Skip to content
Back to announcement

20260924_SOFA_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32150856_lamp7.pdf

Asset transaction Needs review SOFA

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 141

Page 1

          
Page 2
                 Kantor Jasa Penilai Publik                                                            The Manhattan Square
                                                                                           Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                 FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                        Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                                                                                          E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                 Property, Business Valuation & Advisory                                         Website: www.fdipartners.co
                 Licence No. 2.22.0176                                                              Phone (62 21) 27875911
                 KMK 460/KM.1/2022
                 Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia


                                                                                  Jakarta, 28 September 2026

Kepada Yth,
PT Solusi Environment Asia Tbk
Sequis Center Lantai 3, Unit 305,
Jl. Jenderal Sudirman No. 71, Senayan,
Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12190

No. Laporan    : 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Hal            : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk

Dengan hormat,

LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT SOLUSI ENVIRONMENT ASIA TBK

Berdasarkan Surat Penawaran No.025/FDI/PB-FS/VI/2026 tanggal 25 Juni 2026 KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Solusi Environment Asia Tbk (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau SOFA”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk, per 30 Juni 2026 berupa penambahan
yaitu:

 No        Kode KBLI                                                Bidang Usaha
 1        KBLI 64220                                       Aktivitas Pembiayaan Conduit

Sebelumnya kami telah menerbitkan laporan studi kelayakan dengan No. 00156/2.0176-
00/BS/04/0213/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus 2026, dan revisi laporan studi kelayakan dengan No.
00180/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026 tanggal 18 September 2026 sehubungan dengan surat
Otoritas Jasa Keuangan No. S-246/PM.211/2026 tanggal 28 Agustus 2026 dan asistensi yang
disampaikan OJK melalui surel pada 28 September 2026 kepada PT Solusi Environment Asia Tbk perihal
Perubahan dan/atau Tambahan Informasi Atas Studi Kelayakan Penambahan KBLI 64210 Aktivitas
Perusahaan Induk, dengan perubahan sesuai dengan surat OJK tersebut di atas dan atas perubahan-
perubahan tersebut tidak mempengaruhi terhadap opini pada studi kelayakan.

Maksud dan Tujuan

Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada PT Solusi Environment Asia Tbk yang
diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan
perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan perubahan Kegiatan Usaha.

Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya.




                  Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Tanggal Studi Kelayakan

Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.

Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis Kelayakan Pasar;
b. Analisis Kelayakan Teknis;
c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis;
d. Analisis Model Manajemen; dan
e. Analisis Kelayakan Keuangan.

Analisis atas Kelayakan Pasar

Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki peluang
yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait masih memberikan
ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara nasional didukung oleh kebijakan
pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah. Perseroan juga telah memiliki basis investasi
melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk
pengembangan portofolio usaha.

Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui
pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta pengembangan
jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebijakan pemerintah,
perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha, aspek pasar rencana kegiatan
penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang cukup baik,
dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang investasi dan kondisi pasar yang
berlaku.

Analisis atas Kelayakan Teknis

Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh kesiapan
Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan kebutuhan
pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada entitas dalam
grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan dan struktur
pendanaan yang telah ditetapkan.

Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas anak
dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal pada WNA
dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan oleh entitas
operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan pengawasan arus
dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan WNA dan WNG serta mitra
teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam menyusun dan menyalurkan pendanaan
sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI
64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak, didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian
arus dana, pemantauan penggunaan dana, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.



Halaman 2                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 4
Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI 64220
Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan kegiatan usaha ini
memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan
penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup, khususnya dalam mendukung
kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun
Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk selanjutnya digunakan sebagai
setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan pada perusahaan operasional proyek
pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Kelayakan pola bisnis tersebut didukung
oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang memberikan akses terhadap sumber pendanaan,
pengalaman manajemen dalam pengelolaan usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana
yang dapat dilakukan melalui entitas yang telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan
entitas baru. Dari sisi penciptaan nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi
dan koordinasi pendanaan grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas
dalam grup, serta membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki
prospek pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa
kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan
penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan.

Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki
kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris dalam
bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal, pelaksanaan
kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah tersedia di Perseroan.
Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan WNG melalui AEA sebagai
entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, penerapan proses
evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta pelaporan secara berkala dari entitas penerima,
model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara
efektif dan efisien, dengan tetap memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan
kompleksitas kegiatan usaha Perseroan.

Analisis atas Kelayakan Keuangan

Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA
memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV,
IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat diskonto yang
digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat dari sudut pandang
Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah sebagaimana tercermin
dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan
kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi laporan posisi
keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang bersumber dari penerimaan atas penyaluran
dana kepada entitas dalam grup melalui entitas anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA
adalah layak untuk dijalankan.



Halaman 3                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 5

          
Page 6
                                                            DAFTAR ISI


SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5
DAFTAR GRAFIK........................................................................................................................7
DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... 8
BAB I    ................................................................................................................................. 9
PENDAHULUAN .......................................................................................................................9
  1.1    Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 9
  1.2    Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 9
  1.3    Pengguna Laporan ......................................................................................................... 9
  1.4    Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 9
  1.5    Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................. 10
  1.6    Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .............................................................................. 10
  1.7    Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ......................................................................... 10
  1.8    Tingkat Kedalaman Investigasi....................................................................................... 10
  1.9    Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ....................................................... 10
  1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas ....................................................................................... 11
  1.11 Asumsi Dan Asumsi Khusus ........................................................................................... 11
  1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi .................................................................. 11
  1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ........... 12
  1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................. 12
  1.15 Data dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 12
  1.16 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 12
  1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 13
BAB II   ............................................................................................................................... 14
ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN ........................................................................ 14
  2.1.   Data dan Informasi....................................................................................................... 14
  2.2.   Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 14
  2.3.   Gambaran Umum SOFA .............................................................................................. 14
  2.4.   Laporan Keuangan SOFA ............................................................................................. 24
  2.5.   Analisis Laporan Keuangan SOFA ................................................................................. 31
  2.6.   Prospek Usaha ............................................................................................................. 34
BAB III  ............................................................................................................................... 36
ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 36
  3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 36
  3.2.   Kondisi Pasar ............................................................................................................... 41
  3.3.   Persaingan Pasar .......................................................................................................... 47
  3.4.   Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 47
  3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 48
BAB IV ............................................................................................................................... 49
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 49
  4.1.   Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 49
  4.2.   Teknis Pelaksanaan Sebagai Entitas Pembiayaan Conduit ................................................ 49
  4.3.   Rencana Pengembangan Fungsi Pembiayaan Conduit .................................................... 51
  4.4.   Proses Bisnis Entitas Konsorsium .................................................................................... 54
  4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 55
BAB V    ............................................................................................................................... 57
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 57
  5.1    Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 57
  5.2    Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 58
  5.3    Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 59
  5.4    Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 60
  5.5    Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 60
  5.6    Analisis SWOT.............................................................................................................. 61
  5.6.1 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 63


Halaman 5                                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 7
BAB VI ............................................................................................................................... 64
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 64
  6.1    Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 64
  6.2    Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 65
  6.3    Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 65
  6.4    Manajemen Risiko ........................................................................................................ 65
  6.5    Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 67
  6.6    Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 70
  6.7    Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................. 71
  6.8    Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 72
BAB VII ............................................................................................................................... 73
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 73
  7.1    Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 73
  7.2    Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 73
  7.3    Proyeksi Keuangan Konsorsium ..................................................................................... 74
  7.4    Analisis Profitabilitas ..................................................................................................... 76
  7.5    Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 77
  7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 77
  7.5.2 Terminal Value ............................................................................................................. 79
  7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 79
  7.6    Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 80
  7.7    Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 85
  7.8    Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 87
BAB VIII ............................................................................................................................... 88
KESIMPULAN .......................................................................................................................... 88
  8.1    Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 88
  8.2    Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 88
  8.3    Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 88
  8.4    Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 89
  8.5    Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 89
  8.6    Kesimpulan .................................................................................................................. 89
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 91
PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 92
LAMPIRAN – LAMPIRAN ........................................................................................................... 94




Halaman 6                                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 8
                                                   DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara ...................................................................... 36
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy) .................................................. 38
Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %) ................................................................. 39
Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 39
Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar di Indonesia, 2020-Q2 2026 ........................................... 40
Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026 ........................................ 41
Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026 ................................................... 42
Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait .......................................................................... 44
Grafik 9. Struktur Kepemilikan pada Entitas Anak ......................................................................... 54
Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI ............................................ 70
Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI ................................ 71




Halaman 7                                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 9
                                                          DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64220 ........................................................................... 10
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA ................................................................................... 18
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah) ............................................. 25
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah) .................................................... 27
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah) ................................................................... 29
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan ................................................ 31
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi) ....................................................... 32
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan ................................................................................................. 32
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara .............................................................................. 37
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 41
Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood) .............................. 43
Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNA .................................................................................. 52
Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNG ................................................................................. 53
Tabel 14. Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 73
Tabel 15. Proyeksi Entitas Konsorsium ........................................................................................... 74
Tabel 16. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................. 76
Tabel 17. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................. 77
Tabel 18. Cost of Equity (CoE) ...................................................................................................... 78
Tabel 19. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit .................... 79
Tabel 20. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit 80
Tabel 21. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
          Conduit ........................................................................................................................ 82
Tabel 22. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit . 82
Tabel 23. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
          Conduit ........................................................................................................................ 83
Tabel 24. Analisis Inkremental ..................................................................................................... 84
Tabel 25. Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 86
Tabel 26. Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058) ........................................... 101
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha............................... 108
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ................................ 109
Tabel 29. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................... 110
Tabel 30. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................... 112
Tabel 31. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ................................................................... 114
Tabel 32. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi
          Periode 2026-2058).................................................................................................... 115
Tabel 33. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
          Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058) ......................................................................... 119
Tabel 34. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit ....... 125
Tabel 35. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
          Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058) ......................................................................... 128
Tabel 36. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
          (Periode Proyeksi 2026 – 2058) ................................................................................... 134
Tabel 37. Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058) ....................................................... 137




Halaman 8                                                                        00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 10
                                                BAB I
                                            PENDAHULUAN



1.1   Identitas Status Konsultan

      Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
      Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
      memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
      Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
      No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
      Penilai Publik sebagai berikut:

      •     Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
            dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
            anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
      •     Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
            kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
            aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
      •     Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
            tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
            ini.

1.2   Identitas Pemberi Tugas

      Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah SOFA dengan informasi sebagai
      berikut:

      a. Nama Pemberi Tugas              : PT Solusi Environment Asia Tbk
      b. Alamat                          : Sequis Center Lantai 3, Unit 305, Jl. Jenderal Sudirman No.
                                           71, Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
                                           DKI Jakarta 12190
      c.    Bidang Usaha                 : Barang Rumah Tangga
      d.    No. Telepon/Fax              : 021 52907351
      e.    Alamat Email                 : corsec@solusienvironmentasia.com
      f.    Penanggung Jawab             : Bapak Ezra Mohammed Dhanaguna
      g.    Jabatan                      : Direktur

1.3   Pengguna Laporan

      Pengguna laporan dalam hal ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.

1.4   Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan

      Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      (KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA:




Halaman 9                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 11
      Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64220
       No        Kode KBLI                               Bidang Usaha
        1       KBLI 64220                      Aktivitas Pembiayaan Conduit
      Sumber: Informasi Manajemen

1.5   Jenis Mata Uang Yang Digunakan

      Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
      laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).

1.6   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan

      Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
      Kegiatan Usaha (KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada PT Solusi Environment Asia
      Tbk yang diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan
      peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
      Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha
      (“POJK 17”).

      Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
      35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
      (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
      Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
      Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
      menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya

1.7   Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)

      Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.

1.8   Tingkat Kedalaman Investigasi

      a.   Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
           terima dari pemberi tugas.
      b.   Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
           keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
      c.   Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
           kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
           keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
           (data yang relevan).
      d.   Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
           disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
           melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.

1.9   Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan

      Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
      digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
      internasional. Sumber data tersebut antara lain:
      a. Bank Indonesia.


Halaman 10                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 12
      b.   Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain.
      c.   Badan Pusat Statistik.
      d.   Pemerintah Kota dan Kabupaten.
      e.   Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
           dengan obyek studi kelayakan.
      f.   Media cetak dan elektronik resmi.
      g.   Sumber lainnya.
      h.   S&P Capital IQ.

1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas
     a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
     b. Penilai telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
         penilaian/studi kelayakan;
     c. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke
         akuratannya;
     d. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
         proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
         (fiduciary duty);
     e. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
         keuangan yang telah disesuaikan;
     f.  Laporan Penilaian/Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang
         bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan;
     g. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian/Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai
         akhir.
     h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Studi Kelayakan dari Pemberi
         Tugas.

1.11 Asumsi Dan Asumsi Khusus

      Asumsi:
      • Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
         karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
         dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
      • Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
         dalam studi kelayakan.

1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi

      Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
      didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
      yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
      kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
      pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
      kelayakan.

      Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
      merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.




Halaman 11                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 13
     Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
     sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.

1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar

     Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
     Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).

1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan

     Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
     mencakup hal–hal sebagai berikut:
     a. Analisis atas Kelayakan Pasar;
     b. Analisis atas Kelayakan Teknis;
     c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis;
     d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
     e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.

1.15 Data dan Informasi Pendukung

     Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
     sebagai berikut:

     •    Hasil Pelaksanaan Inspeksi
          Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 6 Juli 2026
          dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
          mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses studi
          kelayakan.

     •    Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Studi Kelayakan
          Obyek Studi Kelayakan merupakan SOFA. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen hukum
          yang relevan dengan Obyek Studi Kelayakan merupakan dokumen-dokumen hukum yang
          juga melekat pada SOFA. Adapun dokumen hukum SOFA, yang mencakup perijinan dan
          legalitas SOFA, diuraikan kemudian dalam Gambaran Umum SOFA.

1.16 Pernyataan Independensi Konsultan

     a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
        yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
     b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
        berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
        kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
        memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
        terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
     c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
        keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
        yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
        yang kami anggap relevan;
     d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
        aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami



Halaman 12                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 14
        tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
        objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
     e. Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan Konsultan tidak terafiliasi dengan SOFA
        selaku Pemberi Tugas dan juga tidak terafiliasi dengan SOFA selaku objek kajian studi
        kelayakan maupun pihak-pihak lain yang terafiliasi dengan perusahaan.

1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)

     Dari tanggal studi kelayakan (cut-off off date) per 30 Juni 2026 hingga Laporan Studi Kelayakan
     ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
     yang dapat mempengaruhi hasil studi kelayakan. Namun, berdasarkan informasi manajemen
     terdapat perjanjian yang telah dibuat setelah tanggal studi kelayakan diantaranya sebagai berikut:

      1. Perjanjian Novasi atas Perjanjian Usaha Patungan tertanggal 2 Maret 2026 (“Novasi JVA”)
         antara PT Danantara Investment Management (“DIM”), DENERA, WNA, seluruh pemegang
         saham WNA, dan PT Weiming Nusantara Bali New Energy (“BUPP PSEL Denpasar Raya”)
         pada tanggal 7 Juli 2026;
      2. Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP PSEL Denpasar Raya
         tentang Penggunaan Lahan Proyek Dalam Rangka Penyelenggaraan Fasilitas Pengolahan
         Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik di Denpasar Raya
         pada tanggal 7 Juli 2026.
      3. Berita Acara Serah Terima atas Lahan Proyek antata Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP
         PSEL Denpasar Raya pada tanggal 7 Juli 2026;
      4. Penandatanganan PJBL untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (“PLTSa”) Denpasar Raya
         30 MW antara PT PLN (Persero) dengan BUPP PSEL Denpasar Raya pada tanggal 8 Juli 2026;
         dan
      5. Penandatanganan Perjanjian Sponsor untuk PLTSa Denpasar Raya 30 MW antara PT Daya
         Energi Bersih Nusantara (“DENERA”) dengan seluruh pemegang saham WNA pada tanggal
         8 Juli 2026.

     Namun demikian, kejadian tersebut tidak memengaruhi hasil studi kelayakan yang telah
     dilakukan.




Halaman 13                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 15
                                             BAB II
                            ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN



2.1.   Data dan Informasi

       Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:

          • Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
            diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli, Bambang, Sulistyanto, Dadang & Ali, yang telah
            ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong, M.Si., CPA, sebagaimana
            tertuang dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21
            Agustus 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
          • Proyeksi keuangan SOFA tahun 2026 sampai dengan 2058 yang disusun oleh manajemen
            SOFA.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari SOFA serta pihak pihak lain yang relevan untuk
            penugasan.
          • Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal SOFA baik dari media cetak
            maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
          • Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
            dokumen.
          • Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal SOFA serta pihak pihak lain yang
            relevan untuk penugasan.

2.2.   Pelaksanaan Wawancara

       Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 6 Juli 2026
       dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
       mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.

2.3.   Gambaran Umum SOFA

       a. Latar Belakang SOFA

          PT Solusi Environment Asia Tbk dahulu merupakan PT Pratama Prima Cipta kemudian menjadi
          PT Boston Furniture Industries Tbk selanjutnya disebut “Perusahaan” atau “SOFA”, Perseroan
          secara konsisten mengembangkan kapasitas produksi, jaringan ritel, serta portofolio produk
          premium, yang diperkuat dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020
          dengan nama PT Boston Furniture Industries Tbk. Perusahaan didirikan berdasarkan Akta
          pendirian yang dinyatakan dalam Akta nomor 6 tanggal 6 Juli 2012 dari Irene Yulia, S.H.,
          notaris yang berkedudukan di Jakarta. Akta pendirian perusahaan tersebut telah mendapat
          pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat
          Keputusan Nomor. AHU-40585.AH.01.01. Tahun 2012 tanggal 26 Juli 2012. Anggaran dasar
          perusahaan beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan akta Nomor 171 tanggal
          18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, mengenai
          perubahan nama “Perusahaan” dari PT Boston Furniture Industries Tbk menjadi PT Solusi
          Environment Asia Tbk dan perubahan beberapa ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan.
          Akta perubahan anggaran dasar perusahaan tersebut telah mendapat pengesahan dari




Halaman 14                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 16
        Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat Keputusan Nomor.
        AHU-AH.01.09-0000204 tanggal 2 Januari 2026.

        Perusahaan telah menerima Surat Pernyataan Efektif dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
        Modal atas nama Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dengan surat No. S-
        178/D.04/2020 tanggal 26 Juni 2020 untuk melakukan penawaran umum saham kepada
        masyarakat sebanyak 400.000.000 saham biasa dan sebanyak 400.000.000 Waran Seri I
        dengan nilai nominal Rp10 per saham dengan harga penawaran Rp100 per saham. Saham-
        saham tersebut seluruhnya telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia tanggal 07 Juli 2020.

        Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jalan Milenium 15 Blok I-2
        No.5A Peusar, Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Hasil produksi Perusahaan
        berupa mebel kualitas tinggi dan menggunakan merek Blackwood. Perusahaan memulai
        kegiatan komersilnya tahun 2015. Sehubungan dengan pengambilalihan saham pengendali
        oleh PT Asia Investment Capital pada bulan Oktober 2025, Perusahaan mulai melakukan
        diversifikasi bisnis, salah satunya di bidang pengelolaan sampah menjadi energi listrik melalui
        perusahaan anak.

     b. Perizinan

        Perizinan yang telah diperoleh SOFA, antara lain sebagai berikut:

        •    Akta Pendirian Perusahaan No. 06 Tanggal 06 Juli 2012 oleh Irene Yulia, SH., Notaris di
             Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AH-40585.AH.01.01.Tahun 2012
             Tanggal 26 Juli 2012 tentang pengesahan badan hukum perseroan;
        •    Akta No. 50 Tanggal 29 November 2016 oleh Vivi Novita Rido, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.03-0102987 Tanggal 28 November 2016 tentang perubahan pengangkatan
             kembali;
        •    Akta No. 353 Tanggal 21 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
             Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0085073.AH.01.02.Tahun
             2019 tentag persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas;
        •    Akta No. 523 Tanggal 28 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
             Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0088235.AH.01.02.Tahun
             2019 tanggal 29 Oktober 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar
             perseroan terbatas;
        •    Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 0004380.AH.01.02.TAHUN 2020
             tanggal 17 Januari 2020 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
             terbatas;
        •    Akta No. 52 Tanggal 11 Agustus 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
             AH.01.03-0380936 tanggal 1 September 2020 tentang perubahan peningkatan modal
             ditempatkan atau disetor;

Halaman 15                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 17
        •    Akta No. 26 Tanggal 30 Agustus 2021 oleh Syarifudin, SH., Notaris di Tangerang, akta
             telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat
             Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0454261
             Tanggal 29 September 2021 tentang perubahan pasal 9, pasal 10 dan pasal 11;
        •    Akta No. 18 Tanggl 11 November 2021 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
             di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
             AH.01.03-0480402 tanggal 2 Desember 2021;
        •    Akta No. 3 Tanggal 14 Juni 2024 oleh Bastian Harijanto, SH., MKn., Notaris di
             Tangerang, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.09-0224015 tanggal 9 Juli 2024 tentang perubahan direksi dan komisaris;
        •    Akta No. 171 tanggal 18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
             dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000058.AH.01.02.TAHUN 2026
             Tanggal 2 Januari 2026 tentang perubahan nama perseroan terbatas;
        •    Akta No. 187 Tanggal 19 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
             Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
             berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
             AH.01.09-0017677 Tanggal 27 Januari 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
        •    Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
             akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
             Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-
             0346218 Tanggal 24 Juni 2026;
        •    Akta No. 423 Tanggal 30 Juni 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
             akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
             Surat Pemberitahuan Penerimaan Penyampaian Laporan Tahunan No. AHU-AH.01.01-
             0023651 Tanggal 2 Juli 2026 tentang penyampaian laporan tahunan;
        •    Perizinan berusaha berbasis risiko sertifikat standar 91203083029640001untuk industri
             furnitur dari kayu;
        •    Persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha nomor
             280922102136030778 untuk industri furnitur dari kayu;
        •    Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
             tanggal 12 Februari 2026 untuk industri furnitur dari kayu;
        •    Konfirmasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha No.
             110626102131741528 untuk aktivitas perusahaan holding;
        •    Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
             tanggal 11 Juni 2026 untuk aktivitas perusahaan holding;
        •    Sucofindo International Certification Services No. VLK 01069 atas nama PT Boston
             Furniture Industries Tbk untuk kegiatan usaha industri dan produk furniture dari kayu
             kapistas 1.600 pcs berlaku dari 25 Juni 2025 sampai dengan 24 Juni 2031;
        •    Surat keterangan terdaftar No. S-00843/SKT-WP-CT/KPP.0708/2026 Tanggal 03 Juli
             2026 diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
             Pajak;
        •    Nomor Induk Berusaha: 9120308302964; dan
        •    NPWP: 0315615286451000.




Halaman 16                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 18
     c. Kegiatan Usaha

        Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
        maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan
        besar selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas
        profesional, ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta
        perlengkapan rumah tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana
        pensiun, guna mendukung pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
        Perseroan dalam menjalankan maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan
        usaha sebagai berikut:

        1. Kegiatan usaha utama perseroan
            a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
               berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
               meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta
               produk sejenis lainnya; dan
            b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
               untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama
               logam, termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.

        2. Kegiatan usaha penunjang perseroan
            a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
               khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet,
               serta produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan
               perlengkapan tidur seperti bantal dan guling;
            b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI
               47599), yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan
               rumah tangga yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan
               lainnya;
            c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang
               meliputi kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya
               yang melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas
               nama pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain
               bahan baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu
               dan bahan bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang
               keperluan rumah tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda
               motor (KBLI 451–454);
            d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
               interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
               pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
               dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
               interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
               meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit,
               wallpaper, pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan
               interior lainnya;
            e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
               desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan
               desain produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material,




Halaman 17                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 19
                konstruksi, keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta
                penggunaan, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
             f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
                profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan
                lainnya;
             g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
                perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta
                perlengkapan rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan
                lepas (self-standing); dan
             h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset
                dan kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi
                dan perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.

     d. Lokasi

        Perusahaan berdomisili di Sequis Center Lantai 3 Unit 305, Jalan Jenderal Sudirman No. 71,
        Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi
        DKI Jakarta 12190. Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jl.
        Milenium 15 Blok I-2 No.5A Peusar, Panongan, Kab. Tangerang, Banten.

     e. Susunan Pemegang Saham

        Berdasarkan informasi manajemen dan Laporan Keuangan Audit per 30 Juni 2026 susunan
        pemegang saham SOFA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

        Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA
              Nama Pemegang Saham              Jumlah saham        % saham             Jumlah
         PT Asia Investment Capital              1.173.500.000        70,97%         11.735.000.000
         Masyarakat/ Public                        480.074.499        29,03%           4.800.744.990
         Total                                   1.653.574.499       100,00%         16.535.744.990
        Sumber: Informasi Manajemen

     f. Susunan Pengurus

        Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima
        Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta, susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni
        2026 adalah sebagai berikut:

        Komisaris
        Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
        Komisaris Independen         : Nuryana Hidayat
        Komisaris                    : Saswinadi Sasmojo
        Komisaris                    : Lusi Amanda

        Direksi:
        Direktur Utama                 : Denny Rizal
        Direktur                       : Ezra Mohammed Dhanaguna
        Direktur                       : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
        Direktur                       : Reza Muhammad Mandara


Halaman 18                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 20
     g. Latar Belakang Ekonomi

        Studi Kelayakan ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB
        III dalam laporan ini.

     h. Produk dan Layanan

        SOFA merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri
        furnitur, khususnya melalui produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam untuk kebutuhan
        rumah tangga maupun perkantoran. Produk furnitur yang dihasilkan antara lain meja, kursi,
        tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk furnitur sejenis lainnya
        dengan menggunakan merek Blackwood. Kegiatan produksi Perusahaan didukung oleh
        fasilitas pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Millenium, Kabupaten Tangerang, Provinsi
        Banten.

     i. Teknologi yang Digunakan

        Dalam rangka rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 – Aktivitas
        Pembiayaan Conduit, SOFA pada dasarnya tidak memerlukan teknologi khusus yang bersifat
        operasional sebagaimana kegiatan usaha berbasis produksi. Kegiatan pembiayaan conduit
        lebih berfokus pada pengelolaan dan penyaluran sumber pendanaan kepada pihak yang
        membutuhkan pembiayaan, sehingga kebutuhan teknologi terutama berkaitan dengan sistem
        informasi dan administrasi untuk mendukung proses pengelolaan pembiayaan.

     j. Pasar Geografis

        Pasar geografis SOFA pada dasarnya berfokus di dalam negeri (Indonesia) dengan cakupan
        distribusi yang cukup luas antar wilayah. Cakupan Nasional (Indonesia) dengan menjalankan
        perusahaan manufaktur furnitur kayu dan logam dengan pengolahan mebel berbahan dasar
        kayu dan produk kayu lainnya, berbahan dasar logam serta distribusi dan penjualan mebel
        melalui Perusahaan Anak.

     k. Risiko Usaha

        Analisis risiko untuk SOFA merupakan kajian sistematis atas berbagai ketidakpastian yang
        berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan Perusahaan, khususnya dalam
        kegiatan usaha industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI
        31004), serta rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas pembiayaan conduit (KBLI
        64220). Risiko-risiko tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang
        berdampak terhadap keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas
        Perusahaan.

        Ketidakpastian dalam industri furnitur dipengaruhi oleh ketersediaan dan harga bahan baku
        kayu maupun logam, siklus sektor properti dan konstruksi, daya beli masyarakat, nilai tukar
        mata uang asing, serta kebijakan pemerintah di bidang kehutanan, perdagangan, dan
        lingkungan hidup. Sementara itu, penambahan kegiatan usaha pembiayaan conduit
        memunculkan risiko baru yang bersifat finansial, antara lain risiko atas kemampuan
        penghimpunan dana dari pasar, ketergantungan pada arus pengembalian dari entitas
        penerima dana, serta risiko tata kelola dan pemantauan atas penggunaan dana pada setiap


Halaman 19                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 21
        jenjang penyaluran. SOFA akan melakukan penambahan setoran modal pada entitas yang
        telah ada dalam struktur konsorsium, yaitu PT Weiming Nusantara Alpha ("WNA") dan PT
        Weiming Nusantara Gamma ("WNG"), yang dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan,
        yaitu PT Ananta Energi Asia ("AEA").

        Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi kerugian
        dan menjaga keberlanjutan usaha Perusahaan. Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
        mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
        operasional dan finansial SOFA, baik pada kegiatan usaha yang telah berjalan maupun pada
        kegiatan usaha yang direncanakan.

        a. Risiko Kredit

             Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi SOFA akibat ketidakmampuan
             pelanggan, mitra usaha, maupun entitas penerima dana dalam memenuhi kewajiban
             pembayaran atau pengembalian sesuai perjanjian.

             Dalam kegiatan usaha Perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:

             •   Pemberian termin pembayaran kepada distributor, jaringan ritel, kontraktor, dan
                 pelanggan proyek/korporasi;
             •   Konsentrasi penjualan pada sejumlah pelanggan atau segmen tertentu (misalnya
                 proyek properti, perhotelan, atau perkantoran);
             •   Penyaluran dana kepada AEA yang selanjutnya diteruskan kepada WNA dan WNG
                 dalam bentuk setoran modal, termasuk penyaluran pinjaman antarperusahaan
                 (intercompany loan) dan pemberian jaminan korporasi sehubungan dengan fungsi
                 pembiayaan conduit;
             •   Konsentrasi pengembalian pada arus kas perusahaan operasional proyek, yang
                 sepenuhnya bersumber dari penjualan tenaga listrik kepada satu pihak pembeli.

             Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas Perusahaan,
             memperpanjang siklus konversi kas, serta meningkatkan beban penyisihan kerugian
             penurunan nilai atas piutang dan tagihan kepada entitas dalam grup.

             Mitigasi dilakukan melalui:

             •   Analisis kelayakan kredit pelanggan sebelum pemberian termin;
             •   Penetapan limit kredit dan termin pembayaran yang disesuaikan dengan profil
                 pelanggan;
             •   Permintaan uang muka (down payment) untuk pesanan proyek berskala besar;
             •   Pemantauan umur piutang (aging schedule) secara berkala dan penagihan terstruktur;
             •   Diversifikasi basis pelanggan dan saluran distribusi;
             •   Kajian kelayakan, penyaluran bertahap sesuai pencapaian proyek, serta pembatasan
                 eksposur atas pendanaan dan jaminan kepada entitas dalam grup.




Halaman 20                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 22
        b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah

             Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
             kegiatan usaha SOFA, khususnya di sektor industri pengolahan, perdagangan,
             kehutanan, ketenagalistrikan, dan pasar modal.

             Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:

              •   Kebijakan legalitas dan kelestarian bahan baku kayu, termasuk ketentuan Sistem
                  Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) serta dokumen angkutan hasil hutan;
              ▪   Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan pengadaan
                  barang pemerintah;
              ▪   Kebijakan ketenagakerjaan, termasuk penetapan upah minimum;
              ▪   Perubahan ketentuan pada sektor pengolahan sampah menjadi energi, meliputi
                  harga pembelian tenaga listrik, jangka waktu perjanjian, mekanisme seleksi
                  pengembang, serta kewajiban penyediaan lahan dan pasokan sampah oleh
                  pemerintah daerah, yang berdampak pada kelayakan proyek yang dibiayai;
              ▪   Ketentuan perpajakan, termasuk perlakuan pajak atas dividen dan transaksi
                  antarentitas dalam satu grup;
              ▪   Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia yang berlaku bagi
                  perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai penambahan kegiatan usaha,
                  penghimpunan dana, transaksi material, dan transaksi afiliasi.

             Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya bahan baku dan produksi,
             kelayakan proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana, ruang lingkup usaha, struktur
             perizinan, serta kelancaran pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha
             Perusahaan.

        c.   Risiko Operasional

             Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
             proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
             mengganggu kegiatan usaha SOFA.

             Risiko ini meliputi:

             •    Gangguan ketersediaan dan fluktuasi harga bahan baku utama (kayu, logam, busa,
                  kain pelapis, serta bahan finishing);
             •    Kerusakan mesin produksi, gangguan utilitas, serta risiko kebakaran pada fasilitas
                  pabrik dan gudang;
             •    Kegagalan pemenuhan standar mutu yang berujung pada produk cacat, pengerjaan
                  ulang, dan klaim garansi;
             •    Kecelakaan kerja dan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada
                  area produksi;
             •    Gangguan rantai pasok (supply chain disruption) dan keterlambatan pengiriman
                  kepada pelanggan;
             •    Ketergantungan pada tenaga kerja terampil serta risiko perputaran karyawan kunci;
             •    Human error dan keterbatasan sistem informasi dalam pengelolaan persediaan,
                  produksi, dan pelaporan;


Halaman 21                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 23
             •   Pada fungsi pembiayaan conduit: kelemahan prosedur penyaluran dan pemantauan
                 penggunaan dana, keterlambatan pelaporan dari entitas penerima, keterlambatan
                 konsolidasi laporan keuangan, serta belum matangnya sistem dan kebijakan pada
                 Divisi Tresuri dan Pendanaan maupun Divisi Manajemen Portofolio yang baru
                 dibentuk.

             Ketergantungan pada fasilitas produksi, kesinambungan pasokan bahan baku, dan
             keandalan tenaga kerja menjadikan aspek pemeliharaan, pengendalian mutu, dan
             keselamatan kerja sebagai faktor krusial dalam operasional Perusahaan, sementara pada
             fungsi pembiayaan conduit ketertiban prosedur dan dokumentasi menjadi faktor penentu.

        d. Risiko Persaingan Usaha

             Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri
             furnitur nasional maupun regional.

             Risiko ini meliputi:

             •   Tekanan harga akibat masuknya produk furnitur impor dengan struktur biaya yang
                 lebih rendah;
             •   Persaingan dengan produsen lokal berskala besar maupun pelaku usaha kecil dan
                 menengah pada segmen harga menengah ke bawah;
             •   Perkembangan saluran penjualan digital dan marketplace yang meningkatkan
                 transparansi harga dan menekan margin;
             •   Kompetisi dalam desain produk, kualitas material, ketepatan waktu pengiriman, serta
                 layanan purnajual;
             •   Perebutan kontrak pengadaan pada proyek properti, perhotelan, dan perkantoran.

             Masuknya pemain baru maupun ekspansi produsen furnitur berskala besar dapat
             meningkatkan intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar serta
             marjin laba SOFA.

        e. Risiko Usaha

             Risiko usaha SOFA berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan industri yang
             memengaruhi permintaan produk furnitur serta kelayakan penyaluran dana Perusahaan.

             Faktor utama yang memengaruhi antara lain:

             •   Siklus sektor properti, konstruksi, dan perhotelan sebagai penggerak utama
                 permintaan furnitur;
             •   Tingkat daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga;
             •   Fluktuasi harga komoditas kayu dan logam;
             •   Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, baik atas pembelian bahan
                 baku impor maupun penjualan ekspor;
             •   Perubahan tingkat suku bunga yang memengaruhi biaya pendanaan dan permintaan
                 pembiayaan properti;
             •   Stabilitas ekonomi nasional dan kondisi perekonomian global;




Halaman 22                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 24
             •   Ketergantungan penerimaan Perusahaan pada arus pengembalian dari entitas
                 penerima dana, yang baru terealisasi setelah proyek beroperasi secara komersial.

             Penurunan aktivitas ekonomi dan perlambatan sektor properti dapat berdampak pada
             volume penjualan, utilisasi kapasitas produksi, serta pendapatan Perusahaan. Pada
             kegiatan pembiayaan conduit, kinerja proyek yang tidak sesuai proyeksi dapat
             berdampak pada penurunan nilai penyertaan serta tertundanya arus kas masuk kepada
             Perusahaan.

        f.   Risiko Hukum

             Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
             ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

             Risiko ini dapat berasal dari:

             •   Sengketa kontrak dengan pelanggan, pemasok, distributor, atau mitra usaha;
             •   Sengketa ketenagakerjaan dan perselisihan hubungan industrial;
             •   Sengketa hak kekayaan intelektual, khususnya atas desain industri dan merek produk;
             •   Permasalahan legalitas aset, perizinan bangunan, dan status penguasaan lahan
                 fasilitas produksi;
             •   Ketentuan lingkungan hidup terkait pengelolaan limbah produksi, emisi, dan
                 penggunaan bahan kimia finishing;
             •   Sengketa dengan pemegang saham lain dalam WNA dan WNG maupun dalam
                 perjanjian konsorsium, termasuk mengenai hak dan kewajiban pemegang saham
                 serta mekanisme pendanaan lanjutan;
             •   Risiko hukum yang melekat pada penyertaan modal, termasuk kewajiban tersembunyi
                 (contingent liabilities) pada entitas penerima dana yang tidak teridentifikasi pada saat
                 uji tuntas;
             •   Potensi tanggung jawab Perusahaan sehubungan dengan pemberian jaminan
                 korporasi atau komitmen pendanaan kepada entitas dalam grup.

             Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, kewajiban ganti rugi,
             serta gangguan operasional bagi SOFA.

        g. Risiko Reputasi

             Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
             pelanggan, mitra usaha, pemegang saham, dan investor terhadap SOFA.

             Risiko ini dapat muncul akibat:
             • Kegagalan memenuhi standar mutu produk dan meningkatnya klaim garansi;
             • Keterlambatan pemenuhan pesanan dan pengiriman kepada pelanggan proyek;
             • Isu keberlanjutan, khususnya dugaan penggunaan bahan baku kayu yang tidak
                  bersertifikat atau tidak memenuhi ketentuan legalitas;
             • Insiden lingkungan atau kecelakaan kerja pada fasilitas produksi;
             • Pemberitaan negatif atas kinerja keuangan, aksi korporasi penghimpunan dana, atau
                  tata kelola Perusahaan sebagai emiten;



Halaman 23                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 25
              •   Permasalahan yang timbul pada entitas penerima dana maupun pada perusahaan
                  operasional proyek yang dapat berdampak pada citra grup secara keseluruhan.

              Mengingat bisnis furnitur sangat bergantung pada persepsi kualitas dan keandalan
              pengiriman, serta identitas Perusahaan yang mengedepankan aspek lingkungan, reputasi
              menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan, kontrak jangka panjang, dan
              kepercayaan investor.

          h. Risiko Kepatuhan

              Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
              industri, lingkungan hidup, ketenagakerjaan, perpajakan, dan pasar modal.

              SOFA wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:

              •   Perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) sesuai KBLI yang
                  dijalankan, termasuk pemenuhan persyaratan atas penambahan KBLI 64220;
              •   Ketentuan legalitas bahan baku kayu dan sertifikasi terkait;
              •   Persetujuan lingkungan serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun;
              •   Standar keselamatan dan kesehatan kerja serta ketentuan ketenagakerjaan;
              •   Kewajiban perpajakan, termasuk ketentuan harga transfer (transfer pricing) atas
                  transaksi antarentitas dalam grup;
              •   Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bagi perusahaan
                  terbuka, antara lain mengenai keterbukaan informasi, transaksi material dan
                  perubahan kegiatan usaha utama, transaksi afiliasi dan benturan kepentingan,
                  penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, serta penyampaian laporan
                  berkala.

              Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, denda, pembatasan kegiatan
              usaha, penghentian sementara perdagangan saham, hingga pencabutan izin usaha.

2.4.   Laporan Keuangan SOFA

       Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
       keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
       keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
       dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
       masa depan.

       Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
       mengenai laporan keuangan SOFA. Adapun data laporan keuangan SOFA yang kami terima
       adalah sebagai berikut:

         • Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
           diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali, yang telah
           ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana tertuang
           dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus
           2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;




Halaman 24                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 26
        • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2025
          yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
          yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
          tertuang dalam laporannya No.00007/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/III/2026 tanggal 27
          Maret 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
        • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2024
          yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
          yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
          tertuang dalam laporannya No.00022/3.0291/AU.1/04/0824-2/1/III/2025 tanggal 27
          Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
        • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2023
          yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
          yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
          tertuang dalam laporannya No.00020/3.0291/AU.1/04/0824-1/1/III/2024 tanggal 27
          Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
        • Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2022
          yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
          yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Triyanto sebagaimana tertuang dalam
          laporannya No.00155/3.0266/AU.1/04/0945-1/1/III/2023 tanggal 27 Maret 2023
          dengan opini wajar tanpa modifikasian;

     Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan SOFA untuk periode 31
     Desember 2022 hingga 30 Juni 2026:

     Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                         30 Juni
             Laporan Posisi Keuangan         2022        2023       2024       2025
                                                                                          2026
      Jumlah Aset Lancar                      21.795      30.210    33.341     25.162      21.068
      Jumlah Aset Tidak Lancar                40.255      33.725    29.107     26.838      25.555
      Jumlah Aset                             62.050      63.936    62.448    51.999       46.622
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek         13.711      15.402    13.999     12.743      13.267
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang         3.453       3.119     3.654       220               2
      Jumlah Liabilitas                       17.163      18.522    17.653     12.963      13.269
      Jumlah Ekuitas                          44.887      45.414    44.795     39.036      33.354
      Jumlah Liabilitas dan Ekuitas           62.050      63.936    62.448    51.999       46.622
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Total Aset

     Perkembangan total aset SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31 Desember
     2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR)
     sebesar negatif 5,72%. Pada tahun 2022 total aset tercatat sebesar Rp62.050 juta. Pada tahun
     2023 mengalami peningkatan total aset tercatat sebesar 3,04% secara year on year atau sebesar
     Rp63.936 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tercatat sebesar negatif 2,33%
     secara year on year atau sebesar Rp62.448 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total
     aset tercatat sebesar negatif 16,73% secara year on year atau sebesar Rp51.999 juta. Kemudian
     pada periode 30 Juni 2026 total aset tercatat sebesar Rp46.622 juta, atau menurun sebesar
     10,34% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh


Halaman 25                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 27
     berkurangnya aset lancar berupa persediaan serta saldo kas dan bank dan aset tidak lancar
     berupa aset tetap dan aset hak guna usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
     Desember 2025.

     Total Aset Lancar

     Perkembangan total aset lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar 4,90%. Pada
     tahun 2022 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.795 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 38,61% secara year on year atau sebesar Rp30.210
     juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 10,36% secara
     year on year atau sebesar Rp33.341 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total aset
     lancar tercatat sebesar negatif 24,53% secara year on year atau sebesar Rp25.162 juta. Kemudian
     pada periode 30 Juni 2026 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.068 juta, atau menurun sebesar
     16,27% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
     berkurangnya persediaan serta saldo kas dan bank pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan
     posisi 31 Desember 2025.

     Total Aset Tidak Lancar

     Perkembangan total aset tidak lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami penurunan di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif
     12,64%. Pada tahun 2022 total aset tidak lancar tercatat sebesar Rp40.255 juta. Pada tahun 2023
     mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 16,22% secara year on year
     atau sebesar Rp33.725 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tidak lancar
     tercatat sebesar negatif 13,69% secara year on year atau sebesar Rp29.107 juta. Pada tahun
     2025 mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 7,79% secara year on
     year atau sebesar Rp26.838 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 total aset tidak lancar
     tercatat sebesar Rp25.555 juta, atau menurun sebesar 4,78% dibandingkan posisi 31 Desember
     2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya aset tetap dan aset hak guna
     usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

     Total Liabilitas Jangka Pendek

     Pertumbuhan liabilitas jangka pendek SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
     2,41%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp13.711 juta. Pada tahun
     2023 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 12,33% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp15.402 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami penurunan
     sebesar negatif 9,11% secara year on year atau tercatat sebesar Rp13.999 juta. Pada tahun 2025
     liabilitas jangka pendek mengalami penurunan sebesar negatif 8,97% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp12.743 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas jangka pendek
     tercatat sebesar Rp13.267 juta, atau meningkat sebesar 4,11% dibandingkan posisi 31 Desember
     2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh bertambahnya utang lain-lain dan biaya
     yang masih harus dibayar pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.




Halaman 26                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 28
     Total Liabilitas Jangka Panjang

     Pertumbuhan liabilitas jangka panjang SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami perkembangan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
     60,07%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp3.453 juta. Pada tahun
     2023 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar negatif 9,67% secara year on year
     atau tercatat sebesar Rp3.119 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami
     peningkatan sebesar 17,15% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.654 juta. Pada tahun
     2025 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan signifikan sebesar negatif 93,98% secara
     year on year atau tercatat sebesar Rp220 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas
     jangka panjang tercatat sebesar Rp2 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
     berkurangnya utang sewa jangka panjang pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
     Desember 2025.

     Total Liabilitas

     Perkembangan total liabilitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 8,93%.
     Pada tahun 2022 total liabilitas tercatat sebesar Rp17.163 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan total liabilitas tercatat sebesar 7,92% secara year on year atau sebesar Rp18.522
     juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total liabilitas tercatat sebesar negatif 4,69% secara
     year on year atau sebesar Rp17.653 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total liabilitas
     tercatat sebesar negatif 26,57% secara year on year atau sebesar Rp12.963 juta. Kemudian pada
     periode 30 Juni 2026 total liabilitas tercatat sebesar Rp13.269 juta, atau meningkat sebesar
     2,36% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh
     bertambahnya liabilitas jangka pendek yaitu utang lain-lain dan biaya yang masih harus dibayar
     pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.

     Total Ekuitas

     Perkembangan total ekuitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami penurunan dengan CAGR sebesar negatif 4,55%. Pada tahun 2022
     total ekuitas tercatat sebesar Rp44.887 juta. Pada tahun 2023 mengalami peningkatan total
     ekuitas tercatat sebesar 1,17% secara year on year atau sebesar Rp45.414 juta. Pada tahun 2024
     mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar negatif 1,36% secara year on year atau
     sebesar Rp44.795 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar
     negatif 12,86% secara year on year atau sebesar Rp39.036 juta. Kemudian pada periode 30 Juni
     2026 total ekuitas tercatat sebesar Rp33.354 juta, atau menurun sebesar 14,56% dibandingkan
     posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo
     laba seiring rugi yang dibukukan Perseroan pada periode 30 Juni 2026.

     Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                            30 Juni
                  Laporan Laba Rugi            2022        2023        2024       2025
                                                                                             2026
      Penjualan                                47.026       46.643     50.252     45.131      21.385
      Beban Pokok Penjualan                   (26.559)     (23.252)   (28.913)   (30.882)    (16.440)
      Laba (Rugi) Kotor                        20.466       23.390     21.340     14.249       4.945
      Laba (Rugi) Usaha                         2.348          981       (293)    (4.851)     (7.009)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     1.363          501       (780)    (5.255)     (7.145)


Halaman 27                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 29
                                                                                          30 Juni
                Laporan Laba Rugi             2022        2023       2024      2025
                                                                                           2026
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan         (519)        (392)     (130)      (43)       1.452
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                 844          108      (910)   (5.299)      (5.693)
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Pendapatan

     Perkembangan penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 1,36%.
     Pada tahun 2022 penjualan tercatat sebesar Rp47.026 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     penurunan penjualan tercatat sebesar negatif 0,81% secara year on year atau sebesar Rp46.643
     juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan penjualan tercatat sebesar 7,74% secara year on
     year atau sebesar Rp50.252 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan penjualan tercatat
     sebesar negatif 10,19% secara year on year atau sebesar Rp45.131 juta. Kemudian pada periode
     30 Juni 2026 penjualan tercatat sebesar Rp21.385 juta.

     Beban Pokok Penjualan

     Pertumbuhan beban pokok penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar 5,15%.
     Pada tahun 2022 beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp26.559 juta. Pada tahun 2023
     beban pokok penjualan mengalami penurunan sebesar negatif 12,45% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp23.252 juta. Pada tahun 2024 beban pokok penjualan mengalami
     peningkatan sebesar 24,35% secara year on year atau tercatat sebesar Rp28.913 juta. Pada tahun
     2025 beban pokok penjualan mengalami peningkatan sebesar 6,81% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp30.882 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 beban pokok penjualan
     tercatat sebesar Rp16.440 juta.

     Laba Kotor

     Perkembangan laba kotor SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 11,37%.
     Pada tahun 2022 laba kotor tercatat sebesar Rp20.466 juta. Pada tahun 2023 mengalami
     peningkatan laba kotor tercatat sebesar 14,29% secara year on year atau sebesar Rp23.390 juta.
     Pada tahun 2024 mengalami penurunan laba kotor tercatat sebesar negatif 8,76% secara year
     on year atau sebesar Rp21.340 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan laba kotor tercatat
     sebesar negatif 33,23% secara year on year atau sebesar Rp14.249 juta. Kemudian pada periode
     30 Juni 2026 laba kotor tercatat sebesar Rp4.945 juta. Marjin laba kotor menunjukkan tren
     penurunan, dari 43,52% pada tahun 2022 menjadi 31,57% pada tahun 2025 dan 23,12% pada
     periode 30 Juni 2026. Penurunan laba kotor disebabkan oleh menurunnya penjualan dan
     meningkatnya beban pokok penjualan.

     Laba (Rugi) Usaha

     Perkembangan laba (rugi) usaha SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
     Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba usaha tercatat
     sebesar Rp2.348 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba usaha sebesar negatif
     58,22% secara year on year atau sebesar Rp981 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan



Halaman 28                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 30
     rugi usaha sebesar Rp293 juta. Pada tahun 2025 rugi usaha melebar menjadi Rp4.851 juta.
     Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi usaha tercatat sebesar Rp7.009 juta.

     Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan

     Pertumbuhan laba (rugi) sebelum pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022
     sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022
     laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp1.363 juta. Pada tahun 2023 laba sebelum
     pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 63,24% secara year on year atau
     tercatat sebesar Rp501 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan rugi sebelum pajak
     penghasilan sebesar Rp780 juta. Pada tahun 2025 rugi sebelum pajak penghasilan melebar
     menjadi Rp5.255 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi sebelum pajak penghasilan
     tercatat sebesar Rp7.145 juta. Perseroan telah membukukan rugi usaha pada tahun 2024 sampai
     dengan periode 30 Juni 2026 karena laba kotor yang dihasilkan lebih kecil dari beban usaha.

     Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan

     Pertumbuhan beban pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
     31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan seiring menurunnya laba fiskal
     Perseroan. Pada tahun 2022 beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp519 juta. Pada tahun
     2023 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 24,47% secara year on
     year atau tercatat sebesar Rp392 juta. Pada tahun 2024 beban pajak penghasilan mengalami
     penurunan sebesar negatif 66,84% secara year on year atau tercatat sebesar Rp130 juta. Pada
     tahun 2025 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 66,92% secara year
     on year atau tercatat sebesar Rp43 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 Perseroan
     mengakui manfaat pajak penghasilan sebesar Rp1.452 juta. Penurunan beban pajak sejalan
     dengan menurunnya laba perusahaan pada periode 30 Juni 2026.

     Laba (Rugi) Tahun Berjalan

     Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba
     tahun berjalan tercatat sebesar Rp844 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba tahun
     berjalan tercatat sebesar negatif 87,20% secara year on year atau sebesar Rp108 juta. Pada tahun
     2024 Perseroan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp910 juta. Pada tahun 2025 rugi
     tahun berjalan melebar menjadi Rp5.299 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi tahun
     berjalan tercatat sebesar Rp5.693 juta. Marjin laba bersih menurun dari 1,79% pada tahun 2022
     menjadi negatif 11,74% pada tahun 2025 dan negatif 26,62%. Perseroan masih mencatatkan
     kinerja yang negatif hingga periode 30 Juni 2026, dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp5.693
     juta. Namun demikian, kinerja tersebut merupakan realisasi sampai dengan semester I 2026 dan
     belum mencerminkan kinerja Perseroan untuk keseluruhan tahun 2026.

     Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah)
                                                                                            30 Juni
                 Laporan Arus Kas             2022         2023        2024      2025
                                                                                             2026
      Arus Kas Dari Aktivitas Operasi           7.850        6.614       286     (1.313)      (4.022)
      Arus Kas Dari Aktivitas Investasi        (2.858)      (1.861)   (1.443)      (106)          22
      Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan        (2.951)        (172)   (2.699)      (119)       3.155
      Kenaikan (Penurunan) Neto Kas Dan
                                                2.041        4.582    (3.856)    (1.538)        (845)
      Bank


Halaman 29                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 31
                                                                                               30 Juni
                Laporan Arus Kas                2022         2023        2024      2025
                                                                                                2026
      Kas Dan Bank Awal Tahun                     1.794        3.835      8.417      4.561        3.023
      Kas Dan Bank Akhir Tahun                    3.835        8.417      4.561      3.023        2.178
     Sumber: Laporan Keuangan SOFA


     Arus Kas dari Aktivitas Operasi

     Pertumbuhan arus kas dari aktivitas operasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas
     operasi tercatat sebesar Rp7.850 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas operasi mengalami
     penurunan menjadi tercatat sebesar Rp6.614 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas operasi
     mengalami penurunan menjadi tercatat sebesar Rp286 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari
     aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp1.313 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus
     kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp4.022 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa
     kegiatan operasional SOFA belum mampu menghasilkan arus kas positif pada periode terakhir.

     Arus Kas untuk Aktivitas Investasi

     Pertumbuhan arus kas dari aktivitas investasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 negatif. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas investasi tercatat
     sebesar negatif Rp2.858 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar
     negatif Rp1.861 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif
     Rp1.443 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif Rp106
     juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas dari aktivitas investasi tercatat positif sebesar
     Rp22 juta. Arus kas investasi yang bernilai negatif mencerminkan belanja modal Perseroan,
     dengan besaran yang menurun.

     Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan

     Pertumbuhan arus kas dari aktivitas pendanaan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
     dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi. Pada tahun 2022 arus
     kas dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.951 juta. Pada tahun 2023 arus kas
     dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp172 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari
     aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.699 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas
     pendanaan tercatat sebesar negatif Rp119 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas
     dari aktivitas pendanaan tercatat positif sebesar Rp3.155 juta. Arus kas pendanaan yang berbalik
     positif pada periode 30 Juni 2026 mengindikasikan adanya penerimaan pendanaan baru untuk
     menutup defisit arus kas operasi.

     Kenaikan (Penurunan) Neto Kas dan Bank

     Pada tahun 2022 kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp2.041 juta. Pada tahun 2023
     kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp4.582 juta. Pada tahun 2024 penurunan neto kas
     dan bank tercatat sebesar negatif Rp3.856 juta. Pada tahun 2025 penurunan neto kas dan bank
     tercatat sebesar negatif Rp1.538 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 penurunan neto kas
     dan bank tercatat sebesar negatif Rp845 juta.




Halaman 30                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 32
       Kas dan Bank pada Akhir Tahun

       Pada tahun 2022 kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp3.835 juta. Pada tahun 2023
       kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp8.417 juta. Pada tahun 2024 kas dan bank
       pada akhir tahun tercatat sebesar Rp4.561 juta. Pada tahun 2025 kas dan bank pada akhir tahun
       tercatat sebesar Rp3.023 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 kas dan bank pada akhir
       tahun tercatat sebesar Rp2.178 juta.

2.5.   Analisis Laporan Keuangan SOFA

       Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan SOFA dilakukan berdasarkan analisis
       terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
       berikut:

       a. Commonsize statement analysis

          Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
          perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total
          asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau
          beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
          dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:

          Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
                                                                                                      30 Juni
                  Laporan Posisi Keuangan              2022        2023        2024        2025
                                                                                                       2026
           Jumlah Aset Lancar                          35,12%      47,25%      53,39%     48,39%       45,19%
           Jumlah Aset Tidak Lancar                    64,88%      52,75%      46,61%     51,61%       54,81%
           Jumlah Aset                                100,00%     100,00%    100,00%     100,00%     100,00%
           Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             22,10%      24,09%      22,42%     24,51%       28,46%
           Jumlah Liabilitas Jangka Panjang             5,56%        4,88%      5,85%       0,42%       0,00%
           Jumlah Liabilitas                           27,66%      28,97%      28,27%     24,93%       28,46%
           Jumlah Ekuitas                              72,34%      71,03%      71,73%     75,07%       71,54%
           Jumlah Liabilitas dan Ekuitas              100,00%     100,00%    100,00%     100,00%     100,00%
          Sumber: Analisis KJPP FDI&R


          Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, selama
          periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi aset tidak lancar terhadap
          total aset lebih besar dibandingkan dengan proporsi aset lancar terhadap total aset. Proporsi
          aset lancar terhadap total aset tercatat sebesar 35,12% (2022); 47,25% (2023); 53,39%
          (2024); serta 48,39% (2025). Pada periode 30 Juni 2026 proporsi aset lancar terhadap total
          aset adalah 45,19%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset adalah 54,81%.

          Selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi total ekuitas
          terhadap total liabilitas dan ekuitas lebih besar dibandingkan dengan proporsi total liabilitas
          terhadap total liabilitas dan ekuitas. Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas
          tercatat sebesar 27,66% (2022); 28,97% (2023); 28,27% (2024); serta 24,93% (2025). Pada
          periode 30 Juni 2026 proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah




Halaman 31                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 33
        sebesar 28,46%, dan proporsi total ekuitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar
        71,54%.

        Liabilitas SOFA didominasi oleh liabilitas jangka pendek, dengan proporsi terhadap total
        liabilitas dan ekuitas sebesar 22,10% (2022); 24,09% (2023); 22,42% (2024); 24,51% (2025);
        serta 28,46% pada 30 Juni 2026. Adapun proporsi liabilitas jangka panjang terhadap total
        liabilitas dan ekuitas menurun, dari 5,56% (2022); 4,88% (2023); dan 5,85% (2024) menjadi
        hanya 0,42% (2025) serta 0,00% pada 30 Juni 2026.

        Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi)
                                                                                              30 Juni
                     Laporan Laba Rugi             2022       2023       2024      2025
                                                                                               2026
         Penjualan                                100,00%    100,00%   100,00%    100,00%    100,00%
         Beban Pokok Penjualan                    -56,48%    -49,85%   -57,54%    -68,43%     -76,88%
         Laba (Rugi) Kotor                         43,52%     50,15%    42,46%     31,57%     23,12%
         Laba (Rugi) Usaha                          4,99%      2,10%     -0,58%   -10,75%     -32,78%
         Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan      2,90%      1,07%     -1,55%   -11,64%     -33,41%
         Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan         -1,10%     -0,84%     -0,26%    -0,10%       6,79%
         Laba (Rugi) Tahun Berjalan                 1,79%      0,23%     -1,81%   -11,74%     -26,62%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


        Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
        usaha, laba (rugi) sebelum pajak penghasilan dan laba (rugi) tahun berjalan pada 30 Juni
        2026 secara berturut-turut adalah sebesar -32,78%, -33,41% dan -26,62%.

     b. Ratio Analysis

        Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
        keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
        posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
        Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan
        perusahaan.

        Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan
                                                                                              30 Juni
                    Analisis Likuiditas          2022        2023       2024       2025
                                                                                               2026
         Analisis Likuiditas
             Current Ratio                        1,59x        1,96x     2,38x      1,97x        1,59x
             Quick Ratio                          0,34x        0,58x     0,37x      0,49x        0,58x
             Cash Ratio                           0,28x        0,55x     0,33x      0,24x        0,16x
         Analisis Solvabilitas
             Debt To Assets                       0,28x        0,29x     0,28x      0,25x        0,28x
             Debt To Equity                       0,38x        0,41x     0,39x      0,33x        0,40x
         Analisis Profitabilitas
             Gross Profit Margin                 43,52%       50,15%   42,46%     31,57%       23,12%
             Operating Profit Margin              4,99%        2,10%    -0,58%    -10,75%      -32,78%
           Net Income Margin                      1,79%        0,23%    -1,81%    -11,74%      -26,62%
        Sumber: Analisis KJPP FDI&R


Halaman 32                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 34
        Rasio Likuiditas

        Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
        mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
        keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio Lancar (current ratio)

             Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini
             bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar perusahaan dapat
             menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
             maka semakin aman perusahaan. Rasio lancar perusahaan pada periode 30 Juni 2026
             adalah sebesar 1,59 kali.

        2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

             rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
             pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat perusahaan pada 30 Juni 2026
             adalah sebesar 0,58 kali.

        3. Rasio Kas (cash ratio)

             Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
             perusahaan pada 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,16 kali.

        Rasio Profitabilitas

        Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
        laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:

        1. Rasio Laba Kotor atas Pendapatan (Gross Profit Margin)

             Rasio yang menggambarkan kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari
             kegiatan operasional utama setelah memperhitungkan harga pokok penjualan, sebagai
             indikator efisiensi biaya langsung. Rasio laba kotor atas pendapatan Perusahaan pada
             periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 23,12%.

        2. Rasio Laba Operasi atas Pendapatan (Operating Profit Margin)

             Rasio yang menunjukkan tingkat laba operasi yang dihasilkan dari penjualan setelah
             memperhitungkan seluruh biaya operasional, yang mencerminkan efisiensi kegiatan usaha
             inti Perusahaan. Rasio laba operasi atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni
             2026 adalah sebesar -32,78%.

        3. Rasio Laba Bersih atas Pendapatan (Net Profit Margin)

             Rasio yang mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari
             penjualan setelah memperhitungkan seluruh beban, termasuk beban non-operasional.




Halaman 33                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 35
             Rasio laba bersih atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni 2026 adalah sebesar
             -26,62%.

        Rasio Solvabilitas

        Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
        perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
        kategori ini.

        1. Rasio total debt terhadap total aset

             Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset perusahaan.
             Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan perusahaan. Adapun tingkat
             rasio debt terhadap total aset perusahaan 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,28 kali.

        2. Rasio total debt terhadap total ekuitas

        Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
        perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas. Berdasarkan
        tabel rasio keuangan perusahaan diatas dapat dilihat bahwa Rasio tingkat rasio debt terhadap
        total ekuitas perusahaan periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,40 kali.

2.6. Prospek Usaha

     Prospek usaha SOFA dalam kaitannya dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220
     Aktivitas Pembiayaan Conduit terutama didukung oleh kebutuhan pendanaan untuk mendukung
     pengembangan dan pembiayaan proyek di dalam grup usaha. Penambahan kegiatan usaha ini
     ditujukan untuk memberikan SOFA fungsi sebagai entitas pembiayaan conduit yang dapat
     menghimpun sumber pendanaan secara terpusat dan menyalurkannya kepada entitas dalam grup
     yang membutuhkan pendanaan untuk pengembangan. Sebagai perusahaan terbuka, SOFA
     memiliki akses terhadap sumber pendanaan yang dapat diperoleh melalui pasar modal maupun
     sumber pendanaan lainnya. Dengan adanya fungsi pembiayaan conduit, proses penghimpunan
     dan penyaluran dana dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi melalui satu entitas, sehingga
     dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan pendanaan dan mendukung pengelolaan arus dana
     antarentitas dalam grup yang terstruktur. Dana yang dihimpun akan digunakan untuk mendukung
     kebutuhan pendanaan entitas dalam grup sesuai dengan tujuan penggunaannya.

     Rencana penambahan KBLI 64220 memiliki prospek terutama pada proyek pengolahan sampah
     menjadi energi (waste to energy/WTE) seiring dengan kebutuhan investasi pada sektor
     pengelolaan sampah dan energi terbarukan yang membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar.
     Fungsi pembiayaan conduit dapat mendukung kemampuan grup dalam memperoleh dan
     mengalokasikan sumber dana untuk pengembangan proyek kedepan. Salah satu tujuan
     penyaluran dana adalah mendukung pembiayaan proyek WTE yang dikembangkan oleh entitas
     dalam grup, termasuk melalui PT Ananta Energi Asia kepada PT Weiming Nusantara Alpha dan
     PT Weiming Nusantara Gamma dalam bentuk setoran modal.

     Proyek WTE merupakan investasi jangka panjang dengan skema penjualan tenaga listrik kepada
     PT PLN (Persero) dengan potensi arus kas proyek dalam jangka panjang. Dengan demikian,
     penambahan KBLI 64220 dapat berperan sebagai bagian dari pendanaan internal grup untuk



Halaman 34                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 36
     mendukung kebutuhan investasi proyek. Ke depan, prospek kegiatan pembiayaan conduit SOFA
     juga berpotensi berkembang sejalan dengan ekspansi portofolio grup. Dengan demikian, rencana
     penambahan KBLI 64220 selain dapat menciptakan sumber pendapatan baru, tetapi dapat
     membangun pendanaan terpusat yang mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan
     proyek grup secara efisien dan berkelanjutan.




Halaman 35                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 37
                                                BAB III
                                     ANALISIS KELAYAKAN PASAR

3.1.   Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik

       Pertumbuhan Ekonomi Global

       Prospek ekonomi global telah berubah drastis karena konflik di Timur Tengah telah menimbulkan
       gangguan besar di pasar energi. Sebelum konflik pecah, aktivitas global tampak berada di posisi
       yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang solid di beberapa ekonomi utama dan perdagangan
       global yang lebih baik dari perkiraan, di tengah pertumbuhan yang kuat pada ekspor teknologi
       terkait kecerdasan buatan (AI) dan sedikit penurunan tingkat tarif. Namun, konflik ini telah
       menyebabkan penurunan yang signifikan dalam prospek global, dengan sekitar dua pertiga
       ekonomi di seluruh dunia menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah. Gangguan pada
       aliran energi dan pasokan komoditas lainnya dari wilayah Teluk telah menyebabkan kenaikan
       harga komoditas yang tajam (gambar 1.1.B). Secara keseluruhan, harga komoditas diperkirakan
       akan naik 22 persen pada 2026, berbeda dengan penurunan 7 persen yang diperkirakan pada
       Januari. Ini mencerminkan asumsi dasar bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu
       parah hingga Juli.


        18,00
        16,00
        14,00
        12,00
        10,00
         8,00
         6,00
         4,00
         2,00
         0,00
                 Q1   Q2   Q3   Q4   Q1   Q2   Q3   Q4   Q1   Q2   Q3   Q4   Q1
                2023 2023 2023 2023 2024 2024 2024 2024 2025 2025 2025 2025 2026

                  Singapura      Amerika Serikat      Tiongkok      Jepang      Korea Selatan

                                               Sumber: CEIC
                              Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara

       Mayoritas bank sentral global mempertahankan suku bunga acuannya pada triwulan I tahun
       2026. Kebijakan tersebut ditempuh di tengah inflasi yang mulai terkendali, namun ketidakpastian
       global masih tinggi akibat volatilitas harga energi, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di
       sejumlah negara. Oleh karena itu, sebagian besar otoritas moneter masih menerapkan kebijakan
       yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan momentum pertumbuhan
       ekonomi. Di sisi lain, beberapa negara mulai membuka ruang pelonggaran suku bunga secara
       bertahap untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik Pertumbuhan Ekonomi Domestik.

       Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada
       kisaran 3,50–3,75% sepanjang triwulan I 2026. Kebijakan ini sejalan dengan tren inflasi inti yang
       terus menurun serta kondisi pasar tenaga kerja yang semakin seimbang. Namun, The Fed tetap


Halaman 36                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 38
     mencermati risiko tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan perkembangan
     perdagangan global. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyampaikan bahwa kebijakan
     moneter akan tetap disesuaikan berdasarkan perkembangan data, dengan tetap mengutamakan
     stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.



     Sejalan dengan kondisi tersebut, sejumlah negara OECD, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan
     kawasan Euro Area, juga mempertahankan suku bunga acuannya selama triwulan I 2026. Jepang
     mempertahankan tingkat suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen sekaligus
     mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan
     kebijakan moneternya guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan arus modal di tengah
     ketidakpastian perdagangan regional. Di kawasan Euro Area, suku bunga tetap ditahan karena
     tingkat inflasi masih berada di atas target, meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan
     kecenderungan melambat.

     Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara
         Kelompok / Negara                 Jan                Feb                   Mar
               OECD
                AS                   3,50–3,75             3,50–3,75              3,50–3,75
              Jepang                      0,75                0,75                  0,75
               Korsel                     2,50                2,50                  2,50
             Euro Area                    2,15                2,15                  2,15
               BRICS
               Brasil                     15,00              15,00                  14,75
               Rusia                      16,00              15,50                  15,00
               India                      5,25                5,25                  5,25
             Tiongkok                     3,00                3,00                  3,00
               Afsel                      6,75                6,75                  6,75
             Indonesia                    4,75                4,75                  4,75
              ASEAN
             Myanmar                      9,00                9,00                  9,00
              Thailand                    1,25                1,00                  1,00
              Filipina                    4,50                4,25                  4,25
             Malaysia                     2,75                2,75                  2,75
              Vietnam                     4,50                4,50                  4,50
              Sumber: Trading Economics

     Pertumbuhan Ekonomi Domestik

     Pertumbuhan Ekonomi

     Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi
     Indonesia Triwulan II-2026, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 mencatat Produk
     Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun. Secara tahunan (year-
     on-year/yoy), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% dibandingkan triwulan II-2025. Dari sisi
     produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 6,68%, diikuti



Halaman 37                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 39
     oleh Lapangan Usaha Lainnya sebesar 6,67% dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
     dan Sepeda Motor sebesar 6,39%. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi
     berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat sebesar
     15,97%, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,87%. Secara kuartalan
     (quarter-on-quarter/qoq), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,73% dibandingkan triwulan
     I-2026. Dari aspek spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama perekonomian nasional
     dengan pangsa sebesar 56,47% terhadap PDB Indonesia serta mencatat pertumbuhan ekonomi
     sebesar 5,65% (yoy).


         5,8                                                                                              5,8

         5,6                                                                                5,61          5,6

         5,4                                                                         5,39                 5,4
                                                                                                   5,29
         5,2                                                                                              5,2
                      5,11                                        5,12
                              5,05               5,02                     5,04
             5                                                                                            5
                                        4,95
                                                         4,87
         4,8                                                                                              4,8

         4,6                                                                                              4,6

         4,4                                                                                              4,4
                 Q1 2024 Q2 2024 Q3 2024 Q4 2024 Q1 2025 Q2 2025 Q3 2025 Q4 2025 Q1 2026 Q2 2026

                                     Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%)           % Growth

                                        Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
                       Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy)

     Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), perekonomian Indonesia diperkirakan
     tetap tumbuh secara stabil dalam jangka menengah. Nilai Produk Domestik Bruto (GDP) atas
     dasar harga berlaku diproyeksikan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan aktivitas
     ekonomi. Dalam proyeksi IMF, nominal GDP Indonesia meningkat dari sekitar Rp23.696 triliun
     pada 2025 menjadi Rp29.780 triliun pada 2028.

     Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa skala perekonomian Indonesia diperkirakan terus
     membesar, dengan konsumsi domestik dan investasi tetap menjadi penopang utama
     pertumbuhan. Kondisi ini mencerminkan prospek ekonomi yang relatif stabil sekaligus
     memberikan ruang bagi peningkatan aktivitas usaha dan permintaan domestik dalam jangka
     menengah.




Halaman 38                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 40
      40000000                                                                           37544462    9
                                                                                34801878
      35000000                                    8,1                                 7,9      7,9   8
                                         7,6               7,8      7,832262242
                                                                             7,8
                                                              29918819
      30000000                                       27749649                                        7
                       6,7
                                            25747047
                                6,023821104                                                          6
      25000000            22138991
                 20892312                                                                            5
      20000000
                                                                                                     4
      15000000
                                                                                                     3
      10000000                                                                                       2
       5000000                                                                                       1
             0                                                                                       0
                   2023     2024     2025E     2026F   2027F     2028F    2029F     2030F   2031F

                                GDP (Miliar Rupiah)        Pertumbuhan Ekonomi(%)

                          Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
                          Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %)

     Perkembangan inflasi

     Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), tingkat inflasi Indonesia menunjukkan
     tren yang semakin terkendali dalam jangka menengah hingga panjang. Setelah mencapai 4,2%
     pada tahun 2022 akibat tekanan inflasi global, laju inflasi menurun menjadi 3,7% pada tahun
     2023 dan 2,8% pada tahun 2024. IMF memperkirakan inflasi akan tetap berada pada kisaran
     2,5%–3,0% selama periode 2025–2031, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terus
     meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi. Proyeksi tersebut
     mencerminkan ekspektasi bahwa stabilitas harga di Indonesia akan tetap terjaga, sehingga dapat
     mendukung daya beli masyarakat serta menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.




                          Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
                      Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)

     Perkembangan Uang Beredar di Indonesia

     Uang beredar Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan positif pada Juni 2026. Posisi M2
     tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 % (yoy), meskipun mengalami perlambatan
     dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8 % (yoy). Berdasarkan komponennya,
     pertumbuhan M2 didukung oleh peningkatan M1 dan uang kuasi. M1 yang memiliki pangsa 56,9


Halaman 39                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 41
     % terhadap M2 mencapai Rp5.937,5 triliun dengan pertumbuhan 9,8 % (yoy), lebih rendah
     dibandingkan 15,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan M1 terutama dipengaruhi oleh
     pertumbuhan giro rupiah yang melambat menjadi 10,4 % (yoy) dari 23,9 % (yoy) pada Mei 2026.
     Selain itu, pertumbuhan uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang
     dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing mencapai 15,9 % dan 6,8 % (yoy), juga lebih rendah
     dibandingkan bulan sebelumnya.

     Di sisi lain, uang kuasi yang mencakup 42,3 % dari M2 meningkat 6,9 % (yoy) menjadi Rp4.409,3
     triliun pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 6,0 % (yoy) pada Mei 2026.
     Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang mencapai
     6,0 % (yoy), meningkat dari 3,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, perkembangan
     M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh peningkatan penyaluran kredit dan tagihan bersih
     kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1
     % (yoy), meningkat dibandingkan 10,8 % (yoy) pada Mei 2026. Adapun tagihan bersih kepada
     pemerintah pusat tumbuh 10,1 % (yoy), meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan sebesar
     37,4 % (yoy) pada Mei 2026.




                                   Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah
                  Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar di Indonesia, 2020-Q2 2026

     Suku Bunga

     Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk
     menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps
     menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Kenaikan ini
     sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap
     tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada
     tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
      Selain itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran instrumen kebijakan moneter guna
      memperkuat ketahanan sektor eksternal terhadap potensi eskalasi konflik, serta melakukan
      penyesuaian kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Suku
      bunga Perseroan pada Mei 2026 mengalami penurunan pada jenis pinjaman modal kerja dan




Halaman 40                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 42
       Pinjaman Investasi yaitu dari 8,12% menjadi 7.85% serta 8,44% menjadi 8,07% dan pada jenis
       pinjaman konsumsi naik dari 8,97% menjadi 9,03% jika dibandingkan pada tahun 2025.

       Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
       Bank Persero                                2020        2021      2022         2023      2024      2025       2026*
       Pinjaman Modal Kerja Yang
                                                   8,77        8,34      8,29         8,93      8,67      8,12        7,85
       Diberikan
       Pinjaman Investasi Yang Diberikan           8,87        8,49      8,72         9,41      9,21      8,44        8,07
       Pinjaman Konsumsi
                                                 10,56       10,14       9,65         9,27      9,09      8,97       9,03
       Yang Diberikan
       *: Q1 2026 Mei
       Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah

3.2.   Kondisi Pasar

       Perkembangan Industri Furnitur

       Perkembangan industri furnitur menunjukkan tren yang secara umum positif sepanjang periode
       pengamatan, meskipun sempat mengalami tekanan pada pertengahan 2025. Setelah meningkat
       dari 10.429 pada triwulan II 2023 menjadi 11.040 pada triwulan III 2023, nilai industri tercatat
       sebesar 11.355 pada triwulan IV 2024 dan kembali menguat menjadi 11.954 pada triwulan I
       2025. Namun, pada triwulan II 2025 terjadi penurunan cukup signifikan menjadi 10.606, atau
       turun sekitar 11,3% secara kuartalan. Pelemahan ini berlanjut secara terbatas pada triwulan III
       2025, ketika nilai industri hanya meningkat menjadi 10.729.

       Memasuki triwulan IV 2025, industri furnitur mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat
       dengan peningkatan menjadi 11.704, atau tumbuh sekitar 9,1% dibandingkan triwulan
       sebelumnya. Momentum tersebut berlanjut pada triwulan I 2026, ketika nilai industri mencapai
       12.658, meningkat sekitar 8,1% secara kuartalan dan menjadi level tertinggi selama periode
       pengamatan. Jika dibandingkan dengan triwulan II 2023, nilai tersebut telah meningkat sekitar
       21,4%, menunjukkan adanya penguatan industri dalam jangka menengah.

           13000
                                                                                                                 12658
           12500
           12000                                              11954
                                                                                                       11704
           11500
                                                  11355
           11000                    11040
                                                                              10606     10729
           10500          10429
           10000
            9500
            9000
                    2023 Q2    2023 Q3      2024 Q4    2025 Q1      2025 Q2       2025 Q3    2025 Q4       2026 Q1

                                                          Industri Furnitur

                                         Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
                   Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026




Halaman 41                                                            00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 43
     Realisasi investasi pada industri furnitur sepanjang semester I 2026 menunjukkan perkembangan
     yang cukup dinamis, dengan perubahan komposisi antara Penanaman Modal Dalam Negeri
     (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat
     sebesar Rp729,1 miliar dari PMDN dan Rp339,3 miliar dari PMA, sehingga total investasi
     mencapai sekitar Rp1,07 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi industri furnitur pada
     awal 2026 masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik, dengan kontribusi PMDN sekitar
     68% dari total investasi.

     Memasuki triwulan II 2026, realisasi PMDN mengalami penurunan menjadi Rp587,8 miliar, atau
     sekitar 19,4% secara kuartalan. Namun, penurunan tersebut diimbangi oleh peningkatan investasi
     asing yang cukup signifikan. Realisasi PMA meningkat menjadi Rp474,0 miliar, atau tumbuh
     sekitar 39,7% dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan demikian, total investasi pada triwulan
     II 2026 mencapai sekitar Rp1,06 triliun, relatif stabil dibandingkan triwulan I.

     Secara kumulatif, sepanjang semester I 2026 industri furnitur berhasil mencatatkan total realisasi
     investasi sekitar Rp2,13 triliun, yang terdiri dari Rp1,32 triliun PMDN dan Rp813,3 miliar PMA.
     Meskipun investasi domestik masih menjadi sumber utama pembiayaan, peningkatan PMA pada
     triwulan II menunjukkan adanya penguatan minat investor asing terhadap industri furnitur
     Indonesia. Pergeseran komposisi investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek industri,
     terutama dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi, ekspansi usaha, serta
     pengembangan pasar furnitur yang berorientasi ekspor.


                                            Industri Furnitur
      800.000         729.106
      700.000
                                                                 587.836
      600.000
                                                                                       474.045
      500.000

      400.000                               339.271
      300.000

      200.000

      100.000

             -
                       PMDN                  PMA                  PMDN                  PMA
                                2026 - Q1                                  2026 - Q2
                                      Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
                     Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026

     Kinerja ekspor produk kayu dan barang dari kayu Indonesia yang tercermin melalui HS 44
     menunjukkan pertumbuhan positif pada 2025. Nilai ekspor meningkat dari sekitar US$3,98 miliar
     pada 2024 menjadi US$4,06 miliar pada 2025, atau tumbuh 2,2%. Peningkatan tersebut
     menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk berbasis kayu Indonesia di pasar internasional
     masih relatif terjaga, meskipun jumlah negara tujuan ekspor mengalami penurunan dari 172
     negara menjadi 169 negara.

     Di sisi lain, jumlah pelabuhan muat aktif juga menurun dari 51 pelabuhan pada 2024 menjadi
     44 pelabuhan pada 2025, atau berkurang sekitar 13,7%. Menariknya, penurunan jumlah negara


Halaman 42                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 44
     tujuan dan pelabuhan muat tersebut tidak diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Hal ini
     mengindikasikan bahwa peningkatan nilai ekspor lebih banyak ditopang oleh kenaikan nilai
     ekspor pada pasar yang masih aktif, dibandingkan dengan perluasan jumlah destinasi maupun
     jalur pengiriman.

     Bagi industri furnitur, kondisi tersebut memberikan sinyal yang relatif positif karena Indonesia tetap
     mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilai ekspor produk berbasis kayu di tengah
     penyempitan jaringan pasar dan pelabuhan ekspor. Namun, ketergantungan yang lebih besar
     terhadap pasar dan jalur distribusi tertentu juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan
     eksposur industri terhadap perubahan permintaan global, kebijakan perdagangan, serta biaya
     logistik. Oleh karena itu, penguatan diversifikasi pasar ekspor dan efisiensi rantai pasok menjadi
     penting untuk menjaga pertumbuhan ekspor furnitur Indonesia ke depan.

     Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood)
                       Uraian                          2024                 2025             Perubahan
                 Total ekspor HS 44               3,975,152,078        4,061,806,927        86,654,849
           Jumlah negara tujuan (nilai > 0)             172                  169                 (3)
             Jumlah pelabuhan muat aktif                51                   44                  (7)
     Sumber: Badan Pusat Statistik,2026

     Pangsa Pasar

     Berdasarkan hasil penyaringan perusahaan publik dengan klasifikasi industri utama Home
     Furnishings, pendapatan tahun buku terakhir pada kisaran Rp10–500 miliar, serta 10 perusahaan
     dengan peringkat teratas, total pendapatan kelompok emiten pembanding tercatat sebesar sekitar
     Rp1,35 triliun. Dalam kelompok tersebut, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) mencatat
     pendapatan LTM sebesar Rp45,1 miliar, dengan kontribusi sekitar 3,34% terhadap total
     pendapatan kelompok pembanding. Posisi SOFA berada pada peringkat ke-11 dan relatif
     berdekatan dengan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) yang memiliki kontribusi sebesar
     3,35%.

     Kelompok pembanding menunjukkan struktur pendapatan yang cukup tersebar. Silky Overseas
     Limited memiliki kontribusi terbesar sebesar 14,94%, diikuti oleh Spring Art Holdings Berhad
     sebesar 14,47% dan Pil Italica Lifestyle Limited sebesar 14,01%. Tiga perusahaan tersebut secara
     kumulatif menyumbang sekitar 43,4% dari total pendapatan kelompok, sedangkan SOFA memiliki
     kontribusi yang relatif kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan dengan pendapatan terbesar.

     Dari sisi posisi kompetitif, pendapatan SOFA sebesar Rp45,1 miliar menunjukkan bahwa skala
     pendapatannya masih berada di bawah sebagian besar emiten pembanding. Namun, nilai
     tersebut relatif berdekatan dengan SPRE dan masih lebih tinggi dibandingkan Fancy Wood
     Industries PCL yang memiliki kontribusi sebesar 3,41% dengan pendapatan Rp46,1 miliar. Hal ini
     menunjukkan bahwa SOFA berada dalam kelompok emiten dengan skala pendapatan yang
     relatif lebih kecil, sehingga terdapat ruang untuk meningkatkan skala usaha apabila perusahaan
     mampu memperluas kapasitas produksi, jaringan distribusi, maupun penetrasi pasar.




Halaman 43                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 45
                       Silky Overseas Limited                       Spring Art Holdings Berhad
                       Pil Italica Lifestyle Limited                Hing Lee (HK) Holdings Limited
                       Thuan An Wood Processing JSC                 FACB Industries Incorporated Berhad
                       Maruti Interior Products Limited             Priti International Limited
                       Fancy Wood Industries PCL                    PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk
                       PT Solusi Environment Asia Tbk


                                                        3%3%        15%
                                                      4%
                                                     4%
                                                   7%
                                                                          15%
                                                 10%

                                                       12%             14%
                                                              13%

                                                       Sumber: S&P,2026
                              Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait

     Sasaran

     Sasaran pasar utama Perseroan adalah pasar furnitur kelas menengah di dalam negeri, terutama
     pelanggan korporasi seperti perusahaan properti, hotel, dan bisnis lainnya yang membutuhkan
     pengadaan furnitur secara berkala dalam jumlah tertentu. Selain itu, Perseroan juga menyasar
     konsumen ritel kelas menengah di perkotaan yang terus berkembang seiring dengan
     pertumbuhan sektor properti dan hunian.

     Fokus pada pasar domestik dipilih karena Perseroan saat ini masih berada pada tahap
     pengembangan skala usaha yang berfokus pada penguatan pasar inti di dalam negeri. Dengan
     pendapatan sekitar Rp45,13 miliar, Perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan di industri
     furnitur yang memiliki tingkat persaingan cukup beragam di tingkat regional. Kondisi ini
     mendorong Perseroan untuk memprioritaskan penguatan posisi di pasar domestik terlebih dahulu,
     khususnya melalui produk furnitur yang memiliki nilai tambah dan diferensiasi, sehingga dapat
     membangun fondasi bisnis yang lebih solid.

     Definisi KBLI Pembiyaan Conduit

     Berdasarkan Direktori Klasifikasi KBLI, KBLI 64220 merupakan kode 5-digit yang digunakan untuk
     mengklasifikasikan aktivitas pembiayaan conduit. Kegiatan ini termasuk dalam kategori Aktivitas
     Keuangan dan Asuransi, khususnya pada kelompok aktivitas pembiayaan conduit dalam
     golongan pokok 64 pada KBLI 2025 yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

     Secara umum, pembiayaan conduit merupakan kegiatan ketika suatu entitas dibentuk oleh grup
     perusahaan, baik grup keuangan maupun nonkeuangan, untuk menghimpun atau meminjam
     dana, kemudian menyalurkannya kembali kepada perusahaan induk atau entitas lain dalam grup
     yang sama. Dana tersebut umumnya diperoleh melalui pinjaman atau penghimpunan dana dari
     pasar terbuka.




Halaman 44                                                            00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 46
     KBLI 64220 juga mencakup beberapa bentuk kegiatan pembiayaan dalam grup, antara lain:
      • Pembiayaan antar perusahaan dalam satu grup, yang dilakukan oleh entitas keuangan yang
          secara khusus dibentuk atau dikendalikan oleh grup (captive financial institution).
      • Entitas yang berfungsi sebagai perantara penghimpunan dan penyaluran dana kepada
          perusahaan induk (brass plate company). Entitas seperti ini umumnya dimiliki, secara
          langsung maupun tidak langsung, oleh perusahaan nonresiden, memiliki sedikit atau bahkan
          tidak memiliki karyawan, serta memiliki kegiatan operasional dan keberadaan fisik yang
          sangat terbatas di negara tempat entitas tersebut terdaftar.

     Dengan demikian, KBLI 64220 pada dasarnya menggambarkan entitas yang berperan sebagai
     perantara keuangan di dalam suatu grup perusahaan, terutama untuk menghimpun dan
     menyalurkan dana antarentitas dalam grup.

     Pangsa Pasar KBLI Pembiyaan Conduit

     Aktivitas Pembiayaan Conduit memiliki karakteristik yang berbeda dengan kegiatan pembiayaan
     yang ditujukan kepada masyarakat atau pihak eksternal secara umum. Berdasarkan KBLI 2025,
     aktivitas pembiayaan conduit merupakan bagian dari aktivitas perusahaan induk dan pembiayaan
     conduit yang dapat digunakan untuk mengatur dan menyalurkan dana di dalam suatu grup
     perusahaan.

     Dengan karakteristik tersebut, pangsa pasar kegiatan pembiayaan conduit Perseroan tidak diukur
     berdasarkan pangsa pasar pembiayaan secara nasional, melainkan berdasarkan cakupan
     kebutuhan pendanaan entitas dalam grup yang dapat didukung melalui kegiatan conduit. Dalam
     hal ini, entitas anak dan entitas lain dalam grup yang memiliki kebutuhan pendanaan untuk
     pengembangan usaha menjadi bagian dari cakupan kegiatan yang dapat dilayani.

     Pengembangan kegiatan pembiayaan conduit dengan demikian akan mengikuti perkembangan
     portofolio usaha dan kebutuhan pendanaan dalam grup. Semakin berkembang investasi dan
     kegiatan usaha entitas dalam grup, semakin besar pula ruang penggunaan fungsi conduit untuk
     mendukung kebutuhan pendanaan tersebut.

     Kesinambungan KBLI Pembiyaan Conduit

     Kesinambungan kegiatan Pembiayaan Conduit didukung oleh kebutuhan pendanaan yang dapat
     muncul sejalan dengan pengembangan investasi dan kegiatan usaha dalam grup. Sebagai
     bagian dari struktur grup, Perseroan dapat menjalankan fungsi conduit untuk mendukung
     kebutuhan pendanaan entitas dalam grup sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
     portofolio usaha.

     Keberadaan investasi AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya menjadi salah satu
     contoh kebutuhan pendanaan yang dapat berkembang sejalan dengan tahapan pengembangan
     proyek. Selain itu, apabila Perseroan melakukan pengembangan investasi atau menambah
     portofolio melalui entitas anak, kebutuhan pendanaan yang timbul dari investasi tersebut dapat
     menjadi bagian dari ruang penggunaan kegiatan conduit.

     Dengan demikian, kesinambungan kegiatan conduit tidak hanya bergantung pada satu proyek
     atau satu sektor usaha, tetapi mengikuti perkembangan investasi dan kebutuhan pendanaan




Halaman 45                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 47
     dalam grup. Hal ini memberikan ruang bagi kegiatan conduit untuk terus digunakan sejalan
     dengan pengembangan portofolio dan kegiatan usaha Perseroan.

     Potensi pasar KBLI Pembiyaan Conduit

     Potensi kegiatan Pembiayaan Conduit berasal dari kebutuhan pendanaan yang timbul dari
     pengembangan investasi dan kegiatan usaha dalam grup. Pengembangan portofolio investasi
     melalui entitas anak dapat membutuhkan sumber pendanaan untuk investasi baru,
     pengembangan proyek, maupun kebutuhan pendanaan lainnya.

     Dalam konteks Perseroan, AEA telah memiliki investasi pada proyek PSEL Denpasar Raya dan
     Bogor Raya yang dapat terus berkembang sesuai dengan tahapan proyek. Selain itu, Perseroan
     memiliki ruang untuk mengembangkan investasi pada proyek atau sektor usaha lainnya melalui
     entitas anak. Perkembangan tersebut dapat menciptakan kebutuhan pendanaan baru yang dapat
     didukung melalui kegiatan Pembiayaan Conduit.

     Maka, potensi kegiatan conduit sejalan dengan pertumbuhan portofolio investasi dan kebutuhan
     pendanaan entitas dalam grup, sehingga tidak terbatas pada proyek PSEL yang telah dimiliki saat
     ini.

     Sasaran KBLI Pembiyaan Conduit

     Sasaran pasar dari kegiatan Pembiayaan Conduit adalah entitas dalam grup Perseroan yang
     memiliki kebutuhan pendanaan untuk mendukung kegiatan usaha dan pengembangan investasi.
     Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan pendanaan induk maupun entitas lain dalam
     grup sesuai dengan struktur dan kebutuhan usaha Perseroan.

     Kebutuhan pendanaan tersebut dapat berasal dari berbagai kegiatan, antara lain pengembangan
     investasi baru, pengembangan proyek yang telah berjalan, kebutuhan modal kerja, maupun
     kebutuhan pendanaan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan usaha grup.

     Dalam konteks Perseroan, kegiatan conduit dapat mendukung kebutuhan pendanaan entitas
     anak, termasuk AEA, dalam rangka pengembangan investasi yang dimiliki maupun peluang
     investasi baru yang akan dikembangkan. Sejalan dengan hal tersebut, sasaran kegiatan conduit
     dapat berkembang sejalan dengan bertambahnya investasi dan entitas dalam grup.

     Potensi nilai pasar KBLI Pembiyaan Conduit

     Potensi nilai dari rencana kegiatan usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit berasal dari kebutuhan
     pendanaan Perseroan dan entitas dalam grup seiring dengan pengembangan investasi dan
     kegiatan usaha. Melalui conduit, Perseroan dapat mengatur dan menyalurkan dana di dalam grup
     untuk mendukung kebutuhan pendanaan entitas yang membutuhkan, sesuai dengan struktur dan
     kebutuhan masing-masing kegiatan usaha.

     Potensi tersebut dapat berkembang sejalan dengan bertambahnya investasi, pengembangan
     proyek, maupun kebutuhan pendanaan lainnya dalam grup. Dalam konteks Perseroan, kebutuhan
     pendanaan untuk pengembangan investasi melalui entitas anak, termasuk investasi pada proyek
     PSEL, dapat menjadi salah satu sumber kebutuhan yang berpotensi difasilitasi melalui kegiatan
     conduit.



Halaman 46                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 48
       Dengan karakteristik tersebut, potensi nilai kegiatan conduit lebih tepat dilihat dari besarnya
       kebutuhan pendanaan internal grup yang dapat difasilitasi, bukan dari ukuran pasar pembiayaan
       nasional. Semakin berkembang portofolio investasi dan kegiatan usaha grup, semakin besar pula
       potensi kebutuhan pendanaan yang dapat didukung melalui kegiatan conduit.

3.3.   Persaingan Pasar


       Industri Furnitur

       Persaingan industri furnitur cukup ketat, terutama dari negara produsen besar seperti Tiongkok
       dan Vietnam yang memiliki skala ekspor jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Dengan ekspor
       furnitur Indonesia sebesar US$1,85 miliar pada 2025, persaingan berdasarkan volume dan harga
       menjadi cukup berat. Karena itu, peluang Perseroan lebih realistis diarahkan pada kualitas,
       desain, dan produk dengan nilai tambah.

       Dibandingkan emiten pembanding regional, skala usaha Perseroan masih relatif kecil dengan
       pendapatan Rp45,13 miliar atau sekitar 3,34% dari total pendapatan kelompok pembanding.
       Namun, penurunan pendapatan juga dialami sebagian besar perusahaan pembanding, sehingga
       tekanan yang terjadi menunjukkan adanya tantangan di tingkat industri.

       KBLI Pembiyaan Conduit

       Aktivitas Pembiayaan Conduit memiliki keunikan sendiri yang berbeda dengan kegiatan
       pembiayaan lainnya yaitu melayani pembiayaan pihak eksternal. Kegiatan conduit ini merupakan
       aktivitas pembiayaan dalam grup perusahaan yang berfungsi untuk mengatur dan menyalurkan
       dana kepada entitas dalam grup segagaimana telah dijelaskan pada difinisi KBLI. Karenanya,
       persaingan usaha pada aktivitas conduit tidak secara langsung berhadapan dengan bank atau
       perusahaan pembiayaan dalam memperoleh nasabah pembiayaan.

       Persaingan lebih relevan dilihat dari kemampuan Perseroan dalam memperoleh akses terhadap
       sumber pendanaan yang kompetitif, baik melalui hubungan dengan lembaga keuangan maupun
       sumber pendanaan lainnya. Dalam hal ini, aspek yang perlu diperhatikan antara lain ketersediaan
       sumber dana, biaya pendanaan, tenor, persyaratan pembiayaan, serta kemampuan Perseroan
       dan entitas dalam grup dalam memenuhi persyaratan pendanaan.

3.4.   Strategi Pemasaran

       Industri Furnitur

       Perseroan akan memprioritaskan pasar domestik, terutama pelanggan korporasi seperti properti,
       hotel, dan instansi yang membutuhkan furnitur secara berkala. Untuk pasar ritel, pemasaran dapat
       diperluas melalui kanal digital dan kerja sama dengan peritel furnitur.

       Pasar ekspor akan dikembangkan secara bertahap dengan fokus pada produk bernilai tambah
       dan volume yang terukur. Timur Tengah dan India dapat menjadi pasar alternatif seiring dengan
       upaya pemerintah memperluas tujuan ekspor furnitur Indonesia.




Halaman 47                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 49
       KBLI Pembiyaan Conduit

       Strategi pengembangan Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220) diarahkan untuk membangun
       akses terhadap sumber pendanaan dan menyalurkannya kepada entitas dalam grup sesuai
       dengan kebutuhan pendanaan. Strategi yang dilakukan meliputi:

        1. Pengembangan hubungan dengan lembaga keuangan
           Membangun dan menjaga hubungan dengan bank dan lembaga keuangan untuk
           memperoleh akses terhadap sumber pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan Perseroan
           dan entitas dalam grup.
        2. Akses dan sourcing sumber pendanaan
           Mengidentifikasi dan menjajaki berbagai sumber pendanaan yang dapat digunakan untuk
           memenuhi kebutuhan pendanaan dalam grup, dengan mempertimbangkan karakteristik,
           kebutuhan, dan struktur pendanaan masing-masing kegiatan usaha.
        3. Penghimpunan atau peminjaman dana
           Mengupayakan penghimpunan atau peminjaman dana dari sumber pendanaan yang telah
           dijajaki dengan mempertimbangkan skema dan persyaratan pendanaan yang wajar dan
           layak bagi Perseroan maupun entitas dalam grup.
        4. Penyaluran dana kepada entitas dalam grup
           Menyalurkan dana yang diperoleh melalui aktivitas conduit kepada entitas dalam grup sesuai
           dengan kebutuhan dan tujuan pendanaan yang telah ditetapkan.

       Dengan strategi tersebut, aktivitas conduit diarahkan untuk memperkuat akses terhadap sumber
       pendanaan serta mendukung pemenuhan kebutuhan pendanaan entitas dalam grup secara
       terstruktur.

3.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar

       Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki
       peluang yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait masih
       memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara nasional
       didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah. Perseroan
       juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya,
       sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangan portofolio usaha.

       Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap
       melalui pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta
       pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar,
       kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha,
       aspek pasar rencana kegiatan penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang
       pertumbuhan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang
       investasi dan kondisi pasar yang berlaku.




Halaman 48                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 50
                                            BAB IV
                                  ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS

4.1. Bisnis Perusahaan

     Perseroan saat ini menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur dari kayu (KBLI
     31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI 31004), dengan produk berupa meja, kursi, tempat
     tidur, lemari, rak, kabinet, serta produk furnitur lainnya untuk kebutuhan rumah tangga dan
     perkantoran. Sejalan dengan perkembangan strategi usaha, Perseroan juga melakukan
     diversifikasi portofolio melalui penyertaan modal pada entitas yang bergerak di bidang
     pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk pengembangan proyek pengolahan sampah
     menjadi energi (waste to energy/WTE). Perkembangan tersebut menyebabkan kebutuhan
     pendanaan grup menjadi semakin beragam dan membutuhkan pengelolaan sumber dana yang
     lebih terstruktur.

     Perseroan berencana memperkuat fungsi pendanaan pada tingkat Perseroan. Oleh karena itu,
     SOFA merencanakan penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit sebagai dasar
     kegiatan usaha untuk menjalankan fungsi pembiayaan conduit dalam struktur grup. Penambahan
     ini memberikan landasan bagi Perseroan dalam menjalankan fungsi sebagai entitas pembiayaan
     conduit, yaitu menghimpun atau memperoleh sumber pendanaan dan selanjutnya menyalurkan
     dana tersebut kepada induk perusahaan atau entitas lain dalam grup sesuai dengan struktur dan
     tujuan pendanaan yang ditetapkan. Dengan fungsi tersebut, pengelolaan pendanaan dapat
     dilakukan secara lebih terpusat, terkoordinasi, dan efisien, sekaligus mendukung kebutuhan
     investasi dan pengembangan usaha entitas dalam grup. Fungsi pembiayaan conduit pada SOFA
     dapat mendukung proses penyediaan pendanaan bagi entitas dalam grup tanpa mengubah
     operasional masing-masing entitas.

     Sebagai perusahaan terbuka, SOFA memiliki akses terhadap berbagai alternatif sumber
     pendanaan, termasuk sumber pendanaan melalui pasar modal. Dengan demikian, penambahan
     KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit merupakan bagian dari strategi Perseroan dalam
     mendukung penghimpunan dan penyaluran sumber dana terstruktur ke entitas grup, serta
     mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan portofolio usaha grup yang berkelanjutan.

4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Entitas Pembiayaan Conduit

     Dalam rangka mendukung rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas
     Pembiayaan Conduit, SOFA akan menjalankan fungsi sebagai entitas pembiayaan conduit yang
     berfokus pada penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada entitas dalam grup
     sesuai dengan tujuan dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan
     tersebut akan dilakukan dengan memperhatikan kesiapan struktur organisasi, sumber daya
     manusia, mekanisme pengelolaan dana, serta kebutuhan pendanaan entitas penerima. Secara
     teknis, pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit akan mencakup proses perencanaan kebutuhan
     dana, penentuan sumber dan struktur pendanaan, penghimpunan dana, penyaluran dana
     kepada entitas penerima, serta pemantauan penggunaan dan pengembalian dana sesuai dengan
     perjanjian dan ketentuan yang berlaku.

     Dalam rencana transaksi yang akan dilakukan oleh SOFA, dana yang dihimpun oleh Perseroan
     akan disalurkan melalui PT Ananta Energi Asia (AEA) sebagai entitas anak dengan kepemilikan
     sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal pada WNA dan WNG.



Halaman 49                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 51
     Dana yang diterima WNA dan WNG kemudian digunakan sesuai dengan tujuan kebutuhan
     pendanaan pada perusahaan operasional. Dengan mekanisme tersebut, SOFA tidak
     menjalankan kegiatan operasional proyek secara langsung. Fungsi pada tingkat Perseroan
     meliputi perencanaan dan pengelolaan pendanaan, pengendalian keuangan, pemantauan
     penggunaan dana, manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
     Pemantauan dilakukan melalui pelaporan keuangan dan penggunaan dana secara berkala,
     evaluasi terhadap kebutuhan pendanaan, serta pengawasan atas pemenuhan kewajiban
     berdasarkan perjanjian pendanaan.

     Skema pengembalian dana kepada Perseroan berlangsung secara berjenjang mengikuti rantai
     kepemilikan yang terbentuk dari penyaluran dana. Perolehan laba pada perusahaan proyek waste
     to energy diserap oleh WNA dan WNG selaku perusahaan konsorsium melalui skema pembagian
     dividen sesuai porsi kepemilikannya sebesar masing-masing 70%. Selanjutnya, WNA dan WNG
     membagikan dividen kepada AEA selaku pemegang saham, dan pada akhirnya AEA menyalurkan
     hasil tersebut kepada Perseroan sehingga tercatat sebagai pendapatan dividen SOFA. Dengan
     mekanisme tersebut, pengembalian dana kepada Perseroan sepenuhnya bergantung pada kinerja
     dan kemampuan perusahaan proyek dalam menghasilkan laba setelah beroperasi secara
     komersial, serta pada kebijakan pembagian dividen pada masing-masing jenjang entitas. Seluruh
     aliran dana, baik pada tahap penyaluran maupun pengembaliannya, berlangsung di dalam
     lingkup entitas grup Perseroan tanpa melibatkan pihak ketiga di luar grup.

     Berdasarkan uraian KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit, kelompok ini mencakup kegiatan
     unit yang dibentuk oleh grup lembaga keuangan atau bukan keuangan untuk mengumpulkan
     atau meminjam dana dan mengirimkan dana tersebut kepada induk perusahaan atau entitas lain
     di dalam grup perusahaan yang bersangkutan, termasuk aktivitas institusi captive financial yang
     terlibat dalam pinjaman antar entitas di dalam grup, serta secara eksplisit tidak mencakup jasa
     pengelolaan dana dan utang masyarakat. Sejalan dengan uraian tersebut, cakupan pihak yang
     menerima penyaluran dana dari Perseroan terbatas secara eksklusif pada entitas dalam grup
     Perseroan, yaitu AEA selaku entitas anak dan selanjutnya WNA serta WNG. Perseroan tidak
     menyalurkan dana kepada pihak ketiga di luar grup, tidak menawarkan fasilitas pembiayaan
     kepada masyarakat umum, serta tidak menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
     simpanan. Adapun penghimpunan dana yang dilakukan Perseroan bersumber dari instrumen
     pasar modal dan/atau fasilitas perbankan yang pelaksanaannya tunduk pada ketentuan pasar
     modal yang berlaku bagi Perseroan selaku emiten.

     Proses Produksi dan/atau Operasional

     Dalam kegiatan usaha existing, SOFA menjalankan kegiatan produksi furnitur berbahan dasar
     kayu dan logam yang didukung oleh fasilitas dan proses produksi yang dimiliki Perseroan. Namun,
     pada rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit,
     Perseroan tidak menjalankan kegiatan produksi secara langsung. Kegiatan usaha tersebut
     berfokus pada fungsi pembiayaan conduit, yaitu penghimpunan dan pengelolaan sumber dana
     untuk selanjutnya disalurkan kepada entitas penerima sesuai dengan tujuan dan struktur
     pendanaan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, SOFA akan melakukan perencanaan
     kebutuhan pendanaan, penentuan sumber dan struktur pembiayaan, penyaluran dana melalui
     entitas yang ditetapkan, pemantauan penggunaan dana, serta pengawasan atas pemenuhan
     kewajiban berdasarkan perjanjian dan ketentuan yang berlaku.




Halaman 50                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 52
     Alur dan Flow Chart

     Sehubungan dengan rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit, Perseroan
     tidak memiliki production flow. Secara umum, alur kegiatan dimulai dari identifikasi kebutuhan
     pendanaan, analisis dan persetujuan struktur pembiayaan, penghimpunan atau penyediaan dana
     oleh Perseroan, penyaluran dana kepada entitas penerima melalui struktur yang telah ditetapkan,
     pemantauan penggunaan dana, serta pelaporan dan evaluasi atas realisasi penggunaan dana.
     Dengan demikian, alur kegiatan KBLI 64220 berfokus pada pengelolaan dan pengendalian arus
     pendanaan.

4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Pembiayaan Conduit

     Dalam rangka mendukung pengembangan kegiatan usaha dan kebutuhan pendanaan investasi
     dalam grup, SOFA berencana menambahkan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas
     Pembiayaan Conduit. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk fungsi pendanaan yang
     terpusat pada tingkat Perseroan, khususnya dalam kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan
     penyaluran dana kepada entitas dalam grup sesuai dengan tujuan penggunaan dan struktur
     transaksi yang telah ditetapkan.

     Rencana tersebut sejalan dengan kebutuhan pendanaan proyek waste to energy (WTE) yang
     memiliki karakteristik kebutuhan modal relatif besar dan periode pengembangan serta
     pengembalian investasi yang panjang. Dalam pelaksanaannya, SOFA sebagai perusahaan
     terbuka memiliki akses terhadap sumber pendanaan, termasuk melalui pinjaman bank dan
     sumber pendanaan lainnya, yang selanjutnya dapat disalurkan kepada entitas dalam grup untuk
     mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan proyek.

     Berdasarkan rencana struktur transaksi, dana yang dihimpun oleh Perseroan akan disalurkan
     kepada AEA sebagai entitas anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan
     sebagai setoran modal pada WNA dan WNG, masing-masing dengan rencana kepemilikan
     sebesar 10%. WNA dan WNG selanjutnya berperan sebagai entitas penyertaan yang memiliki
     kepemilikan pada perusahaan operasional proyek. Dengan demikian, kegiatan berdasarkan KBLI
     64220 tidak mengubah kegiatan operasional existing SOFA di bidang industri furnitur, melainkan
     untuk membentuk fungsi pembiayaan conduit yang mendukung kebutuhan pendanaan investasi
     secara terstruktur.

     Struktur Penyertaan dan Alur Pendanaan

     SOFA berencana untuk melakukan penyetoran modal pada perusahaan-perusahaan dalam
     konsorsium melalui entitas anaknya, AEA, guna mendukung pendanaan konstruksi proyek
     pengolahan sampah menjadi energi. Dana yang digunakan untuk penyetoran modal tersebut
     dihimpun oleh Perseroan pinjaman bank, yang selanjutnya disalurkan kepada AEA dan diteruskan
     kepada WNA dan WNG sesuai porsi penyertaan yang direncanakan. Berikut informasi mengenai
     para pihak yang menjadi pemegang saham dalam struktur penyertaan Perseroan:

      1. PT Weiming Nusantara Alpha

          PT Weiming Nusantara Alpha (“WNA”) merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan
          Akta Pendirian No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di
          Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum



Halaman 51                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 53
         Republik Indonesia Nomor AHU-0012748.AH.01.01.Tahun 2026 Tentang Pengesahan
         Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming Nusantara Alpha. Anggaran dasar
         perusahaan telah mengalami perubahan dengan perubahan terakhir berdasarkan Akta No.
         08 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat
         dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan
         Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-0338739 Tanggal 19 Juni
         2026 tentang perubahan peralihan saham.

         Kegiatan usaha WNA berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
         dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
         tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
         perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
         sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
         tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
         Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
         (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

         Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 08 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
         pemegang saham WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

         Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNA
                                                                             Jumlah         Jumlah
                 Nama Pemegang Saham               Jumlah saham    % saham
                                                                              (USD)           (Rp)
             Zhejiang Weiming Environment
                                                        790.000     79,00%    790.000    13.272.000.000
             Protection Co., Ltd.,
             Lentera Merah Investment Pte.,
                                                        100.000     10,00%    100.000     1.680.000.000
             Ltd.,
             PT Perkasa Eka Cipta Investama              10.000      1,00%     10.000      168.000.000
             PT Ananta Energi Asia                      100.000     10,00%    100.000     1.680.000.000
          Total                                       1.000.000    100,00%   1.000.000   16.800.000.000
         Sumber: Informasi Manajemen


         Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 susunan
         Dewan Komisaris dan Direksi WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

         Komisaris
         Komisaris                            : Cheng, Peng

         Direksi:
         Direktur Utama                       : Xiang, Yihao
         Direktur                             : Xiang, Guangfeng
         Direktur                             : Lin, Jiqun

      2. PT Weiming Nusantara Gamma

         PT Weiming Nusantara Gamma (“WNG”) merupakan perusahaan yang didirikan
         berdasarkan Akta Pendirian No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn.,
         Notaris di Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
         Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0020345.AH.01.01.TAHUN 2026 Tanggal 10
         Maret 2026 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming


Halaman 52                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 54
          Nusantara Gamma. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami perubahan dengan
          perubahan terakhir berdasarkan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH.,
          MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik
          Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
          AHU-AH.01.09-0322886 Tanggal 09 Juni 2026 tentang perubahan peralihan saham.

          Kegiatan usaha WNG berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
          dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
          tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
          perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
          sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
          tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
          Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
          (negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.

          Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
          pemegang saham WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

          Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNG
                                                                              Jumlah        Jumlah
                  Nama Pemegang Saham               Jumlah saham   % saham
                                                                               (USD)          (Rp)
             Weiming Environment Protection
                                                         790.000    79,00%    790.000    13.272.000.000
             (Hongkong) Limited
             Lentera Merah Investment Pte., Ltd.,        100.000    10,00%    100.000     1.680.000.000
             PT Perkasa Eka Cipta Investama               10.000     1,00%     10.000      168.000.000
             PT Ananta Energi Asia                       100.000    10,00%    100.000     1.680.000.000
           Total                                       1.000.000   100,00%   1.000.000   16.800.000.000
          Sumber: Informasi Manajemen


          Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 susunan Dewan
          Komisaris dan Direksi WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

          Komisaris
          Komisaris                          : Cheng, Peng

          Direksi:
          Direktur Utama                     : Xiang, Yihao
          Direktur                           : Xiang, Guangfeng
          Direktur                           : Lin, Jiqun

     Struktur Kepemilikan Entitas Anak

     Alur pendanaan dilaksanakan dari Perseroan kepada AEA sebagai entitas anak dengan
     kepemilikan 99%, selanjutnya diteruskan oleh AEA kepada WNA dan WNG dalam bentuk setoran
     modal dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, sementara 90% sisanya dimiliki
     oleh anggota konsorsium lain. WNA dan WNG selanjutnya menyalurkan modal tersebut kepada
     perusahaan operasional (operating company) proyek Denpasar Raya (atau Proyek Bali) dan proyek
     Bogor Raya (atau Proyek Bogor). Rincian struktur kepemilikan pada entitas konsorsium sebagai
     berikut:



Halaman 53                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 55
                             Grafik 9. Struktur Kepemilikan pada Entitas Anak




                                          Sumber: Informasi Manajemen

4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium

     WNA dan WNG merupakan entitas dalam struktur konsorsium yang menjadi tujuan penambahan
     setoran modal Perseroan melalui entitas anaknya, AEA. Kedua entitas tersebut berkedudukan
     sebagai pemegang saham mayoritas, masing-masing sebesar 70%, pada perusahaan
     operasional (operating company) proyek Bali dan proyek Bogor, sedangkan 30% sisanya dimiliki
     secara tidak langsung oleh PT Danantara Investment Management melalui anak usahanya, PT
     Daya Energi Bersih Nusantara. Perusahaan konsorsium beroperasi sebagai penerima setoran
     modal dari pemegang saham dan pemberi setoran modal kepada perusahaan project waste to
     energy. Dengan begitu, kepemilikan SOFA pada perusahaan proyek waste to energy merupakan
     kepemilikan tidak langsung lewat perusahaan konsorsium WNA dan WNG. Selanjutnya perolehan
     laba pada perusahaan proyek waste to energy diserap oleh perusahaan konsorsium lewat skema
     pembagian dividen, dan selanjutnya perolehan tersebut diserap SOFA lewat mekanisme
     pembagian dividen dari WNA dan WNG ke pendapatan dividen SOFA.

     Proyek yang dijalankan perusahaan proyek sendiri bergerak di bidang pengolahan sampah
     menjadi energi (waste to energy/WTE), yaitu solusi penanganan limbah yang efisien untuk
     mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang
     berkelanjutan. Dengan mengubah sampah kota menjadi energi yang dapat digunakan, fasilitas
     WTE membantu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, menurunkan emisi
     gas rumah kaca, meningkatkan sanitasi lingkungan, serta mendukung transisi menuju sumber
     energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

     Indonesia saat ini memasuki tahap mempercepat pengembangan pengolahan sampah menjadi
     energi. Didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, industri ini memperoleh
     manfaat dari kejelasan regulasi yang lebih kuat, koordinasi proyek yang terpusat dan dirancang
     untuk meningkatkan kelayakan proyek jangka panjang. Peraturan Presiden tersebut secara resmi
     mencabut dan menggantikan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Kepastian harga dan

Halaman 54                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 56
       jangka waktu kontrak tersebut menghasilkan arus kas yang dapat diproyeksikan pada tingkat
       perusahaan operasional, sehingga menjadi dasar pertimbangan utama dalam skema pendanaan
       yang direncanakan Perseroan.

       Kedua proyek yang dinaungi WNA dan WNG berada pada lokasi prioritas nasional, yaitu
       Denpasar Raya dan Bogor Raya, yang termasuk dalam lima lokasi yang ditargetkan memulai
       pembangunan pada tahap awal sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun
       2025. Proyek-proyek tersebut saat ini sedang menjalani persiapan teknis sebelum konstruksi.
       Proses bisnis pada perusahaan operasional disusun dengan mengacu pada model usaha
       pengolahan sampah berbasis teknologi termal dan pembangkitan tenaga listrik pada umumnya
       mencakup tahapan pengembangan proyek, penerimaan dan pengolahan sampah,
       pembangkitan serta penjualan tenaga listrik, hingga penanganan residu dan pemantauan
       lingkungan. Secara umum proses bisnis WTE sebagai berikut:

        1. Pengembangan Proyek
            • Studi Kelayakan
            • Karakterisasi Sampah
            • Kesiapan Lokasi & Lahan
            • Perizinan & Persetujuan Lingkungan
            • Penandatanganan PPA dengan PLN
            • Financial Close
        2. Pengadaan Teknologi & Konstruksi
            • Pemilihan Penyedia Teknologi
            • Penandatanganan Kontrak EPC
            • Rekayasa, Pengadaan & Konstruksi (EPC)
            • Penyelesaian Konstruksi (Mechanical Completion)
            • Uji Jaminan Kinerja (Performance Guarantee)
        3. Commissioning & Persiapan Operasi
            • Uji Commissioning
            • Uji Kinerja Pembangkit
            • Dimulainya Operasi Komersial (COD)
        4. Pembangkitan & Penjualan Listrik/Operasi Komersial
            • Penerimaan & Pengolahan Sampah
            • Produksi Tenaga Listrik dari Sampah
            • Penjualan Listrik kepada PLN
            • Pelaksanaan PPA selama 30 Tahun
            • Arus kas Proyek Mulai Berjalan
        5. Optimasi, Pemeliharaan & Kepatuhan Lingkungan
            • Pemeliharaan Rutin Pembangkit
            • Optimalisasi Kinerja Pembangkit
            • Pengelolaan Bottom Ash & Fly Ash
            • Pemantauan Emisi & Kepatuhan Lingkungan

4.5.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis

       Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
       Conduit pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh
       kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan
       kebutuhan pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada


Halaman 55                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 57
     entitas dalam grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan
     dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan.

     Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas
     anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal
     pada WNA dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan
     oleh entitas operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan
     pengawasan arus dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan
     WNA dan WNG serta mitra teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam
     menyusun dan menyalurkan pendanaan sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan
     demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak,
     didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian arus dana, pemantauan penggunaan dana,
     serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.




Halaman 56                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 58
                                             BAB V
                                ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS

5.1   Kegiatan Utama Usaha

      Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
      maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan besar
      selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas profesional,
      ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta perlengkapan rumah
      tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana pensiun, guna mendukung
      pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Perseroan dalam menjalankan
      maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan usaha sebagai berikut:

      1. Kegiatan usaha utama SOFA:
          a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
             berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
             meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk
             sejenis lainnya; dan
          b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur untuk
             kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama logam,
             termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.

      2. Kegiatan usaha penunjang SOFA:
          a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
             khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet, serta
             produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan perlengkapan
             tidur seperti bantal dan guling;
          b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI 47599),
             yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan rumah tangga
             yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan lainnya;
          c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang meliputi
             kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya yang
             melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas nama
             pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain bahan
             baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu dan bahan
             bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang keperluan rumah
             tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda motor (KBLI 451–454);
          d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
             interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
             pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
             dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
             interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
             meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit, wallpaper,
             pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan interior lainnya;
          e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
             desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan desain
             produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material, konstruksi,
             keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta penggunaan, sesuai
             dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.

Halaman 57                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 59
           f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
              profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan lainnya;
           g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
              perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta perlengkapan
              rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan lepas (self-standing);
              dan
           h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset dan
              kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi dan
              perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.

5.2   Penambahan Kegiatan Usaha

      Manajemen SOFA memandang bahwa rencana pengembangan usaha, khususnya dalam bidang
      pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), perlu dijalankan melalui penyertaan
      pada entitas konsorsium agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu
      memberikan kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Rencana berupa penambahan
      setoran modal pada entitas yang telah ada dalam struktur konsorsium, yaitu WNA dan WNG,
      yang dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan, yaitu AEA. Skema ini diharapkan dapat
      mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam pengelolaan
      pendanaan dan pengembangan bisnis.

      Mengingat kebutuhan pendanaan konstruksi proyek besar dan berjangka panjang, Perseroan
      sebagai perusahaan terbuka akan berperan sebagai penghimpun dana untuk selanjutnya
      disalurkan kepada entitas di dalam grup. Alur pendanaan dilaksanakan secara berjenjang sesuai
      struktur kepemilikan, yaitu dari Perseroan kepada AEA dengan kepemilikan 99%, diteruskan
      kepada WNA dan WNG dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, untuk
      selanjutnya disalurkan kepada perusahaan operasional (operating company) proyek Bali dan
      proyek Bogor di mana WNA dan WNG masing-masing memiliki 70% saham. Sehubungan
      dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan penambahan
      kegiatan usaha dengan pembiayaan conduit. Langkah ini diperlukan agar Perseroan memiliki
      landasan hukum yang memadai dalam menghimpun serta menyalurkan dana kepada entitas di
      dalam grup, termasuk yang bergerak di bidang pengolahan sampah menjadi energi.

      Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
      penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
      berikut:

      Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha

      Nama KBLI        : Aktivitas Pembiayaan Conduit
      Kode KBLI        : 64220

      Kelompok ini mencakup kegiatan pembiayaan conduit, misalnya unit yang dibentuk oleh grup
      lembaga keuangan atau bukan keuangan untuk mengumpulkan atau meminjam dana (mayoritas
      di pasar terbuka) dan mengirimkan dana tersebut ke induk perusahaan atau entitas lain di dalam
      grup perusahaan tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara langsung menjalankan kegiatan
      operasional dari entitas penerima dana, melainkan berperan dalam penghimpunan dana,
      penetapan struktur dan waktu penyaluran, serta pemantauan atas penggunaan dana sesuai
      peruntukannya. Kegiatan pembiayaan conduit juga dapat mencakup dukungan dalam



Halaman 58                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 60
      perencanaan pendanaan pengembangan usaha, termasuk kajian atas struktur pembiayaan yang
      relevan dengan strategi pertumbuhan Perseroan dan kebutuhan pendanaan proyek pada tahap
      berikutnya.

5.3   Keunggulan Kompetitif

      Dalam rencana pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI 64220 Aktivitas
      Pembiayaan Conduit, SOFA memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari kemampuannya
      dalam menghimpun dana dari pasar dan menyalurkannya secara terstruktur kepada entitas di
      dalam grup. Perseroan tidak hanya berperan sebagai entitas operasional di sektor industri furnitur
      dari kayu dan logam, namun juga memiliki potensi untuk menjadi pusat pengelolaan pendanaan
      grup yang mampu mengoptimalkan struktur permodalan serta mengarahkan alokasi modal ke
      sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang.

      Keunggulan kompetitif yang dimiliki SOFA terkait dengan aktivitas pembiayaan conduit terletak
      pada kualitas sumber daya manusia di level pengendali. Mengingat entitas pembiayaan conduit
      tidak terlibat dalam kegiatan operasional entitas penerima dana, nilai tambah bersumber dari
      kemampuan Direksi dan Dewan Komisaris dalam penghimpunan dana, penstrukturan
      pembiayaan, serta pengawasan atas penggunaan dana. Komposisi kepengurusan Perseroan saat
      ini memiliki kedalaman pengalaman yang secara langsung menjawab kebutuhan tersebut.

      Perseroan memiliki kemampuan dalam mendukung pendanaan usaha dalam grup (group funding
      support), melalui status sebagai perusahaan terbuka yang memiliki akses terhadap sumber
      pendanaan pasar modal, pengalaman dalam pengelolaan usaha manufaktur, tata kelola dan
      pelaporan sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2020. Manajemen dalam
      menjalankan usahanya memiliki track record sebagai perusahaan dengan kepemilikan saham
      langsung pada PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT Pratama Satya
      Tunggal yang merupakan perusahaan bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture
      sehingga SOFA dapat dianggap perusahaan investasi yang berpengalaman. Dengan adanya
      fungsi pembiayaan conduit, Perseroan dapat menghimpun dana dengan biaya dan tenor yang
      lebih kompetitif dibandingkan pendanaan yang dihimpun secara terpisah oleh masing-masing
      entitas, untuk selanjutnya disalurkan melalui entitas anak, AEA, kepada WNA dan WNG dalam
      bentuk setoran modal guna mendanai konstruksi proyek pengolahan sampah menjadi energi
      (WTE).

      Dibandingkan dengan pelaku usaha lain yang menjalankan kegiatan usaha sejenis pada KBLI
      64220, keunikan pola bisnis SOFA terletak pada beberapa poin. Pertama, penghimpunan dana
      dilakukan pada tingkat Perseroan yang berstatus perusahaan terbuka, sehingga Perseroan
      memiliki akses terhadap instrumen pasar modal dengan basis investor yang lebih luas serta biaya
      dana yang lebih kompetitif. Kedua, penyaluran dana dilakukan secara terstruktur kepada entitas
      dalam grup dengan tujuan penggunaan yang spesifik, yaitu pendanaan konstruksi proyek
      pengolahan sampah menjadi energi, sehingga terdapat kejelasan atas peruntukan dana dan
      keterhubungan langsung antara sumber pendanaan dengan aset produktif yang dibiayai. Ketiga,
      Perseroan berasal dari entitas operasional aktif di sektor manufaktur yang bertransformasi
      menjadi pusat pendanaan grup, sehingga memiliki pemahaman langsung atas dinamika
      operasional dan kebutuhan pendanaan riil entitas dalam grup, berbeda dengan entitas
      pembiayaan yang dibentuk semata sebagai perantara pendanaan tanpa rekam jejak operasional.
      Keempat, sebagai emiten, Perseroan tunduk pada ketentuan keterbukaan informasi, pelaporan
      berkala, dan tata kelola perusahaan terbuka yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan, sehingga



Halaman 59                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 61
      memberikan tingkat transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi bagi pemberi dana
      dibandingkan entitas pembiayaan sejenis yang tidak terikat kewajiban serupa.

      Dengan demikian, SOFA dalam menjalankan kegiatan usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit
      memiliki keunggulan kompetitif dan akan terus mengembangkan keunggulan tersebut melalui
      peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang kompeten
      di bidangnya merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan perusahaan.
      Selain itu, aktivitas pembiayaan akan didukung dengan melakukan investasi pada perusahaan di
      sektor lainnya dengan mempertimbangkan potensi pasar guna meningkatkan daya saing SOFA.

5.4   Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk

      Kegiatan usaha berdasarkan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada dasarnya tidak
      menghasilkan produk fisik atau jasa yang dipasarkan secara langsung kepada pelanggan,
      melainkan berfokus pada fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada
      entitas dalam grup sesuai dengan tujuan dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan. Oleh
      karena itu, aspek kemampuan pesaing untuk meniru produk bukan merupakan faktor utama
      dalam menilai tingkat persaingan. Persaingan lebih relevan ditinjau dari kemampuan perusahaan
      dalam memperoleh akses terhadap sumber pendanaan, menyalurkan dana secara tepat sasaran,
      serta melakukan pengendalian dan pemantauan atas penggunaan dana.

      Kemampuan untuk menjalankan kegiatan pembiayaan conduit pada dasarnya dapat dimiliki oleh
      perusahaan lain yang memiliki kapasitas pendanaan, akses terhadap sumber pembiayaan, serta
      struktur tata kelola yang memadai. Dengan demikian, tingkat persaingan dalam kegiatan ini
      kompetitif, terutama dalam memperoleh sumber pendanaan dan mendukung kebutuhan
      pembiayaan entitas dalam grup. Untuk menghadapi kondisi tersebut, SOFA dapat
      mengembangkan keunggulan melalui penguatan tata kelola pendanaan, penerapan prinsip
      kehati-hatian dalam menentukan sumber dan penggunaan dana, evaluasi kelayakan kebutuhan
      pembiayaan, serta pemantauan secara berkala terhadap posisi keuangan dan kemampuan
      entitas penerima dana dalam memenuhi kewajibannya.

      Dalam menjalankan KBLI 64220, SOFA juga akan mengedepankan kompetensi sumber daya
      manusia dalam pengelolaan pendanaan, analisis risiko, pemantauan penggunaan dana, dan
      koordinasi dengan entitas penerima sehingga kegiatan pembiayaan conduit dapat dilaksanakan
      dengan memberikan nilai tambah bagi Perseroan. Upaya yang telah dilakukan SOFA di
      antaranya dengan menjalin kemitraan strategis melalui entitas anaknya, yakni bergabung dalam
      suatu konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta
      afiliasinya untuk pengembangan proyek di sektor lain yang diharapkan memberikan keuntungan
      jangka panjang bagi perusahaan. Selain itu perusahaan akan mengedepankan kompetensi
      sumber daya manusia agar mendorong terciptanya nilai tambah bagi perusahaan.

5.5   Kemampuan Menciptakan Nilai

      Pola bisnis melalui penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
      memberikan peluang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah melalui beberapa aspek
      strategis sebagai berikut:




Halaman 60                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 62
      1. Efisiensi biaya dana
         Perseroan sebagai perusahaan terbuka memungkinkan penghimpunan dana dari pasar
         dengan biaya dan tenor yang lebih kompetitif dibandingkan pendanaan yang dihimpun secara
         terpisah oleh masing-masing entitas dalam grup.

      2. Diversifikasi pendapatan
         Penyaluran dana pada proyek pengolahan sampah menjadi energi atau pada sektor lainnya
         kedepan memberikan sumber penerimaan baru yang tidak bergantung pada permintaan
         produk furnitur, sehingga meningkatkan ketahanan usaha terhadap ketidakpastian sektor
         properti dan daya beli masyarakat.

      3. Fleksibilitas pengembangan usaha
         Fungsi pembiayaan conduit menjadikan Perseroan dapat mendanai ekspansi lebih lanjut
         secara berulang atas proyek yang berjalan. Selain itu, Perseroan dalam menyediakan
         pendanaan bagi pengembangan portofolio usaha grup, termasuk proyek waste to energy
         (WTE). Dengan tersedianya struktur pendanaan yang terkoordinasi, Perseroan memiliki
         fleksibilitas yang lebih baik dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup sesuai
         dengan hasil evaluasi kelayakan investasi dan kemampuan pendanaan Perseroan.

      4. Mendukung penciptaan nilai dari proyek yang didanai
         Penyaluran dana melalui struktur pembiayaan conduit untuk mendukung investasi dan
         pengembangan proyek yang memiliki potensi memberikan manfaat ekonomi bagi grup.
         Kemampuan Perseroan dalam menyediakan dan mengelola pendanaan dapat mendukung
         keberlangsungan tahap pengembangan proyek.

      Dengan demikian, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit berpotensi
      menciptakan nilai melalui peningkatan efisiensi sumber pendanaan dan pengembangan investasi
      dalam grup. Nilai tambah tercermin dari berkembangnya portofolio investasi dan meningkatnya
      kinerja entitas dalam grup. Selain itu, ketiga hal tersebut memberikan kontribusi positif terhadap
      penciptaan nilai, baik bagi Perseroan maupun pemegang saham.

5.6   Analisis SWOT

      Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
      mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
      ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
      dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
      mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
      perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.

      Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
      kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
      Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
      internal serta dinamika eksternal yang dihadapi.

      Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana Penambahan KBLI 64220 – Aktivitas Pembiayaan
      Conduit pada SOFA:




Halaman 61                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 63
     Strengths (Kekuatan)
      • Bisnis inti yang sudah ada di industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan logam (KBLI 31004),
          didukung kapasitas produksi, jaringan ritel, dan portofolio produk premium yang
          dikembangkan secara konsisten.
      • Status sebagai perusahaan terbuka sejak pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada
          tahun 2020, yang memberikan akses nyata terhadap sumber pendanaan pasar modal.
      • Kepengurusan dengan rekam jejak penghimpunan dana dan penstrukturan pembiayaan
          proyek infrastruktur berskala triliunan rupiah, meliputi penerbitan obligasi, rights issue, dan
          pembiayaan proyek pada sektor energi dan transportasi.
      • Kemitraan strategis melalui keikutsertaan dalam konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang
          Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta afiliasinya, yang memberikan keyakinan
          atas kelayakan teknis proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana.

     Weaknesses (Kelemahan)
     • Peningkatan kompleksitas struktur organisasi dan pelaporan akibat penambahan fungsi
        pembiayaan grup, yang memerlukan penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan
        koordinasi antar entitas.
     • Kebutuhan dana yang sangat besar, dengan proyek bersifat padat modal dan baru
        menghasilkan arus kas pengembalian setelah beroperasi secara komersial, sehingga
        terdapat periode penyaluran dana tanpa penerimaan.
     • Perbedaan karakteristik antara kegiatan usaha existing dan fungsi pembiayaan
        meningkatkan kebutuhan koordinasi dan kompetensi manajemen.
     • Potensi terbaginya fokus manajemen antara pengelolaan bisnis furnitur yang sudah berjalan
        dengan pengelolaan fungsi pendanaan grup yang berkarakter sangat berbeda.

     Opportunities (Peluang)
     • Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pengembangan WTE dapat memberikan alasan
        kuat dijadikannya tujuan penyaluran dana. Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025
        memberikan kerangka pengembangan proyek serta ketentuan komersial terkait pembelian
        tenaga listrik, sehingga mendukung kepastian arus kas proyek.
     • Meningkatnya minat investor dan lembaga pembiayaan terhadap proyek dengan profil
        keberlanjutan, yang membuka peluang akses pada instrumen pendanaan hijau dengan
        biaya yang lebih kompetitif.
     • Diversifikasi sumber pendapatan, yang dapat mengurangi ketergantungan pada bisnis inti
        dan meningkatkan ketahanan usaha.

      Threats (Ancaman)
      • Risiko pasar pendanaan, berupa kenaikan suku bunga, pengetatan likuiditas, atau
          penurunan minat investor yang dapat meningkatkan biaya dana atau menghambat
          penghimpunan.
      • Risiko regulasi dan kepatuhan dapat timbul dari perubahan ketentuan yang berkaitan
          dengan kegiatan pembiayaan, perusahaan terbuka, perpajakan, pasar modal, maupun
          sektor usaha entitas penerima dana. Perubahan regulasi dapat memengaruhi struktur dan
          biaya pendanaan serta kelayakan investasi yang dibiayai.
      • Risiko kinerja entitas penerima dana berdampak terhadap kemampuan Perseroan
          memperoleh pengembalian atas dana yang disalurkan. Kendala tidak tercapainya target
          operasional dapat memengaruhi arus kas dan kemampuan entitas penerima dalam
          memenuhi kewajibannya.



Halaman 62                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 64
      •   Ketidakpastian pasokan sampah, baik dari sisi volume maupun karakteristik nilai kalor, serta
          ketergantungan pada komitmen pemerintah daerah yang dapat berubah seiring pergantian
          kepemimpinan.

      Secara keseluruhan, SOFA memiliki kekuatan yang memadai dari sisi bisnis inti yang telah
      berjalan, akses pendanaan sebagai perusahaan terbuka, kepengurusan dengan rekam jejak
      penghimpunan dana. Meskipun terdapat kelemahan berupa kebutuhan dana yang besar, risiko
      regulasi, dan risiko pasar pendanaan, faktor-faktor tersebut pada prinsipnya masih dapat dikelola
      melalui penguatan tata kelola dan pemantauan penggunaan dana. Dengan demikian, rencana
      pengembangan usaha melalui penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit guna
      mendukung penyertaan pada entitas konsorsium di bidang pengolahan sampah menjadi energi
      secara umum dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan.

5.6.1 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis

      Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI
      64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan
      kegiatan usaha ini memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan,
      pengelolaan, dan penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup,
      khususnya dalam mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana
      transaksi, dana yang dihimpun Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk
      selanjutnya digunakan sebagai setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan
      pada perusahaan operasional proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE).
      Kelayakan pola bisnis tersebut didukung oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang
      memberikan akses terhadap sumber pendanaan, pengalaman manajemen dalam pengelolaan
      usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana yang dapat dilakukan melalui entitas yang
      telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan entitas baru. Dari sisi penciptaan
      nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi dan koordinasi pendanaan
      grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup, serta
      membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki prospek
      pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa
      kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan
      penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan
      mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas
      Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk
      direalisasikan.




Halaman 63                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 65
                                            BAB VI
                            ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN



6.1   Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen

      Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan SOFA dalam
      menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan usaha yang
      berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, adaptif,
      serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri. Oleh karena itu, Perseroan
      secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan kompetensi karyawan guna
      mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan kebutuhan operasional dan strategi
      bisnis.

      Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
      yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
      kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
      Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
      kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
      operasional.

      Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
      meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
      berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
      pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
      membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

      Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA adalah sebagai berikut:

      Komisaris
      Komisaris Utama (Independen)     : Drs. Djoko Hendratto
      Komisaris Independen             : Nuryana Hidayat
      Komisaris                        : Saswinadi Sasmojo
      Komisaris                        : Lusi Amanda

      Direksi:
      Direktur Utama                   : Denny Rizal
      Direktur                         : Ezra Mohammed Dhanaguna
      Direktur                         : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
      Direktur                         : Reza Muhammad Mandara

      Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
      disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
      secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
      pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
      kebijakan perusahaan secara efektif.




Halaman 64                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 66
      Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
      manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
      meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.

6.2   Ketersediaan Tenaga Kerja

      Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
      Conduit, SOFA pada tahap awal akan mengoptimalkan ketersediaan tenaga kerja yang telah
      dimiliki Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran
      pendanaan. Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 1 (satu) karyawan tetap yang dapat
      mendukung fungsi strategis terkait pengelolaan pendanaan, koordinasi dengan entitas anak dan
      entitas penerima dana, serta pemantauan penggunaan dana. Pengalaman Perseroan dalam
      mengelola entitas anak, antara lain PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT
      Pratama Satya Tunggal, juga menjadi salah satu dasar dalam mendukung pelaksanaan fungsi
      pembiayaan conduit.

      Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi, Perseroan merencanakan penambahan 1
      (satu) orang karyawan yang akan difokuskan untuk mendukung kegiatan analisis kebutuhan
      pendanaan, koordinasi proses penghimpunan dan penyaluran dana, pemantauan penggunaan
      dana, administrasi dan dokumentasi pendanaan, serta koordinasi dengan entitas penerima dana.
      Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan dilakukan sesuai dengan
      perkembangan kebutuhan kegiatan usaha, sehingga sebelum penambahan tersebut
      direalisasikan, pelaksanaan KBLI 64220 akan dijalankan dengan mengoptimalkan tenaga kerja
      yang tersedia pada Perseroan. Dengan demikian, secara awal ketersediaan tenaga kerja dinilai
      memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit. Perseroan berupaya
      mengoptimalkan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas,
      peningkatan kompetensi, serta pemanfaatan tenaga kerja secara efektif.


6.3   Manajemen Kekayaan Intelektual

      Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
      tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
      suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
      mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
      berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
      reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).

      Sehubungan dengan kegiatan usaha SOFA yang bergerak di bidang industri furnitur serta rencana
      penambahan kegiatan usaha pembiayaan conduit, aspek kekayaan intelektual yang relevan
      meliputi merek dagang dan desain industri atas produk furnitur, identitas korporasi Perseroan
      sebagai emiten, serta hak penggunaan teknologi yang melekat pada proyek yang dibiayai.

6.4   Manajemen Risiko

      Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
      memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.




Halaman 65                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 67
     1. Risiko Ketergantungan Usaha

         Risiko kredit yang timbul dari kedudukan Perseroan sebagai pihak yang bertanggung jawab
         penuh kepada bank atas seluruh kewajiban pinjaman, sementara sumber pengembaliannya
         berada pada pihak lain. Perseroan menghimpun dana dari bank, lalu menyalurkannya.
         Perjanjian kredit mengikat Perseroan secara langsung, sehingga kewajiban membayar pokok
         dan bunga tetap berjalan tanpa memandang apakah dana yang disalurkan telah
         menghasilkan pengembalian. Kegagalan atau keterlambatan pengembalian dari entitas
         penerima tidak menghapus kewajiban Perseroan kepada bank, sehingga dapat membuat
         Perseroan menggunakan kas dari kegiatan usaha lainnya, melakukan pendanaan ulang
         dengan syarat yang lebih berat, atau dalam kondisi menimbulkan gagal bayar yang memicu
         percepatan pelunasan (acceleration) dan eksekusi jaminan.

     2. Risiko Likuiditas

         Risiko tidak tersedianya kas pada saat kewajiban jatuh tempo, yang timbul karena jadwal
         pembayaran kepada bank tidak sejalan dengan jadwal penerimaan dari entitas penerima
         dana. Perseroan dapat menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek meskipun
         secara nilai aset tergolong sehat, terpaksa melakukan pendanaan ulang pada waktu yang
         tidak menguntungkan, menjual aset di bawah nilai wajar, atau mengganggu modal kerja
         kegiatan usaha yang telah berjalan.

     3. Risiko Suku Bunga

         Risiko meningkatnya beban bunga akibat penggunaan suku bunga mengambang (floating
         rate) pada pinjaman yang diterima Perseroan, sementara sisi penerimaan tidak ikut
         menyesuaikan. Bank umumnya menetapkan suku bunga mengambang yang mengacu pada
         suku bunga acuan atau biaya dana bank, dan disesuaikan secara berkala. Kenaikan suku
         bunga dapat menekan laba Perseroan dan menurunkan rasio kemampuan pembayaran
         utang (debt service coverage ratio), yang pada gilirannya dapat memicu pelanggaran
         persyaratan keuangan (financial covenant) dalam perjanjian kredit meskipun kinerja proyek
         berjalan sesuai rencana.

     4. Risiko Ketergantungan Usaha

         Dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, kinerja Perseroan sangat bergantung pada
         kualitas aset yang dibiayai. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor, wilayah, atau
         entitas tertentu dapat meningkatkan ketidakpastian penerimaan, khususnya ketika sektor
         menghadapi tekanan pasar atau pengetatan regulasi. Untuk memitigasi risiko ini, Perseroan
         dapat membangun portofolio penyaluran dana yang lebih seimbang melalui diversifikasi
         lintas wilayah dan proyek, menetapkan batas eksposur maksimum terhadap satu entitas
         penerima, serta melakukan peninjauan berkala atas kontribusi dan kinerja masing-masing
         penyertaan.

     5. Risiko Regulasi

         Entitas yang menjalankan fungsi pembiayaan conduit tidak hanya terikat pada ketentuan
         pasar modal terkait penghimpunan dana dan keterbukaan informasi, tetapi juga terdampak
         oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha entitas penerima dana. Perubahan kebijakan



Halaman 66                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 68
         pemerintah, seperti perubahan ketentuan harga pembelian tenaga listrik, jangka waktu
         perjanjian, mekanisme seleksi pengembang, ketentuan perpajakan, maupun peraturan
         lingkungan, dapat menekan kelayakan proyek dan mengurangi kemampuan pengembalian
         atas dana yang telah disalurkan. Mitigasinya adalah dengan memperkuat fungsi kepatuhan
         di tingkat Perseroan, membangun komunikasi aktif dengan regulator, berpartisipasi dalam
         asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan, mencantumkan klausul perubahan hukum
         (change in law) dalam perjanjian proyek, serta menyiapkan rencana kontinjensi berupa
         skenario keuangan alternatif dan opsi penyesuaian struktur pendanaan agar entitas penerima
         dana dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan regulasi.


      6. Risiko Manajemen Investasi dan Penyaluran Dana

         Keputusan penyaluran dana yang kurang tepat, seperti penyertaan dengan asumsi kelayakan
         yang terlalu optimistis atau pada proyek yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
         pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini juga muncul ketika pengawasan pasca
         penyaluran lemah sehingga penggunaan dana tidak sesuai peruntukan atau kinerja proyek
         tidak sesuai ekspektasi, yang pada akhirnya dapat menimbulkan penurunan nilai (impairment)
         atas penyertaan. Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis
         dan seleksi dengan melibatkan konsultan independen, melakukan penyaluran secara
         bertahap sesuai pencapaian tonggak proyek, serta menugaskan Divisi Manajemen Portofolio
         untuk memantau kinerja entitas penerima secara periodik sehingga langkah korektif dapat
         segera diambil apabila terdapat ketidaksesuaian dengan target.


      7. Risiko Keuangan

         Struktur permodalan Perseroan sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
         ekuitas maupun utang. Karakteristik proyek yang padat modal dengan periode penerimaan
         yang panjang menyebabkan dana yang disalurkan belum menghasilkan pengembalian
         selama masa pengembangan dan konstruksi. Di sisi lain, risiko likuiditas timbul apabila arus
         pengembalian dari entitas penerima tidak stabil atau tertunda, termasuk akibat pembatasan
         pembagian dividen yang ditetapkan oleh kreditur proyek, sehingga Perseroan mengalami
         kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu
         menjaga struktur modal yang optimal dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat,
         melakukan diversifikasi sumber pendanaan, menyelaraskan mata uang antara sumber dana
         dan penggunaannya, serta membatasi pemberian jaminan korporasi. Cadangan kas yang
         memadai juga harus dijaga, dengan pemisahan yang tegas antara kebutuhan modal kerja
         usaha furnitur dan kebutuhan pendanaan proyek.

6.5   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen

      Manajemen SOFA pada dasarnya memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai dalam
      mengelola kegiatan usaha di bidang industri furnitur, yang menjadi fondasi operasional dalam
      pengembangan fungsi pembiayaan grup ke depan. Kapasitas tersebut diperkuat oleh
      pengalaman Perseroan sebagai perusahaan terbuka sejak pencatatan saham di Bursa Efek
      Indonesia pada tahun 2020, yang menuntut disiplin dalam pelaporan berkala, keterbukaan
      informasi, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik kompetensi yang sama dengan yang
      dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas pembiayaan conduit.




Halaman 67                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 69
     Dalam pelaksanaan kegiatan usaha pembiayaan conduit, kemampuan manajemen SOFA
     tercermin manajemen yang dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang
     terintegrasi, termasuk dalam menentukan prioritas alokasi modal, struktur pendanaan, dan
     pemilihan proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana. Kemudian, manajemen memiliki
     kapabilitas dalam menghimpun dana dari pasar dan menstrukturkan instrumen pendanaan,
     didukung rekam jejak jajaran Direksi di bidang manajemen aset, investment banking, penerbitan
     obligasi, dan pembiayaan proyek infrastruktur berskala besar.

      a. Dewan Komisaris

             1. Djoko Hendratto (Komisaris Independen)

                 Profesional senior di bidang keuangan publik dan pasar modal dengan pengalaman
                 lebih dari 30 tahun. Pernah menjabat Direktur Utama Badan Pengelola Dana
                 Lingkungan Hidup (BPDLH) periode 2021–2023, mengelola pendanaan iklim dan
                 keberlanjutan termasuk hibah internasional dan pembiayaan karbon; Direktur Sistem
                 Manajemen Investasi (SMI) Kementerian Keuangan periode 2018–2021 selaku
                 pengelola dana pemerintah untuk program investasi publik; Kepala Kanwil Provinsi
                 Jawa Barat periode 2020–2021; Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU
                 (PKBLU) periode 2014–2018; Kepala Biro Investasi Bapepam-LK periode 2006–2012;
                 serta Kepala Bagian TI dan Infrastruktur Pasar Modal Bapepam periode 2001–2006.
                 Berpendidikan Doktor (PhD) Manajemen Strategik Universitas Indonesia dan MBA
                 University of Colorado Denver, serta pernah mewakili Indonesia pada forum keuangan
                 internasional (ADB, OECD, World Bank).

             2. Dr. Nuryana Hidayat, ME., ASPM., GRCE (Komisaris Independen)

                 Pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang skema pembiayaan syariah, structured
                 finance, penasihatan akuisisi, obligasi dan sukuk, perdagangan efek, serta manajemen
                 risiko. Beliau terakhir menjabat sebagai anggota Risk & Corporate Governance PT Biro
                 Klasifikasi Indonesia (Persero) dan hingga kini menjadi anggota Dewan Pengawas
                 Syariah pada beberapa manajer investasi; sebelumnya Komisaris Independen PT
                 Reliance Manajer Investasi (2020–2025), Advisor Islamic Financing & Structured Finance
                 PT Indokapital Investama (2016–2022), serta Direktur dan CEO PT Recapital Asset
                 Management (2008–2016). Memegang izin Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Ahli
                 Syariah Pasar Modal (ASPM) dari OJK, serta sertifikasi Governance, Risk, and
                 Compliance for Executives (GRCE) dan Manajemen Investasi dari BNSP.

             3. Prof. Ir. Saswinadi Sasmojo, M.Sc., Ph.D. (Komisaris)

                 Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung dan pakar sistem energi, anggota
                 kehormatan Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sejak
                 2002. Bidang keahlian meliputi analisis sistem energi, pengurangan emisi gas rumah
                 kaca, konversi energi biomassa, transisi energi nasional, serta pemodelan dan evaluasi
                 kebijakan teknologi.




Halaman 68                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 70
             4. Lusi Amanda (Komisaris)

                Pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang akuntansi, keuangan, administrasi umum,
                dan operasional pada industri keuangan, khususnya pasar modal dan dana pensiun.
                Saat ini menjabat Chief Financial Officer PT Asia Advisors Capital; sebelumnya Head of
                Finance, Accounting, Tax & Purchasing pada PT Maybank Asset Management (2015–
                2022) dan PT Trimegah Asset Management (2011–2015), serta berbagai posisi di PT
                Manulife Asset Management Indonesia (2001–2010). Telah mengikuti pelatihan PSAK
                71, 72, 73 oleh OJK.

      b. Direksi

          1. Denny R. Thaher (Direktur Utama)

                Pengalaman lebih dari 25 tahun pada industri manajemen aset, termasuk investasi
                bernilai miliaran dolar pada sektor sumber daya alam. Saat ini juga menjabat Direktur
                PT Asia Investment Capital; sebelumnya CEO Maybank Asset Management (2015–
                2019), Direktur Utama Trimegah AM (2010–2015), Direktur Utama Manulife AM
                Indonesia (2008–2009), Director UBS Singapore (2007–2008), dan Managing Director
                PT Mandiri Manajemen Investasi (2002–2007). Selain itu, menyandang gelar Master of
                Business Administration dari University of Colorado Denver (USA).

          2. Ezra Dhanaguna (Direktur)

                Berpengalaman sebagai penasihat keuangan untuk pembiayaan proyek melalui
                instrumen utang publik maupun privat, dengan latar belakang investment banking di PT
                Mandiri Sekuritas (2022–2024) pada sektor energi, pertambangan, dan transportasi.
                Selain itu, telah lulus ujian CFA level 2 dan menamatkan pendidikan sarjana dual degree
                di Institut Teknologi Bandung dan Rennes School of Business (Prancis). Saat ini sedang
                menempuh pendidikan Master of Business Administration di INSEAD.

          3. Dimas Wiryaatmaja (Direktur)

                Profesional keuangan dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang akuntansi,
                manajemen keuangan, dan operasional di dalam Perseroan. Menjabat Direktur PT
                Solusi Environment Asia Tbk (sebelumnya PT Boston Furniture Industries Tbk) sejak 2019,
                dan sebelumnya sebagai Manajer (2016–2019) dan Staf (2013-2016) pada divisi
                Finance & Accounting di PT Pratama Prima Cipta. Selain itu, telah menamatkan
                pendidikan sarjana di bidang ilmu ekonomi dari Universitas Indonesia.

          4. Reza M. Mandara (Direktur)

                Pengalaman lebih dari 17 tahun di bidang tata kelola proyek, operasi project
                management office (PMO), pengawasan portofolio, dan pelaksanaan proyek lintas
                fungsi. Saat ini juga menjabat PMO Manager PT Asia Advisors Capital; sebelumnya
                Senior Program Specialist pada JICA PPP Expert Office – Kementerian Pekerjaan Umum
                (Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur) periode 2025–2026, Group PMO Head
                PT Erajaya Swasembada Tbk (2015–2021), dan Project Management Specialist PT Aneka
                Tambang (Persero) Tbk (2007–2015). Bersertifikat Project Management Professional



Halaman 69                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 71
                (PMP) sejak 2010. Selain itu, menyandang gelar Sarjana Teknik dari Institut Teknologi
                Bandung dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di bidang Ilmu
                Manajemen Stratejik di Universitas Pancasila.

      Sesuai uraian KBLI 64220, kegiatan pembiayaan conduit tidak mencakup keterlibatan dalam
      kegiatan operasional entitas penerima dana, sehingga kebutuhan sumber daya manusia terfokus
      pada personil di level pengendali. Seluruh kegiatan operasional fasilitas dijalankan pada tingkat
      perusahaan operasional. Untuk mendukung pelaksanaan fungsi ini, Perseroan merencanakan
      pembentukan Divisi Pembiayaan secara bertahap. Dengan demikian, penambahan kegiatan
      usaha sebagai entitas pembiayaan conduit tidak akan mengubah operasional Perseroan yang
      telah berjalan, melainkan memperkuat fungsi utamanya dalam penghimpunan dana serta
      pengelolaan dan pengawasan penyaluran dana kepada entitas anak dan entitas dalam struktur
      konsorsium.

6.6   Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen

      Struktur organisasi dan manajemen eksisting SOFA sehubungan adanya rencana penambahan
      kegiatan usaha sebagai aktifitas perusahaan holding sebagai berikut:

                   Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI




                                      Sumber: Informasi Manajemen SOFA


      SOFA berencana melakukan penyesuaian struktur organisasi pada tingkat Perseroan untuk
      mendukung pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas
      Pembiayaan Conduit. Penyesuaian tersebut antara lain dilakukan melalui pembentukan Divisi
      Treasury dan Pendanaan yang akan berperan dalam mendukung fungsi penghimpunan dan
      pengelolaan sumber pendanaan, penentuan struktur dan kebutuhan pendanaan, koordinasi
      penyaluran dana kepada entitas penerima, pengelolaan likuiditas, serta pemantauan
      penggunaan dan pemenuhan kewajiban pendanaan. Penambahan fungsi tersebut tidak
      mengurangi tenaga kerja yang telah dimiliki Perseroan, melainkan menjadi bagian dari
      penguatan struktur organisasi untuk mendukung kegiatan usaha baru. Selanjutnya, Perseroan
      dapat melakukan pengembangan struktur organisasi dan penambahan personel secara bertahap
      sesuai dengan perkembangan kegiatan pembiayaan, kebutuhan pendanaan, serta kompleksitas


Halaman 70                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 72
      pengelolaan keuangan grup. Rencana struktur organisasi Perseroan setelah penambahan KBLI
      64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dapat dilihat pada bagian berikut.

               Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI




                                    Sumber: Informasi Manajemen SOFA


6.7   Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja

      Rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
      menimbulkan kebutuhan tenaga kerja yang akan disesuaikan dengan fungsi Perseroan sebagai
      entitas yang menjalankan kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada
      entitas dalam grup. Fungsi tersebut mencakup perencanaan kebutuhan pendanaan, pengelolaan
      likuiditas, pengaturan struktur pendanaan, pemantauan penggunaan dana, serta koordinasi
      dengan entitas penerima dana. Kegiatan operasional dan penggunaan dana pada masing-
      masing entitas penerima tetap dilaksanakan oleh entitas yang bersangkutan sesuai dengan
      bidang usaha dan struktur organisasinya, sehingga Perseroan tidak memerlukan tenaga kerja
      operasional pada tingkat proyek atau entitas penerima dana.

      Pada tingkat Perseroan, untuk mendukung pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit, SOFA
      merencanakan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Treasury dan Pendanaan. Divisi
      ini akan mendukung kegiatan penghimpunan sumber dana, pengelolaan arus kas dan likuiditas,
      koordinasi penyaluran pendanaan kepada entitas dalam grup, pemantauan penggunaan dana,
      administrasi pendanaan, serta pengelolaan hubungan dengan lembaga keuangan dan sumber
      pendanaan lainnya. Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan
      disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan kegiatan usaha serta kompleksitas pengelolaan
      pendanaan grup di masa mendatang.

      Kualifikasi, Kompetensi, dan Kebutuhan Pelatihan Tenaga Kerja

      Kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan KBLI
      64220 disesuaikan dengan sifat kegiatan pembiayaan conduit yang bertumpu pada kemampuan
      pengelolaan pendanaan, likuiditas, dan risiko keuangan. Tenaga kerja pada Divisi Treasury dan
      Pendanaan diharapkan memiliki latar belakang pendidikan minimal Sarjana (S1) di bidang
      Akuntansi, Keuangan, Manajemen, atau Ekonomi, dengan pengalaman pada bidang treasury,


Halaman 71                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 73
      corporate finance, perbankan, atau pembiayaan, serta kompetensi teknis berupa kemampuan
      perencanaan dan pengelolaan arus kas dan likuiditas, penyusunan struktur pendanaan, analisis
      biaya dana dan tingkat suku bunga, penilaian risiko kredit dan risiko nilai tukar, pemantauan
      pemenuhan kewajiban dan persyaratan pendanaan (covenant monitoring), serta pemahaman
      atas dokumentasi perjanjian pendanaan dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan yang berlaku
      bagi perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai transaksi afiliasi dan transaksi material.
      Adapun pelaksanaan KBLI 64220 tidak mensyaratkan sertifikasi profesi khusus sebagaimana
      halnya kegiatan usaha lembaga jasa keuangan yang memerlukan izin usaha tersendiri dari
      otoritas sektor jasa keuangan, mengingat kegiatan pembiayaan conduit yang dijalankan
      Perseroan terbatas pada penghimpunan dan penyaluran dana kepada entitas dalam grup dan
      tidak ditujukan kepada masyarakat umum. Namun demikian, dalam rangka meningkatkan
      kapasitas dan efektivitas pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit, Perseroan merencanakan
      program pengembangan kompetensi secara berkelanjutan berupa pelatihan manajemen treasury
      dan likuiditas, manajemen risiko keuangan termasuk risiko suku bunga dan nilai tukar,
      penyusunan dan penelaahan dokumentasi pendanaan, serta pembaruan pengetahuan atas
      ketentuan pasar modal dan perpajakan yang relevan, sehingga Perseroan dinilai memiliki
      kesiapan sumber daya manusia yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220.

6.8   Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki
      kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
      Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris
      dalam bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal,
      pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah
      tersedia di Perseroan. Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan
      WNG melalui AEA sebagai entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung
      jawab yang jelas, penerapan proses evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta
      pelaporan secara berkala dari entitas penerima, model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan
      KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tetap
      memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kompleksitas kegiatan usaha
      Perseroan.




Halaman 72                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 74
                                              BAB VII
                              ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN



Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, diantaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis nilai tambah.

7.1   Kebutuhan Biaya Investasi


      Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi kebutuhan dana yang diperlukan Perseroan dalam
      rangka mendukung Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas
      Pembiayaan Conduit. Sumber pendanaan atas kebutuhan tersebut berasal dari pinjaman bank
      (bank loan), dengan perolehan dana sebesar Rp238.220.181.818. Dengan estimasi suku bunga
      sebesar 8,1% yang merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat suku bunga pasar untuk
      pinjaman investasi dan pinjaman modal kerja. Estimasi kebutuhan biaya investasi dihitung dengan
      mengakumulasi potensi kebutuhan dana yang timbul, yaitu berupa investasi ke konsorsium
      sebesar Rp131.021.100.000 yang akan disalurkan melalui entitas anak Perseroan, AEA, dalam
      bentuk penyertaan modal kepada entitas dalam struktur konsorsium, serta kebutuhan modal kerja
      internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818 yang diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan
      operasional penunjang kegiatan usaha, perolehan sumberdaya manusia baru terkait adanya
      penambahan KBLI baru, biaya-biaya terkait penyelesaian transaksi seperti biaya konsultan
      hukum, notaris, akuntan, dan profesi penunjang lainnya. Dengan demikian, seluruh perolehan
      dana pinjaman bank telah dialokasikan sepenuhnya untuk kedua komponen tersebut.

      Tabel 14. Kebutuhan Biaya Investasi
       Proceeds dari Bank Loan                                                          Jumlah (Rp)
       Perolehan Dana Bank Loan (Rp)                                              238.220.181.818

       Kebutuhan Biaya Investasi                                                        Jumlah (Rp)
       Investasi ke Konsorsium (Rp)                                               131.021.100.000
       Kebutuhan Modal kerja (Rp) Internal SOFA                                   107.199.081.818
      Sumber:Iinformasi manajemen, diolah

7.2   Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi


      Kebutuhan pendanaan dalam rangka Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220
      Aktivitas Pembiayaan Conduit adalah sebesar Rp238.220.181.818, yang seluruhnya bersumber
      dari pinjaman bank (bank loan). Dana tersebut dialokasikan untuk investasi ke konsorsium
      sebesar Rp131.021.100.000, yang akan disalurkan melalui entitas anak Perseroan, AEA, dalam
      bentuk penyertaan modal kepada entitas dalam struktur konsorsium, serta untuk kebutuhan modal
      kerja internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818. Dengan skema pendanaan tersebut,
      kebutuhan modal kerja atas kegiatan operasional Perseroan sepenuhnya terpenuhi dari perolehan
      dana pinjaman bank, sehingga tidak diperlukan tambahan pendanaan dari sumber daya internal
      Perseroan.




Halaman 73                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 75
7.3   Proyeksi Keuangan Konsorsium

      Analisis pada aspek keuangan dilakukan dengan menelaah dampak prospek bisnis yang
      tercermin dari proyeksi keuangan entitas konsorsium yang menjadi tujuan penyaluran dana
      Perseroan melalui entitas anaknya, AEA.

      Dalam rangkaian studi kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 –
      Aktivitas Pembiayaan Conduit, proyeksi keuangan entitas konsorsium merupakan aspek yang
      bersifat menentukan. Mengingat Perseroan berperan sebagai entitas yang menghimpun dan
      menyalurkan pendanaan kepada entitas dalam grup, kemampuan Perseroan memenuhi
      kewajiban pendanaannya bergantung sepenuhnya pada kemampuan entitas konsorsium
      menghasilkan laba dan mendistribusikan manfaat ekonomis secara berkelanjutan.

      Proyeksi keuangan dan kinerja operasional Perseroan disusun berdasarkan kegiatan usaha inti
      Perseroan di bidang manufaktur furnitur, yang menjadi pendorong utama pendapatan usaha.
      Adapun pendapatan dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium tidak diperhitungkan
      sebagai bagian dari pendapatan usaha, melainkan dicatat pada pos pendapatan non-
      operasional.

      Merujuk pada catatan mengenai kelangsungan usaha dalam Laporan Keuangan Tengah
      Tahunan Auditan per 30 Juni 2026, manajemen berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki sumber
      daya yang memadai untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya di masa mendatang. Keyakinan
      tersebut didukung oleh sejumlah strategi pokok, yaitu: (i) perluasan jaringan pemasaran dan
      penjualan; (ii) peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak; (iii) peningkatan efektivitas dan
      efisiensi produksi; serta (iv) pembentukan dan peningkatan kinerja tim internal.

      Struktur Kepemilikan dan Aliran Manfaat Ekonomis

      Konsorsium memiliki penyertaan sebesar 70,00% pada masing-masing entitas proyek WTE, yaitu
      proyek Bogor dan proyek Denpasar. Adapun AEA selaku entitas anak Perseroan memiliki
      penyertaan sebesar 10,00% pada konsorsium tersebut, sehingga kepemilikan efektif AEA pada
      masing-masing entitas proyek adalah sebesar 7,00%.

      Aliran manfaat ekonomis kepada Perseroan terbentuk melalui rangkaian berikut: laba entitas
      proyek didistribusikan kepada seluruh pemegang saham, kemudian 70,00% di antaranya menjadi
      hak konsorsium, dan atas bagian tersebut AEA berhak menerima 10,00% dalam bentuk dividen
      setelah pemenuhan cadangan wajib.

      Tabel 15. Proyeksi Entitas Konsorsium
                                                                                         (dalam Jutaan rupiah)
             PT Solusi Environment Asia                2026 P     2035 P       2045 P      2055 P       2058 P
       Bogor

       Profit Distribution to All Shareholders              -    214.983       398.138    332.330       128.951
       Consortium Ownership                      70%        -              -         -              -         -
       Profit attributable to Consortium                    -    150.488       278.697    232.631        90.266

       Dividend Payout Ratio                                -       100%         100%        100%         100%




Halaman 74                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 76
             PT Solusi Environment Asia                 2026 P     2035 P    2045 P    2055 P    2058 P
      Dividend Paid to Consortium                            -    150.488    278.697   232.631    90.266

      Consortium Total Paid-Up Capital
                                                34,33
      (USD Mn)

      Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%
      Reserve Amount (USD Mn)                    6,87
      Appropriation of Statutory Surplus
      Reserve
      Cumulative Statutory Surplus Reserve                   -    122.611    122.611   122.611   122.611



      Dividend Attributable after Surplus
                                                             -    150.488    278.697   232.631    90.266
      Reserve & Provision

      Dividend Attributable to Consortium
      Shareholders                                           -    150.488    278.697   232.631    90.266
      AEA Ownership in the Consortium            10%
      Dividend Attributable to AEA                           -      15.049    27.870    23.263     9.027


      Denpasar

      Profit Distribution to All Shareholders                -    207.897    391.235   327.964   150.821
      Consortium Ownership                      70%
      Profit attributable to Consortium                      -    145.528    273.864   229.575   105.575

      Dividend Payout Ratio                                  -       100%      100%      100%      100%
      Dividend Paid to Consortium                            -    145.528    273.864   229.575   105.575

      Consortium Total Paid-Up Capital
      (USD Mn)                                  34,10

      Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%
      Reserve Amount (USD Mn)                    6,82
      Appropriation of Statutory Surplus
      Reserve
      Cumulative Statutory Surplus Reserve                   -    121.777    121.777   121.777   121.777



      Dividend Attributable after Surplus
      Reserve & Provision                                    -    145.528    273.864   229.575   105.575

      Dividend Attributable to Consortium
      Shareholders                                           -    145.528    273.864   229.575   105.575
      AEA Ownership in the Consortium            10%
      Dividend Attributable to AEA                           -      14.553    27.386    22.957    10.557


      AEA - SOFA

      Total Profit Distributions to SH
      (Before Allocation)                                    -    422.880    789.373   660.293   279.772



Halaman 75                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 77
             PT Solusi Environment Asia                 2026 P     2035 P    2045 P    2055 P    2058 P
       Total Profit Distributions to
       Consortium                                            -    296.016    552.561   462.205   195.841



       Dividend Received from Bogor                          -      15.049    27.870    23.263     9.027
       Dividend Received from Denpasar                       -     14.553     27.386    22.957    10.557
       Total Dividend Received from WtE
       Project                                               -     29.602     55.256    46.221    19.584
      Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Berdasarkan analisis di atas, manfaat ekonomis dari kedua entitas proyek WtE, yaitu Proyek Bogor
      dan Proyek Denpasar, diterima SOFA melalui AEA selaku entitas anak Perseroan. Proyeksi disusun
      untuk periode 2026 sampai dengan 2058. Sejak laba mulai didistribusikan, seluruh laba masing-
      masing entitas proyek diproyeksikan dibagikan kepada pemegang saham dengan dividend
      payout ratio sebesar 100,00%, di mana 70,00% di antaranya menjadi bagian konsorsium. Atas
      bagian konsorsium tersebut terlebih dahulu dibentuk cadangan wajib (statutory surplus reserve)
      sebesar 20,00% dari modal disetor, yaitu sebesar USD6,87 juta untuk Proyek Bogor dan USD6,82
      juta untuk Proyek Denpasar, dan sisanya didistribusikan kepada pemegang saham konsorsium,
      termasuk AEA dengan porsi 10,00%.

      Laba mulai didistribusikan kepada pemegang saham pada tahun 2030, yaitu sebesar Rp158.595
      juta dari Proyek Bogor dan Rp118.834 juta dari Proyek Denpasar. Namun, karena keseluruhan
      bagian konsorsium pada tahun tersebut dialokasikan untuk pemenuhan cadangan wajib, AEA
      belum menerima dividen pada tahun 2030. AEA baru mulai menerima dividen pada tahun 2031,
      setelah cadangan wajib terpenuhi seluruhnya. Aliran dividen kepada AEA meningkat secara
      bertahap seiring pertumbuhan laba proyek, tercatat sebesar Rp29.602 juta pada tahun 2035.
      Setelah itu, dividen menurun secara gradual mengikuti profil laba proyek, tercatat sebesar
      Rp55.256 juta pada tahun 2045, dan Rp46.221 juta pada tahun 2055, sebelum turun menjadi
      Rp19.584 juta pada tahun 2058 sebagai tahun terakhir periode proyeksi.

7.4   Analisis Profitabilitas


      Analisis profitabilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam menghasilkan
      laba dari kegiatan usahanya. Rasio profitabilitas digunakan untuk memperlihatkan seberapa
      besar laba yang diperoleh dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan, sehingga dapat
      menggambarkan tingkat efisiensi dan kinerja Perseroan.

      Dalam analisis ini, rasio profitabilitas SOFA disajikan dalam dua kondisi, yaitu sebelum dan
      setelah pelaksanaan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha dengan skema pendanaan melalui
      pinjaman bank (bank loan), guna menilai dampak rencana tersebut terhadap kemampuan
      Perseroan menghasilkan laba. Rasio yang digunakan meliputi Gross Profit Margin, Operating
      Profit Margin, dan Net Profit Margin. Analisis profitabilitas terdapat pada tabel berikut ini:

      Tabel 16. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                 Sebelum Penambahan KBLI                S2 2026     2035      2045      2055      2058
       Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
       Gross Profit Margin                               66,84%     49,13%    56,69%    62,31%    63,65%
       Operating Profit Margin                           35,91%      8,61%    14,45%    17,73%    18,20%


Halaman 76                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 78
                Sebelum Penambahan KBLI                 S2 2026    2035       2045       2055       2058
       Net Profit Margin                                 28,49%      6,96%   12,01%     15,39%     16,08%
      Sumber: Analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Tabel 17. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                 Setelah penambahan KBLI                S2 2026    2035       2045       2055       2058
       Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
       Gross Profit Margin                              66,84%    73,21%     86,87%     89,63%     83,67%
       Operating Profit Margin                          35,89%    51,87%     74,06%     77,36%     63,26%
       Net Profit Margin                                -57,42%     20,15%   73,32%     76,72%     62,31%
      Sumber: Analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Berdasarkan proyeksi rasio profitabilitas SOFA sebelum rencana penambahan kegiatan usaha,
      yaitu hanya berdasarkan kegiatan usaha inti Perseroan, marjin laba kotor (Gross Profit Margin)
      diproyeksikan relatif terjaga pada kisaran 42,22% hingga 66,84% sepanjang periode proyeksi.
      Profitabilitas pulih secara bertahap sehingga Operating Profit Margin dan Net Profit Margin
      masing-masing mencapai 18,20% dan 16,08% pada akhir periode proyeksi (2058). Adapun pada
      kondisi setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Net Profit Margin tercatat negatif pada
      tahun-tahun awal proyeksi, dengan nilai terendah sebesar negatif 57,42% pada semester kedua
      2026, meskipun Operating Profit Margin pada periode yang sama masih positif sebesar 35,89%.
      Hal tersebut disebabkan oleh beban keuangan atas pendanaan penyertaan pada entitas
      konsorsium proyek WtE, yang belum diimbangi oleh penerimaan manfaat dari penyertaan
      tersebut. Seiring mulai diterimanya dividen dari entitas konsorsium proyek WtE sejak tahun 2031,
      seluruh rasio profitabilitas meningkat secara signifikan, dengan Net Profit Margin sebesar 20,15%
      pada tahun 2035, 73,32% pada tahun 2045, dan tercatat sebesar 62,31% pada akhir periode
      proyeksi tahun 2058. Dengan demikian, meskipun menekan profitabilitas pada tahun-tahun awal,
      Rencana Penambahan Kegiatan Usaha memberikan dampak positif terhadap kemampuan
      Perseroan dalam menghasilkan laba dalam jangka panjang.

7.5   Analisis Kelayakan Keuangan

      Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
      investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
      Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit harus
      didasarkan pada analisis inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi
      keuangan tanpa Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit dan proyeksi
      keuangan dengan Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit.

      Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
      Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi
      keuangan. Suatu proyek yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC,
      dan PI lebih besar dari 1 berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula
      sebaliknya.

7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)

      Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
      kas bersih dari perusahaan, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini


Halaman 77                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 79
     menggunakan formula Cost of Equity yang merupakan pentotalan rata-rata tertimbang atas biaya
     modal untuk ekuitas. Adapun formula dari WACC adalah sebagai berikut:

                                  WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)

     Dimana:
     WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
     Ke      : Biaya modal untuk ekuitas
     Kd      : Biaya modal untuk utang
     We      : Persentase pendanaan dari ekuitas
     Wd      : Persentase pendanaan dari utang
     t       : Pajak perusahaan

     Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)

     Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
     Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

                                               Kd = i x (1-T)

     Dimana
     i      : Interest Rate (Suku Bunga)
     Tax    : Tax Rate (Tarif Pajak)

     Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)

     Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
     (CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:

                                      Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α

     Dimana:
     Rf      : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
     ß       : Risiko sistematis
     Rm      : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
     Rp      : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
     CDS     : Country Default Spread
     α       : Risiko spesifik

     Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
     diskonto Cost of Equity (CoE) sebesar 11,98% dengan detail komponen yang digunakan dalam
     perhitungan adalah sebagai berikut:

     Tabel 18. Cost of Equity (CoE)
              Komponen            Besaran                  Keterangan                       Source
                                              Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30   Indo Govt Bond
      SUN                             7,26%
                                              Juni 2025 - 30 Year                     Yield
      Default Spread                  1,81%   Default spread as of April 1, 2026      Damodaran
      Risk Free Rate                          Goverment Bond - Default Spread



Halaman 78                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 80
                  Komponen              Besaran                     Keterangan                              Source
       Equity Risk Premium                   7,55%     Equity risk premium as of April 1, 2026      Damodaran
       Unlevered Beta                         0,57     Company relative to the market risk          Damodaran
                                                       Estimated finance leverage or industry
       D/E Ratio                            66,22%                                                  Damodaran
                                                       level
       Specific Risk                         0,00%     Estimated Company Specific Risk


       Interest                              8,07%     Investment loans as of May, 2026             SEKI - BI
       Tax Rates                            22,00%     Corporate Tax Rate, Indonesia


                   Industry            D/E Ratio                  Unlevered Beta
       Green & Renewable Energy             66,22%                                         0,571
7.5.2 Terminal Value

      Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
      waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
      concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
      perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
      tidak diaplikasikan mempertimbangkan proyeksi yang digunakan mengikuti masa berlaku
      perjanjian jual beli listrik tau PPA selama 30 tahun.

7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)

      Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
      Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Pembiayaan Conduit, diperoleh
      hasil perhitungan sebagai berikut:

      Tabel 19. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
                                                                                                (dalam Jutaan Rupiah)

       PT Solusi
                              Beg. Period     30/06/2026      01/01/2035    01/01/2045      01/01/2055      01/01/2058
       Environment Asia
       Feasibility Study      End. Period     30/06/2026      31/12/2035    31/12/2045      31/12/2055      31/12/2058
                              Year                   2026 P       2035 P         2045 P            2055 P         2058 P
       (in IDR)               Days                       0           365           365               365             365



       Periode                                           0            9,5          19,5              29,5            32,5
       Investment:
         Investment to
                                                                        -              -                -               -
       Consortium                               (131.021)
                                                        -               -              -                -               -
       Cash Proceeds:                                     -             -              -                -               -
         Dividend Income                                  -       29.602         55.256            46.221         19.584
         Terminal Value of
                                                          -             -              -                -               -
       Dividend Income
       Total Net Cash
                                                (131.021)         29.602         55.256            46.221         19.584
       Proceeds
       Cummulative
                                                (131.021)          4.119       457.640          961.189         1.070.171
       Proceeds

       Terminal Growth               2,51%



Halaman 79                                                           00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 81
       PT Solusi
                               Beg. Period     30/06/2026    01/01/2035      01/01/2045       01/01/2055     01/01/2058
       Environment Asia
       Feasibility Study       End. Period     30/06/2026    31/12/2035      31/12/2045       31/12/2055     31/12/2058
                               Year                2026 P        2035 P          2045 P            2055 P        2058 P
       (in IDR)                Days                     0             365             365            365           365

       Discount Factor                11,98%
       Capitalization Rate             9,47%


       Discount Factor                              1,000         0,341              0,110         0,035          0,025
       Present Value of
                                                 (131.021)       10.095              6.076         1.639           494
       Cashflow
       SUM of Present
                                                   42.663
       Value of Cashflow

       IRR                            14,27%
       NPV                            42.663
       PP
                                     10,86
                               10 Tahun 10
       PP (Tahun)
                                     Bulan
       PI
                                        1,33
      Sumber: Analisis KJPP, diolah
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
      • NPV                     : Rp 42.662.878.861 lebih besar dari 0
      • IRR                     : 14,27%               lebih besar dari WACC
      • Profitability Index     : 1,33                 lebih besar dari 1
      • Payback Period          : > 5 Tahun

      Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
      “Layak”

7.6   Analisis Nilai Tambah

      Laporan Keuangan SOFA sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
      Conduit disajikan sebagai berikut:

      Tabel 20. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
      Conduit
                                                                      (dalam jutaan rupiah)
       Laporan Posisi Keuangan                               2026 P         2035 P      2045 P       2055 P       2058 P
       ASET
       ASET LANCAR
            Kas dan bank                                      7.852         30.860      62.769       93.667      102.026
            Piutang usaha                                      721            543            396        289         263
            Piutang lain-lain - pihak ketiga                    10             10            10             10        10
            Persediaan                                       20.353         16.799      10.060        6.023        5.164
            Uang muka                                          222            161            96             58        49
            Biaya dibayar dimuka                               338            244            146            87        75
            Pajak dibayar dimuka                                57             57            57             57        57
       Jumlah Aset Lancar                                    29.553         48.674      73.534     100.192       107.645


Halaman 80                                                            00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 82
      Laporan Posisi Keuangan                        2026 P        2035 P   2045 P    2055 P    2058 P
      ASET TIDAK LANCAR
        Aset tetap - bersih                          19.916        6.514     6.514     6.514     6.514
        Aset tak berwujud                                   -           -        -         -         -
        Aset hak guna usaha                             474             -        -         -         -
        Aset pajak tangguhan                            987          987      987       987       987
        Aset lain-lain                                    49          49       49        49        49
      Jumlah Aset Tidak Lancar                       21.427        7.550     7.550     7.550     7.550
      JUMLAH ASET                                    50.980       56.224    81.084   107.741   115.194


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      LIABILITAS
      LIABILITAS JANGKA PENDEK
        Utang usaha                                       56          56       56        56        56
        Utang lain-lain                                 157          114       68        41        35
        Biaya yang masih harus dibayar                  891          644      386       231       198
        Utang pajak                                     176          176      176       176       176
        Uang muka penjualan                            9.611       7.239     5.284     3.856     3.509
        Liabilitas sewa (jk pendek)                     366          366      366       366       366
        Bank (jk pendek)                                    -           -        -         -         -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                11.259        8.595     6.336     4.726     4.340
      LIABILITAS JANGKA PANJANG
        Liabilitas sewa (jk panjang)                        -           -        -         -         -
        Bank (jk panjang)                                   -           -        -         -         -
        Liabilitas imbalan kerja                           2           2        2         2         2
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                     2           2        2         2         2
      Jumlah Liabilitas                              11.260        8.597     6.338     4.728     4.342


      EKUITAS
        Modal saham                                  16.536       16.536    16.536    16.536    16.536
        Agio saham                                   32.845       32.845    32.845    32.845    32.845
        Agio waran                                      322          322      322       322       322
        Pendapatan komprehensif lain                   (442)        (440)    (440)     (440)     (440)
        Defisit / Laba ditahan (Defisit)             (9.647)      (1.743)   25.377    53.644    61.483
      Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
      pengendali                                     39.613       47.520    74.640   102.907   110.746
        Kepentingan non-pengendali                      107          107       107       107       107
      Jumlah Ekuitas                                 39.720       47.626    74.746   103.013   110.853
      JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                    50.980     56.224    81.084   107.741   115.194
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA sebelum rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit disajikan sebagai berikut:




Halaman 81                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 83
     Tabel 21. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit
                                                                       (dalam jutaan rupiah)
                                                         S2
      Laporan Laba Rugi                                              2035 P          2045 P       2055 P       2058 P
                                                     2026 P
      Penjualan                                      22.347          32.939          24.041       17.547       15.965
      Beban pokok penjualan                          (7.411)        (16.757)       (10.413)       (6.612)      (5.804)
      Laba (Rugi) Kotor                              14.937          16.182          13.628       10.934       10.161
      Beban usaha (umum dan administrasi)            (6.911)        (13.345)       (10.153)       (7.824)      (7.256)
      Pendapatan (beban) lain-lain                            -               -             -             -             -
      Laba (Rugi) Usaha                                8.026          2.838           3.475        3.110        2.905
      Pendapatan keuangan                                 10            104            228           352          386
      Beban keuangan                                          -             (0)         (0)           (0)          (0)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan            8.035          2.941           3.703        3.462        3.291
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                       -               -             -             -             -
        Pajak kini                                     (160)           (647)          (815)         (762)        (724)
        Pajak tangguhan                              (1.510)                  -             -             -             -
      Jumlah                                         (1.669)           (647)          (815)         (762)        (724)
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                        6.366      2.294              2.888        2.701        2.567
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Selanjutnya proyeksi keuangan SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit sebagai berikut:

     Tabel 22. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit
                                                                     (dalam jutaan rupiah)
               Laporan Posisi Keuangan              2026 P         2035 P          2045 P        2055 P        2058 P
      ASET
      ASET LANCAR
        Kas dan bank                                95.854         80.352         211.795       746.242       863.583
        Piutang usaha                                  721           543             396           289           263
        Piutang lain-lain - pihak ketiga                10            10              10            10            10
        Persediaan                                  20.353         16.799          10.060         6.023         5.164
        Uang muka                                      222           161              96            58            49
        Biaya dibayar dimuka                           338           244             146            87            75
        Pajak dibayar dimuka                            57            57              57            57            57
      Jumlah Aset Lancar                          117.555          98.166         222.560       752.767       869.201
      ASET TIDAK LANCAR
        Aset tetap - bersih                         19.916          6.514           6.514         6.514         6.514
        Aset tak berwujud                                 -             -               -             -             -
        Aset hak guna usaha                            474              -               -             -             -
        Penyertaan pada konsorsium                131.021         131.021         131.021       131.021       131.021
        Aset pajak tangguhan                           987           987             987           987           987
        Aset lain-lain                                  49            49              49            49            49



Halaman 82                                                        00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 84
              Laporan Posisi Keuangan             2026 P     2035 P     2045 P       2055 P        2058 P
      Jumlah Aset Tidak Lancar                   152.448    138.571    138.571      138.571       138.571
      JUMLAH ASET                                270.003    236.737    361.131      891.338      1.007.772


      LIABILITAS DAN EKUITAS
      LIABILITAS
      LIABILITAS JANGKA PENDEK
        Utang usaha                                   56         56        56           56             56
        Utang lain-lain                              157        114        68           41             35
        Biaya yang masih harus dibayar               891        644       386          231            198
        Utang pajak                                  176        176       176          176            176
        Uang muka penjualan                        9.611      7.239      5.284        3.856         3.509
        Liabilitas sewa (jk pendek)                  366        366       366          366            366
        Bank (jk pendek)                                -          -            -            -             -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             11.259      8.595      6.336        4.726         4.340
      LIABILITAS JANGKA PANJANG
        Liabilitas sewa (jk panjang)                    -          -            -            -             -
        Utang Bank Baru                          238.220    238.220             -            -             -
        Bank (jk panjang)                               -          -            -            -             -
        Liabilitas imbalan kerja                       2          2         2                2             2
      Jumlah Liabilitas Jangka Panjang           238.222    238.222         2                2             2
      Jumlah Liabilitas                          249.481    246.817      6.338        4.728         4.342


      EKUITAS
        Modal saham                               16.536     16.536     16.536       16.536        16.536
        Agio saham                                32.845     32.845     32.845       32.845        32.845
        Agio waran                                   322        322       322          322            322
        Pendapatan komprehensif lain                (442)      (440)     (440)        (440)          (440)
        Defisit / Laba ditahan (Defisit)         (28.845)   (59.450)   305.424      837.240       954.061
      Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
      pengendali                                  20.416    (10.188)   354.687      886.503      1.003.324
        Kepentingan non-pengendali                   107         107       107          107            107
      Jumlah Ekuitas                              20.522    (10.081)   354.793      886.609      1.003.430
      JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                 270.003 236.737 361.131         891.338      1.007.772
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit disajikan sebagai berikut:

     Tabel 23. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
     Conduit
                                                                       (dalam jutaan rupiah)
                                                 S2 2026
                   Laporan Laba Rugi                        2035 P     2045 P       2055 P        2058 P
                                                    P
      Penjualan                                   22.347     32.939     24.041       17.547        15.965
      Dividend Income                                   -    29.602     55.256       46.221        19.584


Halaman 83                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 85
                                                   S2 2026
                  Laporan Laba Rugi                            2035 P       2045 P         2055 P       2058 P
                                                      P
      Beban pokok penjualan                         (7.411)    (16.757)     (10.413)        (6.612)      (5.804)
      Laba (Rugi) Kotor                              14.937      45.784      68.884         57.155       29.745
      Beban usaha (umum dan administrasi)            (6.911)   (13.345)     (10.153)        (7.824)      (7.256)
      Pendapatan (beban) lain-lain                       (5)          -              -              -            -
      Laba (Rugi) Usaha                               8.021      32.439      58.731         49.331       22.489
      Beban Bunga                                  (19.294)    (19.294)              -              -            -
      Pendapatan keuangan                                10        104          228            352          386
      Beban keuangan                                    101         (0)          (0)              (0)        (0)
      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan        (11.162)      13.248      58.959         49.683       22.875
      Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
        Pajak kini                                    (160)       (647)        (815)         (762)         (724)
        Pajak tangguhan                              (1.510)          -              -              -            -
      Jumlah                                         (1.669)      (647)        (815)         (762)         (724)
      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                    (12.832)    12.601       58.144         48.921       22.151
     Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
     Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

     Analisis inkremental dilakukan untuk mengukur tambahan manfaat ekonomis yang timbul dari
     rencana penambahan kegiatan usaha, dengan cara membandingkan proyeksi kinerja keuangan
     Perseroan dalam kondisi tanpa rencana terhadap kondisi setelah rencana dilaksanakan. Selisih
     di antara keduanya merupakan dampak bersih yang dapat diatribusikan kepada rencana
     dimaksud.

     Proyeksi disusun atas skenario sebagai berikut:
      • Skenario sebelum, yaitu kondisi Perseroan tanpa pelaksanaan rencana penambahan
          kegiatan usaha; dan
      • Skenario setelah Bank Loan (BL), yaitu kondisi setelah pelaksanaan rencana dengan sumber
          pendanaan berasal dari pinjaman bank (bank loan).

     Tabel 24. Analisis Inkremental
                                                                                          (dalam Jutaan rupiah)
               Keterangan             S2 2026 P       2035 P         2045 P              2055 P         2058 P
      Before
      Penjualan                         22.347          32.939          24.041            17.547         15.965
      Laba (Rugi) Kotor                 14.937          16.182          13.628            10.934         10.161
      Laba (Rugi) Usaha                  8.026           2.838           3.475             3.110          2.905
      Laba Sebelum Pajak                 8.035           2.941           3.703             3.462          3.291
      EBIT                               8.035           2.941           3.703             3.462          3.291
      EBITDA                            10.094           2.941           3.703             3.462          3.291
      After BL
      Penjualan                         22.347          62.541          79.297            63.767         35.549
      Laba (Rugi) Kotor                 14.937          45.784          68.884            57.155         29.745
      Laba (Rugi) Usaha                  8.021          32.439          58.731            49.331         22.489
      Laba Sebelum Pajak               (11.162)         13.248          58.959            49.683         22.875
      EBIT                               8.132          32.543          58.959            49.683         22.875
      EBITDA                            13.221          34.988          61.405            52.129         25.320
      Before - After BL



Halaman 84                                                     00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 86
               Keterangan               S2 2026 P      2035 P        2045 P      2055 P      2058 P
       Penjualan                                  -      29.602         55.256    46.221       19.584
       Laba (Rugi) Kotor                          -      29.602         55.256    46.221       19.584
       Laba (Rugi) Usaha                        (5)      29.602         55.256    46.221       19.584
       Laba Sebelum Pajak                 (19.198)       10.307         55.256    46.221       19.584
       EBIT                                    97        29.602         55.256    46.221       19.584
       EBITDA                               3.127        32.047         57.702    48.666       22.030
      Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
      Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.

      Pada tahun 2026, dampak inkremental dari rencana penambahan kegiatan usaha masih relatif
      terbatas. Hal tersebut tercermin dari belum adanya tambahan penjualan secara inkremental,
      sementara laba usaha inkremental tercatat sebesar negatif Rp5 juta. EBIT dan EBITDA inkremental
      masing-masing tercatat sebesar Rp97 juta dan Rp3.127 juta, namun laba sebelum pajak
      inkremental menunjukkan dampak negatif sebesar Rp19.198 juta. Selisih antara EBIT dan laba
      sebelum pajak tersebut terutama mencerminkan beban keuangan yang timbul pada tahap awal
      pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha, yang belum diimbangi oleh tambahan
      pendapatan dari penyertaan.

      Pada tahun 2035, manfaat ekonomi dari penambahan kegiatan usaha mulai terlihat secara
      signifikan. Penjualan, laba kotor, laba usaha, dan EBIT inkremental masing-masing tercatat
      sebesar Rp29.602 juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar Rp32.047 juta. Laba sebelum
      pajak inkremental tercatat positif sebesar Rp10.307 juta, lebih rendah dibandingkan EBIT karena
      masih terdapat beban keuangan pada periode tersebut.

      Selanjutnya, pada tahun 2045, kontribusi inkremental menunjukkan peningkatan. Penjualan, laba
      kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum pajak inkremental masing-masing mencapai Rp55.256
      juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar Rp57.702 juta. Kesamaan nilai laba sebelum pajak
      dengan EBIT menunjukkan bahwa beban keuangan terkait rencana penambahan kegiatan usaha
      sudah tidak lagi membebani Perseroan pada periode tersebut.

      Pada tahun 2055, penjualan, laba kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum pajak inkremental
      masing-masing tercatat sebesar Rp46.221 juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar
      Rp48.666 juta.

      Sementara itu, pada tahun 2058, penjualan, laba kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum
      pajak inkremental masing-masing tercatat sebesar Rp19.584 juta, sedangkan EBITDA inkremental
      mencapai Rp22.030 juta. Dengan demikian, meskipun nilai inkremental pada akhir periode
      proyeksi lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya seiring menurunnya dividen dari
      entitas proyek, rencana penambahan kegiatan usaha tetap memberikan kontribusi positif
      terhadap laba dan EBITDA Perseroan.

7.7   Analisis Sensitivitas

      Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengaplikasikan sensitivitas perubahan pada pos
      keuangan tertentu yang dinilai memiliki dampak utama sebagai pendorong nilai tambah dari
      Rencana Transaksi. Pada analisis sensitivitas studi kelayakan ini, sensitivitas diaplikasikan pada
      pos Pendapatan Dividen, dengan asumsi sebagai berikut:




Halaman 85                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 87
      1. Sensitivitas negatif 15,00% merupakan pengurangan 15,00% dari proyeksi perolehan
         dividen sepanjang masa proyeksi;
      2. Sensitivitas negatif 10,00% merupakan pengurangan 10,00% dari proyeksi perolehan
         dividen sepanjang masa proyeksi;
      3. Sensitivitas 0,00% merupakan asumsi tidak terdapat perubahan atas proyeksi perolehan
         dividen sepanjang masa proyeksi;
      4. Sensitivitas positif 10,00% merupakan penambahan 10,00% dari proyeksi perolehan dividen
         sepanjang masa proyeksi; dan
      5. Sensitivitas positif 15,00% merupakan penambahan 15,00% dari proyeksi perolehan dividen
         sepanjang masa proyeksi.

     Tabel analisis sensitivitas atas dampak perubahan pendapatan terhadap kelayakan investasi
     disajikan sebagai berikut:

     Tabel 25. Analisis Sensitivitas
        Sensitivitas Pendapatan Dividen    IRR          NPV                     PP               PI
      Pendapatan Dividen -15%             12,92%   16.610.282.031            11 Tahun 8 Bulan   1,13
      Pendapatan Dividen -10%             13,39%   25.294.480.974            11 Tahun 4 Bulan   1,19
      Pendapatan Dividen +0%              14,27%   42.662.878.861           10 Tahun 10 Bulan   1,33
      Pendapatan Dividen +10%             15,09%   60.031.276.747            10 Tahun 6 Bulan   1,46
      Pendapatan Dividen +15%             15,48%   68.715.475.690            10 Tahun 3 Bulan   1,52
     Sumber: Analisis KJPP, diolah

     Analisis sensitivitas dampak perubahan Pendapatan Dividen terhadap kelayakan Rencana
     Transaksi dapat disimpulkan sebagai berikut:

      1. Pada kondisi dasar tanpa perubahan (sensitivitas 0,00%), Rencana Transaksi menghasilkan
         IRR sebesar 14,27%, NPV sebesar Rp42.662.878.861, Payback Period selama 10 tahun 10
         bulan, dan Profitability Index sebesar 1,33;
      2. Sensitivitas dampak pengurangan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 13,39%, NPV sebesar Rp25.294.480.974, Payback Period selama 11 tahun 4 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,19;
      3. Sensitivitas dampak pengurangan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 12,92%, NPV sebesar Rp16.610.282.031, Payback Period selama 11 tahun 8 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,13;
      4. Sensitivitas dampak penambahan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 15,09%, NPV sebesar Rp60.031.276.747, Payback Period selama 10 tahun 6 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,46; dan
      5. Sensitivitas dampak penambahan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
         sebesar 15,48%, NPV sebesar Rp68.715.475.690, Payback Period selama 10 tahun 3 bulan,
         dan Profitability Index sebesar 1,52.

     Berdasarkan uraian di atas, seluruh skenario sensitivitas dalam rentang negatif 15,00% sampai
     dengan positif 15,00% atas Pendapatan Dividen tetap menghasilkan NPV yang positif, Profitability
     Index yang lebih besar dari 1,00, serta IRR yang berada di atas tingkat diskonto yang digunakan.
     Dengan demikian, kesimpulan kelayakan Rencana Transaksi tetap terjaga meskipun terjadi
     perubahan atas asumsi Pendapatan Dividen dalam rentang tersebut.




Halaman 86                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 88
7.8   Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan

      Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
      Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada
      SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
      diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
      dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
      sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
      setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
      keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
      bersumber dari penerimaan atas penyaluran dana kepada entitas dalam grup melalui entitas
      anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.




Halaman 87                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 89
                                              BAB VIII
                                            KESIMPULAN



8.1   Analisis atas Kelayakan Pasar

      Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki
      peluang yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait
      masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara
      nasional didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah.
      Perseroan juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan
      Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangan portofolio usaha.

      Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap
      melalui pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta
      pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar,
      kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha,
      aspek pasar rencana kegiatan penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang
      pertumbuhan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang
      investasi dan kondisi pasar yang berlaku

8.2   Analisis atas Kelayakan Teknis

      Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
      Conduit pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh
      kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan
      kebutuhan pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada
      entitas dalam grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan
      dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan.

      Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas
      anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal
      pada WNA dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan
      oleh entitas operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan
      pengawasan arus dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan
      WNA dan WNG serta mitra teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam
      menyusun dan menyalurkan pendanaan sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan
      demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak,
      didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian arus dana, pemantauan penggunaan dana,
      serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

8.3   Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis

      Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI
      64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan
      kegiatan usaha ini memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan,
      pengelolaan, dan penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup,
      khususnya dalam mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana
      transaksi, dana yang dihimpun Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk



Halaman 88                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 90
      selanjutnya digunakan sebagai setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan
      pada perusahaan operasional proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE).
      Kelayakan pola bisnis tersebut didukung oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang
      memberikan akses terhadap sumber pendanaan, pengalaman manajemen dalam pengelolaan
      usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana yang dapat dilakukan melalui entitas yang
      telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan entitas baru. Dari sisi penciptaan
      nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi dan koordinasi pendanaan
      grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup, serta
      membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki prospek
      pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa
      kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan
      penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan
      mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas
      Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk
      direalisasikan.

8.4   Analisis atas Kelayakan Model Manajemen

      Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki
      kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
      Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris
      dalam bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal,
      pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah
      tersedia di Perseroan. Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan
      WNG melalui AEA sebagai entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung
      jawab yang jelas, penerapan proses evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta
      pelaporan secara berkala dari entitas penerima, model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan
      KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tetap
      memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kompleksitas kegiatan usaha
      Perseroan.

8.5   Analisis atas Kelayakan Keuangan

      Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada
      SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
      berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
      diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
      dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
      sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
      setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
      keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
      bersumber dari penerimaan atas penyaluran dana kepada entitas dalam grup melalui entitas
      anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
      berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.

8.6   Kesimpulan

      Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
      relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis



Halaman 89                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 91
     kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
     Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana
     Penambahan Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
     Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.




Halaman 90                                           00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 92
                            ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS



      1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
      2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
          proses Studi Kelayakan.
      3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
          keakuratannya.
      4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
          proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
      5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
      6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
          sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
          POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
      7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
          keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
      8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
      9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
          Tugas
      10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
          luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
          jawab kami.
      11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
          secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
          perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
      12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
          berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
          bukan menjadi tanggung jawab kami.
      13. Laporan studi kelayakan ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
          laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
          bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.




Halaman 91                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 93
                                      PERNYATAAN PENILAI



     Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
     tangan di bawah ini menerangkan bahwa :

     1.  Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan studi kelayakan adalah benar sesuai
         dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
     2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
     3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
         memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
     4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil studi kelayakan yang dilaporkan.
     5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
         Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
     6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
         diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
     7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
         kelayakan.
     8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen SOFA.
     9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
         pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
         dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
     10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
         Kelayakan.
     11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
         data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
         lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
         dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
         menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
     12. Penugasan studi kelayakan telah dilakukan terhadap obyek studi kelayakan per tanggal studi
         kelayakan (cut off date).
     13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
         laporan studi kelayakan.
     14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
         diungkapkan.
     15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
     16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
         telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.




Halaman 92                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 94

          
Page 95
             LAMPIRAN – LAMPIRAN




Halaman 94                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 96
Halaman 95   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 97
Halaman 96   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 98
Halaman 97   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 99
Halaman 98   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 100
Halaman 99   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 101
Halaman 100   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 102
                            Kantor Jasa Penilai Publik
                            FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN                                                                                                          The Manhattan Square
                                                                                                                                                            Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
                            Property, Business Valuation & Advisory                                                                                         Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
                            Licence No. 2.22.0176                                                                                                          E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
                                                                                                                                                                  Website: www.fdipartners.co
                            KMK 460/KM.1/2022
                                                                                                                                                                     Phone (62 21) 27875911
                            Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia


Tabel 26. Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
                                                                                                                                                              (Dalam Jutaan Rupiah)
                                                             Year     2026 P   2027 P   2028 P    2029 P     2030 P     2031 P     2032 P     2033 P      2034 P         2035 P           2036 P

 Bogor

 Profit Distribution to All Shareholders                                   -        -         -         -   158.595    192.294    205.513    208.216     211.435      214.983           218.742
 Consortium Ownership                                        70%
 Profit attributable to Consortium                                         -        -         -         -   111.017    134.606    143.859    145.751     148.005      150.488           153.119

 Dividend Payout Ratio                                                                                        100%       100%       100%       100%        100%         100%              100%
 Dividend Paid to Consortium                                               -        -         -         -   111.017    134.606    143.859    145.751     148.005      150.488           153.119

 Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)                 34,33

 Statutory Paid-Up Capital Reserve                           20%
 Reserve Amount (USD Mn)                                     6,87
 Appropriation of Statutory Surplus Reserve                                -        -         -         -   111.017     11.594           -           -           -                 -             -
 Cumulative Statutory Surplus Reserve                                      -        -         -         -   111.017    122.611    122.611    122.611     122.611      122.611           122.611


 Dividend Attributable after Surplus Reserve &
                                                                           -        -         -         -          -   123.011    143.859    145.751     148.005      150.488           153.119
 Provision

 Dividend Attributable to Consortium
                                                                           -        -         -         -          -   123.011    143.859    145.751     148.005      150.488           153.119
 Shareholders
 AEA Ownership in the Consortium                             10%
 Dividend Attributable to AEA                                              -        -         -         -          -    12.301     14.386     14.575      14.800         15.049           15.312

 Denpasar

 Profit Distribution to All Shareholders                                   -        -         -         -   118.834    169.497    191.140    198.002     203.297      207.897           212.211
 Consortium Ownership                                        70%




                                                      Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 103
                                                 Year   2026 P   2027 P   2028 P   2029 P    2030 P    2031 P    2032 P    2033 P    2034 P    2035 P    2036 P
Profit attributable to Consortium                            -        -        -        -    83.184   118.648   133.798   138.601   142.308   145.528   148.548

Dividend Payout Ratio                                                                         100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%
Dividend Paid to Consortium                                  -        -        -        -    83.184   118.648   133.798   138.601   142.308   145.528   148.548

Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)       34,10

Statutory Paid-Up Capital Reserve                20%
Reserve Amount (USD Mn)                          6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve                   -        -        -        -    83.184    38.593         -         -         -         -         -
Cumulative Statutory Surplus Reserve                         -        -        -        -    83.184   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777



Dividend Attributable after Surplus Reserve &
                                                             -        -        -        -         -    80.055   133.798   138.601   142.308   145.528   148.548
Provision

Dividend Attributable to Consortium
                                                             -        -        -        -         -
Shareholders                                                                                           80.055   133.798   138.601   142.308   145.528   148.548
AEA Ownership in the Consortium                  10%
Dividend Attributable to AEA                                 -        -        -        -         -     8.006    13.380    13.860    14.231    14.553    14.855

AEA - SOFA

Total Profit Distributions to SH (Before
Allocation)                                                  -        -        -        -   277.430   361.791   396.652   406.218   414.733   422.880   430.953
Total Profit Distributions to Consortium                     -        -        -        -   194.201   253.254   277.656   284.353   290.313   296.016   301.667


Dividend Received from Bogor                                 -        -        -        -         -    12.301    14.386    14.575    14.800    15.049    15.312
Dividend Received from Denpasar                              -        -        -        -         -     8.006    13.380    13.860    14.231    14.553    14.855
Total Dividend Received from WtE Project                     -        -        -        -         -    20.307    27.766    28.435    29.031    29.602    30.167



   Halaman 102                                                                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 104
Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
                                                                                                                                             (Dalam Jutaan Rupiah)
                                                     Year    2037 P    2038 P    2039 P    2040 P    2041 P    2042 P     2043 P    2044 P    2045 P    2046 P

 Bogor

 Profit Distribution to All Shareholders                    222.440   225.954   277.101   349.038   382.671   396.945   401.323    400.715   398.138   394.697
 Consortium Ownership                                70%
 Profit attributable to Consortium                          155.708   158.168   193.971   244.326   267.870   277.862   280.926    280.500   278.697   276.288

 Dividend Payout Ratio                                        100%      100%      100%      100%      100%      100%       100%      100%      100%      100%
 Dividend Paid to Consortium                                155.708   158.168   193.971   244.326   267.870   277.862   280.926    280.500   278.697   276.288

 Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)          34,33

 Statutory Paid-Up Capital Reserve                   20%
 Reserve Amount (USD Mn)                             6,87
 Appropriation of Statutory Surplus Reserve
 Cumulative Statutory Surplus Reserve                       122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611    122.611   122.611   122.611



 Dividend Attributable after Surplus Reserve &
 Provision                                                  155.708   158.168   193.971   244.326   267.870   277.862   280.926    280.500   278.697   276.288

 Dividend Attributable to Consortium Shareholders           155.708   158.168   193.971   244.326   267.870   277.862   280.926    280.500   278.697   276.288
 AEA Ownership in the Consortium                     10%
 Dividend Attributable to AEA                                15.571    15.817    19.397    24.433    26.787    27.786    28.093     28.050    27.870    27.629

 Denpasar

 Profit Distribution to All Shareholders                    216.196   219.855   270.705   342.169   375.634   389.868   394.253    393.679   391.235   388.002
 Consortium Ownership                                70%


    Halaman 103                                                                                                         00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 105
                                                        Year    2037 P    2038 P    2039 P    2040 P    2041 P    2042 P    2043 P    2044 P    2045 P    2046 P
Profit attributable to Consortium                              151.337   153.898   189.493   239.518   262.944   272.908   275.977   275.576   273.864   271.601

Dividend Payout Ratio                                            100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%
Dividend Paid to Consortium                                    151.337   153.898   189.493   239.518   262.944   272.908   275.977   275.576   273.864   271.601

Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn)              34,10

Statutory Paid-Up Capital Reserve                       20%
Reserve Amount (USD Mn)                                 6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve                           121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777



Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision                                                      151.337   153.898   189.493   239.518   262.944   272.908   275.977   275.576   273.864   271.601

Dividend Attributable to Consortium Shareholders               151.337   153.898   189.493   239.518   262.944   272.908   275.977   275.576   273.864   271.601
AEA Ownership in the Consortium                         10%
Dividend Attributable to AEA                                    15.134    15.390    18.949    23.952    26.294    27.291    27.598    27.558    27.386    27.160

AEA - SOFA


Total Profit Distributions to SH (Before Allocation)           438.636   445.809   547.806   691.207   758.305   786.813   795.576   794.394   789.373   782.699
Total Profit Distributions to Consortium                       307.045   312.066   383.464   483.845   530.814   550.769   556.903   556.076   552.561   547.889



Dividend Received from Bogor                                    15.571   15.817     19.397    24.433    26.787    27.786    28.093    28.050    27.870    27.629
Dividend Received from Denpasar                                 15.134    15.390    18.949    23.952    26.294    27.291    27.598    27.558    27.386    27.160
Total Dividend Received from WtE Project                        30.705    31.207    38.346    48.384    53.081    55.077    55.690    55.608    55.256    54.789




   Halaman 104                                                                                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 106
Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
                                                                                                                                              (Dalam Jutaan Rupiah)
                                            Year    2047 P    2048 P    2049 P    2050 P    2051 P    2052 P    2053 P    2054 P    2055 P    2056 P    2057 P    2058 P

 Bogor

 Profit Distribution to All Shareholders           390.172   384.884   375.159   363.631   355.913   349.407   342.850   336.681   332.330   330.543   328.621   128.951
 Consortium Ownership                       70%
 Profit attributable to Consortium                 273.120   269.419   262.611   254.541   249.139   244.585   239.995   235.676   232.631   231.380   230.034    90.266


 Dividend Payout Ratio                               100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%
 Dividend Paid to Consortium                       273.120   269.419   262.611   254.541   249.139   244.585   239.995   235.676   232.631   231.380   230.034    90.266


 Consortium Total Paid-Up Capital
                                           34,33
 (USD Mn)


 Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%
 Reserve Amount (USD Mn)                    6,87
 Appropriation of Statutory Surplus
 Reserve
 Cumulative Statutory Surplus Reserve              122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611   122.611



 Dividend Attributable after Surplus
 Reserve & Provision                               273.120   269.419   262.611   254.541   249.139   244.585   239.995   235.676   232.631   231.380   230.034    90.266

 Dividend Attributable to Consortium
 Shareholders                                      273.120   269.419   262.611   254.541   249.139   244.585   239.995   235.676   232.631   231.380   230.034    90.266
 AEA Ownership in the Consortium            10%
 Dividend Attributable to AEA                       27.312    26.942    26.261    25.454    24.914    24.458    24.000   23.568     23.263    23.138    23.003     9.027




    Halaman 105                                                                                                           00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 107
                                           Year    2047 P    2048 P    2049 P    2050 P    2051 P    2052 P    2053 P    2054 P    2055 P    2056 P    2057 P    2058 P


Denpasar


Profit Distribution to All Shareholders           383.635   378.466   368.837   357.487   350.111   343.938   337.637   331.761   327.964   327.119   290.828   150.821
Consortium Ownership                       70%
Profit attributable to Consortium                 268.545   264.926   258.186   250.241   245.078   240.756   236.346   232.233   229.575   228.983   203.580   105.575


Dividend Payout Ratio                               100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%      100%
Dividend Paid to Consortium                       268.545   264.926   258.186   250.241   245.078   240.756   236.346   232.233   229.575   228.983   203.580   105.575


Consortium Total Paid-Up Capital
(USD Mn)                                  34,10


Statutory Paid-Up Capital Reserve          20%
Reserve Amount (USD Mn)                    6,82
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve              121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777   121.777



Dividend Attributable after Surplus
Reserve & Provision                               268.545   264.926   258.186   250.241   245.078   240.756   236.346   232.233   229.575   228.983   203.580   105.575

Dividend Attributable to Consortium
Shareholders                                      268.545   264.926   258.186   250.241   245.078   240.756   236.346   232.233   229.575   228.983   203.580   105.575
AEA Ownership in the Consortium            10%
Dividend Attributable to AEA                       26.854    26.493    25.819    25.024    24.508    24.076    23.635    23.223    22.957    22.898    20.358   10.557




   Halaman 106                                                                                                           00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 108
                                   Year    2047 P    2048 P    2049 P    2050 P    2051 P    2052 P    2053 P    2054 P    2055 P    2056 P    2057 P    2058 P
AEA - SOFA


Total Profit Distributions to SH
(Before Allocation)                       773.807   763.349   743.995   721.117   706.024   693.344   680.487   668.441   660.293   657.661   619.449   279.772
Total Profit Distributions to
Consortium                                541.665   534.345   520.797   504.782   494.217   485.341   476.341   467.909   462.205   460.363   433.614   195.841



Dividend Received from Bogor               27.312    26.942    26.261    25.454    24.914    24.458    24.000    23.568    23.263   23.138     23.003     9.027
Dividend Received from Denpasar            26.854    26.493    25.819    25.024    24.508    24.076    23.635    23.223    22.957    22.898    20.358    10.557
Total Dividend Received from WtE
Project                                    54.167    53.434    52.080    50.478    49.422    48.534    47.634    46.791    46.221    46.036    43.361    19.584




   Halaman 107                                                                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 109
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                                                     S2
 Sebelum Penambahan KBLI                                    2027     2028     2029     2030     2031     2032     2033     2034     2035     2036     2037     2046
                                                   2026
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              76,81%   45,25%   42,74%   42,20%   42,00%   42,92%   46,88%   47,40%   48,27%   49,13%   49,97%   50,80%   57,33%
 Operating Profit Margin                          45,87%    1,42%   -1,58%   -2,05%   -3,02%   -1,70%    7,32%    7,17%    7,90%    8,61%    9,31%    9,98%   14,90%
 Net Profit Margin                                36,70%    1,11%   -1,53%   -1,97%   -2,90%   -1,54%    5,86%    5,77%    6,37%    6,96%    7,54%    8,10%   12,42%


 Sebelum Penambahan KBLI                           2038     2039     2040     2041     2042     2043     2044     2045     2046     2047     2048     2049     2050
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              51,60%   52,39%   53,16%   53,90%   54,63%   55,33%   56,02%   56,69%   57,33%   57,96%   58,57%   59,16%   59,73%
 Operating Profit Margin                          10,63%   11,25%   11,85%   12,42%   12,97%   13,49%   13,98%   14,45%   14,90%   15,32%   15,71%   16,07%   16,41%
 Net Profit Margin                                 8,65%    9,18%    9,70%   10,19%   10,67%   11,14%   11,58%   12,01%   12,42%   12,82%   13,20%   13,56%   13,91%


 Sebelum Penambahan KBLI                           2051     2052     2053     2054     2055     2056     2057     2058
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              60,29%   60,82%   61,34%   61,83%   62,31%   62,78%   63,22%   63,65%
 Operating Profit Margin                          16,73%   17,02%   17,28%   17,52%   17,73%   17,91%   18,07%   18,20%
 Net Profit Margin                                14,24%   14,55%   14,85%   15,13%   15,39%   15,63%   15,86%   16,07%




    Halaman 108                                                                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 110
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
 Setelah penambahan KBLI                S2 2026     2027      2028         2029     2030     2031     2032     2033     2034     2035      2036
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
 Transaksi
 Gross Profit Margin                    66,84%    48,41%    44,04%    42,73%      42,22%    63,08%   69,96%   70,96%   72,10%   73,21%   74,28%
 Operating Profit Margin                35,89%     4,58%     -0,28%    -1,52%      -2,80%   34,17%   47,57%   48,74%   50,33%   51,87%   53,38%
 Net Profit Margin                      -57,42%   -41,95%   -47,21%   -49,92%     -52,72%    0,82%   16,58%   17,59%   18,89%   20,15%   21,39%


 Setelah penambahan KBLI                  2037      2038      2039         2040     2041     2042     2043     2044     2045     2046      2047
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
 Transaksi
 Gross Profit Margin                    75,31%    76,29%    79,48%    82,77%      84,36%    85,29%   85,93%   86,43%   86,87%   87,27%   87,63%
 Operating Profit Margin                54,83%    56,22%    61,75%    67,58%      70,28%    71,78%   72,75%   73,46%   74,06%   74,61%   75,09%
 Net Profit Margin                      22,58%    23,71%    32,23%    41,58%      45,51%    71,04%   72,01%   72,72%   73,32%   73,87%   74,36%


 Setelah penambahan KBLI                  2048      2049      2050         2051     2052     2053     2054     2055     2056     2057      2058
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
 Transaksi
 Gross Profit Margin                    87,97%    88,19%    88,35%    88,60%      88,86%    89,11%   89,35%   89,63%   89,96%   89,87%   83,67%
 Operating Profit Margin                75,52%    75,72%    75,83%    76,09%      76,40%    76,69%   76,99%   77,36%   77,86%   77,44%   63,26%
 Net Profit Margin                      74,79%    75,00%    75,10%    75,38%      75,70%    76,01%   76,32%   76,72%   77,25%   76,83%   62,31%




    Halaman 109                                                                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 111
Tabel 29. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
 Sebelum Penambahan KBLI                               2026      2027        2028      2029      2030      2031      2032      2033      2034      2035      2036
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                 66,84%     48,41%      44,04%    42,73%    42,22%    43,01%    46,92%    47,42%    48,27%    49,13%    49,97%
 Operating Profit Margin                             35,91%      4,58%      -0,28%    -1,52%    -2,80%    -1,60%     7,35%     7,19%     7,90%     8,61%     9,31%
 Net Profit Margin                                   28,49%      3,58%      -0,23%    -1,43%    -2,67%    -1,45%     5,89%     5,79%     6,38%     6,96%     7,54%

 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                             0,70      0,88        1,09      1,36      1,68      2,03      2,37      2,74      3,15      3,59      4,07
 Current Ratio                                          2,62      3,08        3,36      3,65      3,94      4,26      4,57      4,89      5,26      5,66      6,11
 Quick Ratio                                            0,78      0,97        1,17      1,45      1,76      2,12      2,45      2,82      3,23      3,67      4,16

 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                     1,32%     2,91%      -0,18%    -1,12%    -2,08%    -1,11%     4,22%     3,88%     4,00%     4,08%     4,13%
 Return on Equity*                                     1,69%     3,68%      -0,23%    -1,40%    -2,61%    -1,39%     5,18%     4,70%     4,78%     4,82%     4,81%

 Sebelum Penambahan KBLI                                 2037      2038        2039      2040      2041      2042      2043      2044      2045      2046      2047
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                                   50,80%    51,60%      52,39%    53,16%    53,90%    54,63%    55,33%    56,02%    56,69%    57,33%    57,96%
 Operating Profit Margin                                9,98%    10,63%      11,25%    11,85%    12,42%    12,97%    13,49%    13,98%    14,45%    14,90%    15,32%
 Net Profit Margin                                      8,11%     8,65%       9,18%     9,70%    10,20%    10,68%    11,14%    11,59%    12,01%    12,43%    12,82%

 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                              4,58        5,12      5,70      6,32      6,96      7,64      8,36      9,14      9,91     10,73     11,60
 Current Ratio                                           6,57        7,07      7,61      8,21      8,80      9,45     10,13     10,87     11,61     12,40     13,23
 Quick Ratio                                             4,66        5,20      5,78      6,41      7,04      7,72      8,44      9,22      9,99     10,81     11,68

 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                      4,14%     4,12%       4,08%     4,02%     3,95%     3,86%     3,77%     3,67%     3,56%     3,46%     3,35%
 Return on Equity*                                      4,77%     4,70%       4,61%     4,51%     4,39%     4,27%     4,13%     4,00%     3,86%     3,73%     3,59%




    Halaman 110                                                                                                     00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 112
 Sebelum Penambahan KBLI                      2048    2049     2050     2051     2052     2053     2054         2055     2056     2057     2058
 Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                       58,57%    59,16%   59,73%   60,29%   60,82%   61,34%   61,83%      62,31%   62,78%    63,22%   63,65%
 Operating Profit Margin                   15,71%    16,07%   16,41%   16,73%   17,02%   17,28%   17,52%      17,73%   17,91%    18,07%   18,20%
 Net Profit Margin                         13,20%    13,57%   13,91%   14,24%   14,55%   14,85%   15,13%      15,39%   15,64%    15,87%   16,08%

 Rasio Likuiditas Sebelum Rencana
 Transaksi
 Cash Ratio                                 12,52     13,43    14,40    15,41    16,50    17,54    18,66       19,82     21,06    22,24    23,51
 Current Ratio                              14,13     15,00    15,94    16,91    17,97    18,98    20,07       21,20     22,41    23,56    24,80
 Quick Ratio                                12,60     13,51    14,48    15,49    16,57    17,62    18,74       19,89     21,13    22,32    23,58

 Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana
 Transaksi
 Return on Assets*                         3,24%      3,13%    3,02%    2,91%    2,81%    2,71%    2,60%       2,51%    2,41%     2,32%    2,23%
 Return on Equity*                         3,46%      3,33%    3,20%    3,08%    2,96%    2,84%    2,73%       2,62%    2,52%     2,41%    2,32%

*Annualized




    Halaman 111                                                                                            00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 113
Tabel 30. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
 Setelah penambahan KBLI Conduit                2026        2027       2028        2029      2030       2031             2032          2033        2034           2035       2036
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                         45,46%        48,41%     44,04%      42,73%    42,22%   63,08%            69,96%      70,96%      72,10%            73,21%     74,28%
 Operating Profit Margin                      2,31%         4,58%     -0,28%      -1,52%    -2,80%   34,17%            47,57%      48,74%      50,33%            51,87%     53,38%
 Net Profit Margin                          -42,36%       -41,95%    -47,21%     -49,92%   -52,72%    0,82%            16,58%      17,59%      18,89%            20,15%     21,39%

 Rasio Likuiditas Setelah Rencana
 Transaksi
 Cash Ratio                                    8,51          7,21       5,75        4,28      2,76       3,25             4,53         5,96        7,57            9,35      11,34
 Current Ratio                                10,44          9,40       8,03        6,56      5,02       5,48             6,73         8,11        9,68           11,42      13,37
 Quick Ratio                                   8,60          7,29       5,83        4,36      2,84       3,33             4,61         6,04        7,65            9,43      11,42

 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                          -6,86%         -7,06%     -8,35%     -9,37%    -10,62%      0,25%            5,25%      5,25%       5,30%           5,32%        5,32%
 Return on Equity*                         -90,27%       -648,04%    116,48%     54,41%     35,76%     -0,84%          -23,17%    -32,30%     -52,48%        -125,00%      415,16%

 Setelah penambahan KBLI Conduit                  2037        2038       2039       2040       2041         2042                2043        2044          2045      2046      2047
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                            75,31%      76,29%      79,48%    82,77%     84,36%       85,29%            85,93%       86,43%      86,87%       87,27%    87,63%
 Operating Profit Margin                        54,83%      56,22%      61,75%    67,58%     70,28%       71,78%            72,75%       73,46%      74,06%       74,61%    75,09%
 Net Profit Margin                              22,58%      23,71%      32,23%    41,58%     45,51%       71,04%            72,01%       72,72%      73,32%       73,87%    74,36%

 Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                      13,46       15,80       19,22     24,26       -3,20            5,12         14,03        23,54       33,43        43,88     54,82
 Current Ratio                                   15,45       17,75       21,14     26,14       -1,36            6,92         15,80        25,27       35,13        45,54     56,45
 Quick Ratio                                     13,54       15,88       19,30     24,34       -3,12            5,20         14,11        23,61       33,51        43,96     54,89

 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                             5,28%         5,22%       7,26%     9,62%     28,37%       31,03%            23,90%       19,29%      16,10%       13,78%    12,00%
 Return on Equity*                            81,31%        45,87%      40,72%    37,36%     30,04%       32,23%            24,58%       19,71%      16,39%       13,98%    12,15%




    Halaman 112                                                                                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 114
 Setelah penambahan KBLI Conduit                   2048     2049     2050     2051     2052     2053     2054     2055     2056     2057     2058
 Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Gross Profit Margin                              87,97%   88,19%   88,35%   88,60%   88,86%   89,11%   89,35%   89,63%   89,96%   89,87%   83,67%
 Operating Profit Margin                          75,52%   75,72%   75,83%   76,09%   76,40%   76,69%   76,99%   77,36%   77,86%   77,44%   63,26%
 Net Profit Margin                                74,79%   75,00%   75,10%   75,38%   75,70%   76,01%   76,32%   76,72%   77,25%   76,83%   62,31%

 Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
 Cash Ratio                                        66,40    78,04    90,18   102,75   116,07   129,31   143,32   157,89   173,52   188,43   198,98
 Current Ratio                                     68,00    79,60    91,71   104,25   117,54   130,75   144,73   159,27   174,87   189,76   200,27
 Quick Ratio                                       66,47    78,12    90,25   102,82   116,15   129,39   143,40   157,96   173,59   188,51   199,05

 Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
 Return on Assets*                                10,59%    9,37%    8,34%    7,55%    6,91%    6,36%    5,88%    5,49%    5,18%    4,66%    2,20%
 Return on Equity*                                10,71%    9,46%    8,41%    7,61%    6,96%    6,40%    5,91%    5,52%    5,21%    4,69%    2,21%

*Annualized




    Halaman 113                                                                                           00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 115
Tabel 31. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Leverage Beta (Equity Beta)
      Green & Renewable Energy


                                                                                Un-Leverage Beta (Assets
                                                                                           Beta)
     Percentage of Total Capital
                                                                                           0,57
          Supplied by Debt
                39,84%
                                                       D/E                                                         Leverage Beta (Equity Beta)
                                      :                                                                        x
                                                      66,22%                                                                  0,87
    % of Total Capital Supplied by
                Equity
                60,16%
                                                                                1 + (DER x After Tax Profit)
                                                                            x
                                                                                            1,52
   Before-Tax Operating Profit in %
                100%
                                           After-Tax Operating Profit in
                                      -                 %
                                                      78,00%
          Income Taxe Rate
                 22%




Weighted Average Cost of Capital

     Equity Risk Premium (rm-rf)
                7,55%
                                             Company Risk Premium
                                      x
                                                      6,53%
     Leverage Beta (Equity Beta)
                 0,87
                                              Company Specific Risk
                                                        0%                          Cost of equity (Ke)
                                                                            +
          Risk-Free Rate (rf)                                                             11,98%
                7,26%
                                          Risk-Free Rate - Default Spread                                           Weighted Cost of Equity
                                      -                                                                        x
                                                      5,45%                                                                  7,21%
                                                                                Percentage of Total Capital
       Country Default Spread
                                                                                    Supplied by Equity
                1,81%                                                                     60,16%
                                                                                                                                                     Weighted Average Cost of Capital
                                                                                                                                                 +
                                                                                                                                                                  9,72%
                                                                                Percentage of Total Capital
                                                                                     Supplied by Debt
                                                                                          39,84%
                                             Before-Tax Cost of Debt                                                 Weighted Cost of Debt
                                                                                                               x
                                                      8,07%                                                                  2,51%
   Before-Tax Operating Profit in %                                             After-Tax Cost of Debt (Kd)
                                                                            x
                100%                                                                       6,30%
                                           After-Tax Operating Profit in
                                      -                 %
                                                      78,00%
          Income Taxe Rate
               22,00%




      Halaman 114                                                                                                                                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 116
Tabel 32. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                                                         (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi           Beg.
    Environment Asia    Period         30/06/2026      30/06/2026      01/01/2027      01/01/2028      01/01/2029      01/01/2030      01/01/2031    01/01/2032    01/01/2033    01/01/2034    01/01/2035
                        End.
    Feasibility Study   Period         30/06/2026      31/12/2026      31/12/2027      31/12/2028      31/12/2029      31/12/2030      31/12/2031    31/12/2032    31/12/2033    31/12/2034    31/12/2035
                        Year               2026 P          2026 P          2027 P          2028 P          2029 P          2030 P          2031 P        2032 P        2033 P        2034 P        2035 P
    (in IDR)            Days                       0          184                365          366             365             365             365           366           365           365          365



    Periode                                        0          0,5                1,5          2,5             3,5             4,5             5,5           6,5           7,5           8,5           9,5
    Investment:
      Investment to
    Consortium                         (131.021)               -             -                 -               -               -               -             -             -             -            -
                                               -               -             -                 -               -               -               -             -             -             -            -
    Cash Proceeds:                             -               -             -                 -               -               -               -             -             -             -            -
      Dividend
    Income                                     -               -             -                 -               -               -          20.307        27.766        28.435        29.031        29.602
      Terminal Value
    of Dividend
    Income                                     -               -             -                 -               -               -               -             -             -             -            -
    Total Net Cash
    Proceeds                             (131.021)                 0               0               0               0               0       20.307        27.766        28.435        29.031        29.602
    Cummulative
    Proceeds                             (131.021)       (131.021)       (131.021)       (131.021)       (131.021)       (131.021)       (110.714)      (82.949)      (54.514)      (25.482)        4.119

    Terminal Growth            2,51%
    Discount Factor        11,98%
    Capitalization
    Rate                       9,47%

    Discount Factor                         1,000           0,945           0,843           0,753           0,673           0,601           0,536         0,479         0,428         0,382         0,341
    Present Value of
    Cashflow                             (131.021)                 0               0               0               0               0       10.891        13.298        12.161        11.087        10.095




    Halaman 115                                                                                                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 117
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                             (Dalam Jutaan Rupiah)

 PT Solusi Environment     Beg.
 Asia                      Period    01/01/2036      01/01/2037   01/01/2038   01/01/2039   01/01/2040   01/01/2041   01/01/2042   01/01/2043     01/01/2044   01/01/2045
                           End.
 Feasibility Study         Period    31/12/2036      31/12/2037   31/12/2038   31/12/2039   31/12/2040   31/12/2041   31/12/2042   31/12/2043     31/12/2044   31/12/2045
                           Year          2036 P          2037 P       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P       2042 P       2043 P         2044 P          2045 P
 (in IDR)                  Days                366         365          365          365          366          365          365          365             366            365



 Periode                                   10,5            11,5         12,5         13,5         14,5         15,5         16,5         17,5           18,5            19,5
 Investment:
   Investment to
 Consortium                                -               -            -            -            -            -            -            -              -               -
                                           -               -            -            -            -            -            -            -              -               -
 Cash Proceeds:                            -               -            -            -            -            -            -            -              -               -
   Dividend Income                     30.167          30.705       31.207       38.346       48.384       53.081       55.077       55.690         55.608       55.256
   Terminal Value of
 Dividend Income                           -               -            -            -            -            -            -            -              -               -
 Total Net Cash Proceeds                 30.167          30.705       31.207       38.346       48.384       53.081       55.077       55.690         55.608          55.256
 Cummulative Proceeds                    34.286          64.991       96.197      134.544      182.928      236.009      291.086      346.777        402.384         457.640


 Terminal Growth             2,51%
 Discount Factor            11,98%
 Capitalization Rate         9,47%


 Discount Factor                          0,305           0,272        0,243        0,217        0,194        0,173        0,154        0,138          0,123           0,110
 Present Value of
 Cashflow                                 9.187           8.350        7.578        8.315        9.369        9.179        8.505        7.679          6.847           6.076




     Halaman 116                                                                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 118
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                   (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi Environment
    Asia                    Beg. Period            01/01/2046   01/01/2047   01/01/2048   01/01/2049    01/01/2050    01/01/2051   01/01/2052   01/01/2053
    Feasibility Study       End. Period            31/12/2046   31/12/2047   31/12/2048   31/12/2049    31/12/2050    31/12/2051   31/12/2052   31/12/2053
                            Year                       2046 P       2047 P       2048 P       2049 P        2050 P        2051 P       2052 P       2053 P
    (in IDR)                Days                          365          365          366          365           365           365          366          365



    Periode                                              20,5         21,5         22,5         23,5          24,5          25,5         26,5          27,5
    Investment:
      Investment to
    Consortium                                           -            -            -            -             -              -           -             -
                                                         -            -            -            -             -              -           -             -
    Cash Proceeds:                                       -            -            -            -             -              -           -             -
      Dividend Income                                54.789       54.167       53.434       52.080        50.478         49.422      48.534        47.634
      Terminal Value of
    Dividend Income                                      -            -            -            -             -             -            -             -
    Total Net Cash
    Proceeds                                           54.789       54.167       53.434       52.080        50.478        49.422       48.534       47.634
    Cummulative Proceeds                              512.429      566.596      620.030      672.110       722.588       772.010      820.544      868.178

    Terminal Growth                        2,51%
    Discount Factor                       11,98%
    Capitalization Rate                    9,47%

    Discount Factor                                     0,098        0,088        0,078        0,070         0,062         0,056        0,050         0,044
    Present Value of
    Cashflow                                            5.380        4.749        4.184        3.641         3.152         2.755        2.416         2.118




    Halaman 117                                                                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 119
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                        (Dalam Jutaan Rupiah)

    PT Solusi Environment Asia                        Beg. Period            30/06/2026    01/01/2054   01/01/2055    01/01/2056    01/01/2057   01/01/2058
    Feasibility Study                                 End. Period            30/06/2026    31/12/2054   31/12/2055    31/12/2056    31/12/2057   31/12/2058
                                                      Year                       2026 P        2054 P       2055 P        2056 P        2057 P       2058 P
    (in IDR)                                          Days                            0           365          365           366           365          365


    Periode                                                                           0          28,5         29,5           30,5         31,5         32,5
    Investment:
      Investment to Consortium                                                (131.021)           -            -              -            -            -
                                                                                    -             -            -              -            -            -
    Cash Proceeds:                                                                  -             -            -              -            -            -
      Dividend Income                                                               -         46.791       46.221         46.036       43.361       19.584
      Terminal Value of Dividend Income                                             -             -            -              -            -            -
    Total Net Cash Proceeds                                                   (131.021)        46.791       46.221         46.036       43.361       19.584
    Cummulative Proceeds                                                      (131.021)       914.969      961.189      1.007.226    1.050.587    1.070.171

    Terminal Growth                                                  2,51%
    Discount Factor                                                 11,98%
    Capitalization Rate                                              9,47%

    Discount Factor                                                               1,000         0,040        0,035         0,032         0,028        0,025
    Present Value of Cashflow                                                  (131.021)        1.858        1.639         1.457         1.226          494
    SUM of Present Value of Cashflow                                             42.663

    IRR                                                         14,27%
    NPV                                                          42.663
    PP                                                            10,86
    PP (Tahun)                                        10 Tahun 10 Bulan
    PI                                                            1,33




    Halaman 118                                                                                                      00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 120
Tabel 33. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                                        (Dalam Jutaan Rupiah)
        Laporan Posisi Keuangan       2026 P   2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P       2032 P        2033 P       2034 P         2035 P       2036 P       2037 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                        7.852     9.587      11.495        14.092       16.838      19.776       22.306         25.069      27.918          30.860      33.862        36.967
   Piutang usaha                        721       699          675           656         636          616          595           578          560             543         525           510
   Piutang lain-lain - pihak ketiga       10        10          10            10          10           10           10            10           10              10          10            10
   Persediaan                         20.353    22.559      22.870        22.353       21.503      20.540       19.561         18.602      17.680          16.799      15.961        15.163
   Uang muka                            222       201          211           210         204          196          186           178          169             161         152           145
   Biaya dibayar dimuka                 338       305          321           320         310          297          283           270          257             244         231           220
   Pajak dibayar dimuka                   57        57          57            57          57           57           57            57           57              57          57            57
 Jumlah Aset Lancar                   29.553    33.418      35.639        37.698       39.558      41.493       42.998         44.764      46.651          48.674      50.798        53.073
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                19.916    17.642      15.063        12.177        8.986        6.208        6.514         6.514        6.514          6.514       6.514         6.514
   Aset tak berwujud                       -            -            -            -            -            -            -             -            -              -            -            -
   Aset hak guna usaha                  474             -            -            -            -            -            -             -            -              -            -            -
   Aset pajak tangguhan                 987       987          987           987         987          987          987           987          987             987         987           987
   Aset lain-lain                         49        49          49            49          49           49           49            49           49              49          49            49
 Jumlah Aset Tidak Lancar             21.427    18.679      16.099        13.214       10.023        7.244        7.550         7.550        7.550          7.550       7.550         7.550
 JUMLAH ASET                          50.980    52.097      51.738        50.912       49.580      48.737       50.548         52.314      54.201          56.224      58.348        60.622


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                            56        56          56            56          56           56           56            56           56              56          56            56
   Utang lain-lain                      157       142          149           149         144          139          132           126          120             114         108           103



    Halaman 119                                                                                                              00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 121
       Laporan Posisi Keuangan       2026 P    2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P       2032 P        2033 P       2034 P       2035 P       2036 P       2037 P
  Biaya yang masih harus dibayar        891       806          846           844          819          785         747            713         678           644         610           581
  Utang pajak                           176       176          176           176          176          176         176            176         176           176         176           176
  Uang muka penjualan                 9.611      9.314        9.000        8.745        8.474        8.211        7.935         7.710        7.471        7.239       6.996         6.798
  Liabilitas sewa (jk pendek)           366       366          366           366          366          366         366            366         366           366         366           366
  Bank (jk pendek)                         -            -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek      11.259    10.860       10.594        10.337       10.036        9.733        9.412         9.147        8.867        8.595       8.312         8.080
LIABILITAS JANGKA PANJANG                                                                                                                                                                  -
  Liabilitas sewa (jk panjang)             -            -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                        -            -            -            -            -            -            -             -            -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                2         2            2                2            2         2           2              2           2                2        2                2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          2         2            2                2            2         2           2              2           2                2        2                2
Jumlah Liabilitas                    11.260    10.862       10.596        10.339       10.037        9.735        9.414         9.149        8.869        8.597       8.314         8.082


EKUITAS
  Modal saham                        16.536    16.536       16.536        16.536       16.536       16.536      16.536         16.536      16.536       16.536       16.536        16.536
  Agio saham                         32.845    32.845       32.845        32.845       32.845       32.845      32.845         32.845      32.845       32.845       32.845        32.845
  Agio waran                            322       322          322           322          322          322         322            322         322           322         322           322
  Pendapatan komprehensif lain        (440)      (440)        (440)         (440)       (440)         (440)       (440)         (440)        (440)        (440)        (440)         (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)   (9.650)   (8.134)      (8.227)       (8.796)      (9.827)     (10.367)     (8.235)        (6.205)     (4.037)       (1.743)        664         3.172
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
                                     39.613    41.129       41.036        40.467       39.436       38.895      41.028         43.058      45.226       47.520       49.927        52.434
kepada pengendali
  Kepentingan non-pengendali            107       107          107           107          107          107         107            107         107           107         107           107
Jumlah Ekuitas                       39.720    41.236       41.142        40.573       39.543       39.002      41.134         43.165      45.332       47.626       50.034        52.541
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS        50.980    52.097       51.738        50.912       49.580       48.737      50.548         52.314      54.201       56.224       58.348        60.622




   Halaman 120                                                                                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 122
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                                    (Dalam Jutaan Rupiah)
        Laporan Posisi Keuangan       2038 P       2039 P       2040 P       2041 P   2042 P   2043 P   2044 P   2045 P       2046 P   2047 P        2048 P       2049 P       2050 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                       40.108       43.291       46.491       49.747   53.000   56.260   59.504   62.769       66.005    69.221         72.398      75.570       78.695
   Piutang usaha                         494          479          463         449       436     422       408      396          384       372           360         349          339
   Piutang lain-lain - pihak ketiga       10           10           10          10        10      10        10       10           10        10             10          10           10
   Persediaan                         14.405       13.685       13.001       12.351   11.733   11.147   10.589   10.060        9.557     9.079          8.625       8.194        7.784
   Uang muka                             138          131          124         118       112     107       101       96           91        87             82          78           74
   Biaya dibayar dimuka                  209          199          188         179       170     162       153      146          139       132           125         119          113
   Pajak dibayar dimuka                   57           57           57          57        57      57        57       57           57        57             57          57           57
 Jumlah Aset Lancar                   55.421       57.852       60.334       62.912   65.519   68.164   70.823   73.534       76.243    78.958         81.657      84.378       87.073
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                  6.514        6.514       6.514        6.514    6.514    6.514    6.514    6.514        6.514     6.514          6.514       6.514        6.514
   Aset tak berwujud                           -            -            -        -        -        -        -            -        -            -             -            -            -
   Aset hak guna usaha                         -            -            -        -        -        -        -            -        -            -             -            -            -
   Aset pajak tangguhan                  987          987          987         987       987     987       987      987          987       987           987         987          987
   Aset lain-lain                         49           49           49          49        49      49        49       49           49        49             49          49           49
 Jumlah Aset Tidak Lancar               7.550        7.550       7.550        7.550    7.550    7.550    7.550    7.550        7.550     7.550          7.550       7.550        7.550
 JUMLAH ASET                          62.971       65.402       67.884       70.461   73.068   75.714   78.372   81.084       83.793    86.507         89.207      91.928       94.622


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                            56           56           56          56        56      56        56       56           56        56             56          56           56
   Utang lain-lain                        97           93           88          84        79      75        71       68           65        61             58          55           53



    Halaman 121                                                                                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 123
     Laporan Posisi Keuangan         2038 P       2039 P       2040 P       2041 P   2042 P    2043 P   2044 P   2045 P       2046 P    2047 P       2048 P       2049 P       2050 P
  Biaya yang masih harus dibayar        552          525          497         474       450      427       405      386          366       348          330          314          298
  Utang pajak                           176          176          176         176       176      176       176      176          176       176          176          176          176
  Uang muka penjualan                  6.587        6.383       6.168        5.993    5.807     5.627    5.438    5.284        5.120      4.961        4.794        4.658        4.514
  Liabilitas sewa (jk pendek)           366          366          366         366       366      366       366      366          366       366          366          366          366
  Bank (jk pendek)                            -            -            -        -         -        -        -            -         -            -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek        7.835        7.598       7.351        7.148    6.935     6.728    6.513    6.336        6.149      5.969        5.781        5.626        5.463
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                -            -            -        -         -        -        -            -         -            -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                           -            -            -        -         -        -        -            -         -            -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                2            2            2            2        2         2        2        2            2             2            2            2            2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          2            2            2            2        2         2        2        2            2             2            2            2            2
Jumlah Liabilitas                      7.837        7.600       7.353        7.150    6.937     6.730    6.514    6.338        6.151      5.971        5.782        5.628        5.465


EKUITAS
  Modal saham                        16.536       16.536       16.536       16.536   16.536    16.536   16.536   16.536       16.536     16.536       16.536       16.536       16.536
  Agio saham                         32.845       32.845       32.845       32.845   32.845    32.845   32.845   32.845       32.845     32.845       32.845       32.845       32.845
  Agio waran                            322          322          322         322       322      322       322      322          322       322          322          322          322
  Pendapatan komprehensif lain         (440)        (440)        (440)       (440)     (440)    (440)    (440)     (440)        (440)     (440)        (440)        (440)        (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)     5.765        8.432      11.162       13.942   16.763    19.615   22.489   25.377       28.272     31.167       34.055       36.930       39.788
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
                                     55.028       57.695       60.424       63.204   66.025    68.877   71.751   74.640       77.535     80.430       83.318       86.193       89.050
kepada pengendali
  Kepentingan non-pengendali            107          107          107         107       107      107       107      107          107       107          107          107          107
Jumlah Ekuitas                       55.134       57.802       60.531       63.311   66.132    68.984   71.858   74.746       77.641     80.536       83.424       86.300       89.157
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS        62.971       65.402       67.884       70.461   73.068    75.714   78.372   81.084       83.793     86.507       89.207       91.928       94.622




   Halaman 122                                                                                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 124
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
                                                                                                                                           (Dalam Jutaan Rupiah)
                          Laporan Posisi Keuangan                 2051 P       2052 P       2053 P       2054 P           2055 P        2056 P        2057 P        2058 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                                                    81.781       84.813       87.822        90.770           93.667        96.500        99.297      102.026
   Piutang usaha                                                      328          317         308           298              289           279           272           263
   Piutang lain-lain - pihak ketiga                                    10           10          10                10               10            10            10            10
   Persediaan                                                       7.395        7.025        6.674         6.340            6.023         5.722         5.436         5.164
   Uang muka                                                           71           67          64                61               58            55            52            49
   Biaya dibayar dimuka                                               107          102          97                92               87            83            79            75
   Pajak dibayar dimuka                                                57           57          57                57               57            57            57            57
 Jumlah Aset Lancar                                                89.749       92.391       95.032        97.629          100.192      102.706       105.203       107.645
 ASET TIDAK LANCAR
   Aset tetap - bersih                                              6.514        6.514        6.514         6.514            6.514         6.514         6.514         6.514
   Aset tak berwujud                                                       -            -            -             -                -             -             -             -
   Aset hak guna usaha                                                     -            -            -             -                -             -             -             -
   Aset pajak tangguhan                                               987          987         987           987              987           987           987           987
   Aset lain-lain                                                      49           49          49                49               49            49            49            49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                                           7.550        7.550        7.550         7.550            7.550         7.550         7.550         7.550
 JUMLAH ASET                                                       97.299       99.941      102.581      105.178           107.741      110.256       112.752       115.194


 LIABILITAS DAN EKUITAS
 LIABILITAS
 LIABILITAS JANGKA PENDEK
   Utang usaha                                                         56           56          56                56               56            56            56            56
   Utang lain-lain                                                     50           47          45                43               41            39            37            35



    Halaman 123                                                                                                        00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 125
                         Laporan Posisi Keuangan      2051 P       2052 P       2053 P       2054 P          2055 P       2056 P       2057 P       2058 P
  Biaya yang masih harus dibayar                         284           269         256           243             231          219          208          198
  Utang pajak                                            176           176         176           176             176          176          176          176
  Uang muka penjualan                                   4.374        4.227        4.107         3.980           3.856        3.727        3.621        3.509
  Liabilitas sewa (jk pendek)                            366           366         366           366             366          366          366          366
  Bank (jk pendek)                                             -            -            -            -               -            -            -            -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                         5.306        5.141        5.006         4.864           4.726        4.582        4.465        4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas sewa (jk panjang)                                 -            -            -            -               -            -            -            -
  Bank (jk panjang)                                            -            -            -            -               -            -            -            -
  Liabilitas imbalan kerja                                 2                2        2                2               2            2            2            2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                           2                2        2                2               2            2            2            2
Jumlah Liabilitas                                       5.308        5.143        5.008         4.866           4.728        4.584        4.466        4.342


EKUITAS
  Modal saham                                         16.536        16.536       16.536        16.536          16.536       16.536       16.536       16.536
  Agio saham                                          32.845        32.845       32.845        32.845          32.845       32.845       32.845       32.845
  Agio waran                                             322           322         322           322             322          322          322          322
  Pendapatan komprehensif lain                          (440)         (440)       (440)         (440)           (440)        (440)        (440)        (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)                    42.622        45.429       48.204        50.943          53.644       56.303       58.917       61.483
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali   91.885        94.691       97.466      100.206          102.907     105.565      108.179      110.746
  Kepentingan non-pengendali                             107           107         107           107             107          107          107          107
Jumlah Ekuitas                                        91.991        94.798       97.573      100.312          103.013     105.672      108.286      110.853
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                         97.299        99.941      102.581      105.178          107.741     110.256      112.752      115.194




   Halaman 124                                                                                            00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 126
Tabel 34. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
                                                                                                                                                          (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi            2026 P        2027 P     2028 P     2029 P     2030 P     2031 P     2032 P       2033 P       2034 P     2035 P     2036 P
 Penjualan                                 22.347        42.377     41.063     39.790     38.556     37.361     36.203       35.081       33.993     32.939     31.918
 Beban pokok penjualan                     (7.411)      (21.863)   (22.979)   (22.786)   (22.278)   (21.292)   (19.216)     (18.446)     (17.584)   (16.757)   (15.968)
 Laba (Rugi) Kotor                         14.937        20.514     18.084     17.004     16.278     16.070     16.987       16.635       16.410     16.182    15.950
 Beban usaha (umum dan administrasi)      (6.911)       (18.575)   (18.198)   (17.607)   (17.356)   (16.669)   (14.324)     (14.113)     (13.723)   (13.345)   (12.979)
 Pendapatan (beban) lain-lain                       -          -          -          -          -          -            -            -          -          -            -
 Laba (Rugi) Usaha                          8.026         1.939       (114)      (603)    (1.078)      (599)     2.663        2.522        2.687      2.838      2.971
 Pendapatan keuangan                           10            23         30         39         49         60         72           82           92        104        115
 Beban keuangan                                     -       (18)        (9)        (5)        (2)        (1)        (1)          (0)          (0)        (0)        (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan      8.035         1.943        (93)      (569)    (1.031)      (541)     2.734        2.603        2.779      2.941      3.086
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                                (160)         (428)          -          -          -          -      (601)        (573)        (611)      (647)      (679)
   Pajak tangguhan                        (1.510)              -          -          -          -          -            -            -          -          -            -
 Jumlah                                  (1.669)           (428)          -          -          -          -      (601)        (573)        (611)      (647)      (679)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                 6.366         1.516        (93)      (569)    (1.031)      (541)    2.132        2.031         2.168      2.294      2.407




    Halaman 125                                                                                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 127
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
                                                                                                                                                     (Dalam Jutaan Rupiah)
 Laporan Laba Rugi                        2037 P     2038 P     2039 P     2040 P     2041 P     2042 P     2043 P     2044 P     2045 P       2045 P    2046 P    2047 P
 Penjualan                                30.929     29.970     29.041     28.141     27.268     26.423     25.604     24.810     24.041       24.041    23.296    22.574
 Beban pokok penjualan                   (15.218)   (14.504)   (13.826)   (13.182)   (12.570)   (11.989)   (11.436)   (10.912)   (10.413)     (10.413)   (9.940)   (9.490)
 Laba (Rugi) Kotor                        15.711     15.466     15.214     14.958     14.698     14.434     14.167     13.899    13.628        13.628    13.356    13.084
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (12.624)   (12.280)   (11.947)   (11.624)   (11.311)   (11.008)   (10.714)   (10.429)   (10.153)     (10.153)   (9.886)   (9.627)
 Pendapatan (beban) lain-lain                   -          -          -          -          -          -          -          -            -          -         -         -
 Laba (Rugi) Usaha                         3.087      3.186      3.268      3.335      3.387      3.427      3.454      3.469     3.475         3.475     3.470     3.457
 Pendapatan keuangan                         127        139        152        164        177        190        203        216        228          228       241       254
 Beban keuangan                               (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)          (0)       (0)       (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     3.214      3.325      3.420      3.499      3.564      3.616      3.656      3.685      3.703        3.703     3.712     3.711
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                               (707)      (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)        (815)     (817)    (816)
   Pajak tangguhan                              -          -          -          -          -          -          -          -            -          -         -         -
 Jumlah                                     (707)      (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)        (815)     (817)    (816)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                2.507      2.594      2.667      2.729      2.780      2.821      2.852      2.874      2.888        2.888     2.895     2.895




    Halaman 126                                                                                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 128
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
                                                                                                                                                      (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2048 P       2049 P       2050 P       2051 P       2052 P       2053 P       2054 P       2055 P       2056 P       2057 P       2058 P
 Penjualan                               21.874       21.196       20.539       19.902       19.285       18.687       18.108       17.547       17.003       16.476       15.965
 Beban pokok penjualan                   (9.062)      (8.656)      (8.270)      (7.904)      (7.556)      (7.225)      (6.911)      (6.612)      (6.329)      (6.059)      (5.804)
 Laba (Rugi) Kotor                       12.812       12.540       12.268       11.998       11.729       11.462       11.197       10.934       10.674       10.416       10.161
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (9.376)      (9.133)      (8.897)      (8.669)      (8.447)      (8.233)      (8.025)      (7.824)      (7.629)      (7.439)      (7.256)
 Pendapatan (beban) lain-lain                     -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -
 Laba (Rugi) Usaha                         3.436        3.407        3.371        3.329        3.282        3.229        3.172        3.110        3.045        2.977       2.905
 Pendapatan keuangan                        267          279          292          304          316          328          340          352          363          375          386
 Beban keuangan                              (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)          (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     3.703        3.686        3.663        3.634        3.598        3.558        3.512        3.462        3.409        3.351       3.291
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
   Pajak kini                              (815)        (811)        (806)        (799)        (792)        (783)        (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
   Pajak tangguhan                                -            -            -            -            -            -            -            -            -            -            -
 Jumlah                                    (815)        (811)        (806)        (799)        (792)        (783)        (773)        (762)        (750)        (737)        (724)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                2.888        2.875        2.857        2.834        2.807        2.775        2.740        2.701        2.659        2.614       2.567




    Halaman 127                                                                                                                 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 129
Tabel 35. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                            (Dalam Jutaan Rupiah)
              Laporan Posisi Keuangan        2026 P    2027 P    2028 P    2029 P    2030 P       2031 P       2032 P       2033 P       2034 P    2035 P    2036 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                               95.854    78.294    60.908    44.210    27.661       31.612       42.613       54.517       67.103    80.352    94.226
   Piutang usaha                                 721      699       675       656       636          616          595          578          560       543       525
   Piutang lain-lain - pihak ketiga               10       10        10        10         10          10           10           10           10        10        10
   Persediaan                                 20.353    22.559    22.870    22.353    21.503       20.540       19.561       18.602       17.680    16.799    15.961
   Uang muka                                     222      201       211       210       204          196          186          178          169       161       152
   Biaya dibayar dimuka                          338      305       321       320       310          297          283          270          257       244       231
   Pajak dibayar dimuka                           57       57        57        57         57          57           57           57           57        57        57
 Jumlah Aset Lancar                          117.555   102.126    85.052    67.816    50.381       53.329       63.305       74.212       85.836    98.166   111.162
 ASET TIDAK LANCAR                                 -         -         -         -            -            -            -            -         -         -          -
   Aset tetap - bersih                        19.916    17.642    15.063    12.177     8.986        6.208        6.514        6.514        6.514     6.514     6.514
   Aset tak berwujud                               -         -         -         -            -            -            -            -         -         -          -
   Aset hak guna usaha                           474         -         -         -            -            -            -            -         -         -          -
   Penyertaan pada konsorsium                131.021   131.021   131.021   131.021   131.021      131.021      131.021      131.021      131.021   131.021   131.021
   Aset pajak tangguhan                          987      987       987       987       987          987          987          987          987       987       987
   Aset lain-lain                                 49       49        49        49         49          49           49           49           49        49        49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                    152.448   149.700   147.120   144.235   141.044      138.265      138.571      138.571      138.571   138.571   138.571
 JUMLAH ASET                                 270.003   251.825   232.172   212.051   191.425      191.594      201.876      212.782      224.407   236.737   249.733
                                                   -         -         -         -         -            -            -            -            -         -         -
 LIABILITAS DAN EKUITAS                            -         -         -         -         -            -            -            -            -         -         -
 LIABILITAS                                        -         -         -         -            -            -            -            -         -         -          -
 LIABILITAS JANGKA PENDEK                          -         -         -         -            -            -            -            -         -         -          -
   Utang usaha                                    56       56        56        56         56          56           56           56           56        56        56



    Halaman 128                                                                                                    00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 130
            Laporan Posisi Keuangan        2026 P     2027 P     2028 P     2029 P      2030 P        2031 P       2032 P       2033 P       2034 P     2035 P     2036 P
  Utang lain-lain                              157        142        149        149         144           139          132          126          120        114        108
  Biaya yang masih harus dibayar               891        806        846        844         819           785          747          713          678        644        610
  Utang pajak                                  176        176        176        176         176           176          176          176          176        176        176
  Uang muka penjualan                        9.611      9.314      9.000      8.745       8.474         8.211        7.935        7.710        7.471      7.239      6.996
  Liabilitas sewa (jk pendek)                  366        366        366        366         366           366          366          366          366        366        366
  Bank (jk pendek)                                -          -          -          -             -             -            -            -          -          -          -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek             11.259     10.860     10.594     10.337      10.036         9.733        9.412        9.147        8.867      8.595      8.312
LIABILITAS JANGKA PANJANG                         -          -          -          -             -             -            -            -          -          -          -
  Liabilitas sewa (jk panjang)                    -          -          -          -             -             -            -            -          -          -          -
  Utang Bank Baru                          238.220    238.220    238.220    238.220     238.220       238.220      238.220      238.220      238.220    238.220    238.220
  Bank (jk panjang)                               -          -          -          -             -             -            -            -          -          -          -
  Liabilitas imbalan kerja                       2          2          2          2              2             2            2            2         2          2          2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang           238.222    238.222    238.222    238.222     238.222       238.222      238.222      238.222      238.222    238.222    238.222
Jumlah Liabilitas                          249.481    249.082    248.816    248.559     248.258       247.955      247.634      247.369      247.089    246.817    246.534
                                                 -          -          -          -           -             -            -            -            -          -          -
EKUITAS                                          -          -          -          -           -             -            -            -            -          -          -
  Modal saham                               16.536     16.536     16.536     16.536      16.536        16.536       16.536       16.536       16.536     16.536     16.536
  Agio saham                                32.845     32.845     32.845     32.845      32.845        32.845       32.845       32.845       32.845     32.845     32.845
  Agio waran                                   322        322        322        322         322           322          322          322          322        322        322
  Pendapatan komprehensif lain                (440)      (440)      (440)      (440)       (440)         (440)        (440)        (440)        (440)      (440)      (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)         (28.847)   (46.626)   (66.013)   (85.877)   (106.202)     (105.730)     (95.127)     (83.956)     (72.051)   (59.450)   (46.171)
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
                                            20.416      2.637    (16.751)   (36.614)    (56.939)      (56.468)     (45.864)     (34.693)     (22.789)   (10.188)     3.092
pengendali
  Kepentingan non-pengendali                   107        107        107        107         107           107          107          107          107        107        107
Jumlah Ekuitas                              20.522      2.743    (16.644)   (36.508)    (56.833)      (56.361)     (45.758)     (34.587)     (22.682)   (10.081)     3.199
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS              270.003    251.825    232.172    212.051     191.425       191.594      201.876      212.782      224.407    236.737    249.733




   Halaman 129                                                                                                          00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 131
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                      (Dalam Jutaan Rupiah)
                Laporan Posisi Keuangan         2037 P    2038 P    2039 P    2040 P    2041 P     2042 P    2043 P    2044 P    2045 P    2046 P    2047 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                                108.742    123.794   146.030   178.319   (22.858)    35.472    94.422   153.274   211.795   269.820   327.202
   Piutang usaha                                   510       494       479       463        449       436       422       408       396       384       372
   Piutang lain-lain - pihak ketiga                  10       10        10        10         10        10        10        10        10        10        10
   Persediaan                                    15.163    14.405    13.685    13.001    12.351     11.733    11.147    10.589    10.060     9.557     9.079
   Uang muka                                       145       138       131       124        118       112       107       101        96        91        87
   Biaya dibayar dimuka                            220       209       199       188        179       170       162       153       146       139       132
   Pajak dibayar dimuka                              57       57        57        57         57        57        57        57        57        57        57
 Jumlah Aset Lancar                            124.847    139.108   160.590   192.162    (9.693)    47.991   106.326   164.593   222.560   280.058   336.939
 ASET TIDAK LANCAR                                    -         -         -         -          -         -         -         -         -         -         -
   Aset tetap - bersih                            6.514     6.514     6.514     6.514     6.514      6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514
   Aset tak berwujud                                  -         -         -         -          -         -         -         -         -         -         -
   Aset hak guna usaha                                -         -         -         -          -         -         -         -         -         -         -
   Penyertaan pada konsorsium                  131.021    131.021   131.021   131.021   131.021    131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021
   Aset pajak tangguhan                            987       987       987       987        987       987       987       987       987       987       987
   Aset lain-lain                                    49       49        49        49         49        49        49        49        49        49        49
 Jumlah Aset Tidak Lancar                      138.571    138.571   138.571   138.571   138.571    138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571
 JUMLAH ASET                                   263.418    277.678   299.161   330.733   128.877    186.561   244.897   303.163   361.131   418.629   475.510
                                                     -          -         -         -         -          -         -         -         -         -         -
 LIABILITAS DAN EKUITAS                              -          -         -         -         -          -         -         -         -         -         -
 LIABILITAS                                           -         -         -         -          -         -         -         -         -         -         -
 LIABILITAS JANGKA PENDEK                             -         -         -         -          -         -         -         -         -         -         -
   Utang usaha                                       56       56        56        56         56        56        56        56        56        56        56



    Halaman 130                                                                                                  00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 132
               Laporan Posisi Keuangan     2037 P     2038 P     2039 P    2040 P    2041 P    2042 P    2043 P    2044 P    2045 P    2046 P    2047 P
    Utang lain-lain                            103         97        93        88        84        79        75        71        68        65        61
    Biaya yang masih harus dibayar             581        552       525       497       474       450       427       405       386       366       348
    Utang pajak                                176        176       176       176       176       176       176       176       176       176       176
    Uang muka penjualan                      6.798      6.587      6.383     6.168     5.993     5.807     5.627     5.438     5.284     5.120     4.961
    Liabilitas sewa (jk pendek)                366        366       366       366       366       366       366       366       366       366       366
    Bank (jk pendek)                              -          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek              8.080      7.835      7.598     7.351     7.148     6.935     6.728     6.513     6.336     6.149     5.969
LIABILITAS JANGKA PANJANG                         -          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -
    Liabilitas sewa (jk panjang)                  -          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -
-   Utang Bank Baru                        238.220    238.220    238.220   238.220         -         -         -         -         -         -         -
    Bank (jk panjang)                             -          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -
    Liabilitas imbalan kerja                     2          2         2         2         2         2         2         2         2         2         2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang           238.222    238.222    238.222   238.222        2         2         2         2         2         2         2
Jumlah Liabilitas                          246.302    246.057    245.820   245.573     7.150     6.937     6.730     6.514     6.338     6.151     5.971
                                                 -          -          -         -         -         -         -         -         -         -         -
EKUITAS                                          -          -          -         -         -         -         -         -         -         -         -
    Modal saham                             16.536     16.536     16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536
    Agio saham                              32.845     32.845     32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845
    Agio waran                                 322        322       322       322       322       322       322       322       322       322       322
    Pendapatan komprehensif lain              (440)      (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)         (32.253)   (17.748)     3.971    35.791    72.358   130.255   188.798   247.280   305.424   363.108   420.169
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
                                            17.009     31.515     53.234    85.053   121.620   179.518   238.060   296.542   354.687   412.371   469.432
pengendali
  Kepentingan non-pengendali                   107        107       107       107       107       107       107       107       107       107       107
Jumlah Ekuitas                              17.116     31.621     53.341    85.160   121.727   179.625   238.167   296.649   354.793   412.477   469.539
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS              263.418    277.678    299.161   330.733   128.877   186.561   244.897   303.163   361.131   418.629   475.510




     Halaman 131                                                                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 133
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                          (Dalam Jutaan Rupiah)
        Laporan Posisi Keuangan       2048 P    2049 P    2050 P    2051 P    2052 P    2053 P    2054 P    2055 P     2056 P   2057 P     2058 P
 ASET
 ASET LANCAR
   Kas dan bank                       383.814   439.066   492.669   545.176   596.743   647.385   697.125   746.242   795.112   841.270    863.583
   Piutang usaha                         360       349       339       328       317       308       298       289        279      272         263
   Piutang lain-lain - pihak ketiga       10        10        10        10        10        10        10        10         10       10          10
   Persediaan                           8.625     8.194     7.784     7.395     7.025     6.674     6.340     6.023     5.722     5.436       5.164
   Uang muka                              82        78        74        71        67        64        61        58         55       52          49
   Biaya dibayar dimuka                  125       119       113       107       102        97        92        87         83       79          75
   Pajak dibayar dimuka                   57        57        57        57        57        57        57        57         57       57          57
 Jumlah Aset Lancar                   393.073   447.874   501.046   553.145   604.321   654.595   703.983   752.767   801.318   847.175    869.201
 ASET TIDAK LANCAR                          -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
   Aset tetap - bersih                  6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514     6.514       6.514
   Aset tak berwujud                        -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
   Aset hak guna usaha                      -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
   Penyertaan pada konsorsium         131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021   131.021    131.021
   Aset pajak tangguhan                  987       987       987       987       987       987       987       987        987      987         987
   Aset lain-lain                         49        49        49        49        49        49        49        49         49       49          49
 Jumlah Aset Tidak Lancar             138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571   138.571    138.571
 JUMLAH ASET                          531.644   586.444   639.617   691.715   742.891   793.166   842.554   891.338   939.888   985.746   1.007.772
                                            -         -         -         -         -         -         -         -         -         -           -
 LIABILITAS DAN EKUITAS                     -         -         -         -         -         -         -         -         -         -           -
 LIABILITAS                                 -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
 LIABILITAS JANGKA PENDEK                   -         -         -         -         -         -         -         -         -         -             -
   Utang usaha                            56        56        56        56        56        56        56        56         56       56          56



    Halaman 132                                                                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 134
     Laporan Posisi Keuangan         2048 P    2049 P    2050 P    2051 P    2052 P    2053 P    2054 P    2055 P     2056 P    2057 P     2058 P
  Utang lain-lain                        58        55        53        50        47        45        43        41         39        37          35
  Biaya yang masih harus dibayar        330       314       298       284       269       256       243       231        219       208         198
  Utang pajak                           176       176       176       176       176       176       176       176        176       176         176
  Uang muka penjualan                  4.794     4.658     4.514     4.374     4.227     4.107     3.980     3.856     3.727      3.621      3.509
  Liabilitas sewa (jk pendek)           366       366       366       366       366       366       366       366        366       366         366
  Bank (jk pendek)                         -         -         -         -         -         -         -         -          -         -             -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek        5.781     5.626     5.463     5.306     5.141     5.006     4.864     4.726     4.582      4.465      4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG                  -         -         -         -         -         -         -         -          -         -             -
  Liabilitas sewa (jk panjang)             -         -         -         -         -         -         -         -          -         -             -
  Utang Bank Baru                          -         -         -         -         -         -         -         -          -         -             -
  Bank (jk panjang)                        -         -         -         -         -         -         -         -          -         -             -
  Liabilitas imbalan kerja                2         2         2         2         2         2         2         2          2         2              2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang          2         2         2         2         2         2         2         2          2         2              2
Jumlah Liabilitas                      5.782     5.628     5.465     5.308     5.143     5.008     4.866     4.728     4.584      4.466      4.342
                                           -         -         -         -         -         -         -         -         -          -          -
EKUITAS                                    -         -         -         -         -         -         -         -         -          -          -
  Modal saham                         16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536    16.536     16.536     16.536
  Agio saham                          32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845    32.845     32.845     32.845
  Agio waran                            322       322       322       322       322       322       322       322        322       322         322
  Pendapatan komprehensif lain         (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)     (440)      (440)     (440)       (440)
  Defisit / Laba ditahan (Defisit)   476.492   531.447   584.782   637.038   688.379   738.788   788.319   837.240   885.935    931.910    954.061
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
                                     525.755   580.710   634.045   686.301   737.642   788.051   837.581   886.503   935.198    981.173   1.003.324
kepada pengendali
  Kepentingan non-pengendali            107       107       107       107       107       107       107       107        107       107         107
Jumlah Ekuitas                       525.861   580.816   634.152   686.408   737.748   788.158   837.688   886.609   935.304    981.280   1.003.430
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS        531.644   586.444   639.617   691.715   742.891   793.166   842.554   891.338   939.888    985.746   1.007.772




   Halaman 133                                                                                                       00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 135
Tabel 36. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)

                                                                                                                                                     (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2026 P     2027 P     2028 P     2029 P     2030 P     2031 P     2032 P     2033 P     2034 P     2035 P      2036 P    2037 P
 Penjualan                                43.732     42.377     41.063     39.790     38.556     37.361     36.203     35.081     33.993     32.939     31.918     30.929
 Dividend Income                                -          -          -          -          -    20.307     27.766     28.435     29.031     29.602     30.167     30.705
 Beban pokok penjualan                   (23.850)   (21.863)   (22.979)   (22.786)   (22.278)   (21.292)   (19.216)   (18.446)   (17.584)   (16.757)   (15.968)   (15.218)
 Laba (Rugi) Kotor                        19.882     20.514     18.084     17.004     16.278     36.376     44.753     45.070     45.441     45.784     46.117     46.415
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (18.870)   (18.575)   (18.198)   (17.607)   (17.356)   (16.669)   (14.324)   (14.113)   (13.723)   (13.345)   (12.979)   (12.624)
 Pendapatan (beban) lain-lain                   -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
 Laba (Rugi) Usaha                         1.012      1.939       (114)      (603)    (1.078)    19.707     30.428     30.957     31.718     32.439     33.138     33.792
 Beban Bunga                             (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)
 Pendapatan keuangan                          12         23         30         39         49         60         72         82         92        104        115        127
 Beban keuangan                              (37)       (18)        (9)        (5)        (2)        (1)        (1)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan   (18.307)   (17.351)   (19.388)   (19.863)   (20.325)       472     11.205     11.744     12.516     13.248     13.959     14.624
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan              -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
   Pajak kini                               (217)      (428)          -          -          -          -      (601)      (573)      (611)      (647)      (679)      (707)
   Pajak tangguhan                              -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -          -
 Jumlah                                     (217)      (428)          -          -          -          -      (601)      (573)      (611)      (647)      (679)      (707)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan              (18.524)   (17.779)   (19.388)   (19.863)   (20.325)       472     10.603     11.171     11.904     12.601     13.280     13.917




    Halaman 134                                                                                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 136
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)
                                                                                                                                                     (Dalam Jutaan Rupiah)
             Laporan Laba Rugi           2038 P     2039 P     2040 P     2041 P     2042 P     2043 P     2044 P     2045 P     2046 P    2047 P    2048 P    2049 P
 Penjualan                                29.970     29.041     28.141     27.268     26.423     25.604     24.810     24.041    23.296    22.574    21.874    21.196
 Dividend Income                          31.207     38.346     48.384     53.081     55.077     55.690     55.608     55.256    54.789    54.167    53.434    52.080
 Beban pokok penjualan                   (14.504)   (13.826)   (13.182)   (12.570)   (11.989)   (11.436)   (10.912)   (10.413)   (9.940)   (9.490)   (9.062)   (8.656)
 Laba (Rugi) Kotor                        46.672     53.561     63.343     67.779     69.511     69.858     69.506     68.884    68.145    67.250    66.246    64.619
 Beban usaha (umum dan administrasi)     (12.280)   (11.947)   (11.624)   (11.311)   (11.008)   (10.714)   (10.429)   (10.153)   (9.886)   (9.627)   (9.376)   (9.133)
 Pendapatan (beban) lain-lain                   -          -          -          -          -          -          -          -         -         -         -         -
 Laba (Rugi) Usaha                        34.392     41.614     51.719     56.469     58.504     59.144     59.077     58.731    58.259    57.624    56.870    55.487
 Beban Bunga                             (19.294)   (19.294)   (19.294)   (19.294)          -          -          -          -         -         -         -         -
 Pendapatan keuangan                         139        152        164        177        190        203        216        228       241       254       267       279
 Beban keuangan                               (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)        (0)       (0)       (0)       (0)       (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan    15.237     22.472     32.589     37.351     58.693     59.347     59.293     58.959    58.501    57.878    57.137    55.766
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan              -          -          -          -          -          -          -          -         -         -         -         -
   Pajak kini                               (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)    (817)     (816)      (815)    (811)
   Pajak tangguhan                              -          -          -          -          -          -          -          -         -         -         -         -
 Jumlah                                     (732)      (752)      (770)      (784)      (796)      (804)      (811)      (815)    (817)     (816)      (815)    (811)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan               14.506     21.719     31.819     36.567     57.898     58.542     58.482     58.144    57.684    57.061    56.322    54.955




    Halaman 135                                                                                                             00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 137
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)
                                                                                                                                                           (Dalam Jutaan Rupiah)
                Laporan Laba Rugi         2050 P       2051 P       2052 P       2053 P       2054 P       2055 P    2056 P         2057 P       2058 P
 Penjualan                                 20.539       19.902      19.285       18.687       18.108       17.547    17.003          16.476      15.965
 Dividend Income                           50.478       49.422      48.534       47.634       46.791       46.221    46.036          43.361      19.584
 Beban pokok penjualan                     (8.270)      (7.904)     (7.556)      (7.225)      (6.911)      (6.612)   (6.329)         (6.059)     (5.804)
 Laba (Rugi) Kotor                         62.746       61.420      60.263       59.096       57.988       57.155    56.710          53.777      29.745
 Beban usaha (umum dan administrasi)       (8.897)      (8.669)     (8.447)      (8.233)      (8.025)      (7.824)   (7.629)         (7.439)     (7.256)
 Pendapatan (beban) lain-lain                      -            -            -            -            -         -            -              -         -
 Laba (Rugi) Usaha                         53.850       52.751      51.816       50.863       49.963       49.331    49.081          46.338      22.489
 Beban Bunga                                       -            -            -            -            -         -            -              -         -
 Pendapatan keuangan                          292          304         316          328          340          352       363             375         386
 Beban keuangan                                (0)          (0)         (0)          (0)          (0)          (0)       (0)             (0)         (0)
 Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan     54.141       53.055      52.132       51.192       50.303       49.683    49.445          46.713      22.875
 Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                 -            -            -            -            -         -            -              -         -
   Pajak kini                                (806)       (799)        (792)        (783)        (773)        (762)     (750)          (737)        (724)
   Pajak tangguhan                                 -            -            -            -            -         -            -              -         -
 Jumlah                                      (806)       (799)        (792)        (783)        (773)        (762)     (750)          (737)        (724)
 Laba (Rugi) Tahun Berjalan                53.336       52.256      51.341       50.409       49.530       48.921    48.695          45.975      22.151




    Halaman 136                                                                                                                   00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 138
Tabel 37. Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                                  (Dalam Jutaan Rupiah)
                         2026 P       2027 P       2028 P       2029 P       2030 P       2031 P   2032 P   2033 P   2034 P     2035 P   2036 P   2037 P    2038 P
 Before
 Penjualan                43.732       42.377       41.063       39.790       38.556      37.361   36.203   35.081   33.993     32.939   31.918    30.929   29.970
 Laba (Rugi) Kotor        19.882       20.514       18.084       17.004       16.278      16.070   16.987   16.635   16.410     16.182   15.950    15.711   15.466
 Laba (Rugi) Usaha         1.017        1.939         (114)        (603)      (1.078)      (599)    2.663    2.522    2.687      2.838    2.971     3.087    3.186
 Laba Sebelum Pajak          890        1.943          (93)        (569)      (1.031)      (541)    2.734    2.603    2.779      2.941    3.086     3.214    3.325
 EBIT                        890        1.943          (93)        (569)      (1.031)      (541)    2.734    2.603    2.779      2.941    3.086     3.214    3.325
 EBITDA                    4.999        6.052        4.015        3.539        3.077       2.849    2.734    2.603    2.779      2.941    3.086     3.214    3.325
 After BL
 Penjualan                43.732       42.377       41.063       39.790       38.556      57.668   63.969   63.516   63.024     62.541   62.085    61.633   61.177
 Laba (Rugi) Kotor        19.882       20.514       18.084       17.004       16.278      36.376   44.753   45.070   45.441     45.784   46.117    46.415   46.672
 Laba (Rugi) Usaha         1.012        1.939         (114)        (603)      (1.078)     19.707   30.428   30.957   31.718     32.439   33.138    33.792   34.392
 Laba Sebelum Pajak      (18.307)     (17.351)     (19.388)     (19.863)     (20.325)        472   11.205   11.744   12.516     13.248   13.959    14.624   15.237
 EBIT                        987        1.943          (93)        (569)      (1.031)     19.766   30.499   31.039   31.810     32.543   33.253    33.919   34.532
 EBITDA                    6.076        7.137        4.932        4.762        4.606      24.990   32.639   33.484   34.256     34.988   35.699    36.364   36.977
 Before - After BL
 Penjualan                        -            -            -            -            -   20.307   27.766   28.435   29.031     29.602   30.167    30.705   31.207
 Laba (Rugi) Kotor                -            -            -            -            -   20.307   27.766   28.435   29.031     29.602   30.167    30.705   31.207
 Laba (Rugi) Usaha            (5)              -            -            -            -   20.307   27.766   28.435   29.031     29.602   30.167    30.705   31.207
 Laba Sebelum Pajak      (19.198)     (19.294)     (19.294)     (19.294)     (19.294)      1.012    8.471    9.141    9.737     10.307   10.872    11.410   11.912
 EBIT                         97               -         0               -        (0)     20.307   27.766   28.435   29.031     29.602   30.167    30.705   31.207
 EBITDA                    1.078        1.086          917        1.223        1.529      22.141   29.906   30.881   31.477     32.047   32.612    33.150   33.652




    Halaman 137                                                                                                               00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 139
Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                                                  (Dalam Jutaan Rupiah)
                          2039 P    2040 P   2041 P    2042 P   2043 P   2044 P   2045 P   2046 P   2047 P   2048 P   2049 P   2050 P   2051 P   2052 P
 Before
 Penjualan                 29.041   28.141    27.268   26.423   25.604   24.810   24.041   23.296   22.574   21.874   21.196   20.539   19.902   19.285
 Laba (Rugi) Kotor         15.214   14.958    14.698   14.434   14.167   13.899   13.628   13.356   13.084   12.812   12.540   12.268   11.998   11.729
 Laba (Rugi) Usaha          3.268    3.335     3.387    3.427    3.454    3.469    3.475    3.470    3.457    3.436    3.407    3.371    3.329    3.282
 Laba Sebelum Pajak         3.420    3.499     3.564    3.616    3.656    3.685    3.703    3.712    3.711    3.703    3.686    3.663    3.634    3.598
 EBIT                       3.420    3.499     3.564    3.616    3.656    3.685    3.703    3.712    3.711    3.703    3.686    3.663    3.634    3.598
 EBITDA                     3.420    3.499     3.564    3.616    3.656    3.685    3.703    3.712    3.711    3.703    3.686    3.663    3.634    3.598
 After BL
 Penjualan                 67.387   76.525    80.350   81.500   81.294   80.418   79.297   78.085   76.740   75.308   73.275   71.017   69.324   67.819
 Laba (Rugi) Kotor         53.561   63.343    67.779   69.511   69.858   69.506   68.884   68.145   67.250   66.246   64.619   62.746   61.420   60.263
 Laba (Rugi) Usaha         41.614   51.719    56.469   58.504   59.144   59.077   58.731   58.259   57.624   56.870   55.487   53.850   52.751   51.816
 Laba Sebelum Pajak        22.472   32.589    37.351   58.693   59.347   59.293   58.959   58.501   57.878   57.137   55.766   54.141   53.055   52.132
 EBIT                      41.766   51.883    56.646   58.693   59.347   59.293   58.959   58.501   57.878   57.137   55.766   54.141   53.055   52.132
 EBITDA                    44.212   54.329    59.091   61.139   61.792   61.738   61.405   60.946   60.323   59.583   58.212   56.587   55.501   54.578
 Before - After BL
 Penjualan                 38.346   48.384    53.081   55.077   55.690   55.608   55.256   54.789   54.167   53.434   52.080   50.478   49.422   48.534
 Laba (Rugi) Kotor         38.346   48.384    53.081   55.077   55.690   55.608   55.256   54.789   54.167   53.434   52.080   50.478   49.422   48.534
 Laba (Rugi) Usaha         38.346   48.384    53.081   55.077   55.690   55.608   55.256   54.789   54.167   53.434   52.080   50.478   49.422   48.534
 Laba Sebelum Pajak        19.052   29.090    33.787   55.077   55.690   55.608   55.256   54.789   54.167   53.434   52.080   50.478   49.422   48.534
 EBIT                      38.346   48.384    53.081   55.077   55.690   55.608   55.256   54.789   54.167   53.434   52.080   50.478   49.422   48.534
 EBITDA                    40.792   50.830    55.527   57.523   58.136   58.053   57.702   57.235   56.612   55.880   54.525   52.924   51.867   50.980




    Halaman 138                                                                                                00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 140
Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
                                                                                                         (Dalam Jutaan Rupiah)
                               2053 P    2054 P     2055 P   2056 P   2057 P   2058 P
 Before
 Penjualan                     18.687    18.108     17.547   17.003   16.476   15.965
 Laba (Rugi) Kotor             11.462    11.197     10.934   10.674   10.416   10.161
 Laba (Rugi) Usaha              3.229     3.172      3.110    3.045    2.977    2.905
 Laba Sebelum Pajak             3.558     3.512      3.462    3.409    3.351    3.291
 EBIT                           3.558     3.512      3.462    3.409    3.351    3.291
 EBITDA                         3.558     3.512      3.462    3.409    3.351    3.291
 After BL
 Penjualan                     66.321    64.899     63.767   63.039   59.837   35.549
 Laba (Rugi) Kotor             59.096    57.988     57.155   56.710   53.777   29.745
 Laba (Rugi) Usaha             50.863    49.963     49.331   49.081   46.338   22.489
 Laba Sebelum Pajak            51.192    50.303     49.683   49.445   46.713   22.875
 EBIT                          51.192    50.303     49.683   49.445   46.713   22.875
 EBITDA                        53.638    52.749     52.129   51.891   49.158   25.320
 Before - After BL
 Penjualan                     47.634    46.791     46.221   46.036   43.361   19.584
 Laba (Rugi) Kotor             47.634    46.791     46.221   46.036   43.361   19.584
 Laba (Rugi) Usaha             47.634    46.791     46.221   46.036   43.361   19.584
 Laba Sebelum Pajak            47.634    46.791     46.221   46.036   43.361   19.584
 EBIT                          47.634    46.791     46.221   46.036   43.361   19.584
 EBITDA                        50.080    49.237     48.666   48.482   45.807   22.030




    Halaman 139                                                                         00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 141

          

File

File Open PDF
Source IDX
Size6.23 MB
Published28 Sep 2026
Pages141
Characters423,662
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 0 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

The name pass has not read this document yet.

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 7465 ms 29 Sep 2026 11:11

missing: transaction_date, object_text

Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result