Back to announcement
20250415_CENT_Rencana Transaksi Perubahan Kegiatan Usaha_31875769_lamp4.pdf
Asset transaction Needs review CENTSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 105
Page 1
Page 2
a. Analisis Kelayakan Pasar b. Analisis Kelayakan Teknis c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis d. Analisis Model Manajemen e. Analisis Kelayakan Keuangan Analisis Kelayakan Pasar Perkembangan industri Telekomunikasi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband Internet of Things (NB-IoT), 5G, dan lainnya. Hampir seluruh perusahaan biasanya memiliki kebutuhan komunikasi yang kompleks karena ukuran, penyebaran geografis, dan operasinya yang beragam. Hal ini berdampak kepada kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang mampu menangani lalu lintas bervolume besar secara efisien dan andal untuk memastikan komunikasi dan produktivitas yang lancar. Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi karena kebutuhan komunikasi yang kompleks dan volume lalu lintas tinggi, yang memerlukan solusi telekomunikasi tangguh dan infrastruktur yang efisien serta andal untuk memastikan kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Sementara itu CMI sendiri memiliki beberapa tenant yang merupakan Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower di CMI. CMI memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan. Pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada 2025 dan USD 4,21 triliun pada 2034, menurut riset yang dilakukan oleh Precedence Research, dan didukung oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatatkan peningkatan penetrasi internet di Indonesia yang diprediksi mencapai 79,5% pada 2024. Proyeksi pengguna internet di Indonesia juga menunjukkan kenaikan masing-masing menjadi 81% dan 83% pada 2025 dan 2026, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang dipublikasikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia. CMI memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada CMI saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan oleh CMI bersifat eksklusif. Analisis Kelayakan Teknis CMI memiliki kapasitas dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan penambahan kegiatan usaha yaitu dalam bidang Pengoperasian Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 43211), Kegiatan Penunjang Kelistrikan (KBLI 35129). Atas penambahan kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan proses yang menghasilkan produk. Sedangkan proses jasa yang dilakukan dapat terlihat dalam gambar berikut: Halaman 2 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 3
Analisis Kelayakan Pola Bisnis Keunggulan kompetitif yang dimiliki saat ini adalah CMI telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat mendukung kegiatan usaha barunya, CMI telah berdiri sejak tahun 2007 dan memiliki pengalaman dalam industri jasa telekomunikasi. Kemampuan pesaing dalam meniru produk ini relatif sangat sulit karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada provider/tenant yang ada pada CMI saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan oleh CMI bersifat eksklusif. Kemampuan dalam menciptkan nilai, dapat tercipta dikarenakan CMI adalah salah satu perusahaan yang berada dalam Group Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”). Analisis Model Manajemen Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, CMI tidak memerlukan penambahan tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang telah dimiliki. Selain itu, CMI akan memenuhi kriteria ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK sebagaimana dipersyaratkan dalam Lampiran Permen ESDM No. 5 Tahun 2021 untuk melakukan kegiatan usaha baru terkait industri penunjang ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal ini, CMI secara aktif berupaya memenuhi sertifikasi, dimana saat ini tenaga kerja yang ada sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK dan perekrutan tenaga kerja yang memiliki sertifikasi SKTTK secara berkelanjutan. Sementara itu, terkait dengan kekayaan intelektual, CMI saat ini memiliki kontrak jangka panjang dari masing-masing penyewa (perusahaan telekomunikasi yang menyewa menara). Risiko-risiko yang berpotensi terjadi dalam menjalankan kegiatan usahanya, antara lain adalah Risiko Kondisi Makro Ekonomi, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, dan Risiko Tidak Tercapainya Proyeksi. Dalam menjalankan setiap bidang usaha CMI memiliki kapasitas manajemen yang memiliki kompetensi dan berpengalaman sesuai bidangnya (key person). Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi kerja yang terpadu dan terarah. Analisis Kelayakan Keuangan Dalam rencana perubahan kegiatan usaha, Perseroan akan menambah 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), membutuhkan biaya investasi terkait sebesar Rp 5.840.338.000, dengan pembiayaan berasal dari kas Perseroan. Biaya operasional atas rencana perubahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok penjualan dan biaya/beban lain. Dalam melakukan analisis kelayakan keuangan digunakan analisis titik impas, Profitability Index (“PI”), Net Present Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”), dengan hasil sebagai berikut: Halaman 3 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 4
Tabel 1. PI, NPV, dan IRR
Keterangan Indikator Satuan Hasil Analisa
Net Present Value NPV > 0 Rp Ribu 157.412.564
IRR IRR > DR % 33,11%
Profitability Index PI > 0 X 1,33
Payback Period Tahun 8,0
Asumsi – Asumsi dan Kondisi Pembatas
1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses Studi
Kelayakan.
3. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan keakuratan dan
kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh dari informasi
yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami anggap relevan.
4. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
6. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
7. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
8. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
9. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan telah disusun
sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan
ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
10. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara
khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan.
11. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan
maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak dapat digunakan
untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan
untuk tujuan lain.
12. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga pengguna
laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan relevansi antara hasil
dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
Kesimpulan
Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis Kelayakan Pasar,
analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan Model Manajemen dan
analisis Keuangan serta semua asumsi-asunsi dapat terpenuhi, maka kami berpendapat bahwa rencana
Perseroan dalam rangka Perubahan kegiatan usaha berupa penambahan 4 (empat) kegiatan usaha,
dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi
Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga
Listrik Lainnya (KBLI 35129), adalah LAYAK.
Halaman 4 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 5
Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini, kami bertindak sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun, baik saat ini maupun di masa datang terkait dengan usaha Perseroan maupun atas transaksi yang dilakukan. Demikian laporan Studi Kelayakan ini kami sampaikan, atas kerjasama dan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan Dan Rekan Cabang Jakarta Selatan Pemimpin Cabang J.Ferdinand H.Pardede, MAPPI (Cert) Izin Penilai Bisnis No. : B-1.09.00089 MAPPI No. : 01-S-01490 STTD Bappepam No. : STTD.PB-17/PJ-1/PM.02/2023 RMK : RMK-2017.00081 Halaman 5 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 6
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR ................................................................................................................. 1 DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 6 BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................. 8 1.1 Uraian Mengenai Penugasan .............................................................................. 8 1.2 Status Penilai ...................................................................................................... 8 1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan .................................................. 8 1.4 Tanggal Penilaian ............................................................................................... 9 1.5 Objek Studi Kelayakan ........................................................................................ 9 1.6 Maksud dan Tujuan ............................................................................................ 9 1.7 Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan.................................................. 10 1.8 PIhak-pihak Yang Diwawancara ........................................................................ 10 1.9 Metodologi Analisis Studi Kelayakan .................................................................. 10 1.10 Pernyataan Independensi Penilai ....................................................................... 11 1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas ........................................................................... 11 1.12 Pedoman dan Standar Penilaian ........................................................................ 12 1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) .......................... 12 BAB II ANALISIS PERSEROAN .................................................................................................. 13 2.1 Gambaran Umum CMI ..................................................................................... 13 2.2 Informasi Keuangan CMI .................................................................................. 14 BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR ....................................................................................... 19 3.1 Kondisi Pasar.................................................................................................... 19 3.2 Persaingan Pasar .............................................................................................. 22 3.3 Strategi Pemasaran ........................................................................................... 23 BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ...................................................................................... 24 4.1 Kapasitas ......................................................................................................... 24 4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia .............................................. 24 4.3 Proses Produksi / Layanan Jasa ......................................................................... 25 BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ............................................................................... 27 5.1 Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 27 5.2 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk ........................................................ 27 5.3 Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai............................................................... 27 BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ................................................................. 29 6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................... 29 6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property) ...................................... 29 6.3 Manajemen Risiko ............................................................................................ 29 Halaman 6 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 7
6.4 Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen ........................................................... 30 6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen ............................................... 32 BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN .............................................................................. 33 7.1 Biaya Pendirian (Start Up Cost) .......................................................................... 33 7.2 Modal Kerja ..................................................................................................... 33 7.3 Sumber Pembiayaan ......................................................................................... 34 7.4 Biaya Operasional ............................................................................................ 34 7.5 Proyeksi Laporan Keuangan .............................................................................. 34 7.6 Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)........................................................... 45 7.7 Analisis Profitabilitas (Overall Profitability).......................................................... 45 7.8 Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ............................... 47 BAB VIII KESIMPULAN ............................................................................................................ 49 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ............................................................................ 50 PERNYATAAN PENILAI ............................................................................................................ 51 Halaman 7 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No. 002/FDI.JKT/PB-FS/I/2025 tertanggal 15
Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau
“Kami”) mendapat penugasan dari PT Centratama Menara Indonesia (selanjutnya disebut “CMI”
atau “Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan usaha berupa
penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik
(KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik
(KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), selanjutnya disebut
(“Obyek Studi Kelayakan”).
1.2 Status Penilai
Studi kelayakan ini dilakukan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) Cabang Jakarta
Selatan, selaku Penilai Independen untuk memberikan Kajian Indikasi Nilai yang objektif dan tidak
memihak, sesuai KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan Kajian Indikasi Nilai atas objek
Kajian Indikasi Nilai yang dimaksud. KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah
Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha No. 582/KM.1/2024 tanggal 19
September 2024 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan mempunyai Penilai Publik
sebagai berikut:
• Pemimpin Cabang, Ferdinand Pardede, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi
penilaian bisnis dengan izin No. B-1.09.00089 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia,
dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Surat Tanda Terdaftar Profesi
Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) No. STTD.PB-17/PJ-1/PM.02/2023. Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan penilaian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material atau
benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian dan/atau
pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional dan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan
penilaian ini.
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
• Nama Pemberi Tugas : PT Centratama Menara Indonesia
• Alamat : TTC Batavia Tower One Lt. 16 & 19
Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220
• Bidang Usaha : Pengelolaan Sarana Jaringan Telekomunikasi
• No. Telepon/Fax : 021-29529404
• Alamat Email : daniel.pradipta@centratamagroup.com
• Penanggung Jawab : Daniel Pradipta/Aditya
Halaman 8 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 9
1.4 Tanggal Penilaian
Studi Kelayakan diperhitungkan pada tanggal 31 Desember 2024.
1.5 Objek Studi Kelayakan
Objek Studi Kelayakan ini berupa penambahan/perubahan kegiatan usaha pada CMI selaku
afiliasi dengan penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi
Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
(KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI
35129),
• KBLI 35121 - Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik
Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas fasilitas
pembangkit yang menghasilkan energi listrik, fasilitas sistem transmisi tenaga listrik dan sistem
distribusi tenaga listrik.
• KBLI 35122 - Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas fasilitas
instalasi pemanfaatan tenaga listrik mencakup instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan
tinggi, instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan menengah, dan instalasi pemanfaatan
tenaga listrik tegangan rendah.
• KBLI 43211 - Instalasi Listrik
Kelompok ini mencakup kegiatan pembangunan, pemasangan, pemeliharaan,
pembangunan kembali instalasi listrik pada pembangkit, transmisi, gardu induk, distribusi
tenaga listrik, sistem catu daya, dan instalasi listrik pada bangunan gedung baik untuk hunian
maupun non hunian, seperti pemasangan instalasi jaringan listrik tegangan rendah. Termasuk
kegiatan pemasangan dan pemeliharaan instalasi listrik pada bangunan sipil, seperti jalan
raya, jalan kereta api dan lapangan udara.
• KBLI 35129 - Aktivitas penunjang tenaga listrik lainnya
Kelompok ini mencakup usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan penyediaan
dan pemanfaatan tenaga listrik namun tidak tercakup dalam kelompok 35121 s.d. 35122,
seperti jasa pencatatan meteran, pemberian tagihan dan kegiatan perdagangan pulsa/token
listrik sera kegiatan penunjang kelistrikan lainnya.
1.6 Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana
perubahan/penambahan kegiatan usaha Perseroan, diperuntukan dalam rangka memenuhi
Otoritas Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan perusahaan public (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi
Material dan perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian Indonesia dan Standar
Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan Studi
Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar maupun
profesi lainnnya.
Halaman 9 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 10
1.7 Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan
Data dan Informasi yang kami gunakan dalam proses studi kelayakan usaha CMI adalah sebagai
berikut:
• Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 dan
Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 yang
telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
• Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022 yang
telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
• Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 yang
telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
• Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 yang
telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
• Laporan Keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 yang
telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan pendapat bahwa laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material.
• Rencana Bisnis Plan, berupa rencana anggaran pembelian alat dan proyeksi pendapatan
tahun 2025 – 2031.
• Data legalitas CMI antara lain akta pendirian, akta perubahan terakhir, Nomor Induk
Berusaha (NIB), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Izin Usaha Industri (IUI), Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan dokumen terkait lainnya.
• Data makro ekonomi berupa Proyeksi inflasi dan GDP Indonesia bersumber dari International
Monetary Fund (IMF).
• Data makro industri berasal dari Precedence Research dan katadata.co.id.
• Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat disetujui untuk
digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada tingkat Nasional maupun
Internasional, antara lain dari Data Pemerintah Kota dan Informasi dari media masa elektronik.
• Sertifikat Merek Logo CMI dengan No perndaftaran IDM000698635 yang dikeluarkan
oleh Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia.
1.8 PIhak-pihak Yang Diwawancara
Pihak-pihak yang diwawancara dalam penyusunan studi kelayakan adalah:
1. Nama: Daniel Pradipta
Jabatan: Head of Corporate Secretary
E-mail: Daniel.Pradipta@centratamagroup.com
2. Nama: Chayadi
Jabatan: Head of Corporate Finance & Investor Relation
E-mail: chayadi@centratamagroup.com
1.9 Metodologi Analisis Studi Kelayakan
Metodologi analisis studi kelayakan meliputi sebagai berikut:
Halaman 10 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 11
a. Melakukan analisis Kelayakan Pasar, meliputi kondisi pasar, seperti pangsa pasar,
kesinambungan ( sustainability), potensi pasar, sasaran, dan potensi nilai pasar; pesaing
usaha; dan strategi pemasaran.
b. Melakukan analisis Kelayakan Teknik, meliputi kapasitas; ketersediaan dan kualitas
sumber daya, termasuk bahan baku mentah, pekerja, dan ahli profesional; dan proses
produksi.
c. Melakukan analisis Kelayakan Pola Bisnis, meliputi keunggulan kompetitif karena
keunikan dari pola bisnis; kemampuan pesaing untuk meniru produk; dan
kemampuan untuk menciptakan nilai.
d. Melakukan analisis Kelayakan Model Manajemen, meliputi ketersediaan tenaga kerja;
manajemen kekayaan intelektual ( intellectual property); manajemen risiko; kapasitas dan
kemampuan manajemen; dan kesesuaian struktur organisasi dan manajemen.
e. Melakukan analisis Kelayakan Keuangan, meliputi biaya pendirian ( start up costs); modal
kerja; sumber pembiayaan; biaya operasional; biaya bahan baku mentah; proyeksi
laporan keuangan; analisis titik impas; analisis profitabilitas; tingkat imbal balik investasi
dan analisis inkremental.
f. Kami telah melakukan investigasi terhadap Objek Studi Kelayakan yang meliputi:
− Objek Studi Kelayakan sesuai dengan lingkup penugasan;
− Tanggal Penilaian sesuai dengan Laporan keuangan per 31 Desember 2024;
1.10 Pernyataan Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini, KJPP FDI&R bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan Perseroan,
ataupun pihak-pihak lainnya yang terafiliasi dengan Perseroan. KJPP FDI&R tidak memiliki
kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini. Laporan Studi
Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pihak
manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai yang
dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan ini.
1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas studi kelayakan diuraikan sebagai berikut:
a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang
diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami
anggap relevan.
d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty).
e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan
dari Pemberi Tugas.
h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
Halaman 11 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 12
i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan telah
disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar
dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan.
k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak
dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab jika
laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan relevansi
antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
1.12 Pedoman dan Standar Penilaian
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada POJK 17 dan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020 tentang
Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), SE OJK
NO.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilai Indonesia & Standar Penilaian Indonesia Edisi Vll-
2018 (KEPI-SPI VII.2018).
1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian ( cut off date) per 31 Desember 2024 hingga laporan studi kelayakan ini
diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal penilaian.
Halaman 12 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 13
BAB II
ANALISIS PERSEROAN
2.1 Gambaran Umum CMI
CMI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan,
penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau BTS, serta alat, sarana atau instalasi
penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi komunikasi, jasa konsultasi
manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.
o Perizinan
CMI didirikan berdasarkan Akta Notaris Agus Madjid, S.H., No. 32 tanggal 31 Oktober 2007.
Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dengan Surat Keputusan No. AHU-05586.AH.01.01. Tahun 2008 tanggal 4 Februari 2008 dan
telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 6861 dan 6862 tahun 2009 dan
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 19 tanggal 6 Maret 2009.
Anggaran dasar CMI telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir dengan
Akta Notaris Jimmy Tanal, S.H., M.Kn. No. 151 tanggal 26 April 2022, mengenai perubahan
maksud dan tujuan Perusahaan. Anggaran dasar ini telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Persetujuan Perubahan
Anggaran Dasar No. AHU-0031565.AH.01.02 Tahun 2022 tanggal 29 April 2022 dan telah
didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-0086492.AH.01.11. Tahun 2022 tanggal 29 April
2022 (“Anggaran Dasar CMI”).
o Susunan Manajemen CMI
Berdasarkan Akta No. 17 tanggal 28 November 2024, yang dibuat di hadapan Notaris Caesaria
Dhamayanti, S.H., M.Kn, Notaris di Tangerang, yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum
Republik Indonesia berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data No. AHU-
AH.01.09-0281278 tanggal 28 November 2024, dan telah didaftarkan pada Daftar Perseroan
No. AHU-0257802.AH.01.11.Tahun 2024 tanggal 28 November 2024, komposisi anggota
Dewan Komisaris dan Direksi CMI adalah sebagai berikut:
Jabatan Nama
DEWAN KOMISARIS:
Komisaris Suresh Narain Singh Sidhu
DEWAN DIREKSI:
Direktur Utama Yan Raymond Jafri
Direktur Caba Pinter
Direktur Jacopo Rigamonti
o Kegiatan Usaha CMI
Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar CMI, maksud dan tujuan kegiatan usaha CMI adalah (i)
Konstruksi Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206); (ii) Perdagangan Besar Peralatan
Telekomunikasi (KBLI No. 46523); (iii) Aktivitas Telekomunikasi dengan Kabel (KBLI No. 61100);
dan (iv) Instalasi Telekomunikasi (KBLI No. 43212).
Halaman 13 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 14
o Susunan Pemegang Saham
Susunan pemegang saham CMI berdasarkan Akta No. 17 tanggal 23 Oktober 2024, yang dibuat
di hadapan Caesaria Dhamayanti, S.H., M.Kn., Notaris di Tangerang, yang telah diberitahukan
kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan
Perubahan Data No. AHU-AH.01.09-0267098 tanggal 24 Oktober 2024, dan telah telah
didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-0228484.AH.01.11.Tahun 2024 tanggal 24
Oktober 2024 adalah sebagai berikut:
Nama Pemegang Saham Modal Ditempatkan Lembar Saham Persentase
dan Disetor (Rp) Kepemilikan
PT Centratama 1.061.789.000.000 1.061.789 99,99%
Telekomunikasi Indonesia
Tbk (‘’CTI’’)
Yan Raymond Jafri 1.000.000 1 0,01%
Jumlah 1.061.790.000.000 1.061.790 100%
2.2 Informasi Keuangan CMI
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu perseroan. Laporan
keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu perseroan yang dapat
dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat proyeksi keuangan masa
depan. Ikhtisar laporan keuangan CMI dan analisa yang dibuat mengacu kepada laporan
keuangan CMI yang telah diaudit (2020-2023). Tabel berikut ini menggambarkan ikhtisar
laporan posisi keuangan CMI untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020
hingga 31 Desember 2024:
Tabel 1. Historis Posisi Keuangan Perseroan Periode 2020 – 2024 (dalam jutaan Rupiah)
Uraian 2020 2021 2022 2023 2024
Aset Lancar 439.093 2.007.599 2.079.287 1.297.122 1.292.468
Aset Tidak
4.341.628 15.204.610 16.268.338 17.135.203 24.454.867
Lancar
Total Aset 4.780.721 17.212.209 18.347.625 18.432.325 25.747.336
Liabilitas
3.866.020 5.877.968 1.877.952 1.793.347 2.996.945
Lancar
Liabilitas Tidak
744.334 11.525.774 18.663.088 19.685.241 20.223.887
Lancar
Total Liabilitas 4.610.354 17.403.742 20.541.040 21.478.588 23.220.832
Total Ekuitas 170.367 (191.533) (2.193.415) (3.046.263) 2.526.503
Total libilitas
4.780.721 17.212.209 18.347.625 18.432.325 25.747.336
dan Ekuitas
Sumber: Laporan keuangan Perseroan
Halaman 14 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 15
Analisis Laporan Posisi Keuangan Perseroan
Total Aset
Total aset CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 18.432.325 juta mengalami
peningkatan sebesar Rp 84.700 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 yang
tercatat sebesar Rp 18.347.625 juta. Peningkatan terjadi disebabkan oleh meningkatnya total
aset tidak lancar CMI. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 total aset CMI tercatat sebesar
Rp25.747.336 juta meningkat 39,69% dari periode sebelumnya 31 Desember 2023 peningkatan
disebabkan adanya aset tidak lancar CMI pada tahun 2024.
Aset Lancar
Aset lancar CMI terdiri dari kas dan bank, surat berharga, piutang usaha, piutang lain-lain, pajak
dibayar dimuka, uang muka, dan biaya dibayar dimuka, pajak dibayar dimuka dan uang muka.
Total aset lancar CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.297.122 juta mengalami
penurunan sebesar Rp 782.165 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat
sebesar Rp 2.079.287 juta. Penurunan terjadi disebabkan oleh menurunnya kas dan bank,
piutang lain lain dan biaya dibayar dimuka. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 total
aset lancar CMI tercatat sebesar Rp 1.292.468 juta menurun 0,36% dari periode 31 Desember
2023.
Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar CMI terdiri dari uang muka pembelian aset, piutang lain lain, aset tetap, ROU-
Lease Asset, aset tak berwujud, derivatif aset, klaim atas restitusi pajak, aset pajak tangguhan,
aset keuangan tidak lancar lainnya. Per 31 Desember 2023 total aset tidak lancar CMI tercatat
sebesar Rp 17.135.203 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 866.865 juta dari periode
sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 16.268.338 juta. Sampai dengan
31 Desember 2024 total aset tidak lancar CMI tercatat sebesar Rp 24.454.867 juta meningkat
42,72% dari periode 31 Desember 2024.
Liabilitas
Total liabilitas CMI periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 21.478.588 juta mengalami
peningkatan sebesar Rp 937.548 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat
sebesar Rp 20.541.040 juta. Peningkatan terjadi disebabkan oleh meningkatnya liabilitas jangka
Panjang CMI. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 total liabilitas CMI tercatat sebesar Rp
23.220.832 juta meningkat 8,11% dari periode 31 desember 2023. Peningkatan disebabkan
meningkatnya liabilitas jangka Panjang dan jangka pendek
Liabilitas Jangka Pendek
Liabilitas jangka pendek CMI terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, beban akrual, utang pajak,
utang jangka Panjang, liabilitas imbalan kerja jangka pendek, utang bank jatuh tempo 1 tahun,
pendapatan diterima dimuka dan liabilitas sewa. Total liabilitas jangka pendek CMI periode 31
Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.793.347 juta mengalami penurunan sebesar Rp 84.605
juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.877.952 juta.
Penurunan terjadi utamanya disebabkan oleh lunasnya pinjaman dari pihak berelasi. Sampai
dengan periode 31 Desember 2024 liabilitas jangka pendek CMI tercatat sebesar Rp 2.996.945
juta meningkat 67,11% dari periode 31 Desember 2023
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Jangka Panjang CMI merupakan utang bank, pendapatan diterima dimuka, liabilitas
imbalan kerja jangka Panjang, Liabilitas Sewa, Pinjaman Pihak Berelasi, liabilitas tidak lancar
lainnya dan liabilitas pada pihak berelasi ( bond instrument Liability). Pada periode 31 Desember
Halaman 15 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 16
2023 tercatat sebesar Rp 19.685.241 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.022.153 juta
dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 18.663.088 juta. Peningkatan
ini terjadi dikarenakan penambahan utang pada pihak berelasi (bond instrument Liability)
menjadi Rp 8.888.548 juta dari periode sebelumnya tercatat sebesar Rp 7.731.239 juta. Pada
periode 31 Desember 2024 total liabilitas jangka panjang CMI tercatat sebesar Rp 20.223.887
juta meningkat 2,74% dari periode 31 Desember 2023.
Ekuitas
Jumlah ekuitas periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar negatif Rp 3.046.263 juta mengalami
penurunan dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar negatif Rp
2.193.415 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total ekuitas CMI tercatat sebesar 2.526.503
juta meningkat 182,94% sehingga ekuitas saat ini tercatat positif Dimana 3 tahun sebelumnya
CMI mencatatkan ekuitas yang negatif.
Analisis Historis Laba Rugi Perseroan
Tabel 2. Historis Laba Rugi Perseroan Periode 2020 – 2024 (dalam jutaan Rupiah)
Description 2020 2021 2022 2023 2024
Pendapatan 658.590 803.909 1.979.716 2.218.648 2.147.401
Beban Pokok
252.527 311.527 995.383 1.104.566 1.049.865
Pendapatan
Beban Umum Dan
59.017 101.028 182.930 255.874 289.562
Administrasi
Laba Usaha (Rugi) 36.573 242.726 (155.322) 1.033.098 286.766
Laba Bersih (Rugi) (495.309) (256.467) (1.873.757) (823.663) (1.644.406)
Sumber: Laporan keuangan Perseroan
Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha CMI berasal dari pendapatan sewa dan pemeliharaan menara kepada
operator telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Total pendapatan CMI per 31 Desember
2023 tercatat sebesar Rp 2.218.648 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 238.932 juta dari
periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.979.716 juta. Sampai dengan 31
Desember 2024 total pendapatan CMI tercatat sebesar Rp 2.147.401 juta menurun 3,21% dari
periode 31 Desember 2023.
Beban Pokok Pendapatan
Total beban pokok pendapatan CMI per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.104.566 juta
mengalami peningkatan sebesar Rp. 109.183 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022
tercatat sebesar Rp 995.527 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total beban pokok
pendapatan CMI tercatat sebesar Rp 1.049.865 juta menurun 4,95% dari periode 31 desember
2023, hal ini sejalan dengan penurunan pendapatan CMI pada tahun 2024.
Beban Umum dan Administrasi
Total beban umum dan administrasi CMI merupakan Gaji, upah dan kompensasi karyawan,
penyisihan penurunan nilai piutang, beban imbalan kerja karyawan, jasa profesional, perjalanan
dinas, utilitas, penyusutan dan/atau amortisasi, perbaikan dan pemeliharaan serta lain-lain. Per
31 Desember 2023 total beban umum dan administrasi CMI tercatat sebesar Rp 255.874 juta
mengalami kenaikan sebesar Rp 72.944 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang
tercatat sebesar Rp 182.930 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total beban umum dan
Halaman 16 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 17
administrasi CMI tercatat sebesar Rp 289.562 juta meningkat 13,17% dari periode 31 Desember
2023.
Laba/(Rugi) Usaha
Laba (Rugi) usaha CMI merupakan laba bruto yang dikurangi dengan biaya penjualan, biaya
umum dan administrasi dan biaya operasinal lainnya CMI. Per 31 Desember 2023 CMI mencatat
laba usaha sebesar Rp 1.033.098 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 1.188.420 juta dari
periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang mencatat rugi usaha sebesar Rp 155.322 juta.
Sampai dengan 31 Desember 2024 CMI mencatat laba usaha sebesar Rp 286.766 juta menurun
72,24%.
Laba/(Rugi) Bersih
Laba/(Rugi) bersih CMI merupakan laba usaha dikurangi dengan pendapatan dan beban umum
lainnya (beban keuangan) serta pajak penghasilan. Per 31 Desember 2023 CMI mengalami
kerugian sebesar Rp 823.663 juta mengalami penurunan kerugian sebesar Rp 1.050.094 juta
dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat rugi sebesar Rp 1.873.757 juta.
Sampai dengan 31 Desember 2024 CMI mencatat rugi bersih sebesar Rp (1.644.406) juta,
kerugian CMI meningkat 99,65% pada tahun 2024 dari periode 31 Desember 2023.
Analisa Rasio Keuangan Perseroan
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan keuangan
yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dari laporan posisi keuangan
dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya. Berikut adalah tabel
berbagai macam rasio keuangan yang kami gunakan dalam analisis rasio keuangan CMI
Tabel 3. Rasio Keuangan Perseroan
Uraian 2020 2021 2022 2023 2024 Average
Likuiditas (X)
Rasio Lancar 0,11 0,34 1,11 0,72 0,43 0,54
Rasio Cepat 0,11 0,34 1,11 0,72 0,43 0,54
Profitabilitas (%)
Rasio Laba Atas Aset (ROA) -10,36% -1,49% -10,21% -4,47% -6,39% -6,58%
Rasio Laba Atas Ekuitas (ROE) -290,73% 133,90% 85,43% 27,04% -65,09% -21,89%
Solvabilitas (%)
Debt to Asset 96,44% 101,11% 111,95% 116,53% 90,19% 103,2%
Debt to Equity 2706,13% -9086,56% -936,49% -705,08% 919,09% -1420,6%
Sumber: Laporan keuangan Perseroan, diolah konsultan
Analisis Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
Halaman 17 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 18
1. Rasio Lancar
Rasio lancar CMI menunjukkan rata-rata selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024)
sebesar 0,54 kali.
2. Rasio Cepat
Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar, beberapa
pos seperti persediaan yang dianggap kurang lancar, dikeluarkan dalam perhitungan rasio
cepat. Rasio cepat CMI juga menunjukkan pencapaian rata-rata selama 5 (lima) tahun
terakhir (2020- 2024) sebesar 0,54 kali.
Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan
laba. Beberapa rasio yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah:
1. Rasio Laba Atas Aset
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan dapat
menghasilkan laba. Rasio laba atas aset CMI rata-rata selama 5 (lima) tahun terakhir (2020-
2024) sebesar negatif 6,58%.
2. Rasio Laba Atas Ekuitas
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau keuntungan yang
diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Adapun tingkat rasio laba atas ekuitas rata-
rata selama selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024) adalah negatif 21,89%.
Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio)
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan Perusahaan untuk
melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk dalam kategori ini.
1. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total aset Perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan Perusahaan. Adapun tingkat
rasio liabilitas terhadap total aset CMI secara rata-rata selama 5 (lima) tahun terakhir (2020-
2024) tercatat sebesar 103,2%.
2. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total ekuitas atau modal
Perusahaan. Berdasarkan tabel rasio keuangan Perusahaan diatas dapat dilihat bahwa
secara rata-rata selama selama 5 (lima) tahun terakhir (2020- 2024) rasio liabilitas terhadap
ekuitas CMI negatif 1420,6 %, dimana hal ini mengindikasikan bahwa total liabilitas CMI
lebih besar dibandingkan dengan total ekuitas yang dimiliki CMI.
Halaman 18 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 19
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1 Kondisi Pasar
Telekomunikasi mengacu pada proses pengiriman suara, gambar, data, dan informasi lainnya.
Telekomunikasi bekerja berdasarkan prinsip media listrik atau pemancar cahaya. Ini adalah
istilah luas yang mencakup berbagai teknologi pengiriman informasi seperti telepon seluler,
jaringan Voice over Internet Protocol (VoIP), telepon rumah, dan jaringan penyiaran lainnya.
Industri telekomunikasi terus berkembang karena kemajuan teknologi baru seperti Internet of
Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G, dan lainnya.
Faktor Pertumbuhan Pasar Telekomunikasi
• Meningkatnya peluncuran jaringan 5G di seluruh dunia mendorong pasar telekomunikasi.
• Meningkatnya jumlah pengguna telepon seluler di seluruh dunia juga telah mendorong
pertumbuhan pasar.
• Kemajuan pesat dalam IoT telah memberi dampak positif terhadap pasar.
• Peningkatan investasi pemerintah dalam pengembangan layanan internet akan mendorong
pertumbuhan pasar selama periode perkiraan.
• Meningkatnya permintaan layanan internet oleh sektor BFSI kemungkinan akan berdampak
positif terhadap pasar.
• Aktivitas penelitian dan pengembangan yang terkait dengan penyampaian data
berkecepatan tinggi mendorong pertumbuhan industri.
• Tren platform media sosial yang sedang berlangsung seperti Facebook, Instagram,
WhatsApp, dan lainnya yang membutuhkan konektivitas jaringan yang baik juga diperkirakan
akan mendorong pasar.
Pangsa Pasar
Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi pada tahun
2024, mengingat kebutuhan komunikasi mereka yang kompleks akibat ukuran organisasi,
penyebaran geografis, dan beragam operasional yang dijalankan. Untuk mendukung komunikasi
internal, kolaborasi, dan pertukaran data di berbagai lokasi serta unit bisnis, perusahaan besar
memerlukan solusi telekomunikasi yang tangguh dan dapat diskalakan. Mereka menghasilkan
volume lalu lintas komunikasi yang tinggi, mulai dari panggilan suara, transmisi data, konferensi
video, hingga pengiriman pesan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan infrastruktur
telekomunikasi yang mampu menangani trafik tinggi dengan efisien dan andal, untuk
memastikan kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Hal ini membuat segmen
perusahaan besar semakin dominan dalam pangsa pasar telekomunikasi, yang mendorong
perkembangan teknologi dan inovasi dalam industri ini.
Kesinambungan (Sustainability)
Industri telekomunikasi di Indonesia diperkirakan akan terus berkembang pesat berkat dukungan
teknologi baru seperti 5G, kebijakan pemerintah yang mendukung perluasan infrastruktur, serta
peningkatan akses internet di seluruh wilayah, yang tidak hanya akan memperkuat sektor
ekonomi digital tetapi juga meningkatkan inklusi digital, memungkinkan masyarakat dari
berbagai lapisan, baik di perkotaan maupun daerah terpencil untuk lebih terhubung,
Halaman 19 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 20
memanfaatkan layanan digital, dan berpartisipasi dalam transformasi digital yang semakin
mendominasi kehidupan sehari-hari.
CMI, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi di Indonesia, memiliki
kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin mendominasi
kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan inovasi yang ditawarkan
kepada pelanggan.
Potensi Pasar
Ukuran pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada tahun 2025
dan diperkirakan akan mencapai sekitar USD 4,21 triliun pada tahun 2034, dengan
pertumbuhan CAGR sebesar 6,14% dari tahun 2025 hingga 2034. Ukuran dan perkiraan pasar
didasarkan pada pendapatan (Triliun/Miliar USD), dengan tahun 2024 sebagai tahun dasar.
Gambar 1 – Ukuran Pasar Telekomunikasi 2024 – 2034 (dalam USD Trillion)
Sumber: Precedence Research
Sasaran
Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh perkembangan
teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun yang menarik
bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan (penetrasi internet meningkat &
permintaan fixed broadband meningkat), namun juga dihadapkan pada tantangan yang
kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber, regulasi). Proyeksi pengguna internet di Indonesia
tahun 2025 dan 2026 mengalami peningkatan sebesar masing-masing 81% dan 83% dari user
total, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang dipublikasi oleh
Kiwoom Sekuritas Indonesia
Berikut merupakan perusahaan yang menjadi target pasar perusahaan telekomunikasi di
Indonesia:
• Telkom Indonesia
• PT Indosat Ooredoo Hutchison
Halaman 20 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 21
• PT XL Axiata
• PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
• PT. Smartfren Telecom
Adapun beberapa tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) di CMI adalah sebagai
berikut:
• PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk
• PT Indosat Ooredoo Hutchinson
• PT Inti Bangun Sejahtera Tbk
• PT Putra Arga Binangun
• PT Smart Telecom
• PT Telekomunikasi Selular (PT Telkomsel)
• PT XL Axiata Tbk
Potensi Nilai Pasar
Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di dalam
negeri pada 2024 mencapai 79,5%. terlihat bahwa terjadi pertumbuhan yang konsisten setiap tahun,
dengan peningkatan yang signifikan antara 2018 dan 2020. Setelah tahun 2020, pertumbuhan
masih berlanjut tetapi dengan laju yang lebih stabil.
Gambar 2 Penetrasi Internet di Indonesia menurut APJII (2016-2024)
Sumber: katadata.co.id
Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh perkembangan
teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun yang menarik
bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan (penetrasi internet meningkat &
permintaan fixed broadband meningkat), namun juga dihadapkan pada tantangan yang
kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber, regulasi).
Halaman 21 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 22
Sumber : Infrastructure Review & Outlook by KIWOOM Sekuritas Indonesia
3.2 Persaingan Pasar
Izin penyelenggaraan telekomunikasi pada tahun 2023 lebih banyak diberikan kepada
perusahaan yang melayani jasa telekomunikasi. Sebanyak 65,16 persen perusahaan
berkecimpung dalam bidang tersebut seperti Internet Service Provider (ISP), Network Access Point
(NAP), telepon internet, dan jasa telekomunikasi lainnya. Sementara sekitar 24,65 persen
perusahaan menyelenggarakan telekomunikasi jaringan tetap. Kemudian perusahaan
penyelenggara jaringan bergerak sekitar 1,22 persen, sedangkan untuk perusahaan
penyelenggara telekomunikasi khusus mengalami sedikit kenaikan, dengan angka 8,96 persen
di 2023
Sumber : Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023.
Halaman 22 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 23
3.3 Strategi Pemasaran
Perseroan menyediakan jasa infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan kabel serat optik
yang komprehensif untuk memastikan layanan jaringan seluler dan layanan data dapat
menjangkau seluruh area layanan Perseroan dengan baik. Kami senantiasa meningkatkan
layanan secara konsisten kepada pelanggan dengan berfokus kepada pemenuhan SLA yang
disepakati dengan pelanggan. Kami berupaya untuk selalu memberikan layanan terbaiknya
melalui infrastruktur yang ditawarkan bagi masyarakat Indonesia di seluruh pelosok nusantara.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendekatkan diri ke daerah-daerah
operasional regional pelanggan, sehingga kebutuhan pelanggan di setiap daerah dapat lebih
cepat dipenuhi. Selain itu, kami juga melakukan pengembangan bisnis sesuai kebutuhan dan
peluang yang ada, seperti potensi akuisisi untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha.
3.3.1 Penerapan Bisnis CMI
CMI menyalurkan kegiatan usaha barunya kepada pelanggan yang ada saat ini dengan
harapan dapat memenuhi kebutuhan mereka secara lebih baik, serta membangun hubungan
jangka panjang yang saling menguntungkan.
3.3.2 Proses Distribusi
CMI menyediakan daya listrik AC dan DC untuk customer/tenant atau biasa kami sebut
dengan MNO (Mobile Network Operator) guna mengoperasikan peralatan jaringannya,
pendingin udara, dan utilitas lainnya. Daya listrik AC diambil dari jaringan PLN, dan sebagian
dari daya AC tersebut diubah menjadi DC menggunakan rectifier.
Halaman 23 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 24
BAB IV
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS
4.1 Kapasitas
Berdasarkan kegiatan saat ini CMI bergerak di bidang pembangunan infrastruktur
telekomunikasi meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi
atau Base Transceiver Stations (“BTS”), serta alat, sarana atau instalasi penunjang telekomunikasi,
jasa konsultasi bidang instalasi komunikasi, jasa konsultasi manajemen, bisnis administrasi dan
strategi pengembangan.
Saat ini CMI memiliki menara telekomunikasi atau BTS sebanyak 5.623 BTS. yang telah disewakan
ke berbagai tenant provider telekomunikasi
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (“TPAK”) di Indonesia selama tahun 2024–2029
menunjukkan tren peningkatan secara umum. Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi
jenjang pendidikan, semakin besar tingkat partisipasinya, di mana lulusan universitas memiliki
TPAK tertinggi di atas 85%, sementara lulusan SMP berada di kisaran 57%–58%. Dari sisi provinsi,
Jawa Timur diprediksi menjadi wilayah dengan TPAK tertinggi mencapai 75,42% pada 2029,
sedangkan Banten paling rendah meskipun tetap mengalami kenaikan hingga 66,92%. Jika
dilihat dari jenis kelamin, laki-laki memiliki TPAK jauh lebih tinggi dibanding perempuan, dengan
rata-rata di atas 84%, sementara perempuan meningkat dari 55,02% menjadi 58,51% dalam
lima tahun
Tabel 4.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Tingkat
Pendidikan (%), Tahun 2024-2029
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Halaman 24 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 25
Tabel 4.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Jenis Kelamin (%),
Tahun 2024-2029
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Tabel 4.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Provinsi (%),
Tahun 2024-2029
Tahun
Provinsi
2024 2025 2026 2027 2028 2029
Banten 64,89 65,29 65,69 66,09 66,50 66,92
Jakarta 65,78 66,45 67,14 67,84 68,56 69,31
Jawa Barat 66,98 67,46 67,96 68,50 69,06 69,65
Jawa Tengah 72,14 72,45 72,79 73,17 73,58 74,02
Jawa Timur 73,08 73,50 73,94 74,40 74,90 75,42
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, CMI tidak melakukan penambahan tenaga
kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki, dan tidak memerlukan tenaga ahli yang
professional. Selain itu, CMI akan memenuhi kriteria ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK
sebagaimana disyaratkan dalam Lampiran Permen ESDM 5/2021 untuk menjalankan kegiatan
usaha baru yang terkait dengan industri penunjang ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal
tersebut, CMI secara aktif melaksanakan kepatuhan terhadap sertifikasi, di mana tenaga kerja
yang ada saat ini sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK, serta perekrutan tenaga kerja
bersertifikasi SKTTK juga sedang berlangsung.
Penambahan atas kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan proses yang
menghasilkan produk
4.3 Proses Produksi / Layanan Jasa
Flowchart di atas menggambarkan proses alur kerja pemasangan atau penyediaan layanan
berdasarkan permintaan pelanggan. Berikut adalah penjelasan tiap langkahnya:
1. Menerima permintaan layanan atau pesanan dari pelanggan.
2. Memverifikasi permintaan layanan berdasarkan kontrak yang ada dan ketersediaan lokasi.
3. Membuat jadwal proyek dan menugaskan vendor untuk melakukan survei lokasi.
4. Menyusun gambar rencana dan Bill of Quantity (BOQ), yang mencakup daftar material dan
biaya.
Halaman 25 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 26
5. Mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada vendor untuk pengadaan barang atau jasa.
6. Vendor mengirimkan peralatan ke lokasi proyek.
7. Melakukan instalasi di lokasi dan mengajukan permintaan untuk Penerimaan Situs
Sementara (PSA).
8. Melakukan serah terima lokasi kepada tim pemeliharaan menara.
9. Melakukan Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan pelanggan sebagai tanda penyelesaian
proyek.
Setelah langkah terakhir ini, proses dianggap selesai.
Halaman 26 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 27
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif CMI dalam kegiatan usaha yang baru:
1. CMI telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat
mendukung kegiatan usaha barunya.
2. CMI telah berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki jumlah Customer base sebesar 9.550
customer.
3. CMI juga mengutamakan kepuasan pelanggan melalui servis yang maksimal (service
oriented), sehingga dengan adanya kegiatan usaha baru dapat memenuhi kebutuhan para
tenant mereka secara lebih baik.
5.2 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Kegiatan usaha baru ini memiliki beberapa pesaing dalam industri jasa yang sama. Namun,
sebagai anak perusahaan dari Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk , yang seluruh anak
usahanya bergerak di bidang telekomunikasi, CMI memiliki keunggulan kompetitif yang lebih
kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada
customer/tenant yang ada pada CMI saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih
terbatas. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan oleh CMI bersifat eksklusif.
5.3 Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
CMI merupakan entitas anak dari PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bergerak
di bidang Konstruksi Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206); Perdagangan Besar Peralatan
Telekomunikasi (KBLI No. 46523); Aktivitas Telekomunikasi dengan Kabel (KBLI No. 61100); dan
Instalasi Telekomunikasi (KBLI No. 43212).
CMI dan Induk usahanya memiliki visi CMI yakni membangun digital Indonesia yang saling
terkoneksi dan misi dari CMI itu sendiri antara lain:
1. Memberikan nilai tambah bagi para pihak yang berkepentingan.
2. Membangun platform bisnis modern dengan proses yang dapat diandalkan untuk
menciptakan organisasi yang berkinerja tinggi dan efisien.
3. Berkomitmen untuk membangun infrastruktur yang paling efisien dan berkualitas melalui
perencanaan dan manajemen proyek yang matang.
4. Berkomitmen untuk menjaga jaringan dan standar layanan yang tinggi guna menjaga
kepuasan pelanggan.
5. Terus memajukan produk dan layanan.
CMI memiliki beberapa customer yang merupakan Provider telekomunikasi dI mana saat ini
sebagai tenant atau co-tenant pada menara yang dimiliki CMI
Halaman 27 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 28
Pendapatan CMI Tahun 2020-2024 (dalam Rp. Juta)
2.500.000
2.000.000
1.500.000
1.000.000
500.000
-
2020 2021 2022 2023 2024
Berdasarkan grafik yang menggambarkan pendapatan CMI dari tahun 2020 hingga 2024,
terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam pendapatan yang dihasilkan pada tahun 2022
dibandingkan dengan tahun 2021, dan secara tren selama 5 tahun terlihat CMI memiliki trend
yang meningkat. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan CMI dalam menciptakan nilai yang
lebih besar dari tahun ke tahun. Dalam periode tersebut, CMI berhasil mengoptimalkan strategi
operasional dan ekspansi, yang mendorong pertumbuhan pendapatan secara signifikan. Seiring
berjalannya waktu, CMI terus memperkuat posisinya di pasar, membuktikan bahwa dengan
inovasi dan pengelolaan yang efisien, CMI dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan
Halaman 28 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 29
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja
Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, CMI tidak melakukan penambahan tenaga
kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Selain itu, CMI akan memenuhi kriteria
ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK sebagaimana dipersyaratkan dalam Lampiran Permen
ESDM No. 5 Tahun 2021 untuk melakukan kegiatan usaha baru terkait industri penunjang
ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal ini, CMI secara aktif berupaya memenuhi sertifikasi,
dimana saat ini tenaga kerja yang ada sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK dan perekrutan
tenaga kerja yang memiliki sertifikasi SKTTK secara berkelanjutan, dengan Rincian tenaga kerja
saat ini
Jabatan/Level Jumlah
Senior Manajemen 5
Kepala Department 16
Manajer 79
Senior Executive 82
Executive 60
Support 4
Total 246
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property)
Kekayaan intelektual yang dimiliki CMI adalah kontrak jangka Panjang dari masing-masing
tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) dan kekayaan intelektual berupa Merek
logo CMI dengan nomor pendaftaran IDM000698635
6.3 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, tentunya CMI tidak terlepas dari berbagai macam risiko.
Risiko yang terkait langsung dengan industri jasa yang dihadapi oleh CMI dapat dilihat pada
uraian berikut ini.
6.3.1 Risiko Keuangan
a. Tingkat Suku Bunga;
Risiko di mana arus kas di masa depan akan berfluktuasi karena perubahan tingkat suku
bunga pasar. Perseroan dapat terpapar dengan risiko perubahan suku bunga pasar
terutama terkait utang bank serta penempatan kas dan setara kas dengan suku bunga
mengambang.
b. Kredit;
Risiko yang berpotensi timbul dari operasi terkait penyewaan infrastruktur telekomunikasi
dan wanprestasi dari pihak terkait.
c. Mata Uang Asing;
Merupakan risiko nilai wajar arus kas masa depan atas suatu instrumen keuangan yang
bersifat fluktuatif karena perubahan kurs mata uang asing. Perseroan terpengaruh risiko ini
terutama berkaitan dengan utang bank dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Apabila
Halaman 29 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 30
terjadi pelemahan/penguatan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap nilai tukar mata uang
asing, maka utang dalam mata uang asing akan meningkat/berkurang dalam mata uang
Rupiah.
d. Likuiditas
Risiko di mana Perseroan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan jangkapendek
karena tidak bisa melikuidasi asetnya.
6.3.2 Risiko Operasional
Perseroan memahami bahwa aktivitas bisnis dan usahanya tidak lepas dari proses awal yang
harus dijalani. Beberapa komponen penanganan terhadap risiko operasional Perseroan adalah:
1. Memastikan bahwa semua lini yang terkait telah memahami risiko pada setiap tahap kegiatan
operasional terutama yang berhubungan dengan persetujuan atau komitmen dengan
pelanggan dan/atau pihak ketiga.
2. Menyusun dan mengawasi laporan internal dan eksternal Perseroan untuk memantau hasil
kinerja Perseroan.
3. Melaksanakan Standard Operating Procedures (SOP) yang sudah ditetapkan Perseroan.
4. Menggunakan sistem teknologi informasi terkini untuk menunjang kegiatan operasional
Perseroan.
6.3.3 Risiko Tidak Tercapainya Proyeksi
Risiko tidak tercapainya semua asumsi dalam proyeksi dapat mengakibatkan tidak tercapainya
semua target penjualan Perseroan yang dapat mempengaruhi kepada kinerja keuangan bidang
usaha yang baru.
6.4 Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen
Untuk menjalankan setiap bidang usaha yang digeluti CMI, para pengurus CMI telah menunjuk
beberapa orang profesional yang memiliki kompetensi dan berpengalaman sesuai bidangnya
(key person).
1. Suresh Narain Singh Sidhu, Komisaris
Warga Negara Malaysia dengan latar belakang Pendidikan Bachelor of Natural Sciences
dari University of Cambridge, Inggris dan Master of Business Administration dari INSEAD.
Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
• Berpengalaman lebih dari 25 tahun di sektor telekomunikasi wilayah Asia
• Saat ini sebagai CEO dan Pendiri EdgePoint
• Sebelumnya sebagai CEO EDOTCO Group dan berperan penting dalam transformasi
dan perkembangan salah satu pertumbuhan TowerCos tercepat di Asia
• Merupakan anggota manajemen senior di sejumlah perusahaan telekomunikasi terbesar
di Asia, termasuk Maxis dan Axiata Group
• Sebelumnya bergabung di Boston Consulting Group dan Sime Darby Holdings
2. Yan Raymond Jafri, Direktur Utama
Warga Negara Indonesia dengan latar belakang Sarjana Teknik Telekomunikasi dari
Universitas Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menjalani program Master of Business
Halaman 30 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 31
Administration (Executive) di National University of Singapore. Beliau memiliki Riwayat karir
yaitu:
• Technical Support Engineer, PT Trans Communication Data
• Program Director, PT Huawei Tech Investment
3. Caba Pinter, Direktur
Warga Negara Jerman dengan latar belakang Bachelor in Economic Sciences, Fakultas
Ekonomi (Osijek, Kroasia), Anggota Certified Accountant (FCCA) di Chartered Association of
Certified Accountants (ACCA). Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
• Memulai karirnya sebagai auditor eksternal di PwC dan sebagai auditor internal di
United Technologies Corporation (UTC).
• Memegang beberapa posisi keuangan senior di berbagai MNO dan grup
telekomunikasi di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Indonesia.
• Bergabung dengan Centratama Group pada Januari 2022 sebagai Executive Vice
President IBC Business dalam rangka merumuskan dan melaksanakan perbaikan
strategis dan operasional di bidang IBC Business.
4. Jacopo Rigamonti, Direktur
Warga Negara Italia dengan latar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Politik dan Hubungan
Internasional dari Universita Cattolicadel Sacro Cuore, Italia. Beliau memiliki Riwayat Karir
sebagai berikut:
• Sales Manager Southeast Asia, Trelleborg Coated Systems, Shanghai.
• Head of Business Development, Protelindo, Jakarta.
• Head of Marketing, Sales & Leasing, Protelindo, Jakarta.
• Head of Commercial, AP Towers, Yangon.
Dengan struktur organisasi CMI sebagai berikut:
Halaman 31 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 32
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen
Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya
suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk
perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan Manajemen
yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi kerja yang terpadu dan terarah.
Kegiatan usaha yang baru berada pada bagian Operations dibawah tanggung jawab Chief
Operating Officer (COO).
Halaman 32 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 33
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Cost)
Dalam rencana kegiatan usaha ini Perseroan membutuhkan biaya investasi sebesar
Rp116.807 ribu per unit Jaringan PaaS, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 7.1 Investasi Per Unit Jaringan PaaS Tahun 2025
Uraian Biaya (Rp. Ribu) Keterangan
Lithium Battery Modules- 200 AH 15.800
Rectifier Modules, 3,000w 9.000
Rectifier Rack 24 KW, with Rectifier Controller(24kw) 16.700
Outdoor Equipment cabinet 14.800
4-16mm2 THHN & 1-14mm2, in 32mm Ø IMC Pipe. To
2.850
be used for Three Phase Grid Supply.
Cable: SMPS-DCDB 2R-38mm2 2.850
Cable: SMPS-Battery 35mm2 628
Cable: Alarm Cable (SMPS-KRONE module)- 5pair (if Dry
180
contact alarms to be terminated) Rencana Angaran Biaya
Earthing Cables 1-14mm2, THHN, Green, Cu,
324
Multistrand with terminal lugs & termination
Earthing & Bonding, Connect all equipment and cabinets
750
with Earthing grid/ Earth Bus bar
Installation, Wiring, Commissioning & Testing 2.500
RMS 24.604
Site Transportation Cost (Normal) 15.000
Customer Cabinet 8.500
Smart Lock 2.321
Total 116.807
Jumlah biaya investasi tersebut diatas, didasarkan kepada rencana anggaran biaya per unit yang
disusun oleh Manajemen Perseroan. Investasi awal yang dilakukan oleh CMI pada tahun 2025
adalah sebesar 50 unit dengan tota Investasi awal sebesar Rp5.840.338 Ribu
7.2 Modal Kerja
Proyeksi modal kerja atas rencana perubahan kegiatan usaha selama masa proyeksi adalah
sebagai berikut:
Tabel 7.2 Modal Kerja
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Piutang Usaha Rp. Ribu 221.918 1.109.589 2.219.178 3.328.767 4.438.356 5.547.945
Utang Usaha Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Piutang Usaha Rp. Ribu 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534
Utang Usaha Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Halaman 33 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 34
Perubahan modal kerja pada tabel diatas untuk menggambarkan perubahan kebutuhan
modal kerja selama masa proyeksi yang didapat dari selisih modal kerja tahun berjalan
dengan modal kerja tahun sebelumnya.
7.3 Sumber Pembiayaan
Berdasarkan keterangan manajemen Perseroan, bahwa rencana kegiatan penambahan usaha
ini seluruh b i a y a i n v e s t a s i berasal dari kas Perseroan.
7.4 Biaya Operasional
Biaya operasional atas rencana perubahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok penjualan
dan beban usaha. Proyeksi biaya operasional rencana perubahan kegiatan usaha tahun
2025-2035 adalah sebagai berikut:
Tabel 7.3 Biaya Operasional
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Harga Pokok
Rp. Ribu 911.881 4.625.617 9.352.442 14.165.990 19.068.447 23.904.055
Pendaptan
Beban G&A Rp. Ribu 108.000 256.680 441.664 626.972 812.626 998.646
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Harga Pokok
Rp. Ribu 28.343.127 27.320.393 25.680.309 23.796.705 21.782.115
Pendaptan
Beban G&A Rp. Ribu 1.185.058 1.191.887 1.199.160 1.206.905 1.215.154
7.5 Proyeksi Laporan Keuangan
Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan didasarkan pada proyeksi keuangan
yang disusun oleh manajemen Perseroan, dengan asumsi sebagai berikut:
Asumsi Umum, meliputi:
• Jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari
• Asumsi GDP diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 5,07%, tahun 2026
sebesar 5,06%, tahun 2027 sebesar 5,07%, tahun 2028 sebesar 5,06% dan tahun 2029
sampai tahun 2035 sebesar 5,07%.
• Asumsi Inflasi diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 2,51%, tahun 2026
sebesar 2,53%, tahun 2027 sampai tahun 2035 sebesar 2,52%.
• Peningkatan UMP diperoleh dari Permenaker No 16 tahun 2024 selama proyeksi sebesar
6,5%
• Tarif pajak final selama periode proyeksi sebesar 2%
Tabel 7.4 Asumsi Umum
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI UMUM
Jumlah hari dalam
Hari 365 365 365 365 365 365
setahun
GDP % 5,07% 5,06% 5,07% 5,06% 5,07% 5,07%
Inflasi % 2,51% 2,53% 2,52% 2,52% 2,52% 2,52%
Halaman 34 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 35
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
UMP % 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Pajak Final % 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI UMUM
Jumlah hari dalam
Hari 365 365 365 365 365
setahun
GDP % 5,07% 5,06% 5,07% 5,06% 5,07%
Inflasi % 2,51% 2,53% 2,52% 2,52% 2,52%
UMP % 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Pajak Final % 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asumsi Pendapatan, meliputi:
• Target Unit Perangkat
o Target unit PaaS diperoleh dari rencana penambahan unit yang disusun manajemen
yaitu untuk tahun 2025 sebesar 50 unit, untuk tahun 2026 sebesar 250 unit dan
untuk tahun selanjutnya meningkat sebesar 250 unit hingga tahun 2031 dengan total
perangkat 1.500.
• Harga Jasa.
Pendapatan terdiri dari pendapatan Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121), Biaya Sewa perangkat
(KBLI 35122), Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211), Biaya Jasa lainnya (KBLI 35129);
o Harga Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa
proyeksi
o Harga Biaya Sewa Perangkat (KBLI 35122) yaitu sebesar Rp24.000 ribu selama masa
proyeksi
o Harga Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211) yaitu sebesar Rp6.000 ribu
selama masa proyeksi
o Harga Biaya Jasa lainnya (KBLI 35129) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama masa
proyeksi.
Tabel 7.5 Asumsi Pendapatan
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI PENDAPATAN
Jumlah Perangkat
Jumlah Instalasi Unit 50 50 250 500 750 1.000
Penambahan Instalasi Unit 200 250 250 250 250
Total Instalasi Unit 50 250 500 750 1.000 1.250
Harga Jasa
KBLI 35121
Rp.
Biaya Jasa Operasi 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 35122
Rp.
Biaya Sewa perangkat 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi Rp.
6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
perangkat Ribu/unit/tahun
Halaman 35 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 36
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
KBLI 35129
Rp.
Biaya Jasa lainnya 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI PENDAPATAN
Jumlah Perangkat
Jumlah Instalasi Unit 1.250 1.500 1.500 1.500 1.500
Penambahan Instalasi Unit 250 - - - -
Total Instalasi Unit 1.500 1.500 1.500 1.500 1.500
Harga Jasa
KBLI 35121
Rp.
Biaya Jasa Operasi 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 35122
Rp.
Biaya Sewa perangkat 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi Rp.
6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
perangkat Ribu/unit/tahun
KBLI 35129
Rp.
Biaya Jasa lainnya 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
Asumsi Asumsi Biaya
• Biaya Operasional dan Perawatan sebesar 10% dari total pendapatan selama masa proyeksi.
• Biaya RMS sebesar 2% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya Asuransi sebesar 1,3% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya Tenaga kerja 1% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya umum dan administrasi 4% dari total pendapatan pada tahun 2025 dan meningkat
sebesar 6,5% setiap tahun pada tahun berikutnya selama masa proyeksi
• Biaya Penjualan 2% dari total pendapatan selama masa proyeksi
Tabel 7.6 Asumsi-Asumsi Biaya
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI BIAYA POKOK
Operation And
% Revenue 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00%
Maintenance
RMS % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asuransi % Revenue 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30%
Biaya Tenaga Kerja %Revenue 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00%
ASUMSI BIAYA/BEBAN
LAIN
Biaya Umum dan
%Revenue 4,00% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Administrasi
Biaya Penjualan % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Halaman 36 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 37
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI BIAYA POKOK
Operation And
% Revenue 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00%
Maintenance
RMS % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asuransi % Revenue 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30%
Biaya Tenaga Kerja %Revenue 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00%
ASUMSI BIAYA/BEBAN
LAIN
Biaya Umum dan
%Revenue 4,00% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Administrasi
Biaya Penjualan % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asumsi Working Capital
Asumsi yang digunakan dalam perhitungan days working capital turnover diperoleh dari histris
rata rata CMI dengan rincian sebagai berikut:
• Untuk perputaran piutang 45 hari selama masa proyeksi
• Untuk Perputaran utang usaha sebesar 60 hari selama masa proyeksi
Tabel 7.7 Asumsi Working Capital
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI WORKING CAPITAL
Day Turnover Piutang Usaha Hari 45 45 45 45 45 45
Day Turnover Utang Usaha Hari 60 60 60 60 60 60
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI WORKING CAPITAL
Day Turnover Piutang Usaha Hari 45 45 45 45 45
Day Turnover Utang Usaha Hari 60 60 60 60 60
Asumsi Capex
Asumsi Capital Expenditure merupakan total biaya investasi yang direncanakan oleh manajemen
dalam kegiatan usaha CMI yang menjadi Initial Outlay dalam studi Kelayakan yang dilakukan.
Total Capex yang direncakan oleh manajemen adalah sebagai berikut:
• Untuk Biaya unit terpasang setiap tahunnya disesuaikan dengan proyeksi Inflasi Indonesia
yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund (IMF)
Tabel 7.8 Asumsi Capex
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI CAPEX
Jumlah Perangkat Unit - 200 250 250 250 250
Biaya Unit Terpasang
Rp. Ribu 119.761 122.782 125.878 129.051 132.304
Perangkat
Total Capex Instalasi
Rp. Ribu - 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Perangkat
Halaman 37 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 38
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI CAPEX
Jumlah Perangkat Unit 250 - - - -
Biaya Unit Terpasang - - - -
Rp. Ribu 135.640
Perangkat
Total Capex Instalasi
Rp. Ribu 33.909.966 - - - -
Perangkat
7.5.1 Proyeksi Laba Rugi
Berdasarkan asumsi-asumsi yang ditetapkan di atas, maka hasil proyeksi laba rugi PT Centratama
Menara Indonesia adalah sesuai tabel berikut:
Tabel 7.9 Proyeksi Laporan Laba Rugi dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan
KBLI 35121
Biaya Jasa Operasi Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
KBLI 35122
Biaya Sewa perangkat Rp. Ribu 900.000 4.500.000 9.000.000 13.500.000 18.000.000 22.500.000
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi perangkat Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
KBLI 35129
Biaya Jasa lainnya Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
Total Pendapatan Rp. Ribu 1.800.000 9.000.000 18.000.000 27.000.000 36.000.000 45.000.000
Beban Pokok Pendapatan
Depresiasi And Amortitation Rp. Ribu 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Operation And
Rp. Ribu 180.000 900.000 1.800.000 2.700.000 3.600.000 4.500.000
Maintenance
RMS Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Asuransi Rp. Ribu 23.361 116.807 233.614 350.420 467.227 584.034
Biaya Tenaga Kerja Rp. Ribu 18.000 90.000 180.000 270.000 360.000 450.000
Total Beban Pokok
Rp. Ribu 911.881 4.625.617 9.352.442 14.165.990 19.068.447 23.904.055
Pendaptan
Laba Usaha Rp. Ribu 888.119 4.374.383 8.647.558 12.834.010 16.931.553 21.095.945
Biaya/Beban Lain
Biaya Administrasi Umum Rp. Ribu 72.000 76.680 81.664 86.972 92.626 98.646
Biaya Penjualan Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Beban Bunga Rp. Ribu - - - - - -
Total Rp. Ribu 108.000 256.680 441.664 626.972 812.626 998.646
Pendapatan sebelum Pajak
Rp. Ribu 780.119 4.117.703 8.205.894 12.207.038 16.118.928 20.097.299
Final
Pajak Final Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Laba Bersih Rp. Ribu 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Halaman 38 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 39
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan
KBLI 35121
Biaya Jasa Operasi Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
KBLI 35122
Biaya Sewa perangkat Rp. Ribu 27.000.000 27.000.000 27.000.000 27.000.000 27.000.000
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi perangkat Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
KBLI 35129
Biaya Jasa lainnya Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
Total Pendapatan Rp. Ribu 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000
Beban Pokok Pendapatan
Depresiasi And Amortitation Rp. Ribu 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Operation And
Rp. Ribu 5.400.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000
Maintenance
RMS Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Asuransi Rp. Ribu 700.841 700.841 700.841 700.841 700.841
Biaya Tenaga Kerja Rp. Ribu 540.000 540.000 540.000 540.000 540.000
Total Beban Pokok
Rp. Ribu 28.343.127 27.320.393 25.680.309 23.796.705 21.782.115
Pendaptan
Laba Usaha Rp. Ribu 25.656.873 26.679.607 28.319.691 30.203.295 32.217.885
Biaya/Beban Lain
Biaya Administrasi Umum Rp. Ribu 105.058 111.887 119.160 126.905 135.154
Biaya Penjualan Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Beban Bunga Rp. Ribu - - - - -
Total Rp. Ribu 1.185.058 1.191.887 1.199.160 1.206.905 1.215.154
Pendapatan sebelum Pajak
Rp. Ribu 24.471.814 25.487.720 27.120.531 28.996.390 31.002.731
Final
Pajak Final Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Laba Bersih Rp. Ribu 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731
Proyeksi laba rugi pada tabel tersebut diatas, tidak ada beban bunga yang dikeluarkan karena
pada unit usaha ini semua pembiayaan menggunakan kas Perseroan. Pada proyeksi juga
diperoleh rata rata selama masa proyeksi persentasi laba usaha dibandingkan dengan total
pendapatan adalah sebesar 50,22% dan persentasi laba bersih dibandingkan dengan
pendapatan adalah 45,56%.
7.5.2 Proyeksi Arus Kas
Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan, arus kas PT Centratama
Menara Indonesia adalah sesuai dengan tabel berikut ini.
Halaman 39 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 40
Tabel 7.10 Proyeksi Laporan Arus Kas dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Dari Kegiatan
Operasional
Laba Bersih Rp. Ribu 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Depresiasi Dan
Rp. Ribu 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Amortisasi
Total Kas Masuk sebelum
Rp. Ribu 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Working Capital
Perubahan Modal Kerja
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu (221.918) (887.671) (1.109.589) (1.109.589) (1.109.589) (1.109.589)
Piutang Usaha
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu 42.306 169.224 211.530 211.530 211.530 211.530
Utang Usaha
Total Perubahaan Modal
Rp. Ribu (179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
Kerja
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 1.219.027 6.558.066 13.726.663 21.074.548 28.422.088 35.769.261
Kegiatan Operasional
Arus Kas Kegiatan
Investasi
Initial Outlay Rp. Ribu (5.840.338) - - - - -
Capex Rp. Ribu - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu (5.840.338) (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Kegiatan Investasi
Arus Kas Kegiatan
Pendanaan
Utang Bank (Current) Rp. Ribu - - - - - -
Utang Bank (Non
Rp. Ribu - - - - - -
Current)
Modal Rp. Ribu 5.840.338 - - - - -
Tambahan Modal Disetor Rp. Ribu - 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 5.840.338 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Kegiatan Pendanaan
Arus Kas Bersih Rp. Ribu 1.219.027 6.558.066 13.726.663 21.074.548 28.422.088 35.769.261
Kas Awal Rp. Ribu - 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392
Saldo Akhir Cash And
Rp. Ribu 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392 106.769.653
Bank
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Arus Kas Dari Kegiatan
Operasional
Laba Bersih Rp. Ribu 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731
Depresiasi Dan
Rp. Ribu 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Amortisasi
Total Kas Masuk sebelum
Rp. Ribu 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Working Capital
Perubahan Modal Kerja
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu (1.109.589) - - - -
Piutang Usaha
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu 211.530 - - - -
Utang Usaha
Total Perubahaan Modal
Rp. Ribu (898.059) - - - -
Kerja
Halaman 40 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 41
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 43.116.042 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Kegiatan Operasional
Arus Kas Kegiatan
Investasi
Initial Outlay Rp. Ribu - - - - -
Capex Rp. Ribu (33.909.966) - - - -
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu (33.909.966) - - - -
Kegiatan Investasi
Arus Kas Kegiatan
Pendanaan
Utang Bank (Current) Rp. Ribu - - - - -
Utang Bank (Non
Rp. Ribu - - - - -
Current)
Modal Rp. Ribu - - - - -
Tambahan Modal Disetor Rp. Ribu 33.909.966 - - - -
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 33.909.966 - - - -
Kegiatan Pendanaan
Arus Kas Bersih Rp. Ribu 43.116.042 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Kas Awal Rp. Ribu 106.769.653 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222
Saldo Akhir Cash And
Rp. Ribu 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222 325.869.227
Bank
• Arus Kas dari Aktivitas Operasi selama periode proyeksi mengalami peningkatan setiap tahun
dikarena tambahan pendapatan dengan penambahan unit 200 unit tahun 2026 dan 250
unit perangkat PaaS per tahun untuk tahun berikutnya sampai dengan tahun 2031.
• Arus Kas dari Aktivitas investasi merupakan biaya investasi penambahan perangkat PaaS
terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha.
• Arus Kas dari Aktivitas pendanaan merupakan tambahan pendanaan dari Perseroan terkait
initial outlay dan Pengeluaran capex.
7.5.3 Proyeksi Posisi Keuangan CMI
Proyeksi Posisi Keuangan CMI berdasarkan asumsi-asumsi yang telah dibuat adalah sesuai tabel
berikut:
Tabel 7.11 Proyeksi Laporan Posisi Keuangan dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset
Aset Lancar
Kas dan Bank Rp. Ribu 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392 106.769.653
Piutang Usaha Rp. Ribu 221.918 1.109.589 2.219.178 3.328.767 4.438.356 5.547.945
Total Aset Lancar Rp. Ribu 1.440.945 8.886.682 23.722.934 45.907.071 75.438.748 112.317.598
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap Rp. Ribu 5.185.818 25.799.169 49.715.933 70.879.791 89.221.344 104.827.440
Total Aset Tidak
Rp. Ribu 5.185.818 25.799.169 49.715.933 70.879.791 89.221.344 104.827.440
Lancar
Total Aset Rp. Ribu 6.626.763 34.685.851 73.438.867 116.786.863 164.660.092 217.145.038
Halaman 41 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 42
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Liabilitas
Liabilitas Lancar
Utang Usaha Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Utang Bank jatuh
Rp. Ribu - - - - - -
Tempo 1 tahun
Total Liabilitas Lancar Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Liabilitas Tidak Lancar
Utang Bank Rp. Ribu - - - - - -
Total Liabilitas Tidak
Rp. Ribu - - - - - -
Lancar
Total Liabilitas Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Ekuitas
Modal Rp. Ribu 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338
Tambahan Modal
Rp. Ribu - 23.952.161 54.647.753 86.117.180 118.379.953 151.456.069
disetor
Saldo Laba Rp. Ribu 744.119 4.681.822 12.527.716 24.194.754 39.593.682 58.790.981
Total Ekuitas Rp. Ribu 6.584.457 34.474.321 73.015.807 116.152.273 163.813.973 216.087.388
Total Liabilitas Dan
Rp. Ribu 6.626.763 34.685.851 73.438.867 116.786.863 164.660.092 217.145.038
Ekuitas
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Aset
Aset Lancar
Kas dan Bank Rp. Ribu 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222 325.869.227
Piutang Usaha Rp. Ribu 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534
Total Aset Lancar Rp. Ribu 156.543.229 200.550.502 244.550.501 288.542.756 332.526.761
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap Rp. Ribu 118.115.118 98.515.566 80.556.097 64.480.233 50.418.958
Total Aset Tidak
Rp. Ribu 118.115.118 98.515.566 80.556.097 64.480.233 50.418.958
Lancar
Total Aset Rp. Ribu 274.658.348 299.066.068 325.106.599 353.022.989 382.945.720
Liabilitas
Liabilitas Lancar
Utang Usaha Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Utang Bank jatuh
Rp. Ribu - - - - -
Tempo 1 tahun
Total Liabilitas Lancar Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Liabilitas Tidak Lancar
Utang Bank Rp. Ribu - - - - -
Total Liabilitas Tidak
Rp. Ribu - - - - -
Lancar
Total Liabilitas Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Halaman 42 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 43
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Ekuitas
Modal Rp. Ribu 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338
Tambahan Modal
Rp. Ribu 185.366.035 185.366.035 185.366.035 185.366.035 185.366.035
disetor
Saldo Laba Rp. Ribu 82.182.795 106.590.516 132.631.047 160.547.436 190.470.167
Total Ekuitas Rp. Ribu 273.389.168 297.796.888 323.837.419 351.753.809 381.676.540
Total Liabilitas Dan
Rp. Ribu 274.658.348 299.066.068 325.106.599 353.022.989 382.945.720
Ekuitas
• Aset Lancar
Aset lancar terdiri dari kas dan piutang usaha, selama masa proyeksi aset lancar CMI
mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035)
sebesar 101%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan kas dan piutang CMI. Pada tahun
2026 aset lancar CMI mengalami peningkatan sebesar 517% hal ini disebabkan adanya
penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan tahun 2025.
• Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar terdiri dari asset tetap, selama masa proyeksi aset tidak lancar CMI
mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035)
sebesar 51%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan aset tetap CMI. Pada tahun 2026 aset
tidak lancar CMI mengalami peningkatan sebesar 397% hal ini disebabkan adanya
penambahan unit sebesar 200 unit PaaS dibandingkan dengan tahun 2025.
• Liabilitas
Liabilitas CMI hanya terdiri dari utang usaha hal ini karena dalam pelaksanaan unit usaha
PaaS sumber pendanaannya berasal dari modal CMI, selama masa proyeksi Liabilitas CMI
mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035)
sebesar 63%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan liabilitas jangka pendek CMI. Pada
tahun 2026 liabilitas CMI mengalamai peningkatan sebesar 400% hal ini disebabkan adanya
penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan tahun 2025 yang
mempengaruhi pendapatan CMI sehingga utang usaha CMI mengalami peningkatan.
• Ekuitas
Ekuitas atas penambahan kegiatan usaha ini terdiri dari setoran modal, tambahan modal
disetor dan Saldo Laba, selama masa proyeksi Ekuitas CMI mengalami peningkatan dengan
rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035) sebesar 73%. Peningkatan ini
dipengaruhi peningkatan Tambahan modal disetor yang disesuaikan dengan total capex
yang dikeluarkan oleh CMI setiap tahunnya. Pada tahun 2026 Ekuitas CMI mengalamai
peningkatan sebesar 424% hal ini disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200
unit dibandingkan dengan tahun 2025 yang mempengaruhi jumlah modal yang disetor untuk
memenuhi biaya capex CMI.
7.5.4 Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto yang kami gunakan adalah biaya modal untuk ekuitas ( cost of equity).
Biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital Asset Pricing Model
(“CAPM”), dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS Ke = Rf + ß Rp – CDS
Halaman 43 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 44
Rf ( risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Dalam studi kelayakan ini, suku bunga bebas risiko
yang kami gunakan adalah Indeks Surat Utang Negara dengan jangka waktu 30 tahun dimana
penggunaan risk free rate didasari atas suku bunga bebas risiko sesuai dengan mata uang
yang disajikan dalam laporan keuangan objek studi kelayakan, dan mencerminkan asumsi
kelangsungan jangka waktu kegiatan usaha objek studi kelayakan.
Rp (risk premium), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan tingkat
kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Premi risiko pasar (Rm-Rf) ditentukan dengan
menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 sebesar 6,87%.
CDS (Country Default Spread), adalah tingkat (rating) gagal bayar obligasi yang dikeluarkan
pemerintah dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1
Januari 2025.
ß (Beta), merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh S&P 500
atau IHSG). Beta diperoleh dari unlevered beta yang mengacu kepada beta Damodaran dengan
data diperbarui 1 Januari 2025 dari industri t e l ek o m u n i k a s i sebesar 0,60 yang kemudian
di re-levered kembali untuk menghasilkan levered beta dengan formula sebagai berikut:
ßL = ßU x (1+ (1-t) x DER)
Dimana :
ßL : Beta Levered
ßU : Beta Unlevered
DER : Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
T : Pajak
DER mengacu kepada DER Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari industri
telekomunikasi sebesar 39,78%.
Berdasarkan formula perhitungan beta di atas maka beta yang digunakan sebagai berikut:
Tabel 13. Beta
Deskripsi Keterangan
ßU (didapat dari Damodaran) 0,60
DER (Damodaran) 39,78%
T (Pajak) 22%
ßL = …. *(1+(1-22% )*….%) 0,79
Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM diperoleh biaya
modal untuk ekuitas sebagai berikut:
Tabel 14. CAPM
Deskripsi Keterangan
Rf 7,11% IPBA per 30 Desember 2024 (30 Tahun)
ß 0,79 Dari perhitungan beta
Rp 6,87% Damodaran dengan data
Halaman 44 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 45
Deskripsi Keterangan
CDS 1,89% diperbaharui 1 Januari 2025
Spesifik Risk 0% Asumsi risiko karena proyek masih baru
Ke = Rf + (ß x Rp ) – CDS 10,63%
Biaya modal ekuitas (Ke) pada tabel diatas sebesar 10,63% digunakan sebagai tingkat
diskonto dalam Analisa kelayakan keuangan
7.6 Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)
Dalam melakukan analisis titik impas akan menggunakan perhitungan break even point
(“BEP”) dimana BEP adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak
menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan
(revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan
untuk menutup biaya tetap saja. Nilai BEP dalam rupiah mencerminkan pendapatan minimal
yang diperlukan agar terjadi BEP. BEP dalam satuan Rupiah dapat diformulasikan sebagai
berikut:
Total Biaya Tetap
BEP =
(Penjualan - Total Biaya Variabel) /
Penjualan
Berikut adalah analisis titik impas atas rencana perubahan kegiatan usaha selama periode
proyeksi:
Tabel 7.12 Break Even Point (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 1.800.000 9.000.000 18.000.000 27.000.000 36.000.000 45.000.000
Biaya Tetap 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Biaya Variabel 257.361 1.286.807 2.573.614 3.860.420 5.147.227 6.434.034
Break Event Point 763.714 3.895.830 7.909.753 12.024.867 16.243.724 20.384.578
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000
Biaya Tetap 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Biaya Variabel 7.720.841 7.720.841 7.720.841 7.720.841 7.720.841
Break Event Point 24.062.742 22.869.383 20.955.681 18.757.832 16.407.144
Berdasarkan tabel diatas rata-rata titik impas adalah sebesar Rp 14.934.113 selama periode
proyeksi.
7.7 Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)
Dalam melakukan analisis profitabilitas / Overall Profitability, digunakan Profitability Index (“PI”),
dimana PI dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih yang akan datang suatu
Halaman 45 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 46
proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk proyek tersebut. PI dapat
diformulasikan sebagai berikut:
Jumlah nilai kini arus kas masuk
PI =
Jumlah nilai kini arus kas keluar
Jika PI lebih besar dari 1, maka investasi tersebut adalah layak. Berikut adalah perhitungan PI
atas rencana perubahan kegiatan usaha:
Tabel 7.13 Profitability Index (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Cash inflow
Net Income 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Interest*(1-Tax) - - - - - -
Depreciation &
654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Amortization
Total 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Cash outflow
Change in net
(179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
working capital
Capex - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Initial Outlay (5.840.338)
Total (5.840.338) (179.612) (24.670.608) (31.593.651) (32.367.487) (33.160.831) (33.974.176)
Net Free Cash Flow (5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Terminal Value
Total Net Free Cash
(5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Flow
n 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
1,00 0,90 0,82 0,74 0,67 0,60 0,55
Present Value (5.840.338) 1.101.887 (14.211.819) (12.532.167) (6.939.291) (2.317.545) 1.468.937
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Cash inflow
Net Income 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731 30.683.786
Interest*(1-Tax) - - - - -
Depreciation &
20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275 14.418.909
Amortization
Total 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 45.102.695
Cash outflow
Change in net
(898.059) - - - - (137.047)
working capital
Capex (33.909.966) - - - - (14.418.909)
Initial Outlay
Total (34.808.025) - - - - (14.555.956)
Halaman 46 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 47
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Net Free Cash Flow 9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 30.546.738
Terminal Value 377.707.350
Total Net Free Cash
9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 377.707.350
Flow
n 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 11,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
0,49 0,45 0,40 0,36 0,33 0,33
Present Value 4.538.810 19.611.723 17.724.250 16.018.260 14.476.308 124.313.549
Analisa Kelayakan Satuan Nilai
Profitability Index x 1,33
Payback Period Tahun 8,0
Berdasarkan tabel diatas PI yang dihasilkan sebesar 1,33 atau lebih besar daripada 1.
7.8 Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)
Dalam mengukur tingkat imbal balik investasi digunakan perhitungan Net Present Value
(“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”). Jika nilai NPV positif dan IRR memiliki nilai lebih besar
dari tingkat diskonto maka investasi tersebut adalah layak. Berikut adalah perhitungan NPV dan
IRR atas rencana perubahan kegiatan usaha:
Tabel 7.14 NPV dan IRR (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Cash inflow
Net Income 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Interest*(1-Tax) - - - - - -
Depreciation &
654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Amortization
Total 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Cash outflow
Change in net
(179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
working capital
Capex - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Initial Outlay (5.840.338)
Total (5.840.338) (179.612) (24.670.608) (31.593.651) (32.367.487) (33.160.831) (33.974.176)
Net Free Cash Flow (5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Terminal Value
Total Net Free Cash
(5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Flow
n 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
Halaman 47 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 48
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
1,00 0,90 0,82 0,74 0,67 0,60 0,55
Present Value (5.840.338) 1.101.887 (14.211.819) (12.532.167) (6.939.291) (2.317.545) 1.468.937
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Cash inflow
Net Income 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731 30.683.786
Interest*(1-Tax) - - - - -
Depreciation &
20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275 14.418.909
Amortization
Total 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 45.102.695
Cash outflow
Change in net
(898.059) - - - - (137.047)
working capital
Capex (33.909.966) - - - - (14.418.909)
Initial Outlay
Total (34.808.025) - - - - (14.555.956)
Net Free Cash Flow 9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 30.546.738
Terminal Value 377.707.350
Total Net Free Cash
9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 377.707.350
Flow
n 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 11,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
0,49 0,45 0,40 0,36 0,33 0,33
Present Value 4.538.810 19.611.723 17.724.250 16.018.260 14.476.308 124.313.549
Analisa Kelayakan Satuan Nilai
Net Present Value Rp. Ribu 157.412.564
IRR % 33,11%
Berdasarkan tabel diatas NPV yang dihasilkan sebesar Rp 157.412.564 atau lebih besar
daripada 0, dan IRR yang dihasilkan sebesar 33,11% atau lebih besar daripada tingkat diskonto
sebesar 10,63%.
Halaman 48 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 49
BAB VIII
KESIMPULAN
Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis Kelayakan
Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan Model
Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asumsi dapat terpenuhi, maka kami
berpendapat bahwa rencana Perseroan dalam rangka Perubahan kegiatan usaha berupa
penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan
Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122),
Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129) adalah
LAYAK.
Halaman 49 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 50
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam proses
Studi Kelayakan.
c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan keakuratan
dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data yang diperoleh dari
informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami anggap relevan.
d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi
keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas status hukum Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan telah
disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara
khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan.
k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai dengan
maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak dapat
digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab jika laporan
ini digunakan untuk tujuan lain.
l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan relevansi
antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
Halaman 50 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 51
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan Studi Kelayakan adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek Studi Kelayakan .
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil Studi Kelayakan yang dilaporkan.
5. Studi Kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode
Etik Penilai Indonesia (KEPI), SE OJK NO.17/SEOJK.04/2020, serta POJK No.35/POJK.04/2020,
tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek Studi
Kelayakan.
8. Penilai telah melakukan wawancara kepada pihak manajemen Perseroan.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
dalam laporan Studi Kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi Kelayakan
11. Kami bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan yang telah kami susun berdasarkan data
yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta lengkap.
Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan informasi
dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap
atau menyesatkan.
12. Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan terhadap obyek Studi Kelayakan pada tanggal Studi
Kelayakan (cut off date)
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
Studi Kelayakan .
14. Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Studi Kelayakan profesional telah disajikan
sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
Halaman 51 FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
Page 52
Page 53
Kantor Jasa Penilai Publik The Manhattan Square
Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Property, Business Valuation & Advisory E-Mail : infoadmin@fdipartners.co
Website: www.fdipartners.co
Licence No. 2.22.0176
Phone (62 21) 27875911
KMK 460/KM.1/2022
Jakarta, 14 April 2025
Kepada Yth.
PT EPID Menara AssetCo
TCC Batavia Tower One Lt. 16 & 19
Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 126, Karet Tengsin,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220
No. Laporan : FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Hal : Laporan Studi Kelayakan Perubahan Kegiatan Usaha berupa penambahan 4
(empat) bidang kegiatan usaha PT EPID Menara AssetCo
Dengan hormat,
LAPORAN STUDI KELAYAKAN
PT EPID MENARA ASSETCO
Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No.003/FDI.JKT/PB.FS/I/2025 tertanggal 15
Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau
“Kami”) mendapat penugasan dari PT EPID Menara AssetCo (selanjutnya disebut “EMA” atau
“Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan usaha berupa
penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga
Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi
Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), selanjutnya disebut
(“Obyek Studi Kelayakan”).
Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana penambahan/
perubahan kegiatan usaha KBLI Perseroan , diperuntukan dalam rangka memenuhi Otoritas
Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan perusahaan public (terbuka), yaitu
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi
Material dan perubahan Kegiatan Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal
(“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian Indonesia dan
Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018). Dalam melakukan
Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar
maupun profesi lainnnya.
Tanggal Studi Kelayakan
Tanggal Studi Kelayakan dalam penugasan ini adalah 31 Desember 2024.
Page 54
Ruang Lingkup dan Metodologi Analisis Studi Kelayakan Berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17, analisis Studi Kelayakan dilakukan melalui analisis yang mencakup hal–hal sebagai berikut: a. Analisis Kelayakan Pasar b. Analisis Kelayakan Teknis c. Analisis Kelayakan Pola Bisnis d. Analisis Model Manajemen e. Analisis Kelayakan Keuangan Analisis Kelayakan Pasar Perkembangan industri Telekomunikasi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G dan lainnya. Hampir seluruh perusahaan biasanya memiliki kebutuhan komunikasi yang kompleks karena ukuran, penyebaran geografis, dan operasinya yang beragam. Hal ini berdampak kepada kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang mampu menangani lalu lintas bervolume besar secara efisien dan andal untuk memastikan komunikasi dan produktivitas yang lancar. Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi karena kebutuhan komunikasi yang kompleks dan volume lalu lintas tinggi, yang memerlukan solusi telekomunikasi tangguh dan infrastruktur yang efisien serta andal untuk memastikan kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Sementara itu EMA sendiri memiliki beberapa tenant yang merupakan Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower di EMA. EMA memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan. Pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada 2025 dan USD 4,21 triliun pada 2034, menurut riset yang dilakukan oleh Precedence Research, dan didukung oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatatkan peningkatan penetrasi internet di Indonesia yang diprediksi mencapai 79,5% pada 2024. Proyeksi pengguna internet di Indonesia juga menunjukkan kenaikan masing-masing menjadi 81% dan 83% pada 2025 dan 2026, sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Research yang dipublikasikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia. EMA memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada EMA saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan oleh EMA bersifat eksklusif. Analisis Kelayakan Teknis EMA memiliki kapasitas dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan penambahan kegiatan usaha yaitu dalam bidang Pengoperasian Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Tenaga Listrik (KBLI 43211), Kegiatan Penunjang Kelistrikan (KBLI 35129). Halaman 2 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 55
Atas penambahan kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan proses yang menghasilkan produk. Sedangkan proses jasa yang dilakukan dapat terlihat dalam gambar berikut: Analisis Kelayakan Pola Bisnis Keunggulan kompetitif yang dimiliki saat ini adalah EMA telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat mendukung kegiatan usaha barunya, EMA telah berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki pengalaman dalam industri jasa telekomunikasi. Kemampuan pesaing dalam meniru produk ini relatif sangat sulit karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada EMA saat ini, sehingga cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan oleh EMA bersifat eksklusif. Kemampuan dalam menciptkan nilai, dapat tercipta dikarenakan EMA adalah salah satu entitas anak dari PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”). Analisis Model Manajemen Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, EMA tidak memerlukan penambahan tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang telah dimiliki. Selain itu, EMA akan memenuhi kriteria ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK sebagaimana dipersyaratkan dalam Lampiran Permen ESDM No. 5 Tahun 2021 untuk melakukan kegiatan usaha baru terkait industri penunjang ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal ini, EMA secara aktif berupaya memenuhi sertifikasi, dimana saat ini tenaga kerja yang ada sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK dan perekrutan tenaga kerja yang memiliki sertifikasi SKTTK secara berkelanjutan. Sementara itu, terkait dengan kekayaan intelektual, EMA saat ini memiliki kontrak jangka panjang dari masing-masing penyewa (perusahaan telekomunikasi yang menyewa menara). Risiko-risiko yang berpotensi terjadi dalam menjalankan kegiatan usahanya, antara lain adalah Risiko Kondisi Makro Ekonomi, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, dan Risiko Tidak Tercapainya Proyeksi. Dalam menjalankan setiap bidang usaha EMA memiliki kapasitas manajemen yang memiliki kompetensi dan berpengalaman sesuai bidangnya (key person). Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur organisasi dan Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi kerja yang terpadu dan terarah. Halaman 3 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 56
Analisis Kelayakan Keuangan
Dalam rencana perubahan kegiatan usaha, Perseroan akan menambah 4 (empat) kegiatan
usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121),
Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211),
Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129), membutuhkan biaya investasi terkait
sebesar Rp 5.840.338.000, dengan pembiayaan berasal dari kas Perseroan.
Biaya operasional atas rencana perubahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok
penjualan dan biaya/beban lain.
Dalam melakukan analisis kelayakan keuangan digunakan analisis titik impas, Profitability
Index (“PI”), Net Present Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”), dengan hasil
sebagai berikut:
Tabel 1. PI, NPV, dan IRR
Keterangan Indikator Satuan Hasil Analisa
Net Present Value NPV > 0 Rp Ribu 157.412.564
IRR IRR > DR % 33,11%
Profitability Index PI > 0 X 1,33
Payback Period Tahun 8,0
Asumsi – Asumsi dan Kondisi Pembatas
1. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan dalam
proses Studi Kelayakan.
3. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau data
yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya yang kami
anggap relevan.
4. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty).
5. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
6. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
7. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
8. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
9. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan
telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di
Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai Indonesia
(KEPI).
10. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di luar
dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup penugasan.
Halaman 4 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 57
11. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan tidak
dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung jawab
jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
12. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan
relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
Kesimpulan
Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis
Kelayakan Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan
Model Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asunsi dapat terpenuhi, maka
kami berpendapat bahwa rencana Perseroan dalam rangka Perubahan kegiatan usaha
berupa penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi
Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
(KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129),
adalah LAYAK.
Kami menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa dalam melaksanakan penugasan ini,
kami bertindak sebagai pihak independen yang tidak terikat dengan kepentingan apapun,
baik saat ini maupun di masa datang terkait dengan usaha Perseroan maupun atas transaksi
yang dilakukan.
Demikian laporan Studi Kelayakan ini kami sampaikan, atas kerjasama dan kepercayaan
yang telah diberikan kepada kami untuk penugasan ini kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan & Rekan Cabang Jakarta Selatan
Pemimpin Cabang
J.Ferdinand H.Pardede, MAPPI (Cert)
Izin Penilai Bisnis No. : B-1.09.00089
MAPPI No. : 01-S-01490
STTD Bappepam No. : STTD.PB-17/PJ-1/PM.02/2023
RMK : RMK-2017.00081
Halaman 5 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 58
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR ................................................................................................................................ 1 DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. 6 BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 8 1.1 Uraian Mengenai Penugasan ............................................................................................ 8 1.2 Status Penilai ........................................................................................................................ 8 1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan .......................................................... 8 1.4 Tanggal Penilaian ................................................................................................................ 9 1.5 Objek Studi Kelayakan ....................................................................................................... 9 1.6 Maksud dan Tujuan ............................................................................................................. 9 1.7 Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan ........................................................... 10 1.8 PIhak-pihak Yang Diwawancara .................................................................................... 10 1.9 Metodologi Analisis Studi Kelayakan .............................................................................. 11 1.10 Pernyataan Independensi Penilai ................................................................................... 11 1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas ......................................................................................... 11 1.12 Pedoman dan Standar Penilaian .................................................................................... 12 1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ............................. 12 BAB II ANALISIS PERSEROAN .............................................................................................................. 13 2.1 Gambaran Umum EMA .................................................................................................... 13 2.2 Informasi Keuangan EMA ................................................................................................. 14 BAB III ANALISIS KELAYAKAN PASAR ................................................................................................ 19 3.1 Kondisi Pasar ...................................................................................................................... 19 3.2 Persaingan Pasar ............................................................................................................... 22 3.3 Strategi Pemasaran ........................................................................................................... 23 BAB IV ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS ............................................................................................... 24 4.1 Kapasitas ............................................................................................................................ 24 4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia ...................................................... 24 4.3 Proses Produksi / Layanan Jasa ....................................................................................... 25 BAB V ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS ....................................................................................... 27 5.1 Keunggulan Kompetitif ..................................................................................................... 27 5.2 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk .................................................................. 27 5.3 Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai .......................................................................... 27 BAB VI ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN ...................................................................... 29 6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja ............................................................................................. 29 6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property) .......................................... 29 6.3 Manajemen Risiko ............................................................................................................. 29 6.4 Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen ..................................................................... 30 Halaman 6 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 59
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi dan Manajemen .......................................................... 32 BAB VII ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN ..................................................................................... 33 7.1 Biaya Pendirian (Start Up Cost) ........................................................................................ 33 7.2 Modal Kerja ........................................................................................................................ 33 7.3 Sumber Pembiayaan ........................................................................................................ 34 7.4 Biaya Operasional ............................................................................................................. 34 7.5 Proyeksi Laporan Keuangan ............................................................................................ 34 7.6 Analisis Titik Impas (Break Even Analysis) ........................................................................ 45 7.7 Analisis Profitabilitas (Overall Profitability) ...................................................................... 46 7.8 Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment) ...................................... 48 BAB VIII KESIMPULAN ......................................................................................................................... 50 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ..................................................................................... 51 PERNYATAAN PENILAI ......................................................................................................................... 52 Halaman 7 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 60
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas Surat Penawaran No.003/FDI.JKT/PB.FS/I/2025 tertanggal
15 Januari 2025, KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP
FDI&R” atau “Kami”) mendapat penugasan dari PT EPID Menara AssetCo (selanjutnya
disebut “EMA” atau “Perseroan”) untuk menyusun Studi Kelayakan perubahan kegiatan
usaha berupa penambahan 4 (empat) bidang usaha yaitu Pengoperasian Instalasi
Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga
Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya
(KBLI 35129), selanjutnya disebut (“Obyek Studi Kelayakan”).
1.2 Status Penilai
Studi kelayakan ini dilakukan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) Cabang
Jakarta Selatan, selaku Penilai Independen untuk memberikan Kajian Indikasi Nilai yang
objektif dan tidak memihak, sesuai KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan Kajian
Indikasi Nilai atas objek Kajian Indikasi Nilai yang dimaksud. KJPP Ferdinand, Danar,
Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang Izin Usaha
No. 582/KM.1/2024 tanggal 19 September 2024 dari Menteri Keuangan Republik
Indonesia dan mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:
• Pemimpin Cabang, Ferdinand Pardede, adalah seorang Penilai Publik untuk
klasifikasi penilaian bisnis dengan izin No. B-1.09.00089 dari Menteri Keuangan
Republik Indonesia, dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Surat
Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal (Penilai Bisnis) No. STTD.PB-17/PJ-
1/PM.02/2023. Beliau adalah anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia
• Penugasan penilaian ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian
dan/atau pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional
dan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu
kesatuan tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung
jawab laporan penilaian ini.
1.3 Identitas Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
- Nama Pemberi Tugas : PT EPID Menara AssetCo
- Alamat : TTC Batavia Tower One Lt. 16, Jl. K.H. Mas Mansyur
Kav. 126, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat
10220
- Bidang Usaha : Sarana Jaringan Telekomunikasi
- No. Telepon/Fax : 021-29529404/021-29678232
- Alamat Email : daniel.pradipta@centratamagroup.com
- Penanggung Jawab : Daniel Pradipta/Aditya
Halaman 8 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 61
1.4 Tanggal Penilaian
Studi Kelayakan diperhitungkan pada tanggal 31 Desember 2024.
1.5 Objek Studi Kelayakan
Objek Studi Kelayakan ini berupa penambahan/perubahan kegiatan usaha pada EMA
selaku afiliasi dengan penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang
Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi
Pemanfaatan Tenaga Listrik (KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang
Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129),
• KBLI 35121 - Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik
Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
fasilitas pembangkit yang menghasilkan energi listrik, fasilitas sistem transmisi tenaga
listrik dan sistem distribusi tenaga listrik.
• KBLI 35122 - Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
Kelompok ini mencakup usaha pengoperasian yang dilakukan oleh pihak lain atas
fasilitas instalasi pemanfaatan tenaga listrik mencakup instalasi pemanfaatan
tenaga listrik tegangan tinggi, instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan
menengah, dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah.
• KBLI 43211 - Instalasi Listrik
Kelompok ini mencakup kegiatan pembangunan, pemasangan, pemeliharaan,
pembangunan kembali instalasi listrik pada pembangkit, transmisi, gardu induk,
distribusi tenaga listrik, sistem catu daya, dan instalasi listrik pada bangunan gedung
baik untuk hunian maupun non hunian, seperti pemasangan instalasi jaringan listrik
tegangan rendah. Termasuk kegiatan pemasangan dan pemeliharaan instalasi listrik
pada bangunan sipil, seperti jalan raya, jalan kereta api dan lapangan udara.
• KBLI 35129 - Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya
Kelompok ini mencakup usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan
penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik namun tidak tercakup dalam kelompok
35121 s.d. 35122, seperti jasa pencatatan meteran, pemberian tagihan dan kegiatan
perdagangan pulsa/token listrik sera kegiatan penunjang kelistrikan lainnya.
1.6 Maksud dan Tujuan
Kami memahami bahwa laporan hasil analisis Studi Kelayakan atas Rencana
penambahan/ perubahan kegiatan usaha KBLI Perseroan n, diperuntukan dalam
rangka memenuhi Otoritas Jasa Keuangan (“OJK’) terkait dengan peraturan
perusahaan public (terbuka), yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan perubahan Kegiatan
Usaha.
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada Peraturan OJK Nomor
35/POJK.04/2020 tentang Penilaian Dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar
Modal (“POJK 35”), SE OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian Dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”), Kode Etik Penilaian
Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII.2018).
Halaman 9 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 62
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnnya.
1.7 Data, Informasi, dan Prosedur yang digunakan
Metode kerja Konsultan dalam menyusun Laporan adalah sebagai berikut:
• Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
20 24 da n Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2023 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan
pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material.
• Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2022 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan
pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material.
• Laporan Keuangan EMA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2021 yang telah diaudit oleh KAP Purwantono, Sungkoro & Surja dengan
pendapat bahwa laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar dalam
semua hal yang material.
• Rencana Bisnis Plan, berupa rencana anggaran pembelian alat dan proyeksi
pendapatan tahun 2025 - 2031.
• Data legalitas EMA antara lain akta pendirian, akta perubahan terakhir, Nomor
Induk Berusaha (NIB), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Sertifikat Badan Usaha
Konstruksi (SBUK), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan dokumen terkait lainnya.
• Sertifikat Merek logo EMA dengan No perndaftaran IDM000988267 yang
dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia
• Data makro ekonomi berupa Proyeksi inflasi dan GDP Indonesia bersumber dari
International Monetary Fund (IMF).
• Data makro industri berasal dari Precedence Research dan katadata.co.id
• Informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi, dapat
disetujui untuk digunakan sepanjang sumber data tersebut dipublikasikan pada
tingkat Nasional maupun Internasional, antara lain dari Data Pemerintah Kota dan
Informasi dari media masa elektronik.
1.8 PIhak-pihak Yang Diwawancara
Pihak-pihak yang diwawancara dalam penyusunan studi kelayakan adalah:
1. Nama: Daniel Pradipta
Jabatan: Head of Corporate Secretary
E-mail: Daniel.Pradipta@centratamagroup.com
2. Nama: Chayadi
Jabatan: Head of Corporate Finance & Investor Relation
E-mail: chayadi@centratamagroup.com
Halaman 10 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 63
1.9 Metodologi Analisis Studi Kelayakan
Metodologi analisis studi kelayakan meliputi sebagai berikut :
a. Melakukan analisis Kelayakan Pasar, meliputi kondisi pasar, seperti pangsa pasar,
kesinambungan (sustainability), potensi pasar, sasaran, dan potensi nilai pasar;
pesaing usaha; dan strategi pemasaran.
b. Melakukan analisis Kelayakan Teknik, meliputi kapasitas; ketersediaan dan kualitas
sumber daya, termasuk bahan baku mentah, pekerja, dan ahli profesional; dan
proses produksi.
c. Melakukan analisis Kelayakan Pola Bisnis, meliputi keunggulan kompetitif karena
keunikan dari pola bisnis; kemampuan pesaing untuk meniru produk; dan
kemampuan untuk menciptakan nilai.
d. Melakukan analisis Kelayakan Model Manajemen, meliputi ketersediaan tenaga
kerja; manajemen kekayaan intelektual (intellectual property); manajemen risiko;
kapasitas dan kemampuan manajemen; dan kesesuaian struktur organisasi dan
manajemen.
e. Melakukan analisis Kelayakan Keuangan, meliputi biaya pendirian (start up costs);
modal kerja; sumber pembiayaan; biaya operasional; biaya bahan baku mentah;
proyeksi laporan keuangan; analisis titik impas; analisis profitabilitas; tingkat imbal
balik investasi.
f. Kami telah melakukan investigasi terhadap Objek Studi Kelayakan yang meliputi:
- Objek Studi Kelayakan sesuai dengan lingkup penugasan;
- Tanggal Penilaian sesuai dengan Laporan keuangan per 31 Desember 2024;
1.10 Pernyataan Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan Studi Kelayakan ini, KJPP FDI&R bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan
Perseroan, ataupun pihak-pihak lainnya yang terafiliasi dengan Perseroan. KJPP FDI&R
tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.
Laporan Studi Kelayakan ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau
merugikan pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi
oleh kewajaran nilai yang dihasilkan dari proses analisis Studi Kelayakan ini.
1.11 Asumsi dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas studi kelayakan diuraikan sebagai berikut :
a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
dalam proses Studi Kelayakan.
c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi
lainnya yang kami anggap relevan.
d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan
kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
Halaman 11 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 64
e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi
Kelayakan telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan
Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI).
j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab
kami secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek
penugasan, di luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada
di luar lingkup penugasan.
k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas,
sesuai dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi
Kelayakan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami
tidak bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian,
sehingga pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam
menentukan relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan
hasil laporan).
1.12 Pedoman dan Standar Penilaian
Dalam melakukan Studi Kelayakan ini kami berpedoman pada POJK 17 dan Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 35/POJK.04/2020 tanggal 25 Mei 2020
tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”), SE
OJK NO.17/SEOJK.04/2020 dan Kode Etik Penilai Indonesia & Standar Penilaian Indonesia
Edisi Vll-2018 (KEPI-SPI VII.2018).
1.13 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian (cut off date) per 31 Desember 2024 hingga laporan studi
kelayakan ini diterbitkan tidak terdapat kejadian penting setelah tanggal penilaian.
Halaman 12 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 65
BAB II
ANALISIS PERSEROAN
2.1 Gambaran Umum EMA
EMA adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa
penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara telekomunikasi atau BTS, serta alat,
sarana atau instalasi penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi
komunikasi, jasa konsultasi manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.
o Perizinan
EMA didirikan berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti, S.H., LL.M. No. 20 tanggal 10 Maret
2021. Akta pendirian EMA ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU 0017204.AH.01.01. Tahun 2021
tanggal 10 Maret 2021 dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
berdasarkan Surat Keputusan Menkumham Nomor AHU-0017204.AH.01.01.Tahun 2021,
tanggal 10 Maret 2021, serta telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
0045370.AH.01.11.Tahun 2021, tanggal 10 Maret 2021.
Anggaran Dasar EMA telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir
dengan adalah Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 5 tanggal 2 Mei
2023, dibuat di hadapan Notaris Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan. Perubahan
ini telah diterima oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Tanda Terima
Pemberitahuan Nomor AHU-AH.01.03-0064119 tanggal 16 Mei 2023 dan telah terdaftar
dengan Nomor Pendaftaran Perusahaan AHU-0089362.AH.01.11.Tahun 2023 tanggal 16
Mei 2023 (“Anggaran Dasar EMA”).
o Susunan Manajemen EMA
Berdasarkan Akta No. 395, tanggal 23 November 2023, yang dibuat di hadapan Notaris
Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan, yang diberitahukan kepada Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran
Dasar No. AHU-AH.01.09-0190864, tanggal 30 November 2023, dan telah telah
didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-0241843.AH.01.11.Tahun 2023, tanggal 30
November 2023, komposisi anggota Dewan Komisaris dan Direksi EMA adalah sebagai
berikut:
Jabatan Nama
DEWAN KOMISARIS:
Komisaris Utama Suresh Narain Singh Sidhu
Komisaris Yan Raymond Jafri
DIREKSI:
Direktur James John Burns
Direktur Caba Pinter
Halaman 13 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 66
o Kegiatan Usaha EMA
Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar EMA, maksud dan tujuan kegiatan usaha EMA
adalah (i) Real Estat yang Dimiliki Sendiri Atau Disewa (KBLI No. 68111); dan (ii) Konstruksi
Sentral Telekomunikasi (KBLI No. 42206).
o Susunan Pemegang Saham
Susunan pemegang saham EMA berdasarkan Akta No. 70, tanggal 16 Maret 2022, yang
dibuat di hadapan Jimmy Tanal, S.H., Notaris di Jakarta Selatan, yang telah
diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan
Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. AHU-AH.01.03-0175422, tanggal 16
Maret 2022, dan telah telah didaftarkan pada Daftar Perseroan No. AHU-
0052295.AH.01.11.Tahun 2022, tanggal 16 Maret adalah sebagai berikut:
Nama Pemegang Saham Modal Ditempatkan Lembar Saham Persentase
dan Disetor (Rp) Kepemilikan
PT Centratama Menara 1.998.796.800.000 139.776 99,29%
Indonesia
PT Centratama 14.285.700.000 999 0,71%
Telekomunikasi Indonesia Tbk
Jumlah 2.013.082.500.000 140.775 100%
2.2 Informasi Keuangan EMA
Laporan keuangan merupakan suatu bentuk laporan yang memuat informasi tentang
posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas dari suatu Perseroan.
Laporan keuangan memberikan gambaran tentang prestasi historis dari suatu Perseroan
yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan analisis untuk membuat proyeksi
keuangan masa depan. Ikhtisar laporan keuangan Perseroan dan analisa yang dibuat
mengacu kepada laporan keuangan Perseroan yang telah diaudit. Tabel berikut ini
menggambarkan ikhtisar laporan posisi keuangan Perseroan untuk periode yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2024:
Tabel 1. Historis Posisi Keuangan EMA Periode 2021 – 2024 (dalam jutaan Rupiah)
URAIAN 2021 2022 2023 2024
Aset Lancar 487.477 1.514.229 532.480 843.382
Aset Tidak Lancar 11.618.280 10.744.248 12.061.975 13.702.159
Total Aset 12.105.757 12.258.477 12.594.455 14.545.541
Liabilitas Jangka Pendek 5.203.276 724.280 423.169 412.891
Liabilitas Jangka Panjang 7.065.781 7.804.875 8.435.853 9.244.163
Total Liabilitas 12.269.057 8.529.155 8.859.022 9.657.054
Ekuitas (163.300) 3.729.322 3.735.433 4.888.487
Total Liabilitas dan Ekuitas 12.105.757 12.258.477 12.594.455 14.545.541
Sumber: Laporan keuangan EMA
Halaman 14 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 67
Analisis Laporan Posisi Keuangan EMA
Total Aset
Total asset EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 12.594.455 juta
mengalami peningkatan sebesar Rp 355.978 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 12.258.477 juta. Peningkatan terjadi
disebabkan oleh meningkatnya total aset tidak lancar EMA. Sampai dengan periode 31
Desember 2024 total aset EMA tercatat sebesar Rp14.545.541 juta meningkat 15,49% dari
periode sebelumnya 31 Desember 2023 peningkatan disebabkan adanya peningkatan
aset tidak lancar EMA pada tahun 2024.
Aset Lancar
Aset lancar EMA terdiri dari kas dan bank, piutang usaha, piutang lain-lain, uang muka,
dan aset lancar lainnya. Total aset lancar EMA periode 31 Desember 2023 tercatat
sebesar Rp 532.480 juta mengalami penurunan sebesar Rp 981.749 juta dari periode
sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.514.229 juta. Penurunan
terjadi disebabkan oleh menurunnya kas dan bank. Sampai dengan periode 31
Desember 2024 total aset lancar EMA tercatat sebesar Rp 843.382 juta menurun 0,36%
dari periode 31 Desember 2023.
Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar EMA terdiri dari aset tetap, piutang lain-lain, aset hak guna, aset
takberwujud, uang muka pembelian aset tetap, klaim atas restitusi pajak, aset pajak
tangguhan, pinjaman kepada pihak berelasi, dan aset tidak lancer lainnya Per 31
Desember 2023 total aset tidak lancar EMA tercatat sebesar Rp 12.061.975 juta
mengalami peningkatan sebesar Rp 1.317.727 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 10.744.248 juta. Sampai dengan 31 Desember
2024 total aset tidak lancar EMA tercatat sebesar Rp 13.702.159 juta meningkat 13,60%
dari periode 31 Desember 2023.
Liabilitas
Total liabilitas EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 8.859.022 juta
mengalami peningkatan sebesar Rp 329.867 juta dari periode sebelumnya yaitu 31
Desember 2022 tercatat sebesar Rp 8.529.155 juta. Peningkatan terjadi disebabkan oleh
meningkatnya liabilitas jangka Panjang EMA. Sampai dengan periode 31 Desember
2024 total liabilitas EMA tercatat sebesar Rp 9.657.054 juta meningkat 9,01% dari periode
31 desember 2023. Peningkatan disebabkan meningkatnya liabilitas jangka panjang.
Liabilitas Jangka Pendek
Liabilitas jangka pendek EMA terdiri dari utang usaha, utang lain-lain, beban akrual,
utang pajak, liabilitas imbalan kerja jangka pendek, utang bank jatuh tempo 1 tahun,
liabilitas derivatif, pendapatan diterima dimuka dan liabilitas sewa. Total liabilitas jangka
pendek EMA periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 423.169 juta mengalami
penurunan sebesar Rp 301.111 juta dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022
tercatat sebesar Rp 724.280 juta. Penurunan terjadi utamanya disebabkan oleh
penurunan beban akrual. Sampai dengan periode 31 Desember 2024 liabilitas jangka
pendek EMA tercatat sebesar Rp 412.891 juta menurun 2,43% dari periode 31 Desember
2023.
Halaman 15 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 68
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Jangka Panjang EMA merupakan pinjaman dari pihak berelasi, pendapatan
diterima dimuka, provisi jangka Panjang liabilitas imbalan kerja jangka panjang, dan
liabilitas sewa. Pada periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 8.435.853 juta
mengalami peningkatan sebesar Rp 1.022.153 juta dari periode sebelumnya 31
Desember 2022 tercatat sebesar Rp 7.804.875 juta. Peningkatan ini terjadi dikarenakan
peningkatan pinjaman dari pihak berelasi. Pada periode 31 Desember 2024 total
liabilitas jangka panjang EMA tercatat sebesar Rp 9.244.163 juta meningkat 9,58% dari
periode 31 Desember 2023.
Ekuitas
Jumlah ekuitas periode 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 3.735.433 juta mengalami
peningkatan dari periode sebelumnya yaitu 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp
3.729.322 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total ekuitas EMA tercatat sebesar
4.888.487 juta meningkat 30,87%.
Analisis Historis Laba Rugi Perseroan
Tabel 2. Historis Laba Rugi EMA (dalam jutaan Rupiah)
URAIAN 2021 2022 2023 2024
Pendapatan 656.529 1.057.381 1.051.650 993.740
Beban pokok pendapatan -391.928 -645.784 -654.352 -640.036
Beban umum dan administrasi -13.745 -69.272 -84.124 -111.243
Laba (Rugi) Usaha 308.454 (598.970) 400.633 (221.934)
Laba (Rugi) Berjalan (26.843) (1.205.768) 7.486 (576.335)
Sumber: Laporan keuangan EMA
Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha EMA berasal dari pendapatan sewa dan pemeliharaan menara
kepada operator telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Total pendapatan EMA
per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp 1.051.650 juta mengalami penurunan sebesar
Rp 5.731 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 1.057.381
juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 total pendapatan EMA tercatat sebesar Rp
993.740 juta menurun 5,51% dari periode 31 Desember 2023.
Beban Pokok Pendapatan
Total beban pokok pendapatan EMA per 31 Desember 2023 tercatat sebesar Rp
6.54.352 juta mengalami peningkatan sebesar Rp. 8.568 juta dari periode sebelumnya
31 Desember 2022 tercatat sebesar Rp 645.784 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024
total beban pokok pendapatan EMA tercatat sebesar Rp 640. 036 juta menurun 2,19%
dari periode 31 desember 2023, hal ini sejalan dengan penurunan pendapatan EMA
pada tahun 2024.
Beban Umum dan Administrasi
Total beban umum dan administrasi EMA merupakan Gaji, upah dan kompensasi
karyawan, penyisihan penurunan nilai piutang, beban imbalan kerja karyawan, jasa
profesional, perjalanan dinas, utilitas, penyusutan dan/atau amortisasi, perbaikan dan
pemeliharaan serta lain-lain. Per 31 Desember 2023 total beban umum dan administrasi
Halaman 16 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 69
EMA tercatat sebesar Rp 84.124 juta mengalami peningkatan sebesar Rp 14.852 juta dari
periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat sebesar Rp 69.272 juta. Sampai
dengan 31 Desember 2024 total beban umum dan administrasi EMA tercatat sebesar
Rp 111.243 juta meningkat 32,24% dari periode 31 Desember 2023.
Laba/(Rugi) Usaha
Laba (Rugi) usaha EMA merupakan laba bruto yang dikurangi dengan, biaya umum
dan administrasi dan biaya / pendapatan operasinal lainnya. Per 31 Desember 2023
EMA mencatat laba usaha sebesar Rp 400.633 juta mengalami peningkatan sebesar Rp
999.603 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang mencatat rugi usaha
sebesar Rp 598.970 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 EMA mencatat rugi usaha
sebesar Rp 221.934 juta menurun 155,40%.
Laba/(Rugi) Bersih
Laba/(Rugi) bersih EMA merupakan laba usaha dikurangi dengan pendapatan dan
beban umum lainnya (beban keuangan) serta pajak penghasilan. Per 31 Desember
2023 EMA mengalami laba sebesar Rp 7.486 juta mengalami peningkatan sebesar Rp
1.213.254 juta dari periode sebelumnya 31 Desember 2022 yang tercatat rugi sebesar Rp
1.205.768 juta. Sampai dengan 31 Desember 2024 EMA mencatat rugi bersih sebesar Rp
576.335 juta, kerugian EMA meningkat 7798,80% pada tahun 2024 dari periode 31
Desember 2023.
Analisa Rasio Keuangan Perseroan
Ratio Analysis atau analisis rasio merupakan salah satu bentuk teknis analisis laporan
keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dari
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara
keduanya. Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang kami gunakan
dalam analisis rasio keuangan EMA
Tabel 3. Rasio Keuangan Perseroan
Rasio Keuangan 2021 2022 2023 2024 Average
Rasio Likuiditas (x)
Rasio lancar 10,67 0,48 0,79 0,49 3,11
Rasio cepat 10,67 0,48 0,79 0,49 3,11
Rasio Profitbilitas(%)
Rasio laba atas aset 101,35% 69,58% 70,34% 66,39% 76,91%
Rasio laba atas ekuitas -7513,20% 228,71% 237,16% 197,55% -1712,45%
Rasio Solvabilitas(%)
Rasio total Liabilitas / total aset -0,22% -9,84% 0,06% -3,96% -3,49%
Rasio total Liabilitas / total ekuitas 16,44% -32,33% 0,20% -11,79% -6,87%
Sumber: Laporan keuangan EMA
Analisis Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio likuiditas merupakan suatu rasio keuangan yang bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana kemampuan Perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya.
Beberapa rasio keuangan yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah:
Halaman 17 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 70
1. Rasio Lancar
Rasio lancar EMA menunjukkan rata-rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021-
2024) sebesar 3,11 kali.
2. Rasio Cepat
Rasio cepat pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan rasio lancar,
beberapa pos seperti persediaan yang dianggap kurang lancar, dikeluarkan
dalam perhitungan rasio cepat. Rasio cepat EMA juga menunjukkan pencapaian
rata-rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024) sebesar 3,11 kali.
Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan Perusahaan dalam
menghasilkan laba. Beberapa rasio yang termasuk dalam kategori ini antara lain
adalah:
1. Rasio Laba Atas Aset
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh aset yang digunakan
dapat menghasilkan laba. Rasio laba atas aset EMA rata-rata selama 4 (empat)
tahun terakhir (2021- 2024) sebesar negatif 3,94%.
2. Rasio Laba Atas Ekuitas
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh hasil atau
keuntungan yang diperoleh dari setiap modal yang ditanamkan. Adapun tingkat
rasio laba atas ekuitas rata- rata selama selama selama 4 (empat) tahun terakhir
(2021- 2024) sebesar negatif 6,87%
Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio)
Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
Perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Berikut adalah rasio yang termasuk
dalam kategori ini.
1. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Aset
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total aset
Perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula risiko keuangan
Perusahaan. Adapun tingkat rasio liabilitas terhadap total aset EMA secara rata-
rata selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024) tercatat sebesar 76,91%.
2. Rasio Total Liabilitas terhadap Total Ekuitas
Rasio ini merupakan perbandingan antara total liabilitas terhadap total ekuitas atau
modal Perusahaan. Berdasarkan tabel rasio keuangan EMA diatas dapat dilihat
bahwa secara rata-rata selama selama 4 (empat) tahun terakhir (2021- 2024)
sebesar 3,11. rasio liabilitas terhadap ekuitas EMA negatif 1420,6 %, dimana hal ini
mengindikasikan bahwa total liabilitas EMA lebih besar dibandingkan dengan total
ekuitas yang dimiliki EMA.
Halaman 18 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 71
BAB III
ANALISIS KELAYAKAN PASAR
3.1 Kondisi Pasar
Telekomunikasi mengacu pada proses pengiriman suara, gambar, data, dan informasi
lainnya. Telekomunikasi bekerja berdasarkan prinsip media listrik atau pemancar
cahaya. Ini adalah istilah luas yang mencakup berbagai teknologi pengiriman informasi
seperti telepon seluler, jaringan Voice over Internet Protocol (VoIP), telepon rumah, dan
jaringan penyiaran lainnya. Industri telekomunikasi terus berkembang karena kemajuan
teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), Narrowband IoT (NB-IoT), 5G, dan lainnya.
Faktor Pertumbuhan Pasar Telekomunikasi
• Meningkatnya peluncuran jaringan 5G di seluruh dunia mendorong pasar
telekomunikasi.
• Meningkatnya jumlah pengguna telepon seluler di seluruh dunia juga telah
mendorong pertumbuhan pasar.
• Kemajuan pesat dalam IoT telah memberi dampak positif terhadap pasar.
• Peningkatan investasi pemerintah dalam pengembangan layanan internet akan
mendorong pertumbuhan pasar selama periode perkiraan.
• Meningkatnya permintaan layanan internet oleh sektor BFSI kemungkinan akan
berdampak positif terhadap pasar.
• Aktivitas penelitian dan pengembangan yang terkait dengan penyampaian data
berkecepatan tinggi mendorong pertumbuhan industri.
• Tren platform media sosial yang sedang berlangsung seperti Facebook, Instagram,
WhatsApp, dan lainnya yang membutuhkan konektivitas jaringan yang baik juga
diperkirakan akan mendorong pasar.
Pangsa Pasar
Segmen perusahaan besar diperkirakan akan terus memimpin pasar telekomunikasi
pada tahun 2024, mengingat kebutuhan komunikasi mereka yang kompleks akibat
ukuran organisasi, penyebaran geografis, dan beragam operasional yang dijalankan.
Untuk mendukung komunikasi internal, kolaborasi, dan pertukaran data di berbagai
lokasi serta unit bisnis, perusahaan besar memerlukan solusi telekomunikasi yang
tangguh dan dapat diskalakan. Mereka menghasilkan volume lalu lintas komunikasi
yang tinggi, mulai dari panggilan suara, transmisi data, konferensi video, hingga
pengiriman pesan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan infrastruktur telekomunikasi
yang mampu menangani trafik tinggi dengan efisien dan andal, untuk memastikan
kelancaran komunikasi dan produktivitas yang optimal. Hal ini membuat segmen
perusahaan besar semakin dominan dalam pangsa pasar telekomunikasi, yang
mendorong perkembangan teknologi dan inovasi dalam industri ini.
Halaman 19 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 72
Kesinambungan (Sustainability)
Industri telekomunikasi di Indonesia diperkirakan akan terus berkembang pesat berkat
dukungan teknologi baru seperti 5G, kebijakan pemerintah yang mendukung perluasan
infrastruktur, serta peningkatan akses internet di seluruh wilayah, yang tidak hanya akan
memperkuat sektor ekonomi digital tetapi juga meningkatkan inklusi digital,
memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan, baik di perkotaan maupun daerah
terpencil untuk lebih terhubung, memanfaatkan layanan digital, dan berpartisipasi
dalam transformasi digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.
EMA, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi di Indonesia,
memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam transformasi digital yang semakin
mendominasi kehidupan sehari-hari, sekaligus memperluas jangkauan layanan dan
inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan.
Potensi Pasar
Ukuran pasar telekomunikasi global diperkirakan mencapai USD 2,46 triliun pada tahun
2025 dan diperkirakan akan mencapai sekitar USD 4,21 triliun pada tahun 2034, dengan
pertumbuhan CAGR sebesar 6,14% dari tahun 2025 hingga 2034. Ukuran dan perkiraan
pasar didasarkan pada pendapatan (Triliun/Miliar USD), dengan tahun 2024 sebagai
tahun dasar.
Gambar 1 – Ukuran Pasar Telekomunikasi 2024 – 2034 (dalam USD Trillion)
Sumber: Precedence Research
Sasaran
Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
(penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
Halaman 20 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 73
dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,
regulasi). Proyeksi pengguna internet di Indonesia tahun 2025 dan 2026 mengalami
peningkatan sebesar masing-masing 81% dan 83% dari user total, sesuai dengan riset
yang dilakukan oleh Bloomberg & KSI Researh yang dipublikasi oleh Kiwoom Sekuritas
Indonesia.
Berikut merupakan perusahaan yang menjadi target pasar perusahaan telekomunikasi
di Indonesia:
• Telkom Indonesia
• PT Indosat Ooredoo Hutchison
• PT XL Axiata Tbk
• PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
• PT Smartfren Telecom
Adapun beberapa tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) di EMA
adalah sebagai berikut:
• PT XL Axiata Tbk
• PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk
• PT Smartfren Telecom
• PT Indosat Ooredoo Hutchison
• PT Inti Bangun Sejahtera Tbk
• PT Telekomunikasi Selular (PT Telkomsel)
• PT BBSC Telecode
• PT Pgas Telekomunikasi Nusantara
• PT Putra Arga Binangun
Potensi Nilai Pasar
Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi
internet di dalam negeri pada 2024 mencapai 79,5%. terlihat bahwa terjadi
pertumbuhan yang konsisten setiap tahun, dengan peningkatan yang signifikan antara
2018 dan 2020. Setelah tahun 2020, pertumbuhan masih berlanjut tetapi dengan laju
yang lebih stabil.
Gambar 2 Penetrasi Internet di Indonesia menurut APJII (2016-2024)
Halaman 21 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 74
Sumber: katadata.co.id
Industri telekomunikasi terus mengalami evolusi yang sangat pesat, didorong oleh
perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Tahun 2025 diprediksi akan
menjadi tahun yang menarik bagi industri ini, dengan sejumlah prospek menjanjikan
(penetrasi internet meningkat & permintaan fixed broadband meningkat), namun juga
dihadapkan pada tantangan yang kompleks (persaingan ketat, keamanan cyber,
regulasi).
Sumber: Infrastructure Review & Outlook by KIWOOM Sekuritas Indonesia
3.2 Persaingan Pasar
Izin penyelenggaraan telekomunikasi pada tahun 2023 lebih banyak diberikan kepada
perusahaan yang melayani jasa telekomunikasi. Sebanyak 65,16 persen perusahaan
berkecimpung dalam bidang tersebut seperti Internet Service Provider (ISP), Network
Access Point (NAP), telepon internet, dan jasa telekomunikasi lainnya. Sementara sekitar
24,65 persen perusahaan menyelenggarakan telekomunikasi jaringan tetap. Kemudian
perusahaan penyelenggara jaringan bergerak sekitar 1,22 persen, sedangkan untuk
perusahaan penyelenggara telekomunikasi khusus mengalami sedikit kenaikan,
dengan angka 8,96 persen di 2023
Sumber: Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023
Halaman 22 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 75
3.3 Strategi Pemasaran
Perseroan menyediakan jasa infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan kabel serat
optik yang komprehensif untuk memastikan layanan jaringan seluler dan layanan data
dapat menjangkau seluruh area layanan Perseroan dengan baik. Kami senantiasa
meningkatkan layanan secara konsisten kepada pelanggan dengan berfokus kepada
pemenuhan SLA yang disepakati dengan pelanggan. Kami berupaya untuk selalu
memberikan layanan terbaiknya melalui infrastruktur yang ditawarkan bagi masyarakat
Indonesia di seluruh pelosok nusantara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan
mendekatkan diri ke daerah-daerah operasional regional pelanggan, sehingga
kebutuhan pelanggan di setiap daerah dapat lebih cepat dipenuhi. Selain itu, kami juga
melakukan pengembangan bisnis sesuai kebutuhan dan peluang yang ada, seperti
potensi akuisisi untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha.
3.3.1 Penerapan Bisnis EMA
EMA menyalurkan kegiatan usaha barunya kepada pelanggan yang ada saat ini
dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan mereka secara lebih baik, serta
membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.
3.3.2 Proses Distribusi
EMA menyediakan daya listrik AC dan DC untuk customer/tenant atau biasa kami sebut
dengan MNO (Mobile Network Operator) guna mengoperasikan peralatan
jaringannya, pendingin udara, dan utilitas lainnya. Daya listrik AC diambil dari jaringan
PLN, dan sebagian dari daya AC tersebut diubah menjadi DC menggunakan rectifier.
Halaman 23 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 76
BAB IV
ANALISIS KEAYAKAN TEKNIS
4.1 Kapasitas
Berdasarkan kegiatan saat ini EMA bergerak di bidang pembangunan infrastruktur
telekomunikasi meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan pengelolaan menara
telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”), serta alat, sarana atau instalasi
penunjang telekomunikasi, jasa konsultasi bidang instalasi komunikasi, jasa konsultasi
manajemen, bisnis administrasi dan strategi pengembangan.
Saat ini EMA memiliki menara telekomunikasi atau BTS sebanyak 4.303 yang telah
disewakan ke berbagai tenant provider telekomunikasi.
4.2 Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (“TPAK”) di Indonesia selama tahun 2024–
2029 menunjukkan tren peningkatan secara umum. Berdasarkan tingkat pendidikan,
semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar tingkat partisipasinya, di mana lulusan
universitas memiliki TPAK tertinggi di atas 85%, sementara lulusan SMP berada di kisaran
57%–58%. Dari sisi provinsi, Jawa Timur diprediksi menjadi wilayah dengan TPAK tertinggi
mencapai 75,42% pada 2029, sedangkan Banten paling rendah meskipun tetap
mengalami kenaikan hingga 66,92%. Jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki memiliki TPAK
jauh lebih tinggi dibanding perempuan, dengan rata-rata di atas 84%, sementara
perempuan meningkat dari 55,02% menjadi 58,51% dalam lima tahun.
Tabel 4.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Tingkat
Pendidikan (%), Tahun 2024-2029
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Halaman 24 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 77
Tabel 4.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Jenis
Kelamin (%), Tahun 2024-2029
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Tabel 4.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia Menurut Provinsi
(%), Tahun 2024-2029
Tahun
Provinsi
2024 2025 2026 2027 2028 2029
Banten 64,89 65,29 65,69 66,09 66,50 66,92
Jakarta 65,78 66,45 67,14 67,84 68,56 69,31
Jawa Barat 66,98 67,46 67,96 68,50 69,06 69,65
Jawa Tengah 72,14 72,45 72,79 73,17 73,58 74,02
Jawa Timur 73,08 73,50 73,94 74,40 74,90 75,42
Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI
Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, EMA tidak melakukan
penambahan tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki, dan tidak
memerlukan tenaga ahli yang professional. Selain itu, EMA akan memenuhi kriteria
ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK sebagaimana disyaratkan dalam Lampiran
Permen ESDM 5/2021 untuk menjalankan kegiatan usaha baru yang terkait dengan
industri penunjang ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal tersebut, EMA secara aktif
melaksanakan kepatuhan terhadap sertifikasi, di mana tenaga kerja yang ada saat ini
sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK, serta perekrutan tenaga kerja bersertifikasi
SKTTK juga sedang berlangsung.
Penambahan atas kegiatan usaha ini tidak memerlukan bahan baku karena bukan
proses yang menghasilkan produk.
4.3 Proses Produksi / Layanan Jasa
Flowchart di atas menggambarkan proses alur kerja pemasangan atau penyediaan
layanan berdasarkan permintaan pelanggan. Berikut adalah penjelasan tiap
langkahnya:
Halaman 25 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 78
1. Menerima permintaan layanan atau pesanan dari pelanggan.
2. Memverifikasi permintaan layanan berdasarkan kontrak yang ada dan
ketersediaan lokasi.
3. Membuat jadwal proyek dan menugaskan vendor untuk melakukan survei lokasi.
4. Menyusun gambar rencana dan Bill of Quantity (BOQ), yang mencakup daftar
material dan biaya.
5. Mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada vendor untuk pengadaan barang
atau jasa.
6. Vendor mengirimkan peralatan ke lokasi proyek.
7. Melakukan instalasi di lokasi dan mengajukan permintaan untuk Penerimaan Situs
Sementara (PSA).
8. Melakukan serah terima lokasi kepada tim pemeliharaan menara.
9. Melakukan Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan pelanggan sebagai tanda
penyelesaian proyek.
Setelah langkah terakhir ini, proses dianggap selesai.
Halaman 26 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 79
BAB V
ANALISIS KELAYAKAN POLA BISNIS
5.1 Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif EMA dalam kegiatan usaha yang baru:
1. EMA telah memiliki tower atau menara telekomunikasi sebelumnya, sehingga dapat
mendukung kegiatan usaha barunya.
2. EMA telah berdiri sejak tahun 2021 dan memiliki jumlah customer base sebesar 7.455
3. EMA juga mengutamakan kepuasan pelanggan melalui servis yang maksimal
(serviceoriented), sehingga dengan adanya kegiatan usaha baru dapat memenuhi
kebutuhan para tenant mereka secara lebih baik.
5.2 Kemampuan Pesaing Untuk Meniru Produk
Kegiatan usaha baru ini memiliki beberapa pesaing dalam industri jasa yang sama.
Namun, sebagai entitas anak dari Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk yang
seluruh anak usahanya bergerak di bidang telekomunikasi, EMA memiliki keunggulan
kompetitif yang lebih kuat, karena para pesaing tidak memiliki akses untuk menawarkan
layanan mereka kepada customer/tenant yang ada pada EMA saat ini, sehingga
cakupan bisnis mereka menjadi lebih terbatas. Dengan demikian, layanan yang
ditawarkan oleh EMA bersifat eksklusif.
5.3 Kemampuan Untuk Menciptakan Nilai
EMA adalah salah satu entitas anak PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang
bergerak di bidang pembangunan meliputi jasa penyediaan, penyewaan, dan
pengelolaan menara telekomunikasi atau Base Transceiver Stations (“BTS”).
EMA dan Induk usahanya memiliki visi perusahaan yakni membangun digital Indonesia
yang saling terkoneksi dan misi dari perusahaan itu sendiri antara lain:
1. Memberikan nilai tambah bagi para pihak yang berkepentingan.
2. Membangun platform bisnis modern dengan proses yang dapat diandalkan
untuk menciptakan organisasi yang berkinerja tinggi dan efisien.
3. Berkomitmen untuk membangun infrastruktur yang paling efisien dan berkualitas
melalui perencanaan dan manajemen proyek yang matang.
4. Berkomitmen untuk menjaga jaringan dan standar layanan yang tinggi guna
menjaga kepuasan pelanggan.
5. Terus memajukan produk dan layanan.
EMA memiliki beberapa customer yang merupakan Provider telekomunikasi Dimana
saat ini sebagai tenant atau co-tenant pada menara yang dimiliki EMA.
Halaman 27 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 80
Pendapatan EMA dari tahun 2021 - 2024 (dalam Rp Juta)
1.200.000
1.000.000
800.000
600.000
400.000
200.000
0
2021 2022 2023 2024
Sumber : Laporan Keuangan EMA, diolah
Berdasarkan grafik yang menggambarkan pendapatan EMA dari tahun 2021 hingga
2024, terlihat bahwa pendapatan EMA mengalami kenaikan yang signifikan pada
tahun 2022, mencapai puncaknya, sebelum sedikit menurun pada tahun 2023.
Meskipun ada penurunan pada tahun 2023, pencapaian pendapatan pada tahun
2022 menunjukkan adanya potensi yang sangat besar bagi EMA, dan ini bisa menjadi
indikator positif bagi masa depan. Seiring berjalannya waktu, EMA terus memperkuat
posisinya di pasar, membuktikan bahwa dengan inovasi dan pengelolaan yang efisien
dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan.
Halaman 28 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 81
BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN
6.1 Ketersediaan Tenaga Kerja
Dalam menjalankan penambahan kegiatan usaha, EMA tidak melakukan
penambahan tenaga kerja tetapi menggunakan tenaga kerja yang dimiliki. Selain itu,
EMA akan memenuhi kriteria ketersediaan tenaga kerja dengan SKTTK sebagaimana
dipersyaratkan dalam Lampiran Permen ESDM No. 5 Tahun 2021 untuk melakukan
kegiatan usaha baru terkait industri penunjang ketenagalistrikan. Untuk mencapai hal
ini, EMA secara aktif berupaya memenuhi sertifikasi, dimana saat ini tenaga kerja yang
ada sedang menjalani proses sertifikasi SKTTK dan perekrutan tenaga kerja yang memiliki
sertifikasi SKTTK secara berkelanjutan, dengan Rincian tenaga kerja saat ini:
Jabatan / Level Jumlah
Senior Manajemen 7
Kepala Department 17
Manajer 32
Senior Executive 33
Executive 18
Total 107
6.2 Manajemen Kekayaan Intelektual (intellectual property)
Kekayaan intelektual yang dimiliki EMA adalah kontrak jangka Panjang dari masing-
masing tenant (Perusahaan Telekomunikasi yang menyewa tower) dan kekayaan
intelektual berupa Merek logo EMA dengan nomor pendaftaran IDM000988267
6.3 Manajemen Risiko
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, tentunya EMA tidak terlepas dari berbagai
macam risiko. Risiko yang terkait langsung dengan industri jasa yang dihadapi oleh EMA
dapat dilihat pada uraian berikut ini.
6.3.1 Resiko Keuangan
a. Tingkat Suku Bunga;
Risiko di mana arus kas di masa depan akan berfluktuasi karena perubahan tingkat
suku bunga pasar. Perseroan dapat terpapar dengan risiko perubahan suku bunga
pasar terutama terkait utang bank serta penempatan kas dan setara kas dengan
suku bunga mengambang.
b. Kredit;
Risiko yang berpotensi timbul dari operasi terkait penyewaan infrastruktur
telekomunikasi dan wanprestasi dari pihak terkait.
c. Mata Uang Asing;
Merupakan risiko nilai wajar arus kas masa depan atas suatu instrumen keuangan
yang bersifat fluktuatif karena perubahan kurs mata uang asing. Perseroan
terpengaruh risiko ini terutama berkaitan dengan utang bank dalam mata uang
Halaman 29 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 82
Dolar Amerika Serikat. Apabila terjadi pelemahan/penguatan nilai tukar mata uang
Rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing, maka utang dalam mata uang asing
akan meningkat/berkurang dalam mata uang Rupiah.
d. Likuiditas
Risiko di mana Perseroan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan
jangkapendek karena tidak bisa melikuidasi asetnya.
6.3.2 Resiko Operasional
Perseroan memahami bahwa aktivitas bisnis dan usahanya tidak lepas dari proses awal
yang harus dijalani. Beberapa komponen penanganan terhadap risiko operasional
Perseroan adalah:
1. Memastikan bahwa semua lini yang terkait telah memahami risiko pada setiap
tahap kegiatan operasional terutama yang berhubungan dengan persetujuan atau
komitmen dengan pelanggan dan/atau pihak ketiga.
2. Menyusun dan mengawasi laporan internal dan eksternal Perseroan untuk
memantau hasil kinerja Perseroan.
3. Melaksanakan Standard Operating Procedures (SOP) yang sudah ditetapkan
Perseroan.
4. Menggunakan sistem teknologi informasi terkini untuk menunjang kegiatan
operasional Perseroan.
6.3.3 Resiko Tidak Tercapainya Proyeksi
Resiko tidak tercapainya semua asumsi dalam proyeksi dapat mengakibatkan tidak
tercapainya semua target penjualan Perseroan yang dapat mempengaruhi kepada
kinerja keuangan bidang usaha yang baru.
6.4 Kapasitas Dan Kemampuan Manajemen
Untuk menjalankan setiap bidang usaha yang digeluti EMA, para pengurus perusahaan
telah menunjuk beberapa orang profesional yang memiliki kompetensi dan
berpengalaman sesuai bidangnya (key person).
1. Suresh Narain Singh Sidhu, Komisaris Utama
Warga Negara Malaysia dengan latar belakang Pendidikan Bachelor of Natural
Sciences dari University of Cambridge, Inggris dan Master of Business Administration
dari INSEAD. Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
• Berpengalaman lebih dari 25 tahun di sektor telekomunikasi wilayah Asia
• Saat ini sebagai CEO dan Pendiri EdgePoint
• Sebelumnya sebagai CEO EDOTCO Group dan berperan penting dalam
transformasi dan perkembangan salah satu pertumbuhan TowerCos tercepat
di Asia
• Merupakan anggota manajemen senior di sejumlah perusahaan telekomunikasi
terbesar di Asia, termasuk Maxis dan Axiata Group
• Sebelumnya bergabung di Boston Consulting Group dan Sime Darby Holdings
Halaman 30 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 83
2. Yan Raymond Jafri, Komisaris
Warga Negara Indonesia dengan latar belakang Sarjana Teknik Telekomunikasi dari
Universitas Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menjalani program Master of
Business Administration (Executive) di National University of Singapore. Beliau
memiliki Riwayat karir yaitu:
• Technical Support Engineer, PT Trans Communication Data
• Program Director, PT Huawei Tech Investment
3. James John Burns, Direktur
Warga Negara Australia dengan latar belakang Sarjana Teknik Elektro dari Mount
Lawley Campus, Australia. Beliau memiliki Riwayat karir yaitu:
• Memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri telekomunikasi, khususnya
infrastruktur telekomunikasi dan menara
• Memiliki pengetahuan dalam mengembangkan pasar negara berkembang
melalui pengalamannya bekerja di Afrika
• Engineering Director, Western Wireless International
• Implementation Director, Zain, Ghana
• Konsultan Vodafone, Ghana
• Operation Director, Eaton Tower, Ghan
• Operation Director, Eaton Tower, Kenya
• Deputy Managing Director, Eaton Tower, Kenya
• Deputy Managing Director, Eaton Tower, Uganda
4. Caba Pinter, Direktur
Warga Negara Jerman dengan latar belakang Bachelor in Economic Sciences,
Fakultas Ekonomi (Osijek, Kroasia), Anggota Certified Accountant (FCCA) di
Chartered Association of Certified Accountants (ACCA). Beliau memiliki Riwayat
karir yaitu:
• Memulai karirnya sebagai auditor eksternal di PwC dan sebagai auditor internal
di United Technologies Corporation (UTC).
• Memegang beberapa posisi keuangan senior di berbagai MNO dan grup
telekomunikasi di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Indonesia.
• Bergabung dengan Centratama Group pada Januari 2022 sebagai Executive
Vice President IBC Business dalam rangka merumuskan dan melaksanakan
perbaikan strategis dan operasional di bidang IBC Business.
Dengan struktur organisasi EMA sebagai berikut :
Halaman 31 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 84
6.5 Kesesuaian Struktur Organisasi Dan Manajemen
Sistem organisasi dan Manajemen yang baik sangat diperlukan untuk mendukung
terciptanya suatu perusahaan yang sistematis dalam pengendalian internal sehingga
dapat membentuk perusahaan yang mapan dan untuk mencapai tujuannya. Struktur
organisasi dan Manajemen yang baik sangat erat hubungannya dengan koordinasi
kerja yang terpadu dan terarah.
Kegiatan usaha yang baru berada pada departemen Operations dibawah tanggung
jawab Chief Operating Officer (COO).
Halaman 32 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 85
BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN
7.1 Biaya Pendirian (Start Up Cost)
Dalam rencana kegiatan usaha ini Perseroan membutuhkan biaya investasi
sebesar Rp116.807 ribu per unit Jaringan PaaS, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 7.1 Investasi Per Unit Jaringan PaaS Tahun 2025
Biaya (Rp.
Uraian Keterangan
Ribu)
Lithium Battery Modules- 200 AH 15.800
Rectifier Modules, 3,000w 9.000
Rectifier Rack 24 KW, with Rectifier Controller(24kw) 16.700
Outdoor Equipment cabinet 14.800
4-16mm2 THHN & 1-14mm2, in 32mm Ø IMC Pipe. To
2.850
be used for Three Phase Grid Supply.
Cable: SMPS-DCDB 2R-38mm2 2.850
Cable: SMPS-Battery 35mm2 628
Cable: Alarm Cable (SMPS-KRONE module)- 5pair (if
180 Rencana Angaran
Dry contact alarms to be terminated)
Earthing Cables 1-14mm2, THHN, Green, Cu, Biaya
324
Multistrand with terminal lugs & termination
Earthing & Bonding, Connect all equipment and
750
cabinets with Earthing grid/ Earth Bus bar
Installation, Wiring, Commissioning & Testing 2.500
RMS 24.604
Site Transportation Cost (Normal) 15.000
Customer Cabinet 8.500
Smart Lock 2.321
Total 116.807
Jumlah biaya investasi tersebut diatas, didasarkan kepada rencana anggaran biaya per
unit yang disusun oleh Manajemen Perseroan. Investasi awal yang dilakukan oleh EMA
pada tahun 2025 adalah sebesar 50 unit dengan tota Investasi awal sebesar Rp5.840.338
Ribu
7.2 Modal Kerja
Proyeksi modal kerja atas rencana perubahan kegiatan usaha selama masa proyeksi
adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2 Modal Kerja
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Piutang
Rp. Ribu 221.918 1.109.589 2.219.178 3.328.767 4.438.356 5.547.945
Usaha
Utang Usaha Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Halaman 33 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 86
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Piutang
Rp. Ribu 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534
Usaha
Utang Usaha Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Perubahan modal kerja pada tabel diatas untuk menggambarkan perubahan
kebutuhan modal kerja selama masa proyeksi yang didapat dari selisih modal kerja
tahun berjalan dengan modal kerja tahun sebelumnya.
7.3 Sumber Pembiayaan
Berdasarkan keterangan manajemen Perseroan, bahwa rencana kegiatan
penambahan usaha ini seluruh b i a y a i n v e s t a s i berasal dari kas Perseroan.
7.4 Biaya Operasional
Biaya operasional atas rencana perubahan kegiatan usaha terdiri dari beban pokok
penjualan dan beban usaha. Proyeksi biaya operasional rencana perubahan
kegiatan usaha tahun 2025-2035 adalah sebagai berikut:
Tabel 7.3 Biaya Operasional
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Harga Pokok
Rp. Ribu 911.881 4.625.617 9.352.442 14.165.990 19.068.447 23.904.055
Pendaptan
Beban G&A Rp. Ribu 108.000 256.680 441.664 626.972 812.626 998.646
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Harga Pokok
Rp. Ribu 28.343.127 27.320.393 25.680.309 23.796.705 21.782.115
Pendaptan
Beban G&A Rp. Ribu 1.185.058 1.191.887 1.199.160 1.206.905 1.215.154
7.5 Proyeksi Laporan Keuangan
Proyeksi keuangan yang digunakan dalam Studi Kelayakan didasarkan pada proyeksi
keuangan yang disusun oleh manajemen Perseroan, dengan asumsi sebagai berikut:
Asumsi Umum, meliputi:
• Jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari
• Asumsi GDP diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 5,07%, tahun
2026 sebesar 5,06%, tahun 2027 sebesar 5,07%, tahun 2028 sebesar 5,06% dan tahun
2029 sampai tahun 2035 sebesar 5,07%.
• Asumsi Inflasi diperoleh dari proyeksi IMF dimana tahun 2025 sebesar 2,51%, tahun
2026 sebesar 2,53%, tahun 2027 sampai tahun 2035 sebesar 2,52%.
• Peningkatan UMP diperoleh dari Permenaker No 16 tahun 2024 selama proyeksi
sebesar 6,5%
• Tarif pajak final selama periode proyeksi sebesar 2%
Halaman 34 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 87
Tabel 7.4 Asumsi Umum
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI UMUM
Jumlah hari dalam
Hari 365 365 365 365 365 365
setahun
GDP % 5,07% 5,06% 5,07% 5,06% 5,07% 5,07%
Inflasi % 2,51% 2,53% 2,52% 2,52% 2,52% 2,52%
UMP % 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Pajak Final % 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI UMUM
Jumlah hari dalam
Hari 365 365 365 365 365
setahun
GDP % 5,07% 5,06% 5,07% 5,06% 5,07%
Inflasi % 2,51% 2,53% 2,52% 2,52% 2,52%
UMP % 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Pajak Final % 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asumsi Pendapatan, meliputi:
• Target Unit Perangkat
o Target unit PaaS diperoleh dari rencana penambahan unit yang disusun
manajemen yaitu untuk tahun 2025 sebesar 50 unit, untuk tahun 2026 sebesar
250 unit dan untuk tahun selanjutnya meningkat sebesar 250 unit hingga
tahun 2031 dengan total perangkat 1.500.
• Harga Jasa.
Pendapatan terdiri dari pendapatan Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121), Biaya Sewa
perangkat (KBLI 35122), Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211), Biaya Jasa
lainnya (KBLI 35129);
o Harga Biaya Jasa Operasi (KBLI 35121) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama
masa proyeksi
o Harga Biaya Sewa Perangkat (KBLI 35122) yaitu sebesar Rp24.000 ribu selama
masa proyeksi
o Harga Biaya Jasa Instalasi perangkat (KBLI 43211) yaitu sebesar Rp6.000 ribu
selama masa proyeksi
o Harga Biaya Jasa lainnya (KBLI 35129) yaitu sebesar Rp6.000 ribu selama
masa proyeksi.
Tabel 7.5 Asumsi Pendapatan
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI PENDAPATAN
Jumlah Perangkat
Jumlah Instalasi Unit 50 50 250 500 750 1.000
Penambahan Instalasi Unit 200 250 250 250 250
Total Instalasi Unit 50 250 500 750 1.000 1.250
Halaman 35 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 88
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
Harga Jasa
KBLI 35121
Rp.
Biaya Jasa Operasi 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 35122
Rp.
Biaya Sewa perangkat 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi Rp.
6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
perangkat Ribu/unit/tahun
KBLI 35129
Rp.
Biaya Jasa lainnya 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI PENDAPATAN
Jumlah Perangkat
Jumlah Instalasi Unit 1.250 1.500 1.500 1.500 1.500
Penambahan Instalasi Unit 250 - - - -
Total Instalasi Unit 1.500 1.500 1.500 1.500 1.500
Harga Jasa
KBLI 35121
Rp.
Biaya Jasa Operasi 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 35122
Rp.
Biaya Sewa perangkat 24.000 24.000 24.000 24.000 24.000
Ribu/unit/tahun
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi Rp.
6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
perangkat Ribu/unit/tahun
KBLI 35129
Rp.
Biaya Jasa lainnya 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Ribu/unit/tahun
Asumsi Asumsi Biaya
• Biaya Operasional dan Perawatan sebesar 10% dari total pendapatan selama masa
proyeksi.
• Biaya RMS sebesar 2% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya Asuransi sebesar 1,3% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya Tenaga kerja 1% dari total pendapatan selama masa proyeksi
• Biaya umum dan administrasi 4% dari total pendapatan pada tahun 2025 dan
meningkat sebesar 6,5% setiap tahun pada tahun berikutnya selama masa proyeksi
• Biaya Penjualan 2% dari total pendapatan selama masa proyeksi
Halaman 36 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 89
Tabel 7.6 Asumsi-Asumsi Biaya
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI BIAYA POKOK
Operation And
% Revenue 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00%
Maintenance
RMS % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asuransi % Revenue 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30%
Biaya Tenaga Kerja %Revenue 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00%
ASUMSI BIAYA/BEBAN
LAIN
Biaya Umum dan
%Revenue 4,00% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Administrasi
Biaya Penjualan % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI BIAYA POKOK
Operation And
% Revenue 10,00% 10,00% 10,00% 10,00% 10,00%
Maintenance
RMS % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asuransi % Revenue 1,30% 1,30% 1,30% 1,30% 1,30%
Biaya Tenaga Kerja %Revenue 1,00% 1,00% 1,00% 1,00% 1,00%
ASUMSI BIAYA/BEBAN
LAIN
Biaya Umum dan
%Revenue 4,00% 6,50% 6,50% 6,50% 6,50%
Administrasi
Biaya Penjualan % Revenue 2,00% 2,00% 2,00% 2,00% 2,00%
Asumsi Working Capital
Asumsi yang digunakan dalam perhitungan days working capital turnover diperoleh dari
histris rata rata EMA dengan rincian sebagai berikut:
• Untuk perputaran piutang 45 hari selama masa proyeksi
• Untuk Perputaran utang usaha sebesar 60 hari selama masa proyeksi
Tabel 7.7 Asumsi Working Capital
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI WORKING
CAPITAL
Day Turnover Piutang
Hari 45 45 45 45 45 45
Usaha
Day Turnover Utang
Hari 60 60 60 60 60 60
Usaha
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI WORKING
CAPITAL
Day Turnover Piutang
Hari 45 45 45 45 45
Usaha
Day Turnover Utang
Hari 60 60 60 60 60
Usaha
Halaman 37 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 90
Asumsi Capex
Asumsi Capital Expenditure merupakan total biaya investasi yang direncanakan oleh
manajemen dalam kegiatan usaha EMA yang menjadi Initial Outlay dalam studi
Kelayakan yang dilakukan. Total Capex yang direncakan oleh manajemen adalah
sebagai berikut:
• Untuk Biaya unit terpasang setiap tahunnya disesuaikan dengan proyeksi Inflasi
Indonesia yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund (IMF)
Tabel 7.8 Asumsi Capex
Proyeksi
Uraian Satuan
2025 2026 2027 2028 2029 2030
ASUMSI CAPEX
Jumlah Perangkat Unit - 200 250 250 250 250
Biaya Unit Terpasang Rp.
119.761 122.782 125.878 129.051 132.304
Perangkat Ribu
Total Capex Instalasi Rp.
- 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Perangkat Ribu
Lanjutan
Proyeksi
Uraian Satuan
2031 2032 2033 2034 2035
ASUMSI CAPEX
Jumlah Perangkat Unit 250 - - - -
Biaya Unit Terpasang Rp. - - - -
135.640
Perangkat Ribu
Total Capex Instalasi Rp.
33.909.966 - - - -
Perangkat Ribu
7.5.1 Proyeksi Laba Rugi
Berdasarkan asumsi-asumsi yang ditetapkan di atas, maka hasil proyeksi laba rugi EMA
adalah sesuai tabel berikut:
Tabel 7.9 Proyeksi Laporan Laba Rugi dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan
KBLI 35121
Biaya Jasa Operasi Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
KBLI 35122
Biaya Sewa perangkat Rp. Ribu 900.000 4.500.000 9.000.000 13.500.000 18.000.000 22.500.000
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi
Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
perangkat
KBLI 35129
Biaya Jasa lainnya Rp. Ribu 300.000 1.500.000 3.000.000 4.500.000 6.000.000 7.500.000
Total Pendapatan Rp. Ribu 1.800.000 9.000.000 18.000.000 27.000.000 36.000.000 45.000.000
Beban Pokok Pendapatan
Depresiasi And Amortitation Rp. Ribu 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Operation And
Rp. Ribu 180.000 900.000 1.800.000 2.700.000 3.600.000 4.500.000
Maintenance
RMS Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Asuransi Rp. Ribu 23.361 116.807 233.614 350.420 467.227 584.034
Biaya Tenaga Kerja Rp. Ribu 18.000 90.000 180.000 270.000 360.000 450.000
Total Beban Pokok
Rp. Ribu 911.881 4.625.617 9.352.442 14.165.990 19.068.447 23.904.055
Pendaptan
Halaman 38 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 91
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Laba Usaha Rp. Ribu 888.119 4.374.383 8.647.558 12.834.010 16.931.553 21.095.945
Biaya/Beban Lain
Biaya Administrasi Umum Rp. Ribu 72.000 76.680 81.664 86.972 92.626 98.646
Biaya Penjualan Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Beban Bunga Rp. Ribu - - - - - -
Total Rp. Ribu 108.000 256.680 441.664 626.972 812.626 998.646
Pendapatan sebelum Pajak
Rp. Ribu 780.119 4.117.703 8.205.894 12.207.038 16.118.928 20.097.299
Final
Pajak Final Rp. Ribu 36.000 180.000 360.000 540.000 720.000 900.000
Laba Bersih Rp. Ribu 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan
KBLI 35121
Biaya Jasa Operasi Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
KBLI 35122
Biaya Sewa perangkat Rp. Ribu 27.000.000 27.000.000 27.000.000 27.000.000 27.000.000
KBLI 43211
Biaya Jasa Instalasi
Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
perangkat
KBLI 35129
Biaya Jasa lainnya Rp. Ribu 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000
Total Pendapatan Rp. Ribu 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000
Beban Pokok Pendapatan
Depresiasi And Amortitation Rp. Ribu 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Operation And
Rp. Ribu 5.400.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000
Maintenance
RMS Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Asuransi Rp. Ribu 700.841 700.841 700.841 700.841 700.841
Biaya Tenaga Kerja Rp. Ribu 540.000 540.000 540.000 540.000 540.000
Total Beban Pokok
Rp. Ribu 28.343.127 27.320.393 25.680.309 23.796.705 21.782.115
Pendaptan
Laba Usaha Rp. Ribu 25.656.873 26.679.607 28.319.691 30.203.295 32.217.885
Biaya/Beban Lain
Biaya Administrasi Umum Rp. Ribu 105.058 111.887 119.160 126.905 135.154
Biaya Penjualan Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Beban Bunga Rp. Ribu - - - - -
Total Rp. Ribu 1.185.058 1.191.887 1.199.160 1.206.905 1.215.154
Pendapatan sebelum Pajak
Rp. Ribu 24.471.814 25.487.720 27.120.531 28.996.390 31.002.731
Final
Halaman 39 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 92
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Pajak Final Rp. Ribu 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000 1.080.000
Laba Bersih Rp. Ribu 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731
Proyeksi laba rugi pada tabel tersebut diatas, tidak ada beban bunga yang dikeluarkan
karena pada unit usaha ini semua pembiayaan menggunakan kas Perseroan. Pada
proyeksi juga diperoleh rata rata selama masa proyeksi persentasi laba usaha
dibandingkan dengan total pendapatan adalah sebesar 50,22% dan persentasi laba
bersih dibandingkan dengan pendapatan adalah 45,56%.
7.5.2 Proyeksi Arus Kas
Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan, arus kas EMA
adalah sesuai dengan tabel berikut ini.
Tabel 7.10 Proyeksi Laporan Arus Kas dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Arus Kas Dari Kegiatan
Operasional
Laba Bersih Rp. Ribu 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Depresiasi Dan Amortisasi Rp. Ribu 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Total Kas Masuk sebelum
Rp. Ribu 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Working Capital
Perubahan Modal Kerja
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu (221.918) (887.671) (1.109.589) (1.109.589) (1.109.589) (1.109.589)
Piutang Usaha
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu 42.306 169.224 211.530 211.530 211.530 211.530
Utang Usaha
Total Perubahaan Modal
Rp. Ribu (179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
Kerja
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 1.219.027 6.558.066 13.726.663 21.074.548 28.422.088 35.769.261
Kegiatan Operasional
Arus Kas Kegiatan
Investasi
Initial Outlay Rp. Ribu (5.840.338) - - - - -
Capex Rp. Ribu - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu (5.840.338) (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Kegiatan Investasi
Arus Kas Kegiatan
Pendanaan
Utang Bank (Current) Rp. Ribu - - - - - -
Utang Bank (Non Current) Rp. Ribu - - - - - -
Modal Rp. Ribu 5.840.338 - - - - -
Tambahan Modal Disetor Rp. Ribu - 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 5.840.338 23.952.161 30.695.592 31.469.428 32.262.772 33.076.117
Kegiatan Pendanaan
Arus Kas Bersih Rp. Ribu 1.219.027 6.558.066 13.726.663 21.074.548 28.422.088 35.769.261
Kas Awal Rp. Ribu - 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392
Saldo Akhir Cash And
Rp. Ribu 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392 106.769.653
Bank
Halaman 40 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 93
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Arus Kas Dari Kegiatan
Operasional
Laba Bersih Rp. Ribu 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731
Depresiasi Dan Amortisasi Rp. Ribu 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Total Kas Masuk sebelum
Rp. Ribu 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Working Capital
Perubahan Modal Kerja
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu (1.109.589) - - - -
Piutang Usaha
Kenaikan/Penurunan
Rp. Ribu 211.530 - - - -
Utang Usaha
Total Perubahaan Modal
Rp. Ribu (898.059) - - - -
Kerja
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 43.116.042 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Kegiatan Operasional
Arus Kas Kegiatan
Investasi
Initial Outlay Rp. Ribu - - - - -
Capex Rp. Ribu (33.909.966) - - - -
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu (33.909.966) - - - -
Kegiatan Investasi
Arus Kas Kegiatan
Pendanaan
Utang Bank (Current) Rp. Ribu - - - - -
Utang Bank (Non Current) Rp. Ribu - - - - -
Modal Rp. Ribu - - - - -
Tambahan Modal Disetor Rp. Ribu 33.909.966 - - - -
Total Arus Kas Dari
Rp. Ribu 33.909.966 - - - -
Kegiatan Pendanaan
Arus Kas Bersih Rp. Ribu 43.116.042 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006
Kas Awal Rp. Ribu 106.769.653 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222
Saldo Akhir Cash And
Rp. Ribu 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222 325.869.227
Bank
• Arus Kas dari Aktivitas Operasi selama periode proyeksi mengalami peningkatan
setiap tahun dikarena tambahan pendapatan dengan penambahan unit 200 unit
tahun 2026 dan 250 unit perangkat PaaS per tahun untuk tahun berikutnya sampai
dengan tahun 2031.
• Arus Kas dari Aktivitas investasi merupakan biaya investasi penambahan perangkat
PaaS terkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha.
• Arus Kas dari Aktivitas pendanaan merupakan tambahan pendanaan dari
Perseroan terkait initial outlay dan Pengeluaran capex.
7.5.3 Proyeksi Posisi Keuangan EMA
Proyeksi Posisi Keuangan EMA berdasarkan asumsi-asumsi yang telah dibuat adalah
sesuai tabel berikut:
Halaman 41 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 94
Tabel 7.11 Proyeksi Laporan Posisi Keuangan dari kegiatan usaha
Uraian Satuan 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Aset
Aset Lancar
Kas dan Bank Rp. Ribu 1.219.027 7.777.093 21.503.756 42.578.304 71.000.392 106.769.653
Piutang Usaha Rp. Ribu 221.918 1.109.589 2.219.178 3.328.767 4.438.356 5.547.945
Total Aset Lancar Rp. Ribu 1.440.945 8.886.682 23.722.934 45.907.071 75.438.748 112.317.598
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap Rp. Ribu 5.185.818 25.799.169 49.715.933 70.879.791 89.221.344 104.827.440
Total Aset Tidak
Rp. Ribu 5.185.818 25.799.169 49.715.933 70.879.791 89.221.344 104.827.440
Lancar
Total Aset Rp. Ribu 6.626.763 34.685.851 73.438.867 116.786.863 164.660.092 217.145.038
Liabilitas
Liabilitas Lancar
Utang Usaha Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Utang Bank jatuh
Rp. Ribu - - - - - -
Tempo 1 tahun
Total Liabilitas
Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Lancar
Liabilitas Tidak
Lancar
Utang Bank Rp. Ribu - - - - - -
Total Liabilitas Tidak
Rp. Ribu - - - - - -
Lancar
Total Liabilitas Rp. Ribu 42.306 211.530 423.060 634.590 846.120 1.057.649
Ekuitas
Modal Rp. Ribu 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338
Tambahan Modal
Rp. Ribu - 23.952.161 54.647.753 86.117.180 118.379.953 151.456.069
disetor
Saldo Laba Rp. Ribu 744.119 4.681.822 12.527.716 24.194.754 39.593.682 58.790.981
Total Ekuitas Rp. Ribu 6.584.457 34.474.321 73.015.807 116.152.273 163.813.973 216.087.388
Total Liabilitas Dan
Rp. Ribu 6.626.763 34.685.851 73.438.867 116.786.863 164.660.092 217.145.038
Ekuitas
Lanjutan
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Aset
Aset Lancar
Kas dan Bank Rp. Ribu 149.885.695 193.892.967 237.892.967 281.885.222 325.869.227
Piutang Usaha Rp. Ribu 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534 6.657.534
Total Aset Lancar Rp. Ribu 156.543.229 200.550.502 244.550.501 288.542.756 332.526.761
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap Rp. Ribu 118.115.118 98.515.566 80.556.097 64.480.233 50.418.958
Total Aset Tidak
Rp. Ribu 118.115.118 98.515.566 80.556.097 64.480.233 50.418.958
Lancar
Halaman 42 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 95
Uraian Satuan 2031 2032 2033 2034 2035
Total Aset Rp. Ribu 274.658.348 299.066.068 325.106.599 353.022.989 382.945.720
Liabilitas
Liabilitas Lancar
Utang Usaha Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Utang Bank jatuh
Rp. Ribu - - - - -
Tempo 1 tahun
Total Liabilitas
Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Lancar
Liabilitas Tidak
Lancar
Utang Bank Rp. Ribu - - - - -
Total Liabilitas Tidak
Rp. Ribu - - - - -
Lancar
Total Liabilitas Rp. Ribu 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179 1.269.179
Ekuitas
Modal Rp. Ribu 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338 5.840.338
Tambahan Modal
Rp. Ribu 185.366.035 185.366.035 185.366.035 185.366.035 185.366.035
disetor
Saldo Laba Rp. Ribu 82.182.795 106.590.516 132.631.047 160.547.436 190.470.167
Total Ekuitas Rp. Ribu 273.389.168 297.796.888 323.837.419 351.753.809 381.676.540
Total Liabilitas Dan
Rp. Ribu 274.658.348 299.066.068 325.106.599 353.022.989 382.945.720
Ekuitas
• Aset Lancar
Aset lancar terdiri dari kas dan piutang usaha, selama masa proyeksi aset lancar
EMA mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi
(2025-2035) sebesar 101%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan kas dan piutang
EMA. Pada tahun 2026 aset lancar EMA mengalami peningkatan sebesar 517% hal
ini disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan
dengan tahun 2025.
• Aset Tidak Lancar
Aset tidak lancar terdiri dari asset tetap, selama masa proyeksi aset tidak lancar EMA
mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi
(2025-2035) sebesar 51%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan aset tetap EMA.
Pada tahun 2026 aset tidak lancar EMA mengalami peningkatan sebesar 397% hal
ini disebabkan adanya penambahan unit sebesar 200 unit PaaS dibandingkan
dengan tahun 2025.
• Liabilitas
Liabilitas EMA hanya terdiri dari utang usaha hal ini karena dalam pelaksanaan unit
usaha PaaS sumber pendanaannya berasal dari modal EMA , selama masa proyeksi
Liabilitas EMA mengalami peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa
proyeksi (2025-2035) sebesar 63%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan liabilitas
jangka pendek EMA . Pada tahun 2026 liabilitas EMA mengalami peningkatan
sebesar 400% hal ini disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit
Halaman 43 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 96
dibandingkan dengan tahun 2025 yang mempengaruhi pendapatan EMA sehingga
utang usaha EMA mengalami peningkatan.
• Ekuitas
Ekuitas atas penambahan kegiatan usaha ini terdiri dari setoran modal, tambahan
modal disetor dan Saldo Laba, selama masa proyeksi Ekuitas EMA mengalami
peningkatan dengan rata rata peningkatan selama masa proyeksi (2025-2035)
sebesar 73%. Peningkatan ini dipengaruhi peningkatan Tambahan modal disetor
yang disesuaikan dengan total capex yang dikeluarkan oleh EMA setiap tahunnya.
Pada tahun 2026 Ekuitas EMA mengalamai peningkatan sebesar 424% hal ini
disebabkan adanya penambahan unit PaaS sebesar 200 unit dibandingkan dengan
tahun 2025 yang mempengaruhi jumlah modal yang disetor untuk memenuhi biaya
capex EMA.
7.5.4 Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto yang kami gunakan adalah biaya modal untuk ekuitas (cost of
equity). Biaya modal untuk ekuitas diperoleh dengan mengaplikasikan model Capital
Asset Pricing Model (“CAPM”), dengan formula sebagai berikut:
Ke = Rf + ß (Rm-Rf) – CDS Ke = Rf + ß Rp – CDS
Rf (risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang
dianggap tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Dalam studi kelayakan ini, suku
bunga bebas risiko yang kami gunakan adalah Indeks Surat Utang Negara dengan
jangka waktu 30 tahun dimana penggunaan risk free rate didasari atas suku bunga
bebas risiko sesuai dengan mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan
objek studi kelayakan, dan mencerminkan asumsi kelangsungan jangka waktu
kegiatan usaha objek studi kelayakan.
Rp (risk premium), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas risiko dengan
tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Premi risiko pasar (Rm-Rf)
ditentukan dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan data diperbarui 1
Januari 2025 sebesar 6,87%.
CDS (Country Default Spread), adalah tingkat (rating) gagal bayar obligasi yang
dikeluarkan pemerintah dengan menggunakan rujukan dari Damodaran dengan
data diperbarui 1 Januari 2025.
ß (Beta), merupakan pengukur tingkat kepekaan pengembalian saham terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan (seperti index yang dikeluarkan oleh
S&P 500 atau IHSG). Beta diperoleh dari unlevered beta yang mengacu kepada beta
Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari industri t e l e k o m u n i ka s i
sebesar 0,60 yang kemudian di re-levered kembali untuk menghasilkan levered beta
dengan formula sebagai berikut:
ßL = ßU x (1+ (1-t) x DER)
Halaman 44 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 97
Dimana :
ßL : Beta Levered
ßU : Beta Unlevered
DER : Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)
T : Pajak
DER mengacu kepada DER Damodaran dengan data diperbarui 1 Januari 2025 dari
industri telekomunikasi sebesar 39,78%.
Berdasarkan formula perhitungan beta di atas maka beta yang digunakan sebagai
berikut:
Tabel 13. Beta
Deskripsi Keterangan
ßU (didapat dari Damodaran) 0,60
DER (Damodaran) 39,78%
T (Pajak) 22%
ßL = …. *(1+(1-22% )*….%) 0,79
Berdasarkan nilai beta tersebut, maka dengan menggunakan persamaan CAPM
diperoleh biaya modal untuk ekuitas sebagai berikut:
Tabel 14. CAPM
Deskripsi Keterangan
Rf 7,11% IPBA per 30 Desember 2024 (30 Tahun)
ß 0,79 Dari perhitungan beta
Rp 6,87% Damodaran dengan data
CDS 1,89% diperbaharui 1 Januari 2025
Spesifik Risk 0% Asumsi risiko karena proyek masih baru
Ke = Rf + (ß x Rp ) – CDS 10,63%
Biaya modal ekuitas (Ke) pada tabel diatas sebesar 10,63% digunakan sebagai
tingkat diskonto dalam Analisa kelayakan keuangan
7.6 Analisis Titik Impas (Break Even Analysis)
Dalam melakukan analisis titik impas akan menggunakan perhitungan break even
point (“BEP”) dimana BEP adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba
dan tidak menderita rugi atau dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas jika
jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba
kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Nilai BEP dalam
rupiah mencerminkan pendapatan minimal yang diperlukan agar terjadi BEP. BEP
dalam satuan Rupiah dapat diformulasikan sebagai berikut:
Halaman 45 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 98
Total Biaya Tetap
BEP =
(Penjualan - Total Biaya Variabel) /
Penjualan
Berikut adalah analisis titik impas atas rencana perubahan kegiatan usaha selama
periode proyeksi:
Tabel 7.12 Break Even Point (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Pendapatan 1.800.000 9.000.000 18.000.000 27.000.000 36.000.000 45.000.000
Biaya Tetap 654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Biaya Variabel 257.361 1.286.807 2.573.614 3.860.420 5.147.227 6.434.034
Break Event
763.714 3.895.830 7.909.753 12.024.867 16.243.724 20.384.578
Point
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035
Pendapatan 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000 54.000.000
Biaya Tetap 20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275
Biaya Variabel 7.720.841 7.720.841 7.720.841 7.720.841 7.720.841
Break Event
24.062.742 22.869.383 20.955.681 18.757.832 16.407.144
Point
Berdasarkan tabel diatas rata-rata titik impas adalah sebesar Rp 14.934.113 selama
periode proyeksi.
7.7 Analisis Profitabilitas (Overall Profitability)
Dalam melakukan analisis profitabilitas / Overall Profitability, digunakan Profitability
Index (“PI”), dimana PI dihitung dengan membagi nilai sekarang dari arus kas bersih
yang akan datang suatu proyek dengan nilai investasi awal yang dibutuhkan untuk
proyek tersebut. PI dapat diformulasikan sebagai berikut:
Jumlah nilai kini arus kas masuk
PI =
Jumlah nilai kini arus kas keluar
Jika PI lebih besar dari 1, maka investasi tersebut adalah layak. Berikut adalah
perhitungan PI atas rencana perubahan kegiatan usaha:
Halaman 46 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 99
Tabel 7.13 Profitability Index (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Cash inflow
Net Income 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Interest*(1-Tax) - - - - - -
Depreciation &
654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Amortization
Total 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Cash outflow
Change in net
(179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
working capital
Capex - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Initial Outlay (5.840.338)
Total (5.840.338) (179.612) (24.670.608) (31.593.651) (32.367.487) (33.160.831) (33.974.176)
Net Free Cash Flow (5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Terminal Value
Total Net Free
(5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Cash Flow
n 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
1,00 0,90 0,82 0,74 0,67 0,60 0,55
Present Value (5.840.338) 1.101.887 (14.211.819) (12.532.167) (6.939.291) (2.317.545) 1.468.937
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Cash inflow
Net Income 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731 30.683.786
Interest*(1-Tax) - - - - -
Depreciation &
20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275 14.418.909
Amortization
Total 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 45.102.695
Cash outflow
Change in net
(898.059) - - - - (137.047)
working capital
Capex (33.909.966) - - - - (14.418.909)
Initial Outlay
Total (34.808.025) - - - - (14.555.956)
Net Free Cash Flow 9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 30.546.738
Terminal Value 377.707.350
Total Net Free
9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 377.707.350
Cash Flow
n 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 11,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
0,49 0,45 0,40 0,36 0,33 0,33
Present Value 4.538.810 19.611.723 17.724.250 16.018.260 14.476.308 124.313.549
Halaman 47 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 100
Analisa Kelayakan Satuan Nilai
Profitability Index x 1,33
Payback Period Tahun 8,0
Berdasarkan tabel diatas PI yang dihasilkan sebesar 1,33 atau lebih besar daripada 1.
7.8 Tingkat Imbal Balik Investasi (Overall Return on Investment)
Dalam mengukur tingkat imbal balik investasi digunakan perhitungan Net Present
Value (“NPV”) dan Internal Rate of Return (“IRR”). Jika nilai NPV positif dan IRR memiliki
nilai lebih besar dari tingkat diskonto maka investasi tersebut adalah layak. Berikut
adalah perhitungan NPV dan IRR atas rencana perubahan kegiatan usaha:
Tabel 7.14 NPV dan IRR (dalam Ribuan Rupiah)
Uraian 2025 2026 2027 2028 2029 2030
Cash inflow
Net Income 744.119 3.937.703 7.845.894 11.667.038 15.398.928 19.197.299
Interest*(1-Tax) - - - - - -
Depreciation &
654.520 3.338.810 6.778.828 10.305.569 13.921.220 17.470.021
Amortization
Total 1.398.639 7.276.513 14.624.722 21.972.607 29.320.147 36.667.320
Cash outflow
Change in net
(179.612) (718.447) (898.059) (898.059) (898.059) (898.059)
working capital
Capex - (23.952.161) (30.695.592) (31.469.428) (32.262.772) (33.076.117)
Initial Outlay (5.840.338)
Total (5.840.338) (179.612) (24.670.608) (31.593.651) (32.367.487) (33.160.831) (33.974.176)
Net Free Cash Flow (5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Terminal Value
Total Net Free
(5.840.338) 1.219.027 (17.394.095) (16.968.929) (10.394.880) (3.840.684) 2.693.144
Cash Flow
n 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
1,00 0,90 0,82 0,74 0,67 0,60 0,55
Present Value (5.840.338) 1.101.887 (14.211.819) (12.532.167) (6.939.291) (2.317.545) 1.468.937
Lanjutan
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Cash inflow
Net Income 23.391.814 24.407.720 26.040.531 27.916.390 29.922.731 30.683.786
Interest*(1-Tax) - - - - -
Depreciation &
20.622.287 19.599.552 17.959.469 16.075.864 14.061.275 14.418.909
Amortization
Total 44.014.101 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 45.102.695
Halaman 48 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 101
Uraian 2031 2032 2033 2034 2035 Perpetuidy
Cash outflow
Change in net
(898.059) - - - - (137.047)
working capital
Capex (33.909.966) - - - - (14.418.909)
Initial Outlay
Total (34.808.025) - - - - (14.555.956)
Net Free Cash Flow 9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 30.546.738
Terminal Value 377.707.350
Total Net Free
9.206.076 44.007.272 44.000.000 43.992.254 43.984.006 377.707.350
Cash Flow
n 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 11,0
Discount factor 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63% 10,63%
0,49 0,45 0,40 0,36 0,33 0,33
Present Value 4.538.810 19.611.723 17.724.250 16.018.260 14.476.308 124.313.549
Analisa Kelayakan Satuan Nilai
Net Present Value Rp. Ribu 157.412.564
IRR % 33,11%
Berdasarkan tabel diatas NPV yang dihasilkan sebesar Rp 157.412.564 atau lebih besar
daripada 0, dan IRR yang dihasilkan sebesar 33,11% atau lebih besar daripada tingkat
diskonto sebesar 10,63%.
Halaman 49 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 102
BAB VIII
KESIMPULAN
Dengan mempertimbangkan analisis Studi Kelayakan yang dilakukan meliputi analisis
Kelayakan Pasar, analisis Kelayakan Teknis, analisis Kelayakan Pola Bisnis, analisis Kelayakan
Model Manajemen dan analisis Keuangan serta semua asumsi-asumsi dapat terpenuhi, maka
kami berpendapat bahwa rencana Perseroan dalam rangka Perubahan kegiatan usaha
berupa penambahan 4 (empat) kegiatan usaha, dalam bidang Pengoperasian Instalasi
Penyediaan Tenaga Listrik (KBLI 35121), Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik
(KBLI 35122), Instalasi Listrik (KBLI 43211), Aktivitas Penunjang Tenaga Listrik Lainnya (KBLI 35129)
adalah LAYAK.
Halaman 50 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 103
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
a. Laporan Studi Kelayakan ini bersifat non-disclaimer opinion.
b. Penilai Independen telah melakukan penelaahan atas dokumen yang digunakan
dalam proses Studi Kelayakan.
c. Dalam menyusun Laporan Studi Kelayakan ini, Penilai Independen mengandalkan
keakuratan dan kelengkapan informasi yang disediakan oleh pemberi tugas atau
data yang diperoleh dari informasi yang tersedia untuk publik dan informasi lainnya
yang kami anggap relevan.
d. Penilai Independen menggunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan
kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan
pencapaiannya (fiduciary duty).
e. Penilai Independen bertanggung jawab atas pelaksanaan Studi Kelayakan.
f. Laporan Studi Kelayakan ini terbuka untuk publik.
g. Penilai Independen telah memperoleh informasi atas Obyek Studi Kelayakan dari
Pemberi Tugas.
h. Penilai Independen bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan ini.
i. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan Studi Kelayakan
telah disusun sesuai dengan POJK 35, SEOJK 17 dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
di Pasar Modal dan ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI), Kode Etik Penilai
Indonesia (KEPI).
j. KJPP FDI&R ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami
secara khusus hanya terbatas pada aspek Studi Kelayakan atas obyek penugasan, di
luar dari aspek perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada di luar lingkup
penugasan.
k. Laporan Studi Kelayakan ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan Studi Kelayakan dan
tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak bertanggung
jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
l. Studi Kelayakan ini dilakukan sesuai dengan asumsi pada tanggal penilaian, sehingga
pengguna laporan Studi Kelayakan diminta untuk berhati-hati dalam menentukan
relevansi antara hasil dengan kebutuhannya (terkait penggunaan hasil laporan).
Halaman 51 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 104
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang
bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa:
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan Studi Kelayakan adalah benar
sesuai dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang,
maupun memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap obyek Studi
Kelayakan .
4. Imbalan Jasa Penilai tidak berkaitan dengan hasil Studi Kelayakan yang dilaporkan.
5. Studi Kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia
(SPI), Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), SE OJK NO.17/SEOJK.04/2020, serta POJK
No.35/POJK.04/2020, tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis
di Pasar Modal.
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi obyek
Studi Kelayakan .
8. Penilai telah melakukan wawancara kepada pihak manajemen Perseroan.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat
dalam pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana
yang dinyatakan dalam laporan Studi Kelayakan ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Studi
Kelayakan .
11. Kami bertanggung jawab atas laporan Studi Kelayakan yang telah kami susun
berdasarkan data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami
anggap akurat serta lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini
apabila data-data, dokumen dan informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada
kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan Studi Kelayakan telah dilakukan terhadap obyek Studi Kelayakan pada
tanggal Studi Kelayakan (cut off date)
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam
laporan Studi Kelayakan .
14. Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Studi Kelayakan profesional telah
disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan Lingkup Penugasan dan data yang dianalisis telah
diungkapkan.
16. Kesimpulan Nilai telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
Halaman 52 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Page 105
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan ini kami peroleh dari sumber
yang telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Penilai Tanda Tangan
Penanggung Jawab:
J. Ferdinand H. Pardede, MAPPI (Cert)
Izin Penilai Bisnis No. : B-1.09.00089
MAPPI No. : 01-S-01490
STTD Bapepam No. : STTD.PB-17/PJ-1/PM.02/2023
RMK : RMK-2017.00081
Pemeriksa :
Yesi Marina
MAPPI No. : 12-T-03415
RMK : RMK-2017.01530
Pemeriksa:
E.Fitri Zakiyah
MAPPI No. : 17-P-07815
RMK : RMK-2020.03192
Penilai:
A R.Wibowo S
MAPPI No. : 21-T-11181
RMK : RMK-2022.04423
Halaman 53 FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
Names mentioned 64 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
Group Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk
p.3
unresolved
org
KJPP FDI
p.4 ×13
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.5 ×9
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.8 ×7
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.8 ×4
unresolved
person
K.H. Mas Mansyur
p.8 ×3
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.9 ×5
unresolved
org
Purwantono
p.10 ×8
unresolved
org
Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia.
p.10 ×2
unresolved
person
Daniel.Pradipta
p.10 ×2
unresolved
person
Akta Notaris Agus Madjid
p.13
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.13 ×3
unresolved
person
Akta Notaris Jimmy Tanal
· Notaris
p.13 ×6
unresolved
person
Caesaria Dhamayanti
· Notaris
p.13 ×3
unresolved
org
Menteri Hukum Republik Indonesia
p.13
unresolved
person
Suresh Narain Singh Sidhu
· Komisaris
p.13 ×3
unresolved
—
Kegiatan Usaha CMI
· o
p.13
unresolved
—
FDI.JKT/0007/LAP/B/SK/IV/2025
· Halaman 13
p.13
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
p.14 ×5
unresolved
org
PT Centratama
p.14 ×4
unresolved
org
Telekomunikasi Indonesia Tbk
p.14 ×2
unresolved
org
PT Indosat Ooredoo Hutchison Halaman
p.20
unresolved
org
PT. Telekomunikasi Selular
p.21 ×4
unresolved
org
PT. Smartfren Telecom Adapun
p.21 ×2
unresolved
org
PT Indosat Ooredoo Hutchinson
p.21
unresolved
org
PT Putra Arga Binangun
p.21
unresolved
org
PT Telkomsel
p.21 ×2
unresolved
org
Kementerian Ketenagakerjaan RI Halaman
p.24 ×2
unresolved
org
Kementerian Ketenagakerjaan RI Tabel
p.25 ×2
unresolved
org
Kementerian Ketenagakerjaan RI
p.25 ×2
unresolved
org
PT Trans Communication Data
p.31 ×2
unresolved
org
PT Huawei Tech Investment
p.31 ×2
unresolved
org
United Technologies Corporation
p.31 ×2
unresolved
org
PT EPID Menara AssetCo TCC Batavia Tower One
p.53
unresolved
org
Ichsan & Rekan
p.57
unresolved
org
Konstruksi
p.62
unresolved
person
Akta Notaris Mala Mukti
p.65
unresolved
—
FDI.JKT/0008/LAP/B/SK/IV/2025
· Halaman 13
p.65
unresolved
org
PT Centratama Menara
p.66
unresolved
org
PT Indosat Ooredoo Hutchison
p.73 ×2
unresolved
org
PT BBSC Telecode
p.73
unresolved
org
PT Pgas Telekomunikasi Nusantara
p.73
unresolved
org
PT Putra Arga Binangun Potensi Nilai Pasar Menurut
p.73
unresolved
person
J. Ferdinand H. Pardede
p.105
unresolved
person
H. Pardede
p.105
unresolved
org
Bapepam
p.105 ×2
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.091
12426 ms
12 Sep 2026 22:52
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'MATERIAL_FACT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': None}