Skip to content
Back to announcement

20260924_SOFA_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32150856_lamp13.pdf

Asset transaction Needs review SOFA

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 138

Page 1

          
Page 2
                 Kantor Jasa Penilai Publik                                                          The Manhattan Square
                                                                                         Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                 FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                      Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                                                                                        E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                 Property, Business Valuation & Advisory                                       Website: www.fdipartners.co
                 Licence No. 2.22.0176                                                            Phone (62 21) 27875911
                 KMK 460/KM.1/2022
                 Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia


                                                                                 Jakarta, 28 September 2026

Kepada Yth,
PT Solusi Environment Asia Tbk
Sequis Center Lantai 3, Unit 305,
Jl. Jenderal Sudirman No. 71, Senayan,
Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12190

No. Laporan     : 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Hal             : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk

Dengan hormat,

LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT SOLUSI ENVIRONMENT ASIA TBK

Berdasarkan Surat Penawaran No.024/FDI/PB-FS/VI/2026 tanggal 25 Juni 2026, KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Solusi Environment Asia Tbk (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau SOFA”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk, per 30 Juni 2026 berupa penambahan
yaitu:

 No        Kode KBLI                                              Bidang Usaha
 1        KBLI 64210                                       Aktivitas Perusahaan Induk

Sebelumnya kami telah menerbitkan laporan studi kelayakan dengan No. 00157/2.0176-
00/BS/04/0213/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus 2026, dan revisi laporan studi kelayakan No.
00179/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026 tanggal 18 September 2026 sehubungan dengan surat
Otoritas Jasa Keuangan No. S-246/PM.211/2026 tanggal 28 Agustus 2026 dan asistensi yang
disampaikan OJK melalui surel pada 28 September 2026 kepada PT Solusi Environment Asia Tbk perihal
Perubahan dan/atau Tambahan Informasi Atas Studi Kelayakan Penambahan KBLI 64210 Aktivitas
Perusahaan Induk, dengan perubahan sesuai dengan surat OJK tersebut di atas dan atas perubahan-
perubahan tersebut tidak mempengaruhi terhadap opini pada studi kelayakan.

Maksud dan Tujuan

Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA yang diperuntukkan dalam rangka
memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material
dan perubahan Kegiatan Usaha.

Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya.




                  Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Tanggal Studi Kelayakan

Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.

Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis Kelayakan Pasar;
b. Analisis Kelayakan Teknis;
c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis;
d. Analisis Model Manajemen; dan
e. Analisis Kelayakan Keuangan.

Analisis atas Kelayakan Pasar

Pada penjabaran diatas, dapat disimpulkan bawa aspek pasar menunjukkan rencana kegiatan usaha
Perseroan memiliki peluang untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait
masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara nasional
didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah. Perseroan juga
telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya, sehingga
terdapat dasar awal untuk pengembangkan portofolio usaha pada perusahaan induk/ holding.

Selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui pengelolaan
investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta pengembangan jejaring dan mitra
strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio
investasi, dan peluang pengembangan usaha, aspek pasar rencana kegiatan perusahaan induk/holding
dinilai memiliki ruang pengembangan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan
masing-masing peluang investasi dan kondisi pasar yang berlaku.

Analisis atas Kelayakan Teknis

Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210
Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat kegiatan tersebut
dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang berfokus pada
pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas anak dan/atau entitas
yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi sebagai perusahaan induk
tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun penggunaan teknologi produksi
tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh kesiapan struktur tata kelola (governance
structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara Perseroan, entitas anak, dan entitas
operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen
risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang
memadai untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian
tetap dilaksanakan oleh entitas operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya.

Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana
penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini didukung



Halaman 2                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 4
oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai perusahaan terbuka,
pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya manusia dan tata kelola
yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan pengendalian pada tingkat
korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai perusahaan induk memberikan
fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi ke berbagai sektor,
mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan kemitraan strategis, serta
meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan konsolidasian. Meskipun terdapat
kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas struktur grup, perbedaan karakteristik
kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan
terhadap kinerja entitas investee dan perubahan regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui
penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan
selektivitas dalam menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal
tersebut, pola bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung
pertumbuhan dan peningkatan nilai Perseroan ke depan.

Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk menjalankan
kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan kualifikasi yang
memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris
dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan infrastruktur, regulasi pasar modal,
dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI 64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam
kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber daya manusia terfokus pada personil di level
pengendali tanpa penambahan tenaga kerja operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan
sumber daya manusia yang tersedia dan melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi
Manajemen Portofolio yang bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja
portofolio, koordinasi dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan
pembagian fungsi dan tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas
investee, serta didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan
strategis pada tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk
mendukung pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien.

Analisis atas Kelayakan Keuangan

Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa Rencana
Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA memberikan
kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV, IRR, dan
Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat diskonto yang digunakan, dan
Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat dari sudut pandang Perseroan,
penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah sebagaimana tercermin dari analisis
inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan kegiatan usaha
memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan
proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas
konsorsium melalui entitas anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan
Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk
dijalankan.




Halaman 3                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 5

          
Page 6
                                                            DAFTAR ISI


SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5
DAFTAR GRAFIK........................................................................................................................7
DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... 8
BAB I    ................................................................................................................................. 9
PENDAHULUAN .......................................................................................................................9
  1.1    Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 9
  1.2    Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 9
  1.3    Pengguna Laporan ......................................................................................................... 9
  1.4    Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 9
  1.5    Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................. 10
  1.6    Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .............................................................................. 10
  1.7    Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ......................................................................... 10
  1.8    Tingkat Kedalaman Investigasi....................................................................................... 10
  1.9    Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ....................................................... 10
  1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas ....................................................................................... 11
  1.11 Asumsi dan Asumsi Khusus............................................................................................ 11
  1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi .................................................................. 11
  1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ........... 12
  1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................. 12
  1.15 Data dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 12
  1.16 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 12
  1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 13
BAB II   ............................................................................................................................... 14
ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN ........................................................................ 14
  2.1.   Data dan Informasi....................................................................................................... 14
  2.2.   Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 14
  2.3.   Gambaran Umum SOFA .............................................................................................. 14
  2.4.   Laporan Keuangan SOFA ............................................................................................. 24
  2.5.   Analisis Laporan Keuangan SOFA ................................................................................. 30
  2.6.   Prospek Usaha ............................................................................................................. 34
BAB III  ............................................................................................................................... 35
ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 35
  3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 35
  3.2.   Kondisi Pasar ............................................................................................................... 39
  3.3.   Persaingan Pasar .......................................................................................................... 45
  3.4.   Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 46
  3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 47
BAB IV ............................................................................................................................... 48
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 48
  4.1.   Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 48
  4.2.   Teknis Pelaksanaan Sebagai Induk ................................................................................ 48
  4.3.   Rencana Pengembangan Fungsi Perusahaan Induk ......................................................... 49
  4.4.   Proses Bisnis Entitas Konsorsium .................................................................................... 53
  4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 54
BAB V    ............................................................................................................................... 56
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 56
  5.1    Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 56
  5.2    Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 57
  5.3    Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 57
  5.4    Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 58
  5.5    Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 59
  5.6    Analisis SWOT.............................................................................................................. 60
  5.7    Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 61


Halaman 5                                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 7
BAB VI ............................................................................................................................... 63
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 63
  6.1    Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 63
  6.2    Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 64
  6.3    Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 64
  6.4    Manajemen Risiko ........................................................................................................ 64
  6.5    Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 65
  6.6    Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 68
  6.7    Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................. 69
  6.8    Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 70
BAB VII ............................................................................................................................... 71
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 71
  7.1    Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 71
  7.2    Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 71
  7.3    Proyeksi Keuangan Konsorsium ..................................................................................... 72
  7.4    Analisis Profitabilitas ..................................................................................................... 74
  7.5    Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 76
  7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 76
  7.5.2 Terminal Value ............................................................................................................. 77
  7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 77
  7.6    Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 78
  7.7    Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 83
  7.8    Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 85
BAB VIII ............................................................................................................................... 86
KESIMPULAN .......................................................................................................................... 86
  8.1    Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 86
  8.2    Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 86
  8.3    Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 86
  8.4    Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 87
  8.5    Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 87
  8.6    Kesimpulan .................................................................................................................. 87
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 89
PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 89
LAMPIRAN – LAMPIRAN ........................................................................................................... 92




Halaman 6                                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 8
                                                      DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara ...................................................................... 35
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy) .................................................. 37
Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %) ................................................................. 37
Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 38
Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar Rupiah Tahun 2026 ......................................................... 39
Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026 ........................................ 40
Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026 ................................................... 41
Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait .......................................................................... 42
Grafik 9. Struktur Kepemilikan .................................................................................................... 53
Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI ............................................ 68
Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI ................................ 69




Halaman 7                                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 9
                                                          DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64210 ........................................................................... 10
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA ................................................................................... 18
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah) ............................................. 25
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah) .................................................... 27
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah) ................................................................... 29
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan ................................................ 31
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi) ....................................................... 31
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan ................................................................................................. 32
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara .............................................................................. 36
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 39
Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood) .............................. 42
Tabel 12. Kapasitas Proyek PSEL Tempat AEA Berpartisipasi ........................................................... 44
Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNA .................................................................................. 51
Tabel 14. Susunan Pemegang Saham WNG ................................................................................. 52
Tabel 15. Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 71
Tabel 16. Proyeksi Entitas Konsorsium ........................................................................................... 72
Tabel 17. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................. 75
Tabel 18. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................. 75
Tabel 19. Cost of Equity (CoE) ...................................................................................................... 77
Tabel 20. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ........................ 78
Tabel 21. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk .... 79
Tabel 22. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
            Induk ......................................................................................................................... 80
Tabel 23. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ...... 80
Tabel 24. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
            Induk ......................................................................................................................... 82
Tabel 25. Analisis Inkremental ..................................................................................................... 83
Tabel 26. Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 84
Tabel 27. Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036) ....................................................................... 99
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha............................... 105
Tabel 29. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ................................ 106
Tabel 30. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................... 107
Tabel 31. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................... 109
Tabel 32. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ................................................................... 111
Tabel 33. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi
            Tahun 2026-2058) ................................................................................................... 112
Tabel 34. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
            (Proyeksi 2026-2058) ............................................................................................... 116
Tabel 35. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
            (Proyeksi 2026-2058) ............................................................................................... 122
Tabel 36. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
            (Periode Proyeksi 2026-2058) ................................................................................... 125
Tabel 37. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk ............. 131
Tabel 38. Analisis Inkremental ................................................................................................... 134




Halaman 8                                                                         00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 10
                                                BAB I
                                            PENDAHULUAN



1.1   Identitas Status Konsultan

      Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
      Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
      memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
      Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
      No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
      Penilai Publik sebagai berikut:

      •     Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
            dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
            anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
      •     Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
            kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
            aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
      •     Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
            tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
            ini.

1.2   Identitas Pemberi Tugas

      Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah SOFA dengan informasi sebagai
      berikut:

      a. Nama Pemberi Tugas              : PT Solusi Environment Asia Tbk
      b. Alamat                          : Sequis Center Lantai 3, Unit 305, Jl. Jenderal Sudirman No.
                                           71, Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
                                           DKI Jakarta 12190
      c.    Bidang Usaha                 : Barang Rumah Tangga
      d.    No. Telepon/Fax              : 021 52907351
      e.    Alamat Email                 : corsec@solusienvironmentasia.com
      f.    Penanggung Jawab             : Bapak Ezra Mohammed Dhanaguna
      g.    Jabatan                      : Direktur

1.3   Pengguna Laporan

      Pengguna laporan dalam hal ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.

1.4   Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan

      Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      (KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA:




Halaman 9                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 11
      Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64210
       No        Kode KBLI                              Bidang Usaha
        1       KBLI 64210                       Aktivitas Perusahaan Induk
      Sumber: Informasi Manajemen

1.5   Jenis Mata Uang Yang Digunakan

      Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
      laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).

1.6   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan

      Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
      Kegiatan Usaha (KBLI) 64210 - Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA yang diperuntukkan dalam
      rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan perusahaan publik
      (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020
      tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK 17”).

      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
      35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
      (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
      Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
      Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya.

1.7   Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)

      Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.

1.8   Tingkat Kedalaman Investigasi

      a.   Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
           terima dari pemberi tugas.
      b.   Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
           keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
      c.   Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
           kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
           keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
           (data yang relevan).
      d.   Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
           disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
           melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.

1.9   Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan

      Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
      digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
      internasional. Sumber data tersebut antara lain:
      a. Bank Indonesia.
      b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain


Halaman 10                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 12
      c.   Badan Pusat Statistik.
      d.   Pemerintah Kota dan Kabupaten.
      e.   Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
           dengan obyek studi kelayakan.
      f.   Media cetak dan elektronik resmi.
      g.   Sumber lainnya.
      h.   S&P Capital IQ.

1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas

      a.   Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
      b.   Penilai telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
           penilaian/studi kelayakan;
      c.   Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke
           akuratannya;
      d.   Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
           proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
           (fiduciary duty);
      e.   Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
           keuangan yang telah disesuaikan;
      f.   Laporan Penilaian/Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang
           bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan;
      g.   Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian/Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai
           akhir.
      h.   Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Studi Kelayakan dari Pemberi
           Tugas.

1.11 Asumsi dan Asumsi Khusus

       Asumsi:
       • Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
          karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
          dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
       • Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
          dalam studi kelayakan.

1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi

      Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
      didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
      yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
      kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
      pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
      kelayakan.

      Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
      merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.




Halaman 11                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 13
     Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
     sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.

1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar

     Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
     Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).

1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

     Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
     mencakup hal–hal sebagai berikut:
     a. Analisis atas Kelayakan Pasar;
     b. Analisis atas Kelayakan Teknis;
     c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis;
     d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
     e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.

1.15 Data dan Informasi Pendukung

     Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
     sebagai berikut:

     •    Hasil Pelaksanaan Inspeksi
          Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 6 Juli 2026
          dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
          mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses studi
          kelayakan.

     •    Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Studi Kelayakan
          Obyek Studi Kelayakan merupakan SOFA. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen hukum
          yang relevan dengan Obyek Studi Kelayakan merupakan dokumen-dokumen hukum yang
          juga melekat pada SOFA. Adapun dokumen hukum SOFA, yang mencakup perijinan dan
          legalitas SOFA, diuraikan kemudian dalam Gambaran Umum SOFA.

1.16 Pernyataan Independensi Konsultan

     a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
        yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
     b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
        berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
        kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
        memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
        terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
     c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
        keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
        yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
        yang kami anggap relevan;
     d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
        aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami



Halaman 12                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 14
        tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
        objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
     e. Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan Konsultan tidak terafiliasi dengan SOFA
        selaku Pemberi Tugas dan juga tidak terafiliasi dengan SOFA selaku objek kajian studi
        kelayakan maupun pihak-pihak lain yang terafiliasi dengan perusahaan.

1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)

     Dari tanggal studi kelayakan (cut-off off date) per 30 Juni 2026 hingga Laporan Studi Kelayakan
     ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
     yang dapat mempengaruhi hasil studi kelayakan. Namun, berdasarkan informasi manajemen
     terdapat perjanjian yang telah dibuat setelah tanggal studi kelayakan diantaranya sebagai berikut:

      1. Perjanjian Novasi atas Perjanjian Usaha Patungan tertanggal 2 Maret 2026 (“Novasi JVA”)
         antara PT Danantara Investment Management (“DIM”), DENERA, WNA, seluruh pemegang
         saham WNA, dan PT Weiming Nusantara Bali New Energy (“BUPP PSEL Denpasar Raya”)
         pada tanggal 7 Juli 2026;
      2. Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP PSEL Denpasar Raya
         tentang Penggunaan Lahan Proyek Dalam Rangka Penyelenggaraan Fasilitas Pengolahan
         Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik di Denpasar Raya
         pada tanggal 7 Juli 2026.
      3. Berita Acara Serah Terima atas Lahan Proyek antata Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP
         PSEL Denpasar Raya pada tanggal 7 Juli 2026;
      4. Penandatanganan PJBL untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (“PLTSa”) Denpasar Raya
         30 MW antara PT PLN (Persero) dengan BUPP PSEL Denpasar Raya pada tanggal 8 Juli 2026;
         dan
      5. Penandatanganan Perjanjian Sponsor untuk PLTSa Denpasar Raya 30 MW antara PT Daya
         Energi Bersih Nusantara (“DENERA”) dengan seluruh pemegang saham WNA pada tanggal
         8 Juli 2026.

     Namun demikian, kejadian tersebut tidak memengaruhi hasil studi kelayakan yang telah
     dilakukan.




Halaman 13                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 15
                                             BAB II
                            ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN



2.1.   Data dan Informasi

       Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:

          • Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
            diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli, Bambang, Sulistyanto, Dadang & Ali, yang telah
            di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong, M.Si., CPA, sebagaimana
            tertuang dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21
            Agustus 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
          • Proyeksi keuangan SOFA tahun 2026 sampai dengan 2058 yang disusun oleh manajemen
            SOFA.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari SOFA serta pihak pihak lain yang relevan untuk
            penugasan.
          • Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal SOFA baik dari media cetak
            maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
          • Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
            dokumen.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal SOFA serta pihak pihak lain yang
            relevan untuk penugasan.

2.2.   Pelaksanaan Wawancara

       Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 6 Juli 2026
       dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
       mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.

2.3.   Gambaran Umum SOFA

       a. Latar Belakang SOFA

          PT Solusi Environment Asia Tbk dahulu merupakan PT Pratama Prima Cipta kemudian menjadi
          PT Boston Furniture Industries Tbk selanjutnya disebut “Perusahaan” atau “SOFA”. Perusahaan
          secara konsisten mengembangkan kapasitas produksi, jaringan ritel, serta portofolio produk
          premium, yang diperkuat dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020
          dengan nama PT Boston Furniture Industries Tbk. Perusahaan didirikan berdasarkan Akta
          pendirian yang dinyatakan dalam Akta nomor 6 tanggal 6 Juli 2012 dari Irene Yulia, S.H.,
          notaris yang berkedudukan di Jakarta. Akta pendirian perusahaan tersebut telah mendapat
          pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat
          Keputusan Nomor. AHU-40585.AH.01.01. Tahun 2012 tanggal 26 Juli 2012. Anggaran dasar
          perusahaan beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan akta Nomor 171 tanggal
          18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, mengenai
          perubahan nama “Perusahaan” dari PT Boston Furniture Industries Tbk menjadi PT Solusi
          Environment Asia Tbk dan perubahan beberapa ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan.
          Akta perubahan anggaran dasar perusahaan tersebut telah mendapat pengesahan dari




Halaman 14                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 16
        Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat Keputusan Nomor.
        AHU-AH.01.09-0000204 tanggal 2 Januari 2026.

        Perusahaan telah menerima Surat Pernyataan Efektif dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
        Modal atas nama Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dengan surat No. S-
        178/D.04/2020 tanggal 26 Juni 2020 untuk melakukan penawaran umum saham kepada
        masyarakat sebanyak 400.000.000 saham biasa dan sebanyak 400.000.000 Waran Seri I
        dengan nilai nominal Rp10 per saham dengan harga penawaran Rp100 per saham. Saham-
        saham tersebut seluruhnya telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia tanggal 07 Juli 2020.

        Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jalan Milenium 15 Blok I-2
        No.5A Peusar, Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Hasil produksi Perusahaan
        berupa mebel kualitas tinggi dan menggunakan merek Blackwood. Perusahaan memulai
        kegiatan komersilnya tahun 2014. Sehubungan dengan pengambilalihan saham pengendali
        oleh PT Asia Investment Capital pada bulan Oktober 2025, Perusahaan mulai melakukan
        ekspansi bisnis, salah satunya di bidang pengelolaan sampah menjadi energi listrik melalui
        perusahaan anak.

     b. Perizinan

        Perizinan yang telah diperoleh SOFA, antara lain sebagai berikut:

        •    Akta Pendirian Perusahaan No. 06 Tanggal 06 Juli 2012 oleh Irene Yulia, SH., Notaris di
             Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AH-40585.AH.01.01.Tahun 2012
             Tanggal 26 Juli 2012 tentang pengesahan badan hukum perseroan;
        •    Akta No. 50 Tanggal 29 November 2016 oleh Vivi Novita Rido, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.03-0102987 Tanggal 28 November 2016 tentang perubahan pengangkatan
             kembali;
        •    Akta No. 353 Tanggal 21 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
             Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0085073.AH.01.02.Tahun
             2019 tentag persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas;
        •    Akta No. 523 Tanggal 28 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
             Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0088235.AH.01.02.Tahun
             2019 tanggal 29 Oktober 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar
             perseroan terbatas;
        •    Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 0004380.AH.01.02.TAHUN 2020
             tanggal 17 Januari 2020 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
             terbatas;
        •    Akta No. 52 Tanggal 11 Agustus 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
             AH.01.03-0380936 tanggal 1 September 2020 tentang perubahan peningkatan modal
             ditempatkan atau disetor;

Halaman 15                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 17
        •    Akta No. 26 Tanggal 30 Agustus 2021 oleh Syarifudin, SH., Notaris di Tangerang, akta
             telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat
             Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0454261
             Tanggal 29 September 2021 tentang perubahan pasal 9, pasal 10 dan pasal 11;
        •    Akta No. 18 Tanggl 11 November 2021 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
             AH.01.03-0480402 tanggal 2 Desember 2021;
        •    Akta No. 3 Tanggal 14 Juni 2024 oleh Bastian Harijanto, SH., MKn., Notaris di
             Tangerang, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.09-0224015 tanggal 9 Juli 2024 tentang perubahan direksi dan komisaris;
        •    Akta No. 171 tanggal 18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000058.AH.01.02.TAHUN 2026
             Tanggal 2 Januari 2026 tentang perubahan nama perseroan terbatas;
        •    Akta No. 187 Tanggal 19 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.09-0017677 Tanggal 27 Januari 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
        •    Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
             akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
             Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-
             0346218 Tanggal 24 Juni 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
        •    Akta No. 423 Tanggal 30 Juni 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
             akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
             Surat Pemberitahuan Penerimaan Penyampaian Laporan Tahunan No. AHU-AH.01.01-
             0023651 Tanggal 2 Juli 2026 tentang penyampaian laporan tahunan;
        •    Perizinan berusaha berbasis risiko sertifikat standar 91203083029640001 untuk industri
             furnitur dari kayu;
        •    Persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha nomor
             28092210213603078 untuk industri furnitur dari kayu;
        •    Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
             tanggal 12 Februari 2026 untuk industri furnitur dari kayu;
        •    Konfirmasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha No.
             110626102131741528 untuk aktivitas perusahaan holding;
        •    Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
             tanggal 11 Juni 2026 untuk aktivitas perusahaan holding;
        •    Sucofindo International Certification Services No. VLK 01069 atas nama PT Boston
             Furniture Industries Tbk untuk kegiatan usaha industri dan produk furniture dari kayu
             kapasitas 1.600 pcs berlaku dari 25 Juni 2025 sampai dengan 24 Juni 2031;
        •    Surat keterangan terdaftar No. S-00843/SKT-WP-CT/KPP.0708/2026 Tanggal 03 Juli
             2026 diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
             Pajak;
        •    Nomor Induk Berusaha : 9120308302964 dan
        •    NPWP : 0315615286451000.




Halaman 16                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 18
     c. Kegiatan Usaha

        Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
        maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan
        besar selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas
        profesional, ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta
        perlengkapan rumah tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana
        pensiun, guna mendukung pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
        Perseroan dalam menjalankan maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan
        usaha sebagai berikut:

        6. Kegiatan usaha utama perseroan
            a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
               berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
               meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta
               produk sejenis lainnya; dan
            b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
               untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama
               logam, termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.

        7. Kegiatan usaha penunjang perseroan
            a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
               khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet,
               serta produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan
               perlengkapan tidur seperti bantal dan guling;
            b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI
               47599), yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan
               rumah tangga yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam sub golongan
               lainnya;
            c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee atau kontra) (KBLI 46100), yang
               meliputi kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya
               yang melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas
               nama pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain
               bahan baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu
               dan bahan bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang
               keperluan rumah tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda
               motor (KBLI 451–454);
            d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
               interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
               pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
               dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
               interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
               meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit,
               wallpaper, pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan
               interior lainnya;
            e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
               desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan
               desain produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material,




Halaman 17                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 19
                konstruksi, keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta
                penggunaan, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
             f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
                profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan
                lainnya;
             g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
                perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta
                perlengkapan rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan
                lepas (self-standing); dan
             h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset
                dan kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi
                dan perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.

     d. Lokasi

        Perusahaan berdomisili di Sequis Center Lantai 3 Unit 305, Jalan Jenderal Sudirman No. 71,
        Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi
        DKI Jakarta 12190. Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jl.
        Milenium 15 Blok I-2 No.5A Peusar, Panongan, Kab. Tangerang, Banten.

     e. Susunan Pemegang Saham

        Berdasarkan informasi manajemen dan Laporan Keuangan Audit per 30 Juni 2026 susunan
        pemegang saham SOFA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

        Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA
              Nama Pemegang Saham              Jumlah saham        % saham             Jumlah
         PT Asia Investment Capital              1.173.500.000        70,97%         11.735.000.000
         Masyarakat/ Public                        480.074.499        29,03%           4.800.744.990
         Total                                   1.653.574.499       100,00%         16.535.744.990
        Sumber: Informasi Manajemen

     f. Susunan Pengurus

        Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima
        Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta, susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni
        2026 adalah sebagai berikut:

        Komisaris
        Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
        Komisaris Independen         : Nuryana Hidayat
        Komisaris                    : Saswinadi Sasmojo
        Komisaris                    : Lusi Amanda

        Direksi:
        Direktur Utama                 : Denny Rizal
        Direktur                       : Ezra Mohammed Dhanaguna
        Direktur                       : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
        Direktur                       : Reza Muhammad Mandara


Halaman 18                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 20
     g. Latar Belakang Ekonomi

        Studi Kelayakan ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB
        III dalam laporan ini.

     h. Produk dan Layanan

        SOFA merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri
        furnitur, khususnya melalui produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam untuk kebutuhan
        rumah tangga maupun perkantoran. Produk furnitur yang dihasilkan antara lain meja, kursi,
        tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk furnitur sejenis lainnya
        dengan menggunakan merek Blackwood. Kegiatan produksi Perusahaan didukung oleh
        fasilitas pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Millenium, Kabupaten Tangerang, Provinsi
        Banten.

     i. Teknologi yang Digunakan

        SOFA menggunakan teknologi dan peralatan pendukung dalam menjalankan kegiatan
        produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam. Teknologi yang digunakan terutama
        berkaitan dengan proses pengolahan bahan baku, pemotongan, pembentukan, perakitan,
        penyelesaian (finishing), serta pengendalian kualitas produk furnitur yang dihasilkan.
        Penggunaan teknologi tersebut mendukung efisiensi proses produksi dan menjaga kualitas
        produk yang dipasarkan dengan merek Blackwood.

        Sehubungan dengan penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 (Aktivitas Perusahaan
        Induk), kegiatan tersebut tidak secara langsung memerlukan tambahan teknologi khusus
        karena aktivitas perusahaan induk pada dasarnya berfokus pada pengelolaan investasi,
        pengawasan, serta koordinasi dan pengendalian strategis terhadap entitas anak. Dengan
        demikian, teknologi utama yang digunakan SOFA tetap berkaitan dengan kegiatan
        operasional produksi furnitur, sedangkan kegiatan sebagai perusahaan induk didukung oleh
        teknologi informasi dan sistem administrasi yang diperlukan untuk menunjang fungsi
        manajemen dan koordinasi.

     j. Pasar Geografis

        Pasar geografis SOFA pada dasarnya berfokus di dalam negeri (Indonesia) dengan cakupan
        distribusi yang cukup luas antar wilayah. Cakupan Nasional (Indonesia) dengan menjalankan
        perusahaan manufaktur furnitur kayu dan logam dengan pengolahan mebel berbahan dasar
        kayu dan produk kayu lainnya, berbahan dasar logam serta distribusi dan penjualan mebel
        melalui Perusahaan Anak.

     k. Risiko Usaha

        Analisa risiko untuk SOFA merupakan kajian sistematis atas berbagai ketidakpastian yang
        berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan Perusahaan, khususnya dalam
        kegiatan usaha industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI
        31004), serta rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk (KBLI 64210).
        Risiko-risiko tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang berdampak
        terhadap keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas Perusahaan.



Halaman 19                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 21
        Ketidakpastian dalam industri furnitur cenderung dipengaruhi oleh ketersediaan dan harga
        bahan baku kayu maupun logam, siklus sektor properti dan konstruksi, daya beli masyarakat,
        nilai tukar mata uang asing, serta kebijakan pemerintah di bidang kehutanan, perdagangan,
        dan lingkungan hidup. Sementara itu, penambahan kegiatan usaha sebagai perusahaan
        holding memunculkan dimensi risiko baru yang bersifat strategis dan finansial, antara lain
        risiko investasi pada entitas anak, ketergantungan pada penerimaan dividen, serta risiko tata
        kelola dan pengendalian atas entitas yang dikonsolidasikan.

        Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi kerugian
        dan menjaga keberlanjutan usaha Perusahaan. Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
        mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
        operasional dan finansial SOFA, baik pada kegiatan usaha yang telah berjalan maupun pada
        kegiatan usaha yang direncanakan.

        a. Risiko Kredit

             Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi SOFA akibat ketidakmampuan
             pelanggan, mitra usaha, maupun pihak terafiliasi dalam memenuhi kewajiban
             pembayaran sesuai perjanjian.

             Dalam kegiatan usaha Perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:

             •   Pemberian termin pembayaran kepada distributor, jaringan ritel, kontraktor, dan
                 pelanggan proyek/korporasi;
             •   Konsentrasi penjualan pada sejumlah pelanggan atau segmen tertentu (misalnya
                 proyek properti, perhotelan, atau perkantoran);
             •   Penyaluran pinjaman antarperusahaan (intercompany loan), penempatan modal
                 kerja, serta pemberian jaminan korporasi kepada entitas anak sehubungan dengan
                 fungsi sebagai perusahaan holding.

             Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas Perusahaan,
             memperpanjang siklus konversi kas, serta meningkatkan beban penyisihan kerugian
             penurunan nilai piutang.

             Mitigasi dilakukan melalui:

             •   Analisis kelayakan kredit pelanggan sebelum pemberian termin;
             •   Penetapan limit kredit dan termin pembayaran yang disesuaikan dengan profil
                 pelanggan;
             •   Permintaan uang muka (down payment) untuk pesanan proyek berskala besar;
             •   Pemantauan umur piutang (aging schedule) secara berkala dan penagihan terstruktur;
             •   Diversifikasi basis pelanggan dan saluran distribusi;
             •   Kajian kelayakan serta pembatasan eksposur atas pendanaan dan jaminan kepada
                 entitas anak.




Halaman 20                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 22
        b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah

             Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
             kegiatan usaha SOFA, khususnya di sektor industri pengolahan, perdagangan,
             kehutanan, dan pasar modal.

             Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:

             •   Kebijakan legalitas dan kelestarian bahan baku kayu, termasuk ketentuan Sistem
                 Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) serta dokumen angkutan hasil hutan;
             •   Kebijakan tarif bea masuk, bea keluar, dan pembatasan impor atas bahan baku kayu
                 olahan, logam, serta komponen pendukung;
             •   Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan pengadaan
                 barang pemerintah;
             •   Kebijakan ketenagakerjaan, termasuk penetapan upah minimum;
             •   Ketentuan perpajakan, termasuk perlakuan pajak atas dividen dan transaksi
                 antarentitas dalam satu grup;
             •   Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia yang berlaku bagi
                 perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai perubahan/penambahan
                 kegiatan usaha, transaksi material, dan transaksi afiliasi.

             Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya bahan baku dan produksi,
             ruang lingkup usaha, struktur perizinan, serta kelancaran pelaksanaan rencana
             penambahan kegiatan usaha Perusahaan.

        c.   Risiko Operasional

             Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
             proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
             mengganggu kegiatan usaha SOFA.

             Risiko ini meliputi:

             •   Gangguan ketersediaan dan fluktuasi harga bahan baku utama (kayu, logam, busa,
                 kain pelapis, serta bahan finishing);
             •   Kerusakan mesin produksi, gangguan utilitas, serta risiko kebakaran pada fasilitas
                 pabrik dan gudang;
             •   Kegagalan pemenuhan standar mutu yang berujung pada produk cacat, pengerjaan
                 ulang, dan klaim garansi;
             •   Kecelakaan kerja dan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada
                 area produksi;
             •   Gangguan rantai pasok (supply chain disruption) dan keterlambatan pengiriman
                 kepada pelanggan;
             •   Human error dan keterbatasan sistem informasi dalam pengelolaan persediaan,
                 produksi, dan pelaporan;
             •   Pada fungsi holding: kelemahan pengendalian dan pengawasan atas entitas anak,
                 keterlambatan konsolidasi laporan keuangan, serta ketidakselarasan kebijakan
                 operasional antarentitas dalam grup.




Halaman 21                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 23
             Ketergantungan pada fasilitas produksi, kesinambungan pasokan bahan baku, dan
             keandalan tenaga kerja menjadikan aspek pemeliharaan, pengendalian mutu, dan
             keselamatan kerja sebagai faktor krusial dalam operasional Perusahaan.

        d. Risiko Persaingan Usaha

             Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri
             furnitur nasional maupun regional.

             Risiko ini meliputi:

             •   Tekanan harga akibat masuknya produk furnitur impor dengan struktur biaya yang
                 lebih rendah;
             •   Persaingan dengan produsen lokal berskala besar maupun pelaku usaha kecil dan
                 menengah pada segmen harga menengah ke bawah;
             •   Perkembangan saluran penjualan digital dan marketplace yang meningkatkan
                 transparansi harga dan menekan margin;
             •   Kompetisi dalam desain produk, kualitas material, ketepatan waktu pengiriman, serta
                 layanan purnajual;
             •   Perebutan kontrak pengadaan pada proyek properti, perhotelan, dan perkantoran.

             Masuknya pemain baru maupun ekspansi produsen furnitur berskala besar dapat
             meningkatkan intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar serta
             marjin laba SOFA.

        e. Risiko Usaha

             Risiko usaha SOFA berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan industri yang
             memengaruhi permintaan produk furnitur serta kinerja portofolio investasi Perusahaan.

             Faktor utama yang memengaruhi antara lain:

             •   Siklus sektor properti, konstruksi, dan perhotelan sebagai penggerak utama
                 permintaan furnitur;
             •   Tingkat daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga;
             •   Fluktuasi harga komoditas kayu dan logam;
             •   Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, baik atas pembelian bahan
                 baku impor maupun penjualan ekspor;
             •   Perubahan tingkat suku bunga yang memengaruhi biaya pendanaan dan permintaan
                 pembiayaan properti;
             •   Stabilitas ekonomi nasional dan kondisi perekonomian global;
             •   Ketergantungan penerimaan Perusahaan sebagai entitas induk pada dividen dan
                 hasil investasi dari entitas anak.

             Penurunan aktivitas ekonomi dan perlambatan sektor properti dapat berdampak pada
             volume penjualan, utilisasi kapasitas produksi, serta pendapatan Perusahaan. Pada
             kegiatan usaha holding, kinerja entitas anak yang tidak sesuai proyeksi dapat berdampak
             pada penurunan nilai investasi serta berkurangnya arus kas masuk dari dividen.




Halaman 22                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 24
        f.   Risiko Hukum

             Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
             ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

             Risiko ini dapat berasal dari:

             •   Sengketa kontrak dengan pelanggan, pemasok, distributor, atau mitra usaha;
             •   Sengketa ketenagakerjaan dan perselisihan hubungan industrial;
             •   Sengketa hak kekayaan intelektual, khususnya atas desain industri dan merek produk;
             •   Permasalahan legalitas aset, perizinan bangunan, dan status penguasaan lahan
                 fasilitas produksi;
             •   Ketentuan lingkungan hidup terkait pengelolaan limbah produksi, emisi, dan
                 penggunaan bahan kimia finishing;
             •   Risiko hukum yang melekat pada akuisisi atau penyertaan modal, termasuk kewajiban
                 tersembunyi (contingent liabilities) entitas anak yang tidak teridentifikasi pada saat uji
                 tuntas;
             •   Potensi tanggung jawab Perusahaan selaku pemegang saham pengendali atas
                 tindakan hukum entitas anak.

             Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, kewajiban ganti rugi,
             serta gangguan operasional bagi SOFA.

        g. Risiko Reputasi

             Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
             pelanggan, mitra usaha, pemegang saham, dan investor terhadap SOFA.

             Risiko ini dapat muncul akibat:
             • Kegagalan memenuhi standar mutu produk dan meningkatnya klaim garansi;
             • Keterlambatan pemenuhan pesanan dan pengiriman kepada pelanggan proyek;
             • Isu keberlanjutan, khususnya dugaan penggunaan bahan baku kayu yang tidak
                  bersertifikat atau tidak memenuhi ketentuan legalitas;
             • Insiden lingkungan atau kecelakaan kerja pada fasilitas produksi;
             • Pemberitaan negatif atas kinerja keuangan, aksi korporasi, atau tata kelola
                  Perusahaan sebagai emiten;
             • Kinerja atau permasalahan yang timbul pada entitas anak yang dapat berdampak
                  pada citra grup secara keseluruhan.

             Mengingat bisnis furnitur sangat bergantung pada persepsi kualitas dan keandalan
             pengiriman, serta identitas Perusahaan yang mengedepankan aspek lingkungan, reputasi
             menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan, kontrak jangka panjang, dan
             kepercayaan investor.

        h. Risiko Kepatuhan

             Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
             industri, lingkungan hidup, ketenagakerjaan, perpajakan, dan pasar modal.




Halaman 23                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 25
              SOFA wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:

              •   Perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) sesuai KBLI yang
                  dijalankan, termasuk pemenuhan persyaratan atas penambahan KBLI 64210;
              •   Ketentuan legalitas bahan baku kayu dan sertifikasi terkait;
              •   Persetujuan lingkungan serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun;
              •   Standar keselamatan dan kesehatan kerja serta ketentuan ketenagakerjaan;
              •   Kewajiban perpajakan, termasuk ketentuan harga transfer (transfer pricing) atas
                  transaksi antarentitas dalam grup;
              •   Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bagi perusahaan
                  terbuka, antara lain mengenai keterbukaan informasi, transaksi material dan
                  perubahan kegiatan usaha utama, transaksi afiliasi dan benturan kepentingan,
                  penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, serta penyampaian laporan
                  berkala.

              Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, denda, pembatasan kegiatan
              usaha, penghentian sementara perdagangan saham, hingga pencabutan izin usaha.

2.4.   Laporan Keuangan SOFA

       Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
       keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
       keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
       dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
       masa depan.

       Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
       mengenai laporan keuangan SOFA. Adapun data laporan keuangan SOFA yang kami terima
       adalah sebagai berikut:

         • Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
           diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali, yang telah
           di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana tertuang
           dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus
           2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
         • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2025
           yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
           yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
           tertuang dalam laporannya No.00007/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/III/2026 tanggal 27
           Maret 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
         • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2024
           yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
           yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
           tertuang dalam laporannya No.00022/3.0291/AU.1/04/0824-2/1/III/2025 tanggal 27
           Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
         • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2023
           yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
           yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana




Halaman 24                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 26
          tertuang dalam laporannya No.00020/3.0291/AU.1/04/0824-1/1/III/2024 tanggal 27
          Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
        • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2022
          yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
          yang telah di tandatangani oleh akuntan publik Triyanto sebagaimana tertuang dalam
          laporannya No.00155/3.0266/AU.1/04/0945-1/1/III/2023 tanggal 27 Maret 2023
          dengan opini wajar tanpa modifikasian;

     Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan SOFA untuk periode 31
     Desember 2022 hingga 30 Juni 2026:

     Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                           30 Juni
             Laporan Posisi Keuangan          2022        2023        2024      2025
                                                                                            2026
      Jumlah Aset Lancar                       21.795      30.210     33.341    25.162       21.068
      Jumlah Aset Tidak Lancar                 40.255      33.725     29.107    26.838       25.555
      Jumlah Aset                              62.050      63.936     62.448    51.999       46.622
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          13.711      15.402     13.999    12.743       13.267
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          3.453        3.119     3.654       220               2
      Jumlah Liabilitas                        17.163      18.522     17.653    12.963       13.269
      Jumlah Ekuitas                           44.887      45.414     44.795    39.036       33.354
      Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            62.050      63.936     62.448    51.999       46.622
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Total Aset

     Perkembangan total aset SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31 Desember
     2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR)
     sebesar negatif 5,72%. Pada tahun 2022 total aset tercatat sebesar Rp62.050 juta. Pada tahun
     2023 mengalami peningkatan total aset tercatat sebesar 3,04% secara year on year atau sebesar
     Rp63.936 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tercatat sebesar negatif 2,33%
     secara year on year atau sebesar Rp62.448 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total
     aset tercatat sebesar negatif 16,73% secara year on year atau sebesar Rp51.999 juta. Kemudian
     pada periode 30 Juni 2026 total aset tercatat sebesar Rp46.622 juta, atau menurun sebesar
     10,34% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
     berkurangnya aset lancar berupa persediaan serta saldo kas dan bank dan aset tidak lancar
     berupa aset tetap dan aset hak guna usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
     Desember 2025.

     Total Aset Lancar

     Perkembangan total aset lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar 4,90%. Pada
     tahun 2022 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.795 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 38,61% secara year on year atau sebesar Rp30.210
     juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 10,36% secara
     year on year atau sebesar Rp33.341 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total aset
     lancar tercatat sebesar negatif 24,53% secara year on year atau sebesar Rp25.162 juta. Kemudian



Halaman 25                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 27
     pada periode 30 Juni 2026 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.068 juta, atau menurun sebesar
     16,27% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
     berkurangnya persediaan serta saldo kas dan bank pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan
     posisi 31 Desember 2025.

     Total Aset Tidak Lancar

     Perkembangan total aset tidak lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami penurunan di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif
     12,64%. Pada tahun 2022 total aset tidak lancar tercatat sebesar Rp40.255 juta. Pada tahun 2023
     mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 16,22% secara year on year
     atau sebesar Rp33.725 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tidak lancar
     tercatat sebesar negatif 13,69% secara year on year atau sebesar Rp29.107 juta. Pada tahun
     2025 mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 7,79% secara year on
     year atau sebesar Rp26.838 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 total aset tidak lancar
     tercatat sebesar Rp25.555 juta, atau menurun sebesar 4,78% dibandingkan posisi 31 Desember
     2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya aset tetap dan aset hak guna
     usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

     Total Liabilitas Jangka Pendek

     Pertumbuhan liabilitas jangka pendek SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
     2,41%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp13.711 juta. Pada tahun
     2023 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 12,33% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp15.402 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami penurunan
     sebesar negatif 9,11% secara year on year atau tercatat sebesar Rp13.999 juta. Pada tahun 2025
     liabilitas jangka pendek mengalami penurunan sebesar negatif 8,97% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp12.743 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas jangka pendek
     tercatat sebesar Rp13.267 juta, atau meningkat sebesar 4,11% dibandingkan posisi 31 Desember
     2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh bertambahnya utang lain-lain dan biaya
     yang masih harus dibayar pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

     Total Liabilitas Jangka Panjang

     Pertumbuhan liabilitas jangka panjang SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
     60,07%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp3.453 juta. Pada tahun
     2023 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar negatif 9,67% secara year on year
     atau tercatat sebesar Rp3.119 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami
     peningkatan sebesar 17,15% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.654 juta. Pada tahun
     2025 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan signifikan sebesar negatif 93,98% secara
     year on year atau tercatat sebesar Rp220 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas
     jangka panjang tercatat sebesar Rp2 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
     berkurangnya utang sewa jangka panjang pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
     Desember 2025.




Halaman 26                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 28
     Total Liabilitas

     Perkembangan total liabilitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 8,93%.
     Pada tahun 2022 total liabilitas tercatat sebesar Rp17.163 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan total liabilitas tercatat sebesar 7,92% secara year on year atau sebesar Rp18.522
     juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total liabilitas tercatat sebesar negatif 4,69% secara
     year on year atau sebesar Rp17.653 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total liabilitas
     tercatat sebesar negatif 26,57% secara year on year atau sebesar Rp12.963 juta. Kemudian pada
     periode 30 Juni 2026 total liabilitas tercatat sebesar Rp13.269 juta, atau meningkat sebesar
     2,36% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh
     bertambahnya liabilitas jangka pendek yaitu utang lain-lain dan biaya yang masih harus dibayar
     pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

     Total Ekuitas

     Perkembangan total ekuitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami penurunan dengan CAGR sebesar negatif 4,55%. Pada tahun 2022
     total ekuitas tercatat sebesar Rp44.887 juta. Pada tahun 2023 mengalami peningkatan total
     ekuitas tercatat sebesar 1,17% secara year on year atau sebesar Rp45.414 juta. Pada tahun 2024
     mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar negatif 1,36% secara year on year atau
     sebesar Rp44.795 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar
     negatif 12,86% secara year on year atau sebesar Rp39.036 juta. Kemudian pada periode 30 Juni
     2026 total ekuitas tercatat sebesar Rp33.354 juta, atau menurun sebesar 14,56% dibandingkan
     posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo
     laba seiring rugi yang dibukukan Perseroan pada periode 30 Juni 2026.

     Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                            30 Juni
                  Laporan Laba Rugi            2022        2023        2024       2025
                                                                                             2026
      Penjualan                                47.026       46.643     50.252     45.131      21.385
      Beban Pokok Penjualan                   (26.559)     (23.252)   (28.913)   (30.882)    (16.440)
      Laba (Rugi) Kotor                        20.466       23.390     21.340     14.249       4.945
      Laba (Rugi) Usaha                         2.348          981       (293)    (4.851)     (7.009)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     1.363          501       (780)    (5.255)     (7.145)
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan          (519)        (392)      (130)       (43)      1.452
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                  844          108       (910)    (5.299)     (5.693)
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Pendapatan

     Perkembangan penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 1,36%.
     Pada tahun 2022 penjualan tercatat sebesar Rp47.026 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     penurunan penjualan tercatat sebesar negatif 0,81% secara year on year atau sebesar Rp46.643
     juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan penjualan tercatat sebesar 7,74% secara year on
     year atau sebesar Rp50.252 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan penjualan tercatat
     sebesar negatif 10,19% secara year on year atau sebesar Rp45.131 juta. Kemudian pada periode
     30 Juni 2026 penjualan tercatat sebesar Rp21.385 juta.


Halaman 27                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 29
     Beban Pokok Penjualan

     Pertumbuhan beban pokok penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar 5,15%.
     Pada tahun 2022 beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp26.559 juta. Pada tahun 2023
     beban pokok penjualan mengalami penurunan sebesar negatif 12,45% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp23.252 juta. Pada tahun 2024 beban pokok penjualan mengalami
     peningkatan sebesar 24,35% secara year on year atau tercatat sebesar Rp28.913 juta. Pada tahun
     2025 beban pokok penjualan mengalami peningkatan sebesar 6,81% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp30.882 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 beban pokok penjualan
     tercatat sebesar Rp16.440 juta.

     Laba Kotor

     Perkembangan laba kotor SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 11,37%.
     Pada tahun 2022 laba kotor tercatat sebesar Rp20.466 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan laba kotor tercatat sebesar 14,29% secara year on year atau sebesar Rp23.390 juta.
     Pada tahun 2024 mengalami penurunan laba kotor tercatat sebesar negatif 8,76% secara year
     on year atau sebesar Rp21.340 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan laba kotor tercatat
     sebesar negatif 33,23% secara year on year atau sebesar Rp14.249 juta. Kemudian pada periode
     30 Juni 2026 laba kotor tercatat sebesar Rp4.945 juta. Marjin laba kotor menunjukkan tren
     penurunan, dari 43,52% pada tahun 2022 menjadi 31,57% pada tahun 2025 dan 23,12% pada
     periode 30 Juni 2026. Penurunan laba kotor disebabkan oleh menurunnya penjualan dan
     meningkatnya beban pokok penjualan.

     Laba (Rugi) Usaha

     Perkembangan laba (rugi) usaha SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba usaha tercatat
     sebesar Rp2.348 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba usaha sebesar negatif
     58,22% secara year on year atau sebesar Rp981 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan
     rugi usaha sebesar Rp293 juta. Pada tahun 2025 rugi usaha melebar menjadi Rp4.851 juta.
     Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi usaha tercatat sebesar Rp7.009 juta.

     Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan

     Pertumbuhan laba (rugi) sebelum pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022
     sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022
     laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp1.363 juta. Pada tahun 2023 laba sebelum
     pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 63,24% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp501 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan rugi sebelum pajak
     penghasilan sebesar Rp780 juta. Pada tahun 2025 rugi sebelum pajak penghasilan melebar
     menjadi Rp5.255 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi sebelum pajak penghasilan
     tercatat sebesar Rp7.145 juta. Perseroan telah membukukan rugi usaha pada tahun 2024 sampai
     dengan periode 30 Juni 2026 karena laba kotor yang dihasilkan lebih kecil dari beban usaha.




Halaman 28                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 30
     Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan

     Pertumbuhan beban pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan seiring menurunnya laba fiskal
     Perseroan. Pada tahun 2022 beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp519 juta. Pada tahun
     2023 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 24,47% secara year on
     year atau tercatat sebesar Rp392 juta. Pada tahun 2024 beban pajak penghasilan mengalami
     penurunan sebesar negatif 66,84% secara year on year atau tercatat sebesar Rp130 juta. Pada
     tahun 2025 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 66,92% secara year
     on year atau tercatat sebesar Rp43 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 Perseroan
     mengakui manfaat pajak penghasilan sebesar Rp1.452 juta. Penurunan beban pajak sejalan
     dengan menurunnya laba perusahaan pada periode 30 Juni 2026.

     Laba (Rugi) Tahun Berjalan

     Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba
     tahun berjalan tercatat sebesar Rp844 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba tahun
     berjalan tercatat sebesar negatif 87,20% secara year on year atau sebesar Rp108 juta. Pada tahun
     2024 Perseroan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp910 juta. Pada tahun 2025 rugi
     tahun berjalan melebar menjadi Rp5.299 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi tahun
     berjalan tercatat sebesar Rp5.693 juta. Marjin laba bersih menurun dari 1,79% pada tahun 2022
     menjadi negatif 11,74% pada tahun 2025 dan negatif 26,62%. Perseroan masih mencatatkan
     kinerja yang negatif hingga periode 30 Juni 2026, dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp5.693
     juta. Namun demikian, kinerja tersebut merupakan realisasi sampai dengan semester I 2026 dan
     belum mencerminkan kinerja Perseroan untuk keseluruhan tahun 2026.

     Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                            30 Juni
                 Laporan Arus Kas             2022         2023        2024      2025
                                                                                             2026
      Arus Kas Dari Aktivitas Operasi           7.850        6.614       286     (1.313)      (4.022)
      Arus Kas Dari Aktivitas Investasi        (2.858)      (1.861)   (1.443)      (106)          22
      Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan        (2.951)        (172)   (2.699)      (119)       3.155
      Kenaikan (Penurunan) Neto Kas Dan
                                                2.041        4.582    (3.856)    (1.538)        (845)
      Bank
      Kas Dan Bank Awal Tahun                   1.794        3.835     8.417      4.561        3.023
      Kas Dan Bank Akhir Tahun                  3.835        8.417     4.561      3.023        2.178
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Arus Kas dari Aktivitas Operasi

     Pertumbuhan arus kas dari aktivitas operasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas
     operasi tercatat sebesar Rp7.850 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas operasi mengalami
     penurunan menjadi tercatat sebesar Rp6.614 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas operasi
     mengalami penurunan menjadi tercatat sebesar Rp286 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari
     aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp1.313 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus
     kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp4.022 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa
     kegiatan operasional SOFA belum mampu menghasilkan arus kas positif pada periode terakhir.



Halaman 29                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 31
       Arus Kas untuk Aktivitas Investasi

       Pertumbuhan arus kas dari aktivitas investasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
       dengan 31 Desember 2025 negatif. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas investasi tercatat
       sebesar negatif Rp2.858 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar
       negatif Rp1.861 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif
       Rp1.443 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif Rp106
       juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas dari aktivitas investasi tercatat positif sebesar
       Rp22 juta. Arus kas investasi yang bernilai negatif mencerminkan belanja modal Perseroan,
       dengan besaran yang menurun.

       Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan

       Pertumbuhan arus kas dari aktivitas pendanaan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
       dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi. Pada tahun 2022 arus
       kas dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.951 juta. Pada tahun 2023 arus kas
       dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp172 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari
       aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.699 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas
       pendanaan tercatat sebesar negatif Rp119 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas
       dari aktivitas pendanaan tercatat positif sebesar Rp3.155 juta. Arus kas pendanaan yang berbalik
       positif pada periode 30 Juni 2026 mengindikasikan adanya penerimaan pendanaan baru untuk
       menutup defisit arus kas operasi.

       Kenaikan (Penurunan) Neto Kas dan Bank

       Pada tahun 2022 kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp2.041 juta. Pada tahun 2023
       kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp4.582 juta. Pada tahun 2024 penurunan neto kas
       dan bank tercatat sebesar negatif Rp3.856 juta. Pada tahun 2025 penurunan neto kas dan bank
       tercatat sebesar negatif Rp1.538 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 penurunan neto kas
       dan bank tercatat sebesar negatif Rp845 juta.

       Kas dan Bank pada Akhir Tahun

       Pada tahun 2022 kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp3.835 juta. Pada tahun 2023
       kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp8.417 juta. Pada tahun 2024 kas dan bank
       pada akhir tahun tercatat sebesar Rp4.561 juta. Pada tahun 2025 kas dan bank pada akhir tahun
       tercatat sebesar Rp3.023 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 kas dan bank pada akhir
       tahun tercatat sebesar Rp2.178 juta.

2.5.   Analisis Laporan Keuangan SOFA

       Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan SOFA dilakukan berdasarkan analisis
       terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
       berikut:

       a. Commonsize statement analysis

          Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
          perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total



Halaman 30                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 32
        asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau
        beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
        dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:

        Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
                                                                                                    30 Juni
                Laporan Posisi Keuangan              2022        2023        2024        2025
                                                                                                     2026
         Jumlah Aset Lancar                          35,12%      47,25%      53,39%     48,39%       45,19%
         Jumlah Aset Tidak Lancar                    64,88%      52,75%      46,61%     51,61%       54,81%
         Jumlah Aset                                100,00%     100,00%    100,00%     100,00%     100,00%
         Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             22,10%      24,09%      22,42%     24,51%       28,46%
         Jumlah Liabilitas Jangka Panjang             5,56%        4,88%      5,85%       0,42%       0,00%
         Jumlah Liabilitas                           27,66%      28,97%      28,27%     24,93%       28,46%
         Jumlah Ekuitas                              72,34%      71,03%      71,73%     75,07%       71,54%
         Jumlah Liabilitas dan Ekuitas              100,00%     100,00%    100,00%     100,00%     100,00%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


        Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, selama
        periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi aset tidak lancar terhadap
        total aset lebih besar dibandingkan dengan proporsi aset lancar terhadap total aset. Proporsi
        aset lancar terhadap total aset tercatat sebesar 35,12% (2022); 47,25% (2023); 53,39%
        (2024); serta 48,39% (2025). Pada periode 30 Juni 2026 proporsi aset lancar terhadap total
        aset adalah 45,19%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset adalah 54,81%.

        Selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi total ekuitas
        terhadap total liabilitas dan ekuitas lebih besar dibandingkan dengan proporsi total liabilitas
        terhadap total liabilitas dan ekuitas. Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas
        tercatat sebesar 27,66% (2022); 28,97% (2023); 28,27% (2024); serta 24,93% (2025). Pada
        periode 30 Juni 2026 proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah
        sebesar 28,46%, dan proporsi total ekuitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar
        71,54%.

        Liabilitas SOFA didominasi oleh liabilitas jangka pendek, dengan proporsi terhadap total
        liabilitas dan ekuitas sebesar 22,10% (2022); 24,09% (2023); 22,42% (2024); 24,51% (2025);
        serta 28,46% pada 30 Juni 2026. Adapun proporsi liabilitas jangka panjang terhadap total
        liabilitas dan ekuitas menurun, dari 5,56% (2022); 4,88% (2023); dan 5,85% (2024) menjadi
        hanya 0,42% (2025) serta 0,00% pada 30 Juni 2026.

        Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi)
                                                                                                    30 Juni
                     Laporan Laba Rugi               2022        2023        2024        2025
                                                                                                     2026
         Penjualan                                  100,00%     100,00%    100,00%     100,00%     100,00%
         Beban Pokok Penjualan                      -56,48%     -49,85%     -57,54%     -68,43%     -76,88%
         Laba (Rugi) Kotor                           43,52%      50,15%      42,46%     31,57%       23,12%
         Laba (Rugi) Usaha                            4,99%        2,10%     -0,58%     -10,75%     -32,78%
         Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan        2,90%        1,07%     -1,55%     -11,64%     -33,41%
         Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan           -1,10%       -0,84%     -0,26%      -0,10%       6,79%




Halaman 31                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 33
                                                                                        30 Juni
                     Laporan Laba Rugi          2022       2023      2024      2025
                                                                                         2026
         Laba (Rugi) Tahun Berjalan              1,79%      0,23%    -1,81%   -11,74%   -26,62%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


        Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
        usaha, laba (rugi) sebelum pajak penghasilan dan laba (rugi) tahun berjalan pada 30 Juni
        2026 secara berturut-turut adalah sebesar -32,78%, -33,41% dan -26,62%.

     b. Ratio Analysis

        Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
        keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
        posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
        Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan
        perusahaan.

        Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan
                                                                                        30 Juni
                    Analisis Likuiditas      2022         2023      2024       2025
                                                                                         2026
         Analisis Likuiditas
             Current Ratio                     1,59x        1,96x    2,38x      1,97x      1,59x
             Quick Ratio                       0,34x        0,58x    0,37x      0,49x      0,58x
             Cash Ratio                        0,28x        0,55x    0,33x      0,24x      0,16x
         Analisis Solvabilitas
             Debt To Assets                    0,28x        0,29x    0,28x      0,25x      0,28x
             Debt To Equity                    0,38x        0,41x    0,39x      0,33x      0,40x
         Analisis Profitabilitas
             Gross Profit Margin              43,52%       50,15%   42,46%    31,57%      23,12%
             Operating Profit Margin           4,99%        2,10%   -0,58%    -10,75%    -32,78%
           Net Income Margin                   1,79%        0,23%   -1,81%    -11,74%    -26,62%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


        Rasio Likuiditas

        Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
        mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
        keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio Lancar (current ratio)

             Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar. Rasio ini
             bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar perusahaan dapat
             menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
             maka semakin aman perusahaan. Rasio lancar perusahaan pada periode 30 Juni 2026
             adalah sebesar 1,59 kali.




Halaman 32                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 34
        2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

             rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
             pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat perusahaan pada 30 Juni 2026
             adalah sebesar 0,58 kali.

        3. Rasio Kas (cash ratio)

             Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
             perusahaan pada 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,16 kali.

        Rasio Profitabilitas

        Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
        laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio Laba Kotor atas Pendapatan (Gross Profit Margin)

             Rasio yang menggambarkan kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari
             kegiatan operasional utama setelah memperhitungkan harga pokok penjualan, sebagai
             indikator efisiensi biaya langsung. Rasio laba kotor atas pendapatan Perusahaan pada
             periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 23,12%.

        2. Rasio Laba Operasi atas Pendapatan (Operating Profit Margin)

             Rasio yang menunjukkan tingkat laba operasi yang dihasilkan dari penjualan setelah
             memperhitungkan seluruh biaya operasional, yang mencerminkan efisiensi kegiatan usaha
             inti Perusahaan. Rasio laba operasi atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni
             2026 adalah sebesar -32,78%.

        3. Rasio Laba Bersih atas Pendapatan (Net Profit Margin)

             Rasio yang mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari
             penjualan setelah memperhitungkan seluruh beban, termasuk beban non-operasional.
             Rasio laba bersih atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni 2026 adalah sebesar
             -26,62%.

        Rasio Solvabilitas

        Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
        perusahaan untuk melunasi utang-utangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
        kategori ini.

        1. Rasio total debt terhadap total aset

             Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset perusahaan.
             Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan perusahaan. Adapun tingkat
             rasio debt terhadap total aset perusahaan 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,28 kali.




Halaman 33                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 35
        2. Rasio total debt terhadap total ekuitas

             Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
             perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas.
             Berdasarkan tabel rasio keuangan perusahaan di atas dapat dilihat bahwa tingkat rasio
             debt terhadap total ekuitas perusahaan periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,40 kali.

2.6. Prospek Usaha


     Prospek usaha SOFA dalam kaitannya dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64210
     Aktivitas Perusahaan Induk terutama didukung oleh kebutuhan untuk memperkuat fungsi
     Perseroan sebagai entitas yang mengelola dan mengoordinasikan kepemilikan serta investasi
     dalam grup usaha. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk memberikan dasar kegiatan
     usaha bagi SOFA dalam menjalankan fungsi perusahaan induk, termasuk pengelolaan
     kepemilikan saham, pengawasan kinerja entitas anak dan/atau entitas investee, koordinasi
     strategi usaha, serta optimalisasi alokasi sumber daya dan investasi dalam grup.

     Sebagai perusahaan terbuka, SOFA memiliki peran yang semakin penting dalam mengelola
     portofolio investasi dan mengarahkan pengembangan usaha pada bidang-bidang yang memiliki
     prospek pertumbuhan. Melalui penambahan KBLI 64210, fungsi pengelolaan dan koordinasi
     pada tingkat Perseroan dapat dilakukan secara lebih terstruktur, termasuk dalam menetapkan
     arah strategis, melakukan pemantauan terhadap kinerja entitas dalam grup, serta mengevaluasi
     kebutuhan dan peluang investasi. Dengan demikian, kegiatan perusahaan induk dapat
     meningkatkan efektivitas pengelolaan portofolio dan mendukung sinergi antarentitas dalam grup.

     Rencana penambahan KBLI 64210 sejalan dengan pengembangan portofolio usaha SOFA yang
     tidak hanya mencakup kegiatan usaha yang telah berjalan, tetapi juga investasi dan
     pengembangan proyek pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk proyek
     pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). SOFA dapat menjalankan fungsi
     strategis dalam mengarahkan pengembangan investasi melalui entitas dalam grup, melakukan
     evaluasi atas kelayakan dan potensi investasi, serta memastikan bahwa pengembangan portofolio
     tersebut sejalan dengan strategi dan tujuan Perseroan.

     Kedepan, prospek kegiatan perusahaan induk berpotensi meningkat sejalan dengan
     pertumbuhan dan diversifikasi portofolio usaha grup. Penambahan KBLI 64210 dapat menjadi
     landasan SOFA dalam menjalankan fungsi pengelolaan investasi. Dengan demikian, tujuan
     utama penambahan KBLI 64210 dapat menciptakan sumber pendapatan baru, memperkuat
     peran SOFA sebagai perusahaan induk dalam mengelola investasi, mengoptimalkan portofolio
     usaha, dan mendukung pengembangan bisnis grup yang berkelanjutan.




Halaman 34                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 36
                                                BAB III
                                     ANALISIS KELAYAKAN PASAR

3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik

       Pertumbuhan Ekonomi Global

       Prospek ekonomi global telah berubah drastis karena konflik di Timur Tengah telah menimbulkan
       gangguan besar di pasar energi. Sebelum konflik pecah, aktivitas global tampak berada di posisi
       yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang solid di beberapa ekonomi utama dan perdagangan
       global yang lebih baik dari perkiraan, di tengah pertumbuhan yang kuat pada ekspor teknologi
       terkait kecerdasan buatan (AI) dan sedikit penurunan tingkat tarif. Namun, konflik ini telah
       menyebabkan penurunan yang signifikan dalam prospek global, dengan sekitar dua pertiga
       ekonomi di seluruh dunia menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah. Gangguan pada
       aliran energi dan pasokan komoditas lainnya dari wilayah Teluk telah menyebabkan kenaikan
       harga komoditas yang tajam. Secara keseluruhan, harga komoditas diperkirakan akan naik 22
       persen pada 2026, berbeda dengan penurunan 7 persen yang diperkirakan pada Januari. Ini
       mencerminkan asumsi dasar bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu parah
       hingga Juli.


                18,00
                16,00
                14,00
                12,00
                10,00
                 8,00
                 6,00
                 4,00
                 2,00
                 0,00
                         Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
                        2023 2023 2023 2023 2024 2024 2024 2024 2025 2025 2025 2025 2026

                               Singapura           Amerika Serikat    Tiongkok
                               Jepang              Korea Selatan

                                              Sumber: CEIC
                             Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara

       Mayoritas bank sentral global mempertahankan suku bunga acuannya pada triwulan I tahun
       2026. Kebijakan tersebut ditempuh di tengah inflasi yang mulai terkendali, namun ketidakpastian
       global masih tinggi akibat volatilitas harga energi, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di
       sejumlah negara. Oleh karena itu, sebagian besar otoritas moneter masih menerapkan kebijakan
       yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan momentum pertumbuhan
       ekonomi. Di sisi lain, beberapa negara mulai membuka ruang pelonggaran suku bunga secara
       bertahap untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik Pertumbuhan Ekonomi Domestik.

       Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada
       kisaran 3,50–3,75% sepanjang triwulan I 2026. Kebijakan ini sejalan dengan tren inflasi inti yang
       terus menurun serta kondisi pasar tenaga kerja yang semakin seimbang. Namun, The Fed tetap
       mencermati risiko tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan perkembangan
       perdagangan global. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyampaikan bahwa kebijakan




Halaman 35                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 37
     moneter akan tetap disesuaikan berdasarkan perkembangan data, dengan tetap mengutamakan
     stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

     Sejalan dengan kondisi tersebut, sejumlah negara OECD, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan
     kawasan Euro Area, juga mempertahankan suku bunga acuannya selama triwulan I 2026. Jepang
     mempertahankan tingkat suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen sekaligus
     mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan
     kebijakan moneternya guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan arus modal di tengah
     ketidakpastian perdagangan regional. Di kawasan Euro Area, suku bunga tetap ditahan karena
     tingkat inflasi masih berada di atas target, meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan
     kecenderungan melambat.

     Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara
                    Kelompok / Negara                   Jan             Feb            Mar
        OECD
        AS                                           3,50–3,75      3,50–3,75       3,50–3,75
        Jepang                                          0,75           0,75           0,75
        Korsel                                          2,50           2,50           2,50
        Euro Area                                       2,15           2,15           2,15
        BRICS
        Brasil                                         15,00          15,00           14,75
        Rusia                                          16,00          15,50           15,00
        India                                           5,25           5,25           5,25
        Tiongkok                                        3,00           3,00           3,00
        Afsel                                           6,75           6,75           6,75
        Indonesia                                       4,75           4,75           4,75
        ASEAN
        Myanmar                                         9,00           9,00           9,00
        Thailand                                        1,25           1,00           1,00
        Filipina                                        4,50           4,25           4,25
        Malaysia                                        2,75           2,75           2,75
       Vietnam                                          4,50           4,50           4,50
     Sumber: Trading Economics

     Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi
     Indonesia Triwulan II-2026, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 mencatat Produk
     Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun. Secara tahunan (year-
     on-year/yoy), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% dibandingkan triwulan II-2025. Dari sisi
     produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 6,68%, diikuti
     oleh Lapangan Usaha Lainnya sebesar 6,67% dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
     dan Sepeda Motor sebesar 6,39%. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi
     berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat sebesar
     15,97%, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,87%. Secara kuartalan


Halaman 36                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 38
     (quarter-on-quarter/qoq), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,73% dibandingkan triwulan
     I-2026. Dari aspek spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama perekonomian nasional
     dengan pangsa sebesar 56,47% terhadap PDB Indonesia serta mencatat pertumbuhan ekonomi
     sebesar 5,65% (yoy).


             5,8                                                                                                5,8

             5,6                                                                                    5,61        5,6

             5,4                                                                         5,39                    5,4
                                                                                                             5,29
             5,2                                                                                                 5,2
                       5,11                                              5,12
               5                5,05                    5,02                     5,04                           5
                                          4,95
                                                               4,87
             4,8                                                                                                4,8

             4,6                                                                                                4,6

             4,4                                                                                                4,4
                     Q1       Q2      Q3       Q4          Q1      Q2          Q3     Q4       Q1      Q2
                    2024     2024    2024     2024        2025    2025        2025   2025     2026    2026

                                    Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%)                   % Growth

                                 Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
                      Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy)

     Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), perekonomian Indonesia diperkirakan
     akan tetap tumbuh secara stabil dalam jangka menengah hingga panjang. Nilai Produk Domestik
     Bruto (GDP) diproyeksikan meningkat dari Rp13.928 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp18.825
     triliun pada tahun 2031. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap terjaga pada
     kisaran 5,0%–5,2% per tahun. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap ketahanan
     fundamental ekonomi Indonesia yang didukung oleh konsumsi domestik, investasi, serta aktivitas
     ekonomi yang terus berkembang.


         20000                                                                                        18825      5,25
                                                                                            17895
         18000                                                                  17010
                                                                      16169      5,2         5,2       5,2       5,2
                                                          15370           5,2
         16000                              14624
                               13928
         14000       13251                                                                                       5,15
         12000                  5,11                    5,1                                                      5,1
         10000
             8000                                                                                                5,05
                     5,03
             6000                                   5                                                            5
             4000
                                                                                                                 4,95
             2000
               0                                                                                                 4,9
                     2024      2025E        2026F         2027F       2028F     2029F       2030F     2031F

                                     GDP (Triliun Rupiah)              Pertumbuhan Ekonomi(%)

                       Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
                          Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %)



Halaman 37                                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 39
     Perkembangan inflasi

     Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), tingkat inflasi Indonesia menunjukkan
     tren yang semakin terkendali dalam jangka menengah hingga panjang. Setelah mencapai 4,2%
     pada tahun 2022 akibat tekanan inflasi global, laju inflasi menurun menjadi 3,7% pada tahun
     2023 dan 2,8% pada tahun 2024. IMF memperkirakan inflasi akan tetap berada pada kisaran
     2,5%–3,0% selama periode 2025–2031, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terus
     meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi. Proyeksi tersebut
     mencerminkan ekspektasi bahwa stabilitas harga di Indonesia akan tetap terjaga, sehingga dapat
     mendukung daya beli masyarakat serta menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.


      180                                                                                      160,67        4,5
      160
                          4,2                                          149,2     152,93 156,76               4,0
                                                     142,01 145,56
      140           127,76 132,463,7 134,12 137,88                                                           3,5
             122,61
      120                                                 3                                                  3,0
                                          2,8    2,8
      100                                                        2,5       2,5       2,5       2,5       2,5 2,5
       80                                                                                                    2,0
       60        1,6                                                                                         1,5
       40                                                                                                    1,0
       20                                                                                                    0,5
        0                                                                                                    0,0
             2021      2022     2023   2024   2025E   2026F   2027F    2028F     2029F     2030F     2031F

                        Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
                        Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)

     Perkembangan Uang Beredar di Indonesia

     Uang beredar Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan positif pada Juni 2026. Posisi M2
     tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 % (yoy), meskipun mengalami perlambatan
     dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8 % (yoy). Berdasarkan komponennya,
     pertumbuhan M2 didukung oleh peningkatan M1 dan uang kuasi. M1 yang memiliki pangsa 56,9
     % terhadap M2 mencapai Rp5.937,5 triliun dengan pertumbuhan 9,8 % (yoy), lebih rendah
     dibandingkan 15,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan M1 terutama dipengaruhi oleh
     pertumbuhan giro rupiah yang melambat menjadi 10,4 % (yoy) dari 23,9 % (yoy) pada Mei 2026.
     Selain itu, pertumbuhan uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang
     dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing mencapai 15,9 % dan 6,8 % (yoy), juga lebih rendah
     dibandingkan bulan sebelumnya.

     Di sisi lain, uang kuasi yang mencakup 42,3 % dari M2 meningkat 6,9 % (yoy) menjadi Rp4.409,3
     triliun pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 6,0 % (yoy) pada Mei 2026.
     Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang mencapai
     6,0 % (yoy), meningkat dari 3,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, perkembangan
     M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh peningkatan penyaluran kredit dan tagihan bersih
     kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1
     % (yoy), meningkat dibandingkan 10,8 % (yoy) pada Mei 2026. Adapun tagihan bersih kepada
     pemerintah pusat tumbuh 10,1 % (yoy), meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan sebesar
     37,4 % (yoy) pada Mei 2026.




Halaman 38                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 40
                                           Sumber: Bank Indonesia, 2026
                            Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar Rupiah Tahun 2026

       Suku Bunga

       Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk
       menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps
       menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Kenaikan ini
       sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap
       tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada
       tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

       Selain itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran instrumen kebijakan moneter guna
       memperkuat ketahanan sektor eksternal terhadap potensi eskalasi konflik, serta melakukan
       penyesuaian kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Suku
       bunga Perseroan pada Mei 2026 mengalami penurunan pada jenis pinjaman modal kerja dan
       Pinjaman Investasi yaitu dari 8,12% menjadi 7.85% serta 8,44% menjadi 8,07% dan pada jenis
       pinjaman konsumsi naik dari 8,97% menjadi 9,03% jika dibandingkan pada tahun 2025.

       Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)

                    Bank Persero             2020    2021     2022   2023    2024    2025     2026*

       Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan   8,77    8,34     8,29   8,93    8,67     8,12    7,85
       Pinjaman Investasi Yang Diberikan     8,87    8,49     8,72   9,41    9,21     8,44    8,07
       Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan      10,56   10,14    9,65   9,27    9,09     8,97    9,03
       *: Q1 2026 Mei
       Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah


3.2.   Kondisi Pasar

       Perkembangan Industri Furnitur

       Perkembangan industri furnitur menunjukkan tren yang secara umum positif sepanjang periode
       pengamatan, meskipun sempat mengalami tekanan pada pertengahan 2025. Setelah meningkat
       dari 10.429 pada triwulan II 2023 menjadi 11.040 pada triwulan III 2023, nilai industri tercatat
       sebesar 11.355 pada triwulan IV 2024 dan kembali menguat menjadi 11.954 pada triwulan I

Halaman 39                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 41
     2025. Namun, pada triwulan II 2025 terjadi penurunan cukup signifikan menjadi 10.606, atau
     turun sekitar 11,3% secara kuartalan. Pelemahan ini berlanjut secara terbatas pada triwulan III
     2025, ketika nilai industri hanya meningkat menjadi 10.729.

     Memasuki triwulan IV 2025, industri furnitur mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat
     dengan peningkatan menjadi 11.704, atau tumbuh sekitar 9,1% dibandingkan triwulan
     sebelumnya. Momentum tersebut berlanjut pada triwulan I 2026, ketika nilai industri mencapai
     12.658, meningkat sekitar 8,1% secara kuartalan dan menjadi level tertinggi selama periode
     pengamatan. Jika dibandingkan dengan triwulan II 2023, nilai tersebut telah meningkat sekitar
     21,4%, menunjukkan adanya penguatan industri dalam jangka menengah.

         13000
                                                                                                        12658
         12500

         12000                                             11954
                                                                                              11704
         11500
                                               11355
         11000                   11040
                                                                                    10729
         10500                                                             10606
                       10429
         10000

          9500

          9000
                  2023 Q2   2023 Q3      2024 Q4    2025 Q1      2025 Q2       2025 Q3   2025 Q4   2026 Q1

                                                       Industri Furnitur

                                      Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
                 Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026

     Realisasi investasi pada industri furnitur sepanjang semester I 2026 menunjukkan perkembangan
     yang cukup dinamis, dengan perubahan komposisi antara Penanaman Modal Dalam Negeri
     (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat
     sebesar Rp729,1 miliar dari PMDN dan Rp339,3 miliar dari PMA, sehingga total investasi
     mencapai sekitar Rp1,07 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi industri furnitur pada
     awal 2026 masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik, dengan kontribusi PMDN sekitar
     68% dari total investasi.

     Memasuki triwulan II 2026, realisasi PMDN mengalami penurunan menjadi Rp587,8 miliar, atau
     sekitar 19,4% secara kuartalan. Namun, penurunan tersebut diimbangi oleh peningkatan investasi
     asing yang cukup signifikan. Realisasi PMA meningkat menjadi Rp474,0 miliar, atau tumbuh
     sekitar 39,7% dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan demikian, total investasi pada triwulan
     II 2026 mencapai sekitar Rp1,06 triliun, relatif stabil dibandingkan triwulan I.

     Secara kumulatif, sepanjang semester I 2026 industri furnitur berhasil mencatatkan total realisasi
     investasi sekitar Rp2,13 triliun, yang terdiri dari Rp1,32 triliun PMDN dan Rp813,3 miliar PMA.
     Meskipun investasi domestik masih menjadi sumber utama pembiayaan, peningkatan PMA pada
     triwulan II menunjukkan adanya penguatan minat investor asing terhadap industri furnitur
     Indonesia. Pergeseran komposisi investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek industri,



Halaman 40                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 42
     terutama dalam mendukung peningkatan kapasitas                 produksi,     ekspansi    usaha,   serta
     pengembangan pasar furnitur yang berorientasi ekspor.


                                             Industri Furnitur
      800.000          729.106
      700.000
                                                                    587.836
      600.000
                                                                                             474.045
      500.000

      400.000                                339.271
      300.000

      200.000

      100.000

             -
                        PMDN                   PMA                  PMDN                      PMA
                                 2026 - Q1                                      2026 - Q2
                                       Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
                      Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026

     Kinerja ekspor produk kayu dan barang dari kayu Indonesia yang tercermin melalui HS 44
     menunjukkan pertumbuhan positif pada 2025. Nilai ekspor meningkat dari sekitar US$3,98 miliar
     pada 2024 menjadi US$4,06 miliar pada 2025, atau tumbuh 2,2%. Peningkatan tersebut
     menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk berbasis kayu Indonesia di pasar internasional
     masih relatif terjaga, meskipun jumlah negara tujuan ekspor mengalami penurunan dari 172
     negara menjadi 169 negara.

     Di sisi lain, jumlah pelabuhan muat aktif juga menurun dari 51 pelabuhan pada 2024 menjadi
     44 pelabuhan pada 2025, atau berkurang sekitar 13,7%. Menariknya, penurunan jumlah negara
     tujuan dan pelabuhan muat tersebut tidak diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Hal ini
     mengindikasikan bahwa peningkatan nilai ekspor lebih banyak ditopang oleh kenaikan nilai
     ekspor pada pasar yang masih aktif, dibandingkan dengan perluasan jumlah destinasi maupun
     jalur pengiriman.

     Bagi industri furnitur, kondisi tersebut memberikan sinyal yang relatif positif karena Indonesia tetap
     mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilai ekspor produk berbasis kayu di tengah
     penyempitan jaringan pasar dan pelabuhan ekspor. Namun, ketergantungan yang lebih besar
     terhadap pasar dan jalur distribusi tertentu juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan
     eksposur industri terhadap perubahan permintaan global, kebijakan perdagangan, serta biaya
     logistik. Oleh karena itu, penguatan diversifikasi pasar ekspor dan efisiensi rantai pasok menjadi
     penting untuk menjaga pertumbuhan ekspor furnitur Indonesia ke depan.




Halaman 41                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 43
     Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood)
                  Uraian                                2024                      2025                 Perubahan
             Total ekspor HS 44                 3,975,152,078               4,061,806,927              86,654,849
      Jumlah negara tujuan (nilai > 0)                   172                       169                     (3)
        Jumlah pelabuhan muat aktif                      51                         44                     (7)
     Sumber: Badan Pusat Statistik,2026

     Pangsa Pasar

     Berdasarkan hasil penyaringan perusahaan publik dengan klasifikasi industri utama Home
     Furnishings, pendapatan tahun buku terakhir pada kisaran Rp10–500 miliar, serta 10 perusahaan
     dengan peringkat teratas, total pendapatan kelompok emiten pembanding tercatat sebesar sekitar
     Rp1,35 triliun. Dalam kelompok tersebut, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) mencatat
     pendapatan LTM sebesar Rp45,1 miliar, dengan kontribusi sekitar 3,34% terhadap total
     pendapatan kelompok pembanding. Posisi SOFA berada pada peringkat ke-11 dan relatif
     berdekatan dengan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) yang memiliki kontribusi sebesar
     3,35%.

     Kelompok pembanding menunjukkan struktur pendapatan yang cukup tersebar. Silky Overseas
     Limited memiliki kontribusi terbesar sebesar 14,94%, diikuti oleh Spring Art Holdings Berhad
     sebesar 14,47% dan Pil Italica Lifestyle Limited sebesar 14,01%. Tiga perusahaan tersebut secara
     kumulatif menyumbang sekitar 43,4% dari total pendapatan kelompok, sedangkan SOFA memiliki
     kontribusi yang relatif kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan dengan pendapatan terbesar.
     Dari sisi posisi kompetitif, pendapatan SOFA sebesar Rp45,1 miliar menunjukkan bahwa skala
     pendapatannya masih berada di bawah sebagian besar emiten pembanding. Namun, nilai
     tersebut relatif berdekatan dengan SPRE dan masih lebih tinggi dibandingkan Fancy Wood
     Industries PCL yang memiliki kontribusi sebesar 3,41% dengan pendapatan Rp46,1 miliar. Hal ini
     menunjukkan bahwa SOFA berada dalam kelompok emiten dengan skala pendapatan yang
     relatif lebih kecil, sehingga terdapat ruang untuk meningkatkan skala usaha apabila perusahaan
     mampu memperluas kapasitas produksi, jaringan distribusi, maupun penetrasi pasar.


                        Silky Overseas Limited                       Spring Art Holdings Berhad
                        Pil Italica Lifestyle Limited                Hing Lee (HK) Holdings Limited
                        Thuan An Wood Processing JSC                 FACB Industries Incorporated Berhad
                        Maruti Interior Products Limited             Priti International Limited
                        Fancy Wood Industries PCL                    PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk
                        PT Solusi Environment Asia Tbk


                                                         3%3%        15%
                                                       4%
                                                      4%
                                                    7%
                                                                           15%
                                                  10%

                                                        12%             14%
                                                               13%

                                                        Sumber: S&P,2026
                               Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait


Halaman 42                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 44
     Sasaran

     Sasaran pasar utama Perseroan adalah pasar furnitur kelas menengah di dalam negeri, terutama
     pelanggan korporasi seperti perusahaan properti, hotel, dan bisnis lainnya yang membutuhkan
     pengadaan furnitur secara berkala dalam jumlah tertentu. Selain itu, Perseroan juga menyasar
     konsumen ritel kelas menengah di perkotaan yang terus berkembang seiring dengan
     pertumbuhan sektor properti dan hunian.

     Fokus pada pasar domestik dipilih karena Perseroan saat ini masih berada pada tahap
     pengembangan skala usaha yang berfokus pada penguatan pasar inti di dalam negeri. Dengan
     pendapatan sekitar Rp45,13 miliar, Perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan di industri
     furnitur yang memiliki tingkat persaingan cukup beragam di tingkat regional. Kondisi ini
     mendorong Perseroan untuk memprioritaskan penguatan posisi di pasar domestik terlebih dahulu,
     khususnya melalui produk furnitur yang memiliki nilai tambah dan diferensiasi, sehingga dapat
     membangun fondasi bisnis yang lebih solid.

     Definisi Perusahaan Induk/ Holding

     Perusahaan induk (holding company) adalah perusahaan yang didirikan untuk memiliki saham
     mayoritas atau saham pengendali biasanya ≥ 51% di satu atau lebih anak perusahaan
     (subsidiary). Perusahaan induk umumnya tidak memproduksi barang atau jasa secara langsung
     dan tidak terlibat dalam kegiatan operasional harian fokus utamanya adalah pemegang saham
     pengendali, mengawasi manajemen keuangan, serta menentukan arah kebijakan strategis grup
     usaha.

     Tujuan & Manfaat Pembentukan perusahaan induk antara lain untuk Pengendalian Terpusat atas
     pengambilan keputusan agar seluruh anak perusahaan bergerak sesuai visi dan misi yang sama;
     menyebarkan investasi ke berbagai bidang usaha, sehingga masalah keuangan di satu anak
     usaha tidak langsung berdampak besar pada keseluruhan grup; memisahkan fungsi
     kepemilikan/pengendalian strategis di tingkat induk dengan pelaksanaan operasional di tingkat
     anak perusahaan; Membantu meminimalkan beban pajak, mempermudah akuisisi/ekspansi,
     serta mempermudah akses ke pendanaan atau pinjaman modal.

     Pangsa Pasar Perusahaan Induk/ Holding

     Rencana SOFA untuk menjadi perusahaan induk yang menaungi PT Ananta Energi Asia (AEA)
     didukung oleh adanya kegiatan usaha AEA yang sudah berjalan di sektor Pengolahan Sampah
     menjadi Energi Listrik (PSEL). Karena rencana kegiatan usaha Perseroan merupakan kegiatan
     usaha sebagai induk perusahaan (holding company), Perseroan tidak melakukan penjualan
     produk atau jasa secara langsung sehingga pangsa pasar tidak diukur berdasarkan penjualan
     Perseroan. Oleh karena itu, posisi kegiatan perusahaan induk/holdingdalam pasar dapat dilihat
     dari cakupan portofolio investasi dan keterlibatan entitas anak pada sektor usaha yang
     dikembangkan.

     Saat ini, AEA telah memiliki keterlibatan investasi pada dua proyek PSEL Tahap 1, yaitu Denpasar
     Raya dan Bogor Raya. Kedua proyek tersebut memiliki total kapasitas sebesar 2.700 ton per hari
     dengan kepemilikan efektif AEA sebesar 10% pada masing-masing proyek. Rincian keterlibatan
     AEA disajikan pada tabel berikut.




Halaman 43                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 45
     Tabel 12. Kapasitas Proyek PSEL Tempat AEA Berpartisipasi
              Proyek            Perusahaan Operasional      Kapasitas (ton/hari)* Kepemilikan Efektif AEA
                               PT Weiming Nusantara Bali
          Denpasar Raya                                            1.200                   10%
                                      New Energy
                                 PT Weiming Nusantara
            Bogor Raya                                             1.500                   10%
                                   Bogor New Energy
     Sumber: Danantara Indonesia (dikutip GoodStats, 2026). *Sejumlah pemberitaan saat groundbreaking Juli
     2026 menyebut kapasitas Denpasar Raya 1.400–1.500 ton/hari; studi ini menggunakan angka resmi
     Danantara. Atribusi ekonomi menggunakan kapasitas × kepemilikan efektif sebagai proksi dan tidak
     mencerminkan hak ekonomi aktual yang diatur dalam perjanjian pemegang saham HoldCo dan OpCo.

     Keterlibatan AEA pada kedua proyek tersebut menunjukkan basis awal portofolio investasi yang
     dapat dikelola dan dikembangkan melalui rencana kegiatan usaha holding. Dengan struktur
     holding, Perseroan memiliki ruang untuk memperkuat pengelolaan kepemilikan AEA, mendukung
     pengembangan investasi yang telah berjalan, serta membuka peluang penambahan investasi
     pada proyek atau sektor usaha lainnya. Hasilnya, posisi AEA pada proyek PSEL menjadi salah satu
     dasar bagi Perseroan untuk memperluas cakupan investasi, melakukan diversifikasi portofolio,
     dan menciptakan ruang pertumbuhan nilai ekonomi grup.

     Kesinambungan Perusahaan Induk/ Holding

     Kesinambungan rencana kegiatan perusahaan induk/holdingdidukung oleh adanya investasi
     Perseroan melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya. Kedua proyek tersebut
     merupakan investasi jangka panjang yang dapat menjadi bagian dari portofolio usaha grup dan
     memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi holding dalam mengelola dan
     mengembangkan investasi melalui entitas anak.

     Selain itu, pengembangan proyek PSEL didukung oleh kebijakan pemerintah dan skema kerja
     sama jangka panjang, sehingga memberikan ruang bagi pengembangan investasi AEA secara
     berkelanjutan. Maka dari itu, penambahan kegiatan perusahaan induk/holdingtidak hanya terkait
     dengan investasi yang telah dimiliki saat ini, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk mengelola
     dan mengembangkan investasi grup ke depan.

     Potensi Pasar Perusahaan Induk/ Holding

     Potensi pasar rencana kegiatan perusahaan induk/holdingdidukung oleh kebijakan pemerintah
     dalam pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan (PSE) sebagaimana
     diatur dalam Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan
     melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
     Perpres tersebut menjadi landasan pengembangan PSE sebagai salah satu upaya penanganan
     sampah perkotaan sekaligus pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan.

     Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah menargetkan pengembangan PSEL di 33 lokasi
     yang melayani setidaknya 61 kabupaten/kota, dengan total kapasitas pengolahan sekitar 39.450
     ton per hari atau setara 14,4 juta ton per tahun. Perkembangan program tersebut memberikan
     ruang bagi pengembangan portofolio investasi pada sektor PSEL, termasuk melalui entitas anak
     Perseroan.

     Dalam konteks Perseroan, AEA telah memiliki keterlibatan investasi pada proyek PSEL Denpasar
     Raya dan Bogor Raya. Keterlibatan tersebut menjadi salah satu basis portofolio investasi yang


Halaman 44                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 46
       dapat dikelola dan dikembangkan melalui rencana kegiatan usaha holding, termasuk dengan
       mempertimbangkan peluang investasi pada proyek atau sektor usaha lainnya sesuai dengan arah
       pengembangan grup.

       Sasaran Perusahaan Induk/ Holding

       Sasaran pasar dari rencana kegiatan perusahaan induk/holdingadalah entitas anak dalam grup
       Perseroan, khususnya AEA sebagai entitas yang telah memiliki investasi pada proyek PSEL
       Denpasar Raya dan Bogor Raya. Melalui struktur holding, Perseroan dapat memperkuat fungsi
       kepemilikan dan pengendalian strategis terhadap AEA, termasuk dalam mengarahkan
       pengembangan investasi, mengelola hubungan kepemilikan dalam grup, serta mendukung
       pengambilan keputusan strategis terkait pengembangan usaha.

       Sasaran kegiatan perusahaan induk/holdingjuga mencakup pengembangan dan penambahan
       portofolio investasi melalui entitas anak. Dengan adanya struktur holding, Perseroan memiliki
       ruang untuk mengembangkan investasi yang telah dimiliki AEA sekaligus mempertimbangkan
       peluang investasi baru yang sesuai dengan arah pengembangan grup. Hal ini memungkinkan
       Perseroan untuk tidak bergantung pada satu proyek atau satu jenis investasi, tetapi membangun
       portofolio usaha yang dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan peluang yang
       tersedia.

       Maka dapat dilihat sasaran kegiatan perusahaan induk/holdingtidak terbatas pada proyek PSEL
       yang saat ini telah diikuti AEA, tetapi mencakup pengelolaan, pengembangan, dan perluasan
       investasi serta entitas anak dalam grup. Struktur tersebut diharapkan dapat memperkuat peran
       Perseroan sebagai induk dalam mengelola portofolio investasi dan menciptakan ruang bagi
       pertumbuhan nilai ekonomi grup sejalan dengan perkembangan usaha ke depan.

       Potensi Nilai Pasar Perusahaan Induk/ Holding

       Potensi nilai pasar dari penambahan kegiatan usaha sebagai holding company berasal dari
       kemampuan Perseroan untuk membangun dan mengembangkan portofolio investasi,
       memperluas peluang usaha melalui entitas anak, serta mengoptimalkan kepemilikan dan
       pengendalian dalam grup. Struktur holding memberikan ruang bagi Perseroan untuk
       mengembangkan investasi pada proyek atau sektor usaha yang memiliki prospek pertumbuhan,
       sekaligus mendukung diversifikasi portofolio dan pengembangan entitas anak.

       Berdasarkan penambahan kegiatan usaha sebagai holding company tersebut, berpotensi
       menciptakan ruang pertumbuhan nilai ekonomi grup seiring dengan bertambahnya investasi,
       berkembangnya entitas anak, dan terbukanya peluang pengembangan usaha baru. Dalam
       konteks AEA, keterlibatan pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya dapat menjadi
       bagian awal dari portofolio yang dikembangkan melalui struktur holding, yang selanjutnya dapat
       diperluas sejalan dengan perkembangan peluang investasi PSEL maupun sektor usaha lainnya.

3.3.   Persaingan Pasar

       Industri Furnitur

       Persaingan industri furnitur cukup ketat, terutama dari negara produsen besar seperti Tiongkok
       dan Vietnam yang memiliki skala ekspor jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Dengan ekspor
       furnitur Indonesia sebesar US$1,85 miliar pada 2025, persaingan berdasarkan volume dan harga

Halaman 45                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 47
       menjadi cukup berat. Karena itu, peluang Perseroan lebih realistis diarahkan pada kualitas,
       desain, dan produk dengan nilai tambah.

       Dibandingkan emiten pembanding regional, skala usaha Perseroan masih relatif kecil dengan
       pendapatan Rp45,13 miliar atau sekitar 3,34% dari total pendapatan kelompok pembanding.
       Namun, penurunan pendapatan juga dialami sebagian besar perusahaan pembanding, sehingga
       tekanan yang terjadi menunjukkan adanya tantangan di tingkat industri.

       Perusahaan Induk/ Holding

       Persaingan usaha dalam pengembangan PSEL mengacu pada prinsip persaingan usaha yang
       sehat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
       Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam konteks PSEL, mekanisme pemilihan badan
       usaha pelaksana juga telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2025, termasuk
       persyaratan terkait teknologi, kemampuan keuangan, kewajiban investasi, dan pengalaman
       dalam pengolahan sampah menjadi energi.

       Dari sisi industri, KPPU mencatat bahwa sektor pengadaan air dan pengolahan sampah/limbah
       masih menjadi salah satu sektor yang memerlukan perhatian dari sisi persaingan usaha. Kondisi
       tersebut menunjukkan bahwa pengembangan PSEL tetap perlu memperhatikan keterbukaan
       kesempatan berusaha dan mekanisme pemilihan badan usaha yang sesuai dengan ketentuan
       yang berlaku.

       Dalam konteks ini, posisi AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya menunjukkan
       bahwa Perseroan telah memiliki keterlibatan investasi pada sektor tersebut. Rencana kegiatan
       perusahaan induk/holding selanjutnya dapat mendukung pengelolaan dan pengembangan
       investasi melalui AEA, termasuk dengan mempertimbangkan peluang investasi pada proyek PSEL
       lainnya sesuai dengan ketentuan dan mekanisme pemilihan yang berlaku .

3.4.   Strategi Pemasaran

       Industri Furnitur

       Perseroan akan memprioritaskan pasar domestik, terutama pelanggan korporasi seperti properti,
       hotel, dan instansi yang membutuhkan furnitur secara berkala. Untuk pasar ritel, pemasaran dapat
       diperluas melalui kanal digital dan kerja sama dengan peritel furnitur.

       Pasar ekspor akan dikembangkan secara bertahap dengan fokus pada produk bernilai tambah
       dan volume yang terukur. Timur Tengah dan India dapat menjadi pasar alternatif seiring dengan
       upaya pemerintah memperluas tujuan ekspor furnitur Indonesia.

       Perusahaan Induk/ Holding

       Strategi pemasaran kegiatan holding company diarahkan untuk memperoleh akses terhadap
       peluang investasi, membangun hubungan dengan calon mitra, serta mengembangkan portofolio
       investasi melalui entitas anak. Strategi tersebut dilakukan melalui:

        1. Pengembangan jejaring bisnis
           Perseroan akan membangun dan memperluas jejaring dengan pengembang proyek,
           Independent Power Producer (IPP), penyedia teknologi, investor, mitra pendanaan, lembaga


Halaman 46                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 48
           keuangan, serta pihak lain yang relevan. Pengembangan jejaring dilakukan melalui
           konferensi, forum industri, kegiatan investasi, maupun pendekatan langsung kepada pemilik
           proyek dan calon mitra.
        2. Penjajakan peluang investasi
           Perseroan akan melakukan sourcing dan screening terhadap peluang investasi yang
           berpotensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari portofolio grup. Dalam pengembangan
           usaha saat ini, sektor yang menjadi perhatian antara lain pengolahan sampah menjadi
           energi listrik, energi surya, energi hidro, Battery Energy Storage System (BESS), serta teknologi
           hijau lainnya yang masih berkembang. Setiap peluang investasi akan dievaluasi berdasarkan
           kelayakan usaha, kebutuhan investasi, risiko, potensi pengembangan, dan kesesuaiannya
           dengan arah strategis Perseroan.
        3. Pengembangan mitra strategis
           Perseroan akan mengembangkan kerja sama dengan mitra yang telah ada maupun mitra
           baru, termasuk penyedia teknologi, perusahaan engineering, procurement and construction
           (EPC), operator proyek, investor, dan lembaga keuangan. Kerja sama dapat dilakukan dalam
           bentuk co-investment, joint venture, maupun akuisisi sesuai dengan karakteristik masing-
           masing peluang investasi. Jejaring mitra strategis tersebut diharapkan dapat membuka akses
           terhadap proyek dan peluang investasi baru yang dapat dikembangkan melalui entitas anak.
        4. Penguatan identitas dan reputasi Perseroan
           Perseroan akan memperkuat profil dan reputasi korporasi melalui penyediaan profil
           perusahaan, materi investasi, serta informasi mengenai pengalaman dan rekam jejak
           proyek. Perseroan juga dapat memanfaatkan situs web dan kanal informasi publik berbasis
           digital untuk meningkatkan visibilitas di antara calon mitra, investor, pemilik proyek, dan
           lembaga keuangan.

       Melalui strategi tersebut, kegiatan holding company diharapkan dapat memperkuat kemampuan
       Perseroan dalam mengidentifikasi peluang investasi, membangun jejaring, serta
       mengembangkan dan memperluas portofolio investasi melalui entitas anak.

3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar

       Pada penjabaran diatas, dapat disimpulkan bawa aspek pasar menunjukkan rencana kegiatan
       usaha Perseroan memiliki peluang untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan
       sektor terkait masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL
       secara nasional didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai
       wilayah. Perseroan juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar
       Raya dan Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangkan portofolio usaha
       pada perusahaan induk/ holding.

       Selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui
       pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta pengembangan
       jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebijakan pemerintah,
       perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha, aspek pasar rencana
       kegiatan perusahaan induk/holding dinilai memiliki ruang pengembangan yang cukup baik,
       dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang investasi dan kondisi pasar yang
       berlaku.




Halaman 47                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 49
                                              BAB IV
                                    ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS

4.1. Bisnis Perusahaan

     Perseroan saat ini menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur dari kayu (KBLI
     31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI 31004), dengan produk berupa meja, kursi, tempat
     tidur, lemari, rak, kabinet, serta produk furnitur lainnya untuk kebutuhan rumah tangga dan
     perkantoran. Kegiatan usaha tersebut telah menjadi operasional Perseroan dan didukung oleh
     fasilitas produksi, pengalaman di sektor manufaktur furnitur, serta jaringan pemasaran yang telah
     dikembangkan sejak Perseroan memulai kegiatan komersial. Seiring dengan perkembangan
     strategi usaha, Perseroan tidak hanya berupaya mempertahankan dan mengembangkan bisnis
     operasional yang telah berjalan, tetapi juga melakukan pengembangan portofolio melalui
     penyertaan modal pada entitas yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan energi,
     termasuk proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Pengembangan
     investasi tersebut dilakukan melalui entitas anak Perseroan sebagai bagian dari upaya diversifikasi
     usaha dan penciptaan sumber pertumbuhan jangka panjang.

     Di sisi lain, Perseroan juga mempertimbangkan penguatan struktur usaha melalui pengembangan
     fungsi induk guna mendukung ekspansi bisnis yang lebih fleksibel dan terintegrasi. Dengan
     strategi tersebut, Perseroan diharapkan mampu mengelola berbagai lini usaha secara lebih
     optimal serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Dalam
     kondisi tersebut, Perseroan memandang perlu untuk menambahkan KBLI 64210 Aktivitas
     Perusahaan Induk sebagai landasan kegiatan usaha dalam menjalankan fungsi perusahaan induk
     secara lebih terstruktur dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

     Penambahan KBLI 64210 ditujukan untuk memberikan dasar legalitas bagi Perseroan dalam
     melakukan pengelolaan kepemilikan saham dan penyertaan modal pada entitas anak dan/atau
     entitas investee, melaksanakan pengawasan terhadap kinerja entitas dalam grup,
     mengoordinasikan arah dan strategi pengembangan usaha, serta melakukan evaluasi atas
     portofolio investasi Perseroan. Dengan adanya kegiatan usaha perusahaan induk, fungsi
     pengelolaan investasi dan koordinasi strategis dapat dilakukan secara terpusat tanpa mengubah
     kegiatan operasional utama yang tetap dijalankan oleh masing-masing entitas sesuai bidang
     usahanya. Dengan demikian, penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk merupakan
     bagian dari penguatan struktur dan tata kelola usaha Perseroan.

4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Induk

     Dalam rangka mendukung rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk,
     Perseroan berencana untuk menjalankan fungsi sebagai perusahaan holding yang berperan
     dalam pengelolaan, pengendalian, serta pengawasan terhadap entitas anak. Pelaksanaan fungsi
     induk tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan organisasi,
     sumber daya, serta kompleksitas kegiatan usaha.

     Secara umum, peran Perseroan sebagai holding akan difokuskan pada aspek pengendalian
     strategis, termasuk penetapan arah kebijakan, pengawasan kinerja, serta pengelolaan investasi
     pada entitas anak. Dalam hal ini, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan
     operasional harian entitas konsorsium, melainkan bertindak sebagai pengendali (controlling




Halaman 48                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 50
     entity) yang memastikan bahwa seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan strategi dan tata
     kelola yang telah ditetapkan.

     Dalam pelaksanaannya, Perseroan direncanakan akan menetapkan struktur tata kelola
     (governance structure) yang mencakup pembagian peran dan tanggung jawab antara Perseroan
     selaku perusahaan induk, entitas anak, dan entitas konsorsium. Fungsi-fungsi strategis seperti
     perencanaan korporasi, pengendalian keuangan, manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap
     regulasi akan dikoordinasikan oleh Perseroan sebagai holding, sementara seluruh fungsi
     operasional sepenuhnya berada pada perusahaan operasional proyek.

     Proses Produksi dan/atau Operasional

     Dalam kegiatan usaha existing, SOFA menjalankan kegiatan produksi furnitur berbahan dasar
     kayu dan logam yang didukung oleh fasilitas dan proses produksi yang dimiliki Perseroan. Namun,
     pada rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk,
     Perseroan tidak melakukan kegiatan produksi atau menghasilkan produk secara langsung.
     Aktivitas tersebut akan berfokus pada fungsi pengelolaan investasi, pengendalian strategis,
     pengawasan, serta koordinasi terhadap entitas anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur
     investasi Perseroan.

     Alur dan Flow Chart

     Sehubungan dengan rencana penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk, Perseroan
     tidak memiliki alur proses produksi (production flow) khusus karena kegiatan tersebut tidak
     menghasilkan produk secara langsung. Alur kegiatan berupa proses pengelolaan dan
     pengendalian pada tingkat korporasi, yaitu pengambilan keputusan investasi, penetapan arah
     dan kebijakan strategis, pemantauan kinerja, pengendalian dan pengawasan entitas anak, serta
     pelaporan dan konsolidasi.

4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Perusahaan Induk

     Seiring dengan perkembangan portofolio usaha Perseroan, SOFA tidak hanya menjalankan
     kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur, tetapi juga mulai mengembangkan investasi
     pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk melalui penyertaan pada entitas yang
     terlibat dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Perkembangan
     tersebut menyebabkan struktur usaha Perseroan menjadi beragam dan meningkatkan kebutuhan
     akan pengelolaan kepemilikan serta investasi agar terstruktur pada tingkat Perseroan.

     Perseroan berencana memperkuat fungsi sebagai perusahaan induk melalui penambahan KBLI
     64210 Aktivitas Perusahaan Induk. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk memberikan
     dasar bagi SOFA dalam menjalankan fungsi sebagai pemilik dan pengelola kepemilikan pada
     entitas anak dan/atau entitas investee dalam grup, termasuk melakukan pengendalian atas
     kepemilikan, konsolidasi keuangan, serta pengawasan terhadap perkembangan investasi yang
     dimiliki Perseroan.

     Perseroan akan melakukan penambahan penyertaan pada entitas dalam konsorsium proyek WTE,
     yaitu PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG), yang
     dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan, yaitu PT Ananta Energi Asia (AEA). Rencana
     penyertaan tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan portofolio investasi Perseroan



Halaman 49                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 51
     pada sektor pengelolaan lingkungan dan energi serta dilakukan untuk mendukung
     pengembangan proyek yang memiliki prospek jangka panjang.

     Fungsi perusahaan induk diperlukan agar pengelolaan berbagai kepemilikan dan investasi
     Perseroan dapat dilakukan terarah dengan melakukan pemantauan atas struktur kepemilikan,
     perkembangan investasi, kinerja entitas anak dan/atau entitas investee, serta memastikan bahwa
     pengembangan portofolio investasi tetap sejalan dengan strategi dan tujuan Perseroan. Dengan
     demikian, rencana penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA ditujukan
     untuk memperkuat fungsi Perseroan sebagai perusahaan induk dalam mengelola kepemilikan
     dan investasi pada entitas dalam grup, termasuk mendukung pengembangan investasi pada
     proyek WTE atau investasi pada sektor usaha lainnya dimasa mendatang.

     Struktur Penyertaan

     SOFA berencana untuk melakukan penyetoran modal pada perusahaan-perusahaan dalam
     konsorsium melalui entitas anaknya, AEA, guna mendukung pendanaan konstruksi proyek
     pengolahan sampah menjadi energi. Dana untuk penyetoran modal akan berasal dari Right Issue.
     Kesiapan operasional AEA yang merupakan entitas anak Perseroan dengan kepemilikan
     Perseroan sebesar 99% dan PT Asia Investment Capital sebesar 1% yaitu sudah dipersiapkan
     dengan perannya yang dirancang sebagai entitas penyertaan (investment holding) yang menjadi
     kendaraan Perseroan untuk masuk ke dalam struktur konsorsium proyek pengolahan sampah
     menjadi energi. Dimana AEA berperan sebagai pemegang penyertaan pada perusahaan
     konsorsium WNA dan WNG, sehingga kesiapan operasional AEA tidak diukur dari kapasitas
     produksi maupun infrastruktur fisik, melainkan dari kelengkapan legalitas, struktur tata kelola,
     serta dukungan pendanaan dari Perseroan selaku pemegang saham pengendali.

     Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, AEA telah berkedudukan sebagai pemegang
     saham pada WNA dan WNG, masing-masing sebesar 10,00% atau setara dengan 100.000
     lembar saham senilai USD100.000 atau Rp1.680.000.000 pada masing-masing entitas,
     sebagaimana tercermin dalam susunan pemegang saham kedua perusahaan konsorsium
     tersebut. Dengan demikian, tambahan penyertaan merupakan langkah lanjutan untuk
     mendukung pendanaan konstruksi proyek, yang akan dilaksanakan seiring dengan kebutuhan
     pendanaan pada masing-masing perusahaan konsorsium. Berikut informasi mengenai para pihak
     yang menjadi pemegang saham dalam struktur penyertaan Perseroan:

      1. PT Weiming Nusantara Alpha

          PT Weiming Nusantara Alpha (“WNA”) merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan
          Akta Pendirian No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di
          Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
          Republik Indonesia Nomor AHU-0012748.AH.01.01.Tahun 2026 Tentang Pengesahan
          Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming Nusantara Alpha. Anggaran dasar
          perusahaan telah mengalami perubahan dengan perubahan terakhir berdasarkan Akta No.
          08 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat
          dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan
          Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-0338739 Tanggal 19 Juni
          2026 tentang perubahan peralihan saham.




Halaman 50                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 52
         Kegiatan usaha WNA berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
         dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
         tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
         perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
         sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
         tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
         Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
         (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

         Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 08 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
         pemegang saham WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

         Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNA
                                                                             Jumlah         Jumlah
                 Nama Pemegang Saham               Jumlah saham    % saham
                                                                              (USD)           (Rp)
             Zhejiang Weiming Environment
                                                        790.000     79,00%    790.000    13.272.000.000
             Protection Co., Ltd.,
             Lentera Merah Investment Pte.,
                                                        100.000     10,00%    100.000     1.680.000.000
             Ltd.,
             PT Perkasa Eka Cipta Investama              10.000      1,00%     10.000      168.000.000
             PT Ananta Energi Asia                      100.000     10,00%    100.000     1.680.000.000
          Total                                       1.000.000    100,00%   1.000.000   16.800.000.000
         Sumber: Informasi Manajemen


         Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 susunan
         Dewan Komisaris dan Direksi WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

         Komisaris
         Komisaris                            : Cheng, Peng

         Direksi:
         Direktur Utama                       : Xiang, Yihao
         Direktur                             : Xiang, Guangfeng
         Direktur                             : Lin, Jiqun

      2. PT Weiming Nusantara Gamma

         PT Weiming Nusantara Gamma (“WNG”) merupakan perusahaan yang didirikan
         berdasarkan Akta Pendirian No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn.,
         Notaris di Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
         Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0020345.AH.01.01.TAHUN 2026 Tanggal 10
         Maret 2026 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming
         Nusantara Gamma. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami perubahan dengan
         perubahan terakhir berdasarkan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH.,
         MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik
         Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
         AHU-AH.01.09-0322886 Tanggal 09 Juni 2026 tentang perubahan peralihan saham.
         Kegiatan usaha WNG berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
         dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
         tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari


Halaman 51                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 53
          perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
          sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
          tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
          Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
          (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

          Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
          pemegang saham WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

          Tabel 14. Susunan Pemegang Saham WNG
                                                                              Jumlah        Jumlah
                  Nama Pemegang Saham               Jumlah saham   % saham
                                                                               (USD)          (Rp)
             Weiming Environment Protection
                                                         790.000    79,00%    790.000    13.272.000.000
             (Hongkong) Limited
             Lentera Merah Investment Pte., Ltd.,        100.000    10,00%    100.000     1.680.000.000
             PT Perkasa Eka Cipta Investama               10.000     1,00%     10.000      168.000.000
             PT Ananta Energi Asia                       100.000    10,00%    100.000     1.680.000.000
           Total                                       1.000.000   100,00%   1.000.000   16.800.000.000
          Sumber: Informasi Manajemen


          Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 susunan Dewan
          Komisaris dan Direksi WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

          Komisaris
          Komisaris                          : Cheng, Peng

          Direksi:
          Direktur Utama                     : Xiang, Yihao
          Direktur                           : Xiang, Guangfeng
          Direktur                           : Lin, Jiqun

     Struktur Kepemilikan Entitas Anak

     Alur pendanaan dilaksanakan dari Perseroan kepada AEA sebagai entitas anak dengan
     kepemilikan 99%, selanjutnya diteruskan oleh AEA kepada WNA dan WNG dalam bentuk setoran
     modal dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, sementara 90% sisanya dimiliki
     oleh anggota konsorsium lain. WNA dan WNG selanjutnya menyalurkan modal tersebut kepada
     perusahaan operasional (operating company) proyek Denpasar Raya (atau Proyek Bali) dan proyek
     Bogor Raya (atau Proyek Bogor). Rincian struktur kepemilikan pada entitas konsorsium sebagai
     berikut:




Halaman 52                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 54
                                         Grafik 9. Struktur Kepemilikan




           Sumber: Informasi Manajemen

4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium

     WNA dan WNG merupakan entitas dalam struktur konsorsium yang menjadi tujuan penambahan
     setoran modal Perseroan melalui entitas anaknya, AEA. Kedua entitas tersebut berkedudukan
     sebagai pemegang saham mayoritas, masing-masing sebesar 70%, pada perusahaan
     operasional (operating company) Proyek Bali dan Proyek Bogor, sedangkan 30% sisanya dimiliki
     oleh PT Danantara Investment Management secara tidak langsung melalui anak usahanya, PT
     Daya Energi Bersih Nusantara. Perusahaan konsorsium beroperasi sebagai penerima setoran
     modal dari pemegang saham dan pemberi setoran modal kepada perusahaan project waste to
     energy. Dengan begitu, kepemilikan SOFA pada perusahaan proyek waste to energy merupakan
     kepemilikan tidak langsung lewat perusahaan konsorsium WNA dan WNG. Selanjutnya perolehan
     laba pada perusahaan proyek waste to energy diserap oleh perusahaan konsorsium lewat skema
     pembagian dividen, dan selanjutnya perolehan tersebut diserap SOFA lewat mekanisme
     pembagian dividen dari WNA dan WNG ke pendapatan dividen SOFA.

     Proyek yang dijalankan perusahaan proyek sendiri bergerak di bidang pengolahan sampah
     menjadi energi (waste to energy/WTE), yaitu solusi penanganan limbah yang efisien untuk
     mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang
     berkelanjutan. Dengan mengubah sampah kota menjadi energi yang dapat digunakan, fasilitas
     WTE membantu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, menurunkan emisi
     gas rumah kaca, meningkatkan sanitasi lingkungan, serta mendukung transisi menuju sumber
     energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

     Indonesia saat ini memasuki tahap mempercepat pengembangan pengolahan sampah menjadi
     energi. Didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, industri ini memperoleh
     manfaat dari kejelasan regulasi yang lebih kuat, koordinasi proyek yang terpusat dan dirancang
     untuk meningkatkan kelayakan proyek jangka panjang. Peraturan Presiden tersebut secara resmi
     mencabut dan menggantikan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Kepastian harga dan
     jangka waktu kontrak tersebut menghasilkan arus kas yang dapat diproyeksikan pada tingkat

Halaman 53                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 55
       perusahaan operasional, sehingga menjadi dasar pertimbangan utama dalam skema pendanaan
       yang direncanakan Perseroan.

       Kedua proyek yang dinaungi WNA dan WNG berada pada lokasi prioritas nasional, yaitu
       Denpasar Raya dan Bogor Raya, yang termasuk dalam lima lokasi yang ditargetkan memulai
       pembangunan pada tahap awal sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun
       2025. Proyek-proyek tersebut saat ini sedang menjalani persiapan teknis sebelum konstruksi.
       Proses bisnis pada perusahaan operasional disusun dengan mengacu pada model usaha
       pengolahan sampah berbasis teknologi termal dan pembangkitan tenaga listrik pada umumnya
       mencakup tahapan pengembangan proyek, penerimaan dan pengolahan sampah,
       pembangkitan serta penjualan tenaga listrik, hingga penanganan residu dan pemantauan
       lingkungan. Secara umum proses bisnis WTE sebagai berikut:

        1. Pengembangan Proyek
            • Studi Kelayakan
            • Karakterisasi Sampah
            • Kesiapan Lokasi & Lahan
            • Perizinan & Persetujuan Lingkungan
            • Penandatanganan PPA dengan PLN
            • Financial Close
        2. Pengadaan Teknologi & Konstruksi
            • Pemilihan Penyedia Teknologi
            • Penandatanganan Kontrak EPC
            • Rekayasa, Pengadaan & Konstruksi (EPC)
            • Penyelesaian Konstruksi (Mechanical Completion)
            • Uji Jaminan Kinerja (Performance Guarantee)
        3. Commissioning & Persiapan Operasi
            • Uji Commissioning
            • Uji Kinerja Pembangkit
            • Dimulainya Operasi Komersial (COD)
        4. Pembangkitan & Penjualan Listrik/Operasi Komersial
            • Penerimaan & Pengolahan Sampah
            • Produksi Tenaga Listrik dari Sampah
            • Penjualan Listrik kepada PLN
            • Pelaksanaan PPA selama 30 Tahun
            • Arus kas Proyek Mulai Berjalan
        5. Optimasi, Pemeliharaan & Kepatuhan Lingkungan
            • Pemeliharaan Rutin Pembangkit
            • Optimalisasi Kinerja Pembangkit
            • Pengelolaan Bottom Ash & Fly Ash
            • Pemantauan Emisi & Kepatuhan Lingkungan

4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis

       Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI
       64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat
       kegiatan tersebut dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang
       berfokus pada pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas
       anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi


Halaman 54                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 56
     sebagai perusahaan induk tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun
     penggunaan teknologi produksi tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh
     kesiapan struktur tata kelola (governance structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara
     Perseroan, entitas anak, dan entitas operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan
     kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan
     demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai
     perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian tetap dilaksanakan oleh entitas
     operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya.




Halaman 55                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 57
                                             BAB V
                                ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS

5.1   Kegiatan Utama Usaha

      Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
      maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan besar
      selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas profesional,
      ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta perlengkapan rumah
      tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana pensiun, guna mendukung
      pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Perseroan dalam menjalankan
      maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan usaha sebagai berikut:

      1. Kegiatan usaha utama SOFA:
          a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
             berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
             meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk
             sejenis lainnya; dan
          b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur untuk
             kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama logam,
             termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.

      2. Kegiatan usaha penunjang SOFA:
          a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
             khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet, serta
             produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan perlengkapan
             tidur seperti bantal dan guling;
          b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI 47599),
             yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan rumah tangga
             yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan lainnya;
          c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang meliputi
             kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya yang
             melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas nama
             pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain bahan
             baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu dan bahan
             bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang keperluan rumah
             tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda motor (KBLI 451–454);
          d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
             interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
             pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
             dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
             interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
             meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit, wallpaper,
             pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan interior lainnya;
          e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
             desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan desain
             produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material, konstruksi,
             keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta penggunaan, sesuai
             dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.

Halaman 56                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 58
           f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
              profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan lainnya;
           g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
              perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta perlengkapan
              rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan lepas (self-standing);
              dan
           h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset dan
              kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi dan
              perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.

5.2   Penambahan Kegiatan Usaha

      Manajemen SOFA memandang bahwa rencana pengembangan usaha, khususnya dalam bidang
      pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), perlu dijalankan melalui entitas
      tersendiri agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu memberikan
      kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Selain itu, pembentukan entitas anak
      diharapkan dapat mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam
      pengelolaan dan pengembangan bisnis.

      Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan
      penambahan kegiatan usaha dengan mengadopsi fungsi sebagai perusahaan induk. Langkah ini
      diperlukan agar Perseroan memiliki landasan hukum dan struktur usaha yang memadai dalam
      membentuk serta mengelola entitas anak, termasuk yang bergerak di bidang pengolahan sampah
      menjadi energi (WTE).

      Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
      penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
      berikut:

      Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha

      Nama KBLI        : Aktivitas Perusahaan Induk
      Kode KBLI        : 64210

      Kelompok ini mencakup kegiatan perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan
      yang memiliki dan mengendalikan aset dari satu atau lebih perusahaan subsidiari, dengan
      kegiatan utama berupa kepemilikan atas entitas tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara
      langsung menjalankan kegiatan operasional dari entitas anak, melainkan berperan dalam
      pengelolaan strategis, pengawasan kinerja, serta pengambilan keputusan investasi. Kegiatan
      holding juga dapat mencakup dukungan dalam perencanaan pengembangan usaha, termasuk
      kajian atas kerja sama strategis, merger, maupun akuisisi yang relevan dengan strategi
      pertumbuhan Perseroan.

5.3   Keunggulan Kompetitif

      Dalam rencana pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI 64210 sebagai
      perusahaan induk, SOFA memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari kemampuannya
      dalam mendukung dan mengintegrasikan kegiatan usaha dalam satu grup. Perseroan
      sebelumnya sebagai entitas operasional di sektor industri furnitur dari kayu dan logam, yang



Halaman 57                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 59
      potensi untuk menjadi pengelolaan yang mampu membangun sinergi antar lini usaha serta
      mengalokasikan modal ke sektor dengan prospek yang menguntungkan. Keunggulan kompetitif
      yang dimiliki SOFA terkait dengan aktivitas perusahaan induk terletak pada kualitas sumber daya
      manusia di level pengendali. Sebagai perusahaan holding yang tidak terlibat dalam kegiatan
      operasional entitas anaknya, nilai tambah berasal dari kemampuan Direksi dan Dewan Komisaris
      dalam pengelolaan investasi.

      Perseroan memiliki kemampuan dalam mendukung usaha dalam grup (group support), melalui
      status sebagai perusahaan terbuka yang memiliki akses terhadap sumber pendanaan pasar
      modal, pengalaman pengelolaan usaha, kapasitas tata kelola dan pelaporan sebagai emiten di
      Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2020. Manajemen dalam menjalankan usahanya memiliki track
      record sebagai perusahaan induk dengan kepemilikan saham langsung pada PT Parivarta Energi
      Nusantara, PT Pratama Satya Prima dan PT Pratama Satya Tunggal yang merupakan perusahaan
      bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture sehingga SOFA dapat dianggap
      perusahaan investasi yang berpengalaman.

      Dibandingkan dengan pelaku usaha lain yang menjalankan kegiatan usaha sejenis pada KBLI
      64210, keunikan pola bisnis SOFA terletak pada beberapa poin. Pertama, SOFA berasal dari
      entitas operasional aktif di sektor industri furnitur yang bertransformasi menjadi perusahaan
      induk, sehingga memiliki pemahaman langsung atas dinamika operasional dan rantai pasok
      industri, berbeda dengan sebagian besar perusahaan induk yang dibentuk sejak awal sebagai
      entitas induk murni tanpa rekam jejak operasional dan pengendaliannya bersifat administratif
      serta finansial. Kedua, struktur portofolio SOFA menggabungkan kepemilikan pada entitas anak
      yang terintegrasi dengan lini usaha asal sekaligus diversifikasi ke sektor lainnya, sementara
      kompetitor sejenis pada umumnya terkonsentrasi pada satu sektor usaha atau melakukan
      diversifikasi tanpa keterkaitan operasional antar entitas. Ketiga, status SOFA sebagai perusahaan
      terbuka memberikan akses terhadap sumber pendanaan pasar modal serta menempatkannya
      pada standar tata kelola, keterbukaan informasi, dan pelaporan yang diawasi Otoritas Jasa
      Keuangan. Kombinasi ketiga hal tersebut memungkinkan SOFA tidak hanya berperan sebagai
      pemegang saham pasif sebagaimana investment holding yang nilai tambahnya terbatas pada
      penerimaan dividen, melainkan sebagai entitas induk yang mampu memberikan dukungan
      strategis, pendanaan, dan tata kelola kepada entitas anaknya.

      Dengan demikian, SOFA dalam menjalankan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk memiliki
      keunggulan kompetitif dan akan terus mengembangkan keunggulan tersebut melalui peningkatan
      kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya
      merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu, aktivitas
      perusahaan induk akan didukung dengan melakukan investasi pada perusahaan di sektor lainnya
      dengan mempertimbangkan potensi pasar guna meningkatkan daya saing SOFA.

5.4   Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk

      Jumlah pesaing bisnis yang memiliki karakter bisnis yang sama dengan SOFA tergolong tinggi,
      yang dibuktikan dengan banyaknya perusahaan dengan aktivitas holding di Indonesia. Terdapat
      sejumlah perusahaan induk dan investasi yang memiliki model bisnis serupa dengan Perseroan.
      Kegiatan usaha yang dijalankan SOFA tidak menghasilkan produk atau jasa yang dipasarkan
      secara langsung kepada pelanggan, sehingga aspek kemampuan pesaing untuk meniru produk
      tidak menjadi faktor utama dalam menilai persaingan usaha. Perusahaan-perusahaan lain
      melakukan investasi pada sektor usaha yang sama atau menargetkan perusahaan yang memiliki



Halaman 58                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 60
      prospek pertumbuhan yang menjanjikan kedepan. Kemungkinan persaingan dengan bidang
      usaha perusahaan investasi atau perusahaan holding cukup besar di mana perusahaan lain dapat
      melakukan investasi pada perusahaan lain yang diperkirakan memiliki potensi pasar yang baik.

      Kegiatan usaha ini tidak menghasilkan produk sehingga pesaing yang memiliki dana investasi
      dapat melakukan penyertaan saham dan menjadi perusahaan induk. Hal tersebut membuat
      persaingan dalam aktivitas perusahaan induk yang berinvestasi pada entitas lain menjadi
      kompetitif. Upaya untuk tetap bertahan di tengah persaingan yang kompetitif dilakukan oleh
      SOFA dengan memitigasi risiko sebelum menentukan investasi yang akan dilakukan oleh SOFA.
      Dalam menghadapi persaingan tersebut, Perseroan berencana menerapkan strategi yang
      berfokus pada selektivitas investasi, penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi sinergi pada
      entitas anak, serta pengembangan jaringan bisnis untuk memperoleh akses terhadap peluang
      investasi yang potensial. Upaya yang telah dilakukan SOFA di antaranya dengan menjalin
      kemitraan strategis melalui entitas anaknya, yakni bergabung dalam suatu konsorsium yang
      dipimpin oleh Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta afiliasinya untuk
      pengembangan proyek di sektor lain yang diharapkan memberikan keuntungan jangka panjang
      bagi perusahaan. Selain itu perusahaan akan mengedepankan kompetensi sumber daya manusia
      agar mendorong terciptanya nilai tambah bagi perusahaan.

5.5   Kemampuan Menciptakan Nilai

      Pola bisnis berbasis holding memberikan ruang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah
      melalui beberapa aspek strategis sebagai berikut:

      1. Diversifikasi pendapatan
         Ditengah ketidakpastian pasar yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan yang
         bergantung pada permintaan produk furnitur, maka diversifikasi sumber pendapatan
         dengan melakukan investasi pada entitas anak di berbagai jenis industri, diharapkan dapat
         menciptakan stabilitas, dan daya saing dalam jangka panjang bagi. Penambahan lini usaha
         ini dapat meningkatkan ketahanan usaha terhadap fluktuasi sektor properti dan daya beli
         masyarakat.

      2. Fleksibilitas pengembangan usaha
         Struktur sebagai perusahaan induk membuat SOFA dapat melakukan ekspansi, baik melalui
         pembentukan entitas baru, penyertaan pada sektor lainnya. Dalam menjalankan aktivitas
         perusahaan induk, SOFA senantiasa berupaya untuk memberikan kontribusi bagi
         peningkatan dan penguatan daya saing entitas anak agar menciptakan nilai jangka panjang
         bagi perusahaan kedepan.

      3. Penguatan kinerja keuangan
         Dalam penambahan usaha aktivitas perusahaan induk holding dapat memberikan
         tambahan sumber pendapatan dan meningkatkan kinerja keuangan konsolidasi bagi SOFA.
         Dengan demikan, manfaat atas penambahan kegiatan usaha perusahaan induk mampu
         memberikan nilai tambah untuk SOFA.

      Dengan demikian, penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dapat menciptakan nilai
      terutama melalui penguatan pengelolaan investasi dan keuangan. Nilai tambah tercermin dari
      berkembangnya portofolio investasi dan meningkatnya kinerja entitas dalam grup. Selain itu,




Halaman 59                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 61
      ketiga hal tersebut memberikan kontribusi positif terhadap penciptaan nilai, baik bagi Perseroan
      maupun pemegang saham.

5.6   Analisis SWOT

      Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
      mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
      ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
      dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
      mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
      perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.

      Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
      kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
      Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
      internal serta dinamika eksternal yang dihadapi. Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana
      Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA:

      Strengths (Kekuatan)
       • Telah memiliki struktur grup dan entitas anak, di antarnya yaitu PT Parivarta Energi Nusantara
           (d/h PT Pratama Satya Prima) dan PT Pratama Satya Tunggal yang merupakan perusahaan
           bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture sehingga Perseroan telah memiliki
           dasar struktur kepemilikan yang dapat dikembangkan dalam menjalankan fungsi
           perusahaan induk.
       • Status sebagai perusahaan terbuka, dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia sejak
           tahun 2020, memberikan dukungan dari sisi tata kelola, pelaporan, keterbukaan informasi,
           dan akses terhadap sumber pendanaan yang diperlukan dalam pengembangan portofolio
           investasi.
       • Memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan usaha yang telah berjalan, khususnya
           industri furnitur dari kayu dan logam, sehingga Perseroan memiliki manajemen yang dapat
           menjadi dasar dalam pengembangan fungsi pengelolaan grup.
       • Memiliki arah pengembangan usaha yang mendukung diversifikasi pendapatan, termasuk
           sektor pengelolaan lingkungan dan energi untuk mengelola portofolio usaha yang lebih
           beragam dan tidak hanya bergantung pada satu bidang usaha.

      Weaknesses (Kelemahan)
      • Perbedaan karakteristik usaha antarentitas dalam grup dapat meningkatkan kompleksitas
         pengelolaan. Perseroan perlu memastikan adanya koordinasi yang memadai antara
         kegiatan usaha furnitur dengan investasi pada sektor lainnya.
      • Meningkatnya kompleksitas struktur grup seiring bertambahnya entitas yang dimiliki
         dan/atau dikendalikan membutuhkan penguatan sistem tata kelola, manajemen risiko,
         pelaporan, pengawasan investasi, serta koordinasi antarentitas.
      • Kinerja Perseroan sebagai perusahaan induk akan dipengaruhi oleh kinerja entitas anak dan
         entitas investee, sehingga keberhasilan pengelolaan portofolio tidak sepenuhnya berada
         dalam kendali langsung Perseroan.




Halaman 60                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 62
      Opportunities (Peluang)
      • Pengembangan fungsi perusahaan induk dapat meningkatkan portofolio investasi, karena
         keputusan terkait kepemilikan, pengembangan usaha, dan alokasi sumber daya dapat
         dikoordinasikan pada tingkat Perseroan.
      • Diversifikasi portofolio usaha melalui penyertaan pada sektor lain memberikan peluang bagi
         Perseroan untuk memperoleh sumber nilai dari bidang usaha di luar kegiatan industri
         furnitur.
      • Struktur perusahaan induk memberikan fleksibilitas dalam pengembangan investasi ke
         depan, baik melalui peningkatan penyertaan pada entitas yang telah ada, penambahan
         investasi pada entitas baru, maupun kerja sama strategis dengan mitra usaha.
      • Pengembangan proyek WTE yang dilakukan oleh entitas dalam grup dapat menjadi salah
         satu portofolio investasi yang dikelola oleh Perseroan. Dengan demikian, SOFA dapat
         berfokus pada aspek kepemilikan, pengawasan, dan pengembangan investasi, sementara
         kegiatan operasional tetap dilaksanakan oleh entitas yang bersangkutan.

      Threats (Ancaman)
       • Risiko penurunan kinerja entitas anak, entitas investee dapat berdampak terhadap nilai
          investasi dan kinerja konsolidasian Perseroan.
       • Perubahan regulasi pada sektor usaha entitas investee, khususnya sektor pengelolaan
          lingkungan dan energi, dapat memengaruhi prospek dan nilai investasi yang dikelola oleh
          Perseroan.
       • Peningkatan kompleksitas struktur grup dapat meningkatkan risiko koordinasi, pengawasan,
          dan pengendalian apabila tidak diikuti dengan sistem tata kelola dan pelaporan yang
          memadai.
       • Kondisi ekonomi dan pasar yang berubah dapat memengaruhi nilai investasi, kebutuhan
          modal, serta kemampuan entitas dalam grup dalam mencapai target kinerja yang telah
          ditetapkan.

      Kesimpulan Analisis SWOT

      Secara keseluruhan, SOFA memiliki beberapa kekuatan yang mendukung rencana penambahan
      KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk, antara lain telah memiliki struktur grup dan entitas anak,
      status sebagai perusahaan terbuka, serta pengalaman menjalankan kegiatan usaha yang telah
      berjalan. Meskipun terdapat kelemahan berupa meningkatnya kompleksitas struktur grup,
      perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, serta kebutuhan penguatan kompetensi dan
      tata kelola pada tingkat Perseroan. Namun demikian, kelemahan tersebut dapat diminimalkan
      melalui penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, pelaporan, serta koordinasi
      antarentitas. Dari sisi eksternal, pengembangan fungsi perusahaan induk memberikan peluang
      bagi SOFA untuk mengoptimalkan portofolio dan melakukan diversifikasi investasi. Sementara itu,
      ancaman utama berasal dari kinerja entitas investee, perubahan regulasi, serta kompleksitas
      pengelolaan grup. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan
      KBLI 64210 Aktivitas Persahaan Induk secara umum layak.

5.7   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis

      Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana
      penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini
      didukung oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai
      perusahaan terbuka, pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya



Halaman 61                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 63
     manusia dan tata kelola yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan
     pengendalian pada tingkat korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai
     perusahaan induk memberikan fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio
     investasi ke berbagai sektor, mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan
     kemitraan strategis, serta meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan
     konsolidasian. Meskipun terdapat kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas
     struktur grup, perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan
     kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan terhadap kinerja entitas investee dan perubahan
     regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui penguatan fungsi pengawasan,
     manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan selektivitas dalam
     menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, pola
     bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
     peningkatan nilai Perseroan ke depan.




Halaman 62                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 64
                                            BAB VI
                            ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN



6.1   Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen

      Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan SOFA dalam
      menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan usaha yang
      berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, adaptif,
      serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri. Oleh karena itu, Perseroan
      secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan kompetensi karyawan guna
      mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan kebutuhan operasional dan strategi
      bisnis.

      Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
      yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
      kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
      Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
      kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
      operasional.

      Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
      meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
      berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
      pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
      membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

      Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

      Komisaris
      Komisaris Utama (Independen)     : Drs. Djoko Hendratto
      Komisaris Independen             : Nuryana Hidayat
      Komisaris                        : Saswinadi Sasmojo
      Komisaris                        : Lusi Amanda

      Direksi:
      Direktur Utama                   : Denny Rizal
      Direktur                         : Ezra Mohammed Dhanaguna
      Direktur                         : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
      Direktur                         : Reza Muhammad Mandara

      Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
      disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
      secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
      pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
      kebijakan perusahaan secara efektif.




Halaman 63                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 65
      Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
      manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
      meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.

6.2   Ketersediaan Tenaga Kerja

      Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan
      Induk, SOFA pada tahap awal akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah dimiliki untuk
      menjalankan fungsi perusahaan induk, khususnya dalam pengelolaan investasi, pengendalian
      strategis, pemantauan kinerja, serta koordinasi dengan entitas anak dan/atau entitas investee.
      Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 1 (satu) karyawan tetap yang dapat mendukung
      pelaksanaan fungsi tersebut. Pengalaman Perseroan dalam mengelola entitas anak, antara lain
      PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT Pratama Satya Tunggal, juga
      menjadi salah satu dasar yang mendukung kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi
      sebagai perusahaan induk.

      Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi, Perseroan merencanakan penambahan 1
      (satu) orang karyawan yang akan mendukung fungsi manajemen portofolio, antara lain dalam
      analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio dan entitas investee, koordinasi
      dengan entitas anak, serta administrasi dan pelaporan terkait pengelolaan investasi. Penambahan
      tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan direalisasikan dengan mempertimbangkan
      perkembangan aktivitas serta kebutuhan pengelolaan portofolio Perseroan. Dengan demikian,
      sebelum penambahan tersebut direalisasikan, pelaksanaan kegiatan usaha berdasarkan KBLI
      64210 akan tetap dijalankan dengan mengoptimalkan tenaga kerja yang tersedia pada
      Perseroan. Secara keseluruhan, ketersediaan tenaga kerja dinilai memadai untuk mendukung
      tahap awal pelaksanaan fungsi perusahaan induk. Perseroan berupaya mengoptimalkan
      kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas, peningkatan
      kompetensi, serta pemanfaatan tenaga kerja secara efektif.

6.3   Manajemen Kekayaan Intelektual

      Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
      tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
      suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
      mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
      berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
      reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).

      Sehubungan dengan kegiatan usaha SOFA yang bergerak di bidang industri furnitur serta rencana
      pengembangan usaha melalui fungsi holding dan investasi pada entitas anak di bidang
      pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), aspek kekayaan intelektual yang
      relevan meliputi merek dagang dan desain industri atas produk furnitur, identitas korporasi
      Perseroan sebagai emiten, serta hak penggunaan teknologi.

6.4   Manajemen Risiko

      Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
      memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.




Halaman 64                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 66
      1. Risiko Manajemen Investasi

         Keputusan investasi yang kurang tepat, seperti penyertaan modal dengan asumsi kelayakan
         yang terlalu optimistis atau pada proyek yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
         pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini muncul ketika proses pengawasan pasca
         investasi lemah sehingga kinerja anak usaha tidak sesuai ekspektasi, yang pada akhirnya
         dapat menimbulkan penurunan nilai (impairment) atas penyertaan Perseroan. Untuk
         mengurangi risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis dan seleksi investasi
         dengan melibatkan konsultan independen, termasuk kajian teknis, hukum, dan keuangan
         sebelum keputusan investasi final. Selain itu, penyertaan modal dapat dilakukan secara
         bertahap, dengan pemantauan kinerja anak usaha secara periodik sehingga langkah dapat
         diambil jika terdapat ketidaksesuaian dengan target.

      2. Risiko Regulasi

         Perusahaan induk tidak hanya terikat pada aturan terkait kepemilikan, tetapi juga terdampak
         oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha anak perusahaan. Perubahan kebijakan pada
         masa mendatang merupakan kemungkinan yang dapat terjadi. Mitigasinya adalah dengan
         memperkuat fungsi kepatuhan di tingkat holding, membangun komunikasi aktif dengan
         regulator, berpartisipasi dalam asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan, serta
         menyiapkan rencana agar anak usaha dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan
         regulasi.

      3. Risiko Ketergantungan dan Konsentrasi Investasi

         Sebagai perusahaan induk, kinerja SOFA akan dipengaruhi oleh kinerja portofolio investasi
         dan entitas yang berada dalam struktur grup. Konsentrasi investasi pada sektor, wilayah, atau
         entitas tertentu dapat meningkatkan eksposur Perseroan terhadap risiko yang berasal dari
         karakteristik industri, kondisi pasar, maupun perubahan kebijakan pada sektor tersebut. Untuk
         memitigasi risiko tersebut, SOFA perlu menerapkan kebijakan diversifikasi portofolio investasi
         secara bertahap, menetapkan batas eksposur investasi pada sektor atau entitas tertentu, serta
         melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja, prospek, dan kontribusi masing-masing
         investasi terhadap kinerja grup.

      4. Risiko Keuangan

         Struktur permodalan holding sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
         ekuitas maupun utang. Risiko likuiditas timbul jika arus dividen dari anak usaha tidak stabil
         atau tertunda. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu menjaga struktur modal yang optimal
         dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat, melakukan diversifikasi sumber pendanaan,
         serta membatasi pemberian jaminan korporasi kepada entitas anak.

6.5   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen

      Manajemen SOFA pada dasarnya memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai dalam
      mengelola kegiatan usaha di bidang industri furnitur, yang menjadi fondasi operasional dalam
      pengembangan struktur induk ke depan. Pengalaman yang telah berjalan menunjukkan bahwa
      manajemen memiliki pemahaman yang baik terhadap pengelolaan produksi berskala industri,
      rantai pasok bahan baku, jaringan ritel, serta hubungan dengan pelanggan dan mitra usaha.



Halaman 65                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 67
     Kapasitas tersebut diperkuat oleh pengalaman Perseroan sebagai perusahaan terbuka sejak
     pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020, yang menuntut disiplin dalam
     pelaporan berkala, keterbukaan informasi, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

     Dalam pembentukan sebagai perusahaan dengan bidang usaha holding, kemampuan
     manajemen SOFA dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang terintegrasi
     antar entitas anak, serta optimalisasi sumber daya yang dimiliki grup. Dari sisi keuangan dan
     investasi, manajemen memiliki kapabilitas dalam menyeleksi peluang investasi, menstrukturkan
     pendanaan, serta mengelola eksposur risiko pada tingkat grup ditopang pengalaman jajaran
     Direksi dan Dewan Komisaris yang secara langsung relevan dengan fungsi holding. Komposisi
     kepengurusan Perseroan saat ini memiliki kedalaman pengalaman yang secara langsung
     menjawab kedua kebutuhan tersebut. Pengalam susunan direksi dan komisaris SOFA yang
     mendukung penambahan KBLI adalah sebagai berikut:

      a. Dewan Komisaris

             1. Djoko Hendratto (Komisaris Independen)

                 Profesional senior di bidang keuangan publik dan pasar modal dengan pengalaman
                 lebih dari 30 tahun. Pernah menjabat Direktur Utama Badan Pengelola Dana
                 Lingkungan Hidup (BPDLH) periode 2021–2023, mengelola pendanaan iklim dan
                 keberlanjutan termasuk hibah internasional dan pembiayaan karbon; Direktur Sistem
                 Manajemen Investasi (SMI) Kementerian Keuangan periode 2018–2021 selaku
                 pengelola dana pemerintah untuk program investasi publik; Kepala Kanwil Provinsi
                 Jawa Barat periode 2020–2021; Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU
                 (PKBLU) periode 2014–2018; Kepala Biro Investasi Bapepam-LK periode 2006–2012;
                 serta Kepala Bagian TI dan Infrastruktur Pasar Modal Bapepam periode 2001–2006.
                 Berpendidikan Doktor (PhD) Manajemen Strategik Universitas Indonesia dan MBA
                 University of Colorado Denver, serta pernah mewakili Indonesia pada forum keuangan
                 internasional (ADB, OECD, World Bank).

             2. Dr. Nuryana Hidayat, ME., ASPM., GRCE (Komisaris Independen)

                 Pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang skema pembiayaan syariah, structured
                 finance, penasihatan akuisisi, obligasi dan sukuk, perdagangan efek, serta manajemen
                 risiko. Beliau terakhir menjabat sebagai anggota Risk & Corporate Governance PT Biro
                 Klasifikasi Indonesia (Persero) dan hingga kini menjadi anggota Dewan Pengawas
                 Syariah pada beberapa manajer investasi; sebelumnya Komisaris Independen PT
                 Reliance Manajer Investasi (2020–2025), Advisor Islamic Financing & Structured Finance
                 PT Indokapital Investama (2016–2022), serta Direktur dan CEO PT Recapital Asset
                 Management (2008–2016). Memegang izin Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Ahli
                 Syariah Pasar Modal (ASPM) dari OJK, serta sertifikasi Governance, Risk, and
                 Compliance for Executives (GRCE) dan Manajemen Investasi dari BNSP.

             3. Prof. Ir. Saswinadi Sasmojo, M.Sc., Ph.D. (Komisaris)

                 Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung dan pakar sistem energi, anggota
                 kehormatan Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sejak
                 2002. Bidang keahlian meliputi analisis sistem energi, pengurangan emisi gas rumah



Halaman 66                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 68
                kaca, konversi energi biomassa, transisi energi nasional, serta pemodelan dan evaluasi
                kebijakan teknologi.

             4. Lusi Amanda (Komisaris)

                Pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang akuntansi, keuangan, administrasi umum,
                dan operasional pada industri keuangan, khususnya pasar modal dan dana pensiun.
                Saat ini menjabat Chief Financial Officer PT Asia Advisors Capital; sebelumnya Head of
                Finance, Accounting, Tax & Purchasing pada PT Maybank Asset Management (2015–
                2022) dan PT Trimegah Asset Management (2011–2015), serta berbagai posisi di PT
                Manulife Asset Management Indonesia (2001–2010). Telah mengikuti pelatihan PSAK
                71, 72, 73 oleh OJK.

      b. Direksi

          1. Denny Rizal (Direktur Utama)

                Pengalaman lebih dari 25 tahun pada industri manajemen aset, termasuk investasi
                bernilai miliaran dolar pada sektor sumber daya alam. Saat ini juga menjabat Direktur
                PT Asia Investment Capital; sebelumnya CEO Maybank Asset Management (2015–
                2019), Direktur Utama Trimegah AM (2010–2015), Direktur Utama Manulife AM
                Indonesia (2008–2009), Director UBS Singapore (2007–2008), dan Managing Director
                PT Mandiri Manajemen Investasi (2002–2007). Rekam jejak penghimpunan dana
                meliputi perolehan USD 45 juta untuk proyek gas, refinancing proyek jalan tol senilai
                Rp3,5 triliun, penghimpunan Rp750 miliar dan Rp1 triliun untuk perusahaan
                multifinance, serta pertumbuhan dana kelolaan dari Rp250 miliar menjadi Rp11 triliun
                dalam 4 tahun pada satu institusi dan dari bawah Rp50 miliar menjadi Rp24 triliun
                dalam kurang dari 5 tahun pada institusi lainnya. Selain itu, menyandang gelar Master
                of Business Administration dari University of Colorado Denver (USA).

          2. Ezra Dhanaguna (Direktur)

                Berpengalaman sebagai penasihat keuangan untuk pembiayaan proyek melalui
                instrumen utang publik maupun privat, dengan latar belakang investment banking di PT
                Mandiri Sekuritas (2022–2024) pada sektor energi, pertambangan, dan transportasi.
                Selain itu, telah lulus ujian CFA level 2 dan menamatkan pendidikan sarjana dual degree
                di Institut Teknologi Bandung dan Rennes School of Business (Prancis). Saat ini sedang
                menempuh pendidikan Master of Business Administration di INSEAD.

          3. Dimas Wiryaatmaja (Direktur)

                Profesional keuangan dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang akuntansi,
                manajemen keuangan, dan operasional di dalam Perseroan. Menjabat Direktur PT
                Solusi Environment Asia Tbk (sebelumnya PT Boston Furniture Industries Tbk) sejak 2019,
                dan sebelumnya sebagai Manajer (2016–2019) dan Staf (2013-2016) pada divisi
                Finance & Accounting di PT Pratama Prima Cipta. Berperan dalam menjaga disiplin dan
                pengendalian keuangan selama periode transisi struktural Perseroan serta memperkuat
                proses keuangan internal dan keandalan pelaporan. Selain itu, telah menamatkan
                pendidikan sarjana di bidang ilmu ekonomi dari Universitas Indonesia.



Halaman 67                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 69
           4. Reza M. Mandara Direktur)

               Pengalaman lebih dari 17 tahun di bidang tata kelola proyek, operasi project
               management office (PMO), pengawasan portofolio, dan pelaksanaan proyek lintas
               fungsi. Saat ini juga menjabat PMO Manager PT Asia Advisors Capital; sebelumnya
               Senior Program Specialist pada JICA PPP Expert Office – Kementerian Pekerjaan Umum
               (Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur) periode 2025–2026, Group PMO Head
               PT Erajaya Swasembada Tbk (2015–2021), dan Project Management Specialist PT Aneka
               Tambang (Persero) Tbk (2007–2015). Bersertifikat Project Management Professional
               (PMP) sejak 2010. Beliau menyandang gelar Sarjana Teknik dari Institut Teknologi
               Bandung dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di bidang Ilmu
               Manajemen Stratejik di Universitas Pancasila.

      Sesuai uraian KBLI 64210, perusahaan holding tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas
      anaknya, sehingga kebutuhan sumber daya manusia terfokus pada personil di level pengendali,
      bukan pada penambahan tenaga kerja operasional. Dengan demikian, penambahan kegiatan
      usaha sebagai holding tidak akan mengubah operasional Perseroan, melainkan memperkuat
      fungsi utamanya dalam pengelolaan investasi pada entitas anak.

6.6   Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen

      Struktur organisasi dan manajemen eksisting SOFA sehubungan adanya rencana penambahan
      kegiatan usaha sebagai aktifitas perusahaan holding sebagai berikut:

                   Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI




                                     Sumber: Informasi Manajemen SOFA


      SOFA berencana melakukan perubahan terhadap struktur manajemen untuk mendukung
      operasional penambahan kegiatan usaha baru pada aktivitas perusahaan induk. Berkaitan
      dengan rencana penambahan kegiatan usaha sebagai induk, Perseroan berencana melakukan
      penambahan terhadap struktur organisasi pada level Perseroan yaitu Divisi Manajemen Portofolio.
      Divisi tersebut akan mendukung kegiatan analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja


Halaman 68                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 70
      portofolio dan entitas investee, koordinasi dengan entitas anak, serta pengawasan terhadap
      perkembangan investasi Perseroan. Jumlah personil baru tidak akan mengurasi pengurangan
      pada tenaga kerja yang ada pada Perseroan saat ini. Perusahaan dapat mempertimbangkan
      penambahan dan pelebaran struktur organisasi dan manajemen ke depan mengikuti kebutuhan
      personalia akibat dari ekspansi bisnis grup usaha perseroan. Rencana struktur organisasi setelah
      penambahan KBLI aktivitas perusahaan induk dapat dilihat di bawah ini.

               Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI




                                      Sumber: Informasi Manajemen SOFA


6.7   Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja

      Rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk
      menimbulkan kebutuhan tenaga kerja yang disesuaikan dengan fungsi Perseroan sebagai
      perusahaan induk, khususnya dalam melaksanakan pengelolaan investasi, pengendalian
      strategis, pengawasan kinerja, serta koordinasi dengan entitas anak atau entitas investee. Sesuai
      dengan karakteristik kegiatan perusahaan induk, Perseroan tidak terlibat secara langsung dalam
      kegiatan operasional entitas anak atau entitas investee, sehingga kebutuhan tenaga kerja pada
      tingkat Perseroan lebih difokuskan pada fungsi pengendalian dan pengelolaan di tingkat
      korporasi, bukan pada kegiatan operasional masing-masing entitas.

      Pada tahap awal, SOFA akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah tersedia untuk
      menjalankan fungsi perusahaan induk. Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi,
      Perseroan merencanakan penambahan 1 (satu) orang karyawan yang akan mendukung fungsi
      Manajemen Portofolio, antara lain dalam analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja
      portofolio dan entitas investee, koordinasi dengan entitas anak, serta pemantauan perkembangan
      investasi Perseroan. Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan
      direalisasikan dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas dan kompleksitas
      pengelolaan portofolio Perseroan. Dengan demikian, sebelum penambahan tersebut
      direalisasikan, pelaksanaan KBLI 64210 akan tetap dijalankan dengan memanfaatkan tenaga


Halaman 69                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 71
      kerja yang tersedia, sedangkan penambahan 1 (satu) orang karyawan diharapkan dapat
      memperkuat kapasitas Perseroan dalam menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk seiring
      dengan perkembangan usaha dan portofolio investasi grup.

      Kualifikasi, Kompetensi, dan Kebutuhan Pelatihan Tenaga Kerja

      Kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan KBLI
      64210 disesuaikan dengan sifat kegiatan perusahaan induk yang bertumpu pada kemampuan
      analisis, pengelolaan portofolio, dan pengawasan korporasi. Tenaga kerja pada fungsi
      Manajemen Portofolio diharapkan memiliki latar belakang pendidikan minimal Sarjana (S1) di
      bidang Akuntansi, Keuangan, Manajemen, atau Ekonomi, dengan pengalaman pada bidang
      analisis keuangan, manajemen investasi, atau corporate finance, serta kompetensi teknis berupa
      kemampuan analisis laporan keuangan dan valuasi perusahaan, pemodelan keuangan,
      penilaian kelayakan investasi, pemantauan kinerja portofolio, pemahaman atas standar akuntansi
      keuangan dan konsolidasi laporan keuangan, serta pemahaman atas ketentuan Otoritas Jasa
      Keuangan yang berlaku bagi perusahaan terbuka. Pelaksanaan KBLI 64210 tidak mensyaratkan
      sertifikasi profesi khusus sebagaimana halnya kegiatan usaha di sektor jasa keuangan yang diatur
      secara spesifik, mengingat kegiatan perusahaan induk pada dasarnya merupakan kegiatan
      pengelolaan penyertaan dan pengendalian atas entitas anak yang tidak memerlukan izin usaha
      tersendiri dari otoritas sektor jasa keuangan. Namun, dalam rangka meningkatkan kapasitas dan
      efektivitas pelaksanaan fungsi perusahaan induk, Perseroan merencanakan program
      pengembangan kompetensi secara berkelanjutan berupa pelatihan analisis dan valuasi investasi,
      penyusunan dan konsolidasi laporan keuangan, manajemen risiko dan tata kelola perusahaan
      (good corporate governance), serta pembaruan pengetahuan atas ketentuan pasar modal dan
      perpajakan yang relevan, sehingga Perseroan dinilai memiliki kesiapan sumber daya manusia
      yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64210.

6.8   Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk
      menjalankan kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan
      kualifikasi yang memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi
      dan Dewan Komisaris dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan
      infrastruktur, regulasi pasar modal, dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI
      64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber
      daya manusia terfokus pada personil di level pengendali tanpa penambahan tenaga kerja
      operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan sumber daya manusia yang tersedia dan
      melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Manajemen Portofolio yang
      bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio, koordinasi
      dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan pembagian fungsi dan
      tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas investee, serta
      didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan strategis pada
      tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung
      pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien.




Halaman 70                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 72
                                               BAB VII
                               ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN



Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, di antaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis nilai tambah.

7.1   Kebutuhan Biaya Investasi


      Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi kebutuhan dana yang diperlukan Perseroan dalam
      rangka mendukung penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk. Sumber pendanaan
      atas kebutuhan tersebut berasal dari Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih
      Dahulu (right issue), dengan perolehan dana sebesar Rp238.220.181.818.

      Rencana penggunaan dana tersebut terdiri atas dua komponen sebagai berikut:

      1. Investasi ke konsorsium sebesar Rp131.021.100.000, yang akan disalurkan melalui entitas
         anak Perseroan, yaitu AEA, dalam bentuk penyertaan modal kepada WNA dan WGN selaku
         entitas dalam struktur konsorsium; dan
      2. Kebutuhan modal kerja internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818 yang diperuntukkan
         bagi pemenuhan kebutuhan operasional penunjang kegiatan usaha, pengembangan divisi
         baru terkait adanya penambahan KBLI baru, perolehan sumberdaya manusia baru terkait
         adanya penambahan KBLI baru, biaya-biaya terkait penyelesaian transaksi seperti biaya
         konsultan hukum, notaris, akuntan, dan profesi penunjang lainnya.

      Dengan demikian, seluruh perolehan dana right issue telah dialokasikan sepenuhnya untuk kedua
      komponen tersebut sebagaimana tabel dibawah ini:

      Tabel 15. Kebutuhan Biaya Investasi
                              Proceeds dari Right Issue                        Jumlah (Rp)
       Perolehan Dana Right Issue (Rp)                                           238.220.181.818


                              Kebutuhan Biaya Investasi                        Jumlah (Rp)
       Investasi ke Konsorsium (Rp)                                              131.021.100.000
       Kebutuhan Modal kerja (Rp) Internal SOFA                                  107.199.081.818
      Sumber: Informasi manajemen, diolah

7.2   Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi


      Biaya Investasi dalam rangka rencana investasi pada konsorsium dan kebutuhan modal kerja
      internal Perseroan adalah sebesar Rp238.220.181.818,- sepenuhnya akan bersumber dari
      Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue).




Halaman 71                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 73
                  Proceeds dari Right Issue                             Jumlah (Rp)
       Perolehan Dana Right Issue (Rp)                                              238.220.181.818
       Sumber Pendanaan                                                          Eksternal - Right Issue
      Sumber: Informasi manajemen, diolah

7.3   Proyeksi Keuangan Konsorsium

      Analisis pada aspek keuangan dilakukan dengan menelaah dampak prospek bisnis yang
      tercermin dari proyeksi keuangan entitas konsorsium yang menjadi tujuan penyertaan modal
      Perseroan melalui entitas anaknya, AEA.

      Dalam rangkaian studi kelayakan penambahan KBLI ini, proyeksi keuangan entitas konsorsium
      merupakan aspek yang bersifat menentukan. Mengingat manfaat ekonomis yang akan diterima
      Perseroan berbentuk aliran dividen dari entitas proyek, kelayakan rencana penambahan kegiatan
      usaha bergantung sepenuhnya pada kemampuan entitas konsorsium menghasilkan laba dan
      mendistribusikannya secara berkelanjutan.

      Proyeksi keuangan dan kinerja operasional Perseroan disusun berdasarkan kegiatan usaha inti
      Perseroan di bidang manufaktur furnitur, yang menjadi pendorong utama pendapatan usaha.
      Adapun pendapatan dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium tidak diperhitungkan
      sebagai bagian dari pendapatan usaha, melainkan dicatat pada pos pendapatan non-
      operasional.

      Merujuk pada catatan mengenai kelangsungan usaha dalam Laporan Keuangan Tengah
      Tahunan Auditan per 30 Juni 2026, manajemen berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki sumber
      daya yang memadai untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya di masa mendatang. Keyakinan
      tersebut didukung oleh sejumlah strategi pokok, yaitu: (i) perluasan jaringan pemasaran dan
      penjualan; (ii) peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak; (iii) peningkatan efektivitas dan
      efisiensi produksi; serta (iv) pembentukan dan peningkatan kinerja tim internal.

      Struktur Kepemilikan dan Aliran Manfaat Ekonomis

      Konsorsium memiliki penyertaan sebesar 70,00% pada masing-masing entitas proyek, yaitu
      Proyek Bogor dan proyek Bali. Adapun AEA selaku entitas anak Perseroan memiliki penyertaan
      sebesar 10,00% pada konsorsium tersebut. Dengan demikian, kepemilikan efektif AEA pada
      masing-masing entitas proyek adalah sebesar 7,00%.

      Aliran manfaat ekonomis kepada Perseroan terbentuk melalui rangkaian berikut: laba entitas
      proyek didistribusikan kepada seluruh pemegang saham, kemudian 70,00% di antaranya menjadi
      hak konsorsium, dan atas bagian tersebut AEA berhak menerima 10,00% dalam bentuk dividen
      setelah pemenuhan cadangan wajib.

      Tabel 16. Proyeksi Entitas Konsorsium
                                                                                   (dalam Jutaan rupiah)
             PT Solusi Environment Asia           2026 P      2035 P    2045 P        2055 P    2058 P

       Bogor

       Profit Distribution to All Shareholders           -    214.983   398.138     332.330     128.951



Halaman 72                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 74
             PT Solusi Environment Asia                 2026 P    2035 P       2045 P       2055 P       2058 P

      Consortium Ownership                       70%                       -            -            -            -
      Profit attributable to Consortium                      -    150.488      278.697      232.631       90.266
                                                                         -            -            -            -
      Dividend Payout Ratio                                0%     100,00%      100,00%      100,00%      100,00%
      Dividend Paid to Consortium                            -    150.488      278.697      232.631       90.266

      Consortium Total Paid-Up Capital
                                                34,33                      -            -            -            -
      (USD Mn)

      Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%                       -            -            -            -
      Reserve Amount (USD Mn)                    6,87                      -            -            -            -
      Appropriation of Statutory Surplus
                                                                           -            -            -            -
      Reserve                                                -
      Cumulative Statutory Surplus Reserve                   -    122.611      122.611      122.611      122.611



      Dividend Attributable after Surplus
      Reserve & Provision                                    -    150.488      278.697      232.631       90.266

      Dividend Attributable to Consortium
      Shareholders                                           -    150.488      278.697      232.631       90.266
      AEA Ownership in the Consortium            10%                    -            -            -            -
      Dividend Attributable to AEA                           -     15.049       27.870       23.263        9.027


      Denpasar

      Profit Distribution to All Shareholders                -    207.897      391.235      327.964      150.821
      Consortium Ownership                       70%                       -            -            -            -
      Profit attributable to Consortium                      -    145.528      273.864      229.575      105.575

      Dividend Payout Ratio                                0%       100%         100%         100%         100%
      Dividend Paid to Consortium                            -    145.528      273.864      229.575      105.575

      Consortium Total Paid-Up Capital
                                                                           -            -            -            -
      (USD Mn)                                  34,10

      Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%                       -            -            -            -
      Reserve Amount (USD Mn)                    6,82                      -            -            -            -
      Appropriation of Statutory Surplus
                                                                           -            -            -            -
      Reserve                                                -
      Cumulative Statutory Surplus Reserve                   -    121.777      121.777      121.777      121.777



      Dividend Attributable after Surplus
      Reserve & Provision                                    -    145.528      273.864      229.575      105.575

      Dividend Attributable to Consortium
      Shareholders                                           -    145.528      273.864      229.575      105.575
      AEA Ownership in the Consortium            10%                    -            -            -            -
      Dividend Attributable to AEA                           -     14.553       27.386       22.957       10.557




Halaman 73                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 75
             PT Solusi Environment Asia               2026 P      2035 P     2045 P    2055 P    2058 P

       AEA - SOFA

       Total Profit Distributions to SH
       (Before Allocation)                                   -    422.880    789.373   660.293   279.772
       Total Profit Distributions to
       Consortium                                            -    296.016    552.561   462.205   195.841


       Dividend Received from Bogor                          -     15.049     27.870    23.263     9.027
       Dividend Received from Denpasar                       -    14.553      27.386    22.957    10.557
       Total Dividend Received from WtE
       Project                                               -    29.602      55.256    46.221    19.584
      Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Berdasarkan analisis di atas, manfaat ekonomis dari kedua entitas proyek WtE, yaitu Proyek Bogor
      dan Proyek Bali (Denpasar), diterima oleh SOFA secara konsolidasi melalui AEA selaku entitas
      anak Perseroan. Proyeksi disusun untuk periode 2026–2058. Sejak laba mulai didistribusikan,
      seluruh laba masing-masing entitas proyek diproyeksikan dibagikan kepada pemegang saham
      dengan dividend payout ratio sebesar 100,00%, di mana 70,00% di antaranya menjadi bagian
      konsorsium. Atas bagian konsorsium tersebut terlebih dahulu dibentuk cadangan wajib (statutory
      surplus reserve) sebesar 20,00% dari modal disetor, yaitu sebesar USD6,87 juta atau setara
      Rp122.611 juta untuk Proyek Bogor dan USD6,82 juta atau setara Rp121.777 juta untuk Proyek
      Denpasar, pada awal periode distribusi. Sisanya didistribusikan kepada pemegang saham
      konsorsium, termasuk AEA dengan porsi 10,00%, sehingga porsi efektif AEA atas laba masing-
      masing proyek adalah sebesar 7,00%.

      Laba mulai didistribusikan kepada pemegang saham pada tahun 2030; namun demikian, karena
      keseluruhan bagian konsorsium pada tahun tersebut dialokasikan untuk pemenuhan cadangan
      wajib, AEA baru mulai menerima dividen pada tahun 2031, yaitu sebesar Rp20.307 juta. Aliran
      dividen kepada AEA meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan laba proyek, tercatat
      sebesar Rp29.602 juta pada tahun 2035, yang terdiri dari Rp15.049 juta dari Proyek Bogor dan
      Rp14.553 juta dari Proyek Denpasar. Setelah itu, dividen menurun secara gradual mengikuti profil
      laba proyek, tercatat sebesar Rp55.256 juta pada tahun 2045 dan Rp46.221 juta pada tahun
      2055, hingga menjadi Rp19.584 juta pada tahun 2058 sebagai tahun terakhir periode proyeksi,
      yang terdiri dari Rp9.027 juta dari Proyek Bogor dan Rp10.557 juta dari Proyek Denpasar.

7.4   Analisis Profitabilitas


      Analisis profitabilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam menghasilkan
      laba dari kegiatan usahanya. Rasio profitabilitas digunakan untuk memperlihatkan seberapa
      besar laba yang diperoleh dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan, sehingga dapat
      menggambarkan tingkat efisiensi dan kinerja Perseroan.

      Dalam analisis ini, rasio profitabilitas SOFA disajikan dalam dua kondisi, yaitu sebelum dan
      setelah pelaksanaan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, guna menilai dampak rencana
      tersebut terhadap kemampuan Perseroan menghasilkan laba. Rasio yang digunakan meliputi
      Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, dan Net Profit Margin. Analisis disajikan pada tabel
      berikut merupaka berikut ini:



Halaman 74                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 76
     Tabel 17. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      Sebelum Penambahan KBLI                          S2 2026     2035      2045      2055      2058
      Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
      Gross Profit Margin                              66,84%     49,13%    56,69%   62,31%    63,65%
      Operating Profit Margin                          35,91%      8,61%    14,45%   17,73%    18,20%
      Net Profit Margin                                 28,49%      6,96%   12,01%   15,39%    16,08%
     Sumber: Analisis KJPP, diolah
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Tabel 18. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                  Setelah penambahan KBLI               S2 2026     2035     2045    2055     2058
      Rasio Profitabilitas Setelah
      Rencana Transaksi
      Gross Profit Margin                                66,84%    73,21%   86,87%   89,63%   83,67%
      Operating Profit Margin                            35,89%    51,87%   74,06%   77,36%   63,26%
      Net Profit Margin                                   28,92% 51,00%     73,32%   76,72%   62,31%
     Sumber: Analisis KJPP, diolah
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Berdasarkan proyeksi rasio profitabilitas SOFA sebelum rencana penambahan kegiatan usaha,
     yaitu hanya berdasarkan kegiatan usaha inti Perseroan, marjin laba kotor (Gross Profit Margin)
     diproyeksikan relatif terjaga pada kisaran 42,22% hingga 66,84% sepanjang periode proyeksi.
     Namun demikian, marjin laba usaha (Operating Profit Margin) dan marjin laba bersih (Net Profit
     Margin) menipis pada tahun-tahun awal dan diproyeksikan negatif pada periode 2028–2031.
     Setelah itu, profitabilitas pulih secara bertahap, dengan Net Profit Margin sebesar 6,96% pada
     tahun 2035, 12,01% pada tahun 2045, dan 15,39% pada tahun 2055, sehingga Operating Profit
     Margin dan Net Profit Margin masing-masing mencapai 18,20% dan 16,08% pada akhir periode
     proyeksi (2058).

     Berdasarkan proyeksi rasio profitabilitas setelah rencana penambahan kegiatan usaha (KBLI
     64210 Aktivitas Perusahaan Induk), rasio pada kedua skenario relatif sama hingga tahun 2030
     karena manfaat dari penyertaan belum terealisasi. Mulai tahun 2031, seiring diterimanya
     pendapatan dividen dari penyertaan pada entitas konsorsium proyek WtE, seluruh rasio
     profitabilitas meningkat signifikan. Net Profit Margin naik dari 28,92% pada semester kedua
     2026, kemudian menjadi 51,00% pada tahun 2035, 73,32% pada tahun 2045, dan 76,72%
     pada tahun 2055, hingga mencapai puncaknya sekitar 77,25% pada tahun 2056, sebelum
     menurun menjadi 62,31% pada tahun 2058 mengikuti profil dividen dari entitas proyek.

     Peningkatan rasio profitabilitas pada skenario setelah transaksi terutama mencerminkan besarnya
     kontribusi pendapatan dividen dari entitas proyek, yang tidak disertai beban pokok pendapatan,
     sehingga seluruh marjin, termasuk Gross Profit Margin, meningkat secara signifikan dibandingkan
     skenario sebelum transaksi. Hal ini menunjukkan bahwa sumber utama peningkatan profitabilitas
     Perseroan berasal dari aliran dividen atas penyertaan, bukan dari pertumbuhan pendapatan
     usaha inti Perseroan saat ini.

     Perbandingan kedua tabel tersebut menunjukkan bahwa rencana penambahan kegiatan usaha
     memberikan dampak positif yang material terhadap profitabilitas Perseroan. Operating Profit
     Margin dan Net Profit Margin pada skenario setelah transaksi secara konsisten lebih tinggi
     dibandingkan skenario sebelum transaksi sejak tahun 2031, yang mengindikasikan bahwa SOFA


Halaman 75                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 77
      memiliki kemampuan menghasilkan laba yang lebih baik setelah penambahan KBLI 64210
      dibandingkan tanpa penambahan kegiatan usaha tersebut.

7.5   Analisis Kelayakan Keuangan

      Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
      investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
      Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Induk harus didasarkan pada analisis
      inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi keuangan tanpa Penambahan
      Kegiatan Usaha dan proyeksi keuangan dengan Penambahan Kegiatan Usaha Induk.

      Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
      Usaha Induk di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi keuangan. Suatu proyek
      yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC, dan PI lebih besar dari 1
      berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula sebaliknya.

7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)

      Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
      kas bersih dari modal, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini
      menggunakan formula Cost of Equity yang merupakan pentotalan rata-rata tertimbang atas biaya
      modal untuk ekuitas. Adapun formula dari WACC adalah sebagai berikut:

                                    WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)

      Dimana:
      WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
      Ke      : Biaya modal untuk ekuitas
      Kd      : Biaya modal untuk utang
      We      : Persentase pendanaan dari ekuitas
      Wd      : Persentase pendanaan dari utang
      t       : Pajak perusahaan

      Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)

      Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
      Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

                                                  Kd = i x (1-T)

      Dimana
      i      : Interest Rate (Suku Bunga)
      Tax    : Tax Rate (Tarif Pajak)

      Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)

      Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
      (CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:




Halaman 76                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 78
                                        Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α

      Dimana:
      Rf      : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
      ß       : Risiko sistematis
      Rm      : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
      Rp      : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
      CDS     : Country Default Spread
      α       : Risiko spesifik

      Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
      diskonto Cost of Equity (CoE) sebesar 11,98% dengan detail komponen yang digunakan dalam
      perhitungan adalah sebagai berikut:

      Tabel 19. Cost of Equity (CoE)
                  Komponen         Besaran                   Keterangan                          Source
                                                Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30     Indo Govt Bond
       SUN                              7,26%
                                                Juni 2026 - 30 Year                       Yield
       Default Spread                   1,81%   Default spread as of April 1, 2026        Damodaran
       Risk Free Rate                           Goverment Bond - Default Spread
       Equity Risk Premium              7,55%   Equity risk premium as of April 1, 2026   Damodaran
       Unlevered Beta                    0,57   Company relative to the market risk       Damodaran
                                                Estimated finance leverage or industry
       D/E Ratio                       66,22%                                             Damodaran
                                                level
       Specific Risk                    0,00%   Estimated Company Specific Risk


       Interest                         8,07%   Investment loans as of May, 2026          SEKI - BI
       Tax Rates                       22,00%   Corporate Tax Rate, Indonesia


                   Industry       D/E Ratio                Unlevered Beta
       Green & Renewable Energy        66,22%                                     0,571


7.5.2 Terminal Value

      Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
      waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
      concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
      perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
      tidak diaplikasikan mempertimbangkan proyeksi yang digunakan mengikuti masa berlaku
      perjanjian jual beli listrik tau PPA selama 30 tahun.

7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)

      Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
      Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Perusahaan Induk, diperoleh hasil
      perhitungan sebagai berikut:




Halaman 77                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 79
      Tabel 20. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
                                                                                          (dalam Jutaan Rupiah)

       PT Solusi Environment
       Asia                      Beg. Period    30/06/2026    01/01/2035   01/01/2045   01/01/2055   01/01/2058
       Feasibility Study         End. Period    30/06/2026    31/12/2035   31/12/2045   31/12/2055   31/12/2058
                                 Year               2026 P        2035 P       2045 P       2055 P       2058 P
       (in IDR)                  Days                    0           365          365          365          365


       Periode                                           0           9,5         19,5         29,5         32,5
       Investment:
         Investment to
       Consortium                                 (131.021)            -            -            0            0
                                                          -            -            -            0            0
       Cash Proceeds:                                     -            -            -            0            0

         Dividend Income                                  -       29.602       55.256       46.221       19.584
         Terminal Value of
       Dividend Income                                    -            -            -            0            0
       Total Net Cash Proceeds                    (131.021)       29.602       55.256       46.221       19.584
       Cummulative Proceeds                       (131.021)        4.119      457.640      961.189    1.070.171
       Terminal Growth                 2,51%
       Discount Factor                11,98%
       Capitalization Rate             9,47%

       Discount Factor                               1,000         0,341        0,110        0,035        0,025
       Present Value of
       Cashflow                                   (131.021)       10.095        6.076        1.639          494
       SUM of Present Value of
       Cashflow                                     42.663

       IRR                            14,27%
       NPV                            42.663

       PP                              10,86
                                 10 Tahun 10
       PP (Tahun)                      Bulan

       PI                                1,33
      Sumber: Analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
      • NPV                     : Rp 42.662.878.861 lebih besar dari 0
      • IRR                     : 14,27%               lebih besar dari WACC
      • Profitability Index     : 1,33                 lebih besar dari 1
      • Payback Period          : > 5 Tahun

      Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
      “Layak”.

7.6   Analisis Nilai Tambah

      Laporan Keuangan SOFA sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
      Induk disajikan sebagai berikut:




Halaman 78                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 80
     Tabel 21. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
                                                                          (dalam jutaan rupiah)
      Laporan Posisi Keuangan                  2026 P      2035 P   2045 P    2055 P    2058 P
      ASET
      ASET LANCAR
        Kas dan bank                            7.852     30.860    62.769    93.667   102.026
        Piutang usaha                             721        543      396       289       263
        Piutang lain-lain - pihak ketiga           10         10       10        10        10
        Persediaan                             20.353     16.799    10.060     6.023     5.164
        Uang muka                                 222        161       96        58        49
        Biaya dibayar dimuka                      338        244      146        87        75
        Pajak dibayar dimuka                       57         57       57        57        57
      Jumlah Aset Lancar                       29.553     48.674    73.534   100.192   107.645
      ASET TIDAK LANCAR
        Aset tetap - bersih                    19.916      6.514     6.514     6.514     6.514
        Aset tak berwujud                           -           -        -         -         -
        Aset hak guna usaha                       474           -        -         -         -
        Aset pajak tangguhan                      987        987      987       987       987
        Aset lain-lain                             49         49       49        49        49
      Jumlah Aset Tidak Lancar                 21.427      7.550     7.550     7.550     7.550
      JUMLAH ASET                              50.980     56.224    81.084   107.741   115.194


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      LIABILITAS
      LIABILITAS JANGKA PENDEK
        Utang usaha                                56         56       56        56        56
        Utang lain-lain                           157        114       68        41        35
        Biaya yang masih harus dibayar            891        644      386       231       198
        Utang pajak                               176        176      176       176       176
        Uang muka penjualan                     9.611      7.239     5.284     3.856     3.509
        Liabilitas sewa (jk pendek)               366        366      366       366       366
        Bank (jk pendek)                            -           -        -         -         -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          11.259      8.595     6.336     4.726     4.340
      LIABILITAS JANGKA PANJANG
        Liabilitas sewa (jk panjang)                -           -        -         -         -
        Bank (jk panjang)                           -           -        -         -         -
        Liabilitas imbalan kerja                    2          2        2         2         2
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang              2          2        2         2         2
      Jumlah Liabilitas                        11.260      8.597     6.338     4.728     4.342


      EKUITAS
        Modal saham                            16.536     16.536    16.536    16.536    16.536
        Agio saham                             32.845     32.845    32.845    32.845    32.845
        Agio waran                                322        322      322       322       322



Halaman 79                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 81
      Laporan Posisi Keuangan                        2026 P         2035 P         2045 P         2055 P          2058 P
        Pendapatan komprehensif lain                   (442)          (440)          (440)         (440)           (440)
        Defisit / Laba ditahan (Defisit)             (9.647)        (1.743)        25.377         53.644         61.483
      Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
      pengendali                                     39.613         47.520         74.640        102.907        110.746
        Kepentingan non-pengendali                      107            107            107            107            107
      Jumlah Ekuitas                                 39.720         47.626         74.746        103.013        110.853
      JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                    50.980     56.224           81.084        107.741        115.194
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA sebelum rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
     Induk disajikan sebagai berikut:

     Tabel 22. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
     Induk
                                                                      (dalam jutaan rupiah)
                                                         S2
      Laporan Laba Rugi                                             2035 P         2045 P         2055 P          2058 P
                                                     2026 P
      Penjualan                                      22.347         32.939         24.041         17.547         15.965
      Beban pokok penjualan                          (7.411)       (16.757)       (10.413)        (6.612)        (5.804)
      Laba (Rugi) Kotor                              14.937         16.182         13.628         10.934         10.161
      Beban usaha (umum dan administrasi)            (6.911)       (13.345)       (10.153)        (7.824)        (7.256)
      Pendapatan (beban) lain-lain                           -              -              -              -               -
      Laba (Rugi) Usaha                                8.026         2.838          3.475          3.110           2.905
      Pendapatan keuangan                                   10            104         228               352         386
      Beban keuangan                                         -            (0)            (0)            (0)             (0)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan            8.035         2.941          3.703          3.462           3.291
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                      -              -              -              -               -
        Pajak kini                                     (160)          (647)          (815)         (762)           (724)
        Pajak tangguhan                              (1.510)                -              -              -               -
      Jumlah                                         (1.669)          (647)          (815)         (762)           (724)
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                        6.366      2.294            2.888          2.701           2.567
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Selanjutnya proyeksi keuangan SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
     Induk sebagai berikut:

     Tabel 23. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
                                                                            (dalam jutaan rupiah)
               Laporan Posisi Keuangan            2026 P         2035 P     2045 P             2055 P          2058 P
      ASET
      ASET LANCAR
        Kas dan bank                             115.148     273.296        758.726       1.293.174           1.410.514
        Piutang usaha                                 721           543           396              289             263
        Piutang lain-lain - pihak ketiga               10            10            10               10              10
        Persediaan                                20.353         16.799         10.060           6.023           5.164


Halaman 80                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 82
              Laporan Posisi Keuangan            2026 P     2035 P    2045 P     2055 P        2058 P

        Uang muka                                    222       161        96          58            49
        Biaya dibayar dimuka                         338       244       146          87            75
        Pajak dibayar dimuka                          57        57        57          57            57
      Jumlah Aset Lancar                         136.849    291.110   769.492   1.299.698     1.416.133
      ASET TIDAK LANCAR
        Aset tetap - bersih                       19.916      6.514     6.514      6.514         6.514
        Aset tak berwujud                               -         -         -             -             -
        Aset hak guna usaha                          474          -         -             -             -
        Penyertaan pada konsorsium               131.021    131.021   131.021    131.021       131.021
        Aset pajak tangguhan                         987       987       987         987           987
        Aset lain-lain                                49        49        49          49            49
      Jumlah Aset Tidak Lancar                   152.448    138.571   138.571    138.571       138.571
      JUMLAH ASET                                289.297    429.681   908.063   1.438.269     1.554.704


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      LIABILITAS
      LIABILITAS JANGKA PENDEK
        Utang usaha                                   56        56        56          56            56
        Utang lain-lain                              157       114        68          41            35
        Biaya yang masih harus dibayar               891       644       386         231           198
        Utang pajak                                  176       176       176         176           176
        Uang muka penjualan                        9.611      7.239     5.284      3.856         3.509
        Liabilitas sewa (jk pendek)                  366       366       366         366           366
        Bank (jk pendek)                                -         -         -             -             -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             11.259      8.595     6.336      4.726         4.340
      LIABILITAS JANGKA PANJANG                         -         -         -             -             -
        Liabilitas sewa (jk panjang)                    -         -         -             -             -
        Bank (jk panjang)                               -         -         -             -             -
        Liabilitas imbalan kerja                       2         2         2              2             2
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                 2         2         2              2             2
      Jumlah Liabilitas                           11.260      8.597     6.338      4.728         4.342


      EKUITAS
        Modal saham                              254.756    254.756   254.756    254.756       254.756
        Agio saham                                32.845     32.845    32.845     32.845        32.845
        Agio waran                                   322       322       322         322           322
        Pendapatan komprehensif lain               (442)      (440)     (440)       (440)         (440)
        Defisit / Laba ditahan (Defisit)          (9.550)   133.494   614.136   1.145.951     1.262.773
      Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
      pengendali                                 277.930    420.977   901.618   1.433.434     1.550.255
        Kepentingan non-pengendali                   107       107       107         107           107



Halaman 81                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 83
               Laporan Posisi Keuangan             2026 P       2035 P        2045 P         2055 P          2058 P

      Jumlah Ekuitas                              278.037       421.084       901.725       1.433.541       1.550.362
      JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS               289.297       429.681       908.063       1.438.269       1.554.704
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
     Induk disajikan sebagai berikut:

     Tabel 24. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan
     Induk
                                                                       (dalam jutaan rupiah)
      Laporan Laba Rugi                           S2 2026 P       2035 P        2045 P         2055 P          2058 P

      Penjualan                                      22.347      32.939        24.041          17.547          15.965
      Dividend Income                                       -    29.602        55.256          46.221          19.584
      Beban pokok penjualan                          (7.411)    (16.757)      (10.413)         (6.612)         (5.804)
      Laba (Rugi) Kotor                              14.937      45.784        68.884          57.155          29.745
      Beban usaha (umum dan administrasi)            (6.911)    (13.345)      (10.153)         (7.824)         (7.256)
      Pendapatan (beban) lain-lain                       (5)              -             -               -               -
      Laba (Rugi) Usaha                               8.021      32.439        58.731          49.331          22.489
      Beban Bunga                                           -             -             -               -               -
      Pendapatan keuangan                                10         104           228             352             386
      Beban keuangan                                    101          (0)           (0)                (0)             (0)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan           8.132      32.543        58.959          49.683          22.875
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                     -             -             -               -               -
          Pajak kini                                   (160)       (647)         (815)           (762)           (724)
          Pajak tangguhan                            (1.510)              -             -               -               -
      Jumlah                                         (1.669)       (647)         (815)           (762)           (724)
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                      6.463      31.896        58.144          48.921          22.151
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Analisis inkremental dilakukan untuk mengukur tambahan manfaat ekonomis yang timbul dari
     rencana penambahan kegiatan usaha, dengan cara membandingkan proyeksi kinerja keuangan
     Perseroan dalam kondisi tanpa rencana terhadap kondisi setelah rencana dilaksanakan. Selisih
     di antara keduanya merupakan dampak bersih yang dapat diatribusikan kepada rencana
     dimaksud. Proyeksi disusun atas skenario sebagai berikut:

      •    Skenario Sebelum, yaitu kondisi Perseroan tanpa pelaksanaan rencana penambahan
           kegiatan usaha; dan
      •    Skenario Setelah Right Issue, yaitu kondisi setelah pelaksanaan rencana dengan sumber
           pendanaan berasal dari Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
           (right issue).




Halaman 82                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 84
      Tabel 25. Analisis Inkremental
                                                                                       (dalam jutaan rupiah)
                     Keterangan                  S2 2026 P       2035 P      2045 P     2055 P     2058 P
       Before
       Penjualan                                      22.347      32.939     24.041      17.547     15.965
       Laba (Rugi) Kotor                              14.937      16.182     13.628      10.934     10.161
       Laba (Rugi) Usaha                               8.026       2.838       3.475      3.110      2.905
       Laba Sebelum Pajak                              8.035       2.941       3.703      3.462      3.291
       EBIT                                            8.035       2.941       3.703      3.462      3.291
       EBITDA                                         10.094       2.941       3.703      3.462      3.291
       After RI
       Penjualan                                      22.347      62.541     79.297      63.767     35.549
       Laba (Rugi) Kotor                              14.937      45.784     68.884      57.155     29.745
       Laba (Rugi) Usaha                               8.021      32.439     58.731      49.331     22.489
       Laba Sebelum Pajak                              8.132      32.543     58.959      49.683     22.875
       EBIT                                            8.132      32.543     58.959      49.683     22.875
       EBITDA                                         13.221      34.988     61.405      52.129     25.320
       Before - After RI
       Penjualan                                             -    29.602     55.256      46.221     19.584
       Laba (Rugi) Kotor                                     -    29.602     55.256      46.221     19.584
       Laba (Rugi) Usaha                                  (5)     29.602     55.256      46.221     19.584
       Laba Sebelum Pajak                                 97      29.602     55.256      46.221     19.584
       EBIT                                               97      29.602     55.256      46.221     19.584
       EBITDA                                          3.127      32.047     57.702      48.666     22.030
      Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Analisis kelayakan keuangan dilakukan atas dasar inkremental, yaitu selisih proyeksi keuangan
      pada skenario dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha (After RI) terhadap skenario tanpa
      penambahan (Before). Tabel di atas menyajikan dampak inkremental tersebut pada tahun-tahun
      representatif. Pada tahun 2026, dampak inkremental masih minimal karena manfaat dari
      penyertaan belum terealisasi, dengan laba usaha inkremental tercatat sebesar negatif Rp5 juta,
      sedangkan laba sebelum pajak dan EBITDA inkremental masing-masing sebesar Rp97 juta dan
      Rp3.127 juta. Pada tahun 2035 dengan laba sebelum pajak inkremental sebesar Rp29.602 juta.
      Laba sebelum pajak inkremental meningkat menjadi Rp55.256 juta pada tahun 2045, kemudian
      menurun menjadi Rp46.221 juta pada tahun 2055 dan Rp19.584 juta pada tahun 2058. Pada
      pos EBITDA, tambahan inkremental tercatat sebesar Rp32.047 juta pada tahun 2035 dan
      Rp57.702 juta pada tahun 2045, yang merupakan nilai tertinggi di antara tahun-tahun
      representatif yang disajikan.

      Secara keseluruhan, dampak inkremental dari Rencana Penambahan Kegiatan Usaha terhadap
      kinerja keuangan Perseroan bernilai positif sepanjang periode proyeksi. Dampak inkremental
      tersebut terutama bersumber dari aliran pendapatan dividen atas penyertaan pada entitas
      konsorsium proyek WtE.

7.7   Analisis Sensitivitas

      Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengaplikasikan sensitivitas perubahan pada pos
      keuangan tertentu yang dinilai memiliki dampak utama sebagai pendorong nilai tambah dari




Halaman 83                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 85
     Rencana Transaksi. Pada analisis sensitivitas studi kelayakan ini, sensitivitas diaplikasikan pada
     pos Pendapatan Dividen, dengan asumsi sebagai berikut:

      1. Sensitivitas negatif 15,00% merupakan pengurangan 15,00% dari proyeksi perolehan
          dividen sepanjang masa proyeksi;
      2. Sensitivitas negatif 10,00% merupakan pengurangan 10,00% dari proyeksi perolehan
          dividen sepanjang masa proyeksi;
      3. Sensitivitas 0,00% merupakan asumsi tidak terdapat perubahan atas proyeksi perolehan
          dividen sepanjang masa proyeksi;
      4. Sensitivitas positif 10,00% merupakan penambahan 10,00% dari proyeksi perolehan dividen
          sepanjang masa proyeksi; dan
      5. Sensitivitas positif 15,00% merupakan penambahan 15,00% dari proyeksi perolehan dividen
          sepanjang masa proyeksi.
     Tabel analisis sensitivitas atas dampak perubahan pendapatan terhadap kelayakan investasi
     disajikan sebagai berikut:

     Tabel 26. Analisis Sensitivitas
        Sensitivitas Pendapatan Dividen     IRR           NPV                    PP                PI
      Pendapatan Dividen -15%             12,92%    16.610.282.031             11 Tahun 8 Bulan   1,13
      Pendapatan Dividen -10%             13,39%    25.294.480.974             11 Tahun 4 Bulan   1,19
      Pendapatan Dividen +0%              14,27%    42.662.878.861           10 Tahun 10 Bulan    1,33
      Pendapatan Dividen +10%             15,09%    60.031.276.747             10 Tahun 6 Bulan   1,46
      Pendapatan Dividen +15%             15,48%    68.715.475.690             10 Tahun 3 Bulan   1,52
     Sumber: Analisis KJPP, diolah

     Analisis sensitivitas dampak perubahan Pendapatan Dividen terhadap kelayakan Rencana
     Transaksi dapat disimpulkan sebagai berikut:

      1. Pada kondisi dasar tanpa perubahan (sensitivitas 0,00%), Rencana Transaksi menghasilkan
         IRR sebesar 14,27%, NPV sebesar Rp42.662.878.861, Payback Period selama 10 tahun 10
         bulan, dan Profitability Index sebesar 1,33;
      2. Sensitivitas dampak pengurangan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 13,39%, NPV sebesar Rp25.294.480.974, Payback Period selama 11 tahun 4 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,19;
      3. Sensitivitas dampak pengurangan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 12,92%, NPV sebesar Rp16.610.282.031, Payback Period selama 11 tahun 8 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,13;
      4. Sensitivitas dampak penambahan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 15,09%, NPV sebesar Rp60.031.276.747, Payback Period selama 10 tahun 6 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,46; dan
      5. Sensitivitas dampak penambahan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 15,48%, NPV sebesar Rp68.715.475.690, Payback Period selama 10 tahun 3 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,52.

     Berdasarkan uraian di atas, seluruh skenario sensitivitas dalam rentang negatif 15,00% sampai
     dengan positif 15,00% atas Pendapatan Dividen tetap menghasilkan NPV yang positif, Profitability
     Index yang lebih besar dari 1,00, serta IRR yang berada di atas tingkat diskonto yang digunakan.
     Dengan demikian, kesimpulan kelayakan Rencana Transaksi tetap terjaga meskipun terjadi
     perubahan atas asumsi Pendapatan Dividen dalam rentang tersebut.


Halaman 84                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 86
7.8   Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan

      Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
      Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada
      SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
      diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
      dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
      sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
      setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
      keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
      bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium melalui entitas anak AEA.
      Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI
      64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.




Halaman 85                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 87
                                              BAB VIII
                                            KESIMPULAN



8.1   Analisis atas Kelayakan Pasar

      Pada penjabaran diatas, dapat disimpulkan bawa aspek pasar menunjukkan rencana kegiatan
      usaha Perseroan memiliki peluang untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan
      sektor terkait masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL
      secara nasional didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai
      wilayah. Perseroan juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar
      Raya dan Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangkan portofolio usaha
      pada perusahaan induk/ holding.

      Selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui
      pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta
      pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar,
      kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha,
      aspek pasar rencana kegiatan perusahaan induk/holding dinilai memiliki ruang pengembangan
      yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang investasi dan
      kondisi pasar yang berlaku

8.2   Analisis atas Kelayakan Teknis

      Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI
      64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan, mengingat
      kegiatan tersebut dapat dijalankan melalui fungsi Perseroan sebagai perusahaan holding yang
      berfokus pada pengelolaan investasi, pengendalian strategis, serta pengawasan terhadap entitas
      anak dan/atau entitas yang berada dalam struktur investasinya. Secara teknis, pelaksanaan fungsi
      sebagai perusahaan induk tidak memerlukan pembangunan fasilitas operasional maupun
      penggunaan teknologi produksi tambahan pada tingkat Perseroan, melainkan didukung oleh
      kesiapan struktur tata kelola (governance structure), pembagian peran dan tanggung jawab antara
      Perseroan, entitas anak, dan entitas operasional, serta mekanisme pengendalian, pengawasan
      kinerja, pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan
      demikian, SOFA memiliki dasar pelaksanaan yang memadai untuk menjalankan fungsi sebagai
      perusahaan induk, sementara kegiatan operasional harian tetap dilaksanakan oleh entitas
      operasional sesuai dengan bidang usaha dan kompetensinya.

8.3   Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

      Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA sehubungan dengan rencana
      penambahan KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk dinilai layak untuk dijalankan. Hal ini
      didukung oleh kondisi adanya struktur grup dan entitas anak, status Perseroan sebagai
      perusahaan terbuka, pengalaman menjalankan kegiatan usaha, serta kemampuan sumber daya
      manusia dan tata kelola yang dapat mendukung fungsi group support, pengelolaan investasi, dan
      pengendalian pada tingkat korporasi. Dari sisi penciptaan nilai, penerapan pola bisnis sebagai
      perusahaan induk memberikan fleksibilitas bagi SOFA untuk melakukan diversifikasi portofolio
      investasi ke berbagai sektor, mengoptimalkan sinergi antarentitas dalam grup, mengembangkan
      kemitraan strategis, serta meningkatkan potensi sumber pendapatan dan kinerja keuangan



Halaman 86                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 88
      konsolidasian. Meskipun terdapat kelemahan dan risiko berupa meningkatnya kompleksitas
      struktur grup, perbedaan karakteristik kegiatan usaha antarentitas, kebutuhan penguatan
      kompetensi dan tata kelola, serta ketergantungan terhadap kinerja entitas investee dan perubahan
      regulasi, faktor-faktor tersebut dapat dimitigasi melalui penguatan fungsi pengawasan,
      manajemen risiko, pelaporan, koordinasi antarentitas, dan penerapan selektivitas dalam
      menentukan investasi. Dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal tersebut, pola
      bisnis yang direncanakan memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung pertumbuhan dan
      peningkatan nilai Perseroan ke depan.

8.4   Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan struktur organisasi Perseroan saat ini, terdapat kemampuan Perseroan untuk
      menjalankan kegiatan usaha sebagai holding, di mana struktur organisasi telah disusun dengan
      kualifikasi yang memadai untuk mengisi jabatan-jabatan dimaksud, didukung oleh jajaran Direksi
      dan Dewan Komisaris dengan rekam jejak di bidang pengelolaan investasi, pembiayaan
      infrastruktur, regulasi pasar modal, dan tata kelola keuangan. Mengingat sesuai uraian KBLI
      64210 perusahaan induk tidak terlibat dalam kegiatan usaha entitas anaknya, kebutuhan sumber
      daya manusia terfokus pada personil di level pengendali tanpa penambahan tenaga kerja
      operasional. Selain itu, Perseroan akan mengoptimalkan sumber daya manusia yang tersedia dan
      melakukan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Manajemen Portofolio yang
      bertugas mendukung analisis dan evaluasi investasi, pemantauan kinerja portofolio, koordinasi
      dengan entitas anak, serta pengawasan perkembangan investasi. Dengan pembagian fungsi dan
      tanggung jawab yang jelas antara SOFA sebagai perusahaan induk dan entitas investee, serta
      didukung oleh mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pengambilan keputusan strategis pada
      tingkat Perseroan, model manajemen yang direncanakan dinilai memadai untuk mendukung
      pelaksanaan KBLI 64210 secara efektif dan efisien.

8.5   Analisis atas Kelayakan Keuangan

      Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
      Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada
      SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
      diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
      dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
      sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
      setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
      keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
      bersumber dari aliran dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium melalui entitas anak AEA.
      Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI
      64210 Aktivitas Perusahaan Induk pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.

8.6   Kesimpulan

      Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
      relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis
      kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
      aktivitas perusahaan induk (KBLI 64210), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana Penambahan




Halaman 87                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 89
     Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Penambahan
     Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.




Halaman 88                                      00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 90
                            ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS



      1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
          proses Studi Kelayakan.
      3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
          keakuratannya.
      4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
          proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
      5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
      6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
          sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
          POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
      7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
          keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
      8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
      9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
          Tugas
      10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
          luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
          jawab kami.
      11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
          secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
          perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
      12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
          berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
          bukan menjadi tanggung jawab kami.
      13. Laporan studi kelayakan ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
          laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
          bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.




Halaman 89                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 91
                                      PERNYATAAN PENILAI



     Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
     tangan di bawah ini menerangkan bahwa :

     1.  Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan studi kelayakan adalah benar sesuai
         dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
     2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
     3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
         memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
     4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil studi kelayakan yang dilaporkan.
     5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
         Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
     6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
         diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
     7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
         kelayakan.
     8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen SOFA.
     9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
         pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
         dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
     10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
         Kelayakan.
     11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
         data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
         lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
         dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
         menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
     12. Penugasan studi kelayakan telah dilakukan terhadap obyek studi kelayakan per tanggal studi
         kelayakan (cut off date).
     13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
         laporan studi kelayakan.
     14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
         diungkapkan.
     15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
     16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
         telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.




Halaman 90                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 92

          
Page 93
             LAMPIRAN – LAMPIRAN




Halaman 92                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 94
Halaman 93   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 95
Halaman 94   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 96
Halaman 95   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 97
Halaman 96   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 98
Halaman 97   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 99
Halaman 98   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 100
                                Kantor Jasa Penilai Publik
                                FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                                                                                                  The Manhattan Square
                                                                                                                                                                        Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                                Property, Business Valuation & Advisory                                                                                                 Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                                Licence No. 2.22.0176                                                                                                                  E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                                                                                                                                                                              Website: www.fdipartners.co
                                KMK 460/KM.1/2022
                                                                                                                                                                                 Phone (62 21) 27875911
                                Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Tabel 27. Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
(Dalam Jutaan Rupiah)
                Keterangan                                   2026 P           2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P     2032 P       2033 P       2034 P             2035 P             2036 P
Bogor


Profit Distribution to All Shareholders                                   -            -            -            -    158.595      192.294    205.513      208.216       211.435             214.983          218.742
Consortium Ownership                                70%
Profit attributable to Consortium                                         -            -            -            -    111.017      134.606    143.859      145.751       148.005             150.488          153.119


Dividend Payout Ratio                                                0%            0%           0%           0%       100,00%      100,00%    100,00%      100,00%      100,00%              100,00%          100,00%
Dividend Paid to Consortium                                               -            -            -            -    111.017      134.606    143.859      145.751       148.005             150.488          153.119

Consortium Total Paid-Up Capital (USD
                                                  34,33
Mn)

Statutory Paid-Up Capital Reserve                   20%
Reserve Amount (USD Mn)                             6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve                                -            -            -            -    111.017       11.594            -            -                -                   -             -
-Cumulative Statutory Surplus Reserve                                     -            -            -            -    111.017      122.611    122.611      122.611       122.611             122.611          122.611



Dividend Attributable after Surplus Reserve                               -            -            -            -            -
                                                                                                                                   123.011    143.859      145.751       148.005             150.488          153.119
& Provision


Dividend Attributable to Consortium                                       -            -            -            -            -
                                                                                                                                   123.011    143.859      145.751       148.005             150.488          153.119
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium                     10%
Dividend Attributable to AEA                                              -            -            -            -            -     12.301     14.386       14.575         14.800              15.049          15.312


Denpasar


Profit Distribution to All Shareholders                                                                               118.834      169.497    191.140      198.002       203.297             207.897          212.211
Consortium Ownership                             70%




                                                           Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 101
                Keterangan                             2026 P    2027 P    2028 P    2029 P    2030 P     2031 P     2032 P         2033 P       2034 P       2035 P       2036 P
Profit attributable to Consortium                                                                83.184    118.648    133.798        138.601      142.308      145.528      148.548


Dividend Payout Ratio                                       0%        0%        0%        0%       100%       100%       100%           100%         100%         100%         100%
Dividend Paid to Consortium                                                                      83.184    118.648    133.798        138.601      142.308      145.528      148.548

Consortium Total Paid-Up Capital (USD
                                              34,10
Mn)

Statutory Paid-Up Capital Reserve                20%
Reserve Amount (USD Mn)                         6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve                                                       83.184     38.593            -              -            -            -            -
Cumulative Statutory Surplus Reserve                                                             83.184    121.777    121.777        121.777      121.777      121.777      121.777


Dividend Attributable after Surplus Reserve
                                                                                                            80.055    133.798        138.601      142.308      145.528      148.548
& Provision


Dividend Attributable to Consortium
                                                                                                            80.055    133.798        138.601      142.308      145.528      148.548
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium                  10%
Dividend Attributable to AEA                                                                                 8.006     13.380         13.860       14.231       14.553       14.855


AEA - SOFA

Total Profit Distributions to SH (Before
                                                                                                277.430    361.791    396.652        406.218      414.733      422.880      430.953
Allocation)
Total Profit Distributions to Consortium                                                        194.201    253.254    277.656        284.353      290.313      296.016      301.667


Dividend Received from Bogor                                                                                12.301     14.386         14.575       14.800       15.049       15.312
Dividend Received from Denpasar                                                                              8.006     13.380         13.860       14.231       14.553       14.855
Total Dividend Received from WtE Project                                                                    20.307     27.766         28.435       29.031       29.602       30.167




          Halaman 100                                                                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 102
Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
                                                                                                                                                                         (Dalam Jutaan Rupiah
              Keterangan                  Year     2037 P       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P       2042 P       2043 P        2044 P       2045 P       2046 P       2047 P
Bogor

Profit Distribution to All Shareholders             222.440      225.954      277.101      349.038                   396.945      401.323       400.715      398.138       394.697     390.172
                                                                                                        382.671
Consortium Ownership                        70%
Profit attributable to Consortium                   155.708      158.168      193.971      244.326      267.870      277.862      280.926       280.500      278.697       276.288     273.120


Dividend Payout Ratio                               100,00%      100,00%      100,00%      100,00%      100,00%      100,00%      100,00%       100,00%      100,00%      100,00%      100,00%
Dividend Paid to Consortium                         155.708      158.168      193.971      244.326      267.870      277.862      280.926       280.500      278.697       276.288     273.120

Consortium Total Paid-Up Capital
                                          34,33
(USD Mn)

Statutory Paid-Up Capital Reserve           20%
Reserve Amount (USD Mn)                     6,87
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve                122.611      122.611      122.611      122.611      122.611      122.611      122.611       122.611      122.611       122.611     122.611



Dividend Attributable after Surplus
                                                    155.708      158.168      193.971      244.326      267.870      277.862      280.926       280.500      278.697       276.288     273.120
Reserve & Provision

Dividend Attributable to Consortium
                                                    155.708      158.168      193.971      244.326      267.870      277.862      280.926       280.500      278.697       276.288     273.120
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium             10%             -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -
Dividend Attributable to AEA                          15.571       15.817       19.397       24.433       26.787       27.786       28.093        28.050       27.870       27.629       27.312


Denpasar


Profit Distribution to All Shareholders             216.196      219.855      270.705      342.169      375.634      389.868      394.253       393.679      391.235       388.002     383.635
Consortium Ownership                      70%               -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -



          Halaman 101                                                                                                                     00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 103
              Keterangan                   Year     2037 P       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P       2042 P       2043 P        2044 P       2045 P       2046 P       2047 P
Profit attributable to Consortium                    151.337      153.898      189.493      239.518      262.944      272.908      275.977       275.576      273.864      271.601      268.545


Dividend Payout Ratio                                   100%         100%         100%         100%         100%         100%         100%          100%         100%         100%         100%
Dividend Paid to Consortium                          151.337      153.898      189.493      239.518      262.944      272.908      275.977       275.576      273.864      271.601      268.545

Consortium Total Paid-Up Capital
(USD Mn)                                   34,10


Statutory Paid-Up Capital Reserve            20%
Reserve Amount (USD Mn)                      6,82
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve                 121.777      121.777      121.777      121.777      121.777      121.777      121.777       121.777      121.777      121.777      121.777

Dividend Attributable after Surplus
                                                     151.337      153.898      189.493      239.518      262.944      272.908      275.977       275.576      273.864      271.601      268.545
Reserve & Provision

Dividend Attributable to Consortium
                                                     151.337      153.898      189.493      239.518      262.944      272.908      275.977       275.576      273.864      271.601      268.545
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium              10%             -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -
Dividend Attributable to AEA                           15.134       15.390       18.949       23.952       26.294       27.291       27.598        27.558       27.386       27.160       26.854


AEA - SOFA

Total Profit Distributions to SH (Before
                                                     438.636      445.809      547.806      691.207      758.305      786.813      795.576       794.394      789.373      782.699      773.807
Allocation)
Total Profit Distributions to
                                                     307.045      312.066      383.464      483.845      530.814      550.769      556.903       556.076      552.561      547.889      541.665
Consortium

Dividend Received from Bogor                           15.571       15.817       19.397       24.433       26.787       27.786       28.093        28.050       27.870       27.629       27.312
Dividend Received from Denpasar                        15.134       15.390       18.949       23.952       26.294       27.291       27.598        27.558       27.386       27.160       26.854
Total Dividend Received from WtE
                                                       30.705       31.207       38.346       48.384       53.081       55.077       55.690        55.608       55.256       54.789       54.167
Project




          Halaman 102                                                                                                                      00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 104
Proyeksi Entitas Konsorsium (2026-2036)
                                                                                                                                                                  (Dalam Jutaan Rupiah)
                    Keterangan                     Year          2048 P     2049 P     2050 P     2051 P     2052 P     2053 P     2054 P     2055 P     2056 P     2057 P      2058 P
Bogor


Profit Distribution to All Shareholders                           384.884    375.159    363.631    355.913    349.407    342.850    336.681    332.330    330.543     328.621    128.951
Consortium Ownership                                      70%
Profit attributable to Consortium                                 269.419    262.611    254.541    249.139    244.585    239.995    235.676    232.631    231.380     230.034     90.266


Dividend Payout Ratio                                             100,00%    100,00%   100,00%    100,00%    100,00%    100,00%    100,00%    100,00%    100,00%     100,00%    100,00%
Dividend Paid to Consortium                                       269.419    262.611    254.541    249.139    244.585    239.995    235.676    232.631    231.380     230.034     90.266


Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)             34,33


Statutory Paid-Up Capital Reserve                         20%
Reserve Amount (USD Mn)                                   6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve                              122.611    122.611    122.611    122.611    122.611    122.611    122.611    122.611    122.611     122.611    122.611



Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision                                                         269.419    262.611    254.541    249.139    244.585    239.995    235.676    232.631    231.380     230.034     90.266

Dividend Attributable to Consortium Shareholders                  269.419    262.611    254.541    249.139    244.585    239.995    235.676    232.631    231.380     230.034     90.266
AEA Ownership in the Consortium                           10%
Dividend Attributable to AEA                                       26.942     26.261     25.454     24.914     24.458     24.000     23.568     23.263     23.138      23.003      9.027


Denpasar


Profit Distribution to All Shareholders                           378.466    368.837    357.487    350.111    343.938    337.637    331.761    327.964    327.119     290.828    150.821
Consortium Ownership                               70%
Profit attributable to Consortium                                 264.926    258.186    250.241    245.078    240.756    236.346    232.233    229.575    228.983     203.580    105.575



         Halaman 103                                                                                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 105
                    Keterangan                         Year          2048 P     2049 P     2050 P     2051 P     2052 P     2053 P     2054 P     2055 P     2056 P     2057 P     2058 P


Dividend Payout Ratio                                                   100%       100%       100%       100%       100%       100%       100%       100%       100%       100%       100%
Dividend Paid to Consortium                                           264.926    258.186    250.241    245.078    240.756    236.346    232.233    229.575    228.983    203.580    105.575


Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)
                                                       34,10

Statutory Paid-Up Capital Reserve                             20%
Reserve Amount (USD Mn)                                       6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve                                  121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777    121.777


Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision                                                             264.926    258.186    250.241    245.078    240.756    236.346    232.233    229.575    228.983    203.580    105.575

Dividend Attributable to Consortium Shareholders                      264.926    258.186    250.241    245.078    240.756    236.346    232.233    229.575    228.983    203.580    105.575
AEA Ownership in the Consortium                               10%
Dividend Attributable to AEA                                           26.493     25.819     25.024     24.508     24.076     23.635     23.223     22.957     22.898     20.358     10.557


AEA - SOFA


Total Profit Distributions to SH (Before Allocation)                  763.349    743.995    721.117    706.024    693.344    680.487    668.441    660.293    657.661    619.449    279.772

Total Profit Distributions to Consortium
                                                                      534.345    520.797    504.782    494.217    485.341    476.341    467.909    462.205    460.363    433.614    195.841

Dividend Received from Bogor                                           26.942     26.261     25.454     24.914     24.458     24.000     23.568     23.263     23.138     23.003      9.027
Dividend Received from Denpasar                                        26.493     25.819     25.024     24.508     24.076     23.635     23.223     22.957     22.898     20.358     10.557
Total Dividend Received from WtE Project                               53.434     52.080     50.478     49.422     48.534     47.634     46.791     46.221     46.036     43.361     19.584




         Halaman 104                                                                                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 106
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
               Sebelum Penambahan KBLI             S2 2026    2027     2028    2029      2030      2031       2032       2033       2034       2035       2036       2037
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                66,84%   48,41%   44,04%   42,73%    42,22%    43,01%     46,92%     47,42%     48,27%     49,13%     49,97%     50,80%
 Operating Profit Margin                            35,91%    4,58%   -0,28%   -1,52%    -2,80%    -1,60%      7,35%      7,19%      7,90%      8,61%      9,31%      9,98%
 Net Profit Margin                                  28,49%    3,58%   -0,23%   -1,43%    -2,67%    -1,45%      5,89%      5,79%      6,38%      6,96%      7,54%      8,11%


               Sebelum Penambahan KBLI              2038     2039      2040     2041       2042      2043        2044       2045       2046       2047      2048
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                               51,60%    52,39%   53,16%    53,90%    54,63%     55,33%     56,02%     56,69%     57,33%     57,96%     58,57%
 Operating Profit Margin                           10,63%    11,25%   11,85%    12,42%    12,97%     13,49%     13,98%     14,45%     14,90%     15,32%     15,71%
 Net Profit Margin                                  8,65%     9,18%    9,70%    10,20%    10,68%     11,14%     11,59%     12,01%     12,43%     12,82%     13,20%


               Sebelum Penambahan KBLI              2049     2050      2051     2052       2053      2054        2055       2056       2057       2058
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                               59,16%    59,73%   60,29%    60,82%    61,34%     61,83%     62,31%     62,78%     63,22%     63,65%
 Operating Profit Margin                           16,07%    16,41%   16,73%    17,02%    17,28%     17,52%     17,73%     17,91%     18,07%     18,20%
 Net Profit Margin                                 13,57%    13,91%   14,24%    14,55%    14,85%     15,13%     15,39%     15,64%     15,87%     16,08%




        Halaman 105                                                                                                     00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 107
Tabel 29. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
           Setelah penambahan KBLI                S2 2026    2027      2028    2029      2030       2031          2032          2033       2034       2035        2036      2037
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                               66,84%    48,41%   44,04%   42,73%    42,22%    63,08%     69,96%         70,96%       72,10%      73,21%     74,28%     75,31%
 Operating Profit Margin                           35,89%     4,58%   -0,28%   -1,52%    -2,80%    34,17%     47,57%         48,74%       50,33%      51,87%     53,38%     54,83%
 Net Profit Margin                                 28,92%     3,58%   -0,23%   -1,43%    -2,67%    34,28%     46,74%         47,97%       49,50%      51,00%     52,47%     53,89%


           Setelah penambahan KBLI                2038      2039      2040      2041        2042       2043              2044          2045        2046        2047       2048
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              76,29%    79,48%    82,77%    84,36%     85,29%      85,93%            86,43%        86,87%      87,27%      87,63%     87,97%
 Operating Profit Margin                          56,22%    61,75%    67,58%    70,28%     71,78%      72,75%            73,46%        74,06%      74,61%      75,09%     75,52%
 Net Profit Margin                                55,25%    60,86%    66,79%    69,52%     71,04%      72,01%            72,72%        73,32%      73,87%      74,36%     74,79%


           Setelah penambahan KBLI                2049      2050      2051       2052       2053           2054          2055          2056        2057        2058
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              88,19%    88,35%    88,60%    88,86%      89,11%      89,35%           89,63%        89,96%      89,87%      83,67%
 Operating Profit Margin                          75,72%    75,83%    76,09%    76,40%      76,69%      76,99%           77,36%        77,86%      77,44%      63,26%
 Net Profit Margin                                75,00%    75,10%    75,38%    75,70%      76,01%      76,32%           76,72%        77,25%      76,83%      62,31%




        Halaman 106                                                                                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 108
Tabel 30. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
 Sebelum Penambahan KBLI                                      S2 2026     2027      2028      2029      2030      2031      2032      2033      2034      2035      2036
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                          66,84%     48,41%    44,04%    42,73%    42,22%    43,01%    46,92%    47,42%    48,27%    49,13%    49,97%
 Operating Profit Margin                                      35,91%      4,58%    -0,28%    -1,52%    -2,80%    -1,60%     7,35%     7,19%     7,90%     8,61%     9,31%
 Net Profit Margin                                            28,49%      3,58%    -0,23%    -1,43%    -2,67%    -1,45%     5,89%     5,79%     6,38%     6,96%     7,54%

 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                                      0,70      0,88      1,09      1,36      1,68      2,03      2,37      2,74      3,15      3,59      4,07
 Current Ratio                                                   2,62      3,08      3,36      3,65      3,94      4,26      4,57      4,89      5,26      5,66      6,11
 Quick Ratio                                                     0,78      0,97      1,17      1,45      1,76      2,12      2,45      2,82      3,23      3,67      4,16

 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                             1,32%      2,91%    -0,18%    -1,12%    -2,08%    -1,11%     4,22%     3,88%     4,00%     4,08%     4,13%
 Return on Equity*                                             1,69%      3,68%    -0,23%    -1,40%    -2,61%    -1,39%     5,18%     4,70%     4,78%     4,82%     4,81%


 Sebelum Penambahan KBLI                                       2037      2038      2039      2040      2041      2042      2043      2044      2045      2046      2047
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                         50,80%     51,60%    52,39%    53,16%    53,90%    54,63%    55,33%    56,02%    56,69%    57,33%    57,96%
 Operating Profit Margin                                      9,98%     10,63%    11,25%    11,85%    12,42%    12,97%    13,49%    13,98%    14,45%    14,90%    15,32%
 Net Profit Margin                                            8,11%      8,65%     9,18%     9,70%    10,20%    10,68%    11,14%    11,59%    12,01%    12,43%    12,82%

 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                                     4,58      5,12      5,70      6,32      6,96      7,64      8,36      9,14      9,91     10,73     11,60
 Current Ratio                                                  6,57      7,07      7,61      8,21      8,80      9,45     10,13     10,87     11,61     12,40     13,23
 Quick Ratio                                                    4,66      5,20      5,78      6,41      7,04      7,72      8,44      9,22      9,99     10,81     11,68

 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                            4,14%      4,12%     4,08%     4,02%     3,95%     3,86%     3,77%     3,67%     3,56%     3,46%     3,35%
 Return on Equity*                                            4,77%      4,70%     4,61%     4,51%     4,39%     4,27%     4,13%     4,00%     3,86%     3,73%     3,59%




        Halaman 107                                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 109
 Sebelum Penambahan KBLI                           2048     2049     2050     2051     2052     2053     2054     2055     2056     2057     2058
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              58,57%   59,16%   59,73%   60,29%   60,82%   61,34%   61,83%   62,31%   62,78%   63,22%   63,65%
 Operating Profit Margin                          15,71%   16,07%   16,41%   16,73%   17,02%   17,28%   17,52%   17,73%   17,91%   18,07%   18,20%
 Net Profit Margin                                13,20%   13,57%   13,91%   14,24%   14,55%   14,85%   15,13%   15,39%   15,64%   15,87%   16,08%


 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                        12,52    13,43    14,40    15,41    16,50    17,54    18,66    19,82    21,06    22,24    23,51
 Current Ratio                                     14,13    15,00    15,94    16,91    17,97    18,98    20,07    21,20    22,41    23,56    24,80
 Quick Ratio                                       12,60    13,51    14,48    15,49    16,57    17,62    18,74    19,89    21,13    22,32    23,58


 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                 3,24%    3,13%    3,02%    2,91%    2,81%    2,71%    2,60%    2,51%    2,41%    2,32%    2,23%
 Return on Equity*                                 3,46%    3,33%    3,20%    3,08%    2,96%    2,84%    2,73%    2,62%    2,52%    2,41%    2,32%

*Annualized




        Halaman 108                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 110
Tabel 31. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
 Setelah penambahan KBLI Induk                               S2 2026     2027     2028     2029     2030     2031     2032     2033     2034     2035     2036
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                          66,84%   48,41%   44,04%   42,73%   42,22%   63,08%   69,96%   70,96%   72,10%   73,21%   74,28%
 Operating Profit Margin                                      35,89%    4,58%   -0,28%   -1,52%   -2,80%   34,17%   47,57%   48,74%   50,33%   51,87%   53,38%
 Net Profit Margin                                            28,92%    3,58%   -0,23%   -1,43%   -2,67%   34,28%   46,74%   47,97%   49,50%   51,00%   52,47%

 Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                                    10,23    10,76    11,21    11,74    12,37    15,14    18,88    22,84    27,15    31,80    36,87
 Current Ratio                                                 12,16    12,96    13,49    14,03    14,63    17,37    21,08    24,99    29,27    33,87    38,91
 Quick Ratio                                                   10,31    10,85    11,30    11,83    12,45    15,23    18,96    22,92    27,24    31,88    36,95

 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                             0,27%    0,52%   -0,03%   -0,20%   -0,36%    6,43%    8,87%    8,30%    7,84%    7,42%    7,05%
 Return on Equity*                                             0,28%    0,54%   -0,03%   -0,20%   -0,37%    6,64%    9,13%    8,51%    8,02%    7,57%    7,18%


 Setelah penambahan KBLI Induk                                  2037    2038     2039     2040     2041     2042     2043     2044     2045     2046     2047
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                          75,31%   76,29%   79,48%   82,77%   84,36%   85,29%   85,93%   86,43%   86,87%   87,27%   87,63%
 Operating Profit Margin                                      54,83%   56,22%   61,75%   67,58%   70,28%   71,78%   72,75%   73,46%   74,06%   74,61%   75,09%
 Net Profit Margin                                            53,89%   55,25%   60,86%   66,79%   69,52%   71,04%   72,01%   72,72%   73,32%   73,87%   74,36%

 Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                                    42,11    47,81    54,77    63,63    73,31    83,98    95,32   107,52   119,75   132,82   146,44
 Current Ratio                                                 44,11    49,77    56,69    65,51    75,15    85,79    97,09   109,25   121,45   134,48   148,07
 Quick Ratio                                                   42,20    47,90    54,85    63,71    73,39    84,06    95,40   107,60   119,83   132,90   146,52

 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                             6,71%    6,40%    7,20%    8,24%    8,27%    7,89%    7,39%    6,88%    6,40%    5,97%    5,58%
 Return on Equity*                                             6,82%    6,49%    7,30%    8,34%    8,35%    7,97%    7,46%    6,93%    6,45%    6,01%    5,61%




        Halaman 109                                                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 111
 Setelah penambahan KBLI Induk                     2048     2049     2050     2051     2052     2053     2054     2055     2056     2057     2058
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              87,97%   88,19%   88,35%   88,60%   88,86%   89,11%   89,35%   89,63%   89,96%   89,87%   83,67%
 Operating Profit Margin                          75,52%   75,72%   75,83%   76,09%   76,40%   76,69%   76,99%   77,36%   77,86%   77,44%   63,26%
 Net Profit Margin                                74,79%   75,00%   75,10%   75,38%   75,70%   76,01%   76,32%   76,72%   77,25%   76,83%   62,31%


 Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                       161,01   175,25   190,28   205,83   222,45   238,55   255,76   273,60   292,87   310,94   325,00
 Current Ratio                                    162,61   176,81   191,82   207,33   223,93   239,99   257,17   274,99   294,23   312,26   326,29
 Quick Ratio                                      161,09   175,32   190,36   205,90   222,53   238,63   255,84   273,68   292,95   311,01   325,07


 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                 5,22%    4,85%    4,50%    4,22%    3,98%    3,76%    3,56%    3,40%    3,28%    3,00%    1,42%
 Return on Equity*                                 5,25%    4,87%    4,52%    4,24%    4,00%    3,78%    3,58%    3,41%    3,29%    3,01%    1,43%


*Annualized




        Halaman 110                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 112
Tabel 32. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Leverage Beta (Equity Beta)
      Green & Renewable Energy


                                                                                Un-Leverage Beta (Assets
                                                                                           Beta)
     Percentage of Total Capital
                                                                                           0,57
          Supplied by Debt
                39,84%
                                                       D/E                                                         Leverage Beta (Equity Beta)
                                      :                                                                        x
                                                      66,22%                                                                  0,87
    % of Total Capital Supplied by
                Equity
                60,16%
                                                                                1 + (DER x After Tax Profit)
                                                                            x
                                                                                            1,52
   Before-Tax Operating Profit in %
                100%
                                           After-Tax Operating Profit in
                                      -                 %
                                                      78,00%
          Income Taxe Rate
                 22%




Weighted Average Cost of Capital

     Equity Risk Premium (rm-rf)
                7,55%
                                             Company Risk Premium
                                      x
                                                      6,53%
     Leverage Beta (Equity Beta)
                 0,87
                                              Company Specific Risk
                                                        0%                          Cost of equity (Ke)
                                                                            +
          Risk-Free Rate (rf)                                                             11,98%
                7,26%
                                          Risk-Free Rate - Default Spread                                           Weighted Cost of Equity
                                      -                                                                        x
                                                      5,45%                                                                  7,21%
                                                                                Percentage of Total Capital
       Country Default Spread
                                                                                    Supplied by Equity
                1,81%                                                                     60,16%
                                                                                                                                                     Weighted Average Cost of Capital
                                                                                                                                                 +
                                                                                                                                                                  9,72%
                                                                                Percentage of Total Capital
                                                                                     Supplied by Debt
                                                                                          39,84%
                                             Before-Tax Cost of Debt                                                 Weighted Cost of Debt
                                                                                                               x
                                                      8,07%                                                                  2,51%
   Before-Tax Operating Profit in %                                             After-Tax Cost of Debt (Kd)
                                                                            x
                100%                                                                       6,30%
                                           After-Tax Operating Profit in
                                      -                 %
                                                      78,00%
          Income Taxe Rate
               22,00%




            Halaman 111                                                                                                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 113
Tabel 33. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)

 PT Solusi Environment Asia            Beg. Period     30/06/2026    30/06/2026    01/01/2027    01/01/2028    01/01/2029    01/01/2030    01/01/2031    01/01/2032    01/01/2033
 Feasibility Study                     End. Period     30/06/2026    31/12/2026    31/12/2027    31/12/2028    31/12/2029    31/12/2030    31/12/2031    31/12/2032    31/12/2033
                                       Year                2026 P        2026 P        2027 P        2028 P        2029 P        2030 P        2031 P        2032 P        2033 P
 (in IDR)                              Days                     0           184           365           366           365           365           365           366           365



 Periode                                                        0           0,5           1,5           2,5           3,5           4,5           5,5           6,5           7,5
 Investment:
   Investment to Consortium                              (131.021)             -             -             -             -             -             -             -             -


 Cash Proceeds:
   Dividend Income                                               -             -             -             -             -             -       20.307        27.766        28.435
   Terminal Value of Dividend Income                             -             -             -             -             -             -             -             -             -
 Total Net Cash Proceeds                                 (131.021)            0             0             0             0             0        20.307        27.766        28.435
 Cummulative Proceeds                                    (131.021)     (131.021)     (131.021)     (131.021)     (131.021)     (131.021)     (110.714)      (82.949)      (54.514)


 Terminal Growth                               2,51%
 Discount Factor                              11,98%
 Capitalization Rate                           9,47%


 Discount Factor                                            1,000         0,945         0,843         0,753         0,673         0,601         0,536         0,479         0,428
 Present Value of Cashflow                               (131.021)            0             0             0             0             0        10.891        13.298        12.161
 SUM of Present Value of Cashflow                          42.663




            Halaman 112                                                                                                         00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 114
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
                                                                                                                                                            (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi Environment Asia            Beg. Period     01/01/2034    01/01/2035   01/01/2036   01/01/2037   01/01/2038   01/01/2039   01/01/2040   01/01/2041   01/01/2042
    Feasibility Study                     End. Period     31/12/2034    31/12/2035   31/12/2036   31/12/2037   31/12/2038   31/12/2039   31/12/2040   31/12/2041   31/12/2042
                                          Year                2034 P        2035 P       2036 P       2037 P       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P       2042 P
    (in IDR)                              Days                   365          365          366          365          365          365          366          365          365



    Periode                                                      8,5           9,5         10,5         11,5         12,5         13,5         14,5         15,5         16,5
    Investment:
      Investment to Consortium                                      -            -            -            -            -            -            -            -            -


    Cash Proceeds:
      Dividend Income                                         29.031        29.602       30.167       30.705       31.207       38.346       48.384       53.081       55.077
      Terminal Value of Dividend Income                             -            -            -            -            -            -            -            -            -
    Total Net Cash Proceeds                                   29.031        29.602       30.167       30.705       31.207       38.346       48.384       53.081       55.077
    Cummulative Proceeds                                     (25.482)        4.119       34.286       64.991       96.197      134.544      182.928      236.009      291.086


    Terminal Growth                               2,51%
    Discount Factor                              11,98%
    Capitalization Rate                           9,47%


    Discount Factor                                            0,382         0,341        0,305        0,272        0,243        0,217        0,194        0,173        0,154
    Present Value of Cashflow                                 11.087        10.095        9.187        8.350        7.578        8.315        9.369        9.179        8.505
    SUM of Present Value of Cashflow




        Halaman 113                                                                                                          00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 115
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
                                                                                                                                                                   (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi Environment Asia            Beg. Period     01/01/2043   01/01/2044   01/01/2045   01/01/2046   01/01/2047   01/01/2048   01/01/2049   01/01/2050   01/01/2051
    Feasibility Study                     End. Period     31/12/2043   31/12/2044   31/12/2045   31/12/2046   31/12/2047   31/12/2048   31/12/2049   31/12/2050   31/12/2051
                                          Year                2043 P       2044 P       2045 P       2046 P       2047 P       2048 P       2049 P       2050 P       2051 P
    (in IDR)                              Days                  365          366          365          365          365          366          365          365          365



    Periode                                                     17,5         18,5         19,5         20,5         21,5         22,5         23,5         24,5         25,5
    Investment:
      Investment to Consortium                                     -            -            -            -            -            -            -            -            -


    Cash Proceeds:
      Dividend Income                                         55.690       55.608       55.256       54.789       54.167       53.434       52.080       50.478       49.422
      Terminal Value of Dividend Income                            -            -            -            -            -            -            -            -            -
    Total Net Cash Proceeds                                   55.690       55.608       55.256       54.789       54.167       53.434       52.080       50.478       49.422
    Cummulative Proceeds                                     346.777      402.384      457.640      512.429      566.596      620.030      672.110      722.588      772.010


    Terminal Growth                               2,51%
    Discount Factor                              11,98%
    Capitalization Rate                           9,47%


    Discount Factor                                            0,138        0,123        0,110        0,098        0,088        0,078        0,070        0,062        0,056
    Present Value of Cashflow                                  7.679        6.847        6.076        5.380        4.749        4.184        3.641        3.152        2.755
    SUM of Present Value of Cashflow




        Halaman 114                                                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 116
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi Tahun 2026-2058)
                                                                                                                                                              (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi Environment Asia           Beg. Period            30/06/2026    01/01/2052   01/01/2053   01/01/2054   01/01/2055     01/01/2056   01/01/2057   01/01/2058
    Feasibility Study                    End. Period            30/06/2026    31/12/2052   31/12/2053   31/12/2054   31/12/2055     31/12/2056   31/12/2057   31/12/2058
                                         Year                       2026 P        2052 P       2053 P       2054 P       2055 P         2056 P       2057 P       2058 P
    (in IDR)                             Days                            0          366          365          365          365            366          365          365



    Periode                                                              0          26,5         27,5         28,5         29,5           30,5         31,5         32,5
    Investment:
         Investment to Consortium                                 (131.021)            -            -            -            -              -            -            -

    Cash Proceeds:
     Dividend Income                                                      -       48.534       47.634       46.791       46.221         46.036       43.361       19.584
     Terminal Value of Dividend Income                                    -            -            -            -            -              -            -            -
    Total Net Cash Proceeds                                       (131.021)       48.534       47.634       46.791       46.221         46.036       43.361       19.584
    Cummulative Proceeds                                          (131.021)      820.544      868.178      914.969      961.189      1.007.226    1.050.587    1.070.171


    Terminal Growth                                     2,51%
    Discount Factor                                    11,98%
    Capitalization Rate                                 9,47%


    Discount Factor                                                  1,000         0,050        0,044        0,040        0,035          0,032        0,028        0,025
    Present Value of Cashflow                                     (131.021)        2.416        2.118        1.858        1.639          1.457        1.226         494
    SUM of Present Value of Cashflow                                42.663

    IRR                                                14,27%
    NPV                                                42.663
    PP                                                  10,86
    PP (Tahun)                           10 Tahun 10 Bulan
    PI                                                   1,33




           Halaman 115                                                                                                            00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 117
Tabel 34. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                                    (Dalam Jutaan Rupiah)
        Laporan Posisi Keuangan       2026 P   2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P       2032 P       2033 P       2034 P       2035 P        2036 P       2037 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                        7.852     9.587      11.495        14.092       16.838      19.776       22.306       25.069       27.918       30.860        33.862        36.967
   Piutang usaha                        721       699          675           656         636          616          595          578          560          543           525           510
   Piutang lain-lain - pihak ketiga       10        10          10            10          10           10           10           10           10           10            10            10
   Persediaan                         20.353    22.559      22.870        22.353       21.503      20.540       19.561       18.602       17.680       16.799        15.961        15.163
   Uang muka                            222       201          211           210         204          196          186          178          169          161           152           145
   Biaya dibayar dimuka                 338       305          321           320         310          297          283          270          257          244           231           220
   Pajak dibayar dimuka                   57        57          57            57          57           57           57           57           57           57            57            57
 Jumlah Aset Lancar                   29.553    33.418      35.639        37.698       39.558      41.493       42.998       44.764       46.651       48.674        50.798        53.073
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                19.916    17.642      15.063        12.177        8.986        6.208        6.514        6.514        6.514        6.514        6.514         6.514
   Aset tak berwujud                       -            -            -            -            -            -            -            -            -            -             -            -
   Aset hak guna usaha                  474             -            -            -            -            -            -            -            -            -             -            -
   Aset pajak tangguhan                 987       987          987           987         987          987          987          987          987          987           987           987
   Aset lain-lain                         49        49          49            49          49           49           49           49           49           49            49            49
 Jumlah Aset Tidak Lancar             21.427    18.679      16.099        13.214       10.023        7.244        7.550        7.550        7.550        7.550        7.550         7.550
 JUMLAH ASET                          50.980    52.097      51.738        50.912       49.580      48.737       50.548       52.314       54.201       56.224        58.348        60.622


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                            56        56          56            56          56           56           56           56           56           56            56            56
   Utang lain-lain                      157       142          149           149         144          139          132          126          120          114           108           103



        Halaman 116                                                                                                            00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 118
       Laporan Posisi Keuangan       2026 P    2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P       2032 P       2033 P       2034 P       2035 P       2036 P       2037 P
  Biaya yang masih harus dibayar        891       806          846           844          819          785         747          713          678           644         610           581
  Utang pajak                           176       176          176           176          176          176         176          176          176           176         176           176
  Uang muka penjualan                 9.611      9.314        9.000        8.745        8.474        8.211        7.935        7.710        7.471        7.239       6.996         6.798
  Liabilitas sewa (jk pendek)           366       366          366           366          366          366         366          366          366           366         366           366
  Bank (jk pendek)                         -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek      11.259    10.860       10.594        10.337       10.036        9.733        9.412        9.147        8.867        8.595       8.312         8.080
LIABILITAS JANGKA PANJANG                                                                                                                                                                 -
  Liabilitas sewa (jk panjang)             -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                        -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                2         2            2                2            2         2           2            2            2                2        2                2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          2         2            2                2            2         2           2            2            2                2        2                2
Jumlah Liabilitas                    11.260    10.862       10.596        10.339       10.037        9.735        9.414        9.149        8.869        8.597       8.314         8.082


EKUITAS
  Modal saham                        16.536    16.536       16.536        16.536       16.536       16.536      16.536       16.536       16.536       16.536       16.536        16.536
  Agio saham                         32.845    32.845       32.845        32.845       32.845       32.845      32.845       32.845       32.845       32.845       32.845        32.845
  Agio waran                            322       322          322           322          322          322         322          322          322           322         322           322
  Pendapatan komprehensif lain        (440)      (440)        (440)         (440)       (440)         (440)       (440)        (440)        (440)        (440)        (440)         (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)   (9.650)   (8.134)      (8.227)       (8.796)      (9.827)     (10.367)     (8.235)      (6.205)      (4.037)       (1.743)        664         3.172
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
                                     39.613    41.129       41.036        40.467       39.436       38.895      41.028       43.058       45.226       47.520       49.927        52.434
kepada pengendali
  Kepentingan non-pengendali            107       107          107           107          107          107         107          107          107           107         107           107
Jumlah Ekuitas                       39.720    41.236       41.142        40.573       39.543       39.002      41.134       43.165       45.332       47.626       50.034        52.541
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS        50.980    52.097       51.738        50.912       49.580       48.737      50.548       52.314       54.201       56.224       58.348        60.622




       Halaman 117                                                                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 119
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                                 (Dalam Jutaan Rupiah)
        Laporan Posisi Keuangan       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P   2042 P   2043 P   2044 P   2045 P       2046 P   2047 P       2048 P        2049 P       2050 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                       40.108       43.291       46.491       49.747   53.000   56.260   59.504   62.769       66.005    69.221       72.398        75.570       78.695
   Piutang usaha                         494          479          463         449       436     422       408      396         384       372          360            349         339
   Piutang lain-lain - pihak ketiga       10           10           10          10        10      10        10       10           10        10           10            10           10
   Persediaan                         14.405       13.685       13.001       12.351   11.733   11.147   10.589   10.060        9.557     9.079        8.625         8.194        7.784
   Uang muka                             138          131          124         118       112     107       101       96           91        87           82            78           74
   Biaya dibayar dimuka                  209          199          188         179       170     162       153      146         139       132          125            119         113
   Pajak dibayar dimuka                   57           57           57          57        57      57        57       57           57        57           57            57           57
 Jumlah Aset Lancar                   55.421       57.852       60.334       62.912   65.519   68.164   70.823   73.534       76.243    78.958       81.657        84.378       87.073
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                  6.514        6.514       6.514        6.514    6.514    6.514    6.514    6.514        6.514     6.514        6.514         6.514        6.514
   Aset tak berwujud                           -            -            -        -        -        -        -            -        -            -            -             -            -
   Aset hak guna usaha                         -            -            -        -        -        -        -            -        -            -            -             -            -
   Aset pajak tangguhan                  987          987          987         987       987     987       987      987         987       987          987            987         987
   Aset lain-lain                         49           49           49          49        49      49        49       49           49        49           49            49           49
 Jumlah Aset Tidak Lancar               7.550        7.550       7.550        7.550    7.550    7.550    7.550    7.550        7.550     7.550        7.550         7.550        7.550
 JUMLAH ASET                          62.971       65.402       67.884       70.461   73.068   75.714   78.372   81.084       83.793    86.507       89.207        91.928       94.622


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                            56           56           56          56        56      56        56       56           56        56           56            56           56
   Utang lain-lain                        97           93           88          84        79      75        71       68           65        61           58            55           53



         Halaman 118                                                                                                            00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 120
     Laporan Posisi Keuangan         2038 P       2039 P       2040 P       2041 P   2042 P    2043 P   2044 P   2045 P       2046 P   2047 P       2048 P       2049 P       2050 P
  Biaya yang masih harus dibayar        552          525          497         474       450      427       405      386         366       348          330          314          298
  Utang pajak                           176          176          176         176       176      176       176      176         176       176          176          176          176
  Uang muka penjualan                  6.587        6.383       6.168        5.993    5.807     5.627    5.438    5.284        5.120     4.961        4.794        4.658        4.514
  Liabilitas sewa (jk pendek)           366          366          366         366       366      366       366      366         366       366          366          366          366
  Bank (jk pendek)                            -            -            -        -         -        -        -            -        -            -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek        7.835        7.598       7.351        7.148    6.935     6.728    6.513    6.336        6.149     5.969        5.781        5.626        5.463
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                -            -            -        -         -        -        -            -        -            -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                           -            -            -        -         -        -        -            -        -            -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                2            2            2            2        2         2        2        2            2            2            2            2            2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          2            2            2            2        2         2        2        2            2            2            2            2            2
Jumlah Liabilitas                      7.837        7.600       7.353        7.150    6.937     6.730    6.514    6.338        6.151     5.971        5.782        5.628        5.465


EKUITAS
  Modal saham                        16.536       16.536       16.536       16.536   16.536    16.536   16.536   16.536       16.536    16.536       16.536       16.536       16.536
  Agio saham                         32.845       32.845       32.845       32.845   32.845    32.845   32.845   32.845       32.845    32.845       32.845       32.845       32.845
  Agio waran                            322          322          322         322       322      322       322      322         322       322          322          322          322
  Pendapatan komprehensif lain         (440)        (440)        (440)       (440)     (440)    (440)    (440)     (440)       (440)     (440)        (440)        (440)        (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)     5.765        8.432      11.162       13.942   16.763    19.615   22.489   25.377       28.272    31.167       34.055       36.930       39.788
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
                                     55.028       57.695       60.424       63.204   66.025    68.877   71.751   74.640       77.535    80.430       83.318       86.193       89.050
kepada pengendali
  Kepentingan non-pengendali            107          107          107         107       107      107       107      107         107       107          107          107          107
Jumlah Ekuitas                       55.134       57.802       60.531       63.311   66.132    68.984   71.858   74.746       77.641    80.536       83.424       86.300       89.157
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS        62.971       65.402       67.884       70.461   73.068    75.714   78.372   81.084       83.793    86.507       89.207       91.928       94.622




       Halaman 119                                                                                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 121
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                     (Dalam Jutaan Rupiah)
                          Laporan Posisi Keuangan                 2051 P       2052 P       2053 P       2054 P        2055 P        2056 P        2057 P        2058 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                                                    81.781       84.813       87.822        90.770        93.667        96.500        99.297      102.026
   Piutang usaha                                                      328          317         308           298           289           279           272           263
   Piutang lain-lain - pihak ketiga                                    10           10          10                10            10            10            10            10
   Persediaan                                                       7.395        7.025        6.674         6.340         6.023         5.722         5.436         5.164
   Uang muka                                                           71           67          64                61            58            55            52            49
   Biaya dibayar dimuka                                               107          102          97                92            87            83            79            75
   Pajak dibayar dimuka                                                57           57          57                57            57            57            57            57
 Jumlah Aset Lancar                                                89.749       92.391       95.032        97.629      100.192       102.706       105.203       107.645
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                                              6.514        6.514        6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514
   Aset tak berwujud                                                       -            -            -             -             -             -             -             -
   Aset hak guna usaha                                                     -            -            -             -             -             -             -             -
   Aset pajak tangguhan                                               987          987         987           987           987           987           987           987
   Aset lain-lain                                                      49           49          49                49            49            49            49            49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                                           7.550        7.550        7.550         7.550         7.550         7.550         7.550         7.550
 JUMLAH ASET                                                       97.299       99.941      102.581      105.178       107.741       110.256       112.752       115.194


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                                                         56           56          56                56            56            56            56            56
   Utang lain-lain                                                     50           47          45                43            41            39            37            35



        Halaman 120                                                                                                    00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 122
                         Laporan Posisi Keuangan      2051 P       2052 P       2053 P       2054 P       2055 P       2056 P       2057 P       2058 P
  Biaya yang masih harus dibayar                         284           269         256           243          231          219          208          198
  Utang pajak                                            176           176         176           176          176          176          176          176
  Uang muka penjualan                                   4.374        4.227        4.107         3.980        3.856        3.727        3.621        3.509
  Liabilitas sewa (jk pendek)                            366           366         366           366          366          366          366          366
  Bank (jk pendek)                                             -            -            -            -            -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                         5.306        5.141        5.006         4.864        4.726        4.582        4.465        4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                                 -            -            -            -            -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                                            -            -            -            -            -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                                 2                2        2                2            2            2            2            2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                           2                2        2                2            2            2            2            2
Jumlah Liabilitas                                       5.308        5.143        5.008         4.866        4.728        4.584        4.466        4.342


EKUITAS
  Modal saham                                         16.536        16.536       16.536        16.536       16.536       16.536       16.536       16.536
  Agio saham                                          32.845        32.845       32.845        32.845       32.845       32.845       32.845       32.845
  Agio waran                                             322           322         322           322          322          322          322          322
  Pendapatan komprehensif lain                          (440)         (440)       (440)         (440)        (440)        (440)        (440)        (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)                    42.622        45.429       48.204        50.943       53.644       56.303       58.917       61.483
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali   91.885        94.691       97.466      100.206      102.907      105.565      108.179      110.746
  Kepentingan non-pengendali                             107           107         107           107          107          107          107          107
Jumlah Ekuitas                                        91.991        94.798       97.573      100.312      103.013      105.672      108.286      110.853
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                         97.299        99.941      102.581      105.178      107.741      110.256      112.752      115.194




       Halaman 121                                                                                        00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 123
Tabel 35. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                                  (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2026 P       2027 P     2028 P     2029 P     2030 P     2031 P     2032 P     2033 P       2034 P     2035 P     2036 P     2037 P
 Penjualan                               22.347        42.377     41.063     39.790     38.556     37.361     36.203     35.081       33.993     32.939     31.918     30.929
 Beban pokok penjualan                   (7.411)      (21.863)   (22.979)   (22.786)   (22.278)   (21.292)   (19.216)   (18.446)     (17.584)   (16.757)   (15.968)   (15.218)
 Laba (Rugi) Kotor                       14.937        20.514     18.084     17.004     16.278     16.070     16.987     16.635       16.410     16.182     15.950     15.711
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (6.911)      (18.575)   (18.198)   (17.607)   (17.356)   (16.669)   (14.324)   (14.113)     (13.723)   (13.345)   (12.979)   (12.624)
 Pendapatan (beban) lain-lain                     -          -          -          -          -          -          -          -            -          -          -          -
 Laba (Rugi) Usaha                         8.026        1.939       (114)      (603)    (1.078)      (599)     2.663      2.522        2.687      2.838      2.971      3.087
 Pendapatan keuangan                         10            23         30         39         49         60         72         82           92        104        115        127
 Beban keuangan                                   -       (18)        (9)        (5)        (2)        (1)        (1)        (0)          (0)        (0)        (0)        (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     8.035        1.943        (93)      (569)    (1.031)      (541)     2.734      2.603        2.779      2.941      3.086      3.214
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                              (160)         (428)          -          -          -          -      (601)      (573)        (611)      (647)      (679)      (707)
   Pajak tangguhan                       (1.510)             -          -          -          -          -          -          -            -          -          -          -
 Jumlah                                  (1.669)         (428)          -          -          -          -      (601)      (573)        (611)      (647)      (679)      (707)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                6.366        1.516        (93)      (569)    (1.031)      (541)     2.132      2.031        2.168      2.294      2.407      2.507




        Halaman 122                                                                                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 124
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                                  (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2038 P     2039 P     2040 P     2041 P     2042 P     2043 P     2044 P     2045 P      2046 P     2047 P     2048 P      2049 P     2050 P
 Penjualan                                29.970     29.041     28.141     27.268     26.423     25.604     24.810     24.041      23.296    22.574     21.874       21.196    20.539
 Beban pokok penjualan                   (14.504)   (13.826)   (13.182)   (12.570)   (11.989)   (11.436)   (10.912)   (10.413)    (9.940)    (9.490)    (9.062)      (8.656)   (8.270)
 Laba (Rugi) Kotor                        15.466     15.214     14.958     14.698     14.434     14.167     13.899     13.628      13.356    13.084     12.812       12.540    12.268
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (12.280)   (11.947)   (11.624)   (11.311)   (11.008)   (10.714)   (10.429)   (10.153)    (9.886)    (9.627)    (9.376)      (9.133)   (8.897)
 Pendapatan (beban) lain-lain                   -          -          -          -          -          -          -          -           -          -         -            -         -
 Laba (Rugi) Usaha                         3.186      3.268      3.335      3.387      3.427      3.454      3.469      3.475       3.470     3.457      3.436        3.407     3.371
 Pendapatan keuangan                         139        152        164        177        190        203        216        228        241        254        267          279       292
 Beban keuangan                               (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)         (0)        (0)       (0)          (0)       (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     3.325      3.420      3.499      3.564      3.616      3.656      3.685      3.703       3.712     3.711      3.703        3.686     3.663
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                               (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)      (817)      (816)      (815)       (811)      (806)
   Pajak tangguhan                              -          -          -          -          -          -          -          -           -          -         -            -         -
 Jumlah                                     (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)      (817)      (816)      (815)       (811)      (806)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                2.594      2.667      2.729      2.780      2.821      2.852      2.874      2.888       2.895     2.895      2.888        2.875     2.857




        Halaman 123                                                                                                              00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 125
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                          (Dalam Jutaan Rupiah)
                Laporan Laba Rugi          2051 P       2052 P       2053 P       2054 P       2055 P       2056 P       2057 P       2058 P
 Penjualan                                  19.902      19.285       18.687       18.108       17.547       17.003       16.476       15.965
 Beban pokok penjualan                      (7.904)     (7.556)      (7.225)      (6.911)      (6.612)      (6.329)      (6.059)      (5.804)
 Laba (Rugi) Kotor                          11.998      11.729       11.462       11.197       10.934       10.674       10.416       10.161
 Beban usaha (umum dan administrasi)        (8.669)     (8.447)      (8.233)      (8.025)      (7.824)      (7.629)      (7.439)      (7.256)
 Pendapatan (beban) lain-lain                       -            -            -            -            -            -            -            -
 Laba (Rugi) Usaha                            3.329       3.282        3.229        3.172        3.110        3.045        2.977        2.905
 Pendapatan keuangan                           304         316          328          340          352          363          375          386
 Beban keuangan                                 (0)         (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan        3.634       3.598        3.558        3.512        3.462        3.409        3.351        3.291
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                                 (799)       (792)        (783)        (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
   Pajak tangguhan                                  -            -            -            -            -            -            -            -
 Jumlah                                       (799)       (792)        (783)        (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                   2.834       2.807        2.775        2.740        2.701        2.659        2.614        2.567




        Halaman 124                                                                                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 126
Tabel 36. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                 (Dalam Jutaan Rupiah)
                    Laporan Posisi Keuangan         2026 P    2027 P    2028 P    2029 P    2030 P    2031 P    2032 P    2033 P    2034 P    2035 P    2036 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                                     115.148   116.883   118.791   121.388   124.134   147.379   177.675   208.872   240.753   273.296   306.465
   Piutang usaha                                        721      699       675       656       636       616       595       578       560       543       525
   Piutang lain-lain - pihak ketiga                      10        10       10        10        10        10        10        10        10        10        10

   Persediaan                                        20.353    22.559    22.870    22.353    21.503    20.540    19.561    18.602    17.680    16.799    15.961
   Uang muka                                            222      201       211       210       204       196       186       178       169       161       152
   Biaya dibayar dimuka                                 338      305       321       320       310       297       283       270       257       244       231
   Pajak dibayar dimuka                                  57        57       57        57        57        57        57        57        57        57        57
 Jumlah Aset Lancar                                 136.849   140.714   142.935   144.994   146.854   169.096   198.367   228.567   259.486   291.110   323.401
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                               19.916    17.642    15.063    12.177     8.986     6.208     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514
   Aset tak berwujud                                      -         -         -         -         -         -         -         -         -         -         -

   Aset hak guna usaha                                  474         -         -         -         -         -         -         -         -         -         -

   Penyertaan pada konsorsium                       131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021
   Aset pajak tangguhan                                 987      987       987       987       987       987       987       987       987       987       987
   Aset lain-lain                                        49        49       49        49        49        49        49        49        49        49        49

 Jumlah Aset Tidak Lancar                           152.448   149.700   147.120   144.235   141.044   138.265   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571
 JUMLAH ASET                                        289.297   290.414   290.055   289.229   287.897   307.361   336.937   367.138   398.057   429.681   461.972


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK



        Halaman 125                                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 127
                 Laporan Posisi Keuangan              2026 P     2027 P     2028 P     2029 P     2030 P     2031 P    2032 P    2033 P    2034 P    2035 P    2036 P

  Utang usaha                                              56         56         56         56         56        56        56        56        56        56        56

  Utang lain-lain                                         157        142        149        149        144       139       132       126       120       114       108
  Biaya yang masih harus dibayar                          891        806        846        844        819       785       747       713       678       644       610
  Utang pajak                                             176        176        176        176        176       176       176       176       176       176       176
  Uang muka penjualan                                   9.611      9.314      9.000      8.745      8.474      8.211     7.935     7.710     7.471     7.239     6.996
  Liabilitas sewa (jk pendek)                             366        366        366        366        366       366       366       366       366       366       366
  Bank (jk pendek)
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                        11.259     10.860     10.594     10.337     10.036      9.733     9.412     9.147     8.867     8.595     8.312
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                               -          -          -          -          -         -         -         -         -         -         -

  Bank (jk panjang)                                          -          -          -          -          -         -         -         -         -         -         -

  Liabilitas imbalan kerja                                  2          2          2          2          2         2         2         2         2         2         2

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                            2          2          2          2          2         2         2         2         2         2         2

Jumlah Liabilitas                                      11.260     10.862     10.596     10.339     10.037      9.735     9.414     9.149     8.869     8.597     8.314


EKUITAS
  Modal saham                                         254.756    254.756    254.756    254.756    254.756    254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756
  Agio saham                                           32.845     32.845     32.845     32.845     32.845     32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845
  Agio waran                                              322        322        322        322        322       322       322       322       322       322       322
  Pendapatan komprehensif lain                          (440)      (440)      (440)      (440)      (440)      (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)                     (9.553)    (8.037)    (8.130)    (8.699)    (9.730)    10.036    39.934    70.400   101.599   133.494   166.069
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali   277.930    279.446    279.353    278.784    277.753    297.519   327.417   357.883   389.082   420.977   453.551
  Kepentingan non-pengendali                              107        107        107        107        107       107       107       107       107       107       107
Jumlah Ekuitas                                        278.037    279.553    279.459    278.890    277.860    297.626   327.524   357.989   389.188   421.084   453.658
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                         289.297    290.414    290.055    289.229    287.897    307.361   336.937   367.138   398.057   429.681   461.972



       Halaman 126                                                                                                         00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 128
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                    (Dalam Jutaan Rupiah)
                    Laporan Posisi Keuangan              2037 P     2038 P    2039 P    2040 P    2041 P    2042 P    2043 P    2044 P    2045 P     2046 P     2047 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                                          340.275    374.622   416.152   467.736   524.073   582.404   641.354   700.205   758.726    816.751    874.133
   Piutang usaha                                             510       494       479       463       449        436      422       408       396         384        372
   Piutang lain-lain - pihak ketiga                           10        10        10        10        10        10        10        10        10          10         10
   Persediaan                                             15.163     14.405    13.685    13.001    12.351    11.733    11.147    10.589    10.060      9.557      9.079
   Uang muka                                                 145       138       131       124       118        112      107       101        96          91         87
   Biaya dibayar dimuka                                      220       209       199       188       179        170      162       153       146         139        132
   Pajak dibayar dimuka                                       57        57        57        57        57        57        57        57        57          57         57
 Jumlah Aset Lancar                                      356.380    389.936   430.713   481.579   537.238   594.922   653.258   711.524   769.492    826.989    883.870
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                                     6.514      6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514      6.514      6.514
   Aset tak berwujud                                            -         -         -         -         -         -         -         -         -          -             -
   Aset hak guna usaha                                          -         -         -         -         -         -         -         -         -          -             -
   Penyertaan pada konsorsium                            131.021    131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021    131.021    131.021
   Aset pajak tangguhan                                      987       987       987       987       987        987      987       987       987         987        987
   Aset lain-lain                                             49        49        49        49        49        49        49        49        49          49         49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                                138.571    138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571    138.571    138.571
 JUMLAH ASET                                             494.951    528.506   569.283   620.150   675.809   733.493   791.829   850.095   908.063    965.560   1.022.441


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK



        Halaman 127                                                                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 129
                    Laporan Posisi Keuangan           2037 P    2038 P    2039 P    2040 P    2041 P    2042 P    2043 P    2044 P    2045 P    2046 P     2047 P

  Utang usaha                                             56        56        56        56        56        56        56        56        56        56          56
  Utang lain-lain                                        103        97        93        88        84        79        75        71        68        65          61
  Biaya yang masih harus dibayar                         581       552       525       497       474       450       427       405       386       366         348
  Utang pajak                                            176       176       176       176       176       176       176       176       176       176         176
  Uang muka penjualan                                   6.798     6.587     6.383     6.168     5.993     5.807     5.627     5.438     5.284     5.120      4.961
  Liabilitas sewa (jk pendek)                            366       366       366       366       366       366       366       366       366       366         366
  Bank (jk pendek)                                          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                         8.080     7.835     7.598     7.351     7.148     6.935     6.728     6.513     6.336     6.149      5.969
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                              -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
  Bank (jk panjang)                                         -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
  Liabilitas imbalan kerja                                 2         2         2         2         2         2         2         2         2         2              2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                           2         2         2         2         2         2         2         2         2         2              2
Jumlah Liabilitas                                       8.082     7.837     7.600     7.353     7.150     6.937     6.730     6.514     6.338     6.151      5.971


EKUITAS
  Modal saham                                         254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756   254.756    254.756
  Agio saham                                           32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845     32.845
  Agio waran                                             322       322       322       322       322       322       322       322       322       322         322
  Pendapatan komprehensif lain                          (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)       (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)                    199.280   233.080   274.094   325.208   381.069   438.967   497.509   555.991   614.136   671.820    728.881
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali   486.763   520.563   561.577   612.690   668.552   726.450   784.992   843.474   901.618   959.302   1.016.364
  Kepentingan non-pengendali                             107       107       107       107       107       107       107       107       107       107         107
Jumlah Ekuitas                                        486.869   520.670   561.683   612.797   668.658   726.556   785.099   843.580   901.725   959.409   1.016.470
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                         494.951   528.506   569.283   620.150   675.809   733.493   791.829   850.095   908.063   965.560   1.022.441



       Halaman 128                                                                                                00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 130
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                                       (Dalam Jutaan Rupiah)
          Laporan Posisi Keuangan         2048 P        2049 P        2050 P        2051 P        2052 P        2053 P        2054 P        2055 P        2056 P        2057 P        2058 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                           930.745       985.997      1.039.600     1.092.108     1.143.674     1.194.317     1.244.056     1.293.174     1.342.043     1.388.201     1.410.514
   Piutang usaha                              360           349           339           328           317           308           298           289           279           272           263
   Piutang lain-lain - pihak ketiga            10            10            10            10            10            10            10            10            10            10            10
   Persediaan                               8.625         8.194         7.784         7.395         7.025         6.674         6.340         6.023         5.722         5.436         5.164
   Uang muka                                   82            78            74            71            67            64            61            58            55            52            49
   Biaya dibayar dimuka                       125           119           113           107           102            97            92            87            83            79            75
   Pajak dibayar dimuka                        57            57            57            57            57            57            57            57            57            57            57
 Jumlah Aset Lancar                       940.004       994.805      1.047.978     1.100.076     1.151.252     1.201.527     1.250.915     1.299.698     1.348.249     1.394.107     1.416.133
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                      6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514         6.514
   Aset tak berwujud                               -             -             -             -             -             -             -             -             -             -             -

   Aset hak guna usaha                             -             -             -             -             -             -             -             -             -             -             -

   Penyertaan pada konsorsium             131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021       131.021
   Aset pajak tangguhan                       987           987           987           987           987           987           987           987           987           987           987
   Aset lain-lain                              49            49            49            49            49            49            49            49            49            49            49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                 138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571       138.571
 JUMLAH ASET                            1.078.575      1.133.376     1.186.548     1.238.647     1.289.823     1.340.097     1.389.486     1.438.269     1.486.820     1.532.678     1.554.704


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK




        Halaman 129                                                                                                               00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 131
          Laporan Posisi Keuangan           2048 P        2049 P        2050 P        2051 P        2052 P        2053 P        2054 P        2055 P        2056 P        2057 P        2058 P

  Utang usaha                                    56            56            56            56            56            56            56            56            56            56            56
  Utang lain-lain                                58            55            53            50            47            45            43            41            39            37            35
  Biaya yang masih harus dibayar                330           314           298           284           269           256           243           231           219           208           198
  Utang pajak                                   176           176           176           176           176           176           176           176           176           176           176
  Uang muka penjualan                         4.794         4.658         4.514         4.374         4.227         4.107         3.980         3.856         3.727         3.621         3.509
  Liabilitas sewa (jk pendek)                   366           366           366           366           366           366           366           366           366           366           366
  Bank (jk pendek)
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek               5.781         5.626         5.463         5.306         5.141         5.006         4.864         4.726         4.582         4.465         4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                       -             -             -             -             -             -             -             -             -             -             -
  Bank (jk panjang)                                  -             -             -             -             -             -             -             -             -             -             -
  Liabilitas imbalan kerja                           2             2             2             2             2             2             2             2             2             2             2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                     2             2             2             2             2             2             2             2             2             2             2
Jumlah Liabilitas                             5.782         5.628         5.465         5.308         5.143         5.008         4.866         4.728         4.584         4.466         4.342


EKUITAS
  Modal saham                               254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756       254.756
  Agio saham                                 32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845        32.845
  Agio waran                                    322           322           322           322           322           322           322           322           322           322           322
  Pendapatan komprehensif lain                 (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)         (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)          785.203       840.158       893.494       945.750       997.091      1.047.500     1.097.030     1.145.951     1.194.646     1.240.622     1.262.773
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
pengendali                                 1.072.686     1.127.641     1.180.977     1.233.233     1.284.573     1.334.983     1.384.513     1.433.434     1.482.129     1.528.105     1.550.255
  Kepentingan non-pengendali                    107           107           107           107           107           107           107           107           107           107           107
Jumlah Ekuitas                             1.072.793     1.127.748     1.181.083     1.233.339     1.284.680     1.335.089     1.384.620     1.433.541     1.482.236     1.528.211     1.550.362
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS              1.078.575     1.133.376     1.186.548     1.238.647     1.289.823     1.340.097     1.389.486     1.438.269     1.486.820     1.532.678     1.554.704


       Halaman 130                                                                                                                  00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 132
Tabel 37. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
                                                                                                                                                                (Dalam Jutaan Rupiah)
          Laporan Laba Rugi       2026 P       2027 P     2028 P     2029 P     2030 P     2031 P     2032 P     2033 P     2034 P     2035 P     2036 P     2037 P     2038 P

 Penjualan                         22.347       42.377     41.063     39.790     38.556     37.361     36.203     35.081     33.993     32.939     31.918     30.929     29.970
 Dividend Income                           -          -          -          -          -    20.307     27.766     28.435     29.031     29.602     30.167     30.705     31.207
 Beban pokok penjualan             (7.411)     (21.863)   (22.979)   (22.786)   (22.278)   (21.292)   (19.216)   (18.446)   (17.584)   (16.757)   (15.968)   (15.218)   (14.504)
 Laba (Rugi) Kotor                 14.937       20.514     18.084     17.004     16.278     36.376     44.753     45.070     45.441     45.784     46.117     46.415     46.672
 Beban usaha (umum dan
                                   (6.911)     (18.575)   (18.198)   (17.607)   (17.356)   (16.669)   (14.324)   (14.113)   (13.723)   (13.345)   (12.979)   (12.624)   (12.280)
 administrasi)
 Pendapatan (beban) lain-lain          (5)            -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
 Laba (Rugi) Usaha                  8.021        1.939       (114)      (603)    (1.078)    19.707     30.428     30.957     31.718     32.439     33.138     33.792     34.392
 Beban Bunga                               -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
 Pendapatan keuangan                   10           23         30         39         49         60         72         82         92        104        115        127        139
 Beban keuangan                       101          (18)        (9)        (5)        (2)        (1)        (1)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak
                                    8.132        1.943        (93)      (569)    (1.031)   19.766      30.499     31.039     31.810     32.543     33.253     33.919     34.532
 Penghasilan
 Manfaat (Beban) Pajak
 Penghasilan
   Pajak kini                       (160)         (428)          -          -          -          -      (601)      (573)      (611)      (647)      (679)      (707)      (732)
   Pajak tangguhan                 (1.510)            -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
 Jumlah                            (1.669)        (428)          -          -          -          -      (601)      (573)      (611)      (647)      (679)      (707)      (732)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan         6.463        1.516        (93)      (569)    (1.031)    19.766     29.898     30.466     31.199     31.896     32.574     33.212     33.800




        Halaman 131                                                                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 133
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
                                                                                                                                                                        (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2039 P     2040 P     2041 P     2042 P     2043 P     2044 P     2045 P     2046 P         2047 P    2048 P     2049 P         2050 P       2051 P

 Penjualan                                29.041     28.141     27.268     26.423     25.604     24.810     24.041     23.296        22.574    21.874     21.196         20.539        19.902
 Dividend Income                          38.346     48.384     53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789        54.167    53.434     52.080         50.478        49.422
 Beban pokok penjualan                   (13.826)   (13.182)   (12.570)   11.989)    (11.436)   (10.912)   (10.413)   (9.940)        (9.490)   (9.062)    (8.656)       (8.270)       (7.904)
 Laba (Rugi) Kotor                        53.561     63.343     67.779     69.511     69.858     69.506     68.884     68.145        67.250    66.246     64.619         62.746        61.420
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (11.947)   (11.624)   (11.311)   (11.008)   (10.714)   (10.429)   (10.153)   (9.886)        (9.627)   (9.376)    (9.133)        (8.897)       (8.669)
 Pendapatan (beban) lain-lain                   -          -          -          -          -          -          -             -          -          -             -             -             -
 Laba (Rugi) Usaha                        41.614     51.719     56.469     58.504     59.144     59.077     58.731     58.259        57.624    56.870     55.487         53.850        52.751
 Beban Bunga                                    -          -          -          -          -          -          -             -          -          -             -             -             -
 Pendapatan keuangan                         152        164        177        190        203        216        228        241           254       267         279           292           304
 Beban keuangan                               (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)           (0)        (0)        (0)           (0)            (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan    41.766     51.883     56.646     58.693     59.347     59.293     58.959     58.501        57.878    57.137     55.766         54.141        53.055
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan              -          -          -          -          -          -          -             -          -          -             -             -             -
   Pajak kini                               (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)      (817)         (816)     (815)      (811)          (806)         (799)
   Pajak tangguhan                              -          -          -          -          -          -          -             -          -          -             -             -             -
 Jumlah                                     (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)      (817)         (816)     (815)      (811)          (806)         (799)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan               41.014     51.114     55.861     57.898     58.542     58.482     58.144     57.684        57.061    56.322     54.955         53.336        52.256




        Halaman 132                                                                                                                 00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 134
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Perusahaan Induk
(Dalam Jutaan Rupiah)
                     Laporan Laba Rugi              2052 P       2053 P       2054 P       2055 P       2056 P       2057 P       2058 P

 Penjualan                                            19.285      18.687      18.108       17.547       17.003       16.476       15.965
 Dividend Income                                      48.534      47.634      46.791       46.221       46.036       43.361       19.584
 Beban pokok penjualan                                (7.556)     (7.225)     (6.911)      (6.612)      (6.329)      (6.059)      (5.804)
 Laba (Rugi) Kotor                                    60.263      59.096      57.988       57.155       56.710       53.777       29.745
 Beban usaha (umum dan administrasi)                  (8.447)     (8.233)     (8.025)      (7.824)      (7.629)      (7.439)      (7.256)
 Pendapatan (beban) lain-lain                                -            -            -            -            -            -            -
 Laba (Rugi) Usaha                                    51.816      50.863      49.963       49.331       49.081       46.338       22.489
 Beban Bunga                                                 -            -            -            -            -            -            -
 Pendapatan keuangan                                     316         328         340          352          363          375          386
 Beban keuangan                                           (0)         (0)         (0)          (0)          (0)          (0)          (0)

 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan                52.132      51.192      50.303       49.683       49.445       46.713       22.875
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                           -
   Pajak kini                                           (792)       (783)       (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
   Pajak tangguhan                                           -            -            -            -            -            -            -
 Jumlah                                                 (792)       (783)       (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                           51.341      50.409      49.530       48.921       48.695       45.975       22.151




        Halaman 133                                                                                                           00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 135
Tabel 38. Analisis Inkremental
                                                                                                                                                     (Dalam Jutaan Rupiah)
                        2026 P     2027 P   2028 P     2029 P    2030 P    2031 P    2032 P   2033 P   2034 P   2035 P    2036 P   2037 P   2038 P      2039 P    2040 P
 Before
 Penjualan               43.732    42.377   41.063     39.790    38.556    37.361    36.203   35.081   33.993   32.939    31.918   30.929   29.970       29.041    28.141
 Laba (Rugi) Kotor       19.882    20.514   18.084     17.004    16.278    16.070    16.987   16.635   16.410   16.182    15.950   15.711   15.466       15.214    14.958
 Laba (Rugi) Usaha        1.017     1.939     (114)      (603)   (1.078)     (599)    2.663    2.522    2.687    2.838     2.971    3.087    3.186        3.268     3.335
 Laba Sebelum Pajak         890     1.943       (93)     (569)   (1.031)     (541)    2.734    2.603    2.779    2.941     3.086    3.214    3.325        3.420     3.499
 EBIT                       890     1.943       (93)     (569)   (1.031)     (541)    2.734    2.603    2.779    2.941     3.086    3.214    3.325        3.420     3.499
 EBITDA                   4.999     6.052    4.015      3.539     3.077     2.849     2.734    2.603    2.779    2.941     3.086    3.214    3.325        3.420     3.499
 After RI                      -        -          -         -         -         -        -        -        -        -         -        -        -            -         -
 Penjualan               43.732    42.377   41.063     39.790    38.556    57.668    63.969   63.516   63.024   62.541    62.085   61.633   61.177       67.387    76.525
 Laba (Rugi) Kotor       19.882    20.514   18.084     17.004    16.278    36.376    44.753   45.070   45.441   45.784    46.117   46.415   46.672       53.561    63.343
 Laba (Rugi) Usaha        1.012     1.939     (114)      (603)   (1.078)   19.707    30.428   30.957   31.718   32.439    33.138   33.792   34.392       41.614    51.719
 Laba Sebelum Pajak         987     1.943       (93)     (569)   (1.031)   19.766    30.499   31.039   31.810   32.543    33.253   33.919   34.532       41.766    51.883
 EBIT                       987     1.943       (93)     (569)   (1.031)   19.766    30.499   31.039   31.810   32.543    33.253   33.919   34.532       41.766    51.883
 EBITDA                   6.076     7.137    4.932      4.762     4.606    24.990    32.639   33.484   34.256   34.988    35.699   36.364   36.977       44.212    54.329
 Before - After RI             -        -          -         -         -         -        -        -        -        -         -        -        -            -         -
 Penjualan                     -        -          -         -         -   20.307    27.766   28.435   29.031   29.602    30.167   30.705   31.207       38.346    48.384
 Laba (Rugi) Kotor             -        -          -         -         -   20.307    27.766   28.435   29.031   29.602    30.167   30.705   31.207       38.346    48.384
 Laba (Rugi) Usaha           (5)        -          -         -         -   20.307    27.766   28.435   29.031   29.602    30.167   30.705   31.207       38.346    48.384
 Laba Sebelum Pajak          97         -          -         -         -   20.307    27.766   28.435   29.031   29.602    30.167   30.705   31.207       38.346    48.384
 EBIT                        97         -          -         -         -   20.307    27.766   28.435   29.031   29.602    30.167   30.705   31.207       38.346    48.384
 EBITDA                   1.078     1.086      917      1.223     1.529    22.141    29.906   30.881   31.477   32.047    32.612   33.150   33.652       40.792    50.830




       Halaman 134                                                                                                       00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 136
Analisis Inkremental
(Dalam Jutaan Rupiah)
                        2041 P     2042 P     2043 P     2044 P     2045 P     2046 P     2047 P        2048 P     2049 P      2050 P
 Before
 Penjualan                27.268     26.423     25.604     24.810     24.041     23.296     22.574        21.874     21.196      20.539
 Laba (Rugi) Kotor        14.698     14.434     14.167     13.899     13.628     13.356     13.084        12.812     12.540      12.268
 Laba (Rugi) Usaha         3.387      3.427      3.454      3.469      3.475      3.470      3.457         3.436      3.407       3.371
 Laba Sebelum Pajak        3.564      3.616      3.656      3.685      3.703      3.712      3.711         3.703      3.686       3.663
 EBIT                      3.564      3.616      3.656      3.685      3.703      3.712      3.711         3.703      3.686       3.663
 EBITDA                    3.564      3.616      3.656      3.685      3.703      3.712      3.711         3.703      3.686       3.663
 After RI                      -          -          -          -          -          -          -             -          -           -
 Penjualan                80.350     81.500     81.294     80.418     79.297     78.085     76.740        75.308     73.275      71.017
 Laba (Rugi) Kotor        67.779     69.511     69.858     69.506     68.884     68.145     67.250        66.246     64.619      62.746
 Laba (Rugi) Usaha        56.469     58.504     59.144     59.077     58.731     58.259     57.624        56.870     55.487      53.850
 Laba Sebelum Pajak       56.646     58.693     59.347     59.293     58.959     58.501     57.878        57.137     55.766      54.141
 EBIT                     56.646     58.693     59.347     59.293     58.959     58.501     57.878        57.137     55.766      54.141
 EBITDA                   59.091     61.139     61.792     61.738     61.405     60.946     60.323        59.583     58.212      56.587
 Before - After RI             -          -          -          -          -          -          -             -          -           -
 Penjualan                53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789     54.167        53.434     52.080      50.478
 Laba (Rugi) Kotor        53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789     54.167        53.434     52.080      50.478
 Laba (Rugi) Usaha        53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789     54.167        53.434     52.080      50.478
 Laba Sebelum Pajak       53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789     54.167        53.434     52.080      50.478
 EBIT                     53.081     55.077     55.690     55.608     55.256     54.789     54.167        53.434     52.080      50.478
 EBITDA                   55.527     57.523     58.136     58.053     57.702     57.235     56.612        55.880     54.525      52.924




       Halaman 135                                                                                   00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 137
Analisis Inkremental
(Dalam Jutaan Rupiah)
                        2051 P   2052 P   2053 P    2054 P    2055 P    2056 P    2057 P    2058 P
 Before
 Penjualan              19.902   19.285    18.687    18.108    17.547    17.003    16.476    15.965
 Laba (Rugi) Kotor      11.998   11.729    11.462    11.197    10.934    10.674    10.416    10.161
 Laba (Rugi) Usaha       3.329    3.282     3.229     3.172     3.110     3.045     2.977     2.905
 Laba Sebelum Pajak      3.634    3.598     3.558     3.512     3.462     3.409     3.351     3.291
 EBIT                    3.634    3.598     3.558     3.512     3.462     3.409     3.351     3.291
 EBITDA                  3.634    3.598     3.558     3.512     3.462     3.409     3.351     3.291
 After RI                    -        -         -         -         -         -         -         -
 Penjualan              69.324   67.819    66.321    64.899    63.767    63.039    59.837    35.549
 Laba (Rugi) Kotor      61.420   60.263    59.096    57.988    57.155    56.710    53.777    29.745
 Laba (Rugi) Usaha      52.751   51.816    50.863    49.963    49.331    49.081    46.338    22.489
 Laba Sebelum Pajak     53.055   52.132    51.192    50.303    49.683    49.445    46.713    22.875
 EBIT                   53.055   52.132    51.192    50.303    49.683    49.445    46.713    22.875
 EBITDA                 55.501   54.578    53.638    52.749    52.129    51.891    49.158    25.320
 Before - After RI           -        -         -         -         -         -         -         -
 Penjualan              49.422   48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584
 Laba (Rugi) Kotor      49.422   48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584
 Laba (Rugi) Usaha      49.422   48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584
 Laba Sebelum Pajak     49.422   48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584
 EBIT                   49.422   48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584
 EBITDA                 51.867   50.980    50.080    49.237    48.666    48.482    45.807    22.030




       Halaman 136                                                                             00194/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 138

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size6.15 MB
Published28 Sep 2026
Pages138
Characters419,386
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 0 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

The name pass has not read this document yet.

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 7018 ms 29 Sep 2026 11:11

missing: transaction_date, object_text

Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result