ke tahun, maka membuka
peluang bisnis dalam bidang konstruksi salah satunya adalah bisnis sewa kendaraan ekspedisi seperti
truk trailer dalam mempermudah proses distribusi dan pengangkutan material konstruksi ke berbagai
lokasi proyek secara efisien dan tepat waktu. Sejak tahun 2024 Perseroan telah melakukan bisnis sewa
kendaraan dengan skema sewa bulanan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan utilitas aset, efisiensi
fixed cost seperti beban penyusutan, dan mendapatkan revenue tambahan. Berikut merupakan realisasi
bisnis sewa kendaraan yang sudah berjalan pada tahun 2024 dan tahun 2025:

                          Tabel 1. Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2024
 No.       Jenis Alat                      Customer                         Status              Jumlah
 1.    Truck Mixer        PT Indosarana Jaya Perkasa                       Terkirim               33
 2.    Truck Mixer        PT Sumber Urip Sejati                            Terkirim               20
 3.    Truck Mixer        PT Sadulur Berkah Makmur                         Terkirim               8
 4.    Truck Mixer        PT Nindya Beton                                  Terkirim               3
 5.    Truck Mixer        WSKT-ADHI-ANDESMONT (Rukoh)                      Terkirim               1
 6.    Dump Truck         PT Niscala Indonesia Group                       Terkirim               2
 7.    Truck Trailer      PT Indosarana Jaya Perkasa                       Terkirim               2
 8.    Truck Trailer      PT Ardeco Energy Persada                         Terkirim               2
 9.    Truck Trailer      PT Universal Eco Pasific                         Terkirim               1
 10.   Truck Trailer      PT Hastari Jaya Sentosa                          Terkirim               3
                                     Sumber: manajemen Perseroan


                          Tabel 2. Realisasi Sewa Kendaraan Tahun 2025
 No.       Jenis Alat                       Customer                        Status              Jumlah
 1.    Truck Mixer        PT Indosarana Jaya Perkasa                       Terkirim               25
 2.    Truck Mixer        PT Sumber Urip Sejati                            Terkirim               20
 3.    Truck Mixer        PT WSKT-ADHI-ADESMONT KSO                        Terkirim               1
 4.    Truck Mixer        PT Indosarana Jaya Perkasa                       Terkirim               3
 5.    Truck Mixer        PT Hastari Jaya Sentosa                          Terkirim               3
 6.    Truck Mixer        PT Waskita Wiswa KSO                             Terkirim               2
 7.    Truck Mixer        PT Aurel Putri Lingga                            Terkirim               2
 8.    Truck Mixer        PT Sadulur Berkah Makmur                         Terkirim               3
 9.    Truck Mixer        PT Baja Cilegon Energi                           Terkirim               8
 10.   Truck Mixer        Koperasi Karyawan Warga Varia Usaha              Terkirim               3
                          Beton




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |1
Page 17
 No.        Jenis Alat                        Customer                             Status             Jumlah
 11.    Truck Mixer           CV Aarshiya                                         Terkirim              2
 12.    Truck Mixer           PT Sraya Artha Gemilang                             Terkirim              3
 13.    Truck Mixer           CV Kartika Jaya                                     Terkirim              3
                                           Sumber: manajemen Perseroan


              Tabel 3. Daftar Peralatan dan Kendaraan yang Berpotensi untuk Disewakan
                                                                           Rusak             Rusak
 No.         Jenis Alat           Divisi       Operasi        Idle                                       Total
                                                                           Ringan            Berat
 1.    Dump Truck              Peralatan          1            1             18               19           39
 2.    Excavator               Peralatan          -            -              8                3           11
 3.    Mobile      Concrete    Peralatan          -            -              3                2           5
       Pump
 4.    Mobile Crane            Peralatan          1           1               -                1           3
 5.    Rough Terrain           Peralatan          1           2               2                1           6
 6.    Stone Crusher           Peralatan          -            -              6                3           9
 7.    Truck Mixer             Peralatan         39           10            104               88          241
 8.    Truck Trailer           Peralatan          4           4              30                9           47
 9.    Wheel Loader            Peralatan          -           2              25               56           83
                                           Sumber: manajemen Perseroan


Berdasarkan tabel di atas, dari total 47 unit truk trailer yang dimiliki Perseroan terdapat 10 unit truk trailer
yang dapat diperbaiki dan berpotensi untuk disewakan sebagai kendaraan ekspedisi. Dengan
pertimbangan potensi bisnis untuk sewa kendaraan ekspedisi berupa truk trailer, Perseroan mengalami
kendala dalam melaksanakan kegiatan tersebut dikarenakan belum memenuhi izin legalitas usaha bisnis
sewa kendaraan ekspedisi. Berdasarkan hal tersebut, Perseroan perlu menambahkan Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 77100 - Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan Bermotor
sehingga Perseroan dapat melakukan penyewaan truk trailer dengan skema ekspedisi.

1.3. Status Penilai
Penilai Publik Willyams merupakan Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI
13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120,
domisili Kota Jakarta Selatan dengan wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
merupakan KJPP resmi yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai
telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar
Profesi Penunjang Pasar Modal No. STTD.PB‐57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri
Keuangan Non Bank dengan No. 296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI
330, POJK 35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK
17/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 17/SEOJK.04/2020.




                                                             Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |2
Page 18
1.4. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 77100-
Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan Bermotor oleh Perseroan (selanjutnya disebut “Rencana
Penambahan KBLI”).

1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI oleh Perseroan. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas
perubahan kegiatan usaha yang disusun oleh Penilai.

1.6. Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.

1.7. Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).

1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Bapak
Hendro sebagai Manajer Workshop Peralatan Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah melakukan
site visit terhadap truk trailer yang akan disewakan.

1.9. Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat Inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Informasi terkait kondisi truk trailer yang akan disewakan;
• Informasi terkait jumlah kendaraan yang akan disewakan;
• Perseroan memiliki 47 unit truk trailer dengan 10 unit yang dapat diperbaiki dan direncanakan akan
   disewakan dengan skema ekspedisi;
• Informasi terkait skema penyewaan yang biasa diberlakukan dari sewa unit; unit dan operator; unit,
   operator dan maintenance;

1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
     keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
     yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |3
Page 19
8.  Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
    dokumen legalitas Perseroan;
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
    peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
    ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
    perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
    bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
    asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
    dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
    mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
    tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
    yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
    data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
    kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
    ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
    prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
    mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
    laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.

1.11. Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.

1.12. Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan studi kelayakan ini, terdapat subsequent event atau kejadian penting yaitu perubahan susunan
pengurus Perseroan. Perubahan tersebut antara lain meliputi pengangkatan Bapak Koento Wahyudiat
sebagai Direktur Keuangan, HCM, & Manajemen Risiko Perseroan, pengangkatan Bapak Indra Utama
sebagai Komisaris Utama Perseroan, serta pengangkatan Bapak Heri Sebayang sebagai Komisaris
Independen Perseroan. Sehubungan dengan perubahan tersebut, Bapak Fathul Anwar dan Bapak Itung
Prasaja tidak lagi menjabat sebagai Direktur Perseroan, serta Bapak Raden Mas Aris Santosa tidak lagi
menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan. Perubahan susunan pengurus tersebut didasarkan pada
Akta No. 24 tanggal 13 Maret 2026 yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta
Selatan. Perubahan ini tidak mempengaruhi hasil analisis studi kelayakan.

1.13. Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
    identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |4
Page 20
•   Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
    Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
•   Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
    Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
•   Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.

1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
    lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya;
• Sumber data lainnya yang terkait dengan studi kelayakan.

1.15. Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
• Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
    oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
    modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
    oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
    tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
    audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
    dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
    jawab audit;
• Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
    oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
    opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
    audit;
• Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2030 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
    Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
• Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |5
Page 21
•   Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
    Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
    lainnya yang kami anggap relevan.

1.16. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.

1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |6
Page 22
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN

2.1. Gambaran Umum Perseroan
PT Waskita Beton Precast Tbk (Perseroan) didirikan berdasarkan Akta No. 10 tanggal 7 Oktober 2014 dari
Fathiah Helmi, S.H., Notaris publik di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui surat keputusan No. AHU-29347.40.10.2014 tanggal 14
Oktober 2014.

Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris No.
58 tanggal 14 November 2025, yang dibuat di hadapan Notaris Aulia Taufani, S.H., mengenai Berita Acara
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Entitas induk langsung dan terakhir Perseroan adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang didirikan dan
berdomisili di Indonesia. Perseroan berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat berlokasi di Gedung
Vasaka Lantai 5 Jl. MT Haryono Kav. 10A, Jakarta Timur 13340.

2.2. Pemegang Saham
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, susunan pemegang saham adalah
sebagai berikut:

                                  Tabel 4. Susunan Pemegang Saham
                                           Persentase
          Pemegang Saham                                          Jumlah Saham            Jumlah Nominal (Rp)
                                         Kepemilikan (%)
 PT Waskita Karya (Persero) Tbk                    28,21%           16.017.557.697          1.591.711.914.800
 PT Intiniaga Sukses Abadi                          6,90%            3.918.646.978            195.932.348.900
 Koperasi Waskita Karya                             0,00%                     13.935                  1.393.500
 PT Waskita Beton Precast Tbk                       3,25%            1.845.281.000            184.528.100.000
 Masyarakat                                        61,64%           34.998.978.876          2.184.908.043.800
 Jumlah                                           100,00%           56.780.478.486         4.157.081.801.000
                          Sumber: Laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025


2.3. Susunan Pengurus
Susunan Direksi dan Komisaris Perseroan per 31 Desember 2025 berdasarkan Akta Notaris No. 58
tanggal 14 November 2025 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani, S.H Notaris di Jakarta Selatan adalah
sebagai berikut:

Direksi
Direktur Utama                    : Anak Agung Gede Sumadi Suka Sedana
Direktur Keuangan                 : Fathul Anwar
Direktur Operasi                  : Itung Prasaja

Dewan Komisaris
Komisaris Utama                   : Raden Mas Aris Santosa
Komisaris Independen              : Indra Utama




                                                           Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |7
Page 23
Komisaris Independen             : Ahmad Subagya

2.4. Gambaran Usaha
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, Perseroan melakukan usaha di bidang industri
pabrikasi, industri konstruksi, jasa, pekerjaan terintegrasi (Engineering, Procurement and Construction:
EPC), perdagangan, agro industri, jasa penyewaan, transportasi, investasi, pengelolaan kawasan, jasa
keagenan, pembangunan, layanan jasa peningkatan kemampuan di bidang konstruksi, teknologi
informasi serta kepariwisataan dan pengembangan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan
dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan
dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut:
1. Industri Pabrikasi Barang dan Bahan Bangunan untuk Konstruksi, antara lain:
a. Industri barang dari semen dan kapur untuk konstruksi;
b. Industri Mortar atau Beton Siap Pakai;
c. Instalasi/ Pemasangan Mesin dan Peralatan Industri;
d. Industri Mesin Pertanian dan Kehutanan;
e. Industri Barang Bangunan dari Kayu;
f. Industri Bangunan Prafabrikasi dari Kayu;
g. Industri Batu Bata dari Tanah Liat/Keramik;
h. Industri Genteng dari Tanah Liat/Keramik;
i. Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/Keramik Bukan Batu Bata dan Genteng;
j. Industri Semen;
k. Industri Kapur;
l. Industri Gips;
m. Industri Barang dari Gips untuk Konstruksi;
n. Industri Barang dari Asbes untuk Keperluan Bahan Bangunan;
o. Industri Barang dari Marmer dan Granit untuk Keperluan Bahan Bangunan;
p. Industri Barang dari Logam Bukan Aluminium Siap Pasang Untuk Bangunan;
q. Industri Barang dari Logam Aluminium Siap Pasang untuk Bangunan;
r. Industri Konstruksi Berat Siap Pasang dari Baja untuk Bangunan;
s. Industri Barang dari Logam Siap Pasang untuk Konstruksi Lainnya;
t. Industri Mesin Penambahan, Penggalian dan Konstruksi;
u. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Industri;
v. Industri Barang dari Karet untuk Keperluan Infratruktur;
w. Industri Barang dan Peralatan Teknik/Industri dari Plastik;
x. Industri Barang dari Plastik Untuk Bangunan;
y. Industri Pipa Plastik dan Perlengkapannya;
z. Industri Barang Plastik Lembaran;
aa. Industri Besi dan Baja Dasar (Iron and Steel Making);
bb. Industri Penggilingan Baja (Steel Rolling);
cc. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Baja dan Besi;
dd. Industri Pipa dan Sambungan Pipa dari Logam Bukan Besi dan Baja;
ee. Industri Tangki, Tandon Air dan Wadah Dari Logam;
ff. Industri Generator Uap, Bukan Ketel Pemanas;



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |8
Page 24
gg. Industri Peralatan Umum;
hh. Industri Barang Dari Kawat;
ii. Industri Paku, Mur Dan Baut.

2.   Industri Konstruksi, antara lain:
a.   Konstruksi Bangunan Sipil:
     • Kontruksi Bangunan Sipil Jembatan, Jalan Layang, Fly Over, dan Underpass;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Jalan;
     • Konstruksi Jalan Rel;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Sipil;
     • Konstruksi Jaringan Irigasi dan Drainase;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Pengolahan Air Bersih;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Prasarana dan Sarana Sistem Pengolahan Limbah Padat, Cair, dan
         Gas;
     • Pengerukan;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Pelindung Pantai;
     • Konstruksi Terowongan;
     • Konstruksi Bangunan Sipul Elektrikal;
     • Konstruksi Reservoir Pembangkit Listrik Tenaga Air;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Minyak dan Gas Bumi;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Olah Raga;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Pengolahan Produk Kimia, Petrokimia, Farmasi, dan Industri
         Lainnya;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Fasilitas Militer dan Peluncuran Satelit;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Telekomunikasi untuk Prasarana Transportasi;
     • Konstruksi Khusus Bangunan Sipil Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
     • Konstruksi Jaringan Irigasi, Komunikasi, dan Limbah Lainnya;
     • Konstruksi Bangunan Prasarana Sumber Daya Air;
     • Konstruksi Bangunan Pelabuhan Bukan Perikanan;
     • Konstruksi Bangunan Pelabuhan Perikanan;
     • Konstruksi Sentral Telekomunikasi;
     • Pembuatan/Pengeboran Sumur Air Tanah;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Pertambangan;
     • Konstruksi Bangunan Sipil Panas Bumi;
     • Pemasangan Kerangka Baja.
b.   Konstruksi Gedung:
     • Konstruksi Gedung Industri;
     • Jasa Pekerjaan Konstruksi Prapabrikasi Bangunan Gedung;
     • Konstruksi Gedung Hunian;
     • Konstruksi Gedung Perkantoran;
     • Konstruksi Gedung Perbelanjaan;
     • Konstruksi Gedung Kesehatan;
     • Konstruksi Gedung Pendidikan;




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |9
Page 25
     •    Konstruksi Gedung Penginapan;
     •    Konstruksi Gedung Tempat Hiburan dan Olahraga;
     •    Konstruksi Gedung Lainnya;
     c.   Penyelesaian Konstruksi, antara lain:
     •    Pengerjaan Pemasangan Kaca dan Alumunium;
     •    Pengerjaan Lantai, Dinding, Peralatan Saniter dan Plafon;
     •    Dekorasi Interior;
     •    Penyelesaian Konstruksi Bangunan Lainnya.
     d.   Konstruksi Khusus dan Konstruksi Khusus Lainnya:
     •    Penyiapan Lahan;
     •    Pemasangan Pondasi dan Tiang Pancang;
     •    Pemasangan Perancah (Steiger);
     •    Pemasangan Rangka dan Atap/Roof Covering;
     •    Konstruksi Khusus Lainnya Yang Tidak Dapat Diklasifikasikan di Tempat Lain;
     •    Pembongkaran;
     •    Instalasi Sinyal Dan Rambu-rambu Jalan Raya.

3.   Pekerjaan Terintegrasi (EPC) dalam bidang, antara lain:
a.   Pembangkit Tenaga Listrik;
b.   Pembangkit, Transmisi, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
c.   Pembangkit, Transmisi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
d.   Pembangkit, Distribusi, dan Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
e.   Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik;
f.   Transmisi Tenaga Listrik;
g.   Distribusi, Penjualan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha;
h.   Distribusi Tenaga Listrik;
i.   Pengadaan Gas Alam dan Buatan;
j.   Distribusi Gas Alam dan Buatan;
k.   Pengadaan Gas Bio.

4.   Pertambangan dan Penggalian, antara lain:
a.   Penggalian Batu Hias dan Batu Bangunan;
b.   Penggalian Batu Kapur/Gamping;
c.   Penggalian Kerikil/Sirtu;
d.   Penggalian Pasir;
e.   Penggalian Tanah dan Tanah Liat;
f.   Penggalian Gips;
g.   Penggalian Tras;
h.   Penggalian Batu Apung;
i.   Penggalian Batu, Pasir, dan Tanah Liat Lainnya;
j.   Aktivitas Penunjang Pertambangan Minyak Bumi Dan Gas Alam;
k.   Aktivitas Penunjang Pertambangan dan Penggalian Lainnya.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |10
Page 26
5.   Aktivitas Penyewaan Peralatan Konstruksi, antara lain:
a.   Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi;
b.   Penyewaan Alat Konstruksi Dengan Operator;
c.   Aktivitas Perawatan dan Pemeliharaan Taman.

6.   Pekerjaan Mekanikal Elektrikal termasuk Jaringan dan Instalasi, antara lain:
a.   Instalasi Listrik;
b.   Instalasi Mekanikal;
c.   Instalasi Saluran Air (Plambing);
d.   Instalasi Pendingin dan Ventilasi Udara;
e.   Instalasi Pemanas dan Geotermal;
f.   Instalasi Minyak dan Gas;
g.   Instalasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika;
h.   Instalasi Elektronika;
i.   Instalasi Fasilitas Sumber Radiasi Pengion;
j.   Instalasi Nuklir;
k.   Instalasi Sinyal dan Telekomunikasi Kereta Api;
l.   Instalasi Telekomunikasi;
m.   Jasa Instalasi Konstruksi Navigasi Laut, Sungai, dan Udara.

7.   Perdagangan Besar:
a.   Perdagangan Besar Semen, Kapur, Pasir, dan Batu;
b.   Perdagangan Besar Barang Logam untuk Bahan Konstruksi;
c.   Perdagangan Besar Logam dan Bijih Logam;
d.   Perdagangan Besar Alat Transportasi Darat (Bukan Mobil, Sepeda Motor, dan Sejenisnya), Suku
     Cadang dan Perlengkapan;
e.   Perdagangan Besar Bahan Konstruksi dari Porselen;
f.   Perdagangan Besar Mesin Kantor dan Industri Pengolahan, Suku Cadang, dan Perlengkapannya;
g.   Perdagangan Besar Berbagai Macam Material Bangunan;
h.   Perdagangan Besar Mesin, Peralatan dan Perlengkapannya Lainnya;
i.   Perdagangan Besar Genteng, Batu Bata, Ubin Dan Sejenisnya dari Tanah Liat, Kapur, Semen atau
     Kaca;
j.   Perdagangan Besar Bahan Konstruksi Lainnya;
k.   Perdagangan Besar Berbagai Macam Barang.

8.   Real Estate:
a.   Real Estat yang Dimiliki Sendiri atau Disewa;
b.   Penyewaan Venue Penyelenggaraan Aktivitas MICE dan Event Khusus;
c.   Kawasan Industri.

9.   Aktivitas Profesional, Ilmiah dan Teknis:
a.   Aktivitas Arsitektur;
b.   Aktivitas Keinsinyuran dan Konsultasi Teknis yang Berhubungan Dengan Itu.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |11
Page 27
10. Informasi dan Komunikasi:
a. Penerbitan Piranti Lunak (Software).

11. Pengangkutan dan Pergudangan:
a. Angkutan Bermotor untuk Barang Umum;
b. Angkutan Bermotor untuk Barang Khusus;
c. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Umum;
d. Angkutan Laut Dalam Negeri untuk Barang Khusus;
e. Angkutan Laut Dalam Negeri Perintis untuk Barang;
f. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Umum;
g. Angkutan Laut Luar Negeri untuk Barang Khusus;
h. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Umum dan/atau Hewan;
i. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Khusus;
j. Angkutan Sungai dan Danau untuk Barang Berbahaya;
k. Angkutan Penyeberangan Umum Antar provinsi untuk Barang;
l. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar provinsi untuk Barang;
m. Angkutan Penyeberangan Umum Antar kabupaten/kota untuk Barang;
n. Angkutan Penyeberangan Perintis Antar kabupaten/kota untuk Barang;
o. Angkutan Penyeberangan Umum Dalam Kabupaten/kota untuk Barang;
p. Angkutan Penyeberangan Lainnya untuk Barang Termasuk Penyeberangan Antarnegara.

12. Investasi dan/atau pengelolaan usaha di bidang yang terkait dengan kegiatan usaha utama
    Perseroan.

Selain kegiatan usaha utama, Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha penunjang yang mendukung
kegiatan usaha utama, antara lain:
1. Layananan Jasa Konsultasi (Konsultan) Manajemen:
a. Aktivitas Kantor Pusat;
b. Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya.

2.   Agro Industri:
a.   Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (Crude Palm Oil);
b.   Industri Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit (Crude Palm Kernel Oil/CPKO);
c.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
d.   Industri Pemurnian Minyak Mentah Kelapa Sawit dan Minyak Mentah Inti Kelapa Sawit;
e.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Kelapa Sawit;
f.   Industri Pemisahan/Fraksinasi Minyak Murni Inti Kelapa Sawit;
g.   Pergudangan dan Penyimpanan.

3.   Layanan Jasa Bidang Teknologi Informasi dan Kepariwisataan:
a.   Aktivitas Pengembangan Aplikasi Perdagangan Melalui Internet (E-commerce);
b.   Aktivitas Pemrograman Komputer Lainnya;
c.   Aktivitas Konsultasi Keamanan Informasi;
d.   Aktivitas Konsultasi Komputer dan Manajemen Fasilitas Komputer Lainnya;
e.   Aktivitas Teknologi Informasi dan Jasa Komputer Lainnya;



                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |12
Page 28
f.   Kawasan Pariwisata;
g.   Aktivitas Konsultansi Pariwisata.

4.   Pengelolaan Limbah B3:
a.   Pengumpulan Air Limbah Berbahaya;
b.   Treatment dan Pembuangan Air Limbah Berbahaya;
c.   Pengumpulan Limbah Berbahaya;
d.   Treatment Dan Pembuangan Limbah Berbahaya.

2.4.2. Analisis SWOT
Berikut adalah analisis SWOT Perseroan:

Kekuatan (Strength):
a. Perseroan memiliki sinergi operasional dengan grup usaha induk yang mendukung akses terhadap
   peluang proyek;
b. Jaringan fasilitas produksi dan batching plant yang tersebar di wilayah strategis mendukung
   kelancaran distribusi produk;
c. Kapasitas produksi yang relatif memadai untuk memenuhi kebutuhan proyek berskala menengah
   hingga besar;
d. Portofolio produk beton pracetak yang relatif beragam sesuai dengan kebutuhan proyek
   infrastruktur;
e. Pengalaman Perseroan dalam pelaksanaan proyek berskala besar mendukung tingkat kepercayaan
   pemberi kerja;
f. Perseroan mempunyai aset kendaraan yang dapat diutilisasikan.

Kelemahan (Weakness):
a. Kondisi keuangan Perseroan masih memerlukan pengelolaan yang prudent untuk menjaga stabilitas
    arus kas;
b. Ketergantungan yang relatif tinggi terhadap proyek pemerintah dan BUMN;
c. Kompleksitas pengelolaan operasional dan proyek memerlukan sistem pengendalian yang ketat;
d. Tingkat diversifikasi sumber pendapatan Perseroan masih terbatas;
e. Perseroan masih kesulitan untuk memperbaiki aset peralatan dan kendaraan yang rusak;
f. Belum adanya database operator alat sehingga perlu waktu untuk rekruitment operator;
g. Umur peralatan yang relatif sudah lebih dari 5 tahun;
h. Belum adanya KBLI yang menunjang bisnis sewa alat.

Peluang (Opportunity):
a. Program pembangunan jalan, jembatan, irigasi, perumahan, dan fasilitas publik terus tumbuh di
    Indonesia, menciptakan permintaan jangka panjang untuk beton precast;
b. Perseroan menargetkan ekspansi pangsa pasar, inovasi produk sistem load bearing wall, serta
    penetrasi ke segmen swasta yang lebih besar;
c. Inisiatif seperti program penghijauan mencerminkan upaya memperkuat citra merek sebagai
    perusahaan yang peduli lingkungan, sesuai tren ESG global;
d. Peluang kerja sama, joint operation, dan kemitraan strategis dengan pihak lain;
e. Peningkatan efisiensi operasional melalui optimalisasi proses dan penerapan digitalisasi;



                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |13
Page 29
f.    Potensi diversifikasi pasar ke segmen industri dan properti;
g.    Perseroan sudah menjalin kerjasama dengan beberapa customer;
h.    Pasar yang cenderung stabil;
i.    Peralatan yang cukup banyak dapat bersaing dalam pasar yang ada;
j.    Perlunya dana untuk menyiapkan unitl
k.    Perlunya KBLI untuk dapat ikut andil dalam pasar sewa kendaraan ekspedisi.

Ancaman (Threats):
a. Kenaikan biaya bahan baku (semen, agregat) atau tekanan ekonomi dapat mempengaruhi margin
   dan daya saing harga;
b. Tingkat persaingan usaha di industri beton precast relatif ketat. Industri beton precast di Indonesia
   memiliki banyak pemain besar dan lokal, yang bisa menekan pangsa pasar dan margin keuntungan;
c. Penurunan atau pergeseran prioritas anggaran infrastruktur nasional dapat mengurangi permintaan
   signifikan untuk produk precast;
d. Kondisi suku bunga, likuiditas sektor konstruksi, serta risiko kredit klien dapat menimbulkan tekanan
   likuiditas dan piutang usaha;
e. Risiko keterlambatan pembayaran pada proyek tertentu;
f. Perubahan kondisi makroekonomi, kebijakan fiskal, serta regulasi dan ketentuan lingkungan;
g. Nama Perseroan yang masih belum pulih di eksternal;
h. Banyaknya perusahaan pesaing yang sudah lama berbisnis sewa kendaraan;
i. Pengelolaan cash flow yang sangat ketat, untuk downtime dan perbaikan;
j. Asuransi yang komprehensif untuk semua aset dan risiko operasional.

2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional
Berikut adalah perizinan Perseroan dokumen perizinan dan sertifikat terkait operasional:

                      Tabel 5. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat
  No.                                           Dokumen Perizinan
 1.       Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) No. 138/24.1PB.7/31.75/1.824.27/e/2016, di keluarkan
          oleh Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Administrasi Jakarta Timur pada tanggal
          24 Juni 2016;
 2.       Sertifikat Akreditasi kompetensi sebagai Laboratorium Pengujian dengan menerapkan secara
          konsisten SNI ISO/IEC 17025:2017 Nomor LP-2166-IDN tanggal 16 Sepoleh Komite Akreditasi
          Nasional (KAN) yang berlaku hingga 16 September 2030;
 3.       Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Perkerasan Kaku Panel Beton Bertulang”
          Nomor IDP000080495 tanggal 23 Desember 2021 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
          Manusia;
 4.       Sertifikat Paten untuk Invensi dengan judul “Sistem Peningkatan Kekakuan Balok Beton Girded”
          Nomor IDP000082699 tanggal 25 Agustus 2022 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
          Manusia
                                           Sumber: manajamen


2.5. Kinerja Keuangan
Analisa kinerja keuangan Perseroan merujuk pada laporan keuangan audit sebagai berikut:




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |14
Page 30
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00333/2.0459/AU.1/03/0916-2/1/III/2026
     oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 16 Maret 2026 dengan opini wajar tanpa
     modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan selaku penanggung jawab audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00230/2.0459/AU.1/03/0916-1/1/III/2025
     oleh Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar tanpa
     modifikasian, yang ditandatangani oleh Ade Ikhwan, S.E., CPA selaku penanggung jawab audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00091/2.1000/AU.1/04/0912-1/1/III/2024
     oleh Kantor Akuntan Publik Hertanto, Grace, Karunawan tanggal 27 Maret 2024 dengan opini wajar
     tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Bambang Karunawan, CPA selaku penanggung jawab
     audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00387/2.1051/AU.1/04/0561-2/1/IV/2023
     oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 6 April 2023
     dengan opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung
     jawab audit;
•    Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00650/2.1051/AU.1/04/0561-1/1/V/2022
     oleh Kantor Akuntan Publik Kosasih, Nurdiyaman, Mulyadi, Tjahjo & Rekan tanggal 5 Mei 2022 dengan
     opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Henri Arifian selaku penanggung jawab
     audit.

2.5.1. Laba Rugi Historis
Berikut merupakan laporan laba rugi Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                   Tabel 6. Laporan Laba Rugi
                                                    Audited                Audited                Audited                Audited                Audited
                                                    FY 2021                FY 2022                FY 2023                FY 2024                FY 2025
PENDAPATAN USAHA                                 1.380.071.332.830      2.062.171.056.660     1.487.587.869.182       1.971.896.434.453      1.569.574.633.435
BEBAN POKOK PENDAPATAN                         (1.073.122.548.594)    (1.757.946.301.923)   (1.496.422.947.848)     (1.602.221.726.484)    (1.295.108.480.705)
LABA (RUGI) KOTOR                                  306.948.784.236        304.224.754.737        (8.835.078.666)        369.674.707.969        274.466.152.730
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                                 (154.906.009.569)     (117.165.244.103)       (93.827.185.052)       (137.382.281.636)       (99.214.906.502)
-Beban umum dan administrasi                   (1.216.866.984.564)     (543.517.558.361)      (506.330.402.796)       (473.730.737.601)     (380.593.521.729)
-Beban non-contributing plant                    (361.571.262.752)     (428.526.709.516)      (114.992.729.802)         (90.536.547.630)      (22.938.670.562)
-Beban pajak penghasilan final                      (8.654.167.357)       (4.465.123.541)        (1.275.123.574)         (7.387.409.122)       (8.599.161.342)
-Keuntungan selisih kurs-bersih                         515.902.590           294.219.783            (63.617.835)              6.981.533                     -
-Pendapatan bunga                                     1.165.943.389         1.848.023.168          2.131.062.433           2.628.660.841         2.164.160.366
-(Beban)/pendapatan lain-lain                      107.256.234.308     1.914.352.587.000        976.457.459.505       (376.662.364.015)       (12.840.777.034)
JUMLAH BEBAN USAHA                             (1.633.060.343.955)       822.820.194.430        262.099.462.879     (1.083.063.697.630)     (522.022.876.803)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN PAJAK   (1.326.111.559.719)     1.127.044.949.167        253.264.384.213       (713.388.989.661)     (247.556.724.073)
Beban keuangan                                   (617.250.878.677)     (451.275.271.676)      (246.964.100.404)       (283.912.861.098)     (289.812.847.400)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK                      (1.943.362.438.396)       675.769.677.491           6.300.283.809      (997.301.850.759)     (537.369.571.473)
Beban pajak pengasilan                                            -                     -                       -                      -                     -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN              (1.943.362.438.396)       675.769.677.491           6.300.283.809      (997.301.850.759)     (537.369.571.473)


                          Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025


Pendapatan Usaha
Perseroan membukukan pendapatan usaha pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,38
triliun, Rp2,06 triliun, Rp1,49 triliun, Rp1,97 triliun, dan Rp1,57 triliun Pendapatan Perseroan berasal dari
pendapatan precast, readymix dan quarry, dan jasa konstruksi.

Beban Pokok Pendapatan
Perseroan membukukan beban pokok pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp1,07 triliun, Rp1,76 triliun, Rp1,50 triliun, Rp1,60 triliun, dan Rp1,30 trilliun dengan persentase beban



                                                                               Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |15
Page 31
pokok pendapatan terhadap pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 77,76%,
85,25%, 100,59%, 81,25%, dan 82,51%.

Laba (Rugi) Bruto
Perseroan membukukan laba (rugi) bruto pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp306,95
miliar, Rp304,22 miliar, -Rp8,84 miliar, Rp369,67 miliar, dan Rp274,47 miliar. Rasio gross profit margin
pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar 22,24%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%.

Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Pada tahun 2021-2025 Perseroan membukukan laba (rugi) tahun berjalan sebesar -Rp1,94 triliun,
Rp675,77 miliar, Rp6,30 miliar, -Rp997,30 miliar, dan -Rp537,37 miliar, dengan rasio net profit margin
masing-masing sebesar -140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,58%, dan -34,24%.

2.5.2. Posisi Keuangan Historis
Berikut merupakan laporan posisi keuangan audit Perseroan per 31 Desember 2021-2025 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                   Tabel 7. Posisi Keuangan Historis
                                                     Audited             Audited             Audited             Audited             Audited
                                                    31-Des-21           31-Des-22           31-Des-23           31-Des-24           31-Des-25
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                    93.663.903.876     238.946.856.294     120.811.660.447     205.754.409.914     61.564.390.064
Piutang usaha - bersih                             1.355.257.478.764     833.266.141.011     594.710.168.095     423.536.146.007    387.469.159.954
Piutang retensi                                                    -                   -     215.215.120.561     147.235.855.685    135.813.511.645
Piutang lain-lain                                      7.084.407.572      25.088.893.954      92.371.068.048      17.594.770.842     33.510.791.231
Persediaan                                           595.242.754.827     346.193.304.408     250.412.830.030     204.660.747.845    144.451.619.599
Tagihan bruto kepada pelanggan                       433.535.963.211     693.954.287.674     317.540.931.290     269.546.204.541    105.535.772.286
Pajak dibayar dimuka                                  76.103.832.912      78.281.924.160      56.794.854.347      15.487.676.601     14.191.305.724
Uang muka kepada pihak ketiga                            630.886.048         181.438.416         163.947.000      10.453.683.076      1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                 107.598.946.352      18.179.117.854      30.056.164.026      34.564.334.064     18.147.279.147
Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual           1.518.964.267.107                   -                   -                   -                  -
TOTAL ASET LANCAR                                  4.188.082.440.669   2.234.091.963.771   1.678.076.743.844   1.328.833.828.575    901.816.775.490

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                  2.574.848.019.701   3.680.901.556.393   2.752.256.841.256   2.221.654.000.209   2.100.181.791.052
Aset hak guna-bersih                                  24.799.222.403      13.658.822.942       8.776.645.123       2.876.247.785       1.593.892.238
Aset lain-lain                                        94.347.599.386      35.005.608.772      34.035.490.279      65.266.579.946      51.948.553.268
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                            2.693.994.841.490   3.729.565.988.107   2.795.068.976.658   2.289.796.827.940   2.153.724.236.558
TOTAL ASET                                         6.882.077.282.159   5.963.657.951.878   4.473.145.720.502   3.618.630.656.515   3.055.541.012.048

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                           3.865.231.347.315     671.127.052.204     671.127.052.204     671.127.052.204    671.127.052.204
Utang usaha                                        3.034.924.879.645   3.280.373.013.202   1.271.173.226.772   1.157.027.017.404    878.270.818.030
Utang bruto                                                        -                   -     238.612.349.835     226.699.845.044    190.304.291.141
Utang lain-lain                                       77.244.775.940      19.002.499.800      27.998.786.844      23.080.311.358     45.178.353.760
Utang pajak                                           53.302.816.824      45.882.235.407      46.354.594.135      58.385.381.435     42.031.008.270
Beban akrual                                         570.862.935.623     578.761.527.452     294.732.578.506     267.933.831.991    235.109.555.525
Uang muka dari pelanggan                              24.805.239.928      73.601.909.332      91.703.326.266     100.372.326.972     79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                        4.075.000.000       2.971.809.989       4.347.202.066       1.338.809.772         124.875.000
Utang Obligasi                                     1.997.171.930.923   1.850.769.921.111                   -                   -                   -
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                     9.627.618.926.198   6.522.489.968.497   2.646.049.116.628   2.505.964.576.180   2.142.117.535.788




                                                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |16
Page 32
                                                         Audited               Audited               Audited               Audited               Audited
                                                        31-Des-21             31-Des-22             31-Des-23             31-Des-24             31-Des-25
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang                                              -    1.308.275.651.721     1.574.516.258.694     1.665.042.209.850     1.770.437.877.557
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                         13.043.044.665         6.982.749.773         5.252.449.858         2.354.568.658        1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                                -       211.745.939.370       228.966.761.482       248.133.967.027      269.467.545.964
Obligasi wajib konversi                                               -                     -       651.812.439.998       727.654.656.836      807.696.669.091
Liabilitas imbalan pascakerja                            19.944.376.296        17.372.141.941        31.042.785.396        27.293.676.571       31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                          32.987.420.961     1.544.376.482.805     2.491.590.695.428     2.670.479.078.942     2.880.558.090.375
TOTAL LIABILITAS                                      9.660.606.347.159     8.066.866.451.302     5.137.639.812.056     5.176.443.655.122     5.022.675.626.163

EKUITAS
Modal saham                                            2.636.115.753.400     2.636.115.753.400     4.045.843.942.950     4.072.310.311.658    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                                 3.944.529.408.861     3.944.529.408.861     3.967.367.005.532     3.967.795.760.697    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                                (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)     (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                                 (8.865.384.735.136)   (8.190.064.169.560)   (8.183.915.547.911)   (9.180.584.963.385)   (9.717.211.852.986)
Komponen ekuitas lainnya                                 282.164.230.215       282.164.230.215       282.164.230.215       358.619.614.763       399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                        (2.778.529.065.000)   (2.103.208.499.424)     (664.494.091.554)   (1.557.812.998.607)   (1.967.134.614.115)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                           6.882.077.282.159     5.963.657.951.878     4.473.145.720.502     3.618.630.656.515     3.055.541.012.048


                                Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025


Kas dan Setara Kas
Perseroan mencatatkan kas dan setara kas per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp93,66 miliar, Rp238,95 miliar, Rp120,81 miliar, Rp205,75 miliar, dan Rp61,56 miliar dengan rasio kas
masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali.

Piutang Usaha
Perseroan mencatatkan piutang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp1,36
triliun, Rp833,27 miliar, Rp594,71 miliar, Rp423,54 miliar, dan Rp387,47 miliar. Hari perputaran piutang
usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, dan 89
hari.

Persediaan
Perseroan mencatat persediaan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp595,24 miliar,
Rp346,19 miliar, Rp250,41 miliar, Rp204,66 miliar, dan Rp144,45 dengan perputaran hari persediaan
masing-masing sebesar 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, dan 40 hari.

Aset Tetap
Perseroan mencatatkan aset tetap bersih per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,57
triliun, Rp3,68 triliun, Rp2,75 triliun, Rp2,22 triliun, dan Rp2,10 triliun atau berkisar 37,41% - 68,73% dari
total aset per 31 Desember 2021-2025. Aset tetap Perseroan berupa tanah, gedung dan pabrik,
perlengkapan kantor, peralatan, dan kendaraan.

Utang Usaha
Perseroan memiliki utang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp3,03 triliun,
Rp3,28 triliun, Rp1,27 triliun, Rp1,16 triliun, dan Rp878,27 miliar dengan hari perputaran utang usaha
masing-masing 1.018 hari, 672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.

Total Liabilitas Jangka Pendek
Perseroan memiliki total liabilitas jangka pendek per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp9,63 triliun, Rp6,52 triliun, Rp2,65 triliun, Rp2,51 triliun, dan Rp2,14 triliun. Total liabilitas jangka




                                                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |17
Page 33
pendek Perseroan terdiri dari utang bank jangka pendek, utang usaha, utang bruto, utang pajak, utang
lain-lain, beban akrual, dan liabilitas sewa.

Total Liabilitas Jangka Panjang
Perseroan memiliki total liabilitas jangka panjang per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp32,99 miliar, Rp1,54 triliun, Rp2,49 triliun, Rp2,67 triliun, dan Rp2,88 triliun. Total liabilitas jangka
panjang Perseroan terdiri dari utang bank jangka panjang, liabilitas sewa, utang obligasi bersih, obligasi
wajib konversi, dan liabilitas imbalan pasca kerja.

Total Ekuitas
Total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar -Rp2,78 triliun, -Rp2,10
triliun, -Rp664,49 miliar, -Rp1,56 triliun, dan -Rp1,97 triliun. Modal saham ditempatkan dan disetor
penuh Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,64 triliun, Rp2,64 triliun,
Rp4,05 triliun, Rp4,07 triliun, dan Rp4,16 triliun.

2.5.3. Arus Kas Historis
Berikut merupakan laporan arus kas Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                                  Tabel 8. Arus Kas Historis
                                                 Audited               Audited               Audited               Audited               Audited
                                                 FY 2021               FY 2022               FY 2023               FY 2024               FY 2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan                  1.496.312.823.914    2.117.518.639.844     1.893.344.592.840     2.264.905.292.822     1.858.437.309.484
Pembayaran kas kepada:
-Pemasok dan pihak ketiga                      (555.898.216.730)   (1.642.734.172.610)   (1.608.346.529.333)   (2.022.128.881.587)   (1.756.598.773.320)
-Direksi dan karyawan                          (375.184.379.221)     (288.188.603.875)     (275.554.973.335)     (135.721.515.057)     (128.836.268.226)
-Pembayaran operasional                                        -                     -                     -                     -                     -
KAS YANG DIHASILKAN DARI OPERASI                 565.230.227.963       186.595.863.359         9.443.090.172       107.054.896.178      (26.997.732.062)
Pembayaran beban pinjaman bank                 (599.595.399.628)      (14.823.644.066)      (86.867.422.530)      (80.117.808.222)      (79.697.639.852)
Pembayaran beban obligasi                                      -                     -                     -                     -                     -
Pembayaran pajak                                (23.220.712.523)      (27.882.839.228)      (31.056.823.667)      (49.510.505.690)      (43.583.610.439)
Penerimaan hasil restitusi pajak                  37.867.327.689         6.208.543.282                     -        10.849.588.873         4.129.384.581
Penerimaan jasa giro dan deposito berjangka        1.156.765.779         1.848.023.168         2.131.062.433         1.841.632.928         1.634.610.176
Penerimaan lain-lain                                           -                     -                     -        92.095.585.600           177.063.663
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN
                                                (18.561.790.720)      151.945.946.515     (106.350.093.592)        82.213.389.667     (144.337.923.933)
UNTUK) AKTIVITAS OPERASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap                               (387.000.000)       (1.597.600.000)       (1.144.450.000)       (6.301.115.739)                    -
Penjualan aset tetap                                           -                     -                     -       23.416.416.697         4.004.710.825
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)
                                                   (387.000.000)      (1.597.600.000)       (1.144.450.000)        17.115.300.958         4.004.710.825
AKTIVITAS INVESTASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran liabilitas sewa                                     -       (5.359.613.880)     (10.577.034.420)         (972.825.000)        (1.561.425.000)
Pembayaran pinjaman                            (131.586.157.889)                     -                    -      (13.420.097.691)        (2.295.381.742)
Pembayaran pokok obligasi                                      -                     -                    -                     -                     -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS
                                               (131.586.157.889)      (5.359.613.880)      (10.577.034.420)      (14.392.922.691)       (3.856.806.742)
PENDANAAN

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA
                                               (150.534.948.609)      144.988.732.635     (118.071.578.012)        84.935.767.934     (144.190.019.850)
KAS
Keuntungan/(ketugian) selisih direalisasikan                  -           294.219.783           (63.617.835)            6.981.533                     -
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                   244.198.852.485        93.663.903.876       238.946.856.294       120.811.660.447       205.754.409.914
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN              93.663.903.876       238.946.856.294       120.811.660.447       205.754.409.914        61.564.390.064


                              Sumber: laporan keuangan audit Perseroan 31 Desember tahun 2021-2025


Arus Kas Aktivitas Operasi
Arus kas aktivitas operasi yang dihasilkan oleh Perseroan untuk periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2022 dan 2024 masing-masing sebesar Rp151,95 miliar dan Rp82,21 miliar. Sedangkan pada



                                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |18
Page 34
periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021, 2023, dan 2025 Perseroan mencatat arus kas bersih
yang digunakan dalam aktivitas operasi masing-masing sebesar Rp18,56 miliar, Rp106,35 miliar, dan
Rp144,34 miliar.

Arus Kas Aktivitas Investasi
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2023 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan dalam aktivitas investasi masing-masing sebesar Rp387 juta, Rp1,60 miliar, dan Rp1,14
miliar. Pada periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2024 dan 2025, Perseroan mencatat arus
kas yang dihasilkan masing-masing sebesar Rp17,12 miliar dan Rp4,00 miliar.

Arus Kas Aktivitas Pendanaan
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp131,59 miliar, Rp5,36 miliar, Rp10,58 miliar, Rp 14,39
miliar, dan Rp3,86 miliar.

2.5.4. Rasio Keuangan Historis
Likuiditas
Rasio likuiditas dihitung berdasarkan perbandingan antara aset lancar dibandingkan dengan liabilitas
lancar, yang mencerminkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Rasio
lancar Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,44
kali, 0,34 kali, 0,63 kali, 0,53 kali, dan 0,42 kali. Rasio kas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,01 kali, 0,04 kali, 0,05 kali, 0,08 kali, dan 0,03 kali. Rasio
cepat Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,37
kali, 0,29 kali, 0,54 kali, 0,45 kali, dan 0,35 kali.

Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan Perseroan untuk
mendapatkan laba dari pendapatan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Rata-rata
marjin laba (rugi) kotor Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah
sebesar 22,4%, 14,75%, -0,59%, 18,75%, dan 17,49%. Sementara itu, rata-rata marjin laba (rugi) bersih
yang berhasil dicapai Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah sebesar
-140,82%, 32,77%, 0,42%, -50,85%, -34,24%.

Aktivitas
Berdasarkan analisis atas rasio aktivitas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-
2025 rata-rata hari perputaran piutang usaha di 354 hari, 145 hari, 144 hari, 77 hari, 89 hari, perputaran
utang usaha di 200 hari, 71 hari, 60 hari, 46 hari, 40 hari, dan hari perputaran persediaan di 1.018 hari,
672 hari, 306 hari, 260 hari, dan 244 hari.

Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan Perseroan dalam membayar
seluruh utangnya baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Perseroan memiliki rata-rata
debt to asset ratio periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 di 86,06% dan rata-rata debt
to equity ratio sebesar -253,60%.




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |19
Page 35
                                    Tabel 9. Analisis Rasio Keuangan Historis
                              Audited       Audited        Audited       Audited       Audited          Average
                              FY2021        FY2022         FY2023        FY2024        FY2025           Historis
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                        0,44          0,34          0,63          0,53              0,42         0,47
Quick ratio                          0,37          0,29          0,54          0,45              0,35         0,40
Cash ratio                           0,01          0,04          0,05          0,08              0,03         0,04

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin               22,24%        14,75%         -0,59%        18,75%        17,49%          14,53%
Net profit margin               -140,82%        32,77%          0,42%       -50,58%       -34,24%         -38,49%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover               1             2              3             5                4             3
Inventory turnover                     2             5              6             8                9             6
Acc. Payable turnover                  0             1              1             1                1             1
Days of Acc. Receivable              354           145            144            77               89           162
Days of Inventory                    200            71             60            46               40            83
Days of Acc. Payable                1018           672            306           260              244           500

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity                  -211,61%      -192,65%      -471,94%       -212,84%      -178,96%        -253,60%
Debt to Assets                    85,43%        67,94%        70,11%         91,63%       115,21%          86,06%
                           Sumber: laporan keuangan audit 31 Desember tahun 2020-2025 (diolah)




                                                                Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |20
Page 36
3.      ASPEK PASAR
3.1.     Analisa Makro Ekonomi dan Pasar
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir Desember ditutup di level 8.646,94.
Berdasarkan data RTI Business, pergerakan saham menunjukkan 346 saham mengalami penguatan, 317
saham melemah, dan 146 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar
39,54 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,60 juta kali dan nilai transaksi mencapai Rp
20,61 triliun. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tercatat sebanyak tujuh sektor mengalami penguatan,
dengan kinerja terbaik ditunjukkan oleh sektor infrastruktur yang meningkat sebesar 2,30%. Penguatan
tersebut diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang naik 2,12% serta sektor industri yang
mencatatkan kenaikan sebesar 0,71%. Sementara itu, empat sektor lainnya mengalami pelemahan,
dengan sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,81%. Pelemahan juga terjadi
pada sektor barang baku dan sektor teknologi yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,84% dan 0,47%.

Sepanjang tahun 2025 hingga 29 Desember 2025, IHSG mencatatkan kinerja positif dengan
pertumbuhan sebesar 22,10% secara year-to-date dan ditutup di level 8.644,26, serta beberapa kali
mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Sejalan dengan penguatan indeks tersebut,
kapitalisasi pasar juga tercatat telah melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap pengembangan
pasar modal. Berikut pergerakan IHSG akhir bulan Desember tahun 2020-2025:

                         Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025

                                                 IHSG
         9.000,00
                                                                                        8.646,94
         8.700,00
         8.400,00
         8.100,00
         7.800,00
         7.500,00                                               7.323,59
         7.200,00
         6.900,00
                                                    6.850,62               7.079,90
         6.600,00
         6.300,00                    6.581,48
         6.000,00
         5.700,00      5.979,07
         5.400,00
                       2020        2021         2022            2023         2024         2025

                                                  Close Price

                                          Sumber: Yahoo Finance


3.1.2. Nilai Tukar Rupiah
Kurs tengah Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 31 Desember 2025 berada pada level
Rp16.782,00. Berikut pergerakan nilai tukar kurs tengah Rupiah dari Desember 2020-2025:




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |21
Page 37
             Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025

                                            Kurs Tengah BI
        17.000,00
        16.500,00                                                             16.162,00      16.782,00
        16.000,00                                  15.731,00
        15.500,00
        15.000,00                                                15.439,00

        14.500,00      14.105,00
        14.000,00                      14.269,00
        13.500,00
        13.000,00
        12.500,00
                        2020         2021          2022           2023          2024           2025

                                            Kurs Tengah BI/ BI Middle Rate

                                            Sumber: Bank Indonesia


3.1.3. Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 16–17 Desember 2025
memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar
3,75%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya Bank
Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global,
sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang
telah diterapkan guna menopang stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengevaluasi peluang penurunan lanjutan suku bunga BI-Rate
dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi tahun 2026 yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%,
serta kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pelonggaran kebijakan
makroprudensial juga diperkuat melalui peningkatan efektivitas penyaluran likuiditas kepada perbankan
guna mempercepat penurunan suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan ke
sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas Pemerintah. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran
tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan penggunaan
pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan
infrastruktur sistem pembayaran.

Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan. Sinergi kebijakan antara Bank
Indonesia dan Pemerintah juga semakin ditingkatkan guna menjaga stabilitas serta mendorong
pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan agenda Asta Cita Pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,2%, didorong oleh
penguatan ekonomi Jepang dan India yang didukung oleh konsumsi rumah tangga serta kebijakan
stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa dipandang tetap solid seiring dukungan konsumsi,
investasi, dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif baik. Di sisi lain, perekonomian Amerika Serikat (AS)



                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |22
Page 38
pada 2025 diperkirakan mengalami perlambatan akibat dampak sementara penghentian operasional
pemerintah serta melemahnya pasar tenaga kerja, sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga
diprakirakan terus melambat seiring masih lemahnya permintaan domestik.

Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan menurun menjadi sekitar 3,0%,
dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya
kerentanan rantai pasok global. Di pasar keuangan global, suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed
Funds Rate) diturunkan sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, dengan ruang penurunan yang
semakin terbatas ke depan. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun cenderung meningkat, sementara yield
tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi sejalan dengan tingginya beban utang Pemerintah AS.
Kondisi tersebut menyebabkan indeks dolar AS (DXY) bertahan tinggi dan membatasi aliran modal asing
ke negara berkembang.

Ke depan, tingkat ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi di tengah prospek
pertumbuhan ekonomi dunia yang masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan serta
penguatan respons kebijakan guna meningkatkan ketahanan ekonomi domestik terhadap dampak
pengaruh global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

3.1.4. Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Desember 2025 berada pada angka 2,92%. Berdasarkan
Grafik 3, tingkat inflasi cenderung mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020 hingga ke 2022,
tetapi pada tahun 2023 mengalami penurunan yang disebabkan penurunan pada komponen inti
penyumbang inflasi. Pada tahun 2024, inflasi kembali turun dibandingkan dengan tahun 2023 karena
melandainya harga pokok pangan. Inflasi pada 31 Desember 2025 meningkat 2,92% akibat kenaikan
harga pangan serta kenaikan harga emas, BBM, dan tarif transportasi udara. Berikut merupakan Grafik
inflasi bulan Desember tahun 2020-2025:

                              Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020-2025

                                                  Inflasi
           6,00%                                 5,51%

           5,00%


           4,00%


           3,00%                                                                              2,92%
                                                                     2,61%

           2,00%
                                       1,87%
                     1,68%                                                    1,57%
           1,00%


           0,00%
                     Des-20        Des-21       Des-22       Des-23          Des-24     Des-25

                                            Sumber: Bank Indonesia




                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |23
Page 39
3.2.     Tinjauan Industri Manufaktur Konstruksi
Industri konstruksi memiliki peranan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Data Badan Pusat
Statistik mencatat bahwa pada tahun 2024, sektor konstruksi menyumbang 10,43% dan pada pada
Triwulan III-2025 sebesar 9,82% yang menempatkan sektor konstruksi sebagai kontributor ke-4 terbesar
Produk Domestik Bruto di Indonesia. Sampai pada tahun 2029, diperkirakan kebutuhan investasi
infrastruktur Indonesia mencapai Rp10.218 triliun.

Industri konstruksi dipengaruhi oleh sejumlah infrastruktur prioritas. Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
telah mengungkapkan sejumlah proyek infrastruktur prioritas yang akan dikerjakan oleh pemerintah pada
tahun 2026. Beberapa proyek infrastruktur tersebut diantaranya adalah pembangunan irigasi untuk
ketahanan pangan, rehabilitasi sekolah, pembangunan jalan untuk konektivitas, serta pengembangan
zona untuk ketahanan pangan, energi, dan air. Pada tahun 2026 direncanakan akan dilakukan
pembangunan 12.000 lokasi irigasi, 600 proyek sosial-ekonomi, 700 proyek air minum, 80 fasilitas
pengelolaan limban, dan lain-lain. Pemerintah akan mengedepankan skema Kerjasama Pemerintah dan
Badan Usaha (KPBU) untuk dapat mencapai target tersebut. Skema KPBU dapat dilakukan untuk
mendanai proyek pembangunan bendungan, jalan tol, dan fasilitas pengelolaan sampah.

Pagu anggaran Kementerian PU TA 2026 sebesar Rp118,5 triliun akan dialokasikan kepada unit
organisasi Sekretariat Jenderal sebesar Rp576,85 miliar, Inspektorat Jenderal sebesar Rp107,81 miliar,
Ditjen Sumber Daya Air sebesar Rp34,73 triliun, Ditjen Bina Marga sebesar Rp45,61 triliun, Ditjen Cipta
Karya sebesar Rp12,03 triliun, Ditjen Prasarana Strategis Rp24,10 triliun. Lalu untuk unit Ditjen Bina
Konstruksi sebesar Rp599,03 miliar, Ditjen Pembiayaan Infrastruktur sebesar Rp147,13 miliar, Badan
Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) sebesar Rp172,93 miliar, dan Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia (BPSDM) sebesar Rp403,93 miliar. Beberapa program kerja prioritas yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian PU pada tahun 2026 diantaranya pembangunan 15.851 Ha jaringan
irigasi, rehabilitasi 197.430 Ha jaringan irigasi, dan penyediaan 500 liter/detik air baku. Selanjutnya,
Kementerian PU akan mendukung pembangunan 191 km jalan baru, pembangunan 28,19 km jalan tol,
preservasi rutin 46.451 km jalan dan 531.969 m jembatan, pembangunan dan preservasi 36,65 km jalan
daerah, serta pembangunan dan peningkatan SPAM 918 liter/detik. Di samping itu, anggaran tersebut
juga akan digunakan untuk pengembangan fasilitas pengelolaan air limbah 115.750 Kartu Keluarga,
pengembangan kawasan strategis 150 Ha, PHTC 1.000 Madrasah, pembangunan 200 unit Sekolah
Rakyat, dan lain sebagainya.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |24
Page 40
Secara garis besar, proyek infrastruktur prioritas di tahun 2026 adalah sebagai berikut:

                              Tabel 10. Proyek Infrastruktur Prioritas di tahun 2026
       Bidang Sumber Daya Air                       Bidang Bina Marga                        Bidang Cipta Karya
1. Pembangunan jaringan irigasi          1. Pembangunan jalan baru (191          1. Pembangunan dan peningkatan
(15.851 Ha).                             kilometer).                             Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
                                                                                 (918 liter per detik).
2. Sumur rehabilitasi jaringan irigasi   2. Peningkatan kapasitas dan preservasi 2. Perluasan SPAM (49.640 sambungan
(197.430 Ha).                            peningkatan (1.392 kilometer).          rumah).

3. Pengendali banjir (82 kilometer).     3. Pembangunan dan duplikasi jembatan 3. IBM Pamsimas (470 lokasi).
                                         (1.734 meter).
4. Pengamanan pantai (8 kilometer).      4. Preservasi jembatan (31.434 meter). 4. Pengelolaan air limbah (115.750 KK).
5. Penyediaan air baku (500 liter per    5. Penggantian jembatan (964 meter).   5. Pengelolaan persampahan (498 ton
detik).                                                                         per hari).
6. Sumur irigasi air tanah dan embung    6. Jembatan gantung (105 unit).        6. IBM Sanimas (1.000 lokasi).
(800 titik).
7. Program Percepatan Tata Guna Air     7. Pembangunan flyover atau underpass      7. IBM TPS 3R (80 lokasi).
Irigasi melalui Perkumpulan Pemakai Air (363 meter).
IBM P3-TGAI (12.000 lokasi).
8. Pembangunan Bendungan (sedang 8. Pembangunan jalan tol menggunakan              8. Pengembangan kawasan strategis
berlangsung 15 bendungan).              APBN (28,19 kilometer).                    (150 Ha).
9. OP Infrastruktur SDA.                9. Preservasi rutin jalan (46.541          9. IBM Pisew (600 lokasi).
                                        kilometer).
10. Tanggap darurat bencana dan         10. Preservasi rutin jembatan (531.969     10. Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
bahan banjiran.                         meter).                                    (PKE) (11 lokasi).
                                        11. Pembangunan dan preservasi jalan       11. Bangunan gedung (39.789 meter
                                        daerah (36,65 kilometer).                  persegi).
                                        12. Pembangunan dan preservasi             12. Tanggap darurat bencana.
                                        jembatan daerah (295,68 meter).
                                        13. Tanggap darurat bencana.               13. Program pembangunan perumahan
                                                                                   rakyat (±3 juta unit rumah)
                   Sumber: Badan Pusat Statistik, Asosiasi Kontraktor Indonesia, dan media online lainnya


3.2.1. Perkembangan Kontruksi di Indonesia
PDB ADHK Indonesia tahun 2021 – 2024 terus meningkat, pada tahun 2021 sebesar Rp1.102.518 miliar
dan pada tahun 2024 mencapai Rp1.262.793 miliar dengan kenaikan rata-rata 4,66%. Berikut grafik PDB
ADHK Indonesia:




                                                                  Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |25
Page 41
                                            Grafik 4. PDB ADHK Indonesia di Sektor Konstruksi

                            1.400.000                                                                                                                  9%
                                                                                                                                                       8%
                            1.200.000
                                                                                                                                                       7%
                            1.000.000                                                                                                                  6%




                                                                                                                                                               Pertumbuhan (%)
            Miliar Rupiah




                                                                                                                                                       5%
                             800.000
                                                                                                                                                       4%
                             600.000
                                                                                                                                                       3%

                             400.000                                                                                                                   2%
                                                                                                                                                       1%
                             200.000
                                                                                                                                                       0%
                                    -                                                                                                                  -1%
                                                   2021             2022                            2023          2024              TW2 2025

                                                             PDB Sektor Konstruksi                            Pertumbuhan

                                                                  Sumber: Badan Pusat Statistik


Perusahaan kontruksi di Indonesia dari tahun 2021-2025 mengalami fluktuasi pertumbuhan. Pada tahun
2022-2024 pertumbuhan perusahaan kontruksi mengalamin penurunan dengan rata-rata 2,84%. Pada
tahun 2025 perusahaan kontruksi mengalami peningkatan sebesar 6,69% karena pasar konstruksi
diprediksi mencapai pertumbuhan positif yang didukung oleh sentimen positif pada pembangunan fisik
dan transformasi teknologi.

                                            Grafik 5. Jumlah Perusahaan Kontruksi di Indonesia

  205.000                                                                   8%
                                                                                                                                                                                 0,20%
  200.000                                                                   6%                                                                                                   0,05%
                                                                                                                                                                                 0,27%
  195.000                                                                   4%
                                                                                  Pertumbuhan (%)




                                                                                                                       77,25%
  190.000                                                                   2%

                                                                                                                                                       22,24%
  185.000                                                                   0%


  180.000                                                                   -2%


  175.000                                                                   -4%
                   2021           2022        2023         2024      2025


                               Jumlah Perusahaan            Pertumbuhan                                      PT   CV     Koperasi    Kantor Perwakilan BUJKA           Lainnya


                                                          Sumber: Badan Pusat Statistik dan Databooks


Pada Grafik di atas dijelaskan bahwa pada tahun 2021-2025 terdapat perusahaan kontruksi sebanyak
203 ribu, 197 ribu. 190 ribu, 186 ribu dan 199 ribu. Perusahaan kontruksi terbagi dalam beberapa jenis
yaitu PT, CV, Koperasi, Kantor Perwakilan BUJKA dan lainnya. CV menjadi jenis perusahaan terbesar
dengan 77,25% kemudian PT dengan 22,24% dan lainya sebesar 0,51%.




                                                                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |26
Page 42
3.2.1. Sertifikasi Badan Usaha (SBU)
Sertifikat Badan Usaha (SBU) adalah dokumen legalitas resmi yang membuktikan kemampuan dan
kualifikasi suatu badan usaha di sektor konstruksi. Di tahun 2026, SBU tetap menjadi syarat wajib bagi
perusahaan untuk mengikuti tender proyek pemerintah, BUMN, maupun swasta. Sertifikat Badan Usaha
(SBU) di Indonesia dari tahun 2023-2025 terus meningkat. Berikut grafik pertumbuhan SBU:

                                       Grafik 6. Sertifikat Badan Usaha (SBU)

        400.000
                                                                                                    340.969
        350.000
        300.000                                                   268.984

        250.000
        200.000
        150.000                  107.989
        100.000
          50.000
               -
                                  2023                              2024                             2025
                       Pekerjaan Konstruksi                                      Jasa Konsultasi Konstruksi
                       Pekerjaan Konstruksi Terintegrasi                         Total

                                               Sumber: Badan Pusat Statistik


Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi adalah bukti formal kompetensi dan kemampuan profesi
tenaga kerja konstruksi yang diterbitkan melalui uji kompetensi oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
dan dicatat oleh LPJK.

      Grafik 7. Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi Berdasarkan Kualifikasi & Jenjang

     120.000

     100.000

      80.000

      60.000

      40.000

      20.000

          0
                   Grade 1   Grade 2     Grade 3   Grade 1      Grade 2     Grade 3      Grade 1   Grade 2     Grade 3
                       Kualifikasi Operator                Kualifikasi Teknisi                  Kualifikasi Ahli

                                           2022     2023       2024       TW2 2025

                                               Sumber: Badan Pusat Statistik




                                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |27
Page 43
Grafik di atas menjelaskan kualifikasi dan jenjang tenaga kerja konstruksi.
• Kualifikasi Operator (Jenjang 1-3): Tenaga kerja terampil yang fokus pada pekerjaan teknis operasional
   di lapangan. Dari grafik diatas jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Operator mengalami penurunan
   signifikan antara tahun 2022 dan 2023 di semua Grade;
• Kualifikasi Teknisi atau Analis (Jenjang 4-6): Tenaga kerja dengan kemampuan analisis dan supervisi
   tingkat menengah; Kualifikasi Ahli (Jenjang 7-9): Tenaga kerja profesional dengan keahlian manajerial
   dan perancangan tingkat tinggi (Ahli Muda, Madya, Utama). Dari grafik diatas terjadi peningkatan
   jumlah sertifikasi untuk kualifikasi Teknisi dan Ahli dari tahun 2023 ke 2024.

3.2.2. Tinjauan Industri Sewa Peralatan Konstruksi
Peningkatan berkelanjutan dalam industri infrastruktur dan bersamaan dengan beragam peralatan
konstruksi canggih yang dapat disewakan, diperkirakan akan mendorong permintaan layanan
penyewaan peralatan konstruksi di seluruh dunia. Perusahaan di pasar penyewaan peralatan konstruksi
semakin terampil dalam mengidentifikasi konsumen sesuai dengan kebutuhan mereka untuk
mempromosikan peralatan konstruksi ke berbagai sektor terutama sektor real estat di area perumahan
dan komersial. Selain itu, kebijakan konstruksi yang ketat, harga peralatan konstruksi yang mahal, dan
kendala keuangan perusahaan merupakan beberapa motif penting yang mendorong pertumbuhan pasar
penyewaan peralatan konstruksi secara global. Di sisi lain, harga bahan bakar yang tidak stabil dan biaya
pengiriman dan pengambilan mesin, khususnya jika kontraktor bekerja di daerah yang sulit dijangkau
dapat menghambat permintaan di pasar peralatan konstruksi selama beberapa tahun mendatang.

                              Grafik 8. Pangsa Pasar Global Penyewaan Peralatan Konstruksi

                        200                                                                           5%
                        180
                                                                                                      5%
                        160
                        140                                                                           5%
                                                                                                           Pertumbuhan (%)
           Miliar USD




                        120                                                                           4%
                        100
                        80                                                                            4%

                        60                                                                            4%
                        40
                                                                                                      4%
                        20
                         -                                                                            4%
                                2025 2026P 2027P 2028P 2029P 2030P 2031P 2032P 2033P 2034P 2035P

                                                 Pangsa Pasar        Pertumbuhan

                                                 Sumber: Precedence Research


Pangsa pasar penyewaan peralatan konstruksi global mencapai USD113,61 miliar pada tahun 2025 dan
diprediksi akan meningkat dari USD118,38 miliar pada tahun 2026 menjadi sekitar USD175,21 miliar
pada tahun 2035 dengan pertumbuhan rata-rata (CAGR) sekitar 4,43% dari tahun 2026 hingga 2035.
Pangsa pasar penyewaan peralatan konstruksi mengalami pertumbuhan yang kuat yang didorong oleh
meningkatnya pembangunan infrastruktur, akses penghematan biaya untuk mesin-mesin canggih, dan
meningkatnya preferensi penggunaan peralatan konstruksi jangka pendek yang fleksibel. Pangsa pasar
ini diprediksi akan berkembang di seluruh dunia seiring perkembangan infrastruktur yang pesat,



                                                                   Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |28
Page 44
peningkatan urbanisasi, dan pergeseran ke arah penyewaan daripada pembelian alat berat.
Meningkatnya aktivitas konstruksi di negara-negara berkembang semakin memperkuat penetrasi pasar
internasional.

     Grafik 9. Pangsa Pasar Penyewaan Peralatan Konstruksi Berdasarkan Produk Tahun 2024
                 Concrete & Road
                                                                            Material Handling
                  Construction
                                                                               Machinery
                   Machinery
                                                                                  27%
                      17%




                Earth Moving
             Machinery Concrete
                    56%

                                     Sumber: Precedence Research


Pasar penyewaan peralatan konstruksi global dapat diklasifikasikan berdasarkan produk menjadi
material handling machinery, earth moving machinery concrete, dan concrete & road construction
machinery. Dari berbagai produk yang berkontribusi pada pertumbuhan pangsa pasar penyewaan
peralatan konstruksi, earth moving machinery concrete mendominasi pasar. Meskipun demikian,
segmen concrete & road construction machinery juga diproyeksikan menunjukkan tingkat pertumbuhan
tertinggi selama tahun 2024. Earth moving machinery concrete, termasuk ekskavator, mengalami
permintaan yang besar di seluruh dunia karena banyak digunakan di industri pertambangan, pertanian,
dan konstruksi. Peralatan lain dalam kategori tersebut termasuk ekskavator mini, backhoe loader,
crawler excavator, dan skid-steer loader juga memiliki potensi pasar yang baik. Peralatan tersebut
memberikan kemampuan beban dan daya mesin yang tinggi yang memungkinkan mereka beroperasi
secara baik dalam kondisi yang sulit.

Pangsa pasar Eropa diperkirakan akan berkembang pesat seiring kehadiran perusahaan penyewaan
peralatan konstruksi yang kuat, meningkatnya aktivitas konstruksi, pertumbuhan ekonomi, dan
melonjaknya investasi pemerintah dalam pengembangan infrastruktur publik dan smart city. Pangsa
ppasar di Amerika Latin menggambarkan adanya peluang yang karena ke depan diprediksi akan ada
peningkatan pembangunan infrastruktur, urbanisasi, dan ekspansi industri. Meningkatnya permintaan
akan penyewaan mesin konstruksi yang hemat biaya, adanya keterbatasan kapasitas investasi oleh
kontraktor, dan semakin banyaknya penyedia jasa penyewaan mendorong pertumbuhan pangsa pasar di
wilayah tersebut.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |29
Page 45
       Grafik 10. Pangsa Pasar Penyewaan Peralatan Konstruksi Berdasarkan Wilayah Tahun 2025
                                                 MEA
                                                 6%                         North America
                   Latin America                                                 32%
                         9%




                 Asia Pasific
                    24%
                                                                                    Europe
                                                                                     29%


                                          Sumber: Precedence Research


Pangsa pasar penyewaan peralatan konstruksi di Timur Tengah & Afrika didorong oleh urbanisasi yang
pesat, terutama proyek infrastruktur berskala besar dan ekspansi industri. Peningkatan investasi di
bidang energi, transportasi, dan konstruksi komersial, dikombinasikan dengan preferensi kontraktor
terhadap solusi penyewaan yang hemat biaya, mendorong pertumbuhan pasar pangsa di wilayah
tersebut. Di sisi lain, kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh dengan laju yang signifikan seiring
meningkatnya aktivitas konstruksi di sektor komersial, industri, dan perumahan, tren peningkatan
otomatisasi di industri konstruksi, dan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk kegiatan konstruksi.

Selain itu, inisiatif strategis yang diadopsi oleh para pemain pasar utama seperti kemitraan atau
kolaborasi, diperkirakan akan mendorong peningkatan pangsa pasar penyewaan peralatan konstruksi di
wilayah tersebut.

3.3. Potensi dan Sasaran Pasar
Pertumbuhan nilai pasar konstruksi dan pembangunan nasional dari tahun ke tahun menciptakan
kebutuhan yang berkelanjutan terhadap jasa pendukung konstruksi, salah satunya jasa penyewaan
kendaraan dan perlengkapan, termasuk peralatan ekspedisi seperti truk trailer. Aktivitas pembangunan
infrastruktur, industri, dan energi membutuhkan dukungan logistik yang andal untuk mobilisasi alat berat
dan material proyek, sehingga permintaan terhadap jasa sewa kendaraan diperkirakan tetap terjaga.

Perseroan memiliki 548 unit aset peralatan, termasuk 10 unit truk trailer, yang sebagian masih berada
dalam kondisi idle atau belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut membuka peluang bagi
Perseroan untuk meningkatkan utilitas aset, menekan beban biaya tetap seperti penyusutan, serta
memperoleh sumber pendapatan tambahan melalui kegiatan sewa kendaraan. Realisasi bisnis sewa
kendaraan yang telah berjalan pada tahun 2024 dan 2025, dengan keterlibatan pihak internal dan
eksternal serta capaian pendapatan dan margin yang positif, menunjukkan adanya permintaan pasar
yang nyata dan berulang.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |30
Page 46
Sasaran pasar Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI difokuskan pada pengguna jasa sewa truk
trailer yang membutuhkan dukungan logistik dan peralatan konstruksi yang meliputi:
1. Perusahaan konstruksi dan infrastruktur, baik BUMN maupun swasta, yang memerlukan truk trailer
    dan peralatan pendukung untuk kegiatan proyek;
2. Perusahaan manufaktur beton, precast, dan readymix, termasuk entitas dalam Waskita Group,
    sebagai pasar existing yang telah teruji;
3. Kontraktor sektor energi, industri, dan proyek khusus, yang membutuhkan jasa sewa truk trailer dalam
    jangka waktu tertentu tanpa investasi aset baru;
4. Pihak eksternal non-afiliasi, sebagai bagian dari strategi diversifikasi pelanggan dan optimalisasi
    pemanfaatan aset.

Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan diharapkan dapat melaksanakan kegiatan sewa truk
trailer secara legal, terstruktur, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas jangkauan pasar dan
meningkatkan kontribusi pendapatan non-proyek utama secara prudent.

3.4. Pesaing Usaha
Perseroan dari sisi bidang konstruksi akan secara langsung bersaing dengan beberapa perusahaan
sejenis, yaitu:

1. PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK)
PT Guna Timur Raya Tbk adalah emiten yang bergerak di bidang jasa pengangkutan darat dan jasa
pengurusan transportasi (freight forwarding) dengan armada truk yang melayani pengiriman barang di
wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya. Perusahaan ini telah beroperasi sejak 1980 dan memiliki anak usaha
di bidang pergudangan, jasa pelabuhan kepabeanan, impor-ekspor, pemeliharaan, dan jasa kontainer
melalui PT Guna Artha Logistik. Fokus usaha TRUK mencakup penyediaan layanan truk untuk
pengangkutan barang dan logistik darat dengan basis pelanggan di sektor industri dan perdagangan.

2. PT Weha Transportasi Indonesia Tbk (WEHA)
PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk, dikenal sebagai White Horse Group, adalah perusahaan
transportasi darat publik yang menyediakan layanan angkutan penumpang, jasa angkutan umum,
penyewaan kendaraan tertentu, dan layanan pariwisata. WEHA beroperasi dengan armada bus dan
kendaraan lain untuk angkutan darat.

3. PT Transkon Jaya Tbk (TRJA)
PT Transkon Jaya Tbk merupakan entitas yang bergerak di sektor transportasi dan penyewaan kendaraan,
termasuk kendaraan 4x4, 4x2, serta berbagai jenis kendaraan untuk industri seperti pertambangan,
minyak dan gas, dan konstruksi. Perusahaan ini juga menyediakan layanan armada dan dukungan logistik
di berbagai wilayah di Indonesia, mencakup unit yang disewakan untuk kebutuhan korporasi.

3.5. Strategi Pemasaran
Pada tahun 2025, Perseroan memperkuat strategi pemasaran yang komprehensif untuk meningkatkan
pangsa pasar di industri manufaktur dan konstruksi nasional. Adapun nilai-nilai yang mendasari strategi
pemasaran Perseroan sebagai berikut:




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |31
Page 47
1. Key Account Management
   Perseroan memperkuat market intelligence untuk memperluas info pasar dengan melakukan
   pembentukan Key Account berdasarkan Segmentasi Owner, yaitu dari Key Account Pemerintah &
   BUMN/BUMD, Key Account Swasta, dan Key Account Konsultan;
2. Menjaga Kualitas & Konsistensi Produk serta Meningkatkan Kehandalan Delivery
   Meningkatkan Kehandalan Delivery Perseroan menggunakan sistem untuk mempertahankan
   konsistensi kualitas produk termasuk penerapan sistem monitoring kualitas yang terpercaya dan
   responsif, serta mengembangkan sistem monitoring dan troubleshooting kehandalan delivery yang
   dapat mendeteks dan mempercepat issue yang masih terjadi di lapangan;
3. Penggunaan Jaringan Korporasi untuk Kembangkan Kapabilitas Market di High-Rise dan Commercial
   Perseroan menggunakan jaringan korporasi sebagai kunci utama berkompetisi melawan berbagai
   jenis kompetitor. Jaringan korporasi membantu pengembangan kapabilitas pasar;
4. Price Competitiveness
   Perseroan melakukan inovasi dalam cost management, sehingga harga jual semakin bersaing di
   pasaran. Cost innovation ini mencakup supply, process, dan logistics management. Selain itu
   Perseroan juga melakukan evaluasi atas setiap tender yang dilaksanakan, dalam rangka mengetahui
   kekurangan dan membuat strategi berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan;
5. Market Analysis Capability
   Perseroan meningkatkan kapabilitas dalam melakukan market analysis dan competitive mapping
   sehingga dapat proaktif menyusun strategi pemasaran yang konsisten secara korporat, sekaligus
   dapat adaptif terhadap kondisi nyata pasar termasuk dalam menghadapi adanya kemungkinan
   perubahan arah kebijakan yang dilakukan oleh Presiden terpilih yang baru;
6. Pengembangan Pasar Retail
   Perseroan membangun kapabilitas pasar retail dimulai dari business landscape mapping,
   penyusunan strategi positioning & differentiation dan pengembangan rencana pemasaran yang taktis
   (spesifik di masing-masing area penjualan). Selain itu Perseroan menjalankan peran fokus terhadap
   customer service untuk retail, dimulai dari strategic service blueprint, hingga standard service scripts
   yang disertai pengembangan service mindset untuk seluruh frontliner;
7. Pengembangan Inovasi Digital dalam Menunjang Kegiatan
   Perseroan melakukan inovasi pengembangan aplikasi Customer Relationship Management dalam
   rangka menunjang kegiatan marketing, selain itu Perseroan juga aktif dalam memaksimalkan kanal E-
   Katalog untuk memasarkan produk-produk Perseroan di Kementerian PUPR.

Kebijakan Pemerintah terkait efisiensi anggaran infrastruktur pada Kementerian Pekerjaan Umum serta
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berpotensi menekan laju pertumbuhan industri.
Menyikapi kondisi tersebut, Perseroan akan tetap fokus menjalankan strategi pemasaran yang bersifat
ekspansif guna memperluas pangsa pasar, khususnya pada segmen pelanggan BUMN dan swasta.

Belanja modal dari pelaku BUMN dan swasta di sektor infrastruktur, pariwisata, permukiman, dan energi
diproyeksikan masih menunjukkan tren pertumbuhan. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen untuk
membuka peluang yang lebih luas bagi keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Dalam rangka memastikan tercapainya target-target tersebut, Perseroan telah menyiapkan strategi
utama sebagai berikut:




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |32
Page 48
1. Penguatan Fundamental Keuangan dan Profitabilitas
   Dalam upaya menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan, Perseroan berkomitmen untuk
   memastikan setiap investasi memberikan tingkat imbal hasil yang optimal dengan tetap menjaga
   struktur keuangan yang sehat. Langkah-langkah strategis yang akan ditempuh meliputi:
   a. Optilisasi EBITDA dan arus kas dari aktivitas operasi melalui pengendalian biaya yang lebih ketat
      serta peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha;
   b. Penguatan struktur permodalan dengan menjaga rasio keuangan pada tingkat yang sehat guna
      memastikan keberlanjutan posisi keuangan Perseroan;
   c. Pelaksanaan homologasi melalui pemenuhan kewajiban PKPU sebagai bagian dari strategi
      pengelolaan risiko keuangan;
   d. Perbaikan Cash Conversion Cycle dengan memprioritaskan pemanfaatan sumber pendanaan
      eksternal yang lebih kompetitif;
   e. Pemetaan realisasi skema restrukturisasi utang guna mengantisipasi potensi deviasi realisasi
      pendapatan terhadap asumsi yang telah ditetapkan.

2. Optimalisasi Kontrak Baru dan Peningkatan Pendapatan
   Untuk meningkatkan pendapatan usaha, Perseroan akan menerapkan strategi ekspansi yang
   berorientasi pada pengelolaan risiko. Fokus strategi ini mencakup:
   a. Diversifikasi portofolio kontrak eksternal untuk mengurangi ketergantungan terhadap proyek
       internal serta meningkatkan ketahanan bisnis;
   b. Penguatan penetrasi pasar eksternal pada segmen BUMN, swasta, maupun ritel melalui
       pendekatan pemasaran yang lebih proaktif;
   c. Optimalisasi utilisasi aset, termasuk pabrik dan peralatan produksi, guna mendukung strategi
       pemasaran serta peningkatan kapasitas produksi;
   d. Peningkatan keselarasan antara biaya dan pendapatan (matching cost against revenue) melalui
       identifikasi serta alokasi biaya tetap yang lebih efisien.

3. Efisiensi Operasional dan Optimalisasi Aset
   Perseroan akan terus mendorong pencapaian operational excellence dengan memastikan efisiensi
   biaya serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Upaya yang dilakukan antara lain:
   a. Evaluasi dan optimalisasi fasilitas produksi yang tidak memberikan kontribusi (non-contributing
      plants) agar setiap aset produktif dan memberikan nilai tambah;
   b. Optimalisasi aset idle melalui kerja sama dengan mitra strategis untuk meningkatkan tingkat
      utilisasi dan monetisasi aset;
   c. Peningkatan efisiensi biaya produksi melalui penerapan prinsip lean manufacturing dan lean office;
   d. Implementasi strategic sourcing dengan melakukan konsolidasi vendor guna menekan biaya
      pengadaan dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

4. Penguatan Kapabilitas Human Capital dan Manajemen Risiko
   Sebagai bagian dari penguatan ketahanan bisnis jangka panjang, Perseroan juga akan berfokus pada
   pengembangan sumber daya manusia serta peningkatan kapabilitas manajemen risiko. Strategi ini
   meliputi:
   a. Pengembangan Human Capital yang unggul dengan menitikberatkan pada peningkatan
      kompetensi inti (core competence) melalui program pelatihan bersertifikasi, baik nasional
      maupun internasional;



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |33
Page 49
   b. Penguatan manajemen risiko melalui penyusunan strategi yang selaras dengan risk tolerance, risk
      limit, dan risk appetite Perseroan guna memastikan mitigasi risiko yang lebih efektif.

Penerapan mekanisme mitigasi risiko atas investasi jangka panjang untuk memastikan nilai investasi
tercatat mencerminkan nilai wajarnya serta meminimalkan potensi beban biaya di masa mendatang.

Strategi pemasaran bisnis ekspedisi truk trailer Perseroan disusun dengan mempertimbangkan kinerja
historis industri trucking nasional periode 2019–2024, karakteristik permintaan jasa angkutan proyek,
serta tujuan Perseroan untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset secara berkelanjutan. Pendekatan
pemasaran difokuskan pada segmen yang memberikan stabilitas pendapatan, tingkat utilisasi armada
yang optimal, dan risiko operasional yang terkelola.

Pertama, Perseroan akan memprioritaskan segmen pelanggan B2B dengan skema kontrak jangka
panjang, yaitu kontrak berdurasi antara 1 hingga 5 tahun. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan
utilisasi armada secara konsisten, menciptakan kepastian arus kas, serta meminimalkan risiko idle
asset. Segmentasi ini dinilai lebih sesuai dengan karakter bisnis sewa kendaraan dibandingkan transaksi
jangka pendek yang bersifat fluktuatif.

Kedua, Perseroan akan membangun positioning sebagai penyedia jasa ekspedisi yang andal, patuh
regulasi, dan berorientasi keselamatan, khususnya terkait kepatuhan terhadap ketentuan Over
Dimension Over Loading (ODOL). Alih-alih bersaing pada harga terendah, strategi pemasaran akan
menekankan aspek keselamatan, perlindungan asuransi, kepastian waktu pengiriman, dan kepatuhan
hukum, yang menjadi pertimbangan utama bagi pelanggan korporasi skala besar dan multinasional.

Ketiga, dalam rangka menjaga kualitas margin usaha, Perseroan akan menerapkan spesialisasi segmen
muatan dan tidak memfokuskan layanan pada angkutan general cargo. Segmen yang ditargetkan
meliputi pengangkutan alat berat, project cargo, ISO tank, serta muatan khusus lainnya yang
memerlukan spesifikasi armada dan standar operasional tertentu, sehingga memiliki nilai tambah dan
tingkat persaingan harga yang relatif lebih terkendali.

Keempat, pendekatan pemasaran Perseroan tidak hanya berfokus pada ketersediaan armada,
melainkan pada penjualan kinerja layanan (service performance). Indikator kinerja utama seperti
ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery), tingkat utilisasi armada, serta tingkat kerusakan dan
klaim akan digunakan sebagai alat diferensiasi untuk membangun kepercayaan pelanggan dan
memperkuat daya saing dibandingkan pelaku usaha lain.

Kelima, Perseroan membuka peluang kerja sama subkontrak dengan pelaku usaha logistik berskala
besar, seperti perusahaan third party logistics (3PL), shipping line, maupun kontraktor EPC. Melalui
skema penyediaan armada dedicated atau layanan white-label trucking, Perseroan dapat memasuki
pasar secara bertahap tanpa harus membangun jaringan pemasaran ritel secara luas sejak awal.

Keenam, strategi pemasaran akan lebih menitikberatkan pada pemasaran langsung dan penguatan relasi
industri, antara lain melalui pendekatan direct selling, kunjungan ke lokasi pelanggan, partisipasi dalam
tender tertutup, serta pemanfaatan jaringan asosiasi industri. Pendekatan ini dinilai lebih efektif
dibandingkan pemasaran massal, mengingat karakter bisnis yang bersifat B2B dan berbasis proyek.



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |34
Page 50
Ketujuh, dari sisi penetapan harga, Perseroan akan menerapkan strategi harga berbasis struktur biaya
dan target utilisasi armada. Penawaran tarif akan disusun dengan mempertimbangkan biaya operasional
riil serta target utilisasi minimum armada pada kisaran 75–80%. Dalam implementasinya, fungsi
pemasaran akan diarahkan untuk tetap menjaga disiplin harga dan menghindari kontrak dengan tingkat
tarif yang tidak mencerminkan keberlanjutan usaha.

Secara keseluruhan, strategi pemasaran ini dirancang untuk mendukung Rencana Penambahan KBLI
secara prudent, bertahap, dan selaras dengan tujuan Perseroan dalam meningkatkan pemanfaatan aset,
diversifikasi pendapatan, serta pengelolaan risiko usaha secara terkendali.

3.6. Target Pasar
Target pasar Perseroan dalam pengembangan bisnis ekspedisi truk trailer difokuskan pada segmen
pelanggan korporasi (B2B) yang memiliki kebutuhan angkutan proyek dan logistik secara berkelanjutan,
khususnya perusahaan konstruksi dan infrastruktur, kontraktor EPC, perusahaan industri dan energi,
serta perusahaan logistik atau third party logistics (3PL). Selain itu, Perseroan juga menargetkan entitas
afiliasi dan non-afiliasi yang membutuhkan layanan ekspedisi dengan standar keselamatan, kepatuhan
regulasi, dan kepastian pengiriman, serta berpotensi menjalin kerja sama dalam bentuk kontrak jangka
menengah hingga panjang guna mendukung stabilitas utilisasi armada dan pendapatan.

3.7. Pemasok dan Pelanggan Utama
Dalam rencana penambahan KBLI 77100, Perseroan tidak memiliki pemasok utama yang bersifat
spesifik karena kegiatan usaha yang dijalankan merupakan jasa penyewaan peralatan yang
memanfaatkan aset milik sendiri. Kebutuhan operasional hanya mencakup barang dan jasa pendukung
yang tersedia secara luas di pasar dan dapat dipenuhi dari berbagai pemasok alternatif, sehingga tidak
menimbulkan ketergantungan pada pihak tertentu.

Dari sisi pelanggan utama, Perseroan memiliki pelanggan utama yaitu:
• PT Indosarana Jaya Perkasa;
• PT Ardeco Energy Persada;
• PT Universal Eco Pasific;
• PT Hastari Jaya Sentosa.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |35
Page 51
4.   ASPEK TEKNIS
4.1. Kapasitas Segmen Usaha
Perseroan menyediakan beragam layanan jasa konstruksi yang bersifat komplementer dan terintegrasi,
yang mencakup kegiatan engineering, instalasi, jasa pemancangan, pekerjaan konstruksi, serta jasa
post-tensioning, guna mendukung aktivitas produksi dan pemasaran produk Perseroan. Layanan-
layanan tersebut dirancang untuk memberikan solusi menyeluruh bagi kebutuhan pelanggan. Adapun
ruang lingkup segmen jasa konstruksi Perseroan meliputi:
1. Engineering
   Kegiatan engineering mencakup penyediaan rekomendasi teknis serta penentuan desain dan jenis
   struktur yang optimal dan efisien sesuai dengan kebutuhan proyek. Dalam mendukung akurasi dan
   kecepatan analisis teknis, Perseroan memanfaatkan berbagai teknologi dan perangkat lunak rekayasa
   terkini yang disesuaikan dengan fungsi dan kompleksitas pekerjaan.
2. Instalasi
   Layanan instalasi meliputi pekerjaan pemasangan produk beton, antara lain pada struktur jembatan
   layang dan jembatan sungai. Melalui layanan ini, Perseroan memberikan solusi terintegrasi kepada
   pelanggan, mulai dari penyediaan produk beton hingga pelaksanaan instalasi di lokasi proyek.
3. Jasa Pemancangan
   Jasa pemancangan merupakan kegiatan pekerjaan pondasi dengan menggunakan peralatan pancang
   yang menerapkan metode Inner Bore System dan Pre Bore System. Metode tersebut dipilih untuk
   meningkatkan efisiensi pelaksanaan serta menyesuaikan dengan kondisi tanah dan spesifikasi teknis
   proyek.
4. Konstruksi
   Segmen konstruksi mencakup jasa kontraktor yang melaksanakan berbagai tahapan pekerjaan
   konstruksi, mulai dari pekerjaan awal hingga penyelesaian proyek, sesuai dengan ruang lingkup dan
   persyaratan teknis yang ditetapkan.
5. Jasa Post-Tensioning
   Jasa post-tensioning meliputi kegiatan stressing pada komponen struktur tertentu, seperti balok
   jembatan, bangunan gedung, ground anchor, serta jembatan cable stayed. Layanan ini bertujuan
   untuk meningkatkan kekuatan dan kinerja struktural sesuai dengan desain teknis yang
   dipersyaratkan.

1. Beton Precast
Perseroan senantiasa menjaga konsistensi produk utama dan unggulan Perseroan, yakni beton precast.
Segmen beton precast yang dilayani Perseroan kemudian dibagi menjadi 2 (dua) tipe produk, yaitu
Precast Putar dan Precast Non-Putar.

a. Produk Beton Precast Putar
   Produk Beton Precast Putar yang diproduksi Perseroan adalah Spun Pile mulai dari diameter 300 mm
   hingga diameter 1.200 mm yang merupakan Spun Pile dengan diameter terbesar yang dihasilkan oleh
   produsen beton pracetak dalam negeri. Adapun alur proses produksi Beton Precast Putar (PC Spun
   Pile Concrete), yaitu:
   • Persiapan Cetakan;
   • Proses Cutting & Heading;
   • Proses Wire Caging;




                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |36
Page 52
   • Setting Pembesian (joint plate, end plate, joint rim, dan sepatu pancang);
   • Pembersihan Cetakan & Pemberian Minyak Cetak;
   • Pemasangan Rakitan dan Aksesoris Pada Cetakan Bawah;
   • Mixing Beton di Batching Plant;
   • Proses Pengecoran;
   • Penutupan Cetakan Atas;
   • Proses Stressing;
   • Proses Spinning;
   • Proses Curing Dalam Bak;
   • Demoulding;
   • Labeling & Finishing Produk;
   • Penyimpanan Produk.
b. Produk Beton Precast Non-Putar
   Produk Beton Precast Non-Putar yang diproduksi oleh Perseroan adalah Balok Girder, Voided Slab,
   Square Pile, Full Slab, Half Slab, Deck Slab, Box Girder, U-Ditch, U-Gutter, L-Gutter, Box Culvert, CCSP,
   dan FCSP. Adapun alur produksi Beton Precast Non-Putar (PC-I Girder) adalah sebagai berikut:
   • Proses Pemotongan dan Bending Besi;
   • Perakitan Besi Tulangan;
   • Pembersihan dan Pelumasan Bed Cetakan;
   • Setting Pembesian, Pemasangan Ducting, dan Casting;
   • Pembersihan dan Pelumasan Dinding Cetakan;
   • Pemasangan Dinding Cetakan;
   • Proses Pengecoran dan curing;
   • Proses Pembukaan Dinding Cetakan;
   • Proses Labeling Produk;
   • Proses Demoulding Produk;
   • Finishing;
   • Proses Penyimpanan Produk.

2. Beton Readymix & Quarry
Selain memproduksi beton precast, Perseroan juga mengembangkan produk beton readymix, yaitu beton
segar yang terdiri atas campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar, serta bahan tambahan
(admixture). Beton readymix diproduksi di fasilitas batching plant dan didistribusikan kepada pelanggan
menggunakan truck mixer. Adapun kegiatan quarry merupakan bagian dari rantai pasok Perseroan yang
berfungsi sebagai sumber bahan batuan yang diolah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam
produksi beton precast maupun beton readymix.

Beton readymix pada umumnya digunakan untuk proyek konstruksi berskala menengah hingga besar
karena mampu memberikan tingkat ketepatan komposisi yang lebih konsisten serta efisiensi waktu
pelaksanaan yang lebih tinggi dibandingkan metode pengecoran konvensional. Perseroan menyediakan
beton readymix dalam berbagai mutu, di mana beton dengan mutu non-struktural seperti B-0, K-100, K-
125, K-150, K-175, dan K-200 digunakan untuk pekerjaan saluran air dan lapisan dasar perkerasan jalan.
Sementara itu, beton dengan mutu K-225, K-300, K-350, K-400, K-450, K-500 hingga K-1.000 digunakan




                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |37
Page 53
untuk kebutuhan konstruksi struktural dan produksi beton precast, termasuk balok precast, girder, dan
tiang pancang.

Quarry merupakan lokasi kegiatan penambangan yang menghasilkan material berupa batuan, pasir, dan
kerikil. Material hasil penambangan tersebut selanjutnya diolah menggunakan stone crusher untuk
menghasilkan agregat dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Proses pengolahan
dilakukan melalui tahapan crushing dan screening guna memenuhi standar ukuran butir (Particle Size
Distribution).

Produk agregat yang dihasilkan meliputi batu pecah (split) berukuran 10–30 mm, screening berukuran 5–
10 mm, serta abu batu berukuran 0–5 mm. Agregat tersebut digunakan sebagai bahan baku utama dalam
produksi beton, baik beton segar (readymix) maupun beton pracetak (precast), yang dimanfaatkan untuk
berbagai proyek konstruksi seperti jalan, jembatan, gedung, dan infrastruktur lainnya

3. Kapasitas Sewa Alat
Truk trailer yang akan disewakan mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
Merk              : Hino
Tipe              : FM350
Kapasitas         : 60 Ton
Jumlah Unit       : 10 unit

4.2. Ketersediaan Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan.

4.3. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli
Pelaksanaan kegiatan usaha sewa trailer dalam rangka Rencana Penambahan KBLI memerlukan sumber
daya manusia dengan kompetensi teknis dan operasional yang spesifik. Kebutuhan utama sumber daya
manusia dalam kegiatan ini terdiri dari pengemudi trailer dan mekanik yang masing-masing memiliki
peran kunci dalam menjaga kelancaran dan keselamatan operasional.




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |38
Page 54
                        Gambar 1. Struktur Organisasi Area Peralatan Barat




                                        Sumber: manajemen Perseroan


Dalam area peralatan barat, Perseroan memiliki 20 orang sumber daya manusia yang terdiri dari 1 Kepala
Seksi Keuangan & HCM, 1 Kepala Seksi Pemeliharaan Operasional, 1 Kepala Seksi Pengadaan, 1 Kepala
Seksi Perencanaan Pemeliharaan, 2 Koordinator Mekanik, 1 Manajer Area Peralatan, 6 Mekanik, 1
Operator Crane, 1 Staff Gudang, 1 Staff Keuangan & HCM, 1 Staff Pengadaan, 1 Staff Perencanaan
Pemeliharaan, dan 2 Staff Pemeliharaan Operasional.

                        Gambar 2. Struktur Organisasi Area Peralatan Timur




                                        Sumber: manajemen Perseroan


Dalam area peralatan timur, Perseroan memiliki 23 orang sumber daya manusia yang terdiri dari 1 Driver
Operasional, 4 Driver TM, 1 Kepala Seksi Keuangan & HCM, 1 Kepala Seksi Pemeliharaan Operasional, 1
Kepala Seksi Pengadaan, 1 Kepala Seksi Perencanaan Pemeliharaan, 1 Koordinator Mekanik, 1 Manajer
Area Peralatan Timur, 4 Mekanik, 1 Staff Keuangan & HCM, 2 Staff Pemeliharaan Operasional, 2 Staff
Pengadaan, dan 3 Staff Perencanaan Pemeliharaan.

Operasional sewa truk trailer membutuhkan SDM dengan kompetensi teknis dan operasional yang
spesifik. Komposisi SDM terdiri dari pengemudi trailer dan mekanik. Pengemudi trailer dipersyaratkan



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |39
Page 55
memiliki SIM B2 Umum, pengalaman dalam mengoperasikan kendaraan berat, serta pemahaman
terhadap rute pengangkutan dan penerapan keselamatan kerja. Sementara itu, mekanik bertanggung
jawab atas kegiatan perawatan dan perbaikan trailer guna memastikan kesiapan dan keandalan armada
secara berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia tersebut direncanakan dilakukan
secara bertahap dan disesuaikan dengan skala operasional bisnis sewa trailer, sehingga tetap
memperhatikan efisiensi dan pengendalian risiko operasional.

4.4. Proses Produksi
Berikut adalah alur proses produksi beton precast dan readymix:

                      Gambar 3. Proses Produksi Beton Precast dan Readymix




                                     Sumber: manajemen Perseroan


Proses produksi Beton Precast dan Readymix merupakan rangkaian kegiatan terintegrasi yang
melibatkan fungsi perencanaan, produksi, pengadaan, pengendalian mutu, logistik, hingga fungsi
pendukung. Secara umum, alur proses dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan dan Pengendalian Produksi Plant
    Proses produksi diawali dengan kegiatan perencanaan dan pengendalian produksi plant, yang
    mencakup penyusunan rencana produksi, penjadwalan kapasitas, serta pengalokasian sumber daya
    berdasarkan kebutuhan proyek dan proyeksi permintaan. Tahap ini bertujuan untuk memastikan
    kesesuaian antara kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, dan target pengiriman.
2. Perancangan dan Evaluasi Produksi
    Pada tahap perencanaan dan evaluasi produksi, dilakukan penentuan spesifikasi teknis produk,
    metode produksi, serta evaluasi kelayakan pelaksanaan produksi baik untuk beton precast maupun




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |40
Page 56
    readymix. Evaluasi ini mencakup kesesuaian desain produk, volume produksi, serta kesiapan
    fasilitas dan peralatan produksi.
3. Pengadaan dan Persiapan Bahan Baku
    Kebutuhan bahan baku dipenuhi melalui fungsi pengadaan (purchasing) yang terkoordinasi dengan
    unit produksi. Bahan baku yang diterima dari pemasok maupun dari quarry internal selanjutnya
    disimpan dan dikelola melalui gudang barang masuk, dengan pengendalian persediaan yang
    mengacu pada standar mutu dan rencana produksi.
4. Pengolahan Material Agregat
    Material agregat diproses melalui fasilitas stone crusher untuk menghasilkan ukuran dan gradasi
    batu split yang sesuai dengan spesifikasi teknis beton. Hasil pengolahan agregat ini menjadi input
    utama dalam proses produksi beton readymix dan precast.
5. Produksi Beton Readymix
    Produksi beton readymix dilakukan melalui proses pencampuran bahan baku sesuai dengan mix
    design yang telah ditetapkan. Proses ini dilaksanakan dengan pengendalian mutu yang ketat untuk
    memastikan konsistensi kualitas beton sebelum dilakukan.
6. Produksi Beton Precast
    Produksi beton precast dilakukan melalui tahapan penyiapan cetakan (moulding), pengecoran
    beton, proses curing, hingga pembongkaran cetakan. Selama proses produksi, dilakukan
    pengawasan mutu untuk memastikan produk memenuhi spesifikasi teknis dan standar kualitas yang
    ditetapkan.
7. Pengendalian Mutu
    Pengendalian mutu dilakukan pada seluruh tahapan produksi, termasuk kontrol kualitas bahan
    baku, proses produksi, serta produk jadi. Pengujian dan inspeksi dilakukan untuk memastikan
    kesesuaian terhadap spesifikasi teknis dan standar mutu yang berlaku.
8. Kalibrasi dan Perawatan Peralatan
    Untuk menjamin akurasi dan keandalan proses produksi, Perseroan secara berkala melakukan
    kalibrasi peralatan serta perawatan moulding dan mesin produksi. Kegiatan ini bertujuan untuk
    menjaga kinerja peralatan, mengurangi potensi gangguan operasional, dan mempertahankan
    kualitas produk.
9. Penyimpanan dan Pengelolaan Produk Jadi
    Produk precast yang telah memenuhi standar mutu disimpan pada gudang barang jadi sebelum
    dilakukan pengiriman. Pengelolaan gudang dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan,
    kualitas, dan kesiapan distribusi, guna mendukung ketepatan waktu pengiriman.
10. Distribusi dan Pengiriman
    Tahap akhir proses produksi adalah pengiriman produk ke lokasi proyek atau pelanggan. Kegiatan
    distribusi dilakukan secara terencana dan terkoordinasi untuk memastikan produk diterima sesuai
    jadwal, spesifikasi, dan kondisi mutu yang dipersyaratkan.

Berikut adalah alur prosedur penyewaan alat dengan pembayaran tunai sebelum pemakaian dan dengan
pembayaran tempo:




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |41
Page 57
Gambar 4. Prosedur Penyewaan Alat dengan Pembayaran Tunai Sebelum Pemakaian



                          Sumber: manajemen Perseroan




                                                                Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |42
Page 58
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |43
Page 59
Secara umum, alur proses prosedur penyewaan alat dengan pembayaran tunai sebelum pemakaian
dijelaskan sebagai berikut:
2. Customer melakukan permintaan sewa alat secara langsung dengan menghubungi Business
      Support Manager atau melalui informasi dari pegawai Perseroan;
3. Business Support Officer bersama dengan Equipment Area Manager melakukan evaluasi terhadap
      ketersediaan alat dan survey jalur pengiriman hingga ke lokasi customer atau proyek;
4. Jika hasil evaluasi tidak memungkinkan dan opsi lain tidak bisa dilakukan, maka Business Support
      Manager dapat melakukan penolakan pekerjaan;
5. Jika hasil evaluasi memungkinkan, maka Business Support Manager menyampaikan penawaran
      harga sewa alat yang terupdate (berdasarkan tarif yang disusun PPIC Manager). Selain itu juga
      disampaikan kondisi alat dan persiapannya;
6. Business Support Manager melakukan negosiasi, menyepakati harga, waktu pengiriman dan
      persiapannya. Kemudian dilengkapi dengan Berita Acara Negosiasi;
7. Menerima PO dari customer dan Berita Acara Negosiasi serta Business Support Officer melakukan
      pembuatan kontrak;
8. Business Support Manager mereview kontrak:
      • Jika hasil review sudah OK, maka lanjut ke langkah No. 8;
      • Jika dibutuhkan revisi maka kembali ke langkah No. 6;
9. Contract Administration Manager mereview dokumen kontrak, jika diperlukan dapat melakukan
      konsultasi dengan legal:
      • Jika hasil review sudah OK, maka lanjut ke langkah No. 9;
      • Jika dibutuhkan revisi maka kembali ke langkah No. 6;
10. Melakukan penandatanganan kontrak berdasarkan SK Tanggung Jawab dan Wewenang Proses
      Prakualifikasi Pemasaran dan Penjualan yang terbaru sesuai dengan batasan nilai kontrak yang
      sudah diatur;
11. Business Support Officer menginput kontrak ke ERP;
12. Finance & HCM Site Manager – Equipment Area membuat penagihan berdasarkan Prosedur PWP-
      PKU-01 seduai Kontrak Perjanjian, kemudian review keberlanjtan kontrak dan kondisi aset;
13. Menerima pembayaran dari customer yang dibayarkan ke rekening Perseroan dan Business Support
      Officer melakukan konfirmasi pembayaran ke Treasury & Asset Management Manager;
14. Equipment Area Manager dan Business Support Manager memastikan seluruh kewajiban owner
      sudah ditunaikan sesuai kontrak sebelum dilakukan Moving In;
15. Setelah semua persyaratan terpenuhi, Business Support Officer membuat Dashboard dan
      dilakukan Moving In (IWP-PDP-01-06). Proses Moving In dilakukan paralel sebelum atau sesudah
      pembayaran dilakukan customer, dengan mengacu pada dokumen kontrak/PO;
16. Setelah pembayaran terkonfirmasi dari Treasury & Asset Management Manager, Business Support
      Officer membuat Rental Order pada ERP ke Equipment Area dan di cc. ke Operation Control
      Manager;
17. Equipment Area Manager menerima Rental Order, untuk pengiriman alat ke customer dibuat sesuai
      dengan kesepakatan atas permintaan kirim customer;
18. Operational Maintenance Site Manager-Equipment Area membuat Berita Acara Serah Terima Alat
      (FPWP-DAN-02009B);
19. Equipment Area Manager menerima konfrimasi penerimaan alat dari customer dan membuat Berita
      Acara Alat Siap Operasi (FPWP-DAN-02-09A);




                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |44
Page 60
20. Jika sewa dengan Operator/Foreman, maka Operator/Foreman mencatat jam sewa alat (Time
    Sheet) sebagai dasar penagihan dan untuk bahan evaluasi kinerja sewa alat (Laporan Harian Alat
    FPWP-MIF-02-01) yang diketahui oleh customer. Terdapat pilihan sewa alat beserta
    Operator/Foreman dan sewa alat beserta Operator dan Foreman;
21. Equipment Management & QHSE Manager melakukan pelaporan kondisi alat dan biaya alat yang
    disewakan dan melaporkan ke Operation Control Departement secara berlaka (perbulan). Untuk
    proses pengembalian alat lanjut ke No. 21;
22. Business Support Officer akan melakukan Rental Order Return pada ERP;
23. Business Support Officer bersama Operational Maintenance Site Manager-Equipment Area wajib
    melakukan:
    a. Ceklist fisik aset lengkap;
    b. Ceklist fungsi & masing-masing kelengkapan aset dalam kondisi normal & siap operasi;
    c. Ceklis nomor rangka, nomor mesin sesuai aset tercatat di Perseroan.
    • Jika kondisi alat baik dilakukan proses penarikan unit sesuai langkah No. 23;
    • Jika tidak buat BA Klaim dan target penyelesaian oleh owner sesuai langkah No. 24
24. Customer mengembalikan alat yang disewakan dengan membuat Berita Acara Serah Terima Alat
    (FPWP-DAN-02-09B) kemudian Operational Maintenance Site Manager-Equipment Area akan
    melakukan rental pick up pada ERP;
25. Jika ada claim terkait kondisi alat tersebut, Business Support Manager akan melakukan penagihan
    atas claim tersebut kepada customer dan selanjutnya dilakukan proses penarikan unit sesuai
    langkah No. 23.




                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |45
Page 61
Gambar 5. Prosedur Penyewaan Alat dengan Pembayaran Tempo




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |46
Page 62
Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |47
Page 63
Secara umum, alur proses prosedur penyewaan alat dengan pembayaran tempo dijelaskan sebagai
berikut:
1. Customer melakukan permintaan sewa alat secara langsung dengan menghubungi Business
     Support Manager atau melalui informasi dari pegawai Perseroan;
2. Business Support Manager mengevaluasi bonafiditas customer dengan cara melakukan
     background check apabila pembayaran dilakukan secara hutang atau sesuai kontrak;
3. Business Support Officer bersama dengan Equipment Area Manager melakukan evaluasi terhadap
     ketersediaan alat dan survey jalur pengiriman hingga ke lokasi customer atau proyek. Bila tinjauan
     aman, alat tersedia dan jalur memungkinkan maka lanjut ke penawaran harga. Apabila tidak
     dimungkinkan akses maka mendiskusikan dengan owner apakah memungkinkan opsi lain (owner
     melakukan perbaikan agar akses/jaminan terhadap alat) kalau tidak bisa melakukan penolakan
     pekerjaan;
4. Jika hasil evaluasi tidak memungkinkan dan opsi lain tidak bisa dilakukan, maka Business Support
     Manager dapat melakukan penolakan pekerjaan;
5. Business Support Manager menyampaikan penawaran harga sewa alat yang terupdate
     (berdasarkan tarif yang disusun PPIC Manager). Selain itu juga disampaikan kondisi alat dan
     persiapannya. Untuk periode penyewaan jangka panjang wajib disampaikan atas kenaikan biaya
     operasional. Kemudian pembayaran secara hutang maksimal 30 hari (negotiable);
6. Business Support Manager melakukan negosiasi, menyepakati harga, waktu pengiriman dan
     persiapannya. Kemudian dilengkapi dengan Berita Acara Negosiasi;
7. Menyimpan PO dari customer dan Berita Acara Negosiasi serta Business Support Officer melakukan
     pembuatan kontrak;
8. Business Support Manager mereview kontrak:
     • Jika hasil review sudah OK, maka lanjut ke langkah No. 9;
     • Jika dibutuhkan revisi maka kembali ke langkah No.7;
9. Contract Administration Manager mereview Dokumen Kontrak, jika diperlukan dapat melakukan
     konsultasi dengan Legal. Jika hasil review sudah OK, maka lanjut ke langkah No. 10. Jika dibutuhkan
     revisi maka kembali ke langkah No.7;
10. Melakukan Penandatanganan Kontrak berdasarkan SK Tanggung Jawab dan Wewenang Proses
     Prakualifikasi Pemasaran dan Penjualan yang terbaru sesuai dengan batasan nilai kontrak yang
     sudah diatur;
11. Business Support Officer menginput Kontrak ke ERP.
12. Equipment Area Manager dan Business Support Manager memastikan seluruh kewajiban owner
     sudah ditunaikan sesuai kontrak sebelum dilakukan Moving In;
13. Setelah semua persyaratan terpenuhi, Business Support Officer membuat Dashboard dan
     dilakukan Moving In (IWP-PDP-01-06). Proses Moving In dilakukan paralel sebelum atau sesudah
     pembayaran dilakukan customer, dengan mengacu pada dokumen kontrak/PO;
14. Business Support Officer membuat Rental Order dan ERP ke Equipment Area dan cc. ke Operation
     Control Manager;
15. Equipment Area Manager menerima Rental Order, untuk pengiriman alat ke customer dibuat sesuai
     dengan kesepakatan atas permintaan kirim customer;
16. Operational Mantenance Site Manager - Equipment Area Manager membuat Berita Acara Serah
     Terima Alat (FPWP-DAN-02-09B);
17. Equipment Area Manager menerima konfirmasi peralatan alat dari customer dan membuat Berita
     Acara Alat Siap Operasi (FPWP-DAN-02-09A);



                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |48
Page 64
18. Jika sewa dengan Operator/Foreman, maka Operator/Foreman mencatat jam sewa alat (Time
    Sheet) sebagai dasar penagihan dan untuk bahan evaluasi kinerja sewa aat (Laporan Harian Alat
    FPWP-MIF-02-01) yang diketahui oleh customer. Terdapat pilihan sewa alat bert beserta
    Operator/Foreman dan sewa alat beserta operator dan foreman.
19. Finance & HCM Site Manager – Equipment Area membuat penagihan berdasarkan Prosedur PWP-
    PKU-01 sesuai Kontrak Perjanjian, kemudian review keberlanjutan kontrak dan kondisi aset;
20. Menerima pembayaran dari customer yang dibayarkan ke rekening Perseroan dan Business Support
    Officer melakukan konfirmasi pembayaran ke Treasury & Asset Management Manager;
21. Equipment Management & QHSE Manager melakukan pelaporan kondisi alat dan biaya alat yang
    disewakan dan melaporkan ke Operationn Control Departement secara berkala (perbulan). Untuk
    proses pengembalian alat lanjut ke No. 22;
22. Business Support Officer akan melakukan Rental Order return pada ERP;
23. Sebelum dilakukan pengembalian alat, Business Support Officer bersama Operational Maintenance
    Site Manager-Equipment Area wajib melakukan:
    a. Ceklist fisik aset lengkap;
    b. Ceklist fungsi & masing-masing kelengkapan aset dalam kondisi normal & siap operasi;
    c. Ceklis nomor rangka, nomor mesin sesuai aset tercatat di Perseroan.
    • Jika kondisi alat baik dilakukan proses penarikan unit sesuai langkah No. 24;
    • Jika tidak buat BA Klaim dan target penyelesaian oleh owner sesuai langkah No. 25
24. Customer mengembalikan alat yang disewakan dengan membuat Berita Acara Serah Terima Alat
    (FPWP-DAN-02-09B) kemudian Operational Maintenance Site Manager – Equipment Area akan
    melakukan rental pick up pada ERP;
26. Jika ada claim terkait kondisi alat tersebut, Business Support Manager akan melakukan penagihan
    atas claim tersebut kepada customer dan selanjutnya dilakukan proses penarikan unit sesuai
    langkah No. 23.




                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |49
Page 65
5.    ASPEK POLA BISNIS

5.1. Keunggulan Kompetitif
Kompetisi di bidang manufaktur Beton Precast dan Beton Readymix di Indonesia semakin ketat. Oleh
karena itu, untuk memenangkan persaingan, Perseroan terus menciptakan keunggulan-keunggulan
kompetitif yang bisa menjadi rujukan dan bahan pertimbangan bagi para calon pelanggan. Keunggulan
yang dimiliki Perseroan antara lain:
• Perseroan beroperasi pada sektor usaha yang memiliki prospek pertumbuhan dan memperoleh
    dukungan kebijakan Pemerintah;
• Perseroan memiliki basis pasar yang relatif stabil seiring dengan dukungan dari pertumbuhan
    kegiatan usaha inti dalam grup;
• Perseroan mencatatkan kinerja pendapatan dan laba historis yang menunjukkan tren pertumbuhan,
    serta potensi peningkatan marjin dalam jangka menengah, khususnya dari proyek jalan tol;
• Perseroan didukung oleh jaringan pemasaran yang telah berkembang serta fasilitas produksi yang
    tersebar di berbagai wilayah di Indonesia;
• Perseroan memiliki reputasi dan rekam jejak pelaksanaan proyek yang telah teruji;
• Perseroan menyediakan portofolio produk yang beragam dengan standar mutu yang terjaga serta
    nilai tambah sesuai kebutuhan proyek;
• Perseroan didukung oleh manajemen dan sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dan
    kompetensi di bidang terkait;
• Perseroan melakukan optimalisasi aset tetap, termasuk melalui divestasi aset tidak produktif
    melalui mekanisme lelang KPKNL, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan
    yang baik dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku;
• Perseroan melaksanakan program penghijauan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian
    terhadap lingkungan dan penerapan prinsip ESG;
• Perseroan menerapkan teknologi Building Information Modeling (BIM) tiga dimensi untuk
    mendukung peningkatan efisiensi, akurasi, dan efektivitas dalam proses perencanaan dan produksi;
• Perseroan menempatkan pengelolaan hubungan dengan pelanggan sebagai salah satu prioritas
    melalui pemberian layanan yang optimal dan pengembangan hubungan jangka panjang.

Perseroan telah mendapatkan Sertifikasi ISO berikut:
• ISO 27001:2022 terkait Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) periode 7 Februari 2023-6
    Februari 2026;
• ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) periode 25 September 2023-24
    September 2026;
• ISO 14001:2015 terkait Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) UKAS periode 11 Maret 2024-24
    Januari 2027;
• ISO 45001: 2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) UKAS periode
    13 Maret 2024-18 Januari 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) UKAS periode 14 Maret 2024-8 Maret 2027;
• ISO 9001:2015 terkait Sistem Manajemen Mutu (SMM) KAN periode 15 Maret 2024-8 Maret 2027.

Keunggulan kompetitif Perseroan dalam Rencana Penambahan KBLI ini terletak pada ketersediaan
jumlah unit peralatan yang relatif besar dan telah dimiliki oleh Perseroan, dimana sebagian besar unit



                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |50
Page 66
tersebut memiliki nilai buku yang telah terdepresiasi penuh. Kondisi tersebut memberikan fleksibilitas
biaya yang lebih baik bagi Perseroan, khususnya karena beban penyusutan tidak lagi menjadi komponen
biaya yang signifikan dalam operasional. Dengan struktur biaya yang lebih efisien tersebut, Perseroan
memiliki kemampuan untuk menyesuaikan penawaran harga jasa sewa kendaraan agar tetap kompetitif,
baik setara maupun berada di bawah harga pasar, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan
keberlanjutan usaha.

5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk
Berdasarkan kondisi industri dan profil para pelaku usaha yang telah menjalankan bisnis ekspedisi truk
trailer, secara umum pesaing memiliki kemampuan untuk meniru layanan dasar jasa ekspedisi,
khususnya dalam hal penyediaan armada, pengoperasian kendaraan, dan pelaksanaan pengangkutan
barang. Hal ini tercermin dari kepemilikan armada yang relatif signifikan pada beberapa perusahaan
sejenis, dengan jumlah unit berkisar dari puluhan hingga ribuan kendaraan, sehingga dari sisi kapasitas
fisik armada, hambatan masuk industri tergolong moderat.

Namun demikian, kemampuan pesaing untuk secara langsung meniru model bisnis Perseroan dinilai
tidak sepenuhnya mudah, mengingat keunggulan Perseroan terletak pada kombinasi kepemilikan aset
existing, struktur biaya yang lebih efisien akibat nilai penyusutan aset yang telah berakhir, serta integrasi
dengan kebutuhan proyek konstruksi dan manufaktur beton. Meskipun pesaing dapat menambah
armada melalui investasi baru atau skema pembiayaan, langkah tersebut membutuhkan komitmen
modal yang relatif besar dan berdampak pada struktur biaya, sehingga fleksibilitas penetapan harga tidak
selalu dapat disamakan.

Selain itu, sebagian pesaing memiliki fokus usaha yang lebih luas atau berbeda segmen, seperti logistik
umum, penyewaan kendaraan ringan, angkutan penumpang, atau layanan berbasis platform digital,
sehingga tidak seluruhnya berfokus pada segmen ekspedisi truk trailer untuk kebutuhan proyek
konstruksi. Dengan demikian, meskipun layanan jasa ekspedisi pada prinsipnya dapat ditiru, replikasi
terhadap skala operasional, efisiensi biaya, dan pemanfaatan aset eksisting sebagaimana dimiliki
Perseroan memerlukan waktu dan investasi yang tidak kecil, sehingga menjadi faktor pembeda dalam
persaingan usaha.

Berikut adalah kemampuan pesaing yang sudah melakukan bisnis ekspedisi truk trailer:

                                     Tabel 11. Kemampuan Pesaing
            Perusahaan                 Armada (unit)   Tahun                      Catatan / Sumber
                                                                          Armadanya berjumlah 100 truk
 PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK)         100 truk              2021         pada 31 Desember 2021 (Cari
                                                                          Saham)
                                                                          Terdiri dari 61 trailer, 43 flatbed,
 PT Armada Berjaya Trans Tbk
                                       61 truk trailer       2023         52 CDD Box, 7 Blind vans
 (JAYA)
                                                                          (armadaberjaya.com)
                                                                          57 trailer, 29 losbak, 110 CDD
 PT Armada Berjaya Trans Tbk
                                       57 truk trailer       2024         Box,      29       Blind        vans
 (JAYA)
                                                                          (armadaberjaya.com)




                                                          Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |51
Page 67
            Perusahaan                Armada (unit)       Tahun                Catatan / Sumber
                                                                       Jumlah armada turun setelah
 PT Mitra Rajasa Tbk (Mitra Rajasa)   227 armada          2023         penjualan                    unit
                                                                       (mitrarajasa.com)
                                                                       Total kendaraan light vehicles
                                      ~2.456 unit
 PT Transkon Jaya Tbk (TRJA)                              2021         (rental & operasional) (Bisnis
                                      kendaraan
                                                                       Kalimantan)
                                                                       Laporan         dan       media
                                                                       menyebutkan              armada
 PT WEHA Transportasi Indonesia                          sekitar       kendaraan bus/van muncul di
                                      ~241–324 unit
 Tbk (WEHA)                                            2024–2025       sumber berita (tidak spesifik
                                                                       truk) (PT. Kontan Grahanusa
                                                                       Mediatama)
                                      >135 armada                      Jumlah armada terhubung ke
 TransTRACK (startup digital fleet)   platform            2023         platform digitalnya (TransTRACK
                                      pelanggan                        - Fleet Telematics Solution)
                                      Sumber: manajemen Perseroan


5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai
Berdasarkan alasan dan latar belakang Rencana Penambahan KBLI, Perseroan memiliki kemampuan
untuk menciptakan nilai tambah (added value) melalui optimalisasi pemanfaatan aset peralatan yang
telah dimiliki. Kepemilikan armada truk trailer dengan jumlah yang relatif memadai, dimana sebagian
besar unit telah memiliki nilai penyusutan yang telah berakhir, memungkinkan Perseroan meningkatkan
utilisasi aset tanpa memerlukan investasi modal yang signifikan, sehingga memberikan added value
berupa efisiensi struktur biaya dan peningkatan potensi margin usaha dibandingkan skema investasi
armada baru.

Selain itu, added value juga tercipta dari kemampuan Perseroan dapat memanfaatkan pengalaman
operasional dan hubungan bisnis yang telah terbangun, baik dengan entitas internal maupun pelanggan
eksternal, sehingga kegiatan sewa kendaraan dapat dijalankan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Pendekatan pemasaran berbasis kontrak jangka menengah hingga panjang, kepatuhan terhadap
regulasi, serta fokus pada keandalan layanan memberikan nilai tambah bagi pelanggan dalam bentuk
kepastian layanan dan risiko operasional yang lebih terkendali.

Lebih lanjut, Rencana Penambahan KBLI memberikan nilai tambah strategis berupa kepastian legal dan
fleksibilitas pengembangan usaha sewa kendaraan secara lebih terstruktur. Dengan dukungan sumber
daya internal dan fleksibilitas penetapan harga yang lebih kompetitif, Perseroan berpotensi menciptakan
nilai ekonomi berkelanjutan tidak hanya dalam bentuk tambahan pendapatan, tetapi juga melalui
peningkatan efisiensi operasional, diversifikasi sumber pendapatan, serta penguatan posisi kompetitif
Perseroan di industri.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |52
Page 68
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN

6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas tim pelaksana. Perseroan
senantiasa mengutamakan kebijaksanaan dalam penempatan tenaga kerja, khususnya bagi karyawan
yang memiliki pengalaman dan kompetensi sesuai bidangnya. Dalam menjalankan kegiatan usaha,
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan bepengalaman untuk menjalankan
kegiatan usahanya. Saat ini, Perseroan memiliki 618 orang tenaga kerja yang terdiri dari 511 laki-laki dan
107 perempuan. Dari jumlah tersebut dibagi 2 kategori yaitu pegawai teknik dan non teknik. Berikut
komposisi tenaga kerja berdasarkan pendidikan, lokasi, umur, dan jabatan:

                          Tabel 12. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan
               No          Pendidikan                   WSKT       WBP      Jumlah
                 I         TEKNIK                         30        301         331
                           S2                              1        11          12
                           S1                             29        185         214
                           D4                              -        10          10
                           D3                              -        47          47
                           D2                              -         -           -
                           D1                              -         -           -
                           SLTA                            -        48          48
                     II    NON TEKNIK                     27        260         287
                           S3                                -            1              1
                           S2                                7           20             27
                           S1                               20           128            148
                           D4                                -            -              -
                           D3                                -           18             18
                           D2                                -            1              1
                           D1                                -            2              2
                           SLTA                              -           90             90
                              TOTAL (I +II )                57           561            618
                                           Sumber: manajemen Perseroan


                            Tabel 13. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi
                No            Penempatan           WSKT         WBP         Jumlah
                 I        TEKNIK                    30          301           331
                          Kantor Pusat              12           53           65
                          Unit Bisnis                4           57           61
                          Unit Operasional          14          191           205
                II        NON TEKNIK                27          260           287
                          Kantor Pusat              16           83           99
                          Unit Bisnis                7           29           36
                          Unit Operasioanal          4          148           152
                                           Sumber: manajemen Perseroan




                                                            Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |53
Page 69
        Tabel 14. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Umur
 No      Rentang Umur          WSKT        WBP         Jumlah
  I   TEKNIK                    30          301          331
      >55                        -           3            3
      51-55                     2            9           11
      46-50                     2           11           13
      41-45                     1           20           21
      36-40                     6           39           45
      31-35                     19          137          156
      26-30                      -          69           69
      21-25                      -          13           13
      <20                        -           -            -
 II   NON TEKNIK                27          260          287
      >55                        -           1            1
      51-55                     2            8           10
      46-50                     1           10           21
      41-45                     1           30           31
      36-40                     5           51           56
      31-35                     17          86           103
      26-30                     1           70           71
      21-25                      -           4            4
      <20                        -           -            -
                     Sumber: manajemen Perseroan


        Tabel 15. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan
No        Kategori Jabatan       WSKT         WBP         Jumlah
 I    TEKNIK                       30          301          331
      Kepala Divisi                 -           9            9
      Manager Corporate
                                    5           8            13
      Office
      Manajer Business Unit         2           9            11
      Manager Operational
                                    8          16            24
      Unit
      Ahli / Auditor                9          43            52
      Kepala Seksi / Pelaksana
                                    5          70            75
      Utama
      Koordinator/Pelaksana         -           5            5
      Staf                          1          141          142
II    NON TEKNIK                   27          260          287
      Kepala Divisi                 3           3            6
      Manager Corporate
                                    7           7            14
      Office
      Manajer Business Unit         4           4            8




                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |54
Page 70
               No       Kategori Jabatan         WSKT             WBP             Jumlah
                    Manager Operational
                                                    1               3                4
                    Unit
                    Ahli / Auditor                  7               43               50
                    Kepala Seksi / Pelaksana
                                                    2               25               27
                    Utama
                    Koordinator/Pelaksana                          11               11
                    Staf                            3              164              167
                                     Sumber: manajemen Perseroan


Pelaksanaan kegiatan usaha sewa trailer dalam rangka Rencana Penambahan KBLI memerlukan sumber
daya manusia dengan kompetensi teknis dan operasional yang spesifik. Kebutuhan utama sumber daya
manusia dalam kegiatan ini terdiri dari pengemudi trailer dan mekanik, yang masing-masing memiliki
peran kunci dalam menjaga kelancaran dan keselamatan operasional.

Pengemudi trailer dipersyaratkan memiliki SIM B2 Umum, pengalaman dalam mengoperasikan
kendaraan berat, serta pemahaman terhadap rute pengangkutan dan penerapan keselamatan kerja.
Sementara itu, mekanik bertanggung jawab atas kegiatan perawatan dan perbaikan trailer guna
memastikan kesiapan dan keandalan armada secara berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan sumber
daya manusia tersebut direncanakan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan skala
operasional bisnis sewa trailer, sehingga tetap memperhatikan efisiensi dan pengendalian risiko
operasional.

Tenaga kerja bagian mekanik akan diisi oleh tenaga kerja yang sudah ada saat ini, sedangkan untuk
tenaga kerja pengemudi trailer akan ditambahkan secara bertahap bila diperlukan. Skema penyewaan
yang akan dilaksanakan adalah skema penyewaan lepas kunci, dimana untuk pengemudi trailer
disediakan oleh penyewa. Biaya tenaga kerja tambahan bilamana dibutuhkan akan berasal dari internal
Perseroan.

6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual
Tidak terdapat aset takberwujud yang khusus terkait dengan Rencana Penambahan KBLI.

6.3. Manajemen Risiko
Secara umum kegiatan usaha Perseroan memiliki risiko-risiko sebagai berikut adalah:

Risiko Tingkat Suku Bunga
Risiko suku bunga menunjuk kepada risiko dimana nilai wajar atau aliran kas mendatang dari suatu
instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan suku bunga pasar. Risiko suku bunga timbul
dari instrumen keuangan yang menghasilkan bunga yang diakui pada laporan perubahan posisi keuangan
(contohnya: instrumen utang yang diperoleh atau diterbitkan), dan beberapa instrumen keuangan yang
tidak diakui dalam laporan posisi keuangan (contohnya: beberapa perjanjian pinjaman).

Kebijakan Perseroan adalah untuk memperoleh tingkat bunga yang paling menguntungkan yang tersedia
di pasar. Manajemen berpendapat bahwa risiko terhadap nilai wajar dapat dikelola dengan baik.
Perseroan tidak menyiapkan analisis sensitivitas dikarenakan tidak terdapat dampak yang material



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |55
Page 71
terhadap laba rugi Perseroan yang timbul dari dampak perubahan yang secara wajar terhadap suku
bunga instrumen keuangan yang berbunga tetap dan dinilai pada biaya diamortisasi pada akhir periode
pelaporan.

Risiko Kredit
Risiko kredit mengacu pada risiko rekanan gagal dalam memenuhi kewajiban kontraktualnya yang
mengakibatkan kerugian bagi Perseroan. Risiko kredit Perseroan terutama melekat pada rekening bank,
piutang usaha, piutang lain-lain dan tagihan bruto. Perseroan menempatkan saldo Bank pada institusi
keuangan yang layak serta terpercaya. Piutang usaha dan piutang lain- lain dilakukan dengan pihak ketiga
yang terpercaya dan pihak berelasi. Eksposur Perseroan dan counterparties dimonitor secara terus
menerus dan nilai agregat transaksi terkait tersebar di antara counterparties yang telah disetujui.

Nilai tercatat aset keuangan pada laporan keuangan setelah dikurangi dengan penyisihan untuk kerugian
penurunan nilai mencerminkan eksposur Perseroan terhadap risiko kredit. Piutang usaha merupakan
pendapatan penjualan dari precast dan readymix kepada WSKT (entitas induk) dan pendapatan usaha
precast dan jasa konstruksi kepada CCTW. Evaluasi kredit berjalan dilakukan terhadap kondisi keuangan
Perseroan dan bila memungkinkan, penjualan atau pendapatan kredit harus dijamin dengan asuransi
penjaminan atau dengan letter credit dan bank garansi serta dengan meminta pembayaran uang muka
dari pelanggan.

Meskipun PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Cimanggis Cibitung Tollways, serta kerja sama operasi
antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Jaya Konstruksi Manggala
Pratama Tbk merupakan pelanggan utama Perseroan, Perseroan tetap dapat mengelola eksposur atas
konsentrasi risiko kredit. Hal tersebut didukung oleh kemampuan Perseroan untuk memperoleh
pelanggan baru maupun melakukan penjualan kepada pihak berelasi, antara lain perusahaan lain dalam
Grup PT Waskita Toll Road, perusahaan konstruksi badan usaha milik negara lainnya, serta perusahaan
konstruksi pihak ketiga.

Risiko Likuiditas
Tanggung jawab utama manajemen risiko likuiditas terletak pada Dewan Direksi, yang telah membangun
kerangka manajemen risiko likuiditas yang sesuai untuk persyaratan manajemen likuiditas dan
pendanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang Perseroan. Perseroan mengelola risiko
likuiditas dengan menjaga kecukupan simpanan, fasilitas bank dan fasilitas simpan pinjam dengan terus
menerus memonitor perkiraan dan arus kas aktual dan mencocokkan profil jatuh tempo aset dan
liabilitas keuangan. Perseroan memelihara kecukupan dana untuk membiayai kebutuhan modal kerja
yang berkelangsungan.

Risiko Modal
Perusahaan mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk melanjutkan
keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang saham melalui optimalisasi
saldo utang dan ekuitas. Struktur modal Perseroan terdiri dari utang bank, utang obligasi, dan liabilitas
sewa diimbangi dengan kas dan setara kas, dan ekuitas yang terdiri dari modal yang ditempatkan dan
disetor, tambahan modal disetor, saldo laba dan komponen ekuitas lainnya. Dewan Direksi Perseroan
secara berkala melakukan telaah struktur permodalan Perseroan. Sebagai bagian dari telaah ini, Dewan
Direksi mempertimbangkan biaya permodalan dan risiko yang berhubungan.



                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |56
Page 72
Risiko Legal
Risiko legal berupa tuntutan pidana maupun gugatan perdata dapat terjadi apabila terdapat (atau
terpenuhinya) unsur perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum adalah tindakan yang
dilakukan oleh Perseroan dalam menjalankan kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi yang
bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Upaya mitigasi yang telah dan akan tetap dilakukan oleh
Perseroan untuk menghindari terjadinya perbuatan melawan hukum adalah melakukan review atas
setiap kegiatan operasi dan/atau aksi korporasi berdasarkan regulasi yang berlaku sebelum memutuskan
menjalankan transaksi. Untuk memastikan kerangka risiko legal yang terkendali dan tetap menjaga
keberlangsungan usaha, Perseroan melakukan analisis risiko atas suatu transaksi yang akan dilakukan
dan review atas perjanjian yang akan ditandatangani. Kegiatan review tersebut dapat dilakukan secara
inhouse atau dengan melibatkan konsultan hukum eksternal.

Manajemen Risiko atas Rencana Penambahan KBLI adalah sebagai berikut:

Risiko Operasional – Keterbatasan Kompetensi Operator dan Mekanik
Risiko timbul akibat perbedaan tingkat kompetensi operator dan mekanik dalam pengoperasian serta
perawatan armada trailer. Mitigasi dilakukan melalui pelaksanaan pelatihan teknis dan peningkatan
kompetensi secara bertahap guna memastikan kesiapan operasional armada sesuai standar
keselamatan dan operasional.

Risiko Operasional – Keterlambatan Pengadaan Suku Cadang
Keterlambatan pengadaan suku cadang berpotensi mengganggu kesiapan armada. Mitigasi dilakukan
dengan memperlancar proses pembayaran kepada vendor serta memastikan ketersediaan tools dan
suku cadang kritikal untuk menjaga kontinuitas operasional.

Risiko Operasional – Usia Peralatan Relatif Tua
Sebagian armada memiliki usia di atas lima tahun yang dapat membatasi pemanfaatan pada proyek
tertentu. Mitigasi dilakukan dengan menargetkan proyek atau pelanggan yang tidak mensyaratkan batas
usia alat serta memastikan kondisi alat tetap laik operasi sebelum disewakan.

Risiko Legal – Belum Adanya Dasar Hukum Usaha
Risiko muncul karena kegiatan sewa kendaraan ekspedisi belum tercakup dalam KBLI Perseroan.
Mitigasi dilakukan melalui pengajuan penambahan KBLI 77100 untuk memperoleh persetujuan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan melalui mekanisme RUPS.

Risiko Pasar – Tingginya Tingkat Persaingan
Perseroan menghadapi persaingan dari pelaku usaha sewa kendaraan yang telah beroperasi lebih lama.
Mitigasi dilakukan melalui benchmarking terhadap praktik usaha pesaing serta penyesuaian strategi
pemasaran dan operasional secara bertahap.

Risiko Pasar – Tidak Terserapnya Pasar
Risiko tidak terserapnya pasar dapat terjadi apabila peralatan belum siap digunakan (ready for use).
Mitigasi dilakukan dengan perencanaan kesiapan alat secara bertahap serta komunikasi awal dengan
calon pelanggan untuk menyesuaikan kebutuhan pasar.




                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |57
Page 73
Risiko Keuangan – Penumpukan Utang kepada Vendor
Persiapan armada berpotensi meningkatkan kewajiban kepada vendor. Mitigasi dilakukan dengan
memperketat sistem invoicing, penagihan sewa kendaraan, serta pengendalian arus kas untuk menjaga
kesehatan keuangan Perseroan.

6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Identitas dan pengalaman dari manajemen Perseroan adalah sebagai berikut:
Nama                      : Anak Agung Gede Sumadi
Posisi                    : Direktur Utama
Pengalaman kerja          : • Vice President Divison 1 PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018 – 2019)
                              • Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019
                                – 2021)
                              • Senior Vice President Building Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk
                                (2021 – 2023)
                              • Komisaris Utama PT Waskita Sriwijaya Toll (2023)

Nama                       :   Fathul Anwar
Posisi                     :   Direktur Keuangan
Pengalaman kerja           :   • Direktur PT Pemalang Batang Toll Road (2016 – 2023)
                               • Vice President Portfolio Management PT Waskita Toll Road (2023 –
                                 2024)

Nama                       :   Itung Prasaja
Posisi                     :   Direktur Operasi
Pengalaman kerja           :   • Vice President Bulding Divison PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2023–
                                  2024)
                               • Quantity Surveyor Manager PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2019 –
                                  2023)
                               • Engineering Manager Division VII PT Waskita Karya (Persero) Tbk (2018
                                  – 2019)
                               • Branch Manager Cabang Bali PT Waskita Karya (Persero) Tbk ( 2012–
                                  2018)

Nama                       :   Raden Mas Aris Santosa
Posisi                     :   Komisaris Utama
Pengalaman kerja           :   • Komisaris Utama PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                               • Sekretaris Utama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
                                 2025;
                               • Kepala Biro Sumber Daya Manusia Badan Pengawasan Keuangan dan
                                 Pembangunan, 2023;
                               • Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang/Jasa Badan Pengawasan
                                 Keuangan dan Pembangunan, 2022;




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |58
Page 74
                             • Analis SDM Aparatur Madya selaku Koordinator Mutasi dan
                               Pemberhentian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,
                               2020;
                             • Kepala Bagian Mutasi dan Pemberhentian Badan Pengawasan
                               Keuangan dan Pembangunan, 2019

Nama                     :   Indra Utama
Posisi                   :   Komisaris Independen
Pengalaman kerja         :   • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                             • CEO Journalist Media Network, 2023;
                             • Direktur Utama PT Jurnalis Adimedia, 2020;
                             • Direktur Utama PT Jurnalis Media Properti, 2005

Nama                     :   Ahmad Subagya
Posisi                   :   Komisaris Independen
Pengalaman kerja         :   • Komisaris Independen PT Waskita Beton Precast Tbk, 2025;
                             • Senior Advisor PT Citra Kartika Konstruksi, 2024;
                             • Direktur Utama Prajatama Paraduta, 2022;
                             • Staf Ahli DPR RI, 2009;
                             • Staf Ahli Pemerintahan Bupati Bantul, 2000;
                             • Sekretaris Panitia Pemungutan Daerah Kabupaten Bantul (Pemilu),
                               1999;
                             • Sekretaris FPP DPRD Provinsi DI Yogyakarta, 1999;
                             • Wakil Ketua FPP DPRD Kabupaten Bantul, 1997.

6.5. Struktur Kepemilikan Saham
Berikut merupakan struktur kepemilikan saham Perseroan:

                               Gambar 6. Alur Kepemilikan Saham




                                    Sumber: manajemen Perseroan




                                                     Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |59
Page 75
6.6.     Struktur Organisasi Perseroan
Berikut adalah struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025:

                                                          Gambar 7. Struktur Organisasi Perseroan




                                                                     Sumber: manajemen Perseroan




                                                                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |60
Page 76
Gambar 8. Struktur Organisasi Divisi Peralatan




          Sumber: manajemen Perseroan




                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |61
Page 77
7. ASPEK KEUANGAN

7.1. Rencana Manajemen
Dengan adanya pertumbuhan nilai pasar konstruksi/pembangunan dari tahun ke tahun, maka membuka
peluang bisnis dalam bidang konstruksi salah satunya adalah bisnis sewa kendaraan ekspedisi seperti
truk trailer. Perseroan memiliki 10 unit truk trailer yang berpotensi untuk diperbaiki dan disewakan
sebagai kendaraan ekspedisi. Berdasarkan pertimbangan realisasi sewa kendaraan dan potensi pasar ke
depan atas pasar konstruksi/pembangunan, Perseroan mengalami kendala dalam melaksanakan
kegiatan tersebut dikarenakan belum memenuhi izin legalitas usaha bisnis sewa kendaraan ekspedisi.
Berdasarkan hal tersebut, Perseroan perlu menambahkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLI) 77100 - Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Kendaraan Bermotor) sehingga Perseroan dapat
melakukan penyewaan truk trailer dengan skema ekspedisi.

7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan
Asumsi yang digunakan dalam analisis proyeksi keuangan adalah sebagai berikut:
• Analisis aspek keuangan didasarkan pada proyeksi yang telah disusun manajemen Perseroan;
• Perseroan menjelaskan bahwa biaya terkait Rencana Penambahan KBLI tidak diklasifikasikan ke
   dalam COGS karena biaya tambahan yang timbul merupakan perkiraan potensi pajak atas
   pendapatan sewa dan biaya perbaikan truk trailer dimasukkan ke dalam beban umum;
• Unit truk trailer saat ini belum terutilisasi (tidak digunakan) dan belum tersewa;
• Penyesuaian dilakukan terhadap biaya operasional yang sudah terjadi atau tetap dikeluarkan
   walaupun Rencana Penambahan KBLI tidak dilakukan sehingga tidak dibebankan kembali pada biaya
   operasional Dengan Rencana Penambahan KBLI;
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, diestimasikan bahwa pada tahun 2026-2030 Perseroan dapat
   menyewakan 10 unit truk trailer yang dimiliki dengan biaya sewa per unit sekitar Rp23-40 juta dengan
   rata-rata jumlah ekspedisi per bulan sebanyak 10-20 kali.

                                Tabel 16. Asumsi Proyeksi Pendapatan
                                         2026            2027         2028         2029          2030
Pendapatan sewa truck trailer   2.230.000.000 2.400.000.000 2.400.000.000 2.544.000.000 2.120.000.000
Total                           2.230.000.000 2.400.000.000 2.400.000.000 2.544.000.000 2.120.000.000
                                          Sumber: manajemen Perseroan


7.3. Biaya Pendirian dan Investasi
Tidak terdapat investasi tambahan yang spesifik terkait Rencana Penambahan KBLI karena truk trailer
yang akan disewakan sudah dimiliki oleh Perseroan.

7.4. Biaya Operasional
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka manajemen telah mengestimasikan biaya
operasional selama masa proyeksi baik sebelum dan sesudah Rencana Penambahan KBLI sebagai
berikut (dalam jutaan Rupiah penuh):




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |62
Page 78
                                               Tabel 17. Biaya Operasional
                                            Projection          Projection          Projection          Projection          Projection
                                             FY2026              FY2027              FY2028              FY2029              FY2030
BEBAN OPERASIONAL
Dengan Rencana Penambahan KBLI            (375.315.888.152)   (397.550.717.163)   (374.498.147.227)   (355.253.659.476)   (344.220.735.053)
Tanpa Rencana Penambahan KBLI             (375.211.717.155)   (397.443.146.166)   (374.390.576.230)   (355.143.208.479)   (344.118.764.057)
Selisih                                       (104.170.997)       (107.570.997)       (107.570.997)       (110.450.997)       (101.970.997)


                                                         Sumber: data olahan
Biaya operasional terdiri dari biaya perbaikan truk dan potensi pajak final atas pendapatan sewa truk
tersebut.

7.5. Biaya Bahan Baku
Tidak terdapat bahan baku terkait Rencana Penambahan KBLI yang akan dijalankan oleh Perseroan.

7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah kondisi suatu perusahaan yang tidak menerima laba dan
tidak mengalami rugi atau dikatakan suatu perusahaan impas. Dengan kata lain, antara pendapatan dan
biaya pada kondisi yang sama. Analisis titik impas adalah teknik analisa untuk mempelajari hubungan
antara volume penjualan dan profitabilitas dan analisis ini menunjukkan besarnya keuntungan atau
kerugian perusahaan jika penjualan melampaui atau berada di bawah titik impas. Formula BEP dalam
Rupiah adalah sebagai berikut:

                                                            𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡
                                          𝐵𝐸𝑃 (𝑅𝑢𝑝𝑖𝑎ℎ) = 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛
                                                                             𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒


Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka analisis titik impas selama masa proyeksi adalah
sebagai berikut (dalam Rupiah penuh):

                                               Tabel 18. Analisis Titik Impas
                                 PROJECTION          PROJECTION              PROJECTION           PROJECTION              PROJECTION
                                    FY2026              FY2027                  FY2028               FY2029                  FY2030
Revenue                            2.230.000.000       2.400.000.000           2.400.000.000        2.544.000.000           2.120.000.000
COGS                                           -                   -                       -                    -                       -
Depreciation                                   -                   -                       -                    -                       -
Contribution Margin                2.230.000.000       2.400.000.000           2.400.000.000        2.544.000.000           2.120.000.000
Fixed Cost                           104.170.997         107.570.997             107.570.997          110.450.997             101.970.997
Contribution Margin Ratio                   1,00                1,00                    1,00                 1,00                    1,00
BEP (Rupiah)                         104.170.997         107.570.997             107.570.997          110.450.997             101.970.997
%BEP                                       4,67%               4,48%                   4,48%                4,34%                   4,81%
                                                         Sumber: data olahan


Berdasarkan perhitungan tabel di atas, titik impas berada pada rentang 4,34% - 4,81% atau rata-rata titik
impas tercapai pada angka 4,56%. Besaran fixed cost dalam perhitungan BEP tersebut merupakan biaya
perbaikan truk trailer dan potensi pajak final atas pendapatan sewa truk tersebut.

7.7. Sumber Pendanaan
Tidak terdapat penambahan pendanaan selama masa proyeksi terkait Rencana Penambahan KBLI
mengingat Perseroan tidak melakukan penambahan investasi atau capex dalam bentuk aset tetap
karena yang disewakan adalah truk trailer yang sudah dimiliki Perseroan. Rencana Penambahan KBLI




                                                                         Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |63
Page 79
sudah memperhitungkan adanya perubahan modal kerja seperti piutang usaha untuk mengakomodir
tempo pembayaran dari pelanggan. Beban operasional sudah mengakomodir biaya perbaikan yang
diperlukan sebelum truk trailer disewakan.

Analisis kecukupan likuiditas untuk menganalisis kemampuan Perseroan untuk mendukung Rencana
Penambahan KBLI tanpa tambahan pendanaan, dilakukan dengan membandingkan kas dan setara kas
dengan tambahan beban operasional sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI sebagai berikut
(dalam Rupiah penuh):

                               Tabel 19. Analisis Kecukupan Likuiditas




                                           Sumber: data diolah


7.8. Analisis Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto dalam analisis kelayakan keuangan akan menggunakan biaya modal tertimbang atau
weighted average cost of capital (WACC).

Risk Free Rate (Rf)
Risk free rate merupakan tingkat imbal hasil atas instrumen-instrumen keuangan yang dianggap tidak
memiliki risiko gagal bayar. Pada studi ke layakan ini, instrumen keuangan yang digunakan sebagai acuan
risk free rate adalah obligasi pemerintah Republik Indonesia dengan yield per tanggal studi kelayakan
menggunakan tenor 5 (lima) tahun dalam mata uang Rupiah.

Market Premium Risk (RPm)
Market premium risk merupakan selisih antara tingkat imbal hasil antara instrumen keuangan yang
memiliki risiko dengan instrumen keuangan yang relatif tidak memiliki risiko. Dengan demikian dapat
diartikan juga sebagai tingkat imbal hasil tambahan yang diinginkan investor untuk berinvestasi pada
suatu instrumen keuangan yang lebih berisiko. Kami menggunakan data market premium risk hasil
penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari 2026.

Beta (β)
Beta merupakan tolak ukur volatilitas atas suatu saham terhadap pasar secara keseluruhan. Kami
menggunakan data unlevered beta hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari
2026 untuk emerging market sektor Construction Supplies sebesar 0,80 yang kemudian akan dilakukan
penyesuaian terhadap tarif pajak di Indonesia (beta relevered). Relevered beta setelah disesuaikan
adalah sebesar 1,06.

Rating Based Default Spread (CDS)
Rating based default spread menggunakan hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5
Januari 2026 yang digunakan untuk melakukan penyesuaian atas biaya modal ekuitas.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |64
Page 80
Cost of Debt (Kd)
Biaya hutang atau tingkat imbal hasil dari sumber pendanaan yang berasal dari hutang yang dikorelasikan
dengan tingkat suku bunga pinjaman Bank Persero dalam mata uang Rupiah untuk pinjaman baik modal
kerja ataupun investasi. Data menggunakan hasil statistik Bank Indonesia sesuai bulan tanggal studi
kelayakan.

Tarif Pajak (t)
Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah 0% sesuai dengan ketentuan perpajakan yang
berlaku, di mana objek pajak terkait dikenakan pajak penghasilan final dengan tarif 2,65% berdasarkan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2022.

Cost of Equity (Ke)
Biaya ekuitas merupakan tingkat imbal hasil yang diharapkan dari sumber pendanaan ekuitas. Formula
perhitungan biaya ekuitas adalah sebagai berikut:

                                             Ke = Rf + (β x RPm) – CDS

Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto digunakan untuk mendiskonto arus kas bersih yang dihasilkan di masa mendatang ke
nilai kini atau per tanggal studi kelayakan. Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskonto arus kas
untuk kapital (free cash flow to firm atau FCFF) adalah WACC (Weighted Average Cost of Capital).
Perhitungan WACC adalah sebagai berikut:

                                                     Tabel 20. WACC
Variables                                   Factor                                Informations
COST OF EQUITY
Indonesia risk free rate (Rf)               5,68%      Yield rate on 5 year IDR Government Bonds in Indonesia per Des 31,
                                                       2025
Indonesia risk equity premium                6,69%     Based on Damodaran
Comparable Company leverage beta              1,06     Based on unlevered Damodaran
Country Default Spread                       1,62%     Based on Damodaran
Required rate of return on equity (CAPM)    11,17%
COST OF DEBT
Return on debt                              8,44%      Based on state owned bank lending interest rate for investment
                                                       (IDR) Des, 2025 (source: Bank Indonesia)
    Tax                                     0,00%      Final Tax
After tax cost of debt                      8,44%
DEBT TO EQUITY RATIO
    Debt                                    24,61%      Based on Damodaran Industry DER
    Equity                                  75,39%
WACC                                        10,50%
                                           Sumber: diolah dari berbagai sumber


7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment
Analisa profitabilitas sebagai parameter Perseroan dalam menghasilkan laba adalah sebagai berikut:




                                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |65
Page 81
                  Tabel 21. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI
                           Projection Projection Projection Projection Projection
                                                                                       Average
                             FY2026        FY2027       FY2028      FY2029    FY2030
Gross profit margin            12,43%        13,73%       13,50%      13,44%    13,30% 13,28%
Net profit margin             -16,68%       -17,91%      -14,33%     -12,37%   -11,08% -14,47%
Return on investment          -11,82%       -14,55%      -13,36%     -13,19%   -13,00% -13,18%
                                         Sumber: Data olahan


Dengan adanya rencana penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa
proyeksi adalah sebesar 13,28%, net profit margin sebesar -14,47%, dan return on investment sebesar -
13,18%.

                  Tabel 22. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI
                          Projection Projection Projection Projection Projection
                                                                                       Average
                            FY2026        FY2027        FY2028     FY2029     FY2030
Gross profit margin           12,35%         13,63%       13,42%      13,35%    13,23% 13,20%
Net profit margin            -16,79%        -18,03%      -14,43%     -12,47%   -11,16% -14,58%
Return on investment         -11,89%        -14,65%      -13,48%     -13,34%   -13,14% -13,30%
                                         Sumber: Data olahan


Tanpa adanya rencana penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa proyeksi
adalah sebesar 13,20%, net profit margin sebesar -14,58%, dan return on investment sebesar -13,30%.

Berdasarkan perbandingan dengan rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI dan Tanpa
Rencana Penambahan KBLI, maka rasio profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI menghasilkan
persentase negatif lebih rendah yang menandakan perbaikan dari sisi kerugian konsolidasi yang lebih
rendah. Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI layak untuk dijalankan.

7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih
Analisis perubahan modal kerja bersih periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2026-2030 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain) adalah sebagai berikut:




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |66
Page 82
          Tabel 23. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                          AUDIT            PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION
                                        DEC 2025             DEC 2026            DEC 2027             DEC 2028            DEC 2029             DEC 2030
Piutang usaha - bersih                387.469.159.954      174.477.943.258      99.358.025.431      116.020.631.826     126.553.161.694      137.731.085.654
Piutang retensi                       135.813.511.645                  -                   -                    -                   -                    -
Piutang lain-lain                      33.510.791.231       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                            144.451.619.599      473.934.886.672     185.095.172.152      223.591.522.562     172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan        105.535.772.286      488.544.818.374     339.848.055.304      318.484.577.690     270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                   14.191.305.724       32.625.379.645      32.820.236.198       35.744.426.047      30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga           1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                   18.147.279.147       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184
Total Current Assets                  840.252.385.426    1.226.160.046.469     713.698.507.606      750.418.176.646     657.172.421.474      724.425.602.653

Utang usaha                            878.270.818.030   1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202   1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang bruto                            190.304.291.141                 -                    -                    -                   -                    -
Utang lain-lain                         45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                             42.031.008.270      56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937      52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                           235.109.555.525     239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696     228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858
Total Current Liabilities            1.470.865.608.584   1.796.625.850.142    1.532.379.215.852    1.656.890.519.453   1.598.014.422.572    1.639.309.308.718

Perubahan aset lancar                                     (385.907.661.043)     512.461.538.863     (36.719.669.040)      93.245.755.172      (67.253.181.179)
Perubahan liabilitas jangka pendek                         325.760.241.558     (264.246.634.291)    124.511.303.602      (58.876.096.882)      41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih                               (60.147.419.485)     248.214.904.572      87.791.634.562       34.369.658.291      (25.958.295.033)


                                                                Sumber: Data Olahan


            Tabel 24. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                          AUDIT            PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION          PROJECTION           PROJECTION
                                        DEC 2025             DEC 2026            DEC 2027             DEC 2028            DEC 2029             DEC 2030
Piutang usaha - bersih                387.469.159.954      174.292.109.924      99.158.025.431      115.820.631.826     126.341.161.694      137.554.418.988
Piutang retensi                       135.813.511.645                  -                   -                    -                   -                    -
Piutang lain-lain                      33.510.791.231       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497      36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                            144.451.619.599      473.934.886.672     185.095.172.152      223.591.522.562     172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan        105.535.772.286      488.544.818.374     339.848.055.304      318.484.577.690     270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                   14.191.305.724       32.625.379.645      32.820.236.198       35.744.426.047      30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga           1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840       1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                   18.147.279.147       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184      19.102.548.184       19.102.548.184
Total Current Assets                  840.252.385.426    1.225.974.213.136     713.498.507.606      750.218.176.646     656.960.421.474      724.248.935.986

Utang usaha                            878.270.818.030   1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202   1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang bruto                            190.304.291.141                 -                    -                    -                   -                    -
Utang lain-lain                         45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760      45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                             42.031.008.270      56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937      52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                           235.109.555.525     239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696     228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858      79.971.581.858       79.971.581.858
Total Current Liabilities            1.470.865.608.584   1.796.625.850.142    1.532.379.215.852    1.656.890.519.453   1.598.014.422.572    1.639.309.308.718

Perubahan aset lancar                                     (385.721.827.710)     512.475.705.529     (36.719.669.040)      93.257.755.172      (67.288.514.512)
Perubahan liabilitas jangka pendek                         325.760.241.558     (264.246.634.291)    124.511.303.602      (58.876.096.882)      41.294.886.146
Perubahan modal kerja bersih                               (59.961.586.152)     248.229.071.239      87.791.634.562       34.381.658.291      (25.993.628.366)


                                                                Sumber: Data Olahan


7.11. Analisis Kelayakan Investasi
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan
Profitability Index (PI) (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) sebagai berikut:




                                                                                    Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |67
Page 83
                                                 Tabel 25. Analisis Kelayakan Investasi
FCFF (WITH PROJECT)
                                                       Projection           Projection           Projection          Projection           Projection
                                     31-Des-25
                                                         FY 2026              FY 2027              FY 2028             FY 2029              FY 2030
Earning after tax                                    (382.997.354.398)    (406.953.347.552)    (355.132.841.989)   (330.036.620.532)    (323.207.371.526)
(+) Depreciation                                      162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299      59.670.657.098       59.196.458.139
(+) Interest (1-t)                                    293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880     333.431.741.519      366.674.180.880
(+/-) Changes in working capital                      (60.147.419.485)     248.214.904.572       87.791.634.562      34.369.658.291      (25.958.295.033)
(-) Capex                                             (22.697.548.220)                  -                    -                   -                    -
FCFF                                                   (9.686.305.201)     237.359.457.058      114.226.778.752      97.435.436.376       76.704.972.461
Year-n                                                            1,00                 2,00                 3,00                4,00                 5,00
Discount factor                                                0,9050               0,8190               0,7412              0,6708               0,6071
PV FCFF                                                (8.766.060.913)     194.401.320.382       84.665.589.259      65.358.529.950       46.564.526.862
NPV                                382.223.905.539



FCFF (WITHOUT PROJECT)
                                                       Projection           Projection           Projection          Projection           Projection
                                     31-Des-25
                                                         FY 2026              FY 2027              FY 2028             FY 2029              FY 2030
Earning after tax                                    (385.123.183.401)    (409.245.776.555)    (357.425.270.993)   (332.470.169.535)    (325.225.400.530)
(+) Depreciation                                      162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299      59.670.657.098       59.196.458.139
(+) Interest (1-t)                                    293.251.816.214      321.313.430.522      315.217.984.880     333.431.741.519      366.674.180.880
(+/-) Changes in working capital                      (59.961.586.152)     248.229.071.239       87.791.634.562      34.381.658.291      (25.993.628.366)
(-) Capex                                             (22.697.548.220)                  -                    -                   -                    -
FCFF                                                  (11.626.300.871)     235.081.194.721      111.934.349.749      95.013.887.373       74.651.610.124
Year-n                                                            1,00                 2,00                 3,00                4,00                 5,00
Discount factor                                                0,9050               0,8190               0,7412              0,6708               0,6071
PV FCFF                                               (10.521.747.923)     192.535.385.854       82.966.426.816      63.734.183.727       45.318.012.553
NPV                                374.032.261.028


INCREMENTAL FCFF
                                                       Projection           Projection           Projection          Projection           Projection
                                     31-Des-25
                                                         FY 2026              FY 2027              FY 2028             FY 2029              FY 2030
Earning after tax                                       2.125.829.003        2.292.429.003        2.292.429.003       2.433.549.003        2.018.029.003
(+) Depreciation                                                   -                    -                    -                   -                    -
(+) Interest (1-t)                                                 -                    -                    -                   -                    -
(+/-) Changes in working capital                          (185.833.333)         (14.166.667)                 -           (12.000.000)         35.333.333
(-) Capex                                                          -                    -                    -                   -                    -
FCFF                                                    1.939.995.670        2.278.262.337        2.292.429.003       2.421.549.003        2.053.362.337
Year-n                                                            1,00                 2,00                 3,00                4,00                 5,00
Discount factor                                                 0,9050               0,8190              0,7412               0,6708              0,6071
PV FCFF                                                 1.755.687.010        1.865.934.528        1.699.162.443       1.624.346.223        1.246.514.308
NPV                                  8.191.644.511



DISCOUNTED PAYBACK PERIOD
                                                       Projection           Projection           Projection          Projection           Projection
                                     31-Des-25
                                                        FY 2026              FY 2027              FY 2028             FY 2029              FY 2030
PV FCFF                                                 1.755.687.010        1.865.934.528        1.699.162.443       1.624.346.223        1.246.514.308
Accumulated PV FCFF                                     1.755.687.010        3.621.621.537        5.320.783.980       6.945.130.203        8.191.644.511
Period                                                            1,00                 0,52                 0,32                0,23                 0,15
Discounted Payback Period                     1,00



PROFITABILITY INDEX
                                                       Projection           Projection           Projection          Projection           Projection
                                     31-Des-25
                                                        FY 2026              FY 2027              FY 2028             FY 2029              FY 2030
Cash Inflow                                             2.125.829.003        2.292.429.003        2.292.429.003       2.433.549.003        2.053.362.337
Cash Outflow                                              185.833.333           14.166.667                  -            12.000.000                  -
PV Cash Inflow                                          1.923.865.307        1.877.537.262        1.699.162.443       1.632.395.680        1.246.514.308
PV Cash Outflow                                           168.178.298           11.602.734                  -             8.049.457                  -
Sum Cash Inflow                      8.379.475.000
Sum Cash Outflow                       187.830.489
Profitability Index                          44,61


                                                              Sumber: Data Olahan


Secara konsolidasi, laba bersih Dengan dan Tanpa Rencana Penambahan KBLI tetap negatif. Namun
demikian, analisis kelayakan investasi yang dilakukan menggunakan basis inkremental menunjukkan
adanya tambahan laba sehingga tetap menghasilkan NPV dan PI yang positif yang merepresentasikan
adanya potensi nilai tambah bagi Perseroan berupa perbaikan kinerja keuangan.




                                                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |68
Page 84
Net Present Value (NPV)
Net Present Value merupakan selisih antara cash inflow dengan cash outflow dari suatu proyek dengan
memperhitungkan nilai waktu uang. Berdasarkan tabel di atas, NPV menunjukkan nilai positif dengan
demikian Rencana Penambahan KBLI tersebut layak untuk dilaksanakan.

Internal Rate of Return (IRR)
Analisis IRR tidak dilakukan karena tidak terdapat capex atau investasi tambahan yang umum digunakan
dalam perhitungan IRR. Aset yang digunakan untuk operasional Rencana Penambahan KBLI merupakan
aset existing yang sudah dimiliki oleh Perseroan sehingga tidak terdapat pembelian capex baru yang
umumnya menjadi initial investment dalam perhitungan IRR.

Profitability Index (PI)
Indeks profitabilitas sebesar 44,61 kali yang menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk
lebih tinggi dibandingkan arus kas keluar, sehingga Rencana Penambahan KBLI memberikan kontribusi
positif. Umumnya suatu rencana proyek dikategorikan layak untuk dilaksanakan jika profitability index
menghasilkan nilai lebih dari 1.

7.12. Analisis Sensitivity
Analisis sensitivitas menggunakan faktor perubahan pendapatan per tahun dan pengaruh terhadap NPV
dan PI. Berikut adalah analisis sensitivitas (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):

                                    Tabel 26. Analisis Sensitivity
                                        Penurunan -10% Penurunan -5%     Kenaikan 5%
         Inkremental NPV                  7.350.182.242 7.770.913.377 8.612.375.646
         Profitability Index                       44,48           44,55       44,67




                                                      Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |69
Page 85
8. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan telah memiliki perizinan pokok dan
   dokumen operasional lainnya untuk melakukan kegiatan komersialnya sesuai dengan peraturan
   perundang-undangan yang berlaku. Rencana Penambahan KBLI dilakukan sebagai salah satu syarat
   untuk memenuhi izin legalitas usaha bisnis sewa kendaraan ekspedisi;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, Rencana Penambahan KBLI akan memperluas jangkauan
   pasar dan meningkatkan kontribusi pendapatan non-proyek utama secara prudent. Perseroan juga
   merancang strategi pemasaran untuk mendukung Rencana Penambahan KBLI secara bertahap dan
   selaras dengan tujuan Perseroan dalam meningkatkan pemanfaatan aset, diversifikasi pendapatan,
   serta pengelolaan risiko usaha secara terkendali;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan memiliki 10 unit truk trailer dengan merk Hino
   bertipe FM350 dengan kapasitas 60 ton yang dapat diperbaiki dan dimanfaatkan untuk jasa sewa
   kendaraan ekspedisi. Perseroan juga memiliki jumlah tenaga ahli dan tenaga kerja yang kompeten dan
   berpengalaman. Pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia direncanakan dilakukan secara
   bertahap oleh Perseroan dan disesuaikan dengan skala operasional bisnis sewa truk trailer, sehingga
   tetap memperhatikan efisiensi dan pengendalian risiko operasional;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, Perseroan memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai
   tambah (added value) melalui optimalisasi pemanfaatan truk trailer untuk meningkatkan utilisasi aset
   tanpa memerlukan investasi modal yang signifikan, sehingga memberikan added value berupa
   efisiensi struktur biaya dan peningkatan potensi margin usaha;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan dan manajemen Perseroan telah
   memiliki tim operasional terutama divisi peralatan untuk menjalankan Rencana Penambahan KBLI.
   Perseroan dapat memanfaatkan pengalaman operasional dan hubungan bisnis yang telah terbangun,
   baik dengan entitas internal maupun pelanggan eksternal, sehingga kegiatan sewa kendaraan dapat
   dijalankan secara lebih efektif dan berkelanjutan;
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
   positif dan analisis PI menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih tinggi
   dibandingkan arus kas keluar;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
   pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
   proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
   disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
   adalah layak.




                                                       Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |70
Page 86
9. LAMPIRAN

1. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
2. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
3. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
4. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
5. Proyeksi Arus Kas Dengan Rencana Penambahan KBLI;
6. Proyeksi Arus Kas Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
7. Proyeksi Analisis Rasio dengan Rencana Penambahan KBLI;
8. Proyeksi Analisis Rasio tanpa Rencana Penambahan KBLI;
9. Analisis Kelayakan;
10. Beta (Damodaran);
11. Country Risk Premium (Damodaran);
12. Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025;
13. Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025




                                                 Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |71
Page 87
10. REFERENSI

1.   Damodaran (beta dan country risk premium);
2.   Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi
     VII-2018) dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 330, dan Petunjuk Teknis Khusus SPI Penilaian Dalam
     Kondisi Bencana Covid-19 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
3.   PER-08/PJ/2020 tanggal 21 April 2020 tentang Penghitungan Angsuran Pajak Penghasilan Untuk
     Tahun Pajak Berjalan Sehubungan Dengan Penyesuaian Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan;
4.   www.phei.co.id (Indonesia Bonds Pricing Agency);
5.   www.bi.go.id (data suku bunga dan inflasi);
6.   Media lainnya.




                                                        Laporan Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk |72
Page 88
LAMPIRAN
Page 89
                                                                                                                                            Lampiran 1
                        Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                                         Projection           Projection           Projection           Projection            Projection
                                                         31-Dec-26            31-Dec-27            31-Dec-28            31-Dec-29             31-Dec-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                        66.603.259.153      211.538.756.668      102.680.138.428       98.730.428.062       74.050.253.780
Piutang usaha - bersih                                   174.477.943.258       99.358.025.431      116.020.631.826      126.553.161.694      137.731.085.654
Piutang lain-lain                                         36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                               473.934.886.672      185.095.172.152      223.591.522.562      172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan                           488.544.818.374      339.848.055.304      318.484.577.690      270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                                      32.625.379.645       32.820.236.198       35.744.426.047       30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                              1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                      19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184
TOTAL ASET LANCAR                                      1.292.763.305.622      925.237.264.275      853.098.315.074      755.902.849.536      798.475.856.433

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                      1.895.497.929.989    1.820.713.460.474    1.754.363.459.175     1.694.692.802.077    1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih                                                   -                    -                    -                     -                    -
Aset lain-lain                                            51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102        51.582.354.102       51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                                1.947.080.284.091    1.872.295.814.576    1.805.945.813.277     1.746.275.156.179    1.687.078.698.039
TOTAL ASET                                             3.239.843.589.713    2.797.533.078.850    2.659.044.128.351     2.502.178.005.714    2.485.554.554.472

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                                 671.127.052.204      671.127.052.204      552.692.866.521       552.692.866.521      552.692.866.521
Utang usaha                                            1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202     1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang lain-lain                                           45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760        45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                                               56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937        52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                                             239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696       228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                                  79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858        79.971.581.858       79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                              124.875.000          124.875.000          124.875.000           124.875.000          124.875.000
Utang Obligasi                                                         -      321.493.259.612      283.760.774.770       248.176.272.047      215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                         2.467.877.777.346    2.525.124.402.668    2.493.469.035.744     2.399.008.436.140    2.408.043.063.500

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang                              1.908.115.501.145    2.017.156.470.353    2.174.412.667.349     2.343.912.362.432    2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                           1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953         1.536.264.953        1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                   293.621.515.014                    -                    -                     -                    -
Obligasi wajib konversi                                  887.404.766.957      979.381.524.131    1.070.424.585.549     1.168.555.987.966    1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja                             31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810        31.419.732.810       31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                        3.122.097.780.879    3.029.493.992.247    3.277.793.250.661     3.545.424.348.160    3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS                                       5.589.975.558.226    5.554.618.394.915    5.771.262.286.405     5.944.432.784.300    6.251.016.704.584

EKUITAS
Modal saham                                             4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                                  3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                                 (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                                 (10.100.209.207.384) (10.507.162.554.936) (10.862.295.396.925) (11.192.332.017.457) (11.515.539.388.983)
Komponen ekuitas lainnya                                  399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                         (2.350.131.968.513) (2.757.085.316.065) (3.112.218.158.054) (3.442.254.778.586) (3.765.462.150.112)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                            3.239.843.589.713    2.797.533.078.850    2.659.044.128.351    2.502.178.005.714    2.485.554.554.472
Page 90
                                                                                                                                            Lampiran 2
                         Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                                         Projection           Projection           Projection           Projection            Projection
                                                         31-Dec-26            31-Dec-27            31-Dec-28            31-Dec-29             31-Dec-30
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                        64.663.263.483      207.320.498.662       96.169.451.418       89.798.192.049       63.064.655.431
Piutang usaha - bersih                                   174.292.109.924       99.158.025.431      115.820.631.826      126.341.161.694      137.554.418.988
Piutang lain-lain                                         36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497       36.341.524.497
Persediaan                                               473.934.886.672      185.095.172.152      223.591.522.562      172.985.436.792      197.008.201.097
Tagihan bruto kepada pelanggan                           488.544.818.374      339.848.055.304      318.484.577.690      270.323.783.408      295.615.239.314
Pajak dibayar dimuka                                      32.625.379.645       32.820.236.198       35.744.426.047       30.733.021.059       37.494.058.066
Uang muka kepada pihak ketiga                              1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840        1.132.945.840
Biaya dibayar dimuka                                      19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184       19.102.548.184
TOTAL ASET LANCAR                                      1.290.637.476.619      920.819.006.268      846.387.628.065      746.758.613.523      787.313.591.417

ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap-bersih                                      1.895.497.929.989    1.820.713.460.474    1.754.363.459.175     1.694.692.802.077    1.635.496.343.937
Aset hak guna-bersih                                                   -                    -                    -                     -                    -
Aset lain-lain                                            51.582.354.102       51.582.354.102       51.582.354.102        51.582.354.102       51.582.354.102
TOTAL ASET TIDAK LANCAR                                1.947.080.284.091    1.872.295.814.576    1.805.945.813.277     1.746.275.156.179    1.687.078.698.039
TOTAL ASET                                             3.237.717.760.710    2.793.114.820.844    2.652.333.441.341     2.493.033.769.701    2.474.392.289.456

LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank jangka pendek                                 671.127.052.204      671.127.052.204      552.692.866.521       552.692.866.521      552.692.866.521
Utang usaha                                            1.374.640.026.186    1.126.761.225.391    1.244.904.497.202     1.192.384.910.783    1.228.772.710.751
Utang lain-lain                                           45.178.353.760       45.178.353.760       45.178.353.760        45.178.353.760       45.178.353.760
Utang pajak                                               56.975.054.903       53.973.131.278       56.435.696.937        52.195.542.679       58.183.791.840
Beban akrual                                             239.860.833.434      226.494.923.565      230.400.389.696       228.284.033.491      227.202.870.509
Uang muka dari pelanggan                                  79.971.581.858       79.971.581.858       79.971.581.858        79.971.581.858       79.971.581.858
Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun:
Liabilitas sewa                                              124.875.000          124.875.000          124.875.000           124.875.000          124.875.000
Utang Obligasi                                                         -      321.493.259.612      283.760.774.770       248.176.272.047      215.916.013.261
TOTAL LIABILITAS JANGKA PENDEK                         2.467.877.777.346    2.525.124.402.668    2.493.469.035.744     2.399.008.436.140    2.408.043.063.500

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Utang bank jangka panjang                              1.908.115.501.145    2.017.156.470.353    2.174.412.667.349     2.343.912.362.432    2.532.360.247.950
Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian
yang jatuh tempo dalam satu tahun:
-Liabilitas sewa                                           1.536.264.953        1.536.264.953        1.536.264.953         1.536.264.953        1.536.264.953
-Utang obligasi-bersih                                   293.621.515.014                    -                    -                     -                    -
Obligasi wajib konversi                                  887.404.766.957      979.381.524.131    1.070.424.585.549     1.168.555.987.966    1.277.657.395.371
Liabilitas imbalan pascakerja                             31.419.732.810       31.419.732.810       31.419.732.810        31.419.732.810       31.419.732.810
TOTAL LIABILITAS JANGKA PANJANG                        3.122.097.780.879    3.029.493.992.247    3.277.793.250.661     3.545.424.348.160    3.842.973.641.085
TOTAL LIABILITAS                                       5.589.975.558.226    5.554.618.394.915    5.771.262.286.405     5.944.432.784.300    6.251.016.704.584

EKUITAS
Modal saham                                             4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000    4.157.081.801.000
Tambahan modal disetor                                  3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821    3.969.169.058.821
Saham diperoleh kembali                                 (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)    (775.953.722.340)
Saldo laba (defisit)                                 (10.102.335.036.387) (10.511.580.812.942) (10.869.006.083.935) (11.201.476.253.470) (11.526.701.653.999)
Komponen ekuitas lainnya                                  399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390      399.780.101.390
TOTAL EKUITAS                                         (2.352.257.797.516) (2.761.503.574.071) (3.118.928.845.064) (3.451.399.014.599) (3.776.624.415.128)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS                            3.237.717.760.710    2.793.114.820.844    2.652.333.441.341    2.493.033.769.701    2.474.392.289.456
Page 91
                                                                                                                                  Lampiran 3
                       Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Penambahan KBLI
                                             Projection            Projection            Projection            Projection            Projection
                                              FY 2026               FY 2027               FY 2028               FY 2029               FY 2030
PENDAPATAN USAHA                           2.296.564.874.249     2.272.481.345.292     2.478.571.910.011     2.669.035.320.226     2.915.881.406.983
BEBAN POKOK PENDAPATAN                   (2.010.994.524.281)   (1.960.570.545.159)   (2.143.988.619.893)   (2.310.386.539.763)   (2.528.193.862.576)
LABA (RUGI) KOTOR                            285.570.349.968       311.910.800.133       334.583.290.118       358.648.780.463       387.687.544.407
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                            (5.820.188.000)       (5.936.591.760)       (6.055.323.595)       (6.176.430.067)       (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi              (426.977.965.205)     (381.767.356.362)     (361.780.529.314)     (343.459.743.920)     (331.836.787.852)
-Beban pajak penghasilan final             (17.676.046.280)       (9.846.769.041)       (6.662.294.318)       (5.617.485.488)       (6.083.988.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain                75.158.311.333                     -                     -                     -                     -
JUMLAH BEBAN USAHA                        (375.315.888.152)     (397.550.717.163)     (374.498.147.227)     (355.253.659.476)     (344.220.735.053)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN
PAJAK                                      (89.745.538.184)      (85.639.917.030)      (39.914.857.109)         3.395.120.987        43.466.809.354
Beban keuangan                            (293.251.816.214)     (321.313.430.522)     (315.217.984.880)     (333.431.741.519)     (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK                 (382.997.354.398)     (406.953.347.552)     (355.132.841.989)     (330.036.620.532)     (323.207.371.526)
Beban pajak pengasilan                                    -                     -                     -                     -                     -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN         (382.997.354.398)     (406.953.347.552)     (355.132.841.989)     (330.036.620.532)     (323.207.371.526)
Page 92
                                                                                                                                        Lampiran 4
                         Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
                                                   Projection            Projection            Projection            Projection            Projection
                                                    FY 2026               FY 2027               FY 2028               FY 2029               FY 2030
PENDAPATAN USAHA                                 2.294.334.874.249     2.270.081.345.292     2.476.171.910.011     2.666.491.320.226     2.913.761.406.983
BEBAN POKOK PENDAPATAN                         (2.010.994.524.281)   (1.960.570.545.159)   (2.143.988.619.893)   (2.310.386.539.763)   (2.528.193.862.576)
LABA (RUGI) KOTOR                                  283.340.349.968       309.510.800.133       332.183.290.118       356.104.780.463       385.567.544.407
BEBAN USAHA
-Beban penjualan                                  (5.820.188.000)       (5.936.591.760)       (6.055.323.595)       (6.176.430.067)       (6.299.958.668)
-Beban umum dan administrasi                    (426.918.394.208)     (381.707.785.365)     (361.720.958.317)     (343.400.172.924)     (331.777.216.855)
-Beban pajak penghasilan final                   (17.631.446.280)       (9.798.769.041)       (6.614.294.318)       (5.566.605.488)       (6.041.588.533)
-(Beban)/pendapatan lain-lain                      75.158.311.333                     -                     -                     -                     -
JUMLAH BEBAN USAHA                              (375.211.717.155)     (397.443.146.166)     (374.390.576.230)     (355.143.208.479)     (344.118.764.057)
(RUGI)/LABA SEBELUM BEBAN KEUANGAN DAN PAJAK     (91.871.367.187)      (87.932.346.033)      (42.207.286.112)           961.571.984        41.448.780.351
Beban keuangan                                  (293.251.816.214)     (321.313.430.522)     (315.217.984.880)     (333.431.741.519)     (366.674.180.880)
(RUGI)/LABA SEBELUM PAJAK                       (385.123.183.401)     (409.245.776.555)     (357.425.270.993)     (332.470.169.535)     (325.225.400.530)
Beban pajak pengasilan                                          -                     -                     -                     -                     -
(RUGI)/LABA BERSIH TAHUN BERJALAN               (385.123.183.401)     (409.245.776.555)     (357.425.270.993)     (332.470.169.535)     (325.225.400.530)
Page 93
                                                                                                                                      Lampiran 5
                                        Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan KBLI
                                                    Projection           Projection           Projection           Projection          Projection
                                                     FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029             FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih                                        (382.997.354.398)    (406.953.347.552)    (355.132.841.989)    (330.036.620.532)   (323.207.371.526)
Depresiasi & amortisasi                              162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098      59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan                            241.539.690.504      278.717.445.980      275.888.064.905      297.367.886.110     330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
 Piutang usaha - bersih                              212.991.216.696       75.119.917.826     (16.662.606.395)     (10.532.529.867)    (11.177.923.961)
 Piutang retensi                                     135.813.511.645                     -                   -                    -                   -
 Piutang lain-lain                                    (2.830.733.266)                    -                   -                    -                   -
 Persediaan                                        (329.483.267.073)      288.839.714.520     (38.496.350.410)       50.606.085.769    (24.022.764.305)
 Tagihan bruto kepada pelanggan                    (383.009.046.088)      148.696.763.070       21.363.477.614       48.160.794.282    (25.291.455.907)
 Pajak dibayar dimuka                               (18.434.073.921)         (194.856.553)     (2.924.189.849)        5.011.404.988     (6.761.037.006)
 Uang muka kepada pihak ketiga                                      -                    -                   -                    -                   -
 Biaya dibayar dimuka                                   (955.269.037)                    -                   -                    -                   -
 Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                           -                    -                   -                    -                   -
 Utang usaha                                         496.369.208.156    (247.878.800.795)     118.143.271.811      (52.519.586.419)      36.387.799.968
 Utang bruto                                       (190.304.291.141)                     -                   -                    -                   -
 Utang lain-lain                                                    -                    -                   -                    -                   -
 Utang pajak                                          14.944.046.633       (3.001.923.626)       2.462.565.659      (4.240.154.258)       5.988.249.160
 Beban akrual                                           4.751.277.909    (13.365.909.870)        3.905.466.132      (2.116.356.205)     (1.081.162.982)
 Uang muka dari pelanggan                                           -                    -                   -                    -                   -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)    (38.700.882.692)      194.763.472.515       74.896.858.776       61.371.580.967      40.641.117.052
AKTIVITAS OPERASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
 Perolehan aset tetap                               (22.697.548.220)                     -                    -                   -                   -
 Penjualan aset tetap                                 66.437.300.000                     -                    -                   -                   -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)           43.739.751.781                     -                    -                   -                   -
AKTIVITAS INVESTASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
 Utang bank jangka pendek                                           -                  -     (118.434.185.683)                   -                    -
 Liabilitas sewa                                                    -                  -                      -                  -                    -
 Utang Obligasi                                                     -                  -       (65.321.291.333)   (65.321.291.333)     (65.321.291.333)
 Utang bank jangka panjang                                          -   (49.827.975.000)                      -                  -                    -
 -Liabilitas sewa                                                   -                  -                      -                  -                    -
 Obligasi wajib konversi                                            -                  -                      -                  -                    -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN                      -   (49.827.975.000)     (183.755.477.016)    (65.321.291.333)     (65.321.291.333)

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS        5.038.869.089      144.935.497.515     (108.858.618.240)      (3.949.710.366)    (24.680.174.281)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                        61.564.390.064       66.603.259.153       211.538.756.668     102.680.138.428       98.730.428.062
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN                  66.603.259.153      211.538.756.668       102.680.138.428       98.730.428.062      74.050.253.780
Page 94
                                                                                                                                      Lampiran 6
                                         Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan KBLI
                                                    Projection           Projection           Projection           Projection          Projection
                                                     FY 2026              FY 2027              FY 2028              FY 2029             FY 2030
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba bersih                                        (385.123.183.401)    (409.245.776.555)    (357.425.270.993)    (332.470.169.535)   (325.225.400.530)
Depresiasi & amortisasi                              162.904.200.687       74.784.469.515       66.350.001.299       59.670.657.098      59.196.458.139
Amortisasi beban keuangan                            241.539.690.504      278.717.445.980      275.888.064.905      297.367.886.110     330.610.325.472
Perubahan modal kerja bersih:
 Piutang usaha - bersih                              213.177.050.030       75.134.084.493     (16.662.606.395)     (10.520.529.867)    (11.213.257.294)
 Piutang retensi                                     135.813.511.645                     -                   -                    -                   -
 Piutang lain-lain                                    (2.830.733.266)                    -                   -                    -                   -
 Persediaan                                        (329.483.267.073)      288.839.714.520     (38.496.350.410)       50.606.085.769    (24.022.764.305)
 Tagihan bruto kepada pelanggan                    (383.009.046.088)      148.696.763.070       21.363.477.614       48.160.794.282    (25.291.455.907)
 Pajak dibayar dimuka                               (18.434.073.921)         (194.856.553)     (2.924.189.849)        5.011.404.988     (6.761.037.006)
 Uang muka kepada pihak ketiga                                      -                    -                   -                    -                   -
 Biaya dibayar dimuka                                   (955.269.037)                    -                   -                    -                   -
 Aset diklasifikasi dimiliki untuk dijual                           -                    -                   -                    -                   -
 Utang usaha                                         496.369.208.156    (247.878.800.795)     118.143.271.811      (52.519.586.419)      36.387.799.968
 Utang bruto                                       (190.304.291.141)                     -                   -                    -                   -
 Utang lain-lain                                                    -                    -                   -                    -                   -
 Utang pajak                                          14.944.046.633       (3.001.923.626)       2.462.565.659      (4.240.154.258)       5.988.249.160
 Beban akrual                                           4.751.277.909    (13.365.909.870)        3.905.466.132      (2.116.356.205)     (1.081.162.982)
 Uang muka dari pelanggan                                           -                    -                   -                    -                   -
KAS BERSIH YANG DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)    (40.640.878.362)      192.485.210.179       72.604.429.773       58.950.031.964      38.587.754.715
AKTIVITAS OPERASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
 Perolehan aset tetap                               (22.697.548.220)                     -                    -                   -                   -
 Penjualan aset tetap                                 66.437.300.000                     -                    -                   -                   -
KAS BERSIH DIPEROLEH DARI/(DIGUNAKAN UNTUK)           43.739.751.781                     -                    -                   -                   -
AKTIVITAS INVESTASI

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
 Utang bank jangka pendek                                           -                  -     (118.434.185.683)                   -                    -
 Liabilitas sewa                                                    -                  -                      -                  -                    -
 Utang Obligasi                                                     -                  -       (65.321.291.333)   (65.321.291.333)     (65.321.291.333)
 Utang bank jangka panjang                                          -   (49.827.975.000)                      -                  -                    -
 -Liabilitas sewa                                                   -                  -                      -                  -                    -
 Obligasi wajib konversi                                            -                  -                      -                  -                    -
KAS BERSIH DIGUNAKAN UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN                      -   (49.827.975.000)     (183.755.477.016)    (65.321.291.333)     (65.321.291.333)

KENAIKAN/(PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS        3.098.873.419      142.657.235.179     (111.151.047.243)      (6.371.259.370)    (26.733.536.618)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                        61.564.390.064       64.663.263.483       207.320.498.662      96.169.451.418       89.798.192.049
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR TAHUN                  64.663.263.483      207.320.498.662        96.169.451.418      89.798.192.049       63.064.655.431
Page 95
                                                                                                 Lampiran 7
                      Proyeksi Analisis Rasio Dengan Rencana Penambahan KBLI
                           Projection    Projection    Projection    Projection    Projection    Average
                            FY 2026       FY 2027       FY 2028       FY 2029       FY 2030      Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                     0,52          0,37          0,34          0,32          0,33         0,38
Quick ratio                       0,33          0,29          0,25          0,24          0,25         0,27
Cash ratio                        0,03          0,08          0,04          0,04          0,03         0,04

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin            12,43%        13,73%        13,50%        13,44%        13,30%       13,28%
Net profit margin             -16,68%       -17,91%       -14,33%       -12,37%       -11,08%      -14,47%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover           13            23            21            21            21           20
Inventory turnover                  4            11            10            13            13           10
Acc. Payable turnover               1             2             2             2             2            2
Days of Acc. Receivable            27            16            17            17            17           19
Days of Inventory                  85            34            38            27            28           42
Days of Acc. Payable              246           207           209           186           175          205

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity               -160,07%      -144,75%      -131,19%      -125,35%      -121,64%     -136,60%
Debt to Assets                116,11%       142,65%       153,55%       172,45%       184,28%      153,81%
Page 96
                                                                                                    Lampiran 8
                           Proyeksi Analisis Rasio Tanpa Rencana Penambahan KBLI
                              Projection    Projection    Projection    Projection    Projection    Average
                               FY 2026       FY 2027       FY 2028       FY 2029       FY 2030      Proyeksi
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio                        0,52          0,36          0,34          0,31          0,33         0,37
Quick ratio                          0,33          0,29          0,25          0,24          0,25         0,27
Cash ratio                           0,03          0,08          0,04          0,04          0,03         0,04

PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin                12,35%        13,63%        13,42%        13,35%        13,23%       13,20%
Net profit margin                 -16,79%       -18,03%       -14,43%       -12,47%       -11,16%      -14,58%

ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover               13            23            21            21            21           20
Inventory turnover                      4            11            10            13            13           10
Acc. Payable turnover                   1             2             2             2             2            2
Days of Acc. Receivable                27            16            17            17            17           19
Days of Inventory                      85            34            38            27            28           42
Days of Acc. Payable                  246           207           209           186           175          205

SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity                  -159,93%      -144,52%      -130,91%      -125,02%      -121,28%      -136,33%
Debt to Assets                   116,19%       142,88%       153,94%       173,08%       185,11%       154,24%
Page 97
                     Lampiran 9
Analisis Kelayakan
Page 98
                                                                                                                                                                                       Lampiran 10
                                                                                        Beta (Damodaran)
Date updated:                              05-Jan-26                                                                                     YouTube Video explaining
Created by:                                Aswath Damodaran, adamodar@stern.nyu.edu                                                      estimation choices and
What is this data?                         Beta, Unlevered beta and other risk measures            Emerging Markets                      process.
Home Page:                                 http://www.damodaran.com
Data website:                              https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/data.html
Companies in each industry:                https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/pc/datasets/indname.xls
Variable definitions:                      https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/variable.htm
Do you want to use marginal or effective tax rates in unlevering betas?                                  Marginal
If marginal tax rate, enter the marginal tax rate to use                                                 24,71%

                                         Number of                                   Effective                                           Unlevered beta corrected               Standard deviation of
Industry Name                                               Beta       D/E Ratio                 Unlevered beta        Cash/Firm value                              HiLo Risk
                                           firms                                     Tax rate                                                    for cash                              equity

Construction Supplies                        580            1,00         32,65%        15,29%           0,80               11,66%                   0,91             0,3275            38,41%
Page 99
                                                                                                                                                                                                                                                   Lampiran 11
                                                                                                                      Country Risk Premium (Damodaran)
Country and Equity Risk Premiums
Date of update:                                           5-Jan-26
Enter the current risk premium for a mature equity market                                                                                         4,23%         Implied ERP for S&P 500 with adjusted dollar riskfree rate (for US Aa1 rating
Enter the current risk premium for the US =                                                                                                       4,46%         US equity risk premium computed using implied ERP approach
Do you want to adjust the country default spread for the additional volatility of the equity market to get to a country premium?                   Yes
If yes, enter the multiplier to use on the default spread (See worksheet for volatility numbers for selected emerging markets)                     1,52         See "Relative Equity Volatilty" worksheet

                                                                                                                     Rating-based Default   Total Equity Risk       Country Risk            Sovereign CDS, net of              Total Equity Risk   Country Risk
                 Country                                    Africa                     Moody's rating
                                                                                                                            Spread              Premium              Premium                     Swiss CDS                        Premium2          Premium3
Indonesia                                      Asia                                           Baa2                          1,62%                 6,69%                2,46%                        1,05%                            5,83%            1,60%
Page 100
                                                                                                                                                                                                                                                Lampiran 12
                                                                                       Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025
                   I.26 SUKU BUNGA PINJAMAN RUPIAH YANG DIBERIKAN                                                                                              I.26 INTEREST RATE OF RUPIAH LOANS
                      MENURUT KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN                                                                                               BY GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
                                  (Persen Per Tahun)                                                                                                                     (Percent Per Annum)

                                                                                                                                                                                               2025
        KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN                                                                                                                                                                GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
                                                                      Jan        Feb       Mar        Apr       May        Jun          Jul       Aug         Sep         Oct        Nov        Dec

   1    Bank Persero                                                                                                                                                                                    State Banks                                                   1

   2     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,69       8,80       8,82      8,83       8,83       8,81        8,78       8,72       8,60        8,39       8,30       8,12       Working Capital Loans                                       2

   3     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           9,22       9,11       9,09      9,02       9,02       8,96        8,92       8,89       8,67        8,84       8,69       8,44       Investment Loans                                            3

   4     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                            9,08       9,06       9,04      9,04       9,01       8,98        8,96       8,94       8,92        8,90       8,87       8,97       Consumer Loans                                              4

   5    Bank Pemerintah Daerah                                                                                                                                                                          Regional Government Banks                                     5

   6     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,81       8,81       8,81      8,85       8,86       8,84        8,78       8,82       8,84        8,66       8,66       8,32       Working Capital Loans                                       6

   7     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,91       8,93       8,93      8,88       8,89       8,88        8,86       8,84       8,83        8,78       8,79       8,75       Investment Loans                                            7

   8     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           10,37      10,37     10,36      10,37      10,38     10,38       10,38       10,38      10,37      10,37       10,36      10,35       Consumer Loans                                              8

   9    Bank Swasta Nasional                                                                                                                                                                            Private National Banks                                        9

  10     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,65       8,62       8,60      8,58       8,55       8,52        8,53       8,48       8,40        8,31       8,29       8,16       Working Capital Loans                                   10

  11     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,10       8,10       8,06      8,06       8,02       7,97        7,93       7,88       7,74        7,67       7,62       7,52       Investment Loans                                        11

  12     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           11,83      11,86     11,84      11,93      11,99     12,04       12,11       12,20      12,26      12,29       12,34      11,99       Consumer Loans                                          12
        Kantor Cabang dari Bank yang Berkedudukan di
  13                                                                                                                                                                                                    Branch Offices of Foreign Banks                           13
        Luar Negeri
  14     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         6,65       6,74       6,67      6,58       6,41       6,74        6,85       6,45       6,07        5,84       5,69       5,58       Working Capital Loans                                   14

  15     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,47       8,40       8,38      8,38       8,38       8,08        8,07       7,89       7,44        7,35       7,35       7,11       Investment Loans                                        15

  16     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           43,82      41,78     41,23      41,17      41,30     41,98       41,51       41,19      41,05      40,59       39,80      38,69       Consumer Loans                                          16

  17    Bank Umum                                                                                                                                                                                       Commercial Banks                                          17

  18     Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan                         8,62       8,67       8,66      8,66       8,64       8,62        8,61       8,55       8,46        8,30       8,24       8,08       Working Capital Loans                                   18

  19     Pinjaman Investasi Yang Diberikan                           8,66       8,62       8,58      8,56       8,54       8,49        8,46       8,42       8,25        8,32       8,22       8,06       Investment Loans                                        19

  20     Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan                           10,41      10,40     10,39      10,42      10,44     10,45       10,47       10,49      10,51      10,51       10,52      10,50       Consumer Loans                                          20
Sejak Januari 2025 terdapat perubahan klasifikasi pengelompokan bank dari Bank Asing dan Bank Campuran menjadi Kantor Cabang      Since January 2025, there is a change in the classification of Group of Bank from Branch Offices of Foreign Banks and Joint Banks
Dari Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri sehubungan dengan implementasi Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT).                  to Branch Offices of Foreign Banks inline with the implementation of the Integrated Commercial Bank Report (LBUT).
Page 101
                                                                   Lampiran 13
Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025

File

File Open PDF
Source IDX
Size4.4 MB
Published20 May 2026
Pages101
Characters289,984
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 86 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org WASKITA BETON PRECAST TBK p.1 ×283
linked person Koento Wahyudiat · Direktur Keuangan p.6 ×4
linked person Indra Utama p.6 ×4
linked person Heri Sebayang · Komisaris p.6 ×4
linked person Fathul Anwar p.6 ×5
linked person Itung Prasaja p.6 ×5
linked person Raden Mas Aris Santosa p.6 ×5
linked org PT Intiniaga Sukses Abadi p.22
linked org Koperasi Waskita Karya p.22
linked person Anak Agung Gede Sumadi p.22 ×2
linked person Ahmad Subagya p.23 ×2
linked org Guna Timur Raya Tbk p.46 ×6
linked org Weha Transportasi Indonesia Tbk p.46 ×6
linked org Transkon Jaya Tbk p.46 ×8
linked org Armada Berjaya Trans Tbk p.66 ×5
linked org PT Waskita Toll Road p.71 ×3
linked org PT Waskita Sriwijaya Toll p.73
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.4 ×8
possible person Hendro p.5 ×2
possible person Indra · Komisaris Utama p.6 ×3
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.6 ×3
possible person Ade Ikhwan p.7 ×8
possible org Waskita Karya (Persero) Tbk p.22 ×32
possible org Adhi Karya (Persero) Tbk p.71 ×2
possible org Bank Persero p.80 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki dan Rekan p.2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki p.2
unresolved — Faks p.2 ×2
unresolved org Studi Kelayakan PT Waskita Beton Precast Tbk p.2 ×2
unresolved org PT Indosarana Jaya Perkasa p.3 ×9
unresolved org PT Sumber Urip Sejati p.3 ×4
unresolved org PT Sadulur Berkah Makmur p.3 ×4
unresolved org PT Nindya Beton p.3 ×2
unresolved org PT Niscala Indonesia Group p.3 ×2
unresolved org PT Ardeco Energy Persada p.3 ×3
unresolved org PT Universal Eco Pasific p.3 ×3
unresolved org PT Hastari Jaya Sentosa p.3 ×5
unresolved org PT WSKT-ADHI-ADESMONT KSO p.3 ×2
unresolved org PT Waskita Wiswa KSO p.3 ×2
unresolved org PT Aurel Putri Lingga p.3 ×2
unresolved org PT Baja Cilegon Energi p.3 ×2
unresolved org Koperasi Karyawan Warga Varia p.3 ×2
unresolved org PT Sraya Artha Gemilang p.3 ×2
unresolved org KJPP Herman Meirizki dan Rekan p.4 ×2
unresolved org KJPP Herman Meirizki p.4 ×4
unresolved org Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan p.4 ×2
unresolved org Kementerian Keuangan Republik Indonesia p.4 ×2
unresolved org Menteri Keuangan p.4 ×2
unresolved person Ashoya Ratam · Notaris p.6 ×3
unresolved org Bank Indonesia p.6 ×15
unresolved org Kantor Akuntan Publik Heliantono & Rekan p.7 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Heliantono p.7 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Hertanto p.7 ×3
unresolved person Bambang Karunawan p.7 ×3
unresolved org Kantor Akuntan Publik Kosasih p.7 ×6
unresolved org Tjahjo & Rekan p.7 ×6
unresolved person Fathiah Helmi p.22
unresolved org Menteri p.22
unresolved person Aulia Taufani · Notaris p.22 ×2
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia p.29
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumber p.29
unresolved org Pusat Statistik p.39 ×3
unresolved org Kementerian Pekerjaan Umum p.39 ×2
unresolved org Kementerian PU TA p.39
unresolved org Pengembangan Infrastruktur Wilayah p.39
unresolved org Pengembangan Sumber Daya Manusia p.39
unresolved org Kementerian PU p.39 ×2
unresolved org Pusat Statistik Perusahaan p.41
unresolved org Pusat Statistik dan Databooks Pada Grafik p.41
unresolved org Pusat Statistik Sertifikat Kompetensi Kerja p.42
unresolved org PT Guna Artha Logistik. Fokus p.46
unresolved org Transportasi Indonesia Tbk p.46
unresolved org Kementerian PUPR. Kebijakan Pemerintah p.47
unresolved org Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman p.47
unresolved org Mitra Rajasa Tbk p.67 ×2
unresolved org PT. Kontan Grahanusa Mediatama p.67
unresolved org PT Pemalang Batang Toll Road p.73
unresolved org Pengawasan Keuangan dan Pembangunan p.73 ×4
unresolved org Pengawasan Keuangan p.73
unresolved org PT Jurnalis Adimedia p.74
unresolved org PT Jurnalis Media Properti p.74
unresolved org PT Citra Kartika Konstruksi p.74
unresolved org Bank Campuran p.100
unresolved org Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri p.100

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.182 25685 ms 12 Sep 2026 22:20
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': 'IDR',
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL_FACT',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result