Skip to content
Back to announcement

20260701_PTPP_Informasi Transaksi Afiliasi_32107086_lamp3.pdf

Asset transaction Needs review PTPP

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 29

Page 1
                                        PENDAPAT KEWAJARAN
                                                            atas

                             Transaksi Afiliasi dan Material atas Rencana
                              Transaksi pengakhiran Kerja Sama Build,
                                Operate and Transfer (BOT) BSI Tower

                                                             Oleh

                                               PT PP (Persero) Tbk
                                              Plaza PP – Wisma Subiyanto
                                              Jalan TB Simatupang No. 57
                                               Pasar Rebo, Jakarta 13760




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk       0
                                                                                 0
Page 2
                                                                                            25 juni 2026
 Yth.
 PT PP (Persero) Tbk
 Plaza PP – Wisma Subiyanto
 Jalan TB Simatupang No. 57
 Pasar Rebo, Jakarta 13769

 File No.           : 00234/2.0131-09/BS/03/0643/1/VI/2026
 Hal                : Pendapat Kewajaran Atas Transaksi Afiliasi dan Material atas Rencana
                      Pengakhiran Kerja Sama Build, Operate and Transfer (BOT) BSI Tower

 Dengan hormat.

 Penilai Publik yang bertanggung jawab sekaligus yang bertanda tangan di dalam Laporan Pendapat
 Kewajaran ini adalah Ginanjar Rizki Tarekat, S.T, M.Ec.Dev, MAPPI (Cert.), merupakan Penilai Publik
 Properti & Bisnis dengan Nomor Izin Penilai Publik Properti No. P-1.18.00532 berdasarkan Surat Keputusan
 Menteri Keuangan Nomor 782/KM.1/2018 Tanggal 17 Desember 2018 dan Nomor Izin Penilai Publik Bisnis
 No. B-1.23.00643 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 214/KM.1/2023 Tanggal
 17 Desember 2018. Penilai Publik juga telah terdaftar sebagai Profesi Penunjang Pasar Modal di Otoritas
 Jasa Keuangan/OJK (d/h Bapepam-LK) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal
 No. KEP-1095/KS.13/2026 Tanggal 24 Juni 2026.

 Penilai Publik bertindak atas nama Kantor Jasa Penilai Publik Sugianto Prasodjo dan Rekan yang
 beralamat di 18 Office Park Lantai 3 Unit A-3E, Jl. TB Simatupang, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar
 Minggu, Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. KJPP Sugianto Prasodjo dan Rekan memiliki Izin
 Usaha resmi dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia No. 2.15.0131 berdasarkan Kepmenkeu
 No. 722/KM.1/2015 tanggal 9 September 2015 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia. KJPP Sugianto
 Prasodjo dan Rekan adalah perusahaan penilai independen yang terdaftar di Masyarakat Profesi Penilai
 Indonesia (MAPPI) dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan/OJK (d/h Bapepam-LK) berdasarkan Surat Tanda
 Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal No. S-859/PM.223/2015 tanggal 17 November 2015.

 Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No: 00207/2.0131-09/PP/KJPPSPR/APP-BS/VI/2026
 tertanggal 08 Juni 2026 Kantor Jasa Penilai Publik Sugianto Prasodjo dan Rekan (selanjutnya disebut
 “KJPP SPR” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT PP (Persero) Tbk (selanjutnya disebut
 “Perseroan”) untuk memberikan pendapat kewajaran sehubungan dengan aksi korporasi yang
 dilakukan oleh Perseroan dalam Rencana Transaksi pengakhiran kerja sama build, operate and transfer
 (BOT) BSI Tower antara BRIS dan PT PP (Persero) Tbk. Kegiatan Rencana Transaksi pengakhiran kerja
 sama yang dilakukan oleh Perseroan selanjutnya disebut “Rencana Transaksi”.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          1
                                                                                                    1
Page 3
 Latar Belakang Rencana Transaksi

  Rencana Transaksi pengakhiran lebih awal kerja sama Build, Operate, and Transfer (“BOT”) atas
  Gedung BSI Tower dilakukan sebagai bagian dari strategi PT PP (Persero) Tbk dalam rangka
  memperkuat kondisi keuangan, menata kembali portofolio usaha, serta mendukung pelaksanaan
  Rencana Penyehatan Keuangan Perseroan. Langkah tersebut dipandang sebagai salah satu upaya
  strategis untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan, mengoptimalkan pengelolaan aset dan investasi,
  serta memperkuat struktur usaha Perseroan agar lebih fokus pada kegiatan usaha utama dan portofolio
  yang memberikan kontribusi optimal bagi keberlanjutan usaha Perseroan.
  Rencana Transaksi ini juga sejalan dengan arahan DAM/Danantara terkait penataan anak usaha Badan
  Usaha Milik Negara (“BUMN”), penyehatan keuangan BUMN Karya, Program Integrasi BUMN Karya
  Klaster 1 PP–ADHI, serta pelaksanaan restrukturisasi keuangan dan streamlining portofolio bisnis.
  Dalam konteks tersebut, pengakhiran lebih awal kerja sama BOT Gedung BSI Tower dipertimbangkan
  sebagai salah satu aksi korporasi yang relevan untuk mendukung arah kebijakan penataan dan
  penguatan kinerja BUMN Karya, khususnya dalam rangka meningkatkan efisiensi portofolio,
  memperbaiki posisi keuangan, serta mendukung proses konsolidasi dan transformasi usaha Perseroan.
  Gedung BSI Tower merupakan aset BOT yang dibangun dan dikelola oleh PERSEROAN di atas lahan
  milik PT Bank Syariah Indonesia Tbk (“BSI”), dengan BSI sebagai pengguna utama gedung sekaligus
  pihak dalam Perjanjian BOT. Dengan mempertimbangkan karakteristik tersebut, percepatan serah
  terima Gedung BSI Tower kepada BSI merupakan alternatif transaksi yang relevan secara komersial,
  mengingat BSI memiliki keterkaitan langsung dengan aset dimaksud baik sebagai pemilik lahan maupun
  pengguna utama gedung. Selain itu, pengakhiran lebih awal kerja sama BOT tersebut juga dilaksanakan
  dengan mengacu pada mekanisme yang telah tersedia dalam Perjanjian BOT, sehingga pelaksanaan
  Rencana Transaksi tetap berada dalam koridor kesepakatan para pihak.
  Dengan dilakukannya Rencana Transaksi, Perseroan diharapkan dapat memperoleh manfaat berupa
  penguatan posisi keuangan, peningkatan likuiditas, penurunan eksposur terhadap komitmen jangka
  panjang atas pengelolaan aset BOT, serta optimalisasi portofolio bisnis sesuai dengan arah penyehatan
  dan restrukturisasi Perseroan. Oleh karena itu, Rencana Transaksi ini dipandang sebagai langkah
  strategis yang mendukung kepentingan Perseroan dalam rangka memperbaiki struktur keuangan,
  meningkatkan efisiensi portofolio, serta memperkuat keberlanjutan usaha Perseroan ke depan

 Pihak-Pihak Yang Bertransaksi

  Pihak-pihak yang terlibat dalam rencana transaksi penyelesaian BOT BSI Tower adalah:

  a. PT PP (Persero) Tbk
     PT PP (Persero) Tbk selaku pihak Lessee (Pemilik Bangunan), yaitu perusahaan terbuka yang bergerak
     di bidang bidang Industri, Konstruksi, Engineering Procurement dan Construction (EPC), perdagangan,
     pengelolaan kawasan, layanan jasa peningkatan kemampuan dibidang konstruksi, jasa engineering dan
     perencanaan, pengembangan serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perusahaan untuk
     menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, untuk mendapatkan
     atau mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perusahaan dengan menerapkan prinsip - prinsip
     Perusahaan Terbatas.

  b. PT Bank Syariah Indonesia Tbk
     PT Bank Syariah Indonesia Tbk selaku Lessor (Pemilik Tanah), yaitu perusahaan terbuka yang bergerak
     di bidang kegiatan Bank. Menyelenggarakan usaha perbankan dengan prinsip Syariah. Selain itu, PT
     Bank Syariah Indonesia Tbk juga melaksanakan layanan bullion yaitu kegiatan yang mencakup
     perdagangan dan penitipan emas sesuai prinsip syariah.

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          2
                                                                                                    2
Page 4
 Objek Rencana Transaksi

 Objek analisis Pendapat Kewajaran dalam penugasan adalah kewajaran atas Rencana Transaksi Afiliasi dan
 Material pengakhiran kerja sama build, operate and transfer (BOT) BSI Tower antara BRIS dan PT PP
 (Persero) Tbk.

 Pertimbangan Bisnis yang Digunakan oleh Manajemen Terkait dengan Rencana Transaksi
 Pertimbangan utama manajemen Perseroan dalam mengusulkan percepatan serah terima adalah sebagai
 berikut:
  •     Rencana Penyehatan Keuangan: Pada tahun 2025, Perseroan membukukan rugi bersih konsolidasi
        sebesar Rp7,999 triliun akibat pencatatan impairment senilai Rp7,3 triliun. Ekuitas konsolidasi Perseroan
        tergerus dari Rp12,389 triliun (2024) menjadi Rp4,305 triliun (2025), turun 65,3% hanya dalam satu
        tahun. Kondisi ini memaksa Perseroan untuk menyusun dan melaksanakan Rencana Penyehatan
        Keuangan.
  •     Konsentrasi Jatuh Tempo Utang Berbunga (IBD): Tanpa arus kas masuk yang signifikan dari aksi
        korporasi, Perseroan menghadapi risiko kegagalan pembayaran.
  •     Strategi Portfolio Streamlining - Divestasi Aset Non-Inti: Manajemen PERSEROAN menetapkan strategi
        Portfolio Streamlining melalui divestasi aset-aset non-inti. BSI Tower merupakan prioritas utama
        divestasi karena berkontribusi signifikan terhadap total target divestasi 2026.
 Empat Faktor Prioritas BSI Tower: Manajemen Perseroan menetapkan BSI Tower sebagai prioritas utama
 divestasi berdasarkan: (i) kontribusi nilai signifikan; (ii) Kesiapan BSI sebagai pemilik lahan, pengguna utama
 gedung, dan pihak dalam Perjanjian BOT. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendukung proses transaksi
 yang lebih cepat sesuai arahan Danantara untuk Streamlining/Back to Core dibandingkan alternatif pengalihan
 kepada pihak ketiga yang memerlukan proses pemasaran, persetujuan, dan penyesuaian kontraktual lebih
 lanjut; (iii) proses eksekusi yang relatif lebih cepat karena mekanisme early termination sudah diatur dalam
 PKS BOT

 Maksud dan Tujuan Pemberian Pendapat Kewajaran

 Maksud dan tujuan penugasan adalah memberikan Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi dengan
 tujuan memenuhi POJK No.42/POJK.04/2020 terkait Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan dan
 POJK No.17/POJK.04/2020 terkait Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha sesuai dengan
 SEOJK No. 17/SEOJK.04/2020 terkait Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Bisnis di Pasar Modal.

 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date)

 Pendapat kewajaran dilaksanakan per tanggal 31 Desember 2025, parameter dan Laporan Keuangan yang
 digunakan dalam analisis adalah Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal
 31 Desember 2025 yang telah diaudit oleh Benny Andria selaku Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik
 (KAP) Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                                  3
                                                                                                            3
Page 5
 Asumsi dan Kondisi Pembatas

 Pendapat kewajaran ini berdasarkan dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut:

  •    Laporan Pendapat Kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion;
  •    Bahwa kami tidak mempunyai kepentingan finansial terhadap objek yang dianalisis dan hasil dari
       pendapat kewajaran yang dilakukan;
  •    Bahwa dalam pendapat kewajaran ini didasarkan pada analisa dan perhitungan atas objek yang
       dianalisis sebagaimana ditunjukkan dalam laporan keuangan yang diberikan dan dokumen – dokumen
       pendukung lain yang terbatas;
  •    Laporan pendapat kewajaran ini sebagai salah satu informasi untuk dijadikan dasar pemikiran dalam
       mengambil keputusan, akan tetapi tidak mengikat dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar penentu suatu
       keputusan yang berakibat hukum, karena laporan ini semata-mata dibuat berdasarkan kajian disiplin ilmu
       dan kemampuan yang kami miliki;
  •    Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penyusunan
       Pendapat Kewajaran.
  •    Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya.
  •    Analisis dalam penyusunan Pendapat Kewajaran dilakukan dengan menggunakan proyeksi keuangan
       yang telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen
       Perseroan dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
  •    Kami bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan Pendapat Kewajaran dan kewajaran proyeksi
       keuangan.
  •    Pendapat Kewajaran merupakan laporan yang terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
       bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.
  •    Kami bertanggung jawab atas Pendapat Kewajaran dan kesimpulan Pendapat Kewajaran;

 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran

 Sehubungan dengan Peraturan POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan
 Kepentingan, Peraturan POJK No. 35/POJK.04/2020, tertanggal 2 Juli 2020, tentang Penilaian dan
 Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, dan Peraturan SEOJK 17/SEOJK.04/2020 tanggal
 09 Agustus 2020 maka dalam penugasan laporan Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi
 Perseroan ini, kami telah melakukan analisis melalui pendekatan dan prosedur pendapat kewajaran atas
 Rencana Transaksi yang mencakup hal sebagai berikut:

  1. Melakukan Analisis Rencana Transaksi Perseroan.
  2. Melakukan Analisis Kualitatif dari Rencana Transaksi Perseroan.
  3. Melakukan Analisis Kuantitatif dari Rencana Transaksi Perseroan.
  4. Melakukan Analisis Kewajaran dari Rencana Transaksi Perseroan.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                              4
                                                                                                        4
Page 6
 Kesimpulan Pendapat Kewajaran

 1.    Analisis Rencana Transaksi

       Pihak – Pihak yang Melakukan Transaksi

       a. Pihak - pihak yang melakukan Transaksi

             Pihak-pihak yang terlibat dalam rencana transaksi penyelesaian BOT BSI Tower adalah:

             a. PT PP (Persero) Tbk
                PT PP (Persero) Tbk selaku pihak Lessee (Pemilik Bangunan), yaitu perusahaan terbuka yang
                bergerak di bidang bidang Industri, Konstruksi, Engineering Procurement dan Construction
                (EPC), perdagangan, pengelolaan kawasan, layanan jasa peningkatan kemampuan dibidang
                konstruksi, jasa engineering dan perencanaan, pengembangan serta optimalisasi pemanfaatan
                sumber daya Perusahaan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan
                berdaya saing kuat, untuk mendapatkan atau mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai
                Perusahaan dengan menerapkan prinsip - prinsip Perusahaan Terbatas.

             b. PT Bank Syariah Indonesia Tbk
                PT Bank Syariah Indonesia Tbk selaku Lessor (Pemilik Tanah), yaitu perusahaan terbuka yang
                bergerak di bidang kegiatan Bank. Menyelenggarakan usaha perbankan dengan prinsip
                Syariah. Selain itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk juga melaksanakan layanan bullion yaitu
                kegiatan yang mencakup perdagangan dan penitipan emas sesuai prinsip syariah.

       b. Hubungan dari segi kepemilikan saham

             Berdasarkan struktur kepemilikan saham dan kepengurusan dari pihak-pihak yang akan
             melakukan Rencana Transaksi, terdapat hubungan afiliasi yang jelas antara Perseroan, PT PP
             (Persero) Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Keterkaitan tersebut ditunjukkan melalui
             pemegang saham dengan kontrol yang sama yaitu Pemerintah Republik Indonesia.

             Adanya kesamaan pemegang saham kontrol pada kedua entitas tersebut menciptakan
             hubungan afiliasi yang nyata secara hukum maupun operasional dalam Rencana Transaksi ini.

       c. Hubungan dari segi kepengurusan

             Berdasarkan struktur kepemilikan saham dari pihak-pihak yang akan melakukan Rencana
             Transaksi yaitu antara Lessee dan Lessor tidak terdapat keterkaitan dari segi kepengurusan di
             antara pihak-pihak tersebut.

             Ditinjau dari hubungan dari segi kepemilikan saham dan segi kepengurusan, berdasarkan
             Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan
             Transaksi Benturan Kepentingan Rencana Transaksi ini termasuk kepada Transaksi afiliasi.

             Rencana Transaksi ini tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam
             Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan
             Transaksi Benturan Kepentingan.

             Dengan memperhatikan definisi Benturan kepentingan di atas (yang merugikan perusahaan)
             dan alasan yang telah dikemukakan serta harga Rencana Transaksi yang akan dilaksanakan,

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                            5
                                                                                                      5
Page 7
             maka Rencana Transaksi bukan merupakan Transaksi benturan kepentingan, karena
             memberikan solusi kelangsungan usaha bagi Perseroan dan diselenggarakan sesuai aturan
             perundang-undangan yang berlaku dan menguntungkan Perseroan.

             Perjanjian dan Persyaratan yang Disepakati Dalam Rencana Transaksi

             Rencana Transaksi dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak untuk mengakhiri lebih awal
             kerja sama BOT atas Gedung BSI Tower serta penyelesaian kewajiban finansial berdasarkan
             hasil penilaian independen sebagaimana diatur dalam Akta Perjanjian BOT Nomor 48 tanggal
             28 April 2023 beserta perubahannya.
             Rencana Transaksi akan dilakukan berdasarkan draft notaris Pratiwi Handayani Sarjana Hukum
             yang berkedudukan di Kota Administrasi Jakarta Pusat tentang Perjanjian Pengakhiran Kerja
             Sama Pembangunan dan Pengembangan BSI dengan Skema Build Operate Transfer (BOT).
             Hal-hal yang penting dari perjanjian tersebut sebagai berikut.
             a. Hal Penting dari Penyelesaian Kewajiban
                • Berdasarkan Pasal 6 dan 7
                   Pelunasan Utang; Transaksi ini berdampak langsung pada penurunan liabilitas
                   Perseroan di neraca (balance sheet). Sebagian pembayaran dari BRIS (Termin I A)
                   akan dialokasikan langsung untuk pelunasan dipercepat atas kewajiban Perseroan
                   berdasarkan Dokumen Pembiayaan melalui mekanisme penampungan terkunci (ring-
                   fence). Dokumen pembiayaan ini mencakup perjanjian Line Facility Pembiayaan
                   Syariah, akad Al-Ba’i, dan realisasi ijarah muntahiyya bit tamlik (IMBT).
                   Proses Roya Jaminan Perseroan baru bisa mencairkan sisa saldo neto pada Termin II
                   setelah seluruh utang dinyatakan lunas dan diperolehnya bukti pelepasan, pencoretan,
                   atau roya jaminan atas Gedung dari instansi berwenang. Valuer perlu memperhitungkan
                   risiko timeline (keterlambatan pengurusan administrasi roya karena hal tersebut
                   otomatis akan menunda masuknya arus kas Termin II.
             b. Hal Penting dari Aspek Keuangan
                • Berdasarkan Pasal 5 dan 6
                   Kompensasi yang diterima Perseroan tidak sepenuhnya berupa dana likuid segar secara
                   langsung. Hak Perseroan atas Nilai Pengakhiran akan langsung direkonsiliasi dan dipotong
                   (netting) dengan berbagai kewajiban finansial Perseroan kepada BRIS. Potongan tersebut
                   mencakup sisa Insentif Lahan I & II yang terutang, sisa utang di bawah Dokumen
                   Pembiayaan, kewajiban pembiayaan luar Dokumen Pembiayaan (Side Letter), dan
                   pengembalian Security Deposit.
                • Berdasarkan Pasal 6 dan 15;
                   Sebagian besar porsi dana yang menjadi hak Perseroan akan ditahan oleh BRIS di Rekening
                   Dana Cadangan (escrow account) melalui skema Termin III (A, B, C, D, dan E). Penahanan
                   ini dikaitkan dengan pemenuhan izin outstanding, sertifikasi green building gold, serta
                   temuan audit teknis dari Savills. Selain itu, terdapat retensi umum sebesar 10% dari Sisa
                   Saldo Neto yang ikut ditahan (Termin III E). Hal ini secara material membatasi likuiditas
                   instan bagi Perseroan pasca-transaksi.
                • Berdasarkan Pasal 16
                   Nilai Pengakhiran Awal didasarkan pada tanggal cut-off 31 Desember 2025. Namun, nilai ini
                   akan dihitung kembali atau dire-evaluasi oleh KJPP karena adanya pembayaran yang
                   dilakukan BRIS kepada Perseroan setelah tanggal tersebut (misalnya biaya sewa). Jika nilai

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                              6
                                                                                                        6
Page 8
                      penyesuaian akhir ternyata lebih kecil dari nilai awal, Perseroan wajib mengembalikan
                      selisihnya kepada BRIS. Anda harus memperhatikan potensi risiko arus kas keluar (cash
                      outflow) tak terduga ini dalam proyeksi keuangan Perseroan.
             c. Hal Penting dari Masa Transisi
                • Berdasarkan Pasal 2 dan 11
                   Perubahan Kapasitas Menjadi Operator Sementara; Sejak penandatanganan BA
                   Penyerahan, status Perseroan turun dari mitra kerja sama BOT menjadi sekadar
                   operator sementara selama maksimal 6 block (Masa Transisi). Perseroan kehilangan
                   hak-hak eksklusifnya sebagai mitra BOT dan dilarang menerima pembayaran biaya
                   sewa dari tenant karena aliran pendapatan tersebut langsung dialihkan ke BRIS
                   Pelaksanaan Hak Istimewa; Perseroan secara tegas melepaskan hak untuk menyamai
                   proposal (right to match) dalam proses penunjukan pengelola gedung baru oleh BRIS
                • Berdasarkan Pasal 11
                   Skema Pendanaan Talangan; Selama Masa Transisi, Perseroan diwajibkan mendanai
                   terlebih dahulu seluruh biaya pengoperasian gedung menggunakan dana internalnya
                   sendiri. Dana tersebut baru akan diganti (reimburse) oleh BRIS setelah PERSEROAN
                   menyerahkan Laporan Pengeluaran bulanan dan lolos proses verifikasi BRIS. Ini
                   menimbulkan tekanan jangka pendek pada modal kerja (working capital) Perseroan.
                   Risiko Penalti Penundaan Masa Transisi; Jika Masa Transisi terpaksa diperpanjang
                   akibat kegagalan atau keterlambatan Perseroan dalam memenuhi kewajibannya, maka
                   setiap tambahan biaya pengoperasian gedung selama masa perpanjangan tersebut
                   sepenuhnya menjadi beban Perseroan tanpa ada penggantian biaya dari BRIS.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                            7
                                                                                                      7
Page 9
             Penilaian Atas Risiko Dan Manfaat Dari Rencana Transaksi Yang Akan Dilakukan

             Manfaat jika Rencana Transaksi dilakukan :

               1. Manfaat Strategis
                  Rencana Transaksi ini sejalan dengan arahan DAM/Danantara terkait penataan portofolio
                  investasi, restrukturisasi keuangan, dan streamlining bisnis Perseroan. Pengakhiran lebih
                  awal kerja sama BOT Gedung BSI Tower merupakan salah satu langkah korporasi yang
                  relevan dalam rangka mendukung penyehatan keuangan Perseroan, memperkuat fokus
                  usaha, serta mengoptimalkan portofolio aset dan investasi yang dimiliki.
               2. Manfaat Finansial
                  Perseroan akan menerima dana hasil transaksi atau net proceeds yang dapat digunakan
                  untuk membayar sebagian interest bearing debt (“IBD”), mengurangi tekanan likuiditas,
                  serta mendukung pelaksanaan Rencana Penyehatan Keuangan Perseroan. Penggunaan
                  proceeds tersebut diharapkan dapat memperbaiki struktur permodalan dan menurunkan
                  eksposur Perseroan terhadap kewajiban keuangan berbunga, sehingga memberikan
                  dampak positif terhadap posisi keuangan dan kemampuan Perseroan dalam memenuhi
                  kewajiban kepada kreditur.
                    Tanpa dilakukannya Rencana Transaksi, Perseroan berpotensi menghadapi risiko yang
                    material, termasuk risiko Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (“PKPU”) atau
                    kepailitan yang dapat diajukan oleh kreditur. Oleh karena itu, divestasi Gedung BSI Tower
                    melalui mekanisme pengakhiran lebih awal kerja sama BOT merupakan langkah yang
                    krusial untuk memitigasi risiko tersebut, menjaga keberlangsungan usaha Perseroan,
                    serta mempertahankan kredibilitas Perseroan di pasar modal dan di hadapan para
                    pemangku kepentingan.
                    Perseroan juga dapat melunasi fasilitas Ijarah Muntahiyah Bittamlik (“IMBT”) kepada
                    BRIS. Pelunasan fasilitas tersebut akan berdampak pada penghapusan beban imbal hasil
                    dari struktur biaya keuangan Perseroan, sehingga dapat menurunkan beban keuangan
                    ke depan, memperbaiki kinerja laba rugi, serta menyehatkan neraca Perseroan. Dengan
                    demikian, Rencana Transaksi ini diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap
                    penguatan likuiditas, perbaikan struktur keuangan, dan keberlanjutan usaha Perseroan.
               3. Manfaat Operasional
                  Rencana Transaksi pengakhiran lebih awal kerja sama BOT Gedung BSI Tower
                  diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Perseroan melalui pengurangan beban
                  pengelolaan dan komitmen operasional jangka panjang atas aset BOT. Dengan
                  dilakukannya percepatan serah terima Gedung BSI Tower kepada BSI, Perseroan tidak
                  lagi menanggung kewajiban operasional yang berkaitan dengan pengelolaan,
                  pemeliharaan, dan administrasi aset BOT tersebut, sehingga sumber daya manajemen,
                  keuangan, dan operasional Perseroan dapat dialokasikan secara lebih optimal kepada
                  kegiatan usaha utama dan proyek-proyek yang memiliki prioritas strategis lebih tinggi.
                    Rencana Transaksi dapat meningkatkan efisiensi operasional Perseroan melalui
                    penyederhanaan portofolio aset dan pengurangan kompleksitas pengelolaan bisnis non-
                    inti. Pengakhiran lebih awal kerja sama BOT Gedung BSI Tower memungkinkan
                    Perseroan untuk lebih fokus pada pelaksanaan program restrukturisasi, penguatan tata
                    kelola, serta pengelolaan proyek dan investasi yang selaras dengan arah penyehatan

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                              8
                                                                                                        8
Page 10
                    keuangan Perseroan. Dengan demikian, Rencana Transaksi ini diharapkan dapat
                    mendukung peningkatan efektivitas pengambilan keputusan, mempercepat proses
                    konsolidasi internal, serta memperkuat daya tahan operasional Perseroan ke depan.

         Risiko jika Rencana Transaksi dilakukan :

               1. Risiko Finansial
                  Kemungkinan bahwa nilai kas bersih yang diterima Perseroan dari Rencana Transaksi
                  menjadi lebih rendah dari nilai transaksi bruto. Hal ini dapat terjadi karena adanya
                  kewajiban pelunasan pembiayaan, beban pajak, biaya transaksi, serta biaya lainnya yang
                  timbul sehubungan dengan pelaksanaan Rencana Transaksi.
                    Rencana Transaksi juga berpotensi menimbulkan risiko hilangnya pendapatan berulang
                    yang seharusnya dapat diperoleh Perseroan selama sisa masa kerja sama BOT. Dengan
                    dilakukannya pengakhiran lebih awal, Perseroan tidak lagi memiliki hak ekonomi atas
                    pendapatan yang bersumber dari pengelolaan Gedung BSI Tower sesuai ketentuan
                    dalam Perjanjian BOT.
               2. Risiko Administratif
                  Terdapat kemungkinan keterlambatan penyelesaian dokumen-dokumen outstanding
                  yang dipersyaratkan berdasarkan kesepakatan para pihak dalam Rencana Transaksi.
                  Keterlambatan tersebut berpotensi memengaruhi jadwal penyelesaian transaksi, proses
                  serah terima, pengakuan akuntansi, serta kepastian penerimaan dana hasil transaksi oleh
                  Perseroan.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          9
                                                                                                    9
Page 11
 2.    Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi

             Riwayat Singkat Perusahaan Dan Kegiatan Usaha

             PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk semula merupakan Perusahaan Negara (PN)
             yang beralih bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) berdasarkan Peraturan
             Pemerintah No 39 Tahun 1971 yang telah diumumkan dalam Lembaran Negara Republik
             Indonesia No. 50 tahun 1971. PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk didirikan dengan
             Akta Perseroan Terbatas PT Pembangunan Perumahan No. 78 tanggal 15 Maret 1973 Jo. Akta
             Perubahan No. 247 tanggal 21 Maret 1974 dari notaris Kartini Muljadi, S.H., di Jakarta. Akta
             tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan
             Surat Keputusan No.Y.A.5/105/2 tanggal 30 Maret 1974.
             Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta
             No. 39 tanggal 30 April 2025 dari notaris Ir. Nanette Cahyanie Handari Adi Warsito, S.H., di
             Jakarta. Akta perubahan ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi
             Manusia No. AHU-AH.01.09-0223644 Tahun 2025 tanggal 6 Mei 2025.
             Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar yang terakhir, Anggaran Dasar Perusahaan, ruang
             lingkup kegiatan usaha utama Perusahaan adalah menjalankan usaha di bidang Industri,
             Konstruksi, Engineering Procurement dan Construction (EPC), perdagangan, pengelolaan
             kawasan, layanan jasa peningkatan kemampuan dibidang konstruksi, jasa engineering dan
             perencanaan, pengembangan serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perusahaan untuk
             menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, untuk
             mendapatkan atau mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perusahaan dengan
             menerapkan prinsip - prinsip Perusahaan Terbatas.
             Perseroan berdomisili di Indonesia dengan kantor berkedudukan di Plaza PP – Wisma Subiyanto,
             Jalan TB Simatupang No. 57, Pasar Rebo, Jakarta 13760.
             Struktur permodalan dan kepemilikan saham Perseroan sebagai berikut:
              Modal Dasar              Rp 2.450.000.000.000 (Dua Dengan jumlah lembar saham
                                       Triliun Empat Ratus Lima Puluh sebanyak 24.500.000.000 (Dua
                                       Miliar Rupiah)                   Puluh Empat Miliar Lima Ratus
                                                                        Juta) lembar saham dengan Nilai
                                                                        Nominal sebesar Rp100 (Sepuluh
                                                                        Rupiah) per lembar saham
              Modal Ditempatkan        Rp 619.989.735.400 (Enam Dengan jumlah lembar saham
                                       Ratus Sembilan Belas Miliar sebanyak 6.199.897.354 (Enam
                                       Sembilan Ratus Delapan Puluh Miliar Seratus Sembilan Puluh
                                       Sembilan Juta Tujuh Ratus Tiga Sembilan Juta Delapan Ratus
                                       Puluh Lima Ribu Empat Ratus Sembilan Puluh Tujuh Ribu Tiga
                                       Rupiah)                          Ratus Lima Puluh Empat) Lembar
                                                                        Saham
              Modal Disetor            Rp 619.989.735.400 (Enam Dengan jumlah lembar saham
                                       Ratus Sembilan Belas Miliar sebanyak 6.199.897.354 (Enam
                                       Sembilan Ratus Delapan Puluh Miliar Seratus Sembilan Puluh
                                       Sembilan Juta Tujuh Ratus Tiga Sembilan Juta Delapan Ratus
                                       Puluh Lima Ribu Empat Ratus Sembilan Puluh Tujuh Ribu Tiga
                                       Rupiah)                          Ratus Lima Puluh Empat) Lembar
                                                                        Saham


Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                         10
                                                                                                      10
Page 12
             Perusahaan memiliki modal ditempatkan dan disetor dengan total sebesar 6.199.897.354
             lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham. Komposisi pemegang saham
             Perseroan pada tanggal Cut Off 31 Desember 2025 sebagai berikut:

                                                                    Jumlah Saham       Jumlah Modal      Persentase
                              Pemegang Saham
                                                                      (Lembar)           (Rupiah)            %
             Saham Seri A Dwiwarna
               Pemerintah Republik Indonesia                                       1              100            0,00%
             Saham biasa Seri B
               PT Danantara Asset Management (Persero)                 3.130.328.358   313.032.835.800          50,49%
               Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara                  31.619.477     3.161.947.700           0,51%
               Koperasi Karyawan Pemegang Saham – PT PP                    2.029.692       202.969.200           0,03%
               Publik                                                  3.021.363.926   302.136.392.600          48,74%
             Sub Total                                                 6.185.341.454   618.534.145.400          99,77%
             Saham Treasuri                                               14.555.900     1.455.590.000           0,23%
             Total                                                     6.199.897.354   619.989.735.400           100%

             Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, ruang lingkup kegiatan usaha utama
             Perseroan adalah menjalankan usaha di bidang Industri, Konstruksi, Engineering Procurement
             dan Construction (EPC), perdagangan, pengelolaan kawasan, layanan jasa peningkatan
             kemampuan dibidang konstruksi, jasa engineering dan perencanaan, pengembangan serta
             optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perusahaan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa
             yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, untuk mendapatkan atau mengejar keuntungan
             guna meningkatkan nilai Perusahaan dengan menerapkan prinsip - prinsip Perusahaan
             Terbatas.

             Analisis Industri dan Lingkungan

             Kondisi Perekonomian Indonesia
             Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen (c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada
             hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi
             sebesar 0,66 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah Jasa Lainnya sebesar
             9,93 persen; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,10 persen; serta Transportasi dan
             Pergudangan sebesar 8,78 persen. Sementara itu, Industri Pengolahan; serta Perdagangan
             Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang memiliki peran dominan terhadap
             perekonomian Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 5,30 persen dan 5,49 persen.

             Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak
             menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Lapangan
             Usaha Industri Pengolahan sebesar 19,07 persen; diikuti oleh Perdagangan Besar dan Eceran,
             Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,17 persen; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
             sebesar 13,10 persen; Konstruksi sebesar 9,83 persen; serta Pertambangan dan Penggalian
             sebesar 8,75 persen. Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia
             mencapai 63,92 persen.

             Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 dibanding triwulan III-2025 (q-to-q) tumbuh sebesar 0,86
             persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan,
             Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 13,59 persen; diikuti oleh Jasa Pendidikan

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                                        11
                                                                                                                  11
Page 13
             sebesar 7,48 persen. Sementara itu, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; serta Pengadaan
             Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang masing-masing mengalami kontraksi
             sebesar 18,33 persen dan 1,30 persen.

             Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen (c-to-c). Pertumbuhan terjadi pada
             seluruh komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang
             dan Jasa sebesar 7,03 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT)
             sebesar 5,13 persen; Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,09
             persen; Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,98 persen; dan
             Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 2,50 persen. Komponen Impor
             Barang dan Jasa (yang merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut Pengeluaran)
             tumbuh sebesar 4,77 persen.

             Pada tahun 2025, Pulau Jawa masih menunjukkan peranan yang kuat dalam perekonomian
             Indonesia, dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau
             Sumatera (22,22 persen), Kalimantan (8,12 persen), Sulawesi (7,22 persen), Bali dan Nusa
             Tenggara (2,82 persen), serta Maluku dan Papua (2,69 persen).

             Ekonomi Indonesia secara spasial selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh
             kelompok provinsi. Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c)
             tertinggi sebesar 6,23 persen, diikuti oleh Pulau Jawa (5,30 persen), Pulau Bali dan Nusa
             Tenggara (4,87 persen), Pulau Sumatera (4,81 persen), dan Pulau Kalimantan (4,79 persen).
             Sementara itu, kelompok provinsi di Pulau Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah,
             yakni sebesar 1,44 persen.
             Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

             Perkembangan Industri
             Industri konstruksi Indonesia pada tahun 2026 berada dalam fase transformasi yang semakin
             selektif dan berorientasi pada kualitas pertumbuhan, di mana para pelaku usaha dituntut untuk tidak
             hanya mengejar peningkatan nilai kontrak baru, tetapi juga menjaga kualitas proyek, disiplin arus
             kas, serta profitabilitas yang berkelanjutan. Kondisi ini menjadi sangat relevan bagi perusahaan
             konstruksi berskala besar seperti PT PP (Persero) Tbk, yang memiliki eksposur luas pada proyek-
             proyek infrastruktur, gedung, jalan, bendungan, pelabuhan, energi, serta pengembangan kawasan
             strategis nasional. Setelah beberapa tahun sebelumnya industri konstruksi menghadapi tekanan
             akibat kenaikan biaya material, keterbatasan likuiditas, serta proses restrukturisasi pada sejumlah
             BUMN karya, tahun 2026 menjadi momentum konsolidasi operasional yang menekankan pada
             efisiensi biaya, selektivitas tender, percepatan penyelesaian proyek berjalan, dan penguatan tata
             kelola proyek secara menyeluruh.

             Secara makro, sektor konstruksi tetap memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan
             ekonomi nasional karena memiliki keterkaitan yang luas dengan sektor-sektor lain, seperti industri
             semen, baja, alat berat, transportasi, properti, jasa teknik, serta tenaga kerja. Pembangunan
             infrastruktur masih menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam memperkuat konektivitas
             wilayah, meningkatkan daya saing logistik, serta mendorong pemerataan ekonomi antar-daerah.
             Pada tahun 2026, arah pembangunan nasional tidak lagi hanya terfokus pada pembangunan proyek
             baru secara masif, tetapi juga pada penyelesaian proyek strategis yang telah berjalan, optimalisasi
             aset infrastruktur yang telah dibangun, serta peningkatan kualitas layanan publik melalui

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                               12
                                                                                                           12
Page 14
             infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, irigasi, bendungan, fasilitas pendidikan, fasilitas
             kesehatan, kawasan industri, dan infrastruktur perkotaan.

             Dari perspektif kebijakan fiskal dan belanja pemerintah, industri konstruksi pada tahun 2026 tetap
             dipengaruhi oleh alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), belanja modal
             kementerian/lembaga, serta proyek-proyek pemerintah daerah. Meskipun pemerintah tetap
             memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur, pendekatan belanja infrastruktur
             cenderung lebih pruden dan selektif, sejalan dengan kebutuhan menjaga defisit fiskal, efektivitas
             anggaran, serta prioritas belanja nasional lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan
             konstruksi harus semakin cermat dalam memilih proyek yang memiliki kepastian pendanaan, risiko
             pembayaran yang terkendali, serta margin usaha yang memadai. Bagi emiten konstruksi seperti PT
             PP (Persero) Tbk, kemampuan dalam menjaga keseimbangan antara perolehan kontrak baru dan
             kualitas kontrak menjadi faktor penting dalam mempertahankan stabilitas pendapatan dan arus kas
             operasional.

             Salah satu pendorong utama industri konstruksi pada tahun 2026 adalah kelanjutan pembangunan
             infrastruktur strategis nasional, termasuk proyek-proyek yang berkaitan dengan konektivitas,
             ketahanan air, energi, fasilitas publik, serta pengembangan kawasan ekonomi. Pembangunan Ibu
             Kota Nusantara (IKN) juga masih menjadi salah satu katalis penting bagi industri konstruksi,
             terutama bagi perusahaan yang memiliki pengalaman dalam pembangunan gedung pemerintahan,
             infrastruktur dasar, jalan kawasan, fasilitas utilitas, dan proyek rancang bangun berskala besar.
             Namun demikian, keterlibatan dalam proyek-proyek strategis tersebut tetap memerlukan
             pengelolaan risiko yang hati-hati, mengingat karakteristik proyek yang kompleks, kebutuhan modal
             kerja yang besar, serta tingginya tuntutan terhadap ketepatan waktu, kualitas konstruksi,
             keselamatan kerja, dan kepatuhan terhadap standar lingkungan.

             Dari sisi segmentasi usaha, industri konstruksi Indonesia pada tahun 2026 menunjukkan pola
             pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi. Permintaan tidak hanya berasal dari proyek infrastruktur
             pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta, proyek kawasan industri, fasilitas manufaktur,
             pergudangan, properti komersial, rumah sakit, data center, energi baru terbarukan, serta proyek
             engineering, procurement, and construction (EPC). Perubahan ini membuka peluang bagi
             perusahaan konstruksi yang memiliki kapabilitas teknis kuat untuk memperluas portofolio proyek di
             luar infrastruktur konvensional. Bagi PT PP (Persero) Tbk, diversifikasi ke proyek-proyek dengan
             tingkat kompleksitas tinggi dan margin yang lebih sehat menjadi salah satu strategi penting untuk
             mengurangi ketergantungan terhadap proyek pemerintah murni serta memperkuat daya saing di
             pasar konstruksi nasional.

             Dalam aspek operasional, tantangan utama industri konstruksi pada tahun 2026 adalah
             pengendalian biaya proyek di tengah fluktuasi harga material utama seperti semen, baja, aspal,
             beton pracetak, bahan bakar, serta biaya tenaga kerja. Kenaikan biaya input yang tidak diimbangi
             dengan eskalasi harga kontrak dapat menekan margin bruto perusahaan konstruksi. Oleh karena
             itu, efisiensi rantai pasok, penggunaan kontrak jangka panjang dengan pemasok strategis,
             optimalisasi metode kerja, penerapan teknologi Building Information Modeling (BIM), serta
             digitalisasi pengawasan proyek menjadi semakin penting. Perusahaan konstruksi yang mampu
             menerapkan project control secara disiplin, melakukan monitoring deviasi biaya dan waktu secara
             real time, serta mengelola risiko klaim dan variation order dengan baik akan memiliki keunggulan
             kompetitif dalam menjaga profitabilitas.

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                               13
                                                                                                           13
Page 15
             Selain tekanan biaya, industri konstruksi juga menghadapi tantangan likuiditas dan modal kerja yang
             cukup besar. Karakteristik bisnis konstruksi yang membutuhkan pembiayaan awal proyek,
             pembayaran bertahap berdasarkan progres pekerjaan, serta potensi keterlambatan pembayaran
             dari pemberi kerja menyebabkan manajemen kas menjadi faktor krusial. Pada tahun 2026,
             perusahaan konstruksi dituntut untuk lebih selektif dalam mengikuti tender, khususnya dengan
             mempertimbangkan profil pemberi kerja, skema pembayaran, kebutuhan jaminan bank, serta
             estimasi siklus kas proyek. Bagi perusahaan seperti PT PP (Persero) Tbk, penguatan modal kerja,
             percepatan penagihan piutang, penyelesaian proyek dengan margin rendah, serta pengurangan
             eksposur terhadap proyek yang memiliki risiko pembayaran tinggi menjadi bagian penting dalam
             menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

             Dari sisi regulasi dan tata kelola, industri konstruksi semakin diarahkan untuk mematuhi standar
             yang lebih tinggi dalam aspek keselamatan kerja, kualitas bangunan, transparansi pengadaan, serta
             keberlanjutan lingkungan. Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi perhatian
             yang semakin besar, terutama bagi perusahaan konstruksi yang terlibat dalam proyek publik dan
             proyek yang memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan. Penerapan konstruksi hijau, efisiensi
             penggunaan energi, pengurangan limbah konstruksi, penggunaan material ramah lingkungan, serta
             perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja menjadi indikator penting dalam menilai
             kualitas tata kelola perusahaan konstruksi. Hal ini mendorong pelaku industri untuk tidak hanya
             berorientasi pada penyelesaian fisik proyek, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan dari
             kegiatan konstruksi.

             Perkembangan teknologi juga menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing industri
             konstruksi pada tahun 2026. Penggunaan BIM, modular construction, precast concrete, digital
             project monitoring, drone survey, enterprise resource planning, serta sistem manajemen proyek
             berbasis data menjadi kebutuhan utama dalam meningkatkan produktivitas dan akurasi
             pelaksanaan proyek. Perusahaan konstruksi yang mampu mengintegrasikan teknologi sejak tahap
             perencanaan, desain, pengadaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan aset akan memiliki peluang
             lebih besar untuk menekan biaya, mengurangi keterlambatan proyek, serta meningkatkan kualitas
             hasil pekerjaan. Bagi PT PP (Persero) Tbk, pengalaman dalam proyek berskala besar memberikan
             landasan yang kuat untuk memperkuat penerapan teknologi konstruksi modern sebagai bagian dari
             transformasi operasional perusahaan.

             Dari perspektif persaingan, industri konstruksi Indonesia pada tahun 2026 tetap diwarnai oleh
             kompetisi yang ketat antara BUMN karya, perusahaan konstruksi swasta nasional, kontraktor
             daerah, serta kontraktor asing pada proyek-proyek tertentu. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan
             oleh harga penawaran terendah, tetapi juga oleh kemampuan teknis, rekam jejak penyelesaian
             proyek, kekuatan permodalan, kemampuan menyediakan jaminan pelaksanaan, serta kualitas
             manajemen risiko. Perusahaan dengan neraca keuangan yang lebih sehat, akses pendanaan yang
             lebih baik, serta portofolio proyek yang terdiversifikasi akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam
             memenangkan proyek-proyek berkualitas. Dalam konteks ini, PT PP (Persero) Tbk sebagai salah
             satu BUMN konstruksi besar memiliki keunggulan dari sisi pengalaman, kapasitas teknis, jaringan
             proyek nasional, serta reputasi dalam menangani proyek infrastruktur dan gedung berskala besar.
             Ke depan, prospek industri konstruksi Indonesia pada tahun 2026 masih cukup positif, namun
             pertumbuhannya cenderung lebih selektif dan bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam
             menjaga efisiensi, likuiditas, dan kualitas kontrak. Dukungan pembangunan infrastruktur, kebutuhan
             konektivitas nasional, pengembangan kawasan industri, pembangunan IKN, serta meningkatnya

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                                14
                                                                                                            14
Page 16
             kebutuhan fasilitas publik dan energi menjadi faktor pendorong utama industri. Namun demikian,
             risiko yang perlu diperhatikan meliputi keterbatasan fiskal, kenaikan biaya material, tekanan suku
             bunga, persaingan harga tender, keterlambatan pembayaran proyek, serta risiko eksekusi di
             lapangan. Oleh karena itu, strategi terbaik bagi perusahaan konstruksi seperti PT PP (Persero) Tbk
             adalah memperkuat selektivitas proyek, memperbaiki struktur permodalan, meningkatkan efisiensi
             operasional, mempercepat digitalisasi konstruksi, serta mengembangkan portofolio usaha yang
             lebih berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi

             Analisis Operasional dan Prospek Perusahaan
             Kondisi Operasional
            Saat ini, BSI Tower telah beroperasi secara penuh dan merupakan aset dengan skema Build-
            Operate-Transfer (BOT). Secara operasional, BSI Tower memiliki dasar pemanfaatan yang sangat
            kuat dan jelas mengingat BRIS bertindak sebagai pengguna utama (anchor tenant) sekaligus pemilik
            lahan. Struktur ini memberikan kepastian tingkat okupansi dan aktivitas operasional gedung yang
            stabil.
            Namun demikian, selama skema BOT ini dipertahankan berjalan sesuai jangka waktu aslinya,
            Perseroan memiliki kewajiban melekat secara berkelanjutan. Kewajiban tersebut mencakup
            pengelolaan dan pemeliharaan fisik aset, penyediaan pembiayaan operasional, pemenuhan beban
            bunga, serta kewajiban finansial maupun hukum lainnya yang terkait langsung dengan keberadaan
            BSI Tower. Beban-beban operasional dan finansial ini secara konstan memengaruhi likuiditas dan
            struktur biaya Perseroan.
            Rencana pengakhiran lebih awal (early termination) pada kerja sama BOT ini sama sekali tidak
            dimaksudkan untuk menghentikan, mengurangi, atau mengganggu fungsi operasional BSI Tower
            yang sudah berjalan. Sebaliknya, langkah strategis ini diambil untuk mempercepat proses serah
            terima (handover) gedung secara legal dan operasional kepada BSI. Mengingat kapasitas BRIS
            sebagai pemilik lahan dan pengguna utama, transisi ini diproyeksikan akan berlangsung lancar tanpa
            mengorbanki nilai kemanfaatan gedung itu sendiri.

             Propek Usaha
            Dari perspektif keberlanjutan usaha Perseroan , transaksi pengakhiran awal BOT ini dinilai
            memberikan prospek dan dampak positif yang signifikan melalui dua jalur utama:
              • Akselerasi Program Penyehatan Keuangan: Dengan dialihkannya aset BSI Tower kepada BSI
                 lebih awal, Perseroan dapat memotong (deleveraging) kewajiban-kewajiban finansial jangka
                 panjang yang melekat pada proyek BOT tersebut, termasuk beban bunga dan biaya
                 pengelolaan gedung. Hal ini akan memperbaiki struktur laporan keuangan, mengurangi rasio
                 leverage, dan memperkuat posisi arus kas (cash flow) Perusahaan yang sangat krusial bagi
                 program penyehatan korporasi.
              • Rekalibrasi Fokus pada Bisnis Utama (Core Business): Transaksi ini membebaskan sumber
                 daya manajerial, teknis, dan keuangan Perseroan yang selama ini terikat pada manajemen
                 properti/aset BOT. Dengan demikian, Perusahaan dapat melakukan realokasi sumber daya
                 tersebut secara penuh untuk memperkuat jajaran proyek di bidang usaha utamanya, yaitu jasa
                 konstruksi dan infrastruktur nasional, yang memilki potensi perputaran modal dan margin yang
                 lebih sesuai dengan kompetensi inti Perseroan.
                     Secara keseluruhan, meskipun Perseroan melepaskan hak pengelolaan BOT BSI Tower
            lebih awal, langkah ini secara strategis mengubah portofolio aset non-inti yang membebani menjadi
            modalitas finansial dan operasional untuk mendukung pertumbuhan bisnis utama Perusahaan di
            masa depan




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                              15
                                                                                                          15
Page 17
             Alasan Dilakukannya Rencana Transaksi

             Pelaksanaan Rencana Transaksi pengakhiran lebih awal (early termination) kerja sama BOT atas
             aset BSI Tower merupakan langkah strategis Perseroan untuk mempercepat pelepasan aset non-
             inti guna merealisasikan arahan Danantara dalam mengembalikan fokus bisnis ke sektor utamanya
             (Back to Core di bidang konstruksi). Melalui strategi portfolio streamlining ini, Perseroan dapat
             memitigasi kewajiban finansial jangka panjang termasuk beban bunga dan biaya pengelolaan
             gedung sehingga mampu memperkuat posisi likuiditas serta mengoptimalkan alokasi sumber daya
             modal untuk mendukung program penyehatan keuangan korporasi.

             Secara legalitas dan komersial, langkah mitigasi ini dimungkinkan karena mekanisme pengakhiran dini telah
             diatur secara eksplisit di dalam Perjanjian BOT. Transaksi ini dinilai sangat efisien mengingat BRIS memegang
             posisi strategis sebagai pemilik lahan, mitra utama BOT, sekaligus pengguna utama gedung, sehingga transisi
             operasional dapat berjalan lancar. Dalam pelaksanaannya, kedua belah pihak tetap berkomitmen penuh pada
             prinsip tata kelola yang baik dengan menetapkan seluruh persyaratan dan nilai kompensasi transaksi
             berdasarkan Nilai Pasar Wajar yang akuntabel.

             Keuntungan Dan Kerugian Yang Bersifat Kualitatif Atas Rencana Transaksi Yang Akan
             Dilakukan

             Keuntungan apabila Perseroan melakukan Rencana Transaksi Afiliasi dan Material
             pengakhiran kerja sama build, operate and transfer (BOT) BSI Tower:
               1. Peningkatan Kredibilitas dan Sentimen Positif Pasar
                  Keberhasilan dalam mengeksekusi Rencana Transaksi ini akan menjadi sinyal positif (strong
                  positive signal) yang kuat bagi pasar modal, pemegang saham, dan pemangku kepentingan
                  lainnya. Hal ini membuktikan komitmen dan kemampuan nyata manajemen Perseroan dalam
                  merealisasikan Program Penyehatan Keuangan secara konkret dan terukur, bukan sekadar
                  rencana di atas kertas. Hasil eksekusi yang sukses diproyeksikan dapat memulihkan serta
                  meningkatkan kepercayaan publik terhadap prospek keberlanjutan bisnis Perusahaan.
               2. Mitigasi Risiko Hukum dan Penyehatan Struktur Finansial
                  Penerimaan dana segar neto (net proceeds) dari pelaksanaan transaksi ini akan memberikan
                  tambahan likuiditas yang sangat krusial Perseroan. Dana tersebut memberikan kapasitas
                  finansial yang lebih kuat bagi Perusahaan untuk melunasi sebagian Kewajiban Berbunga
                  (Interest-Bearing Debt/IBD) yang akan jatuh tempo pada periode tahun 2026 hingga 2027.
                  Dengan berkurangnya tekanan utang jatuh tempo tersebut, Perseroan dapat meminimalkan
                  risiko likuiditas sekaligus secara efektif menekan probabilitas adanya ajuan Permohonan
                  Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh pihak kreditur.
               3. Optimalisasi Fokus Strategis dan Realokasi Sumber Daya (Back to Core)
                  Melalui pelepasan tanggung jawab pengelolaan atas aset properti komersial yang bersifat
                  non-inti (non-core asset) ini, Perseroan dapat melakukan efisiensi operasional yang besar.
                  Manajemen Perseroan akan memiliki ruang strategis untuk mengalihkan seluruh fokus
                  manajerial, kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), dan modal kerja secara penuh ke
                  sektor usaha utamanya, yaitu jasa konstruksi. Langkah realokasi ini sangat menguntungkan
                  mengingat Perseroan memiliki rekam jejak (track record) yang kuat dan kompetensi inti di
                  bidang tersebut, sekaligus menjadi langkah nyata dalam menyelaraskan arah kebijakan
                  Perusahaan dengan mandat Badan Pengelola Investasi Danantara untuk kembali ke bisnis
                  inti (Back to Core).


Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                                         16
                                                                                                                     16
Page 18
             Kerugian apabila Perusahaan tidak melakukan Rencana Transaksi Afiliasi dan Material
             pengakhiran kerja sama build, operate and transfer (BOT) BSI Tower:
               1. Persistensi Beban Finansial dan Keterbatasan Arus Kas Konkrit
                  Dengan tidak dilaksanakannya transaksi, PTPP diwajibkan untuk tetap menanggung seluruh
                  hak dan kewajiban atas aset BOT BSI Tower hingga sisa masa kontrak berakhir. Hal ini berarti
                  Perusahaan harus terus memikul kewajiban pembiayaan terkait, beban bunga (interest
                  expense), beban penyusutan (depreciation expense), serta biaya operasional pengelolaan
                  gedung yang signifikan. Meskipun Perseroan tetap membukukan pendapatan dari
                  operasional BSI Tower, ketersediaan kas bersih (free cash flow) Perusahaan diproyeksikan
                  akan tetap berada dalam kondisi terbatas setelah memperhitungkan kewajiban pembayaran
                  pokok dan bunga utang (debt service obligation) yang melekat pada aset tersebut.

               2. Kehilangan Momentum Akselerasi Likuiditas dan Penyehatan Keuangan
                  Kegagalan eksekusi transaksi ini akan menyebabkan Perseroan kehilangan kesempatan
                  (opportunity loss) untuk memperoleh aliran kas masuk dalam waktu yang lebih cepat (instant
                  net proceeds). Ketiadaan suntikan likuiditas segera ini akan menghambat efektivitas
                  Perusahaan dalam melakukan penataan kembali struktur kewajiban jangka pendek dan
                  menengah, serta berpotensi memperlambat implementasi Program Penyehatan Keuangan
                  Perseroan yang telah dicanangkan kepada pemangku kepentingan.

               3. Membutuhkan Dana Pengembangan Lanjutan
                  Tidak dilaksanakannya Rencana Transaksi ini secara strategis akan membatasi fleksibilitas
                  Perseroan dalam melakukan penataan ulang portofolio aset (portfolio streamlining) dan
                  menyulitkan posisi tawar (bargaining position) Perusahaan dalam proses pembahasan
                  restrukturisasi dengan para pihak kreditur. Tanpa adanya aksi korporasi yang konkret ini, atau
                  jika tidak diimbangi dengan sumber pendanaan alternatif lain yang setara, tekanan likuiditas
                  serta tingginya beban kewajiban finansial Perseroan dipastikan akan terus berlanjut dan
                  dapat memicu peningkatan risiko default (gagal bayar) atas kewajiban yang jatuh tempo.

 3.    Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi

             Penilaian Atas Potensi Pendapatan, Aset, Liabilitas, dan Kondisi Keuangan Perusahaan

             Necara Historis Perseroan

             Aset terdiri dari Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar. Aset Lancar secara historis memiliki porsi
             47,77% - 60,70% dari Total Aset dengan tren penurunan historis rata-rata YTD (10,90%). Aset
             Tidak Lancar secara historis memiliki porsi 39,30% - 52,23% dari Total Aset dengan tren
             kenaikan historis rata-rata YTD 1,12%. Secara keseluruhan tahun historis, Total Aset
             Perseroan mengalami kenaikan rata-rata sebesar (5,73%).
             Liabilitas terdiri dari Liabilitas Jangka Lancar dan Liabilitas Tidak Lancar. Liabilitas Jangka
             Pendek secara historis memiliki porsi 39,43% - 54,24% dari Total Liabilitas dan Ekuitas dengan
             tren penurunan historis rata-rata YTD (10,30%). Liabilitas Jangka Panjang secara historis
             memiliki porsi 19,97% - 44,74% Total Liabilitas dan Ekuitas dengan tren kenaikan historis rata-
             rata YTD 16,38%. Total Liabilitas Perseroan memiliki porsi 74,21% - 89,98% dari Total Liabilitas
             dan Ekuitas dengan tren penurunan rata-rata YTD (1,49%).


Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                               17
                                                                                                           17
Page 19
             Ekuitas Perseroan secara historis memiliki porsi 10,02% - 25,79% dari Total Liabilitas dan
             Ekuitas dengan tren penurunan historis rata-rata YTD (19,69%). Secara keseluruhan historis,
             Total Liabilitas dan Ekuitas Perseroan mengalami kenaikan sebesar (5,73%).

             Laba Rugi Historis Perseroan

             Secara historis, pendapatan Perseroan menunjukkan tren yang berfluktuasi, dengan
             pertumbuhan positif pada tahun 2022 dan 2024, serta penurunan pada tahun 2023 dan 2025.
             Secara rata-rata historis, pendapatan Perseroan mencatatkan tren penurunan sebesar 0,03%.
             Beban Pokok Penjualan Perseroan tercatat berada pada kisaran 85,86% sampai dengan
             91,03% dari total pendapatan, dengan tren kenaikan historis rata-rata YTD sebesar 0,85%.
             Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) Perseroan berada pada kisaran 3,42% sampai dengan
             10,45% dari total pendapatan, dengan tren penurunan rata-rata sebesar 12,09%.
             Selanjutnya, laba sebelum pajak (EBT) Perseroan berada pada kisaran negatif 47,49% sampai
             dengan 2,25% dari total pendapatan, dengan tren penurunan rata-rata sebesar 228,34%.
             Adapun laba bersih setelah pajak (EAT) Perseroan berada pada kisaran negatif 49,16% sampai
             dengan 2,16% dari total pendapatan, dengan tren penurunan rata-rata YTD sebesar 305,10%

             Arus Kas Historis Perseroan

             Pada tahun 2023, 2022, dan 2021, terdapat penyajian kembali laporan keuangan pada laporan
             posisi keuangan Perseroan. Penyajian kembali tersebut mengakibatkan saldo kas dan setara
             kas akhir tahun berdasarkan laporan arus kas tidak sepenuhnya sesuai atau tidak dapat
             direkonsiliasi secara langsung dengan saldo kas dan setara kas yang disajikan dalam laporan
             posisi keuangan pada masing-masing tahun tersebut.
             Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi berkisar antara 468 miliar – 3.709 miliar
             Rupiah dengan rata-rata sebesar 1.151 miliar Rupiah.
             Arus kas bersih dari aktivitas investasi berkisar antara (3.123) miliar – 1.110 miliar Rupiah
             dengan rata-rata sebesar (1.411) miliar Rupiah.
             Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan berkisar antara (3.326) miliar – 854 miliar Rupiah
             dengan rata-rata sebesar 636 miliar Rupiah.
             Saldo kas akhir tahun Perusahaan setelah perubahan pengaruh selisih kurs berkisar antara
             (1.269) miiliar – 10,91 miliar Rupiah dengan rata-rata sebesar 895 miliar Rupiah.

             Rasio Keuangan Historis Perseroan

             Rasio likuiditas merupakan rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
             kemampuan Perseroan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Secara umum, semakin
             tinggi rasio ini menunjukkan semakin baik kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban
             jangka pendeknya.
             Rasio Lancar Perseroan selama periode historis berkisar antara 1,06 – 1,36 dengan rata-rata
             tahun historis sebesar 1,20. Quick Ratio Perseroan berkisar antara 0,67 – 0,92 dengan rata-
             rata tahun historis sebesar 0,80.



Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                           18
                                                                                                       18
Page 20
             Rasio aktivitas merupakan rasio yang berfungsi untuk mengukur tingkat efektivitas penggunaan
             aset Perseroan dalam mendukung kegiatan operasionalnya. Rasio ini sering juga disebut
             sebagai rasio perputaran. Secara umum, semakin tinggi perputaran berarti semakin efektif
             tingkat penggunaan aset Perseroan.
             Turn Over Piutang Perseroan selama periode historis berkisar antara 2,97 – 5,20 dengan rata-
             rata sebesar 3,60. Turn Over Persediaan berkisar antara 1,34 – 1,97 dengan rata-rata sebesar
             1,67. Turn Over Utang Usaha Perseroan berkisar antara 0,91 – 1,94 dengan rata-rata sebesar
             1,49. Perputaran Aset Tetap berkisar antara 3,00 – 7,60 dengan rata-rata sebesar 5,27.
             Perputaran Total Aset Perseroan berkisar antara 0,30 – 0,38 dengan rata-rata sebesar 0,34.
             Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan Perseroan untuk memenuhi seluruh liabilitasnya,
             yang diukur dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu melalui perbandingan antara jumlah
             liabilitas dengan jumlah ekuitas, serta melalui perbandingan antara jumlah liabilitas dengan
             jumlah aset.
             Debt Equity Ratio Perseroan selama periode historis berkisar antara 2,88 – 8,98 dengan rata-
             rata sebesar 4,22. Debt to Asset Ratio Perseroan berkisar antara 0,74 – 0,90 dengan rata-rata
             sebesar 0,78.
             Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba dari
             kegiatan operasional, aset, maupun ekuitas yang dimiliki. Rasio ini digunakan untuk menilai
             tingkat efektivitas Perseroan dalam menghasilkan keuntungan selama periode historis.
             Net Profit Margin Perseroan selama periode historis berkisar antara -49,16% – 2,16% dengan
             rata-rata sebesar -10,68%. Rasio HPP Perseroan berkisar antara -91,03% – -85,86% dengan
             rata-rata sebesar -87,55%.
             Tingkat imbal hasil aset menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba neto
             dari aset yang dimilikinya. Return on Assets Perseroan selama periode historis berkisar antara
             -18,61% – 0,65% dengan rata-rata sebesar -4,07%.
             Tingkat imbal hasil ekuitas menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba
             neto dari ekuitas yang ditanamkan. Return on Equity Perseroan selama periode historis berkisar
             antara -185,79% – 2,52% dengan rata-rata sebesar -38,86%.

             Analisis Laporan Keuangan Sebelum Rencana Transaksi Dan Proforma Laporan
             Keuangan Setelah Rencana Transaksi Dilakukan

             Neraca Sebelum Rencana Transaksi dan Setelah Rencana Transaksi Dilakukan

             Berdasarkan perbandingan proyeksi laporan posisi keuangan Perseroan pada kondisi tanpa
             dan dengan Rencana Transaksi selama periode 2026–2030, Rencana Transaksi memberikan
             dampak positif terhadap aset lancar Perseroan. Jumlah aset lancar meningkat masing-masing
             sebesar Rp956,067 miliar pada 2026, Rp1.054,201 miliar pada 2027, Rp1.025,107 miliar pada
             2028, Rp990,261 miliar pada 2029, dan Rp954,184 miliar pada 2030, atau berkisar antara
             5,02%–6,06%.
             Peningkatan aset lancar terutama berasal dari kenaikan kas. Pada 2026, saldo kas meningkat
             sebesar Rp958,659 miliar atau 28,39%, dari Rp3.376,269 miliar menjadi Rp4.334,928 miliar
             karena penerimaan kas dari Rencana Transaksi pengakhiran perjanjian BOT Gedung BSI
             Tower. Dampak positif terhadap kas berlanjut sampai dengan 2030, dengan peningkatan

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          19
                                                                                                       19
Page 21
             berkisar antara Rp1.003,621 miliar–Rp1.096,399 miliar atau 27,11%–33,15% dibandingkan
             kondisi tanpa Rencana Transaksi.
             Di sisi lain, piutang usaha menurun sebesar Rp0,650 miliar pada 2026 dan selanjutnya menurun
             dalam kisaran Rp39,544 miliar–Rp45,515 miliar pada 2027–2030. Persediaan juga menurun
             dalam kisaran Rp1,950 miliar–Rp3,287 miliar. Penurunan tersebut sejalan dengan
             berkurangnya aktivitas operasional dan pendapatan yang berkaitan dengan BSI Tower setelah
             Rencana Transaksi.
             Rencana Transaksi mengakibatkan penghentian pengakuan seluruh aset sewa pembiayaan
             yang berkaitan dengan BSI Tower sebesar Rp594,036 miliar atau 100,00% selama periode
             2026–2030. Dengan dilaksanakannya pengakhiran kerja sama BOT dan penyerahan
             penguasaan BSI Tower, Perseroan tidak lagi memiliki hak dan manfaat ekonomi atas aset sewa
             pembiayaan tersebut. Oleh karena itu, saldo aset sewa pembiayaan yang semula tercatat
             sebesar Rp594,036 miliar pada kondisi tanpa transaksi menjadi nihil setelah Rencana
             Transaksi.
             Pada aset tidak lancar, Jumlah aset tidak lancar mengalami penurunan sebesar Rp594,036
             miliar atau berkisar antara 3,27%–7,44%. Namun, kenaikan aset lancar lebih besar
             dibandingkan penurunan aset tidak lancar sehingga jumlah aset Perseroan tetap meningkat
             sebesar Rp362,031 miliar pada 2026 dan dalam kisaran Rp360,148 miliar–Rp460,165 miliar
             pada 2027–2030 atau sebesar 0,97%–1,61%.
             Pada sisi liabilitas jangka pendek, Rencana Transaksi mengakibatkan penurunan sebesar
             Rp385,267 miliar pada 2026, Rp94,052 miliar pada 2027, Rp43,628 miliar pada 2028,
             Rp46,108 miliar pada 2029, dan Rp110,840 miliar pada 2030. Penurunan tersebut terutama
             berasal dari berkurangnya utang usaha, bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo
             dalam satu tahun, serta utang jangka pendek lainnya.
             Rencana Transaksi juga mengakibatkan utang jangka pendek lainnya yang mencatat seluruh
             utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang yang berkaitan dengan BSI Tower tidak lagi
             tercatat menjadi nihil dengan penurunan sebesar Rp502,508 miliar pada 2026 dibandingkan
             sebelum transaksi yang menurun secara bertahap menjadi Rp273,644 miliar pada 2030.
             Meskipun demikian, jumlah liabilitas jangka panjang secara keseluruhan meningkat dalam
             kisaran Rp59,475 miliar–Rp293,317 miliar, terutama karena perubahan pada liabilitas
             pembiayaan konsumen dan akun liabilitas jangka panjang lainnya.
             Pada sisi ekuitas, saldo laba meningkat sebesar Rp687,823 miliar pada 2026. Selanjutnya,
             selisih saldo laba dibandingkan kondisi tanpa transaksi tetap positif, yaitu sebesar Rp260,900
             miliar pada 2027 dan meningkat menjadi Rp524,544 miliar pada 2030. Jumlah ekuitas setelah
             Rencana Transaksi meningkat sebesar Rp687,823 miliar atau 16,56% pada 2026, sedangkan
             pada 2027–2030 meningkat dalam kisaran Rp218,785 miliar–Rp260,900 miliar.


             Laba Rugi Sebelum Rencana Transaksi dan Setelah Rencana Transaksi Dilakukan

             Rencana Transaksi mengakibatkan penurunan pendapatan sebesar Rp76,872 miliar atau
             0,50% pada 2026. Penurunan tersebut meningkat secara bertahap hingga mencapai
             Rp186,611 miliar atau 1,35% pada 2030, terutama akibat tidak diperolehnya lagi pendapatan
             dari pengelolaan atau penyewaan BSI Tower.



Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          20
                                                                                                       20
Page 22
             Penurunan pendapatan sebagian diimbangi oleh berkurangnya beban pokok sebesar Rp9,528
             miliar–Rp28,102 miliar dan beban usaha sebesar Rp45,000 miliar–Rp57,800 miliar selama
             periode proyeksi. Hal tersebut mencerminkan berkurangnya biaya operasional yang
             sebelumnya berkaitan dengan pengelolaan BSI Tower.
             Rencana Transaksi juga mengakibatkan seluruh beban keuangan BSI Tower tidak lagi
             ditanggung Perseroan, yaitu sebesar Rp44,242 miliar pada 2026 dan menurun secara bertahap
             menjadi Rp24,822 miliar pada 2030. Namun, penghematan beban keuangan Perseroan secara
             keseluruhan hanya berkisar antara Rp0,349 miliar–Rp24,444 miliar, yang mengindikasikan
             adanya perubahan pada komponen beban keuangan lainnya.
             Pada 2026, Perseroan memperoleh tambahan pendapatan lainnya sebesar Rp908,620 miliar
             dari laba kotor divestasi terkait Rencana Transaksi pengakhiran kerja sama BOT BSI Tower.
             Manfaat tersebut sebagian diimbangi oleh kenaikan beban lainnya sebesar Rp369,132 miliar
             atau 53,63% serta kenaikan beban pajak final sebesar Rp29,515 miliar yang terdiri dari PPh
             2,5% sebesar Rp37,566 miliar dan dekonsol kinerja BSIT sebesar Rp8,051 miliar.
             Setelah memperhitungkan seluruh dampak Rencana Transaksi, EBT pada 2026 meningkat
             sebesar Rp0,828 miliar atau 0,36%, dari Rp230,469 miliar menjadi Rp231,297 miliar. EAT juga
             meningkat sebesar Rp0,828 miliar atau 0,43%, dari Rp191,108 miliar menjadi Rp191,936 miliar.
             Pada 2027–2030, ketika keuntungan pengakhiran BOT tidak lagi berulang, EAT Perseroan
             menurun sebesar Rp103,231 miliar pada 2027, Rp106,973 miliar pada 2028, Rp69,680 miliar
             pada 2029, dan Rp112,994 miliar pada 2030. Dengan demikian, Rencana Transaksi
             memberikan manfaat yang bersifat satu kali pada 2026, tetapi mengurangi laba berulang
             Perseroan pada periode berikutnya.

             Arus Kas Sebelum Rencana Transaksi dan Setelah Rencana Transaksi Dilakukan

             Arus Kas dari Aktivitas Operasi: penerimaan kas dari pelanggan menurun sebesar Rp3,538 miliar
             pada 2026 dan selanjutnya menurun hingga Rp188,216 miliar pada 2030. Penurunan tersebut
             konsisten dengan berkurangnya pendapatan Perseroan setelah Rencana Transaksi.

             Arus Kas dari Aktivitas Investasi: Rencana Transaksi menghasilkan tambahan arus kas
             masuk sebesar Rp1.312,957 miliar pada 2026. Dengan demikian, penerimaan hasil divestasi
             pada entitas anak, entitas asosiasi, dan investasi jangka panjang lainnya meningkat dari
             Rp4.557,889 miliar menjadi Rp5.870,847 miliar.

             Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan: pembayaran bunga menurun sebesar Rp22,121 miliar
             pada 2026 dan dalam kisaran Rp24,822 miliar–Rp39,387 miliar pada 2027–2030. Pembayaran
             utang bank dan nonbank juga menurun sebesar Rp29,927 miliar pada 2026 dan sebesar
             Rp59,854 miliar per tahun pada 2027–2030.

             Rasio Keuangan Perseroan Sebelum Rencana Transaksi dan Setelah Rencana Transaksi
             Dilakukan

             Secara keseluruhan, Rencana Transaksi memberikan dampak positif terhadap likuiditas
             Perseroan. Rasio lancar meningkat dari 1,02 kali menjadi 1,10 kali pada 2026 dan tetap lebih
             tinggi sepanjang periode proyeksi. Rasio cepat juga meningkat dari 0,69 kali menjadi 0,76 kali


Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          21
                                                                                                       21
Page 23
             pada 2026 dan berada di atas 1,00 kali pada 2027–2030.
             Dari sisi solvabilitas, DER menurun dari 7,97 kali menjadi 6,77 kali pada 2026 dan tetap lebih
             rendah sepanjang periode proyeksi. DAR juga menurun dari 0,89 kali menjadi 0,87 kali pada
             2026 dan selanjutnya lebih rendah sebesar 0,01–0,02 kali.

             Sebaliknya, rasio profitabilitas cenderung mengalami penurunan setelah 2026. ROA menurun
             sebesar 41,69%–61,29% pada 2027–2030, sedangkan ROE menurun sebesar 44,93%–
             63,15%. NPM meningkat tipis dari 1,25% menjadi 1,26% pada 2026, tetapi kemudian menurun
             menjadi 0,48%–1,16% pada 2027–2030.

             Proforma Laporan Posisi Keuangan

             Pada sisi aset, pos Kas dan Setara Kas setelah penyesuaian proforma diproyeksikan
             mengalami peningkatan dari semula sebesar Rp2,893 triliun menjadi Rp4,203 triliun.
             Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh adanya penyesuaian berupa penambahan kas
             sebesar Rp1,309 triliun, yang terdiri dari penerimaan kas atas pembayaran Rencana Transaksi
             sebesar Rp1,312 triliun dan penyesuaian penurunan pendapatan yang terakumulasi pada kas
             sebesar Rp3,538 miliar. Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap pos Jumlah Aset
             Lancar, yang meningkat menjadi Rp21,841 triliun dari posisi sebelum transaksi sebesar
             Rp20,532 triliun.
             Sementara itu, pada akun aset tidak lancar, pos Aset Sewa Pembiayaan mengalami penurunan
             hingga menjadi nihil. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan Rencana Transaksi yang
             mengalihkan Aset Sewa Pembiayaan berupa kerja sama BOT Gedung BSI Tower BRIS.
             Dengan demikian, nilai Aset Sewa Pembiayaan yang sebelumnya tercatat sebesar Rp594 miliar
             menjadi Rp0 setelah Rencana Transaksi dilaksanakan.
             Dilihat dari struktur pendanaan, pada sisi liabilitas terdapat penyesuaian pada pos Utang Usaha
             – Pihak Ketiga sebesar Rp2,057 miliar, sehingga nilai utang usaha yang semula tercatat
             sebesar Rp7,150 triliun menjadi Rp7,148 triliun setelah penyesuaian proforma. Pada akun
             Biaya Akrual, setelah penyesuaian proforma, nilai akun tersebut diproyeksikan mengalami
             peningkatan dari semula sebesar Rp3,815 triliun menjadi Rp4,020 triliun. Kenaikan tersebut
             disebabkan oleh adanya penyesuaian pada akun Biaya Akrual sebesar Rp204,609 miliar.
             Sementara itu, akun Utang Jangka Pendek Lainnya diproyeksikan mengalami penurunan dari
             semula sebesar Rp250,996 miliar menjadi Rp75,921 miliar. Penurunan tersebut disebabkan
             oleh pembayaran utang kepada BRIS, yang diharapkan dapat menurunkan beban keuangan
             Perseroan. Dengan demikian, terdapat penyesuaian pada akun Utang Jangka Pendek Lainnya
             sebesar Rp175,064 miliar.
             Pada sisi ekuitas, terdapat penyesuaian yang disebabkan oleh peningkatan laba tahun berjalan
             sehubungan dengan adanya keuntungan dari pengakhiran perjanjian BOT. Penyesuaian
             tersebut mengakibatkan ekuitas Perseroan meningkat sebesar Rp687,822 miliar, yang terdiri
             dari laba pengakhiran perjanjian BOT sebesar Rp718,912 miliar dan rugi atas kehilangan
             pendapatan sewa Gedung BSI Tower sebesar Rp31,098 miliar. Dengan adanya penyesuaian
             tersebut, ekuitas Perseroan mengalami peningkatan dari semula sebesar Rp4,305 triliun
             menjadi Rp4,993 triliun setelah Rencana Transaksi dilaksanakan.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                           22
                                                                                                       22
Page 24
             Proforma Laba Rugi Keuangan

             Berdasarkan proforma Laporan Laba Rugi Perseroan sebelum dan sesudah Rencana
             Transaksi, pelaksanaan Rencana Transaksi berdampak pada pengakuan keuntungan atas
             pengakhiran perjanjian BOT Gedung BSI Tower sebesar Rp908,619 miliar. Selain itu, terdapat
             peningkatan beban lain-lain bersih sebesar Rp152,132 miliar yang terdiri dari biaya divestasi
             PPIN sebesar Rp1,500 miliar, biaya pengembalian security deposit kepada BRIS sebesar
             Rp37,642 miliar, utang sinking fund sebesar Rp1,537 miliar, insentif Lahan II tahun 2025 dan
             2026 sebesar Rp4,412 miliar, insentif Lahan I tahun 2026 sebesar Rp53,519 miliar, serta
             insentif Lahan I tahun 2027 sebesar Rp53,519 miliar.
             Rencana Transaksi juga menimbulkan beban pajak final sebesar 2,5% atau setara dengan
             Rp37,556 miliar. Dengan memperhitungkan seluruh komponen tersebut, Perseroan
             memperoleh laba bersih dari pengakhiran BOT Gedung BSI Tower sebesar Rp718,921 miliar.
             Di sisi lain, pengakhiran BOT Gedung BSI Tower turut berdampak pada penurunan pendapatan
             usaha Perseroan sebesar Rp76,871 miliar, dengan dampak terhadap laba sebelum pajak
             sebesar Rp31,098 miliar. Dengan demikian, secara keseluruhan penyesuaian pada proforma
             proyeksi Laporan Laba Rugi Perseroan adalah sebesar Rp687,822 miliar.

             Proforma Arus Kas

            Arus Kas dari Aktivitas Operasi: Aktivitas operasional Perseroan mengalami perubahan pada
            penerimaan kas dari pelanggan yang mengakibatkan penurunan kas dari Aktivitas Operasi Sebesar
            Rp3,538 miliar.

            Arus Kas untuk Aktivitas Investasi: Pos ini merupakan komponen yang mengalami penyesuaian
            signifikan secara langsung sebagai dampak dari Rencana Transaksi. Perseroan mencatat adanya
            tambahan arus kas masuk pada pos hasil divestasi pada entitas anak, entitas asosiasi, dan investasi
            jangka panjang lainnya sebesar Rp1,312 triliun. Penyesuaian tersebut berdampak terhadap
            perubahan nilai arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi. Selanjutnya, pos Kas dan
            Setara Kas yang sebelum Rencana Transaksi tercatat sebesar Rp1,110 triliun mengalami
            penyesuaian menjadi negatif sebesar Rp2,423 triliun setelah Rencana Transaksi.

            Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan: Seluruh aktivitas pendanaan Perseroan tidak mengalami
            perubahan akibat adanya Rencana Transaksi..

             Kontribusi Nilai Tambah Terhadap Perusahaan Sebagai Akibat Dari Rencana Transaksi
             Yang Akan Dilakukan, Termasuk Dampaknya Terhadap Proyeksi Keuangan Perusahaan

             Dalam Rencana Transaksi ini perlu diperhatikan bahwa secara keseluruhan Perseroan sedang
             melakukan Peningkatan Likuiditas Struktural. Hal ini dapat diperhatikan dari aspek Analisis Arus Kas
             dan Likuiditas; Analisis Arus Kas Aktivitas Pendanaan; Analisis Kinerja Operasional & Profitabilitas;
             dan Analisis Pos Posisi Keuangan Lainnya. BSI Tower memang memberikan pendapatan yang
             cukup baik disisi Perseroan, namun issue Likuiditas Perseroan menjadi hal yang perlu diperhatikan
             dengan mempertimbangkan di tahun 2025 Debt Equity Ratio sudah menyentuh rasio 8,98 dan Debt
             Assets Ratio menyentuh rasio 0,9.



Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                                 23
                                                                                                             23
Page 25
             Analisis Arus Kas & Likuiditas
             Posisi kas Perseroan jauh lebih kuat secara struktural di sepanjang proyeksi. Pada tahun 2026,
             kas meningkat sebesar +Rp958,6 Miliar (+28%), peningkatan likuiditas ini tidak hilang di tahun-
             tahun berikutnya, melainkan naik di tahun 2027 sebesar +Rp1,096 Triliun (+33%) dan bertahan
             stabil di kisaran +Rp1 Triliun (27% s.d. 32%) hingga tahun 2030. Total kas Perseroan selama
             tahun proyeksi dengan skenario Dengan Transaksi Rp4,4 Triliunan dan dengan skenario Tanpa
             Transaksi Rp3,3 Triliunan.
             Kas Dengan Transaksi yang konsisten lebih tinggi ini menunjukkan bahwa Perseroan berhasil
             mengamankan bantalan likuiditas (cash cushion) jangka panjang yang sangat tebal. Dana segar dari
             Nilai Pengakhiran BSI Tower ditempatkan pada instrumen likuid yang menjaga posisi kas tetap tinggi
             di sepanjang tahun

             Analisis Arus Aktivitas Pendanaan
             Skenario Dengan Transaksi secara konsisten mencatat arus kas keluar (outflow) untuk pembayaran
             utang yang lebih rendah (lebih hemat) dibandingkan skenario Tanpa Transaksi. Terdapat selisih
             positif (saving) sebesar +Rp29,9 Miliar di tahun 2026, dan konstan sebesar +Rp59,8 Miliar per tahun
             dari 2027 hingga 2030. Besaran +Rp59,8 Miliar per tahun dikontribusi dari penghematan
             pembayaran pokok utang kepada BRIS untuk pembangunan BSI Tower selama tahun proyeksi.
             Dengan dilakukannya pelunasan dipercepat (early settlement) atas utang BSI Tower di tahun 2026,
             struktur modal Perseroan menjadi jauh lebih ringan. Dampak turunannya adalah Perseroan tidak
             lagi dibebani oleh skema pembayaran pokok utang tahunan yang berat di tahun-tahun mendatang.
             Penghematan outflow pendanaan inilah yang turut andil dalam meningkatnya saldo kas Perseroan.
             Perseroan juga menikmati penghematan arus kas keluar untuk bunga berkisar antara -1,76%
             hingga-6,66% per tahun karena beban bunga/marjin BSI Tower telah dipangkas menjadi Rp0 (-
             100%) yang semula dalam skema Tanpa Transaksi berkisar di Rp24 Miliar - Rp.44 Miliar beban
             bunga untuk pembangunan BSI Tower selama tahun proyeksi.
             Analisis Kinerja Operasional & Profitabilitas
             Tahun 2026 Laba Bersih tahun pertama hampir tidak bergerak, hanya tumbuh tipis +Rp828 Juta
             (+0,43%). Tahun 2027 Laba bersih sebesar -Rp103,2 Miliar atau merosot -60,68% (dari Rp170,1
             Miliar menjadi hanya Rp66,8 Miliar). Tahun 2028–2030 selisih Dengan Transaksi dan Tanpa
             Transaksi pada Earning After Tax (2028: -53,37%, 2029: -40,75%, 2030: -41,63%). Total Laba
             Bersih Perseroan selama tahun proyeksi dengan skenario Dengan Transaksi Rp122,4 Miliar dan
             dengan skenario Tanpa Transaksi Rp200,8 Miliar.
             Hal ini dikontribusi utama oleh akun Beban Usaha, Kerugian Penurunan Nilai dan Beban Lainnya.
             Kerugian Penurunan Nilai. Pada Beban Usaha terdapat selisih pada skenario Tanpa Transaksi dan
             Dengan Transaksi rata-rata di Rp52,05 Miliar. Pada Kerugian Penurunan Nilai terdapat selisih pada
             skenario Tanpa Transaksi dan Dengan Transaksi rata-rata di -Rp101,7 Miliar. Pada Beban Lainnya
             terdapat selisih pada skenario Tanpa Transaksi dan Dengan Transaksi rata-rata di -Rp94,2 Miliar.
             Kehilangan pendapatan sewa gedung sebesar Rp78 Miliaran per tahun sebenarnya merupakan
             mesin pencetak laba (highly profitable asset) yang sangat efisien bagi Perseroan jika Aset BOT BSI
             Tower ini dipertahankan.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                               24
                                                                                                           24
Page 26
             Analisis Pos Posisi Keuangan Lainnya
             Pada tahun 2026, terjadi penurunan utang jangka pendek lainnya sebesar -Rp502,5 Miliar Ini
             menunjukkan sebagian kas masuk dari Rencana Transaksi langsung digunakan Perseroan untuk
             membersihkan utang kepada BRIS dalam pembangunan BSI Tower. Pos Aset Sewa Pembiayaan
             sebesar Rp594 Miliar yang mencatatkan aset BSI Tower disisi Perseroan juga hapus karena
             Rencana Transaksi ini.

             Prosedur Pengambilan Keputusan Oleh Perusahaan Dalam Menentukan Dan Nilai
             Rencana Transaksi Dengan Memperhatikan Alternatif Lain
             Berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen Perseroan, proses pengambilan
             keputusan atas Rencana Transaksi telah dilakukan melalui prosedur internal yaitu ditetapkan
             dan disetujui oleh manajemen Perseroan.

             Hal Material Lainnya Yang Dapat Memberikan Keyakinan Bagi Penilai Bisnis Dalam
             Memberikan Opini Kewajaran Rencana Transaksi
             Hal-hal material lainnya terkait dengan analisis inkremental dari Rencana Transaksi tidak ada.
             Dengan analisis inkremental yang telah dilakukan, Penilai meyakini bahwa Rencana Transaksi
             adalah wajar dan memberikan nilai tambah bagi Perseroan.

 4.    Analisis Kewajaran Nilai Rencana Transaksi

       a) Perbandingan antara nilai Rencana Transaksi dengan penilaian atas Rencana Transaksi yang akan
          dilakukan;

             Berdasarkan Laporan Penilaian Bisnis yang diterbitkan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP)
             Rengganis, Hamid & Rekan dengan Nomor: 00193/2.0012-00/PI/07/0330/1/VI/2026 tanggal 22
             Juni 2026, Nilai Pasar dari objek Rencana Transaksi adalah senilai Rp1.502.656.000.000 dengan
             menggunakan Pendekatan Pendapatan dengan Metode Diskonto Arus Kas (DCF). Rincian nilai
             sebagai berikut:




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                          25
                                                                                                       25
Page 27
             Berdasarkan informasi Nilai Transaksi dari objek Rencana Transaksi adalah sebesar
             Rp1.502.656.000.000.
       b) Analisis untuk memastikan bahwa Nilai Transaksi memberikan nilai tambah dari Rencana Transaksi
          yang akan dilakukan;

             Berdasarkan analisis inkremental, Rencana Transaksi diproyeksikan memberikan nilai tambah
             terutama melalui peningkatan likuiditas struktural dan penurunan risiko keuangan Perseroan, yang
             relevan mengingat Debt to Equity Ratio dan Debt to Asset Ratio pada tahun 2025 masing-masing
             telah mencapai 8,98 kali dan 0,90 kali. Rencana Transaksi meningkatkan posisi kas sekitar Rp958,6
             miliar pada tahun 2026 dan mempertahankan tambahan kas pada kisaran Rp1 triliun hingga tahun
             2030, sekaligus mengurangi pembayaran pokok utang sekitar Rp59,8 miliar per tahun serta
             menghilangkan beban bunga atau marjin BSI Tower yang sebelumnya berkisar antara Rp24 miliar
             sampai dengan Rp44 miliar per tahun. Selain itu, sebagian penerimaan transaksi digunakan untuk
             menyelesaikan kewajiban terkait BSI Tower, sedangkan aset sewa pembiayaan sebesar Rp594,0
             miliar dihentikan pengakuannya, sehingga komposisi aset Perseroan menjadi lebih likuid dan
             struktur pendanaannya lebih ringan. Meskipun Rencana Transaksi menyebabkan hilangnya
             pendapatan sewa sekitar Rp78 miliar per tahun dan menurunkan laba bersih pada sebagian besar
             periode proyeksi, manfaat berupa penguatan bantalan kas, pengurangan beban pendanaan, dan
             penurunan eksposur leverage diproyeksikan meningkatkan ketahanan keuangan serta mendukung

Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                             26
                                                                                                         26
Page 28
             kesinambungan usaha Perseroan. Dengan demikian, nilai tambah Rencana Transaksi terutama
             berasal dari perbaikan likuiditas dan pengurangan risiko keuangan, bukan dari peningkatan
             profitabilitas selama periode proyeksi.

       c) Analisis kewajaran Nilai Transaksi dilakukan untuk meyakini bahwa nilai Rencana Transaksi berada
          dalam kisaran Nilai yang didapatkan dari hasil Penilaian

             Secara kualitatif, dapat diketahui bahwa pihak–pihak yang terlibat dalam Rencana Transaksi
             ini adalah Perseroan dan Pemilik Tanah. Berdasarkan struktur kepemilikan saham dari pihak-
             pihak yang akan melakukan Rencana Transaksi yaitu antara Lessee dan Lessor, terdapat
             keterkaitan dari segi kepengurusan di antara pihak-pihak tersebut.

             Ditinjau dari hubungan dari segi kepemilikan saham dan segi kepengurusan, berdasarkan
             Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan
             Transaksi Benturan Kepentingan Rencana Transaksi ini termasuk kepada Transaksi Afiliasi.

             Rencana Transaksi ini tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam
             Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan
             Transaksi Benturan Kepentingan.

             Dengan memperhatikan definisi Benturan kepentingan di atas (yang merugikan perusahaan)
             dan alasan yang telah dikemukakan serta harga Rencana Transaksi yang akan dilaksanakan,
             maka Rencana Transaksi bukan merupakan Transaksi benturan kepentingan, karena
             memberikan solusi kelangsungan usaha bagi Perseroan dan diselenggarakan sesuai aturan
             perundang-undangan yang berlaku dan menguntungkan Perseroan.

             Nilai Rencana Transaksi adalah sebesar Rp1.502.656.000.000 sedangkan jumlah ekuitas
             Perseroan berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 adalah sebesar
             Rp4.305.416.342.423 dengan demikian Rencana Transaksi tersebut merupakan transaksi
             material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.
             17/POJK.04/2020, karena nilai transaksi lebih dari 20% ekuitas Perseroan. Secara umum,
             manfaat dari Transaksi ini dilakukan dalam rangka adanya kebutuhan atau dalam rangka
             memperbaiki struktur keuangan Perseroan dengan melalui penerimaan kompensasi atas
             pengakhiran awal perjanjian BOT Gedung BSI Tower.




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                         27
                                                                                                     27
Page 29
             Berdasarkan peraturan No.35/POJK.04/2020 Tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan
             Penilaian Bisnis Di Pasar Modal, suatu Transaksi dikategorikan wajar apabila Transaksi
             tersebut berada pada kisaran batas atas dan batas bawah sebesar 7,5% dari Nilai Pasar.
             Perbandingan nilai Rencana Transaksi dengan batas atas dan batas bawah disajikan sebagai
             berikut:

                               Keterangan               %               Rupiah         USD
                            Nilai Transaksi                            2.000.000.000   119.175
                            Nilai Pasar                                1.902.630.000   113.373
                            Batas Atas                  7,50%          2.045.327.250   121.876
                            Batas Bawah                 7,50%          1.759.932.750   104.870

             Berdasarkan analisis batas wajar atas dan bawah Nilai Rencana Transaksi penjualan ini dimana
             batas atas 7,5% adalah Rp1.615.355.200.000 sedangkan batas bawah 7,5% adalah
             Rp1.389.956.800.000 sedangkan Nilai Rencana Transaksi adalah Rp 1.502.656.000.000,
             dapat disimpulkan Rencana Transaksi tersebut masih berada pada batas wajar.



Dengan demikian, hasil kajian dan analisis yang telah dilakukan terhadap seluruh aspek yang terkait dalam
rangka menentukan dampak positif secara kualitatif, kuantitatif, dan kewajaran dari Rencana Transaksi
yang akan dilakukan, maka kami berpendapat bahwa Rencana Transaksi yang dilakukan oleh Perseroan
adalah Wajar.

Kami menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak
sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apa pun, baik saat ini maupun di masa
datang terkait dengan usaha Perseroan maupun atas Rencana Transaksi yang dilakukan.

Demikian laporan pendapat kewajaran ini kami sampaikan, atas kerja sama dan kepercayaan yang telah
diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih.



Hormat kami,
KJPP SUGIANTO PRASODJO & REKAN
Public Appraisers and Consultants




Ginanjar Rizki Tarekat, S.T, M.Ec.Dev.,MAPPI (Cert)
Partner
Penilai Properti & Bisnis Izin Men. Keu.
No.P.1-18.00532 dan B-1.23.00643
STTD.PPB-47/PM.02/2023
MAPPI No. 16-S-06672
RMK-2017.00616




Laporan Pendapat Kewajaran Transaksi Material dan Afiliasi PT PP (Persero) Tbk                        28
                                                                                                     28

File

File Open PDF
Source IDX
Size1.04 MB
Published2 Jul 2026
Pages29
Characters100,464
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 32 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Bank Syariah Indonesia Tbk p.3 ×23
linked person Amir Abadi Jusuf p.4
possible org PP (Persero) Tbk p.1 ×95
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.2 ×7
possible org Pemerintah Republik Indonesia p.6 ×2
possible org Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk p.11 ×7
possible org Negara Republik Indonesia p.11
unresolved org Menteri Keuangan p.2 ×2
unresolved org Bapepam-LK p.2 ×4
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Sugianto Prasodjo dan Rekan p.2 ×2
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Sugianto Prasodjo p.2 ×2
unresolved org Provinsi DKI Jakarta. KJPP Sugianto Prasodjo dan Rekan p.2
unresolved org KJPP Sugianto Prasodjo p.2 ×3
unresolved org Kementerian Keuangan Republik Indonesia p.2
unresolved org Menteri Keuangan Republik Indonesia. KJPP Sugianto Prasodjo dan Rekan p.2
unresolved org KJPP SPR p.2
unresolved org Milik Negara p.3
unresolved — Benny Andria · Akuntan Publik p.4
unresolved org Mawar & Rekan p.4
unresolved person Kartini Muljadi p.11
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.11
unresolved person Ir. Nanette Cahyanie Handari Adi Warsito p.11 ×2
unresolved org Pengaturan Badan Usaha Milik Negara p.12
unresolved org Koperasi Karyawan Pemegang Saham p.12
unresolved org Pusat Statistik p.13
unresolved org Kota Nusantara p.14
unresolved org Pengelola Investasi Danantara p.17
unresolved org Hamid & Rekan p.26
unresolved org KJPP SUGIANTO PRASODJO & REKAN p.29
unresolved person Consultants Ginanjar Rizki Tarekat p.29
unresolved person Ginanjar Rizki Tarekat, S.T, M.Ec.Dev.,MAPPI (Cert) · Partner p.29 ×2

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 9493 ms 12 Sep 2026 21:55
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result