Back to announcement
20260924_SOFA_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_32150856_lamp7.pdf
Asset transaction Needs review SOFASource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 141
Page 1
Page 2
Kantor Jasa Penilai Publik The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Property, Business Valuation & Advisory Website: www.fdipartners.co
Licence No. 2.22.0176 Phone (62 21) 27875911
KMK 460/KM.1/2022
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Jakarta, 28 September 2026
Kepada Yth,
PT Solusi Environment Asia Tbk
Sequis Center Lantai 3, Unit 305,
Jl. Jenderal Sudirman No. 71, Senayan,
Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12190
No. Laporan : 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Hal : Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk
Dengan hormat,
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PENAMBAHAN KBLI PT SOLUSI ENVIRONMENT ASIA TBK
Berdasarkan Surat Penawaran No.025/FDI/PB-FS/VI/2026 tanggal 25 Juni 2026 KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT
Solusi Environment Asia Tbk (Selanjutnya disebut “Pemberi Tugas atau SOFA”) untuk melakukan Studi
Kelayakan Penambahan KBLI PT Solusi Environment Asia Tbk, per 30 Juni 2026 berupa penambahan
yaitu:
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
Sebelumnya kami telah menerbitkan laporan studi kelayakan dengan No. 00156/2.0176-
00/BS/04/0213/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus 2026, dan revisi laporan studi kelayakan dengan No.
00180/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026 tanggal 18 September 2026 sehubungan dengan surat
Otoritas Jasa Keuangan No. S-246/PM.211/2026 tanggal 28 Agustus 2026 dan asistensi yang
disampaikan OJK melalui surel pada 28 September 2026 kepada PT Solusi Environment Asia Tbk perihal
Perubahan dan/atau Tambahan Informasi Atas Studi Kelayakan Penambahan KBLI 64210 Aktivitas
Perusahaan Induk, dengan perubahan sesuai dengan surat OJK tersebut di atas dan atas perubahan-
perubahan tersebut tidak mempengaruhi terhadap opini pada studi kelayakan.
Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan Kegiatan
Usaha (KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada PT Solusi Environment Asia Tbk yang
diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan peraturan
perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK
35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilaian Indonesia
dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya.
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Tanggal Studi Kelayakan Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026. Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis Kelayakan Pasar; b. Analisis Kelayakan Teknis; c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis; d. Analisis Model Manajemen; dan e. Analisis Kelayakan Keuangan. Analisis atas Kelayakan Pasar Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara nasional didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah. Perseroan juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangan portofolio usaha. Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha, aspek pasar rencana kegiatan penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang investasi dan kondisi pasar yang berlaku. Analisis atas Kelayakan Teknis Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan kebutuhan pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada entitas dalam grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan. Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal pada WNA dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan oleh entitas operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan pengawasan arus dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan WNA dan WNG serta mitra teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam menyusun dan menyalurkan pendanaan sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak, didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian arus dana, pemantauan penggunaan dana, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Halaman 2 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 4
Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan kegiatan usaha ini memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup, khususnya dalam mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk selanjutnya digunakan sebagai setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan pada perusahaan operasional proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE). Kelayakan pola bisnis tersebut didukung oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang memberikan akses terhadap sumber pendanaan, pengalaman manajemen dalam pengelolaan usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana yang dapat dilakukan melalui entitas yang telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan entitas baru. Dari sisi penciptaan nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi dan koordinasi pendanaan grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup, serta membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki prospek pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris dalam bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal, pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah tersedia di Perseroan. Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan WNG melalui AEA sebagai entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, penerapan proses evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta pelaporan secara berkala dari entitas penerima, model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tetap memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kompleksitas kegiatan usaha Perseroan. Analisis atas Kelayakan Keuangan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang bersumber dari penerimaan atas penyaluran dana kepada entitas dalam grup melalui entitas anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA adalah layak untuk dijalankan. Halaman 3 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 5
Page 6
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR………..……………………………………………………………...…………………….1 DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 5 DAFTAR GRAFIK........................................................................................................................7 DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... 8 BAB I ................................................................................................................................. 9 PENDAHULUAN .......................................................................................................................9 1.1 Identitas Status Konsultan ................................................................................................ 9 1.2 Identitas Pemberi Tugas .................................................................................................. 9 1.3 Pengguna Laporan ......................................................................................................... 9 1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan ............................................... 9 1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan ................................................................................. 10 1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan .............................................................................. 10 1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) ......................................................................... 10 1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi....................................................................................... 10 1.9 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan ....................................................... 10 1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas ....................................................................................... 11 1.11 Asumsi Dan Asumsi Khusus ........................................................................................... 11 1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi .................................................................. 11 1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar ........... 12 1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan ............................................................. 12 1.15 Data dan Informasi Pendukung ..................................................................................... 12 1.16 Pernyataan Independensi Konsultan ............................................................................... 12 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) .............................. 13 BAB II ............................................................................................................................... 14 ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN ........................................................................ 14 2.1. Data dan Informasi....................................................................................................... 14 2.2. Pelaksanaan Wawancara .............................................................................................. 14 2.3. Gambaran Umum SOFA .............................................................................................. 14 2.4. Laporan Keuangan SOFA ............................................................................................. 24 2.5. Analisis Laporan Keuangan SOFA ................................................................................. 31 2.6. Prospek Usaha ............................................................................................................. 34 BAB III ............................................................................................................................... 36 ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................... 36 3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik ................................................................ 36 3.2. Kondisi Pasar ............................................................................................................... 41 3.3. Persaingan Pasar .......................................................................................................... 47 3.4. Strategi Pemasaran ....................................................................................................... 47 3.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ............................................................................. 48 BAB IV ............................................................................................................................... 49 ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................. 49 4.1. Bisnis Perusahaan ......................................................................................................... 49 4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Entitas Pembiayaan Conduit ................................................ 49 4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Pembiayaan Conduit .................................................... 51 4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium .................................................................................... 54 4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis .................................................................. 55 BAB V ............................................................................................................................... 57 ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 57 5.1 Kegiatan Utama Usaha ................................................................................................. 57 5.2 Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................................................... 58 5.3 Keunggulan Kompetitif .................................................................................................. 59 5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................... 60 5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai..................................................................................... 60 5.6 Analisis SWOT.............................................................................................................. 61 5.6.1 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis ............................................................ 63 Halaman 5 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 7
BAB VI ............................................................................................................................... 64 ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .............................................................................. 64 6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen .................................... 64 6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja ........................................................................................... 65 6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual .................................................................................. 65 6.4 Manajemen Risiko ........................................................................................................ 65 6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................ 67 6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ............................................................ 70 6.7 Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja ................................................................................. 71 6.8 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen ......................................................... 72 BAB VII ............................................................................................................................... 73 ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN ............................................................................... 73 7.1 Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 73 7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi ............................................................... 73 7.3 Proyeksi Keuangan Konsorsium ..................................................................................... 74 7.4 Analisis Profitabilitas ..................................................................................................... 76 7.5 Analisis Kelayakan Keuangan ........................................................................................ 77 7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak) ..................................................... 77 7.5.2 Terminal Value ............................................................................................................. 79 7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak) ............................. 79 7.6 Analisis Nilai Tambah ................................................................................................... 80 7.7 Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 85 7.8 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan ........................................................................ 87 BAB VIII ............................................................................................................................... 88 KESIMPULAN .......................................................................................................................... 88 8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar ........................................................................................ 88 8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis ....................................................................................... 88 8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis ................................................................................ 88 8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen .................................................................... 89 8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan ................................................................................. 89 8.6 Kesimpulan .................................................................................................................. 89 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................. 91 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................. 92 LAMPIRAN – LAMPIRAN ........................................................................................................... 94 Halaman 6 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 8
DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara ...................................................................... 36 Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy) .................................................. 38 Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %) ................................................................. 39 Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 39 Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar di Indonesia, 2020-Q2 2026 ........................................... 40 Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026 ........................................ 41 Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026 ................................................... 42 Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait .......................................................................... 44 Grafik 9. Struktur Kepemilikan pada Entitas Anak ......................................................................... 54 Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI ............................................ 70 Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI ................................ 71 Halaman 7 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 9
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64220 ........................................................................... 10
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA ................................................................................... 18
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah) ............................................. 25
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah) .................................................... 27
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah) ................................................................... 29
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan ................................................ 31
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi) ....................................................... 32
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan ................................................................................................. 32
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara .............................................................................. 37
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 41
Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood) .............................. 43
Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNA .................................................................................. 52
Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNG ................................................................................. 53
Tabel 14. Kebutuhan Biaya Investasi ............................................................................................. 73
Tabel 15. Proyeksi Entitas Konsorsium ........................................................................................... 74
Tabel 16. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................. 76
Tabel 17. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................. 77
Tabel 18. Cost of Equity (CoE) ...................................................................................................... 78
Tabel 19. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit .................... 79
Tabel 20. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit 80
Tabel 21. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit ........................................................................................................................ 82
Tabel 22. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit . 82
Tabel 23. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit ........................................................................................................................ 83
Tabel 24. Analisis Inkremental ..................................................................................................... 84
Tabel 25. Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 86
Tabel 26. Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058) ........................................... 101
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha............................... 108
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ................................ 109
Tabel 29. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha................................... 110
Tabel 30. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha .................................... 112
Tabel 31. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ................................................................... 114
Tabel 32. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi
Periode 2026-2058).................................................................................................... 115
Tabel 33. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058) ......................................................................... 119
Tabel 34. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit ....... 125
Tabel 35. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058) ......................................................................... 128
Tabel 36. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
(Periode Proyeksi 2026 – 2058) ................................................................................... 134
Tabel 37. Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058) ....................................................... 137
Halaman 8 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Identitas Status Konsultan
Studi Kelayakan ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
Independen untuk memberikan studi kelayakan yang obyektif dan tidak memihak, sesuai KEPI;
memiliki kompetensi untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud. KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai
Penilai Publik sebagai berikut:
• Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan kajian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau benturan
kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek kajian dan/ atau pemilik
aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesionaldan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan kajian
ini.
1.2 Identitas Pemberi Tugas
Pemberi tugas dan Pengguna Laporan dalam hal ini adalah SOFA dengan informasi sebagai
berikut:
a. Nama Pemberi Tugas : PT Solusi Environment Asia Tbk
b. Alamat : Sequis Center Lantai 3, Unit 305, Jl. Jenderal Sudirman No.
71, Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
DKI Jakarta 12190
c. Bidang Usaha : Barang Rumah Tangga
d. No. Telepon/Fax : 021 52907351
e. Alamat Email : corsec@solusienvironmentasia.com
f. Penanggung Jawab : Bapak Ezra Mohammed Dhanaguna
g. Jabatan : Direktur
1.3 Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam hal ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.
1.4 Identifikasi Objek Kajian Studi Kelayakan dan Kepemilikan
Objek Kajian dalam hal ini adalah Kajian Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
(KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA:
Halaman 9 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 11
Tabel 1. Penambahan KBLI Holding KBLI 64220
No Kode KBLI Bidang Usaha
1 KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
Sumber: Informasi Manajemen
1.5 Jenis Mata Uang Yang Digunakan
Mata uang yang digunakan dalam penugasan ini, sesuai dengan mata uang fungsional dalam
laporan keuangan Objek Studi Kelayakan (dalam Rupiah).
1.6 Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana Penambahan
Kegiatan Usaha (KBLI) 64220 - Aktivitas Pembiayaan Conduit pada PT Solusi Environment Asia
Tbk yang diperuntukkan dalam rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) terkait dengan
peraturan perusahaan publik (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha
(“POJK 17”).
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) dan
Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (“KEPI-SPI
Edisi VII.2018”). Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, konsultan akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya
1.7 Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date)
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 30 Juni 2026.
1.8 Tingkat Kedalaman Investigasi
a. Data dan informasi menyangkut dokumen atas objek studi kelayakan/penugasan yang kami
terima dari pemberi tugas.
b. Verifikasi yang kami lakukan terhadap objek studi kelayakan adalah merupakan bagian dari
keperluan dan kepentingan pelaksanaan studi kelayakan.
c. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lengkap pada objek studi
kelayakan. Bila terdapat keterbatasan dalam hal dokumen atau identifikasi secara
keseluruhan, maka kami menggunakan data dan dokumen secara sampling secukupnya
(data yang relevan).
d. Inspeksi dapat dilakukan tanpa ada pembatasan akses ke lokasi termasuk data yang harus
disediakan oleh pemberi tugas dan/ atau pihak terkait lainnya kepada penilai dalam
melakukan inspeksi, penelaahan, penghitungan dan analisis untuk tujuan studi kelayakan.
1.9 Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan
Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui dan
digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat nasional maupun
internasional. Sumber data tersebut antara lain:
a. Bank Indonesia.
Halaman 10 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 12
b. Bursa Efek Indonesia atau Bursa Lain.
c. Badan Pusat Statistik.
d. Pemerintah Kota dan Kabupaten.
e. Lembaga resmi pemerintahan atau swasta yang mempublikasi data dan informasi terkait
dengan obyek studi kelayakan.
f. Media cetak dan elektronik resmi.
g. Sumber lainnya.
h. S&P Capital IQ.
1.10 Asumsi dan Kondisi Pembatas
a. Laporan studi kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion;
b. Penilai telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
penilaian/studi kelayakan;
c. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke
akuratannya;
d. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty);
e. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan;
f. Laporan Penilaian/Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang
bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan;
g. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian/Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai
akhir.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Studi Kelayakan dari Pemberi
Tugas.
1.11 Asumsi Dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam studi kelayakan.
1.12 Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi
Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan tidak untuk konsumsi publik. Persetujuan penilai harus
didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi
yang dipublikasikan, termasuk referensi mengenai laporan keuangan perusahaan/objek studi
kelayakan, dan/atau laporan direksi/pimpinan perusahaan/objek studi kelayakan, dan/atau
pernyataan atau kajian lainnya atau pernyataan/edaran apapun dari perusahaan/objek studi
kelayakan.
Tanda tangan Penilai Publik dan cap KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan yang resmi
merupakan syarat mutlak Laporan Studi Kelayakan yang dihasilkan.
Halaman 11 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 13
Laporan studi kelayakan tidak akan dipublikasikan dalam bentuk dan kesempatan apapun,
sebagian atau keseluruhan, tanpa persetujuan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan.
1.13 Konfirmasi Bahwa Studi Kelayakan Dilakukan Berdasarkan Peraturan dan Standar
Studi Kelayakan akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian
Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI & SPI Edisi VII-2018).
1.14 Ruang Lingkup dan Metodologi Studi Kelayakan
Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang
mencakup hal–hal sebagai berikut:
a. Analisis atas Kelayakan Pasar;
b. Analisis atas Kelayakan Teknis;
c. Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis;
d. Analisis atas Kelayakan Model Manajemen; dan
e. Analisis atas Kelayakan Keuangan.
1.15 Data dan Informasi Pendukung
Data dan informasi pendukung dalam kegiatan inspeksi dan penelaahan dokumen adalah
sebagai berikut:
• Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi zoom pada tanggal 6 Juli 2026
dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses studi
kelayakan.
• Hasil Pemeriksaan atas Dokumen Hukum yang Relevan dengan Obyek Studi Kelayakan
Obyek Studi Kelayakan merupakan SOFA. Atas dasar hal tersebut, maka dokumen hukum
yang relevan dengan Obyek Studi Kelayakan merupakan dokumen-dokumen hukum yang
juga melekat pada SOFA. Adapun dokumen hukum SOFA, yang mencakup perijinan dan
legalitas SOFA, diuraikan kemudian dalam Gambaran Umum SOFA.
1.16 Pernyataan Independensi Konsultan
a. Penilai dan seluruh tim penilai yang tergabung di KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan
yang terlibat dalam penugasan ini telah berkerja secara profesional dan independen;
b. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan tidak mempunyai tanggung jawab apapun
berkaitan dengan dampak dan akibat yang mungkin dan dapat timbul dari hasil laporan Studi
kelayakan ke pihak selain kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan. Jika pihak lain
memilih untuk mengandalkan isi laporan ini maka mereka bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap dampak maupun risiko yang mungkin ditimbulkan;
c. Dalam menyusun laporan ini, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh Pemberi Tugas dan/atau data
yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian
yang kami anggap relevan;
d. Kami sebagai Penilai tidak memiliki keterlibatan material atau benturan kepentingan baik
aktual maupun potensial dengan objek studi kelayakan dan/atau pemilik properti. Kami
Halaman 12 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 14
tegaskan pula bahwa dalam penugasan ini kami tidak memiliki kepentingan/berpihak,
objektif, dan tanpa mengakomodasi kepentingan pribadi atau pihak tertentu.
e. Dalam mempersiapkan laporan studi kelayakan Konsultan tidak terafiliasi dengan SOFA
selaku Pemberi Tugas dan juga tidak terafiliasi dengan SOFA selaku objek kajian studi
kelayakan maupun pihak-pihak lain yang terafiliasi dengan perusahaan.
1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
Dari tanggal studi kelayakan (cut-off off date) per 30 Juni 2026 hingga Laporan Studi Kelayakan
ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event)
yang dapat mempengaruhi hasil studi kelayakan. Namun, berdasarkan informasi manajemen
terdapat perjanjian yang telah dibuat setelah tanggal studi kelayakan diantaranya sebagai berikut:
1. Perjanjian Novasi atas Perjanjian Usaha Patungan tertanggal 2 Maret 2026 (“Novasi JVA”)
antara PT Danantara Investment Management (“DIM”), DENERA, WNA, seluruh pemegang
saham WNA, dan PT Weiming Nusantara Bali New Energy (“BUPP PSEL Denpasar Raya”)
pada tanggal 7 Juli 2026;
2. Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP PSEL Denpasar Raya
tentang Penggunaan Lahan Proyek Dalam Rangka Penyelenggaraan Fasilitas Pengolahan
Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik di Denpasar Raya
pada tanggal 7 Juli 2026.
3. Berita Acara Serah Terima atas Lahan Proyek antata Pemerintah Kota Denpasar dan BUPP
PSEL Denpasar Raya pada tanggal 7 Juli 2026;
4. Penandatanganan PJBL untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (“PLTSa”) Denpasar Raya
30 MW antara PT PLN (Persero) dengan BUPP PSEL Denpasar Raya pada tanggal 8 Juli 2026;
dan
5. Penandatanganan Perjanjian Sponsor untuk PLTSa Denpasar Raya 30 MW antara PT Daya
Energi Bersih Nusantara (“DENERA”) dengan seluruh pemegang saham WNA pada tanggal
8 Juli 2026.
Namun demikian, kejadian tersebut tidak memengaruhi hasil studi kelayakan yang telah
dilakukan.
Halaman 13 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 15
BAB II
ANALISIS DAN GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Data dan Informasi
Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses Studi Kelayakan adalah sebagai berikut:
• Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli, Bambang, Sulistyanto, Dadang & Ali, yang telah
ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong, M.Si., CPA, sebagaimana
tertuang dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21
Agustus 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Proyeksi keuangan SOFA tahun 2026 sampai dengan 2058 yang disusun oleh manajemen
SOFA.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari SOFA serta pihak pihak lain yang relevan untuk
penugasan.
• Data dan Informasi pendukung lainnya dari pihak eksternal SOFA baik dari media cetak
maupun media elektronik mengenai kondisi pasar dan industri.
• Data dan informasi pendukung lainnya melalui kegiatan inspeksi dan penelaahan
dokumen.
• Data, informasi, dan dokumen lainnya dari pihak internal SOFA serta pihak pihak lain yang
relevan untuk penugasan.
2.2. Pelaksanaan Wawancara
Kami telah melakukan wawancara secara daring via aplikasi Zoom pada tanggal 6 Juli 2026
dengan manajemen SOFA serta pihak lain yang kami anggap layak dan relevan guna
mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk keperluan proses kajian.
2.3. Gambaran Umum SOFA
a. Latar Belakang SOFA
PT Solusi Environment Asia Tbk dahulu merupakan PT Pratama Prima Cipta kemudian menjadi
PT Boston Furniture Industries Tbk selanjutnya disebut “Perusahaan” atau “SOFA”, Perseroan
secara konsisten mengembangkan kapasitas produksi, jaringan ritel, serta portofolio produk
premium, yang diperkuat dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020
dengan nama PT Boston Furniture Industries Tbk. Perusahaan didirikan berdasarkan Akta
pendirian yang dinyatakan dalam Akta nomor 6 tanggal 6 Juli 2012 dari Irene Yulia, S.H.,
notaris yang berkedudukan di Jakarta. Akta pendirian perusahaan tersebut telah mendapat
pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat
Keputusan Nomor. AHU-40585.AH.01.01. Tahun 2012 tanggal 26 Juli 2012. Anggaran dasar
perusahaan beberapa kali mengalami perubahan terakhir dengan akta Nomor 171 tanggal
18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, mengenai
perubahan nama “Perusahaan” dari PT Boston Furniture Industries Tbk menjadi PT Solusi
Environment Asia Tbk dan perubahan beberapa ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan.
Akta perubahan anggaran dasar perusahaan tersebut telah mendapat pengesahan dari
Halaman 14 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 16
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat Keputusan Nomor.
AHU-AH.01.09-0000204 tanggal 2 Januari 2026.
Perusahaan telah menerima Surat Pernyataan Efektif dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
Modal atas nama Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dengan surat No. S-
178/D.04/2020 tanggal 26 Juni 2020 untuk melakukan penawaran umum saham kepada
masyarakat sebanyak 400.000.000 saham biasa dan sebanyak 400.000.000 Waran Seri I
dengan nilai nominal Rp10 per saham dengan harga penawaran Rp100 per saham. Saham-
saham tersebut seluruhnya telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia tanggal 07 Juli 2020.
Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jalan Milenium 15 Blok I-2
No.5A Peusar, Panongan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Hasil produksi Perusahaan
berupa mebel kualitas tinggi dan menggunakan merek Blackwood. Perusahaan memulai
kegiatan komersilnya tahun 2015. Sehubungan dengan pengambilalihan saham pengendali
oleh PT Asia Investment Capital pada bulan Oktober 2025, Perusahaan mulai melakukan
diversifikasi bisnis, salah satunya di bidang pengelolaan sampah menjadi energi listrik melalui
perusahaan anak.
b. Perizinan
Perizinan yang telah diperoleh SOFA, antara lain sebagai berikut:
• Akta Pendirian Perusahaan No. 06 Tanggal 06 Juli 2012 oleh Irene Yulia, SH., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AH-40585.AH.01.01.Tahun 2012
Tanggal 26 Juli 2012 tentang pengesahan badan hukum perseroan;
• Akta No. 50 Tanggal 29 November 2016 oleh Vivi Novita Rido, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.03-0102987 Tanggal 28 November 2016 tentang perubahan pengangkatan
kembali;
• Akta No. 353 Tanggal 21 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0085073.AH.01.02.Tahun
2019 tentag persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas;
• Akta No. 523 Tanggal 28 Oktober 2019 oleh Yunita Aristina, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0088235.AH.01.02.Tahun
2019 tanggal 29 Oktober 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar
perseroan terbatas;
• Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 0004380.AH.01.02.TAHUN 2020
tanggal 17 Januari 2020 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
terbatas;
• Akta No. 52 Tanggal 11 Agustus 2020 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
AH.01.03-0380936 tanggal 1 September 2020 tentang perubahan peningkatan modal
ditempatkan atau disetor;
Halaman 15 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 17
• Akta No. 26 Tanggal 30 Agustus 2021 oleh Syarifudin, SH., Notaris di Tangerang, akta
telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat
Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0454261
Tanggal 29 September 2021 tentang perubahan pasal 9, pasal 10 dan pasal 11;
• Akta No. 18 Tanggl 11 November 2021 oleh Elizabeth Karina Leonita, SH., MKn., Notaris
di Bogor, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-
AH.01.03-0480402 tanggal 2 Desember 2021;
• Akta No. 3 Tanggal 14 Juni 2024 oleh Bastian Harijanto, SH., MKn., Notaris di
Tangerang, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.09-0224015 tanggal 9 Juli 2024 tentang perubahan direksi dan komisaris;
• Akta No. 171 tanggal 18 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000058.AH.01.02.TAHUN 2026
Tanggal 2 Januari 2026 tentang perubahan nama perseroan terbatas;
• Akta No. 187 Tanggal 19 Desember 2025 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia
berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-
AH.01.09-0017677 Tanggal 27 Januari 2026 tentang perubahan direksi dan komisaris;
• Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-
0346218 Tanggal 24 Juni 2026;
• Akta No. 423 Tanggal 30 Juni 2026 oleh Jose Dima Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta,
akta telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan
Surat Pemberitahuan Penerimaan Penyampaian Laporan Tahunan No. AHU-AH.01.01-
0023651 Tanggal 2 Juli 2026 tentang penyampaian laporan tahunan;
• Perizinan berusaha berbasis risiko sertifikat standar 91203083029640001untuk industri
furnitur dari kayu;
• Persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha nomor
280922102136030778 untuk industri furnitur dari kayu;
• Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
tanggal 12 Februari 2026 untuk industri furnitur dari kayu;
• Konfirmasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berusaha No.
110626102131741528 untuk aktivitas perusahaan holding;
• Surat pernyataan kesenggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL)
tanggal 11 Juni 2026 untuk aktivitas perusahaan holding;
• Sucofindo International Certification Services No. VLK 01069 atas nama PT Boston
Furniture Industries Tbk untuk kegiatan usaha industri dan produk furniture dari kayu
kapistas 1.600 pcs berlaku dari 25 Juni 2025 sampai dengan 24 Juni 2031;
• Surat keterangan terdaftar No. S-00843/SKT-WP-CT/KPP.0708/2026 Tanggal 03 Juli
2026 diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
Pajak;
• Nomor Induk Berusaha: 9120308302964; dan
• NPWP: 0315615286451000.
Halaman 16 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 18
c. Kegiatan Usaha
Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan
besar selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas
profesional, ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta
perlengkapan rumah tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana
pensiun, guna mendukung pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
Perseroan dalam menjalankan maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan
usaha sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha utama perseroan
a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta
produk sejenis lainnya; dan
b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama
logam, termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.
2. Kegiatan usaha penunjang perseroan
a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet,
serta produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan
perlengkapan tidur seperti bantal dan guling;
b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI
47599), yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan
rumah tangga yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan
lainnya;
c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang
meliputi kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya
yang melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas
nama pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain
bahan baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu
dan bahan bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang
keperluan rumah tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda
motor (KBLI 451–454);
d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit,
wallpaper, pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan
interior lainnya;
e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan
desain produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material,
Halaman 17 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 19
konstruksi, keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta
penggunaan, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan
lainnya;
g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta
perlengkapan rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan
lepas (self-standing); dan
h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset
dan kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi
dan perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.
d. Lokasi
Perusahaan berdomisili di Sequis Center Lantai 3 Unit 305, Jalan Jenderal Sudirman No. 71,
Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi
DKI Jakarta 12190. Perusahaan memiliki lokasi pabrik di Kawasan Industri Millenium, Jl.
Milenium 15 Blok I-2 No.5A Peusar, Panongan, Kab. Tangerang, Banten.
e. Susunan Pemegang Saham
Berdasarkan informasi manajemen dan Laporan Keuangan Audit per 30 Juni 2026 susunan
pemegang saham SOFA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Susunan Pemegang Saham SOFA
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham Jumlah
PT Asia Investment Capital 1.173.500.000 70,97% 11.735.000.000
Masyarakat/ Public 480.074.499 29,03% 4.800.744.990
Total 1.653.574.499 100,00% 16.535.744.990
Sumber: Informasi Manajemen
f. Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 128 Tanggal 21 Mei 2026 oleh Jose Dima
Satria, SH., MKn., Notaris di Jakarta, susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA per 30 Juni
2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
Komisaris Independen : Nuryana Hidayat
Komisaris : Saswinadi Sasmojo
Komisaris : Lusi Amanda
Direksi:
Direktur Utama : Denny Rizal
Direktur : Ezra Mohammed Dhanaguna
Direktur : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
Direktur : Reza Muhammad Mandara
Halaman 18 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 20
g. Latar Belakang Ekonomi
Studi Kelayakan ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang secara rinci dijelaskan dalam BAB
III dalam laporan ini.
h. Produk dan Layanan
SOFA merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri
furnitur, khususnya melalui produksi furnitur berbahan dasar kayu dan logam untuk kebutuhan
rumah tangga maupun perkantoran. Produk furnitur yang dihasilkan antara lain meja, kursi,
tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk furnitur sejenis lainnya
dengan menggunakan merek Blackwood. Kegiatan produksi Perusahaan didukung oleh
fasilitas pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Millenium, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten.
i. Teknologi yang Digunakan
Dalam rangka rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 – Aktivitas
Pembiayaan Conduit, SOFA pada dasarnya tidak memerlukan teknologi khusus yang bersifat
operasional sebagaimana kegiatan usaha berbasis produksi. Kegiatan pembiayaan conduit
lebih berfokus pada pengelolaan dan penyaluran sumber pendanaan kepada pihak yang
membutuhkan pembiayaan, sehingga kebutuhan teknologi terutama berkaitan dengan sistem
informasi dan administrasi untuk mendukung proses pengelolaan pembiayaan.
j. Pasar Geografis
Pasar geografis SOFA pada dasarnya berfokus di dalam negeri (Indonesia) dengan cakupan
distribusi yang cukup luas antar wilayah. Cakupan Nasional (Indonesia) dengan menjalankan
perusahaan manufaktur furnitur kayu dan logam dengan pengolahan mebel berbahan dasar
kayu dan produk kayu lainnya, berbahan dasar logam serta distribusi dan penjualan mebel
melalui Perusahaan Anak.
k. Risiko Usaha
Analisis risiko untuk SOFA merupakan kajian sistematis atas berbagai ketidakpastian yang
berpotensi memengaruhi kinerja operasional dan keuangan Perusahaan, khususnya dalam
kegiatan usaha industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI
31004), serta rencana penambahan kegiatan usaha aktivitas pembiayaan conduit (KBLI
64220). Risiko-risiko tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal yang
berdampak terhadap keberlangsungan usaha, efisiensi operasional, serta stabilitas arus kas
Perusahaan.
Ketidakpastian dalam industri furnitur dipengaruhi oleh ketersediaan dan harga bahan baku
kayu maupun logam, siklus sektor properti dan konstruksi, daya beli masyarakat, nilai tukar
mata uang asing, serta kebijakan pemerintah di bidang kehutanan, perdagangan, dan
lingkungan hidup. Sementara itu, penambahan kegiatan usaha pembiayaan conduit
memunculkan risiko baru yang bersifat finansial, antara lain risiko atas kemampuan
penghimpunan dana dari pasar, ketergantungan pada arus pengembalian dari entitas
penerima dana, serta risiko tata kelola dan pemantauan atas penggunaan dana pada setiap
Halaman 19 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 21
jenjang penyaluran. SOFA akan melakukan penambahan setoran modal pada entitas yang
telah ada dalam struktur konsorsium, yaitu PT Weiming Nusantara Alpha ("WNA") dan PT
Weiming Nusantara Gamma ("WNG"), yang dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan,
yaitu PT Ananta Energi Asia ("AEA").
Oleh karena itu, pengelolaan risiko menjadi penting guna meminimalkan potensi kerugian
dan menjaga keberlanjutan usaha Perusahaan. Tujuan analisis risiko ini adalah untuk
mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola potensi risiko yang dapat memengaruhi kinerja
operasional dan finansial SOFA, baik pada kegiatan usaha yang telah berjalan maupun pada
kegiatan usaha yang direncanakan.
a. Risiko Kredit
Risiko kredit merupakan potensi kerugian yang dihadapi SOFA akibat ketidakmampuan
pelanggan, mitra usaha, maupun entitas penerima dana dalam memenuhi kewajiban
pembayaran atau pengembalian sesuai perjanjian.
Dalam kegiatan usaha Perusahaan, risiko ini muncul terutama dari:
• Pemberian termin pembayaran kepada distributor, jaringan ritel, kontraktor, dan
pelanggan proyek/korporasi;
• Konsentrasi penjualan pada sejumlah pelanggan atau segmen tertentu (misalnya
proyek properti, perhotelan, atau perkantoran);
• Penyaluran dana kepada AEA yang selanjutnya diteruskan kepada WNA dan WNG
dalam bentuk setoran modal, termasuk penyaluran pinjaman antarperusahaan
(intercompany loan) dan pemberian jaminan korporasi sehubungan dengan fungsi
pembiayaan conduit;
• Konsentrasi pengembalian pada arus kas perusahaan operasional proyek, yang
sepenuhnya bersumber dari penjualan tenaga listrik kepada satu pihak pembeli.
Dampak risiko kredit dapat memengaruhi arus kas dan likuiditas Perusahaan,
memperpanjang siklus konversi kas, serta meningkatkan beban penyisihan kerugian
penurunan nilai atas piutang dan tagihan kepada entitas dalam grup.
Mitigasi dilakukan melalui:
• Analisis kelayakan kredit pelanggan sebelum pemberian termin;
• Penetapan limit kredit dan termin pembayaran yang disesuaikan dengan profil
pelanggan;
• Permintaan uang muka (down payment) untuk pesanan proyek berskala besar;
• Pemantauan umur piutang (aging schedule) secara berkala dan penagihan terstruktur;
• Diversifikasi basis pelanggan dan saluran distribusi;
• Kajian kelayakan, penyaluran bertahap sesuai pencapaian proyek, serta pembatasan
eksposur atas pendanaan dan jaminan kepada entitas dalam grup.
Halaman 20 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 22
b. Risiko Kebijakan/Peraturan Pemerintah
Risiko ini berkaitan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi
kegiatan usaha SOFA, khususnya di sektor industri pengolahan, perdagangan,
kehutanan, ketenagalistrikan, dan pasar modal.
Beberapa aspek yang berpotensi berdampak antara lain:
• Kebijakan legalitas dan kelestarian bahan baku kayu, termasuk ketentuan Sistem
Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) serta dokumen angkutan hasil hutan;
▪ Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan pengadaan
barang pemerintah;
▪ Kebijakan ketenagakerjaan, termasuk penetapan upah minimum;
▪ Perubahan ketentuan pada sektor pengolahan sampah menjadi energi, meliputi
harga pembelian tenaga listrik, jangka waktu perjanjian, mekanisme seleksi
pengembang, serta kewajiban penyediaan lahan dan pasokan sampah oleh
pemerintah daerah, yang berdampak pada kelayakan proyek yang dibiayai;
▪ Ketentuan perpajakan, termasuk perlakuan pajak atas dividen dan transaksi
antarentitas dalam satu grup;
▪ Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia yang berlaku bagi
perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai penambahan kegiatan usaha,
penghimpunan dana, transaksi material, dan transaksi afiliasi.
Perubahan kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya bahan baku dan produksi,
kelayakan proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana, ruang lingkup usaha, struktur
perizinan, serta kelancaran pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha
Perusahaan.
c. Risiko Operasional
Risiko operasional merupakan risiko yang timbul akibat ketidakcukupan atau kegagalan
proses internal, sumber daya manusia, sistem, maupun kejadian eksternal yang dapat
mengganggu kegiatan usaha SOFA.
Risiko ini meliputi:
• Gangguan ketersediaan dan fluktuasi harga bahan baku utama (kayu, logam, busa,
kain pelapis, serta bahan finishing);
• Kerusakan mesin produksi, gangguan utilitas, serta risiko kebakaran pada fasilitas
pabrik dan gudang;
• Kegagalan pemenuhan standar mutu yang berujung pada produk cacat, pengerjaan
ulang, dan klaim garansi;
• Kecelakaan kerja dan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada
area produksi;
• Gangguan rantai pasok (supply chain disruption) dan keterlambatan pengiriman
kepada pelanggan;
• Ketergantungan pada tenaga kerja terampil serta risiko perputaran karyawan kunci;
• Human error dan keterbatasan sistem informasi dalam pengelolaan persediaan,
produksi, dan pelaporan;
Halaman 21 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 23
• Pada fungsi pembiayaan conduit: kelemahan prosedur penyaluran dan pemantauan
penggunaan dana, keterlambatan pelaporan dari entitas penerima, keterlambatan
konsolidasi laporan keuangan, serta belum matangnya sistem dan kebijakan pada
Divisi Tresuri dan Pendanaan maupun Divisi Manajemen Portofolio yang baru
dibentuk.
Ketergantungan pada fasilitas produksi, kesinambungan pasokan bahan baku, dan
keandalan tenaga kerja menjadikan aspek pemeliharaan, pengendalian mutu, dan
keselamatan kerja sebagai faktor krusial dalam operasional Perusahaan, sementara pada
fungsi pembiayaan conduit ketertiban prosedur dan dokumentasi menjadi faktor penentu.
d. Risiko Persaingan Usaha
Risiko persaingan usaha berkaitan dengan meningkatnya kompetisi dalam industri
furnitur nasional maupun regional.
Risiko ini meliputi:
• Tekanan harga akibat masuknya produk furnitur impor dengan struktur biaya yang
lebih rendah;
• Persaingan dengan produsen lokal berskala besar maupun pelaku usaha kecil dan
menengah pada segmen harga menengah ke bawah;
• Perkembangan saluran penjualan digital dan marketplace yang meningkatkan
transparansi harga dan menekan margin;
• Kompetisi dalam desain produk, kualitas material, ketepatan waktu pengiriman, serta
layanan purnajual;
• Perebutan kontrak pengadaan pada proyek properti, perhotelan, dan perkantoran.
Masuknya pemain baru maupun ekspansi produsen furnitur berskala besar dapat
meningkatkan intensitas persaingan dan berpotensi memengaruhi pangsa pasar serta
marjin laba SOFA.
e. Risiko Usaha
Risiko usaha SOFA berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan industri yang
memengaruhi permintaan produk furnitur serta kelayakan penyaluran dana Perusahaan.
Faktor utama yang memengaruhi antara lain:
• Siklus sektor properti, konstruksi, dan perhotelan sebagai penggerak utama
permintaan furnitur;
• Tingkat daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga;
• Fluktuasi harga komoditas kayu dan logam;
• Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, baik atas pembelian bahan
baku impor maupun penjualan ekspor;
• Perubahan tingkat suku bunga yang memengaruhi biaya pendanaan dan permintaan
pembiayaan properti;
• Stabilitas ekonomi nasional dan kondisi perekonomian global;
Halaman 22 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 24
• Ketergantungan penerimaan Perusahaan pada arus pengembalian dari entitas
penerima dana, yang baru terealisasi setelah proyek beroperasi secara komersial.
Penurunan aktivitas ekonomi dan perlambatan sektor properti dapat berdampak pada
volume penjualan, utilisasi kapasitas produksi, serta pendapatan Perusahaan. Pada
kegiatan pembiayaan conduit, kinerja proyek yang tidak sesuai proyeksi dapat
berdampak pada penurunan nilai penyertaan serta tertundanya arus kas masuk kepada
Perusahaan.
f. Risiko Hukum
Risiko hukum merupakan risiko yang timbul akibat potensi tuntutan hukum atau
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Risiko ini dapat berasal dari:
• Sengketa kontrak dengan pelanggan, pemasok, distributor, atau mitra usaha;
• Sengketa ketenagakerjaan dan perselisihan hubungan industrial;
• Sengketa hak kekayaan intelektual, khususnya atas desain industri dan merek produk;
• Permasalahan legalitas aset, perizinan bangunan, dan status penguasaan lahan
fasilitas produksi;
• Ketentuan lingkungan hidup terkait pengelolaan limbah produksi, emisi, dan
penggunaan bahan kimia finishing;
• Sengketa dengan pemegang saham lain dalam WNA dan WNG maupun dalam
perjanjian konsorsium, termasuk mengenai hak dan kewajiban pemegang saham
serta mekanisme pendanaan lanjutan;
• Risiko hukum yang melekat pada penyertaan modal, termasuk kewajiban tersembunyi
(contingent liabilities) pada entitas penerima dana yang tidak teridentifikasi pada saat
uji tuntas;
• Potensi tanggung jawab Perusahaan sehubungan dengan pemberian jaminan
korporasi atau komitmen pendanaan kepada entitas dalam grup.
Risiko hukum dapat menimbulkan biaya litigasi, sanksi administratif, kewajiban ganti rugi,
serta gangguan operasional bagi SOFA.
g. Risiko Reputasi
Risiko reputasi merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
pelanggan, mitra usaha, pemegang saham, dan investor terhadap SOFA.
Risiko ini dapat muncul akibat:
• Kegagalan memenuhi standar mutu produk dan meningkatnya klaim garansi;
• Keterlambatan pemenuhan pesanan dan pengiriman kepada pelanggan proyek;
• Isu keberlanjutan, khususnya dugaan penggunaan bahan baku kayu yang tidak
bersertifikat atau tidak memenuhi ketentuan legalitas;
• Insiden lingkungan atau kecelakaan kerja pada fasilitas produksi;
• Pemberitaan negatif atas kinerja keuangan, aksi korporasi penghimpunan dana, atau
tata kelola Perusahaan sebagai emiten;
Halaman 23 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 25
• Permasalahan yang timbul pada entitas penerima dana maupun pada perusahaan
operasional proyek yang dapat berdampak pada citra grup secara keseluruhan.
Mengingat bisnis furnitur sangat bergantung pada persepsi kualitas dan keandalan
pengiriman, serta identitas Perusahaan yang mengedepankan aspek lingkungan, reputasi
menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan, kontrak jangka panjang, dan
kepercayaan investor.
h. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan timbul akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di sektor
industri, lingkungan hidup, ketenagakerjaan, perpajakan, dan pasar modal.
SOFA wajib mematuhi berbagai ketentuan seperti:
• Perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) sesuai KBLI yang
dijalankan, termasuk pemenuhan persyaratan atas penambahan KBLI 64220;
• Ketentuan legalitas bahan baku kayu dan sertifikasi terkait;
• Persetujuan lingkungan serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun;
• Standar keselamatan dan kesehatan kerja serta ketentuan ketenagakerjaan;
• Kewajiban perpajakan, termasuk ketentuan harga transfer (transfer pricing) atas
transaksi antarentitas dalam grup;
• Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia bagi perusahaan
terbuka, antara lain mengenai keterbukaan informasi, transaksi material dan
perubahan kegiatan usaha utama, transaksi afiliasi dan benturan kepentingan,
penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham, serta penyampaian laporan
berkala.
Ketidakpatuhan dapat berujung pada sanksi administratif, denda, pembatasan kegiatan
usaha, penghentian sementara perdagangan saham, hingga pencabutan izin usaha.
2.4. Laporan Keuangan SOFA
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perusahaan. Laporan
keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perusahaan yang dapat
dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat peramalan dan proyeksi keuangan
masa depan.
Dalam melaksanakan penugasan studi kelayakan ini, kami juga mendapat data dan informasi
mengenai laporan keuangan SOFA. Adapun data laporan keuangan SOFA yang kami terima
adalah sebagai berikut:
• Laporan keuangan SOFA untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 yang telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali, yang telah
ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana tertuang
dalam laporannya No. 00070/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/VIII/2026 tanggal 21 Agustus
2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
Halaman 24 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 26
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2025
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
tertuang dalam laporannya No.00007/3.0291/AU.1/04/0824-3/1/III/2026 tanggal 27
Maret 2026 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2024
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
tertuang dalam laporannya No.00022/3.0291/AU.1/04/0824-2/1/III/2025 tanggal 27
Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2023
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Sudirman Simangunsong sebagaimana
tertuang dalam laporannya No.00020/3.0291/AU.1/04/0824-1/1/III/2024 tanggal 27
Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian;
• Laporan keuangan SOFA untuk periode dua belas bulan yang berakhir 31 Desember 2022
yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Doli Bambang Sulistiyanto Dadang dan Ali,
yang telah ditandatangani oleh akuntan publik Triyanto sebagaimana tertuang dalam
laporannya No.00155/3.0266/AU.1/04/0945-1/1/III/2023 tanggal 27 Maret 2023
dengan opini wajar tanpa modifikasian;
Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar data posisi keuangan SOFA untuk periode 31
Desember 2022 hingga 30 Juni 2026:
Tabel 3. Ikhtisar Laporan Posisi Keuangan SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Posisi Keuangan 2022 2023 2024 2025
2026
Jumlah Aset Lancar 21.795 30.210 33.341 25.162 21.068
Jumlah Aset Tidak Lancar 40.255 33.725 29.107 26.838 25.555
Jumlah Aset 62.050 63.936 62.448 51.999 46.622
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 13.711 15.402 13.999 12.743 13.267
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3.453 3.119 3.654 220 2
Jumlah Liabilitas 17.163 18.522 17.653 12.963 13.269
Jumlah Ekuitas 44.887 45.414 44.795 39.036 33.354
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 62.050 63.936 62.448 51.999 46.622
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Total Aset
Perkembangan total aset SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31 Desember
2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR)
sebesar negatif 5,72%. Pada tahun 2022 total aset tercatat sebesar Rp62.050 juta. Pada tahun
2023 mengalami peningkatan total aset tercatat sebesar 3,04% secara year on year atau sebesar
Rp63.936 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tercatat sebesar negatif 2,33%
secara year on year atau sebesar Rp62.448 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total
aset tercatat sebesar negatif 16,73% secara year on year atau sebesar Rp51.999 juta. Kemudian
pada periode 30 Juni 2026 total aset tercatat sebesar Rp46.622 juta, atau menurun sebesar
10,34% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
Halaman 25 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 27
berkurangnya aset lancar berupa persediaan serta saldo kas dan bank dan aset tidak lancar
berupa aset tetap dan aset hak guna usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
Desember 2025.
Total Aset Lancar
Perkembangan total aset lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar 4,90%. Pada
tahun 2022 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.795 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 38,61% secara year on year atau sebesar Rp30.210
juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan total aset lancar tercatat sebesar 10,36% secara
year on year atau sebesar Rp33.341 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total aset
lancar tercatat sebesar negatif 24,53% secara year on year atau sebesar Rp25.162 juta. Kemudian
pada periode 30 Juni 2026 total aset lancar tercatat sebesar Rp21.068 juta, atau menurun sebesar
16,27% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
berkurangnya persediaan serta saldo kas dan bank pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan
posisi 31 Desember 2025.
Total Aset Tidak Lancar
Perkembangan total aset tidak lancar SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami penurunan di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif
12,64%. Pada tahun 2022 total aset tidak lancar tercatat sebesar Rp40.255 juta. Pada tahun 2023
mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 16,22% secara year on year
atau sebesar Rp33.725 juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total aset tidak lancar
tercatat sebesar negatif 13,69% secara year on year atau sebesar Rp29.107 juta. Pada tahun
2025 mengalami penurunan total aset tidak lancar tercatat sebesar negatif 7,79% secara year on
year atau sebesar Rp26.838 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 total aset tidak lancar
tercatat sebesar Rp25.555 juta, atau menurun sebesar 4,78% dibandingkan posisi 31 Desember
2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya aset tetap dan aset hak guna
usaha pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Total Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
2,41%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp13.711 juta. Pada tahun
2023 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 12,33% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp15.402 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami penurunan
sebesar negatif 9,11% secara year on year atau tercatat sebesar Rp13.999 juta. Pada tahun 2025
liabilitas jangka pendek mengalami penurunan sebesar negatif 8,97% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp12.743 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas jangka pendek
tercatat sebesar Rp13.267 juta, atau meningkat sebesar 4,11% dibandingkan posisi 31 Desember
2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh bertambahnya utang lain-lain dan biaya
yang masih harus dibayar pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Halaman 26 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 28
Total Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami perkembangan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar negatif
60,07%. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp3.453 juta. Pada tahun
2023 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar negatif 9,67% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp3.119 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami
peningkatan sebesar 17,15% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.654 juta. Pada tahun
2025 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan signifikan sebesar negatif 93,98% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp220 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 liabilitas
jangka panjang tercatat sebesar Rp2 juta. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh
berkurangnya utang sewa jangka panjang pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31
Desember 2025.
Total Liabilitas
Perkembangan total liabilitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 8,93%.
Pada tahun 2022 total liabilitas tercatat sebesar Rp17.163 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan total liabilitas tercatat sebesar 7,92% secara year on year atau sebesar Rp18.522
juta. Pada tahun 2024 mengalami penurunan total liabilitas tercatat sebesar negatif 4,69% secara
year on year atau sebesar Rp17.653 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total liabilitas
tercatat sebesar negatif 26,57% secara year on year atau sebesar Rp12.963 juta. Kemudian pada
periode 30 Juni 2026 total liabilitas tercatat sebesar Rp13.269 juta, atau meningkat sebesar
2,36% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh
bertambahnya liabilitas jangka pendek yaitu utang lain-lain dan biaya yang masih harus dibayar
pada periode 30 Juni 2026 dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Total Ekuitas
Perkembangan total ekuitas SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami penurunan dengan CAGR sebesar negatif 4,55%. Pada tahun 2022
total ekuitas tercatat sebesar Rp44.887 juta. Pada tahun 2023 mengalami peningkatan total
ekuitas tercatat sebesar 1,17% secara year on year atau sebesar Rp45.414 juta. Pada tahun 2024
mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar negatif 1,36% secara year on year atau
sebesar Rp44.795 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan total ekuitas tercatat sebesar
negatif 12,86% secara year on year atau sebesar Rp39.036 juta. Kemudian pada periode 30 Juni
2026 total ekuitas tercatat sebesar Rp33.354 juta, atau menurun sebesar 14,56% dibandingkan
posisi 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo
laba seiring rugi yang dibukukan Perseroan pada periode 30 Juni 2026.
Tabel 4. Ikhtisar Laporan Laba/(Rugi) SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Penjualan 47.026 46.643 50.252 45.131 21.385
Beban Pokok Penjualan (26.559) (23.252) (28.913) (30.882) (16.440)
Laba (Rugi) Kotor 20.466 23.390 21.340 14.249 4.945
Laba (Rugi) Usaha 2.348 981 (293) (4.851) (7.009)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 1.363 501 (780) (5.255) (7.145)
Halaman 27 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 29
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan (519) (392) (130) (43) 1.452
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 844 108 (910) (5.299) (5.693)
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Pendapatan
Perkembangan penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 1,36%.
Pada tahun 2022 penjualan tercatat sebesar Rp47.026 juta. Pada tahun 2023 mengalami
penurunan penjualan tercatat sebesar negatif 0,81% secara year on year atau sebesar Rp46.643
juta. Pada tahun 2024 mengalami peningkatan penjualan tercatat sebesar 7,74% secara year on
year atau sebesar Rp50.252 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan penjualan tercatat
sebesar negatif 10,19% secara year on year atau sebesar Rp45.131 juta. Kemudian pada periode
30 Juni 2026 penjualan tercatat sebesar Rp21.385 juta.
Beban Pokok Penjualan
Pertumbuhan beban pokok penjualan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan CAGR sebesar 5,15%.
Pada tahun 2022 beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp26.559 juta. Pada tahun 2023
beban pokok penjualan mengalami penurunan sebesar negatif 12,45% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp23.252 juta. Pada tahun 2024 beban pokok penjualan mengalami
peningkatan sebesar 24,35% secara year on year atau tercatat sebesar Rp28.913 juta. Pada tahun
2025 beban pokok penjualan mengalami peningkatan sebesar 6,81% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp30.882 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 beban pokok penjualan
tercatat sebesar Rp16.440 juta.
Laba Kotor
Perkembangan laba kotor SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami fluktuasi di setiap tahunnya dengan CAGR sebesar negatif 11,37%.
Pada tahun 2022 laba kotor tercatat sebesar Rp20.466 juta. Pada tahun 2023 mengalami
peningkatan laba kotor tercatat sebesar 14,29% secara year on year atau sebesar Rp23.390 juta.
Pada tahun 2024 mengalami penurunan laba kotor tercatat sebesar negatif 8,76% secara year
on year atau sebesar Rp21.340 juta. Pada tahun 2025 mengalami penurunan laba kotor tercatat
sebesar negatif 33,23% secara year on year atau sebesar Rp14.249 juta. Kemudian pada periode
30 Juni 2026 laba kotor tercatat sebesar Rp4.945 juta. Marjin laba kotor menunjukkan tren
penurunan, dari 43,52% pada tahun 2022 menjadi 31,57% pada tahun 2025 dan 23,12% pada
periode 30 Juni 2026. Penurunan laba kotor disebabkan oleh menurunnya penjualan dan
meningkatnya beban pokok penjualan.
Laba (Rugi) Usaha
Perkembangan laba (rugi) usaha SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba usaha tercatat
sebesar Rp2.348 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba usaha sebesar negatif
58,22% secara year on year atau sebesar Rp981 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan
Halaman 28 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 30
rugi usaha sebesar Rp293 juta. Pada tahun 2025 rugi usaha melebar menjadi Rp4.851 juta.
Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi usaha tercatat sebesar Rp7.009 juta.
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba (rugi) sebelum pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022
laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp1.363 juta. Pada tahun 2023 laba sebelum
pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 63,24% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp501 juta. Pada tahun 2024 Perseroan membukukan rugi sebelum pajak
penghasilan sebesar Rp780 juta. Pada tahun 2025 rugi sebelum pajak penghasilan melebar
menjadi Rp5.255 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi sebelum pajak penghasilan
tercatat sebesar Rp7.145 juta. Perseroan telah membukukan rugi usaha pada tahun 2024 sampai
dengan periode 30 Juni 2026 karena laba kotor yang dihasilkan lebih kecil dari beban usaha.
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pertumbuhan beban pajak penghasilan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan seiring menurunnya laba fiskal
Perseroan. Pada tahun 2022 beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp519 juta. Pada tahun
2023 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 24,47% secara year on
year atau tercatat sebesar Rp392 juta. Pada tahun 2024 beban pajak penghasilan mengalami
penurunan sebesar negatif 66,84% secara year on year atau tercatat sebesar Rp130 juta. Pada
tahun 2025 beban pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar negatif 66,92% secara year
on year atau tercatat sebesar Rp43 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 Perseroan
mengakui manfaat pajak penghasilan sebesar Rp1.452 juta. Penurunan beban pajak sejalan
dengan menurunnya laba perusahaan pada periode 30 Juni 2026.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan
Perkembangan laba (rugi) tahun berjalan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan yang berkelanjutan. Pada tahun 2022 laba
tahun berjalan tercatat sebesar Rp844 juta. Pada tahun 2023 mengalami penurunan laba tahun
berjalan tercatat sebesar negatif 87,20% secara year on year atau sebesar Rp108 juta. Pada tahun
2024 Perseroan membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp910 juta. Pada tahun 2025 rugi
tahun berjalan melebar menjadi Rp5.299 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 rugi tahun
berjalan tercatat sebesar Rp5.693 juta. Marjin laba bersih menurun dari 1,79% pada tahun 2022
menjadi negatif 11,74% pada tahun 2025 dan negatif 26,62%. Perseroan masih mencatatkan
kinerja yang negatif hingga periode 30 Juni 2026, dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp5.693
juta. Namun demikian, kinerja tersebut merupakan realisasi sampai dengan semester I 2026 dan
belum mencerminkan kinerja Perseroan untuk keseluruhan tahun 2026.
Tabel 5. Laporan Arus Kas SOFA (dalam Juta Rupiah)
30 Juni
Laporan Arus Kas 2022 2023 2024 2025
2026
Arus Kas Dari Aktivitas Operasi 7.850 6.614 286 (1.313) (4.022)
Arus Kas Dari Aktivitas Investasi (2.858) (1.861) (1.443) (106) 22
Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan (2.951) (172) (2.699) (119) 3.155
Kenaikan (Penurunan) Neto Kas Dan
2.041 4.582 (3.856) (1.538) (845)
Bank
Halaman 29 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 31
30 Juni
Laporan Arus Kas 2022 2023 2024 2025
2026
Kas Dan Bank Awal Tahun 1.794 3.835 8.417 4.561 3.023
Kas Dan Bank Akhir Tahun 3.835 8.417 4.561 3.023 2.178
Sumber: Laporan Keuangan SOFA
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas operasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami penurunan. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas
operasi tercatat sebesar Rp7.850 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas operasi mengalami
penurunan menjadi tercatat sebesar Rp6.614 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas operasi
mengalami penurunan menjadi tercatat sebesar Rp286 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari
aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp1.313 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp4.022 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa
kegiatan operasional SOFA belum mampu menghasilkan arus kas positif pada periode terakhir.
Arus Kas untuk Aktivitas Investasi
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas investasi SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 negatif. Pada tahun 2022 arus kas dari aktivitas investasi tercatat
sebesar negatif Rp2.858 juta. Pada tahun 2023 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar
negatif Rp1.861 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif
Rp1.443 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas investasi tercatat sebesar negatif Rp106
juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas dari aktivitas investasi tercatat positif sebesar
Rp22 juta. Arus kas investasi yang bernilai negatif mencerminkan belanja modal Perseroan,
dengan besaran yang menurun.
Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan
Pertumbuhan arus kas dari aktivitas pendanaan SOFA selama periode 31 Desember 2022 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi. Pada tahun 2022 arus
kas dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.951 juta. Pada tahun 2023 arus kas
dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp172 juta. Pada tahun 2024 arus kas dari
aktivitas pendanaan tercatat sebesar negatif Rp2.699 juta. Pada tahun 2025 arus kas dari aktivitas
pendanaan tercatat sebesar negatif Rp119 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 arus kas
dari aktivitas pendanaan tercatat positif sebesar Rp3.155 juta. Arus kas pendanaan yang berbalik
positif pada periode 30 Juni 2026 mengindikasikan adanya penerimaan pendanaan baru untuk
menutup defisit arus kas operasi.
Kenaikan (Penurunan) Neto Kas dan Bank
Pada tahun 2022 kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp2.041 juta. Pada tahun 2023
kenaikan neto kas dan bank tercatat sebesar Rp4.582 juta. Pada tahun 2024 penurunan neto kas
dan bank tercatat sebesar negatif Rp3.856 juta. Pada tahun 2025 penurunan neto kas dan bank
tercatat sebesar negatif Rp1.538 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 penurunan neto kas
dan bank tercatat sebesar negatif Rp845 juta.
Halaman 30 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 32
Kas dan Bank pada Akhir Tahun
Pada tahun 2022 kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp3.835 juta. Pada tahun 2023
kas dan bank pada akhir tahun tercatat sebesar Rp8.417 juta. Pada tahun 2024 kas dan bank
pada akhir tahun tercatat sebesar Rp4.561 juta. Pada tahun 2025 kas dan bank pada akhir tahun
tercatat sebesar Rp3.023 juta. Kemudian pada periode 30 Juni 2026 kas dan bank pada akhir
tahun tercatat sebesar Rp2.178 juta.
2.5. Analisis Laporan Keuangan SOFA
Untuk selanjutnya tinjauan terhadap kinerja keuangan SOFA dilakukan berdasarkan analisis
terhadap laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan beberapa teknis analisis sebagai
berikut:
a. Commonsize statement analysis
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total
asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya atau
beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan perusahaan
dengan menggunakan metode Common Size Statement Analysis:
Tabel 6. Analisis Commonsize Statement– Laporan Posisi Keuangan
30 Juni
Laporan Posisi Keuangan 2022 2023 2024 2025
2026
Jumlah Aset Lancar 35,12% 47,25% 53,39% 48,39% 45,19%
Jumlah Aset Tidak Lancar 64,88% 52,75% 46,61% 51,61% 54,81%
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 22,10% 24,09% 22,42% 24,51% 28,46%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 5,56% 4,88% 5,85% 0,42% 0,00%
Jumlah Liabilitas 27,66% 28,97% 28,27% 24,93% 28,46%
Jumlah Ekuitas 72,34% 71,03% 71,73% 75,07% 71,54%
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan, berdasarkan analisis common size statement, selama
periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi aset tidak lancar terhadap
total aset lebih besar dibandingkan dengan proporsi aset lancar terhadap total aset. Proporsi
aset lancar terhadap total aset tercatat sebesar 35,12% (2022); 47,25% (2023); 53,39%
(2024); serta 48,39% (2025). Pada periode 30 Juni 2026 proporsi aset lancar terhadap total
aset adalah 45,19%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset adalah 54,81%.
Selama periode 31 Desember 2022 sampai dengan 30 Juni 2026, proporsi total ekuitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas lebih besar dibandingkan dengan proporsi total liabilitas
terhadap total liabilitas dan ekuitas. Proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas
tercatat sebesar 27,66% (2022); 28,97% (2023); 28,27% (2024); serta 24,93% (2025). Pada
periode 30 Juni 2026 proporsi total liabilitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah
Halaman 31 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 33
sebesar 28,46%, dan proporsi total ekuitas terhadap total liabilitas dan ekuitas adalah sebesar
71,54%.
Liabilitas SOFA didominasi oleh liabilitas jangka pendek, dengan proporsi terhadap total
liabilitas dan ekuitas sebesar 22,10% (2022); 24,09% (2023); 22,42% (2024); 24,51% (2025);
serta 28,46% pada 30 Juni 2026. Adapun proporsi liabilitas jangka panjang terhadap total
liabilitas dan ekuitas menurun, dari 5,56% (2022); 4,88% (2023); dan 5,85% (2024) menjadi
hanya 0,42% (2025) serta 0,00% pada 30 Juni 2026.
Tabel 7. Analisis Commonsize Statement– Laporan Laba (Rugi)
30 Juni
Laporan Laba Rugi 2022 2023 2024 2025
2026
Penjualan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Beban Pokok Penjualan -56,48% -49,85% -57,54% -68,43% -76,88%
Laba (Rugi) Kotor 43,52% 50,15% 42,46% 31,57% 23,12%
Laba (Rugi) Usaha 4,99% 2,10% -0,58% -10,75% -32,78%
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 2,90% 1,07% -1,55% -11,64% -33,41%
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan -1,10% -0,84% -0,26% -0,10% 6,79%
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 1,79% 0,23% -1,81% -11,74% -26,62%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan tabel common-size laporan laba rugi di atas, dapat dilihat bahwa, laba (rugi)
usaha, laba (rugi) sebelum pajak penghasilan dan laba (rugi) tahun berjalan pada 30 Juni
2026 secara berturut-turut adalah sebesar -32,78%, -33,41% dan -26,62%.
b. Ratio Analysis
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari laporan
posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan
perusahaan.
Tabel 8. Analisis Rasio Keuangan
30 Juni
Analisis Likuiditas 2022 2023 2024 2025
2026
Analisis Likuiditas
Current Ratio 1,59x 1,96x 2,38x 1,97x 1,59x
Quick Ratio 0,34x 0,58x 0,37x 0,49x 0,58x
Cash Ratio 0,28x 0,55x 0,33x 0,24x 0,16x
Analisis Solvabilitas
Debt To Assets 0,28x 0,29x 0,28x 0,25x 0,28x
Debt To Equity 0,38x 0,41x 0,39x 0,33x 0,40x
Analisis Profitabilitas
Gross Profit Margin 43,52% 50,15% 42,46% 31,57% 23,12%
Operating Profit Margin 4,99% 2,10% -0,58% -10,75% -32,78%
Net Income Margin 1,79% 0,23% -1,81% -11,74% -26,62%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 32 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 34
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Lancar (current ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar. Rasio ini
bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh jumlah aset lancar perusahaan dapat
menjamin utang jangka pendek dari kreditor. Secara umum semakin tinggi rasio lancar
maka semakin aman perusahaan. Rasio lancar perusahaan pada periode 30 Juni 2026
adalah sebesar 1,59 kali.
2. Rasio Cepat (Quick Ratio)
rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendek tanpa mengandalkan persediaan. Rasio cepat perusahaan pada 30 Juni 2026
adalah sebesar 0,58 kali.
3. Rasio Kas (cash ratio)
Rasio ini untuk mengukur jumlah kas tersedia dibanding dengan hutang lancar. Rasio kas
perusahaan pada 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,16 kali.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Beberapa rasio perusahaan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Laba Kotor atas Pendapatan (Gross Profit Margin)
Rasio yang menggambarkan kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari
kegiatan operasional utama setelah memperhitungkan harga pokok penjualan, sebagai
indikator efisiensi biaya langsung. Rasio laba kotor atas pendapatan Perusahaan pada
periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 23,12%.
2. Rasio Laba Operasi atas Pendapatan (Operating Profit Margin)
Rasio yang menunjukkan tingkat laba operasi yang dihasilkan dari penjualan setelah
memperhitungkan seluruh biaya operasional, yang mencerminkan efisiensi kegiatan usaha
inti Perusahaan. Rasio laba operasi atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni
2026 adalah sebesar -32,78%.
3. Rasio Laba Bersih atas Pendapatan (Net Profit Margin)
Rasio yang mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari
penjualan setelah memperhitungkan seluruh beban, termasuk beban non-operasional.
Halaman 33 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 35
Rasio laba bersih atas pendapatan Perusahaan pada periode 30 Juni 2026 adalah sebesar
-26,62%.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
kategori ini.
1. Rasio total debt terhadap total aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan perusahaan. Adapun tingkat
rasio debt terhadap total aset perusahaan 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,28 kali.
2. Rasio total debt terhadap total ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah debt sama dengan jumlah ekuitas. Berdasarkan
tabel rasio keuangan perusahaan diatas dapat dilihat bahwa Rasio tingkat rasio debt terhadap
total ekuitas perusahaan periode 30 Juni 2026 adalah sebesar 0,40 kali.
2.6. Prospek Usaha
Prospek usaha SOFA dalam kaitannya dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220
Aktivitas Pembiayaan Conduit terutama didukung oleh kebutuhan pendanaan untuk mendukung
pengembangan dan pembiayaan proyek di dalam grup usaha. Penambahan kegiatan usaha ini
ditujukan untuk memberikan SOFA fungsi sebagai entitas pembiayaan conduit yang dapat
menghimpun sumber pendanaan secara terpusat dan menyalurkannya kepada entitas dalam grup
yang membutuhkan pendanaan untuk pengembangan. Sebagai perusahaan terbuka, SOFA
memiliki akses terhadap sumber pendanaan yang dapat diperoleh melalui pasar modal maupun
sumber pendanaan lainnya. Dengan adanya fungsi pembiayaan conduit, proses penghimpunan
dan penyaluran dana dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi melalui satu entitas, sehingga
dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan pendanaan dan mendukung pengelolaan arus dana
antarentitas dalam grup yang terstruktur. Dana yang dihimpun akan digunakan untuk mendukung
kebutuhan pendanaan entitas dalam grup sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Rencana penambahan KBLI 64220 memiliki prospek terutama pada proyek pengolahan sampah
menjadi energi (waste to energy/WTE) seiring dengan kebutuhan investasi pada sektor
pengelolaan sampah dan energi terbarukan yang membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar.
Fungsi pembiayaan conduit dapat mendukung kemampuan grup dalam memperoleh dan
mengalokasikan sumber dana untuk pengembangan proyek kedepan. Salah satu tujuan
penyaluran dana adalah mendukung pembiayaan proyek WTE yang dikembangkan oleh entitas
dalam grup, termasuk melalui PT Ananta Energi Asia kepada PT Weiming Nusantara Alpha dan
PT Weiming Nusantara Gamma dalam bentuk setoran modal.
Proyek WTE merupakan investasi jangka panjang dengan skema penjualan tenaga listrik kepada
PT PLN (Persero) dengan potensi arus kas proyek dalam jangka panjang. Dengan demikian,
penambahan KBLI 64220 dapat berperan sebagai bagian dari pendanaan internal grup untuk
Halaman 34 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 36
mendukung kebutuhan investasi proyek. Ke depan, prospek kegiatan pembiayaan conduit SOFA
juga berpotensi berkembang sejalan dengan ekspansi portofolio grup. Dengan demikian, rencana
penambahan KBLI 64220 selain dapat menciptakan sumber pendapatan baru, tetapi dapat
membangun pendanaan terpusat yang mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan
proyek grup secara efisien dan berkelanjutan.
Halaman 35 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 37
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1. Tinjuan Ekonomi Makro Global dan Domestik
Pertumbuhan Ekonomi Global
Prospek ekonomi global telah berubah drastis karena konflik di Timur Tengah telah menimbulkan
gangguan besar di pasar energi. Sebelum konflik pecah, aktivitas global tampak berada di posisi
yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang solid di beberapa ekonomi utama dan perdagangan
global yang lebih baik dari perkiraan, di tengah pertumbuhan yang kuat pada ekspor teknologi
terkait kecerdasan buatan (AI) dan sedikit penurunan tingkat tarif. Namun, konflik ini telah
menyebabkan penurunan yang signifikan dalam prospek global, dengan sekitar dua pertiga
ekonomi di seluruh dunia menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah. Gangguan pada
aliran energi dan pasokan komoditas lainnya dari wilayah Teluk telah menyebabkan kenaikan
harga komoditas yang tajam (gambar 1.1.B). Secara keseluruhan, harga komoditas diperkirakan
akan naik 22 persen pada 2026, berbeda dengan penurunan 7 persen yang diperkirakan pada
Januari. Ini mencerminkan asumsi dasar bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu
parah hingga Juli.
18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
2023 2023 2023 2023 2024 2024 2024 2024 2025 2025 2025 2025 2026
Singapura Amerika Serikat Tiongkok Jepang Korea Selatan
Sumber: CEIC
Grafik 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara
Mayoritas bank sentral global mempertahankan suku bunga acuannya pada triwulan I tahun
2026. Kebijakan tersebut ditempuh di tengah inflasi yang mulai terkendali, namun ketidakpastian
global masih tinggi akibat volatilitas harga energi, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di
sejumlah negara. Oleh karena itu, sebagian besar otoritas moneter masih menerapkan kebijakan
yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan momentum pertumbuhan
ekonomi. Di sisi lain, beberapa negara mulai membuka ruang pelonggaran suku bunga secara
bertahap untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik Pertumbuhan Ekonomi Domestik.
Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada
kisaran 3,50–3,75% sepanjang triwulan I 2026. Kebijakan ini sejalan dengan tren inflasi inti yang
terus menurun serta kondisi pasar tenaga kerja yang semakin seimbang. Namun, The Fed tetap
Halaman 36 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 38
mencermati risiko tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan perkembangan
perdagangan global. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyampaikan bahwa kebijakan
moneter akan tetap disesuaikan berdasarkan perkembangan data, dengan tetap mengutamakan
stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, sejumlah negara OECD, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan
kawasan Euro Area, juga mempertahankan suku bunga acuannya selama triwulan I 2026. Jepang
mempertahankan tingkat suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen sekaligus
mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan
kebijakan moneternya guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan arus modal di tengah
ketidakpastian perdagangan regional. Di kawasan Euro Area, suku bunga tetap ditahan karena
tingkat inflasi masih berada di atas target, meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan
kecenderungan melambat.
Tabel 9. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara
Kelompok / Negara Jan Feb Mar
OECD
AS 3,50–3,75 3,50–3,75 3,50–3,75
Jepang 0,75 0,75 0,75
Korsel 2,50 2,50 2,50
Euro Area 2,15 2,15 2,15
BRICS
Brasil 15,00 15,00 14,75
Rusia 16,00 15,50 15,00
India 5,25 5,25 5,25
Tiongkok 3,00 3,00 3,00
Afsel 6,75 6,75 6,75
Indonesia 4,75 4,75 4,75
ASEAN
Myanmar 9,00 9,00 9,00
Thailand 1,25 1,00 1,00
Filipina 4,50 4,25 4,25
Malaysia 2,75 2,75 2,75
Vietnam 4,50 4,50 4,50
Sumber: Trading Economics
Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia Triwulan II-2026, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 mencatat Produk
Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun. Secara tahunan (year-
on-year/yoy), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% dibandingkan triwulan II-2025. Dari sisi
produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 6,68%, diikuti
Halaman 37 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 39
oleh Lapangan Usaha Lainnya sebesar 6,67% dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor sebesar 6,39%. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi
berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat sebesar
15,97%, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,87%. Secara kuartalan
(quarter-on-quarter/qoq), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 3,73% dibandingkan triwulan
I-2026. Dari aspek spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama perekonomian nasional
dengan pangsa sebesar 56,47% terhadap PDB Indonesia serta mencatat pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,65% (yoy).
5,8 5,8
5,6 5,61 5,6
5,4 5,39 5,4
5,29
5,2 5,2
5,11 5,12
5,05 5,02 5,04
5 5
4,95
4,87
4,8 4,8
4,6 4,6
4,4 4,4
Q1 2024 Q2 2024 Q3 2024 Q4 2024 Q1 2025 Q2 2025 Q3 2025 Q4 2025 Q1 2026 Q2 2026
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%) % Growth
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024 – Q2 2026 (% yoy)
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), perekonomian Indonesia diperkirakan
tetap tumbuh secara stabil dalam jangka menengah. Nilai Produk Domestik Bruto (GDP) atas
dasar harga berlaku diproyeksikan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan aktivitas
ekonomi. Dalam proyeksi IMF, nominal GDP Indonesia meningkat dari sekitar Rp23.696 triliun
pada 2025 menjadi Rp29.780 triliun pada 2028.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa skala perekonomian Indonesia diperkirakan terus
membesar, dengan konsumsi domestik dan investasi tetap menjadi penopang utama
pertumbuhan. Kondisi ini mencerminkan prospek ekonomi yang relatif stabil sekaligus
memberikan ruang bagi peningkatan aktivitas usaha dan permintaan domestik dalam jangka
menengah.
Halaman 38 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 40
40000000 37544462 9
34801878
35000000 8,1 7,9 7,9 8
7,6 7,8 7,832262242
7,8
29918819
30000000 27749649 7
6,7
25747047
6,023821104 6
25000000 22138991
20892312 5
20000000
4
15000000
3
10000000 2
5000000 1
0 0
2023 2024 2025E 2026F 2027F 2028F 2029F 2030F 2031F
GDP (Miliar Rupiah) Pertumbuhan Ekonomi(%)
Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
Grafik 3. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2031 (yoy %)
Perkembangan inflasi
Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), tingkat inflasi Indonesia menunjukkan
tren yang semakin terkendali dalam jangka menengah hingga panjang. Setelah mencapai 4,2%
pada tahun 2022 akibat tekanan inflasi global, laju inflasi menurun menjadi 3,7% pada tahun
2023 dan 2,8% pada tahun 2024. IMF memperkirakan inflasi akan tetap berada pada kisaran
2,5%–3,0% selama periode 2025–2031, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terus
meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi. Proyeksi tersebut
mencerminkan ekspektasi bahwa stabilitas harga di Indonesia akan tetap terjaga, sehingga dapat
mendukung daya beli masyarakat serta menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
Sumber: International Monetary Fund (IMF) Maret 2026, diolah
Grafik 4. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)
Perkembangan Uang Beredar di Indonesia
Uang beredar Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan positif pada Juni 2026. Posisi M2
tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 % (yoy), meskipun mengalami perlambatan
dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8 % (yoy). Berdasarkan komponennya,
pertumbuhan M2 didukung oleh peningkatan M1 dan uang kuasi. M1 yang memiliki pangsa 56,9
Halaman 39 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 41
% terhadap M2 mencapai Rp5.937,5 triliun dengan pertumbuhan 9,8 % (yoy), lebih rendah
dibandingkan 15,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan M1 terutama dipengaruhi oleh
pertumbuhan giro rupiah yang melambat menjadi 10,4 % (yoy) dari 23,9 % (yoy) pada Mei 2026.
Selain itu, pertumbuhan uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang
dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing mencapai 15,9 % dan 6,8 % (yoy), juga lebih rendah
dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, uang kuasi yang mencakup 42,3 % dari M2 meningkat 6,9 % (yoy) menjadi Rp4.409,3
triliun pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 6,0 % (yoy) pada Mei 2026.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang mencapai
6,0 % (yoy), meningkat dari 3,3 % (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, perkembangan
M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh peningkatan penyaluran kredit dan tagihan bersih
kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1
% (yoy), meningkat dibandingkan 10,8 % (yoy) pada Mei 2026. Adapun tagihan bersih kepada
pemerintah pusat tumbuh 10,1 % (yoy), meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan sebesar
37,4 % (yoy) pada Mei 2026.
Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah
Grafik 5. Perkembangan Uang Beredar di Indonesia, 2020-Q2 2026
Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk
menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps
menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Kenaikan ini
sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap
tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada
tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
Selain itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran instrumen kebijakan moneter guna
memperkuat ketahanan sektor eksternal terhadap potensi eskalasi konflik, serta melakukan
penyesuaian kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Suku
bunga Perseroan pada Mei 2026 mengalami penurunan pada jenis pinjaman modal kerja dan
Halaman 40 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 42
Pinjaman Investasi yaitu dari 8,12% menjadi 7.85% serta 8,44% menjadi 8,07% dan pada jenis
pinjaman konsumsi naik dari 8,97% menjadi 9,03% jika dibandingkan pada tahun 2025.
Tabel 10. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
Bank Persero 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026*
Pinjaman Modal Kerja Yang
8,77 8,34 8,29 8,93 8,67 8,12 7,85
Diberikan
Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,87 8,49 8,72 9,41 9,21 8,44 8,07
Pinjaman Konsumsi
10,56 10,14 9,65 9,27 9,09 8,97 9,03
Yang Diberikan
*: Q1 2026 Mei
Sumber: Bank Indonesia 2026, diolah
3.2. Kondisi Pasar
Perkembangan Industri Furnitur
Perkembangan industri furnitur menunjukkan tren yang secara umum positif sepanjang periode
pengamatan, meskipun sempat mengalami tekanan pada pertengahan 2025. Setelah meningkat
dari 10.429 pada triwulan II 2023 menjadi 11.040 pada triwulan III 2023, nilai industri tercatat
sebesar 11.355 pada triwulan IV 2024 dan kembali menguat menjadi 11.954 pada triwulan I
2025. Namun, pada triwulan II 2025 terjadi penurunan cukup signifikan menjadi 10.606, atau
turun sekitar 11,3% secara kuartalan. Pelemahan ini berlanjut secara terbatas pada triwulan III
2025, ketika nilai industri hanya meningkat menjadi 10.729.
Memasuki triwulan IV 2025, industri furnitur mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat
dengan peningkatan menjadi 11.704, atau tumbuh sekitar 9,1% dibandingkan triwulan
sebelumnya. Momentum tersebut berlanjut pada triwulan I 2026, ketika nilai industri mencapai
12.658, meningkat sekitar 8,1% secara kuartalan dan menjadi level tertinggi selama periode
pengamatan. Jika dibandingkan dengan triwulan II 2023, nilai tersebut telah meningkat sekitar
21,4%, menunjukkan adanya penguatan industri dalam jangka menengah.
13000
12658
12500
12000 11954
11704
11500
11355
11000 11040
10606 10729
10500 10429
10000
9500
9000
2023 Q2 2023 Q3 2024 Q4 2025 Q1 2025 Q2 2025 Q3 2025 Q4 2026 Q1
Industri Furnitur
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah
Grafik 6. Pertumbuhan Industri Furnitur pada PDB Nasional 2023-2026
Halaman 41 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 43
Realisasi investasi pada industri furnitur sepanjang semester I 2026 menunjukkan perkembangan
yang cukup dinamis, dengan perubahan komposisi antara Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat
sebesar Rp729,1 miliar dari PMDN dan Rp339,3 miliar dari PMA, sehingga total investasi
mencapai sekitar Rp1,07 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi industri furnitur pada
awal 2026 masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik, dengan kontribusi PMDN sekitar
68% dari total investasi.
Memasuki triwulan II 2026, realisasi PMDN mengalami penurunan menjadi Rp587,8 miliar, atau
sekitar 19,4% secara kuartalan. Namun, penurunan tersebut diimbangi oleh peningkatan investasi
asing yang cukup signifikan. Realisasi PMA meningkat menjadi Rp474,0 miliar, atau tumbuh
sekitar 39,7% dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan demikian, total investasi pada triwulan
II 2026 mencapai sekitar Rp1,06 triliun, relatif stabil dibandingkan triwulan I.
Secara kumulatif, sepanjang semester I 2026 industri furnitur berhasil mencatatkan total realisasi
investasi sekitar Rp2,13 triliun, yang terdiri dari Rp1,32 triliun PMDN dan Rp813,3 miliar PMA.
Meskipun investasi domestik masih menjadi sumber utama pembiayaan, peningkatan PMA pada
triwulan II menunjukkan adanya penguatan minat investor asing terhadap industri furnitur
Indonesia. Pergeseran komposisi investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek industri,
terutama dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi, ekspansi usaha, serta
pengembangan pasar furnitur yang berorientasi ekspor.
Industri Furnitur
800.000 729.106
700.000
587.836
600.000
474.045
500.000
400.000 339.271
300.000
200.000
100.000
-
PMDN PMA PMDN PMA
2026 - Q1 2026 - Q2
Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
Grafik 7. Realisasi Investasi Industri Furnitur Q1 2026-Q2 2026
Kinerja ekspor produk kayu dan barang dari kayu Indonesia yang tercermin melalui HS 44
menunjukkan pertumbuhan positif pada 2025. Nilai ekspor meningkat dari sekitar US$3,98 miliar
pada 2024 menjadi US$4,06 miliar pada 2025, atau tumbuh 2,2%. Peningkatan tersebut
menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk berbasis kayu Indonesia di pasar internasional
masih relatif terjaga, meskipun jumlah negara tujuan ekspor mengalami penurunan dari 172
negara menjadi 169 negara.
Di sisi lain, jumlah pelabuhan muat aktif juga menurun dari 51 pelabuhan pada 2024 menjadi
44 pelabuhan pada 2025, atau berkurang sekitar 13,7%. Menariknya, penurunan jumlah negara
Halaman 42 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 44
tujuan dan pelabuhan muat tersebut tidak diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Hal ini
mengindikasikan bahwa peningkatan nilai ekspor lebih banyak ditopang oleh kenaikan nilai
ekspor pada pasar yang masih aktif, dibandingkan dengan perluasan jumlah destinasi maupun
jalur pengiriman.
Bagi industri furnitur, kondisi tersebut memberikan sinyal yang relatif positif karena Indonesia tetap
mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilai ekspor produk berbasis kayu di tengah
penyempitan jaringan pasar dan pelabuhan ekspor. Namun, ketergantungan yang lebih besar
terhadap pasar dan jalur distribusi tertentu juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan
eksposur industri terhadap perubahan permintaan global, kebijakan perdagangan, serta biaya
logistik. Oleh karena itu, penguatan diversifikasi pasar ekspor dan efisiensi rantai pasok menjadi
penting untuk menjaga pertumbuhan ekspor furnitur Indonesia ke depan.
Tabel 11. Rekapitulasi Ekspor Indonesia — HS 44 (Wood and Articles of Wood)
Uraian 2024 2025 Perubahan
Total ekspor HS 44 3,975,152,078 4,061,806,927 86,654,849
Jumlah negara tujuan (nilai > 0) 172 169 (3)
Jumlah pelabuhan muat aktif 51 44 (7)
Sumber: Badan Pusat Statistik,2026
Pangsa Pasar
Berdasarkan hasil penyaringan perusahaan publik dengan klasifikasi industri utama Home
Furnishings, pendapatan tahun buku terakhir pada kisaran Rp10–500 miliar, serta 10 perusahaan
dengan peringkat teratas, total pendapatan kelompok emiten pembanding tercatat sebesar sekitar
Rp1,35 triliun. Dalam kelompok tersebut, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) mencatat
pendapatan LTM sebesar Rp45,1 miliar, dengan kontribusi sekitar 3,34% terhadap total
pendapatan kelompok pembanding. Posisi SOFA berada pada peringkat ke-11 dan relatif
berdekatan dengan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) yang memiliki kontribusi sebesar
3,35%.
Kelompok pembanding menunjukkan struktur pendapatan yang cukup tersebar. Silky Overseas
Limited memiliki kontribusi terbesar sebesar 14,94%, diikuti oleh Spring Art Holdings Berhad
sebesar 14,47% dan Pil Italica Lifestyle Limited sebesar 14,01%. Tiga perusahaan tersebut secara
kumulatif menyumbang sekitar 43,4% dari total pendapatan kelompok, sedangkan SOFA memiliki
kontribusi yang relatif kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan dengan pendapatan terbesar.
Dari sisi posisi kompetitif, pendapatan SOFA sebesar Rp45,1 miliar menunjukkan bahwa skala
pendapatannya masih berada di bawah sebagian besar emiten pembanding. Namun, nilai
tersebut relatif berdekatan dengan SPRE dan masih lebih tinggi dibandingkan Fancy Wood
Industries PCL yang memiliki kontribusi sebesar 3,41% dengan pendapatan Rp46,1 miliar. Hal ini
menunjukkan bahwa SOFA berada dalam kelompok emiten dengan skala pendapatan yang
relatif lebih kecil, sehingga terdapat ruang untuk meningkatkan skala usaha apabila perusahaan
mampu memperluas kapasitas produksi, jaringan distribusi, maupun penetrasi pasar.
Halaman 43 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 45
Silky Overseas Limited Spring Art Holdings Berhad
Pil Italica Lifestyle Limited Hing Lee (HK) Holdings Limited
Thuan An Wood Processing JSC FACB Industries Incorporated Berhad
Maruti Interior Products Limited Priti International Limited
Fancy Wood Industries PCL PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk
PT Solusi Environment Asia Tbk
3%3% 15%
4%
4%
7%
15%
10%
12% 14%
13%
Sumber: S&P,2026
Grafik 8. Pangsa Pasar Terhadap Industri terkait
Sasaran
Sasaran pasar utama Perseroan adalah pasar furnitur kelas menengah di dalam negeri, terutama
pelanggan korporasi seperti perusahaan properti, hotel, dan bisnis lainnya yang membutuhkan
pengadaan furnitur secara berkala dalam jumlah tertentu. Selain itu, Perseroan juga menyasar
konsumen ritel kelas menengah di perkotaan yang terus berkembang seiring dengan
pertumbuhan sektor properti dan hunian.
Fokus pada pasar domestik dipilih karena Perseroan saat ini masih berada pada tahap
pengembangan skala usaha yang berfokus pada penguatan pasar inti di dalam negeri. Dengan
pendapatan sekitar Rp45,13 miliar, Perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan di industri
furnitur yang memiliki tingkat persaingan cukup beragam di tingkat regional. Kondisi ini
mendorong Perseroan untuk memprioritaskan penguatan posisi di pasar domestik terlebih dahulu,
khususnya melalui produk furnitur yang memiliki nilai tambah dan diferensiasi, sehingga dapat
membangun fondasi bisnis yang lebih solid.
Definisi KBLI Pembiyaan Conduit
Berdasarkan Direktori Klasifikasi KBLI, KBLI 64220 merupakan kode 5-digit yang digunakan untuk
mengklasifikasikan aktivitas pembiayaan conduit. Kegiatan ini termasuk dalam kategori Aktivitas
Keuangan dan Asuransi, khususnya pada kelompok aktivitas pembiayaan conduit dalam
golongan pokok 64 pada KBLI 2025 yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Secara umum, pembiayaan conduit merupakan kegiatan ketika suatu entitas dibentuk oleh grup
perusahaan, baik grup keuangan maupun nonkeuangan, untuk menghimpun atau meminjam
dana, kemudian menyalurkannya kembali kepada perusahaan induk atau entitas lain dalam grup
yang sama. Dana tersebut umumnya diperoleh melalui pinjaman atau penghimpunan dana dari
pasar terbuka.
Halaman 44 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 46
KBLI 64220 juga mencakup beberapa bentuk kegiatan pembiayaan dalam grup, antara lain:
• Pembiayaan antar perusahaan dalam satu grup, yang dilakukan oleh entitas keuangan yang
secara khusus dibentuk atau dikendalikan oleh grup (captive financial institution).
• Entitas yang berfungsi sebagai perantara penghimpunan dan penyaluran dana kepada
perusahaan induk (brass plate company). Entitas seperti ini umumnya dimiliki, secara
langsung maupun tidak langsung, oleh perusahaan nonresiden, memiliki sedikit atau bahkan
tidak memiliki karyawan, serta memiliki kegiatan operasional dan keberadaan fisik yang
sangat terbatas di negara tempat entitas tersebut terdaftar.
Dengan demikian, KBLI 64220 pada dasarnya menggambarkan entitas yang berperan sebagai
perantara keuangan di dalam suatu grup perusahaan, terutama untuk menghimpun dan
menyalurkan dana antarentitas dalam grup.
Pangsa Pasar KBLI Pembiyaan Conduit
Aktivitas Pembiayaan Conduit memiliki karakteristik yang berbeda dengan kegiatan pembiayaan
yang ditujukan kepada masyarakat atau pihak eksternal secara umum. Berdasarkan KBLI 2025,
aktivitas pembiayaan conduit merupakan bagian dari aktivitas perusahaan induk dan pembiayaan
conduit yang dapat digunakan untuk mengatur dan menyalurkan dana di dalam suatu grup
perusahaan.
Dengan karakteristik tersebut, pangsa pasar kegiatan pembiayaan conduit Perseroan tidak diukur
berdasarkan pangsa pasar pembiayaan secara nasional, melainkan berdasarkan cakupan
kebutuhan pendanaan entitas dalam grup yang dapat didukung melalui kegiatan conduit. Dalam
hal ini, entitas anak dan entitas lain dalam grup yang memiliki kebutuhan pendanaan untuk
pengembangan usaha menjadi bagian dari cakupan kegiatan yang dapat dilayani.
Pengembangan kegiatan pembiayaan conduit dengan demikian akan mengikuti perkembangan
portofolio usaha dan kebutuhan pendanaan dalam grup. Semakin berkembang investasi dan
kegiatan usaha entitas dalam grup, semakin besar pula ruang penggunaan fungsi conduit untuk
mendukung kebutuhan pendanaan tersebut.
Kesinambungan KBLI Pembiyaan Conduit
Kesinambungan kegiatan Pembiayaan Conduit didukung oleh kebutuhan pendanaan yang dapat
muncul sejalan dengan pengembangan investasi dan kegiatan usaha dalam grup. Sebagai
bagian dari struktur grup, Perseroan dapat menjalankan fungsi conduit untuk mendukung
kebutuhan pendanaan entitas dalam grup sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
portofolio usaha.
Keberadaan investasi AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya menjadi salah satu
contoh kebutuhan pendanaan yang dapat berkembang sejalan dengan tahapan pengembangan
proyek. Selain itu, apabila Perseroan melakukan pengembangan investasi atau menambah
portofolio melalui entitas anak, kebutuhan pendanaan yang timbul dari investasi tersebut dapat
menjadi bagian dari ruang penggunaan kegiatan conduit.
Dengan demikian, kesinambungan kegiatan conduit tidak hanya bergantung pada satu proyek
atau satu sektor usaha, tetapi mengikuti perkembangan investasi dan kebutuhan pendanaan
Halaman 45 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 47
dalam grup. Hal ini memberikan ruang bagi kegiatan conduit untuk terus digunakan sejalan
dengan pengembangan portofolio dan kegiatan usaha Perseroan.
Potensi pasar KBLI Pembiyaan Conduit
Potensi kegiatan Pembiayaan Conduit berasal dari kebutuhan pendanaan yang timbul dari
pengembangan investasi dan kegiatan usaha dalam grup. Pengembangan portofolio investasi
melalui entitas anak dapat membutuhkan sumber pendanaan untuk investasi baru,
pengembangan proyek, maupun kebutuhan pendanaan lainnya.
Dalam konteks Perseroan, AEA telah memiliki investasi pada proyek PSEL Denpasar Raya dan
Bogor Raya yang dapat terus berkembang sesuai dengan tahapan proyek. Selain itu, Perseroan
memiliki ruang untuk mengembangkan investasi pada proyek atau sektor usaha lainnya melalui
entitas anak. Perkembangan tersebut dapat menciptakan kebutuhan pendanaan baru yang dapat
didukung melalui kegiatan Pembiayaan Conduit.
Maka, potensi kegiatan conduit sejalan dengan pertumbuhan portofolio investasi dan kebutuhan
pendanaan entitas dalam grup, sehingga tidak terbatas pada proyek PSEL yang telah dimiliki saat
ini.
Sasaran KBLI Pembiyaan Conduit
Sasaran pasar dari kegiatan Pembiayaan Conduit adalah entitas dalam grup Perseroan yang
memiliki kebutuhan pendanaan untuk mendukung kegiatan usaha dan pengembangan investasi.
Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan pendanaan induk maupun entitas lain dalam
grup sesuai dengan struktur dan kebutuhan usaha Perseroan.
Kebutuhan pendanaan tersebut dapat berasal dari berbagai kegiatan, antara lain pengembangan
investasi baru, pengembangan proyek yang telah berjalan, kebutuhan modal kerja, maupun
kebutuhan pendanaan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan usaha grup.
Dalam konteks Perseroan, kegiatan conduit dapat mendukung kebutuhan pendanaan entitas
anak, termasuk AEA, dalam rangka pengembangan investasi yang dimiliki maupun peluang
investasi baru yang akan dikembangkan. Sejalan dengan hal tersebut, sasaran kegiatan conduit
dapat berkembang sejalan dengan bertambahnya investasi dan entitas dalam grup.
Potensi nilai pasar KBLI Pembiyaan Conduit
Potensi nilai dari rencana kegiatan usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit berasal dari kebutuhan
pendanaan Perseroan dan entitas dalam grup seiring dengan pengembangan investasi dan
kegiatan usaha. Melalui conduit, Perseroan dapat mengatur dan menyalurkan dana di dalam grup
untuk mendukung kebutuhan pendanaan entitas yang membutuhkan, sesuai dengan struktur dan
kebutuhan masing-masing kegiatan usaha.
Potensi tersebut dapat berkembang sejalan dengan bertambahnya investasi, pengembangan
proyek, maupun kebutuhan pendanaan lainnya dalam grup. Dalam konteks Perseroan, kebutuhan
pendanaan untuk pengembangan investasi melalui entitas anak, termasuk investasi pada proyek
PSEL, dapat menjadi salah satu sumber kebutuhan yang berpotensi difasilitasi melalui kegiatan
conduit.
Halaman 46 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 48
Dengan karakteristik tersebut, potensi nilai kegiatan conduit lebih tepat dilihat dari besarnya
kebutuhan pendanaan internal grup yang dapat difasilitasi, bukan dari ukuran pasar pembiayaan
nasional. Semakin berkembang portofolio investasi dan kegiatan usaha grup, semakin besar pula
potensi kebutuhan pendanaan yang dapat didukung melalui kegiatan conduit.
3.3. Persaingan Pasar
Industri Furnitur
Persaingan industri furnitur cukup ketat, terutama dari negara produsen besar seperti Tiongkok
dan Vietnam yang memiliki skala ekspor jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Dengan ekspor
furnitur Indonesia sebesar US$1,85 miliar pada 2025, persaingan berdasarkan volume dan harga
menjadi cukup berat. Karena itu, peluang Perseroan lebih realistis diarahkan pada kualitas,
desain, dan produk dengan nilai tambah.
Dibandingkan emiten pembanding regional, skala usaha Perseroan masih relatif kecil dengan
pendapatan Rp45,13 miliar atau sekitar 3,34% dari total pendapatan kelompok pembanding.
Namun, penurunan pendapatan juga dialami sebagian besar perusahaan pembanding, sehingga
tekanan yang terjadi menunjukkan adanya tantangan di tingkat industri.
KBLI Pembiyaan Conduit
Aktivitas Pembiayaan Conduit memiliki keunikan sendiri yang berbeda dengan kegiatan
pembiayaan lainnya yaitu melayani pembiayaan pihak eksternal. Kegiatan conduit ini merupakan
aktivitas pembiayaan dalam grup perusahaan yang berfungsi untuk mengatur dan menyalurkan
dana kepada entitas dalam grup segagaimana telah dijelaskan pada difinisi KBLI. Karenanya,
persaingan usaha pada aktivitas conduit tidak secara langsung berhadapan dengan bank atau
perusahaan pembiayaan dalam memperoleh nasabah pembiayaan.
Persaingan lebih relevan dilihat dari kemampuan Perseroan dalam memperoleh akses terhadap
sumber pendanaan yang kompetitif, baik melalui hubungan dengan lembaga keuangan maupun
sumber pendanaan lainnya. Dalam hal ini, aspek yang perlu diperhatikan antara lain ketersediaan
sumber dana, biaya pendanaan, tenor, persyaratan pembiayaan, serta kemampuan Perseroan
dan entitas dalam grup dalam memenuhi persyaratan pendanaan.
3.4. Strategi Pemasaran
Industri Furnitur
Perseroan akan memprioritaskan pasar domestik, terutama pelanggan korporasi seperti properti,
hotel, dan instansi yang membutuhkan furnitur secara berkala. Untuk pasar ritel, pemasaran dapat
diperluas melalui kanal digital dan kerja sama dengan peritel furnitur.
Pasar ekspor akan dikembangkan secara bertahap dengan fokus pada produk bernilai tambah
dan volume yang terukur. Timur Tengah dan India dapat menjadi pasar alternatif seiring dengan
upaya pemerintah memperluas tujuan ekspor furnitur Indonesia.
Halaman 47 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 49
KBLI Pembiyaan Conduit
Strategi pengembangan Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220) diarahkan untuk membangun
akses terhadap sumber pendanaan dan menyalurkannya kepada entitas dalam grup sesuai
dengan kebutuhan pendanaan. Strategi yang dilakukan meliputi:
1. Pengembangan hubungan dengan lembaga keuangan
Membangun dan menjaga hubungan dengan bank dan lembaga keuangan untuk
memperoleh akses terhadap sumber pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan Perseroan
dan entitas dalam grup.
2. Akses dan sourcing sumber pendanaan
Mengidentifikasi dan menjajaki berbagai sumber pendanaan yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan pendanaan dalam grup, dengan mempertimbangkan karakteristik,
kebutuhan, dan struktur pendanaan masing-masing kegiatan usaha.
3. Penghimpunan atau peminjaman dana
Mengupayakan penghimpunan atau peminjaman dana dari sumber pendanaan yang telah
dijajaki dengan mempertimbangkan skema dan persyaratan pendanaan yang wajar dan
layak bagi Perseroan maupun entitas dalam grup.
4. Penyaluran dana kepada entitas dalam grup
Menyalurkan dana yang diperoleh melalui aktivitas conduit kepada entitas dalam grup sesuai
dengan kebutuhan dan tujuan pendanaan yang telah ditetapkan.
Dengan strategi tersebut, aktivitas conduit diarahkan untuk memperkuat akses terhadap sumber
pendanaan serta mendukung pemenuhan kebutuhan pendanaan entitas dalam grup secara
terstruktur.
3.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar
Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki
peluang yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait masih
memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara nasional
didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah. Perseroan
juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya,
sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangan portofolio usaha.
Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap
melalui pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta
pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar,
kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha,
aspek pasar rencana kegiatan penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang
pertumbuhan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang
investasi dan kondisi pasar yang berlaku.
Halaman 48 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 50
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1. Bisnis Perusahaan
Perseroan saat ini menjalankan kegiatan usaha utama di bidang industri furnitur dari kayu (KBLI
31001) dan industri furnitur dari logam (KBLI 31004), dengan produk berupa meja, kursi, tempat
tidur, lemari, rak, kabinet, serta produk furnitur lainnya untuk kebutuhan rumah tangga dan
perkantoran. Sejalan dengan perkembangan strategi usaha, Perseroan juga melakukan
diversifikasi portofolio melalui penyertaan modal pada entitas yang bergerak di bidang
pengelolaan lingkungan dan energi, termasuk pengembangan proyek pengolahan sampah
menjadi energi (waste to energy/WTE). Perkembangan tersebut menyebabkan kebutuhan
pendanaan grup menjadi semakin beragam dan membutuhkan pengelolaan sumber dana yang
lebih terstruktur.
Perseroan berencana memperkuat fungsi pendanaan pada tingkat Perseroan. Oleh karena itu,
SOFA merencanakan penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit sebagai dasar
kegiatan usaha untuk menjalankan fungsi pembiayaan conduit dalam struktur grup. Penambahan
ini memberikan landasan bagi Perseroan dalam menjalankan fungsi sebagai entitas pembiayaan
conduit, yaitu menghimpun atau memperoleh sumber pendanaan dan selanjutnya menyalurkan
dana tersebut kepada induk perusahaan atau entitas lain dalam grup sesuai dengan struktur dan
tujuan pendanaan yang ditetapkan. Dengan fungsi tersebut, pengelolaan pendanaan dapat
dilakukan secara lebih terpusat, terkoordinasi, dan efisien, sekaligus mendukung kebutuhan
investasi dan pengembangan usaha entitas dalam grup. Fungsi pembiayaan conduit pada SOFA
dapat mendukung proses penyediaan pendanaan bagi entitas dalam grup tanpa mengubah
operasional masing-masing entitas.
Sebagai perusahaan terbuka, SOFA memiliki akses terhadap berbagai alternatif sumber
pendanaan, termasuk sumber pendanaan melalui pasar modal. Dengan demikian, penambahan
KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit merupakan bagian dari strategi Perseroan dalam
mendukung penghimpunan dan penyaluran sumber dana terstruktur ke entitas grup, serta
mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan portofolio usaha grup yang berkelanjutan.
4.2. Teknis Pelaksanaan Sebagai Entitas Pembiayaan Conduit
Dalam rangka mendukung rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit, SOFA akan menjalankan fungsi sebagai entitas pembiayaan conduit yang
berfokus pada penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada entitas dalam grup
sesuai dengan tujuan dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan
tersebut akan dilakukan dengan memperhatikan kesiapan struktur organisasi, sumber daya
manusia, mekanisme pengelolaan dana, serta kebutuhan pendanaan entitas penerima. Secara
teknis, pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit akan mencakup proses perencanaan kebutuhan
dana, penentuan sumber dan struktur pendanaan, penghimpunan dana, penyaluran dana
kepada entitas penerima, serta pemantauan penggunaan dan pengembalian dana sesuai dengan
perjanjian dan ketentuan yang berlaku.
Dalam rencana transaksi yang akan dilakukan oleh SOFA, dana yang dihimpun oleh Perseroan
akan disalurkan melalui PT Ananta Energi Asia (AEA) sebagai entitas anak dengan kepemilikan
sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal pada WNA dan WNG.
Halaman 49 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 51
Dana yang diterima WNA dan WNG kemudian digunakan sesuai dengan tujuan kebutuhan
pendanaan pada perusahaan operasional. Dengan mekanisme tersebut, SOFA tidak
menjalankan kegiatan operasional proyek secara langsung. Fungsi pada tingkat Perseroan
meliputi perencanaan dan pengelolaan pendanaan, pengendalian keuangan, pemantauan
penggunaan dana, manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Pemantauan dilakukan melalui pelaporan keuangan dan penggunaan dana secara berkala,
evaluasi terhadap kebutuhan pendanaan, serta pengawasan atas pemenuhan kewajiban
berdasarkan perjanjian pendanaan.
Skema pengembalian dana kepada Perseroan berlangsung secara berjenjang mengikuti rantai
kepemilikan yang terbentuk dari penyaluran dana. Perolehan laba pada perusahaan proyek waste
to energy diserap oleh WNA dan WNG selaku perusahaan konsorsium melalui skema pembagian
dividen sesuai porsi kepemilikannya sebesar masing-masing 70%. Selanjutnya, WNA dan WNG
membagikan dividen kepada AEA selaku pemegang saham, dan pada akhirnya AEA menyalurkan
hasil tersebut kepada Perseroan sehingga tercatat sebagai pendapatan dividen SOFA. Dengan
mekanisme tersebut, pengembalian dana kepada Perseroan sepenuhnya bergantung pada kinerja
dan kemampuan perusahaan proyek dalam menghasilkan laba setelah beroperasi secara
komersial, serta pada kebijakan pembagian dividen pada masing-masing jenjang entitas. Seluruh
aliran dana, baik pada tahap penyaluran maupun pengembaliannya, berlangsung di dalam
lingkup entitas grup Perseroan tanpa melibatkan pihak ketiga di luar grup.
Berdasarkan uraian KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit, kelompok ini mencakup kegiatan
unit yang dibentuk oleh grup lembaga keuangan atau bukan keuangan untuk mengumpulkan
atau meminjam dana dan mengirimkan dana tersebut kepada induk perusahaan atau entitas lain
di dalam grup perusahaan yang bersangkutan, termasuk aktivitas institusi captive financial yang
terlibat dalam pinjaman antar entitas di dalam grup, serta secara eksplisit tidak mencakup jasa
pengelolaan dana dan utang masyarakat. Sejalan dengan uraian tersebut, cakupan pihak yang
menerima penyaluran dana dari Perseroan terbatas secara eksklusif pada entitas dalam grup
Perseroan, yaitu AEA selaku entitas anak dan selanjutnya WNA serta WNG. Perseroan tidak
menyalurkan dana kepada pihak ketiga di luar grup, tidak menawarkan fasilitas pembiayaan
kepada masyarakat umum, serta tidak menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan. Adapun penghimpunan dana yang dilakukan Perseroan bersumber dari instrumen
pasar modal dan/atau fasilitas perbankan yang pelaksanaannya tunduk pada ketentuan pasar
modal yang berlaku bagi Perseroan selaku emiten.
Proses Produksi dan/atau Operasional
Dalam kegiatan usaha existing, SOFA menjalankan kegiatan produksi furnitur berbahan dasar
kayu dan logam yang didukung oleh fasilitas dan proses produksi yang dimiliki Perseroan. Namun,
pada rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit,
Perseroan tidak menjalankan kegiatan produksi secara langsung. Kegiatan usaha tersebut
berfokus pada fungsi pembiayaan conduit, yaitu penghimpunan dan pengelolaan sumber dana
untuk selanjutnya disalurkan kepada entitas penerima sesuai dengan tujuan dan struktur
pendanaan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, SOFA akan melakukan perencanaan
kebutuhan pendanaan, penentuan sumber dan struktur pembiayaan, penyaluran dana melalui
entitas yang ditetapkan, pemantauan penggunaan dana, serta pengawasan atas pemenuhan
kewajiban berdasarkan perjanjian dan ketentuan yang berlaku.
Halaman 50 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 52
Alur dan Flow Chart
Sehubungan dengan rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit, Perseroan
tidak memiliki production flow. Secara umum, alur kegiatan dimulai dari identifikasi kebutuhan
pendanaan, analisis dan persetujuan struktur pembiayaan, penghimpunan atau penyediaan dana
oleh Perseroan, penyaluran dana kepada entitas penerima melalui struktur yang telah ditetapkan,
pemantauan penggunaan dana, serta pelaporan dan evaluasi atas realisasi penggunaan dana.
Dengan demikian, alur kegiatan KBLI 64220 berfokus pada pengelolaan dan pengendalian arus
pendanaan.
4.3. Rencana Pengembangan Fungsi Pembiayaan Conduit
Dalam rangka mendukung pengembangan kegiatan usaha dan kebutuhan pendanaan investasi
dalam grup, SOFA berencana menambahkan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit. Penambahan kegiatan usaha ini ditujukan untuk fungsi pendanaan yang
terpusat pada tingkat Perseroan, khususnya dalam kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan
penyaluran dana kepada entitas dalam grup sesuai dengan tujuan penggunaan dan struktur
transaksi yang telah ditetapkan.
Rencana tersebut sejalan dengan kebutuhan pendanaan proyek waste to energy (WTE) yang
memiliki karakteristik kebutuhan modal relatif besar dan periode pengembangan serta
pengembalian investasi yang panjang. Dalam pelaksanaannya, SOFA sebagai perusahaan
terbuka memiliki akses terhadap sumber pendanaan, termasuk melalui pinjaman bank dan
sumber pendanaan lainnya, yang selanjutnya dapat disalurkan kepada entitas dalam grup untuk
mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan proyek.
Berdasarkan rencana struktur transaksi, dana yang dihimpun oleh Perseroan akan disalurkan
kepada AEA sebagai entitas anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan
sebagai setoran modal pada WNA dan WNG, masing-masing dengan rencana kepemilikan
sebesar 10%. WNA dan WNG selanjutnya berperan sebagai entitas penyertaan yang memiliki
kepemilikan pada perusahaan operasional proyek. Dengan demikian, kegiatan berdasarkan KBLI
64220 tidak mengubah kegiatan operasional existing SOFA di bidang industri furnitur, melainkan
untuk membentuk fungsi pembiayaan conduit yang mendukung kebutuhan pendanaan investasi
secara terstruktur.
Struktur Penyertaan dan Alur Pendanaan
SOFA berencana untuk melakukan penyetoran modal pada perusahaan-perusahaan dalam
konsorsium melalui entitas anaknya, AEA, guna mendukung pendanaan konstruksi proyek
pengolahan sampah menjadi energi. Dana yang digunakan untuk penyetoran modal tersebut
dihimpun oleh Perseroan pinjaman bank, yang selanjutnya disalurkan kepada AEA dan diteruskan
kepada WNA dan WNG sesuai porsi penyertaan yang direncanakan. Berikut informasi mengenai
para pihak yang menjadi pemegang saham dalam struktur penyertaan Perseroan:
1. PT Weiming Nusantara Alpha
PT Weiming Nusantara Alpha (“WNA”) merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan
Akta Pendirian No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di
Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum
Halaman 51 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 53
Republik Indonesia Nomor AHU-0012748.AH.01.01.Tahun 2026 Tentang Pengesahan
Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming Nusantara Alpha. Anggaran dasar
perusahaan telah mengalami perubahan dengan perubahan terakhir berdasarkan Akta No.
08 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat
dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No. AHU-AH.01.09-0338739 Tanggal 19 Juni
2026 tentang perubahan peralihan saham.
Kegiatan usaha WNA berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 08 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
pemegang saham WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Susunan Pemegang Saham WNA
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
Zhejiang Weiming Environment
790.000 79,00% 790.000 13.272.000.000
Protection Co., Ltd.,
Lentera Merah Investment Pte.,
100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Ltd.,
PT Perkasa Eka Cipta Investama 10.000 1,00% 10.000 168.000.000
PT Ananta Energi Asia 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Total 1.000.000 100,00% 1.000.000 16.800.000.000
Sumber: Informasi Manajemen
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 04 Tanggal 11 Februari 2026 susunan
Dewan Komisaris dan Direksi WNA periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris : Cheng, Peng
Direksi:
Direktur Utama : Xiang, Yihao
Direktur : Xiang, Guangfeng
Direktur : Lin, Jiqun
2. PT Weiming Nusantara Gamma
PT Weiming Nusantara Gamma (“WNG”) merupakan perusahaan yang didirikan
berdasarkan Akta Pendirian No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 oleh Mina Ng., SH., MKn.,
Notaris di Jakarta, akta telah mendapatkan pengesahan berdasarkan Keputusan Menteri
Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0020345.AH.01.01.TAHUN 2026 Tanggal 10
Maret 2026 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Weiming
Halaman 52 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 54
Nusantara Gamma. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami perubahan dengan
perubahan terakhir berdasarkan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 oleh Mina Ng., SH.,
MKn., Notaris di Jakarta, akta telah dicatat dan diterima oleh Kementerian Hukum Republik
Indonesia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan No.
AHU-AH.01.09-0322886 Tanggal 09 Juni 2026 tentang perubahan peralihan saham.
Kegiatan usaha WNG berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan yaitu berusaha
dibidang KBLI 64200 Aktivitas Perusahaan Holding. Untuk mencapai maksud dan tujuan
tersebut perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mencakup kegiatan dari
perusahaan holding (holding companies), yaitu perusahaan yang menguasai aset dari
sekelompok perusahaan subsidiari dan kegiatan utamanya adalah kepemilikan kelompok
tersebut. “Holding Companies” tidak terlibat dalam kegiatan usaha perusahaan subsidarinya.
Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat (consellors) dan perunding
(negotiators) dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan.
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 11 Tanggal 08 Juni 2026 susunan
pemegang saham WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Tabel 13. Susunan Pemegang Saham WNG
Jumlah Jumlah
Nama Pemegang Saham Jumlah saham % saham
(USD) (Rp)
Weiming Environment Protection
790.000 79,00% 790.000 13.272.000.000
(Hongkong) Limited
Lentera Merah Investment Pte., Ltd., 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
PT Perkasa Eka Cipta Investama 10.000 1,00% 10.000 168.000.000
PT Ananta Energi Asia 100.000 10,00% 100.000 1.680.000.000
Total 1.000.000 100,00% 1.000.000 16.800.000.000
Sumber: Informasi Manajemen
Berdasarkan informasi manajemen dan Akta No. 07 Tanggal 09 Maret 2026 susunan Dewan
Komisaris dan Direksi WNG periode 30 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris : Cheng, Peng
Direksi:
Direktur Utama : Xiang, Yihao
Direktur : Xiang, Guangfeng
Direktur : Lin, Jiqun
Struktur Kepemilikan Entitas Anak
Alur pendanaan dilaksanakan dari Perseroan kepada AEA sebagai entitas anak dengan
kepemilikan 99%, selanjutnya diteruskan oleh AEA kepada WNA dan WNG dalam bentuk setoran
modal dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, sementara 90% sisanya dimiliki
oleh anggota konsorsium lain. WNA dan WNG selanjutnya menyalurkan modal tersebut kepada
perusahaan operasional (operating company) proyek Denpasar Raya (atau Proyek Bali) dan proyek
Bogor Raya (atau Proyek Bogor). Rincian struktur kepemilikan pada entitas konsorsium sebagai
berikut:
Halaman 53 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 55
Grafik 9. Struktur Kepemilikan pada Entitas Anak
Sumber: Informasi Manajemen
4.4. Proses Bisnis Entitas Konsorsium
WNA dan WNG merupakan entitas dalam struktur konsorsium yang menjadi tujuan penambahan
setoran modal Perseroan melalui entitas anaknya, AEA. Kedua entitas tersebut berkedudukan
sebagai pemegang saham mayoritas, masing-masing sebesar 70%, pada perusahaan
operasional (operating company) proyek Bali dan proyek Bogor, sedangkan 30% sisanya dimiliki
secara tidak langsung oleh PT Danantara Investment Management melalui anak usahanya, PT
Daya Energi Bersih Nusantara. Perusahaan konsorsium beroperasi sebagai penerima setoran
modal dari pemegang saham dan pemberi setoran modal kepada perusahaan project waste to
energy. Dengan begitu, kepemilikan SOFA pada perusahaan proyek waste to energy merupakan
kepemilikan tidak langsung lewat perusahaan konsorsium WNA dan WNG. Selanjutnya perolehan
laba pada perusahaan proyek waste to energy diserap oleh perusahaan konsorsium lewat skema
pembagian dividen, dan selanjutnya perolehan tersebut diserap SOFA lewat mekanisme
pembagian dividen dari WNA dan WNG ke pendapatan dividen SOFA.
Proyek yang dijalankan perusahaan proyek sendiri bergerak di bidang pengolahan sampah
menjadi energi (waste to energy/WTE), yaitu solusi penanganan limbah yang efisien untuk
mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang
berkelanjutan. Dengan mengubah sampah kota menjadi energi yang dapat digunakan, fasilitas
WTE membantu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, menurunkan emisi
gas rumah kaca, meningkatkan sanitasi lingkungan, serta mendukung transisi menuju sumber
energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Indonesia saat ini memasuki tahap mempercepat pengembangan pengolahan sampah menjadi
energi. Didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, industri ini memperoleh
manfaat dari kejelasan regulasi yang lebih kuat, koordinasi proyek yang terpusat dan dirancang
untuk meningkatkan kelayakan proyek jangka panjang. Peraturan Presiden tersebut secara resmi
mencabut dan menggantikan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Kepastian harga dan
Halaman 54 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 56
jangka waktu kontrak tersebut menghasilkan arus kas yang dapat diproyeksikan pada tingkat
perusahaan operasional, sehingga menjadi dasar pertimbangan utama dalam skema pendanaan
yang direncanakan Perseroan.
Kedua proyek yang dinaungi WNA dan WNG berada pada lokasi prioritas nasional, yaitu
Denpasar Raya dan Bogor Raya, yang termasuk dalam lima lokasi yang ditargetkan memulai
pembangunan pada tahap awal sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun
2025. Proyek-proyek tersebut saat ini sedang menjalani persiapan teknis sebelum konstruksi.
Proses bisnis pada perusahaan operasional disusun dengan mengacu pada model usaha
pengolahan sampah berbasis teknologi termal dan pembangkitan tenaga listrik pada umumnya
mencakup tahapan pengembangan proyek, penerimaan dan pengolahan sampah,
pembangkitan serta penjualan tenaga listrik, hingga penanganan residu dan pemantauan
lingkungan. Secara umum proses bisnis WTE sebagai berikut:
1. Pengembangan Proyek
• Studi Kelayakan
• Karakterisasi Sampah
• Kesiapan Lokasi & Lahan
• Perizinan & Persetujuan Lingkungan
• Penandatanganan PPA dengan PLN
• Financial Close
2. Pengadaan Teknologi & Konstruksi
• Pemilihan Penyedia Teknologi
• Penandatanganan Kontrak EPC
• Rekayasa, Pengadaan & Konstruksi (EPC)
• Penyelesaian Konstruksi (Mechanical Completion)
• Uji Jaminan Kinerja (Performance Guarantee)
3. Commissioning & Persiapan Operasi
• Uji Commissioning
• Uji Kinerja Pembangkit
• Dimulainya Operasi Komersial (COD)
4. Pembangkitan & Penjualan Listrik/Operasi Komersial
• Penerimaan & Pengolahan Sampah
• Produksi Tenaga Listrik dari Sampah
• Penjualan Listrik kepada PLN
• Pelaksanaan PPA selama 30 Tahun
• Arus kas Proyek Mulai Berjalan
5. Optimasi, Pemeliharaan & Kepatuhan Lingkungan
• Pemeliharaan Rutin Pembangkit
• Optimalisasi Kinerja Pembangkit
• Pengelolaan Bottom Ash & Fly Ash
• Pemantauan Emisi & Kepatuhan Lingkungan
4.5. Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh
kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan
kebutuhan pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada
Halaman 55 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 57
entitas dalam grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan
dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan.
Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas
anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal
pada WNA dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan
oleh entitas operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan
pengawasan arus dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan
WNA dan WNG serta mitra teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam
menyusun dan menyalurkan pendanaan sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan
demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak,
didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian arus dana, pemantauan penggunaan dana,
serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Halaman 56 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 58
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Kegiatan Utama Usaha
Sesuai dengan Akta No. 36 Tanggal 27 Januari 2020, Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan,
maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha di bidang industri furnitur; perdagangan besar
selain kendaraan bermotor dan sepeda motor; jasa konstruksi khusus; aktivitas profesional,
ilmiah, dan teknis lainnya; jasa reparasi barang keperluan pribadi serta perlengkapan rumah
tangga; serta aktivitas jasa keuangan di luar sektor asuransi dan dana pensiun, guna mendukung
pengembangan usaha yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Perseroan dalam menjalankan
maksud dan tujuannya dapat melaksanakan berbagai kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha utama SOFA:
a. Industri furnitur dari kayu (KBLI 31001), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur
berbahan dasar kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran, antara lain
meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet, penyekat ruangan, serta produk
sejenis lainnya; dan
b. Industri furnitur dari logam (KBLI 31004), yaitu kegiatan usaha pembuatan furnitur untuk
kebutuhan rumah tangga dan perkantoran yang menggunakan bahan utama logam,
termasuk meja, kursi, rak, spring bed, serta produk furnitur sejenis.
2. Kegiatan usaha penunjang SOFA:
a. Perdagangan eceran furniture (KBLI 47591), meliputi kegiatan perdagangan eceran
khusus furnitur seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, rak sepatu, bufet, serta
produk furnitur lainnya, termasuk perdagangan eceran khusus kasur dan perlengkapan
tidur seperti bantal dan guling;
b. Perdagangan eceran peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya (KBLI 47599),
yaitu kegiatan perdagangan eceran khusus peralatan dan perlengkapan rumah tangga
yang belum diklasifikasikan secara khusus dalam subgolongan lainnya;
c. Perdagangan besar atas dasar balas jasa (fee) atau kontra) (KBLI 46100), yang meliputi
kegiatan agen, perantara (makelar), broker, dan pedagang besar lainnya yang
melakukan transaksi perdagangan barang di dalam maupun luar negeri atas nama
pihak lain. Ruang lingkup usaha mencakup berbagai komoditas, antara lain bahan
baku pertanian, tekstil, logam, bahan kimia, makanan dan minuman, kayu dan bahan
bangunan, mesin dan perlengkapan industri, furnitur, serta barang keperluan rumah
tangga, tidak termasuk perdagangan besar mobil dan sepeda motor (KBLI 451–454);
d. Jasa dekorasi interior (KBLI 43304) meliputi kegiatan penyelesaian dan pengerjaan
interior bangunan hunian maupun nonhunian. Kegiatan ini mencakup pekerjaan
pelapisan dinding dan lantai, pemasangan pintu serta jendela (selain pintu otomatis
dan putar), instalasi dapur (kitchen set), tangga, furnitur, partisi, serta penyelesaian
interior seperti langit-langit dan pelapisan kayu. Selain itu, ruang lingkupnya juga
meliputi pengubinan, pemasangan parket, karpet, linoleum, marmer, granit, wallpaper,
pengecatan, pemasangan kaca dan cermin, serta berbagai pekerjaan interior lainnya;
e. Aktivitas perancangan khusus (KBLI 74100) mencakup jasa perancangan furnitur,
desain interior dan dekorasi, desain industri, desain grafis, serta pengembangan desain
produk yang mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, pemilihan material, konstruksi,
keamanan, dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, serta penggunaan, sesuai
dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
Halaman 57 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 59
f. Aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis lainnya (KBLI No. 74909), yaitu kegiatan jasa
profesional dan teknis yang tidak diklasifikasikan secara khusus pada golongan lainnya;
g. Jasa reparasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga (KBLI 95240) meliputi jasa
perbaikan, pelapisan, penyelesaian ulang, dan pemulihan furnitur serta perlengkapan
rumah tangga, termasuk perabot kantor dan perakitan perabotan lepas (self-standing);
dan
h. Aktivitas perusahaan holding (KBLI 64200) merupakan kegiatan penguasaan aset dan
kepemilikan saham pada perusahaan lain, termasuk pemberian jasa konsultasi dan
perundingan strategis terkait pengelolaan grup usaha, merger, serta akuisisi.
5.2 Penambahan Kegiatan Usaha
Manajemen SOFA memandang bahwa rencana pengembangan usaha, khususnya dalam bidang
pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), perlu dijalankan melalui penyertaan
pada entitas konsorsium agar kegiatan operasional dapat lebih fokus, terukur, dan mampu
memberikan kontribusi yang optimal terhadap kinerja Perseroan. Rencana berupa penambahan
setoran modal pada entitas yang telah ada dalam struktur konsorsium, yaitu WNA dan WNG,
yang dilaksanakan melalui entitas anak Perseroan, yaitu AEA. Skema ini diharapkan dapat
mendukung strategi diversifikasi usaha serta meningkatkan fleksibilitas dalam pengelolaan
pendanaan dan pengembangan bisnis.
Mengingat kebutuhan pendanaan konstruksi proyek besar dan berjangka panjang, Perseroan
sebagai perusahaan terbuka akan berperan sebagai penghimpun dana untuk selanjutnya
disalurkan kepada entitas di dalam grup. Alur pendanaan dilaksanakan secara berjenjang sesuai
struktur kepemilikan, yaitu dari Perseroan kepada AEA dengan kepemilikan 99%, diteruskan
kepada WNA dan WNG dengan porsi kepemilikan masing-masing sebesar 10%, untuk
selanjutnya disalurkan kepada perusahaan operasional (operating company) proyek Bali dan
proyek Bogor di mana WNA dan WNG masing-masing memiliki 70% saham. Sehubungan
dengan hal tersebut, Perseroan berencana untuk melakukan penyesuaian dan penambahan
kegiatan usaha dengan pembiayaan conduit. Langkah ini diperlukan agar Perseroan memiliki
landasan hukum yang memadai dalam menghimpun serta menyalurkan dana kepada entitas di
dalam grup, termasuk yang bergerak di bidang pengolahan sampah menjadi energi.
Berdasarkan informasi dari manajemen, penambahan kegiatan usaha tersebut memerlukan
penyesuaian terhadap Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), dengan rincian sebagai
berikut:
Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha
Nama KBLI : Aktivitas Pembiayaan Conduit
Kode KBLI : 64220
Kelompok ini mencakup kegiatan pembiayaan conduit, misalnya unit yang dibentuk oleh grup
lembaga keuangan atau bukan keuangan untuk mengumpulkan atau meminjam dana (mayoritas
di pasar terbuka) dan mengirimkan dana tersebut ke induk perusahaan atau entitas lain di dalam
grup perusahaan tersebut. Dalam hal ini, Perseroan tidak secara langsung menjalankan kegiatan
operasional dari entitas penerima dana, melainkan berperan dalam penghimpunan dana,
penetapan struktur dan waktu penyaluran, serta pemantauan atas penggunaan dana sesuai
peruntukannya. Kegiatan pembiayaan conduit juga dapat mencakup dukungan dalam
Halaman 58 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 60
perencanaan pendanaan pengembangan usaha, termasuk kajian atas struktur pembiayaan yang
relevan dengan strategi pertumbuhan Perseroan dan kebutuhan pendanaan proyek pada tahap
berikutnya.
5.3 Keunggulan Kompetitif
Dalam rencana pengembangan pola bisnis melalui penambahan KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit, SOFA memiliki keunggulan kompetitif yang berasal dari kemampuannya
dalam menghimpun dana dari pasar dan menyalurkannya secara terstruktur kepada entitas di
dalam grup. Perseroan tidak hanya berperan sebagai entitas operasional di sektor industri furnitur
dari kayu dan logam, namun juga memiliki potensi untuk menjadi pusat pengelolaan pendanaan
grup yang mampu mengoptimalkan struktur permodalan serta mengarahkan alokasi modal ke
sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Keunggulan kompetitif yang dimiliki SOFA terkait dengan aktivitas pembiayaan conduit terletak
pada kualitas sumber daya manusia di level pengendali. Mengingat entitas pembiayaan conduit
tidak terlibat dalam kegiatan operasional entitas penerima dana, nilai tambah bersumber dari
kemampuan Direksi dan Dewan Komisaris dalam penghimpunan dana, penstrukturan
pembiayaan, serta pengawasan atas penggunaan dana. Komposisi kepengurusan Perseroan saat
ini memiliki kedalaman pengalaman yang secara langsung menjawab kebutuhan tersebut.
Perseroan memiliki kemampuan dalam mendukung pendanaan usaha dalam grup (group funding
support), melalui status sebagai perusahaan terbuka yang memiliki akses terhadap sumber
pendanaan pasar modal, pengalaman dalam pengelolaan usaha manufaktur, tata kelola dan
pelaporan sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2020. Manajemen dalam
menjalankan usahanya memiliki track record sebagai perusahaan dengan kepemilikan saham
langsung pada PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT Pratama Satya
Tunggal yang merupakan perusahaan bergerak dalam bidang perdagangan eceran funiture
sehingga SOFA dapat dianggap perusahaan investasi yang berpengalaman. Dengan adanya
fungsi pembiayaan conduit, Perseroan dapat menghimpun dana dengan biaya dan tenor yang
lebih kompetitif dibandingkan pendanaan yang dihimpun secara terpisah oleh masing-masing
entitas, untuk selanjutnya disalurkan melalui entitas anak, AEA, kepada WNA dan WNG dalam
bentuk setoran modal guna mendanai konstruksi proyek pengolahan sampah menjadi energi
(WTE).
Dibandingkan dengan pelaku usaha lain yang menjalankan kegiatan usaha sejenis pada KBLI
64220, keunikan pola bisnis SOFA terletak pada beberapa poin. Pertama, penghimpunan dana
dilakukan pada tingkat Perseroan yang berstatus perusahaan terbuka, sehingga Perseroan
memiliki akses terhadap instrumen pasar modal dengan basis investor yang lebih luas serta biaya
dana yang lebih kompetitif. Kedua, penyaluran dana dilakukan secara terstruktur kepada entitas
dalam grup dengan tujuan penggunaan yang spesifik, yaitu pendanaan konstruksi proyek
pengolahan sampah menjadi energi, sehingga terdapat kejelasan atas peruntukan dana dan
keterhubungan langsung antara sumber pendanaan dengan aset produktif yang dibiayai. Ketiga,
Perseroan berasal dari entitas operasional aktif di sektor manufaktur yang bertransformasi
menjadi pusat pendanaan grup, sehingga memiliki pemahaman langsung atas dinamika
operasional dan kebutuhan pendanaan riil entitas dalam grup, berbeda dengan entitas
pembiayaan yang dibentuk semata sebagai perantara pendanaan tanpa rekam jejak operasional.
Keempat, sebagai emiten, Perseroan tunduk pada ketentuan keterbukaan informasi, pelaporan
berkala, dan tata kelola perusahaan terbuka yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan, sehingga
Halaman 59 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 61
memberikan tingkat transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi bagi pemberi dana
dibandingkan entitas pembiayaan sejenis yang tidak terikat kewajiban serupa.
Dengan demikian, SOFA dalam menjalankan kegiatan usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit
memiliki keunggulan kompetitif dan akan terus mengembangkan keunggulan tersebut melalui
peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang kompeten
di bidangnya merupakan salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Selain itu, aktivitas pembiayaan akan didukung dengan melakukan investasi pada perusahaan di
sektor lainnya dengan mempertimbangkan potensi pasar guna meningkatkan daya saing SOFA.
5.4 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Kegiatan usaha berdasarkan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada dasarnya tidak
menghasilkan produk fisik atau jasa yang dipasarkan secara langsung kepada pelanggan,
melainkan berfokus pada fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada
entitas dalam grup sesuai dengan tujuan dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan. Oleh
karena itu, aspek kemampuan pesaing untuk meniru produk bukan merupakan faktor utama
dalam menilai tingkat persaingan. Persaingan lebih relevan ditinjau dari kemampuan perusahaan
dalam memperoleh akses terhadap sumber pendanaan, menyalurkan dana secara tepat sasaran,
serta melakukan pengendalian dan pemantauan atas penggunaan dana.
Kemampuan untuk menjalankan kegiatan pembiayaan conduit pada dasarnya dapat dimiliki oleh
perusahaan lain yang memiliki kapasitas pendanaan, akses terhadap sumber pembiayaan, serta
struktur tata kelola yang memadai. Dengan demikian, tingkat persaingan dalam kegiatan ini
kompetitif, terutama dalam memperoleh sumber pendanaan dan mendukung kebutuhan
pembiayaan entitas dalam grup. Untuk menghadapi kondisi tersebut, SOFA dapat
mengembangkan keunggulan melalui penguatan tata kelola pendanaan, penerapan prinsip
kehati-hatian dalam menentukan sumber dan penggunaan dana, evaluasi kelayakan kebutuhan
pembiayaan, serta pemantauan secara berkala terhadap posisi keuangan dan kemampuan
entitas penerima dana dalam memenuhi kewajibannya.
Dalam menjalankan KBLI 64220, SOFA juga akan mengedepankan kompetensi sumber daya
manusia dalam pengelolaan pendanaan, analisis risiko, pemantauan penggunaan dana, dan
koordinasi dengan entitas penerima sehingga kegiatan pembiayaan conduit dapat dilaksanakan
dengan memberikan nilai tambah bagi Perseroan. Upaya yang telah dilakukan SOFA di
antaranya dengan menjalin kemitraan strategis melalui entitas anaknya, yakni bergabung dalam
suatu konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta
afiliasinya untuk pengembangan proyek di sektor lain yang diharapkan memberikan keuntungan
jangka panjang bagi perusahaan. Selain itu perusahaan akan mengedepankan kompetensi
sumber daya manusia agar mendorong terciptanya nilai tambah bagi perusahaan.
5.5 Kemampuan Menciptakan Nilai
Pola bisnis melalui penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
memberikan peluang bagi Perseroan untuk menciptakan nilai tambah melalui beberapa aspek
strategis sebagai berikut:
Halaman 60 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 62
1. Efisiensi biaya dana
Perseroan sebagai perusahaan terbuka memungkinkan penghimpunan dana dari pasar
dengan biaya dan tenor yang lebih kompetitif dibandingkan pendanaan yang dihimpun secara
terpisah oleh masing-masing entitas dalam grup.
2. Diversifikasi pendapatan
Penyaluran dana pada proyek pengolahan sampah menjadi energi atau pada sektor lainnya
kedepan memberikan sumber penerimaan baru yang tidak bergantung pada permintaan
produk furnitur, sehingga meningkatkan ketahanan usaha terhadap ketidakpastian sektor
properti dan daya beli masyarakat.
3. Fleksibilitas pengembangan usaha
Fungsi pembiayaan conduit menjadikan Perseroan dapat mendanai ekspansi lebih lanjut
secara berulang atas proyek yang berjalan. Selain itu, Perseroan dalam menyediakan
pendanaan bagi pengembangan portofolio usaha grup, termasuk proyek waste to energy
(WTE). Dengan tersedianya struktur pendanaan yang terkoordinasi, Perseroan memiliki
fleksibilitas yang lebih baik dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup sesuai
dengan hasil evaluasi kelayakan investasi dan kemampuan pendanaan Perseroan.
4. Mendukung penciptaan nilai dari proyek yang didanai
Penyaluran dana melalui struktur pembiayaan conduit untuk mendukung investasi dan
pengembangan proyek yang memiliki potensi memberikan manfaat ekonomi bagi grup.
Kemampuan Perseroan dalam menyediakan dan mengelola pendanaan dapat mendukung
keberlangsungan tahap pengembangan proyek.
Dengan demikian, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit berpotensi
menciptakan nilai melalui peningkatan efisiensi sumber pendanaan dan pengembangan investasi
dalam grup. Nilai tambah tercermin dari berkembangnya portofolio investasi dan meningkatnya
kinerja entitas dalam grup. Selain itu, ketiga hal tersebut memberikan kontribusi positif terhadap
penciptaan nilai, baik bagi Perseroan maupun pemegang saham.
5.6 Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), serta
ancaman (threats) yang relevan terhadap kondisi Perseroan dan rencana pengembangan usaha
dimaksud. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh
mengenai posisi strategis Perseroan, potensi sinergi yang dapat dimanfaatkan, serta risiko yang
perlu diantisipasi dalam implementasi rencana tersebut.
Hasil analisis SWOT ini selanjutnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menilai
kelayakan rencana transaksi dan pengembangan usaha, khususnya dalam melihat kemampuan
Perseroan dalam memanfaatkan peluang yang ada dengan tetap memperhatikan keterbatasan
internal serta dinamika eksternal yang dihadapi.
Berikut SWOT atas Studi Kelayakan Rencana Penambahan KBLI 64220 – Aktivitas Pembiayaan
Conduit pada SOFA:
Halaman 61 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 63
Strengths (Kekuatan)
• Bisnis inti yang sudah ada di industri furnitur dari kayu (KBLI 31001) dan logam (KBLI 31004),
didukung kapasitas produksi, jaringan ritel, dan portofolio produk premium yang
dikembangkan secara konsisten.
• Status sebagai perusahaan terbuka sejak pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada
tahun 2020, yang memberikan akses nyata terhadap sumber pendanaan pasar modal.
• Kepengurusan dengan rekam jejak penghimpunan dana dan penstrukturan pembiayaan
proyek infrastruktur berskala triliunan rupiah, meliputi penerbitan obligasi, rights issue, dan
pembiayaan proyek pada sektor energi dan transportasi.
• Kemitraan strategis melalui keikutsertaan dalam konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang
Weiming Environment Protection Co., Ltd. beserta afiliasinya, yang memberikan keyakinan
atas kelayakan teknis proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana.
Weaknesses (Kelemahan)
• Peningkatan kompleksitas struktur organisasi dan pelaporan akibat penambahan fungsi
pembiayaan grup, yang memerlukan penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan
koordinasi antar entitas.
• Kebutuhan dana yang sangat besar, dengan proyek bersifat padat modal dan baru
menghasilkan arus kas pengembalian setelah beroperasi secara komersial, sehingga
terdapat periode penyaluran dana tanpa penerimaan.
• Perbedaan karakteristik antara kegiatan usaha existing dan fungsi pembiayaan
meningkatkan kebutuhan koordinasi dan kompetensi manajemen.
• Potensi terbaginya fokus manajemen antara pengelolaan bisnis furnitur yang sudah berjalan
dengan pengelolaan fungsi pendanaan grup yang berkarakter sangat berbeda.
Opportunities (Peluang)
• Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pengembangan WTE dapat memberikan alasan
kuat dijadikannya tujuan penyaluran dana. Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025
memberikan kerangka pengembangan proyek serta ketentuan komersial terkait pembelian
tenaga listrik, sehingga mendukung kepastian arus kas proyek.
• Meningkatnya minat investor dan lembaga pembiayaan terhadap proyek dengan profil
keberlanjutan, yang membuka peluang akses pada instrumen pendanaan hijau dengan
biaya yang lebih kompetitif.
• Diversifikasi sumber pendapatan, yang dapat mengurangi ketergantungan pada bisnis inti
dan meningkatkan ketahanan usaha.
Threats (Ancaman)
• Risiko pasar pendanaan, berupa kenaikan suku bunga, pengetatan likuiditas, atau
penurunan minat investor yang dapat meningkatkan biaya dana atau menghambat
penghimpunan.
• Risiko regulasi dan kepatuhan dapat timbul dari perubahan ketentuan yang berkaitan
dengan kegiatan pembiayaan, perusahaan terbuka, perpajakan, pasar modal, maupun
sektor usaha entitas penerima dana. Perubahan regulasi dapat memengaruhi struktur dan
biaya pendanaan serta kelayakan investasi yang dibiayai.
• Risiko kinerja entitas penerima dana berdampak terhadap kemampuan Perseroan
memperoleh pengembalian atas dana yang disalurkan. Kendala tidak tercapainya target
operasional dapat memengaruhi arus kas dan kemampuan entitas penerima dalam
memenuhi kewajibannya.
Halaman 62 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 64
• Ketidakpastian pasokan sampah, baik dari sisi volume maupun karakteristik nilai kalor, serta
ketergantungan pada komitmen pemerintah daerah yang dapat berubah seiring pergantian
kepemimpinan.
Secara keseluruhan, SOFA memiliki kekuatan yang memadai dari sisi bisnis inti yang telah
berjalan, akses pendanaan sebagai perusahaan terbuka, kepengurusan dengan rekam jejak
penghimpunan dana. Meskipun terdapat kelemahan berupa kebutuhan dana yang besar, risiko
regulasi, dan risiko pasar pendanaan, faktor-faktor tersebut pada prinsipnya masih dapat dikelola
melalui penguatan tata kelola dan pemantauan penggunaan dana. Dengan demikian, rencana
pengembangan usaha melalui penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit guna
mendukung penyertaan pada entitas konsorsium di bidang pengolahan sampah menjadi energi
secara umum dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk direalisasikan.
5.6.1 Kesimpulan Analisis Kelayakan Aspek Pola Bisnis
Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI
64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan
kegiatan usaha ini memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan,
pengelolaan, dan penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup,
khususnya dalam mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana
transaksi, dana yang dihimpun Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk
selanjutnya digunakan sebagai setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan
pada perusahaan operasional proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE).
Kelayakan pola bisnis tersebut didukung oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang
memberikan akses terhadap sumber pendanaan, pengalaman manajemen dalam pengelolaan
usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana yang dapat dilakukan melalui entitas yang
telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan entitas baru. Dari sisi penciptaan
nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi dan koordinasi pendanaan
grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup, serta
membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki prospek
pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa
kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan
penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk
direalisasikan.
Halaman 63 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 65
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Sumber Daya Manusia, Kapasitas, dan Kemampuan Manajemen
Sumber daya manusia merupakan pilar utama yang menunjang keberhasilan SOFA dalam
menjalankan kegiatan usahanya. Untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan usaha yang
berkesinambungan, Perseroan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, adaptif,
serta mampu mengembangkan inovasi di tengah dinamika industri. Oleh karena itu, Perseroan
secara konsisten melakukan investasi dalam pengembangan kompetensi karyawan guna
mendukung pencapaian standar kinerja yang selaras dengan kebutuhan operasional dan strategi
bisnis.
Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Perseroan sebagai perusahaan
yang berdaya saing tinggi. Kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia menjadi faktor
kunci yang mendorong Perseroan dalam mencapai pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Kinerja Perseroan tidak hanya didukung oleh kualitas produk dan layanan, tetapi juga oleh
kapabilitas tenaga kerja yang terampil, kompeten, dan berintegritas dalam setiap aspek
operasional.
Perseroan senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, produktif, dan inklusif guna
meningkatkan kinerja serta motivasi karyawan secara berkelanjutan. Selain itu, Perseroan
berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh karyawan dalam
pengembangan karier tanpa diskriminasi, dengan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan tanpa
membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Adapun susunan Dewan Komisaris dan Direksi SOFA adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama (Independen) : Drs. Djoko Hendratto
Komisaris Independen : Nuryana Hidayat
Komisaris : Saswinadi Sasmojo
Komisaris : Lusi Amanda
Direksi:
Direktur Utama : Denny Rizal
Direktur : Ezra Mohammed Dhanaguna
Direktur : Dimas Adiyasa Wiryaatmaja
Direktur : Reza Muhammad Mandara
Dalam setiap organisasi, diperlukan kejelasan dan ketegasan dalam pembagian tugas yang
disesuaikan dengan struktur organisasi, disertai dengan pendelegasian wewenang yang terdefinisi
secara jelas serta koordinasi kerja yang terpadu. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan
pengalaman, keahlian, dan kompetensi menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi
kebijakan perusahaan secara efektif.
Halaman 64 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 66
Hal tersebut juga berperan dalam memperlancar proses pendelegasian tugas, baik dari tingkat
manajemen kepada unit di bawahnya maupun sebaliknya, sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional serta kinerja Perseroan secara keseluruhan.
6.2 Ketersediaan Tenaga Kerja
Sehubungan dengan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit, SOFA pada tahap awal akan mengoptimalkan ketersediaan tenaga kerja yang telah
dimiliki Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran
pendanaan. Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 1 (satu) karyawan tetap yang dapat
mendukung fungsi strategis terkait pengelolaan pendanaan, koordinasi dengan entitas anak dan
entitas penerima dana, serta pemantauan penggunaan dana. Pengalaman Perseroan dalam
mengelola entitas anak, antara lain PT Parivarta Energi Nusantara, PT Ananta Energi Asia, dan PT
Pratama Satya Tunggal, juga menjadi salah satu dasar dalam mendukung pelaksanaan fungsi
pembiayaan conduit.
Sebagai bagian dari rencana penguatan organisasi, Perseroan merencanakan penambahan 1
(satu) orang karyawan yang akan difokuskan untuk mendukung kegiatan analisis kebutuhan
pendanaan, koordinasi proses penghimpunan dan penyaluran dana, pemantauan penggunaan
dana, administrasi dan dokumentasi pendanaan, serta koordinasi dengan entitas penerima dana.
Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan dilakukan sesuai dengan
perkembangan kebutuhan kegiatan usaha, sehingga sebelum penambahan tersebut
direalisasikan, pelaksanaan KBLI 64220 akan dijalankan dengan mengoptimalkan tenaga kerja
yang tersedia pada Perseroan. Dengan demikian, secara awal ketersediaan tenaga kerja dinilai
memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit. Perseroan berupaya
mengoptimalkan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki melalui penyesuaian tugas,
peningkatan kompetensi, serta pemanfaatan tenaga kerja secara efektif.
6.3 Manajemen Kekayaan Intelektual
Berdasarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hak
tersebut merupakan hak hukum yang timbul atas hasil olah pikir manusia yang menghasilkan
suatu produk, proses, atau karya yang memiliki nilai ekonomis. Hak Kekayaan Intelektual
mencakup perlindungan terhadap hasil penemuan, merek, desain, serta aspek lain yang
berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk perlindungan atas reputasi usaha (commercial
reputation) dan nilai tambah yang melekat pada kegiatan usaha (goodwill).
Sehubungan dengan kegiatan usaha SOFA yang bergerak di bidang industri furnitur serta rencana
penambahan kegiatan usaha pembiayaan conduit, aspek kekayaan intelektual yang relevan
meliputi merek dagang dan desain industri atas produk furnitur, identitas korporasi Perseroan
sebagai emiten, serta hak penggunaan teknologi yang melekat pada proyek yang dibiayai.
6.4 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usaha, Perseroan mungkin menghadapi beberapa risiko yang dapat
memengaruhi kinerja usahanya. Risiko yang mungkin dihadapi Perseroan adalah sebagai berikut.
Halaman 65 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 67
1. Risiko Ketergantungan Usaha
Risiko kredit yang timbul dari kedudukan Perseroan sebagai pihak yang bertanggung jawab
penuh kepada bank atas seluruh kewajiban pinjaman, sementara sumber pengembaliannya
berada pada pihak lain. Perseroan menghimpun dana dari bank, lalu menyalurkannya.
Perjanjian kredit mengikat Perseroan secara langsung, sehingga kewajiban membayar pokok
dan bunga tetap berjalan tanpa memandang apakah dana yang disalurkan telah
menghasilkan pengembalian. Kegagalan atau keterlambatan pengembalian dari entitas
penerima tidak menghapus kewajiban Perseroan kepada bank, sehingga dapat membuat
Perseroan menggunakan kas dari kegiatan usaha lainnya, melakukan pendanaan ulang
dengan syarat yang lebih berat, atau dalam kondisi menimbulkan gagal bayar yang memicu
percepatan pelunasan (acceleration) dan eksekusi jaminan.
2. Risiko Likuiditas
Risiko tidak tersedianya kas pada saat kewajiban jatuh tempo, yang timbul karena jadwal
pembayaran kepada bank tidak sejalan dengan jadwal penerimaan dari entitas penerima
dana. Perseroan dapat menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek meskipun
secara nilai aset tergolong sehat, terpaksa melakukan pendanaan ulang pada waktu yang
tidak menguntungkan, menjual aset di bawah nilai wajar, atau mengganggu modal kerja
kegiatan usaha yang telah berjalan.
3. Risiko Suku Bunga
Risiko meningkatnya beban bunga akibat penggunaan suku bunga mengambang (floating
rate) pada pinjaman yang diterima Perseroan, sementara sisi penerimaan tidak ikut
menyesuaikan. Bank umumnya menetapkan suku bunga mengambang yang mengacu pada
suku bunga acuan atau biaya dana bank, dan disesuaikan secara berkala. Kenaikan suku
bunga dapat menekan laba Perseroan dan menurunkan rasio kemampuan pembayaran
utang (debt service coverage ratio), yang pada gilirannya dapat memicu pelanggaran
persyaratan keuangan (financial covenant) dalam perjanjian kredit meskipun kinerja proyek
berjalan sesuai rencana.
4. Risiko Ketergantungan Usaha
Dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, kinerja Perseroan sangat bergantung pada
kualitas aset yang dibiayai. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor, wilayah, atau
entitas tertentu dapat meningkatkan ketidakpastian penerimaan, khususnya ketika sektor
menghadapi tekanan pasar atau pengetatan regulasi. Untuk memitigasi risiko ini, Perseroan
dapat membangun portofolio penyaluran dana yang lebih seimbang melalui diversifikasi
lintas wilayah dan proyek, menetapkan batas eksposur maksimum terhadap satu entitas
penerima, serta melakukan peninjauan berkala atas kontribusi dan kinerja masing-masing
penyertaan.
5. Risiko Regulasi
Entitas yang menjalankan fungsi pembiayaan conduit tidak hanya terikat pada ketentuan
pasar modal terkait penghimpunan dana dan keterbukaan informasi, tetapi juga terdampak
oleh regulasi yang berlaku pada sektor usaha entitas penerima dana. Perubahan kebijakan
Halaman 66 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 68
pemerintah, seperti perubahan ketentuan harga pembelian tenaga listrik, jangka waktu
perjanjian, mekanisme seleksi pengembang, ketentuan perpajakan, maupun peraturan
lingkungan, dapat menekan kelayakan proyek dan mengurangi kemampuan pengembalian
atas dana yang telah disalurkan. Mitigasinya adalah dengan memperkuat fungsi kepatuhan
di tingkat Perseroan, membangun komunikasi aktif dengan regulator, berpartisipasi dalam
asosiasi industri untuk memahami arah kebijakan, mencantumkan klausul perubahan hukum
(change in law) dalam perjanjian proyek, serta menyiapkan rencana kontinjensi berupa
skenario keuangan alternatif dan opsi penyesuaian struktur pendanaan agar entitas penerima
dana dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan regulasi.
6. Risiko Manajemen Investasi dan Penyaluran Dana
Keputusan penyaluran dana yang kurang tepat, seperti penyertaan dengan asumsi kelayakan
yang terlalu optimistis atau pada proyek yang tidak prospektif, berpotensi mengurangi tingkat
pengembalian bagi pemegang saham. Risiko ini juga muncul ketika pengawasan pasca
penyaluran lemah sehingga penggunaan dana tidak sesuai peruntukan atau kinerja proyek
tidak sesuai ekspektasi, yang pada akhirnya dapat menimbulkan penurunan nilai (impairment)
atas penyertaan. Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan perlu memperkuat proses analisis
dan seleksi dengan melibatkan konsultan independen, melakukan penyaluran secara
bertahap sesuai pencapaian tonggak proyek, serta menugaskan Divisi Manajemen Portofolio
untuk memantau kinerja entitas penerima secara periodik sehingga langkah korektif dapat
segera diambil apabila terdapat ketidaksesuaian dengan target.
7. Risiko Keuangan
Struktur permodalan Perseroan sangat dipengaruhi oleh strategi pendanaan, baik melalui
ekuitas maupun utang. Karakteristik proyek yang padat modal dengan periode penerimaan
yang panjang menyebabkan dana yang disalurkan belum menghasilkan pengembalian
selama masa pengembangan dan konstruksi. Di sisi lain, risiko likuiditas timbul apabila arus
pengembalian dari entitas penerima tidak stabil atau tertunda, termasuk akibat pembatasan
pembagian dividen yang ditetapkan oleh kreditur proyek, sehingga Perseroan mengalami
kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk memitigasi hal ini, Perseroan perlu
menjaga struktur modal yang optimal dengan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat,
melakukan diversifikasi sumber pendanaan, menyelaraskan mata uang antara sumber dana
dan penggunaannya, serta membatasi pemberian jaminan korporasi. Cadangan kas yang
memadai juga harus dijaga, dengan pemisahan yang tegas antara kebutuhan modal kerja
usaha furnitur dan kebutuhan pendanaan proyek.
6.5 Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Manajemen SOFA pada dasarnya memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai dalam
mengelola kegiatan usaha di bidang industri furnitur, yang menjadi fondasi operasional dalam
pengembangan fungsi pembiayaan grup ke depan. Kapasitas tersebut diperkuat oleh
pengalaman Perseroan sebagai perusahaan terbuka sejak pencatatan saham di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2020, yang menuntut disiplin dalam pelaporan berkala, keterbukaan
informasi, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik kompetensi yang sama dengan yang
dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas pembiayaan conduit.
Halaman 67 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 69
Dalam pelaksanaan kegiatan usaha pembiayaan conduit, kemampuan manajemen SOFA
tercermin manajemen yang dinilai mampu merumuskan arah pengembangan usaha yang
terintegrasi, termasuk dalam menentukan prioritas alokasi modal, struktur pendanaan, dan
pemilihan proyek yang menjadi tujuan penyaluran dana. Kemudian, manajemen memiliki
kapabilitas dalam menghimpun dana dari pasar dan menstrukturkan instrumen pendanaan,
didukung rekam jejak jajaran Direksi di bidang manajemen aset, investment banking, penerbitan
obligasi, dan pembiayaan proyek infrastruktur berskala besar.
a. Dewan Komisaris
1. Djoko Hendratto (Komisaris Independen)
Profesional senior di bidang keuangan publik dan pasar modal dengan pengalaman
lebih dari 30 tahun. Pernah menjabat Direktur Utama Badan Pengelola Dana
Lingkungan Hidup (BPDLH) periode 2021–2023, mengelola pendanaan iklim dan
keberlanjutan termasuk hibah internasional dan pembiayaan karbon; Direktur Sistem
Manajemen Investasi (SMI) Kementerian Keuangan periode 2018–2021 selaku
pengelola dana pemerintah untuk program investasi publik; Kepala Kanwil Provinsi
Jawa Barat periode 2020–2021; Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan BLU
(PKBLU) periode 2014–2018; Kepala Biro Investasi Bapepam-LK periode 2006–2012;
serta Kepala Bagian TI dan Infrastruktur Pasar Modal Bapepam periode 2001–2006.
Berpendidikan Doktor (PhD) Manajemen Strategik Universitas Indonesia dan MBA
University of Colorado Denver, serta pernah mewakili Indonesia pada forum keuangan
internasional (ADB, OECD, World Bank).
2. Dr. Nuryana Hidayat, ME., ASPM., GRCE (Komisaris Independen)
Pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang skema pembiayaan syariah, structured
finance, penasihatan akuisisi, obligasi dan sukuk, perdagangan efek, serta manajemen
risiko. Beliau terakhir menjabat sebagai anggota Risk & Corporate Governance PT Biro
Klasifikasi Indonesia (Persero) dan hingga kini menjadi anggota Dewan Pengawas
Syariah pada beberapa manajer investasi; sebelumnya Komisaris Independen PT
Reliance Manajer Investasi (2020–2025), Advisor Islamic Financing & Structured Finance
PT Indokapital Investama (2016–2022), serta Direktur dan CEO PT Recapital Asset
Management (2008–2016). Memegang izin Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Ahli
Syariah Pasar Modal (ASPM) dari OJK, serta sertifikasi Governance, Risk, and
Compliance for Executives (GRCE) dan Manajemen Investasi dari BNSP.
3. Prof. Ir. Saswinadi Sasmojo, M.Sc., Ph.D. (Komisaris)
Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung dan pakar sistem energi, anggota
kehormatan Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sejak
2002. Bidang keahlian meliputi analisis sistem energi, pengurangan emisi gas rumah
kaca, konversi energi biomassa, transisi energi nasional, serta pemodelan dan evaluasi
kebijakan teknologi.
Halaman 68 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 70
4. Lusi Amanda (Komisaris)
Pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang akuntansi, keuangan, administrasi umum,
dan operasional pada industri keuangan, khususnya pasar modal dan dana pensiun.
Saat ini menjabat Chief Financial Officer PT Asia Advisors Capital; sebelumnya Head of
Finance, Accounting, Tax & Purchasing pada PT Maybank Asset Management (2015–
2022) dan PT Trimegah Asset Management (2011–2015), serta berbagai posisi di PT
Manulife Asset Management Indonesia (2001–2010). Telah mengikuti pelatihan PSAK
71, 72, 73 oleh OJK.
b. Direksi
1. Denny R. Thaher (Direktur Utama)
Pengalaman lebih dari 25 tahun pada industri manajemen aset, termasuk investasi
bernilai miliaran dolar pada sektor sumber daya alam. Saat ini juga menjabat Direktur
PT Asia Investment Capital; sebelumnya CEO Maybank Asset Management (2015–
2019), Direktur Utama Trimegah AM (2010–2015), Direktur Utama Manulife AM
Indonesia (2008–2009), Director UBS Singapore (2007–2008), dan Managing Director
PT Mandiri Manajemen Investasi (2002–2007). Selain itu, menyandang gelar Master of
Business Administration dari University of Colorado Denver (USA).
2. Ezra Dhanaguna (Direktur)
Berpengalaman sebagai penasihat keuangan untuk pembiayaan proyek melalui
instrumen utang publik maupun privat, dengan latar belakang investment banking di PT
Mandiri Sekuritas (2022–2024) pada sektor energi, pertambangan, dan transportasi.
Selain itu, telah lulus ujian CFA level 2 dan menamatkan pendidikan sarjana dual degree
di Institut Teknologi Bandung dan Rennes School of Business (Prancis). Saat ini sedang
menempuh pendidikan Master of Business Administration di INSEAD.
3. Dimas Wiryaatmaja (Direktur)
Profesional keuangan dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang akuntansi,
manajemen keuangan, dan operasional di dalam Perseroan. Menjabat Direktur PT
Solusi Environment Asia Tbk (sebelumnya PT Boston Furniture Industries Tbk) sejak 2019,
dan sebelumnya sebagai Manajer (2016–2019) dan Staf (2013-2016) pada divisi
Finance & Accounting di PT Pratama Prima Cipta. Selain itu, telah menamatkan
pendidikan sarjana di bidang ilmu ekonomi dari Universitas Indonesia.
4. Reza M. Mandara (Direktur)
Pengalaman lebih dari 17 tahun di bidang tata kelola proyek, operasi project
management office (PMO), pengawasan portofolio, dan pelaksanaan proyek lintas
fungsi. Saat ini juga menjabat PMO Manager PT Asia Advisors Capital; sebelumnya
Senior Program Specialist pada JICA PPP Expert Office – Kementerian Pekerjaan Umum
(Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur) periode 2025–2026, Group PMO Head
PT Erajaya Swasembada Tbk (2015–2021), dan Project Management Specialist PT Aneka
Tambang (Persero) Tbk (2007–2015). Bersertifikat Project Management Professional
Halaman 69 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 71
(PMP) sejak 2010. Selain itu, menyandang gelar Sarjana Teknik dari Institut Teknologi
Bandung dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di bidang Ilmu
Manajemen Stratejik di Universitas Pancasila.
Sesuai uraian KBLI 64220, kegiatan pembiayaan conduit tidak mencakup keterlibatan dalam
kegiatan operasional entitas penerima dana, sehingga kebutuhan sumber daya manusia terfokus
pada personil di level pengendali. Seluruh kegiatan operasional fasilitas dijalankan pada tingkat
perusahaan operasional. Untuk mendukung pelaksanaan fungsi ini, Perseroan merencanakan
pembentukan Divisi Pembiayaan secara bertahap. Dengan demikian, penambahan kegiatan
usaha sebagai entitas pembiayaan conduit tidak akan mengubah operasional Perseroan yang
telah berjalan, melainkan memperkuat fungsi utamanya dalam penghimpunan dana serta
pengelolaan dan pengawasan penyaluran dana kepada entitas anak dan entitas dalam struktur
konsorsium.
6.6 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Struktur organisasi dan manajemen eksisting SOFA sehubungan adanya rencana penambahan
kegiatan usaha sebagai aktifitas perusahaan holding sebagai berikut:
Grafik 10. Struktur Organisasi Perseroan Sebelum Penambahan KBLI
Sumber: Informasi Manajemen SOFA
SOFA berencana melakukan penyesuaian struktur organisasi pada tingkat Perseroan untuk
mendukung pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit. Penyesuaian tersebut antara lain dilakukan melalui pembentukan Divisi
Treasury dan Pendanaan yang akan berperan dalam mendukung fungsi penghimpunan dan
pengelolaan sumber pendanaan, penentuan struktur dan kebutuhan pendanaan, koordinasi
penyaluran dana kepada entitas penerima, pengelolaan likuiditas, serta pemantauan
penggunaan dan pemenuhan kewajiban pendanaan. Penambahan fungsi tersebut tidak
mengurangi tenaga kerja yang telah dimiliki Perseroan, melainkan menjadi bagian dari
penguatan struktur organisasi untuk mendukung kegiatan usaha baru. Selanjutnya, Perseroan
dapat melakukan pengembangan struktur organisasi dan penambahan personel secara bertahap
sesuai dengan perkembangan kegiatan pembiayaan, kebutuhan pendanaan, serta kompleksitas
Halaman 70 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 72
pengelolaan keuangan grup. Rencana struktur organisasi Perseroan setelah penambahan KBLI
64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dapat dilihat pada bagian berikut.
Grafik 11. Rencana Struktur Organisasi Perseroan Setelah Penambahan KBLI
Sumber: Informasi Manajemen SOFA
6.7 Rencana Kebutuhan Tenaga Kerja
Rencana penambahan kegiatan usaha dengan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit
menimbulkan kebutuhan tenaga kerja yang akan disesuaikan dengan fungsi Perseroan sebagai
entitas yang menjalankan kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana kepada
entitas dalam grup. Fungsi tersebut mencakup perencanaan kebutuhan pendanaan, pengelolaan
likuiditas, pengaturan struktur pendanaan, pemantauan penggunaan dana, serta koordinasi
dengan entitas penerima dana. Kegiatan operasional dan penggunaan dana pada masing-
masing entitas penerima tetap dilaksanakan oleh entitas yang bersangkutan sesuai dengan
bidang usaha dan struktur organisasinya, sehingga Perseroan tidak memerlukan tenaga kerja
operasional pada tingkat proyek atau entitas penerima dana.
Pada tingkat Perseroan, untuk mendukung pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit, SOFA
merencanakan penambahan 1 (satu) orang karyawan pada Divisi Treasury dan Pendanaan. Divisi
ini akan mendukung kegiatan penghimpunan sumber dana, pengelolaan arus kas dan likuiditas,
koordinasi penyaluran pendanaan kepada entitas dalam grup, pemantauan penggunaan dana,
administrasi pendanaan, serta pengelolaan hubungan dengan lembaga keuangan dan sumber
pendanaan lainnya. Penambahan tenaga kerja tersebut masih bersifat rencana dan akan
disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan kegiatan usaha serta kompleksitas pengelolaan
pendanaan grup di masa mendatang.
Kualifikasi, Kompetensi, dan Kebutuhan Pelatihan Tenaga Kerja
Kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan KBLI
64220 disesuaikan dengan sifat kegiatan pembiayaan conduit yang bertumpu pada kemampuan
pengelolaan pendanaan, likuiditas, dan risiko keuangan. Tenaga kerja pada Divisi Treasury dan
Pendanaan diharapkan memiliki latar belakang pendidikan minimal Sarjana (S1) di bidang
Akuntansi, Keuangan, Manajemen, atau Ekonomi, dengan pengalaman pada bidang treasury,
Halaman 71 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 73
corporate finance, perbankan, atau pembiayaan, serta kompetensi teknis berupa kemampuan
perencanaan dan pengelolaan arus kas dan likuiditas, penyusunan struktur pendanaan, analisis
biaya dana dan tingkat suku bunga, penilaian risiko kredit dan risiko nilai tukar, pemantauan
pemenuhan kewajiban dan persyaratan pendanaan (covenant monitoring), serta pemahaman
atas dokumentasi perjanjian pendanaan dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan yang berlaku
bagi perusahaan terbuka, termasuk ketentuan mengenai transaksi afiliasi dan transaksi material.
Adapun pelaksanaan KBLI 64220 tidak mensyaratkan sertifikasi profesi khusus sebagaimana
halnya kegiatan usaha lembaga jasa keuangan yang memerlukan izin usaha tersendiri dari
otoritas sektor jasa keuangan, mengingat kegiatan pembiayaan conduit yang dijalankan
Perseroan terbatas pada penghimpunan dan penyaluran dana kepada entitas dalam grup dan
tidak ditujukan kepada masyarakat umum. Namun demikian, dalam rangka meningkatkan
kapasitas dan efektivitas pelaksanaan fungsi pembiayaan conduit, Perseroan merencanakan
program pengembangan kompetensi secara berkelanjutan berupa pelatihan manajemen treasury
dan likuiditas, manajemen risiko keuangan termasuk risiko suku bunga dan nilai tukar,
penyusunan dan penelaahan dokumentasi pendanaan, serta pembaruan pengetahuan atas
ketentuan pasar modal dan perpajakan yang relevan, sehingga Perseroan dinilai memiliki
kesiapan sumber daya manusia yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220.
6.8 Kesimpulan Analisis Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki
kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris
dalam bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal,
pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah
tersedia di Perseroan. Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan
WNG melalui AEA sebagai entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas, penerapan proses evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta
pelaporan secara berkala dari entitas penerima, model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan
KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tetap
memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kompleksitas kegiatan usaha
Perseroan.
Halaman 72 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 74
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN MODEL KEUANGAN
Aspek keuangan adalah salah satu aspek yang dikaji dalam studi kelayakan. Kajian ini menganalisis
besaran investasi dan pendapatan pertahunnya sehingga didapatkan suatu kesimpulan apakah suatu
proyek/rencana layak dilaksanakan ataupun tidak. Dalam studi kelayakan ini, Penilai mengkaji
beberapa hal, diantaranya kebutuhan investasi, proyeksi keuangan, penentuan tingkat diskonto
(discount rate), kelayakan investasi, dan analisis nilai tambah.
7.1 Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan biaya investasi merupakan estimasi kebutuhan dana yang diperlukan Perseroan dalam
rangka mendukung Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit. Sumber pendanaan atas kebutuhan tersebut berasal dari pinjaman bank
(bank loan), dengan perolehan dana sebesar Rp238.220.181.818. Dengan estimasi suku bunga
sebesar 8,1% yang merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat suku bunga pasar untuk
pinjaman investasi dan pinjaman modal kerja. Estimasi kebutuhan biaya investasi dihitung dengan
mengakumulasi potensi kebutuhan dana yang timbul, yaitu berupa investasi ke konsorsium
sebesar Rp131.021.100.000 yang akan disalurkan melalui entitas anak Perseroan, AEA, dalam
bentuk penyertaan modal kepada entitas dalam struktur konsorsium, serta kebutuhan modal kerja
internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818 yang diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan
operasional penunjang kegiatan usaha, perolehan sumberdaya manusia baru terkait adanya
penambahan KBLI baru, biaya-biaya terkait penyelesaian transaksi seperti biaya konsultan
hukum, notaris, akuntan, dan profesi penunjang lainnya. Dengan demikian, seluruh perolehan
dana pinjaman bank telah dialokasikan sepenuhnya untuk kedua komponen tersebut.
Tabel 14. Kebutuhan Biaya Investasi
Proceeds dari Bank Loan Jumlah (Rp)
Perolehan Dana Bank Loan (Rp) 238.220.181.818
Kebutuhan Biaya Investasi Jumlah (Rp)
Investasi ke Konsorsium (Rp) 131.021.100.000
Kebutuhan Modal kerja (Rp) Internal SOFA 107.199.081.818
Sumber:Iinformasi manajemen, diolah
7.2 Sumber Pendanaan Modal Kerja dan Investasi
Kebutuhan pendanaan dalam rangka Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220
Aktivitas Pembiayaan Conduit adalah sebesar Rp238.220.181.818, yang seluruhnya bersumber
dari pinjaman bank (bank loan). Dana tersebut dialokasikan untuk investasi ke konsorsium
sebesar Rp131.021.100.000, yang akan disalurkan melalui entitas anak Perseroan, AEA, dalam
bentuk penyertaan modal kepada entitas dalam struktur konsorsium, serta untuk kebutuhan modal
kerja internal Perseroan sebesar Rp107.199.081.818. Dengan skema pendanaan tersebut,
kebutuhan modal kerja atas kegiatan operasional Perseroan sepenuhnya terpenuhi dari perolehan
dana pinjaman bank, sehingga tidak diperlukan tambahan pendanaan dari sumber daya internal
Perseroan.
Halaman 73 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 75
7.3 Proyeksi Keuangan Konsorsium
Analisis pada aspek keuangan dilakukan dengan menelaah dampak prospek bisnis yang
tercermin dari proyeksi keuangan entitas konsorsium yang menjadi tujuan penyaluran dana
Perseroan melalui entitas anaknya, AEA.
Dalam rangkaian studi kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 –
Aktivitas Pembiayaan Conduit, proyeksi keuangan entitas konsorsium merupakan aspek yang
bersifat menentukan. Mengingat Perseroan berperan sebagai entitas yang menghimpun dan
menyalurkan pendanaan kepada entitas dalam grup, kemampuan Perseroan memenuhi
kewajiban pendanaannya bergantung sepenuhnya pada kemampuan entitas konsorsium
menghasilkan laba dan mendistribusikan manfaat ekonomis secara berkelanjutan.
Proyeksi keuangan dan kinerja operasional Perseroan disusun berdasarkan kegiatan usaha inti
Perseroan di bidang manufaktur furnitur, yang menjadi pendorong utama pendapatan usaha.
Adapun pendapatan dividen atas penyertaan pada entitas konsorsium tidak diperhitungkan
sebagai bagian dari pendapatan usaha, melainkan dicatat pada pos pendapatan non-
operasional.
Merujuk pada catatan mengenai kelangsungan usaha dalam Laporan Keuangan Tengah
Tahunan Auditan per 30 Juni 2026, manajemen berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki sumber
daya yang memadai untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya di masa mendatang. Keyakinan
tersebut didukung oleh sejumlah strategi pokok, yaitu: (i) perluasan jaringan pemasaran dan
penjualan; (ii) peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak; (iii) peningkatan efektivitas dan
efisiensi produksi; serta (iv) pembentukan dan peningkatan kinerja tim internal.
Struktur Kepemilikan dan Aliran Manfaat Ekonomis
Konsorsium memiliki penyertaan sebesar 70,00% pada masing-masing entitas proyek WTE, yaitu
proyek Bogor dan proyek Denpasar. Adapun AEA selaku entitas anak Perseroan memiliki
penyertaan sebesar 10,00% pada konsorsium tersebut, sehingga kepemilikan efektif AEA pada
masing-masing entitas proyek adalah sebesar 7,00%.
Aliran manfaat ekonomis kepada Perseroan terbentuk melalui rangkaian berikut: laba entitas
proyek didistribusikan kepada seluruh pemegang saham, kemudian 70,00% di antaranya menjadi
hak konsorsium, dan atas bagian tersebut AEA berhak menerima 10,00% dalam bentuk dividen
setelah pemenuhan cadangan wajib.
Tabel 15. Proyeksi Entitas Konsorsium
(dalam Jutaan rupiah)
PT Solusi Environment Asia 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders - 214.983 398.138 332.330 128.951
Consortium Ownership 70% - - - - -
Profit attributable to Consortium - 150.488 278.697 232.631 90.266
Dividend Payout Ratio - 100% 100% 100% 100%
Halaman 74 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 76
PT Solusi Environment Asia 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Dividend Paid to Consortium - 150.488 278.697 232.631 90.266
Consortium Total Paid-Up Capital
34,33
(USD Mn)
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve - 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus
- 150.488 278.697 232.631 90.266
Reserve & Provision
Dividend Attributable to Consortium
Shareholders - 150.488 278.697 232.631 90.266
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA - 15.049 27.870 23.263 9.027
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders - 207.897 391.235 327.964 150.821
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium - 145.528 273.864 229.575 105.575
Dividend Payout Ratio - 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium - 145.528 273.864 229.575 105.575
Consortium Total Paid-Up Capital
(USD Mn) 34,10
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve - 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after Surplus
Reserve & Provision - 145.528 273.864 229.575 105.575
Dividend Attributable to Consortium
Shareholders - 145.528 273.864 229.575 105.575
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA - 14.553 27.386 22.957 10.557
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to SH
(Before Allocation) - 422.880 789.373 660.293 279.772
Halaman 75 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 77
PT Solusi Environment Asia 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Total Profit Distributions to
Consortium - 296.016 552.561 462.205 195.841
Dividend Received from Bogor - 15.049 27.870 23.263 9.027
Dividend Received from Denpasar - 14.553 27.386 22.957 10.557
Total Dividend Received from WtE
Project - 29.602 55.256 46.221 19.584
Sumber: informasi manajemen dan analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Berdasarkan analisis di atas, manfaat ekonomis dari kedua entitas proyek WtE, yaitu Proyek Bogor
dan Proyek Denpasar, diterima SOFA melalui AEA selaku entitas anak Perseroan. Proyeksi disusun
untuk periode 2026 sampai dengan 2058. Sejak laba mulai didistribusikan, seluruh laba masing-
masing entitas proyek diproyeksikan dibagikan kepada pemegang saham dengan dividend
payout ratio sebesar 100,00%, di mana 70,00% di antaranya menjadi bagian konsorsium. Atas
bagian konsorsium tersebut terlebih dahulu dibentuk cadangan wajib (statutory surplus reserve)
sebesar 20,00% dari modal disetor, yaitu sebesar USD6,87 juta untuk Proyek Bogor dan USD6,82
juta untuk Proyek Denpasar, dan sisanya didistribusikan kepada pemegang saham konsorsium,
termasuk AEA dengan porsi 10,00%.
Laba mulai didistribusikan kepada pemegang saham pada tahun 2030, yaitu sebesar Rp158.595
juta dari Proyek Bogor dan Rp118.834 juta dari Proyek Denpasar. Namun, karena keseluruhan
bagian konsorsium pada tahun tersebut dialokasikan untuk pemenuhan cadangan wajib, AEA
belum menerima dividen pada tahun 2030. AEA baru mulai menerima dividen pada tahun 2031,
setelah cadangan wajib terpenuhi seluruhnya. Aliran dividen kepada AEA meningkat secara
bertahap seiring pertumbuhan laba proyek, tercatat sebesar Rp29.602 juta pada tahun 2035.
Setelah itu, dividen menurun secara gradual mengikuti profil laba proyek, tercatat sebesar
Rp55.256 juta pada tahun 2045, dan Rp46.221 juta pada tahun 2055, sebelum turun menjadi
Rp19.584 juta pada tahun 2058 sebagai tahun terakhir periode proyeksi.
7.4 Analisis Profitabilitas
Analisis profitabilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam menghasilkan
laba dari kegiatan usahanya. Rasio profitabilitas digunakan untuk memperlihatkan seberapa
besar laba yang diperoleh dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan, sehingga dapat
menggambarkan tingkat efisiensi dan kinerja Perseroan.
Dalam analisis ini, rasio profitabilitas SOFA disajikan dalam dua kondisi, yaitu sebelum dan
setelah pelaksanaan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha dengan skema pendanaan melalui
pinjaman bank (bank loan), guna menilai dampak rencana tersebut terhadap kemampuan
Perseroan menghasilkan laba. Rasio yang digunakan meliputi Gross Profit Margin, Operating
Profit Margin, dan Net Profit Margin. Analisis profitabilitas terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel 16. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Sebelum Penambahan KBLI S2 2026 2035 2045 2055 2058
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 49,13% 56,69% 62,31% 63,65%
Operating Profit Margin 35,91% 8,61% 14,45% 17,73% 18,20%
Halaman 76 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 78
Sebelum Penambahan KBLI S2 2026 2035 2045 2055 2058
Net Profit Margin 28,49% 6,96% 12,01% 15,39% 16,08%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Tabel 17. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Setelah penambahan KBLI S2 2026 2035 2045 2055 2058
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 73,21% 86,87% 89,63% 83,67%
Operating Profit Margin 35,89% 51,87% 74,06% 77,36% 63,26%
Net Profit Margin -57,42% 20,15% 73,32% 76,72% 62,31%
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Berdasarkan proyeksi rasio profitabilitas SOFA sebelum rencana penambahan kegiatan usaha,
yaitu hanya berdasarkan kegiatan usaha inti Perseroan, marjin laba kotor (Gross Profit Margin)
diproyeksikan relatif terjaga pada kisaran 42,22% hingga 66,84% sepanjang periode proyeksi.
Profitabilitas pulih secara bertahap sehingga Operating Profit Margin dan Net Profit Margin
masing-masing mencapai 18,20% dan 16,08% pada akhir periode proyeksi (2058). Adapun pada
kondisi setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, Net Profit Margin tercatat negatif pada
tahun-tahun awal proyeksi, dengan nilai terendah sebesar negatif 57,42% pada semester kedua
2026, meskipun Operating Profit Margin pada periode yang sama masih positif sebesar 35,89%.
Hal tersebut disebabkan oleh beban keuangan atas pendanaan penyertaan pada entitas
konsorsium proyek WtE, yang belum diimbangi oleh penerimaan manfaat dari penyertaan
tersebut. Seiring mulai diterimanya dividen dari entitas konsorsium proyek WtE sejak tahun 2031,
seluruh rasio profitabilitas meningkat secara signifikan, dengan Net Profit Margin sebesar 20,15%
pada tahun 2035, 73,32% pada tahun 2045, dan tercatat sebesar 62,31% pada akhir periode
proyeksi tahun 2058. Dengan demikian, meskipun menekan profitabilitas pada tahun-tahun awal,
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha memberikan dampak positif terhadap kemampuan
Perseroan dalam menghasilkan laba dalam jangka panjang.
7.5 Analisis Kelayakan Keuangan
Kriteria kelayakan keuangan pada umumnya dilakukan dengan mengacu pada parameter
investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI).
Analisis kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit harus
didasarkan pada analisis inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan, yaitu proyeksi
keuangan tanpa Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit dan proyeksi
keuangan dengan Penambahan Kegiatan Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit.
Analisis Kelayakan Keuangan bertujuan untuk melihat layak-tidaknya Penambahan Kegiatan
Usaha Aktivitas Pembiayaan Conduit di masa depan jika ditinjau pada saat sekarang dari segi
keuangan. Suatu proyek yang memiliki NPV positif, IRR sama dengan/lebih besar dari WACC,
dan PI lebih besar dari 1 berarti menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan, begitu pula
sebaliknya.
7.5.1 Tingkat Diskonto Proyek (Investasi pada Entitas Anak)
Dengan mempertimbangkan arus kas bersih yang digunakan dalam perhitungan ini adalah arus
kas bersih dari perusahaan, maka tingkat diskonto yang kami gunakan dalam perhitungan ini
Halaman 77 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 79
menggunakan formula Cost of Equity yang merupakan pentotalan rata-rata tertimbang atas biaya
modal untuk ekuitas. Adapun formula dari WACC adalah sebagai berikut:
WACC = (Ke x We) + (Kd[1 – t ] x Wd)
Dimana:
WACC : Rata-rata tertimbang biaya modal
Ke : Biaya modal untuk ekuitas
Kd : Biaya modal untuk utang
We : Persentase pendanaan dari ekuitas
Wd : Persentase pendanaan dari utang
t : Pajak perusahaan
Penentuan Biaya Modal untuk Utang (Cost of Debt)
Dengan pertimbangan faktor-faktor tersebut, maka perhitungan tingkat biaya utang (Cost of
Debt) yang diaplikasikan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
Kd = i x (1-T)
Dimana
i : Interest Rate (Suku Bunga)
Tax : Tax Rate (Tarif Pajak)
Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost of Equity)
Perhitungan biaya modal untuk ekuitas menggunakan metode Capital Assets Pricing Model
(CAPM). Adapun formula dari CAPM adalah sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS + α
Dimana:
Rf : Tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß : Risiko sistematis
Rm : Tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp : Premi risiko yang diperoleh dari elisih antara Rm dan Rf
CDS : Country Default Spread
α : Risiko spesifik
Mengacu kepada formula perhitungan di atas, dalam studi kelayakan ini, digunakan tingkat
diskonto Cost of Equity (CoE) sebesar 11,98% dengan detail komponen yang digunakan dalam
perhitungan adalah sebagai berikut:
Tabel 18. Cost of Equity (CoE)
Komponen Besaran Keterangan Source
Yield & Rates Indonesian IDR Bond, 30 Indo Govt Bond
SUN 7,26%
Juni 2025 - 30 Year Yield
Default Spread 1,81% Default spread as of April 1, 2026 Damodaran
Risk Free Rate Goverment Bond - Default Spread
Halaman 78 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 80
Komponen Besaran Keterangan Source
Equity Risk Premium 7,55% Equity risk premium as of April 1, 2026 Damodaran
Unlevered Beta 0,57 Company relative to the market risk Damodaran
Estimated finance leverage or industry
D/E Ratio 66,22% Damodaran
level
Specific Risk 0,00% Estimated Company Specific Risk
Interest 8,07% Investment loans as of May, 2026 SEKI - BI
Tax Rates 22,00% Corporate Tax Rate, Indonesia
Industry D/E Ratio Unlevered Beta
Green & Renewable Energy 66,22% 0,571
7.5.2 Terminal Value
Terminal Value merupakan nilai dari Free Cash Flow suatu perusahaan selama suatu akhir periode
waktu tertentu sampai waktu tak terhingga, berdasarkan asumsi suatu perusahaan akan going
concern. Nilai Terminal Value suatu perusahaan dipengaruhi oleh asumsi tingkat pertumbuhan
perusahaan terkait untuk waktu yang tak terhingga. Dalam studi kelayakan ini, terminal value
tidak diaplikasikan mempertimbangkan proyeksi yang digunakan mengikuti masa berlaku
perjanjian jual beli listrik tau PPA selama 30 tahun.
7.5.3 Analisis Kelayakan Keuangan Proyek (Investasi terhadap Entitas Anak)
Berdasarkan analisis kelayakan yang telah dilakukan terhadap proyek berupa Investasi terhadap
Entitas Anak dalam mendukung Penambahan Kegiatan Usaha Pembiayaan Conduit, diperoleh
hasil perhitungan sebagai berikut:
Tabel 19. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
(dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi
Beg. Period 30/06/2026 01/01/2035 01/01/2045 01/01/2055 01/01/2058
Environment Asia
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2035 31/12/2045 31/12/2055 31/12/2058
Year 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 365 365 365
Periode 0 9,5 19,5 29,5 32,5
Investment:
Investment to
- - - -
Consortium (131.021)
- - - - -
Cash Proceeds: - - - - -
Dividend Income - 29.602 55.256 46.221 19.584
Terminal Value of
- - - - -
Dividend Income
Total Net Cash
(131.021) 29.602 55.256 46.221 19.584
Proceeds
Cummulative
(131.021) 4.119 457.640 961.189 1.070.171
Proceeds
Terminal Growth 2,51%
Halaman 79 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 81
PT Solusi
Beg. Period 30/06/2026 01/01/2035 01/01/2045 01/01/2055 01/01/2058
Environment Asia
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2035 31/12/2045 31/12/2055 31/12/2058
Year 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 365 365 365
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,341 0,110 0,035 0,025
Present Value of
(131.021) 10.095 6.076 1.639 494
Cashflow
SUM of Present
42.663
Value of Cashflow
IRR 14,27%
NPV 42.663
PP
10,86
10 Tahun 10
PP (Tahun)
Bulan
PI
1,33
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Berdasarkan tabel perhitungan di atas didapatkan bahwa:
• NPV : Rp 42.662.878.861 lebih besar dari 0
• IRR : 14,27% lebih besar dari WACC
• Profitability Index : 1,33 lebih besar dari 1
• Payback Period : > 5 Tahun
Sehingga atas hasil tersebut dapat disimpulkan analisis kelayakan keuangan atas Proyek adalah
“Layak”
7.6 Analisis Nilai Tambah
Laporan Keuangan SOFA sebelum rencana transaksi penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit disajikan sebagai berikut:
Tabel 20. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 7.852 30.860 62.769 93.667 102.026
Piutang usaha 721 543 396 289 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 16.799 10.060 6.023 5.164
Uang muka 222 161 96 58 49
Biaya dibayar dimuka 338 244 146 87 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 29.553 48.674 73.534 100.192 107.645
Halaman 80 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 82
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 21.427 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 50.980 56.224 81.084 107.741 115.194
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 114 68 41 35
Biaya yang masih harus dibayar 891 644 386 231 198
Utang pajak 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 7.239 5.284 3.856 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 8.595 6.336 4.726 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 8.597 6.338 4.728 4.342
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (442) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.647) (1.743) 25.377 53.644 61.483
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
pengendali 39.613 47.520 74.640 102.907 110.746
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 39.720 47.626 74.746 103.013 110.853
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 50.980 56.224 81.084 107.741 115.194
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA sebelum rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit disajikan sebagai berikut:
Halaman 81 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 83
Tabel 21. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit
(dalam jutaan rupiah)
S2
Laporan Laba Rugi 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
2026 P
Penjualan 22.347 32.939 24.041 17.547 15.965
Beban pokok penjualan (7.411) (16.757) (10.413) (6.612) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 14.937 16.182 13.628 10.934 10.161
Beban usaha (umum dan administrasi) (6.911) (13.345) (10.153) (7.824) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 8.026 2.838 3.475 3.110 2.905
Pendapatan keuangan 10 104 228 352 386
Beban keuangan - (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 8.035 2.941 3.703 3.462 3.291
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - -
Pajak kini (160) (647) (815) (762) (724)
Pajak tangguhan (1.510) - - - -
Jumlah (1.669) (647) (815) (762) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 6.366 2.294 2.888 2.701 2.567
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Selanjutnya proyeksi keuangan SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit sebagai berikut:
Tabel 22. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit
(dalam jutaan rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 95.854 80.352 211.795 746.242 863.583
Piutang usaha 721 543 396 289 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 16.799 10.060 6.023 5.164
Uang muka 222 161 96 58 49
Biaya dibayar dimuka 338 244 146 87 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 117.555 98.166 222.560 752.767 869.201
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49
Halaman 82 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 84
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Jumlah Aset Tidak Lancar 152.448 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 270.003 236.737 361.131 891.338 1.007.772
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 114 68 41 35
Biaya yang masih harus dibayar 891 644 386 231 198
Utang pajak 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 7.239 5.284 3.856 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 8.595 6.336 4.726 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - -
Utang Bank Baru 238.220 238.220 - - -
Bank (jk panjang) - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 238.222 238.222 2 2 2
Jumlah Liabilitas 249.481 246.817 6.338 4.728 4.342
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (442) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (28.845) (59.450) 305.424 837.240 954.061
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
pengendali 20.416 (10.188) 354.687 886.503 1.003.324
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 20.522 (10.081) 354.793 886.609 1.003.430
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 270.003 236.737 361.131 891.338 1.007.772
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Proyeksi Keuangan Laba Rugi SOFA setelah rencana penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit disajikan sebagai berikut:
Tabel 23. Proyeksi Laba Rugi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan
Conduit
(dalam jutaan rupiah)
S2 2026
Laporan Laba Rugi 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
P
Penjualan 22.347 32.939 24.041 17.547 15.965
Dividend Income - 29.602 55.256 46.221 19.584
Halaman 83 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 85
S2 2026
Laporan Laba Rugi 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
P
Beban pokok penjualan (7.411) (16.757) (10.413) (6.612) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 14.937 45.784 68.884 57.155 29.745
Beban usaha (umum dan administrasi) (6.911) (13.345) (10.153) (7.824) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain (5) - - - -
Laba (Rugi) Usaha 8.021 32.439 58.731 49.331 22.489
Beban Bunga (19.294) (19.294) - - -
Pendapatan keuangan 10 104 228 352 386
Beban keuangan 101 (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan (11.162) 13.248 58.959 49.683 22.875
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (160) (647) (815) (762) (724)
Pajak tangguhan (1.510) - - - -
Jumlah (1.669) (647) (815) (762) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (12.832) 12.601 58.144 48.921 22.151
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Analisis inkremental dilakukan untuk mengukur tambahan manfaat ekonomis yang timbul dari
rencana penambahan kegiatan usaha, dengan cara membandingkan proyeksi kinerja keuangan
Perseroan dalam kondisi tanpa rencana terhadap kondisi setelah rencana dilaksanakan. Selisih
di antara keduanya merupakan dampak bersih yang dapat diatribusikan kepada rencana
dimaksud.
Proyeksi disusun atas skenario sebagai berikut:
• Skenario sebelum, yaitu kondisi Perseroan tanpa pelaksanaan rencana penambahan
kegiatan usaha; dan
• Skenario setelah Bank Loan (BL), yaitu kondisi setelah pelaksanaan rencana dengan sumber
pendanaan berasal dari pinjaman bank (bank loan).
Tabel 24. Analisis Inkremental
(dalam Jutaan rupiah)
Keterangan S2 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Before
Penjualan 22.347 32.939 24.041 17.547 15.965
Laba (Rugi) Kotor 14.937 16.182 13.628 10.934 10.161
Laba (Rugi) Usaha 8.026 2.838 3.475 3.110 2.905
Laba Sebelum Pajak 8.035 2.941 3.703 3.462 3.291
EBIT 8.035 2.941 3.703 3.462 3.291
EBITDA 10.094 2.941 3.703 3.462 3.291
After BL
Penjualan 22.347 62.541 79.297 63.767 35.549
Laba (Rugi) Kotor 14.937 45.784 68.884 57.155 29.745
Laba (Rugi) Usaha 8.021 32.439 58.731 49.331 22.489
Laba Sebelum Pajak (11.162) 13.248 58.959 49.683 22.875
EBIT 8.132 32.543 58.959 49.683 22.875
EBITDA 13.221 34.988 61.405 52.129 25.320
Before - After BL
Halaman 84 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 86
Keterangan S2 2026 P 2035 P 2045 P 2055 P 2058 P
Penjualan - 29.602 55.256 46.221 19.584
Laba (Rugi) Kotor - 29.602 55.256 46.221 19.584
Laba (Rugi) Usaha (5) 29.602 55.256 46.221 19.584
Laba Sebelum Pajak (19.198) 10.307 55.256 46.221 19.584
EBIT 97 29.602 55.256 46.221 19.584
EBITDA 3.127 32.047 57.702 48.666 22.030
Sumber: Proyeksi manajemen disesuaikan dan analisis KJPP
Periode proyeksi lengkap, disajikan pada lampiran dalam laporan ini.
Pada tahun 2026, dampak inkremental dari rencana penambahan kegiatan usaha masih relatif
terbatas. Hal tersebut tercermin dari belum adanya tambahan penjualan secara inkremental,
sementara laba usaha inkremental tercatat sebesar negatif Rp5 juta. EBIT dan EBITDA inkremental
masing-masing tercatat sebesar Rp97 juta dan Rp3.127 juta, namun laba sebelum pajak
inkremental menunjukkan dampak negatif sebesar Rp19.198 juta. Selisih antara EBIT dan laba
sebelum pajak tersebut terutama mencerminkan beban keuangan yang timbul pada tahap awal
pelaksanaan rencana penambahan kegiatan usaha, yang belum diimbangi oleh tambahan
pendapatan dari penyertaan.
Pada tahun 2035, manfaat ekonomi dari penambahan kegiatan usaha mulai terlihat secara
signifikan. Penjualan, laba kotor, laba usaha, dan EBIT inkremental masing-masing tercatat
sebesar Rp29.602 juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar Rp32.047 juta. Laba sebelum
pajak inkremental tercatat positif sebesar Rp10.307 juta, lebih rendah dibandingkan EBIT karena
masih terdapat beban keuangan pada periode tersebut.
Selanjutnya, pada tahun 2045, kontribusi inkremental menunjukkan peningkatan. Penjualan, laba
kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum pajak inkremental masing-masing mencapai Rp55.256
juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar Rp57.702 juta. Kesamaan nilai laba sebelum pajak
dengan EBIT menunjukkan bahwa beban keuangan terkait rencana penambahan kegiatan usaha
sudah tidak lagi membebani Perseroan pada periode tersebut.
Pada tahun 2055, penjualan, laba kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum pajak inkremental
masing-masing tercatat sebesar Rp46.221 juta, sedangkan EBITDA inkremental sebesar
Rp48.666 juta.
Sementara itu, pada tahun 2058, penjualan, laba kotor, laba usaha, EBIT, dan laba sebelum
pajak inkremental masing-masing tercatat sebesar Rp19.584 juta, sedangkan EBITDA inkremental
mencapai Rp22.030 juta. Dengan demikian, meskipun nilai inkremental pada akhir periode
proyeksi lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya seiring menurunnya dividen dari
entitas proyek, rencana penambahan kegiatan usaha tetap memberikan kontribusi positif
terhadap laba dan EBITDA Perseroan.
7.7 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengaplikasikan sensitivitas perubahan pada pos
keuangan tertentu yang dinilai memiliki dampak utama sebagai pendorong nilai tambah dari
Rencana Transaksi. Pada analisis sensitivitas studi kelayakan ini, sensitivitas diaplikasikan pada
pos Pendapatan Dividen, dengan asumsi sebagai berikut:
Halaman 85 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 87
1. Sensitivitas negatif 15,00% merupakan pengurangan 15,00% dari proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
2. Sensitivitas negatif 10,00% merupakan pengurangan 10,00% dari proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
3. Sensitivitas 0,00% merupakan asumsi tidak terdapat perubahan atas proyeksi perolehan
dividen sepanjang masa proyeksi;
4. Sensitivitas positif 10,00% merupakan penambahan 10,00% dari proyeksi perolehan dividen
sepanjang masa proyeksi; dan
5. Sensitivitas positif 15,00% merupakan penambahan 15,00% dari proyeksi perolehan dividen
sepanjang masa proyeksi.
Tabel analisis sensitivitas atas dampak perubahan pendapatan terhadap kelayakan investasi
disajikan sebagai berikut:
Tabel 25. Analisis Sensitivitas
Sensitivitas Pendapatan Dividen IRR NPV PP PI
Pendapatan Dividen -15% 12,92% 16.610.282.031 11 Tahun 8 Bulan 1,13
Pendapatan Dividen -10% 13,39% 25.294.480.974 11 Tahun 4 Bulan 1,19
Pendapatan Dividen +0% 14,27% 42.662.878.861 10 Tahun 10 Bulan 1,33
Pendapatan Dividen +10% 15,09% 60.031.276.747 10 Tahun 6 Bulan 1,46
Pendapatan Dividen +15% 15,48% 68.715.475.690 10 Tahun 3 Bulan 1,52
Sumber: Analisis KJPP, diolah
Analisis sensitivitas dampak perubahan Pendapatan Dividen terhadap kelayakan Rencana
Transaksi dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada kondisi dasar tanpa perubahan (sensitivitas 0,00%), Rencana Transaksi menghasilkan
IRR sebesar 14,27%, NPV sebesar Rp42.662.878.861, Payback Period selama 10 tahun 10
bulan, dan Profitability Index sebesar 1,33;
2. Sensitivitas dampak pengurangan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 13,39%, NPV sebesar Rp25.294.480.974, Payback Period selama 11 tahun 4 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,19;
3. Sensitivitas dampak pengurangan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 12,92%, NPV sebesar Rp16.610.282.031, Payback Period selama 11 tahun 8 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,13;
4. Sensitivitas dampak penambahan 10,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 15,09%, NPV sebesar Rp60.031.276.747, Payback Period selama 10 tahun 6 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,46; dan
5. Sensitivitas dampak penambahan 15,00% atas Pendapatan Dividen menghasilkan IRR
sebesar 15,48%, NPV sebesar Rp68.715.475.690, Payback Period selama 10 tahun 3 bulan,
dan Profitability Index sebesar 1,52.
Berdasarkan uraian di atas, seluruh skenario sensitivitas dalam rentang negatif 15,00% sampai
dengan positif 15,00% atas Pendapatan Dividen tetap menghasilkan NPV yang positif, Profitability
Index yang lebih besar dari 1,00, serta IRR yang berada di atas tingkat diskonto yang digunakan.
Dengan demikian, kesimpulan kelayakan Rencana Transaksi tetap terjaga meskipun terjadi
perubahan atas asumsi Pendapatan Dividen dalam rentang tersebut.
Halaman 86 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 88
7.8 Kesimpulan Kelayakan Model Keuangan
Dari serangkaian analisis yang dijalankan pada aspek model keuangan, diperoleh bahwa
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada
SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
bersumber dari penerimaan atas penyaluran dana kepada entitas dalam grup melalui entitas
anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.
Halaman 87 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 89
BAB VIII
KESIMPULAN
8.1 Analisis atas Kelayakan Pasar
Pada dasarnya, aspek pasar menunjukkan bahwa rencana kegiatan usaha Perseroan memiliki
peluang yang baik untuk dikembangkan. Kondisi ekonomi dan perkembangan sektor terkait
masih memberikan ruang bagi kegiatan investasi, sementara pengembangan PSEL secara
nasional didukung oleh kebijakan pemerintah dan target pembangunan di berbagai wilayah.
Perseroan juga telah memiliki basis investasi melalui AEA pada proyek PSEL Denpasar Raya dan
Bogor Raya, sehingga terdapat dasar awal untuk pengembangan portofolio usaha.
Dalam tahap selanjutnya, pengembangan kegiatan usaha dapat dilakukan secara bertahap
melalui pengelolaan investasi yang telah dimiliki, penjajakan peluang investasi baru, serta
pengembangan jejaring dan mitra strategis. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar,
kebijakan pemerintah, perkembangan portofolio investasi, dan peluang pengembangan usaha,
aspek pasar rencana kegiatan penambahan aktivitas usaha baru ini dapat dinilai memiliki ruang
pertumbuhan yang cukup baik, dengan tetap memperhatikan kelayakan masing-masing peluang
investasi dan kondisi pasar yang berlaku
8.2 Analisis atas Kelayakan Teknis
Berdasarkan hasil analisis aspek teknis, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit pada SOFA dinilai layak untuk dilaksanakan. Kelayakan tersebut terutama didukung oleh
kesiapan Perseroan dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit, yang meliputi perencanaan
kebutuhan pendanaan, penghimpunan atau penyediaan sumber dana, penyaluran dana kepada
entitas dalam grup, serta pemantauan dan pengendalian penggunaan dana sesuai dengan tujuan
dan struktur pendanaan yang telah ditetapkan.
Dalam rencana transaksi, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan melalui AEA sebagai entitas
anak dengan kepemilikan sebesar 99%, untuk selanjutnya digunakan sebagai penyertaan modal
pada WNA dan WNG. Dengan skema tersebut, kegiatan operasional proyek tetap dilaksanakan
oleh entitas operasional, sedangkan SOFA menjalankan fungsi pada tingkat pembiayaan dan
pengawasan arus dana. Selain itu, adanya regulasi dan struktur proyek, termasuk keterlibatan
WNA dan WNG serta mitra teknologi lainnya, memberikan dasar bagi Perseroan dalam
menyusun dan menyalurkan pendanaan sebagai fungsi aktivitas pembiayaan conduit. Dengan
demikian, dari aspek teknis, penambahan KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit dinilai layak,
didukung oleh tata kelola pendanaan, pengendalian arus dana, pemantauan penggunaan dana,
serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
8.3 Analisis atas Kelayakan Pola Bisnis
Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, pola bisnis SOFA melalui penambahan KBLI
64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit secara umum layak untuk dijalankan. Penambahan
kegiatan usaha ini memberikan dasar bagi Perseroan untuk menjalankan fungsi penghimpunan,
pengelolaan, dan penyaluran pendanaan secara terstruktur kepada entitas dalam grup,
khususnya dalam mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Dalam rencana
transaksi, dana yang dihimpun Perseroan akan disalurkan kepada AEA sebagai entitas anak untuk
Halaman 88 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 90
selanjutnya digunakan sebagai setoran modal pada WNA dan WNG yang memiliki kepentingan
pada perusahaan operasional proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE).
Kelayakan pola bisnis tersebut didukung oleh status SOFA sebagai perusahaan terbuka yang
memberikan akses terhadap sumber pendanaan, pengalaman manajemen dalam pengelolaan
usaha dan pendanaan, serta struktur penyaluran dana yang dapat dilakukan melalui entitas yang
telah tersedia dalam grup tanpa memerlukan pembentukan entitas baru. Dari sisi penciptaan
nilai, fungsi pembiayaan conduit berpotensi meningkatkan efisiensi dan koordinasi pendanaan
grup, memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan modal entitas dalam grup, serta
membuka peluang pengembangan portofolio usaha pada sektor lain yang memiliki prospek
pertumbuhan. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan ini tetap menghadapi risiko berupa
kebutuhan pendanaan yang relatif besar, risiko pasar pendanaan, risiko regulasi, serta kebutuhan
penguatan tata kelola dan kompetensi dalam menjalankan fungsi pembiayaan conduit. Dengan
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, rencana penambahan KBLI 64220 Aktivitas
Pembiayaan Conduit pada SOFA dinilai memiliki prospek yang cukup baik dan layak untuk
direalisasikan.
8.4 Analisis atas Kelayakan Model Manajemen
Berdasarkan struktur organisasi dan kapasitas manajemen Perseroan, SOFA dinilai memiliki
kemampuan yang memadai untuk menjalankan kegiatan usaha KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan
Conduit. Kesiapan tersebut didukung oleh pengalaman jajaran Direksi dan Dewan Komisaris
dalam bidang penghimpunan dana, pasar modal, serta tata kelola keuangan. Pada tahap awal,
pelaksanaan kegiatan pembiayaan conduit akan mengoptimalkan tenaga kerja yang telah
tersedia di Perseroan. Rencana kegiatan mendukung penambahan setoran modal pada WNA dan
WNG melalui AEA sebagai entitas anak Perseroan. Dengan pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas, penerapan proses evaluasi dan pemantauan penggunaan dana, serta
pelaporan secara berkala dari entitas penerima, model manajemen untuk pelaksanaan kegiatan
KBLI 64220 dinilai layak dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan tetap
memperhatikan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kompleksitas kegiatan usaha
Perseroan.
8.5 Analisis atas Kelayakan Keuangan
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada
SOFA memberikan kesimpulan layak dari aspek keuangan yang diukur lewat alat uji kelayakan
berupa NPV, IRR, dan Profitability Index, di mana NPV bernilai positif, IRR berada di atas tingkat
diskonto yang digunakan, dan Profitability Index bernilai lebih besar dari 1,00. Selain itu, dilihat
dari sudut pandang Perseroan, penambahan kegiatan usaha ini dapat memberikan nilai tambah
sebagaimana tercermin dari analisis inkremental yang dijalankan, di mana proyeksi keuangan
setelah rencana penambahan kegiatan usaha memberikan perolehan nilai tambah pada pos
keuangan di proyeksi laporan posisi keuangan dan proyeksi laporan laba rugi Perseroan, yang
bersumber dari penerimaan atas penyaluran dana kepada entitas dalam grup melalui entitas
anak AEA. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
berupa KBLI 64220 Aktivitas Pembiayaan Conduit pada SOFA adalah layak untuk dijalankan.
8.6 Kesimpulan
Dari serangkaian analisis yang dilakukan dan dengan mempertimbangkan semua faktor yang
relevan serta data dan informasi yang diperoleh FDI&R yang mempengaruhi dalam analisis
Halaman 89 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 91
kelayakan, terkait dengan akan dilakukannya penambahan bidang usaha bagi perseroan berupa
Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220), maka FDI&R berpendapat bahwa Rencana
Penambahan Kegiatan Usaha Adalah Layak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha layak untuk dilaksanakan.
Halaman 90 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 92
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya
keakuratannya.
4. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan dan mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya.
5. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan kajian telah disusun
sesuai dengan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI),
POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”),
7. Penilai bertanggung jawab atas pelaksanaan studi kelayakan dan kewajaran proyeksi
keuangan serta kemampuan pencapaiannya.
8. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Studi Kelayakan dan kesimpulan nilai akhir
9. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari Pemberi
Tugas
10. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di
luar pengadilan) yang berkaitan dengan obyek Studi Kelayakan tidak menjadi tanggung
jawab kami.
11. Kami ingin menekankan bahwa hasil Studi Kelayakan, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek nilai atas obyek Studi Kelayakan, diluar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
12. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang
berkaitan dengan kondisi obyek Studi Kelayakan, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya
bukan menjadi tanggung jawab kami.
13. Laporan studi kelayakan ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di dalam
laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
Halaman 91 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 93
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan studi kelayakan adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek studi kelayakan.
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil studi kelayakan yang dilaporkan.
5. Studi kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), POJK 35 Tahun 2020, 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”).
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek studi
kelayakan.
8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen SOFA.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang
dinyatakan dalam laporan studi kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi Tugas dan kami anggap akurat serta
lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen
dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga
menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan studi kelayakan telah dilakukan terhadap obyek studi kelayakan per tanggal studi
kelayakan (cut off date).
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
laporan studi kelayakan.
14. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah
diungkapkan.
15. Kesimpulan studi kelayakan telah sesuai dengan sesuai asumsi dan kondisi pembatas.
16. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan kami peroleh dari sumber yang
telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 92 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 94
Page 95
LAMPIRAN – LAMPIRAN Halaman 94 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 96
Halaman 95 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 97
Halaman 96 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 98
Halaman 97 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 99
Halaman 98 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 100
Halaman 99 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 101
Halaman 100 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 102
Kantor Jasa Penilai Publik
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Property, Business Valuation & Advisory Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Licence No. 2.22.0176 E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Website: www.fdipartners.co
KMK 460/KM.1/2022
Phone (62 21) 27875911
Wilayah Kerja : Seluruh Indonesia
Tabel 26. Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Year 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders - - - - 158.595 192.294 205.513 208.216 211.435 214.983 218.742
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium - - - - 111.017 134.606 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium - - - - 111.017 134.606 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,33
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve - - - - 111.017 11.594 - - - - -
Cumulative Statutory Surplus Reserve - - - - 111.017 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus Reserve &
- - - - - 123.011 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Provision
Dividend Attributable to Consortium
- - - - - 123.011 143.859 145.751 148.005 150.488 153.119
Shareholders
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA - - - - - 12.301 14.386 14.575 14.800 15.049 15.312
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders - - - - 118.834 169.497 191.140 198.002 203.297 207.897 212.211
Consortium Ownership 70%
Kantor Pusat (Properti dan Bisnis); Kantor Cabang Semarang (Properti); Kantor Cabang Jakarta
Page 103
Year 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Profit attributable to Consortium - - - - 83.184 118.648 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium - - - - 83.184 118.648 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,10
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,82
Appropriation of Statutory Surplus Reserve - - - - 83.184 38.593 - - - - -
Cumulative Statutory Surplus Reserve - - - - 83.184 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777
Dividend Attributable after Surplus Reserve &
- - - - - 80.055 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
Provision
Dividend Attributable to Consortium
- - - - -
Shareholders 80.055 133.798 138.601 142.308 145.528 148.548
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA - - - - - 8.006 13.380 13.860 14.231 14.553 14.855
AEA - SOFA
Total Profit Distributions to SH (Before
Allocation) - - - - 277.430 361.791 396.652 406.218 414.733 422.880 430.953
Total Profit Distributions to Consortium - - - - 194.201 253.254 277.656 284.353 290.313 296.016 301.667
Dividend Received from Bogor - - - - - 12.301 14.386 14.575 14.800 15.049 15.312
Dividend Received from Denpasar - - - - - 8.006 13.380 13.860 14.231 14.553 14.855
Total Dividend Received from WtE Project - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167
Halaman 102 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 104
Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Year 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders 222.440 225.954 277.101 349.038 382.671 396.945 401.323 400.715 398.138 394.697
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288
Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,33
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus Reserve &
Provision 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288
Dividend Attributable to Consortium Shareholders 155.708 158.168 193.971 244.326 267.870 277.862 280.926 280.500 278.697 276.288
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA 15.571 15.817 19.397 24.433 26.787 27.786 28.093 28.050 27.870 27.629
Denpasar
Profit Distribution to All Shareholders 216.196 219.855 270.705 342.169 375.634 389.868 394.253 393.679 391.235 388.002
Consortium Ownership 70%
Halaman 103 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 105
Year 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P Profit attributable to Consortium 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Dividend Paid to Consortium 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,10 Statutory Paid-Up Capital Reserve 20% Reserve Amount (USD Mn) 6,82 Appropriation of Statutory Surplus Reserve Cumulative Statutory Surplus Reserve 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 Dividend Attributable after Surplus Reserve & Provision 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 Dividend Attributable to Consortium Shareholders 151.337 153.898 189.493 239.518 262.944 272.908 275.977 275.576 273.864 271.601 AEA Ownership in the Consortium 10% Dividend Attributable to AEA 15.134 15.390 18.949 23.952 26.294 27.291 27.598 27.558 27.386 27.160 AEA - SOFA Total Profit Distributions to SH (Before Allocation) 438.636 445.809 547.806 691.207 758.305 786.813 795.576 794.394 789.373 782.699 Total Profit Distributions to Consortium 307.045 312.066 383.464 483.845 530.814 550.769 556.903 556.076 552.561 547.889 Dividend Received from Bogor 15.571 15.817 19.397 24.433 26.787 27.786 28.093 28.050 27.870 27.629 Dividend Received from Denpasar 15.134 15.390 18.949 23.952 26.294 27.291 27.598 27.558 27.386 27.160 Total Dividend Received from WtE Project 30.705 31.207 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 Halaman 104 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 106
Proyeksi Entitas Konsorsium (Proyeksi Tahun 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Year 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Bogor
Profit Distribution to All Shareholders 390.172 384.884 375.159 363.631 355.913 349.407 342.850 336.681 332.330 330.543 328.621 128.951
Consortium Ownership 70%
Profit attributable to Consortium 273.120 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Dividend Paid to Consortium 273.120 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Consortium Total Paid-Up Capital
34,33
(USD Mn)
Statutory Paid-Up Capital Reserve 20%
Reserve Amount (USD Mn) 6,87
Appropriation of Statutory Surplus
Reserve
Cumulative Statutory Surplus Reserve 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611 122.611
Dividend Attributable after Surplus
Reserve & Provision 273.120 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
Dividend Attributable to Consortium
Shareholders 273.120 269.419 262.611 254.541 249.139 244.585 239.995 235.676 232.631 231.380 230.034 90.266
AEA Ownership in the Consortium 10%
Dividend Attributable to AEA 27.312 26.942 26.261 25.454 24.914 24.458 24.000 23.568 23.263 23.138 23.003 9.027
Halaman 105 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 107
Year 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P Denpasar Profit Distribution to All Shareholders 383.635 378.466 368.837 357.487 350.111 343.938 337.637 331.761 327.964 327.119 290.828 150.821 Consortium Ownership 70% Profit attributable to Consortium 268.545 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575 Dividend Payout Ratio 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Dividend Paid to Consortium 268.545 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575 Consortium Total Paid-Up Capital (USD Mn) 34,10 Statutory Paid-Up Capital Reserve 20% Reserve Amount (USD Mn) 6,82 Appropriation of Statutory Surplus Reserve Cumulative Statutory Surplus Reserve 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 121.777 Dividend Attributable after Surplus Reserve & Provision 268.545 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575 Dividend Attributable to Consortium Shareholders 268.545 264.926 258.186 250.241 245.078 240.756 236.346 232.233 229.575 228.983 203.580 105.575 AEA Ownership in the Consortium 10% Dividend Attributable to AEA 26.854 26.493 25.819 25.024 24.508 24.076 23.635 23.223 22.957 22.898 20.358 10.557 Halaman 106 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 108
Year 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P AEA - SOFA Total Profit Distributions to SH (Before Allocation) 773.807 763.349 743.995 721.117 706.024 693.344 680.487 668.441 660.293 657.661 619.449 279.772 Total Profit Distributions to Consortium 541.665 534.345 520.797 504.782 494.217 485.341 476.341 467.909 462.205 460.363 433.614 195.841 Dividend Received from Bogor 27.312 26.942 26.261 25.454 24.914 24.458 24.000 23.568 23.263 23.138 23.003 9.027 Dividend Received from Denpasar 26.854 26.493 25.819 25.024 24.508 24.076 23.635 23.223 22.957 22.898 20.358 10.557 Total Dividend Received from WtE Project 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584 Halaman 107 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 109
Tabel 27. Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
S2
Sebelum Penambahan KBLI 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2046
2026
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 76,81% 45,25% 42,74% 42,20% 42,00% 42,92% 46,88% 47,40% 48,27% 49,13% 49,97% 50,80% 57,33%
Operating Profit Margin 45,87% 1,42% -1,58% -2,05% -3,02% -1,70% 7,32% 7,17% 7,90% 8,61% 9,31% 9,98% 14,90%
Net Profit Margin 36,70% 1,11% -1,53% -1,97% -2,90% -1,54% 5,86% 5,77% 6,37% 6,96% 7,54% 8,10% 12,42%
Sebelum Penambahan KBLI 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 51,60% 52,39% 53,16% 53,90% 54,63% 55,33% 56,02% 56,69% 57,33% 57,96% 58,57% 59,16% 59,73%
Operating Profit Margin 10,63% 11,25% 11,85% 12,42% 12,97% 13,49% 13,98% 14,45% 14,90% 15,32% 15,71% 16,07% 16,41%
Net Profit Margin 8,65% 9,18% 9,70% 10,19% 10,67% 11,14% 11,58% 12,01% 12,42% 12,82% 13,20% 13,56% 13,91%
Sebelum Penambahan KBLI 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 60,29% 60,82% 61,34% 61,83% 62,31% 62,78% 63,22% 63,65%
Operating Profit Margin 16,73% 17,02% 17,28% 17,52% 17,73% 17,91% 18,07% 18,20%
Net Profit Margin 14,24% 14,55% 14,85% 15,13% 15,39% 15,63% 15,86% 16,07%
Halaman 108 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 110
Tabel 28. Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Setelah penambahan KBLI S2 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 48,41% 44,04% 42,73% 42,22% 63,08% 69,96% 70,96% 72,10% 73,21% 74,28%
Operating Profit Margin 35,89% 4,58% -0,28% -1,52% -2,80% 34,17% 47,57% 48,74% 50,33% 51,87% 53,38%
Net Profit Margin -57,42% -41,95% -47,21% -49,92% -52,72% 0,82% 16,58% 17,59% 18,89% 20,15% 21,39%
Setelah penambahan KBLI 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
Transaksi
Gross Profit Margin 75,31% 76,29% 79,48% 82,77% 84,36% 85,29% 85,93% 86,43% 86,87% 87,27% 87,63%
Operating Profit Margin 54,83% 56,22% 61,75% 67,58% 70,28% 71,78% 72,75% 73,46% 74,06% 74,61% 75,09%
Net Profit Margin 22,58% 23,71% 32,23% 41,58% 45,51% 71,04% 72,01% 72,72% 73,32% 73,87% 74,36%
Setelah penambahan KBLI 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana
Transaksi
Gross Profit Margin 87,97% 88,19% 88,35% 88,60% 88,86% 89,11% 89,35% 89,63% 89,96% 89,87% 83,67%
Operating Profit Margin 75,52% 75,72% 75,83% 76,09% 76,40% 76,69% 76,99% 77,36% 77,86% 77,44% 63,26%
Net Profit Margin 74,79% 75,00% 75,10% 75,38% 75,70% 76,01% 76,32% 76,72% 77,25% 76,83% 62,31%
Halaman 109 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 111
Tabel 29. Rasio Complete Sebelum Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Sebelum Penambahan KBLI 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 66,84% 48,41% 44,04% 42,73% 42,22% 43,01% 46,92% 47,42% 48,27% 49,13% 49,97%
Operating Profit Margin 35,91% 4,58% -0,28% -1,52% -2,80% -1,60% 7,35% 7,19% 7,90% 8,61% 9,31%
Net Profit Margin 28,49% 3,58% -0,23% -1,43% -2,67% -1,45% 5,89% 5,79% 6,38% 6,96% 7,54%
Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
Cash Ratio 0,70 0,88 1,09 1,36 1,68 2,03 2,37 2,74 3,15 3,59 4,07
Current Ratio 2,62 3,08 3,36 3,65 3,94 4,26 4,57 4,89 5,26 5,66 6,11
Quick Ratio 0,78 0,97 1,17 1,45 1,76 2,12 2,45 2,82 3,23 3,67 4,16
Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Return on Assets* 1,32% 2,91% -0,18% -1,12% -2,08% -1,11% 4,22% 3,88% 4,00% 4,08% 4,13%
Return on Equity* 1,69% 3,68% -0,23% -1,40% -2,61% -1,39% 5,18% 4,70% 4,78% 4,82% 4,81%
Sebelum Penambahan KBLI 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 50,80% 51,60% 52,39% 53,16% 53,90% 54,63% 55,33% 56,02% 56,69% 57,33% 57,96%
Operating Profit Margin 9,98% 10,63% 11,25% 11,85% 12,42% 12,97% 13,49% 13,98% 14,45% 14,90% 15,32%
Net Profit Margin 8,11% 8,65% 9,18% 9,70% 10,20% 10,68% 11,14% 11,59% 12,01% 12,43% 12,82%
Rasio Likuiditas Sebelum Rencana Transaksi
Cash Ratio 4,58 5,12 5,70 6,32 6,96 7,64 8,36 9,14 9,91 10,73 11,60
Current Ratio 6,57 7,07 7,61 8,21 8,80 9,45 10,13 10,87 11,61 12,40 13,23
Quick Ratio 4,66 5,20 5,78 6,41 7,04 7,72 8,44 9,22 9,99 10,81 11,68
Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Return on Assets* 4,14% 4,12% 4,08% 4,02% 3,95% 3,86% 3,77% 3,67% 3,56% 3,46% 3,35%
Return on Equity* 4,77% 4,70% 4,61% 4,51% 4,39% 4,27% 4,13% 4,00% 3,86% 3,73% 3,59%
Halaman 110 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 112
Sebelum Penambahan KBLI 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Sebelum Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 58,57% 59,16% 59,73% 60,29% 60,82% 61,34% 61,83% 62,31% 62,78% 63,22% 63,65%
Operating Profit Margin 15,71% 16,07% 16,41% 16,73% 17,02% 17,28% 17,52% 17,73% 17,91% 18,07% 18,20%
Net Profit Margin 13,20% 13,57% 13,91% 14,24% 14,55% 14,85% 15,13% 15,39% 15,64% 15,87% 16,08%
Rasio Likuiditas Sebelum Rencana
Transaksi
Cash Ratio 12,52 13,43 14,40 15,41 16,50 17,54 18,66 19,82 21,06 22,24 23,51
Current Ratio 14,13 15,00 15,94 16,91 17,97 18,98 20,07 21,20 22,41 23,56 24,80
Quick Ratio 12,60 13,51 14,48 15,49 16,57 17,62 18,74 19,89 21,13 22,32 23,58
Rasio Rentabilitas Sebelum Rencana
Transaksi
Return on Assets* 3,24% 3,13% 3,02% 2,91% 2,81% 2,71% 2,60% 2,51% 2,41% 2,32% 2,23%
Return on Equity* 3,46% 3,33% 3,20% 3,08% 2,96% 2,84% 2,73% 2,62% 2,52% 2,41% 2,32%
*Annualized
Halaman 111 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 113
Tabel 30. Rasio Complete Setelah Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
Setelah penambahan KBLI Conduit 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 45,46% 48,41% 44,04% 42,73% 42,22% 63,08% 69,96% 70,96% 72,10% 73,21% 74,28%
Operating Profit Margin 2,31% 4,58% -0,28% -1,52% -2,80% 34,17% 47,57% 48,74% 50,33% 51,87% 53,38%
Net Profit Margin -42,36% -41,95% -47,21% -49,92% -52,72% 0,82% 16,58% 17,59% 18,89% 20,15% 21,39%
Rasio Likuiditas Setelah Rencana
Transaksi
Cash Ratio 8,51 7,21 5,75 4,28 2,76 3,25 4,53 5,96 7,57 9,35 11,34
Current Ratio 10,44 9,40 8,03 6,56 5,02 5,48 6,73 8,11 9,68 11,42 13,37
Quick Ratio 8,60 7,29 5,83 4,36 2,84 3,33 4,61 6,04 7,65 9,43 11,42
Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
Return on Assets* -6,86% -7,06% -8,35% -9,37% -10,62% 0,25% 5,25% 5,25% 5,30% 5,32% 5,32%
Return on Equity* -90,27% -648,04% 116,48% 54,41% 35,76% -0,84% -23,17% -32,30% -52,48% -125,00% 415,16%
Setelah penambahan KBLI Conduit 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 75,31% 76,29% 79,48% 82,77% 84,36% 85,29% 85,93% 86,43% 86,87% 87,27% 87,63%
Operating Profit Margin 54,83% 56,22% 61,75% 67,58% 70,28% 71,78% 72,75% 73,46% 74,06% 74,61% 75,09%
Net Profit Margin 22,58% 23,71% 32,23% 41,58% 45,51% 71,04% 72,01% 72,72% 73,32% 73,87% 74,36%
Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
Cash Ratio 13,46 15,80 19,22 24,26 -3,20 5,12 14,03 23,54 33,43 43,88 54,82
Current Ratio 15,45 17,75 21,14 26,14 -1,36 6,92 15,80 25,27 35,13 45,54 56,45
Quick Ratio 13,54 15,88 19,30 24,34 -3,12 5,20 14,11 23,61 33,51 43,96 54,89
Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
Return on Assets* 5,28% 5,22% 7,26% 9,62% 28,37% 31,03% 23,90% 19,29% 16,10% 13,78% 12,00%
Return on Equity* 81,31% 45,87% 40,72% 37,36% 30,04% 32,23% 24,58% 19,71% 16,39% 13,98% 12,15%
Halaman 112 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 114
Setelah penambahan KBLI Conduit 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058
Rasio Profitabilitas Setelah Rencana Transaksi
Gross Profit Margin 87,97% 88,19% 88,35% 88,60% 88,86% 89,11% 89,35% 89,63% 89,96% 89,87% 83,67%
Operating Profit Margin 75,52% 75,72% 75,83% 76,09% 76,40% 76,69% 76,99% 77,36% 77,86% 77,44% 63,26%
Net Profit Margin 74,79% 75,00% 75,10% 75,38% 75,70% 76,01% 76,32% 76,72% 77,25% 76,83% 62,31%
Rasio Likuiditas Setelah Rencana Transaksi
Cash Ratio 66,40 78,04 90,18 102,75 116,07 129,31 143,32 157,89 173,52 188,43 198,98
Current Ratio 68,00 79,60 91,71 104,25 117,54 130,75 144,73 159,27 174,87 189,76 200,27
Quick Ratio 66,47 78,12 90,25 102,82 116,15 129,39 143,40 157,96 173,59 188,51 199,05
Rasio Rentabilitas Setelah Rencana Transaksi
Return on Assets* 10,59% 9,37% 8,34% 7,55% 6,91% 6,36% 5,88% 5,49% 5,18% 4,66% 2,20%
Return on Equity* 10,71% 9,46% 8,41% 7,61% 6,96% 6,40% 5,91% 5,52% 5,21% 4,69% 2,21%
*Annualized
Halaman 113 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 115
Tabel 31. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Leverage Beta (Equity Beta)
Green & Renewable Energy
Un-Leverage Beta (Assets
Beta)
Percentage of Total Capital
0,57
Supplied by Debt
39,84%
D/E Leverage Beta (Equity Beta)
: x
66,22% 0,87
% of Total Capital Supplied by
Equity
60,16%
1 + (DER x After Tax Profit)
x
1,52
Before-Tax Operating Profit in %
100%
After-Tax Operating Profit in
- %
78,00%
Income Taxe Rate
22%
Weighted Average Cost of Capital
Equity Risk Premium (rm-rf)
7,55%
Company Risk Premium
x
6,53%
Leverage Beta (Equity Beta)
0,87
Company Specific Risk
0% Cost of equity (Ke)
+
Risk-Free Rate (rf) 11,98%
7,26%
Risk-Free Rate - Default Spread Weighted Cost of Equity
- x
5,45% 7,21%
Percentage of Total Capital
Country Default Spread
Supplied by Equity
1,81% 60,16%
Weighted Average Cost of Capital
+
9,72%
Percentage of Total Capital
Supplied by Debt
39,84%
Before-Tax Cost of Debt Weighted Cost of Debt
x
8,07% 2,51%
Before-Tax Operating Profit in % After-Tax Cost of Debt (Kd)
x
100% 6,30%
After-Tax Operating Profit in
- %
78,00%
Income Taxe Rate
22,00%
Halaman 114 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 116
Tabel 32. Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Beg.
Environment Asia Period 30/06/2026 30/06/2026 01/01/2027 01/01/2028 01/01/2029 01/01/2030 01/01/2031 01/01/2032 01/01/2033 01/01/2034 01/01/2035
End.
Feasibility Study Period 30/06/2026 31/12/2026 31/12/2027 31/12/2028 31/12/2029 31/12/2030 31/12/2031 31/12/2032 31/12/2033 31/12/2034 31/12/2035
Year 2026 P 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P
(in IDR) Days 0 184 365 366 365 365 365 366 365 365 365
Periode 0 0,5 1,5 2,5 3,5 4,5 5,5 6,5 7,5 8,5 9,5
Investment:
Investment to
Consortium (131.021) - - - - - - - - - -
- - - - - - - - - - -
Cash Proceeds: - - - - - - - - - - -
Dividend
Income - - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602
Terminal Value
of Dividend
Income - - - - - - - - - - -
Total Net Cash
Proceeds (131.021) 0 0 0 0 0 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602
Cummulative
Proceeds (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (131.021) (110.714) (82.949) (54.514) (25.482) 4.119
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization
Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,945 0,843 0,753 0,673 0,601 0,536 0,479 0,428 0,382 0,341
Present Value of
Cashflow (131.021) 0 0 0 0 0 10.891 13.298 12.161 11.087 10.095
Halaman 115 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 117
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Beg.
Asia Period 01/01/2036 01/01/2037 01/01/2038 01/01/2039 01/01/2040 01/01/2041 01/01/2042 01/01/2043 01/01/2044 01/01/2045
End.
Feasibility Study Period 31/12/2036 31/12/2037 31/12/2038 31/12/2039 31/12/2040 31/12/2041 31/12/2042 31/12/2043 31/12/2044 31/12/2045
Year 2036 P 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P
(in IDR) Days 366 365 365 365 366 365 365 365 366 365
Periode 10,5 11,5 12,5 13,5 14,5 15,5 16,5 17,5 18,5 19,5
Investment:
Investment to
Consortium - - - - - - - - - -
- - - - - - - - - -
Cash Proceeds: - - - - - - - - - -
Dividend Income 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256
Terminal Value of
Dividend Income - - - - - - - - - -
Total Net Cash Proceeds 30.167 30.705 31.207 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256
Cummulative Proceeds 34.286 64.991 96.197 134.544 182.928 236.009 291.086 346.777 402.384 457.640
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 0,305 0,272 0,243 0,217 0,194 0,173 0,154 0,138 0,123 0,110
Present Value of
Cashflow 9.187 8.350 7.578 8.315 9.369 9.179 8.505 7.679 6.847 6.076
Halaman 116 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 118
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment
Asia Beg. Period 01/01/2046 01/01/2047 01/01/2048 01/01/2049 01/01/2050 01/01/2051 01/01/2052 01/01/2053
Feasibility Study End. Period 31/12/2046 31/12/2047 31/12/2048 31/12/2049 31/12/2050 31/12/2051 31/12/2052 31/12/2053
Year 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P
(in IDR) Days 365 365 366 365 365 365 366 365
Periode 20,5 21,5 22,5 23,5 24,5 25,5 26,5 27,5
Investment:
Investment to
Consortium - - - - - - - -
- - - - - - - -
Cash Proceeds: - - - - - - - -
Dividend Income 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534 47.634
Terminal Value of
Dividend Income - - - - - - - -
Total Net Cash
Proceeds 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534 47.634
Cummulative Proceeds 512.429 566.596 620.030 672.110 722.588 772.010 820.544 868.178
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 0,098 0,088 0,078 0,070 0,062 0,056 0,050 0,044
Present Value of
Cashflow 5.380 4.749 4.184 3.641 3.152 2.755 2.416 2.118
Halaman 117 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 119
Analisis Investasi Terhadap Penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
PT Solusi Environment Asia Beg. Period 30/06/2026 01/01/2054 01/01/2055 01/01/2056 01/01/2057 01/01/2058
Feasibility Study End. Period 30/06/2026 31/12/2054 31/12/2055 31/12/2056 31/12/2057 31/12/2058
Year 2026 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
(in IDR) Days 0 365 365 366 365 365
Periode 0 28,5 29,5 30,5 31,5 32,5
Investment:
Investment to Consortium (131.021) - - - - -
- - - - - -
Cash Proceeds: - - - - - -
Dividend Income - 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Terminal Value of Dividend Income - - - - - -
Total Net Cash Proceeds (131.021) 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Cummulative Proceeds (131.021) 914.969 961.189 1.007.226 1.050.587 1.070.171
Terminal Growth 2,51%
Discount Factor 11,98%
Capitalization Rate 9,47%
Discount Factor 1,000 0,040 0,035 0,032 0,028 0,025
Present Value of Cashflow (131.021) 1.858 1.639 1.457 1.226 494
SUM of Present Value of Cashflow 42.663
IRR 14,27%
NPV 42.663
PP 10,86
PP (Tahun) 10 Tahun 10 Bulan
PI 1,33
Halaman 118 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 120
Tabel 33. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 7.852 9.587 11.495 14.092 16.838 19.776 22.306 25.069 27.918 30.860 33.862 36.967
Piutang usaha 721 699 675 656 636 616 595 578 560 543 525 510
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 22.559 22.870 22.353 21.503 20.540 19.561 18.602 17.680 16.799 15.961 15.163
Uang muka 222 201 211 210 204 196 186 178 169 161 152 145
Biaya dibayar dimuka 338 305 321 320 310 297 283 270 257 244 231 220
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 29.553 33.418 35.639 37.698 39.558 41.493 42.998 44.764 46.651 48.674 50.798 53.073
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 19.916 17.642 15.063 12.177 8.986 6.208 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 21.427 18.679 16.099 13.214 10.023 7.244 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 50.980 52.097 51.738 50.912 49.580 48.737 50.548 52.314 54.201 56.224 58.348 60.622
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 157 142 149 149 144 139 132 126 120 114 108 103
Halaman 119 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 121
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
Biaya yang masih harus dibayar 891 806 846 844 819 785 747 713 678 644 610 581
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 9.314 9.000 8.745 8.474 8.211 7.935 7.710 7.471 7.239 6.996 6.798
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 10.860 10.594 10.337 10.036 9.733 9.412 9.147 8.867 8.595 8.312 8.080
LIABILITAS JANGKA PANJANG -
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 11.260 10.862 10.596 10.339 10.037 9.735 9.414 9.149 8.869 8.597 8.314 8.082
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (9.650) (8.134) (8.227) (8.796) (9.827) (10.367) (8.235) (6.205) (4.037) (1.743) 664 3.172
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
39.613 41.129 41.036 40.467 39.436 38.895 41.028 43.058 45.226 47.520 49.927 52.434
kepada pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 39.720 41.236 41.142 40.573 39.543 39.002 41.134 43.165 45.332 47.626 50.034 52.541
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 50.980 52.097 51.738 50.912 49.580 48.737 50.548 52.314 54.201 56.224 58.348 60.622
Halaman 120 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 122
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 40.108 43.291 46.491 49.747 53.000 56.260 59.504 62.769 66.005 69.221 72.398 75.570 78.695
Piutang usaha 494 479 463 449 436 422 408 396 384 372 360 349 339
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 14.405 13.685 13.001 12.351 11.733 11.147 10.589 10.060 9.557 9.079 8.625 8.194 7.784
Uang muka 138 131 124 118 112 107 101 96 91 87 82 78 74
Biaya dibayar dimuka 209 199 188 179 170 162 153 146 139 132 125 119 113
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 55.421 57.852 60.334 62.912 65.519 68.164 70.823 73.534 76.243 78.958 81.657 84.378 87.073
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 62.971 65.402 67.884 70.461 73.068 75.714 78.372 81.084 83.793 86.507 89.207 91.928 94.622
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 97 93 88 84 79 75 71 68 65 61 58 55 53
Halaman 121 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 123
Laporan Posisi Keuangan 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P
Biaya yang masih harus dibayar 552 525 497 474 450 427 405 386 366 348 330 314 298
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 6.587 6.383 6.168 5.993 5.807 5.627 5.438 5.284 5.120 4.961 4.794 4.658 4.514
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 7.835 7.598 7.351 7.148 6.935 6.728 6.513 6.336 6.149 5.969 5.781 5.626 5.463
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 7.837 7.600 7.353 7.150 6.937 6.730 6.514 6.338 6.151 5.971 5.782 5.628 5.465
EKUITAS
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 5.765 8.432 11.162 13.942 16.763 19.615 22.489 25.377 28.272 31.167 34.055 36.930 39.788
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
55.028 57.695 60.424 63.204 66.025 68.877 71.751 74.640 77.535 80.430 83.318 86.193 89.050
kepada pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 55.134 57.802 60.531 63.311 66.132 68.984 71.858 74.746 77.641 80.536 83.424 86.300 89.157
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 62.971 65.402 67.884 70.461 73.068 75.714 78.372 81.084 83.793 86.507 89.207 91.928 94.622
Halaman 122 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 124
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Proyeksi Periode 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 81.781 84.813 87.822 90.770 93.667 96.500 99.297 102.026
Piutang usaha 328 317 308 298 289 279 272 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 7.395 7.025 6.674 6.340 6.023 5.722 5.436 5.164
Uang muka 71 67 64 61 58 55 52 49
Biaya dibayar dimuka 107 102 97 92 87 83 79 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 89.749 92.391 95.032 97.629 100.192 102.706 105.203 107.645
ASET TIDAK LANCAR
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - -
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550 7.550
JUMLAH ASET 97.299 99.941 102.581 105.178 107.741 110.256 112.752 115.194
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56
Utang lain-lain 50 47 45 43 41 39 37 35
Halaman 123 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 125
Laporan Posisi Keuangan 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P Biaya yang masih harus dibayar 284 269 256 243 231 219 208 198 Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 Uang muka penjualan 4.374 4.227 4.107 3.980 3.856 3.727 3.621 3.509 Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 Bank (jk pendek) - - - - - - - - Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5.306 5.141 5.006 4.864 4.726 4.582 4.465 4.340 LIABILITAS JANGKA PANJANG Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - Bank (jk panjang) - - - - - - - - Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 Jumlah Liabilitas 5.308 5.143 5.008 4.866 4.728 4.584 4.466 4.342 EKUITAS Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) Defisit / Laba ditahan (Defisit) 42.622 45.429 48.204 50.943 53.644 56.303 58.917 61.483 Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada pengendali 91.885 94.691 97.466 100.206 102.907 105.565 108.179 110.746 Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 Jumlah Ekuitas 91.991 94.798 97.573 100.312 103.013 105.672 108.286 110.853 JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 97.299 99.941 102.581 105.178 107.741 110.256 112.752 115.194 Halaman 124 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 126
Tabel 34. Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Penjualan 22.347 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918
Beban pokok penjualan (7.411) (21.863) (22.979) (22.786) (22.278) (21.292) (19.216) (18.446) (17.584) (16.757) (15.968)
Laba (Rugi) Kotor 14.937 20.514 18.084 17.004 16.278 16.070 16.987 16.635 16.410 16.182 15.950
Beban usaha (umum dan administrasi) (6.911) (18.575) (18.198) (17.607) (17.356) (16.669) (14.324) (14.113) (13.723) (13.345) (12.979)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 8.026 1.939 (114) (603) (1.078) (599) 2.663 2.522 2.687 2.838 2.971
Pendapatan keuangan 10 23 30 39 49 60 72 82 92 104 115
Beban keuangan - (18) (9) (5) (2) (1) (1) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 8.035 1.943 (93) (569) (1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (160) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679)
Pajak tangguhan (1.510) - - - - - - - - - -
Jumlah (1.669) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 6.366 1.516 (93) (569) (1.031) (541) 2.132 2.031 2.168 2.294 2.407
Halaman 125 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 127
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2045 P 2046 P 2047 P
Penjualan 30.929 29.970 29.041 28.141 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 24.041 23.296 22.574
Beban pokok penjualan (15.218) (14.504) (13.826) (13.182) (12.570) (11.989) (11.436) (10.912) (10.413) (10.413) (9.940) (9.490)
Laba (Rugi) Kotor 15.711 15.466 15.214 14.958 14.698 14.434 14.167 13.899 13.628 13.628 13.356 13.084
Beban usaha (umum dan administrasi) (12.624) (12.280) (11.947) (11.624) (11.311) (11.008) (10.714) (10.429) (10.153) (10.153) (9.886) (9.627)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 3.087 3.186 3.268 3.335 3.387 3.427 3.454 3.469 3.475 3.475 3.470 3.457
Pendapatan keuangan 127 139 152 164 177 190 203 216 228 228 241 254
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 3.214 3.325 3.420 3.499 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.703 3.712 3.711
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (707) (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (815) (817) (816)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - -
Jumlah (707) (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (815) (817) (816)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 2.507 2.594 2.667 2.729 2.780 2.821 2.852 2.874 2.888 2.888 2.895 2.895
Halaman 126 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 128
Proyeksi Laba Rugi SOFA sebelum penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Penjualan 21.874 21.196 20.539 19.902 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Beban pokok penjualan (9.062) (8.656) (8.270) (7.904) (7.556) (7.225) (6.911) (6.612) (6.329) (6.059) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 12.812 12.540 12.268 11.998 11.729 11.462 11.197 10.934 10.674 10.416 10.161
Beban usaha (umum dan administrasi) (9.376) (9.133) (8.897) (8.669) (8.447) (8.233) (8.025) (7.824) (7.629) (7.439) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 3.436 3.407 3.371 3.329 3.282 3.229 3.172 3.110 3.045 2.977 2.905
Pendapatan keuangan 267 279 292 304 316 328 340 352 363 375 386
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 3.703 3.686 3.663 3.634 3.598 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Pajak kini (815) (811) (806) (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - -
Jumlah (815) (811) (806) (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 2.888 2.875 2.857 2.834 2.807 2.775 2.740 2.701 2.659 2.614 2.567
Halaman 127 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 129
Tabel 35. Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 95.854 78.294 60.908 44.210 27.661 31.612 42.613 54.517 67.103 80.352 94.226
Piutang usaha 721 699 675 656 636 616 595 578 560 543 525
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 20.353 22.559 22.870 22.353 21.503 20.540 19.561 18.602 17.680 16.799 15.961
Uang muka 222 201 211 210 204 196 186 178 169 161 152
Biaya dibayar dimuka 338 305 321 320 310 297 283 270 257 244 231
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 117.555 102.126 85.052 67.816 50.381 53.329 63.305 74.212 85.836 98.166 111.162
ASET TIDAK LANCAR - - - - - - - - - - -
Aset tetap - bersih 19.916 17.642 15.063 12.177 8.986 6.208 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha 474 - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 152.448 149.700 147.120 144.235 141.044 138.265 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 270.003 251.825 232.172 212.051 191.425 191.594 201.876 212.782 224.407 236.737 249.733
- - - - - - - - - - -
LIABILITAS DAN EKUITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS JANGKA PENDEK - - - - - - - - - - -
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Halaman 128 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 130
Laporan Posisi Keuangan 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P
Utang lain-lain 157 142 149 149 144 139 132 126 120 114 108
Biaya yang masih harus dibayar 891 806 846 844 819 785 747 713 678 644 610
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 9.611 9.314 9.000 8.745 8.474 8.211 7.935 7.710 7.471 7.239 6.996
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 11.259 10.860 10.594 10.337 10.036 9.733 9.412 9.147 8.867 8.595 8.312
LIABILITAS JANGKA PANJANG - - - - - - - - - - -
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Utang Bank Baru 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220 238.220
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222 238.222
Jumlah Liabilitas 249.481 249.082 248.816 248.559 248.258 247.955 247.634 247.369 247.089 246.817 246.534
- - - - - - - - - - -
EKUITAS - - - - - - - - - - -
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (28.847) (46.626) (66.013) (85.877) (106.202) (105.730) (95.127) (83.956) (72.051) (59.450) (46.171)
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
20.416 2.637 (16.751) (36.614) (56.939) (56.468) (45.864) (34.693) (22.789) (10.188) 3.092
pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 20.522 2.743 (16.644) (36.508) (56.833) (56.361) (45.758) (34.587) (22.682) (10.081) 3.199
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 270.003 251.825 232.172 212.051 191.425 191.594 201.876 212.782 224.407 236.737 249.733
Halaman 129 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 131
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 108.742 123.794 146.030 178.319 (22.858) 35.472 94.422 153.274 211.795 269.820 327.202
Piutang usaha 510 494 479 463 449 436 422 408 396 384 372
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 15.163 14.405 13.685 13.001 12.351 11.733 11.147 10.589 10.060 9.557 9.079
Uang muka 145 138 131 124 118 112 107 101 96 91 87
Biaya dibayar dimuka 220 209 199 188 179 170 162 153 146 139 132
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 124.847 139.108 160.590 192.162 (9.693) 47.991 106.326 164.593 222.560 280.058 336.939
ASET TIDAK LANCAR - - - - - - - - - - -
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 263.418 277.678 299.161 330.733 128.877 186.561 244.897 303.163 361.131 418.629 475.510
- - - - - - - - - - -
LIABILITAS DAN EKUITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS JANGKA PENDEK - - - - - - - - - - -
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Halaman 130 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 132
Laporan Posisi Keuangan 2037 P 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P
Utang lain-lain 103 97 93 88 84 79 75 71 68 65 61
Biaya yang masih harus dibayar 581 552 525 497 474 450 427 405 386 366 348
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 6.798 6.587 6.383 6.168 5.993 5.807 5.627 5.438 5.284 5.120 4.961
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 8.080 7.835 7.598 7.351 7.148 6.935 6.728 6.513 6.336 6.149 5.969
LIABILITAS JANGKA PANJANG - - - - - - - - - - -
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
- Utang Bank Baru 238.220 238.220 238.220 238.220 - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 238.222 238.222 238.222 238.222 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 246.302 246.057 245.820 245.573 7.150 6.937 6.730 6.514 6.338 6.151 5.971
- - - - - - - - - - -
EKUITAS - - - - - - - - - - -
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) (32.253) (17.748) 3.971 35.791 72.358 130.255 188.798 247.280 305.424 363.108 420.169
Jumlah ekuitas yang diatribusikan kepada
17.009 31.515 53.234 85.053 121.620 179.518 238.060 296.542 354.687 412.371 469.432
pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 17.116 31.621 53.341 85.160 121.727 179.625 238.167 296.649 354.793 412.477 469.539
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 263.418 277.678 299.161 330.733 128.877 186.561 244.897 303.163 361.131 418.629 475.510
Halaman 131 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 133
Proyeksi Posisi Keuangan SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
ASET
ASET LANCAR
Kas dan bank 383.814 439.066 492.669 545.176 596.743 647.385 697.125 746.242 795.112 841.270 863.583
Piutang usaha 360 349 339 328 317 308 298 289 279 272 263
Piutang lain-lain - pihak ketiga 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persediaan 8.625 8.194 7.784 7.395 7.025 6.674 6.340 6.023 5.722 5.436 5.164
Uang muka 82 78 74 71 67 64 61 58 55 52 49
Biaya dibayar dimuka 125 119 113 107 102 97 92 87 83 79 75
Pajak dibayar dimuka 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57 57
Jumlah Aset Lancar 393.073 447.874 501.046 553.145 604.321 654.595 703.983 752.767 801.318 847.175 869.201
ASET TIDAK LANCAR - - - - - - - - - - -
Aset tetap - bersih 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514 6.514
Aset tak berwujud - - - - - - - - - - -
Aset hak guna usaha - - - - - - - - - - -
Penyertaan pada konsorsium 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021 131.021
Aset pajak tangguhan 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987 987
Aset lain-lain 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49
Jumlah Aset Tidak Lancar 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571 138.571
JUMLAH ASET 531.644 586.444 639.617 691.715 742.891 793.166 842.554 891.338 939.888 985.746 1.007.772
- - - - - - - - - - -
LIABILITAS DAN EKUITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS - - - - - - - - - - -
LIABILITAS JANGKA PENDEK - - - - - - - - - - -
Utang usaha 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56 56
Halaman 132 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 134
Laporan Posisi Keuangan 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Utang lain-lain 58 55 53 50 47 45 43 41 39 37 35
Biaya yang masih harus dibayar 330 314 298 284 269 256 243 231 219 208 198
Utang pajak 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176 176
Uang muka penjualan 4.794 4.658 4.514 4.374 4.227 4.107 3.980 3.856 3.727 3.621 3.509
Liabilitas sewa (jk pendek) 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366 366
Bank (jk pendek) - - - - - - - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5.781 5.626 5.463 5.306 5.141 5.006 4.864 4.726 4.582 4.465 4.340
LIABILITAS JANGKA PANJANG - - - - - - - - - - -
Liabilitas sewa (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Utang Bank Baru - - - - - - - - - - -
Bank (jk panjang) - - - - - - - - - - -
Liabilitas imbalan kerja 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
Jumlah Liabilitas 5.782 5.628 5.465 5.308 5.143 5.008 4.866 4.728 4.584 4.466 4.342
- - - - - - - - - - -
EKUITAS - - - - - - - - - - -
Modal saham 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536 16.536
Agio saham 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845 32.845
Agio waran 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322 322
Pendapatan komprehensif lain (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440) (440)
Defisit / Laba ditahan (Defisit) 476.492 531.447 584.782 637.038 688.379 738.788 788.319 837.240 885.935 931.910 954.061
Jumlah ekuitas yang diatribusikan
525.755 580.710 634.045 686.301 737.642 788.051 837.581 886.503 935.198 981.173 1.003.324
kepada pengendali
Kepentingan non-pengendali 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107 107
Jumlah Ekuitas 525.861 580.816 634.152 686.408 737.748 788.158 837.688 886.609 935.304 981.280 1.003.430
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 531.644 586.444 639.617 691.715 742.891 793.166 842.554 891.338 939.888 985.746 1.007.772
Halaman 133 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 135
Tabel 36. Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929
Dividend Income - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705
Beban pokok penjualan (23.850) (21.863) (22.979) (22.786) (22.278) (21.292) (19.216) (18.446) (17.584) (16.757) (15.968) (15.218)
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 36.376 44.753 45.070 45.441 45.784 46.117 46.415
Beban usaha (umum dan administrasi) (18.870) (18.575) (18.198) (17.607) (17.356) (16.669) (14.324) (14.113) (13.723) (13.345) (12.979) (12.624)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 1.012 1.939 (114) (603) (1.078) 19.707 30.428 30.957 31.718 32.439 33.138 33.792
Beban Bunga (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294)
Pendapatan keuangan 12 23 30 39 49 60 72 82 92 104 115 127
Beban keuangan (37) (18) (9) (5) (2) (1) (1) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan (18.307) (17.351) (19.388) (19.863) (20.325) 472 11.205 11.744 12.516 13.248 13.959 14.624
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - - - - - - -
Pajak kini (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - -
Jumlah (217) (428) - - - - (601) (573) (611) (647) (679) (707)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (18.524) (17.779) (19.388) (19.863) (20.325) 472 10.603 11.171 11.904 12.601 13.280 13.917
Halaman 134 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 136
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2038 P 2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P
Penjualan 29.970 29.041 28.141 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196
Dividend Income 31.207 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080
Beban pokok penjualan (14.504) (13.826) (13.182) (12.570) (11.989) (11.436) (10.912) (10.413) (9.940) (9.490) (9.062) (8.656)
Laba (Rugi) Kotor 46.672 53.561 63.343 67.779 69.511 69.858 69.506 68.884 68.145 67.250 66.246 64.619
Beban usaha (umum dan administrasi) (12.280) (11.947) (11.624) (11.311) (11.008) (10.714) (10.429) (10.153) (9.886) (9.627) (9.376) (9.133)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 34.392 41.614 51.719 56.469 58.504 59.144 59.077 58.731 58.259 57.624 56.870 55.487
Beban Bunga (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) - - - - - - - -
Pendapatan keuangan 139 152 164 177 190 203 216 228 241 254 267 279
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 15.237 22.472 32.589 37.351 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - - - - - - -
Pajak kini (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811)
Pajak tangguhan - - - - - - - - - - - -
Jumlah (732) (752) (770) (784) (796) (804) (811) (815) (817) (816) (815) (811)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 14.506 21.719 31.819 36.567 57.898 58.542 58.482 58.144 57.684 57.061 56.322 54.955
Halaman 135 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 137
Proyeksi Laba Rugi SOFA setelah penambahan KBLI Aktivitas Pembiayaan Conduit (Periode Proyeksi 2026 – 2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Laporan Laba Rugi 2050 P 2051 P 2052 P 2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Penjualan 20.539 19.902 19.285 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Dividend Income 50.478 49.422 48.534 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Beban pokok penjualan (8.270) (7.904) (7.556) (7.225) (6.911) (6.612) (6.329) (6.059) (5.804)
Laba (Rugi) Kotor 62.746 61.420 60.263 59.096 57.988 57.155 56.710 53.777 29.745
Beban usaha (umum dan administrasi) (8.897) (8.669) (8.447) (8.233) (8.025) (7.824) (7.629) (7.439) (7.256)
Pendapatan (beban) lain-lain - - - - - - - - -
Laba (Rugi) Usaha 53.850 52.751 51.816 50.863 49.963 49.331 49.081 46.338 22.489
Beban Bunga - - - - - - - - -
Pendapatan keuangan 292 304 316 328 340 352 363 375 386
Beban keuangan (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0) (0)
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan 54.141 53.055 52.132 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - - - -
Pajak kini (806) (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Pajak tangguhan - - - - - - - - -
Jumlah (806) (799) (792) (783) (773) (762) (750) (737) (724)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan 53.336 52.256 51.341 50.409 49.530 48.921 48.695 45.975 22.151
Halaman 136 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 138
Tabel 37. Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
2026 P 2027 P 2028 P 2029 P 2030 P 2031 P 2032 P 2033 P 2034 P 2035 P 2036 P 2037 P 2038 P
Before
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 37.361 36.203 35.081 33.993 32.939 31.918 30.929 29.970
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 16.070 16.987 16.635 16.410 16.182 15.950 15.711 15.466
Laba (Rugi) Usaha 1.017 1.939 (114) (603) (1.078) (599) 2.663 2.522 2.687 2.838 2.971 3.087 3.186
Laba Sebelum Pajak 890 1.943 (93) (569) (1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325
EBIT 890 1.943 (93) (569) (1.031) (541) 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325
EBITDA 4.999 6.052 4.015 3.539 3.077 2.849 2.734 2.603 2.779 2.941 3.086 3.214 3.325
After BL
Penjualan 43.732 42.377 41.063 39.790 38.556 57.668 63.969 63.516 63.024 62.541 62.085 61.633 61.177
Laba (Rugi) Kotor 19.882 20.514 18.084 17.004 16.278 36.376 44.753 45.070 45.441 45.784 46.117 46.415 46.672
Laba (Rugi) Usaha 1.012 1.939 (114) (603) (1.078) 19.707 30.428 30.957 31.718 32.439 33.138 33.792 34.392
Laba Sebelum Pajak (18.307) (17.351) (19.388) (19.863) (20.325) 472 11.205 11.744 12.516 13.248 13.959 14.624 15.237
EBIT 987 1.943 (93) (569) (1.031) 19.766 30.499 31.039 31.810 32.543 33.253 33.919 34.532
EBITDA 6.076 7.137 4.932 4.762 4.606 24.990 32.639 33.484 34.256 34.988 35.699 36.364 36.977
Before - After BL
Penjualan - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207
Laba (Rugi) Kotor - - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207
Laba (Rugi) Usaha (5) - - - - 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207
Laba Sebelum Pajak (19.198) (19.294) (19.294) (19.294) (19.294) 1.012 8.471 9.141 9.737 10.307 10.872 11.410 11.912
EBIT 97 - 0 - (0) 20.307 27.766 28.435 29.031 29.602 30.167 30.705 31.207
EBITDA 1.078 1.086 917 1.223 1.529 22.141 29.906 30.881 31.477 32.047 32.612 33.150 33.652
Halaman 137 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 139
Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
2039 P 2040 P 2041 P 2042 P 2043 P 2044 P 2045 P 2046 P 2047 P 2048 P 2049 P 2050 P 2051 P 2052 P
Before
Penjualan 29.041 28.141 27.268 26.423 25.604 24.810 24.041 23.296 22.574 21.874 21.196 20.539 19.902 19.285
Laba (Rugi) Kotor 15.214 14.958 14.698 14.434 14.167 13.899 13.628 13.356 13.084 12.812 12.540 12.268 11.998 11.729
Laba (Rugi) Usaha 3.268 3.335 3.387 3.427 3.454 3.469 3.475 3.470 3.457 3.436 3.407 3.371 3.329 3.282
Laba Sebelum Pajak 3.420 3.499 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663 3.634 3.598
EBIT 3.420 3.499 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663 3.634 3.598
EBITDA 3.420 3.499 3.564 3.616 3.656 3.685 3.703 3.712 3.711 3.703 3.686 3.663 3.634 3.598
After BL
Penjualan 67.387 76.525 80.350 81.500 81.294 80.418 79.297 78.085 76.740 75.308 73.275 71.017 69.324 67.819
Laba (Rugi) Kotor 53.561 63.343 67.779 69.511 69.858 69.506 68.884 68.145 67.250 66.246 64.619 62.746 61.420 60.263
Laba (Rugi) Usaha 41.614 51.719 56.469 58.504 59.144 59.077 58.731 58.259 57.624 56.870 55.487 53.850 52.751 51.816
Laba Sebelum Pajak 22.472 32.589 37.351 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766 54.141 53.055 52.132
EBIT 41.766 51.883 56.646 58.693 59.347 59.293 58.959 58.501 57.878 57.137 55.766 54.141 53.055 52.132
EBITDA 44.212 54.329 59.091 61.139 61.792 61.738 61.405 60.946 60.323 59.583 58.212 56.587 55.501 54.578
Before - After BL
Penjualan 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534
Laba (Rugi) Kotor 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534
Laba (Rugi) Usaha 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534
Laba Sebelum Pajak 19.052 29.090 33.787 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534
EBIT 38.346 48.384 53.081 55.077 55.690 55.608 55.256 54.789 54.167 53.434 52.080 50.478 49.422 48.534
EBITDA 40.792 50.830 55.527 57.523 58.136 58.053 57.702 57.235 56.612 55.880 54.525 52.924 51.867 50.980
Halaman 138 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 140
Analisis Inkremental (Periode Proyeksi 2026-2058)
(Dalam Jutaan Rupiah)
2053 P 2054 P 2055 P 2056 P 2057 P 2058 P
Before
Penjualan 18.687 18.108 17.547 17.003 16.476 15.965
Laba (Rugi) Kotor 11.462 11.197 10.934 10.674 10.416 10.161
Laba (Rugi) Usaha 3.229 3.172 3.110 3.045 2.977 2.905
Laba Sebelum Pajak 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
EBIT 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
EBITDA 3.558 3.512 3.462 3.409 3.351 3.291
After BL
Penjualan 66.321 64.899 63.767 63.039 59.837 35.549
Laba (Rugi) Kotor 59.096 57.988 57.155 56.710 53.777 29.745
Laba (Rugi) Usaha 50.863 49.963 49.331 49.081 46.338 22.489
Laba Sebelum Pajak 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
EBIT 51.192 50.303 49.683 49.445 46.713 22.875
EBITDA 53.638 52.749 52.129 51.891 49.158 25.320
Before - After BL
Penjualan 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Laba (Rugi) Kotor 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Laba (Rugi) Usaha 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
Laba Sebelum Pajak 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
EBIT 47.634 46.791 46.221 46.036 43.361 19.584
EBITDA 50.080 49.237 48.666 48.482 45.807 22.030
Halaman 139 00193/2.0176-00/BS/04/0213/1/IX/2026
Page 141
Names mentioned 0 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
The name pass has not read this document yet.
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
7465 ms
29 Sep 2026 11:11
missing: transaction_date, object_text
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}