Back to announcement
20251114_OPMS_Perubahan dan//atau Tambahan Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_31985288_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review OPMSSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 138
Page 1
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
Atas Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK
Untuk PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK
Jl. Margomulyo Permai Blok AC No.10
RT.003/RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo
Surabaya, Jawa Timur 60183
Page 2
No. File : 00079/2.0116-06/BS/05/0511/1/XI/2025
Jakarta, 11 November 2025
Yth. Dewan Direksi
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jl. Margomulyo Permai Blok AC No.10
RT.003/RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo
Surabaya, Jawa Timur 60183
Ringkasan Eksekutif Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal
Sinergi Tbk
Dengan hormat,
Ringkasan Laporan Studi kelayakan ini merupakan bagian dari Laporan Studi Kelayakan secara
keseluruhan yang disajikan sebagai laporan terinci dan tidak dapat dipisahkan. Laporan Studi Kelayakan
ini merupakan revisi atas Laporan Studi Kelayakan No. 00064/2.0116-06/BS/05/0511/1/X/2025 tanggal
13 Oktober 2025. KANTOR JASA PENILAI PUBLIK GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN
(“GEAR”) telah ditunjuk oleh PT OPTIMA PRIMA METAL SINERGI TBK (“OPMS”) melalui
persetujuan surat penawaran No. JKT.084/PN.BV.GEAR/2025 tanggal 15 Agustus 2025 dengan
maksud untuk melakukan Kajian Penambahan Kegiatan Usaha PT Optima Prima metal Sinergi Tbk,
yang diperlukan dalam rangka memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”)
No. 17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha”,
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.
17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018, dan tidak digunakan di
luar konteks atau tujuan penilaian tersebut.
1. Identifikasi Status Penilai
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal 16 April
2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI (Cert) yang
ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi (B)
No. B-01.18.00511 dan terdaftar di OJK untuk Pasar Modal dengan No. STTD.PB-
51/PM.223/2021 dan OJK IKNB dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020 dan juga sebagai anggota
MAPPI dengan No. 14-S-05089 dan Nomor Register RMK-2017.01120.
GEAR adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal
serta memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian ini.
2. Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan adalah sebagai berikut:
Nama : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Bidang Usaha : Perdagangan Besar Potongan Logam
: Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001, Kel.
Alamat
Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
Telepon : +62 31 7495673
Fax :-
Email : corporate@opms.co.id
Website : www.opms.co.id
Page 3
3. Maksud dan Tujuan Penilaian
Maksud penugasan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas penambahan Kegiatan
Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk dalam kaitannya kepentingan pasar modal dan tidak
digunakan di luar konteks atau tujuan penugasan tersebut. Dalam penugasan ini, KJPP tidak hanya
melakukan kajian namun memberikan pendapat kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
Penugasan ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No.17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha”,
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
No.17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018.
4. Obyek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) yaitu:
1. KBLI 46331 - Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
2. KBLI 46314 - Perdagangan besar kopi, teh dan kakao
3. KBLI 46319 - Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
4. KBLI 46312 - Perdagangan besar buah-buahan
5. KBLI 46325 - Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
6. KBLI 46326 - Perdagangan besar susu dan produk susu
7. KBLI 46334 - Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
8. KBLI 46339 - Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
9. KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
10. KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
11. KBLI 46315 - Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
12. KBLI 46322 - Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
13. KBLI 47242 - Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
14. KBLI 46321 - Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
15. KBLI 46323 - Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
16. KBLI 46332 - Perdagangan besar produk roti
5. Tanggal Studi Kelayakan (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan
Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas dasar
pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang
Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) masa berlaku
laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date) dalam
laporan penilaian.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi Kelayakan
yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off Date) dalam Laporan Studi
Kelayakan.
Page 4
6. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen tanpa
adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan OPMS ataupun pihak-pihak yang
terafiliasi dengan OPMS. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi atau
merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali
tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.
7. Tanggung Jawab Penilai
Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa semua
perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah dilakukan dengan
benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang diterbitkan.
8. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.17/SEOJK.04/2020
Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Standar
Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun oleh Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI)
dengan memperhatikan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu
mencakup pengumpulan data primer dan sekunder, inspeksi lapangan, analisis kelayakan pasar,
analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan pola bisnis, analisis kelayakan model manajemen,
analisis kelayakan keuangan, dan memberikan Kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan
kegiatan usaha.
Pengumpulan Data
• Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana penambahan
kegiatan usaha yang meliputi data-data indentitas Perseroan, perizinan, spesifikasi proyek,
aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang terkait.
• Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
dipertanggungjawabkan,
• Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh dalam
kelayakan dengan pihak Perseroan.
Proses Analisis Kelayakan
• Analisis kelayakan pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha,
strategi pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
• Analisis kelayakan teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari rencana
penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan, ketersediaan dan kualitas
sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
• Analisis kelayakan pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini, analisis
atas penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai, analisis
keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis industri, analisis
risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
• Analisis kelayakan model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan
karyawan atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur organisasi
dan manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen kekayaan intelektual,
manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi karyawan.
Page 5
• Analisis kelayakan keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi,
rencana biaya investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan, analisis
rasio keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah, analisis titik
impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis inkremental, dan
analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
9. Standar Penugasan Studi Kelayakan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah dibuat
dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.
10. Tingkat Kedalaman Investigasi
Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan informasi
dari pihak manajemen OPMS, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen kelengkapan analisis
yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi memalui wawancara berupa con call atau virtual
meeting.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada laporan
keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
dilakukan;
3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.
Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini OPMS masih menjalankan
kegiatan operasinya yaitu sebagai Perusahaan di Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan
Logam.
Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik OPMS atau melakukan
wawancara dengan manajemen OPMS ataupun pihak yang mewakilinya dan pihak-pihak lain
yang relevan.
Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:
Figur 1. Pihak yang Diwawancara & PIC OPMS
Pihak Yang Diwawancarai Jabatan Perusahaan
Meilyna Widjaja Direktur Utama OPMS
Rubbyanto Handaja Kusuma Direktur OPMS
Reni Anggeraini Corporate Secretary OPMS
11. Data dan Informasi Rencana Penambahan Usaha
Beberapa sumber informasi relevan yang handal tanpa perlu melakukan verifikasi, antara lain:
• Data-data laporan keuangan historis;
• Data investasi dan dokumen pendukung lainnya yang disediakan manajemen OPMS;
• Data-data ekonomi yang diperoleh dari Penelitian Damodaran dan sumber-sumber lainnya
yang relevan;
• Data-data ekonomi baik yang bersifat makro ataupun mikro yang diperoleh dari instansi
terkait, seperti Bank Indonesia dan lainnya.
Page 6
12. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam melaksanakan pembuatan Laporan Studi Kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.
13. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan Kondisi pembatas sudah disajikan dan diungkapkan sesuai dengan Pasal 35 POJK
No. 35/2020 tentang penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis dipasar modal, yaitu
sebagai berikut:
• Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
• Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
• Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan informasi
yang disediakan oleh OPMS dan atau data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk
publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
• GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh OPMS dan telah
disesuaikan sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
• GEAR bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan
yang telah disesuaikan.
• Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi
yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional OPMS.
• GEAR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang dihasilkan.
• GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari pemberi
tugas.
14. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.
15. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) dan Tanggal
Laporan
Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian penting
setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan. Penilai tidak
berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi Kelayakan yang
dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan dan disampaikan
kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam hal yang substansi,
maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.
16. Konfirmasi bahwa Laporan Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, dan SEOJK 17.
Page 7
17. Konfirmasi Laporan Studi Kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI
Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi kelayakan telah
dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
Penilaian Indonesia Edisi VII tahun 2018 (“SPI”) yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi
Penilai Indonesia (“MAPPI”).
18. Analisis Kelayakan
18.1 Aspek Kelayakan Pasar
Industri perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan prospek
pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan, ditopang oleh kontribusi signifikan subsektor ini
terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta tren konsumsi rumah tangga yang stabil. Data
BPS menjelaskan bahwa pada triwulan II 2025, industri makanan dan minuman tumbuh 6,15%
(yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sementara konsumsi rumah tangga masih
menjadi salah satu faktor utama dengan kontribusi 54,25% terhadap PDB. Hasil Susenas Maret
2024 juga memperlihatkan adanya peningkatan pengeluaran masyarakat terhadap makanan
dan minuman, khususnya pada produk makanan jadi dan protein hewani, menandakan adanya
pergeseran preferensi konsumsi yang membuka peluang besar bagi sektor distribusi pangan.
Penambahan kegiatan usaha melalui KBLI terkait perdagangan besar makanan dan minuman
menjadi langkah strategis OPMS untuk memperluas basis usaha dan menangkap peluang pasar
yang tengah berkembang. Diversifikasi KBLI ini mencakup komoditas utama (beras, sayuran,
buah, daging, telur, susu, minyak nabati) hingga produk olahan dan minuman, yang secara
langsung berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat dan memiliki permintaan stabil
sepanjang tahun. Dengan jaringan distribusi yang terfokus di wilayah Madura dan Jawa Timur,
OPMS memiliki peluang distribusi, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan regional.
Dari aspek kesinambungan, langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam
memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendukung transformasi sektor distribusi
menuju sistem yang lebih efisien dan terintegrasi. Sementara dari sisi persaingan, meskipun
terdapat dominasi distributor besar, fokus OPMS pada Madura yang masih relatif terbuka serta
strategi pemasaran berbasis digital dan kemitraan dengan UMKM lokal memberikan
keunggulan kompetitif tersendiri.
Dengan analisis kelayakan pasar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.
18.2 Aspek Kelayakan Teknis
Produk yang akan dipasarkan oleh OPMS merupakan fast moving consumer goods (FMCG)
di bidang makanan dan minuman yang diproduksi oleh produsen terpercaya seperti Indofood,
Primsfood, dan Emina Cheese. Seluruh produk yang didistribusikan telah memenuhi
persyaratan regulasi, meliputi izin edar dari BPOM, pencantuman informasi gizi sesuai
ketentuan, serta sertifikat halal bagi produk yang ditujukan untuk konsumen muslim. Untuk
menjaga kualitas, OPMS menerapkan standar keamanan pangan melalui Good Distribution
Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), termasuk pengendalian kualitas
berkala pada tahap penyimpanan dan distribusi.
Alur distribusi Perseroan dilaksanakan secara terstruktur dimulai dari penerimaan Purchase
Order (PO) customer, verifikasi oleh OPMS, pemesanan ke principal atau pabrik, penerimaan
barang dari principal atau pabrik dan pengecekan barang di gudang, hingga pengiriman akhir
kepada customer. Mekanisme ini memastikan bahwa produk diterima pelanggan dalam kondisi
baik, sesuai dengan pesanan, serta terdokumentasi dengan bukti serah terima yang sah.
Page 8
Dalam rangka mendukung penambahan kegiatan usaha, Perseroan mengoptimalkan sumber
daya internal dengan memanfaatkan tenaga kerja berpengalaman sekaligus melakukan
rekrutmen tambahan untuk supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Dari sisi
pengadaan, Perseroan telah menjalin kerja sama dengan pemasok utama seperti Indofood,
Primsfood, dan Emina Cheese guna menjamin ketersediaan produk.
Ke depan, strategi keberlanjutan Perseroan diarahkan pada penguatan rantai pasok,
pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem distribusi, serta peningkatan efisiensi
operasional. Dari perspektif sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan kerja,
meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan, serta mendukung
pengembangan UMKM dan distribusi pangan sehat sesuai dengan program pemerintah.
Dengan demikian, Perseroan diproyeksikan mampu menjadi distributor makanan dan
minuman yang kompetitif, terpercaya, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan
pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan teknis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.
18.3 Aspek Kelayakan Pola Bisnis
Diversifikasi usaha OPMS ke sektor distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods
(FMCG) diharapkan dapat menciptakan nilai tambah melalui perluasan sumber pendapatan,
pengurangan ketergantungan pada industri logam, serta pemanfaatan peluang pasar kebutuhan
pokok yang lebih stabil. Dengan dukungan infrastruktur dan pengalaman dalam perdagangan
besar, OPMS berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus memperkuat posisinya
dalam ekosistem distribusi pangan nasional.
Namun demikian, diversifikasi ini juga mengandung risiko, mulai dari kepatuhan regulasi
keamanan pangan yang ketat, persaingan dengan pemain besar yang sudah mapan hingga risiko
perubahan perilaku konsumen. Risiko keuangan dapat timbul jika investasi awal dan biaya
operasional tidak seimbang dengan pendapatan. Oleh karena itu, penerapan sistem manajemen
risiko yang komprehensif dan pengelolaan operasional berbasis teknologi informasi menjadi
salah satu hal yang penting.
Keunggulan kompetitif Perseroan terletak pada kemampuan adaptasi dan diversifikasi bisnis
dari sektor logam ke sektor distribusi makanan dan minuman dengan memanfaatkan
infrastruktur logistik, jaringan distribusi, serta pengalaman manajemen rantai pasok yang telah
terbangun. Pola bisnis Perseroan bersifat integratif dan adaptif, yaitu mengoptimalkan aset dan
sistem distribusi eksisting untuk sektor pangan tanpa memerlukan investasi infrastruktur baru
secara signifikan. Pendekatan ini memberikan efisiensi biaya sekaligus mempercepat penetrasi
pasar, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur.
Dari sisi penciptaan nilai, Perseroan berfokus pada penyediaan produk pangan pokok dan
FMCG yang terjamin mutu, stabil ketersediaannya, serta kompetitif dari sisi harga. Melalui
strategi tersebut, OPMS menciptakan nilai ekonomi melalui peningkatan efisiensi distribusi,
nilai sosial melalui perluasan akses pangan dan penciptaan lapangan kerja, serta nilai strategis
melalui dukungan terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional. Dengan pola bisnis yang
fleksibel dan berbasis kebutuhan dasar masyarakat, Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk
tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah
maupun nasional.
Dengan strategi jangka panjang yang terukur meliputi roadmap pengembangan bertahap,
efisiensi biaya, diversifikasi portofolio produk, serta kolaborasi dengan mitra strategis OPMS
Page 9
berpeluang memantapkan diri sebagai Perseroan multibisnis yang adaptif, kompetitif, dan
berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan pola bisnis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.
18.4 Aspek Kelayakan Model Manajemen
Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen strategis dalam mendukung keberhasilan
operasional OPMS, khususnya dalam rencana penambahan kegiatan usaha di bidang distribusi
makanan dan minuman. Saat ini Perseroan memiliki 4 orang karyawan tetap dengan latar
belakang pendidikan SMA/SMK dan sarjana, serta merencanakan rekrutmen tambahan di
bidang supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Pemetaan kebutuhan SDM dilakukan
secara rinci untuk memastikan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan operasional,
didukung kerja sama dengan konsultan FMCG, pemetaan pasar di wilayah Madura, serta
implementasi sistem digital supply chain guna meningkatkan produktivitas dan efektivitas
kerja.
Dari sisi manajemen, OPMS memiliki kapasitas organisasi yang memadai melalui keberadaan
gudang berskala besar, armada logistik, serta pendanaan publik yang mendukung ekspansi.
Perseroan juga menerapkan sistem manajemen berbasis teknologi untuk mengoptimalkan
rantai pasok dan pengendalian inventori. Strategi pemasaran berbasis digital melalui media
sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan dapat meningkatkan brand
awareness meskipun OPMS merupakan pendatang baru di industri distribusi. Struktur
organisasi yang berbentuk fungsional memungkinkan koordinasi antar divisi lebih efektif serta
pengambilan keputusan yang cepat.
Sejalan dengan ekspansi, OPMS telah melakukan identifikasi risiko yang berpotensi
memengaruhi keberhasilan usaha, mulai dari persaingan pasar, rantai pasok, regulasi, hingga
perubahan perilaku konsumen. Strategi mitigasi disiapkan melalui diferensiasi layanan,
diversifikasi pemasok, penguatan sistem logistik, serta pemantauan regulasi secara berkala.
Dengan dukungan SDM yang profesional, manajemen yang adaptif, serta sistem pengelolaan
risiko yang terukur, OPMS diyakini mampu menjaga kesinambungan usaha, meningkatkan
daya saing, serta mewujudkan pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.
Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem koordinasi
yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan secara
konsisten, menjadi fondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan ekspansi usaha.
Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh terhadap dinamika
industri, OPMS dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai untuk mengarahkan
pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan model manajemen tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.
18.5 Aspek Kelayakan Keuangan
Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebesar
Rp3.000.000.000 (Tiga Miliar Rupiah). Sumber Pembiayaan OPMS dalam melakukan
investasi penambahan kegiatan usaha bersumber dari kas OPMS.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
keuangan OPMS. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa
waktu proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen OPMS
telah menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun tersebut
Page 10
Perseroan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going concern bisnis OPMS diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi pendapatan/gordon model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan, Penilai telah melakukan diskusi dengan manajemen OPMS bahwa proyeksi yang digunakan telah wajar dan sudah dilakukan penyesuaian oleh Penilai. Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi Juli 2025 – Desember 2030 adalah sebesar 1434%. Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash Flow to Firm apabila OPMS tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to Incremental. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: • Net Present Value (NPV) : Rp43.021.267.000 • Internal Rate of Return (IRR) : 69% • Profitability Index (PI) : 15,34 • Payback Period (PP) : 2 tahun 10 bulan Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha dibidang perdagangan besar makanan dan minuman, maka proyeksi arus kas inkremental bernilai positif. IRR sebesar 69% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha oleh OPMS dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan nilai investasi proyek penambahan kegiatan usaha OPMS menunjukkan tingkat kelayakan finansial yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi fluktuasi biaya investasi hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penambahan kegiatan usaha ini tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan seluruh parameter keuangan yang menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial akibat perubahan nilai investasi tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman untuk direalisasikan dari perspektif keuangan. Dengan analisis kelayakan keuangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
Page 11
Berdasarkan kajian, evaluasi, Analisis kelayakan pasar, Analisis kelayakan teknis, Analisis kelayakan pola bisnis, Analisis kelayakan model manajemen, dan Analisis kelayakan keuangan serta proyeksi- proyeksi lainnya dengan syarat asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa rencana penambahan Kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Perseroan adalah layak. Demikian hasil kajian yang kami lakukan dengan tetap mengacu pada peraturan serta standar penilaian dan kode etik yang berlaku. Maka kami menegaskan bahwa laporan ini bersifat rahasia kepada Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan sesuai dengan keperluan yang tertulis. Kami tidak bertanggung jawab kepada pihak ketiga, dan baik sebagian maupun keseluruhan laporan atau rujukan terhadap laporan ini tidak dibenarkan untuk diterbitkan dalam dokumen apapun, pernyataan, edaran, ataupun untuk dikomunikasikan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari kami untuk format maupun konteks di mana akan dimunculkan. Hormat kami,Our Regards KJPP GUNTUR, EKI, ANDRI & REKAN Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., MEc.Dev., MAPPI (Cert) Partner Klasifikasi Bidang Jasa : Penilai Bisnis (B) Ijin Penilai : No. B-1.18.00511 MAPPI : No. 14-S-05089 No. Register : RMK-2017.01120 STTD IKNB OJK : 211/NB.122/STTD-P/2020 STTD OJK : STTD.PB-51/PM.223/2021
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
DAFTAR ISI
Halaman
SERTIFIKAT
PERNYATAAN PENILAI
1. PENDAHULUAN ...............................................................................................................................6
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................................... 6
1.2. Identifikasi Status Penilai................................................................................................................... 8
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan ............................................................................... 9
1.4. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan ................................................................................................ 9
1.5. Objek Studi Kelayakan ...................................................................................................................... 9
1.6. Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan ...............................................10
1.7. Independensi Penilai .........................................................................................................................10
1.8. Tanggung Jawab Penilai ...................................................................................................................10
1.9. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan ..........................................................................11
1.10. Standar Penugasan Studi Kelayakan .................................................................................................12
1.11. Data, Informasi dan Prosedur............................................................................................................12
1.11.1. Data Dan Informasi Rencana Penambahan Usaha ............................................................................12
1.12. Tingkat Kedalaman Investigasi .........................................................................................................16
1.13. Asumsi dan Kondisi Pembatas ..........................................................................................................17
1.14. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan Tanggal
Laporan .........................................................................................................................................17
1.15. Jenis Mata Uang yang Digunakan.....................................................................................................17
1.16. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli .................................................................................18
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi .............................................................................................18
1.18. Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ......18
1.19. Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI .......................................18
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN ............................................................................................. 19
2.1. Gambaran Umum OPMS ..................................................................................................................19
2.2. Domisili ............................................................................................................................................19
2.3. Struktur Permodalan ......................................................................................................................... 19
2.4. Susunan Pengurus ............................................................................................................................. 20
2.5. Struktur Organisasi ........................................................................................................................... 21
2.6. Perizinan dan Legalitas .....................................................................................................................21
2.7. Kinerja Keuangan Historis ................................................................................................................24
2.7.1 Analisis Posisi Keuangan ..................................................................................................................25
2.7.2 Analisis Laba Rugi ............................................................................................................................ 27
2.7.3 Analisis Arus Kas ............................................................................................................................. 28
2.7.4 Analisis Rasio Keuangan ..................................................................................................................29
2.8. Kinerja Operasional OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam ..................32
2.9. Informasi Perpajakan ........................................................................................................................ 33
3. TINJAUAN MAKRO EKONOMI ..................................................................................................34
3.1. Perekonomian Global dan Domestik ................................................................................................34
3.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia .....................................................................................................36
3.3. PDB Menurut Lapangan Usaha ........................................................................................................43
3.4. Analisis PDB Perdagangan Besar dan Eceran ..................................................................................44
3.5. Perkembangan Industri Makanan dan Minuman ..............................................................................46
Business Valuation Unit
1 Jakarta
Page 18
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
4. ASPEK KELAYAKAN PASAR ......................................................................................................48
4.1. Kondisi Pasar Makanan dan Minuman ............................................................................................. 48
4.2. Pangsa Pasar .....................................................................................................................................50
4.3. Kesinambungan (Sustainability) .......................................................................................................51
4.4. Potensi Pasar .....................................................................................................................................52
4.5. Sasaran 52
4.6. Potensi Nilai Pasar ............................................................................................................................ 53
4.7. Pesaing Usaha ...................................................................................................................................53
4.8. Strategi Pemasaran ............................................................................................................................ 53
4.9. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar .............................................................................................. 54
5. ASPEK KELAYAKAN TEKNIS ....................................................................................................56
5.1. Produk yang Dijual ........................................................................................................................... 56
5.2. Kapasitas ...........................................................................................................................................59
5.3. Volume Penjualan ............................................................................................................................. 60
5.4. Alur Distribusi ..................................................................................................................................60
5.5. Ketersediaan Sumber Daya ...............................................................................................................61
5.6. Timline Kegiatan Usaha ...................................................................................................................61
5.7. Rencana Keberlanjutan .....................................................................................................................62
5.8. Kesimpulan Analisis Kelayakan Teknis ........................................................................................... 62
6. ASPEK KELAYAKAN POLA BISNIS .......................................................................................... 64
6.1. Kegiatan Usaha Utama dan Penunjang ............................................................................................. 64
6.2. Entitas Anak ......................................................................................................................................65
6.3. Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................................................................65
6.4. Keunggulan Kompetitif ....................................................................................................................67
6.5. Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk .....................................................................................68
6.6. Kemampuan Untuk Menciptakan nilai ............................................................................................. 69
6.7. Analisis Risiko ..................................................................................................................................69
6.8. Analisis SWOT .................................................................................................................................70
6.9. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pola Bisnis ....................................................................................72
7. ASPEK KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN .........................................................................74
7.1. Sumber Daya Manusia ......................................................................................................................74
7.2. Komposisi Karyawan OPMS ............................................................................................................75
7.3. Manajemen Kekayaan Intelektual .....................................................................................................75
7.4. Manajemen Risiko ............................................................................................................................ 76
7.5. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen ........................................................................................... 77
7.6. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen ..............................................................................78
7.7. Kesimpulan Analisis Model Manajemen .......................................................................................... 78
8. ASPEK KELAYAKAN KEUANGAN ............................................................................................ 80
8.1. Rencana Biaya Investasi ...................................................................................................................80
8.2. Sumber Pembiayaan.......................................................................................................................... 80
8.3. Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan .............................................................................................. 80
8.4. Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................83
8.4.1. Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................83
8.4.2. Proyeksi Laba – Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ............................................................. 84
8.4.3. Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ..................................................................84
8.5. Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .............................................................. 85
8.5.1. Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ....................................................85
8.5.2. Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .............................................................. 85
8.5.3. Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ................................................................ 85
Business Valuation Unit
2 Jakarta
Page 19
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.6. Analisis Rasio Keuangan ..................................................................................................................86
8.7. Biaya Operasional ............................................................................................................................. 87
8.8. Beban Pokok Penjualan ....................................................................................................................87
8.9. Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) .....................................................................................88
8.10. Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)....................................................................................88
8.11. Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ........................................................ 89
8.12. Penentuan Tingkat Diskonto .............................................................................................................89
8.12.1. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital).......................... 91
8.13. Analisis Inkremental ......................................................................................................................... 92
8.14. Analisis Kelayakan Usaha ................................................................................................................94
8.15. Analisis Sensitivitas .......................................................................................................................... 96
8.16. Kesimpulan Analisis Kelayakan Keuangan ......................................................................................97
9. KLASIFIKASI PENILAI USAHA ..................................................................................................99
• Lampiran Keuangan
Business Valuation Unit
3 Jakarta
Page 20
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
DAFTAR FIGUR
Halaman
Figur 1. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS ...................................................................... 7
Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi ........................................................................................16
Figur 3. Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham OPMS ....................................................................19
Figur 4. Struktur Organisasi OPMS ............................................................................................................21
Figur 5. Historis Laporan Posisi Keuangan .................................................................................................24
Figur 6. Historis Laporan Laba (Rugi) ........................................................................................................25
Figur 7. Historis Laporan Arus Kas .............................................................................................................25
Figur 8. Historis Perkembangan Posisi Keuangan.......................................................................................26
Figur 9. Historis Perkembangan Laba (Rugi) ..............................................................................................27
Figur 10. Historis Perkembangan Arus Kas ..................................................................................................28
Figur 11. Historis Rasio Keuangan................................................................................................................29
Figur 12. Produksi, Pendapatan, dan Laba (Rugi) Bersih)Tahun 2022 - 2024 ..............................................33
Figur 13. Pertumbuhan PDB Dunia, PMI Global ..........................................................................................34
Figur 14. Indeks Keyakinan Konsumen, Penjualan Eceran Global ...............................................................34
Figur 15. Inflasi Global, Harga Komoditas Ekspor Indonesia.......................................................................35
Figur 16. Indeks Ketidakpastian Global, Yield UST 10Y dan JGB 10Y serta Indeks Saham.......................35
Figur 17. Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko Negara Berkembang, Aliran Modal Ke ............................35
Figur 18. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran dan ...............................36
Figur 19. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan I 2025 dan Indeks Keyakinan ....................................36
Figur 20. Nilai Tukar Petani, Penjualan Eceran ............................................................................................37
Figur 21. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Purchasing Managers’ Index........................37
Figur 22. Ekspor Nonmigas, Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama ...................................................37
Figur 23. Ekspor Nonmigas Daerah, Impor Nonmigas .................................................................................38
Figur 24. Impor Barang Konstruksi ...............................................................................................................38
Figur 25. Neraca Pembayaran Indonesia, Neraca Perdagangan ....................................................................39
Figur 26. Aliran Modal Asing, Cadangan Devisa .........................................................................................39
Figur 27. Indeks Rupiah terhadap USD, Negara Maju kecuali AS, dan Negara Berkembang, .....................39
Figur 28. Inflasi IHK Provinsi .......................................................................................................................40
Figur 29. Inflasi IHK dan Komponen, Ekspektasi Inflasi .............................................................................40
Figur 30. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan, Likuiditas Perbankan dan ..........................................41
Figur 31. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA, Transmisi BI Rate kepada SBDK ...........41
Figur 32. Suku Bunga Perbankan, Perkembangan Kredit dan DPK ..............................................................42
Figur 33. Permodalan Industri Perbankan, Rasio Kredit Bermasalah (NPL) ................................................42
Figur 34. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (persen), Triwulan II- ...........................43
Figur 35. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (persen), Triwulan II- ..........................44
Figur 36. PDB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha ..................45
Figur 37. Pertumbuhan Penjualan Sektor Fast-Moving Consumer Goods/FMCG di Sejumlah ...................46
Figur 38. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025 ......................................................................48
Figur 39. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025 ......................................................................49
Figur 40. Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Komoditas.................................49
Figur 41. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Tahun 2025 – 2030 ............................53
Figur 42. Produk yang dijual .........................................................................................................................56
Figur 43. Kapasitas Penjualan .......................................................................................................................59
Figur 44. Volume Penjualan ..........................................................................................................................60
Figur 45. Alur Distribusi ...............................................................................................................................61
Figur 46. Timeline Penambahan KBLI .........................................................................................................61
Figur 47. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS .....................................................................65
Figur 48. Analisis SWOT ..............................................................................................................................71
Figur 49. Komposisi Jumlah Karyawan OPMS untuk Penambahan Kegiatan Usaha ...................................74
Figur 50. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan .....................................................................75
Business Valuation Unit
4 Jakarta
Page 21
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 51. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan .........................................................................................75
Figur 52. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia ................................................................................75
Figur 53. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan ...............................................................75
Figur 54. Manajemen Risiko .........................................................................................................................76
Figur 55. Biaya Investasi ...............................................................................................................................80
Figur 56. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha .................................................................................80
Figur 57. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ..............................................................................82
Figur 58. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Tanpa Penambahan Usaha .......................................................83
Figur 59. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha...............................................84
Figur 60. Proyeksi Arus Kas OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ...................................................84
Figur 61. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .....................................85
Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ............................................85
Figur 63. Proyeksi Arus Kas OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .................................................85
Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha .................................................86
Figur 65. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ......................................................88
Figur 66. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha ........................................................88
Figur 67. Biaya Modal Ekuitas ......................................................................................................................91
Figur 68. WACC ...........................................................................................................................................92
Figur 69. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha ........................................93
Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha......................................93
Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental OPMS selama Periode Juli 2025 sampai dengan 2030 ....93
Figur 72. NPV Free Cash Flow to Incremental (Ribuan Rupiah) .................................................................94
Figur 73. Analisis Sensitivitas .......................................................................................................................96
Business Valuation Unit
5 Jakarta
Page 22
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Asian Prima
Indosteel berdasarkan Akta Notaris No. 2 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn., tanggal 5
September 2012. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-51905.AH.01.Tahun 2012 tanggal 4 Oktober
2012. Adapun perubahan nama Perusahaan tercantum dalam Akta No. 90 oleh Leolin
Jayanti, S.H., M.Kn., tanggal 26 Desember 2018. Perubahan tersebut telah disahkan oleh
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. AHU-0000173.AH.01.02.TAHUN 2019 tanggal 3 Januari 2019.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta
Notaris No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., tentang perubahan
susunan Direksi Perseroan. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam database
Sistem Administrasi Badan Hukum oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.09-0293147
tanggal 24 Desember 2024.
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, maksud dan tujuan dari Perseroan ini
adalah berusaha di bidang Perdagangan. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut,
Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama yaitu perdagangan besar barang bekas
dan sisa sisa tak terpakai (Scrap). Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar barang
bekas dan sisa-sisa tak terpakai dan potongan logam dan non-logam bahan untuk daur ulang,
termasuk pengumpulan, pengurutan, pemisahan, pelepasan barang yang masih berguna
misalnya mobil agar mendapatkan bagian yang masih bisa digunakan, pengepakan dan
pengepakan kembali, penyimpanan dan pengiriman, tapi tanpa proses perubahan yang nyata.
Dimana pembelian dan penjualan barang sisaan masih mempunyai nilai. (KBLI 46696).
Kegiatan usaha penunjang Perseroan yaitu pemulihan material barang logam (KBLI 38301);
perdagangan besar alat transportasi laut, suku cadang dan perlengkapannya (KBLI 46592);
perdagangan besar alat transportasi darat(bukan mobil, sepeda motor, dan sejenisnya), suku
cadang dan perlengkapannya (KBLI 46593); perdagangan besar logam dan bijih logam
(46620); perdagangan besar barang logam untuk bahan konstruksi (46631); perdagangan
besar barang bekas dan sisa-sisa tak terpakai (scrap) (46696); aktivitas penyewaan dan sewa
guna usaha tanpa hak opsi mesin, peralatan dan barang berwujud lainnya YTDL (77399).
PT Optima Prima Metal Sinergi (OPMS) sejak awal berdiri berfokus pada industri
perdagangan besar potongan logam. Pada masa pemerintahan presiden ke enam tahun 2004
– 2014 fokus pembangunan belum dominan di infrastruktur, tetapi iklim industri dalam
negeri cukup berkembang, salah satunya di sektor logam dan baja. Kemudian, pada masa
pemerintahan presiden ke tujuh tahun 2014 - 2024 infrastruktur ditempatkan sebagai
program prioritas nasional utama dengan anggaran yang besar dan realisasi masif di berbagai
sektor. Pada periode 2004 hingga 2019, industri besi dan logam di Indonesia mengalami
perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya pabrik-pabrik
logam yang bermunculan di berbagai wilayah, terutama di kawasan industri Jawa, Sumatera,
dan Kalimantan. Pendorong utamanya adalah meningkatnya kebutuhan bahan baku logam
untuk menopang pertumbuhan sektor konstruksi, properti, otomotif, serta manufaktur
nasional yang terus berkembang. Selain itu, kemudahan impor bahan baku dan barang modal
Business Valuation Unit
6 Jakarta
Page 23
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
membuka peluang bagi investor untuk mendirikan pabrik logam baru, sehingga kapasitas
produksi nasional meningkat signifikan.
Dinamika persaingan global dan masuknya produk impor dengan harga lebih murah mulai
memberikan tekanan terhadap industri logam dalam negeri. Industri besi dan logam
menunjukkan tren penurunan (sunset industry). Memasuki periode pemerintahan baru di
tahun 2024, kebijakan pembangunan nasional mengalami pergeseran. Infrastruktur tidak lagi
ditempatkan sebagai prioritas utama, melainkan diarahkan untuk mendukung agenda yang
lebih strategis, yakni ketahanan pangan dan program sosial. Pemerintah menitikberatkan
kebijakan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program unggulan seperti
Makan Bergizi Gratis, penguatan produksi pangan nasional, serta revitalisasi sistem
pertanian dan lumbung pangan untuk mengurangi ketergantungan impor. Situasi tersebut
memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan industri logam di Indonesia.
Meskipun harga logam di pasar internasional relatif stabil, permintaan di pasar domestik
cenderung menurun. Akibatnya, banyak pelaku industri logam mengalami kesulitan hingga
berhenti beroperasi atau gulung tikar, termasuk sejumlah pelanggan OPMS. Hal ini turut
memengaruhi kinerja operasional OPMS. Menyadari tantangan tersebut, OPMS menilai
perlu adanya diversifikasi usaha untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menciptakan
peluang pertumbuhan baru.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, OPMS melihat
potensi besar pada sektor distribusi makanan dan minuman. Lokasi Perseroan yang berada
di Madura yang merupakan wilayah masih dalam tahap pengembangan memberikan peluang
pasar yang menjanjikan. Makanan dan Minuman menjadi salah satu penyumbang Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kebutuhan pokok menjadi komponen utama dalam
struktur pengeluaran masyarakat, sehingga sektor ini dipandang sebagai prioritas utama
masyarakat. Dengan demikian, distribusi makanan dan minuman dipandang sebagai sektor
yang prospektif dan strategis untuk dikembangkan.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha, OPMS optimistis dapat meningkatkan daya
saing, memperluas jangkauan bisnis, serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di wilayah Madura dan daerah potensial lainnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, dan guna mendukung legalitas serta kesinambungan usaha,
OPMS bermaksud untuk menambah kegiatan usaha baru dengan mencantumkan Klasifikasi
Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) penambahan kegiatan usaha dalam Pasal 3
Anggaran Dasar Perseroan.
Figur 1. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS
No. Nama KBLI Kode KBLI
1 Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula 46331
2 Perdagangan besar kopi, teh dan kakao 46314
3 Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
46319
pertanian lainnya
4 Perdagangan besar buah-buahan 46312
5 Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur 46325
6 Perdagangan besar susu dan produk susu 46326
7 Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu 46334
8 Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya 46339
Business Valuation Unit
7 Jakarta
Page 24
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
No. Nama KBLI Kode KBLI
9 Perdagangan besar beras 46311
10 Perdagangan besar sayuran 46313
11 Perdagangan besar minyak dan lemak nabati 46315
12 Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan 46322
13 Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan
47242
sejenisnya
14 Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan 46321
15 Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya 46323
16 Perdagangan besar produk roti 46332
Sumber: Manajemen OPMS
Berdasarkan penjelasan dari manajemen, OPMS berencana menambah kegiatan usaha yang
sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 17/POJK 04/2020 (“POJK
17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama”, mengingat
rencana tersebut akan menambah kegiatan usaha OPMS.
Sehubungan dengan hal tersebut, OPMS membutuhkan pihak independen untuk melakukan
kajian dan analisis kelayakan atas rencana Penambahan Kegiatan Usaha. OPMS menunjuk
KJPP Guntur, Eki, Andri, dan Rekan (“GEAR”) untuk melakukan penyusunan studi
kelayakan berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. JKT.084/PN.BV.GEAR/2025
tanggal 15 Agustus 2025.
1.2. Identifikasi Status Penilai
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP No. 2.13.0116
dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa Keuangan
(“OJK”) d/h Bapepam.
KJPP Guntur, Eki, Andri Dan Rekan (“GEAR”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang
terdaftar di Kementerian Keuangan dan Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk
melakukan penilaian ini.
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 277/KM.1/2018 tertanggal
16 April 2018 mengenai Izin Penilai Dwi Hari Prasetiyo, ST., MM., M.Ec.Dev. MAPPI
(Cert) yang ditetapkan sebagai penilai di Bidang Jasa Penilaian Bisnis dengan kualifikasi (B)
No. B-01.18.00511 dan terdaftar di OJK untuk Pasar Modal dengan No. STTD.PB-
51/PM.223/2021 tanggal 04 Mei 2021 dan terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang
pasar modal di OJK dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal dari OJK
IKNB dengan No. 211/NB.122/STTD-P/2020 tanggal 10 September 2020 dan juga sebagai
anggota MAPPI dengan No. 14-S-05089 tanggal 6 Desember 2017 dan Nomor Register
RMK-2017.01120 tanggal 12 September 2017.
Business Valuation Unit
8 Jakarta
Page 25
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1.3. Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
Pemberi tugas adalah pihak dimana Penilai mengikatkan diri dalam hubungan kontraktual,
• Nama : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Bidang usaha : Perdagangan Besar Potongan Logam
• Alamat : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001,
Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
• Telepon : +62 31 7495673
• Fax :-
• Email : corporate@opms.co.id
• Website : www.opms.co.id
Pengguna laporan atas hasil penilaian adalah:
• Nama : PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Bidang usaha : Perdagangan Besar Potongan Logam
• Alamat : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW.001,
Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183
• Telepon : +62 31 7495673
• Fax :-
• Email : corporate@opms.co.id
• Website : www.opms.co.id
1.4. Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan
Maksud penugasan ini adalah untuk memberikan pendapat kelayakan atas penambahan
Kegiatan Usaha PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk dalam kaitannya kepentingan pasar
modal dan tidak digunakan di luar konteks atau tujuan penugasan tersebut. Dalam penugasan
ini, KJPP tidak hanya melakukan kajian namun memberikan pendapat kelayakan atas
penambahan kegiatan usaha.
Penugasan ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
No. 17/POJK.04/2020 (“POJK 17”) tentang “Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
Usaha”, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), Surat Edaran Otoritas
Jasa Keuangan No. 17/SEOJK.04/2020 (“SEOJK 17”) tentang Pedoman Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Standar Penilaian Indonesia (“SPI”)
Edisi VII Tahun 2018.
1.5. Objek Studi Kelayakan
Objek studi kelayakan sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi tugas adalah
penambahan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”)
yaitu:
Business Valuation Unit
9 Jakarta
Page 26
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1. KBLI 46331 - Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
2. KBLI 46314 - Perdagangan besar kopi, teh dan kakao
3. KBLI 46319 - Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
4. KBLI 46312 - Perdagangan besar buah-buahan
5. KBLI 46325 - Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
6. KBLI 46326 - Perdagangan besar susu dan produk susu
7. KBLI 46334 - Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
8. KBLI 46339 - Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
9. KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
10. KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
11. KBLI 46315 - Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
12. KBLI 46322 - Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
13. KBLI 47242 - Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
14. KBLI 46321 - Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
15. KBLI 46323 - Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
16. KBLI 46332 - Perdagangan besar produk roti
1.6. Tanggal Studi Kelayakan (Cut off Date) dan Masa Berlaku Laporan
Tanggal Studi Kelayakan adalah tanggal 30 Juni 2025, dimana batas tersebut diambil atas
dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) masa
berlaku laporan penilaian adalah 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (Cut Off
Date) dalam laporan penilaian.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku Laporan Studi
Kelayakan yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif penilaian (cut off date) dalam
Laporan Studi Kelayakan.
1.7. Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini GEAR bertindak secara independen
tanpa adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan OPMS ataupun pihak-pihak
yang terafiliasi dengan OPMS. GEAR juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan
pribadi atau merugikan pihak manapun terkait dengan penugasan ini. Imbalan jasa yang kami
terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh hasil kajian kelayakan yang dihasilkan.
1.8. Tanggung Jawab Penilai
Dalam batas kemampuan dan keyakinan GEAR sebagai penilai, GEAR menyatakan bahwa
semua perhitungan dan analisis yang dibuat dalam penyusunan Studi Kelayakan telah
Business Valuation Unit
10 Jakarta
Page 27
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
dilakukan dengan benar dan GEAR bertanggung jawab atas Studi Kelayakan yang
diterbitkan.
1.9. Pendekatan dan Metode Analisis Yang Digunakan
Dalam menyusun Studi Kelayakan ini, analisis dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2020, tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan
No.17/SEOJK.04/2020 Tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
di Pasar Modal, serta Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII 2018 yang disusun oleh
Masyarakat Penilai Indonesia (MAPPI) dengan memperhatikan Kode Etik Penilai Indonesia
(KEPI), dan peraturan yang terkait yaitu mencakup pengumpulan data primer dan sekunder,
inspeksi lapangan, analisis kelayakan pasar, analisis kelayakan teknis, analisis kelayakan
pola bisnis, analisis kelayakan model manajemen, analisis kelayakan keuangan, dan
memberikan Kesimpulan hasil studi kelayakan penambahan kegiatan usaha.
Pengumpulan Data
• Pengumpulan data-data primer dari Perseroan yang terkait dengan rencana ekspansi atas
penambahan kegiatan usaha yang meliputi data-data indentitas Perseroan, perizinan,
spesifikasi proyek, aspek keuangan, dan rencana usaha serta data-data lainnya yang
terkait.
• Pengumpulan data-data sekunder dari sumber-sumber terkait yang dapat
dipertanggungjawabkan,
• Pengumpulan data dari hasil diskusi perihal pembahasan dari aspek yang berpengaruh
dalam kelayakan dengan pihak Perseroan.
Proses Analisis Kelayakan
• Analisis kelayakan pasar yang mengkaji kondisi pasar, potensi pasar, persaingan usaha,
strategi pemasaran atas rencana penambahan kegiatan usaha.
• Analisis kelayakan teknis yang mengkaji secara teknis proses bisnis Perseroan dari
rencana penambahan kegiatan usaha, spesifikasi teknis, teknis pelaksanaan,
ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia, timeline, dan rencana keberlanjutan.
• Analisis kelayakan pola bisnis yang mengkaji model bisnis usaha Perseroan saat ini,
analisis atas penambahan kegiatan usaha, analisis kemampuan untuk menciptakan nilai,
analisis keunggulan kompetitif, kemampuan pesaing dalam meniru produk, analisis
industri, analisis risiko yang berpotensi muncul, dan analisis SWOT.
• Analisis kelayakan model manajemen yang mengkaji struktur organisasi dan kebutuhan
karyawan atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan, kesesuaian struktur
organisasi dan manajemen, kapasitas dan kemampuan manajemen, manajemen
kekayaan intelektual, manajemen risiko, sumber daya manusia, dan komposisi
karyawan.
• Analisis kelayakan keuangan yang mengkaji nilai-nilai parameter kelayakan ekonomi,
rencana biaya investasi, sumber pembiayaan, asumsi-asumsi, proyeksi keuangan,
analisis rasio keuangan, analisis biaya operasional, analisis biaya bahan baku mentah,
Business Valuation Unit
11 Jakarta
Page 28
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
analisis titik impas, analisis profitablitias, analisis tingkat imbal balik investasi, analisis
inkremental, dan analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha.
1.10. Standar Penugasan Studi Kelayakan
Analisis, opini, dan Kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta penyusunan laporan telah
dibuat dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, SEOJK 17 dan SPI Edisi VII Tahun 2018.
1.11. Data, Informasi dan Prosedur
1.11.1. Data Dan Informasi Rencana Penambahan Usaha
Kami telah melakukan analisis dan mempertimbangkan data dan informasi yang
disediakan OPMS untuk tujuan penugasan ini, yaitu:
1. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2025 yang telah
direview oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan MR/L-008/25
tanggal 26 Agustus 2025 dengan opini wajar dalam semua hal yang material.
2. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 yang telah
diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
00036/2.0961/AU.1/05/0628-5/1/III/2025 tanggal 20 Maret 2025 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
3. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 yang telah
diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
00076/2.0961/AU.1/05/0628-4/1/III/2024 tanggal 28 Maret 2024 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
4. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 yang telah
diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
00057/2.0961/AU.1/05/0628-3/1/III/2023 tanggal 29 Maret 2023 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
5. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 yang telah
diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
00083/2.0961/AU.1/05/0628-2/1/IV/2022 tanggal 25 April 2022 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
6. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 yang telah
diaudit oleh Morhan Tirtonadi, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.0628 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
00031/2.0961/AU.1/05/0628-1/1/IV/2021 tanggal 15 April 2021 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
7. Laporan Keuangan OPMS yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 yang telah
diaudit oleh David Kurniawan, CPA (Registrasi Akuntan Publik No. AP.1023 dari
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan, dengan nomor laporan
Business Valuation Unit
12 Jakarta
Page 29
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
00060/2.0961/AU.1/05/1023-2/1/III/2020 tanggal 31 Maret 2020 dengan opini wajar
dalam semua hal yang material.
8. Annual Report tahun 2024 PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
9. Company Profile PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
10. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Asian Prima Indosteel No. 02 tanggal 5
September 2012 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan
telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia No. AHU-51905.AH.01.01.Tahun2012 tanggal 04 Oktober
2012 tentang pengesahan badan hukum Perseroan.
11. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham PT Asian Prima Indosteel No. 39
tanggal 07 Desember 2017 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa
Timur dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data
Perseroan PT Asian Prima Indosteel No. AHU-AH.01.03-0199855 tanggal 12
Desember 2017 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris.
12. Akta Pernyataan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Asian Prima Indosteel No. 90 tanggal
26 Desember 2018 oleh Leolin Jayayanti, S.H., M.Kn. Notaris di Jakarta mengenai
perubahan nama Perseroan menjadi PT Optima Prima Metal Sinergi, perubahan
maksud dan tujuan serta kegiatan usaha, dan perubahan susunan direksi perseroan.
Akta tersebut telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0000173.AH.01.02.Tahun 2019
tanggal 03 Januari 2019 tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan
terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
13. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi
No. 83 tanggal 29 April 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah
disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia No. AHU-0023256.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 30 April 2019 tentang
persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal
Sinergi.
14. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi
No. 19 tanggal 03 Juli 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah
disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia No. AHU-0034612.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 04 Juli 2019 tentang
persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal
Sinergi.
15. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 30 tanggal 23 Juni 2023 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., Notaris
di Surabaya mengenai perubahan anggaran dasar dan telah disahkan melalui
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
0036709.AH.01.02.TAHUN 2023 tanggal 27 Juni 2023.
16. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 14 Juni 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan
Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0216239
tanggal 21 Juni 2024.
Business Valuation Unit
13 Jakarta
Page 30
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
17. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati,
S.H., M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan
Perubahan Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-
AH.01.09-0293147 tanggal 24 Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi
dan dewan komisaris.
18. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 25 Juni 2025 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
Notaris di Surabaya.
19. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 31.632.698.2-614.000
20. Nomor Induk Berusaha: 9120103251719 dengan nama pelaku usaha PT Optima
Prima Metal Sinergi Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) yang diterbitkan oleh Meneri Investasi/Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal tanggal 27 Juni 2023.
21. Surat Ijin Lokasi Nomor 35/PTP-IL/IV/2021 tanggal 26 April 2021 dari
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa
Timur mengenai ijin lokasi yang berlokasi di Desa Burneh, Kecamatan Burneh
dengan luas 21.314 m2 untuk rencana penggunaan tanah sebagai gudang.
22. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor : 644/830/433.114/2021
23. Tanda Daftar Gudang (TDG) Nomor : 07/433.114/TDG/VII/2021 tanggal 22 Juli
2021 dengan luas dan kapasitas Gudang 7.175 m2 yang berlokasi di Jl. Raya
Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur.
24. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-002
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan
Nomor PBG: PBG-352603-24062024-02 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi
Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan,
Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun
sejak diterbitkan.
25. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-001
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
diterbitkan.
26. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-002
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
diterbitkan.
27. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-003
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
Business Valuation Unit
14 Jakarta
Page 31
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50 orang dan berlaku 5 tahun sejak
diterbitkan.
28. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21062024-001
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Juni 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi
Bangunan Gedung: Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG
644/830/433.114/2021 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang
berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur
sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 20 orang dan berlaku 5 tahun sejak
diterbitkan.
29. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-001
yang ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati
Bangkalan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan
Nomor PBG 352603-24062024-01 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa
Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak
diterbitkan.
30. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5490.0.P.3.422.3526.B24 dan
Nomor Registrasi B243549041554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
sehingga dinyatakan Laik Operasi.
31. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5547.0.P.3.422.3526.B24 dan
Nomor Registrasi B243554741555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
sehingga dinyatakan Laik Operasi.
32. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5489.0.P.3.422.3526.B24 dan
Nomor Registrasi B243548941554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
sehingga dinyatakan Laik Operasi.
33. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5515.0.P.3.422.3526.B24 dan
Nomor Registrasi B243551541555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal
7 Februari 2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan
sehingga dinyatakan Laik Operasi.
34. Struktur Organisasi PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
35. Timeline PT PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk.
36. Informasi lain dari pihak manajemen OPMS serta pihak-pihak lain yang relevan
untuk penugasan.
37. Dokumen-dokumen lain yang terkait dengan Penambahan Kegiatan Usaha OPMS.
38. Informasi dan/atau dokumen terkait lainnya yang didapat dari berbagai pencarian
baik melalui Internet maupun media lainnya.
Seluruh data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan Laporan studi kelayakan
ini diperoleh dari manajemen OPMS sepanjang proses penyusunan laporan baik diskusi
dan wawancara.
Business Valuation Unit
15 Jakarta
Page 32
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1.12. Tingkat Kedalaman Investigasi
Studi Kelayakan dilakukan dengan investigasi yang meliputi pengumpulan data dan
informasi dari pihak manajemen OPMS, yang bertujuan untuk memperoleh dokumen
kelengkapan analisis yang dibutuhkan dan selanjutnya diverifikasi melalui wawancara
berupa con call atau virtual meeting.
Penilai tidak melakukan kegiatan atau analisis sebagai berikut:
1. Uji tuntas atas laporan keuangan tidak dilakukan dan penelaahan atas informasi pada
laporan keuangan hanya dilakukan sebatas untuk keperluan analisis kewajaran;
2. Uji tuntas atas aspek legal termasuk dokumen legalitas objek analisis kewajaran tidak
dilakukan;
3. Analisis dampak untuk para pihak terkait Penambahan Kegiatan Usaha;
4. Transaksi lain selain yang disebutkan dalam objek analisis studi kelayakan.
Pelaksana Investigasi
Berikut ini informasi terkait pelaksanaan investigasi lapangan:
• No. Surat Tugas : JKT/0035/ST.GEAR/2025
• Lokasi : Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT.003/
RW.001, Kel. Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya,
Jawa Timur 60183
• Tanggal Investigasi : 19 Agustus 2025 – Selesai
• Pelaksana Investigasi : Aurellia Nur Halimatussadiyah, Septi Irdi Kurnia Melati
• Penanggung Jawab Investigasi: Dwi Hari Prasetyo
Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan, diketahui saat ini OPMS masih
menjalankan kegiatan operasinya yaitu di bidang usaha utama Perdagangan Besar Potongan
logam.
Dalam penugasan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan yang
memadai diantaranya dengan melakukan site visit terhadap fasilitas milik OPMS dan
melakukan wawancara dengan manajemen OPMS ataupun pihak yang mewakilinya dan
pihak-pihak lain yang relevan.
Berikut adalah pihak-pihak yang diwawancarai yaitu:
Figur 2. Pihak yang Diwawancara & PIC Lokasi
Pihak Yang Diwawancarai Jabatan Perseroan
Meilyna Widjaja Direktur Utama OPMS
Rubbyanto Handaja Kusuma Direktur OPMS
Reni Anggeraini Corporate Secretary OPMS
Business Valuation Unit
16 Jakarta
Page 33
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1.13. Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan Kondisi pembatas sudah disajikan dan diungkapkan sesuai dengan Pasal 35
POJK No. 35/2020 tentang penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis dipasar modal,
yaitu sebagai berikut:
• Laporan Studi Kelayakan bersifat non disclaimer opinion.
• Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
dalam proses Studi Kelayakan.
• Dalam menyusun laporan ini, GEAR mengandalkan keakuratan dan kelengkapan
informasi yang disediakan oleh OPMS dan atau data yang diperoleh dari informasi yang
tersedia untuk publik dan informasi lainnya serta penelitian yang kami anggap relevan.
• GEAR menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan oleh OPMS dan telah
disesuaikan sehingga mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan dengan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
• GEAR bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan
yang telah disesuaikan.
• Laporan studi kelayakan yang dihasilkan terbuka untuk publik kecuali terdapat
informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional OPMS.
• GEAR bertanggung jawab atas laporan studi kelayakan dan kesimpulan yang
dihasilkan.
• GEAR telah memperoleh informasi atas status hukum objek studi kelayakan dari
pemberi tugas.
1.14. Kejadian-kejadian Penting setelah Tanggal Studi Kelayakan (Subsequent Event) dan
Tanggal Laporan
Sampai dengan tanggal Laporan Studi Kelayakan ini, kami tidak memperoleh informasi
mengenai peristiwa penting yang dapat berdampak secara material. Kejadian-kejadian
penting setelah tanggal laporan yaitu tanggal diterbitkannya Laporan Studi Kelayakan.
Penilai tidak berkewajiban untuk melakukan perubahan atau penyesuaian atas hasil Studi
Kelayakan yang dituangkan dalam Laporan Studi Kelayakan Terinci yang telah diterbitkan
dan disampaikan kepada Pemberi Tugas. Namun dalam hal terdapat informasi baru dalam
hal yang substansi, maka GEAR dapat menerbitkan revisi atas Laporan Studi Kelayakan.
1.15. Jenis Mata Uang yang Digunakan
Laporan Studi Kelayakan ini disusun dengan menggunakan mata uang Rupiah.
Business Valuation Unit
17 Jakarta
Page 34
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
1.16. Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam melaksanakan pembuatan laporan studi kelayakan atas Penambahan Kegiatan Usaha
ini, GEAR tidak menggunakan laporan hasil analisis dari tenaga ahli dari luar.
1.17. Persyaratan atas Persetujuan Publikasi
Laporan Studi Kelayakan beserta lampiran yang ada pada laporan ini hanya ditujukan kepada
Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada lingkup
penugasan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup
penugasan laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari GEAR dan pemberi tugas.
1.18. Konfirmasi bahwa Studi Kelayakan dilakukan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan
Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat, serta Laporan Studi kelayakan yang telah dibuat
oleh Penilai dengan memenuhi POJK 17, POJK 35, dan SEOJK 17.
1.19. Konfirmasi Bahwa Laporan Studi kelayakan dilakukan Berdasarkan SPI
Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi kelayakan telah
dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
Penilaian Indonesia Edisi VII tahun 2018 (“SPI”) yang ditetapkan oleh Masyarakat Profesi
Penilai Indonesia (“MAPPI”).
Business Valuation Unit
18 Jakarta
Page 35
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
2. GAMBARAN UMUM PERSEROAN
2.1. Gambaran Umum OPMS
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (“Perseroan”) didirikan dengan nama PT Asian Prima
Indosteel berdasarkan Akta Notaris No. 02 oleh Gema Bismantak, S.H., M.Kn., tanggal 5
September 2012. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-51905.AH.01.Tahun 2012 tanggal 4 Oktober
2012. Adapun perubahan nama Perseroan tercantum dalam Akta No. 90 oleh Leolin Jayanti,
S.H., M.Kn., tanggal 26 Desember 2018. Perubahan tersebut telah disahkan oleh
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. AHU-0000173.AH.01.02.TAHUN 2019 tanggal 3 Januari 2019.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta
Notaris No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., tentang perubahan
susunan Direksi Perseroan. Perubahan tersebut telah diterima dan dicatat di dalam database
Sistem Administrasi Badan Hukum oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dalam Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.09-0293147
tanggal 24 Desember 2024.
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
adalah menjalankan usaha dalam bidang jasa, perdagangan, pembangunan, perindustrian,
pengangkutan darat, percetakan dan perbengkelan.
Saat ini, Perseroan menjalankan usaha di bidang perdagangan material berbahan besi, baja
dan stainless steel.
Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2012.
2.2. Domisili
Perseroan berdomisili di Jl. Margomulyo Permai Blok AC No. 10 RT. 003 / RW. 001, Kel.
Asemrowo, Kec. Asemrowo, Surabaya, Jawa Timur 60183.
2.3. Struktur Permodalan
Susunan pemegang saham OPMS per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
Figur 3. Susunan dan Komposisi Kepemilikan Saham OPMS
Nilai Nominal Nilai Nominal
Jumlah Kepemilikan
Pemegang Saham Per Saham Saham
Saham (%)
(Rupiah Penuh) (Rupiah Penuh)
PT Asian Perkasa
597.900.000 59,79% 100 59.790.000.000
Indosteel
Sukianto Widjaja 2.100.000 0,21% 100 210.000.000
Treasuri Stok 198.373.000 19,84% 100 19.837.300.000
Business Valuation Unit
19 Jakarta
Page 36
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Nilai Nominal Nilai Nominal
Jumlah Kepemilikan
Pemegang Saham Per Saham Saham
Saham (%)
(Rupiah Penuh) (Rupiah Penuh)
Masyarakat (masing-
201.627.000 20,16% 100 20.162.700.000
masing di bawah 5%)
Total Modal
Ditempatkan dan 1.000.000.000 100,00% 100.000.000.000
Disetor Penuh
Sumber: Manajemen OPMS
Pada tahun 2020, Perseroan membeli saham treasuri melalui aksi buyback. Berdasarkan surat
No.008.CS.OPMS.2025 tanggal 20 Maret 2025, sesuai dengan POJK No.2/POJK.04/2013,
Perseroan telah melakukan Keterbukaan Informasi kepada regulator mengenai penjualan
kembali saham buyback mulai tanggal 9 April 2025 sampai dengan 31 Mei 2025.
Berdasarkan surat No.019.CS.OPMS.2025 tanggal 2 Juni 2025, terkait dengan penjualan
kembali atas saham treasuri melalui buyback, menyatakan bahwa Perseroan belum berhasil
menjual saham treasuri melalui mekanisme pasar di BEI.
Berdasarkan POJK No.30.POJK.04/2017, Perseroan wajib menjual kembali saham treasuri
dalam 3 (tiga) tahun, sebelum 17 April 2026. Pada tanggal 30 Juni 2025, tidak terdapat
penjualan saham treasuri.
2.4. Susunan Pengurus
Berdasarkan Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima
Prima Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati,
S.H., M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan
Data Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0293147 tanggal
24 Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris. Susunan
Dewan Komisaris dan Direksi OPMS pada tanggal 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Sumardi Wijaya
Komisaris Independen : Adhiguna Abdhipradhana Herwinda
Direksi
Direktur Utama : Meilyna Widjaja
Direktur Operasional : Sukianto Widjaja
Direktur : Rubbyanto Handaja Kusuma
Pada tanggal 30 Juni 2025, Perseroan memiliki 4 karyawan tetap (tidak diaudit).
Business Valuation Unit
20 Jakarta
Page 37
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
2.5. Struktur Organisasi
Berdasarkan informasi dari manajemen, susunan organisasi OPMS per 30 Juni 2025 adalah
sebagai berikut:
Figur 4. Struktur Organisasi OPMS
Sumber: Annual Report OPMS, 2025
2.6. Perizinan dan Legalitas
Berikut adalah legalitas yang dimiliki oleh OPMS yang digunakan dalam operasionalnya,
diantaranya yaitu:
1. Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Asian Prima Indosteel No. 02 tanggal 5 September
2012 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan telah disahkan
Business Valuation Unit
21 Jakarta
Page 38
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
No. AHU-51905.AH.01.01.Tahun2012 tanggal 04 Oktober 2012 tentang pengesahan
badan hukum Perseroan.
2. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham PT Asian Prima Indosteel No. 39 tanggal
07 Desember 2017 oleh Gema Bismantaka, S.H., M.Kn. Notaris di Jawa Timur dan telah
diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui
Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan PT Asian Prima Indosteel
No. AHU-AH.01.03-0199855 tanggal 12 Desember 2017 mengenai perubahan susunan
direksi dan dewan komisaris.
3. Akta Pernyataan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Asian Prima Indosteel No. 90 tanggal 26
Desember 2018 oleh Leolin Jayayanti, S.H., M.Kn. Notaris di Jakarta mengenai
perubahan nama Perseroan menjadi PT Optima Prima Metal Sinergi, perubahan maksud
dan tujuan serta kegiatan usaha, dan perubahan susunan direksi perseroan. Akta tersebut
telah disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia No. AHU-0000173.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 03 Januari 2019
tentang persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima
Metal Sinergi.
4. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi No.
83 tanggal 29 April 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah disahkan
melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
No. AHU-0023256.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 30 April 2019 tentang persetujuan
perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
5. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham PT Optima Prima Metal Sinergi No.
19 tanggal 03 Junli 2019 oleh Yulia, S.H. Notaris di DKI Jakarta dan telah disahkan
melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
No. AHU-0034612.AH.01.02.Tahun 2019 tanggal 04 Juli 2019 tentang persetujuan
perubahan anggaran dasar perseroan terbatas PT Optima Prima Metal Sinergi.
6. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 30 tanggal 23 Juni 2023 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., Notaris di
Surabaya mengenai perubahan anggaran dasar dan telah disahkan melalui Keputusan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
0036709.AH.01.02.TAHUN 2023 tanggal 27 Juni 2023.
7. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 14 Juni 2024 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0216239 tanggal 21 Juni 2024.
8. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 14 tanggal 19 Desember 2024 oleh Masyitho Rachmawati, S.H.,
M.Kn., Notaris di Surabaya dan telah diterima oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data
Perseroan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk No. AHU-AH.01.09-0293147 tanggal 24
Desember 2024 mengenai perubahan susunan direksi dan dewan komisaris.
9. Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk No. 17 tanggal 25 Juni 2025 oleh Ir. Joyce Sudarto, S.H., M.Kn.,
Notaris di Surabaya.
10. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP): 31.632.698.2-614.000
Business Valuation Unit
22 Jakarta
Page 39
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
11. Nomor Induk Berusaha: 9120103251719 dengan nama pelaku usaha PT Optima Prima
Metal Sinergi Tbk, dan status penanaman modal yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) yang diterbitkan oleh Meneri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal tanggal 27 Juni 2023.
12. Surat Ijin Lokasi Nomor 35/PTP-IL/IV/2021 tanggal 26 April 2021 dari Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur mengenai ijin
lokasi yang berlokasi di Desa Burneh, Kecamatan Burneh dengan luas 21.314 m2 untuk
rencana penggunaan tanah sebagai gudang.
13. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor : 644/830/433.114/2021
14. Tanda Daftar Gudang (TDG) Nomor : 07/433.114/TDG/VII/2021 tanggal 22 Juli 2021
dengan luas dan kapasitas Gudang 7.175 m2 yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa
Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur.
15. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-002 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati Bangkalan
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan Nomor PBG: PBG-
352603-24062024-02 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di
Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik
Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
16. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-001 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
17. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-002 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
18. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-24062024-003 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 24 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 50
orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
19. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21062024-001 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Juni 2024 atas nama Bupati Bangkalan Kepala
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Klasifikasi Bangunan Gedung:
Bangunan Gedung tempat penyimpanan, Nomor PBG 644/830/433.114/2021 atas nama
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Suramadu Desa Burneh,
Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik Fungsi dalam batas okupansi 20
orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
20. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung Nomor : SK-SLF-352603-21082024-001 yang
ditetapkan di Kab. Bangkalan tanggal 21 Agustus 2024 atas nama Bupati Bangkalan
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan Nomor PBG
Business Valuation Unit
23 Jakarta
Page 40
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
352603-24062024-01 atas nama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk yang berlokasi di
Jl. Raya Suramadu Desa Burneh, Kec. Burneh, Bangkalan, Jawa Timur sebagai Laik
Fungsi dalam batas okupansi 10 orang dan berlaku 5 tahun sejak diterbitkan.
21. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5490.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
Registrasi B243549041554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
Laik Operasi.
22. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5547.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
Registrasi B243554741555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
Laik Operasi.
23. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5489.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
Registrasi B243548941554 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
Laik Operasi.
24. Sertifikat Laik Operasi dengan Nomor Sertifikat 5515.0.P.3.422.3526.B24 dan Nomor
Registrasi B243551541555 yang ditetapkan di Kab. Pamekasan pada tanggal 7 Februari
2024 telah sesuai dengan ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sehingga dinyatakan
Laik Operasi.
2.7. Kinerja Keuangan Historis
Untuk melihat perkembangan kinerja OPMS, seperti posisi keuangan, laba rugi dan potensi
atau kemajuan yang dialami selama beberapa tahun terakhir, maka hasil analisis keuangan
historis yang bersumber dari laporan keuangan audit per per 31 Desember 2020, per 31
Desember 2021, per 31 Desember 2022, per 31 Desember 2023, per 31 Desember 2024, dan
laporan keuangan review 30 Juni 2025 disajikan sebagai berikut:
Figur 5. Historis Laporan Posisi Keuangan
(Dalam Ribuan Rupiah)
Jun 2025 Jun 2024 Des 2024 Des 2023 Des 2022 Des 2021 Des 2020
Keterangan
Review Review Audit Audit Audit Audit Audit
Aset
Aset Lancar 23.092.016 26.450.669 24.481.182 24.320.300 27.933.476 48.297.703 82.790.685
Aset Tidak Lancar 53.752.145 59.258.146 55.541.895 64.882.106 66.378.942 45.607.036 16.327.113
Jumlah Aset 76.844.161 85.708.816 80.023.077 89.202.406 94.312.419 93.904.739 99.117.797
Liabilitas dan
Ekuitas
Liabilitas Jangka
269.320 124.085 195.114 1.171.648 1.832.579 282.845 5.096.435
Pendek
Liabilitas Jangka
479.986 631.690 524.844 614.560 580.301 409.531 396.051
Panjang
Jumlah Liabilitas 749.306 755.775 719.959 1.786.208 2.412.880 692.376 5.492.486
Jumlah Ekuitas 76.094.854 84.953.041 79.303.118 87.416.198 91.899.539 93.212.363 93.625.312
Jumlah Liabilitas
76.844.161 85.708.816 80.023.077 89.202.406 94.312.419 93.904.739 99.117.797
dan Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Business Valuation Unit
24 Jakarta
Page 41
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 6. Historis Laporan Laba (Rugi)
(Dalam Ribuan Rupiah)
Jun 2025 Jun 2024 Des 2024 Des 2023 Des 2022 Des 2021 Des 2020
Keterangan
Review Review Audit Audit Audit Audit Audit
Pendapatan 2.439.602 23.721.866 40.784.169 9.117.164 22.510.395 41.184.565 34.773.247
Beban Pokok Pendapatan 3.431.256 23.547.289 41.486.701 10.729.121 17.815.359 37.461.493 30.490.801
Laba Rugi Usaha (3.679.087) (3.832.191) (7.534.510) (7.638.992) (3.086.864) (2.695.533) (1.024.628)
Laba Rugi Sebelum
(3.296.528) (3.431.760) (6.859.495) (6.338.595) (1.178.228) (773.605) 1.219.383
Pajak Penghasilan
Laba Rugi Bersih Tahun
(3.293.866) (2.649.738) (8.284.284) (4.751.545) (860.860) (353.810) 1.031.801
Berjalan
Jumlah Laba Rugi
(3.208.264) (2.463.157) (8.113.080) (4.483.340) (1.312.825) (412.949) 1.065.589
Komprehensif
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Figur 7. Historis Laporan Arus Kas
(Dalam Ribuan Rupiah)
Jun 2025 Jun 2024 Des 2024 Des 2023 Des 2022 Des 2021 Des 2020
Keterangan
Review Review Audit Audit Audit Audit Audit
Arus Kas
3.127.747 (2.247.659) (2.722.794) (10.302.292) 175.097 (2.269.623) 24.174.133
Operasi
Arus Kas
Investasi 460.228 5.412.060 5.011.508 1.411.987 (19.552.169) (23.949.548) 23.459.883
Arus Kas
Pendanaan (105.414) (102.578) (102.578) (94.690) - (100.000) (22.797.628)
Kas Awal
9.549.418 7.363.282 7.363.282 16.348.277 35.725.350 62.044.520 37.208.132
Tahun
Kas Akhir
13.031.979 10.425.105 9.549.418 7.363.282 16.348.277 35.725.350 62.044.520
Tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
2.7.1 Analisis Posisi Keuangan
Perkembangan posisi keuangan OPMS dapat dilihat pada grafik berikut:
Business Valuation Unit
25 Jakarta
Page 42
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 8. Historis Perkembangan Posisi Keuangan
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Aset OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp93.904.739 ribu dan mengalami penurunan
5,26% dibandingkan tahun 2020. Aset kembali mengalami penurunan pada tahun 2023 dan
2024 masing-masing sebesar 5,42% dan 10,29%. Penurunan aset tersebut disebabkan oleh
penurunan pada pos aset lancar (kas dan setara kas, pendapatan bunga yang masih harus
diterima, uang jaminan) dan aset tidak lancar (uang muka dan biaya dibayar dimuka).
Peningkatan aset OPMS terjadi pada tahun 2022 sebesar 0,43% dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Per 30 Juni 2025 aset OPMS tercatat sebesar Rp76.844.161 ribu.
Liabilitas OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp692.376 ribu dan mengalami penurunan
87,39% dibandingkan tahun 2020. Liabilitas kembali mengalami penurunan pada tahun 2023
dan 2024 masing-masing sebesar 25,97% dan 59,69%. Penurunan liabilitas tersebut
disebabkan oleh penurunan pada pos liabilitas jangka pendek (utang lain-lain pihak ketiga
dan uang muka pelanggan). Peningkatan liabilitas OPMS terjadi pada tahun 2022 sebesar
248,49% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Per 30 Juni 2025 liabilitas OPMS tercatat
sebesar Rp749.306 ribu.
Ekuitas OPMS selama periode historis mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun
2020 ekuitas OPMS tercatat sebesar Rp93.625.312 ribu. Pada tahun 2021 – 2024 ekuitas
mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,44%; 1,41%; 4,88%; dan 9,28%. Per 30 Juni
2025 tercatat sebesar Rp76.094.854 ribu.
Business Valuation Unit
26 Jakarta
Page 43
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
2.7.2 Analisis Laba Rugi
Perkembangan laba (rugi) OPMS dapat dilihat pada grafik berikut:
Figur 9. Historis Perkembangan Laba (Rugi)
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Pendapatan OPMS pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp41.184.565 ribu dan mengalami
peningkatan 18,44% dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp34.773.247 ribu.
Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2024 sebesar 347,33% dibandingkan tahun
sebelumya. Pada tahun 2022 – 2023 pendapatan OPMS mengalami penurunan masing-
masing sebesar 45,34% dan 59,50%. Per 30 Juni 2025 pendapatan OPMS tercatat sebesar
Rp2.439.602 ribu.
Sejalan dengan pendapatan, Beban Pokok Pendapatan OPMS pada tahun 2021 tercatat
sebesar Rp37.461.493ribu dan mengalami peningkatan 22,86% dibandingkan tahun 2019
yang tercatat sebesar Rp30.490.801 ribu. Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2024
sebesar 286,67% dibandingkan tahun sebelumya. Pada tahun 2022 – 2023 beban pokok
pendapatan OPMS mengalami penurunan masing-masing sebesar 52,44% dan 39,78%. Per
30 Juni 2025 beban pokok pendapatan OPMS tercatat sebesar Rp3.431.256 ribu.
Laba Rugi Usaha selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 belum
mencatatkan laba. Pada tahun 2020 – 2024 rugi usaha OPMS masing-masing tercatat sebesar
Rp1.024.628 ribu, Rp2.695.533 ribu, Rp 3.086.864 ribu, Rp7.638.992 ribu dan Rp7.534.510
ribu. Per 30 Juni 2025 rugi usaha OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.679.087 ribu.
Laba Rugi Sebelum Pajak Penghasilan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni
2025 mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.219.383 ribu. Pada tahun 2021 – 2024
Business Valuation Unit
27 Jakarta
Page 44
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
OPMS mencatatkan kerugian sebelum pajak penghasilan masing masing sebesar Rp773.605
ribu, Rp1.178.228 ribu, Rp6.338.595 ribu, dan Rp6.859.495 ribu. Per 30 Juni 2025 rugi
sebelum pajak penghasilan OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.296.528 ribu.
Laba Rugi Tahun Berjalan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.031.801 ribu. Pada tahun 2021 – 2024 OPMS
mencatatkan kerugian tahun berjalan masing masing sebesar Rp353.810 ribu, Rp860.860
ribu, Rp4.751.545 ribu, dan Rp8.284.284 ribu. Per 30 Juni 2025 rugi tahun berjalan OPMS
tercatat sebesar negatif Rp3.293.866 ribu.
Laba Rugi Komprehensif Tahun Berjalan selama periode historis 31 Desember 2020 – 30
Juni 2025 mencatatkan laba pada tahun 2020 sebesar Rp1.065.589 ribu. Pada tahun 2021 –
2024 OPMS mencatatkan kerugian komprehensif tahun berjalan masing masing sebesar
Rp412.949 ribu, Rp1.312.825 ribu, Rp4.483.340 ribu, dan Rp8.113.080 ribu. Per 30 Juni
2025 rugi komprehensif tahun berjalan OPMS tercatat sebesar negatif Rp3.208.264 ribu.
2.7.3 Analisis Arus Kas
Perkembangan arus kas OPMS dapat dilihat pada figur berikut:
Figur 10. Historis Perkembangan Arus Kas
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Business Valuation Unit
28 Jakarta
Page 45
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Dari figur kinerja arus kas diatas, aktivitas cash flow OPMS untuk periode 31 Desember 2020
– 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
• Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi pada Desember 2020 – Juni 2025
berasal dari penerimaan kas dari pelanggan, pembayaran kas kepada pemasok,
pembayaran kas kepada karyawan, pembayaran kas untuk beban usaha, penerimaan
(pembayaran) untuk operasional lainnya, penerimaan bunga, pembayaran bunga atas
liabilitas sewa, dan pembayaran pajak penghasilan. Arus kas bersih yang diperoleh dari
aktivitas operasi pada tahun 2020 tercatat positif sebesar Rp24.174.133 ribu. Per 30 Juni
2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp3.127.747
ribu.
• Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas investasi pada Desember 2020 – Juni 2025
berasal dari penerimaan dari penjualan aset keuangan pada nilai wajar melalui
penghasilan, penerimaan atas uang jaminan, penerimaan dari penjualan aset tetap,
perolehan aset tetap, penambahan investasi, dan pembayaran uang muka perolehan aset.
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas investasi pada tahun 2020 tercatat positif
sebesar Rp23.459.883 ribu. Per 30 Juni 2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas
investasi tercatat sebesar Rp460.228 ribu.
• Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan pada Desember 2020 – Juni
2025 berasal dari pembayaran pokok liabilitas sewa dan akuisisi aham treasuri. Arus kas
bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan pada tahun 2020 tercatat negatif sebesar
Rp22.797.628 ribu. Per 30 Juni 2025 arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas
pendanaan tercatat sebesar negatif Rp105.414 ribu.
• Kas dan Setara Kas Akhir Tahun pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp35.725.350 ribu
mengalami penurunan sebesar 42,42% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada
tahun 202 dan 2023 kas dan setara kas akhir tahun juga mengalami penurunan sebesar
54,24% dan 54,96% dari tahun sebelumnya. Kas dan setara kas akhir tahun mengalami
peningkatan pada tahun 2024 sebesar 29,69% dari tahun sebelumnya. Per 30 Juni 2025
kas dan setara kas akhir tahun tercatat sebesar Rp13.031.979 ribu.
2.7.4 Analisis Rasio Keuangan
Figur 11. Historis Rasio Keuangan
Jun 2025 Jun 2024 Des 2024 Des 2023 Des 2022 Des 2021 Des 2020
Keterangan
Review Review Audit Audit Audit Audit Audit
Rasio Likuiditas
Current Ratio 8574,20% 21316,53% 12547,08% 2075,73% 1524,27% 17075,68% 1624,48%
Quick Ratio 8452,07% 20974,04% 12340,50% 1910,52% 1455,31% 16573,30% 1551,36%
Cash Ratio 4838,85% 8401,57% 4894,26% 628,46% 892,09% 12630,71% 1217,41%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang
1 2 - 16 - - -
Usaha Pihak Ketiga
Perputaran Persediaan 35 7 4 66 26 14 45
Perputaran Utang
- 0 - 28 - - -
Usaha Pihak Ketiga
Perputaran Utang
- - - 2 32 - -
Retensi
Perputaran Beban yang
7 0 - 3 2 1 1
Masih Harus Dibayar
Rasio Solvabilitas 0,96
Debt to Asset 0,98% 0,90% 2,00% 2,56% 0,74% 5,54%
Business Valuation Unit
29 Jakarta
Page 46
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jun 2025 Jun 2024 Des 2024 Des 2023 Des 2022 Des 2021 Des 2020
Keterangan
Review Review Audit Audit Audit Audit Audit
Debt to Equity 0,98% 0,88% 0,91% 2,04% 2,63% 0,74% 5,87%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin -40,65% 0,89% -1,72% -17,68% 20,86% 9,04% 12,32%
Operating Margin -150,81% 0,74% -18,47% -83,79% -13,71% -6,55% -2,95%
Net Profit Margin -135,02% -16,15% -20,31% -52,12% -3,82% -0,86% 2,97%
ROA -4,29% -11,17% -10,35% -5,33% -0,91% -0,38% 1,04%
ROE -4,33% -3,09% -10,45% -5,44% -0,94% -0,38% 1,10%
Sumber: Laporan Keuangan Audit dan Review OPMS
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Current Ratio
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang
dimilikinya. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas perusahaan,
dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar kewajiban. Rasio
lancar OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
1624,48%; 17075,68%; 1524,27%; 2075,73%; 12547,08%; dan 8574,20%.
2. Quick Ratio
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya (utang lancar) dengan aset lancar yang paling
likuid, tanpa mengandalkan penjualan persediaan. Rasio cepat OPMS pada periode 31
Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 1551,36%; 16573,30%; 1455,31%;
1910,52%; 12340,50%; dan 8452,07%.
3. Cash Ratio
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya menggunakan aset yang paling likuid, yaitu
kas dan setara kas. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas
perusahaan, dengan fokus pada aset likuid yang tersedia langsung untuk membayar
kewajiban. Rasio kas OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat
sebesar 1217,41%; 12630,71%; 892,09%; 628,46%; 4894,26%; dan 4838,85%.
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas (activity ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
pemanfaatan sumber daya perusahaan atau menilai kemampuan perusahaan dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.
1. Rasio Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga
Rasio perputaran piutang usaha pihak ketiga merupakan indikator keuangan yang
digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam mengelola piutang usaha
pihak ketiga. Rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan dapat menagih piutang
usaha dari debitur dalam satu periode tertentu. Rasio perputaran piutang usaha pihak
Business Valuation Unit
30 Jakarta
Page 47
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
ketiga OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0
hari, 0 hari, 16 hari, 0 hari, dan 1 hari.
2. Rasio Perputaran Persediaan
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk melihat berapa hari persediaan
berubah menjadi penjualan. Rasio perputaran persediaan OPMS pada periode 31
Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 45 hari, 14 hari, 26 hari, 66 hari, 4 hari,
dan 35 hari.
3. Rasio Perputaran Utang Usaha Pihak Ketiga
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan
membayar utang usaha pihak ketiga selama periode tertentu. Rasio ini memberikan
gambaran mengenai efisiensi perusahaan dalam mengelola kewajiban jangka pendek
kepada pihak ketiga. Rasio utang usaha pihak ketiga OPMS pada periode 31 Desember
2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0 hari, 0 hari, 28 hari, 0 hari, dan 0 hari.
4. Rasio Perputaran Utang Retensi
Rasio yang menunjukkan seberapa sering atau cepat perusahaan melunasi kewajiban
utang retensinya kepada pihak ketiga dalam satu periode tertentu. Rasio utang retensi
OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat selama 0 hari, 0 hari, 32
hari, 2 hari, 0 hari, dan 0 hari.
5. Rasio Perputaran Beban yang Masih Harus Dibayar
Rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa sering perusahaan melunasi kewajiban
berupa beban yang masih harus dibayar dalam satu periode tertentu. Rasio ini biasanya
dipakai untuk menganalisis efektivitas pengelolaan kewajiban jangka pendek. Rasio
beban yang masih harus dibayar OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
tercatat selama 1 hari, 1 hari, 2 hari, 3 hari, 0 hari, dan 7 hari.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk melunasi utang-utangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam
kategori ini.
1. Debt to asset ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total aset Perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan Perusahaan. Adapun
tingkat rasio liabilitas terhadap total aset OPMS pada periode 31 Desember 2020 –
30 Juni 2025 tercatat sebesar 5,54%; 0,74%; 2,56%; 2,00%; 0,90%; dan 0,98%.
2. Debt to equity ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara total debt terhadap total ekuitas atau modal
perusahaan. Rasio satu menunjukkan jumlah liabilitas sama dengan jumlah ekuitas.
Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa rasio liabilitas terhadap
ekuitas OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar 5,87%;
0,74%; 2,63%; 2,04%; 0,91%; dan 0,98%.
Business Valuation Unit
31 Jakarta
Page 48
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba
dalam operasinya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.
1. Gross Profit Margin (Rasio Laba Kotor)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
kotor. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba kotor. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba kotor OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
12,32%; 9,04%; 20,86%; -17,08%; -1,72%; dan -40,65%.
2. Operating Margin (Rasio Laba Operasi)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
operasi. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba operasi. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba operasi OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat
sebesar -2,95%; -6,55%; -13,71%; -83,79%; -18,47%; dan -150,81%.
3. Net Profit Margin (Rasio Laba Bersih)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih. Rasio ini menunjukkan persentase dari setiap rupiah pendapatan terhadap
pembentukan laba bersih. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas dapat dilihat bahwa
rasio laba bersih OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025 tercatat sebesar
2,97%; -0,86%; -3,82%; -52,12%; -20,31%; dan -135,02%.
4. Ratio Return On Asset (ROA)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih dengan mengunakan seluruh aset perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan
diatas dapat dilihat bahwa rasio ROA OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni
2025 tercatat sebesar 1,04%; -0,38%; -0,91%; -5,33%; -10,35%; dan -4,29%.
5. Ratio Return On Equity (ROE)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
bersih dengan mengunakan ekuitas perusahaan. Berdasarkan figur rasio keuangan diatas
dapat dilihat bahwa rasio ROE OPMS pada periode 31 Desember 2020 – 30 Juni 2025
tercatat sebesar 1,10%; -0,38%; -0,94%; -5,44%; -10,45%; dan -4,33%.
2.8. Kinerja Operasional OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam
Pada tahun 2024, OPMS mencatatkan produksi metal sebesar 2.175 ton, meningkat 78.5%
dibandingkan dengan 1.219 ton pada tahun 2023. Pendapatan perusahaan juga melonjak
menjadi Rp 40,78 miliar, mengalami peningkatan 347% dari Rp 9,12 miliar pada tahun
sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan keberlanjutan ekonomi OPMS yang kuat,
dengan fokus pada efisiensi operasional dan pengelolaan sumber daya yang baik. Hal ini
memastikan stabilitas keuangan perusahaan dan mendukung kelangsungan usaha jangka
panjang, serta membuka peluang untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.
Business Valuation Unit
32 Jakarta
Page 49
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 12. Produksi, Pendapatan, dan Laba (Rugi) Bersih)Tahun 2022 - 2024
Sumber: Annual Report OPMS, 2024
Strategi Pemasaran OPMS 2024 Bidang Usaha Perdagangan Besar Potongan Logam
Perseroan dalam melakukan pemasaran dengan pendekatan business-tobusiness (B2B) yang
mengutamakan hubungan jangka panjang, keandalan suplai, dan transparansi harga menjadi
fondasi dalam menjaga loyalitas pelanggan dan memperluas jangkauan pasar. Untuk
memperkuat eksistensi merek, Perseroan memanfaatkan kombinasi antara pemasaran digital,
partisipasi dalam pameran industri, serta kerja sama strategis dengan asosiasi sektor logam
dan kelautan.
2.9. Informasi Perpajakan
Pada periode 30 Juni 2025, OPMS tercatat memiliki utang pajak sebesar Rp56.471 ribu.
Business Valuation Unit
33 Jakarta
Page 50
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
3. TINJAUAN MAKRO EKONOMI
3.1. Perekonomian Global dan Domestik
Ketidakpastian ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun tetap
berada pada level yang tinggi akibat dinamika negosiasi tarif timbal balik antara Amerika
Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah indikator
mengonfirmasi bahwa kebijakan tarif AS memberikan dampak terhadap perlambatan
ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang
cenderung menurun, meskipun mereka menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif serta
pelonggaran moneter. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat karena
penurunan ekspor—khususnya ke AS—di tengah lesunya permintaan domestik. Sementara
itu, India diperkirakan akan mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, didukung oleh
kuatnya investasi. Tekanan inflasi di AS pun mulai menurun seiring melambatnya aktivitas
ekonomi, walaupun inflasi pada kelompok barang sempat naik akibat kebijakan tarif. Hal ini
memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan The Fed
(Fed Funds Rate) ke depan. Di pasar keuangan global, Pergeseran arus modal dari Amerika
Serikat menuju aset-aset yang dianggap lebih aman, serta ke instrumen keuangan di negara
berkembang, masih terus berlangsung. Dinamika ini berkontribusi pada berlanjutnya
pelemahan nilai indeks dolar AS terhadap mata uang negara-negara maju (DXY) maupun
negara berkembang (ADXY).
Figur 13. Pertumbuhan PDB Dunia, PMI Global
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 14. Indeks Keyakinan Konsumen, Penjualan Eceran Global
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
34 Jakarta
Page 51
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 15. Inflasi Global, Harga Komoditas Ekspor Indonesia
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 16. Indeks Ketidakpastian Global, Yield UST 10Y dan JGB 10Y serta Indeks Saham
AS,
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 17. Kinerja Dolar AS dan Persepsi Risiko Negara Berkembang, Aliran Modal Ke
Negara Berkembang
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
35 Jakarta
Page 52
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
3.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus diperkuat di tengah meningkatnya
ketidakpastian global yang disebabkan oleh kebijakan tarif dari AS dan eskalasi ketegangan
geopolitik. Aktivitas ekonomi pada triwulan II tahun 2025 menunjukkan perbaikan pada
kinerja ekspor nonmigas, yang didorong oleh strategi front loading ekspor ke AS sebagai
langkah antisipatif dari para eksportir terhadap penerapan tarif baru. Di sisi lain, kontribusi
permintaan domestik, khususnya dari konsumsi rumah tangga dan investasi, perlu terus
ditingkatkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Dari perspektif fiskal, Pemerintah
mendorong percepatan realisasi belanja melalui kebijakan pemberian gaji ke-13 bagi
Aparatur Sipil Negara (ASN). Subsidi transportasi dan peningkatan bantuan sosial bagi
Keluarga Penerima Manfaat (KPM) turut diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga daya
beli masyarakat. Sementara itu, dari sisi Bank Indonesia, pelonggaran kebijakan moneter
dilakukan melalui penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas, yang disertai dengan
peningkatan insentif likuiditas makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit
pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
Figur 18. Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran dan
Lapangan Usaha
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 19. Pertumbuhan Ekonomi Regional Triwulan I 2025 dan Indeks Keyakinan
Konsumen
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
36 Jakarta
Page 53
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 20. Nilai Tukar Petani, Penjualan Eceran
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 21. Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Purchasing Managers’ Index
(PMI) Manufaktur
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 22. Ekspor Nonmigas, Ekspor Nonmigas ke Negara Tujuan Utama
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
37 Jakarta
Page 54
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 23. Ekspor Nonmigas Daerah, Impor Nonmigas
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 24. Impor Barang Konstruksi
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap menunjukkan kinerja yang solid, didukung oleh
berlanjutnya arus masuk modal asing ke 38adangan38t investasi portofolio, yang turut
memperkuat ketahanan sektor eksternal. Pada April 2025, neraca perdagangan mencatat
surplus sebesar 0,2 miliar dolar AS, melanjutkan capaian positif pada Maret 2025 yang
mencatat surplus sebesar 4,3 miliar dolar AS. Kinerja ekspor yang kuat diperkirakan akan
berlanjut pada triwulan II 2025, terutama ditopang oleh komoditas utama seperti minyak
kelapa sawit (CPO), mesin 38adanga, besi baja, dan produk kimia 38adanga.
Arus masuk dana asing ke pasar portofolio 38 adangan, khususnya dalam bentuk Surat
Berharga Negara (SBN), terus berlangsung seiring dengan prospek ekonomi Indonesia yang
tetap positif, imbal hasil 38 adangan 38 t keuangan 38 adangan yang kompetitif, serta
menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Hingga 16 Juni 2025, aliran modal
asing ke SBN mencatat net inflows sebesar 1,7 miliar dolar AS.
Posisi 38adangan devisa per akhir Mei 2025 tercatat tinggi, yakni sebesar 152,5 miliar dolar
AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang
luar negeri Pemerintah, dan masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang
sekitar 3 bulan impor.
Business Valuation Unit
38 Jakarta
Page 55
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 25. Neraca Pembayaran Indonesia, Neraca Perdagangan
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 26. Aliran Modal Asing, Cadangan Devisa
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 27. Indeks Rupiah terhadap USD, Negara Maju kecuali AS, dan Negara Berkembang,
Suku Bunga Kebijakan Negara Kawasan
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan yang didukung oleh langkah stabilisasi yang
ditempuh Bank Indonesia serta peningkatan pasokan valuta asing baik dari pelaku domestik
maupun asing. Hingga 17 Juni 2025, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat
Business Valuation Unit
39 Jakarta
Page 56
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
sebesar 0,06% (ptp) dibandingkan akhir bulan sebelumnya. Penguatan Rupiah juga terjadi
terhadap mata uang negara-negara berkembang mitra dagang utama Indonesia, serta
terhadap mata uang negara-negara maju selain dolar AS. Kondisi ini didorong oleh aliran
modal asing, khususnya ke instrumen SBN, serta meningkatnya pasokan valas dari pelaku
usaha domestik, seiring dengan meningkatnya konversi devisa hasil ekspor oleh eksportir
pasca penerapan kebijakan Pemerintah yang memperkuat pengelolaan Devisa Hasil Ekspor
Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2025 tetap berada dalam kisaran yang
terjaga, sehingga turut mendukung stabilitas makroekonomi. Pada periode tersebut, IHK
mencatat tingkat inflasi sebesar 1,60% secara tahunan (yoy). Inflasi inti juga menunjukkan
kondisi yang terkendali dengan tingkat sebesar 2,40% (yoy), mencerminkan konsistensi
kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) dalam mengarahkan ekspektasi inflasi agar
tetap sesuai dengan target yang ditetapkan. Sementara itu, kelompok komoditas pangan
bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 1,17% (yoy). Stabilitas inflasi pangan
didukung oleh ketersediaan pasokan komoditas pangan utama serta sinergi yang kuat antara
pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah
(TPIP/TPID), yang diimplementasikan melalui program Gerakan Nasional Pengendalian
Inflasi Pangan (GNPIP). Inflasi pada kelompok administered prices tercatat sebesar 1,36%
(yoy), mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,25% (yoy),
terutama disebabkan oleh kenaikan tarif air minum PDAM dan harga rokok, sebagai dampak
lanjutan dari penyesuaian cukai hasil tembakau.
Figur 28. Inflasi IHK Provinsi
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 29. Inflasi IHK dan Komponen, Ekspektasi Inflasi
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
40 Jakarta
Page 57
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Dalam rangka memperkuat efektivitas kebijakan moneter, Bank Indonesia terus
mengoptimalkan respons melalui strategi operasi moneter yang pro-pasar guna
memperlancar transmisi kebijakan suku bunga pasca penurunan BI-Rate. Di pasar uang,
sebagai respons terhadap penurunan BI-Rate pada Mei 2025 dan implementasi operasi
moneter, suku bunga overnight INDONIA mengalami penurunan menjadi 5,34% per 17 Juni
2025, dari sebelumnya 5,77% sebelum pengumuman penurunan BI-Rate. Demikian pula,
suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan per 13
Juni 2025 masing-masing turun menjadi 6,22%, 6,26%, dan 6,27%, lebih rendah
dibandingkan sebelum penurunan BI-Rate yang masing-masing tercatat sebesar 6,40%,
6,44%, dan 6,47%.
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga menunjukkan penurunan, dengan yield SBN
tenor 2 tahun turun dari 6,16% menjadi 6,13%, dan untuk tenor 10 tahun dari 6,84% menjadi
6,71%. Di sektor perbankan, suku bunga juga mulai menunjukkan tren penurunan, meskipun
secara bertahap. Suku bunga deposito 1 bulan tercatat sebesar 4,81% pada Mei 2025, sedikit
lebih rendah dibandingkan 4,83% pada April 2025. Sementara itu, suku bunga kredit turun
tipis dari 9,19% pada April 2025 menjadi 9,18% pada Mei 2025.
Figur 30. Perkembangan Rasio AL/DPK Perbankan, Likuiditas Perbankan dan
Perekonomian
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 31. Suku Bunga Kebijakan Bank Indonesia dan IndONIA, Transmisi BI Rate kepada
SBDK
Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Business Valuation Unit
41 Jakarta
Page 58
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 32. Suku Bunga Perbankan, Perkembangan Kredit dan DPK
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Figur 33. Permodalan Industri Perbankan, Rasio Kredit Bermasalah (NPL)
Sumber: Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juni 2025
Strategi operasi moneter yang bersifat pro-pasar terus diperkuat guna mendukung efektivitas
transmisi kebijakan moneter melalui ketersediaan likuiditas yang memadai. Dalam kerangka
tersebut, pemanfaatan instrumen moneter berbasis pasar seperti SRBI (Sekuritas Rupiah
Bank Indonesia), SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia), dan SUVBI (Sekuritas Utang
Valas Bank Indonesia) terus dioptimalkan. Per 16 Juni 2025, posisi outstanding SRBI
tercatat mencapai Rp811,11 triliun, berkontribusi terhadap ekspansi likuiditas dalam rangka
pelaksanaan kebijakan moneter. Pada periode yang sama, posisi SVBI dan SUVBI masing-
masing tercatat sebesar 2.060,5 juta dolar AS dan 480 juta dolar AS. Pembelian SBN oleh
Bank Indonesia terdiri atas transaksi di pasar sekunder sebesar Rp87,04 triliun dan di pasar
primer dalam bentuk Surat Perbendaharaan Negara (SPN), termasuk instrumen syariah,
sebesar Rp37,29 triliun.
Peran intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi perlu terus diperkuat. Pada Mei 2025, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,43%
secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan capaian April 2025 yang sebesar 8,88% (yoy).
Dari sisi penawaran, minat perbankan terhadap investasi pada surat-surat berharga masih
cukup tinggi, seiring dengan mulai meningkatnya standar penyaluran kredit (lending
standard). Sementara itu, kondisi likuiditas perbankan tetap terjaga dengan baik, meskipun
pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami perlambatan, dari 5,51% (yoy) pada
awal Januari 2025 menjadi 4,29% (yoy) pada Mei 2025.
Business Valuation Unit
42 Jakarta
Page 59
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor industri, jasa sosial,
dan sektor lainnya. Namun demikian, penyaluran kredit kepada sektor perdagangan,
pertanian, dan jasa dunia usaha masih perlu ditingkatkan guna memperkuat pembiayaan
terhadap kegiatan ekonomi riil. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi tumbuh
sebesar 13,74% (yoy), kredit modal kerja sebesar 4,94% (yoy), dan kredit konsumsi sebesar
8,82% (yoy) pada Mei 2025. Di sisi lain, pembiayaan syariah mencatatkan pertumbuhan
sebesar 9,19% (yoy), sementara kredit kepada UMKM tumbuh lebih moderat sebesar 2,17%
(yoy).
Total insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang disalurkan hingga minggu
kedua Juni 2025 mencapai Rp372 triliun, dengan distribusi kepada kelompok bank sebagai
berikut: bank BUMN sebesar Rp164 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) sebesar
Rp166,4 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp36 triliun, dan Kantor Cabang
Bank Asing (KCBA) sebesar Rp5,6 triliun.
Stabilitas sektor perbankan tetap terjaga dengan baik dan mendukung ketahanan sistem
keuangan secara keseluruhan. Likuiditas perbankan tetap memadai sebagaimana tercermin
dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 24,98% pada
Mei 2025. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
perbankan per April 2025 masih berada pada tingkat yang solid sebesar 25,41%, yang
menunjukkan kapasitas kuat untuk menyerap risiko. Sementara itu, tingkat risiko kredit tetap
rendah, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) bruto sebesar
2,24% dan neto sebesar 0,83% pada April 2025. Hasil uji ketahanan (stress test) yang
dilakukan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap kuat,
ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.
3.3. PDB Menurut Lapangan Usaha
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan I-2025 (Q-to-Q)
Figur 34. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Q-to-Q) (persen), Triwulan II-
2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik. 2025
Business Valuation Unit
43 Jakarta
Page 60
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Pada triwulan II-2025, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 4,04
persen dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q). Hampir seluruh lapangan usaha
mencatatkan pertumbuhan, kecuali Pengadaan Listrik dan Gas yang mengalami kontraksi
sebesar 2,61 persen. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan sebesar 13,53 persen, disusul oleh sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar
6,58 persen, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 6,43 persen. Sementara
itu, dua sektor utama yang memiliki kontribusi besar, yakni Industri Pengolahan dan
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, juga tumbuh masing-
masing 1,38 persen dan 3,12 persen.
Struktur PDB Indonesia pada triwulan II-2025 berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga
berlaku relatif stabil. Perekonomian masih didominasi oleh Industri Pengolahan dengan
kontribusi 18,67 persen, diikuti oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,83
persen, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,02
persen, Konstruksi sebesar 9,48 persen, serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 8,59
persen. Secara keseluruhan, kelima sektor utama ini menyumbang 63,59 persen terhadap
perekonomian nasional.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025 Terhadap Triwulan II-2024 (Y-on-Y)
Figur 35. Pertumbuhan PDB Beberapa Lapangan Usaha (Y-on-Y) (persen), Triwulan II-
2024, Triwulan I-2025, dan Triwulan II-2025
Sumber: Badan Pusat Statistik. 2025
Pada triwulan II-2025, perekonomian Indonesia meningkat 5,12 persen dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). Pertumbuhan positif tercatat di seluruh
lapangan usaha. Kenaikan tertinggi terjadi pada sektor Jasa Lainnya yang tumbuh 11,31
persen, disusul oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,31 persen, Transportasi dan Pergudangan
sebesar 8,52 persen, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,04 persen.
3.4. Analisis PDB Perdagangan Besar dan Eceran
Pada triwulan II-2025, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda
Motor menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data PDB atas dasar harga berlaku (ADHB),
Business Valuation Unit
44 Jakarta
Page 61
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
nilai sektor ini meningkat dari Rp749,0 triliun pada triwulan I-2025 menjadi Rp773,4 triliun
pada triwulan II-2025, atau tumbuh sebesar 3,26 persen. Jika dilihat dari PDB atas dasar
harga konstan 2010 (ADHK), yang mencerminkan pertumbuhan riil tanpa pengaruh inflasi,
sektor ini juga mengalami kenaikan dari Rp428,0 triliun menjadi Rp441,4 triliun atau tumbuh
sebesar 3,13 persen secara triwulanan. Pertumbuhan yang konsisten baik dari sisi nominal
maupun riil ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perdagangan yang sehat,
didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, peran ritel modern yang semakin
berkembang, serta distribusi barang yang lebih merata. Dengan kontribusinya yang besar
terhadap struktur PDB nasional, sektor perdagangan tetap menjadi salah satu fondasi utama
dalam menggerakkan perekonomian Indonesia.
Figur 36. PDB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha
(triliun rupiah) – PDB Sektor perdagangan Besar & Eceran, Reparasi Mobil dan
Motor
Sumber: Badan Pusat Statistik (2025)
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menunjukkan tren
pertumbuhan yang positif pada sebagian besar periode, meskipun sempat mengalami sedikit
kontraksi sebesar -0,04% pada Triwulan I-2025 dibandingkan Triwulan IV-2024. Namun,
pada Triwulan II-2025, sektor ini pulih dengan pertumbuhan 3,12% (q-to-q). Secara tahunan,
sektor ini tumbuh stabil dan cukup kuat, yakni 5,03% (y-on-y) pada Triwulan I-2025 dan
meningkat menjadi 5,37% (y-on-y) pada Triwulan II-2025. Jika dilihat secara kumulatif
semester, pertumbuhan mencapai 5,20% dibandingkan Semester I-2024.
Distribusi PDB Menurut Lapangan Usaha, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur PDB
Indonesia. Pada tahun 2024, sektor ini menyumbang 13,15% pada Triwulan I dan sedikit
menurun menjadi 12,99% pada Triwulan II. Memasuki tahun 2025, kontribusi sektor ini
relatif stabil dengan angka 13,22% pada Triwulan I dan sedikit turun menjadi 13,02% pada
Triwulan II.
Business Valuation Unit
45 Jakarta
Page 62
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
3.5. Perkembangan Industri Makanan dan Minuman
Figur 37. Pertumbuhan Penjualan Sektor Fast-Moving Consumer Goods/FMCG di Sejumlah
Negara Asia Tenggara (Kuartal I 2025*)
Sumber: databoks.katadata.co.id
Berdasarkan laporan lembaga riset Kantar, pertumbuhan nilai penjualan sektor fast-moving
consumer goods (FMCG) di kawasan Asia Tenggara pada kuartal I 2025 menunjukkan
dinamika yang beragam.
Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan capaian pertumbuhan tertinggi, yakni
sebesar 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (y-o-y). Secara sektoral,
peningkatan terbesar di Indonesia ditopang oleh produk perawatan diri yang tumbuh 7,2%,
serta produk perawatan rumah tangga (home care) yang meningkat 6,4%.
Proporsi pertumbuhan Indonesia sejalan dengan Filipina. Meski demikian, struktur
pendorong pertumbuhan di Filipina berbeda, di mana sektor home care mengalami lonjakan
tertinggi sebesar 9,6%, disusul produk minuman yang tumbuh 7,1%.
Sementara itu, negara lain di kawasan mencatat pertumbuhan lebih moderat, yakni Malaysia
(Semenanjung) 4,1%, Thailand 2,7%, Vietnam wilayah perdesaan 1%, serta Vietnam
wilayah perkotaan hanya 0,3%.
Secara keseluruhan, Kantar mencatat bahwa pertumbuhan nilai penjualan FMCG di tingkat
Asia mencapai rata-rata 2,8% pada kuartal I 2025, sedikit menurun dibandingkan kinerja
pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini mencerminkan masih adanya tantangan dalam
mengelola perkembangan pasar dan tekanan makroekonomi di tingkat regional.
Berdasarkan tabel pengeluaran per kapita sebulan hasil Susenas Maret 2024, terlihat adanya
tren peningkatan pengeluaran dari tahun 2020 hingga 2024. Pada Maret 2020, total
pengeluaran per kapita tercatat Rp1.225.685 dan meningkat konsisten setiap tahunnya hingga
mencapai Rp1.500.566 pada Maret 2024. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan,
Business Valuation Unit
46 Jakarta
Page 63
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
dari Rp603.236 pada 2020 menjadi Rp751.789 pada 2024. Namun demikian, pengeluaran
nonmakanan juga tumbuh cukup signifikan, dari Rp622.449 pada 2020 menjadi Rp748.767
pada 2024, sehingga struktur konsumsi masyarakat tampak relatif seimbang antara makanan
(49,8%) dan nonmakanan (50,2%).
Jika diperinci, kelompok pengeluaran makanan dengan kontribusi terbesar adalah makanan
dan minuman jadi (prepared food and beverage) yang naik dari Rp206.736 (2020) menjadi
Rp238.902 (2024). Tren ini mencerminkan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap
makanan instan, praktis, dan produk siap saji. Sementara itu, komoditas lain seperti
ikan/udang/cumi/kerang juga mengalami lonjakan pengeluaran dari Rp46.570 (2020)
menjadi Rp57.665 (2024), menandakan meningkatnya konsumsi protein hewani. Sebaliknya,
beberapa komoditas tumbuh lebih lambat, misalnya umbi-umbian yang relatif stagnan di
kisaran Rp6.300–8.500.
Pada kelompok nonmakanan, pengeluaran tertinggi berasal dari perumahan dan fasilitas
rumah tangga yang mencapai Rp391.751 pada 2024, setara 26,1% dari total pengeluaran.
Pengeluaran untuk barang tahan lama (durable goods) justru menurun dibanding tahun 2020,
mengindikasikan rumah tangga cenderung menahan pembelian barang berumur panjang.
Sedangkan pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi terus meningkat, dari Rp41.384
pada 2020 menjadi Rp60.632 pada 2024, sejalan dengan meningkatnya kepatuhan pajak dan
penetrasi layanan asuransi.
Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia tidak
hanya meningkat secara nominal, tetapi juga mengalami pergeseran pola, khususnya pada
meningkatnya proporsi makanan jadi serta stabilnya keseimbangan antara pengeluaran
makanan dan nonmakanan.
Secara keseluruhan, Kantar mencatat bahwa pertumbuhan nilai penjualan FMCG di tingkat
Asia mencapai rata-rata 2,8% pada kuartal I 2025, sedikit menurun dibandingkan kinerja
pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini mencerminkan masih adanya tantangan dalam
mengelola perkembangan pasar dan tekanan makroekonomi di tingkat regional.
Business Valuation Unit
47 Jakarta
Page 64
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
4. ASPEK KELAYAKAN PASAR
4.1. Kondisi Pasar Makanan dan Minuman
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perekonomian Indonesia pada kuartal II 2025
tumbuh sebesar 5,12% (yoy), dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga
berlaku mencapai Rp5.947 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.396,3 triliun.
Pertumbuhan ini didukung oleh kinerja positif seluruh lapangan usaha, dengan kontribusi
terbesar berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, serta
pertambangan.
Pada triwulan II 2025, Industri Pengolahan tercatat sebagai penyumbang terbesar terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar 1,13% dari total pertumbuhan
5,12% (yoy). Pencapaian ini menegaskan posisi industri pengolahan sebagai sektor kunci
dalam mendorong ekspansi ekonomi Indonesia. Sub-sektor makanan dan minuman mencatat
pertumbuhan 6,15%, didorong oleh meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor.
Produk yang menopang pertumbuhan antara lain minyak nabati, olahan CPO, gula, produk
susu, daging olahan, minuman, serta roti dan kue, yang sejalan dengan tren konsumsi
masyarakat yang semakin beragam dan meningkatnya kebutuhan bahan pangan olahan.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama dengan kontribusi
54,25% terhadap PDB dan pertumbuhan 4,97% yoy, mencerminkan daya beli masyarakat
yang masih kuat. Konsumsi Rumah Tangga terus tumbuh seiring meningkatnya belanja
kebutuhan primer dan mobilitas rumah tangga. Kebutuhan Bahan Makanan dan Makanan
jadi meningkat karena aktivitas pariwisata selama periode libur hari besar keagamaan
(Idulfitri, Waisak, Kenaikan Isa Almasih, dan Iduladha) dan libur sekolah. Mobilitas
masyarakat meningkat mendorong peningkatan konsumsi untuk transportasi dan restoran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar industri makanan dan minuman di Indonesia masih
memiliki prospek pertumbuhan yang solid. Permintaan yang stabil, ditambah dengan peluang
ekspor, memberikan dasar yang kuat bagi Perseroan untuk memperluas kegiatan usaha
melalui penambahan KBLI sebagaimana tercantum dalam rencana kegiatan OPMS. Dengan
dukungan data pertumbuhan PDB dan tren konsumsi tersebut, penambahan KBLI ini
diproyeksikan akan meningkatkan daya saing Perseroan dalam rantai pasok pangan nasional
sekaligus memperkuat posisi di pasar regional.
Figur 38. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
Business Valuation Unit
48 Jakarta
Page 65
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 39. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2025
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
Figur 40. Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Komoditas
(rupiah), Maret 2020–Maret 2024
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
Berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan hasil Susenas Maret 2024, terlihat adanya tren
peningkatan pengeluaran dari tahun 2020 hingga 2024. Pada Maret 2020, total pengeluaran
per kapita tercatat Rp1.225.685 dan meningkat konsisten setiap tahunnya hingga mencapai
Business Valuation Unit
49 Jakarta
Page 66
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Rp1.500.566 pada Maret 2024. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan, dari
Rp603.236 pada 2020 menjadi Rp751.789 pada 2024. Namun demikian, pengeluaran
nonmakanan juga tumbuh cukup signifikan, dari Rp622.449 pada 2020 menjadi Rp748.767
pada 2024, sehingga struktur konsumsi masyarakat tampak relatif seimbang antara makanan
(49,8%) dan nonmakanan (50,2%).
Jika diperinci, kelompok pengeluaran makanan dengan kontribusi terbesar adalah makanan
dan minuman jadi (prepared food and beverage) yang naik dari Rp206.736 (2020) menjadi
Rp238.902 (2024). Tren ini mencerminkan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap
makanan instan, praktis, dan produk siap saji. Sementara itu, komoditas lain seperti
ikan/udang/cumi/kerang juga mengalami lonjakan pengeluaran dari Rp46.570 (2020)
menjadi Rp57.665 (2024), menandakan meningkatnya konsumsi protein hewani. Sebaliknya,
beberapa komoditas tumbuh lebih lambat, misalnya umbi-umbian yang relatif stagnan di
kisaran Rp6.300–8.500.
Pada kelompok nonmakanan, pengeluaran tertinggi berasal dari perumahan dan fasilitas
rumah tangga yang mencapai Rp391.751 pada 2024, setara 26,1% dari total pengeluaran.
Pengeluaran untuk barang tahan lama (durable goods) justru menurun dibanding tahun 2020,
mengindikasikan rumah tangga cenderung menahan pembelian barang berumur panjang.
Sedangkan pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi terus meningkat, dari Rp41.384
pada 2020 menjadi Rp60.632 pada 2024, sejalan dengan meningkatnya kepatuhan pajak dan
penetrasi layanan asuransi.
Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia tidak
hanya meningkat secara nominal, tetapi juga mengalami pergeseran pola, khususnya pada
meningkatnya proporsi makanan jadi serta stabilnya keseimbangan antara pengeluaran
makanan dan nonmakanan.
4.2. Pangsa Pasar
Sektor perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia memiliki prospek yang sangat
menjanjikan, terutama seiring dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan ketahanan
pangan sebagai prioritas utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada
triwulan II tahun 2025, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,15% (yoy),
melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini didukung oleh tingginya
konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,25% dari PDB, menjadikan kebutuhan pangan
sebagai komponen utama dalam pengeluaran masyarakat. Kondisi ini mempertegas bahwa
pasar makanan dan minuman merupakan sektor yang stabil dan memiliki potensi ekspansi
yang besar.
Penambahan kegiatan usaha melalui 16 KBLI yang terkait dengan perdagangan besar pangan
meliputi berbagai komoditas utama, mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, minyak nabati,
hingga produk protein hewani seperti daging, telur, dan susu. Selain itu, terdapat pula produk
olahan seperti gula, kopi, teh, kakao, minuman non-alkohol, roti, serta kue yang memiliki
pasar luas baik di tingkat domestik maupun regional. Komoditas pokok memiliki pasar yang
relatif stabil sepanjang tahun, sementara produk protein hewani menunjukkan tren
peningkatan konsumsi seiring dengan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Produk
Business Valuation Unit
50 Jakarta
Page 67
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
minuman dan makanan olahan juga semakin berkembang didorong oleh perubahan gaya
hidup masyarakat urban.
Dengan jaringan distribusi yang strategis di wilayah Jawa Timur dan Madura, Perseroan
memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan tersebut. Kehadiran
OPMS di sektor pangan diharapkan dapat memperkuat rantai pasok distribusi, menyediakan
kebutuhan masyarakat secara lebih merata, sekaligus membuka potensi kerja sama dengan
produsen maupun pelaku usaha lokal. Diversifikasi usaha ini tidak hanya mendukung
keberlanjutan bisnis Perseroan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap program
ketahanan pangan nasional.
4.3. Kesinambungan (Sustainability)
Penambahan KBLI pada sektor perdagangan besar makanan dan minuman yang
direncanakan oleh OPMS merupakan langkah strategis untuk memperkuat kesinambungan
usaha sekaligus menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pemerintah yang berfokus pada
ketahanan pangan nasional. Dengan penambahan kegiatan usaha tersebut, OPMS dapat
menjangkau berbagai segmen pasar yang bersifat kebutuhan pokok dan rutin dikonsumsi
masyarakat. Hal ini memberikan peluang bagi Perseroan untuk menembus rantai distribusi
bahan pangan mulai dari komoditas pertanian mentah hingga produk olahan bernilai tambah
tinggi.
Pangsa pasar sektor makanan dan minuman di Indonesia saat ini menunjukkan tren yang
solid. Pertumbuhan sub-sektor makanan dan minuman sebesar 6,15% pada triwulan II 2025
menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pangan terus meningkat, baik untuk
konsumsi rumah tangga maupun industri hilir seperti restoran, hotel, dan katering. Produk
yang tercakup dalam penambahan KBLI tersebut merupakan bagian dari komoditas utama
yang menopang konsumsi nasional. Dengan kata lain, setiap KBLI yang ditambahkan secara
langsung terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat yang memiliki permintaan stabil dan
relatif tidak terpengaruh fluktuasi ekonomi.
Selain itu, keberadaan Perseroan di wilayah Madura memberikan keunggulan tersendiri.
Wilayah ini masih dalam tahap pengembangan sehingga kebutuhan distribusi bahan makanan
dan minuman diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk,
urbanisasi, dan peningkatan infrastruktur pendukung logistik. Hal ini membuka peluang bagi
OPMS untuk menjadi salah satu distributor utama di kawasan regional, sekaligus
memperkuat jaringan distribusi nasional.
Dengan diversifikasi KBLI ini, OPMS tidak hanya memperluas jangkauan usaha tetapi juga
mengurangi ketergantungan pada industri logam yang saat ini mengalami tren penurunan.
Penambahan KBLI di sektor perdagangan makanan dan minuman diproyeksikan akan
menciptakan kesinambungan usaha, memperluas basis pendapatan, serta meningkatkan daya
saing Perseroan dalam rantai pasok pangan nasional. Langkah ini juga selaras dengan visi
pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekspor ke
pasar internasional yang semakin terbuka terhadap produk pangan olahan Indonesia.
Business Valuation Unit
51 Jakarta
Page 68
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
4.4. Potensi Pasar
Industri makanan dan minuman di Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar dan
prospektif, didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,
serta perubahan gaya hidup yang semakin modern. Sebagai salah satu sektor dengan
kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) non-migas, industri ini menjadi
motor penggerak penting dalam perekonomian nasional.
Konsumsi masyarakat terhadap produk makanan dan minuman terus menunjukkan tren
positif, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan produk yang praktis, higienis, dan
berkualitas. Mobilitas masyarakat yang tinggi, berkembangnya sektor pariwisata, serta
meningkatnya frekuensi perayaan hari besar keagamaan dan tradisi kuliner juga turut
mendorong peningkatan permintaan di sektor ini. Selain itu, perkembangan kanal distribusi
modern seperti e-commerce dan layanan pesan antar makanan memberikan peluang besar
bagi produsen untuk memperluas jangkauan pasar.
Dukungan pemerintah melalui kebijakan ketahanan pangan, investasi di sektor hilir
pertanian, serta peningkatan ekspor produk olahan juga memperkuat daya saing industri
makanan dan minuman Indonesia. Hal ini menjadikan industri ini tidak hanya memiliki
prospek cerah di pasar domestik, tetapi juga peluang ekspor yang signifikan ke berbagai
negara. Dengan tren konsumsi yang terus meningkat, diversifikasi produk yang semakin luas,
serta dukungan infrastruktur logistik dan distribusi yang semakin baik, industri makanan dan
minuman diproyeksikan akan tetap tumbuh stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
4.5. Sasaran
Sasaran utama pada aspek pasar dari rencana penambahan kegiatan usaha OPMS adalah
menangkap peluang pertumbuhan di sektor perdagangan besar makanan dan minuman yang
tengah berkembang pesat sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat
ketahanan pangan nasional. Dengan pergeseran prioritas pembangunan dari infrastruktur ke
pangan, Perseroan menargetkan untuk berperan aktif dalam rantai distribusi kebutuhan
pokok masyarakat, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur yang memiliki potensi
pasar besar namun belum sepenuhnya terlayani oleh jaringan distribusi modern.
Melalui diversifikasi ini, Perseroan bertujuan memperluas segmen pelanggan dengan
menyasar pasar ritel modern, pasar tradisional, sektor horeca (hotel, restoran, catering),
hingga kanal digital melalui platform e-commerce. Sasaran berikutnya adalah memperkuat
jaringan distribusi yang efisien dan terintegrasi, sehingga mampu menjamin ketersediaan
produk makanan dan minuman secara berkesinambungan, dengan harga kompetitif dan
kualitas terjaga.
Melalui sasaran tersebut, OPMS berharap dapat menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus
berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan penguatan ekonomi daerah.
Business Valuation Unit
52 Jakarta
Page 69
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
4.6. Potensi Nilai Pasar
Potensi nilai pasar Perseroan dapat digambarkan dengan proyeksi pendapatan. Berdasarkan
proyeksi yang disusun dengan penambahan kegiatan usaha, potensi nilai pasar Perseroan
untuk periode tahun 2025 sampai dengan 2030 dapat dilihat pada tabel berikut.
Figur 41. Potensi Nilai Pasar Dengan Penambahan Kegiatan Usaha Tahun 2025 – 2030
(dalam Ribuan Rupiah)
Jul-Des Des Des Des Des Des
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
4.7. Pesaing Usaha
Dalam memasuki sektor perdagangan besar makanan dan minuman, OPMS akan
menghadapi persaingan yang cukup ketat, terutama dari Perseroan distribusi besar yang telah
lama beroperasi di wilayah Jawa Timur. Beberapa pesaing utama di antaranya adalah PT
Subur Mitra Sukses, distributor FMCG berskala besar yang memiliki cabang di Pamekasan,
Bangkalan, dan sejumlah kota lain di Jawa Timur, serta SMG Group yang mengelola jaringan
distribusi luas melalui cabang Surabaya, Kediri, Malang, dan Jember, dengan jangkauan
hingga Madura. Selain itu, terdapat PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yang menjadi
pemasok produk kebutuhan pokok harian seperti mie instan, biskuit, dan minuman ke
berbagai kanal distribusi lokal. Tidak hanya Perseroan berskala nasional, OPMS juga akan
bersaing dengan distributor regional seperti PT Pangan Lestari di Malang dan Surabaya, PT
Saerah Surya Perkasa sebagai distributor utama produk Nestlé, serta PT Sentralsari
Primasentosa yang fokus pada distribusi makanan ringan, minuman, dan kebutuhan rumah
tangga di wilayah Jawa Timur.
Meskipun demikian, keberadaan pesaing besar tidak serta merta menutup peluang OPMS.
Fokus pengembangan usaha di wilayah Madura, yang masih relatif terbatas jangkauan
distribusinya dibandingkan Surabaya dan kota besar lainnya, justru dapat menjadi
keunggulan kompetitif. Dengan strategi distribusi yang lebih fleksibel, layanan yang adaptif
terhadap kebutuhan pasar lokal, serta pemanfaatan kanal digital untuk memperluas jaringan,
OPMS memiliki peluang untuk menempatkan diri sebagai pemain baru yang mampu
bersaing dan menemukan pasar potensial di sektor ini.
4.8. Strategi Pemasaran
Untuk mendukung keberhasilan ekspansi usaha ke sektor perdagangan besar makanan dan
minuman, OPMS menetapkan strategi pemasaran yang berfokus pada pemahaman pasar
lokal, penguatan jaringan distribusi, serta pemanfaatan teknologi digital. Strategi ini
dirancang agar OPMS mampu bersaing dengan Perseroan besar sekaligus memanfaatkan
peluang pasar di wilayah Madura yang masih terbuka lebar.
Pertama, OPMS akan mengedepankan strategi penetrasi pasar dengan membangun jaringan
distribusi yang kuat di wilayah Madura sebagai basis utama, sebelum memperluas jangkauan
ke daerah Jawa Timur lainnya. Hal ini akan dilakukan melalui kerja sama dengan ritel
Business Valuation Unit
53 Jakarta
Page 70
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
modern, pasar tradisional, serta sektor horeca (hotel, restoran, dan katering), guna
memastikan produk makanan dan minuman dapat menjangkau berbagai segmen konsumen.
Kedua, Perseroan akan menerapkan strategi diferensiasi layanan, yaitu dengan memberikan
sistem distribusi yang cepat, fleksibel, dan tepat waktu, serta menyesuaikan mekanisme
pembayaran yang ramah terhadap pedagang lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat
membangun loyalitas pelanggan dan membedakan OPMS dari pesaing yang cenderung
beroperasi dengan pola standar.
Ketiga, OPMS akan memanfaatkan pemasaran digital untuk mendukung efektivitas
distribusi. Melalui platform e-commerce dan aplikasi pesan antar, OPMS dapat memperluas
jangkauan pasar sekaligus mengoptimalkan promosi produk. Selain itu, pemanfaatan media
sosial dan kampanye digital akan membantu meningkatkan brand awareness, baik terhadap
identitas Perseroan maupun produk yang dipasarkan.
Keempat, OPMS akan mengembangkan kemitraan strategis dengan UMKM lokal sebagai
pemasok produk unggulan daerah. Strategi ini bukan hanya mendukung pertumbuhan
ekonomi setempat, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif bagi OPMS melalui
penyediaan produk unik yang memiliki daya tarik tersendiri di pasar.
Dengan kombinasi strategi penetrasi pasar, diferensiasi layanan, pemasaran digital, dan
kemitraan lokal, OPMS diharapkan mampu membangun citra sebagai distributor yang andal,
adaptif, dan dekat dengan konsumen, sekaligus memperkuat posisi Perseroan dalam industri
perdagangan besar makanan dan minuman yang prospektif.
4.9. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pasar
Industri perdagangan besar makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan prospek
pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan, ditopang oleh kontribusi signifikan subsektor ini
terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta tren konsumsi rumah tangga yang stabil. Data
BPS menjelaskan bahwa pada triwulan II 2025, industri makanan dan minuman tumbuh
6,15% (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sementara konsumsi rumah tangga
masih menjadi salah satu faktor utama dengan kontribusi 54,25% terhadap PDB. Hasil
Susenas Maret 2024 juga memperlihatkan adanya peningkatan pengeluaran masyarakat
terhadap makanan dan minuman, khususnya pada produk makanan jadi dan protein hewani,
menandakan adanya pergeseran preferensi konsumsi yang membuka peluang besar bagi
sektor distribusi pangan.
Penambahan kegiatan usaha melalui KBLI terkait perdagangan besar makanan dan minuman
menjadi langkah strategis OPMS untuk memperluas basis usaha dan menangkap peluang
pasar yang tengah berkembang. Diversifikasi KBLI ini mencakup komoditas utama (beras,
sayuran, buah, daging, telur, susu, minyak nabati) hingga produk olahan dan minuman, yang
secara langsung berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat dan memiliki permintaan
stabil sepanjang tahun. Dengan jaringan distribusi yang terfokus di wilayah Madura dan Jawa
Timur, OPMS memiliki peluang distribusi, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan
regional.
Dari aspek kesinambungan, langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam
memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendukung transformasi sektor distribusi
Business Valuation Unit
54 Jakarta
Page 71
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
menuju sistem yang lebih efisien dan terintegrasi. Sementara dari sisi persaingan, meskipun
terdapat dominasi distributor besar, fokus OPMS pada Madura yang masih relatif terbuka
serta strategi pemasaran berbasis digital dan kemitraan dengan UMKM lokal memberikan
keunggulan kompetitif tersendiri.
Dengan analisis kelayakan pasar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pasar adalah layak.
Business Valuation Unit
55 Jakarta
Page 72
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
5. ASPEK KELAYAKAN TEKNIS
5.1. Produk yang Dijual
Produk yang dipasarkan oleh Perseroan adalah produk fast moving consumer goods di
bidang makanan dan minuman yang dihasilkan oleh produsen makanan minuman yang
sudah tersertifikasi di Indonesia seperti Indofood, Primsfood, Emina Cheese, dan sebagainya.
Setiap produk yang disalurkan akan dipastikan telah memiliki izin edar resmi dari BPOM,
label informasi gizi yang sesuai ketentuan, serta sertifikat halal apabila diperuntukkan bagi
konsumen muslim.
Dari sisi kualitas, Perseroan berkomitmen untuk menjaga standar keamanan pangan dengan
menerapkan sistem Good Distribution Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices
(GMP) pada alur penyimpanan dan distribusi. Produk disimpan pada kondisi yang sesuai
spesifikasi, seperti suhu ruang untuk produk kering dan suhu dingin tertentu untuk produk
beku atau olahan segar.
Selain itu, pengendalian kualitas akan dilakukan secara berkala melalui proses quality
control di gudang maupun saat pengiriman. Dengan penerapan standar tersebut, Perseroan
dapat menjamin bahwa produk yang diterima pelanggan tetap dalam kondisi baik, aman, dan
sesuai dengan standar mutu yang berlaku.
Figur 42. Produk yang dijual
Kategori Barang Nama Barang
Primarasa Collins Choco Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Collins Choco Crunchy 6 X 1Kg
Primarasa Collins Choco Filling Reg 4 X 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cappucino 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cappucino 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cappucino 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cheese 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cheese 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Cheese 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Dark Chocolate 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Dark Chocolate 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Dark Chocolate 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Matcha 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Matcha 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Matcha 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Milk 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Milk 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Milk 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Strawberry 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Strawberry 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Strawberry 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Taro 12 X 1Kg
Business Valuation Unit
56 Jakarta
Page 73
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Kategori Barang Nama Barang
Primarasa Collins Dip Glaze Taro 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Taro 6 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Tiramisu 12 X 1Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Tiramisu 5Kg
Primarasa Collins Dip Glaze Tiramisu 6 X 1Kg
Primarasa Donut Dusting Grape 2 X 5Kg
Primarasa Donut Dusting Melon 2 X 5Kg
Primarasa Donut Dusting Orange 2 X 5Kg
Primarasa Donut Dusting Plain 2 X 5Kg
Primarasa Donut Dusting Strawberry 2 X 5Kg
Primarasa Donut Dusting Vanilla 2 X 5Kg
Primarasa Goldenfil Blueberry Jam 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Cheese Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Chocolate Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Green Tea Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Hazelnut Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Matcha Powder 12 X 500gr
Primarasa Goldenfil Milk Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Spread Blueberry 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Spread Cheese 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Spread Chocolate 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Spread Hazelnut 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Spread Strawberry 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Strawbery Jam 12 X 1Kg
Primarasa Goldenfil Tiramisu Crunchy 12 X 1Kg
Primarasa Gulus Gula Halus Crt 20 X 500gr
Primarasa Gulus Gula Halus Crt 40 X 250gr
Primarasa Minyak Poles Primsfood Grizz 5Kg
Primarasa Primsfood Custard Powder 2 X 5Kg
Primarasa Primsfood Teng Mien 2 X 5Kg
Primarasa TKH Tepung Ketan Hitam 20 X 250gr
Primarasa TKH Tepung Ketan Hitam 20 X 500gr
Indofood Lafonte Chifferi Rigate 500gr
Indofood Lafonte Elbow Macaroni 225gr
Indofood Lafonte Fettucine 225gr
Indofood Lafonte Fettucine 450gr
Indofood Lafonte Fusilli 450gr
Indofood Lafonte La Sagna 450gr
Indofood Lafonte Long Macaroni 225gr
Indofood Lafonte Macaroni Gobetti 225gr
Indofood Lafonte Penne Ziti Rigate 450gr
Indofood Lafonte Saos Ayam Bolognese 290gr
Business Valuation Unit
57 Jakarta
Page 74
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Kategori Barang Nama Barang
Indofood Lafonte Saos Pasta Bolognese 315gr
Indofood Lafonte Spaghetti 225gr
Indofood Lafonte Spaghetti 450gr
Indofood Lafonte Spaghetti Saos Ayam 117gr
Indofood Lafonte Spaghetti Saos Bolognese 117gr
Indofood Lafonte Spiral Macaroni 225gr
Indofood Sedani Macaroni Kerang 1Kg
Indofood Sedani Macaroni Pipa 1Kg
Indofood Sedani Macaroni Spiral 1 Kg
Indofood Sedani Pas Spaghetti 1Kg
Indofood Lafonte Macaroni Saos Bolognese 117gr
Indofood Lafonte Saos Pasta Carbonara 315g
ICM Cincau 1000ml 12x10g
ICM Denata Cocolyche 12x15g
ICM Denata Coconut 12x15g
ICM Denata Cocopandan 12x15g
ICM Ethoz Gold Hijau 12x8g
ICM Ethoz Gold Merah 12x8g
ICM Ethoz Gold Putih 12x8g
ICM Ethoz Jelly Cincau 600ml 12x7g
ICM Ethoz Jelly De Nata 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Blueberry 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Blueberry 12x10g (12+1)
ICM Ethoz JelyGar Hemat Lecy 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Lecy 12x10g (12+1)
ICM Ethoz JelyGar Hemat Melon 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Melon 12x10g (12+1)
ICM Ethoz JelyGar Hemat Orange 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Orange 12x10g (12+1)
ICM Ethoz JelyGar Hemat Plain 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Plain 12x10g (12+1)
ICM Ethoz JelyGar Hemat Strawberry 12x10g
ICM Ethoz JelyGar Hemat Strawberry 12x10g (12+1)
ICM Ethoz Lumba-Lumba Extra Coklat 12x7g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Extra Hijau 12x7g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Extra Merah 12x7g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Extra Putih 12x7g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Hemat Coklat 12x5g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Hemat Hijau 12x5g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Hemat Merah 12x5g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Hemat Putih 12x5g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Super Coklat 12x6g
Business Valuation Unit
58 Jakarta
Page 75
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Kategori Barang Nama Barang
ICM Ethoz Lumba-Lumba Super Hijau 12x6g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Super Merah 12x6g
ICM Ethoz Lumba-Lumba Super Putih 12x6g
ICM Ethoz Puding Susu Cocopandan Box 6x100g
ICM Ethoz Puding Susu Mango Box 6x100g
ICM Ethoz Puding Susu Mixberry Box 6x100g
ICM Ethoz Puding Susu Vanila Box 6x100g
ICM Kijang Mas Coklat 12x5g
ICM Kijang Mas Hijau 12x5g
ICM Kijang Mas Merah 12x5g
ICM Kijang Mas Putih 12x5g
Sumo Sumo Beras Super Premium Kuning Fortifikasi 3Kg
Sumo Sumo Beras Super Premium Kuning Fortifikasi 5Kg
Sumo Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 10Kg
Sumo Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 3Kg
Sumo Sumo Beras Super Premium Merah Fortifikasi 5Kg
Cocomaxi New Cocomaxi Junior 1 Krt X 10 Rcg X 10 Pcs
Oatsy Oatsy Oatmeal Instant 200g
Oatsy Oatsy Oatmeal Instant 750g
Oatsy Oatsy Oatmeal Quickcook 200g
Oatsy Oatsy Oatmeal Quickcook 750g
Emina Emina Cheese Shred 8x250 g
Sumber: Manajemen OPMS
5.2. Kapasitas
Figur 43. Kapasitas Penjualan
Kategori Produk Satuan 2026 2027 2028 2029 2030
Beras Sumo kg 32.766 44.754 56.137 66.938 77.179
Primarasa - Selai kg 499.681 682.492 856.087 1.020.808 1.176.985
Indofood kg 188.404 257.333 322.787 384.895 443.781
ICM kg 32.766 44.754 56.137 66.938 77.179
Coco Maxi kg 11.468 15.664 19.648 23.428 27.013
Oatsy kg 819 1.119 1.403 1.673 1.929
Honey Go kg 819 1.119 1.403 1.673 1.929
El Organico kg 819 1.119 1.403 1.673 1.929
Emina - Keju kg 116.319 158.875 199.286 237.631 273.987
King Fisher kg 24.574 33.565 42.103 50.204 57.885
Oki - Susu Skm kg 85.192 116.359 145.956 174.039 200.666
New Pricipal kg 65.532 89.507 112.274 133.877 154.359
New Pricipal kg 40.957 55.942 70.171 83.673 96.474
New Pricipal kg 40.957 55.942 70.171 83.673 96.474
Cefa Minyak kg 360.426 492.289 617.505 736.321 848.973
Jumlah 1.501.502 2.050.831 2.572.471 3.067.446 3.536.744
Sumber: Manajemen OPMS
Business Valuation Unit
59 Jakarta
Page 76
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
5.3. Volume Penjualan
Figur 44. Volume Penjualan
(Dalam Rupiah Penuh)
Kategori Produk 2026 2027 2028 2029 2030
Beras Sumo 327.332.242 458.265.139 589.198.036 720.130.933 851.063.830
Primarasa - Selai 4.991.816.694 6.988.543.372 8.985.270.049 10.981.996.727 12.978.723.404
Indofood 1.882.160.393 2.635.024.550 3.387.888.707 4.140.752.864 4.893.617.021
ICM 327.332.242 458.265.139 589.198.036 720.130.933 851.063.830
Coco Maxi 114.566.285 160.392.799 206.219.313 252.045.827 297.872.340
Oatsy 8.183.306 11.456.628 14.729.951 18.003.273 21.276.596
Honey Go 8.183.306 11.456.628 14.729.951 18.003.273 21.276.596
El Organico 8.183.306 11.456.628 14.729.951 18.003.273 21.276.596
Emina - Keju 1.162.029.460 1.626.841.244 2.091.653.028 2.556.464.812 3.021.276.596
King Fisher 245.499.182 343.698.854 441.898.527 540.098.200 638.297.872
Oki - Susu Skm 851.063.830 1.191.489.362 1.531.914.894 1.872.340.426 2.212.765.957
New Pricipal 654.664.484 916.530.278 1.178.396.072 1.440.261.866 1.702.127.660
New Pricipal 409.165.303 572.831.424 736.497.545 900.163.666 1.063.829.787
New Pricipal 409.165.303 572.831.424 736.497.545 900.163.666 1.063.829.787
Cefa Minyak 3.600.654.664 5.040.916.530 6.481.178.396 7.921.440.262 9.361.702.128
Jumlah 15.000.000.000 21.000.000.000 27.000.000.000 33.000.000.000 39.000.000.000
Sumber: Manajemen OPMS
5.4. Alur Distribusi
Alur distribusi di OPMS diawali dari Customer yang mengajukan Purchase Order (PO)
sesuai kebutuhan barang atau produk. PO ini menjadi dasar proses berikutnya dalam sistem
distribusi.
1. PO Customer → OPMS
Setelah PO diterima, pesanan tersebut akan dicatat dan diproses melalui Order
Processing Management System. Sistem ini berfungsi untuk mencatat, memverifikasi,
serta memastikan kelengkapan data pemesanan dari customer sebelum diteruskan ke
pihak principal atau pabrik.
2. OPMS → Principal/Factory
Setelah diverifikasi, pesanan diteruskan ke Principal atau Factory (pabrikan/penyedia
utama produk). Pada tahap ini, principal atau factory akan menyiapkan barang sesuai
dengan pesanan yang telah masuk. Proses ini meliputi pengecekan ketersediaan stok,
penjadwalan produksi (jika barang tidak tersedia), serta persiapan pengiriman ke
distributor.
3. Principal/Factory → Warehouse OPMS
Barang yang sudah disiapkan oleh principal atau factory kemudian dikirimkan dan
diterima kembali oleh distributor yaitu OPMS. Proses penerimaan ini meliputi
pemeriksaan kualitas, kuantitas, serta kesesuaian produk dengan PO oleh tim
gudang/inventory. Kemudian barang yang dipesan oleh customer disiapkan untuk segera
dikirimkan kepada customer.
Business Valuation Unit
60 Jakarta
Page 77
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
4. OPMS → Customer
Setelah barang siap, OPMS kemudian melakukan proses pengiriman kepada Customer.
Pada tahap ini, OPMS mengatur jadwal distribusi, rute pengiriman, serta pencatatan
bukti serah terima. Customer akan menerima barang sesuai dengan pesanan awal, dan
proses distribusi dinyatakan selesai setelah konfirmasi penerimaan dilakukan.
Figur 45. Alur Distribusi
PO Customer OPMS Principal/Factory OPMS Customer
Sumber: Manajemen OPMS
5.5. Ketersediaan Sumber Daya
Dalam pelaksanaan penambahan kegiatan usaha, OPMS memakai karyawan lama sebanyak
4 orang yang sudah berpengalaman dalam manajemen sumber daya manusia dan pengenalan
wilayah Madura dan sekitarnya. Namun demikian OPMS juga akan melakukan rekrutmen
sebanyak 4 orang tenaga kerja baru yaitu
1. Supervisor, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 5 tahun;
2. Staf Sales, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 2 tahun;
3. Staf Gudang, memiliki pengalaman di bidang FMCG minimal 2 tahun; dan
4. Staf Sopir, memiliki pengalaman di bidang pengiriman logistik serta telah memiliki
lisensi mengemudi khusus untuk kendaraan jenis truk dan pick-up.
Selanjutnya untuk ketersediaan persediaan produk, OPMS telah menjajaki supplier yaitu
Indofood, Emina Cheese, Primsfood yang dapat memenuhi kebutuhan dalam pengadaan dan
pengiriman fast moving consumer goods.
5.6. Timline Kegiatan Usaha
Berikut merupakan timeline untuk Penambahan Kegiatan Usaha:
Figur 46. Timeline Penambahan KBLI
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
No. Kegiatan Detail/Keterangan Tanggal
Manajemen Perseroan mengadakan rapat
Meeting Internal internal untuk membahas rencana
1 28 Juli 2025
Manajemen penambahan kegiatan usaha melalui
perluasan KBLI.
Proses Penunjukan dan Melakukan pencarian untuk penunjukan
2 01 - 15 Agustus
Pemilihan KJPP KJPP terkait Kajian FS Penambahan KBLI
Proses Laporan Kajian
Penyusunan Laporan Kajian FS Penambahan 19 Agustus - 10
3 FS oleh KJPP Guntur
KBLI Oktober 2025
Eki Andri dan Rekan
Business Valuation Unit
61 Jakarta
Page 78
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
No. Kegiatan Detail/Keterangan Tanggal
Konsultasi Studi Kelayakan Final dengan
4 Finalisasi OJK KJPP Guntur Eki Andri dan Rekan dan 13 Oktober 2025
finalisasi laporan oleh Manajemen
Proses Penunjukan dan Melakukan pencarian untuk penunjukan 15 - 22 Oktober
5
Pemilihan Notaris Notaris 2025
01 Desember
6 RUPSLB Perseroan menyelenggarakan RUPSLB
2025
Sumber: Manajemen OPMS
5.7. Rencana Keberlanjutan
Dalam jangka panjang, OPMS merencanakan strategi keberlanjutan usaha distribusi
makanan dan minuman dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial. Dari sisi ekonomi,
OPMS akan memperkuat rantai pasok dengan menjalin kerja sama strategis bersama
produsen lokal untuk memastikan kontinuitas pasokan produk yang kompetitif. Perseroan
juga akan mengembangkan sistem distribusi berbasis digital dan teknologi informasi guna
meningkatkan efisiensi operasional, transparansi inventori, serta optimalisasi jaringan
pemasaran.
Dari sisi sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan kerja baru dan
meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan distribusi,
kesehatan pangan, dan pelayanan pelanggan. Selain itu, OPMS akan mendukung program
pemerintah dalam distribusi pangan sehat serta menjalin kerja sama dengan UMKM lokal
agar produk mereka dapat masuk ke jaringan distribusi yang lebih luas.
Dengan penerapan strategi keberlanjutan tersebut, Perseroan tidak hanya berfokus pada
profitabilitas, tetapi juga pada kontribusi jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi dan
pemberdayaan masyarakat. Hal ini diharapkan dapat menjadikan Perseroan sebagai
distributor makanan dan minuman yang berdaya saing, terpercaya, dan berkelanjutan.
5.8. Kesimpulan Analisis Kelayakan Teknis
Produk yang akan dipasarkan oleh OPMS merupakan fast moving consumer goods (FMCG)
di bidang makanan dan minuman yang diproduksi oleh produsen terpercaya seperti Indofood,
Primsfood, dan Emina Cheese. Seluruh produk yang didistribusikan telah memenuhi
persyaratan regulasi, meliputi izin edar dari BPOM, pencantuman informasi gizi sesuai
ketentuan, serta sertifikat halal bagi produk yang ditujukan untuk konsumen muslim. Untuk
menjaga kualitas, OPMS menerapkan standar keamanan pangan melalui Good Distribution
Practices (GDP) dan Good Manufacturing Practices (GMP), termasuk pengendalian
kualitas berkala pada tahap penyimpanan dan distribusi.
Alur distribusi Perseroan dilaksanakan secara terstruktur dimulai dari penerimaan Purchase
Order (PO) customer, verifikasi oleh OPMS, pemesanan ke principal atau pabrik,
penerimaan barang dari principal atau pabrik dan pengecekan barang di gudang, hingga
pengiriman akhir kepada customer. Mekanisme ini memastikan bahwa produk diterima
Business Valuation Unit
62 Jakarta
Page 79
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
pelanggan dalam kondisi baik, sesuai dengan pesanan, serta terdokumentasi dengan bukti
serah terima yang sah.
Dalam rangka mendukung penambahan kegiatan usaha, Perseroan mengoptimalkan sumber
daya internal dengan memanfaatkan tenaga kerja berpengalaman sekaligus melakukan
rekrutmen tambahan untuk supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Dari sisi
pengadaan, Perseroan telah menjalin kerja sama dengan pemasok utama seperti Indofood,
Primsfood, dan Emina Cheese guna menjamin ketersediaan produk.
Ke depan, strategi keberlanjutan Perseroan diarahkan pada penguatan rantai pasok,
pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem distribusi, serta peningkatan efisiensi
operasional. Dari perspektif sosial, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan lapangan
kerja, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program pelatihan, serta
mendukung pengembangan UMKM dan distribusi pangan sehat sesuai dengan program
pemerintah. Dengan demikian, Perseroan diproyeksikan mampu menjadi distributor
makanan dan minuman yang kompetitif, terpercaya, serta berkontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan teknis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan teknis adalah layak.
Business Valuation Unit
63 Jakarta
Page 80
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
6. ASPEK KELAYAKAN POLA BISNIS
6.1. Kegiatan Usaha Utama dan Penunjang
Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, maksud dan tujuan Perseroan bergerak dalam
bidang Perdagangan. Pada saat ini Perseroan melakukan kegiatan usaha utama yaitu sebagai
berikut:
a. KBLI 46696 – Perdagangan Besar Barang Bekas Dan Sisa sisa Tak Terpakai (Scrap)
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar barangbekas dan sisa-sisa tak terpakai
dan potongan logam dan non-logam bahan untuk daur ulang, termasuk pengumpulan,
pengurutan, pemisahan, pelepasan barang yang masih berguna misalnya mobil agar
mendapatkanbagian yang masih bisa digunakan, pengepakan dan pengepakan kembali,
penyimpanan dan pengiriman, tapitanpa proses perubahan yang nyata. Dimana
pembelian dan penjualan barang sisaan masih mempunyai nilai.
Perseroan juga melakukan kegiatan usaha penunjang yaitu sebagai berikut:
a. KBLI 38301 – Pemulihan Material Barang Logam
Kelompok ini mencakup usaha pengolahan barang bekasdari logam dan sisa-sisa barang
logam menjadi bahan baku sekunder. Hasil dari daur ulang/pemulihan material barang
logam adalah bahan baku sekunder berbagai bentuk seperti potongan-potongan atau
serpihan logam dan lainnya. Kegiatan pada kelompok ini mencakup pemisahan dan
pemilihan sampah logam, penghancuran secara mekanik sampah logam, reduksi
mekanik sampah logam, pembongkaran, pemotongan dan pengirisan sampah logam,
pemotongan kapal dan alat apung lainnya (ship breaking)dan lainnya. Pembuatan barang
logam baru yang menggunakan bahan baku sekunder, barang logam bekas dan sisa-sisa
barang logam dimasukkan dalam kelompok industri yang sesuai.
b. KBLI 46592 - Perdagangan Besar Alat Transportasi Laut, Suku Cadang Dan
Perlengkapannya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar macam – macam alat transportasi laut
bermotor ataupun tidak bermotor, termasuk usaha perdagangan besar macam – macam
suku cadang dan perlengkapannya.
c. KBLI 46593 – Perdagangan Besar Alat Transportasi Darat (Bukan Mobil, Sepeda Motor,
Dan Sejenisnya), Suku Cadang Dan Perlengkapannya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar macam – macam alat transportasi
darat, bermotor ataupun tidak bermotor (bukan mobil, sepeda motor dan sejenisnya),
termasuk usaha perdagangan besar macam – macam suku cadang dan perlengkapannya.
d. KBLI 46620 - Perdagangan Besar Logam Dan Bijih Logam
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar bijih logam dan logam dasar, seperti
bijih besi dan bijih bukan besi dalam bentuk dasar, seperti bijih nikel, bijih tembaga,
alumunium, besi, baja dan perdagangan besar produk logam besi dan bukan besi
setengah jadi ytdl dan lain lainnya. Termasuk perdagangan besar emas dan logam mulia
lain (perak, platina).
Business Valuation Unit
64 Jakarta
Page 81
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
e. KBLI 46631 – Perdagangan Besar Barang Logam Untuk Bahan Konstruksi
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar berbagai macam baja/besi untuk
bahan konstruksi seperti baja tulangan, baja profil, pelat baja, dan baja lembaran, pipa
besi/baja, kawat tali, kawat nyamuk, paku, mur/baut, engsel, gerendel, kunci, anak kunci,
tangki air, menara air, rolling door, awning dan seng lembaran.
f. KBLI 77399 – Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi Mesin,
Peralatan dan Barang Berwujud Lainnya YTDL
Kelompok ini mencakup kegiatan penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi
(operational leasing) mesin, peralatan dan barang berwujud ytdl dalam subgolongan
7730 yang secara umum digunakan sebagai barang modal, seperti kontainer untuk tempat
tinggal atau kantor, palet (alat pengangkat kontainer) dan sejenisnya. Termasuk
penyewaan alat pemindaian bagasi dengan sumber radiasi pengion dan penyewaan
hewan ternak, kuda pacu dan sejenisnya.
6.2. Entitas Anak
Sampai dengan Periode 30 Juni 2025, OPMS tidak memiliki entitas anak.
6.3. Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 47. Rincian KBLI Penambahan Kegiatan Usaha OPMS
No. Nama KBLI Kode KBLI
1 Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula 46331
2 Perdagangan besar kopi, teh dan kakao 46314
3 Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
46319
pertanian lainnya
4 Perdagangan besar buah-buahan 46312
5 Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur 46325
6 Perdagangan besar susu dan produk susu 46326
7 Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu 46334
8 Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya 46339
9 Perdagangan besar beras 46311
10 Perdagangan besar sayuran 46313
11 Perdagangan besar minyak dan lemak nabati 46315
12 Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan 46322
13 Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan
47242
sejenisnya
14 Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan 46321
15 Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya 46323
16 Perdagangan besar produk roti 46332
Sumber: Manajemen OPMS
Business Valuation Unit
65 Jakarta
Page 82
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Adapun penjelasan secara rinci terkait KBLI penambahan usaha sebagai berikut:
• KBLI 46331 – Perdagangan besar gula, coklat, dan kembang gula
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar gula, coklat, kembang gula dan sediaan
pemanis.
• KBLI 46314 – Perdagangan besar kopi, teh dan kakao:
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar kopi, the dan kakao
• KBLI 46319 – Perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil pertanian lainnya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar bahan makanan dan minuman hasil
pertanian lainnnya, seperti tanaman bumbu – bumbuan dan rempah – rempah
• KBLI 46312 – Perdagangan besar Buah – buahan
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar buah – buahan untuk digunakan
sebagai konsumsi akhir, seperti jeruk, apel, pear, mangga, dan buah lainnya.
• KBLI 46325 – Perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar telur dan hasil olahan telur
• KBLI 46326 – Perdagangan besar susu dan produk susu
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar susu dan produk susu
• KBLI 46334 – Perdagangan besar minuman non alkohol bukan susu
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar minuman non alkohol, seperti sari
buah, jus, minuman ringan, air mineral, air kemasan, dan produk sejenis lainnya.
• KBLI 46339 – Perdagangan besar makanan dan minuman lainnya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar makanan dan minuman lainnya, seperti
tepung beras, tepung tapioka, premiks bakeri, karamel, madu olahan, kerupuk udang dan
lain-lain. Termasuk pangan untuk keperluan gizi khusus (untuk bayi, anak, dan dewasa),
bahan tambahan pangan (food additive), bahan penolong (processing aid), makanan
ringan lainnya, serealia dan produk berbasis serealia yang belum diolah maupun telah
diolah, minuman produk kedelai, makanan siap saji, serta perdagangan besar makanan
untuk hewan piaraan dan makanan ternak.
• KBLI 46311 - Perdagangan besar beras
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar beras untuk digunakan sebagai
konsumsi akhir
• KBLI 46313 - Perdagangan besar sayuran
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar sayur – sayuran untuk digunakan
sebagai konsumsi akhir, seperti bayam, kangkong, kol, dan sayuran lainnya
• KBLI 46315 – Perdagangan besar minyak dan lemak nabati
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar minyak dan lemak nabati, termasuk
margarin serta produk berbahan dasar lemak nabati seperti non – dairy cream, dan produk
sejenis lainnya.
• KBLI 46322 – Perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan
Kelompok ini mencakupo usaha perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan,
termasuk daging ayam yang diawatkan
• KBLI 47242 – Perdagangan eceran roti, kue kering, serta kue basah dan sejenisnya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus berbagai jenis roti, kue kering
dan kue basah di dalam bangunan, seperti roti manis, roti tawar, bolu, cake/tart, biskuit,
wafer, kue semprong dan cookies.
• KBLI 46321 – Perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan,
termasuk daging sapi yang diawetkan
Business Valuation Unit
66 Jakarta
Page 83
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• KBLI 46323 – Perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar daging dan daging olahan lainnya,
termasuk daging lainnya yang diawetkan
• KBLI 46332 – Perdagangan Besar Produk Roti
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar produk roti, kue, dan bakeri lainnya.
6.4. Keunggulan Kompetitif
OPMS meyakini bahwa diversifikasi usaha ke sektor distribusi makanan dan minuman akan
memperkuat daya saing sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru di tengah
menurunnya industri logam. Keunggulan kompetitif ini akan menjadi fondasi bagi OPMS
dalam mengembangkan lini bisnis di sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan
distribusi pangan strategis. Berikut adalah keunggulan kompetitif utama OPMS:
• Pengalaman dan Reputasi di Industri Logam sebagai Basis Diversifikasi
OPMS telah beroperasi lebih dari satu dekade dalam perdagangan logam, yang
membutuhkan ketelitian manajemen rantai pasok, hubungan dengan berbagai mitra
industri, serta adaptasi terhadap dinamika pasar global. Pengalaman ini menjadi modal
berharga dalam membangun jaringan distribusi pangan yang juga menuntut efisiensi
logistik, transparansi, dan kepercayaan dari pelanggan.
• Potensi Pasar Pangan yang Stabil dan Berkembang
Sektor makanan dan minuman merupakan penyumbang utama PDB Indonesia dan
tergolong kebutuhan pokok yang permintaannya relatif stabil. Dengan fokus pada
perdagangan besar beras, gula, daging, susu, kopi, dan produk turunannya, OPMS
memasuki pasar yang memiliki prospek jangka panjang, baik dalam situasi ekonomi
tumbuh maupun melambat.
• Dukungan Kebijakan Pemerintah terhadap Ketahanan Pangan
Diversifikasi usaha OPMS selaras dengan prioritas pemerintah periode 2024–2029 yang
menitikberatkan pada program pangan nasional, seperti Makan Siang Gratis, penguatan
lumbung pangan, dan pengurangan impor bahan pokok. Arah kebijakan ini akan
memperkuat daya serap pasar domestik dan membuka peluang sinergi OPMS dalam rantai
distribusi pangan nasional.
• Peluang Pasar Regional di Madura dan Kawasan Berkembang
Lokasi OPMS di Madura memberikan keunggulan strategis karena wilayah ini masih
dalam tahap pengembangan ekonomi. Dengan masuk ke sektor distribusi pangan, OPMS
berpotensi menjadi pemain utama dalam penyediaan bahan makanan pokok di Madura
sekaligus menjangkau pasar Jawa Timur dan wilayah potensial lain di Indonesia bagian
timur.
Business Valuation Unit
67 Jakarta
Page 84
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Portofolio Produk yang Terdiversifikasi melalui Penambahan KBLI
Dengan penambahan KBLI pada berbagai komoditas pangan (beras, kopi, teh, gula,
minyak nabati, daging, susu, hingga produk roti), OPMS tidak bergantung pada satu jenis
produk saja. Diversifikasi ini meningkatkan ketahanan bisnis terhadap fluktuasi
permintaan atau harga pada salah satu komoditas tertentu.
• Kapasitas Operasional dan Infrastruktur yang Adaptif
Berbekal infrastruktur logistik dari bisnis logam, OPMS dapat menyesuaikan sistem
manajemen distribusi untuk kebutuhan pangan. Kapasitas gudang, transportasi, serta
manajemen inventori yang telah terbangun dapat dioptimalkan dan disesuaikan untuk
distribusi makanan dan minuman, sehingga mempercepat transisi usaha baru.
• Kontribusi terhadap Perekonomian Daerah dan Nasional
Ekspansi ke sektor distribusi pangan tidak hanya memperkuat posisi OPMS, tetapi juga
memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan daerah, menciptakan lapangan
kerja baru, serta memperluas basis ekonomi masyarakat di wilayah Madura dan
sekitarnya.
6.5. Kemampuan Pesaing dalam Meniru Produk
Secara prinsip, kegiatan usaha yang dijalankan oleh PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
(OPMS) pada sektor perdagangan besar pangan dan produk turunannya memang berpotensi
untuk ditiru oleh para pesaing. Namun demikian, terdapat sejumlah hambatan yang
menjadikan proses imitasi tidak mudah dilakukan secara efektif maupun berkelanjutan.
Pada lini usaha perdagangan besar komoditas pangan pokok (beras, gula, daging, susu,
minyak nabati, serta produk sejenis lainnya), faktor penghambat utama terletak pada akses
terhadap jaringan pasok dan tingkat kepercayaan mitra dagang. OPMS telah
mengembangkan pengalaman manajerial dalam mengelola rantai pasok industri logam, yang
menuntut stabilitas suplai, ketepatan distribusi, dan hubungan kontraktual jangka panjang.
Kapabilitas ini menjadi modal signifikan dalam memastikan ketersediaan barang, konsistensi
mutu, serta kepastian harga di sektor pangan. Pesaing baru pada umumnya akan menghadapi
kesulitan dalam memperoleh pasokan dari pemasok utama maupun dalam membangun
kredibilitas distribusi yang setara.
Pada lini usaha perdagangan eceran dan besar produk olahan pangan (seperti roti, kue kering,
kue basah, serta makanan olahan lainnya), tantangan imitasi terletak pada penguasaan
infrastruktur logistik dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan. Pengelolaan rantai
distribusi yang menuntut kecepatan, ketersediaan sistem cold chain, serta penerapan quality
control berlapis tidak mudah direplikasi oleh pelaku baru. Dengan demikian, meskipun
model produk yang dipasarkan relatif serupa, keunggulan operasional OPMS pada aspek
distribusi, pengendalian mutu, dan manajemen logistik menjadi faktor pembeda yang sulit
disamai.
Business Valuation Unit
68 Jakarta
Page 85
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Selain itu, keberadaan OPMS di wilayah Madura memberikan keunggulan first mover
advantage. Sebagai wilayah dengan potensi ekonomi yang sedang berkembang, kehadiran
OPMS lebih awal dalam menggarap sektor distribusi pangan memungkinkan Perseroan
membangun hubungan strategis dengan pemerintah daerah, pedagang besar, serta jaringan
distribusi lokal. Kondisi ini menjadikan pesaing yang baru masuk pasar menghadapi
hambatan berupa tingginya biaya penetrasi serta kesulitan dalam merebut pangsa pasar yang
telah dikuasai OPMS.
Secara teoretis kegiatan usaha OPMS dalam sektor distribusi pangan dapat ditiru, namun
hambatan dalam aspek efisiensi, efektivitas, dan daya saing menjadikan upaya pesaing sulit
diwujudkan secara optimal. Kondisi tersebut menempatkan OPMS pada posisi kompetitif
yang kokoh untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan pangsa pasar di sektor
distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods (FMCG).
6.6. Kemampuan Untuk Menciptakan nilai
Kemampuan OPMS dalam menciptakan nilai melalui penambahan kegiatan usaha tercermin
dari fokus Perseroan pada sektor distribusi pangan pokok dan produk Fast Moving Consumer
Goods (FMCG). Masuknya OPMS ke dalam perdagangan besar beras, gula, minyak nabati,
daging, susu, kopi, teh, serta produk olahan pangan dan minuman memberikan nilai strategis
yang sejalan dengan kebutuhan dasar masyarakat dan prioritas pemerintah dalam
memperkuat ketahanan pangan nasional. Nilai tambah tercipta melalui penyediaan produk
yang stabil dari sisi ketersediaan, terjamin dari sisi mutu, serta kompetitif dari sisi harga,
yang pada akhirnya mendukung keterjangkauan pangan bagi konsumen.
Selain itu, pengembangan usaha di bidang FMCG membuka peluang pertumbuhan yang
berkelanjutan karena sektor ini memiliki permintaan yang relatif stabil dan terus meningkat.
OPMS berperan tidak hanya sebagai penyedia produk, tetapi juga sebagai bagian dari rantai
distribusi yang menjamin kecepatan, higienitas, dan efisiensi pasokan hingga ke tingkat ritel
modern maupun tradisional. Kehadiran OPMS di wilayah Madura yang sedang berkembang
juga memperkuat kontribusinya dalam meningkatkan akses pangan masyarakat sekaligus
menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian daerah.
Dengan strategi diversifikasi ini, OPMS tidak hanya memperluas portofolio usaha, tetapi
juga memperkuat posisinya sebagai Perseroan yang adaptif terhadap perubahan arah
pembangunan nasional. Kemampuan untuk menjembatani kebutuhan dasar masyarakat
melalui distribusi pangan dan FMCG menjadikan OPMS sebagai pelaku usaha yang
berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi, sosial, sekaligus keberlanjutan jangka panjang.
6.7. Analisis Risiko
Seperti halnya kegiatan usaha yang dilakukan oleh Perseroan lainnya, penambahan kegiatan
usaha yang akan dilaksanakan oleh OPMS di bidang FCMG tidak terlepas dari risiko usaha
yang disebabkan oleh berbagai faktor yang akhirnya dapat mempengaruhi tingkat
pertumbuhan dan kesehatan bisnis. Risiko-risiko tersebut antara lain:
Business Valuation Unit
69 Jakarta
Page 86
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Risiko Persaingan Pasar
Industri distribusi pangan dan fast-moving consumer goods (FMCG) memiliki tingkat
kompetisi yang sangat tinggi, dengan keberadaan pelaku usaha besar yang telah
menguasai jaringan distribusi secara luas serta memiliki efisiensi operasional yang mapan.
Di sisi lain, distributor lokal juga memiliki keunggulan dari sisi kedekatan dengan
konsumen. Kondisi tersebut menimbulkan risiko berupa tekanan harga, margin
keuntungan yang semakin menipis, serta perlunya strategi diferensiasi yang jelas agar
OPMS dapat mempertahankan daya saingnya.
• Risiko Rantai Pasok
Keberlangsungan kegiatan distribusi sangat bergantung pada stabilitas pasokan. Fluktuasi
harga komoditas, keterbatasan kapasitas transportasi, gangguan akibat faktor cuaca
ekstrem, maupun perubahan kebijakan impor-ekspor berpotensi mengganggu kelancaran
rantai pasok. Hambatan tersebut dapat meningkatkan biaya logistik dan menurunkan
keandalan layanan kepada pelanggan, sehingga berdampak pada reputasi Perseroan.
• Risiko Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
Sektor pangan merupakan salah satu sektor strategis yang diawasi ketat oleh pemerintah.
Perubahan regulasi mengenai harga eceran tertinggi (HET), standar keamanan pangan,
sertifikasi produk, hingga kebijakan perdagangan dapat memengaruhi fleksibilitas
operasional serta menambah beban kepatuhan bagi OPMS. Risiko ini menjadi semakin
relevan mengingat kebijakan pemerintah dalam sektor pangan sering kali bersifat dinamis
dan responsif terhadap kondisi pasar.
• Risiko Operasional dan Logistik
Distribusi pangan dan FMCG memerlukan sistem operasional yang terintegrasi dan
efisien, mulai dari pengelolaan gudang dan transportasi. Kegagalan dalam mengelola
aspek-aspek tersebut dapat berakibat pada penurunan kualitas produk, keterlambatan
distribusi, maupun potensi sengketa hukum, yang pada akhirnya dapat menurunkan
tingkat kepercayaan pelanggan.
• Risiko Perubahan Perilaku Konsumen
Preferensi konsumen terhadap produk pangan dan FMCG terus mengalami
perkembangan, antara lain meningkatnya minat terhadap produk yang lebih sehat, ramah
lingkungan, serta distribusi melalui kanal digital dan e-commerce. Perubahan perilaku ini
menuntut OPMS untuk senantiasa menyesuaikan strategi pemasaran, pola distribusi, serta
portofolio produknya agar tetap relevan dan kompetitif di pasar.
6.8. Analisis SWOT
Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal yang
bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol. Kedua sisi
Business Valuation Unit
70 Jakarta
Page 87
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan mempunyai
daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan (strength and
weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan ancaman (opportunity and
threat).
Strategi penambahan kegiatan usaha dilakukan dengan membuat SWOT matriks. SWOT
matriks ini dibangun berdasarkan faktor-faktor strategi, baik internal (kekuatan dan
kelemahan) maupun eksternal (peluang dan ancaman). Berdasarkan matriks posisi analisis
SWOT yang ada maka dapat disusun 4 (empat) strategi utama, yaitu Strengths –
Opportunities (S – O), Weakness – Opportunity (W – O), Stregth – Threat (S – T), dan
Weaknes – Threat (W – T).
Figur 48. Analisis SWOT
Kekuatan / Strength Kelemahan (Weakness)
• Reputasi dan pengalaman • Reputasi Perseroan masih
dalam industri logam. sangat melekat pada industri
• Lokasi Perseroan di Madura logam, sehingga perlu
memberi peluang penetrasi penyesuaian citra agar
pasar baru di wilayah yang diterima di sektor
sedang berkembang. pangan/FMCG.
Faktor Internal
• Dukungan tren nasional: • Potensi biaya operasional
Faktor Eksternal
pangan/FMCG sebagai meningkat seiring perluasan
kebutuhan pokok dan jaringan distribusi.
kontributor penting PDB. • Risiko manajemen yang lebih
kompleks akibat diversifikasi
usaha ke sektor berbeda
dengan karakteristik
operasional yang tidak sama.
Peluang / Opportunity Strategi (“SO”) Strategi (“WO”)
• Kebijakan pemerintah periode • Optimalisasi jaringan • Pengembangan kompetensi
2024–2029 yang berfokus distribusi logam yang sudah SDM melalui pelatihan
pada ketahanan pangan, seperti ada untuk memperluas logistik pangan dan
program Makan Bergizi Gratis penetrasi ke sektor makanan manajemen FMCG, sejalan
dan peningkatan produksi dan minuman, khususnya di dengan meningkatnya peluang
pangan nasional. Madura dan daerah di sektor ketahanan pangan.
• Tingginya permintaan pangan berkembang. • Membangun kemitraan
dan minuman yang bersifat • Kolaborasi dengan produsen strategis dengan pelaku
kebutuhan pokok dan pangan lokal untuk FMCG yang lebih
berulang, sehingga menjamin mendukung kebijakan berpengalaman, sehingga
pasar yang stabil. ketahanan pangan OPMS bisa mempercepat
• Potensi pertumbuhan pasar di pemerintah sekaligus adaptasi di sektor baru.
Madura dan daerah sekitarnya memperkuat pasokan produk.
yang sedang berkembang dan • Memperluas pangsa pasar
relatif belum banyak pemain melalui sinergi dengan mitra
besar. distribusi nasional dan
• Perubahan pola konsumsi potensi ekspor
masyarakat ke arah produk
sehat, praktis, dan distribusi
digital membuka peluang
inovasi model bisnis.
Ancaman / Threat Strategi (“ST”) Strategi (“WT”)
• Persaingan ketat dari • Mengoptimalkan lokasi • Menyusun roadmap
distributor besar FMCG strategis di Madura untuk transformasi bisnis secara
nasional maupun lokal yang membangun basis pasar bertahap dengan pengendalian
sudah mapan dengan jaringan regional yang relatif belum
yang terukur, sehingga
luas. padat pemain, sehingga dapat
Business Valuation Unit
71 Jakarta
Page 88
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Fluktuasi harga bahan pangan mengurangi tekanan dari diversifikasi lintas sektor
global dan ketergantungan distributor besar nasional. dapat dikelola secara efektif
pada rantai pasok yang rawan • Diversifikasi portofolio tanpa menimbulkan beban
terganggu (cuaca, kebijakan produk pangan (beras, berlebih bagi manajemen.
impor-ekspor, dll). sayuran, daging, minuman,
• Menerapkan sistem
• Regulasi ketat di bidang dsb.) untuk mengurangi
pangan terkait keamanan, risiko fluktuasi harga bahan manajemen risiko pangan
sertifikasi, HET (Harga Eceran tertentu. yang komprehensif guna
Tertinggi), yang dapat • Menggunakan pengalaman memastikan kepatuhan
menekan fleksibilitas usaha. manajemen distribusi logam terhadap regulasi, menjaga
• Risiko perubahan preferensi untuk membangun sistem standar keamanan pangan
konsumen yang cepat serta efisiensi biaya yang mampu
• Melakukan efisiensi biaya
tekanan produk impor dengan bersaing dengan distributor
harga lebih rendah. mapan. operasional melalui
• Mengembangkan kemitraan digitalisasi proses distribusi,
dengan pemerintah daerah termasuk penerapan sistem
dan koperasi petani, sehingga yang terintegrasi
rantai pasok lebih stabil dan • Membangun dan memperkuat
risiko gangguan dapat brand awareness sejak awal,
ditekan.
sehingga keberadaan
Perseroan di sektor FMCG
tidak hanya dipersepsikan
sebagai pendatang baru, tetapi
juga memiliki posisi yang
jelas dan kredibel di pasar.
6.9. Kesimpulan Analisis Kelayakan Pola Bisnis
Diversifikasi usaha OPMS ke sektor distribusi pangan dan Fast Moving Consumer Goods
(FMCG) diharapkan dapat menciptakan nilai tambah melalui perluasan sumber pendapatan,
pengurangan ketergantungan pada industri logam, serta pemanfaatan peluang pasar
kebutuhan pokok yang lebih stabil. Dengan dukungan infrastruktur dan pengalaman dalam
perdagangan besar, OPMS berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus
memperkuat posisinya dalam ekosistem distribusi pangan nasional.
Namun demikian, diversifikasi ini juga mengandung risiko, mulai dari kepatuhan regulasi
keamanan pangan yang ketat, persaingan dengan pemain besar yang sudah mapan hingga
risiko perubahan perilaku konsumen. Risiko keuangan dapat timbul jika investasi awal dan
biaya operasional tidak seimbang dengan pendapatan. Oleh karena itu, penerapan sistem
manajemen risiko yang komprehensif dan pengelolaan operasional berbasis teknologi
informasi menjadi salah satu hal yang penting.
Keunggulan kompetitif Perseroan terletak pada kemampuan adaptasi dan diversifikasi bisnis
dari sektor logam ke sektor distribusi makanan dan minuman dengan memanfaatkan
infrastruktur logistik, jaringan distribusi, serta pengalaman manajemen rantai pasok yang
telah terbangun. Pola bisnis Perseroan bersifat integratif dan adaptif, yaitu mengoptimalkan
aset dan sistem distribusi eksisting untuk sektor pangan tanpa memerlukan investasi
infrastruktur baru secara signifikan. Pendekatan ini memberikan efisiensi biaya sekaligus
mempercepat penetrasi pasar, khususnya di wilayah Madura dan Jawa Timur.
Business Valuation Unit
72 Jakarta
Page 89
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Dari sisi penciptaan nilai, Perseroan berfokus pada penyediaan produk pangan pokok dan
FMCG yang terjamin mutu, stabil ketersediaannya, serta kompetitif dari sisi harga. Melalui
strategi tersebut, OPMS menciptakan nilai ekonomi melalui peningkatan efisiensi distribusi,
nilai sosial melalui perluasan akses pangan dan penciptaan lapangan kerja, serta nilai
strategis melalui dukungan terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional. Dengan pola
bisnis yang fleksibel dan berbasis kebutuhan dasar masyarakat, Perseroan memiliki posisi
yang kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi terhadap
perekonomian daerah maupun nasional.
Dengan strategi jangka panjang yang terukur meliputi roadmap pengembangan bertahap,
efisiensi biaya, diversifikasi portofolio produk, serta kolaborasi dengan mitra strategis OPMS
berpeluang memantapkan diri sebagai Perseroan multibisnis yang adaptif, kompetitif, dan
berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan pola bisnis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan pola bisnis adalah layak.
Business Valuation Unit
73 Jakarta
Page 90
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
7. ASPEK KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
7.1. Sumber Daya Manusia
Salah satu faktor kunci yang sangat menentukan keberhasilan dalam pengelolaan Perseroan
adalah peran penting yang dimainkan oleh sumber daya manusia yang menangani berbagai
aspek operasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya manajemen yang profesional
dan terampil dalam setiap fungsi operasional Perseroan, agar semua kegiatan dapat berjalan
secara efisien dan efektif. Manajemen yang baik akan memastikan koordinasi yang optimal
antara berbagai divisi dan departemen, serta mampu mengelola sumber daya dengan baik
untuk mencapai tujuan Perseroan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat meminimalkan
kesalahan, meningkatkan produktivitas, dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Berikut merupakan komposisi Karyawan OPMS untuk penambahan kegiatan usaha:
Figur 49. Komposisi Jumlah Karyawan OPMS untuk Penambahan Kegiatan Usaha
Rencana tambahan tenaga Jumlah Tenaga kerja untuk
Tenaga kerja lama
kerja penambahan kegiatan usaha
(orang)
(orang) (orang)
4 4 8
Sumber: Manajemen OPMS
Dalam rangka mendukung rencana perubahan kegiatan usaha dan peningkatan kapasitas
operasional, OPMS telah melakukan pemetaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM)
secara rinci. Pemetaan ini mencakup identifikasi jumlah, jenis keterampilan, serta tingkat
kompetensi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan usaha baru.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, OPMS telah dan akan menempuh beberapa langkah
strategis sebagai berikut:
1. Menggandeng salah satu Perusahaan FMCG yang sudah berpengalaman di bidangnya
sebagai konsultan bisnis.
2. Pemetaan Customer FMCG di wilayah Madura.
3. Pendalaman pengetahuan produk FMCG yang tepat sasaran.
4. Peninjauan situasi pasar dan kebutuhan customer di wilayah Madura.
5. Pengadaan digital web supply chain dan logistik yang mendukung kinerja FMCG.
6. Memberikan insentif kepada karyawan dalam pemenuhan target sales dan kinerja.
Dengan penerapan manajemen SDM yang profesional, Perseroan diharapkan mampu
membangun tim kerja yang solid, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan pasar. Hal
ini akan menjadi pondasi penting dalam mendukung keberlanjutan usaha distribusi makanan
dan minuman, sekaligus meningkatkan daya saing Perseroan di industri distribusi. Seluruh
langkah di atas dirancang untuk memastikan bahwa kebutuhan SDM OPMS dapat terpenuhi
secara optimal, berkelanjutan, dan mendukung transformasi usaha yang direncanakan.
Business Valuation Unit
74 Jakarta
Page 91
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
7.2. Komposisi Karyawan OPMS
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT OPMS Tbk, jumlah karyawan yang tercatat
sebanyak 4 orang. Berikut adalah rincian karyawan OPMS berdasarkan jabatan dan status
ketenagakerjaan:
Figur 50. Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Orang
Sarjana (S1) 1
Diploma (D3) 0
SMA/SMK 3
SMP 0
Jumlah 4
Sumber: Manajemen
Figur 51. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jabatan
Jabatan Orang
Manager 0
Supervisor 0
Staff 4
Jumlah 4
Sumber: Manajemen OPMS
Figur 52. Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Usia
Usia Orang
41 – 55 tahun 0
26 – 40 tahun 4
17 – 25 tahun 0
Jumlah 4
Sumber: Manajemen OPMS
Figur 53. Jumlah Karyawan Berdasarkan Status Ketenagakerjaan
Status Ketenagakerjaan Orang
Tetap / Permanent 4
Tidak Tetap / Non - Permanent 0
Jumlah 4
Sumber: Manajemen OPMS
7.3. Manajemen Kekayaan Intelektual
Menurut Undang – Undang yang telah disahkan oleh DPR – RI pada tanggal 21 Maret 1997,
Hak Atas Kekayaan Intelektual adalah hak-hak secara umum yang berhubungan dengan
permasalahan hasil penemuan dan kreativitas seseorang atau beberapa orang yang
berhubungan dengan perlindungan permasalahan reputasi dalam bidang komersial
(commercial reputation) dan tidakan/jasa dalam bidang komerisal (goodwill). Sampai
dengan laporan ini diterbitkan tidak terdapat informasi terkait Hak Kekayaan Intelektual
yang akan didaftarkan oleh OPMS atas Rencana Penambahan Kegiatan Usaha ini.
Business Valuation Unit
75 Jakarta
Page 92
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
7.4. Manajemen Risiko
Seperti halnya dengan ekspansi usaha yang dilakukan oleh berbagai perusahaan,
penambahan kegiatan usaha OPMS dalam bidang FCMG juga menghadapi berbagai risiko.
Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Oleh karena itu,
perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak risiko tersebut. OPMS telah melakukan
identifikasi dan analisis terhadap potensi risiko yang mungkin muncul beserta dampaknya.
Berikut adalah risiko yang telah diidentifikasi berdasarkan analisis risiko yang telah
dijelaskan dalam aspek pola bisnis beserta strategi mitigasi yang diterapkan, yaitu sebagai
berikut:
Figur 54. Manajemen Risiko
No. Jenis Risiko Strategi Mitigasi
Untuk menghadapi ketatnya persaingan, OPMS perlu
menerapkan strategi diferensiasi yang jelas, baik melalui
keunggulan layanan distribusi, kecepatan pengiriman,
maupun jaminan kualitas produk. Penguatan kerja sama
1. Risiko Persaingan Pasar dengan produsen lokal maupun internasional, serta
pembangunan merek yang kuat juga dapat meningkatkan
daya saing. Selain itu, pemanfaatan teknologi analitik pasar
akan membantu Perseroan memahami tren konsumen dan
menetapkan strategi harga yang kompetitif.
Manajemen risiko dapat dilakukan dengan membangun
jaringan pemasok yang beragam guna menghindari
ketergantungan pada satu sumber tertentu. OPMS juga
dapat mengembangkan sistem manajemen logistik yang
2. Risiko Rantai Pasok terintegrasi, serta menyiapkan buffer stock untuk produk-
produk strategis. Investasi pada teknologi pemantauan
rantai pasok (supply chain monitoring) dapat membantu
mendeteksi potensi gangguan sejak dini dan mempercepat
respons terhadap hambatan distribusi.
Untuk memastikan kepatuhan, OPMS perlu membentuk tim
khusus yang berfokus pada pengawasan regulasi pangan
dan perdagangan. Tim ini bertugas melakukan pemantauan
Risiko Regulasi dan terhadap perubahan regulasi secara berkala serta
3.
Kebijakan Pemerintah menyiapkan mekanisme penyesuaian cepat terhadap aturan
baru. Selain itu, menjalin komunikasi aktif dengan asosiasi
industri maupun regulator dapat membantu Perseroan
memperoleh informasi dan arahan lebih awal.
OPMS dapat memitigasi risiko operasional melalui
penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat
pada seluruh tahapan distribusi, termasuk sistem
manajemen mutu serta pemeliharaan rantai dingin.
Risiko Operasional dan
4. Penggunaan teknologi logistik modern seperti sistem
Logistik
pelacakan (tracking system) akan meningkatkan
transparansi dan efisiensi distribusi. Selain itu, pelatihan
rutin bagi tenaga kerja logistik penting untuk menjaga
kompetensi dan mengurangi risiko kesalahan operasional.
Manajemen risiko terhadap perubahan preferensi konsumen
Risiko Perubahan Perilaku dapat dilakukan dengan strategi inovasi produk dan
5.
Konsumen diversifikasi portofolio. OPMS perlu memperhatikan tren
konsumen, serta memperluas kanal distribusi ke platform
Business Valuation Unit
76 Jakarta
Page 93
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
No. Jenis Risiko Strategi Mitigasi
digital dan e-commerce. Melalui pendekatan ini, Perseroan
dapat menjaga relevansi dan daya tarik produknya di mata
konsumen.
Untuk mengendalikan risiko finansial, OPMS perlu
menerapkan prinsip kehati-hatian dalam perencanaan
investasi dan menjaga keseimbangan antara belanja modal
dengan proyeksi arus kas. Perseroan dapat mengoptimalkan
Risiko Keuangan dan
6. pendanaan melalui kombinasi modal internal dan eksternal
Investasi
dengan struktur yang sehat. Selain itu, penerapan sistem
pengendalian biaya dan pemantauan kinerja keuangan
secara berkala akan membantu menjaga profitabilitas dan
keberlanjutan usaha.
7.5. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen
Kapasitas dan kemampuan manajemen menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan
keberhasilan usaha distribusi makanan dan minuman. Perseroan memiliki struktur
manajemen yang dirancang untuk mampu mengelola seluruh rantai distribusi secara efektif,
mulai dari perencanaan pasokan, pengelolaan gudang, hingga pengiriman produk ke
pelanggan. Tim manajemen didukung oleh personel yang memiliki pengalaman di bidang
FCMG sehingga mampu menjalankan operasional dengan standar profesional.
Dari sisi kapasitas, OPMS memilki Gudang skala besar yang mampu menyimpan produk
dalam jumlah besar dengan efisiensi tinggi. Selain itu, Perseroan juga memiliki armada
logistik sendiri sehingga OPMS dapat menjangkau pasar lokal dengan lebih efisien. Di
bidang keuangan, OPMS juga didukung oleh pendanaan publik yang memberikan modal
kerja cukup untuk membiayai ekspansi dan strategi promosi.
Sementara itu, dari sisi kemampuan manajemen, OPMS akan memanfaatkan teknologi
digital untuk memperkuat supply chain dan pemasaran. Dengan sistem yang terintegrasi dan
data analytics, Perseroan dapat mengendalikan alur stok, memprediksi permintaan, dan
mengoptimalkan distribusi. Kemampuan inovasi juga menjadi kekuatan OPMS, terbukti dari
kemampuan manajemen mendeteksi pentingnya merambah ke sektor ketahanan pangan
untuk mendukung program Pemerintah saat ini.
Dalam hal branding, OPMS akan mengadopsi strategi komunikasi digital yang agresif.
Melalui media sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan influencer lokal, OPMS akan
membangun citra sebagai pendatang baru yang inovatif, dan relevan dengan target market
konsumen di wilayah Madura dan sekitarnya. Strategi ini nantinya akan meningkatkan
awareness konsumen meskipun OPMS masih tergolong pendatang baru.
Selain itu, kemampuan manajemen juga ditunjukkan melalui penerapan strategi kolaboratif
dengan produsen, pemasok, dan pelanggan utama. Pola kerja sama ini memperkuat daya
tawar Perseroan sekaligus menjaga kesinambungan pasokan produk. Dengan pendekatan
yang berorientasi pada efisiensi, kualitas layanan, serta inovasi teknologi, manajemen
diyakini mampu menjaga keberlanjutan bisnis, meningkatkan daya saing, dan mencapai
target pertumbuhan yang telah ditetapkan.
Business Valuation Unit
77 Jakarta
Page 94
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
7.6. Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen
Struktur organisasi perseroan telah dirancang agar selaras dengan kebutuhan operasional
distribusi makanan dan minuman yang menuntut efisiensi, kecepatan, serta kepatuhan
terhadap standar keamanan pangan. Struktur ini berbentuk organisasi fungsional yang
membagi tugas dan tanggung jawab ke dalam beberapa divisi utama, yaitu operasional,
pemasaran dan penjualan, keuangan dan administrasi, serta sumber daya manusia.
Dari sisi manajemen, setiap divisi dipimpin oleh seorang manajer yang memiliki kompetensi
sesuai bidangnya, dan secara langsung bertanggung jawab kepada manajemen puncak atau
direktur utama. Dengan pola ini, jalur koordinasi menjadi lebih jelas, alur komunikasi
antarbagian lebih efektif, serta pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat dan
tepat.
Kesesuaian struktur organisasi dengan manajemen tercermin dari pembagian fungsi yang
seimbang antara aspek teknis dan aspek pendukung. Hal ini memungkinkan Perseroan
menjaga kualitas layanan distribusi sekaligus memastikan stabilitas finansial dan
keberlanjutan usaha.
Selain itu, penerapan sistem manajemen berbasis kinerja (performance-based management)
semakin memperkuat kesesuaian struktur organisasi. Setiap unit kerja memiliki indikator
kinerja utama (KPI) yang terukur sehingga memudahkan proses evaluasi dan pengendalian.
Dengan demikian, struktur organisasi tidak hanya relevan dengan kebutuhan operasional saat
ini, tetapi juga adaptif terhadap pertumbuhan usaha di masa depan.
7.7. Kesimpulan Analisis Model Manajemen
Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen strategis dalam mendukung keberhasilan
operasional OPMS, khususnya dalam rencana penambahan kegiatan usaha di bidang
distribusi makanan dan minuman. Saat ini Perseroan memiliki 4 orang karyawan tetap
dengan latar belakang pendidikan SMA/SMK dan sarjana, serta merencanakan rekrutmen
tambahan di bidang supervisor, staf sales, staf gudang dan staf sopir. Pemetaan kebutuhan
SDM dilakukan secara rinci untuk memastikan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan
operasional, didukung kerja sama dengan konsultan FMCG, pemetaan pasar di wilayah
Madura, serta implementasi sistem digital supply chain guna meningkatkan produktivitas dan
efektivitas kerja.
Dari sisi manajemen, OPMS memiliki kapasitas organisasi yang memadai melalui
keberadaan gudang berskala besar, armada logistik, serta pendanaan publik yang mendukung
ekspansi. Perseroan juga menerapkan sistem manajemen berbasis teknologi untuk
mengoptimalkan rantai pasok dan pengendalian inventori. Strategi pemasaran berbasis
digital melalui media sosial, e-commerce, dan kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan
dapat meningkatkan brand awareness meskipun OPMS merupakan pendatang baru di
industri distribusi. Struktur organisasi yang berbentuk fungsional memungkinkan koordinasi
antar divisi lebih efektif serta pengambilan keputusan yang cepat.
Sejalan dengan ekspansi, OPMS telah melakukan identifikasi risiko yang berpotensi
memengaruhi keberhasilan usaha, mulai dari persaingan pasar, rantai pasok, regulasi, hingga
Business Valuation Unit
78 Jakarta
Page 95
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
perubahan perilaku konsumen. Strategi mitigasi disiapkan melalui diferensiasi layanan,
diversifikasi pemasok, penguatan sistem logistik, serta pemantauan regulasi secara berkala.
Dengan dukungan SDM yang profesional, manajemen yang adaptif, serta sistem pengelolaan
risiko yang terukur, OPMS diyakini mampu menjaga kesinambungan usaha, meningkatkan
daya saing, serta mewujudkan pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.
Struktur organisasi yang telah terbentuk dengan pembagian tugas yang jelas, sistem
koordinasi yang terarah, serta proses evaluasi dan penyesuaian manajerial yang dilakukan
secara konsisten, menjadi fondasi penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan
ekspansi usaha. Dengan pengelolaan risiko yang terintegrasi dan pemahaman menyeluruh
terhadap dinamika industri, OPMS dinilai memiliki kompetensi manajerial yang memadai
untuk mengarahkan pengembangan usaha secara adaptif, profesional, dan berkelanjutan.
Dengan analisis kelayakan model manajemen tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
Penambahan Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan model manajemen adalah layak.
Business Valuation Unit
79 Jakarta
Page 96
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8. ASPEK KELAYAKAN KEUANGAN
8.1. Rencana Biaya Investasi
Berkaitan dengan penambahan kegiatan usaha, OPMS secara garis besar memiliki Rencana
Anggaran Biaya Penambahan Kegiatan Usaha yang dibutuhkan oleh OPMS dapat disajikan
sebagai berikut:
Figur 55. Biaya Investasi
Jumlah
Uraian
(Rp)
Investasi
Investasi Peralatan Pabrik 100.000.000
Investasi Peralatan Kantor 50.000.000
Jasa Profesional (KJPP dan Notaris) 150.000.000
Persediaan 2.700.000.000
Total Investasi 3.000.000.000
Sumber: Manajemen OPMS
8.2. Sumber Pembiayaan
Dalam rangka merealisasikan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha, OPMS melakukan
investasi untuk penambahan kegiatan usaha yang bersumber dari kas OPMS.
8.3. Asumsi – Asumsi Proyeksi Keuangan
Asumsi – asumsi yang digunakan dalam penyusunan proyeksi keuangan sebelum dan setelah
penambahan kegiatan usaha dalam upaya pengembangan bisnis OPMS. Proyeksi disusun
selama 5 tahun dengan asumsi sebagai berikut:
Figur 56. Asumsi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Hari Per Tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,7% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
BPP Terhadap Pendapatan Plat 64,5% 90,0% 90,0% 90,0% 90,0% 90,0%
Tonase Plat 41.311 300.300 300.300 300.300 300.300 300.300
Harga Jual 9.990 9.990 10.240 10.496 10.758 11.027
Pendapatan Plat 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
BPP Plat 266.222 2.700.000 2.767.500 2.836.688 2.907.605 2.980.295
Pendapatan Penjualan Plat
Penjualan Plat 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Beban Pokok Penjualan
Beban Pokok Penjualan (266.222) (2.700.000) (2.767.500) (2.836.688) (2.907.605) (2.980.295)
Biaya Umum & Administrasi
Gaji Pegawai (853.810) (1.683.432) (1.725.518) (1.768.656) (1.812.872) (1.858.194)
Business Valuation Unit
80 Jakarta
Page 97
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Upah Buruh (146.463) (300.605) (308.120) (315.823) (323.718) (331.811)
Thr/Bonus - (141.420) (141.420) (141.420) (141.420) (141.420)
Kesejahteraan
Karyawan/Insentive (14.711) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240)
Karyawan
Telepon/Fax (19.420) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007)
Listrik/Air (17.252) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499)
Alat Tulis Kantor (558) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196)
Barang Cetakan dan
(125) (300) (300) (300) (300) (300)
Fotocopy
Beban Pos, Telegram, dan
(856) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054)
Telex
BBM, Tol dan Parkir (25.775) (48.780) (50.000) (51.249) (52.531) (53.844)
Beban kendaraan Lainnya (40.653) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775)
Makan dan Minum (20.735) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070)
Keperluan Rumah Tangga
(23.494) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206)
Kantor
Perjalanan Dinas (27.744) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841)
Asuransi (85.066) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133)
Administrasi Bank (6.077) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311)
Perijinan dan Pengurusan
(96.363) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830)
Dokumen
Keamanan dan Kebersihan (213.401) (438.050) (449.001) (460.226) (471.732) (483.525)
Jasa Profesional Fee (Pph
(13.429) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229)
Pasal 21)
Representasi dan Jamuan (19.420) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642)
Pajak (24.471) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729)
Jasa
Service/Supervisi/Instalasi (57.193) (424.990) (424.990) (424.990) (424.990) (424.990)
(Pph Pasal 23)
Penyusutan Kendaraan (81.474) (162.948) (162.948) (162.948) (162.948) (162.948)
Penyusutan Inventaris
(45.701) (91.581) (91.581) (91.581) (91.581) (91.581)
kantor
Penyusutan Bangunan
(284.365) (568.730) (568.730) (568.730) (568.730) (568.730)
Kantor Utama
Pem dan Perbaikan
(6.556) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175)
Inventaris Kantor
Pem dan Perbaikan Mesin
(6.678) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936)
Pabrik
Amortisasi Aset Hak Guna (52.625) (105.250) - - - -
Pendapatan Lainnya
Pendapatan Bunga 250.480 545.213 545.213 545.213 545.213 545.213
Pendapatan Lainnya 299.033 - - - - -
Beban Lainnya
Beban Bunga Bank (285) - - - - -
Beban Lainnya (332.646) - - - - -
Perputaran
Perputaran Piutang Usaha
8 8 8 8 8 8
Pihak Ketiga
Perputaran Persediaan 31 31 31 31 31 31
Perputaran Utang Usaha
14 14 14 14 14 14
Pihak Ketiga
Perputaran Utang Lain-Lain 3 3 3 3 3 3
Perputaran Beban Yang
2 2 2 2 2 2
Masih Harus Dibayar
Tax 22% 22% 22% 22% 22% 22%
Sumber: Manajemen OPMS
Business Valuation Unit
81 Jakarta
Page 98
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 57. Asumsi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Hari Per Tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,7% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
BPP Plat (Before) 64,51% 90,00% 90,00% 90,00% 90,00% 90,00%
BPP FMCG (After) 87,82% 93,20% 93,20% 93,20% 93,20% 93,20%
Tonase Plat 41.311 300.300 300.300 300.300 300.300 300.300
Tonase FMCG 230.230 1.501.502 2.050.831 2.572.471 3.067.446 3.536.744
Harga Jual 9.990 9.990 10.240 10.496 10.758 11.027
Pendapatan Plat 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Pendapatan FMCG 2.300.000 15.000.000 21.000.000 27.000.000 33.000.000 39.000.000
BPP Plat 266.222 2.700.000 2.767.500 2.836.688 2.907.605 2.980.295
BPP FMCG 2.019.799 13.980.033 19.572.046 25.164.059 30.756.072 36.348.085
Pendapatan Penjualan Plat
+ FMCG
Penjualan Plat + FMCG 2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
Beban Pokok Penjualan
Beban Pokok Penjualan (2.286.022) (16.680.033) (22.339.546) (28.000.746) (33.663.677) (39.328.380)
Biaya Umum &
Administrasi
Gaji Pegawai (921.310) (1.750.932) (1.794.705) (1.839.573) (1.885.562) (1.932.701)
Upah Buruh (146.463) (300.605) (308.120) (315.823) (323.718) (331.811)
Thr/Bonus - (141.420) (141.420) (141.420) (141.420) (141.420)
Kesejahteraan
Karyawan/Insentive (14.711) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240)
Karyawan
Telepon/Fax (19.420) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007)
Listrik/Air (17.252) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499)
Alat Tulis Kantor (558) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196)
Barang Cetakan dan
(125) (300) (300) (300) (300) (300)
Fotocopy
Beban Pos, Telegram,
(856) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054)
dan Telex
BBM, Tol dan Parkir (63.263) (86.268) (88.424,6) (90.635,2) (92.901,1) (95.223,6)
Beban kendaraan
(40.653) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775)
Lainnya
Makan dan Minum (20.735) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070)
Keperluan Rumah
(23.494) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206)
Tangga Kantor
Perjalanan Dinas (27.744) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841)
Asuransi (85.066) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133)
Administrasi Bank (6.077) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311)
Perijinan dan
(96.363) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830)
Pengurusan Dokumen
Keamanan dan
(213.401) (438.050) (449.001) (460.226) (471.732) (483.525)
Kebersihan
Jasa Profesional Fee
(13.429) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229)
(Pph Pasal 21)
Representasi dan
(19.420) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642)
Jamuan
Pajak (24.471) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729)
Jasa
Service/Supervisi/Instala (275.043) (180.000) (180.000) (180.000) (180.000) (180.000)
si (Pph Pasal 23)
Penyusutan Kendaraan (81.503) (163.007) (163.007) (163.007) (163.007) (163.007)
Business Valuation Unit
82 Jakarta
Page 99
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Penyusutan Inventaris
(45.820) (91.640) (91.640) (91.640) (91.640) (91.640)
kantor
Penyusutan Bangunan
(284.395) (568.789) (568.789) (568.789) (568.789) (568.789)
Kantor Utama
Pem dan Perbaikan
(6.556) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175)
Inventaris Kantor
Pem dan Perbaikan
(6.678) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936)
Mesin Pabrik
Pem dan Perbaikan
- (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922)
Lainnya - Penyusutan
Amortisasi Aset Hak
(52.625) (105.250) - - - -
Guna
Pendapatan Lainnya
Pendapatan Bunga 250.480 660.000 660.000 660.000 660.000 660.000
Pendapatan Lainnya 120 - - - - -
Beban Lainnya
Beban Bunga Bank (285) - - - - -
Beban Lainnya (0,16) - - - - -
Perputaran
Perputaran Piutang
8 8 8 8 8 8
Usaha Pihak Ketiga
Perputaran Persediaan 31 31 31 31 31 31
Perputaran Utang Usaha
14 14 14 14 14 14
Pihak Ketiga
Perputaran Utang Lain-
3 3 3 3 3 3
Lain
Perputaran Beban Yang
2 2 2 2 2 2
Masih Harus Dibayar
Tax 22% 22% 22% 22% 22% 22%
Sumber: Manajemen OPMS
8.4. Proyeksi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
8.4.1. Proyeksi Posisi Keuangan Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan OPMS adalah sebagai berikut:
Figur 58. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Tanpa Penambahan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Aset 74.943.241 71.097.457 67.190.295 63.227.594 59.207.966 55.129.988
Liabilitas 669.741 785.702 789.306 793.000 796.787 800.668
Ekuitas 74.273.500 70.311.755 66.400.988 62.434.593 58.411.179 54.329.320
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
Business Valuation Unit
83 Jakarta
Page 100
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.4.2. Proyeksi Laba – Rugi Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi Laba - Rugi OPMS adalah sebagai berikut:
Figur 59. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Pendapatan
412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Usaha
Harga
Pokok (266.222) (2.700.000) (2.767.500) (2.836.688) (2.907.605) (2.980.295)
Penjualan
Laba Kotor 146.478 300.000 307.500 315.188 323.067 331.144
Laba Usaha (2.184.414) (4.806.959) (4.763.480) (4.826.796) (4.891.695) (4.958.216)
Laba Bersih (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395) (4.023.414) (4.081.859)
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
8.4.3. Proyeksi Arus Kas Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 60. Proyeksi Arus Kas OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas
(96.454) (963.504) (899.673) (955.416) (975.053) (1.014.869)
Operasi
Arus Kas Aktivitas
(1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Investasi
Arus Kas Aktivitas
- - - - - -
Pendanaan
Kas dan Setara Awal
13.031.979 11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880
Tahun
Kas dan Setara Akhir
11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880 5.977.011
Tahun
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
Business Valuation Unit
84 Jakarta
Page 101
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.5. Proyeksi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
8.5.1. Proyeksi Posisi Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Berikut ini disajikan proyeksi posisi keuangan OPMS adalah sebagai berikut:
Figur 61. Proyeksi Posisi Keuangan OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Aset 75.148.082 70.938.449 66.838.871 63.089.052 59.687.535 56.632.829
Liabilitas 883.664 1.532.120 1.834.292 2.136.553 2.438.906 2.741.355
Ekuitas 74.264.419 69.406.329 65.004.580 60.952.499 57.248.629 53.891.474
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
8.5.2. Proyeksi Laba Rugi Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 62. Proyeksi Laba – Rugi OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Pendapatan
2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
Usaha
Harga
Pokok (2.286.022) (16.680.033) (22.339.546) (28.000.746) (33.663.677) (39.328.380)
Penjualan
Laba Kotor 426.679 1.319.967 1.735.454 2.151.129 2.566.995 2.983.059
Laba Usaha (2.507.429) (6.838.057) (6.797.203) (6.863.209) (6.930.866) (7.000.214)
Laba Bersih (1.830.436) (4.858.090) (4.401.749) (4.052.081) (3.703.870) (3.357.155)
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
8.5.3. Proyeksi Arus Kas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Figur 63. Proyeksi Arus Kas OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas
(390.811) (2.469.354) (1.748.567) (1.399.014) (1.013.422) (648.077)
Operasi
Arus Kas Aktivitas
(1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Investasi
Arus Kas Aktivitas
- - - - - -
Pendanaan
Kas dan Setara
13.031.979 11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812
Awal Tahun
Kas dan Setara
11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812 3.212.735
Akhir Tahun
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
Business Valuation Unit
85 Jakarta
Page 102
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.6. Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan atau financial ratio merupakan suatu alat analisis yang digunakan
oleh Perseroan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-
masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti laporan posisi keuangan, laba rugi, dan
arus kas dalam periode tertentu.
Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Rasio Proyeksi keuangan OPMS dengan penambahan kegiatan usaha selama proyeksi dapat
dilihat pada figur berikut:
Figur 64. Proyeksi Rasio Keuangan Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Rasio Likuiditas
Current Ratio 5389,55% 1954,86% 1431,28% 1119,77% 908,74% 776,90%
Quick Ratio 5274,67% 1807,42% 1278,08% 962,91% 749,34% 615,65%
Cash Ratio 2834,23% 843,22% 518,59% 333,47% 209,85% 142,07%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha
8 8 8 8 8 8
– Pihak Ketiga
Perputaran Persediaan 37 34 34 34 34 34
Perputaran Utang Usaha –
14 14 14 14 14 14
Pihak Ketiga
Perputaran Utang Lain-
3 3 3 3 3 3
Lain Pihak Ketiga
Perputaran Beban Yang
2 2 2 2 2 2
Masih Harus Dibayar
Rasio Solvabilitas
Debt to Asset 1,18% 2,16% 2,74% 3,39% 4,09% 4,84%
Debt to Equity 1,19% 2,21% 2,82% 3,51% 4,26% 5,09%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin 15,73% 7,33% 7,21% 7,13% 7,09% 7,05%
Operating Margin -76,70% -30,66% -21,02% -15,63% -12,04% -9,49%
Net Profit Margin -67,48% -26,99% -18,28% -13,44% -10,22% -7,93%
ROA -2,44% -6,85% -6,59% -6,42% -6,21% -5,93%
ROE -2,46% -7,00% -6,77% -6,65% -6,47% -6,23%
Sumber: Manajemen OPMS (diolah)
Selama periode proyeksi, indikator likuiditas menunjukkan penurunan bertahap. Current
Ratio menunjukkan kemampuan Perseroan memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset
lancar. Current Ratio pada Juli - Desember 2025 tercatat sebesar 5389,55% namun terus
menurun hingga 776,90% di Desember 2030. Penurunan ini menandakan efisiensi dalam
penggunaan aset lancar. Quick Ratio pada Juli - Desember 2025 tercatat sebesar 5274,67%
dan menurun menjadi 615,65% di Desember 2030. Hal ini menunjukkan likuiditas tetap
sangat kuat tanpa mengandalkan persediaan. Cash Ratio pada Juli - Desember 2025 lebih
rendah dibanding dua rasio sebelumnya yaitu sebesar 2834,23% turun ke 142,07% di
Desember 2030. Likuiditas Perseroan sangat berlebih di awal periode, menunjukkan aset
lancar yang sangat besar dibanding kewajiban. Namun tren menurun dari tahun ke tahun
mengindikasikan bahwa Perseroan lebih efisien menggunakan kas dan aset lancarnya.
Business Valuation Unit
86 Jakarta
Page 103
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Rasio perputaran piutang usaha - pihak ketiga turun dari 17 kali pada juli – desember 2025
menjadi stabil di 8 kali mulai 2026 hingga 2030. Perputaran persediaan pada Juli-Desember
2025 tercatat 74 kali dan turun menjadi 34 kali mulai 2026 hingga 2030. Perputaran utang
usaha - pihak ketiga stabil di angka 14 kali mulai tahun 2026-2030. perputaran utang lain-
lain pihak ketiga stabil di angka 3 kali mulai tahun 2026-2030. Perputaran beban yang masih
harus dibayar stabil di angka 2 kali mulai tahun 2026-2030. Rasio aktivitas Perseroan
menunjukkan pola yang stabil setelah 2026. Piutang, persediaan, dan utang usaha berputar
cukup sehat, dengan kecepatan perputaran persediaan sangat baik.
Debt to Asset menunjukkan peningkatan dari 1,18% di Juli-Desember 2025 menjadi 4,84%
di Desember 2030. Debt to Equity juga menunjukkan peningkatan dari 1,19% di Juli-
Desember 2025 menjadi 5,09% di Desember 2030. Struktur modal Perseroan sangat
konservatif, dengan porsi utang yang sangat kecil dibanding aset maupun ekuitas. Meskipun
ada tren kenaikan, leverage tetap rendah, sehingga risiko keuangan minimal dan Perseroan
masih memiliki ruang besar untuk pendanaan melalui utang di masa depan.
Gross margin mengalami penurunan dari 15,73% pada Juli – Desember 2025 menjadi 7,05%
di Desember 2025. Operating Margin setiap tahun proyeksi tercatat negatif dari -76,70% di
Juli-Desember 2025 menjadi -9,49% di Desember 2030. Net Profit Margin juga tercatat
negatif, dari -67,48% di Juli-Desember 2025 menjadi -7,93% di Desember 2030. ROA dan
ROE juga tercatat negatif sepanjang periode proyeksi, menandakan Perseroan belum
menghasilkan laba bersih. Profitabilitas masih menjadi tantangan utama. Meski gross margin
cukup positif, tingginya biaya operasional menyebabkan margin operasi dan margin bersih
negatif. Tren perbaikan terlihat dari berkurangnya kerugian yaitu ROA dan ROE meningkat
meski tetap negatif, sehingga jika efisiensi biaya terus dilakukan, potensi menuju
profitabilitas di masa depan terbuka.
8.7. Biaya Operasional
Biaya operasional OPMS terdiri dari beban umum dan administrasi yang meliputi beban gaji
pegawai; upah buruh; thr/bonus; kesejahteraan karyawan/insentif; telepon/fax; listrik/air; alat
tulis kantor; barang cetakan dan fotocopy; beban pos, telegram dan telex; bbm, tol dan parkir;
beban kendaraan lainnya; makan dan minum; keperluan rumah tangga kantor; perjalanan
dinas; asuransi; administrasi bank; perijinan/pengurusan dokumen; keamanan dan
kebersihan; jasa professional fee (Pph Pasal 21); Representasi dan jamuan; pajak; biaya jasa
service/supervisi/instalasi (Pph Pasal 23); penyusutan kendaraan; penyusutan inventaris
kantor; penyusutan bangunan kantor utama; pemeliharaan dan perbaikan inventaris kantor;
pemeliharaan dan perbaikan mesin pabrik; pemeliharaan dan perbaikan lainnya –
penyusutan; dan beban amortisasi aset hak guna. Biaya operasional dengan penambahan
kegiatan usaha tercatat sebesar Rp2.507.429 ribu – Rp7.000.214 ribu selama tahun proyeksi.
8.8. Beban Pokok Penjualan
Beban pokok penjualan dengan penambahan kegiatan usaha tercatat sebesar Rp2.286.022
ribu – Rp39.328.380 ribu selama tahun proyeksi.
Business Valuation Unit
87 Jakarta
Page 104
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.9. Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)
Titik impas atau break even point (BEP) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh
laba dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah
pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat
digunakan untuk menutup biaya tetap saja. BEP dalam Rupiah dapat diformulasikan sebagai
berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
BEP = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
(1−( )
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
Berdasarkan persamaan BEP dalam Rupiah, diperoleh BEP dalam Rupiah untuk masing-
masing periode selama masa proyeksi. Nilai BEP dalam rupiah mencerminkan pendapatan
minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. Perhitungan BEP untuk Rupiah pada proyeksi
Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebagai berikut:
Figur 65. Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Analisis BEP Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Dengan 2025
Rencana
Penambahan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Kegiatan
Usaha
Penjualan 2.300.000 15.000.000 21.000.000 27.000.000 33.000.000 39.000.000
Beban Pokok
2.019.799 13.980.033 19.572.046 25.164.059 30.756.072 36.348.085
Penjualan
Laba Kotor 280.201 1.019.967 1.427.954 1.835.941 2.243.928 2.651.915
Gross Profit
12,2% 6,8% 6,8% 6,8% 6,8% 6,8%
Margin
Beban Umum
& 323.015 2.031.098 2.033.723 2.036.413 2.039.171 2.041.998
Administrasi
BEP
2.651.441 29.870.053 29.908.653 29.948.217 29.988.771 30.030.339
Penjualan
8.10. Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)
Analisis profitabilitas adalah analisis untuk mengetahui kemampuan Perseroan dalam
usahanya mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan. Jenis-jenis
rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang
diperoleh dari kinerja suatu Perseroan. Sebagai gambaran bagaimana Perseroan dalam
usahanya mendapatkan laba terdapat pada tabel berikut ini.
Figur 66. Analisis Profitabilitas Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
Jul-Des
Analisis Profitabilitas Dengan Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
2025
Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Gross Margin 15,73% 7,33% 7,21% 7,13% 7,09% 7,05%
Operating Margin -76,70% -30,66% -21,02% -15,63% -12,04% -9,49%
Net Profit Margin -67,48% -26,99% -18,28% -13,44% -10,22% -7,93%
Business Valuation Unit
88 Jakarta
Page 105
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Jul-Des
Analisis Profitabilitas Dengan Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
2025
Penambahan Kegiatan Usaha
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
ROA -2,44% -6,85% -6,59% -6,42% -6,21% -5,93%
ROE -2,46% -7,00% -6,77% -6,65% -6,47% -6,23%
8.11. Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)
Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Dalam konteks studi kelayakan, ROI
digunakan untuk mengukur sejauh mana investasi yang dilakukan memberikan
pengembalian secara finansial.
Perhitungan ROI dilakukan dengan membandingkan laba bersih atau Net Present Value
(NPV) terhadap total investasi awal yang telah dikeluarkan. Dengan demikian, ROI menjadi
indikator penting untuk menilai efektivitas dan efisiensi penggunaan dana investasi.
Secara teknis, ROI adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar laba bersih yang diperoleh
dibandingkan dengan total investasi. Persamaan yang digunakan untuk menghitung ROI
adalah sebagai berikut:
𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒
ROI = 𝑥100%
𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑚𝑒𝑛𝑡
Rata-rata Return on Investment (ROI) atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
Juli 2025 – Jun 2030 adalah sebesar 1434%.
8.12. Penentuan Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas
risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham, dengan
formula sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) + α
Dimana :
Rf = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
ß = risiko sistematis
Rm = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp = selisih antara Rm dengan Rf
α = risiko spesifik
Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia, instrumen bebas risiko
yang dapat dipilih adalah tingkat bunga obligasi Pemerintah untuk jangka panjang.
Business Valuation Unit
89 Jakarta
Page 106
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Terkait dengan tanggal penilaian yang jatuh pada tanggal 30 Juni 2025, maka instrumen
bebas risiko yang dipilih didasarkan pada obligasi Pemerintah dengan bunga tetap yang
dikeluarkan oleh Pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor
30 tahun, yield tertimbang sebesar 7,03% yang bersumber dari IPBA per 30 Juni 2025, dan
angka tersebut akan digunakan sebagai tingkat kembalian bebas risiko (Rf).
Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko
dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk
premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk premiums)
seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk premium. Dengan
mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi perubahan-
perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara berkembang (emerging
market).
Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan menggunakan rujukan dari hasil Penelitian
Damodaran per Juli 2025 dengan risk premium untuk pasar negara berkembang seperti
Indonesia adalah sekitar 7,03%. Dengan Rating Based Default Spread sebesar 1,87%.
α (Alpha), Faktor alpha merupakan risiko spesifik perusahaan yang mungkin mencerminkan
jenis properti, perusahaan dan premi risiko lainnya. Pada penilaian ini, faktor Alpha atau
risiko spesifik OPMS adalah 0 (“Nol”) karena tidak terdapat risiko spesifik terkait
operasional dan keuangan OPMS.
ß (Beta). Beta merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P 500
atau IHSG). Untuk OPMS kami menggunakan Beta dari industri sejenis.
Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta untuk
menghitung cost of equity, dimana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered beta. Cara
ini dilakukan untuk menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing perusahaan
terhadap beta. Perusahaan yang sama dengan leverage yang berbeda akan memiliki cost of
equity yang berbeda pula, oleh karena itu pengaruh leverage yang ada di tiap perusahaan
perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.
Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut:
βL
βu =
1 + (1-T) x DER
Dimana:
T = Tarif Pajak Penghasilan Badan
DER = Debt to equity ratio
βL = Beta levered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
portofolio pasar dengan pengaruh hutang
βu = Beta unlevered, yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
Business Valuation Unit
90 Jakarta
Page 107
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
portofolio pasar tanpa pengaruh hutang
Unlevered beta perusahaan pembanding yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan beta
untuk OPMS adalah sebesar 0,36. Unlevered beta tersebut diperoleh dari Penelitian
Damodaran per 05 Juli 2025 dengan kategori Food Wholesalers.
Unlevered beta perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini kemudian di-
relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar yaitu sebesar 79,14% yang besumber
dari DER. Untuk memperoleh beta yang sesuai maka mendiskonto AKB tersebut dengan
formula sebagai berikut:
βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
βL = 0,36 x (1 + (1-22,00%) x 79,14%)
βL = 0,58
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya modal ekuitas OPMS adalah sebagai berikut:
Figur 67. Biaya Modal Ekuitas
Keterangan Nilai
Risk Free Rate (Rf) 7,03%
Risk Premium Market (Rpm) 7,03%
β (Beta) 0,58
Rating Based Default Spread (RBDS) 1,87%
α (Alpha) 0
Biaya Modal untuk Ekuitas 9,21%
Sumber: Penelitian Damodaran (Diolah GEAR)
8.12.1. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC-Weighted Average Cost of Capital)
Sesuai dengan AKB yang digunakan, yaitu arus kas bersih untuk perusahaan (free cash flow
to firm), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan
rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari kreditor (pinjaman) maupun yang
berasal dari (investor) penyertaan.
Dalam penilaian ini, untuk biaya bunga utang digunakan tingkat bunga pinjaman rata-rata
dalam mata uang Rupiah berdasarkan suku bunga pinjaman investasi dari Bank Perseroan
berdasarkan data yang dipublikasikan Bank Indonesia per Juni 2025, sebesar 8,96%.
Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya utang bersih setelah pajak dengan
perhitungan sebagai berikut:
Wd = i x ((1-T))
Wd = 8,96% x (1-22%) = 6,99%
Business Valuation Unit
91 Jakarta
Page 108
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Berikut adalah perhitungan WACC OPMS per 30 Juni 2025:
Figur 68. WACC
Jenis Modal Biaya Modal Komposisi Tertimbang
Biaya Hutang 6,99% 44,18% 3,09%
Biaya Ekuitas 9,21% 55,82% 5,14%
Biaya Modal Rata- Rata Tertimbang 8,23%
Berdasarkan figur diatas, maka tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian sebesar
8,23% yang menurut pendapat kami merupakan tingkat diskonto yang wajar.
8.13. Analisis Inkremental
Proses kajian kelayakan usaha dilakukan dengan menggunakan model arus kas bersih untuk
perusahaan (Free Cash Flow to Firm/FCFF). yang mencerminkan arus kas bersih masa
datang yang tersedia didalam perusahaan yang dapat dibayarkan kepada semua penyedia
kapital (claim holder), baik pemegang ekuitas (common stock), pemegang saham preferen
(preferred stock) maupun para kreditor baik pokok maupun bunga atas pinjaman yang
diterima oleh perusahaan, setelah terpenuhinya semua kebutuhan operasional dan investasi
yang diperlukan dalam mempertahankan pertumbuhan perusahaan baik selama proyeksi
periode eksplisit maupun masa kekal (periode implisit). Arus kas bersih untuk perusahaan
(FCFF) tersebut didapat dari:
FCFF = CFO + I . (1-T) – ΔCAPEX
Dimana:
FCFF : Arus Kas Bersih untuk Perusahaan
CFO : Arus Kas Operasi
I : Beban Utang Berbunga (Interest Bearing Debt)
T : Tingkat Pajak
ΔCAPEX : Perubahan arus kas investasi
Arus kas inkremental merupakan selisih antara arus kas bersih eksisting tanpa penambahan
kegiatan usaha dengan arus kas bersih adanya penambahan kegiatan usaha. Hasil dari
perhitungan arus kas inkremental ini dijadikan sebagai dasar dalam menentukan kelayakan
usaha.
Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih OPMS tanpa penambahan kegiatan usaha
selama periode Juli 2025 sampai dengan Desember 2030:
Business Valuation Unit
92 Jakarta
Page 109
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Figur 69. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Tanpa Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas
(96.454) (963.504) (899.673) (955.416) (975.053) (1.014.869)
Operasi
Arus Kas Aktivitas
(1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Investasi
Arus Kas Aktivitas
- - - - - -
Pendanaan
Kas dan Setara
13.031.979 11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880
Awal Tahun
Kas dan Setara
11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880 5.977.011
Akhir Tahun
Berikut ini disajikan proyeksi arus kas bersih OPMS dengan penambahan kegiatan usaha
selama periode Juli 2025 sampai dengan Desember 2030:
Figur 70. Proyeksi Arus Kas Bersih OPMS Dengan Penambahan Kegiatan Usaha
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas
(390.811) (2.469.354) (1.748.567) (1.399.014) (1.013.422) (648.077)
Operasi
Arus Kas Aktivitas
(1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Investasi
Arus Kas Aktivitas
- - - - - -
Pendanaan
Kas dan Setara
13.031.979 11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812
Awal Tahun
Kas dan Setara
11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812 3.212.735
Akhir Tahun
Figur 71. Proyeksi Arus Kas Bersih Inkremental OPMS selama Periode Juli 2025 sampai
dengan 2030
(Ribuan Rupiah)
Jul-Des
Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Keterangan 2025
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Arus Kas Aktivitas
1.491.921 1.615.097 2.166.802 2.572.098 3.014.828 3.438.738
Operasi
Arus Kas Aktivitas
(1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Investasi
Arus Kas Aktivitas
- - - - - -
Pendanaan
Kas dan Setara Awal
13.031.979 13.323.900 14.838.996 16.905.798 19.377.896 21.992.724
Tahun
Kas dan Setara Akhir
13.323.900 14.838.996 16.905.798 19.377.896 21.992.724 25.181.462
Tahun
Analisis kelayakan atas penambahan kegiatan usaha OPMS didasarkan pada analisis
inkremental dari dua skenario proyeksi keuangan yaitu proyeksi keuangan tanpa penambahan
kegiatan usaha dan proyeksi keuangan dengan penambahan kegiatan usaha.
Business Valuation Unit
93 Jakarta
Page 110
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
8.14. Analisis Kelayakan Usaha
Parameter kelayakan finansial yang digunakan meliputi NPV (Net Present Value), IRR
(Internal Rate of Return), PI (Profitability Index), dan Payback Period.
• Net Present Value (NPV)
NPV adalah selisih antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk dengan nilai sekarang
dari arus kas yang keluar pada periode waktu tertentu. NPV mengestimasikan nilai
sekarang pada suatu proyek, aset ataupun investasi berdasarkan arus kas masuk maupun
arus kas keluar yang diharapkan pada masa depan yang disesuaikan dengan tingkat
diskonto yang relevan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa NPV adalah nilai
sekarang dari suatu aset maupun proyek. Persamaan dari NPV adalah sebagai berikut:
𝑇
CFt
NPV = ∑ (1+𝑟)𝑡
− 𝐶𝐹 0
𝑡−1
Dimana:
NPV = Net Present Value
CFt = Arus Kas Pada Peiode t1
CF0 = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
r = Tingkat Diskonto
Berikut ini disajikan perhitungan Net Present Value dari arus kas bersih incremental
OPMS dengan adanya penambahan kegiatan usaha:
Figur 72. NPV Free Cash Flow to Incremental (Ribuan Rupiah)
Jul-Des Des Des Des Des Des
2025 2026 2027 2028 2029 2030
FCFF
Net Income (9.082) (896.344) (490.982) (85.686) 319.544 724.704
Interest x (1-
- - - - - -
tax)
Depreciation
& 1.560.473 3.120.947 3.015.696 3.015.696 3.053.196 3.071.946
Amortization
CAPEX (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Net change in
working (59.471) (609.506) (357.912) (357.912) (357.912) (357.912)
capital
FCFF 291.921 1.515.097 2.066.802 2.472.098 2.614.828 3.188.738
Terminal
57.050.014
Value
Discount
0,96 0,89 0,82 0,76 0,70 0,65
Factor
Initial
3.000.000
Investment
PV FCFF 280.603 1.345.626 1.696.050 1.874.396 1.831.870 38.992.722
NPV 43.021.267
Berdasarkan tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa NPV OPMS dengan adanya
penambahan kegiatan usaha diperoleh sebesar Rp43.021.267 ribu. Hasil tersebut
Business Valuation Unit
94 Jakarta
Page 111
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
menyimpulkan bahwa investasi penambahan usaha dengan parameter NPV layak untuk
dilakukan karena NPV yang dihasilkan adalah positif. NPV yang positif (NPV > 0)
menunjukan bahwa penerimaan lebih besar dibandingkan dengan nilai yang
diinvestasikan, sedangkan NPV yang negatif (NPV < 0) menandakan penerimaan lebih
kecil dibandingkan dengan pengeluaran atau akan mengalami kerugian pada investasinya
setelah mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money). Namun apabila hasil
perhitungan NPV adalah nol (NPV = 0), maka artinya investasi atau pembelian tersebut
hanya balik modal (tidak untung dan tidak rugi). Semakin besar angka positifnya,
semakin besar pula penerimaan yang bisa didapatkannya. Oleh karena itu, perhitungan
NPV ini tidak saja digunakan untuk mengevaluasi layak atau tidaknya untuk
berinvestasi, namun juga digunakan untuk membandingkan investasi mana yang lebih
baik jika terdapat dua pilihan investasi atau lebih.
• Internal Rate of Return (IRR)
IRR menjadi salah satu acuan penghitungan efisiensi dari sebuah investasi. Secara
sederhana, penghitungan IRR dapat menjadi dasar apakah sebuah investasi layak
dilakukan atau tidak. IRR yang lebih besar dari tingkat diskonto maka menggambarkan
bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return lebih besar dari yang
dirancang sebelumnya. Artinya, Perseroan disarankan menerima atau menjalankan
proyek investasi tersebut. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka
akan memberi gambaran bahwa investasi yang dilakukan akan menghasilkan return
lebih kecil dari yang ditargetkan sehingga Perseroan lebih baik menolak proyek tersebut.
Sedangkan untuk IRR yang nilainya sama dengan tingkat diskonto menjadi
pertimbangan bahwa investasi yang dilakukan diperkirakan menghasilkan return sebesar
yang ditargetkan. Persamaan dari IRR adalah sebagai berikut:
𝑇
CFt
NPV = ∑ − 𝐶𝐹 0
𝑡−1 (1+𝐼𝑅𝑅)𝑡
Dimana:
IRR = Internal Rate of Return
CFt = Arus Kas Pada Peiode t1
CF0 = Arus Kas Investasi Awal Pada Periode 0
r = Tingkat Diskonto
IRR adalah tingkat diskonto yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Kesimpulannya
bila penghitungan IRR lebih besar daripada tingkat diskonto, maka dapat dibilang bahwa
investasi yang akan dilakukan dinilai layak. Namun, jika nilai IRR sama dengan tingkat
diskonto, maka investasi yang akan dilakukan dinilai balik modal. Sementara bila IRR
lebih kecil dari tingkat diskonto, maka investasi yang dilakukan dinilai tidak layak.
Berdasarkan perhitungan atas kajian kelayakan penambahan kegiatan usaha OPMS
diperoleh besaran IRR sebesar 69%. Hal ini menunjukkan bahwa investasi yang
dilakukan oleh OPMS dengan parameter IRR layak untuk dilakukan karena IRR yang
dihasilkan lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat diskonto untuk industri sejenis
yaitu sebesar 8,23%.
Business Valuation Unit
95 Jakarta
Page 112
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
• Profitability Index (PI)
PI adalah teknik penganggaran modal untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi
untuk kelangsungan hidup atau profitabilitas mereka. Teknik arus kas diskonto yang
digunakan dalam mencapai indeks profitabilitas. PI juga dikenal sebagai rasio manfaat-
biaya. PI lebih besar dari atau sama dengan 1 ditafsirkan sebagai kriteria baik dan dapat
diterima. PI dihitung dengan mencari nilai present value perkiraan arus kas yang akan
diterima dari investasi, setelah itu baru dibandingkan dengan jumlah nilai investasi
proyek tersebut. Persamaan untuk menghitung PI adalah sebagai berikut:
Σ𝑃𝑉(𝐶𝐹𝑡)
PI =
Σ𝑃𝑉(𝐶𝐹0)
Dimana:
IRR = Profitability Index
CFt = Present Value of Future Cash Flow
CF0 = Initial Invesment
Profitablility Index menunjukkan angka 15,34 artinya bahwa OPMS ketika menambah
kegiatan usaha dianggap wajar dikarenakan Profitability Index diatas 1.
• Payback Period (PP)
Payback period adalah periode yang dibutuhkan untuk menutup kembali pengeluaran
investasi atau initial cash investment. Artinya, kurun waktu yang dibutuhkan agar bisa
menutup kembali pengeluaran saat investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran
kas netto (net cash flows). Penambahan kegiatan usaha OPMS diperoleh payback period
selama 2 tahun 10 bulan.
8.15. Analisis Sensitivitas
Penyusunan pendapat studi kelayakan ini telah dilakukan analisis sensitivitas yang bertujuan
untuk melihat faktor-faktor mana yang paling berpengaruh terhadap parameter kelayakan
penambahan kegiatan usaha OPMS. Hal tersebut dilakukan simulasi terhadap investasi,
Setelah itu, dilakukan simulasi untuk melihat pengaruh parameter kelayakan terhadap faktor
utama yang digunakan dalam analisis sensitivitas:
Figur 73. Analisis Sensitivitas
Keterangan NPV IRR Hasil
0% 43.021.267 69% Layak
-20% 43.621.267 78% Layak
-15% 43.471.267 76% Layak
-10% 43.321.267 73% Layak
-5% 43.171.267 71% Layak
0% 43.021.267 69% Layak
5% 42.871.267 68% Layak
10% 42.721.267 66% Layak
15% 42.571.267 64% Layak
Business Valuation Unit
96 Jakarta
Page 113
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Keterangan NPV IRR Hasil
20% 42.421.267 63% Layak
8.16. Kesimpulan Analisis Kelayakan Keuangan
Total biaya investasi untuk Rencana Penambahan Kegiatan Usaha adalah sebesar
Rp3.000.000.000 (Tiga Miliar Rupiah). Sumber Pembiayaan OPMS dalam melakukan
investasi penambahan kegiatan usaha bersumber dari kas OPMS.
Dengan adanya penambahan kegiatan usaha ini akan mengakibatkan perubahan terhadap
keuangan OPMS. Jangka waktu proyeksi keuangan sampai dengan tahun 2030 atau masa
waktu proyeksi eksplisit selama 5,5 tahun dengan pertimbangan bahwa manajemen OPMS
telah menyusun rencana bisnis selama 5,5 tahun kedepan dengan asumsi bahwa tahun
tersebut Perseroan dalam kondisi stable growth sehingga untuk mencerminkan going
concern bisnis OPMS diterapkan terminal value dengan menggunakan metode kapitalisasi
pendapatan/gordon model. Berkaitan dengan analisis ketercapaian proyeksi keuangan,
Penilai telah melakukan diskusi dengan manajemen OPMS bahwa proyeksi yang digunakan
telah wajar dan sudah dilakukan penyesuaian oleh Penilai.
Tingkat imbal balik investasi (Overall Return on Investment / ROI) adalah tingkat
keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu, yang
umumnya dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Rata-rata Return on Investment (ROI)
atas penambahan kegiatan usaha selama masa proyeksi Juli 2025 – Desember 2030 adalah
sebesar 1434%.
Kelayakan dari Penambahan kegiatan usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan kegiatan usaha yang dihitung dari selisih
antara Free Cash Flow to Firm apabila ada penambahan kegiatan usaha dengan Free Cash
Flow to Firm apabila OPMS tidak melakukan penambahan kegiatan usaha. Yang selanjutnya
dibandingkan dengan pengorbanan ekonomisnya. Sehingga diperoleh Free Cash Flow to
Incremental. Berdasarkan analisis kelayakan penambahan kegiatan usaha dengan
mempertimbangkan asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai
berikut:
• Net Present Value (NPV) : Rp43.021.267.000
• Internal Rate of Return (IRR) : 69%
• Profitability Index (PI) : 15,34
• Payback Period (PP) : 2 tahun 10 bulan
Total NPV diperoleh dari hasil present value arus kas yang sudah mempertimbangkan tingkat
risiko. Berdasarkan analisa kami, bahwa setelah adanya penambahan kegiatan usaha
dibidang perdagangan besar makanan dan minuman, maka proyeksi arus kas inkremental
bernilai positif.
IRR sebesar 69% menunjukkan bahwa dengan melakukan penambahan kegiatan usaha oleh
OPMS dianggap layak karena besaran IRR lebih besar dibandingkan tingkat diskonto
Business Valuation Unit
97 Jakarta
Page 114
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Analisis Sensitivitas bertujuan untuk menguji kepekaan suatu proyek terhadap berbagai
faktor yang dapat mempengaruhinya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
perubahan nilai investasi proyek penambahan kegiatan usaha OPMS menunjukkan tingkat
kelayakan finansial yang kuat dan tetap berada dalam kategori layak meskipun terjadi
fluktuasi biaya investasi hingga ±20%. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa
penambahan kegiatan usaha ini tahan terhadap risiko kenaikan biaya investasi, dengan
seluruh parameter keuangan yang menunjukkan hasil positif. Oleh karena itu, risiko finansial
akibat perubahan nilai investasi tergolong rendah, menjadikan proyek ini layak dan aman
untuk direalisasikan dari perspektif keuangan.
Dengan analisis kelayakan keuangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penambahan
Kegiatan Usaha pada aspek kelayakan keuangan adalah layak.
Business Valuation Unit
98 Jakarta
Page 115
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
9. KLASIFIKASI PENILAI USAHA
Kami adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang secara resmi telah ditetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 562/KM.1/2013 tanggal 14 Agustus 2013 dengan nama
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur, Eki, Andri dan Rekan dengan Izin KJPP
No. 2.13.0116 dan telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas Jasa
Keuangan (“OJK”) d/h Bapepam dan LK dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang
Pasar Modal dari Bapepam dan LK No. STTD.PB-51/PM.223/2021 dan 211/NB.122/STTD-
P/2020.
Penilai Usaha yang menandatangani laporan penilaian usaha ini merupakan Penilai Usaha
bersertifikat MAPPI dengan perijinan sebagai berikut :
Mappi No. : 14-S-05089
Ijin Penilai : No. B-1.18.00511
No. Reg. : RMK-2017.01120
STTD : PB-51/PM.223/2021
STTD IKNB : 211/NB.122/STTD-P/2020
Business Valuation Unit
99 Jakarta
Page 116
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
LAMPIRAN KEUANGAN
Business Valuation Unit
100 Jakarta
Page 117
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Historis
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran 1
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Posisi Keuangan
2020 2021 2022 2023 2024 2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas 62.044.520 35.725.350 16.348.277 7.363.282 9.549.418 13.031.979
Piutang Usaha - Pihak Ketiga - - - 406.258 - 4.650
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima 167.428 73.658 107.886 30.699 17.642 25.490
Persediaan 3.726.727 1.420.953 1.263.713 1.935.732 403.068 328.916
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 220.992 37.338 391.735 7.733.221 8.380.054 3.719.981
Uang jaminan 16.631.017 10.381.017 7.881.017 6.631.000 6.131.000 5.981.000
Pajak dibayar dimuka - 659.387 1.940.848 220.109 - -
Jumlah Aset Lancar 82.790.685 48.297.703 27.933.476 24.320.300 24.481.182 23.092.016
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain - 9.540.500 9.126.125 5.925.000 - -
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 11.895.086 9.599.269 268.622 - - -
Aset pajak tangguhan 99.610 510.349 838.319 2.409.587 936.510 915.028
Aset tetap - bersih 3.327.287 25.521.501 55.854.946 56.448.340 54.605.386 52.679.242
Aset hak guna - bersih 1.005.130 435.417 - 99.179 - 157.876
Aset Lain-lain - - 290.930 - - -
Jumlah Aset tidak lancar 16.327.113 45.607.036 66.378.942 64.882.106 55.541.895 53.752.145
JUMLAH ASET 99.117.797 93.904.739 94.312.419 89.202.406 80.023.077 76.844.161
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga 1.250 - - 817.638 - 4.133
Utang retensi - - 1.582.056 49.112 - -
Utang lain-lain - Pihak Ketiga 21.111 3.660 122.826 69.881 - 39.584
Beban masih harus dibayar 84.832 112.858 87.409 86.654 32.521 64.044
Liabilitas sewa 96.713 166.326 - 102.578 107.846 105.087
Utang Pajak 801.620 - 40.287 45.785 54.748 56.471
uang muka pelanggan 4.090.909 - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5.096.435 282.845 1.832.579 1.171.648 195.114 269.320
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 396.051 409.531 580.301 614.560 524.844 479.986
- - - - - -
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 396.051 409.531 580.301 614.560 524.844 479.986
JUMLAH LIABILITAS 5.492.486 692.376 2.412.880 1.786.208 719.959 749.306
EKUITAS
Modal Saham 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000
Tambahan modal disetor 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807
Saham Treasuri (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913)
Penghasilan komprehensif lain (35.381) (94.520) (546.485) (278.280) 51.527 137.129
Saldo Laba - - - - - -
Telah ditentukan penggunaannya 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000
Belum ditentukan penggunaannya 4.778.800 4.424.990 3.564.130 (1.187.415) (9.630.302) (12.924.168)
Jumlah Ekuitas 93.625.312 93.212.363 91.899.539 87.416.198 79.303.118 76.094.854
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 99.117.797 93.904.739 94.312.419 89.202.406 80.023.077 76.844.161
Business Valuation Unit
101 Jakarta
Page 118
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran 2
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Laba Rugi
2020 2021 2022 2023 2024 2025
PENDAPATAN 34.773.247 41.184.565 22.510.395 9.117.164 40.784.169 2.439.602
BEBAN POKOK PENDAPATAN (30.490.801) (37.461.493) (17.815.359) (10.729.121) (41.486.701) (3.431.256)
LABA BRUTO 4.282.447 3.723.072 4.695.036 (1.611.956) (702.532) (991.654)
BEBAN USAHA
Beban Penjualan (15.643) (75.037) (48.733) (120.104) (885.912) -
Beban umum dan administrasi (5.291.432) (6.343.568) (7.733.166) (5.906.931) (5.946.066) (2.687.433)
RUGI USAHA (1.024.628) (2.695.533) (3.086.864) (7.638.992) (7.534.510) (3.679.087)
Pendapatan keuangan 2.663.552 1.935.782 1.231.041 898.567 463.113 255.695
Pendapatan lain-lain (419.541) (13.854) 677.595 401.829 211.902 126.864
RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 1.219.383 (773.605) (1.178.228) (6.338.595) (6.859.495) (3.296.528)
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN (187.581) 419.796 317.368 1.587.050 (1.424.789) 2.662
-15% -54% -27% -25% 21% 0%
RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN 1.031.801 (353.810) (860.860) (4.751.545) (8.284.284) (3.293.866)
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak penghasilan terkait 42.234 33.168 (48.192) 71.737 219.492 109.746
Pajak penghasilan terkait (8.447) (9.056) 10.602 (15.782) (48.288) (24.144)
Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif
- (83.250) (414.375) 212.250 - -
JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 1.065.589 (412.949) (1.312.825) (4.483.340) (8.113.080) (3.208.264)
RUGI PER SAHAM DASAR - Dasar 1,21 (0,44) (1,07) (5,93) (10,33) (4,11)
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran 3
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Arus Kas
2020 2021 2022 2023 2024 2025
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 43.677.333 37.093.656 22.510.395 8.710.907 41.190.427 2.434.952
Pembayaran kas Kepada Pemasok (16.593.394) (34.589.751) (17.054.687) (15.327.096) (38.949.687) (2.256.840)
Pembayaran Kas kepada Karyawan (2.350.099) (2.687.631) (2.831.580) (2.609.127) (2.587.058) (1.130.403)
Pembayaran kas untuk beban usaha (2.699.973) (2.994.606) (5.733.731) (681.558) (2.040.214) (1.042.930)
Penerimaan (Pembayaran) untuk operasional lainnya 2.357.856 (1.025.064) 2.053.659 (1.359.062) (808.210) 4.880.819
- - - - - -
Kas Digunakan untuk operasi 24.391.723 (4.203.397) (1.055.945) (11.265.937) (3.194.742) 2.885.598
Penerimaan bunga - 1.935.782 1.231.041 975.754 476.171 247.847
Pembayaran bunga atas liabilitas sewa - - - (12.110) (4.223) (5.697)
Pembayaran Pajak Penghasilan (217.590) (2.009) - - - -
Jumlah Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi 24.174.133 (2.269.623) 175.097 (10.302.292) (2.722.794) 3.127.747
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penerimaan dari penjualan aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain - - - 3.413.375 5.929.179 -
Penerimaan atas uang jaminan 36.368.983 6.250.000 2.500.000 1.250.017 500.000 150.000
Penerimaan dari penjualan aset tetap - 36.364 - 110.000 189.583 315.315
Perolehan aset tetap (1.020.214) (20.612.161) (22.052.169) (3.361.405) (1.607.254) (5.088)
Penambahan Investasi - (9.623.750) - - - -
Pembayaran uang muka Perolehan aset (11.888.886) - - - - -
Kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi 23.459.883 (23.949.548) (19.552.169) 1.411.987 5.011.508 460.228
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pembayaran pokok liabilitas sewa (1.042.714) (100.000) - (94.690) (102.578) (105.414)
Akuisisi Saham Treasuri (21.754.913) - - - - -
Kas bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan (22.797.628) (100.000) - (94.690) (102.578) (105.414)
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSSIH KAS DAN SETARA KAS 24.836.389 (26.319.171) (19.377.073) (8.984.995) 2.186.136 3.482.561
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 37.208.132 62.044.520 35.725.350 16.348.277 7.363.282 9.549.418
Dampak perubahan kurs mata uang asing terhadap kas dan banj - - - - - -
KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 62.044.520 35.725.350 16.348.277 7.363.282 9.549.418 13.031.979
Business Valuation Unit
102 Jakarta
Page 119
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Analisis Rasio
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran 4
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Rasio Keuangan
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Likuiditas
Current Ratio 1624,48% 17075,68% 1524,27% 2075,73% 12547,08% 8574,20%
Quick Ratio 1551,36% 16573,30% 1455,31% 1910,52% 12340,50% 8452,07%
Cash Ratio 1217,41% 12630,71% 892,09% 628,46% 4894,26% 4838,85%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga - - - 16 - 1
Perputaran Persediaan 45 14 26 66 4 35
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga 0 - - 28 - 0,44
Perputaran Utang Retensi - - 32 2 - -
Perputaran Utang Lain-Lain 0 0 3 2 - 4
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar 1 1 2 3 0,29 7
Rasio Solvabilitas
Debt to Asset Ratio 5,54% 0,74% 2,56% 2,00% 0,90% 0,98%
Debt to Equity Ratio 5,87% 0,74% 2,63% 2,04% 0,91% 0,98%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin 12,32% 9,04% 20,86% -17,68% -1,72% -40,65%
Operational Profit Margin -2,95% -6,55% -13,71% -83,79% -18,47% -150,81%
Net Profit Margin 2,97% -0,86% -3,82% -52,12% -20,31% -135,02%
ROA 1,04% -0,38% -0,91% -5,33% -10,35% -4,29%
ROE 1,10% -0,38% -0,94% -5,44% -10,45% -4,33%
Business Valuation Unit
103 Jakarta
Page 120
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Analisis Vertikal
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Vertikal
Lampiran 5
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Posisi Keuangan
2020 2021 2022 2023 2024 2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas 62,60% 38,04% 17,33% 8,25% 11,93% 16,96%
Piutang Usaha - Pihak Ketiga 0,00% 0,00% 0,00% 0,46% 0,00% 0,01%
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima 0,17% 0,08% 0,11% 0,03% 0,02% 0,03%
Persediaan 3,76% 1,51% 1,34% 2,17% 0,50% 0,43%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 0,22% 0,04% 0,42% 8,67% 10,47% 4,84%
Uang jaminan 16,78% 11,05% 8,36% 7,43% 7,66% 7,78%
Pajak dibayar dimuka 0,00% 0,70% 2,06% 0,25% 0,00% 0,00%
Jumlah Aset Lancar 83,53% 51,43% 29,62% 27,26% 30,59% 30,05%
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain 0,00% 10,16% 9,68% 6,64% 0,00% 0,00%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 12,00% 10,22% 0,28% 0,00% 0,00% 0,00%
Aset pajak tangguhan 0,10% 0,54% 0,89% 2,70% 1,17% 1,19%
Aset tetap - bersih 3,36% 27,18% 59,22% 63,28% 68,24% 68,55%
Aset hak guna - bersih 1,01% 0,46% 0,00% 0,11% 0,00% 0,21%
Aset Lain-lain 0,00% 0,00% 0,31% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah Aset tidak lancar 16,47% 48,57% 70,38% 72,74% 69,41% 69,95%
JUMLAH ASET 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga 0,00% 0,00% 0,00% 0,92% 0,00% 0,01%
Utang retensi 0,00% 0,00% 1,68% 0,06% 0,00% 0,00%
Utang lain-lain - Pihak Ketiga 0,02% 0,00% 0,13% 0,08% 0,00% 0,05%
Beban masih harus dibayar 0,09% 0,12% 0,09% 0,10% 0,04% 0,08%
Liabilitas sewa 0,10% 0,18% 0,00% 0,11% 0,13% 0,14%
Utang Pajak 0,81% 0,00% 0,04% 0,05% 0,07% 0,07%
uang muka pelanggan 4,13% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 5,14% 0,30% 1,94% 1,31% 0,24% 0,35%
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 0,40% 0,44% 0,62% 0,69% 0,66% 0,62%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 0,40% 0,44% 0,62% 0,69% 0,66% 0,62%
JUMLAH LIABILITAS 5,54% 0,74% 2,56% 2,00% 0,90% 0,98%
EKUITAS
Modal Saham 100,89% 106,49% 106,03% 112,10% 124,96% 130,13%
Tambahan modal disetor 10,43% 11,01% 10,96% 11,59% 12,92% 13,45%
Saham Treasuri -21,95% -23,17% -23,07% -24,39% -27,19% -28,31%
Penghasilan komprehensif lain -0,04% -0,10% -0,58% -0,31% 0,06% 0,18%
Saldo Laba
Telah ditentukan penggunaannya 0,30% 0,32% 0,32% 0,34% 0,37% 0,39%
Belum ditentukan penggunaannya 4,82% 4,71% 3,78% -1,33% -12,03% -16,82%
Jumlah Ekuitas 94,46% 99,26% 97,44% 98,00% 99,10% 99,02%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Business Valuation Unit
104 Jakarta
Page 121
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Vertikal
Lampiran 6
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Laba Rugi
2020 2021 2022 2023 2024 2025
PENDAPATAN 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
BEBAN POKOK PENDAPATAN -87,68% -90,96% -79,14% -117,68% -101,72% -140,65%
LABA BRUTO 12,32% 9,04% 20,86% -17,68% -1,72% -40,65%
BEBAN USAHA
Beban Penjualan -0,04% -0,18% -0,22% -1,32% -2,17% 0,00%
Beban umum dan administrasi -15,22% -15,40% -34,35% -64,79% -14,58% -110,16%
RUGI USAHA -2,95% -6,55% -13,71% -83,79% -18,47% -150,81%
Pendapatan keuangan 7,66% 4,70% 5,47% 9,86% 1,14% 10,48%
Pendapatan lain-lain -1,21% -0,03% 3,01% 4,41% 0,52% 5,20%
RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 3,51% -1,88% -5,23% -69,52% -16,82% -135,13%
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN -0,54% 1,02% 1,41% 17,41% -3,49% 0,11%
RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN 2,97% -0,86% -3,82% -52,12% -20,31% -135,02%
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak
0,12% 0,08% -0,21% 0,79% 0,54% 4,50%
penghasilan terkait
Pajak penghasilan terkait -0,02% -0,02% 0,05% -0,17% -0,12% -0,99%
Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar
0,00% -0,20% -1,84% 2,33% 0,00% 0,00%
melalui penghasilan komprehensif
JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 3,06% -1,00% -5,83% -49,17% -19,89% -131,51%
Business Valuation Unit
105 Jakarta
Page 122
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Analisis Horizontal
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Horizontal
Lampiran 7
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Posisi Keuangan
2020 2021 2022 2023 2024 2025
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas -42,42% -54,24% -54,96% 29,69% 36,47%
Piutang Usaha - Pihak Ketiga 0,00% 0,00% 0,00% -100,00% 0,00%
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima -56,01% 46,47% -71,54% -42,53% 44,49%
Persediaan -61,87% -11,07% 53,18% -79,18% -18,40%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka -83,10% 949,17% 1874,09% 8,36% -55,61%
Uang jaminan -37,58% -24,08% -15,86% -7,54% -2,45%
Pajak dibayar dimuka 0,00% 194,34% -88,66% -100,00% 0,00%
Jumlah Aset Lancar -41,66% -42,16% -12,93% 0,66% -5,67%
ASET TIDAK LANCAR
Aset keuangan pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain 0,00% -4,34% -35,08% -100,00% 0,00%
Uang muka dan biaya dibayar dimuka -19,30% -97,20% -100,00% 0,00% 0,00%
Aset pajak tangguhan 412,35% 64,26% 187,43% -61,13% -2,29%
Aset tetap - bersih 667,04% 118,85% 1,06% -3,26% -3,53%
Aset hak guna - bersih -56,68% -100,00% 0,00% -100,00% 0,00%
Aset Lain-lain 0,00% 0,00% -100,00% 0,00% 0,00%
Jumlah Aset tidak lancar 179,33% 45,55% -2,25% -14,40% -3,22%
JUMLAH ASET -5,26% 0,43% -5,42% -10,29% -3,97%
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga -100,00% 0,00% 0,00% -100,00% 0,00%
Utang retensi 0,00% 0,00% -96,90% -100,00% 0,00%
Utang lain-lain - Pihak Ketiga -82,66% 3255,67% -43,11% -100,00% 0,00%
Beban masih harus dibayar 33,04% -22,55% -0,86% -62,47% 96,93%
Liabilitas sewa 71,98% -100,00% 0,00% 5,14% -2,56%
Utang Pajak -100,00% 0,00% 13,65% 19,58% 3,15%
uang muka pelanggan -100,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek -94,45% 547,91% -36,07% -83,35% 38,03%
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 3,40% 41,70% 5,90% -14,60% -8,55%
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 3,40% 41,70% 5,90% -14,60% -8,55%
JUMLAH LIABILITAS -87,39% 248,49% -25,97% -59,69% 4,08%
EKUITAS
Modal Saham 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Tambahan modal disetor 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Saham Treasuri 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Penghasilan komprehensif lain 167,15% 478,17% -49,08% -118,52% 166,13%
Saldo Laba
Telah ditentukan penggunaannya 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Belum ditentukan penggunaannya -7,40% -19,45% -133,32% 711,03% 34,20%
Jumlah Ekuitas -0,44% -1,41% -4,88% -9,28% -4,05%
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS -5,26% 0,43% -5,42% -10,29% -3,97%
Business Valuation Unit
106 Jakarta
Page 123
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Analisis Horizontal
Lampiran 8
Des Des Des Des Des Jan-Jun
Laba Rugi
2020 2021 2022 2023 2024 2025
PENDAPATAN 18,44% -45,34% -59,50% 347,33% -94,02%
BEBAN POKOK PENDAPATAN 22,86% -52,44% -39,78% 286,67% -91,73%
LABA BRUTO -13,06% 26,11% -134,33% -56,42% 41,15%
BEBAN USAHA
Beban Penjualan 379,68% -35,05% 146,45% 637,62% -100,00%
Beban umum dan administrasi 19,88% 21,91% -23,62% 0,66% -54,80%
RUGI USAHA 163,07% 14,52% 147,47% -1,37% -51,17%
Pendapatan keuangan -27,32% -36,41% -27,01% -48,46% -44,79%
Pendapatan lain-lain -96,70% -4990,83% -40,70% -47,27% -40,13%
RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN -163,44% 52,30% 437,98% 8,22% -51,94%
MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN TANGGUHAN -323,79% -24,40% 400,07% -189,78% -100,19%
RUGI BERSIH TAHUN BERJALAN -134,29% 143,31% 451,95% 74,35% -60,24%
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Pengukuran kembali liabilitas diestimasi atas imbalan karyawan pajak
-21,47% -245,30% -248,86% 205,97% -50,00%
penghasilan terkait
Pajak penghasilan terkait 7,21% -217,07% -248,86% 205,97% -50,00%
Pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi:
Keuntungan yang bellum direalisasi dari aset keuangan pada nilai wajar
0,00% 397,75% -151,22% -100,00% 0,00%
melalui penghasilan komprehensif
JUMLAH RUGI KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN -138,75% 217,91% 241,50% 80,96% -60,46%
RUGI PER SAHAM DASAR - Dasar
Business Valuation Unit
107 Jakarta
Page 124
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Asumsi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jul-Des Des Des Des Des Des
Asumsi PLAT (BEFORE)
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Hari Per tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,7% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
BPP terhadap Pendapatan Plat 64,5% 90,0% 90,0% 90,0% 90,0% 90,0%
Tonase PLAT Kilogram 41.311 300.300 300.300 300.300 300.300 300.300
Harga Jual Rupiah 9.990 9.990 10.240 10.496 10.758 11.027
Pendapatan PLAT 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
BPP PLAT 266.222 2.700.000 2.767.500 2.836.688 2.907.605 2.980.295
Pendapatan Penjualan PLAT
Penjualan PLAT 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Beban Pokok Penjualan
Beban Pokok Penjualan (266.222) (2.700.000) (2.767.500) (2.836.688) (2.907.605) (2.980.295)
Biaya Umum & Administrasi
Bua Gaji Pegawai (853.810) (1.683.432) (1.725.518) (1.768.656) (1.812.872) (1.858.194)
Bua Upah Buruh (146.463) (300.605) (308.120) (315.823) (323.718) (331.811)
Bua Thr/Bonus - (141.420) (141.420) (141.420) (141.420) (141.420)
Bua Kesejahteraan Karyawan/Insentive Karyawan (14.711) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240)
Bua Telepon/Fax (19.420) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007)
Bua Listrik/Air (17.252) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499)
Bua Alat Tulis Kantor (558) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196)
Bua Barang Cetakan Dan Fotocopy (125) (300) (300) (300) (300) (300)
Bua Beban Pos, Telegram, Dan Telex (856) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054)
Bua Bbm, Tol, Dan Parkir (25.775) (48.780) (50.000) (51.249) (52.531) (53.844)
Bua Beban Kendaraan Lainnya (40.653) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775)
Bua Makan Dan Minum (20.735) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070)
Bua Keperluan Rumah Tangga Kantor (23.494) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206)
Bua Perjalanan Dinas (27.744) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841)
Bua Asuransi (85.066) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133)
Bua Administrasi Bank (6.077) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311)
Bua Perijinan/Pengurusan Dokumen (96.363) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830)
Bua Keamanan Dan Kebersihan (213.401) (438.050) (449.001) (460.226) (471.732) (483.525)
Bua Jasa Profesional Fee (Pph Pasal 21) (13.429) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229)
Bua Representasi Dan Jamuan (19.420) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642)
Bua Pajak (24.471) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729)
Bua Biaya Jasa Service/Supervisi/Instalasi (Pph Pasal 23)
(57.193) (424.990) (424.990) (424.990) (424.990) (424.990)
Bua Penyusutan Kendaraan (81.474) (162.948) (162.948) (162.948) (162.948) (162.948)
Bua Penyusutan Inventaris Kantor (45.701) (91.581) (91.581) (91.581) (91.581) (91.581)
Bua Penyusutan Bangunan Kantor Utama (284.365) (568.730) (568.730) (568.730) (568.730) (568.730)
Bua Pem Dan Perbaikan Inventaris Kantor (6.556) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175)
Bua Pem Dan Perbaikan Mesin Pabrik (6.678) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936)
Beban Amortisasi Aset Hak Guna (52.625) (105.250) - - - -
Pendapatan Lainnya
Pendapatan Bunga 250.480 545.213 545.213 545.213 545.213 545.213
Pendapatan Lainnya 299.033 - - - - -
Beban Lainnya
Beban Bunga Bank (285) - - - - -
Beban Lannya (332.646) - - - - -
Perputaran
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga Hari 8 8 8 8 8 8
Perputaran Persediaan Hari 31 31 31 31 31 31
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga Hari 14 14 14 14 14 14
Perputaran Utang Lain-Lain Hari 3 3 3 3 3 3
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar Hari 2 2 2 2 2 2
Tax 22% 22% 22% 22% 22% 22%
Business Valuation Unit
108 Jakarta
Page 125
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Asumsi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jul-Des Des Des Des Des Des
Asumsi PLAT + FMCG (AFTER)
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Hari Per tahun 184 365 365 365 365 365
Inflasi 1,7% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
BPP PLAT (Before) 64,51% 90,00% 90,00% 90,00% 90,00% 90,00%
BPP FMCG (After) 87,82% 93,20% 93,20% 93,20% 93,20% 93,20%
37% 25% 19% 15%
Tonase PLAT Kilogram 41.311 300.300 300.300 300.300 300.300 300.300
Tonase FMCG Kilogram 230.230 1.501.502 2.050.831 2.572.471 3.067.446 3.536.744
Harga Jual Rupiah 9.990 9.990 10.240 10.496 10.758 11.027
Pendapatan PLAT 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Pendapatan FMCG 2.300.000 15.000.000 21.000.000 27.000.000 33.000.000 39.000.000
BPP PLAT 266.222 2.700.000 2.767.500 2.836.688 2.907.605 2.980.295
BPP FMCG 2.019.799 13.980.033 19.572.046 25.164.059 30.756.072 36.348.085
Pendapatan Penjualan PLAT + FMCG
Penjualan PLAT + FMCG 2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
Beban Pokok Penjualan
Beban Pokok Penjualan (2.286.022) (16.680.033) (22.339.546) (28.000.746) (33.663.677) (39.328.380)
Biaya Umum & Administrasi
Bua Gaji Pegawai (921.310) (1.750.932) (1.794.705) (1.839.573) (1.885.562) (1.932.701)
Bua Upah Buruh (146.463) (300.605) (308.120) (315.823) (323.718) (331.811)
Bua Thr/Bonus - (141.420) (141.420) (141.420) (141.420) (141.420)
Bua Kesejahteraan Karyawan/Insentive Karyawan (14.711) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240) (29.240)
Bua Telepon/Fax (19.420) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007) (36.007)
Bua Listrik/Air (17.252) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499) (36.499)
Bua Alat Tulis Kantor (558) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196) (1.196)
Bua Barang Cetakan Dan Fotocopy (125) (300) (300) (300) (300) (300)
Bua Beban Pos, Telegram, Dan Telex (856) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054) (2.054)
Bua Bbm, Tol, Dan Parkir (63.263) (86.268) (88.424,6) (90.635,2) (92.901,1) (95.223,6)
Bua Beban Kendaraan Lainnya (40.653) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775) (79.775)
Bua Makan Dan Minum (20.735) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070) (41.070)
Bua Keperluan Rumah Tangga Kantor (23.494) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206) (48.206)
Bua Perjalanan Dinas (27.744) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841) (58.841)
Bua Asuransi (85.066) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133) (170.133)
Bua Administrasi Bank (6.077) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311) (14.311)
Bua Perijinan/Pengurusan Dokumen (96.363) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830) (192.830)
Bua Keamanan Dan Kebersihan (213.401) (438.050) (449.001) (460.226) (471.732) (483.525)
Bua Jasa Profesional Fee (Pph Pasal 21) (13.429) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229) (16.229)
Bua Representasi Dan Jamuan (19.420) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642) (40.642)
Bua Pajak (24.471) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729) (58.729)
Bua Biaya Jasa Service/Supervisi/Instalasi (Pph Pasal 23) (275.043) (180.000) (180.000) (180.000) (180.000) (180.000)
Bua Penyusutan Kendaraan (81.503) (163.007) (163.007) (163.007) (163.007) (163.007)
Bua Penyusutan Inventaris Kantor (45.820) (91.640) (91.640) (91.640) (91.640) (91.640)
Bua Penyusutan Bangunan Kantor Utama (284.395) (568.789) (568.789) (568.789) (568.789) (568.789)
Bua Pem Dan Perbaikan Inventaris Kantor (6.556) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175) (8.175)
Bua Pem Dan Perbaikan Mesin Pabrik (6.678) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936) (6.936)
Bua Pem Dan Perbaikan Lainnya - Penyustan - (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922) (2.170.922)
Beban Amortisasi Aset Hak Guna (52.625) (105.250) - - - -
Pendapatan Lainnya
Pendapatan Bunga 250.480 660.000 660.000 660.000 660.000 660.000
Pendapatan Lainnya 120 - - - - -
Beban Lainnya
Beban Bunga Bank (285) - - - - -
Beban Lannya (0,16) - - - - -
Perputaran
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga Hari 8 8 8 8 8 8
Perputaran Persediaan Hari 31 31 31 31 31 31
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga Hari 14 14 14 14 14 14
Perputaran Utang Lain-Lain Hari 3 3 3 3 3 3
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar Hari 2 2 2 2 2 2
Tax 22% 22% 22% 22% 22% 22%
Business Valuation Unit
109 Jakarta
Page 126
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Kalkulasi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 1
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 2.619.782 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
Beban Pokok Pendapatan (2.334.826) (266.222) (2.700.000) (2.767.500) (2.836.688) (2.907.605) (2.980.295)
Piutang Usaha Pihak Ketiga 122.739 19.020 69.699 71.441 73.227 75.058 76.934
Persediaan 455.290 70.553 258.541 265.005 271.630 278.421 285.381
Utang Usaha - Pihak Ketiga 182.241 20.441 104.506 107.119 109.797 112.542 115.355
Utang Lain-Lain 39.148 4.391 22.449 23.011 23.586 24.176 24.780
Beban yang Masih Harus dibayar 29.997 3.365 17.202 17.632 18.073 18.525 18.988
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 2
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Beban Usaha
Beban Umum dan Administrasi (2.622.545) (2.184.414) (4.806.959) (4.763.480) (4.826.796) (4.891.695) (4.958.216)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain
Pendapatan Lainnya 713.092 549.513 545.213 545.213 545.213 545.213 545.213
Beban Lainnya (465.978) (332.932) - - - - -
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 3
Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pajak Penghasilan
Saldo Rugi (16.512.563) (20.267.805) (23.455.945) (26.188.484) (16.956.789) (20.980.203)
Laba Sebelum Pajak (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395) (4.023.414) (4.081.859)
Pajak Penghasilan - - - - - -
Kalkulasi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 1
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 2.619.782 2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
Beban Pokok Pendapatan (2.334.826) (2.286.022) (16.680.033) (22.339.546) (28.000.746) (33.663.677) (39.328.380)
Piutang Usaha Pihak Ketiga 122.739 125.020 418.191 559.331 700.514 841.742 983.016
Persediaan 455.290 463.752 1.551.247 2.074.793 2.598.500 3.122.373 3.646.416
Utang Usaha - Pihak Ketiga 182.241 175.523 645.617 864.674 1.083.797 1.302.986 1.522.244
Utang Lain-Lain 39.148 37.705 138.688 185.745 232.816 279.901 327.001
Beban yang Masih Harus dibayar 29.997 28.891 106.270 142.328 178.396 214.475 250.565
Business Valuation Unit
110 Jakarta
Page 127
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 2
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Beban Usaha
Beban Umum dan Administrasi (2.622.545) (2.507.429) (6.838.057) (6.797.203) (6.863.209) (6.930.866) (7.000.214)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain
Pendapatan Lainnya 713.092 250.600 660.000 660.000 660.000 660.000 660.000
Beban Lainnya (465.978) (286) - - - - -
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Lampiran Kalkulasi - 3
Jul-Des Des Des Des Des Des
Keterangan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pajak Penghasilan
Saldo Rugi (16.512.563) (20.276.887) (24.361.371) (27.584.892) (18.438.883) (22.142.754)
Laba Sebelum Pajak (1.830.436) (4.858.090) (4.401.749) (4.052.081) (3.703.870) (3.357.155)
Pajak Penghasilan - - - - - -
Proyeksi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba Rugi
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 2.619.782 412.701 3.000.000 3.075.000 3.151.875 3.230.672 3.311.439
BPP (2.334.826) (266.222) (2.700.000) (2.767.500) (2.836.688) (2.907.605) (2.980.295)
Laba Kotor 284.956 146.478 300.000 307.500 315.188 323.067 331.144
Beban Usaha
Beban Umum dan Administrasi (2.622.545) (2.184.414) (4.806.959) (4.763.480) (4.826.796) (4.891.695) (4.958.216)
Jumlah Beban Usaha (2.622.545) (2.184.414) (4.806.959) (4.763.480) (4.826.796) (4.891.695) (4.958.216)
Laba Usaha (2.337.589) (2.037.935) (4.506.959) (4.455.980) (4.511.608) (4.568.627) (4.627.072)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain
Pendapatan Lainnya 713.092 549.513 545.213 545.213 545.213 545.213 545.213
Beban Lainnya (465.978) (332.932) - - - - -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain 247.114 216.581 545.213 545.213 545.213 545.213 545.213
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan (2.090.474) (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395) (4.023.414) (4.081.859)
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - -
Tax effective rate 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan (2.090.474) (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395) (4.023.414) (4.081.859)
Business Valuation Unit
111 Jakarta
Page 128
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Neraca
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas 13.031.979 11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880 5.977.011
Piutang Usaha - Pihak Ketiga 4.650 19.020 69.699 71.441 73.227 75.058 76.934
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490
Persediaan 328.916 70.553 258.541 265.005 271.630 278.421 285.381
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981
Uang jaminan 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000
Jumlah Aset Lancar 23.092.016 21.551.570 20.726.732 19.735.266 18.688.261 17.321.829 16.065.797
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028
Aset tetap - bersih 52.679.242 51.171.394 48.155.698 45.140.001 42.124.305 39.371.109 36.449.163
Aset hak guna - bersih 157.876 1.305.250 1.300.000 1.400.000 1.500.000 1.600.000 1.700.000
Jumlah Aset tidak lancar 53.752.145 53.391.672 50.370.725 47.455.029 44.539.333 41.886.137 39.064.191
JUMLAH ASET 76.844.161 74.943.241 71.097.457 67.190.295 63.227.594 59.207.966 55.129.988
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga 4.133 20.441 104.506 107.119 109.797 112.542 115.355
Utang lain-lain - Pihak Ketiga 39.584 4.391 22.449 23.011 23.586 24.176 24.780
Beban masih harus dibayar 64.044 3.365 17.202 17.632 18.073 18.525 18.988
Liabilitas sewa 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087
Utang Pajak 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 269.320 189.755 305.716 309.320 313.014 316.800 320.681
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
JUMLAH LIABILITAS 749.306 669.741 785.702 789.306 793.000 796.787 800.668
EKUITAS
Modal Saham 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000
Tambahan modal disetor 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807
Saham Treasuri (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913)
Penghasilan komprehensif lain 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129
Saldo Laba
Telah ditentukan penggunaannya 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000
Belum ditentukan penggunaannya (12.924.168) (14.745.522) (18.707.268) (22.618.035) (26.584.430) (30.607.844) (34.689.703)
Jumlah Ekuitas 76.094.854 74.273.500 70.311.755 66.400.988 62.434.593 58.411.179 54.329.320
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 76.844.161 74.943.241 71.097.457 67.190.295 63.227.594 59.207.966 55.129.988
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT (1.821.354) (3.961.745) (3.910.767) (3.966.395) (4.023.414) (4.081.859)
Penyusutan (+) 1.560.473 3.120.947 3.015.696 3.015.696 3.053.196 3.071.946
Perubahan Modal Kerja:
Piutang Usaha - Pihak Ketiga (14.370) (50.678) (1.742) (1.786) (1.831) (1.876)
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima - - - - - -
Persediaan 258.362 (187.988) (6.464) (6.625) (6.791) (6.961)
Uang muka dan biaya dibayar dimuka - - - - - -
Uang jaminan - - - - - -
Aset pajak tangguhan - - - - - -
Utang Usaha - Pihak Ketiga 16.307 84.065 2.613 2.678,0 2.744,9 2.813,5
Utang lain-lain - Pihak Ketiga (35.193) 18.059 561 575,3 589,6 604,4
Beban masih harus dibayar (60.680) 13.837 430 440,8 451,8 463,1
Liabilitas sewa - - - - - -
Utang Pajak - - - - - -
Perubahan Modal Kerja 164.427 (122.705) (4.602) (4.717,1) (4.835,0) (4.955,9)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi (96.454) (963.504) (899.673) (955.416) (975.053) (1.014.869)
Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
Perolehan Aset Tetap (Baru) (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham - - - - - -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan - - - - - -
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS (1.296.454) (1.063.504) (999.673) (1.055.416) (1.375.053) (1.264.869)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 13.031.979 11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 11.735.525 10.672.021 9.672.349 8.616.933 7.241.880 5.977.011
Business Valuation Unit
112 Jakarta
Page 129
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Proyeksi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba Rugi
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 2.619.782 2.712.701 18.000.000 24.075.000 30.151.875 36.230.672 42.311.439
BPP (2.334.826) (2.286.022) (16.680.033) (22.339.546) (28.000.746) (33.663.677) (39.328.380)
Laba Kotor 284.956 426.679 1.319.967 1.735.454 2.151.129 2.566.995 2.983.059
15,73% 7,33% 7,21% 7,13% 7,09% 7,05%
Beban Usaha
Beban Umum dan Administrasi (2.622.545) (2.507.429) (6.838.057) (6.797.203) (6.863.209) (6.930.866) (7.000.214)
Jumlah Beban Usaha (2.622.545) (2.507.429) (6.838.057) (6.797.203) (6.863.209) (6.930.866) (7.000.214)
Laba Usaha (2.337.589) (2.080.750) (5.518.090) (5.061.749) (4.712.081) (4.363.870) (4.017.155)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain
Pendapatan Lainnya 713.092 250.600 660.000 660.000 660.000 660.000 660.000
Beban Lainnya (465.978) (286) - - - - -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain 247.114 250.314 660.000 660.000 660.000 660.000 660.000
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan (2.090.474) (1.830.436) (4.858.090) (4.401.749) (4.052.081) (3.703.870) (3.357.155)
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - -
Tax effective rate 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan (2.090.474) (1.830.436) (4.858.090) (4.401.749) (4.052.081) (3.703.870) (3.357.155)
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Neraca
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas 13.031.979 11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812 3.212.735
Piutang Usaha - Pihak Ketiga 4.650 125.020 418.191 559.331 700.514 841.742 983.016
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490
Persediaan 328.916 463.752 1.551.247 2.074.793 2.598.500 3.122.373 3.646.416
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981
Uang jaminan 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000
Jumlah Aset Lancar 23.092.016 21.756.411 20.567.724 19.383.843 18.549.719 17.801.398 17.568.638
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028
Aset tetap - bersih 52.679.242 51.171.394 48.155.698 45.140.001 42.124.305 39.371.109 36.449.163
Aset hak guna - bersih 157.876 1.305.250 1.300.000 1.400.000 1.500.000 1.600.000 1.700.000
Jumlah Aset tidak lancar 53.752.145 53.391.672 50.370.725 47.455.029 44.539.333 41.886.137 39.064.191
JUMLAH ASET 76.844.161 75.148.082 70.938.449 66.838.871 63.089.052 59.687.535 56.632.829
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga 4.133 175.523 645.617 864.674 1.083.797 1.302.986 1.522.244
Utang lain-lain - Pihak Ketiga 39.584 37.705 138.688 185.745 232.816 279.901 327.001
Beban masih harus dibayar 64.044 28.891 106.270 142.328 178.396 214.475 250.565
Liabilitas sewa 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087
Utang Pajak 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 269.320 403.678 1.052.134 1.354.305 1.656.567 1.958.920 2.261.368
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
JUMLAH LIABILITAS 749.306 883.664 1.532.120 1.834.292 2.136.553 2.438.906 2.741.355
EKUITAS
Modal Saham 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000
Tambahan modal disetor 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807
Saham Treasuri (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913)
Penghasilan komprehensif lain 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129
Saldo Laba
Telah ditentukan penggunaannya 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000
Belum ditentukan penggunaannya (12.924.168) (14.754.604) (19.612.694) (24.014.443) (28.066.524) (31.770.394) (35.127.549)
Jumlah Ekuitas 76.094.854 74.264.419 69.406.329 65.004.580 60.952.499 57.248.629 53.891.474
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 76.844.161 75.148.082 70.938.449 66.838.871 63.089.052 59.687.535 56.632.829
Business Valuation Unit
113 Jakarta
Page 130
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jan-Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT (1.830.436) (4.858.090) (4.401.749) (4.052.081) (3.703.870) (3.357.155)
Penyusutan (+) 1.560.473 3.120.947 3.015.696 3.015.696 3.053.196 3.071.946
Perubahan Modal Kerja:
Piutang Usaha - Pihak Ketiga (120.370) (293.171) (141.140) (141.183) (141.228) (141.274)
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima - - - - - -
Persediaan (134.836) (1.087.495) (523.546) (523.707) (523.873) (524.043)
Uang muka dan biaya dibayar dimuka - - - - - -
Uang jaminan - - - - - -
Aset pajak tangguhan - - - - - -
Utang Usaha - Pihak Ketiga 171.389 470.094 219.057 219.122,4 219.189,4 219.258,0
Utang lain-lain - Pihak Ketiga (1.879) 100.983 47.057 47.070,8 47.085,1 47.099,9
Beban masih harus dibayar (35.153) 77.379 36.057 36.068,1 36.079,1 36.090,4
Liabilitas sewa - - - - - -
Utang Pajak - - - - - -
Perubahan Modal Kerja (120.848) (732.210) (362.514) (362.629,4) (362.747,3) (362.868,2)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi (390.811) (2.469.354) (1.748.567) (1.399.014) (1.013.422) (648.077)
Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
Perolehan Aset Tetap (Baru) (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham - - - - - -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan - - - - - -
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS (1.590.811) (2.569.354) (1.848.567) (1.499.014) (1.413.422) (898.077)
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 13.031.979 11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 11.441.168 8.871.815 7.023.248 5.524.234 4.110.812 3.212.735
Rasio Keuangan Proyeksi Sebelum Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Rasio Keuangan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Rasio Likuiditas
Current Ratio 11357,59% 6779,73% 6380,21% 5970,42% 5467,74% 5009,89%
Quick Ratio 11320,41% 6695,16% 6294,54% 5883,64% 5379,86% 4920,90%
Cash Ratio 6184,57% 3490,83% 3126,97% 2752,89% 2285,94% 1863,85%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga 8 8 8 8 8 8
Perputaran Persediaan 49 35 35 35 35 35
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga 14 14 14 14 14 14
Perputaran Utang Lain-Lain Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar 2 2 2 2 2 2
Rasio Solvabilitas
Debt to Asset Ratio 0,89% 1,11% 1,17% 1,25% 1,35% 1,45%
Debt to Equity Ratio 0,90% 1,12% 1,19% 1,27% 1,36% 1,47%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin 35,49% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00%
Operational Profit Margin -493,80% -150,23% -144,91% -143,14% -141,41% -139,73%
Net Profit Margin -441,33% -132,06% -127,18% -125,84% -124,54% -123,27%
ROA -2,43% -5,57% -5,82% -6,27% -6,80% -7,40%
ROE -2,45% -5,63% -5,89% -6,35% -6,89% -7,51%
Business Valuation Unit
114 Jakarta
Page 131
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Rasio Keuangan Proyeksi Setelah Penambahan Kegiatan Usaha
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Jul-Des 2025 Des 2026 Des 2027 Des 2028 Des 2029 Des 2030
Rasio Keuangan
Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi Proyeksi
Rasio Likuiditas
Current Ratio 5389,55% 1954,86% 1431,28% 1119,77% 908,74% 776,90%
Quick Ratio 5274,67% 1807,42% 1278,08% 962,91% 749,34% 615,65%
Cash Ratio 2834,23% 843,22% 518,59% 333,47% 209,85% 142,07%
Rasio Aktivitas
Perputaran Piutang Usaha Pihak Ketiga 8 8 8 8 8 8
Perputaran Persediaan 37 34 34 34 34 34
Perputaran Utang Usaha - Pihak Ketiga 14 14 14 14 14 14
Perputaran Utang Lain-Lain Pihak Ketiga 3 3 3 3 3 3
Perputaran Beban yang Masih Harus dibayar 2 2 2 2 2 2
Rasio Solvabilitas
Debt to Asset Ratio 1,18% 2,16% 2,74% 3,39% 4,09% 4,84%
Debt to Equity Ratio 1,19% 2,21% 2,82% 3,51% 4,26% 5,09%
Rasio Profitabilitas
Gross Margin 15,73% 7,33% 7,21% 7,13% 7,09% 7,05%
Operational Profit Margin -76,70% -30,66% -21,02% -15,63% -12,04% -9,49%
Net Profit Margin -67,48% -26,99% -18,28% -13,44% -10,22% -7,93%
ROA -2,44% -6,85% -6,59% -6,42% -6,21% -5,93%
ROE -2,46% -7,00% -6,77% -6,65% -6,47% -6,23%
Analisis Inkremental
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Laba Rugi
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan - 2.300.000 15.000.000 21.000.000 27.000.000 33.000.000 39.000.000
BPP - (2.019.799) (13.980.033) (19.572.046) (25.164.059) (30.756.072) (36.348.085)
Laba Kotor - 280.201 1.019.967 1.427.954 1.835.941 2.243.928 2.651.915
Beban Usaha
Beban Umum dan Administrasi - (323.015) (2.031.098) (2.033.723) (2.036.413) (2.039.171) (2.041.998)
Jumlah Beban Usaha - (323.015) (2.031.098) (2.033.723) (2.036.413) (2.039.171) (2.041.998)
Pendapatan (Beban) Lain-Lain
Pendapatan Lainnya - (298.913) 114.787 114.787 114.787 114.787 114.787
Beban Lainnya - 332.646 - - - - -
Jumlah Pendapataan (Beban) Lain-Lain - 33.733 114.787 114.787 114.787 114.787 114.787
Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan - (9.082) (896.344) (490.982) (85.686) 319.544 724.704
Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan - - - - - - -
Tax effective rate 0% 0% 0% 0% 0% 0%
Laba (Rugi) Bersih Tahun berjalan - (9.082) (896.344) (490.982) (85.686) 319.544 724.704
Business Valuation Unit
115 Jakarta
Page 132
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Neraca
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASET
ASET LANCAR
Kas dan Setara Kas 13.031.979 13.323.900 14.838.996 16.905.798 19.377.896 21.992.724 25.181.462
Piutang Usaha - Pihak Ketiga 4.650 106.000 348.493 487.890 627.287 766.684 906.081
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490 25.490
Persediaan 328.916 393.198 1.292.706 1.809.788 2.326.871 2.843.953 3.361.035
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981 3.719.981
Uang jaminan 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000 5.981.000
Jumlah Aset Lancar 23.092.016 23.549.569 26.206.666 28.929.947 32.058.525 35.329.832 39.175.049
ASET TIDAK LANCAR
Aset pajak tangguhan 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028 915.028
Aset tetap - bersih 52.679.242 51.171.394 48.155.698 45.140.001 42.124.305 39.371.109 36.449.163
Aset hak guna - bersih 157.876 1.305.250 1.300.000 1.400.000 1.500.000 1.600.000 1.700.000
Jumlah Aset tidak lancar 53.752.145 53.391.672 50.370.725 47.455.029 44.539.333 41.886.137 39.064.191
JUMLAH ASET 76.844.161 76.941.240 76.577.391 76.384.976 76.597.858 77.215.969 78.239.240
LIABILITAS & EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Usaha - Pihak Ketiga 4.133 155.082 541.111 757.556 974.000 1.190.444 1.406.889
Utang lain-lain - Pihak Ketiga 39.584 33.314 116.239 162.734 209.230 255.725 302.221
Beban masih harus dibayar 64.044 25.527 89.068 124.696 160.323 195.950 231.577
Liabilitas sewa 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087 105.087
Utang Pajak 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471 56.471
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 269.320 375.481 907.976 1.206.544 1.505.111 1.803.678 2.102.245
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja karyawan 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986 479.986
JUMLAH LIABILITAS 749.306 855.468 1.387.963 1.686.530 1.985.097 2.283.664 2.582.232
EKUITAS
Modal Saham 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000
Tambahan modal disetor 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807 10.336.807
Saham Treasuri (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913) (21.754.913)
Penghasilan komprehensif lain 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129 137.129
Saldo Laba
Telah ditentukan penggunaannya 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000 300.000
Belum ditentukan penggunaannya (12.924.168) (12.933.250) (13.829.595) (14.320.577) (14.406.262) (14.086.719) (13.362.014)
Jumlah Ekuitas 76.094.854 76.085.773 75.189.428 74.698.446 74.612.760 74.932.304 75.657.008
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 76.844.161 76.941.240 76.577.391 76.384.976 76.597.858 77.215.969 78.239.240
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Arus Kas
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Kegiatan Operasi
EAT (9.082) (896.344) (490.982) (85.686) 319.544 724.704
Penyusutan (+) 1.560.473 3.120.947 3.015.696 3.015.696 3.053.196 3.071.946
Perubahan Modal Kerja:
Piutang Usaha - Pihak Ketiga (101.350) (242.493) (139.397) (139.397) (139.397) (139.397)
Pendapatan Bunga yang masih harus diterima - - - - - -
Persediaan (64.282) (899.508) (517.082) (517.082) (517.082) (517.082)
Uang muka dan biaya dibayar dimuka - - - - - -
Uang jaminan - - - - - -
Aset pajak tangguhan - - - - - -
Utang Usaha - Pihak Ketiga 150.949 386.029 216.444 216.444,4 216.444,4 216.444,4
Utang lain-lain - Pihak Ketiga (6.270) 82.925 46.495 46.495,5 46.495,5 46.495,5
Beban masih harus dibayar (38.517) 63.541 35.627 35.627,3 35.627,3 35.627,3
Liabilitas sewa - - - - - -
Utang Pajak - - - - - -
Perubahan Modal Kerja (59.471) (609.506) (357.912) (357.912,3) (357.912,3) (357.912,3)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Operasi 1.491.921 1.615.097 2.166.802 2.572.098 3.014.828 3.438.738
Arus Kas Kegiatan Investasi
Kenaikan / (Penurunan):
Perolehan Aset Tetap (Baru) (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Jumlah Arus Kas Kegiatan Investasi (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Arus Kas Kegiatan Pendanaan
Modal Saham - - - - - -
Jumlah Arus Kas Kegiatan Pendanaan - - - - - -
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS 291.921 1.515.097 2.066.802 2.472.098 2.614.828 3.188.738
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 13.031.979 13.323.900 14.838.996 16.905.798 19.377.896 21.992.724
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 13.323.900 14.838.996 16.905.798 19.377.896 21.992.724 25.181.462
Business Valuation Unit
116 Jakarta
Page 133
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Studi Kelayakan
30 Juni 2025
Dalam Ribuan Rupiah
0,5 1,5 2,5 3,5 4,5 5,5
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
DCF - FCFF
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Free Cash Flow to Firm
EAT (9.082) (896.344) (490.982) (85.686) 319.544 724.704
Depresiasi (+) 1.560.473 3.120.947 3.015.696 3.015.696 3.053.196 3.071.946
Capital Expenditure (-) (1.200.000) (100.000) (100.000) (100.000) (400.000) (250.000)
Perubahan Modal Kerja (+/-) (59.471) (609.506) (357.912) (357.912) (357.912) (357.912)
Interest x (1-tax)
FCFF 291.921 1.515.097 2.066.802 2.472.098 2.614.828 3.188.738
Terminal Value 57.050.014
DCF FCFF 291.921 1.515.097 2.066.802 2.472.098 2.614.828 60.238.752
Diskon Faktor 8,23% 0,96 0,89 0,82 0,76 0,70 0,65
Terminal Growth 2,50%
PV FCFF (3.000.000) 280.603 1.345.626 1.696.050 1.874.396 1.831.870 38.992.722
NPV of Project 43.021.267
IRR 69%
ROI 1434%
Profitability Index 15,34
PBP 2 tahun 10 bulan
Tahun PV Investasi
2025 (3.000.000)
2025 280.603 (2.719.397)
2026 1.345.626 (1.373.771)
2027 1.696.050 322.279
2028 1.874.396 2.196.675
2029 1.831.870 4.028.545
2030 38.992.722 43.021.267
Tahun 1 (1.373.771)
PV Tahun 2 1.696.050
(0,810)
2 tahun 10 bulan
Analisis BEP
Jun Jul-Des Des Des Des Des Des
Analisis BEP Dengan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha
2025 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Penjualan 2.300.000 15.000.000 21.000.000 27.000.000 33.000.000 39.000.000
Beban Pokok Penjualan (VC) 2.019.799 13.980.033 19.572.046 25.164.059 30.756.072 36.348.085
Laba Kotor 280.201 1.019.967 1.427.954 1.835.941 2.243.928 2.651.915
Gross Profit Margin 12,2% 6,8% 6,8% 6,8% 6,8% 6,8%
Beban Umum dan Administrasi (FC) 323.015 2.031.098 2.033.723 2.036.413 2.039.171 2.041.998
BEP Penjualan 2.651.441 29.870.053 29.908.653 29.948.217 29.988.771 30.030.339
Discount Factor
PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
PERHITUNGAN DISCOUNT RATE
Description Capital Cost Composition Weighted Cost
Cost of Debt 6,99% 44,18% 3,09%
Cost of Equity 9,21% 55,82% 5,14%
8,23%
Cost of Equity Cost of Debt
Risk Free 7,03% IPBA, 30 Juni 2025 Bank Interest 8,96% Bank Indonesia, Juni 2025
Beta 0,58 Damodaran, July 2025 Tax 22,00%
Risk Premium 7,03% Damodaran, July 2025
RBDS 1,87% Damodaran, July 2025
KE 9,21% KD 6,99%
Unleveraged Beta 0,36
Levered Beta 0,58
Keterangan Beta Market D/E Unlevered Beta
Food Wholesalers 0,57 79,14% 0,36
Debt 44,18% 79,14%
Equity 55,82%
Business Valuation Unit
117 Jakarta
Page 134
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Analisis Kelayakan Usaha
Sensitivitas Investasi NPV IRR ROI PI Hasil
0% 43.021.267 69% 1434% 15,34 Layak
-20% 43.621.267 78% 1818% 19,18 Layak
-15% 43.471.267 76% 1705% 18,05 Layak
-10% 43.321.267 73% 1604% 17,04 Layak
-5% 43.171.267 71% 1515% 16,15 Layak
0% 43.021.267 69% 1434% 15,34 Layak
5% 42.871.267 68% 1361% 14,61 Layak
10% 42.721.267 66% 1295% 13,95 Layak
15% 42.571.267 64% 1234% 13,34 Layak
20% 42.421.267 63% 1178% 12,78 Layak
Dokumentasi Produk yang Dijual
Gulus Gula Halus Sedani Spiral Sedani Kerang Sedani Pipa Emina
CRT 20 X 500 gr CRT 10 x 1kg CRT 10 x 1kg CRT 10 x 1kg CRT 32 x 250g
Lumba-Lumba Hemat Lumba-Lumba Lumba-Lumba Lumba-Lumba Sumo Merah 10kg
Hijau 6gr Hemat Hemat Hemat
Coklat 6gr Putih 6gr Merah 6gr
Business Valuation Unit
118 Jakarta
Page 135
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Sumo Merah 5kg Sumo Kuning 5kg Collins Taro Collins Tiramisu Collins Choco Crunchy
CRT 12 x 1kg CRT 12 x 1kg CRT 12 x 1kg
Collins Milky Collins Green Tea Collins Cheese Collins Dark Coklat Collins Stroberi CRT
CRT 12 x 1kg CRT 12 x 1kg CRT 12 x 1kg CRT 12 x 1kg 12 x 1kg
Collins Cheese 5kg Collins Taro 5kg Collins Stroberi 5kg Collins Coklat 5kg Goldenfil Matcha
Crunchy CRT 12 x 1kg
Goldenfil Milk Goldenfil Bluberi Goldenfil Choco Goldenfil Tiramisu Goldenfil Cheese
Crunchy CRT 12 x Crunchy CRT 12 x Crunchy CRT 12 x Crunchy CRT 12 x Crunchy CRT 12 x 1kg
1kg 1kg 1kg 1kg
Business Valuation Unit
119 Jakarta
Page 136
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Kijang Mas (Putih) Kijang Mas Kijang Mas (Hijau) Kijang Mas Denata 1000ml
7gr (Merah) 7gr 7gr (Chocolate) 7gr (Coconut)
Denata 1000ml Denata 1000ml Denata 600cc 10gr Lumba-Lumba X-tra Lumba-Lumba X-tra
(Cocopandan) (Cocolychee) (Cocolychee) 7gr (Hijau) 7gr (Putih)
Lumba-Lumba X- Lumba-Lumba X- Collins Coklat Pasta Primsfood Stroberi Primsfood Custard
tra 7gr (Merah) tra 7gr (Chocolate) CRT 4 x 5 CRT 2 x 5kg Powder CRT 2 x 5kg
Primsfood Grape Primsfood Melon Primsfood Gula Primsfood Vanila Primsfood Teng Milen
CRT 2 x 5kg CRT 2 x 5kg Dekorasi CRT 2 x CRT 2 x 5kg CRT 2 x 5kg
5kg
Business Valuation Unit
120 Jakarta
Page 137
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Cincau 1000cc Cincau 600cc 12gr Spaghetti CRT 20 La Fonte La Fonte
12gr x 450g Fettuccine 20 x Carbonara CRT
450g 20g x 315g
La Fonte Rigate La Fonte Macaroni La Fonte Pronto Sedani Spaghetti La Fonte Fettuccine
CRT 20g x 450g Bolognese Sauce Spaghetti CRT 10 x 1kg 30/40 x 225g
40g x 117g Bolognese Sauce
117g x 18 pack
La Fonte La Fonte Fusili La Fonte Elbow La Fonte Macaroni La Fonte Chifferi
Bolognese Chicken CRT 20 x 290g CRT 40 x 225g CRT 40 x 225g Rigate CRT 20 x
Flavour CRT 20 x 225g
290g
La Fonte La Fonte Spaghetti La Fonte Long La Fonte Spaghetti Oatsy Havermout
Bolognese CRT 20 CRT 40 x 225g Macaroni CRT 40 Chicken Sauce CRT 12 x 9kg
x 315g x 225g CRT 18 x 117g
Business Valuation Unit
121 Jakarta
Page 138
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
Studi Kelayakan – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk
Oatsy Oatmeal Oatsy Quick Cook Oatsy Instan Puding Susu Mango Puding Susu Mix
Instan CRT 12 x CRT 36 x 200kg CRT 36 x 200g 6 sashet x 8 box Berry 6 sashet x 8
9kg box
Puding Susu Puding Susu Choco Ethos Jellygar Ethos Jellygar Ethos Jellygar
Vanila Cream 6 Pandan 6 sashet x 8 Blueberry 12g x Stroberi 12g x 12 Lychee 12g x 12
sashet x 8 box box 12 sashet x 12 sashet x 12 box sashet x 12 box
box
Ethos Jellygar Ethos Jellygar
Melon 12g x 12 Plain 12g x 12
sashet x 12 box sashet x 12 box
Business Valuation Unit
122 Jakarta
Names mentioned 57 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
ANDRI & REKAN
p.2 ×2
unresolved
org
PT Optima Prima
p.2
unresolved
org
Sinergi Tbk
p.2
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×2
unresolved
org
Kementerian Keuangan dan Pasar Modal
p.2 ×2
unresolved
person
OPMS
· Direktur Utama
p.5 ×6
unresolved
person
Rubbyanto Handaja Kusuma
· Direktur
p.5 ×2
unresolved
org
Bank Indonesia
p.5 ×35
unresolved
org
KJPP GUNTUR
p.11 ×3
unresolved
org
KJPP GUNTUR EKI ANDRI & REKAN
p.17 ×110
unresolved
org
KJPP GUNTUR EKI ANDRI
p.17 ×111
unresolved
org
PT Asian Prima Indosteel
p.22 ×8
unresolved
person
Gema Bismantaka
· Notaris
p.22 ×8
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.22 ×2
unresolved
person
Leolin Jayanti
p.22 ×2
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.22 ×10
unresolved
person
Ir. Joyce Sudarto
· Notaris
p.22 ×21
unresolved
org
Menteri Keuangan
p.24 ×2
unresolved
org
Kantor Jasa Penilai Publik Guntur
p.24 ×2
unresolved
org
Andri dan Rekan
p.24 ×2
unresolved
org
KJPP
p.24 ×2
unresolved
org
Bapepam
p.24 ×6
unresolved
person
Morhan Tirtonadi
p.28 ×6
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Morhan dan Rekan
p.28 ×7
unresolved
org
Kantor Akuntan Publik Morhan
p.28 ×7
unresolved
person
David Kurniawan
p.28
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
p.29 ×10
unresolved
org
PT Asian Prima Indosteel No. AHU-AH.
p.29 ×2
unresolved
person
Leolin Jayayanti
· Notaris
p.29 ×3
unresolved
person
Yulia
· Notaris
p.29 ×7
unresolved
person
Masyitho Rachmawati
· Notaris
p.30 ×5
unresolved
org
Kementerian
p.30
unresolved
org
Koordinasi Penanaman Modal
p.30 ×2
unresolved
org
Kementerian Agraria dan Tata Ruang
p.30 ×2
unresolved
org
Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur
p.30 ×2
unresolved
person
Gema Bismantak
p.35
unresolved
org
Pusat Statistik.
p.59 ×5
unresolved
org
Pusat Statistik Indonesia Business Valuation
p.64
unresolved
org
Pusat Statistik Indonesia Figur
p.65
unresolved
org
Pusat Statistik Indonesia
p.65
unresolved
org
PT Subur Mitra Sukses
p.69
unresolved
org
PT Pangan Lestari
p.69
unresolved
org
PT Saerah Surya Perkasa
p.69
unresolved
org
PT Sentralsari Primasentosa
p.69
unresolved
org
KJPP Guntur KBLI
p.77
unresolved
org
Eki Andri dan Rekan
p.77
unresolved
org
KJPP Guntur Eki Andri dan Rekan
p.78
unresolved
org
DER
p.106
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
11281 ms
12 Sep 2026 22:33
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}