Back to announcement
20260505_CGAS_Laporan Informasi dan Fakta Material_32077196_lamp2.pdf
Other Text extracted CGASSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 91
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT CITRA NUSANTARA GEMILANG TBK
No. 00017/2.0120-04/BS/05/0627/1/IV/2026
Tanggal: 29 April 2026
Tanggal Studi Kelayakan per 31 Desember 2025
Page 2
Kantor Cabang Jakarta Selatan
The AKKAS Commercial Building Lt. 2
Jl. T.B. Simatupang No. 23, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telp. : +62 21 78343013 | Wilayah Kerja Seluruh Indonesia
No. Laporan : 00017/2.0120-04/BS/05/0627/1/IV/2026 Jakarta, 29 April 2026
Kepada Yth.
PT Citra Nusantara Gemilang Tbk
Jl. Raya Kalimalang No. 126, Pasirsari
Cikarang Selatang, Kabupaten Bekasi
Jawa Barat, 17856
U.p. : Direksi
Dengan hormat,
Sesuai penugasan dari PT Citra Nusantara Gemilang Tbk kepada Kantor Jasa Penilai Publik Herman
Meirizki dan Rekan (”HMR” atau “kami” atau “Penilai”) untuk memberikan pendapat mengenai
kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI)
yaitu KBLI 35201-Pengadaan Gas Alam Buatan oleh PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (“Perseroan”
atau “CGAS”) sebagaimana tertuang dalam Surat Penawaran No. 132/SP/HMR-JKSL/B/XII/2025
tanggal 24 Desember 2025 yang telah disetujui oleh manajemen Perseroan, maka dengan ini kami telah
melakukan studi kelayakan (feasibilty study) secara independen dengan tanggal studi kelayakan per 31
Desember 2025.
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama : PT Citra Nusantara Gemilang Tbk
Bidang Usaha : Distribusi Gas Alam dan Buatan, Perdagangan Besar Bahan Bakar Padat, Cair
dan Gas dan Produk YBDI
Alamat : Jl. Raya Kalimalang No. 126, Tegal Gede, Pasirsari, Cikarang Selatan,
Kabupaten Bekasi Jawa Barat, 17530
Telepon dan Faks : (021) 89836763
E-mail : cngniaga@cng.co.id
Latar Belakang Studi Kelayakan
Sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha, Perseroan memandang perlu melakukan
penyesuaian kegiatan usaha melalui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Langkah ini didasarkan pada rencana ekspansi bisnis yang semula berfokus pada distribusi Compressed
Natural Gas (CNG) menjadi pengelolaan dan pemanfaatan Liquefied Natural Gas (LNG). Perubahan pola
bisnis tersebut menuntut adanya kesesuaian antara kegiatan operasional dengan klasifikasi usaha yang
tercantum dalam perizinan berusaha, guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di sektor energi dan sumber daya mineral. Selain itu, Perseroan telah
memperoleh hak pengusahaan melalui kemenangan tender pemanfaatan sumur marginal di wilayah
Karawang, Tanjung Pakis, Jawa Barat pada tahun 2022, serta didukung dengan diterbitkannya izin alokasi
gas oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan Surat Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025
tanggal 4 Juli 2025. Berdasarkan ketentuan dalam izin alokasi tersebut, kegiatan usaha yang dijalankan
tidak lagi terbatas pada distribusi, melainkan mencakup pengadaan gas yang diambil langsung dari
sumur tanpa melalui jaringan pipa. Oleh karena itu, penambahan KBLI 35201 tentang pengadaan Gas
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |i
Page 3
Alam dan Buatan merupakan suatu keharusan hukum untuk mencerminkan kegiatan usaha yang
sebenarnya dijalankan oleh Perseroan serta sebagai bentuk kepatuhan administratif dalam sistem
perizinan berusaha.
Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan Kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.
Status Penilai
Penilai Publik yang bertandatangan dalam laporan ini yaitu Willyams, S.E., MAPPI (Cert.), merupakan
Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI 13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP
Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120, domisili Kota Jakarta Selatan dengan
wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan merupakan KJPP resmi yang telah
mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah terdaftar sebagai kantor jasa
profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai telah terdaftar sebagai Profesi
Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal No.
STTD.PB ‐ 57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri Keuangan Non Bank dengan No.
296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI)
Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI 330, POJK 35/2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK 17/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor
17/SEOJK.04/2020.
Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 35201-
Pengadaan Gas Alam Buatan oleh Perseroan (selanjutnya disebut “Rencana Penambahan KBLI”).
Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas perubahan kegiatan
usaha yang disusun oleh Penilai.
Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.
Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |ii
Page 4
Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Bapak
Moch Farid Dimyati sebagai Site Manager – LNG Plant Karawang Perseroan dan Bapak Jati Pangarso
sebagai Project Manager – LNG Plant Karawang Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap lokasi fasilitas penyaluran gas yang terkait dengan Perjanjian Jual Beli Gas
(PJBG), termasuk namun tidak terbatas pada area Stasiun Penyerahan Gas yang berlokasi di Desa
Tanjung Mekar, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, serta fasilitas pendukung
lainnya yang relevan dengan kegiatan penyaluran gas dari Lapangan Galian Wilayah Kerja Pertamina EP
Zona 7.
Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat Inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut:
• Perseroan telah memperoleh alokasi pasokan gas berdasarkan draft perjanjian dengan PT
Pertamina EP;
• Saat ini proses pembangunan pabrik LNG sudah berjalan 50%:
• Perseroan memiliki luas area pabrik sebesar 12.250 m², di mana sekitar separuh area
dimanfaatkan untuk kegiatan operasional, sementara sisanya digunakan sebagai area
penghijauan;
• Terdapat rencana penambahan tenaga kerja baru dalam tahap awal implementasi kegiatan usaha
LNG sebanyak 42 orang;
• Dalam pelaksanaan teknis, Perseroan akan mendapatkan dukungan dari tenaga ahli eksternal
yang berasal dari vendor peralatan LNG, yaitu Greenfir;
• Keterlibatan vendor mencakup bantuan teknis dan keahlian spesifik yang berkaitan dengan
operasional dan instalasi peralatan LNG;
• Total volume kontrak gas yang diperoleh Perseroan adalah sebesar 4.110 MMSCF (Million
Standard Cubic Feet) untuk keseluruhan periode kontrak;
• Periode kontrak berlangsung sejak 1 Juni 2026 hingga 30 November 2033, dengan volume kontrak
tahunan yang bervariasi setiap tahun.
Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
dokumen legalitas Perseroan;
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |iii
Page 5
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.
Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.
Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan ini, tidak terdapat subsequent event atau kejadian penting yang dapat mempengaruhi hasil
analisis studi kelayakan secara signifikan.
Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.
Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |iv
Page 6
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya;
Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
1. Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00040/2.1524/AU.1/05/1350-4/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Jonnardi, Jamaludin, Sukimto & Rekan tanggal 30 Maret 2026 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak.,
CA., CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00056/2.0927/AU.1/05/1350-3/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 24 Maret 2025 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00043/2.0927/AU.1/05/1362-2/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 28 Maret 2024 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00092/2.0927/AU.1/05/1350-1/1/VIII/3023
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 10 Agustus 2023 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
6. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00118/2.0927/AU.1/05/0109-2/1/VI/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 30 Juni 2022 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Ben Ardi, CA, CPA, CLI selaku penanggung jawab audit;
7. Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2033 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
8. Draft Perjanjian Jual Beli Gas antara PT Pertamina EP dan Perseroan tentang Penjualan Gas dari
Struktur Galian Field Tambun Zona 7 Regional 2 Wilayah Kerja Pertamina EP;
9. Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi dari Lapangan Galian Wilayah Kerja
Pertamina EP Zona 7 kepada Perseroan Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025 tanggal 4 Juli 2025;
10. Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
11. Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
lainnya yang kami anggap relevan.
Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |v
Page 7
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.
Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan terlah memiliki perizinan pokok dan
dokumen operasional lainnya untuk melakukan kegiatan komersialnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Perseroan telah memiliki izin Penetapan Alokasi dan
Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi dari Lapangan Galian Wilayah Kerja Pertamina EP Zona 7 kepada
Perseroan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor T-
312/MG.04/MEM.M/2025 tanggal 4 Juli 2025;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, Rencana Penambahan KBLI dinilai layak untuk dijalankan,
didukung oleh prospek permintaan LNG yang terus meningkat, adanya kesenjangan pasokan gas di
wilayah non-pipeline, serta posisi strategis Perseroan yang didukung oleh model distribusi yang
fleksibel, ketersediaan pasokan, dan potensi pasar yang masih luas;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan dinilai memiliki kesiapan yang memadai untuk
melaksanakan Rencana Penambahan KBLI, didukung oleh kapasitas produksi yang terukur,
infrastruktur produksi dan distribusi yang terintegrasi, ketersediaan bahan baku yang terjamin, serta
dukungan sumber daya manusia dan tenaga ahli yang kompeten;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, Perseroan dinilai memiliki model bisnis yang kuat,
terintegrasi, dan berdaya saing tinggi, yang didukung oleh keunggulan kompetitif, tingkat imitasi yang
relatif rendah, serta kemampuan dalam menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan, sehingga
mampu mendukung keberhasilan implementasi Rencana Penambahan KBLI;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan dinilai memiliki kesiapan yang
memadai dalam mendukung implementasi Rencana Penambahan KBLI, yang tercermin dari
perencanaan sumber daya manusia yang terstruktur, dukungan tenaga ahli pada tahap awal
operasional, serta pengelolaan aspek kekayaan intelektual yang telah memiliki kepastian hukum.
Dengan demikian, model manajemen yang diterapkan mampu mendukung kelancaran operasional
secara efektif, efisien, dan berkelanjutan;
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
positif, analisis IRR lebih besar dari WACC, analisis DPP menunjukkan bahwa periode pengembalian
investasi yang telah didiskontokan tercapai dalam waktu 3,75 tahun, analisis PI menunjukkan bahwa
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |vi
Page 8
Page 9
Page 10
DAFTAR ISI
PERNYATAAN PROFESIONAL PENILAI ........................................................................................viii
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL............................................................................................................................ xi
DAFTAR GRAFIK .........................................................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................... xiii
1. LINGKUP PENUGASAN............................................................................................................ 1
1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................ 1
1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan ....................................................................................... 1
1.3. Status Penilai .................................................................................................................. 1
1.4. Objek Studi Kelayakan ..................................................................................................... 2
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan................................................................................. 2
1.6. Tanggal Studi Kelayakan .................................................................................................. 2
1.7. Mata Uang yang Digunakan .............................................................................................. 2
1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi ......................................................................................... 2
1.9. Hasil Inspeksi.................................................................................................................. 2
1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 3
1.11. Asumsi Khusus................................................................................................................ 4
1.12. Subsequent Event ........................................................................................................... 4
1.13. Metodologi Studi Kelayakan ............................................................................................. 4
1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan ...................................................................... 4
1.15. Sumber Data ................................................................................................................... 4
1.16. Independensi Penilai ....................................................................................................... 5
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ............................................................................ 5
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN ............................................................................................. 6
2.1. Gambaran Umum Perseroan ........................................................................................... 6
2.2. Pemegang Saham ........................................................................................................... 6
2.3. Susunan Pengurus .......................................................................................................... 6
2.4. Gambaran Usaha ............................................................................................................ 7
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional ...................................................................... 7
2.4.2. Analisis SWOT ................................................................................................................. 8
2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional ............................................................... 9
2.5. Kinerja Keuangan ............................................................................................................ 9
2.5.1. Laba Rugi Historis ........................................................................................................... 9
2.5.2. Posisi Keuangan Historis ............................................................................................... 10
2.5.3. Arus Kas Historis ........................................................................................................... 12
2.5.4. Rasio Keuangan Historis ................................................................................................ 14
3. ASPEK PASAR ....................................................................................................................... 16
3.1. Analisa Makro Ekonomi dan Pasar.................................................................................. 16
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan ..................................................................................... 16
3.1.2. Nilai Tukar Rupiah ......................................................................................................... 16
3.1.3. Suku Bunga ................................................................................................................... 17
3.1.4. Inflasi ............................................................................................................................ 18
3.3. Tinjauan Industri Natural Gas ......................................................................................... 19
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |ix
Page 11
3.4. Pangsa Pasar ................................................................................................................ 21
3.5. Potensi dan Sasaran Pasar ............................................................................................ 22
3.6. Kesinambungan (Sustainability) Pasar ........................................................................... 23
3.7. Pesaing Usaha .............................................................................................................. 24
3.8. Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 25
3.9. Target Pasar .................................................................................................................. 27
3.10. Pemasok dan Pelanggan Utama ..................................................................................... 27
4. ASPEK TEKNIS ...................................................................................................................... 30
4.1. Kapasitas Segmen Usaha .............................................................................................. 30
4.2. Kapasitas Produksi dan Distribusi .................................................................................. 30
4.3. Ketersediaan Bahan Baku .............................................................................................. 31
4.4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli...................................................... 32
4.5. Proses Produksi ............................................................................................................ 33
5. ASPEK POLA BISNIS.............................................................................................................. 35
5.1. Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 35
5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk .............................................................................. 35
5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai ..................................................................................... 36
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN ................................................................................................. 38
6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 38
6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual................................................................................... 40
6.3. Manajemen Risiko ......................................................................................................... 40
6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ......................................................................... 42
6.5. Struktur Kepemilikan Saham .......................................................................................... 45
6.6. Struktur Organisasi Perseroan ....................................................................................... 46
7. ASPEK KEUANGAN ............................................................................................................... 48
7.1. Rencana Manajemen ..................................................................................................... 48
7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan .................................................................................... 48
7.3. Biaya Pendirian dan Investasi......................................................................................... 49
7.4. Biaya Operasional ......................................................................................................... 50
7.5. Biaya Bahan Baku .......................................................................................................... 51
7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point) ........................................................................... 51
7.7. Sumber Pendanaan ....................................................................................................... 52
7.8. Analisis Tingkat Diskonto ............................................................................................... 52
7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment .................................................. 54
8. KESIMPULAN ........................................................................................................................ 60
9. LAMPIRAN ............................................................................................................................ 61
10. REFERENSI .......................................................................................................................... 62
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |x
Page 12
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham.................................................................................................... 6
Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat ........................................................... 9
Tabel 3. Laporan Laba Rugi ............................................................................................................... 10
Tabel 4. Posisi Keuangan Historis ..................................................................................................... 11
Tabel 5. Arus Kas Historis ................................................................................................................. 13
Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis.......................................................................................... 15
Tabel 7. Skema Penyerahan Gas dari PT Pertamina EP ....................................................................... 32
Tabel 8. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................................................... 38
Tabel 9. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jenjang Usia ............................................................... 38
Tabel 10. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi....................................................................... 38
Tabel 11. Perencanaan Tenaga Kerja LNG ......................................................................................... 39
Tabel 12. Asumsi Proyeksi Pendapatan LNG ...................................................................................... 48
Tabel 13. Proyeksi Pendapatan Dengan dan Tanpa Rencana Penambahan KBLI.................................. 49
Tabel 14. Analisis Biaya Pendirian dan Investasi ................................................................................ 49
Tabel 15. Rencana dan Realisasi RAB Proyek LNG ............................................................................. 50
Tabel 16. Rencana dan Realisasi RAB Proyek LNG ............................................................................. 50
Tabel 17. Biaya Operasional ......................................................................................................... 50
Tabel 18. Analisis Titik Impas ............................................................................................................ 51
Tabel 19. WACC ............................................................................................................................... 53
Tabel 20. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI .................................................. 54
Tabel 21. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI .................................................... 54
Tabel 22. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI ..................... 55
Tabel 23. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI ....................... 56
Tabel 24. Analisis Kelayakan Investasi............................................................................................... 57
Tabel 25. Analisis Sensitivity ............................................................................................................. 59
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |xi
Page 13
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025 .......................................................................... 16
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025 ...................................... 17
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020- 2025 .................................................................................. 18
Grafik 4. Pangsa Pasar Global Gas Alam Tahun 2024-2034 ................................................................ 19
Grafik 5. Produksi Gas Alam Global Tahun 2020-2030 ....................................................................... 20
Grafik 6. Indeks Harga Gas Alam Global Tahun 2020-2025 ................................................................ 20
Grafik 7. Negara-Negara dengan Kapasitas Ekspor Terbesar (2025) ................................................... 21
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |xii
Page 14
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Alur Produksi dan Penjualan LNG ..................................................................................... 33
Gambar 2. Fasilitas LNG untuk Pelanggan ......................................................................................... 34
Gambar 3. Alur Kepemilikan Saham .................................................................................................. 45
Gambar 4. Struktur Organisasi Perseroan ......................................................................................... 46
Gambar 5. Struktur Organisasi Pengelolaan dan Operasional LNG ..................................................... 47
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |xiii
Page 15
1. LINGKUP PENUGASAN
1.1. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dalam studi kelayakan ini adalah:
Nama : PT Citra Nusantara Gemilang Tbk
Bidang Usaha : Distribusi Gas Alam dan Buatan, Perdagangan Besar Bahan Bakar Padat, Cair
dan Gas dan Produk YBDI
Alamat : Jl. Raya Kalimalang No. 126, Tegal Gede, Pasirsari, Cikarang Selatan,
Kabupaten Bekasi Jawa Barat, 17530
Telepon dan Faks : (021) 89836763
E-mail : cngniaga@cng.co.id
1.2. Latar Belakang Studi Kelayakan
Sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha, Perseroan memandang perlu melakukan
penyesuaian kegiatan usaha melalui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Langkah ini didasarkan pada rencana ekspansi bisnis yang semula berfokus pada distribusi Compressed
Natural Gas (CNG) menjadi pengelolaan dan pemanfaatan Liquefied Natural Gas (LNG). Perubahan pola
bisnis tersebut menuntut adanya kesesuaian antara kegiatan operasional dengan klasifikasi usaha yang
tercantum dalam perizinan berusaha, guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di sektor energi dan sumber daya mineral. Selain itu, Perseroan telah
memperoleh hak pengusahaan melalui kemenangan tender pemanfaatan sumur marginal di wilayah
Karawang, Tanjung Pakis, Jawa Barat pada tahun 2022, serta didukung dengan diterbitkannya izin alokasi
gas oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan Surat Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025
tanggal 4 Juli 2025. Berdasarkan ketentuan dalam izin alokasi tersebut, kegiatan usaha yang dijalankan
tidak lagi terbatas pada distribusi, melainkan mencakup pengadaan gas yang diambil langsung dari
sumur tanpa melalui jaringan pipa. Oleh karena itu, penambahan KBLI 35201 tentang pengadaan Gas
Alam dan Buatan merupakan suatu keharusan hukum untuk mencerminkan kegiatan usaha yang
sebenarnya dijalankan oleh Perseroan serta sebagai bentuk kepatuhan administratif dalam sistem
perizinan berusaha.
Sehubungan dengan rencana tersebut diatas, untuk mengetahui kelayakan atas penambahan kegiatan
usaha tersebut, maka Perseroan membutuhkan studi kelayakan untuk memenuhi Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia (“POJK”) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha. Untuk mengetahui kelayakan atas usaha Perseroan tersebut, maka
Perseroan memerlukan Kajian dari Pihak Independen untuk melakukan analisa dan kajian serta
menyusun Laporan Studi Kelayakan. Selanjutnya manajemen Perseroan menunjuk KJPP HMR sebagai
pihak independen dalam penyusunan laporan studi kelayakan tersebut.
1.3. Status Penilai
Penilai Publik yang bertandatangan dalam laporan ini yaitu Willyams, S.E., MAPPI (Cert.), merupakan
Penilai Publik dengan Nomor Izin B-1.22.00627 dan Nomor MAPPI 13-S-04028 sebagai Rekan di KJPP
Herman Meirizki dan Rekan dengan Nomor Izin Usaha 2.14.0120, domisili Kota Jakarta Selatan dengan
wilayah kerja di seluruh Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan merupakan KJPP resmi yang telah
mendapatkan izin dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |1
Page 16
Keuangan No. 66/KM.1/2014 tanggal 10 Februari 2014. Kami juga telah terdaftar sebagai kantor jasa
profesi penunjang pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Penilai telah terdaftar sebagai Profesi
Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal No.
STTD.PB ‐ 57/PM.02/2023 serta terdaftar sebagai Penilai Industri Keuangan Non Bank dengan No.
296/PD.021/STTD-P/2023. Studi kelayakan dilakukan sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI)
Edisi VII-2018 dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 320, SPI 321, SPI 330, POJK 35/2020 tentang Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan POJK 17/2020 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha Utama serta Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor
17/SEOJK.04/2020.
1.4. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan adalah kelayakan atas rencana penambahan kegiatan usaha sesuai KBLI 35201-
Pengadaan Gas Alam Buatan oleh Perseroan (selanjutnya disebut “Rencana Penambahan KBLI”).
1.5. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud dan tujuan studi kelayakan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas Rencana
Penambahan KBLI. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
Usaha. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya laporan studi kelayakan atas perubahan kegiatan
usaha yang disusun oleh Penilai.
1.6. Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal studi kelayakan dalam laporan ini adalah tanggal 31 Desember 2025.
1.7. Mata Uang yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam laporan studi kelayakan adalah Rupiah (Rp).
1.8. Tingkat Kedalaman Investigasi
HMR telah mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara terutama dengan manajemen
Perseroan yang diperlukan untuk menunjang proses studi kelayakan. Kami telah mewawancarai Bapak
Moch Farid Dimyati sebagai Site Manager – LNG Plant Karawang Perseroan dan Bapak Jati Pangarso
sebagai Project Manager – LNG Plant Karawang Perseroan. Kami mendapatkan akses dan telah
melakukan site visit terhadap lokasi fasilitas penyaluran gas yang terkait dengan Perjanjian Jual Beli Gas
(PJBG), termasuk namun tidak terbatas pada area Stasiun Penyerahan Gas yang berlokasi di Desa
Tanjung Mekar, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, serta fasilitas pendukung
lainnya yang relevan dengan kegiatan penyaluran gas dari Lapangan Galian Wilayah Kerja Pertamina EP
Zona 7.
1.9. Hasil Inspeksi
Beberapa informasi yang didapatkan pada saat Inspeksi terkait Rencana Penambahan KBLI adalah
sebagai berikut.
• Perseroan telah memperoleh alokasi pasokan gas berdasarkan draft perjanjian dengan PT
Pertamina EP;
• Saat ini proses pembangunan pabrik LNG sudah berjalan 50%:
• Perseroan memiliki luas area pabrik sebesar 12.250 m², di mana sekitar separuh area
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |2
Page 17
dimanfaatkan untuk kegiatan operasional, sementara sisanya digunakan sebagai area
penghijauan;
• Terdapat rencana penambahan tenaga kerja baru dalam tahap awal implementasi kegiatan usaha
LNG sebanyak 42 orang;
• Dalam pelaksanaan teknis, Perseroan akan mendapatkan dukungan dari tenaga ahli eksternal
yang berasal dari vendor peralatan LNG, yaitu Greenfir;
• Keterlibatan vendor mencakup bantuan teknis dan keahlian spesifik yang berkaitan dengan
operasional dan instalasi peralatan LNG;
• Total volume kontrak gas yang diperoleh Perseroan adalah sebesar 4.110 MMSCF (Million
Standard Cubic Feet) untuk keseluruhan periode kontrak;
• Periode kontrak berlangsung sejak 1 Juni 2026 hingga 30 November 2033, dengan volume kontrak
tahunan yang bervariasi setiap tahun.
1.10. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Laporan studi kelayakan ini dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:
1. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
2. Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses studi kelayakan;
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya;
4. Proyeksi keuangan dibuat oleh manajemen Perseroan dengan mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan dan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty);
5. HMR bertanggungjawab atas pelaksanaan analisis studi kelayakan;
6. Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan;
7. HMR bertanggungjawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan akhir dari laporan ini;
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum Perseroan dari pemberi tugas berdasarkan
dokumen legalitas Perseroan;
9. Laporan studi kelayakan disusun berdasarkan kondisi bisnis, perekonomian, dan peraturan-
peraturan yang secara umum berlaku sampai dengan tanggal penerbitan laporan studi kelayakan
ini;
10. Kami mengasumsikan bahwa setelah tanggal diterbitkannya laporan studi kelayakan tidak terjadi
perubahan apapun yang berpengaruh secara material terhadap hasil studi kelayakan. Kami tidak
bertanggungjawab untuk menegaskan atau memutakhirkan kembali pendapat kami atas perubahan
asumsi dan kondisi yang terjadi setelah tanggal laporan studi kelayakan ini;
11. Kami tidak melakukan due diligence atas aspek perpajakan dan aspek hukum Perseroan;
12. Analisis dalam studi kelayakan didasarkan pada keakuratan, kehandalan, dan kelengkapan data
dan informasi yang diberikan kepada kami oleh Perseroan atau pemberi tugas. Kami
mengasumsikan bahwa data dan informasi yang diberikan kepada kami adalah benar, lengkap, dan
tidak menyesatkan. Kami tidak bertanggungjawab atas kemungkinan adanya data atau informasi
yang tidak diungkapkan, ketidakakuratan dan ketidakterbukaan data atau informasi, perubahan
data atau asumsi yang dijadikan dasar studi kelayakan yang dapat mempengaruhi hasil studi
kelayakan;
13. Pekerjaan kami yang berkaitan dengan studi kelayakan ini tidak merupakan dan tidak dapat
ditafsirkan dalam bentuk apapun, suatu penelaahan atau audit, atau pelaksanaan prosedur-
prosedur tertentu atas informasi keuangan. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dimaksudkan untuk
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |3
Page 18
mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal, kesalahan atau penyimpangan dalam
laporan keuangan, atau pelanggaran hukum.
1.11. Asumsi Khusus
Asumsi khusus yang akan digunakan merupakan asumsi khusus yang relevan dan wajar sehubungan
dengan studi kelayakan. Asumsi khusus merupakan asumsi yang berbeda dari keadaaan sebenarnya
pada tanggal studi kelayakan. Analisis akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima dalam
studi kelayakan.
1.12. Subsequent Event
Dari tanggal studi kelayakan yaitu tanggal 31 Desember 2025 sampai dengan tanggal diterbitkannya
laporan ini, tidak terdapat subsequent event atau kejadian penting yang dapat mempengaruhi hasil
analisis studi kelayakan secara signifikan.
1.13. Metodologi Studi Kelayakan
Metode yang digunakan dalam menyusun laporan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:
• Pengumpulan data langsung dari Perseroan terkait Rencana Penambahan KBLI yang mencakup
identitas, perizinan, rencana usaha, dan data terkait lainnya;
• Melakukan Analisis Kelayakan Pasar, Analisis Kelayakan Teknis, Analisis Kelayakan Pola Bisnis,
Analisis Kelayakan Model Manajemen, dan Analisis Kelayakan Keuangan;
• Melakukan analisis kelayakan atas objek studi kelayakan dengan menggunakan indikator Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Return on Investment (ROI);
• Memberikan Kesimpulan Hasil Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha.
1.14. Sumber Informasi Yang Dapat Dihandalkan
Studi kelayakan dapat menggunakan data atau sumber informasi tanpa melalui verifikasi terlebih dahulu
yaitu data-data sebagai berikut:
• Data beta industri dan country risk premium bersumber dari Damodaran;
• Data Obligasi Pemerintah Republik Indonesia dari PT Penilai Harga Efek Indonesia atau sumber
lainnya;
• Data Statistik Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan;
• Data nilai tukar, inflasi, ataupun data publikasi lainnya bersumber dari Bank Indonesia;
• Data lainnya bersumber dari lembaga pemerintahan lainnya;
• Sumber data lainnya yang terkait dengan studi kelayakan.
1.15. Sumber Data
Dalam menyusun studi kelayakan ini, kami telah menelaah, mempertimbangkan, mengacu, atau
melaksanakan prosedur atas informasi sebagai berikut:
1. Company profile dan struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00040/2.1524/AU.1/05/1350-4/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Jonnardi, Jamaludin, Sukimto & Rekan tanggal 30 Maret 2026 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak.,
CA., CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |4
Page 19
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00056/2.0927/AU.1/05/1350-3/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 24 Maret 2025 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00043/2.0927/AU.1/05/1362-2/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 28 Maret 2024 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00092/2.0927/AU.1/05/1350-1/1/VIII/3023
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 10 Agustus 2023 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
6. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00118/2.0927/AU.1/05/0109-2/1/VI/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 30 Juni 2022 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Ben Ardi, CA, CPA, CLI selaku penanggung jawab audit;
7. Proyeksi laporan keuangan Perseroan tahun 2026-2033 Tanpa Rencana Penambahan KBLI dan
Dengan Rencana Penambahan KBLI, yang disusun oleh manajemen Perseroan;
8. Draft Perjanjian Jual Beli Gas antara PT Pertamina EP dan Perseroan tentang Penjualan Gas dari
Struktur Galian Field Tambun Zona 7 Regional 2 Wilayah Kerja Pertamina EP;
9. Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi dari Lapangan Galian Wilayah Kerja
Pertamina EP Zona 7 kepada Perseroan Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025 tanggal 4 Juli 2025;
10. Informasi lain dari manajemen Perseroan ataupun pihak lain yang relevan dengan penugasan;
11. Data informasi pasar, ekonomi, industri berdasarkan media cetak dan elektronik yaitu website Bank
Indonesia, website Aswath Damodaran, website Penilai Harga Efek Indonesia, dan sumber informasi
lainnya yang kami anggap relevan.
1.16. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan ini kami telah bertindak secara independen, tidak ada
benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat dengan penugasan. Kami juga
tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Laporan studi
kelayakan ini juga tidak ditujukan untuk memberikan keuntungan atau kerugian pada pihak manapun.
Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh opini yang dihasilkan.
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan studi kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang dapat
mempengaruhi operasional Perseroan. Publikasi ataupun penggunaan laporan studi kelayakan untuk
tujuan selain yang telah dinyatakan dalam maksud dan tujuan studi kelayakan serta penggunaan laporan
studi kelayakan ini oleh pihak selain dari pemberi tugas dan pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini harus dengan sepengetahuan dan persetujuan tertulis dari HMR. HMR tidak
bertanggungjawab atas tuntutan baik saat ini ataupun di masa depan terkait dengan penyalahgunaan
ataupun penggunaan sebagian atau seluruh informasi dalam laporan studi kelayakan ini untuk tujuan
selain yang telah dinyatakan sebelumnya dan bukan oleh pengguna laporan dalam laporan studi
kelayakan ini.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |5
Page 20
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Umum
PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (“Perseroan”) didirikan berdasarkan Akta Notaris Edi Priyono, S.H., No.
22 tanggal 21 Desember 2005. Akta Pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
Indonesia tanggal 27 September 2006 dalam Surat Keputusan No. W7-00990 HT.01.01-TH.2006.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan dan terakhir dengan Akta Notaris Amriyati A.
Supriyadi, S.H., M.H., No. 03 tanggal 11 Juni 2025 dan telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia tanggal 03 Juli 2025 dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.09-
0306252.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan Perseroan adalah menjalankan usahanya
dalam bidang Perdagangan dan Distribusi Gas Alam dan Buatan, perdagangan besar bahan padat, cair
dan gas dan produk YBDI, aktivitas perusahaan holding. Perseroan berdomisili di Kabupaten Bekasi, Jawa
Barat dan kantor Perseroan berlokasi di Jl. Kali Malang No. 126, Tegal Gede, Pasir Sari, Kabupaten Bekasi.
Entitas induk Perseroan adalah PT Petro Asia Energy selaku pemegang saham mayoritas dengan
kepemilikan 572.570.000 saham atau sebesar 32,32%, dengan nilai nominal 28.628.500.000. Bapak
Zaki Ismail dan Sanjaya adalah pengendali terakhir Perseroan.
2.2. Pemegang Saham
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, pemegang saham Perseroan adalah
sebagai berikut:
Tabel 1. Susunan Pemegang Saham
Persentase
Pemegang Saham Jumlah Saham Jumlah Nominal (Rp)
Kepemilikan (%)
PT Petro Asia Energy 32,32% 572.570.000 28.628.500.000
PT Dharma Mulia Jaya 21,44% 379.750.000 18.987.500.000
PT Cipta Nyata Gemilang 9,10% 161.200.000 8.060.000.000
PT Tirta Maritim Nusantara 7,14% 126.480.000 6.324.000.000
Andhika Purwonugroho 0,11% 2.000.000 100.000.000
Mohamad Isa Safardi 0,04% 700.000 35.000.000
Agung Wibawa 0,02% 358.000 17.900.000
Masyarakat dibawah 5% 29,83% 528.441.039 26.422.051.950
Jumlah 100,00% 1.771.499.039 88.571.951.950
Sumber: Laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025
2.3. Susunan Pengurus
Susunan Direksi dan Komisaris Perseroan per 31 Desember 2025 berdasarkan Akta Notaris No. 03
tanggal 11 Juni 2025 yang dibuat di hadapan Amriyati A. Supriyadi, S.H., M.H, Notaris di Jakarta Selatan
adalah sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |6
Page 21
Direksi
Direktur Utama : Andika Purwonugroho
Direktur : Agung Wibawa
Direktur : Mohamad Isa Safardi
Direktur : Andika Andianto
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : As’at Said Ali
Komisaris : Raditya Muhas Juvirawan
Komisaris Independen : Leo Herlambang
2.4. Gambaran Usaha
2.4.1. Kegiatan Usaha dan Informasi Operasional
Sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan Pasal 3, maksud dan tujuan Perseroan ialah bergerak dalam
bidang Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin; Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi, dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor; dan Aktivitas Keuangan dan Asuransi. Untuk
mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai
berikut:
a. Menjalankan usaha di bidang Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin yang
meliputi kegiatan Distribusi Gas Alam dan Buatan (KBLI 35202)
Kelompok ini mencakup penyaluran gas melalui jaringan yang bertekanan ekstra tinggi (lebih dari 10
bar); yang bertekanan tinggi (antara 4 bar sampai dengan 10 bar); dan yang bertekanan menengah ke
bawah (di bawah 4 bar) baik berasal dari produksi sendiri maupun produksi pihak lain sampai ke
konsumen atau pelanggan. Penyaluran gas melalui pipa atas dasar balas jasa atau fee, dimasukkan
dalam kelompok 49300. Termasuk penyaluran, distribusi dan pengadaan semua jenis bahan bakar
gas melalui sistem saluran, perdagangan gas kepada konsumen melalui saluran, kegiatan agen gas
yang melakukan perdagangan gas melalui sistem distribusi gas yang dioperasikan oleh pihak lain dan
pengoperasian pertukaran komoditas dan kapasitas pengangkutan bahan bakar gas;
b. Menjalankan usaha di bidang Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor yang meliputi kegiatan Perdagangan Besar Bahan Padat, Cair, dan Gas, dan Produk
YBDI (KBLI 4660)
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar bahan bakar gas, cair, dan padat serta bahan
diesel, gasoline, bahan bakar oli, kerosin, premium, solar, minyak tanah, batubara, arang, ampas
arang batu, bahan bakar kayu, nafta, bahan bakar nabati (biofuels) dan bahan bakar lainnya termasuk
pula bahan bakar gas (LPG, gas butana dan propane, dan lain-lain) dan minyak semir, minyak pelumas
dan produk minyak bumi yang telah dimurnikan, serta bahan bakar nuklir;
c. Menjalankan usaha di bidang Aktivitas Keuangan dan Asuransi yang meliputi kegiatan Aktivitas
Perusahaan Holding (KBLI 64200)
Kelompok ini mencakup kegiatan dari perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan
yang menguasai aset dari sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah
kepemilikan kelompok tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha
perusahaan subsidiarinya. Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan
perunding (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |7
Page 22
2.4.2. Analisis SWOT
Berikut adalah analisis SWOT Perseroan:
Kekuatan (Strength):
a. Perseroan bergerak di segmen gas alam terkompresi (CNG) dan berencana ekspansi ke LNG, sektor
yang mendapat dukungan dari tren global dan kebijakan energi bersih;
b. Perseroan telah membuka sejumlah stasiun CNG di berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa
Timur, Jawa Barat, dan berencana ekspansi lebih lanjut. Ekspansi ini memperkuat keberadaan
Perseroan di pasar domestik;
c. Sebagai perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia, Perseroan memiliki akses ke modal
publik untuk mendukung ekspansi dan pengembangan infrastruktur baru.
Kelemahan (Weakness);
a. Sebagai perusahaan yang fokus pada pasar domestik dan infrastruktur gas nasional, kinerja
Perseroan sangat tergantung pada pertumbuhan industri dan permintaan energi lokal. Perubahan
kondisi ekonomi domestik dapat berdampak langsung;
b. Meski ada ekspansi, jaringan distribusi gas dan fasilitas LNG belum sebesar pemain global di sektor
energi, sehingga sisi operasional masih terbatas.
Peluang (Opportunity):
a. Transisi energi di Indonesia memberi peluang bagi CNG dan LNG sebagai alternatif bahan bakar fosil,
terutama di sektor transportasi dan industri. Permintaan ini diperkirakan terus meningkat;
b. Rencana pembukaan lebih banyak stasiun CNG dan pengembangan fasilitas LNG di wilayah strategis
seperti Jawa Timur, Bali, dan Jawa Barat membuka peluang meningkatkan pendapatan;
c. Kemitraan dengan pemain teknologi atau investasi di bidang bio-CNG/renewable gas bisa membuka
segmen pasar baru dan menambah keunggulan kompetitif;
d. Program pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada BBM subsidi dan mengembangkan
energi bersih memberikan peluang pasar yang lebih luas dan insentif industri.
Ancaman (Threats):
a. Pasar energi dipengaruhi oleh harga minyak dan gas global, ketidakpastian harga dapat
mempengaruhi margin dan operasional perusahaan;
b. Perusahaan energi besar yang sudah mapan baik domestik maupun multinasional memiliki sumber
daya lebih besar untuk ekspansi dan teknologi, meningkatkan tekanan kompetitif;
c. Perubahan kebijakan pemerintah (sebagai contoh yaitu subsidi, tarif gas, aturan lingkungan) dapat
memberi dampak positif atau negatif pada biaya dan operasional;
d. Masalah pasokan gas, keterbatasan infrastruktur transmisi/pipa, dan kebutuhan investasi besar
untuk fasilitas baru bisa menjadi kendala pertumbuhan.
Mitigasi atas kelemahan dan ancaman yang dapat dijalankan Perseroan diantaranya yaitu:
a. Perseroan menjaga margin melalui kontrak harga yang terstruktur dan efisiensi biaya operasional;
b. Perseroan memperkuat daya saing dengan fokus pada segmen pasar, peningkatan layanan, dan
kemitraan strategis;
c. Perseroan melakukan penyesuaian strategi secara adaptif terhadap perubahan kebijakan pemerintah
serta memastikan kepatuhan regulasi;
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |8
Page 23
d. Perseroan mengelola risiko pasokan melalui diversifikasi sumber gas dan pengembangan
infrastruktur secara bertahap.
2.4.3. Ketentuan Undang-Undang Terkait Operasional
Berikut adalah dokumen perizinan dan sertifikat terkait operasional Perseroan:
Tabel 2. Ringkasan Beberapa Dokumen Perizinan dan Sertifikat
No. Dokumen Perizinan
1. Peirizinan Berusaha Berbasis Risiko Nomor Induk Berusaha: 120309832929 oleh Menteri
Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal perubahan ke-11 tanggal 5 September
2023
2. Sertifikat Merek GASRA Nomor Pendaftaran: IDM001283706 oleh Menteri Hukum Jenderal
Kekayaan Intelektual
3. Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi dari Lapangan Galian Wilayah Kerja
Pertamina EP Zona 7 kepada PT Citra Nusantara Gemilang Tbk oleh Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Republik Indonesia Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025 tanggal 4 Juli 2025
Sumber: manajamen
2.5. Kinerja Keuangan
Analisa kinerja keuangan Perseroan merujuk pada laporan keuangan audit sebagai berikut:
1. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 Nomor 00040/2.1524/AU.1/05/1350-4/1/III/2026
oleh Kantor Akuntan Publik Jonnardi, Jamaludin, Sukimto & Rekan tanggal 30 Maret 2026 dengan
opini wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak.,
CA., CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
2. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2024 Nomor 00056/2.0927/AU.1/05/1350-3/1/III/2025
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 24 Maret 2025 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
3. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2023 Nomor 00043/2.0927/AU.1/05/1362-2/1/III/2024
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 28 Maret 2024 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
4. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2022 Nomor 00092/2.0927/AU.1/05/1350-1/1/VIII/3023
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 10 Agustus 2023 dengan opini
wajar tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Kevin Muhammad Rizka, SE., M.Ak., Ak., CA.,
CPA., CFI., ASEAN CPA selaku penanggung jawab audit;
5. Laporan keuangan audit per 31 Desember 2021 Nomor 00118/2.0927/AU.1/05/0109-2/1/VI/2022
oleh Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan tanggal 30 Juni 2022 dengan opini wajar
tanpa modifikasian, yang ditandatangani oleh Ben Ardi, CA, CPA, CLI selaku penanggung jawab audit.
2.5.1. Laba Rugi Historis
Berikut merupakan laporan laba rugi Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |9
Page 24
Tabel 3. Laporan Laba Rugi
Audited Audited Audited Audited Audited
FY 2021 FY 2022 FY 2023 FY 2024 FY 2025
PENDAPATAN 387.699.802.006 423.553.944.251 377.588.881.905 508.498.255.069 611.897.173.968
BEBAN POKOK PENDAPATAN (325.019.655.953) (344.599.210.409) (304.494.316.161) (426.716.267.800) (505.344.549.198)
LABA KOTOR 62.680.146.053 78.954.733.842 73.094.565.744 81.781.987.269 106.552.624.770
BEBAN USAHA (55.430.233.397) (61.970.414.553) (64.595.318.157) (75.039.260.146) (84.454.383.700)
LABA USAHA 7.249.912.656 16.984.319.289 8.499.247.587 6.742.727.123 22.098.241.070
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN - NETO (2.391.590.260) (1.732.149.030) 2.686.269.903 7.485.102.662 (21.883.676)
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 4.858.322.396 15.252.170.259 11.185.517.490 14.227.829.785 22.076.357.394
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN
-Kini (1.340.316.857) (3.094.499.893) (3.220.106.901) (5.257.779.581) (5.606.124.629)
-Tangguhan 246.318.214 399.077.727 531.571.601 787.522.102 (586.291.353)
Beban Pajak Penghasilan - Neto (1.093.998.643) (2.695.422.166) (2.688.535.300) (4.470.257.479) (6.192.415.982)
LABA (RUGI) NETO 3.764.323.753 12.556.748.093 8.496.982.190 9.757.572.306 15.883.941.412
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025
Pendapatan
Perseroan membukukan pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp387,70 miliar,
Rp423,55 miliar, Rp377,59 miliar, Rp508,50 miliar, dan Rp611,90 miliar. Pendapatan Perseroan berasal
dari pendapatan gas dan yang berasal dari Entitas Anak yaitu gas, alat proyek, dan jasa.
Beban Pokok Pendapatan
Perseroan membukukan beban pokok pendapatan pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp325,02 miliar, Rp344,60 miliar, Rp304,49 miliar, Rp426,72 miliar, dan Rp505,34 miliar dengan
persentase beban pokok pendapatan terhadap pendapatan pada tahun 2020-2024 dan Maret 2025
masing-masing sebesar 83,83%, 81,36%, 80,64%, 83,92%, dan 82,59%.
Laba Kotor
Perseroan membukukan laba kotor pada tahun 2021-2025 masing-masing sebesar Rp62,68 miliar,
Rp78,95 miliar, Rp73,09 miliar, Rp81,78 miliar, dan Rp106,55 miliar. Rasio gross profit margin pada tahun
2021-2025 masing-masing sebesar 16,17%, 18,64%, 19,36%, 16,08%, dan 17,41%.
Laba (Rugi) Neto
Pada tahun 2022-2025 Perseroan membukukan laba tahun berjalan masing-masing sebesar Rp, 3,76
miliar, Rp12,56 miliar, Rp8,50 miliar, Rp9,76 miliar, dan Rp15,88 miliar, dengan rasio net profit margin
masing-masing sebesar 0,97%, 2,96%, 2,25%, 1,92%, 2,60%.
2.5.2. Posisi Keuangan Historis
Berikut merupakan laporan posisi keuangan audit Perseroan per 31 Desember 2021-2025 (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |10
Page 25
Tabel 4. Posisi Keuangan Historis
Audited Audited Audited Audited Audited
31-Des-21 31-Des-22 31-Des-23 31-Des-24 31-Des-25
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 16.026.649.327 25.313.647.785 17.912.916.006 115.434.640.548 55.125.384.278
Piutang Usaha 38.252.673.720 33.198.885.254 37.784.356.651 47.949.568.331 65.316.128.527
Piutang lain-lain 884.030.143 1.260.963.082 2.640.814.496 1.520.345.837 8.695.745.890
Persediaan 2.357.071.912 3.310.779.080 3.364.084.501 7.755.365.012 9.136.132.965
Uang Muka 10.958.733.001 2.866.170.469 3.633.372.215 39.488.391.335 76.067.417.128
Pajak dibayar dimuka 41.717.200 4.641.767.579 140.941.933 704.883.350 859.140.698
Biaya dibayar dimuka 4.893.935.420 565.881.102 13.811.710.237 26.304.391.791 31.012.277.105
Total Current Asset 73.414.810.723 71.158.094.351 79.288.196.039 239.157.586.204 246.212.226.591
Aset Tidak Lancar
Aset tetap - neto 77.629.004.385 77.888.900.141 74.439.283.791 106.171.385.362 133.448.869.431
Piutang pihak berelasi 20.319.250.000 - - - -
Aset pajak tangguhan 4.194.689.507 4.605.588.666 4.401.060.381 4.858.207.890 3.894.048.414
Dana dibatasi penggunaannya - 21.300.000.000 20.250.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000
Aset tidak lancar lainnya 7.669.675.892 4.822.771.278 12.361.797.008 5.812.750.974 10.546.146.761
Total Aset Tidak Lancar 109.812.619.784 108.617.260.085 111.452.141.180 122.190.344.226 153.237.064.606
TOTAL ASET 183.227.430.507 179.775.354.436 190.740.337.219 361.347.930.430 399.449.291.197
LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha 25.987.596.691 28.277.558.606 44.177.603.573 42.763.775.334 51.702.402.203
Utang lain-lain 3.404.954.874 2.658.961.641 642.471.780 2.786.716.521 2.579.045.735
Utang pajak 1.207.765.083 2.136.157.028 3.754.715.590 3.539.842.979 4.032.150.145
Beban masih harus dibayar 314.780.407 234.967.464 1.140.182.491 1.842.242.091 1.564.959.137
Pendapatan diterima dimuka 6.532.304.458 4.847.115.092 2.757.057.836 3.617.916.018 3.885.817.909
Pembiayaan musyarakah jangka panjang jatuh
5.741.279.760 8.757.019.966 11.205.363.637 - -
tempo dalam waktu satu tahun
Liabilitas jangka panjang jatuh tempo dalam waktu
1.826.631.840 2.033.820.291 2.033.820.291 9.767.932.872 26.312.627.349
satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 423.430.000 468.241.567 468.241.567 702.944.811 917.336.044
-Utang bank 1.403.201.840 1.565.578.724 1.565.578.724 9.064.988.061 25.395.291.305
Total Liabilitas Jangka Pendek 45.015.313.113 48.945.600.088 65.711.215.198 64.318.425.815 90.077.002.478
Liabilitas jangka panjang
Utang pihak berelasi 7.739.786.537 257.295.293 - -
Liabilitas imbalan kerja 20.564.152.187 21.428.800.500 20.499.126.477 21.323.325.632 17.281.076.650
Pembiayaan musyawarah jangka panjang dikurangi
11.979.680.344 27.375.473.386 19.110.626.623 - -
bagian jatuh tempo dalam waktu satu tahun
Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian
5.691.962.148 4.268.281.675 3.228.674.548 11.603.337.843 12.576.702.362
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 1.104.425.064 1.207.421.366 1.691.116.968 1.454.614.437 4.963.451.295
-Utang bank 4.587.537.084 3.060.860.309 1.537.557.580 10.148.723.406 7.613.251.067
Total Liabilitas Jangka Panjang 45.975.581.216 53.329.850.854 42.838.427.648 32.926.663.475 29.857.779.012
Total Liabilitas 90.990.894.329 102.275.450.942 108.549.642.846 97.245.089.290 119.934.781.490
Ekuitas
Modal saham 2.000.000.000 2.000.000.000 62.000.000.000 88.574.951.950 88.574.951.950
Tambahan modal disetor 121.894.301 121.894.301 121.894.301 146.845.152.655 147.518.413.215
Penghasilan komprehensif lain (724.882.360) (760.024.824) 1.669.881.895 2.739.245.560 4.051.359.019
Saldo laba 81.039.959.040 65.501.780.724 7.645.124.139 14.842.940.097 24.351.694.085
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik
82.436.970.981 66.863.650.201 71.436.900.335 253.002.290.262 264.496.418.269
entitas induk
Kepentingan nonpengendali 9.799.565.197 10.636.253.294 10.753.794.038 11.100.550.879 15.018.091.438
Total Ekuitas 92.236.536.178 77.499.903.495 82.190.694.373 264.102.841.141 279.514.509.707
Total Liabilitas dan Ekuitas 183.227.430.507 179.775.354.437 190.740.337.219 361.347.930.431 399.449.291.197
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025
Kas dan Bank
Perseroan mencatatkan kas dan setara kas per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp16,03 miliar, Rp25,31 miliar, Rp17,91 miliar, Rp115,43 miliar, dan Rp55,13 miliar dengan rasio kas
masing-masing sebesar 0,36 kali, 0,52 kali, 0,27 kali, 1,79 kali, dan 0,61 kali.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |11
Page 26
Piutang Usaha
Perseroan mencatatkan piutang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp38,25
miliar, Rp33,20 miliar, Rp37,78 miliar, Rp47,95 miliar, dan Rp65,32 miliar. Hari perputaran piutang usaha
per 31 Desember 2020-2024 dan per 30 Juni 2025 masing-masing sebesar 36 hari, 28 hari, 36 hari, 34
hari, dan 38 hari.
Persediaan
Perseroan mencatat persediaan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp2,36 miliar,
Rp3,31 miliar, Rp3,36 miliar, Rp7,76 miliar, dan Rp9,14 miliar dengan perputaran hari persediaan
masing-masing sebesar 3 hari, 3 hari, 4 hari, 7 hari, dan 7 hari.
Aset Tetap
Perseroan mencatatkan aset tetap bersih per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp77,63
miliar, Rp77,89 miliar, Rp74,44 miliar, Rp106,17 miliar, dan Rp133,45 miliar atau berkisar 29,38% -
43,33% dari total aset per 31 Desember 2021-2025. Aset tetap Perseroan berupa tanah, gedung,
kendaraan, peralatan kantor, mesin dan peralatan, peralatan keselamatan, aset dalam pembangunan
berupa gedung, mesin dan peralatan.
Utang Usaha
Perseroan memiliki utang usaha per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp25,99 miliar,
Rp28,28 miliar, Rp44,18 miliar, Rp42,76 miliar, dan Rp51,70 miliar dengan hari perputaran utang usaha
masing-masing 29 hari, 30 hari, 52 hari, 36 hari, dan 37 hari.
Total Liabilitas Jangka Pendek
Perseroan memiliki total liabilitas jangka pendek per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp45,02 miliar, Rp48,95 miliar, Rp65,71 miliar, Rp64,32 miliar, dan Rp90,08 miliar. Total liabilitas jangka
pendek Perseroan terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, utang pajak, beban masih harus dibayar,
pendapatan diterima dimuka, utang pembiayaan konsumen, dan utang bank.
Total Liabilitas Jangka Panjang
Perseroan memiliki total liabilitas jangka panjang per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar
Rp45,98 miliar, Rp53,33 miliar, Rp42,84 miliar, Rp32,93 miliar, dan Rp29,86 miliar. Total liabilitas jangka
panjang Perseroan terdiri dari utang pihak berelasi, liabilitas imbalan kerja, utang pembiayaan
konsumen, dan utang bank.
Total Ekuitas
Total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp92,24 miliar, Rp77,50
miliar, Rp82,19 miliar, Rp264,10 miliar, dan Rp279,51 miliar. Modal saham ditempatkan dan disetor
penuh Modal saham ditempatkan dan disetor penuh Perseroan per 31 Desember 2021-2023 masing-
masing sebesar Rp2 miliar, Rp2 miliar, dan Rp62 miliar. Sedangkan modal saham ditempatkan dan
disetor penuh Perseroan per 31 Desember 2024-2025 masing-masing sebesar Rp88,57 miliar.
2.5.3. Arus Kas Historis
Berikut merupakan laporan arus kas Perseroan yang telah diaudit periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |12
Page 27
Tabel 5. Arus Kas Historis
Audited Audited Audited Audited Audited
FY 2021 FY 2022 FY 2023 FY 2024 FY 2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan dari pelanggan 392.636.786.210 424.421.504.309 370.913.353.253 499.193.901.571 594.798.515.663
Penerimaan dari bunga 938.564.609 276.974.713 273.068.315 4.155.547.709 2.712.002.474
Pembayaran ke pemasok (326.706.157.745) (339.064.768.179) (297.733.259.899) (414.307.891.279) (482.250.567.549)
Pembayran untuk beban operasional (54.498.803.048) (46.808.332.339) (53.239.801.692) (85.731.673.087) (94.344.840.678)
Pembayaran pajak (1.365.794.657) (2.690.271.850) (1.176.609.171) (6.036.593.609) (5.268.074.811)
Pembayaran atas bunga (3.330.154.869) (2.575.851.297) (1.621.746.925) (5.576.878.170) (2.964.971.421)
Penerimaan operasi lainnya 98.328.756 566.727.554 4.034.948.513 8.907.395.623 (503.479.733)
Arus Kas Neto Diperoleh dari Aktivitas Operasi 7.772.769.256 34.125.982.911 21.449.952.394 603.808.758 12.178.583.945
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (18.558.715.173) (11.667.259.663) (14.703.809.533) (46.452.443.138) (35.442.632.527)
Penambahan uang muka (166.041.000) - - (38.222.110.182) (45.024.283.793)
Penjualan aset tetap - - 5.455.556.602 - -
Penambahan (pembebanan) aset tidak lancar lainnya - 1.097.943.656 (7.539.025.730) 6.549.046.034 (4.733.395.787)
Penerimaan dari penjualan aset tetap - - - - 300.000.000
Dana yang dibatasi penggunaannya (5.818.485.775) (15.000.000.000) 1.050.000.000 (98.000.000) -
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Investasi (24.543.241.948) (25.569.316.007) (15.737.278.661) (78.223.507.286) (84.900.312.107)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Dana yang dibatasi penggunaannya - - - 15.000.000.000 -
Penambahan setoran modal di entitas anak 4.160.000 - - - 3.025.000.000
Setoran modal dari penawaran umum - - - 26.574.951.950 -
Tambahan modal disetor - - - 153.073.258.354 -
Beban emisi saham - - - (6.350.000.000) -
Pembayaran dividen (364.000.000) (382.200.000) (6.000.000.000) (2.214.286.250) (4.706.051.104)
Pembayaran dividen di entitas anak - - - (516.677.695) (130.936.000)
Penerimaan (pembayaran) piutang pihak berelasi (600.384.331) (6.550.018.428) (257.295.293) 3.781.391.095 (3.293.600.000)
Pembayaran kepada pihak berelasi (3.392.124.047) (7.482.491.244) - - -
Penerimaan utang bank - - - 24.740.791.557 19.500.000.000
Pembayaran utang bank - - (7.339.805.821) (38.946.206.654) (5.705.169.095)
Penerimaan utang lain-lain pihak ketiga 2.203.933.880 - - - -
Penerimaan (pembayaran) pinjaman bank - neto 15.693.275.044 17.047.233.357 - - -
(Pembayaran) penerimaan utang pembiayaan konsumen (144.747.171) 147.807.869 483.695.602 (1.799.287) 3.723.228.091
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan 13.400.113.375 2.780.331.554 (13.113.405.512) 175.141.423.070 12.412.471.892
KENAIKAN (PENURUNAN) NETO KAS DAN BANK (3.370.359.317) 11.336.998.458 (7.400.731.779) 97.521.724.542 (60.309.256.270)
KAS DAN BANK PADA AWAL TAHUN 19.397.008.643 13.976.649.327 25.313.647.785 17.912.916.006 115.434.640.548
KAS DAN BANK PADA AKHIR TAHUN 16.026.649.326 25.313.647.785 17.912.916.006 115.434.640.548 55.125.384.278
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025
Arus Kas Aktivitas Operasi
Perseroan membukukan arus kas positif dari aktivitas operasi untuk periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025. Arus kas aktivitas operasi yang dihasilkan oleh Perseroan untuk periode 31
Desember 2021-2025 masing-masing sebesar Rp7,77 miliar, Rp34,13 miliar, Rp21,45 miliar, Rp603,81
juta, dan Rp12,18 miliar.
Arus Kas Aktivitas Investasi
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 Perseroan mencatat arus kas yang
digunakan dalam aktivitas investasi masing-masing sebesar Rp24,54 miliar, Rp25,57miliar, Rp15,74
miliar, Rp78,22 miliar, dan Rp84,90 miliar.
Arus Kas Aktivitas Pendanaan
Selama periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021, 2022, 2024, dan 2025 Perseroan mencatat
arus kas yang dihasilkan dalam aktivitas pendanaan sebesar Rp13,40 miliar, Rp2,78 miliar, Rp175,14
miliar, dan Rp12,41 miliar. Untuk periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2022 Perseroan mencatat
arus kas yang digunakan sebesar Rp13,11 miliar.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |13
Page 28
2.5.4. Rasio Keuangan Historis
Likuiditas
Rasio likuiditas dihitung berdasarkan perbandingan antara aset lancar dibandingkan dengan liabilitas
lancar, yang mencerminkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Rasio
lancar Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 1,63
kali, 1,45 kali, 1,21 kali, 3,72 kali, dan 2,73 kali. Rasio kas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31
Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 0,36 kali, 0,52 kali, 0,27 kali, 1,79 kali, dan 0,61 kali. Rasio
cepat Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 masing-masing sebesar 1,58
kali, 1,39 kali, 1,16 kali, 3,60 kali, dan 2,63 kali.
Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan Perseroan untuk
mendapatkan laba dari pendapatan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Rata-rata
marjin laba (rugi) kotor Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah
sebesar 17,53%. Sementara itu, rata-rata marjin laba (rugi) bersih yang berhasil dicapai Perseroan
periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 adalah sebesar 2,14%.
Aktivitas
Berdasarkan analisis atas rasio aktivitas Perseroan periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-
2025 rata-rata hari perputaran piutang usaha di 34 hari, hari perputaran utang usaha di 37 hari, dan hari
perputaran persediaan di 5 hari.
Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan Perseroan dalam membayar
seluruh utangnya baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Perseroan memiliki rata-rata
debt to asset ratio periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2021-2025 di 11,58% dan rata-rata
debt to equity ratio sebesar 24,01%.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |14
Page 29
Tabel 6. Analisis Rasio Keuangan Historis
Audited Audited Audited Audited Audited Average
FY2021 FY2022 FY2023 FY2024 FY2025 Historis
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 1,63 1,45 1,21 3,72 2,73 2,15
Quick ratio 1,58 1,39 1,16 3,60 2,63 2,07
Cash ratio 0,36 0,52 0,27 1,79 0,61 0,71
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 16,17% 18,64% 19,36% 16,08% 17,41% 18%
Net profit margin 0,97% 2,96% 2,25% 1,92% 2,60% 2%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 10,14 12,76 9,99 10,60 9,37 10,57
Inventory turnover 137,89 104,08 90,51 55,02 55,31 88,56
Acc. Payable turnover 12,51 12,19 6,89 9,98 9,77 10,27
Days of Acc. Receivable 36 28 36 34 38 34
Days of Inventory 3 3 4 7 7 5
Days of Acc. Payable 29 30 52 36 37 37
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity 0,00% 54,75% 43,29% 8,09% 13,91% 24,01%
Debt to Assets 0,00% 23,60% 18,65% 5,91% 9,74% 11,58%
Total Liabilities to Total Assets 49,66% 56,89% 56,91% 26,91% 30,03% 44,08%
Total Liabilities to Total Equity 98,65% 131,97% 132,07% 36,82% 42,91% 88,48%
Sumber: laporan keuangan audit Perseroan per 31 Desember tahun 2021-2025 (diolah)
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |15
Page 30
3. ASPEK PASAR
3.1. Analisa Makro Ekonomi dan Pasar
3.1.1. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir Desember ditutup di level 8.646,94.
Berdasarkan data RTI Business, pergerakan saham menunjukkan 346 saham mengalami penguatan, 317
saham melemah, dan 146 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar
39,54 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,60 juta kali dan nilai transaksi mencapai Rp
20,61 triliun. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tercatat sebanyak tujuh sektor mengalami penguatan,
dengan kinerja terbaik ditunjukkan oleh sektor infrastruktur yang meningkat sebesar 2,30%. Penguatan
tersebut diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang naik 2,12% serta sektor industri yang
mencatatkan kenaikan sebesar 0,71%. Sementara itu, empat sektor lainnya mengalami pelemahan,
dengan sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,81%. Pelemahan juga terjadi
pada sektor barang baku dan sektor teknologi yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,84% dan 0,47%.
Sepanjang tahun 2025 hingga 29 Desember 2025, IHSG mencatatkan kinerja positif dengan
pertumbuhan sebesar 22,10% secara year-to-date dan ditutup di level 8.644,26, serta beberapa kali
mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Sejalan dengan penguatan indeks tersebut,
kapitalisasi pasar juga tercatat telah melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap pengembangan
pasar modal. Berikut pergerakan IHSG akhir bulan Desember tahun 2020-2025:
Grafik 1. IHSG Per 31 Desember Tahun 2020 – 2025
IHSG
9.000,00
8.646,94
8.700,00
8.400,00
8.100,00
7.800,00
7.500,00 7.323,59
7.200,00
6.900,00
6.850,62 7.079,90
6.600,00
6.300,00 6.581,48
6.000,00
5.700,00 5.979,07
5.400,00
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Close Price
Sumber: Yahoo Finance
3.1.2. Nilai Tukar Rupiah
Kurs tengah Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 31 Desember 2025 berada pada level
Rp16.782,00. Berikut pergerakan nilai tukar kurs tengah Rupiah dari Desember 2020-2025:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |16
Page 31
Grafik 2. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Per 31 Desember Tahun 2020-2025
Kurs Tengah BI
17.000,00
16.500,00 16.162,00 16.782,00
16.000,00 15.731,00
15.500,00
15.000,00 15.439,00
14.500,00 14.105,00
14.000,00 14.269,00
13.500,00
13.000,00
12.500,00
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Kurs Tengah BI/ BI Middle Rate
Sumber: Bank Indonesia
3.1.3. Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 16–17 Desember 2025
memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar
3,75%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya Bank
Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global,
sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang
telah diterapkan guna menopang stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengevaluasi peluang penurunan lanjutan suku bunga BI-Rate
dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi tahun 2026 yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%,
serta kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pelonggaran kebijakan
makroprudensial juga diperkuat melalui peningkatan efektivitas penyaluran likuiditas kepada perbankan
guna mempercepat penurunan suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan ke
sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas Pemerintah. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran
tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan penggunaan
pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan
infrastruktur sistem pembayaran.
Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan. Sinergi kebijakan antara Bank
Indonesia dan Pemerintah juga semakin ditingkatkan guna menjaga stabilitas serta mendorong
pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan agenda Asta Cita Pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,2%, didorong oleh
penguatan ekonomi Jepang dan India yang didukung oleh konsumsi rumah tangga serta kebijakan
stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa dipandang tetap solid seiring dukungan konsumsi,
investasi, dan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif baik. Di sisi lain, perekonomian Amerika Serikat (AS)
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |17
Page 32
pada 2025 diperkirakan mengalami perlambatan akibat dampak sementara penghentian operasional
pemerintah serta melemahnya pasar tenaga kerja, sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga
diprakirakan terus melambat seiring masih lemahnya permintaan domestik.
Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan menurun menjadi sekitar 3,0%,
dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya
kerentanan rantai pasok global. Di pasar keuangan global, suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed
Funds Rate) diturunkan sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, dengan ruang penurunan yang
semakin terbatas ke depan. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun cenderung meningkat, sementara yield
tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi sejalan dengan tingginya beban utang Pemerintah AS.
Kondisi tersebut menyebabkan indeks dolar AS (DXY) bertahan tinggi dan membatasi aliran modal asing
ke negara berkembang.
Ke depan, tingkat ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi di tengah prospek
pertumbuhan ekonomi dunia yang masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan serta
penguatan respons kebijakan guna meningkatkan ketahanan ekonomi domestik terhadap dampak
pengaruh global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
3.1.4. Inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Desember 2025 berada pada angka 2,92%. Berdasarkan
Grafik 3, tingkat inflasi cenderung mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020 hingga ke 2022,
tetapi pada tahun 2023 mengalami penurunan yang disebabkan penurunan pada komponen inti
penyumbang inflasi. Pada tahun 2024, inflasi kembali turun dibandingkan dengan tahun 2023 karena
melandainya harga pokok pangan. Inflasi pada 31 Desember 2025 meningkat 2,92% akibat kenaikan
harga pangan serta kenaikan harga emas, BBM, dan tarif transportasi udara. Berikut merupakan Grafik
inflasi bulan Desember tahun 2020-2025:
Grafik 3. Inflasi Periode Desember 2020- 2025
Inflasi
6,00% 5,51%
5,00%
4,00%
3,00% 2,92%
2,61%
2,00%
1,87%
1,68% 1,57%
1,00%
0,00%
Des-20 Des-21 Des-22 Des-23 Des-24 Des-25
Sumber: Bank Indonesia
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |18
Page 33
3.3. Tinjauan Industri Natural Gas
Industri pertambangan melibatkan beberapa kegiatan diantaranya ekstraksi mineral, minyak, gas, dan
sumber daya alam lainnya dari permukaan bumi. Industri ini memainkan peran penting pada ekonomi
global dalam menyediakan bahan baku untuk berbagai industri seperti konstruksi, manufaktur, dan
pembangkit listrik.
Gas alam adalah bahan bakar fosil yang terdiri dari metana, yang digunakan sebagai sumber bahan bakar
yang bersih untuk produksi listrik, pemanasan, dan penggunaan industri serta merupakan bahan baku
utama dalam produksi bahan kimia dan pupuk. Pangsa pasar global gas alam pada tahun 2025 tercatat
sebesar USD4,41 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi USD4,64 triliun pada tahun 2026. Pangsa
pasar global gas alam diperkirakan terus mengalami kenaikan hingga mencapai sekitar USD6,96 triliun
pada tahun 2034 dengan kenaikan rata-rata per tahun (CAGR) sebesar sekitar 5,20% selama periode
proyeksi 2026–2034. Pasar gas alam didorong oleh kenaikan permintaan global akan alternatif yang lebih
bersih daripada sumber energi fosil yang ada terutama untuk penggunaan di bidang transportasi dan
industri. Perkembangan teknologi gas alam cair (LNG) dan pengembangan infrastruktur pipa
memfasilitasi peluang perdagangan pasar gas alam antar negara. Meskipun Amerika Utara umumnya
merupakan produsen terbesar, Asia Pasifik dengan kebutuhan energi yang terus meningkat merupakan
pasar konsumen yang tumbuh sangat cepat.
Grafik 4. Pangsa Pasar Global Gas Alam Tahun 2024-2034
Sumber: Precedence Research
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |19
Page 34
Grafik 5. Produksi Gas Alam Global Tahun 2020-2030
4 5%
3,5 4%
3 3%
Pertumbuhan (%)
2,5 2%
Triliun Kg
2 1%
1,5 0%
1 -1%
0,5 -2%
0 -3%
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026P 2027P 2028P 2029P 2030P
Produksi Pertumbuhan
Sumber: Statista
Produksi gas alam di dunia dari tahun 2020 hingga 2025 cenderung fluktuatif dengan kenaikan rata-rata
tahunan sebesar 2,04% (CAGR). Hingga tahun 2025, produksi gas alam di dunia mencapai 3,44 triliun
Kg, naik 1,78% dari tahun 2024 seiring peningkatan permintaan global terutama dari Asia dan Eropa.
Produksi gas alam di tahun 2026 diperkirakan sebanyak 3,51 triliun Kg dan akan mencapai 3,75 triliun Kg
di tahun 2030 dengan kenaikan rata-rata tahunan sebesar 1,67% (CAGR). Pasar gas alam menghadapi
beberapa tantangan diantaranya masalah lingkungan terkait degradasi lahan, polusi air, dan emisi
karbon, termasuk risiko kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk kecelakaan dan paparan zat
berbahaya. Gas alam juga rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global, tekanan regulasi, dan risiko
geopolitik.
Grafik 6. Indeks Harga Gas Alam Global Tahun 2020-2025
1.000
900
800
INdex Harga Gas Alam
700
600
500
400
300
200
100
0
Oct '20
Oct '21
Oct '22
Oct '23
Oct '24
Jan '25
Jan '20
Jul '20
Jan '21
Jul '21
Jan '22
Jul '22
Jan '23
Jul '23
Jan '24
Jul '24
Jul '25
Apr '20
Apr '21
Apr '22
Apr '23
Apr '24
Apr '25
Sumber: Statista
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |20
Page 35
Indeks harga gas alam global memperhitungkan indeks dari Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat termasuk
beberapa pasar perdagangan gas alam terbesar. Indeks harga gas alam global berada di angka 174,31
poin indeks pada September 2025. Harga gas alam menurun pada bulan tersebut karena penurunan
permintaan akibat cuaca ekstrim yang terjadi secara global. Gas alam cair (LNG) merupakan salah satu
bentuk utama dalam perdagangan gas alam secara global. Meskipun penyaluran gas melalui jaringan
pipa tetap menjadi pilihan utama untuk distribusi antar negara yang berdekatan secara geografis,
perdagangan LNG melalui jalur laut terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dan semakin berperan
penting dalam pasar gas alam global. Hal ini terjadi seiring konsumsi yang tinggi di daerah-daerah yang
tidak dapat diakses oleh pipa seperti Jepang, Korea, dan Cina, serta peningkatan perdagangan LNG baru-
baru ini oleh negara-negara Eropa.
Grafik 7. Negara-Negara dengan Kapasitas Ekspor Terbesar (2025)
Trinidad and Tobago
Egypt
Indonesia
Nigeria
Jutaan Ton
Algeria
Malaysia
Russia
Qatar
Australia
United States
0 20 40 60 80 100 120
Sumber: Statista
Amerika Serikat memiliki kapasitas ekspor LNG terbesar dibandingkan negara mana pun di dunia. Hingga
September 2025, terminal ekspor gas alam cair (LNG) di AS memiliki kapasitas gabungan sebesar 102,3
juta metrik ton per tahun. Pada tahun 2024, Amerika Serikat merupakan negara pengekspor LNG
terbesar, diikuti oleh Qatar dan Australia. Perdagangan LNG memungkinkan gas dikirim ke negara-negara
yang tidak memiliki infrastruktur pipa, sehingga membantu diversifikasi pasar energi. Amerika Serikat
diperkirakan akan menambah lebih dari 300 juta metrik ton kapasitas ekspor LNG per tahun di masa
mendatang.
3.4. Pangsa Pasar
Perseroan saat ini telah memiliki basis pelanggan yang terdiversifikasi dalam bisnis gas berbasis
Compressed Natural Gas (CNG), yang menjadi landasan strategis dalam mendukung rencana ekspansi
ke bisnis Liquefied Natural Gas (LNG). Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh manajemen,
komposisi pangsa pasar CNG Perseroan terbagi ke dalam dua segmen utama, yaitu segmen industri serta
segmen ritel dan komersial.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |21
Page 36
A. Segmen Industri – Kontributor Utama Pendapatan
Segmen industri merupakan kontributor terbesar terhadap pendapatan Perseroan, dengan porsi sekitar
80% dari total penjualan CNG. Pelanggan dalam segmen ini mencakup industri berskala besar,
menengah, hingga usaha industri kecil, yang memanfaatkan CNG sebagai sumber energi untuk
mendukung proses produksi maupun operasional. Penggunaan CNG pada segmen ini masih didominasi
untuk kebutuhan mesin produksi, serta sebagian digunakan sebagai bahan bakar kendaraan operasional
internal (in-plant vehicle), seperti forklift. Tren penggunaan gas untuk kendaraan operasional di
lingkungan pabrik menunjukkan peningkatan, seiring dengan upaya pelaku industri dalam meningkatkan
efisiensi biaya operasional serta mengurangi emisi karbon.
B. Segmen Ritel dan Komersial – Pertumbuhan Signifikan
Selain segmen industri, Perseroan juga melayani pelanggan ritel dan komersial, yang meliputi sektor
perhotelan, restoran, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Segmen ini menunjukkan
tren pertumbuhan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kontribusi segmen ritel terhadap total
penjualan mengalami peningkatan, dari sekitar 15% pada tahun 2023 menjadi sekitar 25% pada tahun
2024. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap penggunaan energi
yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Ke depan, Perseroan
secara aktif menargetkan pengembangan pasar pada segmen industri kecil dan menengah serta sektor
UMKM, yang menunjukkan potensi pertumbuhan seiring dengan bertambahnya populasi pelanggan
dalam jaringan distribusi CNG Perseroan.
3.5. Potensi dan Sasaran Pasar
Pasar gas alam di Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar dan belum sepenuhnya
termanfaatkan secara optimal. Cadangan gas bumi nasional tercatat mencapai sekitar 55,8 triliun kaki
kubik (TCF), yang tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera Selatan, Papua Barat, Sulawesi Tengah,
dan Kalimantan Timur. Namun demikian, dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi gas domestik
masih relatif terbatas. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, kebutuhan gas dalam negeri hanya meningkat
dari 3.774 BBtud pada tahun 2013 menjadi 4.075 BBtud pada tahun 2023, atau tumbuh kurang dari 10%.
Ke depan, kebutuhan gas nasional diproyeksikan akan meningkat signifikan, mencapai 44,8 MTOE pada
tahun 2025 dan terus berkembang hingga 113,9 MTOE pada tahun 2050. Di sisi lain, produksi gas
Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 6.635 MMSCFD, namun kondisi surplus saat ini berpotensi
berubah menjadi defisit lebih dari 500 MMSCFD pada pertengahan dekade mendatang, terutama akibat
penurunan alami produksi sumur yang belum diimbangi oleh penemuan cadangan baru.
GASRA merupakan merek dagang yang dimiliki dan dioperasikan oleh Perseroan dalam menjalankan
kegiatan usaha distribusi LNG. Potensi pasar bagi GASRA tidak hanya terbatas di wilayah Jawa dan
Sumatera, tetapi juga mencakup kawasan luar pulau seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara,
hingga Papua. Wilayah-wilayah tersebut, khususnya area industri dan pertambangan di lokasi terpencil
(remote area), masih sangat bergantung pada energi berbasis emisi tinggi seperti batubara dan solar.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi distribusi LNG sebagai alternatif energi yang lebih bersih.
Sejalan dengan itu, dalam RUPTL 2024–2033, pemerintah menargetkan porsi gas mencapai 20% atau
setara 22 GW dari total penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional. Hal ini menegaskan peran
strategis gas sebagai energi transisi menuju pemanfaatan energi terbarukan secara penuh, sekaligus
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |22
Page 37
menjadi indikator kuat bahwa permintaan gas akan terus meningkat, termasuk dari sektor-sektor yang
saat ini masih mengandalkan batubara.
Dalam konteks tersebut, LNG yang didistribusikan oleh GASRA menjadi solusi yang relevan dan siap
diterapkan dalam jangka pendek, khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah yang belum
terjangkau infrastruktur pipa gas. Selain berkontribusi dalam penurunan emisi karbon, hal ini juga
memberikan peluang bagi GASRA untuk memperkuat posisinya sebagai mitra strategis industri dalam
mendukung agenda dekarbonisasi nasional menuju target Net Zero Emission pada tahun 2060.
Sasaran pasar Perseroan meliputi sektor industri yang membutuhkan pasokan energi gas secara stabil
dan efisien, pembangkit listrik berbasis gas (PLTG/PLTMG), serta wilayah yang belum terlayani jaringan
distribusi gas pipa (non-pipeline area). Selain itu, Perseroan juga menargetkan pelanggan komersial dan
utilitas energi yang memerlukan solusi pasokan gas fleksibel dalam bentuk LNG, sehingga
memungkinkan perluasan jangkauan pasar dan optimalisasi pemanfaatan infrastruktur gas yang dimiliki
Perseroan.
3.6. Kesinambungan (Sustainability) Pasar
Keberlanjutan pasar Liquefied Natural Gas (LNG) memiliki fondasi yang sangat kuat, mengingat energi
merupakan kebutuhan dasar yang bersifat kontinu dan tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi. Berbagai
sektor industri, seperti manufaktur, tekstil, makanan dan minuman, keramik, kimia, hingga
pertambangan, memerlukan pasokan energi secara berkelanjutan sebagai penopang utama
operasional. Selama aktivitas industri terus berlangsung, permintaan terhadap gas alam, termasuk LNG,
akan tetap terjaga. Di samping permintaan yang stabil dari sektor industri, potensi pertumbuhan jangka
panjang yang sangat strategis terletak pada sektor transportasi, khususnya dalam konteks Indonesia
sebagai negara kepulauan dengan konektivitas antarpulau yang tinggi.
A. LNG untuk Kapal (LNG-fuelled Vessel)
Indonesia memiliki jaringan pelayaran domestik yang luas, yang menghubungkan berbagai wilayah
seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Saat ini, sebagian
besar armada kapal, baik feri, kargo, maupun logistik, masih menggunakan bahan bakar minyak jenis
solar (HSD) dengan tingkat konsumsi dan emisi yang relatif tinggi. Penggunaan LNG sebagai bahan bakar
kapal (LNG bunkering) menawarkan keunggulan dari sisi efisiensi biaya serta kepatuhan terhadap
regulasi emisi maritim global yang semakin ketat, termasuk target pengurangan emisi oleh International
Maritime Organization (IMO) pada periode 2030 hingga 2050. Hal ini menjadikan LNG sebagai alternatif
bahan bakar yang prospektif untuk sektor pelayaran domestik.
B. LNG untuk Truk Logistik, Alat Berat, dan Genset di Remote Area
Pada sektor transportasi darat, distribusi logistik nasional masih didominasi oleh armada truk berbahan
bakar solar. Konversi ke kendaraan berbasis LNG (Liquefied Natural Gas Vehicle/LGV) berpotensi
memberikan efisiensi biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar
bersubsidi, yang berdampak pada pengurangan beban fiskal pemerintah. Lebih lanjut, peluang
penggunaan LNG juga sangat signifikan pada sektor pertambangan, khususnya di wilayah terpencil
(remote area). Saat ini, alat berat seperti excavator, dump truck, dan bulldozer bergantung pada pasokan
solar yang memerlukan biaya distribusi tinggi dan kompleksitas logistik. Pemanfaatan LNG dapat
menekan biaya operasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok energi, serta mengurangi risiko
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |23
Page 38
keterlambatan pasokan bahan bakar. Selain itu, penggunaan generator set (genset) berbahan bakar LNG
menjadi alternatif yang kompetitif untuk penyediaan listrik di area yang belum terjangkau jaringan listrik.
Dibandingkan dengan genset berbahan bakar solar, LNG menawarkan biaya energi per kWh yang lebih
rendah serta emisi yang lebih bersih.
C. Aspek Lingkungan dan Dukungan terhadap Transisi Energi
Penggunaan LNG sebagai sumber energi memberikan manfaat lingkungan yang signifikan dibandingkan
bahan bakar diesel. Secara umum, LNG mampu menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂) hingga sekitar
20–25% per unit energi, serta secara signifikan mengurangi emisi partikulat (PM2.5) dan sulfur oksida
(SOx) yang menjadi penyebab utama polusi udara. Dalam konteks komitmen Indonesia terhadap target
Net Zero Emission tahun 2060 serta pengurangan emisi sebesar 31,89% dalam kerangka Nationally
Determined Contribution (NDC), pemanfaatan LNG pada sektor transportasi dan industri merupakan
solusi transisi yang realistis dan dapat diimplementasikan dalam jangka menengah. Hal ini menjadi
relevan mengingat keterbatasan kesiapan infrastruktur untuk kendaraan listrik berat di Indonesia saat ini.
Dengan kombinasi antara permintaan industri yang stabil dan potensi ekspansi pada sektor transportasi
serta pertambangan, pasar LNG di Indonesia menunjukkan prospek kesinambungan yang kuat dalam
jangka menengah hingga panjang. Dalam hal ini, Perseroan memiliki posisi strategis untuk berperan
sebagai penyedia energi yang tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi
dalam upaya dekarbonisasi nasional, khususnya di sektor transportasi dan logistik.
3.7. Pesaing Usaha
Pesaing usaha Perseroan dalam segmen distribusi LNG di Indonesia saat ini didominasi oleh beberapa
pemain utama, yaitu:
• PT Gagas Energi Indonesia (anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)/ Pertamina)
PT Gagas Energi Indonesia adalah anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk yang fokus pada
pengembangan bisnis LNG di Indonesia. PGN LNG sebagai pemain BUMN, memiliki keunggulan akses
pasokan dan dukungan regulasi. Namun kelemahannya adalah birokrasi yang panjang, fleksibilitas
terbatas dalam melayani pelanggan skala menengah di remote area, serta fokus utama pada
infrastruktur berskala besar (terminal regasifikasi).
• PT Pertamina (melalui berbagai anak usaha)
Pertamina menguasai rantai hulu LNG melalui ladang-ladang produksi besar. Namun seperti PGN,
orientasinya adalah volume besar dan kontrak jangka panjang bukan distribusi fleksibel ke kawasan
industri dan remote area yang justru menjadi target utama GASRA.
• Trader Swasta Lainnya
Beberapa trader swasta beroperasi sebagai broker atau reseller LNG, namun umumnya tidak memiliki
infrastruktur distribusi dan armada sendiri, sehingga tidak mampu menjamin keandalan pasokan ke
pelanggan.
• PT Likuid Nusantara Gas
Merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan distribusi LNG skala kecil (small-
scale LNG), dengan fokus pada penyediaan energi gas untuk sektor industri dan wilayah yang belum
terjangkau jaringan pipa gas.
• PT Sumber Aneka Gas
Perusahaan yang berfokus pada distribusi gas untuk kebutuhan industri dan komersial, dengan
potensi pengembangan ke sektor LNG sebagai bagian dari diversifikasi usaha energi.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |24
Page 39
• PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk
Perusahaan publik yang bergerak di sektor infrastruktur energi, termasuk pengembangan proyek-
proyek gas dan energi. Keterlibatannya dalam rantai nilai energi menjadikannya berpotensi sebagai
pemain dalam bisnis LNG, khususnya dari sisi investasi dan pengembangan proyek.
• PT Laras Ngarso Gede
Perusahaan yang bergerak dalam distribusi dan logistik gas, termasuk potensi dalam pengangkutan
LNG, terutama untuk mendukung kebutuhan industri di berbagai wilayah.
• PT Solusi Prima Metana
Perusahaan yang menyediakan solusi energi berbasis gas, termasuk pengembangan teknologi dan
distribusi gas untuk sektor industri, yang dapat menjadi kompetitor dalam penyediaan energi alternatif
berbasis LNG.
• PT Pertagas Niaga
Entitas afiliasi Pertamina Grup yang bergerak di bidang niaga gas, termasuk LNG. Dengan dukungan
infrastruktur dan pasokan dari grup Pertamina, perusahaan ini memiliki posisi yang kuat dalam pasar
LNG domestik.
3.8. Strategi Pemasaran
GASRA menerapkan strategi pemasaran terintegrasi dengan pendekatan multi-lapis yang dirancang
untuk menjangkau calon pelanggan secara luas, efektif, dan terukur, sekaligus membangun hubungan
jangka panjang berbasis kepercayaan dan nilai tambah. Berikut beberapa strategi Perseroan:
1. Digital Marketing dan Brand Awareness
Di era digital, keberadaan daring yang kuat menjadi komponen penting dalam membangun kredibilitas
merek. GASRA memanfaatkan berbagai platform digital seperti Instagram, LinkedIn, serta kanal digital
lainnya untuk berinteraksi secara langsung dengan target pasar dan meningkatkan kesadaran merek.
Konten yang disampaikan mencakup edukasi mengenai manfaat LNG, studi kasus efisiensi energi
pelanggan, hingga kampanye terkait peran GASRA dalam mendukung dekarbonisasi industri. Selain
itu, eksposur melalui media nasional, baik daring maupun cetak, turut dimanfaatkan untuk
memperkuat positioning GASRA sebagai penyedia LNG yang andal dan berpengalaman.
2. Direct Sales Canvassing dan Personal Selling
Pendekatan penjualan langsung menjadi strategi utama dalam menjangkau pelanggan di sektor
industri. Mengingat kompleksitas keputusan pembelian yang melibatkan aspek teknis, finansial, dan
operasional, interaksi tatap muka menjadi sangat krusial. Tim pemasaran GASRA secara aktif
melakukan canvassing terstruktur ke kawasan industri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta entitas
bisnis komersial dengan kebutuhan energi tinggi yang belum terlayani jaringan pipa gas. Pendekatan
ini memastikan bahwa narasi nilai GASRA LNG disampaikan secara tepat sasaran kepada pengambil
keputusan di lapangan.
3. Strategi Upselling atau Hybrid CNG & LNG untuk Pelanggan Eksisting
GASRA mengoptimalkan basis pelanggan eksisting dengan menawarkan skema hybrid CNG dan LNG.
Melalui pendekatan ini, pelanggan dapat memanfaatkan CNG untuk kebutuhan operasional rutin dan
LNG untuk kebutuhan beban puncak maupun ekspansi. Strategi ini tidak hanya meningkatkan utilisasi
layanan, tetapi juga mempercepat proses penjualan karena hubungan dan kepercayaan dengan
pelanggan telah terbangun sebelumnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |25
Page 40
4. Kemitraan Strategis Jaringan Mitra Pemasaran
Dalam industri migas, sebagian perusahaan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain dalam
hal pemasaran sebagai perpanjangan tangan untuk memperluas jangkauan pasar. GASRA
mengadopsi filosofi ini melalui pembangunan jaringan mitra pemasaran strategis dengan badan
usaha yang memiliki akses dan relasi kuat di segmen industri, pertambangan, dan logistik di berbagai
wilayah. Mitra-mitra ini bertindak sebagai kepanjangan tangan GASRA untuk menggapai calon
pelanggan lebih cepat, lebih luas, dan lebih dalam, dengan sistem insentif yang terukur dan
transparan. Dengan model ini, GASRA dapat melakukan penetrasi pasar ke wilayah-wilayah yang
secara geografis sulit dijangkau tim internal secara langsung.
5. Branding dan Positioning sebagai Mitra Energi Transisi
Membangun kesadaran merek yang kuat melalui konten pemasaran yang menarik dan relevan
memungkinkan perusahaan membangun citra yang kokoh di mata konsumen, sekaligus menciptakan
keterlibatan yang lebih intim dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan. GASRA memposisikan diri
tidak hanya sebagai penyedia gas, tetapi sebagai mitra strategis dalam mendukung transisi energi
industri di Indonesia. Perusahaan menawarkan solusi terintegrasi yang mencakup pasokan LNG,
penyediaan infrastruktur seperti tangki penyimpanan di lokasi pelanggan, hingga sistem pemantauan
stok secara real-time. Pendekatan ini memperkuat diferensiasi perusahaan sekaligus membangun
loyalitas pelanggan berbasis nilai jangka panjang.
6. Layanan Konsultasi Digital Chat WhatsApp Terintegrasi di Website
Sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan, GASRA menyediakan fitur konsultasi langsung
melalui integrasi WhatsApp pada website resmi Perseroan. Fasilitas ini memungkinkan calon
pelanggan untuk memperoleh informasi secara cepat terkait produk LNG, skema pasokan, spesifikasi
teknis, serta simulasi efisiensi biaya energi. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks bisnis energi
industri di mana calon pelanggan seringkali membutuhkan klarifikasi teknis sebelum mengambil
keputusan. Dengan menyediakan jalur komunikasi yang familiar, instan, dan personal seperti
WhatsApp, GASRA memangkas jarak antara kebutuhan calon pelanggan dengan solusi yang
ditawarkan dan mempercepat proses edukasi, membangun kepercayaan awal, dan pada akhirnya
memperpendek siklus konversi dari prospek menjadi pelanggan aktif.
Perseroan menerapkan strategi penetapan harga yang berbasis pada perhitungan Harga Pokok Penjualan
(HPP), yang mencakup seluruh komponen biaya secara komprehensif, meliputi biaya produksi,
pengadaan, penyimpanan, hingga distribusi Liquefied Natural Gas (LNG). Pendekatan ini dilakukan untuk
memastikan bahwa harga jual yang ditetapkan mampu menutup seluruh biaya operasional sekaligus
menghasilkan margin yang optimal, sehingga mendukung pencapaian tingkat pengembalian investasi
(Return on Investment/ROI) yang memadai serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Selain berbasis biaya internal, Perseroan juga mempertimbangkan dinamika harga pasar LNG, baik di
tingkat domestik maupun internasional, sebagai acuan dalam penentuan harga jual. Hal ini bertujuan
agar harga yang ditawarkan tetap kompetitif, adaptif terhadap fluktuasi pasar, serta selaras dengan
praktik industri yang berlaku. Dalam aspek komersial, Perseroan mengimplementasikan skema kontrak
pasokan jangka menengah hingga jangka panjang dengan pelanggan, dengan durasi perjanjian berkisar
antara 3 (tiga) hingga 7 (tujuh) tahun. Kontrak tersebut disertai dengan komitmen volume pasokan yang
dilakukan secara berkala dan terencana. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan kepastian
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |26
Page 41
pendapatan (revenue visibility) bagi Perseroan, sekaligus memberikan jaminan keberlanjutan pasokan
energi bagi pelanggan dalam jangka waktu yang telah disepakati.
3.9. Target Pasar
Target pasar LNG GASRA ditetapkan dengan mempertimbangkan kapasitas penyaluran sebesar 1,2
MMSCFD atau setara dengan ±1.000 MMBTU per hari (±36.000 MMBTU per bulan). Dengan kapasitas
tersebut, segmen pasar yang ditargetkan adalah pelanggan dengan kebutuhan energi pada skala
menengah hingga besar, khususnya yang belum terlayani oleh infrastruktur pipa gas.
Secara umum, target pasar mencakup sektor industri yang memiliki kebutuhan energi termal maupun
listrik yang stabil dan berkelanjutan, seperti industri manufaktur, kawasan industri, serta sektor
pertambangan di wilayah terpencil. Selain itu, pelanggan yang memiliki kebutuhan energi tambahan
seiring peningkatan kapasitas produksi juga menjadi sasaran potensial, termasuk melalui skema
pemanfaatan LNG sebagai pelengkap sumber energi eksisting.
Dengan pendekatan tersebut, GASRA memfokuskan penetrasi pasar pada pelanggan yang
membutuhkan pasokan energi yang andal, fleksibel, dan efisien, tanpa ketergantungan pada jaringan
pipa. Hal ini sejalan dengan karakteristik distribusi LNG yang memungkinkan jangkauan pasar lebih luas,
termasuk ke wilayah yang secara geografis belum terakses infrastruktur energi konvensional.
3.10. Pemasok dan Pelanggan Utama
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI pada kegiatan usaha Perseroan, sumber pasokan gas
bumi sebagai bahan baku produksi LNG Perseroan berasal dari Sumur Galian 1 yang berlokasi di Tanjung
Pakis, Karawang, Jawa Barat. Sumur tersebut merupakan kategori sumur gas marjinal yang dikelola oleh
PT Pertamina EP, yang merupakan entitas anak usaha hulu dari PT Pertamina (Persero).
Dalam rangka menjamin legalitas dan keberlanjutan pasokan, Perseroan telah menjalin perjanjian kerja
sama penyediaan gas bumi dengan PT Pertamina EP. Perjanjian ini menjadi dasar pengambilan gas dari
Sumur Galian 1 sekaligus mengatur mekanisme pasokan secara komersial dan operasional. Kapasitas
pasokan gas dari sumber tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 1,5 MMSCFD, yang selanjutnya akan
diolah menjadi LNG pada fasilitas LNG Station Karawang milik Perseroan. Fasilitas tersebut
direncanakan mulai beroperasi secara penuh pada Kuartal IV Tahun 2026. Untuk memastikan
keterjaminan pasokan (security of supply), pengadaan gas bumi dilakukan melalui skema perjanjian
jangka panjang yang mengikat secara hukum dengan pemasok. Dengan demikian, risiko gangguan
pasokan bahan baku utama dapat diminimalkan dan mendukung keberlangsungan operasional LNG
Perseroan secara berkelanjutan.
Perseroan mengidentifikasi dua segmen utama sebagai target pelanggan dalam kegiatan niaga LNG,
yaitu segmen industri dan segmen retail. Penetapan kedua segmen ini didasarkan pada kondisi
fundamental pasar energi nasional yang menunjukkan adanya tekanan pada sisi pasokan, sehingga
membuka peluang bagi LNG sebagai sumber energi alternatif.
A. Segmen Industri (Substitusi Gas Pipa, CNG, LPG, dan Solar)
Segmen industri merupakan target utama Perseroan, yang mencakup perusahaan manufaktur, kawasan
industri, serta fasilitas produksi yang saat ini menggunakan gas pipa, CNG, LPG, maupun bahan bakar
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |27
Page 42
minyak seperti High Speed Diesel (HSD). Keterbatasan pasokan gas pipa serta belum meratanya
infrastruktur distribusi menjadi faktor utama yang mendorong kebutuhan akan sumber energi alternatif.
Secara nasional, sektor industri merupakan salah satu konsumen gas terbesar, dengan kontribusi
signifikan terhadap total konsumsi gas domestik. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir
terjadi penurunan alokasi gas bagi industri, yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan aktual.
Kondisi ini menyebabkan banyak pelaku industri tidak memperoleh pasokan sesuai dengan alokasi yang
telah ditetapkan, sehingga berpotensi menurunkan efisiensi operasional dan daya saing.
Selain itu, keterbatasan jaringan distribusi gas pipa menyebabkan tidak seluruh kawasan industri dapat
terlayani secara optimal. Di beberapa wilayah, khususnya Jawa Barat hingga Sumatera bagian selatan,
bahkan diproyeksikan terjadi defisit neraca gas yang semakin meningkat dalam jangka menengah.
Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan pasokan (supply gap) yang
cukup signifikan.
Dalam konteks tersebut, LNG menjadi solusi yang relevan sebagai sumber energi alternatif, baik untuk
menggantikan penggunaan bahan bakar eksisting maupun sebagai pasokan tambahan di luar alokasi gas
pipa. Perseroan memanfaatkan peluang ini dengan menyediakan layanan distribusi LNG berbasis non-
pipeline (off-pipeline delivery), yang didukung oleh armada ISO tank serta fasilitas small-scale LNG yang
fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan pelanggan industri.
B. Segmen Retail (Substitusi LPG)
Selain segmen industri, Perseroan juga menargetkan segmen retail, khususnya pengguna LPG pada
sektor komersial dan usaha kecil menengah (UMKM). Segmen ini memiliki potensi pertumbuhan yang
signifikan, didukung oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Konsumsi LPG
nasional saat ini jauh melampaui kapasitas produksi domestik, sehingga sebagian besar kebutuhan
harus dipenuhi melalui impor. Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik komposisi gas alam Indonesia
yang didominasi oleh metana dan etana, sementara LPG membutuhkan komponen propana dan butana
yang relatif terbatas ketersediaannya di dalam negeri. Selain itu, keterbatasan infrastruktur pengolahan
gas untuk menghasilkan LPG juga menjadi faktor penghambat peningkatan produksi domestik.
Ketergantungan terhadap impor tersebut berdampak pada stabilitas pasokan dan harga LPG di pasar
domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi LPG yang lebih tinggi dibandingkan
peningkatan kapasitas produksi domestik semakin memperlebar kesenjangan antara permintaan dan
pasokan. Dalam situasi ini, LNG memiliki potensi sebagai alternatif energi substitusi yang lebih efisien
dan kompetitif, khususnya bagi segmen commercial business, UMKM, kawasan permukiman
terintegrasi, serta sentra industri kecil. Dengan keunggulan dari sisi efisiensi energi, keandalan pasokan,
serta emisi yang lebih rendah, LNG dapat menjadi solusi jangka menengah untuk mengurangi
ketergantungan terhadap LPG impor sekaligus mendukung transisi energi yang lebih berkelanjutan.
Sehubungan dengan rencana penambahan KBLI pada kegiatan pengolahan, penyediaan, dan penjualan
gas kepada pengguna akhir, khususnya dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG), Perseroan telah
memperoleh indikasi minat kerja sama dari calon pelanggan potensial, yaitu:
• PT Aichi Tex Indonesia;
• PT Yamaha Motor Parts Manufacturing Indonesia;
• PT Indo Kordsa Tbk;
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |28
Page 43
• PT Magnolia Energi Lestari;
• CV Baju Kertas Kreasindo;
• PT Nippon Indosari Corpindo Tbk;
• PT Ateja Tritunggal;
• PT Bumi Marga Konstruksi;
• PT Genthala Arta Mandiri.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |29
Page 44
4. ASPEK TEKNIS
4.1. Kapasitas Segmen Usaha
Perseroan menjalankan kegiatan usahanya melalui dua segmen utama. Segmen pertama adalah
perdagangan dan distribusi gas, yang mencakup aktivitas pembelian gas dari produsen atau pemasok
untuk kemudian disalurkan kepada berbagai pengguna akhir, seperti sektor industri, rumah tangga, dan
pelanggan komersial. Segmen ini merupakan inti bisnis Perseroan dalam industri energi, khususnya pada
pasar gas alam.
Segmen kedua mencakup kegiatan usaha lainnya di luar perdagangan dan distribusi gas, yang dapat
meliputi berbagai layanan pendukung, investasi, maupun aktivitas di sektor lain. Diversifikasi ini
dilakukan guna mendukung stabilitas keuangan serta membuka peluang pertumbuhan di luar bisnis
utama Perseroan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan perdagangan dan distribusi gas meliputi penyaluran gas industri
kepada pelanggan industri, distribusi GASRA kepada pelanggan ritel dan usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM), serta penyediaan gas NGV untuk sektor transportasi melalui Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Gas (SPBG) yang dimiliki oleh Perseroan dan entitas anak. Sementara itu, segmen usaha
lainnya mencakup perdagangan, penjualan, serta instalasi peralatan gas kepada pelanggan.
Perseroan merencanakan kapasitas produksi LNG melalui fasilitas LNG Station sebesar ±1,2 Million
Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD), yang setara dengan sekitar ±1.000 MMBTU per hari atau ±36.000
MMBTU per bulan. Kapasitas tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan energi pada segmen
pelanggan industri dan komersial skala menengah, khususnya yang belum terjangkau oleh infrastruktur
jaringan pipa gas. Penetapan kapasitas ini mempertimbangkan kondisi permintaan pasar, ketersediaan
pasokan gas bumi, serta strategi pengembangan usaha Perseroan pada tahap awal operasional.
Dengan kapasitas yang direncanakan tersebut, Perseroan memiliki fleksibilitas dalam mengalokasikan
pasokan LNG kepada beberapa pelanggan secara bersamaan, sesuai dengan profil kebutuhan energi
masing-masing pelanggan. Selain itu, kapasitas ini juga memberikan ruang untuk optimalisasi utilisasi
fasilitas secara bertahap seiring dengan peningkatan permintaan. Secara keseluruhan, kapasitas
produksi LNG yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung tahap awal pengembangan usaha,
dengan tetap membuka peluang peningkatan kapasitas di masa mendatang sesuai dengan
perkembangan pasar dan kinerja operasional Perseroan.
4.2. Kapasitas Produksi dan Distribusi
Perseroan menerapkan model bisnis berbasis kepemilikan aset secara menyeluruh (asset-ownership
model) yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, distribusi, hingga regasifikasi di sisi
pelanggan. Pendekatan ini merupakan strategi utama untuk memastikan kendali penuh terhadap
kualitas produk, keandalan pasokan, serta efisiensi biaya dalam jangka panjang.
A. Fasilitas Produksi LNG di Station Karawang (Tanjung Pakis)
Perseroan, melalui entitas CGAS/GASRA, telah memulai pembangunan fasilitas LNG Station yang
berlokasi di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, yang ditandai dengan kegiatan groundbreaking pada
30 Agustus 2025. Fasilitas ini dirancang, dimiliki, dan dioperasikan secara mandiri tanpa ketergantungan
pada pihak ketiga.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |30
Page 45
Fasilitas LNG Station tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 1,2 MMSCFD (Million
Standard Cubic Feet per Day), yang setara dengan sekitar 1.000 MMBTU per hari atau ±36.000 MMBTU
per bulan. Kapasitas ini dirancang untuk melayani kebutuhan pelanggan industri maupun komersial
secara berkelanjutan, dengan fleksibilitas untuk penyesuaian volume produksi seiring dengan
pertumbuhan permintaan pasar.
Investasi pada fasilitas produksi mencakup seluruh komponen utama dalam proses pencairan gas
(liquefaction), antara lain sistem pemurnian gas (gas purification), unit pendingin (cold box/heat
exchanger), tangki penyimpanan LNG berteknologi kriogenik, serta sistem kontrol dan keselamatan yang
mengacu pada standar internasional. Dengan kepemilikan fasilitas produksi sendiri, Perseroan memiliki
fleksibilitas dalam mengatur kapasitas dan volume produksi sesuai dengan permintaan pasar, serta
mengurangi ketergantungan terhadap pasokan LNG eksternal yang berpotensi berfluktuasi dari sisi harga
maupun ketersediaan.
B. Armada Distribusi ISO Tank & Cryogenic Tanker
Dalam mendukung kegiatan distribusi, Perseroan mengoperasikan armada pengangkutan LNG berupa
ISO Tank kriogenik dan cryogenic road tanker yang dimiliki secara mandiri. Kapasitas distribusi dirancang
untuk mengakomodasi output produksi LNG Station secara optimal, dengan sistem pengiriman berbasis
jadwal (scheduled delivery) yang disesuaikan dengan profil konsumsi masing-masing pelanggan. Dengan
asumsi kapasitas produksi ±1.000 MMBTU per hari, sistem distribusi Perseroan dirancang untuk
memastikan seluruh volume tersebut dapat tersalurkan secara efisien ke pelanggan melalui pengaturan
frekuensi pengiriman dan utilisasi armada yang optimal. Kepemilikan armada sendiri memberikan
keunggulan berupa kontrol penuh atas jadwal distribusi, peningkatan respons terhadap kebutuhan
pelanggan, serta efisiensi biaya logistik dibandingkan penggunaan pihak ketiga.
C. Fasilitas Regasifikasi di Sisi Pelanggan
Sebagai bagian dari integrasi layanan, Perseroan juga berinvestasi dalam penyediaan fasilitas
regasifikasi yang ditempatkan langsung di lokasi pelanggan. Fasilitas ini meliputi tangki penyimpanan
LNG (cryogenic storage tank), vaporizer, serta sistem monitoring operasional. Kapasitas fasilitas
regasifikasi disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi masing-masing pelanggan, sehingga mampu
mendukung penyerapan volume LNG secara optimal dari sisi hilir. Penyediaan infrastruktur ini dilakukan
tanpa membebankan investasi awal (capital expenditure/capex) kepada pelanggan, sehingga
mempercepat adopsi penggunaan LNG. Model ini memberikan nilai tambah berupa kemudahan akses
energi gas tanpa investasi awal, kemampuan pemantauan stok secara real-time, serta jaminan
keberlangsungan pasokan yang dikelola secara terintegrasi oleh Perseroan.
4.3. Ketersediaan Bahan Baku
Dalam rangka Rencana Penambahan KBLI, bahan baku utama yang dibutuhkan Perseroan adalah gas
alam (natural gas) yang akan diolah dan/atau disalurkan kembali kepada pelanggan dalam bentuk
Liquefied Natural Gas (LNG). Perseroan merencanakan memperoleh pasokan gas dari PT Pertamina EP
sebagaimana tercantum dalam draft Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PT Pertamina EP dan
Perseroan terkait penjualan gas yang berasal dari Struktur Galian Field Tambun, Zona 7 Regional 2
Wilayah Kerja Pertamina EP, dengan ketentuan sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |31
Page 46
Sumber Gas Bumi : Lapangan Galian Wilayah Kerja Pertamina EP di Zona 7
Pembelian Gas Bumi : PT Citra Nusantara Gemilang
Peruntukan : Industri
Titik Serah : Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang,
Jawa Barat
Jumlah Penyerahan Harian : 1,5 MMSCFD
Total Jumlah Kontrak : 4.110 MMSCF
Jangka Waktu : 1 Juni 2026 sampai dengan 30 November 2033 atau sampai
dengan tercapainya Total Jumlah Kontrak, mana yang lebih dahului
tercapai
Harga Gas Bumi : US$5,15/MMBTU
Tabel 7. Skema Penyerahan Gas dari PT Pertamina EP
Jumlah Jumlah
Jumlah
Penyerahan Penyerahan Jumlah Kontrak
Pembelian Minimum
Periode Harian Maksimum Tahunan
Tahunan
Total Harian (MMSCF)
(MMSCF)
(MMSCFD) (MMSCFD)
1 Jun 2026* s.d. 31 Des 1,5 110% x JPH 90% x JKT 321
2026
1 Jan 2027 s.d. 31 Des 2027 1,5 110% x JPH 90% x JKT 547.5
1 Jan 2028 s.d. 31 Des 2028 1,5 110% x JPH 90% x JKT 549
1 Jan 2029 s.d. 31 Des 2029 1,5 110% x JPH 90% x JKT 547.5
1 Jan 2030 s.d. 31 Des 2030 1,5 110% x JPH 90% x JKT 547.5
1 Jan 2031 s.d. 31 Des 2031 1,5 110% x JPH 90% x JKT 547.5
1 Jan 2032 s.d. 31 Des 2032 1,5 110% x JPH 90% x JKT 549
1 Jan 2033 s.d. 30 Nov 2033 1,5 110% x JPH 90% x JKT 501
Sumber: manajemen Perseroan
Melalui rencana perjanjian tersebut, PT Pertamina EP akan bertindak sebagai pemasok bahan baku gas
bagi kegiatan operasional Perseroan. Ketersediaan pasokan gas dari pemasok tersebut menunjukkan
adanya sumber bahan baku yang jelas dan teridentifikasi untuk mendukung kegiatan usaha baru
Perseroan. Pasokan gas tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai bahan baku dalam proses
pengolahan dan/atau penyediaan gas kepada pelanggan industri.
4.4. Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Tenaga Ahli
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan bepengalaman untuk menjalankan
kegiatan usahanya. Saat ini, Perseroan memiliki 128 orang tenaga kerja, dengan komposisi 52%
karyawan tetap dan 48% karyawan kontrak.
Dalam mendukung implementasi Rencana Penambahan KBLI terkait bisnis LNG, Perseroan
merencanakan penambahan tenaga kerja sebanyak 42 orang, yang akan dialokasikan pada berbagai
fungsi operasional, teknis, dan pendukung. Penambahan tenaga kerja ini ditujukan untuk memastikan
bahwa seluruh kegiatan operasional LNG dapat berjalan secara optimal, mengingat karakteristik bisnis
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |32
Page 47
yang memerlukan kompetensi teknis khusus serta standar keselamatan yang tinggi. Pada tahap awal
pengembangan dan operasional LNG, Perseroan juga mendapatkan dukungan tenaga ahli dari pihak
vendor, yaitu Greenfir, yang merupakan penyedia utama peralatan LNG yang digunakan oleh Perseroan.
Keterlibatan tenaga ahli dari vendor ini bersifat sementara dan difokuskan pada aspek instalasi,
commissioning, serta transfer pengetahuan (knowledge transfer) kepada tenaga kerja baru Perseroan.
Pendekatan ini memungkinkan Perseroan untuk memastikan bahwa seluruh sistem dan peralatan LNG
dapat dioperasikan sesuai dengan standar teknis dan keselamatan yang berlaku, sekaligus
mempercepat peningkatan kompetensi tenaga kerja yang direkrut. Dengan demikian, ketergantungan
terhadap pihak eksternal dapat diminimalkan dalam jangka panjang. Dengan kombinasi antara
penambahan tenaga kerja baru yang terstruktur serta dukungan tenaga ahli dari vendor pada tahap awal,
Perseroan menilai bahwa kebutuhan sumber daya manusia dalam rangka penambahan KBLI dapat
terpenuhi secara memadai guna mendukung kelancaran dan keberlanjutan operasional LNG.
4.5. Proses Produksi
Berikut adalah alur produksi dan penjualan LNG:
Gambar 1. Alur Produksi dan Penjualan LNG
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |33
Page 48
Gambar 2. Fasilitas LNG untuk Pelanggan
Sumber: manajemen Perseroan
Proses bisnis LNG yang dijalankan oleh Perseroan merupakan sistem terintegrasi yang mencakup
tahapan produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pemanfaatan di sisi pelanggan. Tahap awal dimulai
dari pengadaan gas alam sebagai bahan baku utama yang selanjutnya melalui proses pemurnian (gas
treatment/purification). Pada tahap ini, komponen pengotor seperti karbon dioksida (CO₂), hidrogen
sulfida (H₂S), dan kandungan air dihilangkan untuk memastikan kualitas gas sesuai dengan standar
proses pencairan.
Setelah melalui proses pemurnian, gas alam diproses lebih lanjut dalam unit liquefaction, yaitu proses
pendinginan hingga suhu sekitar -160°C sehingga gas berubah menjadi cair (LNG). Proses ini bertujuan
untuk meningkatkan efisiensi penyimpanan dan transportasi, mengingat LNG memiliki kepadatan energi
yang lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk gas. LNG yang dihasilkan kemudian disimpan dalam tangki
kriogenik (LNG storage tank) di fasilitas LNG Station. Dari fasilitas ini, LNG didistribusikan melalui proses
pengisian (loading) menggunakan LNG dispenser ke dalam mobile tank dengan kapasitas sekitar 13 m³
dan tekanan operasional 8–10 barg.
Selanjutnya, LNG diangkut menuju lokasi pelanggan menggunakan armada cryogenic tanker. Dalam
skema distribusi, LNG dapat dikirimkan secara langsung ke pelanggan (direct delivery) atau melalui
fasilitas antara berupa LNG Hub yang berfungsi sebagai titik distribusi dan buffer storage. Pada LNG Hub,
LNG dapat dipindahkan ke tangki berkapasitas lebih kecil (sekitar 5 m³) untuk menyesuaikan dengan
kebutuhan volume pelanggan.
Di sisi pelanggan, LNG disimpan dalam tangki kriogenik yang telah disediakan oleh Perseroan. LNG
tersebut kemudian melalui proses regasifikasi menggunakan vaporizer, yaitu proses perubahan kembali
dari fase cair menjadi gas. Gas yang dihasilkan selanjutnya dialirkan melalui sistem metering untuk
mengukur volume pemakaian sebelum digunakan oleh pelanggan. Secara keseluruhan, rangkaian
proses ini memastikan bahwa pasokan energi gas dapat disalurkan secara aman, efisien, dan
berkelanjutan, mulai dari sumber hingga ke titik pemanfaatan akhir. Pendekatan ini juga mendukung
keandalan pasokan serta fleksibilitas distribusi sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelanggan.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |34
Page 49
5. ASPEK POLA BISNIS
5.1. Keunggulan Kompetitif
Di tengah dinamika persaingan industri gas, Perseroan memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang
bersifat strategis dan relatif sulit direplikasi oleh pesaing dalam jangka pendek. Keunggulan ini tidak
hanya berasal dari aset fisik, tetapi juga dari pengalaman operasional, kapabilitas sumber daya manusia,
serta model bisnis yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
A. Kematangan Operasional pada Bisnis CNG
Perseroan telah mencapai tingkat kematangan (mature stage) dalam bisnis Compressed Natural Gas
(CNG). Hal ini tercermin dari kesiapan infrastruktur distribusi, kepemilikan armada, serta sistem
operasional yang telah teruji dalam melayani berbagai segmen pelanggan. Pengalaman tersebut menjadi
fondasi yang kuat dalam pengembangan bisnis LNG, mengingat terdapat kesamaan dalam rantai pasok
dan pola distribusi. Bahkan, secara operasional, distribusi LNG cenderung lebih efisien karena memiliki
densitas energi yang lebih tinggi serta tekanan operasional yang lebih rendah dibandingkan CNG,
sehingga lebih ekonomis untuk pengiriman jarak jauh.
B. Kapabilitas Sumber Daya Manusia
Perseroan didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam
pengelolaan bisnis gas, khususnya dalam aspek distribusi dan operasional gas terkompresi. Kapabilitas
ini merupakan aset tidak berwujud (intangible asset) yang memberikan keunggulan tersendiri, karena
tidak dapat dengan mudah direplikasi oleh pemain baru dalam waktu singkat. Keahlian teknis dan
pengalaman operasional yang telah dimiliki memungkinkan proses transisi dan pengembangan bisnis
LNG dilakukan secara lebih cepat, efisien, dan dengan risiko yang lebih terkelola.
C. Model Bisnis Berbasis Storage di Lokasi Pelanggan
Perseroan menerapkan model bisnis berbasis penempatan fasilitas penyimpanan LNG langsung di lokasi
pelanggan (storage-at-customer-site). Melalui pendekatan ini, pelanggan memperoleh ketersediaan
pasokan yang lebih terjamin, karena stok LNG tersedia secara langsung dan dapat dipantau secara real-
time di lokasi operasional mereka. Model ini memberikan beberapa keunggulan strategis, antara lain
meningkatkan loyalitas pelanggan, menciptakan switching cost yang tinggi bagi pelanggan untuk
berpindah ke pemasok lain, serta menghasilkan pola pendapatan yang lebih stabil dan berulang
(recurring revenue) bagi Perseroan.
5.2. Kemampuan Pesaing Meniru Produk
Secara umum, produk LNG merupakan komoditas energi yang bersifat relatif homogen, sehingga dari sisi
produk inti, tidak terdapat diferensiasi yang signifikan antar pelaku usaha. Dengan demikian, secara
teoritis, pesaing memiliki kemampuan untuk menawarkan produk yang serupa kepada pasar. Namun
demikian, tingkat kemudahan peniruan (imitability) tidak hanya ditentukan oleh karakteristik produk,
melainkan juga oleh keseluruhan ekosistem bisnis yang meliputi infrastruktur, kapabilitas operasional,
serta model layanan yang terintegrasi. Dalam hal ini, Perseroan memiliki sejumlah faktor pembeda yang
menciptakan hambatan bagi pesaing untuk melakukan peniruan secara cepat dan efektif.
Pertama, Perseroan menerapkan model bisnis berbasis kepemilikan aset secara menyeluruh (asset-
ownership model), mulai dari fasilitas produksi, armada distribusi, hingga penyediaan infrastruktur
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |35
Page 50
regasifikasi di sisi pelanggan. Untuk mereplikasi model ini, pesaing membutuhkan investasi modal yang
besar (capital intensive) serta waktu pengembangan yang tidak singkat.
Kedua, pengalaman operasional Perseroan dalam bisnis gas, khususnya CNG, telah membentuk sistem
distribusi, prosedur operasional, serta manajemen risiko yang matang. Aspek ini merupakan intangible
asset yang tidak mudah ditiru, karena membutuhkan akumulasi pengalaman dan pembelajaran dalam
jangka waktu yang panjang.
Ketiga, Perseroan mengadopsi model layanan berbasis penempatan fasilitas penyimpanan di lokasi
pelanggan (storage-at-customer-site), yang menciptakan keterikatan operasional antara Perseroan dan
pelanggan. Model ini meningkatkan switching cost bagi pelanggan, sehingga meskipun pesaing mampu
menawarkan produk serupa, perpindahan pelanggan tidak dapat terjadi secara instan.
Keempat, keberadaan sumber daya manusia yang berpengalaman di bidang distribusi dan pengelolaan
gas turut menjadi faktor pembeda yang memperkuat posisi kompetitif Perseroan. Kompetensi teknis dan
operasional tersebut tidak dapat dengan mudah direplikasi tanpa proses rekrutmen, pelatihan, dan
pengalaman lapangan yang memadai.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun produk LNG
secara fisik dapat ditiru, kemampuan pesaing untuk meniru keseluruhan model bisnis dan kualitas
layanan Perseroan relatif terbatas dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini memberikan
keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bagi Perseroan dalam menghadapi persaingan di industri LNG.
5.3. Kemampuan Menciptakan Nilai
Perseroan memiliki kemampuan yang kuat dalam menciptakan nilai tambah (added value) di sepanjang
rantai pasok LNG melalui pendekatan bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Melalui kepemilikan
aset secara menyeluruh, mulai dari fasilitas produksi, armada distribusi, hingga infrastruktur regasifikasi
di sisi pelanggan, Perseroan mampu mengendalikan biaya, meningkatkan efisiensi operasional, serta
menjaga kualitas dan keandalan pasokan secara konsisten.
Nilai tambah juga tercermin dari efisiensi distribusi LNG yang memiliki densitas energi lebih tinggi,
sehingga memungkinkan pengiriman yang lebih ekonomis terutama untuk jarak menengah hingga jauh.
Di sisi pelanggan, penyediaan fasilitas regasifikasi secara langsung tanpa kebutuhan investasi awal
memberikan kemudahan akses energi, meningkatkan kepastian pasokan, serta menciptakan hubungan
jangka panjang yang lebih kuat. Selain itu, pengalaman operasional dalam bisnis gas serta dukungan
sumber daya manusia yang berpengalaman memungkinkan Perseroan mengelola rantai pasok secara
optimal dan responsif terhadap kebutuhan pasar. Dengan demikian, Perseroan tidak hanya berperan
sebagai pemasok LNG, tetapi juga sebagai penyedia solusi energi yang memberikan nilai tambah
berkelanjutan baik dari sisi efisiensi biaya, keandalan operasional, maupun aspek lingkungan
dibandingkan kompetitor.
Salah satu nilai tambah utama dari model bisnis GASRA adalah investasi pada fasilitas regasifikasi yang
ditempatkan langsung di lokasi pelanggan. GASRA menyediakan dan menginstal seluruh peralatan
regasifikasi, yang meliputi tangki penyimpanan LNG (cryogenic storage tank), vaporizer sebagai alat
konversi LNG menjadi gas, serta sistem monitoring operasional, tanpa membebankan kebutuhan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |36
Page 51
investasi awal (capital expenditure) yang signifikan kepada pelanggan. Selain itu, dalam pelaksanaan
pengisian ulang (refueling), GASRA menerapkan sistem distribusi yang terencana dan terjadwal secara
berkala, dengan frekuensi minimal setiap 3 (tiga) hari sekali atau disesuaikan dengan tingkat konsumsi
pelanggan, sehingga ketersediaan pasokan LNG dapat terjaga secara optimal.
Dengan demikian, Rencana Penambahan KBLI tidak hanya memperluas ruang lingkup usaha Perseroan,
tetapi juga menciptakan nilai tambah yang signifikan melalui integrasi rantai pasok, optimalisasi
kapabilitas eksisting, diversifikasi pendapatan, serta peningkatan daya saing dan keberlanjutan bisnis.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |37
Page 52
6. ASPEK MODEL MANAJEMEN
6.1. Ketersediaan Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas tim pelaksana. Perseroan
senantiasa mengutamakan kebijaksanaan dalam penempatan tenaga kerja, khususnya bagi karyawan
yang memiliki pengalaman dan kompetensi sesuai bidangnya. Dalam menjalankan kegiatan usaha,
Perseroan telah memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan berpengalaman untuk menjalankan
kegiatan usahanya. Saat ini, Perseroan memiliki 128 orang tenaga kerja, dengan komposisi 52%
karyawan tetap dan 48% karyawan kontrak. Berikut komposisi tenaga kerja berdasarkan tingkat
pendidikan, jenjang usia, dan lokasi:
Tabel 8. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Uraian Jumlah %
SLTA 83 64,8
D1-D4 1 0,8
S1 43 33,6
S2 1 0,8
Jumlah 128 100,00
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 9. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Jenjang Usia
Uraian Jumlah %
20-29 31 24
30-39 41 32
40-49 45 35
>50 10 8
Jumlah 127 100,00
Sumber: manajemen Perseroan
Tabel 10. Komposisi Tenaga Kerja Berdasarkan Lokasi
Uraian Jumlah %
Lokasi Cikarang 85 66
Lokasi Klaten 8 6
Lokasi Bandung 11 9
Lokasi Tebet 24 19
Jumlah 128 100,00
Sumber: manajemen Perseroan
Dalam mendukung Rencana Penambahan KBLI, Perseroan merencanakan pemenuhan kebutuhan
operasional melalui penambahan tenaga kerja baru, yang disesuaikan dengan kebutuhan teknis dan
operasional kegiatan LNG. Penambahan tenaga kerja ini dilakukan mengingat karakteristik bisnis LNG
yang memerlukan kompetensi khusus serta standar keselamatan yang tinggi. Perseroan akan melakukan
rekrutmen tenaga kerja yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang relevan dengan operasional
gas dan LNG, guna memastikan kesiapan dalam menjalankan kegiatan usaha secara efektif. Selain itu,
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |38
Page 53
pada tahap awal pengembangan dan operasional, Perseroan juga memperoleh dukungan tenaga ahli dari
pihak vendor Greenfir sebagai penyedia peralatan LNG, yang berperan dalam proses instalasi,
commissioning, serta transfer pengetahuan (knowledge transfer) kepada tenaga kerja yang direkrut.
Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi dan peningkatan kompetensi tenaga
kerja, sehingga seluruh sistem dan peralatan LNG dapat dioperasikan sesuai dengan standar teknis dan
keselamatan yang berlaku. Dengan demikian, kebutuhan tenaga kerja dalam rangka penambahan KBLI
dapat terpenuhi secara memadai dan mendukung keberlangsungan operasional Perseroan.
Berdasarkan perencanaan tenaga kerja (manpower planning) untuk operasional LNG Station,
penambahan SDM tercatat sebanyak 42 orang, yang mencakup berbagai fungsi utama, antara lain
manajemen operasional (Plant Manager), keselamatan dan kesehatan kerja (HSE), perencanaan dan
pengendalian produksi (PPIC), operasional lapangan, pemeliharaan (maintenance), keamanan
(security), hingga fungsi pendukung.
Tabel 11. Perencanaan Tenaga Kerja LNG
No. Jabatan Jumlah Orang
1. Plant Manager 1
2. HSE Supervisor 1
3. Safety Officer 1
4. PPIC Supervisor 1
5. PPIC Staff 4
6. Office Boy 1
7. Security Leader 1
8. Security 8
9. Operation Supervisor 1
10. Operator 18
11. Maintenance Supervisor 1
12. Maintenance Staff 4
TOTAL 42
Sumber: manajemen Perseroan
Komposisi tenaga kerja yang direncanakan menunjukkan bahwa Perseroan membentuk struktur
organisasi yang memadai dan mencakup seluruh aspek operasional utama, mulai dari pengelolaan
fasilitas, distribusi, hingga pengawasan keselamatan. Posisi seperti operator dan teknisi menjadi
komponen terbesar dalam struktur ini, yang mencerminkan fokus pada keandalan operasional serta
kesinambungan proses produksi dan distribusi LNG.
Seiring dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan melakukan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja
melalui rekrutmen tenaga kerja baru yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional LNG. Meskipun
demikian, sebagian kebutuhan kompetensi dalam operasional LNG memiliki kesamaan dengan bisnis
gas yang telah dijalankan sebelumnya, khususnya CNG, sehingga proses adaptasi tenaga kerja dapat
dilakukan secara lebih efisien melalui pelatihan dan transfer pengetahuan. Dengan pendekatan tersebut,
struktur tenaga kerja yang dibentuk diharapkan mampu mendukung operasional LNG secara optimal,
baik dari sisi teknis maupun keselamatan. Penambahan tenaga kerja dilakukan secara terencana guna
memastikan bahwa setiap fungsi operasional dapat berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |39
Page 54
Dengan rencana pemenuhan kebutuhan tenaga kerja melalui penambahan tenaga kerja baru yang
dilakukan secara terstruktur, Perseroan menilai bahwa aspek sumber daya manusia tidak menjadi
kendala yang material dalam implementasi Rencana Penambahan KBLI. Meskipun demikian,
keberhasilan pelaksanaan tetap bergantung pada efektivitas proses rekrutmen, pelatihan, dan
pengelolaan tenaga kerja. Secara keseluruhan, hal ini mencerminkan tingkat kesiapan operasional
Perseroan yang memadai dalam menjalankan bisnis LNG secara efektif dan efisien.
6.2. Manajemen Kekayaan Intelektual
Berdasarkan informasi manajemen, tidak terdapat Hak Kekayaan Intelektual yang secara khusus
berkaitan dengan Rencana Penambahan KBLI. Perseroan telah memiliki perlindungan hukum atas merek
dagang yang akan digunakan dalam kegiatan usaha gas. Berdasarkan Sertifikat Merek yang diterbitkan
oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Perseroan
tercatat sebagai pemegang hak merek “GASRA” dengan nomor pendaftaran IDM001283706 dan tanggal
penerimaan 21 Juni 2024. Perlindungan merek tersebut berlaku selama 10 (sepuluh) tahun hingga 21 Juni
2034 dan dapat diperpanjang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kepemilikan merek ini memberikan kepastian hukum bagi Perseroan dalam melakukan pemasaran,
penawaran kontrak pasokan gas, serta penggunaan identitas komersial pada dokumen penjualan,
perjanjian kerja sama, maupun operasional fasilitas gas setelah penambahan KBLI direalisasikan.
Dengan demikian, pengelolaan kekayaan intelektual Perseroan telah mendukung kesiapan operasional
dan aspek legalitas dalam pelaksanaan kegiatan usaha baru.
6.3. Manajemen Risiko
Kegiatan usaha Perseroan memiliki risiko-risiko sebagai berikut adalah:
Risiko Umum
Perseroan menghadapi risiko eksternal berupa perlambatan ekonomi, ketidakstabilan politik dan
perubahan regulasi, bencana alam, serta ancaman keamanan siber. Risiko-risiko tersebut berpotensi
menurunkan permintaan pasar, mengganggu operasi dan rantai pasok, menimbulkan kerugian finansial,
serta menurunkan kepercayaan pelanggan. Mitigasi dilakukan melalui perencanaan kontinjensi,
penguatan pengendalian internal, dan investasi pada sistem pengamanan serta kesiapsiagaan
operasional.
Risiko Utama – Ketersediaan Pasokan Gas Alam
Kegiatan usaha Perseroan sangat bergantung pada ketersediaan pasokan gas alam sebagai bahan baku
utama. Gangguan pasokan, berakhirnya kontrak jual beli gas, berkurangnya cadangan gas, atau kendala
infrastruktur dapat menyebabkan Perseroan tidak dapat memproduksi dan mendistribusikan gas alam
terkompresi, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan, kinerja keuangan, dan kelangsungan
usaha.
Risiko Persaingan Usaha
Perseroan menghadapi persaingan dalam harga, akses distribusi, teknologi, layanan purna jual, dan
kontinuitas pasokan. Ekspansi jaringan distribusi oleh pesaing berpotensi menurunkan pangsa pasar
serta menekan margin laba. Untuk mengurangi dampak tersebut, Perseroan perlu meningkatkan efisiensi
operasional, kualitas layanan, dan inovasi.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |40
Page 55
Risiko Operasional
Gas alam terkompresi memiliki sifat mudah terbakar sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan
kerja, kebakaran, atau ledakan apabila prosedur keselamatan tidak dipatuhi. Risiko operasional juga
dapat timbul dari kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau pelanggaran prosedur. Perseroan
menerapkan SOP keselamatan, pelatihan berkala, pengawasan operasional, serta perlindungan
asuransi guna meminimalkan dampak kerugian.
Risiko Kebijakan Pemerintah dan Subsidi Energi
Kegiatan usaha Perseroan dipengaruhi oleh regulasi sektor energi, termasuk perizinan, kebijakan harga,
serta subsidi bahan bakar. Perubahan kebijakan atau tidak diperolehnya izin eksplorasi/produksi dapat
mengganggu kelangsungan usaha. Selain itu, harga energi bersubsidi berpotensi menurunkan daya saing
harga produk Perseroan.
Risiko Pergeseran Penggunaan Energi
Tren transisi energi menuju energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap bahan
bakar fosil, termasuk gas alam. Penurunan permintaan gas alam terkompresi berpotensi mempengaruhi
volume penjualan dan profitabilitas Perseroan.
Risiko Bencana Alam
Operasi Perseroan berisiko terdampak gempa bumi, letusan gunung berapi, maupun gangguan geologi
lainnya yang dapat merusak fasilitas, menghambat distribusi, serta menimbulkan kerugian finansial dan
reputasi. Perseroan melakukan mitigasi melalui kesiapsiagaan bencana, penguatan infrastruktur, dan
perlindungan asuransi.
Risiko Sumber Daya Manusia
Operasional produksi dan distribusi gas membutuhkan tenaga kerja yang kompeten. Kekurangan tenaga
ahli, tingginya tingkat turnover, atau kurangnya keahlian dapat menyebabkan keterlambatan produksi,
kerusakan peralatan, serta risiko keselamatan. Perseroan melakukan pelatihan, pengembangan
kompetensi, dan strategi retensi karyawan.
Risiko Kondisi Perekonomian Makro
Perubahan kondisi ekonomi domestik maupun global mempengaruhi aktivitas industri pelanggan
Perseroan. Penurunan aktivitas industri dapat menurunkan permintaan gas dan berdampak pada kinerja
keuangan Perseroan.
Risiko Perubahan Tingkat Suku Bunga
Perseroan menggunakan pembiayaan perbankan dalam menjalankan usaha. Kenaikan suku bunga
meningkatkan beban bunga dan biaya keuangan sehingga dapat menekan arus kas dan laba bersih.
Risiko Tuntutan atau Gugatan Hukum
Perseroan berpotensi menghadapi sengketa hukum, termasuk perselisihan kontrak, klaim pelanggan
atau karyawan, dan pelanggaran regulasi. Proses hukum dapat menimbulkan biaya, mengganggu
operasional, serta berdampak pada reputasi dan kondisi keuangan Perseroan.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |41
Page 56
Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko bahwa Perseroan akan mengalami kerugian yang timbul dari pelanggan, klien
atau pihak counter yang gagal memenuhi kewajiban mereka. Perseroan mengelola dan mengendalikan
risiko kredit dengan menetapkan batas eksposur risiko yang dapat diterima untuk setiap pelanggan.
Perseroan hanya melakukan transaksi dengan pihak ketiga yang memiliki reputasi baik dan kelayakan
kredit yang memadai. Selain itu, saldo piutang dipantau secara berkala untuk meminimalkan risiko
terjadinya kredit macet.
Risiko Mata Uang Asing
Risiko mata uang asing merupakan risiko perubahan nilai tukar mata uang asing terutama dari transaksi,
aset dan liabilitas tertentu dalam Dolar AS yang timbul karena aktivitas pendanaan dan kegiatan
operasional sehari-hari. Grup memonitor dan mengelola risiko ini dengan menyepadankan liabilitas
keuangan dalam mata uang asing dengan aset keuangan dalam mata uang asing terkait dan melakukan
pembelian atau penjualan mata uang asing saat diperlukan.
Risiko Likuiditas
Manajemen risiko likuiditas berarti menjaga kas dan bank yang tersedia untuk mendukung kegiatan
usaha Perseroan secara tepat waktu. Perseroan mengelola risiko likuiditas dengan pengawasan, profil
jatuh tempo pendanaan dan sumber pinjaman. Saat ini, Perseroan belum menemukan apapun risiko
likuiditas.
6.4. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Identitas dan pengalaman dari manajemen Perseroan adalah sebagai berikut:
Nama : As’at Said Ali
Posisi : Komisaris Utama
Pengalaman kerja : • 2010-sekarang Wiraswata
• 2010-sekarang Komisaris Utama
• 2000-2010 Waka BIN
• 1999-2000 Deputi III BIN
• 1998-1999 Staf Ahli Luar Negeri
• 1996-1998 Kepala Direktorat 34
• 1990 - 1996 Kepala Sub Direktorat Analisa
• 1986 - 1990 Kepala Pos Syria, Lebanon, Cyprus
• 1982 - 1986 Kepala Pos Saudi Arabia
• 1978 - 1982 Kepala Seksi Administrasi
• 1974-1978 Anggota BAKIN
Nama : Raditya Muhas Juvirawan
Posisi : Komisaris
Pengalaman kerja : • 2023-sekarang Komisaris Perseroan
• 2007-sekarang Direktur PT Green Energy Investment
• 2003-sekarang Direktur Keuangan PT Bayu Buana Gemilang
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |42
Page 57
Nama : Leo Herlambang
Posisi : Komisaris Independen
Pengalaman kerja : • 2017-sekarang Dosen (Praktisi): Univ Airlangga, Univ. Brawijaya dan
Wakil Rektor II Univesitas International Semen Indonesia
• 2017-sekarang Penasehat beberapa perusahaan makanan, migas,
kesehatan dan alat kebersihan
• 2015-2017 Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama (Migas
Upstream, Midstream dan Downstream)
• 2010-2015 Direktur Utama PT Jatim Nusa Usaha (Pelabuhan & Tank
Farm) (HSD & CPO) Gresik dan Probolinggo
• 2004-2010 Direktur & Direktur Utama PT Jatim Investment
Management
• 2003-2004 Direktur PT Kasa Husada
• 2000-2001 Branch Manager PT Ficoritas
• 1996-2000 Direktur Pengelolaan PT IntiTeladan Sekuritas (AB BES &
BEJ)
• 1993-1996 Sekretaris Komite Pencatatan Efek Bursa Efek Surabaya
• 1992-1996 Kasie Pencatatan Efek PT Bursa Efek Surabaya
• 1991-1992 Salary & Benefit PT Kaltim Prima Coal (Pre-GDP)
Nama : Andika Purwonugroho
Posisi : Direktur Utama
Pengalaman kerja : • 2022-sekarang:
- Direktur Utama Perseroan
- Komisaris PT Citra Nusantra Energi
- Komisaris PT CNG Hilir Raya
- Komisaris PT CNG Global
- Komisaris PT Cipta Rizqi Energi
• 2012-2022 Direktur Komersial Perseroan
• 2008-2012 General Manager Perseroan
• 2006-2008 Sales Industri Department Head Perseroan
• 2006-2006 (Juli) Business Relationship SPV Asuransi Adira Dinamika
• 2004-2005 Supervisor Sales Area Jakarta, Bouraq Indonesia Airlines
• 2003-2004 Area Sales Comptroller, Bouraq Indonesia Airlines
• 2002-2002 Staf Quality Assurance, Bouraq Indonesia Airlines
• 2001-2002 Management Trainee, Bouraq Indonesia Airlines
Nama : Agung Wibawa
Posisi : Direktur
Pengalaman kerja : • 2021-sekarang Direktur Keuangan Perseroan
• 2021-sekarang Direktur Keuangan PT Cipta Rizqi Energi
• 2019-2021 General Manager Finance Perseroan
• 2009-2019 Deputy Commercial Banking Group, Bank BRI Syariah, Tbk
• 2008 - 2009 Marketing Manager, Bank Mega Syariah
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |43
Page 58
• 1996 - 2008 Account Officer, Bank Muamalat Indonesia
Nama : Mohamad Isa Safardi
Posisi : Direktur
Pengalaman kerja : • 2022-sekarang Direktur PT Citra Nusantara Gemilang
• 2021-2022 Vice President Operational PT Citra Nusantara Gemilang
• 2015 - 2021 Research and Development Manager PT Bayu Buana
Gemilang
• 2013-2015 Business Development Manager PT Citra Nusantara
Gemilang
• 2010-2013 Business Development Manager PT Green Energy
Investment
• 2007-2010 Engineer di PT McDermott Indonesia
• 2002-2007 Engineer di PT Truba Jurong Engineering
• 2000-2002 Sr Supervisor di PT Perkasa Heavyndo Engineering
• 2001-2002 Dosen Tidak Tetap Metalurgi Physic II di Sekolah Tinggi
Teknologi Texmaco, Subang, Jawa Barat
• 1999-2000 Texmaco Management Development Program di Texmaco
Group
Nama : Andika Andianto
Posisi : Direktur
Pengalaman kerja : • 2021-2025 Direktur Utama PT Nusantara Gas Energi
• 2013-2021 Business Development Manager PT Bayu Buana Gemilang
• 2006-2013 Group Head Sales & Marketing PT Citra Nusantara
Gemilang
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |44
Page 59
6.5. Struktur Kepemilikan Saham
Berikut merupakan struktur kepemilikan saham Perseroan:
Gambar 3. Alur Kepemilikan Saham
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |45
Page 60
6.6. Struktur Organisasi Perseroan
Berikut adalah struktur organisasi Perseroan per 31 Desember 2025:
Gambar 4. Struktur Organisasi Perseroan
Sumber: manajemen Perseroan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |46
Page 61
Berikut adalah struktur organisasi rencana pengelolaan dan operasional LNG:
Gambar 5. Struktur Organisasi Pengelolaan dan Operasional LNG
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |47
Page 62
7. ASPEK KEUANGAN
7.1. Rencana Manajemen
Sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha, Perseroan memandang perlu melakukan
penyesuaian kegiatan usaha melalui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Langkah ini didasarkan pada rencana ekspansi bisnis yang semula berfokus pada distribusi Compressed
Natural Gas (CNG) menjadi pengelolaan dan pemanfaatan Liquefied Natural Gas (LNG). Perubahan pola
bisnis tersebut menuntut adanya kesesuaian antara kegiatan operasional dengan klasifikasi usaha yang
tercantum dalam perizinan berusaha, guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di sektor energi dan sumber daya mineral. Selain itu, Perseroan telah
memperoleh hak pengusahaan melalui kemenangan tender pemanfaatan sumur marginal di wilayah
Karawang, Tanjung Pakis, Jawa Barat pada tahun 2022, serta didukung dengan diterbitkannya izin alokasi
gas oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan Surat Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025
tanggal 4 Juli 2025. Berdasarkan ketentuan dalam izin alokasi tersebut, kegiatan usaha yang dijalankan
tidak lagi terbatas pada distribusi, melainkan mencakup pengadaan gas yang diambil langsung dari
sumur tanpa melalui jaringan pipa. Oleh karena itu, penambahan KBLI 35201 tentang pengadaan Gas
Alam dan Buatan merupakan suatu keharusan hukum untuk mencerminkan kegiatan usaha yang
sebenarnya dijalankan oleh Perseroan serta sebagai bentuk kepatuhan administratif dalam sistem
perizinan berusaha.
7.2. Asumsi Pada Proyeksi Keuangan
Asumsi yang digunakan dalam analisis proyeksi keuangan adalah sebagai berikut:
• Analisis aspek keuangan didasarkan pada proyeksi yang telah disusun manajemen Perseroan;
• Dengan Rencana Penambahan KBLI, Perseroan mengestimasi pertumbuhan pendapatan pada
periode tahun 2026–2033 yang didukung oleh proyeksi volume LNG berkisar antara 55.556 MMBTU
hingga 577.778 MMBTU. Adapun harga LNG diasumsikan berada pada kisaran USD 13,00 hingga USD
16,50 per MMBTU, dengan menggunakan asumsi kurs sebesar Rp16.800 per USD, sehingga diperoleh
asumsi proyeksi pendapatan LNG sebagai berikut:
Tabel 12. Asumsi Proyeksi Pendapatan LNG
Sumber: manajemen Perseroan
• Berdasarkan asumsi dan proyeksi pendapatan LNG, maka Perseroan diproyeksikan akan memperoleh
pendapatan secara konsolidasi sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |48
Page 63
Tabel 13. Proyeksi Pendapatan Dengan dan Tanpa Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
PENDAPATAN
Dengan Rencana Penambahan KBLI 835.915.500.000 1.013.623.500.000 1.226.716.000.000 1.343.805.866.667
Tanpa Rencana Penambahan KBLI 823.782.166.667 901.202.990.909 1.096.228.000.000 1.198.205.866.667
Selisih 12.133.333.333 112.420.509.091 130.488.000.000 145.600.000.000
Projection Projection Projection Projection
FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
PENDAPATAN
Dengan Rencana Penambahan KBLI 1.471.328.409.600 1.636.477.516.800 1.824.126.938.726 2.064.743.682.947
Tanpa Rencana Penambahan KBLI 1.322.816.409.600 1.485.053.516.800 1.668.820.272.060 1.904.583.682.947
Selisih 148.512.000.000 151.424.000.000 155.306.666.667 160.160.000.000
Sumber: manajemen Perseroan
• Rata-rata persentase Harga Pokok Pendapatan konsolidasian terhadap Pendapatan bersih
konsolidasian Dengan Rencana Penambahan KBLI adalah sebesar 81,41% sedangkan Tanpa Rencana
Penambahan KBLI adalah sebesar 82,88%;
• Hari perputaran piutang usaha tahun 2026 adalah 35 hari dan tahun 2027-2033 masing-masing 40
hari;
• Hari perputaran utang usaha adalah tahun 2026 adalah 40 hari dan tahun 2027-2033 masing-masing
35 hari;
• Hari perputaran persediaan adalah 5 hari.
7.3. Biaya Pendirian dan Investasi
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka manajemen telah mengestimasikan terdapat
penambahan aset tetap terutama mesin dan peralatan selama masa proyeksi adalah sebagai berikut
(disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Tabel 14. Analisis Biaya Pendirian dan Investasi
Projection Projection Projection Projection
CAPEX
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Dengan Rencana Penambahan KBLI 126.149.621.944 9.809.523.000 1.012.570.000 1.070.681.000
Tanpa Rencana Penambahan KBLI 27.500.000.000 9.809.523.000 1.012.570.000 1.070.681.000
Selisih 98.649.621.944 - - -
Projection Projection Projection Projection
CAPEX
FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
Dengan Rencana Penambahan KBLI 1.181.169.000 1.324.819.000 1.487.462.000 1.695.921.000
Tanpa Rencana Penambahan KBLI 1.181.169.000 1.324.819.000 1.487.462.000 1.695.921.000
Selisih - - - -
Sumber: manajemen Perseroan
Manajemen telah mengidentifikasi kebutuhan penambahan mesin dan peralatan sebagai bagian dari
rencana belanja modal (CAPEX) untuk Rencana Penambahan KBLI, serta telah mempertimbangkan
realisasi capex LNG yang telah terjadi sampai dengan 31 Desember 2025 yang dicatat sebagai uang muka
dan biaya dibayar dimuka. Dengan demikian, capex yang dianggarkan dalam proyeksi Dengan Rencana
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |49
Page 64
Penambahan KBLI sudah mempertimbangkan capex LNG yang tersisa. Berikut adalah rencana dan
realisasi RAB proyek LNG (dalam Rupiah):
Tabel 15. Rencana dan Realisasi RAB Proyek LNG
Sumber: manajemen Perseroan
Rincian atas rencana anggaran LNG tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 16. Rencana dan Realisasi RAB Proyek LNG
Sumber: manajemen Perseroan
7.4. Biaya Operasional
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka manajemen telah mengestimasikan biaya
operasional selama masa proyeksi baik sebelum dan sesudah Rencana Penambahan KBLI sebagai
berikut (dalam jutaan Rupiah penuh):
Tabel 17. Biaya Operasional
Projection Projection Projection Projection
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Dengan Rencana Penambahan KBLI (108.237.694.000) (123.321.834.000) (149.487.644.000) (163.552.899.000)
Tanpa Rencana Penambahan KBLI (107.596.515.000) (117.417.365.000) (142.509.640.000) (155.766.763.000)
Selisih (641.179.000) (5.904.469.000) (6.978.004.000) (7.786.136.000)
Projection Projection Projection Projection
FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
Dengan Rencana Penambahan KBLI (179.907.993.000) (201.154.539.000) (225.251.848.000) (256.160.629.000)
Tanpa Rencana Penambahan KBLI (171.966.134.000) (193.056.958.000) (216.946.636.000) (247.595.879.000)
Selisih (7.941.859.000) (8.097.581.000) (8.305.212.000) (8.564.750.000)
Sumber: data olahan
Biaya operasional terdiri dari beban penjualan serta beban administrasi dan umum berupa tambahan
beban gaji dan beban operasional lainnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |50
Page 65
7.5. Biaya Bahan Baku
Bahan baku utama berupa pasokan gas berdasarkan draft Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PT
Pertamina EP dan Perseroan terkait penjualan gas yang berasal dari Struktur Galian Field Tambun, Zona
7 Regional 2 Wilayah Kerja Pertamina EP, dengan jangka waktu hingga tahun 2033.
Penetapan alokasi dan pemanfaatan serta harga gas bumi dari lapangan galian wilayah kerja Pertamina
EP Zona 7 kepada PT Citra Nusantara Gemilang disahkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia Nomor T-312/MG.04/MEM.M/2025 pada tanggal 4 Juli 2025 dengan ketentuan bahwa
jumlah penyerahan harian sebesar 1,5 MMSCFD, total jumlah kontrak sebesar 4.110 MMSCFD, dan harga
gas bumi sebesar USD5,15/MMBTU.
7.6. Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah kondisi suatu perusahaan yang tidak menerima laba dan
tidak mengalami rugi atau dikatakan suatu perusahaan impas. Dengan kata lain, antara pendapatan dan
biaya pada kondisi yang sama. Analisis titik impas adalah teknik analisa untuk mempelajari hubungan
antara volume penjualan dan profitabilitas dan analisis ini menunjukkan besarnya keuntungan atau
kerugian perusahaan jika penjualan melampaui atau berada di bawah titik impas. Formula BEP dalam
Rupiah adalah sebagai berikut:
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝐵𝐸𝑃 (𝑅𝑢𝑝𝑖𝑎ℎ) = 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛
𝑅𝑒𝑣𝑒𝑛𝑢𝑒
Sehubungan dengan Rencana Penambahan KBLI, maka analisis titik impas selama masa proyeksi adalah
sebagai berikut (dalam Rupiah penuh):
Tabel 18. Analisis Titik Impas
PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029
Revenue 12.133.333.333 112.420.509.091 130.488.000.000 145.600.000.000
COGS (9.782.717.786) (78.303.792.386) (87.156.862.931) (94.561.742.931)
Depreciation 3.869.623.822 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931
Contribution Margin 6.220.239.370 57.334.459.636 66.548.880.000 74.256.000.000
Fixed Cost 5.964.253.862 38.563.103.301 40.936.598.706 42.599.508.066
Contribution Margin Ratio 0,51 0,51 0,51 0,51
BEP (Rupiah) 11.634.002.471 75.613.928.042 80.267.840.601 83.528.447.189
%BEP 95,88% 67,26% 61,51% 57,37%
PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
Revenue 148.512.000.000 151.424.000.000 155.306.666.667 160.160.000.000
COGS (95.988.622.931) (97.415.502.931) (99.318.009.598) (101.696.142.931)
Depreciation 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931
Contribution Margin 75.741.120.000 77.226.240.000 79.206.400.000 81.681.600.000
Fixed Cost 42.384.698.406 42.169.887.966 42.185.278.471 42.760.296.486
Contribution Margin Ratio 0,51 0,51 0,51 0,51
BEP (Rupiah) 83.107.251.777 82.686.054.836 82.716.232.297 83.843.718.601
%BEP 55,96% 54,61% 53,26% 52,35%
Sumber: data olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |51
Page 66
Berdasarkan perhitungan tabel di atas, titik impas berada pada rentang 52,35% - 95,88% atau rata-rata
titik impas tercapai pada angka 62,28%. Besaran fixed cost dalam perhitungan BEP tersebut merupakan
beban penjualan, beban umum dan administrasi, penghasilan (beban) lain-lain, dan beban pajak
penghasilan.
7.7. Sumber Pendanaan
Berdasarkan informasi manajemen, terdapat rencana pendanaan belanja modal (CAPEX) terkait rencana
penambahan KBLI yang bersumber dari dana Initial Public Offering (IPO) dan pinjaman bank sebesar
Rp50.000.000.000,- dengan asumsi bunga pinjaman sebesar 8,50%.
7.8. Analisis Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto dalam analisis kelayakan keuangan akan menggunakan biaya modal tertimbang atau
weighted average cost of capital (WACC).
Risk Free Rate (Rf)
Risk free rate merupakan tingkat imbal hasil atas instrumen-instrumen keuangan yang dianggap tidak
memiliki risiko gagal bayar. Pada penilaian ini, instrumen keuangan yang digunakan sebagai acuan risk
free rate adalah obligasi pemerintah Republik Indonesia dengan yield per tanggal studi kelayakan
menggunakan tenor 8 (delapan) tahun sesuai masa perjanjian dengan Pertamina EP dalam mata uang
Rupiah.
Market Premium Risk (RPm)
Market premium risk merupakan selisih antara tingkat imbal hasil antara instrumen keuangan yang
memiliki risiko dengan instrumen keuangan yang relatif tidak memiliki risiko. Dengan demikian dapat
diartikan juga sebagai tingkat imbal hasil tambahan yang diinginkan investor untuk berinvestasi pada
suatu instrumen keuangan yang lebih berisiko. Kami menggunakan data market premium risk hasil
penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari 2026.
Beta (β)
Beta merupakan tolak ukur volatilitas atas suatu saham terhadap pasar secara keseluruhan. Kami
menggunakan data unlevered beta hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5 Januari
2026 untuk emerging market sektor Power sebesar 0,43 yang kemudian akan dilakukan penyesuaian
terhadap tarif pajak di Indonesia (beta relevered). Relevered beta setelah disesuaikan adalah sebesar
0,79.
Rating Based Default Spread (CDS)
Rating based default spread menggunakan hasil penelitian Aswath Damodaran yang diperbarui tanggal 5
Januari 2026 yang digunakan untuk melakukan penyesuaian atas biaya modal ekuitas.
Cost of Debt (Kd)
Biaya hutang atau tingkat imbal hasil dari sumber pendanaan yang berasal dari hutang yang dikorelasikan
dengan tingkat suku bunga pinjaman Bank Persero dalam mata uang Rupiah untuk pinjaman baik modal
kerja ataupun investasi. Data menggunakan hasil statistik Bank Indonesia sesuai bulan tanggal studi
kelayakan.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |52
Page 67
Tarif Pajak (t)
Tarif pajak penghasilan badan yang digunakan adalah 22% sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
Cost of Equity (Ke)
Biaya ekuitas merupakan tingkat imbal hasil yang diharapkan dari sumber pendanaan ekuitas. Formula
perhitungan biaya ekuitas adalah sebagai berikut:
Ke = Rf + (β x RPm) – CDS
Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto digunakan untuk mendiskonto arus kas bersih yang dihasilkan di masa mendatang ke
nilai kini atau per tanggal studi kelayakan. Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskonto arus kas
untuk kapital (free cash flow to firm atau FCFF) adalah WACC (Weighted Average Cost of Capital).
Perhitungan WACC adalah sebagai berikut:
Tabel 19. WACC
Variables Factor Informations
COST OF EQUITY
Indonesia risk free rate (Rf) 6,01% Yield rate on 8 year IDR Government Bonds in Indonesia per Dec 31,
2025
Indonesia risk equity premium 6,69% Based on Damodaran
Comparable Company leverage beta 0,79 Based on unlevered Damodaran
Country Default Spread 1,62% Based on Damodaran
Required rate of return on equity (CAPM) 9,66%
COST OF DEBT
Return on debt 8,44% Based on state owned bank lending interest rate for investment
(IDR) Dec, 2025 (source: Bank Indonesia)
Tax 22,00% Corporate Income Tax
After tax cost of debt 6,58%
DEBT TO EQUITY RATIO
Debt 51,08% Based on Damodaran Industry DER
Equity 48,92%
WACC 8,09%
Sumber: diolah dari berbagai sumber
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |53
Page 68
7.9. Analisis Profitabilitas dan Overall Return on Investment
Analisa profitabilitas sebagai parameter Perseroan dalam menghasilkan laba adalah sebagai berikut:
Tabel 20. Analisis Profitabilitas Dengan Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
Gross profit margin 15,89% 18,01% 18,78% 19,02% 19,05% 19,13% 19,15% 19,66% 18,59%
Net profit margin 2,15% 4,14% 4,87% 5,17% 5,24% 5,32% 5,33% 5,69% 4,74%
Return on investment 3,52% 7,60% 9,72% 10,26% 10,29% 10,39% 10,27% 10,85% 9,11%
Return on equity 6,05% 12,35% 14,96% 14,83% 14,12% 13,76% 13,32% 13,87% 12,91%
Sumber: Data olahan
Dengan adanya rencana penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa proyeksi adalah sebesar 18,59%, net profit margin sebesar
4,74%, return on investment sebesar 9,11%, dan return on equity sebesar 12,91%.
Tabel 21. Analisis Profitabilitas Tanpa Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030 FY2031 FY2032 FY2033
Gross profit margin 15,84% 16,47% 17,06% 17,08% 17,22% 17,44% 17,58% 18,25% 17,12%
Net profit margin 2,16% 2,57% 3,11% 3,16% 3,30% 3,50% 3,61% 4,13% 3,19%
Return on investment 3,82% 4,86% 6,57% 6,79% 7,22% 7,78% 8,09% 9,34% 6,81%
Return on equity 5,97% 7,23% 9,62% 9,65% 10,02% 10,65% 10,98% 12,54% 9,58%
Sumber: Data olahan
Tanpa adanya rencana penambahan KBLI, rata-rata gross profit margin Perseroan selama masa proyeksi adalah sebesar 17,12%, net profit margin sebesar 3,19%,
return on investment sebesar 6,81%, dan return on equity sebesar 9,58%.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |54
Page 69
7.10. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih
Analisis perubahan modal kerja bersih periode 12 bulan yang berakhir 31 Desember 2026-2033 (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) adalah sebagai berikut:
Tabel 22. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Dengan Penambahan KBLI
AUDIT PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
DEC 2025 DEC 2026 DEC 2027 DEC 2028 DEC 2029 DEC 2030 DEC 2031 DEC 2032 DEC 2033
Piutang Usaha 65.316.128.527 81.269.562.500 112.624.833.333 136.301.777.778 149.311.762.963 163.480.934.400 181.830.835.200 202.680.770.970 229.415.964.772
Piutang lain-lain 8.695.745.890 10.000.108.000 7.500.081.000 5.625.061.000 4.218.796.000 3.164.097.000 2.373.073.000 1.779.805.000 1.334.854.000
Persediaan 9.136.132.965 9.765.133.997 11.542.189.582 13.837.902.229 15.113.358.440 16.541.848.177 18.381.063.190 20.483.720.476 23.037.669.693
Uang muka 76.067.417.128 12.477.530.000 11.853.654.000 11.260.971.000 10.697.923.000 10.163.026.000 9.654.875.000 9.172.131.000 8.713.525.000
Pajak dibayar dimuka 859.140.698 6.730.265.000 7.910.211.000 9.284.292.000 10.093.260.000 10.968.060.000 12.074.929.000 13.317.086.000 14.869.005.000
Biaya dibayar dimuka 31.012.277.105 25.664.119.000 24.380.913.000 23.161.868.000 22.003.774.000 20.903.586.000 19.858.406.000 18.865.486.000 17.922.212.000
Aset pajak tangguhan 3.894.048.414 4.478.156.000 4.522.938.000 4.568.167.000 4.613.849.000 4.659.987.000 4.706.587.000 4.753.653.000 4.801.190.000
Total Current Assets 194.980.890.727 150.384.874.497 180.334.819.916 204.040.039.007 216.052.723.403 229.881.538.577 248.879.768.390 271.052.652.446 300.094.420.465
Utang usaha 51.702.402.203 78.121.071.976 80.795.327.075 96.865.315.606 105.793.509.078 115.792.937.239 128.667.442.332 143.386.043.335 161.263.687.850
Utang lain-lain 2.579.045.735 1.579.046.000 1.184.285.000 888.214.000 666.160.000 499.620.000 374.715.000 281.037.000 210.778.000
Utang pajak 4.032.150.145 748.979.000 8.765.652.000 12.525.874.000 13.547.401.000 14.464.494.000 15.622.140.000 16.956.104.000 18.660.950.000
Beban masih harus dibayar 1.564.959.137 564.960.000 423.720.000 317.790.000 238.343.000 178.757.000 134.068.000 100.551.000 75.413.000
Pendapatan diterima dimuka 3.885.817.909 3.885.818.000 4.080.109.000 4.284.115.000 4.498.320.000 4.723.236.000 4.959.398.000 5.207.368.000 5.467.737.000
Total Current Liabilities 63.764.375.129 84.899.874.976 95.249.093.075 114.881.308.606 124.743.733.078 135.659.044.239 149.757.763.332 165.931.103.335 185.678.565.850
Perubahan aset lancar 44.596.016.230 (29.949.945.418) (23.705.219.092) (12.012.684.396) (13.828.815.174) (18.998.229.813) (22.172.884.056) (29.041.768.019)
Perubahan liabilitas jangka pendek 21.135.499.847 10.349.218.099 19.632.215.530 9.862.424.473 10.915.311.161 14.098.719.093 16.173.340.003 19.747.462.515
Perubahan modal kerja bersih 65.731.516.077 (19.600.727.319) (4.073.003.561) (2.150.259.923) (2.913.504.013) (4.899.510.720) (5.999.544.053) (9.294.305.504)
Sumber: Data Olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |55
Page 70
Tabel 23. Proyeksi Perubahan Modal Kerja Bersih Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
AUDIT PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION PROJECTION
DEC 2025 DEC 2026 DEC 2027 DEC 2028 DEC 2029 DEC 2030 DEC 2031 DEC 2032 DEC 2033
Piutang Usaha 65.316.128.527 80.089.932.870 100.133.665.657 121.803.111.111 133.133.985.185 146.979.601.067 165.005.946.311 185.424.474.673 211.620.409.216
Piutang lain-lain 8.695.745.890 8.500.092.000 6.375.069.000 4.781.302.000 3.585.977.000 2.689.483.000 2.017.113.000 1.512.835.000 1.134.627.000
Persediaan 9.136.132.965 9.629.262.917 10.454.636.910 12.627.390.244 13.800.000.899 15.208.672.859 17.028.070.094 19.104.303.677 21.625.223.263
Uang muka 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128
Pajak dibayar dimuka 859.140.698 4.446.054.000 5.872.268.000 7.345.163.000 7.766.704.000 8.568.183.000 9.610.215.000 10.790.028.000 12.302.184.000
Biaya dibayar dimuka 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105
Aset pajak tangguhan 3.894.048.414 4.478.156.000 4.702.064.000 4.937.168.000 5.184.027.000 5.443.229.000 5.715.391.000 6.001.161.000 6.301.220.000
Total Current Assets 194.980.890.727 214.223.192.020 234.617.397.800 258.573.828.588 270.550.388.317 285.968.863.158 306.456.429.638 329.912.496.583 360.063.357.713
Utang usaha 51.702.402.203 77.034.103.333 73.182.458.371 88.391.731.709 96.600.006.293 106.460.710.010 119.196.490.658 133.730.125.736 151.376.562.843
Utang lain-lain 2.579.045.735 1.579.045.000 1.184.284.000 888.213.000 666.160.000 499.620.000 374.715.000 281.037.000 210.778.000
Utang pajak 4.032.150.145 5.384.884.000 5.872.268.000 7.345.163.000 7.766.704.000 8.568.183.000 9.610.215.000 10.790.028.000 12.302.184.000
Beban masih harus dibayar 1.564.959.137 564.959.000 423.720.000 317.790.000 238.343.000 178.758.000 134.069.000 100.552.000 75.414.000
Pendapatan diterima dimuka 3.885.817.909 3.885.817.000 2.914.363.000 2.185.773.000 1.639.330.000 1.229.498.000 922.124.000 691.593.000 518.695.000
Total Current Liabilities 63.764.375.129 88.448.808.333 83.577.093.371 99.128.670.709 106.910.543.293 116.936.769.010 130.237.613.658 145.593.335.736 164.483.633.843
Perubahan aset lancar (19.242.301.293) (20.394.205.780) (23.956.430.789) (11.976.559.729) (15.418.474.841) (20.487.566.480) (23.456.066.945) (30.150.861.130)
Perubahan liabilitas jangka pendek 24.684.433.204 (4.871.714.962) 15.551.577.338 7.781.872.584 10.026.225.716 13.300.844.649 15.355.722.077 18.890.298.108
Perubahan modal kerja bersih 5.442.131.911 (25.265.920.742) (8.404.853.450) (4.194.687.145) (5.392.249.125) (7.186.721.831) (8.100.344.867) (11.260.563.022)
Sumber: Data Olahan
7.11. Analisis Kelayakan Investasi
Analisa kelayakan keuangan dilakukan dengan menggunakan indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan Profitability Index (PI) (dalam Rupiah, kecuali dinyatakan
lain) sebagai berikut:
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |56
Page 71
Tabel 24. Analisis Kelayakan Investasi
FCFF (WITH PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 18.011.420.282 41.938.296.920 59.711.512.369 69.511.912.475 77.070.663.038 87.052.278.571 97.217.254.423 117.563.263.004
(+) Depreciation 23.307.123.822 42.757.425.463 43.902.528.515 44.156.881.660 44.426.853.744 43.725.138.702 44.038.636.640 34.160.491.890
(+) Interest (1-t) 1.639.243.125 4.783.130.625 3.910.286.250 2.865.476.250 1.820.666.250 821.413.125 171.965.625 -
(+/-) Changes in working capital 65.731.516.077 (19.600.727.319) (4.073.003.561) (2.150.259.923) (2.913.504.013) (4.899.510.720) (5.999.544.053) (9.294.305.504)
(-) Capex (126.149.621.944) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
FCFF (17.460.318.638) 60.068.602.688 102.438.753.572 113.313.329.462 119.223.510.018 125.374.500.678 133.940.850.635 140.733.528.390
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF (16.154.037.040) 51.416.835.998 81.124.309.562 83.022.658.878 80.817.693.252 78.628.985.548 77.716.890.921 75.549.022.763
NPV 512.122.359.882
FCFF (WITHOUT PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 17.755.434.775 23.166.940.585 34.099.231.075 37.855.420.541 43.714.241.444 51.995.926.538 60.196.132.894 78.641.959.491
(+) Depreciation 19.437.500.000 19.539.682.531 20.684.785.583 20.939.138.729 21.209.110.813 20.507.395.771 20.820.893.708 10.942.748.958
(+) Interest (1-t) 561.868.125 1.548.933.750 1.167.123.750 785.313.750 403.503.750 67.250.625 - -
(+/-) Changes in working capital 5.442.131.911 (25.265.920.742) (8.404.853.450) (4.194.687.145) (5.392.249.125) (7.186.721.831) (8.100.344.867) (11.260.563.022)
(-) Capex (27.500.000.000) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
FCFF 15.696.934.811 9.180.113.124 46.533.716.958 54.314.504.875 58.753.437.882 64.059.032.102 71.429.219.735 76.628.224.427
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF 14.522.579.548 7.857.888.311 36.851.440.768 39.795.270.616 39.827.021.697 40.174.809.727 41.445.584.767 41.135.808.486
NPV 261.610.403.921
INCREMENTAL FCFF
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 255.985.507 18.771.356.335 25.612.281.294 31.656.491.934 33.356.421.594 35.056.352.034 37.021.121.529 38.921.303.514
(+) Depreciation 3.869.623.822 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931
(+) Interest (1-t) 1.077.375.000 3.234.196.875 2.743.162.500 2.080.162.500 1.417.162.500 754.162.500 171.965.625 -
(+/-) Changes in working capital 60.289.384.166 5.665.193.423 4.331.849.889 2.044.427.222 2.478.745.111 2.287.211.111 2.100.800.815 1.966.257.519
(-) Capex (98.649.621.944) - - - - - - -
FCFF (33.157.253.449) 50.888.489.564 55.905.036.614 58.998.824.587 60.470.072.136 61.315.468.576 62.511.630.900 64.105.303.963
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF (30.676.616.588) 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
NPV 250.511.955.961
Realisasi Capex LNG sd 31 Des 2025 89.419.821.506
NPV, Net 161.092.134.455
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |57
Page 72
DISCOUNTED PAYBACK PERIOD
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31 Des 2025
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
PV FCFF - (30.676.616.588) 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
Accumulated PV FCFF (89.419.821.506) (120.096.438.094) (76.537.490.408) (32.264.621.613) 10.962.766.649 51.953.438.204 90.407.614.025 126.678.920.179 161.092.134.455
Period - 1,00 2,00 3,00 3,75
Discounted Payback Period 3,75
PROFITABILITY INDEX
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31 Des 2025
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Cash Inflow 65.492.368.495 50.888.489.564 55.905.036.614 58.998.824.587 60.470.072.136 61.315.468.576 62.511.630.900 64.105.303.963
Cash Outflow 98.649.621.944 - - - - - - -
PV Cash Inflow 60.592.602.486 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
PV Cash Outflow 91.269.219.074 - - - - - - -
Sum Cash Inflow 341.781.175.035
Sum Cash Outflow 91.269.219.074
Realisasi RAB LNG sd 31 Des 2025 89.419.821.506
Profitability Index 1,89
SUMMARY
Deskripsi Nilai Kriteria Kelayakan Keterangan
Incremental NPV, Net (Rp) 161.092.134.455 NPV>0 LAYAK
Internal Rate of Return (IRR) 32,30% IRR>WACC LAYAK
Discounted Payback Period (DPP) 3,75 DPP<8 Tahun LAYAK
Profitability Index (x) 1,89 PI>0 LAYAK
Sumber: Data Olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |58
Page 73
Net Present Value (NPV)
Net Present Value merupakan selisih antara cash inflow dengan cash outflow dari suatu proyek dengan
memperhitungkan nilai waktu uang. Berdasarkan tabel di atas, NPV menunjukkan nilai positif Rp161,09
miliar dengan demikian Rencana Penambahan KBLI tersebut layak untuk dilaksanakan.
Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan tingkat diskonto yang akan menghasilkan NPV Rp0. IRR sebesar 32,30% lebih tinggi
dibandingkan WACC mengindikasikan bahwa Rencana Penambahan KBLI layak dilaksanakan.
Profitability Index (PI)
Indeks profitabilitas sebesar 1,89 kali yang menunjukkan bahwa nilai sekarang dari arus kas masuk lebih
tinggi dibandingkan arus kas keluar, sehingga Rencana Penambahan KBLI memberikan kontribusi positif.
Umumnya suatu rencana proyek dikategorikan layak untuk dilaksanakan jika profitability index
menghasilkan nilai lebih dari 1.
Discounted Payback Period (DPP)
Discounted Payback Period (PP) merupakan penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup
initial investment dari suatu proyek dengan menggunakan cash flow yang dihasilkan dari proyek tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang diperoleh, Perseroan diproyeksikan dapat
mengembalikan seluruh dana investasi setelah Rencana Penambahan KBLI berjalan selama 3 tahun 7
bulan.
7.12. Analisis Sensitivity
Analisis sensitivitas dilakukan dengan menggunakan variabel utama berupa harga (price) LNG, dengan
skenario penurunan sebesar -5% dan -3%, serta peningkatan sebesar +5% terhadap proyeksi dasar.
Analisis ini bertujuan untuk mengukur dampak perubahan harga terhadap indikator kelayakan investasi,
yaitu NPV, IRR, Discounted Payback Period (DPP), dan PI. Berikut adalah analisis sensitivitas (dalam
Rupiah, kecuali dinyatakan lain):
Tabel 25. Analisis Sensitivity
Penurunan Harga -5% Penurunan Harga -3% Kenaikan Harga 5%
Incremental NPV, Net (Rp) 134.941.166.292 145.401.553.557 187.243.102.618
Internal Rate of Return (IRR) 29,07% 30,38% 35,37%
Discounted Payback Period (DPP) 4,00 3,90 3,52
Profitability Index (x) 1,75 1,80 2,04
Sumber: Data Olahan
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |59
Page 74
8. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan metodologi yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan penelaahan aspek legalitas dan hukum, Perseroan terlah memiliki perizinan pokok dan
dokumen operasional lainnya untuk melakukan kegiatan komersialnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Perseroan telah memiliki izin Penetapan Alokasi dan
Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi dari Lapangan Galian Wilayah Kerja Pertamina EP Zona 7 kepada
Perseroan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor T-
312/MG.04/MEM.M/2025 tanggal 4 Juli 2025;
2. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, Rencana Penambahan KBLI dinilai layak untuk dijalankan,
didukung oleh prospek permintaan LNG yang terus meningkat, adanya kesenjangan pasokan gas di
wilayah non-pipeline, serta posisi strategis Perseroan yang didukung oleh model distribusi yang
fleksibel, ketersediaan pasokan, dan potensi pasar yang masih luas;
3. Berdasarkan analisis kelayakan teknis, Perseroan dinilai memiliki kesiapan yang memadai untuk
melaksanakan Rencana Penambahan KBLI, didukung oleh kapasitas produksi yang terukur,
infrastruktur produksi dan distribusi yang terintegrasi, ketersediaan bahan baku yang terjamin, serta
dukungan sumber daya manusia dan tenaga ahli yang kompeten;
4. Berdasarkan analisis kelayakan pola bisnis, Perseroan dinilai memiliki model bisnis yang kuat,
terintegrasi, dan berdaya saing tinggi, yang didukung oleh keunggulan kompetitif, tingkat imitasi yang
relatif rendah, serta kemampuan dalam menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan, sehingga
mampu mendukung keberhasilan implementasi Rencana Penambahan KBLI;
5. Berdasarkan analisis kelayakan model manajemen, Perseroan dinilai memiliki kesiapan yang
memadai dalam mendukung implementasi Rencana Penambahan KBLI, yang tercermin dari
perencanaan sumber daya manusia yang terstruktur, dukungan tenaga ahli pada tahap awal
operasional, serta pengelolaan aspek kekayaan intelektual yang telah memiliki kepastian hukum.
Dengan demikian, model manajemen yang diterapkan mampu mendukung kelancaran operasional
secara efektif, efisien, dan berkelanjutan;
6. Berdasarkan analisis kelayakan keuangan, Rencana Penambahan KBLI akan menghasilkan NPV
positif, analisis IRR lebih besar dari WACC, analisis DPP menunjukkan bahwa periode pengembalian
investasi yang telah didiskontokan tercapai dalam waktu 3,75 tahun, analisis PI menunjukkan bahwa
nilai sekarang dari arus kas masuk jauh lebih tinggi dibandingkan arus kas keluar, dan analisis ROI
menunjukkan adanya return bagi Perseroan;
7. Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan
pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi-
proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat
disimpulkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Perseroan
adalah layak.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |60
Page 75
9. LAMPIRAN
1. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
2. Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
3. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Rencana Penambahan KBLI;
4. Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
5. Proyeksi Arus Kas Dengan Rencana Penambahan KBLI;
6. Proyeksi Arus Kas Tanpa Rencana Penambahan KBLI;
7. Proyeksi Analisis Rasio dengan Rencana Penambahan KBLI;
8. Proyeksi Analisis Rasio tanpa Rencana Penambahan KBLI;
9. Analisis Kelayakan;
10. Beta (Damodaran);
11. Country Risk Premium (Damodaran);
12. Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025;
13. Indonesia Government Securities Yield Curve per 31 Desember 2025
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |61
Page 76
10. REFERENSI
1. Damodaran (beta dan country risk premium);
2. Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Edisi VII Tahun 2018 (KEPI & SPI Edisi
VII-2018) dan Edisi Revisi SPI 300, SPI 310, SPI 330, dan Petunjuk Teknis Khusus SPI Penilaian Dalam
Kondisi Bencana Covid-19 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI);
3. PER-08/PJ/2020 tanggal 21 April 2020 tentang Penghitungan Angsuran Pajak Penghasilan Untuk
Tahun Pajak Berjalan Sehubungan Dengan Penyesuaian Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan;
4. www.phei.co.id (Indonesia Bonds Pricing Agency);
5. www.bi.go.id (data suku bunga dan inflasi);
6. Media lainnya.
Laporan Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk |62
Page 77
LAMPIRAN
Page 78
Lampiran 1
Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Dec-26 31-Dec-27 31-Dec-28 31-Dec-29 31-Dec-30 31-Dec-31 31-Dec-32 31-Dec-33
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 22.391.166.670 65.466.966.733 146.660.762.055 240.773.175.267 342.217.350.035 454.395.437.589 583.039.322.599 723.772.850.989
Piutang Usaha 81.269.562.500 112.624.833.333 136.301.777.778 149.311.762.963 163.480.934.400 181.830.835.200 202.680.770.970 229.415.964.772
Piutang lain-lain 10.000.108.000 7.500.081.000 5.625.061.000 4.218.796.000 3.164.097.000 2.373.073.000 1.779.805.000 1.334.854.000
Persediaan 9.765.133.997 11.542.189.582 13.837.902.229 15.113.358.440 16.541.848.177 18.381.063.190 20.483.720.476 23.037.669.693
Uang Muka 12.477.530.000 11.853.654.000 11.260.971.000 10.697.923.000 10.163.026.000 9.654.875.000 9.172.131.000 8.713.525.000
Pajak dibayar dimuka 6.730.265.000 7.910.211.000 9.284.292.000 10.093.260.000 10.968.060.000 12.074.929.000 13.317.086.000 14.869.005.000
Biaya dibayar dimuka 25.664.119.000 24.380.913.000 23.161.868.000 22.003.774.000 20.903.586.000 19.858.406.000 18.865.486.000 17.922.212.000
Total Current Asset 168.297.885.167 241.278.848.649 346.132.634.062 452.212.049.670 567.438.901.612 698.568.618.979 849.338.322.045 1.019.066.081.454
Aset Tidak Lancar
Aset tetap - neto 323.383.689.059 290.435.786.597 247.545.828.082 204.459.627.422 161.213.942.678 118.813.622.976 76.262.448.336 43.797.877.447
Aset pajak tangguhan 4.478.156.000 4.522.938.000 4.568.167.000 4.613.849.000 4.659.987.000 4.706.587.000 4.753.653.000 4.801.190.000
Dana dibatasi penggunaannya 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000
Aset tidak lancar lainnya 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761
Total Aset Tidak Lancar 343.755.991.820 310.852.871.358 268.008.141.843 224.967.623.183 181.768.076.439 139.414.356.737 96.910.248.097 64.493.214.208
TOTAL ASET 512.053.876.987 552.131.720.006 614.140.775.905 677.179.672.853 749.206.978.051 837.982.975.716 946.248.570.142 1.083.559.295.661
LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha 78.121.071.976 80.795.327.075 96.865.315.606 105.793.509.078 115.792.937.239 128.667.442.332 143.386.043.335 161.263.687.850
Utang lain-lain 1.579.046.000 1.184.285.000 888.214.000 666.160.000 499.620.000 374.715.000 281.037.000 210.778.000
Utang pajak 748.979.000 8.765.652.000 12.525.874.000 13.547.401.000 14.464.494.000 15.622.140.000 16.956.104.000 18.660.950.000
Beban masih harus dibayar 564.960.000 423.720.000 317.790.000 238.343.000 178.757.000 134.068.000 100.551.000 75.413.000
Pendapatan diterima dimuka 3.885.818.000 4.080.109.000 4.284.115.000 4.498.320.000 4.723.236.000 4.959.398.000 5.207.368.000 5.467.737.000
Liabilitas jangka panjang jatuh tempo dalam waktu
26.312.628.305 26.312.628.305 26.312.628.305 25.853.960.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305
satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 917.337.000 917.337.000 917.337.000 458.669.000 - - - -
-Utang bank 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305
Total Liabilitas Jangka Pendek 111.212.503.281 121.561.721.380 141.193.936.911 150.597.693.383 161.054.335.544 175.153.054.637 191.326.394.640 211.073.857.155
Liabilitas jangka panjang
Liabilitas imbalan kerja 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650
Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian
86.034.367.067 73.824.695.067 56.490.023.067 40.613.251.067 25.113.251.067 12.738.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 4.046.116.000 2.211.444.000 376.772.000 - - - - -
-Utang bank 81.988.251.067 71.613.251.067 56.113.251.067 40.613.251.067 25.113.251.067 12.738.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067
Total Liabilitas Jangka Panjang 103.315.443.717 91.105.771.717 73.771.099.717 57.894.327.717 42.394.327.717 30.019.327.717 24.894.327.717 24.894.327.717
Total Liabilitas 214.527.946.998 212.667.493.097 214.965.036.628 208.492.021.100 203.448.663.261 205.172.382.354 216.220.722.357 235.968.184.872
Ekuitas
Modal saham 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950
Tambahan modal disetor 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215
Penghasilan komprehensif lain 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019
Saldo laba 42.363.114.367 84.301.411.287 144.012.923.656 213.524.836.131 290.595.499.168 377.647.777.740 474.865.032.162 592.428.295.167
-Telah ditentukan penggunaanya 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000
-Belum ditentukan penggunaannya 39.363.114.367 81.301.411.287 141.012.923.656 210.524.836.131 287.595.499.168 374.647.777.740 471.865.032.162 589.428.295.167
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik
282.507.838.551 324.446.135.471 384.157.647.840 453.669.560.315 530.740.223.352 617.792.501.924 715.009.756.346 832.573.019.351
entitas induk
Kepentingan nonpengendali 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438
Total Ekuitas 297.525.929.989 339.464.226.909 399.175.739.278 468.687.651.753 545.758.314.790 632.810.593.362 730.027.847.784 847.591.110.789
Total Liabilitas dan Ekuitas 512.053.876.987 552.131.720.006 614.140.775.905 677.179.672.853 749.206.978.051 837.982.975.716 946.248.570.142 1.083.559.295.661
Page 79
Lampiran 2
Proyeksi Laporan Posisi Keuangan Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Dec-26 31-Dec-27 31-Dec-28 31-Dec-29 31-Dec-30 31-Dec-31 31-Dec-32 31-Dec-33
ASET
Aset Lancar
Kas dan Bank 93.718.116.625 94.014.623.999 132.046.545.207 179.240.296.333 231.631.561.465 293.248.342.942 364.677.562.677 441.305.787.104
Piutang Usaha 80.089.932.870 100.133.665.657 121.803.111.111 133.133.985.185 146.979.601.067 165.005.946.311 185.424.474.673 211.620.409.216
Piutang lain-lain 8.500.092.000 6.375.069.000 4.781.302.000 3.585.977.000 2.689.483.000 2.017.113.000 1.512.835.000 1.134.627.000
Persediaan 9.629.262.917 10.454.636.910 12.627.390.244 13.800.000.899 15.208.672.859 17.028.070.094 19.104.303.677 21.625.223.263
Uang Muka 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128 76.067.417.128
Pajak dibayar dimuka 4.446.054.000 5.872.268.000 7.345.163.000 7.766.704.000 8.568.183.000 9.610.215.000 10.790.028.000 12.302.184.000
Biaya dibayar dimuka 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105 31.012.277.105
Total Current Asset 303.463.152.645 323.929.957.799 385.683.205.796 444.606.657.650 512.157.195.623 593.989.381.580 688.588.898.260 795.067.924.817
Aset Tidak Lancar
Aset tetap - neto 141.511.369.431 131.781.209.900 112.108.994.316 92.240.536.587 72.212.594.775 53.030.018.004 33.696.586.296 24.449.758.337
Aset pajak tangguhan 4.478.156.000 4.702.064.000 4.937.168.000 5.184.027.000 5.443.229.000 5.715.391.000 6.001.161.000 6.301.220.000
Dana dibatasi penggunaannya 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000 5.348.000.000
Aset tidak lancar lainnya 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761 10.546.146.761
Total Aset Tidak Lancar 161.883.672.192 152.377.420.661 132.940.309.077 113.318.710.348 93.549.970.536 74.639.555.765 55.591.894.057 46.645.125.098
TOTAL ASET 465.346.824.837 476.307.378.460 518.623.514.873 557.925.367.998 605.707.166.159 668.628.937.345 744.180.792.317 841.713.049.915
LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha 77.034.103.333 73.182.458.371 88.391.731.709 96.600.006.293 106.460.710.010 119.196.490.658 133.730.125.736 151.376.562.843
Utang lain-lain 1.579.045.000 1.184.284.000 888.213.000 666.160.000 499.620.000 374.715.000 281.037.000 210.778.000
Utang pajak 5.384.884.000 5.872.268.000 7.345.163.000 7.766.704.000 8.568.183.000 9.610.215.000 10.790.028.000 12.302.184.000
Beban masih harus dibayar 564.959.000 423.720.000 317.790.000 238.343.000 178.758.000 134.069.000 100.552.000 75.414.000
Pendapatan diterima dimuka 3.885.817.000 2.914.363.000 2.185.773.000 1.639.330.000 1.229.498.000 922.124.000 691.593.000 518.695.000
Liabilitas jangka panjang jatuh tempo dalam waktu
26.312.628.305 26.312.628.305 26.312.628.305 25.853.960.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305
satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 917.337.000 917.337.000 917.337.000 458.669.000 - - - -
-Utang bank 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305 25.395.291.305
Total Liabilitas Jangka Pendek 114.761.436.638 109.889.721.676 125.441.299.014 132.764.503.598 142.332.060.315 155.632.904.963 170.988.627.041 189.878.925.148
Liabilitas jangka panjang
Utang pihak berelasi
Liabilitas imbalan kerja 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650 17.281.076.650
Liabilitas jangka panjang - setelah dikurangi bagian
36.034.367.067 28.699.695.067 21.365.023.067 15.488.251.067 9.988.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
-Utang pembiayaan konsumen 4.046.116.000 2.211.444.000 376.772.000 - - - - -
-Utang bank 31.988.251.067 26.488.251.067 20.988.251.067 15.488.251.067 9.988.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067 7.613.251.067
Total Liabilitas Jangka Panjang 53.315.443.717 45.980.771.717 38.646.099.717 32.769.327.717 27.269.327.717 24.894.327.717 24.894.327.717 24.894.327.717
Total Liabilitas 168.076.880.355 155.870.493.393 164.087.398.731 165.533.831.315 169.601.388.032 180.527.232.680 195.882.954.758 214.773.252.865
Ekuitas
Modal saham 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950 88.574.951.950
Tambahan modal disetor 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215 147.518.413.215
Penghasilan komprehensif lain 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019 4.051.359.019
Saldo laba 42.107.128.860 65.274.069.445 99.373.300.520 137.228.721.061 180.942.962.505 232.938.889.043 293.135.021.937 371.776.981.428
-Telah ditentukan penggunaanya 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000
-Belum ditentukan penggunaannya 39.107.128.860 62.274.069.445 96.373.300.520 134.228.721.061 177.942.962.505 229.938.889.043 290.135.021.937 368.776.981.428
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik
282.251.853.044 305.418.793.629 339.518.024.704 377.373.445.245 421.087.686.689 473.083.613.227 533.279.746.121 611.921.705.612
entitas induk
Kepentingan nonpengendali 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438 15.018.091.438
Total Ekuitas 297.269.944.482 320.436.885.067 354.536.116.142 392.391.536.683 436.105.778.127 488.101.704.665 548.297.837.559 626.939.797.050
Total Liabilitas dan Ekuitas 465.346.824.837 476.307.378.460 518.623.514.873 557.925.367.998 605.707.166.159 668.628.937.345 744.180.792.317 841.713.049.915
Page 80
Lampiran 3
Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
PENDAPATAN 835.915.500.000 1.013.623.500.000 1.226.716.000.000 1.343.805.866.667 1.471.328.409.600 1.636.477.516.800 1.824.126.938.726 2.064.743.682.947
BEBAN POKOK PENDAPATAN (703.089.647.786) (831.037.649.917) (996.328.960.515) (1.088.161.807.660) (1.191.013.068.744) (1.323.436.549.702) (1.474.827.874.306) (1.658.712.217.890)
LABA KOTOR 132.825.852.214 182.585.850.083 230.387.039.485 255.644.059.006 280.315.340.856 313.040.967.098 349.299.064.420 406.031.465.057
BEBAN USAHA (108.237.694.000) (123.321.834.000) (149.487.644.000) (163.552.899.000) (179.907.993.000) (201.154.539.000) (225.251.848.000) (256.160.629.000)
LABA USAHA 24.588.158.214 59.264.016.083 80.899.395.485 92.091.160.006 100.407.347.856 111.886.428.098 124.047.216.420 149.870.836.057
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN - NETO (1.496.593.750) (5.496.968.750) (4.346.174.500) (2.973.323.500) (1.598.805.500) (280.942.750) 590.289.250 851.296.000
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 23.091.564.464 53.767.047.333 76.553.220.985 89.117.836.506 98.808.542.356 111.605.485.348 124.637.505.670 150.722.132.057
Beban Pajak Penghasilan - Neto (5.080.144.182) (11.828.750.413) (16.841.708.617) (19.605.924.031) (21.737.879.318) (24.553.206.777) (27.420.251.247) (33.158.869.053)
LABA (RUGI) NETO 18.011.420.282 41.938.296.920 59.711.512.369 69.511.912.475 77.070.663.038 87.052.278.571 97.217.254.423 117.563.263.004
Page 81
Lampiran 4
Proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
PENDAPATAN 823.782.166.667 901.202.990.909 1.096.228.000.000 1.198.205.866.667 1.322.816.409.600 1.485.053.516.800 1.668.820.272.060 1.904.583.682.947
BEBAN POKOK PENDAPATAN (693.306.930.000) (752.733.857.531) (909.172.097.583) (993.600.064.729) (1.095.024.445.813) (1.226.021.046.771) (1.375.509.864.708) (1.557.016.074.958)
LABA KOTOR 130.475.236.667 148.469.133.378 187.055.902.417 204.605.801.938 227.791.963.788 259.032.470.029 293.310.407.351 347.567.607.988
BEBAN USAHA (107.596.515.000) (117.417.365.000) (142.509.640.000) (155.766.763.000) (171.966.134.000) (193.056.958.000) (216.946.636.000) (247.595.879.000)
LABA USAHA 22.878.721.667 31.051.768.378 44.546.262.417 48.839.038.937 55.825.829.788 65.975.512.029 76.363.771.351 99.971.728.988
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN - NETO (115.343.750) (1.350.562.500) (829.299.500) (306.448.500) 218.069.500 685.932.250 810.758.000 851.296.000
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 22.763.377.917 29.701.205.878 43.716.962.917 48.532.590.437 56.043.899.288 66.661.444.279 77.174.529.351 100.823.024.988
Beban Pajak Penghasilan - Neto (5.007.943.142) (6.534.265.293) (9.617.731.842) (10.677.169.896) (12.329.657.843) (14.665.517.741) (16.978.396.457) (22.181.065.497)
LABA (RUGI) NETO 17.755.434.775 23.166.940.585 34.099.231.075 37.855.420.541 43.714.241.444 51.995.926.538 60.196.132.894 78.641.959.491
Page 82
Lampiran 5
Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba/rugi bersih 18.011.420.282 41.938.296.920 59.711.512.369 69.511.912.475 77.070.663.038 87.052.278.571 97.217.254.423 117.563.263.004
Depresiasi 23.307.123.822 42.757.425.463 43.902.528.515 44.156.881.660 44.426.853.744 43.725.138.702 44.038.636.640 34.160.491.890
Perubahan modal kerja bersih:
Piutang Usaha (15.953.433.973) (31.355.270.833) (23.676.944.444) (13.009.985.185) (14.169.171.437) (18.349.900.800) (20.849.935.770) (26.735.193.802)
Piutang lain-lain (1.304.362.110) 2.500.027.000 1.875.020.000 1.406.265.000 1.054.699.000 791.024.000 593.268.000 444.951.000
Persediaan (629.001.032) (1.777.055.585) (2.295.712.647) (1.275.456.210) (1.428.489.737) (1.839.215.013) (2.102.657.286) (2.553.949.216)
Uang Muka (10.390.180.869) 623.876.000 592.683.000 563.048.000 534.897.000 508.151.000 482.744.000 458.606.000
Pajak dibayar dimuka (5.871.124.302) (1.179.946.000) (1.374.081.000) (808.968.000) (874.800.000) (1.106.869.000) (1.242.157.000) (1.551.919.000)
Biaya dibayar dimuka (7.764.095.404) 1.283.206.000 1.219.045.000 1.158.094.000 1.100.188.000 1.045.180.000 992.920.000 943.274.000
Aset pajak tangguhan (584.107.586) (44.782.000) (45.229.000) (45.682.000) (46.138.000) (46.600.000) (47.066.000) (47.537.000)
Dana dibatasi penggunaannya - - - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - - - - - -
Utang usaha 26.418.669.773 2.674.255.099 16.069.988.530 8.928.193.473 9.999.428.161 12.874.505.093 14.718.601.003 17.877.644.515
Utang lain-lain (999.999.735) (394.761.000) (296.071.000) (222.054.000) (166.540.000) (124.905.000) (93.678.000) (70.259.000)
Utang pajak (3.283.171.145) 8.016.673.000 3.760.222.000 1.021.527.000 917.093.000 1.157.646.000 1.333.964.000 1.704.846.000
Beban masih harus dibayar (999.999.137) (141.240.000) (105.930.000) (79.447.000) (59.586.000) (44.689.000) (33.517.000) (25.138.000)
Pendapatan diterima dimuka 91 194.291.000 204.006.000 214.205.000 224.916.000 236.162.000 247.970.000 260.369.000
Utang pihak berelasi - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja - - - - - - - -
Arus Kas Neto Diperoleh dari Aktivitas Operasi 19.957.738.675 65.094.995.063 99.541.037.322 111.518.534.212 118.584.012.768 125.877.906.553 135.256.347.010 142.429.449.390
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (126.149.621.944) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Investasi (126.149.621.944) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan (pembayaran) Pembiayaan musyarakah
jangka panjang jatuh tempo dalam waktu satu tahun
- - - - - - - -
Penerimaan (pembayaran) Utang pembiayaan
konsumen (917.334.339) (1.834.672.000) (1.834.672.000) (835.440.000) (458.669.000) - - -
Penerimaan (pembayaran) Utang bank 74.375.000.000 (10.375.000.000) (15.500.000.000) (15.500.000.000) (15.500.000.000) (12.375.000.000) (5.125.000.000) -
73.457.665.661 (12.209.672.000) (17.334.672.000) (16.335.440.000) (15.958.669.000) (12.375.000.000) (5.125.000.000) -
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan
KENAIKAN (PENURUNAN) NETO KAS DAN BANK (32.734.217.608) 43.075.800.063 81.193.795.322 94.112.413.212 101.444.174.768 112.178.087.553 128.643.885.010 140.733.528.390
KAS DAN BANK PADA AWAL TAHUN 55.125.384.278 22.391.166.670 65.466.966.733 146.660.762.055 240.773.175.267 342.217.350.035 454.395.437.589 583.039.322.599
KAS DAN BANK PADA AKHIR TAHUN 22.391.166.670 65.466.966.733 146.660.762.055 240.773.175.267 342.217.350.035 454.395.437.589 583.039.322.599 723.772.850.989
Page 83
Lampiran 6
Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Laba/rugi bersih 17.755.434.775 23.166.940.585 34.099.231.075 37.855.420.541 43.714.241.444 51.995.926.538 60.196.132.894 78.641.959.491
Depresiasi 19.437.500.000 19.539.682.531 20.684.785.583 20.939.138.729 21.209.110.813 20.507.395.771 20.820.893.708 10.942.748.958
Perubahan modal kerja bersih:
Piutang Usaha (14.773.804.343) (20.043.732.786) (21.669.445.455) (11.330.874.074) (13.845.615.881) (18.026.345.244) (20.418.528.362) (26.195.934.543)
Piutang lain-lain 195.653.890 2.125.023.000 1.593.767.000 1.195.325.000 896.494.000 672.370.000 504.278.000 378.208.000
Persediaan (493.129.952) (825.373.993) (2.172.753.334) (1.172.610.655) (1.408.671.959) (1.819.397.236) (2.076.233.582) (2.520.919.587)
Uang Muka - - - - - - - -
Pajak dibayar dimuka (3.586.913.302) (1.426.214.000) (1.472.895.000) (421.541.000) (801.479.000) (1.042.032.000) (1.179.813.000) (1.512.156.000)
Biaya dibayar dimuka - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan (584.107.586) (223.908.000) (235.104.000) (246.859.000) (259.202.000) (272.162.000) (285.770.000) (300.059.000)
Dana dibatasi penggunaannya - - - - - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - - - - - -
Utang usaha 25.331.701.130 (3.851.644.962) 15.209.273.338 8.208.274.584 9.860.703.716 12.735.780.649 14.533.635.077 17.646.437.108
Utang lain-lain (1.000.000.735) (394.761.000) (296.071.000) (222.053.000) (166.540.000) (124.905.000) (93.678.000) (70.259.000)
Utang pajak 1.352.733.855 487.384.000 1.472.895.000 421.541.000 801.479.000 1.042.032.000 1.179.813.000 1.512.156.000
Beban masih harus dibayar (1.000.000.137) (141.239.000) (105.930.000) (79.447.000) (59.585.000) (44.689.000) (33.517.000) (25.138.000)
Pendapatan diterima dimuka (909) (971.454.000) (728.590.000) (546.443.000) (409.832.000) (307.374.000) (230.531.000) (172.898.000)
Utang pihak berelasi - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja - - - - - - - -
Arus Kas Neto Diperoleh dari Aktivitas Operasi 42.635.066.686 17.440.702.374 46.379.163.208 54.599.872.125 59.531.103.132 65.316.600.477 72.916.681.735 78.324.145.427
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Perolehan aset tetap (27.500.000.000) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Investasi (27.500.000.000) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan (pembayaran) Pembiayaan
musyarakah jangka panjang jatuh tempo dalam
waktu satu tahun - - - - - - - -
Penerimaan (pembayaran) Utang pembiayaan
konsumen (917.334.339) (1.834.672.000) (1.834.672.000) (835.440.000) (458.669.000) - - -
Penerimaan (pembayaran) Utang bank 24.375.000.000 (5.500.000.000) (5.500.000.000) (5.500.000.000) (5.500.000.000) (2.375.000.000) - -
Arus Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas 23.457.665.661 (7.334.672.000) (7.334.672.000) (6.335.440.000) (5.958.669.000) (2.375.000.000) - -
Pendanaan
KENAIKAN (PENURUNAN) NETO KAS DAN BANK 38.592.732.347 296.507.374 38.031.921.208 47.193.751.125 52.391.265.132 61.616.781.477 71.429.219.735 76.628.224.427
KAS DAN BANK PADA AWAL TAHUN 55.125.384.278 93.718.116.625 94.014.623.999 132.046.545.207 179.240.296.333 231.631.561.465 293.248.342.942 364.677.562.677
KAS DAN BANK PADA AKHIR TAHUN 93.718.116.625 94.014.623.999 132.046.545.207 179.240.296.333 231.631.561.465 293.248.342.942 364.677.562.677 441.305.787.104
Page 84
Lampiran 7
Proyeksi Analisis Rasio Dengan Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030 FY2031 FY2032 FY2033 Projection
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 1,51 1,98 2,45 3,00 3,52 3,99 4,44 4,83 3,22
Quick ratio 1,43 1,89 2,35 2,90 3,42 3,88 4,33 4,72 3,12
Cash ratio 0,20 0,54 1,04 1,60 2,12 2,59 3,05 3,43 1,82
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 15,89% 18,01% 18,78% 19,02% 19,05% 19,13% 19,15% 19,66% 19%
Net profit margin 2,15% 4,14% 4,87% 5,17% 5,24% 5,32% 5,33% 5,69% 5%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 10,29 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,16
Inventory turnover 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00
Acc. Payable turnover 9,00 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,13
Days of Acc. Receivable 35 40 40 40 40 40 40 40 39
Days of Inventory 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Days of Acc. Payable 40 35 35 35 35 35 35 35 36
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity 37,76% 29,50% 20,74% 14,18% 9,25% 6,03% 4,52% 3,89% 15,74%
Debt to Assets 21,94% 18,14% 13,48% 9,82% 6,74% 4,55% 3,49% 3,05% 10,15%
Total Liabilities to Total Assets 41,90% 38,52% 35,00% 30,79% 27,16% 24,48% 22,85% 21,78% 30,31%
Total Liabilities to Total Equity 72,10% 62,65% 53,85% 44,48% 37,28% 32,42% 29,62% 27,84% 45,03%
Page 85
Lampiran 8
Proyeksi Analisis Rasio Tanpa Rencana Penambahan KBLI
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Average
FY2026 FY2027 FY2028 FY2029 FY2030 FY2031 FY2032 FY2033 Projection
LIQUIDITY RATIOS
Current ratio 2,64 2,95 3,07 3,35 3,60 3,82 4,03 4,19 3,46
Quick ratio 2,56 2,85 2,97 3,24 3,49 3,71 3,92 4,07 3,35
Cash ratio 0,82 0,86 1,05 1,35 1,63 1,88 2,13 2,32 1,51
PROFITABILITY RATIOS
Gross profit margin 15,84% 16,47% 17,06% 17,08% 17,22% 17,44% 17,58% 18,25% 17%
Net profit margin 2,16% 2,57% 3,11% 3,16% 3,30% 3,50% 3,61% 4,13% 3%
ACTIVITY RATIOS
Acc. Receivable turnover 10,29 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,16
Inventory turnover 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00 72,00
Acc. Payable turnover 9,00 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,29 10,13
Days of Acc. Receivable 35 40 40 40 40 40 40 40 39
Days of Inventory 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Days of Acc. Payable 40 35 35 35 35 35 35 35 36
SOLVENCY RATIOS
Debt to Equity 20,97% 17,17% 13,45% 10,54% 8,11% 6,76% 6,02% 5,27% 11,04%
Debt to Assets 13,40% 11,55% 9,19% 7,41% 5,84% 4,94% 4,44% 3,92% 7,59%
Total Liabilities to Total Assets 36,12% 32,72% 31,64% 29,67% 28,00% 27,00% 26,32% 25,52% 29,62%
Total Liabilities to Total Equity 56,54% 48,64% 46,28% 42,19% 38,89% 36,99% 35,73% 34,26% 42,44%
Page 86
Lampiran 9
Analisis Kelayakan
FCFF (WITH PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 18.011.420.282 41.938.296.920 59.711.512.369 69.511.912.475 77.070.663.038 87.052.278.571 97.217.254.423 117.563.263.004
(+) Depreciation 23.307.123.822 42.757.425.463 43.902.528.515 44.156.881.660 44.426.853.744 43.725.138.702 44.038.636.640 34.160.491.890
(+) Interest (1-t) 1.639.243.125 4.783.130.625 3.910.286.250 2.865.476.250 1.820.666.250 821.413.125 171.965.625 -
(+/-) Changes in working capital 65.731.516.077 (19.600.727.319) (4.073.003.561) (2.150.259.923) (2.913.504.013) (4.899.510.720) (5.999.544.053) (9.294.305.504)
(-) Capex (126.149.621.944) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
FCFF (17.460.318.638) 60.068.602.688 102.438.753.572 113.313.329.462 119.223.510.018 125.374.500.678 133.940.850.635 140.733.528.390
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF (16.154.037.040) 51.416.835.998 81.124.309.562 83.022.658.878 80.817.693.252 78.628.985.548 77.716.890.921 75.549.022.763
NPV 512.122.359.882
FCFF (WITHOUT PROJECT)
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 17.755.434.775 23.166.940.585 34.099.231.075 37.855.420.541 43.714.241.444 51.995.926.538 60.196.132.894 78.641.959.491
(+) Depreciation 19.437.500.000 19.539.682.531 20.684.785.583 20.939.138.729 21.209.110.813 20.507.395.771 20.820.893.708 10.942.748.958
(+) Interest (1-t) 561.868.125 1.548.933.750 1.167.123.750 785.313.750 403.503.750 67.250.625 - -
(+/-) Changes in working capital 5.442.131.911 (25.265.920.742) (8.404.853.450) (4.194.687.145) (5.392.249.125) (7.186.721.831) (8.100.344.867) (11.260.563.022)
(-) Capex (27.500.000.000) (9.809.523.000) (1.012.570.000) (1.070.681.000) (1.181.169.000) (1.324.819.000) (1.487.462.000) (1.695.921.000)
FCFF 15.696.934.811 9.180.113.124 46.533.716.958 54.314.504.875 58.753.437.882 64.059.032.102 71.429.219.735 76.628.224.427
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF 14.522.579.548 7.857.888.311 36.851.440.768 39.795.270.616 39.827.021.697 40.174.809.727 41.445.584.767 41.135.808.486
NPV 261.610.403.921
INCREMENTAL FCFF
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31-Des-25
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Earning after tax 255.985.507 18.771.356.335 25.612.281.294 31.656.491.934 33.356.421.594 35.056.352.034 37.021.121.529 38.921.303.514
(+) Depreciation 3.869.623.822 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931 23.217.742.931
(+) Interest (1-t) 1.077.375.000 3.234.196.875 2.743.162.500 2.080.162.500 1.417.162.500 754.162.500 171.965.625 -
(+/-) Changes in working capital 60.289.384.166 5.665.193.423 4.331.849.889 2.044.427.222 2.478.745.111 2.287.211.111 2.100.800.815 1.966.257.519
(-) Capex (98.649.621.944) - - - - - - -
FCFF (33.157.253.449) 50.888.489.564 55.905.036.614 58.998.824.587 60.470.072.136 61.315.468.576 62.511.630.900 64.105.303.963
Year-n 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Discount factor 0,9252 0,8560 0,7919 0,7327 0,6779 0,6272 0,5802 0,5368
PV FCFF (30.676.616.588) 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
NPV 250.511.955.961
Realisasi Capex LNG sd 31 Des 2025 89.419.821.506
NPV, Net 161.092.134.455
Page 87
DISCOUNTED PAYBACK PERIOD
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31 Des 2025
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
PV FCFF - (30.676.616.588) 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
Accumulated PV FCFF (89.419.821.506) (120.096.438.094) (76.537.490.408) (32.264.621.613) 10.962.766.649 51.953.438.204 90.407.614.025 126.678.920.179 161.092.134.455
Period - 1,00 2,00 3,00 3,75
Discounted Payback Period 3,75
PROFITABILITY INDEX
Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection Projection
31 Des 2025
FY 2026 FY 2027 FY 2028 FY 2029 FY 2030 FY 2031 FY 2032 FY 2033
Cash Inflow 65.492.368.495 50.888.489.564 55.905.036.614 58.998.824.587 60.470.072.136 61.315.468.576 62.511.630.900 64.105.303.963
Cash Outflow 98.649.621.944 - - - - - - -
PV Cash Inflow 60.592.602.486 43.558.947.686 44.272.868.794 43.227.388.262 40.990.671.555 38.454.175.821 36.271.306.154 34.413.214.276
PV Cash Outflow 91.269.219.074 - - - - - - -
Sum Cash Inflow 341.781.175.035
Sum Cash Outflow 91.269.219.074
Realisasi RAB LNG sd 31 Des 2025 89.419.821.506
Profitability Index 1,89
SUMMARY
Deskripsi Nilai Kriteria Kelayakan Keterangan
Incremental NPV, Net (Rp) 161.092.134.455 NPV>0 LAYAK
Internal Rate of Return (IRR) 32,30% IRR>WACC LAYAK
Discounted Payback Period (DPP) 3,75 DPP<8 Tahun LAYAK
Profitability Index (x) 1,89 PI>0 LAYAK
Page 88
Lampiran 10
Beta (Damodaran)
Date updated: 05-Jan-26 YouTube Video explaining
Created by: Aswath Damodaran, adamodar@stern.nyu.edu estimation choices and
What is this data? Beta, Unlevered beta and other risk measures Emerging Markets process.
Home Page: http://www.damodaran.com
Data website: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/data.html
Companies in each industry: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/pc/datasets/indname.xls
Variable definitions: https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/variable.htm
Do you want to use marginal or effective tax rates in unlevering betas? Marginal
If marginal tax rate, enter the marginal tax rate to use 24,71%
Effective Standard deviation of
Industry Name Number of firms Beta D/E Ratio Unlevered beta Cash/Firm value Unlevered beta corrected HiLo Risk
Tax rate equity
for cash
Power 328 0,77 104,43% 17,36% 0,43 6,04% 0,46 0,2647 31,68%
Page 89
Lampiran 11
Country Risk Premium (Damodaran)
Country and Equity Risk Premiums
Date of update: 1-Jan-26
Enter the current risk premium for a mature equity market 4,23% Implied ERP for S&P 500 with adjusted dollar riskfree rate (for US Aa1 rating
Enter the current risk premium for the US = 4,46% US equity risk premium computed using implied ERP approach
Do you want to adjust the country default spread for the additional volatility of the equity market to get to a country premium? Yes
If yes, enter the multiplier to use on the default spread (See worksheet for volatility numbers for selected emerging markets) 1,52 See "Relative Equity Volatilty" worksheet
Rating-based Default Total Equity Risk Country Risk Sovereign CDS, net of Total Equity Risk Country Risk
Country Africa Moody's rating
Spread Premium Premium Swiss CDS Premium2 Premium3
Indonesia Asia Baa2 1,62% 6,69% 2,46% 1,05% 5,83% 1,60%
Page 90
Lampiran 12
Tingkat Suku Bunga Bank Bulan Desember 2025
I.26 SUKU BUNGA PINJAMAN RUPIAH YANG DIBERIKAN I.26 INTEREST RATE OF RUPIAH LOANS
MENURUT KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN BY GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
(Persen Per Tahun) (Percent Per Annum)
2025
KELOMPOK BANK DAN JENIS PINJAMAN GROUP OF BANKS AND TYPE OF LOANS
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
1 Bank Persero State Banks 1
2 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,69 8,80 8,82 8,83 8,83 8,81 8,78 8,72 8,60 8,39 8,30 8,12 Working Capital Loans 2
3 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 9,22 9,11 9,09 9,02 9,02 8,96 8,92 8,89 8,67 8,84 8,69 8,44 Investment Loans 3
4 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 9,08 9,06 9,04 9,04 9,01 8,98 8,96 8,94 8,92 8,90 8,87 8,97 Consumer Loans 4
5 Bank Pemerintah Daerah Regional Government Banks 5
6 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,81 8,81 8,81 8,85 8,86 8,84 8,78 8,82 8,84 8,66 8,66 8,32 Working Capital Loans 6
7 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,91 8,93 8,93 8,88 8,89 8,88 8,86 8,84 8,83 8,78 8,79 8,75 Investment Loans 7
8 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,37 10,37 10,36 10,37 10,38 10,38 10,38 10,38 10,37 10,37 10,36 10,35 Consumer Loans 8
9 Bank Swasta Nasional Private National Banks 9
10 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,65 8,62 8,60 8,58 8,55 8,52 8,53 8,48 8,40 8,31 8,29 8,16 Working Capital Loans 10
11 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,10 8,10 8,06 8,06 8,02 7,97 7,93 7,88 7,74 7,67 7,62 7,52 Investment Loans 11
12 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 11,83 11,86 11,84 11,93 11,99 12,04 12,11 12,20 12,26 12,29 12,34 11,99 Consumer Loans 12
Kantor Cabang dari Bank yang Berkedudukan di
13 Branch Offices of Foreign Banks 13
Luar Negeri
14 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 6,65 6,74 6,67 6,58 6,41 6,74 6,85 6,45 6,07 5,84 5,69 5,58 Working Capital Loans 14
15 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,47 8,40 8,38 8,38 8,38 8,08 8,07 7,89 7,44 7,35 7,35 7,11 Investment Loans 15
16 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 43,82 41,78 41,23 41,17 41,30 41,98 41,51 41,19 41,05 40,59 39,80 38,69 Consumer Loans 16
17 Bank Umum Commercial Banks 17
18 Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,62 8,67 8,66 8,66 8,64 8,62 8,61 8,55 8,46 8,30 8,24 8,08 Working Capital Loans 18
19 Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,66 8,62 8,58 8,56 8,54 8,49 8,46 8,42 8,25 8,32 8,22 8,06 Investment Loans 19
20 Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,41 10,40 10,39 10,42 10,44 10,45 10,47 10,49 10,51 10,51 10,52 10,50 Consumer Loans 20
Sejak Januari 2025 terdapat perubahan klasifikasi pengelompokan bank dari Bank Asing dan Bank Campuran menjadi Kantor Cabang Dari Since January 2025, there is a change in the classification of Group of Bank from Branch Offices of Foreign Banks and Joint Banks
Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri sehubungan dengan implementasi Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT). to Branch Offices of Foreign Banks inline with the implementation of the Integrated Commercial Bank Report (LBUT).
Page 91
Lampiran 13 Indonesia Government Securities Yield Curve per31 Desember 2025
Names mentioned 96 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki dan Rekan
p.2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Herman Meirizki
p.2
unresolved
—
Faks
p.2 ×2
unresolved
org
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
p.2 ×3
unresolved
org
Studi Kelayakan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk
p.2 ×2
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.3 ×2
unresolved
org
KJPP HMR
p.3 ×2
unresolved
person
Willyams
p.3 ×2
unresolved
org
KJPP Herman Meirizki dan Rekan
p.3 ×2
unresolved
org
KJPP Herman Meirizki
p.3 ×4
unresolved
org
Indonesia. KJPP Herman Meirizki dan Rekan
p.3 ×2
unresolved
org
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
p.3 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.3
unresolved
person
Moch Farid Dimyati
p.4 ×2
unresolved
person
Jati Pangarso
p.4 ×2
unresolved
org
PT Pertamina EP
p.4 ×11
unresolved
org
Bank Indonesia
p.6 ×15
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Jonnardi
p.6 ×3
unresolved
org
Sukimto & Rekan
p.6 ×15
unresolved
person
Kevin Muhammad Rizka
p.6 ×12
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Jamaludin
p.6 ×12
unresolved
person
Ben Ardi
p.6 ×3
unresolved
org
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor T-
p.7 ×4
unresolved
person
Akta Notaris Edi Priyono
p.20
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.20
unresolved
person
Akta Notaris Amriyati A. Supriyadi
· Notaris
p.20 ×2
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.20
unresolved
person
Zaki Ismail
p.20
unresolved
org
PT Cipta Nyata Gemilang
p.20
unresolved
org
PT Tirta Maritim Nusantara
p.20
unresolved
person
As’at Said Ali
p.21 ×2
unresolved
org
Menteri Investasi
p.23
unresolved
org
Koordinasi Penanaman Modal
p.23
unresolved
org
Menteri Hukum Jenderal Kekayaan Intelektual
p.23
unresolved
org
PT Gagas Energi Indonesia
p.38 ×2
unresolved
org
PT Likuid Nusantara Gas Merupakan
p.38
unresolved
org
PT Sumber Aneka Gas Perusahaan
p.38
unresolved
org
PT Laras Ngarso Gede Perusahaan
p.39
unresolved
org
PT Solusi Prima Metana Perusahaan
p.39
unresolved
org
PT Pertagas Niaga Entitas
p.39
unresolved
org
PT Pertamina EP. Perjanjian
p.41
unresolved
org
PT Aichi Tex Indonesia
p.42
unresolved
org
PT Yamaha Motor Parts Manufacturing Indonesia
p.42
unresolved
org
PT Magnolia Energi Lestari
p.43
unresolved
org
PT Ateja Tritunggal
p.43
unresolved
org
PT Bumi Marga Konstruksi
p.43
unresolved
org
PT Genthala Arta Mandiri.
p.43
unresolved
org
PT Citra Nusantara Gemilang Peruntukan
p.46
unresolved
org
Kementerian Hukum Republik Indonesia
p.54
unresolved
org
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual
p.54
unresolved
org
PT Bayu Buana Gemilang
p.56 ×3
unresolved
org
PT Petrogas Jatim Utama
p.57
unresolved
org
PT Jatim Nusa
p.57
unresolved
org
PT Jatim Investment Management
p.57
unresolved
org
PT Kasa Husada
p.57
unresolved
org
PT Ficoritas
p.57
unresolved
org
PT IntiTeladan Sekuritas
p.57
unresolved
org
PT Bursa Efek Surabaya
p.57
unresolved
org
PT Kaltim Prima Coal
p.57
unresolved
org
PT Citra Nusantra Energi
p.57
unresolved
org
PT CNG Hilir Raya
p.57
unresolved
org
PT CNG Global
p.57
unresolved
org
PT Cipta Rizqi Energi
p.57 ×2
unresolved
org
Bank BRI Syariah
p.57
unresolved
org
Bank Mega Syariah
p.57
unresolved
org
Bank Muamalat Indonesia Nama
p.58
unresolved
org
PT McDermott Indonesia
p.58
unresolved
org
PT Truba Jurong Engineering
p.58
unresolved
org
PT Perkasa Heavyndo Engineering
p.58
unresolved
org
PT Nusantara Gas Energi
p.58
unresolved
org
Bank Campuran
p.90
unresolved
org
Bank Yang Berkedudukan Di Luar Negeri
p.90
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
No extraction attempted yet.