Skip to content
Back to announcement

20260505_INPS_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_32077569_lamp2.pdf

Asset transaction Needs review INPS

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 94

Page 1
                 Kantor Jasa Penilai Publik                                                         The Manhattan Square
                                                                                        Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                 FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                     Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                                                                                       E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                 Property, Business Valuation & Advisory                                      Website: www.fdipartners.co
                 Licence No. 2.22.0176                                                           Phone (62 21) 27875911
                 KMK 460/KM.1/2022
                 Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia


                                                                                       Jakarta, 5 Mei 2026

Kepada Yth,
PT Graha Inti Guna Persada
Menara Jakarta Tower Fortune Lt.23 unit F. Jalan Kota Baru
Bandar Kemayoran No. C-8. Jakarta Pusat 10610

No. Laporan    : 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Hal            : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Indah Prakasa Sentosa Tbk

Dengan hormat,

LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT INDAH PRAKASA SENTOSA TBK

Berdasarkan Surat Penawaran No 012/FDI/PB-FS/IV/2026 tanggal 13 April 2026, KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Graha Inti Guna Persada (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau GIGP”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (Selanjutnya disebut “INPS”), per 31
Desember 2025 berupa penambahan yaitu:

Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64200
 No        Kode KBLI                                Bidang Usaha
  1       KBLI 64200                        Aktivitas Perusahaan Holding

Maksud dan Tujuan

Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang diperuntukkan dalam rangka
memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material
dan perubahan Kegiatan Usaha.

Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya

Tanggal Studi Kelayakan

Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025.




                  Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 2
Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis Kelayakan Pasar;
b. Analisis Kelayakan Teknis;
c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis;
d. Analisis Model Manajemen; dan
e. Analisis Kelayakan Keuangan.

Analisis atas Kelayakan Pasar

Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas perdagangan,
baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran pergerakan barang dan
material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya pada segmen logistik dan
distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar cenderung terkonsentrasi dan
didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok pembanding yang ada, terdapat tiga
perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) yang menguasai sebagian besar
pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru.

Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan yang
relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga. Kondisi ini
menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas operasional yang
kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan maupun meningkatkan
pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Analisis atas Kelayakan Teknis

Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan entitas
anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan sparepart dinilai
memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan mengacu pada model bisnis
distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar yang berkelanjutan. Kehadiran
entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi operasional, khususnya dalam
penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka peluang diversifikasi sumber
pendapatan bagi Perseroan.

Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai pelaksana
operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih terintegrasi, termasuk
dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan konsolidasian.

Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah Prakasa
Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha trading. Hal ini
didukung oleh kondisi bisnis inti yang sudah ada, jaringan usaha yang telah terbentuk, serta adanya
peluang sinergi dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan kebutuhan internal (captive market).
Selain itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi pendapatan dan meningkatkan efisiensi
operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan pengalaman di bisnis baru,
kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas pengelolaan, risiko tersebut masih dapat diatasi



Halaman 2                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 3
dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan
memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke
depan.

Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang sederhana,
namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud,
serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang kompeten pada bidang yang
sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang baru secara afektif dan efisien serta
didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan pembagian tugas yang jelas dari seluruh
personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.

Analisis atas Kelayakan Keuangan

Penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan baru
memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV,
IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan, penambahan bidang usaha
holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan nilai tambah dilihat dari analisis
inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan bidang usaha
memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba
rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS
berupa bidang usaha holding adalah layak untuk dijalankan.

Kesimpulan

Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan
serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis kelayakan, terkait
dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa aktivitas perusahaan
holding (KBLI 64200), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha Adalah
Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk
dilaksanakan.

Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis Kelayakan Pasar,
analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan Model Manajemen dan
analisis Keuangan serta semua asumsi-asunsi dapat terpenuhi, maka kami berpendapat bahwa Rencana
Usaha Persusahaan sehubungan dengan rencana penambahan KBLI INPS adalah LAYAK.

Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak
sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa
datang terkait dengan usaha perusahaan yang dinilai maupun atas hasil kajian yang telah dilaporkan.




Halaman 3                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 4

          
Page 5
                                                            DAFTAR ISI


SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5
BAB I    ................................................................................................................................. 7
PENDAHULUAN .......................................................................................................................7
  1.1    Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 7
  1.2    Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 7
  1.3    Pengguna Laporan ......................................................................................................... 7
  1.4    Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 7
  1.5    Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................... 8
  1.6    Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ................................................................................ 8
  1.7    Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ........................................................................... 8
  1.8    Tingkat Kedalaman Investigasi......................................................................................... 8
  1.9    Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan ........................................................ 8
  1.10 Asumsi Dan Asumsi Khusus ............................................................................................. 9
  1.11 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi .................................................................... 9
  1.12 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ............. 9
  1.13 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................... 9
  1.14 Data Dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 10
  1.15 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 10
  1.16 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 10
BAB II   ............................................................................................................................... 11
ANALISIS INPS DAN PERUSAHAAN TARGET ............................................................................... 11
  2.1.   Data dan Informasi....................................................................................................... 11
  2.2.   Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 11
  2.3.   Gambaran Umum INPS ................................................................................................ 12
  2.4.   Laporan Keuangan INPS ............................................................................................... 17
  2.5.   Analisis Laporan Keuangan INPS ................................................................................... 22
  2.6.   Prospek Usaha INPS ..................................................................................................... 25
BAB III  ............................................................................................................................... 26
ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 26
  3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 26
  3.2.   Konsisi Pasar Usaha Perseroan ...................................................................................... 30
  3.3.   Strategi Kelayakan Aspek Pasar ..................................................................................... 37
  3.4.   Prospek Industri ............................................................................................................ 37
  3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 38
BAB IV ............................................................................................................................... 39
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 39
  4.1.   Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 39
  4.2.   Rencana Pembentukan Entitas Anak ............................................................................... 39
  4.3.   Proses Bisnis Entitas Anak .............................................................................................. 40
  4.4.   Teknis Pelaksanaan Sebagai Holding ............................................................................. 41
  4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 41
BAB V    ............................................................................................................................... 42
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 42
  5.1    Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 42
  5.2    Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 42
  5.3    Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 43
  5.4    Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 44
  5.5    Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 44
  5.6    Analisis SWOT.............................................................................................................. 44
  5.7    Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 46
BAB VI ............................................................................................................................... 47
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 47
  6.1    Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 47


Halaman 5                                                                        00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 6
  6.2    Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 48
  6.3    Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 48
  6.4    Manajemen Risiko ........................................................................................................ 48
  6.5    Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 49
  6.6    Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 50
  6.7    Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 50
BAB VII ............................................................................................................................... 51
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 51
  7.1    Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 51
  7.2    Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 51
  7.3    Proyeksi Keuangan Entitas Anak .................................................................................... 51
  7.4    Analisis Profitabilitas ..................................................................................................... 54
  7.5    Analisis Tingkat Imbal Balik ........................................................................................... 54
  7.6    Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 55
  7.6.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 55
  7.6.2 Terminal Value ............................................................................................................. 57
  7.6.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 57
  7.7    Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 58
  7.8    Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 65
BAB VIII ............................................................................................................................... 66
KESIMPULAN .......................................................................................................................... 66
  8.1    Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 66
  8.2    Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 66
  8.3    Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 66
  8.4    Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 67
  8.5    Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 67
  8.6    Kesimpulan .................................................................................................................. 67
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 68
PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 69




Halaman 6                                                                        00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 7
                                                BAB I
                                            PENDAHULUAN



1.1   Identitas Status Konsultan

      Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
      Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
      memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
      Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
      No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
      Penilai Publik sebagai berikut:

      •     Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
            dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
            anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
      •     Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
            kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
            aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
      •     Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
            tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
            ini.

1.2   Identitas Pemberi Tugas

      Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah GIGP dengan informasi sebagai
      berikut :

      a. Nama Pemberi Tugas              : PT Graha Inti Guna Persada
      b. Alamat                          : Menara Jakarta Tower Fortune Lt.23 unit F. Jalan Kota Baru
                                           Bandar Kemayoran No. C-8. Jakarta Pusat 10610.
      c.    Bidang Usaha                 :-
      d.    No. Telepon/Fax              :-
      e.    Alamat Email                 :-
      f.    Penanggung Jawab             : Bapak Reagy Sukmana
      g.    Jabatan                      : Direktur

1.3   Pengguna Laporan

      Pengguna laporan dalam hal ini adalah:
      1. PT Graha Inti Guna Persada
      2. PT Indah Prakasa Sentosa Tbk

1.4   Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan

      Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      (KBLI) Holding Perusahaan PT Indah Prakasa Sentosa Tbk:




Halaman 7                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 8
      Tabel 2. Penambahan KBLI Holding KBLI 64200
       No        Kode KBLI                              Bidang Usaha
        1       KBLI 64200                      Aktivitas Perusahaan Holding
      Sumber: Informasi Manajemen

1.5   Jenis Mata Uang Yang Digunakan

      Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
      laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).

1.6   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan

      Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
      Kegiatan Usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 64200 yang
      diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan
      peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
      Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha
      (“POJK 17”).

      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
      35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
      (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
      Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
      Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya

1.7   Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)

      Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2025.

1.8   Tingkat Kedalaman Investigasi

      a.    Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
            terima dari pemberi tugas.
      b.    Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
            keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
      c.    Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
            kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
            keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
            (data yang relevan).
      d.    Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
            disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
            melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.

1.9   Sifat Dan Sumber Informasi Yang Dapat Diandalkan




Halaman 8                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 9
      Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
      digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
      internasional. Sumber data tersebut antara lain:
      a. Bank Indonesia.
      b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain
      c. Badan Pusat Statistik.
      d. Pemerintah Kota dan Kabupaten.
      e. Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
           dengan obyek studi kelayakan.
      f.   Media cetak dan elektronik resmi.
      g. Sumber lainnya.
      h. S&P Capital IQ

1.10 Asumsi Dan Asumsi Khusus

      Asumsi:
      • Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
         karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
         dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
      • Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
         dalam studi kelayakan.

1.11 Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi

      Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
      didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
      yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
      kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
      pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
      kelayakan.

      Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
      merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.

      Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
      sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.

1.12 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar

      Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
      Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).

1.13 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

      Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
      mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis atas Kelayakan Pasar; b. Analisis atas Kelayakan
      Teknis; c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis; d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
      e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.




Halaman 9                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 10
1.14 Data Dan Informasi Pendukung

      Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
      sebagai berikut:

      •   Hasil Pelaksanaan Inspeksi
          Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 23 April
          2026 dengan manajemen INPS serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
          mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.

      •   Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Kajian
          Obyek Kajian merupakan INPS dan Entitas Anak. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen
          hukum yang relevan dengan Obyek Kajian merupakan dokumen-dokumen hukum yang juga
          melekat pada INPS dan Entitas Anak. Adapun dokumen hukum INPS dan Entitas Anak, yang
          mencakup perijinan dan legalitas INPS dan Entitas Anak, diuraikan kemudian dalam
          Gambaran Umum INPS dan Entitas Anak.

1.15 Pernyataan Independensi Konsultan

     a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
        yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
     b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
        berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
        kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
        memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
        terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
     c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
        keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
        yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
        yang kami anggap relevan;
     d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
        aktual maupun potensial dengan objek Studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami
        tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
        objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.

1.16 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)

     Dari tanggal kajian (cut off date) per 31 Desember 2025 hingga laporan studi kelayakan ini
     diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal studi kelayakan (Subsequent Event).




Halaman 10                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 11
                                             BAB II
                             ANALISIS INPS DAN PERUSAHAAN TARGET



2.1.   Data dan Informasi

       Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:

          • Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
            Desember 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
            McMillanWoods”)        sebagaimana       tertuang       dalam       laporannya        No.
            00033/2.0641/AU.1/06/1105-5/1/III/2026 tertanggal 30 Maret 2026 yang
            ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi,CA., CPA dengan opini wajar dalam semua hal
            yang material;
          • Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
            Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
            McMillanWoods”)        sebagaimana       tertuang       dalam       laporannya        No.
            00040/2.0641/AU.1/06/1105-5/1/III/2025 tertanggal 27 Maret 2025 yang
            ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi,CA., CPA dengan opini wajar dalam semua hal
            yang material;
          • Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
            Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
            McMillanWoods”)        sebagaimana       tertuang       dalam       laporannya        No.
            00055/2.0641/AU.1/06/1105-3/1/III/2024 tertanggal 30 Maret 2024 yang
            ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi, CA., CPA dengan opini wajar dalam semua
            hal yang material;
          • Laporan keuangan INPS untuk periode dua belas bulan yang berakhir pada tanggal 31
            Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA (“KAP
            McMillanWoods”)        sebagaimana       tertuang       dalam       laporannya        No.
            00074/2.0641/AU.1/06/1105-2/1/IV/2023          tertanggal   18     April   2023      yang
            ditandatangani oleh Foreman Dodi Pribadi, CA., CPA dengan opini wajar dalam semua
            hal yang material;
          • Proyeksi keuangan INPS tahun 2026 sampai dengan 2031 yang disusun oleh manajemen
            INPS.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari INPS serta pihak pihak lain yang relevan untuk
            penugasan.
          • Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal INPS baik dari media cetak
            maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
          • Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
            dokumen.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal INPS serta pihak pihak lain yang
            relevan untuk penugasan.

2.2.   Pelaksanaan Wawancara

       Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 23 April 2026
       dengan manajemen INPS serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
       mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.




Halaman 11                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 12
2.3.   Gambaran Umum INPS

       a. Latar Belakang INPS

          PT Indah Prakasa Sentosa Tbk ("Perusahaan") didirikan berdasarkan akta notaris No. 44
          tanggal 15 Januari 1988 yang mengalami perubahan dengan Akta No. 73 tanggal 30 Maret
          1988 yang keduanya dibuat di hadapan Notaris Bachruddin Hardigaluh, S.H., di Cirebon.
          Akta tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia
          (“Menkumham”) berdasarkan Keputusan No. C2-5287-HT.01.01. Tahun 1988 tanggal 23
          Juni 1988. Anggaran Dasar Perusahaan mengalami perubahan dengan Akta No. 025 tanggal
          15 September 2008 tentang penyesuaian dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas No.
          40 Tahun 2007 dari Notaris Mutiara Hartanto, S.H., Notaris di Jakarta. Akta tersebut telah
          mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
          dengan surat keputusannya tanggal 28 November tahun 2008 No. AHU-91085.AHA.0102
          Tahun 2008.

          Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan dan perubahan
          terakhir dilakukan berdasarkan Akta No. 2 tanggal 27 Mei 2024 yang dibuat di hadapan
          Rahayu Ningsih, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum
          dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam keputusannya No. AHU-
          0032435.AH.01.02. Tahun 2024 serta telah dicatat dan diterima dalam Sistem Administrasi
          Badan Hukum dengan Nomor Surat AHU-AH.01.09-0209432 tanggal 3 Juni 2024.
          Perubahan Anggaran Dasar terakhir tersebut antara lain:

          1. Menyetujui perubahan anggaran dasar, penambahan dan penyesuaian bidang usaha
             Perseroan berdasarkan KlasifikasiBaku Lapangan Usaha Indonesia Tahun 2020.
          2. Menyetujui Perseroan untuk melakukan perubahan dan/atau penyesuaian anggaran
             dasar ketentuan dalam POJK Nomor 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan
             Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.

       b. Perizinan

          Perizinan yang telah diperoleh INPS, antara lain sebagai berikut:

          •   Akta Pendirian Nomor 73 tanggal 30 Maret 1988 dari Bachruddin Hardigaluh, S.H.,
              notaris di Cirebon. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
              Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-5287-HT.01,01.TH’88 tanggal 23 Juni 1988.
          •   Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan dan perubahan
              terakhir dilakukan berdasarkan Akta No. 2 tanggal 27 Mei 2024 yang dibuat di hadapan
              Rahayu Ningsih, S.H., Notaris di Jakarta, dan telah mendapat pengesahan dari Menteri
              Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam keputusannya No. AHU-
              0032435.AH.01.02. Tahun 2024
          •   Nomor Induk Berusaha No. 9120507722444 yang diterbitkan pada tanggal 21 Agustus
              2025 dan dikeluarkan oleh Menteri Investasi / Kepala Badan Kordinasi Penanaman
              Modal.
          •   Perizinan Berusaha Berbasis Risiko No. 91205077224440022 pada tanggal 19
              November 2024 dan dikeluarkan oleh Menteri Investasi / Kepala Badan Kordinasi
              Penanaman Modal.
          •   NPWP INPS 01.457.742.3-046.000



Halaman 12                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 13
        •    Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha No.
             16082210213172159
        •    Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)

     c. Kegiatan Usaha

        Maksud dan tujuan Perusahaan sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan adalah
        bergerak dalam bidang jasa pergudangan, perdagangan padat, gas dan cair, serta angkutan
        barang, Bahan Bakar Minyak, dan distribusi bahan berbahaya kimia dan beracun. Saat ini
        usaha utama Perusahaan adalah bergerak di bidang distribusi BBM (Bahan Bakar Minyak),
        LPG (Liquified Petroleum Gas), perdagangan BBM dan pelumas, kendaraan angkutan
        (transportasi), logistik dan jasa.

        Perusahaan memulai kegiatan komersialnya pada tahun 1988.

     d. Lokasi

        Perusahaan berdomisili di Jl. Sunter Garden Raya Blok D8 No. 3G-3H, Jakarta Utara 14350.
        Perusahaan dan Entitas Anak memiliki kantor cabang yang berlokasi di Cilegon, Bandung dan
        Samarinda.

     e. Susunan Pemegang Saham

        Berdasarkan informasi manajemen susunan pemegang saham INPS periode 31 Desember
        2025 adalah sebagai berikut:

        Tabel 3. Susunan Pemegang Saham INPS
                 Nama Pemegang Saham               Jumlah saham      % saham         Jumlah
         PT Surya Perkasa Sentosa                      450.000.000      69,23%     45.000.000.000
         PT Sinar Ratu Sentosa                          45.000.000       6,92%      4.500.000.000
         Tn/Mr. Eddy Purwanto Winata                     5.000.000       0,77%        500.000.000
         Masyarakat/Publik                             150.000.000      23,08%     15.000.000.000
         Total                                         650.000.000     100,00%     65.000.000.000
        Sumber: Informasi Manejemen

     f. Susunan Pengurus

        Berdasarkan informasi manajemen per 31 Desember 2025 susunan Dewan Komisaris dan
        Direksi INPS adalah sebagai berikut:

        Komisaris
        Komisaris Utama             : Lies Erliawati Winata
        Komisaris                   : Ir. Hadi Avila Tamzil

        Direksi:
        Direktur Utama              : Eddy Purwanto Winata
        Direktur                    : Jerry Erfansyah, SE




Halaman 13                                                    00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 14
     g. Latar Belakang Ekonomi

        Kajian ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB III dalam
        laporan ini.

     h. Pasar Geografis

        Pasar geografis PT Indah Prakasa Sentosa Tbk pada dasarnya berfokus di dalam negeri
        (Indonesia) dengan cakupan distribusi yang cukup luas antar wilayah.

        Cakupan Nasional (Indonesia)
        Perusahaan ini menjalankan bisnis logistik, distribusi BBM, LPG, pelumas, dan produk terkait
        di seluruh Indonesia, bukan terbatas pada satu daerah saja.
         - Melayani distribusi fuel, gas, chemical, dan FMCG secara nasional
         - Aktivitas mencakup transportasi darat, laut, pergudangan, hingga depot kontainer

     i. Risiko Usaha

        Analisa Risiko untuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk merupakan kajian sistematis atas berbagai
        ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan perusahaan,
        khususnya dalam kegiatan usaha logistik, transportasi, dan distribusi energi. Risiko-risiko
        tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang berdampak terhadap
        keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas.

        Ketidakpastian dalam industri logistik dan distribusi energi cenderung dipengaruhi oleh
        dinamika harga energi, kondisi infrastruktur, kebijakan pemerintah, serta kondisi ekonomi
        makro. Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi
        kerugian dan menjaga keberlanjutan usaha perusahaan.Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
        mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
        operasional dan finansial PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.

        a. Risiko Kredit

             Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
             akibat ketidakmampuan pelanggan, khususnya korporasi atau institusi pengguna jasa
             logistik dan distribusi energi, dalam memenuhi kewajiban pembayaran sesuai perjanjian.

             Dalam kegiatan usaha perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:

             •   Pemberian termin pembayaran kepada pelanggan industri
             •   Konsentrasi pelanggan pada sektor tertentu (misalnya energi atau manufaktur)
                 Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas perusahaan.

             Mitigasi dilakukan melalui:

             •   Analisis kelayakan kredit pelanggan
             •   Penetapan limit kredit dan termin pembayaran
             •   Pemantauan piutang secara berkala
             •   Diversifikasi basis pelanggan



Halaman 14                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 15
        b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah

             Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
             kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk, khususnya di sektor energi, transportasi,
             dan logistik.

             Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:

             •   Kebijakan distribusi BBM dan LPG
             •   Regulasi transportasi dan keselamatan angkutan bahan berbahaya
             •   Perizinan operasional dan standar lingkungan

             Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya operasional, ruang lingkup
             usaha, serta kelangsungan kontrak kerja sama dengan mitra strategis.

        c.   Risiko Operasional

             Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
             proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
             mengganggu kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.

             Risiko ini meliputi:

             •   Kecelakaan transportasi (darat/laut) dalam distribusi BBM/LPG
             •   Kerusakan armada atau infrastruktur logistik
             •   Gangguan rantai pasok (supply chain disruption)
             •   Human error dalam pengelolaan distribusi

             Ketergantungan pada armada transportasi dan infrastruktur logistik menjadikan aspek
             pemeliharaan dan keselamatan sebagai faktor krusial dalam operasional perusahaan.

        d. Risiko Persaingan Usaha

             Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri logistik
             dan distribusi energi.

             Risiko ini meliputi:
             • Tekanan harga jasa logistik
             • Perebutan kontrak dengan perusahaan energi dan industri besar
             • Kompetisi dalam kualitas layanan dan keandalan distribusi

             Masuknya pemain baru maupun ekspansi perusahaan logistik besar dapat meningkatkan
             intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar PT Indah Prakasa
             Sentosa Tbk.

        e. Risiko Usaha

             Risiko usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi
             dan industri yang memengaruhi permintaan jasa logistik dan distribusi energi.


Halaman 15                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 16
             Faktor utama yang memengaruhi antara lain:
             • Fluktuasi harga BBM dan energi
             • Pertumbuhan sektor industri dan manufaktur
             • Stabilitas ekonomi nasional

             Penurunan aktivitas ekonomi dapat berdampak pada volume distribusi dan pendapatan
             perusahaan.

        f.   Risiko Hukum

             Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
             ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

             Risiko ini dapat berasal dari:

             •   Sengketa kontrak dengan pelanggan atau mitra usaha
             •   Pelanggaran regulasi transportasi dan keselamatan
             •   Ketentuan lingkungan hidup terkait distribusi bahan berbahaya

             Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, serta gangguan
             operasional bagi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.

        g. Risiko Reputasi

             Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
             pelanggan dan mitra usaha terhadap PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.

             Risiko ini dapat muncul akibat:
             • Kecelakaan distribusi (misalnya kebocoran atau insiden BBM/LPG)
             • Keterlambatan pengiriman
             • Kegagalan memenuhi standar layanan

             Mengingat bisnis logistik sangat bergantung pada keandalan, reputasi menjadi faktor
             penting dalam mempertahankan kontrak jangka panjang.

        h. Risiko Kepatuhan

             Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
             transportasi, energi, dan lingkungan.

             PT Indah Prakasa Sentosa Tbk wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:

             •   Standar keselamatan transportasi bahan berbahaya
             •   Perizinan operasional
             •   Regulasi lingkungan dan emisi

             Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, pembatasan usaha, hingga
             pencabutan izin usaha.




Halaman 16                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 17
2.4.   Laporan Keuangan INPS

       Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
       keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
       keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
       dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
       masa depan.

       Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
       mengenai laporan keuangan INPS. Adapun data laporan keuangan INPS yang kami terima
       adalah sebagai berikut:

          •   Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 Audited
          •   Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 Audited
          •   Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 Audited
          •   Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 Audited
          •   Laporan Keuangan INPS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 Audited

       Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan INPS untuk periode 31 Desember
       2021 hingga 31 Desember 2025

       Tabel 4. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan INPS (dalam Juta Rupiah)
                                            Audited       Audited       Audited       Audited       Audited
              Laporan Posisi Keuangan
                                            Des 2021      Des 2022      Des 2023      Des 2024      Des 2025
       Aset
       Aset Lancar
       Kas dan Bank                             866          2.413         1.196          974          1.270
       Rekening yang dibatasi
                                                250
       Penggunaannya
       Piutang usaha:
         Pihak ketiga                         24.856        27.960        23.831        19.407        26.849
         Pihak berelas                         3.355         3.930         3.605         3.800         4.466
       Piutang lain-lain - Pihak ketiga               -       293                 -             -        67
       Persediaan                              3.880         2.647         2.402         3.442         3.657
       Pajak dibayar di muka                   4.454         2.086         1.336         1.982         2.613
       Beban dibayar di muka                    869           745           505           276           416
       Uang muka                                      -        11           212            18           274


       Total Aset Lancar                      38.530        40.084        33.087        29.900        39.612


       Aset Tidak Lancar
       Uang muka                               1.000                -             -             -             -
       Aset pajak tangguhan                    2.930         2.963         2.495         3.027         3.582
       Piutang lain-lain - Pihak berelasi     79.012      100.454       123.381       121.610         49.885
       Aset tetap                           293.932       166.891       133.954       106.925         99.448
       Aset hak guna                                  -             -       368           136                 -
       Aset lain-lain                           100           100



Halaman 17                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 18
                                          Audited     Audited        Audited     Audited        Audited
             Laporan Posisi Keuangan
                                         Des 2021    Des 2022       Des 2023    Des 2024       Des 2025
      Total Aset Tidak Lancar             376.974     270.408        260.199     231.698        152.914


      Total Aset                          415.504     310.491        293.286     261.598        192.526


      Liabilitas


      Liabilitas jangka pendek
      Utang bank jangka pendek            120.311     111.334         86.699      70.842
      Utang usaha:
        Pihak Ketiga                        6.129       4.970          4.359       5.960          3.572
        Pihak berelasi                         83       2.610            225         225            593
      Utang pajak                          22.572      23.131         20.847      22.344         21.205
      Beban akrual                         26.811      67.081         71.864     100.306         20.030
      Utang lembaga keuangan lainnya       17.373      16.484         22.138      22.138         16.488
      Utang lain-lain – pihak ketiga                      112         18.167      15.310         14.690
      Utang bank                           92.148      16.326          4.641                      6.000
      Liabilitas sewa                                           -        231         141
      Utang pembiayaan konsumen            10.257       2.332          3.610         564


      Total Liabilitas Jangka Pendek      295.685     244.382        232.781     237.831         82.578


      Liabilitas jangka panjang
      Utang lain-lain - pihak berelasi      3.958      14.849         30.684      48.121         98.090
      Utang Bank                              415      16.906            213               -     53.880
      Liabilitas sewa                                           -        141               -              -
      Utang pembiayaan konsumen            11.749       6.709            723               -              -
      Pendapatan diterima di muka             953               -        322         175            565
      Liabilitas imbalan kerja              9.016       8.297          7.526       8.168          8.609


      Total Liabilitas Jangka Panjang      26.091      46.761         39.608      56.463        161.144


      Total Liabilitas                    321.776     291.143        272.389     294.294        243.722


      Ekuitas


      Modal saham                          65.000      65.000         65.000      65.000         65.000
      Agio saham                           23.426      23.426         23.426      23.426         23.426
      Selisih kombinasi bisnis entitas
                                           55.541      55.541         55.541      55.541         55.541
      sepengendali
      Pengampunan pajak                     6.767       6.767          6.767       6.767          6.767
      Defisit                            (110.254)   (184.095)      (169.098)   (215.164)      (227.299)
      Pendapatan komprehensif lain:
                                           52.084      52.084         38.198      30.785         24.398
      Surplus revaluasi aset tetap



Halaman 18                                              00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 19
                                          Audited    Audited     Audited     Audited     Audited
             Laporan Posisi Keuangan
                                         Des 2021   Des 2022    Des 2023    Des 2024    Des 2025
      Kepentingan non-pengendali            1.165         626       1.064        949         971


      Total Ekuitas                        93.728      19.349     20.897     (32.697)    (51.197)


      Total Liabilitas dan Ekuitas        415.504    310.491     293.286     261.598     192.526
     Sumber: Laporan Keuangan INPS

     Total Aset

     Perkembangan total aset PT Indah Prakasa Sentosa Tbk selama periode 31 Desember 2021
     sampai dengan 31 Desember 2025 menunjukkan tren penurunan signifikan dengan rata-rata
     CAGR sekitar negatif 17,50%. Pada tahun 2021 total aset tercatat sebesar Rp415.504 Juta. Pada
     tahun 2022 total aset mengalami penurunan sebesar negatif 25,27% secara year on year menjadi
     Rp310.491 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023 total aset kembali menurun sebesar negatif 5,54%
     menjadi Rp293.286 Juta. Pada tahun 2024 total aset mengalami penurunan lanjutan sebesar
     negatif 10,81% menjadi Rp261.598 Juta. Hingga 31 Desember 2025, total aset kembali turun
     signifikan sebesar negatif 26,40% dan tercatat sebesar Rp192.526 Juta.

     Aset Lancar

     Perkembangan aset lancar selama periode analisis menunjukkan fluktuasi dengan
     kecenderungan relatif stabil, dengan CAGR sekitar 0,69%. Pada tahun 2021 aset lancar tercatat
     sebesar Rp38.530 Juta. Pada tahun 2022 meningkat sebesar 4,03% menjadi Rp40.084 Juta.
     Namun, pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar negatif 17,46% menjadi
     Rp33.087 Juta dan kembali turun pada tahun 2024 sebesar negatif 9,63% menjadi Rp29.900
     Juta. Pada tahun 2025, aset lancar mengalami peningkatan signifikan sebesar 32,48% menjadi
     Rp39.612 Juta. Kenaikan di tahun terakhir mengindikasikan adanya perbaikan likuiditas jangka
     pendek.

     Aset Tidak Lancar

     Aset tidak lancar menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam dengan CAGR sebesar
     (20,31%). Pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp376.974 Juta. Pada tahun 2022 mengalami
     penurunan signifikan sebesar 28,27% menjadi Rp270.408 Juta. Penurunan berlanjut pada tahun
     2023 sebesar 3,77% menjadi Rp260.199 Juta dan kembali turun pada tahun 2024 sebesar
     10,96% menjadi Rp231.698 Juta. Hingga tahun 2025, aset tidak lancar turun drastis sebesar
     34,00% menjadi Rp152.914 Juta.

     Total Liabilitas

     Total liabilitas menunjukkan tren fluktuatif dengan kecenderungan menurun tipis, dengan CAGR
     sekitar negatif 6,73%. Pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp321.776 Juta. Pada
     tahun 2022 menurun sebesar negatif 9,52% menjadi Rp291.143 Juta. Penurunan berlanjut pada
     tahun 2023 sebesar negatif 6,44% menjadi Rp272.389 Juta. Namun pada tahun 2024 terjadi
     peningkatan sebesar 8,04% menjadi Rp294.294 Juta. Pada tahun 2025 total liabilitas kembali
     menurun sebesar negatif 17,18% menjadi Rp243.722 Juta.



Halaman 19                                              00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 20
     Total Ekuitas

     Perkembangan total ekuitas menunjukkan penurunan fluktuatif. Pada tahun 2021 total ekuitas
     tercatat sebesar Rp93.728 Juta. Pada tahun 2022 turun drastis sebesar negatif 79,36% menjadi
     Rp19.349 Juta. Pada tahun 2023 terjadi sedikit peningkatan sebesar 8,00% menjadi Rp20.897
     Juta. Namun pada tahun 2024 ekuitas berubah menjadi negatif sebesar negatif Rp32.697 Juta,
     mencerminkan kondisi defisiensi modal. Kondisi ini semakin memburuk pada tahun 2025 dengan
     ekuitas negatif sebesar negatif Rp51.197 Juta.

     Tabel 5. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) INPS (dalam Juta Rupiah)
                                          Audited       Audited       Audited       Audited       Audited
               Laporan Laba Rugi
                                          Des 2021      Des 2022      Des 2023      Des 2024      Des 2025
      Pendapatan
      Pendapatan Usaha                     276.523       281.984       277.803       283.911       263.852


      Total Pendapatan                     276.523       281.984       277.803       283.911       263.852


      Beban Pendapatan
      Beban Pokok Pendapatan              (232.940)     (244.797)     (236.542)     (241.128)     (221.142)


      Total Beban Pendapatan              (232.940)     (244.797)     (236.542)     (241.128)     (221.142)


      Laba (Rugi) Kotor                     43.583        37.187        41.261        42.783        42.710


      Beban Penjualan                       (1.419)       (2.715)       (3.822)       (4.293)       (4.550)
      Beban umum dan administrasi          (33.655)      (28.427)      (36.166)      (36.734)      (30.933)
      Beban Amortisasi


      Laba (Rugi) Usaha                      8.509         6.045         1.274         1.756         7.227


      Pemulihan cadangan kerugian                   -        731         2.395         1.862           154
      Pemulihan imbalan kerja                       -             -             -             -         66
      Pendapatan bunga                              5             6             3             2             3
      Laba (rugi) penjualan aset tetap       2.513       (42.368)       (2.268)          384        (3.589)
      Provisi dan administrasi bank           (135)       (1.999)          (83)          (62)         (133)
      Pajak final                             (207)         (212)         (246)         (360)         (288)
      Bunga pembiayaan konsumen             (3.901)       (2.857)         (225)         (269)         (709)
      Beban penyisihan piutang                (376)       (1.601)         (946)       (3.747)       (2.239)
      Beban penghapusan piutang                     -             -     (3.198)               -     (3.220)
      Bunga Lembaga keuangan lainnya        (3.398)       (2.743)      (10.084)       (7.306)       (6.600)
      Bunga pinjaman bank                  (17.727)      (20.286)      (17.783)       (9.577)      (19.151)
      Lain-lain - bersih                   (13.319)       (2.743)       34.336       (10.659)       11.382
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak            (28.034)      (68.028)        3.174       (27.974)      (17.098)


      Manfaat (beban) pajak penghasilan
        Pajak kini                          (3.791)       (1.117)       (2.988)       (2.908)       (2.798)
        Pajak tangguhan                      3.791           294           (65)          651           761



Halaman 20                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 21
                                         Audited      Audited      Audited     Audited     Audited
              Laporan Laba Rugi
                                        Des 2021     Des 2022     Des 2023    Des 2024     Des 2025


      Laba (Rugi) Tahun Berjalan         (28.034)     (68.851)         121     (30.230)     (19.134)
     Sumber: Laporan Keuangan INPS


     Pendapatan

     Perkembangan pendapatan Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
     Desember 2025 menunjukkan tren yang relatif stabil dan masih fluktuatif. Pada tahun 2021,
     pendapatan tercatat sebesar Rp276.523 Juta. Pada tahun 2022, pendapatan meningkat sebesar
     1,97% secara year on year menjadi Rp281.984 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, pendapatan
     mengalami penurunan sebesar 1,48% menjadi Rp277.803 Juta. Pada tahun 2024, pendapatan
     kembali meningkat sebesar 2,20% menjadi Rp283.911 Juta. Pada 31 Desember 2025,
     pendapatan mengalami penurunan sebesar negatif 7,07% dan tercatat sebesar Rp263.852 Juta.

     Laba Bruto

     Perkembangan laba bruto Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
     Desember 2025 menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada tahun 2021, laba bruto tercatat sebesar
     Rp43.583 Juta. Pada tahun 2022, laba bruto mengalami penurunan sebesar negatif 14,68%
     menjadi Rp37.187 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, laba bruto meningkat sebesar 10,96%
     menjadi Rp41.261 Juta. Pada tahun 2024, laba bruto kembali meningkat sebesar 3,69% menjadi
     Rp42.783 Juta. Hingga tahun 2025, laba bruto relatif stabil dengan sedikit penurunan sebesar
     negatif 0,17% dan tercatat sebesar Rp42.710 Juta.

     Laba (Rugi) Usaha

     Perkembangan laba usaha Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
     Desember 2025 masih fluktuasi. Pada tahun 2021, laba usaha tercatat sebesar Rp8.509 Juta.
     Pada tahun 2022, laba usaha menurun sebesar negaitf 28,96% menjadi Rp6.045 Juta. Penurunan
     berlanjut pada tahun 2023 sebesar negatif 78,93% menjadi Rp1.274 Juta. Pada tahun 2024,
     laba usaha meningkat sebesar 37,83% menjadi Rp1.756 Juta. Hingga tahun 2025, laba usaha
     meningkat signifikan sebesar 311,63% dan tercatat sebesar Rp7.227 Juta.

     Laba (Rugi) Tahun Berjalan

     Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan Perusahaan selama periode 31 Desember 2021 sampai
     dengan 31 Desember 2025 masih fluktuatif. Pada tahun 2021, rugi tahun berjalan tercatat
     sebesar Rp28.034 Juta. Pada tahun 2022, rugi meningkat signifikan sebesar 145,56% menjadi
     Rp68.851 Juta. Selanjutnya pada tahun 2023, Perusahaan berhasil mencatatkan laba sebesar
     Rp121 Juta. Namun demikian, pada tahun 2024 kembali mengalami rugi sebesar negatif
     Rp30.230 Juta. Hingga tahun 2025, rugi tahun berjalan tercatat sebesar negatif Rp19.134 Juta.

     Tabel 6. Laporan Arus Kas INPS (dalam Juta Rupiah)
                                       Audited      Audited      Audited     Audited      Audited
              Laporan Arus Kas
                                      Dec 2021      Dec 2022     Dec 2023    Dec 2024     Dec 2025
      Kas Neto Diperoleh dari
      (Digunakan untuk) Aktivitas        40.336       (7.937)      (9.711)     10.442     (103.153)
      Operasi


Halaman 21                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 22
                                              Audited        Audited       Audited      Audited      Audited
               Laporan Arus Kas
                                              Dec 2021    Dec 2022        Dec 2023      Dec 2024     Dec 2025
        Kas Neto Diperoleh dari
        (Digunakan untuk) Aktivitas             16.189        68.342        15.570        (5.063)      (3.893)
        Investasi
        Kas Neto Diperoleh dari
        (Digunakan untuk) Aktivitas            (57.951)      (58.857)       (7.077)       (5.600)     107.341
        Pendanaan
        Penurunan Kenaikan Neto Kas
                                                (1.426)         1.548       (1.218)         (221)         295
        Dan Setara Kas
        Kas Dan Setara Kas Awal Tahun            2.292           866          2.413        1.196          974
        Pengaruh perubahan kurs                    866          2.413         1.196          974         1.270
        Kas Dan Setara Kas Akhir Tahun          40.336        (7.937)       (9.711)       10.442     (103.153)
       Sumber: Laporan Keuangan INPS


       Berikut adalah macam-macam arus kas INPS berdasarkan data historis laporan keuangan
       Perusahaan per 31 Desember 2025:

       ▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional INPS per 31 Desember 2025
         adalah sebesar negatif Rp103.153Juta.
       ▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi INPS per 31 Desember 2025 adalah
         sebesar negatif Rp3.893 Juta.
       ▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan INPS per 31 Desember 2025 adalah
         sebesar Rp107.341 Juta.

2.5.   Analisis Laporan Keuangan INPS

       Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan INPS dilakukan berdasarkan analisis
       terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
       berikut:

       a. Commonsize statement analysis

          Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
          INPS untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total asetnya,
          dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau beban
          terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
          dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:

          Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
                Laporan Posisi Keuangan          Dec 2021      Dec 2022      Dec 2023     Dec 2024    Dec 2025
           Jumlah Aset Lancar                        9,27%       12,91%        11,28%       11,43%      20,57%
           Jumlah Aset Tidak Lancar                90,73%        87,09%        88,72%       88,57%      79,43%
           Jumlah Aset                            100,00%       100,00%       100,00%      100,00%     100,00%
           Jumlah Liabilitas Jangka Pendek         71,16%        78,71%        79,37%       90,91%      42,89%
           Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          6,28%       15,06%        13,50%       21,58%      83,70%
           Jumlah Liabilitas                       77,44%        93,77%        92,87%      112,50%     126,59%
           Jumlah Ekuitas                          22,56%          6,23%        7,13%      -12,50%      -26,59%
           Jumlah Liabilitas Dan Ekuitas          100,00%       100,00%       100,00%      100,00%     100,00%
          Sumber: Analisis KJPP FDI&R



Halaman 22                                                        00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 23
        Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, pada
        periode 31 Desember 2025, proporsi aset lancar terhadap total aset lebih kecil dibandingkan
        dengan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset. Pada periode 31 Desember 2025
        proporsi aset lancar terhadap total aset adalah 20,57%, dan proporsi aset tidak lancar
        terhadap total aset adalah 79,43%.

        Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas selama 31 Desember 2021 sampai
        dengan periode 31 Desember 2025 lebih kecil dibandingkan dengan proporsi total ekuitas
        terhadap total liabilitas dan ekuitas. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas
        terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar 126,59% sedangkan proporsi ekuitas
        terhadap total liabilitas dan ekuitas selama periode 31Desember 2025 sebesar negatif
        26,59%.

        Tabel 8. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (rugi)
                Laporan Laba Rugi           Dec 2021       Dec 2022   Dec 2023      Dec 2024     Dec 2025
         Pendapatan                          100,00%        100,00%    100,00%       100,00%      100,00%
         Total Beban Usaha                   -84,24%        -86,81%     -85,15%       -84,93%      -83,81%
         Laba Bruto                           15,76%         13,19%     14,85%        15,07%       16,19%
         Laba Usaha                              3,08%        2,14%       0,46%         0,62%        2,74%
         Laba Sebelum Pajak Penghasilan      -10,14%        -24,12%       1,14%        -9,85%       -6,48%
         Laba Tahun Berjalan                 -10,14%        -24,42%       0,04%       -10,65%       -7,25%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


        Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
        usaha, laba (rugi) sebelum pajak dan laba (rugi) tahun berjalan pada 31 Desember 2025
        secara berturut-turut adalah sebesar 2,74%, -6,48% dan -7,25%.

     b. Ratio Analysis

        Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
        keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
        posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
        Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan INPS.

        Tabel 9. Analisis Rasio Keuangan
              Rasio Keuangan          Dec 2021      Dec 2022       Dec 2023       Dec 2024      Dec 2025
         Rasio Lukuiditas (x)
         Cash Ratio                         0,13            0,16        0,14           0,13          0,48
         Quick Ratio                        0,12            0,15        0,13           0,11          0,44
         Rasio Profitabilitas (%)           0,00            0,01        0,01           0,00          0,02
         Return on Assets
         Return on Equity                 -6,75%         -22,17%       0,04%        -11,56%        -9,94%
         Rasio Solvabilitas (%)         -29,91%      -355,84%          0,58%        92,46%        37,37%
         Debt to Assets Ratio
         Debt to Equity Ratio             77,44%         93,77%       92,87%       112,50%       126,59%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R




Halaman 23                                                    00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 24
        Rasio Likuiditas

        Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
        mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
        keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio Lancar (current ratio)

             Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini
             bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar INPS dapat
             menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
             maka semakin aman INPS. Rasio lancar INPS pada periode 31 Desember 2025 adalah
             sebesar 0,48 kali.

        2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

             rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
             pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat INPS pada 31 Desember 2025
             adalah sebesar 0,44 kali.

        3. Rasio Kas (cash ratio)

             Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
             INPS pada 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,02 kali.

        Rasio Profitabilitas

        Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
        laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio laba atas aset (return on asset)

             Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat
             menghasilkan laba. Rasio laba atas aset INPS pada 31 Desember 2025 adalah sebesar -
             9,94%.

        2. Rasio laba atas ekuitas (return on equity)

             Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau keuntungan yang
             diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Rasio laba atas ekuitas INPS pada 31
             Desember 2025 adalah sebesar 37,37%.

        Rasio Solvabilitas

        Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
        INPS untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori
        ini.




Halaman 24                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 25
        1. Rasio total debt terhadap total aset

             Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset INPS. Semakin
             tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan INPS. Adapun tingkat rasio debt
             terhadap total aset INPS 31 Desember 2025 adalah sebesar 126,59%.

        2. Rasio total debt terhadap total ekuitas

             Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
             INPS. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas. Berdasarkan tabel
             rasio keuangan INPS diatas dapat dilihat bahwa Rasio tingkat rasio debt terhadap total
             ekuitas INPS periode 31 Desember 2025 adalah sebesar -476,05%.

2.6. Prospek Usaha INPS


     Secara keseluruhan, prospek usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk menunjukkan potensi
     pertumbuhan yang moderat dengan karakter defensif, yang ditopang oleh dominasi segmen BBM
     dan SPBU sebagai kontributor utama pendapatan serta didukung oleh bisnis transportasi dan
     logistik yang berperan sebagai pendorong peningkatan volume dan efisiensi distribusi. Struktur
     pendapatan Perseroan yang berbasis pada distribusi energi menjadikan kinerja usaha relatif stabil
     dari sisi permintaan, mengingat produk yang diperdagangkan merupakan kebutuhan pokok
     dengan tingkat konsumsi yang konsisten di pasar domestik.

     Dari sisi struktur bisnis, keberadaan beberapa lini usaha yang saling terintegrasi meliputi distribusi
     BBM, LPG, pelumas, serta jasa transportasi dan logistik memberikan keunggulan kompetitif dalam
     bentuk diversifikasi pendapatan dan optimalisasi rantai pasok. Hal ini memungkinkan Perseroan
     untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen usaha tertentu sekaligus meningkatkan
     efisiensi operasional melalui pemanfaatan aset dan jaringan distribusi secara terpadu. Selain itu,
     kontribusi signifikan dari segmen logistik menunjukkan adanya peluang peningkatan margin di
     masa mendatang, mengingat segmen tersebut secara umum memiliki fleksibilitas harga yang
     lebih tinggi dibandingkan perdagangan energi yang cenderung diatur.




Halaman 25                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 26
                                                BAB III
                                     ANALISIS KELAYAKAN PASAR



3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik


       Makro Ekonomi Global

       Mengutip pada Outlook yang diterbitkan oleh OECD Economic Outlook, bahwa ekonomi global
       terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan tahun ini, akan tetapi tetap adanya faktor yang
       melandasi kerapuhan pada ekonomi. Secara garis besar ketahanan ekonomi global didukung
       oleh kebijakan yang masih luas dan serta meningkatnya investasi dan perdagangan yang
       didorong oleh optimisme terhadap perkembangan teknologi AI membantu menjaga permintaan
       di berbagai negara terus berjalan. Namun, di balik ketahanan tersebut, terdapat sejumlah
       kerentanan struktural yang cukup signifikan, antara lain ketergantungan pada kebijakan moneter
       dan fiskal yang suportif, tingginya ketidakpastian perdagangan global akibat potensi kenaikan
       tarif dan pembatasan ekspor, serta risiko koreksi di pasar keuangan yang dipicu oleh valuasi aset
       yang sudah tinggi. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan global diproyeksikan melambat pada
       2026 sebelum kembali pulih secara bertahap, sementara inflasi cenderung menurun menuju
       target, meskipun prospeknya tetap sangat bergantung pada bagaimana berbagai risiko tersebut
       dapat dikelola ke depan. Pertumbuhan PDB global diproyeksikan melambat dari 3,2% pada tahun
       2025 menjadi 2,9% pada tahun 2026, sebelum kembali meningkat menjadi 3,1% pada tahun
       2027.

       Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia: Negara Maju dan Emerging Economies (%, yoy)
                              Average 2013-                                  2025     2026     2027
                Indikator                     2024    2025* 2026* 2027*
                                  2019                                       Q4*      Q4*      Q4*
       Real GDP Growth (%)
       World                       3.4         3.3     3.2    2.9     3.1     3.0      3.0      3.1
       G20                         3.5         3.4     3.2    2.9     3.1     2.9      3.0      3.2
       OECD                        2.3         1.7     1.7    1.7     1.8     1.5      1.8      1.8
       United States               2.5         2.8     2.0    1.7     1.9     1.8      1.6      1.9
       Euro area                   1.9         0.8     1.3    1.2     1.4     1.0      1.5      1.4
       Japan                       0.8         -0.2    1.3    0.9     0.9     0.5      1.3      0.7
       Non-OECD                    4.4         4.5     4.4    3.9     4.0     4.1      3.9      4.1
       China                       6.8         5.0     5.0    4.4     4.3     4.7      4.3      4.3
       India                       6.8         6.5     6.7    6.2     6.4       -       -        -
       Brazil                      -0.4        3.3     2.4    1.7     2.2       -       -        -
       OECD Unemployment
                                   6.5         4.9     5.0    5.0     4.9     5.0      5.0      4.9
       Rate (%)
       Inflation (%)
       G20                         3.0         6.3     3.4    2.8     2.5     2.9      2.6      2.4
       OECD                        1.6         5.0     4.2    3.5     2.8     4.2      3.1      2.6
       United States               1.3         2.6     2.7    3.0     2.3     3.0      2.9      2.1
       Euro area                   0.9         2.4     2.1    1.9     2.0     2.0      1.9      2.0
       Japan                       0.9         2.7     3.2    2.2     2.1     2.7      2.2      2.1




Halaman 26                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 27
                            Average 2013-                                            2025      2026      2027
              Indikator                     2024     2025* 2026* 2027*
                                2019                                                 Q4*       Q4*       Q4*
     OECD Fiscal Balance
                                -3.1        -4.7        -4.5     -4.6     -4.6         -        -         -
     (% of GDP)
     World Real Trade
                                 3.3         3.9        4.2      2.3      2.8         3.3      2.7       2.9
     Growth (%)
     Keterangan: *Proyeksi
     Sumber: OECD Economic Outlook 118 database

     Pertumbuhan Ekonomi Domestik

     Mengutip pada laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025 Bank Indonesia, kinerja ekonomi
     Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2025 dan diproyeksikan terus menguat hingga
     2026 - 2027. Realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II dan III 2025 tercatat masing-
     masing sebesar 5,12% (yoy) dan 5,04% (yoy), meningkat dibandingkan capaian triwulan I 2025
     sebesar 4,87% (yoy). Peningkatan ini didorong oleh kinerja ekspor nonmigas yang menguat,
     terutama akibat percepatan ekspor ke Amerika Serikat sebagai respons antisipatif terhadap
     kebijakan tarif, serta kenaikan ekspor komoditas pertanian dan manufaktur, khususnya minyak
     kelapa sawit (Crude Palm Oil ,CPO) ke India seiring penurunan bea masuk. Dari sisi domestik,
     pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh meningkatnya investasi swasta dan realisasi berbagai
     program prioritas pemerintah, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
     Konsumsi rumah tangga turut menunjukkan kinerja yang cukup baik sejalan dengan tingginya
     mobilitas masyarakat, meskipun masih menghadapi tantangan berupa penurunan ekspektasi
     konsumen, terutama pada kelompok menengah ke bawah, serta keterbatasan penciptaan
     lapangan kerja. Secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia ke depan diperkirakan akan
     terus mengalami perbaikan.

      Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia – Sisi Pengeluaran (%, yoy)
                                                                 2025      2025
              Komponen          2023*   2024** 2025 I***                              2025P     2026P      2027P
                                                                  II***     III***
     Pertumbuhan Ekonomi        5,05    5,03       4,87        5,12       5,04       4,7-5,5   4,9-5,7   5,1-5,9
     Konsumsi Swasta            4,94    5,11       4,91        5,04       4,87       4,6-5,4   4,9-5,7   4,9-5,7
     Konsumsi Pemerintah        3,02    6,61       -1,37       -0,33      5,49       2,0-2,8   7,2-8,0   5,9-6,7
     Investasi                  3,76    4,61       2,12        6,99       5,04       4,8-5,6   5,6-6,4   6,4-7,2
     Ekspor                     1,34    6,51       6,44        10,95      9,91       7,7-8,5   4,9-5,7   5,3-6,1
     Impor                       -1,6   7,95        4          11,48      1,18       6,5-7,3   5,0-5,8   5,8-6,6
     Sumber: BPS, Bank Indonesia 2025

     Mengacu pada laporan Bank Indonesia, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid
     pada 2025 ditopang oleh kontribusi hampir seluruh wilayah. Pada triwulan III 2025, pertumbuhan
     tertinggi tercatat di wilayah Jawa sebesar 5,17% (yoy), disusul oleh wilayah Sulawesi, Maluku, dan
     Papua (Sulampua) sebesar 4,96% (yoy), Sumatra sebesar 4,90% (yoy), Bali dan Nusa Tenggara
     (Balinusra) sebesar 4,71% (yoy), serta Kalimantan sebesar 4,70% (yoy). Dari sisi sektoral, kuatnya
     pertumbuhan di Jawa didorong oleh peningkatan kapasitas industri dan produksi pertanian,
     sementara di Kawasan Timur Indonesia pertumbuhan industri dipacu oleh program hilirisasi
     mineral, khususnya nikel, bauksit, dan tembaga.

     Dari sisi pengeluaran, investasi menjadi motor utama pertumbuhan, terutama pada kawasan
     industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Batang, Kendal, dan Gresik di Jawa, serta
     wilayah Sulampua yang didorong hilirisasi nikel, di tengah konsumsi rumah tangga yang masih
     relatif terbatas di sebagian besar wilayah. Sementara itu, kinerja ekspor didukung oleh komoditas


Halaman 27                                                     00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 28
     unggulan masing-masing wilayah, seperti logam di Jawa, minyak kelapa sawit (CPO) dari
     Sumatra, serta besi dan baja dari Sulampua, meskipun ekspor batu bara dari Kalimantan
     mengalami tekanan akibat melemahnya permintaan global.

        5,15                                                                                             5,15
                                          5,11                                         5,12          5,11 5,1
         5,1
        5,05                   5,04               5,05                                        5,04       5,05
                                                                   5,02
             5                                                                                           5
        4,95           4,94                               4,95                                           4,95
         4,9                                                                                             4,9
                                                                           4,87
        4,85                                                                                             4,85
         4,8                                                                                             4,8
        4,75                                                                                             4,75
         4,7                                                                                             4,7
                  Q3 2023 Q4 2023 Q1 2024 Q2 2024 Q3 2024 Q4 2024 Q1 2025 Q2 2025 Q3 2025 Q4 2025

                                      Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%)           Indonesia

                                          Sumber: Badan Pusat Statistik 2025, diolah
                 Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia – Sektor Lapangan Usaha (c-o-c)

     Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi pada 2025 di berbagai wilayah
     Sumatra, Jawa, Kalimantan, Balinusra, dan Sulampua. Diperkirakan berada pada kisaran
     masing-masing 4,8-5,2%, 4,7-5,5%, 4,3-5,1%, 4,2-5,0%, dan 4,2-4,8%. Ke depan, pada 2026,
     pertumbuhan di seluruh wilayah tersebut diproyeksikan meningkat lebih lanjut, mencerminkan
     berlanjutnya penguatan aktivitas ekonomi nasional secara lebih merata.

                       Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Spasial Triwulan III 2025 (%, yoy)




     Sumber: Badan Pusat Statistik, 2025




Halaman 28                                                         00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 29
     Perkembangan inflasi

     Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan
     data Badan Pusat Statistiktercatat inflasi sebesar 0,17% (mtm), sehingga secara tahunan IHK
     mengalami inflasi sebesar 2,72% (yoy). Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada November
     2025 sebesar 0,17% sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada November 2025 sebesar
     2,27%. Tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada November 2025 sebesar 2,36%; dengan inflasi
     m-to-m sebesar 0,17 persen; dan inflasi y-to-d sebesar 2,18%. Inflasi inti pada November 2025
     tercatat sebesar 0,17% (mtm), lebih rendah dari realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,39%
     (mtm). Realisasi inflasi inti pada November 2025 disumbang terutama oleh komoditas emas
     perhiasan. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas
     emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga. Secara tahunan, inflasi inti November
     2025 tercatat sebesar 2,36% (yoy), stabil dibandingkan realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar
     2,36% (yoy). Sedangkan berdasarkan data proyeksi IMF, inflasi Indonesia pada tahun 2025
     mencapai 1,68% (yoy) dengan rata-rata proyeksi inflasi tahun 2020 – 2030 sebesar 2,32%.

                               4,00       3,71

                               3,50

                               3,00
                                                                    2,51     2,50     2,52              2,52
                               2,50               2,30
                                                                                               2,19
                 Inflasi (%)




                               2,00                        1,68

                               1,50

                               1,00

                               0,50

                                  -
                                        2023 E   2024 E   2025 F   2026 F   2027 F   2028 F   2029 F   2030 F

                                      Sumber: International Monetary Fund (IMF) Oktober 2025, diolah
                                  Grafik 2. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)

     Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

     Nilai tukar Rupiah tetap relatif stabil yang didukung oleh konsistensi bauran kebijakan moneter
     Bank Indonesia serta aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Hingga akhir
     Desember 2025, Rupiah tercatat mengalami depresiasi yang terbatas sebesar 1,55%
     dibandingkan posisi akhir Desember 2024.

     Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh ketidak pastian pasar keuangan global, khususnya terkait
     arah kebijakan suku bunga global dan fluktuasi indeks dolar AS. Meski demikian, pelemahan nilai
     tukar Rupiah masih relatif terkendali. Dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2024, Rupiah
     tercatat terdepresiasi sebesar 1,55%, lebih rendah dibandingkan pelemahan beberapa mata uang
     lain seperti Dolar Australia 2,10%, Peso Filipina 3,90%, Dolar Taiwan 4,20%, dan Won Korea
     5,80%.




Halaman 29                                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 30
                                       Sumber: Bank Indonesia, diolah 2025
                  Grafik 3. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Negara Kawasan 2025

     Suku Bunga

     Pada Bulan Desember 2025, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate
     sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility
     sebesar 5,50%. Keputusan ini diambil sejalan dengan fokus kebijakan jangka pendek pada
     stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak
     meningkatnya ketidakpastian global, dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran
     kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Hal ini juga akan
     berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman yang ditetapkan oleh perbankan. Pada
     periode Desember 2025, tingkat suku bunga pinjaman Perseroan untuk modal kerja, investasi
     dan konsumsi tercatat turun di level 8,12%; 8,44% dan 8,97%.

      Tabel 3. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
                      Bank Persero                   2020      2021     2022    2023   2024   2025
       Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan             8,77     8,34     8,29   8,93   8,67    8,12
       Pinjaman Investasi Yang Diberikan               8,87     8,49     8,72   9,41   9,21    8,44
      Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan               10,56     10,14     9,65   9,27   9,09    8,97
     Sumber: Bank Indonesia Desember 2025, diolah

3.2. Konsisi Pasar Usaha Perseroan


     Kondisi Pasar

     Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen
     (c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pertambangan dan
     Penggalian yang terkontraksi sebesar 0,66 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan
     adalah Jasa Lainnya sebesar 9,93 persen; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,10 persen; serta
     Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,78 persen. Sementara itu, Industri Pengolahan; serta
     Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang memiliki peran dominan
     terhadap perekonomian Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 5,30 persen dan 5,49 persen.




Halaman 30                                                    00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 31
      15              13,96

             10,52                                    9,80                                     9,93
      10                                                     8,38 8,69                                9,10 8,78
                  8,24

                              4,85                                       4,89                                     5,49 5,33 5,30
                                            4,64                                       4,43
       5
                                     1,31                                       0,68
       0
                          2023                                     2024                                     2025

               Jasa Lainnya                                              Jasa Perusahaan
               Transportasi dan Pergudangan                              Perdagangan,Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
               Pertanian, Kehutanan, & Perikanan                         Industri Pengolahan

                                                   Sumber: BPS, diolah (2025)
                         Grafik 4. Lima Industri Penyumbang Terbesar PDB, 2020-2025

     Perkembangan Industri Logistik

     Sektor transportasi dan logistik merupakan bagian penting dalam mendukung perdagangan baik
     global maupun dalam negeri karena berperan dalam memastikan kelancaran pergerakan barang
     dan material antar wilayah maupun antar negara. Kegiatan di dalam sektor ini mencakup
     berbagai proses, mulai dari pengangkutan jarak jauh, pengelolaan distribusi, hingga penanganan
     kargo khusus. Sejak tahun 2011, biaya logistik terhadap PDB terus berada pada level tinggi,
     seperti yang terlihat pada grafik berikut:

             14,40%                                                              14,29%               14,29%
             14,20%           14,14%

             14,00%
             13,80%
             13,60%
                                                      13,36%
             13,40%
             13,20%
             13,00%
             12,80%
                               2020                    2021                       2022                  2023

                                                   Sumber: Bappenas, diolah
                                 Grafik 5. Biaya logistik terhadap PDB 2020-2023

     Sektor ini menuntut tingkat ketepatan waktu, keandalan, serta kemampuan beradaptasi yang
     tinggi untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri. Seiring dengan perkembangan globalisasi
     dan kemajuan teknologi, peran transportasi dan logistik menjadi semakin krusial dalam
     menghubungkan pasar, mempercepat waktu distribusi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi
     secara keseluruhan. Dengan cepatnya pertumbuhan sektor ini, jumlah kendaraan truk juga
     mengalami peningkatan setiap tahunnya, tercermin dari data yang menunjukkan kenaikan dari
     5.299 unit pada tahun 2021, menjadi 5.544 unit pada 2022, kemudian 6.087 unit pada 2023,
     meningkat lagi menjadi 6.277 unit pada 2024, dan mencapai 6.474 unit pada 2025.




Halaman 31                                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 32
             200.000
             180.000
             160.000
             140.000
             120.000
             100.000
                                                                                166.466         172.938
              80.000                           148.262       159.122
                             142.002
              60.000
              40.000
              20.000
                  -           5.299             5.544           6.087            6.277              6.474
                              2021              2022            2023             2024               2025

                             Jumlah Kendaraan Bermotor - Truk           Jumlah kendaraan Nasional

                                                Sumber: BPS, diolah (2025)
                         Grafik 6. Perkembangan Jumlah Truk di Indonesia 2021-2025

     Dalam sektor transportasi dan logistik, terdapat berbagai lini operasional dengan kebutuhan dan
     tantangan yang berbeda-beda, sehingga digunakan beragam jenis moda transportasi yang
     disesuaikan secara khusus. Salah satunya adalah penggunaan truk khusus yang dirancang untuk
     mendukung kegiatan logistik tertentu sesuai dengan karakteristik barang dan kebutuhan
     distribusinya. Berikut beberapa jenis truk yang digunakan terdaftar pada SNI indonesia, untuk
     Jenis-Jenis Special Purpose Container.

     Tabel 4. Jenis-Jenis Special Purpose Container di Indonesia
     No.                 Jenis Container                         Standar / Sertifikasi yang Berlaku di Indonesia
                                                                            DNV 2.7-1 / EN 12071-1
      1.               Offshore Container
                                                                    (wajib untuk operasi lepas pantai migas)
                       Hazardous Material
      2.                                                                 IMDG Code (IMO) 9 kelas bahaya
                       (Hazmat) Container
                                                          ISO 1496-2 : Standar mesin: Carrier, Thermoking, Daikin,
      3.                 Reefer Container
                                                                                 Starcool
                                                                          ATEX Directive (Ex d / Ex i) -IECEx
      4.               Blast-Proof Container
                                                                        (Standar ASCE untuk blast resistance)
     Sumber: KLHK RI, Kemenhub RI, dan Supply Chain Indonesia.

     Perkembangan Industri Distribusi BBM dan Gas

     Pertumbuhan sektor retail BBM dan LPG dari tahun ke tahun menunjukkan dinamika yang
     beragam, sebagaimana tercermin dalam kinerja penyaluran oleh PT Pertamina Patra Niaga.
     Sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan
     Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, yang telah diubah sebanyak 3 (tiga) kali terakhir melalui
     Peraturan Presiden Nomor 117 tahun 2021, Bahan Bakar Minyak dibagi menjadi 3 kategori, yaitu
     Jenis BBM Tertentu (JBT) yang terdiri dari minyak tanah (kerosene) dan minyak solar, Jenis BBM
     Khusus Penugasan (JBKP) yang berupa bensin RON minimum 90 untuk didistribusikan di wilayah
     penugasan dan Jenis BBM Umum (JBU) yang terdiri atas seluruh jenis BBM di luar JBT dan JBKP.
     Pada segmen BBM ritel, kinerja mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Setelah tumbuh
     sebesar 6,62% pada 2021, volume penyaluran BBM mengalami kontraksi tajam sebesar 15,16%
     pada 2022. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap konsumsi, yang
     kemungkinan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti penyesuaian harga, pembatasan mobilitas,



Halaman 32                                                         00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 33
     maupun perubahan perilaku konsumsi energi. Memasuki 2023 hingga 2024, kinerja BBM
     cenderung stabil dengan kontraksi yang semakin terbatas (-0,53%) dan kembali mencatat
     pertumbuhan positif sebesar 1,26%. Hal ini menunjukkan adanya fase pemulihan, meskipun
     pertumbuhan masih relatif terbatas, mengindikasikan bahwa konsumsi BBM mulai mencapai titik
     yang lebih mature.Selain itu, ekspansi dan optimalisasi jaringan SPBU turut memperkuat
     aksesibilitas dan menjaga stabilitas konsumsi BBM secara berkelanjutan.

                        64.000                     63.038                                                      10,00%

                        62.000                          6,62%
                                                                                                               5,00%
                        60.000    59.126
                                                                                                       1,26%
                                                                                         -0,53%                0,00%
                        58.000
         (Kilo Liter)




                        56.000                                                                                 -5,00%
                                                                   53.481                         53.867
                        54.000                                                    53.197
                                                                                                               -10,00%
                        52.000
                                                                        -15,16%                                -15,00%
                        50.000

                        48.000                                                                                 -20,00%
                                   2020            2021             2022              2023        2024

                                                            Bbm Ritel        growth

                                             Sumber:Lakin Pertamina Parta Niaga,Diolah
                                 Grafik 7.       Perkembangan kinerja Penjualan Segmen BBM Ritel

     Selain faktor volume penyaluran, perkembangan sektor retail BBM juga dipengaruhi oleh
     dinamika harga jual eceran yang diatur pemerintah. Hal ini sebagaimana tercermin dalam
     kebijakan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 beserta perubahannya, serta ketentuan
     teknis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di mana harga jual eceran BBM
     ditetapkan oleh badan usaha dengan mengacu pada formula harga tertinggi yang telah
     ditentukan.Kebijakan ini menunjukkan bahwa penetapan harga BBM tidak sepenuhnya berbasis
     mekanisme pasar, melainkan dipengaruhi oleh faktor kebijakan pemerintah dan dinamika harga
     energi global. Dengan demikian, perubahan harga jual eceran memiliki implikasi terhadap pola
     konsumsi masyarakat, meskipun permintaan BBM cenderung relatif stabil dalam jangka pendek.

     Dengan berpedoman pada ketentuan tersebut, harga jual eceran BBM dalam praktiknya
     mengalami fluktuasi secara berkala mengikuti perkembangan harga pasar, namun tetap berada
     dalam batas atas yang telah ditetapkan. Hal ini tercermin pada pergerakan harga BBM jenis
     bensin dan minyak solar sepanjang tahun 2025 yang menunjukkan tren dinamis dengan
     penyesuaian bulanan. Kondisi ini mencerminkan mekanisme penetapan harga yang bersifat semi-
     regulated, di mana perubahan harga tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar, namun tidak
     sepenuhnya ditransmisikan kepada konsumen. Dengan demikian, volatilitas harga yang terjadi
     relatif dapat diredam, sehingga turut menjaga stabilitas konsumsi BBM di tengah dinamika harga
     energi global.




Halaman 33                                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 34
                                                Sumber: Lakin Kementerian ESDM, 2025
                            Grafik 8. Perkembangan Harga Jual Eceran BBM jenis umum tahun 2025

     Segmen Liquefied Petroleum Gas (LPG) menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil dalam
     periode 2020 s.d 2024. Pertumbuhan tercatat sebesar 3,97% pada 2021 dan meningkat
     signifikan menjadi 8,74% pada 2022, yang mencerminkan peningkatan permintaan, khususnya
     dari sektor rumah tangga dan usaha mikro. Meskipun pertumbuhan sempat mengalami stagnasi
     pada 2023 (-0,03%), kinerja kembali menunjukkan perbaikan pada 2024 dengan pertumbuhan
     sebesar 1,47%.

     Secara umum, stabilitas pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa LPG merupakan
     kebutuhan energi yang bersifat esensial, dengan tingkat konsumsi yang relatif terjaga meskipun
     terjadi fluktuasi kondisi ekonomi. Hal ini juga menunjukkan bahwa permintaan LPG cenderung
     lebih tangguh dibandingkan energi lain yang lebih dipengaruhi oleh dinamika mobilitas dan
     aktivitas industri.

                            80.000                                                                          10,00%
                                                                    68.546          68.528        69.537
                            70.000                                       8,74%                              9,00%
                                                     63.038
                                                                                                            8,00%
                            60.000                                                                          7,00%
             (Kilo Liter)




                            50.000                                                                          6,00%
                                                                                                            5,00%
                            40.000
                                                          3,97%                                             4,00%
                            30.000                                                                          3,00%
                            20.000     14.159                                                               2,00%
                                                                                                      1,47%
                                                                                                            1,00%
                            10.000                                                                          0,00%
                                                                                         -0,03%
                                0                                                                           -1,00%
                                        2020          2021          2022            2023          2024

                                                              LPJ          growth

                                               Sumber:Lakin Pertamina Parta Niaga,DiolaH
                                     Grafik 9. Perkembangan kinerja Penjualan Segmen Gas LPG

     Namun demikian, pertumbuhan LPG khususnya pada segmen tabung 3 kg tidak sepenuhnya
     mencerminkan dinamika pasar, mengingat penyalurannya diatur melalui kebijakan kuota oleh
     Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Berdasarkan data periode 2021 s.d 2025, realisasi
     penyaluran LPG 3 kg secara konsisten berada sangat dekat dengan kuota yang ditetapkan,
     dengan tingkat penyerapan berkisar antara 97,5% hingga 99,7%.


Halaman 34                                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 35
     Tingginya tingkat realisasi terhadap kuota tersebut menunjukkan bahwa permintaan LPG subsidi
     bersifat stabil dan cenderung fleksibel, terutama karena penggunaannya yang dominan pada
     sektor rumah tangga dan usaha mikro. Di sisi lain, kondisi ini juga mengindikasikan bahwa ruang
     pertumbuhan LPG subsidi relatif terbatas, karena volume penyaluran sangat bergantung pada
     kebijakan kuota yang ditetapkan pemerintah.

     Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga terus
     melakukan transformasi sistem distribusi sejak 2023 melalui program Subsidi Tepat LPG berbasis
     pendataan digital. Hingga 2025, puluhan juta pengguna telah terdaftar dalam sistem tersebut,
     yang bertujuan untuk meningkatkan ketepatan sasaran subsidi serta mengoptimalkan distribusi
     LPG di lapangan.

    Tabel 5. Kuota dan Realisasi LPG Tabung 3 kg
                                                   Realisasi LPG Tabung 3 kg (Juta
       Tahun    Kuota LPG Tabung 3 kg (Juta MT)                                      Persentase (%)
                                                                 MT)
       2025                    8,54                              8,52                    99,7
       2024                    8,03                             8,23                     99,3
       2023                     8                               8,046                    99,3
       2022                     8                               7,807                    97,5
       2021                    7,5                              7,456                    99,4
     Sumber: Lakin Kementerian ESDM, 2025

     Pangsa Pasar

     Berdasarkan perbandingan pendapatan perusahaan-perusahaan terbuka dalam industri yang
     sama, total nilai pasar tercatat sebesar Rp1.713.563 juta yang terbagi di antara delapan pelaku
     industri utama. PT SAPX menjadi pelaku industri dominan dengan pangsa pasar terbesar, yaitu
     30,53% atau setara Rp523.135 juta, diikuti oleh PT PURA dengan pangsa sebesar 21,99% dan
     pendapatan Rp376.840 juta. Kedua perusahaan ini secara kolektif menguasai lebih dari separuh
     pasar, yaitu sebesar 52,52%, yang mencerminkan tingkat konsentrasi pasar yang cukup tinggi.

     Di bawahnya, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar
     sebesar 15,40% atau setara Rp263.852 juta. Posisi ini menegaskan peran INPS sebagai salah satu
     pelaku industri utama dengan daya saing yang solid, terutama karena mampu mempertahankan
     jarak yang cukup signifikan dari kompetitor terdekatnya, PT LAJU yang memiliki pangsa pasar
     sebesar 12,47%.Sementara itu, PT LOPI, PT TNCA, PT JAYA, dan PT DEAL secara kolektif
     menguasai sekitar 19,61% pangsa pasar, yang menunjukkan bahwa sisa pasar relatif tersebar di
     antara pelaku industri lainnya.




Halaman 35                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 36
                                        Market Share (%)
                                        4,31%    3,39%
                                      4,32%
                                   7,59%

                                                         30,53%
                                            12,47%

                                                        21,99%

                                     15,40%


                                  PT SAPX     PT PURA    PT INPS   PT LAJU
                                  PT LOPI     PT TNCA    PT JAYA   PT DEAL

                                     Sumber: S&P,Diolah 2025
                                    Grafik 10. Pemetaan Pangsa Pasar

     Dengan pangsa pasar sebesar 15,40%, INPS memiliki fondasi yang kuat sebagai pelaku industri
     terbesar ketiga di industri ini. Meskipun masih terdapat selisih dengan dua pelaku industri teratas,
     posisi ini memberikan ruang yang cukup bagi perusahaan untuk memperkuat daya saing dan
     secara bertahap mendekati peringkat kedua melalui optimalisasi kinerja operasional dan strategi
     pertumbuhan yang tepat.

     Pesaing Usaha

     Berdasarkan data publik perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT INPS
     beroperasi dalam industri dengan jumlah pelaku yang relatif terbatas, yaitu hanya delapan pelaku
     industri aktif. Dengan demikian, tingkat persaingan langsung yang dihadapi perusahaan terbatas
     pada tujuh kompetitor, jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan industri lain yang
     umumnya dihuni oleh puluhan hingga ratusan pelaku usaha. Kondisi ini menunjukkan bahwa
     industri tersebut memiliki karakteristik persaingan yang selektif dan tidak terlalu tersebar.

     Terbatasnya jumlah pelaku industri tersebut kemungkinan disebabkan oleh tingginya hambatan
     masuk (barriers to entry) bagi pendatang baru. Industri ini pada umumnya menuntut kebutuhan
     modal yang besar, kepemilikan izin dan regulasi khusus dari pemerintah, infrastruktur operasional
     yang kompleks, serta pembangunan jaringan distribusi yang memerlukan waktu dan investasi
     jangka panjang. Selain itu, struktur pasar yang terbentuk mengarah pada karakteristik pasar
     dengan jumlah pelaku terbatas, di mana sebagian besar pangsa pasar dikuasai oleh segelintir
     pelaku industri. Hal ini tercermin dari dominasi dua pelaku utama yang secara kolektif menguasai
     lebih dari separuh pasar, yaitu sebesar 52,52%. Di sisi lain, tingkat kematangan industri juga turut
     berperan, mengingat pelaku-pelaku yang telah lama beroperasi umumnya memiliki basis
     pelanggan yang kuat, skala ekonomi, serta reputasi yang sulit disaingi oleh pendatang baru.

     Berikut kompetitor Perseroan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia baik swasta maupun
     pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia:

      1.   PT Satria Antaran Prima Tbk
      2.   PT Logisticsplus International Tbk
      3.   PT Dewata Freightinternational Tbk
      4.   PT Jasa Berdikari Logistics Tbk


Halaman 36                                                       00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 37
       5. PT Putra Rajawali Kencana Tbk
       6. PT Armada Berjaya Trans Tbk
       7. PT Trimuda Nuansa Citra Tbk


       Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa struktur industri yang relatif terkonsentrasi menjadi
       faktor yang mendukung stabilitas posisi PT INPS. Dengan menempati peringkat ketiga dari
       delapan pelaku industri dan menguasai pangsa pasar sebesar 15,40%, perusahaan dapat
       dikategorikan sebagai pelaku yang telah mapan dan memiliki peran yang signifikan dalam
       industri, dengan prospek keberlanjutan posisi yang relatif terjaga dalam jangka menengah hingga
       panjang.


3.3.   Strategi Kelayakan Aspek Pasar

       Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, Perseroan telah menetapkan berbagai
       strategi usaha ekspansif dalam memperluas jangkauan pengiriman barang. Selain untuk
       memenuhi target pertumbuhan pendapatan, langkah ini juga diarahkan untuk dapat menjangkau
       pelanggan potensial. Di sisi lain, menjaga kepercayaan, ketepatan waktu, dan keamanan
       pengiriman secara profesional maupun personal, menjadi faktor standar yang harus
       dipertahankan agar Perseroan menjadi pilihan utama pelanggan dalam memenuhi kebutuhan
       pengiriman barang.

       Beberapa strategi pemasaran Perseroan dalam hal pengembangan dan pemasaran, di
       antaranya:

       a. Mengakuisisi pasar pesaing;
       b. Konsumen yang loyal;
       c. Melakukan penetrasi pasar dengan menambah jaringan pemasaran;
       d. Menjalin komunikasi baik dengan pelanggan serta memberikan layanan yang unggul;
       e. Pelayanan yang tepat waktu sesuai jadwal dan kontrak yang disepakati.


3.4.   Prospek Industri

       PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) memiliki prospek pertumbuhan yang positif, didukung oleh
       posisinya sebagai pelaku industri terbesar ketiga dengan pangsa pasar sebesar 15,40%.
       Pencapaian ini mencerminkan fondasi bisnis yang kuat, terutama mengingat industri yang bersifat
       terkonsentrasi dan memiliki hambatan masuk yang tinggi. Selain memberikan stabilitas, struktur
       pasar tersebut juga menciptakan peluang pertumbuhan yang terukur, di mana selisih sekitar 6,6
       poin persentase dengan pelaku di posisi kedua masih terbuka untuk dipersempit melalui strategi
       ekspansi dan peningkatan kinerja operasional.

       Di sisi lain, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam
       menjaga momentum kinerja dan meningkatkan daya saing. Ancaman kompetitif dari pelaku di
       bawahnya perlu diantisipasi, sementara efisiensi operasional dan inovasi layanan menjadi faktor
       kunci untuk memperkuat posisi di pasar. Secara keseluruhan, dengan kombinasi posisi pasar yang
       solid dan ruang pertumbuhan yang masih tersedia, INPS berada pada jalur yang prospektif untuk
       memperkuat perannya di industri dalam jangka menengah hingga panjang.




Halaman 37                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 38
3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar

       Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas
       perdagangan, baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran
       pergerakan barang dan material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya
       pada segmen logistik dan distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar
       cenderung terkonsentrasi dan didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok
       pembanding yang ada, terdapat tiga perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
       (INPS) yang menguasai sebagian besar pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan
       hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru.

       Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan
       yang relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga.
       Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas
       operasional yang kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan
       maupun meningkatkan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.




Halaman 38                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 39
                                             BAB IV
                                   ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS



4.1. Bisnis Perusahaan

     Dalam kondisi industri energi dan logistik yang dinamis serta penuh tantangan, Perseroan
     meyakini tetap memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan potensi
     pasar yang tersedia. Saat ini Perseroan berfokus pada penguatan bisnis inti di bidang distribusi
     BBM dan pengelolaan SPBU yang menjadi kontributor utama pendapatan, serta pengembangan
     segmen transportasi dan logistik sebagai pendorong efisiensi dan peningkatan volume usaha.
     Dengan jaringan distribusi yang telah dimiliki, hubungan bisnis dengan pelanggan utama, serta
     pengalaman operasional di sektor energi, Perseroan memiliki posisi yang cukup kompetitif dalam
     industri.

     Didukung oleh permintaan energi domestik yang relatif stabil, khususnya pada segmen BBM dan
     LPG yang merupakan kebutuhan pokok, Perseroan memproyeksikan pertumbuhan usaha yang
     berkelanjutan dalam jangka menengah. Selain itu, sebagai langkah diversifikasi usaha, Perseroan
     berencana untuk memperkuat lini bisnis logistik dan distribusi energi dengan meningkatkan
     kapasitas armada, optimalisasi jaringan distribusi, serta pengembangan layanan logistik yang
     memiliki nilai tambah lebih tinggi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional
     sekaligus memperluas pangsa pasar Perseroan.

     Di sisi lain, Perseroan juga mempertimbangkan penguatan struktur usaha melalui pengembangan
     fungsi holding guna mendukung ekspansi bisnis yang lebih fleksibel dan terintegrasi. Dengan
     strategi tersebut, Perseroan diharapkan mampu mengelola berbagai lini usaha secara lebih
     optimal serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

     Dengan mempertimbangkan lokasi operasional yang strategis, basis pelanggan yang kuat, serta
     strategi pengembangan usaha yang adaptif, Perseroan optimis dapat meningkatkan kinerja usaha
     di masa yang akan datang. Diharapkan langkah-langkah strategis yang direncanakan dapat
     memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan serta memberikan kontribusi positif
     bagi para pemangku kepentingan.

4.2. Rencana Pembentukan Entitas Anak

     Dinamika pertumbuhan sektor logistik dan distribusi di Indonesia yang terus berkembang
     mendorong peningkatan kebutuhan akan keandalan armada operasional, khususnya dalam hal
     pemeliharaan dan ketersediaan suku cadang (sparepart). Kebutuhan tersebut mencakup baik
     komponen yang bersifat rutin (fast moving) maupun komponen kritikal yang berpengaruh
     langsung terhadap kinerja dan keselamatan kendaraan. Seiring dengan meningkatnya aktivitas
     distribusi barang dan jasa, permintaan terhadap sparepart kendaraan logistik diperkirakan akan
     terus mengalami pertumbuhan.

     Selain itu, kondisi ekonomi global dan domestik yang fluktuatif, termasuk dampak dari dinamika
     geopolitik dan perubahan harga komoditas, turut mempengaruhi biaya operasional sektor
     logistik. Dalam hal ini, efisiensi pengelolaan armada, termasuk pengadaan sparepart yang tepat
     waktu dan kompetitif, menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha para pelaku
     industri.



Halaman 39                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 40
      Melihat kondisi tersebut, Perseroan memandang adanya peluang strategis untuk melakukan
      diversifikasi usaha di luar kegiatan usaha utama melalui pengembangan bisnis perdagangan
      sparepart, khususnya untuk kendaraan logistik. Rencana ini diharapkan tidak hanya dapat
      membuka sumber pendapatan baru, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui
      sinergi dengan kegiatan usaha Perseroan, terutama dalam mendukung efisiensi operasional
      armada internal maupun ekosistem bisnis terkait. Oleh karenanya Perseroan perlu menuntaskan
      proyeksi-proyeksi yang telah direncanakan, sehingga Perseroan berencana untuk Pengembangan
      Usaha dengan berinvestasi pada Entitas Baru. Bahwa dalam mendirikan Entitas Anak, maka
      Perseroan perlu menambahkan Bidang Usaha baru dalam Kegiatan usahanya yaitu KBLI 64200,
      Aktifitas Perusahaan Holding. Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding
      companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan
      kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat
      dalam kegiatan usaha perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan
      penasihat (counsellors) dan perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi
      perusahaan.

      Pendirian Entitas Anak

      Pada pendirian Entitas Anak dilakukan setelah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
      Pendirian ini melibatkan PT Graha Inti Guna Persada yang juga pemegang saham Perseroan
      dalam hal ini PT Indah Prakasa Sentosa Tbk.

      Struktut Kepemilikan pada Entitas Anak

      Pada pendirian Entitas Anak, Perseroan akan mengambil porsi saham sebesar 99,00% dan PT
      Graha Inti Guna Persada sebesar 1,00% dari rencana modal ditempatkan, dengan rincian
      sebagai berikut:

      Modal Dasar                              :-
      Modal Ditempatkan dan Disetor            : 10.000.000.000
      Persentase Kepemilikan Perseroan         : 99,00%
      Persentase kepemilikan Lainnya           : 1,00%

4.3. Proses Bisnis Entitas Anak

      Proses bisnis entitas anak yang direncanakan bergerak di bidang perdagangan sparepart
      kendaraan logistik disusun dengan mengacu pada model usaha distribusi dan perdagangan pada
      umumnya, dengan penyesuaian terhadap karakteristik produk serta kebutuhan pasar. Secara
      garis besar, proses bisnis akan mencakup tahapan pengadaan, pengelolaan persediaan,
      penjualan, hingga distribusi kepada pelanggan.

      Pada tahap awal, kegiatan operasional akan diawali dengan proses identifikasi kebutuhan pasar
      dan penentuan jenis produk sparepart yang akan diperdagangkan, baik yang bersifat fast moving
      maupun komponen kritikal lainnya pada industri sparepart. Selanjutnya, entitas anak akan
      melakukan seleksi dan penunjukan pemasok (supplier), baik dari dalam negeri, dengan
      mempertimbangkan aspek harga, kualitas, serta kontinuitas pasokan. Setelah proses pengadaan,
      sparepart akan disimpan dalam fasilitas gudang yang dikelola oleh entitas anak. Dalam hal ini,
      pengelolaan persediaan menjadi salah satu aspek penting, mengingat karakteristik bisnis yang



Halaman 40                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 41
       sangat bergantung pada ketersediaan barang dan kecepatan distribusi. Oleh karena itu, entitas
       anak direncanakan akan menerapkan sistem manajemen persediaan (inventory management)
       untuk mengoptimalkan tingkat stok serta meminimalkan risiko kelebihan atau kekurangan
       barang.

       Pada sisi penjualan, entitas anak akan memasarkan produk kepada segmen pelanggan yang
       meliputi perusahaan logistik, operator armada, bengkel, serta pelanggan lainnya yang
       membutuhkan sparepart kendaraan niaga. Penjualan dapat dilakukan melalui mekanisme
       business-to-business (B2B) maupun secara terbatas melalui saluran lainnya sesuai dengan
       perkembangan usaha. Selain itu, entitas anak juga akan melakukan fungsi administrasi dan
       pelaporan, termasuk pencatatan transaksi penjualan, pembelian, serta penyusunan laporan
       keuangan secara berkala. Sistem dan prosedur operasional yang diterapkan akan disesuaikan
       dengan skala usaha serta kebutuhan pengendalian internal.

4.4. Teknis Pelaksanaan Sebagai Holding

       Dalam rangka mendukung rencana pengembangan usaha melalui pembentukan entitas anak,
       Perseroan berencana untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan holding yang berperan
       dalam pengelolaan, pengendalian, serta pengawasan terhadap entitas anak. Pelaksanaan fungsi
       holding tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan organisasi,
       sumber daya, serta kompleksitas kegiatan usaha.

       Secara umum, peran Perseroan sebagai holding akan difokuskan pada aspek pengendalian
       strategis, termasuk penetapan arah kebijakan, pengawasan kinerja, serta pengelolaan investasi
       pada entitas anak. Dalam hal ini, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan
       operasional harian entitas anak, melainkan bertindak sebagai pengendali (controlling entity) yang
       memastikan bahwa seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan strategi dan tata kelola yang
       telah ditetapkan.

       Dalam pelaksanaannya, Perseroan direncanakan akan menetapkan struktur tata kelola
       (governance structure) yang mencakup pembagian peran dan tanggung jawab antara holding dan
       entitas anak. Fungsi-fungsi strategis seperti perencanaan korporasi, pengendalian keuangan,
       manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap regulasi akan dikoordinasikan oleh Perseroan
       sebagai holding, sementara fungsi operasional akan dijalankan oleh entitas anak.

4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis

       Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan
       entitas anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan
       sparepart dinilai memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan
       mengacu pada model bisnis distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar
       yang berkelanjutan. Kehadiran entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi
       operasional, khususnya dalam penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka
       peluang diversifikasi sumber pendapatan bagi Perseroan.

       Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai
       pelaksana operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih
       terintegrasi, termasuk dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan
       konsolidasian.



Halaman 41                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 42
                                             BAB V
                                ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS


5.1   Kegiatan Utama Usaha

      Maksud dan tujuan dari Perseroan ialah berusaha dalam bidang Perdaangan, Pembangunan,
      Pertanian, Pertambangan, Industri, Percetakan Pengangkutan dan Jasa.

      Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas Perseroan dapat melaksanakan kegiatan
      usaha sebagai berikut:

      a. Kegiatan Usaha Utama

          1. Pergudangan Dan Penyimpanan (52101)

             Kelompok ini mencakup usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan barang
             sementara sebelum barang tersebut di kirim ke tujuan akhir, dengan tujuan komersil

      b. Kegiatan Usaha Penunjang

          1. Aktivitas Bounded Warehousing Atau Wilayah Kawasan Berikat (52103)

             Kelompok ini mencakup usaha atau kegiatan yang merupakan bagian dari wilayah
             pabean yang dengan peraturan pemerintah diberikan perlakuan khusus seperti berada
             di luar wilayah pabean dan dikelola oleh suatu badan berbentuk perusahaan yang
             melakukan kegiatan pergudangan, seperti Daerah Industri Pulau Batam

          2. Pergudangan Dan Penyimpanan Lainnya (52109)

             Kelompok ini mencakup usaha pergudangan dan penyimpanan lainnya yang belum
             tercakup dalam kelompok 52101 s.d. 52103.

5.2   Penambahan Kegiatan Usaha

      Manajemen PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memandang bahwa rencana pengembangan usaha,
      khususnya dalam bidang perdagangan (trading) sparepart, perlu dijalankan melalui entitas
      tersendiri agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu memberikan
      kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Selain itu, pembentukan entitas anak
      diharapkan dapat mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam
      pengelolaan dan pengembangan bisnis.

      Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan
      penambahan kegiatan usaha dengan mengadopsi fungsi sebagai perusahaan holding. Langkah
      ini diperlukan agar Perseroan memiliki landasan hukum dan struktur usaha yang memadai dalam
      membentuk serta mengelola entitas anak, termasuk yang bergerak di bidang perdagangan
      sparepart industri yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan usaha logistik Perseroan.




Halaman 42                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 43
      Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
      penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
      berikut:

      Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha

      Nama KBLI         : Aktivitas Perusahaan Holding
      Kode KBLI         : 64200

      Kelompok ini mencakup kegiatan perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan
      yang memiliki dan mengendalikan aset dari satu atau lebih perusahaan subsidiari, dengan
      kegiatan utama berupa kepemilikan atas entitas tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara
      langsung menjalankan kegiatan operasional dari entitas anak, melainkan berperan dalam
      pengelolaan strategis, pengawasan kinerja, serta pengambilan keputusan investasi. Kegiatan
      holding juga dapat mencakup dukungan dalam perencanaan pengembangan usaha, termasuk
      kajian atas kerja sama strategis, merger, maupun akuisisi yang relevan dengan strategi
      pertumbuhan Perseroan.

5.3   Keunggulan Kompetitif

      Dalam konteks pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI sebagai perusahaan
      holding, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari
      kemampuannya dalam mendukung dan mengintegrasikan kegiatan usaha dalam satu grup.
      Perseroan tidak hanya berperan sebagai entitas operasional di sektor distribusi BBM dan logistik,
      namun juga memiliki potensi untuk menjadi pusat pengelolaan strategis yang mampu
      mengoptimalkan sinergi antar lini usaha.

      Keunggulan utama Perseroan terletak pada kemampuannya dalam mendukung usaha dalam
      grup (group support), baik melalui pemanfaatan jaringan distribusi yang telah dimiliki,
      pengelolaan armada logistik, maupun hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha. Dengan
      adanya struktur holding, Perseroan dapat mengarahkan pengembangan usaha secara lebih
      terkoordinasi, termasuk dalam mendukung operasional entitas anak yang bergerak di bidang
      trading atau perdagangan khususnya pada bidang sparepart. Hal ini menciptakan efisiensi biaya,
      peningkatan keandalan operasional, serta memperkuat posisi tawar terhadap pemasok dan
      pelanggan.

      Selain itu, pola bisnis yang terintegrasi memungkinkan Perseroan untuk mengembangkan
      ekosistem usaha (business ecosystem) yang saling mendukung, dimana kebutuhan internal seperti
      pengadaan sparepart dapat dipenuhi secara mandiri, sekaligus membuka peluang pasar
      eksternal. Pendekatan ini memberikan nilai tambah dibandingkan kompetitor yang beroperasi
      secara terpisah tanpa dukungan ekosistem internal.

      Dengan demikian, keunggulan kompetitif Perseroan tidak hanya terletak pada masing-masing lini
      usaha, tetapi pada kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan sinergi antar entitas
      dalam grup secara efektif. Hal ini menjadi faktor pembeda utama yang mendukung keberhasilan
      implementasi pola bisnis berbasis holding serta meningkatkan daya saing Perseroan di industri.




Halaman 43                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 44
5.4   Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk

      Dari sisi produk, perdagangan sparepart pada dasarnya merupakan bisnis yang bersifat umum
      dan relatif mudah dimasuki oleh pelaku usaha lain, sehingga tingkat diferensiasi produk
      cenderung terbatas. Namun demikian, keunggulan Perseroan tidak semata-mata terletak pada
      produk, melainkan pada pola bisnis terintegrasi dan ekosistem usaha yang telah terbentuk.
      Pesaing pada umumnya perlu membangun jaringan distribusi, hubungan dengan pelanggan,
      serta sistem operasional yang terintegrasi dari awal, yang memerlukan waktu, biaya, dan skala
      usaha yang tidak kecil. Selain itu, keberadaan captive market internal serta dukungan operasional
      dari bisnis existing menjadi faktor yang sulit direplikasi dalam jangka pendek. Dengan demikian,
      meskipun produk dapat ditiru, keseluruhan model bisnis dan sinergi yang dimiliki Perseroan relatif
      lebih sulit untuk disamai oleh pesaing.

5.5   Kemampuan Menciptakan Nilai

      Pola bisnis berbasis holding memberikan ruang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah
      melalui beberapa aspek strategis sebagai berikut:

      1. Dari sisi efisiensi operasional, integrasi antara bisnis logistik dan perdagangan sparepart
         memungkinkan optimalisasi pengadaan, distribusi, serta pemeliharaan armada, yang pada
         akhirnya dapat menekan biaya operasional
      2. Dari sisi diversifikasi pendapatan, penambahan lini usaha trading sparepart memberikan
         sumber pendapatan baru yang tidak hanya bergantung pada distribusi energi, sehingga
         meningkatkan ketahanan usaha terhadap fluktuasi sektor tertentu.
      3. Dari sisi penguatan rantai nilai (value chain), Perseroan dapat mengendalikan sebagian
         kebutuhan penting dalam operasionalnya, sehingga meningkatkan keandalan dan kualitas
         layanan. Keempat, dari sisi fleksibilitas pengembangan usaha, struktur holding memungkinkan
         Perseroan untuk melakukan ekspansi lebih lanjut, baik melalui pembentukan entitas baru
         maupun kerja sama strategis. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan tidak hanya
         mendukung pertumbuhan, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai perusahaan secara
         berkelanjutan.

5.6   Analisis SWOT

      Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
      mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
      ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
      dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
      mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
      perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.

      Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
      kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
      Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
      internal serta dinamika eksternal yang dihadapi.

      Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana Penambahan KBLI Holding Perusahaan pada PT
      Indah Prakasa Sentosa Tbk:




Halaman 44                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 45
     Strengths (Kekuatan)

     • Bisnis inti yang sudah ada di distribusi BBM dan pengelolaan SPBU, didukung permintaan
       energi domestik yang relatif konsisten sehingga memberikan dasar pendapatan yang kuat.
     • Jaringan distribusi dan infrastruktur logistik yang telah berjalan, memungkinkan efisiensi
       operasional serta kemudahan dalam pengembangan lini usaha baru.
     • Hubungan bisnis dan basis pelanggan yang sudah terbentuk, memberikan akses pasar yang
       jelas tanpa harus membangun dari awal.
     • Potensi sinergi operasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sparepart untuk armada
       internal sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya dan keandalan operasional.

     Weaknesses (Kelemahan)

     • Pengalaman di bisnis sparepart masih terbatas, sehingga diperlukan masa penyesuaian di
       awal operasional yang dapat mempengaruhi efektivitas usaha.
     • Peningkatan kompleksitas struktur organisasi akibat perubahan menjadi holding, yang
       memerlukan penguatan tata kelola dan koordinasi antar entitas.
     • Kebutuhan modal kerja yang cukup besar, terutama untuk pengadaan dan pengelolaan
       persediaan sparepart yang bersifat inventory-based.
     • Potensi terbagi fokus manajemen, antara pengelolaan bisnis inti yang sudah berjalan dengan
       pengembangan usaha baru.

     Opportunities (Peluang)

     • Pertumbuhan sektor logistik dan transportasi, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan
       akan pemeliharaan armada dan ketersediaan sparepart.
     • Permintaan sparepart yang berkelanjutan, baik untuk komponen fast moving maupun critical
       parts yang dibutuhkan secara rutin.
     • Adanya captive market, yaitu kebutuhan internal armada Perseroan serta jaringan mitra usaha
       yang sudah ada.
     • Diversifikasi sumber pendapatan, yang dapat mengurangi ketergantungan pada bisnis inti dan
       meningkatkan ketahanan usaha.

     Threats (Ancaman)

     • Persaingan industri yang tinggi, baik dari distributor besar maupun pemain lokal yang telah
       lebih dulu beroperasi di bisnis sparepart.
     • Fluktuasi harga dan ketergantungan pada pemasok, terutama jika sparepart berasal dari
       impor yang dipengaruhi nilai tukar dan kondisi global.
     • Risiko gangguan rantai pasok, yang dapat mempengaruhi ketersediaan barang dan
       kelancaran operasional.
     • Kewajiban regulasi dan kepatuhan yang lebih kompleks, khususnya sebagai perusahaan
       terbuka dan holding dalam mengelola transaksi antar entitas.

     Secara keseluruhan, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk memiliki kekuatan yang solid dari sisi bisnis
     inti, jaringan, dan basis pelanggan yang mampu mendukung pengembangan usaha baru, serta
     peluang pasar yang terbuka seiring pertumbuhan sektor logistik dan kebutuhan sparepart yang
     berkelanjutan; meskipun terdapat kelemahan seperti keterbatasan pengalaman dan peningkatan
     kompleksitas organisasi, serta ancaman dari persaingan, fluktuasi harga, dan risiko rantai pasok,


Halaman 45                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 46
      faktor-faktor tersebut pada prinsipnya masih dapat dikelola dengan strategi dan tata kelola yang
      tepat, sehingga rencana pengembangan usaha melalui pembentukan holding dan bisnis trading
      sparepart secara umum dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan.

5.7   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis

      Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah
      Prakasa Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha
      trading khususnya sparepart secara umum layak untuk dijalankan. Hal ini didukung oleh kondisi
      bisnis inti yang sudah stabil, jaringan usaha yang telah terbentuk, serta adanya peluang sinergi
      dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan kebutuhan internal (captive market). Selain
      itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi pendapatan dan meningkatkan efisiensi
      operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan pengalaman di bisnis
      baru, kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas pengelolaan, risiko tersebut masih dapat
      diatasi dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, pola bisnis yang
      direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
      peningkatan nilai Perseroan ke depan.




Halaman 46                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 47
                                            BAB VI
                            ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN



6.1   Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen

      Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan PT Indah Prakasa
      Sentosa Tbk dalam menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan
      pertumbuhan usaha yang berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia
      yang berkualitas, adaptif, serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri.
      Oleh karena itu, Perseroan secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan
      kompetensi karyawan guna mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan
      kebutuhan operasional dan strategi bisnis.

      Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
      yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
      kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
      Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
      kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
      operasional.

      Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
      meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
      berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
      pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
      membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

      Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi PT Indah Prakasa Sentosa Tbk adalah sebagai
      berikut:

      Dewan Komisaris
      Komisaris Utama                  : Lies Erliawati Winata
      Komisaris                        : Ir. Hadi Avila Tamzil

      Dewan Direksi
      Direktur Utama                   : Eddy Purwanto Winata
      Direktur                         : Jerry Erfansyah, SE

      Komite Audit
      Ketua                            : Hadi Avilla Tamzil
      Anggota                          : Ari Binsar
      Anggota                          : Achmad Syafei

      Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
      disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
      secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
      pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
      kebijakan perusahaan secara efektif.



Halaman 47                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 48
      Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
      manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
      meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.

6.2   Ketersediaan Tenaga Kerja

      Sehubungan dengan penambahan kegiatan usaha menjadi perusahaan holding, PT Indah
      Prakasa Sentosa Tbk telah mengembangkan strategi untuk mempertahankan jajaran manajemen
      dan staf operasional yang ada, dengan pertimbangan bahwa pengalaman dan keahlian mereka
      sangat relevan untuk mendukung lini usaha Perseroan setelah penambahan kegiatan usaha.

      Hingga 31 Desember 2025, Perseroan memiliki 123 karyawan, dimana dengan kondisi saat ini
      sebagian dari karyawan dapat dipergunakan dalam rencana fokus pada fungsi strategis
      pengelolaan investasi, pengawasan, serta koordinasi dengan entitas anak. Jumlah tenaga kerja
      yang ada dinilai memadai untuk menunjang operasional yang berjalan, sejalan dengan
      karakteristik usaha holding yang lebih menitikberatkan pada pengelolaan manajemen dibanding
      aktivitas operasional langsung. Perseroan juga berupaya mengoptimalkan kapasitas sumber daya
      manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas, peningkatan kompetensi, serta pemanfaatan
      tenaga kerja secara efektif.

6.3   Manajemen Kekayaan Intelektual

      Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
      tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
      suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
      mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
      berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
      reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).

      Sehubungan dengan kegiatan usaha PT Indah Prakasa Sentosa Tbk yang bergerak di bidang
      perdagangan dan distribusi, aspek kekayaan intelektual yang relevan umumnya meliputi merek
      dagang, identitas usaha, serta sistem dan jaringan distribusi yang mendukung operasional
      Perseroan.

6.4   Manajemen Risiko

      Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
      memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.

      1. Risiko Ketergantungan Usaha
         Rencana sebagai perusahaan holding, kinerja Perseroan sangat bergantung pada portofolio
         investasinya. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor, wilayah, atau entitas
         tertentu dapat meningkatkan volatilitas pendapatan, khususnya ketika sektor tersebut
         menghadapi tekanan pasar atau pengetatan regulasi. Untuk memitigasi risiko ini, Perseroan
         dapat membangun portofolio yang lebih seimbang melalui diversifikasi investasi lintas sektor
         maupun wilayah, menetapkan batas eksposur maksimum terhadap satu entitas, serta
         melakukan peninjauan berkala atas kontribusi dan kinerja masing-masing investasi.




Halaman 48                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 49
      2. Risiko Regulasi

         Perusahaan holding tidak hanya terikat pada aturan terkait kepemilikan, tetapi juga
         terdampak oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha anak perusahaan. Perubahan
         kebijakan pemerintah, seperti kenaikan tarif pajak, atau perubahan aturan lingkungan, dapat
         menekan profitabilitas anak usaha dan mengurangi daya tarik investasi. Mitigasinya adalah
         dengan memperkuat fungsi kepatuhan di tingkat holding, membangun komunikasi aktif
         dengan regulator, berpartisipasi dalam asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan,
         serta menyiapkan rencana kontinjensi agar anak usaha dapat beradaptasi lebih cepat
         terhadap perubahan regulasi.


      3. Risiko Manajemen Investasi

         Keputusan investasi yang kurang tepat, seperti akuisisi dengan valuasi terlalu tinggi atau
         penyertaan modal pada bisnis yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
         pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini juga muncul ketika proses pengawasan
         pasca investasi lemah sehingga kinerja anak usaha tidak sesuai ekspektasi. Untuk mengurangi
         risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis dan seleksi investasi dengan melibatkan
         konsultan independen. Selain itu, pemantauan kinerja anak usaha harus dilakukan secara
         periodik, sehingga langkah korektif dapat segera diambil jika terdapat ketidaksesuaian
         dengan target.


      4. Risiko Keuangan


         Struktur permodalan holding sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
         ekuitas maupun utang. Di sisi lain, risiko likuiditas timbul jika arus dividen dari anak usaha
         tidak stabil atau tertunda, sehingga holding mengalami kesulitan memenuhi kewajiban jangka
         pendeknya. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu menjaga struktur modal yang optimal
         dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat, dan melakukan diversifikasi sumber
         pendanaan. Cadangan kas yang memadai juga harus dijaga untuk menghadapi
         ketidakpastian arus kas masuk dari anak usaha.

6.5   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen

      Manajemen PT Indah Prakasa Sentosa (INPS) pada dasarnya memiliki pengalaman dan
      kompetensi yang memadai dalam mengelola kegiatan usaha yang bergerak di bidang distribusi,
      logistik, serta perdagangan, yang menjadi fondasi utama dalam pengembangan struktur holding
      ke depan. Pengalaman operasional yang telah berjalan menunjukkan bahwa manajemen
      memiliki pemahaman yang baik terhadap rantai pasok, pengelolaan jaringan distribusi, serta
      hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha.

      Dalam pembentukan sebagai perusahaan dengan bidang usaha holding, kemampuan
      manajemen INPS tercermin dari beberapa aspek utama. Pertama, dari sisi strategis, manajemen
      dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang terintegrasi antar entitas anak,
      termasuk dalam menentukan positioning bisnis, sinergi operasional, serta optimalisasi sumber
      daya yang dimiliki grup. Hal ini menjadi penting mengingat model holding menuntut adanya
      koordinasi lintas entitas yang efektif.




Halaman 49                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 50
      Penambahan kegiatan usaha sebagai holding tidak akan mengubah operasional Perseroan,
      melainkan memperkuat fungsi utamanya dalam pengelolaan investasi pada entitas anak dan
      entitas asosiasi.

6.6   Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen

      Berkaitan dengan rencana penambahan kegiatan usaha sebagai holding, Perseroan tidak
      melakukan perubahan/penambahan terhadap struktur organisasi pada level Perseroan.
      Sementara penambahan struktur organisasi dan manajemen akan dibentuk pada level entitas
      anak untuk mendukung operasional anak perusahaan anak perusahaan nanti kedepan.
      Perusahaan dapat mempertimbangkan penambahan dan pelebaran struktur organisasi dan
      manajemen kedepan mengikuti kebutuhan personalia akibat dari ekspansi bisnis grup usaha
      perseroan.

                                 Tabel 12. Struktur Organisasi Perseroan




                                     Sumber: Informasi Manajemen INPS


6.7   Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang
      sederhana, namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-
      jabatan dimaksud, serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang
      kompeten pada bidang yang sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang
      baru secara afektif dan efisien serta didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan
      pembagian tugas yang jelas dari seluruh personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.




Halaman 50                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 51
                                               BAB VII
                               ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN



Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, diantaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis sensitivitas.

7.1   Kebutuhan Biaya Investasi


      Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka
      mendukung penambahan KBLI Holding terkait pendirian anak usaha baru. Estimasi biaya
      investasi dihitung dengan mengakumulasi potensi biaya awal yang timbul berupa biaya atas
      investasi setoran modal, dan biaya terkait lainnya.

      Tabel 6. Rencana Kebutuhan Biaya Investasi INPS untuk pendirian Entitas Anak
       Biaya Investasi INPS untuk Pendirian Entitas Anak                  Nominal Investasi (Rp)
       Setoran Modal Pendirian Entitas Anak (Bagian INPS)                    9.900.000.000
      Sumber: informasi manajemen, diolah

7.2   Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi


      Biaya Investasi dalam rangka rencana pendirian Entitas anak adalah sebesar Rp9.900.000.000,-
      untuk porsi kepemilikan 99,00% kepada entitas anak yang dananya bersumber 100% dari modal
      sendiri (Kas Perseroan dan sumber daya internal) dengan skema pembayaran dana setoran
      modal dilakukan dengan 2 tahap pada Bulan Juni dan September 2026 masing-masing sebesar
      Rp4.950.000.000,-, Sedangkan terkait dengan kebutuhan Modal kerja atas kegiatan operasional
      entitas anak sepenuhnya akan bersumber dari Modal yang telah disetorkan oleh INPS dan
      penyetor modal lainnya.

7.3   Proyeksi Keuangan Entitas Anak

      Dalam melakukan analisa pada aspek keuangan dilakukan dengan melihat dari dampak atas
      prospek bisnis yang tercermin dari proyeksi keuangan berdasarkan bisnis yang dijalankan oleh
      INPS selaku operational Holding Serta entitas yang akan beroperasi selaku entitas anak dari INPS.

      Dalam rangkaian studi kelayakan penambahan KBLI Holding, salah satu aspek krusial yang perlu
      dianalisis adalah proyeksi keuangan dari entitas anak. Sebagai perusahaan terbuka yang
      berencana memperluas ruang lingkup kegiatan usaha melalui fungsi holding, keberhasilan
      strategi ini sangat bergantung pada kinerja finansial portofolio anak perusahaan.

      Proyeksi keuangan tidak hanya memberikan gambaran mengenai potensi pendapatan, laba, dan
      arus kas di masa mendatang, tetapi juga menjadi dasar untuk menilai kemampuan entitas anak
      dalam mendukung struktur holding. Dengan demikian, analisis ini berfungsi sebagai jembatan
      antara rencana korporasi dan realitas operasional, memastikan bahwa penambahan KBLI
      Holding tidak sekadar formalitas administratif, melainkan langkah strategis yang didukung oleh
      data finansial yang solid.


Halaman 51                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 52
     Bisnis yang akan dijalankan oleh entitas anak akan berfokus kepada industri trading
     (perdagangan) dengan fokus utama atas produk yang akan diperdagangkan lebih berpusat
     kepada perdagangan produk sparepart otomotif.

     Tabel 7. Proyeksi Posisi Keuangan Rencana Entitas Anak
                                                                                       (dalam ribuan rupiah)
                              FY2026
           Keterangan                            FY2027            FY2028        FY2029          FY2030
                              Jun-Dec

      Aset Lancar             10.550.760         12.338.603        13.311.466     14.588.622     16.232.523

      Aset Tidak Lancar            99.167            99.167             99.167        99.167         99.167

      Total Aset              10.649.926         12.437.770        13.410.633     14.687.788     16.331.690

      Liabilitas Lancar           514.611         1.825.389          2.106.802     2.431.512      2.806.163

      Liabilitas Jangka                    -                  -              -              -              -
      Panjang
      Total Liabilitas            514.611         1.825.389          2.106.802     2.431.512      2.806.163

      Total Ekuitas           10.135.315         10.612.381        11.303.830     12.256.277     13.525.527

      Total Liabilitas dan    10.649.926         12.437.770        13.410.633     14.687.788     16.331.690
      Ekuitas
     Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah

     Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Total aset didominasi oleh kas hasil setoran modal, sementara
     piutang dan persediaan masih terbatas karena aktivitas operasional baru dimulai, Liabilitas pada
     periode ini masih tercatat rendah yang mencerminkan minimnya kewajiban jangka pendek
     maupun jangka panjang.

     Pada Periode Pertumbuhan (2027-2030) Laporan Posisi Keuangan mulai mencerminkan
     perkembangan operasional yang terlihat dari meningkatnya Aset Lancar seiring bertambahnya
     piutang usaha dan persediaan. Begitu juga pada sisi Liabilitas yang ikut meningkat akibat dari
     peningkatan utang usaha, sedangkan dari sisi Ekuitas terlihat semakin menguat akibat adanya
     akumulasi laba ditahan sehingga posisi keuangan lebih mandiri dan tidak hanya bergantung
     kepada setoran modal awal.

     Tabel 8. Proyeksi Laporan Laba Rugi Entitas Anak
                                                                                       (dalam ribuan rupiah)
                             FY2026
           Keterangan                          FY2027             FY2028         FY2029          FY2030
                             Jun-Dec
      Pendapatan Bersih       5.726.694         13.298.745         15.441.423     17.929.327      20.818.080

      Beban Pokok            (4.810.423)       (11.104.452)       (12.816.381)   (14.791.695)    (17.070.825)
      Pendapatan
      Laba Bruto                916.271          2.194.293          2.625.042      3.137.632       3.747.254



      Beban Penjualan         (200.434)          (465.456)          (540.450)      (627.526)       (728.633)

      Beban Adm. &            (570.989)         (1.183.708)        (1.275.326)    (1.378.667)     (1.495.469)
      Umum
      Penghasilan Lain-          57.267            132.987            154.414        179.293         208.181
      lain
      Beban Lain-lain           (28.633)           (66.494)           (77.207)       (89.647)      (104.090)

      Laba Sebelum              173.481            611.623            886.474      1.221.086       1.627.243
      Pajak Penghasilan
      Beban Pajak               (38.166)         (134.557)          (195.024)      (268.639)       (357.993)
      Penghasilan




Halaman 52                                                        00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 53
                            FY2026
          Keterangan                         FY2027          FY2028        FY2029         FY2030
                            Jun-Dec
      Laba Tahun               135.315          477.066         691.449       952.447       1.269.250
      Berjalan
     Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah

     Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Pendapatan bersih sebesar Rp5,73 miliar, dengan beban
     pokok Rp4,81 miliar, yang menghasilkan laba bruto Rp916 juta mencerminkan fase awal
     operasional dengan margin yang masih terbatas. Kemudian pada periode 2027-2030
     Pendapatan tumbuh konsisten hingga Rp20,81 miliar di tahun 2030, sementara beban pokok
     meningkat sejalan dengan volume usaha. Margin bruto tetap terjaga di kisaran 16–18%,
     menunjukkan efisiensi operasional yang stabil.

     Beban Penjualan meningkat proporsional dengan ekspansi pasar, dari Rp200 juta di tahun 2026
     menjadi Rp728 juta di tahun 2030.

     Beban Administrasi & Umum relatif besar sejak awal sebesar Rp570 juta di tahun 2026,
     mencerminkan kebutuhan struktur organisasi, namun pertumbuhannya lebih terkendali jika
     dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan.

     Laba tahun berjalan Rp135,31 juta, mencerminkan profitabilitas awal yang masih tipis. Laba
     bersih meningkat konsisten hingga Rp1,27 miliar di tahun 2030, menunjukkan tren pertumbuhan
     yang sehat dan kapasitas entitas anak untuk memberikan kontribusi positif terhadap konsolidasi
     holding.

     Tabel 9. Proyeksi Arus Kas Entitas Anak
                                                                                (dalam ribuan rupiah)
                             FY2026
          Keterangan                          FY2027         FY2028        FY2029          FY2030
                             Jun-Dec
      Kas Bersih dari          (234.033)       1.042.894        894.045      1.148.316      1.457.144
      Aktivitas Operasi
      Kas Bersih dari          (238.000)        (238.000)      (238.000)     (238.000)       (238.000)
      Aktivitas Investasi
      Kas Bersih dari        10.000.000                 -              -             -               -
      Aktivitas
      Pendanaan
      Kas Bersih Periode      9.527.967          804.894        656.045       910.316       1.219.144

      Kas Awal Periode                   -     9.527.967      10.332.861   10.988.907      11.899.223

      Kas Akhir Periode       9.527.967       10.332.861      10.988.907   11.899.223      13.118.366

     Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah

     Pada periode awal (Jun-Dec 2026) Kas operasi negatif sebesar Rp234,03 juta, terutama didorong
     oleh laba bersih awal Rp135 juta serta perubahan modal kerja (peningkatan persediaan dan
     utang usaha).

     Secara keseluruhan, kas operasi kembali positif di FY2029–FY2030, menunjukkan pemulihan
     arus kas setelah fase investasi besar.

     Sepanjang tahun 2026 – 2030 Arus kas Investasi setiap tahunnya sekitar Rp238 miliar per tahun,
     menunjukkan pola belanja modal yang stabil.




Halaman 53                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 54
      Setoran modal awal pada tahun 2026 sebesar Rp10 miliar menjadi sumber utama likuiditas,
      menopang kebutuhan investasi dan modal kerja.

7.4   Analisis Profitabilitas


      Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam usahanya
      mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis rasio
      profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh
      dari kinerja suatu perusahaan.

      Sebagai gambaran bagaimana INPS dalam usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel
      berikut ini:

      Tabel 12. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                            PROYEKSI
                         KETERANGAN
                                                          2026     2027       2028      2029     2030
         Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
         Gross Profit Margin %                            16,00%   16,00%    16,00%    16,00%   16,00%
         Operating Profit Margin %                         4,00%    4,00%     4,00%     4,00%    4,00%
         Net Profit Margin %                               3,88%    3,86%     3,83%     3,80%    3,77%
      Sumber: Analisis KJPP, diolah

      Tabel 13. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                            PROYEKSI
                         KETERANGAN
                                                           2026    2027      2028      2029     2030
         Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
         Gross Profit Margin %                            16,00%   16,02%    16,05%    16,08%   16,12%
         Operating Profit Margin %                         3,97%    4,00%     4,06%     4,12%    4,19%
         Net Profit Margin %                               3,85%    3,84%     3,86%     3,88%    3,90%
      Sumber: Analisis KJPP, diolah

      Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa profitabilitas INPS yang digambarkan dalam persentase
      laba operasi pendapatan (Operating Profit Margin) terhadap dan persentase laba bersih terhadap
      pendapatan (Net Profit Margin) tercatat memiliki return yang positif selama masa proyeksi tahun
      2026 sampai dengan 2030, yang dapat diartikan bahwa INPS memiliki kemampuan dalam
      menghasilkan laba bagi perusahaan yang baik.

7.5   Analisis Tingkat Imbal Balik

      Dalam menghitung analisis Tingkat Imbal Balik digunakan perhitungan Return on Investment (ROI)
      yang merupakan rasio untuk menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang digunakan dalam
      perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari
      seluruh aktiva yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan. Dengan ROI,
      Perseroan dapat mengetahui seberapa efisien perusahaan guna memanfaatkan aktiva untuk
      kegiatan operasional dan dapat memberikan informasi ukuran profitabilitas Perseroan.

      Berikut adalah ROI yang diproyeksikan atas penambahan kegiatan usaha Perseroan yang dilihat
      dari sisi Investasi kepada Entitas Anak dalam rangka penambahan kegiatan usaha Holding:




Halaman 54                                                    00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 55
      Tabel 14. Rasio Return On Investment Perseroan Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
               Holding
                                                                           (dalam rupiah penuh)
                                          FY2026
              Keterangan                                  FY2027           FY2028           FY2029          FY2030
                                          Jun-Dec
       Rasio Return On Investment Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
       Laba Bersih                    135.315.179    477.065.584      691.449.411      952.446.733    1.269.249.642
       Total Investasi (Modal
                                  9.900.000.000     9.900.000.000    9.900.000.000    9.900.000.000   9.900.000.000
       Disetor)
       ROI                                 1,37%           4,82%              6,98%          9,62%          12,82%
      Sumber: Analisis KJPP, diolah

      ROI Perseroan pada tahun 2025—2030 diproyeksikan meningkat setiap tahunnya seiring dengan
      peningkatan laba bersih dan total aset Perseroan.

7.6   Analisis Kelayakan Keuangan

      Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
      investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
      Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Holding INPS harus didasarkan pada
      analisis inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa
      Penambahan Kegiatan Usaha Holding INPS dan proyeksi keuangan dengan Penambahan
      Kegiatan Usaha Holding INPS.

      Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
      Usaha Holding INPS di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu
      proyek yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC, dan PI lebih besar
      dari 1 berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.

7.6.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)

      Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
      kas bersih dari perusahaan, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini
      menggunakan formula WACC (weighted average cost of capital) yang merupakan pentotalan
      rata-rata tertimbang atas biaya modal untuk ekuitas dan biaya modal untuk utang. Adapun
      formula dari WACC adalah sebagai berikut:

                                       WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)

      Dimana:
      WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
      Ke      : Biaya modal untuk ekuitas
      Kd      : Biaya modal untuk utang
      We      : Persentase pendanaan dari ekuitas
      Wd      : Persentase pendanaan dari utang
      t       : Pajak perusahaan




Halaman 55                                                          00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 56
     Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)

     Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
     Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

                                                    Kd = i x (1-T)

     Dimana
     i      : Interest Rate (Suku Bunga)
     Tax    : Tax Rate (Tarif Pajak)

     Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)

     Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
     (CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:

                                         Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α

     Dimana:
     Rf      : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
     ß       : Risiko sistematis
     Rm      : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
     Rp      : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
     CDS     : Country Default Spread
     α       : Risiko spesifik

     Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
     diskonto Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 8,53% dengan detail komponen yang
     digunakan dalam perhitungan adalah sebagai berikut:

     Tabel 10. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
            Komponen           Besaran                    Keterangan                            Source
                                         Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30
      SUN                       6,71%                                                   Indo Govt Bond Yield
                                         December 2025 - 30 Year
      Default Spread            1,62%    Default spread as of January 1, 2026           Damodaran
      Risk Free Rate                     Goverment Bond - Default Spread
      Equity Risk Premium       6,69%    Equity risk premium as of January 1, 2026      Damodaran
      Unlevered Beta             0,52    Company relative to the market risk            Damodaran
      D/E Ratio                74,49%    Estimated finance leverage or industry level   Damodaran
      Specific Risk             0,00%    Estimated Company Specific Risk


      Interest                  8,44%    Investment loans as of December 31, 2025       SEKI - BI
      Tax Rates                22,00%                   Corporate Tax Rate, Indonesia
      Sumber:      Analisis
      KJPP, diolah

                                D/E
             Industry                                   Unlevered Beta
                                Ratio
       Retail (Distributors)   87,90%                        0,456




Halaman 56                                                       00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 57
7.6.2 Terminal Value

      Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
      waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
      concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
      perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
      ditentukan berdasarkan Gordon Growth Model dengan tingkat pertumbuhan kekal sebesar 2,51%
      yang didapatkan dari rata-rata pertumbuhan inflasi Indonesia selama 5 tahun kedepan.

7.6.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)

      Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
      Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Holding, diperoleh hasil
      perhitungan sebagai berikut:

      Tabel 11. Analisis Investasi Terhadap Entitas Anak
                                                                                              (dalam Ribuan Rupiah)

                                                      Desember      Desember      Desember      Desember    Desember
                   Tahun               Initial
                                                        2026          2027          2028          2029        2030


       Biaya Pendirian/Investasi
       Biaya Notaris Pendirian
                                       (10.000)
       Entitas Anak
       Setoran Modal Awal           (9.900.000)

       Total Biaya Pendirian        (9.910.000)

       Arus Kas
       Laba Setelah Pajak                             135.315     477.066       691.449       952.447       1.269.250
       (+) Penyusutan dan
                                                      138.833     238.000       238.000       238.000        238.000
       Amortisasi
       (+) Beban Bunga * (1 -
       Tax)
       (±) Perubahan Modal
                                                     (508.182)    327.829       (35.404)      (42.131)       (50.106)
       Kerja
       (-) Capex                                     (238.000)   (238.000)     (238.000)     (238.000)      (238.000)

       Total Arus Kas                            -   (472.033)    804.894       656.045       910.316       1.219.144

       Total Arus Kas Bersih        (9.910.000)      (472.033)    804.894       656.045       910.316       1.219.144

       Nilai Kekal                                                                                         20.781.820

       Total Arus kas Bersih        (9.910.000)      (472.033)    804.894       656.045       910.316      22.000.963

       Tingkat Diskonto                   8,53%
       Tingkat Pertumbuhan
                                          2,51%
       Kekal
       Tingkat Kapitalisasi               6,01%

       Periode                                   0          1           2             3             4              5
                                                      31-Dec-
       Date                                                      31-Dec-27     31-Dec-28     31-Dec-29     31-Dec-30
                                                          26
       Faktor Diskonto                    1,000         0,921       0,849         0,782         0,721          0,664

       Nilai Kini Arus Kas Bersih   (9.910.000)      (434.943)    683.373       513.231       656.191      14.613.001
       Total Nilai Kini Arus Kas
                                     6.120.853
       Bersih (NPV)




Halaman 57                                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 58
       IRR                                  19,79%
       NPV                                6.120.853
       PP                                 > 5 Tahun

       PI                                      1,62
      Sumber: Analisis KJPP, diolah

      Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
      • NPV                     : Rp 6.120.853         lebih besar dari 0
      • IRR                     : 19,79%               lebih besar dari WACC
      • Profitability Index     : 1,62                 lebih besar dari 1
      • Payback Period          : > 5 Tahun

      Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
      “Layak”

7.7   Analisis Nilai Tambah

      Laporan Keuangan INPS sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Holding lewat pendirian
      perusahaan anak disajikan sebagai berikut:

      Tabel 12. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS sebelum penambahan KBLI Holding
                                                                          (dalam ribuan rupiah)
       Keterangan                                      2026            2027             2028            2029            2030
       ASET
       Aset Lancar
       Kas dan Bank                            17.664.838        34.716.041       52.477.763      70.994.752      90.312.998
       Piutang Usaha                                      0               0                0               0               0
       Pihak Ketiga                            26.848.793        26.848.793       26.848.793      26.848.793      26.848.793
       Pihak Berelasi                            4.465.603        4.465.603        4.465.603       4.465.603       4.465.603
       Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga               67.000         67.000           67.000          67.000          67.000
       Persediaan                                3.500.000        3.500.000        3.500.000       3.500.000       3.500.000
       Pajak Dibayar Dimuka                      2.700.000        2.700.000        2.700.000       2.700.000       2.700.000
       Beban Dibayar Dimuka                       500.000           500.000          500.000         500.000         500.000
       Uang Muka                                  250.000           250.000          250.000         250.000         250.000
       Total Aset Lancar                       55.996.233        73.047.436       90.809.158     109.326.147     128.644.394


       Aset Tidak Lancar
       Aset Pajak Tangguhan                      3.581.512        3.581.512        3.581.512       3.581.512       3.581.512
       Piutang Lain-lain - Pihak
                                               49.884.842        49.884.842       49.884.842      49.884.842      49.884.842
       Berelasi
       Aset Tetap , Net                                   0               0                0               0               0
       Harga Perolehan                        216.673.276       216.673.276      216.673.276     216.673.276     216.673.276
       Akumulasi Penyusutan                  (118.656.487)     (120.006.290)    (121.281.542)   (122.487.737)   (123.629.651)
       Aset Lain-lain                                     0               0                0               0               0
       Total Aset Tidak Lancar                151.483.142       150.133.339      148.858.087     147.651.892     146.509.979


       TOTAL ASET                             207.479.375       223.180.775      239.667.245     256.978.039     275.154.372


       LIABILITAS DAN EKUITAS
       (DEFISIENSI MODAL)




Halaman 58                                                                     00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 59
      Keterangan                                 2026            2027             2028            2029            2030
      Liabilitas Jangka Pendek
      Utang Usaha:
      Pihak Ketiga                          3.572.102       3.572.102        3.572.102       3.572.102       3.572.102
      Pihak Berelasi                          592.898         592.898          592.898         592.898         592.898
      Utang Pajak                          21.204.875      21.204.875       21.204.875      21.204.875      21.204.875
      Beban Akrual                         20.029.661      20.029.661       20.029.661      20.029.661      20.029.661
      Utang Lembaga Keuangan
                                           16.488.153      16.488.153       16.488.153      16.488.153      16.488.153
      Lainnya
      Utang Lain-lain - Pihak Ketiga       14.690.451      14.690.451       14.690.451      14.690.451      14.690.451
      Liabilitas Jangka Panjang yang
                                                    0               0                0               0               0
      akan jatuh
      Total Liabilitas Jangka Pendek       76.578.140      76.578.140       76.578.140      76.578.140      76.578.140


      Liabilitas Jangka Panjang
      Utang Lain-lain - Pihak Berelasi     98.090.234      98.090.234       98.090.234      98.090.234      98.090.234
      Liabilitas Jangka Panjang
                                                    0               0                0               0               0
      setelah dikurangi
      bagian yang jatuh tempo
                                                    0               0                0               0               0
      dalam satu tahun:
      Utang Bank                           64.071.600      68.556.612       73.355.575      78.490.465      83.984.798
      Pendapatan Diterima Dimuka              565.036         565.036          565.036         565.036         565.036
      Liabilitas Imbalan Kerja              8.608.860       8.608.860        8.608.860       8.608.860       8.608.860
      Total Liabilitas Jangka Panjang     171.335.730     175.820.742      180.619.705     185.754.596     191.248.928


      TOTAL LIABILITAS                    247.913.871     252.398.883      257.197.846     262.332.736     267.827.068


      EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
      Modal Disetor                        65.000.000      65.000.000       65.000.000      65.000.000      65.000.000
      Tambahan Modal Disetor:                       0               0                0               0               0
      Agio Saham                           23.425.909      23.425.909       23.425.909      23.425.909      23.425.909
      Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
                                           55.540.520      55.540.520       55.540.520      55.540.520      55.540.520
      Sepengendali
      Pengampunan Pajak                     6.766.567       6.766.567        6.766.567       6.766.567       6.766.567
      Defisit                            (216.536.864)   (205.320.475)    (193.632.968)   (181.457.065)   (168.775.064)
      Pendapatan Komprehensif Lain:                 0               0                0               0               0
      Surplus Revaluasi Aset Tetap         24.398.135      24.398.135       24.398.135      24.398.135      24.398.135
      Total Ekuitas yang dapat
                                                    0               0                0               0               0
      diatribusi kepada
      pemilik entitas induk               (41.405.733)    (30.189.345)     (18.501.837)     (6.325.934)      6.356.067
      Kepentingan non-pengendali              971.237         971.237          971.237         971.237         971.237
      TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                          (40.434.496)    (29.218.108)     (17.530.600)     (5.354.697)      7.327.304
      MODAL)


      TOTAL LIABILITAS DAN
                                          207.479.375     223.180.775      239.667.245     256.978.039     275.154.372
      EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

     Proyeksi keuangan laba rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding dengan pendirian anak
     perusahaan baru disajikan sebagai berikut:




Halaman 59                                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 60
     Tabel 13. Proyeksi keuangan Laba Rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding
                                                                         (dalam ribuan rupiah)
               KETERANGAN                 2026              2027              2028            2029            2030

      PENDAPATAN                        277.044.539       290.896.766       305.441.604     320.713.684     336.749.369
      BEBAN POKOK PENJUALAN            (232.717.413)     (244.353.283)     (256.570.948)   (269.399.495)   (282.869.470)
      LABA BRUTO                         44.327.126        46.543.483        48.870.657      51.314.190      53.879.899


      Beban Penjualan                    (5.540.891)       (5.817.935)       (6.108.832)     (6.414.274)     (6.734.987)
      Beban Umum & Adm.                 (27.704.454)      (29.089.677)      (30.544.160)    (32.071.368)    (33.674.937)
      LABA USAHA                         11.081.782        11.635.871        12.217.664      12.828.547      13.469.975


      Pendapatan (Beban) Lain-lain
      Pemulihan Cadangan Kerugian           161.262           169.325           177.791         186.681         196.015
      Pemulihan Imbalan Kerja                69.117            72.572            76.201          80.011          84.012
      Pendapatan Bunga                          2.739             2.876           3.020           3.171           3.330
      Laba (rugi) Penjualan Aset
                                                     0               0                0               0               0
      Tetap
      Provisi dan Administrasi Bank        (139.509)         (146.485)         (153.809)       (161.499)       (169.574)
      Pajak Final                          (302.459)         (317.582)         (333.461)       (350.134)       (367.641)
      Bunga Pembiayaan Konsumen                      0               0                0               0               0
      Beban Penyisihan Piutang           (2.350.519)       (2.468.045)       (2.591.448)     (2.721.020)     (2.857.071)
      Beban Penghapusan Piutang          (3.380.626)       (3.549.657)       (3.727.140)     (3.913.497)     (4.109.172)
      Bunga Lembaga Keuangan
                                                     0               0                0               0               0
      Lainnya
      Bunga Pinjaman Bank                (4.191.600)       (4.485.012)       (4.798.963)     (5.134.890)     (5.494.333)
      Lain-lain Bersih                   11.950.731        12.548.268        13.175.681      13.834.465      14.526.188
      Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                          1.819.135         1.826.260         1.827.873       1.823.287       1.811.754
      lain


      LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
      PENGHASILAN
      Manfaat (beban) Pejak
      Penghasilan
      Pajak Kini                         (2.937.995)       (3.084.894)       (3.239.139)     (3.401.096)     (3.571.151)
      Pajak Tangguhan                       799.192           839.152           881.109         925.165         971.423
      Beban Pajak Penghasilan            (2.138.803)       (2.245.743)       (2.358.030)     (2.475.931)     (2.599.728)
      LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN         10.762.114        11.216.388        11.687.507      12.175.903      12.682.001
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

     Selanjutnya proyeksi keuangan INPS setelah rencana penambahan KBLI Holding lewat pendirian
     usaha baru disajikan sebagai berikut:

     Tabel 14. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS setelah penambahan KBLI Holding
                                                                          (dalam ribuan rupiah)
               Keterangan                2026              2027               2028            2029             2030

      ASET
      Aset Lancar
      Kas dan Bank                     17.292.804         35.148.902         53.566.670      72.993.974       93.531.365
      Piutang Usaha
      Pihak Ketiga                     27.461.425         27.941.840         28.117.951      28.322.436       28.559.868
      Pihak Berelasi                     4.465.603         4.465.603          4.465.603       4.465.603        4.465.603



Halaman 60                                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 61
               Keterangan           2026          2027            2028          2029          2030
      Piutang Lain-lain - Pihak
                                      67.000        67.000          67.000        67.000        67.000
      Ketiga
      Persediaan                    3.910.160     4.412.695       4.553.401     4.715.756     4.903.082
      Pajak Dibayar Dimuka          2.700.000     2.700.000       2.700.000     2.700.000     2.700.000
      Beban Dibayar Dimuka           500.000       500.000         500.000       500.000       500.000
      Uang Muka                      250.000       250.000         250.000       250.000       250.000
      Total Aset Lancar            56.646.993    75.486.039      94.220.624   114.014.769   134.976.917


      Aset Tidak Lancar
      Aset Pajak Tangguhan          3.581.512     3.581.512       3.581.512     3.581.512     3.581.512
      Piutang Lain-lain - Pihak
                                   49.884.842    49.884.842      49.884.842    49.884.842    49.884.842
      Berelasi
      Investasi Entitas Anak               0             0               0             0             0
      Aset Tetap , Net
      Harga Perolehan             216.673.276   216.673.276     216.673.276   216.673.276   216.673.276
                                  (118.656.48   (120.006.29     (121.281.54   (122.487.73   (123.629.65
      Akumulasi Penyusutan
                                           7)            0)              2)            7)            1)
      Aset Hak Guna                        0             0               0             0             0
      Aset Lain-lain                  99.167        99.167          99.167        99.167        99.167
      Total Aset Tidak Lancar     151.582.309   150.232.506     148.957.254   147.751.059   146.609.145


      TOTAL ASET                  208.229.302   225.718.545     243.177.878   261.765.828   281.586.062


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      (DEFISIENSI MODAL)
      Liabilitas Jangka Pendek
      Utang Bank Jangka Pendek             0             0               0             0             0
      Utang Usaha:
      Pihak Ketiga                  4.086.713     5.397.491       5.678.904     6.003.613     6.378.265
      Pihak Berelasi                 592.898       592.898         592.898       592.898       592.898
      Utang Pajak                  21.204.875    21.204.875      21.204.875    21.204.875    21.204.875
      Beban Akrual                 20.029.661    20.029.661      20.029.661    20.029.661    20.029.661
      Utang Lembaga Keuangan
                                   16.488.153    16.488.153      16.488.153    16.488.153    16.488.153
      Lainnya
      Utang Lain-lain - Pihak
                                   14.690.451    14.690.451      14.690.451    14.690.451    14.690.451
      Ketiga
      Liabilitas Jangka Panjang
                                           0
      yang akan jatuh
      tempo dalam satu tahun:              0             0               0             0             0
      Utang Bank                           0             0               0             0             0
      Liabilitas Sewa                      0             0               0             0             0
      Utang Pembiayaan
                                           0             0               0             0             0
      Konsumen
      Total Liabilitas Jangka
                                   77.092.752    78.403.530      78.684.943    79.009.652    79.384.303
      Pendek


      Liabilitas Jangka Panjang
      Utang Lain-lain - Pihak
                                   98.090.234    98.090.234      98.090.234    98.090.234    98.090.234
      Berelasi
      Liabilitas Jangka Panjang
      setelah dikurangi
      bagian yang jatuh tempo
      dalam satu tahun:
      Utang Bank                   64.071.600    68.556.612      73.355.575    78.490.465    83.984.798




Halaman 61                                                    00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 62
                Keterangan             2026             2027               2028            2029             2030
      Pendapatan Diterima Dimuka         565.036          565.036            565.036         565.036          565.036
      Liabilitas Imbalan Kerja         8.608.860        8.608.860          8.608.860       8.608.860        8.608.860
      Liabilitas Sewa                           0                 0                0                0               0
      Utang Pembiayaan
                                                0                 0                0                0               0
      Konsument
      Total Liabilitas Jangka
                                     171.335.730      175.820.742        180.619.705     185.754.596     191.248.928
      Panjang


      TOTAL LIABILITAS               248.428.482      254.224.272        259.304.648     264.764.247     270.633.232


      EKUITAS (DEFISIENSI
      MODAL)
      Modal Disetor                   65.000.000       65.000.000         65.000.000      65.000.000       65.000.000
      Tambahan Modal Disetor:                   0                 0                0                0               0
      Agio Saham                      23.425.909       23.425.909         23.425.909      23.425.909       23.425.909
      Selisih Kombinasi Bisnis
                                      55.540.520       55.540.520         55.540.520      55.540.520       55.540.520
      Entitas Sepengendali
      Pengampunan Pajak                6.766.567        6.766.567          6.766.567       6.766.567        6.766.567
                                     (216.402.90      (204.714.21        (192.342.17      (179.223.35     (165.284.79
      Defisit
                                              2)               8)                 6)               0)              3)
      Pendapatan Komprehensif
                                                0                 0                0                0               0
      Lain:
      Surplus Revaluasi Aset Tetap    24.398.135       24.398.135         24.398.135      24.398.135       24.398.135
      Total Ekuitas yang dapat
                                                0                 0                0                0               0
      diatribusi kepada
      pemilik entitas induk          (41.271.771)     (29.583.088)       (17.211.046)     (4.092.220)       9.846.338
      Kepentingan non-pengendali       1.072.590        1.077.361          1.084.276       1.093.800        1.106.492
      TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                     (40.199.181)     (28.505.727)       (16.126.770)     (2.998.420)      10.952.831
      MODAL)


      TOTAL LIABILITAS DAN
      EKUITAS (DEFISIENSI            208.229.302      225.718.545        243.177.878     261.765.828     281.586.062
      MODAL)
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

     Proyeksi Keuangan Laba Rugi INPS setelah rencana penambahan KBLI Holding dengan
     pendirian anak perusahaan baru

     Tabel 15. Proyeksi keuangan Laporan Laba Rugi INPS setelah penambahan KBLI Holding
                                                                          (dalam ribuan rupiah)
                KETERANGAN               2026            2027               2028           2029            2030
      PENDAPATAN                      282.771.233      304.195.511       320.883.027     338.643.012     357.567.448
      BEBAN POKOK PENJUALAN          (237.527.836)    (255.457.735)     (269.387.329)   (284.191.190)   (299.940.295)
      LABA BRUTO                       45.243.397       48.737.775        51.495.699      54.451.822      57.627.153


      Beban Penjualan                  (5.741.325)      (6.283.391)       (6.649.282)     (7.041.800)     (7.463.620)
      Beban Umum & Adm.               (28.275.443)     (30.273.385)      (31.819.486)    (33.450.035)    (35.170.406)
      LABA USAHA                       11.226.629       12.180.999        13.026.931      13.959.986      14.993.127


      Pendapatan (Beban) Lain-lain
      Pemulihan Cadangan Kerugian         161.262          169.325           177.791         186.681         196.015
      Pemulihan Imbalan Kerja              69.117           72.572            76.201          80.011          84.012
      Pendapatan Bunga                        2.739            2.876           3.020           3.171           3.330




Halaman 62                                                             00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 63
                   KETERANGAN           2026          2027             2028          2029          2030
      Laba (rugi) Penjualan Aset
                                                0             0                0             0             0
      Tetap
      Provisi dan Administrasi Bank     (139.509)     (146.485)        (153.809)     (161.499)     (169.574)
      Pajak Final                       (302.459)     (317.582)        (333.461)     (350.134)     (367.641)
      Bunga Pembiayaan Konsumen                 0             0                0             0             0
      Beban Penyisihan Piutang         (2.350.519)   (2.468.045)      (2.591.448)   (2.721.020)   (2.857.071)
      Beban Penghapusan Piutang        (3.380.626)   (3.549.657)      (3.727.140)   (3.913.497)   (4.109.172)
      Bunga Lembaga Keuangan
                                                0             0                0             0             0
      Lainnya
      Bunga Pinjaman Bank              (4.191.600)   (4.485.012)      (4.798.963)   (5.134.890)   (5.494.333)
      Lain-lain Bersih                 11.979.365    12.614.761       13.252.888    13.924.112    14.630.279
      Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                        1.847.769     1.892.754        1.905.080     1.912.934     1.915.844
      lain


      LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
      PENGHASILAN
      Manfaat (beban) Pejak
      Penghasilan
      Pajak Kini                       (2.976.160)   (3.219.451)      (3.434.163)   (3.669.735)   (3.929.144)
      Pajak Tangguhan                     799.192       839.152          881.109       925.165       971.423
      Beban Pajak Penghasilan          (2.176.968)   (2.380.300)      (2.553.054)   (2.744.570)   (2.957.721)
      LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN       10.897.430    11.693.454       12.378.957    13.128.350    13.951.250
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

     Analisis nilai tambah melihat bagaimana rencana pendirian anak usaha baru dalam rangka
     penambahan KBLI berdampak pada proyeksi keuangan INPS sebelum dan setelah rencana
     penambahan KBLI. Analisis nilai tambah dilihat dari nilai inkremental pada pos posisi keuangan
     dan laba rugi. Risalah analisis inkremental sesajikan sebagaimana tabel berikut:

     Tabel 16. Analisis Inkremental
                                                                                       (dalam ribuan rupiah)
                   Keterangan           2026          2027             2028          2029          2030
      ASET
      Aset Lancar
      Kas dan Bank                      (372.033)       432.861        1.088.907     1.999.223     3.218.366
      Piutang Usaha
      Pihak Ketiga                        612.633     1.093.048        1.269.158     1.473.643     1.711.075
      Persediaan                          410.160       912.695        1.053.401     1.215.756     1.403.082
      Total Aset Lancar                   650.760     2.438.603        3.411.466     4.688.622     6.332.523


      Aset Tidak Lancar
      Aset Lain-lain                       99.167        99.167           99.167        99.167        99.167
      Total Aset Tidak Lancar              99.167        99.167           99.167        99.167        99.167


      TOTAL ASET                          749.926     2.537.770        3.510.633     4.787.788     6.431.690


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      (DEFISIENSI MODAL)
      Liabilitas Jangka Pendek
      Utang Usaha:
      Pihak Ketiga                        514.611     1.825.389        2.106.802     2.431.512     2.806.163



Halaman 63                                                         00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 64
                   Keterangan             2026           2027            2028           2029          2030
      Total Liabilitas Jangka Pendek       514.611      1.825.389        2.106.802     2.431.512      2.806.163


      Liabilitas Jangka Panjang
      Total Liabilitas Jangka Panjang             0              0               0              0              0


      TOTAL LIABILITAS                     514.611      1.825.389        2.106.802     2.431.512      2.806.163


      EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
      Defisit                              133.962        606.257        1.290.792     2.233.714      3.490.271
      Total Ekuitas yang dapat
      diatribusi kepada
      pemilik entitas induk                133.962        606.257        1.290.792     2.233.714      3.490.271
      Kepentingan non-pengendali           101.353        106.124          113.038       122.563        135.255
      TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                           235.315        712.381        1.403.830     2.356.277      3.625.527
      MODAL)


      TOTAL LIABILITAS DAN
                                           749.926      2.537.770        3.510.633     4.787.788      6.431.690
      EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

     Dari analisis nilai tambah yang dilakukan untuk proyeksi posisi keuangan, pada pos Kas dan
     Bank, terdapat kenaikan nilai tambah pada tahun proyeksi 2027 sampai dengan 2030 yang
     berasal dari konsolidasi dari akumulasi perolehan laba anak perusahaan baru yang akan
     didirikan. Selanjutnya dilihat dari total aset, sepanjang masa proyeksi terdapat nilai tambah
     sebesar Rp749.926 ribu pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar Rp6.431.690 ribu pada tahun
     proyeksi 2030. Selanjutnya pada pos total liabilitas terdapat nilai tambah sebesar Rp514.611 ribu
     pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar Rp2.806.163 ribu pada tahun proyeksi 2030. Dilihat
     dari total ekuitas, terdapat kenaikan nilai tambah sebesar Rp235.315 ribu pada tahun proyeksi
     2026 sampai sebesar Rp.3.625.527 ribu.

     Tabel 17. Analisis Inkremental
                                                                                          (dalam ribuan rupiah)
                   Keterangan              2026          2027             2028           2029           2030
      PENDAPATAN                         5.726.694     13.298.745       15.441.423     17.929.327     20.818.080
      BEBAN POKOK PENJUALAN             (4.810.423)   (11.104.452)     (12.816.381)   (14.791.695)   (17.070.825)
      LABA BRUTO                           916.271      2.194.293        2.625.042      3.137.632      3.747.254


      Beban Penjualan                    (200.434)      (465.456)        (540.450)      (627.526)      (728.633)
      Beban Umum & Adm.                  (570.989)     (1.183.708)      (1.275.326)    (1.378.667)    (1.495.469)
      LABA USAHA                           144.848        545.129          809.266      1.131.439      1.523.153


      Pendapatan (Beban) Lain-lain
      Lain-lain Bersih                      28.633         66.494           77.207         89.647        104.090
      Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                            28.633         66.494           77.207         89.647        104.090
      lain


      LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
      PENGHASILAN
      Manfaat (beban) Pejak
      Penghasilan
      Pajak Kini                           (38.166)     (134.557)        (195.024)      (268.639)      (357.993)




Halaman 64                                                           00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 65
                 Keterangan            2026           2027            2028       2029         2030
       Pajak Tangguhan                        0              0               0          0            0
       Beban Pajak Penghasilan         (38.166)      (134.557)       (195.024)   (268.639)   (357.993)
       LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN      135.315        477.066         691.449     952.447    1.269.250
      Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

      Dari analisis nilai tambah pada proyeksi laba rugi sebelum dan setelah rencana penambahan
      KBLI Holding lewat pendirian entitas anak usaha diperoleh bahwa rencana penambahan KBLI
      memberikan nilai tambah pada pos pendapatan sebesar Rp5.726.694 ribu pada proyeksi tahun
      2026 sampai Rp20.818.080 ribu pada tahun proyeksi 2030 akibar konsolidasi pendapatan
      entitas baru anak usaha dalam rangka penambahan KBLI Holding. Pada pos laba setelah pajak,
      terdapat nilai tambah sebesar Rp135.315 ribu pada tahun proyeksi 2026 sampai sebesar
      Rp1.269.250 ribu pada tahun proyeksi 2030.

      Dengan begitu, rencana penambahan KBLI Holding pada INPS dengan mendirikan anak usaha
      baru memberikan nilai tambah yang dinilai dari selisih kenaikan di pos keuangan pada proyeksi
      keuangan sebelum rencana penambahan KBLI Holding dan proyeksi keuangan setelah rencana
      penambahan KBLI Holding dengan mendirikan anak usaha baru.

7.8   Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan

      Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
      penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan
      baru memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan,
      penambahan bidang usaha holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan
      nilai tambah dilihat dari analisis inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah
      rencana penambahan bidang usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di
      proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan
      bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS berupa bidang usaha holding adalah layak
      untuk dijalankan.




Halaman 65                                                       00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 66
                                              BAB VIII
                                            KESIMPULAN



8.1   Analisis atas Kelayakan Pasar

      Sektor transportasi dan logistik merupakan komponen krusial dalam mendukung aktivitas
      perdagangan, baik domestik maupun global, karena berperan dalam memastikan kelancaran
      pergerakan barang dan material antar wilayah maupun antar negara. Di Indonesia, khususnya
      pada segmen logistik dan distribusi BBM dan gas LPG untuk perusahaan terbuka, struktur pasar
      cenderung terkonsentrasi dan didominasi oleh sejumlah pelaku industri utama. Dari kelompok
      pembanding yang ada, terdapat tiga perusahaan besar termasuk PT Indah Prakasa Sentosa Tbk
      (INPS) yang menguasai sebagian besar pangsa pasar, yang secara tidak langsung menciptakan
      hambatan masuk yang tinggi bagi pelaku baru.

      Struktur pasar yang terkonsentrasi, disertai dengan tingginya hambatan masuk serta permintaan
      yang relatif stabil, membentuk dinamika persaingan yang cenderung terbatas dan lebih terjaga.
      Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi pelaku industri yang telah memiliki skala dan kapabilitas
      operasional yang kuat cenderung lebih stabil, sekaligus memiliki ruang untuk mempertahankan
      maupun meningkatkan pangsa pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

8.2   Analisis atas Kelayakan Teknis

      Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI Holding dalam pembentukan
      entitas anak yang bergerak di bidang trading/perdagangan dengan fokus pada perdagangan
      sparepart dinilai memiliki dasar operasional yang memadai untuk dikembangkan, dengan
      mengacu pada model bisnis distribusi yang umum serta didukung oleh potensi permintaan pasar
      yang berkelanjutan. Kehadiran entitas anak diharapkan dapat mendukung peningkatan efisiensi
      operasional, khususnya dalam penyediaan sparepart untuk kendaraan logistik, serta membuka
      peluang diversifikasi sumber pendapatan bagi Perseroan.

      Selain itu, struktur hubungan antara Perseroan sebagai holding dan entitas anak sebagai
      pelaksana operasional memungkinkan adanya pengendalian dan pengawasan yang lebih
      terintegrasi, termasuk dalam aspek keuangan melalui penyusunan laporan keuangan
      konsolidasian.

8.3   Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

      Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis yang direncanakan oleh PT Indah
      Prakasa Sentosa Tbk melalui pembentukan perusahaan holding dan pengembangan usaha
      trading. Hal ini didukung oleh kondisi bisnis inti yang sudah ada, jaringan usaha yang telah
      terbentuk, serta adanya peluang sinergi dengan usaha baru, termasuk potensi pemanfaatan
      kebutuhan internal (captive market). Selain itu, rencana ini juga membuka peluang diversifikasi
      pendapatan dan meningkatkan efisiensi operasional. Meskipun terdapat beberapa tantangan
      seperti keterbatasan pengalaman di bisnis baru, kebutuhan modal, dan peningkatan kompleksitas
      pengelolaan, risiko tersebut masih dapat diatasi dengan perencanaan dan pengelolaan yang
      baik. Dengan demikian, pola bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk
      mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke depan.




Halaman 66                                                00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 67
8.4   Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan rencana struktur organisasi perusahaan holding disusun dengan pola yang
      sederhana, namun dengan kualifikasi yang terlah ditetapkan Perusahaan untuk mengisi jabatan-
      jabatan dimaksud, serta dengan bekerjasama dengan operator/agensi dan tenaga ahli yang
      kompeten pada bidang yang sejenis, maka diharapkan dapat mengelola kegiatan usaha yang
      baru secara afektif dan efisien serta didasarkan pada kebutuhan operasional perusahaan dengan
      pembagian tugas yang jelas dari seluruh personil pengelolaan perusahaan secara menyeluruh.

8.5   Analisis atas Kelayakan Keuangan

      Penambahan bidang usaha baru bagi INPS berupa holding dengan mendirikan anak perusahaan
      baru memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index. Selain itu dilihat dari sudut pandang perseroan,
      penambahan bidang usaha holding dengan mendirikan anak usaha baru dapat memberikan
      nilai tambah dilihat dari analisis inkremental yang dijalankan, dimana proyeksi keuangan setelah
      rencana penambahan bidang usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di
      proyeksi posisi keuangan dan proyeksi laba rugi perseroan. Dengan begitu dapat disimpulkan
      bahwa penambahan kegiatan usaha baru bagi INPS berupa bidang usaha holding adalah layak
      untuk dijalankan.

8.6   Kesimpulan

      Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
      relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis
      kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
      aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana
      Penambahan Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
      Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.




Halaman 67                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 68
                            ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS



      1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
          proses Studi Kelayakan.
      3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
          keakuratannya.
      4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
          proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
      5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
      6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
          sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
          POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
      7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
          keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
      8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
      9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
          Tugas
      10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
          luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
          jawab kami.
      11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
          secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
          perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
      12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
          berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
          bukan menjadi tanggung jawab kami.
      13. Laporan kajian ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam laporan
          dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
          jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.




Halaman 68                                                 00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 69
                                      PERNYATAAN PENILAI



     Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
     tangan di bawah ini menerangkan bahwa :

     1.  Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan kajian adalah benar sesuai dengan
         pemahaman terbaik dari Penilai.
     2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
     3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
         memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
     4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil kajian yang dilaporkan.
     5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
         Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
     6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
         diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
     7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
         kelayakan.
     8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen INPS.
     9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
         pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
         dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
     10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
         Kelayakan.
     11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
         data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
         lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
         dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
         menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
     12. Penugasan kajian telah dilakukan terhadap obyek kajian per tanggal studi kelayakan (cut off
         date).
     13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
         laporan studi kelayakan.
     14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
         diungkapkan.
     15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
     16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
         telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.




Halaman 69                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 70

          
Page 71
             LAMPIRAN – LAMPIRAN




Halaman 71                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 72
                            Kantor Jasa Penilai Publik
                            FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                                                                                    The Manhattan Square
                                                                                                                                                      Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                            Property, Business Valuation & Advisory                                                                                   Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                            Licence No. 2.22.0176                                                                                                    E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                                                                                                                                                            Website: www.fdipartners.co
                            KMK 460/KM.1/2022
                                                                                                                                                               Phone (62 21) 27875911
                            Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia


1. Proyeksi Posisi Keuangan Rencana Entitas Anak
                                                                                               (dalam ribuan rupiah)
                                FY2026
          Keterangan                                  FY2027               FY2028        FY2029          FY2030
                                Jun-Dec

     Aset Lancar                 10.550.760            12.338.603          13.311.466     14.588.622      16.232.523

     Aset Tidak Lancar                99.167                99.167              99.167        99.167         99.167

     Total Aset                  10.649.926            12.437.770          13.410.633     14.687.788      16.331.690

     Liabilitas Lancar              514.611             1.825.389            2.106.802     2.431.512       2.806.163

     Liabilitas Jangka                       -                        -              -              -              -
     Panjang
     Total Liabilitas               514.611             1.825.389            2.106.802     2.431.512       2.806.163

     Total Ekuitas               10.135.315            10.612.381          11.303.830     12.256.277      13.525.527

     Total Liabilitas dan        10.649.926            12.437.770          13.410.633     14.687.788      16.331.690
     Ekuitas
   Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah

2. Proyeksi Laporan Laba Rugi Entitas Anak
                                                                                               (dalam ribuan rupiah)
                              FY2026
          Keterangan                                 FY2027               FY2028         FY2029          FY2030
                              Jun-Dec
     Pendapatan Bersih          5.726.694            13.298.745            15.441.423     17.929.327      20.818.080

     Beban Pokok              (4.810.423)           (11.104.452)          (12.816.381)   (14.791.695)    (17.070.825)
     Pendapatan
     Laba Bruto                   916.271              2.194.293            2.625.042      3.137.632       3.747.254



     Beban Penjualan            (200.434)              (465.456)            (540.450)      (627.526)        (728.633)
     Beban Adm. &               (570.989)            (1.183.708)           (1.275.326)    (1.378.667)     (1.495.469)
     Umum
     Penghasilan Lain-             57.267                132.987              154.414        179.293         208.181
     lain
     Beban Lain-lain              (28.633)               (66.494)             (77.207)       (89.647)       (104.090)




                                                      Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 73
                           FY2026
         Keterangan                            FY2027           FY2028           FY2029               FY2030
                           Jun-Dec
     Laba Sebelum             173.481             611.623          886.474            1.221.086         1.627.243
     Pajak Penghasilan
     Beban Pajak              (38.166)           (134.557)        (195.024)           (268.639)         (357.993)
     Penghasilan
     Laba Tahun               135.315             477.066          691.449             952.447          1.269.250
     Berjalan
   Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah

3. Proyeksi Arus Kas Entitas Anak
                                                                                          (dalam ribuan rupiah)
                           FY2026
         Keterangan                             FY2027           FY2028              FY2029            FY2030
                           Jun-Dec
     Kas Bersih dari         (234.033)           1.042.894          894.045           1.148.316         1.457.144
     Aktivitas Operasi
     Kas Bersih dari         (238.000)            (238.000)        (238.000)           (238.000)         (238.000)
     Aktivitas Investasi
     Kas Bersih dari       10.000.000                     -                -                   -                 -
     Aktivitas
     Pendanaan
     Kas Bersih Periode      9.527.967             804.894          656.045             910.316         1.219.144

     Kas Awal Periode                    -       9.527.967       10.332.861          10.988.907        11.899.223

     Kas Akhir Periode       9.527.967          10.332.861       10.988.907          11.899.223        13.118.366

   Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah



4. Weighted Average Cost of Capital (WACC)

           Komponen        Besaran                        Keterangan                               Source
                                         Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30
     SUN                    6,71%                                                         Indo Govt Bond Yield
                                         December 2025 - 30 Year
     Default Spread         1,62%        Default spread as of January 1, 2026             Damodaran
     Risk Free Rate                      Goverment Bond - Default Spread
     Equity Risk Premium    6,69%        Equity risk premium as of January 1, 2026        Damodaran


    Halaman 73                                                                                                       00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 74
          Komponen               Besaran                        Keterangan                                Source
     Unlevered Beta                0,52        Company relative to the market risk                Damodaran
     D/E Ratio                   74,49%        Estimated finance leverage or industry level       Damodaran
     Specific Risk                0,00%        Estimated Company Specific Risk


     Interest                     8,44%        Investment loans as of December 31, 2025           SEKI - BI
     Tax Rates                   22,00%                        Corporate Tax Rate, Indonesia
     Sumber:      Analisis
     KJPP, diolah

                                  D/E
            Industry                                           Unlevered Beta
                                  Ratio
      Retail (Distributors)      87,90%                            0,456



5. Analisis Investasi Terhadap Entitas Anak
                                                                                              (dalam Ribuan Rupiah)

                                                    Desember      Desember      Desember      Desember    Desember
                Tahun                Initial
                                                      2026          2027          2028          2029        2030


     Biaya Pendirian/Investasi
     Biaya Notaris Pendirian
                                     (10.000)
     Entitas Anak
     Setoran Modal Awal           (9.900.000)

     Total Biaya Pendirian        (9.910.000)

     Arus Kas
     Laba Setelah Pajak                            135.315       477.066     691.449       952.447        1.269.250
     (+) Penyusutan dan
                                                   138.833       238.000     238.000       238.000            238.000
     Amortisasi
     (+) Beban Bunga * (1 -
     Tax)
     (±) Perubahan Modal
                                                  (508.182)      327.829     (35.404)      (42.131)           (50.106)
     Kerja




    Halaman 74                                                                                                           00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 75
                                               Desember      Desember      Desember      Desember    Desember
            Tahun               Initial
                                                 2026          2027          2028          2029        2030

(-) Capex                                     (238.000)   (238.000)     (238.000)     (238.000)      (238.000)

Total Arus Kas                            -   (472.033)    804.894       656.045       910.316       1.219.144

Total Arus Kas Bersih        (9.910.000)      (472.033)    804.894       656.045       910.316       1.219.144

Nilai Kekal                                                                                         20.781.820

Total Arus kas Bersih        (9.910.000)      (472.033)    804.894       656.045       910.316      22.000.963

Tingkat Diskonto                   8,53%
Tingkat Pertumbuhan
                                   2,51%
Kekal
Tingkat Kapitalisasi               6,01%

Periode                                   0          1           2             3             4              5
                                               31-Dec-
Date                                                      31-Dec-27     31-Dec-28     31-Dec-29     31-Dec-30
                                                   26
Faktor Diskonto                    1,000         0,921       0,849         0,782         0,721          0,664

Nilai Kini Arus Kas Bersih   (9.910.000)      (434.943)    683.373       513.231       656.191      14.613.001
Total Nilai Kini Arus Kas
                              6.120.853
Bersih (NPV)



IRR                              19,79%
NPV                           6.120.853
PP                            > 5 Tahun

PI                                   1,62
 Sumber: Analisis KJPP, diolah




Halaman 75                                                                                                       00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 76
6. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS sebelum penambahan KBLI Holding
                                                                      (dalam ribuan rupiah)
    Keterangan                                 2026            2027            2028            2029            2030
    ASET
    Aset Lancar
    Kas dan Bank                         17.664.838      34.716.041      52.477.763      70.994.752      90.312.998
    Piutang Usaha                                 0               0               0               0               0
    Pihak Ketiga                         26.848.793      26.848.793      26.848.793      26.848.793      26.848.793
    Pihak Berelasi                        4.465.603       4.465.603       4.465.603       4.465.603       4.465.603
    Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga         67.000          67.000          67.000          67.000          67.000
    Persediaan                            3.500.000       3.500.000       3.500.000       3.500.000       3.500.000
    Pajak Dibayar Dimuka                  2.700.000       2.700.000       2.700.000       2.700.000       2.700.000
    Beban Dibayar Dimuka                    500.000         500.000         500.000         500.000         500.000
    Uang Muka                               250.000         250.000         250.000         250.000         250.000
    Total Aset Lancar                    55.996.233      73.047.436      90.809.158     109.326.147     128.644.394


    Aset Tidak Lancar
    Aset Pajak Tangguhan                  3.581.512       3.581.512       3.581.512       3.581.512       3.581.512
    Piutang Lain-lain - Pihak
                                         49.884.842      49.884.842      49.884.842      49.884.842      49.884.842
    Berelasi
    Aset Tetap , Net                              0               0               0               0               0
    Harga Perolehan                     216.673.276     216.673.276     216.673.276     216.673.276     216.673.276
    Akumulasi Penyusutan               (118.656.487)   (120.006.290)   (121.281.542)   (122.487.737)   (123.629.651)
    Aset Lain-lain                                0               0               0               0               0
    Total Aset Tidak Lancar             151.483.142     150.133.339     148.858.087     147.651.892     146.509.979


    TOTAL ASET                          207.479.375     223.180.775     239.667.245     256.978.039     275.154.372


    LIABILITAS DAN EKUITAS
    (DEFISIENSI MODAL)
    Liabilitas Jangka Pendek




    Halaman 76                                                                                                         00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 77
Keterangan                               2026          2027          2028          2029          2030
Utang Usaha:
Pihak Ketiga                         3.572.102     3.572.102     3.572.102     3.572.102     3.572.102
Pihak Berelasi                        592.898       592.898       592.898       592.898       592.898
Utang Pajak                         21.204.875    21.204.875    21.204.875    21.204.875    21.204.875
Beban Akrual                        20.029.661    20.029.661    20.029.661    20.029.661    20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
                                    16.488.153    16.488.153    16.488.153    16.488.153    16.488.153
Lainnya
Utang Lain-lain - Pihak Ketiga      14.690.451    14.690.451    14.690.451    14.690.451    14.690.451
Liabilitas Jangka Panjang yang
                                            0             0             0             0             0
akan jatuh
Total Liabilitas Jangka Pendek      76.578.140    76.578.140    76.578.140    76.578.140    76.578.140


Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak Berelasi    98.090.234    98.090.234    98.090.234    98.090.234    98.090.234
Liabilitas Jangka Panjang
                                            0             0             0             0             0
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
                                            0             0             0             0             0
dalam satu tahun:
Utang Bank                          64.071.600    68.556.612    73.355.575    78.490.465    83.984.798
Pendapatan Diterima Dimuka            565.036       565.036       565.036       565.036       565.036
Liabilitas Imbalan Kerja             8.608.860     8.608.860     8.608.860     8.608.860     8.608.860
Total Liabilitas Jangka Panjang    171.335.730   175.820.742   180.619.705   185.754.596   191.248.928


TOTAL LIABILITAS                   247.913.871   252.398.883   257.197.846   262.332.736   267.827.068


EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Modal Disetor                       65.000.000    65.000.000    65.000.000    65.000.000    65.000.000
Tambahan Modal Disetor:                     0             0             0             0             0
Agio Saham                          23.425.909    23.425.909    23.425.909    23.425.909    23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
                                    55.540.520    55.540.520    55.540.520    55.540.520    55.540.520
Sepengendali
Pengampunan Pajak                    6.766.567     6.766.567     6.766.567     6.766.567     6.766.567




Halaman 77                                                                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 78
    Keterangan                              2026            2027            2028            2029            2030
    Defisit                         (216.536.864)   (205.320.475)   (193.632.968)   (181.457.065)   (168.775.064)
    Pendapatan Komprehensif Lain:              0               0               0               0               0
    Surplus Revaluasi Aset Tetap      24.398.135      24.398.135      24.398.135      24.398.135      24.398.135
    Total Ekuitas yang dapat
                                               0               0               0               0               0
    diatribusi kepada
    pemilik entitas induk            (41.405.733)    (30.189.345)    (18.501.837)     (6.325.934)      6.356.067
    Kepentingan non-pengendali           971.237         971.237         971.237         971.237         971.237
    TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                     (40.434.496)    (29.218.108)    (17.530.600)     (5.354.697)      7.327.304
    MODAL)


    TOTAL LIABILITAS DAN
                                     207.479.375     223.180.775     239.667.245     256.978.039     275.154.372
    EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP

7. Proyeksi keuangan Laba Rugi INPS sebelum penambahan KBLI Holding
                                                                                         (dalam ribuan rupiah)
              KETERANGAN               2026            2027            2028            2029            2030

    PENDAPATAN                       277.044.539     290.896.766     305.441.604     320.713.684     336.749.369
    BEBAN POKOK PENJUALAN           (232.717.413)   (244.353.283)   (256.570.948)   (269.399.495)   (282.869.470)
    LABA BRUTO                        44.327.126      46.543.483      48.870.657      51.314.190      53.879.899


    Beban Penjualan                   (5.540.891)     (5.817.935)     (6.108.832)     (6.414.274)     (6.734.987)
    Beban Umum & Adm.                (27.704.454)    (29.089.677)    (30.544.160)    (32.071.368)    (33.674.937)
    LABA USAHA                        11.081.782      11.635.871      12.217.664      12.828.547      13.469.975


    Pendapatan (Beban) Lain-lain
    Pemulihan Cadangan Kerugian          161.262         169.325         177.791         186.681         196.015
    Pemulihan Imbalan Kerja               69.117          72.572          76.201          80.011          84.012
    Pendapatan Bunga                       2.739           2.876           3.020           3.171           3.330
    Laba (rugi) Penjualan Aset
                                               0               0               0               0               0
    Tetap
    Provisi dan Administrasi Bank       (139.509)       (146.485)       (153.809)       (161.499)       (169.574)



    Halaman 78                                                                                                      00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 79
             KETERANGAN                 2026          2027             2028              2029               2030

    Pajak Final                         (302.459)     (317.582)        (333.461)         (350.134)          (367.641)
    Bunga Pembiayaan Konsumen                   0               0              0                 0                  0
    Beban Penyisihan Piutang           (2.350.519)   (2.468.045)      (2.591.448)       (2.721.020)     (2.857.071)
    Beban Penghapusan Piutang          (3.380.626)   (3.549.657)      (3.727.140)       (3.913.497)     (4.109.172)
    Bunga Lembaga Keuangan
                                                0               0              0                 0                  0
    Lainnya
    Bunga Pinjaman Bank                (4.191.600)   (4.485.012)      (4.798.963)       (5.134.890)     (5.494.333)
    Lain-lain Bersih                   11.950.731    12.548.268       13.175.681        13.834.465      14.526.188
    Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                        1.819.135     1.826.260        1.827.873         1.823.287          1.811.754
    lain


    LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
    PENGHASILAN
    Manfaat (beban) Pejak
    Penghasilan
    Pajak Kini                         (2.937.995)   (3.084.894)      (3.239.139)       (3.401.096)     (3.571.151)
    Pajak Tangguhan                       799.192       839.152          881.109           925.165           971.423
    Beban Pajak Penghasilan            (2.138.803)   (2.245.743)      (2.358.030)       (2.475.931)     (2.599.728)
    LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN         10.762.114    11.216.388       11.687.507        12.175.903      12.682.001
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP


8. Proyeksi keuangan Posisi Keuangan INPS setelah penambahan KBLI Holding
                                                                                                  (dalam ribuan rupiah)
                 Keterangan              2026            2027              2028                 2029               2030

    ASET
    Aset Lancar
    Kas dan Bank                        17.292.804      35.148.902        53.566.670          72.993.974           93.531.365
    Piutang Usaha
    Pihak Ketiga                        27.461.425      27.941.840        28.117.951          28.322.436           28.559.868
    Pihak Berelasi                       4.465.603       4.465.603          4.465.603           4.465.603           4.465.603
    Piutang Lain-lain - Pihak Ketiga        67.000           67.000            67.000             67.000                67.000



    Halaman 79                                                                                                                   00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 80
          Keterangan           2026            2027            2028            2029            2030
Persediaan                     3.910.160       4.412.695       4.553.401       4.715.756       4.903.082
Pajak Dibayar Dimuka           2.700.000       2.700.000       2.700.000       2.700.000       2.700.000
Beban Dibayar Dimuka             500.000         500.000         500.000         500.000         500.000
Uang Muka                        250.000         250.000         250.000         250.000         250.000
Total Aset Lancar             56.646.993      75.486.039      94.220.624     114.014.769     134.976.917


Aset Tidak Lancar
Aset Pajak Tangguhan           3.581.512       3.581.512       3.581.512       3.581.512       3.581.512
Piutang Lain-lain - Pihak
                              49.884.842      49.884.842      49.884.842      49.884.842      49.884.842
Berelasi
Investasi Entitas Anak                 0               0               0               0               0
Aset Tetap , Net
Harga Perolehan              216.673.276     216.673.276     216.673.276     216.673.276     216.673.276
Akumulasi Penyusutan        (118.656.487)   (120.006.290)   (121.281.542)   (122.487.737)   (123.629.651)
Aset Hak Guna                          0               0               0               0               0
Aset Lain-lain                    99.167          99.167          99.167          99.167          99.167
Total Aset Tidak Lancar      151.582.309     150.232.506     148.957.254     147.751.059     146.609.145


TOTAL ASET                   208.229.302     225.718.545     243.177.878     261.765.828     281.586.062


LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Bank Jangka Pendek               0               0               0               0               0
Utang Usaha:
Pihak Ketiga                   4.086.713       5.397.491       5.678.904       6.003.613       6.378.265
Pihak Berelasi                   592.898         592.898         592.898         592.898         592.898
Utang Pajak                   21.204.875      21.204.875      21.204.875      21.204.875      21.204.875
Beban Akrual                  20.029.661      20.029.661      20.029.661      20.029.661      20.029.661
Utang Lembaga Keuangan
                              16.488.153      16.488.153      16.488.153      16.488.153      16.488.153
Lainnya



Halaman 80                                                                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 81
          Keterangan                2026          2027          2028          2029          2030
Utang Lain-lain - Pihak Ketiga      14.690.451    14.690.451    14.690.451    14.690.451    14.690.451
Liabilitas Jangka Panjang yang
                                            0
akan jatuh
tempo dalam satu tahun:                     0             0             0             0             0
Utang Bank                                  0             0             0             0             0
Liabilitas Sewa                             0             0             0             0             0
Utang Pembiayaan Konsumen                   0             0             0             0             0
Total Liabilitas Jangka Pendek      77.092.752    78.403.530    78.684.943    79.009.652    79.384.303


Liabilitas Jangka Panjang
Utang Lain-lain - Pihak Berelasi    98.090.234    98.090.234    98.090.234    98.090.234    98.090.234
Liabilitas Jangka Panjang
setelah dikurangi
bagian yang jatuh tempo
dalam satu tahun:
Utang Bank                          64.071.600    68.556.612    73.355.575    78.490.465    83.984.798
Pendapatan Diterima Dimuka            565.036       565.036       565.036       565.036       565.036
Liabilitas Imbalan Kerja             8.608.860     8.608.860     8.608.860     8.608.860     8.608.860
Liabilitas Sewa                             0             0             0             0             0
Utang Pembiayaan Konsument                  0             0             0             0             0
Total Liabilitas Jangka Panjang    171.335.730   175.820.742   180.619.705   185.754.596   191.248.928


TOTAL LIABILITAS                   248.428.482   254.224.272   259.304.648   264.764.247   270.633.232


EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Modal Disetor                       65.000.000    65.000.000    65.000.000    65.000.000    65.000.000
Tambahan Modal Disetor:                     0             0             0             0             0
Agio Saham                          23.425.909    23.425.909    23.425.909    23.425.909    23.425.909
Selisih Kombinasi Bisnis Entitas
                                    55.540.520    55.540.520    55.540.520    55.540.520    55.540.520
Sepengendali
Pengampunan Pajak                    6.766.567     6.766.567     6.766.567     6.766.567     6.766.567




Halaman 81                                                                                               00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 82
              Keterangan                  2026                 2027                2028              2029              2030
    Defisit                            (216.402.902)        (204.714.218)       (192.342.176)     (179.223.350)     (165.284.793)
    Pendapatan Komprehensif Lain:                   0                   0                    0                 0               0
    Surplus Revaluasi Aset Tetap         24.398.135           24.398.135          24.398.135        24.398.135        24.398.135
    Total Ekuitas yang dapat
                                                    0                   0                    0                 0               0
    diatribusi kepada
    pemilik entitas induk               (41.271.771)         (29.583.088)        (17.211.046)       (4.092.220)        9.846.338
    Kepentingan non-pengendali            1.072.590            1.077.361           1.084.276         1.093.800         1.106.492
    TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                        (40.199.181)         (28.505.727)        (16.126.770)       (2.998.420)       10.952.831
    MODAL)


    TOTAL LIABILITAS DAN
                                        208.229.302          225.718.545         243.177.878       261.765.828       281.586.062
    EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP


9. Proyeksi keuangan Laporan Laba Rugi INPS setelah penambahan KBLI Holding
                                                                       (dalam ribuan rupiah)
               KETERANGAN                   2026                2027                2028             2029              2030
    PENDAPATAN                           282.771.233          304.195.511         320.883.027      338.643.012       357.567.448
    BEBAN POKOK PENJUALAN               (237.527.836)        (255.457.735)      (269.387.329)     (284.191.190)     (299.940.295)
    LABA BRUTO                             45.243.397          48.737.775          51.495.699       54.451.822        57.627.153


    Beban Penjualan                        (5.741.325)         (6.283.391)         (6.649.282)      (7.041.800)       (7.463.620)
    Beban Umum & Adm.                    (28.275.443)         (30.273.385)        (31.819.486)     (33.450.035)      (35.170.406)
    LABA USAHA                             11.226.629          12.180.999          13.026.931       13.959.986        14.993.127


    Pendapatan (Beban) Lain-lain
    Pemulihan Cadangan Kerugian               161.262             169.325             177.791          186.681           196.015
    Pemulihan Imbalan Kerja                      69.117            72.572              76.201           80.011            84.012
    Pendapatan Bunga                              2.739               2.876               3.020             3.171          3.330
    Laba (rugi) Penjualan Aset Tetap                    0                   0                0                 0               0




    Halaman 82                                                                                                                      00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 83
                   KETERANGAN          2026             2027            2028              2029              2030
     Provisi dan Administrasi Bank      (139.509)        (146.485)       (153.809)         (161.499)           (169.574)
     Pajak Final                        (302.459)        (317.582)       (333.461)         (350.134)           (367.641)
     Bunga Pembiayaan Konsumen                    0               0               0                0                  0
     Beban Penyisihan Piutang         (2.350.519)      (2.468.045)     (2.591.448)       (2.721.020)       (2.857.071)
     Beban Penghapusan Piutang        (3.380.626)      (3.549.657)     (3.727.140)       (3.913.497)       (4.109.172)
     Bunga Lembaga Keuangan
                                                  0               0               0                0                  0
     Lainnya
     Bunga Pinjaman Bank              (4.191.600)      (4.485.012)     (4.798.963)       (5.134.890)       (5.494.333)
     Lain-lain Bersih                 11.979.365       12.614.761      13.252.888        13.924.112        14.630.279
     Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                       1.847.769        1.892.754        1.905.080        1.912.934         1.915.844
     lain


     LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
     PENGHASILAN
     Manfaat (beban) Pejak
     Penghasilan
     Pajak Kini                       (2.976.160)      (3.219.451)     (3.434.163)       (3.669.735)       (3.929.144)
     Pajak Tangguhan                     799.192          839.152            881.109          925.165           971.423
     Beban Pajak Penghasilan          (2.176.968)      (2.380.300)     (2.553.054)       (2.744.570)       (2.957.721)
     LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN       10.897.430       11.693.454      12.378.957        13.128.350        13.951.250
   Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP



10. Analisis Inkremental
                                                                                         (dalam ribuan rupiah)
                  Keterangan          2026            2027            2028             2029             2030
     ASET
     Aset Lancar
     Kas dan Bank                     (372.033)        432.861        1.088.907        1.999.223        3.218.366
     Piutang Usaha
     Pihak Ketiga                      612.633        1.093.048       1.269.158        1.473.643        1.711.075
     Persediaan                        410.160         912.695        1.053.401        1.215.756        1.403.082




    Halaman 83                                                                                                             00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 84
           Keterangan             2026         2027         2028        2029        2030
Total Aset Lancar                  650.760     2.438.603    3.411.466   4.688.622   6.332.523


Aset Tidak Lancar
Aset Lain-lain                      99.167        99.167      99.167      99.167      99.167
Total Aset Tidak Lancar             99.167        99.167      99.167      99.167      99.167


TOTAL ASET                         749.926     2.537.770    3.510.633   4.787.788   6.431.690


LIABILITAS DAN EKUITAS
(DEFISIENSI MODAL)
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha:
Pihak Ketiga                       514.611     1.825.389    2.106.802   2.431.512   2.806.163
Total Liabilitas Jangka Pendek     514.611     1.825.389    2.106.802   2.431.512   2.806.163


Liabilitas Jangka Panjang
Total Liabilitas Jangka Panjang          0             0           0           0           0


TOTAL LIABILITAS                   514.611     1.825.389    2.106.802   2.431.512   2.806.163


EKUITAS (DEFISIENSI MODAL)
Defisit                            133.962       606.257    1.290.792   2.233.714   3.490.271
Total Ekuitas yang dapat
diatribusi kepada
pemilik entitas induk              133.962       606.257    1.290.792   2.233.714   3.490.271
Kepentingan non-pengendali         101.353       106.124     113.038     122.563     135.255
TOTAL EKUITAS (DEFISIENSI
                                   235.315       712.381    1.403.830   2.356.277   3.625.527
MODAL)


TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
                                   749.926     2.537.770    3.510.633   4.787.788   6.431.690
(DEFISIENSI MODAL)
 Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP


Halaman 84                                                                                      00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 85
11. Analisis Inkremental
                                                                                     (dalam ribuan rupiah)
                  Keterangan             2026          2027           2028           2029           2030
     PENDAPATAN                        5.726.694     13.298.745     15.441.423     17.929.327     20.818.080
     BEBAN POKOK PENJUALAN            (4.810.423)   (11.104.452)   (12.816.381)   (14.791.695)   (17.070.825)
     LABA BRUTO                          916.271      2.194.293      2.625.042      3.137.632      3.747.254


     Beban Penjualan                   (200.434)      (465.456)      (540.450)      (627.526)      (728.633)
     Beban Umum & Adm.                 (570.989)     (1.183.708)    (1.275.326)    (1.378.667)    (1.495.469)
     LABA USAHA                          144.848        545.129        809.266      1.131.439      1.523.153


     Pendapatan (Beban) Lain-lain
     Lain-lain Bersih                     28.633         66.494         77.207         89.647        104.090
     Total Pendapatan (Beban) Lain-
                                          28.633         66.494         77.207         89.647        104.090
     lain


     LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK
     PENGHASILAN
     Manfaat (beban) Pejak
     Penghasilan
     Pajak Kini                          (38.166)     (134.557)      (195.024)      (268.639)      (357.993)
     Pajak Tangguhan                            0             0              0              0              0
     Beban Pajak Penghasilan             (38.166)     (134.557)      (195.024)      (268.639)      (357.993)
     LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN          135.315        477.066        691.449        952.447      1.269.250
   Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP




    Halaman 85                                                                                                  00086/2.0176-00/BS/05/0213/1/V/2026
Page 86

          
Page 87

          
Page 88

          
Page 89

          
Page 90

          
Page 91

          
Page 92

          
Page 93

          
Page 94

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size5.08 MB
Published5 May 2026
Pages94
Characters253,337
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 60 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Indah Prakasa Sentosa Tbk p.1 ×109
linked person Danar Wihandoyo p.7
linked org Surya Perkasa p.13
linked org PT Sinar Ratu Sentosa p.13
linked person Lies Erliawati Winata p.13 ×2
linked person Jerry Erfansyah p.13 ×3
linked org Negara Maju p.26
linked org Pertamina Patra Niaga. p.32
linked org Satria Antaran Prima Tbk p.36 ×2
linked org Logisticsplus International Tbk p.36 ×2
linked org Jasa Berdikari Logistics Tbk p.36 ×2
linked org Putra Rajawali Kencana Tbk p.37 ×2
linked org Armada Berjaya Trans Tbk p.37 ×2
linked org Trimuda Nuansa Citra Tbk p.37 ×2
linked person Hadi Avilla Tamzil p.47
possible org PT Graha Inti Guna Persada p.1 ×10
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.1 ×4
possible org Bursa Efek Indonesia p.9 ×3
possible — Masyarakat/Publik p.13
possible person Ir. Hadi Avila Tamzil p.13 ×2
possible org Bank Persero p.30 ×2
possible org PT DEAL p.35
possible person Ari Binsar p.47
unresolved org PT Graha Inti Guna Persada Menara Jakarta Tower p.1
unresolved org KJPP Ferdinand p.1 ×8
unresolved org Ichsan dan Rekan p.1 ×8
unresolved org KJPP FDI p.1 ×4
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.1 ×2
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.7 ×2
unresolved person Reagy Sukmana p.7
unresolved org Bank Indonesia p.9 ×8
unresolved org Pusat Statistik. p.9 ×4
unresolved org Kantor Akuntan Publik RAMA WENDRA p.11 ×4
unresolved org McMillanWoods p.11 ×4
unresolved person Foreman Dodi Pribadi p.11 ×4
unresolved person Bachruddin Hardigaluh p.12 ×2
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.12 ×2
unresolved person Mutiara Hartanto p.12
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.12 ×3
unresolved person Rahayu Ningsih · Notaris p.12 ×3
unresolved org Menteri Investasi p.12 ×2
unresolved org Kordinasi Penanaman Modal. p.12 ×2
unresolved org PT Surya Perkasa Sentosa p.13
unresolved — Tn/Mr. Eddy Purwanto Winata p.13 ×5
unresolved org Pusat Statistiktercatat p.29
unresolved org PT Pertamina Patra Niaga. Sesuai p.32
unresolved org Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral p.33 ×3
unresolved org Kementerian ESDM p.34 ×2
unresolved org PT SAPX p.35 ×2
unresolved org PT PURA p.35 ×2
unresolved org PT LAJU p.35 ×2
unresolved org PT LOPI p.35 ×2
unresolved org PT TNCA p.35 ×2
unresolved org PT JAYA p.35 ×2
unresolved org PT INPS p.36 ×3
unresolved org PT DEAL Sumber p.36
unresolved org Dewata Freightinternational Tbk p.36 ×2
unresolved org KJPP Proyeksi Keuangan Laba Rugi INPS p.62
unresolved org KJPP p.64 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik FERDINAND p.72

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.182 5201 ms 12 Sep 2026 22:29
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': 'AHU-AH.01.09-0209432 tanggal 3 Juni 2024.',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result