Back to announcement
20260505_INPS_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_32077569_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review INPSSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 94
Page 1
Kantor Jasa Penilai Publik The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Property, Business Valuation & Advisory Website: www.fdipartners.co
Licence No. 2.22.0176 Phone (62 21) 27875911
KMK 460/KM.1/2022
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Jakarta, 5 Mei 2026
Kepada Yth,
PT Graha Inti Guna Persada
Menara Jakarta Tower Fortune Lt.23 unit F. Jalan Kota Baru
Bandar Kemayoran No. C-8. Jakarta Pusat 10610
No. Laporan : 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Hal : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
Dengan hormat,
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT INDAH PRAKASA SENTOSA TBK
Berdasarkan Surat Penawaran No 012/FDI/PB-FS/IV/2026 tanggal 13 April 2026, KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Graha Inti Guna Persada (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau GIGP”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (Selanjutnya disebut “INPS”), per 31
Desember 2025 berupa penambahan yaitu:
Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64200
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding
Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang diperuntukkan dalam rangka
memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material
dan perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya
Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025.
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 2
Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis Kelayakan Pasar; b. Analisis Kelayakan Teknis; c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis; d. Analisis Model Manajemen; dan e. Analisis Kelayakan Keuangan. Analisis atas Kelayakan Pasar Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas perdagangan, baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran pergerakan barang dan material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya pada segmen logistik dan distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar cenderung terkonsentrasi dan didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok pembanding yang ada, terdapat tiga perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) yang menguasai sebagian besar pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru. Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan yang relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga. Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas operasional yang kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan maupun meningkatkan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang. Analisis atas Kelayakan Teknis Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan entitas anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan sparepart dinilai memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan mengacu pada model bisnis distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar yang berkelanjutan. Kehadiran entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi operasional, khususnya dalam penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka peluang diversifikasi sumber pendapatan bagi Perseroan. Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai pelaksana operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih terintegrasi, termasuk dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan konsolidasian. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah Prakasa Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha trading. Hal ini didukung oleh kondisi bisnis inti yang sudah ada, jaringan usaha yang telah terbentuk, serta adanya peluang sinergi dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan kebutuhan internal (captive market). Selain itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi pendapatan dan meningkatkan efisiensi operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan pengalaman di bisnis baru, kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas pengelolaan, risiko tersebut masih dapat diatasi Halaman 2 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 3
dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke depan. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang sederhana, namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang kompeten pada bidang yang sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang baru secara afektif dan efisien serta didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan pembagian tugas yang jelas dari seluruh personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh. Analisis atas Kelayakan Keuangan Penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan baru memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV, IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan, penambahan bidang usaha holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan nilai tambah dilihat dari analisis inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan bidang usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS berupa bidang usaha holding adalah layak untuk dijalankan. Kesimpulan Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan. Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis Kelayakan Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan Model Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asunsi dapat terpenuhi, maka kami berpendapat bahwa Rencana Usaha Persusahaan sehubungan dengan rencana penambahan KBLI INPS adalah LAYAK. Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa datang terkait dengan usaha perusahaan yang dinilai maupun atas hasil kajian yang telah dilaporkan. Halaman 3 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 4
Page 5
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1 DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5 BAB I ................................................................................................................................. 7 PENDAHULUAN .......................................................................................................................7 1.1 Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 7 1.2 Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 7 1.3 Pengguna Laporan ......................................................................................................... 7 1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 7 1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................... 8 1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ................................................................................ 8 1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ........................................................................... 8 1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi......................................................................................... 8 1.9 Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan ........................................................ 8 1.10 Asumsi Dan Asumsi Khusus ............................................................................................. 9 1.11 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi .................................................................... 9 1.12 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ............. 9 1.13 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................... 9 1.14 Data Dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 10 1.15 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 10 1.16 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 10 BAB II ............................................................................................................................... 11 ANALISIS INPS DAN PERUSAHAAN TARGET ............................................................................... 11 2.1. Data dan Informasi....................................................................................................... 11 2.2. Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 11 2.3. Gambaran Umum INPS ................................................................................................ 12 2.4. Laporan Keuangan INPS ............................................................................................... 17 2.5. Analisis Laporan Keuangan INPS ................................................................................... 22 2.6. Prospek Usaha INPS ..................................................................................................... 25 BAB III ............................................................................................................................... 26 ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 26 3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 26 3.2. Konsisi Pasar Usaha Perseroan ...................................................................................... 30 3.3. Strategi Kelayakan Aspek Pasar ..................................................................................... 37 3.4. Prospek Industri ............................................................................................................ 37 3.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 38 BAB IV ............................................................................................................................... 39 ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 39 4.1. Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 39 4.2. Rencana Pembentukan Entitas Anak ............................................................................... 39 4.3. Proses Bisnis Entitas Anak .............................................................................................. 40 4.4. Teknis Pelaksanaan Sebagai Holding ............................................................................. 41 4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 41 BAB V ............................................................................................................................... 42 ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 42 5.1 Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 42 5.2 Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 42 5.3 Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 43 5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 44 5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 44 5.6 Analisis SWOT.............................................................................................................. 44 5.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 46 BAB VI ............................................................................................................................... 47 ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 47 6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 47 Halaman 5 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 6
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 48 6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 48 6.4 Manajemen Risiko ........................................................................................................ 48 6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 49 6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 50 6.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 50 BAB VII ............................................................................................................................... 51 ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 51 7.1 Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 51 7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 51 7.3 Proyeksi Keuangan Entitas Anak .................................................................................... 51 7.4 Analisis Profitabilitas ..................................................................................................... 54 7.5 Analisis Tingkat Imbal Balik ........................................................................................... 54 7.6 Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 55 7.6.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 55 7.6.2 Terminal Value ............................................................................................................. 57 7.6.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 57 7.7 Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 58 7.8 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 65 BAB VIII ............................................................................................................................... 66 KESIMPULAN .......................................................................................................................... 66 8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 66 8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 66 8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 66 8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 67 8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 67 8.6 Kesimpulan .................................................................................................................. 67 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 68 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 69 Halaman 6 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 7
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Identitas Status Konsultan
Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
Penilai Publik sebagai berikut:
• Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
ini.
1.2 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah GIGP dengan informasi sebagai
berikut :
a. Nama Pemberi Tugas : PT Graha Inti Guna Persada
b. Alamat : Menara Jakarta Tower Fortune Lt.23 unit F. Jalan Kota Baru
Bandar Kemayoran No. C-8. Jakarta Pusat 10610.
c. Bidang Usaha :-
d. No. Telepon/Fax :-
e. Alamat Email :-
f. Penanggung Jawab : Bapak Reagy Sukmana
g. Jabatan : Direktur
1.3 Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam hal ini adalah:
1. PT Graha Inti Guna Persada
2. PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan
Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
(KBLI) Holding Perusahaan PT Indah Prakasa Sentosa Tbk:
Halaman 7 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 8
Tabel 2. Penambahan KBLI Holding KBLI 64200
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding
Sumber: Informasi Manajemen
1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).
1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
Kegiatan Usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 64200 yang
diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan
peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha
(“POJK 17”).
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya
1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025.
1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi
a. Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
terima dari pemberi tugas.
b. Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
c. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
(data yang relevan).
d. Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.
1.9 Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan
Halaman 8 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 9
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
internasional. Sumber data tersebut antara lain:
a. Bank Indonesia.
b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain
c. Badan Pusat Statistik.
d. Pemerintah Kota dan Kabupaten.
e. Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
dengan obyek studi kelayakan.
f. Media cetak dan elektronik resmi.
g. Sumber lainnya.
h. S&P Capital IQ
1.10 Asumsi Dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam studi kelayakan.
1.11 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi
Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
kelayakan.
Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.
Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.
1.12 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar
Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).
1.13 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan
Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis atas Kelayakan Pasar; b. Analisis atas Kelayakan
Teknis; c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis; d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.
Halaman 9 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 10
1.14 Data Dan Informasi Pendukung
Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
sebagai berikut:
• Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 23 April
2026 dengan manajemen INPS serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.
• Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Kajian
Obyek Kajian merupakan INPS dan Entitas Anak. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen
hukum yang relevan dengan Obyek Kajian merupakan dokumen-dokumen hukum yang juga
melekat pada INPS dan Entitas Anak. Adapun dokumen hukum INPS dan Entitas Anak, yang
mencakup perijinan dan legalitas INPS dan Entitas Anak, diuraikan kemudian dalam
Gambaran Umum INPS dan Entitas Anak.
1.15 Pernyataan Independensi Konsultan
a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
yang kami anggap relevan;
d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
aktual maupun potensial dengan objek Studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami
tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
1.16 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
Dari tanggal kajian (cut off date) per 31 Desember 2025 hingga laporan studi kelayakan ini
diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal studi kelayakan (Subsequent Event).
Halaman 10 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 11
BAB II
ANALISIS INPS DAN PERUSAHAAN TARGET
2.1. Data dan Informasi
Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:
• Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
McMillanWoods”) sebagaimana tertuang dalam laporannya No.
00033/2.0641/AU.1/06/1105-5/1/III/2026 tertanggal 30 Maret 2026 yang
ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi,CA., CPA dengan opini wajar dalam semua hal
yang material;
• Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
McMillanWoods”) sebagaimana tertuang dalam laporannya No.
00040/2.0641/AU.1/06/1105-5/1/III/2025 tertanggal 27 Maret 2025 yang
ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi,CA., CPA dengan opini wajar dalam semua hal
yang material;
• Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
McMillanWoods”) sebagaimana tertuang dalam laporannya No.
00055/2.0641/AU.1/06/1105-3/1/III/2024 tertanggal 30 Maret 2024 yang
ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi, CA., CPA dengan opini wajar dalam semua
hal yang material;
• Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
McMillanWoods”) sebagaimana tertuang dalam laporannya No.
00074/2.0641/AU.1/06/1105-2/1/IV/2023 tertanggal 18 April 2023 yang
ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi, CA., CPA dengan opini wajar dalam semua
hal yang material;
• Proyeksi keuangan INPS tahun 2026 sampai dengan 2031 yang disusun oleh manajemen
INPS.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari INPS serta pihak pihak lain yang relevan untuk
penugasan.
• Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal INPS baik dari media cetak
maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
• Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
dokumen.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal INPS serta pihak pihak lain yang
relevan untuk penugasan.
2.2. Pelaksanaan Wawancara
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 23 April 2026
dengan manajemen INPS serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.
Halaman 11 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 12
2.3. Gambaran Umum INPS
a. Latar Belakang INPS
PT Indah Prakasa Sentosa Tbk ("Perusahaan") didirikan berdasarkan akta notaris No. 44
tanggal 15 Januari 1988 yang mengalami perubahan dengan Akta No. 73 tanggal 30 Maret
1988 yang keduanya dibuat di hadapan Notaris Bachruddin Hardigaluh, S.H., di Cirebon.
Akta tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia
(“Menkumham”) berdasarkan Keputusan No. C2-5287-HT.01.01. Tahun 1988 tanggal 23
Juni 1988. Anggaran Dasar Perusahaan mengalami perubahan dengan Akta No. 025 tanggal
15 September 2008 tentang penyesuaian dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas No.
40 Tahun 2007 dari Notaris Mutiara Hartanto, S.H., Notaris di Jakarta. Akta tersebut telah
mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dengan surat keputusannya tanggal 28 November tahun 2008 No. AHU-91085.AHA.0102
Tahun 2008.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan dan perubahan
terakhir dilakukan berdasarkan Akta No. 2 tanggal 27 Mei 2024 yang dibuat di hadapan
Rahayu Ningsih, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam keputusannya No. AHU-
0032435.AH.01.02. Tahun 2024 serta telah dicatat dan diterima dalam Sistem Administrasi
Badan Hukum dengan Nomor Surat AHU-AH.01.09-0209432 tanggal 3 Juni 2024.
Perubahan Anggaran Dasar terakhir tersebut antara lain:
1. Menyetujui perubahan anggaran dasar, penambahan dan penyesuaian bidang usaha
Perseroan berdasarkan KlasifikasiBaku Lapangan Usaha Indonesia Tahun 2020.
2. Menyetujui Perseroan untuk melakukan perubahan dan/atau penyesuaian anggaran
dasar ketentuan dalam POJK Nomor 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
b. Perizinan
Perizinan yang telah diperoleh INPS, antara lain sebagai berikut:
• Akta Pendirian Nomor 73 tanggal 30 Maret 1988 dari Bachruddin Hardigaluh, S.H.,
notaris di Cirebon. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-5287-HT.01,01.TH’88 tanggal 23 Juni 1988.
• Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan dan perubahan
terakhir dilakukan berdasarkan Akta No. 2 tanggal 27 Mei 2024 yang dibuat di hadapan
Rahayu Ningsih, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapat pengesahan dari Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam keputusannya No. AHU-
0032435.AH.01.02. Tahun 2024
• Nomor Induk Berusaha No. 9120507722444 yang diterbitkan pada tanggal 21 Agustus
2025 dan dikeluarkan oleh Menteri Investasi / Kepala Badan Kordinasi Penanaman
Modal.
• Perizinan Berusaha Berbasis Risiko No. 91205077224440022 pada tanggal 19
November 2024 dan dikeluarkan oleh Menteri Investasi / Kepala Badan Kordinasi
Penanaman Modal.
• NPWP INPS 01.457.742.3-046.000
Halaman 12 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 13
• Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha No.
16082210213172159
• Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)
c. Kegiatan Usaha
Maksud dan tujuan Perusahaan sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan adalah
bergerak dalam bidang jasa pergudangan, perdagangan padat, gas dan cair, serta angkutan
barang, Bahan Bakar Minyak, dan distribusi bahan berbahaya kimia dan beracun. Saat ini
usaha utama Perusahaan adalah bergerak di bidang distribusi BBM (Bahan Bakar Minyak),
LPG (Liquified Petroleum Gas), perdagangan BBM dan pelumas, kendaraan angkutan
(transportasi), logistik dan jasa.
Perusahaan memulai kegiatan komersialnya pada tahun 1988.
d. Lokasi
Perusahaan berdomisili di Jl. Sunter Garden Raya Blok D8 No. 3G-3H, Jakarta Utara 14350.
Perusahaan dan Entitas Anak memiliki kantor cabang yang berlokasi di Cilegon, Bandung dan
Samarinda.
e. Susunan Pemegang Saham
Berdasarkan informasi manajemen susunan pemegang saham INPS periode 31 Desember
2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Susunan Pemegang Saham INPS
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham Jumlah
PT Surya Perkasa Sentosa 450.000.000 69,23% 45.000.000.000
PT Sinar Ratu Sentosa 45.000.000 6,92% 4.500.000.000
Tn/Mr. Eddy Purwanto Winata 5.000.000 0,77% 500.000.000
Masyarakat/Publik 150.000.000 23,08% 15.000.000.000
Total 650.000.000 100,00% 65.000.000.000
Sumber: Informasi Manejemen
f. Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen per 31 Desember 2025 susunan Dewan Komisaris dan
Direksi INPS adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama : Lies Erliawati Winata
Komisaris : Ir. Hadi Avila Tamzil
Direksi:
Direktur Utama : Eddy Purwanto Winata
Direktur : Jerry Erfansyah, SE
Halaman 13 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 14
g. Latar Belakang Ekonomi
Kajian ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB III dalam
laporan ini.
h. Pasar Geografis
Pasar geografis PT Indah Prakasa Sentosa Tbk pada dasarnya berfokus di dalam negeri
(Indonesia) dengan cakupan distribusi yang cukup luas antar wilayah.
Cakupan Nasional (Indonesia)
Perusahaan ini menjalankan bisnis logistik, distribusi BBM, LPG, pelumas, dan produk terkait
di seluruh Indonesia, bukan terbatas pada satu daerah saja.
- Melayani distribusi fuel, gas, chemical, dan FMCG secara nasional
- Aktivitas mencakup transportasi darat, laut, pergudangan, hingga depot kontainer
i. Risiko Usaha
Analisa Risiko untuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk merupakan kajian sistematis atas berbagai
ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan perusahaan,
khususnya dalam kegiatan usaha logistik, transportasi, dan distribusi energi. Risiko-risiko
tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang berdampak terhadap
keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas.
Ketidakpastian dalam industri logistik dan distribusi energi cenderung dipengaruhi oleh
dinamika harga energi, kondisi infrastruktur, kebijakan pemerintah, serta kondisi ekonomi
makro. Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi
kerugian dan menjaga keberlanjutan usaha perusahaan.Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
operasional dan finansial PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
a. Risiko Kredit
Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
akibat ketidakmampuan pelanggan, khususnya korporasi atau institusi pengguna jasa
logistik dan distribusi energi, dalam memenuhi kewajiban pembayaran sesuai perjanjian.
Dalam kegiatan usaha perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:
• Pemberian termin pembayaran kepada pelanggan industri
• Konsentrasi pelanggan pada sektor tertentu (misalnya energi atau manufaktur)
Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas perusahaan.
Mitigasi dilakukan melalui:
• Analisis kelayakan kredit pelanggan
• Penetapan limit kredit dan termin pembayaran
• Pemantauan piutang secara berkala
• Diversifikasi basis pelanggan
Halaman 14 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 15
b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah
Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk, khususnya di sektor energi, transportasi,
dan logistik.
Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:
• Kebijakan distribusi BBM dan LPG
• Regulasi transportasi dan keselamatan angkutan bahan berbahaya
• Perizinan operasional dan standar lingkungan
Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya operasional, ruang lingkup
usaha, serta kelangsungan kontrak kerja sama dengan mitra strategis.
c. Risiko Operasional
Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
mengganggu kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
Risiko ini meliputi:
• Kecelakaan transportasi (darat/laut) dalam distribusi BBM/LPG
• Kerusakan armada atau infrastruktur logistik
• Gangguan rantai pasok (supply chain disruption)
• Human error dalam pengelolaan distribusi
Ketergantungan pada armada transportasi dan infrastruktur logistik menjadikan aspek
pemeliharaan dan keselamatan sebagai faktor krusial dalam operasional perusahaan.
d. Risiko Persaingan Usaha
Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri logistik
dan distribusi energi.
Risiko ini meliputi:
• Tekanan harga jasa logistik
• Perebutan kontrak dengan perusahaan energi dan industri besar
• Kompetisi dalam kualitas layanan dan keandalan distribusi
Masuknya pemain baru maupun ekspansi perusahaan logistik besar dapat meningkatkan
intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar PT Indah Prakasa
Sentosa Tbk.
e. Risiko Usaha
Risiko usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi
dan industri yang memengaruhi permintaan jasa logistik dan distribusi energi.
Halaman 15 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 16
Faktor utama yang memengaruhi antara lain:
• Fluktuasi harga BBM dan energi
• Pertumbuhan sektor industri dan manufaktur
• Stabilitas ekonomi nasional
Penurunan aktivitas ekonomi dapat berdampak pada volume distribusi dan pendapatan
perusahaan.
f. Risiko Hukum
Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Risiko ini dapat berasal dari:
• Sengketa kontrak dengan pelanggan atau mitra usaha
• Pelanggaran regulasi transportasi dan keselamatan
• Ketentuan lingkungan hidup terkait distribusi bahan berbahaya
Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, serta gangguan
operasional bagi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
g. Risiko Reputasi
Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
pelanggan dan mitra usaha terhadap PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
Risiko ini dapat muncul akibat:
• Kecelakaan distribusi (misalnya kebocoran atau insiden BBM/LPG)
• Keterlambatan pengiriman
• Kegagalan memenuhi standar layanan
Mengingat bisnis logistik sangat bergantung pada keandalan, reputasi menjadi faktor
penting dalam mempertahankan kontrak jangka panjang.
h. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
transportasi, energi, dan lingkungan.
PT Indah Prakasa Sentosa Tbk wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:
• Standar keselamatan transportasi bahan berbahaya
• Perizinan operasional
• Regulasi lingkungan dan emisi
Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, pembatasan usaha, hingga
pencabutan izin usaha.
Halaman 16 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 17
2.4. Laporan Keuangan INPS
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
masa depan.
Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
mengenai laporan keuangan INPS. Adapun data laporan keuangan INPS yang kami terima
adalah sebagai berikut:
• Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 Audited
• Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 Audited
• Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 Audited
• Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 Audited
• Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 Audited
Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan INPS untuk periode 31 Desember
2021 hingga 31 Desember 2025
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan INPS (dalam Juta Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Bank 866 2.413 1.196 974 1.270
Rekening yang dibatasi
250
Penggunaannya
Piutang usaha:
Pihak ketiga 24.856 27.960 23.831 19.407 26.849
Pihak berelas 3.355 3.930 3.605 3.800 4.466
Piutang lain-lain - Pihak ketiga - 293 - - 67
Persediaan 3.880 2.647 2.402 3.442 3.657
Pajak dibayar di muka 4.454 2.086 1.336 1.982 2.613
Beban dibayar di muka 869 745 505 276 416
Uang muka - 11 212 18 274
Total Aset Lancar 38.530 40.084 33.087 29.900 39.612
Aset Tidak Lancar
Uang muka 1.000 - - - -
Aset pajak tangguhan 2.930 2.963 2.495 3.027 3.582
Piutang lain-lain - Pihak berelasi 79.012 100.454 123.381 121.610 49.885
Aset tetap 293.932 166.891 133.954 106.925 99.448
Aset hak guna - - 368 136 -
Aset lain-lain 100 100
Halaman 17 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 18
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Total Aset Tidak Lancar 376.974 270.408 260.199 231.698 152.914
Total Aset 415.504 310.491 293.286 261.598 192.526
Liabilitas
Liabilitas jangka pendek
Utang bank jangka pendek 120.311 111.334 86.699 70.842
Utang usaha:
Pihak Ketiga 6.129 4.970 4.359 5.960 3.572
Pihak berelasi 83 2.610 225 225 593
Utang pajak 22.572 23.131 20.847 22.344 21.205
Beban akrual 26.811 67.081 71.864 100.306 20.030
Utang lembaga keuangan lainnya 17.373 16.484 22.138 22.138 16.488
Utang lain-lain – pihak ketiga 112 18.167 15.310 14.690
Utang bank 92.148 16.326 4.641 6.000
Liabilitas sewa - 231 141
Utang pembiayaan konsumen 10.257 2.332 3.610 564
Total Liabilitas Jangka Pendek 295.685 244.382 232.781 237.831 82.578
Liabilitas jangka panjang
Utang lain-lain - pihak berelasi 3.958 14.849 30.684 48.121 98.090
Utang Bank 415 16.906 213 - 53.880
Liabilitas sewa - 141 - -
Utang pembiayaan konsumen 11.749 6.709 723 - -
Pendapatan diterima di muka 953 - 322 175 565
Liabilitas imbalan kerja 9.016 8.297 7.526 8.168 8.609
Total Liabilitas Jangka Panjang 26.091 46.761 39.608 56.463 161.144
Total Liabilitas 321.776 291.143 272.389 294.294 243.722
Ekuitas
Modal saham 65.000 65.000 65.000 65.000 65.000
Agio saham 23.426 23.426 23.426 23.426 23.426
Selisih kombinasi bisnis entitas
55.541 55.541 55.541 55.541 55.541
sepengendali
Pengampunan pajak 6.767 6.767 6.767 6.767 6.767
Defisit (110.254) (184.095) (169.098) (215.164) (227.299)
Pendapatan komprehensif lain:
52.084 52.084 38.198 30.785 24.398
Surplus revaluasi aset tetap
Halaman 18 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 19
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Kepentingan non-pengendali 1.165 626 1.064 949 971
Total Ekuitas 93.728 19.349 20.897 (32.697) (51.197)
Total Liabilitas dan Ekuitas 415.504 310.491 293.286 261.598 192.526
Sumber: Laporan Keuangan INPS
Total Aset
Perkembangan total aset PT Indah Prakasa Sentosa Tbk selama periode 31 Desember 2021
sampai dengan 31 Desember 2025 menunjukkan tren penurunan signifikan dengan rata-rata
CAGR sekitar negatif 17,50%. Pada tahun 2021 total aset tercatat sebesar Rp415.504 Juta. Pada
tahun 2022 total aset mengalami penurunan sebesar negatif 25,27% secara year on year menjadi
Rp310.491 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023 total aset kembali menurun sebesar negatif 5,54%
menjadi Rp293.286 Juta. Pada tahun 2024 total aset mengalami penurunan lanjutan sebesar
negatif 10,81% menjadi Rp261.598 Juta. Hingga 31 Desember 2025, total aset kembali turun
signifikan sebesar negatif 26,40% dan tercatat sebesar Rp192.526 Juta.
Aset Lancar
Perkembangan aset lancar selama periode analisis menunjukkan fluktuasi dengan
kecenderungan relatif stabil, dengan CAGR sekitar 0,69%. Pada tahun 2021 aset lancar tercatat
sebesar Rp38.530 Juta. Pada tahun 2022 meningkat sebesar 4,03% menjadi Rp40.084 Juta.
Namun, pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar negatif 17,46% menjadi
Rp33.087 Juta dan kembali turun pada tahun 2024 sebesar negatif 9,63% menjadi Rp29.900
Juta. Pada tahun 2025, aset lancar mengalami peningkatan signifikan sebesar 32,48% menjadi
Rp39.612 Juta. Kenaikan di tahun terakhir mengindikasikan adanya perbaikan likuiditas jangka
pendek.
Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam dengan CAGR sebesar
(20,31%). Pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp376.974 Juta. Pada tahun 2022 mengalami
penurunan signifikan sebesar 28,27% menjadi Rp270.408 Juta. Penurunan berlanjut pada tahun
2023 sebesar 3,77% menjadi Rp260.199 Juta dan kembali turun pada tahun 2024 sebesar
10,96% menjadi Rp231.698 Juta. Hingga tahun 2025, aset tidak lancar turun drastis sebesar
34,00% menjadi Rp152.914 Juta.
Total Liabilitas
Total liabilitas menunjukkan tren fluktuatif dengan kecenderungan menurun tipis, dengan CAGR
sekitar negatif 6,73%. Pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp321.776 Juta. Pada
tahun 2022 menurun sebesar negatif 9,52% menjadi Rp291.143 Juta. Penurunan berlanjut pada
tahun 2023 sebesar negatif 6,44% menjadi Rp272.389 Juta. Namun pada tahun 2024 terjadi
peningkatan sebesar 8,04% menjadi Rp294.294 Juta. Pada tahun 2025 total liabilitas kembali
menurun sebesar negatif 17,18% menjadi Rp243.722 Juta.
Halaman 19 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 20
Total Ekuitas
Perkembangan total ekuitas menunjukkan penurunan fluktuatif. Pada tahun 2021 total ekuitas
tercatat sebesar Rp93.728 Juta. Pada tahun 2022 turun drastis sebesar negatif 79,36% menjadi
Rp19.349 Juta. Pada tahun 2023 terjadi sedikit peningkatan sebesar 8,00% menjadi Rp20.897
Juta. Namun pada tahun 2024 ekuitas berubah menjadi negatif sebesar negatif Rp32.697 Juta,
mencerminkan kondisi defisiensi modal. Kondisi ini semakin memburuk pada tahun 2025 dengan
ekuitas negatif sebesar negatif Rp51.197 Juta.
Tabel 5. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) INPS (dalam Juta Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Laba Rugi
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan
Pendapatan Usaha 276.523 281.984 277.803 283.911 263.852
Total Pendapatan 276.523 281.984 277.803 283.911 263.852
Beban Pendapatan
Beban Pokok Pendapatan (232.940) (244.797) (236.542) (241.128) (221.142)
Total Beban Pendapatan (232.940) (244.797) (236.542) (241.128) (221.142)
Laba (Rugi) Kotor 43.583 37.187 41.261 42.783 42.710
Beban Penjualan (1.419) (2.715) (3.822) (4.293) (4.550)
Beban umum dan administrasi (33.655) (28.427) (36.166) (36.734) (30.933)
Beban Amortisasi
Laba (Rugi) Usaha 8.509 6.045 1.274 1.756 7.227
Pemulihan cadangan kerugian - 731 2.395 1.862 154
Pemulihan imbalan kerja - - - - 66
Pendapatan bunga 5 6 3 2 3
Laba (rugi) penjualan aset tetap 2.513 (42.368) (2.268) 384 (3.589)
Provisi dan administrasi bank (135) (1.999) (83) (62) (133)
Pajak final (207) (212) (246) (360) (288)
Bunga pembiayaan konsumen (3.901) (2.857) (225) (269) (709)
Beban penyisihan piutang (376) (1.601) (946) (3.747) (2.239)
Beban penghapusan piutang - - (3.198) - (3.220)
Bunga Lembaga keuangan lainnya (3.398) (2.743) (10.084) (7.306) (6.600)
Bunga pinjaman bank (17.727) (20.286) (17.783) (9.577) (19.151)
Lain-lain - bersih (13.319) (2.743) 34.336 (10.659) 11.382
Laba (Rugi) Sebelum Pajak (28.034) (68.028) 3.174 (27.974) (17.098)
Manfaat (beban) pajak penghasilan
Pajak kini (3.791) (1.117) (2.988) (2.908) (2.798)
Pajak tangguhan 3.791 294 (65) 651 761
Halaman 20 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 21
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Laba Rugi
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (28.034) (68.851) 121 (30.230) (19.134)
Sumber: Laporan Keuangan INPS
Pendapatan
Perkembangan pendapatan Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 menunjukkan tren yang relatif stabil dan masih fluktuatif. Pada tahun 2021,
pendapatan tercatat sebesar Rp276.523 Juta. Pada tahun 2022, pendapatan meningkat sebesar
1,97% secara year on year menjadi Rp281.984 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, pendapatan
mengalami penurunan sebesar 1,48% menjadi Rp277.803 Juta. Pada tahun 2024, pendapatan
kembali meningkat sebesar 2,20% menjadi Rp283.911 Juta. Pada 31 Desember 2025,
pendapatan mengalami penurunan sebesar negatif 7,07% dan tercatat sebesar Rp263.852 Juta.
Laba Bruto
Perkembangan laba bruto Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada tahun 2021, laba bruto tercatat sebesar
Rp43.583 Juta. Pada tahun 2022, laba bruto mengalami penurunan sebesar negatif 14,68%
menjadi Rp37.187 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, laba bruto meningkat sebesar 10,96%
menjadi Rp41.261 Juta. Pada tahun 2024, laba bruto kembali meningkat sebesar 3,69% menjadi
Rp42.783 Juta. Hingga tahun 2025, laba bruto relatif stabil dengan sedikit penurunan sebesar
negatif 0,17% dan tercatat sebesar Rp42.710 Juta.
Laba (Rugi) Usaha
Perkembangan laba usaha Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 masih fluktuasi. Pada tahun 2021, laba usaha tercatat sebesar Rp8.509 Juta.
Pada tahun 2022, laba usaha menurun sebesar negaitf 28,96% menjadi Rp6.045 Juta. Penurunan
berlanjut pada tahun 2023 sebesar negatif 78,93% menjadi Rp1.274 Juta. Pada tahun 2024,
laba usaha meningkat sebesar 37,83% menjadi Rp1.756 Juta. Hingga tahun 2025, laba usaha
meningkat signifikan sebesar 311,63% dan tercatat sebesar Rp7.227 Juta.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 masih fluktuatif. Pada tahun 2021, rugi tahun berjalan tercatat
sebesar Rp28.034 Juta. Pada tahun 2022, rugi meningkat signifikan sebesar 145,56% menjadi
Rp68.851 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, Perusahaan berhasil mencatatkan laba sebesar
Rp121 Juta. Namun demikian, pada tahun 2024 kembali mengalami rugi sebesar negatif
Rp30.230 Juta. Hingga tahun 2025, rugi tahun berjalan tercatat sebesar negatif Rp19.134 Juta.
Tabel 6. Laporan Arus Kas INPS (dalam Juta Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Dec 2025
Kas Neto Diperoleh dari
(Digunakan untuk) Aktivitas 40.336 (7.937) (9.711) 10.442 (103.153)
Operasi
Halaman 21 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 22
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Dec 2025
Kas Neto Diperoleh dari
(Digunakan untuk) Aktivitas 16.189 68.342 15.570 (5.063) (3.893)
Investasi
Kas Neto Diperoleh dari
(Digunakan untuk) Aktivitas (57.951) (58.857) (7.077) (5.600) 107.341
Pendanaan
Penurunan Kenaikan Neto Kas
(1.426) 1.548 (1.218) (221) 295
Dan Setara Kas
Kas Dan Setara Kas Awal Tahun 2.292 866 2.413 1.196 974
Pengaruh perubahan kurs 866 2.413 1.196 974 1.270
Kas Dan Setara Kas Akhir Tahun 40.336 (7.937) (9.711) 10.442 (103.153)
Sumber: Laporan Keuangan INPS
Berikut adalah macam-macam arus kas INPS berdasarkan data historis laporan keuangan
Perusahaan per 31 Desember 2025:
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional INPS per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif Rp103.153Juta.
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi INPS per 31 Desember 2025 adalah
sebesar negatif Rp3.893 Juta.
▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan INPS per 31 Desember 2025 adalah
sebesar Rp107.341 Juta.
2.5. Analisis Laporan Keuangan INPS
Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan INPS dilakukan berdasarkan analisis
terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
berikut:
a. Commonsize statement analysis
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
INPS untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total asetnya,
dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau beban
terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
Laporan Posisi Keuangan Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Dec 2025
Jumlah Aset Lancar 9,27% 12,91% 11,28% 11,43% 20,57%
Jumlah Aset Tidak Lancar 90,73% 87,09% 88,72% 88,57% 79,43%
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 71,16% 78,71% 79,37% 90,91% 42,89%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 6,28% 15,06% 13,50% 21,58% 83,70%
Jumlah Liabilitas 77,44% 93,77% 92,87% 112,50% 126,59%
Jumlah Ekuitas 22,56% 6,23% 7,13% -12,50% -26,59%
Jumlah Liabilitas Dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 22 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 23
Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, pada
periode 31 Desember 2025, proporsi aset lancar terhadap total aset lebih kecil dibandingkan
dengan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset. Pada periode 31 Desember 2025
proporsi aset lancar terhadap total aset adalah 20,57%, dan proporsi aset tidak lancar
terhadap total aset adalah 79,43%.
Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas selama 31 Desember 2021 sampai
dengan periode 31 Desember 2025 lebih kecil dibandingkan dengan proporsi total ekuitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar 126,59% sedangkan proporsi ekuitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas selama periode 31Desember 2025 sebesar negatif
26,59%.
Tabel 8. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (rugi)
Laporan Laba Rugi Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Dec 2025
Pendapatan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Total Beban Usaha -84,24% -86,81% -85,15% -84,93% -83,81%
Laba Bruto 15,76% 13,19% 14,85% 15,07% 16,19%
Laba Usaha 3,08% 2,14% 0,46% 0,62% 2,74%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan -10,14% -24,12% 1,14% -9,85% -6,48%
Laba Tahun Berjalan -10,14% -24,42% 0,04% -10,65% -7,25%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
usaha, laba (rugi) sebelum pajak dan laba (rugi) tahun berjalan pada 31 Desember 2025
secara berturut-turut adalah sebesar 2,74%, -6,48% dan -7,25%.
b. Ratio Analysis
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan INPS.
Tabel 9. Analisis Rasio Keuangan
Rasio Keuangan Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Dec 2025
Rasio Lukuiditas (x)
Cash Ratio 0,13 0,16 0,14 0,13 0,48
Quick Ratio 0,12 0,15 0,13 0,11 0,44
Rasio Profitabilitas (%) 0,00 0,01 0,01 0,00 0,02
Return on Assets
Return on Equity -6,75% -22,17% 0,04% -11,56% -9,94%
Rasio Solvabilitas (%) -29,91% -355,84% 0,58% 92,46% 37,37%
Debt to Assets Ratio
Debt to Equity Ratio 77,44% 93,77% 92,87% 112,50% 126,59%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 23 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 24
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Lancar (current ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini
bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar INPS dapat
menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
maka semakin aman INPS. Rasio lancar INPS pada periode 31 Desember 2025 adalah
sebesar 0,48 kali.
2. Rasio Cepat (Quick Ratio)
rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat INPS pada 31 Desember 2025
adalah sebesar 0,44 kali.
3. Rasio Kas (cash ratio)
Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
INPS pada 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,02 kali.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio laba atas aset (return on asset)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat
menghasilkan laba. Rasio laba atas aset INPS pada 31 Desember 2025 adalah sebesar -
9,94%.
2. Rasio laba atas ekuitas (return on equity)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau keuntungan yang
diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Rasio laba atas ekuitas INPS pada 31
Desember 2025 adalah sebesar 37,37%.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
INPS untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori
ini.
Halaman 24 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 25
1. Rasio total debt terhadap total aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset INPS. Semakin
tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan INPS. Adapun tingkat rasio debt
terhadap total aset INPS 31 Desember 2025 adalah sebesar 126,59%.
2. Rasio total debt terhadap total ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
INPS. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas. Berdasarkan tabel
rasio keuangan INPS diatas dapat dilihat bahwa Rasio tingkat rasio debt terhadap total
ekuitas INPS periode 31 Desember 2025 adalah sebesar -476,05%.
2.6. Prospek Usaha INPS
Secara keseluruhan, prospek usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk menunjukkan potensi
pertumbuhan yang moderat dengan karakter defensif, yang ditopang oleh dominasi segmen BBM
dan SPBU sebagai kontributor utama pendapatan serta didukung oleh bisnis transportasi dan
logistik yang berperan sebagai pendorong peningkatan volume dan efisiensi distribusi. Struktur
pendapatan Perseroan yang berbasis pada distribusi energi menjadikan kinerja usaha relatif stabil
dari sisi permintaan, mengingat produk yang diperdagangkan merupakan kebutuhan pokok
dengan tingkat konsumsi yang konsisten di pasar domestik.
Dari sisi struktur bisnis, keberadaan beberapa lini usaha yang saling terintegrasi meliputi distribusi
BBM, LPG, pelumas, serta jasa transportasi dan logistik memberikan keunggulan kompetitif dalam
bentuk diversifikasi pendapatan dan optimalisasi rantai pasok. Hal ini memungkinkan Perseroan
untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen usaha tertentu sekaligus meningkatkan
efisiensi operasional melalui pemanfaatan aset dan jaringan distribusi secara terpadu. Selain itu,
kontribusi signifikan dari segmen logistik menunjukkan adanya peluang peningkatan margin di
masa mendatang, mengingat segmen tersebut secara umum memiliki fleksibilitas harga yang
lebih tinggi dibandingkan perdagangan energi yang cenderung diatur.
Halaman 25 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 26
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik
Makro Ekonomi Global
Mengutip pada Outlook yang diterbitkan oleh OECD Economic Outlook, bahwa ekonomi global
terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan tahun ini, akan tetapi tetap adanya faktor yang
melandasi kerapuhan pada ekonomi. Secara garis besar ketahanan ekonomi global didukung
oleh kebijakan yang masih luas dan serta meningkatnya investasi dan perdagangan yang
didorong oleh optimisme terhadap perkembangan teknologi AI membantu menjaga permintaan
di berbagai negara terus berjalan. Namun, di balik ketahanan tersebut, terdapat sejumlah
kerentanan struktural yang cukup signifikan, antara lain ketergantungan pada kebijakan moneter
dan fiskal yang suportif, tingginya ketidakpastian perdagangan global akibat potensi kenaikan
tarif dan pembatasan ekspor, serta risiko koreksi di pasar keuangan yang dipicu oleh valuasi aset
yang sudah tinggi. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan global diproyeksikan melambat pada
2026 sebelum kembali pulih secara bertahap, sementara inflasi cenderung menurun menuju
target, meskipun prospeknya tetap sangat bergantung pada bagaimana berbagai risiko tersebut
dapat dikelola ke depan. Pertumbuhan PDB global diproyeksikan melambat dari 3,2% pada tahun
2025 menjadi 2,9% pada tahun 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 3,1% pada tahun
2027.
Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia: Negara Maju dan Emerging Economies (%, yoy)
Average 2013- 2025 2026 2027
Indikator 2024 2025* 2026* 2027*
2019 Q4* Q4* Q4*
Real GDP Growth (%)
World 3.4 3.3 3.2 2.9 3.1 3.0 3.0 3.1
G20 3.5 3.4 3.2 2.9 3.1 2.9 3.0 3.2
OECD 2.3 1.7 1.7 1.7 1.8 1.5 1.8 1.8
United States 2.5 2.8 2.0 1.7 1.9 1.8 1.6 1.9
Euro area 1.9 0.8 1.3 1.2 1.4 1.0 1.5 1.4
Japan 0.8 -0.2 1.3 0.9 0.9 0.5 1.3 0.7
Non-OECD 4.4 4.5 4.4 3.9 4.0 4.1 3.9 4.1
China 6.8 5.0 5.0 4.4 4.3 4.7 4.3 4.3
India 6.8 6.5 6.7 6.2 6.4 - - -
Brazil -0.4 3.3 2.4 1.7 2.2 - - -
OECD Unemployment
6.5 4.9 5.0 5.0 4.9 5.0 5.0 4.9
Rate (%)
Inflation (%)
G20 3.0 6.3 3.4 2.8 2.5 2.9 2.6 2.4
OECD 1.6 5.0 4.2 3.5 2.8 4.2 3.1 2.6
United States 1.3 2.6 2.7 3.0 2.3 3.0 2.9 2.1
Euro area 0.9 2.4 2.1 1.9 2.0 2.0 1.9 2.0
Japan 0.9 2.7 3.2 2.2 2.1 2.7 2.2 2.1
Halaman 26 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 27
Average 2013- 2025 2026 2027
Indikator 2024 2025* 2026* 2027*
2019 Q4* Q4* Q4*
OECD Fiscal Balance
-3.1 -4.7 -4.5 -4.6 -4.6 - - -
(% of GDP)
World Real Trade
3.3 3.9 4.2 2.3 2.8 3.3 2.7 2.9
Growth (%)
Keterangan: *Proyeksi
Sumber: OECD Economic Outlook 118 database
Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Mengutip pada laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025 Bank Indonesia, kinerja ekonomi
Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2025 dan diproyeksikan terus menguat hingga
2026 - 2027. Realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II dan III 2025 tercatat masing-
masing sebesar 5,12% (yoy) dan 5,04% (yoy), meningkat dibandingkan capaian triwulan I 2025
sebesar 4,87% (yoy). Peningkatan ini didorong oleh kinerja ekspor nonmigas yang menguat,
terutama akibat percepatan ekspor ke Amerika Serikat sebagai respons antisipatif terhadap
kebijakan tarif, serta kenaikan ekspor komoditas pertanian dan manufaktur, khususnya minyak
kelapa sawit (Crude Palm Oil ,CPO) ke India seiring penurunan bea masuk. Dari sisi domestik,
pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh meningkatnya investasi swasta dan realisasi berbagai
program prioritas pemerintah, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Konsumsi rumah tangga turut menunjukkan kinerja yang cukup baik sejalan dengan tingginya
mobilitas masyarakat, meskipun masih menghadapi tantangan berupa penurunan ekspektasi
konsumen, terutama pada kelompok menengah ke bawah, serta keterbatasan penciptaan
lapangan kerja. Secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia ke depan diperkirakan akan
terus mengalami perbaikan.
Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia – Sisi Pengeluaran (%, yoy)
2025 2025
Komponen 2023* 2024** 2025 I*** 2025P 2026P 2027P
II*** III***
Pertumbuhan Ekonomi 5,05 5,03 4,87 5,12 5,04 4,7-5,5 4,9-5,7 5,1-5,9
Konsumsi Swasta 4,94 5,11 4,91 5,04 4,87 4,6-5,4 4,9-5,7 4,9-5,7
Konsumsi Pemerintah 3,02 6,61 -1,37 -0,33 5,49 2,0-2,8 7,2-8,0 5,9-6,7
Investasi 3,76 4,61 2,12 6,99 5,04 4,8-5,6 5,6-6,4 6,4-7,2
Ekspor 1,34 6,51 6,44 10,95 9,91 7,7-8,5 4,9-5,7 5,3-6,1
Impor -1,6 7,95 4 11,48 1,18 6,5-7,3 5,0-5,8 5,8-6,6
Sumber: BPS, Bank Indonesia 2025
Mengacu pada laporan Bank Indonesia, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid
pada 2025 ditopang oleh kontribusi hampir seluruh wilayah. Pada triwulan III 2025, pertumbuhan
tertinggi tercatat di wilayah Jawa sebesar 5,17% (yoy), disusul oleh wilayah Sulawesi, Maluku, dan
Papua (Sulampua) sebesar 4,96% (yoy), Sumatra sebesar 4,90% (yoy), Bali dan Nusa Tenggara
(Balinusra) sebesar 4,71% (yoy), serta Kalimantan sebesar 4,70% (yoy). Dari sisi sektoral, kuatnya
pertumbuhan di Jawa didorong oleh peningkatan kapasitas industri dan produksi pertanian,
sementara di Kawasan Timur Indonesia pertumbuhan industri dipacu oleh program hilirisasi
mineral, khususnya nikel, bauksit, dan tembaga.
Dari sisi pengeluaran, investasi menjadi motor utama pertumbuhan, terutama pada kawasan
industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Batang, Kendal, dan Gresik di Jawa, serta
wilayah Sulampua yang didorong hilirisasi nikel, di tengah konsumsi rumah tangga yang masih
relatif terbatas di sebagian besar wilayah. Sementara itu, kinerja ekspor didukung oleh komoditas
Halaman 27 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 28
unggulan masing-masing wilayah, seperti logam di Jawa, minyak kelapa sawit (CPO) dari
Sumatra, serta besi dan baja dari Sulampua, meskipun ekspor batu bara dari Kalimantan
mengalami tekanan akibat melemahnya permintaan global.
5,15 5,15
5,11 5,12 5,11 5,1
5,1
5,05 5,04 5,05 5,04 5,05
5,02
5 5
4,95 4,94 4,95 4,95
4,9 4,9
4,87
4,85 4,85
4,8 4,8
4,75 4,75
4,7 4,7
Q3 2023 Q4 2023 Q1 2024 Q2 2024 Q3 2024 Q4 2024 Q1 2025 Q2 2025 Q3 2025 Q4 2025
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%) Indonesia
Sumber: Badan Pusat Statistik 2025, diolah
Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia – Sektor Lapangan Usaha (c-o-c)
Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi pada 2025 di berbagai wilayah
Sumatra, Jawa, Kalimantan, Balinusra, dan Sulampua. Diperkirakan berada pada kisaran
masing-masing 4,8-5,2%, 4,7-5,5%, 4,3-5,1%, 4,2-5,0%, dan 4,2-4,8%. Ke depan, pada 2026,
pertumbuhan di seluruh wilayah tersebut diproyeksikan meningkat lebih lanjut, mencerminkan
berlanjutnya penguatan aktivitas ekonomi nasional secara lebih merata.
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Spasial Triwulan III 2025 (%, yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2025
Halaman 28 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 29
Perkembangan inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistiktercatat inflasi sebesar 0,17% (mtm), sehingga secara tahunan IHK
mengalami inflasi sebesar 2,72% (yoy). Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada November
2025 sebesar 0,17% sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada November 2025 sebesar
2,27%. Tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada November 2025 sebesar 2,36%; dengan inflasi
m-to-m sebesar 0,17 persen; dan inflasi y-to-d sebesar 2,18%. Inflasi inti pada November 2025
tercatat sebesar 0,17% (mtm), lebih rendah dari realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,39%
(mtm). Realisasi inflasi inti pada November 2025 disumbang terutama oleh komoditas emas
perhiasan. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas
emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga. Secara tahunan, inflasi inti November
2025 tercatat sebesar 2,36% (yoy), stabil dibandingkan realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar
2,36% (yoy). Sedangkan berdasarkan data proyeksi IMF, inflasi Indonesia pada tahun 2025
mencapai 1,68% (yoy) dengan rata-rata proyeksi inflasi tahun 2020 – 2030 sebesar 2,32%.
4,00 3,71
3,50
3,00
2,51 2,50 2,52 2,52
2,50 2,30
2,19
Inflasi (%)
2,00 1,68
1,50
1,00
0,50
-
2023 E 2024 E 2025 F 2026 F 2027 F 2028 F 2029 F 2030 F
Sumber: International Monetary Fund (IMF) Oktober 2025, diolah
Grafik 2. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah tetap relatif stabil yang didukung oleh konsistensi bauran kebijakan moneter
Bank Indonesia serta aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Hingga akhir
Desember 2025, Rupiah tercatat mengalami depresiasi yang terbatas sebesar 1,55%
dibandingkan posisi akhir Desember 2024.
Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh ketidak pastian pasar keuangan global, khususnya terkait
arah kebijakan suku bunga global dan fluktuasi indeks dolar AS. Meski demikian, pelemahan nilai
tukar Rupiah masih relatif terkendali. Dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2024, Rupiah
tercatat terdepresiasi sebesar 1,55%, lebih rendah dibandingkan pelemahan beberapa mata uang
lain seperti Dolar Australia 2,10%, Peso Filipina 3,90%, Dolar Taiwan 4,20%, dan Won Korea
5,80%.
Halaman 29 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 30
Sumber: Bank Indonesia, diolah 2025
Grafik 3. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Negara Kawasan 2025
Suku Bunga
Pada Bulan Desember 2025, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate
sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility
sebesar 5,50%. Keputusan ini diambil sejalan dengan fokus kebijakan jangka pendek pada
stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak
meningkatnya ketidakpastian global, dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran
kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Hal ini juga akan
berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman yang ditetapkan oleh perbankan. Pada
periode Desember 2025, tingkat suku bunga pinjaman Perseroan untuk modal kerja, investasi
dan konsumsi tercatat turun di level 8,12%; 8,44% dan 8,97%.
Tabel 3. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
Bank Persero 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,77 8,34 8,29 8,93 8,67 8,12
Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,87 8,49 8,72 9,41 9,21 8,44
Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,56 10,14 9,65 9,27 9,09 8,97
Sumber: Bank Indonesia Desember 2025, diolah
3.2. Konsisi Pasar Usaha Perseroan
Kondisi Pasar
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen
(c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pertambangan dan
Penggalian yang terkontraksi sebesar 0,66 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan
adalah Jasa Lainnya sebesar 9,93 persen; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,10 persen; serta
Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,78 persen. Sementara itu, Industri Pengolahan; serta
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang memiliki peran dominan
terhadap perekonomian Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 5,30 persen dan 5,49 persen.
Halaman 30 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 31
15 13,96
10,52 9,80 9,93
10 8,38 8,69 9,10 8,78
8,24
4,85 4,89 5,49 5,33 5,30
4,64 4,43
5
1,31 0,68
0
2023 2024 2025
Jasa Lainnya Jasa Perusahaan
Transportasi dan Pergudangan Perdagangan,Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Pertanian, Kehutanan, & Perikanan Industri Pengolahan
Sumber: BPS, diolah (2025)
Grafik 4. Lima Industri Penyumbang Terbesar PDB, 2020-2025
Perkembangan Industri Logistik
Sektor transportasi dan logistik merupakan bagian penting dalam mendukung perdagangan baik
global maupun dalam negeri karena berperan dalam memastikan kelancaran pergerakan barang
dan material antar wilayah maupun antar negara. Kegiatan di dalam sektor ini mencakup
berbagai proses, mulai dari pengangkutan jarak jauh, pengelolaan distribusi, hingga penanganan
kargo khusus. Sejak tahun 2011, biaya logistik terhadap PDB terus berada pada level tinggi,
seperti yang terlihat pada grafik berikut:
14,40% 14,29% 14,29%
14,20% 14,14%
14,00%
13,80%
13,60%
13,36%
13,40%
13,20%
13,00%
12,80%
2020 2021 2022 2023
Sumber: Bappenas, diolah
Grafik 5. Biaya logistik terhadap PDB 2020-2023
Sektor ini menuntut tingkat ketepatan waktu, keandalan, serta kemampuan beradaptasi yang
tinggi untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri. Seiring dengan perkembangan globalisasi
dan kemajuan teknologi, peran transportasi dan logistik menjadi semakin krusial dalam
menghubungkan pasar, mempercepat waktu distribusi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi
secara keseluruhan. Dengan cepatnya pertumbuhan sektor ini, jumlah kendaraan truk juga
mengalami peningkatan setiap tahunnya, tercermin dari data yang menunjukkan kenaikan dari
5.299 unit pada tahun 2021, menjadi 5.544 unit pada 2022, kemudian 6.087 unit pada 2023,
meningkat lagi menjadi 6.277 unit pada 2024, dan mencapai 6.474 unit pada 2025.
Halaman 31 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 32
200.000
180.000
160.000
140.000
120.000
100.000
166.466 172.938
80.000 148.262 159.122
142.002
60.000
40.000
20.000
- 5.299 5.544 6.087 6.277 6.474
2021 2022 2023 2024 2025
Jumlah Kendaraan Bermotor - Truk Jumlah kendaraan Nasional
Sumber: BPS, diolah (2025)
Grafik 6. Perkembangan Jumlah Truk di Indonesia 2021-2025
Dalam sektor transportasi dan logistik, terdapat berbagai lini operasional dengan kebutuhan dan
tantangan yang berbeda-beda, sehingga digunakan beragam jenis moda transportasi yang
disesuaikan secara khusus. Salah satunya adalah penggunaan truk khusus yang dirancang untuk
mendukung kegiatan logistik tertentu sesuai dengan karakteristik barang dan kebutuhan
distribusinya. Berikut beberapa jenis truk yang digunakan terdaftar pada SNI indonesia, untuk
Jenis-Jenis Special Purpose Container.
Tabel 4. Jenis-Jenis Special Purpose Container di Indonesia
No. Jenis Container Standar / Sertifikasi yang Berlaku di Indonesia
DNV 2.7-1 / EN 12071-1
1. Offshore Container
(wajib untuk operasi lepas pantai migas)
Hazardous Material
2. IMDG Code (IMO) 9 kelas bahaya
(Hazmat) Container
ISO 1496-2 : Standar mesin: Carrier, Thermoking, Daikin,
3. Reefer Container
Starcool
ATEX Directive (Ex d / Ex i) -IECEx
4. Blast-Proof Container
(Standar ASCE untuk blast resistance)
Sumber: KLHK RI, Kemenhub RI, dan Supply Chain Indonesia.
Perkembangan Industri Distribusi BBM dan Gas
Pertumbuhan sektor retail BBM dan LPG dari tahun ke tahun menunjukkan dinamika yang
beragam, sebagaimana tercermin dalam kinerja penyaluran oleh PT Pertamina Patra Niaga.
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan
Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, yang telah diubah sebanyak 3 (tiga) kali terakhir melalui
Peraturan Presiden Nomor 117 tahun 2021, Bahan Bakar Minyak dibagi menjadi 3 kategori, yaitu
Jenis BBM Tertentu (JBT) yang terdiri dari minyak tanah (kerosene) dan minyak solar, Jenis BBM
Khusus Penugasan (JBKP) yang berupa bensin RON minimum 90 untuk didistribusikan di wilayah
penugasan dan Jenis BBM Umum (JBU) yang terdiri atas seluruh jenis BBM di luar JBT dan JBKP.
Pada segmen BBM ritel, kinerja mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Setelah tumbuh
sebesar 6,62% pada 2021, volume penyaluran BBM mengalami kontraksi tajam sebesar 15,16%
pada 2022. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap konsumsi, yang
kemungkinan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti penyesuaian harga, pembatasan mobilitas,
Halaman 32 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 33
maupun perubahan perilaku konsumsi energi. Memasuki 2023 hingga 2024, kinerja BBM
cenderung stabil dengan kontraksi yang semakin terbatas (-0,53%) dan kembali mencatat
pertumbuhan positif sebesar 1,26%. Hal ini menunjukkan adanya fase pemulihan, meskipun
pertumbuhan masih relatif terbatas, mengindikasikan bahwa konsumsi BBM mulai mencapai titik
yang lebih mature.Selain itu, ekspansi dan optimalisasi jaringan SPBU turut memperkuat
aksesibilitas dan menjaga stabilitas konsumsi BBM secara berkelanjutan.
64.000 63.038 10,00%
62.000 6,62%
5,00%
60.000 59.126
1,26%
-0,53% 0,00%
58.000
(Kilo Liter)
56.000 -5,00%
53.481 53.867
54.000 53.197
-10,00%
52.000
-15,16% -15,00%
50.000
48.000 -20,00%
2020 2021 2022 2023 2024
Bbm Ritel growth
Sumber:Lakin Pertamina Parta Niaga,Diolah
Grafik 7. Perkembangan kinerja Penjualan Segmen BBM Ritel
Selain faktor volume penyaluran, perkembangan sektor retail BBM juga dipengaruhi oleh
dinamika harga jual eceran yang diatur pemerintah. Hal ini sebagaimana tercermin dalam
kebijakan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 beserta perubahannya, serta ketentuan
teknis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di mana harga jual eceran BBM
ditetapkan oleh badan usaha dengan mengacu pada formula harga tertinggi yang telah
ditentukan.Kebijakan ini menunjukkan bahwa penetapan harga BBM tidak sepenuhnya berbasis
mekanisme pasar, melainkan dipengaruhi oleh faktor kebijakan pemerintah dan dinamika harga
energi global. Dengan demikian, perubahan harga jual eceran memiliki implikasi terhadap pola
konsumsi masyarakat, meskipun permintaan BBM cenderung relatif stabil dalam jangka pendek.
Dengan berpedoman pada ketentuan tersebut, harga jual eceran BBM dalam praktiknya
mengalami fluktuasi secara berkala mengikuti perkembangan harga pasar, namun tetap berada
dalam batas atas yang telah ditetapkan. Hal ini tercermin pada pergerakan harga BBM jenis
bensin dan minyak solar sepanjang tahun 2025 yang menunjukkan tren dinamis dengan
penyesuaian bulanan. Kondisi ini mencerminkan mekanisme penetapan harga yang bersifat semi-
regulated, di mana perubahan harga tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar, namun tidak
sepenuhnya ditransmisikan kepada konsumen. Dengan demikian, volatilitas harga yang terjadi
relatif dapat diredam, sehingga turut menjaga stabilitas konsumsi BBM di tengah dinamika harga
energi global.
Halaman 33 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 34
Sumber: Lakin Kementerian ESDM, 2025
Grafik 8. Perkembangan Harga Jual Eceran BBM jenis umum tahun 2025
Segmen Liquefied Petroleum Gas (LPG) menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil dalam
periode 2020 s.d 2024. Pertumbuhan tercatat sebesar 3,97% pada 2021 dan meningkat
signifikan menjadi 8,74% pada 2022, yang mencerminkan peningkatan permintaan, khususnya
dari sektor rumah tangga dan usaha mikro. Meskipun pertumbuhan sempat mengalami stagnasi
pada 2023 (-0,03%), kinerja kembali menunjukkan perbaikan pada 2024 dengan pertumbuhan
sebesar 1,47%.
Secara umum, stabilitas pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa LPG merupakan
kebutuhan energi yang bersifat esensial, dengan tingkat konsumsi yang relatif terjaga meskipun
terjadi fluktuasi kondisi ekonomi. Hal ini juga menunjukkan bahwa permintaan LPG cenderung
lebih tangguh dibandingkan energi lain yang lebih dipengaruhi oleh dinamika mobilitas dan
aktivitas industri.
80.000 10,00%
68.546 68.528 69.537
70.000 8,74% 9,00%
63.038
8,00%
60.000 7,00%
(Kilo Liter)
50.000 6,00%
5,00%
40.000
3,97% 4,00%
30.000 3,00%
20.000 14.159 2,00%
1,47%
1,00%
10.000 0,00%
-0,03%
0 -1,00%
2020 2021 2022 2023 2024
LPJ growth
Sumber:Lakin Pertamina Parta Niaga,DiolaH
Grafik 9. Perkembangan kinerja Penjualan Segmen Gas LPG
Namun demikian, pertumbuhan LPG khususnya pada segmen tabung 3 kg tidak sepenuhnya
mencerminkan dinamika pasar, mengingat penyalurannya diatur melalui kebijakan kuota oleh
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Berdasarkan data periode 2021 s.d 2025, realisasi
penyaluran LPG 3 kg secara konsisten berada sangat dekat dengan kuota yang ditetapkan,
dengan tingkat penyerapan berkisar antara 97,5% hingga 99,7%.
Halaman 34 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 35
Tingginya tingkat realisasi terhadap kuota tersebut menunjukkan bahwa permintaan LPG subsidi
bersifat stabil dan cenderung fleksibel, terutama karena penggunaannya yang dominan pada
sektor rumah tangga dan usaha mikro. Di sisi lain, kondisi ini juga mengindikasikan bahwa ruang
pertumbuhan LPG subsidi relatif terbatas, karena volume penyaluran sangat bergantung pada
kebijakan kuota yang ditetapkan pemerintah.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga terus
melakukan transformasi sistem distribusi sejak 2023 melalui program Subsidi Tepat LPG berbasis
pendataan digital. Hingga 2025, puluhan juta pengguna telah terdaftar dalam sistem tersebut,
yang bertujuan untuk meningkatkan ketepatan sasaran subsidi serta mengoptimalkan distribusi
LPG di lapangan.
Tabel 5. Kuota dan Realisasi LPG Tabung 3 kg
Realisasi LPG Tabung 3 kg (Juta
Tahun Kuota LPG Tabung 3 kg (Juta MT) Persentase (%)
MT)
2025 8,54 8,52 99,7
2024 8,03 8,23 99,3
2023 8 8,046 99,3
2022 8 7,807 97,5
2021 7,5 7,456 99,4
Sumber: Lakin Kementerian ESDM, 2025
Pangsa Pasar
Berdasarkan perbandingan pendapatan perusahaan-perusahaan terbuka dalam industri yang
sama, total nilai pasar tercatat sebesar Rp1.713.563 juta yang terbagi di antara delapan pelaku
industri utama. PT SAPX menjadi pelaku industri dominan dengan pangsa pasar terbesar, yaitu
30,53% atau setara Rp523.135 juta, diikuti oleh PT PURA dengan pangsa sebesar 21,99% dan
pendapatan Rp376.840 juta. Kedua perusahaan ini secara kolektif menguasai lebih dari separuh
pasar, yaitu sebesar 52,52%, yang mencerminkan tingkat konsentrasi pasar yang cukup tinggi.
Di bawahnya, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar
sebesar 15,40% atau setara Rp263.852 juta. Posisi ini menegaskan peran INPS sebagai salah satu
pelaku industri utama dengan daya saing yang solid, terutama karena mampu mempertahankan
jarak yang cukup signifikan dari kompetitor terdekatnya, PT LAJU yang memiliki pangsa pasar
sebesar 12,47%.Sementara itu, PT LOPI, PT TNCA, PT JAYA, dan PT DEAL secara kolektif
menguasai sekitar 19,61% pangsa pasar, yang menunjukkan bahwa sisa pasar relatif tersebar di
antara pelaku industri lainnya.
Halaman 35 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 36
Market Share (%)
4,31% 3,39%
4,32%
7,59%
30,53%
12,47%
21,99%
15,40%
PT SAPX PT PURA PT INPS PT LAJU
PT LOPI PT TNCA PT JAYA PT DEAL
Sumber: S&P,Diolah 2025
Grafik 10. Pemetaan Pangsa Pasar
Dengan pangsa pasar sebesar 15,40%, INPS memiliki fondasi yang kuat sebagai pelaku industri
terbesar ketiga di industri ini. Meskipun masih terdapat selisih dengan dua pelaku industri teratas,
posisi ini memberikan ruang yang cukup bagi perusahaan untuk memperkuat daya saing dan
secara bertahap mendekati peringkat kedua melalui optimalisasi kinerja operasional dan strategi
pertumbuhan yang tepat.
Pesaing Usaha
Berdasarkan data publik perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT INPS
beroperasi dalam industri dengan jumlah pelaku yang relatif terbatas, yaitu hanya delapan pelaku
industri aktif. Dengan demikian, tingkat persaingan langsung yang dihadapi perusahaan terbatas
pada tujuh kompetitor, jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan industri lain yang
umumnya dihuni oleh puluhan hingga ratusan pelaku usaha. Kondisi ini menunjukkan bahwa
industri tersebut memiliki karakteristik persaingan yang selektif dan tidak terlalu tersebar.
Terbatasnya jumlah pelaku industri tersebut kemungkinan disebabkan oleh tingginya hambatan
masuk (barriers to entry) bagi pendatang baru. Industri ini pada umumnya menuntut kebutuhan
modal yang besar, kepemilikan izin dan regulasi khusus dari pemerintah, infrastruktur operasional
yang kompleks, serta pembangunan jaringan distribusi yang memerlukan waktu dan investasi
jangka panjang. Selain itu, struktur pasar yang terbentuk mengarah pada karakteristik pasar
dengan jumlah pelaku terbatas, di mana sebagian besar pangsa pasar dikuasai oleh segelintir
pelaku industri. Hal ini tercermin dari dominasi dua pelaku utama yang secara kolektif menguasai
lebih dari separuh pasar, yaitu sebesar 52,52%. Di sisi lain, tingkat kematangan industri juga turut
berperan, mengingat pelaku-pelaku yang telah lama beroperasi umumnya memiliki basis
pelanggan yang kuat, skala ekonomi, serta reputasi yang sulit disaingi oleh pendatang baru.
Berikut kompetitor Perseroan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia baik swasta maupun
pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia:
1. PT Satria Antaran Prima Tbk
2. PT Logisticsplus International Tbk
3. PT Dewata Freightinternational Tbk
4. PT Jasa Berdikari Logistics Tbk
Halaman 36 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 37
5. PT Putra Rajawali Kencana Tbk
6. PT Armada Berjaya Trans Tbk
7. PT Trimuda Nuansa Citra Tbk
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa struktur industri yang relatif terkonsentrasi menjadi
faktor yang mendukung stabilitas posisi PT INPS. Dengan menempati peringkat ketiga dari
delapan pelaku industri dan menguasai pangsa pasar sebesar 15,40%, perusahaan dapat
dikategorikan sebagai pelaku yang telah mapan dan memiliki peran yang signifikan dalam
industri, dengan prospek keberlanjutan posisi yang relatif terjaga dalam jangka menengah hingga
panjang.
3.3. Strategi Kelayakan Aspek Pasar
Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, Perseroan telah menetapkan berbagai
strategi usaha ekspansif dalam memperluas jangkauan pengiriman barang. Selain untuk
memenuhi target pertumbuhan pendapatan, langkah ini juga diarahkan untuk dapat menjangkau
pelanggan potensial. Di sisi lain, menjaga kepercayaan, ketepatan waktu, dan keamanan
pengiriman secara profesional maupun personal, menjadi faktor standar yang harus
dipertahankan agar Perseroan menjadi pilihan utama pelanggan dalam memenuhi kebutuhan
pengiriman barang.
Beberapa strategi pemasaran Perseroan dalam hal pengembangan dan pemasaran, di
antaranya:
a. Mengakuisisi pasar pesaing;
b. Konsumen yang loyal;
c. Melakukan penetrasi pasar dengan menambah jaringan pemasaran;
d. Menjalin komunikasi baik dengan pelanggan serta memberikan layanan yang unggul;
e. Pelayanan yang tepat waktu sesuai jadwal dan kontrak yang disepakati.
3.4. Prospek Industri
PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) memiliki prospek pertumbuhan yang positif, didukung oleh
posisinya sebagai pelaku industri terbesar ketiga dengan pangsa pasar sebesar 15,40%.
Pencapaian ini mencerminkan fondasi bisnis yang kuat, terutama mengingat industri yang bersifat
terkonsentrasi dan memiliki hambatan masuk yang tinggi. Selain memberikan stabilitas, struktur
pasar tersebut juga menciptakan peluang pertumbuhan yang terukur, di mana selisih sekitar 6,6
poin persentase dengan pelaku di posisi kedua masih terbuka untuk dipersempit melalui strategi
ekspansi dan peningkatan kinerja operasional.
Di sisi lain, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam
menjaga momentum kinerja dan meningkatkan daya saing. Ancaman kompetitif dari pelaku di
bawahnya perlu diantisipasi, sementara efisiensi operasional dan inovasi layanan menjadi faktor
kunci untuk memperkuat posisi di pasar. Secara keseluruhan, dengan kombinasi posisi pasar yang
solid dan ruang pertumbuhan yang masih tersedia, INPS berada pada jalur yang prospektif untuk
memperkuat perannya di industri dalam jangka menengah hingga panjang.
Halaman 37 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 38
3.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar
Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas
perdagangan, baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran
pergerakan barang dan material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya
pada segmen logistik dan distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar
cenderung terkonsentrasi dan didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok
pembanding yang ada, terdapat tiga perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
(INPS) yang menguasai sebagian besar pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan
hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru.
Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan
yang relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas
operasional yang kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan
maupun meningkatkan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
Halaman 38 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 39
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1. Bisnis Perusahaan
Dalam kondisi industri energi dan logistik yang dinamis serta penuh tantangan, Perseroan
meyakini tetap memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan potensi
pasar yang tersedia. Saat ini Perseroan berfokus pada penguatan bisnis inti di bidang distribusi
BBM dan pengelolaan SPBU yang menjadi kontributor utama pendapatan, serta pengembangan
segmen transportasi dan logistik sebagai pendorong efisiensi dan peningkatan volume usaha.
Dengan jaringan distribusi yang telah dimiliki, hubungan bisnis dengan pelanggan utama, serta
pengalaman operasional di sektor energi, Perseroan memiliki posisi yang cukup kompetitif dalam
industri.
Didukung oleh permintaan energi domestik yang relatif stabil, khususnya pada segmen BBM dan
LPG yang merupakan kebutuhan pokok, Perseroan memproyeksikan pertumbuhan usaha yang
berkelanjutan dalam jangka menengah. Selain itu, sebagai langkah diversifikasi usaha, Perseroan
berencana untuk memperkuat lini bisnis logistik dan distribusi energi dengan meningkatkan
kapasitas armada, optimalisasi jaringan distribusi, serta pengembangan layanan logistik yang
memiliki nilai tambah lebih tinggi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional
sekaligus memperluas pangsa pasar Perseroan.
Di sisi lain, Perseroan juga mempertimbangkan penguatan struktur usaha melalui pengembangan
fungsi holding guna mendukung ekspansi bisnis yang lebih fleksibel dan terintegrasi. Dengan
strategi tersebut, Perseroan diharapkan mampu mengelola berbagai lini usaha secara lebih
optimal serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Dengan mempertimbangkan lokasi operasional yang strategis, basis pelanggan yang kuat, serta
strategi pengembangan usaha yang adaptif, Perseroan optimis dapat meningkatkan kinerja usaha
di masa yang akan datang. Diharapkan langkah-langkah strategis yang direncanakan dapat
memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan serta memberikan kontribusi positif
bagi para pemangku kepentingan.
4.2. Rencana Pembentukan Entitas Anak
Dinamika pertumbuhan sektor logistik dan distribusi di Indonesia yang terus berkembang
mendorong peningkatan kebutuhan akan keandalan armada operasional, khususnya dalam hal
pemeliharaan dan ketersediaan suku cadang (sparepart). Kebutuhan tersebut mencakup baik
komponen yang bersifat rutin (fast moving) maupun komponen kritikal yang berpengaruh
langsung terhadap kinerja dan keselamatan kendaraan. Seiring dengan meningkatnya aktivitas
distribusi barang dan jasa, permintaan terhadap sparepart kendaraan logistik diperkirakan akan
terus mengalami pertumbuhan.
Selain itu, kondisi ekonomi global dan domestik yang fluktuatif, termasuk dampak dari dinamika
geopolitik dan perubahan harga komoditas, turut mempengaruhi biaya operasional sektor
logistik. Dalam hal ini, efisiensi pengelolaan armada, termasuk pengadaan sparepart yang tepat
waktu dan kompetitif, menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha para pelaku
industri.
Halaman 39 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 40
Melihat kondisi tersebut, Perseroan memandang adanya peluang strategis untuk melakukan
diversifikasi usaha di luar kegiatan usaha utama melalui pengembangan bisnis perdagangan
sparepart, khususnya untuk kendaraan logistik. Rencana ini diharapkan tidak hanya dapat
membuka sumber pendapatan baru, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui
sinergi dengan kegiatan usaha Perseroan, terutama dalam mendukung efisiensi operasional
armada internal maupun ekosistem bisnis terkait. Oleh karenanya Perseroan perlu menuntaskan
proyeksi-proyeksi yang telah direncanakan, sehingga Perseroan berencana untuk Pengembangan
Usaha dengan berinvestasi pada Entitas Baru. Bahwa dalam mendirikan Entitas Anak, maka
Perseroan perlu menambahkan Bidang Usaha baru dalam Kegiatan usahanya yaitu KBLI 64200,
Aktifitas Perusahaan Holding. Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding
companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan
kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat
dalam kegiatan usaha perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan
penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi
perusahaan.
Pendirian Entitas Anak
Pada pendirian Entitas Anak dilakukan setelah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Pendirian ini melibatkan PT Graha Inti Guna Persada yang juga pemegang saham Perseroan
dalam hal ini PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.
Struktut Kepemilikan pada Entitas Anak
Pada pendirian Entitas Anak, Perseroan akan mengambil porsi saham sebesar 99,00% dan PT
Graha Inti Guna Persada sebesar 1,00% dari rencana modal ditempatkan, dengan rincian
sebagai berikut:
Modal Dasar :-
Modal Ditempatkan dan Disetor : 10.000.000.000
Persentase Kepemilikan Perseroan : 99,00%
Persentase kepemilikan Lainnya : 1,00%
4.3. Proses Bisnis Entitas Anak
Proses bisnis entitas anak yang direncanakan bergerak di bidang perdagangan sparepart
kendaraan logistik disusun dengan mengacu pada model usaha distribusi dan perdagangan pada
umumnya, dengan penyesuaian terhadap karakteristik produk serta kebutuhan pasar. Secara
garis besar, proses bisnis akan mencakup tahapan pengadaan, pengelolaan persediaan,
penjualan, hingga distribusi kepada pelanggan.
Pada tahap awal, kegiatan operasional akan diawali dengan proses identifikasi kebutuhan pasar
dan penentuan jenis produk sparepart yang akan diperdagangkan, baik yang bersifat fast moving
maupun komponen kritikal lainnya pada industri sparepart. Selanjutnya, entitas anak akan
melakukan seleksi dan penunjukan pemasok (supplier), baik dari dalam negeri, dengan
mempertimbangkan aspek harga, kualitas, serta kontinuitas pasokan. Setelah proses pengadaan,
sparepart akan disimpan dalam fasilitas gudang yang dikelola oleh entitas anak. Dalam hal ini,
pengelolaan persediaan menjadi salah satu aspek penting, mengingat karakteristik bisnis yang
Halaman 40 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 41
sangat bergantung pada ketersediaan barang dan kecepatan distribusi. Oleh karena itu, entitas
anak direncanakan akan menerapkan sistem manajemen persediaan (inventory management)
untuk mengoptimalkan tingkat stok serta meminimalkan risiko kelebihan atau kekurangan
barang.
Pada sisi penjualan, entitas anak akan memasarkan produk kepada segmen pelanggan yang
meliputi perusahaan logistik, operator armada, bengkel, serta pelanggan lainnya yang
membutuhkan sparepart kendaraan niaga. Penjualan dapat dilakukan melalui mekanisme
business-to-business (B2B) maupun secara terbatas melalui saluran lainnya sesuai dengan
perkembangan usaha. Selain itu, entitas anak juga akan melakukan fungsi administrasi dan
pelaporan, termasuk pencatatan transaksi penjualan, pembelian, serta penyusunan laporan
keuangan secara berkala. Sistem dan prosedur operasional yang diterapkan akan disesuaikan
dengan skala usaha serta kebutuhan pengendalian internal.
4.4. Teknis Pelaksanaan Sebagai Holding
Dalam rangka mendukung rencana pengembangan usaha melalui pembentukan entitas anak,
Perseroan berencana untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan holding yang berperan
dalam pengelolaan, pengendalian, serta pengawasan terhadap entitas anak. Pelaksanaan fungsi
holding tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan organisasi,
sumber daya, serta kompleksitas kegiatan usaha.
Secara umum, peran Perseroan sebagai holding akan difokuskan pada aspek pengendalian
strategis, termasuk penetapan arah kebijakan, pengawasan kinerja, serta pengelolaan investasi
pada entitas anak. Dalam hal ini, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan
operasional harian entitas anak, melainkan bertindak sebagai pengendali (controlling entity) yang
memastikan bahwa seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan strategi dan tata kelola yang
telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya, Perseroan direncanakan akan menetapkan struktur tata kelola
(governance structure) yang mencakup pembagian peran dan tanggung jawab antara holding dan
entitas anak. Fungsi-fungsi strategis seperti perencanaan korporasi, pengendalian keuangan,
manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap regulasi akan dikoordinasikan oleh Perseroan
sebagai holding, sementara fungsi operasional akan dijalankan oleh entitas anak.
4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan
entitas anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan
sparepart dinilai memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan
mengacu pada model bisnis distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar
yang berkelanjutan. Kehadiran entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi
operasional, khususnya dalam penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka
peluang diversifikasi sumber pendapatan bagi Perseroan.
Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai
pelaksana operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih
terintegrasi, termasuk dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan
konsolidasian.
Halaman 41 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 42
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Kegiatan Utama Usaha
Maksud dan tujuan dari Perseroan ialah berusaha dalam bidang Perdaangan, Pembangunan,
Pertanian, Pertambangan, Industri, Percetakan Pengangkutan dan Jasa.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas Perseroan dapat melaksanakan kegiatan
usaha sebagai berikut:
a. Kegiatan Usaha Utama
1. Pergudangan Dan Penyimpanan (52101)
Kelompok ini mencakup usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan barang
sementara sebelum barang tersebut di kirim ke tujuan akhir, dengan tujuan komersil
b. Kegiatan Usaha Penunjang
1. Aktivitas Bounded Warehousing Atau Wilayah Kawasan Berikat (52103)
Kelompok ini mencakup usaha atau kegiatan yang merupakan bagian dari wilayah
pabean yang dengan peraturan pemerintah diberikan perlakuan khusus seperti berada
di luar wilayah pabean dan dikelola oleh suatu badan berbentuk perusahaan yang
melakukan kegiatan pergudangan, seperti Daerah Industri Pulau Batam
2. Pergudangan Dan Penyimpanan Lainnya (52109)
Kelompok ini mencakup usaha pergudangan dan penyimpanan lainnya yang belum
tercakup dalam kelompok 52101 s.d. 52103.
5.2 Penambahan Kegiatan Usaha
Manajemen PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memandang bahwa rencana pengembangan usaha,
khususnya dalam bidang perdagangan (trading) sparepart, perlu dijalankan melalui entitas
tersendiri agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu memberikan
kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Selain itu, pembentukan entitas anak
diharapkan dapat mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam
pengelolaan dan pengembangan bisnis.
Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan
penambahan kegiatan usaha dengan mengadopsi fungsi sebagai perusahaan holding. Langkah
ini diperlukan agar Perseroan memiliki landasan hukum dan struktur usaha yang memadai dalam
membentuk serta mengelola entitas anak, termasuk yang bergerak di bidang perdagangan
sparepart industri yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan usaha logistik Perseroan.
Halaman 42 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 43
Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
berikut:
Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha
Nama KBLI : Aktivitas Perusahaan Holding
Kode KBLI : 64200
Kelompok ini mencakup kegiatan perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan
yang memiliki dan mengendalikan aset dari satu atau lebih perusahaan subsidiari, dengan
kegiatan utama berupa kepemilikan atas entitas tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara
langsung menjalankan kegiatan operasional dari entitas anak, melainkan berperan dalam
pengelolaan strategis, pengawasan kinerja, serta pengambilan keputusan investasi. Kegiatan
holding juga dapat mencakup dukungan dalam perencanaan pengembangan usaha, termasuk
kajian atas kerja sama strategis, merger, maupun akuisisi yang relevan dengan strategi
pertumbuhan Perseroan.
5.3 Keunggulan Kompetitif
Dalam konteks pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI sebagai perusahaan
holding, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari
kemampuannya dalam mendukung dan mengintegrasikan kegiatan usaha dalam satu grup.
Perseroan tidak hanya berperan sebagai entitas operasional di sektor distribusi BBM dan logistik,
namun juga memiliki potensi untuk menjadi pusat pengelolaan strategis yang mampu
mengoptimalkan sinergi antar lini usaha.
Keunggulan utama Perseroan terletak pada kemampuannya dalam mendukung usaha dalam
grup (group support), baik melalui pemanfaatan jaringan distribusi yang telah dimiliki,
pengelolaan armada logistik, maupun hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha. Dengan
adanya struktur holding, Perseroan dapat mengarahkan pengembangan usaha secara lebih
terkoordinasi, termasuk dalam mendukung operasional entitas anak yang bergerak di bidang
trading atau perdagangan khususnya pada bidang sparepart. Hal ini menciptakan efisiensi biaya,
peningkatan keandalan operasional, serta memperkuat posisi tawar terhadap pemasok dan
pelanggan.
Selain itu, pola bisnis yang terintegrasi memungkinkan Perseroan untuk mengembangkan
ekosistem usaha (business ecosystem) yang saling mendukung, dimana kebutuhan internal seperti
pengadaan sparepart dapat dipenuhi secara mandiri, sekaligus membuka peluang pasar
eksternal. Pendekatan ini memberikan nilai tambah dibandingkan kompetitor yang beroperasi
secara terpisah tanpa dukungan ekosistem internal.
Dengan demikian, keunggulan kompetitif Perseroan tidak hanya terletak pada masing-masing lini
usaha, tetapi pada kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan sinergi antar entitas
dalam grup secara efektif. Hal ini menjadi faktor pembeda utama yang mendukung keberhasilan
implementasi pola bisnis berbasis holding serta meningkatkan daya saing Perseroan di industri.
Halaman 43 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 44
5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Dari sisi produk, perdagangan sparepart pada dasarnya merupakan bisnis yang bersifat umum
dan relatif mudah dimasuki oleh pelaku usaha lain, sehingga tingkat diferensiasi produk
cenderung terbatas. Namun demikian, keunggulan Perseroan tidak semata-mata terletak pada
produk, melainkan pada pola bisnis terintegrasi dan ekosistem usaha yang telah terbentuk.
Pesaing pada umumnya perlu membangun jaringan distribusi, hubungan dengan pelanggan,
serta sistem operasional yang terintegrasi dari awal, yang memerlukan waktu, biaya, dan skala
usaha yang tidak kecil. Selain itu, keberadaan captive market internal serta dukungan operasional
dari bisnis existing menjadi faktor yang sulit direplikasi dalam jangka pendek. Dengan demikian,
meskipun produk dapat ditiru, keseluruhan model bisnis dan sinergi yang dimiliki Perseroan relatif
lebih sulit untuk disamai oleh pesaing.
5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai
Pola bisnis berbasis holding memberikan ruang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah
melalui beberapa aspek strategis sebagai berikut:
1. Dari sisi efisiensi operasional, integrasi antara bisnis logistik dan perdagangan sparepart
memungkinkan optimalisasi pengadaan, distribusi, serta pemeliharaan armada, yang pada
akhirnya dapat menekan biaya operasional
2. Dari sisi diversifikasi pendapatan, penambahan lini usaha trading sparepart memberikan
sumber pendapatan baru yang tidak hanya bergantung pada distribusi energi, sehingga
meningkatkan ketahanan usaha terhadap fluktuasi sektor tertentu.
3. Dari sisi penguatan rantai nilai (value chain), Perseroan dapat mengendalikan sebagian
kebutuhan penting dalam operasionalnya, sehingga meningkatkan keandalan dan kualitas
layanan. Keempat, dari sisi fleksibilitas pengembangan usaha, struktur holding memungkinkan
Perseroan untuk melakukan ekspansi lebih lanjut, baik melalui pembentukan entitas baru
maupun kerja sama strategis. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan tidak hanya
mendukung pertumbuhan, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai perusahaan secara
berkelanjutan.
5.6 Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.
Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
internal serta dinamika eksternal yang dihadapi.
Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana Penambahan KBLI Holding Perusahaan pada PT
Indah Prakasa Sentosa Tbk:
Halaman 44 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 45
Strengths (Kekuatan)
• Bisnis inti yang sudah ada di distribusi BBM dan pengelolaan SPBU, didukung permintaan
energi domestik yang relatif konsisten sehingga memberikan dasar pendapatan yang kuat.
• Jaringan distribusi dan infrastruktur logistik yang telah berjalan, memungkinkan efisiensi
operasional serta kemudahan dalam pengembangan lini usaha baru.
• Hubungan bisnis dan basis pelanggan yang sudah terbentuk, memberikan akses pasar yang
jelas tanpa harus membangun dari awal.
• Potensi sinergi operasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sparepart untuk armada
internal sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya dan keandalan operasional.
Weaknesses (Kelemahan)
• Pengalaman di bisnis sparepart masih terbatas, sehingga diperlukan masa penyesuaian di
awal operasional yang dapat mempengaruhi efektivitas usaha.
• Peningkatan kompleksitas struktur organisasi akibat perubahan menjadi holding, yang
memerlukan penguatan tata kelola dan koordinasi antar entitas.
• Kebutuhan modal kerja yang cukup besar, terutama untuk pengadaan dan pengelolaan
persediaan sparepart yang bersifat inventory-based.
• Potensi terbagi fokus manajemen, antara pengelolaan bisnis inti yang sudah berjalan dengan
pengembangan usaha baru.
Opportunities (Peluang)
• Pertumbuhan sektor logistik dan transportasi, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan
akan pemeliharaan armada dan ketersediaan sparepart.
• Permintaan sparepart yang berkelanjutan, baik untuk komponen fast moving maupun critical
parts yang dibutuhkan secara rutin.
• Adanya captive market, yaitu kebutuhan internal armada Perseroan serta jaringan mitra usaha
yang sudah ada.
• Diversifikasi sumber pendapatan, yang dapat mengurangi ketergantungan pada bisnis inti dan
meningkatkan ketahanan usaha.
Threats (Ancaman)
• Persaingan industri yang tinggi, baik dari distributor besar maupun pemain lokal yang telah
lebih dulu beroperasi di bisnis sparepart.
• Fluktuasi harga dan ketergantungan pada pemasok, terutama jika sparepart berasal dari
impor yang dipengaruhi nilai tukar dan kondisi global.
• Risiko gangguan rantai pasok, yang dapat mempengaruhi ketersediaan barang dan
kelancaran operasional.
• Kewajiban regulasi dan kepatuhan yang lebih kompleks, khususnya sebagai perusahaan
terbuka dan holding dalam mengelola transaksi antar entitas.
Secara keseluruhan, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memiliki kekuatan yang solid dari sisi bisnis
inti, jaringan, dan basis pelanggan yang mampu mendukung pengembangan usaha baru, serta
peluang pasar yang terbuka seiring pertumbuhan sektor logistik dan kebutuhan sparepart yang
berkelanjutan; meskipun terdapat kelemahan seperti keterbatasan pengalaman dan peningkatan
kompleksitas organisasi, serta ancaman dari persaingan, fluktuasi harga, dan risiko rantai pasok,
Halaman 45 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 46
faktor-faktor tersebut pada prinsipnya masih dapat dikelola dengan strategi dan tata kelola yang
tepat, sehingga rencana pengembangan usaha melalui pembentukan holding dan bisnis trading
sparepart secara umum dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan.
5.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis
Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah
Prakasa Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha
trading khususnya sparepart secara umum layak untuk dijalankan. Hal ini didukung oleh kondisi
bisnis inti yang sudah stabil, jaringan usaha yang telah terbentuk, serta adanya peluang sinergi
dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan kebutuhan internal (captive market). Selain
itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi pendapatan dan meningkatkan efisiensi
operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan pengalaman di bisnis
baru, kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas pengelolaan, risiko tersebut masih dapat
diatasi dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, pola bisnis yang
direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
peningkatan nilai Perseroan ke depan.
Halaman 46 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 47
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen
Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan PT Indah Prakasa
Sentosa Tbk dalam menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan
pertumbuhan usaha yang berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia
yang berkualitas, adaptif, serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri.
Oleh karena itu, Perseroan secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan
kompetensi karyawan guna mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan
kebutuhan operasional dan strategi bisnis.
Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
operasional.
Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk adalah sebagai
berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Lies Erliawati Winata
Komisaris : Ir. Hadi Avila Tamzil
Dewan Direksi
Direktur Utama : Eddy Purwanto Winata
Direktur : Jerry Erfansyah, SE
Komite Audit
Ketua : Hadi Avilla Tamzil
Anggota : Ari Binsar
Anggota : Achmad Syafei
Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
kebijakan perusahaan secara efektif.
Halaman 47 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 48
Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sehubungan dengan penambahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, PT Indah
Prakasa Sentosa Tbk telah mengembangkan strategi untuk mempertahankan jajaran manajemen
dan staf operasional yang ada, dengan pertimbangan bahwa pengalaman dan keahlian mereka
sangat relevan untuk mendukung lini usaha Perseroan setelah penambahan kegiatan usaha.
Hingga 31 Desember 2025, Perseroan memiliki 123 karyawan, dimana dengan kondisi saat ini
sebagian dari karyawan dapat dipergunakan dalam rencana fokus pada fungsi strategis
pengelolaan investasi, pengawasan, serta koordinasi dengan entitas anak. Jumlah tenaga kerja
yang ada dinilai memadai untuk menunjang operasional yang berjalan, sejalan dengan
karakteristik usaha holding yang lebih menitikberatkan pada pengelolaan manajemen dibanding
aktivitas operasional langsung. Perseroan juga berupaya mengoptimalkan kapasitas sumber daya
manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas, peningkatan kompetensi, serta pemanfaatan
tenaga kerja secara efektif.
6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual
Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).
Sehubungan dengan kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk yang bergerak di bidang
perdagangan dan distribusi, aspek kekayaan intelektual yang relevan umumnya meliputi merek
dagang, identitas usaha, serta sistem dan jaringan distribusi yang mendukung operasional
Perseroan.
6.4 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
1. Risiko Ketergantungan Usaha
Rencana sebagai perusahaan holding, kinerja Perseroan sangat bergantung pada portofolio
investasinya. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor, wilayah, atau entitas
tertentu dapat meningkatkan volatilitas pendapatan, khususnya ketika sektor tersebut
menghadapi tekanan pasar atau pengetatan regulasi. Untuk memitigasi risiko ini, Perseroan
dapat membangun portofolio yang lebih seimbang melalui diversifikasi investasi lintas sektor
maupun wilayah, menetapkan batas eksposur maksimum terhadap satu entitas, serta
melakukan peninjauan berkala atas kontribusi dan kinerja masing-masing investasi.
Halaman 48 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 49
2. Risiko Regulasi
Perusahaan holding tidak hanya terikat pada aturan terkait kepemilikan, tetapi juga
terdampak oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha anak perusahaan. Perubahan
kebijakan pemerintah, seperti kenaikan tarif pajak, atau perubahan aturan lingkungan, dapat
menekan profitabilitas anak usaha dan mengurangi daya tarik investasi. Mitigasinya adalah
dengan memperkuat fungsi kepatuhan di tingkat holding, membangun komunikasi aktif
dengan regulator, berpartisipasi dalam asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan,
serta menyiapkan rencana kontinjensi agar anak usaha dapat beradaptasi lebih cepat
terhadap perubahan regulasi.
3. Risiko Manajemen Investasi
Keputusan investasi yang kurang tepat, seperti akuisisi dengan valuasi terlalu tinggi atau
penyertaan modal pada bisnis yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini juga muncul ketika proses pengawasan
pasca investasi lemah sehingga kinerja anak usaha tidak sesuai ekspektasi. Untuk mengurangi
risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis dan seleksi investasi dengan melibatkan
konsultan independen. Selain itu, pemantauan kinerja anak usaha harus dilakukan secara
periodik, sehingga langkah korektif dapat segera diambil jika terdapat ketidaksesuaian
dengan target.
4. Risiko Keuangan
Struktur permodalan holding sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
ekuitas maupun utang. Di sisi lain, risiko likuiditas timbul jika arus dividen dari anak usaha
tidak stabil atau tertunda, sehingga holding mengalami kesulitan memenuhi kewajiban jangka
pendeknya. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu menjaga struktur modal yang optimal
dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat, dan melakukan diversifikasi sumber
pendanaan. Cadangan kas yang memadai juga harus dijaga untuk menghadapi
ketidakpastian arus kas masuk dari anak usaha.
6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Manajemen PT Indah Prakasa Sentosa (INPS) pada dasarnya memiliki pengalaman dan
kompetensi yang memadai dalam mengelola kegiatan usaha yang bergerak di bidang distribusi,
logistik, serta perdagangan, yang menjadi fondasi utama dalam pengembangan struktur holding
ke depan. Pengalaman operasional yang telah berjalan menunjukkan bahwa manajemen
memiliki pemahaman yang baik terhadap rantai pasok, pengelolaan jaringan distribusi, serta
hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha.
Dalam pembentukan sebagai perusahaan dengan bidang usaha holding, kemampuan
manajemen INPS tercermin dari beberapa aspek utama. Pertama, dari sisi strategis, manajemen
dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang terintegrasi antar entitas anak,
termasuk dalam menentukan positioning bisnis, sinergi operasional, serta optimalisasi sumber
daya yang dimiliki grup. Hal ini menjadi penting mengingat model holding menuntut adanya
koordinasi lintas entitas yang efektif.
Halaman 49 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 50
Penambahan kegiatan usaha sebagai holding tidak akan mengubah operasional Perseroan,
melainkan memperkuat fungsi utamanya dalam pengelolaan investasi pada entitas anak dan
entitas asosiasi.
6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha sebagai holding, Perseroan tidak
melakukan perubahan/penambahan terhadap struktur organisasi pada level Perseroan.
Sementara penambahan struktur organisasi dan manajemen akan dibentuk pada level entitas
anak untuk mendukung operasional anak perusahaan anak perusahaan nanti kedepan.
Perusahaan dapat mempertimbangkan penambahan dan pelebaran struktur organisasi dan
manajemen kedepan mengikuti kebutuhan personalia akibat dari ekspansi bisnis grup usaha
perseroan.
Tabel 12. Struktur Organisasi Perseroan
Sumber: Informasi Manajemen INPS
6.7 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang
sederhana, namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-
jabatan dimaksud, serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang
kompeten pada bidang yang sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang
baru secara afektif dan efisien serta didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan
pembagian tugas yang jelas dari seluruh personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.
Halaman 50 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 51
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, diantaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.
7.1 Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka
mendukung penambahan KBLI Holding terkait pendirian anak usaha baru. Estimasi biaya
investasi dihitung dengan mengakumulasi potensi biaya awal yang timbul berupa biaya atas
investasi setoran modal, dan biaya terkait lainnya.
Tabel 6. Rencana Kebutuhan Biaya Investasi INPS untuk pendirian Entitas Anak
Biaya Investasi INPS untuk Pendirian Entitas Anak Nominal Investasi (Rp)
Setoran Modal Pendirian Entitas Anak (Bagian INPS) 9.900.000.000
Sumber: informasi manajemen, diolah
7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi
Biaya Investasi dalam rangka rencana pendirian Entitas anak adalah sebesar Rp9.900.000.000,-
untuk porsi kepemilikan 99,00% kepada entitas anak yang dananya bersumber 100% dari modal
sendiri (Kas Perseroan dan sumber daya internal) dengan skema pembayaran dana setoran
modal dilakukan dengan 2 tahap pada Bulan Juni dan September 2026 masing-masing sebesar
Rp4.950.000.000,-, Sedangkan terkait dengan kebutuhan Modal kerja atas kegiatan operasional
entitas anak sepenuhnya akan bersumber dari Modal yang telah disetorkan oleh INPS dan
penyetor modal lainnya.
7.3 Proyeksi Keuangan Entitas Anak
Dalam melakukan analisa pada aspek keuangan dilakukan dengan melihat dari dampak atas
prospek bisnis yang tercermin dari proyeksi keuangan berdasarkan bisnis yang dijalankan oleh
INPS selaku operational Holding Serta entitas yang akan beroperasi selaku entitas anak dari INPS.
Dalam rangkaian studi kelayakan penambahan KBLI Holding, salah satu aspek krusial yang perlu
dianalisis adalah proyeksi keuangan dari entitas anak. Sebagai perusahaan terbuka yang
berencana memperluas ruang lingkup kegiatan usaha melalui fungsi holding, keberhasilan
strategi ini sangat bergantung pada kinerja finansial portofolio anak perusahaan.
Proyeksi keuangan tidak hanya memberikan gambaran mengenai potensi pendapatan, laba, dan
arus kas di masa mendatang, tetapi juga menjadi dasar untuk menilai kemampuan entitas anak
dalam mendukung struktur holding. Dengan demikian, analisis ini berfungsi sebagai jembatan
antara rencana korporasi dan realitas operasional, memastikan bahwa penambahan KBLI
Holding tidak sekadar formalitas administratif, melainkan langkah strategis yang didukung oleh
data finansial yang solid.
Halaman 51 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 52
Bisnis yang akan dijalankan oleh entitas anak akan berfokus kepada industri trading
(perdagangan) dengan fokus utama atas produk yang akan diperdagangkan lebih berpusat
kepada perdagangan produk sparepart otomotif.
Tabel 7. Proyeksi Posisi Keuangan Rencana Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Aset Lancar 10.550.760 12.338.603 13.311.466 14.588.622 16.232.523
Aset Tidak Lancar 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset 10.649.926 12.437.770 13.410.633 14.687.788 16.331.690
Liabilitas Lancar 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Liabilitas Jangka - - - - -
Panjang
Total Liabilitas 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Total Ekuitas 10.135.315 10.612.381 11.303.830 12.256.277 13.525.527
Total Liabilitas dan 10.649.926 12.437.770 13.410.633 14.687.788 16.331.690
Ekuitas
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Total aset didominasi oleh kas hasil setoran modal, sementara
piutang dan persediaan masih terbatas karena aktivitas operasional baru dimulai, Liabilitas pada
periode ini masih tercatat rendah yang mencerminkan minimnya kewajiban jangka pendek
maupun jangka panjang.
Pada Periode Pertumbuhan (2027-2030) Laporan Posisi Keuangan mulai mencerminkan
perkembangan operasional yang terlihat dari meningkatnya Aset Lancar seiring bertambahnya
piutang usaha dan persediaan. Begitu juga pada sisi Liabilitas yang ikut meningkat akibat dari
peningkatan utang usaha, sedangkan dari sisi Ekuitas terlihat semakin menguat akibat adanya
akumulasi laba ditahan sehingga posisi keuangan lebih mandiri dan tidak hanya bergantung
kepada setoran modal awal.
Tabel 8. Proyeksi Laporan Laba Rugi Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Pendapatan Bersih 5.726.694 13.298.745 15.441.423 17.929.327 20.818.080
Beban Pokok (4.810.423) (11.104.452) (12.816.381) (14.791.695) (17.070.825)
Pendapatan
Laba Bruto 916.271 2.194.293 2.625.042 3.137.632 3.747.254
Beban Penjualan (200.434) (465.456) (540.450) (627.526) (728.633)
Beban Adm. & (570.989) (1.183.708) (1.275.326) (1.378.667) (1.495.469)
Umum
Penghasilan Lain- 57.267 132.987 154.414 179.293 208.181
lain
Beban Lain-lain (28.633) (66.494) (77.207) (89.647) (104.090)
Laba Sebelum 173.481 611.623 886.474 1.221.086 1.627.243
Pajak Penghasilan
Beban Pajak (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
Penghasilan
Halaman 52 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 53
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Laba Tahun 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
Berjalan
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Pendapatan bersih sebesar Rp5,73 miliar, dengan beban
pokok Rp4,81 miliar, yang menghasilkan laba bruto Rp916 juta mencerminkan fase awal
operasional dengan margin yang masih terbatas. Kemudian pada periode 2027-2030
Pendapatan tumbuh konsisten hingga Rp20,81 miliar di tahun 2030, sementara beban pokok
meningkat sejalan dengan volume usaha. Margin bruto tetap terjaga di kisaran 16–18%,
menunjukkan efisiensi operasional yang stabil.
Beban Penjualan meningkat proporsional dengan ekspansi pasar, dari Rp200 juta di tahun 2026
menjadi Rp728 juta di tahun 2030.
Beban Administrasi & Umum relatif besar sejak awal sebesar Rp570 juta di tahun 2026,
mencerminkan kebutuhan struktur organisasi, namun pertumbuhannya lebih terkendali jika
dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan.
Laba tahun berjalan Rp135,31 juta, mencerminkan profitabilitas awal yang masih tipis. Laba
bersih meningkat konsisten hingga Rp1,27 miliar di tahun 2030, menunjukkan tren pertumbuhan
yang sehat dan kapasitas entitas anak untuk memberikan kontribusi positif terhadap konsolidasi
holding.
Tabel 9. Proyeksi Arus Kas Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Kas Bersih dari (234.033) 1.042.894 894.045 1.148.316 1.457.144
Aktivitas Operasi
Kas Bersih dari (238.000) (238.000) (238.000) (238.000) (238.000)
Aktivitas Investasi
Kas Bersih dari 10.000.000 - - - -
Aktivitas
Pendanaan
Kas Bersih Periode 9.527.967 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Kas Awal Periode - 9.527.967 10.332.861 10.988.907 11.899.223
Kas Akhir Periode 9.527.967 10.332.861 10.988.907 11.899.223 13.118.366
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Kas operasi negatif sebesar Rp234,03 juta, terutama didorong
oleh laba bersih awal Rp135 juta serta perubahan modal kerja (peningkatan persediaan dan
utang usaha).
Secara keseluruhan, kas operasi kembali positif di FY2029–FY2030, menunjukkan pemulihan
arus kas setelah fase investasi besar.
Sepanjang tahun 2026 – 2030 Arus kas Investasi setiap tahunnya sekitar Rp238 miliar per tahun,
menunjukkan pola belanja modal yang stabil.
Halaman 53 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 54
Setoran modal awal pada tahun 2026 sebesar Rp10 miliar menjadi sumber utama likuiditas,
menopang kebutuhan investasi dan modal kerja.
7.4 Analisis Profitabilitas
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam usahanya
mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis rasio
profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh
dari kinerja suatu perusahaan.
Sebagai gambaran bagaimana INPS dalam usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel
berikut ini:
Tabel 12. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
PROYEKSI
KETERANGAN
2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin % 16,00% 16,00% 16,00% 16,00% 16,00%
Operating Profit Margin % 4,00% 4,00% 4,00% 4,00% 4,00%
Net Profit Margin % 3,88% 3,86% 3,83% 3,80% 3,77%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Tabel 13. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
PROYEKSI
KETERANGAN
2026 2027 2028 2029 2030
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
Gross Profit Margin % 16,00% 16,02% 16,05% 16,08% 16,12%
Operating Profit Margin % 3,97% 4,00% 4,06% 4,12% 4,19%
Net Profit Margin % 3,85% 3,84% 3,86% 3,88% 3,90%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa profitabilitas INPS yang digambarkan dalam persentase
laba operasi pendapatan (Operating Profit Margin) terhadap dan persentase laba bersih terhadap
pendapatan (Net Profit Margin) tercatat memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun
2026 sampai dengan 2030, yang dapat diartikan bahwa INPS memiliki kemampuan dalam
menghasilkan laba bagi perusahaan yang baik.
7.5 Analisis Tingkat Imbal Balik
Dalam menghitung analisis Tingkat Imbal Balik digunakan perhitungan Return on Investment (ROI)
yang merupakan rasio untuk menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam
perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari
seluruh aktiva yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI,
Perseroan dapat mengetahui seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk
kegiatan operasional dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.
Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan yang dilihat
dari sisi Investasi kepada Entitas Anak dalam rangka penambahan kegiatan usaha Holding:
Halaman 54 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 55
Tabel 14. Rasio Return On Investment Perseroan Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Holding
(dalam rupiah penuh)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Rasio Return On Investment Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Laba Bersih 135.315.179 477.065.584 691.449.411 952.446.733 1.269.249.642
Total Investasi (Modal
9.900.000.000 9.900.000.000 9.900.000.000 9.900.000.000 9.900.000.000
Disetor)
ROI 1,37% 4,82% 6,98% 9,62% 12,82%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
ROI Perseroan pada tahun 2025—2030 diproyeksikan meningkat setiap tahunnya seiring dengan
peningkatan laba bersih dan total aset Perseroan.
7.6 Analisis Kelayakan Keuangan
Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Holding INPS harus didasarkan pada
analisis inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa
Penambahan Kegiatan Usaha Holding INPS dan proyeksi keuangan dengan Penambahan
Kegiatan Usaha Holding INPS.
Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
Usaha Holding INPS di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu
proyek yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC, dan PI lebih besar
dari 1 berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.
7.6.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)
Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
kas bersih dari perusahaan, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini
menggunakan formula WACC (weighted average cost of capital) yang merupakan pentotalan
rata-rata tertimbang atas biaya modal untuk ekuitas dan biaya modal untuk utang. Adapun
formula dari WACC adalah sebagai berikut:
WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)
Dimana:
WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
Ke : Biaya modal untuk ekuitas
Kd : Biaya modal untuk utang
We : Persentase pendanaan dari ekuitas
Wd : Persentase pendanaan dari utang
t : Pajak perusahaan
Halaman 55 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 56
Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x (1-T)
Dimana
i : Interest Rate (Suku Bunga)
Tax : Tax Rate (Tarif Pajak)
Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)
Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
(CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α
Dimana:
Rf : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß : Risiko sistematis
Rm : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
CDS : Country Default Spread
α : Risiko spesifik
Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
diskonto Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 8,53% dengan detail komponen yang
digunakan dalam perhitungan adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Komponen Besaran Keterangan Source
Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30
SUN 6,71% Indo Govt Bond Yield
December 2025 - 30 Year
Default Spread 1,62% Default spread as of January 1, 2026 Damodaran
Risk Free Rate Goverment Bond - Default Spread
Equity Risk Premium 6,69% Equity risk premium as of January 1, 2026 Damodaran
Unlevered Beta 0,52 Company relative to the market risk Damodaran
D/E Ratio 74,49% Estimated finance leverage or industry level Damodaran
Specific Risk 0,00% Estimated Company Specific Risk
Interest 8,44% Investment loans as of December 31, 2025 SEKI - BI
Tax Rates 22,00% Corporate Tax Rate, Indonesia
Sumber: Analisis
KJPP, diolah
D/E
Industry Unlevered Beta
Ratio
Retail (Distributors) 87,90% 0,456
Halaman 56 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 57
7.6.2 Terminal Value
Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
ditentukan berdasarkan Gordon Growth Model dengan tingkat pertumbuhan kekal sebesar 2,51%
yang didapatkan dari rata-rata pertumbuhan inflasi Indonesia selama 5 tahun kedepan.
7.6.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Holding, diperoleh hasil
perhitungan sebagai berikut:
Tabel 11. Analisis Investasi Terhadap Entitas Anak
(dalam Ribuan Rupiah)
Desember Desember Desember Desember Desember
Tahun Initial
2026 2027 2028 2029 2030
Biaya Pendirian/Investasi
Biaya Notaris Pendirian
(10.000)
Entitas Anak
Setoran Modal Awal (9.900.000)
Total Biaya Pendirian (9.910.000)
Arus Kas
Laba Setelah Pajak 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
(+) Penyusutan dan
138.833 238.000 238.000 238.000 238.000
Amortisasi
(+) Beban Bunga * (1 -
Tax)
(±) Perubahan Modal
(508.182) 327.829 (35.404) (42.131) (50.106)
Kerja
(-) Capex (238.000) (238.000) (238.000) (238.000) (238.000)
Total Arus Kas - (472.033) 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Total Arus Kas Bersih (9.910.000) (472.033) 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Nilai Kekal 20.781.820
Total Arus kas Bersih (9.910.000) (472.033) 804.894 656.045 910.316 22.000.963
Tingkat Diskonto 8,53%
Tingkat Pertumbuhan
2,51%
Kekal
Tingkat Kapitalisasi 6,01%
Periode 0 1 2 3 4 5
31-Dec-
Date 31-Dec-27 31-Dec-28 31-Dec-29 31-Dec-30
26
Faktor Diskonto 1,000 0,921 0,849 0,782 0,721 0,664
Nilai Kini Arus Kas Bersih (9.910.000) (434.943) 683.373 513.231 656.191 14.613.001
Total Nilai Kini Arus Kas
6.120.853
Bersih (NPV)
Halaman 57 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 58
IRR 19,79%
NPV 6.120.853
PP > 5 Tahun
PI 1,62
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
• NPV : Rp 6.120.853 lebih besar dari 0
• IRR : 19,79% lebih besar dari WACC
• Profitability Index : 1,62 lebih besar dari 1
• Payback Period : > 5 Tahun
Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
“Layak”
7.7 Analisis Nilai Tambah
Laporan Keuangan INPS sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Holding lewat pendirian
perusahaan anak disajikan sebagai berikut:
Tabel 12. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS sebelum penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 17.664.838 34.716.041 52.477.763 70.994.752 90.312.998
Piutang Usaha 0 0 0 0 0
Pihak Ketiga 26.848.793 26.848.793 26.848.793 26.848.793 26.848.793
Pihak Berelasi 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603
Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga 67.000 67.000 67.000 67.000 67.000
Persediaan 3.500.000 3.500.000 3.500.000 3.500.000 3.500.000
Pajak Dibayar Dimuka 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000
Beban Dibayar Dimuka 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
Uang Muka 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Total Aset Lancar 55.996.233 73.047.436 90.809.158 109.326.147 128.644.394
Aset Tidak Lancar
Aset Pajak Tangguhan 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512
Piutang Lain-lain - Pihak
49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842
Berelasi
Aset Tetap , Net 0 0 0 0 0
Harga Perolehan 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276
Akumulasi Penyusutan (118.656.487) (120.006.290) (121.281.542) (122.487.737) (123.629.651)
Aset Lain-lain 0 0 0 0 0
Total Aset Tidak Lancar 151.483.142 150.133.339 148.858.087 147.651.892 146.509.979
TOTAL ASET 207.479.375 223.180.775 239.667.245 256.978.039 275.154.372
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Halaman 58 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 59
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 3.572.102 3.572.102 3.572.102 3.572.102 3.572.102
Pihak Berelasi 592.898 592.898 592.898 592.898 592.898
Utang Pajak 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875
Beban Akrual 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153
Lainnya
Utang Lain-lain - Pihak Ketiga 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451
Liabilitas Jangka Panjang yang
0 0 0 0 0
akan jatuh
Total Liabilitas Jangka Pendek 76.578.140 76.578.140 76.578.140 76.578.140 76.578.140
Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak Berelasi 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234
Liabilitas Jangka Panjang
0 0 0 0 0
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
0 0 0 0 0
dalam satu tahun:
Utang Bank 64.071.600 68.556.612 73.355.575 78.490.465 83.984.798
Pendapatan Diterima Dimuka 565.036 565.036 565.036 565.036 565.036
Liabilitas Imbalan Kerja 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860
Total Liabilitas Jangka Panjang 171.335.730 175.820.742 180.619.705 185.754.596 191.248.928
TOTAL LIABILITAS 247.913.871 252.398.883 257.197.846 262.332.736 267.827.068
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Modal Disetor 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000
Tambahan Modal Disetor: 0 0 0 0 0
Agio Saham 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520
Sepengendali
Pengampunan Pajak 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567
Defisit (216.536.864) (205.320.475) (193.632.968) (181.457.065) (168.775.064)
Pendapatan Komprehensif Lain: 0 0 0 0 0
Surplus Revaluasi Aset Tetap 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135
Total Ekuitas yang dapat
0 0 0 0 0
diatribusi kepada
pemilik entitas induk (41.405.733) (30.189.345) (18.501.837) (6.325.934) 6.356.067
Kepentingan non-pengendali 971.237 971.237 971.237 971.237 971.237
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
(40.434.496) (29.218.108) (17.530.600) (5.354.697) 7.327.304
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN
207.479.375 223.180.775 239.667.245 256.978.039 275.154.372
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Proyeksi keuangan laba rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding dengan pendirian anak
perusahaan baru disajikan sebagai berikut:
Halaman 59 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 60
Tabel 13. Proyeksi keuangan Laba Rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 277.044.539 290.896.766 305.441.604 320.713.684 336.749.369
BEBAN POKOK PENJUALAN (232.717.413) (244.353.283) (256.570.948) (269.399.495) (282.869.470)
LABA BRUTO 44.327.126 46.543.483 48.870.657 51.314.190 53.879.899
Beban Penjualan (5.540.891) (5.817.935) (6.108.832) (6.414.274) (6.734.987)
Beban Umum & Adm. (27.704.454) (29.089.677) (30.544.160) (32.071.368) (33.674.937)
LABA USAHA 11.081.782 11.635.871 12.217.664 12.828.547 13.469.975
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Pemulihan Cadangan Kerugian 161.262 169.325 177.791 186.681 196.015
Pemulihan Imbalan Kerja 69.117 72.572 76.201 80.011 84.012
Pendapatan Bunga 2.739 2.876 3.020 3.171 3.330
Laba (rugi) Penjualan Aset
0 0 0 0 0
Tetap
Provisi dan Administrasi Bank (139.509) (146.485) (153.809) (161.499) (169.574)
Pajak Final (302.459) (317.582) (333.461) (350.134) (367.641)
Bunga Pembiayaan Konsumen 0 0 0 0 0
Beban Penyisihan Piutang (2.350.519) (2.468.045) (2.591.448) (2.721.020) (2.857.071)
Beban Penghapusan Piutang (3.380.626) (3.549.657) (3.727.140) (3.913.497) (4.109.172)
Bunga Lembaga Keuangan
0 0 0 0 0
Lainnya
Bunga Pinjaman Bank (4.191.600) (4.485.012) (4.798.963) (5.134.890) (5.494.333)
Lain-lain Bersih 11.950.731 12.548.268 13.175.681 13.834.465 14.526.188
Total Pendapatan (Beban) Lain-
1.819.135 1.826.260 1.827.873 1.823.287 1.811.754
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (2.937.995) (3.084.894) (3.239.139) (3.401.096) (3.571.151)
Pajak Tangguhan 799.192 839.152 881.109 925.165 971.423
Beban Pajak Penghasilan (2.138.803) (2.245.743) (2.358.030) (2.475.931) (2.599.728)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 10.762.114 11.216.388 11.687.507 12.175.903 12.682.001
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Selanjutnya proyeksi keuangan INPS setelah rencana penambahan KBLI Holding lewat pendirian
usaha baru disajikan sebagai berikut:
Tabel 14. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS setelah penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 17.292.804 35.148.902 53.566.670 72.993.974 93.531.365
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 27.461.425 27.941.840 28.117.951 28.322.436 28.559.868
Pihak Berelasi 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603
Halaman 60 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 61
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Piutang Lain-lain - Pihak
67.000 67.000 67.000 67.000 67.000
Ketiga
Persediaan 3.910.160 4.412.695 4.553.401 4.715.756 4.903.082
Pajak Dibayar Dimuka 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000
Beban Dibayar Dimuka 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
Uang Muka 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Total Aset Lancar 56.646.993 75.486.039 94.220.624 114.014.769 134.976.917
Aset Tidak Lancar
Aset Pajak Tangguhan 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512
Piutang Lain-lain - Pihak
49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842
Berelasi
Investasi Entitas Anak 0 0 0 0 0
Aset Tetap , Net
Harga Perolehan 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276
(118.656.48 (120.006.29 (121.281.54 (122.487.73 (123.629.65
Akumulasi Penyusutan
7) 0) 2) 7) 1)
Aset Hak Guna 0 0 0 0 0
Aset Lain-lain 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset Tidak Lancar 151.582.309 150.232.506 148.957.254 147.751.059 146.609.145
TOTAL ASET 208.229.302 225.718.545 243.177.878 261.765.828 281.586.062
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Bank Jangka Pendek 0 0 0 0 0
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 4.086.713 5.397.491 5.678.904 6.003.613 6.378.265
Pihak Berelasi 592.898 592.898 592.898 592.898 592.898
Utang Pajak 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875
Beban Akrual 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153
Lainnya
Utang Lain-lain - Pihak
14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451
Ketiga
Liabilitas Jangka Panjang
0
yang akan jatuh
tempo dalam satu tahun: 0 0 0 0 0
Utang Bank 0 0 0 0 0
Liabilitas Sewa 0 0 0 0 0
Utang Pembiayaan
0 0 0 0 0
Konsumen
Total Liabilitas Jangka
77.092.752 78.403.530 78.684.943 79.009.652 79.384.303
Pendek
Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak
98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234
Berelasi
Liabilitas Jangka Panjang
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
dalam satu tahun:
Utang Bank 64.071.600 68.556.612 73.355.575 78.490.465 83.984.798
Halaman 61 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 62
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan Diterima Dimuka 565.036 565.036 565.036 565.036 565.036
Liabilitas Imbalan Kerja 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860
Liabilitas Sewa 0 0 0 0 0
Utang Pembiayaan
0 0 0 0 0
Konsument
Total Liabilitas Jangka
171.335.730 175.820.742 180.619.705 185.754.596 191.248.928
Panjang
TOTAL LIABILITAS 248.428.482 254.224.272 259.304.648 264.764.247 270.633.232
EKUITAS (DEFISIENSI
MODAL)
Modal Disetor 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000
Tambahan Modal Disetor: 0 0 0 0 0
Agio Saham 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis
55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520
Entitas Sepengendali
Pengampunan Pajak 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567
(216.402.90 (204.714.21 (192.342.17 (179.223.35 (165.284.79
Defisit
2) 8) 6) 0) 3)
Pendapatan Komprehensif
0 0 0 0 0
Lain:
Surplus Revaluasi Aset Tetap 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135
Total Ekuitas yang dapat
0 0 0 0 0
diatribusi kepada
pemilik entitas induk (41.271.771) (29.583.088) (17.211.046) (4.092.220) 9.846.338
Kepentingan non-pengendali 1.072.590 1.077.361 1.084.276 1.093.800 1.106.492
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
(40.199.181) (28.505.727) (16.126.770) (2.998.420) 10.952.831
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN
EKUITAS (DEFISIENSI 208.229.302 225.718.545 243.177.878 261.765.828 281.586.062
MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Proyeksi Keuangan Laba Rugi INPS setelah rencana penambahan KBLI Holding dengan
pendirian anak perusahaan baru
Tabel 15. Proyeksi keuangan Laporan Laba Rugi INPS setelah penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 282.771.233 304.195.511 320.883.027 338.643.012 357.567.448
BEBAN POKOK PENJUALAN (237.527.836) (255.457.735) (269.387.329) (284.191.190) (299.940.295)
LABA BRUTO 45.243.397 48.737.775 51.495.699 54.451.822 57.627.153
Beban Penjualan (5.741.325) (6.283.391) (6.649.282) (7.041.800) (7.463.620)
Beban Umum & Adm. (28.275.443) (30.273.385) (31.819.486) (33.450.035) (35.170.406)
LABA USAHA 11.226.629 12.180.999 13.026.931 13.959.986 14.993.127
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Pemulihan Cadangan Kerugian 161.262 169.325 177.791 186.681 196.015
Pemulihan Imbalan Kerja 69.117 72.572 76.201 80.011 84.012
Pendapatan Bunga 2.739 2.876 3.020 3.171 3.330
Halaman 62 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 63
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
Laba (rugi) Penjualan Aset
0 0 0 0 0
Tetap
Provisi dan Administrasi Bank (139.509) (146.485) (153.809) (161.499) (169.574)
Pajak Final (302.459) (317.582) (333.461) (350.134) (367.641)
Bunga Pembiayaan Konsumen 0 0 0 0 0
Beban Penyisihan Piutang (2.350.519) (2.468.045) (2.591.448) (2.721.020) (2.857.071)
Beban Penghapusan Piutang (3.380.626) (3.549.657) (3.727.140) (3.913.497) (4.109.172)
Bunga Lembaga Keuangan
0 0 0 0 0
Lainnya
Bunga Pinjaman Bank (4.191.600) (4.485.012) (4.798.963) (5.134.890) (5.494.333)
Lain-lain Bersih 11.979.365 12.614.761 13.252.888 13.924.112 14.630.279
Total Pendapatan (Beban) Lain-
1.847.769 1.892.754 1.905.080 1.912.934 1.915.844
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (2.976.160) (3.219.451) (3.434.163) (3.669.735) (3.929.144)
Pajak Tangguhan 799.192 839.152 881.109 925.165 971.423
Beban Pajak Penghasilan (2.176.968) (2.380.300) (2.553.054) (2.744.570) (2.957.721)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 10.897.430 11.693.454 12.378.957 13.128.350 13.951.250
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Analisis nilai tambah melihat bagaimana rencana pendirian anak usaha baru dalam rangka
penambahan KBLI berdampak pada proyeksi keuangan INPS sebelum dan setelah rencana
penambahan KBLI. Analisis nilai tambah dilihat dari nilai inkremental pada pos posisi keuangan
dan laba rugi. Risalah analisis inkremental sesajikan sebagaimana tabel berikut:
Tabel 16. Analisis Inkremental
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank (372.033) 432.861 1.088.907 1.999.223 3.218.366
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 612.633 1.093.048 1.269.158 1.473.643 1.711.075
Persediaan 410.160 912.695 1.053.401 1.215.756 1.403.082
Total Aset Lancar 650.760 2.438.603 3.411.466 4.688.622 6.332.523
Aset Tidak Lancar
Aset Lain-lain 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset Tidak Lancar 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
TOTAL ASET 749.926 2.537.770 3.510.633 4.787.788 6.431.690
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Halaman 63 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 64
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Total Liabilitas Jangka Pendek 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Liabilitas Jangka Panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang 0 0 0 0 0
TOTAL LIABILITAS 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Defisit 133.962 606.257 1.290.792 2.233.714 3.490.271
Total Ekuitas yang dapat
diatribusi kepada
pemilik entitas induk 133.962 606.257 1.290.792 2.233.714 3.490.271
Kepentingan non-pengendali 101.353 106.124 113.038 122.563 135.255
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
235.315 712.381 1.403.830 2.356.277 3.625.527
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN
749.926 2.537.770 3.510.633 4.787.788 6.431.690
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Dari analisis nilai tambah yang dilakukan untuk proyeksi posisi keuangan, pada pos Kas dan
Bank, terdapat kenaikan nilai tambah pada tahun proyeksi 2027 sampai dengan 2030 yang
berasal dari konsolidasi dari akumulasi perolehan laba anak perusahaan baru yang akan
didirikan. Selanjutnya dilihat dari total aset, sepanjang masa proyeksi terdapat nilai tambah
sebesar Rp749.926 ribu pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar Rp6.431.690 ribu pada tahun
proyeksi 2030. Selanjutnya pada pos total liabilitas terdapat nilai tambah sebesar Rp514.611 ribu
pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar Rp2.806.163 ribu pada tahun proyeksi 2030. Dilihat
dari total ekuitas, terdapat kenaikan nilai tambah sebesar Rp235.315 ribu pada tahun proyeksi
2026 sampai sebesar Rp.3.625.527 ribu.
Tabel 17. Analisis Inkremental
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 5.726.694 13.298.745 15.441.423 17.929.327 20.818.080
BEBAN POKOK PENJUALAN (4.810.423) (11.104.452) (12.816.381) (14.791.695) (17.070.825)
LABA BRUTO 916.271 2.194.293 2.625.042 3.137.632 3.747.254
Beban Penjualan (200.434) (465.456) (540.450) (627.526) (728.633)
Beban Umum & Adm. (570.989) (1.183.708) (1.275.326) (1.378.667) (1.495.469)
LABA USAHA 144.848 545.129 809.266 1.131.439 1.523.153
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Lain-lain Bersih 28.633 66.494 77.207 89.647 104.090
Total Pendapatan (Beban) Lain-
28.633 66.494 77.207 89.647 104.090
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
Halaman 64 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 65
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Beban Pajak Penghasilan (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Dari analisis nilai tambah pada proyeksi laba rugi sebelum dan setelah rencana penambahan
KBLI Holding lewat pendirian entitas anak usaha diperoleh bahwa rencana penambahan KBLI
memberikan nilai tambah pada pos pendapatan sebesar Rp5.726.694 ribu pada proyeksi tahun
2026 sampai Rp20.818.080 ribu pada tahun proyeksi 2030 akibar konsolidasi pendapatan
entitas baru anak usaha dalam rangka penambahan KBLI Holding. Pada pos laba setelah pajak,
terdapat nilai tambah sebesar Rp135.315 ribu pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar
Rp1.269.250 ribu pada tahun proyeksi 2030.
Dengan begitu, rencana penambahan KBLI Holding pada INPS dengan mendirikan anak usaha
baru memberikan nilai tambah yang dinilai dari selisih kenaikan di pos keuangan pada proyeksi
keuangan sebelum rencana penambahan KBLI Holding dan proyeksi keuangan setelah rencana
penambahan KBLI Holding dengan mendirikan anak usaha baru.
7.8 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan
Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan
baru memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan,
penambahan bidang usaha holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan
nilai tambah dilihat dari analisis inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah
rencana penambahan bidang usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di
proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan
bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS berupa bidang usaha holding adalah layak
untuk dijalankan.
Halaman 65 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 66
BAB VIII
KESIMPULAN
8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar
Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas
perdagangan, baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran
pergerakan barang dan material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya
pada segmen logistik dan distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar
cenderung terkonsentrasi dan didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok
pembanding yang ada, terdapat tiga perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
(INPS) yang menguasai sebagian besar pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan
hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru.
Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan
yang relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas
operasional yang kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan
maupun meningkatkan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan
entitas anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan
sparepart dinilai memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan
mengacu pada model bisnis distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar
yang berkelanjutan. Kehadiran entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi
operasional, khususnya dalam penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka
peluang diversifikasi sumber pendapatan bagi Perseroan.
Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai
pelaksana operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih
terintegrasi, termasuk dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan
konsolidasian.
8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis
Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah
Prakasa Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha
trading. Hal ini didukung oleh kondisi bisnis inti yang sudah ada, jaringan usaha yang telah
terbentuk, serta adanya peluang sinergi dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan
kebutuhan internal (captive market). Selain itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi
pendapatan dan meningkatkan efisiensi operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan
seperti keterbatasan pengalaman di bisnis baru, kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas
pengelolaan, risiko tersebut masih dapat diatasi dengan perencanaan dan pengelolaan yang
baik. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk
mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke depan.
Halaman 66 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 67
8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang
sederhana, namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-
jabatan dimaksud, serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang
kompeten pada bidang yang sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang
baru secara afektif dan efisien serta didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan
pembagian tugas yang jelas dari seluruh personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.
8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan
Penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan
baru memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan,
penambahan bidang usaha holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan
nilai tambah dilihat dari analisis inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah
rencana penambahan bidang usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di
proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan
bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS berupa bidang usaha holding adalah layak
untuk dijalankan.
8.6 Kesimpulan
Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis
kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana
Penambahan Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.
Halaman 67 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 68
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
keakuratannya.
4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
Tugas
10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
jawab kami.
11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
bukan menjadi tanggung jawab kami.
13. Laporan kajian ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam laporan
dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
Halaman 68 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 69
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan kajian adalah benar sesuai dengan
pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil kajian yang dilaporkan.
5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
kelayakan.
8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen INPS.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan kajian telah dilakukan terhadap obyek kajian per tanggal studi kelayakan (cut off
date).
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
laporan studi kelayakan.
14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
diungkapkan.
15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 69 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 70
Page 71
LAMPIRAN – LAMPIRAN Halaman 71 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 72
Kantor Jasa Penilai Publik
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Property, Business Valuation & Advisory Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Licence No. 2.22.0176 E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Website: www.fdipartners.co
KMK 460/KM.1/2022
Phone (62 21) 27875911
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
1. Proyeksi Posisi Keuangan Rencana Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Aset Lancar 10.550.760 12.338.603 13.311.466 14.588.622 16.232.523
Aset Tidak Lancar 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset 10.649.926 12.437.770 13.410.633 14.687.788 16.331.690
Liabilitas Lancar 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Liabilitas Jangka - - - - -
Panjang
Total Liabilitas 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Total Ekuitas 10.135.315 10.612.381 11.303.830 12.256.277 13.525.527
Total Liabilitas dan 10.649.926 12.437.770 13.410.633 14.687.788 16.331.690
Ekuitas
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
2. Proyeksi Laporan Laba Rugi Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Pendapatan Bersih 5.726.694 13.298.745 15.441.423 17.929.327 20.818.080
Beban Pokok (4.810.423) (11.104.452) (12.816.381) (14.791.695) (17.070.825)
Pendapatan
Laba Bruto 916.271 2.194.293 2.625.042 3.137.632 3.747.254
Beban Penjualan (200.434) (465.456) (540.450) (627.526) (728.633)
Beban Adm. & (570.989) (1.183.708) (1.275.326) (1.378.667) (1.495.469)
Umum
Penghasilan Lain- 57.267 132.987 154.414 179.293 208.181
lain
Beban Lain-lain (28.633) (66.494) (77.207) (89.647) (104.090)
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 73
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Laba Sebelum 173.481 611.623 886.474 1.221.086 1.627.243
Pajak Penghasilan
Beban Pajak (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
Penghasilan
Laba Tahun 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
Berjalan
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
3. Proyeksi Arus Kas Entitas Anak
(dalam ribuan rupiah)
FY2026
Keterangan FY2027 FY2028 FY2029 FY2030
Jun-Dec
Kas Bersih dari (234.033) 1.042.894 894.045 1.148.316 1.457.144
Aktivitas Operasi
Kas Bersih dari (238.000) (238.000) (238.000) (238.000) (238.000)
Aktivitas Investasi
Kas Bersih dari 10.000.000 - - - -
Aktivitas
Pendanaan
Kas Bersih Periode 9.527.967 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Kas Awal Periode - 9.527.967 10.332.861 10.988.907 11.899.223
Kas Akhir Periode 9.527.967 10.332.861 10.988.907 11.899.223 13.118.366
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
4. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Komponen Besaran Keterangan Source
Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30
SUN 6,71% Indo Govt Bond Yield
December 2025 - 30 Year
Default Spread 1,62% Default spread as of January 1, 2026 Damodaran
Risk Free Rate Goverment Bond - Default Spread
Equity Risk Premium 6,69% Equity risk premium as of January 1, 2026 Damodaran
Halaman 73 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 74
Komponen Besaran Keterangan Source
Unlevered Beta 0,52 Company relative to the market risk Damodaran
D/E Ratio 74,49% Estimated finance leverage or industry level Damodaran
Specific Risk 0,00% Estimated Company Specific Risk
Interest 8,44% Investment loans as of December 31, 2025 SEKI - BI
Tax Rates 22,00% Corporate Tax Rate, Indonesia
Sumber: Analisis
KJPP, diolah
D/E
Industry Unlevered Beta
Ratio
Retail (Distributors) 87,90% 0,456
5. Analisis Investasi Terhadap Entitas Anak
(dalam Ribuan Rupiah)
Desember Desember Desember Desember Desember
Tahun Initial
2026 2027 2028 2029 2030
Biaya Pendirian/Investasi
Biaya Notaris Pendirian
(10.000)
Entitas Anak
Setoran Modal Awal (9.900.000)
Total Biaya Pendirian (9.910.000)
Arus Kas
Laba Setelah Pajak 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
(+) Penyusutan dan
138.833 238.000 238.000 238.000 238.000
Amortisasi
(+) Beban Bunga * (1 -
Tax)
(±) Perubahan Modal
(508.182) 327.829 (35.404) (42.131) (50.106)
Kerja
Halaman 74 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 75
Desember Desember Desember Desember Desember
Tahun Initial
2026 2027 2028 2029 2030
(-) Capex (238.000) (238.000) (238.000) (238.000) (238.000)
Total Arus Kas - (472.033) 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Total Arus Kas Bersih (9.910.000) (472.033) 804.894 656.045 910.316 1.219.144
Nilai Kekal 20.781.820
Total Arus kas Bersih (9.910.000) (472.033) 804.894 656.045 910.316 22.000.963
Tingkat Diskonto 8,53%
Tingkat Pertumbuhan
2,51%
Kekal
Tingkat Kapitalisasi 6,01%
Periode 0 1 2 3 4 5
31-Dec-
Date 31-Dec-27 31-Dec-28 31-Dec-29 31-Dec-30
26
Faktor Diskonto 1,000 0,921 0,849 0,782 0,721 0,664
Nilai Kini Arus Kas Bersih (9.910.000) (434.943) 683.373 513.231 656.191 14.613.001
Total Nilai Kini Arus Kas
6.120.853
Bersih (NPV)
IRR 19,79%
NPV 6.120.853
PP > 5 Tahun
PI 1,62
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Halaman 75 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 76
6. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS sebelum penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 17.664.838 34.716.041 52.477.763 70.994.752 90.312.998
Piutang Usaha 0 0 0 0 0
Pihak Ketiga 26.848.793 26.848.793 26.848.793 26.848.793 26.848.793
Pihak Berelasi 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603
Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga 67.000 67.000 67.000 67.000 67.000
Persediaan 3.500.000 3.500.000 3.500.000 3.500.000 3.500.000
Pajak Dibayar Dimuka 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000
Beban Dibayar Dimuka 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
Uang Muka 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Total Aset Lancar 55.996.233 73.047.436 90.809.158 109.326.147 128.644.394
Aset Tidak Lancar
Aset Pajak Tangguhan 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512
Piutang Lain-lain - Pihak
49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842
Berelasi
Aset Tetap , Net 0 0 0 0 0
Harga Perolehan 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276
Akumulasi Penyusutan (118.656.487) (120.006.290) (121.281.542) (122.487.737) (123.629.651)
Aset Lain-lain 0 0 0 0 0
Total Aset Tidak Lancar 151.483.142 150.133.339 148.858.087 147.651.892 146.509.979
TOTAL ASET 207.479.375 223.180.775 239.667.245 256.978.039 275.154.372
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Halaman 76 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 77
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 3.572.102 3.572.102 3.572.102 3.572.102 3.572.102
Pihak Berelasi 592.898 592.898 592.898 592.898 592.898
Utang Pajak 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875
Beban Akrual 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153
Lainnya
Utang Lain-lain - Pihak Ketiga 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451
Liabilitas Jangka Panjang yang
0 0 0 0 0
akan jatuh
Total Liabilitas Jangka Pendek 76.578.140 76.578.140 76.578.140 76.578.140 76.578.140
Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak Berelasi 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234
Liabilitas Jangka Panjang
0 0 0 0 0
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
0 0 0 0 0
dalam satu tahun:
Utang Bank 64.071.600 68.556.612 73.355.575 78.490.465 83.984.798
Pendapatan Diterima Dimuka 565.036 565.036 565.036 565.036 565.036
Liabilitas Imbalan Kerja 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860
Total Liabilitas Jangka Panjang 171.335.730 175.820.742 180.619.705 185.754.596 191.248.928
TOTAL LIABILITAS 247.913.871 252.398.883 257.197.846 262.332.736 267.827.068
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Modal Disetor 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000
Tambahan Modal Disetor: 0 0 0 0 0
Agio Saham 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520
Sepengendali
Pengampunan Pajak 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567
Halaman 77 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 78
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Defisit (216.536.864) (205.320.475) (193.632.968) (181.457.065) (168.775.064)
Pendapatan Komprehensif Lain: 0 0 0 0 0
Surplus Revaluasi Aset Tetap 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135
Total Ekuitas yang dapat
0 0 0 0 0
diatribusi kepada
pemilik entitas induk (41.405.733) (30.189.345) (18.501.837) (6.325.934) 6.356.067
Kepentingan non-pengendali 971.237 971.237 971.237 971.237 971.237
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
(40.434.496) (29.218.108) (17.530.600) (5.354.697) 7.327.304
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN
207.479.375 223.180.775 239.667.245 256.978.039 275.154.372
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
7. Proyeksi keuangan Laba Rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 277.044.539 290.896.766 305.441.604 320.713.684 336.749.369
BEBAN POKOK PENJUALAN (232.717.413) (244.353.283) (256.570.948) (269.399.495) (282.869.470)
LABA BRUTO 44.327.126 46.543.483 48.870.657 51.314.190 53.879.899
Beban Penjualan (5.540.891) (5.817.935) (6.108.832) (6.414.274) (6.734.987)
Beban Umum & Adm. (27.704.454) (29.089.677) (30.544.160) (32.071.368) (33.674.937)
LABA USAHA 11.081.782 11.635.871 12.217.664 12.828.547 13.469.975
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Pemulihan Cadangan Kerugian 161.262 169.325 177.791 186.681 196.015
Pemulihan Imbalan Kerja 69.117 72.572 76.201 80.011 84.012
Pendapatan Bunga 2.739 2.876 3.020 3.171 3.330
Laba (rugi) Penjualan Aset
0 0 0 0 0
Tetap
Provisi dan Administrasi Bank (139.509) (146.485) (153.809) (161.499) (169.574)
Halaman 78 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 79
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
Pajak Final (302.459) (317.582) (333.461) (350.134) (367.641)
Bunga Pembiayaan Konsumen 0 0 0 0 0
Beban Penyisihan Piutang (2.350.519) (2.468.045) (2.591.448) (2.721.020) (2.857.071)
Beban Penghapusan Piutang (3.380.626) (3.549.657) (3.727.140) (3.913.497) (4.109.172)
Bunga Lembaga Keuangan
0 0 0 0 0
Lainnya
Bunga Pinjaman Bank (4.191.600) (4.485.012) (4.798.963) (5.134.890) (5.494.333)
Lain-lain Bersih 11.950.731 12.548.268 13.175.681 13.834.465 14.526.188
Total Pendapatan (Beban) Lain-
1.819.135 1.826.260 1.827.873 1.823.287 1.811.754
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (2.937.995) (3.084.894) (3.239.139) (3.401.096) (3.571.151)
Pajak Tangguhan 799.192 839.152 881.109 925.165 971.423
Beban Pajak Penghasilan (2.138.803) (2.245.743) (2.358.030) (2.475.931) (2.599.728)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 10.762.114 11.216.388 11.687.507 12.175.903 12.682.001
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
8. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS setelah penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 17.292.804 35.148.902 53.566.670 72.993.974 93.531.365
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 27.461.425 27.941.840 28.117.951 28.322.436 28.559.868
Pihak Berelasi 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603 4.465.603
Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga 67.000 67.000 67.000 67.000 67.000
Halaman 79 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 80
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Persediaan 3.910.160 4.412.695 4.553.401 4.715.756 4.903.082
Pajak Dibayar Dimuka 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000
Beban Dibayar Dimuka 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000
Uang Muka 250.000 250.000 250.000 250.000 250.000
Total Aset Lancar 56.646.993 75.486.039 94.220.624 114.014.769 134.976.917
Aset Tidak Lancar
Aset Pajak Tangguhan 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512 3.581.512
Piutang Lain-lain - Pihak
49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842 49.884.842
Berelasi
Investasi Entitas Anak 0 0 0 0 0
Aset Tetap , Net
Harga Perolehan 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276 216.673.276
Akumulasi Penyusutan (118.656.487) (120.006.290) (121.281.542) (122.487.737) (123.629.651)
Aset Hak Guna 0 0 0 0 0
Aset Lain-lain 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset Tidak Lancar 151.582.309 150.232.506 148.957.254 147.751.059 146.609.145
TOTAL ASET 208.229.302 225.718.545 243.177.878 261.765.828 281.586.062
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Bank Jangka Pendek 0 0 0 0 0
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 4.086.713 5.397.491 5.678.904 6.003.613 6.378.265
Pihak Berelasi 592.898 592.898 592.898 592.898 592.898
Utang Pajak 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875 21.204.875
Beban Akrual 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661 20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153 16.488.153
Lainnya
Halaman 80 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 81
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Utang Lain-lain - Pihak Ketiga 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451 14.690.451
Liabilitas Jangka Panjang yang
0
akan jatuh
tempo dalam satu tahun: 0 0 0 0 0
Utang Bank 0 0 0 0 0
Liabilitas Sewa 0 0 0 0 0
Utang Pembiayaan Konsumen 0 0 0 0 0
Total Liabilitas Jangka Pendek 77.092.752 78.403.530 78.684.943 79.009.652 79.384.303
Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak Berelasi 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234 98.090.234
Liabilitas Jangka Panjang
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
dalam satu tahun:
Utang Bank 64.071.600 68.556.612 73.355.575 78.490.465 83.984.798
Pendapatan Diterima Dimuka 565.036 565.036 565.036 565.036 565.036
Liabilitas Imbalan Kerja 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860 8.608.860
Liabilitas Sewa 0 0 0 0 0
Utang Pembiayaan Konsument 0 0 0 0 0
Total Liabilitas Jangka Panjang 171.335.730 175.820.742 180.619.705 185.754.596 191.248.928
TOTAL LIABILITAS 248.428.482 254.224.272 259.304.648 264.764.247 270.633.232
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Modal Disetor 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000 65.000.000
Tambahan Modal Disetor: 0 0 0 0 0
Agio Saham 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909 23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520 55.540.520
Sepengendali
Pengampunan Pajak 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567 6.766.567
Halaman 81 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 82
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Defisit (216.402.902) (204.714.218) (192.342.176) (179.223.350) (165.284.793)
Pendapatan Komprehensif Lain: 0 0 0 0 0
Surplus Revaluasi Aset Tetap 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135 24.398.135
Total Ekuitas yang dapat
0 0 0 0 0
diatribusi kepada
pemilik entitas induk (41.271.771) (29.583.088) (17.211.046) (4.092.220) 9.846.338
Kepentingan non-pengendali 1.072.590 1.077.361 1.084.276 1.093.800 1.106.492
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
(40.199.181) (28.505.727) (16.126.770) (2.998.420) 10.952.831
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN
208.229.302 225.718.545 243.177.878 261.765.828 281.586.062
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
9. Proyeksi keuangan Laporan Laba Rugi INPS setelah penambahan KBLI Holding
(dalam ribuan rupiah)
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 282.771.233 304.195.511 320.883.027 338.643.012 357.567.448
BEBAN POKOK PENJUALAN (237.527.836) (255.457.735) (269.387.329) (284.191.190) (299.940.295)
LABA BRUTO 45.243.397 48.737.775 51.495.699 54.451.822 57.627.153
Beban Penjualan (5.741.325) (6.283.391) (6.649.282) (7.041.800) (7.463.620)
Beban Umum & Adm. (28.275.443) (30.273.385) (31.819.486) (33.450.035) (35.170.406)
LABA USAHA 11.226.629 12.180.999 13.026.931 13.959.986 14.993.127
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Pemulihan Cadangan Kerugian 161.262 169.325 177.791 186.681 196.015
Pemulihan Imbalan Kerja 69.117 72.572 76.201 80.011 84.012
Pendapatan Bunga 2.739 2.876 3.020 3.171 3.330
Laba (rugi) Penjualan Aset Tetap 0 0 0 0 0
Halaman 82 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 83
KETERANGAN 2026 2027 2028 2029 2030
Provisi dan Administrasi Bank (139.509) (146.485) (153.809) (161.499) (169.574)
Pajak Final (302.459) (317.582) (333.461) (350.134) (367.641)
Bunga Pembiayaan Konsumen 0 0 0 0 0
Beban Penyisihan Piutang (2.350.519) (2.468.045) (2.591.448) (2.721.020) (2.857.071)
Beban Penghapusan Piutang (3.380.626) (3.549.657) (3.727.140) (3.913.497) (4.109.172)
Bunga Lembaga Keuangan
0 0 0 0 0
Lainnya
Bunga Pinjaman Bank (4.191.600) (4.485.012) (4.798.963) (5.134.890) (5.494.333)
Lain-lain Bersih 11.979.365 12.614.761 13.252.888 13.924.112 14.630.279
Total Pendapatan (Beban) Lain-
1.847.769 1.892.754 1.905.080 1.912.934 1.915.844
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (2.976.160) (3.219.451) (3.434.163) (3.669.735) (3.929.144)
Pajak Tangguhan 799.192 839.152 881.109 925.165 971.423
Beban Pajak Penghasilan (2.176.968) (2.380.300) (2.553.054) (2.744.570) (2.957.721)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 10.897.430 11.693.454 12.378.957 13.128.350 13.951.250
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
10. Analisis Inkremental
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank (372.033) 432.861 1.088.907 1.999.223 3.218.366
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 612.633 1.093.048 1.269.158 1.473.643 1.711.075
Persediaan 410.160 912.695 1.053.401 1.215.756 1.403.082
Halaman 83 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 84
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
Total Aset Lancar 650.760 2.438.603 3.411.466 4.688.622 6.332.523
Aset Tidak Lancar
Aset Lain-lain 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
Total Aset Tidak Lancar 99.167 99.167 99.167 99.167 99.167
TOTAL ASET 749.926 2.537.770 3.510.633 4.787.788 6.431.690
LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha:
Pihak Ketiga 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Total Liabilitas Jangka Pendek 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
Liabilitas Jangka Panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang 0 0 0 0 0
TOTAL LIABILITAS 514.611 1.825.389 2.106.802 2.431.512 2.806.163
EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Defisit 133.962 606.257 1.290.792 2.233.714 3.490.271
Total Ekuitas yang dapat
diatribusi kepada
pemilik entitas induk 133.962 606.257 1.290.792 2.233.714 3.490.271
Kepentingan non-pengendali 101.353 106.124 113.038 122.563 135.255
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
235.315 712.381 1.403.830 2.356.277 3.625.527
MODAL)
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
749.926 2.537.770 3.510.633 4.787.788 6.431.690
(DEFISIENSI MODAL)
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Halaman 84 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 85
11. Analisis Inkremental
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan 2026 2027 2028 2029 2030
PENDAPATAN 5.726.694 13.298.745 15.441.423 17.929.327 20.818.080
BEBAN POKOK PENJUALAN (4.810.423) (11.104.452) (12.816.381) (14.791.695) (17.070.825)
LABA BRUTO 916.271 2.194.293 2.625.042 3.137.632 3.747.254
Beban Penjualan (200.434) (465.456) (540.450) (627.526) (728.633)
Beban Umum & Adm. (570.989) (1.183.708) (1.275.326) (1.378.667) (1.495.469)
LABA USAHA 144.848 545.129 809.266 1.131.439 1.523.153
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Lain-lain Bersih 28.633 66.494 77.207 89.647 104.090
Total Pendapatan (Beban) Lain-
28.633 66.494 77.207 89.647 104.090
lain
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN
Manfaat (beban) Pejak
Penghasilan
Pajak Kini (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
Pajak Tangguhan 0 0 0 0 0
Beban Pajak Penghasilan (38.166) (134.557) (195.024) (268.639) (357.993)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 135.315 477.066 691.449 952.447 1.269.250
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Halaman 85 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 86
Page 87
Page 88
Page 89
Page 90
Page 91
Page 92
Page 93
Page 94
Names mentioned 60 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
PT Graha Inti Guna Persada Menara Jakarta Tower
p.1
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.1 ×8
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.1 ×8
unresolved
org
KJPP FDI
p.1 ×4
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.1 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.7 ×2
unresolved
person
Reagy Sukmana
p.7
unresolved
org
Bank Indonesia
p.9 ×8
unresolved
org
Pusat Statistik.
p.9 ×4
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA
p.11 ×4
unresolved
org
McMillanWoods
p.11 ×4
unresolved
person
Foreman Dodi Pribadi
p.11 ×4
unresolved
person
Bachruddin Hardigaluh
p.12 ×2
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.12 ×2
unresolved
person
Mutiara Hartanto
p.12
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.12 ×3
unresolved
person
Rahayu Ningsih
· Notaris
p.12 ×3
unresolved
org
Menteri Investasi
p.12 ×2
unresolved
org
Kordinasi Penanaman Modal.
p.12 ×2
unresolved
org
PT Surya Perkasa Sentosa
p.13
unresolved
—
Tn/Mr. Eddy Purwanto Winata
p.13 ×5
unresolved
org
Pusat Statistiktercatat
p.29
unresolved
org
PT Pertamina Patra Niaga. Sesuai
p.32
unresolved
org
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
p.33 ×3
unresolved
org
Kementerian ESDM
p.34 ×2
unresolved
org
PT SAPX
p.35 ×2
unresolved
org
PT PURA
p.35 ×2
unresolved
org
PT LAJU
p.35 ×2
unresolved
org
PT LOPI
p.35 ×2
unresolved
org
PT TNCA
p.35 ×2
unresolved
org
PT JAYA
p.35 ×2
unresolved
org
PT INPS
p.36 ×3
unresolved
org
PT DEAL Sumber
p.36
unresolved
org
Dewata Freightinternational Tbk
p.36 ×2
unresolved
org
KJPP Proyeksi Keuangan Laba Rugi INPS
p.62
unresolved
org
KJPP
p.64 ×2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik FERDINAND
p.72
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.182
5201 ms
12 Sep 2026 22:29
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': 'AHU-AH.01.09-0209432 tanggal 3 Juni 2024.',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}