Skip to content
Back to announcement

20251127_OPMS_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_31988254_lamp4.pdf

Asset transaction Needs review OPMS

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 140

Page 1
               LAPORAN STUDI KELAYAKAN
Atas Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
          PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK
       Untuk PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK
              Jl. Margomulyo Permai Blok AC No.10
         RT.003/RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo
                   Surabaya, Jawa Timur 60183
Page 2
No. File : 00079/2.0116-06/BS/05/0511/1/XI/2025
Jakarta, 11 November 2025

Yth. Dewan Direksi
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jl. Margomulyo Permai Blok AC No.10
RT.003/RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo
Surabaya, Jawa Timur 60183


Ringkasan Eksekutif Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal
Sinergi Tbk

Dengan hormat,
Ringkasan Laporan Studi kelayakan ini merupakan bagian dari Laporan Studi Kelayakan secara
keseluruhan yang disajikan sebagai laporan terinci dan tidak dapat dipisahkan. Laporan Studi Kelayakan
ini merupakan revisi atas Laporan Studi Kelayakan No. 00064/2.0116-06/BS/05/0511/1/X/2025 tanggal
13 Oktober 2025. KANTOR JASA PENILAI PUBLIK GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN
(“GEAR”) telah ditunjuk oleh PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK (“OPMS”) melalui
persetujuan surat penawaran No. JKT.084/PN.BV.GEAR/2025 tanggal 15 Agustus 2025 dengan
maksud untuk melakukan Kajian Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima metal Sinergi Tbk,
yang diperlukan dalam rangka memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”)
No. 17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha”,
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.
17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018, dan tidak digunakan di
luar konteks atau tujuan penilaian tersebut.

1.   Identifikasi Status Penilai

     Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan Keputusan
     Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama Kantor Jasa Penilai
     Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP No. 2.13.0116 dan telah terdaftar sebagai
     Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”).

     KJPP Guntur, Eki, Andri Dan Rekan (“GEAR”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar
     di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian
     ini.

     Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal 16 April
     2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI (Cert) yang
     ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi (B) No. B-
     01.18.00511 dan memiliki Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal dengan No.
     STTD.PB-51/PM.223/2021 Tanggal 04 Mei 2021 dan memiliki Surat Tanda Terdaftar Penilai
     Industri Keuangan Non-Bank dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020 tanggal 10 September 2020
     dan juga sebagai anggota MAPPI dengan No. 14-S-05089 tanggal 6 Desember 2017 dan Nomor
     Register RMK-2017.01120 tanggal 12 September 2017.
Page 3
2.    Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

      Pemberi tugas dan pengguna laporan adalah sebagai berikut:
      Nama                    : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
      Bidang Usaha            : Perdagangan Besar Potongan Logam
                              : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001, Kel.
      Alamat
                              Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
      Telepon                 : +62 31 7495673
      Fax                     :-
      Email                   : corporate@opms.co.id
      Website                 : www.opms.co.id

 3.   Maksud dan Tujuan Penilaian

      Maksud penugasan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas penambahan Kegiatan
      Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk dalam kaitannya kepentingan pasar modal dan tidak
      digunakan di luar konteks atau tujuan penugasan tersebut. Dalam penugasan ini, KJPP tidak hanya
      melakukan kajian namun memberikan pendapat kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.

      Penugasan ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
      No.17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha”,
      Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
      Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
      No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
      Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018.

 4.   Obyek Studi Kelayakan

      Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
      penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) yaitu:
       1. KBLI 46331 - Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
       2. KBLI 46314 - Perdagangan besar kopi, teh dan kakao
       3. KBLI 46319 - Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
       4. KBLI 46312 - Perdagangan besar buah-buahan
       5. KBLI 46325 - Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
       6. KBLI 46326 - Perdagangan besar susu dan produk susu
       7. KBLI 46334 - Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
       8. KBLI 46339 - Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
       9. KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
       10. KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
       11. KBLI 46315 - Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
       12. KBLI 46322 - Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
       13. KBLI 47242 - Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
       14. KBLI 46321 - Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
       15. KBLI 46323 - Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
       16. KBLI 46332 - Perdagangan besar produk roti

 5.   Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan

      Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas dasar
      pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Page 4
     Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang
     Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) masa berlaku
     laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date) dalam
     laporan penilaian.

     Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi Kelayakan
     yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date) dalam Laporan Studi
     Kelayakan.

6.   Independensi Penilai

     Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen tanpa
     adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan OPMS ataupun pihak-pihak yang
     terafiliasi dengan OPMS. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi atau
     merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali
     tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.

7.   Tanggung Jawab Penilai

     Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa semua
     perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah dilakukan dengan
     benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang diterbitkan.

8.   Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan

     Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
     Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
     Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020
     Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar
     Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI)
     dengan memperhatikan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu
     mencakup pengumpulan data primer dan sekunder, inspeksi lapangan, analisis kelayakan pasar,
     analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan pola bisnis, analisis kelayakan model manajemen,
     analisis kelayakan keuangan, dan memberikan Kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan
     kegiatan usaha.

      Pengumpulan Data
      • Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana penambahan
          kegiatan usaha yang meliputi data-data indentitas Perseroan, perizinan, spesifikasi proyek,
          aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang terkait.
      • Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
          dipertanggungjawabkan,
      • Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh dalam
          kelayakan dengan pihak Perseroan.

       Proses Analisis Kelayakan
       • Analisis kelayakan pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha,
          strategi pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
       • Analisis kelayakan teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari rencana
          penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan, ketersediaan dan kualitas
          sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
Page 5
       •   Analisis kelayakan pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini, analisis
           atas penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai, analisis
           keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis industri, analisis
           risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
       •   Analisis kelayakan model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan
           karyawan atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur organisasi
           dan manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen kekayaan intelektual,
           manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi karyawan.
       •   Analisis kelayakan keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi,
           rencana biaya investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan, analisis
           rasio keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah, analisis titik
           impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis inkremental, dan
           analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.

9.   Standar Penugasan Studi Kelayakan

     Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah dibuat
     dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.

10. Tingkat Kedalaman Investigasi

     Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan informasi
     dari pihak manajemen OPMS, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen kelengkapan analisis
     yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi memalui wawancara berupa con call atau virtual
     meeting.

     Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
     1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada laporan
        keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
     2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
        dilakukan;
     3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
     4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.

     Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini OPMS masih menjalankan
     kegiatan operasinya yaitu sebagai Perusahaan di Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan
     Logam.

     Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
     memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik OPMS atau melakukan
     wawancara dengan manajemen OPMS ataupun pihak yang mewakilinya dan pihak-pihak lain
     yang relevan.

     Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:

     Figur 1. Pihak yang Diwawancara & PIC OPMS
        Pihak Yang Diwawancarai                           Jabatan                         Perusahaan
      Meilyna Widjaja                                  Direktur Utama                       OPMS
      Rubbyanto Handaja Kusuma                            Direktur                          OPMS
      Reni Anggeraini                                Corporate Secretary                    OPMS
Page 6
11. Data dan Informasi Rencana Penambahan Usaha

    Beberapa sumber informasi relevan yang handal tanpa perlu melakukan verifikasi, antara lain:
    • Data-data laporan keuangan historis;
    • Data investasi dan dokumen pendukung lainnya yang disediakan manajemen OPMS;
    • Data-data ekonomi yang diperoleh dari Penelitian Damodaran dan sumber-sumber lainnya
        yang relevan;
    • Data-data ekonomi baik yang bersifat makro ataupun mikro yang diperoleh dari instansi
        terkait, seperti Bank Indonesia dan lainnya.

12. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli

    Dalam melaksanakan pembuatan Laporan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
    ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.

13. Asumsi dan Kondisi Pembatas

    Asumsi dan Kondisi pembatas sudah disajikan dan diungkapkan sesuai dengan Pasal 35 POJK
    No. 35/2020 tentang penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis dipasar modal, yaitu
    sebagai berikut:
    • Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
    • Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
        proses Studi Kelayakan.
    • Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan informasi
        yang disediakan oleh OPMS dan atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk
        publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
    • GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh OPMS dan telah
        disesuaikan sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan
        pencapaiannya (fiduciary duty).
    • GEAR bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan
        yang telah disesuaikan.
    • Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi
        yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional OPMS.
    • GEAR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang dihasilkan.
    • GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari pemberi
        tugas.

14. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi

    Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
    Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
    penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
    penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.

15. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) dan Tanggal
    Laporan

    Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
    mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian penting
    setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan. Penilai tidak
    berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi Kelayakan yang
    dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan dan disampaikan
Page 7
    kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam hal yang substansi,
    maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.

16. Konfirmasi bahwa Laporan Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
    Jasa Keuangan

    Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
    oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, dan SEOJK 17.

17. Konfirmasi Laporan Studi Kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI

    Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi kelayakan telah
    dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
    Penilaian Indonesia Edisi VII tahun 2018 (“SPI”) yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi
    Penilai Indonesia (“MAPPI”).

18. Analisis Kelayakan

18.1 Aspek Kelayakan Pasar

    Industri perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan prospek
    pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan, ditopang oleh kontribusi signifikan subsektor ini
    terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta tren konsumsi rumah tangga yang stabil. Data
    BPS menjelaskan bahwa pada triwulan II 2025, industri makanan dan minuman tumbuh 6,15%
    (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sementara konsumsi rumah tangga masih
    menjadi salah satu faktor utama dengan kontribusi 54,25% terhadap PDB. Hasil Susenas Maret
    2025 juga memperlihatkan adanya peningkatan pengeluaran masyarakat terhadap makanan
    dan minuman, khususnya pada produk makanan jadi, menandakan adanya pergeseran
    preferensi konsumsi yang membuka peluang besar bagi sektor distribusi pangan.

    Penambahan kegiatan usaha melalui KBLI terkait perdagangan besar makanan dan minuman
    menjadi langkah strategis OPMS untuk memperluas basis usaha dan menangkap peluang pasar
    yang tengah berkembang. Diversifikasi KBLI ini mencakup komoditas utama (beras, sayuran,
    buah, daging, telur, susu, minyak nabati) hingga produk olahan dan minuman, yang secara
    langsung berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat dan memiliki permintaan stabil
    sepanjang tahun. Dengan jaringan distribusi yang terfokus di wilayah Madura dan Jawa Timur,
    OPMS memiliki peluang distribusi, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan regional.

    Dari aspek kesinambungan, langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam
    memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendukung transformasi sektor distribusi
    menuju sistem yang lebih efisien dan terintegrasi. Sementara dari sisi persaingan, meskipun
    terdapat dominasi distributor besar, fokus OPMS pada Madura yang masih relatif terbuka serta
    strategi pemasaran berbasis digital dan kemitraan dengan UMKM lokal memberikan
    keunggulan kompetitif tersendiri.

    Dengan analisis kelayakan pasar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
    Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.

18.2 Aspek Kelayakan Teknis

    Produk yang akan dipasarkan oleh OPMS merupakan fast moving consumer goods (FMCG)
    di bidang makanan dan minuman yang diproduksi oleh produsen terpercaya seperti Indofood,
    Primsfood, dan Emina Cheese. Seluruh produk yang didistribusikan telah memenuhi
    persyaratan regulasi, meliputi izin edar dari BPOM, pencantuman informasi gizi sesuai
    ketentuan, serta sertifikat halal bagi produk yang ditujukan untuk konsumen muslim. Untuk
Page 8
    menjaga kualitas, OPMS menerapkan standar keamanan pangan melalui Good Distribution
    Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), termasuk pengendalian kualitas
    berkala pada tahap penyimpanan dan distribusi.

    Berdasarkan proyeksi peningkatan kapasitas penjualan produk FMCG dari tahun 2026 hingga
    tahun 2030, kapasitas gudang Perseroan dengan luas 1.150 m2 masih dinilai memadai untuk
    memenuhi kebutuhan penyimpanan. Karakteristik produk FMCG yang memiliki perputaran
    persediaan cepat, ditunjang dengan tata kelola gudang yang tertata dan efisien, memungkinkan
    pemanfaatan ruang secara optimal tanpa menimbulkan penumpukan barang. Dengan demikian,
    kapasitas gudang yang tersedia dianggap cukup untuk mengakomodasi seluruh proyeksi
    kapasitas penjualan hingga akhir periode proyeksi tahun 2030.

    Volume penjualan seluruh kategori produk mengalami pertumbuhan yang stabil dan
    berkelanjutan sepanjang 2026 - 2030. Nilai penjualan meningkat dari Rp15 miliar pada 2026
    menjadi Rp39 miliar pada 2030, mencerminkan peningkatan permintaan yang kuat di seluruh
    lini produk, termasuk kategori utama serta produk dari principal baru. Konsistensi
    pertumbuhan ini menegaskan prospek pasar yang positif dan mendukung kelayakan ekspansi
    usaha dalam periode proyeksi.

    Alur distribusi Perseroan dilaksanakan secara terstruktur dimulai dari penerimaan Purchase
    Order (PO) customer, verifikasi oleh OPMS, pemesanan ke principal atau pabrik, penerimaan
    barang dari principal atau pabrik dan pengecekan barang di gudang, hingga pengiriman akhir
    kepada customer. Mekanisme ini memastikan bahwa produk diterima pelanggan dalam kondisi
    baik, sesuai dengan pesanan, serta terdokumentasi dengan bukti serah terima yang sah.

    Dalam rangka mendukung penambahan kegiatan usaha, Perseroan mengoptimalkan sumber
    daya internal dengan memanfaatkan tenaga kerja berpengalaman sekaligus melakukan
    rekrutmen tambahan untuk supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Dari sisi
    pengadaan, Perseroan telah menjalin kerja sama dengan pemasok utama seperti Indofood,
    Primsfood, dan Emina Cheese guna menjamin ketersediaan produk.

    Ke depan, strategi keberlanjutan Perseroan diarahkan pada penguatan rantai pasok,
    pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem distribusi, serta peningkatan efisiensi
    operasional. Dari perspektif sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan kerja,
    meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan, serta mendukung
    pengembangan UMKM dan distribusi pangan sehat sesuai dengan program pemerintah.
    Dengan demikian, Perseroan diproyeksikan mampu menjadi distributor makanan dan
    minuman yang kompetitif, terpercaya, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan
    pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

    Dengan analisis kelayakan teknis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
    Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.

18.3 Aspek Kelayakan Pola Bisnis

    Diversifikasi usaha OPMS ke sektor distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods
    (FMCG) diharapkan dapat menciptakan nilai tambah melalui perluasan sumber pendapatan,
    pengurangan ketergantungan pada industri logam, serta pemanfaatan peluang pasar kebutuhan
    pokok yang lebih stabil. Dengan dukungan infrastruktur dan pengalaman dalam perdagangan
    besar, OPMS berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus memperkuat posisinya
    dalam ekosistem distribusi pangan nasional.

    Namun demikian, diversifikasi ini juga mengandung risiko, mulai dari kepatuhan regulasi
    keamanan pangan yang ketat, persaingan dengan pemain besar yang sudah mapan hingga risiko
    perubahan perilaku konsumen. Risiko keuangan dapat timbul jika investasi awal dan biaya
Page 9
   operasional tidak seimbang dengan pendapatan. Oleh karena itu, penerapan sistem manajemen
   risiko yang komprehensif dan pengelolaan operasional berbasis teknologi informasi menjadi
   salah satu hal yang penting.

   Keunggulan kompetitif Perseroan terletak pada kemampuan adaptasi dan diversifikasi bisnis
   dari sektor logam ke sektor distribusi makanan dan minuman dengan memanfaatkan
   infrastruktur logistik, jaringan distribusi, serta pengalaman manajemen rantai pasok yang telah
   terbangun. Pola bisnis Perseroan bersifat integratif dan adaptif, yaitu mengoptimalkan aset dan
   sistem distribusi eksisting untuk sektor pangan tanpa memerlukan investasi infrastruktur baru
   secara signifikan. Pendekatan ini memberikan efisiensi biaya sekaligus mempercepat penetrasi
   pasar, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur.

   Secara prinsip, kegiatan usaha OPMS di sektor perdagangan besar pangan dan produk
   turunannya memang berpotensi ditiru oleh pesaing. Namun proses imitasi tersebut tidak mudah
   dilakukan karena adanya berbagai hambatan, mulai dari sulitnya mengakses jaringan pasok
   dan membangun kepercayaan mitra dagang, tingkat kepercayaan mitra dagang, serta
   kebutuhan penguasaan logistik dan standar keamanan pangan. Keunggulan OPMS dalam
   manajemen rantai pasok, pengendalian mutu, dan distribusi yang telah terbentuk melalui
   pengalaman sebelumnya menjadikan model operasionalnya yang sulit direplikasi, ditambah
   keberadaan OPMS di wilayah Madura memberikan keunggulan first mover advantage yang
   memungkinkan Perseroan membangun hubungan strategis dan jaringan distribusi lokal secara
   lebih kuat. Dengan sejumlah faktor tersebut, meskipun secara teoretis model usaha OPMS
   dapat ditiru, pesaing akan menghadapi hambatan signifikan untuk menyainginya secara efektif,
   sehingga OPMS berada pada posisi kompetitif yang kokoh dalam mengembangkan pangsa
   pasar di sektor distribusi pangan dan FMCG.

   Dari sisi penciptaan nilai, Perseroan berfokus pada penyediaan produk pangan pokok dan
   FMCG yang terjamin mutu, stabil ketersediaannya, serta kompetitif dari sisi harga. Melalui
   strategi tersebut, OPMS menciptakan nilai ekonomi melalui peningkatan efisiensi distribusi,
   nilai sosial melalui perluasan akses pangan dan penciptaan lapangan kerja, serta nilai strategis
   melalui dukungan terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional. Dengan pola bisnis yang
   fleksibel dan berbasis kebutuhan dasar masyarakat, Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk
   tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah
   maupun nasional.

   Dengan strategi jangka panjang yang terukur meliputi roadmap pengembangan bertahap,
   efisiensi biaya, diversifikasi portofolio produk, serta kolaborasi dengan mitra strategis OPMS
   berpeluang memantapkan diri sebagai Perseroan multibisnis yang adaptif, kompetitif, dan
   berkelanjutan.

   Dengan analisis kelayakan pola bisnis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
   Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.

18.4 Aspek Kelayakan Model Manajemen

   Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen strategis dalam mendukung keberhasilan
   operasional OPMS, khususnya dalam rencana penambahan kegiatan usaha di bidang distribusi
   makanan dan minuman. Saat ini Perseroan memiliki 4 orang karyawan tetap dengan latar
   belakang pendidikan SMA/SMK dan sarjana, serta merencanakan rekrutmen tambahan di
   bidang supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Pemetaan kebutuhan SDM dilakukan
   secara rinci untuk memastikan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan operasional,
   didukung kerja sama dengan konsultan FMCG, pemetaan pasar di wilayah Madura, serta
   implementasi sistem digital supply chain guna meningkatkan produktivitas dan efektivitas
   kerja.
Page 10
    Dari sisi manajemen, OPMS memiliki kapasitas organisasi yang memadai melalui keberadaan
    gudang berskala besar, armada logistik, serta pendanaan publik yang mendukung ekspansi.
    Perseroan juga menerapkan sistem manajemen berbasis teknologi untuk mengoptimalkan
    rantai pasok dan pengendalian inventori. Strategi pemasaran berbasis digital melalui media
    sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan dapat meningkatkan brand
    awareness meskipun OPMS merupakan pendatang baru di industri distribusi. Struktur
    organisasi yang berbentuk fungsional memungkinkan koordinasi antar divisi lebih efektif serta
    pengambilan keputusan yang cepat.

    Sejalan dengan ekspansi, OPMS telah melakukan identifikasi risiko yang berpotensi
    memengaruhi keberhasilan usaha, mulai dari persaingan pasar, rantai pasok, regulasi, hingga
    perubahan perilaku konsumen. Strategi mitigasi disiapkan melalui diferensiasi layanan,
    diversifikasi pemasok, penguatan sistem logistik, serta pemantauan regulasi secara berkala.
    Dengan dukungan SDM yang profesional, manajemen yang adaptif, serta sistem pengelolaan
    risiko yang terukur, OPMS diyakini mampu menjaga kesinambungan usaha, meningkatkan
    daya saing, serta mewujudkan pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.

    Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem koordinasi
    yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan secara
    konsisten, menjadi fondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan ekspansi usaha.
    Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh terhadap dinamika
    industri, OPMS dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai untuk mengarahkan
    pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan.

    Dengan analisis kelayakan model manajemen tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
    Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.

18.5 Aspek Kelayakan Keuangan

    Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebesar
    Rp3.000.000.000 (Tiga Miliar Rupiah). Sumber Pembiayaan OPMS dalam melakukan
    investasi penambahan kegiatan usaha bersumber dari kas OPMS.

    Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
    keuangan OPMS. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa
    waktu proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen OPMS
    telah menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun tersebut
    Perseroan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going concern bisnis
    OPMS diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi pendapatan/gordon
    model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan, Penilai telah melakukan
    diskusi dengan manajemen OPMS bahwa proyeksi yang digunakan
    telah wajar dan sudah dilakukan penyesuaian oleh Penilai.

    Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat keuntungan
    yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang umumnya dinyatakan
    dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan
    usaha selama masa proyeksi Juli 2025 – Desember 2030 adalah sebesar 1434%.
    Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
    diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih
    antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash Flow
    to Firm apabila OPMS tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya
    dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to
    Incremental. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan
    mempertimbangkan asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai
    berikut:
Page 11
   •   Net Present Value (NPV)             : Rp43.021.267.000
   •   Internal Rate of Return (IRR)       : 69%
   •   Profitability Index (PI)            : 15,34
   •   Payback Period (PP)                 : 2 tahun 10 bulan

Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat
risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha dibidang
perdagangan besar makanan dan minuman, maka proyeksi arus kas inkremental bernilai positif.

IRR sebesar 69% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha oleh
OPMS dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto

Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai faktor
yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan nilai
investasi proyek penambahan kegiatan usaha OPMS menunjukkan tingkat kelayakan finansial
yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi fluktuasi biaya investasi
hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penambahan kegiatan usaha ini
tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan seluruh parameter keuangan yang
menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial akibat perubahan nilai investasi
tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman untuk direalisasikan dari perspektif
keuangan.

Dengan analisis kelayakan keuangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
Page 12
Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis
kelayakan pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan
serta proyeksi- proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat
terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa rencana penambahan Kegiatan yang akan dilaksanakan
oleh Perseroan adalah layak.

Demikian hasil kajian yang kami lakukan dengan tetap mengacu pada peraturan serta standar
penilaian dan kode etik yang berlaku. Maka kami menegaskan bahwa laporan ini bersifat rahasia
kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sesuai dengan keperluan yang tertulis.

Kami tidak bertanggung jawab kepada pihak ketiga, dan baik sebagian maupun keseluruhan laporan
atau rujukan terhadap laporan ini tidak dibenarkan untuk diterbitkan dalam dokumen apapun,
pernyataan, edaran, ataupun untuk dikomunikasikan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis
terlebih dahulu dari kami untuk format maupun konteks di mana akan dimunculkan.


Hormat kami,Our Regards
KJPP GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN




Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., MEc.Dev., MAPPI (Cert)
Partner

Klasifikasi Bidang Jasa   :   Penilai Bisnis (B)
Ijin Penilai              :   No. B-1.18.00511
MAPPI                     :   No. 14-S-05089
No. Register              :   RMK-2017.01120
STTD IKNB OJK             :   211/NB.122/STTD-P/2020
STTD OJK                  :   STTD.PB-51/PM.223/2021
Page 13
                     PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai penilai, kami yang bertanda-tangan dibawah
ini menerangkan bahwa:

1. Pernyataan yang menjadi dasar dari analisis, pendapat dan kesimpulan nilai yang diuraikan
    dalam Laporan Penilaian adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik Penilai, dan
    berdasarkan informasi dan data pendukung yang kami gunakan dalam proses penilaian;
2. Selanjutnya laporan ini menjelaskan semua syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi
    analisa, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam laporan ini;
3. Imbalan jasa tidak berpengaruh terhadap proses penilaian.
4. Penilai tidak memiliki kepentingan terhadap Obyek Penilaian.
5. Laporan ini tidak lepas dari ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Kode Etik Penilai
    Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia 2018 (SPI Edisi VII Tahun 2018) serta
    Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian
    dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) dan No.17
    /SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
    Modal
6. Penilai bertanggung jawab sepenuhnya atas prosedur, pelaporan dan hasil penilaian yang
    dilakukan;
7. Penugasan penyusunan penilaian secara profesional telah dilakukan terhadap Obyek Penilaian
    pada tanggal Penilaian (Cut Off Date);
8. Penilai telah melakukan inspeksi lapangan yang merupakan Obyek Penilaian.
9. Penilai telah melakukan ruang lingkup sebagai berikut: identifikasi masalah, inspeksi,
    pengumpulan data dan wawancara, analisis data, estimasi nilai dengan pendekatan penilaian,
    penulisan laporan.
10. Analisa telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Penilaian;
11. Penugasan penilaian profesional telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang
    berlaku;
12. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penugasan profesional telah disajikan sebagai pendapat hasil
    penilaian;
13. Pendapat tersebut telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas;
14. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan /atau
    diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah,
15. Tidak seorangpun selain yang bertanda tangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
    pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan dan opini sebagaimana yang dinyatakan
    dalam Laporan Penilaian ini.


Jakarta, 11 November 2025
Page 14

          
Page 15

          
Page 16

          
Page 17

          
Page 18
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                                       DAFTAR ISI
                                                                                                                                             Halaman

SERTIFIKAT
PERNYATAAN PENILAI

1.      PENDAHULUAN ............................................................................................................................6
1.1.     Latar Belakang............................................................................................................................... 6
1.2.     Identifikasi Status Penilai .............................................................................................................. 8
1.3.     Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ........................................................................... 9
1.4.     Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ............................................................................................ 9
1.5.     Objek Studi Kelayakan .................................................................................................................. 9
1.6.     Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan ..........................................10
1.7.     Independensi Penilai .....................................................................................................................10
1.8.     Tanggung Jawab Penilai ...............................................................................................................10
1.9.      Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan .....................................................................11
1.10.     Standar Penugasan Studi Kelayakan............................................................................................12
1.11.     Data, Informasi dan Prosedur ......................................................................................................12
1.11.1.   Data Dan Informasi Rencana Penambahan Usaha .......................................................................12
1.12.     Tingkat Kedalaman Investigasi ...................................................................................................16
1.13.     Asumsi dan Kondisi Pembatas ....................................................................................................17
1.14.     Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan Tanggal
          Laporan ........................................................................................................................................17
1.15.     Jenis Mata Uang yang Digunakan ...............................................................................................17
1.16.     Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli ............................................................................18
1.17.     Persyaratan atas Persetujuan Publikasi ........................................................................................18
1.18.     Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan .18
1.19.     Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI ..................................18

2.         GAMBARAN UMUM PERSEROAN ......................................................................................... 19
2.1.        Gambaran Umum OPMS .............................................................................................................19
2.2.        Domisili .......................................................................................................................................19
2.3.        Struktur Permodalan ....................................................................................................................19
2.4.        Susunan Pengurus ........................................................................................................................ 20
2.5.        Struktur Organisasi ......................................................................................................................21
2.6.        Perizinan dan Legalitas ................................................................................................................21
2.7.        Kinerja Keuangan Historis ..........................................................................................................24
2.7.1       Analisis Posisi Keuangan ............................................................................................................25
2.7.2       Analisis Laba Rugi ......................................................................................................................27
2.7.3       Analisis Arus Kas ........................................................................................................................ 28
2.7.4       Analisis Rasio Keuangan .............................................................................................................29
2.8.        Kinerja Operasional OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam .............32
2.9.        Informasi Perpajakan ...................................................................................................................33

3.         TINJAUAN MAKRO EKONOMI ............................................................................................... 34
3.1.         Perekonomian Global dan Domestik ...........................................................................................34
3.2.         Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ................................................................................................36
3.3.         PDB Menurut Lapangan Usaha ...................................................................................................43
3.4.         Analisis PDB Perdagangan Besar dan Eceran .............................................................................44
3.5.         Perkembangan Industri Makanan dan Minuman .........................................................................46



                                                                                                                                   Business Valuation Unit
                                                                            1                                                                       Jakarta
Page 19
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

4.       ASPEK KELAYAKAN PASAR...................................................................................................48
4.1.      Kondisi Pasar Makanan dan Minuman ........................................................................................ 48
4.2.      Pangsa Pasar ................................................................................................................................ 50
4.3.      Kesinambungan (Sustainability) ..................................................................................................51
4.4.      Potensi Pasar ................................................................................................................................ 51
4.5.      Sasaran .........................................................................................................................................52
4.6.      Potensi Nilai Pasar .......................................................................................................................52
4.7.      Pesaing Usaha .............................................................................................................................. 53
4.8.      Strategi Pemasaran ......................................................................................................................53
4.9.      Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar ........................................................................................ 54

5.       ASPEK KELAYAKAN TEKNIS .................................................................................................55
5.1.      Produk yang Dijual ......................................................................................................................55
5.2.      Kapasitas......................................................................................................................................58
5.3.      Volume Penjualan........................................................................................................................ 59
5.4.      Alur Distribusi ............................................................................................................................. 60
5.5.      Ketersediaan Sumber Daya..........................................................................................................60
5.6.      Timeline Kegiatan Usaha ............................................................................................................61
5.7.      Rencana Keberlanjutan ................................................................................................................61
5.8.      Kesimpulan Analisis Kelayakan Teknis ......................................................................................62

6.       ASPEK KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................64
6.1.      Kegiatan Usaha Utama dan Penunjang ........................................................................................ 64
6.2.      Entitas Anak ................................................................................................................................ 65
6.3.      Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................................................................65
6.4.      Keunggulan Kompetitif ...............................................................................................................67
6.5.      Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk................................................................................68
6.6.      Kemampuan Untuk Menciptakan nilai ........................................................................................ 69
6.7.      Analisis Risiko ............................................................................................................................. 69
6.8.      Analisis SWOT ............................................................................................................................ 70
6.9.      Kesimpulan Analisis Kelayakan Pola Bisnis ...............................................................................72

7.       ASPEK KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN......................................................................74
7.1.      Sumber Daya Manusia.................................................................................................................74
7.2.      Komposisi Karyawan OPMS .......................................................................................................75
7.3.      Manajemen Kekayaan Intelektual ............................................................................................... 75
7.4.      Manajemen Risiko .......................................................................................................................76
7.5.      Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ......................................................................................77
7.6.      Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ........................................................................78
7.7.      Kesimpulan Analisis Model Manajemen .....................................................................................78

8.       ASPEK KELAYAKAN KEUANGAN ......................................................................................... 80
8.1.      Rencana Biaya Investasi ..............................................................................................................80
8.2.      Sumber Pembiayaan ....................................................................................................................80
8.3.      Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan ......................................................................................... 80
8.4.      Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha............................................................ 85
8.4.1.    Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................85
8.4.2.    Proyeksi Laba – Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................ 85
8.4.3.    Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................. 86
8.5.      Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................... 86
8.5.1.    Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ...............................................86
8.5.2.    Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................... 86
8.5.3.    Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .......................................................... 87


                                                                                                                                  Business Valuation Unit
                                                                           2                                                                       Jakarta
Page 20
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

8.6.        Analisis Rasio Keuangan .............................................................................................................87
8.7.        Biaya Operasional........................................................................................................................ 89
8.8.        Beban Pokok Penjualan ...............................................................................................................89
8.9.        Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) ................................................................................89
8.10.       Analisis Profitabilitas (Overall Profitability) ..............................................................................90
8.11.       Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ...................................................90
8.12.       Penentuan Tingkat Diskonto........................................................................................................91
8.12.1.     Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital) ....................93
8.13.       Analisis Inkremental ....................................................................................................................93
8.14.       Analisis Kelayakan Usaha ...........................................................................................................95
8.15.       Analisis Sensitivitas .....................................................................................................................98
8.16.       Kesimpulan Analisis Kelayakan Keuangan .................................................................................98

9.        KLASIFIKASI PENILAI USAHA ............................................................................................ 100

•           Lampiran Keuangan




                                                                                                                               Business Valuation Unit
                                                                         3                                                                      Jakarta
Page 21
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                                    DAFTAR FIGUR
                                                                                                                                            Halaman

Figur 1. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS ...................................................................... 7
Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi ........................................................................................16
Figur 3. Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham OPMS ....................................................................19
Figur 4. Struktur Organisasi OPMS ............................................................................................................21
Figur 5. Historis Laporan Posisi Keuangan .................................................................................................24
Figur 6. Historis Laporan Laba (Rugi) ........................................................................................................25
Figur 7. Historis Laporan Arus Kas .............................................................................................................25
Figur 8. Historis Perkembangan Posisi Keuangan.......................................................................................26
Figur 9. Historis Perkembangan Laba (Rugi) ..............................................................................................27
Figur 10. Historis Perkembangan Arus Kas ..................................................................................................28
Figur 11. Historis Rasio Keuangan................................................................................................................29
Figur 12. Produksi, Pendapatan, dan Laba (Rugi) Bersih)Tahun 2022 - 2024 ..............................................33
Figur 13. Pertumbuhan PDB Dunia, PMI Global ..........................................................................................34
Figur 14. Indeks Keyakinan Konsumen, Penjualan Eceran Global ...............................................................34
Figur 15. Inflasi Global, Harga Komoditas Ekspor Indonesia .......................................................................35
Figur 16. Indeks Ketidakpastian Global, Yield UST 10Y dan JGB 10Y serta Indeks Saham.......................35
Figur 17. Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko Negara Berkembang, Aliran Modal Ke ............................35
Figur 18. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran dan ...............................36
Figur 19. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan I 2025 dan Indeks Keyakinan ....................................36
Figur 20. Nilai Tukar Petani, Penjualan Eceran ............................................................................................37
Figur 21. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Purchasing Managers’ Index........................37
Figur 22. Ekspor Nonmigas, Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama ...................................................37
Figur 23. Ekspor Nonmigas Daerah, Impor Nonmigas .................................................................................38
Figur 24. Impor Barang Konstruksi ...............................................................................................................38
Figur 25. Neraca Pembayaran Indonesia, Neraca Perdagangan ....................................................................39
Figur 26. Aliran Modal Asing, Cadangan Devisa .........................................................................................39
Figur 27. Indeks Rupiah terhadap USD, Negara Maju kecuali AS, dan Negara Berkembang, .....................39
Figur 28. Inflasi IHK Provinsi .......................................................................................................................40
Figur 29. Inflasi IHK dan Komponen, Ekspektasi Inflasi .............................................................................40
Figur 30. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan, Likuiditas Perbankan dan ..........................................41
Figur 31. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA, Transmisi BI Rate kepada SBDK ...........41
Figur 32. Suku Bunga Perbankan, Perkembangan Kredit dan DPK ..............................................................42
Figur 33. Permodalan Industri Perbankan, Rasio Kredit Bermasalah (NPL) ................................................42
Figur 34. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (persen), Triwulan II- ...........................43
Figur 35. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (persen), Triwulan II- ..........................44
Figur 36. PDB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha ..................45
Figur 37. Pertumbuhan Penjualan Sektor Fast-Moving Consumer Goods/FMCG di Sejumlah ...................46
Figur 38. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025 ......................................................................48
Figur 39. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025 ......................................................................49
Figur 40. Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Komoditas.................................49
Figur 41. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Tahun 2025 – 2030 ............................52
Figur 42. Produk yang dijual .........................................................................................................................55
Figur 43. Kapasitas Penjualan .......................................................................................................................59
Figur 44. Volume Penjualan ..........................................................................................................................59
Figur 45. Alur Distribusi ...............................................................................................................................60
Figur 46. Timeline Penambahan KBLI .........................................................................................................61
Figur 47. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS .....................................................................65
Figur 48. Analisis SWOT ..............................................................................................................................71
Figur 49. Komposisi Jumlah Karyawan OPMS untuk Penambahan Kegiatan Usaha ...................................74
Figur 50. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan .....................................................................75


                                                                                                                                 Business Valuation Unit
                                                                            4                                                                     Jakarta
Page 22
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Figur 51. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan .........................................................................................75
Figur 52. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia ................................................................................75
Figur 53. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan ...............................................................75
Figur 54. Manajemen Risiko .........................................................................................................................76
Figur 55. Biaya Investasi ...............................................................................................................................80
Figur 56. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................................80
Figur 57. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..............................................................................82
Figur 58. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Tanpa Penambahan Usaha .......................................................85
Figur 59. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha...............................................85
Figur 60. Proyeksi Arus Kas OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ...................................................86
Figur 61. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .....................................86
Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................86
Figur 63. Proyeksi Arus Kas OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .................................................87
Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .................................................87
Figur 65. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................90
Figur 66. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................90
Figur 67. Biaya Modal Ekuitas ......................................................................................................................93
Figur 68. WACC ...........................................................................................................................................93
Figur 69. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ........................................94
Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha......................................94
Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental OPMS selama Periode Juli 2025 sampai dengan 2030 ....95
Figur 72. NPV Free Cash Flow to Incremental (Ribuan Rupiah) .................................................................96
Figur 73. Analisis Sensitivitas .......................................................................................................................98




                                                                                                                                  Business Valuation Unit
                                                                            5                                                                      Jakarta
Page 23
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

1.     PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

       PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Asian Prima
       Indosteel berdasarkan Akta Notaris No. 2 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn., tanggal 5
       September 2012. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
       Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-51905.AH.01.Tahun 2012 tanggal 4 Oktober
       2012. Adapun perubahan nama Perusahaan tercantum dalam Akta No. 90 oleh Leolin
       Jayanti, S.H., M.Kn., tanggal 26 Desember 2018. Perubahan tersebut telah disahkan oleh
       Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
       No. AHU-0000173.AH.01.02.TAHUN 2019 tanggal 3 Januari 2019.

       Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta
       Notaris No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., tentang perubahan
       susunan Direksi Perseroan. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam database
       Sistem Administrasi Badan Hukum oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
       Republik Indonesia dalam Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.09-0293147
       tanggal 24 Desember 2024.

       Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, maksud dan tujuan dari Perseroan ini
       adalah berusaha di bidang Perdagangan. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
       Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama yaitu perdagangan besar barang bekas
       dan sisa sisa tak terpakai (Scrap). Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar barang
       bekas dan sisa-sisa tak terpakai dan potongan logam dan non-logam bahan untuk daur ulang,
       termasuk pengumpulan, pengurutan, pemisahan, pelepasan barang yang masih berguna
       misalnya mobil agar mendapatkan bagian yang masih bisa digunakan, pengepakan dan
       pengepakan kembali, penyimpanan dan pengiriman, tapi tanpa proses perubahan yang nyata.
       Dimana pembelian dan penjualan barang sisaan masih mempunyai nilai. (KBLI 46696).
       Kegiatan usaha penunjang Perseroan yaitu pemulihan material barang logam (KBLI 38301);
       perdagangan besar alat transportasi laut, suku cadang dan perlengkapannya (KBLI 46592);
       perdagangan besar alat transportasi darat(bukan mobil, sepeda motor, dan sejenisnya), suku
       cadang dan perlengkapannya (KBLI 46593); perdagangan besar logam dan bijih logam
       (46620); perdagangan besar barang logam untuk bahan konstruksi (46631); perdagangan
       besar barang bekas dan sisa-sisa tak terpakai (scrap) (46696); aktivitas penyewaan dan sewa
       guna usaha tanpa hak opsi mesin, peralatan dan barang berwujud lainnya YTDL (77399).

       PT Optima Prima Metal Sinergi (OPMS) sejak awal berdiri berfokus pada industri
       perdagangan besar potongan logam. Pada masa pemerintahan presiden ke enam tahun 2004
       – 2014 fokus pembangunan belum dominan di infrastruktur, tetapi iklim industri dalam
       negeri cukup berkembang, salah satunya di sektor logam dan baja. Kemudian, pada masa
       pemerintahan presiden ke tujuh tahun 2014 - 2024 infrastruktur ditempatkan sebagai
       program prioritas nasional utama dengan anggaran yang besar dan realisasi masif di berbagai
       sektor. Pada periode 2004 hingga 2019, industri besi dan logam di Indonesia mengalami
       perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya pabrik-pabrik
       logam yang bermunculan di berbagai wilayah, terutama di kawasan industri Jawa, Sumatera,
       dan Kalimantan. Pendorong utamanya adalah meningkatnya kebutuhan bahan baku logam
       untuk menopang pertumbuhan sektor konstruksi, properti, otomotif, serta manufaktur
       nasional yang terus berkembang. Selain itu, kemudahan impor bahan baku dan barang modal

                                                                                  Business Valuation Unit
                                                6                                                  Jakarta
Page 24
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      membuka peluang bagi investor untuk mendirikan pabrik logam baru, sehingga kapasitas
      produksi nasional meningkat signifikan.

      Dinamika persaingan global dan masuknya produk impor dengan harga lebih murah mulai
      memberikan tekanan terhadap industri logam dalam negeri. Industri besi dan logam
      menunjukkan tren penurunan (sunset industry). Memasuki periode pemerintahan baru di
      tahun 2024, kebijakan pembangunan nasional mengalami pergeseran. Infrastruktur tidak lagi
      ditempatkan sebagai prioritas utama, melainkan diarahkan untuk mendukung agenda yang
      lebih strategis, yakni ketahanan pangan dan program sosial. Pemerintah menitikberatkan
      kebijakan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program unggulan seperti
      Makan Bergizi Gratis, penguatan produksi pangan nasional, serta revitalisasi sistem
      pertanian dan lumbung pangan untuk mengurangi ketergantungan impor. Situasi tersebut
      memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan industri logam di Indonesia.
      Meskipun harga logam di pasar internasional relatif stabil, permintaan di pasar domestik
      cenderung menurun. Akibatnya, banyak pelaku industri logam mengalami kesulitan hingga
      berhenti beroperasi atau gulung tikar, termasuk sejumlah pelanggan OPMS. Hal ini turut
      memengaruhi kinerja operasional OPMS. Menyadari tantangan tersebut, OPMS menilai
      perlu adanya diversifikasi usaha untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menciptakan
      peluang pertumbuhan baru.

      Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, OPMS melihat
      potensi besar pada sektor distribusi makanan dan minuman. Lokasi Perseroan yang berada
      di Madura yang merupakan wilayah masih dalam tahap pengembangan memberikan peluang
      pasar yang menjanjikan. Makanan dan Minuman menjadi salah satu penyumbang Produk
      Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kebutuhan pokok menjadi komponen utama dalam
      struktur pengeluaran masyarakat, sehingga sektor ini dipandang sebagai prioritas utama
      masyarakat. Dengan demikian, distribusi makanan dan minuman dipandang sebagai sektor
      yang prospektif dan strategis untuk dikembangkan.

      Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, OPMS optimistis dapat meningkatkan daya
      saing, memperluas jangkauan bisnis, serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap
      pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di wilayah Madura dan daerah potensial lainnya.

      Sehubungan dengan hal tersebut, dan guna mendukung legalitas serta kesinambungan usaha,
      OPMS bermaksud untuk menambah kegiatan usaha baru dengan mencantumkan Klasifikasi
      Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) penambahan kegiatan usaha dalam Pasal 3
      Anggaran Dasar Perseroan.

      Figur 1. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS
       No.                         Nama KBLI                               Kode KBLI
        1    Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula                46331
        2    Perdagangan besar kopi, teh dan kakao                           46314
        3    Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
                                                                              46319
             pertanian lainnya
        4    Perdagangan besar buah-buahan                                    46312
        5    Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur                   46325
        6    Perdagangan besar susu dan produk susu                           46326
        7    Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu                 46334
        8    Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya                    46339


                                                                               Business Valuation Unit
                                              7                                                 Jakarta
Page 25
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

        No.                        Nama KBLI                                Kode KBLI
         9    Perdagangan besar beras                                         46311
        10    Perdagangan besar sayuran                                       46313
        11    Perdagangan besar minyak dan lemak nabati                       46315
        12    Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan            46322
        13    Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan
                                                                               47242
              sejenisnya
         14   Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan             46321
         15   Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya               46323
         16   Perdagangan besar produk roti                                    46332
       Sumber: Manajemen OPMS

       Berdasarkan penjelasan dari manajemen, OPMS berencana menambah kegiatan usaha yang
       sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 17/POJK 04/2020 (“POJK
       17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama”, mengingat
       rencana tersebut akan menambah kegiatan usaha OPMS.

       Sehubungan dengan hal tersebut, OPMS membutuhkan pihak independen untuk melakukan
       kajian dan analisis kelayakan atas rencana Penambahan Kegiatan Usaha. OPMS menunjuk
       KJPP Guntur, Eki, Andri, dan Rekan (“GEAR”) untuk melakukan penyusunan studi
       kelayakan berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. JKT.084/PN.BV.GEAR/2025
       tanggal 15 Agustus 2025.


1.2.   Identifikasi Status Penilai

       Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
       Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
       Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP No. 2.13.0116
       dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa Keuangan
       (“OJK”).

       KJPP Guntur, Eki, Andri Dan Rekan (“GEAR”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang
       terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk
       melakukan penilaian ini.

       Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal 16
       April 2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI
       (Cert) yang ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi
       (B) No. B-01.18.00511 dan memiliki Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal
       dengan No. STTD.PB-51/PM.223/2021 Tanggal 04 Mei 2021 dan memiliki Surat Tanda
       Terdaftar Penilai Industri Keuangan Non-Bank dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020
       tanggal 10 September 2020 dan juga sebagai anggota MAPPI dengan No. 14-S-05089
       tanggal 6 Desember 2017 dan Nomor Register RMK-2017.01120 tanggal 12 September
       2017.




                                                                                Business Valuation Unit
                                                 8                                               Jakarta
Page 26
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

1.3.   Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan

       Pemberi tugas adalah pihak dimana Penilai mengikatkan diri dalam hubungan kontraktual,
        • Nama           : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
        • Bidang usaha : Perdagangan Besar Potongan Logam
        • Alamat         : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001,
                          Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
        • Telepon        : +62 31 7495673
        • Fax            :-
        • Email          : corporate@opms.co.id
        • Website        : www.opms.co.id

       Pengguna laporan atas hasil penilaian adalah:
        • Nama           : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
        • Bidang usaha : Perdagangan Besar Potongan Logam
        • Alamat         : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001,
                          Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
        • Telepon        : +62 31 7495673
        • Fax            :-
        • Email          : corporate@opms.co.id
        • Website        : www.opms.co.id


1.4.   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan

       Maksud penugasan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas penambahan
       Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk dalam kaitannya kepentingan pasar
       modal dan tidak digunakan di luar konteks atau tujuan penugasan tersebut. Dalam penugasan
       ini, KJPP tidak hanya melakukan kajian namun memberikan pendapat kelayakan atas
       penambahan kegiatan usaha.

       Penugasan ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
       No. 17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
       Usaha”, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
       Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas
       Jasa Keuangan No. 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan
       Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”)
       Edisi VII Tahun 2018.


1.5.   Objek Studi Kelayakan

       Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
       penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”)
       yaitu:


                                                                                 Business Valuation Unit
                                                9                                                 Jakarta
Page 27
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       1. KBLI 46331 - Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
       2. KBLI 46314 - Perdagangan besar kopi, teh dan kakao
       3. KBLI 46319 - Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
       4. KBLI 46312 - Perdagangan besar buah-buahan
       5. KBLI 46325 - Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
       6. KBLI 46326 - Perdagangan besar susu dan produk susu
       7. KBLI 46334 - Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
       8. KBLI 46339 - Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
       9. KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
       10. KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
       11. KBLI 46315 - Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
       12. KBLI 46322 - Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
       13. KBLI 47242 - Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
       14. KBLI 46321 - Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
       15. KBLI 46323 - Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
       16. KBLI 46332 - Perdagangan besar produk roti


1.6.   Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan

       Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas
       dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.

       Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
       tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) masa
       berlaku laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off
       Date) dalam laporan penilaian.

       Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi
       Kelayakan yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (cut off date) dalam
       Laporan Studi Kelayakan.


1.7.   Independensi Penilai

       Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen
       tanpa adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan OPMS ataupun pihak-pihak
       yang terafiliasi dengan OPMS. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan
       pribadi atau merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami
       terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.


1.8.   Tanggung Jawab Penilai

       Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa
       semua perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah


                                                                                 Business Valuation Unit
                                               10                                                 Jakarta
Page 28
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       dilakukan dengan benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang
       diterbitkan.


1.9.   Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan

       Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
       Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian
       Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
       No.17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
       di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun oleh
       Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai Indonesia
       (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup pengumpulan data primer dan sekunder,
       inspeksi lapangan, analisis kelayakan pasar, analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan
       pola bisnis, analisis kelayakan model manajemen, analisis kelayakan keuangan, dan
       memberikan Kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.

       Pengumpulan Data
       • Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana ekspansi atas
           penambahan kegiatan usaha yang meliputi data-data indentitas Perseroan, perizinan,
           spesifikasi proyek, aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang
           terkait.
       • Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
           dipertanggungjawabkan,
       • Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh
           dalam kelayakan dengan pihak Perseroan.

       Proses Analisis Kelayakan
       • Analisis kelayakan pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha,
          strategi pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
       • Analisis kelayakan teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari
          rencana penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan,
          ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
       • Analisis kelayakan pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini,
          analisis atas penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai,
          analisis keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis
          industri, analisis risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
       • Analisis kelayakan model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan
          karyawan atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur
          organisasi dan manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen
          kekayaan intelektual, manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi
          karyawan.
       • Analisis kelayakan keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi,
          rencana biaya investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan,
          analisis rasio keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah,

                                                                                 Business Valuation Unit
                                               11                                                 Jakarta
Page 29
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

             analisis titik impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis
             inkremental, dan analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.


1.10. Standar Penugasan Studi Kelayakan

     Analisis, opini, dan Kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah
     dibuat dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.


1.11. Data, Informasi dan Prosedur

1.11.1. Data Dan Informasi Rencana Penambahan Usaha

       Kami telah melakukan analisis dan mempertimbangkan data dan informasi yang
       disediakan OPMS untuk tujuan penugasan ini, yaitu:

        1.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025 yang telah
                direview oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
                Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan MR/L-008/25
                tanggal 26 Agustus 2025 dengan kesimpulan bahwa berdasarkan reviu, tidak
                terdapat hal yang menjadi perhatian, yang menyebabkan bahwa laporan keuangan
                interim terlampir tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
                posisi keuangan interim Perseroan tanggal 30 Juni 2025, serta kinerja keuangan dan
                arus kas interimnya untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal tersebut,
                sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di lndonesia.
        2.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah
                diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
                Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
                00036/2.0961/AU.1/05/0628-5/1/III/2025 tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar
                dalam semua hal yang material.
        3.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 yang telah
                diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
                Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
                00076/2.0961/AU.1/05/0628-4/1/III/2024 tanggal 28 Maret 2024 dengan opini wajar
                dalam semua hal yang material.
        4.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 yang telah
                diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
                Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
                00057/2.0961/AU.1/05/0628-3/1/III/2023 tanggal 29 Maret 2023 dengan opini wajar
                dalam semua hal yang material.
        5.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 yang telah
                diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
                Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
                00083/2.0961/AU.1/05/0628-2/1/IV/2022 tanggal 25 April 2022 dengan opini wajar
                dalam semua hal yang material.
        6.      Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 yang telah
                diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari


                                                                                          Business Valuation Unit
                                                    12                                                     Jakarta
Page 30
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

             Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
             00031/2.0961/AU.1/05/0628-1/1/IV/2021 tanggal 15 April 2021 dengan opini wajar
             dalam semua hal yang material.
        7. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 yang telah
             diaudit oleh David Kurniawan, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.1023 dari
             Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
             00060/2.0961/AU.1/05/1023-2/1/III/2020 tanggal 31 Maret 2020 dengan opini wajar
             dalam semua hal yang material.
        8. Annual Report tahun 2024 PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
        9. Company Profile PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
        10. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Asian Prima Indosteel No. 02 tanggal 5
             September 2012 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan
             telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
             Republik Indonesia No. AHU-51905.AH.01.01.Tahun2012 tanggal 04 Oktober
             2012 tentang pengesahan badan hukum Perseroan.
        11. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham PT Asian Prima Indosteel No. 39
             tanggal 07 Desember 2017 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa
             Timur dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
             Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data
             Perseroan PT Asian Prima Indosteel No. AHU-AH.01.03-0199855 tanggal 12
             Desember 2017 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris.
        12. Akta Pernyataan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari
             Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Asian Prima Indosteel No. 90 tanggal
             26 Desember 2018 oleh Leolin Jayayanti, S.H., M.Kn. Notaris di Jakarta mengenai
             perubahan nama Perseroan menjadi PT Optima Prima Metal Sinergi, perubahan
             maksud dan tujuan serta kegiatan usaha, dan perubahan susunan direksi perseroan.
             Akta tersebut telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak
             Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000173.AH.01.02.Tahun 2019
             tanggal 03 Januari 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
             terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
        13. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi
             No. 83 tanggal 29 April 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah
             disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
             Indonesia No. AHU-0023256.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 30 April 2019 tentang
             persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal
             Sinergi.
        14. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi
             No. 19 tanggal 03 Juli 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah
             disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
             Indonesia No. AHU-0034612.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 04 Juli 2019 tentang
             persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal
             Sinergi.
         15. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
             Metal Sinergi Tbk No. 30 tanggal 23 Juni 2023 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., Notaris
             di Surabaya mengenai perubahan anggaran dasar dan telah disahkan melalui
             Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
             0036709.AH.01.02.TAHUN 2023 tanggal 27 Juni 2023.



                                                                                Business Valuation Unit
                                              13                                                 Jakarta
Page 31
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

        16. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
            Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 14 Juni 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
            Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
            Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan
            Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0216239
            tanggal 21 Juni 2024.
        17. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
            Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati,
            S.H., M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan
            Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan
            Perubahan Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-
            AH.01.09-0293147 tanggal 24 Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi
            dan dewan komisaris.
        18. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
            Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 25 Juni 2025 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
            Notaris di Surabaya.
        19. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 31.632.698.2-614.000
        20. Nomor Induk Berusaha: 9120103251719 dengan nama pelaku usaha PT Optima
            Prima Metal Sinergi Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal
            Dalam Negeri (PMDN) yang diterbitkan oleh Meneri Investasi/Kepala Badan
            Koordinasi Penanaman Modal tanggal 27 Juni 2023.
        21. Surat Ijin Lokasi Nomor 35/PTP-IL/IV/2021 tanggal 26 April 2021 dari
            Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa
            Timur mengenai ijin lokasi yang berlokasi di Desa Burneh, Kecamatan Burneh
            dengan luas 21.314 m2 untuk rencana penggunaan tanah sebagai gudang.
        22. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor : 644/830/433.114/2021
        23. Tanda Daftar Gudang (TDG) Nomor : 07/433.114/TDG/VII/2021 tanggal 22 Juli
            2021 dengan luas dan kapasitas Gudang 7.175 m2 yang berlokasi di Jl. Raya
            Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur.
        24. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-002
            yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati
            Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan
            Nomor PBG: PBG-352603-24062024-02 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi
            Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan,
            Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun
            sejak diterbitkan.
        25. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-001
            yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
            Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
            Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
            644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
            berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
            sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
            diterbitkan.
        26. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-002
            yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
            Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
            Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
            644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang

                                                                              Business Valuation Unit
                                             14                                                Jakarta
Page 32
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

              berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
              sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
              diterbitkan.
        27.   Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-003
              yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
              Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
              Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
              644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
              berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
              sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
              diterbitkan.
        28.   Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21062024-001
              yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Juni 2024 atas nama Bupati
              Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
              Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
              644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
              berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
              sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 20 orang dan berlaku 5 tahun sejak
              diterbitkan.
        29.   Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-001
              yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati
              Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan
              Nomor PBG 352603-24062024-01 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
              yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa
              Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak
              diterbitkan.
        30.   Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5490.0.P.3.422.3526.B24 dan
              Nomor Registrasi B243549041554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
              7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
              sehingga dinyatakan Laik Operasi.
        31.   Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5547.0.P.3.422.3526.B24 dan
              Nomor Registrasi B243554741555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
              7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
              sehingga dinyatakan Laik Operasi.
        32.   Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5489.0.P.3.422.3526.B24 dan
              Nomor Registrasi B243548941554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
              7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
              sehingga dinyatakan Laik Operasi.
        33.   Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5515.0.P.3.422.3526.B24 dan
              Nomor Registrasi B243551541555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
              7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
              sehingga dinyatakan Laik Operasi.
        34.   Struktur Organisasi PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
        35.   Timeline PT PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
        36.   Informasi lain dari pihak manajemen OPMS serta pihak-pihak lain yang relevan
              untuk penugasan.
        37.   Dokumen-dokumen lain yang terkait dengan Penambahan Kegiatan Usaha OPMS.
        38.   Informasi dan/atau dokumen terkait lainnya yang didapat dari berbagai pencarian
              baik melalui Internet maupun media lainnya.

                                                                               Business Valuation Unit
                                              15                                                Jakarta
Page 33
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       Seluruh data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan Laporan studi kelayakan
       ini diperoleh dari manajemen OPMS sepanjang proses penyusunan laporan baik diskusi
       dan wawancara.


1.12. Tingkat Kedalaman Investigasi

     Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan
     informasi dari pihak manajemen OPMS, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen
     kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi melalui wawancara
     berupa con call atau virtual meeting.
     Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
      1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada
          laporan keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
      2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
          dilakukan;
      3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
      4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.

      Pelaksana Investigasi

      Berikut ini informasi terkait pelaksanaan investigasi lapangan:
      • No. Surat Tugas                  : JKT/0035/ST.GEAR/2025
      • Lokasi                           : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT.003/
                                           RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya,
                                           Jawa Timur 60183
      • Tanggal Investigasi              : 19 Agustus 2025 – Selesai
      • Pelaksana Investigasi            : Aurellia Nur Halimatussadiyah, Septi Irdi Kurnia Melati
      • Penanggung Jawab Investigasi: Dwi Hari Prasetyo

      Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini OPMS masih
      menjalankan kegiatan operasinya yaitu di bidang usaha utama Perdagangan Besar Potongan
      logam.

      Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
      memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik OPMS dan
      melakukan wawancara dengan manajemen OPMS ataupun pihak yang mewakilinya dan
      pihak-pihak lain yang relevan.

      Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:

      Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi
          Pihak Yang Diwawancarai                        Jabatan                      Perseroan
       Meilyna Widjaja                                Direktur Utama                   OPMS
       Rubbyanto Handaja Kusuma                          Direktur                      OPMS
       Reni Anggeraini                              Corporate Secretary                OPMS



                                                                                 Business Valuation Unit
                                               16                                                 Jakarta
Page 34
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

1.13. Asumsi dan Kondisi Pembatas

      Asumsi dan Kondisi pembatas sudah disajikan dan diungkapkan sesuai dengan Pasal 35
      POJK No. 35/2020 tentang penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis dipasar modal,
      yaitu sebagai berikut:
      • Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
      • Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
          dalam proses Studi Kelayakan.
      • Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan
          informasi yang disediakan oleh OPMS dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
          tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
      • GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh OPMS dan telah
          disesuaikan sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan
          pencapaiannya (fiduciary duty).
      • GEAR bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan
          yang telah disesuaikan.
      • Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
          informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional OPMS.
      • GEAR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
          dihasilkan.
      • GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
          pemberi tugas.


1.14. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan
      Tanggal Laporan

     Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
     mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian
     penting setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan.
     Penilai tidak berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi
     Kelayakan yang dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan
     dan disampaikan kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam
     hal yang substansi, maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.


1.15. Jenis Mata Uang yang Digunakan

     Laporan Studi Kelayakan ini disusun dengan menggunakan mata uang Rupiah.




                                                                                Business Valuation Unit
                                              17                                                 Jakarta
Page 35
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

1.16. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli

     Dalam melaksanakan pembuatan laporan studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
     ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.


1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi

     Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
     Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
     penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
     penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.


1.18. Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
      Keuangan

     Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
     oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, dan SEOJK 17.


1.19. Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI

     Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi kelayakan telah
     dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
     Penilaian Indonesia Edisi VII tahun 2018 (“SPI”) yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi
     Penilai Indonesia (“MAPPI”).




                                                                                 Business Valuation Unit
                                              18                                                  Jakarta
Page 36
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

2.   GAMBARAN UMUM PERSEROAN

2.1. Gambaran Umum OPMS

     PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Asian Prima
     Indosteel berdasarkan Akta Notaris No. 02 oleh Gema Bismantak, S.H., M.Kn., tanggal 5
     September 2012. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
     Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-51905.AH.01.Tahun 2012 tanggal 4 Oktober
     2012. Adapun perubahan nama Perseroan tercantum dalam Akta No. 90 oleh Leolin Jayanti,
     S.H., M.Kn., tanggal 26 Desember 2018. Perubahan tersebut telah disahkan oleh
     Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
     No. AHU-0000173.AH.01.02.TAHUN 2019 tanggal 3 Januari 2019.

     Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta
     Notaris No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., tentang perubahan
     susunan Direksi Perseroan. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam database
     Sistem Administrasi Badan Hukum oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
     Republik Indonesia dalam Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.09-0293147
     tanggal 24 Desember 2024.

     Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
     adalah menjalankan usaha dalam bidang jasa, perdagangan, pembangunan, perindustrian,
     pengangkutan darat, percetakan dan perbengkelan.

     Saat ini, Perseroan menjalankan usaha di bidang perdagangan material berbahan besi, baja
     dan stainless steel.

     Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2012.


2.2. Domisili

     Perseroan berdomisili di Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW. 001, Kel.
     Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183.


2.3. Struktur Permodalan

     Susunan pemegang saham OPMS per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:

     Figur 3. Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham OPMS
                                                             Nilai Nominal     Nilai Nominal
                                Jumlah       Kepemilikan
        Pemegang Saham                                        Per Saham            Saham
                                Saham           (%)
                                                            (Rupiah Penuh)    (Rupiah Penuh)
      PT Asian Perkasa
                               597.900.000        59,79%                100    59.790.000.000
      Indosteel
      Sukianto Widjaja           2.100.000         0,21%                100       210.000.000
      Treasuri Stok            198.373.000        19,84%                100    19.837.300.000



                                                                               Business Valuation Unit
                                             19                                                 Jakarta
Page 37
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                                             Nilai Nominal     Nilai Nominal
                                 Jumlah      Kepemilikan
        Pemegang Saham                                        Per Saham            Saham
                                 Saham          (%)
                                                            (Rupiah Penuh)    (Rupiah Penuh)
      Masyarakat (masing-
                              201.627.000          20,16%               100     20.162.700.000
      masing di bawah 5%)
      Total Modal
      Ditempatkan dan       1.000.000.000         100,00%                      100.000.000.000
      Disetor Penuh
     Sumber: Manajemen OPMS

     Pada tahun 2020, Perseroan membeli saham treasuri melalui aksi buyback. Berdasarkan surat
     No.008.CS.OPMS.2025 tanggal 20 Maret 2025, sesuai dengan POJK No.2/POJK.04/2013,
     Perseroan telah melakukan Keterbukaan Informasi kepada regulator mengenai penjualan
     kembali saham buyback mulai tanggal 9 April 2025 sampai dengan 31 Mei 2025.

     Berdasarkan surat No.019.CS.OPMS.2025 tanggal 2 Juni 2025, terkait dengan penjualan
     kembali atas saham treasuri melalui buyback, menyatakan bahwa Perseroan belum berhasil
     menjual saham treasuri melalui mekanisme pasar di BEI.

     Berdasarkan POJK No.30.POJK.04/2017, Perseroan wajib menjual kembali saham treasuri
     dalam 3 (tiga) tahun, sebelum 17 April 2026. Pada tanggal 30 Juni 2025, tidak terdapat
     penjualan saham treasuri.


2.4. Susunan Pengurus

     Berdasarkan Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima
     Prima Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati,
     S.H., M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak
     Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan
     Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0293147 tanggal
     24 Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris. Susunan
     Dewan Komisaris dan Direksi OPMS pada tanggal 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:

     Dewan Komisaris
     Komisaris Utama                           : Sumardi Wijaya
     Komisaris Independen                      : Adhiguna Abdhipradhana Herwinda

     Direksi
     Direktur Utama                            : Meilyna Widjaja
     Direktur Operasional                      : Sukianto Widjaja
     Direktur                                  : Rubbyanto Handaja Kusuma

     Pada tanggal 30 Juni 2025, Perseroan memiliki 4 karyawan tetap (tidak diaudit).




                                                                               Business Valuation Unit
                                             20                                                 Jakarta
Page 38
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

2.5. Struktur Organisasi

     Berdasarkan informasi dari manajemen, susunan organisasi OPMS per 30 Juni 2025 adalah
     sebagai berikut:

     Figur 4. Struktur Organisasi OPMS




     Sumber: Annual Report OPMS, 2025


2.6. Perizinan dan Legalitas

     Berikut adalah legalitas yang dimiliki oleh OPMS yang digunakan dalam operasionalnya,
     diantaranya yaitu:
     1. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Asian Prima Indosteel No. 02 tanggal 5 September
         2012 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan telah disahkan


                                                                             Business Valuation Unit
                                            21                                                Jakarta
Page 39
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
         No. AHU-51905.AH.01.01.Tahun2012 tanggal 04 Oktober 2012 tentang pengesahan
         badan hukum Perseroan.
     2. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham PT Asian Prima Indosteel No. 39 tanggal
         07 Desember 2017 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan telah
         diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui
         Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan PT Asian Prima Indosteel
         No. AHU-AH.01.03-0199855 tanggal 12 Desember 2017 mengenai perubahan susunan
         direksi dan dewan komisaris.
     3. Akta Pernyataan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari Rapat
         Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Asian Prima Indosteel No. 90 tanggal 26
         Desember 2018 oleh Leolin Jayayanti, S.H., M.Kn. Notaris di Jakarta mengenai
         perubahan nama Perseroan menjadi PT Optima Prima Metal Sinergi, perubahan maksud
         dan tujuan serta kegiatan usaha, dan perubahan susunan direksi perseroan. Akta tersebut
         telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
         Republik Indonesia No. AHU-0000173.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 03 Januari 2019
         tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima
         Metal Sinergi.
     4. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi No.
         83 tanggal 29 April 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah disahkan
         melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
         No. AHU-0023256.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 30 April 2019 tentang persetujuan
         perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
     5. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi No.
         19 tanggal 03 Junli 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah disahkan
         melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
         No. AHU-0034612.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 04 Juli 2019 tentang persetujuan
         perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
     6. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
         Metal Sinergi Tbk No. 30 tanggal 23 Juni 2023 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., Notaris di
         Surabaya mengenai perubahan anggaran dasar dan telah disahkan melalui Keputusan
         Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
         0036709.AH.01.02.TAHUN 2023 tanggal 27 Juni 2023.
     7. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
         Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 14 Juni 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
         Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
         Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan
         PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0216239 tanggal 21 Juni 2024.
     8. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
         Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati, S.H.,
         M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
         Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data
         Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0293147 tanggal 24
         Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris.
     9. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
         Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 25 Juni 2025 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
         Notaris di Surabaya.
     10. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 31.632.698.2-614.000


                                                                                Business Valuation Unit
                                              22                                                 Jakarta
Page 40
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     11. Nomor Induk Berusaha: 9120103251719 dengan nama pelaku usaha PT Optima Prima
         Metal Sinergi Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri
         (PMDN) yang diterbitkan oleh Meneri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman
         Modal tanggal 27 Juni 2023.
     12. Surat Ijin Lokasi Nomor 35/PTP-IL/IV/2021 tanggal 26 April 2021 dari Kementerian
         Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur mengenai ijin
         lokasi yang berlokasi di Desa Burneh, Kecamatan Burneh dengan luas 21.314 m2 untuk
         rencana penggunaan tanah sebagai gudang.
     13. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor : 644/830/433.114/2021
     14. Tanda Daftar Gudang (TDG) Nomor : 07/433.114/TDG/VII/2021 tanggal 22 Juli 2021
         dengan luas dan kapasitas Gudang 7.175 m2 yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa
         Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur.
     15. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-002 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati Bangkalan
         Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan Nomor PBG: PBG-
         352603-24062024-02 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di
         Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik
         Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     16. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-001 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
         Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
         Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
         PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
         Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
         orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     17. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-002 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
         Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
         Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
         PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
         Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
         orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     18. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-003 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
         Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
         Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
         PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
         Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
         orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     19. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21062024-001 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
         Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
         Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
         PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
         Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 20
         orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     20. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-001 yang
         ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati Bangkalan
         Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan Nomor PBG

                                                                            Business Valuation Unit
                                            23                                               Jakarta
Page 41
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         352603-24062024-01 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di
         Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik
         Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
     21. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5490.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
         Registrasi B243549041554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
         2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
         Laik Operasi.
     22. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5547.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
         Registrasi B243554741555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
         2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
         Laik Operasi.
     23. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5489.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
         Registrasi B243548941554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
         2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
         Laik Operasi.
     24. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5515.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
         Registrasi B243551541555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
         2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
         Laik Operasi.


2.7. Kinerja Keuangan Historis

     Untuk melihat perkembangan kinerja OPMS, seperti posisi keuangan, laba rugi dan potensi
     atau kemajuan yang dialami selama beberapa tahun terakhir, maka hasil analisis keuangan
     historis yang bersumber dari laporan keuangan audit per per 31 Desember 2020, per 31
     Desember 2021, per 31 Desember 2022, per 31 Desember 2023, per 31 Desember 2024, dan
     laporan keuangan review 30 Juni 2025 disajikan sebagai berikut:

     Figur 5. Historis Laporan Posisi Keuangan
                                                                            (Dalam Ribuan Rupiah)
                          Jun 2025     Jun 2024     Des 2024     Des 2023      Des 2022        Des 2021       Des 2020
         Keterangan
                           Review       Review       Audit        Audit         Audit           Audit          Audit
      Aset
      Aset Lancar         23.092.016   26.450.669   24.481.182   24.320.300   27.933.476       48.297.703     82.790.685
      Aset Tidak Lancar   53.752.145   59.258.146   55.541.895   64.882.106   66.378.942       45.607.036     16.327.113
      Jumlah Aset         76.844.161   85.708.816   80.023.077   89.202.406   94.312.419       93.904.739     99.117.797

      Liabilitas dan
      Ekuitas
      Liabilitas Jangka
                            269.320     124.085       195.114     1.171.648    1.832.579           282.845     5.096.435
      Pendek
      Liabilitas Jangka
                            479.986     631.690       524.844      614.560       580.301           409.531      396.051
      Panjang
      Jumlah Liabilitas     749.306     755.775       719.959     1.786.208    2.412.880           692.376     5.492.486

      Jumlah Ekuitas      76.094.854   84.953.041   79.303.118   87.416.198   91.899.539       93.212.363     93.625.312
      Jumlah Liabilitas
                          76.844.161   85.708.816   80.023.077   89.202.406   94.312.419       93.904.739     99.117.797
      dan Ekuitas
     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS




                                                                                   Business Valuation Unit
                                              24                                                    Jakarta
Page 42
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 6. Historis Laporan Laba (Rugi)
                                                                                           (Dalam Ribuan Rupiah)
                                  Jun 2025      Jun 2024      Des 2024        Des 2023       Des 2022        Des 2021        Des 2020
           Keterangan
                                   Review        Review         Audit           Audit          Audit           Audit           Audit
      Pendapatan                   2.439.602   23.721.866    40.784.169        9.117.164    22.510.395      41.184.565      34.773.247
      Beban Pokok Pendapatan       3.431.256   23.547.289    41.486.701      10.729.121     17.815.359      37.461.493      30.490.801
      Laba Rugi Usaha            (3.679.087)   (3.832.191)   (7.534.510)     (7.638.992)    (3.086.864)     (2.695.533)     (1.024.628)
      Laba Rugi Sebelum
                                 (3.296.528)   (3.431.760)   (6.859.495)     (6.338.595)    (1.178.228)       (773.605)      1.219.383
      Pajak Penghasilan
      Laba Rugi Bersih Tahun
                                 (3.293.866)   (2.649.738)   (8.284.284)     (4.751.545)     (860.860)        (353.810)      1.031.801
      Berjalan
      Jumlah Laba Rugi
                                 (3.208.264)   (2.463.157)   (8.113.080)     (4.483.340)    (1.312.825)       (412.949)      1.065.589
      Komprehensif
     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS

     Figur 7. Historis Laporan Arus Kas
                                                                                           (Dalam Ribuan Rupiah)
                      Jun 2025        Jun 2024        Des 2024        Des 2023         Des 2022           Des 2021         Des 2020
       Keterangan
                       Review          Review          Audit           Audit            Audit              Audit            Audit
      Arus Kas
                         3.127.747    (2.247.659)     (2.722.794)    (10.302.292)           175.097       (2.269.623)      24.174.133
      Operasi
      Arus Kas
      Investasi           460.228       5.412.060        5.011.508     1.411.987      (19.552.169)      (23.949.548)       23.459.883
      Arus Kas
      Pendanaan          (105.414)      (102.578)        (102.578)         (94.690)                -        (100.000)     (22.797.628)
      Kas Awal
                         9.549.418      7.363.282        7.363.282    16.348.277       35.725.350         62.044.520       37.208.132
      Tahun
      Kas Akhir
                        13.031.979     10.425.105        9.549.418     7.363.282       16.348.277         35.725.350       62.044.520
      Tahun
     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS


2.7.1 Analisis Posisi Keuangan

     Perkembangan posisi keuangan OPMS dapat dilihat pada grafik berikut:




                                                                                               Business Valuation Unit
                                                    25                                                          Jakarta
Page 43
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 8. Historis Perkembangan Posisi Keuangan




     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS

     Aset OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp93.904.739 ribu dan mengalami penurunan
     5,26% dibandingkan tahun 2020. Aset kembali mengalami penurunan pada tahun 2023 dan
     2024 masing-masing sebesar 5,42% dan 10,29%. Penurunan aset tersebut disebabkan oleh
     penurunan pada pos aset lancar (kas dan setara kas, pendapatan bunga yang masih harus
     diterima, uang jaminan) dan aset tidak lancar (uang muka dan biaya dibayar dimuka).
     Peningkatan aset OPMS terjadi pada tahun 2022 sebesar 0,43% dibandingkan dengan tahun
     sebelumnya. Per 30 Juni 2025 aset OPMS tercatat sebesar Rp76.844.161 ribu.

     Liabilitas OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp692.376 ribu dan mengalami penurunan
     87,39% dibandingkan tahun 2020. Liabilitas kembali mengalami penurunan pada tahun 2023
     dan 2024 masing-masing sebesar 25,97% dan 59,69%. Penurunan liabilitas tersebut
     disebabkan oleh penurunan pada pos liabilitas jangka pendek (utang lain-lain pihak ketiga
     dan uang muka pelanggan). Peningkatan liabilitas OPMS terjadi pada tahun 2022 sebesar
     248,49% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Per 30 Juni 2025 liabilitas OPMS tercatat
     sebesar Rp749.306 ribu.

     Ekuitas OPMS selama periode historis mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun
     2020 ekuitas OPMS tercatat sebesar Rp93.625.312 ribu. Pada tahun 2021 – 2024 ekuitas
     mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,44%; 1,41%; 4,88%; dan 9,28%. Per 30 Juni
     2025 tercatat sebesar Rp76.094.854 ribu.




                                                                              Business Valuation Unit
                                             26                                                Jakarta
Page 44
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

2.7.2 Analisis Laba Rugi

     Perkembangan laba (rugi) OPMS dapat dilihat pada grafik berikut:

     Figur 9. Historis Perkembangan Laba (Rugi)




     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS

     Pendapatan OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp41.184.565 ribu dan mengalami
     peningkatan 18,44% dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp34.773.247 ribu.
     Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2024 sebesar 347,33% dibandingkan tahun
     sebelumya. Pada tahun 2022 – 2023 pendapatan OPMS mengalami penurunan masing-
     masing sebesar 45,34% dan 59,50%. Per 30 Juni 2025 pendapatan OPMS tercatat sebesar
     Rp2.439.602 ribu.

     Sejalan dengan pendapatan, Beban Pokok Pendapatan OPMS pada tahun 2021 tercatat
     sebesar Rp37.461.493ribu dan mengalami peningkatan 22,86% dibandingkan tahun 2019
     yang tercatat sebesar Rp30.490.801 ribu. Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2024
     sebesar 286,67% dibandingkan tahun sebelumya. Pada tahun 2022 – 2023 beban pokok
     pendapatan OPMS mengalami penurunan masing-masing sebesar 52,44% dan 39,78%. Per
     30 Juni 2025 beban pokok pendapatan OPMS tercatat sebesar Rp3.431.256 ribu.

     Laba Rugi Usaha selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 belum
     mencatatkan laba. Pada tahun 2020 – 2024 rugi usaha OPMS masing-masing tercatat sebesar
     Rp1.024.628 ribu, Rp2.695.533 ribu, Rp 3.086.864 ribu, Rp7.638.992 ribu dan Rp7.534.510
     ribu. Per 30 Juni 2025 rugi usaha OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.679.087 ribu.

     Laba Rugi Sebelum Pajak Penghasilan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni
     2025 mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.219.383 ribu. Pada tahun 2021 – 2024


                                                                            Business Valuation Unit
                                            27                                               Jakarta
Page 45
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     OPMS mencatatkan kerugian sebelum pajak penghasilan masing masing sebesar Rp773.605
     ribu, Rp1.178.228 ribu, Rp6.338.595 ribu, dan Rp6.859.495 ribu. Per 30 Juni 2025 rugi
     sebelum pajak penghasilan OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.296.528 ribu.

     Laba Rugi Tahun Berjalan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
     mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.031.801 ribu. Pada tahun 2021 – 2024 OPMS
     mencatatkan kerugian tahun berjalan masing masing sebesar Rp353.810 ribu, Rp860.860
     ribu, Rp4.751.545 ribu, dan Rp8.284.284 ribu. Per 30 Juni 2025 rugi tahun berjalan OPMS
     tercatat sebesar negatif Rp3.293.866 ribu.

     Laba Rugi Komprehensif Tahun Berjalan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30
     Juni 2025 mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.065.589 ribu. Pada tahun 2021 –
     2024 OPMS mencatatkan kerugian komprehensif tahun berjalan masing masing sebesar
     Rp412.949 ribu, Rp1.312.825 ribu, Rp4.483.340 ribu, dan Rp8.113.080 ribu. Per 30 Juni
     2025 rugi komprehensif tahun berjalan OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.208.264 ribu.


2.7.3 Analisis Arus Kas

     Perkembangan arus kas OPMS dapat dilihat pada figur berikut:

     Figur 10. Historis Perkembangan Arus Kas




     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS




                                                                            Business Valuation Unit
                                            28                                               Jakarta
Page 46
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Dari figur kinerja arus kas diatas, aktivitas cash flow OPMS untuk periode 31 Desember 2020
     – 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
      • Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi pada Desember 2020 – Juni 2025
          berasal dari penerimaan kas dari pelanggan, pembayaran kas kepada pemasok,
          pembayaran kas kepada karyawan, pembayaran kas untuk beban usaha, penerimaan
          (pembayaran) untuk operasional lainnya, penerimaan bunga, pembayaran bunga atas
          liabilitas sewa, dan pembayaran pajak penghasilan. Arus kas bersih yang diperoleh dari
          aktivitas operasi pada tahun 2020 tercatat positif sebesar Rp24.174.133 ribu. Per 30 Juni
          2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp3.127.747
          ribu.
      • Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas investasi pada Desember 2020 – Juni 2025
          berasal dari penerimaan dari penjualan aset keuangan pada nilai wajar melalui
          penghasilan, penerimaan atas uang jaminan, penerimaan dari penjualan aset tetap,
          perolehan aset tetap, penambahan investasi, dan pembayaran uang muka perolehan aset.
          Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas investasi pada tahun 2020 tercatat positif
          sebesar Rp23.459.883 ribu. Per 30 Juni 2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas
          investasi tercatat sebesar Rp460.228 ribu.
      • Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan pada Desember 2020 – Juni
          2025 berasal dari pembayaran pokok liabilitas sewa dan akuisisi aham treasuri. Arus kas
          bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan pada tahun 2020 tercatat negatif sebesar
          Rp22.797.628 ribu. Per 30 Juni 2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas
          pendanaan tercatat sebesar negatif Rp105.414 ribu.
      • Kas dan Setara Kas Akhir Tahun pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp35.725.350 ribu
          mengalami penurunan sebesar 42,42% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada
          tahun 202 dan 2023 kas dan setara kas akhir tahun juga mengalami penurunan sebesar
          54,24% dan 54,96% dari tahun sebelumnya. Kas dan setara kas akhir tahun mengalami
          peningkatan pada tahun 2024 sebesar 29,69% dari tahun sebelumnya. Per 30 Juni 2025
          kas dan setara kas akhir tahun tercatat sebesar Rp13.031.979 ribu.


2.7.4 Analisis Rasio Keuangan

     Figur 11. Historis Rasio Keuangan
                                Jun 2025     Jun 2024    Des 2024       Des 2023   Des 2022        Des 2021         Des 2020
            Keterangan
                                 Review       Review      Audit          Audit      Audit           Audit            Audit
      Rasio Likuiditas
        Current Ratio           8574,20%     21316,53%   12547,08%      2075,73%   1524,27%       17075,68%         1624,48%
        Quick Ratio             8452,07%     20974,04%   12340,50%      1910,52%   1455,31%       16573,30%         1551,36%
        Cash Ratio              4838,85%      8401,57%    4894,26%       628,46%    892,09%       12630,71%         1217,41%
      Rasio Aktivitas
        Perputaran Piutang
                                        1        2                  -         16             -                  -          -
        Usaha Pihak Ketiga
        Perputaran Persediaan          35        7                  4         66           26                  14         45
        Perputaran Utang
                                         -       0                  -         28             -                  -          -
         Usaha Pihak Ketiga
        Perputaran Utang
                                         -       -                  -          2           32                   -          -
        Retensi
        Perputaran Beban yang
                                        7        0                  -          3             2                 1           1
        Masih Harus Dibayar
      Rasio Solvabilitas                       0,96
        Debt to Asset              0,98%                     0,90%         2,00%      2,56%             0,74%          5,54%



                                                                                    Business Valuation Unit
                                                29                                                   Jakarta
Page 47
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                Jun 2025    Jun 2024    Des 2024     Des 2023   Des 2022        Des 2021     Des 2020
             Keterangan
                                 Review      Review      Audit        Audit      Audit           Audit        Audit
        Debt to Equity             0,98%     0,88%          0,91%       2,04%      2,63%           0,74%        5,87%
      Rasio Profitabilitas
        Gross Margin             -40,65%      0,89%         -1,72%    -17,68%      20,86%            9,04%    12,32%
        Operating Margin        -150,81%      0,74%        -18,47%    -83,79%     -13,71%           -6,55%    -2,95%
        Net Profit Margin       -135,02%    -16,15%        -20,31%    -52,12%      -3,82%           -0,86%     2,97%
        ROA                       -4,29%    -11,17%        -10,35%     -5,33%      -0,91%           -0,38%     1,04%
        ROE                       -4,33%     -3,09%        -10,45%     -5,44%      -0,94%           -0,38%     1,10%
     Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS

     Rasio Likuiditas
     Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
     mana kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
     keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:

      1. Current Ratio
         Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
         memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang
         dimilikinya. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas perusahaan,
         dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar kewajiban. Rasio
         lancar OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
         1624,48%; 17075,68%; 1524,27%; 2075,73%; 12547,08%; dan 8574,20%.

      2. Quick Ratio
         Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
         memenuhi kewajiban jangka pendeknya (utang lancar) dengan aset lancar yang paling
         likuid, tanpa mengandalkan penjualan persediaan. Rasio cepat OPMS pada periode 31
         Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 1551,36%; 16573,30%; 1455,31%;
         1910,52%; 12340,50%; dan 8452,07%.

      3. Cash Ratio
         Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
         memenuhi kewajiban jangka pendeknya menggunakan aset yang paling likuid, yaitu
         kas dan setara kas. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas
         perusahaan, dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar
         kewajiban. Rasio kas OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat
         sebesar 1217,41%; 12630,71%; 892,09%; 628,46%; 4894,26%; dan 4838,85%.

     Rasio Aktivitas

     Rasio aktivitas (activity ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
     pemanfaatan sumber daya perusahaan atau menilai kemampuan perusahaan dalam
     melaksanakan aktivitas sehari-hari. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.

      1. Rasio Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga
         Rasio perputaran piutang usaha pihak ketiga merupakan indikator keuangan yang
         digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam mengelola piutang usaha
         pihak ketiga. Rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan dapat menagih piutang
         usaha dari debitur dalam satu periode tertentu. Rasio perputaran piutang usaha pihak


                                                                                 Business Valuation Unit
                                               30                                                 Jakarta
Page 48
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

           ketiga OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0
           hari, 0 hari, 16 hari, 0 hari, dan 1 hari.

      2. Rasio Perputaran Persediaan
         Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk melihat berapa hari persediaan
         berubah menjadi penjualan. Rasio perputaran persediaan OPMS pada periode 31
         Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 45 hari, 14 hari, 26 hari, 66 hari, 4 hari,
         dan 35 hari.

      3. Rasio Perputaran Utang Usaha Pihak Ketiga
         Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan
         membayar utang usaha pihak ketiga selama periode tertentu. Rasio ini memberikan
         gambaran mengenai efisiensi perusahaan dalam mengelola kewajiban jangka pendek
         kepada pihak ketiga. Rasio utang usaha pihak ketiga OPMS pada periode 31 Desember
         2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0 hari, 0 hari, 28 hari, 0 hari, dan 0 hari.

      4. Rasio Perputaran Utang Retensi
         Rasio yang menunjukkan seberapa sering atau cepat perusahaan melunasi kewajiban
         utang retensinya kepada pihak ketiga dalam satu periode tertentu. Rasio utang retensi
         OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0 hari, 32
         hari, 2 hari, 0 hari, dan 0 hari.

      5. Rasio Perputaran Beban yang Masih Harus Dibayar
         Rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa sering perusahaan melunasi kewajiban
         berupa beban yang masih harus dibayar dalam satu periode tertentu. Rasio ini biasanya
         dipakai untuk menganalisis efektivitas pengelolaan kewajiban jangka pendek. Rasio
         beban yang masih harus dibayar OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
         tercatat selama 1 hari, 1 hari, 2 hari, 3 hari, 0 hari, dan 7 hari.

     Rasio Solvabilitas

     Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
     perusahaan untuk melunasi utang-utangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
     kategori ini.

      1.   Debt to asset ratio
           Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset Perusahaan.
           Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan Perusahaan. Adapun
           tingkat rasio liabilitas terhadap total aset OPMS pada periode 31 Desember 2020 –
           30 Juni 2025 tercatat sebesar 5,54%; 0,74%; 2,56%; 2,00%; 0,90%; dan 0,98%.

      2.   Debt to equity ratio
           Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
           perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah liabilitas sama dengan jumlah ekuitas.
           Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa rasio liabilitas terhadap
           ekuitas OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 5,87%;
           0,74%; 2,63%; 2,04%; 0,91%; dan 0,98%.



                                                                                 Business Valuation Unit
                                              31                                                  Jakarta
Page 49
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Rasio Profitabilitas

     Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba
     dalam operasinya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.

      1. Gross Profit Margin (Rasio Laba Kotor)
         Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
         kotor. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
         pembentukan laba kotor. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
         rasio laba kotor OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
         12,32%; 9,04%; 20,86%; -17,08%; -1,72%; dan -40,65%.

      2. Operating Margin (Rasio Laba Operasi)
         Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
         operasi. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
         pembentukan laba operasi. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
         rasio laba operasi OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat
         sebesar -2,95%; -6,55%; -13,71%; -83,79%; -18,47%; dan -150,81%.

      3. Net Profit Margin (Rasio Laba Bersih)
         Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
         bersih. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
         pembentukan laba bersih. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
         rasio laba bersih OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
         2,97%; -0,86%; -3,82%; -52,12%; -20,31%; dan -135,02%.

      4. Ratio Return On Asset (ROA)
         Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
         bersih dengan mengunakan seluruh aset perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan
         diatas dapat dilihat bahwa rasio ROA OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni
         2025 tercatat sebesar 1,04%; -0,38%; -0,91%; -5,33%; -10,35%; dan -4,29%.

      5. Ratio Return On Equity (ROE)
         Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
         bersih dengan mengunakan ekuitas perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas
         dapat dilihat bahwa rasio ROE OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
         tercatat sebesar 1,10%; -0,38%; -0,94%; -5,44%; -10,45%; dan -4,33%.


2.8. Kinerja Operasional OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam

     Pada tahun 2024, OPMS mencatatkan produksi metal sebesar 2.175 ton, meningkat 78.5%
     dibandingkan dengan 1.219 ton pada tahun 2023. Pendapatan perusahaan juga melonjak
     menjadi Rp 40,78 miliar, mengalami peningkatan 347% dari Rp 9,12 miliar pada tahun
     sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan keberlanjutan ekonomi OPMS yang kuat,
     dengan fokus pada efisiensi operasional dan pengelolaan sumber daya yang baik. Hal ini
     memastikan stabilitas keuangan perusahaan dan mendukung kelangsungan usaha jangka
     panjang, serta membuka peluang untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.


                                                                              Business Valuation Unit
                                             32                                                Jakarta
Page 50
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 12. Produksi, Pendapatan, dan Laba (Rugi) Bersih)Tahun 2022 - 2024




     Sumber: Annual Report OPMS, 2024

     Strategi Pemasaran OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam

     Perseroan dalam melakukan pemasaran dengan pendekatan business-tobusiness (B2B) yang
     mengutamakan hubungan jangka panjang, keandalan suplai, dan transparansi harga menjadi
     fondasi dalam menjaga loyalitas pelanggan dan memperluas jangkauan pasar. Untuk
     memperkuat eksistensi merek, Perseroan memanfaatkan kombinasi antara pemasaran digital,
     partisipasi dalam pameran industri, serta kerja sama strategis dengan asosiasi sektor logam
     dan kelautan.


2.9. Informasi Perpajakan

     Pada periode 30 Juni 2025, OPMS tercatat memiliki utang pajak sebesar Rp56.471 ribu.




                                                                                Business Valuation Unit
                                              33                                                 Jakarta
Page 51
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

3.   TINJAUAN MAKRO EKONOMI

3.1. Perekonomian Global dan Domestik

     Ketidakpastian ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun tetap
     berada pada level yang tinggi akibat dinamika negosiasi tarif timbal balik antara Amerika
     Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah indikator
     mengonfirmasi bahwa kebijakan tarif AS memberikan dampak terhadap perlambatan
     ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang
     cenderung menurun, meskipun mereka menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif serta
     pelonggaran moneter. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat karena
     penurunan ekspor—khususnya ke AS—di tengah lesunya permintaan domestik. Sementara
     itu, India diperkirakan akan mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, didukung oleh
     kuatnya investasi. Tekanan inflasi di AS pun mulai menurun seiring melambatnya aktivitas
     ekonomi, walaupun inflasi pada kelompok barang sempat naik akibat kebijakan tarif. Hal ini
     memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan The Fed
     (Fed Funds Rate) ke depan. Di pasar keuangan global, Pergeseran arus modal dari Amerika
     Serikat menuju aset-aset yang dianggap lebih aman, serta ke instrumen keuangan di negara
     berkembang, masih terus berlangsung. Dinamika ini berkontribusi pada berlanjutnya
     pelemahan nilai indeks dolar AS terhadap mata uang negara-negara maju (DXY) maupun
     negara berkembang (ADXY).

     Figur 13. Pertumbuhan PDB Dunia, PMI Global




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 14. Indeks Keyakinan Konsumen, Penjualan Eceran Global




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025


                                                                               Business Valuation Unit
                                              34                                                Jakarta
Page 52
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 15. Inflasi Global, Harga Komoditas Ekspor Indonesia




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 16. Indeks Ketidakpastian Global, Yield UST 10Y dan JGB 10Y serta Indeks Saham
               AS,




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 17. Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko Negara Berkembang, Aliran Modal Ke
               Negara Berkembang




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025




                                                                           Business Valuation Unit
                                              35                                            Jakarta
Page 53
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

3.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus diperkuat di tengah meningkatnya
     ketidakpastian global yang disebabkan oleh kebijakan tarif dari AS dan eskalasi ketegangan
     geopolitik. Aktivitas ekonomi pada triwulan II tahun 2025 menunjukkan perbaikan pada
     kinerja ekspor nonmigas, yang didorong oleh strategi front loading ekspor ke AS sebagai
     langkah antisipatif dari para eksportir terhadap penerapan tarif baru. Di sisi lain, kontribusi
     permintaan domestik, khususnya dari konsumsi rumah tangga dan investasi, perlu terus
     ditingkatkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Dari perspektif fiskal, Pemerintah
     mendorong percepatan realisasi belanja melalui kebijakan pemberian gaji ke-13 bagi
     Aparatur Sipil Negara (ASN). Subsidi transportasi dan peningkatan bantuan sosial bagi
     Keluarga Penerima Manfaat (KPM) turut diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga daya
     beli masyarakat. Sementara itu, dari sisi Bank Indonesia, pelonggaran kebijakan moneter
     dilakukan melalui penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas, yang disertai dengan
     peningkatan insentif likuiditas makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit
     pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

     Figur 18. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran dan
               Lapangan Usaha




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 19. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan I 2025 dan Indeks Keyakinan
               Konsumen




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025



                                                                                   Business Valuation Unit
                                               36                                                   Jakarta
Page 54
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 20. Nilai Tukar Petani, Penjualan Eceran




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 21. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Purchasing Managers’ Index
               (PMI) Manufaktur




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 22. Ekspor Nonmigas, Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025




                                                                           Business Valuation Unit
                                              37                                            Jakarta
Page 55
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 23. Ekspor Nonmigas Daerah, Impor Nonmigas




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 24. Impor Barang Konstruksi




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap menunjukkan kinerja yang solid, didukung oleh
     berlanjutnya arus masuk modal asing ke 38adangan38t investasi portofolio, yang turut
     memperkuat ketahanan sektor eksternal. Pada April 2025, neraca perdagangan mencatat
     surplus sebesar 0,2 miliar dolar AS, melanjutkan capaian positif pada Maret 2025 yang
     mencatat surplus sebesar 4,3 miliar dolar AS. Kinerja ekspor yang kuat diperkirakan akan
     berlanjut pada triwulan II 2025, terutama ditopang oleh komoditas utama seperti minyak
     kelapa sawit (CPO), mesin 38adanga, besi baja, dan produk kimia 38adanga.

     Arus masuk dana asing ke pasar portofolio 38 adangan, khususnya dalam bentuk Surat
     Berharga Negara (SBN), terus berlangsung seiring dengan prospek ekonomi Indonesia yang
     tetap positif, imbal hasil 38 adangan 38 t keuangan 38 adangan yang kompetitif, serta
     menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Hingga 16 Juni 2025, aliran modal
     asing ke SBN mencatat net inflows sebesar 1,7 miliar dolar AS.

     Posisi 38adangan devisa per akhir Mei 2025 tercatat tinggi, yakni sebesar 152,5 miliar dolar
     AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang
     luar negeri Pemerintah, dan masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang
     sekitar 3 bulan impor.


                                                                                 Business Valuation Unit
                                              38                                                  Jakarta
Page 56
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 25. Neraca Pembayaran Indonesia, Neraca Perdagangan




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 26. Aliran Modal Asing, Cadangan Devisa




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 27. Indeks Rupiah terhadap USD, Negara Maju kecuali AS, dan Negara Berkembang,
               Suku Bunga Kebijakan Negara Kawasan




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan yang didukung oleh langkah stabilisasi yang
     ditempuh Bank Indonesia serta peningkatan pasokan valuta asing baik dari pelaku domestik
     maupun asing. Hingga 17 Juni 2025, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat

                                                                             Business Valuation Unit
                                              39                                              Jakarta
Page 57
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     sebesar 0,06% (ptp) dibandingkan akhir bulan sebelumnya. Penguatan Rupiah juga terjadi
     terhadap mata uang negara-negara berkembang mitra dagang utama Indonesia, serta
     terhadap mata uang negara-negara maju selain dolar AS. Kondisi ini didorong oleh aliran
     modal asing, khususnya ke instrumen SBN, serta meningkatnya pasokan valas dari pelaku
     usaha domestik, seiring dengan meningkatnya konversi devisa hasil ekspor oleh eksportir
     pasca penerapan kebijakan Pemerintah yang memperkuat pengelolaan Devisa Hasil Ekspor
     Sumber Daya Alam (DHE SDA).

     Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2025 tetap berada dalam kisaran yang
     terjaga, sehingga turut mendukung stabilitas makroekonomi. Pada periode tersebut, IHK
     mencatat tingkat inflasi sebesar 1,60% secara tahunan (yoy). Inflasi inti juga menunjukkan
     kondisi yang terkendali dengan tingkat sebesar 2,40% (yoy), mencerminkan konsistensi
     kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) dalam mengarahkan ekspektasi inflasi agar
     tetap sesuai dengan target yang ditetapkan. Sementara itu, kelompok komoditas pangan
     bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 1,17% (yoy). Stabilitas inflasi pangan
     didukung oleh ketersediaan pasokan komoditas pangan utama serta sinergi yang kuat antara
     pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah
     (TPIP/TPID), yang diimplementasikan melalui program Gerakan Nasional Pengendalian
     Inflasi Pangan (GNPIP). Inflasi pada kelompok administered prices tercatat sebesar 1,36%
     (yoy), mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,25% (yoy),
     terutama disebabkan oleh kenaikan tarif air minum PDAM dan harga rokok, sebagai dampak
     lanjutan dari penyesuaian cukai hasil tembakau.

     Figur 28. Inflasi IHK Provinsi




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 29. Inflasi IHK dan Komponen, Ekspektasi Inflasi




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025


                                                                                Business Valuation Unit
                                              40                                                 Jakarta
Page 58
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Dalam rangka memperkuat efektivitas kebijakan moneter, Bank Indonesia terus
     mengoptimalkan respons melalui strategi operasi moneter yang pro-pasar guna
     memperlancar transmisi kebijakan suku bunga pasca penurunan BI-Rate. Di pasar uang,
     sebagai respons terhadap penurunan BI-Rate pada Mei 2025 dan implementasi operasi
     moneter, suku bunga overnight INDONIA mengalami penurunan menjadi 5,34% per 17 Juni
     2025, dari sebelumnya 5,77% sebelum pengumuman penurunan BI-Rate. Demikian pula,
     suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan per 13
     Juni 2025 masing-masing turun menjadi 6,22%, 6,26%, dan 6,27%, lebih rendah
     dibandingkan sebelum penurunan BI-Rate yang masing-masing tercatat sebesar 6,40%,
     6,44%, dan 6,47%.

     Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga menunjukkan penurunan, dengan yield SBN
     tenor 2 tahun turun dari 6,16% menjadi 6,13%, dan untuk tenor 10 tahun dari 6,84% menjadi
     6,71%. Di sektor perbankan, suku bunga juga mulai menunjukkan tren penurunan, meskipun
     secara bertahap. Suku bunga deposito 1 bulan tercatat sebesar 4,81% pada Mei 2025, sedikit
     lebih rendah dibandingkan 4,83% pada April 2025. Sementara itu, suku bunga kredit turun
     tipis dari 9,19% pada April 2025 menjadi 9,18% pada Mei 2025.

     Figur 30. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan, Likuiditas Perbankan dan
               Perekonomian




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 31. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA, Transmisi BI Rate kepada
               SBDK




     Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025



                                                                               Business Valuation Unit
                                              41                                                Jakarta
Page 59
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 32. Suku Bunga Perbankan, Perkembangan Kredit dan DPK




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Figur 33. Permodalan Industri Perbankan, Rasio Kredit Bermasalah (NPL)




     Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025

     Strategi operasi moneter yang bersifat pro-pasar terus diperkuat guna mendukung efektivitas
     transmisi kebijakan moneter melalui ketersediaan likuiditas yang memadai. Dalam kerangka
     tersebut, pemanfaatan instrumen moneter berbasis pasar seperti SRBI (Sekuritas Rupiah
     Bank Indonesia), SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia), dan SUVBI (Sekuritas Utang
     Valas Bank Indonesia) terus dioptimalkan. Per 16 Juni 2025, posisi outstanding SRBI
     tercatat mencapai Rp811,11 triliun, berkontribusi terhadap ekspansi likuiditas dalam rangka
     pelaksanaan kebijakan moneter. Pada periode yang sama, posisi SVBI dan SUVBI masing-
     masing tercatat sebesar 2.060,5 juta dolar AS dan 480 juta dolar AS. Pembelian SBN oleh
     Bank Indonesia terdiri atas transaksi di pasar sekunder sebesar Rp87,04 triliun dan di pasar
     primer dalam bentuk Surat Perbendaharaan Negara (SPN), termasuk instrumen syariah,
     sebesar Rp37,29 triliun.

     Peran intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit dalam mendukung pertumbuhan
     ekonomi perlu terus diperkuat. Pada Mei 2025, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,43%
     secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan capaian April 2025 yang sebesar 8,88% (yoy).
     Dari sisi penawaran, minat perbankan terhadap investasi pada surat-surat berharga masih
     cukup tinggi, seiring dengan mulai meningkatnya standar penyaluran kredit (lending
     standard). Sementara itu, kondisi likuiditas perbankan tetap terjaga dengan baik, meskipun
     pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami perlambatan, dari 5,51% (yoy) pada
     awal Januari 2025 menjadi 4,29% (yoy) pada Mei 2025.



                                                                                Business Valuation Unit
                                              42                                                 Jakarta
Page 60
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor industri, jasa sosial,
       dan sektor lainnya. Namun demikian, penyaluran kredit kepada sektor perdagangan,
       pertanian, dan jasa dunia usaha masih perlu ditingkatkan guna memperkuat pembiayaan
       terhadap kegiatan ekonomi riil. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi tumbuh
       sebesar 13,74% (yoy), kredit modal kerja sebesar 4,94% (yoy), dan kredit konsumsi sebesar
       8,82% (yoy) pada Mei 2025. Di sisi lain, pembiayaan syariah mencatatkan pertumbuhan
       sebesar 9,19% (yoy), sementara kredit kepada UMKM tumbuh lebih moderat sebesar 2,17%
       (yoy).

       Total insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang disalurkan hingga minggu
       kedua Juni 2025 mencapai Rp372 triliun, dengan distribusi kepada kelompok bank sebagai
       berikut: bank BUMN sebesar Rp164 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) sebesar
       Rp166,4 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp36 triliun, dan Kantor Cabang
       Bank Asing (KCBA) sebesar Rp5,6 triliun.

       Stabilitas sektor perbankan tetap terjaga dengan baik dan mendukung ketahanan sistem
       keuangan secara keseluruhan. Likuiditas perbankan tetap memadai sebagaimana tercermin
       dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 24,98% pada
       Mei 2025. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
       perbankan per April 2025 masih berada pada tingkat yang solid sebesar 25,41%, yang
       menunjukkan kapasitas kuat untuk menyerap risiko. Sementara itu, tingkat risiko kredit tetap
       rendah, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto sebesar
       2,24% dan neto sebesar 0,83% pada April 2025. Hasil uji ketahanan (stress test) yang
       dilakukan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap kuat,
       ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.


3.3.   PDB Menurut Lapangan Usaha

       Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan I-2025 (Q-to-Q)

       Figur 34. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (persen), Triwulan II-
                 2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025




       Sumber: Badan Pusat Statistik. 2025



                                                                                   Business Valuation Unit
                                                43                                                  Jakarta
Page 61
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       Pada triwulan II-2025, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 4,04
       persen dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q). Hampir seluruh lapangan usaha
       mencatatkan pertumbuhan, kecuali Pengadaan Listrik dan Gas yang mengalami kontraksi
       sebesar 2,61 persen. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan
       Perikanan sebesar 13,53 persen, disusul oleh sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar
       6,58 persen, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 6,43 persen. Sementara
       itu, dua sektor utama yang memiliki kontribusi besar, yakni Industri Pengolahan dan
       Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, juga tumbuh masing-
       masing 1,38 persen dan 3,12 persen.

       Struktur PDB Indonesia pada triwulan II-2025 berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga
       berlaku relatif stabil. Perekonomian masih didominasi oleh Industri Pengolahan dengan
       kontribusi 18,67 persen, diikuti oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,83
       persen, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,02
       persen, Konstruksi sebesar 9,48 persen, serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,59
       persen. Secara keseluruhan, kelima sektor utama ini menyumbang 63,59 persen terhadap
       perekonomian nasional.

       Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan II-2024 (Y-on-Y)

       Figur 35. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (persen), Triwulan II-
                 2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025




       Sumber: Badan Pusat Statistik. 2025

       Pada triwulan II-2025, perekonomian Indonesia meningkat 5,12 persen dibandingkan
       periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). Pertumbuhan positif tercatat di seluruh
       lapangan usaha. Kenaikan tertinggi terjadi pada sektor Jasa Lainnya yang tumbuh 11,31
       persen, disusul oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,31 persen, Transportasi dan Pergudangan
       sebesar 8,52 persen, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,04 persen.


3.4.   Analisis PDB Perdagangan Besar dan Eceran

       Pada triwulan II-2025, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda
       Motor menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data PDB atas dasar harga berlaku (ADHB),


                                                                                  Business Valuation Unit
                                                44                                                 Jakarta
Page 62
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     nilai sektor ini meningkat dari Rp749,0 triliun pada triwulan I-2025 menjadi Rp773,4 triliun
     pada triwulan II-2025, atau tumbuh sebesar 3,26 persen. Jika dilihat dari PDB atas dasar
     harga konstan 2010 (ADHK), yang mencerminkan pertumbuhan riil tanpa pengaruh inflasi,
     sektor ini juga mengalami kenaikan dari Rp428,0 triliun menjadi Rp441,4 triliun atau tumbuh
     sebesar 3,13 persen secara triwulanan. Pertumbuhan yang konsisten baik dari sisi nominal
     maupun riil ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perdagangan yang sehat,
     didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, peran ritel modern yang semakin
     berkembang, serta distribusi barang yang lebih merata. Dengan kontribusinya yang besar
     terhadap struktur PDB nasional, sektor perdagangan tetap menjadi salah satu fondasi utama
     dalam menggerakkan perekonomian Indonesia.

     Figur 36. PDB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha
               (triliun rupiah) – PDB Sektor perdagangan Besar & Eceran, Reparasi Mobil dan
               Motor




     Sumber: Badan Pusat Statistik (2025)

     Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menunjukkan tren
     pertumbuhan yang positif pada sebagian besar periode, meskipun sempat mengalami sedikit
     kontraksi sebesar -0,04% pada Triwulan I-2025 dibandingkan Triwulan IV-2024. Namun,
     pada Triwulan II-2025, sektor ini pulih dengan pertumbuhan 3,12% (q-to-q). Secara tahunan,
     sektor ini tumbuh stabil dan cukup kuat, yakni 5,03% (y-on-y) pada Triwulan I-2025 dan
     meningkat menjadi 5,37% (y-on-y) pada Triwulan II-2025. Jika dilihat secara kumulatif
     semester, pertumbuhan mencapai 5,20% dibandingkan Semester I-2024.

     Distribusi PDB Menurut Lapangan Usaha, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
     Mobil dan Sepeda Motor konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur PDB
     Indonesia. Pada tahun 2024, sektor ini menyumbang 13,15% pada Triwulan I dan sedikit
     menurun menjadi 12,99% pada Triwulan II. Memasuki tahun 2025, kontribusi sektor ini
     relatif stabil dengan angka 13,22% pada Triwulan I dan sedikit turun menjadi 13,02% pada
     Triwulan II.




                                                                                 Business Valuation Unit
                                              45                                                  Jakarta
Page 63
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

3.5.   Perkembangan Industri Makanan dan Minuman

       Figur 37. Pertumbuhan Penjualan Sektor Fast-Moving Consumer Goods/FMCG di Sejumlah
                 Negara Asia Tenggara (Kuartal I 2025*)




       Sumber: databoks.katadata.co.id

       Berdasarkan laporan lembaga riset Kantar, pertumbuhan nilai penjualan sektor fast-moving
       consumer goods (FMCG) di kawasan Asia Tenggara pada kuartal I 2025 menunjukkan
       dinamika yang beragam.

       Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan capaian pertumbuhan tertinggi, yakni
       sebesar 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (y-o-y). Secara sektoral,
       peningkatan terbesar di Indonesia ditopang oleh produk perawatan diri yang tumbuh 7,2%,
       serta produk perawatan rumah tangga (home care) yang meningkat 6,4%.

       Proporsi pertumbuhan Indonesia sejalan dengan Filipina. Meski demikian, struktur
       pendorong pertumbuhan di Filipina berbeda, di mana sektor home care mengalami lonjakan
       tertinggi sebesar 9,6%, disusul produk minuman yang tumbuh 7,1%.

       Sementara itu, negara lain di kawasan mencatat pertumbuhan lebih moderat, yakni Malaysia
       (Semenanjung) 4,1%, Thailand 2,7%, Vietnam wilayah perdesaan 1%, serta Vietnam
       wilayah perkotaan hanya 0,3%.

       Secara keseluruhan, Kantar mencatat bahwa pertumbuhan nilai penjualan FMCG di tingkat
       Asia mencapai rata-rata 2,8% pada kuartal I 2025, sedikit menurun dibandingkan kinerja
       pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini mencerminkan masih adanya tantangan dalam
       mengelola perkembangan pasar dan tekanan makroekonomi di tingkat regional.

       Berdasarkan tabel pengeluaran per kapita sebulan hasil Susenas Maret 2024, terlihat adanya
       tren peningkatan pengeluaran dari tahun 2020 hingga 2024. Pada Maret 2020, total
       pengeluaran per kapita tercatat Rp1.225.685 dan meningkat konsisten setiap tahunnya hingga
       mencapai Rp1.500.566 pada Maret 2024. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan,

                                                                                 Business Valuation Unit
                                               46                                                 Jakarta
Page 64
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     dari Rp603.236 pada 2020 menjadi Rp751.789 pada 2024. Namun demikian, pengeluaran
     nonmakanan juga tumbuh cukup signifikan, dari Rp622.449 pada 2020 menjadi Rp748.767
     pada 2024, sehingga struktur konsumsi masyarakat tampak relatif seimbang antara makanan
     (49,8%) dan nonmakanan (50,2%).

     Jika diperinci, kelompok pengeluaran makanan dengan kontribusi terbesar adalah makanan
     dan minuman jadi (prepared food and beverage) yang naik dari Rp206.736 (2020) menjadi
     Rp238.902 (2024). Tren ini mencerminkan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap
     makanan instan, praktis, dan produk siap saji. Sementara itu, komoditas lain seperti
     ikan/udang/cumi/kerang juga mengalami lonjakan pengeluaran dari Rp46.570 (2020)
     menjadi Rp57.665 (2024), menandakan meningkatnya konsumsi protein hewani. Sebaliknya,
     beberapa komoditas tumbuh lebih lambat, misalnya umbi-umbian yang relatif stagnan di
     kisaran Rp6.300–8.500.

     Pada kelompok nonmakanan, pengeluaran tertinggi berasal dari perumahan dan fasilitas
     rumah tangga yang mencapai Rp391.751 pada 2024, setara 26,1% dari total pengeluaran.
     Pengeluaran untuk barang tahan lama (durable goods) justru menurun dibanding tahun 2020,
     mengindikasikan rumah tangga cenderung menahan pembelian barang berumur panjang.
     Sedangkan pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi terus meningkat, dari Rp41.384
     pada 2020 menjadi Rp60.632 pada 2024, sejalan dengan meningkatnya kepatuhan pajak dan
     penetrasi layanan asuransi.

     Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia tidak
     hanya meningkat secara nominal, tetapi juga mengalami pergeseran pola, khususnya pada
     meningkatnya proporsi makanan jadi serta stabilnya keseimbangan antara pengeluaran
     makanan dan nonmakanan.

     Secara keseluruhan, Kantar mencatat bahwa pertumbuhan nilai penjualan FMCG di tingkat
     Asia mencapai rata-rata 2,8% pada kuartal I 2025, sedikit menurun dibandingkan kinerja
     pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini mencerminkan masih adanya tantangan dalam
     mengelola perkembangan pasar dan tekanan makroekonomi di tingkat regional.




                                                                             Business Valuation Unit
                                            47                                                Jakarta
Page 65
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

4.   ASPEK KELAYAKAN PASAR

4.1. Kondisi Pasar Makanan dan Minuman

     Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perekonomian Indonesia pada kuartal II 2025
     tumbuh sebesar 5,12% (yoy), dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga
     berlaku mencapai Rp5.947 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.396,3 triliun.
     Pertumbuhan ini didukung oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha, dengan kontribusi
     terbesar berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, serta
     pertambangan.

     Pada triwulan II 2025, Industri Pengolahan tercatat sebagai penyumbang terbesar terhadap
     pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar 1,13% dari total pertumbuhan
     5,12% (yoy). Pencapaian ini menegaskan posisi industri pengolahan sebagai sektor kunci
     dalam mendorong ekspansi ekonomi Indonesia. Sub-sektor makanan dan minuman mencatat
     pertumbuhan 6,15%, didorong oleh meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor.
     Produk yang menopang pertumbuhan antara lain minyak nabati, olahan CPO, gula, produk
     susu, daging olahan, minuman, serta roti dan kue, yang sejalan dengan tren konsumsi
     masyarakat yang semakin beragam dan meningkatnya kebutuhan bahan pangan olahan.

     Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama dengan kontribusi
     54,25% terhadap PDB dan pertumbuhan 4,97% yoy, mencerminkan daya beli masyarakat
     yang masih kuat. Konsumsi Rumah Tangga terus tumbuh seiring meningkatnya belanja
     kebutuhan primer dan mobilitas rumah tangga. Kebutuhan Bahan Makanan dan Makanan
     jadi meningkat karena aktivitas pariwisata selama periode libur hari besar keagamaan
     (Idulfitri, Waisak, Kenaikan Isa Almasih, dan Iduladha) dan libur sekolah. Mobilitas
     masyarakat meningkat mendorong peningkatan konsumsi untuk transportasi dan restoran.

     Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar industri makanan dan minuman di Indonesia masih
     memiliki prospek pertumbuhan yang solid. Permintaan yang stabil, ditambah dengan peluang
     ekspor, memberikan dasar yang kuat bagi Perseroan untuk memperluas kegiatan usaha
     melalui penambahan KBLI sebagaimana tercantum dalam rencana kegiatan OPMS. Dengan
     dukungan data pertumbuhan PDB dan tren konsumsi tersebut, penambahan KBLI ini
     diproyeksikan akan meningkatkan daya saing Perseroan dalam rantai pasok pangan nasional
     sekaligus memperkuat posisi di pasar regional.

     Figur 38. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025




     Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia


                                                                             Business Valuation Unit
                                               48                                             Jakarta
Page 66
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 39. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025




     Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

     Figur 40. Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Komoditas
               (rupiah), Maret 2021 - Maret 2025




     Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

     Berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan hasil Susenas Maret 2025, terlihat adanya tren
     peningkatan pengeluaran dari tahun 2021 hingga 2025. Pada Maret 2021, total pengeluaran
     per kapita tercatat Rp1.264.590 dan meningkat konsisten setiap tahunnya hingga mencapai
     Rp1.569.088 pada Maret 2025. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan, dari
     Rp622.845 pada 2021 menjadi Rp775.516 pada 2025. Namun demikian, pengeluaran non-
     makanan juga tumbuh cukup signifikan, dari Rp641.744 pada 2021 menjadi Rp793.572 pada

                                                                                Business Valuation Unit
                                               49                                                Jakarta
Page 67
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     2025, sehingga struktur konsumsi masyarakat pada Maret 2025 tampak relatif seimbang
     antara makanan (49,42%) dan non-makanan (50,58%).

     Jika diperinci, kelompok pengeluaran makanan dengan kontribusi terbesar adalah makanan
     dan minuman jadi (prepared food and beverage) yang naik dari Rp197.682 (2021) menjadi
     Rp248.501 (2025). Tren ini mencerminkan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap
     makanan instan, praktis, dan produk siap saji. Sementara itu, komoditas lain seperti
     ikan/udang/cumi/kerang juga mengalami lonjakan pengeluaran dari Rp51.514 (2021)
     menjadi Rp61.063 (2025), menandakan meningkatnya konsumsi protein hewani.

     Pada kelompok non-makanan, pengeluaran tertinggi berasal dari perumahan dan fasilitas
     rumah tangga yang mencapai Rp398.657 pada 2025, setara 25,41% dari total pengeluaran.
     Pengeluaran untuk barang tahan lama (durable goods) mengalami peningkatan dari
     Rp58.165 (2021) menjadi Rp63.063 (2025). Sedangkan pengeluaran untuk pajak, pungutan,
     dan asuransi terus meningkat, dari Rp49.589 pada 2021 menjadi Rp64.711 pada 2025, sejalan
     dengan meningkatnya kepatuhan pajak dan penetrasi layanan asuransi.

     Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia tidak
     hanya meningkat secara nominal, tetapi juga mengalami pergeseran pola, khususnya pada
     meningkatnya proporsi makanan jadi serta stabilnya keseimbangan antara pengeluaran
     makanan dan non-makanan.


4.2. Pangsa Pasar

     Sektor perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia memiliki prospek yang sangat
     menjanjikan, terutama seiring dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan ketahanan
     pangan sebagai prioritas utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada
     triwulan II tahun 2025, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,15% (yoy),
     melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini didukung oleh tingginya
     konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,25% dari PDB, menjadikan kebutuhan pangan
     sebagai komponen utama dalam pengeluaran masyarakat. Kondisi ini mempertegas bahwa
     pasar makanan dan minuman merupakan sektor yang stabil dan memiliki potensi ekspansi
     yang besar.

     Penambahan kegiatan usaha melalui 16 KBLI yang terkait dengan perdagangan besar pangan
     meliputi berbagai komoditas utama, mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, minyak nabati,
     hingga produk protein hewani seperti daging, telur, dan susu. Selain itu, terdapat pula produk
     olahan seperti gula, kopi, teh, kakao, minuman non-alkohol, roti, serta kue yang memiliki
     pasar luas baik di tingkat domestik maupun regional. Komoditas pokok memiliki pasar yang
     relatif stabil sepanjang tahun, sementara produk protein hewani menunjukkan tren
     peningkatan konsumsi seiring dengan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Produk
     minuman dan makanan olahan juga semakin berkembang didorong oleh perubahan gaya
     hidup masyarakat urban.

     Dengan jaringan distribusi yang strategis di wilayah Jawa Timur dan Madura, Perseroan
     memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan tersebut. Kehadiran
     OPMS di sektor pangan diharapkan dapat memperkuat rantai pasok distribusi, menyediakan
     kebutuhan masyarakat secara lebih merata, sekaligus membuka potensi kerja sama dengan

                                                                                  Business Valuation Unit
                                               50                                                  Jakarta
Page 68
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     produsen maupun pelaku usaha lokal. Diversifikasi usaha ini tidak hanya mendukung
     keberlanjutan bisnis Perseroan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap program
     ketahanan pangan nasional.


4.3. Kesinambungan (Sustainability)

     Penambahan KBLI pada sektor perdagangan besar makanan dan minuman yang
     direncanakan oleh OPMS merupakan langkah strategis untuk memperkuat kesinambungan
     usaha sekaligus menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pemerintah yang berfokus pada
     ketahanan pangan nasional. Dengan penambahan kegiatan usaha tersebut, OPMS dapat
     menjangkau berbagai segmen pasar yang bersifat kebutuhan pokok dan rutin dikonsumsi
     masyarakat. Hal ini memberikan peluang bagi Perseroan untuk menembus rantai distribusi
     bahan pangan mulai dari komoditas pertanian mentah hingga produk olahan bernilai tambah
     tinggi.

     Pangsa pasar sektor makanan dan minuman di Indonesia saat ini menunjukkan tren yang
     solid. Pertumbuhan sub-sektor makanan dan minuman sebesar 6,15% pada triwulan II 2025
     menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pangan terus meningkat, baik untuk
     konsumsi rumah tangga maupun industri hilir seperti restoran, hotel, dan katering. Produk
     yang tercakup dalam penambahan KBLI tersebut merupakan bagian dari komoditas utama
     yang menopang konsumsi nasional. Dengan kata lain, setiap KBLI yang ditambahkan secara
     langsung terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat yang memiliki permintaan stabil dan
     relatif tidak terpengaruh fluktuasi ekonomi.

     Selain itu, keberadaan Perseroan di wilayah Madura memberikan keunggulan tersendiri.
     Wilayah ini masih dalam tahap pengembangan sehingga kebutuhan distribusi bahan makanan
     dan minuman diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk,
     urbanisasi, dan peningkatan infrastruktur pendukung logistik. Hal ini membuka peluang bagi
     OPMS untuk menjadi salah satu distributor utama di kawasan regional, sekaligus
     memperkuat jaringan distribusi nasional.

     Dengan diversifikasi KBLI ini, OPMS tidak hanya memperluas jangkauan usaha tetapi juga
     mengurangi ketergantungan pada industri logam yang saat ini mengalami tren penurunan.
     Penambahan KBLI di sektor perdagangan makanan dan minuman diproyeksikan akan
     menciptakan kesinambungan usaha, memperluas basis pendapatan, serta meningkatkan daya
     saing Perseroan dalam rantai pasok pangan nasional. Langkah ini juga selaras dengan visi
     pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekspor ke
     pasar internasional yang semakin terbuka terhadap produk pangan olahan Indonesia.


4.4. Potensi Pasar

     Industri makanan dan minuman di Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar dan
     prospektif, didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,
     serta perubahan gaya hidup yang semakin modern. Sebagai salah satu sektor dengan
     kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) non-migas, industri ini menjadi
     motor penggerak penting dalam perekonomian nasional.


                                                                               Business Valuation Unit
                                             51                                                 Jakarta
Page 69
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Konsumsi masyarakat terhadap produk makanan dan minuman terus menunjukkan tren
     positif, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan produk yang praktis, higienis, dan
     berkualitas. Mobilitas masyarakat yang tinggi, berkembangnya sektor pariwisata, serta
     meningkatnya frekuensi perayaan hari besar keagamaan dan tradisi kuliner juga turut
     mendorong peningkatan permintaan di sektor ini. Selain itu, perkembangan kanal distribusi
     modern seperti e-commerce dan layanan pesan antar makanan memberikan peluang besar
     bagi produsen untuk memperluas jangkauan pasar.

     Dukungan pemerintah melalui kebijakan ketahanan pangan, investasi di sektor hilir
     pertanian, serta peningkatan ekspor produk olahan juga memperkuat daya saing industri
     makanan dan minuman Indonesia. Hal ini menjadikan industri ini tidak hanya memiliki
     prospek cerah di pasar domestik, tetapi juga peluang ekspor yang signifikan ke berbagai
     negara. Dengan tren konsumsi yang terus meningkat, diversifikasi produk yang semakin luas,
     serta dukungan infrastruktur logistik dan distribusi yang semakin baik, industri makanan dan
     minuman diproyeksikan akan tetap tumbuh stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.


4.5. Sasaran

     Sasaran utama pada aspek pasar dari rencana penambahan kegiatan usaha OPMS adalah
     menangkap peluang pertumbuhan di sektor perdagangan besar makanan dan minuman yang
     tengah berkembang pesat sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat
     ketahanan pangan nasional. Dengan pergeseran prioritas pembangunan dari infrastruktur ke
     pangan, Perseroan menargetkan untuk berperan aktif dalam rantai distribusi kebutuhan
     pokok masyarakat, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur yang memiliki potensi
     pasar besar namun belum sepenuhnya terlayani oleh jaringan distribusi modern.

     Melalui diversifikasi ini, Perseroan bertujuan memperluas segmen pelanggan dengan
     menyasar pasar ritel modern, pasar tradisional, sektor horeca (hotel, restoran, catering),
     hingga kanal digital melalui platform e-commerce. Sasaran berikutnya adalah memperkuat
     jaringan distribusi yang efisien dan terintegrasi, sehingga mampu menjamin ketersediaan
     produk makanan dan minuman secara berkesinambungan, dengan harga kompetitif dan
     kualitas terjaga.

     Melalui sasaran tersebut, OPMS berharap dapat menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus
     berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan penguatan ekonomi daerah.


4.6. Potensi Nilai Pasar

     Potensi nilai pasar Perseroan dapat digambarkan dengan proyeksi pendapatan. Berdasarkan
     proyeksi yang disusun dengan penambahan kegiatan usaha, potensi nilai pasar Perseroan
     untuk periode tahun 2025 sampai dengan 2030 dapat dilihat pada tabel berikut.

      Figur 41. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Tahun 2025 – 2030
                                                                    (dalam Ribuan Rupiah)
                      Jul-Des        Des          Des          Des          Des           Des
                       2025          2026         2027         2028         2029          2030
       Pendapatan     2.712.701   18.000.000   24.075.000   30.151.875   36.230.672    42.311.439


                                                                                 Business Valuation Unit
                                               52                                                 Jakarta
Page 70
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

4.7.   Pesaing Usaha

       Dalam memasuki sektor perdagangan besar makanan dan minuman, OPMS akan
       menghadapi persaingan yang cukup ketat, terutama dari Perseroan distribusi besar yang telah
       lama beroperasi di wilayah Jawa Timur. Beberapa pesaing utama di antaranya adalah PT
       Subur Mitra Sukses, distributor FMCG berskala besar yang memiliki cabang di Pamekasan,
       Bangkalan, dan sejumlah kota lain di Jawa Timur, serta SMG Group yang mengelola jaringan
       distribusi luas melalui cabang Surabaya, Kediri, Malang, dan Jember, dengan jangkauan
       hingga Madura. Selain itu, terdapat PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yang menjadi
       pemasok produk kebutuhan pokok harian seperti mie instan, biskuit, dan minuman ke
       berbagai kanal distribusi lokal. Tidak hanya Perseroan berskala nasional, OPMS juga akan
       bersaing dengan distributor regional seperti PT Pangan Lestari di Malang dan Surabaya, PT
       Saerah Surya Perkasa sebagai distributor utama produk Nestlé, serta PT Sentralsari
       Primasentosa yang fokus pada distribusi makanan ringan, minuman, dan kebutuhan rumah
       tangga di wilayah Jawa Timur.

       Meskipun demikian, keberadaan pesaing besar tidak serta merta menutup peluang OPMS.
       Fokus pengembangan usaha di wilayah Madura, yang masih relatif terbatas jangkauan
       distribusinya dibandingkan Surabaya dan kota besar lainnya, justru dapat menjadi
       keunggulan kompetitif. Dengan strategi distribusi yang lebih fleksibel, layanan yang adaptif
       terhadap kebutuhan pasar lokal, serta pemanfaatan kanal digital untuk memperluas jaringan,
       OPMS memiliki peluang untuk menempatkan diri sebagai pemain baru yang mampu
       bersaing dan menemukan pasar potensial di sektor ini.


4.8.   Strategi Pemasaran

       Untuk mendukung keberhasilan ekspansi usaha ke sektor perdagangan besar makanan dan
       minuman, OPMS menetapkan strategi pemasaran yang berfokus pada pemahaman pasar
       lokal, penguatan jaringan distribusi, serta pemanfaatan teknologi digital. Strategi ini
       dirancang agar OPMS mampu bersaing dengan Perseroan besar sekaligus memanfaatkan
       peluang pasar di wilayah Madura yang masih terbuka lebar.

       Pertama, OPMS akan mengedepankan strategi penetrasi pasar dengan membangun jaringan
       distribusi yang kuat di wilayah Madura sebagai basis utama, sebelum memperluas jangkauan
       ke daerah Jawa Timur lainnya. Hal ini akan dilakukan melalui kerja sama dengan ritel
       modern, pasar tradisional, serta sektor horeca (hotel, restoran, dan katering), guna
       memastikan produk makanan dan minuman dapat menjangkau berbagai segmen konsumen.
       Kedua, Perseroan akan menerapkan strategi diferensiasi layanan, yaitu dengan memberikan
       sistem distribusi yang cepat, fleksibel, dan tepat waktu, serta menyesuaikan mekanisme
       pembayaran yang ramah terhadap pedagang lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat
       membangun loyalitas pelanggan dan membedakan OPMS dari pesaing yang cenderung
       beroperasi dengan pola standar.

       Ketiga, OPMS akan memanfaatkan pemasaran digital untuk mendukung efektivitas
       distribusi. Melalui platform e-commerce dan aplikasi pesan antar, OPMS dapat memperluas
       jangkauan pasar sekaligus mengoptimalkan promosi produk. Selain itu, pemanfaatan media
       sosial dan kampanye digital akan membantu meningkatkan brand awareness, baik terhadap
       identitas Perseroan maupun produk yang dipasarkan.

                                                                                   Business Valuation Unit
                                                53                                                  Jakarta
Page 71
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       Keempat, OPMS akan mengembangkan kemitraan strategis dengan UMKM lokal sebagai
       pemasok produk unggulan daerah. Strategi ini bukan hanya mendukung pertumbuhan
       ekonomi setempat, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif bagi OPMS melalui
       penyediaan produk unik yang memiliki daya tarik tersendiri di pasar.

       Dengan kombinasi strategi penetrasi pasar, diferensiasi layanan, pemasaran digital, dan
       kemitraan lokal, OPMS diharapkan mampu membangun citra sebagai distributor yang andal,
       adaptif, dan dekat dengan konsumen, sekaligus memperkuat posisi Perseroan dalam industri
       perdagangan besar makanan dan minuman yang prospektif.


4.9.   Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar

       Industri perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan prospek
       pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan, ditopang oleh kontribusi signifikan subsektor ini
       terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta tren konsumsi rumah tangga yang stabil. Data
       BPS menjelaskan bahwa pada triwulan II 2025, industri makanan dan minuman tumbuh
       6,15% (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sementara konsumsi rumah tangga
       masih menjadi salah satu faktor utama dengan kontribusi 54,25% terhadap PDB. Hasil
       Susenas Maret 2025 juga memperlihatkan adanya peningkatan pengeluaran masyarakat
       terhadap makanan dan minuman, khususnya pada produk makanan jadi, menandakan adanya
       pergeseran preferensi konsumsi yang membuka peluang besar bagi sektor distribusi pangan.

       Penambahan kegiatan usaha melalui KBLI terkait perdagangan besar makanan dan minuman
       menjadi langkah strategis OPMS untuk memperluas basis usaha dan menangkap peluang
       pasar yang tengah berkembang. Diversifikasi KBLI ini mencakup komoditas utama (beras,
       sayuran, buah, daging, telur, susu, minyak nabati) hingga produk olahan dan minuman, yang
       secara langsung berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat dan memiliki permintaan
       stabil sepanjang tahun. Dengan jaringan distribusi yang terfokus di wilayah Madura dan Jawa
       Timur, OPMS memiliki peluang distribusi, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan
       regional.

       Dari aspek kesinambungan, langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam
       memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendukung transformasi sektor distribusi
       menuju sistem yang lebih efisien dan terintegrasi. Sementara dari sisi persaingan, meskipun
       terdapat dominasi distributor besar, fokus OPMS pada Madura yang masih relatif terbuka
       serta strategi pemasaran berbasis digital dan kemitraan dengan UMKM lokal memberikan
       keunggulan kompetitif tersendiri.

       Dengan analisis kelayakan pasar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
       Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.




                                                                                  Business Valuation Unit
                                                54                                                 Jakarta
Page 72
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

5.   ASPEK KELAYAKAN TEKNIS

5.1. Produk yang Dijual

      Produk yang dipasarkan oleh Perseroan adalah produk fast moving consumer goods di
      bidang makanan dan minuman yang dihasilkan oleh produsen makanan minuman yang
      sudah tersertifikasi di Indonesia seperti Indofood, Primsfood, Emina Cheese, dan sebagainya.
      Setiap produk yang disalurkan akan dipastikan telah memiliki izin edar resmi dari BPOM,
      label informasi gizi yang sesuai ketentuan, serta sertifikat halal apabila diperuntukkan bagi
      konsumen muslim.

      Dari sisi kualitas, Perseroan berkomitmen untuk menjaga standar keamanan pangan dengan
      menerapkan sistem Good Distribution Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices
      (GMP) pada alur penyimpanan dan distribusi. Produk disimpan pada kondisi yang sesuai
      spesifikasi, seperti suhu ruang untuk produk kering dan suhu dingin tertentu untuk produk
      beku atau olahan segar.

      Selain itu, pengendalian kualitas akan dilakukan secara berkala melalui proses quality
      control di gudang maupun saat pengiriman. Dengan penerapan standar tersebut, Perseroan
      dapat menjamin bahwa produk yang diterima pelanggan tetap dalam kondisi baik, aman, dan
      sesuai dengan standar mutu yang berlaku.

     Figur 42. Produk yang dijual
          Kategori Barang                                    Nama Barang
      Primarasa                 Collins Choco Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Choco Crunchy 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Choco Filling Reg 4 X 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cappucino 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cappucino 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cappucino 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cheese 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cheese 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Cheese 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Dark Chocolate 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Dark Chocolate 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Dark Chocolate 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Matcha 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Matcha 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Matcha 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Milk 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Milk 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Milk 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Strawberry 12 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Strawberry 5Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Strawberry 6 X 1Kg
      Primarasa                 Collins Dip Glaze Taro 12 X 1Kg

                                                                                  Business Valuation Unit
                                               55                                                  Jakarta
Page 73
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         Kategori Barang                                 Nama Barang
      Primarasa               Collins Dip Glaze Taro 5Kg
      Primarasa               Collins Dip Glaze Taro 6 X 1Kg
      Primarasa               Collins Dip Glaze Tiramisu 12 X 1Kg
      Primarasa               Collins Dip Glaze Tiramisu 5Kg
      Primarasa               Collins Dip Glaze Tiramisu 6 X 1Kg
      Primarasa               Donut Dusting Grape 2 X 5Kg
      Primarasa               Donut Dusting Melon 2 X 5Kg
      Primarasa               Donut Dusting Orange 2 X 5Kg
      Primarasa               Donut Dusting Plain 2 X 5Kg
      Primarasa               Donut Dusting Strawberry 2 X 5Kg
      Primarasa               Donut Dusting Vanilla 2 X 5Kg
      Primarasa               Goldenfil Blueberry Jam 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Cheese Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Chocolate Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Green Tea Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Hazelnut Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Matcha Powder 12 X 500gr
      Primarasa               Goldenfil Milk Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Spread Blueberry 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Spread Cheese 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Spread Chocolate 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Spread Hazelnut 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Spread Strawberry 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Strawbery Jam 12 X 1Kg
      Primarasa               Goldenfil Tiramisu Crunchy 12 X 1Kg
      Primarasa               Gulus Gula Halus Crt 20 X 500gr
      Primarasa               Gulus Gula Halus Crt 40 X 250gr
      Primarasa               Minyak Poles Primsfood Grizz 5Kg
      Primarasa               Primsfood Custard Powder 2 X 5Kg
      Primarasa               Primsfood Teng Mien 2 X 5Kg
      Primarasa               TKH Tepung Ketan Hitam 20 X 250gr
      Primarasa               TKH Tepung Ketan Hitam 20 X 500gr
      Indofood                Lafonte Chifferi Rigate 500gr
      Indofood                Lafonte Elbow Macaroni 225gr
      Indofood                Lafonte Fettucine 225gr
      Indofood                Lafonte Fettucine 450gr
      Indofood                Lafonte Fusilli 450gr
      Indofood                Lafonte La Sagna 450gr
      Indofood                Lafonte Long Macaroni 225gr
      Indofood                Lafonte Macaroni Gobetti 225gr
      Indofood                Lafonte Penne Ziti Rigate 450gr
      Indofood                Lafonte Saos Ayam Bolognese 290gr


                                                                       Business Valuation Unit
                                            56                                          Jakarta
Page 74
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         Kategori Barang                                   Nama Barang
      Indofood                Lafonte Saos Pasta Bolognese 315gr
      Indofood                Lafonte Spaghetti 225gr
      Indofood                Lafonte Spaghetti 450gr
      Indofood                Lafonte Spaghetti Saos Ayam 117gr
      Indofood                Lafonte Spaghetti Saos Bolognese 117gr
      Indofood                Lafonte Spiral Macaroni 225gr
      Indofood                Sedani Macaroni Kerang 1Kg
      Indofood                Sedani Macaroni Pipa 1Kg
      Indofood                Sedani Macaroni Spiral 1 Kg
      Indofood                Sedani Pas Spaghetti 1Kg
      Indofood                Lafonte Macaroni Saos Bolognese 117gr
      Indofood                Lafonte Saos Pasta Carbonara 315g
      ICM                     Cincau 1000ml 12x10g
      ICM                     Denata Cocolyche 12x15g
      ICM                     Denata Coconut 12x15g
      ICM                     Denata Cocopandan 12x15g
      ICM                     Ethoz Gold Hijau 12x8g
      ICM                     Ethoz Gold Merah 12x8g
      ICM                     Ethoz Gold Putih 12x8g
      ICM                     Ethoz Jelly Cincau 600ml 12x7g
      ICM                     Ethoz Jelly De Nata 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Blueberry 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Blueberry 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Lecy 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Lecy 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Melon 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Melon 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Orange 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Orange 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Plain 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Plain 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Strawberry 12x10g
      ICM                     Ethoz JelyGar Hemat Strawberry 12x10g (12+1)
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Extra Coklat 12x7g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Extra Hijau 12x7g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Extra Merah 12x7g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Extra Putih 12x7g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Hemat Coklat 12x5g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Hemat Hijau 12x5g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Hemat Merah 12x5g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Hemat Putih 12x5g
      ICM                     Ethoz Lumba-Lumba Super Coklat 12x6g


                                                                             Business Valuation Unit
                                            57                                                Jakarta
Page 75
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         Kategori Barang                                   Nama Barang
      ICM                      Ethoz Lumba-Lumba Super Hijau 12x6g
      ICM                      Ethoz Lumba-Lumba Super Merah 12x6g
      ICM                      Ethoz Lumba-Lumba Super Putih 12x6g
      ICM                      Ethoz Puding Susu Cocopandan Box 6x100g
      ICM                      Ethoz Puding Susu Mango Box 6x100g
      ICM                      Ethoz Puding Susu Mixberry Box 6x100g
      ICM                      Ethoz Puding Susu Vanila Box 6x100g
      ICM                      Kijang Mas Coklat 12x5g
      ICM                      Kijang Mas Hijau 12x5g
      ICM                      Kijang Mas Merah 12x5g
      ICM                      Kijang Mas Putih 12x5g
      Sumo                     Sumo Beras Super Premium Kuning Fortifikasi 3Kg
      Sumo                     Sumo Beras Super Premium Kuning Fortifikasi 5Kg
      Sumo                     Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 10Kg
      Sumo                     Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 3Kg
      Sumo                     Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 5Kg
      Cocomaxi                 New Cocomaxi Junior 1 Krt X 10 Rcg X 10 Pcs
      Oatsy                    Oatsy Oatmeal Instant 200g
      Oatsy                    Oatsy Oatmeal Instant 750g
      Oatsy                    Oatsy Oatmeal Quickcook 200g
      Oatsy                    Oatsy Oatmeal Quickcook 750g
      Emina                    Emina Cheese Shred 8x250 g
     Sumber: Manajemen OPMS


5.2. Kapasitas

     Berdasarkan proyeksi kapasitas penjualan dari tahun 2026 hingga 2030, kapasitas penjualan
     produk FMCG menunjukkan tren peningkatan dari 1.501.502 kg di tahun 2026 menjadi
     3.536.744 di tahun 2030. Meskipun terjadi pertumbuhan kapasitas penjualan setiap tahunnya,
     kapasitas gudang Perseroan seluas 1.150 m2 yang berlokasi di Jalan Suramadu, Madura,
     dinilai masih memadai untuk keseluruhan kebutuhan penyimpanan produk tersebut. Hal ini
     disebabkan oleh karakteristik produk FMCG yang umumnya memiliki perputaran barang
     (inventory turnover) yang cepat, sehingga waktu penyimpanan relatif singkat dan tidak
     menimbulkan penumpukan barang dalam jangka panjang.

     Selain itu, tata kelola gudang yang sudah terorganisasi dengan baik ditambah lokasi yang
     strategis untuk distribusi memungkinkan proses bongkar muat dan pergerakan barang
     berlangsung dengan efisien. Dengan demikian, ketersediaan ruang yang ada dapat
     dimanfaatkan secara optimal untuk mengakomodasi seluruh produk yang diproyeksikan
     dalam rencana penjualan hingga 2030.




                                                                                 Business Valuation Unit
                                             58                                                   Jakarta
Page 76
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 43. Kapasitas Penjualan
        Kategori Produk    Satuan      2026             2027           2028            2029                2030
       Beras Sumo            kg           32.766           44.754        56.137           66.938             77.179
       Primarasa - Selai     kg          499.681          682.492       856.087        1.020.808          1.176.985
       Indofood              kg          188.404          257.333       322.787          384.895            443.781
       ICM                   kg           32.766           44.754        56.137           66.938             77.179
       Coco Maxi             kg           11.468           15.664        19.648           23.428             27.013
       Oatsy                 kg              819            1.119         1.403            1.673              1.929
       Honey Go              kg              819            1.119         1.403            1.673              1.929
       El Organico           kg              819            1.119         1.403            1.673              1.929
       Emina - Keju          kg          116.319          158.875       199.286          237.631            273.987
       King Fisher           kg           24.574           33.565        42.103           50.204             57.885
       Oki - Susu Skm        kg           85.192          116.359       145.956          174.039            200.666
       New Pricipal          kg           65.532           89.507       112.274          133.877            154.359
       New Pricipal          kg           40.957           55.942        70.171           83.673             96.474
       New Pricipal          kg           40.957           55.942        70.171           83.673             96.474
       Cefa Minyak           kg          360.426          492.289       617.505          736.321            848.973
       Jumlah                          1.501.502        2.050.831     2.572.471        3.067.446          3.536.744
     Sumber: Manajemen OPMS


5.3. Volume Penjualan

     Berdasarkan proyeksi dari manajemen, volume penjualan seluruh kategori produk
     menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten sepanjang periode 2026 hingga 2030. Pada
     tahun 2026, total volume penjualan diperkirakan mencapai Rp15 miliar dan meningkat
     menjadi Rp21 miliar pada tahun 2027. Pertumbuhan ini berlanjut pada tahun 2028 sebesar
     Rp27 miliar, kemudian di tahun 2029 mencapai Rp33 miliar, dan pada tahun 2030 volume
     penjualan mencapai Rp39 miliar. Peningkatan tersebut didorong oleh penguatan permintaan
     pada berbagai kategori produk, termasuk beras sumo, primarasa - selai, produk-produk
     indofood, ICM, coc maxi, emina – keju, king fisher, oki susu skm serta lini produk baru dari
     new principal dan cefa minyak. Seluruh kategori menunjukkan pertumbuhan volume
     penjualan yang positif setiap tahunnya.

      Figur 44. Volume Penjualan
                                                                                          (Dalam Rupiah Penuh)
        Kategori Produk         2026             2027              2028               2029                2030
       Beras Sumo             327.332.242      458.265.139       589.198.036         720.130.933        851.063.830
       Primarasa - Selai    4.991.816.694    6.988.543.372     8.985.270.049      10.981.996.727     12.978.723.404
       Indofood             1.882.160.393    2.635.024.550     3.387.888.707       4.140.752.864      4.893.617.021
       ICM                    327.332.242      458.265.139       589.198.036         720.130.933        851.063.830
       Coco Maxi              114.566.285      160.392.799       206.219.313         252.045.827        297.872.340
       Oatsy                    8.183.306       11.456.628        14.729.951          18.003.273         21.276.596
       Honey Go                 8.183.306       11.456.628        14.729.951          18.003.273         21.276.596
       El Organico              8.183.306       11.456.628        14.729.951          18.003.273         21.276.596
       Emina - Keju         1.162.029.460    1.626.841.244     2.091.653.028       2.556.464.812      3.021.276.596
       King Fisher            245.499.182      343.698.854       441.898.527         540.098.200        638.297.872
       Oki - Susu Skm         851.063.830    1.191.489.362     1.531.914.894       1.872.340.426      2.212.765.957
       New Pricipal           654.664.484      916.530.278     1.178.396.072       1.440.261.866      1.702.127.660
       New Pricipal           409.165.303      572.831.424       736.497.545         900.163.666      1.063.829.787
       New Pricipal           409.165.303      572.831.424       736.497.545         900.163.666      1.063.829.787
       Cefa Minyak          3.600.654.664    5.040.916.530     6.481.178.396       7.921.440.262      9.361.702.128
       Jumlah              15.000.000.000   21.000.000.000    27.000.000.000      33.000.000.000     39.000.000.000
     Sumber: Manajemen OPMS


                                                                                         Business Valuation Unit
                                                   59                                                     Jakarta
Page 77
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

5.4. Alur Distribusi

     Alur distribusi di OPMS diawali dari Customer yang mengajukan Purchase Order (PO)
     sesuai kebutuhan barang atau produk. PO ini menjadi dasar proses berikutnya dalam sistem
     distribusi.

     1. PO Customer → OPMS
        Setelah PO diterima, pesanan tersebut akan dicatat dan diproses melalui Order
        Processing Management System. Sistem ini berfungsi untuk mencatat, memverifikasi,
        serta memastikan kelengkapan data pemesanan dari customer sebelum diteruskan ke
        pihak principal atau pabrik.

     2. OPMS → Principal/Factory
        Setelah diverifikasi, pesanan diteruskan ke Principal atau Factory (pabrikan/penyedia
        utama produk). Pada tahap ini, principal atau factory akan menyiapkan barang sesuai
        dengan pesanan yang telah masuk. Proses ini meliputi pengecekan ketersediaan stok,
        penjadwalan produksi (jika barang tidak tersedia), serta persiapan pengiriman ke
        distributor.

     3. Principal/Factory → Warehouse OPMS
        Barang yang sudah disiapkan oleh principal atau factory kemudian dikirimkan dan
        diterima kembali oleh distributor yaitu OPMS. Proses penerimaan ini meliputi
        pemeriksaan kualitas, kuantitas, serta kesesuaian produk dengan PO oleh tim
        gudang/inventory. Kemudian barang yang dipesan oleh customer disiapkan untuk segera
        dikirimkan kepada customer.

     4. OPMS → Customer
        Setelah barang siap, OPMS kemudian melakukan proses pengiriman kepada Customer.
        Pada tahap ini, OPMS mengatur jadwal distribusi, rute pengiriman, serta pencatatan
        bukti serah terima. Customer akan menerima barang sesuai dengan pesanan awal, dan
        proses distribusi dinyatakan selesai setelah konfirmasi penerimaan dilakukan.

     Figur 45. Alur Distribusi


        PO Customer              OPMS       Principal/Factory     OPMS                 Customer




     Sumber: Manajemen OPMS


5.5. Ketersediaan Sumber Daya

     Dalam pelaksanaan penambahan kegiatan usaha, OPMS memakai karyawan lama sebanyak
     4 orang yang sudah berpengalaman dalam manajemen sumber daya manusia dan pengenalan
     wilayah Madura dan sekitarnya. Namun demikian OPMS juga akan melakukan rekrutmen
     sebanyak 4 orang tenaga kerja baru yaitu
      1. Supervisor, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 5 tahun;


                                                                             Business Valuation Unit
                                            60                                                Jakarta
Page 78
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      2. Staf Sales, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 2 tahun;
      3. Staf Gudang, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 2 tahun; dan
      4. Staf Sopir, memiliki pengalaman di bidang pengiriman logistik serta telah memiliki
         lisensi mengemudi khusus untuk kendaraan jenis truk dan pick-up.

     Selanjutnya untuk ketersediaan persediaan produk, OPMS telah menjajaki supplier yaitu
     Indofood, Emina Cheese, Primsfood yang dapat memenuhi kebutuhan dalam pengadaan dan
     pengiriman fast moving consumer goods.


5.6. Timeline Kegiatan Usaha

     Berikut merupakan timeline untuk Penambahan Kegiatan Usaha:

     Figur 46. Timeline Penambahan KBLI
                                  PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
      No.         Kegiatan                          Detail/Keterangan                  Tanggal
                                     Manajemen Perseroan mengadakan rapat
            Meeting Internal         internal      untuk     membahas   rencana
       1                                                                             28 Juli 2025
            Manajemen                penambahan        kegiatan   usaha melalui
                                     perluasan KBLI.
            Proses Penunjukan dan    Melakukan pencarian untuk penunjukan
       2                                                                          01 - 15 Agustus
            Pemilihan KJPP           KJPP terkait Kajian FS Penambahan KBLI
            Proses Laporan Kajian
                                     Penyusunan Laporan Kajian FS Penambahan      19 Agustus - 10
       3    FS oleh KJPP Guntur
                                     KBLI                                          Oktober 2025
            Eki Andri dan Rekan
                                     Konsultasi Studi Kelayakan Final dengan
       4    Finalisasi OJK           KJPP Guntur Eki Andri dan Rekan dan          13 Oktober 2025
                                     finalisasi laporan oleh Manajemen
            Proses Penunjukan dan    Melakukan pencarian untuk penunjukan         15 - 22 Oktober
       5
            Pemilihan Notaris        Notaris                                            2025
                                                                                   01 Desember
       6    RUPSLB                  Perseroan menyelenggarakan RUPSLB
                                                                                        2025
     Sumber: Manajemen OPMS


5.7. Rencana Keberlanjutan

     Dalam jangka panjang, OPMS merencanakan strategi keberlanjutan usaha distribusi
     makanan dan minuman dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial. Dari sisi ekonomi,
     OPMS akan memperkuat rantai pasok dengan menjalin kerja sama strategis bersama
     produsen lokal untuk memastikan kontinuitas pasokan produk yang kompetitif. Perseroan
     juga akan mengembangkan sistem distribusi berbasis digital dan teknologi informasi guna
     meningkatkan efisiensi operasional, transparansi inventori, serta optimalisasi jaringan
     pemasaran.

     Dari sisi sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan kerja baru dan
     meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan distribusi,
     kesehatan pangan, dan pelayanan pelanggan. Selain itu, OPMS akan mendukung program



                                                                                  Business Valuation Unit
                                              61                                                   Jakarta
Page 79
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     pemerintah dalam distribusi pangan sehat serta menjalin kerja sama dengan UMKM lokal
     agar produk mereka dapat masuk ke jaringan distribusi yang lebih luas.

     Dengan penerapan strategi keberlanjutan tersebut, Perseroan tidak hanya berfokus pada
     profitabilitas, tetapi juga pada kontribusi jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi dan
     pemberdayaan masyarakat. Hal ini diharapkan dapat menjadikan Perseroan sebagai
     distributor makanan dan minuman yang berdaya saing, terpercaya, dan berkelanjutan.


5.8. Kesimpulan Analisis Kelayakan Teknis

      Produk yang akan dipasarkan oleh OPMS merupakan fast moving consumer goods (FMCG)
      di bidang makanan dan minuman yang diproduksi oleh produsen terpercaya seperti Indofood,
      Primsfood, dan Emina Cheese. Seluruh produk yang didistribusikan telah memenuhi
      persyaratan regulasi, meliputi izin edar dari BPOM, pencantuman informasi gizi sesuai
      ketentuan, serta sertifikat halal bagi produk yang ditujukan untuk konsumen muslim. Untuk
      menjaga kualitas, OPMS menerapkan standar keamanan pangan melalui Good Distribution
      Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), termasuk pengendalian
      kualitas berkala pada tahap penyimpanan dan distribusi.

      Berdasarkan proyeksi peningkatan kapasitas penjualan produk FMCG dari tahun 2026
      hingga tahun 2030, kapasitas gudang Perseroan dengan luas 1.150 m2 masih dinilai memadai
      untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan. Karakteristik produk FMCG yang memiliki
      perputaran persediaan cepat, ditunjang dengan tata kelola gudang yang tertata dan efisien,
      memungkinkan pemanfaatan ruang secara optimal tanpa menimbulkan penumpukan barang.
      Dengan demikian, kapasitas gudang yang tersedia dianggap cukup untuk mengakomodasi
      seluruh proyeksi kapasitas penjualan hingga akhir periode proyeksi tahun 2030.

      Volume penjualan seluruh kategori produk mengalami pertumbuhan yang stabil dan
      berkelanjutan sepanjang 2026 - 2030. Nilai penjualan meningkat dari Rp15 miliar pada 2026
      menjadi Rp39 miliar pada 2030, mencerminkan peningkatan permintaan yang kuat di
      seluruh lini produk, termasuk kategori utama serta produk dari principal baru. Konsistensi
      pertumbuhan ini menegaskan prospek pasar yang positif dan mendukung kelayakan ekspansi
      usaha dalam periode proyeksi.

      Alur distribusi Perseroan dilaksanakan secara terstruktur dimulai dari penerimaan Purchase
      Order (PO) customer, verifikasi oleh OPMS, pemesanan ke principal atau pabrik,
      penerimaan barang dari principal atau pabrik dan pengecekan barang di gudang, hingga
      pengiriman akhir kepada customer. Mekanisme ini memastikan bahwa produk diterima
      pelanggan dalam kondisi baik, sesuai dengan pesanan, serta terdokumentasi dengan bukti
      serah terima yang sah.

      Dalam rangka mendukung penambahan kegiatan usaha, Perseroan mengoptimalkan sumber
      daya internal dengan memanfaatkan tenaga kerja berpengalaman sekaligus melakukan
      rekrutmen tambahan untuk supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Dari sisi
      pengadaan, Perseroan telah menjalin kerja sama dengan pemasok utama seperti Indofood,
      Primsfood, dan Emina Cheese guna menjamin ketersediaan produk.



                                                                                Business Valuation Unit
                                              62                                                 Jakarta
Page 80
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      Ke depan, strategi keberlanjutan Perseroan diarahkan pada penguatan rantai pasok,
      pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem distribusi, serta peningkatan efisiensi
      operasional. Dari perspektif sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan
      kerja, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan, serta
      mendukung pengembangan UMKM dan distribusi pangan sehat sesuai dengan program
      pemerintah. Dengan demikian, Perseroan diproyeksikan mampu menjadi distributor
      makanan dan minuman yang kompetitif, terpercaya, serta berkontribusi terhadap
      pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

     Dengan analisis kelayakan teknis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
     Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.




                                                                            Business Valuation Unit
                                            63                                               Jakarta
Page 81
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

6.   ASPEK KELAYAKAN POLA BISNIS

6.1. Kegiatan Usaha Utama dan Penunjang

     Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, maksud dan tujuan Perseroan bergerak dalam
     bidang Perdagangan. Pada saat ini Perseroan melakukan kegiatan usaha utama yaitu sebagai
     berikut:
     a. KBLI 46696 – Perdagangan Besar Barang Bekas Dan Sisa sisa Tak Terpakai (Scrap)
        Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar barangbekas dan sisa-sisa tak terpakai
        dan potongan logam dan non-logam bahan untuk daur ulang, termasuk pengumpulan,
        pengurutan, pemisahan, pelepasan barang yang masih berguna misalnya mobil agar
        mendapatkanbagian yang masih bisa digunakan, pengepakan dan pengepakan kembali,
        penyimpanan dan pengiriman, tapitanpa proses perubahan yang nyata. Dimana
        pembelian dan penjualan barang sisaan masih mempunyai nilai.

     Perseroan juga melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu sebagai berikut:
     a. KBLI 38301 – Pemulihan Material Barang Logam
        Kelompok ini mencakup usaha pengolahan barang bekasdari logam dan sisa-sisa barang
        logam menjadi bahan baku sekunder. Hasil dari daur ulang/pemulihan material barang
        logam adalah bahan baku sekunder berbagai bentuk seperti potongan-potongan atau
        serpihan logam dan lainnya. Kegiatan pada kelompok ini mencakup pemisahan dan
        pemilihan sampah logam, penghancuran secara mekanik sampah logam, reduksi
        mekanik sampah logam, pembongkaran, pemotongan dan pengirisan sampah logam,
        pemotongan kapal dan alat apung lainnya (ship breaking)dan lainnya. Pembuatan barang
        logam baru yang menggunakan bahan baku sekunder, barang logam bekas dan sisa-sisa
        barang logam dimasukkan dalam kelompok industri yang sesuai.
     b. KBLI 46592 - Perdagangan Besar Alat Transportasi Laut, Suku Cadang Dan
        Perlengkapannya
        Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar macam – macam alat transportasi laut
        bermotor ataupun tidak bermotor, termasuk usaha perdagangan besar macam – macam
        suku cadang dan perlengkapannya.
     c. KBLI 46593 – Perdagangan Besar Alat Transportasi Darat (Bukan Mobil, Sepeda Motor,
        Dan Sejenisnya), Suku Cadang Dan Perlengkapannya
        Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar macam – macam alat transportasi
        darat, bermotor ataupun tidak bermotor (bukan mobil, sepeda motor dan sejenisnya),
        termasuk usaha perdagangan besar macam – macam suku cadang dan perlengkapannya.
     d. KBLI 46620 - Perdagangan Besar Logam Dan Bijih Logam
        Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar bijih logam dan logam dasar, seperti
        bijih besi dan bijih bukan besi dalam bentuk dasar, seperti bijih nikel, bijih tembaga,
        alumunium, besi, baja dan perdagangan besar produk logam besi dan bukan besi
        setengah jadi ytdl dan lain lainnya. Termasuk perdagangan besar emas dan logam mulia
        lain (perak, platina).



                                                                                Business Valuation Unit
                                             64                                                  Jakarta
Page 82
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     e. KBLI 46631 – Perdagangan Besar Barang Logam Untuk Bahan Konstruksi
        Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar berbagai macam baja/besi untuk
        bahan konstruksi seperti baja tulangan, baja profil, pelat baja, dan baja lembaran, pipa
        besi/baja, kawat tali, kawat nyamuk, paku, mur/baut, engsel, gerendel, kunci, anak kunci,
        tangki air, menara air, rolling door, awning dan seng lembaran.
     f. KBLI 77399 – Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin,
        Peralatan dan Barang Berwujud Lainnya YTDL
        Kelompok ini mencakup kegiatan penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi
        (operational leasing) mesin, peralatan dan barang berwujud ytdl dalam subgolongan
        7730 yang secara umum digunakan sebagai barang modal, seperti kontainer untuk tempat
        tinggal atau kantor, palet (alat pengangkat kontainer) dan sejenisnya. Termasuk
        penyewaan alat pemindaian bagasi dengan sumber radiasi pengion dan penyewaan
        hewan ternak, kuda pacu dan sejenisnya.


6.2. Entitas Anak

      Sampai dengan Periode 30 Juni 2025, OPMS tidak memiliki entitas anak.


6.3. Penambahan Kegiatan Usaha

     Figur 47. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS
       No.                         Nama KBLI                                Kode KBLI
        1    Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula                 46331
        2    Perdagangan besar kopi, teh dan kakao                            46314
        3    Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
                                                                               46319
             pertanian lainnya
        4    Perdagangan besar buah-buahan                                     46312
        5    Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur                    46325
        6    Perdagangan besar susu dan produk susu                            46326
        7    Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu                  46334
        8    Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya                     46339
        9    Perdagangan besar beras                                           46311
        10   Perdagangan besar sayuran                                         46313
        11   Perdagangan besar minyak dan lemak nabati                         46315
        12   Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan              46322
        13   Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan
                                                                               47242
             sejenisnya
        14   Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan              46321
        15   Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya                46323
        16   Perdagangan besar produk roti                                     46332
      Sumber: Manajemen OPMS




                                                                                 Business Valuation Unit
                                                65                                                Jakarta
Page 83
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Adapun penjelasan secara rinci terkait KBLI penambahan usaha sebagai berikut:

     • KBLI 46331 – Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar gula, coklat, kembang gula dan sediaan
       pemanis.
     • KBLI 46314 – Perdagangan besar kopi, teh dan kakao:
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar kopi, the dan kakao
     • KBLI 46319 – Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
       pertanian lainnnya, seperti tanaman bumbu – bumbuan dan rempah – rempah
     • KBLI 46312 – Perdagangan besar Buah – buahan
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar buah – buahan untuk digunakan
       sebagai konsumsi akhir, seperti jeruk, apel, pear, mangga, dan buah lainnya.
     • KBLI 46325 – Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
     • KBLI 46326 – Perdagangan besar susu dan produk susu
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar susu dan produk susu
     • KBLI 46334 – Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar minuman non alkohol, seperti sari
       buah, jus, minuman ringan, air mineral, air kemasan, dan produk sejenis lainnya.
     • KBLI 46339 – Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar makanan dan minuman lainnya, seperti
       tepung beras, tepung tapioka, premiks bakeri, karamel, madu olahan, kerupuk udang dan
       lain-lain. Termasuk pangan untuk keperluan gizi khusus (untuk bayi, anak, dan dewasa),
       bahan tambahan pangan (food additive), bahan penolong (processing aid), makanan
       ringan lainnya, serealia dan produk berbasis serealia yang belum diolah maupun telah
       diolah, minuman produk kedelai, makanan siap saji, serta perdagangan besar makanan
       untuk hewan piaraan dan makanan ternak.
     • KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar beras untuk digunakan sebagai
       konsumsi akhir
     • KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar sayur – sayuran untuk digunakan
       sebagai konsumsi akhir, seperti bayam, kangkong, kol, dan sayuran lainnya
     • KBLI 46315 – Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati, termasuk
       margarin serta produk berbahan dasar lemak nabati seperti non – dairy cream, dan produk
       sejenis lainnya.
     • KBLI 46322 – Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
       Kelompok ini mencakupo usaha perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan,
       termasuk daging ayam yang diawatkan
     • KBLI 47242 – Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus berbagai jenis roti, kue kering
       dan kue basah di dalam bangunan, seperti roti manis, roti tawar, bolu, cake/tart, biskuit,
       wafer, kue semprong dan cookies.
     • KBLI 46321 – Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan,
       termasuk daging sapi yang diawetkan

                                                                                 Business Valuation Unit
                                              66                                                  Jakarta
Page 84
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     • KBLI 46323 – Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya,
       termasuk daging lainnya yang diawetkan
     • KBLI 46332 – Perdagangan Besar Produk Roti
       Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar produk roti, kue, dan bakeri lainnya.


6.4. Keunggulan Kompetitif

     OPMS meyakini bahwa diversifikasi usaha ke sektor distribusi makanan dan minuman akan
     memperkuat daya saing sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru di tengah
     menurunnya industri logam. Keunggulan kompetitif ini akan menjadi fondasi bagi OPMS
     dalam mengembangkan lini bisnis di sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan
     distribusi pangan strategis. Berikut adalah keunggulan kompetitif utama OPMS:

     • Pengalaman dan Reputasi di Industri Logam sebagai Basis Diversifikasi
       OPMS telah beroperasi lebih dari satu dekade dalam perdagangan logam, yang
       membutuhkan ketelitian manajemen rantai pasok, hubungan dengan berbagai mitra
       industri, serta adaptasi terhadap dinamika pasar global. Pengalaman ini menjadi modal
       berharga dalam membangun jaringan distribusi pangan yang juga menuntut efisiensi
       logistik, transparansi, dan kepercayaan dari pelanggan.

     • Potensi Pasar Pangan yang Stabil dan Berkembang
       Sektor makanan dan minuman merupakan penyumbang utama PDB Indonesia dan
       tergolong kebutuhan pokok yang permintaannya relatif stabil. Dengan fokus pada
       perdagangan besar beras, gula, daging, susu, kopi, dan produk turunannya, OPMS
       memasuki pasar yang memiliki prospek jangka panjang, baik dalam situasi ekonomi
       tumbuh maupun melambat.

     • Dukungan Kebijakan Pemerintah terhadap Ketahanan Pangan
       Diversifikasi usaha OPMS selaras dengan prioritas pemerintah periode 2024–2029 yang
       menitikberatkan pada program pangan nasional, seperti Makan Siang Gratis, penguatan
       lumbung pangan, dan pengurangan impor bahan pokok. Arah kebijakan ini akan
       memperkuat daya serap pasar domestik dan membuka peluang sinergi OPMS dalam rantai
       distribusi pangan nasional.

     • Peluang Pasar Regional di Madura dan Kawasan Berkembang
       Lokasi OPMS di Madura memberikan keunggulan strategis karena wilayah ini masih
       dalam tahap pengembangan ekonomi. Dengan masuk ke sektor distribusi pangan, OPMS
       berpotensi menjadi pemain utama dalam penyediaan bahan makanan pokok di Madura
       sekaligus menjangkau pasar Jawa Timur dan wilayah potensial lain di Indonesia bagian
       timur.




                                                                            Business Valuation Unit
                                            67                                               Jakarta
Page 85
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     • Portofolio Produk yang Terdiversifikasi melalui Penambahan KBLI
       Dengan penambahan KBLI pada berbagai komoditas pangan (beras, kopi, teh, gula,
       minyak nabati, daging, susu, hingga produk roti), OPMS tidak bergantung pada satu jenis
       produk saja. Diversifikasi ini meningkatkan ketahanan bisnis terhadap fluktuasi
       permintaan atau harga pada salah satu komoditas tertentu.

     • Kapasitas Operasional dan Infrastruktur yang Adaptif
       Berbekal infrastruktur logistik dari bisnis logam, OPMS dapat menyesuaikan sistem
       manajemen distribusi untuk kebutuhan pangan. Kapasitas gudang, transportasi, serta
       manajemen inventori yang telah terbangun dapat dioptimalkan dan disesuaikan untuk
       distribusi makanan dan minuman, sehingga mempercepat transisi usaha baru.

     • Kontribusi terhadap Perekonomian Daerah dan Nasional
       Ekspansi ke sektor distribusi pangan tidak hanya memperkuat posisi OPMS, tetapi juga
       memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan daerah, menciptakan lapangan
       kerja baru, serta memperluas basis ekonomi masyarakat di wilayah Madura dan
       sekitarnya.


6.5. Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk

     Secara prinsip, kegiatan usaha yang dijalankan oleh PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
     (OPMS) pada sektor perdagangan besar pangan dan produk turunannya memang berpotensi
     untuk ditiru oleh para pesaing. Namun demikian, terdapat sejumlah hambatan yang
     menjadikan proses imitasi tidak mudah dilakukan secara efektif maupun berkelanjutan.

     Pada lini usaha perdagangan besar komoditas pangan pokok (beras, gula, daging, susu,
     minyak nabati, serta produk sejenis lainnya), faktor penghambat utama terletak pada akses
     terhadap jaringan pasok dan tingkat kepercayaan mitra dagang. OPMS telah
     mengembangkan pengalaman manajerial dalam mengelola rantai pasok industri logam, yang
     menuntut stabilitas suplai, ketepatan distribusi, dan hubungan kontraktual jangka panjang.
     Kapabilitas ini menjadi modal signifikan dalam memastikan ketersediaan barang, konsistensi
     mutu, serta kepastian harga di sektor pangan. Pesaing baru pada umumnya akan menghadapi
     kesulitan dalam memperoleh pasokan dari pemasok utama maupun dalam membangun
     kredibilitas distribusi yang setara.

     Pada lini usaha perdagangan eceran dan besar produk olahan pangan (seperti roti, kue kering,
     kue basah, serta makanan olahan lainnya), tantangan imitasi terletak pada penguasaan
     infrastruktur logistik dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan. Pengelolaan rantai
     distribusi yang menuntut kecepatan, ketersediaan sistem cold chain, serta penerapan quality
     control berlapis tidak mudah direplikasi oleh pelaku baru. Dengan demikian, meskipun
     model produk yang dipasarkan relatif serupa, keunggulan operasional OPMS pada aspek
     distribusi, pengendalian mutu, dan manajemen logistik menjadi faktor pembeda yang sulit
     disamai.




                                                                                 Business Valuation Unit
                                              68                                                  Jakarta
Page 86
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Selain itu, keberadaan OPMS di wilayah Madura memberikan keunggulan first mover
     advantage. Sebagai wilayah dengan potensi ekonomi yang sedang berkembang, kehadiran
     OPMS lebih awal dalam menggarap sektor distribusi pangan memungkinkan Perseroan
     membangun hubungan strategis dengan pemerintah daerah, pedagang besar, serta jaringan
     distribusi lokal. Kondisi ini menjadikan pesaing yang baru masuk pasar menghadapi
     hambatan berupa tingginya biaya penetrasi serta kesulitan dalam merebut pangsa pasar yang
     telah dikuasai OPMS.

     Secara teoretis kegiatan usaha OPMS dalam sektor distribusi pangan dapat ditiru, namun
     hambatan dalam aspek efisiensi, efektivitas, dan daya saing menjadikan upaya pesaing sulit
     diwujudkan secara optimal. Kondisi tersebut menempatkan OPMS pada posisi kompetitif
     yang kokoh untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan pangsa pasar di sektor
     distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods (FMCG).


6.6. Kemampuan Untuk Menciptakan nilai

     Kemampuan OPMS dalam menciptakan nilai melalui penambahan kegiatan usaha tercermin
     dari fokus Perseroan pada sektor distribusi pangan pokok dan produk Fast Moving Consumer
     Goods (FMCG). Masuknya OPMS ke dalam perdagangan besar beras, gula, minyak nabati,
     daging, susu, kopi, teh, serta produk olahan pangan dan minuman memberikan nilai strategis
     yang sejalan dengan kebutuhan dasar masyarakat dan prioritas pemerintah dalam
     memperkuat ketahanan pangan nasional. Nilai tambah tercipta melalui penyediaan produk
     yang stabil dari sisi ketersediaan, terjamin dari sisi mutu, serta kompetitif dari sisi harga,
     yang pada akhirnya mendukung keterjangkauan pangan bagi konsumen.

     Selain itu, pengembangan usaha di bidang FMCG membuka peluang pertumbuhan yang
     berkelanjutan karena sektor ini memiliki permintaan yang relatif stabil dan terus meningkat.
     OPMS berperan tidak hanya sebagai penyedia produk, tetapi juga sebagai bagian dari rantai
     distribusi yang menjamin kecepatan, higienitas, dan efisiensi pasokan hingga ke tingkat ritel
     modern maupun tradisional. Kehadiran OPMS di wilayah Madura yang sedang berkembang
     juga memperkuat kontribusinya dalam meningkatkan akses pangan masyarakat sekaligus
     menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian daerah.

     Dengan strategi diversifikasi ini, OPMS tidak hanya memperluas portofolio usaha, tetapi
     juga memperkuat posisinya sebagai Perseroan yang adaptif terhadap perubahan arah
     pembangunan nasional. Kemampuan untuk menjembatani kebutuhan dasar masyarakat
     melalui distribusi pangan dan FMCG menjadikan OPMS sebagai pelaku usaha yang
     berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi, sosial, sekaligus keberlanjutan jangka panjang.


6.7. Analisis Risiko

     Seperti halnya kegiatan usaha yang dilakukan oleh Perseroan lainnya, penambahan kegiatan
     usaha yang akan dilaksanakan oleh OPMS di bidang FCMG tidak terlepas dari risiko usaha
     yang disebabkan oleh berbagai faktor yang akhirnya dapat mempengaruhi tingkat
     pertumbuhan dan kesehatan bisnis. Risiko-risiko tersebut antara lain:



                                                                                  Business Valuation Unit
                                               69                                                  Jakarta
Page 87
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     • Risiko Persaingan Pasar
       Industri distribusi pangan dan fast-moving consumer goods (FMCG) memiliki tingkat
       kompetisi yang sangat tinggi, dengan keberadaan pelaku usaha besar yang telah
       menguasai jaringan distribusi secara luas serta memiliki efisiensi operasional yang mapan.
       Di sisi lain, distributor lokal juga memiliki keunggulan dari sisi kedekatan dengan
       konsumen. Kondisi tersebut menimbulkan risiko berupa tekanan harga, margin
       keuntungan yang semakin menipis, serta perlunya strategi diferensiasi yang jelas agar
       OPMS dapat mempertahankan daya saingnya.

     • Risiko Rantai Pasok
       Keberlangsungan kegiatan distribusi sangat bergantung pada stabilitas pasokan. Fluktuasi
       harga komoditas, keterbatasan kapasitas transportasi, gangguan akibat faktor cuaca
       ekstrem, maupun perubahan kebijakan impor-ekspor berpotensi mengganggu kelancaran
       rantai pasok. Hambatan tersebut dapat meningkatkan biaya logistik dan menurunkan
       keandalan layanan kepada pelanggan, sehingga berdampak pada reputasi Perseroan.

     • Risiko Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
       Sektor pangan merupakan salah satu sektor strategis yang diawasi ketat oleh pemerintah.
       Perubahan regulasi mengenai harga eceran tertinggi (HET), standar keamanan pangan,
       sertifikasi produk, hingga kebijakan perdagangan dapat memengaruhi fleksibilitas
       operasional serta menambah beban kepatuhan bagi OPMS. Risiko ini menjadi semakin
       relevan mengingat kebijakan pemerintah dalam sektor pangan sering kali bersifat dinamis
       dan responsif terhadap kondisi pasar.

     • Risiko Operasional dan Logistik
       Distribusi pangan dan FMCG memerlukan sistem operasional yang terintegrasi dan
       efisien, mulai dari pengelolaan gudang dan transportasi. Kegagalan dalam mengelola
       aspek-aspek tersebut dapat berakibat pada penurunan kualitas produk, keterlambatan
       distribusi, maupun potensi sengketa hukum, yang pada akhirnya dapat menurunkan
       tingkat kepercayaan pelanggan.

     • Risiko Perubahan Perilaku Konsumen
       Preferensi konsumen terhadap produk pangan dan FMCG terus mengalami
       perkembangan, antara lain meningkatnya minat terhadap produk yang lebih sehat, ramah
       lingkungan, serta distribusi melalui kanal digital dan e-commerce. Perubahan perilaku ini
       menuntut OPMS untuk senantiasa menyesuaikan strategi pemasaran, pola distribusi, serta
       portofolio produknya agar tetap relevan dan kompetitif di pasar.


6.8. Analisis SWOT

     Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal yang
     bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol. Kedua sisi

                                                                                 Business Valuation Unit
                                              70                                                  Jakarta
Page 88
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan mempunyai
     daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan (strength and
     weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan ancaman (opportunity and
     threat).

     Strategi penambahan kegiatan usaha dilakukan dengan membuat SWOT matriks. SWOT
     matriks ini dibangun berdasarkan faktor-faktor strategi, baik internal (kekuatan dan
     kelemahan) maupun eksternal (peluang dan ancaman). Berdasarkan matriks posisi analisis
     SWOT yang ada maka dapat disusun 4 (empat) strategi utama, yaitu Strengths –
     Opportunities (S – O), Weakness – Opportunity (W – O), Stregth – Threat (S – T), dan
     Weaknes – Threat (W – T).

     Figur 48. Analisis SWOT
                                                 Kekuatan / Strength             Kelemahan (Weakness)
                                           •   Reputasi dan pengalaman        • Reputasi Perseroan masih
                                               dalam industri logam.            sangat melekat pada industri
                                           •   Lokasi Perseroan di Madura       logam, sehingga perlu
                                               memberi peluang penetrasi        penyesuaian citra agar
                                               pasar baru di wilayah yang       diterima di sektor
                                               sedang berkembang.               pangan/FMCG.
               Faktor Internal
                                           •   Dukungan tren nasional:        • Potensi biaya operasional
              Faktor Eksternal
                                               pangan/FMCG sebagai              meningkat seiring perluasan
                                               kebutuhan pokok dan              jaringan distribusi.
                                               kontributor penting PDB.       • Risiko manajemen yang lebih
                                                                                kompleks akibat diversifikasi
                                                                                usaha ke sektor berbeda
                                                                                dengan karakteristik
                                                                                operasional yang tidak sama.
            Peluang / Opportunity                   Strategi (“SO”)                   Strategi (“WO”)
      •   Kebijakan pemerintah periode     •   Optimalisasi jaringan          • Pengembangan kompetensi
          2024–2029 yang berfokus              distribusi logam yang sudah      SDM melalui pelatihan
          pada ketahanan pangan, seperti       ada untuk memperluas             logistik pangan dan
          program Makan Bergizi Gratis         penetrasi ke sektor makanan      manajemen FMCG, sejalan
          dan peningkatan produksi             dan minuman, khususnya di        dengan meningkatnya peluang
          pangan nasional.                     Madura dan daerah                di sektor ketahanan pangan.
      •   Tingginya permintaan pangan          berkembang.                    • Membangun kemitraan
          dan minuman yang bersifat        •   Kolaborasi dengan produsen       strategis dengan pelaku
          kebutuhan pokok dan                  pangan lokal untuk               FMCG yang lebih
          berulang, sehingga menjamin          mendukung kebijakan              berpengalaman, sehingga
          pasar yang stabil.                   ketahanan pangan                 OPMS bisa mempercepat
      •   Potensi pertumbuhan pasar di         pemerintah sekaligus             adaptasi di sektor baru.
          Madura dan daerah sekitarnya         memperkuat pasokan produk.
          yang sedang berkembang dan       •   Memperluas pangsa pasar
          relatif belum banyak pemain          melalui sinergi dengan mitra
          besar.                               distribusi nasional dan
      •   Perubahan pola konsumsi              potensi ekspor
          masyarakat ke arah produk
          sehat, praktis, dan distribusi
          digital membuka peluang
          inovasi model bisnis.
               Ancaman / Threat                     Strategi (“ST”)                    Strategi (“WT”)
      •   Persaingan ketat dari            •   Mengoptimalkan lokasi          •   Menyusun roadmap
          distributor besar FMCG               strategis di Madura untuk          transformasi bisnis secara
          nasional maupun lokal yang           membangun basis pasar              bertahap dengan pengendalian
          sudah mapan dengan jaringan          regional yang relatif belum
                                                                                  yang terukur, sehingga
          luas.                                padat pemain, sehingga dapat


                                                                                             Business Valuation Unit
                                                     71                                                       Jakarta
Page 89
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      •   Fluktuasi harga bahan pangan         mengurangi tekanan dari             diversifikasi lintas sektor
          global dan ketergantungan            distributor besar nasional.         dapat dikelola secara efektif
          pada rantai pasok yang rawan     •   Diversifikasi portofolio            tanpa menimbulkan beban
          terganggu (cuaca, kebijakan          produk pangan (beras,               berlebih bagi manajemen.
          impor-ekspor, dll).                  sayuran, daging, minuman,
                                                                               •   Menerapkan sistem
      •   Regulasi ketat di bidang             dsb.) untuk mengurangi
          pangan terkait keamanan,             risiko fluktuasi harga bahan        manajemen risiko pangan
          sertifikasi, HET (Harga Eceran       tertentu.                           yang komprehensif guna
          Tertinggi), yang dapat           •   Menggunakan pengalaman              memastikan kepatuhan
          menekan fleksibilitas usaha.         manajemen distribusi logam          terhadap regulasi, menjaga
      •   Risiko perubahan preferensi          untuk membangun sistem              standar keamanan pangan
          konsumen yang cepat serta            efisiensi biaya yang mampu
                                                                               •   Melakukan efisiensi biaya
          tekanan produk impor dengan          bersaing dengan distributor
          harga lebih rendah.                  mapan.                              operasional melalui
                                           •   Mengembangkan kemitraan             digitalisasi proses distribusi,
                                               dengan pemerintah daerah            termasuk penerapan sistem
                                               dan koperasi petani, sehingga       yang terintegrasi
                                               rantai pasok lebih stabil dan   •   Membangun dan memperkuat
                                               risiko gangguan dapat               brand awareness sejak awal,
                                               ditekan.
                                                                                   sehingga keberadaan
                                                                                   Perseroan di sektor FMCG
                                                                                   tidak hanya dipersepsikan
                                                                                   sebagai pendatang baru, tetapi
                                                                                   juga memiliki posisi yang
                                                                                   jelas dan kredibel di pasar.




6.9. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pola Bisnis

     Diversifikasi usaha OPMS ke sektor distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods
     (FMCG) diharapkan dapat menciptakan nilai tambah melalui perluasan sumber pendapatan,
     pengurangan ketergantungan pada industri logam, serta pemanfaatan peluang pasar
     kebutuhan pokok yang lebih stabil. Dengan dukungan infrastruktur dan pengalaman dalam
     perdagangan besar, OPMS berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus
     memperkuat posisinya dalam ekosistem distribusi pangan nasional.

     Namun demikian, diversifikasi ini juga mengandung risiko, mulai dari kepatuhan regulasi
     keamanan pangan yang ketat, persaingan dengan pemain besar yang sudah mapan hingga
     risiko perubahan perilaku konsumen. Risiko keuangan dapat timbul jika investasi awal dan
     biaya operasional tidak seimbang dengan pendapatan. Oleh karena itu, penerapan sistem
     manajemen risiko yang komprehensif dan pengelolaan operasional berbasis teknologi
     informasi menjadi salah satu hal yang penting.

     Keunggulan kompetitif Perseroan terletak pada kemampuan adaptasi dan diversifikasi bisnis
     dari sektor logam ke sektor distribusi makanan dan minuman dengan memanfaatkan
     infrastruktur logistik, jaringan distribusi, serta pengalaman manajemen rantai pasok yang
     telah terbangun. Pola bisnis Perseroan bersifat integratif dan adaptif, yaitu mengoptimalkan
     aset dan sistem distribusi eksisting untuk sektor pangan tanpa memerlukan investasi
     infrastruktur baru secara signifikan. Pendekatan ini memberikan efisiensi biaya sekaligus
     mempercepat penetrasi pasar, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur.



                                                                                                Business Valuation Unit
                                                      72                                                         Jakarta
Page 90
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Secara prinsip, kegiatan usaha OPMS di sektor perdagangan besar pangan dan produk
     turunannya memang berpotensi ditiru oleh pesaing. Namun proses imitasi tersebut tidak
     mudah dilakukan karena adanya berbagai hambatan, mulai dari sulitnya mengakses jaringan
     pasok dan membangun kepercayaan mitra dagang, tingkat kepercayaan mitra dagang, serta
     kebutuhan penguasaan logistik dan standar keamanan pangan. Keunggulan OPMS dalam
     manajemen rantai pasok, pengendalian mutu, dan distribusi yang telah terbentuk melalui
     pengalaman sebelumnya menjadikan model operasionalnya yang sulit direplikasi, ditambah
     keberadaan OPMS di wilayah Madura memberikan keunggulan first mover advantage yang
     memungkinkan Perseroan membangun hubungan strategis dan jaringan distribusi lokal
     secara lebih kuat. Dengan sejumlah faktor tersebut, meskipun secara teoretis model usaha
     OPMS dapat ditiru, pesaing akan menghadapi hambatan signifikan untuk menyainginya
     secara efektif, sehingga OPMS berada pada posisi kompetitif yang kokoh dalam
     mengembangkan pangsa pasar di sektor distribusi pangan dan FMCG.

     Dari sisi penciptaan nilai, Perseroan berfokus pada penyediaan produk pangan pokok dan
     FMCG yang terjamin mutu, stabil ketersediaannya, serta kompetitif dari sisi harga. Melalui
     strategi tersebut, OPMS menciptakan nilai ekonomi melalui peningkatan efisiensi distribusi,
     nilai sosial melalui perluasan akses pangan dan penciptaan lapangan kerja, serta nilai
     strategis melalui dukungan terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional. Dengan pola
     bisnis yang fleksibel dan berbasis kebutuhan dasar masyarakat, Perseroan memiliki posisi
     yang kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi terhadap
     perekonomian daerah maupun nasional.

     Dengan strategi jangka panjang yang terukur meliputi roadmap pengembangan bertahap,
     efisiensi biaya, diversifikasi portofolio produk, serta kolaborasi dengan mitra strategis OPMS
     berpeluang memantapkan diri sebagai Perseroan multibisnis yang adaptif, kompetitif, dan
     berkelanjutan.

     Dengan analisis kelayakan pola bisnis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
     Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.




                                                                                  Business Valuation Unit
                                               73                                                  Jakarta
Page 91
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

7.   ASPEK KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN

7.1. Sumber Daya Manusia

     Salah satu faktor kunci yang sangat menentukan keberhasilan dalam pengelolaan Perseroan
     adalah peran penting yang dimainkan oleh sumber daya manusia yang menangani berbagai
     aspek operasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya manajemen yang profesional
     dan terampil dalam setiap fungsi operasional Perseroan, agar semua kegiatan dapat berjalan
     secara efisien dan efektif. Manajemen yang baik akan memastikan koordinasi yang optimal
     antara berbagai divisi dan departemen, serta mampu mengelola sumber daya dengan baik
     untuk mencapai tujuan Perseroan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat meminimalkan
     kesalahan, meningkatkan produktivitas, dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.

     Berikut merupakan komposisi Karyawan OPMS untuk penambahan kegiatan usaha:

     Figur 49. Komposisi Jumlah Karyawan OPMS untuk Penambahan Kegiatan Usaha
                                      Rencana tambahan tenaga       Jumlah Tenaga kerja untuk
           Tenaga kerja lama
                                               kerja                penambahan kegiatan usaha
                (orang)
                                              (orang)                        (orang)
                   4                             4                              8
     Sumber: Manajemen OPMS

     Perseroan memiliki 4 tenaga kerja lama ini merupakan tenaga administrasi di Perseroan
     sehingga tidak berpangaruh jika di alokasikan di lini FMCG. Hal tersebut dikarenakan
     Perseroan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Pada lini usaha pemotongan logam,
     tenaga pemotongan dan pengiriman melakukan sub-kontrak dengan pihak ketiga. Perseroan
     juga akan melakukan penambahan 4 tenaga kerja baru yaitu supervisor, staf sales, staf gudang
     dan staf sopir. Penambahan tenaga kerja baru yang berjumlah 4 cukup bagi Perseroan dalam
     mendukung operasional penambahan kegiatan usaha baru. Hal tersebut dikarenakan di
     bidang FMCG, Principal juga memberikan support sales yang di tempatkan di OPMS. Tidak
     terdapat perjanjian kerja antara Perseroan dengan support sales yang diberikan Principal.
     Semua beban gaji support sales dibebankan kepada Principal. Tugas dan tanggung jawab
     support sales terhadap Perseroan yaitu mengedukasi produk Principal dan memastikan sales
     Perseroan memahami produk Principal yang dijual.

     Dalam rangka mendukung rencana perubahan kegiatan usaha dan peningkatan kapasitas
     operasional, OPMS telah melakukan pemetaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM)
     secara rinci. Pemetaan ini mencakup identifikasi jumlah, jenis keterampilan, serta tingkat
     kompetensi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan usaha baru.

     Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, OPMS telah dan akan menempuh beberapa langkah
     strategis sebagai berikut:
     1. Menggandeng salah satu Perusahaan FMCG yang sudah berpengalaman di bidangnya
          sebagai konsultan bisnis.
     2. Pemetaan Customer FMCG di wilayah Madura.
     3. Pendalaman pengetahuan produk FMCG yang tepat sasaran.
     4. Peninjauan situasi pasar dan kebutuhan customer di wilayah Madura.
     5. Pengadaan digital web supply chain dan logistik yang mendukung kinerja FMCG.
     6. Memberikan insentif kepada karyawan dalam pemenuhan target sales dan kinerja.


                                                                                Business Valuation Unit
                                              74                                                 Jakarta
Page 92
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Dengan penerapan manajemen SDM yang profesional, Perseroan diharapkan mampu
     membangun tim kerja yang solid, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan pasar. Hal
     ini akan menjadi pondasi penting dalam mendukung keberlanjutan usaha distribusi makanan
     dan minuman, sekaligus meningkatkan daya saing Perseroan di industri distribusi. Seluruh
     langkah di atas dirancang untuk memastikan bahwa kebutuhan SDM OPMS dapat terpenuhi
     secara optimal, berkelanjutan, dan mendukung transformasi usaha yang direncanakan.


7.2. Komposisi Karyawan OPMS

     Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT OPMS Tbk, jumlah karyawan yang tercatat
     sebanyak 4 orang. Berikut adalah rincian karyawan OPMS berdasarkan jabatan dan status
     ketenagakerjaan:

     Figur 50. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
            Tingkat Pendidikan                Orang
      Sarjana (S1)                              1
      Diploma (D3)                              0
      SMA/SMK                                   3
      SMP                                       0
                   Jumlah                       4
     Sumber: Manajemen

     Figur 51. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan
                   Jabatan                    Orang
      Manager                                   0
      Supervisor                                0
      Staff                                     4
                   Jumlah                       4
     Sumber: Manajemen OPMS

     Figur 52. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia
                    Usia                      Orang
      41 – 55 tahun                             0
      26 – 40 tahun                             4
      17 – 25 tahun                             0
                   Jumlah                       4
     Sumber: Manajemen OPMS

     Figur 53. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan
          Status Ketenagakerjaan              Orang
      Tetap / Permanent                         4
      Tidak Tetap / Non - Permanent             0
                   Jumlah                       4
     Sumber: Manajemen OPMS


7.3. Manajemen Kekayaan Intelektual

     Menurut Undang – Undang yang telah disahkan oleh DPR – RI pada tanggal 21 Maret 1997,
     Hak Atas Kekayaan Intelektual adalah hak-hak secara umum yang berhubungan dengan
     permasalahan hasil penemuan dan kreativitas seseorang atau beberapa orang yang


                                                                             Business Valuation Unit
                                            75                                                Jakarta
Page 93
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     berhubungan dengan perlindungan permasalahan reputasi dalam bidang komersial
     (commercial reputation) dan tidakan/jasa dalam bidang komerisal (goodwill). Sampai
     dengan laporan ini diterbitkan tidak terdapat informasi terkait Hak Kekayaan Intelektual
     yang akan didaftarkan oleh OPMS atas Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ini.


7.4. Manajemen Risiko

     Seperti halnya dengan ekspansi usaha yang dilakukan oleh berbagai perusahaan,
     penambahan kegiatan usaha OPMS dalam bidang FCMG juga menghadapi berbagai risiko.
     Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Oleh karena itu,
     perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak risiko tersebut. OPMS telah melakukan
     identifikasi dan analisis terhadap potensi risiko yang mungkin muncul beserta dampaknya.
     Berikut adalah risiko yang telah diidentifikasi berdasarkan analisis risiko yang telah
     dijelaskan dalam aspek pola bisnis beserta strategi mitigasi yang diterapkan, yaitu sebagai
     berikut:

     Figur 54. Manajemen Risiko
       No.          Jenis Risiko                              Strategi Mitigasi
                                        Untuk menghadapi ketatnya persaingan, OPMS perlu
                                        menerapkan strategi diferensiasi yang jelas, baik melalui
                                        keunggulan layanan distribusi, kecepatan pengiriman,
                                        maupun jaminan kualitas produk. Penguatan kerja sama
        1.   Risiko Persaingan Pasar    dengan produsen lokal maupun internasional, serta
                                        pembangunan merek yang kuat juga dapat meningkatkan
                                        daya saing. Selain itu, pemanfaatan teknologi analitik pasar
                                        akan membantu Perseroan memahami tren konsumen dan
                                        menetapkan strategi harga yang kompetitif.
                                        Manajemen risiko dapat dilakukan dengan membangun
                                        jaringan pemasok yang beragam guna menghindari
                                        ketergantungan pada satu sumber tertentu. OPMS juga
                                        dapat mengembangkan sistem manajemen logistik yang
        2.   Risiko Rantai Pasok        terintegrasi, serta menyiapkan buffer stock untuk produk-
                                        produk strategis. Investasi pada teknologi pemantauan
                                        rantai pasok (supply chain monitoring) dapat membantu
                                        mendeteksi potensi gangguan sejak dini dan mempercepat
                                        respons terhadap hambatan distribusi.
                                        Untuk memastikan kepatuhan, OPMS perlu membentuk tim
                                        khusus yang berfokus pada pengawasan regulasi pangan
                                        dan perdagangan. Tim ini bertugas melakukan pemantauan
             Risiko Regulasi dan        terhadap perubahan regulasi secara berkala serta
        3.
             Kebijakan Pemerintah       menyiapkan mekanisme penyesuaian cepat terhadap aturan
                                        baru. Selain itu, menjalin komunikasi aktif dengan asosiasi
                                        industri maupun regulator dapat membantu Perseroan
                                        memperoleh informasi dan arahan lebih awal.
                                        OPMS dapat memitigasi risiko operasional melalui
                                        penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat
             Risiko Operasional dan     pada seluruh tahapan distribusi, termasuk sistem
        4.
             Logistik                   manajemen mutu serta pemeliharaan rantai dingin.
                                        Penggunaan teknologi logistik modern seperti sistem
                                        pelacakan (tracking system) akan meningkatkan


                                                                                    Business Valuation Unit
                                              76                                                     Jakarta
Page 94
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

       No.          Jenis Risiko                               Strategi Mitigasi
                                         transparansi dan efisiensi distribusi. Selain itu, pelatihan
                                         rutin bagi tenaga kerja logistik penting untuk menjaga
                                         kompetensi dan mengurangi risiko kesalahan operasional.
                                         Manajemen risiko terhadap perubahan preferensi konsumen
                                         dapat dilakukan dengan strategi inovasi produk dan
                                         diversifikasi portofolio. OPMS perlu memperhatikan tren
             Risiko Perubahan Perilaku
        5.                               konsumen, serta memperluas kanal distribusi ke platform
             Konsumen
                                         digital dan e-commerce. Melalui pendekatan ini, Perseroan
                                         dapat menjaga relevansi dan daya tarik produknya di mata
                                         konsumen.
                                         Untuk mengendalikan risiko finansial, OPMS perlu
                                         menerapkan prinsip kehati-hatian dalam perencanaan
                                         investasi dan menjaga keseimbangan antara belanja modal
                                         dengan proyeksi arus kas. Perseroan dapat mengoptimalkan
             Risiko Keuangan dan
        6.                               pendanaan melalui kombinasi modal internal dan eksternal
             Investasi
                                         dengan struktur yang sehat. Selain itu, penerapan sistem
                                         pengendalian biaya dan pemantauan kinerja keuangan
                                         secara berkala akan membantu menjaga profitabilitas dan
                                         keberlanjutan usaha.


7.5. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen

     Kapasitas dan kemampuan manajemen menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan
     keberhasilan usaha distribusi makanan dan minuman. Perseroan memiliki struktur
     manajemen yang dirancang untuk mampu mengelola seluruh rantai distribusi secara efektif,
     mulai dari perencanaan pasokan, pengelolaan gudang, hingga pengiriman produk ke
     pelanggan. Tim manajemen didukung oleh personel yang memiliki pengalaman di bidang
     FCMG sehingga mampu menjalankan operasional dengan standar profesional.

     Dari sisi kapasitas, OPMS memilki Gudang skala besar yang mampu menyimpan produk
     dalam jumlah besar dengan efisiensi tinggi. Selain itu, Perseroan juga memiliki armada
     logistik sendiri sehingga OPMS dapat menjangkau pasar lokal dengan lebih efisien. Di
     bidang keuangan, OPMS juga didukung oleh pendanaan publik yang memberikan modal
     kerja cukup untuk membiayai ekspansi dan strategi promosi.

     Sementara itu, dari sisi kemampuan manajemen, OPMS akan memanfaatkan teknologi
     digital untuk memperkuat supply chain dan pemasaran. Dengan sistem yang terintegrasi dan
     data analytics, Perseroan dapat mengendalikan alur stok, memprediksi permintaan, dan
     mengoptimalkan distribusi. Kemampuan inovasi juga menjadi kekuatan OPMS, terbukti dari
     kemampuan manajemen mendeteksi pentingnya merambah ke sektor ketahanan pangan
     untuk mendukung program Pemerintah saat ini.

     Dalam hal branding, OPMS akan mengadopsi strategi komunikasi digital yang agresif.
     Melalui media sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan influencer lokal, OPMS akan
     membangun citra sebagai pendatang baru yang inovatif, dan relevan dengan target market
     konsumen di wilayah Madura dan sekitarnya. Strategi ini nantinya akan meningkatkan
     awareness konsumen meskipun OPMS masih tergolong pendatang baru.



                                                                                     Business Valuation Unit
                                               77                                                     Jakarta
Page 95
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Selain itu, kemampuan manajemen juga ditunjukkan melalui penerapan strategi kolaboratif
     dengan produsen, pemasok, dan pelanggan utama. Pola kerja sama ini memperkuat daya
     tawar Perseroan sekaligus menjaga kesinambungan pasokan produk. Dengan pendekatan
     yang berorientasi pada efisiensi, kualitas layanan, serta inovasi teknologi, manajemen
     diyakini mampu menjaga keberlanjutan bisnis, meningkatkan daya saing, dan mencapai
     target pertumbuhan yang telah ditetapkan.


7.6. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen

     Struktur organisasi perseroan telah dirancang agar selaras dengan kebutuhan operasional
     distribusi makanan dan minuman yang menuntut efisiensi, kecepatan, serta kepatuhan
     terhadap standar keamanan pangan. Struktur ini berbentuk organisasi fungsional yang
     membagi tugas dan tanggung jawab ke dalam beberapa divisi utama, yaitu operasional,
     pemasaran dan penjualan, keuangan dan administrasi, serta sumber daya manusia.

     Dari sisi manajemen, setiap divisi dipimpin oleh seorang manajer yang memiliki kompetensi
     sesuai bidangnya, dan secara langsung bertanggung jawab kepada manajemen puncak atau
     direktur utama. Dengan pola ini, jalur koordinasi menjadi lebih jelas, alur komunikasi
     antarbagian lebih efektif, serta pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat dan
     tepat.

     Kesesuaian struktur organisasi dengan manajemen tercermin dari pembagian fungsi yang
     seimbang antara aspek teknis dan aspek pendukung. Hal ini memungkinkan Perseroan
     menjaga kualitas layanan distribusi sekaligus memastikan stabilitas finansial dan
     keberlanjutan usaha.

     Selain itu, penerapan sistem manajemen berbasis kinerja (performance-based management)
     semakin memperkuat kesesuaian struktur organisasi. Setiap unit kerja memiliki indikator
     kinerja utama (KPI) yang terukur sehingga memudahkan proses evaluasi dan pengendalian.
     Dengan demikian, struktur organisasi tidak hanya relevan dengan kebutuhan operasional saat
     ini, tetapi juga adaptif terhadap pertumbuhan usaha di masa depan.


7.7. Kesimpulan Analisis Model Manajemen

     Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen strategis dalam mendukung keberhasilan
     operasional OPMS, khususnya dalam rencana penambahan kegiatan usaha di bidang
     distribusi makanan dan minuman. Saat ini Perseroan memiliki 4 orang karyawan tetap
     dengan latar belakang pendidikan SMA/SMK dan sarjana, serta merencanakan rekrutmen
     tambahan di bidang supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Pemetaan kebutuhan
     SDM dilakukan secara rinci untuk memastikan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan
     operasional, didukung kerja sama dengan konsultan FMCG, pemetaan pasar di wilayah
     Madura, serta implementasi sistem digital supply chain guna meningkatkan produktivitas dan
     efektivitas kerja.

     Dari sisi manajemen, OPMS memiliki kapasitas organisasi yang memadai melalui
     keberadaan gudang berskala besar, armada logistik, serta pendanaan publik yang mendukung
     ekspansi. Perseroan juga menerapkan sistem manajemen berbasis teknologi untuk

                                                                               Business Valuation Unit
                                             78                                                 Jakarta
Page 96
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     mengoptimalkan rantai pasok dan pengendalian inventori. Strategi pemasaran berbasis
     digital melalui media sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan
     dapat meningkatkan brand awareness meskipun OPMS merupakan pendatang baru di
     industri distribusi. Struktur organisasi yang berbentuk fungsional memungkinkan koordinasi
     antar divisi lebih efektif serta pengambilan keputusan yang cepat.

     Sejalan dengan ekspansi, OPMS telah melakukan identifikasi risiko yang berpotensi
     memengaruhi keberhasilan usaha, mulai dari persaingan pasar, rantai pasok, regulasi, hingga
     perubahan perilaku konsumen. Strategi mitigasi disiapkan melalui diferensiasi layanan,
     diversifikasi pemasok, penguatan sistem logistik, serta pemantauan regulasi secara berkala.
     Dengan dukungan SDM yang profesional, manajemen yang adaptif, serta sistem pengelolaan
     risiko yang terukur, OPMS diyakini mampu menjaga kesinambungan usaha, meningkatkan
     daya saing, serta mewujudkan pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.

     Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem
     koordinasi yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan
     secara konsisten, menjadi fondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan
     ekspansi usaha. Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh
     terhadap dinamika industri, OPMS dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai
     untuk mengarahkan pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan.

     Dengan analisis kelayakan model manajemen tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
     Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.




                                                                                Business Valuation Unit
                                              79                                                 Jakarta
Page 97
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

8.   ASPEK KELAYAKAN KEUANGAN

8.1. Rencana Biaya Investasi

     Berkaitan dengan penambahan kegiatan usaha, OPMS secara garis besar memiliki Rencana
     Anggaran Biaya Penambahan Kegiatan Usaha yang dibutuhkan oleh OPMS dapat disajikan
     sebagai berikut:

     Figur 55. Biaya Investasi
                                                                                                 Jumlah
                                     Uraian
                                                                                                  (Rp)
      Investasi
         Investasi Peralatan Pabrik                                                                          100.000.000
         Investasi Peralatan Kantor                                                                           50.000.000
         Jasa Profesional (KJPP dan Notaris)                                                                 150.000.000
         Persediaan                                                                                        2.700.000.000

      Total Investasi                                                                                      3.000.000.000
     Sumber: Manajemen OPMS


8.2. Sumber Pembiayaan

     Dalam rangka merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, OPMS melakukan
     investasi untuk penambahan kegiatan usaha yang bersumber dari kas OPMS.


8.3. Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan

     Asumsi – asumsi yang digunakan dalam penyusunan proyeksi keuangan sebelum dan setelah
     penambahan kegiatan usaha dalam upaya pengembangan bisnis OPMS. Proyeksi disusun
     selama 5 tahun dengan asumsi sebagai berikut:

     Figur 56. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
                                         Jul-Des
                                                       Des 2026      Des 2027      Des 2028       Des 2029        Des 2030
                Keterangan                 2025
                                         Proyeksi       Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi
      Hari Per Tahun                          184            365           365           365            365            365
      Inflasi                                1,7%           2,5%          2,5%          2,5%           2,5%           2,5%
      BPP Terhadap Pendapatan Plat          64,5%          90,0%         90,0%         90,0%          90,0%          90,0%

      Tonase Plat                             41.311      300.300       300.300       300.300        300.300         300.300
      Harga Jual                               9.990        9.990        10.240        10.496         10.758          11.027

      Pendapatan Plat                     412.701       3.000.000     3.075.000     3.151.875      3.230.672       3.311.439
      BPP Plat                            266.222       2.700.000     2.767.500     2.836.688      2.907.605       2.980.295

      Pendapatan Penjualan Plat
          Penjualan Plat                  412.701       3.000.000     3.075.000     3.151.875      3.230.672       3.311.439

      Beban Pokok Penjualan
          Beban Pokok Penjualan          (266.222)     (2.700.000)   (2.767.500)   (2.836.688)    (2.907.605)    (2.980.295)

      Biaya Umum & Administrasi
          Gaji Pegawai                   (853.810)     (1.683.432)   (1.725.518)   (1.768.656)    (1.812.872)    (1.858.194)



                                                                                                        Business Valuation Unit
                                                           80                                                            Jakarta
Page 98
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                           Jul-Des
                                                       Des 2026       Des 2027       Des 2028       Des 2029       Des 2030
                 Keterangan                 2025
                                          Proyeksi     Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi
            Upah Buruh                    (146.463)    (300.605)      (308.120)      (315.823)      (323.718)      (331.811)
            Thr/Bonus                              -   (141.420)      (141.420)      (141.420)      (141.420)      (141.420)
            Kesejahteraan
            Karyawan/Insentive             (14.711)     (29.240)       (29.240)       (29.240)       (29.240)       (29.240)
            Karyawan
            Telepon/Fax                    (19.420)     (36.007)       (36.007)       (36.007)       (36.007)       (36.007)
            Listrik/Air                    (17.252)     (36.499)       (36.499)       (36.499)       (36.499)       (36.499)
            Alat Tulis Kantor                 (558)      (1.196)        (1.196)        (1.196)        (1.196)        (1.196)
            Barang Cetakan dan
                                              (125)        (300)          (300)          (300)          (300)           (300)
            Fotocopy
            Beban Pos, Telegram, dan
                                              (856)      (2.054)        (2.054)        (2.054)        (2.054)         (2.054)
            Telex
            BBM, Tol dan Parkir            (25.775)     (48.780)       (50.000)       (51.249)       (52.531)       (53.844)
            Beban kendaraan Lainnya        (40.653)     (79.775)       (79.775)       (79.775)       (79.775)       (79.775)
            Makan dan Minum                (20.735)     (41.070)       (41.070)       (41.070)       (41.070)       (41.070)
            Keperluan Rumah Tangga
                                           (23.494)     (48.206)       (48.206)       (48.206)       (48.206)       (48.206)
            Kantor
            Perjalanan Dinas               (27.744)     (58.841)       (58.841)       (58.841)       (58.841)       (58.841)
            Asuransi                       (85.066)    (170.133)      (170.133)      (170.133)      (170.133)      (170.133)
            Administrasi Bank               (6.077)     (14.311)       (14.311)       (14.311)       (14.311)       (14.311)
            Perijinan dan Pengurusan
                                           (96.363)    (192.830)      (192.830)      (192.830)      (192.830)      (192.830)
            Dokumen
            Keamanan dan Kebersihan       (213.401)    (438.050)      (449.001)      (460.226)      (471.732)      (483.525)
            Jasa Profesional Fee (Pph
                                           (13.429)     (16.229)       (16.229)       (16.229)       (16.229)       (16.229)
            Pasal 21)
            Representasi dan Jamuan        (19.420)     (40.642)       (40.642)       (40.642)       (40.642)       (40.642)
            Pajak                          (24.471)     (58.729)       (58.729)       (58.729)       (58.729)       (58.729)
            Jasa
            Service/Supervisi/Instalasi    (57.193)    (424.990)      (424.990)      (424.990)      (424.990)      (424.990)
            (Pph Pasal 23)
            Penyusutan Kendaraan           (81.474)    (162.948)      (162.948)      (162.948)      (162.948)      (162.948)
            Penyusutan Inventaris
                                           (45.701)     (91.581)       (91.581)       (91.581)       (91.581)       (91.581)
            kantor
            Penyusutan Bangunan
                                          (284.365)    (568.730)      (568.730)      (568.730)      (568.730)      (568.730)
            Kantor Utama
            Pem dan Perbaikan
                                            (6.556)      (8.175)        (8.175)        (8.175)        (8.175)         (8.175)
            Inventaris Kantor
            Pem dan Perbaikan Mesin
                                            (6.678)      (6.936)        (6.936)        (6.936)        (6.936)         (6.936)
            Pabrik
            Amortisasi Aset Hak Guna       (52.625)    (105.250)                 -              -              -              -

      Pendapatan Lainnya
          Pendapatan Bunga                 250.480       545.213        545.213        545.213        545.213        545.213
          Pendapatan Lainnya               299.033             -              -              -              -              -

      Beban Lainnya
          Beban Bunga Bank                    (285)               -              -              -              -              -
          Beban Lainnya                   (332.646)               -              -              -              -              -

      Perputaran
          Perputaran Piutang Usaha
                                                  8            8             8              8               8               8
          Pihak Ketiga
          Perputaran Persediaan                  31           31            31             31             31               31
          Perputaran Utang Usaha
                                                 14           14            14             14             14               14
          Pihak Ketiga
          Perputaran Utang Lain-Lain              3            3             3              3               3               3
          Perputaran Beban Yang
                                                  2            2             2              2               2               2
          Masih Harus Dibayar

      Tax                                      22%          22%            22%            22%            22%             22%
     Sumber: Manajemen OPMS


                                                                                                        Business Valuation Unit
                                                         81                                                              Jakarta
Page 99
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 57. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                      Jul-Des
                                                     Des 2026       Des 2027       Des 2028       Des 2029          Des 2030
              Keterangan                2025
                                      Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi           Proyeksi
      Hari Per Tahun                         184            365            365            365            365                365
      Inflasi                              1,7%           2,5%           2,5%           2,5%           2,5%               2,5%
      BPP Plat (Before)                  64,51%         90,00%         90,00%         90,00%         90,00%             90,00%
      BPP FMCG (After)                   87,82%         93,20%         93,20%         93,20%         93,20%             93,20%

      Tonase Plat                         41.311        300.300        300.300        300.300        300.300             300.300
      Tonase FMCG                        230.230      1.501.502      2.050.831      2.572.471      3.067.446           3.536.744
      Harga Jual                           9.990          9.990         10.240         10.496         10.758              11.027

      Pendapatan Plat                    412.701      3.000.000      3.075.000      3.151.875      3.230.672           3.311.439
      Pendapatan FMCG                  2.300.000     15.000.000     21.000.000     27.000.000     33.000.000          39.000.000

      BPP Plat                           266.222      2.700.000      2.767.500      2.836.688      2.907.605           2.980.295
      BPP FMCG                         2.019.799     13.980.033     19.572.046     25.164.059     30.756.072          36.348.085

      Pendapatan Penjualan Plat
      + FMCG
          Penjualan Plat + FMCG        2.712.701     18.000.000     24.075.000     30.151.875     36.230.672          42.311.439

      Beban Pokok Penjualan
          Beban Pokok Penjualan       (2.286.022)   (16.680.033)   (22.339.546)   (28.000.746)   (33.663.677)       (39.328.380)

      Biaya Umum &
      Administrasi
          Gaji Pegawai                 (921.310)     (1.750.932)    (1.794.705)    (1.839.573)    (1.885.562)        (1.932.701)
          Upah Buruh                   (146.463)       (300.605)      (308.120)      (315.823)      (323.718)          (331.811)
          Thr/Bonus                            -       (141.420)      (141.420)      (141.420)      (141.420)          (141.420)
          Kesejahteraan
          Karyawan/Insentive            (14.711)        (29.240)       (29.240)       (29.240)       (29.240)            (29.240)
          Karyawan
          Telepon/Fax                   (19.420)        (36.007)       (36.007)       (36.007)       (36.007)            (36.007)
          Listrik/Air                   (17.252)        (36.499)       (36.499)       (36.499)       (36.499)            (36.499)
          Alat Tulis Kantor                (558)         (1.196)        (1.196)        (1.196)        (1.196)             (1.196)
          Barang Cetakan dan
                                           (125)          (300)          (300)          (300)           (300)                 (300)
          Fotocopy
          Beban Pos, Telegram,
                                           (856)         (2.054)        (2.054)        (2.054)        (2.054)             (2.054)
          dan Telex
          BBM, Tol dan Parkir           (63.263)        (86.268)     (88.424,6)     (90.635,2)     (92.901,1)         (95.223,6)
          Beban kendaraan
                                        (40.653)        (79.775)       (79.775)       (79.775)       (79.775)            (79.775)
          Lainnya
          Makan dan Minum               (20.735)        (41.070)       (41.070)       (41.070)       (41.070)            (41.070)
          Keperluan Rumah
                                        (23.494)        (48.206)       (48.206)       (48.206)       (48.206)            (48.206)
          Tangga Kantor
          Perjalanan Dinas              (27.744)       (58.841)       (58.841)       (58.841)       (58.841)            (58.841)
          Asuransi                      (85.066)      (170.133)      (170.133)      (170.133)      (170.133)           (170.133)
          Administrasi Bank              (6.077)       (14.311)       (14.311)       (14.311)       (14.311)            (14.311)
          Perijinan dan
                                        (96.363)      (192.830)      (192.830)      (192.830)      (192.830)           (192.830)
          Pengurusan Dokumen
          Keamanan dan
                                       (213.401)      (438.050)      (449.001)      (460.226)      (471.732)           (483.525)
          Kebersihan
          Jasa Profesional Fee
                                        (13.429)        (16.229)       (16.229)       (16.229)       (16.229)            (16.229)
          (Pph Pasal 21)
          Representasi dan
                                        (19.420)        (40.642)       (40.642)       (40.642)       (40.642)            (40.642)
          Jamuan
          Pajak                         (24.471)        (58.729)       (58.729)       (58.729)       (58.729)            (58.729)
          Jasa
          Service/Supervisi/Instala    (275.043)      (180.000)      (180.000)      (180.000)      (180.000)           (180.000)
          si (Pph Pasal 23)
          Penyusutan Kendaraan          (81.503)      (163.007)      (163.007)      (163.007)      (163.007)           (163.007)




                                                                                                   Business Valuation Unit
                                                         82                                                         Jakarta
Page 100
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                    Jul-Des
                                                   Des 2026       Des 2027       Des 2028       Des 2029          Des 2030
               Keterangan             2025
                                    Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi           Proyeksi
            Penyusutan Inventaris
                                     (45.820)        (91.640)       (91.640)       (91.640)        (91.640)            (91.640)
            kantor
            Penyusutan Bangunan
                                    (284.395)       (568.789)      (568.789)      (568.789)      (568.789)           (568.789)
            Kantor Utama
            Pem dan Perbaikan
                                      (6.556)          (8.175)        (8.175)        (8.175)        (8.175)             (8.175)
            Inventaris Kantor
            Pem dan Perbaikan
                                      (6.678)          (6.936)        (6.936)        (6.936)        (6.936)             (6.936)
            Mesin Pabrik
            Pem dan Perbaikan
                                               -   (2.170.922)    (2.170.922)    (2.170.922)    (2.170.922)        (2.170.922)
            Lainnya - Penyusutan
            Amortisasi Aset Hak
                                     (52.625)       (105.250)                -              -              -                   -
            Guna

      Pendapatan Lainnya
          Pendapatan Bunga            250.480         660.000        660.000        660.000        660.000             660.000
          Pendapatan Lainnya              120               -              -              -              -                   -

      Beban Lainnya
          Beban Bunga Bank              (285)                 -              -              -              -                   -
          Beban Lainnya                (0,16)                 -              -              -              -                   -

      Perputaran
          Perputaran Piutang
                                               8              8              8              8              8                   8
          Usaha Pihak Ketiga
          Perputaran Persediaan           31                31            31             31              31                   31
          Perputaran Utang Usaha
                                          14                14            14             14              14                   14
          Pihak Ketiga
          Perputaran Utang Lain-
                                               3              3              3              3              3                   3
          Lain
          Perputaran Beban Yang
                                               2              2              2              2              2                   2
          Masih Harus Dibayar

      Tax                                22%             22%            22%            22%             22%                  22%
     Sumber: Manajemen OPMS

     Berikut ini merupakan dasar penentuan asumsi before dan after:
     1. Beban Pokok Pendapatan (BPP)
         BPP disusun berdasarkan proyeksi manajemen Perseroan dengan mengacu pada data
         historis.
     2. PLAT (Produk Logam Sebelum Penambahan KBLI)
         Proyeksi volume penjualan produk logam (dalam satuan kilogram) diperoleh dari
         estimasi manajemen Perseroan. Pada periode 2026 - 2030, volume penjualan
         diproyeksikan tetap, karena Perseroan tidak berencana menambah produksi untuk
         kategori ini.
     3. PLAT (Produk Logam Setelah Penambahan KBLI)
         Proyeksi volume penjualan produk logam (dalam satuan kilogram) diperoleh dari
         estimasi manajemen Perseroan atas kegiatan usaha baru.
     4. Harga Jual
         Berdasarkan proyeksi manajemen Perseroan, harga jual produk diperkirakan meningkat
         pada tahun 2027 – 2030 seiring dengan dampak kenaikan inflasi. Penetapan kenaikan
         harga jual pada tahun 2027 didasarkan pada pertimbangan strategi bisnis. Pada tahun-
         tahun awal proyeksi, perusahaan berada pada fase penetrasi pasar sehingga harga
         dipertahankan agar daya tarik produk tetap tinggi dan pembentukan basis pelanggan



                                                                                                 Business Valuation Unit
                                                       83                                                         Jakarta
Page 101
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

          tidak terhambat. Memasuki tahun 2027 harga meningkat karena penyesuaian untuk
          mengoptimalkan profitabilitas serta mengimbangi peningkatan biaya operasional.
     5.   Biaya Umum dan Administrasi
          Disusun berdasarkan proyeksi manajemen Perseroan dengan mengacu pada data historis.
          Kenaikan pada tahun 2027 – 2030 terutama berasal dari peningkatan biaya gaji pegawai
          serta biaya BBM, tol, dan parkir akibat tekanan inflasi. Peningkatan beban umum dan
          administrasi dimulai pada tahun 2027 karena pada tahun awal proyeksi perusahaan masih
          berada dalam fase penetrasi pasar, sehingga strategi pengendalian biaya diprioritaskan
          untuk menjaga efisiensi dan daya saing harga. Memasuki 2027, ketika skala operasi
          meningkat dan aktivitas bisnis memasuki fase ekspansi, penyesuaian beban dilakukan
          untuk mengakomodasi kebutuhan operasional yang lebih besar.
     6.   Pendapatan dan Beban Lainnya
          Proyeksi disusun berdasarkan asumsi manajemen Perseroan.
     7.   Perputaran (Turnover)
          Dihitung berdasarkan rasio historis Perseroan.
     8.   Pajak (Tax)
          Merupakan pajak penghasilan badan sesuai ketentuan yang berlaku.

     Tingkat ketercapaian proyeksi, manajemen Perseroan meyakini bahwa asumsi yang
     digunakan dalam penyusunan proyeksi keuangan telah mempertimbangkan kondisi internal
     dan eksternal secara cermat, serta didasarkan pada data dan tren historis yang relevan. Oleh
     karena itu, proyeksi dinilai realistis dan dapat menjadi dasar yang kuat untuk mencapai target
     kinerja keuangan yang optimal. Berdasarkan hasil diskusi dengan manajemen Perseroan,
     Penilai meyakini bahwa proyeksi keuangan yang disusun telah wajar dan tidak memerlukan
     penyesuaian lebih lanjut.

     Transaksi yang mendasari masing-masing peningkatan dan/atau penurunan atas masing-
     masing transaksi pada proyeksi keuangan sebagai berikut:
     1. Piutang Usaha - Pihak Ketiga
        Piutang usaha pihak ketiga mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan pendapatan
        Perseroan. Peningkatan pendapatan tersebut sebagian besar berasal dari penjualan secara
        kredit, sehingga berdampak pada bertambahnya saldo piutang yang tercatat dalam neraca
        karena pembayaran dari pelanggan belum diterima.
     2. Persediaan
        Peningkatan persediaan mencerminkan penyesuaian terhadap pertumbuhan aktivitas
        penjualan, di mana diperlukan ketersediaan barang yang lebih besar untuk mendukung
        peningkatan volume penjualan.
     3. Aset tetap - bersih
        Aset tetap bersih mengalami penurunan seiring dengan pengakuan beban penyusutan
        selama periode berjalan.
     4. Aset hak guna - bersih
        Aset hak guna bersih pada Juli 2025 hingga 2030 cenderung meningkat seiring dengan
        penambahan aset hak guna baru, menggantikan aset hak guna existing yang nilainya telah
        habis karena adanya penyusutan. Aset hak guna meningkat karena aset hak guna historis
        telah mencapai akhir masa manfaat ekonominya sehingga tidak lagi dapat digunakan
        secara operasional. Untuk menjaga keberlangsungan aktivitas usaha, perusahaan perlu
        menambah aset hak guna baru sebagai bentuk investasi kembali yang memastikan
        kapasitas operasional tetap terjaga dan pendapatan dapat berkelanjutan.


                                                                                  Business Valuation Unit
                                               84                                                  Jakarta
Page 102
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     5. Utang Usaha - Pihak Ketiga
        Utang usaha - pihak ketiga meningkat seiring dengan kenaikan beban pokok pendapatan
        yang mendorong peningkatan pembelian dari pemasok secara kredit.
     6. Utang lain-lain - Pihak Ketiga
        Utang lain-lain pihak ketiga menurun pada Juli 2025 seiring dengan penurunan BPP,
        kemudian meningkat pada 2026 - 2030 sejalan dengan kenaikan BPP yang
        mencerminkan peningkatan aktivitas operasional dan pembelian dari pihak ketiga untuk
        mendukung pertumbuhan usaha Perseroan.
     7. Beban masih harus dibayar
        Beban yang masih harus dibayar menurun pada Juli 2025 seiring dengan penurunan BPP,
        mencerminkan berkurangnya kewajiban atas biaya operasional yang belum dibayarkan.
        Namun, pada periode 2026 - 2030, akun ini meningkat sejalan dengan kenaikan BPP,
        yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas operasional dan akrual biaya yang lebih
        tinggi.
     8. Saldo laba belum ditentukan penggunaannya
        Saldo laba belum ditentukan penggunaannya meningkat pada periode 2025 - 2028 akibat
        rugi bersih yang dialami Perseroan, kemudian menurun pada 2029 - 2030 seiring dengan
        perolehan laba bersih pada periode tersebut.


8.4. Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha

8.4.1. Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha

     Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan OPMS adalah sebagai berikut:

     Figur 58. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Tanpa Penambahan Usaha
                                                                                  (Ribuan Rupiah)
                     Jul-Des
                                 Des 2026      Des 2027      Des 2028      Des 2029           Des 2030
      Keterangan      2025
                    Proyeksi     Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi           Proyeksi
      Aset          74.943.241   71.097.457    67.190.295    63.227.594    59.207.966         55.129.988
      Liabilitas       669.741      785.702       789.306       793.000       796.787            800.668
      Ekuitas       74.273.500   70.311.755    66.400.988    62.434.593    58.411.179         54.329.320
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.4.2. Proyeksi Laba – Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha

     Berikut ini disajikan proyeksi Laba - Rugi OPMS adalah sebagai berikut:

     Figur 59. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                       (Ribuan Rupiah)
                    Jul-Des
                                 Des 2026      Des 2027      Des 2028      Des 2029           Des 2030
      Keterangan      2025
                    Proyeksi     Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi           Proyeksi
      Pendapatan
                      412.701     3.000.000     3.075.000     3.151.875     3.230.672          3.311.439
      Usaha
      Harga
      Pokok          (266.222)   (2.700.000)   (2.767.500)   (2.836.688)   (2.907.605)       (2.980.295)
      Penjualan


                                                                                      Business Valuation Unit
                                               85                                                      Jakarta
Page 103
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      Laba Kotor         146.478          300.000          307.500          315.188            323.067           331.144
      Laba Usaha     (2.184.414)      (4.806.959)      (4.763.480)      (4.826.796)        (4.891.695)       (4.958.216)
      Laba Bersih    (1.821.354)      (3.961.745)      (3.910.767)      (3.966.395)        (4.023.414)       (4.081.859)
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.4.3. Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha

     Figur 60. Proyeksi Arus Kas OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                    (Ribuan Rupiah)
                                   Jul-Des
                                                  Des 2026       Des 2027       Des 2028       Des 2029        Des 2030
            Keterangan               2025
                                   Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi         Proyeksi
      Arus Kas Aktivitas
                                    (96.454)       (963.504)      (899.673)     (955.416)      (975.053)      (1.014.869)
      Operasi
      Arus Kas Aktivitas
                                  (1.200.000)      (100.000)      (100.000)     (100.000)      (400.000)        (250.000)
      Investasi
      Arus Kas Aktivitas
                                              -              -              -           -                -                 -
      Pendanaan
      Kas dan Setara Awal
                                  13.031.979      11.735.525     10.672.021     9.672.349      8.616.933        7.241.880
      Tahun
      Kas dan Setara Akhir
                                  11.735.525      10.672.021      9.672.349     8.616.933      7.241.880        5.977.011
      Tahun
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.5. Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

8.5.1. Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

     Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan OPMS adalah sebagai berikut:

     Figur 61. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                       (Ribuan Rupiah)
                       Jul-Des
                                      Des 2026         Des 2027         Des 2028            Des 2029          Des 2030
      Keterangan        2025
                      Proyeksi        Proyeksi          Proyeksi        Proyeksi            Proyeksi          Proyeksi
      Aset            75.148.082      70.938.449        66.838.871      63.089.052          59.687.535        56.632.829
      Liabilitas         883.664       1.532.120         1.834.292       2.136.553           2.438.906         2.741.355
      Ekuitas         74.264.419      69.406.329        65.004.580      60.952.499          57.248.629        53.891.474
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.5.2. Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

     Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                       (Ribuan Rupiah)
                     Jul-Des
                                      Des 2026         Des 2027         Des 2028           Des 2029           Des 2030
      Keterangan       2025
                     Proyeksi         Proyeksi         Proyeksi         Proyeksi           Proyeksi           Proyeksi
      Pendapatan
                      2.712.701       18.000.000       24.075.000       30.151.875         36.230.672         42.311.439
      Usaha




                                                                                                      Business Valuation Unit
                                                       86                                                              Jakarta
Page 104
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                         Jul-Des
                                      Des 2026          Des 2027            Des 2028           Des 2029           Des 2030
      Keterangan           2025
                         Proyeksi     Proyeksi          Proyeksi            Proyeksi           Proyeksi           Proyeksi
      Harga
      Pokok           (2.286.022)    (16.680.033)     (22.339.546)      (28.000.746)          (33.663.677)       (39.328.380)
      Penjualan
      Laba Kotor          426.679       1.319.967         1.735.454           2.151.129          2.566.995          2.983.059
      Laba Usaha      (2.507.429)     (6.838.057)       (6.797.203)         (6.863.209)        (6.930.866)        (7.000.214)
      Laba Bersih     (1.830.436)     (4.858.090)       (4.401.749)         (4.052.081)        (3.703.870)        (3.357.155)
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.5.3. Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

     Figur 63. Proyeksi Arus Kas OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                                      (Ribuan Rupiah)
                              Jul-Des
                                             Des 2026        Des 2027          Des 2028          Des 2029          Des 2030
         Keterangan             2025
                              Proyeksi       Proyeksi        Proyeksi          Proyeksi          Proyeksi          Proyeksi
      Arus Kas Aktivitas
                               (390.811)     (2.469.354)     (1.748.567)      (1.399.014)       (1.013.422)         (648.077)
      Operasi
      Arus Kas Aktivitas
                             (1.200.000)      (100.000)       (100.000)         (100.000)         (400.000)         (250.000)
      Investasi
      Arus Kas Aktivitas
                                         -              -               -                 -                  -                 -
      Pendanaan
      Kas dan Setara
                              13.031.979     11.441.168       8.871.815         7.023.248        5.524.234         4.110.812
      Awal Tahun
      Kas dan Setara
                              11.441.168      8.871.815       7.023.248         5.524.234        4.110.812         3.212.735
      Akhir Tahun
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)


8.6. Analisis Rasio Keuangan

     Analisis rasio keuangan atau financial ratio merupakan suatu alat analisis yang digunakan
     oleh Perseroan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-
     masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti laporan posisi keuangan, laba rugi, dan
     arus kas dalam periode tertentu.

     Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha

     Rasio Proyeksi keuangan OPMS dengan penambahan kegiatan usaha selama proyeksi dapat
     dilihat pada figur berikut:

     Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                      Jul-Des
                                                    Des 2026       Des 2027       Des 2028         Des 2029        Des 2030
              Keterangan                2025
                                      Proyeksi      Proyeksi       Proyeksi       Proyeksi         Proyeksi        Proyeksi
      Rasio Likuiditas
        Current Ratio                 5389,55%      1954,86%       1431,28%       1119,77%          908,74%          776,90%
        Quick Ratio                   5274,67%      1807,42%       1278,08%        962,91%          749,34%          615,65%
        Cash Ratio                    2834,23%       843,22%        518,59%        333,47%          209,85%          142,07%
      Rasio Aktivitas



                                                                                                          Business Valuation Unit
                                                        87                                                                 Jakarta
Page 105
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                   Jul-Des
                                              Des 2026    Des 2027   Des 2028   Des 2029     Des 2030
             Keterangan              2025
                                   Proyeksi   Proyeksi    Proyeksi   Proyeksi   Proyeksi     Proyeksi
        Perputaran Piutang Usaha
                                          8          8           8          8          8                8
        – Pihak Ketiga
        Perputaran Persediaan            37          34         34         34         34               34
        Perputaran Utang Usaha –
                                         14          14         14         14         14               14
        Pihak Ketiga
        Perputaran Utang Lain-
                                          3          3           3          3          3                3
        Lain Pihak Ketiga
        Perputaran Beban Yang
                                          2          2           2          2          2                2
        Masih Harus Dibayar
      Rasio Solvabilitas
        Debt to Asset                1,18%      2,16%       2,74%      3,39%      4,09%           4,84%
        Debt to Equity               1,19%      2,21%       2,82%      3,51%      4,26%           5,09%
      Rasio Profitabilitas
        Gross Margin                 15,73%      7,33%       7,21%      7,13%      7,09%          7,05%
        Operating Margin            -76,70%    -30,66%     -21,02%    -15,63%    -12,04%         -9,49%
        Net Profit Margin           -67,48%    -26,99%     -18,28%    -13,44%    -10,22%         -7,93%
        ROA                          -2,44%     -6,85%      -6,59%     -6,42%     -6,21%         -5,93%
        ROE                          -2,46%     -7,00%      -6,77%     -6,65%     -6,47%         -6,23%
     Sumber: Manajemen OPMS (diolah)

     Selama periode proyeksi, indikator likuiditas menunjukkan penurunan bertahap. Current
     Ratio menunjukkan kemampuan Perseroan memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset
     lancar. Current Ratio pada Juli - Desember 2025 tercatat sebesar 5389,55% namun terus
     menurun hingga 776,90% di Desember 2030. Penurunan ini menandakan efisiensi dalam
     penggunaan aset lancar. Quick Ratio pada Juli - Desember 2025 tercatat sebesar 5274,67%
     dan menurun menjadi 615,65% di Desember 2030. Hal ini menunjukkan likuiditas tetap
     sangat kuat tanpa mengandalkan persediaan. Cash Ratio pada Juli - Desember 2025 lebih
     rendah dibanding dua rasio sebelumnya yaitu sebesar 2834,23% turun ke 142,07% di
     Desember 2030. Likuiditas Perseroan sangat berlebih di awal periode, menunjukkan aset
     lancar yang sangat besar dibanding kewajiban. Namun tren menurun dari tahun ke tahun
     mengindikasikan bahwa Perseroan lebih efisien menggunakan kas dan aset lancarnya.

     Rasio perputaran piutang usaha - pihak ketiga turun dari 17 kali pada juli – desember 2025
     menjadi stabil di 8 kali mulai 2026 hingga 2030. Perputaran persediaan pada Juli-Desember
     2025 tercatat 74 kali dan turun menjadi 34 kali mulai 2026 hingga 2030. Perputaran utang
     usaha - pihak ketiga stabil di angka 14 kali mulai tahun 2026-2030. perputaran utang lain-
     lain pihak ketiga stabil di angka 3 kali mulai tahun 2026-2030. Perputaran beban yang masih
     harus dibayar stabil di angka 2 kali mulai tahun 2026-2030. Rasio aktivitas Perseroan
     menunjukkan pola yang stabil setelah 2026. Piutang, persediaan, dan utang usaha berputar
     cukup sehat, dengan kecepatan perputaran persediaan sangat baik.

     Debt to Asset menunjukkan peningkatan dari 1,18% di Juli-Desember 2025 menjadi 4,84%
     di Desember 2030. Debt to Equity juga menunjukkan peningkatan dari 1,19% di Juli-
     Desember 2025 menjadi 5,09% di Desember 2030. Struktur modal Perseroan sangat
     konservatif, dengan porsi utang yang sangat kecil dibanding aset maupun ekuitas. Meskipun
     ada tren kenaikan, leverage tetap rendah, sehingga risiko keuangan minimal dan Perseroan
     masih memiliki ruang besar untuk pendanaan melalui utang di masa depan.




                                                                                    Business Valuation Unit
                                                88                                                   Jakarta
Page 106
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Gross margin mengalami penurunan dari 15,73% pada Juli – Desember 2025 menjadi 7,05%
     di Desember 2025. Operating Margin setiap tahun proyeksi tercatat negatif dari -76,70% di
     Juli-Desember 2025 menjadi -9,49% di Desember 2030. Net Profit Margin juga tercatat
     negatif, dari -67,48% di Juli-Desember 2025 menjadi -7,93% di Desember 2030. ROA dan
     ROE juga tercatat negatif sepanjang periode proyeksi, menandakan Perseroan belum
     menghasilkan laba bersih. Profitabilitas masih menjadi tantangan utama. Meski gross margin
     cukup positif, tingginya biaya operasional menyebabkan margin operasi dan margin bersih
     negatif. Tren perbaikan terlihat dari berkurangnya kerugian yaitu ROA dan ROE meningkat
     meski tetap negatif, sehingga jika efisiensi biaya terus dilakukan, potensi menuju
     profitabilitas di masa depan terbuka.


8.7. Biaya Operasional

     Biaya operasional OPMS terdiri dari beban umum dan administrasi yang meliputi beban gaji
     pegawai; upah buruh; thr/bonus; kesejahteraan karyawan/insentif; telepon/fax; listrik/air; alat
     tulis kantor; barang cetakan dan fotocopy; beban pos, telegram dan telex; bbm, tol dan parkir;
     beban kendaraan lainnya; makan dan minum; keperluan rumah tangga kantor; perjalanan
     dinas; asuransi; administrasi bank; perijinan/pengurusan dokumen; keamanan dan
     kebersihan; jasa professional fee (Pph Pasal 21); Representasi dan jamuan; pajak; biaya jasa
     service/supervisi/instalasi (Pph Pasal 23); penyusutan kendaraan; penyusutan inventaris
     kantor; penyusutan bangunan kantor utama; pemeliharaan dan perbaikan inventaris kantor;
     pemeliharaan dan perbaikan mesin pabrik; pemeliharaan dan perbaikan lainnya –
     penyusutan; dan beban amortisasi aset hak guna. Biaya operasional dengan penambahan
     kegiatan usaha tercatat sebesar Rp2.507.429 ribu – Rp7.000.214 ribu selama tahun proyeksi.


8.8. Beban Pokok Penjualan

     Beban pokok penjualan dengan penambahan kegiatan usaha tercatat sebesar Rp2.286.022
     ribu – Rp39.328.380 ribu selama tahun proyeksi.


8.9. Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)

     Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh
     laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
     pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat
     digunakan untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai
     berikut:

                                               𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
                                    BEP =        𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
                                            (1−(                      )
                                                      𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛


     Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-
     masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah mencerminkan pendapatan
     minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk Rupiah pada proyeksi
     Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebagai berikut:


                                                                                   Business Valuation Unit
                                               89                                                   Jakarta
Page 107
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk


      Figur 65. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                             (Ribuan Rupiah)
       Analisis BEP     Jul-Des
                                        Des 2026      Des 2027     Des 2028         Des 2029           Des 2030
         Dengan          2025
         Rencana
       Penambahan
                       Proyeksi         Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi        Proyeksi           Proyeksi
         Kegiatan
          Usaha
       Penjualan       2.300.000        15.000.000    21.000.000    27.000.000      33.000.000         39.000.000
       Beban Pokok
                       2.019.799        13.980.033    19.572.046    25.164.059      30.756.072         36.348.085
       Penjualan
       Laba Kotor        280.201         1.019.967     1.427.954     1.835.941       2.243.928          2.651.915
       Gross Profit
                             12,2%           6,8%          6,8%          6,8%               6,8%              6,8%
       Margin
       Beban Umum
       &                 323.015         2.031.098     2.033.723     2.036.413       2.039.171          2.041.998
       Administrasi
       BEP
                       2.651.441        29.870.053    29.908.653    29.948.217      29.988.771         30.030.339
       Penjualan



8.10. Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)

      Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam
      usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis
      rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang
      diperoleh dari kinerja suatu Perseroan. Sebagai gambaran bagaimana Perseroan dalam
      usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel berikut ini.

      Figur 66. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                          Jul-Des
       Analisis Profitabilitas Dengan                  Des 2026    Des 2027      Des 2028      Des 2029         Des 2030
                                            2025
       Penambahan Kegiatan Usaha
                                          Proyeksi     Proyeksi    Proyeksi      Proyeksi      Proyeksi         Proyeksi
         Gross Margin                        15,73%       7,33%       7,21%         7,13%         7,09%            7,05%
         Operating Margin                   -76,70%     -30,66%     -21,02%       -15,63%       -12,04%           -9,49%
         Net Profit Margin                  -67,48%     -26,99%     -18,28%       -13,44%       -10,22%           -7,93%
         ROA                                 -2,44%      -6,85%      -6,59%        -6,42%        -6,21%           -5,93%
         ROE                                 -2,46%      -7,00%      -6,77%        -6,65%        -6,47%           -6,23%



8.11. Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)

      Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
      keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
      umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Dalam konteks studi kelayakan, ROI
      digunakan untuk mengukur sejauh mana investasi yang dilakukan memberikan
      pengembalian secara finansial.

      Perhitungan ROI dilakukan dengan membandingkan laba bersih atau Net Present Value
      (NPV) terhadap total investasi awal yang telah dikeluarkan. Dengan demikian, ROI menjadi
      indikator penting untuk menilai efektivitas dan efisiensi penggunaan dana investasi.


                                                                                               Business Valuation Unit
                                                      90                                                        Jakarta
Page 108
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Secara teknis, ROI adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar laba bersih yang diperoleh
     dibandingkan dengan total investasi. Persamaan yang digunakan untuk menghitung ROI
     adalah sebagai berikut:

                                              𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒
                                   ROI =                       𝑥100%
                                           𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑚𝑒𝑛𝑡
     Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
     Juli 2025 – Jun 2030 adalah sebesar 1434%.


8.12. Penentuan Tingkat Diskonto

     Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
     Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas
     risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham, dengan
     formula sebagai berikut:

                                      Ke = Rf + ß (Rm-Rf) + α
     Dimana :
     Rf       = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
     ß        = risiko sistematis
     Rm       = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
     Rp       = selisih antara Rm dengan Rf
     α        = risiko spesifik

     Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
     tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia, instrumen bebas risiko
     yang dapat dipilih adalah tingkat bunga obligasi Pemerintah untuk jangka panjang.
     Terkait dengan tanggal penilaian yang jatuh pada tanggal 30 Juni 2025, maka instrumen
     bebas risiko yang dipilih didasarkan pada obligasi Pemerintah dengan bunga tetap yang
     dikeluarkan oleh Pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor
     30 tahun, yield tertimbang sebesar 7,03% yang bersumber dari IPBA per 30 Juni 2025, dan
     angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian bebas risiko (Rf).

     Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko
     dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk
     premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk premiums)
     seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk premium. Dengan
     mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi perubahan-
     perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara berkembang (emerging
     market).

     Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan menggunakan rujukan dari hasil Penelitian
     Damodaran per Juli 2025 dengan risk premium untuk pasar negara berkembang seperti
     Indonesia adalah sekitar 7,03%. Dengan Rating Based Default Spread sebesar 1,87%.

     α (Alpha), Faktor alpha merupakan risiko spesifik perusahaan yang mungkin mencerminkan
     jenis properti, perusahaan dan premi risiko lainnya. Pada penilaian ini, faktor Alpha atau


                                                                               Business Valuation Unit
                                             91                                                 Jakarta
Page 109
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     risiko spesifik OPMS adalah 0 (“Nol”) karena tidak terdapat risiko spesifik terkait
     operasional dan keuangan OPMS.

     ß (Beta). Beta merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
     pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P 500
     atau IHSG). Untuk OPMS kami menggunakan Beta dari industri sejenis.
     Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta untuk
     menghitung cost of equity, dimana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered beta. Cara
     ini dilakukan untuk menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing perusahaan
     terhadap beta. Perusahaan yang sama dengan leverage yang berbeda akan memiliki cost of
     equity yang berbeda pula, oleh karena itu pengaruh leverage yang ada di tiap perusahaan
     perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.

     Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut:
                    βL
          βu =
              1 + (1-T) x DER

     Dimana:
     T            = Tarif Pajak Penghasilan Badan
     DER          = Debt to equity ratio
     βL           = Beta levered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                    secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                    pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                    portofolio pasar dengan pengaruh hutang
     βu           = Beta unlevered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                    secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                    pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                    portofolio pasar tanpa pengaruh hutang

     Unlevered beta perusahaan pembanding yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan beta
     untuk OPMS adalah sebesar 0,36. Unlevered beta tersebut diperoleh dari Penelitian
     Damodaran per 05 Juli 2025 dengan kategori Food Wholesalers.

     Unlevered beta perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-
     relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar yaitu sebesar 79,14% yang besumber
     dari DER. Untuk memperoleh beta yang sesuai maka mendiskonto AKB tersebut dengan
     formula sebagai berikut:

     βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
     βL = 0,36 x (1 + (1-22,00%) x 79,14%)
     βL = 0,58

     Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas OPMS adalah sebagai berikut:




                                                                                Business Valuation Unit
                                              92                                                 Jakarta
Page 110
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Figur 67. Biaya Modal Ekuitas
                         Keterangan                                  Nilai
      Risk Free Rate (Rf)                                                                7,03%
      Risk Premium Market (Rpm)                                                          7,03%
      β (Beta)                                                                             0,58
      Rating Based Default Spread (RBDS)                                                 1,87%
      α (Alpha)                                                                               0
                Biaya Modal untuk Ekuitas                                                9,21%
     Sumber: Penelitian Damodaran (Diolah GEAR)


8.12.1. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital)

     Sesuai dengan AKB yang digunakan, yaitu arus kas bersih untuk perusahaan (free cash flow
     to firm), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan
     rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari kreditor (pinjaman) maupun yang
     berasal dari (investor) penyertaan.

     Dalam penilaian ini, untuk biaya bunga utang digunakan tingkat bunga pinjaman rata-rata
     dalam mata uang Rupiah berdasarkan suku bunga pinjaman investasi dari Bank Perseroan
     berdasarkan data yang dipublikasikan Bank Indonesia per Juni 2025, sebesar 8,96%.
     Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya utang bersih setelah pajak dengan
     perhitungan sebagai berikut:
          Wd = i x ((1-T))
          Wd = 8,96% x (1-22%) = 6,99%

     Berikut adalah perhitungan WACC OPMS per 30 Juni 2025:

     Figur 68. WACC
         Jenis Modal         Biaya Modal              Komposisi              Tertimbang
        Biaya Hutang             6,99%                 44,18%                  3,09%
        Biaya Ekuitas            9,21%                 55,82%                  5,14%
      Biaya Modal Rata- Rata Tertimbang                                        8,23%

     Berdasarkan figur diatas, maka tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian sebesar
     8,23% yang menurut pendapat kami merupakan tingkat diskonto yang wajar.


8.13. Analisis Inkremental

     Proses kajian kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih untuk
     perusahaan (Free Cash Flow to Firm/FCFF). yang mencerminkan arus kas bersih masa
     datang yang tersedia didalam perusahaan yang dapat dibayarkan kepada semua penyedia
     kapital (claim holder), baik pemegang ekuitas (common stock), pemegang saham preferen
     (preferred stock) maupun para kreditor baik pokok maupun bunga atas pinjaman yang
     diterima oleh perusahaan, setelah terpenuhinya semua kebutuhan operasional dan investasi
     yang diperlukan dalam mempertahankan pertumbuhan perusahaan baik selama proyeksi



                                                                              Business Valuation Unit
                                             93                                                Jakarta
Page 111
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     periode eksplisit maupun masa kekal (periode implisit). Arus kas bersih untuk perusahaan
     (FCFF) tersebut didapat dari:

                                   FCFF = CFO + I . (1-T) – ΔCAPEX
     Dimana:

     FCFF   : Arus Kas Bersih untuk Perusahaan
     CFO    : Arus Kas Operasi
     I      : Beban Utang Berbunga (Interest Bearing Debt)
     T      : Tingkat Pajak
     ΔCAPEX : Perubahan arus kas investasi

     Arus kas inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih eksisting tanpa penambahan
     kegiatan usaha dengan arus kas bersih adanya penambahan kegiatan usaha. Hasil dari
     perhitungan arus kas inkremental ini dijadikan sebagai dasar dalam menentukan kelayakan
     usaha.

     Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih OPMS tanpa penambahan kegiatan usaha
     selama periode Juli 2025 sampai dengan Desember 2030:

     Figur 69. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                        (Ribuan Rupiah)
                            Jul-Des
                                           Des 2026         Des 2027           Des 2028         Des 2029       Des 2030
         Keterangan           2025
                            Proyeksi       Proyeksi         Proyeksi           Proyeksi         Proyeksi       Proyeksi
      Arus Kas Aktivitas
                             (96.454)       (963.504)           (899.673)       (955.416)        (975.053)     (1.014.869)
      Operasi
      Arus Kas Aktivitas
                           (1.200.000)      (100.000)           (100.000)       (100.000)        (400.000)      (250.000)
      Investasi
      Arus Kas Aktivitas
                                       -              -                 -                  -               -               -
      Pendanaan
      Kas dan Setara
                           13.031.979      11.735.525       10.672.021          9.672.349       8.616.933       7.241.880
      Awal Tahun
      Kas dan Setara
                           11.735.525      10.672.021           9.672.349       8.616.933       7.241.880       5.977.011
      Akhir Tahun

     Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih OPMS dengan penambahan kegiatan usaha
     selama periode Juli 2025 sampai dengan Desember 2030:

     Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                     (Ribuan Rupiah)
                            Jul-Des
                                            Des 2026            Des 2027        Des 2028        Des 2029       Des 2030
         Keterangan           2025
                            Proyeksi        Proyeksi            Proyeksi        Proyeksi        Proyeksi       Proyeksi
      Arus Kas Aktivitas
                            (390.811)      (2.469.354)      (1.748.567)        (1.399.014)     (1.013.422)      (648.077)
      Operasi
      Arus Kas Aktivitas
                           (1.200.000)      (100.000)           (100.000)       (100.000)       (400.000)       (250.000)
      Investasi
      Arus Kas Aktivitas
                                       -               -                   -               -               -               -
      Pendanaan
      Kas dan Setara
                           13.031.979      11.441.168           8.871.815       7.023.248       5.524.234       4.110.812
      Awal Tahun



                                                                                                        Business Valuation Unit
                                                           94                                                            Jakarta
Page 112
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

                                Jul-Des
                                                 Des 2026         Des 2027        Des 2028        Des 2029        Des 2030
            Keterangan            2025
                                Proyeksi         Proyeksi         Proyeksi        Proyeksi        Proyeksi        Proyeksi
         Kas dan Setara
                                11.441.168       8.871.815        7.023.248       5.524.234       4.110.812        3.212.735
         Akhir Tahun

     Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental OPMS selama Periode Juli 2025 sampai
               dengan 2030
                                                                        (Ribuan Rupiah)
                                  Jul-Des
                                                  Des 2026         Des 2027        Des 2028       Des 2029        Des 2030
             Keterangan             2025
                                  Proyeksi         Proyeksi        Proyeksi        Proyeksi       Proyeksi        Proyeksi
         Arus Kas Aktivitas
                                   1.491.921       1.615.097          2.166.802    2.572.098       3.014.828       3.438.738
         Operasi
         Arus Kas Aktivitas
                                 (1.200.000)       (100.000)          (100.000)    (100.000)       (400.000)       (250.000)
         Investasi
         Arus Kas Aktivitas
                                             -                -               -               -               -              -
         Pendanaan
         Kas dan Setara Awal
                                  13.031.979      13.323.900      14.838.996      16.905.798      19.377.896      21.992.724
         Tahun
         Kas dan Setara Akhir
                                  13.323.900      14.838.996      16.905.798      19.377.896      21.992.724      25.181.462
         Tahun

     Analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha OPMS didasarkan pada analisis
     inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan yaitu proyeksi keuangan tanpa penambahan
     kegiatan usaha dan proyeksi keuangan dengan penambahan kegiatan usaha.


8.14. Analisis Kelayakan Usaha

     Parameter kelayakan finansial yang digunakan meliputi NPV (Net Present Value), IRR
     (Internal Rate of Return), PI (Profitability Index), dan Payback Period.

     •      Net Present Value (NPV)
            NPV adalah selisih antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk dengan nilai sekarang
            dari arus kas yang keluar pada periode waktu tertentu. NPV mengestimasikan nilai
            sekarang pada suatu proyek, aset ataupun investasi berdasarkan arus kas masuk maupun
            arus kas keluar yang diharapkan pada masa depan yang disesuaikan dengan tingkat
            diskonto yang relevan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa NPV adalah nilai
            sekarang dari suatu aset maupun proyek. Persamaan dari NPV adalah sebagai berikut:

                                                                  𝑇
                                                                        CFt
                                                  NPV = ∑             (1+𝑟)𝑡
                                                                             − 𝐶𝐹 0
                                                                  𝑡−1

            Dimana:
            NPV           = Net Present Value
            CFt           = Arus Kas Pada Peiode t1
            CF0           = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
            r             = Tingkat Diskonto



                                                                                                          Business Valuation Unit
                                                             95                                                            Jakarta
Page 113
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         Berikut ini disajikan perhitungan Net Present Value dari arus kas bersih incremental
         OPMS dengan adanya penambahan kegiatan usaha:

         Figur 72. NPV Free Cash Flow to Incremental (Ribuan Rupiah)
                                        Jul-Des            Des          Des          Des          Des             Des
                                         2025              2026         2027         2028         2029            2030
          FCFF
          Net Income                       (9.082)    (896.344)       (490.982)     (85.686)     319.544          724.704
          Interest x (1-
                                                  -               -            -            -            -                  -
          tax)
          Depreciation
          &                             1.560.473     3.120.947       3.015.696    3.015.696    3.053.196       3.071.946
          Amortization
          CAPEX                        (1.200.000)    (100.000)       (100.000)    (100.000)    (400.000)       (250.000)
          Net change in
          working                        (59.471)     (609.506)       (357.912)    (357.912)    (357.912)       (357.912)
          capital
          FCFF                            291.921     1.515.097       2.066.802    2.472.098    2.614.828       3.188.738
          Terminal
                                                                                                              57.050.014
          Value
          Discount
                                             0,96            0,89          0,82         0,76         0,70             0,65
          Factor
          Initial
                           3.000.000
          Investment
          PV FCFF                         280.603     1.345.626       1.696.050    1.874.396    1.831.870     38.992.722
          NPV                          43.021.267

         Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa NPV OPMS dengan adanya
         penambahan kegiatan usaha diperoleh sebesar Rp43.021.267 ribu. Hasil tersebut
         menyimpulkan bahwa investasi penambahan usaha dengan parameter NPV layak untuk
         dilakukan karena NPV yang dihasilkan adalah positif. NPV yang positif (NPV > 0)
         menunjukan bahwa penerimaan lebih besar dibandingkan dengan nilai yang
         diinvestasikan, sedangkan NPV yang negatif (NPV < 0) menandakan penerimaan lebih
         kecil dibandingkan dengan pengeluaran atau akan mengalami kerugian pada investasinya
         setelah mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money). Namun apabila hasil
         perhitungan NPV adalah nol (NPV = 0), maka artinya investasi atau pembelian tersebut
         hanya balik modal (tidak untung dan tidak rugi). Semakin besar angka positifnya,
         semakin besar pula penerimaan yang bisa didapatkannya. Oleh karena itu, perhitungan
         NPV ini tidak saja digunakan untuk mengevaluasi layak atau tidaknya untuk
         berinvestasi, namun juga digunakan untuk membandingkan investasi mana yang lebih
         baik jika terdapat dua pilihan investasi atau lebih.

     •   Internal Rate of Return (IRR)
         IRR menjadi salah satu acuan penghitungan efisiensi dari sebuah investasi. Secara
         sederhana, penghitungan IRR dapat menjadi dasar apakah sebuah investasi layak
         dilakukan atau tidak. IRR yang lebih besar dari tingkat diskonto maka menggambarkan
         bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return lebih besar dari yang
         dirancang sebelumnya. Artinya, Perseroan disarankan menerima atau menjalankan
         proyek investasi tersebut. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka
         akan memberi gambaran bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return
         lebih kecil dari yang ditargetkan sehingga Perseroan lebih baik menolak proyek tersebut.

                                                                                                 Business Valuation Unit
                                                      96                                                          Jakarta
Page 114
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

         Sedangkan untuk IRR yang nilainya sama dengan tingkat diskonto menjadi
         pertimbangan bahwa investasi yang dilakukan diperkirakan menghasilkan return sebesar
         yang ditargetkan. Persamaan dari IRR adalah sebagai berikut:

                                                   𝑇
                                                         CFt
                                      NPV = ∑                     − 𝐶𝐹 0
                                                   𝑡−1 (1+𝐼𝑅𝑅)𝑡

         Dimana:
         IRR        = Internal Rate of Return
         CFt        = Arus Kas Pada Peiode t1
         CF0        = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
         r          = Tingkat Diskonto

         IRR adalah tingkat diskonto yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Kesimpulannya
         bila penghitungan IRR lebih besar daripada tingkat diskonto, maka dapat dibilang bahwa
         investasi yang akan dilakukan dinilai layak. Namun, jika nilai IRR sama dengan tingkat
         diskonto, maka investasi yang akan dilakukan dinilai balik modal. Sementara bila IRR
         lebih kecil dari tingkat diskonto, maka investasi yang dilakukan dinilai tidak layak.

         Berdasarkan perhitungan atas kajian kelayakan penambahan kegiatan usaha OPMS
         diperoleh besaran IRR sebesar 69%. Hal ini menunjukkan bahwa investasi yang
         dilakukan oleh OPMS dengan parameter IRR layak untuk dilakukan karena IRR yang
         dihasilkan lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat diskonto untuk industri sejenis
         yaitu sebesar 8,23%.

     •   Profitability Index (PI)
         PI adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi
         untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas mereka. Teknik arus kas diskonto yang
         digunakan dalam mencapai indeks profitabilitas. PI juga dikenal sebagai rasio manfaat-
         biaya. PI lebih besar dari atau sama dengan 1 ditafsirkan sebagai kriteria baik dan dapat
         diterima. PI dihitung dengan mencari nilai present value perkiraan arus kas yang akan
         diterima dari investasi, setelah itu baru dibandingkan dengan jumlah nilai investasi
         proyek tersebut. Persamaan untuk menghitung PI adalah sebagai berikut:
                                                  Σ𝑃𝑉(𝐶𝐹𝑡)
                                           PI =
                                                  Σ𝑃𝑉(𝐶𝐹0)

         Dimana:
         IRR     = Profitability Index
         CFt     = Present Value of Future Cash Flow
         CF0     = Initial Invesment

         Profitablility Index menunjukkan angka 15,34 artinya bahwa OPMS ketika menambah
         kegiatan usaha dianggap wajar dikarenakan Profitability Index diatas 1.




                                                                                 Business Valuation Unit
                                              97                                                  Jakarta
Page 115
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

      • Payback Period (PP)
        Payback period adalah periode yang dibutuhkan untuk menutup kembali pengeluaran
        investasi atau initial cash investment. Artinya, kurun waktu yang dibutuhkan agar bisa
        menutup kembali pengeluaran saat investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran
        kas netto (net cash flows). Penambahan kegiatan usaha OPMS diperoleh payback period
        selama 2 tahun 10 bulan.


8.15. Analisis Sensitivitas

      Penyusunan pendapat studi kelayakan ini telah dilakukan analisis sensitivitas yang bertujuan
      untuk melihat faktor-faktor mana yang paling berpengaruh terhadap parameter kelayakan
      penambahan kegiatan usaha OPMS. Hal tersebut dilakukan simulasi terhadap investasi,
      Setelah itu, dilakukan simulasi untuk melihat pengaruh parameter kelayakan terhadap faktor
      utama yang digunakan dalam analisis sensitivitas:

      Figur 73. Analisis Sensitivitas
               Keterangan                 NPV                IRR                   Hasil
                    0%                   43.021.267          69%                   Layak
                  -20%                   43.621.267          78%                   Layak
                  -15%                   43.471.267          76%                   Layak
                  -10%                   43.321.267          73%                   Layak
                   -5%                   43.171.267          71%                   Layak
                    0%                   43.021.267          69%                   Layak
                    5%                   42.871.267          68%                   Layak
                   10%                   42.721.267          66%                   Layak
                   15%                   42.571.267          64%                   Layak
                   20%                   42.421.267          63%                   Layak



8.16. Kesimpulan Analisis Kelayakan Keuangan

      Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebesar
      Rp3.000.000.000 (Tiga Miliar Rupiah). Sumber Pembiayaan OPMS dalam melakukan
      investasi penambahan kegiatan usaha bersumber dari kas OPMS.

      Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
      keuangan OPMS. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa
      waktu proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen OPMS
      telah menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun
      tersebut Perseroan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going
      concern bisnis OPMS diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi
      pendapatan/gordon model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan,
      Penilai telah melakukan diskusi dengan manajemen OPMS bahwa proyeksi yang digunakan
      telah wajar dan sudah dilakukan penyesuaian oleh Penilai.




                                                                                  Business Valuation Unit
                                                98                                                 Jakarta
Page 116
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

     Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
     keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
     umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI)
     atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi Juli 2025 – Desember 2030 adalah
     sebesar 1434%.

     Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
     diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih
     antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash
     Flow to Firm apabila OPMS tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya
     dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to
     Incremental. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan
     mempertimbangkan asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai
     berikut:
         • Net Present Value (NPV)           : Rp43.021.267.000
         • Internal Rate of Return (IRR)     : 69%
         • Profitability Index (PI)          : 15,34
         • Payback Period (PP)               : 2 tahun 10 bulan

     Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat
     risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha
     dibidang perdagangan besar makanan dan minuman, maka proyeksi arus kas inkremental
     bernilai positif.

     IRR sebesar 69% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha oleh
     OPMS dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto

     Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai
     faktor yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
     perubahan nilai investasi proyek penambahan kegiatan usaha OPMS menunjukkan tingkat
     kelayakan finansial yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi
     fluktuasi biaya investasi hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
     penambahan kegiatan usaha ini tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan
     seluruh parameter keuangan yang menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial
     akibat perubahan nilai investasi tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman
     untuk direalisasikan dari perspektif keuangan.

     Dengan analisis kelayakan keuangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
     Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.




                                                                                Business Valuation Unit
                                              99                                                 Jakarta
Page 117
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

9.   KLASIFIKASI PENILAI USAHA

     Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
     Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
     Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP
     No. 2.13.0116 dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa
     Keuangan (“OJK”) d/h Bapepam dan LK dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang
     Pasar Modal dari Bapepam dan LK No. STTD.PB-51/PM.223/2021 dan 211/NB.122/STTD-
     P/2020.

     Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai Usaha
     bersertifikat MAPPI dengan perijinan sebagai berikut :

     Mappi No.        : 14-S-05089
     Ijin Penilai     : No. B-1.18.00511
     No. Reg.         : RMK-2017.01120
     STTD             : PB-51/PM.223/2021
     STTD IKNB        : 211/NB.122/STTD-P/2020




                                                                             Business Valuation Unit
                                            100                                               Jakarta
Page 118
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk




                         LAMPIRAN KEUANGAN




                                                      Business Valuation Unit
                                           101                         Jakarta
Page 119
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Historis
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah


Lampiran 1
                                                                       Des                Des              Des              Des              Des              Jan-Jun
Posisi Keuangan
                                                                       2020               2021             2022             2023             2024               2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas                                                      62.044.520         35.725.350       16.348.277        7.363.282        9.549.418         13.031.979
Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                                   -                  -                -            406.258              -                4.650
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                                 167.428             73.658          107.886           30.699           17.642             25.490
Persediaan                                                               3.726.727          1.420.953        1.263.713        1.935.732          403.068            328.916
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                         220.992             37.338          391.735        7.733.221        8.380.054          3.719.981
Uang jaminan                                                            16.631.017         10.381.017        7.881.017        6.631.000        6.131.000          5.981.000
Pajak dibayar dimuka                                                           -              659.387        1.940.848          220.109              -                  -

Jumlah Aset Lancar                                                      82.790.685         48.297.703       27.933.476       24.320.300       24.481.182         23.092.016

ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain           -            9.540.500        9.126.125        5.925.000              -                  -
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                      11.895.086          9.599.269          268.622              -                -                  -
Aset pajak tangguhan                                                        99.610            510.349          838.319        2.409.587          936.510            915.028
Aset tetap - bersih                                                      3.327.287         25.521.501       55.854.946       56.448.340       54.605.386         52.679.242
Aset hak guna - bersih                                                   1.005.130            435.417              -             99.179              -              157.876
Aset Lain-lain                                                                 -                  -            290.930              -                -                  -

Jumlah Aset tidak lancar                                                16.327.113         45.607.036       66.378.942       64.882.106       55.541.895         53.752.145

JUMLAH ASET                                                             99.117.797         93.904.739       94.312.419       89.202.406       80.023.077         76.844.161

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga                                                   1.250                   -             -               817.638              -            4.133
Utang retensi                                                                  -                     -       1.582.056              49.112              -              -
Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                              21.111                 3.660       122.826              69.881              -           39.584
Beban masih harus dibayar                                                   84.832               112.858        87.409              86.654           32.521         64.044
Liabilitas sewa                                                             96.713               166.326           -               102.578          107.846        105.087
Utang Pajak                                                                801.620                   -          40.287              45.785           54.748         56.471
uang muka pelanggan                                                      4.090.909                   -             -                   -                -              -

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                                          5.096.435               282.845     1.832.579        1.171.648             195.114        269.320

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan                             396.051            409.531          580.301          614.560          524.844        479.986
                                                                                  -                  -                -                -                -              -
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                                              396.051            409.531          580.301          614.560          524.844        479.986

JUMLAH LIABILITAS                                                        5.492.486               692.376     2.412.880        1.786.208             719.959        749.306

EKUITAS
Modal Saham                                                            100.000.000        100.000.000      100.000.000      100.000.000      100.000.000        100.000.000
Tambahan modal disetor                                                  10.336.807         10.336.807       10.336.807       10.336.807       10.336.807         10.336.807
Saham Treasuri                                                         (21.754.913)       (21.754.913)     (21.754.913)     (21.754.913)     (21.754.913)       (21.754.913)
Penghasilan komprehensif lain                                              (35.381)           (94.520)        (546.485)        (278.280)          51.527            137.129
Saldo Laba                                                                     -                  -                -                -                -                  -
   Telah ditentukan penggunaannya                                          300.000            300.000          300.000          300.000          300.000            300.000
   Belum ditentukan penggunaannya                                        4.778.800          4.424.990        3.564.130       (1.187.415)      (9.630.302)       (12.924.168)

Jumlah Ekuitas                                                          93.625.312         93.212.363       91.899.539       87.416.198       79.303.118         76.094.854

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                                           99.117.797         93.904.739       94.312.419       89.202.406       80.023.077         76.844.161




                                                                                                                                              Business Valuation Unit
                                                                                        102                                                                    Jakarta
Page 120
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah


Lampiran 2
                                                                                           Des                Des               Des               Des               Des               Jan-Jun
Laba Rugi
                                                                                           2020               2021              2022              2023              2024                2025
PENDAPATAN                                                                                   34.773.247         41.184.565        22.510.395         9.117.164        40.784.169           2.439.602
BEBAN POKOK PENDAPATAN                                                                      (30.490.801)       (37.461.493)      (17.815.359)      (10.729.121)      (41.486.701)         (3.431.256)

LABA BRUTO                                                                                    4.282.447           3.723.072        4.695.036        (1.611.956)         (702.532)          (991.654)

BEBAN USAHA
Beban Penjualan                                                                                 (15.643)           (75.037)          (48.733)         (120.104)         (885.912)                -
Beban umum dan administrasi                                                                  (5.291.432)        (6.343.568)       (7.733.166)       (5.906.931)       (5.946.066)         (2.687.433)

RUGI USAHA                                                                                   (1.024.628)        (2.695.533)       (3.086.864)       (7.638.992)       (7.534.510)         (3.679.087)

Pendapatan keuangan                                                                           2.663.552           1.935.782        1.231.041             898.567           463.113          255.695
Pendapatan lain-lain                                                                           (419.541)            (13.854)         677.595             401.829           211.902          126.864

RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN                                                                1.219.383            (773.605)      (1.178.228)       (6.338.595)       (6.859.495)         (3.296.528)

MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN                                                    (187.581)            419.796          317.368         1.587.050        (1.424.789)              2.662
                                                                                                   -15%                -54%             -27%              -25%               21%                  0%
RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN                                                                    1.031.801            (353.810)        (860.860)       (4.751.545)       (8.284.284)         (3.293.866)

PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak penghasilan terkait          42.234             33.168            (48.192)           71.737           219.492          109.746
Pajak penghasilan terkait                                                                         (8.447)            (9.056)            10.602           (15.782)          (48.288)         (24.144)

Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif
                                                                                                   -                 (83.250)       (414.375)            212.250               -                 -

JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN                                                       1.065.589            (412.949)      (1.312.825)       (4.483.340)       (8.113.080)         (3.208.264)

RUGI PER SAHAM DASAR - Dasar                                                                        1,21               (0,44)            (1,07)            (5,93)           (10,33)             (4,11)


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran 3
                                                                                           Des                Des               Des               Des               Des               Jan-Jun
Arus Kas
                                                                                           2020               2021              2022              2023              2024                2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan                                                                43.677.333         37.093.656        22.510.395         8.710.907        41.190.427           2.434.952
Pembayaran kas Kepada Pemasok                                                               (16.593.394)       (34.589.751)      (17.054.687)      (15.327.096)      (38.949.687)         (2.256.840)
Pembayaran Kas kepada Karyawan                                                               (2.350.099)        (2.687.631)       (2.831.580)       (2.609.127)       (2.587.058)         (1.130.403)
Pembayaran kas untuk beban usaha                                                             (2.699.973)        (2.994.606)       (5.733.731)         (681.558)       (2.040.214)         (1.042.930)
Penerimaan (Pembayaran) untuk operasional lainnya                                             2.357.856         (1.025.064)        2.053.659        (1.359.062)         (808.210)          4.880.819
                                                                                                    -                  -                 -                 -                 -                   -
Kas Digunakan untuk operasi                                                                  24.391.723         (4.203.397)       (1.055.945)      (11.265.937)       (3.194.742)          2.885.598

Penerimaan bunga                                                                                    -             1.935.782        1.231.041             975.754           476.171          247.847
Pembayaran bunga atas liabilitas sewa                                                               -                   -                -               (12.110)           (4.223)          (5.697)
Pembayaran Pajak Penghasilan                                                                   (217.590)             (2.009)             -                   -                 -                -

Jumlah Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi                                     24.174.133          (2.269.623)            175.097     (10.302.292)       (2.722.794)         3.127.747

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penerimaan dari penjualan aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain     -                   -                 -           3.413.375         5.929.179                -
Penerimaan atas uang jaminan                                                                36.368.983           6.250.000         2.500.000         1.250.017           500.000            150.000
Penerimaan dari penjualan aset tetap                                                               -                36.364               -             110.000           189.583            315.315
Perolehan aset tetap                                                                        (1.020.214)        (20.612.161)      (22.052.169)       (3.361.405)       (1.607.254)            (5.088)
Penambahan Investasi                                                                               -            (9.623.750)              -                 -                 -                  -
Pembayaran uang muka Perolehan aset                                                        (11.888.886)                -                 -                 -                 -                  -

Kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi                                              23.459.883         (23.949.548)      (19.552.169)        1.411.987         5.011.508            460.228

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran pokok liabilitas sewa                                                             (1.042.714)           (100.000)               -             (94.690)       (102.578)          (105.414)
Akuisisi Saham Treasuri                                                                     (21.754.913)                -                  -                 -               -                  -

Kas bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan                                               (22.797.628)           (100.000)               -             (94.690)       (102.578)          (105.414)

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSSIH KAS DAN SETARA KAS                                             24.836.389         (26.319.171)      (19.377.073)       (8.984.995)        2.186.136          3.482.561

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                                                               37.208.132         62.044.520        35.725.350        16.348.277          7.363.282          9.549.418
Dampak perubahan kurs mata uang asing terhadap kas dan banj                                        -                  -                 -                 -                  -                  -
KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE                                                            62.044.520         35.725.350        16.348.277         7.363.282          9.549.418         13.031.979




                                                                                                                                                                     Business Valuation Unit
                                                                                                            103                                                                       Jakarta
Page 121
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Analisis Rasio
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah


Lampiran 4
                                            Des               Des             Des                Des              Des              Jan-Jun
Rasio Keuangan
                                            2020              2021            2022               2023             2024               2025
Rasio Likuiditas
Current Ratio                                  1624,48%           17075,68%      1524,27%           2075,73%        12547,08%          8574,20%
Quick Ratio                                    1551,36%           16573,30%      1455,31%           1910,52%        12340,50%          8452,07%
Cash Ratio                                     1217,41%           12630,71%       892,09%            628,46%         4894,26%          4838,85%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga                -                 -                -                   16              -                   1
Perputaran Persediaan                                 45                14                  26              66                4                35
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga                  0               -                -                   28              -                0,44
Perputaran Utang Retensi                             -                 -                    32               2              -                 -
Perputaran Utang Lain-Lain                             0                 0                   3               2              -                   4
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar              1                 1                   2               3             0,29                 7
Rasio Solvabilitas
Debt to Asset Ratio                                5,54%             0,74%            2,56%              2,00%            0,90%              0,98%
Debt to Equity Ratio                               5,87%             0,74%            2,63%              2,04%            0,91%              0,98%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin                                       12,32%             9,04%           20,86%            -17,68%           -1,72%         -40,65%
Operational Profit Margin                          -2,95%            -6,55%          -13,71%            -83,79%          -18,47%        -150,81%
Net Profit Margin                                   2,97%            -0,86%           -3,82%            -52,12%          -20,31%        -135,02%
ROA                                                 1,04%            -0,38%           -0,91%             -5,33%          -10,35%          -4,29%
ROE                                                 1,10%            -0,38%           -0,94%             -5,44%          -10,45%          -4,33%




                                                                                                                   Business Valuation Unit
                                                            104                                                                     Jakarta
Page 122
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Analisis Vertikal
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Vertikal


Lampiran 5
                                                                        Des       Des       Des       Des         Des        Jan-Jun
Posisi Keuangan
                                                                        2020      2021      2022      2023        2024         2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas                                                       62,60%    38,04%    17,33%     8,25%      11,93%       16,96%
Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                              0,00%     0,00%     0,00%     0,46%       0,00%        0,01%
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                                0,17%     0,08%     0,11%     0,03%       0,02%        0,03%
Persediaan                                                                3,76%     1,51%     1,34%     2,17%       0,50%        0,43%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                        0,22%     0,04%     0,42%     8,67%      10,47%        4,84%
Uang jaminan                                                             16,78%    11,05%     8,36%     7,43%       7,66%        7,78%
Pajak dibayar dimuka                                                      0,00%     0,70%     2,06%     0,25%       0,00%        0,00%

Jumlah Aset Lancar                                                       83,53%    51,43%    29,62%    27,26%      30,59%       30,05%

ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain      0,00%    10,16%     9,68%     6,64%       0,00%        0,00%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                       12,00%    10,22%     0,28%     0,00%       0,00%        0,00%
Aset pajak tangguhan                                                      0,10%     0,54%     0,89%     2,70%       1,17%        1,19%
Aset tetap - bersih                                                       3,36%    27,18%    59,22%    63,28%      68,24%       68,55%
Aset hak guna - bersih                                                    1,01%     0,46%     0,00%     0,11%       0,00%        0,21%
Aset Lain-lain                                                            0,00%     0,00%     0,31%     0,00%       0,00%        0,00%

Jumlah Aset tidak lancar                                                 16,47%    48,57%    70,38%    72,74%      69,41%       69,95%

JUMLAH ASET                                                             100,00%   100,00%   100,00%   100,00%     100,00%      100,00%

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga                                                0,00%     0,00%     0,00%     0,92%       0,00%        0,01%
Utang retensi                                                             0,00%     0,00%     1,68%     0,06%       0,00%        0,00%
Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                            0,02%     0,00%     0,13%     0,08%       0,00%        0,05%
Beban masih harus dibayar                                                 0,09%     0,12%     0,09%     0,10%       0,04%        0,08%
Liabilitas sewa                                                           0,10%     0,18%     0,00%     0,11%       0,13%        0,14%
Utang Pajak                                                               0,81%     0,00%     0,04%     0,05%       0,07%        0,07%
uang muka pelanggan                                                       4,13%     0,00%     0,00%     0,00%       0,00%        0,00%

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                                           5,14%     0,30%     1,94%     1,31%       0,24%        0,35%

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan                         0,40%     0,44%     0,62%     0,69%       0,66%        0,62%

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                                          0,40%     0,44%     0,62%     0,69%       0,66%        0,62%

JUMLAH LIABILITAS                                                         5,54%     0,74%     2,56%     2,00%       0,90%        0,98%

EKUITAS
Modal Saham                                                             100,89%   106,49%   106,03%   112,10%     124,96%      130,13%
Tambahan modal disetor                                                   10,43%    11,01%    10,96%    11,59%      12,92%       13,45%
Saham Treasuri                                                          -21,95%   -23,17%   -23,07%   -24,39%     -27,19%      -28,31%
Penghasilan komprehensif lain                                            -0,04%    -0,10%    -0,58%    -0,31%       0,06%        0,18%
Saldo Laba
   Telah ditentukan penggunaannya                                         0,30%     0,32%     0,32%     0,34%       0,37%         0,39%
   Belum ditentukan penggunaannya                                         4,82%     4,71%     3,78%    -1,33%     -12,03%       -16,82%

Jumlah Ekuitas                                                           94,46%    99,26%    97,44%    98,00%      99,10%       99,02%

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                                           100,00%   100,00%   100,00%   100,00%     100,00%      100,00%




                                                                                                                Business Valuation Unit
                                                                       105                                                       Jakarta
Page 123
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Vertikal


Lampiran 6
                                                                          Des        Des        Des         Des         Des        Jan-Jun
Laba Rugi
                                                                          2020       2021       2022        2023        2024         2025
PENDAPATAN                                                                100,00%    100,00%    100,00%     100,00%     100,00%      100,00%
BEBAN POKOK PENDAPATAN                                                     -87,68%    -90,96%    -79,14%   -117,68%    -101,72%     -140,65%

LABA BRUTO                                                                 12,32%      9,04%     20,86%    -17,68%       -1,72%      -40,65%

BEBAN USAHA
Beban Penjualan                                                            -0,04%     -0,18%     -0,22%      -1,32%      -2,17%        0,00%
Beban umum dan administrasi                                               -15,22%    -15,40%    -34,35%     -64,79%     -14,58%     -110,16%

RUGI USAHA                                                                 -2,95%     -6,55%    -13,71%    -83,79%      -18,47%     -150,81%

Pendapatan keuangan                                                         7,66%      4,70%      5,47%      9,86%        1,14%       10,48%
Pendapatan lain-lain                                                       -1,21%     -0,03%      3,01%      4,41%        0,52%        5,20%

RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN                                              3,51%     -1,88%     -5,23%    -69,52%      -16,82%     -135,13%

MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN                                -0,54%      1,02%      1,41%     17,41%       -3,49%        0,11%

RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN                                                  2,97%     -0,86%     -3,82%    -52,12%      -20,31%     -135,02%

PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi                            0,00%      0,00%      0,00%      0,00%        0,00%        0,00%
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak
                                                                            0,12%      0,08%     -0,21%      0,79%        0,54%        4,50%
penghasilan terkait
Pajak penghasilan terkait                                                  -0,02%     -0,02%      0,05%      -0,17%       -0,12%       -0,99%

Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar
                                                                            0,00%     -0,20%     -1,84%      2,33%        0,00%        0,00%
melalui penghasilan komprehensif

JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN                                     3,06%     -1,00%     -5,83%    -49,17%      -19,89%     -131,51%




                                                                                                                      Business Valuation Unit
                                                                         106                                                           Jakarta
Page 124
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Analisis Horizontal
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Horizontal


Lampiran 7
                                                                        Des    Des        Des        Des          Des        Jan-Jun
Posisi Keuangan
                                                                        2020   2021       2022       2023         2024        2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas                                                              -42,42%   -54,24%     -54,96%      29,69%        36,47%
Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                                      0,00%     0,00%       0,00%    -100,00%         0,00%
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                                      -56,01%    46,47%     -71,54%     -42,53%        44,49%
Persediaan                                                                      -61,87%   -11,07%      53,18%     -79,18%       -18,40%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                              -83,10%   949,17%    1874,09%       8,36%       -55,61%
Uang jaminan                                                                    -37,58%   -24,08%     -15,86%      -7,54%        -2,45%
Pajak dibayar dimuka                                                              0,00%   194,34%     -88,66%    -100,00%         0,00%

Jumlah Aset Lancar                                                             -41,66%     -42,16%    -12,93%       0,66%       -5,67%

ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain             0,00%      -4,34%    -35,08%    -100,00%         0,00%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                             -19,30%     -97,20%   -100,00%       0,00%         0,00%
Aset pajak tangguhan                                                           412,35%      64,26%    187,43%     -61,13%        -2,29%
Aset tetap - bersih                                                            667,04%     118,85%      1,06%      -3,26%        -3,53%
Aset hak guna - bersih                                                         -56,68%    -100,00%      0,00%    -100,00%         0,00%
Aset Lain-lain                                                                   0,00%       0,00%   -100,00%       0,00%         0,00%

Jumlah Aset tidak lancar                                                       179,33%     45,55%      -2,25%     -14,40%       -3,22%

JUMLAH ASET                                                                     -5,26%      0,43%      -5,42%     -10,29%       -3,97%

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga                                                     -100,00%      0,00%      0,00%    -100,00%        0,00%
Utang retensi                                                                     0,00%      0,00%    -96,90%    -100,00%        0,00%
Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                                  -82,66%   3255,67%    -43,11%    -100,00%        0,00%
Beban masih harus dibayar                                                        33,04%    -22,55%     -0,86%     -62,47%       96,93%
Liabilitas sewa                                                                  71,98%   -100,00%      0,00%       5,14%       -2,56%
Utang Pajak                                                                    -100,00%      0,00%     13,65%      19,58%        3,15%
uang muka pelanggan                                                            -100,00%      0,00%      0,00%       0,00%        0,00%

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                                                -94,45%    547,91%     -36,07%     -83,35%       38,03%

LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan                                3,40%     41,70%      5,90%       -14,60%       -8,55%

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                                                 3,40%     41,70%      5,90%      -14,60%       -8,55%

JUMLAH LIABILITAS                                                              -87,39%    248,49%     -25,97%     -59,69%        4,08%

EKUITAS
Modal Saham                                                                      0,00%      0,00%       0,00%       0,00%        0,00%
Tambahan modal disetor                                                           0,00%      0,00%       0,00%       0,00%        0,00%
Saham Treasuri                                                                   0,00%      0,00%       0,00%       0,00%        0,00%
Penghasilan komprehensif lain                                                  167,15%    478,17%     -49,08%    -118,52%      166,13%
Saldo Laba
   Telah ditentukan penggunaannya                                                 0,00%      0,00%      0,00%       0,00%        0,00%
   Belum ditentukan penggunaannya                                                -7,40%    -19,45%   -133,32%     711,03%       34,20%

Jumlah Ekuitas                                                                  -0,44%      -1,41%     -4,88%      -9,28%       -4,05%

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                                                   -5,26%      0,43%      -5,42%     -10,29%       -3,97%




                                                                                                                Business Valuation Unit
                                                                       107                                                       Jakarta
Page 125
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Horizontal


Lampiran 8
                                                                          Des    Des         Des        Des          Des        Jan-Jun
Laba Rugi
                                                                          2020   2021        2022       2023         2024        2025
PENDAPATAN                                                                        18,44%      -45,34%    -59,50%     347,33%      -94,02%
BEBAN POKOK PENDAPATAN                                                            22,86%      -52,44%    -39,78%     286,67%      -91,73%

LABA BRUTO                                                                       -13,06%      26,11%    -134,33%     -56,42%       41,15%

BEBAN USAHA
Beban Penjualan                                                                  379,68%      -35,05%   146,45%      637,62%     -100,00%
Beban umum dan administrasi                                                       19,88%       21,91%   -23,62%        0,66%      -54,80%

RUGI USAHA                                                                       163,07%      14,52%    147,47%       -1,37%      -51,17%

Pendapatan keuangan                                                               -27,32%     -36,41%    -27,01%      -48,46%      -44,79%
Pendapatan lain-lain                                                              -96,70%   -4990,83%    -40,70%      -47,27%      -40,13%

RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN                                                   -163,44%     52,30%    437,98%        8,22%      -51,94%

MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN                                      -323,79%    -24,40%    400,07%     -189,78%     -100,19%

RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN                                                       -134,29%    143,31%    451,95%       74,35%      -60,24%

PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi                                   0,00%       0,00%      0,00%        0,00%        0,00%
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak
                                                                                  -21,47%    -245,30%   -248,86%     205,97%       -50,00%
penghasilan terkait
Pajak penghasilan terkait                                                          7,21%     -217,07%   -248,86%     205,97%       -50,00%

Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar
                                                                                   0,00%     397,75%    -151,22%    -100,00%        0,00%
melalui penghasilan komprehensif

JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN                                          -138,75%    217,91%    241,50%       80,96%      -60,46%

RUGI PER SAHAM DASAR - Dasar




                                                                                                                   Business Valuation Unit
                                                                         108                                                        Jakarta
Page 126
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Asumsi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                        Jul-Des         Des             Des           Des             Des           Des
                  Asumsi PLAT (BEFORE)
                                                                         2025           2026            2027          2028            2029          2030
Hari Per tahun                                                                   184             365         365           365             365           365
Inflasi                                                                         1,7%            2,5%        2,5%          2,5%            2,5%          2,5%
BPP terhadap Pendapatan Plat                                                   64,5%           90,0%       90,0%         90,0%           90,0%         90,0%

Tonase PLAT                                                  Kilogram         41.311      300.300        300.300       300.300         300.300       300.300
Harga Jual                                                   Rupiah            9.990        9.990         10.240        10.496          10.758        11.027

Pendapatan PLAT                                                            412.701      3.000.000      3.075.000     3.151.875       3.230.672     3.311.439
BPP PLAT                                                                   266.222      2.700.000      2.767.500     2.836.688       2.907.605     2.980.295

Pendapatan Penjualan PLAT
   Penjualan PLAT                                                          412.701      3.000.000      3.075.000     3.151.875       3.230.672     3.311.439

Beban Pokok Penjualan
  Beban Pokok Penjualan                                                    (266.222)    (2.700.000)    (2.767.500)   (2.836.688)     (2.907.605)   (2.980.295)

Biaya Umum & Administrasi
 Bua Gaji Pegawai                                                          (853.810)    (1.683.432)    (1.725.518)   (1.768.656)     (1.812.872)   (1.858.194)
 Bua Upah Buruh                                                            (146.463)      (300.605)      (308.120)     (315.823)       (323.718)     (331.811)
 Bua Thr/Bonus                                                                    -       (141.420)      (141.420)     (141.420)       (141.420)     (141.420)
 Bua Kesejahteraan Karyawan/Insentive Karyawan                              (14.711)       (29.240)       (29.240)      (29.240)        (29.240)      (29.240)
 Bua Telepon/Fax                                                            (19.420)       (36.007)       (36.007)      (36.007)        (36.007)      (36.007)
 Bua Listrik/Air                                                            (17.252)       (36.499)       (36.499)      (36.499)        (36.499)      (36.499)
 Bua Alat Tulis Kantor                                                         (558)        (1.196)        (1.196)       (1.196)         (1.196)       (1.196)
 Bua Barang Cetakan Dan Fotocopy                                               (125)          (300)          (300)         (300)           (300)         (300)
 Bua Beban Pos, Telegram, Dan Telex                                            (856)        (2.054)        (2.054)       (2.054)         (2.054)       (2.054)
 Bua Bbm, Tol, Dan Parkir                                                   (25.775)       (48.780)       (50.000)      (51.249)        (52.531)      (53.844)
 Bua Beban Kendaraan Lainnya                                                (40.653)       (79.775)       (79.775)      (79.775)        (79.775)      (79.775)
 Bua Makan Dan Minum                                                        (20.735)       (41.070)       (41.070)      (41.070)        (41.070)      (41.070)
 Bua Keperluan Rumah Tangga Kantor                                          (23.494)       (48.206)       (48.206)      (48.206)        (48.206)      (48.206)
 Bua Perjalanan Dinas                                                       (27.744)       (58.841)       (58.841)      (58.841)        (58.841)      (58.841)
 Bua Asuransi                                                               (85.066)      (170.133)      (170.133)     (170.133)       (170.133)     (170.133)
 Bua Administrasi Bank                                                       (6.077)       (14.311)       (14.311)      (14.311)        (14.311)      (14.311)
 Bua Perijinan/Pengurusan Dokumen                                           (96.363)      (192.830)      (192.830)     (192.830)       (192.830)     (192.830)
 Bua Keamanan Dan Kebersihan                                               (213.401)      (438.050)      (449.001)     (460.226)       (471.732)     (483.525)
 Bua Jasa Profesional Fee (Pph Pasal 21)                                    (13.429)       (16.229)       (16.229)      (16.229)        (16.229)      (16.229)
 Bua Representasi Dan Jamuan                                                (19.420)       (40.642)       (40.642)      (40.642)        (40.642)      (40.642)
 Bua Pajak                                                                  (24.471)       (58.729)       (58.729)      (58.729)        (58.729)      (58.729)

 Bua Biaya Jasa Service/Supervisi/Instalasi (Pph Pasal 23)
                                                                            (57.193)     (424.990)      (424.990)     (424.990)       (424.990)     (424.990)
 Bua Penyusutan Kendaraan                                                   (81.474)     (162.948)      (162.948)     (162.948)       (162.948)     (162.948)
 Bua Penyusutan Inventaris Kantor                                           (45.701)      (91.581)       (91.581)      (91.581)        (91.581)      (91.581)
 Bua Penyusutan Bangunan Kantor Utama                                      (284.365)     (568.730)      (568.730)     (568.730)       (568.730)     (568.730)
 Bua Pem Dan Perbaikan Inventaris Kantor                                     (6.556)       (8.175)        (8.175)       (8.175)         (8.175)       (8.175)
 Bua Pem Dan Perbaikan Mesin Pabrik                                          (6.678)       (6.936)        (6.936)       (6.936)         (6.936)       (6.936)
 Beban Amortisasi Aset Hak Guna                                             (52.625)     (105.250)             -             -               -             -

Pendapatan Lainnya
 Pendapatan Bunga                                                          250.480        545.213        545.213       545.213         545.213       545.213
 Pendapatan Lainnya                                                        299.033              -              -             -               -             -

Beban Lainnya
 Beban Bunga Bank                                                              (285)              -             -             -               -             -
 Beban Lannya                                                              (332.646)              -             -             -               -             -

Perputaran
   Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga                     Hari                   8              8             8             8               8             8
   Perputaran Persediaan                                     Hari                  31             31            31            31              31            31
   Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga                     Hari                  14             14            14            14              14            14
   Perputaran Utang Lain-Lain                                Hari                   3              3             3             3               3             3
   Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar                 Hari                   2              2             2             2               2             2

Tax                                                                               22%           22%            22%           22%             22%           22%




                                                                                                                                   Business Valuation Unit
                                                                        109                                                                         Jakarta
Page 127
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Asumsi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha

PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                        Jul-Des          Des             Des             Des              Des             Des
              Asumsi PLAT + FMCG (AFTER)
                                                                         2025            2026            2027            2028             2029            2030
Hari Per tahun                                                                    184           365            365            365              365             365
Inflasi                                                                         1,7%          2,5%           2,5%           2,5%             2,5%            2,5%
BPP PLAT (Before)                                                             64,51%        90,00%         90,00%         90,00%           90,00%          90,00%
BPP FMCG (After)                                                              87,82%        93,20%         93,20%         93,20%           93,20%          93,20%
                                                                                                              37%            25%              19%             15%
Tonase PLAT                                                  Kilogram       41.311         300.300        300.300        300.300          300.300         300.300
Tonase FMCG                                                  Kilogram      230.230       1.501.502      2.050.831      2.572.471        3.067.446       3.536.744
Harga Jual                                                   Rupiah          9.990           9.990         10.240         10.496           10.758          11.027

Pendapatan PLAT                                                             412.701      3.000.000      3.075.000      3.151.875        3.230.672       3.311.439
Pendapatan FMCG                                                           2.300.000     15.000.000     21.000.000     27.000.000       33.000.000      39.000.000

BPP PLAT                                                                    266.222      2.700.000      2.767.500      2.836.688        2.907.605       2.980.295
BPP FMCG                                                                  2.019.799     13.980.033     19.572.046     25.164.059       30.756.072      36.348.085

Pendapatan Penjualan PLAT + FMCG
   Penjualan PLAT + FMCG                                                  2.712.701     18.000.000     24.075.000     30.151.875       36.230.672      42.311.439

Beban Pokok Penjualan
  Beban Pokok Penjualan                                                  (2.286.022)    (16.680.033)   (22.339.546)   (28.000.746)     (33.663.677)    (39.328.380)

Biaya Umum & Administrasi
 Bua Gaji Pegawai                                                          (921.310)     (1.750.932)    (1.794.705)    (1.839.573)      (1.885.562)     (1.932.701)
 Bua Upah Buruh                                                            (146.463)       (300.605)      (308.120)      (315.823)        (323.718)       (331.811)
 Bua Thr/Bonus                                                                    -        (141.420)      (141.420)      (141.420)        (141.420)       (141.420)
 Bua Kesejahteraan Karyawan/Insentive Karyawan                              (14.711)        (29.240)       (29.240)       (29.240)         (29.240)        (29.240)
 Bua Telepon/Fax                                                            (19.420)        (36.007)       (36.007)       (36.007)         (36.007)        (36.007)
 Bua Listrik/Air                                                            (17.252)        (36.499)       (36.499)       (36.499)         (36.499)        (36.499)
 Bua Alat Tulis Kantor                                                         (558)         (1.196)        (1.196)        (1.196)          (1.196)         (1.196)
 Bua Barang Cetakan Dan Fotocopy                                               (125)           (300)          (300)          (300)            (300)           (300)
 Bua Beban Pos, Telegram, Dan Telex                                            (856)         (2.054)        (2.054)        (2.054)          (2.054)         (2.054)
 Bua Bbm, Tol, Dan Parkir                                                   (63.263)        (86.268)     (88.424,6)     (90.635,2)       (92.901,1)      (95.223,6)
 Bua Beban Kendaraan Lainnya                                                (40.653)        (79.775)       (79.775)       (79.775)         (79.775)        (79.775)
 Bua Makan Dan Minum                                                        (20.735)        (41.070)       (41.070)       (41.070)         (41.070)        (41.070)
 Bua Keperluan Rumah Tangga Kantor                                          (23.494)        (48.206)       (48.206)       (48.206)         (48.206)        (48.206)
 Bua Perjalanan Dinas                                                       (27.744)        (58.841)       (58.841)       (58.841)         (58.841)        (58.841)
 Bua Asuransi                                                               (85.066)       (170.133)      (170.133)      (170.133)        (170.133)       (170.133)
 Bua Administrasi Bank                                                       (6.077)        (14.311)       (14.311)       (14.311)         (14.311)        (14.311)
 Bua Perijinan/Pengurusan Dokumen                                           (96.363)       (192.830)      (192.830)      (192.830)        (192.830)       (192.830)
 Bua Keamanan Dan Kebersihan                                               (213.401)       (438.050)      (449.001)      (460.226)        (471.732)       (483.525)
 Bua Jasa Profesional Fee (Pph Pasal 21)                                    (13.429)        (16.229)       (16.229)       (16.229)         (16.229)        (16.229)
 Bua Representasi Dan Jamuan                                                (19.420)        (40.642)       (40.642)       (40.642)         (40.642)        (40.642)
 Bua Pajak                                                                  (24.471)        (58.729)       (58.729)       (58.729)         (58.729)        (58.729)

 Bua Biaya Jasa Service/Supervisi/Instalasi (Pph Pasal 23)                 (275.043)      (180.000)      (180.000)      (180.000)        (180.000)       (180.000)

 Bua Penyusutan Kendaraan                                                   (81.503)       (163.007)      (163.007)      (163.007)        (163.007)       (163.007)
 Bua Penyusutan Inventaris Kantor                                           (45.820)        (91.640)       (91.640)       (91.640)         (91.640)        (91.640)
 Bua Penyusutan Bangunan Kantor Utama                                      (284.395)       (568.789)      (568.789)      (568.789)        (568.789)       (568.789)
 Bua Pem Dan Perbaikan Inventaris Kantor                                     (6.556)         (8.175)        (8.175)        (8.175)          (8.175)         (8.175)
 Bua Pem Dan Perbaikan Mesin Pabrik                                          (6.678)         (6.936)        (6.936)        (6.936)          (6.936)         (6.936)
 Bua Pem Dan Perbaikan Lainnya - Penyustan                                        -      (2.170.922)    (2.170.922)    (2.170.922)      (2.170.922)     (2.170.922)
 Beban Amortisasi Aset Hak Guna                                             (52.625)       (105.250)             -              -                -               -

Pendapatan Lainnya
 Pendapatan Bunga                                                          250.480         660.000        660.000        660.000          660.000         660.000
 Pendapatan Lainnya                                                            120               -              -              -                -               -

Beban Lainnya
 Beban Bunga Bank                                                               (285)             -              -               -                -               -
 Beban Lannya                                                                  (0,16)             -              -               -                -               -

Perputaran
   Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga                     Hari                   8             8               8               8                8               8
   Perputaran Persediaan                                     Hari                  31            31              31              31               31              31
   Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga                     Hari                  14            14              14              14               14              14
   Perputaran Utang Lain-Lain                                Hari                   3             3               3               3                3               3
   Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar                 Hari                   2             2               2               2                2               2

Tax                                                                               22%           22%             22%             22%              22%             22%




                                                                                                                                      Business Valuation Unit
                                                                        110                                                                            Jakarta
Page 128
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Kalkulasi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 1

                                    Jan-Jun        Jul-Des            Des             Des            Des          Des            Des
                 Keterangan
                                      2025          2025             2026            2027           2028         2029           2030
Pendapatan                           2.619.782        412.701       3.000.000       3.075.000      3.151.875      3.230.672      3.311.439
Beban Pokok Pendapatan              (2.334.826)      (266.222)     (2.700.000)     (2.767.500)    (2.836.688)    (2.907.605)    (2.980.295)

Piutang Usaha Pihak Ketiga            122.739          19.020          69.699         71.441          73.227        75.058         76.934
Persediaan                            455.290          70.553         258.541        265.005         271.630       278.421        285.381
Utang Usaha - Pihak Ketiga            182.241          20.441         104.506        107.119         109.797       112.542        115.355
Utang Lain-Lain                        39.148           4.391          22.449         23.011          23.586        24.176         24.780
Beban yang Masih Harus dibayar         29.997           3.365          17.202         17.632          18.073        18.525         18.988


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 2

                                    Jan-Jun        Jul-Des           Des             Des            Des          Des            Des
                 Keterangan
                                     2025           2025             2026            2027           2028         2029           2030
Beban Usaha
  Beban Umum dan Administrasi       (2.622.545)    (2.184.414)     (4.806.959)     (4.763.480)    (4.826.796)    (4.891.695)    (4.958.216)

Pendapatan (Beban) Lain-Lain
   Pendapatan Lainnya                  713.092        549.513         545.213        545.213         545.213       545.213        545.213
   Beban Lainnya                      (465.978)      (332.932)              -              -               -             -              -


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 3

                                                   Jul-Des           Des             Des            Des          Des            Des
                 Keterangan
                                                    2025             2026            2027           2028         2029           2030
Pajak Penghasilan
   Saldo Rugi                                     (16.512.563) (20.267.805) (23.455.945) (26.188.484)           (16.956.789)   (20.980.203)
   Laba Sebelum Pajak                              (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395)               (4.023.414)    (4.081.859)
Pajak Penghasilan                                         -            -            -            -                      -              -




Kalkulasi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 1

                                    Jan-Jun        Jul-Des           Des             Des             Des          Des            Des
                 Keterangan
                                      2025          2025            2026            2027            2028         2029           2030
Pendapatan                           2.619.782     2.712.701      18.000.000      24.075.000      30.151.875     36.230.672     42.311.439
Beban Pokok Pendapatan              (2.334.826)   (2.286.022)    (16.680.033)    (22.339.546)    (28.000.746)   (33.663.677)   (39.328.380)

Piutang Usaha Pihak Ketiga             122.739      125.020         418.191         559.331         700.514        841.742        983.016
Persediaan                             455.290      463.752       1.551.247       2.074.793       2.598.500      3.122.373      3.646.416
Utang Usaha - Pihak Ketiga             182.241      175.523         645.617         864.674       1.083.797      1.302.986      1.522.244
Utang Lain-Lain                         39.148       37.705         138.688         185.745         232.816        279.901        327.001
Beban yang Masih Harus dibayar          29.997       28.891         106.270         142.328         178.396        214.475        250.565




                                                                                                                  Business Valuation Unit
                                                    111                                                                            Jakarta
Page 129
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 2

                                                             Jan-Jun          Jul-Des           Des              Des               Des              Des                   Des
                   Keterangan
                                                              2025             2025             2026             2027              2028             2029                  2030
Beban Usaha
  Beban Umum dan Administrasi                                (2.622.545)     (2.507.429)      (6.838.057)      (6.797.203)      (6.863.209)         (6.930.866)           (7.000.214)

Pendapatan (Beban) Lain-Lain
   Pendapatan Lainnya                                          713.092          250.600          660.000          660.000          660.000              660.000             660.000
   Beban Lainnya                                              (465.978)            (286)               -                -                -                    -                   -



PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

Lampiran Kalkulasi - 3

                                                                              Jul-Des           Des              Des               Des              Des                   Des
                   Keterangan
                                                                               2025             2026             2027              2028             2029                  2030
Pajak Penghasilan
   Saldo Rugi                                                               (16.512.563)     (20.276.887)     (24.361.371)     (27.584.892)        (18.438.883)          (22.142.754)
   Laba Sebelum Pajak                                                        (1.830.436)      (4.858.090)      (4.401.749)      (4.052.081)         (3.703.870)           (3.357.155)
Pajak Penghasilan                                                                   -                -                -                -                   -                     -




Proyeksi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                            Jun            Jul-Des           Des             Des           Des              Des             Des
Laba Rugi
                                                                            2025            2025             2026            2027          2028             2029            2030
Pendapatan                                                                  2.619.782         412.701       3.000.000        3.075.000     3.151.875        3.230.672       3.311.439
BPP                                                                        (2.334.826)       (266.222)     (2.700.000)      (2.767.500)   (2.836.688)      (2.907.605)     (2.980.295)
Laba Kotor                                                                    284.956         146.478         300.000          307.500       315.188          323.067         331.144

Beban Usaha
  Beban Umum dan Administrasi                                              (2.622.545)     (2.184.414)     (4.806.959)      (4.763.480)   (4.826.796)      (4.891.695)     (4.958.216)
Jumlah Beban Usaha                                                         (2.622.545)     (2.184.414)     (4.806.959)      (4.763.480)   (4.826.796)      (4.891.695)     (4.958.216)

Laba Usaha                                                                 (2.337.589)     (2.037.935)     (4.506.959)      (4.455.980)   (4.511.608)      (4.568.627)     (4.627.072)

Pendapatan (Beban) Lain-Lain
   Pendapatan Lainnya                                                        713.092          549.513        545.213          545.213         545.213        545.213         545.213
   Beban Lainnya                                                            (465.978)        (332.932)             -                -               -              -               -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain                                         247.114          216.581        545.213          545.213         545.213        545.213         545.213

Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan                                      (2.090.474)     (1.821.354)     (3.961.745)      (3.910.767)   (3.966.395)      (4.023.414)     (4.081.859)

Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                                                   -               -               -                -             -                -               -
                                        Tax effective rate                         0%              0%              0%               0%            0%               0%              0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan                                          (2.090.474)     (1.821.354)     (3.961.745)      (3.910.767)   (3.966.395)      (4.023.414)     (4.081.859)




                                                                                                                                                        Business Valuation Unit
                                                                               112                                                                                       Jakarta
Page 130
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                       Jun           Jul-Des          Des            Des            Des               Des             Des
Neraca
                                                       2025           2025            2026           2027           2028              2029            2030
ASET
ASET LANCAR
  Kas dan Setara Kas                                   13.031.979     11.735.525     10.672.021      9.672.349      8.616.933         7.241.880       5.977.011
  Piutang Usaha - Pihak Ketiga                              4.650         19.020         69.699         71.441         73.227            75.058          76.934
  Pendapatan Bunga yang masih harus diterima               25.490         25.490         25.490         25.490         25.490            25.490          25.490
  Persediaan                                              328.916         70.553        258.541        265.005        271.630           278.421         285.381
  Uang muka dan biaya dibayar dimuka                    3.719.981      3.719.981      3.719.981      3.719.981      3.719.981         3.719.981       3.719.981
  Uang jaminan                                          5.981.000      5.981.000      5.981.000      5.981.000      5.981.000         5.981.000       5.981.000
Jumlah Aset Lancar                                     23.092.016     21.551.570     20.726.732     19.735.266     18.688.261        17.321.829      16.065.797

ASET TIDAK LANCAR
  Aset pajak tangguhan                                    915.028        915.028        915.028        915.028        915.028           915.028         915.028
  Aset tetap - bersih                                  52.679.242     51.171.394     48.155.698     45.140.001     42.124.305        39.371.109      36.449.163
  Aset hak guna - bersih                                  157.876      1.305.250      1.300.000      1.400.000      1.500.000         1.600.000       1.700.000

Jumlah Aset tidak lancar                               53.752.145     53.391.672     50.370.725     47.455.029     44.539.333        41.886.137      39.064.191

JUMLAH ASET                                            76.844.161     74.943.241     71.097.457     67.190.295     63.227.594        59.207.966      55.129.988

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
  Utang Usaha - Pihak Ketiga                               4.133         20.441        104.506        107.119        109.797           112.542         115.355
  Utang lain-lain - Pihak Ketiga                          39.584          4.391         22.449         23.011         23.586            24.176          24.780
  Beban masih harus dibayar                               64.044          3.365         17.202         17.632         18.073            18.525          18.988
  Liabilitas sewa                                        105.087        105.087        105.087        105.087        105.087           105.087         105.087
  Utang Pajak                                             56.471         56.471         56.471         56.471         56.471            56.471          56.471

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                          269.320        189.755        305.716        309.320        313.014           316.800         320.681

LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan      479.986        479.986        479.986        479.986        479.986           479.986         479.986

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                         479.986        479.986        479.986        479.986        479.986           479.986         479.986

JUMLAH LIABILITAS                                        749.306        669.741        785.702        789.306        793.000           796.787         800.668

EKUITAS
  Modal Saham                                         100.000.000    100.000.000    100.000.000    100.000.000    100.000.000       100.000.000     100.000.000
  Tambahan modal disetor                               10.336.807     10.336.807     10.336.807     10.336.807     10.336.807        10.336.807      10.336.807
  Saham Treasuri                                      (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)      (21.754.913)    (21.754.913)
  Penghasilan komprehensif lain                           137.129        137.129        137.129        137.129        137.129           137.129         137.129
  Saldo Laba
     Telah ditentukan penggunaannya                       300.000        300.000        300.000        300.000        300.000           300.000         300.000
     Belum ditentukan penggunaannya                   (12.924.168)   (14.745.522)   (18.707.268)   (22.618.035)   (26.584.430)      (30.607.844)    (34.689.703)

Jumlah Ekuitas                                         76.094.854     74.273.500     70.311.755     66.400.988     62.434.593        58.411.179      54.329.320

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                          76.844.161     74.943.241     71.097.457     67.190.295     63.227.594        59.207.966      55.129.988


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                       Jun           Jul-Des          Des            Des            Des               Des             Des
Arus Kas
                                                       2025           2025            2026           2027           2028              2029            2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT                                                                   (1.821.354)    (3.961.745)    (3.910.767)    (3.966.395)       (4.023.414)     (4.081.859)
Penyusutan (+)                                                         1.560.473      3.120.947      3.015.696      3.015.696         3.053.196       3.071.946

Perubahan Modal Kerja:
   Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                         (14.370)        (50.678)        (1.742)         (1.786)           (1.831)         (1.876)
   Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                               -               -              -               -                 -               -
   Persediaan                                                           258.362        (187.988)        (6.464)         (6.625)           (6.791)         (6.961)
   Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                       -               -              -               -                 -               -
   Uang jaminan                                                             -               -              -               -                 -               -
   Aset pajak tangguhan                                                     -               -              -               -                 -               -
   Utang Usaha - Pihak Ketiga                                            16.307          84.065          2.613         2.678,0           2.744,9         2.813,5
   Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                       (35.193)         18.059            561           575,3             589,6           604,4
   Beban masih harus dibayar                                            (60.680)         13.837            430           440,8             451,8           463,1
   Liabilitas sewa                                                          -               -              -               -                 -               -
   Utang Pajak                                                              -               -              -               -                 -               -
Perubahan Modal Kerja                                                   164.427        (122.705)        (4.602)       (4.717,1)         (4.835,0)       (4.955,9)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi                                        (96.454)       (963.504)      (899.673)      (955.416)         (975.053)     (1.014.869)

Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
  Perolehan Aset Tetap (Baru)                                         (1.200.000)      (100.000)      (100.000)      (100.000)         (400.000)       (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi                                    (1.200.000)      (100.000)      (100.000)      (100.000)         (400.000)       (250.000)

Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham                                                                    -             -              -              -                 -               -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan                                             -             -              -              -                 -               -

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS                        (1.296.454)    (1.063.504)      (999.673)    (1.055.416)       (1.375.053)     (1.264.869)

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                                         13.031.979     11.735.525     10.672.021      9.672.349         8.616.933       7.241.880

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN                                        11.735.525     10.672.021      9.672.349      8.616.933         7.241.880       5.977.011




                                                                                                                                  Business Valuation Unit
                                                            113                                                                                    Jakarta
Page 131
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Proyeksi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                           Jan-Jun        Jul-Des            Des           Des            Des              Des            Des
Laba Rugi
                                                                             2025          2025             2026           2027           2028             2029           2030
Pendapatan                                                                   2.619.782       2.712.701     18.000.000     24.075.000     30.151.875       36.230.672     42.311.439
BPP                                                                         (2.334.826)     (2.286.022)   (16.680.033)   (22.339.546)   (28.000.746)     (33.663.677)   (39.328.380)
Laba Kotor                                                                     284.956         426.679      1.319.967      1.735.454      2.151.129        2.566.995      2.983.059
                                                                                                15,73%          7,33%          7,21%          7,13%            7,09%          7,05%
Beban Usaha
  Beban Umum dan Administrasi                                               (2.622.545)     (2.507.429)    (6.838.057)    (6.797.203)    (6.863.209)      (6.930.866)    (7.000.214)
Jumlah Beban Usaha                                                          (2.622.545)     (2.507.429)    (6.838.057)    (6.797.203)    (6.863.209)      (6.930.866)    (7.000.214)

Laba Usaha                                                                  (2.337.589)     (2.080.750)    (5.518.090)    (5.061.749)    (4.712.081)      (4.363.870)    (4.017.155)

Pendapatan (Beban) Lain-Lain
   Pendapatan Lainnya                                                          713.092        250.600        660.000        660.000        660.000          660.000        660.000
   Beban Lainnya                                                              (465.978)          (286)             -              -              -                -              -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain                                           247.114        250.314        660.000        660.000        660.000          660.000        660.000

Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan                                       (2.090.474)     (1.830.436)    (4.858.090)    (4.401.749)    (4.052.081)      (3.703.870)    (3.357.155)

Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                                                    -               -              -              -              -                -              -
                                                      Tax effective rate            0%              0%             0%             0%             0%               0%             0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan                                           (2.090.474)     (1.830.436)    (4.858.090)    (4.401.749)    (4.052.081)      (3.703.870)    (3.357.155)




PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                           Jan-Jun        Jul-Des           Des            Des            Des              Des            Des
Neraca
                                                                            2025           2025             2026           2027           2028             2029           2030
ASET
ASET LANCAR
  Kas dan Setara Kas                                                        13.031.979     11.441.168       8.871.815      7.023.248      5.524.234        4.110.812      3.212.735
  Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                                   4.650        125.020         418.191        559.331        700.514          841.742        983.016
  Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                                    25.490         25.490          25.490         25.490         25.490           25.490         25.490
  Persediaan                                                                   328.916        463.752       1.551.247      2.074.793      2.598.500        3.122.373      3.646.416
  Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                         3.719.981      3.719.981       3.719.981      3.719.981      3.719.981        3.719.981      3.719.981
  Uang jaminan                                                               5.981.000      5.981.000       5.981.000      5.981.000      5.981.000        5.981.000      5.981.000
Jumlah Aset Lancar                                                          23.092.016     21.756.411      20.567.724     19.383.843     18.549.719       17.801.398     17.568.638

ASET TIDAK LANCAR
  Aset pajak tangguhan                                                         915.028        915.028         915.028        915.028        915.028          915.028        915.028
  Aset tetap - bersih                                                       52.679.242     51.171.394      48.155.698     45.140.001     42.124.305       39.371.109     36.449.163
  Aset hak guna - bersih                                                       157.876      1.305.250       1.300.000      1.400.000      1.500.000        1.600.000      1.700.000

Jumlah Aset tidak lancar                                                    53.752.145     53.391.672      50.370.725     47.455.029     44.539.333       41.886.137     39.064.191

JUMLAH ASET                                                                 76.844.161     75.148.082      70.938.449     66.838.871     63.089.052       59.687.535     56.632.829

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
  Utang Usaha - Pihak Ketiga                                                    4.133         175.523        645.617        864.674       1.083.797        1.302.986      1.522.244
  Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                               39.584          37.705        138.688        185.745         232.816          279.901        327.001
  Beban masih harus dibayar                                                    64.044          28.891        106.270        142.328         178.396          214.475        250.565
  Liabilitas sewa                                                             105.087         105.087        105.087        105.087         105.087          105.087        105.087
  Utang Pajak                                                                  56.471          56.471         56.471         56.471          56.471           56.471         56.471

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                                               269.320         403.678       1.052.134      1.354.305      1.656.567        1.958.920      2.261.368

LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan                           479.986         479.986        479.986        479.986        479.986          479.986        479.986

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                                              479.986         479.986        479.986        479.986        479.986          479.986        479.986

JUMLAH LIABILITAS                                                             749.306         883.664       1.532.120      1.834.292      2.136.553        2.438.906      2.741.355

EKUITAS
  Modal Saham                                                              100.000.000    100.000.000     100.000.000    100.000.000    100.000.000      100.000.000    100.000.000
  Tambahan modal disetor                                                    10.336.807     10.336.807      10.336.807     10.336.807     10.336.807       10.336.807     10.336.807
  Saham Treasuri                                                           (21.754.913)   (21.754.913)    (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)     (21.754.913)   (21.754.913)
  Penghasilan komprehensif lain                                                137.129        137.129         137.129        137.129        137.129          137.129        137.129
  Saldo Laba
     Telah ditentukan penggunaannya                                            300.000        300.000         300.000        300.000        300.000          300.000        300.000
     Belum ditentukan penggunaannya                                        (12.924.168)   (14.754.604)    (19.612.694)   (24.014.443)   (28.066.524)     (31.770.394)   (35.127.549)

Jumlah Ekuitas                                                              76.094.854     74.264.419      69.406.329     65.004.580     60.952.499       57.248.629     53.891.474

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                                               76.844.161     75.148.082      70.938.449     66.838.871     63.089.052       59.687.535     56.632.829




                                                                                                                                                      Business Valuation Unit
                                                                                 114                                                                                   Jakarta
Page 132
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                 Jan-Jun      Jul-Des             Des             Des             Des              Des             Des
Arus Kas
                                                  2025         2025               2026            2027            2028             2029            2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT                                                             (1.830.436)      (4.858.090)     (4.401.749)     (4.052.081)       (3.703.870)    (3.357.155)
Penyusutan (+)                                                   1.560.473        3.120.947       3.015.696       3.015.696         3.053.196      3.071.946

Perubahan Modal Kerja:
   Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                   (120.370)        (293.171)       (141.140)       (141.183)         (141.228)      (141.274)
   Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                          -                -               -               -                 -              -
   Persediaan                                                     (134.836)      (1.087.495)       (523.546)       (523.707)         (523.873)      (524.043)
   Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                  -                -               -               -                 -              -
   Uang jaminan                                                        -                -               -               -                 -              -
   Aset pajak tangguhan                                                -                -               -               -                 -              -
   Utang Usaha - Pihak Ketiga                                      171.389          470.094         219.057       219.122,4         219.189,4      219.258,0
   Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                   (1.879)         100.983          47.057        47.070,8          47.085,1       47.099,9
   Beban masih harus dibayar                                       (35.153)          77.379          36.057        36.068,1          36.079,1       36.090,4
   Liabilitas sewa                                                     -                -               -               -                 -              -
   Utang Pajak                                                         -                -               -               -                 -              -
Perubahan Modal Kerja                                             (120.848)        (732.210)       (362.514)     (362.629,4)       (362.747,3)    (362.868,2)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi                                  (390.811)      (2.469.354)     (1.748.567)     (1.399.014)       (1.013.422)      (648.077)

Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
  Perolehan Aset Tetap (Baru)                                   (1.200.000)        (100.000)       (100.000)       (100.000)        (400.000)       (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi                              (1.200.000)        (100.000)       (100.000)       (100.000)        (400.000)       (250.000)

Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham                                                                -               -              -               -                 -               -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan                                         -               -              -               -                 -               -

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS                  (1.590.811)      (2.569.354)     (1.848.567)     (1.499.014)       (1.413.422)      (898.077)

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                                   13.031.979       11.441.168       8.871.815       7.023.248        5.524.234       4.110.812

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN                                  11.441.168        8.871.815       7.023.248       5.524.234        4.110.812       3.212.735




Rasio Keuangan Proyeksi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025


                                                            Jul-Des 2025       Des 2026        Des 2027        Des 2028          Des 2029        Des 2030
Rasio Keuangan
                                                              Proyeksi         Proyeksi        Proyeksi        Proyeksi          Proyeksi        Proyeksi
Rasio Likuiditas
  Current Ratio                                                11357,59%        6779,73%         6380,21%        5970,42%          5467,74%        5009,89%
  Quick Ratio                                                  11320,41%        6695,16%         6294,54%        5883,64%          5379,86%        4920,90%
  Cash Ratio                                                    6184,57%        3490,83%         3126,97%        2752,89%          2285,94%        1863,85%
Rasio Aktivitas
  Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga                                   8                8               8               8                 8               8
  Perputaran Persediaan                                                  49               35              35              35                35              35
  Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga                                  14               14              14              14                14              14
  Perputaran Utang Lain-Lain Pihak Ketiga                                 3                3               3               3                 3               3
  Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar                               2                2               2               2                 2               2
Rasio Solvabilitas
  Debt to Asset Ratio                                               0,89%           1,11%           1,17%           1,25%              1,35%          1,45%
  Debt to Equity Ratio                                              0,90%           1,12%           1,19%           1,27%              1,36%          1,47%
Rasio Profitabilitas
  Gross Margin                                                    35,49%           10,00%          10,00%          10,00%            10,00%          10,00%
  Operational Profit Margin                                     -493,80%         -150,23%        -144,91%        -143,14%          -141,41%        -139,73%
  Net Profit Margin                                             -441,33%         -132,06%        -127,18%        -125,84%          -124,54%        -123,27%
  ROA                                                             -2,43%           -5,57%          -5,82%          -6,27%            -6,80%          -7,40%
  ROE                                                             -2,45%           -5,63%          -5,89%          -6,35%            -6,89%          -7,51%




                                                                                                                               Business Valuation Unit
                                                      115                                                                                       Jakarta
Page 133
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Rasio Keuangan Proyeksi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025


                                                                               Jul-Des 2025         Des 2026         Des 2027         Des 2028           Des 2029        Des 2030
Rasio Keuangan
                                                                                Proyeksi            Proyeksi         Proyeksi         Proyeksi           Proyeksi        Proyeksi
Rasio Likuiditas
   Current Ratio                                                                    5389,55%          1954,86%         1431,28%         1119,77%            908,74%         776,90%
   Quick Ratio                                                                      5274,67%          1807,42%         1278,08%          962,91%            749,34%         615,65%
Cash Ratio                                                                          2834,23%           843,22%          518,59%          333,47%            209,85%         142,07%
Rasio Aktivitas
   Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga                                                       8                8                8                8                  8               8
   Perputaran Persediaan                                                                      37               34               34               34                 34              34
   Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga                                                      14               14               14               14                 14              14
   Perputaran Utang Lain-Lain Pihak Ketiga                                                     3                3                3                3                  3               3
   Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar                                                   2                2                2                2                  2               2
Rasio Solvabilitas
   Debt to Asset Ratio                                                                  1,18%             2,16%            2,74%           3,39%              4,09%            4,84%
   Debt to Equity Ratio                                                                 1,19%             2,21%            2,82%           3,51%              4,26%            5,09%
Rasio Profitabilitas
   Gross Margin                                                                        15,73%             7,33%            7,21%           7,13%              7,09%            7,05%
   Operational Profit Margin                                                          -76,70%           -30,66%          -21,02%         -15,63%            -12,04%           -9,49%
   Net Profit Margin                                                                  -67,48%           -26,99%          -18,28%         -13,44%            -10,22%           -7,93%
   ROA                                                                                 -2,44%            -6,85%           -6,59%          -6,42%             -6,21%           -5,93%
   ROE                                                                                 -2,46%            -7,00%           -6,77%          -6,65%             -6,47%           -6,23%



Analisis Inkremental
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                                    Jun           Jul-Des             Des             Des              Des                Des              Des
Laba Rugi
                                                                    2025            2025              2026            2027             2028               2029             2030
Pendapatan                                                                 -        2.300.000       15.000.000       21.000.000       27.000.000         33.000.000       39.000.000
BPP                                                                        -       (2.019.799)     (13.980.033)     (19.572.046)     (25.164.059)       (30.756.072)     (36.348.085)
Laba Kotor                                                                 -          280.201        1.019.967        1.427.954        1.835.941          2.243.928        2.651.915

Beban Usaha
  Beban Umum dan Administrasi                                              -        (323.015)       (2.031.098)      (2.033.723)      (2.036.413)        (2.039.171)      (2.041.998)
Jumlah Beban Usaha                                                         -        (323.015)       (2.031.098)      (2.033.723)      (2.036.413)        (2.039.171)      (2.041.998)

Pendapatan (Beban) Lain-Lain
   Pendapatan Lainnya                                                      -        (298.913)         114.787          114.787          114.787            114.787          114.787
   Beban Lainnya                                                           -         332.646                -                -                -                  -                -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain                                       -          33.733          114.787          114.787          114.787            114.787          114.787

Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan                                      -           (9.082)       (896.344)        (490.982)          (85.686)          319.544          724.704

Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan                                          -                -               -                -                 -                 -                -
                                               Tax effective rate                          0%              0%               0%                0%                0%               0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan                                          -           (9.082)       (896.344)        (490.982)          (85.686)          319.544          724.704




                                                                                                                                                      Business Valuation Unit
                                                                      116                                                                                              Jakarta
Page 134
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                       Jun           Jul-Des          Des            Des            Des              Des           Des
Neraca
                                                       2025           2025            2026           2027           2028             2029          2030
ASET
ASET LANCAR
  Kas dan Setara Kas                                   13.031.979     13.323.900     14.838.996     16.905.798     19.377.896       21.992.724     25.181.462
  Piutang Usaha - Pihak Ketiga                              4.650        106.000        348.493        487.890        627.287          766.684        906.081
  Pendapatan Bunga yang masih harus diterima               25.490         25.490         25.490         25.490         25.490           25.490         25.490
  Persediaan                                              328.916        393.198      1.292.706      1.809.788      2.326.871        2.843.953      3.361.035
  Uang muka dan biaya dibayar dimuka                    3.719.981      3.719.981      3.719.981      3.719.981      3.719.981        3.719.981      3.719.981
  Uang jaminan                                          5.981.000      5.981.000      5.981.000      5.981.000      5.981.000        5.981.000      5.981.000
Jumlah Aset Lancar                                     23.092.016     23.549.569     26.206.666     28.929.947     32.058.525       35.329.832     39.175.049

ASET TIDAK LANCAR
  Aset pajak tangguhan                                    915.028        915.028        915.028        915.028        915.028          915.028        915.028
  Aset tetap - bersih                                  52.679.242     51.171.394     48.155.698     45.140.001     42.124.305       39.371.109     36.449.163
  Aset hak guna - bersih                                  157.876      1.305.250      1.300.000      1.400.000      1.500.000        1.600.000      1.700.000

Jumlah Aset tidak lancar                               53.752.145     53.391.672     50.370.725     47.455.029     44.539.333       41.886.137     39.064.191

JUMLAH ASET                                            76.844.161     76.941.240     76.577.391     76.384.976     76.597.858       77.215.969     78.239.240

LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
  Utang Usaha - Pihak Ketiga                               4.133        155.082        541.111        757.556        974.000         1.190.444      1.406.889
  Utang lain-lain - Pihak Ketiga                          39.584         33.314        116.239        162.734        209.230           255.725        302.221
  Beban masih harus dibayar                               64.044         25.527         89.068        124.696        160.323           195.950        231.577
  Liabilitas sewa                                        105.087        105.087        105.087        105.087        105.087           105.087        105.087
  Utang Pajak                                             56.471         56.471         56.471         56.471         56.471            56.471         56.471

Jumlah Liabilitas Jangka Pendek                          269.320        375.481        907.976       1.206.544      1.505.111        1.803.678      2.102.245

LIABILITAS JANGKA PANJANG
  Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan      479.986        479.986        479.986        479.986        479.986          479.986        479.986

Jumlah Liabilitas Jangka Panjang                         479.986        479.986        479.986        479.986        479.986          479.986        479.986

JUMLAH LIABILITAS                                        749.306        855.468       1.387.963      1.686.530      1.985.097        2.283.664      2.582.232

EKUITAS
  Modal Saham                                         100.000.000    100.000.000    100.000.000    100.000.000    100.000.000      100.000.000    100.000.000
  Tambahan modal disetor                               10.336.807     10.336.807     10.336.807     10.336.807     10.336.807       10.336.807     10.336.807
  Saham Treasuri                                      (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)   (21.754.913)     (21.754.913)   (21.754.913)
  Penghasilan komprehensif lain                           137.129        137.129        137.129        137.129        137.129          137.129        137.129
  Saldo Laba
     Telah ditentukan penggunaannya                       300.000        300.000        300.000        300.000        300.000          300.000        300.000
     Belum ditentukan penggunaannya                   (12.924.168)   (12.933.250)   (13.829.595)   (14.320.577)   (14.406.262)     (14.086.719)   (13.362.014)

Jumlah Ekuitas                                         76.094.854     76.085.773     75.189.428     74.698.446     74.612.760       74.932.304     75.657.008

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS                          76.844.161     76.941.240     76.577.391     76.384.976     76.597.858       77.215.969     78.239.240


PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah

                                                       Jun           Jul-Des          Des            Des            Des              Des           Des
Arus Kas
                                                       2025           2025            2026           2027           2028             2029          2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT                                                                       (9.082)      (896.344)      (490.982)       (85.686)         319.544        724.704
Penyusutan (+)                                                         1.560.473      3.120.947      3.015.696      3.015.696        3.053.196      3.071.946

Perubahan Modal Kerja:
   Piutang Usaha - Pihak Ketiga                                         (101.350)      (242.493)      (139.397)      (139.397)        (139.397)      (139.397)
   Pendapatan Bunga yang masih harus diterima                                -              -              -              -                -              -
   Persediaan                                                            (64.282)      (899.508)      (517.082)      (517.082)        (517.082)      (517.082)
   Uang muka dan biaya dibayar dimuka                                        -              -              -              -                -              -
   Uang jaminan                                                              -              -              -              -                -              -
   Aset pajak tangguhan                                                      -              -              -              -                -              -
   Utang Usaha - Pihak Ketiga                                            150.949        386.029        216.444      216.444,4        216.444,4      216.444,4
   Utang lain-lain - Pihak Ketiga                                         (6.270)        82.925         46.495       46.495,5         46.495,5       46.495,5
   Beban masih harus dibayar                                             (38.517)        63.541         35.627       35.627,3         35.627,3       35.627,3
   Liabilitas sewa                                                           -              -              -              -                -              -
   Utang Pajak                                                               -              -              -              -                -              -
Perubahan Modal Kerja                                                    (59.471)      (609.506)      (357.912)    (357.912,3)      (357.912,3)    (357.912,3)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi                                       1.491.921      1.615.097      2.166.802      2.572.098        3.014.828      3.438.738

Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
  Perolehan Aset Tetap (Baru)                                         (1.200.000)      (100.000)      (100.000)      (100.000)        (400.000)      (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi                                    (1.200.000)      (100.000)      (100.000)      (100.000)        (400.000)      (250.000)

Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham                                                                    -             -              -              -                -             -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan                                             -             -              -              -                -             -

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS                          291.921       1.515.097      2.066.802      2.472.098        2.614.828      3.188.738

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN                                         13.031.979     13.323.900     14.838.996     16.905.798       19.377.896     21.992.724

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN                                        13.323.900     14.838.996     16.905.798     19.377.896       21.992.724     25.181.462




                                                                                                                                 Business Valuation Unit
                                                          117                                                                                     Jakarta
Page 135
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
                                                                                                               0,5            1,5               2,5            3,5               4,5           5,5
                                                                                       Jun           Jul-Des          Des               Des            Des               Des           Des
DCF - FCFF
                                                                                       2025           2025            2026              2027           2028              2029          2030
Free Cash Flow to Firm
   EAT                                                                                                   (9.082)       (896.344)         (490.982)       (85.686)          319.544        724.704
   Depresiasi (+)                                                                                     1.560.473       3.120.947         3.015.696      3.015.696         3.053.196      3.071.946
   Capital Expenditure (-)                                                                           (1.200.000)       (100.000)         (100.000)      (100.000)         (400.000)      (250.000)
   Perubahan Modal Kerja (+/-)                                                                          (59.471)       (609.506)         (357.912)      (357.912)         (357.912)      (357.912)
   Interest x (1-tax)
FCFF                                                                                                    291.921       1.515.097         2.066.802      2.472.098         2.614.828      3.188.738
Terminal Value                                                                                                                                                                         57.050.014
DCF FCFF                                                                                                291.921       1.515.097         2.066.802      2.472.098         2.614.828     60.238.752
   Diskon Faktor                                                                            8,23%           0,96            0,89              0,82           0,76              0,70           0,65
   Terminal Growth                                                                          2,50%
PV FCFF                                                                                (3.000.000)      280.603       1.345.626         1.696.050      1.874.396         1.831.870     38.992.722
NPV of Project                                                                         43.021.267
IRR                                                                                           69%
ROI                                                                                         1434%
Profitability Index                                                                          15,34
PBP                                                                               2 tahun 10 bulan

Tahun                                                        PV                   Investasi
2025                                                                                   (3.000.000)
2025                                                                  280.603          (2.719.397)
2026                                                                1.345.626          (1.373.771)
2027                                                                1.696.050             322.279
2028                                                                1.874.396           2.196.675
2029                                                                1.831.870           4.028.545
2030                                                               38.992.722          43.021.267

Tahun 1                                                             (1.373.771)
PV Tahun 2                                                           1.696.050
                                                                        (0,810)
                                                              2 tahun 10 bulan



Analisis BEP
                                                                                       Jun           Jul-Des          Des               Des            Des               Des            Des
     Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
                                                                                       2025           2025            2026             2027           2028              2029           2030
Penjualan                                                                                              2.300.000     15.000.000        21.000.000     27.000.000        33.000.000     39.000.000
Beban Pokok Penjualan (VC)                                                                             2.019.799     13.980.033        19.572.046     25.164.059        30.756.072     36.348.085
Laba Kotor                                                                                               280.201      1.019.967         1.427.954      1.835.941         2.243.928      2.651.915

Gross Profit Margin                                                                                       12,2%              6,8%              6,8%           6,8%              6,8%          6,8%

Beban Umum dan Administrasi (FC)                                                                        323.015       2.031.098         2.033.723      2.036.413         2.039.171      2.041.998

BEP Penjualan                                                                                         2.651.441      29.870.053        29.908.653     29.948.217        29.988.771     30.030.339




Discount Factor
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PERHITUNGAN DISCOUNT RATE


     Description                     Capital Cost            Composition                       Weighted Cost
Cost of Debt                           6,99%                   44,18%                             3,09%
Cost of Equity                         9,21%                   55,82%                             5,14%
                                                                                                  8,23%

Cost of Equity                                                                            Cost of Debt

Risk Free                           7,03% IPBA, 30 Juni 2025                              Bank Interest                              8,96% Bank Indonesia, Juni 2025
Beta                                  0,58 Damodaran, July 2025                           Tax                                       22,00%
Risk Premium                        7,03% Damodaran, July 2025
RBDS                                1,87% Damodaran, July 2025
KE                                  9,21%                                                 KD                                        6,99%

Unleveraged Beta                      0,36

Levered Beta                          0,58


    Keterangan                                                    Beta                                                   Market D/E                           Unlevered Beta
Food Wholesalers                                                                   0,57                                     79,14%                                      0,36

Debt                                                                        44,18%                                                  79,14%
Equity                                                                      55,82%




                                                                                                                                                                     Business Valuation Unit
                                                                                          118                                                                                         Jakarta
Page 136
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

Analisis Kelayakan Usaha

  Sensitivitas Investasi          NPV            IRR           ROI      PI      Hasil
                       0%         43.021.267        69%        1434%    15,34 Layak
                     -20%         43.621.267        78%        1818%    19,18 Layak
                     -15%         43.471.267        76%        1705%    18,05 Layak
                     -10%         43.321.267        73%        1604%    17,04 Layak
                      -5%         43.171.267        71%        1515%    16,15 Layak
                       0%         43.021.267        69%        1434%    15,34 Layak
                       5%         42.871.267        68%        1361%    14,61 Layak
                      10%         42.721.267        66%        1295%    13,95 Layak
                      15%         42.571.267        64%        1234%    13,34 Layak
                      20%         42.421.267        63%        1178%    12,78 Layak



Dokumentasi Produk yang Dijual

   Gulus Gula Halus         Sedani Spiral      Sedani Kerang        Sedani Pipa                Emina
   CRT 20 X 500 gr          CRT 10 x 1kg       CRT 10 x 1kg        CRT 10 x 1kg              CRT 32 x 250g




 Lumba-Lumba Hemat          Lumba-Lumba        Lumba-Lumba        Lumba-Lumba             Sumo Merah 10kg
     Hijau 6gr                 Hemat              Hemat              Hemat
                              Coklat 6gr         Putih 6gr          Merah 6gr




                                                                                  Business Valuation Unit
                                               119                                                 Jakarta
Page 137
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk


  Sumo Merah 5kg      Sumo Kuning 5kg        Collins Taro         Collins Tiramisu          Collins Choco Crunchy
                                             CRT 12 x 1kg          CRT 12 x 1kg                  CRT 12 x 1kg




   Collins Milky      Collins Green Tea     Collins Cheese       Collins Dark Coklat         Collins Stroberi CRT
   CRT 12 x 1kg        CRT 12 x 1kg         CRT 12 x 1kg           CRT 12 x 1kg                    12 x 1kg




 Collins Cheese 5kg    Collins Taro 5kg   Collins Stroberi 5kg   Collins Coklat 5kg           Goldenfil Matcha
                                                                                            Crunchy CRT 12 x 1kg




  Goldenfil Milk      Goldenfil Bluberi    Goldenfil Choco       Goldenfil Tiramisu           Goldenfil Cheese
 Crunchy CRT 12 x     Crunchy CRT 12 x    Crunchy CRT 12 x       Crunchy CRT 12 x           Crunchy CRT 12 x 1kg
       1kg                  1kg                 1kg                     1kg




                                                                                       Business Valuation Unit
                                                120                                                     Jakarta
Page 138
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

 Kijang Mas (Putih)      Kijang Mas         Kijang Mas (Hijau)         Kijang Mas                Denata 1000ml
        7gr              (Merah) 7gr               7gr               (Chocolate) 7gr               (Coconut)




   Denata 1000ml        Denata 1000ml       Denata 600cc 10gr      Lumba-Lumba X-tra         Lumba-Lumba X-tra
   (Cocopandan)          (Cocolychee)         (Cocolychee)            7gr (Hijau)               7gr (Putih)




  Lumba-Lumba X-      Lumba-Lumba X-        Collins Coklat Pasta   Primsfood Stroberi         Primsfood Custard
   tra 7gr (Merah)    tra 7gr (Chocolate)        CRT 4 x 5            CRT 2 x 5kg            Powder CRT 2 x 5kg




  Primsfood Grape     Primsfood Melon         Primsfood Gula        Primsfood Vanila        Primsfood Teng Milen
    CRT 2 x 5kg         CRT 2 x 5kg          Dekorasi CRT 2 x         CRT 2 x 5kg               CRT 2 x 5kg
                                                   5kg




                                                                                        Business Valuation Unit
                                                121                                                      Jakarta
Page 139
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

   Cincau 1000cc     Cincau 600cc 12gr    Spaghetti CRT 20       La Fonte             La Fonte
       12gr                                    x 450g         Fettuccine 20 x      Carbonara CRT
                                                                   450g              20g x 315g




  La Fonte Rigate    La Fonte Macaroni    La Fonte Pronto     Sedani Spaghetti    La Fonte Fettuccine
  CRT 20g x 450g      Bolognese Sauce        Spaghetti         CRT 10 x 1kg          30/40 x 225g
                         40g x 117g       Bolognese Sauce
                                           117g x 18 pack




     La Fonte         La Fonte Fusili     La Fonte Elbow     La Fonte Macaroni     La Fonte Chifferi
 Bolognese Chicken    CRT 20 x 290g       CRT 40 x 225g        CRT 40 x 225g       Rigate CRT 20 x
 Flavour CRT 20 x                                                                        225g
       290g




     La Fonte        La Fonte Spaghetti    La Fonte Long     La Fonte Spaghetti    Oatsy Havermout
 Bolognese CRT 20     CRT 40 x 225g       Macaroni CRT 40      Chicken Sauce        CRT 12 x 9kg
      x 315g                                   x 225g         CRT 18 x 117g




                                                                                     Business Valuation Unit
                                                122                                                   Jakarta
Page 140
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk

   Oatsy Oatmeal    Oatsy Quick Cook       Oatsy Instan     Puding Susu Mango    Puding Susu Mix
  Instan CRT 12 x    CRT 36 x 200kg       CRT 36 x 200g       6 sashet x 8 box   Berry 6 sashet x 8
        9kg                                                                             box




    Puding Susu     Puding Susu Choco      Ethos Jellygar     Ethos Jellygar     Ethos Jellygar
  Vanila Cream 6    Pandan 6 sashet x 8   Blueberry 12g x    Stroberi 12g x 12   Lychee 12g x 12
   sashet x 8 box          box             12 sashet x 12     sashet x 12 box    sashet x 12 box
                                                box




  Ethos Jellygar      Ethos Jellygar
  Melon 12g x 12       Plain 12g x 12
  sashet x 12 box     sashet x 12 box




                                                                                   Business Valuation Unit
                                                 123                                                Jakarta

File

File Open PDF
Source IDX
Size8.35 MB
Published27 Nov 2025
Pages140
Characters487,304
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 58 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Optima Prima Metal Sinergi Tbk p.1 ×512
linked person Meilyna Widjaja · Direktur Utama p.5 ×4
linked org Negara Maju p.21 ×2
linked org PT Asian Perkasa p.36
linked person Sukianto Widjaja p.36 ×2
linked person Sumardi Wijaya p.37
linked org Indofood CBP Sukses Makmur Tbk p.70 ×2
linked org Surya Perkasa p.70
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.2 ×23
unresolved org ANDRI & REKAN p.2 ×2
unresolved org PT Optima Prima p.2
unresolved org Sinergi Tbk p.2
unresolved org Menteri Keuangan p.2 ×3
unresolved org Andri dan Rekan p.2 ×3
unresolved org KJPP p.2 ×3
unresolved org KJPP Guntur p.2 ×4
unresolved org Kementerian Keuangan dan Pasar Modal p.2 ×2
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.2 ×2
unresolved person OPMS · Direktur Utama p.5 ×6
unresolved person Rubbyanto Handaja Kusuma · Direktur p.5 ×2
unresolved org Bank Indonesia p.6 ×35
unresolved org KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN p.18 ×108
unresolved org KJPP GUNTUR EKI ANDRI p.18 ×109
unresolved org PT Asian Prima Indosteel p.23 ×8
unresolved person Gema Bismantaka · Notaris p.23 ×8
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.23 ×2
unresolved person Leolin Jayanti p.23 ×2
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.23 ×10
unresolved person Ir. Joyce Sudarto · Notaris p.23 ×21
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Guntur p.25 ×2
unresolved person Morhan Tirtonadi p.29 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan p.29 ×6
unresolved org Kantor Akuntan Publik Morhan p.29 ×6
unresolved org Metal Sinergi Tbk p.30
unresolved person David Kurniawan p.30
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU- p.30 ×10
unresolved org PT Asian Prima Indosteel No. AHU-AH. p.30 ×2
unresolved person Leolin Jayayanti · Notaris p.30 ×3
unresolved person Yulia · Notaris p.30 ×7
unresolved person Masyitho Rachmawati · Notaris p.31 ×5
unresolved org Kementerian p.31
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal p.31 ×2
unresolved org Kementerian Agraria dan Tata Ruang p.31 ×2
unresolved org Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur p.31 ×2
unresolved person Gema Bismantak p.36
unresolved org Pusat Statistik. p.60 ×5
unresolved org Pusat Statistik Indonesia Business Valuation p.65
unresolved org Pusat Statistik Indonesia Figur p.66
unresolved org Pusat Statistik Indonesia p.66
unresolved org PT Subur Mitra Sukses p.70
unresolved org PT Pangan Lestari p.70
unresolved org PT Saerah Surya Perkasa p.70
unresolved org PT Sentralsari Primasentosa p.70
unresolved org KJPP Guntur KBLI p.78
unresolved org Eki Andri dan Rekan p.78
unresolved org KJPP Guntur Eki Andri dan Rekan p.78
unresolved org DER p.109
unresolved org Bapepam p.117 ×4

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 17448 ms 12 Sep 2026 22:33
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result