Skip to content
Back to announcement

20260629_BPII_Informasi Transaksi Afiliasi_32105302_lamp4.pdf

Asset transaction Needs review BPII

Source file signed link, expires in 15 minutes

This browser can't display the PDF inline. Open it in a new tab.

Extracted text 62

Page 1
No. : 00289/2.0053-00/BS/05/0095/1/VI/2026                                  Jakarta, 26 Juni 2026
Kepada,
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Chase Plaza, Lantai 12
Jalan Jend. Sudirman Kav. 21
Jakarta Selatan

U.p. : Direksi

Hal       : Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi Pinjaman
            Pemegang Saham (PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
            Meminjamkan Dana kepada PT Malacca Trust Wuwungan
            Insurance Tbk)
Dengan hormat,
Sehubungan dengan penugasan yang diberikan kepada Kantor Jasa Penilai Publik Edi Andesta dan
Rekan (“KJPP Andesta” / “Kami”), oleh PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk. (“Perseroan” /
”BPII”) untuk memberikan pendapat kewajaran sebagai penilai independen, sesuai proposal
penawaran jasa pendapat kewajaran No. 0224/P-Andesta/V/2026, tanggal 22 Mei 2026, maka dengan
ini Kami sebagai KJPP resmi berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan, No. 1/KM.1/2022, tanggal
3 Januari 2022 dan Surat Tanda Terdaftar Sektor Jasa Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”)
No. KEP-30/KS-13/2026 (Penilai Properti dan Penilai Usaha) menyampaikan pendapat atas kewajaran
(“Pendapat Kewajaran”) Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII meminjamkan dana
kepada PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk/“MTWI”), seluruh rangkaian tersebut kemudian
disebut (“Rencana Transaksi”).

1.     Latar Belakang
       BPII adalah perusahaan holding yang bergerak dalam aktivitas konsultasi manajemen lainnya
       dan memiliki beberapa Entitas Anak yang bergerak dalam bidang manajer investasi, jasa
       transportasi, jasa asuransi dan lainnya, berencana meminjamkan dana kepada salah satu
       Entitas Anak yaitu MTWI dengan Nilai Rencana Transaksi dalam mata uang Rupiah (IDR)
       dengan jumlah keseluruhan sebanyak-banyaknya Rp. 80.000.000.000,- (delapan puluh miliar
       Rupiah).

       Fasilitas pinjaman yang akan diberikan BPII kepada MTWI akan berasal dari dana internal BPII
       terutama bersumber dari dividen, serta sebagian dari pinjaman bank jika diperlukan, dan
       bergantung pada jumlah dana yang tersedia pada BPII.

       Pinjaman kepada MTWI dikenakan bunga sebesar 10% (sepuluh persen) terhitung sejak
       tanggal pencairan dana “Drawdown Date”. Perubahan suku bunga akan diberitahukan oleh
       BPII kepada MTWI sesuai dengan tingkat suku bunga yang berlaku pada saat itu.
Page 2
        Dengan mengacu pada Ketentuan pasal 3 butir (3) POJK 17/2020 mengatur bahwa Rencana
        Transaksi bukan dikategorikan sebagai transaksi material oleh karena Nilai Rencana Transaksi
        tidak lebih dari 20% (dua puluh persen), berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk
        tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025, diaudit oleh Kantor Akuntan Publik
        (KAP) Hendrawinata Hanny Erwin & Sumargo. Total ekuitas konsolidasian Perseroan sebesar
        Rp. 1.820.265.267.676,- atau sebesar 4,39% dari total ekuitas konsolidasian.

        Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Rencana Transaksi, bukan
        merupakan transaksi material, sehingga Perseroan tidak wajib memperhatikan ketentuan
        Peraturan No. 17/POJK.04/2020, tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha
        (“Peraturan No. 17/POJK.04/2020”).

        Selanjutnya oleh karena Rencana Transaksi dilakukan dengan pihak afiliasi, maka Rencana
        Transaksi merupakan transaksi afiliasi, sehingga Perseroan wajib memperhatikan ketentuan
        Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia No. 42/POJK.04/2020 tentang
        Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu (“Peraturan
        No. 42/POJK.04/2020”).

        Dengan demikian dalam rangka pelaksanaan Rencana Transaksi ini dan untuk memenuhi
        ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan No. 42/POJK.04/2020, Perseroan telah
        menunjuk KJPP Andesta, sebagai penilai independen untuk memberikan Pendapat
        Kewajaran atas Rencana Transaksi tersebut.


2.      Dasar Penugasan
        Berdasarkan proposal penawaran jasa pendapat kewajaran No. 0224/P-Andesta/V/2026,
        tanggal 22 Mei 2026, oleh KJPP Andesta yang ditujukan kepada Perseroan, dan telah
        disetujui sebagai surat perjanjian kerja.

        Pendapat Kewajaran berpedoman kepada Standar Penilaian Indonesia (SPI-Edisi VII-2018),
        dengan ruang lingkup antara lain meliputi: Verifikasi dan identifikasi data, pemeriksaan data-
        data dan analisis, dan penyampaian dalam bentuk laporan Pendapat Kewajaran.


3.      Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
        Sehubungan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang
        Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (Peraturan
        No. 35/POJK.04/2020), berkaitan dengan penunjukan KJPP Andesta, untuk memberikan
        Pendapat Kewajaran (“Fairness Opinion”) atas Rencana Transaksi, maka ruang lingkup dari
        penugasan profesional meliputi:
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              2
Page 3
        a. Tujuan dari Penugasan Penilaian Profesional.
        b. Asumsi dan kondisi pembatas yang digunakan dalam Penugasan Penilaian Profesional.
        c. Dasar Nilai dan Premis Nilai yang digunakan.

4.      Status Penilai
        Penilai adalah KJPP Andesta dalam posisi untuk memberikan Pendapat Kewajaran yang
        objektif dan tidak memihak. Penilai tidak ada keterlibatan material atau benturan kepentingan
        baik aktual maupun bersifat potensial dengan subjek dan atau objek Pendapat Kewajaran.
        Penilai memiliki kompetensi untuk memberikan opini Pendapat Kewajaran.

        Dalam menjalankan tugas profesinya, tanggung jawab Penilai sebagai individu harus
        dipisahkan dari Penilai sebagai Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Sehingga tanggung jawab
        Penilai sebagai individu tidak menjadi tanggung jawab KJPP secara keseluruhan (SPI Edisi VII
        2018, KEPI butir 5.8.8.3).

5.      Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan
        Identifikasi Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan, diuraikan sebagai berikut:
        Nama Perusahaan                : PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
        Bidang Usaha                   : Aktivitas Konsultasi Manajemen lainnya
        Alamat                         : Chase Plaza Lantai 12, Jalan Jendral Sudirman Kav. 21,
                                         Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan

6.      Objek Pendapat Kewajaran
        Objek Pendapat Kewajaran adalah Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII
        meminjamkan dana kepada MTWI).

7.      Jenis Mata Uang Yang Digunakan
        Mata uang yang digunakan dalam Pendapat Kewajaran ini adalah mata uang Rupiah (IDR).

8.      Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran
        Laporan Pendapat Kewajaran ini adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran Rencana
        Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII meminjamkan dana kepada MTWI) serta untuk
        pemenuhan ketentuan Peraturan No. 42/POJK.04/2020, atas Rencana Transaksi,
        sebagaimana didefinisikan dalam laporan ini, dan tidak untuk transaksi lainnya.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             3
Page 4
9.      Tanggal Pendapat Kewajaran
        Analisis Kewajaran dilaksanakan per tanggal 31 Desember 2025, parameter dan laporan
        keuangan yang digunakan dalam analisis menggunakan data per 31 Desember 2025


10.    Tingkat Kedalaman Investigasi
        Semua informasi yang berkaitan dengan Pendapat Kewajaran ini, tetapi tidak termasuk
        kesimpulan tentang opini nilai, Kami terima dari Pemberi Tugas dan MTWI termasuk hal-hal
        yang menyangkut status hukum kepemilikan serta hal-hal yang relevan lainnya. Kami
        berasumsi bahwa informasi dan data yang Kami terima tersebut, sepanjang menyangkut data
        dan keterangan mengenai objek Pendapat Kewajaran adalah benar.

        Dalam hal penelitian dan penyelidikan yang ada hubungannya dengan kebenaran legalitas hak
        kepemilikan serta utang piutang yang mengakibatkan kerugian atas objek Pendapat
        Kewajaran, bukan merupakan ruang lingkup penugasan Penilai, pekerjaan tersebut
        merupakan pekerjaan profesi lain, dan oleh sebab itu dalam Pendapat Kewajaran ini, Kami
        berasumsi bahwa Pendapat Kewajaran telah bebas dari segala permasalahan hukum. Tingkat
        kedalaman investigasi yang akan dilakukan dalam penugasan ini terbatas pada:
        a. Investigasi dilakukan melalui proses pengumpulan data dengan cara inspeksi/wawancara,
           penelaahan, penghitungan dan analisis.
        b. Kami telah melakukan penelahaan, perhitungan dan analisis, dan diasumsikan tidak ada
           informasi yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan.
        c. Bilamana dalam pelaksanaan investigasi di lapangan ataupun dalam proses pengumpulan
           data, terdapat kendala-kendala yang membatasi akses Penilai, sehingga Penilai tidak
           dapat melakukan investigasi secara normal, maka hal tersebut akan diungkapkan di dalam
           laporan pendapat kewajaran.

11.     Sifat dan Sumber Informasi yang Dapat Diandalkan
        Selain menggunakan data yang diberikan oleh Pemberi Tugas dan MTWI, Kami juga
        menggunakan informasi dan data yang relevan namun tidak membutuhkan verifikasi.
        Penggunaan informasi dan data tersebut dapat disetujui, sepanjang sumber data tersebut
        dipublikasikan pada tingkat nasional dan atau internasional, sumber data tersebut antara lain:
        a. Bank Indonesia.
        b. Badan Pusat Statistik.
        c. Data riset dari pihak independen.
        d. Informasi dari media cetak dan elektronik.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              4
Page 5
12.     Asumsi dan Kondisi Pembatas
        a. Laporan Pendapat Kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion.
        b. KJPP Andesta telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
           dalam proses Pendapat Kewajaran, namun tidak melakukan penelitian terhadap
           keabsahan dokumen-dokumen yang terkait, oleh karenanya Kami tidak menjamin
           kebenaran atau keabsahannya.
        c. KJPP Andesta menggunakan data dan informasi yang diperoleh, berasal dari sumber
           yang dapat dipercaya keakuratannya.
        d. KJPP Andesta menggunakan proyeksi keuangan yang disampaikan BPII yang
           mencerminkan kewajaran proyeksi keuangan yang dibuat oleh BPII dan Entitas Anaknya
           dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty) atas kewajaran proyeksi keuangan
           dan kesimpulan nilai akhir.
        e. Hasil analisis yang dilakukan menghasilkan Laporan Penilaian Usaha yang terbuka untuk
           publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi
           operasional Perseroan.
        f.   Periode proyeksi keuangan yang disusun BPII dan Entitas Anaknya selama 5 tahun yaitu
             2026 s/d 2030.

13.     Persyaratan Atas Persetujuan untuk Publikasi
        Dilarang menyebarluaskan pernyataan atau laporan Pendapat Kewajaran, baik secara
        keseluruhan, sebagian atau sebagai referensi, nilai yang terdapat didalamnya, maupun nama
        dan afiliasi tenaga ahli dari Penilai, tanpa persetujuan tertulis dari KJPP Andesta, kecuali untuk
        BPII dan MTWI serta Otoritas Pemerintah lainnya sesuai Peraturan yang berlaku.

14.     Konfirmasi Bahwa Pendapat Kewajaran Dilakukan Sesuai Peraturan yang
        Berlaku
        Berdasarkan proposal penawaran jasa Pendapat Kewajaran yang telah disepakati, dinyatakan
        bahwa Pendapat Kewajaran ini, dilakukan berdasarkan Peraturan No. 35/POJK.04/2020 dan
        SPI edisi VII, tahun 2018.

15.     Konfirmasi Penugasan Bersamaan (Berdekatan)
        Berdasarkan Informasi dari Pemberi Tugas, bahwa aset atau liabilitas yang menjadi objek
        Pendapat Kewajaran tidak sedang atau telah dinilai oleh Penilai Publik lainnya untuk maksud,
        tujuan, pengguna laporan dan tanggal Pendapat Kewajaran yang sama atau berdekatan
        (dalam jangka waktu tidak lebih dari dua bulan). KEPI 2018 Edisi VII-Tahun 2018 butir
        5.8.C.4.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                  5
Page 6
16.     Pernyataan Penilai
        Berdasarkan pengetahuan Kami atas penugasan Pendapat Kewajaran, dengan ini Kami
        menyatakan:
        a. Penilai bertanggung jawab dalam penyusunan laporan Pendapat Kewajaran (fairness
           opinion) atas Rencana Transaksi.
        b. Penilai tidak mempunyai benturan kepentingan atas Rencana Transaksi yang akan
           dilakukan.
        c. Seluruh pendapat yang dinyatakan dalam laporan ini, baik mengenai analisis, kesimpulan
           atau pendapat, adalah benar.
        d. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi pembatas yang
           dilaporkan.
        e. Hasil analisis, kesimpulan dan pendapat yang dinyatakan pada laporan ini terbatas pada
           kontinjensi, keterbatasan dan asumsi, yang merupakan pemahaman secara menyeluruh,
           didasarkan analisis profesional serta pendapat dan kesimpulan Kami.
        f.   Pada saat ini maupun pada masa yang akan datang, Kami tidak memiliki kepentingan
             terhadap Perseroan dan objek Rencana Transaksi ataupun analisis kewajaran Rencana
             Transaksi dan pihak yang terlibat dan terkait di dalamnya.
        g. Kami tidak memiliki kepentingan pribadi terhadap Perseroan atau perusahaan yang Kami
           nilai ataupun analisis kewajaran Rencana Transaksi dan pihak yang terlibat dan terkait di
           dalamnya.
        h. Imbalan jasa tidak berkaitan dengan Pendapat Kewajaran yang dilaporkan.
        i.   Pemberian Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi dilakukan dengan memenuhi
             Peraturan No. 35/POJK.04/2020, ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia (“KEPI”) dan
             Standar Penilaian Indonesia (“SPI”) yang diakui oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia
             (“MAPPI”).
        j.   Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau
             diselenggarakan oleh asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
        k. Kami melakukan penugasan ini secara independen tanpa intervensi dari pihak manapun.

17.     Sumber Data
        Dalam menyusun Pendapat Kewajaran ini, Kami telah menelaah, mempertimbangkan,
        mengacu, atau melaksanakan prosedur atas data dan informasi, antara lain sebagai berikut:
        a. Proyeksi keuangan BPII, yang disusun oleh BPII dan Entitas Anaknya selama 5 tahun
           yaitu 2026 s/d 2030.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              6
Page 7
        b. Akta Pendirian dan Anggaran Dasar BPII dan MTWI beserta perubahannya.
        c. Nomor Induk Berusaha (NIB) atas nama BPII No. 8120113173702, dikeluarkan oleh
           Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia, pada
           tanggal 30 November 2018 dan perubahan ke-1 tanggal 28 Juni 2022.
        d. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atas nama BPII, dikeluarkan oleh Pemerintah
           Republik Indonesia c.q. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS, pada tanggal
           30 November 2018.
        e. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama BPII No. 01.862.130.0-058.000 dikeluarkan
           oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, KPP
           Perusahaan Masuk Bursa
        f.   Laporan Keuangan BPII untuk periode yang berakhir pada tanggal, 31 Desember 2021
             s/d 2025.
        g. Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham antara BPII dengan MTWI, tanggal 25 Juni 2026.
        h. Dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan Rencana Transaksi.
        i.   Hasil wawancara dengan pihak BPII mengenai alasan, latar belakang, dan hal-hal lain
             yang terkait dengan Rencana Transaksi.
        j.   Surat Pernyataan (management representative letter) yang dibuat oleh BPII, bahwa
             Perseroan telah menyampaikan seluruh informasi penting dan relevan berkenaan dengan
             Rencana Transaksi dan sepanjang pengetahuan BPII, tidak ada faktor material yang
             belum diungkapkan dan menyesatkan.
        k. Berbagai sumber informasi, baik berdasarkan media cetak dan elektronik dan hasil analisis
           lain yang dianggap relevan.
        l.   Pihak-pihak yang telah diwawancarai terkait dengan Rencana Transaksi, adalah Bapak
             Rudi Setiadi Tjahjono dan Bapak Luo Xude selaku Direksi beserta Tim Manajemen dari
             Perseroan.

18.     Pendekatan dan Prosedur Yang Digunakan
        Dalam melakukan kewajaran Rencana Transaksi, KJPP Andesta telah melakukan analisis
        sebagai berikut:

        a. Pemberian Pendapat Kewajaran

             Dalam memberikan pendapat kewajaran (“Fainess Opinion”) atas Rencana Transaksi,
             maka pendapat kewajaran diberikan setelah penilai melakukan analisis atas hal-hal
             sebagai berikut:
             1) Besaran dana dari objek Rencana Transaksi.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             7
Page 8
            2) Dampak keuangan dari Rencana Transaksi pinjam-meminjam dana dan/atau
               penjaminan terhadap kepentingan perusahaan.
            3) Pertimbangan bisnis yang digunakan oleh manajemen perusahaan terkait dengan
               transaksi pinjam-meminjam dana dan/atau penjaminan terhadap kepentingan
               pemegang saham.

        b. Analisis Pendapat Kewajaran

            Dalam melakukan analisis Pendapat Kewajaran, analisis yang dilakukan adalah sebagai
            berikut:
            1) Analisis pengaruh transaksi pinjam-meminjam dana terhadap keuangan perusahaan.
            2) Identifikasi dan hubungan antara pihak dalam hal transaksi pinjam-meminjam dana.
            3) Analisis perjanjian dan persyaratan yang disepakati oleh pihak dalam transaksi
               pinjam-meminjam dana.
            4) Analisis manfaat dan risiko dari transaksi pinjam-meminjam dana.
            5) Analisis kualitatif atas transaksi pinjam-meminjam dana.
            6) Analisis kuantitatif atas transaksi pinjam-meminjam dana.
            7) Analisis atas faktor lain yang relevan.

        c. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
            Analisis kualitatif berupa riwayat perusahaan yaitu riwayat transaksi pinjam-meminjam
            dana, Analisis industri & bisnis. Analisis operasional dan prospek perusahaan. Analisis
            Alasan dan latar dbelakang manajemen untuk melakukan pinjam-meminjam dana. Analisis
            keuntungan dan kerugian yang bersifat kualitatif atas transaksi pinjam-meminjam dana.
            Analisis dampak leverage pada keuangan perusahaan dimasa yang akan datang, yang
            dibandingkan dengan industri yang sejenis dan sebanding. Analisis dampak likuiditas pada
            keuangan perusahaan dimasa yang akan datang untuk memastikan bahwa pinjaman
            dapat dilunasi dpada saat jatuh tempo. Analisis dampak keuangan perusahaan jika proyek
            yang dibiayai oleh dana hasil transaksi pinjam-meminjam dana dan tersebut mengalami
            kegagalan.
            Analisis kuantitatif berupa Analisis kinerja historis. Analisis penilaian atas proyeksi
            keuangan. Analisis rasio keuangan. Analisis keuangan baik sebelum maupun setelah
            transaksi pinjam-meminjam dana. Analisis atas kemampuan perusahaan atau penerima
            jaminan untuk melunasi transaksi pinjam-meminjam dana sampai saat jatuh tempo.
            Analisis cash management dan financial covenant dari transaksi pinjam-meminjam dana.
            Analisis yield dari transaksi pinjam-meminjam dana. Analisis inkremental (incremental
            analysis) untuk mengukur nilai tambah dari Rencana Transaksi.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            8
Page 9
19.     Hubungan Pihak-Pihak Yang Melakukan Rencana Transaksi
        BPII akan melakukan Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII meminjamkan
        dana MTWI), hubungan pihak-pihak yang akan melakukan Rencana Transaksi, diuraikan
        sebagai berikut:
        a. Hubungan Afiliasi Berdasarkan Kepemilikan Saham
            Berdasarkan analisis kepemilikan saham, terlihat bahwa antara pihak-pihak yang
            bertransaksi memiliki hubungan afiliasi:



                       BPII                           Lain-lain
                              85,90%                     14,10%




                                         MTWI

            BPII merupakan pihak yang terafiliasi dengan MTWI dikarenakan BPII merupakan
            pemegang saham pengendali (perusahaan induk) dari MTWI.

        b. Hubungan Afiliasi Berdasarkan Kepengurusan Perusahaan
            Berdasarkan analisis kepengurusan perusahaan, terlihat bahwa antara pihak-pihak yang
            bertransaksi tidak memiliki hubungan afiliasi, yang diuraikan pada tabel sebagai berikut:

                                 Nama                                 BPII                   MTWI


             Rudi Setiadi Tjahjono                            Direktur Utama
             Luo Xude                                         Direktur
             Irena Istary Iskandar                            Komisaris Utama
             Rudy Johansen (pemegang saham 0,02% BPII)        Komisaris
             Paulin Angeline                                  Komisaris Independen
             Vientje Harijanto                                                       Direktur Utama
             Harjanto                                                                Direktur
             Ir. Iis Syarifuddin                                                     Direktur
             Rinto Cokrolukito                                                       Direktur
             Ilham Akbar Habibie                                                     Komisaris Utama
             Markus Dinarto Pranoto                                                  Komisaris
             Suwarna                                                                 Komisaris Independen
             Aries Setiawan Rusli                                                    Komisaris Independen


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                      9
Page 10
20.     Uraian Mengenai Penilai Usaha/Penilai Properti Serta Hasil Penilaian Yang
        Menjadi Dasar Dalam Pemberian Pendapat Kewajaran

        Dalam pendapat kewajaran ini, Kami tidak menggunakan hasil penilaian dari Penilai Usaha
        dan/atau Penilai Properti lainnya, karena objek Rencana Transaksi adalah pinjaman
        pemegang saham, dengan demikian tidak ada, uraian mengenai Penilai Usaha dan/atau
        Penilai Properti serta hasil penilaian oleh Penilai Usaha dan/atau Penilai Properti, yang
        menjadi dasar dalam pemberian pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi.


21.     Metodologi dan Analisis Kewajaran Rencana Transaksi

        Dalam melakukan evaluasi kewajaran atas Rencana Transaksi, dilakukan analisis dengan
        tahapan-tahapan sebagai berikut:

21.1. Analisis Rencana Transaksi

        Perseroan akan melakukan Rencana Transaksi meminjamkan dana kepada MTWI, dalam
        mata uang Rupiah (IDR), dengan jumlah keseluruhan sebanyak-banyaknya
        Rp 80.000.000.000 (delapan puluh miliar Rupiah)

        a. Analisis Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Keuangan Perseroan

            Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII akan meminjamkan dana kepada
            MTWI) merupakan aktivitas yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan, likuiditas, dan
            profil risiko. Oleh karena itu, diperlukan analisis menyeluruh untuk memastikan bahwa
            Rencana Transaksi tersebut dilakukan sesuai prinsip kehati-hatian, memberikan manfaat
            ekonomi, dan tidak mengganggu kegiatan operasional Perseroan, diantaranya adalah

            1) Pengaruh Terhadap Likuiditas Perseroan

                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham oleh Perseroan akan mengurangi
                 posisi kas dan setara kas konsolidasian Perseroan pada saat pencairan dana
                 dilakukan, selain itu posisi kas BPII (stand alone) saat ini sebesar Rp. 8,23 miliar dan
                 portofilio efek yang segera dapat diuangkan atau dicairkan sebesar Rp 82,18 miliar.
                 Dengan biaya operasional selama 1 tahun sebesar Rp 11,66 miliar, maka tidak ada
                 dampak risiko likuiditas terhadap Perseroan. Selain itu, Rencana Transaksi pinjaman
                 BPII kepada MTWI akan dilakukan sesuai ketersediaan dana di BPII sesuai dengan
                 ketentuan dalam Perjanjian.


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                10
Page 11
            2) Pengaruh Terhadap Struktur Aset Perseroan

                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham oleh Perseroan akan mengubah
                 komposisi aset Perseroan, diantaranya penurunan kas dan setara kas (jika sumber
                 dana dari kas) dan peningkatan aset berupa piutang pinjaman atau piutang pihak
                 terkait dan kenaikan utang bank apabila diperlukan. Perubahan tersebut dapat
                 mempengaruhi kualitas aset Perseroan yang bergantung pada kemampuan pihak
                 peminjam dalam memenuhi kewajibannya, jangka waktu pinjaman, tingkat risiko
                 kredit.

                 Namun, melihat dari kondisi keuangan dari MTWI serta analisis yang dilakukan,
                 pinjaman memiliki risiko gagal bayar yang minimal, sehingga potensi perubahan
                 kualitas aset ataupun penurunan nilai aset Perseroan minimal.

            3) Pengaruh Terhadap Profitabilitas

                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham oleh Perseroan dapat memberikan
                 tambahan pendapatan, terutama dalam bentuk pendapatan bunga.

                 Apabila tingkat bunga pinjaman lebih tinggi dibanding biaya dana atau opportunity cost
                 Perseroan, maka transaksi dapat memberikan kontribusi positif terhadap laba
                 Perseroan.

        b. Identifikasi Pihak-Pihak yang Bertransaksi

            Pihak-pihak yang terkait dalam Rencana Transaksi adalah BPII yang akan meminjamkan
            dana dan MTWI yang akan meminjam dana, berikut keterangan mengenai pihak-pihak
            yang bertransaksi:

            1) PT. Batavia Prosperindo Internasional Tbk.

                 BPII dahulu didirikan dengan nama PT Batavia Prosperindo Internasional,
                 berdasarkan Akta Notaris No. 78 tanggal 12 November 1998 yang dibuat di hadapan
                 Irawan Soerodjo, S.H., Notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh
                 Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C-
                 18678HT.01.01.TH.99 tanggal 10 November 1999 dan telah diumumkan dalam Berita
                 Negara Republik Indonesia No. 65 tanggal 15 Agustus 2000, Tambahan No. 4522.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                               11
Page 12
                 Berdasarkan Pernyataan Keputusan Edaran Pemegang Saham pada tanggal 4 April
                 2014 yang diaktakan oleh Dr. Irawan Soerodjo, SH., M.Si. Notaris di Jakarta, dengan
                 Akta Notaris No. 37 tanggal 4 April 2014, pemegang saham BPII menyetujui
                 perubahan nama menjadi PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk. Perubahan
                 tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
                 Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-00471.40.20.2014 tanggal
                 15 April 2014 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 104,
                 Tambahan No. 72117 tanggal 30 Desember 2014.

                 Perubahan Anggaran dasar BPII telah diubah dengan Akta Notaris No. 142 tanggal
                 20 Oktober 2025 dari Christina Dwi Utami SH., M.Hum., M.Kn., Notaris di Jakarta
                 Barat, dalam rangka perubahan Anggaran Dasar Entitas Induk yang telah disesuaikan
                 dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 32/POJK.04/2014 tentang
                 Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan
                 Terbuka dan POJK No. 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris
                 Emiten atau Perusahaan Publik. Perubahan tersebut telah dilaporkan kepada
                 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat
                 No. AHU-0084330.AH.01.02.TAHUN 2025 tertanggal 21 Desember 2025.

                 BPII telah mengubah statusnya dari Perusahaan Non Penanaman Modal Asing
                 menjadi Perusahaan Penanaman Modal Asing berdasarkan Surat Persetujuan untuk
                 merubah status dari Non penanaman Modal Asing menjadi Penanaman Modal Asing
                 dari Kepala Badan Penanaman Modal dan Pendayagunaan Kekayaan dan Usaha
                 Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1/31/V/PMA/2002 tanggal 18 Maret 2002.

                 Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan pendirian BPII adalah
                 dalam aktivitas konsultasi manajemen lainnya. Entitas Induk memulai kegiatan
                 usahanya secara komersial pada tanggal 12 Mei 1999.

                 Kantor pusat BPII berkedudukan di Gedung Chase Plaza, Lantai 12, Jl. Jenderal
                 Sudirman Kav. 21, Jakarta Selatan.

                 Susunan pemegang saham BPII, diuraikan sebagai berikut:

                                                                Jumlah Lembar      Persentase      Nilai Saham
                  No.              Pemegang Saham
                                                                   Saham         Kepemilikan (%)       (Rp.)


                   1    Malacca Trust Pte. Ltd. Singapura        8.881.734.000            89,86%   44.408.670.000
                   2    Rudy Johansen                                1.808.000             0,02%        9.040.000
                   3    Masyarakat (masing-masing dibawah 5%)    1.000.611.240            10,12%    5.003.056.200
                        Total Saham Beredar                      9.884.153.240           100,00%   49.420.766.200

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                           12
Page 13
                 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi BPII, berdasarkan laporan keuangan per
                 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:

                 Dewan Komisaris

                 Komisaris Utama               : Irena Istary Iskandar
                 Komisaris Independen          : Paulin Angeline
                 Komisaris                     : Rudy Johansen

                 Direksi

                 Direktur Utama                : Rudi Setiadi Tjahjono
                 Direktur                      : Luo Xude

            2) PT. Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk.

                 MTWI, dahulu dikenal sebagai PT Asuransi Wuwungan, didirikan berdasarkan Akta
                 Notaris No. 76 tanggal 15 Desember 1952 dari Raden Mas Soerojo S.H., Notaris di
                 Jakarta. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik
                 Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. J.A. 5/11/24 tanggal 30 Januari 1953
                 serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 79 tanggal 2
                 Oktober 1953, Tambahan No. 627.

                 Anggaran dasar MTWI telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir
                 berdasarkan Akta Notaris No. 40 tanggal 5 Maret 2025 dari Christina Dwi Utami,
                 S.H., M.Hum., M.Kn., Notaris di Jakarta, perubahan tersebut telah disetujui oleh
                 Menteri Hukum dalam surat No. AHU-AH.01.09-0128780 tanggal 7 Maret 2025.

                 MTWI berdomisili di Gedung Chase Plaza, Lantai 7, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 21,
                 Jakarta, MTWI memiliki 13 kantor pemasaran.

                 Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar, ruang lingkup MTWI bergerak dalam bidang
                 asuransi non jiwa konvensional. Susunan pemegang saham MTWI, diuraikan sebagai
                 berikut:




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                        13
Page 14
                                                                     Jumlah Lembar      Persentase       Nilai Saham
                  No.              Pemegang Saham
                                                                        Saham         Kepemilikan (%)        (Rp.)


                   1    PT. Batavia Prosperindo Internasional Tbk.    2.512.097.613           85,90%    251.209.761.300
                   2    PT. Ilthabi Rekatama                             50.477.502            1,73%      5.047.750.200
                   3    Vientje Harijanto (Direktur Utama)              146.082.496            5,00%     14.608.249.600
                   4    Harjanto (Direktur)                              37.034.758            1,27%      3.703.475.800
                   5    Ir. Iis Syarifuddin (Direktur Independen)         3.358.012            0,11%        335.801.200
                   6    Masyarakat (masing-masing dibawah 5%)
                        Pemegang Saham Lokal                             85.132.067             2,91%     8.513.206.700
                        Pemegang Saham Asing                             90.304.191             3,09%     9.030.419.100
                        Total Saham                                   2.924.486.639          100,00%    292.448.663.900


                 Susunan Dewan Komisaris dan Direksi MTWI, berdasarkan laporan keuangan per
                 tanggal 31 Desember 2025 diuraikan sebagai berikut:

                 Dewan Komisaris
                 Komisaris Utama                      : Ilham Akbar Habibie
                 Komisaris                            : Markus Dinarto Pranoto
                 Komisaris Independen                 : Suwarna
                 Komisaris Independen                 : Aries Setiawan Rusli

                 Direksi
                 Direktur Utama                       : Vientje Harijanto
                 Direktur                             : Harjanto
                 Direktur                             : Ir. Iis Syarifuddin
                 Direktur                             : Rinto Cokrolukito

        c. Hubungan Antara Pihak yang Terlibat Dalam Rencana Transaksi

            Sesuai dengan informasi BPII dan dengan analisis hubungan afiliasi berdasarkan
            kepemilikan saham dan kepengurusan, terlihat bahwa antara pihak-pihak yang
            bertransaksi memiliki hubungan afiliasi yaitu:
            1) Hubungan afiliasi berdasarkan kepemilikan saham
                 Berdasarkan analisis dari segi kepemilikan saham, bahwa antara pihak-pihak yang
                 bertransaksi memiliki hubungan afiliasi yaitu:
                 BPII merupakan pihak yang terafiliasi dengan MTWI dikarenakan BPII merupakan
                 pemegang saham pengendali (perusahaan induk) dari MTWI.
            2) Hubungan afiliasi berdasarkan kepengurusan perusahaan
                 Berdasarkan analisis kepengurusan perusahaan, bahwa antara pihak-pihak yang
                 bertransaksi tidak ada hubungan afiliasi.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                 14
Page 15
        d. Perjanjian dan Persyaratan yang disepakati dalam Rencana Transaksi

            Berdasarkan perjanjian pinjaman, antara BPII yang akan meminjamkan dana, dengan
            MTWI sebagai perusahaan yang akan meminjam dana. Kesepakatan-kesepakatan
            tersebut diuraikan sebagai berikut:

            1) Tanggal Perjanjian Pinjaman
                 Perjanjian pinjaman, dibuat dan ditandatangani pada tanggal 25 Juni 2026.

            2) Pihak-pihak yang Bertransaksi
                 Pihak-pihak yang bertransaksi berdasarkan pinjaman pemegang saham, adalah:
                 a) BPII adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia,
                    berkantor pusat di Chase Plaza Lt.12, Jl. Jend. Sudirman Kav.21, Karet, Setiabudi,
                    Jakarta Selatan, yang dalam hal ini diwakili oleh Rudi Setiadi Tjahjono dan Luo
                    Xude sebagai Direktur Utama dan Direktur (selanjutnya disebut sebagai "BPII"
                    atau “Pemberi Pinjaman”)
                 b) MTWI adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia,
                    berkantor pusat di Chase Plaza Lt.7, Jl. Jend. Sudirman Kav.21, Karet, Setiabudi,
                    Jakarta Selatan, yang dalam hal ini diwakili oleh Vientje Harijanto dan Harjanto
                    sebagai Direktur Utama dan Direktur (selanjutnya disebut sebagai "MTWI" atau
                    “Penerima Pinjaman”)

            3) Fasilitas Pinjaman
                 a) Dengan mengacu kepada syarat-syarat dan ketentuan dalam Perjanjian, BPII
                    menyetujui untuk menyediakan fasilitas pinjaman kepada MTWI dalam mata uang
                    Rupiah (IDR), dengan jumlah keseluruhan sebanyak-banyaknya
                    Rp 80.000.000.000 (delapan puluh miliar Rupiah)
                 b) Penyediaan Jumlah Pokok Pinjaman, bersifat fleksibel dan dilakukan berdasarkan
                    ketersediaan dana pada BPII, dan Para Pihak sepakat bahwa Jumlah Pokok
                    Pinjaman yang dapat dicairkan oleh MTWI sesuai dengan jumlah dana yang
                    tersedia pada BPII pada saat pengajuan dilakukan.
                 c) Jumlah Pokok Pinjaman dapat dicairkan secara bertahap, sampai dengan jangka
                    waktu Perjanjian berakhir.
                 d) MTWI harus menyampaikan pemberitahuan pencairan Fasilitas Pinjaman
                    (“Notice of Drawdown”) paling lambat 7 (tujuh) Hari Kerja sebelum tanggal
                    pencairan dana (“Drawdown Date”).

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             15
Page 16
            4) Suku Bunga
                 a) Suku Bunga atas Jumlah Pokok Pinjaman yang berlaku saat ini sebesar 10%
                    (sepuluh persen) (“Bunga”) terhitung sejak tanggal pencairan dana “Drawdown
                    Date” dilakukan.
                 b) Bunga dapat berubah, dan BPII wajib memberitahukan perubahan tersebut secara
                    tertulis kepada MTWI paling lambat 7 (tujuh) Hari Kerja sebelum suku bunga baru
                    diberlakukan.
                 c) Pembayaran Jumlah Pokok Pinjaman beserta Bunga yang terutang wajib
                    dilakukan oleh MTWI kepada BPII sebelum atau selambat lambatnya pada tanggal
                    jatuh tempo.

            5) Jangka Waktu
                 a) Jangka waktu pinjaman akan jatuh tempo dan wajib dibayar kembali secara penuh
                    oleh MTWI kepada BPII dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal
                    pencairan dana “Drawdown Date” pertama kali dilakukan.
                 b) Pinjaman ini dapat diperpanjang sesuai kesepakatan dari Para Pihak.

            6) Pembayaran Lebih Awal
                 MTWI dapat melakukan pembayaran lebih awal atas Jumlah Pokok Pinjaman yang
                 terutang beserta Bunga dengan memberikan pemberitahuan sebelumnya 7 (tujuh)
                 Hari Kerja sebelum pembayaran lebih awal itu dilakukan tanpa adanya penalti.

            7) Biaya-Biaya dan Pajak
                 a) Para Pihak sepakat bahwa, MTWI wajib membayar seluruh pengeluaran, materai,
                    dan biaya lain yang timbul dalam persiapan, penandatanganan, pengurusan,
                    permintaan dan pelaksanaan dari Perjanjian.
                 b) Pembayaran Bunga, wajib dilakukan secara bersih, dimana segala bentuk pajak
                    yang timbul atas Bunga tersebut menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh MTWI.

            8) Pernyataan dan Jaminan
                 MTWI dengan ini menyatakan dan menjamin kepada BPII hal-hal sebagai berikut:
                 a) MTWI tidak akan melakukan pembagian dividen dalam bentuk apapun kepada
                    pemegang saham sebelum seluruh kewajiban pembayaran dalam Perjanjian ini
                    kepada BPII dinyatakan lunas, kecuali apabila terdapat persetujuan tertulis
                    terlebih dahulu dari BPII.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          16
Page 17
                 b) MTWI menjamin bahwa penyelesaian seluruh kewajiban pembayaran kepada
                    BPII merupakan prioritas utama MTWI yang wajib dilaksanakan tepat waktu
                    sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati dalam Perjanjian ini.
                 c) Pinjaman diberikan tanpa jaminan dari MTWI kepada BPII.

            Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham antara BPII dengan MTWI tanpa adanya
            jaminan, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan dan proyeksi keuangan MTWI
            yang cukup baik, sehingga pinjaman yang diberikan BPII kepada MTWI akan dapat
            dilunasi sesuai dengan jangka waktunya.

        e. Analisis Likuiditas dari Rencana Transaksi Pinjaman Pemegang Saham

            Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham, jika pinjaman berasal dari dana internal
            Perseroan dimana terdapat Kas dan Setara Kas serta Portofolio Efek yang segera dapat
            diuangkan atau dicairkan dan penerimaan dividen dari Entitas Anak Perseroan, maka
            Rencana Transaksi pemberikan pinjaman Perseroan kepada MTWI tidak memberikan
            pengaruh yang signifikan terhadap Perseroan.

            1) Dampak Terhadap Posisi Kas dan Setara Kas Konsolidasian Perseroan
                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham tidak berpengaruh signifikan
                 terhadap kas dan setara kas konsolidasian Perseroan, karena sebagian besar
                 berasal dari dana internal Perseroan. Selain itu, Rencana Transaksi pinjaman yang
                 diberikan Perseroan kepada MTWI akan dilakukan sesuai dengan ketersediaan dana
                 dari Perseroan.

            2) Pengaruh Terhadap Rasio Likuiditas
                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham dapat mempengaruhi beberapa rasio
                 likuiditas konsolidasian Perseroan, antara lain:

                 a) Return on Asset (Rasio Pengembalian Aset)
                     Return on Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan persentase
                     keuntungan konsolidasian (laba bersih) yang diperoleh perusahaan dibandingkan
                     keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah aset
                     Dengan adanya Rencana Transaksi dapat meningkatkan aset sehingga ROA
                     menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum Rencana Transaksi.

                 b) Return on Equity (Rasio Pengembalian Ekuitas)
                     Return on Equity (ROE) Rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan
                     perusahaan untuk menghasilkan laba konsolidasian dari investasi pemegang
                     saham di perusahaan
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          17
Page 18
                     Dengan adanya Rencana Transaksi, ekuitas tidak mengalami perubahan,
                     sehingga ROE juga tidak mengalami perubahan dibandingkan sebelum Rencana
                     Transaksi.

                 c) Cash Ratio
                     Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham, tidak berpengaruh signifikan
                     pada cash ratio Perseroan karena sebagian besar menggunakan dana internal
                     Perseroan. Selain itu, rencana pinjaman ini diberikan sesuai ketersediaan dana
                     pada Perseroan.

            3) Analisis Kemampuan Likuiditas Perseroan
                 Rencana Transaksi tidak berdampak secara material terhadap pendanaan, karena
                 sebagian besar menggunakan dana internal Perseroan. Selain itu, rencana pinjaman
                 ini diberikan sesuai ketersediaan dana pada Perseroan.

        f. Penilaian atas Manfaat dan Risiko dari Rencana Transaksi

            1) Faktor Manfaat

                 Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham dapat memberikan sejumlah manfaat
                 bagi Perseroan, baik dari sisi keuangan maupun strategis, sepanjang dilakukan
                 dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kemampuan keuangan
                 konsolidasian Perseroan. Adapun faktor-faktor manfaat tersebut diuraikan sebagai
                 berikut:

                 a) MTWI merupakan kontribusi pendapatan terbesar dalam grup BPII, sehingga
                    penguatan kondisi keuangan MTWI akan meningkatkan proforma keuangan
                    MTWI, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan kepada MTWI, secara
                    langsung juga akan meningkatkan kinerja konsolidasi BPII.
                 b) Sebagai pemegang saham pengendali, BPII berkepentingan untuk mendukung
                    perbaikan struktur keuangan MTWI. Pemberian pinjaman dapat membantu
                    meningkatkan likuiditas, memenuhi kebutuhan modal kerja, serta memperkuat
                    posisi keuangan MTWI, sekaligus meningkatkan kepercayaan (trust) pelanggan
                    kepada MTWI.
                 c) Perbaikan kinerja dan kondisi keuangan MTWI akan berdampak positif bagi BPII,
                    baik melalui peningkatan nilai investasi, penguatan laporan keuangan
                    konsolidasian, maupun peningkatan kemampuan MTWI dalam memberikan
                    kontribusi pendapatan dan laba kepada grup.


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          18
Page 19
                 d) Peningkatan kesehatan usaha MTWI diharapkan dapat mendukung keberlanjutan
                    operasional dan pertumbuhan bisnis grup secara keseluruhan, sehingga
                    memberikan manfaat jangka panjang bagi BPII dan para pemegang saham.
                 e) Pemberian pinjaman juga dapat mengurangi risiko penurunan nilai investasi BPII
                    pada MTWI, karena stabilitas dan kinerja MTWI yang lebih baik akan menjaga nilai
                    aset dan prospek usaha MTWI.
                 f)   Rasio Risk Based Capital (RBC) dan Rasio Kecukupan Investasi (RKI) MTWI tetap
                      berada pada tingkat yang baik dan memenuhi ketentuan yang berlaku, sehingga
                      pemberian pinjaman kepada MTWI tidak mengganggu kesehatan keuangan
                      maupun kemampuan BPII dalam memenuhi kewajibannya.
                 g) Kondisi RBC dan RKI yang kuat menunjukkan kapasitas keuangan BPII yang
                    memadai untuk memberikan dukungan kepada MTWI, sekaligus tetap menjaga
                    tingkat solvabilitas dan profil risiko perusahaan pada level yang sehat.
                 h) Dengan tetap terjaganya RBC dan RKI setelah Rencana Transaksi, BPII dapat
                    memperoleh manfaat dari perbaikan kinerja MTWI tanpa mengorbankan
                    kepatuhan terhadap regulasi maupun stabilitas keuangan perusahaan.

            2) Faktor Risiko

                 Dalam menjalankan usahanya, Perseroan menghadapi risiko yang dapat
                 mempengaruhi hasil usaha Perseroan apabila tidak diantisipasi dengan baik. Risiko
                 yang dihadapi oleh Perseroan secara keseluruhan dapat disusun berdasarkan
                 eksposur risiko (yaitu kombinasi dampak dan probabilitas) dari yang tertinggi sampai
                 terendah. Risiko-risiko yang dihadapi oleh Perseroan, diantaranya adalah:

                 a) Risiko Kredit atau Gagal Bayar
                      Risiko utama dalam pemberian pinjaman adalah ketidakmampuan pihak penerima
                      pinjaman untuk memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian, baik pembayaran
                      bunga maupun pelunasan pokok pinjaman. Kondisi tersebut dapat menyebabkan:
                      keterlambatan penerimaan arus kas, peningkatan piutang bermasalah dan potensi
                      kerugian keuangan bagi Perseroan.
                      Namun, melihat kondisi keuangan MTWI, kecil kemungkinan MTWI gagal
                      memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian, baik pembayaran bunga maupun
                      pelunasan pokok pinjaman.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            19
Page 20
                 b) Risiko Penurunan Kualitas Aset
                     Dana yang dipinjamkan akan dicatat sebagai piutang atau aset keuangan. Apabila
                     pihak peminjam mengalami kesulitan keuangan, Perseroan berpotensi
                     menghadapi: penurunan nilai aset, pembentukan cadangan kerugian penurunan
                     nilai dan penurunan kualitas laporan keuangan.
                 c) Risiko Arus Kas
                     Ketidaktepatan pembayaran bunga maupun pokok pinjaman dapat mengganggu
                     proyeksi arus kas konsolidasian Perseroan dan mempengaruhi stabilitas
                     keuangan.
                 d) Risiko Hukum dan Kepatuhan
                     Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham dapat menimbulkan risiko hukum
                     apabila: dokumentasi perjanjian tidak memadai, jaminan tidak memiliki kekuatan
                     hukum yang cukup, Rencana Transaksi tidak memenuhi ketentuan peraturan
                     perundang-undangan yang berlaku, terdapat pelanggaran terhadap ketentuan
                     internal Perseroan. Risiko ini dapat menimbulkan sengketa hukum maupun
                     potensi sanksi administratif.
                 e) Risiko Reputasi
                     Permasalahan dalam pelaksanaan pinjam-meminjam dana, termasuk gagal bayar
                     atau sengketa dengan pihak peminjam, dapat mempengaruhi reputasi dan
                     kepercayaan pemegang saham maupun pemangku kepentingan terhadap
                     Perseroan.
                 f) Risiko Pebagian Dividen
                     Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham berpotensi memengaruhi arus
                     kas dan posisi keuangan BPII, yang pada gilirannya dapat berdampak terhadap
                     kebijakan maupun besaran pembagian dividen kepada para pemegang
                     sahamnya.

21.2. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
        a. Analisis Kualitatif

            1) Riwayat Perusahaan dan Sifat Kegiatan Usaha
                 BPII dahulu didirikan dengan nama PT. Batavia Prosperindo Internasional di Jakarta
                 berdasarkan Akta Notaris No. 78 tanggal 12 November 1998 yang dibuat di hadapan
                 Irawan Soerodjo, S.H., Notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh
                 Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C-
                 18678HT.01.01.TH.99 tanggal 10 November 1999 dan telah diumumkan dalam Berita
                 Negara Republik Indonesia No. 65 tanggal 15 Agustus 2000, Tambahan No. 4522.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              20
Page 21
                 Berdasarkan Pernyataan Keputusan Edaran Pemegang Saham pada tanggal 4 April
                 2014 yang diaktakan oleh Dr. Irawan Soerodjo, SH., M.Si. Notaris di Jakarta, dengan
                 Akta Notaris No. 37 tanggal 4 April 2014, pemegang saham BPII menyetujui
                 perubahan nama menjadi PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk. Perubahan
                 tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
                 Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-00471.40.20.2014 tanggal
                 15 April 2014 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 104,
                 Tambahan No. 72117 tanggal 30 Desember 2014.
                 Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan pendirian BPII adalah
                 dalam aktivitas konsultasi manajemen lainnya.

            2) Analisis Industri dan Bisnis

                 a) Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

                     Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi didukung berbagai kebijakan
                     yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan ekonomi pada
                     triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada
                     triwulan sebelumnya sebesar 5,04% (yoy). Peningkatan ini terutama ditopang oleh
                     permintaan domestik dari konsumsi rumah tangga dan investasi sejalan dengan
                     dampak positif berbagai stimulus kebijakan Pemerintah dan bauran kebijakan
                     Bank Indonesia.

                     Dengan perkembangan ini, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2025
                     sebesar 5,11% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2024
                     sebesar 5,03% (yoy) dan diikuti dengan perbaikan kualitas ketenagakerjaan.
                     Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi diprakirakan berlanjut pada triwulan I
                     2026.

                     Konsumsi rumah tangga meningkat ditopang berbagai program stimulus
                     Pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter, ekspektasi konsumen yang terus
                     membaik serta peningkatan kegiatan ekonomi pada berbagai Hari Besar
                     Keagamaan Nasional (HBKN) di triwulan I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari
                     Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H. Investasi juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi
                     didorong oleh investasi Pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA),
                     serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             21
Page 22
                     Tabel Pertumbuhan Ekonomi




                     Sumber : Bank Indonesia


                 b) Neraca Pembayaran Indonesia

                     Secara keseluruhan tahun 2025, perkembangan NPI menunjukan ketahanan
                     sektor eksternal yang tetap terjaga, di Tengah meningkatnya ketidakpastian pasar
                     keuangan global. Transaksi berjalan tahun 2025 mencatat defisit yang terkendali
                     sebesar 1,5 miliar dolar AS (0,1% dar PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan
                     defisit tahun 2024 sebesar 8,6 miiliar dolar AS (0,6% dari PDB). Perkembangan
                     ini depengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring
                     dengan kinerja ekspor yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur.
                     Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder juga lebih tinggi dipengaruhi oleh
                     meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).
                     Sementara itu defisit neraca jasa meningkat didorong oleh kenaikan defisit jasa
                     telekomukasi sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan
                     komunikasi. Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat dipengaruhi oleh
                     kenaikan pembayaran deviden. Transaksi modal dan finasial tahun 2025 mencatat
                     defisit sebesar 4,2 miliar dolar AS didorong oleh keluarnya aliran modal asing pada
                     investasi portfolio dan investasi lainnya seiring dengan ketidakpastian pasar
                     keuangan global yang tinggi sepanjang tahun 2025. Posisi Cadangan devisa
                     meningkat dari 155,7 miliar dolar AS pada akhir Desember 2024 menjadi 156,5
                     milair dolar AS pada akhir Desember 2025. Posisi cadangan devisa tersebut
                     setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri
                     Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional ± 3 bulan impor.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                               22
Page 23
                     Grafik Neraca Pembayaran Indonesia




                     Sumber : Bank Indonesia.


                 c) Nilai Tukar Rupiah

                     Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah sempat meningkat akibat kebijakan tarif
                     sepihak oleh AS dan dinamika global lainnya, namun langkah stabilisasi Bank
                     Indonesia berhasil menahan pelemahan lebih dalam. Tekanan terhadap nilai tukar
                     Rupiah kembali tinggi sejak akhir Agustus 2025 akibat faktor global, seperti
                     penurunan FFR yang dinilai kurang akomodatif (less dovish) dan government
                     shutdown di AS, serta faktor domestik antara lain berupa kerusuhan sosial dan
                     kekhawatiran pasar atas melebarnya defisit fiskal.

                     Nilai tukar Rupiah hingga akhir Desember 2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS,
                     atau melemah 3,48% dari posisi akhir Desember 2024. Secara keseluruhan,
                     pergerakan Rupiah relatif stabil dibandingkan dengan kelompok mata uang
                     negara berkembang dan lebih kuat dibandingkan dengan mata uang negara maju
                     selain dolar AS. Stabilisasi nilai tukar Rupiah tidak hanya ditopang oleh konsistensi
                     kebijakan stabilisasi Bank Indonesia, tetapi juga oleh peningkatan konversi valuta
                     asing ke Rupiah oleh eksportir seiring dengan penguatan kebijakan Devisa Hasil
                     Ekspor Sumber Daya Alam.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                 23
Page 24
                     Grafik Pergerakan Nilai Tukar Rupiah




                     Sumber : Bloomberg


                 d) Inflasi

                     Stabilitas harga terjaga dengan inflasi yang rendah dalam kisaran sasaran 2,5±1%
                     dan mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK)
                     Desember 2025 tercatat rendah sebesar 2,92% (yoy). Inflasi inti terjaga rendah
                     sebesar 2,38% (yoy), seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar
                     ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported
                     inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah
                     Bank Indonesia, serta dampak positif dari digitalisasi. Inflasi volatile food (VF)
                     tercatat 6,21% (yoy).

                     Sementara itu, inflasi kelompok administered prices (AP) tercatat sebesar 1,93%
                     (yoy), sejalan dengan terbatasnya kebijakan penyesuaian harga yang diatur oleh
                     Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK pada 2026 dan 2027
                     akan tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1% didukung oleh komitmen Bank
                     Indonesia untuk terus konsisten memperkuat kebijakan moneter serta sinergi
                     dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              24
Page 25
                     Grafik Inflasi Gabungan Kota IHK




                     Sumber : BPS, diolah


                 e) Analisis Industri Asuransi

                     (1) Tinjauan Industri Asuransi di Indonesia

                          Industri asuransi Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan momentum
                          pertumbuhan yang stabil dan ketahanan dalam menghadapi dinamika
                          ekonomi nasional dan global. Meskipun kontribusi sektor ini terhadap
                          perekonomian nasional masih relatif rendah dibandingkan negaranegara lain,
                          kinerja industri secara keseluruhan tetap mencerminkan fundamental yang
                          solid dan prospek jangka panjang yang menjanjikan. Sepanjang 2025, tingkat
                          penetrasi asuransi di Indonesia tercatat sekitar 2,72% dari Produk Domestik
                          Bruto (PDB), menunjukkan sedikit peningkatan dari posisi sebelumnya namun
                          masih berada pada level yang tergolong rendah di pasar global dan regional.
                          Angka ini mencerminkan masih besarnya ruang pertumbuhan dan potensi
                          perluasan pasar, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat
                          terhadap manfaat perlindungan risiko finansial.

                          Kinerja pendapatan premi pada tahun 2025 bergerak bervariasi antar
                          segmen. Secara komersial, total pendapatan premi asuransi komersial
                          mencatat sedikit kontraksi secara tahunan, namun asuransi umum dan
                          reasuransi berhasil tumbuh positif dengan pencapaian premi mencapai lebih

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            25
Page 26
                         dari Rp150 triliun, naik sekitar 1,5% YoY. Ini menunjukkan bahwa segmen
                         non‑jiwa tetap menjadi pendorong pertumbuhan di tengah ketidakpastian
                         ekonomi. Sementara itu, industri asuransi jiwa menghadapi dinamika yang
                         lebih kompleks, pertumbuhan pendapatan premi tidak sebesar beberapa
                         tahun sebelumnya. Meski demikian, pendapatan premi tetap menunjukkan
                         stabilitas di tengah penyesuaian produk dan strategi distribusi untuk
                         menyesuaikan dengan kebutuhan nasabah modern.

                         Selain kinerja premi, klaim yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi juga
                         menjadi indikator penting kesehatan industri. Pada tahun 2025, klaim pada
                         lini komersial mengalami penurunan, yang mencerminkan baik perbaikan
                         manajemen risiko maupun stabilitas frekuensi klaim pada produk‑produk
                         tertentu, sementara klaim di segmen umum mencatat pertumbuhan moderat
                         sejalan dengan besarnya portofolio risiko yang diasuransikan. Permodalan
                         industri tetap berada pada posisi yang kuat, dengan Risk Based Capital (RBC)
                         industri asuransi secara rata‑rata berada jauh di atas ambang batas minimum
                         yang ditetapkan oleh regulator. Ini menunjukkan bahwa perusahaan asuransi
                         memiliki cadangan modal yang memadai untuk menanggung berbagai risiko
                         bisnis, serta mampu memenuhi kewajiban terhadap pemegang polis.

                         Secara keseluruhan, industri asuransi Indonesia pada tahun 2025 tetap
                         menunjukkan daya tahan terhadap tekanan eksternal dan tren ekonomi
                         makro, dengan pertumbuhan aset, perilaku klaim yang stabil, serta
                         permodalan yang kuat. Dengan terus didukung oleh upaya edukasi pasar,
                         inovasi produk, serta peningkatan inklusi keuangan, sektor asuransi
                         diposisikan untuk memainkan peran lebih besar dalam mekanisme
                         pengelolaan risiko nasional dan memberikan kontribusi nyata terhadap
                         stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

                     (2) Prospek Usaha

                         Industri asuransi di Indonesia menunjukkan prospek yang semakin positif
                         seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil, meningkatnya
                         kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan risiko di berbagai
                         sektor. Kondisi tersebut memberikan peluang yang luas bagi Perseroan untuk
                         terus memperluas pangsa pasar dan meningkatkan kinerja usaha secara
                         berkelanjutan.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            26
Page 27
                         Selain itu, potensi pasar industri asuransi di Indonesia masih sangat besar.
                         Hal ini tercermin dari tingkat penetrasi asuransi yang relatif rendah
                         dibandingkan dengan negaranegara maju. Dengan jumlah penduduk yang
                         besar dan terus bertumbuh, Perseroan melihat adanya peluang signifikan
                         untuk meningkatkan jumlah pemegang polis melalui strategi pemasaran yang
                         tepat serta program edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat
                         mengenai pentingnya perlindungan asuransi. Di sisi lain, peningkatan
                         kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan finansial,
                         khususnya di bidang kesehatan, turut menjadi faktor pendorong utama
                         pertumbuhan industri. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring
                         dengan meningkatnya risiko kesehatan dan ketidakpastian ekonomi. Oleh
                         karena itu, Perseroan berkomitmen untuk terus mengembangkan produk-
                         produk asuransi yang inovatif, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan
                         masyarakat.

            3) Analisis Operasional dan Prospek BPII

                 Sesuai pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, BPII bergerak dalam bidang konsultasi
                 manajemen lainnya dan perusahaan holding. Data yang diperoleh dari pihak
                 menajemen, sebagai perusahaan holding pendapatan BPII berasal dari pendapatan
                 jasa manajemen investasi & lainnya, pendapatan jasa transportasi, pendapatan
                 keuangan, pendapatan laba perdagangan alat portofolio efek, pendapatan hasil jasa
                 asuransi dan dpendapatan lain-lain, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

                 a) Pendapatan Jasa Manajemen Investasi dan manajemen lainnya

                     Pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2025 sebesar Rp. 400,22 miliar, mengalami
                     penurunan sebesar Rp. 9,47 miliar atau turun 2,31%, dibandingkan dengan
                     pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp. 409,70 miliar.

                     Pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp. 409,70 miliar, mengalami
                     penurunan sebesar Rp. 11,40 miliar atau turun 2,71%, dibandingkan dengan
                     pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 421,10 miliar.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            27
Page 28
                     Pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 421,10 miliar, mengalami
                     penurunan sebesar Rp. 52,34 miliar atau turun 11,06%, dibandingkan dengan
                     pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2022 sebesar Rp. 473,45 miliar.

                     Pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2022 sebesar Rp. 473,45 miliar, mengalami
                     kenaikan sebesar Rp. 60,92 miliar atau naik 14,77%, dibandingkan dengan
                     pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp. 412,53 miliar.

                     Pendapatan dari jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp 412,53 miliar mengalami kenaikan
                     sebesar Rp 68,76 miliar atau naik 20,00% dibandingkan dengan pendapatan dari
                     jasa manajemen investasi dan manajemen lainnya sampai tanggal 31 Desember
                     2020 sebesar Rp. 343,76 milliar.

                 b) Pendapatan Jasa Transportasi

                     Pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2025
                     sebesar Rp. 616,31 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 77,78 miliar atau naik
                     14,44%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan
                     tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp. 538,52 miliar.

                     Pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2024
                     sebesar Rp. 538,52 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 100,01 miliar atau
                     naik 22,81%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa transportasi sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 438,50 miliar.

                     Pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2023
                     sebesar Rp. 438,50 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 107,98 miliar atau
                     naik 32,67%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa transportasi sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2022 sebesar Rp. 330,52 miliar.

                     Pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2022
                     sebesar Rp. 330,52 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 122,20 miliar atau
                     naik 58,66%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa transportasi sampai
                     dengan tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp. 208,32 miliar.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            28
Page 29
                     Pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2021
                     sebesar Rp. 208,32 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 50,40 miliar atau naik
                     31,91%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa transportasi sampai dengan
                     tanggal 31 Desember 2020 sebesar Rp. 157,92 miliar.

                 c) Pendapatan Keuangan

                     Pendapatan keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2025 sebesar
                     Rp. 40,58 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 7,45 miliar atau turun
                     15,51%, dibandingkan dengan pendapatan keuangan sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2024 sebesar Rp. 48,04 miliar.

                     Pendapatan keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2024 sebesar
                     Rp. 48,04 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 14,32 miliar atau naik 42,48%,
                     dibandingkan dengan pendapatan keuangan sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2023 sebesar Rp. 33,72 miliar.

                     Pendapatan keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2023 sebesar
                     Rp. 33,72 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 17,46 miliar atau naik
                     107,41%, dibandingkan dengan pendapatan keuangan sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2022 sebesar Rp. 16,25 miliar.

                     Pendapatan keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2022 sebesar
                     Rp. 16,25 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 6,31 miliar atau naik 63,51%,
                     dibandingkan dengan pendapatan keuangan sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2021 sebesar Rp. 9,94 miliar.

                     Pendapatan keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2021 sebesar
                     Rp. 9,94 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 3,21 miliar atau turun 24,45%,
                     dibandingkan dengan pendapatan keuangan sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2020 sebesar Rp. 13,16 miliar.

                 d) Pendapatan Laba Perdagangan Atas Portofolio Efek

                     Pendapatan dari laba perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2025 sebesar Rp. 10,32 miliar, mengalami kenaikan sebesar
                     Rp. 5,19 miliar atau naik 95,56%, dibandingkan dengan pendapatan dari laba
                     perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal 31 Desember 2024
                     sebesar Rp. 5,43 miliar.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            29
Page 30
                     Pendapatan dari laba perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2024 sebesar Rp. 5,43 miliar, mengalami penurunan sebesar
                     Rp. 794 juta atau turun 12,74%, dibandingkan dengan pendapatan dari laba
                     perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal 31 Desember 2023
                     sebesar Rp. 6,23 miliar.

                     Pendapatan dari laba perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2023 sebesar Rp. 6,23 miliar, mengalami kenaikan sebesar
                     Rp. 3,12 miliar atau naik 100,63%, dibandingkan dengan pendapatan dari laba
                     perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal 31 Desember 2022
                     sebesar Rp. 3,10 miliar.

                     Pendapatan dari laba perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2022 sebesar Rp. 3,10 miliar, mengalami penurunan sebesar
                     Rp. 6,42 miliar atau turun 67,40%, dibandingkan dengan pendapatan dari laba
                     perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal 31 Desember 2021
                     sebesar Rp. 9,52 miliar.

                     Pendapatan dari laba perdagangan atas portofolio efek sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2021 sebesar Rp. 9,52 miliar, mengalami kenaikan sebesar
                     Rp. 10,12 miliar, dibandingkan dengan pendapatan dari laba perdagangan atas
                     portofolio efek sampai dengan tanggal 31 Desember 2020 sebesar minus Rp. 599
                     juta.

                 e) Pendapatan Jasa Asuransi

                     Pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal 31 Desember 2025
                     sebesar Rp. 130,49 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 13,19 miliar atau naik
                     11,25%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan
                     tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp. 117,29 miliar.

                     Pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal 31 Desember 2024
                     sebesar Rp. 117,29 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 79,44 miliar atau naik
                     209,84%, dibandingkan dengan pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan
                     tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 37,85 miliar.

                     Pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal 31 Desember 2023
                     sebesar Rp. 37,85 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 43,81 miliar,
                     dibandingkan dengan pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2022 sebesar minus Rp. 5,95 miliar.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            30
Page 31
                     Pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal 31 Desember 2022
                     sebesar minus Rp. 5,95 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 18,42 miliar,
                     dibandingkan dengan pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2021 sebesar Rp. 12,47 miliar.

                     Pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal 31 Desember 2021
                     sebesar Rp. 12,47 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 9,06 miliar,
                     dibandingkan dengan pendapatan dari jasa asuransi sampai dengan tanggal
                     31 Desember 2020 sebesar Rp. 21,53 miliar.

            4) Alasan Dilakukan Rencana Transaksi

                 a) Bisnis asuransi adalah bisnis kepercayaan para pemangku kepentingan, termasuk
                    nasabah, mitra bisnis, regulator, dan investor. Oleh karena itu, dukungan terhadap
                    kondisi keuangan dan operasional MTWI menjadi penting untuk menjaga
                    kepercayaan tersebut.
                 b) Berdasarkan proforma keuangan, pemberian pinjaman kepada MTWI diharapkan
                    dapat memperkuat kondisi keuangan dan likuiditas MTWI, sehingga mendukung
                    kelancaran operasional perusahaan dan meningkatkan prospek kinerja usaha ke
                    depan.
                 c) BPII sebagai pemegang saham pengendali MTWI memiliki kepentingan dan
                    tanggung jawab untuk mendukung keberlangsungan usaha MTWI, termasuk
                    melalui penyediaan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk menjaga
                    stabilitas dan pengembangan bisnis.
                 d) Pemberian pinjaman kepada MTWI mencerminkan komitmen BPII sebagai
                    pemegang saham pengendali dalam mendukung MTWI, yang pada gilirannya
                    dapat meningkatkan kepercayaan nasabah, mitra usaha, kreditur, dan pemangku
                    kepentingan lainnya terhadap prospek dan keberlanjutan usaha MTWI.
                 e) Sebagai pemegang saham pengendali, BPII bertanggung jawab untuk menjaga
                    dan meningkatkan nilai investasi pada MTWI, sehingga dukungan pendanaan
                    melalui pinjaman merupakan langkah yang sejalan dengan upaya menjaga
                    kesehatan keuangan dan kinerja MTWI.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             31
Page 32
            5) Keuntungan dan Kerugian yang Bersifat Kualitatif atas Rencana Transaksi

                 a) Keuntungan dari Rencana Transaksi

                     (1) Memperoleh Pendapatan Bunga atas Pinjaman
                         Melalui Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham, Perseroan memiliki
                         potensi untuk memperoleh tambahan pendapatan berupa bunga sesuai
                         perjanjian.

                     (2) Menjaga dan Meningkatkan Nilai Investasi
                         Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham yang dilakukan BPII kepada
                         MTWI merupakan dukungan pendanaan untuk membantu memperbaiki
                         kondisi keuangan dan kinerja MTWI sehingga nilai investasi BPII sebagai
                         pemegang saham dapat terjaga atau meningkat.

                     (3) Memperkuat Sinergi Dalam Kelompok Usaha
                         Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham menunjukkan adanya
                         dukungan dan koordinasi antar entitas dalam grup untuk mencapai tujuan
                         bisnis dan pertumbuhan bersama, dalam rangka meningkatkan nilai tambah
                         bagi pemegang saham dan mendukung pertumbuhan usaha jangka panjang.

                     (4) Memperkuat Kepercayaan Pemangku Kepentingan
                         Dukungan dari BPII sebagai pemegang saham pengendali menunjukkan
                         komitmen terhadap keberlangsungan usaha MTWI, yang dapat meningkatkan
                         kepercayaan nasabah, mitra bisnis, kreditur, regulator, dan investor.

                 b) Kerugian atas Rencana Transaksi

                     (1) Risiko Sosial Ekonomi dan Politik Indonesia

                         situasi sosial, ekonomi, dan politik yang dapat sewaktu-waktu mengganggu
                         kegiatan asuransi di Indonesia.

                     (2) Opportunity Cost
                         Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham berpotensi mengurangi
                         kesempatan Perseroan untuk menggunakan dana tersebut sebagai alternatif
                         investasi lain yang mungkin memberikan tingkat pengembalian yang lebih
                         tinggi, sehingga Perseroan kehilangan potensi keuntungan dari alternatif
                         penggunaan dana yang mungkin lebih produktif.


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                        32
Page 33
                     (3) Risiko Reputasi
                         Jika setelah memperoleh pinjaman kinerja MTWI tidak mengalami perbaikan
                         atau menghadapi permasalahan keuangan, hal tersebut berpotensi
                         menimbulkan persepsi negatif terhadap keputusan investasi dan pengelolaan
                         grup oleh BPII.

                    Meskipun terdapat risiko sebagaimana diuraikan di atas, Perseroan menilai risiko
                    tersebut dapat dikelola dan diminimalkan mengingat BPII merupakan pemegang
                    saham pengendali MTWI, memiliki pemahaman yang memadai atas kondisi usaha
                    MTWI, serta berdasarkan proforma keuangan sebelum Rencana Transaksi, kondisi
                    likuiditas, RBC, dan RKI MTWI dalam kondisi bagus dan dengan adanya Rencana
                    Transaksi ini, akan memperbaiki proforma keuangan MTWI dan akan
                    meningkatkan kepercayaan kepada MTWI sebagai perusahaan jasa asuransi.

            6) Analisis Dampak Leverage pada Keuangan Perusahaan di Masa yang akan
               Datang, yang dibandingkan dengan Industri yang Sejenis dan Sebanding
                 Rencana pemberian pinjaman oleh BPII kepada MTWI dapat menimbulkan tambahan
                 utang pada BPII, apabila Rencana Transaksi memerlukan tambahan pinjaman bank.
                 Dengan demikian, Rencana Transaksi ini dapat meningkatkan tingkat leverage atau
                 beban utang bagi BPII.
                 Rencana Transaksi akan menyebabkan perubahan komposisi aset BPII, yaitu
                 pengalihan kas internal dan utang bank apabila diperlukan menjadi penambahan
                 piutang pinjaman kepada anak perusahaan (MTWI). Oleh karena itu, dampak utama
                 yang perlu diperhatikan adalah aspek likuiditas dan kualitas aset, bukan peningkatan
                 leverage Perseroan.
                 Berdasarkan proforma keuangan setelah Rencana Transaksi, MTWI diperkirakan
                 tetap memiliki tingkat permodalan, likuiditas, serta rasio solvabilitas yang memadai
                 untuk mendukung kegiatan usaha dan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis
                 maupun pemangku kepentingan lainnya. Rasio Risk Based Capital (RBC) dan Rasio
                 Kecukupan Investasi (RKI) diperkirakan tetap berada di atas ketentuan minimum yang
                 berlaku.
                 Dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan holding maupun perusahaan asuransi
                 yang memiliki anak usaha strategis, dukungan pendanaan kepada entitas anak
                 merupakan praktik yang umum dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional,
                 memperkuat struktur permodalan, dan mendukung pertumbuhan usaha kelompok
                 usaha. Oleh karena itu, Rencana Transaksi ini masih sejalan dengan praktik yang
                 lazim diterapkan dalam industri sejenis.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            33
Page 34
                 Secara keseluruhan, Rencana Transaksi tidak diperkirakan memberikan dampak
                 negatif yang material terhadap tingkat leverage BPII di masa mendatang, dan justru
                 berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila perbaikan kinerja MTWI dapat
                 terealisasi sesuai dengan rencana bisnis yang telah ditetapkan.

        b. Analisis Kuantitatif

            1) Penilaian Kinerja Historis

                 Analisis kinerja historis Perseroan didasarkan pada laporan keuangan konsolidasian
                 yang berakhir tanggal 31 Desember 2021 2022, 2023, 2024 dan 2025:
                 a) Realisasi Posisi Keuangan Konsolidasian
                                                                                                                                (Rp. 000.000,-)




                                                  URAIAN                           2021         2022         2023         2024         2025
                                                                                 Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des
                                                                                  Audited      Audited      Audited      Audited      Audited

                      Pendapatan
                      o Jasa Manajemen Investasi dan Lainnya                       412.531      473.451      421.108      409.701      400.229
                      o Pembiayaan Konsumen                                              -            -            -            -            -
                      o Pendapatan Jasa Transportasi                               208.326      330.527      438.509      538.525      616.313
                      o Pendapatan Keuangan                                          9.943       16.257       33.720       48.042       40.589
                      o Laba Perdagangan Atas Portofolio Efek                        9.527        3.106        6.231        5.437       10.632
                      o Hasil Jasa Asuransi                                         12.473       (5.954)      37.858      117.299      130.497
                      o Pendapatan Lain-lain                                        11.467       21.685       33.809       20.822       41.323
                         Jumlah Pendapatan Usaha                                   664.267      839.071      971.235    1.139.826    1.239.584

                      Beban Usaha
                      o Pemasaran                                                  200.738      240.140      202.885      202.057      206.515
                      o Gaji dan Tunjangan                                         100.827      117.007      128.279      155.698      179.566
                      o Beban Jasa Transportasi                                    122.463      190.335      288.453      357.244      413.617
                      o Keuangan                                                    36.310       68.773       94.349       95.590      121.463
                      o Umum dan Administrasi                                       45.423       58.664       55.881       79.910       95.755
                      o Kerugian Penurunan Nilai                                     1.945       11.955        7.711        5.393        5.909
                      o Penyusutan                                                   6.336        6.716        7.653       10.639       20.164
                         Jumlah Beban Usaha                                        514.042      693.589      785.213      906.531    1.042.989

                      o Porsi Rugi dari Entitas Asosiasi                                 -            -          (47)      (7.989)      (4.203)
                      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Final & Pajak Penghasilan          150.225      145.482      185.974      225.307      192.393

                      (Beban) Manfaat Pajak Penghasilan                            (37.589)     (40.461)     (47.167)     (57.159)     (48.328)

                      Operasi Yang Dihentikan
                      o Laba (Rugi) T ahun Berjalan dari Operasi yg dihentikan      46.396      525.133            -            -            -

                      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                                   159.031      630.155      138.807      168.147      144.065




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                     34
Page 35
                                                                                                                                  Lampiran BPII - 1
                                                                                                                                    (Rp. 000.000,-)



                                                URAIAN                                 2021         2022         2023         2024         2025
                                                                                     Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des
                                                                                      Audited      Audited      Audited      Audited      Audited

                      LIABILITAS
                      o Utang Bank                                                     294.691      225.574      503.829    1.071.265    1.380.499
                      o Pinjam an Pihak Ketiga                                         295.914            -            -            -            -
                      o Utang Usaha Jasa Transportasi                                    5.609        9.800            -            -            -
                      o Utang Nasabah                                                   28.253       30.462       21.618       30.180       28.999
                      o Utang pada Lem baga Kliring dan Penjaminan                           -            -            -            -            -
                      o Utang Klaim Pihak Ketiga                                        18.261        9.854           13           24           72
                      o Liabilitas Asuransi untuk Sisa Pertanggungan                   125.426      203.594      837.254    1.278.839    2.000.839
                      o Liabilitas Asuransi untuk Klaim Terjadi                        134.750      327.508      475.679      683.064    1.108.833
                      o Utang Reasuransi                                                77.448      141.176            -            -            -
                      o Utang Koasuransi                                                   402        1.205            -            -            -
                      o Utang Komisi                                                    18.303       33.500        2.278        3.382          921
                      o Utang Lain-lain Pihak Ketiga                                    16.125       33.324       67.758      132.541      120.271
                      o Beban Akrual Pihak Ketiga                                       36.775       20.061       20.832       20.228       31.510
                      o Utang Jam inan Pelanggan                                             -       35.698       45.745       27.944        4.935
                      o Liabilitas Kontrak                                               7.229       13.538          333          719        9.546
                      o Utang Pajak                                                     18.566        9.264       15.005       20.659       19.230
                      o Utang Pembiayaan Konsumen                                      392.496      667.988      483.200      408.304      229.396
                      o Liabilitas Sewa                                                  9.339        1.217       10.040       10.163        8.426
                      o Liabilitas Imbalan Kerja                                        57.518       33.636       37.441       33.968       34.445
                      o Liabilitas Pajak Tangguhan                                       7.678        9.659       11.102       17.189       23.170
                          Total Liabilitas                                           1.544.783    1.807.058    2.532.127    3.738.468    5.001.093

                      EKUITAS
                      o Modal Disetor                                                   56.222       51.550       51.550       51.550       49.421
                      o Tambahan Setoran Modal                                         332.960       39.894       39.024       39.024     (188.677)
                      o Proforma Modal Yang Berasal dari Transaksi Restrukturisasi           -            -            -            -            -
                      o Saham Treasuri                                                (128.432)    (213.744)    (229.831)    (229.831)           -
                      o Selisih Atas T ransaksi Dengan Kepentingan Non Pengendali      (55.045)     (55.045)     (55.045)     (55.045)     (55.045)
                      o Cadangan Lain-lain                                                (452)        (452)        (452)        (452)        (452)
                      o Saldo Laba
                        - Telah Ditentukan PengunaanyaDicadangkan                          325          325          500          500          500
                        - Belum Ditentukan Penggunaanya                                708.529      792.417    1.345.310    1.363.736    1.433.657
                        - Laba (Rugi) Tahun Berjalan                                   159.031      630.155      138.807      173.801      144.065
                      o Penghasilan Komrehensif Lain                                    19.560      121.434       63.409       60.216       60.777
                          Total Ekuitas yang Dapat Diatribusikan kpd Entitas Induk   1.092.700    1.366.533    1.353.273    1.403.499    1.444.246

                      o   Kepentingan Non Pengendali                                   326.587      105.154      305.914      348.206      376.020
                          Total Ekuitas Neto                                         1.419.286    1.471.686    1.659.187    1.751.705    1.820.265

                      Total Liabilitas dan Ekuitas                                   2.964.069    3.278.744    4.191.314    5.490.173    6.821.358



                     (1) Total Aset Konsolidasian

                           Total aset konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar
                           Rp. 6,82 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,33 triliun atau naik
                           sebesar 24,25% dibandingkan dengan total aset konsolidasian pada tanggal
                           31 Desember 2024 sebesar Rp. 5,49 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                           adalah kenaikan aset asuransi untuk sisa pertanggungan, kenaikan aset
                           asuransi untuk klaim terjadi.

                           Total aset konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar
                           Rp. 5,49 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,29 triliun atau naik
                           sebesar 30,99% dibandingkan dengan total aset konsolidasian pada tanggal
                           31 Desember 2023 sebesar Rp. 4,19 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                           adalah adalah kenaikan aset asuransi untuk sisa pertanggungan, kenaikan
                           aset asuransi untuk klaim terjadi dan kenaikan aset tetap.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                         35
Page 36
                         Total aset konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2023 sebesar
                         Rp. 4,19 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 912,56 miliar atau naik
                         sebesar 27,83% dibandingkan dengan total aset konsolidasian pada tanggal
                         31 Desember 2022 sebesar Rp. 3,27 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                         adalah kenaikan portofolio efek pihak ketiga, kenaikan piutang premi,
                         kenaikan aset reasuransi estimasi klaim retensi sendiri dan kenaikan aset
                         tetap.

                         Total aset konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2022 sebesar
                         Rp. 3,27 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 314,67 miliar atau naik
                         sebesar 10,62% dibandingkan dengan total aset konsolidasian pada tanggal
                         31 Desember 2021 sebesar Rp. 2,96 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                         adalah kenaikan kas dan setara kas, kenaikan portofolio efek pihak ketiga,
                         premi yang belum merupakan pendapatan dan kenaikan aset tetap.

                         Total aset konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2021 sebesar
                         Rp. 2,96 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 165,16 miliar atau naik
                         sebesar 5,90% dibandingkan dengan total aset konsolidasian pada tanggal
                         31 Desember 2020 sebesar Rp. 2,79 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                         adalah kenaikan portofolio efek pihak berelasi, kenaikan piutang premi,
                         kenaikan piutang reasuransi dan kenaikan aset tetap.

                     (2) Total Liabilitas Konsolidasian

                         Total liabilitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar
                         Rp. 5,00 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,26 triliun atau naik
                         sebesar 33,77% dibandingkan dengan total liabilitas konsolidasian pada
                         tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp. 3,73 triliun. Penyebab kenaikan
                         tersebut adalah kenaikan liabilitas asuransi untuk sisa pertanggungan dan
                         kenaikan liabilitas asuransi untuk klaim terjadi.

                         Total liabilitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar
                         Rp. 3,73 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,20 triliun atau naik
                         sebesar 47,64% dibandingkan dengan total liabilitas konsolidasian pada
                         tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 2,53 triliun. Penyebab kenaikan
                         tersebut adalah kenaikan liabilitas asuransi untuk sisa pertanggungan dan
                         kenaikan liabilitas asuransi untuk klaim terjadi.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          36
Page 37
                         Total liabilitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2023 sebesar
                         Rp. 2,53 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 725,06 miliar atau naik
                         sebesar 40,12% dibandingkan dengan total liabilitas konsolidasian pada
                         tanggal 31 Desember 2022 sebesar Rp. 1,80 triliun. Penyebab kenaikan
                         tersebut adalah kenaikan utang bank, kenaikan liabilitas asuransi untuk sisa
                         pertanggungan dan kenaikan liabilitas asuransi untuk klaim terjadi.

                         Total liabilitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2022 sebesar
                         Rp. 1,80 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 262,27 miliar atau naik
                         sebesar 16,98% dibandingkan dengan total liabilitas konsolidasian pada
                         tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp. 1,54 triliun. Penyebab kenaikan
                         tersebut adalah kenaikan liabilitas reasuransi estimasi klaim retensi sendiri,
                         kenaikan premi yang bukan merupakan pendapatan, kenaikan utang
                         reasuransi dan kenaikan liabilitas sewa.

                         Total liabilitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2021 sebesar
                         Rp. 1,54 triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 133,96 miliar atau naik
                         sebesar 9,50% dibandingkan dengan total liabilitas konsolidasian pada
                         tanggal 31 Desember 2020 sebesar Rp. 1,41 triliun. Penyebab kenaikan
                         tersebut adalah kenaikan utang bank, kenaikan pinjaman pihak ketiga,
                         kenaikan utang reasuransi dan kenaikan liabilitas sewa.

                     (3) Ekuitas Konsolidasian

                         Ekuitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar Rp.1,82
                         triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 68,56 miliar atau naik sebesar 3,91%
                         dibandingkan dengan ekuitas konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2024
                         sebesar Rp. 1,75 triliun. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                         akumulasi saldo laba.

                         Ekuitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp.1,75
                         triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 92,51 miliar atau naik sebesar 5,58%
                         dibandingkan dengan ekuitas konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2023
                         sebesar Rp. 1,65 triliun. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                         akumulasi saldo laba.

                         Ekuitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2023 sebesar Rp. 1,65
                         triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 187,50 miliar atau naik sebesar
                         12,74% dibandingkan dengan ekuitas konsolidasian pada tanggal
                         31 Desember 2022 sebesar Rp. 1,47 triliun. Penyebab kenaikan tersebut
                         adalah kenaikan akumulasi laba.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              37
Page 38
                            Ekuitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2022 sebesar Rp. 1,47
                            triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 52,40 miliar atau naik sebesar 3,69%
                            dibandingkan dengan ekuitas konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2021
                            sebesar Rp. 1,41 triliun. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                            akumulasi laba.

                            Ekuitas konsolidasian BPII pada tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp. 1,41
                            triliun, mengalami kenaikan sebesar Rp. 31,20 miliar atau naik sebesar 2,25%
                            dibandingkan dengan ekuitas konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2020
                            sebesar Rp. 1,38 triliun. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                            akumulasi laba.

                 b) Realisasi Laba Rugi Konsolidasian
                                                                                                                                (Rp. 000.000,-)




                                                  URAIAN                           2021         2022         2023         2024         2025
                                                                                 Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des
                                                                                  Audited      Audited      Audited      Audited      Audited

                      Pendapatan
                      o Jasa Manajemen Investasi dan Lainnya                       412.531      473.451      421.108      409.701      400.229
                      o Pembiayaan Konsumen                                              -            -            -            -            -
                      o Pendapatan Jasa Transportasi                               208.326      330.527      438.509      538.525      616.313
                      o Pendapatan Keuangan                                          9.943       16.257       33.720       48.042       40.589
                      o Laba Perdagangan Atas Fortofolio Efek                        9.527        3.106        6.231        5.437       10.632
                      o Hasil Jasa Asuransi                                         12.473       (5.954)      37.858      117.299      130.497
                      o Pendapatan Lain-lain                                        11.467       21.685       33.809       20.822       41.323
                         Jumlah Pendapatan Usaha                                   664.267      839.071      971.235    1.139.826    1.239.584

                      Beban Usaha
                      o Pemasaran                                                  200.738      240.140      202.885      202.057      206.515
                      o Gaji dan Tunjangan                                         100.827      117.007      128.279      155.698      179.566
                      o Beban Jasa Transportasi                                    122.463      190.335      288.453      357.244      413.617
                      o Keuangan                                                    36.310       68.773       94.349       95.590      121.463
                      o Umum dan Administrasi                                       45.423       58.664       55.881       79.910       95.755
                      o Kerugian Penurunan Nilai                                     1.945       11.955        7.711        5.393        5.909
                      o Penyusutan                                                   6.336        6.716        7.653       10.639       20.164
                         Jumlah Beban Usaha                                        514.042      693.589      785.213      906.531    1.042.989

                      o Porsi Rugi dari Entitas Asosiasi                                 -            -          (47)      (7.989)      (4.203)
                      Laba (Rugi) Sebelum Pajak Final & Pajak Penghasilan          150.225      145.482      185.974      225.307      192.393

                      (Beban) Manfaat Pajak Penghasilan                            (37.589)     (40.461)     (47.167)     (57.159)     (48.328)

                      Operasi Yang Dihentikan
                      o Laba (Rugi) T ahun Berjalan dari Operasi yg dihentikan      46.396      525.133            -            -            -

                      Laba (Rugi) Tahun Berjalan                                   159.031      630.155      138.807      168.147      144.065




                     (1) Pendapatan Konsolidasian

                            Pendapatan konsolidasian BPII selama tahun 2025 sebesar Rp. 1,23 triliun,
                            mengalami kenaikan sebesar Rp. 99,75 miliar atau naik sebesar 8,75%
                            dibandingkan dengan pendapatan konsolidasian selama tahun 2024 sebesar
                            Rp. 1,13 triliun. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan pendapatan
                            jasa transportasi dan kenaikan pendapatan hasil jasa asuransi.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                     38
Page 39
                         Pendapatan konsolidasian BPII selama tahun 2024 sebesar Rp. 1,13 triliun,
                         mengalami kenaikan sebesar Rp. 168,59 miliar atau naik sebesar 17,36%
                         dibandingkan dengan pendapatan konsolidasian selama tahun 2023 sebesar
                         Rp. 971,23 milliar. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan pendapatan
                         jasa transportasi dan kenaikan pendapatan hasil jasa asuransi.

                         Pendapatan konsolidasian BPII selama tahun 2023 sebesar Rp. 971,23
                         miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 132,16 miliar atau naik sebesar
                         15,75% dibandingkan dengan pendapatan konsolidasian selama tahun 2022
                         sebesar Rp. 839,07 milliar. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                         pendapatan jasa transportasi dan kenaikan pendapatan hasil jasa asuransi.

                         Pendapatan konsolidasian BPII selama tahun 2022 sebesar Rp. 839,07
                         miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 174,80 miliar atau naik sebesar
                         26,32% dibandingkan dengan pendapatan konsolidasian selama tahun 2021
                         sebesar Rp. 664,26 milliar. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan jasa
                         manajemen investasi & Lainnya dan kenaikan jasa transportasi.

                         Pendapatan konsolidasian BPII selama tahun 2021 sebesar Rp. 664,26
                         miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 228,21 miliar atau turun sebesar
                         25,57% dibandingkan dengan pendapatan konsolidasian selama tahun 2020
                         sebesar Rp. 892,48 milliar. Penyebab penurunan tersebut adalah penurunan
                         pendapatan jasa manajemen investasi & lainnya dan pada tahun 2021 BPII
                         tidak melayani jasa pembiayaan konsumen.

                     (2) Laba Tahun Berjalan Setelah Pajak Konsolidasian

                         Laba tahun berjalan setelah pajak konsolidasian BPII selama tahun 2025
                         sebesar Rp. 144,06 miliar, mengalami penurun sebesar Rp. 24,08 miliar atau
                         turun sebesar 14,32% dibandingkan dengan laba tahun berjalan setelah pajak
                         konsolidasian selama tahun 2024 sebesar Rp. 168,14 miliar. Penyebab
                         penurunan tersebut adalah kenaikan beban usaha.

                         Laba tahun berjalan setelah pajak konsolidasian BPII selama tahun 2024
                         sebesar Rp. 168,14 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 29,34 miliar atau
                         naik sebesar 21,14% dibandingkan dengan laba tahun berjalan setelah pajak
                         konsolidasian selama tahun 2023 sebesar Rp. 138,80 miliar. Penyebab
                         kenaikan tersebut adalah kenaikan pendapatan.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                           39
Page 40
                          Laba tahun berjalan setelah pajak konsolidasian BPII selama tahun 2023
                          sebesar Rp. 138,80 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 491,34 miliar
                          atau turun sebesar 77,97% dibandingkan dengan laba tahun berjalan setelah
                          pajak konsolidasian selama tahun 2022 sebesar Rp. 630,15 miliar. Penyebab
                          penurunan tersebut adalah pada tahun 2022 BPII mencatat laba sebesar Rp.
                          525,13 miliar akibat dari operasi yang yang dihentikan.

                          Laba tahun berjalan setelah pajak konsolidasian BPII selama tahun 2022
                          sebesar Rp. 630,15 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 471,12 miliar
                          atau naik sebesar 296,25% dibandingkan dengan laba tahun berjalan setelah
                          pajak konsolidasian selama tahun 2021 sebesar Rp. 159,03 miliar. Penyebab
                          kenaikan tersebut adalah kenaikan pendapatan dan pada tahun 2022 BPII
                          mencatat laba sebesar Rp. 525,13 miliar akibat dari operasi yang yang
                          dihentikan.

                          Laba tahun berjalan setelah pajak konsolidasian BPII selama tahun 2021
                          sebesar Rp. 159,03 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 40,12 miliar atau
                          naik sebesar 33,74% dibandingkan dengan laba tahun berjalan setelah pajak
                          konsolidasian selama tahun 2020 sebesar Rp. 118,90 miliar. Penyebab
                          kenaikan tersebut adalah efisiensi beban usaha dan pada tahun 2021 BPII
                          mencatat laba sebesar Rp. 46,39 miliar akibat dari operasi yang yang
                          dihentikan.

                 c) Realisasi Arus Kas Konsolidasian
                                                                                                                              (Rp. 000.000,-)




                                            URAIAN                                2021         2022         2023        2024        2025
                                                                                Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des   Jan - Des   Jan - Des
                                                                                 Audited      Audited      Audited     Audited     Audited

                      Arus Kas dari Aktivitas Operasi
                      o Penerimaan Kas dari Transksi Pembiayaan                   476.046      138.427            -           -           -
                      o Penerimaan Kas dari Kontrak Asuransi                      345.842      524.344      883.946 1.751.689 2.257.019
                      o Penerimaan Jasa Manajemen dan Lainnya                     420.146      475.981      420.738     417.381     400.214
                      o Penerimaan Atas Sewa Operasi                              200.874      357.691      437.370     492.722     568.423
                      o Penerimaan Klaim Reasuransi                               171.751      212.996      157.323           -           -
                      o Penerimaan Komisi                                          28.109       53.775       87.081           -           -
                      o Penerimaan dari Pendapatan Keuangan                        12.395       17.406       12.508       7.033       8.229
                      o Penerimaan dari Perantara Kegiatan Perdagangan Efek            72            -            -           -           -
                      o Penerimaan Kas dari Klaim Asuransi                          1.439          333            -           -           -
                      o Pembayaran kepada Pemasok dan Karyawan                   (561.853)    (573.790)    (518.213) (527.520) (513.040)
                      o Pembayaran Kas Kontrak Asuransi , Pelanggan dan Karyawan (274.031)    (431.854)    (652.462) (1.619.643) (2.245.579)
                      o Pembayaran Klaim                                         (248.751)    (251.460)    (306.866)          -           -
                      o Pembayaran untuk Beban Keuangan                           (51.645)     (80.853)     (93.317)    (96.155) (121.252)
                      o Pembayaran Pajak                                          (46.500)     (68.095)     (43.323)    (73.131)    (41.164)
                      o Pembayaran Kas untuk Aktivitas Lainnya                    (33.019)     (45.486)     (26.277)    (22.336)    (31.019)
                          Kas Netto yang diperoleh dari Aktivitas Operasi         440.876      329.416      358.509     330.039     281.831


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                   40
Page 41
                                                                                                                                 (Rp. 000.000,-)




                                               URAIAN                               2021          2022        2023         2024         2025
                                                                                  Jan - Des     Jan - Des   Jan - Des    Jan - Des    Jan - Des
                                                                                   Audited       Audited     Audited      Audited      Audited

                      Arus Kas dari Aktivitas Investasi
                      o Penerimaan dari Portofolio Efek                             602.916 1.296.115       597.621        654.025 1.168.619
                      o Penerimaan dari Penjualan Entitas Anak                            - 1.024.539       397.837              -           -
                      o Penerimaan dari Penjualan Aset Tetap                         46.022      62.120      92.842        116.918     339.296
                      o Penerimaan Dividen                                               77           -           -              -           -
                      o Pencairan Deposito Berjangka                                  6.826         500      37.650        133.838           -
                      o Penempatan pada Entitas Anak                                      -           8    (401.071)        (4.836)    (15.597)
                      o Penempatan pada Portofolio Efek                            (735.520) (1.236.651) (1.159.690)      (731.929) (1.054.668)
                      o Perolehan Aset Tetap                                       (107.563) (221.361) (547.307)          (969.945) (737.577)
                      o Penerimaan Atas Aset Dimiliki untuk Dijual                        -     (21.226)          -          1.068       1.955
                      o Penempatan pada Deposito Berjangka                                -           -           -              -       4.185
                          Kas Netto yang digunakan untuk Aktvitas Invetasi         (187.241)    904.044    (982.118)      (800.861) (293.786)

                      Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
                      o Penerimaan dari Efek Utang yang Diterbitkan                        -            -           -            -            -
                      o Penerimaan Utang Bank                                       355.787     360.564       489.969      793.577      640.275
                      o Penerimaan dari Jual dan Sewa Balik                           5.850       35.000            -            -            -
                      o Penerimaan dari Penjualan Saham Treasuri Entitas Anak           303             -           -            -            -
                      o Penerimaan Pinjaman dari Pihak Ketiga                       290.308             -           -            -            -
                      o Penerimaan dari Penjualan Saham Entitas Anak kpd Kepentingan Non
                                                                                      4.819
                                                                                         Pengendali
                                                                                                  21.118      259.206       35.711       56.214
                      o Pembayaran Pembelian Kembali Saham                         (128.432) (385.861)        (16.087)           -            -
                      o Pembayaran dari Efek Utang yang Diterbitkan                (396.500)                        -            -            -
                      o Pembayaran Utang Bank                                      (290.705) (362.293)       (223.197)    (223.854)    (329.331)
                      o Pembayaran Pokok Liabilitas Sewa                            (90.807) (114.632)              -            -            -
                      o Pembayaran Utang Pembiayaan Konsumen                               -            -    (204.618)    (138.132)    (188.030)
                      o Pembayaran Pinjaman dari Pihak Ketiga                        (2.596)     (72.279)           -            -            -
                      o Pembayaran Atas Pinjaman Dari Pihak Ketiga                         -                  (54.640)      (3.705)       3.654
                      o Pembayaran Dividen Kas Entitas Induk                               -     (59.798)     (53.869)     (99.336)    (112.679)
                      o Pembayaran untuk Akuisisi Saham Entitas Anak kepada Kepentingan Non- Pengendali
                                                                                                 (37.091)           -            -            -
                      o Pembayaran Dividen Kas kepada Kepentingan Non Pengendali (14.171)        (15.004)     (16.672)     (16.129)     (19.388)
                      o Pembayaran Beban Emisi Saham Entitas Anak                          -      (1.381)      (1.322)           -            -
                      o Penerimaan Pinjaman dari Pihak Berelasi                            -            -      74.830            -            -
                          Arus Kas yang diperoleh dari Aktivitas Pendanaan         (266.143) (631.658)        253.600      348.133       50.715

                      Kenaikan (Penurunan) Kas, Setara Kas dan Cerukan               (12.508)     601.802    (370.008)    (122.689)      38.760

                      Pengarus Selisih Kurs Atas Mata Uang Asing                           -            -       2.783      (17.678)     (12.368)

                      Kas, Setara Kas dan Cerukan Awal Tahun                        139.360       126.852     728.653      361.428      221.062

                      Kas, Setara Kas dan Cerukan Akhir Tahun                       126.852       728.653     361.428      221.062      247.453

                      Kas, Setara Kas dan Cerukan Terdiri Dari:
                      o Kas dan Setara Kas                                          134.526       728.653     361.428      221.062      247.453
                      o Cerukan                                                      (7.674)            -           -                   (19.994)
                      Netto                                                         126.852       728.653     361.428      221.062      227.459




                     (1) Arus Kas untuk Aktivitas Operasi Konsolidasian

                           Arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian BPII selama tahun 2025 sebesar
                           Rp. 281,83 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 48,20 miliar
                           dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian selama
                           tahun 2024 sebesar Rp. 330,03 miliar. Penyebab penurunan tersebut adalah
                           kenaikan pembayaran kas kontrak asuransi, pelanggan dan karyawan.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                       41
Page 42
                         Arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian BPII selama tahun 2024 sebesar
                         Rp. 330,03 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 28,47 miliar
                         dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian selama
                         tahun 2023 sebesar Rp. 358,50 miliar. Penyebab penurunan tersebut adalah
                         kenaikan pembayaran kas kontrak asuransi, pelanggan dan karyawan.

                         Arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian BPII selama tahun 2023 sebesar
                         Rp. 358,50 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 29,09 miliar dibandingkan
                         dengan arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian selama tahun 2022
                         sebesar Rp. 329,41 miliar. Penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan
                         penerimaan premi dan penurunan pembayaran kepada pemasok dan
                         karyawan.

                         Arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian BPII selama tahun 2022 sebesar
                         Rp. 329,41 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 111,46 miliar
                         dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian selama
                         tahun 2021 sebesar Rp. 440,87 miliar. Penyebab penurunan tersebut adalah
                         penurunan penerimaan kas dari transaksi pembiayaandan kenaikan
                         pembayaran premi asuransi.

                         Arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian BPII selama tahun 2021 sebesar
                         Rp. 440,87 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 122,97 miliar
                         dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi konsolidasian selama
                         tahun 2020 sebesar Rp. 563,84 miliar. Penyebab penurunan tersebut adalah
                         penurunan penerimaan kas dari transaksi pembiayaan, dan kenaikan
                         pembayaran klaim.

                     (2) Arus Kas untuk Aktivitas Investasi Konsolidasian

                         Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi konsolidasian BPII selama
                         tahun 2025 sebesar minus Rp. 293,78 miliar, mengalami kenaikan sebesar
                         Rp. 507,07 miliar dibandingkan dengan arus kas yang digunakan untuk
                         aktivitas investasi konsolidasian selama tahun 2024 sebesar minus
                         Rp. 800,86 miliar, penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan penerimaan
                         dari portofolio efek dan kenaikan pencairan deposito berjangka.

                         Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi konsolidasian BPII selama
                         tahun 2024 sebesar minus Rp. 800,86 miliar, mengalami kenaikan sebesar
                         Rp. 181,25 miliar dibandingkan dengan arus kas yang digunakan untuk
                         aktivitas investasi konsolidasian selama tahun 2023 sebesar minus
                         Rp. 982,11 miliar, penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan penerimaan
                         dari portofolio efek dan kenaikan pencairan deposito berjangka.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            42
Page 43
                         Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi konsolidasian BPII selama
                         tahun 2023 sebesar minus Rp. 982,11 miliar, mengalami penurunan sebesar
                         Rp. 1,88 triliun dibandingkan dengan arus kas yang digunakan untuk aktivitas
                         investasi konsolidasian selama tahun 2022 sebesar 904,04 miliar, penyebab
                         penurunan tersebut adalah penurunan penerimaan dari portofolio efek dan
                         penurunan penerimaan dari penjualan entitas anak.

                         Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi konsolidasian BPII selama
                         tahun 2022 sebesar Rp. 904,04 mmiliar, mengalami kenaikan sebesar Rp.
                         1,09 triliun dibandingkan dengan arus kas yang digunakan untuk aktivitas
                         investasi konsolidasian selama tahun 2021 sebesar minus Rp. 187,24 miliar,
                         penyebab kenaikan tersebut adalah kenaikan penerimaan dari portofolio efek
                         dan kenaikan penerimaan dari penjualan entitas anak.

                         Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi konsolidasian BPII selama
                         tahun 2021 sebesar minus Rp. 187,24 miliar, mengalami penurunan sebesar
                         Rp. 142,34 miliar dibandingkan dengan arus kas yang digunakan untuk
                         aktivitas investasi konsolidasian selama tahun 2020 sebesar minus Rp. 44,89
                         miliar, penyebab penurunan tersebut adalah pkenaikan penempatan pada
                         portofolio efek dan kenaikan perolehan aset tetap.

                     (3) Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan Konsolidasian

                         Arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian BPII selama tahun 2025
                         sebesar Rp. 50,71 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 297,41 miliar,
                         dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian
                         selama tahun 2024, sebesar Rp. 348,13 miliar, penyebab penurunan tersebut
                         adalah penurunan penerimaan utang bank dan kenaikan pembayaran utang
                         pembiayaan konsumen.

                         Arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian BPII selama tahun 2024
                         sebesar Rp. 348,13 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 94,53 miliar,
                         dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian
                         selama tahun 2023, sebesar Rp. 253,60 miliar, penyebab kenaikan tersebut
                         adalah kenaikan penerimaan utang bank dan penurunan pembayaran utang
                         pembiayaan konsumen.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            43
Page 44
                           Arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian BPII selama tahun 2023
                           sebesar Rp. 253,60 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 885,25 miliar,
                           dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian
                           selama tahun 2022, sebesar minus Rp. 631,65 miliar, penyebab kenaikan
                           tersebut adalah kenaikan penerimaan utang bank dan kenaikan penerimaan
                           dari penjualan saham entitas anak kepada kepentingan non pengendali.
                           Arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian BPII selama tahun 2022
                           sebesar minus Rp. 631,65 miliar, mengalami penurunan sebesar Rp. 365,51
                           miliar, dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian
                           selama tahun 2021, sebesar minus Rp. 266,14 miliar, penyebab penurunan
                           tersebut adalah kenaikan pembayaran pembelian kembali saham dan
                           penurunan pinjaman dari pihak ketiga.

                           Arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian BPII selama tahun 2021
                           sebesar minus Rp. 266,14 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp. 279,31
                           miliar, dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas pendanaan konsolidasian
                           selama tahun 2020, sebesar minus Rp. 545,45 miliar, penyebab penurunan
                           tersebut adalah penurunan penerimaan dari efek utang yang diterbitkan dan
                           kenaikan pembayaran pembelian kembali saham.

                 d) Analisis Rasio Keuangan Konsolidasian


                                                    URAIAN                  2021        2022        2023        2024        2025
                                                                          Jan - Des   Jan - Des   Jan - Des   Jan - Des   Jan - Des
                                                                           Audited     Audited     Audited     Audited     Audited


                      RASIO PERTUMBUHAN (%)
                      o Pendapatan                                          -25,57%      26,31%      15,74%      17,36%       8,75%
                      o Laba Bersih                                          33,74%     296,25%     -77,97%      21,14%     -14,32%
                      o Total Aset                                            5,90%      10,62%      27,83%      30,99%      24,25%
                      o Total Liabilitas                                      9,50%      16,98%      40,12%      47,64%      33,77%
                      o Total Ekuitas                                         2,25%       3,69%      12,74%       5,58%       3,91%


                      RASIO-RASIO
                      o Current Ratio                                       191,88%     181,44%     165,53%     146,86%     136,40%
                      o Marjin Laba T ahun Berjalan - Net Profit Margin      23,94%      75,10%      14,29%      14,75%      11,62%
                      o T ingkat Pengembalian Aset – ROA                      5,37%      19,22%       3,31%       3,06%       2,11%
                      o T ingkat Pengembalian Modal – ROE                    11,21%      42,82%       8,37%       9,60%       7,91%
                      o Rasio Total Liabilitas T erhadap Ekuitas – DER      108,84%     122,79%     152,61%     213,42%     274,75%
                      o Rasio Total Liabilitas T erhadap Aset – DAR          52,12%      55,11%      60,41%      68,09%      73,32%




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                           44
Page 45
                     (1) Rasio Likuiditas Konsolidasian

                         Likuiditas konsolidasian menggambarkan kemampuan BPII dalam memenuhi
                         liabilitas konsolidasian keuangan jangka pendeknya. Kebutuhan likuiditas
                         konsolidasian terutama diperlukan untuk modal kerja. Sedangkan, sumber
                         utama likuiditas konsolidasian berasal dari penerimaan kas dari pelanggan.

                         BPII memiliki tingkat likuiditas konsolidasian keuangan yang baik. Hal ini
                         ditunjukkan oleh stabilnya rasio lancar konsolidasian (total aset lancar/total
                         liabilitas jangka pendek) pada periode berakhir pada 31 Desember 2021 s/d
                         2025 masing-masing sebesar 191,88%, 181,44%, 165,53%, 146,86% dan
                         136,40%.

                         Sumber likuiditas konsolidasian BPII dapat diperoleh secara internal maupun
                         eksternal yang berasal dari aktivitas operasi konsolidasian maupun aktivitas
                         pendanaan konsolidasian. Hingga saat ini, BPII tidak memiliki sumber
                         likuiditas konsolidasian material yang belum digunakan.

                         BPII tidak melihat adanya kecenderungan yang diketahui, permintaan,
                         perikatan atau komitmen, kejadian dan/atau ketidakpastian diluar
                         pengelolaan dana investasi yang mungkin mengakibatkan terjadinya
                         peningkatan atau penurunan yang material terhadap likuiditas konsolidasian
                         Perseroan. Kedepannya, BPII akan terus mengandalkan arus kas
                         konsolidasian dari aktivitas operasi untuk terus mendanai kegiatan operasi
                         dan belanja modal.

                     (2) Rasio Profitabilitas Konsolidasian

                         Rasio profitabilitas konsolidasian menunjukkan operasional kemampuan
                         suatu perusahaan dalam mengelola aset-asetnya dengan tujuan akhir
                         mengoptimalkan pengembalian yang dapat diperoleh para penyedia kapital
                         (capital providers).

                         Net profit margin konsolidasian selama 5 tahun terakhir rata-rata mencapai
                         27,94%. Secara berturut-turut mulai dari tahun 2021 s/d 2025, net profit
                         margin cenderung befluktuasi yaitu masing masing sebesar 23,94%, 75,10%,
                         14,29%, 14,75% dan 11,62%, pada tahun 2022 BPII mencatat net profit
                         margin konsolidasian sebesar Rp. 630,15 miliar atau sebesar 75,10%, hal ini
                         disebabkan pada tahun ini BPII mencatat laba konsolidasian dari operasi
                         yang dihentikan sebesar Rp. 525,13 miliar.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                              45
Page 46
                     (3) Rasio Rentabilitas Konsolidasian
                         Rasio rentabilitas konsolidasian digunakan untuk melakukan analisis
                         perbandingan antara modal pinjaman yang diberikan oleh kreditor dan modal
                         sendiri dan rasio mengukur perolehan profit dari penggunaan modal yang
                         digunakan tersebut.
                         Return on Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan
                         persentase keuntungan konsolidasian (laba bersih) yang diperoleh
                         perusahaan dibandingkan keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah
                         aset, rata-rata ROA selama tahun 2021 s/d 2025 masing-masing tercatat
                         sebesar 5,37%, 19,22%, 3,31%, 3,06% dan 2,11%.

                         Return on Equity (ROE) Rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan
                         perusahaan untuk menghasilkan laba konsolidasian dari investasi pemegang
                         saham di perusahaan, rata-rata ROE selama tahun 2021 s/d 2025 masing-
                         masing tercatat sebesar 11,21%, 42,82%, 8,37%, 9,60% dan 7,91%.

                     (4) Rasio Solvabilitas Konsolidasian

                         Rasio solvabilitas konsolidasian menggambarkan kemampuan perusahaan
                         dalam membayar semua liabilitas (jangka pendek maupun jangka panjang)
                         perusahaan. Rasio rata-rata jumlah liabilitas konsolidasian terhadap jumlah
                         ekuitas konsolidasian BPII (Debt to Equity Ratio/ DER) selama tahun 2021 s/d
                         2025 adalah 174,48%, hal ini menunjukan Jumlah ekuitas konsolidasian lebih
                         kecil dibandingkan dengan jumlah liabilitas konsolidasian.

                         Sedangkan rasio jumlah liabilitas konsolidasian terhadap jumlah aset
                         perusahaan konsolidasian (Debt to Assets Ratio/DAR) selama tahun 2021 s/d
                         2025 rata-rata sebesar 61,81%, hal ini menunjukkan bahwa jumlah liabilitas
                         konsolidasian dan total aset konsolidasian relatif stabil, pada tahun 2024
                         jumlah liabilitas konsolidasian mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,36 triliun,
                         hal ini menunjukkan bahwa komposisi pembiayaan lebih besar menggunakan
                         pinjaman dari pada ekuitas, namun demikian dapat disimpulkan bahwa BPII
                         masih memiliki kemampuan untuk membayar seluruh liabilitas dengan total
                         aset yang dimiliki.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            46
Page 47
            2) Analisis Proforma Laporan Keuangan Sebelum dan Sesudah Rencana Transaksi
                 Terkait dengan analisis proforma laporan keuangan BPII sebelum dan sesudah
                 Rencana Transaksi, yang disampaikan BPII, berikut ini adalah proforma laporan
                 keuangan stand alone sebelum dan sesudah Rencana Transaksi yang dibuat oleh
                 BPII:
                                                                                   Sebelum          Penyesuaian                 Setelah
                                                                                  Transaksi          Transaksi                 Transaksi                                  Uraian Transaksi
                 ASET
                 Kas dan Setara kas                                               8.236.029.548     79.433.321.647            13.697.010.660 BPII menerima kas dari pendapatan dividen
                                                                                                  - 27.477.946.007                              BPII membagikan dividen kepada pemegang saham
                                                                                                    28.044.624.360                              BPII menerima kas dari pinjaman bank
                                                                                                  - 80.000.000.000                              BPII memberikan pinjaman kepada MTWI
                                                                                                     8.258.528.435                              BPII menerima penggantian biaya provisi dan bunga atas pinjaman oleh MTWI
                                                                                                  - 2.797.547.323                               BPII membayar biaya provisi dan bunga kepada bank atas pinjaman
                 Portofolio efek
                 Pihak Ketiga                                                    66.594.702.080                              66.594.702.080
                 Pihak berelasi                                                  15.582.563.408                              15.582.563.408
                 Piutang lain-lain                                                  202.062.525                                 202.062.525
                 Uang muka dan beban dibayar di muka                              1.389.415.665                               1.389.415.665
                 Investasi pada entitas anak                                    846.925.841.331                             846.925.841.331
                 Investasi pada entitas asosiasi                                 24.840.000.000                              24.840.000.000
                 Aset tetap - neto                                                1.811.860.505                               1.811.860.505
                 Properti investasi                                              15.717.854.090                              15.717.854.090
                 Aset pajak tangguhan - neto                                      1.517.292.214                               1.517.292.214
                 Aset lain-lain                                                   2.817.705.767                               2.817.705.767
                 Pinjaman kepada anak perusahaan                                              -      80.000.000.000          80.000.000.000 BPII memberikan pinjaman kepada MTWI

                 Jumlah Aset                                                    985.635.327.133      85.460.981.112        1.071.096.308.245
                 LIABILITAS DAN EKUITAS

                 LIABILITAS
                 Beban akrual                                                       203.155.000                                  203.155.000
                 Liabilitas kontrak                                               1.169.253.715                                1.169.253.715
                 Utang pajak                                                        122.648.831                                  122.648.831
                 Liabilitas sewa                                                    668.018.224                                  668.018.224
                 Liabilitas imbalan kerja                                         2.966.716.331                                2.966.716.331
                 Utang Bank                                                                   -      28.044.624.360           28.044.624.360 BPII menerima kas dari pinjaman bank

                 Jumlah Liabilitas                                                5.129.792.101      28.044.624.360           33.174.416.461

                 EKUITAS
                 Modal saham - nilai nominal Rp 5 per saham
                 Modal dasar - 35.000.000.000 saham
                 Modal ditempatkan dan disetor penuh - 10.309.973.240 saham      49.420.766.200                           49.420.766.200
                 Tambahan modal disetor - neto                                - 163.068.465.663                        - 163.068.465.663
                 Saham treasuri                                                               -
                 Penghasilan komprehensif lain                                - 4.512.049.976                          -       4.512.049.976
                 Saldo laba
                 Telah ditentukan penggunaannya                                     500.000.000                                  500.000.000
                 Belum ditentukan penggunaannya                               1.098.165.284.471       8.258.528.435        1.155.581.641.223 Akumulasi Pendapatan keuangan tahun 2026-2027
                                                                                                     (2.797.547.323)                            Akumulasi Beban keuangan than 2026-2027
                                                                                                     79.433.321.647                             Pendapatan dividen tahun 2026 sebelum Rencana Transaksi
                                                                                                    (27.477.946.007)                            Pembangain dividen tahun 2026 sebelum Rencana Transaksi
                 Jumlah Ekuitas                                                 980.505.535.032      57.416.356.752        1.037.921.891.784
                                                                                                                                           -
                 Jumlah Liabilitas dan Ekuitas                                  985.635.327.133      85.460.981.112        1.071.096.308.245


                 Berdasarkan analisa proforma laporan keuangan BPII stand alone sebelum dan
                 sesudah Rencana Transaksi, dengan dilakukannya Rencana Transaksi dapat
                 disimpulkan sebagai berikut:

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                                                                                               47
Page 48
                 a) Dari total aset terdapat penambahan penambahan akun kas & setara kas sebesar
                    Rp. 5.460.981.112,- dan penambahan akun pinjaman kepada anak perusahaan
                    sebesar Rp. 80.000.000.000,- dan
                 b) Dari liabilitas terdapat penambahan akun utang bank sebesar
                    Rp. 28.044.624.360,- dan penambahan ekuitas sebesar Rp. 57.416.356.752,-
                     Dengan demikian terlihat perubahan atas laporan posisi keuangan stand alone
                     dibandingkan sebelum Rencana Transaksi, yaitu penambahan pinjaman kepada
                     anak perusahaan dan penambahan utang bank.

            3) Analisis Atas Kemampuan Perusahaan Atau Penerima Jaminan Untuk Melunasi
               Transaksi Pinjam-Meminjam Dana Dan/Atau Penjaminan Sampai Saat Jatuh
               Tempo

                 Berdasarkan laporan keuangan MTWI per 31 Desember 2025, kondisi keuangan dan
                 tingkat solvabilitas perusahaan, sebagaimana tercermin dalam Rasio Kecukupan
                 Investasi (RKI) yang memadai, menunjukkan bahwa MTWI memiliki kemampuan yang
                 baik untuk memenuhi kewajiban pembayaran dan melunasi pinjaman pada saat jatuh
                 tempo.

            4) Analisis Cash Management Dan Financial Covenant Dari Transaksi Pinjam-
               Meminjam Dana

                 a) Analisis Cash Management

                     Rencana Transaksi pemberian pinjaman oleh BPII kepada MTWI akan dilakukan
                     dengan menggunakan pinajaman bank dengan mempertimbangkan kondisi kas,
                     likuiditas, dan kebutuhan operasional Perseroan. Sebelum Rencana transaksi
                     dilakukan, Perseroan telah melakukan evaluasi atas ketersediaan dana sehingga
                     pemberian pinjaman tidak mengganggu kemampuan Perseroan dalam memenuhi
                     kewajiban operasional, maupun komitmen keuangan lainnya.

                     Rencana Transaksi ini akan mengubah komposisi aset Perseroan, yaitu
                     penambahan utang baru entitas induk menjadi piutang pinjaman kepada MTWI.
                     Namun demikian, berdasarkan proforma keuangan setelah Rencana Transaksi,
                     Perseroan diperkirakan tetap memiliki tingkat likuiditas yang memadai untuk
                     mendukung kegiatan usaha dan memenuhi seluruh kewajibannya secara tepat
                     waktu.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                         48
Page 49
                     Selain itu, pemberian pinjaman diharapkan dapat mendukung perbaikan kondisi
                     keuangan dan operasional MTWI, sehingga meningkatkan kemampuan MTWI
                     untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman sesuai
                     dengan perjanjian yang disepakati. Dengan demikian, Rencana Transaksi ini
                     diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi BPII sekaligus tetap
                     menjaga efektivitas pengelolaan kas Perseroan.

                 b) Analisis Financial Covenant

                     Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham ini menimbulkan tambahan
                     kewajiban utang pada BPII sehingga meningkatkan tingkat leverage Perseroan,
                     namun demikian Rencana Transaksi diperkirakan tidak menyebabkan
                     pelanggaran terhadap financial covenant yang berlaku bagi Perseroan.

                     Dalam perjanjian pinjaman pemegang saham, Perseroan juga dapat menetapkan
                     ketentuan-ketentuan tertentu (covenant) bagi MTWI, antara lain kewajiban untuk
                     menjaga kondisi keuangan yang sehat, memenuhi jadwal pembayaran pokok dan
                     bunga, menyampaikan laporan keuangan secara berkala, serta memenuhi
                     ketentuan lain yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan BPII sebagai
                     pemberi pinjaman.

                     Dengan demikian, Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham ini
                     diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif yang material terhadap
                     pengelolaan kas maupun kepatuhan Perseroan terhadap financial covenant yang
                     berlaku, dan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi BPII.

            5) Analisis Inkremental (Incremental Analysis) untuk Mengukur Nilai Tambah dari
               Rencana Transaksi

                 a) Kontribusi nilai tambah terhadap BPII sebagai akibat dari Rencana Transaksi
                    yang akan dilakukan termasuk dampaknya terhadap proyeksi keuangan BPII

                     Terkait analisis inkremental dan dampak terhadap operasional BPII, dimana BPII
                     akan melakukan Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII
                     meminjamkan dana kepada MTWI), maka BPII akan mendapatkan nilai tambah
                     atau inkremental (manfaat ekonomis) berupa terjaganya dan meningkatnya nilai
                     investasi pada MTWI, potensi penerimaan bunga sesuai ketentuan perjanjian
                     pinjaman, peningkatan kinerja keuangan, berikut adalah analisis profitabilitas
                     untuk melihat kemampuan menghasilkan laba bersih:


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          49
Page 50
                     Laba (Rugi) BPII Stand Alone Sebelum Rencana Transaksi
                                                                                                                                                               (Rp. .000,-)


                      No                      Deskripsi                                     2026            2027              2028              2029            2030


                       1   Revenue
                           Dividend Income                                               79.433.322        97.607.742       135.306.690       188.565.850     230.151.612
                           Investment Management And Other Fees                           1.284.000         1.284.000         1.284.000         1.284.000       1.284.000
                                                                                         80.717.322        98.891.742       136.590.690       189.849.850     231.435.612

                       2   Operating Expense
                           Salaries And Allowances                                         4.093.585        4.502.943         4.953.237         5.448.561       5.993.417
                           Finance Expenses                                                  127.863          127.863           127.863           127.863         127.863
                           General And Administrative                                      3.667.235        3.667.235         3.667.235         3.667.235       3.667.235
                           Depreciation                                                      740.085          740.085           740.085           740.085         740.085
                                                                                           8.628.768        9.038.127         9.488.421         9.983.745      10.528.601

                           Net Profit Before Tax                                         72.088.553        89.853.615       127.102.269       179.866.105     220.907.011

                       3   Income Tax Expense                                                   -                 -                 -                 -               -
                           Net Profit After Tax                                          72.088.553        89.853.615       127.102.269       179.866.105     220.907.011




                     Laba (Rugi) Stand Alone Setelah Rencana Transaksi
                                                                                                                                                                       (Rp. .000,-)


                      No                             Deskripsi                                      2026             2027              2028            2029             2030


                       1   Revenue
                           Dividend Income                                                         79.433.322       97.607.742       135.306.690    188.565.850     230.151.612
                           Investment Management And Other Fees                                     1.284.000        1.284.000         1.284.000      1.284.000       1.284.000
                           Finance Income - Interest Income from Shareholder Loan to Subsidiary     4.010.959        3.967.123               -              -               -
                           Finance Income - Bank Provision and Admin                                  280.446              -                 -              -               -
                                                                                                   85.008.727      102.858.866       136.590.690    189.849.850     231.435.612

                       2   Operating Expense
                           Salaries And Allowances                                                  4.093.585        4.502.943         4.953.237       5.448.561        5.993.417
                           Finance Expenses                                                           127.863          127.863           127.863         127.863          127.863
                           Finance Expenses - Interest Expense from Bank Loan                       1.265.466        1.251.635               -               -                -
                           Finance Expenses - Bank Provision and Admin                                280.446              -                 -               -                -
                           General And Administrative                                               3.667.235        3.667.235         3.667.235       3.667.235        3.667.235
                           Depreciation                                                               740.085          740.085           740.085         740.085          740.085
                                                                                                   10.174.680       10.289.762         9.488.421       9.983.745       10.528.601

                           Net Profit Before Tax                                                   74.834.047       92.569.103       127.102.269    179.866.105     220.907.011

                       3   Income Tax Expense                                                             -                -                 -              -               -
                           Net Profit After Tax                                                    74.834.047       92.569.103       127.102.269    179.866.105     220.907.011




                     Laba bersih setelah pajak penghasilan (stand alone) sebelum Rencana Transaksi
                     per tanggal 31 Desember 2026 sebesar Rp. 72,08 miliar, mengalami kenaikan
                     sebesar Rp. 2,74 miliar atau naik 3,81%, dibandingkan dengan laba bersih setelah
                     pajak penghasilan (stand alone) setelah Rencana Transaksi per tanggal 31
                     Desember 2026 sebesar Rp. 74,83 miliar.


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                                                                                         50
Page 51
                     Laba bersih setelah pajak penghasilan (stand alone) sebelum Rencana Transaksi
                     per tanggal 31 Desember 2027 sebesar Rp. 89,85 miliar, mengalami kenaikan
                     sebesar Rp. 2,71 miliar atau naik 3,02%, dibandingkan dengan laba bersih setelah
                     pajak penghasilan (stand alone) setelah Rencana Transaksi per tanggal 31
                     Desember 2027 sebesar Rp. 92,56 miliar.
                     Laba bersih setelah pajak penghasilan (stand alone) sebelum Rencana Transaksi
                     per tanggal 31 Desember 2028 sebesar Rp. 127,10 miliar, tidak mengalami
                     kenaikan, dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak penghasilan (stand
                     alone) setelah Rencana Transaksi per tanggal 31 Desember 2028 tetap sebesar
                     Rp. 127,10 miliar.
                     Laba bersih setelah pajak penghasilan (stand alone) sebelum Rencana Transaksi
                     per tanggal 31 Desember 2029 sebesar Rp. 179,86 miliar, tidak mengalami
                     kenaikan, dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak penghasilan (stand
                     alone) setelah Rencana Transaksi per tanggal 31 Desember 2029 tetap sebesar
                     Rp. 179,86 miliar.
                     Laba bersih setelah pajak penghasilan (stand alone) sebelum Rencana Transaksi
                     per tanggal 31 Desember 2030 sebesar Rp. 220,90 miliar, tidak mengalami
                     kenaikan, dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak penghasilan (stand
                     alone) setelah Rencana Transaksi per tanggal 31 Desember 2030 tetap sebesar
                     Rp. 220,90 miliar.

                 b) Biaya atau Pendapatan yang Relevan

                     Biaya-biaya yang relevan diluar Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham
                     diantaranya adalah

                     (1) Opportunity cost atas penggunaan dana, yaitu hilangnya potensi pendapatan
                         yang dapat diperoleh apabila dana tersebut digunakan untuk alternatif
                         investasi lainnya.
                     (2) Biaya administrasi dan dokumentasi transaksi, termasuk biaya penyusunan
                         dan pelaksanaan perjanjian pinjaman serta biaya profesional apabila
                         diperlukan.
                     (3) Risiko penurunan nilai (impairment) piutang pinjaman, apabila di kemudian
                         hari MTWI mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran
                         pinjaman.
                     (4) Potensi penurunan pendapatan investasi jangka pendek, akibat berkurangnya
                         dana yang sebelumnya ditempatkan pada instrumen investasi atau aset yang
                         menghasilkan pendapatan.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                            51
Page 52
                     Sedangkan pendapatan yang relevan diantaranya adalah:

                     (1) Pendapatan bunga pinjaman, sesuai dengan tingkat bunga dan ketentuan
                         yang diatur dalam perjanjian pinjaman antara BPII dan MTWI.
                     (2) Peningkatan kinerja keuangan konsolidasian, apabila dana pinjaman dapat
                         mendukung perbaikan operasional dan kinerja MTWI sehingga meningkatkan
                         kontribusi pendapatan dan laba terhadap kelompok usaha.
                     (3) Peningkatan nilai investasi pada MTWI, sebagai konsekuensi dari
                         membaiknya kondisi keuangan dan prospek usaha MTWI.
                     (4) Manfaat ekonomis tidak langsung, berupa meningkatnya kepercayaan
                         pemangku kepentingan terhadap MTWI dan kelompok usaha BPII.

                     Secara keseluruhan, bahwa manfaat ekonomis yang diharapkan Perseroan dari
                     Rencana Transaksi ini lebih besar dibandingkan biaya dan risiko yang mungkin
                     timbul, terutama karena Rencana Transaksi ditujukan untuk mendukung
                     perbaikan kinerja MTWI yang merupakan entitas anak strategis dan kontributor
                     utama pendapatan dalam kelompok usaha BPII.

                 c) Informasi non Keuangan yang Relevan

                     (1) Hubungan afiliasi dan struktur kepemilikan
                         BPII merupakan pemegang saham pengendali MTWI, sehingga terdapat
                         hubungan afiliasi yang erat antara kedua entitas dalam satu kelompok usaha.
                         Hal ini memungkinkan koordinasi yang lebih efektif dalam mendukung
                         kebutuhan pendanaan dan strategi bisnis MTWI.

                     (2) Peran strategis MTWI dalam kelompok usaha
                         MTWI merupakan entitas anak yang memiliki kontribusi signifikan terhadap
                         pendapatan dan kinerja kelompok usaha BPII, sehingga keberlangsungan
                         dan penguatan kinerja MTWI memiliki dampak material terhadap kinerja
                         konsolidasian BPII.

                     (3) Tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG)
                         Rencana Transaksi dilakukan dengan memperhatikan prinsip kewajaran
                         (fairness), transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap peraturan
                         yang berlaku, termasuk ketentuan transaksi afiliasi dan benturan kepentingan.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             52
Page 53
                     (4) Kepatuhan terhadap regulasi
                         Rencana Transaksi dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan regulator
                         yang berlaku, termasuk ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait
                         transaksi afiliasi, pengelolaan investasi, serta tingkat kesehatan keuangan
                         perusahaan (termasuk RBC dan RKI).

                 d) Prosedur Pengambilan Keputusan oleh Perusahaan dalam Menentukan
                    Rencana dan Nilai Transaksi dengan Memperhatikan Alternatif lain

                     Dalam rangka menentukan Rencana Transaksi pemberian pinjaman kepada
                     MTWI serta penetapan nilai Rencana Transaksi, Perseroan telah melakukan
                     proses pengambilan keputusan secara komprehensif dengan mempertimbangkan
                     aspek keuangan, risiko, dan kepentingan strategis grup usaha, diantaranya:

                     (1) Identifikasi kebutuhan pendanaan MTWI
                         Perseroan melakukan evaluasi atas kebutuhan pendanaan MTWI, termasuk
                         tujuan penggunaan dana, kondisi likuiditas, serta proyeksi kinerja keuangan
                         MTWI ke depan.

                     (2) Penentuan struktur dan nilai transaksi
                         Nilai pinjaman ditentukan berdasarkan kebutuhan pendanaan MTWI,
                         kemampuan keuangan BPII, serta prinsip kewajaran (arm’s length principle),
                         termasuk mempertimbangkan tingkat bunga yang wajar sesuai kondisi pasar
                         dan risiko kredit.

                     (3) Pertimbangan alternatif lain
                         Dalam proses pengambilan keputusan, Perseroan juga mempertimbangkan
                         alternatif lain, antara lain: Pendanaan melalui pihak eksternal (bank atau
                         lembaga keuangan lain); Penambahan modal (capital injection); Optimalisasi
                         pendanaan internal grup lainnya.
                         Namun demikian, pemberian pinjaman dari BPII dinilai sebagai alternatif yang
                         paling efisien, fleksibel, dan sesuai dengan struktur grup usaha, serta dapat
                         dilakukan secara lebih cepat dan terkontrol.

                     (4) Proses persetujuan internal
                         Rencana Transaksi telah melalui mekanisme tata kelola internal Perseroan,
                         termasuk pembahasan oleh manajemen terkait, fungsi risiko, dan fungsi
                         kepatuhan, serta memperoleh persetujuan dari pihak yang berwenang sesuai
                         ketentuan Anggaran Dasar Perseroan.
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                             53
Page 54
                     (5) Kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku
                         Seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan ketentuan peraturan
                         perundang-undangan yang berlaku, termasuk ketentuan OJK terkait Rencana
                         Transaksi afiliasi, pengelolaan investasi, serta prinsip tata kelola perusahaan
                         yang baik (Good Corporate Governance).

                 e) Hal Material Lainnya yang dapat Memberikan Keyakinan bagi Penilai Bisnis
                    dalam Memberikan Opini Kewajaran Rencana Transaksi

                     Dalam memberikan opini kewajaran atas Rencana Transaksi pemberian pinjaman
                     kepada MTWI, terdapat beberapa hal material lain yang menjadi pertimbangan
                     dan memberikan keyakinan bagi Penilai Bisnis, antara lain:

                     (1) Hubungan afiliasi dan pengendalian
                         BPII sebagai pemegang saham pengendali MTWI memiliki akses informasi
                         yang memadai terkait kondisi operasional dan keuangan MTWI, sehingga
                         penilaian risiko dan manfaat Rencana Transaksi dapat dilakukan secara lebih
                         komprehensif dan akurat.

                     (2) Ketersediaan informasi keuangan yang memadai
                         Penilai telah memperoleh dan menganalisis informasi keuangan historis dan
                         proyeksi MTWI dan BPII, termasuk proforma keuangan pasca rencana
                         Transaksi, yang menjadi dasar dalam menilai dampak Rencana Transaksi
                         secara keseluruhan.

                     (3) Kesesuaian dengan praktik industri
                         Pemberian dukungan pendanaan kepada entitas anak oleh Perseroan
                         merupakan praktik yang umum dilakukan dalam industri asuransi dan
                         kelompok usaha (holding structure) untuk menjaga stabilitas dan sinergi
                         bisnis.

                     (4) Dukungan terhadap keberlangsungan usaha MTWI
                         Rencana Transaksi ini merupakan bagian dari strategi penguatan struktur
                         keuangan MTWI yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional
                         dan kontribusi terhadap grup usaha secara berkelanjutan.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                               54
Page 55
                      (5) Kepatuhan terhadap prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG)
                          Proses Rencana transaksi telah mempertimbangkan prinsip kewajaran,
                          transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku,
                          termasuk ketentuan transaksi afiliasi dan benturan kepentingan.

                 f)   Inkremental Proforma Sebelum dan Sesudah Rencana Transaksi

                      Proforma BPII Stand Alone sebelum dan sesudah Rencana Transaksi terealisasi,
                      yang dibuat oleh BPII, diuraikan sebagai berikut:

                                                                       Sebelum Rencana       Setelah Rencana
                                     Neraca Perseroan                      Transaksi            Transaksi
                                                                       31 Desember 2025     31 Desember 2025


                       Aset
                          Aset Lancar                                     982.306.174.414    1.067.767.155.526
                          Aset Tetap                                        1.811.860.505        1.811.860.505
                          Aset Lain-lain                                    1.517.292.214        1.517.292.214
                          Total Aset                                      985.635.327.133    1.071.096.308.245

                       Liabilitas & Ekuitas
                           Total Liabilitas                                 5.129.792.101       33.174.416.461
                           Ekuitas                                        980.505.535.032    1.037.921.891.784
                           Total Liabilitas dan Ekuitas                   985.635.327.133    1.071.096.308.245




                                                                       Sebelum Rencana       Setelah Rencana
                                       Rasio Penting                       Transaksi            Transaksi
                                                                       31 Desember 2025     31 Desember 2025


                          Rasio Total Liabilitas Terhadap Total Aset                0,005               0,031
                          Rasio Total Liabilitas Terhadap Ekuitas                   0,005               0,032



                      Berdasarkan analisa proforma laporan keuangan BPII stand alone sebelum
                      Rencana Transaksi dan sesudah Rencana Transaksi, dengan dilakukannya
                      Rencana Transaksi dapat disimpulkan sebagai berikut:

                      Terlihat perubahan atas rasio total liabilitas terhadap total aset yaitu dari 0,005
                      menjadi sebesar 0,031, dan total liabilitas terhadap total ekuitas dari 0,005 menjadi
                      sebesar 0,032.




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                      55
Page 56
21.3. Analisis Kewajaran Rencana Transaksi

        Analisis kewajaran Rencana Transaksi pinjaman pemegang saham (BPII meminjamkan dana
        kepada MTWI) diuraikan sebagai berikut:

        a. Perbandingan Antara Rencana Transaksi dengan Bunga Pinjaman Berdasarkan
           Pasar Yang Berlaku

            1) Perjanjian Pinjaman kepada Pemegang Saham
                 Berdasarkan perjanjian pinjaman kepada pemegang saham, tanggal 25 Juni 2026,
                 antara BPII (sebagai pihak yang memberikan pinjaman) dan MTWI (sebagai pihak
                 yang menerima pinjaman), tingkat bunga akan dikenakan terhadap jumlah pinjaman
                 sebesar 10,00% setahun.

            2) Bunga Pinjaman Berdasarkan Website Bank Indonesia
                 Kewajaran besarnya suku bunga pinjaman tersebut dengan membandingkan
                 besarnya suku bunga pinjaman sejenis yang ada di pasar dengan pinjaman dalam
                 mata uang Rupiah terhadap suku bunga yang dikenakan BPII kepada MTWI. Suku
                 bunga pinjaman dalam Rupiah dari berdasarkan website Bank Indonesia per tanggal
                 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:

                                                                 Bunga Pinjaman, Untuk
                                           Uraian
                                                                    Modal Kerja (%)


                     Bank Persero                                              8,12%
                     Bank Pemerintah Daerah                                    8,32%
                     Bank Swasta Nasional                                      8,16%
                     Bank Umum                                                 8,08%


                     Rata-rata                                                 8,17%
                     Terendah                                                  8,08%
                     Tertinggi                                                 8,32%


                 Sumber : Bank Indonesia

                 Berdasarkan data dari website Bank Indonesia, diperoleh rata-rata suku bunga
                 pinjaman sebesar 8,17%, terendah dari Bank Umum sebesar 8,08% dan tertinggi dari
                 Bank Pemerintah Daerah sebesar 8,32%.


PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                        56
Page 57
                 Suku bunga pinjaman dari BPII yang akan dikenakan kepada MTWI, dibandingkan
                 dengan suku bunga pinjaman dari berbagai sumber pembiayaan di pasar (perbankan)
                 dapat disimpulkan bahwa pinjaman dalam Rupiah, dengan suku bunga pinjaman
                 sebesar 10,00% per tahun, masih berada pada kisaran suku bunga di pasar yaitu
                 antara 8,08% s/d 8,32% per tahun, dengan demikian suku bunga berdasarkan
                 Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham adalah wajar dan layak diterima, dan
                 disamping itu suku bunga pinjaman ini juga lebih tinggi dari suku bunga pinjaman yang
                 diberikan oleh BPII kepada MTWI dibandingkan suku bunga di pasar saat ini.

        b. nalisis untuk Memastikan Bahwa Rencana Transaksi Memberikan Nilai Tambah

            1) Proyeksi Laba (Rugi) BPII Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
                 Laba (Rugi) BPII stand alone sebelum dan setelah Rencana Transaksi selama 5 tahun
                 masa proyeksi, diuraikan sebagai berikut:
                 Perbandingan sebelum dan setelah Rencana Transaksi terealisai, maka kinerja
                 keuangan BPII (stand alone) dimasa depan adalah peningkatan pendapatan yang
                 terjadi pada tahun 2026 dan 2027 yaitu dari pendapatan bunga yang diterima dari
                 MTWI sebesar Rp. 7,978 miliar.

            2) Proforma Sebelum dan Sesudah Rencana Transaksi
                 Proforma sebelum dan sesudah Rencana Transaksi terealisasi, yang dibuat oleh BPII,
                 diuraikan sebagai berikut:

                 Proforma BPII Stand Alone
                 Berdasarkan analisa proforma laporan keuangan BPII stand alone sebelum Rencana
                 Transaksi dan sesudah Rencana Transaksi, dengan dilakukannya Rencana Transaksi
                 dapat disimpulkan sebagai berikut:
                 a) Dari total aset terdapat penambahan akun pinjaman kepada anak perusahaan
                    sebesar Rp. 80.000.000.000,- dan penambahan kas & setara kas sebesar
                    Rp. 5.460.981.112,-
                 b) Dari liabilitas terdapat penambahan akun utang bank                         sebesar
                    Rp. 28.044.624.360,- dan ekuitas sebesar Rp. 57.416.356.752,-

                 Dengan demikian terlihat perubahan atas rasio total liabilitas terhadap total aset yaitu
                 dari 0,005 menjadi sebesar 0,031, dan total liabilitas terhadap total ekuitas dari 0,005
                 menjadi sebesar 0,032.



PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                                57
Page 58
            (1) Rasio Kesehatan Keuangan MTWI
                 Dengan dilakukan Rencana Transaksi, rasio kesehatan keuangan MTWI terlihat lebih
                 baik, diantaranya adalah:

                 a) Rasio Likuiditas
                     Dengan adanya Rencana Transaksi rasio likuiditas MTWI selama 5 tahun masa
                     proyeksi tercatat masing-masing 146,05%, 146,71%, 144,70%, 144,46% dan
                     144,57%, lebih baik dibandingkan sebelum Rencana Transaksi yaitu masing-
                     masing 113,02%, 113,93%, 113,75%, 114,16% dan 113,71%.

                 b) Rasio Solvabilitas
                     Dengan adanya Rencana Transaksi rasio kecukupan investasi MTWI selama 5
                     tahun masa proyeksi tercatat masing-masing 139,07%, 153,87%, 160,80%,
                     177,08% dan 195,66%, lebih baik dibandingkan sebebelum Rencana Transaksi
                     yaitu masing-masing 140,54%, 154,51%, 161,29%, 177,52% dan 196,06%.

                 c) Rasio Kecukupan Investasi
                     Dengan adanya Rencana Transaksi rasio kecukupan investasi MTWI selama 5
                     tahun masa proyeksi tercatat masing-masing 134,08%, 130,38%, 137,14%,
                     149,98% dan 161,82%, lebih baik dibandingkan sebebelum Rencana Transaksi
                     yaitu masing-masing 120,64%, 127,60%, 130,98%, 138,91% dan 142,53%.

                 Dengan membaiknya performa MTWI, tentunya juga akan berdampak kepada BPII,
                 sehinga performa BPII secara konsolidasi menjadi lebih baik.


21.4. Analisis Atas Faktor-Faktor Lain Yang Relevan

        Analisis atas faktor-faktor lain yang relevan yang menjadi pertimbangan Rencana Transaksi
        adalah:
        a. Rencana Transaksi diharapkan dapat mendukung keberlanjutan bisnis MTWI, serta
           memberikan manfaat jangka panjang bagi BPII dan seluruh pemangku kepentingan.
        b. Rencana Transaksi tidak ditujukan untuk meningkatkan pendapatan MTWI secara
           langsung. Oleh karena itu, faktor-faktor yang digunakan dalam analisis dan proyeksi
           kinerja perlu disesuaikan dengan karakteristik Rencana Transaksi tersebut. Proyeksi
           pendapatan MTWI selama periode proyeksi diasumsikan tetap mengacu pada rencana
           bisnis yang telah ditetapkan sebelumnya dan tidak mencerminkan adanya tambahan
           pertumbuhan yang berasal dari pelaksanaan Rencana Transaksi.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                          58
Page 59
            Dengan demikian, Rencana Transaksi tidak diharapkan memberikan dampak material
            terhadap peningkatan pendapatan MTWI, melainkan berfungsi sebagai langkah
            pendanaan atau pengelolaan keuangan yang mendukung keberlangsungan kegiatan
            usaha MTWI.


22.     Kesimpulan

        Berdasarkan analisis kewajaran atas Rencana Transaksi atau “Transaksi” ini sebagaimana
        diuraikan diatas, dengan melihat alasan-alasan, manfaat, risiko dan analisis kewajaran
        Rencana Transaksi, KJPP Andesta berpendapat bahwa harga Rencana Transaksi sudah
        tepat, dan dengan memperhatikan analisis diatas, Kami menyimpulkan bahwa secara
        keseluruhan Rencana Transaksi tersebut adalah “Transaksi Wajar”.


23.     Kejadian Penting Setelah Tanggal Pendapat Kewajaran

        Berdasarkan informasi dari BPII, terdapat Kejadian-kejadian penting setelah tanggal pendapat
        kewajaran (subsequent event) diantaranya adalah:

        a. Berdasarkan surat yang dibuat oleh PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia No KSEI-
           14081/JKU/0626, tanggal 8 Juni 2026, perihal jadwal pelaksanaan pembagian deviden
           tunai atas efek MTWI, bahwa Setiap 1 (Satu) saham akan mendapatkan dividen tunai
           sebesar Rp.2,136736159 (dua Rupiah koma satu tiga enam tujuh tiga enam satu lima
           sembilan).
            Dengan kepemilikan saham BPII pada MTWI sebesar 85,90% atau 2.512.097.613 lembar
            saham, maka BPII akan menerima dividen sebesar Rp. 5.367.689.805,-

        b. Berdasarkan akta No. 17 tanggal 23 Pebruari 2026, dibuat dihadapan Jessica, S.H., M.Kn.
           notaris di Kabupaten Tangerang, mengenai Rapat Umum Pemegang Saham PT. Batavia
           Properindo Aset Manajemen (BPAM), dalam akta tersebut disebutkan bahwa persetujuan
           membagi dan membayar dividen Tahun Buku 2025 (dua ribu dua puluh lima) kepada para
           pemegang saham secara proporsional sejumlah Rp 35.000.000.000,- (tiga puluh lima
           miliar Rupiah)
            Dengan kepemilikan saham BPII pada BPAM sebesar 82,08% atau 79.998 lembar saham,
            maka BPII akan menerima dividen sebesar Rp. 28.727.543.221,-




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                           59
Page 60
24.     Distribusi Laporan Pendapat Kewajaran

        Pendapat Kewajaran ini disusun berdasarkan kondisi ekonomi dan peraturan yang ada pada
        saat ini. Kami tidak bertanggung jawab untuk memutakhirkan atau melengkapi Pendapat
        Kewajaran Kami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal Pendapat Kewajaran
        ini. Pendapat Kewajaran ini tidak sah apabila tidak dibubuhi tanda tangan pihak yang
        berwenang dari KJPP Andesta.

        Kami menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Kami tidak mempunyai kepentingan, baik
        secara langsung maupun tidak langsung atas opini Pendapat Kewajaran yang telah Kami
        laksanakan, dan Pendapat Kewajaran ini telah dilaksanakan sesuai dengan Standar Penilaian
        Indonesia dan Kode Etik Penilai Indonesia yang berlaku.



        Hormat Kami,
        KJPP Edi Andesta dan Rekan




        Ir. Edi Andesta, MAPPI (Cert)
        Pemimpin Rekan
        MAPPI 94-S-0411
        Klasifikasi: Penilai Properti dan Bisnis
        Register RMK-2017.00091
        Izin Penilai Publik PB-1.09.00095
        STTD Sektor Jasa Keuangan No. KEP-30/KS-13/2026
        Lisensi BPN No : 340/SK-600.PT.01.01/VII/2019




PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                        60
Page 61
Pernyataan Penilai
Dalam batas kemampuan dan keyakinan sebagai Penilai, Kami yang bertanda tangan dibawah ini
menyatakan bahwa :

1. Pernyataan dalam laporan ini, yang menjadi dasar analisis, pendapat dan kesimpulan yang
    diuraikan didalamnya adalah benar sesuai dengan fakta dan pemahaman terbaik Penilai.
    Selanjutnya laporan ini menjelaskan semua syarat-syarat pembatas yang mempengaruhi analisis,
    pendapat dan kesimpulan yang tertera dalam laporan ini.
2. Laporan ini telah disusun sesuai dengan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan
    No. 35/POJK.04/2020, Standar Penilai Indonesia (SPI), dan Kode Etik Penilai (KEPI). tentang
    Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Usaha di Pasar Modal serta tunduk pada
    ketentuan-ketentuan yang berlaku.
3. Kami sebagai Penilai tidak mempunyai kepentingan baik secara langsung maupun tidak secara
    langsung terhadap objek Pendapat Kewajaran.
4. Penugasan Pendapat Kewajaran professional telah dilakukan terhadap objek Pendapat Kewajaran
    pada tanggal Pendapat Kewajaran (cut off date).
5. Analisis telah dilakukan untuk maksud dan tujuan sebagaimana telah diungkap dalam laporan
    Pendapat Kewajaran.
6. Perkiraan nilai yang dihasilkan dalam penugasan Pendapat Kewajaran professional telah disajikan
    sebagai kesimpulan akhir.
7. Lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan dalam laporan Pendapat
    Kewajaran.
8. Kesimpulan nilai telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas.
9. Data ekonomi dan industri dalam laporan pendapat kewajaran diperoleh dari berbagai sumber
    yang diyakini oleh Penilai dan dapat dipertanggungjawabkan.
10. Tidak seorangpun, kecuali yang disebutkan dalam laporan Pendapat Kewajaran, telah
    menyediakan bantuan profesional dalam menyiapkan laporan Pendapat Kewajaran.

Penilai :

Ir. Edi Andesta, MAPPI (Cert)                                       ........………………………….
Pemimpin Rekan
MAPPI 94-S-0411
Register : RMK-2017.00091

Ahmad Firdaus, S.Pd.                                                ........………………………….
Supervisi
MAPPI 04-T-01814
Register : RMK-2017.00718

Iqro Haikal Sulaiman, S.E.                                          ........………………………….
Penilai
MAPPI 11-T-03175
Register : RMK-2017.00719
PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                         61
Page 62
Asumsi dan Syarat Pembatas
Pendapat Kewajaran ini berdasarkan atas asumsi-asumsi dan syarat-syarat pembatasan sebagai
berikut:

1. Bahwa semua pernyataan dan keterangan yang tercantum dalam laporan ini adalah benar dan
   sesuai dengan pengetahuan serta itikad baik dari Penilai.
2. Bahwa dengan dilandasi itikad baik, semua dokumen yang diberikan atau diperlihatkan oleh
   Pemberi Tugas dan pihak ketiga kepada Kami dalam rangka Pendapat Kewajaran ini adalah sah,
   benar, lengkap dan sesuai dengan kenyataan sebenarnya dan bahwa dokumen-dokumen yang
   diberikan kepada Kami dalam bentuk foto copy, turunan dan/atau salinan adalah sesuai dengan
   aslinya dan dokumen tersebut adalah sah, benar, lengkap serta sesuai dengan kenyataan
   sebenarnya dan Kami telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan
   dalam proses Pendapat Kewajaran.
3. Data ekonomi dan industri dalam laporan Pendapat Kewajaran, diperoleh dari berbagai sumber
   yang diyakini oleh Penilai dan dapat dipertanggungjawabkan.
4. Kami menggunakan proyeksi keuangan yang telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
   proyeksi keuangan yang dibuat oleh MTWI dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. Kami bertanggungjawab atas pelaksanaan Pendapat Kewajaran dan kewajaran proyeksi
   keuangan.
6. Kami bertanggungjawab atas laporan Pendapat Kewajaran dan kesimpulan nilai akhir.
7. Laporan Pendapat Kewajaran ini bersifat terbuka untuk publik kecuali terdapat informasi yang
   bersifat rahasia yang dapat mempengaruhi operasional Perseroan.
8. Kami telah memperoleh informasi atas status hukum objek Pendapat Kewajaran dari Pemberi
   Tugas.
9. Kecuali dinyatakan secara tegas didalam penugasan Pendapat Kewajaran ini, tidak dapat
   diasumsikan bahwa Kami berkewajiban dan telah melakukan pemeriksaan legalitas atas bisnis
   objek Pendapat Kewajaran.
10. Bukan merupakan tanggung jawab Kami atas segala tuntutan dan kewajiban yang berkaitan
    dengan penggunaan laporan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dari laporan ini.
11. Dalam Penugasan ini, Pemberi tugas telah mempelajari, mengetahui dan menyadari sepenuhnya
    mengenai keberadaan KJPP Andesta.
12. Baik KJPP Andesta, maupun para penilai dan karyawan lainnya, sama sekali tidak mempunyai
    kepentingan finansial terhadap objek Pendapat Kewajaran.
13. Kecuali dinyatakan lain, Nilai dicantumkan dalam mata uang Rupiah, demikian juga analisis dan
    perhitungan yang digunakan sebagai dasar penilaian berdasarkan mata uang Rupiah.
14. Baik KJPP Andesta, maupun para Penilai dan karyawannya, oleh karena Pendapat Kewajaran ini
    tidaklah diwajibkan memberikan kesaksian atau kehadirannya dalam pengadilan/Dewan Arbitrasi
    atau instansi Pemerintah lainnya, kecuali ada perjanjian sebelumnya.
15. Laporan ini dianggap sah apabila tertera cap (seal) dan tanda tangan Pimpinan Rekan.

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk
Pendapat Kewajaran Rencana Transaksi BPII Meminjamkan Dana kepada MTWI                        62

File

File Open PDF
Source IDX
Size1.33 MB
Published29 Jun 2026
Pages62
Characters190,864
Text sourceEmbedded text layer
OCR confidence—

Names mentioned 50 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong

linked org Batavia Prosperindo Internasional Tbk · Nama Perusahaan p.1 ×210
linked person Rudy Johansen p.9 ×3
linked person Paulin Angeline · Komisaris Independen p.9 ×2
linked person Vientje Harijanto · Direktur Utama p.9 ×4
linked person Ir. Iis Syarifuddin · Direktur p.9 ×5
linked person Rinto Cokrolukito · Direktur p.9 ×2
linked person Ilham Akbar Habibie · Komisaris Utama p.9 ×2
linked person Markus Dinarto Pranoto · Komisaris p.9 ×2
linked person Aries Setiawan Rusli · Komisaris Independen p.9 ×2
linked org Malacca Trust Pte. Ltd. p.12
linked org PT. Ilthabi Rekatama p.14
possible org Otoritas Jasa Keuangan p.1 ×4
possible person Harjanto · Direktur p.9 ×2
possible person Suwarna · Komisaris Independen p.9
possible person Irawan Soerodjo · Notaris p.11 ×12
possible org Negara Republik Indonesia p.11 ×5
possible org Bank Persero p.56
possible person Jessica p.59
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Edi Andesta dan Rekan p.1
unresolved org Kantor Jasa Penilai Publik Edi Andesta p.1
unresolved org KJPP Andesta p.1 ×15
unresolved org Menteri Keuangan p.1
unresolved org Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia p.2
unresolved org Bank Indonesia p.4 ×14
unresolved org Pusat Statistik. p.4
unresolved org Menteri Investasi p.7
unresolved org Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia p.7
unresolved org Kementerian Keuangan Republik Indonesia p.7
unresolved org Direktorat Jenderal Pajak p.7
unresolved person Rudi Setiadi Tjahjono · Direktur Utama p.7
unresolved person Luo Xude · Direktur p.7 ×2
unresolved person Irena Istary Iskandar · Komisaris Utama p.9
unresolved org Menteri Kehakiman Republik Indonesia p.11 ×3
unresolved org Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.12 ×2
unresolved person Christina Dwi Utami SH. p.12 ×2
unresolved org Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia p.12
unresolved org Penanaman Modal dan Pendayagunaan Kekayaan dan Usaha Daerah Provinsi DKI p.12
unresolved org PT Asuransi Wuwungan p.13
unresolved org Menteri p.13
unresolved — Masyarakat (masing-masing dibawah 5%) p.14
unresolved org PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia p.59
unresolved org Sentral Efek Indonesia p.59
unresolved org PT. Batavia Properindo Aset Manajemen p.59
unresolved org KJPP Edi Andesta dan Rekan p.60
unresolved org Rekan Ir. Edi Andesta p.60
unresolved person Ir. Edi Andesta, MAPPI (Cert) · Pemimpin Rekan p.60 ×4
unresolved — KEPI · Penilai p.61
unresolved person Iqro Haikal Sulaiman p.61

Extraction attempts how the parser did, and what it refused

Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.

Rule parser Needs review confidence 0.091 5856 ms 12 Sep 2026 22:00
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
 'appraiser_name': '',
 'assets': [],
 'currency': None,
 'fact_type': '',
 'issuer_name': '',
 'kind': 'MATERIAL',
 'kjpp_name': '',
 'letter_number': '',
 'object_text': '',
 'object_truncated': False,
 'parties': [],
 'pct_of_equity': None,
 'reference_period': '',
 'requires_rups': None,
 'rups_date': None,
 'ticker': '',
 'transaction_date': None,
 'valuation_date': None,
 'value': None}
↑↓ select ↵ open ⇧↵ see every result