Back to announcement
20260624_UNTR_Informasi Transaksi Afiliasi_32104031_lamp2.pdf
Asset transaction Needs review UNTRSource file signed link, expires in 15 minutes
Extracted text 123
Page 1
Page 2
Kantor Jasa Penilai Publik
The Manhattan Square
FERDINAND, DANAR, ICHSAN DAN REKAN Lt. 16, Suite D, Jl. TB Simatupang
Property, Business Valuation & Advisory Cilandak, Jakarta Selatan, 12560
Licence No. 2.22.0176 E-Mail: infoadmin@fdipartners.co
KMK 460/KM.1/2022 Website: www.fdipartners.co.id
Wilayah Kerja: Seluruh Indonesia Phone (62 21) 27875911
Jakarta, 10 Juni 2026
Kepada Yth.:
PT United Tractors Tbk
Jl. Raya Bekasi Km 22,
Cakung, Jakarta Timur 13910
No. Laporan : 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Hal : Laporan Pendapat Kewajaran
Dengan hormat,
LAPORAN PENDAPAT KEWAJARAN
PT UNITED TRACTORS TBK
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No.001/FDI/PB-FO/IV/2026 tanggal 1 April 2026, Kami
KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau “Kami”) mendapat
penugasan dari PT United Tractors Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) untuk memberikan pendapat
kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi antara Perseroan melalui PT Danusa Tambang Nusantara
(selanjutnya disebut “DTN”) pada PT Agincourt Resources (selanjutnya disebut “PTAR”) berupa transaksi
pinjam-meminjam pemegang saham atau shareholder loan, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi
Benturan Kepentingan (“POJK 42/2020”).
Maksud Pendapat Kewajaran adalah untuk memberikan opini kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi
antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham atau
shareholder loan, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan POJK 42/2020. Tujuan Pendapat
Kewajaran adalah dalam rangka memenuhi ketentuan POJK 42/2020.
Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak digunakan
untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan dalam tujuan
lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan menggunakan bantuan dari luar
maupun profesi lainnya.
Berdasarkan hasil analisis, Rencana Transaksi tersebut mengandung transaksi afiliasi namun bukan
transaksi material karena nilai transaksi di bawah 20% (dua puluh persen) dari ekuitas Perseroan per 31
Desember 2025 hal tersebut tercermin dari nilai materialitas transaksi sebesar1,14%, serta Rencana
Transaksi tersebut tidak terdapat benturan kepentingan sesuai dengan surat pernyataan
No.LUT/099/9960/VI/2026 tanggal 08 Juni 2026 perihal informasi tidak adanya benturan kepentingan
atas Rencana Transaksi.
Pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi dilakukan berdasarkan laporan keuangan per tanggal 31
Desember 2025, berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia, Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018
Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020
(POJK 35/2020), Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020
(SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
Kantor
KantorPusat
Pusat(Properti
(Propertidan
danBisnis);
Bisnis);Kantor
KantorCabang
CabangSemarang
Semarang(Properti)
(Properti); Kantor Cabang Jakarta (Bisnis)
Page 3
Metodologi Pendapat Kewajaran yang digunakan antara lain sebagai berikut: (1) Analisis Rencana Transaksi, (2) Analisis Kualitatif, (3) Analisis Kuantitatif, (4) Analisis Kelayakan Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi, dan (5) Kesimpulan Analisis atas Rencana Transaksi. Kesimpulan hasil pendapat kewajaran Analisis Rencana Transaksi Berdasarkan hasil analisis atas Rencana Transaksi, diketahui bahwa transaksi berupa fasilitas pinjaman antara DTN dan PTAR memiliki nilai sebesar USD70.000.000 atau setara dengan Rp1.174.740.000.000 dengan asumsi nilai tukar mata uang menggunakan rata-rata kurs transaksi Bank Indonesia per 31 Desember 2025, yaitu Rp16.782 per USD. Rencana Transaksi dilakukan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan kegiatan operasional PTAR serta dinilai memiliki dasar pertimbangan bisnis yang memadai. Selain itu, transaksi tidak memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan, tidak mengandung benturan kepentingan, serta tidak termasuk dalam kategori transaksi material sebagaimana diatur dalam ketentuan pasar modal yang berlaku. Selanjutnya berdasarkan analisis atas laporan keuangan proforma sebelum dan setelah Rencana Transaksi, diketahui bahwa transaksi pinjam-meminjam antara DTN dan PTAR tidak memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan Perseroan. Dari sisi likuiditas, rasio Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash Ratio relatif tidak mengalami perubahan material setelah transaksi. Sementara itu, dari sisi solvabilitas, Debt to Assets Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Times Interest Earned juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Dampak yang timbul terutama berasal dari pencatatan pajak dibayar dimuka dan utang pajak penghasilan badan akibat pendapatan dan beban bunga atas transaksi. Dengan demikian, Rencana Transaksi dinilai tidak mempengaruhi fundamental keuangan Perseroan secara material dan masih berada dalam kondisi keuangan yang sehat setelah pelaksanaan transaksi. Selanjutnya berdasarkan hasil identifikasi hubungan kepengurusan dan kepemilikan para pihak, diketahui bahwa DTN dan PTAR memiliki hubungan afiliasi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Perseroan. Hubungan afiliasi tersebut tercermin dari adanya kesamaan pengurus pada Perseroan, DTN, dan PTAR, serta hubungan kepemilikan dimana Perseroan merupakan pemegang saham mayoritas pada DTN dan DTN merupakan pemegang saham mayoritas pada PTAR. Dengan demikian, Rencana Transaksi pinjam-meminjam dana antara DTN dan PTAR merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan POJK No. 42/POJK.04/2020. Selanjutnya berdasarkan hasil penelaahan atas draf Perjanjian Pinjaman Antar Perusahaan (Intercompany Loan Agreement) antara DTN dan PTAR, diketahui bahwa perjanjian telah memuat ketentuan pokok terkait fasilitas pinjaman dengan jumlah pokok sebesar USD70.000.000, dengan tingkat suku bunga berupa SOFR + 1,15% (Margin) per tahun. Selain itu, perjanjian juga mengatur mengenai jangka waktu pinjaman, mekanisme pembayaran kembali, hak dan kewajiban para pihak, serta ketentuan hukum lainnya yang lazim dalam transaksi pinjam-meminjam. Secara umum, ketentuan dalam perjanjian telah memberikan kejelasan mengenai pelaksanaan Rencana Transaksi dan dapat menjadi dasar hukum yang memadai bagi para pihak dalam melaksanakan transaksi tersebut. Selanjutnya berdasarkan analisis yang dilakukan, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan terhadap likuiditas Perseroan, yang tercermin dari rasio Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash Ratio sebelum dan setelah transaksi yang relatif tidak mengalami perubahan material. Kondisi tersebut disebabkan nilai Rencana Transaksi relatif kecil dibandingkan total kas dan setara kas Perseroan per tanggal pendapat kewajaran. Selain itu, kemampuan PTAR dalam melunasi pinjaman saat jatuh tempo dinilai memadai, yang tercermin dari tingkat likuiditas PTAR yang berada di atas 1 kali selama periode Halaman 2 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 4
historis, tingkat solvabilitas yang relatif rendah, serta posisi kas dan setara kas PTAR yang mampu menyerap seluruh nilai pokok pinjaman. Dengan demikian, PTAR dinilai memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman sampai dengan jatuh tempo. Serta berdasarkan informasi yang diperoleh dari Perseroan, Rencana Transaksi memberikan manfaat bagi para pihak, antara lain berupa optimalisasi pengelolaan kas dalam kelompok usaha, peningkatan pendapatan bunga bagi DTN selaku pemberi pinjaman, serta dukungan pendanaan modal kerja bagi PTAR selaku penerima pinjaman guna menjaga kelancaran operasional usaha. Di sisi lain, Rencana Transaksi juga memiliki risiko, terutama risiko gagal bayar atas pokok dan bunga pinjaman yang dapat berdampak terhadap arus kas dan kinerja keuangan para pihak. Namun demikian, dengan mempertimbangkan hubungan afiliasi, tujuan penggunaan dana, serta mekanisme pengaturan dalam perjanjian pinjaman, risiko tersebut dinilai masih dapat dikelola dan berada dalam batas yang wajar. Analisis Kualitatif Berdasarkan analisis kualitatif yang telah dilakukan, Rencana Transaksi memiliki rasionalitas bisnis yang memadai dan sejalan dengan strategi pengelolaan pendanaan dalam kelompok usaha. Rencana Transaksi memberikan manfaat berupa optimalisasi pengelolaan kas, tambahan pendapatan bunga bagi DTN, serta dukungan pendanaan operasional bagi PTAR. Risiko utama berupa risiko gagal bayar dan tekanan likuiditas dinilai masih dapat dikelola melalui mekanisme pengaturan dalam perjanjian pinjaman, kondisi keuangan PTAR, serta pengawasan manajemen. Dengan demikian, secara kualitatif Rencana Transaksi tidak menimbulkan risiko material bagi Perseroan maupun kelompok usaha. Analisis Kuantitatif Berdasarkan analisis kuantitatif yang mencakup rasio keuangan, proforma laporan keuangan, kemampuan bayar, analisis likuiditas, financial covenant, serta incremental analysis, Rencana Transaksi tidak memberikan perubahan signifikan terhadap kondisi keuangan Perseroan. Rasio likuiditas dan solvabilitas Perseroan tetap berada pada tingkat yang sehat setelah transaksi dilakukan. Selain itu, PTAR dinilai memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman sampai dengan jatuh tempo. Rencana Transaksi juga memberikan nilai tambah berupa tambahan pendapatan bunga dan peningkatan laba setelah pajak selama masa pinjaman. Analisis Kelayakan Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi Berdasarkan analisis kelayakan penggunaan dana, Rencana Transaksi dinilai layak dari perspektif pinjam-meminjam dana karena memberikan manfaat ekonomi bagi DTN melalui pendapatan bunga dengan tingkat pengembalian yang memadai. Dari sisi PTAR, kemampuan pelunasan utang dinilai memadai berdasarkan historis kinerja keuangan, tingkat likuiditas dan solvabilitas, serta posisi kas dan setara kas perusahaan. Selain itu, tidak terdapat faktor lain yang relevan dan bersifat material yang dapat memengaruhi pelaksanaan maupun kewajaran Rencana Transaksi. Kesimpulan Analisis atas Rencana Transaksi Berdasarkan analisis yang telah kami lakukan terhadap informasi, data, serta asumsi-asumsi yang disampaikan oleh manajemen Perseroan, dan dengan mempertimbangkan kondisi serta faktor-faktor yang relevan, kami berpendapat bahwa Rencana Transaksi afiliasi antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham atau shareholder loan adalah wajar. Halaman 3 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 5
Page 6
DAFTAR ISI SURAT PENGANTAR ................................................................................................................1 DAFTAR ISI .............................................................................................................................5 DAFTAR TABEL ........................................................................................................................7 DAFTAR GRAFIK......................................................................................................................9 BAB I ............................................................................................................................. 10 PENDAHULUAN ................................................................................................................... 10 1.1 Uraian Mengenai Penugasan ....................................................................................... 10 1.2 Identitas Status Penilai ................................................................................................. 10 1.3 Identitas Pemberi Tugas ............................................................................................... 10 1.4 Identitas Pengguna Laporan ........................................................................................ 10 1.5 Objek Pendapat Kewajaran ......................................................................................... 11 1.6 Jenis Mata Uang Yang Digunakan ............................................................................... 11 1.7 Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran ..................................................................... 11 1.8 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan ........................ 11 1.9 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ............................................................................ 11 1.10 Sumber Data dan Informasi ......................................................................................... 12 1.11 Hasil Pelaksanaan Inspeksi .......................................................................................... 16 1.12 Asumsi Dan Kondisi Pembatas ..................................................................................... 17 1.13 Asumsi dan Asumsi Khusus .......................................................................................... 17 1.14 Konfirmasi Bahwa Pendapat Kewajaran Dilakukan Berdasarkan Standar ........................ 17 1.15 Metodologi Analisis Pendapat Kewajaran ...................................................................... 17 1.16 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli ............................................................... 18 1.17 Pernyataan Independensi Penilai .................................................................................. 18 1.18 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event) ...................................... 18 BAB II ............................................................................................................................. 20 ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI ..................................................................................... 20 2.1. Analisis Objek Rencana Transaksi ................................................................................ 20 2.1.1 Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi ................................................................ 20 2.1.2 Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi .................................................................. 20 2.1.3 Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi .............................................. 24 2.2. Analisis Rencana Transaksi .......................................................................................... 24 2.2.1 Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Keuangan Perusahaan ...................................... 24 2.2.2 Identifikasi & Hubungan Pihak Yang Bertransaksi .......................................................... 25 2.2.3 Analisis Perjanjian & Syarat Rencana Transaksi.............................................................. 33 2.2.4 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi ............................................................................ 35 2.2.5 Analisis Manfaat & Risiko Rencana Transaksi................................................................. 36 BAB III ............................................................................................................................. 37 ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ATAS RENCANA TRANSAKSI ........................................ 37 3.1 Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi ..................................................................... 37 3.1.1 Riwayat Singkat Perseroan ........................................................................................... 37 3.1.2 Analisis Industri & Bisnis .............................................................................................. 39 3.1.3 Analisis Operasional & Prospek Perusahaan ................................................................. 48 3.1.4 Alasan Dan Latar Belakang Rencana Transaksi ............................................................. 51 3.1.5 Analisis Keuntungan & Kerugian Kualitatif ..................................................................... 51 3.1.6 Dampak Leverage Terhadap Keuangan (Dibanding Industri Sejenis) ............................... 52 3.1.7 Dampak Likuiditas & Kemampuan Melunasi Pinjaman Saat Jatuh Tempo ........................ 54 3.1.8 Dampak Jika Proyek Dibiayai Gagal ............................................................................ 55 3.2 Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi ................................................................... 56 3.2.1 Kinerja Historis ........................................................................................................... 56 3.2.2 Penilaian Atas Proyeksi Keuangan ................................................................................ 81 3.2.3 Analisis Rasio Keuangan .............................................................................................. 85 3.2.4 Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi .............................. 92 3.2.5 Analisis Kemampuan Bayar Sampai Saat Jatuh Tempo .................................................. 96 3.2.6 Analisis Cash Management Dan Financial Covenant ...................................................... 97 3.2.7 Analisis Yield Dibanding Instrumen Sejenis (Obligasi/Kredit Bank) .................................. 98 Halaman 5 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 7
3.2.8 Incremental Analysis (Nilai Tambah) ............................................................................. 99 3.3 Analisis Kelayakan Penggunaan Dana ........................................................................ 101 3.3.1 Analisis Kelayakan Pinjaman Dana............................................................................. 101 3.3.2 Analisis Kelayakan Pelunasan Utang .......................................................................... 101 3.3.3 Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan ....................................................................... 102 BAB IV ........................................................................................................................... 103 KESIMPULAN ...................................................................................................................... 103 4.1 Analisis Objek Rencana Transaksi .............................................................................. 103 4.2 Analisis Pengaruh atas Rencana Transaksi .................................................................. 103 4.3 Identifikasi Dan Hubungan Antara Pihak Dalam Hal Transaksi ..................................... 104 4.4 Analisis Perjanjian Dan Persyaratan Yang Disepakati ................................................... 104 4.5 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi .......................................................................... 105 4.6 Analisis Manfaat Dan Risiko Dari Rencana Transaksi ................................................... 105 4.7 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi.................................................................... 105 4.8 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi .................................................................. 106 4.9 Analisis Kelayakan Rencana Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi ....................... 106 4.10 Opini Kewajaran atas Rencana Transaksi ................................................................... 106 ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS ......................................................................... 107 PERNYATAAN PENILAI ......................................................................................................... 108 LAMPIRAN-LAMPIRAN .......................................................................................................... 110 Halaman 6 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 8
DAFTAR TABEL Tabel 1. Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran ................................................................................ 11 Tabel 2. Keterangan Laporan Keuangan Perseroan ....................................................................... 12 Tabel 3. Keterangan Laporan Keuangan DTN ............................................................................... 14 Tabel 4. Keterangan Laporan Keuangan PTAR .............................................................................. 15 Tabel 5. Indentitas dan Jabatan Pihak yang di Wawancarai ........................................................... 17 Tabel 6. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan ....... 20 Tabel 7. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan ....... 23 Tabel 8. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Likuiditas ..................... 24 Tabel 9. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Solvabilitas .................. 25 Tabel 10. Struktur Pemegang Saham Perseroan ............................................................................ 26 Tabel 11. Struktur Pemegang Saham DTN .................................................................................... 28 Tabel 12. Struktur Pemegang Saham PTAR .................................................................................... 30 Tabel 13. Hubungan Para Pihak Yang Terlibat Dalam Rencana Transaksi (Struktur Kepengurusan) ... 31 Tabel 14. Materialitas Rencana Nilai Transaksi .............................................................................. 33 Tabel 15. Rasio Likuiditas Sebelum dan Setelah adanya Transaksi .................................................. 35 Tabel 16. Struktur Pemegang Saham Perseroan ............................................................................ 38 Tabel 17. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%) ................................................................... 42 Tabel 18. Mesin Konstruksi .......................................................................................................... 49 Tabel 19. Kontraktor Penambangan ............................................................................................. 49 Tabel 20. Kinerja Operasional Batu Bara dan Metalurgi ................................................................. 50 Tabel 21. Kinerja Emas dan Mineral Lainnya ................................................................................. 50 Tabel 22. Leverage Perseroan – Historis ........................................................................................ 52 Tabel 23. Leverage Perseroan – Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi ........................................ 52 Tabel 24. Penentuan Perusahaan Industri Sejenis ........................................................................... 53 Tabel 25. Rasio Debt to Equity Perusahaan Pembanding ................................................................ 53 Tabel 26. Rasio Debt to Assets Perusahaan Pembanding ................................................................ 53 Tabel 27. Rasio Likuiditas Perseroan ............................................................................................. 54 Tabel 28. Rasio Likuiditas PTAR .................................................................................................... 55 Tabel 29. Rasio Solvabilitas PTAR ................................................................................................. 55 Tabel 30. Analisis Cash Management Perseroan ............................................................................ 56 Tabel 31. Laporan Posisi Keuangan Perseroan Periode 31 Desember 2021–31 Desember 2025....... 56 Tabel 32. Laporan Laba Rugi Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 .............. 61 Tabel 33. Laporan Arus Kas Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ................ 62 Tabel 34. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%) ...................................... 66 Tabel 35. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%) ............................................... 67 Tabel 36. Laporan Posisi Keuangan DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ............ 68 Tabel 37. Laporan Laba Rugi DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ...................... 71 Tabel 39. Laporan Arus Kas DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025........................ 73 Tabel 39. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%) ...................................... 74 Tabel 40. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%) ............................................... 74 Tabel 41. Laporan Posisi Keuangan PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ............ 75 Tabel 42. Laporan Laba Rugi PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ..................... 78 Tabel 43. Laporan Arus Kas PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025 ....................... 80 Tabel 44. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%) ...................................... 80 Tabel 45. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%) ............................................... 81 Tabel 46. Proyeksi Keuangan (Posisi Keuangan) Perseroan Sebelum Rencana Transaksi ................... 82 Tabel 47. Proyeksi Keuangan (Laba/Rugi) Perseroan Sebelum Rencana Transaksi ............................ 83 Tabel 48. Proyeksi Keuangan (Posisi Keuangan) Perseroan Setelah Rencana Transaksi ..................... 83 Tabel 49. Proyeksi Keuangan (Laba/Rugi) Perseroan Setelah Rencana Transaksi .............................. 84 Tabel 50. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) .......................................................... 85 Tabel 51. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) .......................................................... 87 Tabel 52. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) .......................................................... 90 Tabel 53. Proforma Laporan Posisi Keuangan Perseroan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi ....... 92 Tabel 54.Proforma Laporan Laba Rugi Perseroan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi .................. 95 Tabel 55. Analisis Kemampuan Bayar Sampai Jatuh Tempo – Rasio Keuangan PTAR ....................... 96 Halaman 7 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 9
Tabel 56. Analisis Cash Management Perseroan ............................................................................ 97 Tabel 58.Analisis Financial Covenant Perseroan............................................................................. 97 Tabel 58. Analisis Cash Management PTAR ................................................................................... 98 Tabel 59. Yield Intercompany Loan DTN & PTAR ............................................................................ 98 Tabel 60. Obligasi Pemerintah ..................................................................................................... 98 Tabel 61. Tingkat Suku Bunga Simpanan ...................................................................................... 99 Tabel 62. Incremental Analysis (Nilai Tambah) – Laporan Posisi Keuangan .................................... 100 Tabel 63. Incremental Analysis (Nilai Tambah) – Laporan Laba Rugi ............................................. 101 Halaman 8 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 10
DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Bagan Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan ...................................... 32 Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 – 2025 (% yoy)......................................... 39 Grafik 3. Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun 2021 –2025 ........... 40 Grafik 4. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2030 (yoy %) ................................................................. 40 Grafik 5. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%) ....................................................... 41 Grafik 6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Tahun 2025 ............................................................. 41 Grafik 7. Cadangan Mineral Indonesia Tahun 2024 (juta Ton) ...................................................... 42 Grafik 8. Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024 (juta Ton) ................................................... 43 Grafik 9. Produksi Mineral dan Batu Bara tahun 2023 – 2024....................................................... 43 Grafik 10. Perkembangan Jumlah IUP/IUPPK/KK/IPR Tahun 2024 ................................................. 44 Grafik 11. Perkembangan Reklamasi Pertambangan di Indonesia ................................................. 44 Grafik 12. Perkembangan Harga Mineral dan Batu Bara Acuan Indonesia ..................................... 45 Grafik 13. Perkembangan Ekspor Mineral Tahun 2020 – 2025 ..................................................... 45 Grafik 14. Nilai Ekspor Batu Bara Indonesia Tahun 2020 – Agustus 2025 ...................................... 46 Grafik 15. Nilai Impor Mesin dan Alat Berat Pertambangan .......................................................... 46 Grafik 16. Perkembangan Harga Acuan Emas, Perak, Tembaga dan Batu Bara Global .................. 47 Grafik 17. Perkembangan Permintaan Emas dan Batu Bara Tahun 2020 - 2024 ............................ 48 Halaman 9 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Uraian Mengenai Penugasan
Berdasarkan persetujuan atas surat penawaran No.001/FDI/PB-FO/IV/2026 tanggal 1 April
2026, Kami KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (selanjutnya disebut “KJPP FDI&R” atau
“Kami”) mendapat penugasan dari PT United Tractors Tbk (selanjutnya disebut “Perseroan”) untuk
memberikan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi afiliasi antara Perseroan melalui PT
Danusa Tambang Nusantara (selanjutnya disebut “DTN”) pada PT Agincourt Resources
(selanjutnya disebut “PTAR”) berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham atau
shareholder loan, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan (“POJK
42/2020”).
1.2 Identitas Status Penilai
Penilaian ini dilakukan oleh KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R), selaku Penilai
Independen untuk memberikan pendapat kewajaran yang objektif dan tidak memihak, sesuai
KEPI; memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian atas objek penilaian yang dimaksud. KJPP
Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) adalah Kantor Jasa Penilai Publik yang memegang
Izin Usaha No.2.22.0176 tanggal 21 April 2022 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dan
mempunyai Penilai Publik sebagai berikut:
• Rekan, Danar Wihandoyo, adalah seorang Penilai Publik untuk klasifikasi penilaian bisnis
dengan Izin No. B-1.09.00213 dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Beliau adalah
anggota dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia.
• Penugasan pendapat kewajaran ini bersifat independen, tidak memiliki keterlibatan material
atau benturan kepentingan baik aktual maupun potensial dengan obyek penilaian dan/ atau
pemilik aset/properti/ekuitas, menjunjung tinggi obyektifitas, profesional dan tidak memihak.
• Seluruh Penilai, tenaga ahli dan staf pelaksana dalam penugasan ini adalah satu kesatuan
tim penugasan di bawah kordinator Penilai berizin atau penanggung jawab laporan
pendapat kewajaran ini.
1.3 Identitas Pemberi Tugas
Nama Pemberi Tugas : PT United Tractors Tbk
Alamat : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur 13910
Bidang Usaha : Perdagangan Umum
No. Telepon/Fax : +62 21 2457 9999
Alamat Email : Yudistira@unitedtractors.com
Penanggung Jawab : Bapak Yudistira
Jabatan : Corporate Finance & Accounting Division Head
1.4 Identitas Pengguna Laporan
Pengguna laporan dalam pendapat kewajaran ini adalah sama dengan Pemberi Tugas.
Halaman 10 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 12
1.5 Objek Pendapat Kewajaran
Objek Pendapat Kewajaran dalam hal ini adalah pendapat kewajaran atas Transaksi afiliasi
antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham
atau shareholder loan.
1.6 Jenis Mata Uang Yang Digunakan
Rencana Transaksi akan dilaksanakan dengan menggunakkan mata uang Dolar Amerika Serikat
(”USD”)
1.7 Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran
Maksud Pendapat Kewajaran adalah untuk memberikan opini kewajaran atas Transaksi afiliasi
antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham
atau shareholder loan, yang diperlukan guna memenuhi ketentuan POJK 42/2020. Tujuan
Pendapat Kewajaran adalah dalam rangka memenuhi POJK 42/2020.
Laporan pendapat kewajaran ini digunakan untuk penggunaan di pasar modal, dan tidak
digunakan untuk di luar maksud dan tujuan Pendapat Kewajaran tersebut, maupun penggunaan
dalam tujuan lainnya. Dalam penugasan ini, bilamana dianggap perlu, penilai akan
menggunakan bantuan dari luar maupun profesi lainnya.
1.8 Tanggal Pendapat Kewajaran (Cut Off Date) dan Masa Berlaku Laporan Pendapat Kewajaran
Tanggal Pendapat Kewajaran adalah tanggal 31 Desember 2025, dimana batas tersebut diambil
atas dasar pertimbangan kepentingan dan tujuan penilaian.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal, masa berlaku laporan pendapat kewajaran
adalah selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif pendapat kewajaran (cut off date) dalam
laporan pendapat kewajaran.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka masa berlaku laporan pendapat
kewajaran ini yaitu selama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif pendapat kewajaran (cut off date)
dalam laporan pendapat kewajaran.
1.9 Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
Ruang lingkup penyusunan Laporan Pendapat Kewajaran mengacu pada POJK Nomor
35/POJK.04/2020 dan SEOJK Nomor 17/SEOJK.04/2020. Dengan demikian, ruang lingkup
Pendapat Kewajaran didasarkan pada analisis kewajaran atas Rencana Transaksi, yang meliputi:
Tabel 1. Ruang Lingkup Pendapat Kewajaran
Aspek Ketentuan Utama
- Besaran dana dari objek Rencana Transaksi
Analisis Objek Rencana
- Dampak keuangan Rencana Transaksi
Transaksi
- Pertimbangan bisnis manajemen atas Rencana Transaksi
- Pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan
Analisis Rencana Transaksi
- Identifikasi & hubungan pihak yang bertransaksi
Halaman 11 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 13
Aspek Ketentuan Utama
- Analisis perjanjian & syarat Rencana Transaksi
- Analisis likuiditas Rencana Transaksi
- Analisis manfaat & risiko Rencana Transaksi
- Riwayat perusahaan & riwayat pinjam-meminjam
- Analisis industri & bisnis
- Analisis operasional & prospek perusahaan
- Alasan dan latar belakang Rencana Transaksi
Analisis Kualitatif
- Keuntungan & kerugian kualitatif
- Dampak leverage terhadap keuangan (dibanding industri sejenis)
- Dampak likuiditas & kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo
- Dampak jika proyek dibiayai gagal
- Kinerja historis & proyeksi keuangan
- Analisis rasio keuangan
- Proforma Laporan Keuangan sebelum & setelah Rencana Transaksi
- Analisis kemampuan bayar sampai saat jatuh tempo
Analisis Kuantitatif
- Analisis cash management dan financial covenant
- Analisis yield dibanding instrumen sejenis (obligasi/kredit bank)
- Incremental analysis (nilai tambah)
- Sensitivity analysis (jika perlu)
- Analisis kelayakan investasi;
Analisis Kelayakan
- Analisis kelayakan pelunasan utang
Penggunaan Dana
- Analisis atas faktor lain yang relevan
Kesimpulan - Opini Kewajaran Rencana Transaksi
Sumber: SEOJK Nomor 17/SEOJK.04/2020 Bab IV
1.10 Sumber Data dan Informasi
Sumber data dan informasi yang kami gunakan dalam proses Pendapat Kewajaran Perseroan
adalah sebagai berikut:
a. Perseroan
Laporan Keuangan
Tabel 2. Keterangan Laporan Keuangan Perseroan
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP: Rintis,
31 Jumadi, Rianto & 26
00190/2.1457/AU.1/05/0241-
1 Desember Audit Rekan Februari Wajar
3/1/II/2026
2025 AP: Yanto, S.E., 2026
AK., M.Ak., CPA
KAP: Rintis,
31 Jumadi, Rianto & 26
00180/2.1457/AU.1/05/0241-
2 Desember Audit Rekan Februari Wajar
2/1/II/2025
2024 AP: Yanto, S.E., 2025
AK., M.Ak., CPA
Halaman 12 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 14
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 23
00190/2.1025/AU.1/05/0241-
3 Desember Audit Rekan Februari Wajar
2/1/II/2024
2023 AP: Yanto, S.E., 2024
M.Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 23
00177/2.1025/AU.1/05/0239-
4 Desember Audit Rekan Februari Wajar
3/1/II/2023
2022 AP: Lok Budianto, 2023
S.E., Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 21
00121/2.1025/AU.1/05/0239-
5 Desember Audit Rekan Februari Wajar
2/1/II/2022
2021 AP: Lok Budianto, 2022
S.E., Ak., CPA
KAP: Tanudiredja,
31 Wibisana, Rintis & 19
00157/2.1025/AU.1/05/0239-
6 Desember Audit Rekan Februari Wajar
1/1/II/2021
2020 AP: Lok Budianto, 2021
S.E., Ak., CPA
Keterangan: KAP (Kantor Akuntan Publik); AP (Akuntan Publik)
Proyeksi Keuangan dan Proforma Keuangan
1. Proyeksi Keuangan Perseroan Periode 31 Januari 2026 – 31 Mei 2029 (sebelum dan
setelah) adanya Rencana Transaksi dalam format MS. Excel, yang disiapkan oleh
manajemen Perseroan.
2. Proforma Keuangan Perseroan per 31 Desember 2025 (sebelum dan setelah) adanya
transaksi yang disiapkan oleh manajemen Perseroan.
Akta Pendirian dan Perubahan-Perubahannya - Perseroan
1. Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H. Akta Pendirian tersebut disahkan
oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/34/8
tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 31,
Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
2. Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose Dima Satria, S.H.,
M.Kn., notaris di Jakarta, tentang perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
yang telah mendapat Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dari
Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.
AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
3. Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn.,
notaris di Jakarta, tentang perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, yang telah
mendapat penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai
dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
Legalitas Perusahaan - Perseroan
1. Surat Izin Lokasi, tanggal 07 September 2018.
2. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 01.308.524.6-091.000.
Halaman 13 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 15
3. Tanda Daftar Perusahaan Perseroan Terbatas No. 09.04.1.46.00794, tanggal 31 Mei
2011.
4. Nomor Induk Berusaha No. 8120009960872, tanggal 07 September 2018.
Informasi Lainnya - Perseroan
1. Draf Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) PT Danusa Tambang Nusantara dan PT
Agincourt Resources.
2. Surat Pernyataan No.LUT/099/9960/VI/2026 tanggal 08 Juni 2026 perihal informasi
tidak adanya benturan kepentingan atas Rencana Transaksi.
3. Surat Pernyataan Kebenaran Data dan Informasi tanggal 08 Juni 2026.
4. Daftar Permintaan Data (Information Request List).
5. Daftar Pertanyaan (List of Question).
b. DTN
Laporan Keuangan - DTN
Tabel 3. Keterangan Laporan Keuangan DTN
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP: Rintis,
31
Jumadi, Rianto & 00611/2.1457/AU.1/02/0241- 10 April
1 Desember Audit Wajar
Rekan 2/1/IV/2026 2026
2025
AP: Yanto
KAP: Rintis,
31 Jumadi, Rianto &
00557/2.1457/AU.1/02/1782- 14 April
2 Desember Audit Rekan Wajar
1/1/IV/2025 2025
2024 AP: Dedy
Lesmana
KAP: Rintis,
31
Jumadi, Rianto & 00225/2.1457/AU.1/02/0241- 28 Juni
3 Desember Audit Wajar
Rekan 2/1/VI/2024 2024
2023
AP: Yanto
KAP:
31 Tanudiredja, 21
00327/2.1025/AU.1/02/0239-
4 Desember Audit Wibisana, Rintis Maret Wajar
3/1/III/2023
2022 & Rekan 2023
AP: Lok Budianto
KAP:
Tanudiredja,
31 31
Wibisana, Rintis 00475/2.1025/AU.1/02/0239-
5 Desember Audit Maret Wajar
& Rekan 2/1/III/2022
2021 2022
KAP: Lok
Budianto
KAP:
31 Tanudiredja, 31
00444/2.1025/AU.1/02/0239-
6 Desember Audit Wibisana, Rintis Maret Wajar
1/1/III/2021
2020 & Rekan 2021
AP: Lok Budianto
Keterangan: KAP (Kantor Akuntan Publik); AP (Akuntan Publik)
Halaman 14 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 16
Akta Pendirian dan Perubahan-Perubahannya - DTN
1. Akta Nota Fenny Juni Aruan No. 032 tanggal 22 Mei 2015 dengan nama PT Danusa
Tambang Nusantara Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-2443737.AH.01.01.Tahun
2015 pada tanggal 16 Juni 2015.
2. Akta No. 21 tanggal 21 November 2019 yang dibuat di hadapan Marianne Vincentia
Hamdani notaris di Jakarta, tentang Perubahan anggaran dasar perusahaan, yang telah
mendapat persetujuan perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik
Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 04 Desember 2019 No. AHU-
0101375.AH.01.02.Tahun 2019.
3. Akta No. 5 tanggal 10 April 2023 yang dibuat dihadapan Notaris Marianne Vincentia
Hamdani, S.H., berkedudukan di Jakarta Utara dan telah mendapatkan penrsetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-AH.09.0109151 tanggal 12 April 2023.
4. Akta No. 2 tanggal 02 Agustus 2024 yang dibuat dihadapan Notaris Marianne Vincentia
Hamdani, S.H., berkedudukan di Jakarta Utara dan telah mendapatkan penrsetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-AH.01.09-0237175 tanggal 08 Agustus
2024.
5. Akta No. 30 tanggal 20 Mei 2025 yang dibuat dihadapan Notaris Marianne Vincentia
Hamdani, S.H., berkedudukan di Jakarta Utara dan telah mendapatkan penrsetujuan dari
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-AH.01.09-0296377 tanggal 11 Juni
2025.
Legalitas Perusahaan - DTN
1. Surat Pernyataan Domisili, tanggal 16 Januari 2024.
2. Nomor Pokok Wajib Pajak No. 74.053.596.8-004.000
3. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) No.
34799/24.1.0/31/75.00.000/1.824.271/2015 tanggal 22 Oktober 2015
4. Keterangan Terdaftar No. S-7538KT/WPJ.20/KP.0403/2015, tanggal 28 September
2015
5. Nomor Induk Berusaha No. 0268010040784 tanggal 8 Oktober 2020
6. Tanda Daftar Perseroan No. 09.03.1.46.41818 tanggal 5 November 2015
c. PTAR
Laporan Keuangan - PTAR
Tabel 4. Keterangan Laporan Keuangan PTAR
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP:
31 20
Rintis, Jumadi, 00108/2.1457/AU.1/02/
1 Desember Audited Februari Wajar
Rianto & Rekan 0241-1/1/II/2026
2025 2026
AP: Yanto
KAP:
31 20
Rintis, Jumadi, 00119/2.1457/AU.1/02/
2 Desember Audit Februari Wajar
Rianto & Rekan 178-2/1/II/2025
2024 2025
AP:Dedy Lesmana
Halaman 15 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 17
Tanggal
No Periode Ket KAP & AP Nomor Laporan Opini
Laporan
KAP:
31 15
Rintis, Jumadi, 00051/2.1025/AU.1/02/
3 Desember Audit Februari Wajar
Rianto & Rekan 1130-3/1/II/2024
2023 2024
AP: Daniel Kohar
KAP:
31
Rintis, Jumadi, 00327/2.1025/AU.1/02/ 21 Maret
4 Desember Audit Wajar
Rianto & Rekan 0239-3/1/III/2023 2023
2022
AP: Daniel Kohar
KAP:
31 14
Rintis, Jumadi, 00070/2.1025/AU.1/02/
5 Desember Audit Februari20 Wajar
Rianto & Rekan 1130-1/1/II/2022
2021 22
AP: Daniel Kohar
KAP:
31
Rintis, Jumadi, 00444/2.1025/AU.1/02/ 31 Maret
6 Desember Audit Wajar
Rianto & Rekan 0239-1/1/III/2021 2021
2020
AP: Toto Harsono
Keterangan: KAP (Kantor Akuntan Publik); AP (Akuntan Publik)
Akta Pendirian dan Perubahan-Perubahannya - PTAR
1. Akta PT Danau Toba Mining yang dibuat oleh Notaris Haji Muhammad Afdal Gazali, S.H.,
tanggal 15 April 1997 yang berkedudukan di Jakarta dan telah mendapatkan
pengesahan dari Kementerian Kehakiman Republik Indonesia No. 02-
3010.HT.01.01.TH.’97 tanggal 24 April 1997
2. Akta No 64 tanggal 25 Januari 2001 dibuat oleh Notaris Haji Muhammad Afdal Gazali,
S.H., Notaris di Jakarta tentang perubahan Nama Perseroan dari PT Danau Toba Mining
menjadi PT Horas Nauli dan telah mendapatkan pengesahan dari Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. C-1699HT.01.04-TH.2001 tanggal 7 Maret
2001.
3. Akta No. 14 tanggal 28 Februari 2003 oleh Notaris Siti Safarijah., S.H., berkedudukan di
Jakarta perihal perubahan nama dari PT Horas Nauli menjadi PT Newmont Horas Nauli
dan telah disahkan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia No.C-05570HT.01.04.TH.2003 tanggal 17 Maret 2003.
4. Akta No. 40 tanggal 29 September 2006 oleh Notaris Mala Mukti, S.H., berkedudukan di
Jakarta perihal perubahan nama perusahaan dari PT Newmont Horas Nauli menjadi PT
Agincourt Resources dan telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia No. W7.01496HT.01.04-TH.2006 tanggal 10 Oktober 2006.
5. Akta No. 12 tanggal 25 Maret 2024 oleh Notaris Moeliana Santoso, S.H., M.Kn.,
berkedudukan di Kabupaten Tangerang dan telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia No. AHU-AH.01.09-0121171 tanggal 26 Maret 2024
1.11 Hasil Pelaksanaan Inspeksi
Berdasarkan surat tugas KJPP FDI&R No.007A/FDI/ST-PB/UT/IV/2026 tanggal 07 April 2026 serta
berita acara inspeksi, kami telah melakukan Inspeksi, pengumpulan data, diskusi, verifikasi dan
wawancara atas objek pendapat kewajaran. Surat tugas, berita acara inspeksi, dan MoM (Minutes
of Meeting) terdapat pada lampiran laporan ini.
Halaman 16 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 18
Informasi Mengenai Identitas Dan Jabatan Pihak Yang Telah Diwawancarai
Tabel 5. Indentitas dan Jabatan Pihak yang di Wawancarai
Nama Jabatan Perusahaan
Rendih Section Head PT United Tractors Tbk
Sofi Christiana Associate PT United Tractors Tbk
Kevin Rosby Section Head PT United Tractors Tbk
Muhamad Ilham Gunawan Associate PT United Tractors Tbk
Devista Yoga Associate PT United Tractors Tbk
Derick Associate PT United Tractors Tbk
Sumber: Surat Tugas Inspeksi, Berita Acara Inspeksi dan Minutes of Meeting
1.12 Asumsi Dan Kondisi Pembatas
a. Laporan penilaian ini bersifat non-disclaimer opinion;
b. Penilai telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses
penilaian;
c. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke
akuratannya;
d. Proyeksi keuangan yang digunakan telah disesuaikan yang mencerminkan kewajaran
proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen dengan kemampuan pencapaiannya
(fiduciary duty);
e. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas pelaksanaan Penilaian dan kewajaran proyeksi
keuangan yang telah disesuaikan;
f. Laporan Penilaian ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia
yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan;
g. Penilai bertanggung jawab atas Laporan Penilaian dan kesimpulan nilai akhir.
h. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum Objek Penilaian dari Pemberi Tugas.
1.13 Asumsi dan Asumsi Khusus
Asumsi:
• Kami tidak melakukan reviu terhadap aspek hukum maupun uji tuntas aspek keuangan, oleh
karena itu kami berasumsi bahwa objek yang kami nilai tidak mempunyai masalah hukum
dan hak kepemilikannya adalah sah dan dapat dipasarkan.
• Kami berasumsi bahwa objek yang ditunjukan kepada kami adalah benar merupakan objek
dalam penilaian.
1.14 Konfirmasi Bahwa Pendapat Kewajaran Dilakukan Berdasarkan Standar
Pendapat Kewajaran akan dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia, Standar Penilaian
Indonesia Tahun 2018 Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan
Nomor 35/POJK.04/2020 (POJK 35/2020) serta Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik
Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020 (SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian dan
Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
1.15 Metodologi Analisis Pendapat Kewajaran
Dalam menyusun Laporan Pendapat Kewajaran atas Rencana Transaksi ini, kami telah
melakukan analisis melalui pendekatan dan prosedur penilaian Transaksi yang mencakup hal–
hal sebagai berikut:
Halaman 17 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 19
a. Analisis Rencana Transaksi berupa pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan,
identifikasi & hubungan pihak yang bertransaksi, analisis perjanjian & syarat Rencana
Transaksi, analisis likuiditas Rencana Transaksi, serta analisis manfaat & risiko Rencana
Transaksi.
b. Analisis Kualitatif berupa riwayat perusahaan & riwayat pinjam-meminjam dana, analisis
industri & bisnis, analisis operasional & prospek perusahaan, alasan dan latar belakang
Rencana Transaksi, keuntungan & kerugian kualitatif, dampak leverage terhadap keuangan
(dibanding industri sejenis), dampak likuiditas & kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh
tempo, serta dampak jika proyek dibiayai gagal.
c. Analisis Kuantitatif berupa kinerja historis perusahaan, penilaian atas proyeksi keuangan,
analisis rasio keuangan, proforma laporan keuangan sebelum & setelah Rencana Transaksi,
analisis kemampuan bayar sampai saat jatuh tempo, analisis cash management dan financial
covenant, analisis yield dibanding instrumen sejenis (obligasi/kredit bank), incremental
analysis (nilai tambah), serta sensitivity analysis (jika diperlukan).
d. Analisis Kelayakan Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi berupa Analisis kelayakan
investasi, Analisis kelayakan pelunasan utang serta Analisis atas faktor lain yang relevan.
e. Kesimpulan Analisis atas Rencana Transaksi berupa Opini Kewajaran Rencana Transaksi.
1.16 Tenaga Ahli dan Hasil Pekerjaan Tenaga Ahli
Dalam memberikan pendapat kewajaran atas Rencana Transaksi, KJPP FDI&R tidak
menggunakan hasil pekerjaan tenaga ahli dari luar.
1.17 Pernyataan Independensi Penilai
Dalam mempersiapkan laporan pendapat kewajaran ini, KJPP FDI&R bertindak secara
independen tanpa adanya benturan kepentingan, dan tidak terafiliasi dengan Perseroan dan PTAR
ataupun pihak pihak lainnya yang terafiliasi dengan dengan Perseroan dan PTAR. KJPP FDI&R
juga tidak memiliki kepentingan ataupun keuntungan pribadi terkait dengan penugasan ini.
Laporan pendapat kewajaran ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan
pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran nilai
yang dihasilkan dari proses analisis kewajaran ini.
1.18 Kejadian Penting Setelah Tanggal Penilaian (Subsequent Event)
Dari tanggal penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (cut-off date) per 31 Desember 2025
hingga Laporan Pendapat Kewajaran ini diterbitkan terdapat kejadian penting setelah tanggal
penilaian atas kewajaran Rencana Transaksi (Subsequent Event) yang tidak mempengaruhi hasil
penilaian yaitu:
1. Berdasarkan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2026 Perseroan tertanggal
20 April 2026, Perseroan telah melakukan perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi,
sehingga susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan sebagai berikut::
Dewan Komisaris:
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Halaman 18 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 20
Komisaris : Rudy
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Lincoln Pan
Direksi:
Presiden Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Hendra Hutahean
Direktur : Andreas
2. Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek Perseroan sebagaimana telah
disampaikan Perseroan kepada masyarakat per tanggal 30 April 2026, struktur kepemilikan
saham Perseroan adalah sebagai berikut:
Jumlah Lembar Jumlah Nominal
Pemegang saham (%)
Saham (Rp. Juta)
PT Astra International Tbk 2.219.317.358 554.829 59,50%
Masyarakat (< 5%) 1.307.565.678 326.891 35,06 %
Saham treasuri 203.252.100 50.813 5,44%
Jumlah 3.730.135.136 932.534 100,00%
Halaman 19 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 21
BAB II
ANALISIS ATAS RENCANA TRANSAKSI
2.1. Analisis Objek Rencana Transaksi
2.1.1 Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Manajemen Perseroan serta mengacu pada ketentuan
dalam Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) antara DTN dan PTAR, besaran dana yang menjadi
objek dalam Rencana Transaksi adalah berupa fasilitas pinjaman dengan jumlah pokok sebesar
USD70.000.000 (Tujuh Puluh juta Dolar Amerika Serikat) atau setara dengan
Rp1.174.740.000.000 (Satu Triliun Seratus Tujuh Puluh Empat Miliar Tujuh Ratus Empat Puluh juta
Rupiah) dengan asumsi nilai tukar mata uang menggunakan rata-rata kurs transaksi Bank
Indonesia per 31 Desember 2025, yaitu Rp16.782 per USD.
Nilai tersebut merupakan batas maksimum fasilitas pinjaman yang dapat dimanfaatkan oleh
Penerima Pinjaman sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diatur dalam perjanjian.
2.1.2 Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi
Dampak keuangan atas Rencana Transaksi dapat dilihat dari perubahan keuangan pada pos-
pos yang terdampak. Pada Rencana Transaksi ini, dampak keuangan atas Rencana Transaksi
disajikan pada tabel berikut:
Tabel 6. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 26.570.772 26.570.772
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 18.559.795 18.559.795
Pihak Berelasi 1.357.868 1.357.868
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 492.811 492.811
Pihak Berelasi 1.203.084 1.203.084
Persediaan 16.729.809 16.729.809
Proyek dalam Pelaksanaan 28.698 28.698
Pihak Ketiga
Pihak Berelasi
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.653.543 8.461 1.662.004
Pajak Lain-lain 3.643.857 3.643.857
Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 1.543.309 1.543.309
Aset Lancar Lain-lain 357.480 357.480
Total Aset Lancar 72.141.026 8.461 72.149.487
Halaman 20 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 22
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Aset Tidak Lancar
Kas dan deposito berjangka yang dibatasi
787.806 787.806
penggunaannya
Piutang usaha
Pihak Ketiga 453.411 453.411
Pihak Berelasi 18.957 18.957
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 88.336 88.336
Pihak Berelasi 3.103.936 3.103.936
Persediaan 105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.446.559 1.446.559
Pajak Lain-lain 1.650.429 1.650.429
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 793.619 793.619
Investasi pada entitas asosiasi Investments
17.223.562 17.223.562
in associates dan ventura bersama
Investasi jangka panjang 3.175.766 3.175.766
Aset tetap 45.296.550 45.296.550
Properti pertambangan 14.809.384 14.809.384
Properti investasi 244.469 244.469
Beban eksplorasi dan pengembangan
2.768.518 2.768.518
tangguhan
Aset tambang berproduksi 3.958.340 3.958.340
Beban tangguhan 1.169.123 1.169.123
Aset pajak tangguhan 4.891.419 4.891.419
Goodwill 3.510.559 3.510.559
Total Aset Tidak Lancar 105.496.273 0 105.496.273
Total Aset 177.637.299 8.461 177.645.760
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha
Pihak Ketiga 29.095.249 29.095.249
Pihak Berelasi 213.679 213.679
Utang non-usaha
Pihak Ketiga 1.132.969 1.132.969
Pihak Berelasi 87.548 87.548
Utang pajak
Pajak Penghasilan Badan 825.803 8.461 834.264
Pajak Lain-lain 584.846 584.846
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan
Pihak Ketiga 857.034 857.034
Pihak Berelasi 44.175 44.175
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Halaman 21 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 23
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Pinjaman bank jangka pendek 560.000 560.000
Bagian jangka pendek dari utang jangka
panjang
Pinjaman Bank 9.682.666 9.682.666
Liabilitas Sewa 801.430 801.430
Pinjaman Lain-lain 560.318 560.318
Pinjaman bank jangka pendek dari
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Lain-
lain
Total Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 8.461 53.221.436
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Provisi rehabilitasi, reklamasi, dan
1.154.627 1.154.627
penutupan tambang
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang, setelah dikurangi
bagian jangka pendek
Pinjaman Bank 6.054.620 6.054.620
Liabilitas Sewa 976.309 976.309
Pinjaman Lain-lain 281.698 281.698
Liabilitas keuangan jangka panjang lain-
3.555.105 3.555.105
lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 0 21.288.001
Total Liabilitas 74.500.976 8.461 74.509.437
Ekuitas
Ekuitas yang diatribusikan kepada entitas
induk
Modal Disetor 932.534 932.534
Tambahan Modal Disetor 9.703.937 9.703.937
Saham Tresuri -4.902.237 -4.902.237
Saldo Laba
Dicadangkan 186.507 186.507
Belum Dicadangkan 85.547.627 2.200 85.549.827
Selisih kurs dari penjabaran Laporan
9.227.066 9.227.066
keuangan
Cadangan lindung nilai -2.065.280 -2.065.280
Cadangan penyesuaian nilai wajar aset
19.386 19.386
tetap
Transaksi dengan Kepentingan
-875.920 -875.920
Nonpengendali
Total Ekuitas yang diatribusikan kepada
97.773.620 97.775.820
entitas induk
Kepentingan Nonpengandali 5.362.703 -2.200 5.360.503
Total Ekuitas 103.136.323 103.136.323
Total Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 177.645.760
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Halaman 22 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 24
Tabel 7. Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi – Proforma Laporan Keuangan Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Laba Rugi 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) -101.597.306
Laba bruto 29.703.504 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) -1.597.792
Beban umum dan administrasi (6.040.414) -6.040.414
Beban lain-lain, bersih (256.226) -256.226
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) -2.625.818
Bagian atas laba bersih entitas asosiasi
(245.576) -245.576
dan ventura bersama
Laba sebelum pajak penghasilan 20.182.167 20.182.167
Beban pajak penghasilan (5.005.403) -5.005.403
Laba tahun berjalan 15.176.764 15.176.764
Laba Setelah Pajak Yang Didistribusilan
Kepada
Pemilik Entitas Induk 14.810.434 2.200 14.812.634
-
Kepentingan Non-Pengendali 366.330 364.130
2.200
Total Laba Setelah Pajak 15.176.764 15.176.764
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Dampak dari Rencana Transaksi terhadap keuangan Perseroan diantaranya:
• Terdapat penerimaan kas sebesar Rp1,17 triliun dari sisi PTAR yang merupakan perusahaan
terafiliasi dengan Perseroan dan kas keluar sebesar Rp1,17 triliun dari sisi DTN yang
merupakan anak perusahaan Perseroan lewat penyertaan langsung dan tidak langsung, pada
tingkat Perseroan, masing masing penerimaan kas dan kas keluar tersebut dieliminasi akibat
konsolidasi grup entitas sehingga penerimaan kas dan kas keluar atas pinjaman tidak
mengubah posisi kas dan setara kas Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal
pendapat kewajaran.
• Terdapat beban bunga sebesar Rp56,4 miliar dan utang pajak pph 23 sebesar Rp8,46 miliar
dari sisi PTAR yang merupakan perusahaan terafiliasi dengan Perseroan dan pendapatan
bunga sebesar Rp56,4 miliar serta pajak pph 23 dibayar dimuka sebesar Rp8,46 miliar akibat
beban bunga yang timbul dari Rencana Transaksi. Pada tingkat Perseroan, masing masing
beban bunga, dan pendapatan bunga tersebut dieliminasi akibat konsolidasi grup entitas
sehingga beban bunga dan pendapatan bunga atas pinjaman tidak mengubah posisi
penghasilan keuangan dan beban keuangan Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal
pendapat kewajaran.
• Terdapat manfaat pajak sebesar Rp12,41 miliar dari sisi PTAR akibat adanya beban bunga
sehingga mengurangi laba kena pajak PTAR, dari sisi DTN terdapat beban pajak sebesar
Rp12,41 miliar akibat pendapatan bunga sehingga meningkatkan laba kena pajak
perusahaan. Pada tingkat Perseroan, masing masing manfaat pajak, dan beban pajak tersebut
dieliminasi akibat konsolidasi grup entitas sehingga manfaat pajak dan beban pajak atas
beban dan pendapatan bunga tidak mengubah posisi beban pajak dan manfaat pajak
Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal pendapat kewajaran.
Halaman 23 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 25
• Terdapat kenaikan laba yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,2 miliar
akibat distribusi 5% kepemilikan PTAR pada pemegang saham lain terhadap beban bunga dan
manfaat pajak setelah Rencana Transaksi.
Secara garis besar, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan terhadap laporan
posisi keuangan dan laba rugi Perseroan per tanggal pendapat kewajaran sebelum dan setelah
Rencana Transaksi. Perbedaan timbul pada pos manfaat pajak penghasilan dan utang pajak
penghasilan akibat pph 23 pendapatan dan beban bunga. Selain itu perbedaan timbul akibat
distribusi 5% kepemilikan PTAR pada pemegang saham lain terhadap beban bunga dan manfaat
pajak setelah Rencana Transaksi.
2.1.3 Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi
Berdasarkan keterangan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi pinjam-meminjam dana yang
akan dilakukan antara para pihak bertujuan untuk mendukung kegiatan operasional PTAR,
khususnya dalam memenuhi kebutuhan modal kerja dan memastikan kelancaran aktivitas usaha.
Manajemen menilai bahwa penyediaan pendanaan melalui skema ini merupakan langkah
strategis untuk menjaga kesinambungan operasional serta meningkatkan efisiensi pengelolaan
keuangan, mengingat fleksibilitas yang lebih tinggi dibandingkan sumber pendanaan eksternal,
sehingga Rencana Transaksi dipandang memiliki dasar pertimbangan bisnis yang memadai dan
sejalan dengan kepentingan Perseroan.
2.2. Analisis Rencana Transaksi
2.2.1 Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Keuangan Perusahaan
Berdasarkan informasi Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi akan memberikan dampak
terhadap kinerja keuangan para pihak, dimana pada level DTN akan terjadi peningkatan
pendapatan bunga (interest income) sebagai hasil dari pemberian pinjaman. Sementara itu, pada
level PTAR, transaksi ini akan menimbulkan beban bunga (interest expense) yang harus
ditanggung selama periode pinjaman. Secara keseluruhan, transaksi ini mencerminkan adanya
pergeseran komponen pendapatan dan beban dalam kelompok usaha, dengan potensi
peningkatan imbal hasil bagi pemberi pinjaman serta peningkatan beban keuangan bagi
penerima pinjaman.
Pengaruh transaksi terhadap keuangan perusahaan dapat dianalisis dari laporan keuangan
proforma perusahaan sebelum dan setelah melakukan transaksi. Analisis dilakukan
menggunakan rasio fundamental perusahaan berupa rasio likuiditas dan rasio solvabilitas untuk
melihat bagaimana Rencana Transaksi mempengaruhi fundamental perusahaan.
Tabel 8. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,356X 1,356X 0,000X
Quick Ratio 1,041X 1,041X 0,000X
Cash Ratio 0,499X 0,499X 0,000X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 24 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 26
Tabel 9. Pengaruh Rencana Transaksi Terhadap Laporan Keuangan – Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Debt to Assets Ratio 0,106X 0,106X 0,000X
Debt to Equity Ratio 0,183X 0,183X 0,000X
Times Interest Earned 8,403X 8,403X 0,000X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Dilihat dari rasio likuiditas sebelum dan setelah Rencana Transaksi, terdapat selisih tidak signifikan
pada current ratio, quick ratio, dan cash ratio sebelum dan setelah Rencana Transaksi. Hal tersebut
karena timbulnya pajak dibayar dimuka atas pajak penghasilan badan dan utang pajak atas
pajak penghasilan badan.
Pada analisis solvabilitas, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan pada Debt to
Assets Ratio dan tidak memberikan dampak pada Debt to Equity Ratio Perseroan serta Times
Interest Earned Perseroan. Adanya sedikit dampak tersebut karena pinjaman yang diberikan
Perseroan bersumber dari dana internal dan dari dana yang dipinjamkan, timbul kenaikan pada
pos pajak dibayar dimuka berupa pajak penghasilan badan sehingga meningkatkan total aset
perseroan dan menurunkan rasio Debt to Asset perseroan.
2.2.2 Identifikasi & Hubungan Pihak Yang Bertransaksi
Identifikasi Pihak yang Bertransaksi
A. Perseroan
Riwayat Singkat
Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H. Akta
Pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusan No. Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita
Negara No. 31, Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
Selain itu, Perseroan telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan
Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat penerimaan
pemberitahuan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14
Mei 2025 No.AHU-AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. Perseroan berkedudukan di
Jakarta, Indonesia.
Halaman 25 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 27
Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan
yang didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah
Jardine Cycle & Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle &
Carriage Ltd. adalah anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang
didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Ruang lingkup kegiatan utama Perseroan dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
meliputi penjualan dan penyewaan alat berat (“mesin konstruksi”) beserta pelayanan purna
jual; penambangan dan kontraktor penambangan; pengolahan mineral; rekayasa,
perencanaan, perakitan, dan pembuatan komponen mesin, alat, peralatan, dan alat berat;
pembuatan kapal serta jasa perbaikannya; penyewaan kapal dan angkutan pelayaran;
industri konstruksi; dan energi.
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur, Indonesia, 13910
No. Telp / Fax : +62 21 2457 9999
Website : www.unitedtractors.com
Email :-
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen Perseroan, susunan kepemilikan saham Perseroan per 31
Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Struktur Pemegang Saham Perseroan
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Jumlah
Saham
1 PT Astra International Tbk 2.219.317.358 59,50% 554.829.339.500
Franciscus Xaverius Laksana
2 700.000 0,02% 175.000.000
Kesuma (Presiden Direktur)
3 Iwan Hadiantoro (Direktur) 168.100 0,00% 42.025.000
4 Loudy Irwanto Ellias (Direktur) 65.515 0,00% 16.378.750
5 Vilihati Surya (Direktur) 13.000 0,00% 3.250.000
6 Widjaja Kartika (Direktur) 2.000 0,00% 500.000
Masyarakat selain Direksi
7 (masing-masing kepemilikan 1.356.530.263 36,37% 339.132.565.750
dibawah 5%)
Jumlah Saham Beredar 3.576.796.236 95,89% 894.199.059.000
Saham Treasury 153.338.900 4,11% 38.334.725.000
Jumlah Saham Ditempatkan
3.730.135.136 100,00% 932.533.784.000
dan Disetor Penuh
Keterangan: Nilai nominal Rp.250 per lembar saham
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
Halaman 26 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 28
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09- 0238092, Susunan Dewan
Komisaris, Direksi, dan Komite Audit Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Djony Bunarto Tjondro
Wakil Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Benjamin Herrenden Birks
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Direksi
Presiden Direktur : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
Direktur : Loudy Irwanto Ellias
Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Hendra Hutahean
Komite Audit
Ketua : Ignasius Jonan
Anggota : Wanny Wijaya
Anggota : Mario C. Surung Gultom
B. DTN
Riwayat Singkat
DTN didirikan berdasarkan Akta No. 32 yang dibuat dihadapan Marianne Vincentia Hamdani,
SH, notaris di Jakarta, tanggal 22 Mei 2015. Akta Pendirian tersebut telah disetujui oleh
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Suratnya No. AHU-
2443737.AH.01.01 tanggal 16 Juni 2015. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami
perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan terakhir berdasarkan pada Akta Notaris No. 30
tanggal 20 Mei 2025 dari Notaris Marianne Vincentia Hamdani, SH, Notaris di Jakarta,
tentang perubahan Direksi dan Dewan Komisaris. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia telah menerima dan mencatat perubahan tersebut berdasarkan Surat
Pengakuan No. AHU-AH.01.09-0296377 tanggal 11 Juni 2025. Perusahaan dan anak
perusahaannya (bersama-sama disebut “Grup”) menjalankan usaha di bidang perdagangan
besar logam dan Bijih logam. Kantor pusat Perusahaan berlokasi di Jalan Rawa Gelam 1/9
Nomor 9, Kawasan Industri Pulo Gadung, Desa/Kelurahan Jatinegara, Kec. Cakung, Kota
Adm. Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, Kode Pos: 13930. Perusahaan merupakan anak
perusahaan dari PT United Tractors Tbk, suatu perusahaan yang didirikan di Republik
Halaman 27 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 29
Indonesia, sedangkan entitas induk utama (“UPE”) Perusahaan adalah Jardine Matheson
Holdings Ltd., perusahaan yang didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Kegiatan Usaha Perusahaan berdasarkan Nomor Induk Berusaha adalah di bidang
Perdagangan Besar Logam dan Bijih Logam (KBLI 44620). Sedangkan berdasarkan Akta No.
32 tanggal 22 Mei 2015, kegiatan usaha DTN meliputi:
a. Menjalankan usaha dalam bidang pertambangan antara lain: nikel; batu bara; timah dan
logam; emas; perak; bijih uranium dan thorium; pasir besi bijih besi; penggalian batuan
tambang; tanah liat, granit, gamping dan pasir; tambang non migas; peledak area
pertambangan; eksplorasi dan eksploitasi air mineral; pengeboran; teknologi perforasi;
eksplorasi dan eksploitasi mineral dan metal
b. Menjalankan usaha dalam bidang jasa
c. Melakukan kegiatan di bidang perdagangan pada umumnya termasuk ekspor, impor,
lokal, antar pulau (interinsulair) baik atas perhitungan sendiri maupun atas perhitungan
dengan pihak lain secara komisi menjadi distributor, leveransier, grosier, supplier dan
agen dari perusahaan lain baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain
meliputi perdagangan hasil pertambangan mineral, emas, tembaga, perak, bijih besi,
pasir besi, nikel, timah dan logam, penggalian batuan tambang, tanah liat, granit,
gamping dan pasir, aluminium, grafit, molybdenum, cobalt, serta tambang non-migas.
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jalan Rawa Gelam 1/9 Nomor 9, Kawasan Industri Pulo Gadung,
Desa/Kelurahan Jatinegara, Kec. Cakung, Kota Adm. Jakarta Timur,
Provinsi DKI Jakarta, Kode Pos: 13930.
No. Telp / Fax :-
Website :-
Email :-
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen DTN dan Laporan Keuangan Audit 31 Desember 2025,
susunan kepemilikan saham DTN per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 11. Struktur Pemegang Saham DTN
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Jumlah
Saham
1 PT United Tractors Tbk 1.740.777 60% 17.407.770
2 PT Pamapersada Nusantara 1.160.518 40% 11.605180
Jumlah 2.901.295 100,00% 29.012.950
Keterangan: Nilai nominal Rp.1.000.000 per lembar saham
Sumber: Laporan Keuangan DTN 31 Desember 2025
Susunan Pengurus
Berdasarkan Akta No. 30 tanggal 20 Mei 2025, Susunan Dewan Komisaris, Direksi, dan
Komite Audit DTN per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Halaman 28 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 30
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris : Hendra Hutahean
Komisaris : Vilihati Surya
Direksi
Presiden Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Muliady Sutio
Direktur : Matius
Direktur : Ruli Tanio
Direktur : Arga Firmansyah
C. PTAR
Riwayat Singkat
PTAR sebelumnya bernama PT Danau Toba Mining, didirikan berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia, sesuai dengan Akta Notaris No. 281 tanggal 14 April 1997, dibuat di
hadapan Notaris Haji Muhammad Afdal Gazali, S.H. Jakarta. Akta tersebut disetujui oleh
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sesuai dengan Surat Keputusan No.C2-
3010.HT.01.01.TH.1997 tanggal 24 April 1997 dan diumumkan dalam Tambahan No. 3232,
Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 63 tanggal 8 Agustus 1997. Anggaran Dasar
Perusahaan telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Akta Notaris No. 12 tanggal 25 Maret
2024 dibuat dihadapan Notaris Moeliana Santoso, S.H., M.Kn., Tangerang. Perubahan ini
telah dilaporkan dan diterima oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dalam Surat Penerimaan No. AHU-AH.01.09-0121171 Tahun 2024 tanggal 26 Maret 2024.
Selain itu, Perusahaan telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 4 tanggal 14 April 2025 dibuat di hadapan
Moeliana Santoso, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat pemberitahuan
penerimaan dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 April
2025 No. AHU-AH.01.09-0186924. Entitas induk langsung Perusahaan adalah DTN, suatu
perusahaan yang didirikan di Republik Indonesia, sedangkan entitas induk tertinggi
Perusahaan adalah Jardine Matheson Holdings Ltd, suatu perusahaan yang didirikan di
Bermuda.
Kegiatan Usaha
Kegiatan Usaha Perusahaan sesuai dengan Nomor Induk Berusaha No.9120301181453
adalah di bidang pertambangan emas dan perak (KBLI 07301).
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Lv.12, Suite 1201, Pondok Indah Office Tower 2, Jl. Sultan Iskandar Muda
Kav-V-TA, Pondok Indah, Jakarta Selatan, 12310.
No. Telp / Fax : +62-21 8067 2000
Website : agincourtresources.com
Email :-
Halaman 29 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 31
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen dan Laporan Kuangan Audit 31 Desember 2025, susunan
kepemilikan saham PTAR per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Struktur Pemegang Saham PTAR
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Total
Saham
PT Danusa Tambang
1 80.750.000 95% 80.750.000
Nusantara
2 PT Artha Nugraha Agung 4.250.000 5% 4.250.000
Jumlah 10.000 100,00% 85.000.000
Keterangan: Nilai nominal 1 USD per lembar saham
Sumber: Informasi Manajemen PTAR
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen PTAR dan Laporan Keuangan Audit 31 Desember 2025,
Susunan Dewan Komisaris, Direksi PTAR per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Iwan Hadiantoro
Komisaris : Bambang Susigit
Komisaris : Hendra Hutahean
Komisaris : Linda Helena Darmalina
Komisaris : Vilihati Surya
Direksi
Presiden Direktur : Muliady Sutio
Wakil Presiden Direktur : Ruli Tanio
Direktur : Noviandri
Direktur : Sanny Tjan
Hubungan Pihak yang Bertransaksi
A. Transaksi Afiliasi
Sesuai dengan POJK 42/2020, transaksi afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi
yang dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau pengendali.
Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepengurusan
Hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana Transaksi, berdasarkan struktur
kepengurusan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Halaman 30 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 32
Tabel 13. Hubungan Para Pihak Yang Terlibat Dalam Rencana Transaksi (Struktur
Kepengurusan)
No Nama Perseroan DTN PTAR Keterangan
Presiden Tidak
1 Djony Bunarto Tjondro (-) (-)
Komisaris Afiliasi
Wakil
Tidak
2 Rudy Presiden (-) (-)
Afiliasi
Komisaris
Tidak
3 Djoko Pranoto Santoso Komisaris (-) (-)
Afiliasi
Tidak
4 Gita Tiffani Boer Komisaris (-) (-)
Afiliasi
Tidak
5 Benjamin Herrenden Birks Komisaris (-) (-)
Afiliasi
Paulus Bambang Komisaris Tidak
6 (-) (-)
Widjanarko Independen Afiliasi
Komisaris Tidak
7 Bruce Malcolm Cox (-) (-)
Independen Afiliasi
Komisaris Tidak
8 Ignasius Jonan (-) (-)
Independen Afiliasi
Franciscus Xaverius Presiden Tidak
9 (-) (-)
Laksana Kesuma Direktur Afiliasi
Tidak
10 Loudy Irwanto Ellias Direktur (-) (-)
Afiliasi
Presiden Komisaris
11 Iwan Hadiantoro Direktur Terafiliasi
Direktur Utama
Tidak
12 Idot Supriadi Direktur (-) (-)
Afiliasi
Tidak
13 Widjaja Kartika Direktur (-) (-)
Afiliasi
14 Vilihati Surya Direktur Komisaris Komisaris Terafiliasi
Tidak
15 Ari Sutrisno Direktur (-) (-)
Afiliasi
16 Hendra Hutahean Direktur Komisaris Komisaris Terafiliasi
Presiden Tidak
17 Frans Kesuma (-) (-)
Komisaris Afiliasi
Presiden
18 Muliady Sutio (-) Direktur Terafiliasi
Direktur
Tidak
19 Matius (-) Direktur (-)
Afiliasi
Wakil
20 Ruli Tanio (-) Direktur Presiden Terafiliasi
Direktur
Tidak
21 Arga Firmansyah (-) Direktur (-)
Afiliasi
Tidak
22 Bambang Susigit (-) (-) Komisaris
Afiliasi
Tidak
23 Linda Helena Darmalina (-) (-) Komisaris
Afiliasi
Tidak
24 Noviandri (-) (-) Direktur
Afiliasi
Tidak
25 Sanny Tjan (-) (-) Direktur
Afiliasi
Keterangan: (-) Tidak memiliki hubungan afiliasi
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan, DTN & PTAR Per 31 Desember 2025
Berdasarkan POJK 42/2020, transaksi Afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
Halaman 31 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 33
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali. Dari tabel hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana
Transaksi, dapat dilihat bahwa antara Perseroan selaku pemegang saham mayoritas dari DTN
(selaku pemberi pinjaman) dan PTAR (selaku penerima pinjaman) memiliki hubungan afiliasi
dari sisi pengurus yaitu:
1. Iwan Hadiantoro selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Presiden Direktur DTN
sekaligus menjabat sebagai Komisaris Utama PTAR
2. Vilihati Surya selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Komisaris di DTN dan PTAR
3. Hendra Hutahean selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Komisaris di DTN dan
PTAR.
4. Mauliady Sutio selaku Direktur DTN juga menjabat sebagai Presiden Direktur PTAR.
5. Ruli Tanio selaku Direktur DTN juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PTAR.
Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan.
Hubungan para pihak yang terlibat dalam Rencana Transaksi, berdasarkan struktur
kepemilikan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Grafik 1. Bagan Hubungan Para Pihak Berdasarkan Struktur Kepemilikan
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
Keterangan:
UNTR : PT United Tractors Tbk atau Perseroan
DTN : PT Danusa Tambang Nusantara
PTAR : PT Agincourt Resources
Berdasarkan POJK 42/2020, transaksi afiliasi adalah setiap aktivitas dan/atau transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali dengan afiliasi dari
perusahaan terbuka atau afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali, termasuk setiap aktivitas dan/atau transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan terbuka atau perusahaan terkendali untuk kepentingan Afiliasi dari
perusahaan terbuka atau Afiliasi dari anggota direksi, anggota dewan komisaris, pemegang
saham utama, atau Pengendali. Dari gambar bagan diatas dapat dilihat bahwa antara
Perseroan sebagai pemegang saham mayoritas DTN selaku Pemberi Pinjaman dan PTAR
sebagai pihak Penerima Pinjaman, terdapat hubungan afiliasi, dari sisi
pengendalian/kepemilikan perusahaan, maupun pemegang sahamnya, dimana:
Halaman 32 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 34
• Perseroan memiliki 100% saham pada 60% DTN, sehingga DTN merupakan entitas anak
yang dikendalikan sepenuhnya oleh Perseroan.
• DTN memiliki 95% saham pada PTAR, sedangkan sisanya 5% dimiliki oleh PT Artha
Nugraha Agung.
• Mengingat DTN merupakan entitas anak yang saham mayoritas dimiliki oleh Perseroan
dan DTN merupakan pemegang saham mayoritas PTAR, maka Perseroan melalui DTN ke
PTAR tergolong sebagai pihak afiliasi secara tidak langsung melalui kepemilikan DTN pada
PTAR.
Oleh karena itu, Rencana Transaksi ini memenuhi kriteria transaksi afiliasi menurut POJK
42/2020.
B. Transaksi Benturan Kepentingan
Menurut informasi manajemen yang mengacu pada Surat Pernyataan Perseroan
No.LUT/099/9960/VI/2026 tanggal 08 Juni 2026 perihal Informasi terkait benturan atas
transaksi afiliasi antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam
pemegang saham atau shareholder loan bahwa Rencana Transaksi tidak mengandung
transaksi benturan kepentingan.
C. Materialitas Nilai Rencana Transaksi
Materialitas nilai transaksi dilakukan dengan membandingkan nilai Rencana Transaksi dengan
ekuitas Perseroan periode 31 Desember 2025.
Tabel 14. Materialitas Rencana Nilai Transaksi
Nilai Transaksi Ekuitas Materia
Ket
USD Rupiah USD Rupiah litas (%)
Rencana
70.000.000 1.174.740.000.000 6.145.651.472 103.136.323.000.000 1,14%
Transaksi
Sumber: Analisis KJPP FDI&R (Kurs: Rp16.782/USD).
Asumsi nilai tukar mata uang dalam analisis ini menggunakan rata-rata kurs transaksi Bank
Indonesia per 31 Desember 2025, yaitu Rp16.782 per USD. Kemudian berdasarkan laporan
keuangan Perseroan per 31 Desember 2025, ekuitas Perseroan tercatat sebesar
Rp103.136.323.000.000 atau setara dengan USD6.145.651.472. Dengan
mempertimbangkan nilai transaksi sebesar USD70.000.000 atau setara dengan
Rp1.174.740.000.000, maka transaksi tersebut setara dengan 1,14% dari ekuitas Perseroan.
Oleh karena itu, transaksi dimaksud tidak termasuk sebagai transaksi material sebagaimana
yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha (“POJK
17/2020”).
2.2.3 Analisis Perjanjian & Syarat Rencana Transaksi
Berdasarkan draf Perjanjian Pinjaman Antar Perusahaan atau Intercompany Loan Agreement
antara PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Agincourt Resources bahwa dalam perjanjian
Rencana Transaksi berisi ketentuan mengenai:
Halaman 33 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 35
1. Tujuan
Tujuan pinjaman oleh debitur dimana digunakan untuk Mendukung kebutuhan modal kerja
PTAR sehingga dapat menjaga kelancaran operasional perusahaan serta memastikan
keberlangsungan kegiatan perusahaan secara optimal.
2. Pinjaman
a. Jumlah fasilitas pokok senilai USD70.000.000.
b. Marjin 1,15% per tahun.
c. Tingkat suku bunga per tahun yaitu SOFR + 1,15% (Margin).
d. Bunga pinjaman wajib dibayar sesuai suku bunga yang ditetapkan dan dihitung serta
dibayarkan berdasarkan ketentuan.
e. Pinjaman dapat digunakan selama periode pinjaman yang berlaku dan dapat
diperpanjang berdasarkan kesepakatan para pihak.
f. Pinjaman bersifat revolving, sehingga debitur dapat meminjam kembali atas pinjaman
yang telah dilunasi selama periode pinjaman masih berlangsung.
g. Periode Pinjaman berarti periode yang dimulai sejak tanggal Perjanjian ini dan akan tetap
berlaku sampai dengan 31 Mei 2029.
3. Ketentuan Pembayaran Kembali
a. Pinjaman wajib dilunasi paling lambat pada tanggal pembayaran yang ditentukan,
namun kreditur berhak sewaktu-waktu meminta pelunasan dipercepat dengan kewajiban
debitur membayar dalam waktu 5 (lima) hari kerja sejak pemberitahuan.
b. Kreditur berhak menuntut pelunasan segera atas pinjaman dan bunga terutang apabila
terjadi Peristiwa Ketidakmampuan (insolvency event) pada debitur.
c. Debitur dapat melakukan pembayaran dipercepat sebagian atau seluruh pinjaman
dengan pemberitahuan tertulis minimal 5 (lima) hari kerja sebelumnya, dan pembayaran
tersebut bersifat final serta tidak dapat ditarik kembali.
d. Seluruh pembayaran kepada kreditur dilakukan tanpa set-off, klaim balik, atau
pengurangan, dengan tetap memperhatikan ketentuan perpajakan yang berlaku.
4. Penghitungan dan Bukti Utang
a. Pemberi Pinjaman melakukan pencatatan atas seluruh kewajiban pinjaman debitur sesuai
praktik yang berlaku sebagai dasar penentuan jumlah utang.
b. Pencatatan tersebut memiliki kekuatan pembuktian dalam proses hukum dan menjadi
bukti yang sah atas keberadaan serta besaran kewajiban debitur.
5. Ketidakberlakuan
Apabila pada setiap waktu suatu ketentuan Perjanjian ini adalah atau menjadi tidak sah,
tidak berlaku atau tidak dapat dilaksanakan berdasarkan suatu ketentuan hukum yang
diberlakukan oleh suatu pengadilan dari jurisdiksi yang berwenang, ketentuan tersebut akan,
sepanjang dipersyaratkan oleh hukum tersebut, dipisahkan dari Perjanjian ini dan dinyatakan
tidak berlaku efektif selama dimungkinkan dan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini akan
tidak terpengaruh.
Halaman 34 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 36
6. Pemberitahuan
Setiap pemberitahuan (termasuk permintaan pembayaran) berdasarkan Perjanjian ini harus
dibuat dalam bentuk tertulis. Setiap pemberitahuan yang diberikan olah suatu Pihak akan
dianggap cukup apabila disampaikan atau dikirimkan ke Pihak lainnya melalui surat tercatat
ke alamatnya yang terdaftar atau melalui faksimili ke nomor yang tertera di Lampiran
(sebagaimana diubah dari waktu ke waktu). Setiap pemberitahuan kepada Pemberi
Pinjaman akan dianggap telah diteirma apabila disampaikan atau dikirimkan kepada
Pemberi Pinjaman dengan surat tercatat ke alamatnya yang terdaftar.
7. Pengalihan
Pemberi Pinjaman dapat mengalihkan sebagian atau seluruh haknya berdasarkan Perjanjian
ini.
8. Pelaksanaan Hak
Salah satu Pihak dapat melaksanakan suatu hak, kuasa atau upaya berdasarkan
keputusannya, dan terpisah atau bersamaan dengan hak, kuasa atau upaya lainnya. Suatu
pelaksanaan hak, kuasa atau upaya oleh salah satu Pihak tidak menghalangi pelaksanaan
hak, kuasa atau upaya lainnya oleh Pihak tersebut. Kegagalan oleh salah satu Pihak untuk
melaksanakan atau menunda pelaksanaan suatu hak, kuasa atau upaya tidak menghalangi
pelaksanaannya.
9. Hukum Yang Berlaku dan Jurisdiksi
Perjanjian ini diatur dan ditafsirkan berdasarkan hukum dari jurisdiksi sebagaimana
diuraikan dalam lampiran dan Para Pihak menyatakan tunduk secara tidak ekslusif terhadap
jurisdiksi tersebut.
10. Perubahan
Tidak ada perubahan atas Perjanjian ini (atau dokumen apapun yang merujuk pada
Perjanjian ini) akan berlaku kecuali dituangkan secara tertulis (yang mana, untuk tujuan ini,
tidak termasuk pada surat elektronik) dan ditandatangani oleh atau atas nama masing-
masing dari Para Pihak.
2.2.4 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi
Analisis likuiditas atas Rencana Transaksi melihat dampak dan sumber pembiayaan Rencana
Transaksi terhadap rasio likuiditas perusahaan. Pada hal ini analisis likuidasi Rencana Transaksi
dapat dilihat dari rasio likuiditas yang dianalisis yang terdiri dari Current Ratio, Quick Ratio, dan
Cash Ratio sebelum dan setelah Rencana Transaksi.
Tabel 15. Rasio Likuiditas Sebelum dan Setelah adanya Transaksi
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,35570X 1,35565X 0,00006X
Quick Ratio 1,04131X 1,04130X 0,00001X
Cash Ratio 0,49933X 0,49925X 0,00008X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 35 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 37
Pada analisis current ratio atau rasio lancar, quick ratio atau rasio cepat, dan cash ratio atau rasio
kas terdapat perubahan akibat Rencana Transaksi memberikan dampak selisih penurunan
masing-masing sebesar 0,00006 kali 0,00001 kali, dan 0,00008 kali yang diakibatkan dari
perubahan pajak dibayar dimuka berupa pajak penghasilan badan pada asset lancar dan adanya
kenaikan utang pajak berupa pajak penghasilan badan pada liabilitas jangka pendek.
2.2.5 Analisis Manfaat & Risiko Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi manajemen perseroan terdapat manfaat dan risko atas transaksi sebagai
berikut:
Analisis Manfaat
• Manfaat bagi Perseroan: Rencana Transaksi memberikan manfaat berupa optimalisasi
pengelolaan kas dalam kelompok usaha serta potensi peningkatan pendapatan melalui bunga
pinjaman, sekaligus mendukung kelangsungan operasional entitas afiliasi.
• Manfaat bagi DTN: DTN sebagai Pemberi Pinjaman memperoleh pendapatan bunga dari
fasilitas pinjaman yang diberikan, sehingga dapat meningkatkan imbal hasil atas dana yang
dimiliki.
• Manfaat bagi PTAR: PTAR sebagai Penerima Pinjaman memperoleh akses pendanaan untuk
kebutuhan modal kerja, sehingga dapat menjaga kelancaran operasional dan mendukung
aktivitas usaha.
Analisis Risiko
• Risiko bagi Perseroan: Terdapat risiko kredit yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan
secara konsolidasi apabila debitur tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman.
• Risiko bagi DTN: Risiko utama berupa potensi gagal bayar atas pokok dan bunga pinjaman
oleh PTAR yang dapat berdampak pada arus kas dan kualitas aset keuangan DTN.
• Risiko bagi PTAR: PTAR memiliki kewajiban pembayaran pokok dan bunga yang dapat
meningkatkan beban keuangan serta tekanan terhadap likuiditas, khususnya apabila kondisi
operasional tidak berjalan sesuai rencana.
Halaman 36 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 38
BAB III
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ATAS RENCANA TRANSAKSI
3.1 Analisis Kualitatif Atas Rencana Transaksi
3.1.1 Riwayat Singkat Perseroan
Perseroan didirikan di Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1972 dengan nama PT Inter Astra
Motor Works, berdasarkan Akta Pendirian No. 69, di hadapan Djojo Muljadi, S.H.. Akta Pendirian
tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
Y.A.5/34/8 tanggal 6 Februari 1973 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 31,
Tambahan No. 281 tanggal 17 April 1973.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan
Anggaran Dasar terakhir terkait dengan perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
Perseroan sebagaimana dituangkan dalam Akta No. 135 tanggal 25 April 2025 yang dibuat
dihadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan
perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya
tanggal 14 Mei 2025 No. AHU-0031112.AH.01.02.TAHUN 2025.
Selain itu, Perseroan telah melakukan perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris
sebagaimana dituangkan dalam Akta No.133 tanggal 25 April 2025 yang dibuat dihadapan Jose
Dima Satria, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, yang telah mendapat penerimaan pemberitahuan
dari Menteri Hukum Republik Indonesia sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-
AH.01.09-0238092 Tahun 2025.
Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1973. Perseroan berkedudukan di
Jakarta, Indonesia.
Perseroan dikendalikan oleh induk perusahaannya PT Astra International Tbk, perusahaan yang
didirikan di Indonesia. Pemegang saham terbesar PT Astra International Tbk adalah Jardine Cycle
& Carriage Ltd., perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle & Carriage Ltd. adalah
anak perusahaan dari Jardine Matheson Holdings Ltd., perusahaan yang didirikan di Bermuda.
Kegiatan Usaha
Ruang lingkup kegiatan utama Perseroan dan entitas anak (bersama-sama disebut “Grup”)
meliputi penjualan dan penyewaan alat berat (“mesin konstruksi”) beserta pelayanan purna jual;
penambangan dan kontraktor penambangan; pengolahan mineral; rekayasa, perencanaan,
perakitan, dan pembuatan komponen mesin, alat, peralatan, dan alat berat; pembuatan kapal
serta jasa perbaikannya; penyewaan kapal dan angkutan pelayaran; industri konstruksi; dan
energi.
Informasi Umum
Alamat Perseroan : Jl. Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta Timur, Indonesia, 13910
No. Telp / Fax : +62 21 2457 9999
Website : www.unitedtractors.com
Email :-
Halaman 37 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 39
Susunan Kepemilikan Saham
Berdasarkan Informasi Manajemen Perseroan, susunan kepemilikan saham Perseroan per 31
Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Tabel 16. Struktur Pemegang Saham Perseroan
Jumlah Lembar
No Pemegang Saham Proporsi (%) Jumlah
Saham
1 PT Astra International Tbk 2.219.317.358 59,50% 554.829.339.500
Franciscus Xaverius Laksana
2 700.000 0,02% 175.000.000
Kesuma (Presiden Direktur)
3 Iwan Hadiantoro (Direktur) 168.100 0,00% 42.025.000
4 Loudy Irwanto Ellias (Direktur) 65.515 0,00% 16.378.750
5 Vilihati Surya (Direktur) 13.000 0,00% 3.250.000
6 Widjaja Kartika (Direktur) 2.000 0,00% 500.000
Masyarakat selain Direksi
7 (masing-masing kepemilikan 1.356.530.263 36,37% 339.132.565.750
dibawah 5%)
Jumlah Saham Beredar 3.576.796.236 95,89% 894.199.059.000
Saham Treasury 153.338.900 4,11% 38.334.725.000
Jumlah Saham Ditempatkan
3.730.135.136 100,00% 932.533.784.000
dan Disetor Penuh
Keterangan: Nilai nominal Rp.250 per lembar saham
Sumber: Informasi Manajemen Perseroan
Susunan Pengurus
Berdasarkan informasi manajemen Perseroan dan akta No. 133 tanggal 25 April 2025 yang
dibuat di hadapan Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat
pemberitahuan penerimaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
sesuai dengan suratnya tanggal 14 Mei 2025 No.AHU-AH.01.09- 0238092, Susunan Dewan
Komisaris, Direksi, dan Komite Audit Perseroan per 31 Desember 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Djony Bunarto Tjondro
Wakil Presiden Komisaris : Rudy
Komisaris : Djoko Pranoto Santoso
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Benjamin Herrenden Birks
Komisaris Independen : Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen : Bruce Malcolm Cox
Komisaris Independen : Ignasius Jonan
Direksi
Presiden Direktur : Franciscus Xaverius Laksana Kesuma
Direktur : Loudy Irwanto Ellias
Direktur : Iwan Hadiantoro
Direktur : Idot Supriadi
Direktur : Widjaja Kartika
Direktur : Vilihati Surya
Halaman 38 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 40
Direktur : Ari Sutrisno
Direktur : Hendra Hutahean
Komite Audit
Ketua : Ignasius Jonan
Anggota : Wanny Wijaya
Anggota : Mario C. Surung Gultom
3.1.2 Analisis Industri & Bisnis
Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Indonesia tahun 2025 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas
dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau
USD 5.083,4. Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen, lebih tinggi
dibandingkan capaian tahun 2024 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,03 persen (c-to-c).
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,93
persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami
pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03 persen. Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 terhadap
triwulan IV-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,39 persen (y-on-y). Dari sisi produksi,
Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98
persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)
mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,12 persen.
8
6 5,31 5,05 5,03 5,11
3,7
4
2
0
2021 2022 2023 2024 2025
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%)
Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2021 – 2025 (% yoy)
Sumber: Badan Pusat Statistik 2026, diolah.
Pertambangan merupakan salah satu sektor unggulan perekonomian Indonesia. Pada tahun
2024, kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 7,39%
atau sebesar Rp955 triliun, meningkat 4,9% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Namun
demikian, pada tahun 2025 sektor ini mengalami sedikit penurunan sebesar -0,66% (yoy) menjadi
Rp949 triliun, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 3,72% selama periode
2021–2025. Berdasarkan subsektornya, pada tahun 2025 pertambangan batu bara dan lignit
berkontribusi sebesar Rp328 triliun, diikuti pertambangan minyak dan gas bumi sebesar Rp251
triliun, pertambangan bijih logam sebesar Rp166 triliun, serta pertambangan dan penggalian
lainnya sebesar Rp204 triliun. Penurunan kinerja sektor pertambangan dan penggalian terjadi di
hampir seluruh subsektor, dengan penurunan terbesar pada pertambangan bijih logam yang
turun -7,92% (yoy). Penurunan ini dipicu oleh gangguan produksi tembaga dan emas serta
pelemahan harga nikel global.
Halaman 39 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 41
1200,0 07%
06%
06%
PDB Sektor Pertambangan dan Penggalian
1000,0
05%
04% 05%
04%
800,0
04%
(Triliun Rupiah)
600,0 03%
02%
400,0
01%
200,0
-0,66% 00%
- -01%
2021 2022 2023 2024 2025
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Pertambangan Batubara dan Lignit
Pertambangan Biji Logam, Pertambangan dan Penggalian Lainnya
Pertumbuhan Sektor Pertambangan dan Penggalian
Grafik 3. Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun 2021 –2025
Sumber: Bank Indonesia 2025, diolah.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Berdasarkan proyeksi PDB harga konstan Indonesia yang dipublikasikan oleh International
Monetary Fund (IMF), prakiraan rata-rata pertumbuhan GDP Indonesia berdasarkan lapangan
usaha selama periode 2025 sampai dengan 2030 adalah 5,01% dengan proyeksi pertumbuhan
di tahun 2030 mencapai 5,14%. Proyeksi di tahun 2025 mencapai Rp23.694 Triliun, sedangkan
perkiraan GDP tahun 2030 diperkirakan mencapai Rp34.386 Triliun.
40.000 8,00
34.386
31.903
29.607 7,00
30.000 27.517
25.573
GDP (Triliun Rupiah)
23.694
22.139 6,00
20.892
20.000
(%)
5,00
5,05 5,03 5,11 5,14
4,86 4,94 4,96 4,96
10.000
4,00
- 3,00
2023 2024 2025 F 2026 F 2027 F 2028 F 2029 F 2030 F
GDP (Triliun) Pertumbuhan Ekonomi (%)
Grafik 4. Proyeksi PDB Indonesia 2025 – 2030 (yoy %)
Sumber: International Monetary Fund (IMF), Oktober 2025
Perkembangan inflasi
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%, dengan Inflasi
IHK Desember 2025 sebesar 2,92% (yoy). Inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,38% (yoy),
sejalan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas. Inflasi y-on-y terjadi karena
adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok
Halaman 40 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 42
pengeluaran. Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Desember 2025 sebesar 0,64%
sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada Desember 2025 sebesar 2,92%. Tingkat
inflasi y-on-y komponen inti pada Desember 2025 sebesar 2,38%; dengan inflasi m-to-m sebesar
0,20%; dan inflasi y-to-d sebesar 2,38%. Realisasi Inflasi 2025 menunjukkan angka yang lebih
tinggi dibandingkan dengan prediksi IMF bulan April 2025 sebesar 1,68% serta masih berada
dalam target inflasi Bank Indonesia yang menandakan bahwa kondisi perekonomian masih
bergerak stabil.
3,50%
2,92%
3,00% 2,51% 2,50% 2,52% 2,52%
2,50% 2,19%
2,00%
Inflasi
1,57%
1,50%
1,00%
0,50%
0,00%
2024E 2025E 2026F 2027F 2028F 2029F 2030F
Proyeksi Inflasi
Grafik 5. Perkembangan dan Proyeksi Inflasi di Indonesia (%)
Sumber: International Monetary Fund (IMF) April 2025, diolah
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
Perkembangan nilai tukar rupiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan
melemah terhadap dolar AS, seiring dengan penguatan dolar secara global. Namun, terhadap
mata uang negara berkembang pelemahan rupiah relatif lebih moderat, sementara terhadap
mata uang negara maju selain AS rupiah cenderung lebih stabil bahkan mengalami apresiasi.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan
dolar AS dibandingkan pelemahan terhadap sebagian besar mata uang lainnya. Kurs jual
USD/IDR pada 31 Desember tercatat Rp16.865,91/USD; sedangkan China Yuan sebesar
Rp2.412,86/CNY dan terhadap Dollar Singapura sebesar Rp13.134,42/SGD.
Grafik 6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Tahun 2025
Sumber: Bank Indonesia, 2025
Halaman 41 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 43
Suku Bunga
Pada Bulan Desember 2025, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate
sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility
sebesar 5,50%. Keputusan ini diambil sejalan dengan fokus kebijakan jangka pendek pada
stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak
meningkatnya ketidakpastian global, dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran
kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Hal ini juga akan
berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman yang ditetapkan oleh perbankan. Pada
periode Desember 2025, tingkat suku bunga pinjaman Perseroan untuk modal kerja dan investasi
tercatat turun (mtm) di level 8,12%; 8,44% sedangkan suku bunga konsumsi sedikit mengalami
kenaikan menjadi 8,97%
Tabel 17. Tingkat Suku Bunga Kredit Bank Persero (%)
Bank Persero 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Pinjaman Modal Kerja Yang Diberikan 8,77 8,34 8,29 8,93 8,67 8,12
Pinjaman Investasi Yang Diberikan 8,87 8,49 8,72 9,41 9,21 8,44
Pinjaman Konsumsi Yang Diberikan 10,56 10,14 9,65 9,27 9,09 8,97
Sumber: Bank Indonesia Desember 2025, diolah
Gambaran Perkembangan Industri Pertambangan
Cadangan Mineral dan Batu Bara di Indonesia
Saat ini setidaknya terdapat 29 jenis komoditas sumber daya dan cadangan mineral logam yang
tersebar di 2.809 lokasi di Indonesia. Komoditas dengan cadangan tersebar berupa timah yaitu
dengan total cadangan sebesar 6.431 juta ton bijih dan 1,44 juta ton logam. Komoditas dengan
cadangan terbesar selanjutnya adalah nikel yaitu sebesar 5.914 juta ton bijih dan 62 juta ton
logam. Emas primer menjadi komoditas dengan cadangan ketiga terbesar ketiga yaitu mencapai
3.461 juta ton bijih & 3,44 ribu ton logam.
7.000 6.431
5.914
6.000
5.000
4.000 3.461
3.215
2.865 2.858
3.000
1.967
2.000
1.209 1.049
1.000 61 552,3 648
437,1
208,2 136 62,0 224,1 114 21,3
0,0002 0,0034 0,8 0,0 1,4
58,8 2,8
-
Emas Emas Bauksit Besi LateritBesi Primer Kobal Mangan Nikel Pasir Besi Perak Seng Tembaga Timah
Aluvial Primer
Cadangan Bijih (Juta Ton) Cadangan Logam (Juta Ton)
Grafik 7. Cadangan Mineral Indonesia Tahun 2024 (juta Ton)
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia pada tahun 2024, mampu
memproduksi sebanyak 836 juta ton batu bara. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang
sekitar 4.714 TWh energi, atau setara dengan 9,31% dari total energi global yang berasal dari
Halaman 42 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 44
batu bara, yaitu sekitar 58.618 TWh. Cadangan batu bara Indonesia saat ini mencapa 97.960
juta ton yang terdiri dari 69% atau 67.333 juta ton batu bara kalori rendah; 16% atau 15.526
juta ton kalori sedang dan 15% atau 15.101 juta ton kalori tinggi. Total cadangan tersebut tesebar
di 23 provinsi dan 1.660 titik.
Cadangan Batu bara Tahun 2025 30.000
25.000
20.000
12.915
15.000
10.000
5.000 11.144
2.902 1.720
- 1.638 1.636
Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi
Terkira (Juta Ton) Terbukti (Juta Ton)
Grafik 8. Cadangan Batu Bara Indonesia Tahun 2024 (juta Ton)
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Produksi batu bara Indonesia tahun 2024 naik 7,9% (yoy) dari 775 juta ton pada 2023 menjadi
836,12 juta ton pada tahun 2024. Produksi emas dan perak dalam negeri juga mengalami
kenaikan yaitu sebesar 80,9% (yoy) dari 14,24 juta ton pada 2023 menjadi 25,75 juta ton pada
tahun 2024. Produksi nikel naik 39% (yoy) dari 126,72 ribu ton pada 2023 menjadi 176,08 ribu
ton padatahun 2024. Timah menjadi komoditas yang mengalami trend berbeda yaitu penurunan
sebesar 61% (yoy) dari 50,67 ribu ton menjadi 19,44 ribu ton pada tahun 2024. Kebutuhan
sumber bahan bakar PLN saat ini didominasi batu bara yaitu sekitar 71,72 juta ton pada tahun
2024. Batu bara mampu menghasilkan sekitar 66% dari total listrik yang dihasilkan oleh PLN
pada tahun 2024, sedangkan sisanya sebesar 44% terpenuhi dari bahan bakar BBM, gas alam,
panas bumi, air dan sumber energi lainnya.
836,13
Batubara (juta ton)
775,00
176,08
Nikel (ribu ton)
126,72
19,44
Timah (ribu ton)
50,67
25,75
Emas dan Perak (juta ton)
14,24
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 900,00
2024 2023
Grafik 9. Produksi Mineral dan Batu Bara tahun 2023 – 2024
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Pada tahun 2024 produksi batu bara di Indonesia mencapai 836,13 juta ton dimana 232,64 juta
ton diantaranya digunakan untuk pemenuhan kepentingan dalam negeri. Capaian produksi batu
bara tersebut terpenuhi darti sekitar 934 IUP/IUPPK/KK/IPR batu bara. Sedangkan produksi emas
Halaman 43 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 45
sebesar 25,745 juta ton, perak 26,024 juta ton dan hasil tambang mineral lainnya dipenuhi dari
sekitar 934 IUP/IUPPK/KK/IPR tambang mineral. Dari 934 IUP/IUPPK/KK/IPR tersebut hanya
sekitar 635 yang melengkapi dengan data cadangan kandungan mineral.
1200
938 934
Jumlah Izin
800 635
400
0
Batubara Mineral
IUP/IUPPK/KK/IPR IUP/IUPK/KK/IPR dengan Data
Grafik 10. Perkembangan Jumlah IUP/IUPPK/KK/IPR Tahun 2024
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Kewajiban reklamasi pascatambang merujuk pada tanggung jawab perusahaan pertambangan
usai melakukan kegiatan pertambangan. Pada tahun 2023, kegiatan reklamasi mencapai
7.920,77 hektar melebihi target yang sudah ditetapkan seluas 7.075 Hektar. Sedangkan capaian
reklamasi pada tahun 2024 mencapai 26.538 hektare atau naik 2,35 kali lipat dibandingkan
dengan capaian reklamasi tahun sebelumnya.
26.538
27.000
22.000
17.000
11.084
12.000 9.694 9.344
7.921
7.000
7.000 7.025 7.050 7.075 7.100
2.000
2020 2021 2022 2023 2024
Capaian reklamasi Target
Grafik 11. Perkembangan Reklamasi Pertambangan di Indonesia
Sumber: Kementerian ESDM, 2024
Perkembangan Harga Acuan Mineral dan Batu Bara
Emas menjadi mineral dengan pertumbuhan harga acuan tertinggi, meningkat dari USD
2.522/troy ons pada Desember 2024 menjadi USD 4.080/troy ons pada Desember 2025 atau
naik sekitar 61,8% (yoy). Perak sebagai mineral ikutan juga mengalami kenaikan signifikan dari
USD 29/troy ons menjadi USD 51/troy ons pada periode yang sama, atau meningkat sekitar
75,9% (yoy). Di sisi lain, nikel menunjukkan tren pelemahan dari USD 16.175/dmt pada
Desember 2024 menjadi USD 14.667/dmt pada Desember 2025, atau turun sekitar 9,3% (yoy).
Tembaga justru mengalami peningkatan dari USD 9.280/dmt menjadi USD 10.775/dmt, atau
naik sekitar 16,1% (yoy). Sementara itu, batu bara mengalami koreksi harga yang cukup dalam
dari USD 123/ton menjadi USD 98/ton, atau turun sekitar 20,3% (yoy) pada Desember 2025.
Halaman 44 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 46
Grafik 12. Perkembangan Harga Mineral dan Batu Bara Acuan Indonesia
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Perkembangan Ekspor Hasil Tambang Mineral
Ekspor hasil tambang emas dan nikel menjadi komoditas dengan nilai ekspor paling berfluksuasi
jika dibandingkan dengantembaga dan perak. Nilai ekspor nikel pada tahun 2024 mencapai
USD 3.177 juta. Pada periode Januari – Agustus 2025 terjadi pelemahan nilai ekspor timah
sebesar 24,3% (yoy) dari USD 2.048 juta menjadi USD1.551 juta. Ekspor emas pada tahun 2024
mencapai USD 1.062, sedangkan produksi pada periode Januari – Agustus 2025 mengalami
kenaikan 1108% (yoy) dibandingkan periode tahun sebelumnya yaitu dari USD 655 juta menjadi
USD 1.365 juta. Ekspor komoditas Tembaga pada tahun 2024 mencapai USD 250 juta. Periode
Januari - Agustus 2025 mengalami kenaikan 30% (yoy) dari USD 163,5 juta menjadi USD 212
juta. Ekspor komoditas perak pada tahun 2024 mencapai USD 104 juta dengan periode Januari
– Agustus 2025 mengalami kenaikan 37,9% (yoy) dari USD 64,2 juta menjadi USD 89 juta.
6.000 5.542
5.000
4.096
4.000
juta USD
3.177
3.000
2.048
2.000
1.062 1.551
848 1.365
764 655
1.000
250
198 163,5 212
- … 104 64,2 89
2020 2021 2022 2023 2024 Jan-gus Jan - Agus
2024 2025
Nikel Emas Tembaga Perak
Grafik 13. Perkembangan Ekspor Mineral Tahun 2020 – 2025
Sumber: Kementerian ESDM, 2025
Batu bara sebagai komoditas unggulan Indonesia pada tahun 2024 mampu mencatatkan nilai
ekspor sebesar USD 30.490 juta atau turun 11,85% (yoy). Penurunan ini diakibatkan karena
penurunan harga acuan batu bara dari 305,21 USD/ton pada januari 2023 menjadi 122,51
USD/ton pada Desember 2024. Tren Penurunan nilai ekspor batu bara juga berlanjut sampai
Halaman 45 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 47
dengan periode Januari – Agustus 2025 dimana ekspor turun 21% (yoy) dari USD 20.132 juta
menjadi USD 15.906 juta. Penurunan ini masih dipengaruhi oleh tren penuruhan harga acuan
batu bara dari USD 131,17/ton pada Oktober 2024 menjadi 100,69/ton pada Agustus 2025.
100000,0
90000,0
80000,0
70000,0 46.765
60000,0
juta USD
50000,0 34.592
30.490
40000,0 26.533
30000,0 20.132
14.534 15.906
20000,0
10000,0
-
2020 2021 2022 2023 2024 Jan - Jan -
Agus 2024Agus 2025
Batubara Batubara Kadar Menegah Batubara Kadar Tinggi Total Ekspor Batubara
Grafik 14. Nilai Ekspor Batu Bara Indonesia Tahun 2020 – Agustus 2025
Sumber: BPS, 2025
Nilai Impor Mesin dan Alat Berat
Perkembangan impor mesin dan alat berat di Indonesia setelah sempat mengalami kenaikan
yang cukup signifikan pada tahun 2024 cenderung mengalami penurunan sampai dengan Juli
2025. Nilai impor mesin dan alat berat pertambangan turun 6% (yoy) pada tahun 2024 dari USD
2.039 juta menjadi USD 1.923 juta. Tren ini berlanjut sampai dengan Juli 2024 dengan total nilai
impor mencapai USD 1.459 juta. Pada tahun 2023, pertambangan menjadi sektor dengan
market size impor terbesar mencapai 47% dari total mesin dan alat berat yang diimpor di
Indonesia, diikuti sengan sektor konstruksi sebesar 26%; sektor perkebunan sebesar 14% dan
kehutanan sebesar 13%. Penurunan ini menujukkan adanya perlambatan jumlah permintaan
mesin dan peralatan pertambangan yang digunakan untuk ekspansi sektor pertambangan baik
dalam proses penambangan maupun reklamasi lokasi tambang.
3.000 2.660 1
2.500 1
2.039 1.923 1
2.000 1.635 63% 1
juta USD
1.459
1.500 0
1.000 0
-6% -
500 (0)
-23%
- (0)
2021 2022 2023 2024 Juli 2025
Impor Growth
Grafik 15. Nilai Impor Mesin dan Alat Berat Pertambangan
Sumber: BPS, 2025
Halaman 46 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 48
Perkembangan Pasar Global
Perkembangan harga acuan komoditas global berfluktuasi untuk masing-masing jenis komoditas.
Tiga dari empat komoditas mengalami kenaikan harga acuan dalam kurun waktu satu tahun
terakhir, komoditas tersebut adalah tembaga, emas, dan perak. Sedangkan untuk batu bara
mengalami penurunan. Harga acuan Emas (LBMA) berada pada harga USD 4.026/onz atau naik
51,71% (yoy) pada 10 Oktober 2025. Harga acuan perak juga mengalami kenaikan sebesar
59,22% (yoy) dari USD 31,88/onz menjadi USD 50,76/onz pada 10 Oktober 2025. Tembaga
mengalami kenaikan 7,25% (yoy) dari USD 9.778/ton menjadi USD 10.487/ton pada 10 Oktober
2025. Harga acuan batu bara tidak sejalan dengan harga komoditas lain yang mengalami
penurunan cukup tajam yaitu sebesar 29,63% (yoy) dari USD 148,50/ton menjadi USD
104,50/ton pada 10 Oktober 2025.
Grafik 16. Perkembangan Harga Acuan Emas, Perak, Tembaga dan Batu Bara Global
Sumber: S&P Capital IQ, 2025
Permintaan emas global dalam lima tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan dengan
CAGR 2020 – 2024 mencapai 5,87%. Pada tahun 2024 permintaan emas global mengalami
kenaikan sebesar 2,2% yaitu dari 4.524 ton di tahun 2023 menjadi 4.624 ton pada tahun 2024.
Kebutuhan emas didominasi untuk kebutuhan perhiasan sebesar 43,8% atau 2.026,8 ton; 7,1%
atau 326,2 ton untuk kebutuhan teknologi; 25,6% atau 1.181,9 ton untuk kebutuhan investasi;
dan 23,6% atau 1.089 ton untuk kebutuhan bank sentral. Kebutuhan batu bara negara maju
diseluruh dunia cenderung mengalami fluktuasi. Setelah sempat mengalami kenaikan kebutuhan
yang tinggi mencapai 1.036,4 juta ton pada tahun 2021, pada tahun 2024 permintaan batu bara
negara maju mengalami penurunan -5,5% (yoy) menjadi 832,7 juta ton. Batu bara masih menjadi
sumber energi listrik utama global dimana pada tahun 2025, produksi energi listrik yang
dihasilkan dari batu barameencapai 50.618 Twh.
Halaman 47 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 49
5.000 4.729 4.524 4.624
4.046
4.000 3.681
3.000
2.000
946,3 1.036,4 1.000,4 880,9 832,7
1.000
-
2020 2021 2022 2023 2024
Emas (ton) Batubara (juta ton)
Grafik 17. Perkembangan Permintaan Emas dan Batu Bara Tahun 2020 - 2024
Sumber: KJPP FDI, diolah
Kesimpulan Industri Pertambangan dan Industri Alat Berat
Industri pertambangan global masih ditopang oleh batu bara sebagai sumber energi utama,
meskipun tekanan transisi menuju energi terbarukan terus meningkat. Dalam jangka menengah,
permintaan batu bara diperkirakan tetap tinggi namun menunjukkan tren pelemahan secara
bertahap, sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan transformasi strategi. Di sisi lain,
komoditas mineral seperti emas, perak, tembaga, dan nikel mengalami peningkatan permintaan
yang signifikan, seiring dengan kebutuhan industri teknologi dan energi bersih.
Bagi perusahaan seperti PT United Tractors Tbk, PT Danusa Tambang Nusantara, dan PT
Agincourt Resources, kondisi ini menciptakan peluang sekaligus tantangan. Ketergantungan pada
batu bara mulai dikurangi melalui diversifikasi ke mineral bernilai tinggi, khususnya emas dan
logam strategis lainnya yang memiliki prospek harga dan permintaan yang lebih kuat. PT
Agincourt Resources, dengan fokus pada tambang emas, berada pada posisi yang diuntungkan
oleh tren kenaikan harga logam mulia, sementara United Tractors memperkuat portofolionya
melalui ekspansi ke sektor mineral dan tetap didukung oleh bisnis alat berat yang berkaitan erat
dengan proyek infrastruktur domestik, pertambangan, konstruksi, kehutanan dan perkebunan,
serta segmen bisnis lainnya yaitu berupa jasa kontraktor pertambanga, pertambangan (batu bara
dan mineral lainnya). Secara keseluruhan, prospek industri bagi ketiga perusahaan ini tetap solid
dalam jangka panjang. Strategi diversifikasi, peningkatan eksposur pada komoditas bernilai
tinggi, serta kemampuan beradaptasi terhadap transisi energi menjadi faktor kunci dalam
menjaga pertumbuhan dan ketahanan bisnis di tengah dinamika pasar global.
3.1.3 Analisis Operasional & Prospek Perusahaan
Analisa Operasional
Segmen operasi perusahaan terbagi menjadi empat segmen usaha utama yaitu: Mesin Konstruksi,
Kontraktor Penambangan, Pertambangan, dan Segmen Lainnya. Analisis dan kinerja operasional
dari masing-masing segmen usaha disajikan sebagai berikut:
Mesin Konstruksi
Segmen usaha mesin konstruksi dijalankan oleh perusahaan induk yaitu Perseroan serta anak
usahanya yaitu PT Bina Pertiwi dan UT Heavy Industry (S) Pte Ltd. PT United Tractors Pandu
Engineering (UTPE), dan PT Triatra Sinergia Pratama (TRIATRA). Segmen usaha ini berfokus pada
Halaman 48 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 50
penjualan alat berat dan kendaraan transportasi untuk berbagai sektor, seperti pertambangan,
perkebunan, konstruksi, kehutanan, material handling, dan transportasi.
Tabel 18. Mesin Konstruksi
Mesin Konstruksi 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan Alat Berat Komatsu (Unit) 1.564 3.088 5.753 5270 4420 4515
Penjualan UD Trucks (Unit) 224 375 429 272 234 155
Penjualan Scania (Unit) 217 545 233 715 436 466
Penjualan Suku Cadang dan Jasa Pemeliharaan
6 8 10 12 12 11
(triliun Rupiah)
Pendapatan Bersih Mesin Konstruksi
13 23 36 37 37 36
(triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Segmen usaha Mesin Konstruksi pada tahun 2025 mencatat peningkatan pada penjualan alat
berat Komatsu sebesar 2% menjadi 4.515 unit dibanding pada tahun sebelumnya pada tahun
2024. Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor kehutanan dan
perkebunan yang mana membuat Komatsu memiliki pangsa pasar sebesar 20% dan tetap
mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.
Di sisi lain, penjualan Scania mengalami peningkatan dari 436 unit menjadi 466 unit, sementara
penjualan UD Trucks menurun cukup signifikan dari 234 unit menjadi 155 unit. Penurunan juga
tercatat pada pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat yang
turun sebesar 3% menjadi Rp11 triliun. Secara keseluruhan, total pendapatan bersih dari segmen
Mesin Konstruksi mengalami penurunan sebesar 2% menjadi Rp36 triliun, yang menunjukkan
bahwa peningkatan penjualan unit alat berat belum sepenuhnya mampu mengimbangi
penurunan pada pendapatan layanan dan komponen pendukung lainnya.
Kontraktor Penambangan
Layanan yang tercakup pada segmen usaha kontraktor penambangan adalah diantaranya:
desain dan implementasi pertambangan, penilaian dan studi kelayakan, pembangunan
infrastruktur dan fasilitas tambang, pemindahan tanah, pengelolaan limbah, eksplorasi,
pengangkutan, serta jasa terkait kontraktor penambangan lain.
Tabel 19. Kontraktor Penambangan
Kontraktor Penambangan 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Produksi Batu Bara (juta ton) 115 116 116 129 148 148
Volume Pemindahan Tanah (juta bcm) 825 852 954 1.158 1.217 1.100
Pendapatan Bersih Kontraktor Penambangan
29 33 47 54 58 54
(triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Segmen usaha Kontraktor Penambangan dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA)
beserta anak perusahaannya, PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). Kedua entitas yang
tergabung dalam PAMA Grup ini menyediakan layanan jasa pertambangan bagi pemegang
konsesi tambang, terutama dalam kegiatan pemindahan lapisan tanah penutup (overburden
removal) serta produksi batu bara dan mineral lainnya.
Pada tahun 2024, segmen kontraktor penambangan mencatatkan kinerja yang positif. PAMA
Grup membukukan peningkatan produksi batu bara sebesar 15% atau sekitar 19 juta ton
Halaman 49 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 51
dibandingkan tahun 2023. Selain itu, volume pekerjaan pemindahan tanah juga meningkat
sebesar 5% atau sekitar 59 juta bcm dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan
peningkatan aktivitas operasional tersebut, pendapatan bersih dari segmen kontraktor
penambangan pada tahun 2024 juga mengalami kenaikan sebesar 8% atau sekitar Rp4 triliun
dibandingkan tahun 2023.
Namun demikian, hingga triwulan IV tahun 2025, PAMA Grup mencatatkan penurunan volume
pekerjaan pemindahan tanah sebesar 10% menjadi 1.100 juta bcm. Sementara itu, volume
produksi batu bara untuk para klien tercatat relatif stabil pada level 148 juta ton dengan rata-rata
stripping ratio sebesar 7,4 kali. Penurunan volume pemindahan tanah ini terutama dipengaruhi
oleh tingginya curah hujan serta penurunan stripping ratio pada beberapa kontrak klien. Sejalan
dengan perkembangan tersebut, total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor Penambangan
tercatat menurun sebesar 7% menjadi Rp54 triliun.
Pertambangan
Grup perusahaan menjalankan usaha pertambangan pada dua lini bisnis, yaitu: batu bara termal
dan metalurgi serta emas dan mineral Lainnya. Grup perusahaan menjalankan lini bisnis
pertambangan batu bara lewat perusahaan induk lini bisnis batu bara yaitu PT Tuah Turangga
Agung. Pada segmen usaha pertambangan emas dan mineral lainnya, PT Agincourt Resources,
PT Sumbawa jutaraya, dan PT Stargate Pacific Resources menjadi entitas yang menjalankan lini
bisnis ini.
Tabel 20. Kinerja Operasional Batu Bara dan Metalurgi
Batu Bara Termal dan Metalurgi 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Volume Penjualan Batu Bara (juta ton) 9 9 10 12 13 14
Jumlah Pendapatan Bersih Pertambangan Batu
9 14 31 30 26 24
Bara (triliun Rupiah)
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Pada lini bisnis pertambangan batu bara, grup perusahaan pada 2024 mencatat volume
penjualan yang meningkat sebesar 11% atau sebesar 13 juta ton dibandingkan tahun 2023.
Meski begitu, jumlah pendapatan bersih pertambangan batu bara grup perusahaan pada 2024
tercatat sebesar 26 triliun Rupiah atau turun sebesar 15% dari pendapatan bersih tahun 2023
sebesar 31 triliun Rupiah. Penurunan pendapatan bersih tersebut didorong oleh penurunan harga
batu bara global sejak awal tahun 2024 sehingga meskipun volume penjualan dicatatkan
meningkat, Nilai penjualan bersih grup perusahaan mengalami penurunan.
Memasuki tahun 2025, perseroan mencatatkan peningkatan volume penjualan batu bara menjadi
14 juta ton. Meskipun demikian, pendapatan dari segmen usaha pertambangan batu bara
tercatat turun sebesar 7% menjadi Rp24 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya rata-rata
harga jual batu bara di pasar, yang terus menekan nilai pendapatan meskipun volume penjualan
mengalami peningkatan.
Tabel 21. Kinerja Emas dan Mineral Lainnya
Emas dan Mineral Lainnya 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Penjualan Setara Emas (ribu ons) 320 330 286 175 232 277
Jumlah Pendapatan (triliun Rupiah) Bersih
7 8 8 5 10 14
Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Sumber: Laporan Tahunan PT United Tractors Tbk, diolah
Halaman 50 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 52
Pada lini bisnis pertambangan emas dan mineral lainnya, grup perusahaan pada 2024
mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 32% atau sebesar 57 ribu ons dibanding tahun
2023. Dari sisi pendapatan bersih, grup perusahaan pada 2024 mencatatkan total pendapatan
bersih pertambangan emas dan mineral lainnya sebesar 10 triliun Rupiah atau kenaikan sebesar
90% dibanding tahun 2023. Pada tahun 2025 tercatatat peningkatan pendapatan sebesar 41%
menjadi Rp14 triliun, terutama disebabkan oleh peningkatan harga emas.
Prospek Perusahaan
Prospek industri pertambangan dan alat berat Indonesia saat ini ditopang oleh fundamental yang
kuat dari sisi cadangan sumber daya alam dan tren produksi nasional yang terus meningkat.
Indonesia memiliki 29 jenis komoditas mineral logam yang tersebar di 2.809 lokasi, dengan
cadangan terbesar berasal dari timah 6.431 juta ton bijih, nikel 5.914 juta ton bijih, dan emas
3.461 juta ton bijih. Produksi nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif, di mana pada
tahun 2024 produksi batu bara naik 7,9% menjadi 836 juta ton, nikel meningkat 39%, serta emas
dan perak melonjak hingga 80,9% (yoy). Meskipun harga batu bara terkoreksi hingga 29,6%
(yoy), harga emas, perak, dan tembaga justru meningkat tajam masing-masing sebesar 51,7%,
59,2%, dan 7,2%. Pergeseran tren ini menandakan potensi pertumbuhan yang lebih besar pada
sektor logam bernilai tinggi dan mineral strategis, sejalan dengan kebijakan hilirisasi dan
peningkatan nilai tambah industri nasional. Peningkatan ekspor mineral seperti emas, perak, dan
tembaga juga menunjukkan kuatnya permintaan global yang membuka peluang bagi ekspansi
industri pertambangan nasional menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Prospek usaha Perseroan ke depan berada dalam fase transisi strategis. Pada tahun 2026 terjadi
penguatan harga dan permintaan batu bara (akibat geopolitik), pendapatan turun untuk
kontraktor akibat penurunan volume produksi (RKAB), ekspor turun karena produksi domestik
seperti di China meningkat.
Di sisi lain, diversifikasi bisnis menjadi kunci utama pertumbuhan Perseroan. PAMA mulai
memperluas portofolio ke proyek tambang nikel seperti blok Pomalaa, sementara lini
pertambangan milik sendiri melalui Martabe, Doup (ASA), dan Stargate memperkuat eksposur
Perseroan terhadap komoditas emas dan nikel yang harganya tengah naik tajam. Segmen alat
berat menghadapi perlambatan dari sektor tambang, namun tetap ditopang oleh aktivitas
konstruksi dan hilirisasi mineral nasional, dengan potensi pendapatan stabil dari layanan purna
jual dan digitalisasi sistem (UT Connect). Sementara itu, segmen konstruksi ACSET dan energi
baru EPN mendukung integrasi antarunit bisnis serta peluang investasi di sektor energi terbarukan.
Dengan kombinasi diversifikasi portofolio, fokus pada efisiensi operasional, dan kesiapan
memasuki era energi bersih, Perseroan berpotensi tetap tumbuh solid dan relevan di tengah
perubahan arah pasar global.
3.1.4 Alasan Dan Latar Belakang Rencana Transaksi
Berdasarkan keterangan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi dilakukan dengan tujuan
untuk mendukung kebutuhan modal kerja PTAR, sehingga dapat menjaga kelancaran operasional
perusahaan serta memastikan keberlangsungan kegiatan usaha secara optimal.
3.1.5 Analisis Keuntungan & Kerugian Kualitatif
Keuntungan dan kerugian dari adanya Rencana Transaksi bagi Perseroan dapat ditinjau dari
beberapa aspek.
Halaman 51 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 53
Keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dari adanya Rencana Transaksi adalah sebagai
berikut:
1. Memperoleh pendapatan bunga atas fasilitas pinjaman yang diberikan kepada PTAR, yang
berpotensi memberikan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan penempatan dana pada
instrumen keuangan lainnya.
2. Mendukung kelangsungan operasional dan kinerja PTAR sebagai entitas dalam kelompok
usaha, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak positif secara tidak langsung terhadap
kinerja dan nilai Perseroan secara konsolidasi.
3. Optimalisasi pemanfaatan dana Perseroan melalui penempatan pada aset keuangan produktif
berupa piutang pinjaman, sehingga meningkatkan efisiensi pengelolaan kas.
Kerugian yang dapat diperoleh perusahaan dari adanya Rencana Transaksi adalah sebagai
berikut:
1. Timbulnya opportunity cost atas penggunaan dana Perseroan yang dialokasikan untuk
pemberian pinjaman, sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk alternatif investasi lain yang
mungkin memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
2. Adanya eksposur risiko kredit berupa potensi gagal bayar atas pokok pinjaman dan/atau
bunga oleh PTAR sesuai dengan ketentuan yang disepakati.
3. Potensi risiko likuiditas apabila dana yang disalurkan dalam bentuk pinjaman tidak dapat
segera ditarik kembali pada saat Perseroan membutuhkan dana untuk keperluan operasional
atau investasi lainnya.
3.1.6 Dampak Leverage Terhadap Keuangan (Dibanding Industri Sejenis)
Leverage perusahaan diukur melalui rasio Debt to Equity dan rasio Debt to Assets. Rasio Debt to
Equity dan rasio Debt to Assets pada Perseroan secara historis sejak 2021 sampai 31 Desember
2025 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 22. Leverage Perseroan – Historis
2021 2022 2023 2024 2025
Leverage
Audited Audited Audited Audited Audited
Debt to Equity Ratio 0,13X 0,03X 0,22X 0,21X 0,18X
Long Term Debt to Equity Ratio 0,04X 0,01X 0,21X 0,16X 0,07X
Debt to Assets Ratio 0,08X 0,02X 0,12X 0,12X 0,11X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Adanya Rencana Transaksi tidak mengubah rasio leverage perusahaan secara signifikan karena
pinjaman yang diberikan dari DTN kepada PTAR bersumber dari dana internal kas perusahaan.
dengan begitu Rencana Transaksi tidak merubah struktur leverage perusahaan secara signifikan
dilihat dari rasio Debt to Equity, Long-Term Debt to Equity, dan rasio Debt to Assets. Leverage
perusahaan setelah Rencana Transaksi dilakukan disajikan pada tabel berikut:
Tabel 23. Leverage Perseroan – Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi
Dampak Leverage Sebelum Transaksi Setelah Transaksi
Debt to Equity Ratio 0,183418X 0,183418X
Long Term Debt to Equity Ratio 0,070903X 0,070903X
Debt to Assets Ratio 0,106493X 0,106487X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 52 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 54
Industri sejenis merupakan perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia yang memiliki kesamaan
klasifikasi industri dengan Perseroan. Perusahaan sejenis yang disebandingkan dipilih
menggunakan penentuan kesebandingan karakteristik yang terdiri dari klasifikasi industri,
pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan laba, margin laba bersih, total aset, dan pangsa pasar.
Perusahaan dengan kriteria yang sebelumnya sudah ditentukan dan memenuhi minimum 4
kriteria selanjutnya digunakan sebagai benchmark leverage.
Ringkasan penentuan perusahaan pada industri sejenis disajikan pada tabel berikut:
Tabel 24. Penentuan Perusahaan Industri Sejenis
Pertumbuhan Pertumbuhan Margin Total Pangsa
Perusahaan Industri
Pendapatan Laba Laba Bersih Aset Pasar
PT Alamtri Resources
√ √ √ √
Indonesia Tbk (IDX:ADRO)
PT Bayan Resources Tbk.
√ √ √ √
(IDX:BYAN)
PT Bukit Asam (Persero)
√ √ √ √
Tbk (IDX:PTBA)
PT Dian Swastatika
√ √ √ √
Sentosa Tbk (IDX:DSSA)
PT Golden Energy Mines
√ √ √ √
Tbk (IDX:GEMS)
PT Indo Tambangraya
√ √ √ √
Megah Tbk (IDX:ITMG)
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Rasio leverage historis pada perusahaan di industri sejenis dengan proksi berupa rasio Debt to
Equity dan Debt to Assets disajikan pada tabel berikut:
Tabel 25. Rasio Debt to Equity Perusahaan Pembanding
Debt to Equity Ratio Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Sep 2025
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
0,36 0,24 0,19 0,11 0,16
(IDX:ADRO)
PT Bayan Resources Tbk. (IDX:BYAN) - - 0,20 0,15 -
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (IDX:PTBA) 0,04 0,05 0,06 0,10 0,17
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk
0,36 0,54 0,47 0,63 0,66
(IDX:DSSA)
PT Golden Energy Mines Tbk
0,36 0,24 0,38 0,43 0,19
(IDX:GEMS)
PT Indo Tambangraya Megah Tbk
0,04 0,03 0,03 0,04 0,05
(IDX:ITMG)
Average 0,20 0,18 0,22 0,24 0,20
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Rata-rata historis Debt to Equity perusahaan pembanding pada industri sejenis berkisar pada 0,18
sampai 0,24. Rasio Debt to Equity yang tinggi menggambarkan bahwa pendanaan perusahaan
lebih banyak bersumber dari Utang ketimbang Ekuitas.
Tabel 26. Rasio Debt to Assets Perusahaan Pembanding
Debt to Asset Ratio Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Sep 2025
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
0,21 0,15 0,14 0,09 0,12
(IDX:ADRO)
Halaman 53 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 55
Debt to Asset Ratio Dec 2021 Dec 2022 Dec 2023 Dec 2024 Sep 2025
PT Bayan Resources Tbk. (IDX:BYAN) - - 0,12 0,10 -
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (IDX:PTBA) 0,03 0,03 0,03 0,05 0,09
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk
0,21 0,25 0,26 0,33 0,34
(IDX:DSSA)
PT Golden Energy Mines Tbk
0,14 0,12 0,19 0,23 0,11
(IDX:GEMS)
PT Indo Tambangraya Megah Tbk
0,03 0,02 0,02 0,03 0,04
(IDX:ITMG)
Average 0,10 0,09 0,13 0,14 0,12
Sumber: S&P Capital IQ, diolah.
Rata-rata historis Debt to Assets perusahaan pembanding pada industri sejenis berkisar pada 0,09
sampai 0,14.
Debt to Equity Perseroan sebelum dan setelah Rencana Transaksi sebesar 0,18 masih berada
pada rentan perusahaan pada industri sejenis sebesar 0,18 sampai 0,24. Hal ini menunjukan
bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak yang dapat membuat Perseroan memiliki
leverage diluar rentan perusahaan pada industri sejenis.
Debt to Assets Perseroan sebelum dan setelah Rencana Transaksi sebesar 0,10 masih berada
pada rentan perusahaan pada industri sejenis sebesar 0,09 sampai 0,14. Hal ini menunjukan
Rencana Transaksi pemberian pinjaman tidak berdampak pada leverage perusahaan yang dilihat
dari proksi debt to assets.
3.1.7 Dampak Likuiditas & Kemampuan Melunasi Pinjaman Saat Jatuh Tempo
Dampak likuiditas dan kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo dilihat dari perubahan
rasio likuiditas perusahaan sebelum dan setelah Rencana Transaksi dilakukan. Proksi yang dapat
digunakan pada analisis dampak likuiditas adalah current ratio atau rasio lancar, quick ratio atau
rasio cepat, dan cash ratio atau rasio kas. Selanjutnya analisis kemampuan melunasi pinjaman
saat jatuh tempo dapat dilihat dari kinerja dan kondisi keuangan PTAR serta hal-hal lain yang
dapat mendukung debitur dalam pelunasan saat jatuh tempo.
Rasio likuiditas Perseroan dengan proksi current ratio, quick ratio, dan cash ratio sebelum dan
setelah Rencana Transaksi disajikan pada tabel berikut:
Tabel 27. Rasio Likuiditas Perseroan
Rasio Likuiditas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Current Ratio 1,35570X 1,35565X 0,00006X
Quick Ratio 1,04131X 1,04130X 0,00001X
Cash Ratio 0,49933X 0,49925X 0,00008X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rencana transaksi terhadap rasio likuiditas perusahaan memberikan dampak yang tidak
signifikan. Hal tersebut diakibatkan dari besaran nilai Rencana Transaksi yang jumlahnya sebesar
4,42% dari total kas dan setara kas perusahaan per tanggal pendapat kewajaran. Dengan begitu
dampak yang ditimbulkan Rencana Transaksi terhadap likuiditas perusahaan tidak signifikan.
Halaman 54 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 56
Pada analisis kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo, kemampuan melunasi pinjaman
saat jatuh tempo dapat dilihat dari coverage rasio PTAR. Coverage Ratio sebagai proksi
kemampuan melunasi pinjaman yang digunakan adalah Times Interest Earned dan Debt Service
Coverage Ratio. Dari analisis yang dilakukan, PTAR secara historis tidak memiliki utang berbunga
dan beban keuangan terkait utang berbunga, sehingga rasio coverage yang digunakan sebagai
proksi tidak memberikan nilai rasio yang memadai untuk dilakukan analisis. Tidak terdapatnya
utang berbunga dan beban bunga menggambarkan kondisi perusahaan yang baik dengan
pendapatan operasional perusahaan tidak memerlukan adanya alokasi untuk pelunasan pokok
utang maupun pembayaran beban bunga.
Selanjutnya analisis kemampuan melunasi pinjaman saat jatuh tempo dapat dilihat dari historis
rasio solvabilitas dan rasio likuiditas PTAR.
Tabel 28. Rasio Likuiditas PTAR
Rasio Likuiditas 2021 2022 2023 2024 2025 Rata-rata
Current Ratio 4,24X 4,96X 4,27X 4,91X 4,86X 4,65X
Quick Ratio 3,55X 4,02X 2,21X 3,68X 3,84X 3,46X
Cash Ratio 3,32X 3,67X 2,10X 3,25X 3,55X 3,18X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Tabel 29. Rasio Solvabilitas PTAR
Rasio Solvabilitas 2021 2022 2023 2024 2025 Rata-rata
Debt to Assets Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Debt to Equity Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Dari rasio likuiditas yang di analisis, rasio likuiditas PTAR dengan proksi current ratio, quick ratio,
dan cash ratio, kemudian dari rasio solvabilitas yang dianalisis, yaitu DAR dan DER, diperoleh
bahwa PTAR tidak memiliki utang berbunga selama periode 2021–2025 sehingga kedua rasio
tersebut tercatat sebesar 0,00 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak bergantung
pada pendanaan berbasis utang berbunga dan memiliki struktur permodalan yang didominasi
oleh ekuitas, sehingga risiko keuangan dan risiko gagal bayar relatif rendah.
Dari rasio solvabilitas yang di analisis, rasio solvabilitas PTAR dengan proksi debt to assets ratio
dan debt to equity ratio diperoleh bahwa PTAR memiliki nilai rasio solvabilitas rendah yang dapat
menggambarkan rendahnya tingkat risiko gagal bayar dan tingginya kemampuan solvabilitas
perusahaan akibat kepemilikan porsi utang yang rendah.
Dilihat dari perbandingan nilai Rencana Transaksi dengan nilai kas dan setara kas PTAR per
tanggal pendapat kewajaran, diperoleh bahwa nilai Rencana Transaksi sebesar USD70.000.000
dibandingkan dengan posisi kas dan setara kas sebesar USD325.637.148 adalah sebesar
21,50% sehingga posisi kas dan setara kas PTAR per tanggal pendapat kewajaran mampu
menyerap seluruh nilai pokok Rencana Transaksi pinjaman.
3.1.8 Dampak Jika Proyek Dibiayai Gagal
Terdapat dampak pada Perseroan jika pinjaman yang diberikan kepada PTAR tidak dapat dilunasi
atau mengalami kegagalan. Tidak dilunasinya pinjaman oleh PTAR akan menghilangkan potensi
pendapatan bunga yang akan diterima dan menghilangkan hak penerimaan pokok atas
Halaman 55 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 57
pinjaman. Hal tersebut dapat berdampak pada penurunan proyeksi laba rugi dan penurunan
proyeksi perolehan kas perusahaan.
Tabel 30. Analisis Cash Management Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Analisis Cash Management 31 Desember 2025
Kas dan Setara Kas Perseroan 26.570.772
Nilai Rencana Transaksi 1.174.740
Nilai Rencana Transaksi terhadap Kas 4,42%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Merujuk pada analisis cash management, rasio nilai Rencana Transaksi terhadap kas dan setara
kas Perseroan per tanggal Pendapat Kewajaran adalah sebesar 4,42% sehingga dampak yang
timbul jika terjadi gagal bayar dinilai tidak akan mengganggu aktivitas operasional perusahaan
secara keseluruhan.
3.2 Analisis Kuantitatif Atas Rencana Transaksi
3.2.1 Kinerja Historis
Analisis kinerja historis bertujuan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja operasional
perusahaan dalam beberapa tahun terakhir sebelum dilakukannya Rencana Transaksi. Analisis
ini memberikan gambaran mengenai stabilitas pendapatan, efisiensi operasional, serta
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan arus kas.
Kinerja Historis Perseroan
• Laporan Keuangan
Data laporan keuangan yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan audited
Perseroan periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025.
Laporan keuangan tersebut menjadi dasar dalam penilaian kinerja historis dan posisi
keuangan perusahaan, meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, serta Laporan
Arus Kas pada masing-masing periode.
Laporan Posisi Keuangan
Tabel 31. Laporan Posisi Keuangan Perseroan Periode 31 Desember 2021–31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 33.322 38.282 18.597 25.093 26.571
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 11.640 17.118 18.953 18.918 18.560
Pihak Berelasi 512 515 1.321 1.071 1.358
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 904 1.042 833 780 493
Halaman 56 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 58
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pihak Berelasi 964 973 1.208 1.383 1.203
Persediaan 9.454 15.390 17.184 16.994 16.730
Proyek dalam Pelaksanaan 0 0 0 159 29
Pihak Ketiga 59 37 111 0 0
Pihak Berelasi 0 0 0 0
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.145 806 910 782 1.654
Pajak Lain-lain 1.753 3.412 2.197 2.939 3.644
Uang Muka dan Biaya Dibayar
775 1.256 1.103 1.470 1.543
Dimuka
Aset Lancar Lain-lain 77 99 249 391 357
Total Aset Lancar 60.604 78.930 62.667 69.979 72.141
Aset Tidak Lancar
Kas dan Deposito Berjangka Yang
776 519 561 629 788
Dibatasi Penggunaannya
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 56 0 108 477 453
Pihak Berelasi 0 17 18 19
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 385 458 312 180 88
Pihak Berelasi 2.087 2.811 2.868 3.407 3.104
Persediaan 206 255 82 99 106
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 19 9 76 792 1.447
Pajak Lain-Lain 222 266 1.732 1.913 1.650
Uang Muka Dan Biaya Dibayar
109 569 1.299 428 794
Dimuka
Investasi Pada Entitas Asosiasi
Investments In Associates Dan 2.517 5.146 14.853 17.822 17.224
Ventura Bersama
Investasi Jangka Panjang 764 1.114 1.243 1.376 3.176
Aset Tetap 20.457 23.678 36.002 40.952 45.297
Properti Pertambangan 11.925 11.905 17.846 15.712 14.809
Properti Investasi 222 222 228 216 244
Beban Eksplorasi dan
2.162 2.389 2.374 2.494 2.769
Pengembangan Tangguhan
Aset Tambang Berproduksi 4.456 4.836 4.489 4.216 3.958
Beban Tangguhan 917 1.715 1.449 1.301 1.169
Aset Pajak Tangguhan 2.250 2.981 3.537 4.021 4.891
Goodwill 2.428 2.676 2.287 3.448 3.511
Total Aset Tidak Lancar 51.957 61.548 91.361 99.501 105.496
Total Aset 112.561 140.478 154.028 169.481 177.637
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha
Halaman 57 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 59
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pihak Ketiga 14.299 24.591 28.883 28.749 29.095
Pihak Berelasi 219 258 228 236 214
Utang Non-Usaha
Pihak Ketiga 389 508 604 863 1.133
Pihak Berelasi 51 76 52 70 88
Utang Pajak
Pajak Penghasilan Badan 1.868 2.940 2.390 1.042 826
Pajak Lain-Lain 378 642 779 478 585
Akrual 5.188 8.856 6.569 6.787 6.693
Uang Muka Pelanggan
Pihak Ketiga 774 784 691 1.004 857
Pihak Berelasi 11 111 53 46 44
Pendapatan Tangguhan 440 600 705 972 1.021
Liabilitas Imbalan Kerja 633 658 791 852 1.054
Pinjaman Bank Jangka Pendek 175 1.029 294 402 560
Bagian Jangka Pendek Dari Utang
Jangka Panjang
Pinjaman Bank 5.351 8 2.294 9.683
Liabilitas Sewa 651 940 989 907 801
Pinjaman Lain-Lain 29 19 3 600 560
Pinjaman Bank Jangka Pendek Dari
Liabilitas Keuangan Jangka 32 29 0 0
Panjang Lain-Lain
Total Liabilitas Jangka Pendek 30.489 42.037 43.038 45.303 53.213
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak Tangguhan 3.165 3.241 4.462 4.022 3.768
Provisi Rehabilitasi, Reklamasi, dan
634 794 865 1.029 1.155
Penutupan Tambang
Liabilitas Imbalan Kerja 3.316 3.708 4.047 4.989 5.498
Utang Jangka Panjang, Setelah
Dikurangi Bagian Jangka Pendek
Pinjaman Bank 2.497 0 16.573 14.862 6.055
Liabilitas Sewa 462 897 842 758 976
Pinjaman Lain-Lain 22 117 165 343 282
Liabilitas Keuangan Jangka
154 169 0 0 3.555
Panjang Lain-Lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 10.249 8.927 26.954 26.003 21.288
Total Liabilitas 40.739 50.964 69.993 71.305 74.501
Ekuitas
Ekuitas Yang Diatribusikan Kepada
Entitas Induk
Modal Disetor 933 933 933 933 933
Tambahan Modal Disetor 9.704 9.704 9.704 9.704 9.704
Saham Tresuri 0 (3.191) (3.191) (3.191) (4.902)
Saldo Laba
Halaman 58 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 60
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Posisi Keuangan
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Dicadangkan 187 187 187 187 187
Belum Dicadangkan 56.487 71.137 66.685 77.976 85.548
Selisih Kurs Dari Penjabaran
2.712 5.962 5.188 7.399 9.227
Laporan Keuangan
Cadangan Lindung Nilai (818) 612 549 745 (2.065)
Cadangan Penyesuaian Nilai Wajar
20 20 20 19 19
Aset Tetap
Transaksi Dengan Kepentingan
(664) (664) (824) (824) (876)
Nonpengendali
Total Ekuitas Yang Diatribusikan
68.560 84.698 79.251 92.947 97.774
Kepada Entitas Induk
Kepentingan Nonpengandali 3.263 4.816 4.785 5.228 5.363
Total Ekuitas 71.823 89.514 84.036 98.175 103.136
Total Liabilitas Dan Ekuitas 112.561 140.478 154.028 169.481 177.637
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Aset Lancar
Pertumbuhan aset lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
4,45% . Pada tahun 2021 aset lancar tercatat sebesar Rp60.604 miliar. Pada tahun 2022 aset
lancar mengalami peningkatan sebesar 30,24% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp78.930 miliar. Pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar 20,60% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp62.667 miliar. Pada tahun 2024 aset lancar mengalami
peningkatan sebesar 11,67% secara year on year atau tercatat sebesar Rp69.979 miliar. Serta
Pada tahun 2025 aset lancar mengalami peningkatan sebesar 3,09% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp72.141miliar.
Aset Tidak Lancar
Pertumbuhan aset tidak lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR
sebesar 19,37% . Pada tahun 2021 aset tidak lancar tercatat sebesar Rp51.957 miliar. Pada
tahun 2022 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 18,46% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp61.548 miliar. Pada tahun 2023 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 48,44% secara year on year atau tercatat sebesar Rp91.361 miliar. Pada
tahun 2024 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 8,91% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp99.501 miliar. Serta Pada tahun 2025 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 6,02% secara year on year atau tercatat sebesar Rp105.496 miliar.
Total Aset
Pertumbuhan total aset Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang terus meningkat setiap tahunnya dengan rata-
rata CAGR sebesar 12,08%. Pada tahun 2021 total aset tercatat sebesar Rp112.561 miliar.
Pada tahun 2022 total aset mengalami peningkatan sebesar 24,80% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp140.478 miliar. Pada Tahun 2023 total aset mengalami peningkatan
sebesar 9,65% secara year on year atau tercatat sebesar Rp154.028 miliar. Pada tahun 2024
Halaman 59 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 61
total aset mengalami peningkatan sebesar 10,03% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp169.481 miliar. Serta Pada tahun 2025 total aset mengalami peningkatan sebesar 4,81%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp177.637 miliar.
Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 14,94%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp30.489
miliar. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 37,88%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp42.037 miliar. Pada Tahun 2023 liabilitas jangka
pendek mengalami peningkatan sebesar 2,38% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp43.038 miliar. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar
5,26% secara year on year atau tercatat sebesar Rp45.303 miliar. Serta Pada tahun 2025
liabiitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 17,46% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp53.213 miliar.
Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 20,05%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp10.249
miliar. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar 12,90%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp8.927 miliar. Pada Tahun 2023 liabilitas jangka
panjang mengalami peningkatan sebesar 201,94% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp26.954 miliar. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar
3,53% secara year on year atau tercatat sebesar Rp26.003 miliar. Serta Pada tahun 2025
liabiitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar 18,13% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp21.288 miliar.
Total Liabilitas
Pertumbuhan total liabilitas Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata
CAGR sebesar 16,29%. Pada tahun 2021 total liabilitas tercatat sebesar Rp40.739 miliar. Pada
tahun 2022 total liabilitas mengalami peningkatan sebesar 25,10% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp50.964 miliar. Pada Tahun 2023 total liabilitas mengalami peningkatan
sebesar 37,34% secara year on year atau tercatat sebesar Rp69.993 miliar. Pada tahun 2024
total liabilitas mengalami peningkatan sebesar 1,88% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp71.305 miliar. Serta Pada tahun 2025 total liabiitas mengalami peningkatan sebesar 4,48%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp74.501 miliar.
Total Ekuitas
Pertumbuhan total ekuitas Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
9,47%. Pada tahun 2021 total ekuitas tercatat sebesar Rp71.823 miliar. Pada tahun 2022 total
ekuitas mengalami peningkatan sebesar 24,63% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp89.514 miliar. Pada Tahun 2023 total ekuitas mengalami penurunan sebesar 6,12% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp84.036 miliar. Pada tahun 2024 total ekuitas mengalami
peningkatan sebesar 16,83% secara year on year atau tercatat sebesar Rp98.175 miliar. Serta
Halaman 60 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 62
Pada tahun 2025 total ekuitas mengalami peningkatan sebesar 5,05% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp103.136 miliar.
Laporan Laba Rugi
Tabel 32. Laporan Laba Rugi Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Laba Rugi
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 79.461 123.607 128.583 134.427 131.301
Beban pokok pendapatan (59.796) (88.849) (92.797) (100.595) (101.597)
Laba bruto 19.665 34.759 35.786 33.832 29.704
Beban penjualan (1.126) (1.065) (1.321) (1.056) (1.598)
Beban umum dan
(3.664) (4.561) (4.742) (5.594) (6.040)
administrasi
Beban lain-lain, bersih (980) (561) (885) (421) (256)
Penghasilan keuangan 872 998 1.127 1.150 1.244
Biaya keuangan (754) (760) (1.879) (2.651) (2.626)
Bagian atas laba bersih
entitas asosiasi dan ventura 449 636 635 637 (246)
bersama
Laba sebelum pajak
14.462 29.446 28.720 25.897 20.182
penghasilan
Beban pajak penghasilan (3.854) (6.452) (6.590) (5.779) (5.005)
Laba tahun berjalan 10.608 22.994 22.130 20.119 15.177
Laba bersih 10.280 21.005 20.612 19.531 14.810
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Pendapatan Bersih
Pertumbuhan pendapatan bersih Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata CAGR
sebesar 13,38%. Pada tahun 2021 pendapatan bersih tercatat sebesar Rp79.461 miliar. Pada
tahun 2022 pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar 55,56% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp123.607 miliar. Pada tahun 2023 pendapatan bersih mengalami
peningkatan sebesar 4,03% secara year on year atau tercatat sebesar Rp128.583 miliar. Pada
tahun 2024 pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar negatif 4,54% secara year on
year atau tercatat sebesar Rp134.427 miliar. Serta Pada tahun 2025 pendapatan bersih
mengalami penurunan sebesar 2,33% secara year on year atau tercatat sebesar Rp131.301
miliar.
Laba Bruto
Pertumbuhan laba bruto Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
10,86%. Pada tahun 2021 laba bruto tercatat sebesar Rp19.665 miliar. Pada tahun 2022 laba
bruto mengalami peningkatan sebesar 76,75% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp34.759 miliar. Pada tahun 2023 laba bruto mengalami peningkatan sebesar 2,96% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp35.786 miliar. Pada tahun 2024 laba bruto mengalami
penurunan sebesar 5,46% secara year on year atau tercatat sebesar Rp33.832 miliar. Serta
Halaman 61 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 63
Pada tahun 2025 laba bruto mengalami penurunan sebesar 12,20% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp29.704 miliar.
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba sebelum pajak penghasilan Perseroan selama periode 31 Desember 2021
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 8,69%. Pada tahun 2021 laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar
Rp14.462 miliar. Pada tahun 2022 laba sebelum pajak penghasilan mengalami peningkatan
sebesar 103,61% secara year on year atau tercatat sebesar Rp29.446 miliar. Pada tahun 2023
laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar 2,46% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp28.720 miliar. Pada tahun 2024 laba sebelum pajak penghasilan
mengalami penurunan sebesar 9,83% secara year on year atau tercatat sebesar Rp25.897
miliar. Serta Pada tahun 2025 laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar
22,07% secara year on year atau tercatat sebesar Rp20.182 miliar.
Laba Tahun Berjalan
Pertumbuhan laba tahun berjalan Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata
CAGR sebesar 9,37%. Pada tahun 2021 laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp10.608 miliar.
Pada tahun 2022 laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 116,75% secara year
on year atau tercatat sebesar Rp22.994 miliar. Pada tahun 2023 laba tahun berjalan
mengalami penurunan sebesar 3,76% secara year on year atau tercatat sebesar Rp22.130
miliar. Pada tahun 2024 laba tahun berjalan mengalami penurunan sebesar 9,09% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp20.119 miliar. Serta Pada tahun 2025 laba tahun berjalan
mengalami penurunan sebesar 24,56% secara year on year atau tercatat sebesar Rp15.177
miliar.
Laba Bersih
Pertumbuhan laba bersih Perseroan selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dengan rata-rata CAGR sebesar
9,56%. Pada tahun 2021 laba bersih tercatat sebesar Rp10.280 miliar. Pada tahun 2022 laba
bersih mengalami peningkatan sebesar 104,34% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp21.005 miliar. Pada tahun 2023 laba bersih mengalami penurunan sebesar 1,87% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp20.612 miliar. Pada tahun 2024 laba bersih mengalami
penurunan sebesar 5,24% secara year on year atau tercatat sebesar Rp19.531 miliar. Serta
Pada tahun 2025 laba bersih mengalami penurunan sebesar 24,17% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp14.810 miliar.
Laporan Arus Kas
Tabel 33. Laporan Arus Kas Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam miliar Rupiah)
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Arus kas dari aktivitas
operasi
Penerimaan dari pelanggan 77.191 118.488 125.717 134.591 130.663
Halaman 62 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 64
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pembayaran kepada
(43.653) (70.639) (79.769) (83.213) (84.052)
pemasok dan lain-lain
Pembayaran kepada
(8.375) (9.307) (10.881) (12.232) (12.574)
karyawan
Kas yang dihasilkan dari
25.163 38.542 35.068 39.146 34.037
operasi
Pembayaran biaya
(753) (724) (2.098) (2.758) (2.558)
keuangan
Penerimaan bunga 747 822 952 978 1.112
Pembayaran pajak
(2.826) (6.560) (8.886) (8.791) (7.502)
penghasilan badan
Penerimaan dari kelebihan
749 288 1.126 1.088 1.833
pembayaran pajak lain-lain
Penerimaan dari kelebihan
pembayaran pajak 205 523 186 381 222
penghasilan badan
Arus kas bersih yang
diperoleh dari aktivitas 23.285 32.892 26.347 30.045 27.143
operasi
Arus kas dari aktivitas
investasi
Perolehan aset tetap (2.654) (7.768) (18.012) (12.212) (12.975)
Perolehan properti investasi - - - - -
Pembayaran beban
eksplorasi dan (407) (397) (331) (313) (350)
pengembangan tangguhan
Pembayaran aset tambang
(315) (435) (327) (442) (223)
berproduksi
Pembayaran beban
(50) (1.151) (85) (64) (90)
tangguhan
Uang muka perolehan aset
(79) (686) (476) (719) (552)
tetap
Uang Muka Perolehan
- - (804) - -
Saham
Penambahan investasi pada
entitas asosiasi dan ventura (0) (264) (9.377) (1.464) (207)
bersama
Penambahan investasi
(114) - - - (1.500)
jangka panjang
Akuisisi entitas anak (4.331) (83) (500)
Penerimaan dari penjualan
280 341 143 420 456
aset tetap
Penerimaan dari penjualan
- - - - 564
Entitas Anak
Penambahan pinjaman
(1.179) (1.336) (1.533) (1.662) (726)
kepada pihak berelasi
Penambahan pinjaman
(492) (503) (430) (338) (111)
kepada pihak ketiga
Penerimaan dari pinjaman
1.055 932 1.415 1.321 2.001
kepada pihak berelasi
Halaman 63 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 65
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Penerimaan dari pinjaman
486 427 434 410 466
kepada pihak ketiga
Penarikan kas dan deposito
yang dibatasi 272 317 - - -
penggunaannya
Penerimaan dividen 39 124 273 943 302
Arus kas bersih yang
digunakan untuk aktivitas (3.159) (10.401) (33.440) (14.203) (13.446)
investasi
Arus kas dari aktivitas
pendanaan
Penerimaan pinjaman bank
481 888 162 1.078 1.269
jangka pendek
Penerimaan pinjaman bank
- - 19.630 5.656 8.220
jangka Panjang
Pembayaran pinjaman bank
(1.007) (90) (260) (977) (1.115)
jangka pendek
Pembayaran pinjaman bank
(2.508) (8.216) (3.650) (5.529) (10.005)
jangka panjang
Pembayaran pokok liabilitas
(1.060) (962) (1.106) (1.149) (1.168)
sewa
Penerimaan Pinjaman Lain-
- 114 51 3.037 1.639
lain
Pembayaran pinjaman lain-
(53) (29) (19) (3.164) (1.742)
lain
Penambahan modal dari
- 18 37 2 9
kepentingan nonpengendali
Penerimaan dari Pelepasan
Kepentingan pada Entitas - - 15 - -
Anak
Pembayaran untuk akuisisi
kepentingan nonpengendali (20) - (51) - -
pada entitas anak
Pembayaran untuk
- (3.191) - - (1.590)
pembelian saham tresuri
Pembayaran dividen
kepada:
Pemilik Entitas Induk (3.013) (6.365) (25.001) (8.118) (7.446)
Kepentingan Nonpengendali (239) (819) (2.038) (304) (542)
Arus kas bersih yang
digunakan untuk aktivitas (7.420) (18.653) (12.230) (9.468) (12.470)
pendanaan
Kenaikan bersih kas dan
12.706 3.837 (19.323) 6.374 1.228
setara kas
Kas dan setara kas pada
20.499 33.322 38.282 18.597 25.093
awal tahun
Dampak perubahan selisih
kurs terhadap kas dan 117 1.123 (362) 122 251
setara kas
Halaman 64 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 66
Audited Audited Audited Audited Audited
Laporan Arus Kas
Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Kas dan setara kas pada
33.322 38.282 18.597 25.093 26.571
akhir tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit Perseroan Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas dari aktivitas operasi mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan kas
dari kegiatan usaha utamanya. Sepanjang periode 2021 hingga 2022, arus kas dari aktivitas
operasi menunjukkan tren peningkatan.
Pada tahun 2021 arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp23.285 miliar. Pada tahun
2022 arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp32.892 miliar. Pada tahun 2023 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp26.347 miliar. Pada tahun 2024 arus kas dari
aktivitas operasi tercatat sebesar Rp30.045 miliar. Serta pada periode 31 Desember 2025 arus
kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp27.143 miliar.
Arus Kas untuk Aktivitas Investasi
Sepanjang periode 2021 hingga 2023, arus kas dari aktivitas operasi Perseroan menunjukkan
tren peningkatan, hal tersebut sejalan dengan peningkatan perolehan aset tetap, penambahan
investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama serta penambahan pinjaman kepada
pihak berelasi.
Pada tahun 2021 arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp3.159 miliar. Pada tahun
2022 arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp10.401 miliar. Pada tahun 2023 arus
kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp33.440 miliar. Pada tahun 2024 arus kas untuk
aktivitas investasi tercatat sebesar Rp14.203 miliar. Serta pada periode 31 Desember 2025
arus kas untuk aktivitas investasi tercatat sebesar Rp13.446 miliar.
Arus Kas untuk Aktivitas Pendanaan
Arus kas untuk aktivitas pendanaan Perseroan mengalami penurunan dan peningkatan yang
fluktuatif setiap tahunnya, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama antara lain,
pembayaran pinjaman bank jangka pendek, pembayaran pinjaman bank jangka panjang,
pembayaran pokok liabilitas sewa serta pembayaran dividen.
Pada tahun 2021 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp7.420 miliar. Pada
tahun 2022 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp18.653 miliar. Pada tahun
2023 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp12.230 miliar. Pada tahun 2024
arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp9.468 miliar. Serta pada periode 31
Desember 2025 arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp12.470 miliar.
Kenaikan Bersih Kas dan Setara Kas
Kenaikan bersih kas dan setara kas Perseroan mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi
setiap tahunnya sejalan dengan perubahan pada arus kas operasional, investasi, dan
pendanaan.
Halaman 65 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 67
Pada tahun 2021 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp12.706 miliar. Pada
tahun 2022 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp3.837 miliar. Pada tahun
2023 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar negatif Rp 19.323 miliar. Pada tahun
2024 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp6.374 miliar. Serta pada periode
31 Desember 2025 kenaikan bersih kas dan setara kas tercatat sebesar Rp1.228 miliar.
Kas dan Setara Kas pada Akhir Tahun
Berdasarkan laporan arus kas Perseroan periode 31 Desember 2021 hingga 30 Juni 2025,
kas dan setara kas pada akhir tahun menunjukkan fluktuasi seiring perubahan aktivitas
operasi, investasi, dan pendanaan.
PaPada tahun 2021 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami peningkatan sebesar
sebesar Rp33.322 miliar. Pada tahun 2022 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami
peningkatan sebesar Rp38.282 miliar. Pada tahun 2023 kas dan setara kas pada akhir tahun
mengalami penurunan sebesar Rp18.597 miliar. Pada tahun 2024 kas dan setara kas pada
akhir tahun mengalami peningkatan sebesar Rp25.093 miliar. Serta pada periode 31
Desember 2025 kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami kenaikan sebesar Rp 26.571
miliar.
• Analisis Common Size (Common Size Analysis)
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
Perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap
total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya
atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
Perseroan dengan menggunakan metode common size statement analysis:
Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan
Tabel 34. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%)
Laporan Posisi Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Total Aset Lancar 53,84% 56,19% 40,69% 41,29% 40,61%
Total Aset Tidak Lancar 46,16% 43,81% 59,31% 58,71% 59,39%
Total Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Total Liabilitas Jangka Pendek 27,09% 29,92% 27,94% 26,73% 29,96%
Total Liabilitas Jangka Panjang 9,11% 6,35% 17,50% 15,34% 11,98%
Total Liabilitas 36,19% 36,28% 45,44% 42,07% 41,94%
Total Ekuitas 63,81% 63,72% 54,56% 57,93% 58,06%
Total Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan Perseroan, berdasarkan analisis common size
statement, selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025,
rata-rata proporsi aset lancar terhadap rata-rata total aset sebesar 46,52% lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata proporsi aset tidak lancar terhadap rata-rata total aset
sebesar 53,48%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi aset lancar terhadap total aset
sebesar 40,61%, dan proporsi aset tidak lancar terhadap total aset sebesar 59,39%.
Halaman 66 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 68
Kemudian selama 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025, rata-
rata proporsi liabilitas terhadap rata-rata total aset sebesar 40,39% lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata proporsi ekuitas terhadap rata-rata total aset sebesar
59,61%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas terhadap total aset
sebesar 41,94%, dan proporsi ekuitas terhadap total aset sebesar 58,06%.
Analisis Commonsize Statement – Laporan Laba Rugi
Tabel 35. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%)
Laporan Laba Rugi Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laba bruto 24,75% 28,12% 27,83% 25,17% 22,62%
Laba sebelum pajak
18,20% 23,82% 22,34% 19,26% 15,37%
penghasilan
Laba tahun berjalan 13,35% 18,60% 17,21% 14,97% 11,56%
Laba bersih 12,94% 16,99% 16,03% 14,53% 11,28%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis common size statement, rata-rata proporsi laba bruto terhadap rata-
rata pendapatan bersih selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember
2025 adalah sebesar 25,70%, dan proporsi laba bruto terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 22,62%.
Rata-rata proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap rata-rata pendapatan bersih
selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar
19,80%, dan proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 15,37%.
Rata-rata proporsi laba tahun berjalan terhadap rata-rata pendapatan bersih selama
periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 15,14%,
dan proporsi laba tahun berjalan terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember
2025 adalah sebesar 11,56%.
Rata-rata proporsi laba bersih terhadap rata-rata pendapatan bersih selama periode 31
Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 14,35%, dan proporsi
laba bersih terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember 2025 adalah sebesar
11,28%.
Kinerja Historis DTN
• Laporan Keuangan
Data laporan keuangan yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan audited
Perseroan periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025.
Laporan keuangan tersebut menjadi dasar dalam penilaian kinerja historis dan posisi
keuangan perusahaan, meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, serta Laporan
Arus Kas pada masing-masing periode.
Halaman 67 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 69
Laporan Posisi Keuangan
Tabel 36. Laporan Posisi Keuangan DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam juta Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar
Kas Dan Setara Kas 3.880.822 4.249.101 2.897.830 5.047.683 6.132.438
Piutang Usaha - - 64.085 105.498 93.183
Piutang Lain-Lain 435.415 38.346 32.024 49.939 73.726
Persediaan 881.551 1.098.964 2.116.596 2.142.268 2.263.808
Klaim Pengembalian Pph
- 40.576 39.764 146.522 31.379
Badan
Klaim Pengembalian Ppn 185.393 223.271 - 313.348 330.852
Uang Muka Dan Biaya
54.936 69.878 69.778 95.102 85.905
Dibayar Dimuka
Jumlah Aset Lancar 5.438.117 5.720.136 5.220.077 7.900.360 9.011.291
Aset Tidak Lancar
Deposito Berjangka Yang
342.472 376.871 385.870 409.945 541.069
Dibatasi
Persediaan (Tidak Lancar) 206.054 254.602 82.497 98.831 105.530
Uang Muka Dan Biaya
33.803 250.752 11.735 184.859 400.269
Dibayar Dimuka (Tl)
Aset Tetap - Bersih 2.787.071 3.372.142 5.247.763 6.261.658 8.024.743
Beban Eksplorasi Dan
Pengembangan 1.486.454 1.887.206 1.917.081 1.888.024 1.999.524
Tangguhan
Aset Tambang
4.163.540 4.345.968 3.934.684 3.703.548 3.487.518
Berproduksi
Properti Pertambangan 6.755.788 6.553.007 11.684.453 11.057.007 10.419.229
Klaim Pengembalian
224.876 295.345 502.134 513.706 615.983
Pajak (Tl)
Aset Pajak Tangguhan 549 653 19.824 18.760 424.272
Goodwill 2.427.501 2.676.223 3.292.040 3.402.129 3.303.345
Investasi Pada Entitas
- - 9.389.563 9.074.167 9.135.161
Asosiasi
Biaya Pengupasan / Aset
361.859 417.786 447.120 461.909 499.007
Tl Lainnya
Jumlah Aset Tidak Lancar 18.789.967 20.430.555 36.914.764 37.074.543 38.955.650
Jumlah Aset 24.228.084 26.150.691 42.134.841 44.974.903 47.966.941
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha 71.254 104.802 85.309 304.127 285.624
Utang Lain-Lain 103.351 125.900 338.046 345.489 571.395
Utang Pph Badan 326.979 47 582.124 259.989 394.472
Utang Pajak Lain-Lain 19.651 23.354 86.104 17.754 26.208
Beban Akrual 660.645 869.253 872.374 1.070.874 2.239.761
Pinjaman Dari Pemegang
463.743 983.188 2.774.880 4.028.946 4.094.619
Saham
Liabilitas Imbalan Kerja
50.657 50.096 65.087 101.632 87.668
(Jp)
Provisi Rehabilitasi &
- - - 12.165 74.195
Penutupan Tambang (Jp)
Halaman 68 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 70
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Liabilitas Jangka Pendek
- - 1.633 6.846 -
Lain-Lain
Jumlah Liabilitas Jangka
1.696.280 2.156.640 4.805.557 6.147.822 7.773.942
Pendek
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas Pajak
1.984.057 2.107.666 3.092.419 2.935.880 2.353.002
Tangguhan
Instrumen Keuangan
- - - - 3.555.105
Derivatif
Liabilitas Imbalan Kerja
180.306 175.255 214.435 233.804 260.629
(Pj)
Provisi Rehabilitasi &
416.361 493.839 525.465 581.312 441.538
Penutupan Tambang (Pj)
Liabilitas Jangka Panjang
- - 5.081 9.912 -
Lain-Lain
Jumlah Liabilitas Jangka
2.580.724 2.776.760 3.837.400 3.760.908 6.610.274
Panjang
Jumlah Liabilitas 4.277.004 4.933.400 8.642.957 9.908.730 14.384.216
Ekuitas
Modal Saham 15.482.650 15.482.650 29.012.950 29.012.950 29.012.950
Tambahan Modal Disetor (82.022) (82.022) (82.022) (82.022) (82.022)
Cadangan Lainnya 14.558 1.846.707 1.432.773 2.716.911 1.186.096
Saldo Laba -
- - - 257.196 257.196
Dicadangkan
Saldo Laba - Belum
3.585.139 2.905.581 1.648.590 1.703.895 1.976.598
Dicadangkan
Kepentingan
950.755 1.064.375 1.479.593 1.457.243 1.231.907
Nonpengendali
Jumlah Ekuitas 19.951.080 21.217.291 33.491.884 35.066.173 33.582.725
Jumlah Liabilitas Dan
24.228.084 26.150.691 42.134.841 44.974.903 47.966.941
Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audit DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Aset Lancar
Pertumbuhan aset lancar DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
13,46%. Pada tahun 2021 aset lancar tercatat sebesar Rp5.438.117 juta. Pada tahun 2022
aset lancar mengalami peningkatan sebesar 5,19% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp5.720.136 juta. Pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar 8,74% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp5.220.077 juta. Pada tahun 2024 aset lancar mengalami
peningkatan sebesar 51,35% secara year on year atau tercatat sebesar Rp7.900.360 juta. Pada
tahun 2025 aset lancar mengalami peningkatan sebesar 14,06% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp9.011.291 juta.
Aset Tidak Lancar
Pertumbuhan aset tidak lancar DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
19,99%. Pada tahun 2021 aset tidak lancar tercatat sebesar Rp18.789.967 juta. Pada tahun
2022 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 8,73% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp20.430.555 juta. Pada tahun 2023 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 80,68% secara year on year atau tercatat sebesar Rp36.914.764 juta.
Halaman 69 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 71
Pada tahun 2024 aset tidak lancar mengalami penurunan sebesar 0,43% secara year on year
atau tercatat sebesar Rp37.074.543 juta. Pada tahun 2025 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 5,07% secara year on year atau tercatat sebesar Rp38.955.650 juta.
Jumlah Aset
Pertumbuhan jumlah aset DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
18,62%. Pada tahun 2021 jumlah aset tercatat sebesar Rp24.228.084 juta. Pada tahun 2022
jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 7,94% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp26.150.691 juta. Pada tahun 2023 jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 61,12%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp42.134.841 juta. Pada tahun 2024 jumlah aset
mengalami peningkatan sebesar 6,74% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp44.974.903 juta. Pada tahun 2025 jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 6,65%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp47.966.941 juta.
Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 46,31%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar
Rp1.696.280 juta. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar
27,14% secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.156.640 juta. Pada tahun 2023 liabilitas
jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 122,83% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp4.805.557 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan
sebesar 27,93% secara year on year atau tercatat sebesar Rp6.147.822 juta. Pada tahun 2025
liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 26,45% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp7.773.942 juta.
Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 26,51%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar
Rp2.580.724 juta. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang mengalami peningkatan sebesar
7,60% secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.776.760 juta. Pada tahun 2023 liabilitas
jangka panjang mengalami peningkatan sebesar 38,20% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp3.837.400 juta. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan
sebesar 1,99%secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.760.908 juta. Pada tahun 2025
liabilitas jangka panjang mengalami peningkatan sebesar 75,76% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp6.610.274 juta.
Jumlah Liabilitas
Pertumbuhan jumlah liabilitas DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
35,42%. Pada tahun 2021 jumlah liabilitas tercatat sebesar Rp4.277.004 juta. Pada tahun
2022 jumlah liabilitas mengalami penurunan sebesar 15,35% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp4.933.400 juta. Pada tahun 2023 jumlah liabilitas mengalami penurunan sebesar
75,19% secara year on year atau tercatat sebesar Rp8.642.957 juta. Pada tahun 2024 jumlah
liabilitas mengalami sebesar 14,65% secara year on year atau tercatat sebesar Rp9.908.730
Halaman 70 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 72
juta. Pada tahun 2025 jumlah liabilitas mengalami penurunan sebesar 45,17% secara year on
year atau tercatat sebesar Rp14.384.216 juta.
Jumlah Ekuitas
Pertumbuhan jumlah ekuitas DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
13,90%. Pada tahun 2021 jumlah ekuitas tercatat sebesar Rp19.951.080 juta. Pada tahun
2022 jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar 6,35% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp21.217.291 juta. Pada tahun 2023 jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar
57,85% secara year on year atau tercatat sebesar Rp33.491.884 juta. Pada tahun 2024 jumlah
ekuitas mengalami peningkatan sebesar 4,70% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp35.066.173 juta. Pada tahun 2025 jumlah ekuitas mengalami penurunan sebesar 4,23%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp33.582.725 juta.
Laporan Laba Rugi
Tabel 37. Laporan Laba Rugi DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam juta Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Total Penjualan
Penjualan 8.306.882 7.653.930 5.233.644 9.908.218 14.020.030
Total Beban Pokok
Penjualan
Beban Pokok Penjualan (4.128.479) (4.320.583) (3.377.537) (6.518.320) (8.160.296)
Laba Bruto 4.178.403 3.333.347 1.856.107 3.389.898 5.859.734
Beban Operasional Dan
Lain-Lain
Beban Umum Dan
(432.990) (488.745) (364.716) (619.673) (885.192)
Administrasi
Biaya Keuangan (19.358) (41.905) (67.407) (142.492) (126.256)
Pendapatan Bunga 37.574 36.126 137.458 74.576 128.861
Beban Lain-Lain, Bersih (169.717) (202.429) (454.653) (651.497) (1.393.262)
Bagian Atas Rugi Bersih
- - - (315.741) (283.996)
Entitas Asosiasi
Jumlah Beban
Operasional Dan Lain- (584.491) (696.953) (749.318) (1.654.827) (2.559.845)
Lain
Laba Sebelum Pajak
3.593.912 2.636.394 1.106.789 1.735.071 3.299.889
Penghasilan
Pajak Penghasilan
Beban Pajak Penghasilan (964.867) (696.365) (310.487) (617.113) (1.146.047)
Laba Tahun Berjalan 2.629.045 1.940.029 796.302 1.117.958 2.153.842
Laba bersih 2.506.426 1.857.721 776.922 1.114.436 2.097.979
Sumber: Laporan Keuangan Audit DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Penjualan
Pertumbuhan penjualan DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
13,98%. Pada tahun 2021 penjualan tercatat sebesar Rp8.306.882 juta. Pada tahun 2022
Halaman 71 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 73
penjualan mengalami penurunan sebesar 7,86% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp7.653.930 juta. Pada tahun 2023 penjualan mengalami penurunan sebesar -31,62%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp5.233.644 juta. Pada tahun 2024 penjualan
mengalami peningkatan sebesar 89,32% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp9.908.218 juta. Pada tahun 2025 penjualan mengalami peningkatan sebesar 41,50%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp14.020.030 juta.
Laba Bruto
Pertumbuhan laba bruto DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
8,82%. Pada tahun 2021 laba bruto tercatat sebesar Rp4.178.403 juta. Pada tahun 2022
penjualan mengalami penurunan sebesar 20,22% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp3.333.347 juta. Pada tahun 2023 laba bruto mengalami penurunan sebesar 44,32% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp1.856.107 juta. Pada tahun 2024 laba bruto mengalami
peningkatan sebesar 82,63% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.389.898 juta. Pada
tahun 2025 laba bruto mengalami peningkatan sebesar 72,86% secara year on year atau
tercatat sebesar Rp5.859.734 juta.
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba sebelum pajak penghasilan DTN selama periode 31 Desember 2021
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-
rata CAGR sebesar negatif 2,11%. Pada tahun 2021 laba sebelum pajak penghasilan tercatat
sebesar Rp3.593.912 juta. Pada tahun 2022 laba sebelum pajak penghasilan mengalami
penurunan sebesar 26,64% secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.636.394 juta. Pada
tahun 2023 laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar 58,02% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp1.106.789 juta. Pada tahun 2024 laba sebelum pajak
penghasilan mengalami peningkatan sebesar 56,77% secara year on year atau tercatat
sebesar Rp1.735.071 juta. Pada tahun 2025 laba sebelum pajak penghasilan mengalami
peningkatan sebesar 90,19% secara year on year atau tercatat sebesar Rp3.299.889 juta.
Laba Tahun Berjalan
Pertumbuhan laba tahun berjalan DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR
sebesar negatif 4,86%. Pada tahun 2021 laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp2.629.045
juta. Pada tahun 2022 laba tahun berjalan mengalami penurunan sebesar 26,21% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp1.940.029 juta. Pada tahun 2023 laba tahun berjalan
mengalami penurunan sebesar 58,95% secara year on year atau tercatat sebesar Rp796.302
juta. Pada tahun 2024 laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 40,39% secara
year on year atau tercatat sebesar Rp1.117.958 juta. Pada tahun 2025 laba tahun berjalan
mengalami peningkatan sebesar 92,66% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp2.153.842 juta.
Laba Bersih
Pertumbuhan laba bersih DTN selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
negatif 4,35%. Pada tahun 2021 laba bersih tercatat sebesar Rp2.506.426 juta. Pada tahun
2022 laba bersih mengalami penurunan sebesar 25,88% secara year on year atau tercatat
Halaman 72 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 74
sebesar Rp1.857.721 juta. Pada Tahun 2023 laba bersih mengalami penurunan sebesar
58,18% secara year on year atau tercatat sebesar Rp776.922 juta. Pada tahun 2024 laba
bersih mengalami peningkatan sebesar 43,44% secara year on year atau tercatat sebesar
Rp1.114.436 juta. Pada tahun 2025 laba bersih mengalami peningkatan sebesar 88,25%
secara year on year atau tercatat sebesar Rp2.097.979 juta.
Laporan Arus Kas
Tabel 38. Laporan Arus Kas DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam juta Rupiah)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Arus Kas Bersih -
4.716.073 3.284.589 1.563.792 3.224.743 6.256.546
Aktivitas Operasi
Arus Kas Bersih -
(1.307.734) (1.076.772) (16.093.453) (1.380.497) (3.187.329)
Aktivitas Investasi
Arus Kas Bersih -
(1.177.077) (2.159.740) 13.206.981 126.795 (2.155.501)
Aktivitas Pendanaan
Kenaikan (Penurunan)
Bersih Kas Dan Setara 2.231.262 48.077 (1.322.680) 1.971.041 913.716
Kas
Kas Dan Setara Kas Awal
1.611.974 3.880.822 4.249.101 2.897.830 5.047.683
Tahun
Dampak Perubahan
Selisih Kurs Terhadap 37.586 320.202 (28.591) 178.812 171.039
Kas
Kas Dan Setara Kas
3.880.822 4.249.101 2.897.830 5.047.683 6.132.438
Akhir Tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit DTN Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Berikut adalah macam-macam arus kas DTN berdasarkan data historis laporan keuangan
DTN per 31 Desember 2025:
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional DTN per 31 Desember 2025
adalah sebesar Rp6.256.546 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan operasional
DTN menghasilkan arus kas positif.
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi DTN per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif Rp3.187.329 juta. Arus kas investasi bernilai negatif karena
perusahaan melakukan investasi penambahan aset tetap.
▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan DTN per 31 Desember 2025
adalah sebesar Rp2.155.501 juta. Aktivitas pendanaan dicatatkan negatif karena terdapat
pembayaran pinjaman dari pemegang saham, pembayaran dividen kepada pemilik entitas
induk serta pembayaran dividen kepada kepentingan nonpengendali.
• Analisis Common Size (Common Size Analysis)
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
Perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap
total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya
atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
Perusahaan dengan menggunakan metode common size statement analysis:
Halaman 73 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 75
Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan
Tabel 39. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%)
Laporan Posisi Keuangan 2021 2022 2023 2024 2025
Jumlah Aset Lancar 22,45% 21,87% 12,39% 17,57% 18,79%
Jumlah Aset Tidak Lancar 77,55% 78,13% 87,61% 82,43% 81,21%
Jumlah Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Jumlah Liabilitas Jangka
7,00% 8,25% 11,41% 13,67% 16,21%
Pendek
Jumlah Liabilitas Jangka
10,65% 10,62% 9,11% 8,36% 13,78%
Panjang
Jumlah Liabilitas 17,65% 18,87% 20,51% 22,03% 29,99%
Jumlah Ekuitas 82,35% 81,13% 79,49% 77,97% 70,01%
Jumlah Liabilitas Dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Mengacu pada laporan posisi keuangan Perseroan, berdasarkan analisis common size
statement, selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025,
rata-rata proporsi aset lancar terhadap rata-rata total aset lebih kecil sebesar 18,61%
dibandingkan dengan rata-rata proporsi aset tidak lancar terhadap rata-rata total aset
sebesar 81,39%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi aset lancar terhadap total aset
lebih kecil sebesar 18,79% dibandingkan dengan proporsi aset tidak lancar terhadap total
aset sebesar 81,21%.
Kemudian selama 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025, rata-
rata proporsi liabilitas terhadap rata-rata total aset lebih kecil sebesar 21,81%
dibandingkan dengan rata-rata proporsi ekuitas terhadap rata-rata total aset sebesar
78,19%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas terhadap total aset lebih
kecil sebesar 29,99% dibandingkan dengan proporsi ekuitas terhadap total aset sebesar
70,01%.
Analisis Commonsize Statement – Laporan Laba Rugi
Tabel 40. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%)
Laporan Laba Rugi Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laba bruto 50,30% 43,55% 35,46% 34,21% 41,80%
Laba sebelum pajak
43,26% 34,44% 21,15% 17,51% 23,54%
penghasilan
Laba tahun berjalan 31,65% 25,35% 15,22% 11,28% 15,36%
Laba bersih 30,17% 24,27% 14,84% 11,25% 14,96%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis common size statement, rata-rata proporsi laba bruto terhadap rata-
rata pendapatan bersih selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember
2025 adalah sebesar 41,06%, dan proporsi laba bruto terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 41,80%.
Rata-rata proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap rata-rata pendapatan bersih
selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar
Halaman 74 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 76
27,98%, dan proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 23,54%.
Rata-rata proporsi laba tahun berjalan terhadap rata-rata pendapatan bersih selama
periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 19,77%,
dan proporsi laba tahun berjalan terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember
2025 adalah sebesar 15,36%.
Rata-rata proporsi laba bersih terhadap rata-rata pendapatan bersih selama periode 31
Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 19,10%, dan proporsi
laba bersih terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember 2025 adalah sebesar
14,96%.
Kinerja Historis PTAR
• Laporan Keuangan
Data laporan keuangan yang digunakan dalam analisis ini adalah laporan keuangan audited
Perseroan periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025.
Laporan keuangan tersebut menjadi dasar dalam penilaian kinerja historis dan posisi
keuangan perusahaan, meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, serta Laporan
Arus Kas pada masing-masing periode.
Laporan Posisi Keuangan
Tabel 41. Laporan Posisi Keuangan PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam USD Penuh)
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 262.191.604 234.879.584 121.635.951 264.854.761 325.637.148
Persediaan 54.890.284 60.166.162 119.420.377 100.557.361 94.289.722
Piutang Lain-lain 2.472.278 2.548.644 1.860.083 2.200.506 2.672.578
Pembayaran di Muka 2.972.529 3.028.438 1.928.162 4.241.832 4.063.548
Pajak Dibayar di Muka -
- 2.579.382 2.579.382 8.826.393 -
PPh
Pajak Dibayar di Muka -
12.992.708 14.193.071 - 19.217.517 19.714.536
Pajak Lain
Jumlah Aset Lancar 335.519.403 317.395.281 247.423.955 399.898.370 446.377.532
Aset Tidak Lancar
Deposito Berjangka yang
24.001.139 23.957.229 23.935.052 24.266.502 26.261.964
Dibatasi
Persediaan - Bagian
14.440.696 16.184.704 5.351.394 6.115.004 6.288.291
Tidak Lancar
Aset Tetap 187.838.870 194.073.045 214.552.901 223.645.006 227.732.848
Properti Pertambangan 316.430.530 302.285.558 283.836.248 257.718.348 232.994.990
Properti Pengembangan 59.674.357 59.674.357 49.652.932 47.817.548 47.817.548
Aset Eksplorasi dan
29.757.127 46.790.599 60.573.933 54.149.694 54.706.854
Evaluasi
Pajak Dibayar di Muka -
15.579.797 16.909.998 24.800.362 19.298.304 19.372.119
Pajak Lain (TL)
Aset Pajak Tangguhan - - - - 23.731.361
Halaman 75 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 77
Audit Audit Audit Audit Audit
Keterangan
2021 2022 2023 2024 2025
Aset Lain-lain 630.438 568.966 584.232 557.667 533.910
Jumlah Aset Tidak
648.352.954 660.444.456 663.287.054 633.568.073 639.439.885
Lancar
Jumlah Aset 983.872.357 977.839.737 910.711.009 1.033.466.443 1.085.817.417
Liabilitas Jangka Pendek
Utang Usaha 4.741.205 3.354.796 1.986.232 2.873.264 3.079.860
Utang Lain-lain 64.322 71.281 35.767 35.979 35.850
Beban yang Masih Harus
47.457.919 55.741.929 50.381.312 55.908.033 59.325.791
Dibayar
Liabilitas Imbalan Kerja
3.198.881 3.505.819 3.995.017 5.177.298 5.425.617
Jangka Pendek
Liabilitas Imbalan
Pascakerja - Bagian - 712.201 929.594 1.184.173 1.799.721
Lancar
Utang Pajak - PPh 23.039.569 - - 15.567.384 21.971.127
Utang Pajak - Pajak Lain 549.891 574.569 579.512 624.511 137.748
Jumlah Liabilitas Jangka
79.051.787 63.960.595 57.907.434 81.370.642 91.775.714
Pendek
Liabilitas Jangka
Panjang
Liabilitas Imbalan
12.520.608 10.319.298 11.968.489 13.629.236 14.216.634
Pascakerja - Bagian TL
Penyisihan Rehabilitasi &
29.179.424 31.392.712 32.962.347 34.757.475 22.702.507
Penutupan Tambang
Liabilitas Pajak
36.852.518 36.134.523 29.476.467 26.767.891 -
Tangguhan
Instrumen Keuangan
- - - - 211.840.368
Derivatif
Jumlah Liabilitas Jangka
78.552.550 77.846.533 74.407.303 75.154.602 248.759.509
Panjang
Jumlah Liabilitas 157.604.337 141.807.128 132.314.737 156.525.244 340.535.223
Ekuitas
Modal Saham 85.000.000 85.000.000 85.000.000 85.000.000 85.000.000
Cadangan Lindung Nilai - - - - (165.235.488)
Cadangan Lain-lain (28.255.120) (27.684.578) (27.541.696) (27.759.597) (27.142.313)
Saldo Laba -
- - - 17.000.000 17.000.000
Dicadangkan
Saldo Laba - Belum
769.523.140 778.717.187 720.937.968 802.700.796 835.659.995
Dicadangkan
Jumlah Ekuitas 826.268.020 836.032.609 778.396.272 876.941.199 745.282.194
Jumlah Liabilitas Dan
983.872.357 977.839.737 910.711.009 1.033.466.443 1.085.817.417
Ekuitas
Sumber: Laporan Keuangan Audit PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Aset Lancar
Pertumbuhan aset lancar PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
7,40%. Pada tahun 2021 aset lancar tercatat sebesar USD335.519.403. Pada tahun 2022
aset lancar mengalami penurunan sebesar 5,40% secara year on year atau tercatat sebesar
USD317.395.281. Pada tahun 2023 aset lancar mengalami penurunan sebesar 22,05%
secara year on year atau tercatat sebesar USD247.423.955. Pada tahun 2024 aset lancar
mengalami peningkatan sebesar 61,62% secara year on year atau tercatat sebesar
USD399.898.370. Pada tahun 2025 aset lancar mengalami peningkatan sebesar 11,62%
secara year on year atau tercatat sebesar USD446.377.532.
Halaman 76 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 78
Aset Tidak Lancar
Pertumbuhan aset tidak lancar PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
negatif 0,35%. Pada tahun 2021 aset tidak lancar tercatat sebesar USD648.352.954. Pada
tahun 2022 aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 1,86% secara year on year atau
tercatat sebesar USD660.444.456. Pada tahun 2023 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 0,43% secara year on year atau tercatat sebesar USD663.287.054. Pada
tahun 2024 aset tidak lancar mengalami penurunan sebesar 4,48% secara year on year atau
tercatat sebesar USD633.568.073. Pada tahun 2025 aset tidak lancar mengalami
peningkatan sebesar 0,93% secara year on year atau tercatat sebesar USD639.439.885.
Jumlah Aset
Pertumbuhan jumlah aset PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
2,50%. Pada tahun 2021 jumlah aset tercatat sebesar USD983.872.357. Pada tahun 2022
jumlah aset mengalami penurunan sebesar 0,61% secara year on year atau tercatat sebesar
USD977.839.737. Pada tahun 2023 jumlah aset mengalami penurunan sebesar 6,87% secara
year on year atau tercatat sebesar USD910.711.009. Pada tahun 2024 jumlah aset mengalami
peningkatan sebesar 13,48% secara year on year atau tercatat sebesar USD1.033.466.443.
Pada tahun 2025 jumlah aset mengalami peningkatan sebesar 5,07% secara year on year
atau tercatat sebesar USD1.085.817.417.
Liabilitas Jangka Pendek
Pertumbuhan liabilitas jangka pendek PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 3,80%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar
USD79.051.787. Pada tahun 2022 liabilitas jangka pendek mengalami penurunan sebesar
19,09% secara year on year atau tercatat sebesar USD63.960.595. Pada tahun 2023 liabilitas
jangka pendek mengalami penurunan sebesar 9,46% secara year on year atau tercatat sebesar
USD57.907.434. Pada tahun 2024 liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan sebesar
40,52% secara year on year atau tercatat sebesar USD81.370.642. Pada tahun 2025 liabilitas
jangka pendek mengalami peningkatan sebesar 12,79% secara year on year atau tercatat
sebesar USD91.775.714.
Liabilitas Jangka Panjang
Pertumbuhan liabilitas jangka panjang PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai
dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata
CAGR sebesar 33,40%. Pada tahun 2021 liabilitas jangka panjang tercatat sebesar
USD78.552.550. Pada tahun 2022 liabilitas jangka panjang mengalami penurunan sebesar
0,90% secara year on year atau tercatat sebesar USD77.846.533. Pada tahun 2023 liabilitas
jangka panjang mengalami penurunan sebesar 4,42% secara year on year atau tercatat
sebesar USD74.407.303. Pada tahun 2024 liabilitas jangka panjang mengalami peningkatan
sebesar 1,00% secara year on year atau tercatat sebesar USD75.154.602. Pada tahun 2025
liabilitas jangka panjang mengalami peningkatan sebesar 231,00% secara year on year atau
tercatat sebesar USD248.759.509.
Halaman 77 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 79
Jumlah Liabilitas
Pertumbuhan jumlah liabilitas PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
21,24%. Pada tahun 2021 jumlah liabilitas tercatat sebesar USD157.604.337. Pada tahun
2022 jumlah liabilitas mengalami penurunan sebesar 10,02% secara year on year atau tercatat
sebesar USD141.807.128. Pada tahun 2023 jumlah liabilitas mengalami penurunan sebesar
6,69% secara year on year atau tercatat sebesar USD132.314.737. Pada tahun 2024 jumlah
liabilitas mengalami peningkatan sebesar 18,30% secara year on year atau tercatat sebesar
USD156.525.244. Pada tahun 2025 jumlah liabilitas mengalami peningkatan sebesar
117,56% secara year on year atau tercatat sebesar USD340.535.223.
Jumlah Ekuitas
Pertumbuhan jumlah ekuitas PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
negatif 2,55%. Pada tahun 2021 jumlah ekuitas tercatat sebesar USD826.268.020. Pada
tahun 2022 jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar 1,18% secara year on year atau
tercatat sebesar USD836.032.609. Pada tahun 2023 jumlah ekuitas mengalami penurunan
sebesar 6,89% secara year on year atau tercatat sebesar USD778.396.272. Pada tahun 2024
jumlah ekuitas mengalami peningkatan sebesar 12,66% secara year on year atau tercatat
sebesar USD876.941.199. Pada tahun 2025 jumlah ekuitas mengalami penurunan sebesar
15,01% secara year on year atau tercatat sebesar USD745.282.194.
Laporan Laba Rugi
Tabel 42. Laporan Laba Rugi PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam USD Penuh)
Audit Audit Audit Audit Audit
KETERANGAN 2021 2022 2023 2024 2025
Total Penjualan
Penjualan 580.602.793 516.171.400 340.049.477 557.925.494 721.329.175
Total Beban Pokok
Penjualan
Beban Pokok Penjualan (224.404.484) (234.968.545) (188.607.820) (293.702.691) (344.720.160)
Laba Kotor 356.198.309 281.202.855 151.441.657 264.222.803 376.609.015
Beban Operasional Dan
Lain-Lain
Beban Umum Dan
(30.147.558) (30.434.231) (21.373.677) (28.020.263) (37.935.963)
Administrasi
Biaya Keuangan (748.253) (1.555.263) (1.749.635) (2.223.646) (2.731.476)
Penghasilan Keuangan 1.151.950 1.480.114 3.547.834 4.078.848 8.538.394
Beban Lain-Lain - Neto (9.154.204) (8.478.113) (10.356.698) (30.954.213) (9.754.926)
Jumlah Beban
Operasional Dan Lain- (38.898.065) (38.987.493) (29.932.176) (57.119.274) (41.883.971)
Lain
Laba Sebelum Pajak
317.300.244 242.215.362 121.509.481 207.103.529 334.725.044
Penghasilan
Pajak Penghasilan
Beban Pajak
(74.651.922) (55.333.408) (27.624.753) (49.305.744) (76.940.845)
Penghasilan
Laba Tahun Berjalan 242.648.322 186.881.954 93.884.728 157.797.785 257.784.199
Sumber: Laporan Keuangan Audit PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Halaman 78 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 80
Penjualan
Pertumbuhan penjualan PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
5,58%. Pada tahun 2021 penjualan tercatat sebesar USD580.602.793. Pada tahun 2022
penjualan mengalami penurunan sebesar 11,10% secara year on year atau tercatat sebesar
USD516.171.400. Pada tahun 2023 penjualan mengalami penurunan sebesar 34,12% secara
year on year atau tercatat sebesar USD340.049.477. Pada tahun 2024 penjualan mengalami
peningkatan sebesar 64,07% secara year on year atau tercatat sebesar USD557.925.494.
Pada tahun 2025 penjualan mengalami peningkatan sebesar 29,29% secara year on year atau
tercatat sebesar USD721.329.175.
Laba Bruto
Pertumbuhan laba bruto PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31
Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR sebesar
1,40%. Pada tahun 2021 laba bruto tercatat sebesar USD356.198.309. Pada tahun 2022
penjualan mengalami penurunan sebesar 21,05% secara year on year atau tercatat sebesar
USD281.202.855. Pada tahun 2023 laba bruto mengalami penurunan sebesar 46,15%
secara year on year atau tercatat sebesar USD151.441.657. Pada tahun 2024 laba bruto
mengalami peningkatan sebesar 74,47% secara year on year atau tercatat sebesar
USD264.222.803. Pada tahun 2025 laba bruto mengalami peningkatan sebesar 42,53%
secara year on year atau tercatat sebesar USD376.609.015.
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Pertumbuhan laba sebelum pajak penghasilan PTAR selama periode 31 Desember 2021
sampai dengan 31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-
rata CAGR sebesar 1,35%. Pada tahun 2021 laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar
USD317.300.244. Pada tahun 2022 laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan
sebesar 23,66% secara year on year atau tercatat sebesar USD242.215.362. Pada tahun 2023
laba sebelum pajak penghasilan mengalami penurunan sebesar 49,83% secara year on year
atau tercatat sebesar USD121.509.481. Pada tahun 2024 laba sebelum pajak penghasilan
mengalami peningkatan sebesar 70,44% secara year on year atau tercatat sebesar
USD207.103.529. Pada tahun 2025 laba sebelum pajak penghasilan mengalami
peningkatan sebesar 61,62% secara year on year atau tercatat sebesar USD334.725.044.
Laba Tahun Berjalan
Pertumbuhan laba tahun berjalan PTAR selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan
31 Desember 2025 mengalami pertumbuhan yang berfluktuatif dengan rata-rata CAGR
sebesar 1,52%. Pada tahun 2021 laba tahun berjalan tercatat sebesar USD242.648.322. Pada
tahun 2022 laba tahun berjalan mengalami penurunan sebesar 22,98% secara year on year
atau tercatat sebesar USD186.881.954. Pada tahun 2023 laba tahun berjalan mengalami
penurunan sebesar 49,76% secara year on year atau tercatat sebesar USD93.884.728. Pada
tahun 2024 laba tahun berjalan mengalami peningkatan sebesar 68,08% secara year on year
atau tercatat sebesar USD157.797.785. Pada tahun 2025 laba tahun berjalan mengalami
peningkatan sebesar 63,36% secara year on year atau tercatat sebesar USD257.784.199.
Halaman 79 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 81
Laporan Arus Kas
Tabel 43. Laporan Arus Kas PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
(dalam USD Penuh)
Laporan Arus Kas 2021 2022 2023 2024 2025
Arus Kas Bersih -
327.836.679 233.021.379 118.737.548 279.530.260 373.027.915
Aktivitas Operasi
Arus Kas Bersih -
(86.413.253) (82.645.492) (80.317.234) (77.276.493) (87.420.528)
Aktivitas Investasi
Arus Kas Bersih -
(85.453.582) (177.687.907) (151.663.947) (59.034.957) (224.825.000)
Aktivitas Pendanaan
Kenaikan Bersih Kas
155.969.844 (27.312.020) (113.243.633) 143.218.810 60.782.387
Dan Setara Kas
Kas Dan Setara Kas
106.221.760 262.191.604 234.879.584 121.635.951 264.854.761
Awal Tahun
Kas Dan Setara Kas
262.191.604 234.879.584 121.635.951 264.854.761 325.637.148
Akhir Tahun
Sumber: Laporan Keuangan Audit PTAR Periode 31 Desember 2021 – 31 Desember 2025
Berikut adalah macam-macam arus kas PTAR berdasarkan data historis laporan keuangan
PTAR per 31 Desember 2025:
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasional PTAR per 31 Desember 2025
adalah sebesar USD373.027.915. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan operasional
PTAR menghasilkan arus kas positif.
▪ Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi PTAR per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif USD87.420.528. Arus kas investasi bernilai negatif karena
perusahaan melakukan investasi penambahan aset tetap, penambahan properti
pertambangan dan penambahan aset eksplorasi dan evaluasi.
▪ Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan PTAR per 31 Desember 2025
adalah sebesar negatif USD224.825.000. Aktivitas pendanaan dicatatkan negatif karena
terdapat pembayaran dividen.
• Analisis Common Size (Common Size Analysis)
Common size statement merupakan salah satu metode analisis terhadap laporan keuangan
Perusahaan untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap
total asetnya, dan juga untuk mengetahui struktur permodalan serta komposisi biaya biaya
atau beban terhadap total pendapatan. Berikut adalah hasil analisis laporan keuangan
Perusahaan dengan menggunakan metode common size statement analysis:
Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan
Tabel 44. Analisis Common Size Statement – Laporan Posisi Keuangan (%)
Laporan Posisi Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Total Aset Lancar 34,10% 32,46% 27,17% 38,69% 41,11%
Total Aset Tidak Lancar 65,90% 67,54% 72,83% 61,31% 58,89%
Total Aset 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Total Liabilitas Jangka Pendek 8,03% 6,54% 6,36% 7,87% 8,45%
Total Liabilitas Jangka Panjang 7,98% 7,96% 8,17% 7,27% 22,91%
Total Liabilitas 16,02% 14,50% 14,53% 15,15% 31,36%
Total Ekuitas 83,98% 85,50% 85,47% 84,85% 68,64%
Total Liabilitas dan Ekuitas 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Halaman 80 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 82
Mengacu pada laporan posisi keuangan Perseroan, berdasarkan analisis common size
statement, selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025,
rata-rata proporsi aset lancar terhadap rata-rata total aset lebih kecil sebesar 37,71%
dibandingkan dengan rata-rata proporsi aset tidak lancar terhadap rata-rata total aset
sebesar 65,29%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi aset lancar terhadap total aset
lebih kecil sebesar 41,11% dibandingkan dengan proporsi aset tidak lancar terhadap total
aset sebesar 58,89%.
Kemudian selama 31 Desember 2021 sampai dengan periode 31 Desember 2025, rata-
rata proporsi liabilitas terhadap rata-rata total aset lebih kecil sebesar 18,31%
dibandingkan dengan rata-rata proporsi ekuitas terhadap rata-rata total aset sebesar
81,69%. Pada periode 31 Desember 2025 proporsi total liabilitas terhadap total aset lebih
kecil sebesar 31,36% dibandingkan dengan proporsi ekuitas terhadap total aset sebesar
68,64%.
Analisis Commonsize Statement – Laporan Laba Rugi
Tabel 45. Analisis Common Size Statement – Laporan Laba Rugi (%)
Laporan Laba Rugi Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Pendapatan bersih 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
Laba bruto 61,35% 54,48% 44,54% 47,36% 52,21%
Laba sebelum pajak
54,65% 46,93% 35,73% 37,12% 46,40%
penghasilan
Laba tahun berjalan 41,79% 36,21% 27,61% 28,28% 35,74%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis common size statement, rata-rata proporsi laba bruto terhadap rata-
rata pendapatan bersih selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember
2025 adalah sebesar 51,99%, dan proporsi laba bruto terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 52,21%.
Rata-rata proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap rata-rata pendapatan bersih
selama periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar
44,17%, dan proporsi laba sebelum pajak penghasilan terhadap pendapatan bersih pada
periode 31 Desember 2025 adalah sebesar 46,40%.
Rata-rata proporsi laba tahun berjalan terhadap rata-rata pendapatan bersih selama
periode 31 Desember 2021 sampai dengan 31 Desember 2025 adalah sebesar 33,93%,
dan proporsi laba tahun berjalan terhadap pendapatan bersih pada periode 31 Desember
2025 adalah sebesar 35,74%.
3.2.2 Penilaian Atas Proyeksi Keuangan
Proyeksi keuangan perusahaan disusun dengan masa proyeksi mengikuti masa jatuh tempo pada
perjanjian pinjaman sampai dengan 2029 mengikuti periode pinjaman. Proyeksi sebelum
Rencana Transaksi memberikan gambaran proyeksi kinerja perusahaan dengan asumsi business
as it is. Selanjutnya proyeksi setelah Rencana Transaksi memberikan gambaran dampak adanya
Rencana Transaksi terhadap kinerja keuangan perusahaan ke depan.
Halaman 81 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 83
Tabel 46. Proyeksi Keuangan (Posisi Keuangan) Perseroan Sebelum Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 2027 2028 2029
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 23.421.532 29.077.203 33.523.982 43.238.386
Piutang Usaha 20.817.787 22.764.654 23.852.174 25.721.396
Persediaan 16.408.299 19.134.767 21.435.870 22.122.128
Uang Muka 2.370.864 2.400.453 2.469.807 2.541.431
Beban Dibayar Dimuka - - - -
Aset Lancar Lainnya 9.290.406 9.161.112 10.009.272 10.285.950
Aset Tidak Lancar
Piutang Kepada Pemegang Saham 2.266.648 2.403.189 2.567.594 2.644.622
Investasi Pada Saham 20.798.797 21.235.799 21.850.481 22.484.145
Aset Tetap 74.657.702 77.460.773 79.503.318 79.475.348
Aset tambang - - - -
Aset pajak tangguhan 4.753.482 4.824.552 4.888.534 5.030.302
Biaya eksplorasi dan pengembangan 8.427.091 7.900.505 7.491.352 6.894.812
Goodwill 3.295.131 3.295.131 3.295.131 3.295.131
Aset tidak lancar lainnya 3.096.534 2.467.823 3.939.428 4.149.159
Total Aset 189.604.274 202.125.960 214.826.943 227.882.809
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha 23.357.631 25.879.379 27.258.299 30.918.475
Beban Akrual 10.145.589 11.592.760 13.076.974 10.679.908
Utang Pajak 3.271.857 3.432.588 3.358.151 3.644.387
Liabilitas Jangka Pendek Lainnya 20.843.667 21.239.192 19.502.556 17.964.767
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.590.368 3.232.004 2.859.476 2.859.476
Bagian Jangka Panjang Utang Bank 16.217.476 12.383.146 7.769.675 5.514.077
Liabilitas Imbalan Kerja 6.006.140 5.974.959 6.097.958 6.133.167
Liabilitas Jangka Panjang Lainnya - - - -
Total Liabilitas 83.432.729 83.734.029 79.923.088 77.714.257
Ekuitas Diatribusikan Kepada Pemilik 100.482.796 112.174.997 128.246.649 143.350.903
Kepentingan Non Pengendali 5.688.750 6.216.935 6.657.207 6.817.649
Total Ekuitas 106.171.546 118.391.931 134.903.855 150.168.552
Total Liabilitas dan Ekuitas 189.604.274 202.125.960 214.826.943 227.882.809
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Proyeksi laporan posisi keuangan Perseroan sebelum Rencana Transaksi disusun berdasarkan
asumsi business as it is atau dengan mempertimbangkan kondisi operasional normal perusahaan
tanpa adanya pengaruh transaksi pinjam-meminjam. Berdasarkan proyeksi tersebut, total aset
Perseroan diproyeksikan meningkat dari Rp189,60 triliun pada tahun 2026 menjadi Rp227,89
triliun pada tahun 2029, yang terutama didorong oleh peningkatan kas dan setara kas, piutang
usaha, serta aset tetap. Di sisi lain, total liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan dari
Halaman 82 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 84
Rp83,43 triliun pada tahun 2026 menjadi Rp77,71 triliun pada tahun 2029, sedangkan total
ekuitas meningkat dari Rp106,17 triliun menjadi Rp150,17 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa secara proyeksi Perseroan tetap memiliki struktur keuangan yang baik dengan
pertumbuhan aset dan penguatan ekuitas selama masa proyeksi.
Tabel 47. Proyeksi Keuangan (Laba/Rugi) Perseroan Sebelum Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Laporan Laba (Rugi) 2026 2027 2028 2029
Pendapatan 129.622.671 150.709.176 166.771.116 174.577.236
Harga Pokok Penjualan (103.211.328) (117.057.615) (126.623.950) (134.310.458)
Laba Kotor 26.411.342 33.651.561 40.147.166 40.266.778
Beban Operasi (6.844.745) (7.539.894) (7.850.173) (8.093.740)
Laba Operasi 19.566.598 26.111.666 32.296.993 32.173.038
Laba/(Rugi) Kurs (1.498) (213.449) (374.078) -
Bunga (1.242.132) (939.515) (717.188) (156.988)
Pendapatan/(Beban) Lain 710.364 195.704 145.353 174.196
Laba Sebelum Pajak 19.033.332 25.154.406 31.351.080 32.190.246
Pajak Penghasilan (4.140.741) (5.629.776) (6.986.522) (7.331.745)
Laba Setelah Pajak 14.892.591 19.524.630 24.364.557 24.858.502
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Berdasarkan proyeksi laba rugi sebelum Rencana Transaksi, Perseroan diproyeksikan mencatat
pertumbuhan pendapatan secara bertahap dari Rp129,62 triliun pada tahun 2026 menjadi
Rp174,58 triliun pada tahun 2029. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba
operasi dan laba setelah pajak juga menunjukkan tren peningkatan selama periode proyeksi.
Laba setelah pajak diproyeksikan meningkat dari Rp14,89 triliun pada tahun 2026 menjadi
Rp24,86 triliun pada tahun 2029. Hal tersebut mencerminkan bahwa operasional Perseroan
masih mampu menghasilkan profitabilitas yang baik serta mempertahankan kinerja usaha yang
positif selama periode proyeksi.
Tabel 48. Proyeksi Keuangan (Posisi Keuangan) Perseroan Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 2027 2028 2029
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 23.421.532 29.077.203 33.523.982 43.238.386
Piutang Usaha 20.817.787 22.764.654 23.852.174 25.721.396
Persediaan 16.408.299 19.134.767 21.435.870 22.122.128
Uang Muka 2.370.864 2.400.453 2.469.807 2.541.431
Beban Dibayar Dimuka - - - -
Aset Lancar Lainnya 9.295.105 9.168.851 10.016.745 10.293.423
Non Current Asset
Piutang Kepada Pemegang Saham 2.266.648 2.403.189 2.567.594 2.644.622
Investasi Pada Saham 20.798.797 21.235.799 21.850.481 22.484.145
Aset Tetap 74.657.702 77.460.773 79.503.318 79.475.348
Aset tambang - - - -
Aset pajak tangguhan 4.753.482 4.824.552 4.888.534 5.030.302
Biaya eksplorasi dan pengembangan 8.427.091 7.900.505 7.491.352 6.894.812
Goodwill 3.295.131 3.295.131 3.295.131 3.295.131
Halaman 83 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 85
Laporan Posisi Keuangan 2026 2027 2028 2029
Aset tidak lancar lainnya 3.096.534 2.467.823 3.939.428 4.149.159
Total Aset 189.608.974 202.133.698 214.834.416 227.890.282
Liabilitas Lancar
Utang usaha 23.357.631 25.879.379 27.258.299 30.918.475
Beban Akrual 10.145.589 11.592.760 13.076.974 10.679.908
Utang Pajak 3.276.557 3.440.327 3.365.624 3.651.860
Liabilitas Jangka Pendek Lainnya 20.843.667 21.239.192 19.502.556 17.964.767
Liabilitas Tidak Lancar
Liabilitas pajak tangguhan 3.590.368 3.232.004 2.859.476 2.859.476
Bagian Jangka Panjang Utang Bank 16.217.476 12.383.146 7.769.675 5.514.077
Liabilitas Imbalan Kerja 6.006.140 5.974.959 6.097.958 6.133.167
Liabilitas Jangka Panjang Lainnya - - - -
Total Liabilitas 83.437.428 83.741.767 79.930.561 77.721.730
Ekuitas Diatribusikan Kepada Pemilik 100.484.018 112.177.009 128.248.592 143.352.846
Kepentingan Non Pengendali 5.687.528 6.214.922 6.655.264 6.815.706
Total Ekuitas 106.171.546 118.391.931 134.903.855 150.168.552
Total Liabilitas dan Ekuitas 189.608.974 202.133.698 214.834.416 227.890.282
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Proyeksi laporan posisi keuangan setelah Rencana Transaksi disusun dengan mempertimbangkan
dampak transaksi pinjam-meminjam terhadap posisi keuangan Perseroan. Berdasarkan proyeksi
tersebut, total aset Perseroan diproyeksikan meningkat dari Rp189,61 triliun pada tahun 2026
menjadi Rp227,89 triliun pada tahun 2029. Sementara itu, total liabilitas diproyeksikan menurun
dari Rp83,44 triliun pada tahun 2026 menjadi Rp77,72 triliun pada tahun 2029, dan total ekuitas
meningkat dari Rp106,17 triliun menjadi Rp150,17 triliun. Secara umum, Rencana Transaksi tidak
memberikan perubahan material terhadap struktur posisi keuangan Perseroan dan kondisi
keuangan perusahaan diproyeksikan tetap berada pada tingkat yang sehat selama masa
proyeksi.
Tabel 49. Proyeksi Keuangan (Laba/Rugi) Perseroan Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Laporan Laba (Rugi) 2026 2027 2028 2029
Pendapatan 129.622.671 150.709.176 166.771.116 174.577.236
Harga Pokok Penjualan (103.211.328) (117.057.615) (126.623.950) (134.310.458)
Laba Kotor 26.411.342 33.651.561 40.147.166 40.266.778
Beban Operasi (6.844.745) (7.539.894) (7.850.173) (8.093.740)
Laba Operasi 19.566.598 26.111.666 32.296.993 32.173.038
Laba/(Rugi) Kurs (1.498) (213.449) (374.078) -
Bunga (1.242.132) (939.515) (717.188) (156.988)
Pendapatan/(Beban) Lain 711.586 197.716 147.296 176.139
Laba Sebelum Pajak 19.034.554 25.156.418 31.353.023 32.192.189
Pajak Penghasilan (4.140.741) (5.629.776) (6.986.522) (7.331.745)
Laba Setelah Pajak 14.893.813 19.526.642 24.366.500 24.860.445
Sumber: Proyeksi Keuangan Perseroan
Halaman 84 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 86
Berdasarkan proyeksi laba rugi setelah Rencana Transaksi, pendapatan Perseroan diproyeksikan
meningkat dari Rp129,62 triliun pada tahun 2026 menjadi Rp174,58 triliun pada tahun 2029.
Selain itu, laba setelah pajak juga diproyeksikan meningkat dari Rp14,89 triliun pada tahun 2026
menjadi Rp24,86 triliun pada tahun 2029. Adanya Rencana Transaksi memberikan tambahan
pendapatan lain yang berasal dari pendapatan bunga pinjaman, sehingga memberikan
kontribusi positif terhadap laba Perseroan. Dengan demikian, Rencana Transaksi diproyeksikan
tidak mengganggu kinerja operasional maupun profitabilitas Perseroan, dan Perseroan tetap
mampu mempertahankan kinerja keuangan yang baik selama periode proyeksi.
3.2.3 Analisis Rasio Keuangan
Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) - Perseroan
Analisis rasio keuangan atau Financial Ratio Analysis merupakan salah satu bentuk teknis analisis
laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang digunakan dalam analisis rasio
keuangan Perseroan.
Tabel 50. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Gross Profit Margin 24,75% 28,12% 27,83% 25,17% 22,62%
Operating Profit Margin 18,72% 23,57% 23,12% 20,22% 16,81%
Net Profit Margin 12,94% 16,99% 16,03% 14,53% 11,28%
Return On Assets 9,13% 14,95% 13,38% 11,52% 8,34%
Return On Equity 14,31% 23,47% 24,53% 19,89% 14,36%
Rasio Likuiditas (X)
Current Ratio 1,99X 1,88X 1,46X 1,54X 1,36X
Quick Ratio 1,68X 1,51X 1,06X 1,17X 1,04X
Cash Ratio 1,09X 0,91X 0,43X 0,55X 0,50X
Rasio Solvabilitas (X)
Debt to Equity Ratio 0,13X 0,03X 0,22X 0,21X 0,18X
Debt to Assets Ratio 0,08X 0,02X 0,12X 0,12X 0,11X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasionalnya. Rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin adalah rasio yang menggambarkan tingkat laba kotor terhadap penjualan
bersih setelah dikurangi harga pokok penjualan atau rasi laba kotor atas penjualan
perusahaan. Rata-rata rasio Gross Profit Margin Perseroan selama periode 31 Desember 2021
Halaman 85 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 87
hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 25,70%, dan pada periode 31 Desember 2025
tercatat sebesar 22,62%.
2. Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari kegiatan operasional utama sebelum beban bunga dan pajak. Rata-
rata rasio Operating Profit Margin Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31
Desember 2025 adalah sebesar 20,49%, dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat
sebesar 16,81%.
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah rasio untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari
setiap satuan penjualan. Rata-rata rasio Net Profit Margin Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 14,35%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 11,28%.
4. Return on Assets (ROA)
Return on Assets adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih. Rata-rata rasio Return on Assets Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 11,47%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 8,34%.
5. Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah rasio untuk mengukur tingkat pengembalian atas modal yang
diinvestasikan oleh pemegang saham. Rata-rata rasio Return on Equity Perseroan selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 19,31%, dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 14,36%.
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini menilai tingkat keamanan
keuangan perusahaan dalam menghadapi kewajiban lancar. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Current Ratio
Current Ratio adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang lancar
menggunakan aset lancar. Rata-rata rasio aset lancar terhadap kewajiban lancar Perseroan
selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 1,64 kali dan
pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,36 kali.
2. Quick Ratio
Quick Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
lancar tanpa mengandalkan persediaan. Rata-rata rasio aset lancar tanpa persedian terhadap
kewajiban lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025
adalah sebesar 1,29 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,04 kali.
Halaman 86 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 88
3. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan melunasi kewajiban
lancar hanya dengan kas dan setara kas. Rata-rata rasio kas dan setara kas dibandingkan
kewajiban lancar Perseroan selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025
adalah sebesar 0,70 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,50 kali.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjang serta menilai struktur pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan sejauh
mana aset perusahaan dibiayai oleh utang dan ekuitas. Indikator yang digunakan antara lain:
1. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan besarnya aset perusahaan yang dibiayai
oleh utang. Rata-rata rasio total utang terhadap total aset Perseroan selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,15 kali dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 0,18 kali.
2. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Assets Ratio adalah rasio yang menggambarkan proporsi antara total utang terhadap
ekuitas perusahaan. Rata-rata rasio total utang terhadap total ekuitas Perseroan selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,09 kali dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,11 kali.
Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) - DTN
Analisis rasio keuangan atau Financial Ratio Analysis merupakan salah satu bentuk teknis analisis
laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang digunakan dalam analisis rasio
keuangan perusahaan.
Tabel 51. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Gross Profit Margin 50,30% 43,55% 35,46% 34,21% 41,80%
Operating Profit Margin 45,09% 37,17% 28,50% 27,96% 35,48%
Net Profit Margin 30,17% 24,27% 14,84% 11,25% 14,96%
Return On Assets 10,35% 7,10% 1,84% 2,48% 4,37%
Return On Equity 12,56% 8,76% 2,32% 3,18% 6,25%
Rasio Likuiditas (X)
Current Ratio 3,21X 2,65X 1,09X 1,29X 1,16X
Quick Ratio 2,69X 2,14X 0,65X 0,94X 0,87X
Cash Ratio 2,29X 1,97X 0,60X 0,82X 0,79X
Halaman 87 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 89
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Solvabilitas (X)
Debt to Equity Ratio 0,02X 0,05X 0,08X 0,11X 0,12X
Debt to Assets Ratio 0,02X 0,04X 0,07X 0,09X 0,09X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasionalnya. Rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin adalah rasio yang menggambarkan tingkat laba kotor terhadap penjualan
bersih setelah dikurangi harga pokok penjualan atau rasi laba kotor atas penjualan
perusahaan. Rata-rata rasio Gross Profit Margin DTN selama periode 31 Desember 2021
hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 41,06%, dan pada periode 31 Desember 2025
tercatat sebesar 41,80%.
2. Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari kegiatan operasional utama sebelum beban bunga dan pajak. Rata-
rata rasio Operating Profit Margin DTN selama periode 31 Desember 2021 hingga 31
Desember 2025 adalah sebesar 34,84%, dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat
sebesar 35,48%.
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah rasio untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari
setiap satuan penjualan. Rata-rata rasio Net Profit Margin DTN selama periode 31 Desember
2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 19,10%, dan pada periode 31 Desember
2025 tercatat sebesar 14,96%.
4. Return on Assets (ROA)
Return on Assets adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih. Rata-rata rasio Return on Assets DTN selama periode 31 Desember
2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 5,23%, dan pada periode 31 Desember
2025 tercatat sebesar 4,37%.
5. Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah rasio untuk mengukur tingkat pengembalian atas modal yang
diinvestasikan oleh pemegang saham. Rata-rata rasio Return on Equity DTN selama periode
31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 6,61%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 6,25%.
Halaman 88 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 90
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini menilai tingkat keamanan
keuangan perusahaan dalam menghadapi kewajiban lancar. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Current Ratio
Current Ratio adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang lancar
menggunakan aset lancar. Rata-rata rasio aset lancar terhadap kewajiban lancar DTN selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 1,88 kali dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 1,16 kali.
2. Quick Ratio
Quick Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
lancar tanpa mengandalkan persediaan. Rata-rata rasio aset lancar tanpa persedian terhadap
kewajiban lancar DTN selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah
sebesar 1,46 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,87 kali.
3. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan melunasi kewajiban
lancar hanya dengan kas dan setara kas. Rata-rata rasio kas dan setara kas dibandingkan
kewajiban lancar DTN selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah
sebesar 1,29 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 0,79 kali.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjang serta menilai struktur pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan sejauh
mana aset perusahaan dibiayai oleh utang dan ekuitas. Indikator yang digunakan antara lain:
1. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan besarnya aset perusahaan yang dibiayai
oleh utang. Rata-rata rasio total utang terhadap total aset DTN selama periode 31 Desember
2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,08 kali dan pada periode 31 Desember
2025 tercatat sebesar 0,12 kali.
2. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Assets Ratio adalah rasio yang menggambarkan proporsi antara total utang terhadap
ekuitas perusahaan. Rata-rata rasio total utang terhadap total ekuitas DTN selama periode 31
Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 0,06 kali dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 0,09 kali.
Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) - PTAR
Analisis rasio keuangan atau Financial Ratio Analysis merupakan salah satu bentuk teknis analisis
laporan keuangan yang digunakan untuk mengetahui hubungan dari pos pos tertentu dari
Halaman 89 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 91
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi secara individu atau kombinasi antara keduanya.
Berikut adalah tabel berbagai macam rasio keuangan yang digunakan dalam analisis rasio
keuangan perusahaan.
Tabel 52. Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)
Rasio Keuangan Des 2021 Des 2022 Des 2023 Des 2024 Des 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Gross Profit Margin 61,35% 54,48% 44,54% 47,36% 52,21%
Operating Profit Margin 56,16% 48,58% 38,25% 42,34% 46,95%
Net Profit Margin 41,79% 36,21% 27,61% 28,28% 35,74%
Return On Assets 24,66% 19,11% 10,31% 15,27% 23,74%
Return On Equity 29,37% 22,35% 12,06% 17,99% 34,59%
Rasio Likuiditas (X)
Current Ratio 4,24X 4,96X 4,27X 4,91X 4,86X
Quick Ratio 3,55X 4,02X 2,21X 3,68X 3,84X
Cash Ratio 3,32X 3,67X 2,10X 3,25X 3,55X
Rasio Solvabilitas (X)
Debt to Equity Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Debt to Assets Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasionalnya. Rasio ini menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola sumber daya
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin adalah rasio yang menggambarkan tingkat laba kotor terhadap penjualan
bersih setelah dikurangi harga pokok penjualan atau rasi laba kotor atas penjualan
perusahaan. Rata-rata rasio Gross Profit Margin PTAR selama periode 31 Desember 2021
hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 51,99%, dan pada periode 31 Desember 2025
tercatat sebesar 52,21%.
2. Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari kegiatan operasional utama sebelum beban bunga dan pajak. Rata-
rata rasio Operating Profit Margin PTAR selama periode 31 Desember 2021 hingga 31
Desember 2025 adalah sebesar 46,46%, dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat
sebesar 46,95%.
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin adalah rasio untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari
setiap satuan penjualan. Rata-rata rasio Net Profit Margin PTAR selama periode 31 Desember
Halaman 90 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 92
2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 33,93%, dan pada periode 31 Desember
2025 tercatat sebesar 35,74%.
4. Return on Assets (ROA)
Return on Assets adalah rasio yang menunjukkan kemampuan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba bersih. Rata-rata rasio Return on Assets PTAR selama periode 31 Desember
2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 18,62%, dan pada periode 31 Desember
2025 tercatat sebesar 23,74%.
5. Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah rasio untuk mengukur tingkat pengembalian atas modal yang
diinvestasikan oleh pemegang saham. Rata-rata rasio Return on Equity PTAR selama periode
31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 23,27%, dan pada periode 31
Desember 2025 tercatat sebesar 34,59%.
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini menilai tingkat keamanan
keuangan perusahaan dalam menghadapi kewajiban lancar. Rasio yang digunakan antara lain:
1. Current Ratio
Current Ratio adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang lancar
menggunakan aset lancar. Rata-rata rasio aset lancar terhadap kewajiban lancar PTAR selama
periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah sebesar 4,65 kali dan pada
periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 4,86 kali.
2. Quick Ratio
Quick Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
lancar tanpa mengandalkan persediaan. Rata-rata rasio aset lancar tanpa persedian terhadap
kewajiban lancar PTAR selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah
sebesar 3,46 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 3,84 kali.
3. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan melunasi kewajiban
lancar hanya dengan kas dan setara kas. Rata-rata rasio kas dan setara kas dibandingkan
kewajiban lancar PTAR selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025 adalah
sebesar 3,18 kali dan pada periode 31 Desember 2025 tercatat sebesar 3,55 kali.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjang serta menilai struktur pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan sejauh
mana aset perusahaan dibiayai oleh utang dan ekuitas. Indikator yang digunakan antara lain:
Halaman 91 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 93
1. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan antara total utang
berbunga terhadap total ekuitas perusahaan. Selama periode 31 Desember 2021 hingga 31
Desember 2025, PTAR tidak memiliki utang berbunga yang tercatat dalam laporan
keuangannya, sehingga rata-rata DER maupun DER per 31 Desember 2025 tercatat sebesar
0,00 kali. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan operasional dan investasi
perusahaan selama periode analisis tidak bergantung pada pendanaan yang berasal dari
pinjaman berbunga, melainkan didukung oleh modal sendiri dan arus kas operasional
perusahaan. Dengan demikian, PTAR memiliki tingkat leverage yang sangat rendah serta risiko
keuangan yang relatif minimal.
2. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Assets Ratio merupakan rasio yang menunjukkan proporsi aset perusahaan yang
dibiayai oleh utang berbunga. Selama periode 31 Desember 2021 hingga 31 Desember 2025,
PTAR tidak memiliki utang berbunga sehingga rata-rata DAR maupun DAR per 31 Desember
2025 tercatat sebesar 0,00 kali. Hal ini menunjukkan bahwa aset perusahaan tidak dibiayai
oleh pinjaman berbunga dan seluruh kebutuhan pendanaan perusahaan secara umum
didukung oleh modal pemegang saham serta kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
arus kas dari kegiatan operasional. Kondisi tersebut mencerminkan struktur permodalan yang
konservatif dan tingkat solvabilitas yang sangat baik.
3.2.4 Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi dapat dilihat dari perubahan
keuangan pada pos-pos yang terdampak. Pada Rencana Transaksi ini, dampak keuangan atas
Rencana Transaksi disajikan pada tabel berikut:
Tabel 53. Proforma Laporan Posisi Keuangan Perseroan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Aset
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 26.570.772 26.570.772
Piutang Usaha
Pihak Ketiga 18.559.795 18.559.795
Pihak Berelasi 1.357.868 1.357.868
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 492.811 492.811
Pihak Berelasi 1.203.084 1.203.084
Persediaan 16.729.809 16.729.809
Proyek dalam Pelaksanaan 28.698 28.698
Pihak Ketiga
Pihak Berelasi
Pajak Dibayar Dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.653.543 8.461 1.662.004
Pajak Lain-lain 3.643.857 3.643.857
Halaman 92 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 94
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 1.543.309 1.543.309
Aset Lancar Lain-lain 357.480 357.480
Total Aset Lancar 72.141.026 8.461 72.149.487
Aset Tidak Lancar
Kas dan deposito berjangka yang dibatasi
787.806 787.806
penggunaannya
Piutang usaha
Pihak Ketiga 453.411 453.411
Pihak Berelasi 18.957 18.957
Piutang Non Usaha
Pihak Ketiga 88.336 88.336
Pihak Berelasi 3.103.936 3.103.936
Persediaan 105.530 105.530
Pajak dibayar dimuka
Pajak Penghasilan Badan 1.446.559 1.446.559
Pajak Lain-lain 1.650.429 1.650.429
Uang muka dan biaya dibayar dimuka 793.619 793.619
Investasi pada entitas asosiasi Investments
17.223.562 17.223.562
in associates dan ventura bersama
Investasi jangka panjang 3.175.766 3.175.766
Aset tetap 45.296.550 45.296.550
Properti pertambangan 14.809.384 14.809.384
Properti investasi 244.469 244.469
Beban eksplorasi dan pengembangan
2.768.518 2.768.518
tangguhan
Aset tambang berproduksi 3.958.340 3.958.340
Beban tangguhan 1.169.123 1.169.123
Aset pajak tangguhan 4.891.419 4.891.419
Goodwill 3.510.559 3.510.559
Total Aset Tidak Lancar 105.496.273 0 105.496.273
Total Aset 177.637.299 8.461 177.645.760
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha
Pihak Ketiga 29.095.249 29.095.249
Pihak Berelasi 213.679 213.679
Utang non-usaha
Pihak Ketiga 1.132.969 1.132.969
Pihak Berelasi 87.548 87.548
Utang pajak
Pajak Penghasilan Badan 825.803 8.461 834.264
Pajak Lain-lain 584.846 584.846
Akrual 6.692.531 6.692.531
Uang muka pelanggan
Halaman 93 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 95
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Pihak Ketiga 857.034 857.034
Pihak Berelasi 44.175 44.175
Pendapatan tangguhan 1.021.152 1.021.152
Liabilitas imbalan kerja 1.053.575 1.053.575
Pinjaman bank jangka pendek 560.000 560.000
Bagian jangka pendek dari utang jangka
panjang
Pinjaman Bank 9.682.666 9.682.666
Liabilitas Sewa 801.430 801.430
Pinjaman Lain-lain 560.318 560.318
Pinjaman bank jangka pendek dari
Liabilitas Keuangan Jangka Panjang Lain-
lain
Total Liabilitas Jangka Pendek 53.212.975 8.461 53.221.436
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan 3.768.016 3.768.016
Provisi rehabilitasi, reklamasi, dan
1.154.627 1.154.627
penutupan tambang
Liabilitas imbalan kerja 5.497.626 5.497.626
Utang jangka panjang, setelah dikurangi
bagian jangka pendek
Pinjaman Bank 6.054.620 6.054.620
Liabilitas Sewa 976.309 976.309
Pinjaman Lain-lain 281.698 281.698
Liabilitas keuangan jangka panjang lain-
3.555.105 3.555.105
lain
Total Liabilitas Jangka Panjang 21.288.001 0 21.288.001
Total Liabilitas 74.500.976 8.461 74.509.437
Ekuitas
Ekuitas yang diatribusikan kepada entitas
induk
Modal Disetor 932.534 932.534
Tambahan Modal Disetor 9.703.937 9.703.937
Saham Tresuri -4.902.237 -4.902.237
Saldo Laba
Dicadangkan 186.507 186.507
Belum Dicadangkan 85.547.627 2.200 85.549.827
Selisih kurs dari penjabaran Laporan
9.227.066 9.227.066
keuangan
Cadangan lindung nilai -2.065.280 -2.065.280
Cadangan penyesuaian nilai wajar aset
19.386 19.386
tetap
Transaksi dengan Kepentingan
-875.920 -875.920
Nonpengendali
Total Ekuitas yang diatribusikan kepada
97.773.620 97.775.820
entitas induk
Kepentingan Nonpengandali 5.362.703 -2.200 5.360.503
Total Ekuitas 103.136.323 103.136.323
Halaman 94 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 96
Audited Proforma
Laporan Posisi Keuangan 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Total Liabilitas dan Ekuitas 177.637.299 177.645.760
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Tabel 54.Proforma Laporan Laba Rugi Perseroan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi
(dalam juta Rupiah)
Audited Proforma
Laporan Laba Rugi 31 Desember Penyesuaian 31 Desember
2025 2025
Pendapatan bersih 131.300.810 131.300.810
Beban pokok pendapatan (101.597.306) -101.597.306
Laba bruto 29.703.504 29.703.504
Beban penjualan (1.597.792) -1.597.792
Beban umum dan administrasi (6.040.414) -6.040.414
Beban lain-lain, bersih (256.226) -256.226
Penghasilan keuangan 1.244.489 1.244.489
Biaya keuangan (2.625.818) -2.625.818
Bagian atas laba bersih entitas asosiasi
(245.576) -245.576
dan ventura bersama
Laba sebelum pajak penghasilan 20.182.167 20.182.167
Beban pajak penghasilan (5.005.403) -5.005.403
Laba tahun berjalan 15.176.764 15.176.764
Laba Setelah Pajak Yang Didistribusilan
Kepada
Pemilik Entitas Induk 14.810.434 2.200 14.812.634
-
Kepentingan Non-Pengendali 366.330 364.130
2.200
Total Laba Setelah Pajak 15.176.764 15.176.764
Sumber: Proforma Laporan Keuangan Perseroan Sebelum dan Setelah Rencana Transaksi - 31 Desember 2025
Proforma Laporan Keuangan Sebelum & Setelah Rencana Transaksi terhadap keuangan
Perseroan diantaranya:
• Terdapat penerimaan kas sebesar Rp1,17 triliun dari sisi PTAR yang merupakan perusahaan
terafiliasi dengan Perseroan dan kas keluar sebesar Rp1,17 triliun dari sisi DTN yang
merupakan anak perusahaan Perseroan lewat penyertaan langsung dan tidak langsung, pada
tingkat Perseroan, masing masing penerimaan kas dan kas keluar tersebut dieliminasi akibat
konsolidasi grup entitas sehingga penerimaan kas dan kas keluar atas pinjaman tidak
mengubah posisi kas dan setara kas Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal
pendapat kewajaran.
• Terdapat beban bunga sebesar Rp56,4 miliar dan utang pajak pph 23 sebesar Rp8,46 miliar
dari sisi PTAR yang merupakan perusahaan terafiliasi dengan Perseroan dan pendapatan
bunga sebesar Rp56,4 serta pajak pph 23 dibayar dimuka sebesar Rp8,46 miliar akibat beban
bunga yang timbul dari Rencana Transaksi. Pada tingkat Perseroan, masing masing beban
bunga, dan pendapatan bunga tersebut dieliminasi akibat konsolidasi grup entitas sehingga
beban bunga dan pendapatan bunga atas pinjaman tidak mengubah posisi penghasilan
keuangan dan beban keuangan Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal pendapat
kewajaran.
• Terdapat manfaat pajak sebesar Rp12,41 miliar dari sisi PTAR akibat adanya beban bunga
sehingga mengurangi laba kena pajak PTAR, dari sisi DTN terdapat beban pajak sebesar
Halaman 95 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 97
Rp12,41 miliar akibat pendapatan bunga sehingga meningkatkan laba kena pajak
perusahaan. Pada tingkat Perseroan, masing masing manfaat pajak, dan beban pajak tersebut
dieliminasi akibat konsolidasi grup entitas sehingga manfaat pajak dan beban pajak atas
beban dan pendapatan bunga tidak mengubah posisi beban pajak dan manfaat pajak
Perseroan setelah Rencana Transaksi per tanggal pendapat kewajaran.
• Terdapat kenaikan laba yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,2 miliar
akibat distribusi 5% kepemilikan PTAR pada pemegang saham lain terhadap beban bunga dan
manfaat pajak setelah Rencana Transaksi.
Secara garis besar, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan terhadap laporan
posisi keuangan dan laba rugi Perseroan per tanggal pendapat kewajaran sebelum dan setelah
Rencana Transaksi. Perbedaan timbul pada pos manfaat pajak penghasilan dan utang pajak
penghasilan akibat pph 23 pendapatan dan beban bunga. Selain itu perbedaan timbul akibat
distribusi 5% kepemilikan PTAR pada pemegang saham lain terhadap beban bunga dan manfaat
pajak setelah Rencana Transaksi.
3.2.5 Analisis Kemampuan Bayar Sampai Saat Jatuh Tempo
Analisis kemampuan bayar dapat dianalisis dari Kinerja Keuangan PTAR. Historis laporan posisi
keuangan dan laporan laba rugi ditampilkan sebagai berikut:
Tabel 55. Analisis Kemampuan Bayar Sampai Jatuh Tempo – Rasio Keuangan PTAR
(dalam juta Rupiah)
Rasio Keuangan 2021 2022 2023 2024 2025
Rasio Profitabilitas (%)
Gross Profit Margin 61,35% 54,48% 44,54% 47,36% 52,21%
Operating Profit Margin 56,16% 48,58% 38,25% 42,34% 46,95%
Net Profit Margin 41,79% 36,21% 27,61% 28,28% 35,74%
Return on Assets 24,66% 19,11% 10,31% 15,27% 23,74%
Return on Equity 29,37% 22,35% 12,06% 17,99% 34,59%
Rasio Likuiditas (X)
Current Ratio 4,24X 4,96X 4,27X 4,91X 4,86X
Quick Ratio 3,55X 4,02X 2,21X 3,68X 3,84X
Cash Ratio 3,32X 3,67X 2,10X 3,25X 3,55X
Rasio Solvabilitas (X)
Debt to Assets Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Debt to Equity Ratio 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X 0,00X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan historis kinerja keuangan sebagai dasar analisis kemampuan bayar sampai saat
jatuh tempo perusahaan, perusahaan menunjukkan kinerja keuangan yang relatif baik dan stabil.
Dari sisi profitabilitas, PTAR mencatat rata-rata Gross Profit Margin sebesar 51,99%, Operating
Profit Margin sebesar 46,46%, dan Net Profit Margin sebesar 33,93%, yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan operasionalnya masih berada
pada tingkat yang baik meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2023 akibat kondisi
industri dan operasional. Selanjutnya, rata-rata Return on Assets sebesar 18,62% dan Return on
Halaman 96 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 98
Equity sebesar 23,27% juga mencerminkan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan
pengembalian atas aset dan modal yang dimiliki.
Dari sisi likuiditas, PTAR memiliki rata-rata Current Ratio sebesar 4,65 kali, Quick Ratio sebesar
3,46 kali, dan Cash Ratio sebesar 3,18 kali, yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya berada pada tingkat yang sangat memadai. Sementara
itu, dari rasio solvabilitas Debt to Assets Ratio dan Debt to Equity Ratio, diperoleh bahwa PTAR
tidak memiliki utang berbunga selama periode 2021–2025 sehingga kedua rasio tersebut tercatat
sebesar 0,00 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak bergantung pada pendanaan
berbasis utang berbunga dan memiliki struktur permodalan yang didominasi oleh ekuitas,
sehingga risiko keuangan dan risiko gagal bayar relatif rendah. Dengan mempertimbangkan
kondisi profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas tersebut, PTAR dinilai memiliki kemampuan
keuangan yang memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman
sampai dengan jatuh tempo.
3.2.6 Analisis Cash Management Dan Financial Covenant
Analisis cash management dilakukan untuk melihat kemampuan pengelolaan pendanaan atas
Rencana Transaksi berdasarkan posisi kas dan setara kas para pihak yang terlibat dalam
transaksi. Dalam Rencana Transaksi ini, Perseroan tidak bertindak secara langsung sebagai pihak
yang melakukan transaksi pinjam-meminjam dana, melainkan sebagai pihak afiliasi melalui
kepemilikan pada DTN. Adapun transaksi shareholder loan dilakukan antara DTN selaku pemberi
pinjaman dan PTAR selaku penerima pinjaman, dimana DTN memiliki kepemilikan sebesar 95%
pada PTAR dan sisanya dimiliki oleh entitas lain.
Tabel 56. Analisis Cash Management Perseroan
(dalam juta Rupiah)
Analisis Cash Management 31 Desember 2025
Kas dan Setara Kas Perseroan 26.570.772
Nilai Rencana Transaksi 1.174.740
Nilai Rencana Transaksi terhadap Kas 4,42%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis yang dilakukan, nilai Rencana Transaksi sebesar Rp1.174.740 juta
dibandingkan dengan posisi kas dan setara kas Perseroan per 31 Desember 2025 sebesar
Rp26.570.772 juta, sehingga nilai transaksi setara dengan 4,42% dari total kas dan setara kas
Perseroan. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara konsolidasian, nilai transaksi relatif tidak
signifikan dibandingkan kapasitas kas dan setara kas kelompok usaha Perseroan.
Tabel 57.Analisis Financial Covenant Perseroan
Analisis Kas Sebelum Transaksi Setelah Transaksi Selisih Perubahan
Cash Ratio 0,4993X 0,4992X 0,0001X
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Selanjutnya, berdasarkan analisis financial covenant menggunakan proksi cash ratio, diperoleh
bahwa cash ratio Perseroan sebelum Rencana Transaksi sebesar 0,4993 kali dan setelah Rencana
Transaksi sebesar 0,4992 kali, atau hanya mengalami perubahan sebesar 0,0001 kali.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Rencana Transaksi tidak memberikan dampak material
terhadap kemampuan likuiditas Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Halaman 97 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 99
Tabel 58. Analisis Cash Management PTAR
(dalam juta Rupiah)
Analisis Cash Management 31 Desember 2025
Kas dan Setara Kas PTAR 5.464.843
Nilai Rencana Transaksi 1.174.740
Nilai Rencana Transaksi terhadap Kas 21,50%
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Dari sisi PTAR, nilai Rencana Transaksi sebesar Rp1.174.740 juta dibandingkan dengan posisi kas
dan setara kas PTAR per 31 Desember 2025 sebesar Rp5.464.843 juta, sehingga nilai transaksi
setara dengan 21,50% dari total kas dan setara kas PTAR. Dengan mempertimbangkan posisi kas
dan setara kas tersebut, PTAR dinilai masih memiliki kemampuan likuiditas yang memadai untuk
mendukung penggunaan fasilitas pinjaman dalam kegiatan operasional perusahaan. Dengan
demikian, berdasarkan analisis cash management dan financial covenant, Rencana Transaksi
dinilai masih dapat dikelola dengan baik dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap
kondisi likuiditas para pihak maupun Perseroan secara konsolidasian.
3.2.7 Analisis Yield Dibanding Instrumen Sejenis (Obligasi/Kredit Bank)
Analisis yield dibanding instrument sejenis dilakukan dengan membandingkan yield dari Rencana
Transaksi pinjam-meminjam antara DTN dan PTAR dengan instrumen surat utang sejenis.
Tabel 59. Yield Intercompany Loan DTN & PTAR
Yield Intercompany Loan DTN & PTAR Keterangan
SOFR per 31 Desember 2025 3,65%
Margin per tahun 1,15%
Yield 4,80%
Sumber: Draf Perjanjian intercompany loan DTN & PTAR
Berdasarkan draf perjanjian pinjam-meminjam antara DTN dan PTAR, Tingkat suku bunga yang
dikenakan atas pinjaman yang diberikan adalah sebesar SOFR + 1,15% Margin per tahun.
Merujuk pada besaran Term SOFR 3 Mo per tanggal pendapat kewajaran sebesar 3,65%
kemudian ditambah margin 1,15% maka suku bunga dari Rencana Transaksi berupa pinjaman
yang diberikan Perseroan kepada PTAR Adalah sebesar 4,80%.
Tabel 60. Obligasi Pemerintah
Maturity Tenor per Ask Mid
No Nama Issue Date Bid YTM
Date Cutoff YTM YTM
INDON 5.950%
1 08-Dec-15 08-Jan-46 20 5,36% 5,41% 5,39%
08Jan2046 Govt (USD)
INDON 3.700%
2 30-Oct-19 30-Oct-49 24 5,44% 5,49% 5,46%
30Oct2049 Govt (USD)
INDON 4.350%
3 11-Dec-17 11-Jan-48 22 5,35% 5,41% 5,38%
11Jan2048 Govt (USD)
INDON 4.750%
4 18-Jul-17 18-Jul-47 22 5,21% 5,26% 5,23%
18Jul2047 Govt (USD)
INDON 5.650%
5 11-Jan-23 11-Jan-53 27 5,50% 5,55% 5,53%
11Jan2053 Govt (USD)
INDON 4.850%
6 11-Jan-23 11-Jan-33 7 4,63% 4,69% 4,66%
11Jan2033 Govt (USD)
Halaman 98 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 100
Maturity Tenor per Ask Mid
No Nama Issue Date Bid YTM
Date Cutoff YTM YTM
INDON 5.250%
7 08-Dec-16 08-Jan-47 21 5,23% 5,28% 5,26%
08Jan2047 Govt (USD)
INDON 3.500%
8 14-Jan-20 14-Feb-50 24 5,46% 5,52% 5,49%
14Feb2050 Govt (USD)
Average 5,27% 5,33% 5,30%
Sumber: Bondsupermart, diolah
Obligasi pemerintah digunakan sebagai acuan tingkat suku bunga bebas risiko dan digunakan
sebagai salah satu pembanding yield dari Rencana Transaksi. Diperoleh bahwa rata-rata yield
dari obligasi pemerintah Indonesia denominasi USD Adalah sebesar 5,30% untuk tenor yang
beragam mulai dari 7 tahun hingga 27 tahun sejak tanggal pendapat kewajaran. Dalam rentan,
yield obligasi pemerintah Indonesia denominasi USD terdiri dari 4,66% untuk tenor 7 tahun pada
obligasi keluaran 2023 hingga sebesar 5,53% untuk obligasi dengan tenor 27 tahun keluaran
2023.
Dengan begitu yield pinjaman dari Rencana Transaksi antara DTN dan PTAR sebesar 4,80% per
tanggal pendapat kewajaran berada pada rentan yield obligasi pemerintah Indonesia denominasi
USD. Dibandingkan dengan yield obligasi Indonesia denominasi USD dengan tenor 7 tahun, yield
pinjaman DTN dan PTAR berada di atas yield obligasi pemerintah yang merepresentasikan yield
rencana pinjaman lebih tinggi dibanding proksi instrument bebas risiko dalam dolar dengan tenor
yang lebih lama.
Tabel 61. Tingkat Suku Bunga Simpanan
Tingkat Bunga Simpanan (USD) Bank Pemerintah Bank Swasta
Bank Persero
Per Desember 2025 Daerah Nasional
1 Bulan 3,91% 3,69% 3,38%
3 Bulan 3,99% 4,47% 3,89%
6 Bulan 3,70% 5,23% 3,99%
12 Bulan 3,06% 2,11% 3,94%
24 Bulan 1,30% 2,30% 3,27%
Rata-rata 3,19% 3,56% 3,69%
Sumber: SEKI Bank Indonesia
Selain obligasi pemerintah, digunakan tingkat suku bunga simpanan dalam USD sebagai proksi
tingkat imbal hasil bebas risiko jangka pendek. Pada analisis, yang digunakan adalah tingkat
suku bunga deposito dalam USD pada Bank Persero, Bank Pemerintah Daerah, dan Bank Swasta
Nasional. Rata-rata tingkat suku bunga pinjaman dengan rentan tenor 1 bulan hingga 12 bulan
untuk masing-masing bank berkisar antara 3,19% sampai 3,69%. Tingkat bunga yang dikenakan
pada Rencana Transaksi antara DTN dan PTAR sebesar 4,80% berada di atas rentan rata-rata
tingkat suku bunga simpanan dalam USD sebagai representasi tingkat suku bunga bebas risiko
dengan tenor jangka pendek.
3.2.8 Incremental Analysis (Nilai Tambah)
Analisis nilai tambah dilakukan dengan membandingkan proyeksi keuangan sebelum Rencana
Transaksi dan setelah Rencana Transaksi dilakukan. Nilai tambah timbul dari selisih positif bagi
perusahaan setelah Rencana Transaksi dilakukan disbanding sebelum adanya Rencana Transaksi.
Halaman 99 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 101
Tabel 62. Incremental Analysis (Nilai Tambah) – Laporan Posisi Keuangan
(dalam juta Rupiah)
Laporan Posisi Keuangan 2026 2027 2028 2029
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas - - - -
Piutang Usaha - - - -
Persediaan - - - -
Uang Muka - - - -
Beban Dibayar Dimuka - - - -
Aset Lancar Lainnya 4.699 7.739 7.473 7.473
Aset Tidak Lancar
Piutang Kepada Pemegang Saham - - - -
Investasi Pada Saham - - - -
Aset Tetap - - - -
Aset tambang - - - -
Aset pajak tangguhan - - - -
Biaya eksplorasi dan pengembangan - - - -
Goodwill - - - -
Aset tidak lancar lainnya - - - -
Total Aset 4.699 7.739 7.473 7.473
Liabilitas Jangka Pendek
Utang usaha - - - -
Beban Akrual - - - -
Utang Pajak 4.699 7.739 7.473 7.473
Liabilitas Jangka Pendek Lainnya - - - -
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas pajak tangguhan - - - -
Bagian Jangka Panjang Utang Bank - - - -
Liabilitas Imbalan Kerja - - - -
Liabilitas Jangka Panjang Lainnya - - - -
Total Liabilitas 4.699 7.739 7.473 7.473
Ekuitas Diatribusikan Kepada Pemilik 1.222 2.012 1.943 1.943
Kepentingan Non Pengendali (1.222) (2.012) (1.943) (1.943)
Total Ekuitas - - - -
Total Liabilitas dan Ekuitas 4.699 7.739 7.473 7.473
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Berdasarkan analisis incremental atas laporan posisi keuangan Perseroan selama periode
proyeksi 2026–2029, Rencana Transaksi menghasilkan selisih positif nilai tambah terutama pada
pos aset lancar lainnya yang meningkat masing-masing sebesar Rp4.699 juta pada tahun 2026,
Rp7.739 juta pada tahun 2027, serta Rp7.473 juta pada tahun 2028 dan 2029. Peningkatan
tersebut terutama berasal dari pengaruh pencatatan pajak dibayar dimuka terkait transaksi
pinjaman. Di sisi liabilitas, terdapat peningkatan pada pos utang pajak dalam jumlah yang sama
sebagai konsekuensi atas timbulnya kewajiban perpajakan dari pendapatan bunga. Sementara
itu, pada pos ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terdapat selisih positif nilai
tambah masing-masing sebesar Rp1.222 juta, Rp2.012 juta, Rp1.943 juta, dan Rp1.943 juta
selama periode proyeksi, yang mencerminkan akumulasi laba setelah pajak yang dihasilkan dari
Rencana Transaksi.
Halaman 100 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 102
Dari analisis nilai tambah yang dilakukan, disimpulkan bahwa Rencana Transaksi memiliki selisih
positif nilai tambah berupa perolehan laba setelah pajak pada Perseroan. Perolehan nilai tambah
laba setelah pajak juga secara langsung memberikan selisih positif nilai tambah pada akuitas
perusahaan akibat diakumulasikannya perolehan laba setelah pajak dari Rencana Transaksi pada
saldo laba perusahaan.
Tabel 63. Incremental Analysis (Nilai Tambah) – Laporan Laba Rugi
(dalam juta Rupiah)
Laporan Laba (Rugi) 2026 2027 2028 2029
Pendapatan - - - -
Harga Pokok Penjualan - - - -
Laba Kotor - - - -
Beban Operasi - - - -
Laba Operasi - - - -
Laba/(Rugi) Kurs - - - -
Bunga - - - -
Pendapatan/(Beban) Lain 1.222 2.012 1.943 1.943
Laba Sebelum Pajak 1.222 2.012 1.943 1.943
Pajak Penghasilan - - - -
Laba Setelah Pajak 1.222 2.012 1.943 1.943
Sumber: Analisis KJPP FDI&R
Selanjutnya, berdasarkan analisis incremental laporan laba rugi, Rencana Transaksi memberikan
tambahan pendapatan lain yang berasal dari pendapatan bunga pinjaman, sehingga
menghasilkan laba sebelum pajak dan laba setelah pajak masing-masing sebesar Rp1.222 juta
pada tahun 2026, Rp2.012 juta pada tahun 2027, serta Rp1.943 juta pada tahun 2028 dan
2029. Dengan demikian, secara keseluruhan Rencana Transaksi memberikan selisih positif nilai
tambah bagi Perseroan berupa peningkatan laba setelah pajak selama masa pinjaman, yang
selanjutnya turut meningkatkan ekuitas Perseroan melalui akumulasi saldo laba.
3.3 Analisis Kelayakan Penggunaan Dana
3.3.1 Analisis Kelayakan Pinjaman Dana
Berdasarkan ketentuan dalam Rencana Transaksi, fasilitas pinjaman yang diberikan oleh DTN
kepada PTAR dikenakan tingkat suku bunga sebesar SOFR + 3% dengan tambahan marjin
sebesar 1,15% per tahun. Tingkat pengembalian tersebut dinilai dapat memberikan manfaat
ekonomi bagi DTN dalam bentuk pendapatan bunga atas penempatan dana internal
perusahaan. Selain itu, transaksi dilakukan kepada pihak afiliasi yang memiliki kondisi
operasional dan historis kinerja keuangan yang baik, sehingga risiko investasi dinilai relatif
terukur. Dengan mempertimbangkan tingkat pengembalian, tujuan penggunaan dana, serta
kondisi keuangan PTAR, maka Rencana Transaksi dinilai layak dari perspektif pinjam-meminjam
dana bagi DTN selaku pemberi pinjaman.
3.3.2 Analisis Kelayakan Pelunasan Utang
Berdasarkan informasi Manajemen Perseroan, fasilitas pinjaman akan digunakan oleh PTAR untuk
mendukung kebutuhan modal kerja dan operasional perusahaan. Kemampuan pelunasan
pinjaman PTAR dinilai memadai dengan mempertimbangkan historis kinerja keuangan PTAR yang
Halaman 101 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 103
menunjukkan tingkat profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas yang baik selama periode historis
2021–2025. Rasio likuiditas PTAR tercatat berada di atas 1 kali, yang menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sementara tingkat solvabilitas yang
relatif rendah mencerminkan struktur permodalan yang sehat dan tingkat risiko gagal bayar yang
rendah. Selain itu, posisi kas dan setara kas PTAR per tanggal pendapat kewajaran juga dinilai
memadai dibandingkan nilai pokok pinjaman yang diberikan. Dengan demikian, PTAR dinilai
memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga
pinjaman sampai dengan jatuh tempo.
3.3.3 Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap dokumen dan informasi yang diberikan oleh Manajemen
Perseroan, tidak terdapat faktor lain yang relevan yang dapat memengaruhi pelaksanaan maupun
kewajaran atas Rencana Transaksi selain faktor-faktor yang telah dianalisis sebelumnya. Dengan
demikian, tidak ada kondisi atau keadaan tambahan yang secara material berpotensi
memengaruhi hasil analisis kewajaran atas Rencana Transaksi dimaksud.
Halaman 102 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 104
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Analisis Objek Rencana Transaksi
Besaran Dana dari Objek Rencana Transaksi
Berdasarkan hasil analisis atas objek Rencana Transaksi dan Rencana Transaksi antara DTN dan
PTAR, besaran dana yang menjadi objek dalam Rencana Transaksi adalah berupa fasilitas
pinjaman dengan jumlah pokok sebesar USD70.000.000 (Tujuh Puluh juta Dolar Amerika Serikat)
atau setara dengan Rp1.174.740.000.000 (Satu Triliun Seratus Tujuh Puluh Empat Miliar Tujuh
Ratus Empat Puluh juta Rupiah) dengan asumsi nilai tukar mata uang menggunakan rata-rata
kurs transaksi Bank Indonesia per 31 Desember 2025, yaitu Rp16.782 per USD.
Dampak Keuangan atas Rencana Transaksi
Secara umum, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan terhadap laporan posisi
keuangan maupun laporan laba rugi konsolidasian Perseroan, mengingat transaksi pinjaman,
pendapatan bunga, dan beban bunga antar entitas dalam kelompok usaha dieliminasi dalam
proses konsolidasi. Dampak yang timbul terutama berasal dari perbedaan pada pos perpajakan,
yaitu manfaat pajak dan utang pajak penghasilan terkait PPh 23 atas pendapatan dan beban
bunga, serta adanya kenaikan laba yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk akibat
distribusi 5% kepemilikan PTAR kepada pemegang saham nonpengendali setelah pelaksanaan
Rencana Transaksi.
Pertimbangan Bisnis Manajemen atas Rencana Transaksi
Berdasarkan keterangan Manajemen Perseroan, Rencana Transaksi pinjam-meminjam dana yang
akan dilakukan antara para pihak bertujuan untuk mendukung kegiatan operasional PTAR,
khususnya dalam memenuhi kebutuhan modal kerja dan memastikan kelancaran aktivitas usaha.
Manajemen menilai bahwa penyediaan pendanaan melalui skema ini merupakan langkah
strategis untuk menjaga kesinambungan operasional serta meningkatkan efisiensi pengelolaan
keuangan, mengingat fleksibilitas yang lebih tinggi dibandingkan sumber pendanaan eksternal,
sehingga Rencana Transaksi dipandang memiliki dasar pertimbangan bisnis yang memadai dan
sejalan dengan kepentingan Perseroan.
4.2 Analisis Pengaruh atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis atas laporan keuangan proforma sebelum dan setelah Rencana Transaksi,
diketahui bahwa transaksi pinjam-meminjam antara DTN dan PTAR tidak memberikan dampak
signifikan terhadap kondisi keuangan Perseroan. Dari sisi likuiditas, rasio Current Ratio, Quick
Ratio, dan Cash Ratio relatif tidak mengalami perubahan material setelah transaksi. Sementara
itu, dari sisi solvabilitas, Debt to Assets Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Times Interest Earned juga
tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Dampak yang timbul terutama berasal dari
pencatatan pajak dibayar dimuka dan utang pajak penghasilan badan akibat pendapatan dan
beban bunga atas transaksi. Dengan demikian, Rencana Transaksi dinilai tidak mempengaruhi
fundamental keuangan Perseroan secara material dan masih berada dalam kondisi keuangan
yang sehat setelah pelaksanaan transaksi.
Halaman 103 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 105
4.3 Identifikasi Dan Hubungan Antara Pihak Dalam Hal Transaksi
Berdasarkan hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepengurusan dan kepemilikan,
pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi adalah Perseroan selaku pemegang saham mayoritas
dari DTN (selaku pemberi pinjaman) dan PTAR (selaku penerima pinjaman).
Hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepengurusan memiliki hubungan afiliasi
yaitu:
• Iwan Hadiantoro selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Presiden Direktur DTN
sekaligus menjabat sebagai Komisaris Utama PTAR
• Vilihati Surya selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Komisaris di DTN dan PTAR
• Hendra Hutahean selaku Direktur Perseroan juga menjabat sebagai Komisaris di DTN dan
PTAR.
• Mauliady Sutio selaku Direktur DTN juga menjabat sebagai Presiden Direktur PTAR.
• Ruli Tanio selaku Direktur DTN juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PTAR.
Hasil identifikasi hubungan para pihak dari struktur kepemilikan memiliki hubungan afiliasi yaitu:
• Perseroan memiliki 100% saham sebesar 60% pada DTN, sehingga DTN merupakan entitas
anak yang dikendalikan sepenuhnya oleh Perseroan.
• DTN memiliki 95% saham pada PTAR, sedangkan sisanya 5% dimiliki oleh PT Artha Nugraha
Agung.
• Mengingat DTN merupakan entitas anak yang saham mayoritas dimiliki oleh Perseroan dan
DTN merupakan pemegang saham mayoritas PTAR, maka Perseroan melalui DTN ke PTAR
tergolong sebagai pihak afiliasi secara tidak langsung melalui kepemilikan DTN pada PTAR.
Oleh karena itu, Rencana Transaksi ini memenuhi kriteria transaksi afiliasi menurut POJK
42/2020.
Selain itu, berdasarkan informasi Manajemen Perseroan yang mengacu pada Surat Pernyataan
Perseroan No.LUT/099/9960/VI/2026 tanggal 08 Juni 2026 perihal informasi terkait benturan
kepentingan atas transaksi afiliasi antara Perseroan melalui DTN pada PTAR berupa transaksi
pinjam-meminjam pemegang saham (shareholder loan), diketahui bahwa Rencana Transaksi
tidak mengandung benturan kepentingan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasar modal
yang berlaku. Dengan demikian, pelaksanaan transaksi dilakukan berdasarkan pertimbangan
bisnis yang wajar dan tidak mengutamakan kepentingan pihak tertentu di luar kepentingan
Perseroan.
Selanjutnya, berdasarkan asumsi nilai tukar rata-rata kurs transaksi Bank Indonesia per 31
Desember 2025 sebesar Rp16.782 per USD, nilai Rencana Transaksi sebesar USD70.000.000
setara dengan Rp1.174.740.000.000 atau sekitar 1,14% dari total ekuitas Perseroan per 31
Desember 2025 sebesar Rp103.136.323.000.000. Dengan demikian, Rencana Transaksi tidak
memenuhi kriteria sebagai transaksi material sebagaimana diatur dalam POJK No.
17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
4.4 Analisis Perjanjian Dan Persyaratan Yang Disepakati Oleh Pihak Dalam Rencana Transaksi
Berdasarkan hasil penelaahan atas draf Perjanjian Pinjaman Antar Perusahaan (Intercompany
Loan Agreement) antara DTN dan PTAR, diketahui bahwa perjanjian telah memuat ketentuan
pokok terkait fasilitas pinjaman dengan jumlah pokok sebesar USD70.000.000, dengan tingkat
suku bunga berupa SOFR + 1,15% (Margin) per tahun. Selain itu, perjanjian juga mengatur
Halaman 104 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 106
mengenai jangka waktu pinjaman, mekanisme pembayaran kembali, hak dan kewajiban para
pihak, serta ketentuan hukum lainnya yang lazim dalam transaksi pinjam-meminjam. Secara
umum, ketentuan dalam perjanjian telah memberikan kejelasan mengenai pelaksanaan Rencana
Transaksi dan dapat menjadi dasar hukum yang memadai bagi para pihak dalam melaksanakan
transaksi tersebut.
4.5 Analisis Likuiditas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis yang dilakukan, Rencana Transaksi tidak memberikan dampak signifikan
terhadap likuiditas Perseroan, yang tercermin dari rasio Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash
Ratio sebelum dan setelah transaksi yang relatif tidak mengalami perubahan material. Kondisi
tersebut disebabkan nilai Rencana Transaksi relatif kecil dibandingkan total kas dan setara kas
Perseroan per tanggal pendapat kewajaran. Selain itu, kemampuan PTAR dalam melunasi
pinjaman saat jatuh tempo dinilai memadai, yang tercermin dari tingkat likuiditas PTAR yang
berada di atas 1 kali selama periode historis, tingkat solvabilitas yang relatif rendah, serta posisi
kas dan setara kas PTAR yang mampu menyerap seluruh nilai pokok pinjaman. Dengan demikian,
PTAR dinilai memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok
dan bunga pinjaman sampai dengan jatuh tempo.
4.6 Analisis Manfaat Dan Risiko Dari Rencana Transaksi
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Perseroan, Rencana Transaksi memberikan manfaat
bagi para pihak, antara lain berupa optimalisasi pengelolaan kas dalam kelompok usaha,
peningkatan pendapatan bunga bagi DTN selaku pemberi pinjaman, serta dukungan pendanaan
modal kerja bagi PTAR selaku penerima pinjaman guna menjaga kelancaran operasional usaha.
Di sisi lain, Rencana Transaksi juga memiliki risiko, terutama risiko gagal bayar atas pokok dan
bunga pinjaman yang dapat berdampak terhadap arus kas dan kinerja keuangan para pihak.
Namun demikian, dengan mempertimbangkan hubungan afiliasi, tujuan penggunaan dana, serta
mekanisme pengaturan dalam perjanjian pinjaman, risiko tersebut dinilai masih dapat dikelola
dan berada dalam batas yang wajar.
4.7 Analisis Kualitatif atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis kualitatif yang mencakup riwayat perusahaan, kondisi industri dan bisnis,
profil operasional dan prospek usaha, serta alasan dan latar belakang Rencana Transaksi,
rencana pemberian pinjaman oleh DTN kepada PTAR memiliki dasar bisnis yang memadai dan
sejalan dengan kebutuhan pendanaan operasional dalam kelompok usaha. Dari sisi kualitatif,
transaksi berpotensi memberikan manfaat berupa optimalisasi pengelolaan kas kelompok usaha
serta tambahan pendapatan bunga bagi DTN, dengan risiko utama berupa risiko gagal bayar
dan tekanan likuiditas yang dinilai masih dapat dikelola melalui pengaturan dalam perjanjian
pinjaman dan pengawasan manajemen.
Selain itu, dampak terhadap leverage dan likuiditas Perseroan relatif terbatas, kemampuan PTAR
dalam memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman sampai jatuh tempo dinilai memadai
berdasarkan kondisi keuangan historis dan posisi kas perusahaan, serta risiko yang mungkin
timbul dari penggunaan dana pinjaman masih berada pada tingkat yang dapat dikelola. Secara
keseluruhan, dari perspektif kualitatif, Rencana Transaksi dinilai memiliki rasionalitas bisnis yang
memadai dan tidak menimbulkan risiko material bagi Perseroan maupun kelompok usaha.
Halaman 105 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 107
4.8 Analisis Kuantitatif atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis kuantitatif yang mencakup kinerja historis dan proyeksi keuangan, rasio
keuangan, proforma sebelum dan sesudah transaksi, kemampuan bayar hingga jatuh tempo,
pengelolaan kas dan financial covenant, perbandingan tingkat imbal hasil dengan instrumen
sejenis, serta incremental analysis, Rencana Transaksi menunjukkan kondisi keuangan yang tetap
sehat dan stabil. Perubahan rasio keuangan sebelum dan setelah transaksi relatif tidak signifikan,
kemampuan PTAR dalam memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman dinilai memadai, serta
tingkat pengembalian pinjaman memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan pendapatan
bunga bagi DTN. Selain itu, analisis nilai tambah menunjukkan adanya peningkatan laba setelah
pajak selama masa pinjaman. Dengan demikian, secara kuantitatif Rencana Transaksi dinilai
masih berada dalam kapasitas keuangan Perseroan dan memberikan nilai tambah bagi
kelompok usaha.
4.9 Analisis Kelayakan Rencana Penggunaan Dana atas Rencana Transaksi
Analisis Kelayakan Investasi
Berdasarkan analisis yang dilakukan, Rencana Transaksi dinilai layak dari perspektif pinjam-
meminjam dana karena memberikan manfaat ekonomi bagi DTN melalui pendapatan bunga
dengan tingkat pengembalian yang memadai. Selain itu, transaksi dilakukan kepada pihak afiliasi
yang memiliki kondisi keuangan dan operasional yang baik, sehingga risiko atas pemberian
pinjaman dinilai masih dapat dikelola dalam batas yang wajar.
Analisis Kelayakan Pelunasan Utang
Berdasarkan historis kinerja keuangan, tingkat likuiditas, solvabilitas, serta posisi kas dan setara
kas PTAR, perusahaan dinilai memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban
pembayaran pokok dan bunga pinjaman sampai dengan jatuh tempo. Dengan demikian,
Rencana Transaksi dinilai layak dari sisi kemampuan pelunasan utang oleh PTAR selaku penerima
pinjaman.
Analisis Atas Faktor Lain Yang Relevan
Berdasarkan hasil penelaahan atas dokumen dan informasi yang diperoleh dari Manajemen
Perseroan, tidak terdapat faktor lain yang relevan dan bersifat material yang dapat memengaruhi
pelaksanaan maupun kewajaran Rencana Transaksi. Dengan demikian, analisis kewajaran telah
mencakup seluruh faktor utama yang diperlukan dalam penilaian atas Rencana Transaksi.
4.10 Opini Kewajaran atas Rencana Transaksi
Berdasarkan analisis yang telah kami lakukan terhadap informasi, data, serta asumsi-asumsi yang
disampaikan oleh manajemen Perseroan, dan dengan mempertimbangkan kondisi serta faktor-
faktor yang relevan, kami berpendapat bahwa Transaksi afiliasi antara Perseroan melalui DTN
pada PTAR berupa transaksi pinjam-meminjam pemegang saham atau shareholder loan adalah
wajar.
Halaman 106 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 108
ASUMSI – ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS
1. Laporan pendapat kewajaran ini bersifat non-disclaimer opinion.
2. Penilai Bisnis telah melakukan penelahaan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam
proses analisis pendapat kewajaran.
3. Data dan informasi yang diperoleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya ke akuratannya.
4. Penilai mengunakan proyeksi keuangan yang mencerminkan kewajaran proyeksi yang dibuat oleh
manajemen dengan kemampuan pencapaiannya (fiduciary duty).
5. Laporan pendapat kewajaran ini terbuka untuk publik.
6. Analisis, opini dan kesimpulan yang dibuat oleh penilai, serta laporan pendapat kewajaran telah
disusun sesuai dengan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia Tahun 2018
Edisi VII (KEPI-SPI Edisi VII Tahun 2018), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
35/POJK.04/2020 (POJK 35/2020), Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
Nomor 17/SEOJK.04/2020 (SEOJK 17/2020) tentang Pedoman Penilaian serta Penyajian
Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
7. Penilai Bisnis bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran dan kesimpulan opini akhir.
8. Penilai telah memperoleh informasi atas status hukum objek pendapat kewajaran dari pemberi
tugas.
9. Semua sengketa dalam bentuk perkara pidana maupun perdata (baik di dalam maupun di luar
pengadilan) yang berkaitan dengan objek pendapat kewajaran tidak menjadi tanggung jawab
kami.
10. Kami ingin menekankan bahwa hasil kajian, analisis, serta tanggung jawab kami secara khusus
hanya terbatas pada aspek opini kewajaran atas objek pendapat kewajaran, diluar dari aspek
perpajakan dan hukum karena hal tersebut berada diluar lingkup penugasan kami.
11. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta yang berkaitan
dengan kondisi objek penilaian, dalam hal ini kondisi pasar dan sebagainya bukan menjadi
tanggung jawab kami.
12. Laporan pendapat kewajaran ini disajikan hanya untuk maksud dan tujuan seperti tertulis di
dalam laporan dan tidak dapat digunakan untuk maksud dan tujuan lainnya dan kami tidak
bertanggung jawab jika laporan ini digunakan untuk tujuan lain.
13. Laporan pendapat kewajaran ini sebagai salah satu informasi untuk dijadikan dasar pemikiran
dalam mengambil keputusan, akan tetapi tidak mengikat dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar
penentu suatu keputusan yang berakibat hukum, karena laporan pendapat kewajaran ini semata-
mata dibuat berdasarkan kajian disiplin ilmu dan kemampuan yang kami miliki.
14. Laporan pendapat kewajaran ini tidak berlaku dan tidak sah apabila tidak terdapat tanda tangan
penilai berijin beserta stempel perusahaan (corporate seal) yang resmi dari KJPP Ferdinand,
Danar, Ichsan & Rekan.
15. Laporan pendapat kewajaran ini dibuat dan ditujukan hanya kepada pemberi tugas, sesuai
dengan maksud dan tujuan yang diungkapkan dalam laporan pendapat kewajaran.
Halaman 107 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 109
PERNYATAAN PENILAI
Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai Independen, kami yang bertanda
tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
1. Pernyataan faktual yang dipresentasikan dalam laporan pendapat kewajaran adalah benar sesuai
dengan pemahaman terbaik dari Penilai.
2. Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan.
3. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang, maupun
memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada terhadap objek pendapat kewajaran.
4. Imbalan Jasa pendapat kewajaran tidak berkaitan dengan hasil pendapat kewajaran yang
dilaporkan.
5. Pendapat kewajaran dilakukan dengan memenuhi ketentuan Standar Penilaian Indonesia (SPI),
Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI), serta POJK Nomor 35 Tahun 2020 tentang Pedoman Penilaian
dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.
6. Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan professional yang ditentukan dan/atau
diselenggarakan oleh Asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah.
7. Penilai memiliki pemahaman mengenai jenis usaha atau industri yang menjadi objek pendapat
kewajaran.
8. Penilai telah melakukan kunjungan kepada pihak manajemen perseroan.
9. Tidak ada Penilai lainnya selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam
pelaksanaan inspeksi, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan
dalam laporan pendapat kewajaran ini.
10. Analisis telah dilakukan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan pendapat
kewajaran.
11. Kami bertanggung jawab atas laporan pendapat kewajaran yang telah kami susun berdasarkan
data yang telah diberikan kepada kami oleh Pemberi tugas dan kami anggap akurat serta
lengkap. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil laporan ini apabila data-data, dokumen dan
informasi dari Pemberi Tugas yang diberikan kepada kami tidak sah/legal sehingga menjadi tidak
lengkap atau menyesatkan.
12. Penugasan pendapat kewajaran telah dilakukan terhadap objek pendapat kewajaran pada
tanggal pendapat kewajaran (cut off date)
13. Analisis dan kesimpulan yang dihasilkan untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam laporan
pendapat kewajaran.
14. Opini kewajaran yang dihasilkan dalam penugasan pendapat kewajaran profesional telah
disajikan sebagai kesimpulan nilai.
15. Penilai melakukan sesuai dengan lingkup penugasan dan data yang dianalisis telah diungkapkan.
16. Kesimpulan pendapat kewajaran telah sesuai dengan asumsi dan kondisi pembatas.
17. Data ekonomi dan industri yang tercantum dalam laporan ini kami peroleh dari sumber yang
telah terpublikasi dan diyakini kebenarannya.
Halaman 108 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 110
Page 111
LAMPIRAN-LAMPIRAN Halaman 110 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 112
Halaman 111 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 113
Halaman 112 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 114
Halaman 113 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 115
Halaman 114 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 116
Halaman 115 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 117
Halaman 116 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 118
Halaman 117 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 119
Halaman 118 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 120
Halaman 119 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 121
Halaman 120 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 122
Halaman 121 00111/2.0176-00/BS/05/0213/1/VI/2026
Page 123
Names mentioned 106 people and organisations named in the text · linked when the evidence is strong
unresolved
org
KJPP Ferdinand
p.2 ×5
unresolved
org
Ichsan dan Rekan
p.2 ×4
unresolved
org
KJPP FDI
p.2 ×32
unresolved
org
Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia
p.2 ×4
unresolved
org
Bank Indonesia
p.3 ×11
unresolved
org
Menteri Keuangan Republik Indonesia
p.11 ×2
unresolved
person
Yudistira
p.11
unresolved
person
Djojo Muljadi
p.14 ×3
unresolved
person
H. Akta Pendirian
p.14 ×2
unresolved
org
Menteri Kehakiman Republik Indonesia
p.14 ×3
unresolved
person
Jose Dima Satria
· Notaris
p.14 ×9
unresolved
org
Menteri Hukum Republik Indonesia
p.14 ×8
unresolved
org
Wajar & Rekan
p.15
unresolved
org
PT Danusa Tambang Nusantara Akta
p.16
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.16 ×5
unresolved
person
Marianne Vincentia Hamdani
p.16 ×5
unresolved
org
Wajar Rianto & Rekan
p.16 ×6
unresolved
org
PT Danau Toba Mining
p.17 ×3
unresolved
person
Haji Muhammad Afdal Gazali
· Notaris
p.17 ×3
unresolved
org
Kementerian Kehakiman Republik Indonesia
p.17
unresolved
org
PT Horas Nauli
p.17 ×2
unresolved
org
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. C-
p.17
unresolved
person
Siti Safarijah.
p.17
unresolved
org
PT Newmont Horas Nauli
p.17 ×2
unresolved
org
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.17
unresolved
person
Mala Mukti
p.17
unresolved
org
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. W
p.17
unresolved
person
Moeliana Santoso
p.17 ×3
unresolved
org
Kementerian
p.17
unresolved
—
Rendih
· Section Head
p.18
unresolved
—
Sofi Christiana
· Associate
p.18
unresolved
—
Kevin Rosby
· Section Head
p.18
unresolved
person
Muhamad Ilham Gunawan
· Associate
p.18
unresolved
—
Devista Yoga
· Associate
p.18
unresolved
—
Derick
· Associate
p.18
unresolved
org
PT Inter Astra Motor Works
p.26 ×2
unresolved
org
Carriage Ltd.
p.27 ×4
unresolved
org
Jardine Matheson Holdings Ltd.
p.27 ×4
unresolved
—
Loudy Irwanto Elli
· Direktur
p.28 ×2
unresolved
org
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
p.28
unresolved
org
Menteri
p.30
unresolved
org
PT Danusa Tambang
p.31
unresolved
org
PT Artha Nugraha Agung
p.31 ×3
unresolved
person
Benjamin Herrenden Birks
· Komisaris
p.32 ×4
unresolved
person
Laksana Kesuma
· Direktur
p.32
unresolved
—
Ruli Tanio
· Direktur
p.32 ×2
unresolved
—
Mauliady Sutio
· Direktur
p.33 ×2
unresolved
org
PT Danusa Tambang Nusantara PTAR
p.33
unresolved
org
Pusat Statistik
p.40
unresolved
org
Kementerian ESDM
p.43 ×7
unresolved
org
Pte Ltd.
p.49
unresolved
org
PT Kalimantan Prima Persada
p.50
unresolved
org
PT Sumbawa
p.51
unresolved
org
PT Stargate Pacific Resources
p.51
unresolved
org
Indonesia Tbk
p.54
unresolved
org
Sentosa Tbk
p.54
unresolved
org
Megah Tbk
p.54
unresolved
org
Klaim Pengembalian Ppn
p.69
unresolved
—
Cutoff
p.99 ×2
unresolved
org
Bank Swasta Bank Persero Per
p.100
unresolved
org
Bank Swasta Nasional. Rata-rata
p.100
unresolved
org
Ichsan & Rekan
p.108
Extraction attempts how the parser did, and what it refused
Nothing structured was extracted from this document — the attempts below say why.
Rule parser
Needs review
confidence 0.182
11855 ms
12 Sep 2026 22:04
Raw output
{'appraiser_exempt': None,
'appraiser_name': '',
'assets': [],
'currency': None,
'fact_type': '',
'issuer_name': '',
'kind': 'CONFLICT',
'kjpp_name': '',
'letter_number': '',
'object_text': '',
'object_truncated': False,
'parties': [],
'pct_of_equity': None,
'reference_period': '',
'requires_rups': None,
'rups_date': None,
'ticker': '',
'transaction_date': None,
'valuation_date': None,
'value': '20'}