Skip to content
Back to announcement

20250605_APII_Keterbukaan Informasi terkait Aksi Korporasi_31893049_lamp3.pdf

Asset transaction Needs review APII

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 78

Page 1
               LAPORAN
      0502/2.0171-00/BS-FS/V/2025


       STUDI KELAYAKAN ATAS
RENCANA PENAMBAHAN KEGIATAN USAHA



           DISUSUN UNTUK
    PT ARITA PRIMA INDONESIA TBK
               (“APII”)




                  i
Page 2
Jakarta, 09 Januari 2025




No. Laporan : 0502/2.0171-00/BS-FS/V/2025
Jakarta, 28 Mei 2025
o. Laporan : 0101/2.0171-00/BS-FS/I/2025
Kepada Yth.
PT Arita Prima Indonesia Tbk
Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No. 5-9
Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
Jakarta Utara, 14350

Up : Direktur Utama

Perihal : Laporan Studi Kelayakan terhadap Rencana Penambahan Klasifikasi Baku
          Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang baru untuk PT Arita Prima Indonesia Tbk

Dengan hormat,

Berdasarkan persetujuan surat penawaran studi kelayakan rencana penambahan kegiatan usaha
PT Arita Prima Indonesia Tbk Nomor 0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, kami
telah melakukan pekerjaan studi kelayakan terhadap rencana penambahan kegiatan usaha PT
Arita Prima Indonesia Tbk yang bergerak di bidang jasa perdagangan besar berbagai macam.

Laporan ini kami laksanakan dengan mengacu kepada Peraturan OJK Nomor 17/POJK.04/2020
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, SEOJK Nomor 17/SEOJK.04/2020
tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Kode Etik
Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) Edisi VII tahun 2018.

Berdasarkan lingkup pekerjannya, hasil laporan ini disampaikan dalam urutan bab sebagai berikut:

    1)   Pendahuluan
    2)   Analisa Kelayakan Pasar
    3)   Analisa Kelayakan Teknis
    4)   Analisa Pola Bisnis
    5)   Analisa Kelayakan Model Manajemen
    6)   Analisa Kelayakan Keuangan

Kami menegaskan bahwa penugasan pekerjaan ini bersifat independen, dalam arti, kami tidak
memiliki kepentingan apa pun, baik sekarang maupun di kemudian hari, atas hasil pekerjaan ini.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan yang
diberikan kepada kami. Semoga laporan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Kami tidak bertanggung jawab kepada pihak ketiga, dan baik sebagian maupun keseluruhan
laporan atau rujukan terhadap laporan ini tidak dibenarkan untuk diterbitkan dalam dokumen
apapun, pernyataan, edaran, ataupun untuk dikomunikasikan kepada pihak ketiga tanpa


                                               ii
Page 3
persetujuan tertulis terlebih dahulu dari kami untuk format maupun konteks di mana akan
dimunculkan.

laporan studi ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan pihak yang berwenang dan stempel
perusahaan (corporate seal) dari KJPP Tobing Panuturi dan Rekan (“TOPAZ”).

Berdasarkan kajian, evaluasi dan analisa keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat
asumsi-asumsi yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, maka dapat disimpulkan bahwa rencana
penambahan KBLI yang akan dilaksanakan oleh APII LAYAK DIREALISASIKAN.

Hormat kami,
KJPP TOBING PANUTURI DAN REKAN




Prasetyo Djoko Sasongko, MBA., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert.)
Rekan
Klasifikasi Izin              : Penilai Bisnis (B)
Anggota Penilai MAPPI         : No. 07-S-02115
Register Kemenkeu             : RMK-2017.00354
Izin Penilai Kemenkeu         : No. B-1.14.00395
Penilai terdaftar Pasar Modal : No. STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023
Penilai terdaftar IKNB        : No. 094/NB.122/STTD-P/2017




                                               iii
Page 4
                                   PERNYATAAN PENILAI
menerangkan bahwa :
1. Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
    tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang
    terafiliasi dengan perusahaan tersebut.
2. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan
    penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan
    keuntungan atau merugikan pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah sama
    sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan
    ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang tercantum pada proposal penawaran
    0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh
    manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025. Adapun biaya jasa penugasan tersebut telah
    memperhatikan sebagaimana ketentuan yang diatur oleh Asosiasi Profesi Penilai.
3. Penilai bertanggung jawab atas kesimpulan yang diberikan dalam rangka penugasan ini,
    sebagaimana diungkapkan dalam laporan ini.
4. Laporan studi kelayakan ini dilaksanakan per tanggal penilaian 31 Desember 2024, parameter
    dan data keuangan yang digunakan dalam analisis didasarkan pada data per tanggal 31
    Desember 2024.
5. Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan dengan pemahaman terhadap Objek Studi
    Kelayakan pada tanggal penilaian dan analisis telah dilakukan sesuai dengan tujuan studi
    kelayakan sebagaimana diungkapkan dalam laporan ini.
6. Studi kelayakan ini disusun sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam POJK Nomor
    35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
    Bisnis di Pasar Modal, POJK Nomor 17/POJK.4/2020 tentang Transaksi Material dan
    Perubahan Kegiatan Usaha, Surat Edaran OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Agustus
    2020 tentang pedoman penilaian dan penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal,
    serta Standar Penilaian Indoneisa (SPI) Edisi VII tahun 2018.
7. Opini yang dihasilkan dalam penugasan ini telah disajikan sebagai kesimpulan pada Laporan
    Studi Kelayakan ini.
8. Lingkup pekerjaan telah diungkapkan pada ruang lingkup dan data-data yang dianalisis serta
    data ekonomi dan industri yang diungkapkan dalam Laporan Studi Kelayakan pada sumber
    data dan informasi diperoleh dari berbagai sumber yang diyakini dapat
    dipertanggungjawabkan.
9. Laporan ini menjelaskan semua asumsi dan syarat-syarat pembatasan yang mempengaruhi
    analisis, pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam Laporan Studi Kelayakan ini.
10. Kesimpulan telah sesuai dengan asumsi, tingkat kedalaman investigasi, dan kondisi
    pembatas.
11. Pernyataan yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang diuraikan di dalam
    Laporan ini adalah benar, sesuai dengan pemahaman terbaik.
12. Dalam melakukan penugasan ini, penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional
    dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan ini.
13. Penilai melakukan inspeksi/ wawancara terhadap objek Studi Kelayakan yang dinilai.
14. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam Laporan ini, telah menyediakan bantuan
    profesional dalam menyiapkan Laporan Studi Kelayakan.




                                                 iv
Page 5
Jakarta, 28 Mei 2025

Prasetyo Djoko Sasonhko,M.B.A.,M.Ec.Dev., MAPPI (Cert)    Penilai Publik
No. Izin Penilai : B.1-14.00384
No. MAPPI        : 10-S-02664
No. RMK          : RMK-2017.00343
No. STTD OJK : STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023

                                                         ………………………..
                                                            Penyelia
Panuturi L Tobing,S.P.,S.H.,M.Ec.Dev.,MAPPI
(Cert).,CSA.,CACP.,CRP.,C.Med.,CFIA
No. MAPPI      : 06-S-01967
No. RMK        : RMK-2017.00377

                                                         ………………………..

                                                             Penilai
Mery Ganis S,S.E.
No. MAPPI     : 17-T-07610
No. RMK       : RMK-2018.02577

                                                         ………………………..




                                              v
Page 6
                                 RINGKASAN EKSEKUTIF

Latar Belakang

PT Arita Prima Indonesia Tbk (“APII”/ “Perusahaan”) telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik
Tobing Panuturi dan Rekan (“TOPAZ”), sebagai Penilai Independen berdasarkan surat izin usaha
dari menteri keuangan No. 387/KM.1.2020 untuk memberikan pendapat atas kelayakan rencana
penambahan kegiatan usaha sesuai dengan surat penawaran Nomor 0501/FS.B/KJPP-
TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh manajemen perusahaan
tanggal 23 Mei 2025 berupa penambahan bidang usaha sesuai dengan KBLI sebagai Berikut :

    1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Studi ini merupakan hasil kajian dan analisis yang dilakukan dengan meninjau kelayakan atas
Rencana Penambahan Kegiatan Usaha yang akan dilakukan oleh APII, ditinjau dari berbagai
aspek yang meliputi aspek makro, aspek pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis, aspek model
manajemen, dan aspek keuangan. Selain itu, Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan
usaha utama mengacu pada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020
tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, serta Kode
Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018 dan
SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

Status Penilai

Penilai adalah Rekan dari Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi Dan Rekan Dengan
Kualifikasi Sebagai Berikut :

Nama Penilai                     : Prasetyo Djoko Sasongko, M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert)
Ijin Penilai Publik              : B.1-14.00395
STTD Penunjang Pasar Modal       : STTD.PB-24/PJ-1/PM.02/2023
MAPPI                            : 07-S-02115
Klasifikasi Izin                 : Penilai Bisnis (B)

KJPP Tobing Panuturi dan Rekan (TOPAZ”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar di
Kementerian Keuangan dan Pasar Modal serta memiliki kompetensi untuk melakukan
penugasan ini.

                                                vi
Page 7
Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami bertindak secara independen tanpa
adanya benturan kepentingan dan tidak terafiliasi dengan Pemberi Tugas, Objek Studi Kelayakan,
ataupun pihak-pihak yang terafiliasi dengan Pemberi Tugas dan Objek Studi Kelayakan. TOPAZ
juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan
Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
manapun. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh nilai yang dihasilkan.

Identitas Pemberi Tugas

Pemberi tugas sebagaimana dimaksud dalam laporan ini adalah :

 Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
 Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
 Alamat                                :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                           Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                           5-9
                                           Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                           Jakarta Utara, 14350
 Nomor telepon                         :   +62 21 651 9188
 Web                                   :   @ptaritaprimaindonesiatbk

Identitas Pengguna Laporan

Pengguna laporan sebagaimana dimaksud dalam laporan ini adalah :

 Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
 Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
 Alamat                                :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                           Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                           5-9
                                           Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                           Jakarta Utara, 14350
 Nomor telepon                         :   +62 21 651 9188
 Email                                 :   @ptaritaprimaindonesiatbk

Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

TOPAZ telah menyusun Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI baru dengan :
Nomor Laporan        : 0502/2.0171-00/BS-FS/V/2025.0171-00/BS-FS/I/2025
Tanggal              : 28 Mei 2025

Objek Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Bahwa Objek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh Pemberi Tugas adalah
Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan bidang usaha
sebagai berikut :



                                              vii
Page 8
    1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Maksud studi kelayakan yang akan dilaksanakan adalah memberikan pendapat atas kelayakan
penambahan kegiatan usaha Perusahaan sehubungan dengan Rencana Penambahan sebagai
berikut:

    1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Rencana ini tidak untuk bentuk rencana transaksi lainnya, serta tidak dimaksudkan untuk
kepentingan perpajakan, jual beli, perbankan, dan tujuan lainnya. Laporan studi kelayakan ini akan
disampaikan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Studi kelayakan ini mengacu kepada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di
Pasar Modal serta Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar Penilaian Indonesia (“SPI”)
Edisi VII Tahun 2018 dan SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

Tujuan laporan ini adalah melakukan studi kelayakan atas Rencana Penambahan KBLI untuk
keperluan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tanggal Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan

Tanggal pisah batas (cut off date) penilaian adalah per 31 Desember 2024, dimana batas tersebut
diambil atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian. Berdasarkan Pasal 6 ayat 2
(dua) POJK No. 17/POJK.04/2020 bahwa masa berlaku di Studi Kelayakan, yaitu selama 6 (enam)
bulan sejak tanggal penilaian dalam Studi Kelayakan. Sehingga masa berlaku laporan berakhir
pada akhir Juni 2025.

                                               viii
Page 9
Jenis Mata Uang yang Digunakan

Dalam penugasan ini Studi Kelayakan dinyatakan dalam mata uang Rupiah.

Metodologi Penyusunan

Penyusunan studi kelayakan ini dilakukan melalui 3 pendekatan. Setiap pendekatan dihubungkan
dan dikonfirmasikan satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan studi yang komprehensif.
Adapun pendekatan penyusunan studi kelayakan ini adalah sebagai berikut :
 a. Pengumpulan Data dan Informasi
 b. Analisa Data
 c. Penyusunan Laporan Penilaian

Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Indepensi Kosultan

Sebagai KJPP yang telah ditunjuk oleh pemberi tugas untuk menyusun laporan studi kelayakan
ini, kami berkomitmen untuk mematuhi ketentuang yang diatur dalam POJK 17 tahun 2020 dan
SEOJK 17 tahun 2020. Studi kelayakan ini bertujuan untuk memberikan analisis menyeluruh yang
mencakup Analisa Kelayakan Pasar, Analisa Kelayakan Teknis, Analisa Pola Bisnis, Analisa
Kelayakan Model Manajemen, dan Analisa Kelayakan Keuangan. Kami memahami bahwa
penugasan ini tidak hanya menuntut pemahaman mendalam mengenai objek studi, tetapi juga
penerapan metodologi yang sesuai untuk menghasilkan laporan yang kredibel dan akurat.

Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen tanpa
adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang terafiliasi
dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi
berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk
memberikan keuntungan atau merugikan pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima adalah
sama sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini
dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang tercantum pada proposal penawaran Nomor
0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21 Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh
manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025.

Asumsi dan Asumsi Khusus

Asumsi
Asumsi dan asumsi khusus yang akan digunakan dalam penugasan merupakan asumsi dan
asumsi khusus yang wajar dan relevan dengan memperhatikan tujuan di mana studi kelayakan
diperlukan.

Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dari fakta yang sebenarnya pada tanggal studi
kelayakan atau hal yang tidak akan dibuat oleh sebagian kecil pelaku pasar dalam suatu transaksi
pada tanggal studi kelayakan. Asumsi khusus sering digunakan untuk menggambarkan efek dari
suatu situasi yang akan mempengaruhi nilai.

Dalam pelaksanaan penugasan, Studi akan menggunakan asumsi yang wajar untuk diterima
sebagai fakta dalam konteks penugasan.

                                                 ix
Page 10
Kondisi Pembatas

Pembatasan pada studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:

1.  Laporan Studi Kelayakan merupakan hasil analisis TOPAZ atas rencana penambahan
    Kegiatan Usaha APII yang juga dimaksudkan untuk digunakan sebagai pemenuhan ketentuan
    Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan
    Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
    tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Salinan Surat
    Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman
    Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
2. Besaran investasi yang digunakan dalam proyeksi merujuk pada rencana dan pertimbangan
    manajemen dengan tetap memperhatikan data pasar.
3. Penyusunan laporan studi ini merupakan interpretasi kami atas data dan informasi yang
    diperoleh dan tersedia yang kami anggap benar pada saat penyusunan laporan ini dilakukan.
    Asumsi-asumsi yang digunakan mungkin tidak lagi berlaku apabila terjadi sesuai atau kondisi
    tertentu yang mempengaruhi ketepatan asumsi-asumsi tersebut, seperti diberlakukannya
    peraturan-peraturan pemerintah yang baru maupun perubahan-perubahan penting di
    manajemen, bidang politik, sosial, dan ekonomi.
4. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian sebagai akibat dari kesalahan opini atau
    kesimpulan yang terjadi karena adanya data atau informasi APII yang relevan dan signifikan
    pengaruhnya terhadap opini atau kesimpulan kami, yang tidak dan/atau belum kami terima
    dari APII.
5. Kami berasumsi bahwa APII mentaati semua peraturan yang ditetapkan Pemerintah,
    khususnya yang terkait dengan operasional perusahaan, baik di masa lalu maupun di masa
    mendatang.
6. Kami tidak melaksanakan pemeriksaan terhadap legalitas aset yang dimiliki oleh APII. Kami
    berasumsi bahwa tidak ada masalah legalitas berkenaan dengan aset-aset APII, baik saat ini
    maupun di masa yang akan datang.
7. Kami berasumsi bahwa APII telah dan akan memenuhi kewajiban berkenaan dengan
    perpajakan, retribusi pungutan-pungutan, dan/atau kewajiban lainnya sesuai dengan
    peraturan yang berlaku.
8. Kami telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses penyusunan
    Studi Kelayakan.
9. Kami mengandalkan sepenuhnya data-data dari manajemen, adapun laporan keuangan
    audited per cut off date, kami peroleh dari manajemen.
10. Data dan informasi diperoleh dari sumber dan data yang dapat dipercaya.
11. Kami menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan
    kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaian
    (fiduciary duty).
12. Kami bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan Studi Kelayakan dan kewajaran
    proyeksi keuangan.
13. Kami bukan konsultan yang berkompetensi masalah lingkungan hidup dan karenanya tidak
    bertanggung jawab terhadap setiap kewajiban aktual atau potensial yang terkait dengan
    permasalahan lingkungan.
14. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non disclaimer opinion.


                                              x
Page 11
15. Konsultan bertanggung jawab pada laporan Studi Kelayakan ini dan kesimpulan akhir dari
    laporan ini.

Persyaratan Atas Persetujuan Untuk Publikasi

Laporan studi kelayakan ini bersifat terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi rahasia yang
dapat mempengaruhi operasional perusahaan. Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan studi
kelayakan ini sebagaimana yang disebutkan dalam lingkup penugasan, menginformasikan bahwa
tidak terdapat informasi rahasia yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan di dalam
laporan ini. Penggunaan Laporan di luar dari ketentuan yang disebutkan dalam lingkup Penugasan
Laporan ini harus mendapatkan persetujuan tertulis dari KJPP Tobing Panuturi dan Rekan serta
Pemberi Tugas.

Tanda tangan Penilai Publik dan cap basah TOPAZ yang resmi merupakan syarat mutlak Laporan
Studi Kelayakan yang dihasilkan.

Konfirmasi Bahwa Objek Studi Tidak Sedang atau Telah Dinilai Dalam Jangka Waktu 2 (dua)
Bulan

Dengan ini, Pemberi Tugas memberikan konfirmasi bahwa objek studi kelayakan tidak sedang atau
telah dianalisis oleh Penilai Publik lainnya untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal
studi yang sama atau berdekatan (dalam jangka waktu tidak lebih dari dua bulan). Apabila Pemberi
Tugas terbukti memberikan informasi yang tidak benar, maka Laporan Studi Kelayakan dinyatakan
tidak berlaku.

Tidak ada KJPP berizin selain KJPP TOPAZ yang diminta oleh Pemberi Tugas dalam waktu yang
bersamaan untuk melakukan studi kelayakan atas objek yang dimaksud, sampai Laporan Studi
Kelayakan diterbitkan.

Hasil Analisis Kelayakan Penambahan KBLI Baru

Berikut adalah hasil analisis kelayakan penambahan KBLI baru :

 1. Kelayakan Pasar :
    Perkembangan sektor industri, perdagangan, dan jasa di Indonesia terus menunjukkan tren
    pertumbuhan yang positif, mendorong kebutuhan terhadap berbagai layanan penunjang
    seperti konsultasi bisnis dan manajemen, perdagangan besar, pergudangan, pengelolaan
    kawasan industri, konstruksi, pengelolaan limbah, serta pengembangan properti.

    Rencana penambahan KBLI yang mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen (KBLI
    74902, 70209), pergudangan dan penyimpanan termasuk kawasan berikat (KBLI 52101,
    52103, 52109), Real Estat Yang dan kawasan industri (KBLI 68111, 68120, 68130), serta
    pengelolaan limbah berbahaya (KBLI 38220), secara umum sejalan dengan arah
    pertumbuhan kebutuhan industri nasional. Dengan mempertimbangkan prospek sektor-sektor
    tersebut dan meningkatnya permintaan terhadap layanan dan infrastruktur pendukung
    industri, maka aspek pasar untuk rencana penambahan KBLI baru ini dinilai layak dan
    memiliki potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.


                                                xi
Page 12
   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pasar dalam Rencana Penambahan KBLI baru, maka
   disimpulkan bahwa aspek pasar ini adalah layak.

2. Kelayakan Teknis :
   Aspek teknis dinilai layak dengan mempertimbangkan pengalaman APII, namun
   keberlanjutan memerlukan investasi tambahan pada sumber daya manusia untuk mendukung
   atas Rencana Penambahan KBLI.

   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek teknis dimana APII memiliki kapasitas dan pengalaman
   yang mencukupi dan APII berencana untuk menambah KBLI dengan tujuan memperluas jenis
   pekerjaan, maka disimpulkan bahwa aspek teknis ini adalah layak.

3. Kelayakan Pola Bisnis :
   Kelayakan pola bisnis ditinjau dari sisi keunggulan kompetitif perusahaan dalam jasa
   perdagangan besar berbagai macam barang, kemampuan perusahaan dalam menciptakan
   nilai tambah, dan kemampuan perusahaan untuk memitigasi risiko persaingan, sehingga
   perusahaan yakin bahwa kegiatan usaha ini akan berkelanjutan.

   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek pola bisnis dari manajemen perusahaan dalam rencana
   penambahan KBLI baru, maka disimpulkan bahwa aspek pola bisnis yang akan dilakukan
   oleh perusahaan adalah layak.

4. Kelayakan Model Manajemen :
   Berdasarkan evaluasi terhadap aspek model manajemen perusahaan, dimana untuk memulai
   kegiatan usaha ini. Perusahaan telah mempersiapkan tenaga kerja, struktur organisasi,
   tenaga ahli, rencana mitigasi risiko, serta mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan
   manajemen, maka disimpulkan bahwa penambahan KBLI baru dari aspek model manjemen
   adalah layak.

5. Kelayakan Keuangan :
   Berdasarkan kajian dan analisis keuangan serta proyeksi-proyeksi lainnya dengan syarat
   semua asumsi yang telah diproyeksikan dapat terpenuhi, maka disimpulkan bahwa
   penambahan KBLI baru berupa (KBLI) baru yaitu

    1.    KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
    2.    KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
    3.    KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
    4.    KBLI 68120 – Real Estat Yange
    5.    KBLI 68130 – Kawasan Industri
    6.    KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
    7.    KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
    8.    KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
    9.    KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya
   yang dilakukan oleh Perusahaan adalah layak untuk dilaksanakan, dengan hasil Analisa
   kelayakan sebagai berikut :

         Net Present Value                                           Rp. 4.834.961.247,--
         Internal Rate of Return                                     24,84%
                                            xii
Page 13
    Discount Rate                                                   11,84%
    Profitability Indeks                                            1,25
    Payback Period                                                  3,58 tahun

•    Net Present Value (NPV)

     Net Present Value (NPV) adalah metode keuangan yang digunakan untuk menilai nilai
     suatu investasi dengan mempertimbangkan nilai waktu dari uang. NPV dihitung dengan
     mendiskon semua arus kas masa depan yang diharapkan dari investasi ke nilai saat ini
     menggunakan tingkat diskonto tertentu.

     Jika NPV positif, berarti investasi diperkirakan akan menghasilkan keuntungan. Jika
     negatif, maka investasi kemungkinan merugi. NPV sering digunakan dalam analisis
     keuangan perusahaan untuk menentukan apakah suatu proyek layak dilakukan atau
     tidak.
     Singkatnya, NPV membantu menentukan apakah uang yang diinvestasikan hari ini akan
     menghasilkan keuntungan lebih besar di masa depan.

     Hasil Perhitungan NPV untuk rencana investasi dan operasional atas penambahan KBLI
     baru adalah positif sebesar Rp. 4.834.961.247,--, artinya penambahan KBLI baru
     menguntungkan.

•    Profitability Indeks (P/I)

     Profitability Index (PI) adalah metode evaluasi investasi yang mengukur perbandingan
     antara manfaat yang diharapkan dari suatu proyek dengan biaya yang dikeluarkan. PI
     dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas masuk masa depan dengan nilai
     sekarang dari arus kas keluar masa depan termasuk investasi awal.

     Jika PI lebih dari 1, proyek dianggap menguntungkan karena manfaatnya lebih besar dari
     biayanya. Jika kurang dari 1, proyek kemungkinan merugikan. PI sering digunakan
     bersama Net Present Value (NPV) untuk membantu pengambilan keputusan investasi.

     Ringkasnya, PI menunjukkan apakah suatu proyek "worth it" berdasarkan potensi
     keuntungannya dibandingkan dengan modal yang ditanam.

     Analisis P/I yang dilakukan terhadap penambahan KBLI baru ini adalah sebesar 1,25
     atau lebih besar dari 1, artinya kegiatan penambahan KBLI baru "worth it"
     dilaksanakan.

•    Payback Period (PP)

     Payback Period adalah metode yang digunakan untuk mengukur berapa lama waktu
     yang dibutuhkan agar investasi menghasilkan kembali modal awalnya. Periode ini
     dihitung dengan membagi investasi awal dengan arus kas tahunan yang dihasilkan
     proyek.



                                         xiii
Page 14
        Semakin pendek payback period, semakin cepat modal kembali, sehingga risiko
        investasi lebih rendah. Metode ini populer karena sederhana, waktunya sudah
        mempertimbangkan nilai waktu uang seperti yang dihitung pada Net Present Value
        (NPV) dan Profitability Index (PI).

        Intinya, payback period membantu melihat seberapa cepat waktu bisa "balik modal
        dalam nilai yang sudah di diskonto."

        Payback Period dengan adanya penambahan KBLI baru adalah 3 tahun 7 bulan
        merupakan jangka waktu yang cepat mengingat investasi yang diperlukan atas
        penambahan KBLI lumayan besar sedangkan pendapatan yang diperoleh atas
        penambahan KBLI ini cukup tinggi, sehingga waktu 3 tahun 7 bulan APII bisa
        memperoleh pengembalian investasi merupakan waktu yang cukup cepat.

6. Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI Baru

   Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
   variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari suatu keputusan atau proyek. Teknik ini
   membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan atau
   risiko investasi.

   Dalam analisis sensitivitas, beberapa asumsi atau parameter seperti biaya, pendapatan, atau
   tingkat diskonto diubah dalam rentang tertentu untuk melihat dampaknya pada hasil akhir.
   Semakin sensitif suatu variabel terhadap perubahan, semakin penting untuk diperhitungkan
   dalam pengambilan keputusan.

   Singkatnya, analisa sensitivitas membantu memahami seberapa "rapuh" atau fleksibel suatu
   keputusan terhadap perubahan kondisi eksternal.

   Hasil analisis sensitivitas proyek ini adalah sebagai berikut:

   Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Laba Bersih (Dalam
   Jutaan Rupiah)

                               0%            5%             -19%       -20%       -25%
                    2025     2.727         2.863           2.202       2.181      2.045
                    2026     3.775         3.963           3.048       3.020      2.831
                    2027     7.824         8.215           6.317       6.259      5.868
                    2028    10.207        10.717           8.241       8.166      7.655
                    2029    13.178        13.837          10.640      10.543      9.884
                    NPV      4.835         6.090                -      (185)    (1.441)
                     IRR   24,84%        28,31%          11,83%      11,34%      8,03%
           Discount Rate                                 11,84%
                                                     Breakevent     Tidak      Tidak
            Kelayakan       Layak      Layak
                                                        Point       Layak      Layak

   Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Laba
   Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
   perubahan laba bersih melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

                                               xiv
Page 15
Penurunan laba bersih bisa menjadi tanda adanya masalah dalam operasional bisnis, efisiensi
biaya, atau strategi penjualan. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat membantu
menjaga profitabilitas:

1) Analisis Penyebab. Penurunan Laba Identifikasi faktor utama yang menyebabkan laba
   bersih menurun, seperti kenaikan biaya produksi, persaingan harga, atau penurunan
   volume penjualan.
2) Efisiensi Operasional. Optimalkan proses bisnis dengan mengurangi pemborosan,
   meningkatkan produktivitas, dan menggunakan teknologi untuk mengurangi biaya
   operasional.
3) Diversifikasi Sumber Pendapatan. Cari peluang untuk menambah lini produk atau
   layanan, memperluas pasar, atau menjalin kemitraan strategis yang dapat meningkatkan
   pendapatan.
4) Evaluasi Strategi Harga. Sesuaikan harga produk atau layanan dengan
   mempertimbangkan margin keuntungan, daya beli pelanggan, dan kondisi pasar agar
   tetap kompetitif.
5) Optimalisasi Pengelolaan Biaya. Lakukan audit biaya secara berkala dan cari cara untuk
   menghemat pengeluaran yang tidak esensial tanpa mengorbankan kualitas bisnis.
6) Peningkatan Loyalitas Pelanggan. Fokus pada pelayanan yang lebih baik, program
   loyalitas, atau strategi pemasaran yang menarik agar pelanggan tetap memilih bisnis
   Anda.
7) Pemanfaatan Data dan Teknologi. Gunakan analitik bisnis untuk memahami tren
   penjualan, pola perilaku pelanggan, dan area yang perlu diperbaiki agar keputusan bisnis
   lebih tepat sasaran.
8) Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas tetap sehat dan perencanaan
   keuangan disusun dengan baik untuk menghindari beban finansial yang berlebihan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Capex (Dalam Jutaan
Rupiah)

                            0%          5%               -19%       -20%       -25%
               2025    (10.000)    (11.000)           (15.408)   (15.500)   (16.000)
               NPV        4.835       3.941                  -       (83)      (530)
                IRR     24,84%         22%             11,83%        12%        11%
       Discount Rate                                   11,84%
                                                   Breakevent    Tidak      Tidak
        Kelayakan      Layak      Layak
                                                      Point      Layak      Layak

 Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Capex
 yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
 Perubahan Capex melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

 Menjaga agar rencana investasi tetap terkendali dan tidak membengkak membutuhkan
 strategi perencanaan dan pengawasan yang baik. Berikut beberapa langkah yang dapat
 diterapkan:

1) Tetapkan Anggaran dengan Jelas. Tentukan batas investasi sejak awal dan patuhi
   anggaran yang sudah dirancang agar tidak terjadi pengeluaran berlebihan.

                                              xv
Page 16
2) Lakukan Analisis Risiko Secara Berkala. Evaluasi risiko investasi secara rutin untuk
   menghindari pengeluaran tak terduga atau biaya yang melonjak akibat perubahan
   kondisi pasar.
3) Gunakan Pendekatan Bertahap. Alih-alih mengalokasikan dana dalam jumlah besar
   sekaligus, lakukan investasi bertahap agar bisa menyesuaikan strategi berdasarkan hasil
   yang diperoleh.
4) Optimalkan Penggunaan Sumber Daya. Gunakan sumber daya yang ada dengan
   maksimal sebelum menambah anggaran baru. Misalnya, lakukan efisiensi operasional
   atau manfaatkan teknologi untuk menekan biaya.
5) Hindari Over-Investasi. Pastikan investasi dilakukan sesuai kebutuhan dan kapasitas
   bisnis, serta tidak melebihi kemampuan finansial yang dapat mengakibatkan
   pembengkakan biaya.
6) Evaluasi dan Negosiasi Biaya. Selalu tinjau ulang setiap pengeluaran dan negosiasi
   dengan vendor atau mitra untuk mendapatkan harga terbaik serta opsi pembayaran yang
   lebih fleksibel.
7) Pantau Arus Kas Secara Ketat. Pastikan setiap pengeluaran terkontrol dengan
   melakukan pencatatan keuangan yang baik agar investasi tetap sesuai dengan
   perencanaan awal.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Penjualan Bersih
(Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%         -3%              -4%        -5%       -10%
                2025     22.410     21.738           21.565     21.290     20.169
                2026     29.245     28.368           28.143     27.783     26.321
                2027     36.594     35.496           35.214     34.764     32.934
                2028     44.486     43.151           42.809     42.262     40.037
                2029     52.955     51.366           50.958     50.307     47.659
                NPV       4.835        987                 -    (1.578)    (7.992)
                 IRR    24,84%     14,37%           11,83%       7,88%        -7%
        Discount Rate                               11,84%
                                                Breakevent     Tidak      Tidak
           Kelayakan    Layak     Layak
                                                   Point       Layak      Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan
Penjualan Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat
penurunan perubahan penjualan bersih melampaui 4%, dengan catatan variable lain tetap
(ceteris paribus). Perubahan Penjualan Bersih sangat sensitif, rambunya adalah batas
kelayakan Proyek adalah Penjualan tidak boleh turun lebih dari 4%. Variable ini paling
berisiko dalam konteks analisa ini.

Penurunan penjualan bisa menjadi tantangan besar bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi
yang dapat diterapkan untuk mengurangi risikonya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang
bisa dipertimbangkan:

1) Analisis Penyebab Penurunan Penjualan. Identifikasi faktor yang menyebabkan
   penurunan penjualan—apakah karena perubahan tren pasar, meningkatnya kompetitor,
   atau penurunan daya beli pelanggan?


                                          xvi
Page 17
2) Diversifikasi Produk atau Layanan. Menambah variasi produk atau layanan dapat
   membantu menarik segmen pelanggan baru dan menjaga daya saing bisnis.
3) Peningkatan Kualitas dan Layanan Pelanggan. Pastikan produk atau layanan berkualitas
   tinggi serta tingkatkan pengalaman pelanggan agar mereka tetap loyal.
4) Optimalisasi Strategi Pemasaran. Gunakan pendekatan pemasaran yang lebih efektif
   seperti kampanye digital, promosi menarik, atau pemasaran berbasis data.
5) Evaluasi dan Penyesuaian Harga. Jika persaingan harga menjadi tantangan,
   pertimbangkan penyesuaian harga yang tetap menguntungkan tetapi kompetitif.
6) Membangun Hubungan dengan Pelanggan. Gunakan strategi komunikasi yang baik,
   seperti program loyalitas, survei kepuasan, atau pendekatan lebih personal.
7) Pemanfaatan Teknologi dan Data. Gunakan analitik bisnis untuk memantau tren
   penjualan dan melakukan prediksi agar bisa bertindak cepat sebelum penurunan
   semakin signifikan.

Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan Beban Usaha (Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%           5%                8%        10%        15%
               2025    (10.446)     (10.968)         (11.290)    (11.490)   (12.012)
               2026    (13.632)     (14.313)         (14.734)    (14.995)   (15.676)
               2027    (17.057)     (17.910)         (18.436)    (18.762)   (19.615)
               2028    (20.735)     (21.772)         (22.412)    (22.809)   (23.846)
               2029    (24.683)     (25.917)         (26.679)    (27.151)   (28.385)
               NPV        4835         1.846                 -    (1.144)    (4.133)
                IRR     24,84%       16,62%           11,83%       8,95%      1,72%
       Discount Rate                                  11,84%
                                                  Breakevent     Tidak      Tidak
       Kelayakan       Layak       Layak
                                                     Point       Layak      Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Beban
Usaha yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
perubahan beban usaha melampaui 8%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).
Variable ini juga sangat sensitif, rambunya adalah batas kelayakan Proyek adalah Beban
Usaha tidak boleh naik lebih dari 8%. Variable ini kedua paling berisiko untuk analisa
sensitivitas ini.

Kenaikan biaya bisa menjadi tantangan serius bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi untuk
mengurangi dampaknya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan:

1) Evaluasi dan Pengendalian Biaya. Lakukan audit rutin terhadap pengeluaran dan
   identifikasi area yang bisa dioptimalkan atau dikurangi tanpa mengorbankan kualitas
   operasional.
2) Negosiasi dengan Pemasok. Jalin komunikasi yang baik dengan pemasok untuk
   mendapatkan harga lebih kompetitif, diskon pembelian dalam jumlah besar, atau
   alternatif bahan baku yang lebih efisien.
3) Optimalisasi Efisiensi Operasional. Gunakan teknologi dan otomatisasi untuk
   meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, dan
   memangkas biaya yang tidak perlu.



                                           xvii
Page 18
    4) Manajemen Energi dan Sumber Daya. Cari cara untuk menghemat penggunaan energi,
       seperti investasi dalam teknologi hemat listrik atau strategi keberlanjutan yang dapat
       menekan biaya jangka panjang.
    5) Diversifikasi Pendapatan. Tambahkan produk atau layanan baru yang dapat
       meningkatkan arus kas dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
    6) Penyesuaian Harga yang Bijak. Jika memungkinkan, lakukan penyesuaian harga secara
       strategis tanpa mengorbankan daya saing dan loyalitas pelanggan.
    7) Restrukturisasi dan Efisiensi SDM. Evaluasi kebutuhan tenaga kerja untuk memastikan
       sumber daya manusia digunakan secara optimal, termasuk peluang outsourcing atau
       pelatihan ulang agar lebih produktif.
    8) Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas dikelola dengan baik, cari
       opsi pembiayaan yang lebih efisien, dan pertimbangkan strategi penghematan jangka
       panjang.

7. Kesimpulan Studi Kelayakan

   Pada analisis keuangan menunjukkan kelayakan dengan NPV positif Rp4.834.961.247 dan
   IRR 24,84%, tetapi sensitivitas terhadap penurunan penjualan lebih besar dari 4% (penurunan
   penjualan > 4%) atau kenaikan beban usaha lebih besar dari 8% (kenaikan beban usaha >8%)
   perlu diperhatikan.

   Berdasarkan analisis kelayakan terhadap aspek pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen,
   dan keuangan, dengan syarat semua asumsi yang diproyeksikan terpenuhi, penambahan
   KBLI baru dinilai layak dilaksanakan. Laporan ini berlaku hingga Juni 2025 sesuai POJK No.
   17/POJK.04/2020, dan keberhasilannya bergantung pada stabilitas kondisi ekonomi serta
   pengelolaan risiko yang efektif.




                                            xviii
Page 19
                                                          DAFTAR ISI
                                                                                                                              Halaman

SERTIFIKAT
SURAT PERNYATAAN / REPRESENTASI
PERNYATAAN PENILAI
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR ISI
DAFTAR FIGUR

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 4
1.1.    Latar Belakang Penugasan ............................................................................................... 4
1.2.    Identitas Konsultan............................................................................................................ 5
1.3.    Identitas Pemberi Tugas ................................................................................................... 5
1.4.    Identitas Pengguna Laporan ............................................................................................. 6
1.5.    Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan setelah Penambahan KBLI Baru .............. 6
1.6.    Objek Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru ............................................... 6
1.7.    Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru ......................... 6
1.8.    Tanggal Efektif Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan .................................................... 7
1.9.    Jenis Mata Uang yang DIgunakan .................................................................................... 7
1.10. Metodologi Penyusunan Studi Kelayakan ......................................................................... 7
1.11. Konfirmasi Bahwa Objek Studi Kelayakan Tidak Sedang atau Telah Di nilai Dalam
        Jangka Waktu 1 (satu) Bulan ............................................................................................ 8
1.12. Tingkat Kedalam Investasi ................................................................................................ 8
1.13. Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan......................................................... 8
1.14. Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Independensi Konsultan ........................................ 9
1.15. Asumsi dan Kondisi Pembatas........................................................................................ 10
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN................................................. 1
2.1.    Gambaran Umum Perusahaan ......................................................................................... 1
2.2.    Aktivitas Usaha ................................................................................................................. 1
2.3.    Struktur Permodalan ......................................................................................................... 2
2.4.    Susunan Kepengurusan.................................................................................................... 2
2.5.    Legalitas dan Perizinan ..................................................................................................... 2
2.6.    Tinjauan Kinerja Keuangan ............................................................................................... 3
2.7.    Informasi Invetigasi Lapangan ........................................................................................ 16
BAB III TINJAUAN EKONOMI INDONESIA.................................................. 1
3.1.    Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................................................... 1
3.2.    Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ............................................................................... 2
3.3.    Nilai Tukar Rupiah ........................................................................................................... 2
3.4.    Perkembangan Inflasi ...................................................................................................... 3
3.5.    Perkembangan Suku Bunga ........................................................................................... 4
BAB IV ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................... 1
4.1.    Industri Manufaktur ........................................................................................................... 1
4.2.    Persaingan Usaha............................................................................................................. 3
4.3.    Strategi Pemasaran .......................................................................................................... 4
BAB IV ANALISIS ASPEK TEKNIS ......................................................... 1
5.1.    Bisnis PT Arita Prima Indonesia Tbk ................................................................................. 1


                                                                                                                           Halaman - 1
Page 20
5.2.   Rencana Kegiatan Baru .................................................................................................... 3
BAB V ANALISIS ASPEK POLA BISNIS .................................................... 1
6.1.   Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai .............................................................................. 1
6.2.   Keunggulan Kompetitif ...................................................................................................... 1
6.3.   Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk ...................................................................... 1
6.4.   Analisa SWOT .................................................................................................................. 2
BAB VII ANALISIS ASPEK MODEL MANAJEMEN .......................................... 1
7.1.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan Sebelum Adanya
       Penambahan KBLI ............................................................................................................ 1
7.2.   Kapasitas dan Kemampuan Manajemen setelah Adanya Penambahan KBLI .................. 2
7.3.   Manajemen Risiko............................................................................................................. 4
BAB VIII ANALISIS ASPEK KEUANGAN ................................................... 1
8.1.   Rencana Perusahaan (“APII”) ........................................................................................... 1
8.2.   Proyeksi Laba Rugi ........................................................................................................... 1
8.3.   Proyeksi Posisi Keuangan ................................................................................................ 2
8.4.   Inkremental Laporan Laba Rugi ........................................................................................ 4
8.5.   Inkremental Laporan Posisi Keuangan ............................................................................. 5
8.6.   Cut Off Date dalam Analisis .............................................................................................. 6
8.7.   Penetapan Tingkat Diskonto ............................................................................................. 6
8.8.   Analisis Kelayakan Proyek ................................................................................................ 9
8.9.   Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI baru ................................................ 10
8.10. Kesimpulan ..................................................................................................................... 15




                                                                                                                         Halaman - 2
Page 21
                                                         DAFTAR FIGUR
                                                                                                                                  Halaman

Figur 2.3.1 Susunan Pemegang Saham APII ................................................................................ 2
Figur 2.6.1 Laba (Rugi) .................................................................................................................. 3
Figur 2.6.2 Posisi Keuangan .......................................................................................................... 5
Figur 2.6.3 Arus Kas ...................................................................................................................... 7
Figur 2.6.4 Rasio Keuangan .......................................................................................................... 9
Figur 2.6.5 Analisis Vertikal Laba Rugi ........................................................................................ 11
Figur 2.6.6 Analisis Vertikal Laporan Posisi Keuangan ................................................................ 12
Figur 2.6.7 Analisis Horizontal Laporan Posisi Keuangan ........................................................... 14
Figur 3.1.1 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran ................... 1
Figur 3.2.1 Neraca Pembayaran Indonesia ................................................................................... 2
Figur 3.4.1 Peta Inflasi Daerah Tahun 2024 .................................................................................. 4
Figur 7.1.1 Berikut adalah jajaran direksi APII saat ini : ................................................................. 1
Figur 7.1.2 Struktur Organisasi Tanpa Adanya Penambahan KBLI ............................................... 2
Figur 8.2.1 Proyeksi Laba Rugi dengan penambahan kegiatan usaha .......................................... 1
Figur 8.2.2 Proyeksi Laba Rugi tanpa penambahan kegiatan usaha ............................................. 2
Figur 8.3.1 Proyeksi Posisi Keuangan dengan penambahan kegiatan usaha ............................... 2
Figur 8.3.2 Proyeksi Posisi Keuangan tanpa penambahan kegiatan usaha .................................. 3
Figur 8.4.1 Inkremental Proyeksi Laba Rugi .................................................................................. 4
Figur 8.5.1 Inkremental Proyeksi Laporan Posisi Keuangan.......................................................... 5
Figur 8.7.1 Beta ............................................................................................................................. 7
Figur 8.7.2 Cost of Equity .............................................................................................................. 8
Figur 8.7.3 Perhitungan WACC...................................................................................................... 9




                                                                                                                               Halaman - 3
Page 22
                                      BAB I
                                  PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Penugasan

       PT Arita Prima Indonesia Tbk ("APII/Perusahaan") didirikan di Republik Indonesia
       berdasarkan Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi, S.H. No. 1 tanggal 5 Oktober 2000.
       Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
       Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31
       Mei 2001 dan telah diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No.
        31 tanggal 16 April 2002, Tambahan No. 3727.

       Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
       adalah dalam bidang industri pipa dan perdagangan besar mesin, suku cadang, kompresor
       dan klep.


       Perkembangan sektor industri, perdagangan, dan jasa di Indonesia terus menunjukkan tren
       pertumbuhan yang positif, mendorong kebutuhan terhadap berbagai layanan penunjang
       seperti konsultasi bisnis dan manajemen, perdagangan besar, pergudangan, pengelolaan
       kawasan industri, konstruksi, pengelolaan limbah, serta pengembangan properti.

       Melihat potensi pertumbuhan tersebut, Perusahaan berencana menambah Klasifikasi Baku
       Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yaitu :

       1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
       2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
       3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
       4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
       5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
       6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
       7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
       8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
       9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

       Penambahan kegiatan usaha ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pengembangan
       bisnis Perusahaan guna memperluas cakupan usaha.

       Tujuan dari studi kelayakan ini adalah sebagai acuan bagi manajemen Perusahaan dalam
       mengambil keputusan, sehubungan dengan rencana pengembangan usaha melalui adanya
       “Rencana penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)”. Laporan studi
       kelayakan ini akan disampaikan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”).

       TOPAZ memiliki ijin usaha dari Kementrian Keuangan Republik Indonesia Nomor 2.20.0171
       berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
       387/KM/1/2020 tanggal 11 Agustus 2020 dan terdaftar sebagai profesi penunjang pasar


                                                                                   Halaman - 4
Page 23
       modal di Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) -d/h Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
       Keuangan (Bapepam-LK) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal
       Nomor s-815/PM.223/2021.

       Pekerjaan studi kelayakan ini dilakukan menurut prosedur berikut ini :
       1. Perumusan persoalan dan penyediaan data
       2. Pemeriksaan dan penelitian dokumen terkait
       3. Reviu laporan keuangan
       4. Verifikasi dan analisis business plan
       5. Analisis dan perhitungan kelayakan penambahan KBLI baru
       6. Laporan pendahuluan
       7. Laporan draf studi kelaykan penambahan KBLI baru
       8. Laporan lengkap studi kelayakan penambahan KBLI baru

       Berikut kami sampaikan opini kami mengenai studi kelayakan penambahan KBLI baru pada
       perusahaan per tanggal 31 Desember 2024.

1.2.   Identitas Konsultan

       KJPP Tobing Panuturi & Rekan (“TOPAZ”) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang terdaftar
       di Kementerian Keuangan dan juga terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di
       Otoritas Jasa Keuangan serta memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan studi
       kelayakan penambahan kegiatan usaha ini.

       Konsultan adalah partner dari KJPP Tobing Panuturi & Rekan dengan kualifikasi sebagai
       berikut :
       Nama Penilai/Konsultan        : Prasetyo Djoko Sasongko.M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert.)
       No. Izin Penilai              : B.1-14.00395
       No. STTD Penunjang Pasar Modal: STTD.PB-24/PJ-1/PM.2/2023
       No. MAPPI                     : 07-S-02115
       Klasifikasi Izin              : Penilai Bisnis (B)

       Konsultan yang bertandatangan dalam laporan ini bertidak dalam kapasitasnya sebagai
       Rekan dalam Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi dan Rekan. Dalam mempersiapkan
       Laporan Studi Kelayakan ini kami bertindak secara independen tanpa adanya benturan
       kepentingan dan tidak terafiliasi dengan Pemberi Tugas, Objek Studi ataupun pihak-pihak
       yang terafiliasi dengan Pemberi Tugas dan Objek Studi. TOPAZ juga tidak memiliki
       kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.

       Laporan Studi ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
       manapun. Imbalan jasa yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh nilai yang
       dihasilkan.

1.3.   Identitas Pemberi Tugas

       Nama Perusahaan                       :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
       Jenis Usaha                           :   Jasa perdagangan besar berbagai macam


                                                                                   Halaman - 5
Page 24
       Alamat                               :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                                Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                                5-9
                                                Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                                Jakarta Utara, 14350
       Nomor telepon                        :   +62 21 651 9188
       Web                                  :   @ptaritaprimaindonesiatbk

1.4.   Identitas Pengguna Laporan

       Nama Perusahaan                      :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
       Jenis Usaha                          :   Jasa perdagangan besar berbagai macam
       Alamat                               :   PT Arita Prima Indonesia Tbk
                                                Jl. Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No.
                                                5-9
                                                Jl. Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok,
                                                Jakarta Utara, 14350
       Nomor telepon                        :   +62 21 651 9188
       Web                                  :   @ptaritaprimaindonesiatbk

1.5.   Nomor dan Tanggal Laporan Studi Kelayakan setelah Penambahan KBLI Baru

       TOPAZ telah menyusun Laporan Studi Kelayakan Penambahan KBLI baru dengan :
       Nomor Laporan         : 0502/2.0171-00/BS-FS/V/2025.0171-00/BS-FS/I/2025
       Tanggal               : 28 Mei 2025

1.6.   Objek Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru

       Bahwa Objek studi Kelayakan sesuai dengan infromasi yang diberikan oleh Pemberi Tugas
       adalah Jasa Studi Kelayakan Rencana Penambahan Kegiatan Usaha berupa penambahan
       bidang usaha sebagai berikut :

        1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
        2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
        3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
        4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
        5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
        6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
        7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
        8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
        9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

1.7.   Maksud dan Tujuan Studi Kelayakan terhadap Penambahan KBLI Baru

       Maksud studi kelayakan yang akan dilaksanakan adalah memberikan pendapat atas
       kelayakan penambahan kegiatan usaha Perusahaan sehubungan dengan Rencana
       Penambahan sebagai berikut:



                                                                                   Halaman - 6
Page 25
       1.   KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
       2.   KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
       3.   KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
       4.   KBLI 68120 – Real Estat Yange
       5.   KBLI 68130 – Kawasan Industri
       6.   KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
       7.   KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
       8.   KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
       9.   KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

       Rencana ini tidak untuk bentuk rencana transaksi lainnya, serta tidak dimaksudkan untuk
       kepentingan perpajakan, jual beli, perbankan, dan tujuan lainnya. Laporan studi kelayakan
       ini akan disampaikan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

       Studi kelayakan ini mengacu kepada kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
       17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan
       Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan
       Penilaian Bisnis di Pasar Modal, Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik
       Indonesia No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan
       Penilaian Bisnis di Pasar Modal serta Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) serta Standar
       Penilaian Indonesia (“SPI”) Edisi VII Tahun 2018 dan SPI 330 Edisi Revisi Tahun 2020.

       Tujuan laporan ini adalah melakukan studi kelayakan atas Rencana Penambahan KBLI
       untuk keperluan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

1.8.   Tanggal Efektif Studi Kelayakan dan Waktu Pelaporan

       Tanggal pisah batas (cut off date) penilaian adalah per 31 Desember 2024, dimana batas
       tersebut diambil atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian. Berdasarkan
       Pasal 6 ayat 2 (dua) POJK No. 17/POJK.04/2020 bahwa masa berlaku di Studi Kelayakan,
       yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal penilaian dalam Studi Kelayakan. Sehingga masa
       berlaku laporan berakhir pada akhir Juni 2025.

1.9.   Jenis Mata Uang yang DIgunakan

       Dalam penugasan ini Studi Kelayakan dinyatakan dalam mata uang Rupiah.

1.10. Metodologi Penyusunan Studi Kelayakan

       Penyusunan studi kelayakan ini dilakukan melalui 3 pendekatan. Setiap pendekatan
       dihubungkan dan dikonfirmasikan satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan studi
       yang komprehensif. Adapun pendekatan penyusunan studi kelayakan ini adalah sebagai
       berikut :
        a. Pengumpulan Data dan Informasi
        b. Analisa Data
        c. Penyusunan Laporan Penilaian




                                                                                     Halaman - 7
Page 26
1.11. Konfirmasi Bahwa Objek Studi Kelayakan Tidak Sedang atau Telah Di nilai Dalam
      Jangka Waktu 1 (satu) Bulan

     Perusahaan telah mengkonfirmasi bahwa objek studi kelayakan tidak sedang atau telah
     dinilai oleh Penilai Publik lainnya untuk maksud, tujuan, pengguna laporan dan tanggal studi
     kelayakan yang sama atau berdekatan (dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan).
     Bahwa Penilai dibebaskan dari segala bentuk tuntutan/klaim, gugatan ganti rugi yang
     mungkin timbul dari pihak ketiga atau pihak lainnya atas konfirmasi objek studi kelayakan
     yang tidak benar dari Perusahaan. Selain itu juga Perusahaan akan mengidentifikasi dari
     segala kerugian dan/atau kewajiban yang dialami oleh Penilai dan TOPAZ.

1.12. Tingkat Kedalam Investasi

     Dalam studi kelayakan ini, kami telah melakukan investigasi untuk mendapatkan keyakinan
     yang memadai di antaranya dengan melakukan wawancara terhadap perwakilan
     Manajemen Perusahaan. Pihak-pihak berkepentingan yang telah diwawancarai sebagai
     berikut:

     1. Bapak Sangap Dame sebagai Deputy direksi keuangan
     2. Bapak Hong Hauw Fung sebagai Operational Super Intendant

     Dari hasil wawancara dan data/ informasi yang diterima, yaitu :

      •   Adanya rencana penambahan KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker,
          KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan, KBLI 52109 – Pergudangan dan
          Penyimpanan Lainnya, KBLI 68120 – Real Estat Yange, KBLI 68130 – Kawasan
          Industri, KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa, KBLI 70209
          - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya, KBLI 52103 - Aktivitas Bounded
          Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat dan KBLI 38220 - Treatment dan
          Pembuangan Limbah Berbahaya.
      •   Cut off date yang digunakan adalah per 31 Desember 2024.

1.13. Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan

     Tinjauan terhadap kondisi fundamental objek studi kelayakan yang menyangkut sejarah
     singkatnya, struktur modal, susunan pengurus dan deskripsi bidang usaha serta
     memperhatikan kondisi makro yang ada. Data – data sebagai informasi pendukung adalah
     sebagai berikut:

     Adapun data dan informasi yang diperoleh dari internal perusahaan yang menjadi dasar
     penyusunan laporan studi kelayakan ini antara lain:
      • Profil perusahaan, akta pendirian dan akta perubahan terakhir milik perusahaan, dan
         perizinan terkait.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik Kanaka Puradiredja, Suhartono Nomor R-00049/3.0354/AU.1/05/0584-
         1/1/III/2021 tanggal 29 Maret 2021 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      • Laporan keuangan per 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
         Publik     Kosasih,     Nurdiyaman,     Mulyadi,    Tjahjo   &     Rekan    Nomor

                                                                                     Halaman - 8
Page 27
          00279/2.1051/AU.1/05/0008-1/1/III/2022 tanggal 30 Maret 2022 dengan opini wajar
          tanpa modifikasian.
      •   Laporan keuangan per 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik     Kosasih,      Nurdiyaman,     Mulyadi,   Tjahjo    &    Rekan      Nomor
          00265/2.1051/AU.1/05/0008-2/1/III/2023 tanggal 28 Maret 2023 dengan opini wajar
          tanpa modifikasian.
      •   Laporan keuangan per 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00062/3.0478/AU.1/05/0019-1/1/III/2024 tanggal 26
          Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      •   Laporan keuangan per 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00125/3.0478/AU.1/05/0019-2/1/III/2025 tanggal 26
          Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      •   Data proyeksi keuangan KBLI baru tahun 2025-2029 yang disiapkan oleh manajemen.
      •   TOPAZ tidak melakukan penyesuaian atas proyeksi keuangan yang telah disiapkan
          oleh manajemen Perusahaan dikarenakan Proyeksi telah mencerminkan kewajaran.
      •   Data-data yang berhubungan dengan pangsa pasar, aspek teknis, aspek pola bisnis,
          dan aspek modal manajemen yang disampaikan oleh manajemen Perusahaan.
      •   Struktur organisasi Perusahaan dan struktur organisasi untuk KBLI baru.
      •   Representation Letter nomor 29/SEKPER/APII/V/2025 tanggal 27 Mei 2025 yang
          disiapkan oleh manajemen Perusahaan dan ditujukan kepada TOPAZ sehubungan
          dengan penugasan penilaian.
      •   Data-data lain sebagai informasi pendukung.
      •   Berbagai sumber informasi baik berdasarkan media cetak dan elektronik, seperti
          website, Damodaran, website S&P, asosiasi industri terkait, dan Bank Indonesia, serta
          hasil analisis lain yang kami anggap relevan dengan penugasan ini.

1.14. Ruang Lingkup Penugasan Studi dan Independensi Konsultan

     Sebagai KJPP yang telah ditunjuk oleh pemberi tugas untuk menyusun laporan studi
     kelayakan ini, kami berkomitmen untuk mematuhi ketentuang yang diatur dalam POJK 17
     tahun 2020 dan SEOJK 17 tahun 2020. Studi kelayakan ini bertujuan untuk memberikan
     analisis menyeluruh yang mencakup Analisa Kelayakan Pasar, Analisa Kelayakan Teknis,
     Analisa Pola Bisnis, Analisa Kelayakan Model Manajemen, dan Analisa Kelayakan
     Keuangan. Kami memahami bahwa penugasan ini tidak hanya menuntut pemahaman
     mendalam mengenai objek studi, tetapi juga penerapan metodologi yang sesuai untuk
     menghasilkan laporan yang kredibel dan akurat.

     Dalam mempersiapkan Laporan Studi Kelayakan ini kami telah bertindak secara independen
     tanpa adanya konflik dan tidak terafiliasi dengan Perusahaan, ataupun pihak-pihak yang
     terafiliasi dengan perusahaan tersebut. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau
     keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Studi Kelayakan
     ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pada pihak manapun.
     Imbalan yang kami terima adalah sama sekali tidak dipengaruhi oleh indikasi nilai yang
     dihasilkan dari proses analisis kelayakan ini dan kami hanya menerima imbalan sesuai yang
     tercantum pada proposal penawaran Nomor 0501/FS.B/KJPP-TOPAZ/V/2025 tanggal 21
     Mei 2025, yang sudah ditandatangani oleh manajemen perusahaan tanggal 23 Mei 2025.



                                                                                    Halaman - 9
Page 28
1.15. Asumsi dan Kondisi Pembatas

     Asumsi

     Asumsi dan asumsi khusus yang akan digunakan dalam penugasan merupakan asumsi dan
     asumsi khusus yang wajar dan relevan dengan memperhatikan tujuan di mana studi
     kelayakan diperlukan.

     Asumsi khusus adalah asumsi yang berbeda dari fakta yang sebenarnya pada tanggal studi
     kelayakan atau hal yang tidak akan dibuat oleh sebagian kecil pelaku pasar dalam suatu
     transaksi pada tanggal studi kelayakan. Asumsi khusus sering digunakan untuk
     menggambarkan efek dari suatu situasi yang akan mempengaruhi nilai.

     Dalam pelaksanaan penugasan, Studi akan menggunakan asumsi yang wajar untuk
     diterima sebagai fakta dalam konteks penugasan.

     Kondisi Pembatas

     Pembatasan pada studi kelayakan ini adalah sebagai berikut:

      •   Laporan Studi Kelayakan merupakan hasil analisis TOPAZ atas rencana penambahan
          Kegiatan Usaha APII yang juga dimaksudkan untuk digunakan sebagai pemenuhan
          ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang
          Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
          Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di
          Pasar Modal dan Salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
          No.17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian
          Bisnis di Pasar Modal.
      •   Besaran investasi yang digunakan dalam proyeksi merujuk pada rencana dan
          pertimbangan manajemen dengan tetap memperhatikan data pasar.
      •   Penyusunan laporan studi ini merupakan interpretasi kami atas data dan informasi yang
          diperoleh dan tersedia yang kami anggap benar pada saat penyusunan laporan ini
          dilakukan. Asumsi-asumsi yang digunakan mungkin tidak lagi berlaku apabila terjadi
          sesuai atau kondisi tertentu yang mempengaruhi ketepatan asumsi-asumsi tersebut,
          seperti diberlakukannya peraturan-peraturan pemerintah yang baru maupun
          perubahan-perubahan penting di manajemen, bidang politik, sosial, dan ekonomi.
      •   Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian sebagai akibat dari kesalahan opini atau
          kesimpulan yang terjadi karena adanya data atau informasi APII yang relevan dan
          signifikan pengaruhnya terhadap opini atau kesimpulan kami, yang tidak dan/atau
          belum kami terima dari APII.
      •   Kami berasumsi bahwa APII mentaati semua peraturan yang ditetapkan Pemerintah,
          khususnya yang terkait dengan operasional perusahaan, baik di masa lalu maupun di
          masa mendatang.
      •   Kami tidak melaksanakan pemeriksaan terhadap legalitas aset yang dimiliki oleh APII.
          Kami berasumsi bahwa tidak ada masalah legalitas berkenaan dengan aset-aset APII,
          baik saat ini maupun di masa yang akan datang.




                                                                                  Halaman - 10
Page 29
•   Kami berasumsi bahwa APII telah dan akan memenuhi kewajiban berkenaan dengan
    perpajakan, retribusi pungutan-pungutan, dan/atau kewajiban lainnya sesuai dengan
    peraturan yang berlaku.
•   Kami telah melakukan penelahaan atas dokumen yang digunakan dalam proses
    penyusunan Studi Kelayakan.
•   Kami mengandalkan sepenuhnya data-data dari manajemen, adapun laporan
    keuangan audited per cut off date, kami peroleh dari manajemen.
•   Data dan informasi diperoleh dari sumber dan data yang dapat dipercaya.
•   Kami menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan
    kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
    pencapaian (fiduciary duty).
•   Kami bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan Studi Kelayakan dan
    kewajaran proyeksi keuangan.
•   Kami bukan konsultan yang berkompetensi masalah lingkungan hidup dan karenanya
    tidak bertanggung jawab terhadap setiap kewajiban aktual atau potensial yang terkait
    dengan permasalahan lingkungan.
•   Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non disclaimer opinion.
•   Konsultan bertanggung jawab pada laporan Studi Kelayakan ini dan kesimpulan akhir
    dari laporan ini.




                                                                            Halaman - 11
Page 30
                              BAB II
                    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Gambaran Umum Perusahaan

       PT Arita Prima Indonesia Tbk ("APII/Perusahaan") didirikan di Republik Indonesia
       berdasarkan Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi, S.H. No. 1 tanggal 5 Oktober 2000. Akta
       pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
       Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31 Mei 2001 dan
       telah diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 31 tanggal 16 April
       2002, Tambahan No. 3727.

       Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan
       Akta Notaris Tjhong Sendrawan, S.H. No. 12 tanggal 27 Juni 2019 mengenai penyusunan
       kembali ketentuan dalam Anggaran Dasar Perusahaan tentang Maksud dan Tujuan serta
       Kegiatan Usaha Perusahaan sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
       (“KBLI”) tahun 2017. Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
       Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.03-0299594 tanggal
       18 Juli 2019.

       Susunan Kepengurusan mengalami perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Tjhong
       Sendrawan S.H., No. 29 tanggal 22 September 2022 berkedudukan di Jakarta Utara
       mengenai perubahan pengangkatan Kembali. Perubahan tersebut telah disetujui oleh
       Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
       AHU-AH.01.09-0060365 tanggal 30 September 2022.

       Kantor pusat Perusahaan terletak di Komplek Rukan Sunter Permai Blok C No. 7-9, Jalan
       Danau Sunter Utara, Sunter Agung, Jakarta Utara. Perusahaan memiliki 40 kantor cabang
       yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Perusahaan mulai beroperasi secara
       komersial sejak tahun 2001. Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha Unimech Group
       Berhad, Malaysia.

       Pada tanggal 17 Oktober 2013, Perusahaan memeroleh pernyataan efektif dari Dewan
       Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Surat Keputusan No. S-
       307/D.04/2013 untuk melakukan penawaran umum saham kepada Masyarakat sejumlah
       275.000.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham dengan harga
       penawaran Rp220 per lembar saham. Seluruh saham Perusahaan telah tercatat pada Bursa
       Efek Indonesia.

2.2.   Aktivitas Usaha

       Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
       adalah dalam bidang industri pipa dan perdagangan besar mesin, suku cadang, kompresor
       dan klep.




                                                                                    Halaman - 1
Page 31
2.3.   Struktur Permodalan

       Berdasarkan akta Nomor 12 tanggal 19 Juni 2024, struktur pemegang saham sebagai
       berikut :

       Figur 2.3.1 Susunan Pemegang Saham APII
                                     Jumlah Saham Ditempatkan      Persentase
            Pemegang Saham                                                          Jumlah
                                         dan Disetor Penuh         Kepemilikan
        PT Arita Global                             622.214.760         57,84%      62.221.476.000
        Arita Engineering Sdn.Bhd.                  151.125.260          14,05%     15.112.526.000
        Low Yew Lean                                 60.146.480           5,59%      6.014.648.000
        Masyarakat                                  242.272.500          22,52%     24.227.350.000
        Total                                      1.075.760.000         100,00%   107.576.000.000
       Sumber : akta Nomor 12 tanggal 19 Juni 2024

2.4. Susunan Kepengurusan

       Berdasarkan Akta Perubahan Terakhir No. 29 tanggal 22 September 2022, Susunan
       pengurus Perusahaan adalah sebagai berikut :

       Dewan Komisaris
       Komisaris Utama               : Lim Cheah Chooi
       Komisaris                     : Sim Yee Fuan
       Komisaris Independen          : Bernadetha Melinda Kirana Putri

       Direksi
       Direktur Utama                : Low Yew Lean
       Direktur                      : Chan Chein Liang
       Direktur                      : Harianto

2.5.   Legalitas dan Perizinan

       Legalitas dan Perizinan yang telah dimiliki APII adalah sebagai berikut:

       1. Akta Pendirian nomor 1 tanggal 5 Oktober 2000 berdasarkan Akta Notaris Triphosa Lily
          Ekadewi, S.H di Jakarta Barat. Akta Pendirian ini telah disahkan oleh Menteri
          Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. 0-
          7935.HT.01.01.TH.2001 tanggal 31 Mei 2001.
       2. Akta Notaris Tjhong Sendrawan, S.H. No. 12 tanggal 27 Juni 2019 mengenai
          penyusunan kembali ketentuan dalam Anggaran Dasar Perusahaan tentang Maksud
          dan Tujuan serta Kegiatan Usaha Perusahaan sesuai dengan Klasifikasi Baku
          Lapangan Usaha Indonesia (“KBLI”) tahun 2017. Perubahan tersebut telah disetujui
          oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat
          Keputusan No. AHU-AH.01.03-0299594 tanggal 18 Juli 2019.
       3. Akta Notaris Tjhong Sendrawan S.H., No. 29 tanggal 22 September 2022
          berkedudukan di Jakarta Utara mengenai perubahan pengangkatan Kembali.
          Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia


                                                                                       Halaman - 2
Page 32
          Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.09-0060365 tanggal 30
          September 2022.
      4. Laporan keuangan per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Kanaka Puradiredja, Suhartono Nomor R-00049/3.0354/AU.1/05/0584-
          1/1/III/2021 tanggal 29 Maret 2021 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      5. Laporan keuangan per 31 Desember 2021 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik     Kosasih,     Nurdiyaman,    Mulyadi,    Tjahjo    &     Rekan     Nomor
          00279/2.1051/AU.1/05/0008-1/1/III/2022 tanggal 30 Maret 2022 dengan opini wajar
          tanpa modifikasian.
      6. Laporan keuangan per 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik     Kosasih,     Nurdiyaman,    Mulyadi,    Tjahjo    &     Rekan     Nomor
          00265/2.1051/AU.1/05/0008-2/1/III/2023 tanggal 28 Maret 2023 dengan opini wajar
          tanpa modifikasian.
      7. Laporan keuangan per 31 Desember 2023 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00062/3.0478/AU.1/05/0019-1/1/III/2024 tanggal 26
          Maret 2024 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      8. Laporan keuangan per 31 Desember 2024 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan
          Publik Mirawati Sensi Idris Nomor 00125/3.0478/AU.1/05/0019-2/1/III/2025 tanggal 26
          Maret 2025 dengan opini wajar tanpa modifikasian.
      9. Nomor Induk Berusaha (NIB) nomor 9120304300414
      10. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) nomor 02.005.399.7-059.000

2.6. Tinjauan Kinerja Keuangan

     Analisa terhadap kinerja keuangan Perusahaan dilakukan berdasarkan kepada laporan
     keuangan untuk tahun yang berakhir diaudit untuk tahun 2020 sampai dengan 2024. Berikut
     ringkasan laporan keuangan beserta rasio laporan keuangan :

     Tinjauan Laba (Rugi)

     Figur 2.6.1 Laba (Rugi)
                                                                                 (Jutaan Rupiah)
                                         2020        2021        2022        2023           2024
                                         Audit       Audit       Audit       Audit         Audit


      Penjualan Bersih                   248.931     252.449     295.022     299.111       280.127
      Beban Pokok Penjualan             (105.037)   (108.093)   (136.454)   (120.491)     (124.828)
      Laba Bruto                         143.894     144.356     158.569     178.620       155.299
      Beban penjualan                    (47.117)    (45.293)    (52.296)    (54.080)      (53.474)
      Beban umum dan administrasi        (43.738)    (59.543)    (64.952)    (72.185)      (77.097)
      Total Beban Operasional            (90.855)   (104.836)   (117.248)   (126.265)     (130.570)
      Laba Operasi                        53.038      39.520      41.321      52.355         24.728
      Penghasilan (Beban) Lain-lain
      Beban keuangan                     (15.828)    (13.929)    (14.654)    (14.547)      (16.217)
      Selisih kurs-bersih                 (1.445)       (915)     (1.577)           25      (1.106)




                                                                                         Halaman - 3
Page 33
                                     2020         2021        2022        2023           2024
                                     Audit        Audit       Audit       Audit         Audit
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                       1.496              -           -           -             -
 tertagih
 Pendapatan bunga                        807          566         668         743           911
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap            3            -           -           -             -
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                       (273)       (1.017)      1.652       2.507          3.314
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                      1.187        4.441       (568)         256          (466)
 Beban Lain-lain - neto              (14.053)     (10.855)    (14.479)    (11.016)      (13.565)
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan       38.985       28.665      26.842      41.339         11.163
 Pajak final                                (1)       (14)            -     (299)          (215)
 Pajak kini                           (8.614)      (8.087)    (11.428)    (10.607)       (5.930)
 Pajak tangguhan                       (218)          108      (1.360)        219           230
 Laba Tahun Berjalan                  30.152       20.672      14.054      30.651          5.249
Sumber : Laporan Keuangan APII

Pendapatan (Penjualan Bersih)
Penjualan bersih perusahaan meningkat dari Rp248.931 juta di tahun 2020 menjadi
puncaknya sebesar Rp299.111 juta pada tahun 2023. Namun, pada 2024 terjadi penurunan
menjadi Rp280.127 juta. Meski secara umum tren lima tahunan masih positif, penurunan di
tahun terakhir perlu diwaspadai karena bisa menjadi indikasi tekanan pasar atau turunnya
daya saing perusahaan.

Laba Kotor
Laba kotor meningkat dari Rp143.894 juta pada tahun 2020 menjadi Rp178.620 juta pada
2023, sebelum turun ke Rp155.299 juta di tahun 2024. Penurunan ini sejalan dengan
menurunnya penjualan dan meningkatnya beban pokok penjualan dari Rp120.491 juta
menjadi Rp124.828 juta. Meskipun laba kotor masih cukup tinggi, margin kotor perusahaan
mulai tertekan.

Laba Operasional
Laba operasional berfluktuasi cukup tajam. Dari Rp53.038 juta di tahun 2020, turun ke
Rp39.520 juta di 2021, naik tipis menjadi Rp41.321 juta di 2022, lalu naik lagi ke Rp52.355
juta di 2023. Namun, pada 2024 laba operasional anjlok drastis menjadi hanya Rp24.728 juta.
Penurunan ini disebabkan oleh terus meningkatnya total beban operasional, dari Rp90.855
juta di 2020 menjadi Rp130.570 juta di 2024, terutama beban umum dan administrasi yang
naik signifikan.

Laba Sebelum Pajak
Laba sebelum pajak juga menunjukkan penurunan dari Rp38.985 juta di 2020 menjadi hanya
Rp11.163 juta pada 2024. Ini terjadi meskipun beban keuangan relatif stabil. Namun, beban
lain-lain bersih masih tinggi dan menggerus laba, mencapai Rp13.565 juta di tahun 2024.

Laba Tahun Berjalan
Laba bersih perusahaan menurun tajam dari Rp30.152 juta di 2020 menjadi hanya Rp5.249
juta di 2024. Penurunan ini terjadi meskipun sempat ada pemulihan di 2023 (Rp30.651 juta).

                                                                                      Halaman - 4
Page 34
Kinerja 2024 merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir dan mencerminkan
tekanan dari sisi operasional dan non-operasional sekaligus, ditambah beban pajak yang
tetap tinggi meskipun laba menurun.

Tinjauan Posisi Keuangan

Figur 2.6.2 Posisi Keuangan
                                                                             (Jutaan Rupiah)
                                      2020        2021        2022        2023           2024
                                      Audit       Audit       Audit       Audit         Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                          13.361      21.567      15.716      19.178          8.860
 Deposito berjangka                    10.661      10.637      11.214             -             -
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                       1.127       2.115       2.731       2.796          3.334
   Pihak ketiga                        62.823      52.638      53.985      50.553         45.696
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                       3.202       5.739       8.827      10.163          9.239
   Pihak ketiga                         1.916       3.238       4.909       2.914          2.716
 Persediaan                           185.623     190.145     207.614     199.929       215.088
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka    11.383      19.853       7.319      11.592         18.580
 Pajak dibayar dimuka                    440        1.404            24    11.290          6.687
 Jumlah Aset Lancar                   290.537     307.336     312.340     308.414       310.199


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap               -           -           -    14.747         10.737
 Aset pajak tangguhan - bersih          5.152       4.224       2.945       3.325          3.488
 Aset hak guna neto                           -      999        1.171        690           1.017
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                       10.577      14.155      15.072      17.537         21.001
 bersih
 Aset tetap                           204.488     212.754     231.732     252.118       273.097
 Aset tak berwujud                       259         621         607         823            589
 Taksiran klaim pajak penghasilan       1.171       2.240        522        3.083          8.518
 Aset lain-lain                              37           -           -           -             -
 Jumlah Aset Tidak Lancar             221.684     234.994     252.049     292.324       318.446
 Jumlah Aset                          512.221     542.329     564.389     600.737       628.646


 Liabilitas dan Ekuitas
 Liabilitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Utang bank jangka pendek             119.489     117.553     115.021     118.246       136.797



                                                                                      Halaman - 5
Page 35
                                          2020        2021        2022        2023         2024
                                          Audit       Audit       Audit       Audit       Audit
 Utang usaha
   Piutang berelasi                         2.376       3.110       5.677       2.229        8.534
   Piutang ketiga                          12.149      11.212      11.917       9.969        9.544
 Utang pajak                                3.989       4.029       5.332       5.216        2.717
 Beban masih harus dibayar                   364         888        5.006       6.750        5.325
 Utang lain-lain
   Piutang berelasi                        21.112      21.781      20.941      21.889       25.178
   Piutang ketiga                                10          30          30      454              30
 Uang muka pelanggan                         842        3.327       7.211       7.741        3.292
 Utang jangka panjang yang akan
 jatuh tempo dalam waktu satu tahun
   Utang bank                                375        1.125       1.569       1.854        1.747
   Utang pembiayaan konsumen                1.959       2.371       2.011       1.270         578
   Liabilitas sewa                                -      301         199         151          328
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek          162.664     165.727     174.914     175.768     194.072


 Liabilitas Jangka Panjang
 Utang jangka panjang
   Utang bank                                675        2.095       2.431       4.548        6.137
   Utang pembiayaan konsumen                1.512       1.418       1.519        443          173
   Liabilitas sewa                                -          88      208         182          312
 Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                           14.148      11.533       7.639       9.350       10.517
 karyawan
 Jumlah Liabilitas Jangka panjang          16.335      15.134      11.798      14.522       17.140
 Jumlah Liabilitas                        179.000     180.861     186.712     190.290     211.212


 Ekuitas
 Modal saham                              107.576     107.576     107.576     107.576     107.576
 Tambahan modal disetor                    33.937      33.937      33.937      33.937       33.937
 Selisih transaksi dengan kepentingan
                                                  -   (2.011)     (2.597)     (2.597)      (2.679)
 non-pengendali
 Saldo laba
   Telah ditentukan penggunannya           16.000      16.000      16.000      16.000       16.000
   Belum ditentukan penggunannya          173.676     196.805     209.267     237.632     242.121
 Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                          331.190     352.307     364.184     392.549     396.956
 kepada pemilik entitas induk
 Kepentingan non pengendali                 2.031       9.161      13.494      17.899       20.478
 Jumlah Ekuitas                           333.221     361.468     377.677     410.447     417.434
 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            512.221     542.329     564.389     600.737     628.646
Sumber : Laporan keuangan Audit APII


                                                                                        Halaman - 6
Page 36
Aset
Total aset perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari Rp512.221 juta di
tahun 2020 menjadi Rp628.646 juta pada tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan
adanya ekspansi aset secara bertahap selama lima tahun. Aset lancar mendominasi
proporsi aset secara keseluruhan, meskipun nilainya relatif stabil dalam lima tahun terakhir,
yaitu dari Rp290.537 juta pada 2020 menjadi Rp310.199 juta pada 2024. Yang menarik, kas
dan bank mengalami penurunan signifikan dari Rp19.178 juta pada 2023 menjadi hanya
Rp8.860 juta pada 2024, yang dapat mengindikasikan tekanan likuiditas. Sebaliknya,
persediaan justru meningkat dari Rp185.623 juta di 2020 menjadi Rp215.088 juta di 2024,
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak barang yang belum terjual, yang
bisa berdampak pada efisiensi modal kerja. Sementara itu, aset tidak lancar juga meningkat
cukup signifikan, terutama pada aset tetap yang naik dari Rp204.488 juta di 2020 menjadi
Rp273.097 juta di 2024. Kenaikan ini menunjukkan adanya investasi jangka panjang yang
berkelanjutan dalam infrastruktur atau alat produksi.

Liabilitas
Total liabilitas perusahaan meningkat dari Rp179.000 juta di tahun 2020 menjadi Rp211.212
juta pada 2024. Kenaikan ini terutama disumbang oleh utang bank jangka pendek, yang naik
dari Rp119.489 juta menjadi Rp136.797 juta selama periode tersebut. Hal ini menunjukkan
ketergantungan yang lebih tinggi terhadap pembiayaan jangka pendek. Utang lain-lain
kepada pihak berelasi juga mengalami peningkatan, dari Rp21.112 juta pada 2020 menjadi
Rp25.178 juta di 2024. Meski demikian, liabilitas jangka panjang masih berada pada level
yang relatif terkendali, hanya naik dari Rp16.335 juta di 2020 menjadi Rp17.140 juta di 2024.
Namun, tren ini tetap perlu diawasi, terutama terkait kewajiban imbalan kerja yang juga
meningkat.

Ekuitas
Ekuitas perusahaan mengalami peningkatan stabil dari Rp333.221 juta pada tahun 2020
menjadi Rp417.434 juta di tahun 2024. Komponen utama dari pertumbuhan ini adalah saldo
laba belum ditentukan penggunaannya, yang meningkat dari Rp173.676 juta menjadi
Rp242.121 juta, mencerminkan akumulasi laba tahunan yang tidak dibagikan sebagai
dividen. Modal saham dan tambahan modal disetor tidak berubah selama periode ini,
menunjukkan tidak ada penerbitan saham baru. Kepentingan non-pengendali juga
bertumbuh signifikan dari Rp2.031 juta menjadi Rp20.478 juta, yang dapat mengindikasikan
pertumbuhan atau kontribusi dari anak perusahaan yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh
entitas induk.

Tinjauan Arus Kas

Figur 2.6.3 Arus Kas
                                                                            (Jutaan Rupiah)
                                2020          2021         2022         2023           2024
                                Audit        Audit        Audit         Audit         Audit


 Arus Kas dari Aktivitas
 Operasi
 Penerimaan kas dari
                                 273.231      265.133      291.988       302.599       278.628
 pelanggan


                                                                                   Halaman - 7
Page 37
                                2020         2021          2022         2023             2024
                                Audit        Audit         Audit        Audit           Audit
Pembayaran kas kepada
                                (127.386)    (221.218)     (241.424)    (242.378)       (246.563)
pemasok dan pihak ketiga
Pembayaran beban usaha           (28.473)              -            -            -                -
Pembayaran kepada
                                 (56.709)              -            -            -                -
karyawan
Penerimaan tagihan pajak
                                         -             -            -            -         2.216
penghasilan
Kas yang diperoleh dari
                                  60.664       43.915        50.564       60.221          34.281
operasi
Pembayan pajak                   (20.555)     (10.292)       (9.217)     (14.895)        (15.904)
Pendapatan bunga                       807          566           668          743              911
Beban keuangan                   (15.548)     (13.928)      (14.706)     (14.567)        (16.371)
Kegiatan operasi lainnya                65             -            -            -                -
Pembayaran liabilitas imbalan
                                         -       (400)         (989)        (806)           (522)
kerja
Arus Kas Bersih Diperoleh
                                  25.432       19.861        26.320       30.697           2.396
dari Aktivitas Operasi

Arus Kas dari Aktivitas
Investasi
Hasil penjualan aset tetap               3          352            21            -        (8.288)
Perolehan aset tetap             (12.684)     (12.051)      (22.322)     (30.262)        (20.137)
Investasi pada entitas
                                  (7.185)              -            -            -                -
asosiasi
Perolehan aset takberwujud               -       (570)         (235)        (520)           (132)
Arus kas bersih digunakan
                                 (19.866)     (12.269)      (22.535)     (30.782)        (28.557)
Untuk Aktivitas Investasi

Arus Kas dan Aktivitas
Pendanaan
Pembayaran atas utang bank        (9.394)      (4.850)       (8.897)     (16.722)        (45.213)
Penerimaan atas utang bank         7.681        2.915         5.681       21.617          59.728
Deposito berjangka                       -             -            -            -                -
Pembayaran atas utang
                                  (1.812)      (2.253)       (5.777)             -                -
pembelian aset tetap
Pembayaran liabilitas sewa               -        (34)          (38)             -                -
Pembayaran bunga atas
                                         -           (1)       (557)        (255)           (540)
liabilitas sewa
Pembayaran atas utang sewa
                                    (190)              -            -        (29)            (35)
pembiayaan
Pembayaran utang
                                         -             -            -     (2.124)         (1.378)
pembiayaan konsumen
Penerimaan (pembayaran)
                                       546             -            -            -                -
lain-lain
Arus Kas Bersih digunakan
                                  (3.168)      (4.222)       (9.589)       2.487          12.563
untuk Aktivitas Pendanaan




                                                                                     Halaman - 8
Page 38
                                      2020             2021        2022                2023            2024
                                      Audit            Audit       Audit           Audit               Audit
 Kenaikan Bersih Kas dan
                                         2.398            3.370      (5.804)             2.402         (13.599)
 Bank
 Kas dan Bank Pada Awal
                                        10.964           13.362      16.732             10.927           13.329
 Tahun
 Kas dan Bank Pada Akhir
                                        13.362           16.732      10.927             13.329            (270)
 Tahun
Sumber : Laporan Keuangan APII

Arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan tren yang fluktuatif selama periode 2020 hingga
2024. Perusahaan menghasilkan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp25.432 juta
pada 2020, naik menjadi Rp30.697 juta pada 2023, namun mengalami penurunan tajam ke
Rp2.396 juta pada 2024. Penurunan ini disebabkan oleh tingginya pembayaran kas kepada
pemasok dan pihak ketiga serta pembayaran pajak dan beban keuangan yang cukup besar.
Penurunan kemampuan menghasilkan kas dari aktivitas inti ini mencerminkan potensi
tekanan operasional.

Arus kas dari aktivitas investasi selama lima tahun terakhir selalu mencatat arus keluar
(negatif), yang menunjukkan bahwa perusahaan secara konsisten melakukan investasi,
terutama dalam aset tetap. Pada 2020, arus kas keluar sebesar Rp19.866 juta dan terus
meningkat menjadi Rp30.782 juta pada 2023. Meskipun pada 2024 arus keluar turun
menjadi Rp28.557 juta, angka ini tetap tinggi dan menjadi beban tambahan terhadap kas
perusahaan, ditambah dengan adanya pencatatan negatif dari penjualan aset tetap sebesar
Rp8.288 juta.

Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan upaya perusahaan untuk
menyeimbangkan kebutuhan likuiditasnya. Pada 2020 hingga 2022, perusahaan mengalami
arus kas keluar dari aktivitas pendanaan. Namun pada 2023 dan 2024, arus kas dari
pendanaan berubah menjadi positif, masing-masing sebesar Rp2.487 juta dan Rp12.563
juta, yang terutama berasal dari penerimaan utang bank yang meningkat tajam menjadi
Rp59.728 juta di 2024. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai bergantung pada
pendanaan eksternal untuk mendukung kebutuhan arus kas dan belanja modal.

Rasio Keuangan

Figur 2.6.4 Rasio Keuangan
                                              2020      2021      2022         2023           2024
                                              Audit     Audit     Audit        Audit          Audit
 Rasio Likuiditas
 Rasio Lancar                                   1,79       1,85     1,79         1,75           1,60
 Rasio Cepat                                   -1,06      -1,02    -1,10        -1,03          -1,06
 Rasio Kas                                      0,08       0,13     0,09         0,11           0,05

 Rasio Aktivitas
 Rasio Perputaran Persediaan (x)                   1          1        1            1              1
 Rasio Perputaran Piutang Usaha (x)             3,89       4,61     5,20         5,61           5,71
 Rasio Perputaran Utang Usaha (x)                  7          8        8           10              7


                                                                                                  Halaman - 9
Page 39
 Rasio Perputaran Persediaan (hari)     645,03      642,07   555,35   605,64   628,92
 Rasio Perputaran Piutang Usaha
                                         93,77       79,17    70,17    65,10    63,89
 (hari)
 Rasio Perputaran Utang Usaha (hari)     50,47       48,36    47,06    36,95    52,86

 Rasio leverage
 Rasio Margin Laba Kotor               57,80%       57,18%   53,75%   59,72%   55,44%
 Rasio Margin Laba Operasi             21,31%       15,65%   14,01%   17,50%    8,83%
 Rasio Margin Laba (Rugi) Setelah
                                       12,11%       8,19%    4,76%    10,25%   1,87%
 Pajak
 Return on Assets                        5,89%      3,81%    2,49%    5,10%    0,83%
 Return On Equity                          9,05%    5,72%    3,72%    7,47%    1,26%
Sumber : Laporan keuangan APII, Diolah oleh TOPAZ

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar perusahaan cenderung menurun dari 1,79 pada
tahun 2020 menjadi 1,60 pada tahun 2024. Meskipun rasio ini masih di atas angka 1, yang
secara umum menunjukkan posisi likuid yang aman, tren penurunan tersebut mencerminkan
pelemahan dalam kapasitas likuiditas perusahaan. Rasio kas yang juga menurun dari 0,08
menjadi 0,05 mengindikasikan bahwa porsi kas terhadap kewajiban lancar semakin
mengecil. Sementara itu, rasio cepat selama lima tahun menunjukkan nilai negatif, yang
tidak lazim dalam analisa keuangan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kesalahan perhitungan
atau klasifikasi aset lancar dalam laporan keuangan.

Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola asetnya. Rasio
perputaran piutang usaha meningkat dari 3,89 kali di tahun 2020 menjadi 5,71 kali di 2024,
menunjukkan perbaikan dalam proses penagihan piutang. Konversi angka ini ke dalam hari
juga menunjukkan perbaikan, dengan hari perputaran piutang usaha turun dari 93,77 hari
menjadi 63,89 hari. Namun, perputaran persediaan tetap rendah, sekitar 1 kali per tahun,
dan hari perputaran persediaan tetap sangat tinggi di atas 600 hari. Ini mengindikasikan
bahwa persediaan lama tersimpan dan tidak cepat dikonversi menjadi penjualan. Sementara
itu, rasio perputaran utang usaha menunjukkan fluktuasi, dengan peningkatan efisiensi
pembayaran di 2023 (36,95 hari), namun kembali melambat menjadi 52,86 hari di 2024.

Rasio Leverage dan Profitabilitas
Rasio leverage dan profitabilitas memberikan gambaran mengenai seberapa efisien
perusahaan menghasilkan laba dari penjualannya, aset, dan modal sendiri. Margin laba
kotor menunjukkan penurunan kecil dari 57,80% di 2020 menjadi 55,44% di 2024,
sedangkan margin laba operasi menurun lebih tajam dari 21,31% menjadi 8,83%,
mencerminkan meningkatnya beban operasional terhadap penjualan. Margin laba setelah
pajak juga turun drastis dari 12,11% menjadi hanya 1,87%. Penurunan ini berdampak
langsung pada Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), yang masing-masing
menurun dari 5,89% dan 9,05% di 2020 menjadi 0,83% dan 1,26% di 2024. Ini menunjukkan
bahwa perusahaan menjadi jauh kurang efisien dalam menghasilkan laba dari aset dan
ekuitasnya selama periode tersebut.



                                                                                  Halaman - 10
Page 40
Common Size Laporan Keuangan Periode 31 Desember 2020 sampai dengan 31
Desember 2024

Berikut common size / analisis vertikal dan horizontal laporan keuangan periode 31
Desember 2020 sampai dengan 31 Desember 2024.

Analisis Vertikal
Analisis vertikal pada dasarnya adalah bagian dari analisis laporan keuangan dengan cara
menyajikan kembali laporan keuangan dalam bentuk persentase, dimana laporan laba rugi
dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap pendapatan, sedangkan laporan posisi
keuangan dinyatakan dalam persentase terhadap total aset maupun liabilitas dan ekuitas.

Figur 2.6.5 Analisis Vertikal Laba Rugi
                                         2020       2021      2022      2023          2024
                                         Audit      Audit     Audit     Audit         Audit


 Penjualan Bersih                       100,00%     100,00%   100,00%   100,00%      100,00%
 Beban Pokok Penjualan                  -42,20%     -42,82%   -46,25%   -40,28%      -44,56%
 Laba Bruto                              57,80%     57,18%    53,75%    59,72%        55,44%
 Beban penjualan                        -18,93%     -17,94%   -17,73%   -18,08%      -19,09%
 Beban umum dan administrasi            -17,57%     -23,59%   -22,02%   -24,13%      -27,52%
 Total Beban Operasional                -36,50%     -41,53%   -39,74%   -42,21%      -46,61%
 Laba Operasi                            21,31%     15,65%    14,01%    17,50%         8,83%
 Penghasilan (Beban) Lain-lain
 Beban keuangan                          -6,36%      -5,52%    -4,97%    -4,86%       -5,79%
 Selisih kurs-bersih                     -0,58%      -0,36%    -0,53%    0,01%        -0,39%
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                          0,60%      0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
 tertagih
 Pendapatan bunga                         0,32%      0,22%     0,23%     0,25%         0,33%
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap         0,00%      0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                         -0,11%      -0,40%    0,56%     0,84%         1,18%
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                         0,48%      1,76%     -0,19%    0,09%        -0,17%
 Beban Lain-lain - neto                  -5,65%      -4,30%    -4,91%    -3,68%       -4,84%
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan          15,66%     11,35%     9,10%    13,82%         3,99%
 Pajak final                              0,00%      -0,01%    0,00%     -0,10%       -0,08%
 Pajak kini                              -3,46%      -3,20%    -3,87%    -3,55%       -2,12%
 Pajak tangguhan                         -0,09%      0,04%     -0,46%    0,07%         0,08%
 Laba Tahun Berjalan                     12,11%      8,19%     4,76%    10,25%         1,87%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ




                                                                                  Halaman - 11
Page 41
Figur 2.6.6 Analisis Vertikal Laporan Posisi Keuangan
                                      2020      2021      2022      2023          2024
                                      Audit     Audit     Audit     Audit        Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                          2,61%     3,98%     2,78%     3,19%         1,41%
 Deposito berjangka                    2,08%     1,96%     1,99%     0,00%         0,00%
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                      0,22%     0,39%     0,48%     0,47%         0,53%
   Pihak ketiga                       12,26%     9,71%     9,57%     8,42%         7,27%
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                      0,63%     1,06%     1,56%     1,69%         1,47%
   Pihak ketiga                        0,37%     0,60%     0,87%     0,49%         0,43%
 Persediaan                           36,24%    35,06%    36,79%    33,28%        34,21%
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka    2,22%     3,66%     1,30%     1,93%         2,96%
 Pajak dibayar dimuka                  0,09%     0,26%     0,00%     1,88%         1,06%
 Jumlah Aset Lancar                   56,72%    56,67%    55,34%    51,34%        49,34%


 Aset Tidak Lancar
 Uang muka pembelian aset tetap        0,00%     0,00%     0,00%     2,45%         1,71%
 Aset pajak tangguhan - bersih         1,01%     0,78%     0,52%     0,55%         0,55%
 Aset hak guna neto                    0,00%     0,18%     0,21%     0,11%         0,16%
 Investasi pada entitas asosiasi -
                                       2,06%     2,61%     2,67%     2,92%         3,34%
 bersih
 Aset tetap                           39,92%    39,23%    41,06%    41,97%        43,44%
 Aset tak berwujud                     0,05%     0,11%     0,11%     0,14%         0,09%
 Taksiran klaim pajak penghasilan      0,23%     0,41%     0,09%     0,51%         1,35%
 Aset lain-lain                        0,01%     0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
 Jumlah Aset Tidak Lancar             43,28%    43,33%    44,66%    48,66%        50,66%
 Jumlah Aset                          100,00%   100,00%   100,00%   100,00%      100,00%


 Liabilitas dan Ekuitas
 Liabilitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Utang bank jangka pendek             23,33%    21,68%    20,38%    19,68%        21,76%
 Utang usaha
   Piutang berelasi                    0,46%     0,57%     1,01%     0,37%         1,36%
   Piutang ketiga                      2,37%     2,07%     2,11%     1,66%         1,52%
 Utang pajak                           0,78%     0,74%     0,94%     0,87%         0,43%
 Beban masih harus dibayar             0,07%     0,16%     0,89%     1,12%         0,85%
 Utang lain-lain



                                                                              Halaman - 12
Page 42
                                          2020      2021      2022      2023          2024
                                          Audit     Audit     Audit     Audit        Audit
   Piutang berelasi                         4,12%    4,02%     3,71%     3,64%         4,01%
   Piutang ketiga                           0,00%    0,01%     0,01%     0,08%         0,00%
 Uang muka pelanggan                        0,16%    0,61%     1,28%     1,29%         0,52%
 Utang jangka panjang yang akan
 jatuh tempo dalam waktu satu tahun
   Utang bank                               0,07%    0,21%     0,28%     0,31%         0,28%
   Utang pembiayaan konsumen                0,38%    0,44%     0,36%     0,21%         0,09%
   Liabilitas sewa                          0,00%    0,06%     0,04%     0,03%         0,05%
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek           31,76%   30,56%    30,99%    29,26%        30,87%


 Liabilitas Jangka Panjang
 Utang jangka panjang
   Utang bank                               0,13%    0,39%     0,43%     0,76%         0,98%
   Utang pembiayaan konsumen                0,30%    0,26%     0,27%     0,07%         0,03%
   Liabilitas sewa                          0,00%    0,02%     0,04%     0,03%         0,05%
 Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                            2,76%    2,13%     1,35%     1,56%         1,67%
 karyawan
 Jumlah Liabilitas Jangka panjang           3,19%    2,79%     2,09%     2,42%         2,73%
 Jumlah Liabilitas                         34,95%   33,35%    33,08%    31,68%        33,60%


 Ekuitas
 Modal saham                               21,00%   19,84%    19,06%    17,91%        17,11%
 Tambahan modal disetor                     6,63%    6,26%     6,01%     5,65%         5,40%
 Selisih transaksi dengan kepentingan
                                            0,00%    -0,37%    -0,46%    -0,43%       -0,43%
 non-pengendali
 Saldo laba                                 0,00%    0,00%     0,00%     0,00%         0,00%
   Telah ditentukan penggunannya            3,12%    2,95%     2,83%     2,66%         2,55%
   Belum ditentukan penggunannya           33,91%   36,29%    37,08%    39,56%        38,51%
 Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                           64,66%   64,96%    64,53%    65,34%        63,14%
 kepada pemilik entitas induk
 Kepentingan non pengendali                 0,40%    1,69%     2,39%     2,98%         3,26%
 Jumlah Ekuitas                            65,05%   66,65%    66,92%    68,32%        66,40%
 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            100,00%   100,00%   100,00%   100,00%      100,00%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ

Figur 1. Analisis Horizontal Laba Rugi
                                          2020      2021      2022      2023           2024
                                          Audit     Audit     Audit     Audit          Audit


 Penjualan Bersih                           2,54%    1,41%    16,86%     1,39%          -6,35%


                                                                                  Halaman - 13
Page 43
                                        2020         2021        2022       2023           2024
                                        Audit        Audit      Audit        Audit         Audit
 Beban Pokok Penjualan                    7,19%       2,91%     26,24%      -11,70%          3,60%
 Laba Bruto                               9,73%       4,32%      43,10%     -10,31%         -2,75%
 Beban penjualan                         -0,92%       -3,87%     15,46%      3,41%          -1,12%
 Beban umum dan administrasi            -10,74%      36,13%       9,08%     11,13%           6,80%
 Total Beban Operasional                -11,66%      32,26%      24,55%     14,55%           5,68%
 Laba Operasi                            -1,93%      36,58%      67,65%      4,23%           2,94%
 Penghasilan (Beban) Lain-lain
 Beban keuangan                           3,21%      -12,00%      5,21%      -0,73%         11,48%
 Selisih kurs-bersih                   -190,51%      -36,68%     72,30%    -101,57%      -4563,60%
 Pemulihan cadangan piutang tak
                                          0,00%     -100,00%      0,00%      0,00%           0,00%
 tertagih
 Pendapatan bunga                        48,86%      -29,89%     18,10%     11,27%          22,64%
 Laba (Rugi) penjualan aset tetap      -101,05%     -100,00%      0,00%      0,00%           0,00%
 Bagian atas rugi bersih entitas
                                        -34,17%     272,28%    -262,41%     51,69%          32,19%
 asosiasi
 Lain-lain-bersih                     -1856,97%     274,09%    -112,80%    -145,07%       -282,02%
 Beban Lain-lain - neto               -2130,63%     267,80%    -279,60%    -184,41%      -4779,30%
 Laba Sebelum Pajak Penghasilan       -2132,57%     304,39%    -211,95%    -180,18%      -4776,36%
 Pajak final                            -98,38%     1270,63%   -100,00%      0,00%         -28,18%
 Pajak kini                             -11,41%       -6,11%     41,30%      -7,18%        -44,10%
                                                                       -
 Pajak tangguhan                       -116,99%     -149,84%               -116,09%          5,07%
                                                               1353,54%
                                                                       -
 Laba Tahun Berjalan                  -2359,34%     1419,07%               -303,45%      -4843,57%
                                                               1624,19%
Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ

Figur 2.6.7 Analisis Horizontal Laporan Posisi Keuangan
                                         2020        2021        2022       2023          2024
                                        Audit        Audit      Audit       Audit         Audit
 Aset
 Aset Lancar
 Kas dan bank                            21,87%       61,41%    -27,13%      22,03%       -53,80%
 Deposito berjangka                       1,62%       -0,23%      5,43%    -100,00%         0,00%
 Piutang usaha
   Pihak berelasi                         0,00%       87,75%     29,11%       2,35%        19,28%
   Pihak ketiga                           6,36%      -16,21%      2,56%      -6,36%        -9,61%
 Piutang lain-lain
   Pihak berelasi                        93,10%       79,21%     53,81%      15,13%        -9,09%
   Pihak ketiga                           2,71%       68,98%     51,62%     -40,65%        -6,78%
 Persediaan                               2,65%       2,44%       9,19%      -3,70%         7,58%
 Biaya dibayar dimuka dan uang muka       0,12%       74,41%    -63,13%      58,37%        60,29%


                                                                                      Halaman - 14
Page 44
                                     2020       2021       2022        2023        2024
                                     Audit      Audit      Audit       Audit       Audit
Pajak dibayar dimuka                 182,49%   219,05%     -98,30%   47304,68%     -40,77%
Jumlah Aset Lancar                   310,90%   576,80%     -36,85%   47251,86%     -32,91%


Aset Tidak Lancar
Uang muka pembelian aset tetap        0,00%      0,00%      0,00%       0,00%      -27,20%
Aset pajak tangguhan - bersih         -2,73%    -18,01%    -30,28%     12,89%        4,91%
Aset hak guna neto                    0,00%      0,00%     17,18%      -41,04%      47,35%
Investasi pada entitas asosiasi -
                                     -43,89%    33,84%      6,47%      16,36%       19,75%
bersih
Aset tetap                            9,22%      4,04%      8,92%       8,80%        8,32%
Aset tak berwujud                    -31,87%   139,71%      -2,27%     35,59%      -28,45%
Taksiran klaim pajak penghasilan     -24,04%    91,27%     -76,70%    490,60%      176,29%
Aset lain-lain                        2,87%    -100,00%     0,00%       0,00%        0,00%
Jumlah Aset Tidak Lancar             -90,45%   150,85%     -76,67%    523,20%      200,98%
Jumlah Aset                          220,45%   727,65%    -113,52%   47775,06%     168,07%


Liabilitas dan Ekuitas
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang bank jangka pendek              -0,93%     -1,62%     -2,15%      2,80%       15,69%
Utang usaha
  Piutang berelasi                   -14,61%    30,88%     82,57%      -60,74%     282,93%
  Piutang ketiga                      6,83%      -7,71%     6,29%      -16,35%      -4,26%
Utang pajak                          94,60%      0,99%     32,34%       -2,17%     -47,92%
Beban masih harus dibayar            -15,84%   143,79%    464,01%      34,84%      -21,11%
Utang lain-lain
  Piutang berelasi                   -28,49%     3,17%      -3,86%      4,53%       15,03%
  Piutang ketiga                     -98,06%   201,52%      0,00%    1413,33%      -93,39%
Uang muka pelanggan                  -77,29%   295,40%    116,71%       7,35%      -57,47%
Utang jangka panjang yang akan
jatuh tempo dalam waktu satu tahun
  Utang bank                         16,86%    200,06%     39,43%      18,17%       -5,74%
  Utang pembiayaan konsumen          42,85%     21,08%     -15,18%     -36,88%     -54,45%
  Liabilitas sewa                     0,00%      0,00%     -34,03%     -24,15%     117,63%
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek      -74,07%   887,54%    686,13%    1340,73%      146,95%


Liabilitas Jangka Panjang
Utang jangka panjang
  Utang bank                         -36,79%   210,32%     16,07%      87,09%       34,93%



                                                                               Halaman - 15
Page 45
                                                2020       2021      2022       2023        2024
                                                Audit      Audit     Audit      Audit       Audit
        Utang pembiayaan konsumen                -0,71%     -6,22%    7,16%     -70,87%     -60,91%
        Liabilitas sewa                          0,00%      0,00%    135,97%    -12,82%      72,00%
      Estimasi liabilitas atas imbalan kerja
                                                 -0,53%    -18,48%   -33,77%    22,39%       12,49%
      karyawan
      Jumlah Liabilitas Jangka panjang          -38,03%   185,62%    125,42%    25,80%       58,51%
      Jumlah Liabilitas                        -112,10%   1073,16%   811,56%   1366,52%     205,46%


      Ekuitas
      Modal saham                                0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
      Tambahan modal disetor                     0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
      Selisih transaksi dengan kepentingan
                                               -100,00%     0,00%    29,16%      0,00%        3,14%
      non-pengendali
      Saldo laba
        Telah ditentukan penggunannya            0,00%      0,00%     0,00%      0,00%        0,00%
        Belum ditentukan penggunannya           20,71%     13,32%     6,33%     13,55%        1,89%
      Ekuitas yang dapat diatribusikan
                                                -79,29%    13,32%    35,49%     13,55%        5,03%
      kepada pemilik entitas induk
      Kepentingan non pengendali               1799,23%   350,94%    47,30%     32,65%       14,41%
      Jumlah Ekuitas                           1719,94%   364,26%    82,79%     46,20%       19,44%
      Jumlah Liabilitas dan Ekuitas            1607,83%   1437,42%   894,35%   1412,72%     224,90%
     Sumber : Laporan keuangan APII, diolah oleh TOPAZ

2.7. Informasi Invetigasi Lapangan

     Kami telah melakukan investigasi lapangan dalam rangka memperoleh informasi yang
     relevan dalam penugasan Penamabahan Kegiatan Usaha APII.


     Berikut informasi terkait pelaksanaan investigasi lapangan:

     Surat tugas           : 0559/ST/KJPP-TOPAZ/V/2025
     Lokasi                : Jakarta
     Tanggal               : 27 Mei 2025
     Pelaksana             : Mery Ganis




                                                                                        Halaman - 16
Page 46
                                BAB III
                      TINJAUAN EKONOMI INDONESIA
3.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

     Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh baik dengan kecenderungan lebih rendah dari
     prakiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2024 sedikit di bawah prakiraan
     di pengaruhi oleh lebih rendahnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi.
     Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan sedikit di bawah titik tengah
     kisaran 4,7-5,5%. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi diprakirakan juga cenderung lebih
     rendah dari prakiraan sebelumnya. Ekspor diprakirakan lebih rendah sehubungan dengan
     melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS. Konsumsi rumah
     tanga juga masih lemah, khususnya golongan menengah ke bawah sehubungan dengan
     belum kuatnya ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Pada saat yang
     sama, dorongan investasi swasta juga belumm kuat karena masih lebih besarnya kapasitas
     produksi dalam memenuhi permintaan, baik domestik maupun ekspor. Bank Indonesia
     memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mencapai kisar 4,7-5,5%, sedikit
     lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8-5,6%. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia
     terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga stabilitas dan turun
     mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui
     optimalisasi stimulus kebijakan makro-prudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi
     pembayaran yang ditempuh Bank Indonesia dengan kebijakan stimulus fiskal Pemerintah.
     Lebih dari itu, Bank Indonesia mendukung penuh implementasi program-program untuk
     ketahanan pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital.

     Figur 3.1.1 Pertumbuhan PDB Domestik dan Komponen Berdasarkan Pengeluaran




     Sumber : Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024




                                                                                   Halaman - 1
Page 47
3.2. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

     Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat sehingga mendukung ketahanan
     eksternal. Surplus neraca perdagangan berlanjut pada Desember 2024 yang tercatat 2,2
     miliar dolar AS dipengaruhi oleh kinerja ekspor komoditas utama Indoensia yang kuat,
     seperti bahan bakar minerl, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja.
     Perkembangan ini mendukung transaksi berjalan 2024 tetap sehat dan diprakirakan dalam
     kisaran defisit rendah 0,1% sampai dengan 0,9% dari PDB. Sementara itu, tingginya
     ketidakpastian pasar keuangan global menurunkan aliran masuk modal asing ke instrumen
     keuangan domestik dengan SBN dan SRBI masing-masing hanya mencatat inflows 19 juta
     dolar AS dan 288 juta dolar AS pada awal tahun 2025 (hingga 13 Januari 2025). Posisi
     cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2024 tercatat tinggi sebesar 155,7 miliar
     dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran
     utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar
     3 bulan impor. Ke depan, NPI pada 2025 diprakirakan tetap sehat seiring dengan surplus
     transaksi modal dan finansial yang berlanjut dan defisit transaksi yang bejalan yang terjaga
     dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB. Surplus neraca transaksi modal
     dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif
     investor terhadap prospek perekonomian domestik yang lebih baik dan imbal hasil investasi
     yang menarik.

     Figur 3.2.1 Neraca Pembayaran Indonesia




     Keterangan: *Angka sementara; ** Angka sangat sementara
     Sumber: Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024.

3.3. Nilai Tukar Rupiah

     Nilai tukar Rupiah tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi, didukung oleh
     kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada Januari
     2025 (hingga 14 Januari 2025) hanya melemah sebesar 1,00% (ptp) dari level nilai tukar
     akhir 2024. Perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga relatif lebih baik
     dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India, Peso Filipina, dan


                                                                                       Halaman - 2
Page 48
     bath Thailand yang masing-masing melemah sebesar 1,20%; 1,33%; dan 1,92%.
     Sebaliknya, nilai tukar Rupiah tercatat menguat terhadap mata uang kelompok negara maju
     diluar dolar AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negera berkembang.
     Perkembangan tersebut sejalan dengan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung
     oleh aliran amsuk modal asing yang masih berlanjut, imbal hasil instrumen keuangan
     domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik. Ke depan, nilai
     tukar Rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai
     tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan
     ekonomi Indonesia yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan,
     termasuk penguaran strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen
     SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran
     masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

3.4. Perkembangan Inflasi

     Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2024 terjaga dalam kisaran sasarannya 2,5±1%,
     sejalan inflasi IHK Desember 2024 yang tercatat 1,57% (yoy). Perkembangan ini
     dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali pada level 2,26% (yoy) sejalan dengan
     konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-Rate) untuk mengarahkan ekspektasi
     inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, kelompok volatile food (VF) mencatat
     inflasi 0,12% (yoy) didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim
     panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi TPIP/TPID melalui GNPIP. Secara spasial,
     inflasi IHK di berbagai daerah juga terkendali dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Ke
     depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK tetap terkendali dalam sasarannya. Inflasi inti
     diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas
     perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik, imported
     inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank
     Indonesia, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi. Inflasi VF diprakirakan
     terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah Pusat
     dan Daerah. Bank Indonesia terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter
     guna menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%, dengan tetap
     mendukung upaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi.




                                                                                    Halaman - 3
Page 49
    Figur 3.4.1 Peta Inflasi Daerah Tahun 2024




    Sumber: Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2024

3.5. Perkembangan Suku Bunga

    Trasmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga berjalan baik dalam upaya turut
    mendukung pertumbuhan ekonomi. Suku bunga pasar uang (IndoNIA) bergerak di sekitar
    BI-Rate, yaitu 6,03% pada 14 Januari 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9 dan 12 bulan
    tanggal 10 Januari 2025 tercatat menarik untuk mendukung aliras masuk modal asing
    masing-masing pada level 7,06%; 7,10%; dan 7,23%. Imbal hasil SBN temor 2 tahun dan
    10 tahun per 14 Januari 2025, masing-masing meningkat menjadi 6,98% dan 7,25%
    sehingga juga tetap menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik di tengah
    berlanjutnya ketidakpastian global. Sementara itu, suku bunga perbankan tetap terjaga
    ditopang likuiditas perbankan yang memadai serta efisiensi perbankan dalam pembentukan
    harga yang makin baik dengan transparansi SBDK. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku
    bunga kredit pada Desember 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,87% dan 9,20%, relatif
    stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya.




                                                                                 Halaman - 4
Page 50
                                BAB IV
                      ANALISIS KELAYAKAN PASAR
4.1. Industri Manufaktur

     Industri manufaktur merupakan sektor penggerak utama ekonomi nasional yang secara
     konsisten memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
     Menurut data BPS, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB Indonesia pada
     tahun 2023 mencapai sekitar 18,25%. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun sektor jasa
     terus tumbuh, industri manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
     Sub-sektor manufaktur yang relevan dengan usaha PT Arita Prima Indonesia, seperti
     industri logam, peralatan teknis, dan mesin, merupakan bagian dari industri pengolahan non-
     migas yang masih menunjukkan prospek positif seiring peningkatan kebutuhan infrastruktur
     dan industrialisasi nasional.

     Pada tahun 2023, BPS mencatat pertumbuhan tahunan indeks produksi industri manufaktur
     besar dan sedang (IBS) sebesar 4,88% secara year-on-year. Pertumbuhan ini menunjukkan
     adanya pemulihan dan ekspansi pada banyak sub-sektor manufaktur pasca pandemi
     COVID-19. Di antara sektor yang tumbuh signifikan adalah industri logam dasar dan barang
     logam, yang memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis utama Arita seperti valve, fitting,
     dan peralatan mekanikal untuk industri berat. Permintaan produk-produk teknikal seperti
     valve juga terdorong oleh proyek-proyek strategis nasional di sektor energi, air bersih, dan
     pembangunan infrastruktur.

     Secara geografis, distribusi perusahaan manufaktur di Indonesia cukup merata, dengan
     konsentrasi tinggi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Berdasarkan Direktori
     Industri Manufaktur 2023 yang dirilis BPS, terdapat lebih dari 32.000 unit usaha industri
     menengah dan besar yang aktif. Ini mencerminkan basis industri yang kuat dan beragam,
     serta membuka peluang kolaborasi atau penyediaan produk teknis oleh Arita ke berbagai
     sub-sektor, termasuk pengolahan air, migas, dan pembangkit listrik. Pertumbuhan kawasan
     industri dan pembangunan kota baru seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) juga diperkirakan
     akan menjadi katalis positif bagi peningkatan permintaan peralatan industri.

     Pemerintah Indonesia terus mendorong pertumbuhan sektor manufaktur melalui kebijakan
     substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (TKDN), dan insentif fiskal.
     Dukungan kebijakan ini memberi keuntungan strategis bagi produsen lokal seperti Arita,
     terutama jika mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar mutu
     nasional maupun internasional. Selain itu, inisiatif transformasi menuju industri 4.0 juga
     membuka peluang efisiensi dan otomatisasi proses produksi, yang dapat meningkatkan
     daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

     Dengan kondisi makro yang mendukung dan permintaan sektor hilir yang terus bertumbuh,
     prospek industri manufaktur peralatan teknis seperti yang dijalankan oleh PT Arita Prima
     Indonesia Tbk diperkirakan akan tetap positif dalam beberapa tahun ke depan. Proyek-
     proyek energi terbarukan, pembangunan fasilitas air bersih, dan ekspansi industri berat akan
     terus mendorong kebutuhan valve, fitting, dan instrumentasi. Meski demikian, tantangan
     tetap ada, terutama dalam bentuk persaingan produk impor, volatilitas harga bahan baku,


                                                                                     Halaman - 1
Page 51
serta kebutuhan investasi pada peningkatan teknologi dan kualitas produk. Adaptasi
terhadap perubahan ini akan menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam menghadapi
dinamika industri manufaktur Indonesia.

Prospek industri manufaktur peralatan teknikal di Indonesia ke depan, khususnya yang
relevan dengan kegiatan PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII), diperkirakan akan tetap positif
dan bertumbuh stabil, seiring dengan arah kebijakan pemerintah, tren pembangunan
nasional, dan transformasi teknologi industri.

Pertama, dari sisi kebijakan makro, pemerintah Indonesia terus mendorong pertumbuhan
sektor manufaktur sebagai bagian dari strategi industrialisasi dan pengurangan
ketergantungan terhadap impor. Salah satu upaya yang paling relevan adalah peningkatan
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk proyek-proyek infrastruktur strategis dan
sektor energi. Hal ini memberi keunggulan bagi produsen lokal seperti Arita dalam
memenangkan kontrak pengadaan untuk peralatan industri seperti valve dan fitting.

Kedua, proyek-proyek jangka panjang seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),
jaringan air bersih nasional, serta program transisi energi menuju energi baru terbarukan
(EBT) akan mendorong permintaan produk-produk yang diproduksi atau didistribusikan oleh
Arita. Sistem perpipaan, valve industri, dan peralatan kontrol aliran akan menjadi bagian
penting dari ekosistem infrastruktur modern yang tengah dibangun oleh pemerintah. Hal ini
menjadi peluang signifikan bagi perusahaan yang mampu memenuhi spesifikasi teknis dan
ketentuan TKDN.

Ketiga, adopsi teknologi industri 4.0 akan menjadi keharusan di masa mendatang. Pelaku
industri manufaktur harus mampu mengadopsi otomatisasi, sistem kontrol digital, dan
integrasi rantai pasok berbasis data. Perusahaan yang cepat beradaptasi akan memiliki
daya saing lebih tinggi, baik dari sisi efisiensi biaya maupun kualitas produk. Dalam konteks
Arita, investasi pada digitalisasi inventori, efisiensi logistik, serta peningkatan kontrol mutu
akan menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis.

Secara umum, meskipun tantangan tetap ada – seperti fluktuasi nilai tukar, persaingan
produk impor dari China dan Korea, serta kenaikan harga bahan baku logam – namun
prospek jangka menengah hingga panjang industri ini tetap positif. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang stabil, target pembangunan berkelanjutan, serta dukungan regulasi terhadap
produsen dalam negeri menjadi fondasi yang kuat untuk ekspansi sektor manufaktur
peralatan teknis. Bagi PT Arita Prima Indonesia, keberhasilan ke depan akan sangat
bergantung pada kemampuannya dalam meningkatkan efisiensi operasional, memperluas
jaringan pasar, dan memperkuat reputasi sebagai penyedia produk berkualitas tinggi di
pasar domestik dan regional.

Seiring arah pembangunan nasional dan peningkatan aktivitas industri, prospek usaha
berdasarkan KBLI yang Anda miliki—seperti konsultasi bisnis dan manajemen (74902,
70209), pergudangan dan logistik (52101, 52109, 52103), hingga pengelolaan properti dan
kawasan industri (68111, 68120, 68130)—semakin menjanjikan. Pemerintah terus
mendorong pertumbuhan sektor industri dan properti melalui Proyek Strategis Nasional
(PSN), pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta penguatan hilirisasi sumber daya
alam. Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), minat investor terhadap


                                                                                    Halaman - 2
Page 52
     kawasan industri dan Real Estat Yang logistik meningkat pesat sejak 2022, terutama pada
     wilayah dengan infrastruktur terintegrasi dan insentif fiskal. Sementara itu, aktivitas
     konsultasi bisnis dan manajemen juga mengalami peningkatan seiring transformasi digital
     dan tuntutan perusahaan untuk memenuhi standar tata kelola, lingkungan, dan sosial
     (Environmental, Social, Governance – ESG).

     Sektor pergudangan dan logistik, termasuk bounded warehousing (52103), menunjukkan
     pertumbuhan kuat sejalan dengan berkembangnya e-commerce, logistik dingin (cold chain),
     dan kebutuhan efisiensi rantai pasok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa
     volume barang yang ditangani sektor logistik meningkat signifikan, dengan kontribusi
     subsektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB mencapai 5,4% pada 2023.
     Kawasan berikat dan pusat distribusi regional (hub logistics) juga mendapatkan dukungan
     kebijakan dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
     untuk mendorong ekspor dan substitusi impor. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku
     usaha dengan fasilitas pergudangan yang modern dan memenuhi persyaratan kawasan
     industri atau berikat.

     Sementara itu, industri pengolahan dan pembuangan limbah B3 (38220) memiliki prospek
     yang sangat strategis di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan dan pengetatan
     regulasi pemerintah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 serta Permen
     LHK No. 6 Tahun 2021, seluruh pelaku industri wajib mengelola limbah B3 secara aman dan
     bertanggung jawab. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat
     peningkatan jumlah penghasil limbah B3 dari sektor migas, manufaktur, dan kesehatan,
     yang semuanya membutuhkan layanan pihak ketiga untuk pengolahan limbah. Seiring
     dengan target Indonesia menuju ekonomi hijau dan penerapan prinsip circular economy,
     industri pengelolaan limbah B3 diproyeksikan akan tumbuh sebagai sektor pendukung
     utama pembangunan berkelanjutan. Pelaku usaha yang mampu menyediakan fasilitas
     pengolahan berizin, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi akan berada pada posisi
     kompetitif yang kuat.

4.2. Persaingan Usaha

     Industri penyedia jasa dan distribusi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang
     dinamis seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar akan layanan yang efisien, inovatif,
     dan terintegrasi. Dalam konteks ini, persaingan usaha di antara para pelaku industri menjadi
     semakin ketat. Para perusahaan saling berlomba dalam hal keandalan operasional, efisiensi
     biaya, jaringan distribusi, layanan pelanggan, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri
     terhadap perkembangan teknologi dan regulasi. Di bawah ini merupakan beberapa
     perusahaan yang beroperasi di sektor sejenis dan menjadi kompetitor potensial:
      1. PT Tira Austenite Tbk, Bergerak di bidang perdagangan dan distribusi produk baja
          khusus serta peralatan teknik industri. Produk: Valve industri, fitting, alat pengelasan,
          dan produk baja tahan karat. Website: www.tira.co.id
      2. PT Mitra Angkasa Sejahtera Tbk, Fokus pada distribusi dan layanan produk teknik
          industri. Produk: Valve, fitting, dan peralatan kontrol industri. Website:
          www.mitraangkasa.co.id
      3. PT Kobexindo Tractors Tbk, Menyediakan alat berat dan suku cadang untuk sektor
          industri dan pertambangan. Produk: Valve, fitting, dan komponen mesin industri.
          Website: www.kobexindo.com


                                                                                       Halaman - 3
Page 53
      4. PT Ancora Indonesia Resources Tbk, Bergerak di sektor pertambangan dan distribusi
         bahan kimia industri. Produk: Valve, fitting, dan peralatan kontrol untuk industri kimia
         dan pertambangan. Website: www.ancoracorp.com
      5. PT Intraco Penta Tbk, Menyediakan solusi alat berat dan suku cadang untuk sektor
         industri dan konstruksi. Produk: Valve, fitting, dan komponen mesin industri. Website:
         www.intracopenta.com
      6. PT HK Metals Utama Tbk, Bergerak di bidang manufaktur dan distribusi produk logam
         untuk konstruksi dan industri. Produk: Valve, fitting, dan produk logam lainnya. Website:
         www.hkmetalsutama.com

4.3. Strategi Pemasaran

     Penambahan KBLI merupakan langkah strategis yang bertujuan memperluas cakupan
     bisnis, meningkatkan diversifikasi pendapatan, dan memperkuat posisi kompetitif. Strategi
     yang bisa diambil APII meliputi:

     1. Dengan diversifikasi usaha, dapat mempeluas cakupan kegiatan usaha diluar core
        business saat ini,
     2. Mengoptimalkan fasilitas, jaringan distribusi, dan relasi yang sudah dimiliki untuk
        mendukung kegiatan usaha baru,
     3. Menyediakan layanan tambahan kepada pelanggan lama,
     4. Penambahan KBLI memungkinkan perusahaan lebih fleksibel dalam merespons
        permintaan pasar atau peluar tender proyek dari pemerintah maupun swasta,




                                                                                      Halaman - 4
Page 54
                                  BAB IV
                          ANALISIS ASPEK TEKNIS
5.1. Bisnis PT Arita Prima Indonesia Tbk

     PT Arita Prima Indonesia Tbk, berdiri sejak tanggal 05 Oktober 2000 di Jakarta, Indonesia,
     merupakan perusahaan yang bergerak di bidang impor, distribusi, dan servis untuk produk
     valve, fitting, instrumentation, serta control. Melalui performa prima yang senantiasa kami
     tingkatkan dari waktu ke waktu, telah mengantarkan Arita sebagai perusahaan valve yang
     pertama Go Public dan satu-satunya di Indonesia pada tahun 2013. Berikut alur perjalanan
     APII mulai dari berdiri sampai tahun 2022 :




     Dimana PT Arita Prima Indonesia Tbk memiliki 47 cabang dan 9 gudang, berikut sebaran
     cabang di seluruh Indonesia :




     Jaringan internasional yang luas membuat Arita menjadi perusahaan terdepan di bidangnya.
     Arita merupakan jembatan bagi customer Indonesia untuk mendapatkan produk-produk
     berkualitas dari seluruh dunia, antara lain JF Arita, Bells, Q-Flex, Clorius, Ari Armaturen,
     Thermo, ANS dan masih banyak lagi.

     Memasuki usia 23 tahun di Indonesia, Arita kini telah menjadi penyedia produk pendukung
     berbagai industri, mulai dari minyak & gas, kelapa sawit, perkapalan, oleochemical,
     pengolahan air, petrochemical, bangunan, pertambangan, hingga energi.

                                                                                     Halaman - 1
Page 55
Didukung oleh 47 cabang, 5 divisi penjualan, 8 divisi support produk dan 14 anak
perusahaan. Arita hadir dengan sistem distribusi yang luas sehingga mampu menjangkau
pelanggan lebih mudah di seluruh Indonesia, Arita grup dibagi berdasarkan segmentasi,
produk dan layanan sebagai berikut:

   SEGMENTASI                 PRODUK                      LAYANAN

   Powerplant                 Valve                       Internet of Things

   Oleochemical               Pressure & Temperature      Calibration Service
                              Measurement

   Palm                       Level Measurement           Automation System

   Building                   Flowmeter                   Boiler System

   Oil & Gas                  Control Valve               Optimalisasi IPAL

   Petrochemical              Flexible Hose & Expansion   Reverse Osmosis System
                              Joint

   Marine                     Sanitary                    Emmision System

   Water Treatment Plant      Water Pump                  Water Analysis

   Waste Water Treatment      Thermoplastic Valve         Construction Consulting
   Plant

   Mining                     CCTV                        Detail Engineering Drawing

   Pool                       Steamline                   Foundry Material

   Foundry Commodity          Machine Part Palm Oil

   Foundry Manufacture        Welding Tools

   Construction, and          Safety Equipment

   General Industry           Fitting & Flange




                                                                             Halaman - 2
Page 56
      PRODUK




5.2. Rencana Kegiatan Baru

     Dalam rangka mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan serta meningkatkan nilai
     tambah bagi pemegang saham, PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII) berencana melakukan
     penambahan kegiatan usaha utama melalui perluasan cakupan bidang usaha yang
     tercantum dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Penambahan KBLI ini
     sejalan dengan strategi diversifikasi usaha dan penguatan posisi perusahaan dalam industri
     pendukung manufaktur, logistik, properti, dan layanan konsultasi.



                                                                                    Halaman - 3
Page 57
Adapun daftar KBLI yang direncanakan untuk ditambahkan adalah sebagai berikut:
 1. KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
 2. KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
 3. KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
 4. KBLI 68120 – Real Estat Yange
 5. KBLI 68130 – Kawasan Industri
 6. KBLI 68111 - Real Estat YangYang Dimiliki Sendiri Atau Disewa
 7. KBLI 70209 - Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
 8. KBLI 52103 - Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
 9. KBLI 38220 - Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

Penambahan kegiatan usaha ini dimaksudkan untuk memberikan fleksibilitas dan kesiapan
perusahaan dalam menangkap peluang bisnis baru, sekaligus memperkuat daya saing di
sektor-sektor strategis yang relevan.




                                                                           Halaman - 4
Page 58
                                BAB V
                      ANALISIS ASPEK POLA BISNIS
6.1. Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai

     Penambahan kegiatan usaha melalui perluasan KBLI mencerminkan komitmen perusahaan
     dalam memperkuat fondasi bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang. Dengan
     memperluas cakupan usaha ke bidang-bidang seperti pergudangan, kawasan industri, Real
     Estat Yang, konsultasi manajemen, hingga pengelolaan limbah, perusahaan memiliki
     peluang untuk meningkatkan pendapatan, menjangkau pasar baru, dan memperluas
     layanan yang saling melengkapi dengan kegiatan inti yang telah ada.

     Langkah ini juga memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan
     dinamika pasar dan tren industri yang terus berkembang. Melalui diversifikasi usaha,
     perusahaan dapat mengoptimalkan aset yang ada, memperkuat efisiensi operasional, serta
     meningkatkan daya saing secara menyeluruh. Secara keseluruhan, penambahan KBLI ini
     diharapkan akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan bernilai
     tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

6.2. Keunggulan Kompetitif

     Penambahan KBLI memberikan perusahaan keunggulan kompetitif dengan memperluas
     cakupan layanan dan memperdalam integrasi rantai nilai bisnis. Dengan masuk ke sektor-
     sektor strategis seperti pergudangan, kawasan industri, dan jasa konsultasi, perusahaan
     dapat menawarkan solusi yang lebih lengkap dan terpadu kepada pelanggan. Hal ini tidak
     hanya meningkatkan loyalitas pelanggan, tetapi juga membuka peluang untuk menangkap
     kebutuhan pasar yang lebih luas dan bervariasi.

     Selain itu, keunggulan kompetitif juga tercermin dalam kemampuan perusahaan untuk
     memanfaatkan aset yang ada secara lebih optimal dan efisien. Diversifikasi usaha
     memungkinkan perusahaan untuk menyebar risiko dan meningkatkan ketahanan terhadap
     fluktuasi di satu sektor tertentu. Dengan fleksibilitas model bisnis dan kesiapan legal melalui
     penambahan KBLI, perusahaan memiliki posisi yang lebih kuat untuk bersaing dalam jangka
     panjang dan merespons perubahan pasar dengan lebih cepat dan adaptif.

6.3. Kemampuan Pesaing untuk Meniru Produk

     Dalam konteks penambahan kegiatan usaha melalui KBLI baru, kemampuan pesaing untuk
     meniru tidak hanya bergantung pada jenis layanan atau produk yang ditawarkan, tetapi juga
     pada seberapa kuat perusahaan dalam membangun keunggulan berbasis pengalaman,
     jaringan, dan infrastruktur. Meskipun secara teknis pesaing dapat memasuki bidang usaha
     yang sama, seperti pergudangan, kawasan industri, atau konsultasi bisnis, namun
     kemampuan mereka untuk meniru keseluruhan nilai tambah yang ditawarkan perusahaan
     tidak serta-merta mudah dilakukan.

     Faktor-faktor seperti reputasi, hubungan dengan klien dan mitra strategis, efisiensi
     operasional, serta pemanfaatan aset yang sudah dimiliki menjadi pembeda utama. Selain


                                                                                        Halaman - 1
Page 59
     itu, kesiapan perusahaan dalam mengintegrasikan berbagai layanan secara menyeluruh
     dan legalitas formal melalui penambahan KBLI memberikan hambatan awal bagi pesaing
     untuk menyamai kualitas dan jangkauan layanan yang dimiliki. Dengan demikian, meskipun
     imitasi secara konsep memungkinkan, implementasi yang efektif tetap menjadi keunggulan
     kompetitif yang sulit ditiru dalam jangka pendek.

6.4. Analisa SWOT

     Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) terdiri atas faktor internal yang
     bisa dikontrol dan faktor eksternal atau lingkungan yang mungkin sulit dikontrol. Kedua sisi
     dianalisis supaya dapat disusun suatu strategi sehingga tercapai keberhasilan dan
     mempunyai daya saing. Dari faktor internal bisa diidentifikasi kekuatan dan kelemahan
     (strength and weakness) sedangkan dari faktor eksternal berupa peluang dan ancaman
     (opportunity and threat).

     Berikut adalah analisa SWOT APII setelah penambahan Kegiatan Usaha :

     Strengths (Kekuatan):
       • Perusahaan memiliki pengalaman dan infrastruktur yang mendukung ekspansi ke
           bidang usaha baru seperti pergudangan, Real Estat Yang, dan konsultasi.
       • Legalitas dan kepatuhan diperkuat melalui penambahan KBLI, memungkinkan
           perusahaan menjalankan usaha secara sah dan terintegrasi.
       • Reputasi dan jaringan bisnis yang sudah terbangun memberikan kemudahan dalam
           menjajaki pasar baru dan menjalin kerja sama strategis.
     Weaknesses (Kelemahan):
       • Penambahan kegiatan usaha memerlukan sumber daya tambahan, baik dari sisi
           SDM, teknologi, maupun pendanaan.
       • Perlu waktu untuk membangun kompetensi dan efisiensi operasional dalam bidang
           usaha baru yang belum menjadi fokus utama sebelumnya.
     Opportunities (Peluang):
       • Pertumbuhan sektor logistik, kawasan industri, dan jasa konsultasi membuka peluang
           permintaan yang luas dan berkelanjutan.
       • Pemerintah mendorong investasi di bidang industri dan infrastruktur, sehingga
           mendukung ekspansi usaha seperti kawasan berikat dan pengelolaan limbah B3.
       • Kemampuan untuk menawarkan layanan yang lebih terintegrasi meningkatkan daya
           tarik perusahaan di mata pelanggan dan investor.
     Threats (Ancaman):
       • Persaingan dari pemain besar di sektor properti industri, logistik, dan konsultasi yang
           sudah lebih mapan.
       • Perubahan regulasi, terutama di bidang lingkungan, kawasan industri, dan limbah
           berbahaya, dapat berdampak terhadap operasional dan biaya kepatuhan.
       • Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi permintaan pasar dapat memengaruhi
           keberhasilan usaha baru.




                                                                                     Halaman - 2
Page 60
                            BAB VII
               ANALISIS ASPEK MODEL MANAJEMEN
7.1. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen Perusahaan Sebelum Adanya Penambahan
     KBLI

     Sebelum dilakukan penambahan kegiatan usaha melalui KBLI baru, manajemen PT Arita
     Prima Indonesia Tbk (APII) telah menunjukkan kapasitas dan kompetensi yang baik dalam
     mengelola kegiatan operasional inti perusahaan. Hal ini tercermin dari pengalaman
     manajemen dalam mengelola rantai pasok industri, pemasaran produk-produk industrial
     valve dan alat teknik, serta kemampuan menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan
     mitra usaha secara konsisten. Tim manajemen juga memiliki pemahaman yang kuat
     terhadap dinamika pasar dan mampu menjaga stabilitas operasional di tengah tantangan
     industri.

     Selain itu, struktur organisasi dan sistem pengambilan keputusan yang telah berjalan
     memberikan fleksibilitas dan efisiensi dalam merespons perubahan internal maupun
     eksternal. Kemampuan perusahaan untuk tetap bertumbuh secara organik menunjukkan
     bahwa manajemen memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi perencanaan strategis,
     pengelolaan risiko, maupun tata kelola perusahaan. Dengan dasar tersebut, manajemen
     dinilai cukup siap untuk mengelola dan mengembangkan kegiatan usaha baru yang akan
     ditambahkan melalui KBLI secara bertahap dan terukur.

     Figur 7.1.1 Berikut adalah jajaran direksi APII saat ini :




     Struktur organisasi perusahaan sebelum dilakukan penambahan KBLI telah disusun secara
     proporsional untuk mendukung kelancaran operasional serta pengambilan keputusan yang
     efektif. Struktur ini mencerminkan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, serta
     mampu menjawab kebutuhan strategis perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya
     secara optimal. Adapun struktur organisasi APII sebelum penambahan KBLI dapat
     digambarkan sebagai berikut:



                                                                                 Halaman - 1
Page 61
     Figur 7.1.2 Struktur Organisasi Tanpa Adanya Penambahan KBLI




     Sumber : manajemen, 2025


7.2. Kapasitas dan Kemampuan Manajemen setelah Adanya Penambahan KBLI

     Penambahan KBLI APII yang mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen,
     pergudangan dan penyimpanan, Real Estat Yange, kawasan industri, serta pengelolaan
     limbah berbahaya akan memperluas ruang lingkup usaha perusahaan.

     Saat ini, manajemen masih mempertahankan struktur organisasi yang ada dan akan
     melakukan penambahan karyawan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan aktivitas baru
     tersebut.

     Berikut adalah salah satu daftar karyawan yang memiliki kompetensi sesuai dengan
     penambahan KBLI tersebut. sebagai berikut:

     1. Nama                : Ujang Misbahudin
        Posisi              : Manager Engineering
        Pendidikan Informal :
        • Sertifikasi Penanggung Jawab Pengendali (BNSP)
        • Pencemaran Air (PPA), tahun 2019
        • Training desain WWTP, STP, PWT tahun 2019
        • Trainer penanggung jawab dan operator instalasia pengolahan air limbah dan air
            bersih, tahun 2019
        • Training waste water treatment spesialis, tahun 2019
        • Training ISO 22000:2005 tahun 2018
        • Trainer pelatihan dasar operator instalasi pengolahan air limbah, 2018
        • Sosialisasi penanganan pengaduan pencemaran dan kerusakan lingkungan, 2018
        • Workshop chemical safety and security, 2012
        • Training ISO 9001: 2008, 2011
        • Training chemical safety and security, 2010

          Pengalaman kerja :
          • Project manager, PT Spektra Solusindo, tahun 2019 sampai sekarang, fokus pada
              Perijinan lingkungan, melakukan monitoring, evaluasi dan improvement terhadap
              kinerja semua STP dan WWTP, dsb.


                                                                                Halaman - 2
Page 62
    •   Environment Supervisor, PT Cisarua Mountain Dairy, tahun 2018 – 2019, fokus
        pada pengolahan limbah (cair, padat, dan B3), dsb.
    •   Konsultan IPAL, PT Bumi Pengolahan Air Limbah, tahun 2015-2017, focus pada
        perencanaan dan setting out Pembangunan instalasi pengolahan air limbah
        (IPAL), pengawasan dalam Pembangunan IPAL, dsb.

2. Nama                : R. Achhmad Sulaiman, S.E., CFIP®
   Posisi              : Finance Manager
   Pendidikan Informal :
   • Certified Fraud Investigator Professional (CFIP) 2022, RMI, 2022
   • Building & Maintenance ORGANIZATIONAL COMMITMENT as Basic of Clean
       Company, PT Arita, 2024
   • Taxation Course, Brevet A at Sekolah Tinggi Perpajakan Indonesia STPI, Jakarta
   • Computer Course, Microsoft Office 2000 at LM PATRA, Jakarta
   • Taxation Seminary at Sahid Jaya Hotel, 2000
   • Accounting Workshop at PT. Intermas Tata Trading, 2004

   Pengalaman kerja :
   • Finance Manager PT Arita Prima Indonesia, tahun 2020 – sekarang
   • Internal Audit Head PT Kasana Teknindo Gemilang (Heavy Equipment
       Distribution), tahun 2018 – 2020
   • Accounting Head PT Sinarmas Distribusi Nusantara (Sinarmas Group), tahun
       2014 – 2016
   • Internal Audit Supervisor Pt Sinarmas Distribusi Nusantara (Sinarmas Group),
       tahun 2003 - 2014

3. Nama                : Rudyanto Maulana Yusuf Apriana
   Pendidikan Informal :
   • SKK ahli manajemen proyek madya No. Sertifikst 74321 2142.99.8.000117276
       2023.
   • SKK ahli Teknik bangunan Gedung madya No. sertifikat 74321 2142.02.8
       00091506 2023.

    Pengalaman kerja :
    • Konsultan Supervisi PT. Indra Karya (World Bank Loan) WJBEP (West Java Basic
       Education Project ), Pembangunan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Jawa
       Barat, 2003
    • Supporting Staff
    • PT. Indra Karya (World Bank Loan) WJBEP (West Java Basic Education Project),
       2004
    • Site Manager/Estimator CV.Surya Asih Pratama, 2004
    • Inspector jalan RA. Kosasih Sukabumi, PT. Bina Karya in Associates with CV.Tri
       Exnas, 2004
    • Inspector jalan Ciwidey-Lebak Muncang, CV.Tri Exnas, 2005
    • Supporting Staff Proyek Rehabilitasi Jalan Sumedang-Cijelag ADB (Asian
       Development Banking) PT. Indra Karya in Associates with PT.Bikonar Perdana,
       2005


                                                                         Halaman - 3
Page 63
          •   Supporting Staff Proyek Rehabilitasi Jalan Subang Tagog Apu, PT. Bikonar
              Perdana, 2005
          •   Team Leader/Site Engineer Proyek Pembangunan SDN Sindangsari 1 dan SDN
              sindangsari 2, APBD Kabupaten Tangerang (Pinjaman Bank Jabar), CV.Karunia
              Indah Keluarga, 2006
          •   Team Leader/Site Engineer Pembangunan SMUN 2 Kresek APBD Kabupaten
              Tangerang, CV.Karunia Indah Keluarga,2006

7.3. Manajemen Risiko

     Manajemen Risiko adalah proses identifikasi, penilaian, dan pengelolaan risiko yang dapat
     mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan. Dengan adanya penambahan KBLI APII,
     manajemen risiko menjadi penting untuk memastikan aktivitas baru berjalan lancar dan
     meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi.
     Berikut beberapa jenis risiko utama yang perlu diperhatikan dalam konteks penambahan
     KBLI APII:

     1. Risiko Operasional
        Risiko yang muncul dari proses bisnis baru, seperti kesalahan pengelolaan
        pergudangan, pengelolaan limbah berbahaya yang tidak sesuai prosedur, atau
        kegagalan dalam aktivitas konsultasi bisnis.
     2. Risiko Kepatuhan (Compliance Risk)
        Risiko terkait ketidakpatuhan terhadap regulasi pemerintah, pengelolaan limbah
        berbahaya, perizinan Real Estat Yange, dan kawasan industri.
     3. Risiko Keuangan
        Risiko terkait pembiayaan aktivitas baru, fluktuasi nilai tukar valuta asing (jika ada
        impor), dan pengelolaan modal kerja untuk aktivitas tambahan.
     4. Risiko Reputasi
        Risiko yang timbul akibat kegagalan pengelolaan aktivitas baru yang dapat merusak
        citra dan kepercayaan stakeholder.
     5. Risiko Lingkungan
        Terutama terkait pengelolaan limbah berbahaya, risiko pencemaran lingkungan yang
        harus dikendalikan secara ketat.




                                                                                   Halaman - 4
Page 64
                                  BAB VIII
                         ANALISIS ASPEK KEUANGAN
8.1. Rencana Perusahaan (“APII”)

     PT Arita Prima Indonesia berencana menambah beberapa KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan
     Usaha Indonesia) guna memperluas cakupan kegiatan usaha dan meningkatkan potensi
     pendapatan. Penambahan KBLI ini mencakup aktivitas konsultasi bisnis dan manajemen,
     pergudangan dan penyimpanan, Real Estat Yange, kawasan industri, serta pengelolaan
     limbah berbahaya.

     Adapun KBLI yang akan ditambahkan adalah:
      1. KBLI 74902 – Aktivitas Konsultasi Bisnis dan Broker
      2. KBLI 52101 – Pergudangan dan Penyimpanan
      3. KBLI 52109 – Pergudangan dan Penyimpanan Lainnya
      4. KBLI 68120 – Real Estat Yange
      5. KBLI 68130 – Kawasan Industri
      6. KBLI 68111 – Real Estat Yang yang Dimiliki Sendiri atau Disewa
      7. KBLI 70209 – Aktivitas Konsultasi Manajemen Lainnya
      8. KBLI 52103 – Aktivitas Bounded Warehousing atau Wilayah Kawasan Berikat
      9. KBLI 38220 – Treatment dan Pembuangan Limbah Berbahaya

     Untuk menjalankan aktivitas baru ini, PT Arita Prima Indonesia memerlukan investasi
     tambahan. Investasi ini direncanakan secara bertahap menyesuaikan dengan kebutuhan
     dan kapasitas keuangan perusahaan, dengan tujuan memperkuat diversifikasi usaha
     sekaligus meningkatkan kinerja keuangan jangka menengah hingga panjang.

8.2. Proyeksi Laba Rugi

     Adapun proyeksi yang digunakan dalam analisis ini adalah:

     Figur 8.2.1 Proyeksi Laba Rugi dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                   (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31           31           31           31           31
                Keterangan           Desember     Desember     Desember     Desember     Desember
                                       2025          2026         2027         2028         2029
      Penjualan Bersih                  308.140      323.547      339.724      356.710      374.546
      Beban Pokok Penjualan           (137.311)    (144.177)    (151.386)    (158.955)    (166.903)
      Laba Kotor                        170.828      179.370      188.338      197.755      207.643

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                      (143.627)    (150.809)    (158.349)    (166.267)    (174.580)
      Administrasi
      Laba Usaha                         27.201      28.561       29.989       31.488       33.063

      Pendapatan (beban) lain-lain        2.679        2.706        3.003        3.394        3.879
      Beban keuangan                   (15.529)     (14.938)     (13.505)     (11.274)      (9.121)




                                                                                         Halaman - 1
Page 65
                                        31            31           31           31           31
                Keterangan           Desember      Desember     Desember     Desember     Desember
                                       2025          2026         2027         2028         2029
      Jumlah Beban keuangan &
                                       (12.850)      (12.233)     (10.501)      (7.880)      (5.242)
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                         14.350       16.328       19.488        23.608      27.821
      Pajak

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                        (3.157)       (3.592)      (4.287)      (5.194)      (6.121)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                         11.193       12.736       23.775        28.802    33.941
      Pajak

     Figur 8.2.2 Proyeksi Laba Rugi tanpa penambahan kegiatan usaha
                                                                             (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31            31           31           31           31
                Keterangan           Desember      Desember     Desember     Desember     Desember
                                       2025           2026         2027         2028         2029
      Penjualan Bersih                  285.729       294.301      303.130      312.224      321.591
      Beban Pokok Penjualan           (127.325)     (131.145)    (135.079)    (139.131)    (143.305)
      Laba Kotor                        158.404       163.157      168.051      173.093      178.286

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                      (133.182)     (137.177)    (141.293)    (145.531)    (149.897)
      Administrasi
      Laba Usaha                         25.223       25.979       26.759        27.561      28.388

      Pendapatan (beban) lain-lain        2.679         2.706        3.003        3.394        3.879
      Beban keuangan                   (17.047)      (17.196)     (16.687)     (15.713)     (15.249)
      Jumlah Beban keuangan &
                                       (14.368)      (14.490)     (13.684)     (12.319)     (11.369)
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                         10.855       11.489       13.075        15.242      17.019
      Pajak

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                      - 2.388,02      (2.528)      (2.876)      (3.353)      (3.744)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                          8.467        8.961       15.951        18.595      20.763
      Pajak

8.3. Proyeksi Posisi Keuangan

     Figur 8.3.1 Proyeksi Posisi Keuangan dengan penambahan kegiatan usaha
                                                                   (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                         31           31           31            31          31
                                      Desember     Desember     Desember      Desember    Desember
                Keterangan
                                        2025         2026         2027          2028        2029
                                       (Audit)      (Audit)      (Audit)       (Audit)     (Audit)
      Aset
      Aset Lancar
      Kas Dan Setara Kas                 26.668        15.065      14.763        14.356      36.242



                                                                                          Halaman - 2
Page 66
 Piutang Usaha                        64.034      70.438      77.569      78.345      79.128
 Persediaan                          214.251     216.393     216.177     218.339     220.522
 Biaya Dibayar Dimuka                 19.509      23.411      25.986      29.364      33.328
 Jumlah Aset Lancar                  324.462     325.307     334.495     340.403     369.221

 Aset Tidak Lancar
 Aset Tetap - Nilai Buku             276.251     277.854     270.307     269.791     262.303
 Investasi                            22.051      24.256      24.499      24.744      24.991
 Aset Lain - Lain                     25.566      23.009      25.540      28.350      31.468
 Jumlah Asset Tidak Lancar           323.869     325.120     320.347     322.884     318.763
 Total Aset                          648.331     650.426     654.842     663.287     687.984

 Liabilitas Dan Ekuitas
 Liabilitas Jangka Pendek
 Hutang Usaha                         18.982      22.779      25.284      27.307      30.994
 Hutang Pajak                          2.852       4.279       4.749       5.272       5.852
 Beban Yang Masih Harus Dibayar        5.592       6.490       3.366           -       1.815
 Hutang Bank                         134.733     129.489     116.580      96.425      76.976
 Hutang Lain                          29.547      26.888      19.300      18.193      20.296
 Jumlah Liabilitas Jangka Pendek     191.706     189.924     169.280     147.197     135.932

 Liabilitas Jangka Panjang
 Hutang Bank                           6.444       6.315       6.189       6.065       5.944
 Hutang Imbalan Kerja                 11.043      12.258      13.606      15.375      17.374
 Hutang Lain                             510         566         628         710         852
 Hutang Pemegang Saham                10.000           -           -           -           -
 Jumlah Liabilitas Jangka
                                      27.997      19.139      20.423      22.150      24.169
 Panjang

 Ekuitas
 Modal Saham                         107.576     107.576     107.576     107.576     107.576
 Tambahan Modal Disetor               33.937      33.937      33.937      33.937      33.937
 Saldo Laba                          287.114     299.850     323.625     352.427     386.369
 Jumlah Ekuitas                      428.627     441.363     465.138     493.941     527.882
 Total Liabilitas Dan Ekuitas        648.331     650.426     654.842     663.287     687.984

Figur 8.3.2 Proyeksi Posisi Keuangan tanpa penambahan kegiatan usaha
                                                               (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                      31          31          31          31          31
                                   Desember    Desember    Desember    Desember    Desember
            Keterangan
                                     2025        2026        2027        2028        2029
                                    (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
 Aset
 Aset Lancar
 Kas Dan Setara Kas                   16.324      15.732      15.213      10.934      27.280
 Piutang Usaha                        64.034      70.438      77.569      78.345      79.128
 Persediaan                          215.164     212.250     202.335     206.087     205.477
 Biaya Dibayar Dimuka                 19.509      23.411      25.986      29.364      33.328
 Jumlah Aset Lancar                  315.031     321.831     321.103     324.729     345.213




                                                                                   Halaman - 3
Page 67
      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap - Nilai Buku              286.751     295.354      298.307       301.291     304.303
      Investasi                             22.051      24.256       24.499        24.744      24.991
      Aset Lain - Lain                      25.566      23.009       25.540        28.350      31.468
      Jumlah Asset Tidak Lancar            334.369     342.620      348.347       354.384     360.763
      Total Aset                           649.400     664.450      669.450       679.114     705.977

      Liabilitas Dan Ekuitas
      Liabilitas Jangka Pendek
      Hutang Usaha                          18.982      22.779       25.284        27.307      30.994
      Hutang Pajak                           2.852       4.279        4.749         5.272       5.852
      Beban Yang Masih Harus Dibayar         5.592       6.490        3.366             -       1.815
      Hutang Bank                          148.529     150.014      145.514       136.783     132.679
      Hutang Lain                           29.547      26.888       19.300        18.193      20.296
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek      205.502     210.449      198.214       187.555     191.636

      Liabilitas Jangka Panjang
      Hutang Bank                            6.444        6.315       6.189         6.065       5.944
      Hutang Imbalan Kerja                  11.043       12.258      13.606        15.375      17.374
      Hutang Lain                              510          566         628           710         852
      Hutang Pemegang Saham
      Jumlah Liabilitas Jangka
                                            17.997       19.139      20.423        22.150      24.169
      Panjang

      Ekuitas
      Modal Saham                          107.576     107.576      107.576       107.576     107.576
      Tambahan Modal Disetor                33.937      33.937       33.937        33.937      33.937
      Saldo Laba                           284.387     293.349      309.300       327.895     348.658
      Jumlah Ekuitas                       425.901     434.862      450.813       469.409     490.172
      Total Liabilitas Dan Ekuitas         649.400     664.450      669.450       679.114     705.977

8.4. Inkremental Laporan Laba Rugi

     Figur 8.4.1 Inkremental Proyeksi Laba Rugi
                                                                               (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                           31            31           31           31           31
                                        Desember     Desember     Desember     Desember     Desember
                Keterangan
                                          2025          2026         2027         2028         2029
                                         (Audit)      (Audit)      (Audit)      (Audit)      (Audit)
      Penjualan Bersih                      22.410       29.245       36.594       44.486       52.955
      Beban Pokok Penjualan                (9.986)     (13.032)     (16.307)     (19.823)     (23.597)
      Laba Kotor                            12.424       16.213       20.287       24.662       29.357

      Beban Usaha
      Beban Penjualan, Umum Dan
                                          (10.446)     (13.632)     (17.057)     (20.735)     (24.683)
      Administrasi
      Laba Usaha                             1.978       2.582        3.230         3.927       4.675

      Pendapatan (beban) lain-lain               -           -            -             -           -
      Beban keuangan                         1.518       2.258        3.183         4.439       6.127



                                                                                            Halaman - 4
Page 68
      Jumlah Beban keuangan &
                                           1.518       2.258       3.183         4.439        6.127
      Pendapatan lain-lain
      Laba (Rugi) Bersih Sebelum
                                           3.496       4.834       6.413         8.366       10.802
      Pajak

      Pajak Penghasilan
             Taksiran Pajak
                                           (769)      (1.065)     (1.411)       (1.841)      (2.376)
      Penghasilan Badan
      Laba (Rugi) Bersih Setelah
                                           2.727       3.775       7.824        10.207       13.178
      Pajak

8.5. Inkremental Laporan Posisi Keuangan

     Figur 8.5.1 Inkremental Proyeksi Laporan Posisi Keuangan
                                                                            (Ribuan Jutaan Rupiah)
                                           31          31          31           31           31
                                        Desember    Desember    Desember     Desember     Desember
                Keterangan
                                          2025        2026        2027         2028         2029
                                         (Audit)     (Audit)     (Audit)      (Audit)      (Audit)
      Aset
      Aset Lancar
      Kas Dan Setara Kas                  10.344       (667)       (450)         3.422        8.962
      Piutang Usaha                            -           -           -             -            -
      Persediaan                           (913)       4.143      13.842        12.252       15.045
      Biaya Dibayar Dimuka                     -           -           -             -            -
      Jumlah Aset Lancar                   9.431       3.476      13.392        15.674       24.007

      Aset Tidak Lancar
      Aset Tetap - Nilai Buku            (10.500)    (17.500)    (28.000)      (31.500)     (42.000)
      Investasi                                 -           -           -             -            -
      Aset Lain - Lain                          -           -           -             -            -
      Jumlah Asset Tidak Lancar          (10.500)    (17.500)    (28.000)      (31.500)     (42.000)
      Total Aset                          (1.069)    (14.024)    (14.608)      (15.826)     (17.993)

      Liabilitas Dan Ekuitas
      Liabilitas Jangka Pendek
      Hutang Usaha                              -           -           -             -            -
      Hutang Pajak                              -           -           -             -            -
      Beban Yang Masih Harus Dibayar            -           -           -             -            -
      Hutang Bank                        (13.796)    (20.525)    (28.933)      (40.358)     (55.703)
      Hutang Lain                               -           -           -             -            -
      Jumlah Liabilitas Jangka Pendek    (13.796)    (20.525)    (28.933)      (40.358)     (55.703)

      Liabilitas Jangka Panjang
      Hutang Bank                              -            -           -             -            -
      Hutang Imbalan Kerja                     -            -           -             -            -
      Hutang Lain                              -            -           -             -            -
      Hutang Pemegang Saham               10.000            -           -             -            -
      Jumlah Liabilitas Jangka
                                          10.000            -           -             -            -
      Panjang




                                                                                          Halaman - 5
Page 69
                                         31           31          31          31          31
                                      Desember     Desember    Desember    Desember    Desember
                 Keterangan
                                        2025         2026        2027        2028        2029
                                       (Audit)      (Audit)     (Audit)     (Audit)     (Audit)
      Ekuitas
      Modal Saham                              -           -           -           -            -
      Tambahan Modal Disetor                   -           -           -           -            -
      Saldo Laba                           2.727       6.501      14.325      24.532       37.711
      Jumlah Ekuitas                       2.727       6.501      14.325      24.532       37.711
      Total Liabilitas Dan Ekuitas       (1.069)    (14.024)    (14.608)    (15.826)     (17.993)

8.6. Cut Off Date dalam Analisis

      Dalam melakukan Analisis Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha ini, kami
      menggunakan cut off date 31 Desember 2024 di mana batas tersebut diambil atas dasar
      pertimbangan kepentingan dan tujuan dilaksanakan studi kelayakan penambahan Kegiatan
      Usaha.

8.7. Penetapan Tingkat Diskonto

     Penentuan Biaya Modal untuk Ekuitas

     Tingkat diskonto untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset
     Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas adalah bunga bebas
     risiko ditambah premium unutk menutup risiko sistematis dari sekuritas saham. Dengan
     formula sebagai berikut:

                                        Ke = Rf + ß (Rm-Rf)
                                        Ke = Rf + ß Rp
     Di mana :
     Rf        = tingkat kembalian untuk investasi bebas risiko
     ß         = risiko sistimatis
     Rm        = tingkat kembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
     Rp        = selisih antara Rm dengan Rf

     Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
     tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk kasus Indonesia, instrumen bebas risiko
     yang dapat dipilih adalah tingkat bunga obligasi Pemerintah untuk jangka panjang.

     Terkait dengan tanggal penilaian yang jatuh pada tanggal 30 September 2024, maka
     instrumen bebas risiko yang dipilih didasarkan pada obligasi Pemerintah dengan bunga
     tetap yang dikeluarkan oleh Pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor
     30 tahun, yield tertimbang sebesar 6,87%, dan angka tersebut akan digunakan sebagai
     tingkat kembalian bebas risiko (Rf).

     Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko
     dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity market risk
     premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk premiums)
     seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk premium.


                                                                                       Halaman - 6
Page 70
Dengan mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang mengakomodasi
perubahan-perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas pada pasar negara berkembang
(emerging market).

Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan menggunakan rujukan dari hasil Damodaran
per tanggal 1 Juli 2024 dengan risk premium untuk pasar negara berkembang seperti
Indonesia adalah sekitar 6,45%. Dengan Country Default Spread sebesar 1,79%.

ß (Beta) Beta merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P
500 atau IHSG). Untuk APII kami menggunakan Beta dari industri pada sektor yang sama
yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.

Dalam perhitungan digunakan beta dari perusahaan-perusahaan tersebut sebagai beta
untuk menghitung cost of equity APII, dimana beta tersebut dihitung dari rata-rata unlevered
beta. Cara ini dilakukan untuk menetralisir pengaruh leverage yang ada di masing-masing
perusahaan terhadap beta. Perusahaan yang sama dengan leverage yang berbeda akan
memiliki cost of equity yang berbeda pula, oleh karena itu pengaruh leverage yang ada di
tiap perusahaan perlu dinetralisir dengan cara menghitung unlevered beta.

Unlevered beta dihitung dengan formula sebagai berikut :
                    βL
 βu =
              1 + (1-T) x DER
 dimana:

 T            = Tarif Pajak Penghasilan Badan
 DER          = Debt to equity ratio
 βL           = Beta levered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                portofolio pasar dengan pengaruh hutang
 βu           = Beta unlevered. yaitu ukuran risiko sistematis dari suatu saham yang diukur
                secara obyektif dari responsivitas pengembalian perusahaan terhadap
                pergerakan pengembalian portofolio pasar apabila dibandingkan dengan
                portofolio pasar tanpa pengaruh hutang

Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini
kemudian di-relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar untuk memperoleh
beta yang sesuai untuk mendiskonto tersebut dengan formula sebagai berikut :

Figur 8.7.1 Beta
                                                                                  Beta
                         Data Pembanding                         Ticker
                                                                               Unleverage
 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk                               IDX:SMLE           1,25
 PT Sarana Mitra Luas Tbk                                       IDX:SMIL          1,07
 PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk                                 IDX:KKES           1,02



                                                                                Halaman - 7
Page 71
                                                                                 Beta
                        Data Pembanding                            Ticker
                                                                              Unleverage
 Beijing United Information Technology Co.,Ltd.                 SHSE:603613      0,77
 Bohai Leasing Co., Ltd.                                        SZSE:000415      0,10
 China National Complete Plant Import & Export Corporation
                                                                SZSE:000151      0,95
 Limited
 Dlg Exhibitions & Events Corporation Limited                   SHSE:600826      1,08
 Fujian Haiqin Energy Group Co., Ltd.                           SHSE:600753      1,31
                                        Average                                  0,94
Sumber: S&P Global

Dari figur di atas, tampak bahwa rata-rata dari unlevered beta dari perusahaan yang
digunakan sebagai dasar perhitungan adalah sebesar 0,94.

Unlevered beta rata-rata perusahaan pembanding yang diperoleh dari perhitungan ini
kemudian di-relevered dengan tingkat leverage yang berlaku dipasar yaitu sebesar 60,10%
untuk memperoleh beta yang sesuai untuk mendiskonto AKB tersebut dengan formula
sebagai berikut:
   βL = βu x (1 + (1-T) x DER)
   βL = 0,94 x (1 + (1-22%) x 421,87%)
   βL = 4,05

Dengan demikian nilai dari beta re-levered adalah sebesar 4,05. Berdasarkan uraian di atas,
maka biaya modal ekuitas adalah :

Figur 8.7.2 Cost of Equity

                      Keterangan                             Persentase
 Tingkat Bunga Bebas Risiko (Risk Free Rate)                     7,18%
 Risk Premium Market                                             6,45%
 Levered Beta                                                      4,05
 CDS (Country Default Spread)                                    1,79%
 Biaya Modal untuk Ekuitas (Cost Of Equity)                     31,50%

Sesuai dengan AKB yang digunakan, yaitu arus kas bersih untuk perusahaan (free cash
flow to firm), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan
rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari kreditor (pinjaman) maupun yang
berasal dari (investor) penyertaan.

Dalam penilaian ini, untuk biaya bunga hutang digunakan tingkat bunga pinjaman rata-rata
dalam mata uang Rupiah berdasarkan suku bunga pinjaman investasi dari Bank Persero
berdasarkan data yang dipublikasikan Bank Indonesia per September 2024, yaitu 9,29%.
Berdasarkan biaya bunga tersebut maka diperoleh biaya utang bersih setelah pajak adalah
sebesar 9,41% (dengan tarif pajak 0%) dengan perhitungan sebagai berikut:
   Wd        = i x ((1-T))
   Wd        = 9,21% x (1-22%) = 7,18%

                                                                               Halaman - 8
Page 72
     Komposisi pendanaan dihitung berdasarkan DER market sebesar 421,87%. Berikut adalah
     perhitungan WACC.

     Figur 8.7.3 Perhitungan WACC

                   CAPITAL TYPE                       Cost of Capital   Composition    Weighted
      COST OF DEBT (Kd = I X (1-T))                             7,18%       80,84%        5,81%
      COST OF EQUITY (Ke = Rf + (Rpm) * Beta                   31,50%       19,16%        6,04%
      Weighted Average Cost of capital (WACC)                                            11,84%

     Berdasarkan perhitungan di atas, maka tingkat diskonto yang digunakan dalam penilaian
     adalah 11,84% selama masa periode proyeksi menurut kami merupakan tingkat diskonto
     yang wajar.

8.8. Analisis Kelayakan Proyek

     Analsia kelayakan proyek, dilakukan dengan membandingakan antara pengorbanan
     ekonomis yang dilakukan APII dalam kaitannya penambahan kegiatan usaha berupa
     aktivitas telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri, kontruksi bangunan sipil
     pertambangan, dan aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainny.

     Kelayakan dari Penambahan Kegiatan Usaha ini dihitung dari manfaat ekonomis yang
     diantisipasi dimasa mendatang dari Penambahan Kegiatan Usaha yang dihitung dari selisih
     dari Free Cash Flow To Firm APII sebelum penambahan, dengan Free Cash Flow To Firm
     setelah penambahan. Selanjutnya dibandingkan dengan Initial investment.

     Berdasarkan analisis kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha dengan mempertimbangkan
     asumsi-asumsi yang telah dilakukan diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

         ▪ Net Present Value (NPV)              :   Rp4.834.961.247,-
         ▪ Internal Rate of Return (IRR)        :   24,84% (lebih tinggi dari tingkat diskonto
                                                    11,84%)
         ▪ Profitability Index (PI)             :   1,25
         ▪ Payback Period (PP)                  :   3 tahun 7 bulan

     Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari arus kas yang masuk
     dan nilai sekarang dari arus kas keluar pada sebuah waktu periode. NPV biasanya
     digunakan untuk alokasi modal untuk menganalisis keuntungan dalam sebuah proyek yang
     akan dilaksanakan. NPV positif menandakan bahwa proyeksi pendapatan yang dihasilkan
     oleh sebuah proyek atau investasi melebihi dari proyek biaya yang dikeluarkan.

     Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa NPV sebesar
     Rp4.834.961.247,-. Nilai NPV yang dihasilkan > 0 yang mana menunjukkan bahwa proyek
     tersebut layak untuk direalisasikan.




                                                                                          Halaman - 9
Page 73
     Internal Rate Of Return (IRR) adalah tingkat suatu investasi di mana pada saat itu NPV
     adalah nol. Suatu investasi dapat dikatakan layak dan menguntungkan untuk dijalankan
     apabila nilai IRR lebih besar dari Cost of Capital yang ditentukan.

     Analisis IRR pada studi kelayakan penambahan kegiatan usaha ini menunjukkan bahwa
     nilai perhitungan adalah 24,84%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang
     diperoleh lebih besar dibandingkan dnegan tingkat diskonto (discount rate) yang ditetapkan,
     yaitu sebesar 11,84% sehingga proyek tersebut Layak untuk direalisasikan.

     Profitability Index (PI) adalah metode penghitungan kelayakan proyek dengan
     membandingkan antara jumlah present value nilai arus kas dengan nilai investasi dari
     proyek.

     Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa PI > 1 yang mana
     investasi dapat diterima.

     Payback Period (PP) merupakan penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup
     initial investment dari suatu proyek dengan menggunakan cash flow yang dihasilkan dari
     proyek tersebut.

     Berdasarkan perhitungan dan analisa yang diperoleh, perusahaan akan mampu
     mengembalikan seluruh investasi sesudah berjalan selama 3 tahun 7 bulan.

8.9. Analisis Sensitivitas Kelayakan Penambahan KBLI baru

     Analisa sensitivitas adalah metode yang digunakan untuk mengukur bagaimana perubahan
     variabel tertentu dapat mempengaruhi hasil dari suatu keputusan atau proyek. Teknik ini
     membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keuntungan
     atau risiko investasi.

     Dalam analisis sensitivitas, beberapa asumsi atau parameter seperti biaya, pendapatan,
     atau tingkat diskonto diubah dalam rentang tertentu untuk melihat dampaknya pada hasil
     akhir. Semakin sensitif suatu variabel terhadap perubahan, semakin penting untuk
     diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.

     Singkatnya, analisa sensitivitas membantu memahami seberapa "rapuh" atau fleksibel suatu
     keputusan terhadap perubahan kondisi eksternal.

     Hasil analisis sensitivitas proyek ini adalah sebagai berikut:

     Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Laba Bersih (Dalam
     Jutaan Rupiah)

                               0%            5%         -19%           -20%    -25%
                    2025     2.727         2.863        2.202          2.181   2.045
                    2026     3.775         3.963        3.048          3.020   2.831
                    2027     7.824         8.215        6.317          6.259   5.868
                    2028    10.207        10.717        8.241          8.166   7.655
                    2029    13.178        13.837       10.640         10.543   9.884


                                                                                   Halaman - 10
Page 74
               NPV      4.835       6.090             -       (185)      (1.441)
               IRR    24,84%      28,31%        11,83%      11,34%        8,03%
      Discount Rate                             11,84%
                                            Breakevent     Tidak       Tidak
       Kelayakan      Layak      Layak
                                               Point       Layak       Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Laba
Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
perubahan laba bersih melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

 Penurunan laba bersih bisa menjadi tanda adanya masalah dalam operasional bisnis,
 efisiensi biaya, atau strategi penjualan. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat
 membantu menjaga profitabilitas:

  1. Analisis Penyebab. Penurunan Laba Identifikasi faktor utama yang menyebabkan
     laba bersih menurun, seperti kenaikan biaya produksi, persaingan harga, atau
     penurunan volume penjualan.

  2. Efisiensi Operasional. Optimalkan proses bisnis dengan mengurangi pemborosan,
     meningkatkan produktivitas, dan menggunakan teknologi untuk mengurangi biaya
     operasional.

  3. Diversifikasi Sumber Pendapatan. Cari peluang untuk menambah lini produk atau
     layanan, memperluas pasar, atau menjalin kemitraan strategis yang dapat
     meningkatkan pendapatan.

  4. Evaluasi Strategi Harga. Sesuaikan harga produk atau layanan dengan
     mempertimbangkan margin keuntungan, daya beli pelanggan, dan kondisi pasar agar
     tetap kompetitif.

  5. Optimalisasi Pengelolaan Biaya. Lakukan audit biaya secara berkala dan cari cara
     untuk menghemat pengeluaran yang tidak esensial tanpa mengorbankan kualitas
     bisnis.

  6. Peningkatan Loyalitas Pelanggan. Fokus pada pelayanan yang lebih baik, program
     loyalitas, atau strategi pemasaran yang menarik agar pelanggan tetap memilih bisnis
     Anda.

  7. Pemanfaatan Data dan Teknologi. Gunakan analitik bisnis untuk memahami tren
     penjualan, pola perilaku pelanggan, dan area yang perlu diperbaiki agar keputusan
     bisnis lebih tepat sasaran.

  8. Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas tetap sehat dan
     perencanaan keuangan disusun dengan baik untuk menghindari beban finansial yang
     berlebihan.




                                                                               Halaman - 11
Page 75
Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Capex (Dalam
Jutaan Rupiah)

                           0%          5%          -19%        -20%          -25%
              2025    (10.000)    (11.000)      (15.408)    (15.500)      (16.000)
              NPV        4.835       3.941             -        (83)         (530)
               IRR     24,84%         22%        11,83%         12%           11%
      Discount Rate                              11,84%
                                             Breakevent     Tidak        Tidak
       Kelayakan      Layak      Layak
                                                Point       Layak        Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Capex
yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat penurunan
Perubahan Capex melampaui 19%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).

Menjaga agar rencana investasi tetap terkendali dan tidak membengkak membutuhkan
strategi perencanaan dan pengawasan yang baik. Berikut beberapa langkah yang dapat
diterapkan:

   1. Tetapkan Anggaran dengan Jelas. Tentukan batas investasi sejak awal dan patuhi
      anggaran yang sudah dirancang agar tidak terjadi pengeluaran berlebihan.

   2. Lakukan Analisis Risiko Secara Berkala. Evaluasi risiko investasi secara rutin
      untuk menghindari pengeluaran tak terduga atau biaya yang melonjak akibat
      perubahan kondisi pasar.

   3. Gunakan Pendekatan Bertahap. Alih-alih mengalokasikan dana dalam jumlah besar
      sekaligus, lakukan investasi bertahap agar bisa menyesuaikan strategi berdasarkan
      hasil yang diperoleh.

   4. Optimalkan Penggunaan Sumber Daya. Gunakan sumber daya yang ada dengan
      maksimal sebelum menambah anggaran baru. Misalnya, lakukan efisiensi
      operasional atau manfaatkan teknologi untuk menekan biaya.

   5. Hindari Over-Investasi. Pastikan investasi dilakukan sesuai kebutuhan dan
      kapasitas bisnis, serta tidak melebihi kemampuan finansial yang dapat
      mengakibatkan pembengkakan biaya.

   6. Evaluasi dan Negosiasi Biaya. Selalu tinjau ulang setiap pengeluaran dan negosiasi
      dengan vendor atau mitra untuk mendapatkan harga terbaik serta opsi pembayaran
      yang lebih fleksibel.

   7. Pantau Arus Kas Secara Ketat. Pastikan setiap pengeluaran terkontrol dengan
      melakukan pencatatan keuangan yang baik agar investasi tetap sesuai dengan
      perencanaan awal.




                                                                                 Halaman - 12
Page 76
Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan atau Inkremental Penjualan Bersih
(Dalam Jutaan Rupiah)

                           0%         -3%           -4%        -5%         -10%
               2025     22.410     21.738        21.565     21.290       20.169
               2026     29.245     28.368        28.143     27.783       26.321
               2027     36.594     35.496        35.214     34.764       32.934
               2028     44.486     43.151        42.809     42.262       40.037
               2029     52.955     51.366        50.958     50.307       47.659
               NPV       4.835        987              -    (1.578)      (7.992)
                IRR    24,84%     14,37%        11,83%       7,88%          -7%
       Discount Rate                            11,84%
                                            Breakevent       Tidak       Tidak
          Kelayakan     Layak      Layak
                                                  Point      Layak       Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan
Penjualan Bersih yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat
penurunan perubahan penjualan bersih melampaui 4%, dengan catatan variable lain tetap
(ceteris paribus). Perubahan Penjualan Bersih sangat sensitif, rambunya adalah batas
kelayakan Proyek adalah Penjualan tidak boleh turun lebih dari 4%. Variable ini paling
berisiko dalam konteks analisa ini.

Penurunan penjualan bisa menjadi tantangan besar bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi
yang dapat diterapkan untuk mengurangi risikonya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang
bisa dipertimbangkan:

1. Analisis Penyebab Penurunan Penjualan. Identifikasi faktor yang menyebabkan
   penurunan penjualan—apakah karena perubahan tren pasar, meningkatnya
   kompetitor, atau penurunan daya beli pelanggan?

2. Diversifikasi Produk atau Layanan. Menambah variasi produk atau layanan dapat
   membantu menarik segmen pelanggan baru dan menjaga daya saing bisnis.

3. Peningkatan Kualitas dan Layanan Pelanggan. Pastikan produk atau layanan
   berkualitas tinggi serta tingkatkan pengalaman pelanggan agar mereka tetap loyal.

4. Optimalisasi Strategi Pemasaran. Gunakan pendekatan pemasaran yang lebih
   efektif seperti kampanye digital, promosi menarik, atau pemasaran berbasis data.

5. Evaluasi dan Penyesuaian Harga. Jika persaingan harga menjadi tantangan,
   pertimbangkan penyesuaian harga yang tetap menguntungkan tetapi kompetitif.

6. Membangun Hubungan dengan Pelanggan. Gunakan strategi komunikasi yang baik,
   seperti program loyalitas, survei kepuasan, atau pendekatan lebih personal.

7. Pemanfaatan Teknologi dan Data. Gunakan analitik bisnis untuk memantau tren
   penjualan dan melakukan prediksi agar bisa bertindak cepat sebelum penurunan
   semakin signifikan.



                                                                              Halaman - 13
Page 77
Analisis Sensitivitas terhadap pergerakan Perubahan Beban Usaha (Dalam Jutaan Rupiah)

                            0%           5%             8%        10%          15%
               2025    (10.446)     (10.968)      (11.290)    (11.490)     (12.012)
               2026    (13.632)     (14.313)      (14.734)    (14.995)     (15.676)
               2027    (17.057)     (17.910)      (18.436)    (18.762)     (19.615)
               2028    (20.735)     (21.772)      (22.412)    (22.809)     (23.846)
               2029    (24.683)     (25.917)      (26.679)    (27.151)     (28.385)
               NPV        4835         1.846              -    (1.144)      (4.133)
                IRR     24,84%       16,62%        11,83%       8,95%        1,72%
      Discount Rate                                11,84%
                                               Breakevent     Tidak       Tidak
       Kelayakan       Layak       Layak
                                                  Point       Layak       Layak

Dalam tabel analisis sensitivitas ini terlihat variable sensitivitas terhadap Perubahan Beban
Usaha yang memberikan informasi, bahwa proyek akan menjadi tidak layak saat kenaikan
perubahan beban usaha melampaui 8%, dengan catatan variable lain tetap (ceteris paribus).
Variable ini juga sangat sensitif, rambunya adalah batas kelayakan Proyek adalah Beban
Usaha tidak boleh naik lebih dari 8%. Variable ini kedua paling berisiko untuk analisa
sensitivitas ini.

Kenaikan biaya bisa menjadi tantangan serius bagi bisnis, tetapi ada berbagai strategi untuk
mengurangi dampaknya. Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan:

1. Evaluasi dan Pengendalian Biaya. Lakukan audit rutin terhadap pengeluaran dan
   identifikasi area yang bisa dioptimalkan atau dikurangi tanpa mengorbankan kualitas
   operasional.

2. Negosiasi dengan Pemasok. Jalin komunikasi yang baik dengan pemasok untuk
   mendapatkan harga lebih kompetitif, diskon pembelian dalam jumlah besar, atau
   alternatif bahan baku yang lebih efisien.

3. Optimalisasi Efisiensi Operasional. Gunakan teknologi dan otomatisasi untuk
   meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual,
   dan memangkas biaya yang tidak perlu.

4. Manajemen Energi dan Sumber Daya. Cari cara untuk menghemat penggunaan
   energi, seperti investasi dalam teknologi hemat listrik atau strategi keberlanjutan yang
   dapat menekan biaya jangka panjang.

5. Diversifikasi Pendapatan. Tambahkan produk atau layanan baru yang dapat
   meningkatkan arus kas dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber
   pendapatan.

6. Penyesuaian Harga yang Bijak. Jika memungkinkan, lakukan penyesuaian harga
   secara strategis tanpa mengorbankan daya saing dan loyalitas pelanggan.




                                                                                  Halaman - 14
Page 78
      7. Restrukturisasi dan Efisiensi SDM. Evaluasi kebutuhan tenaga kerja untuk
         memastikan sumber daya manusia digunakan secara optimal, termasuk peluang
         outsourcing atau pelatihan ulang agar lebih produktif.

      8. Manajemen Keuangan yang Lebih Ketat. Pastikan arus kas dikelola dengan baik,
         cari opsi pembiayaan yang lebih efisien, dan pertimbangkan strategi penghematan
         jangka panjang.

8.10. Kesimpulan

     Pada analisis keuangan menunjukkan kelayakan dengan NPV positif Rp4.834.961.247,-
     dan IRR 24,84%, tetapi sensitivitas terhadap penurunan penjualan lebih besar dari 4%
     (penurunan penjualan > 4%) atau kenaikan beban usaha lebih besar dari 8% (kenaikan
     beban usaha > 8%) perlu diperhatikan.

     Berdasarkan analisis kelayakan terhadap aspek pasar, teknis, pola bisnis, model
     manajemen, dan keuangan, dengan syarat semua asumsi yang diproyeksikan terpenuhi,
     penambahan KBLI baru dinilai layak dilaksanakan. Laporan ini berlaku hingga Juni 2025
     sesuai POJK No. 17/POJK.04/2020, dan keberhasilannya bergantung pada stabilitas
     kondisi ekonomi serta pengelolaan risiko yang efektif.




                                                                              Halaman - 15

File

File Open PDF
Source IDX
Size1.95 MB
Published5 Jun 2025
Pages78
Characters208,593
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 70 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org ARITA PRIMA INDONESIA TBK · Nama Perusahaan p.1 ×84
linked org PT Arita Global p.31
linked person Low Yew Lean p.31 ×2
linked person Lim Cheah Chooi p.31
linked person Sim Yee Fuan p.31
linked person Bernadetha Melinda Kirana Putri p.31
linked person Chan Chein Liang p.31
linked org Tira Austenite Tbk p.52 ×2
linked org Kobexindo Tractors Tbk p.52 ×2
linked org Ancora Indonesia Resources Tbk p.53 ×2
linked org Intraco Penta Tbk p.53 ×2
linked org PT Cisarua Mountain Dairy p.62
linked org Sinergi Multi Lestarindo Tbk p.70 ×2
linked org Sarana Mitra Luas Tbk p.70 ×2
linked org Kusuma Kemindo Sentosa Tbk p.70 ×2
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.6 ×18
possible org Negara Republik Indonesia p.22 ×2
possible person Kanaka Puradiredja p.26 ×2
possible org Bursa Efek Indonesia p.30 ×2
possible org Bank Persero p.71
unresolved org KJPP Tobing Panuturi dan Rekan p.3 ×3
unresolved org KJPP Tobing Panuturi p.3 ×5
unresolved org TOBING PANUTURI DAN REKAN Prasetyo Djoko Sasongko p.3
unresolved person MBA. p.3 ×3
unresolved person Penilai Mery Ganis S p.5
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi dan Rekan p.6 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi p.6 ×2
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.6 ×5
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Tobing Panuturi Dan Rekan Dengan Kualifikasi Sebagai p.6
unresolved org Kementerian Keuangan dan Pasar Modal p.6
unresolved org KJPP TOPAZ p.11
unresolved person Akta Notaris Triphosa Lily Ekadewi p.22 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.22 ×5
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia p.22
unresolved org Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan p.23
unresolved org Bapepam-LK p.23 ×2
unresolved org Identitas Konsultan KJPP Tobing Panuturi & Rekan p.23
unresolved org Kementerian Keuangan p.23
unresolved org KJPP Tobing Panuturi & Rekan p.23
unresolved person Sangap Dame p.26
unresolved person Hong Hauw Fung p.26
unresolved org Bank Indonesia p.27 ×17
unresolved person Akta Notaris Tjhong Sendrawan p.30 ×2
unresolved org Arita Engineering Sdn.Bhd. p.31
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.31
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Halaman p.31
unresolved org Kota Nusantara p.50 ×3
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal p.51
unresolved org Pusat Statistik p.52
unresolved org Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian p.52
unresolved org Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan p.52
unresolved org Mitra Angkasa Sejahtera Tbk p.52 ×2
unresolved org HK Metals Utama Tbk p.53 ×2
unresolved org PT Spektra Solusindo p.61
unresolved person R. Achhmad Sulaiman p.62
unresolved org PT Arita p.62
unresolved org PT. Intermas Tata Trading p.62
unresolved org PT Kasana Teknindo Gemilang p.62
unresolved org PT Sinarmas Distribusi Nusantara p.62
unresolved org PT. Indra Karya p.62 ×3
unresolved org PT. Bina Karya p.62
unresolved org PT. Bikonar Perdana p.63
unresolved org Bank Jabar p.63
unresolved org Laba p.65 ×3
unresolved org DER p.70
unresolved org Ticker Unleverage Beijing United Information Technology Co.,Ltd. p.71
unresolved org Bohai Leasing Co., Ltd. p.71
unresolved org Export Corporation p.71
unresolved org Events Corporation Limited p.71
unresolved org Fujian Haiqin Energy Group Co., Ltd. p.71

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.273 4553 ms 12 Sep 2026 22:50
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': 'Prasetyo Djoko Sasongko, M.B.A.,M.Ec.MAPPI (Cert)',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': '2024-12-31',
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result