Back to announcement
20260701_UNTR_Informasi Transaksi Afiliasi_32107176_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review UNTRSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 102
Page 1
Page 2
Kantor Jasa Penilai Publik
The Manhattan Square
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Property, Business Valuation & Advisory Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Licence No. 2.22.0176 E-Mail: infoadmin@fdipartners.co
KMK 460/KM.1/2022 Website: www.fdipartners.co.id
Wilayah Kerja: Seluruh Indonesia Phone (62 21) 27875911
Jakarta, 11 Juni 2026
Kepada Yth.:
PT United Tractors Tbk
Jl. Raya Bekasi Km 22,
Cakung, Jakarta Timur 13910
No. Laporan : 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Hal : Laporan Pendapat Kewajaran
Dengan hormat,
LAPORAN PENDAPAT KEWAJARAN
PT UNITED TRACTORS TBK
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No.020/FDI/PB-FO/II/2026 tanggal 25 Februari 2026,
Kami KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”)
mendapat penugasan dari PT United Tractors Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) untuk memberikan
pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi antara Perseroan dan PT Astra Sedaya Finance
(selanjutnya disebut “ASF”) berupa rencana transaksi perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian
pinjaman (“Rencana Transaksi”), yang diperlukan guna memenuhi ketentuan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan
(“POJK 42/2020”).
Maksud Pendapat Kewajaran adalah untuk memberikan opini kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi
antara Perseroan dan ASF berupa rencana transaksi perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian
pinjaman, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan POJK 42/2020. Tujuan Pendapat Kewajaran
adalah dalam rangka memenuhi ketentuan POJK 42/2020.
Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak digunakan
untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan dalam tujuan
lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar
maupun profesi lainnya.
Berdasarkan hasil analisis, Rencana Transaksi tersebut mengandung transaksi afiliasi namun bukan
transaksi material karena nilai transaksi di bawah 20% (dua puluh persen) dari ekuitas Perseroan per 31
Desember 2025 hal tersebut tercermin dari nilai materialitas transaksi sebesar 0,29%, serta Rencana
Transaksi tersebut tidak terdapat benturan kepentingan sesuai dengan surat pernyataan
No.LUT/101/9960/VI/2026 tanggal 04 Juni 2026 perihal informasi tidak adanya benturan kepentingan
atas Rencana Transaksi.
Pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi dilakukan berdasarkan laporan keuangan per tanggal 31
Desember 2025, berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia, Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018
Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
(POJK 35/2020), Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020
(SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
Kantor
KantorPusat
Pusat(Properti
(Propertidan
danBisnis);
Bisnis);Kantor
KantorCabang
CabangSemarang
Semarang(Properti)
(Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Metodologi Pendapat Kewajaran yang digunakan antara lain sebagai berikut: (1) Analisis Rencana Transaksi, (2) Analisis Kualitatif, (3) Analisis Kuantitatif, (4) Analisis Kelayakan Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi, dan (5) Kesimpulan Analisis atas Rencana Transaksi. Kesimpulan Hasil Pendapat Kewajaran Analisis Rencana Transaksi Berdasarkan analisis atas objek Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi berupa perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF dengan nilai fasilitas sebesar Rp300.000.000.000 (Tiga Ratus Miliar Rupiah) dilakukan untuk mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan melalui ASF. Dari sisi keuangan, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap kinerja operasional Perseroan dan lebih berdampak pada perubahan komposisi aset berupa penurunan kas dan setara kas serta peningkatan piutang non usaha pihak berelasi. Selain itu, berdasarkan pertimbangan bisnis Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing penjualan alat berat, mempertahankan pangsa pasar Perseroan, serta mendukung pertumbuhan usaha Perseroan secara berkelanjutan. Selanjutnya berdasarkan analisis terhadap laporan keuangan proforma Perseroan sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan. Dari sisi likuiditas, terdapat penurunan yang relatif tidak signifikan pada current ratio, quick ratio, dan cash ratio akibat penggunaan sebagian kas internal Perseroan untuk pemberian pinjaman kepada ASF, dimana nilai realisasi pinjaman tersebut masih relatif kecil dibandingkan total kas dan setara kas Perseroan. Sementara itu, dari sisi solvabilitas, Rencana Transaksi tidak memberikan perubahan material terhadap Debt to Assets Ratio, Debt to Equity Ratio, maupun Times Interest Earned karena sumber pendanaan berasal dari dana internal Perseroan dan hanya menyebabkan perubahan komposisi aset berupa peningkatan piutang non usaha pihak berelasi. Dengan demikian, secara keseluruhan Rencana Transaksi tidak berdampak signifikan terhadap tingkat likuiditas maupun solvabilitas Perseroan. Berdasarkan hasil analisis identifikasi dan hubungan antara pihak-pihak dalam Rencana Transaksi, diketahui bahwa Perseroan dan ASF memiliki hubungan afiliasi baik dari sisi kepengurusan maupun kepemilikan saham. Hubungan afiliasi tersebut tercermin dari adanya kesamaan pengurus serta kepemilikan tidak langsung melalui PT Astra International Tbk (“ASII”) sebagai pemegang saham pengendali pada Perseroan dan ASF. Dengan demikian, berdasarkan ketentuan dalam POJK 42/2020. Berdasarkan analisis terhadap Perjanjian Pinjaman beserta seluruh amandemennya, diketahui bahwa perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF telah dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sejak tahun 2018 guna menyesuaikan kebutuhan pembiayaan dan kondisi bisnis para pihak. Secara umum, perubahan-perubahan yang dilakukan dalam setiap amandemen terutama berkaitan dengan perpanjangan periode ketersediaan fasilitas, penyesuaian jumlah fasilitas pinjaman, mekanisme pembayaran kembali, serta penyesuaian tingkat suku bunga sesuai kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan. Dalam Rencana Transaksi berupa Draft Amandemen VIII, perubahan utama yang dilakukan adalah perpanjangan periode ketersediaan fasilitas hingga 30 Juni 2027. Dengan demikian, Rencana Transaksi dinilai masih sejalan dengan tujuan awal pemberian fasilitas pinjaman, yaitu mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan melalui ASF, serta mencerminkan adanya kesinambungan hubungan bisnis dan kerja sama pembiayaan antara Perseroan dan ASF. Halaman 2 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 4
Berdasarkan analisis likuiditas sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi memberikan dampak penurunan yang relatif tidak signifikan terhadap current ratio, quick ratio, dan cash ratio Perseroan, masing-masing sebesar 0,001 kali. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan dana internal Perseroan yang berasal dari kas dan setara kas untuk pemberian pinjaman kepada ASF, sehingga menyebabkan perpindahan pencatatan aset dari pos kas dan setara kas menjadi piutang non usaha pihak berelasi. Meskipun demikian, perubahan rasio likuiditas tersebut dinilai tidak material dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan likuiditas Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Serta analisis manfaat dan risiko atas Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Perseroan berupa tambahan pendapatan bunga atas fasilitas pinjaman yang diberikan kepada ASF serta mendukung peningkatan penjualan alat berat Perseroan melalui dukungan pembiayaan kepada konsumen. Di sisi lain, Rencana Transaksi juga memiliki risiko berupa tidak tercapainya target penjualan alat berat Perseroan dan risiko gagal bayar dari konsumen ASF yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pembiayaan. Meskipun demikian, dengan mempertimbangkan tujuan penggunaan dana, hubungan afiliasi antara Perseroan dan ASF, serta keyakinan Manajemen Perseroan terhadap kelancaran pelaksanaan Rencana Transaksi, maka manfaat yang diperoleh dari Rencana Transaksi dinilai lebih besar dibandingkan risiko yang mungkin timbul. Analisis Kualitatif Berdasarkan hasil analisis kualitatif atas Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi memiliki dasar bisnis yang memadai dan sejalan dengan kegiatan usaha Perseroan dalam mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen melalui ASF. Rencana Transaksi diharapkan dapat memberikan manfaat berupa peningkatan penjualan alat berat, tambahan pendapatan bunga, serta memperkuat sinergi usaha antara Perseroan dan ASF. Selain itu, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap leverage maupun likuiditas Perseroan dan ASF juga dinilai memiliki kemampuan keuangan serta tingkat kesehatan perusahaan yang memadai untuk memenuhi kewajibannya. Dengan demikian, secara keseluruhan Rencana Transaksi dinilai dapat mendukung kegiatan usaha dan pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak negatif yang material terhadap kondisi keuangan Perseroan. Analisis Kuantitatif Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, Perseroan menunjukkan kinerja keuangan yang relatif baik selama periode historis yang dianalisis, tercermin dari kemampuan Perseroan dalam menjaga tingkat profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas pada tingkat yang memadai. Selain itu, ASF juga menunjukkan tingkat profitabilitas dan kesehatan perusahaan yang cukup baik dengan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) yang relatif rendah serta gearing ratio yang masih berada dalam batas ketentuan yang berlaku. Berdasarkan analisis proforma laporan keuangan sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan, baik dari sisi likuiditas maupun solvabilitas. Proyeksi keuangan Perseroan juga menunjukkan bahwa Rencana Transaksi berpotensi memberikan tambahan penjualan dan pendapatan bagi Perseroan. Dengan demikian, secara keseluruhan hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa Rencana Transaksi masih dapat dilaksanakan tanpa memberikan dampak negatif yang material terhadap kondisi keuangan Perseroan. Halaman 3 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 5
Page 6
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR .................................................................................................................... 1 DAFTAR ISI .............................................................................................................................5 DAFTAR TABEL ........................................................................................................................7 DAFTAR GRAFIK......................................................................................................................9 BAB I ............................................................................................................................. 10 PENDAHULUAN ................................................................................................................... 10 1.1 Uraian Mengenai Penugasan ....................................................................................... 10 1.2 Identitas Status Penilai ................................................................................................. 10 1.3 Identitas Pemberi Tugas ............................................................................................... 10 1.4 Identitas Pengguna Laporan ........................................................................................ 10 1.5 Objek Pendapat Kewajaran ......................................................................................... 11 1.6 Jenis Mata Uang Yang Digunakan ............................................................................... 11 1.7 Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran ..................................................................... 11 1.8 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan ........................ 11 1.9 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ............................................................................ 11 1.10 Sumber Data dan Informasi ......................................................................................... 12 1.11 Hasil Pelaksanaan Inspeksi .......................................................................................... 15 1.12 Asumsi dan Asumsi Khusus .......................................................................................... 15 1.13 Konfirmasi Bahwa Pendapat Kewajaran Dilakukan Berdasarkan Standar ........................ 15 1.14 Metodologi Analisis Pendapat Kewajaran ...................................................................... 15 1.15 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli ............................................................... 16 1.16 Pernyataan Independensi Penilai .................................................................................. 16 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ...................................... 16 BAB II ............................................................................................................................. 18 ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI ..................................................................................... 18 2.1. Analisis Objek Rencana Transaksi ................................................................................ 18 2.1.1 Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi ................................................................ 18 2.1.2 Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi .................................................................. 18 2.1.3 Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi .............................................. 21 2.2. Analisis Rencana Transaksi .......................................................................................... 21 2.2.1 Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Keuangan Perusahaan ...................................... 21 2.2.2 Identifikasi & Hubungan Pihak Yang Bertransaksi .......................................................... 22 2.2.3 Analisis Perjanjian & Syarat Rencana Transaksi.............................................................. 29 2.2.4 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi ............................................................................ 31 2.2.5 Analisis Manfaat & Risiko Rencana Transaksi ................................................................. 32 BAB III ............................................................................................................................. 33 ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ATAS RENCANA TRANSAKSI ........................................ 33 3.1 Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi ..................................................................... 33 3.1.1 Riwayat Singkat Perseroan ........................................................................................... 33 3.1.2 Analisis Industri & Bisnis .............................................................................................. 35 3.1.3 Analisis Operasional & Prospek Perusahaan ................................................................. 45 3.1.4 Alasan Dan Latar Belakang Rencana Transaksi ............................................................. 48 3.1.5 Analisis Keuntungan & Kerugian Kualitatif ..................................................................... 49 3.1.6 Dampak Leverage Terhadap Keuangan (Dibanding Industri Sejenis) ............................... 49 3.1.7 Dampak Likuiditas & Kemampuan Melunasi Pinjaman Saat Jatuh Tempo ........................ 51 3.1.8 Dampak Jika Proyek Dibiayai Gagal ............................................................................ 53 3.2 Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi ................................................................... 53 3.2.1 Kinerja Historis ........................................................................................................... 53 3.2.2 Penilaian Atas Proyeksi Keuangan ................................................................................ 70 3.2.3 Analisis Rasio Keuangan .............................................................................................. 71 3.2.4 Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi .............................. 74 3.2.5 Analisis Kemampuan Bayar Sampai Saat Jatuh Tempo .................................................. 78 3.2.6 Analisis Cash Management Dan Financial Covenant ...................................................... 79 3.2.7 Analisis Yield Dibanding Instrumen Sejenis (Obligasi/Kredit Bank) .................................. 79 3.2.8 Incremental Analysis (Nilai Tambah) ............................................................................. 80 Halaman 5 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 7
3.2.9 Analisis Sensitivitas ...................................................................................................... 82
3.3 Analisis Kelayakan Penggunaan Dana .......................................................................... 82
3.3.1 Analisis Kelayakan Investasi ......................................................................................... 82
3.3.2 Analisis Kelayakan Pelunasan Utang ............................................................................ 83
3.3.3 Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan ......................................................................... 83
BAB IV ............................................................................................................................. 84
KESIMPULAN ........................................................................................................................ 84
4.1 Analisis Objek Rencana Transaksi ................................................................................ 84
4.2 Analisis Pengaruh atas Rencana Transaksi .................................................................... 84
4.3 Identifikasi Dan Hubungan Antara Pihak Dalam Hal Transaksi ....................................... 85
4.4 Analisis Perjanjian Dan Persyaratan Yang Disepakati Oleh Pihak Dalam Rencana Transaksi
85
4.5 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi ............................................................................ 86
4.6 Analisis Manfaat Dan Risiko Dari Rencana Transaksi ..................................................... 86
4.7 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi...................................................................... 86
4.8 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi .................................................................... 86
4.9 Analisis Kelayakan Rencana Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi ......................... 87
4.10 Opini Kewajaran atas Rencana Transaksi ..................................................................... 87
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ........................................................................... 88
PERNYATAAN PENILAI ........................................................................................................... 89
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................................................ 91
Halaman 6 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 8
DAFTAR TABEL Tabel 1. Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ................................................................................ 11 Tabel 2. Keterangan Laporan Keuangan Perseroan ....................................................................... 12 Tabel 3. Keterangan Laporan Keuangan ASF ................................................................................ 14 Tabel 4. Indentitas dan Jabatan Pihak yang di Wawancarai ........................................................... 15 Tabel 5. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan ....... 18 Tabel 6. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan ....... 20 Tabel 7. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Likuiditas ..................... 22 Tabel 8. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Solvabilitas .................. 22 Tabel 9. Struktur Pemegang Saham Perseroan Tbk ........................................................................ 23 Tabel 10. Struktur Pemegang Saham ASF ..................................................................................... 25 Tabel 11. Hubungan Para Pihak Yang Terlibat Dalam Rencana Transaksi ....................................... 26 Tabel 12. Materialitas Rencana Nilai Transaksi .............................................................................. 28 Tabel 13. Rasio Likuiditas Sebelum dan Setelah adanya Transaksi .................................................. 31 Tabel 14. Struktur Pemegang Saham Perseroan Tbk ...................................................................... 34 Tabel 15. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 38 Tabel 16. Perkembangan Kinerja Sektor Pembiayaan di Indonesia Tahun 2022-2025...................... 44 Tabel 17. Mesin Konstruksi .......................................................................................................... 45 Tabel 18. Kontraktor Penambangan ............................................................................................. 46 Tabel 19. Kinerja Operasional Batu Bara dan Metalurgi ................................................................. 47 Tabel 20. Kinerja Emas dan Mineral Lainnya ................................................................................. 47 Tabel 21. Leverage Perseroan – Historis ........................................................................................ 49 Tabel 22. Leverage Perseroan – Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi ........................................ 50 Tabel 23. Penentuan Perusahaan Industri Sejenis ........................................................................... 50 Tabel 24. Rasio Debt to Equity Perusahaan Pembanding ................................................................ 50 Tabel 25. Rasio Debt to Assets Perusahaan Pembanding ................................................................ 51 Tabel 26. Rasio Likuiditas Perseroan ............................................................................................. 51 Tabel 27. Rasio Profotabilitas ASF ................................................................................................. 52 Tabel 28. Rasio Keuangan dan Kesehatan ASF .............................................................................. 52 Tabel 29. Analisis Cash Management ........................................................................................... 53 Tabel 30. Laporan Posisi Keuangan Perseroan Periode 31 Desember 2021–31 Desember 2025....... 54 Tabel 31. Laporan Laba Rugi Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 .............. 58 Tabel 32. Laporan Arus Kas Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ................ 60 Tabel 33. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%) ...................................... 64 Tabel 34. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%) ............................................... 64 Tabel 35. Laporan Posisi Keuangan ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025.............. 65 Tabel 36. Laporan Laba Rugi ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ....................... 67 Tabel 37. Laporan Arus Kas ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ......................... 68 Tabel 38. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%) ...................................... 69 Tabel 39. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%) ............................................... 69 Tabel 40. Proyeksi Penjualan Setelah Rencana Transaksi ................................................................ 70 Tabel 41. Proyeksi Penjualan Setelah Rencana Transaksi (lanjutan) ................................................. 70 Tabel 42. Margin Laba Bersih Perseroan ....................................................................................... 70 Tabel 43. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) .......................................................... 71 Tabel 44. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) .......................................................... 73 Tabel 45. Rasio Keuangan Dan Kesehatan Perusahaan .................................................................. 74 Tabel 46. Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi ................................ 74 Tabel 47. Proforma Laporan Laba Rugi Sebelum & Setelah Rencana Transaksi ................................ 77 Tabel 48. Rasio Profitabilitas ASF .................................................................................................. 78 Tabel 49. Rasio Keuangan dan Kesehatan ASF .............................................................................. 78 Tabel 50. Analisis Cash Management ........................................................................................... 79 Tabel 51. Rasio Kas ..................................................................................................................... 79 Tabel 52. Yield Pinjaman Perseroan - ASF ..................................................................................... 79 Tabel 53. Yield Surat Utang Pasar rating AA.................................................................................. 80 Tabel 54. Analisis Yield Dibandingkan dengan Kredit Modal Kerja Perbankan ................................. 80 Tabel 55. Incremental Analysis (Nilai Tambah) .............................................................................. 81 Halaman 7 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 9
Tabel 56. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ..................................................................... 81 Tabel 57. Analisis Sensitivitas ....................................................................................................... 82 Halaman 8 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 10
DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Bagan Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan ...................................... 27 Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 – 2025 (% yoy)......................................... 35 Grafik 3. Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun 2021 –2025 ........... 36 Grafik 4. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2030 (yoy %) ................................................................. 36 Grafik 5. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 37 Grafik 6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Tahun 2025 ............................................................. 37 Grafik 7. Cadangan Mineral Indonesia Tahun 2024 (Juta Ton) ..................................................... 38 Grafik 8. Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024 (juta Ton) ................................................... 39 Grafik 9. Produksi Mineral dan Batubara tahun 2023 – 2024........................................................ 39 Grafik 10. Perkembangan Jumlah IUP/IUPPK/KK/IPR Tahun 2024 ................................................. 40 Grafik 11. Perkembangan Reklamasi Pertambangan di Indonesia ................................................. 40 Grafik 12. Perkembangan Harga Mineral dan Batubara Acuan Indonesia ...................................... 41 Grafik 13. Perkembangan Ekspor Mineral Tahun 2020 – 2025 ..................................................... 41 Grafik 14. Nilai Ekspor Batubara Indonesia Tahun 2020 – Agustus 2025 ....................................... 42 Grafik 15. Nilai Impor Mesin dan Alat Berat Pertambangan .......................................................... 42 Grafik 16. Perkembangan Harga Acuan Emas, Perak, Tembaga dan Batubara Global ................... 43 Grafik 17. Perkembangan Permintaan Emas dan Batubara Tahun 2020 - 2024 ............................. 44 Halaman 9 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No. 020/FDI/PB-FO/II/2026 tanggal 25 Februari
2026, Kami KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau
“Kami”) mendapat penugasan dari PT United Tractors Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) untuk
memberikan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi antara Perseroan dan PT Astra
Sedaya Finance (selanjutnya disebut “ASF”) berupa rencana transaksi perubahan syarat dan
ketentuan dalam perjanjian pinjaman (“Rencana Transaksi”), yang diperlukan guna memenuhi
ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi
dan Transaksi Benturan Kepentingan (“POJK 42/2020”).
1.2 Identitas Status Penilai
Penilaian ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
Independen untuk memberikan pendapat kewajaran yang objektif dan tidak memihak, sesuai
KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian atas objek penilaian yang dimaksud. KJPP
Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang
Izin Usaha No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan
mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:
• Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan pendapat kewajaran ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian dan/ atau
pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional dan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan
pendapat kewajaran ini.
1.3 Identitas Pemberi Tugas
Nama Pemberi Tugas : PT United Tractors Tbk
Alamat : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur 13910
Bidang Usaha : Distribusi alat berat
No. Telepon/Fax : +62 21 2457 9999
Alamat Email : Yudistira@unitedtractors.com
Penanggung Jawab : Bapak Yudistira
Jabatan : Corporate Finance & Accounting Division Head
1.4 Identitas Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam pendapat kewajaran ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.
Halaman 10 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 12
1.5 Objek Pendapat Kewajaran
Objek Pendapat Kewajaran dalam hal ini adalah pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi
afiliasi antara Perseroan dan ASF berupa rencana transaksi perubahan syarat dan ketentuan
dalam perjanjian pinjaman.
1.6 Jenis Mata Uang Yang Digunakan
Rencana Transaksi akan dilaksanakan dengan menggunakkan mata uang Rupiah.
1.7 Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran
Maksud Pendapat Kewajaran adalah untuk memberikan opini kewajaran atas Rencana Transaksi
afiliasi antara Perseroan dan ASF berupa Rencana Transaksi perubahan syarat dan ketentuan
dalam perjanjian pinjaman, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). Tujuan Pendapat Kewajaran adalah dalam rangka memenuhi POJK 42/2020.
Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak
digunakan untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan
dalam tujuan lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.
1.8 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan Pendapat Kewajaran
Tanggal Pendapat Kewajaran adalah tanggal 31 Desember 2025, dimana batas tersebut diambil
atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, masa berlaku laporan pendapat kewajaran
adalah selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif pendapat kewajaran (cut off date) dalam
laporan pendapat kewajaran.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku laporan pendapat
kewajaran ini yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif pendapat kewajaran (cut off date)
dalam laporan pendapat kewajaran.
1.9 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
Ruang lingkup penyusunan Laporan Pendapat Kewajaran mengacu pada POJK Nomor
35/POJK.04/2020 dan SEOJK Nomor 17/SEOJK.04/2020. Dengan demikian, ruang lingkup
Pendapat Kewajaran didasarkan pada analisis kewajaran atas Rencana Transaksi, yang meliputi:
Tabel 1. Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
Aspek Ketentuan Utama
- Besaran dana dari objek Rencana Transaksi
Analisis Objek Rencana
- Dampak keuangan Rencana Transaksi
Transaksi
- Pertimbangan bisnis manajemen atas Rencana Transaksi
- Pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan
Analisis Rencana Transaksi - Identifikasi & hubungan pihak yang bertransaksi
- Analisis perjanjian & syarat Rencana Transaksi
Halaman 11 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 13
Aspek Ketentuan Utama
- Analisis likuiditas Rencana Transaksi
- Analisis manfaat & risiko Rencana Transaksi
- Riwayat perusahaan & riwayat pinjam-meminjam
- Analisis industri & bisnis
- Analisis operasional & prospek perusahaan
- Alasan dan latar belakang Rencana Transaksi
Analisis Kualitatif
- Keuntungan & kerugian kualitatif
- Dampak leverage terhadap keuangan (dibanding industri sejenis)
- Dampak likuiditas & kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo
- Dampak jika proyek dibiayai gagal
- Kinerja historis & proyeksi keuangan
- Analisis rasio keuangan
- Proforma Laporan Keuangan sebelum & setelah Rencana Transaksi
- Analisis kemampuan bayar sampai saat jatuh tempo
Analisis Kuantitatif
- Analisis cash management dan financial covenant
- Analisis yield dibanding instrumen sejenis (obligasi/kredit bank)
- Incremental analysis (nilai tambah)
- Sensitivity analysis (jika perlu)
- Analisis kelayakan investasi;
Analisis Kelayakan
- Analisis kelayakan pelunasan utang
Penggunaan Dana
- Analisis atas faktor lain yang relevan
Kesimpulan - Opini Kewajaran Rencana Transaksi
Sumber: SEOJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 Bab IV
1.10 Sumber Data dan Informasi
Sumber data dan informasi yang kami gunakan dalam proses Pendapat Kewajaran Perseroan
adalah sebagai berikut:
a. Perseroan
Laporan Keuangan
Tabel 2. Keterangan Laporan Keuangan Perseroan
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP: Rintis,
31 Jumadi, Rianto & 26
00190/2.1457/AU.1/05/0241-
1 Desember Audit Rekan Februari Wajar
3/1/II/2026
2025 AP: Yanto, S.E., 2026
AK., M.Ak., CPA
KAP: Rintis,
31 Jumadi, Rianto & 26
00180/2.1457/AU.1/05/0241-
2 Desember Audit Rekan Februari Wajar
2/1/II/2025
2024 AP: Yanto, S.E., 2025
AK., M.Ak., CPA
31 KAP: Tanudiredja, 23
00190/2.1025/AU.1/05/0241-
3 Desember Audit Wibisana, Rintis & Februari Wajar
2/1/II/2024
2023 Rekan 2024
Halaman 12 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 14
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
AP: Yanto, S.E.,
M.Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 23
00177/2.1025/AU.1/05/0239-
4 Desember Audit Rekan Februari Wajar
3/1/II/2023
2022 AP: Lok Budianto, 2023
S.E., Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 21
00121/2.1025/AU.1/05/0239-
5 Desember Audit Rekan Februari Wajar
2/1/II/2022
2021 AP: Lok Budianto, 2022
S.E., Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 19
00157/2.1025/AU.1/05/0239-
6 Desember Audit Rekan Februari Wajar
1/1/II/2021
2020 AP: Lok Budianto, 2021
S.E., Ak., CPA
Keterangan: KAP (Kantor Akuntan Publik); AP (Akuntan Publik)
Proyeksi Keuangan dan Proforma Keuangan
1. Proyeksi Penjualan Perseroan Periode 31 Juli 2026 – 30 Juni 2027 (sebelum dan setelah)
adanya Rencana Transaksi dalam format MS. Excel, yang disiapkan oleh manajemen
Perseroan.
2. Proforma Keuangan Perseroan per 31 Desember 2025 (sebelum dan setelah) adanya
transaksi yang disiapkan oleh manajemen Perseroan.
Akta Pendirian dan Perubahan-Perubahannya - Perseroan
1. Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H. Akta Pendirian tersebut disahkan
oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/34/8
tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 31,
Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
2. Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.,
notaris di Jakarta, tentang perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, yang telah
mendapat penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai
dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
3. Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose Dima Satria, S.H.,
M.Kn., notaris di Jakarta, tentang perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
yang telah mendapat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dari
Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.
AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
Legalitas Perusahaan - Perseroan
1. Surat Izin Lokasi, tanggal 07 September 2018.
2. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 01.308.524.6-091.000.
3. Tanda Daftar Perusahaan Perseroan Terbatas No. 09.04.1.46.00794, tanggal 31 Mei
2011.
4. Nomor Induk Berusaha No. 8120009960872, tanggal 07 September 2018.
Halaman 13 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 15
Informasi Lainnya - Perseroan
1. Draf Perjanjian Pinjaman Amandemen VIII.
2. Surat Pernyataan No.LUT/101/9960/VI/2026 tanggal 04 Juni 2026perihal informasi
tidak adanya benturan kepentingan atas Rencana Transaksi.
3. Surat Pernyataan Kebenaran Data dan Informasi tanggal 04 Juni 2026.
4. Daftar Permintaan Data (Information Request List).
5. Daftar Pertanyaan (List of Question).
b. ASF
Laporan Keuangan - ASF
Tabel 3. Keterangan Laporan Keuangan ASF
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
31 KAP: Rintis, Jumadi,
00133/2.1457/AU.1/ 20 Februari
1 Desember Audit Rianto & Rekan Wajar
09/1997-1/1/II/2026 2026
2025 AP: Ichsan Arifanto
31 KAP: Rintis, Jumadi,
00132/2.1457/AU.1/ 20 Februari
2 Desember Audit Rianto & Rekan Wajar
09/1123-3/1/II/2025 2025
2024 AP: Tjhin Silawati
KAP: Tanudiredja,
31
Wibisana, Rintis & 00135.2.1025/AU.1/ 20 Februari
3 Desember Audit Wajar
Rekan 09/1123-2/1/II/2024 2024
2023
AP: Tjhin Silawati
KAP: Tanudiredja,
31
Wibisana, Rintis & 00117/2.1025/AU.1/ 20 Februari
4 Desember Audit Wajar
Rekan 09/1123-1/1/II/2023 2023
2022
AP: Tjhin Silawati
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis &
00218/2.1025/AU.1/ 23 Februari
5 Desember Audit Rekan Wajar
09/0222-1/1/II/2022 2022
2021 AP: M. Jusf
Wibisana
Keterangan: KAP (Kantor Akuntan Publik); AP (Akuntan Publik)
Akta Pendirian dan Perubahan-Perubahannya - ASF
1. Akta Pendirian No. 50 tanggal 15 Juli 1982 oleh Notaris Rukmasanto Hardjasetya, S.H,
dengan Nama Perusahaan PT Raharja Sedaya dan telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman Republik Indonesia No.C2-474.HT.01.01.TH.83 tanggal 20 Januari 1983.
2. Akta No. 46 tanggal 10 Desember 2010 yang dibuat oleh Benny Kristianto, S.H, Notaris
yang berkedudukan di Jakarta dan telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-AH.01.10-33154 tanggal 27 Desember
2010.
3. Akta No. 39 tanggal 25 April 2025 yang dibuat oleh Wiwik Condro, S.H, Notaris yang
berkedudukan di Jakarta Barat dan telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-AH.01.09.0257434 tanggal 22 Mei 2025.
Halaman 14 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 16
Legalitas Perusahaan - ASF
1. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 01.317.738.1-091.000
2. Nomor Induk Berusaha No. 9120307201893, tanggal 19 Februari 2019.
3. Surat Izin Usaha dalam Bidang Usaha Lembaga Pembiayaan No. 1093/KMK.013.1989
tanggal 30 Juni 1992
1.11 Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Berdasarkan surat tugas KJPP FDI&R No.012/FDI/ST-PB/UT/ASF/III/2026 31 Maret 2026 serta
berita acara inspeksi, kami telah melakukan Inspeksi, pengumpulan data, diskusi, verifikasi dan
wawancara atas objek pendapat kewajaran. Surat tugas, berita acara inspeksi, dan MoM (Minutes
of Meeting) terdapat pada lampiran laporan ini.
Informasi Mengenai Identitas Dan Jabatan Pihak Yang Telah Diwawancarai
Tabel 4. Indentitas dan Jabatan Pihak yang di Wawancarai
Nama Jabatan Perusahaan
Rendih Corporate Treasury PT United Tractors Tbk
Raci Annisa Corporate Treasury PT United Tractors Tbk
Sumber: Surat Tugas Inspeksi, Berita Acara Inspeksi dan Minutes of Meeting
1.12 Asumsi dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam penilaian.
1.13 Konfirmasi Bahwa Pendapat Kewajaran Dilakukan Berdasarkan Standar
Pendapat Kewajaran akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia, Standar Penilaian
Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 (POJK 35/2020) serta Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020 (SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
1.14 Metodologi Analisis Pendapat Kewajaran
Dalam menyusun Laporan Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi ini, kami telah
melakukan analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian Transaksi yang mencakup hal–
hal sebagai berikut:
a. Analisis Rencana Transaksi berupa pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan,
identifikasi & hubungan pihak yang bertransaksi, analisis perjanjian & syarat Rencana
Transaksi, analisis likuiditas Rencana Transaksi, serta analisis manfaat & risiko Rencana
Transaksi.
b. Analisis Kualitatif berupa riwayat perusahaan & riwayat pinjam-meminjam dana, analisis
industri & bisnis, analisis operasional & prospek perusahaan, alasan dan latar belakang
Halaman 15 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 17
Rencana Transaksi, keuntungan & kerugian kualitatif, dampak leverage terhadap keuangan
(dibanding industri sejenis), dampak likuiditas & kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh
tempo, serta dampak jika proyek dibiayai gagal.
c. Analisis Kuantitatif berupa kinerja historis perusahaan, penilaian atas proyeksi keuangan,
analisis rasio keuangan, proforma laporan keuangan sebelum & setelah Rencana Transaksi,
analisis kemampuan bayar sampai saat jatuh tempo, analisis cash management dan financial
covenant, analisis yield dibanding instrumen sejenis (obligasi/kredit bank), incremental
analysis (nilai tambah), serta sensitivity analysis (jika diperlukan).
d. Analisis Kelayakan Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi berupa Analisis kelayakan
investasi, Analisis kelayakan pelunasan utang serta Analisis atas faktor lain yang relevan.
e. Kesimpulan Analisis atas Rencana Transaksi berupa Opini Kewajaran Rencana Transaksi.
1.15 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam memberikan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi, KJPP FDI&R tidak
menggunakan hasil pekerjaan tenaga ahli dari luar.
1.16 Pernyataan Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan pendapat kewajaran ini, KJPP FDI&R bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan Perseroan dan JES
ataupun pihak pihak lainnya yang terafiliasi dengan dengan Perseroan dan JES. KJPP FDI&R juga
tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan
pendapat kewajaran ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang
dihasilkan dari proses analisis kewajaran ini.
1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (cut-off date) per 31 Desember 2025
hingga Laporan Pendapat Kewajaran ini diterbitkan terdapat kejadian penting setelah tanggal
penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (Subsequent Event) yang tidak mempengaruhi hasil
penilaian yaitu:
Dari tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (cut-off date) per 31 Desember 2025
hingga Laporan Pendapat Kewajaran ini diterbitkan terdapat kejadian penting setelah tanggal
penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (Subsequent Event) yang tidak mempengaruhi hasil
penilaian yaitu:
1. Berdasarkan Akta No. 117 tertanggal 20 Mei 2026 yang telah diberitahukan kepada Menteri
Hukum Republik Indonesia melalui Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data
Perseroan No. AHU-AH.01.09-0309460 tanggal 5 Juni 2026, Perseroan telah melakukan
perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi, sehingga susunan Dewan Komisaris dan
Direksi Perseroan sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Halaman 16 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 18
Komisaris : Rudy
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Lincoln Lin Feng Pan
Direksi:
Presiden Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Hendra Hutahean
Direktur : Andreas
2. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek Perseroan sebagaimana telah
disampaikan Perseroan kepada masyarakat per tanggal 31 Mei 2026, struktur kepemilikan
saham Perseroan adalah sebagai berikut:
Jumlah Lembar Jumlah Nominal
Pemegang saham (%)
Saham (Rp. Juta)
PT Astra International Tbk 2.219.317.358 554.829 59,50%
Masyarakat (< 5%) 1.295.480.378 323.870 34,73%
Saham treasuri 215.337.400 53.834 5,77%
Jumlah 3.730.135.136 932.533 100,00%
Halaman 17 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 19
BAB II
ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI
2.1. Analisis Objek Rencana Transaksi
2.1.1 Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan serta dokumen pendukung
yang diberikan, diketahui bahwa besaran dana dalam objek Rencana Transaksi berupa
perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF adalah
sebesar Rp300.000.000.000 (tiga ratus miliar rupiah).
2.1.2 Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi
Dampak keuangan atas Rencana Transaksi dapat dilihat dari perubahan keuangan pada pos-
pos yang terdampak. Pada Rencana Transaksi ini, dampak keuangan atas Rencana Transaksi
disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 26.570.772 (59.049) 26.511.723
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 18.559.795 18.559.795
Pihak Berelasi 1.357.868 1.357.868
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 492.811 492.811
Pihak Berelasi 1.203.084 1.203.084
Persediaan 16.729.809 16.729.809
Proyek dalam Pelaksanaan 28.698 28.698
Pihak Ketiga
Pihak Berelasi
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.653.543 1.653.543
Pajak Lain-lain 3.643.857 3.643.857
Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 1.543.309 1.543.309
Aset Lancar Lain-lain 357.480 357.480
Total Aset Lancar 72.141.026 (59.049) 72.081.977
Aset Tidak Lancar
Kas dan deposito berjangka yang dibatasi
787.806 787.806
penggunaannya
Piutang usaha
Pihak Ketiga 453.411 453.411
Pihak Berelasi 18.957 18.957
Piutang Non Usaha
Halaman 18 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 20
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Pihak Ketiga 88.336 88.336
Pihak Berelasi 3.103.936 59.049 3.162.985
Persediaan 105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.446.559 1.446.559
Pajak Lain-lain 1.650.429 1.650.429
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 793.619 793.619
Investasi pada entitas asosiasi Investments
17.223.562 17.223.562
in associates dan ventura bersama
Investasi jangka panjang 3.175.766 3.175.766
Aset tetap 45.296.550 45.296.550
Properti pertambangan 14.809.384 14.809.384
Properti investasi 244.469 244.469
Beban eksplorasi dan pengembangan
2.768.518 2.768.518
tangguhan
Aset tambang berproduksi 3.958.340 3.958.340
Beban tangguhan 1.169.123 1.169.123
Aset pajak tangguhan 4.891.419 4.891.419
Goodwill 3.510.559 3.510.559
Total Aset Tidak Lancar 105.496.273 59.049 105.555.322
Total Aset 177.637.299 0 177.637.299
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha
Pihak Ketiga 29.095.249 29.095.249
Pihak Berelasi 213.679 213.679
Utang non-usaha
Pihak Ketiga 1.132.969 1.132.969
Pihak Berelasi 87.548 87.548
Utang pajak
Pajak Penghasilan Badan 825.803 825.803
Pajak Lain-lain 584.846 584.846
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan
Pihak Ketiga 857.034 857.034
Pihak Berelasi 44.175 44.175
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Pinjaman bank jangka pendek 560.000 560.000
Bagian jangka pendek dari utang jangka
panjang
Pinjaman Bank 9.682.666 9.682.666
Liabilitas Sewa 801.430 801.430
Pinjaman Lain-lain 560.318 560.318
Pinjaman bank jangka pendek dari
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Lain-
lain
Halaman 19 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 21
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Total Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 0 53.212.975
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Provisi rehabilitasi, reklamasi, dan
1.154.627 1.154.627
penutupan tambang
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang, setelah dikurangi
bagian jangka pendek
Pinjaman Bank 6.054.620 6.054.620
Liabilitas Sewa 976.309 976.309
Pinjaman Lain-lain 281.698 281.698
Liabilitas keuangan jangka panjang lain-
3.555.105 3.555.105
lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 0 21.288.001
Total Liabilitas 74.500.976 0 74.500.976
Ekuitas
Ekuitas yang diatribusikan kepada entitas
induk
Modal Disetor 932.534 932.534
Tambahan Modal Disetor 9.703.937 9.703.937
Saham Tresuri (4.902.237) (4.902.237)
Saldo Laba
Dicadangkan 186.507 186.507
Belum Dicadangkan 85.547.627 85.547.627
Selisih kurs dari penjabaran Laporan
9.227.066 9.227.066
keuangan
Cadangan lindung nilai (2.065.280) (2.065.280)
Cadangan penyesuaian nilai wajar aset
19.386 19.386
tetap
Transaksi dengan Kepentingan
(875.920) (875.920)
Nonpengendali
Total Ekuitas yang diatribusikan kepada
97.773.620 0 97.773.620
entitas induk
Kepentingan Nonpengandali 5.362.703 5.362.703
Total Ekuitas 103.136.323 0 103.136.323
Total Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 0 177.637.299
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Tabel 6. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Laba Rugi Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) (101.597.306)
Laba bruto 29.703.504 0 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) (1.597.792)
Beban umum dan administrasi (6.040.414) (6.040.414)
Halaman 20 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 22
Audited Proforma
Laporan Laba Rugi Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Beban lain-lain, bersih (256.226) (256.226)
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) (2.625.818)
Bagian atas laba bersih entitas asosiasi
(245.576) (245.576)
dan ventura bersama
Laba sebelum pajak penghasilan 20.182.167 0 20.182.167
Beban pajak penghasilan (5.005.403) (5.005.403)
Laba tahun berjalan 15.176.764 0 15.176.764
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Dampak dari Rencana Transaksi terhadap keuangan Perseroan diantaranya:
• Terdapat penyesuaian penurunan pada pos kas dan setara kas sebesar Rp59.049 juta akibat
rencana pemberian pinjaman kepada ASF yang bersumber dari dana internal Perseroan.
• Terdapat penyesuaian kenaikan pada pos piutang non usaha pihak berelasi sebesar Rp59.049
juta akibat rencana pemberian pinjaman kepada ASF dimana rencana pinjaman yang
diberikan merupakan pinjaman non usaha dan ASF yang merupakan perusahaan yang
terafiliasi dengan Perseroan.
• Pada proforma laba rugi, tidak ada penyesuaian yang merubah pos-pos keuangan sebelum
dan setelah rencana transaksi pemberian pinjaman.
Secara garis besar, Rencana Transaksi berdampak pada pengurangan kas akibat penggunaan
dana internal Perseroan sebagai pinjaman yang diberikan kepada ASF dan kenaikan piutang non
usaha pihak berelasi sebagai pencatatan piutang atas pinjaman yang diberikan Perseroan ke ASF.
2.1.3 Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi berupa
perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF dilakukan
dalam rangka mendukung kegiatan pembiayaan pembelian alat berat yang dipasarkan oleh
Perseroan. Dengan adanya dukungan pembiayaan tersebut, Perseroan diharapkan dapat
meningkatkan daya saing penjualan alat berat melalui penyediaan alternatif pembiayaan yang
lebih fleksibel bagi konsumen.
Selain itu, berdasarkan penjelasan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi diharapkan dapat
mendukung upaya Perseroan dalam meningkatkan serta mempertahankan pangsa pasar alat
berat Perseroan di tengah tingkat kompetisi industri yang relatif ketat. Dukungan pembiayaan
kepada konsumen dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi Perseroan dalam menjaga
hubungan usaha dengan pelanggan sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan secara
berkelanjutan.
2.2. Analisis Rencana Transaksi
2.2.1 Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Keuangan Perusahaan
Pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan dapat dianalisis dari laporan keuangan
proforma perusahaan sebelum dan setelah melakukan transaksi. Analisis dilakukan
menggunakan rasio fundamental perusahaan berupa rasio likuiditas dan rasio solvabilitas untuk
melihat bagaimana Rencana Transaksi mempengaruhi fundamental perusahaan.
Halaman 21 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 23
Tabel 7. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,36X 1,35X 0,001X
Quick Ratio 1,04X 1,04X 0,001X
Cash Ratio 0,50X 0,50X 0,001X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Tabel 8. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Debt to Assets Ratio 0,11X 0,11X 0,000X
Debt to Equity Ratio 0,18X 0,18X 0,000X
Times Interest Earned 8,40X 8,40X 0,000X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Dilihat dari rasio likuiditas sebelum dan setelah Rencana Transaksi, terdapat selisih tidak signifikan
pada current ratio, quick ratio, dan cash ratio sebelum dan setelah Rencana Transaksi. Hal tersebut
karena sumber pendanaan pemberian pinjaman oleh Perseroan sebesar Rp300.000.000.000
yang pada proforma diasumsikan terealisasi sebesar Rp59.049 juta kepada ASF berasal dari kas
dan setara kas internal Perseroan yang nilainya sebesar 1,13% dari total kas dan setara kas
Perseroan per tanggal pendapat kewajaran. Dengan begitu perubahan pada rasio likuiditas tidak
berdampak signifikan terhadap likuiditas Perseroan.
Pada analisis solvabilitas, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak pada Debt to Assets Ratio
dan Debt to Equity Ratio Perseroan. Hal tersebut karena pinjaman yang diberikan Perseroan
bersumber dari dana internal perusahaan dan dari dana yang dipinjamkan, timbul kenaikan pada
pos piutang non usaha pihak berelasi. Dengan begitu Rencana Transaksi tidak memberikan
dampak pada Debt to Equity Ratio (“DER”) dan Debt to Asset Ratio (“DAR”) dari Perseroan. Pada
rasio Times Interest Earned (“TIE”) yang dihitung menggunakan Operating Profit dibagi beban
keuangan, sebelum dan setelah Rencana Transaksi tidak berdampak pada TIE Perseroan.
2.2.2 Identifikasi & Hubungan Pihak Yang Bertransaksi
Identifikasi Pihak yang Bertransaksi
A. Perseroan
Riwayat Singkat
Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H. Akta
Pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita
Negara No. 31, Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
Halaman 22 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 24
Selain itu, Perseroan telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan
Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat penerimaan
pemberitahuan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14
Mei 2025 No.AHU-AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. Perseroan berkedudukan di
Jakarta, Indonesia.
Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan
yang didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah
Jardine Cycle & Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle &
Carriage Ltd. adalah anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang
didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Ruang lingkup kegiatan utama Perseroan dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
meliputi penjualan dan penyewaan alat berat (mesin konstruksi) beserta pelayanan purna jual;
kontraktor penambangan; pertambangan; industri konstruksi; dan energi.
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur, Indonesia, 13910
No. Telp / Fax : +62 21 2457 9999
Website : www.unitedtractors.com
Email :-
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen Perseroan, susunan kepemilikan saham Perseroan per 31
Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 9. Struktur Pemegang Saham Perseroan
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Jumlah
Saham
1 PT Astra International Tbk 2.219.317.358 59,50% 554.829.339.500
Masyarakat (masing-
2 masing kepemilikan 1.357.478.878 36,39% 338.353.000.000
dibawah 5%)
3 Jumlah Saham Beredar 3.576.796.236 95,89% 894.199.059.000
4 Saham Treasury 153.338.900 4,11% 39.352.000.000
Jumlah Saham
5 Ditempatkan dan Disetor 3.730.135.136 100,00% 932.533.784.000
Penuh
Keterangan: Nilai nominal Rp.250 per lembar saham
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
Halaman 23 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 25
*Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak
mengalami perubahan, namun terdapat perubahan pada masyarakat dan saham treasuri sebagaimana
tercantum dalam bagian 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09- 0238092, Susunan Dewan
Komisaris, Direksi, dan Komite Audit Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Djony Bunarto Tjondro
Wakil Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Benjamin Herrenden Birks
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Direksi
Presiden Direktur : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
Direktur : Loudy Irwanto Ellias
Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Hendra Hutahean
Komite Audit
Ketua : Ignasius Jonan
Anggota : Wanny Wijaya
Anggota : Mario C. Surung Gultom
*Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak
mengalami perubahan, namun terdapat perubahan pada masyarakat dan saham treasuri sebagaimana
tercantum dalam bagian 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
B. ASF
Riwayat Singkat
ASF didirikan pada tanggal 15 Juli 1982 berdasarkan didirikan dengan nama PT Raharja
Sedaya pada tanggal 15 Juli 1982 berdasarkan Akta Notaris Rukmasanti Hardjasatya, S.H.,
No. 50. Akta Pendirian Perseroan ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
pada tanggal 20 Januari 1983 dalam Surat Keputusan No.C2-474.HT.01.01.TH.83 dan telah
Halaman 24 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 26
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 13 tanggal 15 Februari 1983,
Tambahan No. 231
Sejak pendiriannya, Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan
dan yang terakhir berdasarkan Akta Notaris Wiwik Condro, S.H., No. 127 tanggal 29
Desember 2021 sehubungan dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha.
Perubahan ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
dengan keputusan No. AHU-0001743.AH.01.02.Tahun 2022 tanggal 10 Januari 2022 dan
telah terdaftar dalam Daftar Perseroan No. AHU-0004944.AH.01.11.Tahun 2022 tanggal 10
Januari 2022.
Kantor pusat ASF berlokasi di Jalan T.B. Simatupang No. 90, Tanjung Barat, Jagakarsa,
Jakarta. Pada tanggal 31 Desember 2025, Perseroan mempunyai 68 kantor cabang
gabungan antara konvensional dan unit usaha syariah yang terbagi menjadi 6 area yaitu DKI
Jakarta dan sekitarnya (Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi), Jawa, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara (2024: 76 kantor cabang) (tidak diaudit). Entitas induk
langsung Perseroan adalah PT Astra International Tbk, perusahaan yang berdomisili di
Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk. adalah Jardine Cycle &
Carriage Ltd, perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle & Carriage Ltd adalah
entitas anak dari Jardine Matheson Holdings Ltd, perusahaan yang didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Berdasarkan Nomor Induk Berusaha 9120307201893 perubahan ke-2 tanggal 1 April 2024,
kegiatan Usaha Perusahaan adalah di bidang Perusahaan Pembiayaan Konvensional (KBLI
64911).
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jl. T.B Simatupang No.90, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan,
12530
No. Telp / Fax : +62 21 7885 9000 / +62 21 7885 1182
Website : www.acc.co.id
Email :-
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen ASF, susunan kepemilikan saham ASF per 31 Desember
2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Struktur Pemegang Saham ASF
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Total (Rp)
Saham
1 PT Astra International, Tbk 445 46,875% 445.518.730
2 PT Garda Era Sedaya 267 28,125% 267.311.238
3 PT Sedaya Multi Investama 238 25,000% 237.609.990
Jumlah 950 100,00% 950.439.958
Sumber: Laporan Keuangan Audit 31 Desember 2025
Halaman 25 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 27
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen Akta No.46 tanggal 25 April 2025 oleh Notaris Wiwik
Condro, S.H, dan Laporan Keuangan Audited 31 Desember 2025, Susunan Dewan Komisaris,
Direksi, dan Komite Audit ASF per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Gidion Hasan
Komisaris Independen : Aridono Sukmanto
Komisaris Independen : Leonard W.S Siregar
Direksi
Presiden Direktur : Hendry Christian W
Direktur : Dharmawan Phie
Direktur : Tan Chian Hok
Direktur : Devy Santoso Jayadi
Direktur : Selly Mailania
Hubungan Pihak yang Bertransaksi
A. Transaksi Afiliasi
Sesuai dengan POJK 42/2020, transaksi afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi
yang dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau pengendali.
Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepengurusan
Hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana Transaksi, berdasarkan struktur
kepengurusan per 30 Juni 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 11. Hubungan Para Pihak Yang Terlibat Dalam Rencana Transaksi
No Nama Perseroan ASF Keterangan
Presiden
1 Djony Bunarto Tjondro (-) Tidak Afiliasi
Komisaris
Wakil Presiden Presiden
2 Rudy Terafiliasi
Komisaris Komisaris
3 Djoko Pranoto Santoso Komisaris (-) Tidak Afiliasi
4 Gita Tiffani Boer Komisaris (-) Tidak Afiliasi
5 Benjamin Herrenden Birks Komisaris (-) Tidak Afiliasi
Komisaris
6 Paulus Bambang Widjanarko (-) Tidak Afiliasi
Independen
Komisaris
7 Bruce Malcolm Cox (-) Tidak Afiliasi
Independen
Komisaris
8 Ignasius Jonan (-) Tidak Afiliasi
Independen
Halaman 26 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 28
No Nama Perseroan ASF Keterangan
Franciscus Xaverius Laksana
9 Presiden Direktur (-) Tidak Afiliasi
Kesuma
10 Loudy Irwanto Ellias Direktur (-) Tidak Afiliasi
11 Iwan Hadiantoro Direktur (-) Tidak Afiliasi
12 Idot Supriadi Direktur (-) Tidak Afiliasi
13 Widjaja Kartika Direktur (-) Tidak Afiliasi
14 Vilihati Surya Direktur (-) Tidak Afiliasi
15 Ari Sutrisno Direktur (-) Tidak Afiliasi
16 Hendra Hutahean Direktur (-) Tidak Afiliasi
17 Gidion Hasan (-) Komisaris Tidak Afiliasi
18 Aridono Sukmanto (-) Komisaris Tidak Afiliasi
19 Leonard W.S Siregar (-) Komisaris Tidak Afiliasi
20 Hendry Christian W (-) Presiden Direktur Tidak Afiliasi
21 Dharmawan Phie (-) Direktur Tidak Afiliasi
22 Tan Chian Hok (-) Direktur Tidak Afiliasi
23 Devy Santoso Jayadi (-) Direktur Tidak Afiliasi
24 Selly Meilania (-) Direktur Tidak Afiliasi
Keterangan: (-) Tidak memiliki hubungan afiliasi
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan & ASF Per 31 Desember 2025
Berdasarkan POJK 42/2020, transaksi Afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali. Dari tabel hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana
Transaksi, dapat dilihat bahwa antara Perseroan sebagai pihak Pemberi Pinjaman dan ASF
sebagai pihak Penerima Pinjaman memiliki hubungan afiliasi dari sisi susunan pengurus yaitu:
• Bapak Rudy selaku Wakil Presiden Komisaris Perseroan dan juga menjabat sebagai
Presiden Komisaris ASF.
Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan.
Hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana Transaksi, berdasarkan struktur
kepemilikan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
ASII
46,87 59,50%
ASF UNTR
Grafik 1. Bagan Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
Halaman 27 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 29
Keterangan:
UNTR : PT United Tractors Tbk atau Perseroan
ASII : PT Astra International, Tbk
ASF : PT Astra Sedaya Finance
Berdasarkan POJK 42/2020, transaksi afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan afiliasi dari
perusahaan terbuka atau afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali. Dari gambar bagan diatas dapat dilihat bahwa antara
Perseroan sebagai pihak Pemberi Pinjaman dan ASF sebagai pihak Penerima Pinjaman,
terdapat hubungan afiliasi, dari sisi pengendalian/kepemilikan perusahaan, maupun
pemegang sahamnya, dimana:
• Pemegang saham mayoritas Perseroan dimiliki oleh ASII sebesar 46,87%, sehingga
Perseroan merupakan entitas anak yang dikendalikan sepenuhnya oleh ASII.
• Pemegang saham mayoritas ASF dimiliki oleh ASII yaitu sebesar 46,87%, sehingga ASF
merupakan entitas anak yang dikendalikan sepenuhnya oleh ASII.
• Mengingat Perseroan dan ASF merupakan entitas anak yang dimiliki sepenuhnya oleh ASII,
maka Perseroan dan ASF tergolong sebagai pihak afiliasi secara tidak langsung melalui
kepemilikan ASII di Perseroan dan ASF.
Oleh karena itu, Rencana Transaksi ini memenuhi kriteria transaksi afiliasi menurut POJK
42/2020.
B. Transaksi Benturan Kepentingan
Menurut informasi manajemen yang mengacu pada Surat Pernyataan
No.LUT/101/9960/VI/2026 tanggal 04 Juni perihal Informasi atas Benturan Kepentingan
dalam Rangka Transaksi Afiliasi Perseroan dan ASF berupa rencana transaksi perubahan
sayarat dan ketentuan pemberian pinjaman, bahwa Rencana Transaksi tidak mengandung
transaksi benturan kepentingan.
C. Materialitas Nilai Rencana Transaksi
Materialitas nilai transaksi dilakukan dengan membandingkan nilai Rencana Transaksi dengan
ekuitas Perseroan periode 31 Desember 2025.
Tabel 12. Materialitas Rencana Nilai Transaksi
Nilai Transaksi Ekuitas Perseroan
Keterangan Materialitas (%)
(Rupiah) (Rupiah)
Rencana Transaksi 300.000.000.000 103.136.323.000.000 0,29%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, ekuitas Perseroan tercatat
sebesar Rp103.136.323.000.000, dengan mempertimbangkan nilai transaksi sebesar
Rp300.000.000.000, maka transaksi tersebut setara dengan 0,29% dari ekuitas Perseroan.
Oleh karena itu, transaksi dimaksud tidak termasuk sebagai transaksi material sebagaimana
yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor
Halaman 28 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 30
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK
17/2020”).
2.2.3 Analisis Perjanjian & Syarat Rencana Transaksi
Perjanjian Pinjaman Awal
Dalam Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF yang dilakukan pada 29 Juni 2018,
Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan transaksi pinjam meminjam dana dengan syarat
dan ketentuan yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Beberapa syarat dan ketentuan yang
diatur dalam Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF antara lain sebagai berikut:
• Jumlah fasilitas sebesar Rp200.000.000.000,- (Dua Ratus Miliar Rupiah);
• Periode ketersediaan hingga 1 (satu) tahun sejak tanda tangan Perjanjian;
• Tanggal pengakhiran Perjanjian adalah maksimal 4 (empat) tahun sejak Periode Ketersediaan;
• Setiap penarikan pinjaman beserta bunga dikembalikan dengan pembayaran angsuran
selama 12 (dua belas) kali angsuran per Pinjaman dengan jangka waktu 3 (tiga) bulanan;
• Suku bunga sebesar 5% (lima persen) per tahun dengan periode bunga 3 (tiga) bulanan;
• Peminjam wajib menyerahkan jaminan yang nilainya minimal setara dengan 50% (lima puluh
persen) dari besarnya Pinjaman yang telah digunakan dan terutang;
• Tujuan penggunaan pinjaman adalah untuk modal kerja Peminjam yang digunakan untuk
pembiayaan pembelian alat-alat berat dari customer Pemberi Pinjaman;
• Gearing Ratio tidak melebihi 10:1;
• Penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan yurisdiksi eksklusif
berdasarkan Hukum Indonesia.
Amandemen I
Selanjutnya pada 25 Juni 2019, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Akta Perubahan Atas Akta Perjanjian Pinjaman Nomor 123
yang dibuat di hadapan Notaris Jose Dima Satria, S.H., M.Kn. (Amandemen No. 01/UT-
ASF/VI/2019) telah dilakukan amandemen pertama terhadap Perjanjian Pinjaman antara
Perseroan dan ASF (“Amandemen I”). Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen I
antara lain sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2020;
• Jumlah fasilitas sebesar Rp300.000.000.000,- (Tiga Ratus Miliar Rupiah);
• Fasilitas bersifat tanpa komitmen dan berulang (revolving), di mana Peminjam dapat
meminjam kembali sebagian atau seluruh pinjaman yang telah dibayarkan selama Periode
Ketersediaan sepanjang jumlah pokok terutang tidak melampaui Rp300.000.000.000,-;
• Menghapus ketentuan mengenai jaminan.
Amandemen II
Selanjutnya pada 29 Juni 2020, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 02/UT-ASF/VI/2020 telah dilakukan
amandemen kedua terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen II”).
Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen II antara lain sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2021;
• Setiap penarikan pinjaman beserta bunga dikembalikan dengan pembayaran angsuran
selama maksimal 16 (enam belas) kali angsuran per Pinjaman dengan jangka waktu 3 (tiga)
bulanan.
Halaman 29 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 31
Amandemen III
Selanjutnya pada 02 Agustus 2021, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen
atas Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 03/UT-ASF/VI/2021 telah dilakukan
amandemen ketiga terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen III”).
Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen III antara lain sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2022;
• Suku bunga atas setiap Pinjaman untuk penarikan pertama dibagi menjadi dua Tranche, yaitu:
❖ Tranche A sebesar 5% (lima persen) efektif per tahun, berlaku untuk pembiayaan alat berat
jenis PC130, BW211, dan/atau kendaraan (truk dan/atau bus) atau unit lain yang
disepakati Para Pihak;
❖ Tranche B sebesar 6,5% (enam koma lima persen) efektif per tahun, berlaku untuk
pembiayaan alat berat jenis PC200-M1, PC210, Truck off road (CWE370 & P360-6x4 CB),
semua tipe Truck On Road, semua tipe bus, serta kendaraan atau unit lain yang disepakati
Para Pihak.
• Suku bunga untuk penarikan berikutnya dapat berubah mengikuti kondisi pasar uang,
diberitahukan terlebih dahulu oleh Pemberi Pinjaman, dan ditetapkan berdasarkan
kesepakatan tertulis Para Pihak.
Amandemen IV
Selanjutnya pada 30 Juni 2022, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 04/UT-ASF/VI/2022 telah dilakukan
amandemen keempat terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen
IV”). Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen IV adalah sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2023.
Amandemen V
Selanjutnya pada 27 Juni 2023, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 05/UT-ASF/VI/2023 telah dilakukan
amandemen kelima terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen V”).
Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen V adalah sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2024.
Amandemen VI
Selanjutnya pada 28 Juni 2024, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 06/UT-ASF/VI/2024 telah dilakukan
amandemen keenam terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen VI”).
Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen VI antara lain sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2025;
• Suku bunga atas setiap Pinjaman adalah maksimal sebesar 6,75% (enam koma tujuh lima
persen) per tahun. Pemberi Pinjaman atas diskresinya dapat menetapkan suku bunga lebih
rendah dengan nilai tidak kurang dari 5% (lima persen) per tahun, berdasarkan kebutuhan
pasar dan cost of fund, yang diberitahukan melalui surat pemberitahuan terpisah dan berlaku
hingga adanya pemberitahuan berikutnya.
Halaman 30 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 32
Amandemen VII
Selanjutnya pada 30 Juni 2025, Perseroan dan ASF sepakat untuk melakukan amandemen atas
Perjanjian Pinjaman. Berdasarkan Amandemen No. 07/UT-ASF/VI/2025 telah dilakukan
amandemen ketujuh terhadap Perjanjian Pinjaman antara Perseroan dan ASF (“Amandemen VII”).
Perubahan syarat dan ketentuan dalam Amandemen VII adalah sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2026.
Draft Amandemen VIII (Rencana Transaksi)
Rencana Transaksi merupakan amandemen kedelapan atas Perjanjian Pinjaman antara
Perseroan dan ASF. Berdasarkan Draft Amandemen No. 08/UT-ASF/VI/2026, rencana
perubahan syarat dan ketentuan dalam Draft Amandemen VIII adalah sebagai berikut:
• Periode ketersediaan hingga 30 Juni 2027.
2.2.4 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi
Analisis likuiditas atas Rencana Transaksi melihat dampak dan sumber pembiayaan Rencana
Transaksi terhadap rasio likuiditas perusahaan. Pada hal ini analisis likuidasi Rencana Transaksi
dapat dilihat dari rasio likuiditas yang dianalisis yang terdiri dari Current Ratio, Quick Ratio, dan
Cash Ratio sebelum dan setelah Rencana Transaksi.
Tabel 13. Rasio Likuiditas Sebelum dan Setelah adanya Transaksi
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,36X 1,35X 0,001X
Quick Ratio 1,04X 1,04X 0,001X
Cash Ratio 0,50X 0,50X 0,001X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Pada analisis current ratio atau rasio lancar, perubahan akibat Rencana Transaksi memberikan
dampak selisih penurunan sebesar 0,001 kali yang diakibatkan dari perpindahan jumlah uang
sebesar Rencana Transaksi pada pos kas dan setara kas ke pos piutang non usaha pihak berelasi.
Hal tersebut mengakibatkan turunnya jumlah aset lancar perusahaan akibat Rencana Transaksi
dan pada akhirnya menurunkan rasio lancar perusahaan.
Pada analisis likuiditas dilihat dari proksi quick ratio, diperoleh penurunan rasio sebesar 0,001
kali diakibatkan turunnya kas dan setara kas yang menjadi sumber pemberian pinjaman oleh
Perseroan ke ASF. Dengan begitu aset lancar Perseroan setelah Rencana Transaksi mengalami
penurunan dan pada sisi aset tidak lancar mengalami kenaikan, yang pada akhirnya menurunkan
rasio cepat Perseroan.
Analisis likuiditas dengan proksi cash ratio atas Rencana Transaksi memberikan dampak
penurunan rasio sebesar 0,001 kali. Hal tersebut diakibatkan dari penggunaan dana internal
pada kas dan setara kas sebagai sumber pemberian pinjaman ke ASF. Rencana Transaksi tersebut
berpengaruh terhadap penurunan rasio kas perusahaan meskipun dengan penurunan nilai rasio
yang tidak signifikan.
Halaman 31 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 33
2.2.5 Analisis Manfaat & Risiko Rencana Transaksi
Analisis Manfaat
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, manfaat yang diharapkan dari
pelaksanaan Rencana Transaksi adalah Perseroan akan memperoleh pendapatan bunga atas
fasilitas pinjaman yang diberikan kepada ASF. Selain itu, Rencana Transaksi juga diharapkan
dapat mendukung peningkatan penjualan alat berat Perseroan melalui dukungan pembiayaan
kepada konsumen, sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan usaha bagi Perseroan.
Analisis Risiko
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, risiko yang dapat timbul dari
pelaksanaan Rencana Transaksi antara lain adalah risiko tidak tercapainya target penjualan alat
berat Perseroan, sehingga manfaat ekonomi yang diharapkan dari Rencana Transaksi dapat
menjadi tidak optimal. Selain itu, terdapat pula risiko apabila terjadi gagal bayar dari konsumen
ASF yang dapat mempengaruhi kelancaran pembiayaan dan berdampak terhadap aktivitas usaha
yang terkait dengan Rencana Transaksi tersebut.
Halaman 32 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 34
BAB III
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ATAS RENCANA TRANSAKSI
3.1 Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi
3.1.1 Riwayat Singkat Perseroan
Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H.. Akta Pendirian
tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 31,
Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
Selain itu, Perseroan telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose
Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat penerimaan pemberitahuan
dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-
AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. Perseroan berkedudukan di
Jakarta, Indonesia.
Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan yang
didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah Jardine Cycle
& Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle & Carriage Ltd. adalah
anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Ruang lingkup kegiatan utama Perseroan dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
meliputi penjualan dan penyewaan alat berat (mesin konstruksi) beserta pelayanan purna jual;
kontraktor penambangan; pertambangan; industri konstruksi; dan energi.
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur, Indonesia, 13910
No. Telp / Fax : +62 21 2457 9999
Website : www.unitedtractors.com
Email :-
Halaman 33 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 35
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen Perseroan, susunan kepemilikan saham Perseroan per 31
Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 14. Struktur Pemegang Saham Perseroan
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Jumlah
Saham
1 PT Astra International Tbk 2.219.317.358 59,50% 554.829.339.500
Masyarakat (masing-masing
2 1.357.478.878 36,39% 338.353.000.000
kepemilikan dibawah 5%)
3 Jumlah Saham Beredar 3.576.796.236 95,89% 894.199.059.000
4 Saham Treasury 153.338.900 4,11% 39.352.000.000
Jumlah Saham Ditempatkan
5 3.730.135.136 100,00% 932.533.784.000
dan Disetor Penuh
Keterangan: Nilai nominal Rp.250 per lembar saham
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
*Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak
mengalami perubahan, namun terdapat perubahan pada masyarakat dan saham treasuri sebagaimana
tercantum dalam bagian 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09- 0238092, Susunan Dewan
Komisaris, Direksi, dan Komite Audit Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Djony Bunarto Tjondro
Wakil Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Benjamin Herrenden Birks
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Direksi
Presiden Direktur : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
Direktur : Loudy Irwanto Ellias
Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Hendra Hutahean
Komite Audit
Ketua : Ignasius Jonan
Halaman 34 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 36
Anggota : Wanny Wijaya
Anggota : Mario C. Surung Gultom
*Pada tanggal laporan pendapat kewajaran ini dikeluarkan, susunan pemegang saham Perseroan tidak
mengalami perubahan, namun terdapat perubahan pada masyarakat dan saham treasuri sebagaimana
tercantum dalam bagian 1.17 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Events).
3.1.2 Analisis Industri & Bisnis
Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Indonesia tahun 2025 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas
dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau
USD 5.083,4. Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen, lebih tinggi
dibandingkan capaian tahun 2024 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,03 persen (c-to-c).
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,93
persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami
pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03 persen. Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 terhadap
triwulan IV-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,39 persen (y-on-y). Dari sisi produksi,
Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98
persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)
mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,12 persen.
8
6 5,31 5,05 5,03 5,11
3,7
4
2
0
2021 2022 2023 2024 2025
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%)
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 – 2025 (% yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah.
Pertambangan merupakan salah satu sektor unggulan perekonomian Indonesia. Pada tahun
2024, kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 7,39%
atau sebesar Rp955 triliun, meningkat 4,9% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Namun
demikian, pada tahun 2025 sektor ini mengalami sedikit penurunan sebesar -0,66% (yoy) menjadi
Rp949 triliun, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 3,72% selama periode
2021–2025. Berdasarkan subsektornya, pada tahun 2025 pertambangan batubara dan lignit
berkontribusi sebesar Rp328 triliun, diikuti pertambangan minyak dan gas bumi sebesar Rp251
triliun, pertambangan bijih logam sebesar Rp166 triliun, serta pertambangan dan penggalian
lainnya sebesar Rp204 triliun. Penurunan kinerja sektor pertambangan dan penggalian terjadi di
hampir seluruh subsektor, dengan penurunan terbesar pada pertambangan bijih logam yang
turun -7,92% (yoy). Penurunan ini dipicu oleh gangguan produksi tembaga dan emas serta
pelemahan harga nikel global.
Halaman 35 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 37
1200,0 07%
06%
06%
PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian
1000,0
05%
04% 05%
04%
800,0
(Triliun Rupiah) 04%
600,0 03%
02%
400,0
01%
200,0
-0,66% 00%
- -01%
2021 2022 2023 2024 2025
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Pertambangan Batubara dan Lignit
Pertambangan Biji Logam, Pertambangan dan Penggalian Lainnya
Pertumbuhan Sektor Pertambangan dan Penggalian
Grafik 3. Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun 2021 –2025
Sumber: Bank Indonesia 2025, diolah.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan proyeksi PDB harga konstan Indonesia yang dipublikasikan oleh International
Monetary Fund (IMF), prakiraan rata-rata pertumbuhan GDP Indonesia berdasarkan lapangan
usaha selama periode 2025 sampai dengan 2030 adalah 5,01% dengan proyeksi pertumbuhan
di tahun 2030 mencapai 5,14%. Proyeksi di tahun 2025 mencapai Rp23.694 Triliun, sedangkan
perkiraan GDP tahun 2030 diperkirakan mencapai Rp34.386 Triliun.
40.000 8,00
34.386
31.903
29.607 7,00
30.000 27.517
25.573
GDP (Triliun Rupiah)
23.694
22.139 6,00
20.892
20.000
(%)
5,00
5,05 5,03 5,11 5,14
4,86 4,94 4,96 4,96
10.000
4,00
- 3,00
2023 2024 2025 F 2026 F 2027 F 2028 F 2029 F 2030 F
GDP (Triliun) Pertumbuhan Ekonomi (%)
Grafik 4. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2030 (yoy %)
Sumber: International Monetary Fund (IMF), Oktober 2025
Perkembangan inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%, dengan Inflasi
IHK Desember 2025 sebesar 2,92% (yoy). Inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,38% (yoy),
sejalan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas. Inflasi y-on-y terjadi karena
adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok
pengeluaran. Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen
Halaman 36 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 38
sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada Desember 2025 sebesar 2,92%. Tingkat inflasi
y-on-y komponen inti pada Desember 2025 sebesar 2,38%; dengan inflasi m-to-m sebesar
0,20%; dan inflasi y-to-d sebesar 2,38%. Realisasi Inflasi 2025 menunjukkan angka yang lebih
tinggi dibandingkan dengan prediksi IMF bulan April 2025 sebesar 1,68% serta masih berada
dalam target inflasi Bank Indonesia yang menandakan bahwa kondisi perekonomian masih
bergerak stabil.
3,50%
2,92%
3,00% 2,51% 2,50% 2,52% 2,52%
2,50% 2,19%
2,00%
Inflasi
1,57%
1,50%
1,00%
0,50%
0,00%
2024E 2025E 2026F 2027F 2028F 2029F 2030F
Proyeksi Inflasi
Grafik 5. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)
Sumber: International Monetary Fund (IMF) April 2025, diolah
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
Perkembangan nilai tukar rupiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan
melemah terhadap dolar AS, seiring dengan penguatan dolar secara global. Namun, terhadap
mata uang negara berkembang pelemahan rupiah relatif lebih moderat, sementara terhadap
mata uang negara maju selain AS rupiah cenderung lebih stabil bahkan mengalami apresiasi.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan
dolar AS dibandingkan pelemahan terhadap sebagian besar mata uang lainnya. Kurs jual
USD/IDR pada 31 Desember tercatat Rp16.865,91/USD; sedangkan China Yuan sebesar
Rp2.412,86/CNY dan terhadap Dollar Singapura sebesar Rp13.134,42/SGD.
Grafik 6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Tahun 2025
Sumber: Bank Indonesia, 2025
Halaman 37 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 39
Suku Bunga
Pada Bulan Desember 2025, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate
sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility
sebesar 5,50%. Keputusan ini diambil sejalan dengan fokus kebijakan jangka pendek pada
stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak
meningkatnya ketidakpastian global, dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran
kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Hal ini juga akan
berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman yang ditetapkan oleh perbankan. Pada
periode Desember 2025, tingkat suku bunga pinjaman Perseroan untuk modal kerja dan investasi
tercatat turun (mtm) di level 8,12%; 8,44% sedangkan suku bunga konsumsi sedikit mengalami
kenaikan menjadi 8,97%
Tabel 15. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
Bank Persero 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,77 8,34 8,29 8,93 8,67 8,12
Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,87 8,49 8,72 9,41 9,21 8,44
Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,56 10,14 9,65 9,27 9,09 8,97
Sumber: Bank Indonesia Desember 2025, diolah
Gambaran Perkembangan Industri Pertambangan
Cadangan Mineral dan Batubara di Indonesia
Saat ini setidaknya terdapat 29 jenis komoditas sumber daya dan cadangan mineral logam yang
tersebar di 2.809 lokasi di Indonesia. Komoditas dengan cadangan tersebar berupa timah yaitu
dengan total cadangan sebesar 6.431 juta ton bijih dan 1,44 juta ton logam. Komoditas dengan
cadangan terbesar selanjutnya adalah nikel yaitu sebesar 5.914 juta ton bijih dan 62 juta ton
logam. Emas primer menjadi komoditas dengan cadangan ketiga terbesar ketiga yaitu mencapai
3.461 juta ton bijih & 3,44 ribu ton logam.
7.000 6.431
5.914
6.000
5.000
4.000 3.461
3.215
2.865 2.858
3.000
1.967
2.000
1.209 1.049
1.000 61 552,3 648
437,1
208,2 136 62,0 224,1 114 21,3
0,0002 0,0034 0,8 0,0 1,4
58,8 2,8
-
Emas Emas Bauksit Besi LateritBesi Primer Kobal Mangan Nikel Pasir Besi Perak Seng Tembaga Timah
Aluvial Primer
Cadangan Bijih (Juta Ton) Cadangan Logam (Juta Ton)
Grafik 7. Cadangan Mineral Indonesia Tahun 2024 (Juta Ton)
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Indonesia, sebagai salah satu produsen batubara terbesar di dunia pada tahun 2024, mampu
memproduksi sebanyak 836 juta ton batubara. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang
sekitar 4.714 TWh energi, atau setara dengan 9,31% dari total energi global yang berasal dari
Halaman 38 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 40
batubara, yaitu sekitar 58.618 TWh. Cadangan batubara Indonesia saat ini mencapa 97.960 juta
ton yang terdiri dari 69% atau 67.333 juta ton batubara kalori rendah; 16% atau 15.526 juta ton
kalori sedang dan 15% atau 15.101 juta ton kalori tinggi. Total cadangan tersebut tesebar di 23
provinsi dan 1.660 titik.
Cadangan Batu bara Tahun 2025 30.000
25.000
20.000
12.915
15.000
10.000
5.000 11.144
2.902 1.720
- 1.638 1.636
Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi
Terkira (Juta Ton) Terbukti (Juta Ton)
Grafik 8. Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024 (juta Ton)
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Produksi batu bara Indonesia tahun 2024 naik 7,9% (yoy) dari 775 juta ton pada 2023 menjadi
836,12 juta ton pada tahun 2024. Produksi emas dan perak dalam negeri juga mengalami
kenaikan yaitu sebesar 80,9% (yoy) dari 14,24 juta ton pada 2023 menjadi 25,75 juta ton pada
tahun 2024. Produksi nikel naik 39% (yoy) dari 126,72 ribu ton pada 2023 menjadi 176,08 ribu
ton padatahun 2024. Timah menjadi komoditas yang mengalami trend berbeda yaitu penurunan
sebesar 61% (yoy) dari 50,67 ribu ton menjadi 19,44 ribu ton pada tahun 2024. Kebutuhan
sumber bahan bakar PLN saat ini didominasi batu bara yaitu sekitar 71,72 juta ton pada tahun
2024. Batu bara mampu menghasilkan sekitar 66% dari total listrik yang dihasilkan oleh PLN
pada tahun 2024, sedangkan sisanya sebesar 44% terpenuhi dari bahan bakar BBM, gas alam,
panas bumi, air dan sumber energi lainnya.
836,13
Batubara (juta ton)
775,00
176,08
Nikel (ribu ton)
126,72
19,44
Timah (ribu ton)
50,67
25,75
Emas dan Perak (juta ton)
14,24
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 900,00
2024 2023
Grafik 9. Produksi Mineral dan Batubara tahun 2023 – 2024
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Pada tahun 2024 produksi batubara di Indonesia mencapai 836,13 juta ton dimana 232,64 juta
ton diantaranya digunakan untuk pemenuhan kepentingan dalam negeri. Capaian produksi
batubara tersebut terpenuhi darti sekitar 934 IUP/IUPPK/KK/IPR batubara. Sedangkan produksi
Halaman 39 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 41
emas sebesar 25,745 juta ton, perak 26,024 juta ton dan hasil tambang mineral lainnya dipenuhi
dari sekitar 934 IUP/IUPPK/KK/IPR tambang mineral. Dari 934 IUP/IUPPK/KK/IPR tersebut hanya
sekitar 635 yang melengkapi dengan data cadangan kandungan mineral.
1200
938 934
Jumlah Izin
800 635
400
0
Batubara Mineral
IUP/IUPPK/KK/IPR IUP/IUPK/KK/IPR dengan Data
Grafik 10. Perkembangan Jumlah IUP/IUPPK/KK/IPR Tahun 2024
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Kewajiban reklamasi pascatambang merujuk pada tanggung jawab perusahaan pertambangan
usai melakukan kegiatan pertambangan. Pada tahun 2023, kegiatan reklamasi mencapai
7.920,77 hektar melebihi target yang sudah ditetapkan seluas 7.075 Hektar. Sedangkan capaian
reklamasi pada tahun 2024 mencapai 26.538 hektare atau naik 2,35 kali lipat dibandingkan
dengan capaian reklamasi tahun sebelumnya.
26.538
27.000
22.000
17.000
11.084
12.000 9.694 9.344
7.921
7.000
7.000 7.025 7.050 7.075 7.100
2.000
2020 2021 2022 2023 2024
Capaian reklamasi Target
Grafik 11. Perkembangan Reklamasi Pertambangan di Indonesia
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Perkembangan Harga Acuan Mineral dan Batubara
Emas menjadi mineral dengan pertumbuhan harga acuan tertinggi, meningkat dari USD
2.522/troy ons pada Desember 2024 menjadi USD 4.080/troy ons pada Desember 2025 atau
naik sekitar 61,8% (yoy). Perak sebagai mineral ikutan juga mengalami kenaikan signifikan dari
USD 29/troy ons menjadi USD 51/troy ons pada periode yang sama, atau meningkat sekitar
75,9% (yoy). Di sisi lain, nikel menunjukkan tren pelemahan dari USD 16.175/dmt pada
Desember 2024 menjadi USD 14.667/dmt pada Desember 2025, atau turun sekitar 9,3% (yoy).
Tembaga justru mengalami peningkatan dari USD 9.280/dmt menjadi USD 10.775/dmt, atau
naik sekitar 16,1% (yoy). Sementara itu, batubara mengalami koreksi harga yang cukup dalam
dari USD 123/ton menjadi USD 98/ton, atau turun sekitar 20,3% (yoy) pada Desember 2025.
Halaman 40 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 42
Grafik 12. Perkembangan Harga Mineral dan Batubara Acuan Indonesia
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Perkembangan Ekspor Hasil Tambang Mineral
Ekspor hasil tambang emas dan nikel menjadi komoditas dengan nilai ekspor paling berfluksuasi
jika dibandingkan dengantembaga dan perak. Nilai ekspor nikel pada tahun 2024 mencapai
USD 3.177 juta. Pada periode Januari – Agustus 2025 terjadi pelemahan nilai ekspor timah
sebesar 24,3% (yoy) dari USD 2.048 juta menjadi USD1.551 juta. Ekspor emas pada tahun 2024
mencapai USD 1.062, sedangkan produksi pada periode Januari – Agustus 2025 mengalami
kenaikan 1108% (yoy) dibandingkan periode tahun sebelumnya yaitu dari USD 655 juta menjadi
USD 1.365 juta. Ekspor komoditas Tembaga pada tahun 2024 mencapai USD 250 juta. Periode
Januari - Agustus 2025 mengalami kenaikan 30% (yoy) dari USD 163,5 juta menjadi USD 212
juta. Ekspor komoditas perak pada tahun 2024 mencapai USD 104 juta dengan periode Januari
– Agustus 2025 mengalami kenaikan 37,9% (yoy) dari USD 64,2 juta menjadi USD 89 juta.
6.000 5.542
5.000
4.096
4.000
Juta USD
3.177
3.000
2.048
2.000
1.062 1.551
848 1.365
764 655
1.000
250
198 163,5 212
- … 104 64,2 89
2020 2021 2022 2023 2024 Jan-gus Jan - Agus
2024 2025
Nikel Emas Tembaga Perak
Grafik 13. Perkembangan Ekspor Mineral Tahun 2020 – 2025
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Batu bara sebagai komoditas unggulan Indonesia pada tahun 2024 mampu mencatatkan nilai
ekspor sebesar USD 30.490 juta atau turun 11,85% (yoy). Penurunan ini diakibatkan karena
penurunan harga acuan batubara dari 305,21 USD/ton pada januari 2023 menjadi 122,51
USD/ton pada Desember 2024. Tren Penurunan nilai ekspor batubara juga berlanjut sampai
Halaman 41 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 43
dengan periode Januari – Agustus 2025 dimana ekspor turun 21% (yoy) dari USD 20.132 juta
menjadi USD 15.906 juta. Penurunan ini masih dipengaruhi oleh tren penuruhan harga acuan
batubara dari USD 131,17/ton pada Oktober 2024 menjadi 100,69/ton pada Agustus 2025.
100000,0
90000,0
80000,0
70000,0 46.765
60000,0
Juta USD
50000,0 34.592
30.490
40000,0 26.533
30000,0 20.132
14.534 15.906
20000,0
10000,0
-
2020 2021 2022 2023 2024 Jan - Jan -
Agus 2024Agus 2025
Batubara Batubara Kadar Menegah Batubara Kadar Tinggi Total Ekspor Batubara
Grafik 14. Nilai Ekspor Batubara Indonesia Tahun 2020 – Agustus 2025
Sumber: BPS, 2025
Nilai Impor Mesin dan Alat Berat
Perkembangan impor mesin dan alat berat di Indonesia setelah sempat mengalami kenaikan
yang cukup signifikan pada tahun 2024 cenderung mengalami penurunan sampai dengan Juli
2025. Nilai impor mesin dan alat berat pertambangan turun 6% (yoy) pada tahun 2024 dari USD
2.039 juta menjadi USD 1.923 juta. Tren ini berlanjut sampai dengan Juli 2024 dengan total nilai
impor mencapai USD 1.459 juta. Pada tahun 2023, pertambangan menjadi sektor dengan
market size impor terbesar mencapai 47% dari total mesin dan alat berat yang diimpor di
Indonesia, diikuti sengan sektor konstruksi sebesar 26%; sektor perkebunan sebesar 14% dan
kehutanan sebesar 13%. Penurunan ini menujukkan adanya perlambatan jumlah permintaan
mesin dan peralatan pertambangan yang digunakan untuk ekspansi sektor pertambangan baik
dalam proses penambangan maupun reklamasi lokasi tambang.
3.000 2.660 1
1
2.500
2.039 1
1.923
2.000 1.635 63% 1
Juta USD
1.459
1.500 0
0
1.000
-
-6%
500
-23% (0)
- (0)
2021 2022 2023 2024 Juli 2025
Impor Growth
Grafik 15. Nilai Impor Mesin dan Alat Berat Pertambangan
Sumber: BPS, 2025
Halaman 42 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 44
Perkembangan Pasar Global
Perkembangan harga acuan komoditas global berfluktuasi untuk masing-masing jenis komoditas.
Tiga dari empat komoditas mengalami kenaikan harga acuan dalam kurun waktu satu tahun
terakhir, komoditas tersebut adalah tembaga, emas, dan perak. Sedangkan untuk batubara
mengalami penurunan. Harga acuan Emas (LBMA) berada pada harga USD 4.026/onz atau naik
51,71% (yoy) pada 10 Oktober 2025. Harga acuan perak juga mengalami kenaikan sebesar
59,22% (yoy) dari USD 31,88/onz menjadi USD 50,76/onz pada 10 Oktober 2025. Tembaga
mengalami kenaikan 7,25% (yoy) dari USD 9.778/ton menjadi USD 10.487/ton pada 10 Oktober
2025. Harga acuan batubara tidak sejalan dengan harga komoditas lain yang mengalami
penurunan cukup tajam yaitu sebesar 29,63% (yoy) dari USD 148,50/ton menjadi USD
104,50/ton pada 10 Oktober 2025.
Grafik 16. Perkembangan Harga Acuan Emas, Perak, Tembaga dan Batubara Global
Sumber: S&P Capital IQ, 2025
Permintaan emas global dalam lima tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan dengan
CAGR 2020 – 2024 mencapai 5,87%. Pada tahun 2024 permintaan emas global mengalami
kenaikan sebesar 2,2% yaitu dari 4.524 ton di tahun 2023 menjadi 4.624 ton pada tahun 2024.
Kebutuhan emas didominasi untuk kebutuhan perhiasan sebesar 43,8% atau 2.026,8 ton; 7,1%
atau 326,2 ton untuk kebutuhan teknologi; 25,6% atau 1.181,9 ton untuk kebutuhan investasi;
dan 23,6% atau 1.089 ton untuk kebutuhan bank sentral. Kebutuhan batubara negara maju
diseluruh dunia cenderung mengalami fluktuasi. Setelah sempat mengalami kenaikan kebutuhan
yang tinggi mencapai 1.036,4 juta ton pada tahun 2021, pada tahun 2024 permintaan batubara
negara maju mengalami penurunan -5,5% (yoy) menjadi 832,7 juta ton. Batubara masih menjadi
sumber energi listrik utama global dimana pada tahun 2025, produksi energi listrik yang
dihasilkan dari batubara meencapai 50.618 Twh.
Halaman 43 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 45
5.000 4.729 4.624
4.524
4.046
4.000 3.681
3.000
2.000
946,3 1.036,4 1.000,4 880,9 832,7
1.000
-
2020 2021 2022 2023 2024
Emas (ton) Batubara (juta ton)
Grafik 17. Perkembangan Permintaan Emas dan Batubara Tahun 2020 - 2024
Sumber: KJPP FDI, diolah
Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) merupakan salah satu pilar utama sistem
keuangan Indonesia yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan konsumsi
masyarakat, khususnya melalui pembiayaan kendaraan bermotor. Berdasarkan data OJK, total
piutang pembiayaan industri multifinance secara nasional terus mencatat pertumbuhan positif
meskipundengan laju yang melambat. Pada tahun 2025, total piutang pembiayaan mencapai
Rp534,58 triliun atau tumbuh sebesar 6,55% (yoy) dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp501,72
triliun. Pertumbuhan ini melanjutkan tren perlambatan yang dimulai sejak tahun 2023, dimana
pertumbuhan piutang turun dari 14,17% (yoy) pada 2022 menjadi 13,11% pada 2023 dan
selanjutnya 6,66% pada 2024. Perlambatan ini mencerminkan normalisasi permintaan pasca
pemulihan ekonomi serta tekanan daya beli konsumen akibat suku bunga yang masih relatif
tinggi.
Dari sisi struktur portofolio, pembiayaan kendaraan bermotor konsisten menjadi segmen terbesar
industri dengan kontribusi antara 63% hingga 66% dari total piutang selama periode 2022 –
2025. Kontribusi segmen kendaraan bermotor segmen kendaraan bermotor tercatat sebesar 63%
pada tahun 2025, sedikit menurun dibandingkan puncaknya 66% pada tahun 2024. Segmen
pembiayaan multiguna memberikan kontribusi yang relatif stabil di kisaran 50%–52% sepanjang
periode yang sama. Jumlah perusahaan pembiayaan yang aktif mengalami konsolidasi dari 153
entitas pada tahun 2022 menjadi 143 entitas pada tahun 2024, sebelum sedikit meningkat
kembali menjadi 145 entitas pada tahun 2025, mencerminkan proses konsolidasi industri yang
terus berlangsung di tengah ketatnya regulasi OJK.
Tabel 16. Perkembangan Kinerja Sektor Pembiayaan di Indonesia Tahun 2022-2025
Indikator Industri Pembiayaan 2022 2023 2024 2025
Total Piutang Pembiayaan (Triliun Rp) 415,86 470,39 501,72 534,58
Pertumbuhan Piutang (% yoy) 14,17% 13,11% 6,66% 6,55%
Jumlah Perusahaan Pembiayaan (entitas) 153 147 143 145
Pembiayaan Kendaraan Bermotor (% total) 63% 65% 66% 63%
Pembiayaan Multiguna (% total) 52% 52% 50% 50%
Sumber: OJK, 2025
Berdasarkan data OJK Desember 2025, Profil risiko perusahaan pembiayaan terjaga dengan
rasio Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,51% dan NPF net sebesar 0,77%. Gearing
ratio perusahaan pembiayaan masih berada pada level yang memadai dan tercatat sebesar 2,18
kali; jauh di bawah batas maksimum 10 kali. Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding
Halaman 44 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 46
pembiayaan tumbuh 25,44% yoy dengan nominal Rp96,62 triliun dan tingkat risiko kredit macet
secara agregat (Tingkat Wanprestasi 90 hari /TWP90) pada level 4,32%.
Kesimpulan Industri Pertambangan dan Industri Alat Berat
Batu bara saat ini masih menjadi salah satu sumber energi utama global. Walaupun kedepan
penggunaan sumber energi terbarukan atau transisi energi menjadi tujuan utama seluruh negara
dunia, tingginya akan penggunaan dan ketergantungan batu bara masih akan berdampak
kepada demand batu bara global yang masih akan tinggi walaupun perlahan cenderung
melemah. Sektor pertambangan lain seperti perak, tembaga, emas, dan nikel cenderung
mengalami kenaikan permintaan. Kenaikan ini akan berdampak pada ekspansi industri di sektor
pertambangan. Prospek industri Perseroan ke depan menghadapi tantangan akibat penurunan
harga dan ekspor batu bara, namun outlook jangka panjang tetap solid berkat diversifikasi ke
sektor logam bernilai tinggi yang produksinya meningkat dan harganya naik signifikan. Kenaikan
harga emas dan perak memperkuat potensi pendapatan lini tambang Perseroan, sementara
sektor alat berat masih mendapat dukungan dari proyek konstruksi dan infrastruktur domestik.
Dengan strategi diversifikasi dan pergeseran fokus dari batu bara ke mineral strategis, Perseroan
berpeluang tetap kuat dan adaptif menghadapi perubahan tren energi dan dinamika pasar
global.
Sedangkan Industri pembiayaan (multifinance) Indonesia mencatat pertumbuhan berkelanjutan
namun melambat sepanjang 2022–2025, dengan total piutang pembiayaan mencapai Rp534,58
triliun pada 2025 dan laju pertumbuhan yang menyusut dari 14,17% menjadi 6,55% (yoy),
mencerminkan normalisasi permintaan pasca-pemulihan ekonomi serta tekanan daya beli akibat
suku bunga yang relatif tinggi. Struktur portofolio masih didominasi segmen kendaraan bermotor
(63%–66%) dan multiguna (50%–52%), sementara jumlah perusahaan aktif terkonsolidasi dari
153 menjadi 145 entitas akibat ketatnya regulasi OJK. Profil risiko industri tetap terjaga dengan
NPF gross 2,51%, gearing ratio 2,18 kali; dan segmen Pinjaman daring tumbuh agresif 25,44%
yoy meski dengan TWP90 sebesar 4,32% yang memerlukan perhatian dalam pengelolaan risiko
ke depan.
3.1.3 Analisis Operasional & Prospek Perusahaan
Analisa Operasional
Segmen operasi perusahaan terbagi menjadi empat segmen usaha utama yaitu: Mesin Konstruksi,
Kontraktor Penambangan, Pertambangan, dan Segmen Lainnya. Analisis dan kinerja operasional
dari masing-masing segmen usaha disajikan sebagai berikut:
Mesin Konstruksi
Segmen usaha mesin konstruksi dijalankan oleh perusahaan induk yaitu Perseroan serta anak
usahanya yaitu PT Bina Pertiwi dan UT Heavy Industry (S) Pte Ltd. PT United Tractors Pandu
Engineering (UTPE), dan PT Triatra Sinergia Pratama (TRIATRA). Segmen usaha ini berfokus pada
penjualan alat berat dan kendaraan transportasi untuk berbagai sektor, seperti pertambangan,
perkebunan, konstruksi, kehutanan, material handling, dan transportasi.
Tabel 17. Mesin Konstruksi
Mesin Konstruksi 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan Alat Berat Komatsu (Unit) 1.564 3.088 5.753 5270 4420 4515
Halaman 45 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 47
Mesin Konstruksi 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan UD Trucks (Unit) 224 375 429 272 234 155
Penjualan Scania (Unit) 217 545 233 715 436 466
Penjualan Suku Cadang dan Jasa Pemeliharaan
6 8 10 12 12 11
(triliun Rupiah)
Pendapatan Bersih Mesin Konstruksi
13 23 36 37 37 37
(triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Segmen usaha Mesin Konstruksi pada tahun 2025 mencatat peningkatan pada penjualan alat
berat Komatsu sebesar 2% menjadi 4.515 unit dibanding pada tahun sebelumnya pada tahun
2024. Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor kehutanan dan
perkebunan yang mana membuat Komatsu memiliki pangsa pasar sebesar 20% dan tetap
mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.
Di sisi lain, penjualan Scania mengalami peningkatan dari 436 unit menjadi 466 unit, sementara
penjualan UD Trucks menurun cukup signifikan dari 234 unit menjadi 155 unit. Penurunan juga
tercatat pada pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat yang
turun sebesar 3% menjadi Rp11 triliun. Secara keseluruhan, total pendapatan bersih dari segmen
Mesin Konstruksi mengalami penurunan sebesar 2% menjadi Rp37 triliun, yang menunjukkan
bahwa peningkatan penjualan unit alat berat belum sepenuhnya mampu mengimbangi
penurunan pada pendapatan layanan dan komponen pendukung lainnya.
Kontraktor Penambangan
Layanan yang tercakup pada segmen usaha kontraktor penambangan adalah diantaranya:
desain dan implementasi pertambangan, penilaian dan studi kelayakan, pembangunan
infrastruktur dan fasilitas tambang, pemindahan tanah, pengelolaan limbah, eksplorasi,
pengangkutan, serta jasa terkait kontraktor penambangan lain.
Tabel 18. Kontraktor Penambangan
Kontraktor Penambangan 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Produksi Batu Bara (juta ton) 115 116 116 129 148 148
Volume Pemindahan Tanah (juta bcm) 825 852 954 1.158 1.217 1.100
Pendapatan Bersih Kontraktor Penambangan
29 33 47 54 58 54
(triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Segmen usaha Kontraktor Penambangan dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA)
beserta anak perusahaannya, PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). Kedua entitas yang
tergabung dalam PAMA Grup ini menyediakan layanan jasa pertambangan bagi pemegang
konsesi tambang, terutama dalam kegiatan pemindahan lapisan tanah penutup (overburden
removal) serta produksi batu bara dan mineral lainnya.
Pada tahun 2024, segmen kontraktor penambangan mencatatkan kinerja yang positif. PAMA
Grup membukukan peningkatan produksi batu bara sebesar 15% atau sekitar 19 juta ton
dibandingkan tahun 2023. Selain itu, volume pekerjaan pemindahan tanah juga meningkat
sebesar 5% atau sekitar 59 juta bcm dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan
peningkatan aktivitas operasional tersebut, pendapatan bersih dari segmen kontraktor
penambangan pada tahun 2024 juga mengalami kenaikan sebesar 8% atau sekitar Rp4 triliun
dibandingkan tahun 2023.
Halaman 46 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 48
Namun demikian, hingga triwulan IV tahun 2025, PAMA Grup mencatatkan penurunan volume
pekerjaan pemindahan tanah sebesar 10% menjadi 1.100 juta bcm. Sementara itu, volume
produksi batu bara untuk para klien tercatat relatif stabil pada level 148 juta ton dengan rata-rata
stripping ratio sebesar 7,4 kali. Penurunan volume pemindahan tanah ini terutama dipengaruhi
oleh tingginya curah hujan serta penurunan stripping ratio pada beberapa kontrak klien. Sejalan
dengan perkembangan tersebut, total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor Penambangan
tercatat menurun sebesar 7% menjadi Rp54 triliun.
Pertambangan
Grup perusahaan menjalankan usaha pertambangan pada dua lini bisnis, yaitu: batu bara termal
dan metalurgi serta emas dan mineral Lainnya. Grup perusahaan menjalankan lini bisnis
pertambangan batu bara lewat perusahaan induk lini bisnis batu bara yaitu PT Tuah Turangga
Agung. Pada segmen usaha pertambangan emas dan mineral lainnya, PT Agincourt Resources,
PT Sumbawa Jutaraya, dan PT Stargate Pacific Resources menjadi entitas yang menjalankan lini
bisnis ini.
Tabel 19. Kinerja Operasional Batu Bara dan Metalurgi
Batu Bara Termal dan Metalurgi 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Volume Penjualan Batu Bara (juta ton) 9 9 10 12 13 14
Jumlah Pendapatan Bersih Pertambangan Batu
9 14 31 30 26 24
Bara (triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Pada lini bisnis pertambangan batu bara, grup perusahaan pada 2024 mencatat volume
penjualan yang meningkat sebesar 11% atau sebesar 13 juta ton dibandingkan tahun 2023.
Meski begitu, jumlah pendapatan bersih pertambangan batu bara grup perusahaan pada 2024
tercatat sebesar 26 triliun Rupiah atau turun sebesar 15% dari pendapatan bersih tahun 2023
sebesar 31 triliun Rupiah. Penurunan pendapatan bersih tersebut didorong oleh penurunan harga
batu bara global sejak awal tahun 2024 sehingga meskipun volume penjualan dicatatkan
meningkat, Nilai penjualan bersih grup perusahaan mengalami penurunan.
Memasuki tahun 2025, perseroan mencatatkan peningkatan volume penjualan batu bara menjadi
14 juta ton. Meskipun demikian, pendapatan dari segmen usaha pertambangan batu bara
tercatat turun sebesar 7% menjadi Rp24 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya rata-rata
harga jual batu bara di pasar, yang terus menekan nilai pendapatan meskipun volume penjualan
mengalami peningkatan.
Tabel 20. Kinerja Emas dan Mineral Lainnya
Emas dan Mineral Lainnya 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan Setara Emas (ribu ons) 320 330 286 175 232 277
Jumlah Pendapatan (triliun Rupiah) Bersih
7 8 8 5 10 14
Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Pada lini bisnis pertambangan emas dan mineral lainnya, grup perusahaan pada 2024
mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 32% atau sebesar 57 ribu ons dibanding tahun
2023. Dari sisi pendapatan bersih, grup perusahaan pada 2024 mencatatkan total pendapatan
bersih pertambangan emas dan mineral lainnya sebesar 10 triliun Rupiah atau kenaikan sebesar
Halaman 47 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 49
90% dibanding tahun 2023. Pada tahun 2025 tercatatat peningkatan pendapatan sebesar 41%
menjadi Rp14 triliun, terutama disebabkan oleh peningkatan harga emas.
Segmen Lainnya
Segmen usaha lainnya terdiri dari usaha konstruksi dan energi. Segmen ini dijalankan oleh PT
Acset Indonusa Tbk dan EPN dimana EPN berjalan sebagai perusahaan induk dalam
pengembangan energi baru terbarukan dan ramah lingkungan. EPN sebagai anak usaha UNTR
mendirikan perusahaan patungan ASF untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah di
Jawa Barat.
Prospek Perusahaan
Prospek industri pertambangan dan alat berat Indonesia saat ini ditopang oleh fundamental yang
kuat dari sisi cadangan sumber daya alam dan tren produksi nasional yang terus meningkat.
Indonesia memiliki 29 jenis komoditas mineral logam yang tersebar di 2.809 lokasi, dengan
cadangan terbesar berasal dari timah 6.431 juta ton bijih, nikel 5.914 juta ton bijih, dan emas
3.461 juta ton bijih. Produksi nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif, di mana pada
tahun 2024 produksi batubara naik 7,9% menjadi 836 juta ton, nikel meningkat 39%, serta emas
dan perak melonjak hingga 80,9% (yoy). Meskipun harga batubara terkoreksi hingga 29,6% (yoy),
harga emas, perak, dan tembaga justru meningkat tajam masing-masing sebesar 51,7%, 59,2%,
dan 7,2%. Pergeseran tren ini menandakan potensi pertumbuhan yang lebih besar pada sektor
logam bernilai tinggi dan mineral strategis, sejalan dengan kebijakan hilirisasi dan peningkatan
nilai tambah industri nasional. Peningkatan ekspor mineral seperti emas, perak, dan tembaga
juga menunjukkan kuatnya permintaan global yang membuka peluang bagi ekspansi industri
pertambangan nasional menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Prospek usaha Perseroan ke depan berada dalam fase transisi strategis di tengah pelemahan
pasar batubara global. Penurunan permintaan dan harga batubara akibat berkurangnya
konsumsi global terutama di Amerika, Eropa serta meningkatnya penetrasi energi terbarukan
menekan ekspor dan margin kontraktor tambang seperti PAMA. Meski demikian, tingginya
ketergantungan domestik terhadap batubara untuk kebutuhan listrik dan pembangunan PLTU
baru masih membuka peluang penjualan di pasar dalam negeri.
Di sisi lain, diversifikasi bisnis menjadi kunci utama pertumbuhan Perseroan. PAMA mulai
memperluas portofolio ke proyek tambang nikel seperti blok Pomalaa, sementara lini
pertambangan milik sendiri melalui Martabe, Doup (ASA), dan Stargate memperkuat eksposur
Perseroan terhadap komoditas emas dan nikel yang harganya tengah naik tajam. Segmen alat
berat menghadapi perlambatan dari sektor tambang, namun tetap ditopang oleh aktivitas
konstruksi dan hilirisasi mineral nasional, dengan potensi pendapatan stabil dari layanan purna
jual dan digitalisasi sistem (UT Connect). Sementara itu, segmen konstruksi ACSET dan energi
baru EPN mendukung integrasi antarunit bisnis serta peluang investasi di sektor energi terbarukan.
Dengan kombinasi diversifikasi portofolio, fokus pada efisiensi operasional, dan kesiapan
memasuki era energi bersih, Perseroan berpotensi tetap tumbuh solid dan relevan di tengah
perubahan arah pasar global.
3.1.4 Alasan Dan Latar Belakang Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi dilakukan
untuk mendukung kegiatan operasional Perseroan. Dalam hal ini, ASF selaku penerima pinjaman
Halaman 48 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 50
akan menggunakan dana yang diperoleh dari fasilitas pinjaman untuk mendukung pembiayaan
pembelian alat-alat berat oleh konsumen Perseroan.
Melalui dukungan pembiayaan tersebut, Perseroan diharapkan dapat memperkuat kegiatan
penjualan alat berat kepada konsumen serta mendukung kelangsungan dan pengembangan
kegiatan usaha Perseroan secara berkelanjutan.
3.1.5 Analisis Keuntungan & Kerugian Kualitatif
Keuntungan dan kerugian dari adanya Rencana Transaksi bagi Perseroan dapat ditinjau dari
beberapa aspek.
Keuntungan yang dapat diperoleh Perseroan dari adanya Rencana Transaksi adalah sebagai
berikut:
1. Rencana Transaksi diharapkan dapat memperkuat sinergi usaha antara Perseroan dan ASF
dalam mendukung kegiatan pembiayaan pelanggan alat berat Perseroan.
2. Dengan adanya perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman, Perseroan
diharapkan dapat mendukung fleksibilitas pendanaan ASF sehingga dapat meningkatkan
daya saing penjualan alat berat Perseroan di tengah persaingan industri yang ketat.
3. Rencana Transaksi diharapkan dapat mendukung kegiatan operasional Perseroan melalui
peningkatan penjualan alat berat serta memberikan tambahan pendapatan bunga atas
fasilitas pinjaman yang diberikan kepada ASF.
Kerugian yang dapat diperoleh Perseroan dari adanya Rencana Transaksi adalah sebagai berikut:
1. Rencana Transaksi dapat meningkatkan ketergantungan Perseroan terhadap kinerja
pembiayaan ASF dalam mendukung penjualan alat berat Perseroan.
2. Terdapat risiko apabila kondisi industri alat berat mengalami perlambatan sehingga target
penjualan alat berat Perseroan tidak tercapai secara optimal.
3. Risiko gagal bayar dari konsumen ASF dapat mempengaruhi kemampuan pembayaran
kewajiban ASF kepada Perseroan serta mempengaruhi efektivitas pelaksanaan Rencana
Transaksi.
3.1.6 Dampak Leverage Terhadap Keuangan (Dibanding Industri Sejenis)
Leverage perusahaan diukur melalui rasio Debt to Equity dan rasio Debt to Assets. Rasio Debt to
Equity dan rasio Debt to Assets pada Perseroan secara historis sejak 2020 sampai 31 Desember
2025 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 21. Leverage Perseroan – Historis
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Leverage
Audited Audited Audited Audited Audited Audited
Debt to Equity Ratio 0,20X 0,13X 0,03X 0,22X 0,21X 0,18X
Long Term Debt to Equity Ratio 0,13X 0,04X 0,01X 0,21X 0,16X 0,07X
Debt to Assets Ratio 0,13X 0,08X 0,02X 0,12X 0,12X 0,11X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Adanya Rencana Transaksi tidak mengubah rasio leverage perusahaan secara signifikan karena
pinjaman yang diberikan kepada ASF bersumber dari dana internal kas perusahaan. dengan
Halaman 49 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 51
begitu Rencana Transaksi tidak merubah struktur leverage perusahaan secara signifikan dilihat
dari rasio Debt to Equity, Long-Term Debt to Equity, dan rasio Debt to Assets. Leverage perusahaan
setelah Rencana Transaksi dilakukan disajikan pada tabel berikut:
Tabel 22. Leverage Perseroan – Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
Dampak Leverage Sebelum Transaksi Setelah Transaksi
Debt to Equity Ratio 0,18X 0,18X
Long Term Debt to Equity Ratio 0,07X 0,07X
Debt to Assets Ratio 0,11X 0,11X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Industri sejenis merupakan perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia yang memiliki kesamaan
klasifikasi industri dengan Perseroan. Perusahaan sejenis yang disebandingkan dipilih
menggunakan penentuan kesebandingan karakteristik yang terdiri dari klasifikasi industri,
pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan laba, margin laba bersih, total aset, dan pangsa pasar.
Perusahaan dengan kriteria yang sebelumnya sudah ditentukan dan memenuhi minimum 4
kriteria selanjutnya digunakan sebagai benchmark leverage.
Ringkasan penentuan perusahaan pada industri sejenis disajikan pada tabel berikut:
Tabel 23. Penentuan Perusahaan Industri Sejenis
Pertumbuhan Pertumbuhan Margin Laba Total Pangsa
Perusahaan Industri
Pendapatan Laba Bersih Aset Pasar
PT Alamtri Resources
√ √ √ √
Indonesia Tbk (IDX:ADRO)
PT Bayan Resources Tbk.
√ √ √ √
(IDX:BYAN)
PT Bukit Asam (Persero) Tbk
√ √ √ √
(IDX:PTBA)
PT Dian Swastatika Sentosa
√ √ √ √
Tbk (IDX:DSSA)
PT Golden Energy Mines Tbk
√ √ √ √
(IDX:GEMS)
PT Indo Tambangraya Megah
√ √ √ √
Tbk (IDX:ITMG)
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Rasio leverage historis pada perusahaan di industri sejenis dengan proksi berupa rasio Debt to
Equity dan Debt to Assets disajikan pada tabel berikut:
Tabel 24. Rasio Debt to Equity Perusahaan Pembanding
Debt to Equity Ratio Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Sep 2025
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
0,36 0,24 0,19 0,11 0,16
(IDX:ADRO)
PT Bayan Resources Tbk. (IDX:BYAN) - - 0,20 0,15 -
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (IDX:PTBA) 0,04 0,05 0,06 0,10 0,17
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (IDX:DSSA) 0,36 0,54 0,47 0,63 0,66
PT Golden Energy Mines Tbk (IDX:GEMS) 0,36 0,24 0,38 0,43 0,19
PT Indo Tambangraya Megah Tbk
0,04 0,03 0,03 0,04 0,05
(IDX:ITMG)
Average 0,20 0,18 0,22 0,24 0,20
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Halaman 50 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 52
Rata-rata historis Debt to Equity perusahaan pembanding pada industri sejenis berkisar pada 0,18
sampai 0,24. Rasio Debt to Equity yang tinggi menggambarkan bahwa pendanaan perusahaan
lebih banyak bersumber dari Utang ketimbang Ekuitas.
Tabel 25. Rasio Debt to Assets Perusahaan Pembanding
Debt to Asset Ratio Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Sep 2025
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
0,21 0,15 0,14 0,09 0,12
(IDX:ADRO)
PT Bayan Resources Tbk. (IDX:BYAN) - - 0,12 0,10 -
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (IDX:PTBA) 0,03 0,03 0,03 0,05 0,09
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (IDX:DSSA) 0,21 0,25 0,26 0,33 0,34
PT Golden Energy Mines Tbk (IDX:GEMS) 0,14 0,12 0,19 0,23 0,11
PT Indo Tambangraya Megah Tbk
0,03 0,02 0,02 0,03 0,04
(IDX:ITMG)
Average 0,10 0,09 0,13 0,14 0,12
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Rata-rata historis Debt to Assets perusahaan pembanding pada industri sejenis berkisar pada 0,09
sampai 0,14.
Debt to Equity Perseroan sebelum dan setelah Rencana Transaksi sebesar 0,18 masih berada
pada rentan perusahaan pada industri sejenis sebesar 0,18 sampai 0,24. Hal ini menunjukkan
bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak yang dapat membuat Perseroan memiliki
leverage diluar rentan perusahaan pada industri sejenis.
Debt to Assets Perseroan sebelum dan setelah Rencana Transaksi sebesar 0,10 masih berada
pada rentan perusahaan pada industri sejenis sebesar 0,09 sampai 0,14. Hal ini menunjukkan
Rencana Transaksi pemberian pinjaman oleh Perseroan ke ASF tidak berdampak pada leverage
perusahaan yang dilihat dari proksi Debt to Assets.
3.1.7 Dampak Likuiditas & Kemampuan Melunasi Pinjaman Saat Jatuh Tempo
Dampak likuiditas dan kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo dilihat dari perubahan
rasio likuiditas perusahaan sebelum dan setelah Rencana Transaksi dilakukan. Proksi yang dapat
digunakan pada analisis dampak likuiditas adalah current ratio atau rasio lancar, quick ratio atau
rasio cepat, dan cash ratio atau rasio kas. Selanjutnya analisis kemampuan melunasi pinjaman
saat jatuh tempo dapat dilihat dari kinerja dan kondisi keuangan ASF serta hal-hal lain yang dapat
mendukung debitur dalam pelunasan saat jatuh tempo.
Rasio likuiditas Perseroan dengan proksi current ratio, quick ratio, dan cash ratio sebelum dan
setelah Rencana Transaksi disajikan pada tabel berikut:
Tabel 26. Rasio Likuiditas Perseroan
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,36X 1,35X 0,001X
Quick Ratio 1,04X 1,04X 0,001X
Cash Ratio 0,50X 0,50X 0,001X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 51 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 53
Rencana Transaksi terhadap rasio likuiditas perusahaan memberikan dampak yang tidak
signifikan dilihat dari nilai rasio likuidasi sebelum dan setelah rencana transaksi. Hal tersebut
diakibatkan dari besaran nilai Rencana Transaksi seluruhnya yang jumlahnya sebesar 1,13% dari
total kas dan setara kas perusahaan per tanggal pendapat kewajaran. Dengan begitu dampak
yang ditimbulkan Rencana Transaksi terhadap likuiditas perusahaan tidak signifikan.
Pada analisis kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo, digunakan proksi ASF sebagai
penerima pinjaman berupa kinerja keuangan historis dan rasio keuangan terkait pemenuhan
regulasi dan kesehatan perusahaan.
Tabel 27. Rasio Profotabilitas ASF
Rasio Profitabilitas ASF 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Net Profit Margin 20,18% 24,87% 28,12% 28,84% 29,64%
Return on Assets 3,44% 4,02% 4,68% 4,74% 4,66%
Return on Equity 14,44% 17,34% 19,91% 18,85% 17,36%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Perusahaan mencatatkan kinerja margin laba bersih dalam rentang 20,18% pada tahun 2021
hingga 29,64% pada tahun 2025 dengan tren peningkatan selama 5 tahun. Menggunakan proksi
pendapatan berbanding aset, perusahaan mencatatkan perolehan sebesar 3,44% pada tahun
2021 hingga sebesar 4,74% pada tahun 2024. Menggunakan proksi pendapatan berbanding
ekuitas, perusahaan mencatatkan perolehan sebesar 14,44% pada tahun 2021 hingga sebesar
19,91% pada tahun 2023 selama 5 tahun.
Tabel 28. Rasio Keuangan dan Kesehatan ASF
Rasio Keuangan dan Kesehatan
2021 2022 2023 2024 2025
Perusahaan
Financing to asset ratio 94.17% 93.05% 93.69% 93.53% 94.27%
Rasio saldo piutang
pembiayaan neto terhadap total 132.04% 127.43% 127.09% 129.40% 132.75%
pendanaan yang diterima
Rasio saldo piutang
pembiayaan untuk pembiayaan
investasi dan modal kerja 26.43% 28.53% 27.16% 28.19% 29.87%
dibandingkan dengan total
saldo piutang pembiayaan
Rasio piutang pembiayaan
0.99% 0.46% 0.50% 0.49% 0.30%
bermasalah (NPF) - bersih
Rasio permodalan 30.50% 29.18% 29.33% 32.13% 34.82%
Rasio ekuitas terhadap modal
264.20% 294.54% 318.71% 352.07% 385.81%
disetor
Gearing Ratio 3,00X 3,15X 3,13X 2,86X 2,65X
Sumber: Laporan Keuangan ASF 2021-2025
Pada rasio keuangan dan tingkat kesehata perusahaan, perusahaan mencatatkan pemenuhan
ketentuan regulator dan pemenuhan tingkat kesehatan perusahaan yang diatur pada POJK No.
35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan yang berkaitan
dengan ketentuan pemenuhan gearing ratio, rasio Saldo Piutang Pembiayaan (Outstanding
Principal) untuk Pembiayaan Investasi dan Pembiayaan Modal Kerja dibandingkan dengan total
Saldo Piutang Pembiayaan (Outstanding Principal), pemenuhan ekuitas, rasio Ekuitas terhadap
Modal Disetor, rasio permodalan, dan pemenuhan ketentuan lainnya yang diatur pada POJK No.
35/POJK.05/2018.
Halaman 52 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 54
Secara keseluruhan, hasil analisis rasio keuangan dan kesehatan perusahaan ASF selama periode
2021–2025 menunjukkan bahwa perusahaan memenuhi ketentuan yang diatur dalam POJK No.
35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Indikator kinerja
keuangan dan pemenuhan regulasi terkait perusahaan pembiayaan dapat menjadi salah satu
proksi kemampuan melunasi pinjaman terkait rencana transaksi.
3.1.8 Dampak Jika Proyek Dibiayai Gagal
Terdapat dampak pada Perseroan jika pinjaman yang diberikan ASF tidak dapat dilunasi atau
mengalami kegagalan. Tidak dilunasinya pinjaman oleh ASF akan menghilangkan potensi
pendapatan bunga yang akan diterima dan menghilangkan hak penerimaan pokok atas
pinjaman. Hal tersebut berdampak pada penurunan proyeksi laba rugi dan penurunan proyeksi
perolehan kas perusahaan.
Tabel 29. Analisis Cash Management
(dalam juta Rupiah)
Analisis Cash Management 31 Desember 2025
Kas dan Setara Kas Perseroan 26.570.772
Nilai Rencana Transaksi 300.000
Nilai Rencana Transaksi terhadap Kas 1,13%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Merujuk pada analisis cash management, rasio nilai Rencana Transaksi terhadap kas dan setara
kas Perseroan per tanggal Pendapat Kewajaran adalah sebesar 1,13% sehingga dampak yang
timbul jika terjadi gagal bayar tidak akan mengganggu aktivitas operasional perusahaan secara
keseluruhan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, penyaluran dana dalam
Rencana Transaksi antara Perseroan dan ASF dilakukan untuk mendukung pembiayaan
pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan. Dengan demikian, penyaluran fasilitas pinjaman
kepada ASF pada dasarnya akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan atas penjualan alat
berat Perseroan.
Sementara itu, atas dana yang telah disalurkan kepada ASF dan dalam hal terjadi gagal bayar
dari konsumen ASF, maka ASF akan tetap melakukan proses penagihan kepada konsumen sesuai
dengan mekanisme dan prosedur pembiayaan yang berlaku. Lebih lanjut, mengingat hubungan
antara Perseroan dan ASF merupakan hubungan afiliasi, Manajemen Perseroan memiliki
keyakinan terhadap kelancaran pembayaran kewajiban ASF atas Rencana Transaksi ini.
3.2 Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi
3.2.1 Kinerja Historis
Analisis kinerja historis bertujuan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja operasional
perusahaan dalam beberapa tahun terakhir sebelum dilakukannya Rencana Transaksi. Analisis
ini memberikan gambaran mengenai stabilitas pendapatan, efisiensi operasional, serta
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan arus kas.
Halaman 53 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 55
Kinerja Historis Perseroan
• Laporan Keuangan
Data laporan keuangan yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan audited
Perseroan periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025.
Laporan keuangan tersebut menjadi dasar dalam penilaian kinerja historis dan posisi
keuangan perusahaan, meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, serta Laporan
Arus Kas pada masing-masing periode.
Laporan Posisi Keuangan
Tabel 30. Laporan Posisi Keuangan Perseroan Periode 31 Desember 2021–31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 33.322 38.282 18.597 25.093 26.571
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11.640 17.118 18.953 18.918 18.560
Pihak Berelasi 512 515 1.321 1.071 1.358
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 904 1.042 833 780 493
Pihak Berelasi 964 973 1.208 1.383 1.203
Persediaan 9.454 15.390 17.184 16.994 16.730
Proyek dalam Pelaksanaan 0 0 0 159 29
Pihak Ketiga 59 37 111 0 0
Pihak Berelasi 0 0 0 0
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.145 806 910 782 1.654
Pajak Lain-lain 1.753 3.412 2.197 2.939 3.644
Uang Muka dan Biaya Dibayar
775 1.256 1.103 1.470 1.543
Dimuka
Aset Lancar Lain-lain 77 99 249 391 357
Total Aset Lancar 60.604 78.930 62.667 69.979 72.141
Aset Tidak Lancar
Kas dan Deposito Berjangka Yang
776 519 561 629 788
Dibatasi Penggunaannya
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 56 0 108 477 453
Pihak Berelasi 0 17 18 19
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 385 458 312 180 88
Pihak Berelasi 2.087 2.811 2.868 3.407 3.104
Persediaan 206 255 82 99 106
Pajak Dibayar Dimuka
Halaman 54 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 56
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pajak Penghasilan Badan 19 9 76 792 1.447
Pajak Lain-Lain 222 266 1.732 1.913 1.650
Uang Muka Dan Biaya Dibayar
109 569 1.299 428 794
Dimuka
Investasi Pada Entitas Asosiasi
Investments In Associates Dan 2.517 5.146 14.853 17.822 17.224
Ventura Bersama
Investasi Jangka Panjang 764 1.114 1.243 1.376 3.176
Aset Tetap 20.457 23.678 36.002 40.952 45.297
Properti Pertambangan 11.925 11.905 17.846 15.712 14.809
Properti Investasi 222 222 228 216 244
Beban Eksplorasi dan
2.162 2.389 2.374 2.494 2.769
Pengembangan Tangguhan
Aset Tambang Berproduksi 4.456 4.836 4.489 4.216 3.958
Beban Tangguhan 917 1.715 1.449 1.301 1.169
Aset Pajak Tangguhan 2.250 2.981 3.537 4.021 4.891
Goodwill 2.428 2.676 2.287 3.448 3.511
Total Aset Tidak Lancar 51.957 61.548 91.361 99.501 105.496
Total Aset 112.561 140.478 154.028 169.481 177.637
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Pihak Ketiga 14.299 24.591 28.883 28.749 29.095
Pihak Berelasi 219 258 228 236 214
Utang Non-Usaha
Pihak Ketiga 389 508 604 863 1.133
Pihak Berelasi 51 76 52 70 88
Utang Pajak
Pajak Penghasilan Badan 1.868 2.940 2.390 1.042 826
Pajak Lain-Lain 378 642 779 478 585
Akrual 5.188 8.856 6.569 6.787 6.693
Uang Muka Pelanggan
Pihak Ketiga 774 784 691 1.004 857
Pihak Berelasi 11 111 53 46 44
Pendapatan Tangguhan 440 600 705 972 1.021
Liabilitas Imbalan Kerja 633 658 791 852 1.054
Pinjaman Bank Jangka Pendek 175 1.029 294 402 560
Bagian Jangka Pendek Dari Utang
Jangka Panjang
Pinjaman Bank 5.351 8 2.294 9.683
Liabilitas Sewa 651 940 989 907 801
Pinjaman Lain-Lain 29 19 3 600 560
Pinjaman Bank Jangka Pendek Dari
Liabilitas Keuangan Jangka 32 29 0 0
Panjang Lain-Lain
Total Liabilitas Jangka Pendek 30.489 42.037 43.038 45.303 53.213
Halaman 55 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 57
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 3.165 3.241 4.462 4.022 3.768
Provisi Rehabilitasi, Reklamasi, dan
634 794 865 1.029 1.155
Penutupan Tambang
Liabilitas Imbalan Kerja 3.316 3.708 4.047 4.989 5.498
Utang Jangka Panjang, Setelah
Dikurangi Bagian Jangka Pendek
Pinjaman Bank 2.497 0 16.573 14.862 6.055
Liabilitas Sewa 462 897 842 758 976
Pinjaman Lain-Lain 22 117 165 343 282
Liabilitas Keuangan Jangka
154 169 0 0 3.555
Panjang Lain-Lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 10.249 8.927 26.954 26.003 21.288
Total Liabilitas 40.739 50.964 69.993 71.305 74.501
Ekuitas
Ekuitas Yang Diatribusikan Kepada
Entitas Induk
Modal Disetor 933 933 933 933 933
Tambahan Modal Disetor 9.704 9.704 9.704 9.704 9.704
Saham Tresuri 0 (3.191) (3.191) (3.191) (4.902)
Saldo Laba
Dicadangkan 187 187 187 187 187
Belum Dicadangkan 56.487 71.137 66.685 77.976 85.548
Selisih Kurs Dari Penjabaran
2.712 5.962 5.188 7.399 9.227
Laporan Keuangan
Cadangan Lindung Nilai (818) 612 549 745 (2.065)
Cadangan Penyesuaian Nilai Wajar
20 20 20 19 19
Aset Tetap
Transaksi Dengan Kepentingan
(664) (664) (824) (824) (876)
Nonpengendali
Total Ekuitas Yang Diatribusikan
68.560 84.698 79.251 92.947 97.774
Kepada Entitas Induk
Kepentingan Nonpengandali 3.263 4.816 4.785 5.228 5.363
Total Ekuitas 71.823 89.514 84.036 98.175 103.136
Total Liabilitas Dan Ekuitas 112.561 140.478 154.028 169.481 177.637
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Aset Lancar
Pertumbuhan aset lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
4,45% . Pada tahun 2021 aset lancar tercatat sebesar Rp60.604 miliar. Pada tahun 2022 aset
lancar mengalami peningkatan sebesar 30,24% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp78.930 miliar. Pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar 20,60% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp62.667 miliar. Pada tahun 2024 aset lancar mengalami
peningkatan sebesar 11,67% secara year on year atau tercatat sebesar Rp69.979 miliar. Serta
Pada tahun 2025 aset lancar mengalami peningkatan sebesar 3,09% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp72.141miliar.
Halaman 56 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 58
Aset Tidak Lancar
Pertumbuhan aset tidak lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR
sebesar 19,37% . Pada tahun 2021 aset tidak lancar tercatat sebesar Rp51.957 miliar. Pada
tahun 2022 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 18,46% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp61.548 miliar. Pada tahun 2023 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 48,44% secara year on year atau tercatat sebesar Rp91.361 miliar. Pada
tahun 2024 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 8,91% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp99.501 miliar. Serta Pada tahun 2025 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 6,02% secara year on year atau tercatat sebesar Rp105.496 miliar.
Total Aset
Pertumbuhan total aset Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang terus meningkat setiap tahunnya dengan rata-
rata CAGR sebesar 12,08%. Pada tahun 2021 total aset tercatat sebesar Rp112.561 miliar.
Pada tahun 2022 total aset mengalami peningkatan sebesar 24,80% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp140.478 miliar. Pada Tahun 2023 total aset mengalami peningkatan
sebesar 9,65% secara year on year atau tercatat sebesar Rp154.028 miliar. Pada tahun 2024
total aset mengalami peningkatan sebesar 10,03% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp169.481 miliar. Serta Pada tahun 2025 total aset mengalami peningkatan sebesar 4,81%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp177.637 miliar.
Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 14,94%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp30.489
miliar. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 37,88%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp42.037 miliar. Pada Tahun 2023 liabilitas jangka
pendek mengalami peningkatan sebesar 2,38% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp43.038 miliar. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar
5,26% secara year on year atau tercatat sebesar Rp45.303 miliar. Serta Pada tahun 2025
liabiitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 17,46% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp53.213 miliar.
Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 20,05%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp10.249
miliar. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar 12,90%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp8.927 miliar. Pada Tahun 2023 liabilitas jangka
panjang mengalami peningkatan sebesar 201,94% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp26.954 miliar. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar
3,53% secara year on year atau tercatat sebesar Rp26.003 miliar. Serta Pada tahun 2025
liabiitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar 18,13% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp21.288 miliar.
Halaman 57 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 59
Total Liabilitas
Pertumbuhan total liabilitas Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata
CAGR sebesar 16,29%. Pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp40.739 miliar. Pada
tahun 2022 total liabilitas mengalami peningkatan sebesar 25,10% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp50.964 miliar. Pada Tahun 2023 total liabilitas mengalami peningkatan
sebesar 37,34% secara year on year atau tercatat sebesar Rp69.993 miliar. Pada tahun 2024
total liabilitas mengalami peningkatan sebesar 1,88% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp71.305 miliar. Serta Pada tahun 2025 total liabiitas mengalami peningkatan sebesar 4,48%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp74.501 miliar.
Total Ekuitas
Pertumbuhan total ekuitas Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
9,47%. Pada tahun 2021 total ekuitas tercatat sebesar Rp71.823 miliar. Pada tahun 2022 total
ekuitas mengalami peningkatan sebesar 24,63% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp89.514 miliar. Pada Tahun 2023 total ekuitas mengalami penurunan sebesar 6,12% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp84.036 miliar. Pada tahun 2024 total ekuitas mengalami
peningkatan sebesar 16,83% secara year on year atau tercatat sebesar Rp98.175 miliar. Serta
Pada tahun 2025 total ekuitas mengalami peningkatan sebesar 5,05% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp103.136 miliar.
Laporan Laba Rugi
Tabel 31. Laporan Laba Rugi Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Laba Rugi
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 79.461 123.607 128.583 134.427 131.301
Beban pokok pendapatan (59.796) (88.849) (92.797) (100.595) (101.597)
Laba bruto 19.665 34.759 35.786 33.832 29.704
Beban penjualan (1.126) (1.065) (1.321) (1.056) (1.598)
Beban umum dan
(3.664) (4.561) (4.742) (5.594) (6.040)
administrasi
Beban lain-lain, bersih (980) (561) (885) (421) (256)
Penghasilan keuangan 872 998 1.127 1.150 1.244
Biaya keuangan (754) (760) (1.879) (2.651) (2.626)
Bagian atas laba bersih
entitas asosiasi dan ventura 449 636 635 637 (246)
bersama
Laba sebelum pajak
14.462 29.446 28.720 25.897 20.182
penghasilan
Beban pajak penghasilan (3.854) (6.452) (6.590) (5.779) (5.005)
Laba tahun berjalan 10.608 22.994 22.130 20.119 15.177
Laba bersih 10.280 21.005 20.612 19.531 14.810
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Halaman 58 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 60
Pendapatan Bersih
Pertumbuhan pendapatan bersih Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata CAGR
sebesar 13,38%. Pada tahun 2021 pendapatan bersih tercatat sebesar Rp79.461 miliar. Pada
tahun 2022 pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar 55,56% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp123.607 miliar. Pada tahun 2023 pendapatan bersih mengalami
peningkatan sebesar 4,03% secara year on year atau tercatat sebesar Rp128.583 miliar. Pada
tahun 2024 pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar negatif 4,54% secara year on
year atau tercatat sebesar Rp134.427 miliar. Serta Pada tahun 2025 pendapatan bersih
mengalami penurunan sebesar 2,33% secara year on year atau tercatat sebesar Rp131.301
miliar.
Laba Bruto
Pertumbuhan laba bruto Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
10,86%. Pada tahun 2021 laba bruto tercatat sebesar Rp19.665 miliar. Pada tahun 2022 laba
bruto mengalami peningkatan sebesar 76,75% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp34.759 miliar. Pada tahun 2023 laba bruto mengalami peningkatan sebesar 2,96% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp35.786 miliar. Pada tahun 2024 laba bruto mengalami
penurunan sebesar 5,46% secara year on year atau tercatat sebesar Rp33.832 miliar. Serta
Pada tahun 2025 laba bruto mengalami penurunan sebesar 12,20% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp29.704 miliar.
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba sebelum pajak penghasilan Perseroan selama periode 31 Desember 2021
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 8,69%. Pada tahun 2021 laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar
Rp14.462 miliar. Pada tahun 2022 laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan
sebesar 103,61% secara year on year atau tercatat sebesar Rp29.446 miliar. Pada tahun 2023
laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar 2,46% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp28.720 miliar. Pada tahun 2024 laba sebelum pajak penghasilan
mengalami penurunan sebesar 9,83% secara year on year atau tercatat sebesar Rp25.897
miliar. Serta Pada tahun 2025 laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar
22,07% secara year on year atau tercatat sebesar Rp20.182 miliar.
Laba Tahun Berjalan
Pertumbuhan laba tahun berjalan Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 9,37%. Pada tahun 2021 laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp10.608 miliar.
Pada tahun 2022 laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 116,75% secara year
on year atau tercatat sebesar Rp22.994 miliar. Pada tahun 2023 laba tahun berjalan
mengalami penurunan sebesar 3,76% secara year on year atau tercatat sebesar Rp22.130
miliar. Pada tahun 2024 laba tahun berjalan mengalami penurunan sebesar 9,09% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp20.119 miliar. Serta Pada tahun 2025 laba tahun berjalan
mengalami penurunan sebesar 24,56% secara year on year atau tercatat sebesar Rp15.177
miliar.
Halaman 59 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 61
Laba Bersih
Pertumbuhan laba bersih Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
9,56%. Pada tahun 2021 laba bersih tercatat sebesar Rp10.280 miliar. Pada tahun 2022 laba
bersih mengalami peningkatan sebesar 104,34% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp21.005 miliar. Pada tahun 2023 laba bersih mengalami penurunan sebesar 1,87% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp20.612 miliar. Pada tahun 2024 laba bersih mengalami
penurunan sebesar 5,24% secara year on year atau tercatat sebesar Rp19.531 miliar. Serta
Pada tahun 2025 laba bersih mengalami penurunan sebesar 24,17% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp14.810 miliar.
Laporan Arus Kas
Tabel 32. Laporan Arus Kas Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Arus kas dari aktivitas
operasi
Penerimaan dari pelanggan 77.191 118.488 125.717 134.591 130.663
Pembayaran kepada
(43.653) (70.639) (79.769) (83.213) (84.052)
pemasok dan lain-lain
Pembayaran kepada
(8.375) (9.307) (10.881) (12.232) (12.574)
karyawan
Kas yang dihasilkan dari
25.163 38.542 35.068 39.146 34.037
operasi
Pembayaran biaya
(753) (724) (2.098) (2.758) (2.558)
keuangan
Penerimaan bunga 747 822 952 978 1.112
Pembayaran pajak
(2.826) (6.560) (8.886) (8.791) (7.502)
penghasilan badan
Penerimaan dari kelebihan
749 288 1.126 1.088 1.833
pembayaran pajak lain-lain
Penerimaan dari kelebihan
pembayaran pajak 205 523 186 381 222
penghasilan badan
Arus kas bersih yang
diperoleh dari aktivitas 23.285 32.892 26.347 30.045 27.143
operasi
Arus kas dari aktivitas
investasi
Perolehan aset tetap (2.654) (7.768) (18.012) (12.212) (12.975)
Perolehan properti investasi - - - - -
Pembayaran beban
eksplorasi dan (407) (397) (331) (313) (350)
pengembangan tangguhan
Pembayaran aset tambang
(315) (435) (327) (442) (223)
berproduksi
Pembayaran beban
(50) (1.151) (85) (64) (90)
tangguhan
Halaman 60 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 62
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Uang muka perolehan aset
(79) (686) (476) (719) (552)
tetap
Uang Muka Perolehan
- - (804) - -
Saham
Penambahan investasi pada
entitas asosiasi dan ventura (0) (264) (9.377) (1.464) (207)
bersama
Penambahan investasi
(114) - - - (1.500)
jangka panjang
Akuisisi entitas anak (4.331) (83) (500)
Penerimaan dari penjualan
280 341 143 420 456
aset tetap
Penerimaan dari penjualan
- - - - 564
Entitas Anak
Penambahan pinjaman
(1.179) (1.336) (1.533) (1.662) (726)
kepada pihak berelasi
Penambahan pinjaman
(492) (503) (430) (338) (111)
kepada pihak ketiga
Penerimaan dari pinjaman
1.055 932 1.415 1.321 2.001
kepada pihak berelasi
Penerimaan dari pinjaman
486 427 434 410 466
kepada pihak ketiga
Penarikan kas dan deposito
yang dibatasi 272 317 - - -
penggunaannya
Penerimaan dividen 39 124 273 943 302
Arus kas bersih yang
digunakan untuk aktivitas (3.159) (10.401) (33.440) (14.203) (13.446)
investasi
Arus kas dari aktivitas
pendanaan
Penerimaan pinjaman bank
481 888 162 1.078 1.269
jangka pendek
Penerimaan pinjaman bank
- - 19.630 5.656 8.220
jangka Panjang
Pembayaran pinjaman bank
(1.007) (90) (260) (977) (1.115)
jangka pendek
Pembayaran pinjaman bank
(2.508) (8.216) (3.650) (5.529) (10.005)
jangka panjang
Pembayaran pokok liabilitas
(1.060) (962) (1.106) (1.149) (1.168)
sewa
Penerimaan Pinjaman Lain-
- 114 51 3.037 1.639
lain
Pembayaran pinjaman lain-
(53) (29) (19) (3.164) (1.742)
lain
Penambahan modal dari
- 18 37 2 9
kepentingan nonpengendali
Penerimaan dari Pelepasan
Kepentingan pada Entitas - - 15 - -
Anak
Halaman 61 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 63
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pembayaran untuk akuisisi
kepentingan nonpengendali (20) - (51) - -
pada entitas anak
Pembayaran untuk
- (3.191) - - (1.590)
pembelian saham tresuri
Pembayaran dividen
kepada:
Pemilik Entitas Induk (3.013) (6.365) (25.001) (8.118) (7.446)
Kepentingan Nonpengendali (239) (819) (2.038) (304) (542)
Arus kas bersih yang
digunakan untuk aktivitas (7.420) (18.653) (12.230) (9.468) (12.470)
pendanaan
Kenaikan bersih kas dan
12.706 3.837 (19.323) 6.374 1.228
setara kas
Kas dan setara kas pada
20.499 33.322 38.282 18.597 25.093
awal tahun
Dampak perubahan selisih
kurs terhadap kas dan 117 1.123 (362) 122 251
setara kas
Kas dan setara kas pada
33.322 38.282 18.597 25.093 26.571
akhir tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas dari aktivitas operasi mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan kas
dari kegiatan usaha utamanya. Sepanjang periode 2021 hingga 2022, arus kas dari aktivitas
operasi menunjukkan tren peningkatan.
Pada tahun 2021 arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp23.285 miliar. Pada tahun
2022 arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp32.892 miliar. Pada tahun 2023 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp26.347 miliar. Pada tahun 2024 arus kas dari
aktivitas operasi tercatat sebesar Rp30.045 miliar. Serta pada periode 31 Desember 2025 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp27.143 miliar.
Arus Kas untuk Aktivitas Investasi
Sepanjang periode 2021 hingga 2023, arus kas dari aktivitas operasi Perseroan menunjukkan
tren peningkatan, hal tersebut sejalan dengan peningkatan perolehan aset tetap, penambahan
investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama serta penambahan pinjaman kepada
pihak berelasi.
Pada tahun 2021 arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp3.159 miliar. Pada tahun
2022 arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp10.401 miliar. Pada tahun 2023 arus
kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp33.440 miliar. Pada tahun 2024 arus kas untuk
aktivitas investasi tercatat sebesar Rp14.203 miliar. Serta pada periode 31 Desember 2025
arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp13.446 miliar.
Halaman 62 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 64
Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan
Arus kas untuk aktivitas pendanaan Perseroan mengalami penurunan dan peningkatan yang
fluktuatif setiap tahunnya, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama antara lain,
pembayaran pinjaman bank jangka pendek, pembayaran pinjaman bank jangka panjang,
pembayaran pokok liabilitas sewa serta pembayaran dividen.
Pada tahun 2021 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp7.420 miliar. Pada
tahun 2022 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp18.653 miliar. Pada tahun
2023 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp12.230 miliar. Pada tahun 2024
arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp9.468 miliar. Serta pada periode 31
Desember 2025 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp12.470 miliar.
Kenaikan Bersih Kas dan Setara Kas
Kenaikan bersih kas dan setara kas Perseroan mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi
setiap tahunnya sejalan dengan perubahan pada arus kas operasional, investasi, dan
pendanaan.
Pada tahun 2021 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp12.706 miliar. Pada
tahun 2022 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp3.837 miliar. Pada tahun
2023 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar negatif Rp 19.323 miliar. Pada tahun
2024 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp6.374 miliar. Serta pada periode
31 Desember 2025 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp1.228 miliar.
Kas dan Setara Kas pada Akhir Tahun
Berdasarkan laporan arus kas Perseroan periode 31 Desember 2021 hingga 30 Juni 2025,
kas dan setara kas pada akhir tahun menunjukkan fluktuasi seiring perubahan aktivitas
operasi, investasi, dan pendanaan.
PaPada tahun 2021 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami peningkatan sebesar
sebesar Rp33.322 miliar. Pada tahun 2022 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami
peningkatan sebesar Rp38.282 miliar. Pada tahun 2023 kas dan setara kas pada akhir tahun
mengalami penurunan sebesar Rp18.597 miliar. Pada tahun 2024 kas dan setara kas pada
akhir tahun mengalami peningkatan sebesar Rp25.093 miliar. Serta pada periode 31
Desember 2025 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami kenaikan sebesar Rp 26.571
miliar.
• Analisis Common Size (Common Size Analysis)
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
Perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap
total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya
atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
Perseroan dengan menggunakan metode common size statement analysis:
Halaman 63 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 65
Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan
Tabel 33. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%)
Laporan Posisi Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Total Aset Lancar 53,84% 56,19% 40,69% 41,29% 40,61%
Total Aset Tidak Lancar 46,16% 43,81% 59,31% 58,71% 59,39%
Total Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Total Liabilitas Jangka Pendek 27,09% 29,92% 27,94% 26,73% 29,96%
Total Liabilitas Jangka Panjang 9,11% 6,35% 17,50% 15,34% 11,98%
Total Liabilitas 36,19% 36,28% 45,44% 42,07% 41,94%
Total Ekuitas 63,81% 63,72% 54,56% 57,93% 58,06%
Total Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan Perseroan, berdasarkan analisis common size
statement, selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025,
rata-rata proporsi aset lancar terhadap rata-rata total aset sebesar 46,52% lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata proporsi aset tidak lancar terhadap rata-rata total aset
sebesar 53,48%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi aset lancar terhadap total aset
sebesar 40,61%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset sebesar 59,39%.
Kemudian selama 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025, rata-
rata proporsi liabilitas terhadap rata-rata total aset sebesar 40,39% lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata proporsi ekuitas terhadap rata-rata total aset sebesar
59,61%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas terhadap total aset
sebesar 41,94%, dan proporsi ekuitas terhadap total aset sebesar 58,06%.
Analisis Commonsize Statement – Laporan Laba Rugi
Tabel 34. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%)
Laporan Laba Rugi Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laba bruto 24,75% 28,12% 27,83% 25,17% 22,62%
Laba sebelum pajak
18,20% 23,82% 22,34% 19,26% 15,37%
penghasilan
Laba tahun berjalan 13,35% 18,60% 17,21% 14,97% 11,56%
Laba bersih 12,94% 16,99% 16,03% 14,53% 11,28%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis common size statement, rata-rata proporsi laba bruto terhadap rata-
rata pendapatan bersih selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember
2025 adalah sebesar 25,70%, dan proporsi laba bruto terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 22,62%.
Rata-rata proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap rata-rata pendapatan bersih
selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar
19,80%, dan proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 15,37%.
Halaman 64 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 66
Rata-rata proporsi laba tahun berjalan terhadap rata-rata pendapatan bersih selama
periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 15,14%,
dan proporsi laba tahun berjalan terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember
2025 adalah sebesar 11,56%.
Rata-rata proporsi laba bersih terhadap rata-rata pendapatan bersih selama periode 31
Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 14,35%, dan proporsi
laba bersih terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember 2025 adalah sebesar
11,28%.
Kinerja Historis ASF
• Laporan Keuangan
Data laporan keuangan yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan audited
ASF periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025.
Laporan keuangan tersebut menjadi dasar dalam penilaian kinerja historis dan posisi
keuangan perusahaan, meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, serta Laporan
Arus Kas pada masing-masing periode.
Laporan Posisi Keuangan
Tabel 35. Laporan Posisi Keuangan ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Aset
Kas Dan Setara Kas - Pihak Ketiga 778 715 865 903 467
Kas Dan Setara Kas - Pihak Berelasi - - 25 47 231
Piutang Pembiayaan Konsumen - Pihak Ketiga
26.442 29.587 31.526 31.695 32.808
(Bersih)
Piutang Pembiayaan Konsumen - Pihak
39 9 2 2 2
Berelasi (Bersih)
Piutang Pembiayaan Murabahah (Bersih) 1.505 1.475 703 333 151
Pembiayaan Musyarakah (Bersih) 67 104 1.079 1.626 1.880
Investasi Bersih Dalam Sewa Pembiayaan -
2.529 3.554 3.876 4.565 4.954
Pihak Ketiga
Investasi Bersih Dalam Sewa Pembiayaan -
47 2 7 4 2
Pihak Berelasi
Tagihan Pembiayaan Anjak Piutang - Pihak
31 15 50 14 14
Ketiga
Tagihan Pembiayaan Anjak Piutang - Pihak
- - - 72 34
Berelasi
Piutang Lain-Lain - Pihak Ketiga 325 426 589 636 687
Piutang Lain-Lain - Pihak Berelasi 2 2 2 47 8
Beban Dibayar Dimuka - Pihak Ketiga 33 39 81 89 69
Beban Dibayar Dimuka - Pihak Berelasi 9 7 6 8 9
Aset Derivatif 27 549 225 178 65
Aset Pajak Tangguhan - Bersih 227 258 183 276 236
Investasi Pada Entitas Asosiasi 319 344 367 378 411
Aset Tetap Dan Aset Hak Guna - Bersih 240 250 265 256 237
Halaman 65 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 67
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Jumlah Aset 32.620 37.336 39.851 41.129 42.265
Liabilitas
Utang Penyalur Kendaraan - Pihak Ketiga 22 24 - 10 2
Utang Penyalur Kendaraan - Pihak Berelasi 12 - - 68 15
Utang Lain-Lain - Pihak Ketiga 523 516 341 289 191
Utang Lain-Lain - Pihak Berelasi 82 133 92 71 58
Akrual - Pihak Ketiga 246 234 268 221 216
Liabilitas Pajak - Pph Badan 181 204 115 232 145
Liabilitas Pajak - Pajak Lainnya 20 25 32 39 36
Liabilitas Derivatif 182 17 46 2 7
Pinjaman - Pihak Ketiga 13.951 17.503 19.293 19.166 18.610
Pinjaman - Pihak Berelasi 133 177 296 221 172
Surat Berharga Yang Diterbitkan - Obligasi 9.163 9.586 9.762 10.219 11.234
Imbalan Kerja 342 265 233 253 245
Jumlah Liabilitas 24.857 28.684 30.478 30.791 30.931
Ekuitas
Modal Saham 950 950 950 950 950
Agio Saham 1.987 1.987 1.987 1.987 1.987
Saldo Laba - Telah Ditentukan 1 1 1 190 190
Saldo Laba - Belum Ditentukan 4.877 5.733 6.432 7.222 8.223
Cadangan Lindung Nilai Arus Kas (52) (19) 3 (11) (16)
Jumlah Ekuitas 7.763 8.652 9.373 10.338 11.334
Jumlah Liabilitas Dan Ekuitas 32.620 37.336 39.851 41.129 42.265
Sumber: Laporan Keuangan Audit ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Jumlah Aset
Pertumbuhan jumlah aset ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang meningkat dengan rata-rata CAGR sebesar
6,69%. Pada tahun 2021 jumlah aset tercatat sebesar Rp32.620miliar. Pada tahun 2022
jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 14,46% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp37.336miliar. Pada Tahun 2023 jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 6,74% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp39.851miliar. Pada tahun 2024 jumlah aset mengalami
peningkatan sebesar 3,21% secara year on year atau tercatat sebesar Rp41.129miliar. Pada
tahun 2025 jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 2,76% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp42.265miliar.
Jumlah Liabilitas
Pertumbuhan jumlah liabilitas ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang meningkat dengan rata-rata CAGR sebesar
5,62%. Pada tahun 2021 jumlah liabilitas tercatat sebesar Rp24.857 miliar. Pada tahun 2022
jumlah liabilitas mengalami peningkatan sebesar 15,40% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp28.684 miliar. Pada Tahun 2023 jumlah liabilitas mengalami peningkatan sebesar
6,25% secara year on year atau tercatat sebesar Rp30.478 miliar. Pada tahun 2024 jumlah
liabilitas mengalami peningkatan sebesar 1,03% secara year on year atau tercatat sebesar
Halaman 66 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 68
Rp30.791 miliar. Pada tahun 2025 jumlah liabilitas mengalami peningkatan sebesar 0,45%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp30.931 miliar.
Jumlah Ekuitas
Pertumbuhan jumlah ekuitas ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang meningkatan dengan rata-rata CAGR sebesar
9,92%. Pada tahun 2021 jumlah ekuitas tercatat sebesar Rp7.763 miliar. Pada tahun 2022
jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar 11,45% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp8.652 miliar. Pada Tahun 2023 jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar
8,33% secara year on year atau tercatat sebesar Rp9.373 miliar. Pada tahun 2024 penjualan
mengalami peningkatan sebesar 10,30% secara year on year atau tercatat sebesar Rp10.338
miliar. Pada tahun 2025 jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar 9,63% secara year
on year atau tercatat sebesar Rp11.334 miliar.
Laporan Laba Rugi
Tabel 36. Laporan Laba Rugi ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Pendapatan
Pembiayaan Konsumen 4.498 4.944 5.487 5.590 5.338
Marjin Murabahah 335 251 201 95 62
Sewa Pembiayaan 293 402 508 562 652
Bagi Hasil Musyarakah 8 17 57 190 253
Pembiayaan Anjak Piutang 7 3 2 5 6
Bunga Bank 15 15 17 15 15
Lain-Lain - Bersih 399 399 364 301 313
Jumlah Pendapatan - Bersih 5.555 6.031 6.636 6.758 6.639
Beban
Beban Bunga Dan Keuangan (1.601) (1.533) (1.845) (1.971) (2.006)
Beban Usaha (1.031) (1.083) (1.274) (1.334) (1.379)
Beban Pajak Final (3) (3) (3) (3) (3)
Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai (1.471) (1.545) (1.128) (998) (748)
Penyisihan/(Pemulihan) Kpn Piutang Lain-Lain (46) 16 (30) 23 (22)
Jumlah Beban (4.152) (4.148) (4.280) (4.283) (4.158)
Laba Sebelum Bagian Laba Bersih Entitas
1.403 1.883 2.356 2.475 2.481
Asosiasi & Pajak
Bagian Laba Bersih Entitas Asosiasi 37 40 40 28 44
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 1.440 1.923 2.396 2.503 2.525
Pajak Penghasilan
Beban Pajak Penghasilan (319) (423) (530) (554) (557)
Laba Bersih 1.121 1.500 1.866 1.949 1.968
Sumber: Laporan Keuangan Audit ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Pendapatan Bersih
Pertumbuhan pendapatan bersih ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
Halaman 67 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 69
4,56%. Pada tahun 2021 pendapatan bersih tercatat sebesar Rp5.555 miliar. Pada tahun 2022
pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar 8,57% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp6.031 miliar. Pada Tahun 2023 pendapatan bersih mengalami peningkatan
sebesar 10,03% secara year on year atau tercatat sebesar Rp6.636 miliar. Pada tahun 2024
pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar 1,84% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp6.758 miliar. Pada tahun 2025 pendapatan bersih mengalami penurunan sebesar
1,76% secara year on year atau tercatat sebesar Rp6.639 miliar.
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba sebelum pajak penghasilan ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 15,07%. Pada tahun 2021 laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar
Rp1.440 miliar. Pada tahun 2022 laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan
sebesar 33,54% secara year on year atau tercatat sebesar Rp1.923 miliar. Pada Tahun 2023
laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan sebesar 24,60% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp2.396 miliar. Pada tahun 2024 laba sebelum pajak penghasilan
mengalami peningkatan sebesar 4,47% secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.503
miliar. Pada tahun 2025 laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan sebesar
0,88% secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.525 miliar.
Laba Tahun Berjalan
Pertumbuhan laba tahun berjalan ASF selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
XXX. Pada tahun 2021 laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp1.121 miliar. Pada tahun 2022
laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 33,81% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp1.500 miliar. Pada Tahun 2023 laba tahun berjalan mengalami peningkatan
sebesar 24,40% secara year on year atau tercatat sebesar Rp1.866 miliar. Pada tahun 2024
laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 4,45% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp1.949 miliar. Pada tahun 2025 laba tahun berjalan mengalami peningkatan
sebesar 0,97% secara year on year atau tercatat sebesar Rp1.968 miliar.
Laporan Arus Kas
Tabel 37. Laporan Arus Kas ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Arus Kas Bersih - Aktivitas Operasi (146) (2.619) (1.817) 712 265
Arus Kas Bersih - Aktivitas Investasi (53) (59) (82) (45) (33)
Arus Kas Bersih - Aktivitas Pendanaan 235 2.615 2.074 (607) (484)
(Penurunan)/Kenaikan Bersih Kas Dan Setara
36 (63) 175 60 (252)
Kas
Kas dan Setara Kas Awal Tahun 742 778 715 890 950
Kas Dan Setara Kas Akhir Tahun 778 715 890 950 698
Sumber: Laporan Keuangan Audit ASF Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Berikut adalah macam-macam arus kas ASF berdasarkan data historis laporan keuangan
ASF per 31 Desember 2025:
Halaman 68 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 70
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional ASF per 31 Desember 2025
adalah sebesar Rp265miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan operasional ASF
menghasilkan arus kas positif.
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi ASF per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif Rp33 miliar. Arus kas investasi bernilai negatif karena perusahaan
melakukan investasi penambahan aset tetap.
▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan ASF per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif Rp484 miliar. Aktivitas pendanaan dicatatkan negatif karena
terdapat pembayaran pinjaman dan pembayaran pokok surat berharga diterbitkan.
• Analisis Common Size (Common Size Analysis)
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
Perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap
total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya
atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
perusahaan dengan menggunakan metode common size statement analysis:
Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan
Tabel 38. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%)
Laporan Posisi Keuangan 2021 2022 2023 2024 2025
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah Liabilitas 76,20% 76,83% 76,48% 74,86% 73,18%
Jumlah Ekuitas 23,80% 23,17% 23,52% 25,14% 26,82%
Jumlah Liabilitas Dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan ASF, berdasarkan analisis common size statement,
selama 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025, rata-rata proporsi
liabilitas terhadap rata-rata total aset lebih besar sebesar 75,51% dibandingkan dengan
rata-rata proporsi ekuitas terhadap rata-rata total aset sebesar 24,49%. Pada periode 31
Desember 2025 proporsi total liabilitas terhadap total aset lebih besar sebesar 73,18%
dibandingkan dengan proporsi ekuitas terhadap total aset sebesar 26,82%.
Analisis Commonsize Statement – Laporan Laba Rugi
Tabel 39. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%)
Laporan Laba Rugi Dan
2021 2022 2023 2024 2025
Penghasilan
Jumlah Pendapatan 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laba Sebelum Pajak
25,92% 31,89% 36,11% 37,04% 38,03%
Penghasilan
Laba Tahun Berjalan 20,18% 24,87% 28,12% 28,84% 29,64%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rata-rata proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap rata-rata pendapatan bersih
selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar
33,80%, dan proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 38,03%.
Halaman 69 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 71
Rata-rata proporsi laba tahun berjalan terhadap rata-rata pendapatan bersih selama
periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 26,33%,
dan proporsi laba tahun berjalan terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember
2025 adalah sebesar 29,64%.
3.2.2 Penilaian Atas Proyeksi Keuangan
Proyeksi penjualan Perseroan disusun spesifik terhadap tambahan penjualan alat berat yang
didukung dari penyaluran pinjaman kepada ASF.
Tabel 40. Proyeksi Penjualan Setelah Rencana Transaksi
Periode Jul-26 Aug-26 Sep-26 Oct-26 Nov-26 Dec-26
Periode Start 01/07/2026 01/08/2026 01/09/2026 01/10/2026 01/11/2026 01/12/2026
Periode End 31/07/2026 31/08/2026 30/09/2026 31/10/2026 30/11/2026 31/12/2026
Total Penjualan Unit 0 1 0 2 2 3
Total Pendapatan
Penjualan (dalam 0 1.523 0 1.523 1.523 2.216
jutaan)
Target Laba Bersih 0 152 0 152 152 222
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Tabel 41. Proyeksi Penjualan Setelah Rencana Transaksi (lanjutan)
Periode Jan-27 Feb-27 Mar-27 Apr-27 May-27 Jun-27
Periode Start 01/01/2027 01/02/2027 01/03/2027 01/04/2027 01/05/2027 01/06/2027
Periode End 31/01/2027 28/02/2027 31/03/2027 30/04/2027 31/05/2027 30/06/2027
Total Penjualan Unit 6 9 6 11 7 10
Total Pendapatan
Penjualan (dalam 4.294 8.864 5.955 10.249 10.103 12.798
jutaan)
Target Laba Bersih 429 886 596 1.025 1.010 1.280
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Proyeksi terdiri dari tambahan jumlah penjualan unit, jenis unit alat berat, harga jual unit, total
pendapatan, dan target laba bersih. Basis target laba bersih pada proyeksi diasumsikan sebesar
10% dari total penjualan.
Tabel 42. Margin Laba Bersih Perseroan
Keterangan 2021 2022 2023 2024 2025
Margin Laba Bersih 12,94% 16,99% 16,03% 14,53% 11,28%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Secara historis, Perseroan mencatatkan margin laba bersih selama 5 tahun dengan rentan 11,28%
pada tahun 2025 hingga sebesar 16,94% pada tahun 2022. Secara rata-rata, margin laba bersih
Perseroan selama 5 tahun adalah sebesar 14,35%.
Basis asumsi margin laba bersih sebesar 10% dari proyeksi tambahan penjualan diperoleh dari
asumsi konservatif rata-rata margin laba bersih Perseroan periode 5 tahun sejak tahun 2021
hingga 2025.
Halaman 70 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 72
3.2.3 Analisis Rasio Keuangan
Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) - Perseroan
Analisis rasio keuangan atau Financial Ratio Analysis merupakan salah satu bentuk teknis analisis
laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang digunakan dalam analisis rasio
keuangan Perseroan.
Tabel 43. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Gross Profit Margin 24,75% 28,12% 27,83% 25,17% 22,62%
Operating Profit Margin 18,72% 23,57% 23,12% 20,22% 16,81%
Net Profit Margin 12,94% 16,99% 16,03% 14,53% 11,28%
Return On Assets 9,13% 14,95% 13,38% 11,52% 8,34%
Return On Equity 14,31% 23,47% 24,53% 19,89% 14,36%
Rasio Likuiditas (X)
Current Ratio 1,99X 1,88X 1,46X 1,54X 1,36X
Quick Ratio 1,68X 1,51X 1,06X 1,17X 1,04X
Cash Ratio 1,09X 0,91X 0,43X 0,55X 0,50X
Rasio Solvabilitas (X)
Debt to Equity Ratio 0,13X 0,03X 0,22X 0,21X 0,18X
Debt to Assets Ratio 0,08X 0,02X 0,12X 0,12X 0,11X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasionalnya. Rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin adalah rasio yang menggambarkan tingkat laba kotor terhadap penjualan
bersih setelah dikurangi harga pokok penjualan atau rasi laba kotor atas penjualan
perusahaan. Rata-rata rasio Gross Profit Margin Perseroan selama periode 31 Desember 2021
hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 25,70%, dan pada periode 31 Desember 2025
tercatat sebesar 22,62%.
2. Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari kegiatan operasional utama sebelum beban bunga dan pajak. Rata-
rata rasio Operating Profit Margin Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31
Halaman 71 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 73
Desember 2025 adalah sebesar 20,49%, dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat
sebesar 16,81%.
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah rasio untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari
setiap satuan penjualan. Rata-rata rasio Net Profit Margin Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 14,35%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 11,28%.
4. Return on Assets (ROA)
Return on Assets adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih. Rata-rata rasio Return on Assets Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 11,47%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 8,34%.
5. Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah rasio untuk mengukur tingkat pengembalian atas modal yang
diinvestasikan oleh pemegang saham. Rata-rata rasio Return on Equity Perseroan selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 19,31%, dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 14,36%.
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini menilai tingkat keamanan
keuangan perusahaan dalam menghadapi kewajiban lancar. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Current Ratio
Current Ratio adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang lancar
menggunakan aset lancar. Rata-rata rasio aset lancar terhadap kewajiban lancar Perseroan
selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 1,64 kali dan
pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,36 kali.
2. Quick Ratio
Quick Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
lancar tanpa mengandalkan persediaan. Rata-rata rasio aset lancar tanpa persedian terhadap
kewajiban lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025
adalah sebesar 1,29 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,04 kali.
3. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan melunasi kewajiban
lancar hanya dengan kas dan setara kas. Rata-rata rasio kas dan setara kas dibandingkan
kewajiban lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025
adalah sebesar 0,70 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,50 kali.
Halaman 72 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 74
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjang serta menilai struktur pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan sejauh
mana aset perusahaan dibiayai oleh utang dan ekuitas. Indikator yang digunakan antara lain:
1. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan besarnya aset perusahaan yang dibiayai
oleh utang. Rata-rata rasio total utang terhadap total aset Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,15 kali dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 0,18 kali.
2. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Assets Ratio adalah rasio yang menggambarkan proporsi antara total utang terhadap
ekuitas perusahaan. Rata-rata rasio total utang terhadap total ekuitas Perseroan selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,09 kali dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,11 kali.
Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) - ASF
Analisis rasio keuangan atau Financial Ratio Analysis merupakan salah satu bentuk teknis analisis
laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang digunakan dalam analisis rasio
keuangan perusahaan.
Tabel 44. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Net Profit Margin 20,18% 24,87% 28,12% 28,84% 29,64%
Return On Assets 3,44% 4,02% 4,68% 4,74% 4,66%
Return On Equity 14,44% 17,34% 19,91% 18,85% 17,36%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasionalnya. Rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah rasio untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari
setiap satuan penjualan. Rata-rata rasio Net Profit Margin Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 26,33%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 29,64%.
2. Return on Assets (ROA)
Halaman 73 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 75
Return on Assets adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih. Rata-rata rasio Return on Assets Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 4,31%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 4,66%.
3. Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah rasio untuk mengukur tingkat pengembalian atas modal yang
diinvestasikan oleh pemegang saham. Rata-rata rasio Return on Equity Perseroan selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 17,58%, dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 17,36%.
Tabel 45. Rasio Keuangan Dan Kesehatan Perusahaan
Rasio Keuangan dan Kesehatan
2021 2022 2023 2024 2025
Perusahaan
Financing to asset ratio 94.17% 93.05% 93.69% 93.53% 94.27%
Rasio saldo piutang
pembiayaan neto terhadap total 132.04% 127.43% 127.09% 129.40% 132.75%
pendanaan yang diterima
Rasio saldo piutang
pembiayaan untuk pembiayaan
investasi dan modal kerja 26.43% 28.53% 27.16% 28.19% 29.87%
dibandingkan dengan total
saldo piutang pembiayaan
Rasio piutang pembiayaan
0.99% 0.46% 0.50% 0.49% 0.30%
bermasalah (NPF) - bersih
Rasio permodalan 30.50% 29.18% 29.33% 32.13% 34.82%
Rasio ekuitas terhadap modal
264.20% 294.54% 318.71% 352.07% 385.81%
disetor
Gearing Ratio 3,00 3,15 3,13 2,86 2,65
Sumber: Informasi Laporan Keuangan ASF 2021-2025
Secara keseluruhan, hasil analisis rasio keuangan dan kesehatan perusahaan ASF selama periode
2021–2025 menunjukkan bahwa perusahaan memenuhi ketentuan yang diatur dalam POJK No.
35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Pemenuhan ini
tidak hanya bersifat formal-regulatoris, namun juga mencerminkan kinerja keuangan yang
fundamental sehat.
3.2.4 Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi dapat dilihat dari perubahan
keuangan pada pos-pos yang terdampak. Pada Rencana Transaksi ini, dampak keuangan atas
Rencana Transaksi disajikan pada tabel berikut:
Tabel 46. Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 26.570.772 (59.049) 26.511.723
Piutang Usaha
Halaman 74 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 76
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Pihak Ketiga 18.559.795 18.559.795
Pihak Berelasi 1.357.868 1.357.868
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 492.811 492.811
Pihak Berelasi 1.203.084 1.203.084
Persediaan 16.729.809 16.729.809
Proyek dalam Pelaksanaan 28.698 28.698
Pihak Ketiga
Pihak Berelasi
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.653.543 1.653.543
Pajak Lain-lain 3.643.857 3.643.857
Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 1.543.309 1.543.309
Aset Lancar Lain-lain 357.480 357.480
Total Aset Lancar 72.141.026 (59.049) 72.081.977
Aset Tidak Lancar
Kas dan deposito berjangka yang dibatasi
787.806 787.806
penggunaannya
Piutang usaha
Pihak Ketiga 453.411 453.411
Pihak Berelasi 18.957 18.957
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 88.336 88.336
Pihak Berelasi 3.103.936 59.049 3.162.985
Persediaan 105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.446.559 1.446.559
Pajak Lain-lain 1.650.429 1.650.429
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 793.619 793.619
Investasi pada entitas asosiasi Investments
17.223.562 17.223.562
in associates dan ventura bersama
Investasi jangka panjang 3.175.766 3.175.766
Aset tetap 45.296.550 45.296.550
Properti pertambangan 14.809.384 14.809.384
Properti investasi 244.469 244.469
Beban eksplorasi dan pengembangan
2.768.518 2.768.518
tangguhan
Aset tambang berproduksi 3.958.340 3.958.340
Beban tangguhan 1.169.123 1.169.123
Aset pajak tangguhan 4.891.419 4.891.419
Goodwill 3.510.559 3.510.559
Total Aset Tidak Lancar 105.496.273 59.049 105.555.322
Total Aset 177.637.299 0 177.637.299
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Halaman 75 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 77
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Utang usaha
Pihak Ketiga 29.095.249 29.095.249
Pihak Berelasi 213.679 213.679
Utang non-usaha
Pihak Ketiga 1.132.969 1.132.969
Pihak Berelasi 87.548 87.548
Utang pajak
Pajak Penghasilan Badan 825.803 825.803
Pajak Lain-lain 584.846 584.846
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan
Pihak Ketiga 857.034 857.034
Pihak Berelasi 44.175 44.175
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Pinjaman bank jangka pendek 560.000 560.000
Bagian jangka pendek dari utang jangka
panjang
Pinjaman Bank 9.682.666 9.682.666
Liabilitas Sewa 801.430 801.430
Pinjaman Lain-lain 560.318 560.318
Pinjaman bank jangka pendek dari
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Lain-
lain
Total Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 0 53.212.975
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Provisi rehabilitasi, reklamasi, dan
1.154.627 1.154.627
penutupan tambang
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang, setelah dikurangi
bagian jangka pendek
Pinjaman Bank 6.054.620 6.054.620
Liabilitas Sewa 976.309 976.309
Pinjaman Lain-lain 281.698 281.698
Liabilitas keuangan jangka panjang lain-
3.555.105 3.555.105
lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 0 21.288.001
Total Liabilitas 74.500.976 0 74.500.976
Ekuitas
Ekuitas yang diatribusikan kepada entitas
induk
Modal Disetor 932.534 932.534
Tambahan Modal Disetor 9.703.937 9.703.937
Saham Tresuri (4.902.237) (4.902.237)
Saldo Laba
Dicadangkan 186.507 186.507
Halaman 76 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 78
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Belum Dicadangkan 85.547.627 85.547.627
Selisih kurs dari penjabaran Laporan
9.227.066 9.227.066
keuangan
Cadangan lindung nilai (2.065.280) (2.065.280)
Cadangan penyesuaian nilai wajar aset
19.386 19.386
tetap
Transaksi dengan Kepentingan
(875.920) (875.920)
Nonpengendali
Total Ekuitas yang diatribusikan kepada
97.773.620 0 97.773.620
entitas induk
Kepentingan Nonpengandali 5.362.703 5.362.703
Total Ekuitas 103.136.323 0 103.136.323
Total Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 0 177.637.299
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Tabel 47. Proforma Laporan Laba Rugi Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Laba Rugi Penyesuaian
31 Desember 2025 31 Desember 2025
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) (101.597.306)
Laba bruto 29.703.504 0 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) (1.597.792)
Beban umum dan administrasi (6.040.414) (6.040.414)
Beban lain-lain, bersih (256.226) (256.226)
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) (2.625.818)
Bagian atas laba bersih entitas asosiasi
(245.576) (245.576)
dan ventura bersama
Laba sebelum pajak penghasilan 20.182.167 0 20.182.167
Beban pajak penghasilan (5.005.403) (5.005.403)
Laba tahun berjalan 15.176.764 0 15.176.764
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Dampak dari Rencana Transaksi terhadap keuangan Perseroan diantaranya:
• Terdapat penyesuaian penurunan pada pos kas dan setara kas sebesar Rp59.049 juta akibat
rencana pemberian pinjaman kepada ASF yang bersumber dari dana internal Perseroan.
• Terdapat penyesuaian kenaikan pada pos piutang non usaha pihak berelasi sebesar Rp59.049
juta akibat rencana pemberian pinjaman kepada ASF dimana rencana pinjaman yang
diberikan merupakan pinjaman non usaha dan ASF yang merupakan perusahaan yang
terafiliasi dengan Perseroan.
• Pada proforma laba rugi, tidak ada penyesuaian yang merubah pos-pos keuangan sebelum
dan setelah rencana transaksi pemberian pinjaman.
Secara garis besar, Rencana Transaksi berdampak pada pengurangan kas akibat penggunaan
dana internal Perseroan sebagai pinjaman yang diberikan kepada ASF dan kenaikan piutang non
usaha pihak berelasi sebagai pencatatan piutang atas pinjaman yang diberikan Perseroan ke ASF.
Halaman 77 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 79
3.2.5 Analisis Kemampuan Bayar Sampai Saat Jatuh Tempo
Pada analisis kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo, digunakan proksi ASF sebagai
penerima pinjaman berupa kinerja keuangan historis dan rasio keuangan terkait pemenuhan
regulasi dan kesehatan perusahaan.
Tabel 48. Rasio Profitabilitas ASF
Rasio Profitabilitas ASF 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Net Profit Margin 20,18% 24,87% 28,12% 28,84% 29,64%
Return on Assets 3,44% 4,02% 4,68% 4,74% 4,66%
Return on Equity 14,44% 17,34% 19,91% 18,85% 17,36%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Perusahaan mencatatkan kinerja margin laba bersih dalam rentang 20,18% pada tahun 2021
hingga 29,64% pada tahun 2025 dengan tren meningkat selama 5 tahun. Menggunakan proksi
pendapatan berbanding aset, perusahaan mencatatkan perolehan sebesar 3,44% pada tahun
2021 hingga sebesar 4,74% pada tahun 2023. Menggunakan proksi pendapatan berbanding
ekuitas, perusahaan mencatatkan perolehan sebesar 14,44% pada tahun 2021 hingga sebesar
19,91% pada tahun 2023 selama 5 tahun.
Tabel 49. Rasio Keuangan dan Kesehatan ASF
Rasio Keuangan dan Kesehatan
2021 2022 2023 2024 2025
Perusahaan
Financing to asset ratio 94.17% 93.05% 93.69% 93.53% 94.27%
Rasio saldo piutang
pembiayaan neto terhadap total 132.04% 127.43% 127.09% 129.40% 132.75%
pendanaan yang diterima
Rasio saldo piutang
pembiayaan untuk pembiayaan
investasi dan modal kerja 26.43% 28.53% 27.16% 28.19% 29.87%
dibandingkan dengan total
saldo piutang pembiayaan
Rasio piutang pembiayaan
0.99% 0.46% 0.50% 0.49% 0.30%
bermasalah (NPF) - bersih
Rasio permodalan 30.50% 29.18% 29.33% 32.13% 34.82%
Rasio ekuitas terhadap modal
264.20% 294.54% 318.71% 352.07% 385.81%
disetor
Gearing Ratio 3,00 3,15 3,13 2,86 2,65
Sumber: Laporan Keuangan ASF 2021-2025
Pada rasio keuangan dan tingkat kesehata perusahaan, perusahaan mencatatkan pemenuhan
ketentuan regulator dan pemenuhan tingkat kesehatan perusahaan yang diatur pada POJK No.
35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan yang berkaitan
dengan ketentuan pemenuhan gearing ratio, rasio Saldo Piutang Pembiayaan (Outstanding
Principal) untuk Pembiayaan Investasi dan Pembiayaan Modal Kerja dibandingkan dengan total
Saldo Piutang Pembiayaan (Outstanding Principal), pemenuhan ekuitas, rasio Ekuitas terhadap
Modal Disetor, rasio permodalan, dan pemenuhan ketentuan lainnya yang diatur pada POJK No.
35/POJK.05/2018.
Secara keseluruhan, hasil analisis rasio keuangan dan kesehatan perusahaan ASF selama periode
2021–2025 menunjukkan bahwa perusahaan memenuhi ketentuan yang diatur dalam POJK No.
35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Indikator kinerja
Halaman 78 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 80
keuangan dan pemenuhan regulasi terkait perusahaan pembiayaan dapat menjadi salah satu
proksi kesehatan dan kemampuan melunasi pinjaman terkait rencana transaksi.
3.2.6 Analisis Cash Management Dan Financial Covenant
Analisis cash management dari Rencana Transaksi dapat dianalisis dari sumber pendanaan
pinjaman, besaran nilai Rencana Transaksi terhadap kas dan setara kas Perusahaan, dan rasio
kas Perusahaan sebelum dan setelah Rencana Transaksi.
Tabel 50. Analisis Cash Management
(dalam juta Rupiah)
Analisis Cash Management 31 Desember 2025
Kas dan Setara Kas PT United Tractors Tbk 26.570.772
Nilai Rencana Transaksi 300.000
Nilai Rencana Transaksi terhadap Kas 1,13%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Tabel 51. Rasio Kas
Analisis Kas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Cash Ratio 0,499 0,498 0,001
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Analisis cash management dengan menganalisis sumber pendanaan pinjaman dimana sumber
dana Rencana Transaksi menurut keterangan manajemen bersumber dari internal Perseroan.
Membandingkan nilai Rencana Transaksi dengan nilai kas dan setara kas per tanggal pendapat
kewajaran sebesar 1,13% memberikan informasi bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan
dampak signifikan terhadap posisi kas dan setara kas perusahaan.
Analisis cash management dengan proksi cash ratio sebelum dan setelah Rencana Transaksi
menunjukkan selisih perubahan rasio sebesar 0,001 kali yang menggambarkan dampak Rencana
Transaksi terhadap kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendek
menggunakan kas.
Berdasarkan draft perjanjian pinjaman antar perusahaan, tidak terdapat informasi mengenai
ketentuan financial covenant terkait pinjam-meminjam antara Perseroan dan ASF.
3.2.7 Analisis Yield Dibanding Instrumen Sejenis (Obligasi/Kredit Bank)
Analisis yield dibanding instrument sejenis dilakukan dengan membandingkan yield dari Rencana
Transaksi pinjam-meminjam antara Perseroan dan ASF dengan instrumen surat utang dan suku
bunga kredit bank.
Tabel 52. Yield Pinjaman Perseroan - ASF
Yield Pinjaman Perseroan - ASF Keterangan
Suku bunga pinjaman per tahun 5% - 6,75%
Potensi laba dari penjualan unit alat berat Tambahan potensi laba penjualan unit alat berat
5% - 6,75% dan tambahan potensi laba penjualan
Yield Ekonomi Total
unit alat berat
Sumber: Draft Perjanjian Perseroan - ASF
Halaman 79 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 81
Berdasarkan perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF, tingkat suku bunga yang dikenakan
atas pinjaman yang diberikan adalah sebesar tidak kurang dari 5% dan maksimal sebesar 6,75%.
Selain itu, salah satu tujuan dari Rencana Transaksi adalah untuk mendukung penjualan alat berat
Perseroan. Sehingga total yield ekonomi dari Rencana Transaksi adalah tingkat bunga yang
dikenakan sebesar 5% - 6,75% dan tambahan potensi laba penjualan unit alat berat.
Tabel 53. Yield Surat Utang Pasar rating AA
AA Corporate Bond Yield by Tenor (IDR)
Komponen Tenor Yield
IGSYC 5,72% 5,72%
AAA Credit Spread (IDR) 5 0,51%
Yield to Maturity 6,23%
Sumber: IBPA 29 Desember 2025, diolah
Surat Utang Korporasi dengan rating AAA digunakan sebagai acuan tingkat yield pasar surat
utang dan digunakan sebagai salah satu pembanding yield dari Rencana Transaksi. Rating AAA
merepresentasikan rating ASF sebagai perusahaan yang menerima pinjaman yang dikeluarkan
oleh Pefindo per tanggal pendapat kewajaran. Diperoleh bahwa yield dari obligasi pemerintah
Indonesia denominasi IDR dengan tenor 5 tahun adalah sebesar 5,72% per 29 Desember 2025.
Selanjutnya credit spread untuk surat utang dengan rating AAA dengan tenor 5 tahun per 29
Desember 2025 adalah sebesar 0,51%. Dengan begitu, yield pasar dari surat utang korporasi
dengan rating AAA adalah sebesar 6,23%.
Dengan begitu, yield pasar dari surat utang dengan rating AAA dan tenor 5 tahun berada pada
rentang total yield ekonomi pinjaman dari Rencana Transaksi antara Perseroan dan ASF sebesar
5% sampai 6,75% + tambahan potensi laba penjualan unit alat berat.
Tabel 54. Analisis Yield Dibandingkan dengan Kredit Modal Kerja Perbankan
No Tingkat Suku Bunga Pinjaman BI Bank Persero
1 Working Capital Loans 8,12%
Sumber: SEKI BI - Desember 2025
Suku Bunga pinjaman Rupiah di Indonesia dapat digunakan sebagai acuan perbandingan tingkat
suku bunga instrumen sejenis. Pada data yang diperoleh, tingkat suku bunga kredit bank di
Indonesia untuk kredit modal kerja adalah sebesar 8,12%. Dengan begitu, untuk menentukan
perbandingan yield antara total yield ekonomi pada Rencana Transaksi pinjaman antara
Perseroan dan ASF sebesar 5% sampai 6,75% + tambahan potensi laba penjualan unit alat berat
dibandingkan yield dari suku bunga pinjaman modal kerja, analisis tembahan dilakukan pada
analisis nilai tambah (incremental).
3.2.8 Incremental Analysis (Nilai Tambah)
Analisis nilai tambah dilakukan dengan membandingkan proyeksi Rencana Transaksi berupa
pendapatan bunga ditambah potensi laba dari penjualan alat berat, pendapatan bunga pada
surat utang korporasi rating AAA, dan pendapatan bunga kredit modal kerja perbankan.
Halaman 80 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 82
Tabel 55. Incremental Analysis (Nilai Tambah)
(dalam juta Rupiah)
Keterangan Jumlah
Pendapatan Bunga Rencana Transaksi 6.981
Akumulasi Nilai Kini Laba Penjualan Alat Berat 4.460
Total Pendapatan Ekonomi Rencana Transaksi 11.441
Akumulasi Pendapatan Bunga Surat Utang Pasar 7.677
Selisih lebih (kurang) dengan Total Pendapatan Ekonomi Rencana Transaksi (3.763)
Akumulasi Pendapatan Bunga Pinjaman Kredit Modal Kerja Perbankan 9.570
Selisih lebih (kurang) dengan Total Pendapatan Ekonomi Rencana Transaksi (1.871)
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Pada analisis nilai tambah, perolehan total pendapatan ekonomi Rencana Transaksi adalah
sebesar Rp11.441 juta yang terdiri dari pendapatan bunga ditambah akumulasi nilai kini laba
penjualan alat berat akibat Rencana Transaksi. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan dengan
akumulasi pendapatan bunga surat utang pasar sebesar Rp7.677 juta dan lebih besar dari
akumulasi pendapatan bunga pinjaman kredit modal kerja perbankan sebesar Rp9.570 juta.
Selisih antara total pendapatan ekonomi rencana transaksi dengan akumulasi pendapatan bunga
surat utang pasar adalah sebesar Rp3.763 juta, dimana nilai tambah Rencana Transaksi memiliki
nilai tambah yang lebih tinggi. Selisih antara total pendapatan ekonomi rencana transaksi dengan
akumulasi pendapatan bunga pinjaman kredit modal kerja perbankan adalah sebesar Rp1.871
juta, dimana nilai tambah Rencana Transaksi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Dari analisis nilai tambah yang dilakukan, disimpulkan bahwa Rencana Transaksi memiliki nilai
tambah berupa perolehan laba setelah pajak pada Perseroan yang berasal dari perolehan
pendapatan bunga dan akumulasi nilai kini laba penjualan alat berat.
Tabel 56. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Uraian Jumlah Keterangan
Weighted Debt 79,96% Damodaran
Weighted Equity 20,04% Damodaran
Cost of Equity:
Risk Free 5,70% Surat Utang Negara RI – 5 Tahun
Beta 1,56 Damodaran
Risk Premium 6,69% Damodaran
Country Default Spread 1,62% Damodaran
Total 14,50%
Cost of Debt:
Interest Rate 8,44% Suku bunga Kredit Investasi – SEKI BI
Tax Rate 22,00% UU No. 7 Tahun 2021
Total 6,58%
Weighted Cost of Equity 11,59%
Weighted Cost of Debt 1,32%
Weighted Avg. Cost of Capital 12,91%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 81 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 83
3.2.9 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan melakukan perubahan pada variabel margin laba bersih.
Sensitivitas diaplikasikan sebesar rentang 5% sampai 15% pada proyeksi margin laba bersih
Perseroan. Selanjutnya diperoleh sensitivitas jumlah pendapatan bunga dan laba dari penjualan
alat berat hasil aplikasi sensitivitas.
Tabel 57. Analisis Sensitivitas
(dalam juta Rupiah)
Sensitivitas Akumulasi Nilai Kini laba Jumlah Pendapatan Bunga
Pendapatan Bunga
Margin Laba atas penjualan unit alat dan Laba dari Penjualan Alat
Rencana Transaksi
Bersih berat Berat
5% 2.248 6.981 9.228
7,5% 3.372 6.981 10.352
10% 4.460 6.981 11.441
12,5% 5.620 6.981 12.600
15% 6.743 6.981 13.724
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Dari analisis sensitivitas yang diperoleh, jumlah pendapatan bunga dan laba dari penjualan alat
berat berada pada rentang Rp9.228 juta untuk margin laba bersih 5% hingga sebesar Rp13.724
juta untuk margin laba bersih 15%.
Dari analisis yang dilakukan, diperoleh kesimpulan:
b. Sensitivitas margin laba bersih 5% menghasilkan penurunan sebesar 19% jumlah pendapatan
bunga dan laba dari penjualan alat berat dari basis margin yang digunakan sebesar 10%.
c. Sensitivitas margin laba bersih 7,5% menghasilkan penurunan sebesar 10% jumlah
pendapatan bunga dan laba dari penjualan alat berat dari basis margin yang digunakan
sebesar 10%.
d. Sensitivitas margin laba bersih 12,5% menghasilkan kenaikan sebesar 10% jumlah
pendapatan bunga dan laba dari penjualan alat berat dari basis margin yang digunakan
sebesar 10%.
e. Sensitivitas margin laba bersih 15% menghasilkan kenaikan sebesar 20% jumlah pendapatan
bunga dan laba dari penjualan alat berat dari basis margin yang digunakan sebesar 10%.
3.3 Analisis Kelayakan Penggunaan Dana
3.3.1 Analisis Kelayakan Investasi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi berupa
perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF dilakukan
untuk mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan. Melalui
dukungan pembiayaan tersebut, Perseroan diharapkan dapat meningkatkan penjualan alat berat
serta mempertahankan pangsa pasar Perseroan di tengah tingkat persaingan industri yang relatif
ketat. Selain mendukung kegiatan operasional Perseroan, Rencana Transaksi juga diharapkan
dapat memberikan tambahan pendapatan bunga atas fasilitas pinjaman yang diberikan kepada
ASF.
Berdasarkan analisis atas tujuan penggunaan dana, struktur fasilitas pinjaman, serta manfaat
ekonomi yang diharapkan, Rencana Transaksi dinilai memiliki dasar bisnis yang memadai dan
sejalan dengan kegiatan usaha Perseroan. Dengan mempertimbangkan hubungan afiliasi antara
Halaman 82 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 84
Perseroan dan ASF serta keyakinan Manajemen Perseroan terhadap kelancaran pelaksanaan
Rencana Transaksi, maka Rencana Transaksi dinilai layak dari sisi investasi.
3.3.2 Analisis Kelayakan Pelunasan Utang
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan, fasilitas pinjaman dalam
Rencana Transaksi akan digunakan oleh ASF untuk mendukung pembiayaan pembelian alat berat
oleh konsumen Perseroan. Pembayaran kembali atas fasilitas pinjaman tersebut dilakukan secara
berkala sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian pinjaman yang telah disepakati para pihak.
Manajemen Perseroan menjelaskan bahwa ASF memiliki mekanisme pengelolaan pembiayaan
dan penagihan kepada konsumen sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk mendukung
kelancaran pembayaran kewajiban atas fasilitas pinjaman tersebut.
Selain itu, mengingat hubungan antara Perseroan dan ASF merupakan hubungan afiliasi,
Manajemen Perseroan memiliki keyakinan terhadap kemampuan dan kelancaran pembayaran
kewajiban ASF atas Rencana Transaksi ini. Dengan mempertimbangkan tujuan penggunaan
dana, mekanisme pembayaran kembali pinjaman, serta hubungan afiliasi antara Perseroan dan
ASF, maka Rencana Transaksi dinilai layak dari sisi kemampuan pelunasan utang.
3.3.3 Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap dokumen dan informasi yang diberikan oleh Manajemen
Perseroan, tidak terdapat faktor lain yang relevan yang dapat memengaruhi pelaksanaan maupun
kewajaran atas Rencana Transaksi selain faktor-faktor yang telah dianalisis sebelumnya. Dengan
demikian, tidak ada kondisi atau keadaan tambahan yang secara material berpotensi
memengaruhi hasil analisis kewajaran atas Rencana Transaksi dimaksud.
Halaman 83 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 85
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Analisis Objek Rencana Transaksi
Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan serta dokumen pendukung
yang diberikan, diketahui bahwa besaran dana dalam objek Rencana Transaksi berupa
perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF adalah
sebesar Rp300.000.000.000 (Tiga Ratus Miliar Rupiah).
Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis atas laporan keuangan proforma Perseroan sebelum dan setelah
pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi memberikan dampak
utama berupa penurunan pada pos kas dan setara kas akibat penggunaan dana internal
Perseroan untuk pemberian pinjaman kepada ASF, serta peningkatan pada pos piutang non
usaha pihak berelasi sebagai pencatatan atas fasilitas pinjaman yang diberikan kepada ASF
selaku pihak terafiliasi Perseroan. Sementara itu, pada proforma laporan laba rugi tidak terdapat
penyesuaian yang menyebabkan perubahan material terhadap pos-pos keuangan Perseroan
sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, sehingga secara umum Rencana Transaksi
lebih berdampak pada perubahan komposisi aset Perseroan tanpa memberikan dampak material
terhadap kinerja operasional Perseroan.
Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi
Berdasarkan penjelasan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi dilakukan untuk mendukung
kegiatan pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan melalui ASF, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan daya saing penjualan alat berat Perseroan. Selain itu, Rencana
Transaksi juga diharapkan dapat membantu Perseroan dalam mempertahankan dan
meningkatkan pangsa pasar di tengah tingkat persaingan industri yang relatif ketat serta
mendukung pertumbuhan penjualan Perseroan secara berkelanjutan.
4.2 Analisis Pengaruh atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis terhadap laporan keuangan proforma Perseroan sebelum dan setelah
pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak
material terhadap kondisi keuangan Perseroan. Dari sisi likuiditas, terdapat penurunan yang
relatif tidak signifikan pada current ratio, quick ratio, dan cash ratio akibat penggunaan sebagian
kas internal Perseroan untuk pemberian pinjaman kepada ASF, dimana nilai realisasi pinjaman
tersebut masih relatif kecil dibandingkan total kas dan setara kas Perseroan. Sementara itu, dari
sisi solvabilitas, Rencana Transaksi tidak memberikan perubahan material terhadap Debt to Assets
Ratio, Debt to Equity Ratio, maupun Times Interest Earned karena sumber pendanaan berasal dari
dana internal Perseroan dan hanya menyebabkan perubahan komposisi aset berupa peningkatan
piutang non usaha pihak berelasi. Dengan demikian, secara keseluruhan Rencana Transaksi tidak
berdampak signifikan terhadap tingkat likuiditas maupun solvabilitas Perseroan.
Halaman 84 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 86
4.3 Identifikasi Dan Hubungan Antara Pihak Dalam Hal Transaksi
Berdasarkan hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepengurusan dan kepemilikan,
pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi adalah Perseroan (selaku pemberi pinjaman) dan ASF
(selaku penerima pinjaman).
Hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepengurusan memiliki hubungan afiliasi
yaitu:
• Bapak Rudy selaku Wakil Presiden Komisaris Perseroan dan juga menjabat sebagai Presiden
Komisaris ASF.
Hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepemilikan memiliki hubungan afiliasi yaitu:
• Pemegang saham mayoritas Perseroan dimiliki oleh ASII sebesar 46,87%, sehingga
Perseroan merupakan entitas anak yang dikendalikan sepenuhnya oleh ASII.
• Pemegang saham mayoritas ASF dimiliki oleh ASII yaitu sebesar 46,87%, sehingga ASF
merupakan entitas anak yang dikendalikan sepenuhnya oleh ASII.
• Mengingat Perseroan dan ASF merupakan entitas anak yang dimiliki sepenuhnya oleh ASII,
maka Perseroan dan ASF tergolong sebagai pihak afiliasi secara tidak langsung melalui
kepemilikan ASII di Perseroan dan ASF.
Oleh karena itu berdasarkan analisis hubungan para pihak dari struktur kepengurusan dan
kepemilikan, Rencana Transaksi ini memenuhi kriteria transaksi afiliasi menurut POJK 42/2020.
Menurut informasi manajemen yang mengacu pada Surat Pernyataan
No.LUT/101/9960/VI/2026 tanggal 04 Juni perihal Informasi atas Benturan Kepentingan dalam
Rangka Transaksi Afiliasi Perseroan dan ASF berupa rencana transaksi perubahan sayarat dan
ketentuan pemberian pinjaman, bahwa Rencana Transaksi tidak mengandung transaksi benturan
kepentingan.
Selain itu berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, ekuitas Perseroan
tercatat sebesar Rp103.136.323.000.000. Dengan mempertimbangkan nilai transaksi sebesar
Rp300.000.000.000, maka transaksi tersebut setara dengan 0,29% dari ekuitas Perseroan. Oleh
karena itu, transaksi dimaksud tidak termasuk sebagai transaksi material sebagaimana yang
diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/POJK.04/2020
tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK 17/2020”).
4.4 Analisis Perjanjian Dan Persyaratan Yang Disepakati Oleh Pihak Dalam Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis terhadap Perjanjian Pinjaman beserta seluruh amandemennya, diketahui
bahwa perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman antara Perseroan dan ASF
telah dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sejak tahun 2018 guna menyesuaikan
kebutuhan pembiayaan dan kondisi bisnis para pihak. Secara umum, perubahan-perubahan
yang dilakukan dalam setiap amandemen terutama berkaitan dengan perpanjangan periode
ketersediaan fasilitas, penyesuaian jumlah fasilitas pinjaman, mekanisme pembayaran kembali,
serta penyesuaian tingkat suku bunga sesuai kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan. Dalam
Rencana Transaksi berupa Draft Amandemen VIII, perubahan utama yang dilakukan adalah
perpanjangan periode ketersediaan fasilitas hingga 30 Juni 2027. Dengan demikian, Rencana
Transaksi dinilai masih sejalan dengan tujuan awal pemberian fasilitas pinjaman, yaitu
mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan melalui ASF, serta
mencerminkan adanya kesinambungan hubungan bisnis dan kerja sama pembiayaan antara
Perseroan dan ASF.
Halaman 85 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 87
4.5 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis likuiditas sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui
bahwa Rencana Transaksi memberikan dampak penurunan yang relatif tidak signifikan terhadap
current ratio, quick ratio, dan cash ratio Perseroan, masing-masing sebesar 0,001 kali. Penurunan
tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan dana internal Perseroan yang berasal dari kas
dan setara kas untuk pemberian pinjaman kepada ASF, sehingga menyebabkan perpindahan
pencatatan aset dari pos kas dan setara kas menjadi piutang non usaha pihak berelasi. Meskipun
demikian, perubahan rasio likuiditas tersebut dinilai tidak material dan tidak memberikan dampak
signifikan terhadap kemampuan likuiditas Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya.
4.6 Analisis Manfaat Dan Risiko Dari Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis manfaat dan risiko atas Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana
Transaksi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Perseroan berupa tambahan pendapatan
bunga atas fasilitas pinjaman yang diberikan kepada ASF serta mendukung peningkatan
penjualan alat berat Perseroan melalui dukungan pembiayaan kepada konsumen. Di sisi lain,
Rencana Transaksi juga memiliki risiko berupa tidak tercapainya target penjualan alat berat
Perseroan dan risiko gagal bayar dari konsumen ASF yang dapat mempengaruhi efektivitas
pelaksanaan pembiayaan. Meskipun demikian, dengan mempertimbangkan tujuan penggunaan
dana, hubungan afiliasi antara Perseroan dan ASF, serta keyakinan Manajemen Perseroan
terhadap kelancaran pelaksanaan Rencana Transaksi, maka manfaat yang diperoleh dari
Rencana Transaksi dinilai lebih besar dibandingkan risiko yang mungkin timbul.
4.7 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi
Berdasarkan hasil analisis kualitatif atas Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana Transaksi
memiliki dasar bisnis yang memadai dan sejalan dengan kegiatan usaha Perseroan dalam
mendukung pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen melalui ASF. Rencana Transaksi
diharapkan dapat memberikan manfaat berupa peningkatan penjualan alat berat, tambahan
pendapatan bunga, serta memperkuat sinergi usaha antara Perseroan dan ASF. Selain itu,
Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap leverage maupun likuiditas
Perseroan dan ASF juga dinilai memiliki kemampuan keuangan serta tingkat kesehatan
perusahaan yang memadai untuk memenuhi kewajibannya. Dengan demikian, secara
keseluruhan Rencana Transaksi dinilai dapat mendukung kegiatan usaha dan pertumbuhan
Perseroan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak negatif yang material terhadap
kondisi keuangan Perseroan.
4.8 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, Perseroan menunjukkan kinerja keuangan yang relatif baik
selama periode historis yang dianalisis, tercermin dari kemampuan Perseroan dalam menjaga
tingkat profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas pada tingkat yang memadai. Selain itu, ASF juga
menunjukkan tingkat profitabilitas dan kesehatan perusahaan yang cukup baik dengan rasio
pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) yang relatif rendah serta gearing ratio
yang masih berada dalam batas ketentuan yang berlaku. Berdasarkan analisis proforma laporan
keuangan sebelum dan setelah pelaksanaan Rencana Transaksi, diketahui bahwa Rencana
Transaksi tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan, baik dari
sisi likuiditas maupun solvabilitas. Proyeksi keuangan Perseroan juga menunjukkan bahwa
Rencana Transaksi berpotensi memberikan tambahan penjualan dan pendapatan bagi Perseroan.
Halaman 86 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 88
Dengan demikian, secara keseluruhan hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa Rencana
Transaksi masih dapat dilaksanakan tanpa memberikan dampak negatif yang material terhadap
kondisi keuangan Perseroan.
4.9 Analisis Kelayakan Rencana Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi
Analisis Kelayakan Investasi
Berdasarkan analisis kelayakan investasi, diketahui bahwa Rencana Transaksi memiliki tujuan
penggunaan dana yang sejalan dengan kegiatan usaha Perseroan, yaitu untuk mendukung
pembiayaan pembelian alat berat oleh konsumen Perseroan melalui ASF. Rencana Transaksi
diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan pendapatan bunga serta
mendukung peningkatan penjualan alat berat dan mempertahankan pangsa pasar Perseroan.
Dengan mempertimbangkan struktur fasilitas pinjaman, manfaat ekonomi yang diharapkan, serta
hubungan afiliasi antara Perseroan dan ASF, maka Rencana Transaksi dinilai layak dari sisi
investasi.
Analisis Kelayakan Pelunasan Utang
Berdasarkan analisis kelayakan pelunasan utang, diketahui bahwa fasilitas pinjaman dalam
Rencana Transaksi akan digunakan oleh ASF untuk mendukung pembiayaan pembelian alat berat
oleh konsumen Perseroan dengan mekanisme pembayaran kembali yang dilakukan secara
berkala sesuai ketentuan perjanjian pinjaman. Selain itu, ASF dinilai memiliki mekanisme
pengelolaan pembiayaan dan penagihan kepada konsumen untuk mendukung kelancaran
pembayaran kewajiban atas fasilitas pinjaman tersebut. Dengan mempertimbangkan hubungan
afiliasi antara Perseroan dan ASF serta keyakinan Manajemen Perseroan terhadap kemampuan
pembayaran ASF, maka Rencana Transaksi dinilai layak dari sisi kemampuan pelunasan utang.
Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap dokumen dan informasi yang diberikan oleh Manajemen
Perseroan, tidak terdapat faktor lain yang relevan yang dapat memengaruhi pelaksanaan maupun
kewajaran atas Rencana Transaksi selain faktor-faktor yang telah dianalisis sebelumnya. Dengan
demikian, tidak ada kondisi atau keadaan tambahan yang secara material berpotensi
memengaruhi hasil analisis kewajaran atas Rencana Transaksi dimaksud.
4.10 Opini Kewajaran atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis yang telah kami lakukan terhadap informasi, data, serta asumsi-asumsi yang
disampaikan oleh manajemen Perseroan, dan dengan mempertimbangkan kondisi serta faktor-
faktor yang relevan, kami berpendapat bahwa transaksi afiliasi antara Perseroan dan ASF berupa
Rencana Transaksi perubahan syarat dan ketentuan dalam perjanjian pinjaman adalah wajar.
Halaman 87 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 89
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Laporan pendapat kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelahaan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses analisis pendapat kewajaran.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke akuratannya.
4. Penilai mengunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi yang dibuat oleh
manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. Laporan pendapat kewajaran ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan pendapat kewajaran telah
disusun sesuai dengan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018
Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
35/POJK.04/2020 (POJK 35/2020), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
Nomor 17/SEOJK.04/2020 (SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian serta Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran dan kesimpulan opini akhir.
8. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek pendapat kewajaran dari pemberi
tugas.
9. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di luar
pengadilan) yang berkaitan dengan objek pendapat kewajaran tidak menjadi tanggung jawab
kami.
10. Kami ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara khusus
hanya terbatas pada aspek opini kewajaran atas objek pendapat kewajaran, diluar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
11. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang berkaitan
dengan kondisi objek penilaian, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya bukan menjadi
tanggung jawab kami.
12. Laporan pendapat kewajaran ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di
dalam laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
13. Laporan pendapat kewajaran ini sebagai salah satu informasi untuk dijadikan dasar pemikiran
dalam mengambil keputusan, akan tetapi tidak mengikat dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar
penentu suatu keputusan yang berakibat hukum, karena laporan pendapat kewajaran ini semata-
mata dibuat berdasarkan kajian disiplin ilmu dan kemampuan yang kami miliki.
14. Laporan pendapat kewajaran ini tidak berlaku dan tidak sah apabila tidak terdapat tanda tangan
penilai berijin beserta stempel perusahaan (corporate seal) yang resmi dari KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan & Rekan.
15. Laporan pendapat kewajaran ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan pendapat kewajaran.
Halaman 88 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 90
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan pendapat kewajaran adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap objek pendapat kewajaran.
4. Imbalan Jasa pendapat kewajaran tidak berkaitan dengan hasil pendapat kewajaran yang
dilaporkan.
5. Pendapat kewajaran dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), serta POJK Nomor 35 Tahun 2020 tentang Pedoman Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi objek pendapat
kewajaran.
8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen perseroan.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
dalam laporan pendapat kewajaran ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan pendapat
kewajaran.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta
lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan
informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak
lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan pendapat kewajaran telah dilakukan terhadap objek pendapat kewajaran pada
tanggal pendapat kewajaran (cut off date)
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
pendapat kewajaran.
14. Opini kewajaran yang dihasilkan dalam penugasan pendapat kewajaran profesional telah
disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan pendapat kewajaran telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan ini kami peroleh dari sumber yang
telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 89 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 91
Page 92
LAMPIRAN-LAMPIRAN Halaman 91 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 93
Halaman 92 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 94
Halaman 93 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 95
Halaman 94 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 96
Halaman 95 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 97
Halaman 96 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 98
Halaman 97 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 99
Halaman 98 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 100
Halaman 99 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 101
Halaman 100 00112/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 102
Names mentioned 90 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.2 ×5
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.2 ×4
unresolved
org
KJPP FDI
p.2 ×29
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×5
unresolved
org
Struktur Pemegang Saham Perseroan Tbk
p.8 ×2
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.11 ×2
unresolved
person
Yudistira
p.11
unresolved
person
Djojo Muljadi
p.14 ×3
unresolved
person
H. Akta Pendirian
p.14 ×2
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.14 ×5
unresolved
person
Jose Dima Satria
· Notaris
p.14 ×10
unresolved
org
Menteri Hukum Republik Indonesia
p.14 ×7
unresolved
org
Rianto & Rekan
p.15 ×2
unresolved
person
Rukmasanto Hardjasetya
p.15
unresolved
org
PT Raharja Sedaya
p.15 ×2
unresolved
person
Benny Kristianto
· Notaris
p.15
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-AH.
p.15 ×2
unresolved
—
Rendih
· Corporate Treasury
p.16
unresolved
—
Raci Annisa
· Corporate Treasury
p.16
unresolved
org
PT Inter Astra Motor Works
p.23 ×2
unresolved
org
Carriage Ltd.
p.24 ×6
unresolved
org
Jardine Matheson Holdings Ltd.
p.24 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.25 ×2
unresolved
—
Loudy Irwanto Elli
· Direktur
p.25 ×2
unresolved
person
Akta Notaris Rukmasanti Hardjasatya
p.25
unresolved
person
Akta Notaris Wiwik Condro
· Notaris
p.26 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
p.26
unresolved
org
PT Garda Era Sedaya
p.26
unresolved
org
PT Sedaya Multi Investama
p.26
unresolved
person
Benjamin Herrenden Birks
· Komisaris
p.27 ×4
unresolved
org
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
p.30
unresolved
org
Pusat Statistik
p.36
unresolved
org
Bank Indonesia
p.37 ×5
unresolved
org
Kementerian ESDM
p.39 ×7
unresolved
org
Pte Ltd.
p.46
unresolved
org
PT Kalimantan Prima Persada
p.47
unresolved
org
PT Stargate Pacific Resources
p.48
unresolved
org
Indonesia Tbk
p.51
unresolved
org
Ichsan & Rekan
p.89
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.182
16728 ms
12 Sep 2026 21:56
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'CONFLICT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': '20'}