Skip to content
Back to announcement

20260513_TCID_Laporan Informasi dan Fakta Material_32091014_lamp3.pdf

Other Text extracted TCID

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 114

Page 1
 Jakarta, 8 Mei 2026
 No. Lap                  : 0103/2.0129-00/FS/10/0062/1/V/2026
 No. Proyek               : 012/NP-FS/MDI/II/2026

 Kepada Yth,

 Direksi
 PT Mandom Indonesia, Tbk
 Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor
 Jl. Jend. Sudirman Kav. 1
 Jakarta 10220

 Perihal : Laporan Study Kelayakan atas penambahan KBLI 68126.

 Dengan hormat,

 Report ini adalah merupakan hasil revisi Report No. 0067/2.0129-00/FS/10/0062/1/IV/2026
 tertanggal 6 April 2026 atas Pekerjaan Penyusunan Study Kelayakan Rencana Penambahan
 bidang usaha sesuai KBLI 68126.

 Berdasarkan hasil analisis pasar, teknis, pola bisnis, model manajement dan keuangan, maka
 kami dapat meringkas hasilnya sebagi berikut:

 RINGKASAN EKSEKUTIF

 1.      Latar Belakang

 Perseroan (PT Mandom Indonesia Tbk) adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan
 dan perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor. Perseroan dapat melaksanakan
 kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
 keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan
 besar kosmetik untuk manusia. Kode KBLI atas bidang usaha yang dijalankan saat ini adalah
 seperti tabel berikut.

                                                         Tabel 1
                                      Kode KBLI Eksisting PT Mandom Indonesia Tbk

           No       Kode KBLI                                         Judul KBLI
            1         22220               Industri barang dari plastik untuk pengemasan
            2         20232               Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi
            3         46443               Perdagangan besar kosmetik untuk manusia
            4         20231               Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga
                                                        Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk




Kantor Pusat : Gedung Lina Lt.03 R.307 Jl.HR. Rasuna Said Kav.B-7 Kuningan Jakarta Selatan 12920, T : +62 21 5204352, +62 21 5204353, F : +62 21 5204353,
E : kantor_mwh@kjppmwh.com, kjpp_mwh@yahoo.com, W : wwwkjppmwh.com
Kantor Cabang Semarang : Jl. Pamularsih Barat VII No. 4 Semarang Provinsi Jawa Tengah, Telp Hotline. 0812-2551-6633, E : mwh.semarang@gmail.com
Kantor Cabang Surabaya : Jl. Taman Jambangan Indah No. 28, Surabaya 60232, Telp. (031) 82517157, E : kjppmwhsby@gmail.com
Page 2
Perseroan memiliki Factory 2 yang berlokasi di Jl Jawa, Kawasan Industri MM2100 yang
berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat logistic. Bangunan
factory 2 tersebut dilengkapi dengan fasilitas pergudangan, yang mana saat ini digunakan
sendiri oleh Perseroan, namun masih terdapat sebahagian space gudang yang masih kosong
seluas 414 m2. Rencananya space gudang yang kosong tersebut akan disewakan secara
komersial untuk itu Perseroan membutuhkan penambahan kegiatan usaha yaitu penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri.

2.   Identitas Konsultan

KJPP Munir, Wisnu, Heru & Rekan sebagai konsultan penilai berdasarkan Izin Usaha Kantor
Jasa Penilai Publik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 2.15.0129 berdasarkan
KMK 479/KM.1/2015 tanggal 3 Juni 2015, memiliki NPWP No. 72.848.905.5-011.000 yang
berdomisili di Jakarta Selatan, Gedung Lina Lantai 3. R.307 Jl. HR. Rasuna Said Kav B.7
Kuningan, Telepon 021-5204352, Fax 021-5204353, dalam hal ini diwakili oleh:
Nama                      : Hasan Munir H, MBA., MAPPI (Cert)
Izin Penilai              : PB-1.008.00062
STTD OJK                  : STTD.PPB-03/PJ-1/PM.2/2023
Kualifikasi               : Properti dan Bisnis
Jabatan                   : Pemimpin Rekan
Alamat                    : Gedung Lina, Lt 3 R 307
                            Jl. HR. Rasuna Said Kav B-7, Kuningan
                            Jakarta Selatan 12920
Email                     : kantor_mwh@kjppmwh.com, Kjpp_mwh@yahoo.com

3.   Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

Adapun identitas pemberi tugas adalah sebagai berikut :
     Nama                  : PT. Mandom Indonesia Tbk
     Alamat                : Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor
                             Jl. Jend. Sudirman Kav. 1
                             Jakarta 10220
     No Telepon            : (62-21) 29809500
     Faksmili              : (62-21) 29809501
     Email                 : corporatesecretary@mandom.co.id
     Website               : www.mandom.co.id

     Bidang Usaha          : bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil
                             dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
                             Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti industri
                             kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
                             keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk
                             pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   -v-
Page 3
Adapun Identias Pengguna Laporan

3.1 PT. Mandom Indonesia Tbk

     Bidang Usaha    :   bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil dan
                         sepeda motor. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
                         Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti industri
                         kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
                         keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk
                         pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
     Alamat          :   Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,
                         Jakarta 10220
     No Telepon      :   (62-21) 29809500
     Faksmili        :   (62-21) 29809501
     Email           :   corporatesecretary@mandom.co.id
     Website         :   www.mandom.co.id

3.2 Otoritas Jasa Keuangan

     Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga negara yang dibentuk berdasarkan
     Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem
     pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam
     sektor jasa keuangan. Sektor ini melingkupi perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan
     non-bank seperti asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa
     keuangan lainnya

4.   Obyek Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Obyek studi kelayakan yang diberikan oleh Pemberi Tugas adalah melakukan jasa pekerjaan
studi kelayakan terkait rencana penambahan kegiatan usaha berupa bidang usaha KBLI
68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri. Penyewaan gudang
seluas + 414 m2 yang dimaksud adalah merupakan bagian dari Factory 2 milik PT Mandom
Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat yang berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat
logistik.

5.   Tanggal Studi Kelayakan

Penyusunan studi kelayakan ini ditetapkan per tanggal 31 Desember 2025 dimana batas
tanggal tersebut berdasarkan pertimbangan kepentingan, maksud dan tujuan penyusunan
studi ini serta data – data khususnya keuangan Perseroan yang diberikan dan kami terima.
Selain itu, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020,
penggunaan laporan studi kelayakan ini paling lama adalah 6 (enam) bulan sejak diterbitkan
atau paling lama maksimal sampai dengan tanggal 30 Juni 2026.


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - vi -
Page 4
6.   Metodologi Penyusunan Laporan

Metodologi yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini yaitu:

        Pengumpulan Data
        Analisis
        Penyusunan Laporan

7.   Standar Penugasan

Penugasan penyusunan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini didasarkan atas
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No
35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat
edaran Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta
Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII Tahun
2018.

8.   Independensi Penilai

Dalam mempersiapkan dan menyusun laporan studi kelayakan ini, Penilai bertindak secara
independent tanpa adanya benturan kepentingan, keuntungan pribadi dan tidak terafiliasi
dengan Pemberi Tugas. Laporan studi kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan jasa yang kami terima adalah sama
sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang dihasilkan dalam proses analisa studi
kelayakan ini. Penilai hanya menerima imbalan jasa sesuai dengan proposal yang telah
disetujui oleh Pemberi Tugas.

9.   Sifat dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan

Pada pelaksanaan penugasan studi kelayakan ini, Kami menggunakan beberapa sumber
data dan informasi dari pemberi tugas adalah sebagai berikut :
     -   Laporan keuangan audited per 31 Desember 2021 sampai dengan per 31 Desember
         2025.
            Periode Laporan
           Keuangan Tahunan            KAP                             Opini KAP
                (diaudit)
          Per 31 Desember      Imelda & Rekan -        laporan keuangan konsolidasian
          2021                 Deloitte Touche         terlampir menyajikan secara wajar,
                               Tohmatsu Limited        dalam semua hal yang material,
                                                       posisi keuangan konsolidasian PT.
                                                       Mandom Indonesia Tbk dan entitas
                                                       anak tanggal 31 Desember 2021,
                                                       serta       kinerja      keuangan
                                                       konsolidasian    dan   arus   kas
                                                       konsolidasian untuk tahun yang
                                                       berakhir pada tanggal tersebut,

                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - vii -
Page 5
       Periode Laporan
      Keuangan Tahunan             KAP                             Opini KAP
           (diaudit)
                                                    sesuai dengan Standar Akuntansi
                                                    Keuangan di Indonesia
     Per 31     Desember   Imelda & Rekan -         laporan keuangan konsolidasian
     2022                  Deloitte Touche          terlampir menyajikan secara wajar,
                           Tohmatsu Limited         dalam semua hal yang material,
                                                    posisi keuangan konsolidasian Grup
                                                    tanggal 31 Desember 2022, serta
                                                    kinerja keuangan konsolidasian dan
                                                    arus kas konsolidasiannya untuk
                                                    tahun yang berakhir pada tanggal
                                                    tersebut, sesuai dengan Standar
                                                    Akuntansi Keuangan di Indonesia
     Per 31     Desember   Imelda & Rekan -         laporan keuangan konsolidasian
     2023                  Deloitte Touche          terlampir menyajikan secara wajar,
                           Tohmatsu Limited         dalam semua hal yang material,
                                                    posisi keuangan konsolidasian Grup
                                                    tanggal 31 Desember 2023, serta
                                                    kinerja keuangan konsolidasian dan
                                                    arus kas konsolidasiannya untuk
                                                    tahun yang berakhir pada tanggal
                                                    tersebut, sesuai dengan Standar
                                                    Akuntansi Keuangan di Indonesia
     Per 31     Desember   Liana    Ramon           laporan keuangan konsolidasian
     2024                  Xenia & Rekan -          terlampir menyajikan secara wajar,
                           Deloitte Touche          dalam semua hal yang material,
                           Tohmatsu Limited         posisi keuangan konsolidasian Grup
                                                    tanggal 31 Desember 2024, serta
                                                    kinerja keuangan konsolidasian dan
                                                    arus kas konsolidasiannya untuk
                                                    tahun yang berakhir pada tanggal
                                                    tersebut, sesuai dengan Standar
                                                    Akuntansi Keuangan di Indonesia
     Per 31     Desember   Liana    Ramon           laporan     keuangan     menyajikan
     2025                  Xenia & Rekan -          secara wajar, dalam semua hal yang
                           Deloitte Touche          material, posisi keuangan Perseroan
                           Tohmatsu Limited         tanggal 31 Desember 2025, serta
                                                    kinerja keuangan dan arus kas untuk
                                                    tahun yang berakhir pada tanggal
                                                    tersebut, sesuai dengan Standar
                                                    Akuntansi Keuangan di Indonesia
-   Proyeksi keuangan (business plan) Perseroan tanpa penambahan Kegiatan Usaha
    dan dengan Penambahan Kegiatan Usaha selama tahun 2025 sampai dengan 2030.
-   Profil Perseroan.
-   Data tentang legalitas Perseroan seperti akta pendirian dan perubahan serta
    pengesahannya.
-   Informasi lain dari pihak manajemen serta pihak – pihak yang relevan untuk
    penugasan ini.


                           Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - viii -
Page 6
   -   Data dan informasi industri, pasar dan ekonomi berdasarkan media cetak maupun
       elektronik antara lain Website Aswath Damodaran, website Bank Indonesia, Website
       Bursa Efek Indonesia, Website Badan Pusat Statistik, Website IDX dan Website
       lainnya yang relevan.
10. Tingkat Kedalaman Investigasi

Dalam proses penyusunan laporan studi kelayakan, kami telah melakukan inspeksi lapangan,
wawancara dan diskusi dengan perwakilan manajemen dari Pemberi Tugas. Hal ini dilakukan
guna memperoleh informasi dan dokumen – dokumen pendukung lainnya sehubungan
dengan penugasan ini atau sehubungan dengan penyusunan studi kelayakan pembambahan
kegiatan usaha.

11. Kejadian – Kejadian Penting Setelah Tanggal Efektif (Subsequent Events)

Berdasarkan data dan informasi yang kami terima dari Pemberi Tugas, tidak terdapat kejadian
– kejadian penting setelah tanggal efektif hingga tanggal laporan studi ini diterbitkan.

12. Pernyataan Atas Persetujuan Untuk Publikasi

Laporan studi kelayakan ini disusun bersifat terbuka untuk publik. Oleh karena itu, jika laporan
studi ini dipublikasikan oleh Pemberi Tugas baik keseluruhan atau sebagian, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perseroan, dan/atau
laporan direksi/pimpinan perseroan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Penilai.

13. Asumsi dan Kondisi Pembatas

   -   Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer opinion.
   -   Penilai telah melakukan penalaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
       studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
   -   Dalam penyusunan studi kelayakann ini, Penilai mengandalkan kelengkapan informasi
       yang disediakan oleh Perseroan dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
       tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang dapat dipercaya.
   -   Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan dengan
       mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh Perseroan
       dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
   -   Perseroan menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
       penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
       seluruhnya kepada Penilai dan tidak ada pengurangan atas fakta – fakta yang penting.
   -   Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
       informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.
   -   Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan pasar modal dan
       pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.


                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - ix -
Page 7
   -   Laporan studi kelayakan ini disusun sesuai dengan kondisi pasar dan perekonomian,
       kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan – peraturan pemerintah terkait
       yang berlaku pada tanggal penilaian ini diterbitkan.
   -   Kami juga mengasumsikan bahwa sampai dengan tanggal laporan studi kelyakan ini
       diterbitkan sampai dengan tanggal terjadinya rencana aksi korporasi, tidak terjadi
       perubahan apapun terhadap asumsi - asumsi, kondisi serta peristiwa – peristiwa yang
       terjadi, selain daripada yang telah disampaikan kepada kami dalam periode sebelum
       tanggal laporan, yang berpengaruh secara material dalam penyusunan studi
       kelayakan ini. Kami tidak bertanggung jawab untuk menegaskan kembali, melengkapi,
       serta memutakhirkan (update) pendapat kami karena adanya perubahan asumsi,
       kondisi, serta peristiwa – peristiwa yang terjadi ataupun disampaikan setelah tanggal
       laporan.
   -   Penyusunan studi kelayakan ini mengasumsikan bahwa penugasan yang dilakukan
       telah didasarkan atas Peraturan Orotiriats Jasa Keuangan (POJK) Nomor
       17/POJK.o4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha,
       Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020 tentang penilaian dan
       Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Pedoman Penilaian
       dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Standar Penilaian
       Indonesia (SPI) Edisi VII Tahun 2018, sehingga tidak dimaksudkan untuk
       diaplikasikan, dianalisis atau diinterprestasikan menurut peraturan perundang –
       undangan di negara lain.
   -   Hasil laporan studi kelayakan ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data dan
       kebenaran data serta informasi pendukung yang diperoleh dari pihak Pemberi Tugas.
   -   Laporan studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan
       sebagian dari analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis
       lainnya secara utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan
       kesimpulan yang menyesatkan atas proses yang mendasari studi ini.
   -   Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Perseroan, selama
       tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.

14. Hasil Analisa Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha

Berdasarkan hasil analisa kelayakan usaha penambahan kegiatan usaha atau penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri oleh Perseroan
adalah sebagai berikut :

14.1 Kelayakan Pasar

Kondisi perekonomian nasional saat telah pulih dan bangkit dari dampak covid-19 yang terjadi
selama tahun 2020 – 2021. Dewasa ini kondisi perekonomian nasional telah tumbuh pada
angka sekitar + 5% per tahun. Kondisi ini akan menjadi pendorong bagi seKtor atau lapangan
usaha lainnya.

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   -x-
Page 8
Lapangan usaha transportasi dan pergudangan selama ini memiliki peran yang sangat
penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Selama tahun 2013 – 2025, lapangan
usaha transportasi dan pergudangan rata – rata mengalami pertumbuhan sebesar 6,6% per
tahun. Sedangkan kontribusinya terhadap PDB cenderung mengalami pertumbuhan setiap
tahun yaitu dari 3,3% di tahun 2013 meningkat menjadi 4,83% di tahun 2025. Dalam lapangan
usaha tersebut terdapat 7 (tujuh) sub lapangan usaha dan salah satunya adalah sub lapangan
usaha pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos dan kurir. Berdasarkan hasil analisa,
rata – rata pertumbuhan sub lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang angkutan,
pos dan kurir selama tahun 2013 – 2025 adalah mencapai 8,7% per tahun dan merupakan
sub lapangan usaha yang pertumbuhannya tertinggi dari lapangan usaha transportasi dan
pergudangan. Laju pertumbuhan tersebut memberikan gambaran bahwa sub lapangan usaha
pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos dan kurir memiliki potensi pasar yang baik
pada masa mendatang.

Rencana gudang yang disewakan oleh Perseroan seluas + 414 m2, secara komersial
termasuk kepada afiliasi maupun non-afiliasi yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl.
Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat. Oleh karena itu, ditinjau dari analisa pasar
bahwa penambahan kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan
gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan marketable.

14.2 Kelayakan Teknis

Gudang yang disewakan oleh Perseroan dalam studi ini merupakan bagian dari Factory 2
yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat.
Berdasarkan IMB, luas bangunan Factory 2 tersebut adalah + 39.683 m2 termasuk bangunan
pergudangan. Luas bangunan gudang yang disewakan adalah hanya + 414 m2 dan saat ini
dalam keadaan kosong dengan kondisi sangat terawat dan layak digunakan. Sehubungan
dengan rencana disewakan kepada tenant, space gudang seluas + 414 m2 didalamnya akan
dibangun ruang AC seluas + 60 m2. Factory 2 Perseroan dilengkapi dengan fasilitas lift barang
yang berguna untuk proses kelancaran bongkar muat barang dari lantai 1 ke lantai 2 atau
sebaliknya. Pemanfaatan atau penyewaan gudang yang ada di lantai-2, secara teknis tidak
berdampak pada kegiatan yang ada di lantai-1 sebagai area produksi dan gudang material.

Lokasi Factory 2 Perseroan memiliki aksesibilitas yang sangat baik dan mudah dijangkau dari
berbagai arah. Hal ini disebabkan karena lokasinya didukung oleh akses Jl Tol Jakarta
Cikampek yang memudahkan konektivitas dengan wilayah lainnnya. Selain itu pula, lokasi
Factory 2 tersebut berada dalam kawasan Industri terpadu dan memiliki fasilitas yang sangat
lengkap.

Oleh karena itu, ditinjau dari sisi teknis bahwa penambahan kegiatan usaha atau penambahan
KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan
layak secara teknis.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   - xi -
Page 9
14.3   Kelayakan Pola Bisnis

Perseroan memiliki keungguan kompetitif dalam bidang usahanya, kemudian juga memiliki
kemampuan menciptakan nilai tambah serta memiliki kemampuan melakukan mitigasi risiko
persaingan usaha. Artinya perseroan memiliki keyakinan bahwa kegiatan usaha ini akan
berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek pola bisnis terkait dengan rencana penambahan
kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas
penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah layak.
14.4 Kelayakan Model Manajemen

Berdasarkan hasil analisa model manajemen bahwa Perseroan telah mempersiapkan struktur
organisasi, tenaga kerja, tenaga ahli terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha
atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri.

Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek model manajamen terkait dengan rencana
penambahan kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan
fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah layak.
14.5 Kelayakan Keuangan

Analisa kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih perseroan
(free cash flow to firm/FCFF) yang mencerminkan arus kas bersih masa mendatang. Arus kas
inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih dengan penambahan kegiatan usaha
dengan arus kas bersih tanpa penambangan kegiatan usaha. Hasil perhitungan arus kas
inkremental ini menjadi dasar dalam menentukan kelayakan usaha.

                                                    Tabel 2
                                    Analisa Arus Kas Bersih Perusahaan (Rp)
               Uraian                                                          Proyeksi
                                                    2026               2027                2028               2029                2030
               After
               Laba Bersih                64.743.383.016    62.815.025.754      106.596.853.937    147.162.680.650    195.356.661.054
               Penyusutan & Amortisasi    13.176.664.000    13.443.396.000       13.712.064.000     13.986.105.360     14.265.627.547
               (1-tax)*Bunga
               Net Working Capital        97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)    21.374.004.468     (4.070.366.808)
               Penerimaan Operasional    174.991.605.997    73.210.225.374       89.772.009.425    182.522.790.478    205.551.921.794

               Kegiatan Investasi        (16.406.928.815) (100.160.138.336) (100.267.748.000) (110.708.808.842)       (119.753.907.990)

               Free Cash Flow            158.584.677.182    (26.949.912.962)    (10.495.738.575)    71.813.981.636     85.798.013.804

               Before
               Laba Bersih                64.716.736.918    62.775.056.607      106.556.884.790    147.122.711.503    195.316.691.907
               Penyusutan & Amortisasi    13.170.000.000    13.433.400.000       13.702.068.000     13.976.109.360     14.255.631.547
               (1-tax)*Bunga                           -                 -                    -                  -                  -
               Net Working Capital        97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)    21.374.004.468     (4.070.366.808)
               Penerimaan Operasional    174.958.295.899    73.160.260.227       89.722.044.278    182.472.825.331    205.501.956.647

               Kegiatan Investasi        (16.308.175.320) (100.145.278.152) (100.251.562.878) (110.691.301.460)       (119.734.891.170)

               Free Cash Flow            158.650.120.579    (26.985.017.925)    (10.529.518.600)    71.781.523.872     85.767.065.476

               Incremental

               Penerimaan Operasional         33.310.098        49.965.147           49.965.147         49.965.147         49.965.147

               Kegiatan Investasi            (98.753.495)       (14.860.184)        (16.185.122)       (17.507.383)        (19.016.819)

               Terminal Value                          -                  -                   -                  -        290.748.968

               Free Cash Flow                (65.443.397)       35.104.963           33.780.025         32.457.764        321.697.295




                                            Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xii -
Page 10
Berdasarkan hasil analisis, hasil indikator kelayakan usaha atas rencana penambahan
kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas
penyimpanan mandiri adalah sebagai berikut.

                              Indikator Kelayakan Usaha                                    Hasil
                             IRR                                                              80,70%
                             NPV (Rp)                                                    232.169.828
                             B/C Ratio                                                           2,64
                             Payback Period                                                      2,61

Berdasarkan hasil analisa keuangan, rencana penambahan kegiatan usaha atau
penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri
adalah layak direalisasikan dimana hal ini didasarkan atas :

  -   IRR yang diperoleh lebih besar dari asumsi diskon rate (8,60%).
  -   NPV yang diperoleh lebih besar dari 0 (nol).
  -   B/C Ratio yang diperoleh lebih besar dari 1 (satu).
  -   Payback period hanya 2,61 tahun.

15.   Analisa Break Event Point

Break Even point (BEP) adalah suatu titik dimana jumlah pendapatan yang diterima sama
dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil analisa, break event point atas
rencana penambahan kegiatan usaha atau penyewaan gudang adakah Rp 215.179.451 per
tahun dengan volume space gudang yang disewakan sekitar 296,9 m2 per bulan.
                                                        Tabel 3
                                               Analisa Break Event Point
                Uraian                    Satuan                                       Proyeksi
                                                         2026            2027            2028          2029            2030
                Space Yang Disewakan      m2                    414             414           414             414             414
                Okupansi                  %                 100%            100%            100%          100%            100%
                Space Yang Tersewa        m2                    414             414          414              414             414
                Tarif                     Rp/m2/bln       60.386          60.386          60.386        60.386          60.386
                Pendapatan                            200.000.000     300.000.000     300.000.000   300.000.000     300.000.000
                COGS                                  165.838.336     248.757.504     248.757.504   248.757.504     248.757.504
                Fixed Cost
                Penyusutan & Amortisasi                 6.664.000       9.996.000       9.996.000     9.996.000       9.996.000
                Gaji dll                               80.000.000     120.000.000     120.000.000   120.000.000     120.000.000
                Total Fixed Cost                       86.664.000     129.996.000     129.996.000   129.996.000     129.996.000
                Variable Cost                          79.174.336     118.761.504     118.761.504   118.761.504     118.761.504


                BEP                       Rp/thn      143.452.967     215.179.451     215.179.451   215.179.451     215.179.451
                                          m2/bln            296,9           296,9           296,9         296,9           296,9



16.   Analisa Profitabilitas

Berdasarkan hasil analisa profitabilitas, dengan adanya penyewaan space Gudang
menyebabkan terjadinya peningkatan pada operating profit margin, net profit margin, ROE
dan ROA, kecuali gross profit margin. Peningkatan yang dicapai relative sangat kecil karena
pendapatan space yang disewakan sangat kecil dibandingkan dengann total pendapatan
lainnya. Namun peningkatan ini memberikan gambaran bahwa penyewaan space gudang
menyebabkan asset menjadi lebih optimal pemanfaatannya.

                                           Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xiii -
Page 11
                                                     Tabel 4
                                               Analisa Profitabilitas
                             Uraian                                   Proyeksi
                                                     2026      2027      2028
                                                                            2029   2030
                             After
                             Gross profit margin     26,36% 26,21% 26,21% 26,21% 26,21%
                             Operating profit margin 1,01% 2,35% 3,86% 5,27% 6,59%
                             Net profit margin        2,76% 2,44% 3,76% 4,72% 5,69%
                             ROE                      3,49% 3,28% 5,27% 6,78% 8,25%
                             ROA                      2,78% 2,59% 4,19% 5,47% 6,74%

                             Before
                             Gross profit margin     26,36% 26,21% 26,21% 26,21% 26,21%
                             Operating profit margin 1,01% 2,35% 3,86% 5,27% 6,59%
                             Net profit margin        2,76% 2,44% 3,76% 4,72% 5,69%
                             ROE                      3,49% 3,27% 5,26% 6,78% 8,25%
                             ROA                      2,77% 2,59% 4,19% 5,47% 6,74%

                             Incremental
                             Gross profit margin     -0,001% -0,001% -0,001% -0,001% -0,001%
                             Operating profit margin 0,001% 0,002% 0,001% 0,001% 0,001%
                             Net profit margin        0,001% 0,001% 0,001% 0,001% 0,001%
                             ROE                      0,001% 0,002% 0,002% 0,001% 0,001%
                             ROA                      0,001% 0,002% 0,001% 0,001% 0,001%


17.       Analisa Sensitivitas

Analisa ini bertujuan untuk mengetahui variabel yang paling sensitive mempengaruhi tingkat
kelayakan proyek. Variabel yang dimaksud terdiri dari 2 (dua) yaitu tarif dan biaya investasi.
Berdasarkan hasil analisa, variabel yang paling sensitive adalah tarif, karena dengan
perubahan presentasi yang sama dengan variabel biaya investasi menyebabkan IRR dan
NPV yang diperoleh mengalami penurunan yang lebih besar.

                                                     Tabel 5
                                               Analisa Sensitivitas
                             Uraian                Kenaikan                       IRR         NPV
                                                 (Penurunan)                      (%)         (Rp)
                 Normal                                                          80,70%   232.169.828
                 Tarif                                    -5,0%                  48,95%   118.793.631
                                                          -7,5%                  31,60%    62.105.531
                                                         -10,0%                  10,92%     5.417.430
                 Investasi                                 + 5%                  74,12%   218.804.093
                                                         + 7,5%                  71,07%   212.121.225
                                                          + 10%                  68,14%   205.438.357



18.        Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian di atas dan hasil analisa, rencana penambahan kegiatan usaha atau
rencana penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri oleh Perseroan dapat disimpulkan layak direalisasikan. Hal ini didasarkan atas :

      -    Berdasarkan hasil analisa dari sisi aspek pasar terkait dengan rencana penambahan
           kegiatan usaha atau penambahan KBLI 68126 tentang penyewaan gudang dan
           fasilitas penyimpanan mandiri dapat disimpulkan adalah marketable.


                                          Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xiv -
Page 12

          
Page 13

          
Page 14

          
Page 15
                                                                              DAFTAR ISI
Surat Pengantar
Surat Pernyantaan / Representasi                                                                 ii
Pernyataan Penilai                                                                               iii
Ringkasan Eksekutif                                                                              iv
Daftar Isi                                                                                       xiv


Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latar Belakang                                                                              1–1
1.2. Identitas Konsultan                                                                         1–2
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan                                                1–3
1.4. Obyek Studi Kelayakan                                                                       1–4
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan                                                           1–4
1.6. Standar Penugasan                                                                           1–4
1.7. Tanggal Penyusunan Studi Kelayakan                                                          1–4
1.8. Metodologi                                                                                  1–5
1.9. Independensi Penilai                                                                        1–5
1.10. Sifat dan Informasi Yang Dapat Diandalkan                                                  1–5
1.11. Tingkat Kedalaman Investigasi                                                              1–7
1.12. Kejadian – Kejadian Penting Setelah Tanggal Efektif (Subsequent Events)                    1–7
1.13. Pernyataan Atas Persetujuan Untuk Publikasi                                                1–7
1.14. Asumsi Dan Kondisi Pembatas                                                                1–7


Bab 2 Gambaran Umum Perseroan
2.1. Pendirian Perseroan                                                                         2–1
2.2. Domisili                                                                                    2–3
2.3. Maksud Dan Tujuan                                                                           2–3
2.4. Struktur Permodalan                                                                         2–3
2.5. Susunan Pengurus                                                                            2–4
2.6. Susunan Organisasi                                                                          2–5
2.7. Perizinan dan Legalitas                                                                     2–6
2.8. Perizinan dan Legalitas Lainnya                                                             2–7
2.9. Perijinan dan Legalitas Terkait Dengan Penambahan Kegiatan Usaha                            2–7
2.10. Kinerja Keuangan Historis                                                                  2–8
2.10.1. Kinerja Laba Rugi                                                                        2–8


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xiv -
Page 16
2.10.2. Kinerja Posisi Keuangan                                                                 2 – 10
2.10.3. Analisis Arus Kas                                                                       2 – 12
2.10.4. Analisis Rasio Keuangan                                                                 2 – 13


Bab 3 Tinjauan Ekonomi
3.1. Gambaran Umum Perekonomian Global                                                          3–1
3.2. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia                                                       3–3
3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi                                                                      3–3
3.2.2. Struktur Ekonomi                                                                         3–5
3.3. Inflasi                                                                                    3–5
3.4. Nilai Tukar Mata Uang Rupiah                                                               3–6
3.5. Suku Bunga Perbankan                                                                       3–7
3.6. Investasi                                                                                  3–9

Bab 4 Tinjauan Pasar
4.1. Penduduk                                                                                   4–1
4.1.1. Perkembangan Jumlah Penduduk                                                             4–1
4.1.2. Komposisi Penduduk Menurut Generasi                                                      4–1
4.1.3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur                                                 4–2
4.1.4. Sebaran Penduduk Menurut Wilayah                                                         4–2
4.2. Pengertian Logistik, Fungsi Dan Komponen                                                   4–3
4.3. Sejarah Perkembangan Logistik Di Indonesia                                                 4–5
4.4. Daya Saing Logistik Nasional                                                               4–7
4.5. Perkembangan Industri Logistik Nasional                                                    4 – 11
4.5.1. Perkembangan Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan                                 4 – 11
4.5.2. Distribusi Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan
       Menurut Sub Lapangan Usaha                                                               4 – 13
4.5.3. Kontribusi Terhadap PDB                                                                  4 – 14
4.5.4. Struktur Pasar Utama Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan                         4 – 15
4.6. Strategi Pengembangan Sektor Logistik Guna Mendukung
     Perekonomian Indonesia                                                                     4 – 16
4.7. Rencana Penambahan Kegiatan Usaha                                                          4 – 18
4.7.1. Bidang Penambahan Usaha                                                                  4 – 18
4.7.2. Target Market                                                                            4 – 19
4.7.3. Analisa Pesaing                                                                          4 – 19
4.7.4. Strategi Pemasaran                                                                       4 – 20



                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xv -
Page 17
Bab 5 Analisis Aspek Pola Bisnis
5.1. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai                                                        5–1
5.2. Keunggulan Kompetitif                                                                    5–1
5.3. Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk                                                    5–4
5.4. Analisa SWOT                                                                             5–4

Bab 6 Analisis Aspek Model Manajemen
6.1. Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen Sebelum Adanya Penambahan KBLI 6 – 1
6.2. Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen Setelah Adanya Penambahan KBLI                         6–5
6.3. Manajemen Risiko                                                                         6–7


Bab 7 Aspek Teknis
7.1. Rencana Perusahaan                                                                       7–1
7.2. Lokasi                                                                                   7–1
7.3. Luas Dan Bentuk Tapak                                                                    7–2
7.4. Batasan – Batasan Tapak                                                                  7–2
7.5. Aksesibilitas                                                                            7–3
7.6. Lingkungan Sekitar                                                                       7–3
7.7. Luas Gudang Dan Pemanfaatan Bangunan Factory 2                                           7–4


Bab 8 Aspek Keuangan
8.1.   Rencana Perusahaan                                                                     8–1
8.2.   Asumsi Umum                                                                            8–1
8.2.1. Operasional                                                                            8–1
8.2.2. Okupansi                                                                               8–1
8.2.3. Tarif                                                                                  8–1
8.2.4. Harga Pokok Penjualan                                                                  8–1
8.2.5. Biaya Investasi                                                                        8–2
8.2.6. Sumber Pendanaan                                                                       8–2
8.3.   Proyeksi Keuangan                                                                      8–2
8.3.1. Proyeksi Laba Rugi                                                                     8–2
8.3.2. Proyeksi Arus Kas                                                                      8–3
8.3.3. Proyeksi Posisi Keuangan                                                               8–4
8.4.   Inkremental Proyeksi Keuangan                                                          8–6
8.4.1. Inkremental Proyeksi Laba Rugi                                                         8–6
8.4.2. Inkremental Proyeksi Arus Kas                                                          8–6
8.4.3. Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan                                                   8–6

                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xvi -
Page 18
8.5.    Analisis Modal Kerja                                                                    8–8
8.6.    Tingkat Diskonto                                                                        8–8
8.6.1. Tingkat Diskonto Ekuitas (Cost of Equity)                                                8–8
8.6.2. Tingkat Suku Bunga Kredit (Cost of Debt)                                                 8–9
8.6.3. Tingkat Diskonto Untuk Para Pemodal (Weighted Average Cost of Capital)                   8 – 10
8.7.    Analisis Kelayakan Usaha                                                                8 – 11
8.8.    Analisa Break Event Point                                                               8 – 13
8.9.    Analisa Profitabilitas                                                                  8 – 14
8.10.   Analisis Sensitivitas                                                                   8 – 14




                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk - xvii -
Page 19
                                                                                            BAB 1
                                                                    PENDAHULUAN
1.1.    LATAR BELAKANG

PT Mandom Indonesia Tbk berdiri sebagai perusahaan joint venture antara Mandom
Corporation, Jepang dan PT The City Factory. Perseroan berdiri dengan nama PT Tancho
Indonesia dan pada tahun 2001 berganti menjadi PT Mandom Indonesia Tbk. Akta Pendirian
No. 14 tanggal 5 Nopember 1969 yang diubah dengan Akta Perubahan No. 84 tanggal 28
Oktober 1970 yang mendapat pengesahan melalui Keputusan Menteri Kehakiman Republik
Indonesia No. J.A.5/150/18 tanggal 28 Nopember 1970.

Kegiatan produksi komersial Perseroan dimulai pada tahun 1971 dimana pada awalnya
Perseroan menghasilkan produk perawatan rambut, kemudian berkembang dengan
memproduksi produk wangi-wangian dan kosmetik. Saat ini Perseroan berkantor pusat
di Wisma 46 Kota BNI, Lt.7, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta. Perseroan mempunyai dua
lokasi pabrik di Kawasan Industri MM2100, Bekasi ; Factory 1 yang berada di Jl. Irian khusus
memproduksi seluruh produk kosmetik Perseroan sementara Factory 2 yang berada di Jl.
Jawa berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan juga sebagai pusat logistik

Sesuai Anggaran Dasar terakhir, maksud dan tujuan Perseroan adalah berusaha dalam
bidang industri pengolahan dan perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor. Untuk
mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha
seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih keperluan
rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan besar
kosmetik untuk manusia. Kode KBLI atas bidang usaha yang dijalankan adalah seperti tabel
berikut.

                                           Tabel 1.1
                        Kode KBLI Eksisting PT Mandom Indonesia Tbk
       No   Kode KBLI                                Judul KBLI
        1     22220      Industri barang dari plastik untuk pengemasan
       2     20232       Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi
       3     46443       Perdagangan besar kosmetik untuk manusia
       4     20231       Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


Pada saat ini Perseroan memiliki aset berupa gudang yang berlokasi di Kawasan Industri
MM2100, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Eksisting gudang tersebut digunakan sendiri oleh
Perseroan sesuai dengan rencana bisnis awal. Namun pada perkembangannya, pihak
manajemen melakukan perubahan strategis bisnis atas gudang tersebut dimana akan


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 1
Page 20
disewakan secara komersial termasuk kepada pihak - pihak lain dan atau perusahaan
terafiliasi dengan tujuan optimalisasi aset.

Rencana penyewaan aset gudang tersebut, tidak termasuk dalam izin kegiatan usaha
perseroan yang ada saat ini. Oleh karena itu manajemen perlu menambah kegiatan usahanya
serta manajemen perlu melakukan penyesuaian terhadap kode klasifikasi untuk
mengklasifikasikan jenis bidang usaha perusahaan di Indonesia atau yang dikenal dengan
nama Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) agar dapat menjalankan rencana
usaha yang baru terkait dengan penyewaan gudang. Adapun rencana penambahan KBLI atas
usaha baru tersebut seperti tabel berikut :

                                          Tabel 1.2
                               Rencana Penambahan KBLI
       No   Kode KBLI                         Judul KBLI
        1     68126     Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri
                                Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


Berdasarkan penjelasan dari manajemen PT Mandom Indonesia Tbk dimana berencana
menambah kegiatan usaha, dimana sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan
Kegiatan Usaha Utama, mengingat rencana Perseroan tersebut akan menambah kegiatan
usaha (penambahan KBLI 68126 penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri).

Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha dan juga peraturan POJK
tersebut di atas, Perseroan membutuhkan jasa independent untuk melakukan analisa studi
kelayakan usaha atas atas rencana penambahan kegiatan usaha tersebut. Manajemen
Perseroan menunjukan KJPP Munir Wisnu Heru & Rekan selaku pihak independen untuk
menyusun laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha (atau penambahan KBLI)
sesuai dengan persetujuan penawaran No.012/PP-FS/MWH-00/HM/I/2026 Tanggal 19
Januari 2026.

1.2.    IDENTITAS KONSULTAN

KJPP Munir, Wisnu, Heru & Rekan sebagai konsultan penilai berdasarkan Izin Usaha Kantor
Jasa Penilai Publik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 2.15.0129 berdasarkan
KMK 479/KM.1/2015 tanggal 3 Juni 2015, memiliki NPWP No. 72.848.905.5-011.000 yang
berdomisili di Jakarta Selatan, Gedung Lina Lantai 3. R.307 JI. HR. Rasuna Said Kav B.7
Kuningan, Telepon 021-5204352, Fax 021-5204353, dalam hal ini diwakili oleh:

        Nama               :   Hasan Munir H, MBA., MAPPI (Cert)
        Izin Penilai       :   PB-1.008.00062
        STTD OJK           :   STTD.PPB-03/PJ-1/PM.2/2023
        Kualifikasi        :   Properti dan Bisnis
        Jabatan            :   Pemimpin Rekan

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 2
Page 21
       Alamat              :   Gedung Lina, Lt 3 R 307 JI. HR. Rasuna Said Kav B-7,
                               Kuningan Jakarta Selatan 12920
       Email               :   kantor mwh@kjppmwh.com, Kjpp mwh@yahoo.com

1.3.   IDENTITAS PEMBERI TUGAS DAN PENGGUNA LAPORAN

Adapun identitas pemberi tugas adalah sebagai berikut :
       Nama                :   PT Mandom Indonesia Tbk
       Bidang Usaha        :   bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
                               bukan mobil dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud
                               dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
                               kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia,
                               industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
                               tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan,
                               dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
       Alamat              :   Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend.
                               Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220
       No Telepon          :   (62-21) 29809500
       Faksmili            :   (62-21) 29809501
       Email               :   corporatesecretary@mandom.co.id
       Website             :   www.mandom.co.id

Adapun identitas pengguna laporan adalah sebagai berikut :

       1. PT. Mandom Indonesia Tbk
          Bidang Usaha         : bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
                                 bukan mobil dan sepeda motor. Untuk mencapai maksud
                                 dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
                                 kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia,
                                 industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
                                 tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan,
                                 dan perdagangan besar kosmetik untuk manusia.
          Alamat               : Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, 7th Floor Jl. Jend.
                                 Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220
          No Telepon           : (62-21) 29809500
          Faksmili             : (62-21) 29809501
          Email                : corporatesecretary@mandom.co.id
          Website              : www.mandom.co.id



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 3
Page 22
       2. Otoritas Jasa Keuangan

         Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga negara yang dibentuk
         berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi
         menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap
         keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Sektor ini melingkupi
         perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan non-bank seperti asuransi, dana
         pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya

1.4.   OBYEK STUDI KELAYAKAN

Obyek studi kelayakan yang diberikan dari Pemberi Tugas adalah melakukan jasa pekerjaan
studi kelayakan terkait rencana penambahan kegiatan usaha berupa bidang usaha KBLI
68126 Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri

1.5.   MAKSUD DAN TUJUAN STUDI KELAYAKAN

Berdasarkan uraian di atas, studi kelayakan ini disusun dengan maksud untuk memberikan
pendapat atas kelayakan penambahan kegiatan usaha perseroan terkait dengan rencana
penambahan KBLI 68126 penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri
Tujuan atas penyusunan laporan ini adalah studi kelayakan atas rencana penambahan KBLI
68126 Penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri adalah untuk keperluan atau
pertimbangan bagi manajemen PT Mandom Indonesia Tbk serta untuk keperluan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK).

1.6.   STANDAR PENUGASAN

Penugasan penyusunan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini didasarkan atas
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.O4/2020 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No
35/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat
edaran Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta
Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII Tahun
2018.

1.7.   TANGGAL PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN

Penyusunan studi kelayakan ini ditetapkan per tanggal 31 Desember 2025 dimana batas
tanggal tersebut berdasarkan pertimbangan kepentingan, maksud dan tujuan penyusunan
studi ini serta data – data khususnya keuangan Perseroan yang diberikan dan kami terima.
Selain itu, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020,
penggunaan laporan studi kelayakan ini paling lama adalah 6 (enam) bulan sejak diterbitkan
atau paling lama maksimal sampai dengan 30 Juni 2026.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 4
Page 23
1.8.    METODOLOGI

Metodologi yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini yaitu:

   •    Pengumpulan Data
        Pengumpulan data terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data
        primer merupakan data - data yang diperoleh langsung dari Perseroan mulai dari hasil
        wawancara, data legalitas, bisnis plan, data laporan keuangan hingga data – data
        terkait dengan rencana penambahan KBLI. Sedangkan data sekunder yang dimaksud
        dari data – data publikasi seperti data dari BPS, Damodara, OJK, IDX, Bank Indonesia
        serta data-data informasi dari sumber lainnya yang relevan.
   •    Analisa
        Data primer dan data sekunder yang telah dikumpulkan, kemudian dilakukan analisa
        sesuai dengan tujuan. Tahapan analisa meliputi legalitas, pasar, teknis, pola bisnis,
        model manajemen hingga analisa keuangan. Pada analisa keuangan, untuk indikator
        yang digunakan atas kelayakan usaha pembahan KBLI adalah indikator Net Present
        Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR).
   •    Penyusunan Laporan
        Hasil proses analisa tersebut di atas masing – masing analisis, akan disusun dalam
        satu laporan lengkap dan komprehensif.

1.9.    INDEPENDENSI PENILAI

Dalam mempersiapkan dan menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, keuntunngan pribadi dan tidak terafiliasi
dengan Pemberi Tugas. Laporan studi kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
keuntungan atau merugikan pihak manapun. Imbalan jasa yang kami terima adalah sama
sekali tidak dipengaruhi oleh kesimpulan yang dihasilkan dalam proses analisa studi
kelayakan ini. Penilai hanya menerima imbalan jasa sesuai dengan proposal yang telah
disesutjui oleh Pemberi Tugas.

1.10.   SIFAT DAN SUMBER INFORMASI YANG DAPAT DIANDALKAN

Pada pelaksanaan penugasan studi kelayakan ini, Kami menggunakan beberapa sumber
data dan informasi dari pemberi tugas adalah sebagai berikut :
   -    Laporan keuangan 31 Desember tahun 2021, dikeluarkan oleh Imelda dan Rekan
        (Fenny Widjaja, Izin Akuntan Publik/Public Accountant License No. AP.0560) dengan
        opini bahwa laporan keuangan konsolidaisan secara wajar, dalam semua hal yang
        material, posisi keuangan konsolidasian PT. Mandom Indonesia Tbk dan entitas anak
        tanggal 31 Desember 2021, serta kinerja keuangan konsolidasian dan arus kas


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 5
Page 24
    konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan
    Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
-   Laporan keuangan 31 Desember tahun 2022, dikeluarkan oleh Imelda dan Rekan
    (Fenny Widjaja, Izin Akuntan Publik/Public Accountant License No. AP.0560) dengan
    opini bahwa laporan keuangan konsolidasian secara wajar, dalam semua hal yang
    material, posisi keuangan konsolidasian Grup tanggal 31 Desember 2022, serta
    kinerja keuangan konsolidasian dan arus kas konsolidasiannya untuk tahun yang
    berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di
    Indonesia
-   Laporan keuangan 31 Desember tahun 2023, dikeluarkan oleh Imelda dan Rekan
    (Erny Sandjaja, Izin Akuntan Publik/Public Accountant License No. AP.0631) dengan
    opini bahwa laporan keuangan konsolidasian secara wajar, dalam semua hal yang
    material, posisi keuangan konsolidasian Grup tanggal 31 Desember 2023, serta
    kinerja keuangan konsolidasian dan arus kas konsolidasiannya untuk tahun yang
    berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di
    Indonesia.
-   Laporan keuangan 31 Desember tahun 2024, dikeluarkan oleh LIANA RAMON XENIA
    & REKAN (Erny Sandjaja, CPA, Izin Akuntan Publik/Public Accountant License No.
    AP.0631) dengan opini bahwa laporan keuangan konsolidasian secara wajar, dalam
    semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian Grup tanggal 31 Desember
    2024, serta kinerja keuangan konsolidasian dan arus kas konsolidasiannya untuk
    tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
    Keuangan di Indonesia.
-   Laporan keuangan 31 Desember tahun 2025, dikeluarkan oleh LIANA RAMON XENIA
    & REKAN (Erny Sandjaja, CPA, Izin Akuntan Publik/Public Accountant License No.
    AP.0631) dengan opini bahwa laporan keuangan konsolidasian secara wajar, dalam
    semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian Grup tanggal 31 Desember
    2025, serta kinerja keuangan konsolidasian dan arus kas konsolidasiannya untuk
    tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
    Keuangan Indonesia.
-   Proyeksi keuangan (business plan) Perseroan tanpa penambahan Kegiatan Usaha
    dan dengan Penambahan Kegiatan Usaha tahun 2026 sampai dengan 2029.
-   Profil Perseroan
-   Data tentang legalitas Perseroan seperti akta pendirian dan perubahan serta
    pengesahannya.



                             Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 6
Page 25
   -    Informasi lain dari pihak manajemen serta pihak – pihak yang relevan untuk
        penugasan ini.
   -    Data dan informasi industri, pasar dan ekonomi berdasarkan media cetak maupun
        elektronik antara lain Website Aswath Damodaran, website Bank Indonesia, Website
        Bursa Efek Indonesia, Website Biro Pusat Statistik, Website Bursa Efek Indonesia dan
        Website lainnya yang relevan.

1.11.   TINGKAT KEDALAMAN INVESTASI

Dalam proses penyusunan laporan studi kelayakan, kami telah melakukan inspeksi lapangan,
wawancara dan diskusi dengan perwakilan manajemen dari Pemberi Tugas. Hal ini dilakukan
guna memperoleh informasi dan dokumen – dokumen pendukung lainnya sehubungan
dengan penugasan ini atau sehubungan dengan penyusunan studi kelayakan pembambahan
kegiatan usaha.

1.12.   KEJADIAN – KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL EFEKTIF (SUBSEQUENT
        EVENTS)

Berdasarkan data dan informasi yang kami terima dari Pemberi Tugas, tidak terdapat kejadian
– kejadian penting setelah tanggal efektif hingga tanggal laporan studi ini diterbitkan.

1.13.   PENYATAAN ATAS PERSETUJUAN UNTUK PUBLIKASI

Laporan studi kelayakan ini disusun bersifat terbuka untuk publik. Oleh karena itu, jika laporan
studi ini dipublikasikan oleh Pemberi Tugas baik keseluruhan atau sebagian, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan Perseroan, dan/atau
laporan direksi/pimpinan Perseroan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Penilai.

1.14.   ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS

   -    Laporan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha bersifat non-disclaimer opinion.
   -    Penilai telah melakukan penalaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
        studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
   -    Dalam penyusunan studi kelayakan ini, Penilai mengandalkan kelengkapan informasi
        yang disediakan oleh Perseroan dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
        tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang dapat dipercaya.
   -    Penilai menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan dengan
        mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang disampaikan oleh Perseroan
        dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
   -    Perseroan menyatakan bahwa seluruh informasi material yang menyangkut
        penugasan studi kelayakan penambahan kegiatan usaha telah diungkapkan
        seluruhnya kepada Penilai dan tidak ada pengurangan atas fakta – fakta yang penting.


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 7
Page 26
-   Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
    informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.
-   Laporan studi kelayakan ini ditujukan untuk memenuhi kepentingan pasar modal dan
    pemenuhan aturan OJK dan tidak untuk kepentingan lainnya.
-   Laporan studi kelayakan ini disusun sesuai dengan kondisi pasar dan perekonomian,
    kondisi umum bisnis dan keuangan, serta peraturan – peraturan pemerintah terkait
    yang berlaku pada tanggal penilaian ini diterbitkan.
-   Kami juga mengasumsikan bahwa sampai dengan tanggal laporan studi kelayakan ini
    diterbitkan sampai dengan tanggal terjadinya rencana aksi korporasi, tidak terjadi
    perubahan apapun terhadap asumsi - asumsi, kondisi serta peristiwa – peristiwa yang
    terjadi, selain daripada yang telah disampaikan kepada kami dalam periode sebelum
    tanggal laporan, yang berpengaruh secara material dalam penyusunan studi
    kelayakan ini. Kami tidak bertanggung jawab untuk menegaskan kembali, melengkapi,
    serta memutakhirkan (update) pendapat kami karena adanya perubahan asumsi,
    kondisi, serta peristiwa – peristiwa yang terjadi ataupun disampaikan setelah tanggal
    laporan.
-   Penyusunan studi kelayakan ini mengasumsikan bahwa penugasan yang dilakukan
    telah didasarkan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor
    17/POJK.o4/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha,
    Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 35/2020 tentang penilaian dan
    Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat edaran Pedoman Penilaian
    dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Standar Penilaian
    Indonesia (SPI) Edisi VII Tahun 2018, sehingga tidak dimaksudkan untuk
    diaplikasikan, dianalisis atau diinterpretasikan menurut peraturan perundang –
    undangan di negara lain.
-   Hasil laporan studi kelayakan ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data dan
    kebenaran data serta informasi pendukung yang diperoleh dari pihak pemberi tugas.
-   Laporan studi kelayakan ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan
    sebagian dari analisis dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisis
    lainnya secara utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan
    kesimpulan yang menyesatkan atas proses yang mendasari studi ini.
-   Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selain Perseroan, selama
    tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.




                              Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 1 - 8
Page 27
                                                                                          BAB 2
                          GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1.   PENDIRIAN PERSEROAN

PT Mandom Indonesia Tbk atau Perseroan didirikan berdasarkan Undang-Undang No. 1
Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing sebagai PT Tancho Indonesia Co. Ltd.,
berdasarkan Akta Pendirian No. 14 tanggal 5 November 1969 yang dibuat di hadapan Abdul
Latief, S.H., Notaris di Jakarta. Akta Pendirian ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. J.A.5/150/18 tanggal 28 November 1970,
dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 24 tanggal 23 Maret
1971, Tambahan No. 141.

Pada tahun 1990, PT Tancho Indonesia Co. Ltd. mengubah nama menjadi PT Tancho
Indonesia berdasarkan Akta Notaris No. 53 tanggal 6 Maret 1990 yang dibuat di hadapan
Lukman Kirana, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapatkan persetujuan dari
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Keputusan No. C2-
2132.HT.01.04.TH.90 tanggal 11 April 1990.

Pada tanggal 28 Agustus 1993, Perseroan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal berdasarkan Surat No. S-1340/PM/1993 untuk penawaran umum
perdana Perseroan sebanyak 4.400.000 (empat juta empat ratus ribu) saham dengan nilai
nominal Rp1.000 (seribu Rupiah) per saham kepada publik.

Pada tahun 1997, PT Tancho Indonesia mengubah nama menjadi PT Tancho Indonesia Tbk
sesuai dengan Akta Notaris No. 25 tanggal 14 Mei 1997 yang dibuat di hadapan Amrul
Partomuan Pohan, S.H., LL.M., Notaris di Jakarta, dan telah mendapatkan persetujuan dari
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Keputusan No. C2-
6205.HT.01.04.TH.97 tanggal 4 Juli 1997.

Pada tahun 2001, PT Tancho Indonesia Tbk mengubah nama menjadi PT Mandom Indonesia
Tbk sesuai dengan Akta Notaris No. 6 tanggal 2 November 2000 yang dibuat di hadapan
Amrul Partomuan Pohan, S.H., LL.M., Notaris di Jakarta, dan telah mendapatkan persetujuan
dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Keputusan No.
C-24619.HT.01.04.TH.2000 tanggal 27 November 2000.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 1
Page 28
Pada tanggal 18 Juni 2021, Perseroan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
mengambil alih 208.238.267 (dua ratus delapan juta dua ratus tiga puluh delapan ribu dua
ratus enam puluh tujuh) saham ACG International Sdn, Bhd, dan 909.216 (sembilan ratus
sembilan ribu dua ratus enam belas) saham Alliance Cosmetics Pte. Ltd di bawah PT Alliance
Cosmetics. Kemudian, pada tanggal 18 Juni 2021, setelah RUPS selesai, Perseroan
menandatangani Perjanjian Hak Mengikat atas Saham sebagaimana dinyatakan dalam Akta
Notaris No. 71 tanggal 18 Juni 2021 mengenai Perjanjian Pengikatan Pengalihan Hak atas
Saham PT Alliance Cosmetics antara ACG International Sdn, Bhd dan Alliance Cosmetics Pte.
Ltd sebagai penjual, dan Perseroan sebagai pembeli, yang dibuat oleh Elizabeth Karina
Leonita, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, dengan harga akuisisi sebesar Rp7.679.895.576
(tujuh miliar enam ratus tujuh puluh sembilan juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu lima
ratus tujuh puluh enam Rupiah).

Pada tanggal 30 Juni 2022, Perseroan melakukan penambahan kepemilikan saham di PT
Alliance Cosmetics, dengan menandatangani akta perjanjian pembelian terkait penjualan
16.500.000 (enam belas juta lima ratus ribu) saham atau setara dengan 7,312% (tujuh koma
tiga satu dua persen) kepemilikan, yang dimiliki oleh ACG International Sdn. Bhd. dengan
harga jual yang disepakati sebesar Rp501.699.989 (lima ratus satu juta enam ratus sembilan
puluh sembilan ribu sembilan ratus delapan puluh sembilan Rupiah).

Dalam RUPS tanggal 10 Mei 2023, para Pemegang Saham menyetujui pemecahan saham,
mengurangi nilai nominal saham dari Rp500 (lima ratus Rupiah) per saham menjadi Rp250
(dua ratus lima puluh Rupiah) per saham yang berlaku efektif sejak 6 Juni 2023 sesuai dengan
persetujuan dari BEI. Perubahan ini telah dibuat di hadapan Notaris Ambiati, S.H., dengan
Akta Notaris No. 39 tanggal 10 Mei 2023 dan telah disetujui oleh Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No. AHU-0027738.AH.01.02.
TAHUN 2023. Berdasarkan Surat BEI No. S-02346/BEI.PP3/03-2023 tanggal 15 Maret 2023,
BEI telah menyetujui pemecahan nilai nominal saham Perseroan; dengan demikian, saham
Perseroan yang tercatat di BEI efektif sejak 6 Juni 2023 menjadi Rp250 (dua ratus lima puluh
Rupiah) per saham.

Anggaran Dasar Perseroan telah diubah dari waktu ke waktu dengan perubahan terakhir
adalah sebagaimana tercantum dalam Akta Pernyataan Keputusan RUPS No. 117 tanggal 27
Mei 2025, dibuat di hadapan Ambiati, S.H., Notaris di Kota Bekasi, dan telah diberitahukan
kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat
Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0157633


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 2
Page 29
tanggal 13 Juni 2025 dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan pada Kemenkumham No.
AHU-0129835.AH.01.11.Tahun 2025 tanggal 13 Juni 2025.

Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan saat ini, maksud dan tujuan Perseroan
adalah berusaha dalam bidang Industri Pengolahan yaitu industri bahan kimia dan barang
dari bahan kimia dan industri karet, barang dari karet dan plastik, serta Perdagangan Besar,
bukan Mobil dan Sepeda Motor.

Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada bulan April 1971. Pabrik yang berlokasi
di Kawasan MM2100 Jl Jawa Blok J9, Bekasi Jawa Barat, mulai beroperasi secara komersial
pada tanggal 4 Januari 2001. Relokasi pabrik dan kantor dari Jl Yos Sudarso By Pass, Jakarta
ke Kawasan Industri MM2100 Jl Irian Blok PP, Bekasi Jawa Barat pada tanggal 12 Juni 2015.
Sejak bulan Agustus 2018, Kantor Pusat Perusahan terletak di Wisma BNI 46 Kota BNI, Suite
7,01, LT 7, Jl Jend Sudirman Kav 1 Jakarta Pusat. Hasil produksi grup dipasarkan di dalam
negeri dan ke luar negeri, termasuk ke Uni Emirat Arab, Malaysia, Jepang, Thailand, Filipina,
Singapura, Korea, Vietnam, Hongkong dan Taiwan.

2.2.   DOMISILI
Adapun Domosili perusahaan dan lokasi pabrik adalah sebagai berikut :
   -   Domisili Perusahaan
       Kantor pusat perusahaan berkedudukan di Jakarta Pusat dan berdomisili di Wisma
       46 Kota BNI, Suite 7.01, Lt.7, Jl Jend Sudirman Kav 1 Jakarta Pusat.
   -   Lokasi Pabrik
       Pabrik 1 : Kawasan Industri MM 2100, Jl Irian Blok PP, Cibitung – Bekasi Jawa Barat.
       Pabrik 2 : Kawasan Industri MM 2100, Jl Jawa Blok J-9, Cibitung – Bekasi Jawa Barat.

2.3.   MAKSUD DAN TUJUAN
Berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat PT Mandom Indonesia Tbk No 39, Hari Rabu,
Tanggal 10 Mei 2023 yang dikeluarkan oleh Ambiati, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Bekasi,
Pasal 3 bahwa maksud dan tujuan Perseroan adalah berusaha dalam bidang :
   1. Industri pengolahan yaitu :
       • Industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia.
       • Industri karet, barang dari karet dan plastik.
   2. Perdagangan besar, bukan mobil dan sepeda motor.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas, Perseroan dapat melaksanakan
kegiatan usaha sebagai berikut :
   a. Menjalankan usaha dalam bidang industri – bahan kimia dan barang dari bahan kimia
      yaitu :

                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 3
Page 30
        - Industri kosmetik untuk manusia, termasuk pasta gigi (KBLI No. 20232).
        - Industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah tangga (KBLI No. 20231).
     b. Menjalankan kegiatan usaha dalam bidang industri karet, barang dari karet dan plastik
        yaitu :
        - Industri barang dari plastik untuk pengemasan (KBLI No. 22220).
     c. Menjalankan usaha dalam bidang perdagangan besar kosmetik yaitu :
         - Perdagangan besar kosmetik untuk manusia (KBLI No. 46443).

2.4.    STRUKTUR PERMODALAN
Berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham tahunan tanggal 10 Mei 2023, para
pemegang saham menyetujui untuk melakukan pemecahan saham dengan mengubah nilai
nominal saham dari Rp 500 (nilai penuh) per saham menjadi Rp 250 (nilai penuh) per saham
yang berlaku mulai 6 Juni 2023 sesuai dengan persetujuan dari Bursa Efek Indonesia.
Perubahan ini diaktakan dengan Akta Notaris Ambiati, S.H., No. 39 tanggal 10 Mei 2023 dan
disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. AHU-027738.AH.01.02.TAHUN 2023. Berdasarkan surat Bursa Efek
Indonesia (“Bursa”) No. S-02346/BEI.PP3/03-2023 tanggal 15 Maret 2023, Bursa menyetujui
pelaksanaan pemecahan nilai saham atas saham perseroan, sehingga saham perseroan
yang dicatatkan di Bursa efektif tanggal 6 Juni 2023, dengan nilai nominal menjadi Rp 250
(nilai penuh). Sehingga komposisi saham perusahaan adalah sebagai berikut.
                                           Tabel 2.1
                   Susunan Pemegang Saham PT Mandom Indonesia Tbk
                                        Jumlah Saham         Presentase         Jumlah Modal
 No       Nama Pemegang Saham
                                            (Lembar)         Kepemilikan         Disetor (Rp)
 1     Mandom Corporation, Jepang          262.317.382              65,231%     65.579.345.500
 2     PT. Asia Jaya Paramita                45.716.520             11,368%     11.429.130.000
 3     PT. Asia Paramita Indah                6.520.768             1,622%        1.630.192.000
 4     Lie Harjono (Komisaris)                  506.008             0,126%          126.502.000
 5     Hirokazu Kagami
                                                  40.000            0,010%           10.000.000
       (Wakil Direktur/SEO)
 6     Masyarakat (masing – masing
                                             87.032.656             21,643%     21.758.164.000
       kurang dari 5%)
                Jumlah                     402.133.334                100%     100.533.333.500
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.5.    SUSUNAN PENGURUS

Berdasarkan Pernyataan Keputusan PT Mandom Indonesia Tbk Nomor 117, hari Selasa,
Tanggal 27 Mei 2025, yang dikeluarkan oleh Ambiati, Sarjana Hukum, Notaris di Kota Bekasi

                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 4
Page 31
bahwa susunan Dewan Komisaris dan Direksi perseroan adalah seperti terdapat pada tabel
berikut.

                                           Tabel 2.2
                        Susunan Dewan Komisaris Direksi Perseroan
                           Jabatan                             Nama
              Dewan Komisaris
                Presiden Komisaris              Tuan Shinichiro Koshiba
                Komisaris                       Tuan Masanori Sawada
                Komisaris                       Tuan Lie Harjono
                Komisaris Independen            Tuan Heri Martono
                Komisaris Independen            Tuan Bowo Priyatno
                Komisaris Independen            Nyonya Tiurma Rondang Sari
              Direksi
                Presiden Direktur / CEO         Tuan Koichi Watanabe
                Direktur / SEO                  Tuan Teiji Izawa
                Direktur / SEO                  Tuan Toru Onishi
                Direktur                        Tuan Sanyata Adi Saputra
                Wakil Direktur / SEO            Tuan Budi Sudarta
                Wakil Direktur / SEO            Tuan Hirokazu Kagami
                Wakil Direktur / SEO            Tuan Hideki Nakamura
                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.6.   SUSUNAN ORGANISASI

Adapun susunan organisasi perusahaan adalah seperti terdapat pada gambar berikut.




                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 5
Page 32
        Gambar 2.1
Susunan Organisasi Perseroan




  Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk




  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 6
Page 33
2.7.   PERIZINAN DAN LEGALITAS

Adapun beberapa perizinan dan legalitas perusahaan seperti terdapat pada tabel berikut.
                                          Tabel 2.3
                         Daftar Perizinan dan Legalitas Perusahaan
 No                Uraian                     Nomor & Tanggal                  Yang Mengeluarkan
 1     Akta    pendirian    perseroan   No 14                               Abdul Latief
       terbatas P.T. Tancho Indonesia   Tanggal 5 Nopember 1969             Notaris di Djakarta
       CO.LTD
 2     Akta perubahan anggaran          No. 53                              Lukman Kirana, SH
       dasar PT Tancho Indonesia        Tgl 6 Maret 1990                    Notaris di Jakarta
       CO.LTD
 3     Persetujuan         perubahan    No. C2-2132.HT.01.04.th.90          Direktur Jenderal Hukum
       anggaran dasar perseroan         Tgl 11 April 1990                   dan Perundang-Undangan
       terbatas PT Tancho Indonesia
       CO.LTD
 4     Akta pernyataan keputusan        No. 77                              Amrul Partomuan, SH
       rapat umum luar biasa para       Tgl 18 Februari 1993                Notaris di Jakarta
       pemegang saham tentang
       perubahan anggaran dasar P.T.
       Tancho Indonesia
 5     Persetujuan atas perubahan       No. C2-4511.HT.01.04.TH”93          a/n Menteri Kehakiman dan
       seluruh      angaran     dasar   Tgl 11 Juni 1993                    hak Asasi Manusia RI,
       perseroan terbatas PT Tancho                                         Direktur           Jenderal
       Indonesia                                                            Administrasi Hukum dan
                                                                            Perundang - undangan
 6     Akta perubahan nama menjadi      No 6                                Amrul Partomuan Pohan,
       PT Mandom Indonesia Tbk          Tanggal 2 Nopember 2000             SH
                                                                            Notaris di Jakarta
 8     Persetujuan     atas    dasar    No C-24619 HT.01.04-TH.2000         a/n Menteri Kehakiman dan
       perubahan pasal 1 ayat 1         Tgl 27 Nopember 2000                hak Asasi Manusia RI,
       anggaran dasar perseroan                                             Direktur           Jenderal
       terbatas    :  PT    Mandom                                          Administrasi Hukum Umum
       Indonesia Tbk
 9     Akta berita acara rapat umum     No. 09                              Pahala Sutrisno Amijppjo
       pemegang saham luar biasa        Tgl 10 Juni 2008                    Tampubolon, Notaris di
       PT. Mandom Indonesia Tbk                                             Jakarta Pusat
       tentang perubahan anggaran
       dasar
 10    Persetujuan akta perubahan       No. AHU-43773.AH.01.02.Tahun        a/n Menteri Kehakiman dan
       anggaran dasar perseroan         2008                                Hak Asasi Manusia RI,
                                        Tgl 22 Juli 2008                    Direktur          Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 11    Akta berita acara rapat umum     No. 15                              Pahala Sutrisno Amijppjo
       pemegang saham luar biasa        Tgl 24 April 2014                   Tampubolon, Notaris di
       tentang perubahan badan                                              Jakarta Pusat
       hukum PT Mandom Indonesia
 12    Persetujuan perubahan badan      No. AHU-02144.40.20.2014            a/n Menteri Kehakiman dan
       hukum PT Mandom Indonesia        Tgl 30 April 2014                   Hak Asasi Manusia RI,
                                                                            Direktur           Jenderal
                                                                            Administrasi Hukum Umum
 13    Akta pernyataan keputusan        No 14                               P Sutrisno A Tampubolom,
       rapat PT Mandom Indonesia        Tgl 19 April 2018                   SH,
       Tbk    tentang  perubahan                                            Notaris di Jakarta Pusat
       anggaran dasar


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 7
Page 34
 No                 Uraian                     Nomor & Tanggal                   Yang Mengeluarkan
 14     Persetujuan        perubahan   No. AHU-                              a/n Menteri Kehakiman dan
        Anggaran dasar PT Mandom       0009022.AH.01.02.TAHUN 2018           hak Asasi Manusia RI,
        Indonesia Tbk                  Tgl 23 April 2018                     Direktur           Jenderal
                                                                             Administrasi Hukum Umum
 15     Akta pernyataan Keputusan      No. 39                                Ambiati, SH
        rapat PT Mandom Indonesia      Tgl 10 Mei 2023                       Notaris di Kota Bekasi
        Tbk tentang perubahan data
        perseroan
 16     Penerimaan    pemberitahuan    No. AHU-AH.01.09-0118891              a/n Menteri Kehakiman dan
        perubahan data Perseroan PT    Tgl 19 Mei 2023                       Hak Asasi Manusia RI,
        Mandom Indonesia Tbk                                                 Direktur           Jenderal
                                                                             Administrasi Hukum Umum
 17     Akta pernyataan keputusan      No. 117                               Ambiati, SH
        rapat Perseroan PT Mandom      Tgl 27 Mei 2025                       Notaris di Kota Bekasi
        Indonesia    Tbk     tentang
        perubahan anggaran dasar
 18     Penerimaan    pemberitahuan    No. AHU-Ah.01.03-0157633              a/n Menteri Kehakiman dan
        perubahan anggaran dasar PT    Tgl 13 Juni 2025                      Hak Asasi Manusia RI,
        Mandom Indonesia Tbk                                                 Direktur          Jenderal
                                                                             Administrasi Hukum Umum
                                  Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.8.    Perijinan dan Legalitas Lainnya

Adapun perizinan dan legalitas lainnya adalah sebagai berikut :
  -    Sertifikat tanah
       Jenis Kepemilikan       : Hak guna bangunan
       No.                     ; 247
       Nama Pemegang Hak : PT Mandom Indonesia Tbk
       Alamat                  : Desa Gandamekar
       Berakhirnya Hak         : 24/09/2041
       Surat Ukur              : 00015/1998 Tgl 03-04-1998
       Luas                    : 54.440 m2
       Dikeluarkan oleh        : an Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi
  -    Perizinan berusaha berbasis risiko, nomor Induk Berusaha : 81202103712147, tanggal
       14 Juli 2018, dikeluarkan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi / Kepala Badan Koordinasi
       Penanaman Modal.
  -    NPWP No. 01.000.614.6-092.000, Perseroan terbatas – Badan Mandom Indonesia Tbk,
       tanggal 14/11/1982, dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

2.9.    Perijinan dan Legalitas Terkait Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Perizinan yang sudah dimiliki oleh Perseroan sebagai berikut:
  • Izin lokasi yaitu Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) Nomor:
    28092110213216278 tanggal 29 September 2021.
  • Persetujuan laik fungsi bangunan dengan diterbitkan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) Nomor:
    SKF-SLF.321608-13022023-002 tanggal 13 Februari 2023

                                   Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 8
Page 35
Penambahan Kegiatan Usaha dilakukan sebagai bentuk diversifikasi usaha atas lahan yang
tersedia di Logistic Center Perseroan yang berlokasi di area Factory 2 Perseroan yang saat
ini digunakan sebagai Pabrik Kemasan Plastik dan Logistic Center untuk keperluan internal.
Penambahan kegiatan usaha memungkinkan Perseroan untuk mengembangkan lini usaha
baru yang dapat memberikan kontribusi pada pendapatan Perseroan.               Selain itu,
penambahan kegiatan usaha juga dapat meningkatkan optimalisasi aset dan efisiensi
operasional melalui pemanfaatan lahan yang tersedia serta optimalisasi tenaga ahli dan
infrastruktur yang sudah ada untuk mendukung kegiatan usaha yang baru.
Proses penambahan kegiatan usaha diawali dengan pemenuhan ketentuan dalam POJK
17/2020 yang juga mencakup persetujuan RUPS. Sebagai perusahaan PMA, dalam
pemenuhan perizinan untuk kegiatan usaha sewa gudang, Perseroan wajib memenuhi
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Resiko.
Pengurusan perizinan akan dilakukan setelah Perseroan mendapatkan persetujuan RUPS.
Perizinan tersebut antara lain sebagai berikut:
   1. Perizinan investasi PMA berupa pengajuan NIB dengan KBLI 68126 Penyewaan
      Gudang dan Fasilitas Penyimpanan Mandiri.
   2. Izin pengelolaan/persetujuan lingkungan yaitu Perseroan perlu menyusun dokumen
      pengelolaan dan pelaporan implementasi lingkungan berupa SPPL, UKL, dan UPL.
   3. Izin terkait pendukung operasional yaitu pengajuan teknis Tanda Daftar Gudang dari
      Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bekasi.

2.10.   KINERJA KEUANGAN HISTORIS

Analisa atas kinerja keuangan Perusahaan dalam studi ini dilakukan berdasarkan pada
laporan keuangan audit periode yang berakhir 31 Desember 2021, 2022, 2023, 2024 dan
2025.

2.10.1. Kinerja Laba Rugi

Pendapatan (Penjualan Bersih)

Penjualan bersih perusahaan meningkat dari Rp1.850.311.080 ribu di tahun 2020 menjadi Rp
2.050.460.062 ribu pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024 penjualan yang dicapai oleh
Perusahaan mengalami penurunan menjadi hanya Rp1.859.360.093 ribu dimana pendapatan
tersebut hanya sedikit di atas penjualan yang dicapai di tahun 2021. Pada tahun 2025,
penjualan perusahaan kembali meningkat menjadi Rp2.146.553.444 ribu dan merupakan
penjualan tertinggi yang dicapai sejak tahun 2021. Berdasarkan kinerja pendapatan selama
tahun 2021 – 2025, secara umum penjualan perusahaan mengalami pertumbuhan positif
kecuali di tahun 2024 dan penurunan tersebut perlu diwaspadai, perlu menjadi perhatian agar
kedepan dapat diantisipasi ditengah persaingan global yang semakin ketat.



                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 9
Page 36
Laba Kotor
Laba kotor perusahaan mengalami peningkatan dari Rp305.655.841 ribu di tahun 2021
menjadi Rp411.435.312 ribu di tahun 2022. Pada tahun 2023 laba kotor yang dicapai menurun
menjadi Rp406.611.104 akibat adanya peningkatan beban pokok penjualan. Kemudian pada
tahun 2024 laba kotor yang dicapai kembali mengalami penurunan menjadi hanya
Rp241.799.044 ribu akibat penurunan penjualan meskipun dilain sisi beban pokok penjualan
mengalami penurunan. Pada tahun 2025, laba kotor perusahaan meningkat pesat menjadi
Rp552.298.488 ribu akibat peningkatan penjualan dan penurunan beban pokok penjualan.
Selama tahun 2021 – 2025, laba kotor yang dicapai masih cukup tinggi, namun demikian
marginnya mulai mengalami tekanan akibat pertumbuhan beban pokok penjualan seperti
yang terjadi pada tahun 2023 – 2024.
Laba Operasional (Laba Usaha)
Laba operasional yang dicapai perusahaan mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Laba
operasional pada tahun 2021 mengalami kerugian sebesar -Rp99.524,954 ribu dan
meningkat pesat menjadi Rp5.847.390 ribu di tahun 2022. Pada tahun 2023 laba operasional
mengalami penurunan drastis menjadi hanya Rp813.473 ribu dan penurunan tajam terus
berlanjut di tahun 2024 dimana justru mengalami kerugian sebesar -Rp198.395.096 ribu dan
pada tahun 2025 -Rp7.656.611 ribu. Penurunan laba operasional selama tahun 2023 – 2025
akibat meningkatnya beban usaha khususnya beban penjualan.
Laba Sebelum Pajak
Laba sebelum pajak yang dicapai oleh perusahaan mengalami fluktuasi selama tahun 2021 –
2025. Pada tahun 2021, laba perusahaan sebelum pajak mengalami kerugian sebesar -
Rp93.661.666 ribu, kemudian meningkat pesat menjadi Rp27.802.698 ribu tahun 2022 dan
mencapai puncaknya pada tahun 2023 sebesar Rp44.072.635 ribu. Namun pada tahun 2024
laba sebelum pajak mengalami penurunan atau kerugian yang sangat drastis menjadi
Rp160.955.099 ribu. Pada tahun 2025, laba sebelum pajak tumbuh pesat dimana meningkat
menjadi Rp22.516.937 ribu. Perkembangan laba (rugi) sebelum pajak perusahaan sangat
dipengaruhi oleh komponen penghasilan bunga dan keuntungan lain – lain karena kedua
komponen tersebut sangat besar nominalnya dibandingkan komponen lainnya.
Laba Tahun Berjalan
Laba tahun berjalan pada tahun 2021 mengalami kerugian sebesar -Rp76.507.619 ribu. Pada
tahun 2022 meningkat pesat menjadi Rp18.109.470 ribu dan mencapai puncaknya pada
tahun 2023 yaitu sebesar Rp38.116.003 ribu. Kemudian menurun tajam dan bahkan
mengalami kerugian sebesar -Rp124.747.277 ribu tahun 2024 dan di tahun 2025 kembali
meningkat pesat menjadi laba Rp14.816.262.




                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 10
Page 37
                                               Tabel 2.4
                          Laporan Laba Rugi Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                      2021            2022            2023            2024            2025
                                                     Audit           Audit           Audit           Audit           Audit
 PENJUALAN BERSIH                                 1.850.311.080   2.044.821.803   2.050.460.062   1.859.368.093   2.146.553.444
 BEBAN POKOK PENJUALAN                           (1.544.655.239) (1.633.386.491) (1.643.848.958) (1.617.569.050) (1.594.747.473)
 LABA BRUTO                                         305.655.841     411.435.312     406.611.104     241.799.044     551.805.970
 BEBAN USAHA
 Beban penjualan                                    (212.450.600)   (211.597.243)   (205.539.621)   (230.500.802)   (282.907.312)
 Beban umum dan administrasi                        (192.730.194)   (193.990.678)   (200.258.010)   (209.693.338)   (277.820.249)
 Jumlah Beban Usaha                                 (405.180.795)   (405.587.921)   (405.797.631)   (440.194.139)   (560.727.561)
 LABA (RUGI) USAHA                                   (99.524.954)      5.847.390         813.473    (198.395.096)     (8.921.591)
 PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
 Penghasilan bunga                                    12.234.937      13.024.971     22.082.914       29.376.922     21.685.975
 Keuntungan (kerugian) atas penjualan aset tetap        (151.655)         39.459     23.490.924        3.034.837      1.377.297
 Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing           (1.239.064)      7.704.756     (4.148.219)       4.563.194      4.759.990
 Keuntungan (kerugian) lain-lain - bersih             (4.980.930)      1.186.120      1.833.543          465.045      4.229.470
 Keuntungan Lain-lain - Bersih                         5.863.288      21.955.307     43.259.162       37.439.997     32.052.731
 LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK                           (93.661.666)     27.802.698     44.072.635     (160.955.099)    23.131.141
   Pajak kini                                                        (15.554.825)    (1.157.788)                     (1.135.979)
   Pajak tangguhan                                    17.154.047       5.861.597     (4.798.844)      36.207.821     (6.696.094)
 Manfaat (Beban) Pajak - Bersih                       17.154.047      (9.693.227)    (5.956.632)      36.207.821     (7.832.073)
 LABA (RUGI) BERSIH TAHUN BERJALAN                   (76.507.619)     18.109.470     38.116.003     (124.747.277)    15.299.067
 PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN
   Keuntungan aktuarial                               22.197.484     17.355.560      11.041.635      60.742.387       (9.127.316)
   Laba (rugi) nilai wajar bersih atas efek ekuitas       39.360        (24.112)        (62.217)        (48.104)         (19.576)
 JUMLAH PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN                 22.236.844     17.331.449      10.979.418      60.694.283       (9.146.892)
JUMLAH PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF
TAHUN BERJALAN                                       (54.270.775)    35.440.919      49.095.421      (64.052.994)      6.152.175



                                                Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.10.2. Kinerja Posisi Keuangan


Aset
Total aset perusahaan menunjukkan angka yang relatif stabil atau pertumbuhan yang tidak
signifikan dimana pada tahun 2021 sebesar Rp2.300.804.865 ribu dan meningkat menjadi
Rp2.322.150.636 ribu di tahun 2025. Aset lancar mendominasi proporsi aset secara
keseluruhan dan nilainya cenderung meningkat yaitu Rp1.437.357.375 ribu di tahun 2021 dan
menjadi Rp1.618.629.138 ribu di tahun 2025.




                                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 11
Page 38
                                                Tabel 2.5
                             Laporan Neraca Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                   2021             2022             2023             2024              2025
                                                   Audit            Audit            Audit            Audit             Audit
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas                                554.614.346      573.375.511      727.237.003      655.446.668      540.111.590
Aset keuangan lainnya - lancar                      3.327.633          306.523        3.486.152          196.202       33.949.708
Piutang usaha
  Pihak berelasi                                  354.585.580      335.683.800      400.794.424      334.081.927      398.017.747
  Pihak ketiga                                     13.629.019       22.948.333       12.534.003       10.866.629       16.700.792
Piutang lain-lain                                   1.855.727       21.979.439        2.098.025        2.945.451        4.364.441
Persediaan - bersih                               497.854.833      624.271.016      480.994.619      557.458.736      602.138.620
Uang muka                                             544.274          353.588        1.343.696        2.558.609        6.962.502
Biaya dibayar dimuka                                5.935.955        8.132.142       10.109.050        9.770.908        7.561.855
Pajak dibayar dimuka                                5.010.008        7.515.217          744.221       20.743.476       10.784.328
Aset Tidak lancar yang dimiliki untuk dijual                                                                              384.865
Jumlah Aset Lancar                               1.437.357.375   1.594.565.568    1.639.341.193    1.594.068.605     1.620.976.448

ASET TIDAK LANCAR
Piutang lain-lain                                    108.362           361.520        1.205.976        1.895.100         2.090.939
Biaya dibayar dimuka                                                    16.296                            16.296               -
Aset keuangan lainnya - tidak lancar                                 3.308.088                         3.398.724               -
Estimasi tagihan pengembalian pajak                 7.411.698        4.698.761        6.517.420       13.128.876        13.475.247
Aset pajak tangguhan - bersih                      62.804.904       63.771.019       55.854.729       74.936.509        70.814.786
Aset tetap - bersih                               751.551.526      692.349.461      660.520.874      627.414.173       590.431.459
Perangkat lunak komputer - bersih                  25.485.393       10.902.581        4.253.261        4.175.600         7.267.630
Aset hak-guna - bersih                              8.102.298        3.503.042       16.289.148       12.487.134         9.259.833
Aset tidak lancar lainnya                           7.983.310        7.181.582        7.583.907        6.367.850         6.473.264
Jumlah Aset Tidak Lancar                          863.447.490      786.092.350      752.225.316      743.820.261       699.813.157
JUMLAH ASET                                     2.300.804.865    2.380.657.918    2.391.566.509    2.337.888.866     2.320.789.605

LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang bank                                          3.000.000                         7.478.881       30.942.278        16.794.605
Utang usaha
  Pihak berelasi                                    9.335.747        5.883.648       54.352.154      114.950.083        83.932.925
  Pihak ketiga                                     73.505.155       85.748.468       26.397.213       35.562.842        33.521.996
Utang lain-lain pada pihak ketiga                  18.897.890       26.919.667       13.813.448        4.289.783         5.903.279
Utang pajak                                         5.019.844       16.507.543       14.336.551       23.099.982        33.793.819
Biaya yang masih harus dibayar
  Pihak berelasi                                   13.132.636       14.650.470       55.700.993       77.993.095      118.776.750
  Pihak ketiga                                     49.264.970       67.908.557       20.606.273       68.599.299        4.526.675
  Uang Muka yang diterima                                                                                               4.463.895
Liabilitas sewa jatuh tempo 1 thn                   4.681.228        3.393.149        3.212.856        3.317.838        3.564.852
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                   176.837.470      221.011.501      195.898.370      358.755.200       305.278.795

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas imbalan kerja                          297.777.342     301.436.802      293.392.961      181.638.010       217.132.254
Liabilitas sewa setelah dikurangi 1thn              3.344.358         113.612       13.245.997        9.928.159         4.519.491
Jaminan pelanggan                                   2.996.999       3.308.088        3.241.847        3.633.689         3.773.083
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                  304.118.699     304.858.502      309.880.804      195.199.858       225.424.828
JUMLAH LIABILITAS                                 480.956.169     525.870.003      505.779.174      553.955.058       530.703.622

EKUITAS
Modal Saham                                       100.533.334      100.533.334      100.533.334      100.533.334       100.533.334
Tambahan modal disetor                            188.827.691      188.300.826      188.300.826      188.300.826       188.300.826
Revaluasi efek ekuitas                                199.699          175.587          113.370           65.266           45.690
Saldo laba
  Ditentukan penggunaannya                          20.106.667       20.106.667       20.106.667       20.106.667        20.106.667
  Tidak ditentukan penggunaannya                 1.509.848.409    1.545.671.693    1.576.733.761    1.474.928.936    1.481.101.504
Jumlah ekuitas yang diatribusikan                1.819.515.799    1.854.788.106    1.885.787.957    1.783.935.028     1.790.088.020
Kepentingan non-pengendali                            332.897             (191)            (622)           (1.220)           (2.037)
JUMLAH EKUITAS                                   1.819.848.696    1.854.787.915    1.885.787.335    1.783.933.808     1.790.085.983
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                   2.300.804.865    2.380.657.918    2.391.566.509    2.337.888.866     2.320.789.605

                                               Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk

                                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 12
Page 39
Liabilitas
Total liabilitas perusahaan meningkat dari Rp480.956.169 ribu di tahun 2021 menjadi
Rp532.547.438 ribu di tahun 2025. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan liabilitas jangka
pendek yang naik dari Rp176.837.470 ribu di tahun 2021 menjadi Rp305.138.864 ribu di tahun
2025. Sedangkan liabilitas jangka panjang menurun dari Rp304.118.699 ribu di tahun 2021
menjadi Rp227.408.574 ribu. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada liabilitas jangka
pendek.

Ekuitas
Ekutas perusahaan stabil dari Rp1.819.848.696 ribu pada tahun 2021 dan menjadi
Rp1.789.603.198 ribu di tahun 2025. Komponen utama yang mempengaruhi ekuitas
Perusahaan adalah dari saldo laba jenis tidak ditentukan penggunaannya.

2.10.3. Analisis Arus Kas

Arus kas bersih diperoleh dari kegiatan operasi menunjukkan tren fluktuasi selama periode
tahun 2021 – 2025. Perusahaan menghasilkan kas bersih sebesar Rp150.138.898 ribu di
tahun 2021, menurun menjadi Rp90.067.737 ribu di tahun 2022, kemudian mencapai puncak
pada tahun 2023 sebesar Rp223.917.048 ribu dan kembali menurun tajam pada tahun 2024
yaitu menurun menjadi hanya Rp52.002.346 ribu. Namun pada tahun 2025 mengalami
penurunan yang sangat tajam dan bahkan negatif nominalnya yaitu menurun menjadi -
Rp49.601.406 ribu. Kondisi yang dialami pada tahun 2025 disebabkan oleh pembayaran
beban pabrikasi, umum dan lainnya yang mengalami lonjakan yang cukup signifikan.
Komponen lainnya yang sangat besar dan sangat berpengaruh adalah pembayaran ke
pemasok serta pembayaran kepada direksi dan karyawan. Penurunan kemampuan
menghasilkan kas dari aktivitas inti ini mencerminkan potensi tekanan dari sisi operasional.
Arus kas dari aktivitas investasi selama lima tahun terakhir selalu mencatat arus keluar
(negatif), yang menunjukkan bahwa perusahaan secara konsisten melakukan investasi
terutama aset tetap dan perangkat lunak komputer. Pada tahun 2021, arus kas keluar sebesar
Rp61.109.516 ribu, tahun 2022 menurun menjadi Rp59.966.704 ribu dan berlanjut di tahun
2023 Rp50.357.595 ribu. Arus kas dari aktivitas investasi mencapai puncaknya pada tahun
2024 yang meningkat menjadi Rp81.384.240 ribu dan pada tahun 2025 menurun menjadi
hanya Rp65.942.650 ribu.
Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan
kebutuhan likuiditasnya. Selama 5 (lima) tahun terakhir atau selama tahun 2021 – 2025,
perusahaan mengalami arus kas keluar dari aktivitas pendanaan. Aktivitas pendanaan selama
ini mengandalkan hasil penjualan aset tetap dan pencairan deposito berjangka.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 13
Page 40
                                               Tabel 2.6
                          Laporan Arus Kas Perusahaan (Dalam Ribuan Rupiah)
                                                     2021              2022              2023              2024              2025
                                                     Audit             Audit             Audit             Audit             Audit
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan                     2.042.695.268    2.348.369.678     2.161.838.406     2.080.638.910     2.263.746.944
Penerimaan (pengeluaran) kas dari/untuk:
  Penghasilan bunga                                  12.195.062        12.465.527        22.066.761        29.299.909        21.578.150
  Pemasok                                          (973.536.676)   (1.249.696.649)   (1.047.650.492)   (1.166.310.709)   (1.262.023.179)
  Direksi dan karyawan                             (500.906.027)     (517.368.662)     (534.347.648)     (513.117.549)     (500.658.036)
  Royalti                                           (87.176.213)      (96.009.030)      (93.497.291)      (96.026.417)     (102.432.525)
  Beban penjualan                                  (171.064.798)     (191.327.035)      (83.424.835)      (72.266.363)     (121.793.574)
  Penerimaan restitusi pajak penghasilan                                                                                      5.381.441
  Pajak penghasilan                                  (3.188.129)      (6.909.314)      (16.611.216)       (6.611.456)        (6.863.791)
  Beban pabrikasi, umum dan lainnya                (168.879.589)    (209.456.778)     (184.456.638)     (203.603.981)      (322.047.180)
Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Operasi         150.138.898       90.067.737       223.917.048        52.002.346        (25.111.750)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Hasil penjualan aset tetap                              32.060            91.081        23.495.991         3.096.764         1.377.297
Penerimaan Deviden                                                                                                              12.924
Penempatan deposito berjangka                        (2.996.999)      (3.308.088)       (3.241.847)       (3.398.724)      (30.000.000)
Perolehan aset tetap                                (53.051.857)     (57.702.083)      (73.129.435)      (82.878.568)      (62.959.109)
Akuisi entitas anak dari non-pengendali              (7.679.896)        (501.700)
Pencairan deposito berjangka                          2.960.626        2.996.999         3.308.088         3.241.847               -
Uang muka penjualan tanah dan bangunan                                                                                       5.100.000
Perolehan perangkat lunak komputer                     (373.450)      (1.542.913)         (790.392)       (1.445.559)       (3.963.420)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi      (61.109.516)     (59.966.704)      (50.357.595)      (81.384.240)      (90.432.308)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan utang bank                            3.000.000             3.000.000        (5.081.641)       (4.467.982)        (4.302.762)
Pembayaran liabilitas sewa                      (5.424.882)           (4.924.476)      (18.064.567)      (37.769.494)               -
Pembayaran utang bank                                                 (6.000.000)
Pembayaran dividen kas                                                    (3.958)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan  (2.424.882)           (7.928.434)      (23.146.208)      (42.237.476)       (4.302.762)
KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS              86.604.500            22.172.598       150.413.245       (71.619.370)     (119.846.820)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                  467.465.488           554.614.346       573.375.511       727.237.003       655.446.668
Dampak perubahan kurs mata uang asing              544.357            (3.411.433)        3.448.246          (170.964)        4.511.742
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN                 554.614.346           573.375.511       727.237.003       655.446.668       540.111.590



                                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


2.10.4. Analisis Rasio Keuangan


Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar perusahaan cenderung mengalami penurunan
dari 8,1 pada tahun 2021 menjadi 5,3 pada tahun 2025. Meskipun rasio ini masih berada di
atas angka 1 dimana secara umum posisi likuid masih aman, namun adanya tren penurunan
mencerminkan pelemahan dalam kapasitas likuiditas perusahaan. Demikian juga halnya
terkait dengan rasio cepat dimana cenderung mengalami penurunan dari 5,3 pada tahun 2021
menurun menjadi 3,3 pada tahun 2025. Namun demikian rasio cepat tetap berada di atas 1,
dimana menggambarkan perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya.




                                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 14
Page 41
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya. Total
asset turnover selama ini berkisar antara angka 0,8 – 0,9. Artinya angka tersebut berada di
bawah angka 1 yang menggambarkan bahwa perusahaan tidak menggunakan asetnya
secara efisien, atau terjadi penumpukan aset yang tidak produktif. Sementara receivable
turnover berada pada kisaran 5,0 – 5,7 yang menggambarkan bahwa perusahaan memiliki
aliran kas masuk yang lancar karena piutang tidak tertahan lama, sehingga modal kerja
optimal. Perputaran piutang pada tahun 2021 sekitar 72,6 hari dan pada tahun 2025 menurun
menjadi hanya 70,5 hari, artinya ada perbaikan. Perputaran payable turnover dari 18,6
menurun menjadi 13,7, perusahaan membayar tagihannya dalam waktu yang lebih lama.
Demikian juga dengan inventory turnover dari angka 3,1 menjadi 2,6.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah metrik keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi seluruh kewajiban jangka panjang dan jangka pendeknya, terutama jika
perusahaan dilikuidasi. Total debt to total equity relatif stabil pada angka 0,3, total debt to total
assets stabil pada angka 0,2 serta total equity to total assets stabil pda angka 0,8. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar aset perusahaan didanai oleh ekuitas (modal sendiri),
bukan utang.
                                             Tabel 2.7
                               Analisa Rasio Keuangan Perusahaan
          Uraian                         Marks     2021      2022      2023      2024      2025
          Likuiditas rasio
          Current ratio                    x          8,1       7,2       8,4       4,4        5,3
          Quick ratio                      x          5,3       4,4       5,9       2,9        3,3

          Solvability
          Total debt to total equity       x          0,3       0,3       0,3       0,3        0,3
          Total debt to total asset        x          0,2       0,2       0,2       0,2        0,2
          Total equity to total asset      x          0,8       0,8       0,8       0,8        0,8

          Activity ratio
          Total assets turnover            x          0,8       0,9       0,9       0,8       0,9
          Receivable turnover              x          5,0       5,7       5,0       5,4       5,2
          Collection period               hari       72,6      64,0      73,6      67,7      70,5
          Payable turnover                 x         18,6      17,8      20,4      10,7      13,6
          Inventory turnover               x          3,1       2,6       3,4       2,9       2,6

          Profitability ratio
          Gross profit margin              %         16,5      20,1      19,8      13,0      25,7
          Operating profit margin          %         (5,4)      0,3       0,0     (10,7)     (0,4)
          Net profit margin                %         (2,9)      1,7       2,4      (3,4)      0,3
          ROE                              %         (3,0)      1,9       2,6      (3,6)      0,3
          ROA                              %         (2,4)      1,5       2,1      (2,7)      0,3




                                        Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 15
Page 42
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas memberikan gambaran mengenai seberapa efisien perusahaan
menghasilkan laba dari penjualannya, aset dan modal sendiri. Margin laba kotor perusahaan
cenderung mengalami pertumbuhan dari 16,5% di tahun 2021 menjadi 25,7% di tahun 2025,
sedangkan margin laba operasi pada tahun 2021 menunjukkan angka negatif yaitu -5,4%,
kemudian tahun 2022 0,3%, 2023 0,0%, 2024 10,7% dan tahun 2024 -0,4% yang
menggambarkan bahwa beban usaha cenderung mengalami pertumbuhan yang tinggi.
Demikian juga halnya dengan laba bersih dimana tahun 2021 -2,9%, tahun 2022 1,7%, 2023
2,4%, 2024 -3,4% dan tahun 2025 0,3%. Akibatnya berdampak pada return on equity di tahun
2021 3,0% dan tahun 2025 0,3% serta return on asset di tahun 2021 -2,4% dan akhir tahun
2025 0,2%.
Common Size Laporan Keuangan Periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025
Berikut common size / analisis vertical laporan keuangan periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025
                                              Tabel 2.8
                                Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi
                                                           2021      2022      2023      2024      2025
                                                             %         %         %        %          %
      PENJUALAN BERSIH                                     100,0     100,0      100,0     100,0    100,0
      BEBAN POKOK PENJUALAN                                 (83,5)    (79,9)    (80,2)    (87,0)    (74,3)
      LABA BRUTO                                             16,5      20,1      19,8      13,0      25,7
      BEBAN USAHA                                             -
      Beban penjualan                                       (11,5)    (10,3)    (10,0)    (12,4)    (13,2)
      Beban umum dan administrasi                           (10,4)     (9,5)     (9,8)    (11,3)    (12,9)
      Jumlah Beban Usaha                                    (21,9)    (19,8)    (19,8)    (23,7)    (26,1)
      LABA (RUGI) USAHA                                      (5,4)      0,3       0,0     (10,7)     (0,4)
      PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
      Penghasilan bunga                                       0,7       0,6       1,1       1,6       1,0
      Keuntungan (kerugian) atas penjualan aset tetap        (0,0)      0,0       1,1       0,2       0,1
      Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing             (0,1)      0,4      (0,2)      0,2       0,2
      Keuntungan (kerugian) lain-lain - bersih               (0,3)      0,1       0,1       0,0       0,2
      Keuntungan Lain-lain - Bersih                           0,3       1,1       2,1       2,0       1,5
      LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK                              (5,1)      1,4       2,1      (8,7)      1,1
        Pajak kini                                            -        (0,8)     (0,1)               (0,1)
        Pajak tangguhan                                       0,9       0,3      (0,2)      1,9      (0,3)
      Manfaat (Beban) Pajak - Bersih                          0,9      (0,5)     (0,3)      1,9      (0,4)
      LABA (RUGI) BERSIH TAHUN BERJALAN                      (4,1)      0,9       1,9      (6,7)      0,7
      PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN
        Keuntungan aktuarial                                  1,2       0,8       0,5       3,3      (0,4)
        Laba (rugi) nilai wajar bersih atas efek ekuitas      0,0      (0,0)     (0,0)     (0,0)     (0,0)
      JUMLAH PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN                    1,2       0,8       0,5       3,3      (0,4)
     JUMLAH PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF
     TAHUN BERJALAN                                          (2,9)      1,7       2,4      (3,4)      0,3




                                      Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 16
Page 43
Analisis Vertikal
Analisis vertikal pada dasarnya adalah bagian dari analisis laporan keuangan dengan cara
menyajikan kembali laporan keuangan dalam bentuk persentase, dimana laporan laba rugi
dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap pendapatan, sedangkan laporan posisi
keuangan dinyatakan dalam persentase terhadap total aset maupun libilitas dan ekuitas.
                                             Tabel 2.9
                                 Analisis Vertikal Posisi Keuangan
                                                        2021     2022      2023      2024      2025
                                                         %        %         %         %         %
      ASET
      ASET LANCAR
      Kas dan setara kas                                 24,1      24,1      30,4      28,0      23,3
      Aset keuangan lainnya - lancar                      0,1       0,0       0,1       0,0       1,5
      Piutang usaha
        Pihak berelasi                                   15,4      14,1      16,8      14,3      17,2
        Pihak ketiga                                      0,6       1,0       0,5       0,5       0,7
      Piutang lain-lain                                   0,1       0,9       0,1       0,1       0,2
      Persediaan - bersih                                21,6      26,2      20,1      23,8      25,9
      Uang muka                                           0,0       0,0       0,1       0,1       0,3
      Biaya dibayar dimuka                                0,3       0,3       0,4       0,4       0,3
      Pajak dibayar dimuka                                0,2       0,3       0,0       0,9       0,5
      Aset Tidak lancar yang dimiliki untuk dijual                                                0,0
      Jumlah Aset Lancar                                 62,5      67,0      68,5      68,2      69,8

      ASET TIDAK LANCAR
      Piutang lain-lain                                    0,0      0,0       0,1       0,1      0,1
      Biaya dibayar dimuka                                          0,0                 0,0      -
      Aset keuangan lainnya - tidak lancar                          0,1                 0,1      -
      Estimasi tagihan pengembalian pajak                 0,3       0,2       0,3       0,6      0,6
      Aset pajak tangguhan - bersih                       2,7       2,7       2,3       3,2      3,1
      Aset tetap - bersih                                32,7      29,1      27,6      26,8     25,4
      Perangkat lunak komputer - bersih                   1,1       0,5       0,2       0,2      0,3
      Aset hak-guna - bersih                              0,4       0,1       0,7       0,5      0,4
      Aset tidak lancar lainnya                           0,3       0,3       0,3       0,3      0,3
      Jumlah Aset Tidak Lancar                           37,5      33,0      31,5      31,8     30,2
      JUMLAH ASET                                       100,0     100,0     100,0     100,0    100,0

      LIABILITAS DAN EKUITAS
      LIABILITAS JANGKA PENDEK
      Utang bank                                           0,1                0,3       1,3        0,7
      Utang usaha
        Pihak berelasi                                     0,4      0,2       2,3       4,9       3,6
        Pihak ketiga                                       3,2      3,6       1,1       1,5       1,4
      Utang lain-lain pada pihak ketiga                    0,8      1,1       0,6       0,2       0,3
      Utang pajak                                          0,2      0,7       0,6       1,0       1,5
      Biaya yang masih harus dibayar                                                              0,0
        Pihak berelasi                                     0,6      0,6       2,3       3,3       5,1
        Pihak ketiga                                       2,1      2,9       0,9       2,9       0,2
        Uang Muka yang diterima                                                                   0,2
      Liabilitas sewa jatuh tempo 1 thn                    0,2      0,1       0,1       0,1       0,2
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                      7,7      9,3       8,2      15,3      13,2

      LIABILITAS JANGKA PANJANG
      Liabilitas imbalan kerja                           12,9      12,7      12,3       7,8       9,4
      Liabilitas sewa setelah dikurangi 1thn              0,1       0,0       0,6       0,4       0,2
      Jaminan pelanggan                                   0,1       0,1       0,1       0,2       0,2
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                   13,2      12,8      13,0       8,3       9,7
      JUMLAH LIABILITAS                                  20,9      22,1      21,1      23,7      22,9

      EKUITAS
      Modal Saham                                          4,4      4,2       4,2       4,3       4,3
      Tambahan modal disetor                               8,2      7,9       7,9       8,1       8,1
      Revaluasi efek ekuitas                               0,0      0,0       0,0       0,0       0,0
      Saldo laba                                                                                  0,0
        Ditentukan penggunaannya                          0,9       0,8       0,8       0,9       0,9
        Tidak ditentukan penggunaannya                   65,6      64,9      65,9      63,1      63,8
      Jumlah ekuitas yang diatribusikan                  79,1      77,9      78,9      76,3      77,1
      Kepentingan non-pengendali                          0,0      (0,0)     (0,0)     (0,0)      0,0
      JUMLAH EKUITAS                                     79,1      77,9      78,9      76,3      77,1
      JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                     100,0     100,0     100,0     100,0    100,0




                                      Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 2 - 17
Page 44
                                                                                          BAB 3
                                                     TINJAUAN EKONOMI

3.1.   GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN GLOBAL

Dunia terus bergejolak dengan ketidakpastian yang tinggi. Ketegangan geopolitik dunia
berlanjut dengan perang Rusia dan Ukraina di Eropa yang belum selesai dan ketegangan
geopolitik di Timur Tengah yang makin memanas sejalan meningkatnya serangan Israel ke
Palestina. Di bidang ekonomi, perang dagang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS)
Donald Trump pada 2 April 2025 dengan pengenaan tarif impor universal sebesar 10% atas
semua barang yang masuk ke AS, ditambah dengan tarif resiprokal yang sangat tinggi kepada
57 negara mitra dagang termasuk Tiongkok, Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa.

                                        Gambar 3.1
               Kebijakan Tarif Efektif AS : Tiongkok, Meksiko, Jepang, Total




Pengenaan tarif impor sepihak oleh Trump ini dikenal dengan “Liberation Day” untuk
perlindungan industri dan mengatasi defisit neraca perdagangan AS karena kurang berdaya
saing dalam perdagangan multilateral. Kepada Tiongkok dikenakan tarif impor hingga efektif
sebesar 54%, sementara kepada Kanada dan Meksiko tarif efektif hingga 25%. Bahkan
negara-negara yang kecil pun dikenakan tarif tinggi, seperti Kamboja (49%), Vietnam (46%),
dan Myanmar (44%) di Asia serta Lesotho (50%) dan Madagaskar (47%) di Afrika. Atas
pengenaan tarif impor sepihak oleh AS tersebut, sejumlah negara besar seperti Kanada,
Tiongkok, dan Uni Eropa mengumumkan tarif balasan dan karenanya perang dagang antar
negara makin memanas. Sementara itu, negara-negara lain bernegosiasi untuk mendapatkan
tarif yang lebih rendah antara lain dengan komitmen untuk mengimpor barang yang lebih
besar dari AS. Hasilnya tetap saja kebijakan tarif AS yang tinggi, khususnya terhadap
Tiongkok, meski tidak setinggi ancaman Trump semula. Lebih dari itu, perang dagang dan
ketegangan geopolitik tersebut menyebabkan meningkat tingginya ketidakpastian pasar
keuangan global, yang berdampak negatif pada keyakinan para pelaku bisnis dan investor di
berbagai negara.




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 1
Page 45
                                     Gambar 3.2
                     Indeks Ketidakpastian Pasar Keuangan Gloibal




Kebijakan tarif sepihak AS dan ketegangan geopolitik berdampak pada perlambatan
pertumbuhan ekonomi global dengan fragmentasi antarnegara yang makin melebar.
Kebijakan tarif menurunkan volume dan nilai perdagangan global dan makin memperparah
dampak gangguan rantai pasok dunia dari ketegangan geopolitik yang telah terjadi sejak
tahun 2024. Pertumbuhan impor wilayah Amerika Utara, misalnya, merosot dari 22,1% pada
triwulan I 2025 menjadi hanya 0,7% dan 1,7% pada triwulan II dan III 2025. Pertumbuhan
ekspor Asia dan Eropa yang meningkat pada triwulan II 2025 sebagai antisipasi dari
pengenaan tarif AS, mulai menurun di triwulan III 2025. Dampak terhadap aktivitas ekonomi
lebih terlihat pada memburuknya sentimen, baik konsumen maupun produsen akibat
ketidakpastian pendapatan dan usaha di berbagai belahan dunia. Secara keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi global diprakirakan dalam tren melambat menjadi 3,3% pada 2025
serta 3,2% pada 2026 dan 2027.

                                       Tabel 3.1
                     Indeks Ketidakpastian Pasar Keuangan Gloibal
                     Negara            2023 2024 2025* 2026* 2027*
                     Dunia              3,5 3,3    3,3   3,2   3,2
                     Negara Maju        1,7 1,8    1,7   1,8   1,8
                      Amerika Serikat   2,9 2,8    2,1   2,3   2,1
                      Kawasan Eropa     0,4 0,9    1,3   1,3   1,4
                      Jepang            1,2 0,1    1,1   0,8   0,7
                     Negara Berkembang 4,7 4,3     4,3   4,1   4,0
                      Tiongkok          5,4 5,0    5,0   4,4   4,0
                      India             8,7 6,5    7,4   6,6   6,7
                      ASEN-5            4,1 4,6    4,4   4,3   4,5
                      Amerika Latin     2,4 2,4    2,2   2,2   2,6
                              Keterangan : *Proyeksi Bank Indonesia
                               Sumber : WEO-IMF, Bank Indonesia




Divergensi pola pertumbuhan antar negara berlanjut, dengan ekonomi negara maju tumbuh
melambat dari 1,8% pada 2024 menjadi 1,7% pada 2025 dan membaik menjadi 1,8% pada
2026-2027. Sementara pertumbuhan emerging economies yang tumbuh 4,3% pada 2025,
menurun menjadi 4,1% pada 2026 dan 4,0% pada 2027. Kebijakan tarif juga mendorong


                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 2
Page 46
kenaikan harga emas yang tinggi, di samping kenaikan harga sejumlah komoditas pangan
dan jasa-jasa yang memperburuk dampak dari kenaikan upah karena kebijakan imigrasi yang
diterapkan di AS. Akibatnya, penurunan inflasi dunia berjalan lebih lambat dari prakiraan
sebelumnya, dengan prakiraan inflasi mencapai 3,9% dan 3,8% pada 2025 dan 2026. Pada
periode yang sama, inflasi negara maju diprakirakan sekitar 2,4% pada 2025 dan 2026,
sementara inflasi emerging economies sekitar 4,8% dan 4,7%.

                                        Grafik 3.3
                  Inflasi Dunia : Negara Maju dan Emerging Economies




3.2.   GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA


3.2.1. Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Indonesia tetap berkinerja baik dan berdaya tahan di tengah tingginya gejolak dan
ketidakpastian global. Pertama, ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dengan stabilitas
makroekonomi Indonesia yang tetap terjaga dan pertumbuhan yang tetap tinggi. Pemulihan
ekonomi dari pandemi COVID-19 terus berlangsung dan semakin kuat. Kedua, koordinasi
kebijakan yang kuat dan dengan berhati-hati, khususnya antara kebijakan fiskal Pemerintah
dan kebijakan moneter Bank Indonesia mampu mendorong permintaan domestik dengan
keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Ketiga, Indonesia juga terus memperkuat
komitmen dalam melakukan transformasi ekonomi, melalui perbaikan iklim investasi,
percepatan pembangunan infrastruktur, serta hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan
nilai tambah domestik. Perbaikan sektor-sektor ekonomi terus berlangsung dan memperkuat
sisi penawaran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan keempat,
Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang kuat di berbagai forum internasional, termasuk
dalam sejumlah kerja sama dan lembaga internasional. Keberhasilan Keketuaan Indonesia
pada G20 tahun 2022 diakui dunia dengan mendorong sejumlah agenda penting, termasuk
penguatan koordinasi kebijakan fiskal-moneter global, kerja sama kesehatan, penyelesaian
utang negara miskin, dan kerja sama sistem pembayaran digital lintas negara. Di kawasan
ASEAN, Keketuaan Indonesia tahun 2023 menegaskan peran aktif Indonesia dalam
memperkuat stabilitas dan integrasi kawasan.




                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 3
Page 47
                                      Grafik 3.4
                        Produk Domestik Bruto ADHK (Rp Triliun)




                                       Sumber : BPS (diolah)


Selama enam tahun terakhir, perekonomian Indonesia mencatat kinerja yang kuat, termasuk
salah satu yang terbaik di antara negara EMEs. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2019
secara konsisten bertahan di atas 5%, kecuali pada masa pandemi Covid-19. Bahkan,
kontraksi ekonomi akibat pandemi termasuk yang paling ringan dibandingkan dengan negara-
negara lain. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan pun tetap terjaga dengan baik.
Inflasi tetap terkendali rendah, dengan rata rata di bawah 3% selama periode 2019-2024, dan
nilai tukar Rupiah terjaga stabil, dengan komitmen yang tinggi kebijakan moneter Bank
Indonesia. Defisit fiskal terjaga rendah di bawah 3% dari PDB, kecuali pada periode puncak
COVID-19 tahun 2020 dan 2021 yang kemudian kembali melakukan konsolidasi fiskal secara
cepat. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada angka
5,11%.

                                        Gambar
                             Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
                                       Grafik 3.5
                             Pertumbuhan Ekonomi Indonesia




                                       Sumber : BPS (diolah)


Pada tahun 2025, Pulau Jawa masih menunjukkan peranan yang kuat dalam perekonomian
Indonesia, dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau
Sumatera (22,22 persen), Kalimantan (8,12 persen), Sulawesi (7,22 persen), Bali dan Nusa
Tenggara (2,82 persen), serta Maluku dan Papua (2,69 persen). Ekonomi Indonesia secara
spasial selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh kelompok provinsi.
Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c) tertinggi sebesar 6,23
persen, diikuti oleh Pulau Jawa (5,30 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (4,87 persen),


                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 4
Page 48
Pulau Sumatera (4,81 persen), dan Pulau Kalimantan (4,79 persen). Sementara itu, kelompok
provinsi di Pulau Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah, yakni sebesar 1,44
persen.

                                           Grafik 3.6
                              Kontribusi dan Pertumbuhan PDRB
                                   Menurut Pulau (%), 2025




                                         Sumber : BPS (diolah)



3.2.2. Struktur Ekonomi

Struktur ekonomi Indonesia 2025 ditopang kuat oleh lima sektor utama yaitu industri
pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Industri Pengolahan
kontribusinya mencapa 20,3% atas PDB dan merupakan satu – satunya lapangan usaha yang
kontribusinya menyentuh angka 20%. Setelah itu, kemudian lapangan usaha perdagangan
sekitar 13,1%, dan secara berturut – turut disusul lapangan usaha pertanian 11,4%, kontruksi
9,7% serta lapangan usaha pertambangan 7,0%. Total kontribusi atas kelima lapangan usaha
yang disebutkan tersebut mencapai 61,4% terhadap PDB.

                                          Grafik 3.7
                              Struktur Ekonomi Indonesia, 2025




                                         Sumber : BPS (diolah)




3.3.   INFLASI

Stabilitas harga terjaga dengan inflasi yang rendah dalam sasaran 2,5±1% dan mendukung
stabilitas perekonomian. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 tercatat sebesar 2,92%
(yoy) didukung oleh tetap terjaganya berbagai komponen inflasi (Grafik 2.5.). Inflasi inti terjaga
rendah sebesar 2,38% (yoy), seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar

                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 5
Page 49
ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation
yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia, serta
dampak positif dari digitalisasi. Inflasi volatile food (VF) relatif terkendali sebesar 6,21% (yoy),
ditopang oleh upaya untuk terus menjaga ketersediaan pasokan pangan serta didukung
eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan
Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan penguatan
implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai daerah. Sementara itu, inflasi
kelompok administered prices (AP) tercatat sebesar 1,93% (yoy), sejalan dengan terbatasnya
kebijakan penyesuaian harga yang diatur oleh Pemerintah. Melalui Kantor Pusat dan 46
kantor-kantor perwakilan di berbagai daerah, Bank Indonesia mendukung kesuksesan
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui program-program unggulan
untuk peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan, Kerja sama Antar Daerah
(KAD), fasilitasi distribusi pangan, pasar murah, digitalisasi data, serta koordinasi dan
komunikasi bersama Pemerintah Pusat dan Daerah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini
inflasi tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027 dengan konsistensi
kebijakan moneter Bank Indonesia dan eratnya koordinasi dengan Pemerintah dalam
pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah.

                                             Grafik 3.8
                                   Inflasi IHK, Inti, VF dan AP




3.4.   NILAI TUKAR MATA UANG RUPIAH

Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia juga terlihat pada terjaganya stabilitas nilai tukar
Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global dengan komitmen tinggi Bank Indonesia.
Seperti dijelaskan sebelumnya, kebijakan tarif sepihak yang tinggi oleh Presiden Trump telah
menyebabkan aliran keluar portofolio asing dan depresiasi nilai tukar negara-negara EMEs,
termasuk Indonesia. Rupiah sempat mengalami tekanan tinggi di pasar forward luar negeri
(offshore Non-Deliverable Forward, NDF) setelah pengumuman tarif AS pada awal April 2025.
Untuk memperkuat stabilisasi Rupiah, Bank Indonesia mulai melakukan intervensi di pasar
off-shore NDF secara intensif dan tanpa henti baik di pasar Asia, Eropa, dan AS3 . Intervensi
off-shore NDF dimaksud memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah di pasar
domestik yang terus dilakukan dengan strategi triple intervention pada transaksi spot, DNDF,
dan SBN di pasar sekunder. Seluruh instrumen moneter juga dioptimalkan, termasuk
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk

                                   Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 6
Page 50
Valas Bank Indonesia (SUVBI), untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan
komitmen kuat Bank Indonesia tersebut, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hingga Agustus
2025 tercatat sekitar Rp16.300 per dolar AS, menguat dibandingkan dengan awal April 2025
sebesar Rp16.865 per dolar AS (tanggal 8 April 2025) setelah pengumuman tarif resiprokal
AS. Namun tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kembali besar sejak akhir Agustus 2025, baik
karena faktor global seperti penurunan FFR yang dinilai kurang besar (less dovish) dan
government shutdown di AS, maupun faktor domestik seperti kerusuhan sosial dan
kekhawatiran pasar atas melebarnya defisit fiskal. Nilai tukar Rupiah hingga akhir Desember
2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, atau melemah 3,48% dari posisi akhir Desember 2024,
dengan rerata Rp16.466 per dolar AS selama tahun 2025. Secara umum, perkembangan
Rupiah relatif stabil jika dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang dan
lebih kuat dibandingkan negara maju selain dolar AS. Selain ditopang oleh konsistensi
kebijakan stabilisasi, stabilitas nilai tukar Rupiah juga didukung oleh peningkatan konversi
valas ke Rupiah oleh eksportir seiring penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor
Sumber Daya Alam (DHE SDA). Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap stabil
didukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, imbal hasil
yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi
Indonesia.

                                        Grafik 3.9
                       Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Dolar AS :
                                    Spot, NDF, DNDF




                       Sumber: Bank Indonesia




3.5.   SUKU BUNGA PERBANKAN

Secara spasial, inflasi tahunan IHK Januari 2026 meningkat di mayoritas wilayah.
Berdasarkan provinsi, tercatat 16 provinsi berada dalam rentang sasaran inflasi nasional
2,5±1%, sementara itu 22 provinsi berada di atas sasaran inflasi nasional. Inflasi tahunan
tertinggi tercatat di Aceh sebesar 6,69% (yoy), Sulawesi Tenggara 5,10% (yoy), dan Papua
Barat sebesar 5,02%(yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi di ketiga provinsi tersebut
adalah tarif listrik, beras, dan emas perhiasan. Inflasi tarif listrik terutama dipengaruhi oleh low
base effect seiring diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025. BI-Rate sebanyak lima kali
yakni pada Januari 2025, Mei 2025, Juli 2025, Agustus 2025, dan September 2025 masing-
masing sebesar 25 bps. Dengan demikian, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate


                                         Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 7
Page 51
sebesar 150 bps menjadi 4,75%, atau level terendah sejak tahun 2022, dan mempertahankan
BI-Rate pada Oktober hingga Desember 2025. Seiring dengan penurunan BI-Rate dan
ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia, suku bunga pasar uang, Indonesia Overnight
Index Average (INDONIA), turun sebesar 190 bps dari 6,03% pada awal 2025 menjadi 4,13%
pada 31 Desember 2025.

                                     Grafik 3.10
                           Suku Bunga BI-Rate dan INDONIA




Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 231
bps, 230 bps, dan 234 bps sejak awal 2025 menjadi 4,85%; 4,90%; dan 4,92% pada 19
Desember 2025, sehingga mendukung kebijakan moneter yang ekspansif. Imbal hasil SBN
untuk tenor 2 tahun menurun sebesar 197 bps dari 6,96% pada awal 2025 menjadi 4,99%
pada 31 Desember 2025, sementara untuk tenor 10 tahun menurun sebesar 119 bps dari
tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025 menjadi 6,07% pada 31 Desember
2025. Namun demikian, penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat dan
karenanya perlu dipercepat. Dibandingkan dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps
selama tahun 2025, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 56 bps dari 4,81%
pada awal 2025 menjadi 4,25% pada Desember 2025, terutama dipengaruhi oleh pemberian
special rate kepada deposan besar yang mencapai 26,67% dari total Dana Pihak Ketiga
(DPK) bank.

                                     Grafik 3.11
                                Suku Bunga Perbankan




Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat, yaitu sebesar 39 bps
dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,81% pada Desember 2025. Bank Indonesia


                               Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 8
Page 52
berkoordinasi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mempercepat
penurunan suku bunga perbankan tersebut, baik suku bunga deposito maupun suku bunga
kredit, untuk mendorong kredit/pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

3.6.   INVESTASI

Data realisasi investasi Indonesia periode 2018-2025 sebagai cerminan keberhasilan
transformasi struktural ekonomi yang didorong oleh kebijakan berkelanjutan dan responsif
terhadap dinamika global. Data ini menunjukkan evolusi dari pertumbuhan moderat menuju
akselerasi berkualitas dengan komposisi yang semakin seimbang antara PMA dan PMDN.

Tahun 2019 hingga 2021 mencatat pertumbuhan investasi yang masih terbatas dengan PMA
tumbuh rata-rata 2,1% per tahun, sementara PMDN lebih kuat dengan pertumbuhan rata-rata
10,9%. Periode ini diwarnai ketidakpastian global akibat perang dagang AS-China dan
dampak pandemi COVID-19. Namun, respons kebijakan melalui PP No. 5/2020 tentang
Percepatan Proyek Strategis Nasional berhasil mencegah kontraksi lebih dalam dan menjadi
pondasi pemulihan pasca-pandemi.

Selanjutnya, pada periode 2022 sampai 2024 menjadi titik balik dengan pertumbuhan
eksponensial PMA rata-rata 25% per tahun dan PMDN 22%. Ledakan investasi ini dipicu oleh
konvergensi tiga faktor kunci: pertama, implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang
menciptakan kepastian regulasi; kedua, strategi hilirisasi yang diimplementasikan melalui
Perpres No. 8/2024 tentang Kendaraan Listrik dan PP No. 25/2024 tentang Energi
Terbarukan; ketiga, realokasi rantai pasok global pasca-pandemi yang dimanfaatkan
Indonesia melalui kebijakan industri yang tepat sasaran.

                                         Grafik 3.12
                        Realisasi Investasi Penanaman Modal Asing
                        (Rp Juta US$ dan Penanaman Modal Dalam
                                    Negeri (MIliar Rupiah)




Pencapaian puncak terjadi pada 2024 dengan rekor historis PMA US$60.014 juta dan PMDN
Rp814.018 miliar. Prestasi ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan dan positioning
Indonesia yang strategis dalam peta investasi global, terutama di sektor kendaraan listrik dan
energi hijau.

                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 9
Page 53
Berdasarkan data realisasi PMDN menurut sektor periode 2021- 2025, terdapat perubahan
yang signifikan dalam pola investasi domestik Indonesia. Realisasi PMDN semester pertama
2025 telah mencapai Rp510,3 triliun atau 62,7% dari total realisasi 2024, mengindikasikan
proyeksi pertumbuhan positif dengan perkiraan akhir tahun mencapai Rp1.050-1.100 triliun.
Tiga sektor utama konsisten menjadi penggerak investasi domestik. Sektor industri memimpin
dengan realisasi Rp164,6 triliun pada semester pertama 2025, telah mencapai 84,7% dari
realisasi sepanjang 2024. Sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi menunjukkan
performa solid dengan realisasi Rp62,6 triliun (52,1% dari realisasi 2024), sementara sektor
pertambangan mencatat realisasi Rp50,7 triliun. Sektor jasa lainnya dan perumahan-kawasan
industri menunjukkan tren positif dengan realisasi semester pertama 2025 masing-masing
mencapai 77,3% dan 47,9% dari realisasi 2024. Sektor listrik, gas, dan air serta konstruksi
mengalami perlambatan dengan realisasi semester pertama hanya mencapai 46,5% dan
26,7% dari realisasi 2024.

                                     Grafik 3.13
                         Perkembangan Realisasi Nilai Investasi
                     Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut Sektor
                                 (Rp Miliar Rupiah)




                                Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 3 - 10
Page 54
                                                                                          BAB 4
                                                                   ASPEK PASAR
4.1 PENDUDUK
4.1.1 Perkembangan Jumlah Penduduk
SP2020 mencatat penduduk Indonesia pada September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa.
Sejak Indonesia menyelenggarakan Sensus Penduduk yang pertama pada tahun 1961,
jumlah penduduk terus mengalami peningkatan. Hasil SP2020 dibandingkan dengan SP2010
memperlihatkan penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata
sebanyak 3,26 juta setiap tahun. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2010–2020), laju
pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen per tahun. Terdapat perlambatan laju
pertumbuhan penduduk sebesar 0,24 persen poin jika dibandingkan dengan laju
pertumbuhan penduduk pada periode 2000–2010 yang sebesar 1,49 persen.
                                       Gambar 4.1
                                  Suku Bunga Perbankan




                                         Sumber : BPS


4.1.2 Komposisi Penduduk Menurut Generasi
Struktur penduduk dapat menjadi salah satu modal pembangunan ketika jumlah penduduk
usia produktif sangat besar. Hasil SP2020 mencatat mayoritas penduduk Indonesia
didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Milenial. Proporsi Generasi Z sebanyak 27,94
persen dari total populasi dan Generasi Milenial sebanyak 25,87 persen dari total populasi
Indonesia. Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang
untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi demografi, seluruh Generasi X dan Generasi Milenial merupakan penduduk yang
berada pada kelompok usia produktif pada 2020. Sedangkan Generasi Z terdiri dari penduduk
usia belum produktif dan produktif. Sekitar tujuh tahun lagi, seluruh Generasi Z akan berada
pada kelompok penduduk usia produktif. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi
Indonesia, baik di masa sekarang maupun masa depan, karena generasi inilah yang
berpotensi menjadi aktor dalam pembangunan yang akan menentukan masa depan
Indonesia.


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 1
Page 55
                                     Gambar 4.2
                      Komposisi Penduduk Menurut Generasi, 2020




4.1.3 Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur
Persentase penduduk usia produktif (15–64 tahun) terus meningkat sejak 1971. Pada 1971
proporsi penduduk usia produktif adalah sebesar 53,39 persen dari total populasi dan
meningkat menjadi 70,72 persen di 2020. Perbedaan antara persentase penduduk usia
produktif dan nonproduktif (0–14 tahun dan 65 tahun ke atas) terlihat lebih tajam di 2020.
Persentase penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan penduduk usia
nonproduktif tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada era bonus
demografi.

                                    Gambar 4.3
                     Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur,
                                    1971–2020




4.1.4 Sebaran Penduduk Menurut Wilayah
Dengan luas daratan Indonesia sebesar 1,92 juta kilometer persegi, maka kepadatan
penduduk Indonesia sebanyak 141 jiwa per kilometer persegi. Angka ini meningkat dari hasil
SP2010 yang mencatat kepadatan penduduk Indonesia sebanyak 124 jiwa per kilometer
persegi dan hasil SP2000 yang mencapai 107 jiwa per kilometer persegi. Sebaran penduduk
Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Meskipun luas geografisnya hanya sekitar


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 2
Page 56
tujuh persen dari seluruh wilayah Indonesia, Pulau Jawa dihuni oleh 151,59 juta penduduk
atau 56,10 persen penduduk Indonesia. Sebaran penduduk terbesar kedua terdapat di Pulau
Sumatera dengan jumlah penduduk sebanyak 58,56 juta orang, yaitu sebesar 21,68 persen.
Pulau Sulawesi mempunyai sebaran sebesar 7,36 persen dan Pulau Kalimantan mempunyai
sebaran sebesar 6,15 persen, sedangkan wilayah Bali-Nusa Tenggara dan Maluku-Papua
masing masing sebesar 5,54 dan 3,17 persen.

                                     Gambar 4.4
                   Sebaran Penduduk Indonesia Menurut Wilayah 2020




                                          Sumber : BPS




4.2   PENGERTIAN LOGISTIK, FUNGSI DAN KOMPONEN
Dalam dunia bisnis modern, logistik adalah bagian tak terpisahkan yang mendukung
kelancaran operasional dan meningkatkan kepuasan
pelanggan. Sebagai tulang punggung dalam rantai
pasok (Supply Chain), logistik mengatur setiap tahap
aliran barang, mulai dari pengadaan bahan baku hingga
pengiriman produk akhir kepada konsumen. Sistem
logistik yang baik membantu perusahaan mencapai
efisiensi, mengurangi       biaya   operasional,  dan
menghadirkan keunggulan kompetitif dalam pasar yang
semakin dinamis.
Selain itu, logistik juga berperan besar dalam menentukan respons perusahaan terhadap
perubahan permintaan pasar. Dengan pengelolaan logistik yang tepat, perusahaan dapat
memastikan persediaan yang memadai, pengiriman tepat waktu, dan pengelolaan gudang
yang optimal.
Secara umum, logistik adalah proses yang mencakup perencanaan, implementasi, dan
pengendalian aliran barang dan informasi dari titik asal ke titik tujuan. Menurut para ahli,
logistik melibatkan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan produk secara
efisien, tepat waktu, dan dalam kondisi yang baik. Logistik juga mencakup distribusi,
manajemen persediaan, pergudangan, dan pengendalian informasi.



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 3
Page 57
Logistik berbeda dari sekadar transportasi karena meliputi lebih banyak aktivitas yang
berhubungan dengan pengelolaan arus barang dan informasi. Dalam perusahaan, logistik
merupakan bagian dari rantai pasok yang bekerja untuk memaksimalkan penggunaan sumber
daya dan memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang paling efektif. Secara garis
besar, logistik adalah proses mendapatkan barang yang tepat, di waktu yang tepat, dengan
jumlah yang tepat, kondisi yang tepat, dengan biaya yang terjangkau untuk memberikan
kontribusi profit bagi penyedia jasa logistik.
Logistik memiliki beberapa fungsi penting yang bekerja secara sinergis untuk mendukung
tujuan perusahaan. Berikut adalah fungsi utama logistik yang berperan dalam operasional
bisnis:

   •   Pengadaan (Procurement)
       Pengadaan berfokus pada proses mendapatkan bahan baku atau komponen yang
       diperlukan untuk produksi. Melalui pengadaan yang baik, perusahaan dapat menjamin
       kualitas bahan dengan harga yang kompetitif.
   •   Pergudangan (Warehousing)
       Pergudangan adalah penyimpanan produk atau bahan mentah dalam gudang.
       Dengan manajemen pergudangan yang baik, perusahaan dapat menyimpan stok
       dengan efisien dan mengurangi risiko kerusakan barang.
   •   Transportasi (Transportation)
       Transportasi adalah proses pemindahan barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Dalam
       logistik, transportasi melibatkan berbagai moda seperti darat, laut, dan udara untuk
       memastikan produk sampai di tempat tujuan dengan biaya terjangkau dan waktu yang
       tepat.
   •   Pengendalian Persediaan (Inventory Control)
       Pengendalian persediaan bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan
       dan permintaan, sehingga mencegah kelebihan atau kekurangan stok yang dapat
       mengganggu proses produksi atau penjualan.
   •   Distribusi (Distribution)
       Distribusi adalah proses mengirimkan produk akhir dari gudang ke konsumen atau titik
       penjualan. Manajemen distribusi yang efektif menjamin bahwa barang tersedia di
       tempat yang tepat dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Agar manajemen logistik dapat berjalan dengan optimal, diperlukan komponen-komponen
berikut yang saling mendukung satu sama lain:
   1. Transportasi
       Transportasi adalah bagian utama dalam logistik yang berfungsi memindahkan
       barang. Pemilihan moda transportasi yang tepat sangat penting untuk memastikan
       efisiensi biaya dan kecepatan pengiriman.

                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 4
Page 58
      2. Pergudangan
         Pergudangan atau warehousing adalah tempat penyimpanan barang sementara
         sebelum didistribusikan. Sistem manajemen gudang (Warehouse Management
         System/WMS) membantu memantau persediaan dan mengelola alur keluar-masuk
         barang.
      3. Manajemen Inventaris
         Manajemen inventaris memastikan stok barang tetap sesuai dengan kebutuhan,
         menghindari kelebihan atau kekurangan yang dapat mempengaruhi proses produksi
         dan distribusi.
      4. Pengelolaan Informasi
         Teknologi dalam pengelolaan informasi memainkan peran penting dalam logistik
         modern. Sistem digital memungkinkan pelacakan, pemantauan, dan pengelolaan data
         secara real-time untuk meningkatkan efisiensi logistik.
      5. Manajemen Pesanan (Order Processing)
         Manajemen pesanan adalah proses menerima dan memproses pesanan pelanggan
         hingga tahap pengiriman. Proses ini melibatkan pemenuhan pesanan yang tepat
         waktu dan akurat, menjaga kepuasan pelanggan.
      6. Pengemasan dan Labeling (Packaging and Labeling)
         Pengemasan memiliki guna untuk melindungi barang selama pengiriman agar barang
         terlindungi dengan baik dan memudahkan proses penanganannya. Selain itu,
         pengemasan juga bisa dibilang sebagai branding dari produk, karena pengemasan
         biasanya dibuat semenarik mungkin agar konsumen tertarik dan mengingat produk
         dengan bentuk kemasan yang lebih menarik perhatiannya.
      7. Pengembalian barang
         Tidak semua barang memiliki hasil yang sempurna. Jika barang yang sampai pada
         konsumen tidak sesuai dengan permintaan, barang dapat dikembalikan melewati
         proses pengelolaan pengembarian atau reverse logistics. Dalam manajemen gudang,
         kegiatan ini dinamakan warehouse return. Logistik berperan untuk sigap dalam
         menangani pengembalian barang agar kepuasan pelanggan tetap terpenuhi walau
         barangnya kurang sesuai.

4.3    SEJARAH PERKEMBANGAN LOGISTIK DI INDONESIA

Sejarah dan perkembangan logistik di Indonesia merupakan sebuah topik yang menarik untuk
dibahas. Istilah logistik pertama kali digunakan pada ilmu kemiliteran. Dalam ilmu militer,
logistik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai pengadaan, perawatan,
dan transportasi peralatan, pembekalan, dan pasukan. Namun seiring berjalannya waktu,



                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 5
Page 59
logistik dikenal oleh masyarakat luas sebagai kegiatan pendistribusian barang dari satu
tempat ke tempat lainnya.
Perkembangan awal
Perkembangan aktivitas logistik di Indonesia sudah dimulai dari masa kerajaan. Pedagang-
pedagang dari berbagai kerajaan saat itu melakukan aktivitas dagang untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Barang yang diperdagangkan lazimnya diangkut melalui jalur laut dan
darat. Mayoritas pusat perdagangan saat itu berlokasi di berbagai pelabuhan. Beberapa
contoh pusat perdagangan internasional di Nusantara pada masa itu antara lain: Pelabuhan
Canggu (Mojokerto), Beberapa Pelabuhan di sekitar Selat Malaka (Sumatera), Pelabuhan
Sunda Kelapa (Jakarta), Pelabuhan Sedayu Lawas (Lamongan), Pelabuhan Hujung Galuh
(Gresik), Pelabuhan Ternate dan Hitu (Maluku), Pelabuhan Makassar, dan lain sebagainya.

Masa Kolonial
Aktivitas logistik ini kemudian berkembang lagi pada masa penjajahan. Pemerintah kolonial
memanfaatkan berbagai transportasi untuk menunjang kegiatan eksploitasi hasil bumi di
berbagai daerah di Nusantara. Dampaknya banyak infrastruktur penunjang aktivitas logistik
yang dibangun. Infrastruktur seperti rel kereta api beserta stasiunnya, pelabuhan, dan jalan;
berhasil dibangun pemerintah kolonial. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan rantai
distribusi sumber daya alam yang nantinya diekspor ke banyak negara. Beberapa contohnya
adalah pelabuhan-pelabuhan terkenal seperti: Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang),
Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta). Infrastruktur
yang sudah dibangun tersebut sangat berperan penting dalam rantai distribusi di Hindia-
Belanda pada masa itu.

Periode 1950 – 1969
Pada masa ini, perkembangan logistik sudah tidak dijalankan oleh pemerintah kolonial.
Pemerintah Indonesia sebagai negara yang baru merdeka masih mencari pondasi dalam
menjalankan pemerintahannya. Selain dalam bidang politik yang masih awal merintis, sektor
ekonomi juga masih dalam tahap awal, termasuk di bidang industri logistik. Pada saat itu
belum ada perusahaan swasta yang bergerak di bidang logistik. Hanya Pos Indonesia saja
yang praktis sebagai satu-satunya perusahaan di bidang logistik dan distribusi di Indonesia.
Pos Indonesia juga awalnya didirikan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dengan nama
Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon. Kemudian perusahaan tersebut dikelola
oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi PT Pos Indonesia.

Periode 1970 – 1989
Pada periode ini, industri logistik mulai berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.
Sarana penting yang menunjang industri logistik juga mulai dibangun. Infrastruktur seperti
jalan, terminal, dan pelabuhan, perusahaan-perusahaan teknologi dan manufaktur yang perlu
jasa logistik untuk mengirim barang dengan jumlah besar. Maka dari itu, didirikan perusahaan
logistik swasta pertama di Indonesia, yaitu TiKi. TiKi (Titipan Kilat) didirikan pada tahun 1970,

                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 6
Page 60
berfokus pada pengiriman barang baik secara nasional maupun internasional. Pada tahun
1981, terbentuk lagi perusahaan baru bernama Republic Express (RPX). Perusahaan ini
merupakan partner resmi FedEx di Indonesia.

Periode 1990 – 2009
Pada masa ini, teknologi mulai berkembang sangat pesat diikuti dengan pertumbuhan
perusahaan teknologi yang membutuhkan jasa logistik untuk kebutuhan perpindahan barang.
Selaras dengan permintaan pasar yang makin meninggi, perusahaan logistik pun mulai
berkembang dan bertambah jumlahnya. Beberapa contohnya adalah JNE dan Pandu
Logistics merupakan salah satu contohnya. JNE (Jalur Nugraha Ekakurir) didirikan pada
tahun 1990. Perusahaan ini awalnya merupakan anak perusahaan dari TiKi, namun
memutuskan untuk menjadi perusahaan tersendiri pada tahun 1990. Kemudian Pandu
Logistics merupakan jasa ekspedisi yang mempunyai fokus kepada pengiriman skala
besar/kargo.

Periode 2010 – sekarang
Periode ini merupakan masa yang sangat bagus dalam perkembangan industri logistik di
Indonesia. Hal ini karena menjamurnya perusahaan-perusahaan lain yang membutuhkan jasa
logistik. Selain itu, perkembangan teknologi dengan hadirnya e-commerce dan maraknya
penjualan online merupakan alasan lain mengapa perkembangan industri logistik bergerak ke
arah positif. Dengan adanya digitalisasi dan habit belanja online di berbagai e-
commerce, maka kebutuhan akan jasa ekspedisi sangat dibutuhkan. Perkembangan ini juga
menghadirkan beberapa layanan baru seperti pengiriman instan, sameday, atau next day.
Layanan baru tersebut diterapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan sirkulasi
pergerakan barang yang sangat cepat.

4.4     DAYA SAING LOGISTIK NASIONAL

Logistics Performances Index (LPI) merupakan alat perbandingan interaktif yang
menunjukkan nilai kinerja logistik suatu negara secara umum, serta bertujuan untuk
memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi dalam
kinerja logistik perdagangan negara. LPI yang dikeluarkan oleh Bank Dunia itu dapat
membantu suatu negara untuk mengidentifikasi kebijakan yang tepat dalam rangka
peningkatan kinerja logistik nasionalnya.
LPI Report dikeluarkan oleh Bank Dunia berdasarkan umpan balik dari para pemangku
kepentingan yang melaksanakan kegiatan logistik di suatu negara tertentu. Penentuan LPI
oleh Bank Dunia, dilakukan dengan melakukan analisis terhadap enam komponen penting
dalam suatu kegiatan logistik nasional yaitu:
      1. Customs – Efisiensi pengurusan kepabeanan dan pembatasan.
      2. Infrastructures – Kualitas infrastruktur terkait perdagangan dan transportasi.



                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 7
Page 61
   3. International Shipments – Kemudahan pengaturan harga bersaing internasional
      pengiriman
   4. Service Quality – Kompetensi dan kualitas layanan logistik.
   5. Tracking and Tracing – Kemampuan untuk melacak kiriman.
   6. Timeliness – Frekuensi pengiriman mencapai penerima barang dalam waktu
      pengiriman yang dijadwalkan atau diharapkan.
Pemilihan indikator diatas dilakukan melalui penelitian teoritis dan empiris, juga melalui jejak
pendapat dengan praktisi profesional yang berpengalaman di bidang logistik serta terlibat
dalam pengiriman barang internasional. Indikator-indikator tersebut dibagi menjadi dua
kategori utama yaitu:
   1. Kategori kebijakan dan regulasi didefinisikan sebagai indikator yang menunjukkan
      input    utama     untuk    mendukung       rantai  pasok.  Kategori  ini  terdiri
      dari customs, infrastructures, dan service quality.
   2. Kategori output kinerja rantai pasok didefinisikan sebagai indikator yang menunjukkan
      hasil dari kinerja rantai pasokan yang meliputi biaya, waktu dan keandalan rantai
      pasokan. Kategori ini terdiri dari international shipments, tracking and tracing.
Pengukuran LPI menggunakan metode kuantatif dengan menggunakan teknik statistik
standar untuk mengumpulkan data menjadi satu indikator dan mengubah informasi kualitatif
menjadi informasi kuantitatif. Pada pengukuran LPI 2023, dua kategori data tambahan
digunakan untuk pengukuran LPI yaitu:
   •   Indeks kinerja logistik (LPI) berbasis survei, yang dihasilkan dari survei LPI tradisional
       terhadap profesional logistik
   •   Indikator kinerja utama (KPI) baru yang mengukur kecepatan perdagangan aktual
       lintas negara dan benua.
KPI baru berasal dari dataset pelacakan arus pengiriman global, memanfaatkan big data,
yang mencakup pengiriman kontainer, kargo udara, dan parsel. KPI yang baru belum
termasuk dalam penyusunan indikator utama LPI untuk penentuan skor dan peringkat negara.
Indikator utama dan tetap hanya berdasarkan LPI berbasis survei.

Kedua kategori indikator ini memberikan pemahaman kinerja logistik yang saling melengkapi
namun konsisten. KPI mengukur waktu atau menghitung kinerja tautan tertentu (misalnya
keterlambatan di pelabuhan atau bandara), sedangkan LPI berbasis survei memberikan
penilaian di seluruh negara terhadap enam aspek kinerja logistik: infrastruktur terkait
perdagangan        dan     transportasi (infrastructures), bea      cukai     dan     manajemen
perbatasan (customs), kualitas      layanan      logistik (service   quality), ketepatan   waktu
pengiriman (timeliness), kemampuan untuk melacak pengiriman (tracking and tracing), dan
kemampuan        untuk     menciptakan       harga      yang     bersaing     pada    pengiriman
internasional (international shipment).


                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 8
Page 62
Indeks Kinerja Logistik (LPI) berbasis survei, dilakukan melalui survei online kepada para
profesional logistik dari perusahaan ekspedisi multinasional dan operator ekspres utama.
Pandangan mereka dianggap penting karena secara langsung memengaruhi pilihan rute dan
gerbang pengiriman, yang secara tidak langsung memengaruhi keputusan perusahaan
tentang lokasi produksi, pilihan pemasok, dan target pasar.
Skor LPI dikategorisasi menjadi empat kelompok kinerja, berdasarkan kuartil skor yang dapat
dilihat pada grafik kategorisasi skor LPI:
   1. Poor logistics performers. Negara dengan kendala logistik yang parah, seperti negara
      kurang berkembang (43 negara di kuartil terbawah).
   2. Partial performers. Negara dengan tingkat kendala logistik paling banyak terlihat di
      negara berpenghasilan rendah dan menengah (46 negara di kuartil menengah dan
      kuartil kedua dari bawah).
   3. Consistent performers. Negara-negara menilai kinerja logistik lebih baik daripada
      kebanyakan negara lain dalam kelompok pendapatan mereka (25 negara di kuartil
      kedua dari atas).
   4. Logistics-friendly. Negara dengan kinerja terbaik, sebagian besar berada di kelompok
      berpenghasilan tinggi (25 negara di kuartil teratas).
                                       Gambar 4.5
                         Kategorisasi Skor LPI, Word Bank 2023




                               Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Perkembangan Logistics Performances Index (LPI) Indonesia (2007-2023)

Sektor logistik dan transportasi Indonesia merupakan sektor bisnis yang kompleks namun
memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Menurut laporan Ken Research, pasar logistik
Indonesia diperkirakan akan menghasilkan pendapatan CAGR sebesar 7,9% mencapai US$
300,3 miliar pada 2024. Ini termasuk angkutan barang, pengiriman barang, pergudangan,
kurir, ekspres dan paket pada segmen layanan pemberian nilai tambah dan logistik rantai
dingin (Ken Research, 2019).
Namun sayangnya, skor LPI Indonesia masih berada dalam skala 2,50-3,20 sepanjang tahun
2007 sampai 2023. Berdasarkan skor tersebut, Indonesia masih dikategorikan sebagai partial
performers, dengan kendala logistik paling banyak terlihat di negara berpenghasilan rendah
dan menengah. Kendala logistik tersebut dapat berupa insfrastruktur yang kurang memadai,


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 9
Page 63
kurangnya pengembangan teknologi, kondisi geografis dan demografi serta konektivitas
jaringan logistik.
                                              Gambar 4.6
                                       LPI Indonesia 2007 - 2023




                       Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Berdasarkan grafik LPI Indonesia 2007-2023 terlihat bahwa LPI Indonesia tahun 2023
mengalami penurunan sebesar 0.15 dari LPI sebelumnya yaitu LPI tahun 2018. Penurunan
ini juga terlihat dari menurunnya skor dari beberapa indikator, jika dibandingkan dari periode
sebelumnya, yaitu timelines, tracking & tracing, international shipments dan logistics
competence & quality.

                                      Gambar 4.7
                     Komparasi Skor dari Enam Indikator LPI Indonesia
                                     (2014 – 2023)




                   Sumber : https://supplychainindonesia.com/


Namun, indikator lainnya seperti customs dan infrastructure cenderung stagnan dan tidak
mengalami pertumbuhan yang signifikan. Mengingat sifat geografis Indonesia, transportasi
multimoda (darat, kereta api, laut, dan udara) diperlukan untuk mengangkut barang. Oleh
karena itu, pemerataan pembangunan insfrastruktur perlu dilakukan untuk meminimalisir
biaya pengiriman, terutama untuk daerah di luar Jawa karena mengisolasi mereka dari
pemerataan barang, sehingga harga barang tinggi karena kurangnya ketersediaan.

LPI memang tidak dapat menggambarkan kinerja logistik suatu negara secara utuh, namun
dapat dijadikan benchmarking ataupun tolok ukur oleh pemangku kebijakan untuk melihat



                                       Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 10
Page 64
peluang perbaikan yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas layanan logistik
nasional.

4.5   PERKEMBANGAN INDUSTRI LOGISTIK NASIONAL

4.5.1 Perkembangan Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Perusahaan logistik merupakan perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan juga
pergudangan. Perlu diingat bahwa gudang hanya untuk menyimpan barang sementara.
Sedangkan barang berasal dari produsen, yang menggunakan jasa perusahaan logistik untuk
mengirimkan barang tersebut ke pelanggan.

Perbedaan utama antara perusahaan warehouse dan perusahaan logistik adalah fokus dan
kegiatan utama yang dilakukan. Perusahaan warehouse fokus pada penyimpanan dan
pengelolaan persediaan atau barang, sementara perusahaan logistik fokus pada pengelolaan
rantai pasok secara keseluruhan, termasuk transportasi, pergudangan, dan pengiriman.
Namun, keduanya berperan penting dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran pasokan
barang.

Perkembangan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, dapat dikatakan bahwa
merupakan gambaran perkembangan industri logistik di Indonesia. Sektor transportasi dan
pergudangan merupakan dua sektor yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat,
khususnya dalam bidang ekonomi. Peran keduanya tak ubahnya urat nadi dan darah dalam
tubuh manusia. Sektor transportasi dan logistik atau pergudangan memiliki peran vital bagi
terjaminnya kegiatan konsumsi masyarakat dan sektor bisnis (baik jasa perdagangan,
manufaktur, hingga konstruksi). Keduanya merupakan sektor yang selama ini terbukti menjadi
jantung pemicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk mengetahui perkembangan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, maka tidak
terlepas dari perkembangan nominal lapangan usaha tersebut yang tergabung dalam struktur
produk domestik bruto (PDB). Pada tahun 2019 nominal lapangan usaha tersebut meningkat
mencapai Rp463,1 triliun dari yang sebelumnya hanya sekitar Rp304,5 triliun pada tahun
2013, pertumbuhannya rata - rata sebesar 7,24% per tahun. Akibat covid-19, menyebabkan
nominal lapangan usaha ini mengalami penurunan yang sangat signifikan yang mencapai -
15,1% atau menurun menjadi hanya Rp393,4 triliun, dimana nominal tersebut lebih rendah
dari yang dicapai pada tahun 2017. Namun demikian penurunan tersebut tidak berlanjut atau
sejak tahun 2021 kembali mengalami pertumbuhan meskipun hanya 3,2%. Setahun
kemudian, lapangan usaha ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dimana
pertumbahannya mencapai 19,9% atau nominalnya meningkat menjadi Rp486,9 triliun dan
melampaui nominal yang dicapai pada tahun 2019 atau tahun sebelum covid-19. Nominal
lapangan usaha ini terus meningkat dan mencapai Rp656,0 triliun pada tahun 2025 atau
tumbuh 8,8% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang dicapai selama 2 (dua) tahun



                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 11
Page 65
terakhir yakni 8,7% - 8,8% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan yang dicapai
sebelum periode tahun 2019 atau sebelum covid-19.

Berdasarkan perkembangan nominal, lapangan usaha transportasi dan pergudangan rata –
rata mengalami pertumbuhan sebesar 6,6% per tahun. Angka pertumbuhan tersebut dapat
dikatakan sangat besar, pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi dan merupakan salah
satu lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan terbesar. Angka pertumbuhan tersebut
juga mencerminkan pentingnya peranan lapangan usaha transportasi dan pergudangan bagi
perekonomian nasional.

                                       Grafik 4.8
                               Perkembangan Nominal
                      LU Transportasi dan Pergudangan (Rp Triliun)
                      Uraian                             2013    2014    2015    2016    2017    2018    2019    2020    2021    2022    2023    2024    2025
                      Transportasi dan Pergudangan      304,5   326,9   348,9   374,8   406,7   435,3   463,1   393,4   406,2   486,9   554,9   603,1   656,0
                        Angkutan Rel                      2,3     2,8     2,9     3,1     3,6     4,0     4,2     2,4     2,3     4,0     4,9     5,8     6,4
                        Angkutan Darat                  167,6   180,4   192,6   206,2   222,6   238,5   262,2   248,2   259,5   282,1   309,4   340,0   373,1
                        Angkutan Laut                    27,4    29,5    30,2    30,6    32,0    34,3    37,9    36,1    37,2    39,1    45,1    46,2    51,0
                       Angkutan Sungai Danau dan
                                                          9,5    10,1    10,2    10,4    11,0    11,6    12,2    10,6    10,6    18,0    20,4    21,3    22,8
                       Penyeberangan
                        Angkutan Udara                   49,3    52,3    57,7    65,3    73,1    77,5    69,9    32,8    30,2    50,4    65,0    69,4    70,8
                       Pergudangan dan Jasa Penunjang
                                                         48,5    51,9    55,2    59,4    64,4    69,5    76,7    63,2    66,4    93,3   110,0   120,3   131,9
                       Angkutan; Pos dan Kurir




                                                                    Sumber : BPS (diolah)



Laju pertumbuhan atas masing – masing sub lapangan usaha berbeda satu sama lain, baik
sebelum maupun pasca covid-19. Selama tahun 2013 – 2019, rata – rata pertumbuhan
tertinggi adalah sub lapangan usaha angkutan rel yang mencapai 10,27% per tahun dan
kemudian disusul oleh pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir sekitar
7,94%, saat covid dan pasca covid-19 (periode tahun 2019 – 2025) rata – rata pertumbuhan
tertinggi dicapai oleh angkutan sungai danau dan penyeberangan sebesar 10,99% dan
disusul oleh pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir sekitar 9,46%. Bila
periodenya sejak 2013 – 2025, yang mencapai rata – rata pertumbuhan tertinggi adalah
angkutan rel 8,71% dan pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir 8,70%.
Rata – rata pertumbuhan kedua sub lapangan usaha tersebut serta sub lapangan usaha
angkutan darat dan angkutan sungai danau dan penyeberangan, berada di atas rata – rata
pertumbuhan lapangan transportasi dan pergudangan.




                                                     Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 12
Page 66
                                        Grafik 4.9
                                Rata – Rata Pertumbuhan
                       LU Transportasi dan Pergudangan (Rp Triliun)




                                        Sumber : BPS (diolah)



4.5.2 Distribusi Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan Menurut Sub
      Lapangan Usaha

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan didalamnya terdapat 6 (enam) sub sektor
lapangan usaha yaitu sebagai berikut :
    1. Angkutan rel
   2. Angkutan darat
   3. Angkutan laut

   4. Angkutan sungai, danau dan penyeberangan
   5. Angkutan udara
   6. Pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir.
Nominal yang dihasilkan dari lapangan usaha transportasi dan pergudangan berasal dari ke-
6 sub sektor lapangan usaha yang disebutkan di atas. Perkembangan dan pertumbuhan sub
lapangan usaha yang dimaksud tersebut, akan diikuti pula dengan perkembangan dan
partumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan.

Dari ke-6 sub lapangan usaha tersebut, angkutan darat merupakan yang paling besar
konstribusinya terhadap lapangan usaha transportasi dan pergudangan yaitu mencapai
56,88% pada tahun 2025. Kemudian disusul sub lapangan usaha pergudangan 20,11% serta
angkutan udara 10,79%. Total kontribusi ketiga sub lapangan usaha tersebut terhadap
lapangan usaha transportasi dan pergudangan adalah mencapai 87,78%. Meskipun masuk
tiga besar, namun kontribusi sub lapangan usaha angkutan udara cenderung mengalami
penurunan karena pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sub lapangan
usaha lainnya. Khusus sub lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang pos dan kurir,
merupakan lapangan usaha yang kontribusinya mengalami peningkatan terbesar. Pada tahun

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 13
Page 67
2013, kontribusinya hanya 15,97% dan meningkat menjadi 20,11% pada tahun 2025. Artinya,
kontribusinya mengalami peningkatan atau bertambah 4,14%, sedangkan sub lapangan
usaha angkutan darat hanya bertambah 2,1%. Hal ini memberikan gambaran bahwa sub
lapangan usaha pergudangan dan jasa penunjang pos dan kurir memiliki peranan yang
semakin penting dan kontribusinya diperkirakan akan terus tumbuh pada masa mendatang
seperti yang terjadi selama ini.

                                        Grafik 4.10
                       Distribusi LU Transportasi dan Pergudangan
                                     Menurut Sub LU




                                        Sumber : BPS (diolah)



4.5.3 Kontribusi Terhadap PDB

Lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang menjadi indikator pasar logistik di
Indonesia, memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan perekonomian nasional.
Perkembangan angka nominal lapangan usaha dan pergudangan selama ini memberikan
gambaran bahwa lapangan usaha ini memberikan kontribusi yang signifikan.

Sebelum terjadinya Covid-19 atau hingga tahun 2019, kontribusi lapangan usaha transportasi
dan pergudangan menunjukkan pertumbuhan setiap tahunnya. Pada tahun 2013,
kontribusinya terhadap total PDB hanya 3,73%, kemudian kontribusinya terus meningkat
hingga mencapai 4,23% pada tahun 2019. Covid-19 yang terjadi menyebabkan kontribusinya
turun menjadi 3,67% tahun 2020 dan 3,65% tahun 2021. Kontribusi tahun 2020 – 2021
tersebut bahkan lebih rendah dari yang dicapai pada tahun 2013.

Kondisi ekonomi nasional yang mulai membaik pada tahun 2022, memberikan dampak positif
bagi pasar logistik nasional. Peningkatan nominalnya diikuti pula dengan peningkatan
kontribusi yang mencapai 4,16% pada tahun 2022. Peningkatan kontribusi tersebut terus
mengalami kenaikan secara signifikan setiap tahunnya dan bahkan kontribusinya mencapai
4,83% pada tahun 2025, angka tersebut merupakan yang terbesar selama ini.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 14
Page 68
Berdasarkan hasil analisa, kontribusi usaha logistik nasional sesuai dengan perkembangan
lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebelum covid-19 secara umum masih
dibawah 3,0% per tahun. Namun kontribusi tersebut meningkat pesat pasca covid-19 atau
sejak tahun 2022 dimana kontribusinya berkisar antara 4,51% - 4,83% per tahun.
Perkembangan kontribusi ini memberikan gambaran bahwa pasar logistik nasional
memegang peranan yang penting bagi perekonomian nasional. Sektor ini akan menjadi salah
satu andalan bagi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

                                     Grafik 4.11
               Perkembangan Kontribusi LU Transportasi dan Pergudangan
               5,00%                                                                    4,83%
                       Sebelum 2019 : < 4,3%
                       Setelah 2019 : 4,51% - 4,83%                                 4,67%
               4,75%
                                                                                4,51%
               4,50%
                                                   4,23%
                                              4,18%                      4,16%
               4,25%                     4,10%
                                    3,97%
               4,00%           3,88%
                          3,82%
                     3,73%
               3,75%
                                                            3,67%       3,65%
               3,50%

               3,25%

               3,00%
                       2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025



                                                Sumber : BPS (diolah)



4.5.4 Struktur Pasar Utama Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Pasar utama lapangan usaha transportasi dan pergudangangan di Indonesia, selama ini
didominasi oleh 4 (empat) propinsi. Kontribusi lapangan usaha transportasi dan pergudangan
yang dihasilkan dari ke-4 propinsi tersebut, sangat dominan jumlahnya dimana total
kontribusinya pada tahun 2019 hanya 48,6% dan meningkat menjadi 53,6% pada tahun 2025.
Propinsi yang terbesar kontribusinya pada tahun 2025 adalah Jawa Barat yang mencapai
sebesar 17,3%, posisi kedua Provinsi DKI Jakarta sekitar 16,2%, kemudian Jawa Timur 11,7%
serta Jawa Tengah 8,4%.

Berdasarkan uraian di atas, keempat provinsi yang disebutkan tersebut seluruhnya berasal
dari Pulau Jawa. Pangsa pasar utama usaha transportasi dan pergudangan berasal dari Pulau
Jawa khususnya dari keempat provinsi yang disebutkan tersebut. Hal ini disebabkan karena
keempat propinsi yang disebutkan tersebut dan bahkan Pulau Jawa, merupakan pusat
ekonomi nasional dimana produk domestik regional bruto yang dihasilkan juga adalah yang
terbesar dan bahkan DKI Jakarta sebagai ibu kota negara. Keempat propinsi tersebut juga
dikenal sebagai pusat industri pengolahan dan pusat bisnis dan perdagangan serta gerbang
utama ekspor impor di Indonesia. Kemudian pula, memiliki jumlah penduduknya juga yang

                                      Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 15
Page 69
terbesar dibandingkan propinsi lainnya. Hal ini memberikan gambaran bahwa Pulau Jawa dan
khususnya keempat provinsi tersebut memiliki potensi pasar yang sangat baik dan besar,
termasuk usaha transportasi dan pergudangan.

                                       Grafik 4.12
                   Pangsa Pasar Utama LU Transportasi dan Pergudangan
                                                                       Uraian              2019   2025
                                                                       4 Propinsi Utama   48,6% 53,6%
                                                                       Propinsi Lainnya   51,4% 46,4%




                                          Sumber : BPS (diolah)



4.6    STRATEGI PENGEMBANGAN                  SEKTOR              LOGISTIK         GUNA                  MENDUKUNG
       PEREKONOMIAN INDONESIA

Sektor logistik memainkan peran yang sangat krusial dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia. Baru-baru ini pemerintah Indonesia menargetkan
pertumbuhan ekonomi yang ambisius, dengan harapan mencapai angka 8% dalam waktu
dekat. Untuk mencapai target ini, sektor logistik menjadi salah satu fokus utama, mengingat
perannya yang vital dalam memperlancar arus barang dan jasa, serta menghubungkan
berbagai sektor ekonomi. Perusahaan logistik di Indonesia juga diharapkan dapat lebih
berperan dalam mendorong kemajuan ekonomi, termasuk peningkatan daya saing produk
Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, pelaku
industri, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa sektor ini dapat
berkembang dengan baik dan memberikan dampak maksimal bagi perekonomian Indonesia.
Dalam hal ini Supply Chain Indonesia (SCI) menyampaikan rekomendasi komprehensif untuk
strategi pengembangan sektor logistik Indonesia dalam upaya mendukung pertumbuhan
ekonomi, berikut adalah strategi-strategi utama yang dapat diterapkan:

      1) Penguatan Rantai Pasok Komoditas
         Langkah pertama dalam pengembangan sektor logistik adalah memperkuat rantai
         pasok komoditas. Ini mencakup beberapa fokus penting:

         1. Fokus Komoditas dan Hilirisasi: Identifikasi komoditas-komoditas strategis yang
            memiliki potensi besar untuk dikembangkan, diikuti dengan upaya hilirisasi untuk
            meningkatkan nilai tambah produk tersebut. Hal ini akan membantu meningkatkan
            daya saing produk Indonesia di pasar global.

                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 16
Page 70
   2. Pemetaan Rantai Pasok: Melakukan pemetaan menyeluruh terhadap rantai pasok
      setiap komoditas. Ini penting untuk mengidentifikasi potensi hambatan dan mencari
      solusi yang efektif.
   3. Pengembangan Rantai Pasok Terintegrasi: Mengintegrasikan berbagai komponen
      dalam rantai pasok, mulai dari produksi hingga distribusi, untuk menciptakan
      efisiensi yang lebih tinggi dan mengurangi biaya logistik.
2) Pembangunan Wilayah
   Pengembangan wilayah menjadi elemen kunci dalam memperkuat sektor logistik di
   Indonesia. Strategi ini mencakup:

   1. Pengembangan      Komoditas       Potensial  Wilayah: Mengidentifikasi    dan
      mengembangkan komoditas-komoditas potensial di berbagai wilayah Indonesia,
      disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan lokal masing-masing. Ini juga
      mencakup upaya peningkatan nilai tambah komoditas tersebut untuk mendorong
      pertumbuhan ekonomi lokal.
   2. Integrasi Pengembangan dan Pengubahan Paradigma Logistik: Mengubah
      paradigma logistik dari yang sebelumnya hanya sebagai pengangkut barang
      menjadi komponen strategis yang terintegrasi dengan pembangunan ekonomi
      wilayah.
3) Pengembangan Konektivitas
   Konektivitas merupakan pondasi bagi sistem logistik yang efisien. Strategi ini
   melibatkan:

   1. Pengembangan Infrastruktur: Pembangunan dan peningkatan infrastruktur
      transportasi, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara, untuk mendukung arus
      logistik yang lebih cepat dan efisien.
   2. Penataan Hub & Spoke: Membangun dan menata hub logistik strategis yang
      berfungsi sebagai pusat distribusi utama, didukung oleh jaringan spoke yang
      menghubungkan ke berbagai wilayah.
   3. Pengembangan Transportasi Multimoda: Implementasi transportasi multimoda
      yang terintegrasi dari end-to-end, menghubungkan berbagai moda transportasi
      seperti darat, laut, dan udara untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien.
   4. Pemanfaatan Teknologi Informasi: Mengintegrasikan teknologi informasi dalam
      pengelolaan logistik, termasuk penggunaan big data, IoT, dan kecerdasan buatan
      untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan
4) Pengembangan Kompetensi dan Kapabilitas
   Sumber daya manusia dan teknologi menjadi elemen penting dalam pengembangan
   sektor logistik. Strategi ini mencakup:



                             Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 17
Page 71
        1. Pengembangan Kompetensi SDM: Meningkatkan kompetensi sumber daya
           manusia di sektor logistik melalui pelatihan, sertifikasi, dan pendidikan yang
           berfokus pada teknologi dan manajemen logistik.
        2. Peningkatan Proses dan Teknologi: Memanfaatkan teknologi terkini untuk
           meningkatkan produktivitas dan daya saing.
        3. Pengembangan Jaringan Global: Menguatkan jaringan global Indonesia dengan
           membangun kemitraan strategis dengan negara-negara lain.
      5) Regulasi & Kelembagaan
         Aspek regulasi dan kelembagaan menjadi pondasi penting dalam mendukung
         keberhasilan pengembangan sektor logistik. Strategi ini mencakup:

        1. Pembentukan UU Logistik: Pembentukan undang-undang khusus logistik sebagai
           target jangka menengah untuk memberikan kerangka hukum yang jelas dan
           mendukung pengembangan sektor ini.
        2. Revisi Perpres 26/2012: Melakukan revisi terhadap Perpres 26/2012 tentang Cetak
           Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional agar lebih relevan dengan kondisi
           dan kebutuhan saat ini.
        3. Pembentukan Badan Logistik Nasional: Mendirikan badan logistik nasional yang
           bertugas mengkoordinasikan dan mengawasi pengembangan sektor logistik secara
           terintegrasi.
        4. Harmonisasi Regulasi: Melakukan harmonisasi regulasi antar sektor terkait logistik,
           baik di tingkat nasional maupun daerah, untuk menciptakan lingkungan bisnis yang
           lebih kondusif.
Dengan penerapan strategi-strategi di atas, sektor logistik di Indonesia dapat berkembang
lebih optimal, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan daya saing Indonesia
di tingkat global.

4.7    RENCANA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA

4.7.1 Bidang Penambahan Usaha

Perseroan adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
bukan mobil dan sepeda motor. Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha seperti
industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih keperluan rumah
tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan besar kosmetik
untuk manusia. Saat ini Perseroan berencana melakukan penambahan kegiatan usahanya di
bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri (KBLI 68126). Rencana
penambahan kegiatan usaha tersebut dengan memanfaatkan gudang eksisting yang selama
ini kurang optimal pemanfaatannya.



                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 18
Page 72
4.7.2 Target Market

Gudang yang disewakan adalah merupakan bagian dari pabrik dan gudang millik PT Mandom
Indonesia Tbk yang berlokasi Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat. Luas gudang yang disewakan adalah hanya + 414 m2 yang berada di lantai 2.

Target market atas pemasaran space gudang tersebut dapat berasal dari afiliasi atau juga
berasal dari eksternal atau pihak ketiga. Potensi dari perusahaan afiliasi adalah berasal
perusahaan yang selama ini menyewa gudang di wilayah Jabodetabek. Perusahaan afiliasi
yang masa sewa gudangnya berakhir, dapat menjadi salah satu potensi atau target market
bagi rencana gudang yang disewakan. Hal ini memberikan bisnis sinergi yang saling
menguntungkan.

Target penyewa gudang dari eksternal atau pihak ketiga adalah perusahaan – perusahaan
yang membutuhkan space gudang di wilayah Cibitung – Bekasi. Perusahaan yang dimaksud
yang membutuhkan space gudang antara 250 m 2 – 420 m2 atau ukurannya yang tidak besar.
Kebutuhan gudang baik untuk ekspansi maupun maupun kebutuhan gudang baru.

4.7.3 Analisa Pesaing

Berdasarkan hasil analisa, secara langsung usaha atau kompetitor Perseroan tidak dapat
dibandingkan dengan perusahaan terbuka yang terdatar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan
– perusahaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

   -   PT Mega Manunggal Property Tbk

   -   PT Kiosan Komersial Indonesia

   -   PT Bumi Benowo Sejahtera Tbk

   -   PT Bekasi Fajar Industrial Estate

   -   PT Kawasan Industri Jababeka Tbk

   -   PT Samudera Indonesia Tbk

Perusahaan – perusahaan yang disebutkan diatas, bisnisnya merupakan suatu kawasan
industri dimana didalamanya salah satu produknya berupa produk pergudangan baik
disewakan dan atau di jual yang dikelola secara profesional. Selain itu pula, pemain yang
disebutkan tersebut, sebagian bisnisnya berupa bisnis logistik. Bisnis logistik adalah kegiatan
usaha yang berfokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian arus barang,
informasi, dan sumber daya lainnya dari titik asal ke titik tujuan secara efisien dan efektif.
Dalam praktiknya, logistik mencakup berbagai layanan seperti pergudangan, pengiriman,
distribusi, manajemen inventori, hingga layanan nilai tambah seperti packaging dan labeling.

Oleh karena itu berdasarkan size atau ukuran tidak sebanding dengan Perseroan (PT
Mandom Indonesia Tbk) dimana bisnisnya hanya berupa menyewakan space gudang dan


                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 19
Page 73
ukurannya pun hanya + 414 m2. Kemudian Perseroan juga dalam studi belum menjalankan
bisnis logistik seperti yang dijalankan oleh para pemain utama di bidang logisitik.

Berdasarkan identifikasi di lapangan, terdapat gudang yang disewakan di sekitar lokasi studi
atau yang berada di Kawasan MM2100. Gudang yang disewakan tersebut umumnya
merupakan eks pabrik yang ukurannya sangat besar dan tidak dikelola secara professional.
Oleh karena itu gudang yang berupa eks pabrik tersebut bukan sebagai pesaing bagi
Perseroan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, Perseroan tetap melakukan strategi pemasaran yang tepat
dan efisien agar gudang yang disewakan dapat dipasarkan. Pada akhirnya aset menjadi lebih
optimal dan memberikan tambahan keuntungan finansial bagi Perseroan. Berdasarkan pasar
secara makro bahwa bisnis logistic mengalami pertumbuhan yang cukup pesat beberapa
tahun terakhir termasuk di wilayah Jawa Barat. Hal ini menjadi potensi yang baik bagi
Perseroan untuk menyewakan gudang.

4.7.4 Strategi Pemasaran

Adapun strategi pemasaran terkait dengan penambahan kegiatan usaha ini adalah sebagai
berikut.

   -   Menyewakan gudang kepada perusahaan afiliasi maupun non-afiliasi

   -   Memberlakukan tarif sewa gudang yang kompetitif.

   -   Melakukan promosi atau iklan melalui billboard ataupun banner.

   -   Kualitas bangunan gudang dan fasilitas yang tetap terjaga sehingga namun bersaing
       di pasaran.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 4 - 20
Page 74
                                                                                         BAB 5
                              ANALISIS ASPEK POLA BISNIS

5.1.   KEMAMPUAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI

Penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) merupakan langkah
strategis yang memiliki kemampuan tinggi dalam menciptakan nilai tambah (added value) dan
memperluas area kerja perusahaan. Dengan memperbarui atau menambah KBLI,
perusahaan dapat memperluas peluang usaha, melakukan diversifikasi bisnis, dan
meningkatkan efisiensi operasional. Berikut adalah rincian kemampuan menciptakan nilai dari
penambahan KBLI bagi perusahaan:

   •   Diversifikasi Bisnis
       Penambahan KBLI memungkinkan perusahaan dapat mengembangkan lini usaha
       baru yang melengkapi atau berbeda dari kegiatan utama saat ini, sehingga
       meningkatkan potensi pendapatan. Penambahan tersebut juga memungkinkan
       perusahaan untuk merambah area usaha baru yang sebelumnya tidak dapat
       dijangkau.

   •   Peningkatan Kredibilitas
       Memiliki KBLI yang sesuai dengan kegiatan nyata di lapangan meningkatkan
       profesionalisme perusahaan di mata klien, investor, dan pemerintah.

   •   Pemanfaatan Kapasitas Manajemen
       Perusahaan dapat mengoptimalkan tenaga ahli dan infrastruktur yang sudah ada
       untuk mendukung kegiatan di KBLI baru.

   •   Optimalisasi aset
       Penambahan KBLI baru dapat meningkatkan optimalisasi aset yang dimiliki oleh
       perusahaan. Adanya penambahan KBLI memungkinkan aset perusahaan
       memberikan kontribusi pendapatan yang sebelumnya belum memberikan kontribusi.
       Pada akhirnya terjadi peningkatan pendapatan dengan adanya penambahan KBLI
       baru.

5.2.   KEUNGGULAN KOMPETITIF

Penambahan KBLI menyebabkan perusahaan memperluas cakupan pelayanan dan
menciptakan integrasi rantai bisnis yang lengkap. Rencana perusahaan menambah KBLI
68126 atau menambah usaha di bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan
mandiri, maka memberikan solusi dan penawaran yang lengkap kepada konsumen. Loyalitas
konsumen dapat ditingkatkan sehingga menciptakan keunggulan kompetitif.




                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-1
Page 75
Diversifikasi usaha melalui penambahan KBLI seperti yang disebutkan di atas, juga dapat
menjadi keunggulan kompetitif. Optimalisasi sumber daya yang ada baik sumber daya
manusia, aset yang dimiliki hingga jaringan usaha menjadi keunggulan kompetitif bagi
perusahaan dalam menghadapi tingkat persaingan yang semakin ketat.

Perusahaan memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang menjadikannya salah satu pemain
utama di industri kosmetik dan perawatan tubuh di Indonesia. Sebagai perusahaan industri
kosmetik dan perawatan tubuh, Perseroan memiliki sejumlah keunggulan kompetitif sebagai
berikut:
  • Portofolio Merek yang Kuat & Beragam
    Perusahaan mengelola berbagai merek populer yang mencakup berbagai segmen pasar,
    mulai dari men’s grooming, kosmetik wanita, hingga wangi-wangian.
  • Standar Mutu dan Teknologi Jepang
    Sebagai perusahaan patungan dengan Mandom Corporation Jepang, seluruh produk
    diproduksi dengan teknologi modern dan standar kualitas tinggi dari Jepang.
  • Jangkauan Pasar Ekspor yang Luas
    Perusahaan tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga aktif memperkuat penetrasi
    pasar ekspor ke berbagai negara, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap
    pertumbuhan pendapatan.
  • Inovasi dan Adaptasi Digital
    Perusahaan secara konsisten melakukan inovasi produk sesuai tren konsumen serta
    memperkuat saluran penjualan melalui e-commerce dan social commerce.
  • Kesesuaian dengan Nilai Lokal
    Produk-produk telah mengantongi sertifikasi halal dari LPPOM MUI, yang menjadi faktor
    penentu penting bagi konsumen di Indonesia.
Keterkaitan keunggulan kompetitif Perseroan tersebut dengan penambahan kegiatan usaha
sebagai berikut:
  • Portofolio Merek yang Kuat & Beragam
    Pengalaman pengelolaan sejumlah merek memberikan keunggulan dalam hal reputasi
    sebagai perusahaan yang profesional termasuk dalam kapasitas sebagai pengelola
    kegiatan usaha Penyewaan Gudang dan Fasilitas Penyimpanan Mandiri.
  • Standar Mutu dan Teknologi Jepang
    Standar mutu dan teknologi Jepang yang diterapkan pada infrastruktur dan pengelolaan
    gudang memberikan jaminan kepercayaan bagi pihak penyewa.
  • Jangkauan Pasar Ekspor yang Luas



                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-2
Page 76
       Pengalaman dalam pengelolaan penjualan ekspor memberikan keunggulan dalam hal
       pemahaman Perseroan terkait jaringan logistik internasional yang dapat menjadi nilai
       tambah bagi pihak penyewa yang membutuhkan akses ke ekosistem logistik yang sudah
       matang.
  • Inovasi dan Adaptasi Digital
       Konsistensi Perseroan dalam inovasi dan adaptasi digital memberikan keunggulan dalam
       hal fleksibilitas dan adaptasi terhadap kebutuhan pihak penyewa. Pengalaman
       pengelolaan penjualan melalui e-commerce dan social commerce memberikan
       pemahaman mendalam tentang ekosistem e-commerce dan social commerce yang dapat
       menjadi nilai tambah bagi pihak penyewa yang bergerak di bidang tersebut.

  • Kesesuaian dengan Nilai Lokal
       Pengalaman Perseroan dalam proses sertifikasi Halal dapat membantu pihak penyewa
       yang sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi serupa. Selain itu, gudang yang
       selama ini digunakan untuk menyimpan produk bersertifikat Halal secara tidak langsung
       telah memenuhi persyaratan penyimpanan Halal yang dapat dimanfaatkan oleh pihak
       penyewa.

5.3.     KEMAMPUAN PESAING UNTUK MENIRU PRODUK
Rencana perusahaan menambah KBLI 68126 atau menambah usaha di bidang penyewaan
gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri, dalam bidang usaha tentunya perusahaan lainnya
dapat memasuki bidang yang sama. Artinya sangat terbuka bagi perusahaan lain dalam bisnis
atau usaha yang sama. Namun demikian kemampuan dan kapasitas masing – masing
berbeda satu sama lain.

Keunggulan menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif menjadi hal yang sulit untuk ditiru
oleh perusahaan lainnya. Hal yang dimaksud misalnya reputasi perusahaan, jaringan
distribusi, jaringan pasar, kemampuan sumber daya manusia, kapasitas dan kemampuan
dalam mengelola perusahaan hingga teknologi.

5.4.     ANALISA SWOT
SWOT adalah akronim dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities
(peluang), dan threats (ancaman), dimana SWOT dijadikan sebagai suatu model dalam
menganalisis suatu organisasi yang berorientasi pada profit dan non-profit dengan tujuan
utama untuk mengetahui keadaan organisasi tersebut secara lebih komprehensif. Dalam
proses perumusan strategi yang baik, SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor
secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada
hubungan atau interaksi antara unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap
unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman.




                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-3
Page 77
Untuk menganalisis secara lebih dalam tentang SWOT, maka perlu dilihat faktor eksternal dan
internal sebagai bagian penting dalam analisis SWOT yaitu:

       1. Faktor Eksternal
            Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya opportunities and threats (O and
            T), dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi - kondisi yang terjadi di luar
            perusahaan yang mempengaruhi dalam pembuatan keputusan perusahaan.
            Faktor ini mencakup lingkungan industri (industry environment), ekonomi, politik,
            hukum, teknologi, kependudukan, dan sosial budaya.
       2. Faktor internal
            Faktor ini akan mempengaruhi terbentuknya strengths and weaknesses (S dan
            W) dimana faktor ini menyangkut kondisi yang terjadi dalam perusahaan, dimana
            hal ini turut mempengaruhi terbentuknya pembuatan keputusan (decision making)
            perusahaan. Faktor internal ini meliputi semua manajemen fungsional:
            pemasaran, keuangan, operasi, sumber daya manusia, penelitian dan
            pengembangan, sistem informasi manajemen, dan budaya perusahaan
            (corporate culture).
Adapun hasil analisa SWOT bagi perusahaan dengan adanya aktivitas usaha baru adalah
sebagai berikut :

   •    Kekuatan (Strengths)
        -    Terpenuhinya perizinan dan persyaratan atas rencana penambahan KBLI,
             memungkinkan perusahaan dapat menjalankan usaha yang sesuai dengan
             ketentuan yang berlaku.
        -    Penambahan aktivitas usaha baru atau rencana penambahan KBLI baru
             membuat usaha perusahaan menjadi lebih terintegrasi dan membuat daya saing
             perusahaan menjadi lebih kompetitif.
        -    Perusahaan telah memiliki reputasi yang baik terhadap stakeholder, kemudian
             memiliki jaringan bisnis yang baik dan luas sehingga memudahkan memasuki
             pasar baru dan mendapatkan mitra bisnis yang strategis.
        -    Perusahaan didukung oleh sumber daya yang profesional sehingga memberikan
             fondasi yang kokoh bagi perusahaan untuk tumbuh, berkembang dan bersaing di
             pasar global termasuk aktivitas usaha yang baru.
        -    Perusahaan memiliki anak perusahaan yang usaha di berbagai bidang dan dapat
             terintegrasi dengan aktivitas bisnis baru.
        -    Memiliki divisi logistic center
        -    Perusahaan telah menyusun struktur organisasi gudang terkait penambahan KBLI
             agar ke depan usaha yang direncanakan dapat berjalan dengan baik.


                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-4
Page 78
   •   Kelemahan (Weaknesses)
       -   Belum memiliki pengalaman terkait dengan usaha penyewaan pergudangan
           sehingga membutuhkan waktu untuk membangun kompetensi dalam bidang
           usaha yang baru.
       -   Perusahaan memiliki      fasilitas   gudang     eksisting    yang     belum     optimal
           pemanfaatannya.
       -   Pasokan gudang yang dimiliki saat ini untuk disewakan masih sangat terbatas.
   •   Peluang (Opportunity)
       -   Pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8% per tahun pada
           masa mendatang.
       -   Populasi penduduk Indonesia yang besar memiliki potensi permintaan berbagai
           barang/jasa dalam jumlah yang besar.
       -   Sektor logistik selama ini menjadi satu sektor yang memiliki peran yang sangat
           penting bagi perekonomian nasional
       -   Lapangan usaha transportasi dan pergudangan selama ini menunjukkan
           pertumbuhan positif setiap tahunnya dan bahkan pertumbuhannya berada di atas
           pertumbuhan ekonomi.
       -   Struktur pasar logistik nasional dominan di Pulau Jawa dan salah satunya adalah
           Propinsi Jawa Barat dimana sebagai lokasi pergudangan yang dimiliki oleh
           perusahaan. Artinya permintaan pergudangan di lokasi perusahaan cukup baik.
       -   Perusahaan memiliki anak perusahaan dan dapat menjadi pangsa pasar bagi
           aktivitas usaha yang baru.
   •   Ancaman (Threats)
       -   Persaingan yang sangat ketat di bidang industri maupun bidang logistik. Pemain
           besar di bidang terutama di bidang logistik masih tetap akan menguasai pasar.
       -   Adanya tekanan ketidakpastian politik dan keamanan global yang berpotensi juga
           menimbulkan ketidakpastian di bidang ekonomi global maupun nasional yang
           pada akhirnya mempengaruhi permintaan pasar termasuk usaha perusahaan
           eksisting dan juga rencana aktivitas usaha yang baru.

Sehubungan dengan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) seperti yang
dijelaskan di atas, Perseroan perlu melakukan upaya mitigasi untuk mengatasi kelemahan
(weaknesses) dan ancaman (threats) tersebut yaitu sebagai berikut :
  • Upaya mitigasi Kelemahan (Weaknesses):
       • Melakukan penambahan sumber daya manusia sesuai kebutuhan.



                               Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-5
Page 79
   • Menyediakan kesempatan pelatihan terkait pengelolaan sewa gudang untuk
     meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.
   • Optimalisasi pemanfaatan fasilitas gudang eksisting melalui kegiatan bisnis sewa
     gudang.
• Upaya mitigasi Ancaman (Threats):
   • Pemanfaatan area gudang eksisting tidak membutuhkan biaya investasi awal yang
     tinggi di mana struktur biaya yang lebih rendah memungkinkan Perseroan untuk
     menetapkan harga yang kompetitif.
   • Diferensiasi penyewaan gudang untuk niche market seperti industri kosmetik,
     produk yang tersertifikasi Halal, perusahaan Jepang di Indonesia, dan lain - lain.
   • Diversifikasi basis penyewa dan sektor industri terutama sektor industri yang
     resilien seperti produk kebutuhan pokok untuk meminimalisir ketergantungan pada
     pihak tertentu.




                            Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk   5-6
Page 80
                                                                                           BAB 6
                 ANALISIS ASPEK MODEL MANJEMEN

6.1   KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN SEBELUM ADANYA PENAMBAHAN
      KBLI

Manajemen yang efektif sangat penting untuk keberhasilan suatu organisasi, di mana faktor
penting yang berkontribusi adalah pemilihan model manajemen. Model tersebut harus paling
sesuai dengan kebutuhan bisnis organisasi. Pemilihan model yang tepat membantu
mengatasi tantangan, mendorong pertumbuhan, dan mengoptimalkan kinerja bisnis. Model
Manajemen adalah kerangka kerja yang memandu pengambilan keputusan, perencanaan,
dan alokasi sumber daya bagi bisnis untuk membantu mereka mencapai tujuan secara efisien.
Model manajemen adalah kerangka kerja terstruktur dan komprehensif yang memandu
organisasi dalam mengelola sumber daya, operasi, dan SDM secara efektif. Model
manajemen berfungsi sebagai cetak biru strategis, memberikan arahan yang jelas untuk
pengambilan keputusan dan penetapan tujuan. Alat penting ini memungkinkan bisnis untuk
menavigasi kompleksitas lanskap bisnis modern dengan efisien dan percaya diri.

Manajemen Perusahaan sebelum melakukan rencana penambahaan KBLI baru telah
menunjukkan kapasitas dan kompetensi yang baik dalam mengelola kegiatan operasional
perusahaan. Pengalaman perusahaan yang didukung oleh sumber daya manusia yang
berpengalaman dan profesional di bidangnya, jaringan uang luas, kepercayaan dari
stakeholder, mampu menjaga dinamika dan stabilitas operasional perusahaan di tengah
tantangan dan persaingan global yang kian ketat.

Struktur organisasi yang saat ini berjalan dengan sangat baik sesuai dengan fungsi dan
tanggung jawab masing – masing. Kemampuan perusahaan dalam menghadapi
perkembangan dan perubahan dinamika pasar menjadi modal yang kuat pada masa
mendatang.
Berikut Jajaran Direksi Perseroan :
      Koichi Watanabe                          Presiden Direktur / CEO
                              Warga Negara Jepang
                              Bertugas: Bertanggung jawab atas keseluruhan operasional
                              Perusahaan dan secara Langsung membawahi Internal Audit.
                              Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Osaka Institute of
                              Technology. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                              Presiden Direktur/CEO adalah keputusan RUPS Tahunan
                              tahun 2024. Bergabung dengan Mandom Corporation pada
                              tahun 1988. Beliau memiliki hubungan afiliasi dengan
                              Pemegang Saham Pengendali dan Utama Perseroan yaitu
                              Mandom Corporation.


                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 1
Page 81
     Teiji Izawa                Direktur / Senior Executive Officer
                      Warga Negara Jepang.
                      Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Tokyo University of
                      Science. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                      Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan RUPS
                      Tahunan      tahun     2024.     Bergabung       dengan      Mandom
                      Corporation pada tahun 2007. Beliau memiliki hubungan
                      afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan Utama
                      Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini menjabat
                      sebagai Direktur Teknologi




    Toru Onishi                  Direktur/ Senior Executive Officer
                      Warga Negara Jepang.
                      Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Ichikawa High
                      School. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                      Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan RUPS
                      Tahunan tahun 2024. Bergabung dengan Mandom Corporation
                      pada tahun 1990. Beliau memiliki hubungan afiliasi dengan
                      Pemegang Saham Pengendali dan Utama Perseroan yaitu
                      Mandom Corporation. Saat ini menjabat sebagai Direktur
                      Penjualan Domestik



Sanyata Adi Saputra                                  Direktu
                      Warga Negara Indonesia.
                      Menempuh pendidikan terakhirnya di Pascasarjana Universitas
                      Satyagama. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                      Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2011 dan
                      terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                      2022. Beliau kemudian diangkat sebagai Komisaris
                      Independen berdasarkan keputusan RUPS Tahunan tahun
                      2023. Bergabung dengan Perseroan pada tahun 1990. Beliau
                      tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota Dewan
                      Komisaris maupun Direksi lainnya dan Pemegang Saham
                      Perseroan. Saat ini menjabat sebagai Direktur Sumber Daya
                      Manusia




                        Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 2
Page 82
 Budi Sudarta             Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                  Warga Negara Indonesia.
                  Menyelesaikan       pendidikan      terakhirnya     di    Universitas
                  Indonesia. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                  Wakil Direktur/Senior Executive Officer adalah keputusan
                  RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung dengan Perseroan
                  pada tahun 2015. Beliau tidak memiliki hubungan afiliasi
                  dengan anggota Dewan Komisaris maupun Direksi lainnya dan
                  Pemegang Saham Perseroan.


Hirokazu Kagami             Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                  Warga Negara Jepang.
                  Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Ryutsu Kagaku
                  University di Jepang. Dasar hukum penunjukan pertama kali
                  sebagai Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2020
                  dan terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                  2024. Beliau kemudian diangkat sebagai Wakil Direktur/Senior
                  Executive Officer pada RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung
                  dengan Mandom Corporation pada tahun 1992. Beliau memiliki
                  hubungan afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan
                  Utama Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini
                  menjabat sebagai Wakil Direktur Product Development &
                  Marketing

Hideki Nakamura           Wakil Direktur / Senior Executive Officer
                  Warga Negara Jepang.
                  Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Osaka University di
                  Jepang. Dasar hukum penunjukan pertama kali sebagai
                  Direktur adalah keputusan RUPS Tahunan tahun 2022 dan
                  terus menjabat sampai berakhirnya RUPS Tahunan tahun
                  2024. Beliau kemudian diangkat sebagai Wakil Direktur/Senior
                  Executive Officer pada RUPS Tahunan tahun 2025. Bergabung
                  dengan Mandom Corporation pada tahun 2019. Beliau memiliki
                  hubungan afiliasi dengan Pemegang Saham Pengendali dan
                  Utama Perseroan yaitu Mandom Corporation. Saat ini
                  menjabat sebagai Wakil Direktur Finance, Accounting & Tax,
                  Corporate Secretary, Legal & Compliance dan IT




                    Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 3
Page 83
         Gambar 6.1
Struktur Organisasi Perseroan




 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 4
Page 84
6.2 KAPASITAS DAN KEMAMPUAN MANAJEMEN SETELAH ADANYA PENAMBAHAN
    KBLI

Rencana penambahan KBLI 68126 (penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri),
perusahaan membentuk struktur oganisasi terkait. Hal ini dimaksudkan agar usaha baru yang
dijalankan tersebut dapat berjalan dengan baik, terarah dan efektif serta sesuai dengan yang
direncanakan.

Sehubungan dengan rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Perseroan telah memiliki
tenaga ahli yang dibutuhkan untuk mendukung operasional penambahan kegiatan usaha
yang diajukan. Perseroan telah memiliki fasilitas Logistic Center yang digunakan untuk
keperluan Perseroan di mana dalam kegiatan operasional sehari-hari didukung oleh
sejumlah tenaga kerja yang tergabung dalam Divisi Logistic Center. Perseroan berkomitmen
bahwa pemenuhan kebutuhan tenaga kerja terkait dengan Penambahan Kegiatan Usaha
baru tidak mengurangi kinerja usaha utama yang telah berjalan. Kegiatan usaha baru akan
dipimpin oleh Senior Executive Officer dan dibantu oleh Executive Officer sesuai dengan
struktur organisasi yang ada saat ini. Dalam menjalankan tugasnya akan dibantu oleh level
di bawahnya yaitu mulai dari manajer, asisten manajer, chief/leader hingga level staff. Tidak
ada keahlian khusus yang dibutuhkan namun Perseroan akan senantiasa menyediakan
kesempatan pengembangan kompetensi bagi sumber daya manusia yang berkaitan dengan
operasional kegiatan usaha baru.

Berikut ini adalah salah satu sumber daya manusia yang dipercaya dan memiliki kompetensi
terkait dengan penambahan KBLI tersebut, yaitu sebagai berikut :

 Nama                     :   Budi Sudarta
 Tanggal Lahir            :   Batam, 20 Mei 1976
 Pendidikan               :   Graduate in 1999, Metalurgical & Material Engineering
                              Universitas of Indonesia, Trainee 2009, The Assocaiation
                              Overseas Technical Cooperation (AOTS) Japan.
 Jabatan                  :   Wakil Direktur / Senior Executive Officer
 Pendidikan Terakhir      :   Universitas Indonesia
 Pengalaman Kerja         :   Bergabung dengan Perseroan pada tahun 2015 sebagai
                              Manager Departemen Produksi Factory 2. Sebelumnya beliau
                              pernah berkarir di PT Indonesia Epson Industry dengan
                              jabatan    terakhir    sebagai     Manager,      Head     Production
                              Engineering. Kemudian di tahun 2013 beliau menjabat sebagai
                              Manager New Product Development & Production di PT Nipro
                              Indonesia Jaya. Setelah bergabung dengan Perseroan, beliau
                              memegang beberapa jabatan penting hingga saat ini sebagai


                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 5
Page 85
           Senior Executive Officer Departemen Produksi Factory 1 dan
           Factory 2. Pada RUPS Tahunan 2025 beliau diusulkan untuk
           diangkat sebagai Wakil Direktur/SEO Perseroan




2000 :     Staff, Casting Process Engineering (PT Pakoakuina (Astra
           Autoparts Group)
2001 :     Staff, Head Prod Engineering (PT Indonesia Epson Industry)
           Supervisor, Head Prod Engineering (PT Indonesia Epson
2002   :
           Industry)
           Senior Supervisor, Head Prod Engineering (PT Indonesia
2005   :
           Epson Industry)
           Manager Head Prod Engineering (PT Indonesia Epson
2007   :
           Industry)
           Manager, New Product Development & Production (PT Nipro
2013   :
           Indonesia Jaya)
           Manager, Factory 2 Production 2 & Logistic Center (PT
2015   :
           Mandom Indonesia Tbk)
           Manager, Factory 2 New Product & Mold Engineering (PT
2017   :
           Mandom Indonesia Tbk)
           Generral    Manager,     Packaging       Development       &    Mold
2020   :
           Engineering & Logistic Center (PT Mandom Indonesia Tbk)
           Executive Officer (EO), Factory 2 Production & Logistic Center
2022   :
           (PT Mandom Indonesia Tbk)
           Senior Executive Officer (SEO), Factory 1 & Factory 2
2024   :
           Production & Logistic Center (PT Mandom Indonesia Tbk)
           Wakil Direktur / SEO, Factory 1, Factory 2 Production &
2025   :
           Logistic Center & Quality Control (PT Mandom Indonesia Tbk)




             Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 6
Page 86
Struktur organisasi dalam kegiatan usaha baru telah sesuai dengan manajemen Perseroan
saat ini di mana kegiatan usaha baru akan dipimpin oleh Senior Executive Officer dan dibantu
oleh Executive Officer sesuai dengan struktur organisasi yang ada saat ini. Dalam
menjalankan tugasnya akan dibantu oleh level di bawahnya yaitu mulai dari manajer, asisten
manajer, chief/leader hingga level staff.
                                          Gambar 6.1
                                Struktur Organisasi Gudang
                              Wakil Direktur /Senior Executive Officer
                                          Budi Sudharta

                                        Executive Officer
                                        M. Agus Muttaqin

                                           Manager
                                         Nomi Hermanto

                                        Assistant. Manager
                                       Pranoto Budi Utomo

                                           Chief/Leader
                                              Husein

                                             Staff Adm


                                             Operator

                                 Sumber : PT Mandom Indonesia Tbk


6.3 MANAJEMEN RISIKO

Manajemen risiko adalah proses organisasi dalam mengidentifikasi, menilai, dan
mengendalikan berbagai ancaman dan tantangan terhadap pencapaian tujuan. Manajemen
risiko dilakukan untuk mengidentifikasi, menilai, dan memperkenalkan tanggapan terhadap
risiko untuk mencegah krisis. Manajemen risiko memungkinkan bagi organisasi untuk
mengidentifikasi, merencanakan dan mempersiapkan berbagai skenario dalam menghadapi
berbagai situasi yang kurang baik dan mampu melindunginya dalam jangka panjang.
Manajemen risiko berperan penting dengan cara memberikan informasi terkait ancaman
bisnis dan memungkinkannya untuk mengurangi tingkat risiko yang terjadi. Tanpa adanya
manajemen risiko maka bisnis akan menghadapi permasalahan yang lebih besar karena tidak
akan pernah mempertimbangkan tingkat risiko yang akan dihadapi.

Penambahan KBLI yang direncanakan oleh PT Mandom Indonesia Tbk, dibutuhkan
manajemen risiko guna memastikan aktivitas usaha yang baru dapat berjalan dengan baik,

                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 7
Page 87
lancar dan sesuai dengan yang direncanakan termasuk meminimalkan berbagai dampak
negatif yang kemungkinan dapat terjadi pada masa mendatang. Adapun jenis risiko utama
yang perlu diperhatikan terkait serta upaya mitigasi risiko dengan rencana penambahan KBLI
adalah seperti terdapat pada tabel sebagai berikut :

                                            Tabel 6.1
                          Jenis Risiko dan Upaya Mitigasi Risiko
       Jenis Risiko           Penjelasan Risiko                Upaya Mitigasi Risiko
      Risiko          Risiko ini timbul dari kesalahan Peningkatan          kompetensi
      Operasional     operasional atau pengelolaan sumber             daya    manusia,
                      gudang, human error, risiko penyediaan                     sistem
                      proses barang hingga risiko pengelolaan gudang terpadu
                      teknologi dan sistem.                yang menjadi panduan dalam
                                                           operasional gudang.
      Risiko          Risiko ini terkait dengan Memastikan kegiatan usaha
      Kepatuhan       ketidakpatuhan pada regulasi baru telah memenuhi seluruh
      (Compliance     yang         ditetapkan         oleh persyaratan perizinan dan
      Risk)           pemerintah mulai dari pusat, melakukan                 monitoring
                      pememerintah provinsi hingga berkala atas pemenuhan
                      kabupaten/kotamadya hingga tersebut.
                      perijinan usaha terkait aktivitas
                      baru.
      Risiko          Risiko ini mulai dari pendanaan Monitoring berkala terhadap
      Keuangan        aktivitas usaha baru, kenaikan kinerja keuangan kegiatan
                      biaya pengelolaan                    usaha       baru        untuk
                      serta pengelolaan kebutuhan memastikan kontribusi yang
                      modal kerja.                         positif  terhadap     kinerja
                                                           Perseroan             secara
                                                           keseluruhan.
      Risiko          Kegagalan dalam pengelolaan Memastikan               pengelolaan
      Reputasi        aktivitas usaha yang baru kegiatan                usaha       baru
                      dapat merusak reputasi, citra dilakukan secara terpadu dan
                      hingga               kepercayaan profesional untuk menjaga
                      stakeholder         yang       telah service level kepada pihak
                      dibentuk selama ini.                 penyewa.
      Risiko          Risiko ini terkait dengan Monitoring berkala terhadap
      Lingkungan      pengelolaan                 limbah dampak lingkungan melalui
                      berbahaya, risiko pencemaran pelaporan analisa lingkungan
                      lingkungan         yang       harus secara regular.
                      mendapatkan perhatian dan
                      harus      dapat      dikendalikan
                      dengan baik.




                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 6 - 8
Page 88
                                                                                             BAB 7
                                                                    ASPEK TEKNIS
7.1.   RENCANA PERUSAHAAN


Perseroan memiliki beberapa lokasi pabrik yang Kawasan industri MM2100. Salah satu pabrik
yang dimaksud adalah Factory 2 yang berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan
juga sebagai pusat logistik, berlokasi di Jalan Jawa, Kawasan Industri MM2100. Bangunan
Factory 2 tersebut terdiri dari 2 (dua) lantai termasuk fasilitas pergudangan. Pada lantai 2,
terdapat gudang yang belum optimal pemanfaatannya atau terdapat space atau ruang yang
masih kosong. Oleh karena itu, space gudang yang masih kosong tersebut akan disewakan
kepada Perusahaan terafiliasi maupun Perusahaan lain sehingga pemanfaatan aset menjadi
lebih optimal dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang lebih maksimal dari sisi
keuangan.

7.2.   LOKASI

Aset Perseroan yang akan dioptimalkan dalam kajian studi ini yang terkait dengan
penambahan kegiatan usaha adalah Factory 2 yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100
Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat.

                                           Gambar 7.1
                            Lokasi Factory 2 atau Lokasi Obyek Studi




                        Lokasi




                                   Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 1
Page 89
7.3.   LUAS DAN BENTUK TAPAK


Factory 2 yang dimiliki oleh PT Mandom Indonesia Tbk yang berlokasi di Kawasan Industri
MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi, Jawa Barat berdiri di atas lahan seluas + 54.440
m2. Jenis kepemilikan lahan tersebut adalah HGB yang masa berlakunya hingga tanggal
24/09/2041. Bentuk tapak berbentuk segi empat Panjang dengan sisi barat dan timur
merupakan sisi yang terpanjang.

                                         Gambar 7.2
                               Luas Tapak dan Jenis Kepemilikan
                                   Kepemlikan                          :    HGB
                                   No                                  :    247
                                   Desa                                :    Gandamekar
                                   Pemegang Hak                        :    PT Mandom Indonesia Tbk
                                   Berakhirnya Hak                     :    24/09/2041
                                   Surat Ukur
                                    Tanggal                            : 03-04-1998
                                    No                                 : 00015/1998
                                   Luas                                :    54.440 m2



7.4.   BATASAN - BATASAN TAPAK

Adapun Batasan – Batasan tapak adalah sebagai berikut :
   -   Bagian utara            : Jl Jawa
   -   Bagian selatan          : Bangunan Pabrik PT Sugity Creatives
   -   Bagian Barat            : Bangunan Pabrik
   -   Bagian Timur            : Bangunan Pabrik PT Sankei Gohsyu Industries
                                         Gambar 7.3
                                   Batasan – Batasan Tapak



                                                         Jl Jawa




             Bangunan Pabrik                                                             Bangunan Pabrik PT Sankei Gohsyu Industries




                                           Bangunan Pabrik PT Sugity Creatives




                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 2
Page 90
7.5.   AKSESIBILITAS


Factory 2 yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100 Jl. Jawa Block J-9 Cibitung-Bekasi,
Jawa Barat sangat mudah dijangkau dari berbagai arah. Hal ini disebabkan karena lokasi
didukung oleh akses jalan tol yaitu Jl Tol Jakarta Cikampek melalui gerbang Tol Cibitung.
Selain itu, akses Jalan Tol Jakarta Cikampek juga telah terkoneksi dengan akses jalan tol
lainnya seperti Jl Tol Cimanggis Cibitung, Jl Tol Cibitung Cilincing serta akses jalan Tol Lingkar
Luar sehingga memudahkan konektivitas ke berbagai wilayah. Akses utama lokasi studi
adalah Jl Jawa yang memiliki 2 (dua) jalur.

                                          Gambar 7.4
                                          Aksesibilitas




7.6.   LINGKUNGAN SEKITAR


Lokasi Factory 2 adalah berada di dalam Kawasan Industri MM2100 yang merupakan
Kawasan Industri terpadu yang pertama kali dikembangkan oleh PT. Megalopolis Manunggal
Industrial Development (PT. MMID), didirikan pada tahun 1990 oleh Marubeni Corporation dari
Jepang dan Bekasi Fajar Industrial Estate (saat ini Argo Manunggal Group of Indonesia).

Kawasan industri ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri yang unggul di Indonesia,
terletak di area primer di Kabupaten Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.
Kabupaten Bekasi terletak di sebelah Ibukota Jakarta dan salah satu kota urban yang
berkembang pesat di sebelah timur Jakarta serta merupakan area yang padat penduduknya.

Kawasan Industri MM2100 (MM2100 Industrial Town) adalah kawasan industri terpadu seluas
1.700 hektar di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, yang dibangun sejak 1990 oleh Marubeni


                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 3
Page 91
Corporation (Jepang) dan Manunggal Group. Fokus pada manufaktur dan logistik, kawasan
ini menampung lebih dari 350 tenant internasional (terutama Jepang) dengan infrastruktur
berstandar global.

Berikut adalah profil lengkap Kawasan Industri MM2100:
   • Lokasi & Akses Strategis: Terletak strategis di Cikarang Barat dengan akses langsung
        ke dua jalan tol utama (Tol Jakarta-Cikampek dan akses terhubung ke JORR),
        memudahkan logistik menuju pelabuhan dan bandara.
   • Pengelola: Dikembangkan dan dikelola oleh PT. Megalopolis Manunggal Industrial
        Development (MMID) dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa).
   • Tenant Utama: Berfokus pada industri otomotif, elektronik, logistik, serta makanan dan
        minuman, termasuk perusahaan besar seperti Honda, Toyota, Mitsubishi, dan
        Kawasaki.
   • Fasilitas Kawasan:
        • Infrastruktur Utama: Listrik, air bersih, pengolahan air limbah, jaringan
           komunikasi, dan pasokan gas.
        • Produk Lahan: Lahan industri siap bangun dan Bangunan Pabrik Standar
           (Standard Factory Building).
         • Fasilitas Pendukung: Hotel, pusat bisnis, BeFa Square (kantor siap pakai), SPBU,
           pos polisi, pemadam kebakaran, dan tempat ibadah.

7.7.   LUAS GUDANG DAN PEMANFAATAN BANGUNAN FACTORY 2

Perseroan memiliki beberapa lokasi pabrik yang Kawasan Industri MM2100. Salah satu pabrik
yang dimaksud adalah Factory 2 yang berfungsi untuk memproduksi kemasan plastik dan
juga sebagai pusat logistik, berlokasi di Jalan Jawa, Kawasan Industri MM2100. Bangunan
Factory 2 tersebut terdiri dari 2 lantai termasuk fasilitas pergudangan. Saat ini area lantai 1 di
Factory 2 digunakan sebagai area produksi kemasan plastik sementara lantai 2 digunakan
sebagai area gudang. Pada lantai 2, terdapat gudang yang belum optimal pemanfaatannya
atau terdapat space atau ruang yang masih kosong. Oleh karena itu, space gudang yang
masih kosong tersebut akan disewakan kepada Perusahaan terafiliasi maupun Perusahaan
lain sehingga pemanfaatan aset menjadi lebih optimal dan pada akhirnya memberikan
kontribusi yang lebih maksimal dari sisi keuangan.

Factory 2 milik Perseroan telah dilengkapi dengan fasilitas lift barang sebagai fasilitas bongkar
muat barang dari lantai 1 ke lantai 2 atau sebaliknya. Hal ini memberikan kemudahan bagi
penyewa gudang yang berada di lantai 2 dan tidak mengganggu aktivitas produksi di lantai 1.

Untuk gudang yang disewakan adalah hanya sebagian yang berada di lantai 2. Luas yang
disewakan tersebut + 414 m2 dengan dimensi 23 m (panjang) x 18 m (lebar). Kondisi lantai
dan plafon dalam kondisi yang baik dan layak digunakan. Rencananya gudang yang



                                  Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 4
Page 92
disewakan tersebut akan dilengkapi dengan ruangan ac yang luasnya + 60 m2 dan merupakan
bagian dari luas 414 m2.

Factory 2 milik PT Mandom Indonesia Tbk, telah dilengkapi dengan fasilitas lift barang sebagai
fasilitas bongkar muat barang dari lantai 1 ke lantai 2 atau sebaliknya. Hal ini memberikan
kemudahan bagi penyewa gudang yang berada di lantai 2.

                                      Gambar 7.5
                       Lay Out Bangunan (Gudang) Yang Disewakan




                                 Studi Kelayakan Penambahan KLBI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 7 - 5
Page 93
                                                                                          BAB 8
                                                       ASPEK KEUANGAN
8.1.   RENCANA PERUSAHAAN


Perseroan adalah berusaha dalam bidang industri pengolahan dan perdagangan besar,
bukan mobil dan sepeda motor. Untuk bidang usaha tersebut, Perseroan dapat melaksanakan
kegiatan usaha seperti industri kosmetik untuk manusia, industri sabun dan bahan pembersih
keperluan rumah tangga, industri barang dari plastik untuk pengemasan, dan perdagangan
besar kosmetik untuk manusia. Saat ini Perseroan berencana melakukan penambahan
kegiatan usahanya di bidang penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri (KBLI
68126). Rencana penambahan kegiatan usaha tersebut dengan memanfaatkan gudang
eksisting yang selama ini kurang optimal pemanfaatannya.

Dengan rencana penambahan kegiatan usaha tersebut maka diharapkan produktivitas dan
dan profitabilitas yang dicapai di masa mendatang dapat meningkat. Berdasarkan rencana
tersebut, Perseroan membutuhkan kajian kelayakan untuk mengetahui kelayakan usaha.

8.2.   ASUMSI UMUM

Asumsi umum yang dimaksud adalah asumsi terkait dengan rencana penambahan kegiatan
usaha yang meliputi okupansi, tarif, beban operasional, biaya investasi serta sumber
pendanaan.

8.2.1. Operasional

Asumsi operasional gudang yang disewakan terkait dengan penambahan kegiatan usaha
adalah hanya 8 (delapan) bulan pada tahun 2026 atau terhitung sejak bulan Mei 2025.

8.2.2. Okupansi

Luas gudang yang direncanakan adalah + 414 m2. Gudang tersebut disewakan secara
keseluruhan dan dalam studi ini okupansinya mencapai 100%.

8.2.3. Tarif

Tarif sewa atas gudang seluas + 414 m2 adalah Rp 300 juta per tahun atau Rp 25 juta per
bulan atau Rp 60.386 per m2 per bulan. Tarif tersebut belum termasuk Ppn.

8.2.4. Harga Pokok Penjualan

Adapun harga pokok penjualan penyewaan gudang terkait dengan dengan penambahan
kegiatan usaha adalah Rp 19.897.792 per bulan atau sebesar Rp 238.761.504 per tahun
(belum termasuk beban penyusutan). Harga pokok penjualan tersebut telah termasuk beban
tenaga kerja. Adapun rincian biaya operasional tersebut adalah sebagai berikut:


                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 1
Page 94
   -   Beban storage warehouse      : Rp 5.000.000 per bulan
   -   Beban storage aircond room : Rp 2.500.000 per bulan
   -   System                       : Rp 2.396.792 per bulan
   -   Handling charge              : Rp 10.000.000 per bulan
       Total                        : Rp 19.896.792 per bulan

Biaya komponen lainnya yang diperhitungkan dalam harga pokok penjualan adalah beban
penyusutan sebesar Rp 9.996.000 per tahun.Untuk beban listrik dibayar oleh tenant sesuai
dengan yang jumlah yang digunakan.

8.2.5. Biaya Investasi

Biaya investasi atas rencana penyewaan gudang terkait dengan penambahan kegiatan usaha
adalah hanya terkait dengan biaya atas pembuatan ruangan seluas + 60 m2 serta infrastruktur
penunjang seperti pendingin ruangan dan lain – lain yang merupakan bagian dari luas + 414
m2. Biaya investasi yang dibutuhkan tersebut hanya sekitar + Rp 100 juta.

8.2.6. Sumber Pendanaan

Biaya investasi yang dibutuhkan terkait dengan rencana penyewaan gudang relatif kecil yaitu
hanya + Rp 100 juta. Sehubungan dengan jumlah investasi yang demikian, berdasarkan
analisa aru kas maka sumber pendanaannya diasumsikan berasal dari hasil operasional.

8.3.   PROYEKSI KEUANGAN

8.3.1. Asumsi Umum

Asumsi yang digunakan atas proyeksi keuangan sebelum penambahan KBLI dan setelah
penambahan KBLI adalah sebagai berikut :

   -   Pendapatan

       Asumsi pendapatan sebelum penambahan KBLI didasarkan atas historikal selama ini,
       baik pendapatan domestik maupun dengan pendapatan ekspor. Sedangkan asumsi
       pendapatan setelah penambahan KBLI mengalami peningkatan yang berasal dari
       pendapatan sewa gudang seperti asumsi yang dijelaskan pada asumsi umum di atas.

   -   Harga Pokok Penjualan

       Asumsi harga pokok penjualan sebelum penambahan kegiatan usaha didasarkan
       pada kinerja selama ini atau sesuai dengan historikal. Sedangkan asumsi harga pokok
       penjualan setelah penambahan kegiatan usaha mengalami peningkatan akibat
       adanya kegiatan usaha penyewaan gudang. Peningkatan harga pokok penjualan
       tersebut seperti yang dijelaskan pada asumsi umum di atas.

                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 2
Page 95
    -     Beban Operasional

          Asumsi beban operasional sebelum adanya penambahan kegiatan usaha juga
          didasarkan atas kinerjanya atau historikal selama ini. Kemudian asumsi beban
          operasional tidak mengalami perubahan setelah adanya penambahan kegiatan usaha.

8.3.2. Proyeksi Laba Rugi

Adapun proyeksi proyeksi laba rugi sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi sesuai dengan asumsi – asumsi
di atas adalah sebagai berikut.

                                             Tabel 8.1
                     Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
DESCRIPTION                                                                                   Proyeksi
                                                    2026                  2027                  2028                 2029                 2030
Net Sales                                     2.343.000.000.000     2.577.300.000.000     2.835.030.000.000    3.118.533.000.000    3.430.386.300.000
Cost of Goods Sold                            1.725.346.664.000     1.901.784.596.000     2.091.962.056.000    2.301.157.262.000    2.531.271.988.600
Gross Profit                                    617.653.336.000       675.515.404.000       743.067.944.000      817.375.738.000      899.114.311.400
Selling,General and Administrative Expenses     594.000.000.000       614.983.320.900       633.655.311.948      652.955.635.802      672.907.054.838
  Selling & Marketing Expenses                  303.444.030.000       318.616.231.500       331.360.880.760      344.615.315.990      358.399.928.630
  General Administrative Expenses               290.555.970.000       296.367.089.400       302.294.431.188      308.340.319.812      314.507.126.208
Operating Income                                 23.653.336.000        60.532.083.100       109.412.632.052      164.420.102.198      226.207.256.562
Non-Operating Income/Expenses                    59.351.001.200        20.000.001.200        27.250.001.200       24.250.001.200       24.250.001.200
Income before taxes                              83.004.337.200        80.532.084.300       136.662.633.252      188.670.103.398      250.457.257.762
Income Taxes Current Year                        18.260.954.184        17.717.058.546        30.065.779.315       41.507.422.748       55.100.596.708
Net Income                                       64.743.383.016        62.815.025.754       106.596.853.937      147.162.680.650      195.356.661.054



                                               Tabel 8.2
                       Proyeksi Laba Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
DESCRIPTION                                                                                    Proyeksi
                                                      2026                  2027                 2028                 2029                2030
Net Sales                                       2.342.800.000.000     2.577.000.000.000    2.834.730.000.000    3.118.233.000.000   3.430.086.300.000
Cost of Goods Sold                              1.725.180.825.664     1.901.535.838.496    2.091.713.298.496    2.300.908.504.496   2.531.023.231.096
Gross Profit                                      617.619.174.336       675.464.161.504      743.016.701.504      817.324.495.504     899.063.068.904
Selling,General and Administrative Expenses       594.000.000.000       614.983.320.900      633.655.311.948      652.955.635.802     672.907.054.838
  Selling & Marketing Expenses                    303.444.030.000       318.616.231.500      331.360.880.760      344.615.315.990     358.399.928.630
  General Administrative Expenses                 290.555.970.000       296.367.089.400      302.294.431.188      308.340.319.812     314.507.126.208
Operating Income                                   23.619.174.336        60.480.840.604      109.361.389.556      164.368.859.702     226.156.014.066
Non-Operating Income/Expenses                      59.351.001.200        20.000.001.200       27.250.001.200       24.250.001.200      24.250.001.200
Income before taxes                                82.970.175.536        80.480.841.804      136.611.390.756      188.618.860.902     250.406.015.266
Income Taxes Current Year                          18.253.438.618        17.705.785.197       30.054.505.966       41.496.149.398      55.089.323.359
Net Income                                         64.716.736.918        62.775.056.607      106.556.884.790      147.122.711.503     195.316.691.907



8.3.3. Proyeksi Arus Kas

Adapun proyeksi proyeksi arus kas sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi sesuai dengan asumsi – asumsi
di atas adalah sebagai berikut.




                                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 3
Page 96
                                                    Tabel 8.3
                            Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 DESCRIPTION                                                                           Proyeksi
                                                  2026               2027               2028                 2029                 2030

 Net Cash Provided by Operating Activities   158.146.181.860    207.640.376.703     246.988.181.883     316.084.648.316      403.551.347.756
 Net Cash Used in
     Investing Activities                    (16.406.928.815) (100.160.138.336)     (100.267.748.000) (110.708.808.842)     (119.753.907.990)
 Net Cash Used in
     Financing Activities                    (36.674.453.508)   (35.710.274.877)     (57.601.188.968)   (77.884.102.325)    (101.981.092.527)
 NET INCREASE IN CASH AND
     CASH EQUIVALENTS                        105.064.799.537     71.769.963.490      89.119.244.915     127.491.737.149      181.816.347.239
 CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
     BEGINNING OF YEAR                       540.111.589.863    650.113.427.093     727.020.549.055     821.601.363.470      954.832.000.926
 Effect of foreign exchange rate changes
     on cash and cash equivalents              4.937.037.693      5.137.158.472        5.461.569.501      5.738.900.307         6.271.802.591
 CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
    OF YEAR                                  650.113.427.093    727.020.549.055     821.601.363.470     954.832.000.926     1.142.920.150.756



                                                    Tabel 8.4
                            Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 DESCRIPTION                                                                           Proyeksi
                                                 2026               2027                 2028               2029                  2030
 Net Cash Provided by Operating Activities   158.095.791.530    207.572.225.925     246.918.939.074     316.015.245.250       403.481.620.968

 Net Cash Used in
     Investing Activities                    (16.307.342.447)   (100.144.484.695)   (100.250.803.297)   (110.690.567.345)    (119.734.171.303)
 Net Cash Used in
     Financing Activities                    (36.661.130.459)    (35.690.290.304)    (57.581.204.395)    (77.864.117.752)    (101.961.107.954)
 NET INCREASE IN CASH AND
     CASH EQUIVALENTS                        105.127.318.624     71.737.450.926       89.086.931.383    127.460.560.153       181.786.341.711
 CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
    BEGINNING OF YEAR                        540.111.589.863    650.176.359.812      727.051.182.689     821.599.707.354      954.799.016.607
 Effect of foreign exchange rate changes
     on cash and cash equivalents              4.937.451.325       5.137.371.952       5.461.593.282       5.738.749.100        6.271.489.163
 CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
     OF YEAR                                 650.176.359.812    727.051.182.689     821.599.707.354     954.799.016.607     1.142.856.847.481



8.3.4. Proyeksi Posisi Keuangan


Adapun proyeksi proyeksi posisi keuangan sesuai dengan rencana bisnis (2026 – 2030) dari
Perseroan dan telah dilakukan penyesuaian dan normalisasi sesuai dengan asumsi – asumsi
di atas adalah sebagai berikut.




                                              Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 4
Page 97
                                             Tabel 8.5
                 Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
DESCRIPTION                                                                               Proyeksi
                                                    2026                2027                2028                2029                2030
ASSETS
CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                      650.113.427.093     727.020.549.055     821.601.363.470     954.832.000.926    1.142.920.150.756
Other financial assets - current                35.000.000.000      35.000.000.000      35.000.000.000      35.000.000.000       35.000.000.000
Trade accounts receivable                      387.964.612.401     381.179.598.794     394.620.916.771     387.921.709.322      387.907.408.296
Other accounts receivable                        5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000        5.000.000.000
Inventories - net                              543.574.861.947     565.710.810.325     570.474.763.970     559.920.145.414      565.368.573.236
Advances                                         5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000        5.000.000.000
Prepaid expenses                                 7.500.000.000       7.500.000.000       7.500.000.000       7.500.000.000        7.500.000.000
Prepaid taxes                                   10.000.000.000      10.000.000.000      10.000.000.000      10.000.000.000       10.000.000.000
Non-current assets held-for-sale                           -                   -                   -                   -                    -
Total Current Assets                          1.644.152.901.441   1.736.410.958.173   1.849.197.044.210   1.965.173.855.662   2.158.696.132.288
NON-CURRENT ASSETS
Other accounts receivable                        2.000.000.000       2.000.000.000       2.000.000.000       2.000.000.000       2.000.000.000
Prepaid expenses                                           -                   -                   -                   -                   -
Other financial assets - non current                       -                   -                   -                   -                   -
Estimated claim for tax refund                             -                   -                   -                   -                   -
Deferred tax assets - net                       70.814.786.429      70.814.786.429      70.814.786.429      70.814.786.429      70.814.786.429
Property, plant and equipment - net            596.033.782.728     601.994.120.555     608.014.061.760     620.174.342.996     638.779.573.286
Computer software - net                          7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000
Right-of-use assets                              6.032.532.190       2.805.231.533                 -        16.000.000.000      12.500.000.000
Other non-current assets                         7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000
Total Non-Current Assets                       688.881.101.347     691.614.138.517     694.828.848.189     722.989.129.425     738.094.359.715
TOTAL ASSETS                                  2.333.034.002.788   2.428.025.096.690   2.544.025.892.400   2.688.162.985.087   2.896.790.492.002
LIABILITIES AND EQUITY
CURRENT LIABILITIES
Trade accounts payable                         101.032.611.418     114.754.647.141     105.504.929.362     107.097.395.974     109.118.990.826
Other accounts payable to third parties         45.606.347.627      44.187.050.295      41.105.131.184      43.632.843.036      42.975.008.172
Advance received                                 5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000
Taxes payable                                    5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000
Accrued expenses                                81.916.258.101      95.076.779.036     109.898.027.723      95.630.354.953     100.201.720.571
Employee benefits obligation - current           4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000
Current maturity of lease liabilities            3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000
Total Current Liabilities                      246.555.217.146     272.018.476.472     274.508.088.270     264.360.593.962     270.295.719.568
NON-CURRENT LIABILITIES
Employee benefits obligation                   223.646.221.403     230.355.608.045     237.266.276.286     244.384.264.575     251.715.792.512
Lease liabilities - net of current maturity      4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000
Customer deposits                                3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000
Total Non-current Liabilities                  231.646.221.403     238.355.608.045     245.266.276.286     252.384.264.575     259.715.792.512
 TOTAL LIABILITIES                             478.201.438.549     510.374.084.516     519.774.364.556     516.744.858.537     530.011.512.080
 EQUITY
 Capital stock - Rp 250 par value              100.533.333.500     100.533.333.500     100.533.333.500     100.533.333.500     100.533.333.500
 Additional paid-in capital                    188.300.825.786     188.300.825.786     188.300.825.786     188.300.825.786     188.300.825.786
 Listed equity securities revaluation               48.888.300          52.310.481          55.972.215          59.890.270          64.082.589
 Retained earning
   Appropriated                                  20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700
   Unappropriated                             1.545.844.887.065   1.608.659.912.819   1.715.256.766.755   1.862.419.447.406   2.057.776.108.460
Total equity attributable to owners of the
Company                                       1.854.834.601.351 1.917.653.049.286 2.024.253.564.956 2.171.420.163.661 2.366.781.017.035
 Non-controlling interests                            (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)
 Total Equity                                 1.854.832.564.239 1.917.651.012.174 2.024.251.527.844 2.171.418.126.549 2.366.778.979.923
TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                  2.333.034.002.787   2.428.025.096.690   2.544.025.892.400   2.688.162.985.086   2.896.790.492.002




                                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 5
Page 98
                                              Tabel 8.6
                   Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
DESCRIPTION                                                                                 Proyeksi
                                                    2026                 2027                 2028                 2029                 2030
ASSETS
CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                      650.176.359.812      727.051.182.689      821.599.707.354      954.799.016.607     1.142.856.847.481
Other financial assets - current                35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000       35.000.000.000        35.000.000.000
Trade accounts receivable                      387.964.612.401      381.179.598.794      394.620.916.771      387.921.709.322       387.907.408.296
Other accounts receivable                        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Inventories - net                              543.574.861.947      565.710.810.325      570.474.763.970      559.920.145.414       565.368.573.236
Advances                                         5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000         5.000.000.000
Prepaid expenses                                 7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000        7.500.000.000         7.500.000.000
Prepaid taxes                                   10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000       10.000.000.000        10.000.000.000
Non-current assets held-for-sale                           -                    -                    -                    -                     -

Total Current Assets                          1.644.215.834.160    1.736.441.591.808    1.849.195.388.094    1.965.140.871.343    2.158.632.829.013

NON-CURRENT ASSETS
Other accounts receivable                        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000        2.000.000.000
Prepaid expenses                                           -                    -                    -                    -                    -
Other financial assets - non current                       -                    -                    -                    -                    -
Estimated claim for tax refund                             -                    -                    -                    -                    -
Deferred tax assets - net                       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429       70.814.786.429
Property, plant and equipment - net            595.940.446.728      601.899.851.195      607.918.849.707      620.077.226.701      638.679.543.502
Computer software - net                          7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000
Right-of-use assets                              6.032.532.190        2.805.231.533                  -         16.000.000.000       12.500.000.000
Other non-current assets                         7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000        7.000.000.000

Total Non-Current Assets                       688.787.765.347      691.519.869.157      694.733.636.136      722.892.013.130      737.994.329.931

TOTAL ASSETS                                  2.333.003.599.507    2.427.961.460.965    2.543.929.024.230    2.688.032.884.473    2.896.627.158.944

LIABILITIES AND EQUITY
CURRENT LIABILITIES
Trade accounts payable                         101.032.611.418      114.754.647.141      105.504.929.362      107.097.395.974      109.118.990.826
Other accounts payable to third parties         45.606.347.627       44.187.050.295       41.105.131.184       43.632.843.036       42.975.008.172
Advance received                                 5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
Taxes payable                                    5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000
Accrued expenses                                81.912.500.918       95.079.758.555      109.907.743.945       95.646.807.878      100.224.910.198
Employee benefits obligation - current           4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
Current maturity of lease liabilities            3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

Total Current Liabilities                      246.551.459.963      272.021.455.991      274.517.804.491      264.377.046.887      270.318.909.195

NON-CURRENT LIABILITIES
Employee benefits obligation                   223.646.221.403      230.355.608.045      237.266.276.286      244.384.264.575      251.715.792.512
Lease liabilities - net of current maturity      4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000        4.500.000.000
Customer deposits                                3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000        3.500.000.000

Total Non-current Liabilities                  231.646.221.403      238.355.608.045      245.266.276.286      252.384.264.575      259.715.792.512

TOTAL LIABILITIES                              478.197.681.366      510.377.064.036      519.784.080.778      516.761.311.462      530.034.701.707

 EQUITY
 Capital stock - Rp 250 par value              100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500      100.533.333.500
 Additional paid-in capital                    188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786      188.300.825.786
 Listed equity securities revaluation               48.888.300           52.310.481           55.972.215           59.890.270           64.082.589
 Retained earning
   Appropriated                                  20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700       20.106.666.700
   Unappropriated                             1.545.818.240.967    1.608.593.297.574    1.715.150.182.364    1.862.272.893.867    2.057.589.585.775
Total equity attributable to owners of the
Company                                       1.854.807.955.253    1.917.586.434.041    2.024.146.980.564    2.171.273.610.123    2.366.594.494.349
Non-controlling interests                            (2.037.112)          (2.037.112)          (2.037.112)          (2.037.112)          (2.037.112)

Total Equity                                  1.854.805.918.141    1.917.584.396.929    2.024.144.943.452    2.171.271.573.011    2.366.592.457.237

TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                  2.333.003.599.507    2.427.961.460.965    2.543.929.024.230    2.688.032.884.472    2.896.627.158.944




                                                     Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 6
Page 99
8.4.      INKREMENTAL PROYEKSI KEUANGAN

8.4.1. Inkremental Proyeksi Laba Rugi


Berdasarkan proyeksi laba rugi di atas, yang terdiri dari proyeksi laba rugi dengan
penambahan kegiatan usaha serta proyeksi laba rugi tanpa penambahan kegiatan usaha,
maka diperoleh inkremental proyeksi laba rugi. Inkremental dimulai dari pendapatan serta
harga pokok penjualan serta pajak. Inkremental pendapatan tersebut berasal dari pendapatan
terkait penyewaan gudang, sedangkan inkremental harga pokok penjualan juga berasal dari
harga pokok penjualan terkait penyewaan gudang dimana sesuai dengan asumsi yang telah
dijelaskan di atas.

                                                        Tabel 8.7
                                              Inkremental Proyeksi Laba Rugi
DESCRIPTION                                                                                Proyeksi
                                                           2026             2027              2028               2029              2030
 Net Sales                                               200.000.000     300.000.000       300.000.000        300.000.000       300.000.000
 Cost of Goods Sold                                      165.838.336     248.757.504       248.757.504        248.757.504       248.757.504
 Gross Profit                                             34.161.664      51.242.496        51.242.496         51.242.496        51.242.496
 Selling,General and Administrative Expenses                     -               -                  -                 -                 -
   Selling & Marketing Expenses                                  -               -                  -                 -                 -
   General Administrative Expenses                               -               -                  -                 -                 -
 Operating Income                                         34.161.664      51.242.496        51.242.496         51.242.496        51.242.496
 Non-Operating Income/Expenses                                   -               -                  -                 -                 -
   Non-Operating Income                                          -               -                  -                 -                 -
   Non-Operating Expenses                                        -               -                  -                 -                 -
 Ordinary Income                                          34.161.664      51.242.496        51.242.496         51.242.496        51.242.496
 Income before taxes                                      34.161.664      51.242.496        51.242.496         51.242.496        51.242.496
 Income Taxes Current Year                                 7.515.566      11.273.349        11.273.349         11.273.349        11.273.349
 Net Income                                               26.646.098      39.969.147        39.969.147         39.969.147        39.969.147



8.4.2. Inkremental Proyeksi Arus Kas


Berdasarkan proyeksi arus kas di atas, yang terdiri dari proyeksi arus kas dengan
penambahan kegiatan usaha serta proyeksi arus kas tanpa penambahan kegiatan usaha,
maka diperoleh inkremental proyeksi arus kas dimana seperti terdapat pada tabel berikut.

                                                        Tabel 8.9
                                           Inkremental Proyeksi Arus Kas (Rp)
 Uraian                                                                                               Proyeksi
                                                                           2026           2027            2028           2029           2030
 Net Cash Provided by Operating Activities                               50.390.330     68.150.778      69.242.809     69.403.066     69.726.789
 Net Cash Used in Investing Activities                                  (99.586.368)   (15.653.640)    (16.944.704)   (18.241.497)   (19.736.687)
 Net Cash Used in Financing Activities                                  (13.323.049)   (19.984.573)    (19.984.573)   (19.984.573)   (19.984.573)
 Cash and Cash Equivalents at Beginning of Year                                   -    (62.932.719)    (30.633.635)     1.656.116     32.984.319
 Effect of Foreign Exchange Rate Changes on Cash and Cash Equivalents      (413.632)      (213.480)        (23.781)       151.207        313.428
 Cash and Cash Equivalents at End Year                                  (62.932.719)   (30.633.635)      1.656.116     32.984.319     63.303.276




                                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 7
Page 100
8.4.3. Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan

Berdasarkan proyeksi posisi keuangan di atas, yang terdiri dari proyeksi posisi keuangan
dengan penambahan kegiatan usaha serta proyeksi posisi keuangan tanpa penambahan
kegiatan usaha, maka diperoleh inkremental proyeksi posisi keuangan. Akibat adanya asumsi
– asumsi terutama terkait dengan asumsi penyewaan gudang (penambahan kegiatan usaha)
mulai dari asumsi pendapatan, harga pokok penjualan hingga rencana kebutuhan investasi
menyebabkan inkremental pada proyeksi posisi keuangan di bagian assets mulai dari current
assets tepatnya pada pos cash and equivalents serta pada pos non-current assets tepatnya
pada pos property, plant and equipment–net. Sedangkan pada sisi liabilities and equity yang
mengalami inkremental adalah hanya pada equity tepatnya pada pos retained earning –
Unappropriated.

                                                 Tabel 8.10
                                 Inkremental Proyeksi Posisi Keuangan (Rp)
 DESCRIPTION                                                                          Proyeksi
                                                             2026           2027           2028           2029           2030
 ASSETS
 CURRENT ASSETS
 Cash and cash equivalents                            (62.932.719)   (30.633.635)     1.656.116     32.984.319     63.303.275
 Other financial assets - current                               -              -              -              -              -
 Trade accounts receivable                                      -              -              -              -              -
 Other accounts receivable                                      -              -              -              -              -
 Inventories - net                                              -              -              -              -              -
 Advances                                                       -              -              -              -              -
 Prepaid expenses                                               -              -              -              -              -
 Prepaid taxes                                                  -              -              -              -              -
 Non-current assets held-for-sale                               -              -              -              -              -
 Total Current Assets                                 (62.932.719)   (30.633.635)     1.656.116     32.984.319     63.303.275
 NON-CURRENT ASSETS                                             -              -              -              -              -
 Other accounts receivable                                      -              -              -              -              -
 Prepaid expenses                                               -              -              -              -              -
 Other financial assets - non current                           -              -              -              -              -
 Estimated claim for tax refund                                 -              -              -              -              -
 Deferred tax assets - net                                      -              -              -              -              -
 Property, plant and equipment - net                   93.336.000     94.269.360     95.212.054     97.116.295    100.029.784
 Computer software - net                                        -              -              -              -              -
 Right-of-use assets                                            -              -              -              -              -
 Other non-current assets                                       -              -              -              -              -
 Total Non-Current Assets                              93.336.000     94.269.360     95.212.054     97.116.295    100.029.784
 TOTAL ASSETS                                          30.403.281     63.635.725     96.868.170    130.100.614    163.333.059
 LIABILITIES AND EQUITY                                         -              -              -              -              -
 CURRENT LIABILITIES                                            -              -              -              -              -
 Trade accounts payable                                         -              -              -              -              -
 Other accounts payable to third parties                        -              -              -              -              -
 Advance received                                               -              -              -              -              -
 Taxes payable                                                  -              -              -              -              -
 Accrued expenses                                       3.757.183     (2.979.520)    (9.716.222)   (16.452.925)   (23.189.627)
 Employee benefits obligation - current                         -              -              -              -              -
 Current maturity of lease liabilities                          -              -              -              -              -
 Total Current Liabilities                              3.757.183     (2.979.520)    (9.716.222)   (16.452.925)   (23.189.627)
 NON-CURRENT LIABILITIES                                        -              -              -              -              -
 Employee benefits obligation                                   -              -              -              -              -
 Lease liabilities - net of current maturity                    -              -              -              -              -
 Customer deposits                                              -              -              -              -              -
 Total Non-current Liabilities                                  -              -              -              -              -
 TOTAL LIABILITIES                                      3.757.183     (2.979.520)    (9.716.222)   (16.452.925)   (23.189.627)
 EQUITY                                                         -              -              -              -              -
 Capital stock - Rp 250 par value                               -              -              -              -              -
 Additional paid-in capital                                     -              -              -              -              -
 Listed equity securities revaluation                           -              -              -              -              -
 Retained earning                                               -              -              -              -              -
   Appropriated                                                 -              -              -              -              -
   Unappropriated                                      26.646.098     66.615.245    106.584.392    146.553.539    186.522.685
 Total equity attributable to owners of the Company    26.646.098     66.615.245    106.584.392    146.553.539    186.522.685
 Non-controlling interests                                      -              -              -              -              -
 Total Equity                                          26.646.098     66.615.245    106.584.392    146.553.539    186.522.685
 TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                          30.403.281     63.635.725     96.868.170    130.100.614    163.333.058




                                             Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 8
Page 101
8.5.      ANALISIS MODAL KERJA


Kebutuhan modal kerja kegiatan usaha Perseroan dihitung dari piutang usaha, persediaan
dan utang usaha. Berdasarkan hasil analisa, proyeksi kebutuhan modal kerja adalah seperti
terdapat pada tabel berikut.

                                            Tabel 8.11
                   Proyeksi Modal Kerja Dengan Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 DESCRIPTION                                                       Proyeksi
                                          2025              2026              2027               2028               2029              2030
 Trade accounts receivable 414.718.539.117       387.964.612.401   381.179.598.794    394.620.916.771    387.921.709.322   387.907.408.296
 Other accounts receivable       4.364.440.687     5.000.000.000     5.000.000.000      5.000.000.000      5.000.000.000     5.000.000.000
 Inventories - net            602.138.619.638    543.574.861.947   565.710.810.325    570.474.763.970    559.920.145.414   565.368.573.236
 Trade accounts payable       100.727.529.528    101.032.611.418   114.754.647.141    105.504.929.362    107.097.395.974   109.118.990.826
 Other accounts payable to third33.521.995.630
                                 parties          45.606.347.627    44.187.050.295     41.105.131.184     43.632.843.036    42.975.008.172
 Working Capital              886.972.074.284    789.900.515.303   792.948.711.683    823.485.620.194    802.111.615.726   806.181.982.534
 Net Working Capital                              97.071.558.981    (3.048.196.380)   (30.536.908.512)    21.374.004.468    (4.070.366.808)




                                              Tabel 8.12
                     Proyeksi Modal Kerja Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha (Rp)
 DESCRIPTION                                                       Proyeksi
                                          2025              2026              2027               2028               2029              2030
 Trade accounts receivable 414.718.539.117       387.964.612.401   381.179.598.794    394.620.916.771    387.921.709.322   387.907.408.296
 Other accounts receivable       4.364.440.687     5.000.000.000     5.000.000.000      5.000.000.000      5.000.000.000     5.000.000.000
 Inventories - net            602.138.619.638    543.574.861.947   565.710.810.325    570.474.763.970    559.920.145.414   565.368.573.236
 Trade accounts payable       100.727.529.528    101.032.611.418   114.754.647.141    105.504.929.362    107.097.395.974   109.118.990.826
 Other accounts payable to third33.521.995.630
                                 parties          45.606.347.627    44.187.050.295     41.105.131.184     43.632.843.036    42.975.008.172
 Working Capital              886.972.074.284    789.900.515.303   792.948.711.683    823.485.620.194    802.111.615.726   806.181.982.534
 Net Working Capital                              97.071.558.981    (3.048.196.380)   (30.536.908.512)    21.374.004.468    (4.070.366.808)




8.6.      TINGKAT DISKONTO

8.6.1. Tingkat Diskonto Ekuitas (Cost of Equity)


Untuk menentukan tingkat diskonto ekuitas terdapat 2 (dua) metode yang umum dilakukan
yaitu: Capital Assets Pricing Model (CAPM) dan Build-up Method (BUM). CAPM adalah
metode yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan tingkat diskonto ekuitas.
Misalnya, satu survei menemukan 75% perusahaan menggunakan CAPM untuk
memperkirakan biaya ekuitas, 34% perusahaan menggunakan CAPM dengan faktor
penyesuaian tambahan (dengan penyesuaian umum adalah menambahkan premi tambahan
untuk risiko tambahan seperti risiko operasi di negara berkembang).* Shannon P. Pratt dan
Roger J. Grabowski, “Cost of capital” .

Namun ada kalanya dengan metode CAPM tidak tersedia data yang diperlukan karena
perusahaan yang dinilai spesific atau relatif kecil sehingga beta yang diperoleh dari pasar
tidak dapat mewakili objek penilaian.




                                                  Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 9
Page 102
Karena selain daripada tidak ditemukan beta untuk perusahaan yang sejenis dengan objek
penilaian juga perusahaan masih tergolong kecil dan menengah maka untuk menentukan
tingkat diskonto ekuitas menggunakan Buid-up Method.

Capital Assets Pricing Model (CAPM)

Menentukan pada tingkat diskonto berapa arus kas tersebut di-diskonto. Umumnya tingkat
diskonto untuk saham mengandung risiko yang terdiri dari: Bunga bebas risiko (risk free rate)
dan premi risiko (risk premium).

         o   Bunga bebas risiko (risk free rate) adalah tingkat pengembalian yang paling
             aman untuk berinvestasi hampir tidak mungkin gagal bayar (default).

         o   Premi risiko (risk premium) adalah tambahan tingkat pengembalian untuk
             meliputi risiko sistematis (systematic risk) dan risiko tidak sistematis
             (unsystematic risk).

Untuk dapat mengestimasi return (tingkat diskonto) suatu ekuitas dengan baik dan mudah
diperlukan suatu model estimasi yaitu Capital Assets Pricing Model (CAPM). Model ini
menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas risiko ditambah premium untuk meliputi
risiko sistematis dari saham. Formula biaya ekuitas dinyatakan sebagai berikut:




Karena Model arus kas yang digunakan dalam penilaian ini adalah Model Arus Kas Bersih
untuk para penyedia modal (Invested capital), maka selanjutnya menentukan tingkat suku
bunga kredit (Cost of debt).

8.6.2. Tingkat Suku Bunga Kredit (Cost of Debt)

Tingkat suku bunga kredit diperoleh dari tingkat suku bunga bank persero, baik untuk modal
kerja maupun untuk kredit investasi dikurang pajak yang berlaku dengan formula:

                    Tingkat suku bunga bersih (Net cost of debt) = i (1-t)




                                 Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 10
Page 103
8.6.3. Tingkat Diskonto Untuk Para Pemodal (Weighted Average Cost of Capital,
       WACC)

Untuk menentukan tingkat diskonto para pemodal (Invested to Capital) yang terdiri dari biaya
ekuitas dan biaya kredit atau rata-rata tertimbang antara diskonto untuk ekuitas dengan
tingkat suku bunga kredit, Weighted Average Cost of Capital (WACC), yaitu:

                              WACC = [(E/C x R) + (D/C x i (1-t))]

       Dimana;
       R = Return (tingkat diskonto ekuitas)
       E = Ekuitas
       C = Capital ( E + D )
       D = Debt
       i = interest
       t = Tax

Sesuai dengan model arus kas yang akan digunakan dalam penilaian ini adalah arus kas bagi
perusahaan atau para pemodal (Free Cash Flow to Firm or Invested Capital), maka tingkat
diskonto yang akan diaplikasikan adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC).

Risk Free Rate (Rf)
Investasi yang digunakan sebagai patokan yang bebas risiko adalah Surat Utang Negara
(Goverment Bond) untuk jangka panjang. Mengingat rencana penambahan kegiatan usaha
Perseroan adalah merupakan investasi jangka panjang dan rencana bisnis selama 5 (lima)
tahun maka dalam hal ini patokan bebas risiko diambil dari yield Obligasi Pemerintah yang
tenornya 5 tahun sesuai periode proyeksi yaitu sebesar 5,84% per 2 Maret 2026 Premi risiko
yang digunakan dalam studi ini adalah berdasarkan data Aswath Januari 2024 sebesar 6,69%
dan RBDS 1,62%. Unlevered Beta Real Estate (Operations & Services) sebesar 0,54 dengan
target D/E : 61,32% (38,01% : 61,99%) dan tarif pajak 22%, maka beta perusahaan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :

                                   Β = Unlevered β x (1+ (1-t) x D/E)

Dari perhitungan ini diperoleh Relevered Beta sebesar 0,80 maka discount rate ekuitas
perusahaan adalah 9,59% setelah dikurang RBDS 1,62% berdasarkan data Aswath
Damodaran. Selanjutnya sesuai asumsi pembiayaan D:E (38,01% : 61,99%) pada tingkat
suku bunga 8,96% berdasarkan tingkat suku bunga pinjaman maka dengan menggunakan
formula:

                           WACC = Ke x (E/(E+D)) + (De x (1-t) x D/(D+E))

diperoleh discount rate untuk para pemodal (Invested Capital) adalah 8,60%




                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 11
Page 104
                                                           Tabel 8.13
                                                       Perhitungan WACC
                                                                        Biaya
            Jenis Modal                                                             D E R*                Tertimbang
                                                                        Modal
             a. Cost of Debt                                            6,99%       38,01%                               2,66%
             b. Cost of Equity                                          9,59%       61,99%                               5,94%
            WACC                                                                                                         8,60%
            *Damodaran, 1 Jan 2026
            Perhitungan Cost of Equity
             a. Risk Free Rate (Rf)                                       5,84% PHEI- 2 Maret 2026 (tenor 5 tahun)
             b. Risk Premium Ekuitas/ERP ( R m - Rf)                      6,69% Damodaran (1 Jan 2026)
             c. β (Beta)                                                  0,801
             d. Rating-Based Default Spread (RBDS)                        1,62% Damodaran (1 Jan 2026)
             e. Specific Risk Company (R s)                               0,00%
            Cost of Equity                                                9,59%

            Unleverage Beta                                                 0,54 Damodaran (1 Jan 2026)

            Levered Beta                                                    0,80
            Perhitungan Cost of Debt
            a. Bunga Bank                                                  8,96% (Bank Indonesia, rata-rata 2023 sd Jan 2026)
            b. Pajak                                                         22%
            Cost of Debt                                                  6,99%

            Keterangan :
               Rf                                         = Tingkat Balikan Bebas Risiko
               Rm                                         = Tingkat Balikan Yang Diharapkan Oleh Pasar Ekuitas
               β (Beta)                                   = Ukuran Risiko Sistimatis
               Rs                                         = Premi Untuk Risiko Spesifik Perusahaan



8.7.   ANALISIS KELAYAKAN USAHA

Analisa kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih perusahaan
(free cash flow to firm/FCFF) yang mencerminkan arus kas bersih masa mendatang. Arus kas
bersih perusahaan (FCFF) tersebut adalah sebagai berkut.

           FCFF = EAT +(1-Tax)*I+DA+(+/-) perubahan WC – perubahan Capex
       Dimana ;
       FCFF                   : Arus kas bersih untuk perusahaan
       EAT                    : Laba bersih setelah pajak
       I                      : Bean utang berbunga
       T                      : Tingkat pajak
       DA                     : Depresiasi dan amortisasi

Arus kas inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih dengan penambahan kegiatan
usaha dengan arus kas bersih tanpa penambangan kegiatan usaha. Hasil perhitungan arus
kas inkremental ini menjadi dasar dalam menentukan kelayakan usaha. Selain itu, untuk
mendapatkan nilai kekal, kami mengkapitalisasikan nilai arus kas bersih akhir tahun proyeksi
eksplisit dengan tingkat diskonto yang digunakan. Perhitungan terminal value dalam laporan
studi kelayakan ini adalah menggunakan basis nilai tahun 2030. Hasil analisa arus kas
inkremental adalah sebagai berikut.




                                                Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 12
Page 105
                                             Tabel 8.14
                              Analisa Arus Kas Bersih Perusahaan (Rp)
 Uraian                                                          Proyeksi
                                      2026               2027                2028               2029                2030
 After
 Laba Bersih                64.743.383.016    62.815.025.754      106.596.853.937    147.162.680.650    195.356.661.054
 Penyusutan & Amortisasi    13.176.664.000    13.443.396.000       13.712.064.000     13.986.105.360     14.265.627.547
 (1-tax)*Bunga
 Net Working Capital        97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)    21.374.004.468     (4.070.366.808)
 Penerimaan Operasional    174.991.605.997    73.210.225.374       89.772.009.425    182.522.790.478    205.551.921.794

 Kegiatan Investasi        (16.406.928.815) (100.160.138.336) (100.267.748.000) (110.708.808.842)       (119.753.907.990)

 Free Cash Flow            158.584.677.182    (26.949.912.962)    (10.495.738.575)    71.813.981.636     85.798.013.804

 Before
 Laba Bersih                64.716.736.918    62.775.056.607      106.556.884.790    147.122.711.503    195.316.691.907
 Penyusutan & Amortisasi    13.170.000.000    13.433.400.000       13.702.068.000     13.976.109.360     14.255.631.547
 (1-tax)*Bunga                           -                 -                    -                  -                  -
 Net Working Capital        97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)    21.374.004.468     (4.070.366.808)
 Penerimaan Operasional    174.958.295.899    73.160.260.227       89.722.044.278    182.472.825.331    205.501.956.647

 Kegiatan Investasi        (16.308.175.320) (100.145.278.152) (100.251.562.878) (110.691.301.460)       (119.734.891.170)

 Free Cash Flow            158.650.120.579    (26.985.017.925)    (10.529.518.600)    71.781.523.872     85.767.065.476

 Incremental

 Penerimaan Operasional         33.310.098        49.965.147           49.965.147         49.965.147         49.965.147

 Kegiatan Investasi            (98.753.495)       (14.860.184)        (16.185.122)       (17.507.383)        (19.016.819)

 Terminal Value                          -                  -                   -                  -        290.748.968

 Free Cash Flow                (65.443.397)       35.104.963           33.780.025         32.457.764        321.697.295



Berdasarkan analisa kelayakan penambahan kegiatan usaha sesuai dengan arus kas bersih
Perseroan (FCFF) selama tahun 2026 – 2030 dengan mempertimbangkan asumsi – asumsi
yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

                                               Tabel 8.15
                                   Hasil Indikator Kelayakan Usaha
                             Indikator Kelayakan Usaha         Hasil
                            IRR                                   80,70%
                            NPV (Rp)                         232.169.828
                            B/C Ratio                                2,64
                            Payback Period                           2,61

Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk
dan nilai sekarang dari arus kas keluar pada sebuah waktu periode. NPV biasanya digunakan
untuk alokasi modal untuk menganalisis keutungan dalam sebuah proyek yang akan
dilaksanakan. NPV positif menggambarkan bahwa proyeksi pendapatan yang dihasilkan oleh
sebuah proyeksi atau investasi melebihi dari proyek biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan



                                        Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 13
Page 106
hasil analisa menunjukkan bahwa NPV sebesar 232.169.828. Nilai NPV yang dihasilkan > 0
(nol) yang mana menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan.

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat suatu investasi dimana pada saat itu NPV adalah
0 (nol). Suatu investasi dapat dikayakan layak dan menguntungkan untuk dijalankan apabila
nilai NPV lebih besar dari cost of capitalnya. Berdasarkan hasil analisa menunjukkan bahwa
IRR sebear 80,70%. Nilai IRR yang dihasilkan > cost of capital / WACC (8,60%) yang mana
menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk direalisasikan.
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) adalah metode perhitungan kelayakan proyek dengan
membandingkan antara jumlah present vaue nilai arus kas dengan nilai investasi dari proyek.
Berdasarkan hasil analisa menunjukkan bahwa B/C Ratio sebear 2,64. Nilai B/C Ratio yang
dihasilkan > 1 (satu) yang mana menunjukkan bahwa proyek tersebut layak untuk
direalisasikan atau dapat diterima.
Payback Period (PP) merupakan penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup
initial investment dari suatu proyek dengan menggunakan cash flow yang dihasilkan dari
proyek tersebut. Berdasarkan hasil analisa menunjukkan payback period hanya 2,61 tahun.
Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI 68126, penyewaan gudang dan fasilitas penyimpanan mandiri) oleh Perseroan
adalah layak direalisasikan.

8.8.   ANALISA BREAK EVENT POINT
Break even point (BEP) adalah suatu titik dimana jumlah pendapatan yang diterima sama
dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dalam kata lain, BEP merupakan suatu titik dimana
suatu usaha atau kegiatan tidak menghasilkan keuntungan maupun rugi. Dalam analisis
bisnis, analisis BEP sering digunakan untuk menentukan berapa banyak produk yang harus
dijual agar dapat mencapai titik impas atau BEP.

Berdasarkan hasil analisa, break event point atas rencana penambahan kegiatan usaha atau
penyewaan gudang adakah Rp 215.179.451 per tahun dengan volume space gudang yang
disewakan sekitar 296,9 m2 per bulan.
                                                    Tabel 8.16
                                            Analisa Break Event Point
             Uraian                    Satuan                                       Proyeksi
                                                      2026            2027            2028          2029            2030
             Space Yang Disewakan      m2                    414             414           414             414             414
             Okupansi                  %                 100%            100%            100%          100%            100%
             Space Yang Tersewa        m2                    414             414          414              414             414
             Tarif                     Rp/m2/bln       60.386          60.386          60.386        60.386          60.386
             Pendapatan                            200.000.000     300.000.000     300.000.000   300.000.000     300.000.000
             COGS                                  165.838.336     248.757.504     248.757.504   248.757.504     248.757.504
             Fixed Cost
             Penyusutan & Amortisasi                 6.664.000       9.996.000       9.996.000     9.996.000       9.996.000
             Gaji dll                               80.000.000     120.000.000     120.000.000   120.000.000     120.000.000
             Total Fixed Cost                       86.664.000     129.996.000     129.996.000   129.996.000     129.996.000
             Variable Cost                          79.174.336     118.761.504     118.761.504   118.761.504     118.761.504


             BEP                       Rp/thn      143.452.967     215.179.451     215.179.451   215.179.451     215.179.451
                                       m2/bln            296,9           296,9           296,9         296,9           296,9




                                            Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 14
Page 107
8.9.    ANALISA PROFITABILITAS

Berdasarkan hasil analisa profitabilitas, dengan adanya penyewaan space Gudang
menyebabkan terjadinya peningkatan pada operating profit margin, net profit margin, ROE
dan ROA, kecuali gross profit margin. Peningkatan yang dicapai relative sangat kecil karena
pendapatan space yang disewakan sangat kecil dibandingkan dengann total pendapatan
lainnya. Namun peningkatan ini memberikan gambaran bahwa penyewaan space gudang
menyebabkan asset menjadi lebih optimal pemanfaatannya.
                                            Tabel 8.17
                                       Analisa Profitabilitas
                     Uraian                                  Proyeksi
                                             2026     2027      20282029   2030
                     After
                     Gross profit margin     26,36% 26,21% 26,21% 26,21% 26,21%
                     Operating profit margin 1,01% 2,35% 3,86% 5,27% 6,59%
                     Net profit margin        2,76% 2,44% 3,76% 4,72% 5,69%
                     ROE                      3,49% 3,28% 5,27% 6,78% 8,25%
                     ROA                      2,78% 2,59% 4,19% 5,47% 6,74%

                     Before
                     Gross profit margin     26,36% 26,21% 26,21% 26,21% 26,21%
                     Operating profit margin 1,01% 2,35% 3,86% 5,27% 6,59%
                     Net profit margin        2,76% 2,44% 3,76% 4,72% 5,69%
                     ROE                      3,49% 3,27% 5,26% 6,78% 8,25%
                     ROA                      2,77% 2,59% 4,19% 5,47% 6,74%

                     Incremental
                     Gross profit margin     -0,001% -0,001% -0,001% -0,001% -0,001%
                     Operating profit margin 0,001% 0,002% 0,001% 0,001% 0,001%
                     Net profit margin        0,001% 0,001% 0,001% 0,001% 0,001%
                     ROE                      0,001% 0,002% 0,002% 0,001% 0,001%
                     ROA                      0,001% 0,002% 0,001% 0,001% 0,001%


8.10.   ANALISIS SENSITIVITAS
Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari sutau keputusan atau proyek. Teknis ini
membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan atau
risiko investasi. Berdasarkan analisa sensitivitas, dapat diketahui variabel yang paling
berpengaruh atas kelayakan proyek atau dapat diketahui variabel yang paling sensitive atas
kelayakan proyek.
Variabel yang digunakan dalam analisa sensitivitas ini adalah tarif dan biaya investasi. Tarif
yang dimaksud adalah tarif sewa gudang sebesar Rp 300 juta per tahun sedangkan investasi
yang dimaksud adalah investasi atas terkait dengan gudang yang akan disewakan.
Berdasarkan hasil analisa, variabel tarif adalah variabel yang paling sensitive mempengaruhi
kelayakan proyek. Penurunan atau kenaikan dengan presentasi yang sama dengan variabel
investasi, menyebabkan penurunan IRR dan NPV yang jauh lebih besar.




                                   Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 15
Page 108
                             Tabel 8.18
                         Analisa Sensitivitas
            Uraian         Kenaikan                   IRR              NPV
                         (Penurunan)                  (%)              (Rp)
Normal                                               80,70%        232.169.828
Tarif                              -5,0%             48,95%        118.793.631
                                   -7,5%             31,60%         62.105.531
                                  -10,0%             10,92%          5.417.430
Investasi                           + 5%             74,12%        218.804.093
                                  + 7,5%             71,07%        212.121.225
                                   + 10%             68,14%        205.438.357




                     Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk 8 - 16
Page 109
       PROYEKSI KEUANGAN
DENGAN PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
     PT MANDOM INDONESIA Tbk
Page 110
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran     :1
Subyek       : Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
dalam Rupiah
                                                                                          Proyeksi
                DESCRIPTION
                                                        2026              2027              2028              2029              2030
Net Sales                                         2.343.000.000.000 2.577.300.000.000 2.835.030.000.000 3.118.533.000.000 3.430.386.300.000
   Net Domestic Sales                             1.549.000.000.000 1.703.900.000.000 1.874.290.000.000 2.061.719.000.000 2.267.890.900.000
   Net Export Sales                                 794.000.000.000 873.400.000.000 960.740.000.000 1.056.814.000.000 1.162.495.400.000
Cost of Goods Sold                                1.725.346.664.000 1.901.784.596.000 2.091.962.056.000 2.301.157.262.000 2.531.271.988.600
   Domestic Cost of Goods Sold                    1.033.306.664.000 1.141.622.996.000 1.255.784.296.000 1.381.361.726.000 1.519.496.899.000
   Domestic Royalty                                  83.500.000.000    92.010.600.000 101.211.660.000 111.332.826.000 122.466.108.600
   Export Cost of Goods Sold                        576.040.000.000 633.215.000.000 696.536.500.000 766.190.150.000 842.809.165.000
   Export Royalty                                    32.500.000.000    34.936.000.000    38.429.600.000    42.272.560.000    46.499.816.000
Gross Profit                                        617.653.336.000 675.515.404.000 743.067.944.000 817.375.738.000 899.114.311.400
Selling,General and Administrative Expenses        594.000.000.000   614.983.320.900   633.655.311.948   652.955.635.802   672.907.054.838
     Selling & Marketing Expenses                  303.444.030.000   318.616.231.500   331.360.880.760   344.615.315.990   358.399.928.630
           Domestic Marketing Expenses             287.364.030.000   301.732.231.500   313.801.520.760   326.353.581.590   339.407.724.854
              Selling Activity Expenses            131.892.900.000   138.487.545.000   144.027.046.800   149.788.128.672   155.779.653.819
                   Sales Promotion Activity         13.065.000.000    13.718.250.000    14.266.980.000    14.837.659.200    15.431.165.568
                   Sales Incentive                   8.465.000.000     8.888.250.000     9.243.780.000     9.613.531.200     9.998.072.448
                   Domestic Sales Support            3.298.000.000     3.462.900.000     3.601.416.000     3.745.472.640     3.895.291.546
                   BA Personnel                     70.853.300.000    74.395.965.000    77.371.803.600    80.466.675.744    83.685.342.774
                   SPG Personnel                    36.211.600.000    38.022.180.000    39.543.067.200    41.124.789.888    42.769.781.484
              Advertising Activity                  85.800.000.000    90.090.000.000    93.693.600.000    97.441.344.000   101.338.997.760
                   TV Commerce                                   0                 0                 0                 0                 0
                   Media and Display                85.800.000.000    90.090.000.000    93.693.600.000    97.441.344.000   101.338.997.760
              Research & Analysis Expenses          15.439.130.000    16.211.086.500    16.859.529.960    17.533.911.158    18.235.267.605
                   Market Analysis                   8.424.000.000     8.845.200.000     9.199.008.000     9.566.968.320     9.949.647.053
                   Consumer Analysis                 3.682.000.000     3.866.100.000     4.020.744.000     4.181.573.760     4.348.836.710
                   Registration & Development        3.333.130.000     3.499.786.500     3.639.777.960     3.785.369.078     3.936.783.842
              Selling Personnel Expenses            45.444.000.000    47.716.200.000    49.624.848.000    51.609.841.920    53.674.235.597
              Travelling Expenses                    6.956.000.000     7.303.800.000     7.595.952.000     7.899.790.080     8.215.781.683
                   BA Travelling                     1.020.000.000     1.071.000.000     1.113.840.000     1.158.393.600     1.204.729.344
                   SPG Travelling                    1.940.000.000     2.037.000.000     2.118.480.000     2.203.219.200     2.291.347.968
                   Sellling Travelling               3.996.000.000     4.195.800.000     4.363.632.000     4.538.177.280     4.719.704.371
              Others Expenses                        1.832.000.000     1.923.600.000     2.000.544.000     2.080.565.760     2.163.788.390
                   Education - S                       720.000.000       756.000.000       786.240.000       817.689.600       850.397.184
                   Entertainment - S                   224.000.000       235.200.000       244.608.000       254.392.320       264.568.013
                   Sundry Expenses - S                 888.000.000       932.400.000       969.696.000     1.008.483.840     1.048.823.194
           Export Marketing Expenses                16.080.000.000    16.884.000.000    17.559.360.000    18.261.734.400    18.992.203.776
              Export Selling Activity                            0                 0                 0                 0                 0
              Export Marketing Support               1.089.000.000     1.143.450.000     1.189.188.000     1.236.755.520     1.286.225.741
              Export Transportation                 12.113.000.000    12.718.650.000    13.227.396.000    13.756.491.840    14.306.751.514
              Export Selling Personnel Expenses      2.535.000.000     2.661.750.000     2.768.220.000     2.878.948.800     2.994.106.752
              Export Travelling Expenses               260.000.000       273.000.000       283.920.000       295.276.800       307.087.872
              Export Others Expenses                    83.000.000        87.150.000        90.636.000        94.261.440        98.031.898
     General Administrative Expenses               290.555.970.000   296.367.089.400   302.294.431.188   308.340.319.812   314.507.126.208
           General Expenses                         46.360.500.000    47.287.710.000    48.233.464.200    49.198.133.484    50.182.096.154
              General Affair Expenses               22.725.500.000    23.180.010.000    23.643.610.200    24.116.482.404    24.598.812.052
              Finance Expenses                         531.000.000       541.620.000       552.452.400       563.501.448       574.771.477
              Depreciation/Amortisation             13.170.000.000    13.433.400.000    13.702.068.000    13.976.109.360    14.255.631.547
              Computer Expenses                      9.934.000.000    10.132.680.000    10.335.333.600    10.542.040.272    10.752.881.077
           General Personnel Expenses              125.656.100.000   128.169.222.000   130.732.606.440   133.347.258.569   136.014.203.740
           Travelling Expenses - R                   5.752.000.000     5.867.040.000     5.984.380.800     6.104.068.416     6.226.149.784
           Others Expenses - R                     112.787.370.000   115.043.117.400   117.343.979.748   119.690.859.343   122.084.676.530
              Education - R                            776.000.000       791.520.000       807.350.400       823.497.408       839.967.356
              Entertainment - R                        146.000.000       148.920.000       151.898.400       154.936.368       158.035.095
              Sundry Expenses - R                  111.865.370.000   114.102.677.400   116.384.730.948   118.712.425.567   121.086.674.078
Operating Income                                 23.653.336.000       60.532.083.100   109.412.632.052   164.420.102.198   226.207.256.562
Non-Operating Income/Expenses                    59.351.001.200       20.000.001.200    27.250.001.200    24.250.001.200    24.250.001.200
   Non-Operating Income                        387.250.001.200       387.250.001.200   387.250.001.200   387.250.001.200   387.250.001.200
        Interest income                          18.000.000.000       18.000.000.000    18.000.000.000    18.000.000.000    18.000.000.000
        Gain on foreign exchange - net         320.649.000.000       360.000.000.000   360.000.000.000   360.000.000.000   360.000.000.000
        Gain on sale of property and equipment - 39.351.000.000
                                                 net                               0                 0                 0                 0
        Other gains                               9.250.001.200        9.250.001.200     9.250.001.200     9.250.001.200     9.250.001.200
   Non-Operating Expenses                      327.899.000.000       367.250.000.000   360.000.000.000   363.000.000.000   363.000.000.000
        Loss on foreign exchange - net         320.649.000.000       360.000.000.000   360.000.000.000   360.000.000.000   360.000.000.000
        Other loss                                7.250.000.000        7.250.000.000                 0     3.000.000.000     3.000.000.000
Income before taxes                                 83.004.337.200    80.532.084.300   136.662.633.252   188.670.103.398   250.457.257.762
Income Taxes Current Year                           18.260.954.184    17.717.058.546    30.065.779.315    41.507.422.748    55.100.596.708

Net Income                                          64.743.383.016    62.815.025.754   106.596.853.937   147.162.680.650   195.356.661.054
Page 111
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                :2
Subyek                  : Proyeksi Modal Kerja Dengann Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                                                                         -
DESCRIPTION                                                                                  Proyeksi
                                               2025               2026              2027                 2028                 2029                2030
Trade accounts receivable                 414.718.539.117    387.964.612.401   381.179.598.794      394.620.916.771      387.921.709.322     387.907.408.296
Other accounts receivable                   4.364.440.687      5.000.000.000     5.000.000.000        5.000.000.000        5.000.000.000       5.000.000.000
Inventories - net                         602.138.619.638    543.574.861.947   565.710.810.325      570.474.763.970      559.920.145.414     565.368.573.236
Trade accounts payable                    100.727.529.528    101.032.611.418   114.754.647.141      105.504.929.362      107.097.395.974     109.118.990.826
Other accounts payable to third parties    33.521.995.630     45.606.347.627    44.187.050.295       41.105.131.184       43.632.843.036      42.975.008.172
Working Capital                           886.972.074.284    789.900.515.303   792.948.711.683      823.485.620.194      802.111.615.726     806.181.982.534
Net Working Capital                                           97.071.558.981    (3.048.196.380)     (30.536.908.512)      21.374.004.468      (4.070.366.808)




PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                                      :3
Subyek                                        : Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                                                                         -
DESCRIPTION                                                                                        Proyeksi
                                                            2026               2027                  2028                  2029                  2030

Net Cash Provided by Operating Activities            158.146.181.860     207.640.376.703       246.988.181.883     316.084.648.316          403.551.347.756
Net Cash Used in
    Investing Activities                              (16.406.928.815) (100.160.138.336)      (100.267.748.000) (110.708.808.842)           (119.753.907.990)
Net Cash Used in
    Financing Activities                              (36.674.453.508)    (35.710.274.877)     (57.601.188.968)        (77.884.102.325)     (101.981.092.527)
NET INCREASE IN CASH AND
    CASH EQUIVALENTS                                 105.064.799.537      71.769.963.490          89.119.244.915   127.491.737.149          181.816.347.239
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT
   BEGINNING OF YEAR                                 540.111.589.863     650.113.427.093       727.020.549.055     821.601.363.470          954.832.000.926
Effect of foreign exchange rate changes
     on cash and cash equivalents                      4.937.037.693       5.137.158.472           5.461.569.501        5.738.900.307          6.271.802.591
CASH AND CASH EQUIVALENTS AT END
    OF YEAR                                          650.113.427.093     727.020.549.055       821.601.363.470     954.832.000.926         1.142.920.150.756
Page 112
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                                      :4
Subyek                                        : Proyeksi Neraca Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                                        -
DESCRIPTION                                                                               Proyeksi
                                                    2026                2027                2028                2029                2030
ASSETS
CURRENT ASSETS
Cash and cash equivalents                       650.113.427.093    727.020.549.055     821.601.363.470     954.832.000.926    1.142.920.150.756
Other financial assets - current                 35.000.000.000     35.000.000.000      35.000.000.000      35.000.000.000       35.000.000.000
Trade accounts receivable                       387.964.612.401    381.179.598.794     394.620.916.771     387.921.709.322      387.907.408.296
Other accounts receivable                         5.000.000.000      5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000        5.000.000.000
Inventories - net                               543.574.861.947    565.710.810.325     570.474.763.970     559.920.145.414      565.368.573.236
Advances                                          5.000.000.000      5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000        5.000.000.000
Prepaid expenses                                  7.500.000.000      7.500.000.000       7.500.000.000       7.500.000.000        7.500.000.000
Prepaid taxes                                    10.000.000.000     10.000.000.000      10.000.000.000      10.000.000.000       10.000.000.000
Non-current assets held-for-sale                            -                  -                   -                   -                    -
Total Current Assets                          1.644.152.901.441   1.736.410.958.173   1.849.197.044.210   1.965.173.855.662   2.158.696.132.288
NON-CURRENT ASSETS
Other accounts receivable                         2.000.000.000      2.000.000.000       2.000.000.000       2.000.000.000       2.000.000.000
Prepaid expenses                                            -                  -                   -                   -                   -
Other financial assets - non current                        -                  -                   -                   -                   -
Estimated claim for tax refund                              -                  -                   -                   -                   -
Deferred tax assets - net                        70.814.786.429     70.814.786.429      70.814.786.429      70.814.786.429      70.814.786.429
Property, plant and equipment - net             596.033.782.728    601.994.120.555     608.014.061.760     620.174.342.996     638.779.573.286
Computer software - net                           7.000.000.000      7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000
Right-of-use assets                               6.032.532.190      2.805.231.533                 -        16.000.000.000      12.500.000.000
Other non-current assets                          7.000.000.000      7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000       7.000.000.000
Total Non-Current Assets                        688.881.101.347    691.614.138.517     694.828.848.189     722.989.129.425     738.094.359.715
TOTAL ASSETS                                  2.333.034.002.788   2.428.025.096.690   2.544.025.892.400   2.688.162.985.087   2.896.790.492.002
LIABILITIES AND EQUITY
CURRENT LIABILITIES
Trade accounts payable                          101.032.611.418    114.754.647.141     105.504.929.362     107.097.395.974     109.118.990.826
Other accounts payable to third parties          45.606.347.627     44.187.050.295      41.105.131.184      43.632.843.036      42.975.008.172
Advance received                                  5.000.000.000      5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000
Taxes payable                                     5.000.000.000      5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000       5.000.000.000
Accrued expenses                                 81.916.258.101     95.076.779.036     109.898.027.723      95.630.354.953     100.201.720.571
Employee benefits obligation - current            4.500.000.000      4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000
Current maturity of lease liabilities             3.500.000.000      3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000
Total Current Liabilities                       246.555.217.146    272.018.476.472     274.508.088.270     264.360.593.962     270.295.719.568
NON-CURRENT LIABILITIES
Employee benefits obligation                    223.646.221.403    230.355.608.045     237.266.276.286     244.384.264.575     251.715.792.512
Lease liabilities - net of current maturity       4.500.000.000      4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000       4.500.000.000
Customer deposits                                 3.500.000.000      3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000       3.500.000.000
Total Non-current Liabilities                   231.646.221.403    238.355.608.045     245.266.276.286     252.384.264.575     259.715.792.512
 TOTAL LIABILITIES                              478.201.438.549    510.374.084.516     519.774.364.556     516.744.858.537     530.011.512.080
 EQUITY
 Capital stock - Rp 250 par value               100.533.333.500    100.533.333.500     100.533.333.500     100.533.333.500     100.533.333.500
 Additional paid-in capital                     188.300.825.786    188.300.825.786     188.300.825.786     188.300.825.786     188.300.825.786
 Listed equity securities revaluation                48.888.300         52.310.481          55.972.215          59.890.270          64.082.589
 Retained earning
   Appropriated                                  20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700      20.106.666.700
   Unappropriated                             1.545.844.887.065   1.608.659.912.819   1.715.256.766.755   1.862.419.447.406   2.057.776.108.460
Total equity attributable to owners of the
Company                                       1.854.834.601.351 1.917.653.049.286 2.024.253.564.956 2.171.420.163.661 2.366.781.017.035
 Non-controlling interests                           (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)       (2.037.112)
 Total Equity                                 1.854.832.564.239 1.917.651.012.174 2.024.251.527.844 2.171.418.126.549 2.366.778.979.923
TOTAL LIABILITIES AND EQUITY                  2.333.034.002.787   2.428.025.096.690   2.544.025.892.400   2.688.162.985.086   2.896.790.492.002
Page 113
            PROYEKSI KEUANGAN
KELAYAKAN USAHA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA
         PT MANDOM INDONESIA Tbk
Page 114
PT Mandom Indonesia Tbk
Lampiran                    :1
Subyek                      : Analisa Kelayakan Usaha Penambahan Kegiatan Usaha
dalam rupiah
Uraian                                                               Proyeksi
                                          2026               2027                  2028                2029                2030
After
Laba Bersih                    64.743.383.016     62.815.025.754       106.596.853.937     147.162.680.650     195.356.661.054
Penyusutan & Amortisasi        13.176.664.000     13.443.396.000        13.712.064.000      13.986.105.360      14.265.627.547
(1-tax)*Bunga
Net Working Capital            97.071.558.981     (3.048.196.380)       (30.536.908.512)    21.374.004.468      (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional        174.991.605.997     73.210.225.374         89.772.009.425    182.522.790.478     205.551.921.794

Kegiatan Investasi            (16.406.928.815)   (100.160.138.336)    (100.267.748.000)    (110.708.808.842)   (119.753.907.990)

Free Cash Flow                158.584.677.182     (26.949.912.962)      (10.495.738.575)    71.813.981.636      85.798.013.804

Before
Laba Bersih                    64.716.736.918     62.775.056.607       106.556.884.790     147.122.711.503     195.316.691.907
Penyusutan & Amortisasi        13.170.000.000     13.433.400.000        13.702.068.000      13.976.109.360      14.255.631.547
(1-tax)*Bunga                               -                  -                     -                   -                   -
Net Working Capital            97.071.558.981     (3.048.196.380)      (30.536.908.512)     21.374.004.468      (4.070.366.808)
Penerimaan Operasional        174.958.295.899     73.160.260.227        89.722.044.278     182.472.825.331     205.501.956.647

Kegiatan Investasi            (16.308.175.320)   (100.145.278.152)    (100.251.562.878)    (110.691.301.460)   (119.734.891.170)

Free Cash Flow                158.650.120.579     (26.985.017.925)      (10.529.518.600)    71.781.523.872      85.767.065.476

Incremental

Penerimaan Operasional             33.310.098         49.965.147            49.965.147          49.965.147          49.965.147

Kegiatan Investasi                (98.753.495)        (14.860.184)          (16.185.122)        (17.507.383)        (19.016.819)

Terminal Value                              -                   -                     -                   -        290.748.968

Free Cash Flow                    (65.443.397)        35.104.963            33.780.025          32.457.764         321.697.295



Indikator Kelayakan Usaha         Nilai
Diskon Rate                             8,60%
IRR                                    80,70%
NPV                               232.169.828
B/C Ratio                                2,64
Payback Period (tahun)                   2,61

File

File Open PDF
Source IDX
Size9.46 MB
Published13 May 2026
Pages114
Characters318,775
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 92 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Mandom Indonesia Tbk · Direktur p.1 ×484
linked org Mandom Corporation p.19 ×25
linked org PT. Asia Jaya Paramita p.30
linked person Lie Harjono · Komisaris p.30 ×2
linked person Hirokazu Kagami · Wakil Direktur / SEO p.30 ×4
linked person Shinichiro Koshiba · Presiden Komisaris p.31 ×2
linked person Heri Martono · Komisaris Independen p.31
linked person Bowo Priyatno · Komisaris Independen p.31
linked person Tiurma Rondang Sari · Komisaris Independen p.31
linked person Koichi Watanabe · Presiden Direktur / CEO p.31 ×2
linked person Teiji Izawa · Direktur / SEO p.31 ×2
linked person Toru Onishi · Direktur / SEO p.31 ×2
linked person Sanyata Adi Saputra · Direktur p.31 ×2
linked org Negara Maju p.45 ×2
linked org Mega Manunggal Property Tbk p.72 ×2
linked org PT Bekasi Fajar Industrial Estate p.72 ×5
linked org Kawasan Industri Jababeka Tbk p.72 ×2
linked org Samudera Indonesia Tbk p.72 ×2
linked org Argo Manunggal p.90
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.3 ×15
possible org Bursa Efek Indonesia p.6 ×6
possible person Fenny Widjaja p.23 ×2
possible org Negara Republik Indonesia p.27
unresolved org KJPP Munir p.2 ×2
unresolved org Heru & Rekan p.2 ×2
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.2 ×2
unresolved person Hasan Munir H p.2 ×2
unresolved person MBA. p.2 ×2
unresolved — STTD p.2 ×2
unresolved — Kualifikasi p.2 ×2
unresolved — Faksmili p.2 ×2
unresolved org Studi Kelayakan Penambahan KBLI 68126 – PT Mandom Indonesia Tbk p.2
unresolved org Imelda & Rekan p.4 ×3
unresolved org Tohmatsu Limited p.4 ×5
unresolved org Xenia & Rekan p.5 ×2
unresolved org Bank Indonesia p.6 ×24
unresolved org Pusat Statistik p.6
unresolved org PT The City Factory. p.19
unresolved org PT Tancho Indonesia p.19 ×9
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. J.A. p.19
unresolved org KJPP Munir Wisnu Heru & Rekan p.20
unresolved org KJPP Munir Wisnu Heru p.20
unresolved org Imelda dan Rekan p.23 ×3
unresolved org LIANA RAMON XENIA & REKAN p.24 ×2
unresolved person Erny Sandjaja p.24 ×2
unresolved org PT Tancho Indonesia Co. Ltd. p.27 ×2
unresolved person Abdul Latief · Notaris p.27
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.27
unresolved person Lukman Kirana · Notaris p.27 ×2
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.27 ×5
unresolved org Pengawas Pasar Modal p.27
unresolved person Amrul Partomuan Pohan · Notaris p.27 ×4
unresolved org Alliance Cosmetics Pte. Ltd p.28 ×4
unresolved org PT Alliance Cosmetics. Kemudian p.28
unresolved person Elizabeth Karina Leonita · Notaris p.28
unresolved org ACG International Sdn. Bhd. p.28
unresolved person Ambiati · Notaris p.28 ×4
unresolved org Kementerian p.28
unresolved person Akta Notaris Ambiati p.30
unresolved org PT. Asia Paramita Indah p.30
unresolved person Masanori Sawada · Komisaris p.31
unresolved person Budi Sudarta · Wakil Direktur / SEO p.31
unresolved person Hideki Nakamura Sumber · Wakil Direktur / SEO p.31 ×2
unresolved org Menteri Kehakiman p.33 ×7
unresolved org PT Tancho p.33
unresolved org Administrasi Hukum Umum Indonesia Tbk p.33
unresolved org PT Mandom p.34 ×2
unresolved org Indonesia Tbk p.34
unresolved org Kota Bekasi Tbk p.34
unresolved org Menteri Investasi dan Hilirisasi p.34
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal. p.34
unresolved org Direktorat Jenderal Pajak. p.34
unresolved org Bank Indonesia Divergensi p.45
unresolved org Bank Indonesia. Defisit p.47
unresolved org Bank Indonesia Studi Kelayakan Penambahan KLBI p.51
unresolved org Logistik Nasional p.71
unresolved org PT Kiosan Komersial Indonesia p.72
unresolved org Bumi Benowo Sejahtera Tbk p.72 ×2
unresolved — Lahir p.84
unresolved org Departemen Produksi Factory p.84 ×2
unresolved org PT Indonesia Epson Industry p.84 ×2
unresolved org PT Nipro Indonesia Jaya. Setelah p.84
unresolved org PT Pakoakuina p.85
unresolved org PT Indonesia Epson p.85 ×2
unresolved org PT Nipro p.85
unresolved org PT Sugity Creatives p.89
unresolved org PT Sankei Gohsyu Industries Gambar p.89
unresolved org PT Sankei Gohsyu Industries Bangunan Pabrik p.89
unresolved org PT Sugity Creatives Studi Kelayakan Penambahan KLBI p.89
unresolved org PT. Megalopolis Manunggal Industrial Development p.90 ×2
unresolved org PT. MMID p.90
unresolved org Marubeni Corporation p.90

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

No extraction attempted yet.

↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result